Ceritasilat Novel Online

Pendekar Sakti Suling Pualam 9

Eps 9 Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung

Baca online Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung

Cersil Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung.

Ucap Tu Siao Cui lalu melesat pergi.

Siang Koan Goat Nio berdiri termangu-mangu di tempat, kemudian memandang mayat-mayat yang bergelimpangan itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Mendadak muncul beberapa orang berpakaian hijau, yang ternyata para anggota Seng Hwee Kauw.

Begitu melihat mayat-mayat itu, wajah mereka langsung berubah.

"Nona yang membunuh mereka?"

Tanya salah seorang dari mereka.

"Bukan,"

Sahut Siang Koan Goat Nio.

"Yang membunuh mereka telah pergi, kalian terlambat ke mari."

"Siapa orang itu?"

"Bu Ceng Sianli."

"Haaah?"

Para anggota Seng Hwee Kauw itu tampak terkejut. Mereka saling memandang.

"Mari kita bawa mayatmayat itu ke markas!"

Siang Koan Goat Nio menatap mereka sejenak, kemudian barulah melesat pergi.

Para anggota Seng Hwee Kauw itu tidak memperdulikannya, karena sibuk mengumpulkan mayatmayat itu.

-ooo0dw0ooo-Siang Koan Goat Nio melanjutkan perjalanan menuju Gunung Thian San.

Ketika berada di tempat sepi, mendadak ia mendengar suara siulan aneh yang menyeramkan, kemudian terdengar pula suara derap kaki kuda.

Segeralah ia melompat ke balik sebuah pohon, lalu mengintip ke arah suara siulan aneh yang menyeramkan itu.

Berselang sesaat, tampak belasan ekor kuda berpacu cepat.

Para penunggangnya berpakaian serba putih dan memakai kedok setan.

Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening.

Kelihatannya ia sedang berpikir.

Akhirnya ia manggut-manggut seakan telah mengambil suatu keputusan.

Setelah kuda-kuda itu lewat, gadis itu langsung melesat menggunakan ginkang mengikuti mereka.

Ketika hari mulai gelap, sampailah ia di suatu tempat yang merupakan sebidang padang rumput.

Siang Koan Goat Nio melesat ke atas pohon, untuk bersembunyi di situ sambil mengintip.

Tampak di padang rumput itu telah berkumpul lima puluhan orang berpakaian putih.

Di tengah-tengah padang rumput itu terdapat sebuah batu besar.

Seorang berpakaian putih perak bergemerlapan dan berkedok setan berdiri di atas batu itu.

Di belakangnya berdiri lima orang.

Berapa usia mereka, sama sekali tidak bisa diketahui, karena semuanya memakai kedok setan.

"Saudara-saudara sekalian! Dalam waktu beberapa bulan ini, aku terus-menerus meluncurkan kembang api perkumpulan kita, itu agar kalian berkumpul di sini!"

Ujar orang berpakaian putih perak dengan suara lantang.

"Hampir seratus tahun perkumpulan kita bubar secara tidak langsung, itu dikarenakan ketua yang lama menghilang tiada jejaknya di daerah Tionggoan ini. Beberapa tahun lalu, aku terjatuh ke dalam jurang, kemudian tanpa sengaja aku memasuki sebuah goa. Di dalam goa itu aku menemukan sosok tubuh, yang ternyata mayat Pek Kut Lojin (Orang Tua Tulang Putih). Di hadapan mayat itu terdapat sebuah kitab catatan ilmu silat dan catatan mengenai riwayat Pek Kut Lojin, bahkan terdapat pula sepucuk surat dari kulit binatang. Selanjutnya aku harap Ngo Sat Kui (Lima Setan Algojo) menjelaskan kepada saudarasaudara sekalian."

Kelima orang yang berdiri di belakang orang itu melangkah maju, kemudian salah seorang dari mereka berkata dengan lantang.

"Kami berlima adalah Ngo Sat Kui, ayah kami adalah pengawal Pek Kut Lojin, ketua Kui Bin Pang. Beberapa bulan lalu, kami melihat kembang api perkumpulan kita meluncur ke atas, maka kami berlima segera berangkat ke mari. Kami bertemu ketua yang baru, itu telah disahkan oleh ketua yang lama dengan surat keputusan. Kami berlima telah membaca surat keputusan itu, bahkan kami pun telah menguji kepandaiannya. Tidak salah, kepandaian yang dimilikinya adalah kepandaian Pek Kut Lojin, begitu pula pakaian dan kedok yang dipakainya sekarang."

"Bagaimana ketua yang lama berada di dalam goa itu?"

Tanya salah seorang anggota.

"Ketua yang lama terkena pukulan sehingga jatuh ke dalam jurang,"

Sahut salah seorang Ngo Sat Sin yaitu Toa Sat Sin.

"Oleh karena itu, hampir seratus tahun tiada kabar beritanya. Kini perkumpulan kita sudah ada ketuanya, ini merupakan keberuntungan bagi Kui Bin Pang kita."

"Siapa yang memukul jatuh ketua yang lama?"

Tanya salah seorang anggota lagi.

"Ketua yang lama telah memberitahukan di dalam kitab catatannya, ternyata adalah Tio Po Thian, majikan Pulau Hong Hoang To,"

Jawab Toa Sat Kui dan menambahkan.

"Maka pihak Pulau Hong Hoang To adalah musuh besar kita. Kalau sudah tiba waktunya, kita akan membasmi pihak Pulau Hong Hoang To, bahkan juga akan membasmi Kay Pang dan partaipartai lainnya."

Betapa terkejutnya Siang Koan Goat Nio mendengar itu, sementara Toa Sat Kui mulai melanjutkan.

"Kini kita masih belum berhasil menemukan Tianglo (Tetua), dan dua orang Hu Hoat (Pelindung), maka kita belum bisa bergerak. Kami berlima akan berusaha mencari Tetua dan dua Pelindung itu. Kalau mereka sudah wafat, tentunya mereka punya turunan. Apabila turunan mereka tidak mau bergabung, kami berlima harus bertindak tegas terhadap turunan mereka."

"Kami semua pasti setia kepada ketua yang baru!"

Seru para anggota.

"Hidup Kui Bin Pang! Hidup ketua yang baru!"

"Bagus! Bagus!"

Toa Sat Kui tertawa gelak.

"Ha ha ha! Dua bulan kemudian kita akan bertemu kembali di markas! Sekarang kalian boleh bubar!"

Para anggota Kui Bin Pang itu mulai melesat pergi sambil mengeluarkan siulan aneh yang menyeramkan, dan tak lama terdengarlah suara derap kaki kuda.

Sementara Siang Koan Goat Nio yang mengintip di atas pohon itu belum berani bergerak.

Setelah ketua Kui Bin Pang dan Ngo Sat Sin itu melesat pergi, barulah gadis itu menghela nafas lega sambil berpikir.

Berselang beberapa saat kemudian, ia melesat pergi menuju arah timur.

Ternyata ia telah mengambil keputusan untuk kembali ke markas pusat Kay Pang, karena harus memberitahukan kepada Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong tentang apa yang didengarnya tadi.

Itu memang penting sekali, sebab menyangkut Pulau Hong Hoang To.

-oo0dw0oo-Bagian ke empat puluh satu Perkenalan yang merepotkan Ho Bun Yang terus melakukan perjalanan ke Gunung Thian San.

Hari ini ia tiba di sebuah desa.

Kebetulan ada sebuah kedai teh di pinggir jalan, maka ia mampir untuk melepaskan dahaga.

Cukup ramai kedai teh itu.

Para tamu terdiri dari kaum pedagang dan kaum rimba persilatan, bahkan terdapat beberapa pelancong pula.

Begitu Tio Bun Yang duduk, pelayan kedai itu segera menyuguhkan secangkir teh seraya bertanya.

"Tuan mau pesan makanan lain?"

"Tidak usah,"

Sahut Tio Bun Yang sambil menggelenggelengkan kepala. Sementara beberapa pedagang bercakap-cakap dengan serius sekali. Wajah mereka tampak memucat.

"Belum lama ini di Gurun Sih Ih telah muncul setan iblis yang menunggang kuda."

"Omong kosong! Mana ada setan iblis me. nunggang kuda? Engkau sudah mabuk ya?"

"Aku tidak mabuk, memang telah muncul setan iblis di Gurun Sih Ih. Aku... aku menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Iiiih, sungguh menyeramkan!"

"Oh? Engkau menyaksikan setan iblis itu dengan mata kepala sendiri?"

"Ya. Setan iblis itu berpakaian putih, menunggang kuda sambil mengeluarkan suara siulan aneh yang menyeramkan. Wajah mereka seram sekali!"

"Engkau melihat jelas wajah mereka?"

"Hanya sekelebatan saja."

"Kalau begitu... mungkin mereka memakai kedok setan."

"Entahlah. Yang jelas sangat menyeramkan Aku... aku nyaris pingsan seketika itu."

"Mereka menuju ke mana?"

"Ke arah Tionggoan. Aku yakin setan iblis itu sudah berada di daerah Tionggoan."

"Setan iblis itu tidak mengganggumu?"

"Kalau setan iblis itu menggangguku, bagaimana mungkin aku masih bernafas sampai di sini?"

"Menurut aku..."

Ujar pedagang yang tampak agak berpengalaman.

"Itu bukan setan iblis, melainkan manusia biasa seperti kita. Hanya saja mereka berkepandaian tinggi, dan berasal dari suatu golongan. Kita bukan kaum rimba persilatan, jadi tidak usah takut, karena mereka tidak ikan mengganggu kita."

"Mudah-mudahan begitu! Tapi kota Giok Bun Kwan sudah mulai sepi, sebab para pedagang tidak berani ke daerah lain melalui Gurun Sih Ih. Aku pun sudah tidak mau berdagang ke daerah-daerah yang berdekatan Gurun Sih Ih. Aku... aku masih merasa seram dan takut."

Pada waktu bersamaan, di meja lain tampak beberapa lelaki berpakaian ringkas. Mereka adalah kaum rimba persilatan, juga sedang membicarakan sesuatu dengan serius sekali.

"Beberapa bulan ini, di rimba persilatan telah muncul seorang gadis yang amat cantik mempesonakan. Siapa yang melihatnya pasti akan jatuh hati padanya. Gadis itu memang cantik sekali."

"Aku pun pernah mendengar tentang gadis itu. Apakah engkau pernah melihatnya?"

"Tidak pernah. Akan tetapi gadis itu sangat uidis sekali. Siapa yang berani berlaku kurang ajar padanya, pasti dibunuhnya tanpa ampun!"

"Itu sesuai dengan julukannya."

"Engkau tahu julukannya?"

"Tahu. Julukannya adalah Bu Ceng Sianli (Bidadari Tanpa Perasaan). Gadis itu memang tak punya perasaan. Membunuh orang sambil tersenyum, seakan membunuh seekor semut."

Mendengar penuturan itu, Tio Bun Yang menggelenggelengkan kepala.

Pada waktu bersamaan muncul pula seorang gadis ke dalam kedai teh itu.

Kecantikan gadis itu sulit diuraikan dengan kata-kata.

Begitu melihat gadis itu, para tamu terbelalak dengan mulut ternganga lebar.

Tio Bun Yang juga memandang gadis itu sejenak, namun sikapnya tidak seperti para tamu lain.

Sementara gadis itu menengok ke sana kt mari, kemudian mendekati meja Tio Bun Yang.

"Adik kecil, bolehkah aku duduk di sini?"

"Tentu boleh, Kakak besar,"

Sahut Tio Bun Yang. Karena gadis itu memanggilnya 'Adik kecil', maka ia memanggilnya 'Kakak besar', itu membuat gadis tersebut tertawa geli.

"Hi hi hi!"

Suara tawanya merdu bagaikan kicauan burung, menggetarkan kalbu para lelaki di kedai itu. Gadis tersebut duduk sambil menatap Tio Bun Yang.

"Adik kecil, engkau sungguh tampan dan lucu!"

"Kakak besar,"

Sahut Tio Bun Yang dan nn mandangnya.

"Engkau amat cantik dan menggeli kan."

"Oh, ya?"

Gadis itu tertawa lagi.

Siapa gadis itu?

Tidak lain adalah Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui.

Kaum rimba persilatan di kedai teh itu sama sekali tidak mengenalnya.

Mereka cuma mendengar tentang dirinya tapi tidak pernah melihatnya.

"Sungguh beruntung pemuda itu!"

Bisik seseorang kepada temannya.

"Gadis yang cantik jelita itu duduk bersamanya."

"Tentu. Karena pemuda itu sangat tampan, tidak seperti kita yang berwajah tidak karuan."

"Kalau aku bisa memperisterinya, jadi budaknya pun aku rela."

"Gadis itu memang cantik sekali. Kelihatannya dia tertarik pada pemuda itu. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia mau duduk bersamanya?"

"Sayang sekali dia tidak mau duduk bersama kita di sini!"

"Bagaimana mungkin gadis itu mau duduk bersama kita? Dia masih muda dan cantik sekali, sedangkan kita berwajah tidak karuan dan sudah berusia tiga puluhan."

Sementara gadis itu terus-menerus memandang Tio Bun Yang, sepertinya sedang mengamati sesuatu benda antik yang sangat menarik hatinya.

"Adik kecil, bolehkah aku tahu namamu?"

"Namaku Tio Bun Yang."

"Oooh!"

Gadis itu manggut-manggut sambil tersenyum manis.

"Kenapa engkau tidak bertanya namaku?"

"Tidak baik sembarangan bertanya nama seorang gadis, aku tidak mau dikatai kurang ajar."

"Kalau engkau menanyakan namaku, tentu aku tidak akan mengataimu kurang ajar,"

Ujar Tu Siao Cui sambil menatapnya dalam-dalam, lalu memperkenalkan diri.

"Namaku Tu Siao Cui."

"Tu Siao Cui? Tu Siao Cui..."

Gumam Tio Bun Yang dengan kening berkerut-kerut.

"Tu Siao Cui...."

"Eh? Anak kecil!"

Tu Siao Cui tertegun.

"Kenapa engkau terus-menerus bergumam menyebut namaku?"

"Aku pernah mendengar namamu, tapi tidak mungkin dia adalah engkau,"

Sahut Tio Bun Yang.

"Oh?"

Tu Siao Cui terbelalak.

"Di mana engkau pernah mendengar namaku?"

"Aku pernah bertemu seorang tua di dalam sebuah goa di Gunung Hong San. Orang tua itu dibelenggu dengan rantai baja."

"Apa?"

Tu Siao Cui tampak terkejut.

"Orang tua itu masih hidup?"

"Sudah mati."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Orang tua itu punya seorang murid perempuan yang sangat jahat. Murid perempuan itulah yang merantainya. Tapi sebelumnya dia pun berhasil memukul murid perempuannya."

"Siapa orang tua itu?"

"Thian Gwa Sin Hiap-Tan Liang Tie."

"Dia yang menceritakan itu kepadamu?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Ternyata dia salah tangan membunuh kedua orang tua Tu Siao Cui. Demi menebus dosanya, maka dia mengurusi Tu Siao Cui."

"Hmm!"

Dengus Tu Siao Cui.

"Syukurlah dia sudah mampus!"

"Eh? Engkau...."

Tio Bun Yang menatapnya heran.

"Kok engkau tidak bersimpati kepadanya?"

"Dia telah membunuh kedua orang tua Tu Siao Cui, kenapa aku harus bersimpati kepadanya?"

"Orang tua itu sangat menyesal, namun Tu Siao Cui itu sangat kejam,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Tidak ingat budi, malah menyiksanya di dalam goa itu"

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa cekikikan.

"Engkau merasa kasihan pada orang tua itu?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Tapi juga merasa kasihan pada Tu Siao Cui itu, entah bagaimana dia?"

"Engkau juga kasihan pada Tu Siao Cui itu?"

Tanya Tu Siao Cui bernada girang.

"Yaaah!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Dia pun terluka, tapi masih sempat membawa pergi kitab Hian Goan Cin Keng. Itu adalah kejadian enam puluh tahun lampau, maka bagaimana mungkin Tu Siao Cui itu masih hidup?"

Halaman 28-29 tidak ada "Aku Hek Sim Popo! Engkau pernah mendengar namaku?"

"Hek Sim Popo..."

Gumam Tu Siao Cui.

"Aku tidak pernah mendengar namamu tu, sungguh!"

"Engkau murid siapa? Kenapa berani menentang Seng Hwee Kauw?"

Tanya Hek Sim Popo sengit "Engkau tidak usah tahu aku murid siapa !"

Sabut Tu Siao Cui sambil tertawa nyar.ng.

"Para anggota Seng Hwee Kauw itu kurang ajar terhadapku, maka aku membunuh mereka!"

"Hmm!"

Dengus Hek Sim Popo dingin.

"Hari ini engkau harus mampus!"

"Oh, ya?"

Tu Siao Cui tertawa cekikikan.

"Jangan-jangan engkau dan para anak buahmu itu yang akan mampus!"

"Hek Sim Popo,"

Ujar Tio Bun Yang mendadak.

"Seng Hwee Sin Kun, ketua kalian itu sudah pulih?"

"Engkau...."

Hek Sim Popo tersentak, kemudian menatapnya tajam.

"Engkau adalah Giok Siauw Sin Hiap?"

"Betul."

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Hek Sim Popo. lebih baik kalian segera enyah dari sini! Jangan cari penyakit! Setelah Seng Hwee Sin Kun pulih, aku akan membuat perhitungan dengannya."

"Giok Siauw Sin Hiap! Itu adalah urusanmu dengan Seng Hwee Sin Kun, namun sekarang aku punya urusan dengan dia!"

Sahut Hek Sim Popo sambil menuding Tu Siao Cui.

"Bagus! Bagus!"

Tu Siao Cui tertawa cekikikan.

"H hi hi! Berarti kalian sudah bosan hidup!"

"Bu Ceng Sianli!"

Bentak Hek Sim Pono.

"Hari ini engkau harus mampus!"

"Hek Sim Popo, jadi engkau mau bertarung denganku?"

Tanya Tu Siao Cui dengan kening berkerut.

"Engkau takut?"

Sahut Hek Sim Popo sambil tertawa dingin.

"Takut? He he he!"

Tu Siao Cui tertawa terkekeh-kekeh.

"Aku sama sekali tidak kenal apa itu takut! Mari kita bertarung di luar, agar tidak menghancurkan kedai teh ini!"

"Baik!"

Hek Sim Popo mengangguk.

Mereka melesat ke luar, begitu pula para anggota Seng Hwee Kauw dan Tio Bun Yang.

Tu Siao Cui dan Hek Sim Popo berdiri berhadapan, dan mula mengeluarkan Iweekang masing-masing.

Tio Bun Yang berdiri agak jauh, namun perhatiannya dicurahkan pada Tu Siao Cui, karena ingin menyaksikan kepandaiannya.

"Lihat serangan!"

Bentak Hek Sim Popo mendadak, sekaligus menyerang Tu Siao Cui dengan ilmu pukulan andalannya.

Tu Siao Cui tertawa nyaring, kemudian secepat kilat berkelit dan balas menyerang.

Ter-jadilah pertarungan yang amat seru dan sengit.

Belasan jurus kemudian mendadak Tu Siao Cui berseru.

"Hek Sim Popo! Berhati-hatilah, aku akan mencabut nyawamu!"

"Engkau yang akan mampus!"

Sahut Hek Sim Popo, dan tiba-tiba menyerang Tu Siao Cu dengan senjata ranasia. Serrt! Serrrrt! Serrrr...! Senjata-senjata rahasia itu meluncur cepat ke arah Tu Siao Cui.

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa nyaring sambil mengibaskan lengan bajunya.

Sungguh luar biasa!

Senjata-senjata rahasia itu terpukul jatuh semua.

Di saat itulah Tu Siao Cui mengeluarkan Hian Goan Ci.

Tampak sinar putih berkelebat ke arah Hek Sim Popo.

Begitu cepat, sehingga Hek Sim Popo tidak sempat berkelit, tapi berusaha menangkis.

Cessss!

"Aaaaakh..!"

Jerit Hek Sim Popo. Ia terhuyung-huyung ke belakang lalu terkapar berlumuran darah. Ternyata dadanya telah berlubang dan nyawanya melayang seketika.

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa.

"Dia yang cari mampus, bukan aku yang ingin membunuhnya!"

"Sebetulnya engkau tidak perlu membunuhnya, cukup melukainya saja,"

Ujar Tio Bun Yang sambil menggelenggelengkan kepala.

"Oh?"

Sahut Tu Siao Cui sambil tersenyum "Bahkan aku pun akan membunuh mereka semua!"

Tu Siao Cui ti bergerak, bersamaan itu Tio Bun Yang pun bergerak menggunakan Kiu Kiong San Tian Pou (Ilmu Langkah Kilat).

"Haaah..?"

Bukan main terkejutnya Tu Siao Tui, karena Tio Bun Yang sudah berada dihadapannya.

"Sudahlah!"

Ujar Tio Bun Yang.

"Engkau sudah membunuh Hek Sim Popo, jangan membunuh mereka lagi!"

"Adik kecil! Engkau...."

Tu Siao Cui mengerutkan kening.

"Engkau berani menghalangiku?"

"Dimana masih bisa mengampuni orang, ampunilah!"

Sahut Tio Bun Yang dan menambahkan.

"Membunuh merupakan perbuatan yang sangat berdosa, janganlah engkau membuat takdir buruk pada dirimu sendiri!"

"Engkau...."

Tu Siao Cui terbelalak, kemudian tertawa geli."Hi hi hi! Kelihatannya engkau pantang membunuh, maka seharusnya engkau pergi bertapa atau jadi bikhu."

Sementara para anggota Seng Hwee Kauw saling memandang.

Mereka tahu nyawa mereka dalam bahaya.

Namun mereka sama sekali tidak berani kabur, hanya berharap Bu Ceng Sianli akan mendengar perkataan Tio Bun Yang.

"Kakak!"

Tio Bun Yang menatapnya.

"Engkau secantik bidadari, haruslah berhati welas asih. Jangan suka membunuh menodai dirimu sendiri, lepaskanlah mereka!"

