Eps 1 Mayat Kesurupan Roh - Khu Lung
Baca online Mayat Kesurupan Roh - Khu Lung
Cersil Mayat Kesurupan Roh - Khu Lung.
Mayat Kesurupan Roh Karya .
Khu Lung Saduran .
Gan KL PENGANTAR Coh Liu-siang atau Coh Liu-hiang, demikianlah nama tokoh mania kita.
si Pendekar Harum.
Laki-laki, laki-laki sejati, meski Coh Liu-hiang mendapatkan julukan pendekar 'Harum', tapi dia bukan perempuan Harum tidak identik dengan perempuan, harum juga bukan monopoli perempuan.
Setiap insan di duni ini niseaya suka akan keharuman, keharuman yang nyata maupun keharuman yang tak berwujud.
Konon, pembawaannya memang berbau harum, harum yang khas, bau harum yang lembut, halus, harum sejenis bunga tulip.
Dia cakap, ganteng namun usianya tidak terbilang muda lagi, tapi juga belum terlalu tua, diatas tigapuluhan begitulah.
Karena itulah dia tetap menarik, menggiurkan, 'charming' kata sementara orang.
Dia suka hidup nikmat, ia pun tahu cara bagaimana menik-mati kehidupan ini.Iapun suka arak, tapi jarang minum hingga mabuk.
Sudah barang tentu ia pun suka perempuan, terutama perempuan yang pintar bergaul, dia selalu menghormati mereka.
Dia benci pada orang kaya vang kikir dan tak berbudi.
seringkali dia 'bantu' memindahkan harta benda mereka pada kaum miskin.
Orang yang pernah menerima pertolongannya sukar dihitung jumlahnya.
Dengan sendirinya banyak musuhnya, tapi kawannya jauh lebih banyak.
Siapa pun tidak dapat mengukur ilmu silatnya, yang jelas selama hidup tak terkalahkan, terutama Ginkangnya, ilmu meringankan tubuhnya boleh dikatakan tiada bandingannya.
Tiada yang tahu dari aliran mana ilmu silatnya, yang jelas ilmu silatnya bergaya khas Coh Liu-hiang.
ilmu silatnya adaiah pembauran intisari berbagai ilmu silat aliran terkemuka di dunia persilatan hasil pemikirannya.
Dia suka bertualang dan menyerempet bahaya, sebab itulah meski dia sangai pintar dan cerdik, tapi sering berbuat hal-hal yang tolol.
Dia bukan seorang 'Kuncu', bukan ksatria tulen, bukan 'gentleman' yang tanpa cacat, tetapi dia juga bukan 'Siaujin'.
bukan orang yang rendah dan pengecut Kebanyakan orana Kangouw mcnyebut Coh Hiang-swe' atau si Bagus Harum she Coh sebagai tanda sanjung puji kepada tokoh kesayangan mereka, tapi ia pun mendapat nama ejekan 'si kutu busuk' dari Oh Tni-hoa yang berewok, seorang kawannya yang paling karib.
Diatas semua itu Coh Liu-hiang bukanlah seorang 'superman' yang tanpa cacat ia pun punya kelemahan badaniah, yakni pada hidugnya, pada indera penciumanmya.
Hidungnya kurang tajam kalau tidak boleh dikatakan hampir pati rasa.
Beginilah tokoh Coh Liu-hiang ini, hidupnya yang banyak gaya dan ragamnya ini penuh dengan kisah yang aneh-aneh dan menarik..MAYAT HIDUP KESURUPAN ROH Supaya maklum sebelumnya, ini bukan cerita tentang setan, akan tetapi, peristiwa ini, tidak kurang seram dan anehnya daripada cerita setan manapun di dunia in, Tanggal dua puluh delapan bulan sembilan, masih musim rontok, namun hawa sudah terasa dingin.
Apa yang terjadi dalam 'Cengpwe-san-ceng,' (perkampungan Lempar cangkir) kalau tidak disaksikan sendiri oleh Coh Liu-hiang, mungkin selamanya dia takkan percaya.
Ceng-pwe-san-ceng terletak di luar kota Siongkang, berjarak kurang dari tiga li dengan Siu-ya-kio (jembatan alam permai) yang termashur itu.
Setiap tahun, bila musim dingin hampir tiba, dapat dipastikan Coh Liu-hiang datang ke Ceng-pwe-san-ceng dan tinggal selama beberapa waktu di situ.
Sebabnya, untuk memenuhi kegemarannya, yakni makan ikan Loh (sejenis ikan bandeng air tawar).
Maklumlah, di kolong langit ini, hanya ikan Loh yang hidup di sungai di bawah Siu-ya-kio ini yang berinsang empat, benar-benar lain daripada yang lain.
Setiap orang Kangouw tahu, Cukong perkampungan Ceng-pwe, yakni Cu Kin-hou.
Cu-jiya, selain Ciang-hoat (ilmu pukulan dengan telapak tangan) menjagoi wilayah Kanglam, dia masih mempunvai kemahiran lain yang istimewa, yakni kemahiran memasak Loh-hikwe (kuah ikan Loh) dengan bumbunya yang khas.
Lebih dari itu, setiap orang Kangouw juga tahu Cu-jiya adalah seorang hartawan yang sosial, di rumahnya selalu penuh tamu, Akan tetapi tetamu di seluruh kolong langit ini.
hanya dua orang saja yang dapat membuat Cu-jiya turun tangan sendiri ke dapur untuk mengolah Loh-hi-kwe.
Dan Coh Liu-hiang adalah seorang di antara kedua orang yang beruntung itu.
Akan tetapi, kedatangan Cob Liu-hiang ke Ccng-pwe-san-ccng kali ini gagal menikmati Loh-hi-kwe yang dimasak Cu-jiya sendiri, sebaliknya dia malah mengalami suatu peristiwa yang selamanya belum pernah dialaminya, peristiwa ajaib, misterius dan sukar untuk dipercaya.
Selama hidup Coh Liu-hiang juga tidak percaya di dunia ini bisa terjadi hal demikian.
Seperti Coh Liu-hiang, Cu-jiya juga orang yang paling tahu cara bagaimana hidup nikmat.
Dia tidak suka pada kedudukan, tidak kemaruk pangkat, yang dia barapkan hanya sehat dan gembira.
Di Ceng-pwe-san-ceng terdapat penyanyi yang paling tenar di daerah Kanglam, ada arak yang paling tua dan enak.
Di istal ada kuda pacu yang paling cepat larinya.
Di ruang makan penuh tamu penggemar makan.
Akan tetapi kesenangan Cu-jiya bukan cuma hal-hal begitu.
Ada tiga hal yang paling menyenangkan Cu-jiya selama hidupnya ini.
Pertama, dia mempunyai seorang sahabat karib seperti Coh Liuhiang.
DIa sering berkata pada siapa pun juga, dia lebih suka menebas putus tangan kiri sendiri daripada kehilangan sahabat seperti Coh Liu-hiang.
Hal kedua yang menyenangkan dia ialah mempunyai musuh yang ditakuti di dunia ini, yaitu Sih Ih-jin, Sih-tayhiap yang terkenal sebagai 'Thian-he-te-kiam khek' si pendekar pedang nomor satu di dunia.
Sudah berlangsung tiga puluhan tahun permusuhannya dengan Sih Ih-jin, tapi Cu-jiya masih dapat hidup gembira dan bahagia hingga sekarang, biarpun Sih Ih-jin sangat disegani namanya menggoncangkan jagat, tapi nyatanya tidak dapat berbuat apa-apa terhadap Cu-jiya.
Apabila membicarakan hal ini, tanpa terasa Cu-jiya lantas bergelak tertawa dan merasa bangga.
Hal ketiga yang juga sangat menyenangkan dia adalah karena dia mempunyai seorang anak perempuan yang sangat pintar, sangat cantik dan juga sangat penurut.
Cu-jiya tidak mempunyai anak lakilaki, tapi hal ini tak pernah membuatnya menyesal, sebab ia anggap anak perempuan satu-satunya ini beratus kali lebih baik daripada orang lain yang mempunyai sepuluh anak laki-laki.
Cu Beng-cu, anak perempuan kesayangannya itu, sesungguhnya tidak pernah membuat kecewa sang ayah.
Sejak kecil hingga besar, hampir tidak pernah Beng-cu jatuh sakit, lebih-lebih tak pernah berbuat sesuatu yang mengesalkkan hati sang ayah.
Kini Beng-cu berusia delapan belas, tetapi masih tetap menyenangkan dan penurut seperti anak umur tiga tahun.
Meski ilmu silat Beng-cu tidak terlalu tinggi, tapi di antara kaum wanita sudah tergolong pilihan, tergolong top.
Setelah berkelana dua kali, sedikit banyak di dunia Kangouw juga mulai terdengar namanya yang gemilang, orang menyebutnya 'Giok-sian-wa atau si boneka dewi cantik.
Walau orang tahu sebabnya dia mendapatkan nama sebagian besar karena penghormatan kawan Kangouw kepada ayahnya, akan tetapi Cu-jiya sendiri tidak memusingkan urusan itu.
Sesungguhnya Cu-jiya sendiri tidak mengharapkan anak perempuannya akan menjadi seorang pendekar wanita.
Apalagi Beng-cu sendiri juga tiada waktu banyak untuk berlatih silat.
Maklum, dia harus meladeni sang ayah, mengiringi dia main catur, mengiringi minum arak, mesti memetik kecapi bagi beliau, belum lagi belajar mengarang bunga, membaca kitab, menulis sajak.
Pokoknya, apapun yang dilakukannya adalah demi sang ayah, sebab dalam kehidupannya memang belum ada lelaki kedua.
Singkatnya, nona Cu ini adalah model anak perempuan permata hati setiap ayah.
Hampir tidak pemah Cu-jiya merisaukan anak perempuannya.
Sebegitu jauh Beng-cu memang tidak pemah membikin susah sang ayah.
Akan tetapi sekarang, peristiwa yang paling ajaib, paling seram, paling aneh dan paling sukar untuk dipercaya justru terjadi atas diri Beng-cu.
* * * * Akhir bulan kesembilan, hawa sudah terasa sangat dingin Namun, betapapun dinginnya cuaca, asalkan sudah berada di Cengpwe-san-ceng, maka akan timbul rasa hangat, seperti pelarian yang lelah dan telah pulang ke rumahnya sendiri.
Sebabnya tiada lain karena tiap orang di Ceng-pwe-san-ceng, dari yang atas sampai ke bawah, dari yang tua sampai yang muda, semuanya berwajah cerah dan menyambut setiap tamunya dengan berseri, sekalipun penjaga pintu juga sopan santun dan penuh hormat terhadap setiap tamunya.
Sebelum masuk pintu gerbang, segera akan terendus bau arak yang sedap, bau masakan yang menimbulkan selera, harumnya pupur dan semerbaknya bunga, dari jauhpun akan terdengar alunan musik tiup dan petik yang mcrdu serta gelak tawa yang riang, tidak ketinggalan suara nyaring benturan gelas.
Semuanya itu seakan-akan sedang memberitahukan bahwa segala kegembiraan itu sedang menantikan kedatangan tamu.Namun sekali ini selagi masih berada beberapa puluh tombak jauhnya Coh Liu-hiang sudah merasakan gelagat yang tidak cocok dengan biasanya.
Kedua pintu gerbang Ceng-pwe-san-ceng bercat merah dan selalu terbuka sepanjang tahun, kini tampak tertutup rapat, di depan pintu juga sepi senyap , tiada kereta, tiada kuda, apalagi bayangan manusa.
Sampai sekian lama Coh Liu-hiang mengetuk pintu, akhirnya seorang kakek membukakan pinlu Serta melihat Coh Liu-hiang meski si kakek lantas menyambutnya dengan berseri tawa, akan tetapi jelas tertawa yang canggung, tertawa ewa atau menyengir.
Suasana cerah dan gembira di perkampungan ini seperti sediakala, kini sudah tidak nampak lagi sediktpun.
Malahan di halaman tampak banyak bersemikan daun rontok yang hampir tidak pernah disapu, ketika angin meniup daun kering itu kabur berhamburan, suasananya menimbulkan rasa pilu dan hampa tak terkatakan.
Coh Liu-hiang bertambah kaget setelah dia berhadapan dengan Cu Kin-hou.
Tokoh Kangouw budiman yang biasanya berwajah cerah dan bersemu merah ini kini telah berubah pucat dan kurus, sampai matanya juga mendelong.
Baru satu tahun berpisah, rasanya Cu Kin-hou sudah bertambah tua belasan tahun.
Di wajah Cu Kin-hou sekarang sudah tidak diketemukan lagi bayangan riang dan bahagia, senyuman yang diperlihatkannya juga tidak dapat menutupi mata alisnya yang penuh kesedihan itu.
Ruang tamu yang biasanya ramai penuh tamu itu kinipun sunyi senyap, tiada seorang tamu pun, alat perabot sudah banyak berdebu, sampai-sampai burung walet yang biasanya terbang kiankemari menyusuri ruangan yang besar ini kinipun tidak kelihatan lagi, mungkin sudali hijrah ke tempat lain.
Sesungguhnya apa yang telah terjadi di Ceng-pwe-san-ceng ini?
Mengapa berubah sebanyak ini?
Heran dan kejut Coh Liu-ihiang tak terkatakan.
Cu-jiya menjabat tangan Coh Liu-hiang erat-erat, sekian lama pula ia pun tidak sanggup bersuara.
"Jiko, selama......selama ini baik-baikkah kau?"
Coh Liu-hiang coba menjajaki.
"Baik, baik..."
Sekaligus Cu Kin-hou mengucapkan "baik"
Beberapa kali dan air mata pun berlinang, tangan Coh Liu-hiang digenggamnya lebih kencang dan suaranya menjadi serak.
"Cuma Beng-cu......Beng-cu......"
"Beng-cu kenapa?"
Tanya Coh Liu-hiang. Cu Kin-hou menghela napas panjang dan menjawab dengan murung.
"Dia sakit, sakit berat sekali."
Padahal tanpa dijelaskan juga Coh Liu-hiang tahu Beng-cu pasti sakit berat, kalau tidak, orang tua yang selalu riang gembira ini tidak mungkin bersedih sedemikian rupa.
"Ah, orang muda kan bukan apa-apa kalau cuma jatuh sakit saja? Setelah sembuh malahan akan bertambah kuat,"
Ucap Coh Liu-hiang dengan tertawa canggung Co Kin-hou menggeleng dan berkata pula.
"Kau tidak tahu, kau tidak tahu, penyakit anak ini adalah...... adalah semacam penyakit aneh."
"Penyakit aneh?"
Liu-hiang menegas.
"Ya, dia berbaring di tempat tidur, setetes air pun tak mau minum, sebutir nasi pun tak mau makan, tanpa minum dan makan ini sudah berlangsung hampir sebuian lamanya, seumpama kau, juga tidak tahan akan penderitaan begini. apalagi dia...."
"Apakah sebab musabab penyakitnya sudah diketahui?"
"Hampir semua tabib ternama di wilayah Kanglam ini telah kudatangkan, namun tetap tidak diketahui apa penyakitnya, ada sementara tabib hanya memeriksa nadi, lalu parnit pulang, membuka resep obat saja tidak mau. Apabila tiada obat Siok-beng-wan (pil penyambung nyawa) pemberian Thio Kan-cay yang diminumya tiap hari sehingga jiwanya masih terlindung, kalau tidak.....kalau tidak, anak ini mungkin... mungkin sudah......"
Sampai di sini suaranya menjadi tersendat-sendat dan air mata pun bercucuran.
"Thio Kan-cay.yang dimaksud Jiko itu apakah Kan-cay Siansing si tabib sakli dan pendekar ternama dengan julukan it ci-poan-sing-si (satu jari menentukan mati dan hidup)?"
"Ehm, betul "
Jawab Ci Kin-hou.
"Jika Losiansing ini sudah datang apalagi yang dikuatirkan Jiko"
Ujar Coh Liu-hiang dengan berseri "Asalkan Losiansing ini mau turun tangan, masa ada penyakit yang tak dapat disembuhkannya?"
"Kau... kau tidak tahu, sebenarnya ia pun tidak.....tidak mau membuka resep, cuma lantaran......"
Belum habis penuturannya, mendadak seorang tua dengan berpakaian mentereng dengan sorot mata yang tajam dan berwajah bersih melangkah masuk dengan terburu-buru, ia mengangguk kepada Coh Liu-hiang, lalu bergegas mendekati Ci Kin-hou serta memjejalkan satu biji obat ke mulutnya sambil berkata.
"Telan!"
Tanpa terasa Cu Kin-hou menelan obat itu, lalu bertanya dengan kuatir.
"Ada apa ini?"
Orang tua itu telah berputar kesana dan berkata.
"Ikut kemari!"
Coh Liu-hiang kenal orang tua ini adalah Kan-cay Siansing, si tabib sakti yang termashur itu. Melihat kelakuannya terhadap tuan rumah, diam-diam Coh Liu-hiang merasakan gelagat tidak baik.
"Apakah...... apakah Beng-cu...... dia......dia...."
Cu Kin-hou bertanya dengan ragu-ragu.
Kan-cay Siansing tak menjawab, ia hanya menghela napas panjang dan manggut-manggut.
Cu Kin-hou menjerit terus menerjang ke dalam.