"Bagaimana kalau aku tidak bersedia melepaskan mereka?"

"Aku terpaksa menghadapimu,"

Tegas Tio Bun Yang.

"Karena aku tidak mau melihat engkau membunuh lagi."

"Engkau membela mereka?"

Tu Siao Cui mengerutkan kening.

"Mereka adalah para penjahat lho!"

"Terus terang, yang kubela adalah dirimu. Sama sekali bukan mereka,"

Sahut Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Engkau pun harus tahu, sebetulnya mereka dan ketuanya adalah musuhku. Tapi aku akan membuat perhitungan dengan Seng Hwee Sin Kun, ketua mereka itu, bukan terhadap mereka."

"Oh?"

Tu Siao Cui tersenyum.

"Bagaimana engkau membela diriku?"

"Agar engkau tidak berbuat dosa lagi,"

Sahut Tio Bun Yang.

"Nah, bukankah aku membelamu?"

"Ngmm!"

Tu Siao Cui manggut-manggut.

"Masuk akal juga apa yang engkau katakan! Baiklah Aku melepaskan mereka."

"Terimakasih, Kakak!"

Ucap Tio Bun Yang. lalu memandang para anggota Seng Hwee Kauw seraya berkata.

"Cepatlah kalian pergi, kalau pikiran Bu Ceng Sianli berubah celakalah kalian!"

"Terimakasih, Giok Siauw Sin Hiap!"

Ucap mereka sambil memberi hormat.

"Kami telah berhutang budi kepadamu. Sampai jumpa!"

Para anggota Seng Hwee Kauw berjalan pergi, sekaligus menggotong mayat Hek Sim Popo meninggalkan tempat itu.

"Adik kecil!"

Tu Siao Cui tersenyum.

"Engkau memang berhati bajik, maka tidak seharusnya engkau berkecimpung di rimba persilatan."

"Aaah...!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Aku memang sudah jenuh akan rimba persilatan."

"Adik kecil...."

Tu Siao Cui menatapnya dalam-dalam, kemudian ujarnya sungguh-sungguh.

"Kelihatannya hatimu terganjel sesuatu. Katakanlah kepadaku, siapa tahu aku bisa membantumu!"

"Terimakasih atas maksud baikmu!"

Ucap Tio Bun Yang.

"Tapi, tiada suatu apa pun terganjel dalam hatiku."

"Adik kecil..."

Tu Siao Cui menatapnya dengan mata berbinar-binar.

"Entah apa sebabnya, aku merasa suka sekali padamu."

"Kakak...."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala, lalu melangkah pergi.

Akan tetapi, Tu Siao Cui segera mengikutinya.

Puluhan langkah kemudian, Tio Bun Yang terpaksa berhenti karena Tu Siao Cui masih terus mengikutinya.

"Eeeh?"

Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Kenapa engkau terus mengikutiku? Aku masih harus menempuh perjalanan, jangan menggangguku!"

"Adik kecil!"

Tu Siao Cui tertawa.

"Aku tidak mengganggumu, melainkan ingin melakukan perjalanan bersamamu. Boleh kan?"

"Untuk apa?"

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Lagi pula kita baru berkenalan, jadi tidak baik melakukan perjalanan bersama."

"Pokoknya aku harus ikut engkau,"

Tegas Tu Siao Cui dan menambahkan.

"Engkau ke mana, aku pasti ikut."

"Engkau sudah gila ya?"

"Aku memang tergila-gila padamu,"

Sahut Tu Siao Cui sambil tertawa cekikikan.

"Oleh karena itu, aku harus ikut engkau."

"Kakak! Jangan bergurau, itu... bagaimana mungkin? Sudahlah! Jangan menggangguku! Aku harus segera melakukan perjalanan!"

"Pokoknya aku harus ikut!"

"Engkau tidak boleh ikut!"

"Aku harus ikut! Pokoknya ikut!"

"Kakak...."

Tio Bun Yang betul-betul kewalahan menghadapi Bu Ceng Sianli, akhirnya ia duduk di bawah sebuah pohon.

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa cekikikan sambil duduk di sebelahnya.

"Adik kecil, kenapa engkau kelihatan takut padaku!"

"Aku tidak takut padamu, melainkan tidak baik kita melakukan perjalanan bersama. Aku sudah punya kekasih, lagi pula kita baru berkenalan."

"Itu tidak jadi masalah."

Mendadak Tu Siao Cui memegang tangannya.

"Adik kecil, aku suka sekali padamu."

"Kakak...."

Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Terus terang, aku pun suka padamu. Tapi engkau kuanggap sebagai kakak."

"Terima kasih! Terimakasih!"

Ucap Tu Siao Cui.

Tiba-tiba ia membaringkan dirinya, lalu memandang Tio Bun Yang dengan penuh gairah nafsu.

Tio Bun Yang menghela nafas panjang, sedangkan Tu Siao Cui terus memikat sekaligus menggodanya dengan berbagai gaya merangsang.

Akan tetapi, Tio Bun Yang tetap duduk tenang di tempat, kelihatannya sama sekali tidak terangsang.

Betapa penasarannya Tu Siao Cui, ia tidak percaya iman Tio Bun Yang begitu teguh.

Perlahan-lahan ia melebarkan sepasang kakinya, menghadap ke arah Tio Bun Yang.

Setelah itu, ia menyingkap pakaiannya sehingga pahanya yang putih mulut itu tertampak sedikit.

Perlu diketahui, Tu Siao Cui juga memiliki semacam ilmu sesat yang merangsang kaum lelaki.

Kalau lelaki itu telah terangsang, tapi tidak disalurkan padanya, maka lelaki itu akan mati secara mengenaskan.

Namun Tu Siao Cui justru tidak tahu, kalau Tio Bun Yang memiliki ilmu Penakluk Iblis.

Karena itu, ia sama sekali tidak akan tergoda maupun terangsang.

Itu sungguh membahayakan diri Tu Siao Cui sendiri, sebab akan terjadi senjata makan tuan.

Tio Bun Yang tahu tentang itu, sehingga timbul rasa cemasnya.

Sedangkan Tu Siao Cui sudah tidak bisa menarik kembali ilmu sesatnya itu, membuat wajahnya mulai memucat.

Tiba-tiba Tio Bun Yang teringat sesuatu.

Maka ia segera mengeluarkan sulingnya dengan wajah berseri-seri.

Tak lama terdengarlah suara alunan suling yang sangat menyentuh hati.

Begitu mendengar suara suling itu, sekujur badan Tu Siao Cui tampak tergetar keras.

Berselang beberapa saat kemudian, wajahnya yang memucat itu mulai berubah seperti semula.

Perlahan-lahan ia bangkit duduk di hadapan Tio Bun Yang, lalu menatapnya dengan penuh kekaguman.

"Adik kecil..."

Ujar Tu Siao Cui seusai Tio Bun Yang meniup sulingnya.

"Aku sama sekali tidak menyangka, engkau begitu mahir meniup suling, bahkan suara sulingmu juga mengandung kekuatan yang dapat membersihkan hati maupun batin orang yang tersesat. Aku sungguh kagum padamu!"

"Kakak tidak usah heran,"

Ujar Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Kalau aku tidak memiliki ilmu Penakluk Iblis, pasti sudah tergoda!"

"Apa!"

Tu Siao Cui terbelalak.

"Engkau masih sedemikian muda, tapi sudah memiliki ilmu itu?"

"Sejak kecil aku sudah belajar ilmu Penakluk Iblis."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Aku juga tahu, kalau engkau memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali. Aku harap, mulai sekarang engkau jangan terlampau gampang membunuh orang, sebab akan menciptakan suatu karma buruk untukmu."

"Adik kecil, terimakasih atas nasihatmu!"

Ujar Tu Siao Cui sungguh-sungguh.

"Baru kali ini aku bertemu dengan pemuda yang begitu luar biasa. Padahal usiaku sudah delapan puluh lebih."

"Kakak!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku tak menyangka, kakak pun suka bergurau."

"Adik kecil, kelak engkau akan percaya mengenai usiaku. Sampai jumpa!"

Tu Siao Cui melesat pergi. Sayup-sayup terdengar suara seruannya.

"Aku suka padamu...."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala, berselang sesaat barulah ia melesat pergi melanjutkan perjalanannya.

-ooo0dw0ooo-Beberapa hari kemudian, Tio Bun Yang sudah tiba di Kota Kang Shi.

Mendadak ia teringat pada Ngo Tok Kauwcu-Phang Ling Cu Maka, segeralah ia menjadi markas Ngo Tok Kauw.

"Adik Bun Yang...."

Betapa gembiranya Ngo Tok Kauwcu.

"Aku tak menyangka engkau akan ke mari."

"Maaf, Kakak!"

Ucap Tio Bun Yang jujur.

"Aku bukan sengaja kemari, kebetulan berada di kota ini, maka aku mampir menengok Kakak."

"Terima kasih!"

Ngo Tok Kauwcu tersenyum.

"Silakan duduk!"

Tio Bun Yang duduk, kemudian memandang Ngo Tok Kauwcu seraya bertanya dengan penuh perhatian.

"Bagaimana keadaan Kakak selama ni?"

"Aku baik baik saja,"

Sahut Ngo Tok Kauwcu.

"Oh ya, engkau baik-baik saja? Bagimana keadaan kauw heng?"

"Aku baik-baik saia. Tapi...."

Tio Bun Yang menghela nafas panjang. Kauw heng sudah ma .."

"Oh!"

Ngo Tok Kauwcu menggeleng-geleng-kan kepala.

"Sungguh kasihan kauw heng itu! Dia berkorban dem menyelamatkan nyawamu."

"Aaaah!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang lagi.

"Aku berhutang budi kepada monyet bulu putih itu. Maka aku bersumpah, turunanku tidak boleh membunuh monyet jenis apa pun."

"Ngmm!"

Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut.

"Oh ya, kenapa engkau datang di kota ini!"

"Aku sedang menuju ke Gunung Thian San."

"Lho?"

Ngo Tok Kauwcu tertegun.

"Kenapa engkau ke sana lagi?"

"Itu dikarenakan Goat Nio...."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Maka aku berangkat ke sana lagi."

"Ternyata begitu! Tapi...."

Ngo Tok Kauwcu mengerutkan kening.

"Siapa pun yang pergi ke Gunung Thian San, harus melalui kota ini. Namun para anggotaku tidak melihat adanya seorang gadis menuju Gunung Thian San."

"Oh?"

Tio Bun Yang tertegun.

"Mungkinkah dia mengambil jalan lain?"

"Tidak mungkin,"

Ujar Ngo Tok Kauwcu.

"Perjalanan ke Gunung Thian San harus melalui kota ini, jadi aku yakin Goat Nio belum sampai kota ini."

"Bagaimana mungkin dia belum sampai di kota ini?"

Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Dia berangkat duluan karena mengira aku masih di Gunung Thian San"

"Kalau begitu...."

Wajah Ngo Tok Kauwcu agak berubah.

"Apakan telah terjadi sesuatu atas dirinya?"

"Itu...."

Tio Bun Yang mulai cemas.

"Kepandaiannya cukup tinggi, tidak mungkin akan terjadi sesuatu atas dirinya. Oh ya, engkau tahu bagamana keadaan Seng Hwee Sin Kun? Apakah dia sudah pulih?"

"Aku telah memperoleh informasi mengenai Seng Hwee Sin Kun,"

Jawab Ngo Tok Kauwcu memberitahukan.

"Dalam bulan ini dia akan pulih, maka engkau harus berhati-hati."

"Ya."

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Adik Bun Yang!"

Ngo Tok Kauwcu menatapnya seraya bertanya.

"Bagaimana kepandaianmu sekarang? Apakah sudah bertambah maju?"

"Kepandaianku memang sudan bertambah maju..."

Jawab Tio Bun Yang dan menutur tentang keberhasilannya mempelajari ilmu Kan Kun Taylo Im Kang.

"Syukurlah!"

Ucap Ngo Tok Kauwcu dengan wajah berseri "jadi engkau pasti sudah dapat menandingi Seng Hwee Sin Kun."

"Mudah-mudahan!"

Sahut Tio Bun Yang sambil menghela nafas panjang.

"Kini yang kupikirkan adalah Goat Nio. Kalau aku belum bertemu dia, sama sekali tidak bisa tenang."

"Adik Bun Yang...."

Ngo Tok Kauwcu menggelenggelengkan kepala.

"Oh ya, aku akan menyuruh beberapa anggotaku untuk mencari Goat Nio. Apabila ada kabar beritanya, aku pasti ke markas pusat Kay Pang memberitahukan kepada mu." 'Terimakasih, Kak!"

Ujar Tio Bun Yang dan melanjutkan.

"Tapi biar bagiamanapun, aku harus ke Gunung Thian San."

"Baik."

Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut.

"Bertemu atau tidak dengan Goat Nio, aku harap engkau ke mari lagi!"

"Itu sudah pasti."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Karena aku pulang dari Thian San harus melalui kota ini."

"Kapan engkau akan berangkat ke Gunung Thian San?"

"Sekarang."

"Apa?"

Ngo Tok Kauwcu terbelalak.

"Engkau mau berangkat sekarang? Tidak bermalam di sini?"

"Aku harus cepat-cepat sampai di sana,"

Sahut Tio Bun Yang sekaligus berpamit.

"Kakak, aku mohon diri!"

"Adik Bun Yang,"

Pesan Ngo Tok Kauwcu.

"Pulang dari Gunung Thian San, jangan lupa mampir! Sebab aku pun akan menyuruh beberapa orang pergi menyelidiki tentang Goat Nio."

"Terimakasih, Kak! Sampai jumpa!"

Ucap Tio Bun Yang lalu berangkat ke Gunung Thian San dengan perasaan cemas.

-ooo0dw0oo-Beberapa hari kemudian, Tio Bun Yang sudah sampai di Gunung Thian San.

Akan tetap walau ia sudah mencari ke sana ke mari di gunung itu, namun tetap tidak berhasil menemukan Siang Koan Goat Nio.

Akhirnya ia menuju goa tempat tinggal monyet bulu putih.

Begitu memasuki goa tersebut, ia langsung menjatuhkan d duduk di hadapan makam monyet bulu putih.

"Kauw heng...."

Sepasang mata Tio Bun Yang bersimbah air.

"Aku datang di Gunung Thian San ini untuk mencari Goat Nio, namun dia tidak berada di gunung in Maka aku ke mari menengokmu, kauw heng...."

Tio Bun Yang terisak-isak. Berselang sesaat barulah ia baugkit berdiri dan berkata.

"Kauw heng, aku tidak bisa lama-lama di sini karena masih harus pergi mencari Goat Nio maafkan aku!"

Tio Bun Yang terus menatap makam monyet bulu putih itu, lama sekali barulah meninggalkan goa tersebut.

la melakukan perjalanan dengan menggunakan ginkang.

Beberapa hari kemudian ia sudah sampai di kota Kang Shi, dan langsung menuju markas Ngo Tok Kauw.

"Adik Bun Yang...."

Ngo Tok Kauwcu menatapnya.

"Duduklah!"

Tio Bun Yang duduk sambil menghela nafas panjang, kemudian menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata.

"Kakak, aku tidak bertemu Goat Nio."

"Berarti dia tidak ke Gunung Thian San. Aku pun belum memperoleh kabar beritanya."

"Aaah...!"

Keluh Tio Bun Yang dengan wajah cemas.

"Mungkinkah telah terjadi sesuatu atas dirinya?"

"Menurut aku tidak,"

Ujar Ngo Tok Kauwcu.

"Kemungkinan besar dia kembali ke markas pusat Kay Pang. Maka alangkah baiknya engkau ke markas pusat Kay Pang saja. Kalau aku memperoleh kabar beritanya, pasti ke sana memberitahukan kepadamu."

"Baiklah."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Kalau begitu, aku harus segera berangkat ke markas pusat Kay Pang. Sampai jumpa Kak!" -ooo0dw0ooo. Bagian ke empat puluh dua Siang Koan Goat Nio ditangkap Sementara itu di markas Seng Hwee Kauw, tampak Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui, Pat Pie Lo Koay dan Tok Clu Ong duduK dengan wajah serius. Berselang beberapa saat kemudian, terdengarlah suara tawa terbahak-bahak, muncullah Seng Hwee Sin Kun dengan wajah berseri-seri.

"Ha ha ha! Ha ha ha...!"

"Selamat, Ketua!"

Ucap mereka berempat sambil bangkit berdiri, sekaligus memberi hormat kepada Seng Hwee Sin Kun.

"Terimakasih! Terimakasih! Ha ha ha...!"

Sahut Seng Hwee Sin Kun tertawa sambil duduk. Leng Bin Hoatsu dan lainnya juga ikut duduk. Seng Hwee Sin Kun menatap mereka dengan penuh perhatian.

"Tidak sampai setahun aku sudah pulih, bahkan Iweekangku juga bertambah tinggi setelah makan sisa pil Seng Hwee Tan itu. Kini sudah saatnya Seng Hwee Kauw menguasai rimba persilatan."

"Benar, Kauwcu,"

Sahut Leng Bin Hoatsu.

"Kini Kauwcu telah pulih, berarti sudah saatnya Seng Hwee Kauw menguasai rimba persilatan."

"Ngmm!"

Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut.

"Oh ya, bagaimana keadaan rimba persilatan selama aku berada di dalam ruang rahasia?"

"Tidak terjadi apa-apa,"

Sahut Pek Bin Kui.

"Tapi belum lama ini di rimba persilatan telah muncul Bu Ceng Sianli."

"Bu Ceng Sianli?"

Seng Hwee Sin Kun mengerutkan kening.

"Siapa dia dan bagaimana kepandaiannya?"

"Dia seorang gadis berusia dua puluhan, parasnya cantik sekali dan berkepandaian sangat tinggi."

Pek Bin Kui memberitahukan.

"Siapa gurunya dan berasal dari mana serta perguruan mana, kami sama sekali tidak mengetahuinya."

"Oh?"

Seng Hwee Sin Kun mengerutkan kening lagi seraya bertanya.

"Apakah dia menentang perkumpulan kita?"

"Dia memang sering membunuh para anggota kita, tapi juga pernah membunuh kaum persilatan dari golongan putih,"

Jawab Pek Bin Kui.

"Kalian diam saja? Sama sekali tidak mengambil suatu tindakan terhadap Bu Ceng Sianli itu?"

Tanya Seng Hwee Sin Kun bernada gusar.

"Kauwcu!"

Leng Bin Hoatsu memberitahukan.

"Aku telah mengutus Hek Sim Popo pergi memberesinya, tapi...."

"Kenapa?"

Tanya Seng Hwee Sin Kun dengan kening berkerut-kerut.

"Telah terjadi sesuatu?"

"Ya."

Leng Bin Hoatsu mengangguk.

"Hek Sim Popo telah mati, belasan anggota kita pulang...."

"Apa?"

Air muka Seng Hwee Sin Kun berubah hebat.

"Hek Sim Popo dibunuh oleh Bu Ceng Sianli itu?"

"Ya,"

Sahut Pat Pie Lo Koay.

"Kalau waktu itu Giok Siauw Sin Hiap tidak berada di tempat, belasan anggota kita pun pasti dibunuh."

"Giok Siauw Sin Hiap bersama Bu Ceng Sianli itu?"

Tanya Seng Hwee Sin Kun sambil mengepal tinju.

"Mereka berdua memang bersama, tapi mereka tiada hubungan satu sama lain."

Pat Pie Lo Koay memberitahukan.

"Kauwcu, secara tidak langsung kita berhutang budi kepada Giok Siauw Sin Hiap."

"Kita berhutang budi pada Giok Siauw Sin Hiap? Ha ha ha...!"

Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.

"Omong kosong!"

"Itu memang benar..."

Ujar Pat Pie Lo Koay.

"Seng Hwee Kauw tidak berhutang budi kepada siapa pun,"

Sahut Seng Hwee Sin Kun ketus.

"Oh ya, bagaimana Lu Thay Kam? Apakah dia pernah mengutus orangnya ke mari?"

"Gak Cong Heng, wakil Lu Thay Kam memang pernah ke mari, namun tidak membicarakan apa pun pada kami, hanya sekedar mengobrol lalu pergi,"

Jawab Leng Bin Hoatsu.

"Karena Kauwcu menutup diri di ruang rahasia, sejak itu pihak Lu Thay Kam tidak pernah ke mari lagi."

"Ngmm!"

Seng Hwee Sin Kun manggut-mang-gut.

"Kini Seng Hwee Kauw harus mulai bertindak, maksudku harus membasmi Kay Pang dan partai-partai lainnya, agar Seng Hwee Kauw dapat menguasai rimba persilatan."

"Maaf Kauwcu!"

Ujar Pat Pie Lo Koay.

"Menurut aku, lebih baik kita membereskan Bu Ceng Sianli dulu. Setelah itu, barulah kita membasmi Kay Pang dan partai-partai besar lainnya".

"Kalian tahu Bu Ceng Sianli itu berada di mana?"

Tanya Seng Hwee Sin Kun.

"Kami tidak tahu,"

Sahut Leng Bin Hoatsu sambil menggelengkan kepala.

"Kalau begitu...."

Seng Hwee Sin Kun mengerutkan kening.

"Cara bagaimana kita memberesinya?"

"Kauwcu!"

Leng Bin Hoatsu memberitahukan.

"Sebetulnya Bu Ceng Sianli bersifat agak sesat. Kalau kita bisa menariknya untuk bergabung, itu sungguh baik sekali."

"Tapi bukankah dia sering membunuh para anggota kita?"

"Benar."

Leng Bin Hoatsu mengangguk.

"Namun itu dikarenakan para anggota kita yang mengganggunya duluan, maka dia membunuh mereka. Bu Ceng Sianli pun pernah membunuh para pesilat dari golongan putih. Apabila dia mau bergabung dengan kita, bukankah kita dapat memanfaatkannya untuk membunuh para pesilat golongan putih?"

"Ide yang cemerlang!"

Ujar Seng Hwee Sin Kun sambil tertawa gelak.

"Kalau begitu, kalian harus berusaha mengundangnya ke mari. Itu adalah tugas kalian, laksanakan dengan baik!"

"Ya,"

Sahut mereka serentak, kemudian Pek Bin Kui memberitahukan.

"Kauwcu, kami telah menerima informasi, bahwa Siang Koan Goat Nio sedang menuju markas pusat Kay Pang."

"Oh?"

Wajah Seng Hwee Sin Kun tampak berseri.

"Kalau begitu, cepatlah kalian pergi tangkap dia!"

"Kauwcu,"

Tanya Pat Pie Lo Koay.

"Kenapa gadis itu harus ditangkap?"

"Ha ha ha!"

Seng Hwee Sin Kun tertawa.

"Kalau dia kutangkap, tentunya dia tidak akan tiba di markas pusat Kay Pang. Nah, bukankah itu akan mencemaskan pihak Kay Pang?"

"Maksud Kauwcu menyanderanya?"

Tanya Pat Pie Lo Koay.

"Kira-kira begitulah,"

Seng Hwee Sin Kun manggutmanggut.

"Setelah itu, barulah kita kirim berita ke markas pusat Kay Pang, agar mereka datang ke mari. Di saat itulah kita membantai mereka."

"Betul."

Pek Bin Kui mengangguk.

"Kita harus bertindak begitu."

"Tapi...."

Pat Pie Lo Koay menggeleng-gelengkan kepala.

"Itu pasti akan mengundang kemarahan pihak Pulau Hong Hoang To, yang tentunya akan membahayakan Seng Hwee Kauw."

"Ha ha ha!"

Seng Hwee Sin Kun tertawa terbahak-bhak.

"Aku justru ingin memancing mereka ke mari, kalian harus tahu. Kepandaianku kini boleh dikatakan sudah tiada tanding di kolong langit. Nah, apa yang harus ditakuti?"

Pat Pie Lo Koay diam, sedangkan yang lain justru tertawa gembira. Berselang sesaat Seng Hwee Sin Kun berkata.

"Kalian berempat cepat pergi menangkap Siang Koan Goat Nio, tapi jangan melukainya! Pergunakan bom asap agar dia pingsan, barulah kalian tangkap!"

"Ya, Kauwcu,"

Sahut mereka berempat, lalu berangkat pergi untuk menangkap Siang Koan Goat Nio.

-oo0dw0oo-Siang Koan Goat Nio terus melakukan perjalanan menuju markas pusat Kay Pang.

Ketika sampai di tempat yang sepi, mendadak melayang turun beberapa orang di hadapannya.

Mereka ternyata Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui, Pat Pie Lo Koay dan Tok Chiu Ong.

"Ha ha ha!"

Leng Bin Hoatsu tertawa seraya berkata.

"Nona, kita bertemu lagi!"

"Kalian mau apa?"

Tanya Siang Koan Goat Nio dingin sambil mengeluarkan sulingnya.

"Nona,"

Sahut Pat Pie Lo Koay memberitahukan.

"Kami ke mari bermaksud mengundangmu ke markas kami, itu adalah perintah Kauwcu kami "

"Bagaimana kalau aku menolak?"

"Kami terpaksa harus menggunakan kekerasan,"

Ujar Leng Bin Hoatsu.

"Oleh karena itu, kami harap Nona menurut!"

"Hmm!"

Dengus Siang Koan Goat Nio dingin.

"Aku tidak akan menurut, pokoknya aku akan melawan mati-matian!"

"Baik!"

Leng Bin Hoatsu tertawa dan berseru.

"Mari kita serang Nona Siang Koan ini!"

Seketika mereka berempat langsung menyerang Siang Koan Goat Nio dengan tangan kosong.

Gadis itu bergerak cepat berkelit, kemudian balas menyerang dengan sulingnya, menggunakan ilmu Cap Pwee Kim Siauw Ciat Hoat (Delapan Belas Jurus Maut Suling Emas).

Akan tetapi, belasan jurus kemudian Siang Koan Goat Nio tampak mulai berada di bawah angin.

Di saat itulah ia menggunakan Cit Loan Kiam Hoat (Ilmu Pedang Pusing Tujuh Keliling) ciptaan Tio Cie Hiong.

Begitu Siang Koan Goat Nio menggunakan ilmu tersebut, Leng Bin Hoatsu dan lainnya segera meloncat ke belakang.

Pek Bin Kui merogoh ke dalam bajunya, mengeluarkan suatu benda ber-bentuk bulat, lalu dilemparkannya ke arah gadis itu.

Daaar!

Benda itu meledak dan mengeluarkan asap.

"Haaah...?"

Siang Koan Goat Nio terperanjat. Ia tahu asap itu mengandung racun, tapi sudah tidak sempat menutup pernafasannya, akhirnya ia terkulai pingsan.

"Ha ha ha!"

Pek Bin Kui tertawa.

"Kita berhasil, Kauwcu pasti gembira sekali!"

"Mari kita bawa dia pulang!"

Sahut Leng Bin Hoatsu.

"Jangan membuang waktu di sini!"

"Baik."

Pat Pie Lo Koay mengangguk, kemudian membopong Siang Koan Goat Nio.

"Ha ha ha!"

Leng Bin Hoatsu tertawa gelak.

"Mari kita kembali ke markas!" -ooo0dw0ooo. Betapa gembiranya Seng Hwee Sin Kun karena Siang Koan Goat Nio sudah tertangkap. Pat Pie Lo Koay menaruh gadis itu ke bawah. Ternyata gadis itu masih dalam keadaan pingsan.

"Ha ha ha!"

Seng Hwee Sin Kun terus tertawa terbahakbahak.

"Kini gadis itu berada di tangan kita, pihak Kay Pang pasti cemas sekali!"

"Kauwcu,"

Tanya Pat Pie Lo Koay.

"Kapan Kauwcu akan mengutus orang ke markas Kay Pang?"

"Tidak perlu begitu cepat,"

Sahut Seng Hwee Sin Kun.

"Aku ingin membuat pihak Kay Pang dan pihak Pulau Hong Hoang To dicekam rasa gelisah terutama kedua orang tua gadis itu! Ha ha ha...!"

"Kauwcu,"ujar Pek Bin Kui mengusulkan.

"Bagaimana kita musnahkan kepandaiannya?"

"Itu ..."Seng Hwee Sin Kun tampak ragu.

"Tidak perlu,"sela Pat Pie Lo Koay cepat.

"Kalau kita memusnahkan kepandaian gadis itu, sama juga mempermalukan Seng Hwee kauw, bukan?"

"Benar,"

Seng Hwee kauwcu manggut-manggut.

"Kalau begitu,kurung saja dia dan biarkan dia sadar sendiri."

"Ya"

PatPie Lo Koay mengangguk,sekaligus membopong Siang Koan Goat Nio lalu dibawa ke dalam. Berselang sesaat, Pat Pie Lo Koay sudah kembali ke ruang depan.

"Bagaimana?"tanya Seng Hwee Sin Kun.dis itu sudah dikurung?"

"Sudah, Kauwcu"

Pat Pie Lo Koay mengangguk.

"Baiklah"

Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut.

"Sekarang kalian boleh beristirahat."

"Terimakasih, Kauwcu!"ucap mereka sentak, kemudian pergi ke kamar masing-masing Begitu memasuki kamar, Pat Pie Lo Koay berjalan mondarmandir dengan kening berkerut-kerut, kelihatannya ia sedang memikirkan sesuatu, berselang beberapa saat kemudian ia manggut-manggut epertinya sudah mengambil suatu keputusan. Malam harinya, Pat Pie Lo Koay berjalan berendap-endap menuju halaman belakang, lalu melesat ke atas sebuah pohon. Sungguh di luar dugaan, ternyata ada seekor burung merpati di atas pohon itu. Pat Pie Lo Koay mengikat sesuatu di kaki burung merpati itu, kemudian menepuk kepala burung merpati tersebut seraya berkata "Cepatlah engkau terbang ke markas Ngo Tok Kauw, tapi harus berhati-hati!"

Burung merpati itu manggut-manggut, lalu terbang meluncur ke angkasa.

Pat pie Lo Koay menghela nafas lega, dan segera kembali ke kamarnya.

-ooo0dw0ooo-Perlahan-lahan Siang Koan Goat Nio membuka matanya, ternyata gadis itu telah sadar dan tampak tercengang karena mendapatkan dirinya berada di dalam kamar batu.

"Eh? Aku berada dimana?"

Gumamnya sambil menengok ke sana ke mari.

"Apakah aku sudah ditangkap?"

Siang Koan Goat Nio mencoba menghimpun lweekangnya, namun tidak berhasil karena sekujur badannya masih lemas.

"Haaah?"

Gadis itu terkejut bukan main.

"Aku telah kehilangan hawa murni?"

Mendadak pintu kamar batu itu terbuka, Pat Pie Lo Koay berjalan ke dalam. Begitu melihat Pat Pie Lo Koay itu, Siang Koan Goat Nio menudingnya.

"Cepat lepaskan aku! Cepaaat!"

"Tenang, Nona!"

Sahut Pat Pie Lo Koay.

"Kauwcu kami ingin menemuimu, mari ikut aku ke ruang depan!"

"Hmm!"

Dengus Siang Koan Goat Nio dingin.

"Aku tidak sudi menemui Seng Hwee Sin Kun yang licik itu!"

"Nona...."

Pat Pie Lo Koay menatapnya dalam-dalam.

"Mari ikut aku agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan!"

Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening, lama sekali barulah mengangguk, lalu bersama Pat Pie Lo Koay menuju ruang depan.

"Ha ha ha!"

Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.

"Apa kabar, Nona Siang Koan? Tentunya engkau baik-baik saja, bukan?"

"Hmm!"

Dengus Siang Koan Goat Nio dingin.

"Silakan duduk, Nona Siang Koan!"

Ucap Seng Hwee Sin Kun. Siang Koan Goat Nio duduk, Seng Hwee Sin Kun menatapnya tajam, kemudian tertawa seraya berkata.

"Ha ha ha! Tahukah engkau kenapa kami menangkapmu?"

"Tahu,"

Sahut Siang Koan Goat Nio.

"Pertanda kalian semua pengecut!"

"Ha ha ha!"

Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.

"Kalau kami pengecut, engkau pasti sudah jadi mayat!"

"Oh?"

Siang Koan Goat Nio tertawa dingin.

"Kalau begitu, cepatlah bunuh aku!"

"Bunuh engkau?"

Seng Hwee Sin Kun tertawa lagi.

"Kami tidak akan membunuhmu, hanya mengurungmu di sini saja."

"Seng Hwee Sin Kun, lebih baik engkau segera melepaskan aku!"

Bentak Siang Koan Goat Nio.

"Kalau tidak...."

"He he he!"

Seng Hwee Sin Kun tertawa terkekeh-kekeh.

"Engkau harus tahu apa sebabnya aku mengurungmu di sini! Itu agar pihak Kay Pang dan pihak Pulau Hong Hoang To ke mari, karena aku ingin membunuh mereka semua!"

"Oh?"

Siang Koan Goat Nio tidak terkejut, sebaliknya malah tertawa dingin dan berkata.

"Seng Hwee Sin Kun, jangan menyombongkan diri! Mungkin engkau yang akan mati di tangan Kakak Bun Yang!"

"Maksudmu Giok Siauw Sin Hiap itu?"

"Ya."

"Ha ha ha!"

Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.

"Kalau waktu itu monyet bulu putih tidak menangkis pukulanku, Giok Siauw Sin Hiap pasti sudah mati!"

"Hm!"

Dengus Siang Koan Goat Nio, kemudian bertanya mendadak.

"Seng Hwee Sin Kun, kenapa engkau begitu dendam kepada kami?"

"Karena aku memang punya dendam dengan pihak Kay Pang dan pihak Pulau Hong Hoang To!"

Seng Hwee Sin Kun memberitahukan.

"Terutama terhadap Kou Hun Bijin itu, karena gara-gara dia kakak seperguruanku mati di tangan Kwan Gwa Siang Koay dan Ngo Kui!"

"Oh?"

Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening. Ia memang cerdik maka tidak membocorkan identitas dirinya.

"Pat Pie Lo Koay, bawa dia ke dalam kamar batu itu!"

Ujar Seng Hwee Sin Kun.

"Dan jangan lupa beri dia minum racun pelemas badan!"

"Ya, Kauwcu."

Pat Pie Lo Koay mengangguk, kemudian membawa Siang Koan Goat Nio ke kamar batu.

Gadis itu menurut, karena tahu bahwa melawan pun percuma, bahkan akan membahayakan dirinya.

Namun ia tetap berharap Tio Bun Yang akan muncul menolongnya.

-oo0dw0ooo-Sementara itu, Tio Bun Yang telah sampai di markas pusat Kay Pang.

Akan tetapi, Siang Koan Goat Nio tidak berada di markas itu.

"Jadi...."

Lim Peng Hang menatapnya.

"Engkau tidak bertemu Goat Nio di Gunung Thian San?"

"Tidak."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Menurut Ngo Tok Kauwcu, Goat Nio tidak ke Gunung Thian San."

"Kenapa Ngo Tok Kauwcu mengatakan begitu?"

Lim Peng Hang heran.

"Sebab siapapun yang pergi ke Gunung Thian San, harus melalui Kota Kang Shi,"

Jawab Tio Bun Yang memberitahukan.

"Tapi para anggota Ngo Tok Kauw sama sekali tidak melihat Goat Nio di kota itu. Maka Ngo Tok Kauwcu berkesimpulan, bahwa Goat Nio tidak pergi ke Gunung Thian San."

"Oooh!"

Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Kalau begitu, pergi ke mana Goat Nio?"

"Mungkinkah..."

Ujar Gouw Han Tiong dengan kening berkerut-kerut.

"telah terjadi sesuatu atas dirinya?"

"Goat Nio berkepandaian cukup tinggi, tidak mungkin akan terjadi sesuatu atas dirinya,"

Sahut Lim Peng Hang.

"Lalu kenapa tiada kabar beritanya?"

Gouw Han Tiong menggeleng-gelengkan kepala dan menambahkan.

"Bun Yang, lebih baik engkau tunggu disini. Engkau jangan ke manamana, jadi kalian tidak akan selisih jalan lagi!"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Aku merasa heran, sebetulnya dia pergi ke mana? Kenapa tiada jejaknya sama sekali?"

"Begini,"

Ujar Lim Peng Hang sungguh-sungguh.

"Kakek akan menyuruh beberapa orang menyelidiki jejak Goat Nio, engkau tinggal di sini saja,"

"Ya, Kakek."

Tio Bun Yang mengangguk. Wajahnya tampak cemas dan muram sekali.

"Seandainya Goat Nio terjadi sesuatu...."

"Bun Yang!"

Gouw Han liong tersenyum. ''Jangan memikirkan yang bukan-bukan! Goat Nio tidak akan terjadi apa-apa. Percayalah!"

"Mudah-mudahan!"

Ucap Tio Bun Yang. Kemudian mendadak ia teiingat sesuatu.

"Oh ya, apakah Kakek pernah mendengar tentang Bu Ceng Sianli?"

"Bu Ceng Sianli?"

Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.

"Kakek tidak pernah mendengar tentang dia. Mungkinkah dia adalah pendekar wanita yang baru muncul di rimba persilatan! Engkau bertemu dia?"

"Aku memang telah bertemu Bu Ceng Sianli tu."

Tio Bun Yang memberitahukan sambil menghela nafas.

"Dia cantik jelita berusia dua puluhan, namun berhati kejam. Dia membunuh orang seperti membunuh semut."

"Oh?"

Lim Peng Hang mengerutkan kening.

"Dia membunuh siapa?"

"Membunuh Hek Sim Popo...."

Tio Bun Yang menutur tentang kejadian itu dan menambahkan.

"Bahkan dia pun ingin membunuh para anggota Seng Hwee Kauw, tapi aku mencegahnya."

"Kenapa dia membunuh pihak Seng Hwee Kauw?"

Gouw Han Tiong heran.

"Apakah dia punya dendam dengan pihak Seng Hwee Kauw?"

"Sebetulnya dia tidak punya dendam apa pun dengan pihak Seng Hwee Kauw, hanya dikarenakan para anggota Seng Hwee Kauw menggodanya, maka dia membunuh mereka."

"Engkau bentrok dengan Bu Ceng Sianli itu?"

Tanya Lim Peng Hang sambil menatapnya.

"tidak"

Tio Bun Yang menghela nafas.

"Ketika aku mencegahnya membunuh para anggota Seng Hwee Kauw, dia tampak gusar tapi kemudian malah menuruti perkataanku."

"Engkau tahu namanya dan bagaimana kepandaiannya?"

Tanya Gouw Han Tiong.

"Dia bernama Tu Siao Cui kepandaiannya tinggi sekali,"

Jawab Tio Bun Yang memberitahukan.

"Hanya Belasan jurus dia telah berhasil membunuh Hek Sim Popo."

"Oh?"

Lim Peng Hang terperanjat.

"Kalau begitu, kepandaiannya memang tinggi sekali."

"Bun Yang,"

Tanya Gouw Han Tiong.

"Enakau tahu siapa gurunya?"

"Tidak tahu."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku justru bingung memikirkannya."

"Kenapa bingung?"

Lim Peng Hang menatapnya tajam.

"Kakek jangan salah paham!"

Ujar Tio Bun Yang dengan wajah agak kemerah-merahan.

"Yang kupikirkan adalah identitasnya, sebab aku pernah bertemu Thian Gwa Sin Hiap di dalam goa, di Gunung Hong San...."

Tio Bun Yang menutur tentang itu. Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong mendengar dengan penuh peihatian.

"Thian Gwa Sin Hiap..."

Gumam Lim Peng liang seusai Tio Bun Yang menutur, kemudian bertanya kepada Gouw Han Tiong.

"Engkau pernah mendengar tentang Thian Gwa Sin Hiap dan Tu Siao Cui?"

"Tidak pernah"

Gouw Han Tiong menggelengkan kepala.

"Kalau begitu..."

Ujar Lim Peng Hang.

"Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui itu bukan Tu Siao Cui, murid Thian Gwa Sin Hiap itu. Mungkin kebetulan nama mereka sama, sebab Tu Siao Cui murid Thian Gwa Sin Hiap itu sudah berusia delapan puluhan, sedangkan Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui baru berusia dua puluhan."

"Kakek, aku pun berpikir begitu."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Tapi Bu Ceng Sianli justru mengaku, bahwa dirinya adalah Tu Siao Cui murid Thian Gwa Sin Hiap itu."

"Menurut aku..."

Ujar Lim Peng Hang setelah berpikir sejenak.

"Gadis itu pasti bercanda denganmu."

"Aku pun beranggapan begitu. Tidak mungkin Bu Ceng Sianli itu adalah Tu Siao Cui murid Thian Gwa Sin hiap."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Tapi dia justru mengatakan, kelak aku akan mengetahuinya."

"Oh?"

Lim Peng Hang mengerutkan kening dan berpesan.

"Bun Yang, engkau harus berhati-hati terhadapnya. Kakek yakin dia berasal dari golongan sesat."

"Benar, Kakek."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Gadis itu memang memiliki ilmu sesat. Dia... dia menggunakan ilmu sesat itu untuk merangsang diriku."

"Bagaimana engkau?"

Tanya Lim Peng Hang tegang.

"Apakah engkau terangsang olehnya?"

"Tidak."

Tio bun Yang tersenyum.

"Kakek sudah lupa ya? Aku memiliki ilmu Penakluk Iblis "

"Oooh!"

Lim Peng Hang manggut-manggut sambil menarikk nafas lega.

"Kakek melupakan itu."

"Kakek,"

Ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Kalau aku tidak memiliki ilmu Penakluk Iblis, mungkin akan terangsang."

"Bun Yang,"

Tanya Gouw Han Tiong mendadak.

"Bagaimana cara gadis itu merangsangmu?"

"Caranya..."

Tio Ban Yarg memberitahukan dengan wajah agak kemerah-merahan, kemudian menambahkan.

"Aku mengeluarkan sulingku sekaligus meniupnya, akhirnya dia tersentak sadar."

"Bukan main!"

Gouw Han Tiong menggeleng-gelengkan kepala "lelaki mana yang tidak akan terangsang?"

"Tapi?"

Lim Peng Hang mengerutkan kening.

"Menurut aku, dia cuma ingin mcncoba dirimu."

"Kenapa Kakek mengatakan begitu?"

Tio Ban Yang heran.

"Coba engkau pikir, para anggota Seng Hwee Kauw menggodanya, dia langsung membunuh mereka tanpa ampun! Berarti dia bukan gadis yang bukan-bukan. Namun terhadapmu, dia malah...."

Lim Peng Hang menjelaskan.

"Nah, bukankah dia ingin mencoba bagaimana keteguhan imanmu?"

"Benar juga, Kakek." 'Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku sama sekali tidak berpikir sampai ke situ, tapi dia bilang suka kepadaku. Itu sungguh memusingkan pikiranku'"

"Tidak apa-apa,"

Sahut Lim Peng Hang sungguh-sungguh.

"Mungkin dia telah menganggapmu sebagai adik, maka berani mencetuskan ucapan itu."

"Kakek, aku memang berharap begitu. Kalau tidak, repotlah aku,"

Ujar Tio Bun Yang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Karena Goat Nio akan menaruh salah paham padaku."

"Jangan khawatir!"

Lim Peng Hang tersenyum.

"Kakek akan menjelaskan kepada Goat Nio."

"Terimakasih, Kakek! Terimakasih!"

Ucap Tio Bun Yang.

"Tapi entah kapan Goat Nio akan muncul di sini! Aku... aku mengkhawatirkannya."

"Tenang saja!"

Ujar Lim Peng Hang menghiburnya.

"Percayalah Goat Nio tidak akan terjadi apa-apa."

"Yaaah!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

Mudahmudahan dia tidak akan terjadi apa-apa!" -ooo0dw0ooo-Bagian ke empat puluh tiga Berkumpul di Markas Pusat Kay Pang Kini kepandaian Kam Hay Thian sudah maju pesat dan lweekangnya pun bertambah tinggi Oleh karena itu, ia memohon pamit kepada Tio Cie Hiong.