Waktu Coh Liu-hiang ikut masuk ke sana, Cu Kin-bou sudah jatuh pingsan di depan pembaringan, di atas tempat tidur membujur tenang sesosok tubuh gadis yang cantik dengan muka pucat lesi dan kedua mata tertutup rapat Kan-cay Siansing menarik selimut, menutupi muka yang pucat itu, lalu ia berkata kepada Cu-jiya.
"Lantaran kukuatir Cu-jiya akan terlalu sedih dan mengganggu jantung sehingga terjadi pula hal-hal yang tak terduga, maka lebih dahulu telah kuberi minum....... satu, biji Hou-sim-tan (pil penguat jantung), kemudian kuberitahukan berita duka ini, tak tersangka.........tak tersangka dia tetap............."
Tabib sakti yang biasanya memandang mati dan hidup sebagai sesuatu yang wajar itu, kini air mukanya menampilkan rasa duka dan pedih. Lalu dia menyambung.
"Sudah sekian lama dia bersusah payah, aku menjadi kuatir kalau-kalau dia pun ambruk, syukurlah Hiang-swe hadir di sini, tolong kau menguatkan jantung nadinya dengan tenaga dalammu, jika kau tidak datang. sungguh entah apa yang harus kulakukan."
Tanpa disuruh lagi segera Coh Liu-hiang menempelkan telapak tangannya pada hulu hati Cu Kin-hou, diam-diam ia menyalurkan tenaga dalamnya. Cuaca remang-remang, malam sudah hampir tiba, namun Ceng
KANG ZUSI WEBSITE
http.//cerita-silat.co.cc/ pwe-san-ceng yang luas itu belum lagi menyalakan lampu.
Meski angin meniup kencang, namun seakan-akan sukar men i up buyar suasana yang sedih dan seram di perkampungan ini.
Perkampungan yang terdiri dari enam-tujuh lapis gedung ini terasa sunyi senyap, tiada orang berbicara dan tiada orang yang bergerak kian kemari, Setiap orang seakan-akan kuatir ke pergok setan pencabut nyawa yang diutus dari neraka dan mungkin bersembunyi di sudut yang gelap untuk menantikan sasarannya.
Keadaan bertambah hening, jenazah Cu Beng-cu masih berada di ruangan itu, Cu Kin-hou melarang siapa pun menyentuhrrya, ia sendin berlutut di samping, kaku seperti patung.
Perasaan Coh Liu-hiang juga tertekan, ia tahu betapa cintanya orang tua ini kepada putri satu-satunya itu.
Para tabib terkenal yang datang dari berbagai penjuru itupun berduduk disana tanpa berkata, rnereka merasa bingung apakah mesti mohon diri buat pergi atau tidak?
Mereka merasa malu karena usaha mereka tidak berhasil.
Sebegitu jauh kepala Cu-jiya terbenam dalam dekapan telapak tangannya , mendadak dia mengangkat kepala , matanya yang merah memandang jauh ke sana dengan hampa, ucapnya dengan parau.
"Mana lampunya? Mengapa tidak menyalakan lampu? Masa kalian tidak mangizinkan kulihat mukanya?"
Tanpa bicara Coh Liu-hiang berdiri ia mendapatkan batu dan pisau ketikan api di atas meja, tapi baru saja ia menyulut lampu perunggu yang berkerudung kristal, sekonyong-konyong angin kencang meniup dan luar jendela sehingga selimut putih yang menutupi jenazah itu tersingkap, kelambu tempat tidur juga terselak hingga gantungan kelambu yang terbuat dari tembaga membentur tiang ranjang dan menerbitkan suara kelinting nyaring mirip bunyi kelintingan setan pencabut nyawa yang sedang berkeliaran.
"Bres", lampu yang sudah dinyalakan Coh Liu-hiang itu padam pula. Tanpa terasa Coh liu-hiang merinding juga sehingga kristal kerudung lampu jatuh ke lantai, maka hancurlah kristal itu. Suasana menjadi gelap gulita pula. Angin masih meniup dengan kencangnya, beberapa tabib menaikkan leher baju untuk menahan hawa dingin, ada di antaranya sudah mnggigil, ada pula yang. berkeringat dingin. Pada saat itulah, mayat di atas ranjang itu mendadak membuka mata terus bangkit berduduk. Sesaat itu jantung setiap orang seolaholah berhenti berdenyut. Habis itu lantas ada suara jeritan kaget, Sampai-sarnpai Coh Liu-hiang tanpa terasa menyurut mundur satu tindak. Pandangan 'mayat' itu mula-mula tampak termangu-mangu terarah lurus ke depan, lalu pandangannya mulai menggeser namun matanya tetap mengandung hawa orang mati yang seram dan misterius. Tampaknya Cu Kin-hou juga melenggong terkejut, bibirriya bergerak, tapi tak dapat mengeluarkan suara. Biji mata 'mayat' itu tampak bergerak beberapa kali dengan kaku, sekonyong-konyong menjerit dengan suaranya yang keras melengking. Begitu keras dan seram suaranya sehingga ada diantara hadirin segera hendak lari ketakutan, namun kaki serasa diganduli benda beribu kati, hanya gemetar saja dan tiada tenaga buat melangkah. Suara jeritan 'mayat' mulai serak. akhimya berhenti dengan terengah-engah, ucapnya dengan parau.
"Tempat apakah ini? Meng......mengapa aku bisa berada di sini?"
Mata Cu-jiya terbelalak lebar, ucapnya dengan suara gemetar.
"O, Tuhan Maha Pengasih, Beng-cu ternyata tidak mati, Beng-cu telah hidup kembali"
Siapa tahu mendadak "Beng-cu' meeronta keras dan mendorong, dengan erat ia memegang selimut yang mcnyelimuti tubuhnya, tampaknya gemetar tegang.
dengan terkejut ia melotot pada Cu Kin-hou.
hitam matanya sepenti membesar saking takutnya laksana melihat setan.
"Beng-cu,"
Dengan napas tersengal Cu Kin-hou berkata pula.
"Masa kau tidak......tidak kenal ayah lagi?" 'Mayat' itu meringkuk, mendadak ia berteriak dengan parau.
"Aku bukan Beng-cu, bukan anakmu, aku......aku tidak kenal kau!"
Tentu saja Cu-jiya melengak, tak terkecuali, Coh Liu-hiang juga tercengang.
"Jika begitu, apakah kau tahu siapakah dirimu sendiri?"
Tanya Liu-hiang.
"Sudah tentu kutahu."
Teriak 'mayal' itu.
"Aku adalah nona besar Si dari Si-keh-ccng (perkampungan keluarga Si)."
"Ha, jangan-jangan kau ini anak perempuan Kim-kiong Hujin?"
Tanya Coh Liu-hiang sambil berkerut kening. Mata 'mayat hidup' itu terbeliak, ucapnya.
"BetuI, sedikitpun tidak salah. setelah kalian tahu nama kebesaran ibuku, seyogyanya lekas kalian mengantarku pulang agar tidak mendatangka kesukaran bagi kalian."
Sebaliknya muka Cu-jiya tampak merah padam saking gusarnya, dia membanting kaki di lantai dan mengomel.
"Coba lihat, budak.... budak ini malah mengaku maling sebagai ibunya!" 'Mayat hidup' itu mendelik, jawabnya.
"Siapa maling? Kalian sendiri maling, kalian berani menculik diriku"
Gemetar sekujur badan Cu-jiya saking menahan gusarnya, dia menyurut mundur dan menjatuhkan diri di atas kursi dengan napas terengah-engah sampai sekian lamanya, tiba-tiba ia mengucurkan air mata pula dan berkata dengan suara gemetar.
"Anak......anak ini telah dihinggapi penyakit apa, bilamana penyakitnya dapat disembuhkan. aku...... aku bersedia membagi setengah dari seluruh harta benda kekayaanku kepadanya."
Coh liu-hiang juga merasakan kejanggalan pertstiwa ini, dengan heran dan penuh tanda tanya, ia memandang Thio Kan-cay, katanya.
"Bagaimana menurut pendapat Thio-losiansing?"
Thio Kan-cay termenung sejenak, jawabnya kemudian.
"Melihat keadaan penyakitnya, rasanya seperti sejenis 'Li-hun-cing' (sakit kehilangan ingatan), hanya orang yang mengalami pukulan batin dan goncangan perasaan hebat baru bisa menderita penyakit ini. Sudah hampir lima puluh tahun aku berpraktek dan belum pemah melihat penyaki demikian......"
Wajah 'mayat hidup' itu mendadak juga merah padam, dengan gusar ia membentak.
"Siapa yang kena penyakit 'Li-hun-cing'? Kukira kau sendiri yang sakit gila ngaco belo tak keruan membacot sesukanya."
Thio Kan-cay menatapnya lekat-lekat sekian lama, tiba-tiba ia memindahkan sebuah cermin perunggu besar yang tertaruh di pojok sana ke depan nona cantik ini, katanya dengan tegas "Coba, sekarang kau perhatikan, tahukan kau siapakah dirimu sendiri?"
"Gila kau!"
Damprat nona itu dengan gusar.
''Sudah tentu kutahu siapa diriku sendiri, tidak perlu kupandang.....".
Meski mulutnya bilang tidak perlu tidak urung ia menoleh juga memandang ke arah cermin.
Tapi pandangan sekilas ini mendadak membuatnya terkejut tak terhingga dengan takut ia menjerit "He, siapa ini?
Aku...aku tidak kenal dia, aku tidak......tidak tahu siapa dia..."
"Yang tercernin di sini dengan sendirinya ialah dirimu sendiri, masa kau tak kenal lagi pada dirimu sendiri?"
Kata Thio Kan-cay. Mendadak anak dara itu menjatuhkan diri ke tempat tidur dan menutupi muka dengan selimut. teriaknya parau.
"Bukan, ini bukan diriku, bukan diriku!"
Sembari menjerit ia terus memukul tempat lidur sekuatnya, lalu menangis tergerung-gerung.
Setiap orang yang menyaksikan melongo terkesima, tiada yang dapat bersuara, meski dalam hati samar-samar dapat menerka apa yang terjadi ini.
tapi siapa pun tak berani percaya hal ini bisa terjadi.
Thio Kan-cay menarik Coh Liu-hiang dan Cu Kin-hou ke samping sana, dengan suara tertahan ia berkata kepada mereka, '"Anak dara ini tidak sakit."
"Kalau tidak sakit kenapa......kenapa berubah jadi begini?!"
Ucap Cu Kin-hou.
"Meski dia tidak sakit, tapi aku malah berharap akan lebih baik bila dia sakit,"
Ujar Thio Kan-cay dengan menghela napas "Seb......sebab apa?"
Tanya Cu-Jiya bingung. '*Sebab dalam keadaan tidak sakit seperti ini akan jauh lebih.... lebih ,menakutkan daripada kalau dia sakit"
Tiitur Thio Kan-cay.
"Menakutkan?"
Cu-jiya menegas dengan suara parau, keringat dingin tampak merembes keluar di jidatnya.
"Kita tahu, sudah sebulan dia terbaring menderita sakit, bahkan tidak makan tidak minum, seumpama sakitnya mendadak sembuh. tentu tenaganya takkan pulih secepat ini."
Demikian tutur Thio Kancay.
"Apalagi tadi sudah jelas denyut nadinya sudah berhenti dan tidak mungkin tertolong lagi. Untuk itu aku berani menjamin kebenarannya dengan nama baikku yang sudah bersejarah hampir lima puluh tahun, pasti tidak salah penentuanku ini."
"Sudah tentu, siapa yang tidak tahu kemahiran pertabiban Thiolosiansing, siapa pula yang tidak percaya?"
Ujar Coh Liu-hiang Tapi dengan air muka prihatin Thio Kan-cay berkata pula.
"Jika demikian, harus pula kuminta pendapat Coh Hiang-swe, Coba katakan, seorang sudah jelas mati, mengapa bisa hidup kembali secara mendadak? Coh Hiang-swe berpengalaman lias dan pengetahuan banyak, pernahkah kau melihat kejadian ini?"
Coh Liu-hiang melcnggong sekian lamanya, Jawabnya ke mudian dengan senyum getir.
"Ya, selamanya belum pemah kulihat, bahkan mendengar saja tidak pernah."
"Tapi jelas pula anak dara ini telah hidup kembali,"
Kata Thio Kan-cay.
"Coba, kalau menurut pandangan Coh Hiang-swe, cara bagaimana harus menjelaskan persoalan ini?"
Kembali Coh Liu-hiang termangu sejenak, kemudian menjawab.
"Thio-losiansing sendiri merasa bagaimana harus menjelaskannya?"
Thio Kan-cay berpikir agak lama, sorot matanya menampilkan rasa kuatir dan ngeri, dengan suara tertahan akhimya ia berucap.
"Menurut pandanganku, kejadian ini hanya bisa dijelaskan dengan satu istilah......Mayat kesurupan Roh!" ******* Mayat kesurupan roh! Keterangan ini membuat Cu Kin-hou melonjak gerara dan meraung gusar.
"Thio Kan-cay tadinya kukira kau punya pandangan berharga, siapa tahu kau bisa mengucapkan hal yang tidak masuk akal ini. Hm, tabib sakti macam apa kau ini, sungguh tak berani kuterima lagi. Silakan, silakan!"
Thio Kan-cay juga menarik muka, katanya.
"Baik, jika demikian, biarlah kumohon diri saja". Dengan gusar segera ia hendak tinggal pergi. Tapi Coh Liu-hiang telah menarik dan membujuknya agar jangan pergi, kemudian ia pun membujuk tuan rumah, katanya.
"Urusan ini memang luar biasa, kita harus berpikir dan bertindak secara bijaksana, janganlah kila dipengaruhi emosi."
Cu Kin-hou melolot, katanya.
"Memangnya kau.....kau pun percaya kepada omongan setan begitu?"
Coh Liu-hiang termenung sejenak, lalu katanya.
"Apapun juga, harap kalian berdua suka tenang dulu, biarlah kulayani anak dara itu, harus kutanya hingga jelas duduk perkaranya."
Lalu ia mendekati tempat tidur, ia tunggu setelah tangis anak dara itu mulai mereda, dengan suara lembut ia lantas bertanya.
"Aku dapat memahami perasaan nona, bahkan aku bersimpati kepadamu. Kutahu, siapapun kalau menghadapi urusan begini pasti juga akan sangat berduka. Yang kuharapkan hendaklah nona percaya padaku. Sungguh, sama sekali tiada maksud jahat kami hendak membikin susah nona, lebih-lebih bukan kami yang menculik nona ke sini."
Suara Coh Liu-hiang yang lembut dan berdaya tarik itupun mengandung tenaga yang dapat menenangkan pikiran orang.
Tangis nona itu benar-benar berhenti, namun kepalanya masih dibenamkan dalam selimut, ucapnya dengan parau.
"Bukan kalian yang menculik diriku ke sini, mengapa aku bisa berada di sini?"
"Cobalah, silakan nona berpikir lagi secara tenang, coba ingatingat, sesungguhnya apa yang telah terjadi sehingga nona bisa berada di srni?"
"Pikiranku kusut, aku......aku tak ingat apa-apa lagi......"
Tanpa terasa ia mengangkat kepalanya, matanya yang jeli seolah-olah teraling oleh selapis kabut. Coh Liu-hiang tidak mendesaknya, sampai agak lama ba rulah si nona berkata pula dengan pelahan.
"Ya. aku ingat,, aku jatuh sakit hingga lama sekali, sangat berat sakitku."
Seketika timbul rasa girang pada sorot mata Cu Kin-hou, serunya.
"O, anak baik, akhirnya kau dapat mengingatnya juga. Kau memang jatuh sakit lama sekali, selama sebulan ini kau senantiasa berbaring di tempat tidur ini dan tak pernah bangun."
Dia mengerling sekeliling ruangan ini, lalu menyambung pula.
"Kamarku itu sama besarnya dengan kamar ini, tempat tidurku terletak di sebelah sana. Di tempat tidur ada meja rias kayu cendana, di samping meja rias adalah sebuah rak bunga dengan sebuah anglo kecil yang selalu mengepulkan asap wangi."
Gemerlap sinar mata Coh Liu-hiang, ia bertanya pula.
"Barang apa saja yang tertaruh di meja rias itu?"
"Biasa, barang-barang yang kugunakan bersolek sehari-hari sebangsa pupur dan minyak wangi, semuanya kupesan dari Pohiang-cay, sebuah pabrik barang-barang kosmetik yang terkenal di Pakkhia (Peking),"
Tiba-tiba wajah si nona seperti bersemu merah, cepat ia menyambung pula.
"Namun di kamarku itu tiada bunga, sebab bila aku mencium bau serbuk bunga segera kulitku akan gatal, malahan jendela kamarku terpasang tirai kain yang tebai, soalnya sejak kecil aku tidak suka pada sinar matahari."
Jendela kamar ini juga terpasang tirai, namun tirai anyaman lidi bambu yang halus dan bukan kain, di pojok kamar juga ada sebuah pot bunga seruni yang sedang mekar.
Melihat bunga seruni ini, sorot mata si nona lantas mengunjuk rasa jemu.
Diam-diam Coh Liu-hiang menghela napas, sebab ia tahu Cu Beng-cu sangat menyukai bunga dan bunga yang paling disukainya adalah bunga seruni, makanya di kamanya diberi hiasan bunga seruni bersama potnya.
Namun Coh Liu-hiang tidak memberi komentar apa-apa, segera ia memindahkan pot bunga seruni itu keluar.