"Paman, aku ingin kembali ke Tionggoan."

"Ngmm!"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Memang sudah waktunya engkau kembali ke Tionggoan, tapi engkau harus ingat! Jangan terlampau gampang membunuh orang, sebab akan menimbulkan karma buruk bagi dirimu sendiri! Ingatlah itu!"

"Ya, Paman."

Kam Hay Thian mengangguk.

"Hay Thian!"

Lim Ceng Im menatapnya seraya berkata.

"Hui San adalah gadis yang baik, bahkan sangat mencintaimu. Oleh karena itu, janganlah engkau menyia-nyiakannya!"

"Bibi...."

Kam Hay Thian mengerutkan kening.

"Engkau tidak mencintainya?"

Tanya Lim Ceng Im sambil menatapnya tajam.

"Aku...."

Kam Hay Thian menundukkan kepala.

"Aku...."

"Hay Thian!"

Lim Ceng Im menghela nafas panjang.

"Kalau menolak cintanya, engkau pasti akan menyesal."

Kam Hay Thian tidak menyahut. Tio Cie Hiong memandangnya, kemudian menggelenggelengkan kepala.

"Cinta memang tidak bisa dipaksakan, namun... Hui San merupakan gadis yang lemah lembut, bahkan boleh dikatakan dia yang menyelamatkan nyawamu. Engkau harus ingat itu!"

Katanya.

"Aku pasti ingat, Paman,"

Ujar Kam Hay Thian.

"Tapi mengenai soal cinta, memang tidak bisa dipaksa."

"Baiklah."

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Besok pagi engkau boleh kembali ke Tionggoan."

Dalam waktu bersamaan, muncullah Lie Ai Ling dan Sie Keng Hauw. Keduanya lalu menghampiri Kam Hay Thian sambil tersenyum.

"Hay Thian,"

Ujar Sie Keng Hauw sambil memandangnya.

"Adikku mencarimu ke mana-mana, ternyata engkau berada di sini!"

"Aku mohon pamit kepada Paman dan Bibi."

Kam Hay Thian memberitahukan.

"Besok pagi aku akan kembali ke Tionggoan!"

"Apa?"

Lie Ai Ling terbelalak.

"Besok pagi engkau akan kembali ke Tionggoan?"

"Ya."

Kam Hay Thian mengangguk.

"Lalu bagaimana Hui San?"

Tanya Lie Ai Ling tanpa sadar.

"Engkau tidak mengajaknya?"

"Aku...."

Kam Hay Thian menundukkan kepala.

"Ai Ling,"

Ujar Sie Keng Hauw.

"Bagaimana kalau kita dan Hui San juga berangkat ke Tionggoan?"

"Setuju,"

Sahut Lie Ai Ling dengan wajah berseri.

"Ai Ling,"

Ujar Lim Ceng Im sambil menatapnya.

"Lebih baik engkau minta ijin kepada kedua orang tuamu dulu, Keng Hauw juga harus ikut menghadap!"

"Ya, Bibi,"

Sahut Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling serentak, lalu bermohon diri. Mereka berdua pergi menemui Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa, sedangkan Kam Hay Thian masih tetap berdiri di tempat.

"Hay Thian, pergilah engkau menemui Hui San!"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Beritahukan kepadanya, bahwa engkau akan kembali ke Tionggoan esok! Kalau dia mau ikut, ajaklah!"

"Ya, Paman,"

Kam Hay Thian mengangguk, lalu melangkah pergi dengan kepala tertunduk. Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im saling memandang, kemudian mereka menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela nafas panjang.

"Aku khawatir..."

Ujar Tio Cie Hiong perlahan.

"di antara mereka akan terjadi sesuatu kelak."

"Maksudmu Kam Hay Thian dan Lu Hui San?"

Tanya Lim Ceng Im.

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Sebab Kam Hay Thian sangat dendam pada Lu Thay Kam, sedangkan Lu Hui San adalah anak angkat Lu Thay Kam itu. Nah, itu...."

"Mudah-mudahan tidak akan terjadi suatu apa pun!"

Ucap Lim Ceng Im.

"Ya, mudah-mudahan!"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Namun semua itu sudah merupakan takdir." -ooo0dw0ooo-Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa terbelalak ketika mendengar putrinya menyatakan ingin berangkat ke Tionggoan.

"Apa?"

Lie Man Chiu menatap mereka.

"Kalian berdua ingin berangkat ke Tionggoan?"

"Ya."

Lie Ai Ling mengangguk.

"Kami ingin ke markas pusat Kay Pang, mungkin Kakak Bun Yang dan Goat Nio berada di sana."

"Tapi...."

Lie Man Chiu mengerutkan kening.

"Ayah, ijinkanlah kami ke Tionggoan!"

Desak Lie Ai Ling.

"Sebab besok pagi Hay Thian juga akan kembali ke Tionggoan."

"Oh?"

Tio Hong Hoa tertegun.

"Dia sudah mengambil keputusan itu?"

"Ya."

Lie Ai Ling mengangguk.

"Dia sudah minta ijin kepada paman dan bibi, kami ingin berangkat bersamanya."

"Bagaimana Hui San?"

Tanya Tio Hong Hoa.

"Dia pasti ikut,"

Sahut Lie Ai Ling.

"Ibu, ijinkanlah kami ke Tionggoan!"

"Itu...."

Tio Hong Hoa memandang Lie Man Chiu seraya bertanya.

"Bagaimana? Engkau memperbolehkan mereka ke Tionggoan?"

"Kita memang tidak bisa terus menahan mereka di sini, karena itu kita harus memperbolehkan mereka ke Tionggoan,"

Sahut Tio Hong Hoa sambil tersenyum.

"Terimakasih, Ibu!"

Ucap Lie Ai Ling.

"Terimakasih, Bibi!"

Ucap Sie Keng Hauw dengan wajah berseri dan menambahkan.

"Aku pasti baik-baik menjaga Ai Ling."

"Ngmm!"

Tio Hong Hoa manggut-manggut.

"Bibi mempercayaimu, tapi kalian harus langsung menuju ke markas pusat Kay Pang!"

"Ya, Ibu."

Lie Ai Ling mengangguk.

"Ingat!"

Pesan Lie Man Chiu.

"Ada apa-apa, harus berunding dengan Kakek Lim dan Kakek Gouw."

"Ya."

Lie Ai Ling dan Sie Keng Hauw mengangguk.

Mereka berdua lalu pergi menemui Lu Hui San yang berada di halaman belakang.

Sampai di tempat itu, mereka melihat Kam Hay Thian, Yatsumi dan Bokyong Sian Hoa, sedangkan Lu Hui San menundukkan kepala.

"Ternyata kalian berkumpul di sini!"

Seru Lie Ai Ling sambil tertawa.

"Oh ya! Besok kami akan berangkat ke Tionggoan."

"Ai Ling,"

Tanya Lu Hui San.

"Ayah dan ibumu memperbolehkannya?"

"Ya."

Lie Ai Ling mengangguk.

"Kalau begitu..."

Ujar Lu Hui San sambil memandang Sie Keng Hauw.

"Aku ikut!"

"Kami memang ingin mengajakmu."

Sie Keng Hauw tersenyum.

"Besok pagi kita berempat berangkat bersama."

"Yaaah!"

Keluh Bokyong Sian Hoa.

"Tinggal aku dan Yatsumi di sini, sepi deh!"

"Sian Hoa!"

Lie Ai Ling tersenyum.

"Kalau engkau sudah menguasai semua ilmu yang diturunkan paman, boleh menyusul ke markas pusat Kay Pang."

"Benar."

Bokyong Sian Hoa tertawa kecil.

"Kita akan berkumpul di sana. Kakak Bun Yang dan Kakak Goat Nio pasti berada di sana."

"Aku yang celaka,"

Sela Yatsumi sambil menggelenggelengkan kepala.

"Akan tinggal aku seorang diri di sini. Aku pasti kesepian."

"Begini,"

Ujar Lie Ai Ling.

"Alangkah baiknya engkau dan Bokyong Sian Hoa berangkat bersama ke Tionggoan."

"Benar."

Bokyong Sian Hoa tertawa gembira.

"Yatsumi, kita berangkat bersama nanti."

"Baik."

Yatsumi mengangguk.

Keesokan harinya, Kam Hay Thian, Lie Ai Ling, Sie Keng Hauw dan Lu Hui San berpamit kepada semua orang.

Setelah itu, barulah mereka berangkat ke Tionggoan.

Dalam perjalanan menuju Tionggoan, yang paling gembira adalah Lie Ai Ling dan Sie Keng Hauw.

Mereka berdua terus bersenda gurau sambil tertawa gembira.

Sebaliknya Lu Hui San dan Kam Hay Thian terus membungkam.

Itu tidak terlepas dari mata Sie Keng Hauw.

Diam-diam pemuda itu menghela nafas panjang.

"Hei!"

Seru Lie Ai Ling.

"Kenapa kalian berdua terus membungkam seperti orang bisu? Ber-cakap-cakaplah!"

"Aku...."

Lu Hui San tersenyum getir.

"Hay Thian!"

Sie Keng Hauw memandangnya.

"Kenapa engkau diam saja? Ada sesuatu terganjel dalam hatimu?"

"Tidak,"

Sahut Kam Hay Thian sambil meng-gelenggelengkan kepala.

"Aku... aku rindu sekali pada ibuku."

"Oh?"

Sie Keng Hauw tersenyum.

"Jadi engkau ingin pulang menengok ibumu!"

"Entahlah."

Kam Hay Thian menghela nafas panjang.

"Aku bingung sekali."

"Kenapa bingung?"

Tanya Lie Ai Ling sambil menatapnya.

"Apa yang engkau bingungkan? Bolehkah kami tahu?"

"Itu...."

Kam Hay Thian mengerutkan kening, kelihatannya dia tidak mau memberitahukan.

"Beritahukanlah!"

Desak Lie Ai Ling.

"Ai Ling, jangan mendesaknya!"

Cegah Sie Keng Hauw.

"Itu tidak baik."

"Aaaa...!"

Mendadak Lu Hui San menghela nafas panjang.

"Mungkin dikarenakan aku."

"Kenapa dikarenakan engkau?"

Lie Ai Ling tercengang.

"Karena...."

Mata Lu Hui San mulai basah.

"Yaaah, sudahlah!"

"Adik!"

Sie Keng Hauw memandangnya, kemudian memandang Kam Hay Thian seraya berkata.

"Apa kekurangan adikku, sehingga engkau bersikap begitu dingin terhadapnya?"

"Kak!"

Lu Hui San memandang Sie Keng Hauw sambil menggelengkan kepala, itu agar Sie Keng Hauw diam.

"Memang,"

Sela Lie Ai Ling sambil memandang Kam Hay Thian dengan wajah tidak senang.

"Engkau sungguh keterlaluan, Hui San begitu baik dan amat mencintaimu, tapi engkau malah...."

"Kalian harus tahu perasaanku,"

Sahut Kam Hay Thian, kemudian menghela nafas panjang.

"Aku...."

"Kenapa engkau?"

Tanya Lie Ai Ling ketus.

"Terlampau banyak yang kupikirkan, sehingga membuat diriku...."

Kam Hay Thian menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku mohon maaf!"

"Sudahlah!"

Sie Keng Hauw tersenyum.

"Biar bagaimana pun, kita semua tetap kawan baik!"

"Terimakasih!"

Ucap Kam Hay Thian.

Mereka berempat melanjutkan perjalanan lagi menuju markas pusat Kay Pang.

Malam harinya mereka bermalam di rumah penginapan.

Sie Keng Hauw sekamar dengan Kam Hay Thian, Lie Ai Ling sekamar dengan Lu Hui San.

Keesokan harinya ketika hari baru mulai terang, Lie Ai Ling dan Lu Hui San dikejutkan oleh suara ketukan pintu.

Kedua gadis itu segera meloncat bangun seraya bertanya.

"Siapa?"

"Aku!"

Suara sahutan Sie Keng Hauw. Lie Ai Ling cepat-cepat membuka pintu kamar. Dilihatnya wajah Sie Keng Hauw agak lain.

"Keng Hauw, apa yang terjadi?"

"Hay Thian pergi tanpa pamit,"

Sahut Sie Keng Hauw sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Apa?"

Lie Ai Ling tertegun.

"Maksudmu Hay Thian pergi secara diam-diam?"

"Ya."

Sie Keng Hauw mengangguk sambil melirik Lu Hui San. Wajah gadis itu nampak murung sekali.

"Dia... dia telah pergi seorang diri?"

Tanya Lu Hui San seakan bergumam.

"Kenapa dia memisahkan diri dengan kita?"

"Dia memang keterlaluan,"

Ujar Lie Ai Ling dengan wajah tidak senang.

"Bahkan juga tak tahu diri."

"Sudahlah!"

Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala.

"Biarlah dia pergi, mungkin itu akan membebaskan beban pikirannya."

"Aku sungguh tidak mengerti,"

Ujar Sie Keng Hauw dengan kening berkerut-kerut.

"Kenapa dia begitu macam? Aaaah...!"

"Keng Hauw, mungkinkah dia pergi ke Gunung Hek Ciok San (Gunung Batu Hitam) untuk bertarung dengan Seng Hwee Sin Kun?"

Tanya Lie Ai Ling dengan wajah berubah.

"Itu...."

Pikir Sie Keng Hauw sejenak, kemudian menggelengkan kepala seraya berkata.

"Mungkin tidak, kemungkinan besar dia pulang ke rumahnya menengok ibunya. Bukankah kemarin dia bilang rindu sekali kepada ibunya?"

"Benar."

Lie Ai Ling manggut-manggut.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita ke rumahnya?"

"Engkau tahu rumahnya?"

Tanya Sie Keng Hauw.

"Tidak tahu,"

Sahut Lie Ai Ling sambil memandang Lu Hui San seraya bertanya.

"Engkau tahu?"

"Aku pun tidak tahu,"

Jawab Lu Hui San.

"Yaah!"

Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala.

"Kita bertiga tidak tahu rumahnya, lalu apa langkah kita?"

"Melanjutkan perjalanan, ke markas pusat Kay Pang, lalu kita berunding dengan Kakek Lim dan Kakek Gouw,"

Ujar Sie Keng Hauw.

"Benar."

Lie Ai Ling mengangguk.

"Kalau begitu, mari kita berangkat! Jangan membuang-buang waktu di sini!"

Sie Keng Hauw dan Lu Hui San mengangguk. Mereka bertiga lalu berangkat ke markas pusat Kay Pang. Lu Hui San membungkam dengan wajah murung sepajang jalan, Sie Keng Hauw menggeleng-gelengkan kepala.

"Adik, sudahlah!"

Ujarnya lembut.

"Jangan terus memikirkan Hay Thian, dia begitu macam, tiada guna memikirkannya!"

"Aku...."

Lu Hui San menundukkan kepala.

"Tidak disangka, hatinya begitu dingin!"

"Hmm!"

Dengus Lie Ai Ling.

"Dia memang tak tahu diri dan tak kenal budi. Engkau yang membopongnya sampai ke Pulau Hong Hoang To, bahkan demi dirinya engkau pun tahan lapar dan ngantuk terus membopongnya. Tapi sebaliknya dia...."

"Aaaah...!"

Lu Hui San menghela nafas panjang.

"Jangan mempersalahkannya! Dia adalah kawan baik kita, maka aku... aku harus membopongnya sampai di Pulau Hong Hoang To itu."

"Hui San...."

Li Ai Ling menatapnya iba, kemudian menggeleng-gelengkan kepala.

"Sudahlah! Mulai sekarang engkau tidak perlu memikirkannya lagi!"

"Ng!"

Lu Hui San mengangguk.

"Aku akan berusaha melupakannya."

"Benar."

Lie Ai Ling manggut-manggut.

"Engkau memang harus melupakannya, tiada artinya engkau memikirkannya." -ooo0dw0ooo-Beberapa hari kemudian, mereka bertiga sudah tiba di markas pusat Kay Pang. Betapa gembiranya Lie Ai Ling ketika melihat Tio Bun Yang berada di situ. Kemudian gadis itu berseru-seru.

"Kakak Bun Yang! Kakak Bun Yang!"

Lie Ai Ling langsung mendekap di dadanya.

"Kakak Bun Yang...."

"Adik Ai Ling!"

Tio Bun Yang membelainya dengan penuh kasih sayang.

"Oh ya, pemuda itu...."

"Dia adalah Sie Keng Hauw. Kakak Bun Yang pasti ingat dia,"

Sahut Lie Ai Ling sambil tertawa gembira.

"Oooh!"

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Dia putra Sie Kuang Han! Bagus! Bagus!"

"Saudara Tio!"

Sie Keng Hauw memberi hormat.

"Terimakasih atas budi pertolonganmu yang telah menyelamatkan nyawa ayahku, bahkan mempertemukan Hui San dengan ayahku pula!"

"Saudara Sie!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Engkau tidak usah berterimakasih kepadaku. Kita semua adalah kawan baik, jadi... harus tolong-menolong dalam hal apa pun."

"Saudara Tio, engkau sungguh berjiwa besar!"

Ujar Sie Keng Hauw, kemudian memberi hormat kepada Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.

"Kakek Lim, Kakek Gouw!"

"Ha ha ha!"

Lim Peng Hang tertawa gelak.

"Silakan duduk! Silakan duduk!"

"Terimakasih!"

Ucap Sie Keng Hauw sambil duduk, Lie Ai Ling duduk di sebelahnya.

"Eeeh?"

Gadis itu menengok ke sana ke mari, seperti sedang mencari sesuatu.

"Kok Goat Nio tidak kelihatan? Apakah dia berada di dalam?"

"Dia belum kembali,"

Sahut Tio Bun Yang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku sudah ke Gunung Thian San, namun tidak bertemu dia."

"Apa?"

Lie Ai Ling terbelalak.

"Jadi hingga saat ini dia belum kembali? Apakah telah terjadi sesuatu atas dirinya?"

"Itulah yang ku khawatirkan,"

Tio Bun Yang menggelenggelengkan kepala lagi.

"Kakak Bun Yang,"

Tanya Lie Ai Ling.

"Kenapa engkau tidak pergi mencarinya?"

"Aku memang ingin pergi mencarinya, tapi...."

Tio Bun Yang memandang Lim Peng Hang.

"Kakek melarangku pergi mencarinya."

"Lho? Kenapa?"

Lie Ai Ling heran.

"Percuma Bun Yang pergi mencari Goat Nio, sebab kita sama sekali tidak tahu dia berada di mana. Lalu Bun Yang harus ke mana mencarinya? Bukankah lebih baik menunggu di sini, agar tidak terjadi selisih jalan lagi?"

Ujar Lim Peng Hang, kemudian bertanya.

"Oh ya, bagaimana keadaan Kam Hay Thian, Yatsumi dan Bokyong Sian Hoa di sana?"

"Mereka baik-baik saja. Tapi Kam Hay Thian...."

Lie Ai Ling menghela nafas panjang.

"Kenapa dia?"

Tanya Tio Bun Yang tegang.

"Sebetulnya dia ke mari bersama kami, tapi di tengah jalan dia pergi secara diam-diam,"

Jawab Lie Ai Ling memberitahukan.

"Dia memang sengaja memisahkan diri dengan kami."

"Kenapa begitu?"

Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Apakah kalian bertengkar?"

Lie Ai Ling menghela nafas panjang.

"Hui San sangat mencintainya, tapi dia malah bersikap dingin dan acuh tak acuh terhadap Hui San...."

"Ai Ling!"

Panggil Lu Hui San, agar Lie Ai Ling tidak melanjutkan ucapannya.

"Sudahlah! Jangan membicarakan tentang itu lagi!"

"Hui San...."

Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala.

"Terus terang, aku... aku bersimpati dan merasa kasihan kepadamu."

"Ai Ling!"

Lui Hui San tersenyum getir.

"Mungkin sudah nasibku, mau bilang apa?"

"Kalau aku bertemu Kam Hay Thian, aku pasti akan menasihatinya."

Ujar Tio Bun Yang berjanji.

"Bun Yang!"

Lim Peng Hang mengerutkan kening.

"Percuma engkau menasihatinya."

"Kenapa, Kakek?"

Tanya Tio Bun Yang heran.

"Sebab...."

Lim Peng Hang menghela nafas panjang.

"Cinta tidak bisa dipaksa, maka percuma engkau menasihatinya."

"Tapi...."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Hui San...."

"Terimakasih atas maksud baikmu, Kakak Bun Yang!"

Ucap Lu Hui San dan menambahkan.

"Memang tidak salah, cinta tidak bisa dipaksa. Maka engkau tidak usah menasihatinya mengenai ini, percuma!"

"Tio Bun Yang manggut-manggut, kemudian mengalihkan pembicaraan tentang Bu Ceng Sianli.

"Oh?"

Lie Ai Ling terbelalak setelah mendengar penuturan itu.

"Bidadari Tanpa Perasaan merupakan gadis yang cantik jelita?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Tapi dia sadis sekali."

"Hi hi hi!"

Lie Ai Ling tertawa.

"Kalau dia tidak sadis, bagaimana mungkin memperoleh julukan itu? Namun orangorang yang dibunuhnya itu adalah para penjahat."

"Walau para penjahat, tapi seharusnya dia memberi ampun kepada mereka. Dia tidak perlu membunuh, cukup melukai mereka saja,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Saudara Tio!"

Sie Keng Hauw tersenyum.

"Kalau kita memberi ampun kepada para penjahat, justru akan membuat mereka semakin jahat."

"Itu belum tentu,"

Sahut Tio Bun Yang.

"Mungkin mereka akan kembali ke jalan yang benar."

"Ha ha ha!"

Lim Peng Hang tertawa gelak.

"Engkau memang seperti ayahmu, berhati bajik, bijak dan selalu mengampuni orang."

"Kakak Bun Yang memang begitu,"

Sela Lie Ai Ling lalu memandang Sie Keng Hauw seraya berkata.

"Engkau harus belajar seperti Kakak Bun Yang lho!"

"Ya."

Sie Keng Hauw mengangguk sambil tersenyum.

"Aku menuruti perkataanmu."

"Keng Hauw!"

Lie Ai Ling tersenyum manis.

"Sungguh baik engkau, mudah mudahan selamanya engkau tetap begini terhadapku!"

"Jangan khawatir!"

Sie Keng Hauw menggenggam tangannya erat-erat.

"Cintaku terhadapmu takkan luntur selama-lamanya."

"Terimakasih, Keng Hauw!"

Ucap Lie Ai Ling, kemudian mendadak mengecup pipinya.

"Haaah...?"

Wajah Sie Keng Hauw kemerah-merahan, namun bergirang dalam hati. Kalau hanya berduaan, pemuda itu pasti balas mengecupnya.

"Ha ha ha!"

Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong tertawa terbahak-bahak.

"Bukan main kecupan itu, sungguh mengesankan!"

Wajah Lie Ai Ling langsung memerah. Gadis itu tidak menyangka Lim Peng Hang akan menggodanya.

"Kakek Lim...."

Lie Ai Ling cemberut.

"Memangnya aku tidak boleh mengecupnya?"

"Tentu boleh, tapi...."

Lim Peng Hang tertawa lagi.

"Alangkah baiknya di saat berduaan saja."

"Kakek Lim...."

Lie Ai Ling membanting-banting kaki. Sementara Gouw Han Tiong terus memandang Lu Hui San, berselang beberapa saat kemudian ia pun bertanya.

"Hui San, apa rencanamu selanjutnya?"

"Aku ingin pergi ke ibu kota menengok ayah angkatku,"

Jawab Lu Hui San.

"Aku rindu kepadanya."

"Kapan engkau akan berangkat?"

Tanya Lim Peng Hang.

"Sekarang,"

Sahut Lui Hui San singkat.

"Apa?"

Lie Ai Ling terbelalak.

"Engkau mau berangkat sekarang? Tidak bisa tunggu besok atau lusa?"

"Ai Ling!"

Lu Hui San menghela nafas panjang.

"Lebih baik aku berangkat sekarang."

"Baiklah."

Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Tapi engkau harus berhati-hati menjaga diri!"

Pesannya.

"Ya, Kakek Lim."

Lu Hui San mengangguk.

Setelah berpamit, barulah ia meninggalkan markas pusat Kay Pang.

Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong dan Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala, sedangkan Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling mengantar gadis itu sampai di luar markas.

"Adik!"

Sie Keng Hauw menggenggam tangannya.

"Kapan engkau akan kembali ke sini lagi?"

"Entahlah."

Lu Hui San menggelengkan kepala.

"Oh ya, kapan kalian punya waktu, kalian boleh ke ibu kota menemuiku."

"Baik."

Sie Keng Hauw mengangguk.

"Adik, selamat jalan!"

"Kak!"

Mata Lu Hui San mulai basah.

"Sampai jumpa!"

"Hui San...."

Mata Lie Ai Ling sudah bersimbah air.

"Selamat jalan!"

"Ai Ling!"

Lu Hui San tersenyum getir.

"Selamat tinggal, sampai jumpa kelak!"

Lu Hui San melangkah pergi. Setelah gadis itu tidak kelihatan, barulah Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling kembali ke dalam markas sambil menghela nafas panjang.

"Kasihan dia!"

Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala.

"Dia betul-betul patah hati."

"Mudah-mudahan Hay Thian akan mencintainya kelak!"

Sahut Sie Keng Hauw dan menambahkan.

"Aku justru masih merasa heran."

"Heran kenapa?"

"Menurut aku...."

Sie Keng Hauw mengerutkan kening.

"Sesungguhnya Kam Hay Thian juga mencintai Hui San, hanya saja ada sesuatu terganjal di dalam hatinya yang membuatnya bersikap dingin dan acuh-tak acuh terhadap Hui San."

"Oh?"

Lie Ai Ling tertegun.

"Kira-kira apa yang terganjel di dalam hati Kam Hay Thian?"

"Entahlah."

Sie Keng Hauw menggelengkan kepala.

"Aku tidak mengetahuinya."

"Mungkinkah...."

Lie Ai Ling mengerutkan kening.

"Kam Hay Thian tahu Hui San adalah putri angkat Lu Thay Kam?"

"Iya."

Sie Keng Hauw mengangguk.

"Mungkin karena itu, maka dia bersikap begitu terhadap Hui San."

"Tapi tiada seorang pun memberitahukan pada Kam Hay Thian, bahwa Lu Thay Kam adalah ayah angkat Hui San. Jadi bagaimana mungkin Kam Hay Thian mengetahuinya?"

"Ai Ling!"

Sie Keng Hauw tersenyum.

"Engkau harus tahu, Kam Hay Thian sangat cerdas, tentunya dia sudah menduga sampai ke situ."

"Kalau begitu...."

Kening Lie Ai Ling berkerut-kerut.

"Bukan karena Goat Nio?"

"Pasti bukan,"

Sahut Sie Keng Hauw.

"Sebab dia tahu Goat Nio tidak mencintainya, lagi pula dia telah berhutang budi kepada Paman Cie Hiong, tentunya dia tidak berani memikirkan yang bukan-bukan."

"Benar."

Lie Ai Ling mengangguk.

"Kalau begitu...."

Di saat bersamaan, muncullah Tio Bun Yang sambil memandang mereka, kemudian tersenyum seraya berkata.

"Maaf! Aku telah mengganggu kalian!"

"Kakak Bun Yang,"

Sahut Lie Ai Ling.

"Jangan berkata begitu ah! Masa sih engkau akan mengganggu kami."

"Kelihatannya kalian sedang asyik bercakap-cakap, maka...."

"Kami sedang membicarakan Lu Hui San dan Kam Hay Thian,"

Potong Lie Ai Ling memberitahukan.

"Oooh!"

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Kupikir. Hay Thian mungkin sudah tahu Hui San adalah putri angkat Lu Thay Kam, maka dia menolak cintanya. Padahal Hay Thian pun mencintai Hui San, tapi...."

"Kakak Bun Yang,"

Ujar Lie Ai Ling.

"Kami pun berpikir begitu. Kini Hui San telah kembali ke ibu kota, kita harus bagaimana?"

"Kita tidak bisa turut campur,"

Sahut Tio Bun Yang dan menambahkan.

"Biar dia yang menyelesaikan urusan itu. Kalau kita turut campur, mungkin akan mengeruhkan urusan itu."

"Benar."

Sie Keng Hauw manggut-manggut.

"Tapi belum tentu Hay Thian akan ke ibu kota. Aku justru khawatir dia akan pergi menantang Seng Hwee Sin Kun."

"Itu pun mungkin. Sebab...."

Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Dia sangat dendam kepada Seng Hwee Sin Kun."

"Kalau begitu...."

Wajah Lie Ai Ling agak pucat.

"Bagaimana kalau kita pergi membantu dia?"

"Aku bukan tidak mau pergi bantu dia, melainkan...."

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Adik Ai Ling, aku harus menunggu Goat Nio."

"Tapi Hay Thian...."

"Ai Ling!"

Sie Keng Hauw memandangnya seraya berkata.

"Engkau tidak usah cemas, sebab belum tentu Kam Hay Thian akan pergi mencari Seng Hwee Sin Kun, dia tidak akan bertindak sebodoh itu."

Lie Ai Ling manggut-manggut. Tio Bun Yang memandang mereka lalu berkata.

"Mari kita masuk dulu!"

Mereka bertiga masuk. Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong masih duduk di situ.

"Bun Yang,"

Tanya Lim Peng Hang.

"Hui San sudah pergi?"

"Sudah, Kek,"

Jawab Tio Bun Yang sambil menggelenggelengkan kepala.

"Dia kelihatan berduka sekali."

"Yaah!"

Lim Peng Hang menghela nafas panjang.

"Entah apa yang akan terjadi?"

"Sesungguhnya,"

Ujar Gouw Han Tiong.

"Kam Hay Thian pun mencintainya. Mungkin dia tahu Hui San adalah putri angkat Lu Thay Kam, maka Kam Hay Thian menolak cintanya."

"Kami juga berpikir begitu, tapi...."

Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Yang kami cemaskan adalah Kam Hay Thian, mungkin dia pergi menantang Seng Hwee Sin Kun."

"Itu belum tentu,"

Sahut Lim Peng Hang.

"Sebab kalian sudah memberitahukan, bahwa Kam Hay Thian pernah bilang rindu sekali kepada ibunya. Karena itu, dia pasti pulang ke rumahnya untuk menengok ibunya."

"Setelah itu...."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Dia pasti akan pergi ke Gunung Hek Ciok San. Aku tidak bisa pergi membantunya, sebab harus menunggu Goat Nio."

"Kakek Lim,"

Tanya Lie Ai Ling mendadak.

"Bolehkah kami berdua pergi membantu Kam Hay Thian?"

"Tidak boleh."

Lim Peng Hang menggelengkan kepala.

"Itu sama juga pergi mencari mati."

"Tapi Kam Hay Thian...."

Lie Ai Ling mengerutkan kening.

"Dia adalah kawan baik kami."

"Benar."

Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Dia memang kawan baik kalian, namun belum tentu dia akan pergi ke Gunung Hek Ciok San. Lagi pula sementara ini belum ada kabar beritanya mengenai Seng Hwee Sin Kun, karena itu, aku yakin Kam Hay Thian tidak pergi ke Gunung Hek Ciok San, melainkan akan ke ibu kota."

"Kalau begitu...,"

Ujar Lie Ai Ling.

"Hui San dan dia pasti akan bertemu di ibu kota."

"Ada baiknya mereka bertemu. Mudah-mudahan urusan itu dapat diselesaikan dengan baik!"

Ujar Lim Peng Hang dan melanjutkan.

"Sementara ini kalian bertiga tetap di sini menunggu Goat Nio, jangan ke mana-mana!"

Tio Bun Yang, Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling mengangguk. Di saat itulah Lim Peng Hang teringat sesuatu. Kemudian ketua Kay Pang itu berkata sambil mengerutkan kening.

"Kelihatannya rimba persilatan akan semakin kacau karena kemunculan Kui Bin Pang (Perkumpulan Muka Setan) yang misterius itu."

"Oh ya, apakah Kakek Lim sudah berhasil menyelidiki tentang Kui Bin Pang tu?"

Tanya Lie Ailng.

"Belum."

Lim Peng Hang menggelengkan kepala.

"Sebab sulit sekali melacak Kui Bin Pang itu."

"Kui Bin Pang?"

Sie Keng Hauw tampak terkejut.

"Bagaimana perkumpulan itu muncul di rimba Persilatan lagi?"

"Keng Hauw!"

Lie Ai Ling tercengang.

"Engkau tahu tentang Kui Bin Pang itu?"

"Tahu sedikit,"

Jawab Sie Keng Hauw memberitahukan.

"Guruku pernah menceritakan kepadaku, perkumpulan itu merupakan perkumpulan misteri sekitar seratus tahun yang silam. Tapi perkumpulan itu tidak pernah memasuki daerah Tionggoan, hanya bergerak di daerah Gurun Sih lh dan sekitarnya. Ketua dan para anggota perkumpulan itu berkepandain tinggi sekali, namun pada waktu itu, perkumpulan tersebut mendadak bubar."

"Kalau begitu...."

Lim Peng Hang menatapnya tajam.

"Gurumu pasti punya hubungan dengan Kui Bin Pang itu."

"Entahlah."

Sie Keng Hauw menggelengkan kepala. 'Aku tidak mengetahuinva."

"Keng Hauw,"

Tanya Gouw Han Tiong.

"Bolehkah Kami tahu siapa gurumu?"

"Itu...."

Sie Keng Hauw menghela nafas panjang.

"Maaf, Kakek Gouw! Guruku melarangku menyebut nama maupun julukannya, aku tidak berani melanggarnya."

"Ooon!"

Gouw Han Tiong manggut-manggut.

"Tidak apaapa. Tap, bolehkah engkau menceritakan lagi tentang Kui Bin Pang .tu?"

Sie Keng Hauw mengangguk, kemudian mulai menceritakan berdasarkan apa yang didengar dari gurunya.

"Kata guruku, ketua perkumpulan itu memiliki ilmu hitam yang sangat hebat, semacam hipnotis. Siapa yang memandang sepasang matanya, pasti akan terpengaruh oleh ilmu hitamnya itu."

"Oh?"

Lim Peng Kang mengerutkan kei .ng.

"Tapi kira-kira seratus tahun silam, mendadak ketua perkumpulan itu hilang tiada jejaknya sama sekali. Sudah barang tentu perkumpulan itu jadi bubar. Bagaimana mungkin kini muncul lagi?"

Ujar Sie Keng Hauw kurang percaya.

"Aku dan Goat Nio pernah melihat mereka...,"

Sahut Lie Ai Ling dan menutur tentang itu.

"Oh?"

Sie Keng Hauw tertegun.

"Kalau begitu, mereka memang para anggota Kui Bin Pang. Tapi siapa ketua baru itu? Tidak mungkin ketua lama itu masih hidup."

"Kui Bin Pang itu masih belum resmi muncul di rimba persilatan. Mungkin ketua baru itu sedang menghimpun kekuatan, memanggil para anggota yang bubar itu,"

Ujar Lim Peng Hang sambil menghela nafas panjang.

"Aaaah! Itu merupakan ancaman bagi rimba persilatan."

"Kalau begitu memang tidak salah,"

Ujar Tio Bun Yang memberitahukan.

"Aku pun pernah mendengar tentang Kui Bin Pang dari para pedagang. Mereka bilang melihat setan iblis naik kuda, berpakaian serba putih dan wajah menyerupai setan iblis, bahkan juga mengeluarkan siulan aneh yang menyeramkan."

"Betul."

Lie Ai Ling manggut-manggut.

"Mereka memang mengeluarkan siulan aneh yang menyeramkan, memakai kedok setan dan berpakaian serba putih."

"Aaaah...."

Gouw Han Tiong menghela nafas panjang.

"Rimba persilatan sudah tidak aman karena Seng Hwee Kauw dan Hiat Ih Hwe, kini malah muncul Kui Bin Pang lagi!"

"Kalau aku sudah bertemu Goat Nio, aku ingin mengajaknya pulang ke Pulau Hong Hoang To,"

Ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Aku sudah jenuh akan rimba persilatan yang tak pernah aman, tenang dan damai. Ada saja pertikaian."

"Lalu bagaimana dengan Seng Hwee Sin Kun?"

Tanya Lim Peng Hang mendadak sambil menatapnya.

"Dia memang telah membunuh kauw heng, tapi perlukah aku menuntut balas kepadanya?"

Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Kalau kita balas-membalas kapan akan berakhir?"

"Bun Yang...."

Lim Peng Hang menghela nafas panjang.

"Engkau bersifat seperti Cie Hiong ayahmu, namun kalian justru berkepandaian sangat tinggi."

"Kakek...."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Bun Yang!"

Gouw Han Tiong menatapnya tajam seraya berkata.

"Kauw heng menyuruhmu ke goa es belajar ilmu Kan Kun Taylo Im Kang, itu agar engkau dapat melawan Seng Hwee Sin Kun, sekaligus membalaskan dendamnya."

"Tentang itu, bagaimana nanti saja,"

Sahut Tio Bun Yang. Pemuda itu memang tiada nafsu untuk membalas dendam.

"Itu terserah kepadamu,"

Ujar Gouw Han Tiong.

"Kami tidak akan mendesakmu menuntut balas kepada Seng Hwee Sin Kun. Tapi...."

"Bun Yang,"

Sambung Lim Peng Hang.

"Kelihatannya tidak lama lagi, suatu bencana akan melanda rimba persilatan, apakah engkau mau tinggal diam?"

"Kakek!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Itu urusan nanti, lebih baik dibicarakan nanti saja. Kini aku cuma memikirkan Goat Nio."

"Kakak Bun Yang,"

Usul Lie Ai Ling.

"Bagaimana kalau kita bertiga pergi mencari Goat Nio?"

"Kakekku sudah bilang tadi, kita harus menunggu di sini agar tidak selisih jalan dengan Goat Nio,"

Sahut Tio Bun Yang.

"Jadi kita tidak boleh pergi mencari Goat Nio."

"Memang lebih baik kita menunggu di sini saja,"

Sela Sie Keng Hauw dan menambahkan.

"Kita lihat bagaimana perkembangan selanjutnya, setelah itu barulah kita membahasnya."

"Benar."

Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Sekarang kalian pergi beristirahat saja."

"Ya,"

Sahut Tio Bun Yang, Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling serentak, lalu semuanya pergi ke ruangan belakang.

---o0dw0ooo-Bagian ke empat puluh empat Kedukaan yang memuncak Ke mana Kam Hay Thian?

Apakah ia pergi ke Gunung Hek Ciok San?

Ternyata tidak, melainkan pulang ke rumahnya karena sangat rindu kepada ibunya.

Kenapa ia memisahkan diri dengan Sie Keng Hauw, Lie Ai Ling dan Lu HuiSan?

Memang tidak salah, ia sudah tahu bahwa Lu Hui San adalah putri angkat Lu Thay Kam.

Tanpa sengaja ia mendengar percakapan mereka, maka ia tahu Lu Thay Kam adalah ayah angkat Lu Hui San.

Oleh karena itu, ia menolak cinta dari gadis tersebut.

Padahal sesungguhnya, ia mulai mencintai gadis itu.

Tapi ada selapis tembok menghalanginya, yakni Lu Thay Kam itu.

Akhirnya ia mengambil keputusan untuk berpisah dengan Lu Hui San.

Kurang lebih sepuluh hari kemudian, Kam Hay Thian sudah sampai di rumahnya.

Ia berlari-lari memasuki halaman rumah sambil berseru-seru dengan penuh kegembiraan.

"Ibu! Ibu! Aku sudah pulang! Ibu...!"

Seorang tua berhambur ke luar menyambutnya. Ia adalah pembantu tua di rumah itu.

"Tuan muda...."

"Paman tua!"

Panggil Kam Hay Thian sambil tersenyum.

"Di mana ibuku? Aku sudah rindu sekali kepadanya."

"Tuan muda...."

Pembantu tua itu menundukkan kepala, kemudian menangis terisak-isak.

"Paman tua...."

Wajah Kam Hay Thian pucat pias.

"Tuan muda...."

Air mata pembantu tua itu sudah bercucuran.

"Ibumu sudah meninggal beberapa bulan yarg lalu."

"Apa?"

Sekujur badan Kam Hay Thian menggigil, kemudian menjerit.

"Ibu! Ibu...!"

"Tuan muda! Tuan muda...!"

Panggil pembantu t ua itu. Kam Hay Thian berdiri diam, sepasang matanya mendelik lalu terkulai dan pingsan seketika.

"Tuan muda' Tuan muda.. !"

Kalutlah pembantu tua itu, ia berusaha menyadarkannya. Berselang beberapa saat kemudian, sepasang mata Kam Hay Thian terbuka per lahan-lahan, maka legalah hati pembantu tua itu.

"Tuan muda...."

"Paman tua...."

Kam Hay Thian berlutut di depan meja sembahyarg dan menangis meraung-raung.

"Ibu! Ibu...!"

Pembantu tua itu membiarkannya terus menangis. Itu memang lebih baik dari pada Kam Hay Thian menahan duka dalam hati, akan membahayakan dirinya.

"Ibu! Ibu...!"

Kam Hay Thian terus menangis meraungraung Lama sekali barulah Kam Hay Thian berhenti menangis, lalu memandang pembantu tua itu seraya bertanya.

"Paman tua! Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?"

Teriak Kam Hay Thian sambil berlari ke dalam rumah. Sesampainya di dalam rumah, ia melihat sebuah meja sembayang di ruang depan, dan sebuah tempat abu di atas meja itu.

"Bagaimana ibuku meninggal?"

"Nyonya.... nyonya dibunuh,"

Jawab pembantu tua itu dengan air mata berderai-derai.

"Apa?"

Kam Hay Thian meloncat bangun.

"Ibuku mati dibunuh? Siapa yang membunuh?"

"Para anggota Hiat Ih Hwe."

"Para anggota Hiat Ih Hwe?"

Sepasang mata Kam Hey Thian langsung berapi-api.

"Kenapa mereka membunuh ibuku?"

"Malam itu..."

Tutur pembantu tua itu.

"Beberapa orang memasuki halaman rumah. Nyonya mendengar suara itu maka segera membuka pintu. Nyonya melihat beberapa orang itu terluka parah. Mereka ternyata para pejuang yang dikejar Hiat Ih Hwe. Nvonya menyembunyikan mereka didalam rumah."

"Kemudian bagaimana?"

"Tak lama muncullah belasan orang berpakaian merah. Mereka adalah para anggota Hiat Ih Hwe. Nyonya melarang menggeledah, namun salah seorang anggota Hiat Ih Hwe mengayunkan goloknya, dan kepala nyonya terpenggal jatuh menggelinding di lantai."

"Haaah...?"

Kam Hay Thian nyaris pingsan lagi.

Ia menggenggam ujung meja sembayang erat-erat.

Braaaak!

Tiba-tiba ujung meja sembayang itu hancur menjadi debu.

Ternyata tanpa sengaja Kam Hay Thian mengerahkan Iweekangnya "Tuan muda...."

Pembantu tua itu terkejut bukan main.

"Setelah itu bagaimana?"

Tanya Kam Hay Thian dengan wajah kehijau-hijauan.

"Para anggota Hiat Ih Hwe mulai menggeledah, akhirnya mereka menemukan pejuang-pejuang itu, dan kemudian mereka bunuh secara sadis sekali."

Pembantu tua itu memberitahukan.

"Untung mereka tidak menemukan aku, maka aku terhindar dari kematian."

"Aku harus menuntut balas! Aku harus membunuh Lu Thay Kam itu!"

Ujar Kam Hay Thian dengan mata membara.

"Walau dia ayah angkat Hui San, namun aku tetap harus membunuhnya!"

"Tuan muda!"

Pembantu tua itu terisak-isak.

"Sungguh mengenaskan kematian nyonya!"