Dengan rasa terima kasih si nona itu memandang Coh Liu-hiang, ucapnya kemudian.
"Setelah tersekap sebulan lebih di dalam kamar, aku menjadi kesal dan tiba-tiba ingjn melihat sinar matahari, sebab itulah pagi tadi kusuruh orang membuka semua daun jendela kamarku."
"Pagi tadi? Siapa yang nona suruh membuka daun jendela?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Liang-ma (mak Liang), yaitu mak inangku, sudah sekian tahun ia momong diriku. sebab ibu selalu sibuk, biasanya jarang berkumpul dengan kami."
Coh Liu-hiang tertawa, katanya.
"Nama kebesaran Kim-kiong Hujin sudah lama kukagumi."
Cu-jiya mendengus mendengar katakata Coh Liu-hiang ini, tetapi ia tetap menahan perasaannya dan tidak membuka suara. Anak dara itu menatap jauh keluar jendela, katanya dengan pelahan.
"Kejadian pagi tadi masih kuingat dengan jelas, Cuma sekarang......sekarang mengapa hari sudah gelap? Apa.....apa sudah sangat lama aku tertidur?"
"Apa yang terjadi pagi tadi? Apakah nona masih ingat?"
Tanya Liu-hiang.
"Sudah tentu masih ingat,"
Jawab si nona.
"Karena kulihat sinar matahari di luar sangat indah, aku menjadi gembira dan timbul hasratku untuk jalan-jalan di taman."
"Nona dapat berjalan?"
Tanya Coh Liu-hiang. Anak dara itu tersenyum pedih, jawabnya.
"Sebenarnya aku tidak kuat berdiri, tapi Liang-ma tidak tega membuat kecewa kehendakku, maka dia memapah dan menurunkan aku dari tempat tidur serta mengganti pakaianku."
"Apakah baju yang nona pakai sekarang ini?"
Tanya Coh Liuhiang pula.
"O. sama sekali bukan ini,"
Jawab nona itu.
"Baju itu adalah baju kesukaanku yang dijahit sendiri oleh Liang-ma, bahan baju itupun kupesan beli dari toko kain sutera Hu-swi-sian di Pakhia, warnanya merah dengan sulaman burung Hong wama ungu."
Entah mengapa, bicara punya bicara. tiba-tiba muka si nona bersemu merah seperti orang kemalu-maluan.
"Kemudian apakah nona jadi keluar berjalan-jalan?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Tidak jadi, sebab kebetulan ibu datang, malahan ibu membawa serta seorang tabib ternama."
"Siapa tabib ternama itu ?"
Tanya Thio Kan-cay mendahului bertanya.
"Ibu bilang hampir semua tabib ternama di daerah Kang lam telah diserobot oleh Ceng-pwe-san-ceng sehingga penyakitku sukar disembuhkan, maka ibu sengaja mengundang tabib ternama Ong Uh-han dari Utara, yaitu Ong-losiansing yang namanya sama gemilangnya dengan Tiio Kan-cay di daerah selatan, mereka terkenal dengan sebutan Ong di Utara dan Thio di se-latan."
"Bukan Ong di utara dan Tio di selatan, tapi harus Thio di selatan dan Ong di utara,"
Tutur Thio Kan-cay dengan menarik muka. Rupanya ia tidak terima bila namanya ditaruh di bagian belakang. Anak dara itu memandangnya sekejap, tiba-tiba ia berseru.
"He, apa kau Thio Kan-cay, mengapa kau berada di sini, konon kau diundang ke Ceng-pwe-san-ceng?"
"Betul, Thio-losiansing ini memang betul Thio Kao-cay adanya, tempat inipun Ceng-pwe-san-ceng,"
Kata Coh Liu-hiang.
"Hah, jadi di sini Ceng-pwe-san-ceng, jadi kalian memang menculik diriku? Sesungguhnya apa kehendak kalian?"
Seru si nona dengan cemas.
"Sudah kukatakan sejak tadi, kami sama sekali tidak berniat jahat terhadap nona......"
"Jika tidak bermaksud jahat, mengapa tidak melepaskan aku pulang?"
Sela si nona dengan aseran. Coh Liu-hiang saling pandang dengan Cu Kin-hou sekejap, ucapnya kemudian dengan tersenyum.
"Penyakit nona sekarang belum sembuh seluruhnya, lebih baik istirahat sementara waktu di sini, nanti kalau sudah......"
Sekonyong-konyong anak dara itu melonjak bangun dan berteriak.
"Tidak, aku tidak mau istirahat di sini, aku ingin pulang. Siapa berani merintangi aku, biarlah aku mengadu jiwa dengan dia. Di tengah teriaknya segera ia pun melompat bangun dan bermaksud menerjang keluar.
"Rintangi dia, lekas cegah dia!"
Seru Cu Kin-hou.
Pandangan si nona serasa kabur, entah bagaimana caranya, tahu-tahu Coh Liu-hiong yang berdiri di samping tempat tidur sudah menghadang di depannya, mengalangi jalan keluarnya.
Dengan gregetan si nona lantas mencengkeram pundak Coh Liiu-hiang.
Jarinya yang lentik laksana cakar itu mengincar Koh-cing-hiat di kanan kiri pundaknya..MISTERI DAN TEKA-TEKI Namun dengan gesit sekali Coh Liu-hiang dapat menyeli nap lewat di bawah tubrukan si nona.
Karena telah telanjur mencengkeram ke depan, mendadak tangan si nona mcmbalik terus mencengkeram pula Seng-hong-hiat di bagian belakang bahu Coh Liu-hiang, sedangkan tangan yang lain juga mencengkeram Hiat-to maut di bagian iga.
Perubahan serangannya sangat cepat dan lihai, yang diarah adalah tempat mematikan.
Tapi betapa tinggi ilmu silat Coh Liu-hiang, jelas tak dapat dibayangkan oleh anak dara yang masih muda belia ini.
Dengan jelas ia merasa jari sendiri sudah mengenai Hiat-to di tubuh Coh Liu-hiang, asalkan tenaga sudah tersalur ke ujung jari, pasti Coh Liu-hiang akan tertutuk kaku dan kehilangan daya perlawanannya.
Tak tahunya, pada saat itu juga, selicin belut, tahu-tahu Coh Liuhiang memberosot ke sana terus berputar ke belakang si anak dara sambil berkata, ;"Silakan nona tidur lagi sebentar.
setelah bangun nanti urusan akan berubah Iebih baik."
Nona itu cuma merasa tangan Coh Liu-hiang seperti mengusap pelahan di tubuhnya, ucapan yang halus laksana hembusan angin semilir di musim semi dan tidak terasakan.
Menyusul ia lantas merasakan matanya sepat, rasa ingin tidur segera merangsang dan tak tertahan, belum lagi ia berdiri tegak segera ia jatuh terpulas.
Sejak tadi Thio Kan-cay mengikuti gebrakan mereka, baru sekarang ia menghela napas lega, ucapnya.
"Tenang seperti anak perawan, lincah sepcrti kelinci, sungguh tepat sekali menggambarkan kecepatan Coh Hiang-swe dengan kedua kalimat tersebut"
Coh Liu-hiang tertawa setelah Cu Kin-hou membaringkan anak dara itu di tempat tidur, baru tiba-tiba ia bertanya.
"Gaya ilmu apa yang digunakannya tadi? Apakah Losiansing dapat melihatnya?"
Thio Kia-cay berpikir sejenak, jawabnya kemudian.
"Bukankah sebangsa Eng-jiau-kang (ilmu pukulan cakar elang?"
"Betul, pandangan Losiansing memang tajam,"
Ujar Coh Liuhiang.
"Yang digunakan memang betul Eng-jiau-kang terseling gerakan 'Hun-kin-jo-kut-jiu' (ilmu membikin otot tulang terkilir), bahkan tidak lemah tenaganya."
Sejenak Thio Kan-cay memandang Cu Kin-hou, katanya dengan pelahan.
"Setahuku, di dunia Kangouw jarang ada perempuan yang mahir Eng-jiau-U-kang begini kecuali......"
Dia berdehem dua kali lalu tidak melanjutkan lagi. Sebaliknya Cu Kin-hou lantas berseru dengan beringas.
"Ya, aku pun tahu Eng-jiau-kang adalah ilmu silat keturunan keluarga bininya Si Hau-liam, tapi jelas anak dara ini adalah putriku, siapa pun tak dapat menyangkal"
"Apakah sebelum ini putrimu juga pemah meyakinkan ilmu ini?"
Tanya Thio Kan-cay.
Cu Kin-hou jadi melenggong dan tak bisa menjawab.
Padahal tanpa jawabannya juga orang lain tahu.
Cu-jiya terkenal dengan ilmu silat kebanggaannya yaitu 'Hui-hoa-jiu' (ilmu pukulan bunga bertaburan).
Hui hoa-jiu adalah ilmu pukulan yang ruwet gaya perubahannya, halus dan dingin, justru merupakan kebalikan ilmu pukulan keras sebangsa Eng-jiau-kang.
Dengan sendirinya tak mungkin anak perempuan Cu-jiya disuruh belajar ilmu Eng-jiau-kang?
Meski Thio Kan-cay terkenal sebagai tabib sakti, tapi sebenamya ia pun tokoh silat terkemuka, konon 'Tan-ci-sin-thong' (ilmu tenaga jari sakti) yang merupakan ilmu kebanggaannya sudah mencapai puncaknya kesernpurnaan, maka terhadap ilmu silat dari berbagai golongan dan aliran ia pun cukup paham.
Ia merasa simpati melihat wajah Cu Kin-hou yang cemas dan berduka itu, dengan menyesal ia berkata.
"Perasaan Cu-cengcu sekarang betapapun dapat kupahami, cuma saja, di dunia ini memang sering timbul hal-hal yang sukar dibayangkan dengan akal dan sukar pula dipecahkan. Sekarang setelah penstiwa ini terjadi....."
"Meng......mengapa kau menyuruh aku percaya pada hal-hal yang mustahil inii? Masa kau benar-benar percaya ada kejadian 'mayat kesurupan roh' segala?' kata Cu Kin-hou dengan parau. Lekas Coh Liu-hiang menyela.
"Kukira maksud Thio-losiansing cuma menginginkan Jiko suka berpikir dengan tenang, agar kita bersama-sama dapat mencari akal untuk menghadapi persoalan ini." '"Ucapan Hiang-swe memang tak salah, asalkan mau, urusan apapun pasti dapai kita pecahkan ujar ,"
Thio Kan--cay. Cu Kin-hou mengggeleng, ucapnya dengan murung.
"Perasaanku kusut-masai, terserah apa yang kalian anggap baik."
Setelah terdiam sejenak, lalu Coh Liu-hiang membuka suara.
"Urusan ini memang banyak segi-segi yang sukar untuk dibayangkan. Sebab apakah mendadak Beng-cu menggunakan ilmu silat keturunan Kim-kiong Hujin? Soal ini jelas sukar untuk dijawab, tapi kjta tetap ingin menyelidiki kebenaran apa yang dikatakannya tadi, kita harus tahu apakah betul-betul anak perempuan Hoa Kimkiong telah mati?"
Cu Kin-hou membanting kaki katanya dengan kurang senang.
"Jelas-jelas kau tahu Hoa Kim-kiong adalah besan musuh bebuyutanku (maksudnya Sih Ih-jin), masa kau menghendaki aku pergi ke Si-keh-ceng untuk menanyai dia?"
"Meski Cu-cengcu tidak dapat pergi ke sana, Coh Hiang-swe kan dapat pergi?"
Ujar Thio Kan-cay "Coh Liu-hiang adalah sahabat karib Cu-Kin-hou, siapa yang tidak tahu hal ini?"
Kata Cu-jiya.
"Jika Coh Liu-hiang pergi ke sana, mustahil kalau dia tidak diusir dengan sapu oleh si perempuan tua itu."
Thio Kan-cay tertawa, katanya pula.
"Tapi Ceng-cu juga jangan lupa bahwa Ginkang Coh Hiang-swe tiada bandingannya di dunia ini, sekalipun istana raja juga berani di terobosnya sesuka hati tanpa rintangan, apalagi cuma perkampungan kecil seperti Si-keh-ceng.." ***************** Padahal Si-keh-ceng sama sekali tidak kecil, malahan luas dan kemegahannya tak kalah dibandingkan Ceng-pwe-san-ceng. Cengcu Si Hau-liam memang bukan orang Kangouw, tapi istrinya, HoaKimkoing, cukup tenar di dunia persilatan, kepandainnya 'Kim-kiong-gintan-thi-eng-jiau' atau gendewa emas berpeluru perak dan cakar elang besi, terkenal sebagai kungfu kebanggaannya. Selain itu terkenal juga sesuatu hal atas diri sang Cengcu, yaitu 'takut bini'. Orang kangouw mungkin tidak terlalu paham terhadap 'Say-hau-ceng atau perkampungan singa meraung sebagai gambaran di situ ada istri yang galak, maka setiap orang tentu tahu siapa yang di maksud. Yang lucu adalah tidak cuma sang bapak takut pada bini, penyakit ini juga ternyata menurun kepada anaknya. Putra Si Hauliam, Si Toan-cong, bahkan takut pada bininya melebihi takut pada harimau. Sebenarnya orang pun tidak dapat menyalahkan Si Toan-cong yang takut bini itu, sebab setiap orang tahu, bininya memang bukan sembarang orang, asal-usulnya memang luar biasa. Bahkan Hoa Kim-kiong, sang mertua perempuan yang terkenal galak dan garang itupun tak berani mengusik pihak besannya. Hakikatnya di kalangan Kangouw juga tiada orang yaing berani mengusik besan keluarga Si ini, sebab besannya adalah sang pendekar pedang nomor satu di dunia, yaitu Sih Ih-jin, Sih-tayhiap yang termasyhur itu. Waktu mudanya Sih ih-jin terkenal dengan julukan 'Hiat-ih-jin' atau si baju berdarah dan berkecimpung di dunia Kangouw tanpa kenal kawan atau lawan, siapa pun, bila tidak disukai nya pasti dilabraknya habis-habisan. cara turun tangannya keji tanpa kenal ampun, orang yang terbunuh olehnya boleh dikata sukar dihitung jumlahnya. Setelah menginjak setengah umur perangainya yang berangasan itu mulai hilang dan akhimya hidup menyepi di perkampungannya, namun permainan pedangnya tetap maha sakti,.konon selama empat puluh tahun ini, belum pemah ada seorang pun yang mampu melawan dia dalam sepuluh jurus. Sih Ih-jin si pendekar pedang nomor satu di dunia inilah yang menjadi musuh bebuyutan Cu Kin-hou, dari dulu hingga sekarang *********************** Malam sudah larut, suasana di Si-keh-ceng sunvi senyap, gelap tanpa cahaya lampu. Daun tetumbuhan di taman belakang perkampungan itu sama gugur dan layu, musim rontok terasa hampa, semua serba sendu. Angin malam berhembus dingin, sampai-sampai serumpun seruni kuning, bunga yang mekar di musim rontok itupun kurang semarak di bawah cahaya bulan yang remang-remang. Perasaan Coh-Liu-hiang juga sangat tertekan. Meski Ginkangnya tiada bandingannya, tetapi setiba di Si-keh-ceng ini, betapapun ia tidak berani gegabah. ia sedang nonkrong di atas pohon dan mengamati keadaan sekelilingnya. Di tengah sayup-sayup desir angin itu tiba-tiba terdengar suara orang menangis, cepat Coh Liu-hiang melayang ke sana segesit burung walet, dipandang di suasana malam yang kelam nampaknya seperti seekor kelelawar. Di tengah hutan bambu sana ada beberapa buah rumah kecil, nampak cahaya lampu menembus keluar dari jendela, suara tangisan sedih itu jelas berkumandang keluar dari rumah ini. Di pojok ruangan sana ada sebuah tempat tidur, di samping tempat tidur terletak sebuah meja rias berukir indah, di sebelahnya ada sebuah rak bunga, tampak asap dupa mengepul dan terhembus oleh angin malam. Tampak sesosok tubuh terbaring di tempat tidur, seorang perempuan tua dengan rambut beruban berlutut di depan tempat tidur dan sedang menangis dengan sedih, jeias terdengar dia ber gumam.