"Aku bersumpah, akan membunuh Lu Thay Kam dan membasmi Hiat Ih Hwe!"

Ucap Kam Hay Thian mengangkat sumpah itu dengan mata berapi-api.

Kemudian ia memasang hio dan bersujud di depan tempat abu itu.

-ooo0dw0ooo-Sementara itu, Lu Hui San juga sudah tiba di ibu kota.

Dapat dibayangkan, betapa gembiranya Lu Thay Kam.

"Nak..."

Panggilnya dengan suara tergetar-getar.

"Ayah...."

Lu Hui San mendekap di dada Lu Thay Kam.

"Ayah, aku sudah kembali."

"Nak!"

Lu Thay Kam membelainya dengan penuh kasih sayang.

"Syukurlah engkau sudah kembali, ayah gembira sekali!"

"Ayah...."

Lu Hui San terisak-isak.

"Nak!"

Lu Thay Kam menatapnya heran.

"Kenapa engkau tampak berduka? Apa yang telah terjadi?"

"Ayah...."

Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala, lalu duduk dengan kepala tertunduk.

"Nak...."

Lu Thay Kam duduk di hadapannya.

"Beritahukanlah! Apa yang membuatmu berduka?"

"Ayah, aku sudah bertemu Sie Keng Hauw,"

Lu Hui San memberitahukan.

"Tentunya Ayah masih ingat kepadanya, kan?"

"Sie Keng Hauw...."

Lu Thay Kam manggut-manggut.

"Putra Sie Kuang Han kan?"

"Betul, Ayah."

Lu Hui San mengangguk.

"Kepandaiannya sangat tinggi."

"Oh?"

Lu Thay Kam tersenyum.

"Bagus! Mungkin dia akan ke mari menuntut balas, bukan?"

"Ayah telah salah menerka."

Lu Hui San menggelengkan kepala.

"Pamanku melarang kami membalas dendam."

"Oh?"

Lu Thay Kam menatapnya, kemudian menghela nafas panjang.

"Syukurlah kalau begitu!"

"Tapi...."

Lu Hui San menghela nafas panjang.

"Ada apa, San San?"

Tanya Lu Thay Kam dan menambahkan.

"Beritahukanlah! Jangan ragu!"

"Aku...."

"Kenapa engkau?"

Lu Thay Kam menatapnya dalam-dalam.

"Apakah engkau sudah punya kekasih?"

"Ayah...."

Wajah Lu Hui San memerah.

"Beritahukanlah!"

Desak Lu Thay Kam.

"Apakah engkau sudah punya kekasih?"

"Aku..."

Jawab Lu Hui San dengan kepala tertunduk.

"Aku mencintainya, namun... dia tidak mencintaiku."

"Oh? Siapa dia? Sungguh berani dia menolak cintamu?"

Lu Thay Kam mengerutkan kening.

"Apakah dia tidak tahu aku adalah ayah angkatmu?"

"Mungkin dia tahu, maka... dia berusaha menjauhi diriku,"

Sahut Lu Hui San sambil menghela nafas dan memberitahukan.

"Dia bernama Kam Hay Thian."

"Kam Hay Thian?"

"Julukannya adalah Chu Ok Hiap (Pendekar Pembasmi Penjahat)."

"Ayah pernah mendengar itu. Tapi kenapa dia menjauhi dirimu, apakah dia punya dendam kepadaku?"

"Aaaah...!"

Lu Hui San menghela nafas panjang lagi.

"Para anggota Hiat Ih Hwee membunuh guru silat Lie dan Lie Beng Cu, maka dia sangat dendam kepada Hiat Ih Hwe, mungkin dia pun akan membunuh Ayah."

"Dia punya hubungan apa dengan guru silat Lie dan Lie Beng Cu?"

"Dia berhutang budi kepada mereka ayah dan anak. Karena para anggota Hiat Ih Hwe membunuh mereka, jadi dia pun ingin membalas dendam."

"Tapi...."

Lu Thay Kam mengerutkan kening.

"Ayah sama sekali tidak kenal guru silat Lie itu, lagi pula ayah tidak pernah perintahkan para anggota Hiat Ih Hwe membunuh guru silat Lie maupun putrinya itu."

"Yaaah!"

Lu Hui San menghela nafas.

"Karena Ayah ketua Hiat Ih Hwe, maka dia pun akan menuntut balas kepada Ayah."

"Oh?"

Lu Thay Kam menggeleng-gelengkan kepala.

"Lalu apa kehendakmu, Nak?"

"Aku mohon kepada Ayah, jangan turun tangan membunuhnya! Aku.... Aku sangat mencintainya! Aku...."

"Nak!"

Lu Thay Kam tertawa gelak.

"Baik. Ayah berjanji tidak akan membunuhnya!"

"Terimakasih, Ayah!"

Ucap Lui Hui San sambil bersujud di hadapan Lu Thay Kam, ayah angkatnya itu.

"Terimakasih!"

"Bangunlah Nak!"

Lu Thay Kam segera membangukannya.

"Engkau memang gadis yang lemah lembut dan baik hati. Ayah merasa bangga sekali!"

"Ayah...."

Lu Hui San mendekap di dada Lu Thay Kam.

"Terimakasih!"

"Nak!"

Lu Thay Kam membelai-belainya.

"Ayah berjanji, kalau dia ke mari membalas dendam, ayah pasti tidak akan membunuhnya. Legakanlah hatimu, Nak!"

Lu Hui San manggut-manggut. Saking terharu gadis itu menangis terisak-isak.

"Nak, bagaimana sifat pemuda itu?"

Tanya Lu Thay Kam.

"Agak keras hati, namun dia pemuda baik, jujur dan tampan."

Lu Hui San memberitahukan.

"Ooooh!"

Lu Thay Kam manggut-manggut sambil tersenyum.

"Syukurlah kalau begitu!"

"Ayah."

Ujar Lu Hui San.

"Aku kembali justru karena khawatir dia akan ke mari membalas dendam kepada Ayah. Aku ingin mendamaikan kalian."

"Nak...."

Lu Thay Kam tertawa gembira.

"Kalau dia mau berdamai dengan ayah, itu memang baik sekali."

"Aku berharap begitu, Ayah."

Lu Hui San tersenyum.

"Oh ya, bagaimana keadaan Ayah selama ini?"

"Baik-baik saja,"

Sahut Lu Thay Kam.

"Tapi...."

"Ada apa, Ayah?"

"Kini dalam istana telah muncul seorang menteri yang cukup berkuasa, hanya ayah yang mampu menyaingi kekuasaannya itu."

Lu Thay Kam memberitahukan dengan kening berkerut-kerut.

"Belum lama ini, menteri itu mengutus beberapa orang kepercayaannya ke Manchuria, kelihatannya menteri itu berniat bersekongkol dengan bangsa liar itu."

"Oh?"

Lu Hui San memandang Lu Thay Kam.

"Kalau tidak salah, Ayah pun pernah mengutus orang pergi menemui raja Manchuria, kan?"

"Benar."

Lu Thay Kam mengangguk.

"Tapi raja Manchuria tidak mau bekerja sama dengan ayah."

"Raja Manchuria itu kenal Paman Cie Hiong, maka dia tidak mau menyerbu ke Tionggoan, otomatis tidak mau bekerja sama dengan Ayah."

Lu Hui San memberitahukan.

"Tapi raja Manchuria itu telah mati dibunuh oleh adik kandungnya, dan kini yang menjadi raja di Manchuria adalah adik kandungnya itu."

"Oh?"

Lu Thay Kam mengerutkan kening.

"Kok engkau tahu begitu jelas tentang itu?"

"Aku tinggal di Pulau Hong Hoang To selama ini. Kemudian Bokyong Sian Hoa juga muncul di pulau itu,"

Jawab Lu Hui San.

"Bun Yang yang membawanya ke sana, jadi kami pun berkenalan."

"Siapa Bokyong Sian Hoa itu?"

"Dia putri almarhum raja Manchuria itu..."

Tutur Lu Hui San dan menambahkan.

"Kini dia masih berada di Pulau Hong Hoang To!"

"Ooh!"

Lu Thay Kam manggut-manggut, kemudian menghela nafas panjang.

"Seandainya para penghuni Pulau Hong Hoang To bersedia membantu kerajaan, ayah yakin Dinasti Beng tidak akan runtuh."

"Maksud Ayah?"

Lu Hui San tertegun.

"Aaaah...!"

Lu Thay Kam menghela nafas panjang.

"Menteri itu berniat meminjam pasukan Manchuria, alasannya pada kaisar yakni demi memberantas para pemberontak yang dipimpin Lie Tsu Seng. Tapi tujuan menteri itu tidak lain ingin meruntuhkan dinasti Beng."

"Menteri itu ingin menjadi kaisar?"

"Betul."

Lu Thay Kam mengangguk.

"Kalau dia berhasil menjadi kaisar, itu tidak masalah. Namun yang ayah khawatirkan justru pasukan Manchuria itu akan memberontak terhadapnya Nah, bukankah kita akan dikuasai oleh Bangsa Manchuria?"

"Maksud Ayah Bangsa Manchuria akan menjajah negeri kita?"

Tanya Lu Hui San dengan wajah berubah.

"Kira-kira begitulah."

Lu Thay Kam menghela nafas.

"Tapi kini menteri itu masih tidak berani bertindak, karena masih merasa segan kepada ayah. Kalau ayah mati, menteri itu pasti bertindak sewenang-wenang."

"Ayah...."

Lu Hui San menatapnya.

"Lebih baik Ayah hidup tenang di suatu tempat saja. Aku bersedia mendampingi Ayah."

"Omong kosong!"

Sahut Lu Thay Kam sambil tertawa.

"Bagaimana mungkin engkau mendampingi Ayah? Bukankah engkau harus mendampingi buah hatimu itu?"

"Ayah...."

Wajah Lu Hui San langsung memerah.

"Lagi pula..."

Tambah Lu Thay Kam.

"Kalau ayah mengundurkan diri sekarang, menteri itu yang akan memperoleh keuntungan, dinasti Beng pasti runtuh di tangannya!"

"Ayah...."

Lu Hui San memandangnya dengan penuh keheranan.

"Aku jadi bingung, sebetulnya Ayah jahat atau baik?"

"Nak...."

Lu Thay Kam menghela nafas panjang.

"Pada dasarnya ayah adalah orang baik, tapi dipaksa menjadi orang jahat."

"Kenapa begitu?"

"Nak..."

Sahut Lu Thay Kam sambil memandang jauh ke depan.

"Ayahku adalah seorang hakim yang sangat bijaksana, adil dan tidak pernah korupsi. Suatu ketika, ayahku menghukum berat seorang anak menteri, karena anak menteri itu memperkosa seorang anak gadis, kemudian membunuhnya pula. Kedua orang tua gadis itu mengadu di pengadilan, maka ayahku segera perintahkan beberapa petugas pergi menangkap anak menteri itu."

"Lalu bagaimana?"

"Para petugas itu tidak berani, sebab terdakwa itu seorang anak menteri. Ayahku tidak perduli, tetap perintahkan para petugas pergi menangkap anak menteri itu. Tentunya membuat gusar menteri itu. Beliau membiarkan para petugas menangkap anaknya. Akan tetapi, menteri itu justru pergi menghadap kaisar sekaligus memfitnah ayahku."

"Oh?"

Lu Hui San tertegun.

"Kemudian bagaimana?"

"Kaisar turunkan perintah penangkapan ayahku sekeluarga."

Lu Thay Kam memberitahukan.

"Pada waktu itu, aku baru berusia tujuh tahun. Salah seorang pengawal ayahku berhasil membawaku kabur. Namun kedua orang tuaku dan lainnya ditangkap semua, kemudian dihukum mati."

"Haaah?"

Lu Hui San terkejut bukan main.

"Setelah aku berusia sembilan tahun, pengawal ayahku itu membawaku ke istana."

Tutur Lu Thay Kam.

"Aku dikebiri jadi sida-sida istana."

"Kok Ayah mau dikebiri?"

Tanya Lu Hui San sambil mengerutkan kening.

"Itu memang atas kemauanku,"

Jawab Lu Thay Kam sambil menghela nafas panjang.

"Tujuanku demi membalas dendam."

"Oooh!"

Lu Hui San manggut-manggut.

"Ayah semakin besar, sedangkan kaisar itu semakin tua,"

Ujar Lu Thay Kam dan menam-bahkan.

"Pada waktu itu, Putra Mahkota sangat baik terhadap ayah. Setelah kaisar tua wafat, Putra Mahkota itu naik tahta. Sejak itu, kaisar baru sangat mempercayai ayah. Mulailah ayah membalas dendam terhadap keluarga menteri itu."

"Ternyata begitu!"

Lu Hui San menghela nafas panjang.

"Pantas Ayah sering memfitnah para menteri dan jenderal, agar kaisar menghukum mati mereka!"

"Nak,"

Ujar Lu Thay Kam dengan wajah murung.

"Ayah menyesal sekali memfitnah ayah kandungmu. Padahal kami berdua kawan baik. Hanya dikarenakan salah pendapat sehingga terjadi suatu perdebatan, akhirnya ayah memfitnahnya."

"Itu sudah berlalu, tidak usah diungkit kembali,"

Tandas Lu Hui San.

"Lagi pula paman dan aku telah memaafkan Ayah. Bukankah Ayah bersedia mati di tanganku saat itu?"

"Nak...."

Lu Thay Kam tersenyum getir.

"Engkau telah membuka pintu hati nurani ayah. Mulai sekarang ayah harus menjadi Thay Kam yang baik demi dinasti Beng."

"Kalau begitu, Ayah akan membubarkan Hiat Ih Hwe?"

"Ngmm!"

Lu Thay Kam manggut-manggut.

"Mungkin ayah akan perintahkan mereka bergabung dengan Lie Tsu Seng."

"Oh?"

Wajah Lu Hui San berseri.

"Tapi bukankah Ayah sudah bekerja sama dengan Seng Hwee Kauw? Bagaimana kalau Seng Hwee Sin Kun tahu tentang itu?"

"Tidak ada urusan dengan Seng Hwee Sin Kun. Oh ya, ayah pun sudah dengar bahwa Seng Hwee Sin Kun dilukai oleh monyet milik Tio Bun Yang. Engkau tahu tentang itu?"

"Tahu."

Lu Hui San mengangguk sekaligus menutur tentang kejadian itu.

"Oooh!"

Lu Thay Kam manggut-manggut.

"Ternyata engkau yang membopong Kam Hay Thian ke Pulau Hong Hoang To! Lalu bagaimana keadaan Tio Bun Yang dan monyetnya itu?"

"Kepandaian Bun Yang bertambah tinggi, tapi kauw heng itu sudah mati."

Lu Hui San memberitahukan.

"Ngmm!"

Lu Thay Kam mengerutkan kening.

"Bagaimana kepandaian Kam Hay Thian?"

"Sudah maju pesat di bawah bimbingan Paman Cie Hiong, tapi belum tentu mampu melawan Seng Hwee Sin Kun."

"Kalau begitu, dia masih bukan lawanku,"

Ujar Lu Thay Kam.

"Kalau dia ke mari...."

"Ingat Ayah!"

Lu Hui San menatapnya.

"Ayah telah berjanji tidak akan membunuhnya, jangan ingkar janji lho!"

"Ayah tidak akan lupa itu,"

Sahut Lu Thay Kam sambil tertawa gelak.

"Maksud ayah kalau dia ke mari, ayah akan bicara baik-baik dengan dia."

"Oooh!"

Lu Hui San langsung berlega hati.

"Ayah...."

"Ha ha ha!"

Lu Thay Kam tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha...!" -ooo0dw0ooo-Beberapa hari kemudian, di saat Lu Hui San sedang duduk termenung di halaman belakang istana tempat tinggal Lu Thay Kam, mendadak melayang turun seseorang yang tidak lain adalah Kam Hay Thian yang mengenakan pakaian berkabung.

"Hay Thian..."

Panggil Lu Hui San terbelalak dan bergirang dalam hati. Akan tetapi, Kam Hay Thian menatapnya dengan dingin sekali, tentunya sangat mengejutkan hati gadis itu.

"Hay Thian, kenapa engkau...."

"Dimana ayah angkatmu? Cepat suruh dia ke luar bertarung denganku!"

Sahut Kam Hay Thian dengan mata berapi-api.

"Cepaaat suruh dia keluar!"

"Hay Thian...."

"Diam!"

Bentak Kam Hay Thian dingin.

"Jangan panggil namaku!"

"Kenapa engkau membenciku? Kenapa? Kenapa...?"

Sahut Lu Hui San dengan air mata berderai-derai.

"Jelaskan! Engkau harus menjelaskannya!"

"Karena engkau putri angkat Lu Thay Kam!"

Kam Hay Thian memberitahukan.

"Semula aku cuma berusaha menjauhimu, tapi kini aku justru membencimu!"

"Kenapa?"

Wajah Lu Hui San pucat pias.

"Karena..."

Sahut Kam Hay Thian sambil ber-kertak gigi.

"Beberapa bulan lalu, para anggota Hiat Ih Hwe membunuh ibuku!"

"Apa?"

Lu Hui San terbelalak. Barulah ia tahu kenapa Kam Hay Thian mengenakan pakaian kabung.

"Nah, engkau dengar baik-baik! Aku benci padamu dan harus membunuh ayah angkatmu itu!"

"Hay Thian...."

Lu Hui San menghela nafas panjang.

"Kami sama sekali tidak tahu tentang itu. Beberapa bulan lalu, bukankah kita masih berada di Pulau Hong Hoang To?"

"Benar! Tapi aku tetap benci padamu, karena engkau adalah putri angkat Lu Thay Kam!"

"Apakah engkau tidak tahu? Sesungguhnya aku putri Sie Kuang Weng. Ayah kandungku justru mati lantaran fitnahan Lu Thay Kam, namun aku dan pamanku telah memaafkannya."

"Hm!"

Dengus Kam Hay Thian dingin.

"Itu karena engkau ingin hidup senang di sini!"

"Hay Thian! Kalau aku ingin hidup senang di sini, tidak mungkin aku pergi berkelana!"

"Sudahlah! Jangan banyak bicara, cepatlah panggil ayah angkatmu itu ke mari!"

"Ha ha ha!"

Terdengar suara tawa gelak.

"Anak muda, kenapa engkau begitu bernafsu ingin membunuhku?"

Melayang turun seseorang yang ternyata Lu Thay Kam. la memandang Kam Hay Thian dengan penuh perhatian.

"Anjing tua!"

Bentak Kam Hay Thian.

"Hari ini adalah hari kematianmu!"

"Anak muda!"

Lu Thay Kam mengerutkan kening.

"Kenapa engkau begitu kurang ajar, padahal San San memuji dirimu di hadapanku! Engkau Kam Hay Thian kan?"

"Tidak salah! Engkau memang Kam Hay Thian!"

Sahut pemuda itu.

"Aku ke mari ingin mencabut nyawamu!"

"Hay Thian...."

Lu Thay Kam menghela nafas panjang.

"Di antara kita tiada dendam apa pun, kenapa engkau begitu bernafsu ingin membunuhku?"

"Para anak buahmu membunuh guru silat Lie dan putrinya, itu masih dapat kumaafkan! Tapi beberapa bulan lalu, para anak buahmu justru membunuh ibuku secara sadis sekali!"

Sahut Kam Hay Thian sengit dengan mata berapi-api.

"Leher ibuku putus terpenggal oleh salah seorang anak buahmu, sehingga kepala ibuku menggelinding di lantai! Nah, hari ini aku harus membalas dendam!"

"Hay Thian!"

Bentak Lu Thay Kam.

"Itu perbuatan para anggota, bukan perbuatan ayah angkatku! Engkau harus tahu itu!"

"Tapi ayahmu ketua Hiat Ih Hwe, maka aku harus membunuhnya!"

Sahut Kam Hay Thian dan menambahkan.

"Kalau engkau tidak menyingkir, aku pun akan membunuhmu pula!"

"Bagus! Bagus! Cepat bunuhlah aku! Cepat!"

Lu Hui San maju ke hadapan Kam Hay Thian. Itu membuat pemuda tersebut terpaksa menyurut mundur beberapa langkah.

"Cepatlah menyingkir!"

Bentak Kam Hay Thian dengan kening berkerut-kerut.

"Bukankah engkau ingin membunuhku? Nah, cepat bunuhlah aku! Tunggu apalagi?"

Tantang Lu Hui San yang memang sudah merasa kccewa terhadap pemuda itu.

"Engkau...."

Mendadak Kam Hay Thian mengayunkan tangannya. Plaaak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi gadis itu.

"Aduuuh!"

Jerit Lu Hui San kesakitan sambil mengusap pipinya.

"Engkau... engkau...."

"Siapa suruh engkau tidak mau menyingkir? Hmmm...!"

Dengus Kam Hay Thian.

"Anak muda!"

Bentak Lu Thay Kam.

"Sungguh berani engkau menampar putriku! Kalau aku tidak berjanji padanya, engkau pasti sudah mati sekarang!"

"Oh?"

Kam Hay Thian tertawa dingin, lalu mendadak menyerang Lu Thay Kam.

Lu Thay Kam terpaksa berkelit, tapi Kam Hay Thian menyerangnya lagi.

Apa boleh buat, Lu Thay Kam terpaksa balas menyerangnya.

Terjadilah pertarungan sengit, sebab Kam Hay Thian menyerangnya menggunakan Pak Kek Sin Ciang yang mengeluarkan hawa dingin.

"San San! Cepat menyingkir!"

Seru Lu Thay Kam sambil menangkis serangan Kam Hay Thian.

"Ayah!"

Ujar Lu Hui San sambil menyingkir.

"Jangan ingkar janji!"

"Nak... baiklah! Ayah tidak akan ingkar janji!"

Sahut Lu Thay Kam Sementara Kam Hay Thian terus menyerangnya.

Lu Thay Kam tampak kewalahan, akhirnya terpaksa mengeluarkan Ie Hoa Ciap Bok Ciang Hoat (Ilmu Pukulan Memindahkan Bunga Dan Menyambung Pohon).