"O, anak In, kenapa kau meninggal, kenapa anak In.... Hanya memandang sekejap saja Coh Liu-hiang merasa merinding. Nyata, putri keluarga Si memang betul meninggal, suasana kamarnya tertata cocok sebagaimana diuraikan oleh anak dara di rumah Cu Kin-hou itu. Baju yang dipakainya juga berwarna merah bersulam burung Hong warna ungu. Anehnya mengapa jenazahnya belum lagi dimasukkan dalam peti mati? Siapa pula perempuan tua yang menangis sedih di tepi ranjang ini? Coh Liu-hiang tahu, perempuan tua ini pasti bukan Hoa Kimkiong. Jika demikian apakah dia ini Liang-ma, si mak inang yang dimaksudkan 'anak dara' itu? Perempuan tua ini masih terus mengangis dengan sedih, akhirnya kepalanya terjuntai lemas ke bawah dan mendekap di atas ranjang, agaknya saking lelahnya dia tertidur tanpa terasa. Dari kejauhan terdengar suara kentongan ronda malam, ternyata sudah kentongon keempat. Timbul juga rasa sedih dalam hati Coh Liu-hiang, ia pun merasakan suasana yang seram ini, seakan-akan bau harum asap dupa yang mengepul itupun membawa hawa kematian yang seram dan misterius. Dia bersembunyi di balik jendela yang gelap, ia berdiri termenung sekian lamanya, dilihat suara napas si perempuan tua yang berat tampaknya benar-benar terpulas dengan nyenyaknya. Pelahan-lahan Coh Liu-hiang menerobos jendela masuk ke ruangan itu, betapa ringan langkahnya hingga tanpa menimbulkan suara, sekalipun perempuan tua itu tidak tertidur juga pasti takkan mendengar kedatangannya. Wajah anak yang membujur di tempat tidur itu pucat kuning. kurus kering, hanya tinggal kulit membungkus tulang, dapat dibayangkan sebelum ajalnya pasti sudah cukup lama bergelut melawan penyakit. Mata, alis dan raut wajah anak gadis ini sama sekali tidak mirip Cu Beng-cu, tapi lapat-lapat kelihatan bahwa pada waktu hidupnya juga seorang gadis yang cantik. Akan tetapi sekarang elmaut telah merenggut jiwanya dan juga telah merenggut kecantikannya itu, elmaut memang tak kenal kasihan, tidak pemah meninggalkan apapun bagi sasarannya. Coh Liu-hiang berdiri di belakang perempuan tua itu dan memandang jenazah di tempat tidur, dipandangnya sulaman burung Hong di atas bajunya dan teringatlah apa yang diucapkan 'anak dara' itu, tanpa terasa tangannya berkeringat dingin. Ia coba mendekati meja rias itu, dipegang satu kotak pupur, dilihatnya merek kotak pupur itu jelas tertulis "buatan Po hiang-cay di Pakkhia', jadi cocok seperti apa yang dikatakan 'anak dara ' itu. Seketika merinding pula Coh Liu-hiangg, bulu roma sama berdiri, kotak pupur itupun basah oleh keringat dinginnya Tiba-tiba terdengar perempuan tua itu menjerit.
"Hai, kalian berani membawa lari anak In hayo kembalikan!"
Tergetar tangan Coh-Liu-hiang sehingga kotak pupur yang dipegangnya itu terjatuh.
Dilihatnya tangan perempuan tua yang kurus itu memegang erat baju sutra merah yang dipakai mayat itu, selang sejenak barulah pelahan-lahan dilepaskannya.
Dahinya yang keriput itu tampak merembes butiran keringat, tapi kepalanya lantas mendekap lagi diatas ranjang, lalu napasnya tenang kembali, pelahan-lahan terpulas pula.
Selama hidup Coh Liuhiang entah sudah berapa banyak mengalami hal-hal yang seram dan berbahaya, tapi belum pernah dia terkejut seperti sekarang.
Dengan sendirinya bukan lantaran jeri pada si perempuan tua atau takut pada pada mayat di tempat tidur itu.
Sesungguhnya ia pun tidak tahu sebenarnya apa yang ditakutinya.
Yang jelas ia merasa rumah ini penuh hawa gaib dan penuh misteri, rasanya setiap waktu bisa timbul hal-hal yang sukar diduga dan sukar untuk dilawan siapa pun.
'Mayat kesurupan roh', kejadian ini sebenarnya tak mungkin djpercayainya, tapi sekarang, bukti terpampang di depan mata, mau tak mau ia harus percaya.
Tiba-tiba angin meniup kencang, tirai kain jendela tersing kap sehingga membuat suasana tambah seram, cepat Coh Liu-hiang mengusap tangannya yang berkeringat dingin itu pada bajunya, lalu berjongkok hendak menjemput kotak pupuryang terjatuh tadi.
Ia harus membawa pulang kotak pupur ini untuk diperli hatkan pada Cu Kin-hou agar sahabatnya itu menarik kesimpulan sendiri.
Maklum, ia sendiri tidak tahu cara bagaimana harus memberikan keterangan kepada Cu Kin-hou.
Ya, hakikatnya urusan ini memang sukar untuk dijelaskan.
Akan tetapi baru saja ia berjongkok, segera dilihatnya sepasang sepatu kain bersulam Selama hidup Coh-Liu-hiang entah telah berapa banyak melihat sepatu kain bersulam dengan aneka macam ragamnya, serta dipakai di kaki berbagai golongan wanita.
Selama ini tak terpikir olehnya bahwa sepasang sepatu begini juga dapat membuatnya terkejut.
Namun ia sekarang benar-benar terkejut.
Sepatu bersulam ini mirip muncul dari neraka secara mendadak.
Sesungguhnya yang dilihatnya bukanlah sepasang sepatu melainkan cuma sepasang ujung sepatu.
Ujung sepatu yang sangat bagus, warna hijau, tampaknya seperti dua potong tunas rebung.
Bagian sepatu yang lain tertutup celana yang berwarna merah muda, bagian tepi ujung celana malahan bersulam benang warna emas, sulaman yang sangat indah.
Sebenarnya sepasang sepatu yang bagus dan celana yang indah, tapi entah mengapa, tanpa terasa timbul pikiran Coh Liuhiang, jangan-jangan di bagian atas kaki itu tidak ada kepalanya.
la jadi ingin melihat ke bagian atas, tapi sebelum ia menengadah, sekonyong-konyong seseorang telah mendengus.
"Jangan bergerak, berjongkok terus seperti sekarang ini, bagian mana saja dari anggota badanmu bila berani bergeser sedikit segera kupecahkan batok kepalamu!'' Jelas itulah suara seorang perempuan, nadanya dingin dan kaku. sedikitpun tiada rasa kelembutan seorang perempuan. Cukup didengar dari suaranya saja, kalau perempuan begini sudah mengancam akan menghancurkan kepala seseorang, maka hal ini dapat dilaksanakannya, tidak mungkin cuma gertakan belaka. Dengan sendirinya Coh Liu-hiang tidak berani bergerak. Di depan kaum perempuan, selamanya ia tidak mau bertindak sesuatu yang mungkin mendatangkan bahaya. Apalagi, bila yang dihadapinya sekarang bukanlah orang perempuan. tapi setan perempuan. Terdengar suara itu berkata pula.
"Siapa kau? Kerja apa kau main sembunyi-sembuniy di sini? Lekas mengaku terus terang! Tapi ingat, hanya mulutmu saja yang boleh bergerak."
Cukup lama juga Coh Liu-hiang menimbang, ia pikir dalam keadaan begini akan lebih baik jika bicara terus terang.
Maklum, baik manusia maupun setan juga akan terkejut bilamana mendengar nama 'Coh Liu-hiang' .
Dan kalau orang sampai terkejut, maka inipun berarti kesempatan baik untuk bertindak baginya.
Segera ia menjawab,"Aku Coh Liu-hiang......"
Di luar dugaan, belum lagi lanjut ucapannya, cepat perempuan itu lalu mengejek.
"Hm, Coh Liu-hiang? He he, jika kau Coh Liuhiang, maka aku inilah ibumu!"
Terpaksa Coh Liu-hiang hanya menyengir saja.
Biasa, setiap kali kalau dia mengaku bernama Li A-sam atau Tan A-si maka orang lain pasti akan mencurigai ia ini Coh Liu-hiang adanya, sebaliknya jika ia mengaku sejujumya, maka orang justru tak percaya, bahkan menganggap dia sinting dan menggelikan.
Begitulah terdengar perempuan tadi mengejek pula.
"Hm, sebenarnya sejak tadi sudah kuketabui siapa kau ini, jangan kau harap dapat mengelabui aku."
"Habis siapa diriku kalau bukan Coh Liu-hiang?"
Kata Liu-hiang sambil menyengir.
"Kutahu kau pasti binatang kecil itu, binatang kecil yang pantas mampus,"
Damprat perempuan tadi.
"Sungguh tak pernah kuduga bahwa kau berani datang pula ke sini."
Sekonyong-konyong suaranya berubah bengis dan penuh rasa murka, katanya pula, 'Tahukah kau cara bagaimana matinya anak In?
Dia justru mati di tanganmu.
kau telah membikin celaka dia selama hidup, kau telah mengakibatkan kematiannya dan belum cukup, sekarang kau datang ke sini pula untuk apa?"
Karena tidak paham apa maksud pertanyaan orang, terpaksa Coh Liu-hiang bungkam saja. Tentu saja perempuan itu bertambah murka, kembali ia mendamprat.
"Jelas kau tahu anak In telah dijodohkan kepada Jikongcu (putra kedua) Sih-tayhiap, tapi kau tetap berani memelet dia, memangnya kau kira aku tidak tahu persoalan ini?"
Dengan sendirinya sekarang Coh Liu-hiang tahu perempuan ini bukan setan melainkan orang, malahan terhitung ibu Si In, nona yang meninggal itu, ialah Kim-kiong Hujin yang terkenal galak dan bawel itu.
Padahal selama hidup ini yang paling membikin pusing kepala Coh Liu-hiang justru adalah perempuan judas dan cerewet.
Tiba-tiba terdengar suara seorang ikut bicara.
"Apakah keparat ini Yap Seng-lan adanya? Hm, besar juga nyalinya berani menyusup ke sini?"
Suara ini lebih melengking daripada suara Hoa Kim-kiong, juga lebih tajam.
Maka di depan Coh Liu-hiang segera muncul pula sepasang kaki yang mengenakan celana wama jambon dengan sepatu melengkung warna merah tua, di atas ujung sepatu terikat sebuah bola benang merah.
Biasanya untuk mengetahui perangai seorang gadis, asalkan melihat sepatu yang dipakainya, maka sebagian besar sifat nya sudah dapat diterka.
Kini sepatu yang dikenakan perempuan ini justru melengkung mirip dua tangkai lombok merah raksasa Diam-diam Coh Lhi-hiang menghela napas.
"Sialan!"
Pikirnya.
Memang jika di dunia ini ada urusan yang lebih memusingkan daripada bertemu dengan perempuan bawel, maka hal itu adalah bertemu dengan dua perempuan bawel sekaligus.
Dalam keadaan demikian kalau bisa sungguh Coh Liu-hiang ingin angkat langkah seribu alias kabur saja.
Tapi ia pun tahu peluru perak Hoa Kim-kiong yang terkenal itu pasti sudah mengincar batok kepalanya, apalagi perempuan yang datang belakangan dengan celana merah ini, besar kemungkinan adalah puteri tertua Sih Ih-jin, menantu Si Hau-liam.
Bahwa, ilmu pedang Sih Ih-Jin tiada tandingannya di dunia ini, maka anak gadisnya pasti bukan tukang cuci pedang belaka.
Sebenarnya bukan Coh Liu-hiang takut pada mereka, soalnya dia tak mau berkelahi dengan kaum wanita.
Maka terdengar Hoa Kim-kiong lagi berkata.
"Kedatanganmu sangat kebetulan. Siaunaynay (nyonya mantu), menurut pendapatmu cara bagaimana sebaiknya kita bereskan keparat ini?"
"Pemuda bangor begini, pintarnya cuma menggoda perempuan baik-baik setiap hari, kukira paling baik kalau kita kubur dia hiduphidup,"
Jengek Siau-naynay, sang nyonya mantu.
Mendongkol dan juga geli Coh Liu-hiang, pantas Si-siau cengcu (tuan muda keluarga Si) takut bini melebihi takut pada harimau, nyatanya nyonya mantu ini memang galak lagi kasar, tanpa tanya duduknya perkara segera hendak mengubur orang hidup-hidup.
Terdengar Hoa Kim-kiong berkata pula.
"Terlalu enak baginya jika cuma dipendam hidup-hidup saja, menurut pendapatku, paling baik kalau kita padamkan lenteranya (maksudnya butakan matanya)."
"Padamkan lenteranya juga boleh,"
Ujar Si-siaunaynay tapi ingin kulihat dulu bagaimana macamnya, dalam hal apakah dia melebihi Loji (tuan muda kedua) keluarga Sih kami sehingga membikin nona In tergila-gila padanya."
"Ya, betul juga,"
Kata Hoa Kim-kioog. Lalu ia membentak "
He, anak muda, coba angkat kepalamu!"
Sudah tentu mereka tak perlu memerintah untuk kedua kalinya, sebab Coh Liu-hiang sendiri ingin tahu bagaimana corak kedua perempuan mertua dan menantu itu.
Maka terlihatlah sang nyonya Kim-kiong ini berusia lima puluhan lebih, namun dandanannya waduh, jangan ditanya, pupur di mukanya kalau dikerok sedikitnya ada dua kati.
Akan tetapi matanya yang kemilau itu, lirikannya bisa membikin gila setiap lelaki, mungkin sekali dahulu Si Hau-liam justru terpikat oleh lirikannya yang menggiurkan ini.
Sedangkan si-siaunaynay kita itu sukar untuk bisa disebut perempuan cantik kalau tidak mau dikatakan seperti siluman.
Mukanya lonjong bak kuda, mulutnya lebar bagai baskom, bahkan hidung hapir sebesar mangga golek.
Bayangkan, perempuan yang berwajah luar biasa begini, kalau saja dia bukan puteri Sih-tayhiap yang pendekar pedang nomor satu di dunia, mustahil dia bisa mendapatkan pasangan hidup.
Tiba-tiba Coh Liu-hiang menaruh simpati kepada Si-siau cengcu itu, sungguh malang nasibnya, punya istri bawel dan galak saja sudah cukup kasihan, apalagi istrinya lebih mirip se eker kuda betina.
Beginilah tatkala Coh Liu-hiang mengamat-amati kedua mertua dan menantu itu, mereka pun mengawasi Coh Liu-hiang lekat-lekat Mata Hoa Kim-kiong yang kemilau itu seakan meneteskan air, bahkan mata kuda sang nyonya mantu juga berkilau-kilau, air mukanya yang garang tadi segera berubah lebih ramah "Wah, memang benar seorang pemuda hidung belang, pantas saja nona besar kita terpikat olehnya,"
Jengek Si-siaunaynay kemudian.
Hendaklah maklum bahwa nama Coh Liu-hiang sudah termasyhur puluhan tahun, setiap orang Kangouw tahu ilmu pukulannya sangat lihai.
Ginkangnya tiada bandingannya, tapi hanya beberapa orang saja yang pernah melihat wajah asli Coh Liu-hiang.
Dengan sendirinya semua orang semua berpikir kalau nama Coh Liu-hiang sedemikian tenar dan begitu tinggi kepandaiannya, dengan sendirinya usianya juga tidak terbilang muda lagi, malahan ada yang beranggapan dia pasti seorang kakek-kakek.
Maka Coh Liu-hiang hanya menyengir saja mendengar ucapan antara mertua dan menantu tadi.
Dalam pada itu si nenek Liang-ma entah sejak kapan telah bangun dari tidurnya, ia pun tampil ke muka, agaknya ia pun ingin melihat bagaimana bentuk si 'bangor' yang telah berhasil memikat nona asuhannya.
Kini Coh Liu-hiang dapat melihat jelas, Liang-ma ini ternyata seorang perempuan tua yang nampaknya welas asih.
Tiba-tiba timbul suatu pikiran dalam benaknya.
Namun pada saat itu juga Hoa Kim-kiong telah berteriak.
"Apakah nanti kita akan pendam dia hidup-hidup atau memadamkan lenteranya. yang penting kita sekarang harus membekuknya lebih dahulu."
Begitu sinar keemasan berkelebat, gendewa emas yang di pegangnya itu segera menutuk ke Hi-hay-hiat di bagian perut Coh Liu-hiang, rupanya gendewa ini tidak melulu untuk menjepretkan peluru perak, tapi kedua ujung gendewa yang melengkung itupun dapat digunakan menutuk Hiat-to seperti belati.
Cara menutuknya jitu, gerakannya cepat, tampaknya ia pun seorang ahli Tiam-hiat.
Dengan sendirinya sekarang Coh Liu-hiang tak dapat berlagak pilon, sedikit mengkeret tubuh, segera ia mundur beberapa langkah ke samping, cara mundumya temyata tidak kalah cepat nya daripada lawan.
Serangan pertama luput, segera Hoa Kim-kiong memutar terus menyabet pula dengan gendewanya, sekali ini yang diarah adalah pinggang Coh Liu-hiang, gendewanya kini telah berubah menjadi pentung.
Baru sekarang Coh Liu-hiang tahu Hoa Kim-kiong benar-benar tidak boleh diremehkan, gendewa emasnya sekaligus ternyata dapat dimainkan sebagai berbagai senjata, pantas orang Kangouw bilang Kim-kiong Hujin adalah jago wanita utama dunia persilatan daerah Kanglam.
Sementara itu Coh Liu-hiang sudah mundur sampai di meja rias dan tak dapat mundur lagi.
Sedangkan serampangan gendewa lawan sudah menyambar tiba.
jelas dia tak dapat menghindar ke kanan atau ke kiri, kalau mundur ke belakang pasti akan menumbuk meja rias.
Malahan serangan Kim-kiong Hujin tampaknya masih membawa daya ikutan lain, umpama Coh Liu-hiang mundur dan tersandung meja rias, bukan mustahil gendewanya akan terus menutuk pula.
Di luar dugaan, tiba-tiba Coh Liu-hiang mengkeret tubuh lagi dan melompat ke atas meja rias, menyusul terus memberosot ke samping menempel dinding Melihat betapa gesit dan lihainya Coh Liu-hiang, baru sekarang air muka Hoa Kim-kiong berubah, bentaknya.
"Keparat, benar juga kau punva kemampuan.'"