Lu Hui San menyaksikan pertarungan itu dengan hati berdebar-debar tegang.

Gadis itu sama sekali tidak menghendaki ada yang mati.

Tapi pertarungan itu makin seru, Kam Hay Thian mati-matian menyerang Lu Thay Kam.

Puluhan jurus kemudian, mendadak Kam Hay Thian bersiul panjang sekaligus menyerang Lu Thay Kam dengan jurus Swat Hoa Phiau Phiau (Bunga Salju Berterbangan).

Menyaksikan jurus itu, Lu Thay Kam terpaksa menangkisnya dengan jurus Hoa Khay Yap Cing (Bunga Memekar Daun Menghijau).

Tampak tubuh mereka berkelebatan kemudian terdengarlah suara benturan.

Daaar...!

Ternyata Kam Hay Thian telah mengadu pukulan dengan Lu Thay Kam.

Kam Hay Thian terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah, begitu pula Lu Thay Kam.

"Bagus! Bagus!"

Ujar Lu Thay Kam sambil tertawa gelak.

"Engkau memang pantas menjadi kekasih putriku!"

"Jangan banyak omong, anjing tua!"

Bentak Kam Hay Thian.

"Bersiap-siaplah untuk mampus!"

Kam Hay Thian bersiul panjang, kemudian menyerang Lu Thay Kam dengan jurus Han Thian Soh Swat (Menyapu Salju Di Hari Dingin).

Tampak sepasang tangan Kam Hay Thian bergerak cepat, sepasang kakinya pun menendang secepat kilat.

"Bagus!"

Seru Lu Thay Kam sambil menangkis dengan jurus Ki Yauw Yap Lok (Dahan Bergoyang Daun Rontok) Blaaam!

Terdengar suara benturan dahsyat.

Lu Thay Kam dan Kam Hay Thian sama-sama terpental beberapa langkah.

Lweekang mereka kelihatan seimbang.

"Ha ha ha!"

Lu Thay Kam tertawa gelak.

"Anak muda, engkau memang hebat! Tidak heran pilihan putriku jatuh padamu!"

"Anjing tua!"

Bentak Kam Hay Thian sambil mengerahkan Pak Kek Sin Kang hingga kepuncaknya, kelihatannya ia ingin mengeluarkan jurus yang paling dahsyat untuk menyerang Lu Thay Kam.

Namun itu tidak terlepas dari mata Lu Thay Kam, maka ia pun menghimpun Ie Hoa Ciap Bok Sin Kang sampai pada puncaknya.

"Lihat serangan!"

Bentak Kam Hay Thian sambil menyerang dengan sepenuh tenaga, mengeluarkan jurus Leng Swat Teng Hai (Salju Menutupi Laut).

Serangan itu sungguh dahsyat dan lihay, bahkan mengeluarkan hawa yang sangat dingin.

Apa boleh buat!

Lu Thay Kam terpaksa menyambut serangan itu dengan jurus Ie Hoa Ciap Bok (Memindahkan Bunga Menyambung Pohon).

"Ayah...!"

Terdengar seruan Lu Hui San, yang tahu jurus tersebut akan merenggut nyawa Kam Hay Thian.

Suara seruan Lu Hui San membuat Lu Thay Kam teringat akan janjinya, maka ia cepat-cepat menarik kembali dua bagian Iweekangnya.

Blaaam!

Terdengar suara benturan dahsyat memekakkan telinga.

Kam Hay Thian terhuyung-huyung beberapa langkah, sedangkan Lu Thay Kam terpental beberapa depa, sekujur badan menggigil dan mulutnya mengeluarkan darah.

"Anjing tua! Hari ini engkau harus mampus!"

Teriak Kam Hay Thian sambil menyerang Lu Thay Kam.

Lu Thay Kam telah terluka dalam, maka bagaimana mungkin mampu menyambut pukulan yang dilancarkan Kam Hay Thian?

Ia ingin berkelit tapi sudah terlambat.

"Hay Thian, jangan...!"

Pekik Lu Hui San. Akan tetapi, pukulan yang dilancarkan Kam Hay Thian telah menghantam dada Lu Thay Kam.

"Aaaakh...!"

Jerit Lu Thay Kam. Badannya, terpental bagaikan layang-layang putus tali kemudian jatuh gedebuk sambil menyemburkan darah segar dari mulutnya.

"Ayah! Ayah...!"

Lu Hui San berlari-lari mendekati Lu Thay Kam.

"Ayah...!"

"Nak...!"

Panggil Lu Thay Kam sambil tersenyum.

"Ayah.... Ayah tidak ingkar janji kan? Ayah....

"Ayah! Ayah...!"

Lu Hui San memeluknya erat-erat.

"Ayah...!"

"Nak...!"

Lu Thay Kam membelainya.

"Ayah merasa puas sekali, engkau... engkau sangat berbakti kepadaku. Tapi... tidak lama lagi engkau akan menjadi sebatang kara...."

"Ayah...!"

Panggil Lu Hui San sambil menangis sedih dengan air mata berderai derai.

"Ayah...!"

Sementara Kam Hay Thian cuma berdiri termangu-mangu di tempat, sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi.

Kenapa mendadak Lu Thay Kam menarik lweekangnya ketika ia menyerang dengan dahsyat?

"Nak...!"

Suara Lu Thay Kam makin lemah.

"Nak, ayah... ayah sudah tidak tahan. Engkau... engkau jangan mendendam pada... pada pemuda itu...."

"Ayah...!"

"Nak...!"

Mendadak kepala Lu Thay Kam terkulai, ternyata nafasnya sudah putus.

"Ayah! Ayah...!"

Jerit Lu Hui San sambil menangis meraungraung.

"Ayah, engkau telah berkorban demi janji itu. Aku... aku yang mencelakaimu, Ayah...."

Mendadak Lu Hui San bangkit berdiri, lalu memandang Kam Hay Thian dengan mata berapi-api.

"Kini engkau sudah puas kan? Engkau sudah puas kan? Ayah angkatku tidak membunuh ibumu, tapi engkau malah membunuhnya. Ketika aku ke mari, aku bermohon kepadanya agar tidak turun tangan membunuhmu! Ayah angkatku menyanggupinya, maka ketika ayah angkatku menangkis dengan jurus Ie Hoa Ciap Bok, ayahku justru menarik kembali lweekangnya, sehingga terluka oleh pukulanmu! Namun engkau begitu kejam, ayah angkatku sudah terluka dalam, engkau masih menyerangnya! Kini ayah angkatku telah mati, engkau merasa puas? Kalau belum merasa puas, silakan bunuh aku juga!"

"Hui San...!"

Panggil Kam Hay Thian dengan suara bergemetar.

"Aku...."

"Jangan panggil namaku!"

Bentak Lu Hui San sambil tertawa dan menangis.

"Aku benci padamu! Aku benci padamu...!"

"Hui San!"

Kam Hay Thian ingin mendekatinya. Akan tetapi, Lu Hui San malah melangkah ke belakang sambil menudingnya.

"Engkau adalah iblis! He he he!"

Lu Hui San tertawa terkekeh-kekeh.

"Engkau adalah iblis! Engkau pembunuh ayah angkatku! Aku benci, engkau aku benci padamu...!"

"Hui San, maafkanlah aku!"

"Aku tidak akan memaafkan mu! Aku benci padamu...!"

Sahut Lu Hui San sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Aku benci padamu...!"

Tiba-tiba Lu Hui San melesat pergi. Kam Hay Thian ingin mencegahnya, tapi gadis itu langsung menyerangnya.

"Aku benci padamu! Cepat minggir!"

Bentak Lu Hui San sambil menangis.

"Kalau engkau tidak minggir, aku akan bunuh diri di sini!"

"Hui San...."

Kam Hay Thian terpaksa menyingkir. Lu Hui San tertawa terkekeh-kekeh, lalu melesat pergi dan masih terdengar suara tawanya.

"Hui San..."

Gumam Kam Hay Thian. Mendadak ia melesat pergi, maksudnya ingin menyusul Lu Hui San. Akan tetapi, gadis itu sudah tidak kelihatan.

"Aaaah...!"

Keluh Kam Hay Thian.

"Kalau Hui San jadi gila, itu adalah dosaku! Aku harus mencarinya! Harus mencarinya!" -oo0dw0oo-Bagian ke empat puluh lima Tayly Lo Ceng terluka Di halaman istana Tayli, tampak Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan sedang duduk sambil bercakap-cakap.

"Sudah hampir setahun kita tidak ke Pulau Hong Hoang To, entah bagaimana keadaan di sana?"

Ujar Toan Beng Kiat sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku rindu sekali pada mereka."

"Sama,"

Sahut Lam Kiong Soat Lan.

"Ingin rasanya sekarang berangkat ke Hong Hoang To."

"Itu bagaimana mungkin?"

Toan Beng Kiat menghela nafas panjang.

"Orang tua kita tidak akan memperbolehkan kita ke sana, itu sungguh menjengkelkan!"

"Beng Kiat, bagaimana kalau kita pergi secara diam-diam?"

Tanya Lam Kiong Soat Lan seakan mengusulkan.

"Aku tidak berani."

Toan Beng Kiat menggelengkan kepala.

"Sebab akan membuat gusar orang tua kita. Lebih baik kita minta ijin saja."

"Tidak mungkin orang tua kita mengijinkan-nya!"

Lam Kiong Soat Lan menghela nafas.

"Aku sudah rindu sekali pada mereka, lagi pula bosan rasanya terus diam di istana ini."

"Soat Lan!"

Toan Beng Kiat menatapnya seraya berkata.

"Bagaimana kalau nanti malam kita berunding dengan orang tua kita?"

"Baik."

Lam Kiong Soat Lan mengangguk.

"Tapi...."

Mendadak ucapan gadis itu terputus, karena terganggu oleh suara tawa cekikikan.

"Hi hi hi! Hi hi hi...!"

"Siapa?"

Bentak Toan Beng Kiat.

"Cepatlah menampakkan diri, jangan sampai aku bertindak!"

"Bocah! Engkau mau bertindak apa?"

Tanya orang yang tertawa tadi, kemudian melayang seseorang.

Begitu melihat orang itu, terbelalaklah Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan, karena orang itu merupakan gadis cantik jelita berusia dua puluhan.

Siapa gadis itu?

Ternyata Bu Ceng Sianli -Tu Siao Cui.

"Siapa Kakak?"

Tanya Lam Kiong Soat Lan.

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa nyaring sekaligus balik bertanya.

"Kalian berdua siapa?"

"Aku bernama Lam Kiong Soat Lan dan dia bernama Toan Beng Kiat."

Sahut Lam Kiong Soat Lan.

"Siapa orang tua kalian?"

Tanya Tu Siao Cui sambil menatap mereka dengan tajam.

"Ayahku bernama Lam Kiong Bie Liong, ibuku bernama Toan Pit Lian,"

Jawab Lam Kiong Soat Lan.

"Ayahku bernama Toan Wie Kie, ibuku bernama Gouw Sian Eng."

Toan Beng Kiat memberitahukan.

"Aku tidak kenal."

Tu Siao Cui menggelengkan kepala.

"Oh ya, kalian punya hubungan dengan Toan Hong Ya?"

"Toan Hong Ya adalah kakek kami,"

Sahut Toan Beng Kiat.

"Oooh!"

Tu Siao Cui manggut-manggut.

"Kalau begitu, cepatlah kalian antar aku menemui Toan Hong Ya!"

"Maaf, Kakak!"

Ucap Lam Kiong Soat Lan.

"Kami masih belum tahu siapa Kakak!".

"Namaku Tu Siao Cui, julukanku adalah Bu Ceng Sianli. Nah, cepatlah kalian antar aku menemui Toan Hong Ya!"

"Maaf, kami tidak berani!"

Lam Kiong Soat Lan menggelengkan kepala.

"Sebab akan dimarahi orang tua kami."

"Kalau begitu...."

Tu Siao Cui tertawa.

"Aku akan masuk sendiri menemui Toan Hong Ya."

"Kakak!"

Toan Beng Kiat segera menghadang di hadapannya.

"Ini istana Tayli, engkau tidak boleh berlaku semaumu!"

"Oh?"

Tu Siao Cui tertawa cekikikan.

"Hi hi hi! Bocah, apakah engkau mampu menghadangku?"

"Kenapa tidak?"

Sahut Toan Beng Kiat sambil menatapnya.

"Kalau Kakak berkeras ingin masuk, aku terpaksa harus bertindak."

"Bertindak bagaimana?"

Tanya Tu Siao Cui sambil tersenyum.

"Menghadangmu."

Toan Beng Kiat kelihatan sudah bersiap menghadangnya apabila Tu Siao Cui berkeras menerobos ke dalam.

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa nyaring.

"Aku tahu, kepandaian kalian berdua cukup tinggi. Tapi kalian berdua masih tidak mampu menghadangku."

"Kalau Kakak berkeras ingin menerobos ke dalam, kami terpaksa berlaku kurang ajar terhadap Kakak,"

Ujar Lam Kiong Soat Lan.

"Oh, ya? Hi hi hi...!"

Tu Siao Cui tertawa cekikikan. Bersamaan itu, muncullah beberapa orang. Mereka adalah Toan Wie Kie, Gouw Siang Eng, Lam Kiong Bie Liong dan Toan Pit Lian.

"Siapa Nona?"

Tanya Toan Beng Kiat dengan kening berkerut-kerut "Ada urusan apa Nona ke mari?"

"Kalian tentu para orang tua mereka berdua,"

Sahut Tu Siao Cui sambil menunjuk Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan.

"Ya, kan?"

"Betul."

Toan Wie Kie mengangguk.

"Ada masalah?"

"Aku menyuruh mereka mengantarku menemui Toan Hong Ya, tapi nereka tidak mau,"

Ujar Tu Siao Cui memberitahukan.

"Sebaliknya malah ingin menghadangku."

"Mereka berdua memang harus menghadangmu,"

Sahut Toan Pit Lian dan menambahkan.

"Sebab orang luar tidak boleh memasuki istana ini semaunya."

"Kalau aku ingin memasuki istana Tayli ini semauku, kalian mau apa?"

Tanya Tu Siao Cui menantang.

"Eh?"

Toan Pit Lian mengerutkan kening.

"Engkau berani menghina kami?"

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa geli.

"Sungguh lucu sekali Siapa yarg menghina kalian?"

"Engkau ingin memasuki istana ini semaumu! Berarti menghina kami."

Sahut Toan Pit Lian.

"Hi hi hi...!"

Tu Siao Cui tertawa cekikikan.

"Engkau harus tahu, aku mau memasuki istana ini, sebetulnya merupakan suatu kehormatan bagi Toan Hong Ya."

"Omong kosong!"

Bentak Toan Pit Lian.

"Cepat beritahukan, siapa engkau!"

"Namaku Tu Siao Cui, julukanku adalah Bu Ceng Sianli. Engkau sudah tahu aku siapa, cepatlah antar aku ke dalam menemui Toan Hong Ya!"

"Ada urusan apa engkau ingin menemui ayah?"

Tanya Toan Wie Kie sambil menatapnya tajam.

"Aku ingin menanyakan sesuatu kepadanya,"

Jawab Tu Siao Cui dan menambahkan sambil tersenyum.

"Kalian tidak usah khawatir, aku tidak berniat jahat terhadap Toan Hong Ya. Percayalah!"

"Baiklah."

Toan Wie Kie manggut-manggut.

"Kebetulan ayahku berada di ruang tengah, silakan Nona ikut kami ke sana!"

"Terimakasih!"

Ucap Tu Siao Cui.

Mereka masuk ke dalam menuju ruang tengah.

Toan Hong Ya memang sedang duduk di ruang itu membaca buku.

Ketika melihat Tu Siao Cui, terbelalaklah Toan Hong Ya.

Itu tidak usah heran.

Sebab Tu Siao Cui sangat cantik sekali, bahkan juga memiliki daya tarik yang luar biasa, maka membuat Toan Hong Ya terpukau menyaksikan kecantikannya.

"Ayah!"

Toan Wie Kie memberitahukan.

"Nona Tu ingin bertemu Ayah."

"Oh?"

Toan Hong Ya tercengang.

"Ada urusan apa Nona Tu ingin bertemu aku? Siapa yang mengutusmu ke mari?"

"Toan Hong Ya,"

Sahut Tu Siao Cui tanpa memberi hormat.

"Aku harus dipersilakan duduk dulu."

"Nona jangan kurang ajar terhadap ayahku!"

Bentak Toan Pit Lian.

"Cepatlah beri hormat!"

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa cekikikan.

"Kenapa aku harus memberi hormat kepadanya?"

"Nona!"

Toan Pit Lian mengerutkan kening.

"Ayahku adalah raja Tayli, maka engkau harus memberi hormat kepadanya!"

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa lagi.

"Aku adalah Bu Ceng Sianli, seharusnya ayahmu yang memberi hormat kepadaku."

"Kurang ajar!"

Bentak Toan Pit Lian gusar.

"Ha ha ha!"

Toan Hong Ya tertawa sambil memberi isyarat kepada Toan Pit Lian agar putrinya itu jangan gusar dan melanjutkan.

"Nona Tu, engkau masih muda, aku sudah berusia lanjut. Oleh karena itu, engkau tidak boleh kurang ajar terhadapku."

"Berapa usiamu, Toan Hong Ya?"

Tanya Tu Siao Cui mendadak.

"Tujuh puluh satu,"

Sahut Toan Hong Ya sambil tersenyum.

"Engkau harus memanggilku kakek lho!"

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa nyaring.

"Toan Hong Ya, tahukah engkau berapa usiaku?"

"Dua puluhan."

"Salah."

Tu Siao Cui tersenyum sambil memberitahukan.

"Usiaku sudah hampir sembilan puluh."

"Nona Tu!"

Toan Hong Ya menggeleng-gelengkan kepala.

"Engkau jangan berhumor, itu tidak baik!"

"Toan Hong Ya, aku berkata sesungguhnya,"

Sahut Tu Siao Cui sungguh-sungguh.

"Sama sekali tidak berhumor."

"Dasar sinting!"

Sela Toan Pit Lian dan menambahkan.

"Engkau harus segera enyah dari sini!"

"Apa?"

Tu Siao Cui melotot.

"Perempuan cerewet, engkau berani mengusirku?"

"Kenapa tidak?"

Sahut Toan Pit Lian gusar.

"Apabila perlu, aku akan menghajarmu!"

Tiba-tiba Tu Siao Cui bergerak cepat, tampak badannya berkelebat laksana kilat ke arah Toan Pit Lian.

Plaaak!

Terdengar suara tamparan.

Ternyata pipi Toan Pit Lian yang terkena tampar, membuatnya menjerit kesakitan.

"Aduuuh!"

"Engkau...."

Lam Kiong Bie Liong menudingnya.

"Akan kuhajar engkau!"

"Kakak!"

Bentak Lam Kiong Soat Lan.

"Engkau berani menampar ibuku? Akan kubalas...."

"Soat Lan!"

Seru Toan Hong Ya.

"Diam di tempat, jangan kurang ajar!"

"Kakek,"

Sahut Lam Kiong Soat Lan.

"Dia menampar ibu, aku harus membalasnya."

"Sudahlah!"

Toan Hong Ya mengerutkan kening, kemudian menatap Tu Siao Cui tajam.

"Nona Tu, engkau ingin cari garagara di sini?"

"Aku ke mari secara baik-baik, tapi...."

Tu Siao Cui menunjuk Toan Pit Lian seraya berkata.

"Dia yang cari garagara denganku, maka aku memberi pelajaran kepadanya."

"Nona Tu,"

Tanya Toan Hong Ya.

"Sebetulnya ada urusan apa engkau datang ke mari menemuiku?"

"Aku ke mari ingin bertanya sesuatu kepadamu."

Sahut Tu Siao Cui sekaligus bertanya.

"Di mana Tayli Sin Ceng-Kong Sun Hok?"

"Apa?"

Toan Hong Ya tampak tertegun, sebab orang lain tidak tahu bahwa itu adalah julukan Tayli Lo Ceng ketika masih muda, Kong Sun Hok adalah namanya.

Bukankah mengherankan sekali Tu Siao Cui mengetahui tentang itu?

"Engkau kenal Tayli Lo Ceng?"

"Aku tidak kenal Tayli Lo Ceng, hanya kenal Tayli Sin Ceng,"

Sahut Tu Siao Cui.

"Aku akan membuat perhitungan dengan padri sialan itu!"

"Nona...."

Toan Hong Ya terbelalak.

"Kapan engkau bertemu Tayli Sin Ceng (Padri Sakti Tayli) itu?"

"Kira-kira delapan puluh tahun lalu."

"Haaah...?"

Mulut Toan Hong Ya ternganga lebar, begitu pula yang lain.

"Ayah,"

Ujar Toan Wie Kie.

"Dia gadis gila, tidak usah diladeni! Biar kuusir dia!"

"Wie Kie!"

Toan Hong Ya menatapnya.

"Diamlah!"

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa.

"Bagus! Bagus! Sebentar lagi kita boleh bertanding!"

"Sekarang pun boleh!"

Tantang Toan Wie Kie yang mulai kesal terhadap Tu Siao Cui itu.

"Oh, ya?"

Tu Siao Cui tertawa.

"Kalau begitu, keluarkanlah senjatamu!"

Ketika Toan Wie Kie ingin mengeluarkan kipasnya, Gouw Sian Eng berkata setengah berbisik.

"Jangan emosi, akan merusak suasana!"

"Tapi...."

Toan Wie Kie mengerutkan kening.

"Gadis itu terlampau kurang ajar!"

"Biarkan saja!"

Sahut Gouw Sian Eng sambil tersenyum lembut.

"Yang penting engkau jangan emosi."

Toan Wie Kie manggut-manggut, sedangkan Tu Siao Cui terus memandangnya, kemudian tertawa seraya berkata.

"Bagus! Bagus! Suami memang harus menurut pada isteri! Hi hi hi!"

"Engkau...."

Wajah Toan Wie Kie tampak kemerahan.

"Engkau sungguh kurang ajar!"

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa geli.