"Maling cabul rendah begini, dengan sendirinya mahir sedikit kepandaian cara mencuri ayam dan mencilok anjing,"
Jengek Sisiaunaynay.
Berbareng ia meraba bajunya dan tahu-tahu sudah memegang sebilah pedang pendak yang bersinar gemerlapan, belum lenyap suaranya, sekaligus ia sudah melancarkan tujuh kali tikaman ke arah Coh Liu-hiang.
Pedang pandak begini adalah senjata beladiri kaum wanita di zaman kuno.
Si-siaunaynay ini bahkan mahir ilmu pedang keturunan, begitu menyerang lantas menggunakan tipu serangan tanpa kenal ampun.
Apalagi ruangan ini tidak terlalu besar dan cocok bagi orang yang bersenjata pendek, kalau saja lawannya bukan Coh Liu-hiang, sekali sudah terdesak ke pojok pasti sukar menghindarkan tujuh kali serangan sekailgus itu.
Cuma sayang, lawan Si-siaunaynay sekarang adalah Coh Liuhiang.
"Ai, seumpama betul aku ini Yap Seng-lan, masa kalian harus membunuhku secara keji begini?"
Gumam Coh Liu-hiang dengan gegetun.
Dia cuma bicara dua-tiga kalimat saja, tapi di tengah ucapannya itu dia sempat menyelinap ke sana dan meluncur ke sini, melompat ke atas untuk kemudian hinggap pula ke bawah dan akhirnya menggeser sampai di ambang plntu.
"Keparat, kau ingin merat? Memangnya Si Keh-ceng boleh kau buat pergi-datang sesukamu?"
Damprat Hoa Kim-kiong.
Cepat juga turun tangannya, baru habis ucapannya.
Mendadak terdengar suara jepretan gendewa berulang-ulang, peluru sudah berhamburan ke arah Coh Liu-hiang seperti hujan.
Hebatnya, peluru-peluru itu menyambar dengan cara yang berbeda-beda, ada yang membidik dengan keras, ada yang lambat, yang terbidik belakangan terkadang datang lebih cepat ke arah sasarannya, ada yang saling bentur di udara untuk kemudi an mendadak berganti arah.
Ada yang membentur dinding terus mental balik menyerang Coh Liu-hiang.
"Peluru perak bergendewa emas' Kim-kiong Hujin ini memang lain daripada yang lain, cuma sayang yang menjadi lawannya ialah Coh Liu-hiang. Entah cara bagaimana, tahu-tahu tubuh Coh Liu
KANG ZUSI WEBSITE
http.//cerita-silat.co.cc/ hiang berputar-putar, secepat terbang terus menerobos pergi ke tengah hujan peluru itu, sekali berkelebat pula, orangnya sudah berada jauh belasan tombak di sana.
Kim-kiong Hujin terkesiap, cepat ia memburu ke depan pintu dan berseru.
"He, anak muda, ingin kutanya padamu, apakah kau benarbenar Coh Liu-hiang?"
Sementara itu Coh Liu-hiang telah melompat ke pucuk pohon bambu, dengan daya melenting pohon bambu itu ia melayang pula jauh ke sana sambil memberi tangan ke arah sini, cuma tidak jelas dia sedang menggapai sebagai tanda selamat tinggal atau menggoyang tangan.
"Selamanya kita tiada pemusuhan dengan Coh Liu-hiang, mengapa dia bisa datang kemari?"
Ucap Si-siaunaynay dengan gemas. Setelah melenggong sejenak, Kim-kiong Hujin tertawa. katanya.
"Peduli dia Coh Liu-hiang atau bukan, yang pasti dia tak kan mampu kabur."
"O ya?"
Si-siaunaynay merasa ragu-ragu.
Kim-kiong Hujin lantas menuding ke sebuah gardu taman di sebelah sana dan berkata pula, ''Jicek (paman kedua) mestika kalian itu kan belum pulang setelah mengantar kita kesini, sebelum disuguhi makan enak.
kuyakin dia belum mau pergi dan sekarang dia pasti menunggu di gardu sana."
Tersembul senyuman benci di ujung mulut Si-siaunaynay, katanya.
"Ya, betul, asalkan Po-jicek berada di gardu sana, betapapun dia pasti tidak dapat kabur, baik dia Coh Liu-hiang atau bukan."
Memang betul, di gardu taman yang dimaksudkan itu ada seseorang lagi duduk di undak-undakan batu dan sedang menengadah memandangi langit, mulutnya tampak berkomat-kamit entah apa yang diucapkannya.
Tapi bila didengarkan dengan cermat, aneh, rupanya orang ini sedang menghitung bintang di langit "Senbu tiga ratus dua puluh tujuh, seribu tiga ratus dua puluh delapan, seribu tiga ratus dua......"
Beginilah dia terus menghitung satu demi satu.
Usia orang ini sedikhnya sudah lebih empat puluh, jenggotnya saja sudah beruban tapi bajunya justru berwarna merah tua yang lebih la yak dipakai anak muda, malah pakai sulaman lakon 'Lau-hay memancing katak' dalam cerita Pat-sian (delapan dewa) segala.
Sepatunya juga berwrna merah dengan ujung kepala harimau.
Di bawah kerlipan sinar bintang, air mukanya tampaknya juga merah licin, tapi bila dipandang dengan cermat baru ketahuan bila dia memakai pupur pemerah pipi.
Tampaknya dia menghitung bintang dengan penuh perhatian, tangannya juga ikut menuding-nuding sehingga menimbulkan bunyi gemerincing, kiranya ia pun memakai beberapa gelang yang berkelintingan.
Sebenamya Coh Liu-hiang ingin lekas-lekas meninggalkan Sikeh-ceng, ia pun tidak memperhatikan bahwa di gardu taman ini ada duduk seseorang.
Ketika mendengar suara gemerincing itulah baru dia melirik sekejap ke sana.
Tapi hanya sekali melirik saja hampir-hampir tertawa geli, jika dalam kaadaan biasa pasti dia akan mendekat ke sana untuk melihat siapakah orang istimewa ini.
Tapi sekarang dia tiada waktu senggang, begitu kaki menutul tanah, segera ia melayang lewat gardu taman ini, asalkan dua kali naik turun lagi, dapatlah dia melayang keluar taman ini.
Di luar dugaan, pada saat itu juga.
"serr"
Mendadak sesosok bayangan orang meluncur keluar dari gardu tadi dan menghadang di depan Coh Liu-hiang Bahwasanya Coh Liu-hiang melayang melintasi gardu untuk kemudian hinggap ke bawah, sebaliknya orang ini langsung meluncur keluar dari gardu, sudah tentu jaraknya lebih dekat daripada Coh Liu-hiang, namun gerak tubuhnya jelas luar biasa cepatnya dan cukup mengejutkan.
Sungguh tak tersangka oleh Coh Liu-hiang akan bertemu tokoh dengan Ginkang setinggi ini di sini, waktu ia memandang lebih jelas lagi, kiranya 'tokoh' ini ialah 'si sinting' yang asyik menghitung bintang tadi.
Dalam keadaan berdiri, kini terlihat jelas baju yang dipakainya sempit lagi cekak, mirip baju pinjaman kalau bukam cu rian.
Namun rambut dan jenggotnya tersisir dengan kelimis, malahan pakai minyak rambut segala, ditambah lagi mukanya ber pupur merah, kalau dipandang sepintas lalu orang akan mengira dia ini pelawak yg baru turun panggung.
Coh Liu-hiang tercengang juga melihat si 'jimat' ini ternyata memiliki kungfu yang mengejutkan.
Sebaliknya si 'jimat' juga mengamat-amati Coh Liu-hiang.
tibatiba ia mengikik tawa dan berkata.
"Hihi, paman ini datang darimana? Rasanya aku belum pernah melihat engkau?"
Seorang tua memanggilnya dengan sebutan 'paman', karuan Coh Liu-hiang jadi serba konyol.
Untunglah Hoa Kim-kiong dan menantunya tidak mengejar tiba.
Maka dengan tenang Coh Liu-hiang menjawab dengan tertawa.
"Ah, Losiansing jangan sungkansungkan, sebutan paman tak berani kuterima."
Siapa tahu, baru habis ucapannya. seketika si 'jinat tertawa terbahak-bahak, ucapnya,"
Hahaha, kiranya kau seorang yang dungu. Jelas-jelas usiaku baru dua belas, tapi kau panggil Losiansing padaku, jika didengar oleh Toakoku, pasti perutnya akan meledak saking geli."
Kembali Coh liu-hiang melengak, tanpa sadar ia meraba hidung. katanya kemudian.
"Masa kau baru...... baru dua belas?"
"Betul, tepat dua belas,"
Jawab si 'jimat' sambil menghitung dengan menekuk jari-jarinya.
"Hari ini usiaku persis genap dua belas, satu hari pun tidak lebih dan tidak kurang."
"Lantas umur Toakomu?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Haha, kalau umur Toakoku sih jauh lebih tua daripada aku, bahkan mungkin lebih tua daripadamu paman,"
Tutur si 'jimat' dengan tertawa.
"Siapa namanya?"
Tanya pula Coh Liu-hiang.
"Dia bernama Sih Ih-jin,"
Jawab si 'jimat'.
"Aku sendiri Sih Siaujin, tapi orang lain sama memanggilku Sih Po-po... Po-po, Sih Po-po, eh, enak tidak kedengarannya namaku ini?'"
Bahwa si sinting ini ternyata adik Sih Ih-jin, si pendekar pedang nomor satu di dunia ini, sungguh sukar untuk dipercaya, diam-diam Coh Liu-hiang merasa gegetun.
Ia pun tidak ingin banyak cingcong dengan orang sinting begini, dengan tertawa lantas ia menjawab.
"Namamu memang enak didengar, jika nama mu Po-po, maka kau harus menjadi Po-po kesayangan. Nah biarkan aku pergi dari sini, lain kali pasti akan kubawakan pemen bagimu."
Sekarang dia malah menyebut kakek yang sudah berumur empat lima puluhan tahun sebagai 'Po-po kesayangan', tentu saja ia merasa geli.
Maka sambil memberi tangan, berbareng ia terus melayang ke sana.
Tak tahunya, mendadak Sih Po-po juga melenting ke atas, berbareng ia melolos pedangnya yang lemas.
"sret-sret-sret", sekaligus ia menusuk tiga kali. Sungguh serangan yang cepat, jitu lagi keji, betapa lihai ilmu pedangnya ini boleh dikatakan dapat disejajarkan dengan jago pedang kelas wahid. Meski Coh Liu-hiang dapat menghindarkan tiga kali tusukan namun terpaksa ia harus turun lagi ke bawah. Dilihatnya Sih Po-po berdiri di depan, dengan tertawa lagi berkata.
"Kau telah mengacaukan pekerjaanku, paman, sebelum kau mengganti rugi, mana boleh kau pergj begitu saja!"
Coh Liu-hiang memandangnya lekat-lekat, ia sendiri menjadi bingung apakah orang ini sinting atau waras.
Kalau melihat dandanannya dan cara bicaranya, jelas seorang sinting seratus persen, tapi orang sinting mana bisa memainkan ilmu pedang selihai ini.
Terpaksa ia menjawab sambil menyengir.
"Pekerjaan apa yang kukacau? Masa pakai ganti rugi segala?"
Sih Po-po lantas goyang-goyang pundaknya seperti anak kolokan, ucapnya dengan aleman.
"Tadi......tadi aku lagi menghitung bintang di langit, dengan susah payah bintang-bintang di sebelah sana sudah selesai kuhitung, tapi paman mendadak datang sehingga kacau-balau bilangan hitunganku. Nah, kau harus ganti rugi padaku,. harus."
"Baik, akan kuganti kerugianmu,"
Ujar Coh Liu-hiang pu la.
"Tapi cara bagaimana membayarnya?"
Sembari bicara, secepat terbang ia terus melayang miring ke sana.
Gerakan ini sudah menggunakan Ginkang Coh Liu-hiang yang tiada taranya, siapa pula di dunia ini yang mampu menyusulnya?
Siapa tahu.
Sih Po-po seolah-olah sudah tahu lebih dahulu kalau Coh Liu-hiang akan kabur mendadak, maka baru saja tubuh Coh Liuhiang bergerak, serentak gelang emas yang terpakai di tangan Sih Po-po juga menyambarnya?
Terdengar suara gemerincing nyaring, empat buah gelang emas memancarkan cahaya emas di udara malam gelap, secara melingkar gelang-gelang itu terus menyambar ke arah Coh Liu-hiang.
Pandangan Coh Liu-hiang terasa silau oleh cahaya emas terdengar suara "tring-tring"
Dua kali, empat gelang saling bentur di udara, habis itu mendadak menyambar ke muka Nyata, bukan cuma Ginkangnya yang sangat tinggi dan lihai pula ilmu pedangmya, bahkan cara menyambitkan senjata rahasia 'si sinting' inipun sangat hebat, peluru perak Hoa Kim-kiong boleh dikatakan seperti anak kecil main gundu jika dibandingkan kepandaiannya.
Karena daya melayang Coh l.iu-hiang ke depan sangat cepat, tampaknya dia akan termakan oleh sambaran gelang-gelang emas itu.
Syukurlah pada detik terakhir sekonyong-konyong tubuhnya melenting balik ke belakang.
berbareng kedua tangannya meraup dan meraih, sehingga tiga dari empat gelang emas itu tertangkap olehnya, sisa sebuah gelang emas itupun kena dipukul mencelat oleh ketiga gelang yang terpegang olehnya.
Gerakan melenting mundur disertai tangan menangkap senjata rahasia ini mudah diceritakan, tapi praktek sesungguhnya sangat sukar.
Sebab tubuh.
mata, waktu dan tempat harus diperhitungkan secara tepat, sedikitpun tidak boleh meleset.
Bila gerak tangannya kurang cepat, maka keempat gelang emas tak mungkin tertangkap dan terpukul jatuh pula, kalau tidak memiliki Ginkang yang maha sakti, sukar juga memunahkan tenaga sambaran gelang emas itu, umpama dapat menangkapnya juga tangan akan pecab tergetar.
Apapun juga, setelah Coh Liu-hiang dapat menangkap gelanggelang emas itu, tidak urung ia pun terdesak mundur kembali ke tempatnya semula.
Dilihatnya Sih Po-po lagi berjingkrak-jingkrak aleman seperti anak kecil dan berkata.
"Aku emoh, paman kan sudah janji akan memberi ganti rugi, mengapa mendadak mau mengeluyur pergi?, Orang tua masa menipu anak kecil."
Tiba-tiba Coh Liu-hiang merasa si sinting ini adalah lawan yang paling sukar dilayani, belum pemah ia ketemu lawan se lihai ini.
Meski sudah banyak pengalamannya, seketika ia menjadi mati kutu dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Dalam pada itu Sih Po-po berjingkrak-jingkrak pula, ucapnya dengan manja.
"Hay, paman, katamu hendak mengganti rugi padaku, nah, jadi ganti atau tidak?"
"Sudah tentu akan kuganti,"
Jawab Coh Liu-hiang dengan tertawa.
"Tapi cara bagaimana kubayar ganti ruginya?"
"Mudah sekali,"
Sahut Sih Po-po gembira.
"Asalkan kau menghitung bintang-bintang di langit hingga selesai dan urusan pun menjadi beres."
"Bintang sebelah mana? tanya Coh Liu-hiang sambil meraba hidung.
"Sana,"
Sahut Sih Po-po sambil menuding.
Di langit hakikatnya tiada rembulan, melainkan penuh bertaburan bintang, meski seorang mempunyai lima ratus pasang mata dan seribu tangan juga tidak mampu menghitung seluruh bintang di langit itu.
Tapi Coh Liu-hiang sengaja menjawab.
"O, maksudmu sebelah sana, baiklah. tanggung beres."
"Tanggung beres bagaimana? tanya Sih Po-po sambiJ ber kedipkedip.
"Sebab bintang-bintang yang di sebelah sana itu baru saja selesai kuhitung, seluruhnya ada dua puluh sembilan ribu enam ratus tujuh puluh tiga." ''Apa betul? Paman tidak keliru?"
Tanya Sih Po-po dengan ragiragu.
"Sudah tentu betul, masa orang tua menipu anak kecil?"
Jawab Coh Liu-hiang.
"Jika kau tidak percaya boleh kau menghitungnya lagi."
Diam-diam Coh Liu-hiang sudah ambil keputusan, apabila si sinting ini tidak tertipu olehnya, maka sintingnya itu pasti cuma purapura saja.
Meski Coh Liu-hiang tidak sudi berkelahi dengan orang sinting sungguh-sungguh, terhadap orang sinting palsu pun tentu tidak perlu sungkan lagi.
Ternyata Sih Po-po lantas tertawa dan berkata.
"Apa betul jumlahnya dua puluh sembilan ribu enam ratus tujuh puluh tiga? Baiklah akan kuhitung lagi sekali"
Lalu ia benar-benar menengadah dan mulai menghitung.
mulutnya berucap, jarinya bergerak, sambil manggut-manggut lagi.
Diam-diam Coh Liu-hiang merasa lega, secepat anak panah ia terus melesat ke sana.
Sekali ini Sih Po-po benar-benar asyik menghitung, sehingga lupa daratan dan tidak memperhatikan kepergian Coh Liu-hiang.
Baru sekarang Coh l.iu-hiang percaya benar-benar telah bertemu seorang sinting yang berilmu silat maha tinggi, ia merasa geli dan juga tercengang.
Kejadian ini sungguh sukar untuk dibayangkan dan belum lagi ada penyelesaiannya, yaitu perkara 'mayat kesuruian roh' Roh Si In seolah-olah benar telah hidup kembali melalui mayat Cu Beng-cu.
Saat Cu-jiya melihat pupur yang dibawa pulang oleh Coh Liuhiang, mau tak mau ia melongo juga dan berkeringat dingin, sampai lama sekali ia tidak sanggup bicara.
Thio Kan-cay juga melenggong melihat kotak pupur itu.
Ia mengernyitkan kening, tanyanya kemudian.
"Apakah keadaan di sana memang tepat seperti uraiannya?"' "Ya, sama persis,"
Jawab Coh Liu-hiang.
"Nona Si itu benar-benar mati hari ini?"
Tanya Thio Kan-cay pula.
"Betul, malah jenazahnya pun belum masuk peti, pakaiannya juga kulihat dengan jelas, sama seperti Mendadak Cu-jiya melonjak bangun dan berteriak.
"Aku tak perduli pakaian apa segala? Aku pun tak pusing anak perempuan keluarga Si mampus atau tidak, yang jelas Beng-cu adalah puteriku, siapa pun tak dapat merampasnya."
"Akan......akan tetapi. bagaimana kalau dia tak mengakui kau sebagai ayahnya?"
Tanya Thio Kan-cay.
"Jika dia berani menyangkal aku sebagai ayahnya, segera....... segera kubunuh dia!"
Cu-jiya meraung murka "Kau benar-benar tega membunuhnya?" ? tanya tabib sakti.
"Melenggong juga Cu-jiya jawabnva kemudian "Meng...mengapa tidak tega? Aku....Aku..."
Ia tidak sanggup melanjutkan lag karena air matanya bercucuran, tubuhnya yang kekar itu lantas terkulai lemas di sandaran kursi, seakan-akan tak sanggup tegak lagi.
Thio Kan-cay menghela napas sambil menggeleng katanya.
"Nasib....nasib orang kalau sudah begini, apa yang dapat dikatakan lagi?"
Sambil mendekap kepalanya, Cu-jiya berkata dengan sedih.
"Apakah kalian menghendaki aku membenarkan Beng-cu adalah puteri perempuan judas itu? Masa kalian menyuruhku menyerahkan anak perempuanku sendiri kepada orang lain?" 3. KELUARGA YANG SERBA KONYOL Dengan kuat Thio Kan-cay mengelus jenggot sendiri sambil berjalan mondar-mandir. Tabib sakti yang terkenal telah banyak menolong orang dari renggutan elmaut kini juga bingung kehabisan akal. Setelah merenung sejenak, kemudian Coh Liu-hiang bertanya.
"Apakah dia masih tidur?"
"Ya, bahkan sangat nyenyak tidurnya,"
Jawab Cu-jiya dengan sedih. Coh Liu-hiang berbangkit, katanya.
"Jiko, bila kau percaya padaku, serahkan saja urusan ini kepadaku."
Thio Kan-cay menghela napas, ucapnya, ''Memang, kalau di dunia ini masih ada orang yang dapat menyelesaikan persoalan ini, maka dia pasti Coh Hiang-swe adanya.
Jika Cu-jiya tidak percaya padamu, memangnya siapa yang dapat dipercaya pula."
Sementara hari sudah terang.
Sang surya yang baru menyingsing memancarkan cahaya yang gemilang, wajah si nona tertampak pucat ditimpa sinar matahari pagi itu, sepasang matanya kelihatan penuh garis-garis merah.
Jelas itulah wajah Cu Beng-cu, jelas pula mata Cu Beng-cu.
Akan telapi apa anak dara ini benar-benar Cu Beng-cu?
Untuk ini Coh Liu hiang sendiri pun tidak tahu dan tidak dapat menjawabnya.
Bahkan ia pun tidak tahu bagjumana cara memanggilnya jika menyebutnya 'Cu Beng-cu', jelas dia mempunyai pikiran dan arwah Si In.
Jika memanggil dia 'Si In', terang dia ini adalah Cu Beng-cu.
Nona ini menunduk, katanya kepada Coh Liu-hiang sambil menggigit bibir.
"Setelah kau membuktikannya ke sana, tentunya kau percaya pada ucapanku, bukan?"
"Ya, memang kau tidak berdusta,"
Jawab Coh Liu-hiang dengan gegetun.
"Jika demikian, mengapa aku tidak kau bebaskan?"
"Tentu saja aku dapat membebaskanmu, tapi dapatkah kau pulang ke sana?"
"Mengapa aku tidak dapat pulang?"
Tanya si nona.
"Sebab dengan keadaanmu sekarang, sepulangmu ke sana, apakah orang lain akan tetap menganggap kau sebagai Si In?"
Seketika nona itu mencucurkan air mata, ucapnya dengan sedih.
"O, Tuhan, mengapa aku berubah menjadi begini? O, apa yang harus kulakukan sekarang?"
"Kalau aku sudah mau percaya pada ucapanmu, sepantasnya kaupun harus percaya pada perkataanku,"
Ujar Coh Liu-hiang dengan suara lembut. Pokoknya, biar perasaanmu itu siapa adanya, yang jelas tubuhmu adalah Cu Beng-cu, puteri Cu Kin-hou.!' Si nona memukul tempat tidur dan berkata dengan parau.
"Tetapi.....tetapi aku bukan Cu Beng-cu, aku pun tidak kenal siapa Cu Kin-hou, mana boleh aku mengakui dia sebagai ayah?".
"Tapi sekarang Si Hau-liam mungkin juga takkan mengakui kau sebagai puterinyi,"
Ucap Coh Liu-hiang.
"Bahkan Yap Seng-lan mungkin juga tidak kenal kau lagi, lebih-lebih takkan membelikan padamu pupur buatan Po-hiang-cay ."
Tubuh si nona bergetar, tanyanya dengan tergagap.
"Dar....darimana kau tahu namanya?"
Coh Liu-hiang tertawa, katanya.
"Cara bagaimana kau kenal dia?"
Nona itu menunduk, tuturnya kemudian "Itulah kejadian yang sudah lama sekali, aku pun tidak tahu, mengapa aku bisa di....."
Ia merandek sejenak, mendadak ia mengangkat kepala dan berseru.
"Tapi apapun juga urusan ini sudah lalu, sekarang aku tidak lagi kenal Yap Seng-lan, aku hanya tahu, aku ini bakal menantu keluarga Sih."
Coh Liu-hiang menghela napas.
di sinilah letak kesulitan persoalan ini.
Ia tahu Cu-jiya telah mengikat tali perjodohao Cu Beng-cu dengan putera kedua keluarga Ting.
Seumpama Cu-jiya dan Si Hau-liam dapat menyelesaikan urusan dengan damai, seumpama anak perempuan ini mau mengakui mereka sebagai ayah, tapi tak mungkin dia menjadi istri dua lelaki sekaligus.
Pada saat itulah mendadak terdengar suara '"blang"
Yang keras di luar, menyusul terdengar pula suara gemuruh ramai, seperti suara botol dibanting dan kaleng dilempar, ada batu pula yang jatuh di atap dan suara hancurnya genting, berbareng terseling pula suara orang membentak dan memaki.
Coh Liu-hiang mengerut kening, ia heran ada orang berani mengacau ke Ceng-pwe-san-ceng.
Segera terdengar pula suara nyaring seorang berteriak dengan tajam.
"Cu Kin-hou, hayo kembalikan anak perempuanku!" . Seketika terbeliak mata anak dara itu, serunya girang.
"He, ibuku datang, dia sudah tahu aku berada di sini, sekarang kalian masih belum mau melepaskan diriku?"
"Kedatangannya ke sini pasti bukan untuk mencarimu,"
Kata Coh Liu-hiang "Habis mcncari siapa kalau bukan diriku?"
Ujar si nona. Belum lagi Coh Liu-hiang menjawab, suara Hoa Kim-kiong terdengar berkumandang pula.
"Anak perempuanku mati gara-gara perbuatan kau bangsat tua she Cu ini, kau tahu dia sakit, kau sengaja mengundang seluruh tabib temama dan disembunyikan di rumahmu, sehingga penyakit anak perempuanku sukar untuk disembuhkan, kalau tidak. mustahil dia bisa mati. Untuk itu kau harus mengganti jiwa anak perempuanku."
Anak dara itu sudah hampir menerjang keluar, seketika ia melenggong setelah mendengar suara Hoa Kim-klong itu.
"Nah, kau dengar sendiri, tentu sekarang kau tahu untuk apa dia datang kemari?"
Kata Coh Liu-hiang. Selangkah demi selangkah anak dara itu kembali ke tempat tidur, ucapnya dengan suara gemetar.
"Jadi ibu juga bilang aku telah mati, masakah aku benar-benar telah......telah mati?'' "Sudah tentu kau tidak mati,"
Kata Coh Liu-hiang.
"Cuma urusan ini memang teramat aneh, kalau diceritakan pasti sukar dipercaya oleh siapa pun, bahkan ibumu sendiri takkan percaya. jika sekarang kau keluar, tentu pula dia takkan mengakui kau sebagai anak perempuannya."
Si nona termangu sejenak, lalu menjatuhkan diri di tempat tidur, teriaknya dengan suara serak sambil memukuli ranjang.
"O, lalu bagaimana aku ini, bagaimana......?"
Dengan suara halus Coh Liu-hiang menghibumya.
"Jika kau percaya sepenuhnya kepadaku, bisa jadi aku ada akal dapat memecahkan urusanmu ini."
Si nona mendekap mukanya di ranjang dan menangis sekian lama, tiba-tiba ia menengadah dan menatap Coh Liu-hiang lekatlekat, katanya kemudian.
"Apakah kau...... kau benar-benar Coh Hiang-swe?"
Coh Liu-hiang tertanva getir jawabnya.
"Terkadang aku memang berharap bukan Coh Liu-hiang, namun rupanya aku sudah ditakdirkan harus menjadi Coh Liu-hiang, mau atau tidak mau."
Anak dara itu menatapnya tajam-tajam, katanya pula "Baiklah, aku akan tinggal tiga hari disini, lewat tiga hari, jika kau masih belum memecahkan persoalan ini, terpaksa aku akan mati saja, mati akan lebih baik daripada hidup seperti ini."
Coh liu-hiang pikir untuk sementara ini dirinya lebih baik jangan bertemu dengan Hoa Kim-kiong, maka ia ambil keputusan akan tidur dulu sekenyang-kenyangnya, kalau semangat sudah pulih, malam nanti tentu dapat bekerja lebih baik.
Agaknya dalam hati Coh Liu-hiang sudah terancang banyak tindakan yang akan dilakukannya, cuma belum dia ceritakan kepada orang lain.
Waktu dia bangun tidur, sementara itu hari sudah gelap.
Entah sudah berapa kali Cu-jiya datang menjenguknya, melihat Coh Liuhiang sudah mendusin.
ia kegirangan dan segera memegang tangannya serta berkata, ''O, saudaraku, nyenyak benar tidurmu, tahukah kau betapa tersiksa batinku selama seharian ini?
Sungguh aku bisa botak memikirkan urusan ini."
Sesudah berhenti sejenak, lalu menyambung pula.
"Tahukah kau, perempuan bawel she Hoa itu telah kemari? Dia malah membawa rombongan buaya dan sengaja mengacau ke sini, bahkan dia menuntut aku mengganti jiwa anak perempuannya."
"Lalu cara bagaimana kau mengenyahkan dia?"
Tanya Coh Liuhiang dengan tertawa.
"Menghadapi perempuan judas begitu, akupun kehabisan akal,"
Ujar Cu Kin-hou dengan gemas.
"Jika kulukai dia, tentu aku akan ditertawakan kawan-kawan Kangouw."
"Memang betul, justru dia tahu Jiko tidak nanti main kasar padanya, makanya berani datang kemari,"
Kata Coh Liu-hiang.
"Ya, terpaksa kulampiaskan rasa dongkolku kepada kawanan buaya yang di bawa kemari itu, melihat begundalnya ku robohkan semua barulah dia rada jeri. Akan tetapi waktu mau pergi dia masih menggerutu, katanya besok akan datang pula."
Cu Kin-hou memegang tangan Coh Liu-hiang dan melanjutkan.
"Saudara yang baik, betapapun malam nanti kau harus pergi sekali lagi ke Si keh-ceng, berilah hajaran setimpal kepada macan betina itu. Sebab bila dia besok benar-benar datang lagi, wah, sungguh aku tidak sanggup melayaninya."
Cu Kin-hou sendiri tak suka bergebrak dengpn Hoa Kim-kiong, maka Coh Liu-hiang yang disuruh pergi ke sana, meski Coh Liuhiang sudah banyak menelan pil pahit urusan demikian, betapapun permintaan Cu Kin-hou ini membuatnya serba susah dan tak dapat menolak.
Cu Kin-hou sendiri juga merasa tidak enak hati, segera ia berkata pula.
"Aku pun tahu urusan ini sangat memusingkan kepala, syukur di dunia ini masih ada seorang yang dapat membereskan persoalan ini, orang itu tak lain dan tak bukan ialah kau, Coh Hiangswe."
Kata-kata sanjungan demikian sudah banyak juga didengar oleh Coh Liu-hiang, ia menghela napas, gumamnya.
"Sayang Oh cilik (maksudnya Oh Thi-hoa, kawan karibnya) tidak datang, kalau dia hadir, dia orang yang paling tepat disuruh menghadapi perempuan judas seperti Hoa Kim-kiong."
"Apakah......apakah kau tidak mau pergi?"
Tanya Cu Kin-hou kuatir. ''Jangan kuatir, Jiko, tentu aku ada akal untuk membuat dia tak berani datang lagi besok,"
Kata Coh Liu-hiang. Cu Kin-hou lega mendengar janji Coh Liu-hiang itu, tiba-tiba ia berkata pula sambil berkerut kening.
"Masih ada urusan lain juga perlu minta bantuanmu. Ketika Hoa Kim-kiong baru saja pergi, segera tempatku ini kedatangan tamu pula." ''O, siapa dia? Masa di dunia ini ada orang yang lebih sukar dilayani daripada Hoa Kim-kiong?"
"Tentunya kau tahu Ting-si-siang-hiap (dua pendekar she Ting) dari Jit-seng-tong?"
Tutur Cu Kin-hou.
"Nah, yang datang tadi adalah Ting-loji dari kedua pendekar terkenal itu."
"Bukankah Ting-si-siang-hiap adalah sahabat baik Jiko sendiri?"
Kata Coh Liu-hiang.
"Betul. bukan cuma sahabat haik saja, bahkan juga bakal besanku,"
Kata Cu Kin-hou.
"Karena itu di sini pula letak persoalannya yang ruwet."
"O, Jangan-jangan kedatangannya untuk berunding tentang pernikahan putera puteri kalian?"
"Memang begitulah,"
Ucap Cu Kin-hou.
"Soalnya bulan yang lalu kami sudah berunding dengan baik, kami akan melangsungkan pernikahan Beng-cu dengan Ting Ju-hong, kedatangan Ting-loji justru untuk urusan ini."
"Bulan yang lalu bukankah Beng-cu sudah jatuh sakit^ tanya Coh Liu-hiang.
"Justru lantaran dia jatuh sakit, maka kupikir hendak menikahkan dia supaya sakitnya bisa lekas sembuh, bila nanti berkumpul dengan suaminya, siapa tahu sekarang terjadi persoalan yang rumit ini."
Setelah menggeleng, lalu ia menyambung pula.
"Kalau sekarang kusetujui upacara nikah dilanjutkan bulan ini, lalu apakah...... apakah Beng-cu mau diboyong ke sana?. Sebaliknya jika aku tak setuju lalu dengan alasan apa aku harus menolaknya? Ai, rasanya aku benarbenar mati kutu."
Coh Liu-hiang merasa bingung juga, ia meraba-raba hidung sendiri dan bergumam.
"Entah Hoa Kim-kiong juga sudah menetapkan hari nikah puterinya dengan putera kedua Sih Ih-jin atau belum?"
Pada saat itulah seorang centeng muncul dengan tergesa-gesa, setelah memberi hormat ia berkata.
"Hamba disuruh Ting-jihiap untuk bertanya pada Loya apakah Coh Hiang-swe sudah mendusin? Jika sudah. beliau ingin datang kemari untuk menyuguh arak kepada Coh Hiang-swe, kalau belum mendusin, maka Loya diharap kembali ke depan dulu."
"Aha, kabarnya kedua Ting bersaudara juga ahli minum arak,"
Kata Coh Liu-hiang dengan tertawa.
"Tapi Thio Kan-cay tidak suka minum karena ingin menjaga kesehatan, dengan sendirinyo Ting-loji tiada teman minum dan merasa kesal.."
"Betul, makanya lekas kau mengawani aku ke sana untuk melayani dia,"
Kata Cu Kin-hou.
"Ah, masa Jiko ingin aku pergi ke Si-keh-ceng dalam kadaan mabuk?'' kata Coh Liu-hiang dengan tertawa. Di dunia Kangouw ada cerita tentang 'Ciu Kay' (pengemis tukang minum arak) dan 'Ciu Sian' (dewa peminum), katanya samakin banyak arak yang ditenggak, semakin tinggi pula ilmu silatnya. Bagi Coh Liu-hiang dongeng demikian sangat menggelikan. Sebab ia tahu, seorang kalau terlalu banyak minum arak, mungkin nyalinya akan bertambah besar dan tenaga juga tambah kuat, akan tetapi daya reaksinya pasti juga akan lamban. Padahal pertarungan antara tokoh silat terkemuka seringkali ditentukan dalam sekejap saja, jika daya reaksi seorang lebih lamban, maka dia pasti kalah. Sebab itulah meski Coh Liu-hiaog suka minum arak, tapi dia minum dengan melihat waktu dan tempat. Apabila dia harus menghadapi musuh tangguh, maka pertama-tama yang dia jaga adalah jernihnya pikiran. Anehnya di dunia Kangouw justru ada orang bilang semakin banyak Coh Hiang-swe menenggak arak, semakin tinggi pula ilmu silatnya. Coh Liu-hiang meduga cerita itu pasti datang dari orang yang justru tidak minum arak, sebab orang yang tidak minum arak mengira kaum peminum adalah manusia super, bangun tubuhnya tentn berbeda daripada orang biasa. Padahal baik dia ahli minum, kaum pengemis atau pendekar, mereka pun orang biasa, jika terlalu banyak menenggak arak, otak mereka pun bisa berubah linglung. Sekarang Coh Liu-hiang tidak mau minum arak, soalnya bukan karena dia merasa Hoa Kim-kiong sukar dihadapi, yang menjadi pertimbangannya justru Sih Po-po, si sinting yang aneh itu. Ia merasa si sinting itu rada-rada misterius dan tidak boleh di remehkan. ****** Menjelang tengah malam, kembali Coh Liu-hiang sudah berkunjung pula ke Si-keh-ceng Sekali ini dia sudah hapal jalannya,, langsung dia menuju ke taman belakang, di sana suasana sunyi, hanya rumah kecil di tengah rumpun bambu itu saja yang masih ada cahaya lampu. Diam-diam Coh liu-hiang ragu-ragu apakah jenazah Si In masih berada di situ? Dengan enteng sekali Coh Liu-hiang melayang ke atas tu mah kecil itu, dengan gerakan 'Cu-liam-to-kua' (kerai mutiara bergelantungan), kakinya menggantol pada emper, tubuhnya terus menjulur ke bawah untuk mengintip. Dilihatnya jenazah Si In sudah dipindah keluar, seorang anak perempuan berbaju hijau muda sedang berbenah perabotan di dalam rumah, dari dandanannya, nampaknya anak perempuan itu seorang pelayan atau babu. Cantik juga babu muda ini, dia lagi sibuk membenahi tempat tidur, matanya selalu melirik meja rias, dimana masih terdapat beberapa macam barang bersolek seperii pupur dan gincu. Sejenak kemudian dia mendekati meja rias, lebih dahulu dia celingukan, habis mendadak ia sambar sekotak gincu, terus dimasukkan ke dalam baju. Selang sejenak, ia memandang cermin kuningan, lalu menggerak-gerakkan pinggulnya, sambil berlengganglenggok, lalu tertawa cekikikan sendiri. Coh Liu-hiang merasa geli juga melihal kelakuan babu genit itu. Pada saat itulah mendadak seorang membentak dengan suara tertahan, ''Nah, sekali ini kau tak dapat lari lagi!"
Menyusul dari pojok sana sesosok bayangan orang lantas melompat keluar.
Terkejut juga Coh Liu-hiang dibuatya, ia pikir lihai benar mata orang ini sehingga bisa mengelahui tempat sembunyinya.
Di luar dugaan, orang ini sama sekali tidak memandang ke arahnya, tapi terus menerjang ke dalam rumah.
Kiranya seorang pemuda yang memakai baju berkabung warna putih.
Agaknyn si babu muda juga terkejut, tapi begitu menoleh dan mengenali pemuda itu, ia tertawa sambil menepuk dada semdiri dan berkata.
"Ai, kiranya Siaukongcu (tuan muda), bikin kaget saja."
Baru sekarang juga Coh Liu-hiang dapat melihat jelas tuan muda perkampungan keluarga Si ini bermuka putih bersih dan agak tembam, biasanya orang yang bermuka gemuk begini tentu karena makan kenyang dan tidur cukup.
Meski berpakaian berkabung, namun di bagian dalam jelas kelihatan bajunya yang berwama hijau, air mukanya juga tiada tanda-tanda berduka cita sedikitpun.
Sebaliknya dia malah cengarcengir terhadap babu muda itu dan berkata.
"Apa yang kau takuti? Aku kan tidak dapat makan orang, paling-paling hanya merah bibirmu saja akan kucicipi bagaimana rasanya."
Budak itu tertawa dan menjawab.
"Ah, hari ini orang kan tidak memakai gincu?"
"Masa. aku tidak percaya?"
Kata Si-siaucengcu, Si Toan-cong, dengan tetap cengar-cengir.
"Tidak memakai gincu mengapa bibirmu semerah ini? Coba kucicipi."
Sembari bicara ia terus mendekat dan sebelah tangan merangkul pinggang si babu.
"He, besar amat nyalimu,"
Seru si budak dengan suara tertahan "Hayo, lekas lepaskan aku......aku akan menjerit lho!"
"Menjeritlah!'' kata Si Toan-cong, tampak napasnya sudah terengah-engah.
"Masa aku takut, aku kan tak mencuri barang!"
Si babu mengerling genit, omelnya dengan berlagak marah.
"Bagus, rupanya main ancam dan ingin memerasku. Huh, cuma sekotak gincu begini, jika mau, entah berapa banyak orang akan memberi padaku "
"Baik, baik, aku yang memberi,"
Cepat Si Toan-cong membujuk.
"Eng-ji yang molek, asalkan kau menuruti kehendaku akan kuborong seluruh pupur dan gincu keluaran Po-hiang-cay untukmu."
Babu yang bernama Eng-ji itu menggigit bibir jawabnya kemudian.
"Ah aku tidak berani, jangan-jangan nyonya muda akan membeset kulitku nanti."
Tidak, jangan kuatir...... macan betina itu tak mungkin tahu."
Sambil bicara ia terus mendesak maju dan tubuh kedua orang itu lantas bertindihan di tempat tidur.
"O, tidak, jangan sekarang, jangan......jangan di sini,"
Terdengar suara Eng-ji rada ngos-ngosan.
"Kemarin......kemarin Ji-siocia baru......"
Belum habis ucapannya, mendadak mulutnya seperti tersumbat oleh sesuatu. Kemudian terdengar napas Si Toan-cong yang memburu, ucapnya dengan suara tertahan.
"Sek......sekarang saja, besok mungkin tiada kesempatan lagi. Macan betina itu selalu mengawasi diriku...... O, Eng-ji molek, asalkan kau menuruti kehendakku sekali ini, sekali saja, dan segala apapun akan kuberikan kepadamu.""
Ya dongkol, ya geli, Coh Liu-hiang menyaksikan tontonan cumacuma ini, bila ingat pada wajah Si-siaunaynay yang luar biasa itu, memang tidak perlu heran jika sang tuan muda suka menggerayangi babu sendiri.
Memang begitulah kehidupan nyata di sekeliling kita ini.
Hampir tidak ada lelaki yang polos dan jujur, hanya lelaki yang miskin saja yang sok prihatin, Jika ada cukup uang dan diberi kesempatan, lelaki mana yang tidak suka main perempuan.
Dalam kehidupan suami isteri juga begitu, makin ketat pengawasan sang isteri, semakin besar hasrat sang suami untuk 'mencuri makan'.
Semua lelaki di dunia ini sama, maka Si-siau cengcu ini juga tidak dapat disalahkan.
Hanya saja kelakuan Si Toan-cong sekarang memang rada ngawur, baik waktu maupun tempatnya.
Meski Coh Liu-hiang tidak suka ikut campur urusan pribadi begituan, sekarang mau tak mau meski bertindak.
Sementara itu ranjang tampak berguncang keras, paha yang putih mulus tampak menggelantung di tepi ranjang.
Tiba-tiba Coh Liu-hiang mengetuk jendela dan mendesis.
"Sssst. awas ada orang!"
Belum Habis keempat kata terucapkan, kedua orang yang lagi bergumul di tempat tidur seketika melonjak bangun seperti kucing terinjak ekomya.
Tubuh Si Toan-cong tampak meringkuk di pojok ranjang dengan gemetar.
Tampaknya Eng-ji malah lebih tabah, sambil memakai baju bertanya.
"Siapa itu? Apakah ingin mencuri ya?"
Segera Si Toan-cong menyambung.
"Betul, pasti pencuri, akan kupanggil orang menangkapnya."
Sambil bicara ia terus hendak mengeluyur pergi.
Namun Coh Liu-hiang sudah menyelinap masuk dan mengadang jalan lolosnya.
Dengan sendirinya Si Toan-cong terkejut, sama sekali tidak tersangka olehnya ada orang bisa bergerak begitu cepat.
Dengan tergagap ia bertanya.
"Sia......siapa kau? Besar amat nyalimu, berani mencuri di sini? Lekas kau lari mencawat ekor, untuk itu Siau-cengcumu masih dapat mengampuni jiwamu.". Rupanya Si Toan-cong menjadi tabah karena melihat yang mengadangnya itu adalah seorang yang tidak dikenalnya. Dengan tertawa Coh Liu-hiang lantas berkata.
"Lebih dahulu hendaklah kau tahu tiga hal. Pertama, tidak nanti aku lari. Kedua, kau bukan tandinganku. Ketiga, aku pun tidak takut kau akan berteriak memanggil orang."
Sama sekali Coh Liu-hiang tidak perlu menggunakan sesuatu gerakan mengancam, sebab ia tahu pemuda bangor macam Si Toan-cong cukup ditundukkan dengan beberapa patah kata gertakan saja.
Benar juga, wajah Si Toan-cong lantas pucat, ucapnya dengan tergagap.
"Ap......apa kehendakmu?"
"Aku justru ingin tanya kepadamu apa kehendakmu? Apakah ingin kupanggilkan binimu atau membawaku pergi mencari Liangma?"
Si Toan-cong melengak bingung, lalu tanyanya.
"Mencari Liangma?"
"Betul, boleh kau pilih satu diantara dua ini,"
Jawab Coh Liuhiang.
Pilihan demikian sama dengan orang ditanya lebih suka makan Ang-sio-bak atau lebih suka makan tahi.
Tentu saja hati Si Toancong lantas tenang kembali, tidak kebat-kebit lagi seperti tadi.
Ia kuatir Coh Liu-hiang berubah pikiran, maka cepat mengangguk dan berkata.
"Baik, akan kubawa kau mencari Liang
KANG ZUSI WEBSITE
http.//cerita-silat.co.cc/ ma."
Di suatu ruangan samping sana, kini sudah diubah menjadi tempat Layon.
Liang-ma tampak berduduk di samping dengan kepala tertunduk, agaknya sedang mengantuk.
Cahaya lilin yang redup menyinari peti mati yang dipelitur kuning dengan hiasan kelambu putih, suasana tampak rawan.Si toan-cong membawa Coh Liu-hiang mengitari jalan kecil dan akhimya tiba di ruangan layon ini.
Dalam hati ia tidak habis pikir untuk apakah orang yang tak dikenal ini mencari Liang-ma?
Dilihatnya Coh Liu-hiang mendekati sambil berdehem pelahan.
Orang tua itu berjingkat kaget, hampir saja terguling bersama kursinya.
Tapi setelah dia mengenali orang yang berdiri di depannya, matanya yang bendul merah karena terlalu banyak menangis itu seketika menampilkan rasa terhibur.
Katanya.
"Kiranya kau lagi, Betapapun kau masih punya Liang-sim (hati nurani yang baik), tak percumalah Siocia berkorban bagimu......"
Menyinggung sang Siocia, seketika ia tersendat-sendat dan tak sanggup melanjutkan pula. Coh Liu-hiang menghela napas, katanya.
"Yang tidak mengenalmu tentu akan mengira kau ibunya nona In."
Dengan terguguk-guguk Liang-ma berkata.
"Meski In-ji bukan anakku, tapi kuasuh sejak kecil, aku sendiri sebatangkara, tiada sanak tak punya kadang, hanya In-ji satu-satunya orang yang paling rapat denganku. Sekarang dia telah meninggal, aku menjadi .....menjadi......"
Pilu juga hati Coh Liu-hiang, sementara itu diam-diam Si Toancong telah mengeluyur pergi tapi ia pura-pura tidak tahu. Liang-ma mengusap air matanya dan berkata pula.
"Kau sudi kemari, betapapun kau sudah memperlihatkan hatimu yang baik, sekarang lebih baik silakan pergi saja, kalau kepergok Hujin lagi, mungkin bisa......"
"Kau ingin bertemu lagi dengan nona In atau tidak?"
Tanya Coh Liu-hiang tiba-tiba. Liang-ma mengangkat kepalanya dan memandang Coh Liu-hing dengan melongo, ucapnya kemudian.
"Tapi..... tapi, dia kan sudah meninggal?"
"Jika kau masih ingin bertemu dengannya, aku juga ada akal,"
Kata Coh Liu-hiang.
"Kau......kau ada akal?"
Liang-ma menegas dengan terkesiap.
"Masa......masakah kau mampu mengundang rohnya?"' "Sekarang tidak perlu kau tanya, pokoknya lohor besok jika kau mau menungguku di dekat jembatan Siu-ya-kio, tentu aku dapat berusaha membawa nona In untuk bertemu denganmu."
Liang-ma termenung sejenak, gumamnya.
"Lohor besok di Sioya-kio, masa engkau..........."
Pada saat itulah sekonyong-konyong seorang berseru.
"Bocah brengsek, kemarin telah kuampuni jiwamu, sekarang kau berani datang lagi!"
Tanpa berpaling juga Coh Liu-hiang tahu yang bicara ini pasti Hoa Kim-kiong adanya.
Sama sekali ia tidak terkejut, sebab ia memang lagi menantikan kedatangan nyonya rumah itu.
Terlihat Hoa-Kim-kiong dan Si-siaunaynay sekarang telah berganti pakaian ketat, malahan di belakang mereka mengikut pula belasan pelayan yang juga berbaju ringkas kencang, semuanya membawa busur dan menyandang pedang, gerak-gerik mereka sangat gesit.
Dengan tertawa Coh Liu-hiang tertawa.
"Sudah lama kudengar 'barisan putri' Hujin sangat perkasa, tampaknya memang luar biasa dan tidak bemama kosong."
Hoa Kim-kiong mendengus,"Hm, tidak perlu kau menyanjung, aku cuma ingin tanya padamu, sesungguhnva kau ini Coh Liu-hiang atau bukan?"
"Coh Liu-hiang? Apa aku kelihatan mirip Coh Liu-hiang?"
Tanya Coh Liu-hiang dengan tertawa. Dengan wajah kaku membesi Si-siaunaynay ikut bicara dengan suara bengis.
"Aku tidak perduli kau ini Coh harum atau Coh busuk, yang jelas kau berani datang kemari, maka kami akan bikin kau tak bisa pergi."
"Wah, wah, gagah benar, galak benar, pantas Si-siaucengcu takut padamu melebihi harimau,"
Ucap Coh Liu-hiang sambil menggeleng. Sekonyong-konyong Si Toan-cong melongok dari luar jendela dan berteriak.
"Kami suami isteri selalu hormat-menghormati seperti tetamu, kau keparat jangan coba-coba mengadu domba dan memecah belah."
"Sudahlah, tidak perlu mengoceh urusan tetek-bengek,"
Bentak Hoa Kim-kiong.
"Aku cuma ingin tanya, kamu ingin ingin mampus atau ingin hidup?"
"Hidupku terasa sangat menyenangkan, dengan sendirinya aku ingin hidup,"jawab Coh Liu-hiang.
"Jika kau ingin hidup, nah, lekas bertekuk lutut menyerah, akan kami tanyai asal-usulmu, habis itu mungkin takkan ku bunuh kau, bisa jadi malah akan memberi keuntungan kepadamu."
Hoa Kim-kiong sengaja mengucapkan 'keuntungan' dengan nada yang lembut dan menarik, namun Coh Liu-Hiang seperti tidak paham maksudnya, dengan tak acuh ia malah bertanya.
"Dan kalau aku ingin mati saja?"
"Itu jauh lebih mudah,"
Seru Hoa Kim-kiong dengan gusar dan mendongkol "Sekali aku memberi tanda, serentak akan hujan panah dan kaupun akan berubah menjadi landak."
"Wah, bisa mati di bawah bunga, jadi setan juga tak sia-sia, apalagi menjadi landak kukira bukan soal,"
Kata Coh Liu-hiang dengan tertawa.
"Baik, kau sendiri yang cari penyakit dan jangan menyesalkan diriku."
Kata Hoa Kim-kiong, sekali ia angkat tangan, segera ia mendahului pentang busur.
Serentak belasan anggota barisan puteri juga menarik busur, melihat gaya mereka, jelas anak-anak perempuan itu sudah terlatih baik dalam hal membidikkan panah, apalagi 'panah mitraliur' yang sambar menyambar secara berturutnirut, sekalipun dapat menghindari panah pertama juga sukar mengelakkan panah kedua, belum lagi panah ketiga dan keempat serta masih banyak lagi.
Siapa tahu, pada saat itu juga mendadak bayangan Coh Liuhiang berkelebat, terdengar suara jerit kaget berturut-turut, entah bagaimana, tahu-tahu belasan busur sudah berpindah ke tangan Coh Liu-hiang, sebaliknya belasan anak dara itu tampak berdiri mematung tanpa bergerak, agaknya Hiat-to mereka telah tertutuk semua.
Meski Hoa Kim-kiong dan Si-siaunaynay sebelumnya sudah tahu bahwa 'bocah bagus' ini memang punya kemampuan tapi mereka pun tidak menduga cara turun tangannya bisa sedemikiao cepatnya.
Serentak mereka saling mengedip, sebuah busur dan dua pedang segera menyerang seceepat kilat.
Hari ini tampaknya Coh Liu-hiang sengaja hendak memberi rasa kepada mereka, maka kini ia tak sungkan-sungkan seperti kemarin, sekali berputar, entah dengan gerakan apa, tahu-tahu pergelangan tangan Si-siaunaynay sudah terpegang olehnya, sekalian pedang lawan terus disodorkan ke depan.
"trang", seketika busur Hoa Kim kiong tertebas putus. Lalu Coh Liu-hiang menyurut mundur, ia memberi hormat sambil berkata "Maaf mengganggu si cantik, soalnya terpaksa, harap maaf."
Muka Si-siaunaynay nampak pucat, namun dia memang puteri tokoh ternama, dia dapat menilai lawan dan melihat gelagat, kini disadarinya 'bocah bagus' ini memang bukan lawan empuk, mendadak ia membuang pedangnya terus berlari keluar ia jewer kuping dan seret Si Toan-cong ke dalam rumah sambil memaki.
"Kau keparat, bini sendiri dilabrak orang, kau cuma berdiri menonton, caramu ini apakah dapat dianggap seoraog lelaki? Hayo lekas hajar orang itu untuk membalas dendamku." 4. KUNJUNGAN KHUSUS Wajah Si Toan-cong tampak lebih putih daripada isterinya, dengan tergagap ia menjawab sambil meringis kesakitan.
"Baik, baik, biar kuhajar mampus dia, untuk membalaskan dendammu!"
Meski mulutnya berucap, namun kedua kaki ternyata tidak bergeser sedikitpun. Si-siaunaynay memukuli dada suami sialan itu sambil berteriak.
"Hayo maju, hajar dia! Masa kau tidak berani?"
SI Toan-cong sampai menyengir dan meringis karena dipukuli sang isteri, berulang-ulang dia pun berseru.
"Baik, baik, akan kuhajar dia!"
Habis itu ia terus berlari. Tapi bukannya melabrak musuh, sebaliknya kabur melalui pintu belakang. Si-siaunaynay jadi gregetan, ia menangis tergerung-gerung dan berteriak.
"O......aalah, suamiku tak becus begini, bagainana aku bisa hidup....."
Dia terus menjatuhkan diri ke pangkuan Hoa Kimkiong dan menjerit pula.
"Sungguh sialan aku menjadi menantu keluarga Si kalian, kalau tidak, memangnya siapa yang berani kurang ajar kepedaku? Biarlah, aku pun tak ingin hidup lagi, boleh saja kalian bunuh saja diriku."
Geli dan dongkol Coh liu-hiang, tak terduga olehnya bahwa putri Sih Ih-jin, si jago pedang nomor satu di dunia ini bisa mempunyai seorang anak perempuan kolokan begini.
Dilihatnya Hoa Kim-kiong mendelik melulu, agaknya iapun mati kutu menghadapi kelakuan menantu perempuannya itu.
Dengan tenang Coh Liu-hiang berkata.
"Cara Siaunaynay kita bergaya aleman ini apakah juga warisan keluarga?"
"Jangan kau sembarangan kentut!"
Damprat Si-siaunaynay sambil melonjak bangun.
"Selain menghina perempuan, memangnya kau punya kepintaran apalagi?"
"Tadinya kuanggap kau benar-benar seorang perempuan, tapi sekarang aku jadi rada sangsi,"
Ucap Coh Liu-hiang.
"Hm, memangnya kau sendiri terhitung lelaki sejati?"
Jengek Sisiaunaynay dengan geregetan.
"Jika kau berani ikuti menemui ayahku, nah, baru kupercaya kau seorang lelaki. Kalau tidak berani, hm, anggaplah kau ini manusia setengah-setengah, bukan laki-laki dan bukan perempuan."
"Hm, kalau aku tidak berani bertemu dengan ayahmu, tentu malam ini aku takkan kemari lagi,"
Jengek Coh Liu-hiang. Tapi sementara ini paling baik kau tutup mulut jika kau tak ingin kusumbat mulutmu dengan gombal."
Karena tantang menantang itulah, akhimya Coh Liu-hiang berangkat ke Sih-keh-ceng dengan diantar oleh Hoa Kim-kiong dan Si-siaunaynay.
***************** Perkampungan kediaman Sih Ih-jin tidak seluas dan semegah Ceng-pwe-san-ceng, tapi gayanya lebih artistik, lebih antik.
Meski pajangan di ruangan tamu tidak terlalu mewah, namun sangat resik dan teratur rapi, hampir tiada kelihatan berdebu, malahan di halaman juga tersapu bersih, tiada daun secuil pun.
Meski waktu itu fajar menyingsing, namun sudah ada kaum hamba yang sedang membersihkan halaman.
Sepanjang jalan Si-siaunaynay ternyata sangat prihatin, tidak berani rewel.
Diam-diam Coh Liu-hiang merasa geli, baru sekarang ia percaya pameo yang bilang 'setan pun takut pada orang jahat' memang tidak salah.
Akan tetapi begitu sampai di Sih-keh-ceng, seketika sang nyonya muda mulai mengunjuk sikapnya yang garang, sambil berjingkrakjingkrak ia tuding hidung Coh Liu-hiang dan berteriak.
"Awas, jika kau memang berani, jangan kau lari, akan ku panggil ayahku."
Dengan acuh tak acuh Coh Liu-hiang menjawab.
"Kalau aku bakal lari, untuk apa aku ke sini?"
Hoa Kim-kiong meliriknya, jengeknya.
"Hm, jangan sok, terlalu berani bisa jadi mengakibatkan cekak umur."
Tak lama setelah Si-siaunaynay masuk ke belakang menemui ayahnya, segera terdengar suara seorang berseru dengan ketus, ''Kau tidak meladeni kedua mertua di rumah, untuk apa kau pulang ke sini?"
Dari suaranya yang keras berwibawa ini, segera dapat diduga orang ini pasti sudah biasa memerintah dan disegani. Terdengar Si-siaunaynay berkata sambil menangis.
"Anak telah dihina orang, ayah tidak tanya sama sekali, sebaliknya malah..."
Mendadak suara orang tadi memotong.
"Asalkan kau hidup prihatin, siapa berani menghina kau tanpa sebab? Tentu kau sendiri yang sok berlagak........Ai, Cinkehnio (besan perempuan), seharusnya engkau mengawasi lebih keras tak boleh sungkan."
Cepat Hoa Kim-kiong berdiri menyambut keluarnya tuan rumah, jawabnya dengan mengiring tawa.
"Ai..... urusan ini sungguhnya memang tidak dapat menyalahkan Si-siaunaynay, tapi semua garagara bocah ini...."
Apa yang menerocos keluar lagi dari mulut Hoa Kim-kiong sudah malas diikuti lagi oleh Coh Liu-hiang, sebab dia memperhatikan munculnya tuan rumah, si pendekar pedang nomor satu di dunia, Sih Ih-jin.
Dilihatnya wajah orang tua itu jernih bersih bersepatu kain dengan kaus kaki putih, berbaju panjang warna biru, gerak-geriknya tiada sesuatu yang istimewa, hanya matanya saja yang mencorong tajam, sehingga membuat orang tidak berani lama lama memandangnya.
Dengan suara keras Si-siaunaynay sedang berkata.
"Orang ini bernama Yap Seng-lan, adik In mati karena dia, sekarang dia malah berani mentang-rnentang dan meremehkan, ayah."
"Kabarnya orang ini biasa luntang-lantung di kotaraja, tiada mempunyai kepandaian apa-apa, pekerjaannya hanya menggoda perempuan, entah sudah berapa banyak orang yang telah dibikin susah olehnya,"
Demikian Hoa Kim-kiong menambahkan.
"Ya, makanya diharap ayah suka turun tangan memberi hajaran setimpal padanya,"
Cepat Si-siaunaynay mengimbuhi bumbu pula. Namun apa yang diuraikan mereka, seolah-olah sama sekali tak diperharikan oleh Sih Ih-jin, sejenak tadi ia memandang Coh Liu
KANG ZUSI WEBSITE
http.//cerita-silat.co.cc/ hiang tanpa berkedip. Kini mendadak ia memberi soja (hormat dengan kedua tangan merangkap di depan dada) dan berkata.
"Maaf, jika anak perempuanku ini sekiranya menyinggung perasaanmu, mohon saudara sudi memberi maaf"
"Ah, terlalu berat ucapan Sih-tayhiap,"
Cepat Coh Liu-hiang menjawab.
"Silakan duduk dan minum teh dulu, sebentar akan kusiapkan arak sekedar tanda selamat datang bagi saudara,"
Kata Sih Ih-jin pula.
"Terima kasih,"
Jawab Coh Liu-hiang. Terkesima juga Si-siaunaynay mengikuti basa-basi sang ayah menghadapi tamu yang tak disukai ini, segera ia menimbrung.
"Ayah, mengapa kau sungkan terhadap orang begini, dia..."
"Dia kenapa?"
Tukas Sih Ih-jin dengan menarik muka "Bilamana orang tidak mengingat usiamu yang masih muda dan kehijauanmu, hm, masakah kau dapat pulang pula menemui aku dengan hidup?"
Si-siaunaynay yang nama kecilnya Sih Hong-hong itu jadi melengak. Ia bingung darimana sang ayah dapat tahu dirinya telah dikalahkan orang? Dengan mengiring tawa, Hoa Kim-kiong berkata.
"Namun orang ini....."......
"Cinkehnio,"
Potong Sih Ih-jin dengan kurang senang.
"Apabila mataku ini belum lamur, dapat kupastikan bahwa sahabat ini pasti bukan kaum luntang-lantung dari kotaraja segala, dia juga bukan Yap Seng-lan. Sebab kalau dia orang seperti sangkaanmu, tentu dia takkan datang kemari."
Lalu dia berpaling ke arah Coh Liu-hiang, dengan tersenyum ia menyambung pula.
"Melihat cahaya muka saudara yang cemerlang denga semangat yang penuh, nyata angkatan muda dunia Kangouw memang selalu melampaui angkatan tua. Sepanjang tahuku, ksatria muda seperti saudara ini, di seluruh dunia ini paling-paling juga cuma ada dua-tiga orang saja."
"Ah, Cianpwe terlalu memuji,"
Ujar Coh Liu-hiang.
"Konon Pianhok Kongcu dari Jian-liu-ceng sudah menjagoi dunia persilatan zaman ini, baik ilmu silatnya, maupun dalam hal nama baiknya, akan tetapi saudara jelas bukanlah Pian-hok Kongcu,"
Kata Sih Ih-jin dengan sorot mata berkilat.
"Ah, mana Cayhe dapat dibandingkan dengan Pian-hok Kongcu,"
Jawab Coh Liu-hiang dengan rendah hati dan tertawa. Sih Ih-jin juga tertawa, katanya pula.
"Tapi baik ilmu silat maupun nama, mungkin sekali malah berada di atas Pian hok Kongcu, apabila dugaanku tak keliru, mungkin saudara ini...."
Dia merandek sejenak sambil menatap lekat-lekat, lalu menyambung sekata demi sekata.".....ialah Coh Liu-hiang?"
Bahwa orang tua ini sekali pandang saja lantas dapat mengetahui asal-usulnya, hal ini membuat Coh Liiu-hiang terkejut juga, cepat ia menjawab.
"Pandangan Locianpwe sungguh setajam kilat, wanpwe merasa sangat kagum."
"Haha, jika demikian mataku yang sudah tua ini memang belum lamur dan masih dapat mengenali seorang ksatria,"
Ucap Sih-Ih-jin dengan tertawa puas sambil mengelus jenggotnya, keruan air muka Hoa-Kim-kiong dan Si-siaunaynay alias Sih Hong-hong berubah pucat, lalu merah kemalu-maluan, seru mereka.
"He, jadi kau ini benar-benar Coh Liu-hiang?!"
Coh liu-hiang tersenyum dan mengangguk.
"Ken......kenapa tidak kau katakan sejak semula?"
Gerutu Hoa Kim-kiong dengan mata melotot.
"Semalam juga sudah Cayhe katakan, apa mau dikatakan lagi jika Hujin tidak percaya,"
Ujar Coh Liu-hiang. Setelah melenggong sejenak, Hoa Kim-kiong menghela napas panjang, lalu berkata pula.
"Jika kau bukan Yap Seng-lan, untuk apa pula kau datang ke tempat kami?"
"Ah, lantaran sudah lama mendengar nama kebesaran Hujin, maka sengaja berkunjung untuk belajar kenal."
Jawab Coh Liu-hiang. Hoa Kim-kiong tertawa puas, katanya.
"Baik, baik betapa pun kau masih menghargaiku, rasanya aku menjadi tidak enak. Baiklah begini saja, besok malam akan kujamu kau makan Loh-hi-kwe, aku akan turun ke dapur sendiri, nanti boleh kau nilai apakah masakanku kalah atau menang jika dibandingkan masakan si tua she Cu?. Engkau mesti datang lho."
"Tentu, tentu datang, undangan Hujin mana boleh ditolak,"
Jawab Coh Liu-hiang dengan tertawa. Mendadak Sih Hong-hong berlari ke dalam sambil berseru dengan tertawa.
"Aku pun bisa mengolah Loh-hi, sekarang juga aku turun ke dapur memasak sendiri,"
Hoa Kim-kiong tertawa, katanya.
"Coh Hiang-swe, sungguh besar rezeki mulutmu, sudah sekian tahun anak Cong menjadi suaminya, tapi tak pernah dia turun ke dapur memasak sendiri."
Tapi Sih-Ihjin hanya pura-pura tidak tahu, sebab ia cukup memahami masakan anak perempuannya itu, mendingan kalau tidak bikin tumpah tetamu yang makan masakannya.
Maka setelah berdehem beberapa kali, lalu ia berkata.
"Konon sudah lama Coh Hiang-swe tidak menggunakan pedang, tapi pedang ternama di dunia ini asalkan sudah dilihat olehmu, maka nilainya seketika melonjak beratus kali. Kebetulan aku pun punya simpanan beberapa pedang tua dan ingin mohon penilaian Coh Hiang-swe."
"Wah, sungguh suatu kesempatan bagus yang sukar kuharapkan,"
Ujar Coh Liu-hiang dengan girang.
"Wah. tampaknya hari ini bukan cuma rezeki mulut Coh Hiangswe saja yang lagi baik, bahkan rezeki matanya juga sama mujumya,"
Sela Hoa Kim-kiong dengan tertawa.
"Beberapa pedang simpanan Cinkehong (besan laki) kita ini biasanya tidak pernah diperlihatkan kepada siapa pun juga, bahkan aku sendiri pun tak pernah melihatnya."
"Pedang adalah alat pembunuh, maka sekarang Cinkehnio juga jangan melihatnya,"
Ucap Sih Ih-jin dengan hambar.
*********************** Sih-keh-ceng atau perkampungan keluarga Sih itu dibangun dengan membelakangi bukit.
Lereng bukit yang kehijau-hijauan membujur panjang jauh ke sana, kabut di taman yang luas ini seakan-akan lengket dengan kabut yang mengambang di lereng bukit.
Melalui jalan berbatu kecil mereka menyusuri kamar belakang, di dalam taman tiada pepohonan dan bunga yang semarak dan menyolok, semuanya teratur sederhana dan indah bergaya antik.
Coh Liu-hiang berjalan berendeng dengan Sih-Ih-jin, tapi kedua orang itu diam tanpa bicara.
Seseorang kalau sudah mencapai sesuatu tingkatan kedudukan tertentu, biasanya akan berubah menjadi tidak banyak omong.
Angin di pagi hari musim rontok tidak terlalu dingin, mereka telah memasuki sebuah hutan bambu, air embun menggelintir diatas daun bambu yang hijau segar mirip mutiara yang terbingkai di tengah jamrud.
Di ujung hutan bambu sana rapat bergandengan dengan kaki gunung, dinding tebing penuh lumut, di situ ada sebuah pintu tua dari besi, tampaknya sangal berat tapi kukuh.
Sih Ih-jin mcmbuka pintu besi itu dan menyilakan Coh Liu-hiang masuk.
Di balik pintu adalah sebuah jalan batu yang panjang lagi gelap, hawa dingin menyeramkan.
Sesudah Coh Liu-hiang masuk, segcra Sih Ih-jin menutup kembali pintu itu, seketika cahaya terang dan kehangatan sinar matahari pagi terpotong di luar, suasana berubah menjadi sunyi, setitik suara saja tak terdengar.
Untuk membunuh orang, di sinilah memang tempat pilihan yang sukar dicari.
Namun Coh Liu-hiang tenang-tenang saja tanpa sesuatu tanda kuatir, tampaknya ia percaya penuh pada Sih Ih-jin, baru pertama kali kenal Sih Ih-jin lantas membawanya ke tempat yang begini penting dan penuh rahasia, untuk ini ia pun tidak merasa heran.
Baca Juga: Pedang Angin Berbisik 8
Baca Juga: Pendekar Sakti Suling Pualam 9