"Engkau merasa malu karena aku mengatakan, bahwa suami harus menurut pada isteri?" 'Aku...."

Toan Wie Kie tergagap.

"Nona Tu,"

U;ar Toan Hong Ya ssmbil menatapnya dengan penuh perhatian.

"Betulkah delapan puluh tahun lalu engkau bertemu Tayli Sin Ceng?"

"Toan Hong Ya."

Sanut Tu Siao Cui.

"Apa gunanya aku bohong? Kalau Toan Hong Ya tidak percaya, tunggu padri sialan itu ke mari!"

"jangan mencaci guru kami!' seru Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan dengan nada gusar.

"Oh?"

Tu Siao Cui menatap mereka.

"Padri sialan itu guru kalian?"

"Betul."

Sahut Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan serentak. 'Maka Kakak jangan menghina dan mencaci guru kami!"

"Aku justru ingin menghajar guru kalian itu,"

Ujar Tu Siao Cui sambil tertawa. -ooo0dw0ooo-

Jilid . 10

"Kakak...."

Ketika Toan Beng Kiat ingin mengatakan sesuatu, namun keburu di dahului oleh Toan Hong Ya.

"Nona Tu, Tayli Lo Ceng tidak berada di sini, lebih baik engkau pergi saja, jangan membuat onar di tempat ini!"

"Jadi...."

Tu Siao Cui mengerutkan kening.

"Toan Hong Ya mengusirku? Begitu kan?"

"Bukan mengusir, melainkan...."

"He he he!"

Tu Siao Cui tertawa terkekeh-kekeh.

"He he he! Toan Hong Ya, engkau telah membuat hatiku tersinggung. Oleh karena itu, akupun tak ingin membuat kalian susah."

"Nona Tu...."

Toan Hong Ya terkejut.

"Eng-kau mau apa?"

"Aku ingin bertanding dengan jagoan di sini."

Sahut Tu Siao Cui memberitahukan.

"Putra dan menantumu boleh bertanding Menganku! Kalau aku kalah, aku akan meninggalkan istana ini. Sebaliknya apabila mereka yang kalah, maka akulah yang berkuasa di sini."

"Apa?"

Toan Hong Ya terbelalak.

"Engkau menghendaki tahta kerajaan ini?"

"Tentu tidak."

Tu Siao Cui tersenyum.

"Aku hanya ingin berkuasa di sini, sekaligus menikmati kesenangan dan kemewahan. Kalau ada orang yang dapat mengalahkan aku, barulah aku akan meninggalkan istana ini."

"Jadi engkau ingin bertanding dengan Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong?"

Tanya Toan Hong Ya.

"Ya."

Tu Siao Cui mengangguk.

"Itu...."

Toan Hong Ya memandang pulra dan menantunya seraya bertanya.

"Bagaimana menurut kalian?"

"Baik."

Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong mengangguk.

"Kami menerima tantangannya."

"Bagus! Bagus!"

Tu Siao Cui tertawa.

"Kalau begitu, cepatlah keluarkan senjata kalian!"

"Nona ingin melawan kami berdua dengan tangan kosong?"

Tanya Toan Wie Kie dengan kening berkerut-kerut.

"Betul."

Tu Siao Cui mengangguk sambil tersenyum.

"Dengan tangan kosong, aku tetap mampu merobohkan kalian."

"Baik."

Toan Wie Kie manggut-manggut, lalu memandang Lam Kiong Bie Liong seraya berkata.

"Mari kita bertanding dengan dia menggunakan senjata, dia yang menghendaki begitu."

"Ng!"

Lam Kiong Bie Liong mengangguk sambil bertanya kepada Tu Siao Cui.

"Nona, engkau tidak akan menyesal?"

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa cekikikan.

"Terus terang, dalam dua puluh jurus, kalian berdua pasti roboh."

"Oh?"

Lam Kiong Bie Liong menatapnya dingin.

"Engkau terlampau sombong, justru engkau yang akan roboh dalam dua puluh jurus."

"Mari kita buktikan!"

Ujar Tu Siao Cui.

"Jangan membuangbuang waktu lagi!"

Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong saling memandang, kemudian mereka mengeluarkan senjata masing-masing, yaitu sebuah kipas dan sebilah pedang.

"Kalian dengar baik-baik!"

Seru Toan Hong Ya serius.

"Ini cuma merupakan pertandingan persahabatan, jadi kularang kalian saling melukai."

"Toan Hong Ya,"

Sahut Tu Siao Cui.

"Kalau tidak saling melukai, tentu tidak akan tahu siapa yang berkepandaian lebih tinggi. Karena itu haluslah saling melukai, namun tidak saling membunuh."

"Itu...."

Toan Hong Ya tampak gelisah.

"Kalau begitu...."

"Jangan khawatir, Ayah!"

Ujar Toan Wie Kie.

"Kami berdua tidak akan terluka, percayalah!"

"Ayah,"

Ujar Toan Beng Kiat.

"Biar aku dan Soat Lan yang bertanding dengan dia."

"Benar,"

Sambung Lam Kiong Soat Lan.

"Kami berdua saja yang melawan dia, sebab dia lelah mencaci guru kami."

"Kalian jangan turut campur!"

Toan Wie Kie mengibaskan tangannya, agar mereka berdua menyingkir.

"Ayah...."

Toan Beng Kiat tampak penasaran.

"Nak!"

Gouw Sian Eng menariknya menyingkir.

"Itu urusan mereka, engkau dan Soat Lan jangan turut campur!"

"Ibu...."

Toan Beng Kiat mengerutkan kening.

"Turutilah perkataan ibu, jangan bikin kacau pikiran ayahmu!"

Bisik Gouw Sian Eng. Sementara Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong sudah berdiri di hadapan Tu Siao Cui. Suasana pun mulai tegang.

"Nona Tu!"

Toan Wie Kie menatapnya.

"Betulkah engkau ingin melawan kami dengan tangan kosong?"

"Betul,"

Sahut Tu Siao Cui sambil tersenyum.

"Aku tidak omong besar, kalian berdua boleh mulai menyerang aku!"

"Baik!"

Toan Wie Kie mengangguk.

"Bie Liong, mari kita serang dia!"

Toan Wie Kie mulai menyerang Tu Siao Cui dengan kipasnya, menggunakan ilmu Bu Ceng San Hoat (Ilmu Kipas Tanpa Perasaan), sedangkan Lam Kiong Bie Liong menyerang Tu Siao Cui dengan pedang, menggunakan Thay Yang Kiam Hoat (Ilmu Pedang Surya).

Serangan-serangan itu tidak membuat Tu Siao Cui gugup, sebaliknya ia malah tertawa nyaring sambil berkelit, sekaligus balas menyerang dengan sepasang telapak tangannya.

Badannya melayang-layang ke sana ke mari menghindari serangan-serangan yang dilancarkan Toan Wie Kic dan Lam Kiong Bie Liong, bahkan amat penasaran, karena senjata mereka sama sekali tidak dapat menyentuh pakaian Tu Siao Cui.

Namun diam-diam mereka sangat kagum akan kepandaiannya.

Walau dengan tangan kosong, tapi Tu Siao Cui sama sekali tidak kelihatan terdesak.

Belasan jurus kemudian, malah Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong yang tampak berada di bawah angin.

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa nyaring.

"Kepandaian kalian cuma begitu saja? Hi hi hi! liga jurus lagi kalian pasti roboh!"

"Jangan sombong!"

Bentak Toan Wie Kie dan mulai menyerangnya dengan jurus-jurus andalannya.

Begitu pula Lam Kiong Bie Liong, ia pun mulai mengeluarkan jurus andalannya untuk merobohkan Tu Siao Cui.

Ketika Toan Wie Kie mengeluarkan jurus Hai Lang Soh Ngai (Ombak Menyapu Daratan), Lam Kiong Bie Liong mengeluarkan jurus Jit Liak Sauh Te (Terik Surya Membakar Bumi).

Dapat dibayangkan, betapa dahsyatnya kedua jurus serangan itu.

Tu Siao Cui diserang dari dua arah.

Itu membuatnya cukup repot juga.

Akan tetapi, mendadak badannya berputar-putar meluncur ke atas, jari telunjuknya bergerak-gerak ke arah Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong.

Ternyata Tu Siao Cui mulai balas menyerang dengan ilmu Hian Goan Ci, menggunakan jurus Hung Sui Soh Te (Air Bah Menerjang Bumi).

Casss!

Cessss!

Terdengar benturan suara halus, kemudian terdengar pula suara jeritan.

Aaaakh!

Aaaakh...!

Yang menjerit itu ternyata Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong.

Mereka berdua terkulai di lantai.

Gouw Sian Eng dan Toan Pit Lian segera berlari mendekati mereka dengan wajah cemas.

"Kakak Kie, bagaimana engkau?"

Tanya Gouw Sian Eng pada suaminya.

"Kakak Liong! Engkau... engkau terluka?"

Tanya Toan Pit Lian cemas.

"Bagaimana keadaan lukamu?"

"Kami... kami..."

Sahut Toan Wie Kie lemah.

"Badanku tak bisa bergerak, mungkin... mungkin aku sudah lumpuh."

"Apa?"

Bukan main terkejutnya Gouw Sian Eng.

"Coba kerahkan lweekangmu!"

"Sudah kucoba, tapi...."

Toan Wie Kie menggelenggelengkan kepala.

"Hawa murniku tidak dapat dihimpun."

"Jadi...."

Wajah Gouw Sian Eng memucat.

"Kepandaianmu telah musnah?"

"Kira-kira begitulah."

Toan Wie Kie menghela nafas panjang.

"Aku...."

"Kakak Kie...."

Air mata Gouw Sian Eng mulai meleleh. Bagaimana keadaan Lam Kiong Bie Liong? Keadaannya juga seperti Toan Wie Kie, sama sekali tidak bisa bergerak.

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa nyaring.

"Tadi aku sudah bilang, dalam dua puluh jurus kalian berdua pasti roboh di tanganku, sudah kubukti-kan. Hi hi hi!"

"Perempuan jahat!"

Bentak Lam Kiong Soat Lan.

"Engkau kejam! Kenapa melukai ayahku?"

"Aku tidak kejam,"

Sahut Tu Siao Cui.

"Kalau aku kejam, mereka berdua sudah jadi mayat."

"Soat Lan...."

Lam Kiong Bie Liong menggeleng-gelengkan kepala.

"Diamlah!"

"Ayah, aku dan Beng Kiat harus melawannya,"

Ujar Lam Kiong Soat Lan sambil memandang loan Beng Kiat.

"Ayoh, kita serang dia!"

"Baik."

Toan Beng Kiat mengangguk.

"Soat Lan, Beng Kiat!"

Bentak Toan Hong Ya.

"Kalian berdua tidak boleh menyerangnya!"

"Kakek,"

Sahut Lam Kiong Soat Lan.

"Dia telah melukai ayah, aku harus membalas."

"Kakek,"

Sambung Toan Beng Kiat.

"Kami berdua akan bertanding dengan dia."

"Tidak boleh!"

Bentak Toan Hong Ya lagi sambil mengerutkan kening, kemudian memandang Tu Siao Cui seraya berkata.

"Nona Tu, aku harap engkau segera menyembuhkan mereka!"

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa.

"Sesuai dengan perjanjian, kalau aku menang, aku berkuasa di sini. Apabila kalah, aku akan pergi. Nah, buktinya aku yang menang. Maka akulah yang berkuasa di sini. Hi hi hi...!"

"Omitohud!"

Terdengar suara pujian Budha yang menggetarkan hati.

Tak lama muncullah seorang padri tua, yang tidak lain adalah Tayli Lo Ceng.

Begitu melihat padri tua itu, bcrserilah wajah Toan Hong Ya, sekaligus bersujud.

"Bangunlah!"

Tayli Lo Ceng tersenyum lembut. Toan Hong Ya bangun dan kembali ke tempat duduknya. Segeralah Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan berlutut di hadapan padri tua itu.

"Guru!"

Panggil mereka.

"Bangunlah murid-muridku!"

Ucap Tayli Lo Ceng.

"Ya, Guru."

Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan bangkit berdiri. Sementara Tu Siao Cui terus memandang Tayli Lo Ceng. Ketika padri tua itu mengarah padanya, wanita itu berkata sambil tertawa dingin.

"Padri sialan! Kebetulan engkau muncul, aku memang sedang mencarimu!"

"Omitohud!"

Sahut Tayli Lo Ceng.

"Nona, cepatlah sembuhkan mereka!"

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa cekikikan.

"Kenapa aku harus menyembuhkan mereka?"

"Omitohud!"

Ucap Tayli Lo Ceng sambil menatapnya tajam.

"Siapa engkau? Kenapa hatimu begitu kejam?"

"Padri sialan?"

Sahut Tu Siao Cui.

"Dengarlah baik-baik! Aku bernama Tu Siao Cui. Apakah engkau sudah lupa?"

"Tu Siao Cui! Tu Siao Cui..."

Gumam Tayli Lo Ceng.

"Aku memang sudah lupa."

"Padri sialan, bukankah engkau sangat mahir meramal? Cobalah ramal siapa diriku ini!"

Ujar Tu Siao Cui sambil tertawa dan menambahkan.

"Aku tidak berhati kejam lho! Buktinya aku tidak membunuh mereka, hanya melumpuhkan mereka."

"Itu membuktikan engkau berhati kejam,"

Sahut Toan Beng Kiat.

"Engkau ke mari mencari guruku, tapi justru melukai ayahku."

"Bocah!"

Tu Siao Cui tertawa.

"Mereka berdua bertanding denganku, bahkan aku melawan iiu-rcka dengan tangan kosong. Aku menang ka-n-na kepandaianku lebih tinggi. Bagaimana kalau tadi aku yang terluka? Apakah engkau akan mengatai ayahmu berhati kejam?"

"Aku...."

Toan Beng Kiat menundukkan kepala.

"Nah!"

Tu Siao Cui tersenyum.

"Makanya jadi orang haruslah bertindak adil dan bijaksana seperti Tio Bun Yang!"

"Omitohud!"

Ucap Tayli Lo Ceng.

"Sebetulnya ada urusan apa engkau ke mari mencari aku?"

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa cekikikan.

"Tentunya engkau sudah tahu akan kehadiranku di sini. Kalau tidak, bagaimana mungkin engkau muncul tepat pada waktunya?"

"Omitohud!"

Tayli Lo Ceng tersenyum.

"Engkau masih muda, tapi mulutmu sungguh tajam!"

"Padri sialan, kini engkau sudah tua sehingga jadi pikun. Masa engkau tidak mengenali aku lagi? Cobalah ingat!"

"Aku betul-betul tidak ingat lagi."

Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala.

"Padri sialan, kita pernah bertemu."

"Kita pernah bertemu? Kapan dan di mana?"

"Delapan puluh tahun lampau, pada waktu itu aku dituntun oleh Thian Gwa Sin Hiap-Tan Liang Tie. Nah, sudah ingatkah sekarang?"

"Apa?"

Tayli Lo Ceng terbelalak.

"Engkau adalah gadis kecil itu? Bagaimana mungkin?"

"Aku memang gadis kecil itu, namaku Tu Siao Cui. Thian Gwa Sin Hiap adalah guruku."

"Omitohud!"

Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa engkau menyamar sebagai dirinya? Apakah Tu Siao Cui itu gurumu?"

"Aku adalah Tu Siao Cui. Hi hi hi! Engkau lidak percaya kan? Tapi aku masih ingat apa yang engkau pesankan kepada Thian Gwa Sin Hiap delapan puluh tahun yang lampau."

"Omitohud! Aku sudah lupa. Beritahukan-lah!"

"Engkau berpesan kepada Thian Gwa Sin Hiap harus berhati-hati padaku. Padri sialan, engkau sudah ingat itu?"

"Jadi...."

Tayli Lo Ceng tertegun.

"Betul engkau adalah gadis kecil itu?"

"Betul."

Tu Siao Cui mengangguk.

"Pada waktu itu julukanmu adalah Tayli Sin Ceng, bernama Kong Sun Hok. Ya, kan?"

"Tidak salah."

Tayli Lo Ceng menatapnya tajam, kemudian menghela nafas panjang.

"Engkau memang serupa dengan gadis itu, tapi...."

"Padri sialan!"

Tu Siao Cui tertawa.

"Tentu M'iupa karena aku memang dia."

"Omitohud...."

Tayli Lo Ceng menggeleng-plengkan kepala.

"Engkau kok masih tampak begitu muda, padahal usiamu sudah delapan puluh lebih."

"Aku mengalami suatu kemujizatan, maka membuat diriku jadi muda kembali seperti gadis berusia dua puluhan."

Tu Siao Cui memberitahukan.

"Namun enam puluh tahun lebih aku tersiksa dan menderita di dalam goa. Belum lama ini aku baru bebas sekaligus memunculkan diri di rimba persilatan."

"Omitohud! Syukurlah kalau begitu!"

Ucap Tayli Lo Ceng. Kini padri tua itu sudah yakin, bahwa gadis yang berdiri di hadapannya itu adalah Tu Siao Cui, murid adik seperguruannya yang memiliki kitab pusaka Hian Goan Cin Keng.

"Oh ya, bagaimana keadaan Thian Gwa Sin Hiap adik seperguruanku itu?"

"Dia sudah mati,"

Sahut Tu Siao Cui dingin dan menutur.

"Setelah aku berusia dua puluh lebih, aku pergi menyelidiki kematian kedua orang tuaku. Ternyata guruku yang membunuh mereka."

"Oh?"

Tayli Lo Ceng mengerutkan kening.

"Jelaskanlah!"

"Sebetulnya kedua orang tuaku adalah perampok budiman. Mereka merampok demi menolong orang-orang miskin,"

Sahut Tu Siao Cui dengan wajah dingin.

"Akan tetapi, Thian Gwa Sin Hiap justru membunuh kedua orang tuaku karena membela seorang hartawan yang selalu bertindak sewenang-wenang."

"Omitohud!"

"Mungkin Thian Gwa Sin Hiap merasa menyesal, maka datang ke rumahku sekaligus membawaku pergi. Di saat itulah bertemu engkau padri sialan."

"Omitohud!"

Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang.

"Adik seperguruanku tidak sengaja membunuh kedua orang tuamu."

"Sengaja atau tidak, dia tetap pembunuh kedua orang tuaku!"

Sahut Tu Siao Cui gusar.

"Seharusnya dia selidiki dulu, barulah turun tangan! Namun dia tidak bertanya ini itu, langsung membunuh kedua orang tuaku! Karena itu, aku membalas dendam!"

"Engkau membunuh adik seperguruanku itu?"

Tayli Lo Ceng terbelalak.

"Ya."

Tu Siao Cui mengangguk.

"Tapi dia pun berhasil memukulku sehingga membuat aku jadi lumpuh puluhan tahun lamanya."

"Omitohud...."

Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala dan bertanya.

"Lalu ada urusan apa engkau ke mari mencariku?"

"Ingin menghukummu!"

"Oh?"

Tayli Lo Ceng mengerutkan kening.

"Apa salahku maka engkau ingin menghukumku?"

"Delapan puluh tahun lampau, engkau menyuruh Thian Gwa Sin Hiap berhati-hati padaku, secara tidak langsung engkau menyuruhnya melenyapkan diriku."

Sahut Tu Siao Cui menam-liahkan.

"Seharusnya di saat itu engkau bertanya kepadanya tentang diriku, kemudian engkau pun harus menghukumnya. Tapi engkau tidak melakukan itu, sebaliknya malah menyuruhnya berhati-liati terhadapku. Oleh karena itu, hari ini aku harus menghukummu."

"Omitohud!"

Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang.

"Tu Siao Cui, engkau telah membunuh Thian Gwa Sin Hap, dan kini engkau pun telah melukai mereka berdua. Apakah engkau belum merasa puas?"

"Hi hi hi!"

Sahut Tu Siao Cui dengan tawa cekikikan.

"Thian Gwa Sin Hiap pernah bilang, engkau adalah padri sakti. Karena itu, aku ingin menjajal kesaktian apa yang engkau miliki."

"Omitohud!"

Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala.

"Tu Siao Cui, itu tidak perlu. Engkau harus ingat akan dirimu yang muda kembali, itu merupakan suatu berkah. Bersyukurlah kepada Yang Maha Kuasa, jangan membuat dosa!"

"Padri sialan, aku ingin bertanya,"

Tu Siao Cui menatapnya.

"Pernahkah engkau berbuat suatu dosa?"

"Omitohud!"

Sahut Tayli Lo Ceng.

"Setiap manusia tidak akan terlepas dari suatu dosa. Kalau tahu pernah berbuat dosa, haruslah bertobat sekaligus menebusnya dengan perbuatan baik."

"Bagus! Bagus! Kalau begitu, engkau harus bertanding denganku!"

Ujar Tu Siao Cui sungguh-sungguh.

"Apabila engkau mampu mengalahkan aku, tentu aku akan menyembuhkan mereka, bahkan juga akan meninggalkan istana Tayli ini. Tapi seandainya engkau kalah, maka akulah yang berkuasa di sini. Hi hi hi...."

"Tu Siao Cui!"

Tayli Lo Ceng mengerutkan kening.

"Asal engkau tidak berlaku sewenang-wenang di sini, aku bersedia mengaku kalah terhadapmu. Bagaimana?"

"Dasar licik!"

Sahut Tu Siao Cui.

"Aku pun bersedia mengaku kalah terhadapmu, asal aku berkuasa di sini."

"Omitohud...."

Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang.

"Tu Siao Cui...."

"Guru,"

Ujar Toan Beng Kiat yang sangat penasaran.

"Biar aku dan Soat Lan bertanding dengan nenek sombong itu!"

"Beng Kiat, jangan turut campur!"

Sahut Tayli Lo Ceng berwibawa.

"Engkau diam saja."

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa dan berkata.

"Kalian berdua bukan tandinganku, jangan sok jago!"

"Nenek jahat!"

Bentak Lam Kiong Soat Lan.

"I ngkau telah melukai ayahku, aku harus membalas!"

"Gadis kecil!"

Baca Juga: Jodoh Si Mata Keranjang 3

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert