Eps 8 Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung
Baca online Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung
Cersil Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung.
"Oh ya, bolehkah aku tahu namamu?"
"Namaku Tio Bun Yang."
"Berapa usiamu?"
"Hampir dua puluh."
"Usiaku baru tujuh belas, aku lebih kecil"
Bokyong Sian Hoa tersenyum seraya berkata "Jadi aku harus memanggilmu Kakak Bun Yang"
"Aku pun harus memanggilmu Adik Sian Hoa"
Ujar Tio Bun Yang dan bertanya.
"Engkau berasal dari mana? Kenapa pakaianmu begitu aneh?"
"Aku dari Manchuria,"
Jawab Bokyong Sian Hoa dengan wajah murung.
"Ayah dan ibuku telah mati."
"Oh?"
Tio Bun Yang tertegun.
"Paman yang membunuh ayah dan ibuku Bokyong Sian Hoa memberitahukan dengan mata bercucuran.
"Sebelum ayahku menghembuskan nafas penghabisan, aku disuruh kabur ke Tionggoan."
"Kenapa harus kabur ke Tionggoan?"
"Kalau tidak, paman pasti membunuhku juga Maka aku segera kabur ke Tionggoan mencari seseorang."
"Oooh!"
Tio Bun Yang manggut-manggu' "Kenapa pamanmu membunuh kedua orang tua mu?"
"Kakak Bun Yang, engkau orang baik atau orang jahat?"
Tanya Bokyong Sian Hoa mendadak "Aku bukan orang jahat,"
Jawab Tio Bun Yau sambil tersenyum geli.
"Kenapa engkau bertanya begitu?"
"Karena aku harus memberitahukan identitas diriku. Kalau engkau orang jahat, pasti akan nangkapku."
"Oh?"
"Ayahku bernama Patoho."
Bokyong Sian Hoa irmberitahukan.
"Raja Manchuria."
"Apa?"
Tio Bun Yang tertegun.
"Kalau begitu, aku berhadapan dengan Tuan Putri Manchuria!"
"Sekarang aku bukan Tuan Putri lagi."
Bok-yong Sian Hoa menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku sudah menjadi buronan, kini pamanku yang menjadi raja Manchuria. Mungkin tak lama lagi dia akan mengutus orang ke mari untuk membunuhku."
"Di sini daerah Tionggoan, orang Manchuria tdak bisa sembarangan memasuki daerah ini."
"Siapa bilang? Setahuku pamanku itu akan bekerja sama dengan Lu Thay Kam. Kemungkinan besar pasukan Manchuria akan menyerbu Tionggoan."
"Oh?"
Tio Bun Yang terkejut.
"Apakah Lu thay Kam telah mengutus orang ke Manchuria?"
"Ya."
Bokyong Sian Hoa mengangguk.
"Pada waktu itu ayahku masih menjadi raja Manchuria, mereka menolak untuk bekerja sama. Karena itu, pamanku amat gusar sehingga bertempur dengan ayahku."
"Kenapa ayahmu tidak mau bekerja sama dengan Lu Thay Kam?"
"Karena ayahku telah berjanji kepada teman baiknya yang di Tionggoan, bahwa ayahku tidak akan menyerbu Tionggoan."
"Oooh?"
Tio Bun Yang manggut-manggut "Siapa teman baik ayahmu itu?"
"Aku harus memanggilnya paman,"
Jawab Bok yong Sian Hoa memberitahukan.
"Paman Tio."
"Paman Tio?"
Tio Bun Yang tersentak.
"Namai nya?"
"Cie Hiong."
"Apa?"
Tio Bun Yang terbelalak.
"Teman baik ayahmu bernama Tio Cie Hiong?"
"Ya."
Bokyong Sian Hoa mengangguk.
"Engkau kenal dia?"
"Kenal."
Tio Bun Yang mengangguk.
"Bahkan aku pun sangat dekat padanya, karena aku adalah anaknya."
"Oh?"
Bokyong Sian Hoa kurang percaya.
"Bagaimana mungkin begitu kebetulan sih? Aku ingin mencari Paman Tio, justru bertemu anaknya."
"Adik Sian Hoa, aku memang anaknya,"
Ujar Tio Bun Yang dan teringat sesuatu.
"Oh ya, aku punya bukti."
"Bukti apa?"
"Nih!"
Tio Bun Yang memperlihatkan kalung pemberian ayahnya.
"Kalung ini membuktikan bahwa aku anak Tio Cie Hiong."
"Tidak salah."
Wajah Bokyong Sian Hoa berseri.
"Ayahku pernah memberitahukan, kalungnya telah dihadiahkan kepada Paman Tio teman baiknya di Tionggoan. Inilah kalung ayahku."
"Nah!"
Tio Bun Yang tersenyum.
"Aku tidak bohong kan?"
"Sekarang aku baru yakin bahwa engkau anak Taman Tio,"
Ujar Bokyong Sian Hoa sambil tersenyum.
"Kakak Bun Yang, kita memang berjodoh."
"Eh? Adik Sian Hoa...."
"Kalau kita tidak berjodoh, bagaimana mungkin bisa bertemu di sini? Kita bertemu di sini pertanda berjodoh."
"Adik Sian Hoa...."
"Kakak Bun Yang!"
Bokyong Sian Hoa menatapnya dalamdalam.
"Kenapa engkau tampak cemas?"
"Aku...."
"Oooh!"
Bokyong Sian Hoa tersenyum.
"Aku tahu, bahwa engkau pasti sudah punya kekasih."
"Ng!"
Tio Bun Yang mengangguk.
"Jangan cemas!"
Bokyong Sian Hoa tertawa kecil.
"Aku tidak akan mengganggu kalian. Oh ya, engkau harus membawaku menemui ayahmu."
"Oh? Apakah itu merupakan pesan almarhum?"
"Betul. Ayahku berpesan kepadaku harus belajar ilmu silat kepada paman Tio, maka aku harus menemuinya."
"Tapi...."
Tio Bun Yang mengerutkan kening.
"Kenapa?"
Bokyong Sian Hoa menatapnya heran.
"Tempat tinggal kami jauh sekali."
Tio Bun Yang memberitahukan.
"Di Pulau Hong Hoang To."
"Biar bagaimana pun aku harus menemui ayahmu,"
Tegas Bokyong Sian Hoa.
"Jauh ke ujung langit pun aku harus ke sana."
"Baik."
Tio Bun Yang tersenyum. Ia memang sudah rindu kepada Siang Koan Goat Nio, karena itu ia membatalkan niatnya pergi ke markas pusat Kay Pang, dan akan langsung menuju Pulau Honj Hoang To.
"Kakak Bun Yang, kapan kita berangkat?"
"Sekarang."
"Baik."
Bokyong Sian Hoa manggut-manggut sambil tersenyum.
"Mari kita berangkat sekarang!"
"Tapi ingat! Dalam perjalanan ke Pulau Hong Hoang To, engkau tidak boleh nakal!"
Pesan Tio. Bun Yang dan menambahkan.
"Juga tidak boleh menimbulkan masalah apa pun!"
"Ya."
Bokyong Sian Hoa mengangguk.
"Pokoknya aku menurut kepadamu."
Di Pulau Hong Hoang To, tampak Siang Koan Goat Nio duduk termenung di bawah pohon, bahkan menghela nafas panjang.
"Goat Nio!"
Panggil Lie Ai Ling sambil mendekatinya.
"Aku mencarimu ke mana-mana, ternyata engkau duduk melamun di sini! Sedang memikirkan Kakak Bun Yang ya?"
"Ai Ling...."
Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku...."
"Aku tahu."
Lie Ai Ling tersenyum.
"Engkau sudah rindu kepada Kakak Bun Yang, yang sedang pergi ke Gunung Thian San. Sudah setengah tahun, tapi dia masih belum pulang...."
"Aku khawatir...."
"Khawatir terjadi sesuatu atas dirinya?"
"Ya."
"Itu tidak mungkin,"
Ujar Lie Ai Ling.
"Menurut aku, kemungkinan besar dia sedang berlatih di sana."
"Namun...."
Siang Koan Goat Nio menghela nafas lagi.
"tidak mungkin begitu lama."
"Goat Nio,"
Bisik Lie Ai Ling.
"Bagaimana kalau kita menyusul ke Gunung Thian San?"
"Belum tentu orang tua kita mengijinkan."
Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.
"Begini..."
Bisik Lie Ai Ling lagi sambil ter-enyum.
"Kalau orang tua kita tidak mengijinkan kita pergi menyusul Kakak Bun Yang, maka kita...mogok makan saja."
"Mogok makan?"
"Ya."
Lie Ai Ling mengangguk.
"Anggap saji kita diet."
"Ngmm!"
Siang Koan Goat Nio manggut-manggut.
"Akal yang bagus! Kalau kita mogok makan, orang tua kita pasti mengijinkan kita pergi menyusul Kakak Bun Yang."
"Tidak salah."
Lie Ai Ling tertawa gembira "Ayoh, mari pergi menemui orang tuamu!"
Kedua gadis itu melesat pergi. Begitu sampai di rumah, mereka berdua terbelalak karena melihat semua orang sudah berkumpul di ruang depan.
"Eeeeh?"
Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio berjalan ke dalam.
"Ada apa nih? Kok kumpul semua di sini?"
"Kami semua sedang mogok makan,"
Sahut Sam Gan Sin Kay.
"Oleh karena itu, kalian berdua tidak boleh ke manamana."
"Apa?"
Lie Ai Ling terbelalak.
"Kalian semua mogok makan?"
"Ya."
Lie Man Chiu dan Tio Hong Mol mengangguk.
"Kami harus mendahului mogok makan, sebab kalau tidak, kalian berdua yang akan mogok makan, bukan?"
"Kami...."
Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio menundukkan kepala.
"Ai Ling, kenapa engkau mengajak Goat Nio yang bukanbukan?"
Tanya Lie Man Chiu sambil menatapnya.
"Dari mana Ayah tahu?"
Lie Ai Ling heran.
"Kakek pengemis pergi mencari kalian."
Lie Man Chiu memberitahukan.
"Melihat kalian berdua berbisik-bisik di bawah pohon...."
"Oooh!"
Lie Ai Ling manggut-manggut.
"Jadi kakek pengemis yang mencuri dengar pembicaraan kami! Pantas...!"
"Pantas apa?"
Tanya Sam Gan Sin Kay sambil icrtawa.
"Pantas seluruh penghuni pulau ini berkumpul di sini!"
Sahut Lie Ai Ling sambil tertawa geli.
"Apakah ingin menyidang kami?"
"Tentu tidak,"
Ujar Kim Siauw Suseng.
"Hanya kami pun ingin mogok makan agar kalian tidak meninggalkan pulau ini."
"Ayah...."
Siang Koan Goat Nio membanting-banting kaki.
"Ayah jahat ah!"
"Maka kalian jangan coba-coba mogok makan!"
Ujar Kim Siauw Suseng sambil tertawa.
"Kalau ingin pergi menyusul Bun Yang, berundinglah dengan kami! Jangan menggunakan akal!"
"Kalau tidak menggunakan akal, bagaimana mungkin kami diperbolehkan pergi menyusul Kakak Bun Yang?"
Sahut Lie Ai Ling.
"Oh?"
Kim Siauw Suseng tertawa lagi.
"Ai Ling!"
Tio Hong Hoa menatapnya sambil tersenyum.
"Goat Nio ingin pergi menyusul Bun Yang, itu dikarenakan dia sangat rindu kepadanya maka dapat dimaklumi. Namun kenapa engkau juga ingin pergi menyusul Bun Yang?"
"Aku menemani Goat Nio,"
Jawab Lie Ai Ling.
"Lagi pula aku juga rindu kepada Kakak Bun Yang, karena dia boleh dikatakan adalah kakak ku."
"Oooh!"
Tio Hong Hoa manggut-manggut "Dia memang kakakmu, sebab ayahnya adalah adikku."
"Goat Nio, betulkah engkau ingin pergi menyusul Bun Yang?"
Tanya Kou Hun Bijin sambil menatapnya.
"Ya."
Siang Koan Goat Nio mengangguk.
"Kenapa engkau ingin pergi menyusulnya?"
Tanya Kou Hun Bijin lagi.
"Ibu, aku...."
Wajah Siang Koan Goat Nid kemerahmerahan.
"Berterus teranglah, jangan malu-malu! Engkau mencintai Bun Yang?"
Tanya Kou Hun Bijin mendadak.
"Ibu kok jahat sih!"
Tegur Siang Koan Goat Nio sambil menundukkan kepala.
"Aku...."
"Hi hi hi!"
Kou Hun Bijin tertawa nyaring.
"Baik. Ibu memperbolehkanmu pergi menyusul Bun Yang."
"Terimakasih, Ibu!"
Ucap Siang Koan Goat Nio dengan wajah berseri-seri.
"Terimakasih....'! "Ayah! Ibu! Aku ikut Goat Nio,"
Ujar Lie Ai Ling mendadak.
"Ai Ling!"
Tio Hong Hoa menggelengkan kepala.
"Kalau engkau ikut, bukankah akan mengganggu Goat Nio?"
"Ibu, aku tidak pernah mengganggu mereka."
Lie Ai Ling memberitahukan.
"Kalau mereka berdua memadu cinta, aku pasti menyingkir jauh-jauh. Tapi... kadang-kadang aku mengintip juga."
"Apa?"
Air muka Siang Koan Goat Nio berubah kemerahmerahan.
"Engkau pernah mengintip kami berduaan?"
"Memangnya tidak boleh?"
Sahut Lie Ai Ling umbil tertawa geli.
"Engkau...."
Siang Koan Goat Nio menudingnya, kemudian menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau sungguh keterlaluan!"
"Jangan gusar!"
Ujar Lie Ai Ling sungguh-sungguh.
"Lain kali aku tidak akan mengintip lagi."
"Ai Ling!"
Tegur Tio Hong Hoa dengan kening berkerut.
"Engkau tidak boleh berbuat begitu, tidak baik lho!"
"Ya, Ibu."
Lie Ai Ling mengangguk, lalu minta msaf kepada Siang Koan Goat Nio.
"Aku minta maaf."
"Sudahlah!"
Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang.
"Aku yakin engkau tidak sengaja berbuat begitu."
"Ya."
Lie Ai Ling mengangguk.
"Goat Nio, jadi engkau sudah mengambil keputusan untuk pergi menyusul Bun Yang?"
Tanya Kou Hun Bijin.
"Ya, Ibu."
Siang Koan Goat Nio mengangguk pasti.
"Kalau begitu...."
Kou Hun Bijin tersenyum "Ibu mengijinkanmu pergi menyusulnya."
"Terimakasih, Ibu!"
Ucap Siang Koan Goal Nio dengan wajah berseri.
"Terimakasih!"
"Ibu...."
Lie Ai Ling memandang Tio Hong Hoa.
"Aku... aku ikut Goat Nio pergi menyusul kakak Bun Yang."
"Itu...."
Tio Hong Hoa melirik Lie Man Chu "Baiklah."
Lie Man Chiu manggut-manggut "Tapi engkau tidak boleh nakal, harus menurut perkataan Goat Nio."
"Ya, Ayah."
Wajah Lie Ai Ling berseri.
"Terimakasih!"
"Goat Nio,"
Pesan Lim Ceng Im.
"Kalau bertemu Bun Yang, ajak dia pulang!"
"Ya, Bibi."
Siang Koan Goat Nio mengangguk.
"Kapan kalian akan berangkat ke Tionggoan"
Tanya Tio Cie Hiong sambil memandang mereka "Se... sekarang,"
Jawab Siang Koan Goat Nio lalu menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Apa?"
Kim Siauw Suseng tertegun.
"Engkau mau berangkat sekarang? Tidak bisa menunggu besok?"
"Ayah, aku...."
"Ha ha ha!"
Sam Gan Sin Kay tertawa gelak "Sastrawan sialan, putrimu sudah rindu sekali kepada Bun Yang, biarlah dia berangkat sekalung!"
"Itu...."
Kim Siauw Suseng melirik Kou Hun Hijin seraya bertanya.
"Bagaimana? Engkau setuju?"
"Kalau tidak setuju. Goat Nio pasti ngambek."
Tahut Kou Hun Bijin sambil tertawa.
"Dari pada dia ngambek tidak karuan, lebih baik kita perbolehkan berangkat sekarang."
"Terimakasih, Ibu!"
Ucap Siang Koan Goat Nio girang.
"Ibu baik sekali!"
"Hi hi hi!"
Kou Hun Bijin tertawa cekikikan. 'Nah, engkau boleh berangkat sekarang."
"Ya."
Siang Koan Goat Nio mengangguk.
"Goat Nio, Ai Ling. setelah kalian bertemu Bun Yang, ajaklah dia pulang!"
Pesan Tio Cie Hiong.
"Ya, Paman,"
Sahut Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling serentak, lalu kedalam untuk berkemas.
Setelah itu, barulah mereka berangkat ke Tonggoan.
Seandainya mereka bisa bersabar beberapa hari, tentu akan bertemu Bun Yang, yang pulang bersama Bokyong Sian Hoa.
---oo0dw0oo--Kini Kam Hay Thian telah sembuh, maka Tio Cie Hiong mulai memberi petunjuk kepadanya mengenai Pak Kek Sin Kang dan ilmu silat lainnya.
Sudah barang tentu kepandaian Kam Hay Thian bertambah tinggi.
Akan tetapi, pemuda itu merasa kecewa sekali karena Siang Koan Goat Nio mencintai Tio Bun Yang.
Bahkan gadis itu pergi menyusul Tio Bun Yang.
Oleh karena itu, Kam Hay Thian jadi melamun.
"Hay Thian..."
Panggil Lu Hui San sambil mendekatinya.
"Oh, Hui San!"
Sahut Kam Hay Thian.
"Silakan duduk!"
Lu Hui San duduk di sebelahnya, kemudian memandangnya seraya bertanya dengan keninf berkerut.
"Kenapa engkau duduk melamun di sini?"
"Aku...."
Kam Hay Thian menundukkan kepala.
"Goat Nio dan Ai Ling sudah berangkat ki Tionggoan, kenapa engkau tidak ikut mereka?"! "Aku...."
Wajah Lu Hui San agak kemerah merahan.
"Aku merasa betah tinggal di pulau ini' "Hui San, betulkah ayahmu bernama Lu Kam Thay?"
Tanya Kam Hay Thian sambil menatapnya tajam.
"Be... betul."
Lu Hui San mengangguk.
Ternyata Siang Koan Goat Nio dan Lie Al Ling tidak memberitahukan kepada Kam Hay Thian mengenai identitas Lu Hui San, maka pemuda itu tidak tahu ayah Lu Hui San adalah Lu Ihay Kam.
"Hui San...."Kam Hay Thian menghela nafas panjang.
"Sebetulnya aku sangat berterimakasih kepadamu, karena engkau yang menggendongku sampai di Pulau Hong Hoang To ini, aku... aku berhutang budi kepadamu."
"Jangan berkata begitu...."
Lu Hui San ter-lenyum.
"Karena kita...."
"Kita adalah teman baik, aku tahu itu,"
Ujar kam Hay Thian.
"Namun aku tetap berhutang budi kepadamu."
"Hay Thian,"
Ujar Lu Hui San sungguh-sungguh.
"Engkau tidak berhutang budi kepadaku, melainkkan kepada Bun Yang.
"Aku tahu."
Kam Hay Thian manggut-mang-jut.
"Kalian telah menceritakan kepadaku, kalau dia tidak muncul tepat pada waktunya, aku pasti sudah mati di tangan Seng Hwee Sin Kun. Aku... aku berhutang budi kepadanya."
"Kini Paman Cie Hiong pun memberi petunjuk kepadamu mengenai ilmu silat. Betapa baiknya mereka terhadapmu. Oleh karena itu...."
"Aku harus membalas budi kebaikan mereka?"
"Itu sih tidak perlu. Hanya saja...."
Lu Hui memandangnya.
"Engkau jangan tersinggung"
"Lanjutkanlah! Aku tidak akan tersinggung."
"Engkau tidak usah memikirkan Goat Nio lagi, sebab dia mencintai Bun Yang,"
Ujar Lu Hui San dengan suara rendah.
"Mereka berdua saling mencinta, percuma engkau memikirkan Goat Nio"
"Hui San!"
Wajah Kam Hay Thian berubah tak sedap dipandang.
"Engkau...."
"Maaf!"
Lu Hui San menundukkan kepala "Aku berkata sesungguhnya, tidak bermaksud menyinggung perasaanmu."
"Hui San, aku mau memikirkan siapa, itu adalah urusanku! Engkau tidak berhak mencampurinya,"
Ujar Kam Hay Thian setengah membentak lalu meninggalkan tempat itu.
"Hai Thian!"
Panggil Lu Hui San.
Kam Hay Thian terus melangkah pergi tanpa menghiraukan Lu Hui San.
Gadis itu tetap duduk di tempat, kemudian menangis terisak-isak.
Mendadak muncul seseorang menghampirinya, yal ternyata Lie Man Chiu.
"San San!"
Panggilnya lembut.
"Paman Chiu!"
Air mata Lu Hui San melelel "Aaaah...!"
Lie Man Chiu menghela nafas panjang.
"Sudahlah, jangan menangis! Pemuda itu memang agak keras hati."
"Paman Chiu...."
Lu Hui San terisak-isak "San San!"
Lie Man Chiu menatapnya.
"Goat Nio dan Ai Ling tahu mengenai identitas dirimu?"
"Tahu."
Lu Hui San mengangguk.
"Mereka berdua sama sekali tidak membocorkannya, aku salut pada mereka,"
Ujar Lie Man Chiu dan bertanya.
"Hay Thian tahu identitasmu?"
"Tidak tahu."
Lu Hui San menggelengkan kepala.
"Kalau dia tahu, mungkin akan membenciku."
"Kenapa?"
Lie Man Chiu heran.
"Sebab...."
Lu Hui San menutur tentang kematian guru silat Lie dan putrinya berdasarkan penuturan Kam Hay Thian.
"Oooh!"
Lie Man Chiu manggut-manggut.
"Tapi Lu Thay Kam cuma merupakan ayah angkatmu, lagi pula kematian guru silat Lie dan putrinya tiada kaitannya dengan dirimu."
"Memang, tapi...."
Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala.
"Hay Thian sangat mendendam kepada ayah angkatku. Dia bersumpah akan membunuh ayah angkatku itu."
"Aaaah...!"
Lie Man Chiu menghela nafas panjang.
"Oh ya, engkau pernah kembali ke istana?"
"Pernah. Bahkan... aku nyaris membunuh ayah angkatku."
Lu Hui San memberitahukan.
"Lho?"
Lie Man Chiu terkejut.
"Kenapa begitu"
"Aku telah bertemu pamanku...."
Lu Hui San menutur tentang Tio Bun Yang mengajaknya ke tempat tinggal Sie Kuang Han dan lain sebagainya, kemudian menambahkan.
"Kalau Bun Yang tidak muncul, ayah angkatku pasti sudah mati di bawah pedangku."
"Ternyata begitu...."
Lie Man Chiu mengha nafas panjang.
"Aku sama sekali tidak menyangka kalau ayahmu masih punya perasaan dan sangiat menyayangimu. Itu sungguh di luar dugaan!"
"Memang di luar dugaan."
Lu Hui San manggut-manggut.
"Oh ya, Paman Chiu jangan membocorkan identitas diriku kepada Hay Thian!"
"Jangan khawatir!"
Lie Man Chiu tersenyul "Aku berjanji!"
"Terimakasih, Paman Chiu!"
Ucap Lu Hui Si sambil menundukkan kepala.
"Aku... aku sangat kacau...."
"Tidak usah kacau!"
Lie Man Chiu menatap nya seraya berkata sungguh-sungguh.
"Cepatlah engkau susul Hay Thian, hiburlah dia!"
"Tapi...."
"Kalau engkau sungguh-sungguh mencinta nya, haruslah sabar dan mencairkan hatinya yang beku itu."
"Ya, Paman Chiu."
Lu Hui San menganggul lalu melangkah pergi. Lie Man Chiu menggeleng-gelengkan kepala Di saat ia menghela nafas panjang, muncullah Tio-Hoang Hoa, isterinya.
"Kakak Chiu...."
"Adik Hoa!"
Lie Man Chiu agak terperanjat ketika melihat kemunculan isterinya.
"Engkau.
"Aku telah melihat...."
"Jangan salah paham!"
"Tapi engkau harus menjelaskan! Kalau tidak, aku pasti menaruh curiga dan salah paham!"
"Adik Hoa!"
Lie Man Chiu terpaksa men-klaskan.
"Terus terang, dia adalah putri angkat Lu Thay Kam...."
"Oooh!"
Tio Hong Hoa manggut-manggut setelah mendengar penjelasan itu.
"Aku tidak menyangka, ternyata gadis itu mencintai Kam Hay Thian! Namun Kam Hay Thian malah jatuh cinta 'kepada Siang Koan Goat Nio."
"Yaaah!"
Lie Man Chiu menghela nafas.
"Mudah-mudahan tidak akan terjadi karena itu!"
"Tentunya Kam Hay Thian tahu Goat Nio mencintai Bun Yang, lagi pula Bun Yang yang telah menyelamatkan nyawanya. Oleh karena itu, aku yakin Kam Hay Thian tidak akan berbuat sesuatu yang bukan-bukan,"
Ujar Tio Hong Hoa.
"Mudah-mudahan begitu!"
Ucap Lie Man Chiu.
"Adik Hoa, sesungguhnya aku sangat berharap...."
"Berharap apa?"
"Sudah percuma."
Katakanlah!"
"Semula aku sangat berharap putri kita ber-Jodoh dengan Bun Yang, tapi Bun Yang malah mencintai Goat Nio."
"Aku pun berharap begitu."
Tio Hong Hoa menghela nafas panjang.
"Namun tidak bisa, sebab hubungan Ai Ling dengan Bun Yang bagaikan kakak beradik kandung."
"Memang."
Lie Man Chiu manggut-manggut dan bergumam.
"Entah siapa jodoh putri kita?"
"Ai Ling masih begitu muda,"
Sahut Tio Hong Hoa sambil tersenyum.
"Jadi engkau tidak usah kalut."
Lie Man Chiu mengangguk dan tersenyum kemudian menggandeng isterinya meninggalkan tempat itu.
"Seharusnya Hay Thian mencintai Hui San,"
Ujar Tio Hong Hoa mendadak.
"Karena gadis itu yang menggendongnya sampai di pulau ini. Lapi pula gadis itu sangat cantik, baik hati dan lemah lembut."
"Tidak salah."
Lie Man Chiu manggut-manggut.
"Mudahmudahan mereka berdua akan saling mencinta!" ---ooo0dw0oo---Tio Bun Yang telah tiba di Pulau Hong Hoang To bersama Bokyong Sian Hoa. Betapa gembira nya Tio Cie Hiong, Lim Ceng Im, Tio Tay Seng Sam Gan Sin Kay, Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa. Sedangkan Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin saling memandang dengan kening berkerut kerut.
"Ayah! Ibu!"
Panggil Tio Bun Yang.
"Nak!"
Lim Ceng Im langsung memeluknya erat-erat sambil tertawa gembira.
"Engkau bertambah tinggi lho!"
"Bun Yang, siapa gadis ini?"
Tanya Tio Cie Hiong sambil menatapnya tajam.
"Ayah, dia adalah...."
"Paman Tio, namaku Bokyong Sian Hoa."
Sela gadis itu sambil tersenyum.
"Ayahku bernama Patoho, teman baik Paman."
"Patoho?"
Tertegun Tio Cie Hiong.
"Engkau...engkau adalah putrinya?"
"Ya!"
Bokyong Sian Hoa mengangguk.
"Sian Hoa!"
Tio Cie Hiong tampak gembira.
"Bagaimana kabarnya ayahmu? Dia baik-baik saja?"
Tanyanya.
"Ayah dan ibuku...."
Mendadak Bokyong Sian hoa menangis terisak-isak, padahal barusan gadis itu tersenyum-senyum.
"Eeeh?"
Tio Cie Hiong terperangah.
"Sian Hoa!"
Lim Ceng Im menggandengnya ke tempat duduk.
"Duduklah!"
"Bun Yang, engkau juga boleh duduk,"
Ujar Tio Cie Hiong sambil menatapnya.
"Ya, Ayah."
Tio Bun Yang mengangguk. Ia memmberi hormat kepada Tio Tay Seng, Sam Gan im Kay, Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin. Setelah itu, barulah ia duduk.
"Tuuuh!"
Bisik Kou Hun Bijin kepada Kira Siauw Suseng-"Sungguh tampan Bun Yang itu, kelihatannya juga lemah lembut dan sopan."
"Betul."
Kim Siauw Suseng manggut-manggul.
"Tapi kok dia bersama gadis berpakaian aneh itu?"
"Akan kutegur dia,"
Sahut Kou Hun Bijin, kemudian memandang Tio Bun Yang seraya berseru.
"Anak muda, engkau adalah Tio Bun Yang?"
"Benar."
Tio Bun Yang heran. Ia memang belum kenal Kou Hun Bijin.
"Maaf, Bibi adalah...."
"Bun Yang, dia adalah Kou Hun Bijin."
Lim Ccng Im memberitahukan.
"Haaah?"
Tio Bun Yang terbelalak.
"Bibi ada lah Kou Hun Bijin?"
"Tidak salah,"
Sahut Kou Hun Bijin sambil tersenyum dingin.
"Goat Nio adalah putri kesayanganku. Dia begitu mencintaimu, tapi... engkau malah pulang bersama gadis lain. Hmm! Sungguh keterlaluan!"
"Bibi, aku...."
Tio Bun Yang tergagap.
"Aku...."
"Bibi Kou Hun Bijin, memangnya aku tidak boleh kemari bersama Kakak Bun Yang?"
Tanya Bokyong Sian Hoa mendadak dengan suara nyaring.
"Diam!"
Bentak Kou Hun Bijin.
"Galak amat sih!"
Bokyong Sian Hoa menatapnya dan menambahkan.
"Kalau aku tidak kemari bersama Kakak Bun Yang, bagaimana mungkin aku bisa bertemu Paman Tio?"
"Sian Hoa,"
Tanya Tio Cie Hiong cepat, agar gadis itu tidak terus berdebat dengan Kou Hun Bijin.
"Bagaimana kabarnya ayahmu? Dia baik-baik saja?"
"Ayah dan ibuku mati dibunuh oleh pamanku,"
Jawab Bokyong Sian Hoa dan mulai menangis terisak-isak lagi.
"Apa?"
Tio Cie Hiong tertegun.
"Kenapa pamanmu membunuh kedua orang tuamu? Bolehkah engkau menjelaskan?"
"Ayahku tidak setuju bekerja sama dengan Lu thay Kam, sebaliknya pamanku justru setuju."
Bokyong Sian Hoa menjelaskan dengan air mata berlinang linang.
"Karena itu, terjadilah pertarungan. Pamanku berhasil melukai ayahku, kemudian melukai ibuku. Di saat pamanku ingin melukaiku, muncul Pancha menolongku."
"Oh?"
Tio Cie Hiong mengerutkan kening.
"Aku masih ingat, ayahmu pernah berjanji kepadaku, bahwa dia tidak akan mengirim pasukannya untuk menyerang Tionggoan."
Katanya.
"Karena itu...."
Bokyong Sian Hoa menangis sedih.
"Ayah dan ibuku mati di tangan pamanku. Sebelum menghembuskan nafas penghabisan, ayah menyuruhku ke Tionggoan menemui Paman Tio! padahal di waktu itu pamanku juga ingin menghabiskan nyawaku, namun putranya yang bernama Pancha itu membelaku mati-matian, maka aku berhasil meloloskan diri. Aku langsung ke Tionggoan mencari Paman Tio."
"Kalau begitu, engkau bertemu Bun Yang secara kebetulan?"
Tanya Lim Ceng Im sam tersenyum.
"Ya."
Bokyong Sian Hoa manggut-manggut "Ketika itu muncul beberapa orang berpakaian hijau menghadangku.
Mereka berlaku kurang ajar pula.
Di saat itulah muncul Kakak Bun Yang, saat kami berkenalan dan aku pun memberitahukan nya bahwa aku ingin menemui Paman Tio.
Ternyata Paman Tio adalah ayahnya, maka aku mendesaknya untuk membawaku ke mari."
"Oooh!"
Tio Cie Hiong manggut-manggut sambil menghela nafas panjang.
"Sungguh di luar dugaan, ayahmu yang baik hati itu dibunuh oleh pamanmu!"
"Setelah ayahku mati, pamanku mengangkat dirinya sebagai raja Manchuria. Mungkin tidak lama lagi, dia akan mengutus Pancha dan Koksu (Guru Silat Istana) ke Tionggoan menemui Lie Thay Kam."
Bokyong Sian Hoa memberitahukan "Sian Hoa!"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Itu adalah urusan kerajaan, aku tidak mau turut campur."
"Paman Tio...."
Bokyong Sian Hoa terbelalak "Kalau begitu, Paman juga tidak mau mengajarku ilmu silat?"
"Engkau ingin belajar ilmu silat?"
Tio Cie Hiong balik bertanya sambil menatapnya.
"Itu pesan almarhum, maka aku harus menurut,"
Sahut Bokyong Sian Hoa dan menambahkan.
"Paman Tio, aku ingin menjadi muridmu."
"Sian Hoa!"
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Paman Tio tidak sudi menerimaku menjadi murid?"
Tanya Bokyong Sian Hoa kecewa, kemudian menangis tersedu-sedu.
"Dasar gadis cengeng!"
Ujar Kou Hun Bijin dan mendengus.
"Hmm...!"
"Kenapa engkau usil!"
Bokyong Sian Hoa melotot, lalu memandang Tio Bun Yang seraya berkata.
"Kakak Bun Yang, jangan mencintai putrinya! Dia begitu macam, putrinya pasti sama seperti dia."
"Hei! Gadis liar!"
Bentak Kou Hun Bijin.
"engkau berani kurang ajar? Mau kutampar ya?"
"Isteriku,"
Bisik Kim Siauw Suseng.
"Sudahlah, jangan meladeni gadis kecil itu!"
"Dia begitu kurang ajar!"
Sahut Kou Hun Bijin sambil mengerutkan kening.
"Aku harus menghajarnya!"
"Bijin,"
Ujar Tio Tay Seng.
"Sudahlah! Gadis itu masih kecil, tidak usah diladeni!"
"Adik Sian Hoa,"
Ujar Tio Bun Yang.
"Engkau tidak boleh kurang ajar terhadap Kou Hun Bijin. Tahukah engkau berapa usianya sekarang?"
"Belum enam puluh, kan?"
Sahut Bokyong Sian Hoa dan melanjutkan.
"Sebetulnya aku juga tahu kesopanan, tapi dia terus memojokkanku."
"Sian Hoa!"
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau harus tahu, usia Kou Hun Bijin sudah di atas seratus dua puluh, maka engkau tidak boleh berlaku kurang ajar terhadap nya."
"Apa?"
Bokyong Sian Hoa terbelalak, kemudian tertawa geli.
"Aku tak menyangka Paman Tio suka bergurau juga."
"Sian Hoa,"
Ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"Aku sama sekali tidak bergurau."
"Benar,"
Sambung Tio Bun Yang.
"Adik Sian Hoa, ayahku memang tidak bergurau. Kou Hun Bijin sudah berusia di atas seratus dua puluh, sedangkan Kim Siauw Suseng berusia hampir seratus."
"Tapi...."
Bokyong Sian Hoa terus memandang Kou Hun Bijin dan Kim Siauw Suseng.
"Mereka kelihatan baru berusia enam puluhan."
"Mereka awet muda...."
Tio Cie Hiong memberitahukan tentang mereka.
"Karena itu, kami semua sama sekali tidak berani berlaku kurang ajar terhadap mereka berdua."
"Oooh!"
Bokyong Sian Hoa manggut-manggut.
"Kou Hun Bijin, aku mohon maaf karena berani bersikap kurang ajar!"
Katanya.
"Hi hi hi!"
Kou Hun Bijin tertawa nyaring.
"Tidak apa-apa! Tidak apa-apa! Terus terang, aku suka kepadamu!"
"Terimakasih!"
Ucap Bokyong Sian Hoa.
"Oh ya, aku harus memanggil apa?"
"Maksudmu memanggil aku apa?"
"Ya."
"Panggil saja bibi!"
"Bibi yang baik!"
Panggil Bokyong Sian Hoa.
"Aku ingin belajar ilmu silat tingkat tinggi, sudikah Bibi mengajarku?"
"Hi hi hi!"
Kou Hun Bijin tertawa nyaring lagi.
"Jangan khawatir! Pokoknya kami semua pasti mengajarmu ilmu silat tingkat tinggi."
"Terimakasih, Bibi! Terimakasih..."
Ucap Bokyong Sian Hoa dengan wajah berseri-seri.
"Oh ya! Bibi, di mana Kakak Goat Nio?"
"Dia dan Ai Ling sudah berangkat ke Tionggoan beberapa hari yang lalu."
Kou Hun Bijin memberitahukan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Goat Nio ingin menyusul Bun Yang, sedangkan Ai Ling menemaninya."
"Apa?"
Wajah Tio Bun Yang langsung berubah kecewa.
"Goat Nio sudah berangkat ke Tionggoan?"
"Ya."
Lim Ceng Im mengangguk.
"Mereka ke Tionggoan menuju ke markas pusat Kay Pang, setelah itu barulah berangkat ke Gunung Thian San."
"Aaaah...!"
Keluh Tio Bun Yang.
"Kami selisih jalan...."
"Itu tidak apa-apa."
Lim Ceng Im tersenyum.
"Engkau boleh segera berangkat ke Tionggoan menyusulnya."
"Ya."
Tio Bun Yang mengangguk.
"Bun Yang, bagaimana kauw heng?"
Tanya Tio Cie Hiong sambil menatapnya.
"Kauw heng...."
Wajah Tio Bun Yang berubah murung sekali.
"Sudah mati, jantungnya hangus terkena pukulan Seng Hwee Sin Kun."
"Aaaah!"
Keluh Tio Cie Hiong dan Lim CcnJ Im.
"Kauw heng...."
"Sungguh kasihan monyet bulu putih itu!"Sam Gan Sin Kay menghela nafas panjang.
"Sebelum menghembuskan nafas penghabisan, kauw heng berpesan kepadaku agar ke gua es, yang terletak di sebelah timur puncak Gunung Thian San."
Tio Bun Yang memberitahukan.
"Oh?"
Tio Cie Hiong tertegun.
"Untuk apa kauw heng berpesan begitu kepadamu? Engkau ke sana setelah kauw heng mati?"
"Aku ke sana...."
Tio Bun Yang menuturkan tentang itu.
"Oooh!"
Tio Cie Hiong manggut-manggut seraya berkata.
"Ternyata Kan Kun Taylo Sin Kang terdiri dari hawa "Im' dan 'Yang", jadi boleh disebut Kan Kun Taylo Im Yang Sin Kang."
"Kalau begitu..."
Sela Kou Hun Bijin.
"Kan Kun Taylo Im Kang pasti mampu menandingi Seng Hwee Sin Kang."
"Mungkin,"
Sahut Tio Cie Hiong sambil mengangguk.
"Oh ya!"
Tio Bun Yang teringat sesuatu.
"Ketika aku melewati Gunung Hong San, aku mendengar suara pekikan yang sangat menyeramkan."
Tio Bun Yang menutur tentang Thian Gwa Sin Hiap-Tan Liang Tie, semua orang mendengar dengan mulut ternganga lebar.
"Engkau bertemu dia?"
Kou Hun Bijin kelihatan kurang percaya.
"Ya."
Tio Bun Yang mengangguk.
"Yang membelenggunya adalah Tu Siao Cui, muridnya. Bahkan muridnya itu juga membawa kabur kitab pusaka Hian Goan Sin Kang."
"Benar apa yang diceritakan Tayli Lo Ceng,"
Ujar Sam Gan Sin Kay.
"Oh ya!"
Ujar Tio Bun Yang memberitahukan. 'Orang tua itu pun berpesan kepadaku agar mencari seseorang."
"Mencari siapa?"
Tanya Tio Cie Hiong.
"Tayli Sin Ceng-Kong Sun Hok,"
Jawab Tio Hun Yang dan bertanya.
"Ayah kenal siapa Tayli In Ceng-Kong Sun Hok!"
"Ayah tidak kenal."
Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.
"Aku kenal,"
Sahut Kou Hun Bijin sambil tertawa.
"Tayli Sin Ceng-Kong Sun Hok adalah Tayli Lo Ceng."
"Haaah?"
Tio Bun Yang tertegun.
"Ternyata Tayli Sin Ceng adalah Tayli Lo Ceng!"
"Ketika masih muda, julukan Tayli Lo Cefl adalah Tayli Sin Ceng!"
Kou Hun Bijin memberitahukan.
"Oooh!"
Tio Bun Yang manggut-manggut.
"Aku yakin..."
Ujar Sam Gan Sin Kay mendadak.
"Tu Siao Cui pasti sudah mati, sebab dia tidak pernah muncul di rimba persilatan."
"Mudah-mudahan!"
Sahut Kim Siauw Suseng kemudian bertanya kepada Kou Hun Bijin.
"isteriku, bagaimana kalau kita juga mengajar Sian Hoa ilmu silat?"
"Aku setuju."
Kou Hun Bijin menganggul sambil tersenyum, lalu memandang Bokyong Sian Hoa seraya berkata.
"Mulai besok kami semua akan mengajarmu ilmu silat tingkat tinggi."
"Terimakasih, Bibi!"
Ucap Bokyong Sian Hoa dengan wajah berseri.
"Terimakasih...."
"Oh ya, Ayah,"
Tanya Tio Bun Yang mendadak.
"Bagaimana keadaan Kam Hay Thian Apakah dia sudah sembuh?"
"Dia sudah sembuh,"
Jawab Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Tapi kalau dia tidak memiliki Pak Kck Sin Kang dan engkau tidak memberinya makan pil Sok Beng Tan (Pil Penyambung Nyawa), nyawanya pasti sudah melayang sebelum sampai di sini.
"Ayah, Hui San masih berada di sini?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Gadis selalu menemaninya, mereka berdua merupakan pasangan yang serasi."
"Ayah, Hui San...."
Ucapan Tio Bun Yang terputus karena mendadak muncul Kam Hay Thian dan Lu Hui San.
"Bun Yang!"
Seru gadis itu girang.
"Hui San!"
Tio Bun Yang tersenyum, kemudian memandang Kam Hay Thian seraya bertanya.
"Saudara Kam, engkau sudah pulih?"
"Aku sudah pulih,"
Sahut Kam Hay Thian sambil menatapnya tajam.
"Terimakasih atas pertolonganmu!"
"Tidak usah mengucapkan terimakasih kepadaku."
Tio Bun Yang tersenyum lagi dan melimbahkan.
"Seharusnya engkau berterimakasih kepada Hui San."
"Ya."
Kam Hay Thian mengangguk.
"Adik Sian Hoa!"
Tio Bun Yang memperkenaikan.
"Dia adalah Lu Hui San dan Kam Hay Thian."
"Selamat bertemu!"
Ucap Bokyong Sian Hoa samhil memberi hormat kepada mereka berdua. Kalian berdua memang merupakan pasangan yang serasi lho!"
"Eh? Adik Sian Hoa...."
Wajah Lu Hui San memerah.
"Memang benar kok."
Bokyong Sian Hoa tertawa kecil.
"Jadi kakak Hui San tidak usah merasa malu."
"Benar."
Tio Bun Yang manggut-manggut "Mereka berdua sungguh merupakan pasangan yang sepadan."
"Engkau pun sepadan dan serasi dengan Goat Nio,"
Ujar Lu Hui San.
"Kakak Hui San,"
Tanya Bokyong Sian FlA mendadak.
"Betulkah kakak Goat Nio begitu cantik?"
"Betul!"
Lu Hui San mengangguk.
"Kakak Hui San, siapa yang lebih cantik aku atau Kakak Goat Nio?"
Tanya Bokyong Siai Hoa.
"Kalian berdua sama cantiknya,"
Sahut Lu Hu San sambil tersenyum.
"Namun sifat kalian berbeda. Dia bersifat lemah lembut, kalem dan anggun, sedangkan engkau bersifat periang, lincah dan masih kekanak-kanakkan."
"Usiaku sudah tujuh belas, bukan kanak-kanak lagi lho!"
Sahut Bok Yong Sian Hou dia menambahkan.
"Kami suku Manchuria, berusia tiga belas sudah boleh menikah."
"Oh?"
Lu Hui San terbelalak.
"Engkau gadis Manchuria?"
"Betul."
Bokyong Sian Hoa memberitahukan "Sesungguhnya aku adalah putri raja Manchuria tapi kedua orang tuaku sudah mati dibunuh oleh pamanku."
"Engkau...."
Lu Hui San tersentak.
"Engkau putri raja Manchuria?"
"Sekarang sudah tidak,"
Sahut Bokyong Sian Hoa.
"Karena kedua orang tuaku sudah mati, maka aku menjadi gadis biasa."
"Oooh!"
Lu Hui San manggut-manggut.
"Hui San, ajaklah Sian Hoa ke kamarmu, kalian tidur sekamar saja!"
Ujar Lim Ceng Im.
"Ya."
Lu Hui San segera mengajak Bokyong Sian Hoa ke kamar.
"Aaaah...!"
Tio Cie Hiong menghela nafas panjang.
"Patoho sudah mati, aku yakin tidak lama lagi pasukan Manchuria akan menyerbu Tionggoan!"
"Itu adalah urusan kerajaan, kita tidak usah memusingkannya,"
Sahut Lim Ceng Im sambil tersenyum.
"Seandainya pasukan Manchuria menyerbu ke mari, barulah kita menghabiskan mereka."
"Aaaah...!"
Sam Gan Sin Kay menghela nafas panjang.
"Kita adalah bangsa Han, apakah kita harus diam saja melihat daratan Tionggoan di serbu bangsa liar itu?"
"Ha ha ha!"
Kim Siauw Suseng tertawa.
"Kita sudah tua, percuma memikirkan itu!"
"Benar."
Tio Tay Seng manggut-manggut.
"Kita bukan pembesar, jadi tidak perlu memusingkan tentang itu."
"Yaaah!"
Tio Cie Hiong mcnggeleng-gelengkan kepala.
"Mungkin sudah waktunya dinasti Beng runtuh."
"Ayah,"
Ujar Tio Bun Yang mendadak.
"Aku akan berangkat ke Tionggoan esok menyusul Goai Nio."
"Apa?"
Tio Cie Hiong terbelalak.
"Engkau baru pulang kok sudah mau pergi?"
"Nak,"
Ujar Lim Ceng Im.
"Tinggal di sini beberapa hari, setelah itu barulah engkau berangkat."
"Ibu...."
"Jangan bantah, Nak!"
"Ya, Ibu."
Tio Bun Yang mengangguk.
Beberapa hari kemudian, barulah Tio Bun Yang berangkat ke Tionggoan.
Karena tertunda beberapa hari, maka ia tidak bertemu Siang Koan Goat Nio.
-ooo0dw0ooo-Bagian ke tiga puluh tujuh Gadis Jepang Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling telai memasuki daerah Tionggoan.
Kedua gadis itu terus melakukan perjalanan menuju markas pusat Kay Pang.
Ketika hari mulai gelap, mereka tiba disebuah lembah.
Mendadak terdengar semacam suara siulan yang amat menyeramkan.
Mereka saling memandang dengan sekujur badan merinding.
"Goat Nio,"
Bisik Lie Ai Ling dengan wajah agak pucat.
"Apakah itu suara siulan setan iblis?"
"Kita harus cepat bersembunyi,"
Sahut Siang Koan Goat Nio sambil menarik Lie Ai Ling ke balik sebuah pohon.
Tak seberapa lama kemudian, terdengar pula suara derap kaki kuda, dan suara siulan aneh yang menyeramkan itu pun makin terdengar jelas.
"Iiiih!"
Bisik Lie Ai Ling bergemetar.
"Jangan-jangan memang suara setan iblis!"
"Ai Ling!"
Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.
"Bagaimana mungkin setan iblis menunggang kuda?"
"Tapi...."
Suara derap kaki kuda itu makin mendekat, kemudian tampak belasan kuda berpacu kencang.
Dalam waktu sekejap, kuda-kuda itu telah melewati mereka yang bersembunyi di balik pohon.
Para penunggang kuda itu berpakaian putih semua, muka memakai kedok setan yang menyeramkan.
"ih! Seram sekali kedok yang dipakai mereka itu!"
Ujar Lie Ai Ling sambil menarik nafas.
"Yang jelas mereka bukan setan iblis,"
Sahut Siang Koan Goat Nio dan menambahkan.
"Aku yakin mereka adalah para anggota suatu perkumpulan."
"Benar"
Lie Ai Ling manggut-manggut "Mereka menuju utara, bagaimana kalau kita kuntit?"
"Jangan cari masalah!"
Sahut Siang Koan Goat Nio.
"Lagi pula kita sedang memburu waktu menuju markas pusat Kay Pang."
"Goat Nio!"
Lie Ai Ling tertawa.
"Engkau kok begitu ngebet sih terhadap Kakak Bun Yang?"
"Eh?"
Siang Koan Goat Nio melotot.
"Mula! menggodaku ya?"
"Aku tidak menggodamu, melainkan berkata sesungguhnya."
Lie Ai Ling tertawa lagi.
"Sudahlah!"
Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.
"Kita harus segera berang kat ke kota yang terdekat, sebab hari sudah mulat malam."
"Tidak mungkin kita akan sampai di kota terdekat,"
Sahut Lie Ai Ling sambil tersenyum "Kelihatannya malam ini kita harus bermalam di sini, besok pagi kita baru berangkat."
"Baiklah."
Siang Koan Goat Nio mengang guk.
Kedua gadis itu terpaksa bermalam di lembah tersebut.
Keesokan harinya barulah mereka berangkat ke markas pusat Kay Pang.
Ketika meteka sampai di suatu tempat, tiba-tiba terdengar suara benturan senjata tajam.
"Eh?"
Lie Ai Ling mengerutkan kening.
"Itu suara pertempuran, mari kita ke sana!"
"Ai Ling!"
Siang Koan Goat Nio menggeleng kepala.
"Jangan mencampuri urusan itu!"
"Kalau begitu..."
Ujar Lie Ai Ling sungguh-sungguh.
"Engkau menunggu di sini, aku akan ketempat pertempuran itu!"
"Ai Ling...."
Siang Koan Goat Nio menghela nafas.
"Baiklah! Mari kita ke sana!"
Kedua gadis itu segera melesat ke arah suara pertempuran. Sampai di tempat itu, mereka melihat seorang gadis berpakaian aneh sedang bertarung dengan beberapa orang berpakaian hijau.
"Mereka para anggota Seng Hwee Kauw,"
Bisik Lie Ai Ling memberitahukan.
"Aku tahu,"
Sahut Siang Koan Goat Nio sambil memperhatikan gadis yang sedang bertarung itu. 'Dia menggunakan suling."
"Hi hi hi!"
Lie Ai Ling tertawa.
"Sulingnya berwarna putih, jangan-jangan suling perak!"
"Eeeeh?"
Mendadak Siang Koan Goat Nio terbelalak.
"Ai Ling, perhatikanlah gerakannya! bukankah gerakannya mirip dengan ilmu Giok Siauw Bi Ciat Kang Khi ciptaan Paman Cie Hiong?"
"Betul."
Lie Ai Ling mengangguk.
"Dia memang menggunakan ilmu itu. Heran? Kok dia mahir menggunakan ilmu itu?"
"Mungkin gadis itu punya hubungan dengan Paman Cie Hiong,"
Ujar Siang Koan Goat Nio.
"Tidak mungkin."
Lie Ai Ling menggeleng kepala.
"Gadis itu masih begitu muda, bagaimana mungkin dia punya hubungan dengan Paman Cl Hiong?"
"Kalau begitu..."
Pikir Siang Koan Goat Nio "Mungkin orang tuanya punya hubungan dengan Paman Cie Hiong."
"Itu, memang mungkin. Tapi dia bukan gadis Tionggoan,"
Sahut Lie Ai Ling sambil tertawa kecil.
"Pakaiannya begitu aneh, entah dia berasal dari mana?"
"Dia mulai terdesak."
Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening.
"Para anggota Seng Hwei Kauw itu berkepandaian tinggi sekali."
"Tapi...."
Lie Ai Ling terbelalak.
"Dia masih mampu berkelit."
"Benar."
Siang Koan Goat Nio manggut-mangut.
"Dia menggunakan Kiu Kiong San Tian Poh (Ilmu Langkah Kilat). Aku semakin yakin orang tuanya punya hubungan dengan Pamam Cie Hiong."
"Betul."
Lie Ai Ling mengangguk.
"Cuma sayang, dia belum begitu mahir menggunakan Kiu Kiong San Tian Poh."
"Ai Ling, dia semakin terdesak,"
Ujar Siang Koan Goat Nio.
"Kita harus segera turun tangan membantunya."
"Baik."
Lie Ai Ling mengangguk. Kedua gadis itu membentak keras sambil melesat ke tempat itu. Kemunculan mereka berdua sangat mengejutkan para anggota Seng Hwee Kauw.
"Haah...?"
Seru mereka serentak.
"Kim Siauw Siancu dan Hong Hoang Li Hiap! Kita harus hati-hati menghadapi mereka!"
"Hmm!"
Dengus Lie Ai Ling dingin, gadis itu bertolak pinggang.
"Seng Hwee Sin Kun masih belum sembuh, kalian sudah berani berlaku sewenang-wenang! "
"He he he!"
Salah seorang dari mereka tertawa gelak.
"Bagus sekali kalian muncul!"
"Kami akan bersenang-senang dengan kalian bertiga! He he he...!"
"Oh?"
Lie Ai Ling tertawa dingin sambil menghunus Hong Hoang Po Kiam (Pedang Pusaka Gunung Phoenbc). Siang Koan Goat Nio juga mengeluarkan suling emasnya. Kedua gadis itu sudah siap bertaung.
"Serang mereka!"
Seru Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu.
Para anggota Seng Hwee Kauw langsung menyerang kedua gadis itu dengan berbagai macam senjata tajam.
Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling segera berkelit, kemudian balas menyerang.
Siang Koan Goat Nio menggunakan Cap Pwee Kim Siam Ciat Hoat (Delapan Jurus Maut Suling Emas) sedangkan Lie Ai Ling menggunakan Hong Hoan Kiam Hoat (Ilmu Pedang Burung Phoenix), maka terjadilah pertarungan sengit.
Sementara gadis berpakaian aneh itu cuma berdiri diam sambil menyaksikan pertarungan itu Ia kagum sekali akan kepandaian Siang Koa Goat Nio dan Lie Ai Ling.
Mendadak gadis itu terbelalak, ternyata Siang Koan Goat Nio mulai menyerang mereka dengan ilmu Giok Siauw Bit Ciat Kang Khi, menggunakan jurus San Pang Te Liak (Gunung Runtuh Bumi Retak).
"Aaaakh...!"
Terdengar suara jeritan.
Salah seorang anggota Seng Hwee Kauw terhuyung huyung dengan mulut mengeluarkan darah.
Punggungnya terhajar suling emas, bahkan salah satu uratnya putus, sehingga musnahlah kepandaianya.
"Aaakh...!"
Terdengar suara jeritan lagi.
Ternyata Lie Ai Ling juga berhasil melukai salah seorang anggota Seng Hwee Kauw yang menyerangnya.
Gadis itu menggunakan jurus Hong Hoang Coan Sin (Burung Phoenix Memutari Badan).
Menyaksikan itu, Kepala anggota Seng Hwe Kauw itu pucat wajahnya, lalu berseru.
"Mari kita kabur!"
Mereka segera lari pontang-panting meninggalkan tempat itu. Lie Ai Ling tertawa geli, Siang koan Goat Nio dan gadis itu cuma tersenyum.
"Terimakasih atas pertolongan kalian!"
Ucap gadis berpakaian aneh itu.
"Sama-sama,"
Sahut Siang Koan Goat Nio sambil memandangnya dengan penuh perhatian. 'Maaf, engkau berpakaian begitu aneh. Bolehkah kami tahu engkau berasal dari mana?"
"Aku berasal dari Jepang."
Gadis itu memberitahukan.
"Namaku Yatsumi. Kepandaian kalian berdua tinggi sekali, bolehkah aku tahu siapa kalian?"
"Namaku Siang Koan Goat Nio, dan dia bernama Lie Ai Ling,"
Sahut Siang Koan Goat Nio sambil tersenyum lembut.
"Tadi engkau mempergunakan ilmu Giok Siauw Bit Ciat Kang Khi. Dari mana engkau mendapat ilmu itu?"
"Ibuku,"
Jawab Yatsumi heran.
"Engkau pun l-isa menggunakan ilmu itu, apakah engkau punya hubungan dengan Paman Cie Hiong?"
"Eeeeh?"
Lie Ai Ling terbelalak.
"Engkau kenal Paman Cie Hiong?"
"Aku tidak kenal, tapi ibuku kenal dia,"
Sahut Yatsumi dengan mata bersimbah air.
"Ibuku bernama Michiko."
"Michiko?"
Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio saling memandang. Kedua gadis itu sama sekali tidak tahu tentang Michiko, karena Tio Cie Hiong tidak pernah menceritakannya kepada mereka.
"Paman Cie Hiong pernah mengajar ibu ilmu Giok Siauw Bit Ciat Kang Khi, maka ibuku berhasil membunuh ketua Ninja."
Yatsumi mem beritahukan.
"Setelah itu, ibuku pulang ke Jepang lalu menikah."
"Oooh!"
Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling manggutmanggut.
"Ternyata begitu! Kemudian bagaimana?"
"Beberapa bulan lalu, mendadak muncul se orang ninja berkepandaian tinggi,"
Tutur Yatsuni dengan air mata berlinang linang.
"Ninja itu adalah adik seperguruan ketua ninja yang dulu. Dia berhasil membunuh ayahku dan melukai ibuku Akan tetapi, ibuku berhasil meloloskan diri bersamaku. Di tengah jalan ibuku berpesan."
"Apa pesan ibumu?"
Tanya Siang Koan Goi Nio dan merasa kasihan pada gadis Jepang itu.
"Ibuku berpesan...."
Yatsumi memberitahu kan.
"Aku harus berangkat ke Tionggoan menemui Paman Cie Hiong, dan aku pun harus belajar ilmu silat kepadanya, agar bisa membalas dendam kelak."
"Oooh!"
Siang Koan Goat Nio manggut manggut.
"Engkau tahu Paman Cie Hiong tinggal dimana?"
"Aku tidak tahu."
Yatsumi menggelengkan kepala.
"Tapi ibuku menyuruhku harus ke markas puisat Kay Pang, karena Paman Cie Hiong punya hubungan dengan Kay Pang."
"Betul,"
Sahut Lie Ai Ling.
"Kami pun tahu tempat tinggal Paman Cie Hiong, tapi alangkah baiknya kita ke markas pusat Kay Pang dulu, kita runding di sana saja."
"Terimakasih!"
Ucap Yatsumi.
"Oh ya!"
Lie Ai Ling menatapnya kagum.
"Kok engkau begitu lancar berbahasa Han?"
"Sejak kecil aku sudah belajar bahasa Han, bahkan aku pun bisa menulis huruf-huruf Han."
Yatsumi memberitahukan.
"Oh ya, kita harus segera berangkat ke markas pusat Kay Pang."
"Memangnya kenapa?"
Lie Ai Ling heran.
"Aku khawatir Takara Nichiba akan menyusul kemari,"
Ujar Yatsumi dengan wajah agak memucat.
"Siapa Takara Nichiba?"
Tanya Siang Koan ilnat Nio.
"Dia adik seperguruan ketua ninja lama, juga membunuh kedua orang tuaku. Dia tahu aku kabur ke Tionggoan, maka kemungkinan besar dia akan menyusulku ke mari,"
Sahut Yatsumi bernada ketakutan.
"Kepandaiannya tinggi sekali, bahkan kini dia sebagai ketua ninja di Jepang."
"Oh?"
Lie Ai Ling terbelalak tapi kemudian malah tertawa.
"Kalau dia menyusul ke mari, kami akan menghajarnya hingga dia pulang ke Jepang."
"Kepandaian kalian berdua memang tinggi, namun...."
Yatsumi mengerutkan kening.
"Menurut aku, kalian berdua masih bukan tandingannya."
"Oh, ya?"
Siang Koan Goat Nio menatapnya.
"Apakah dia memiliki kepandaian luar biasa?"
"Ya."
Yatsumi mengangguk.
"Dia bisa menyusup ke dalam tanah dan menghilang mendadak. Itulah ilmu istimewa kaum ninja Jepang."
"Hebat!"
Ujar Lie Ai Ling.
"Tapi biar bagaimana pun, aku harus melawannya!"
"Ai Ling, kita harus segera berangkat ke markas pusat Kay Pang."
Siang Koan Goat Nio mengingatkannya.
"Jangan terus mengobrol di sini!"
"Betul."
Lie Ai Ling tersenyum.
"Engkau ingin buru-buru bertemu Kakak Bun Yang. Baiklah. Mari kita berangkat sekarang!" --ooo0dw0ooo--Betapa gembiranya Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong ketika mengetahui kedatangan Siang Koang Goat Nio serta Lie Ai Ling. Namun mereka juga merasa heran karena kedua gadis itu datang bersama seorang gadis asing.
"Kakek Lim, Kakek Gouw!"
Panggil Siang koan Goat Nio dan Lie Ai Ling sekaligus memperkenalkan gadis Jepang itu.
"Dia berasal dari Jepang, namanya Yatsumi, putri Michiko."
"Oooh!"
Lim Peng Hang manggut-manggut. 'Kami kenal baik ibunya."
"Yatsumi, bagaimana kabar ibu dan ayahmu?"
Tanya Gouw Han Tiong sambil memandangnya.
"Ibu dan ayahku sudah meninggal,"
Jawabnya sambil menangis terisak-isak dengan air mata berderai-derai.
"Oh?"
Gouw Han Tiong dan Lim Peng hang tersentak kaget.
"Kedua orang tuanya dibunuh oleh Takara Nichiba, adik seperguruan ketua ninja lama."
Lie Ai Ling memberitahukan.
"Oh?"
Lim Peng Hang mengerutkan kening.
"Sungguh tak disangka, ketua ninja itu punya adik seperguruan!"
"Kepandaiannya tinggi sekali, hanya beberapa jurus dia berhasil membunuh ayah dan melukai lbuku,"
Ujar Yatsumi dan menambahkan.
"Sabetan pedangnya secepat kilat."
"Ngmm!"
Lim Peng Hang manggut-manggut.
"Lalu apa rencanamu sekarang?"
"Aku harus menemui Paman Cie Hiong,"
Sahut Yatsumi.
"Itu adalah pesan dari ibuku, bahkan aku pun harus belajar ilmu silat kepada Paman Cie Hiong, agar kelak bisa membalaskan dendam kedua orang tuaku."
"Tapi...."
Lim Peng Hang mengerutkan kening.
"Cie Hiong tidak berada di sini, dia tinggal di Pulau Hong Hoang To."
"Tidak apa-apa,"
Ujar Yatsumi.
"Aku akan ke Pulau Hong Hoang To menemuinya. Itulah tekadku."
"Kalau begitu...."
Lim Peng Hang memandang Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling.
"Salah satu di antara kalian harus mengantarnya ke Pulau Hong Hoang To."
"Kakek Lim,"
Ujar Lie Ai Ling.
"Kami kemari ingin menemui Kakak Bun Yang, apakah dii sudah ke mari?"
"Dia belum ke mari."
Lim Peng Hang memberitahukan.
"Tapi Ngo Tok Kauwcu yang kemari mengabarkan tentang pertarungan di Lembah Ka but Hitam. Kalian berdua dan Lu Hui San membawa Kam Hay Thian ke Pulau Hong Hoang To sedangkan Bun Yang membawa kauw heng ke Gunung Thian San."
"Hingga kini dia belum ke mari?"
Tanya Siang Koan Goat Nio cemas.
"Ya."
Lim Peng Hang mengangguk.
"Mungkin dia menemani kauw heng di Gunung Thian San.' "Mungkin."
Siang Koang Goat Nio manggut manggut.
"Oh ya! Bagaimana keadaan Kam Hay Thian? tanya Gouw Han Tiong.
"Apakah dia sudah pulih?"
"Dia sudah pulih,"
Sahut Lic Ai Ling.
"Paman Cie Hiong sudah mulai memberi petunjuk kepadanya mengenai ilmu silat."
"Oooh!"
Gouw Han Tiong manggut-manggut.
"Oh ya!"
Siang Koan Goat Nio teringat sesuatu.
"Beng Kiat dan Soat Lan sudah pulang ke Tayli."
"Kami sudah tahu."
Gouw Han Tiong tersenyum.
"Mereka juga mampir di sini, setelah itu barulah mereka berangkat ke Tayli."
"Kakek Lim!"
Mendadak wajah Siang Koan Hoat Nio berubah serius.
"Ketika kami melewati sebuah lembah sebelum bertemu Yatsumi, kami melihat segerombolan orang berpakaian putih menunggang kuda. Mereka mengeluarkan suara siulan yang menyeramkan, bahkan mereka memakai kedok setan. Kakek Lim tahu mereka dari perkumpulan apa?"
"Berpakaian putih, mengeluarkan siulan seram dan memakai kedok setan..."
Gumam Lim Peng Hang sambil berpikir. Kemudian ia memandang Gouw Han Tiong seraya bertanya.
"Engkau pernah dengar tentang perkumpulan itu?"
"Tidak pernah."
Gouw Han Tiong menggelengkan kepala.
"Mungkin perkumpulan baru."
"Mereka menuju utara."
Lie Ai Ling memberitahukan.
"Aku ingin menguntit mereka, tapi Goat Nio tidak setuju."
"Memang tidak baik kalian menguntit mereka, sebab akan menimbulkan masalah,"
Ujar Lim Peng Hang.
"Aaaah...!"
Gouw Han Tiong menghela nafas panjang.
"rimba persilatan akan bertambah kacau!"
"Oh ya!"
Lim Peng Hang memandang Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling.
"Bagaimana rencana kalian?"
"Rencana apa?"
Tanya Lie Ai Ling.
"Siapa di antara kalian yang akan mengantar Yatsumi ke Pulau Hong Hoang To menemui Cie Hiong?"
Sahut Lim Peng Hang.
"Goat Nio! Bagaimana kalau kita berdua mengantarnya ke Pulau Hong Hoang To?"
Tanya Ai Ling seakan mengusulkan.
"Aku di sini saja menunggu Bun Yang. Engkau yang mengantar Yatsumi ke sana."
"Itu...."
Lie Ai Ling mengerutkan kening sambil berpikir, lama sekali barulah ia berkata.
"Baik lah. Tapi engkau harus menungguku di sini!"
"Ya."
Siang Koan Goat Nio mengangguk.
"Ai Ling,"
Tanya Lim Peng Hang.
"Kapan engkau akan mengantar Yatsumi ke Pulau Ho Hoang To?"
"Besok pagi,"
Sahut Lie Ai Ling dan menai bahkan.
"Biar Goat Nio berada di sini menunggu Kakak Bun Yang, sebab dia rindu sekali kepadanya."
"Oh?"
Lim Peng Hang tertawa gelak.
"jadi Goat Nio dan Bun Yang sudah saling mencinta?' "Tidak salah,"
Sahut Lie Ai Ling sambil tertawa.
"Kelihatannya Goat Nio sudah menderita sakit rindu."
"Ai Ling!"
Wajah Siang Koan Goat Nio langsung memerah.
"Engkau...."
"Hi hi hi!"
Lie Ai Ling tertawa geli.
"Mengaku sajalah, tidak usah berpura-pura!"
"Ha ha ha!"
Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong tertawa terbahak-bahak.
"Bagus! Bagus sekali!"
Keesokan harinya, Lie Ai Ling dan Yatsumi meninggalkan markas pusat Kay Pang, menuju pulau Hong Hoang To.
---ooo0dw0ooo---Beberapa hari kemudian, kedua gadis itu suka tiba di sebuah kota.
Mereka bermalam di kota itu, dan keesokan harinya melanjutkan perjalanan lagi.
Sepanjang jalan, Lie Ai Ling terusku menerus bertanya ini dan itu kepada Yatsumi.
"Bagaimana keadaan di Jepang? Apakah aman di sana?"
"Kalau aman..."
Sahut Yatsumi sambil menggelenggelengkan kepala.
"Tidak mungkin aku kabur ke sini."
"Di sana juga banyak penjahat?"
"Banyak sekali."
Yatsumi memberitahukan "Seperti di Tionggoan ini, bukankah juga banyak penjahat?"
"Ya."
Lie Ai Ling manggut-manggut.
"Yatsumi, engkau sudah punya kekasih belum?"
"Cuma punya teman biasa,"
Sahut Yatsumi jujur.
"Dia pemuda yang baik, namun kepandaian nya tidak begitu tinggi."
"Itu tidak jadi masalah,"
Ujar Lie Ai Lim sambil tersenyum.
"Yang penting dia mencintai mu. Engkau tidak boleh mempermasalahkan kepandaiannya."
"Tapi...."
Yatsumi menggeleng-gelengkan kepala.
"Dia berasal dari keluarga pembesar, mungkin ayahnya tidak akan setuju."
"Itu urusan kalian berdua. Kalau kalian berdua saling mencinta, berarti tiada urusan dengan orang tuanya."
"Itu tidak bisa."
Yatsumi menghela nafas.
"Apa bila dia berani menentang kemauan ayahnya, pasti dihukum mati."
"Haaah?"
Lie Ai Ling tersentak.
"Begitu kolot adat Jepang?"
"Bukan kolot...."
Yatsumi memberitahuku "Itu memang sudah merupakan adat di Jepan Orang biasa tidak boleh menikah dengan keluarga-pembesar."
"Sebetulnya di sini pun sama,"
Ujar Lie Ai ling.
"Tapi kalau sudah saling mencinta, tentu ada jalannya."
"Jalan apa?"
"Kelak setelah berhasil membunuh ketua ninja itu, engkau harus mencari pemuda itu, lalu kalian berdua kabur ke Tionggoan. Pokoknya kami pasti akan melindungi kalian."
"Terimakasih!"
Ucap Yatsumi.
"Aku...."
"Ha ha ha!"
Terdengar suara tawa, setelah itu muncul beberapa orang berpakaian hijau.
"Hmm!"
Dengus Lie Ai Ling.
"Ternyata mereka para anggota Seng Hwee Kauw!"
"Tidak salah, Nona manis,"
Sahut Kepala anggota Seng Hwee Kauw sambil mendekatinya.
"Kelihatannya kalian berdua sedang melakukan perjalanan. Tentu kalian merasa lelah dan kesepian. Nah, bagaimana kalau kalian beristirahat sambil bersenang-senang dengan kami berenam?"
"Cepat kalian enyah dari sini!"
Bentak Lie Ai tjng sambil menghunus Hong Hoang Po Kiam.
"Kalau kalian tidak enyah, aku akan bunuh kalian!"
"He he he!"
Kepala anggota Seng Hwee Kauw tertawa terkekeh-kekeh.
"Aku tahu, engkau adalah Hong Hoang Li Hiap! Namun engkau tidak mampu melawan kami berenam! Maka dari pada engkau harus celaka, bukankah lebih baik melayani kami bersenang-senang?"
"Diam!"
Bentak Lie Ai Ling gusar, kemudian mendadak menyerangnya dengan Hong Hoan, Kiam Hoat.
"Wuah!"
Kepala anggota Seng Hwee Kau-itu tertawa.
"Ha ha ha! Sungguh sadis! Ingin membunuhku ya?"
Lie Ai Ling tidak menyahut, melainkan terus menyerangnya.
Sementara yang lain dan Yatsumi cuma berdiri diam sambil menyaksikan pertarungan itu.
Kepala anggota Seng Hwee Kauw-memang berkepandaian tinggi, karena dengan gampang sekali ia berkelit menghindari serangan serangan Lie Ai Ling.
Mendadak Lie Ai Ling menghentikan serangannya, dan Kepala anggota Seng Hwee Kau itu tertawa gelak.
"Ha ha ha! Kenapa berhenti? Engkau bersedia bersenangsenang denganku?"
"Aku tidak mau menyerang orang yang bersenjata!"
Sahut Lie Ai Ling dingin.
"Cepat keluarkan senjatamu!"
"Baik!"
Kepala anggota Seng Hwee Kauw segera mengeluarkan senjatanya.
Ternyata sebuah pedang tipis yang memancarkan cahaya putih "Engkau memiliki pedang pusaka, aku pun miliki pedang pusaka ini.
Ayoh, mari kita ber tarung!
Kalau engkau kalah, harus melayani bersenang-senang!"
"Hmm!"
Dengus Lie Ai Ling dingin, kemudian membentak.
"Lihat serangan!"
Lie Ai Ling langsung menyerangnya. Kali ini ia menggunakan Thian Liong Kiam Hoat. Lie Man Chiu yang mengajarnya ilmu pedang tersebut.
"Hebat!"
Seru kepala anggota Seng Hwee Kauw sambil berkelit, lalu balas menyerang.
Terjadilah pertarungan sengit.
Lie Ai Ling menyerangnya mati-matian, tapi Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu selalu dapat berkelit.
Betapa penasarannya gadis itu, mendadak ia bersiul panjang sambil menggerakkan pedangnya.
Ketika melihat gerakan pedang Lie Ai Ling, Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu terbelalak, karena gerakan pedang gadis itu kacau balau.
Ternyata Lie Ai Ling menggunakan Cit Loan Kiam Hoat (Ilmu Pedang Pusing Tujuh Keliling), ciptaan Tio Cie Hiong.
Menghadapi ilmu pedang yang amat aneh itu, Kepala anggota Seng Hwee Kauw langsung meloncat ke belakang sambil berseru.
"Cepat serang dia!"
Para anggota Seng Hwee Kauw segera menyerang Lie Ai Ling.
Gadis itu membentak keras, sambil menangkis seranganserangan lawan dengan jurus Ban Kiam Hui Thian (Selaksa Pedang Terbang Di Langit).
Tampak pedangnya berkelebat secara kacau balau ke sana ke mari, membuat para anggota Seng Hwee Kauw itu menjadi berkunang-kunang.
Trang!
Trang...!
Terdengar suara benturan senjata.
Para anggota Seng Hwee Kauw terhuyung huyung beberapa langkah.
Namun sungguh sayang sekali, lweekang Lie Ai Ling masih belum begitu tinggi.
Kalau lweekangnya tinggi, para anggota Seng Hwee Kauw itu pasti sudah terluka.
"Serang dia lagi!"
Seru Kepala anggota Seng Hwee Kauw.
Ketika para anggota Seng Hwee Kauw baru mau menyerang lagi, mendadak terdengar suara bentakan keras, kemudian melayang turun seorang pemuda berwajah tampan di sisi Lie Ai Ling.
"Jangan takut, Nona! Aku akan membantumu!"
Ujar pemuda itu sambil tersenyum.
"Engkau beristirahatlah! Biar aku yang melawan mereka' "Terimakasih!"
Ucap Lie Ai Ling dengan hati berdebar-debar aneh ketika melihat pemuda itu. lalu melangkah ke sisi Yatsumi.
"Kalian sungguh tak tahu malu!"
Bentak pemuda itu sambil menuding para anggota Seng Hwee Kauw.
"Mengeroyok seorang gadis! Kini aku akan merobohkan kalian semua!"
"Oh?"
Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu tertawa gelak.
"Anak muda, jangan omong besar"
"Aku tidak omong besar!"
Sahut pemuda itu sambil menghunus pedangnya. Sungguh aneh bentuk pedangnya, karena bergerigi-gerigi.
"Serang dia!"
Seru Kepala anggota Seng Hwee Kauw.
Para anggota Seng Hwee Kauw segera menyerang.
Pemuda itu masih tetap berdiri diam di tempat.
Namun ketika senjata-senjata itu hampir menyentuhnya, sekonyongkonyong badan pemuda itu berputar-putar melambung ke atas, dan pedangnya bergerak secepat kilat menyambar kesana ke mari.
Trang!
Trang!
Trang...!
Terdengar suara benturan senjata, kemudian tampak beberapa buah senjata terlempar ke atas.
"Bagus!"
Seru Lie Ai Ling sambil bertepuk tangan.
"Jurus yang hebat sekali!"
"Terimakasih atas pujian Nona!"
Sahut pemuda itu sambil melayang turun.
"Cukup tinggi kepandaianmu!"
Ujar Kepala mggota Seng Hwee Kauw.
"Sekarang aku akan menghadapimu!"
"Baik!"
Pemuda itu manggut-manggut.
"Lihat serangan!"
Bentak Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu sambil menyerangnya.
Pemuda itu tertawa dan sekaligus berkelit, kemudian balas menyerang.
Mulailah mereka bertarung dengan seru, dan masing-masing mengeluarkan jurus-jurus andalannya.
Tak terasa pertarungan sudah melewati puluhan jurus.
Di saat itulah pemuda tersebut bersiul panjang.
Mendadak badannya berputar-putar ka arah Kepala anggota Seng Hwee Kauw, dan pedangnya, yang aneh itu berkelebat dan menyambal ke sana ke mari.
Itu membuat Kepala anggota Seng Hwee Kauw tidak bisa berkelit, maka terpaksa menangkis.
Trang...!
Terdengar suara benturan keras, dan bunga api berpijar ke mana-mana.
Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu memang berhasil menangkis serangan itu, tapi sungguh diluar dugaan, sebab mendadak pemuda itu meng gerakkan pedangnya membentuk sebuah lingkal an, sehingga membuat pedang lawannya harui berputar juga.
Di saat itulah ujung pedang pe muda itu menerobos mengarah ke dada lawannya.
"Aaaakh...!"
Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu menjerit sambil menyurut mundur beberapa langkah, dadanya sudah berlumuran darah.
"Aku tidak akan membunuhmu,"
Ujar pemuda itu sambil tersenyum.
"Cepatlah ajak mereka pergi, jangan coba-coba mengganggu nona ini lagi? "Sebutkan namamu!"
Bentak Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu, namun kemudian malah merintih-rintih.
"Aduuuh...!"
"Namaku Sie Keng Hauw!"
Sahut pemuda itu "Kalau engkau ingin balas dendam kelak, silakan Tapi... saat itulah engkau akan mati di ujung pedangku!"
Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu menatapnya dengan mata berapi-api, lalu melangkah pergi sambil mendekap dadanya. Para anak buahnyaa segera mengikutinya dari belakang dengan kepala tertunduk.
"Terimakasih, Saudara Sie!"
Ucap Lie Ai Ling, yang ternyata sangat tertarik padanya.
"Kok Nona tahu margaku?"
Pemuda itu heran.
"Bukankah barusan engkau memberitahukan kepada Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu?"
Sahut Lie Ai Ling sambil tersenyum manis.
"Oooh."
Pemuda itu manggut-manggut.
"Nona, naaku Sie Keng Hauw. Bolehkah aku tahu namamu?"
"Aku bernama Lie Ai Ling,"
Gadis itu memperkenalkan.
"Dia bernama Yatsumi, berasal dari Jepang."
"Selamat bertemu! Selamat bertemu!"
Ucap Sie Keng Hauw.
"Aku sungguh gembira sekali berkenalan dengan Nona!"
"Engkau merasa gembira berkenalan dengan-ku atau gadis Jepang itu?"
Tanya Lie Ai Ling sambil menatapnya.
"Aku merasa gembira berkenalan denganmu,"
Sahut Sie Keng Hauw blak-blakan.
"Sebab Nona cantik sekali."
"Oh, ya?"
Hati Lie Ai Ling berbunga-bunga mendengar pujian pemuda itu.
"Aku pun gembira sekali berkenalan denganmu."
"Sungguh?"
Wajah Sie Keng Hauw cerah ceria.
"Nona tidak bohong?"
"Aku tidak bohong. Saudara Sie, jangan memanggilku nona, panggil saja namaku!"
"Baik, Ai Ling."
Sie Keng Hauw menatapnya dengan mata berbinar-binar.
"Oh ya! Bolehkah aku tahu kalian mau ke mana?"
"Kami mau ke Pulau Hong Hoang To,"
Jawab, Lie Ai Ling jujur.
"Engkau mau ke mana?"
"Aku mau pergi menemui ayahku."
Sie Keng Hauw memberitahukan.
"Sudah belasan tahun aku tidak bertemu ayahku."
"Engkau berada di mana selama belasan tahun ini?"
Tanya Lie Ai Ling heran.
"Berada di tempat guruku belajar ilmu silat"
Sahut Sie Keng Hauw.
"Aku telah berhasil menguasai seluruh ilmu guruku, maka aku diperbolehkan pulang."
"Siapa gurumu?"
"Maaf! Guru melarangku menyebut nama nya."
"Tidak apa-apa."
"Ai Ling...."
Sie Keng Hauw menatapnya dalam-dalam.
"Sayang sekali, aku harus segera pulang. Kita berpisah di sini."
"Yaaah!"
Lie Ai Ling menghela nafas panjang "Baru bertemu sudah mau berpisah! Kapan kita akan berjumpa kembali?"
"Itu...."
Sie Keng Hauw mengerutkan kening "Oh ya! Aku harus ke mana mencarimu?"
"Kalau engkau ingin menemuiku, carilah aku di markas pusat Kay Pang!"
Sahut Lie Ai Ling.
"Aku menantimu di sana."
"Baik."
Mendadak Sie Keng Hauw memegang bahu gadis itu.
"Kita akan berjumpa lagi, aku pasti ke markas pusat Kay Pang menemuimu."
"Aku...."
Lie Ai Ling menundukkan kepala, namun bergirang dalam hati karena pemuda itu memegang bahunya.
"Aku pasti menantimu."
"Baiklah,"
Ucap Sie Keng Hauw.
"Sampai jumpa?"
"Sampai jumpa, Keng Hauw!"
Sahut Lie Ai ling sambil mendongakkan kepala memandangnya.
"Aku pasti menantimu di markas pusat Kay Pang."
"Ai Ling! Sampai jumpa...."
Sie Keng Hauw meleset pergi. Walau pemuda itu sudah tidak kelihatan, namun Lie Ai Ling masih berdiri termangu-mangu disitu.
"Ai Ling!"
Yatsumi menepuk bahunya sambil 'tersenyum.
"Pemuda itu sudah pergi jauh, engkau k masih melamun di sini?"
"Haah...?"
Lie Ai Ling tersentak kaget, wajah-nya tampak kemerah-merahan.
"Aku____"
"Aku tahu...."
Yatsumi tertawa kecil.
"Engkau sudah jatuh cinta kepada pemuda itu. Kelihatannya dia memang pemuda baik, sabar, jujur dan tampan."
"Benar!"
Lie Ai Ling mengangguk lalu bergumam.
"Sie Keng Hauw! Sei Keng Hauw...."
"Eh?"
Yatsumi menatapnya heran.
"Ai Ling kenapa engkau?"
"Rasanya aku pernah mendengar nama tersebut,"
Sahut Lie Ai Ling sambil berpikir.
"Hanya saja aku lupa dengar di mana?"
Siapa sebenarnya Sie Keng Hauw itu?
Di tidak lain adalah putra Sie Kuang Han, saudara Lu Hui San.
Ketika Tio Bun Yang, Lu Hui Sai-Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling berada di rumah Sie Kuang Han, orang tua itu pernah menyebut nama putranya yaitu Sie Keng Hauw Namun, Lie Ai Ling sudah tidak ingat itu lagi.
"Ai Ling...."
Yatsumi menatapnya dalam-dalam.
"Kelihatannya pemuda itu juga sangat tertarik kepadamu."
"Oh?"
Lie Ai Ling tertawa gembira.
"Bagimana menurutmu, apakah aku cocok dengan dia "Kalian berdua memang cocok,"
Sahut Yatsumi sambil tertawa.
"Ai Ling, aku mengucapkan selamat kepadamu! Engkau telah bertemu p muda idaman hatimu, aku turut gembira."
"Terimakasih!"
Ucap Lie Ai Ling.
"Yatsumi mari kita melanjutkan perjalanan agar bisa cepat tiba di Pulau Hong Hoang To!"
"Baik."
Yatsumi mengangguk.
Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan Kali ini dalam perjalanan wajah Sie Keng Hauw terus bermunculan di pelupuk mata Lie Ai Ling, sehingga membuat gadis itu tersenyum sendiri.
Diam-diam Yatsumi tertawa geli, namun sikap Lie Ai Ling justru membuatnya teringat kepada pemuda idaman hatinya yang di Jepang.
---ooo0dw0ooo---Bagian ke tiga puluh delapan Berangkat ke Gunung Thian San Tiga hari setelah Lie Ai Ling mengantar Yatsumi ke Pulau Hong Hoang To, Siang Koan Goat Nio yang berada di markas pusat Kay Pang mulai tak sabar menunggu, sebab Tio Bun Yang, yang dirindukannya masih belum muncul.
Hal itu membuat gadis tersebut sering duduk melamun.
Sikapnya itu tidak terlepas dari mata Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.
"Goat Nio...."
Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong mendekati gadis yang sedang duduk melamun di ruang tengah itu.
"Kakek Lim, Kakek Gouw!"
Panggil Siang Koan Goat Nio, kemudian menundukkan kepala.
"Goat Nio!"
Lim Peng Hang menatapnya seraya bertanya.
"Kenapa engkau duduk melamun di sini? Apa yang engkau pikirkan?"
"Aku...."
Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang.
"Memikirkan Bun Yang?"
Tanya Lim Peng Hang lembut.
"Ya!"
Siang Koan Goat Nio mengangguk "Aku mencemaskannya, kenapa hingga saat ini dia belum ke mari? Mungkinkah telah terjadi sesuatu atas dirinya?"
"Engkau tidak usah cemas,"
Ujar Lim Peng Han menghiburnya.
"Dia tidak akan terjadi suatu apa pun, percayalah!"
"Tapi...."
"Goat Nio...."
Gouw Hang Tiong tersenyum "Aku yakin dia sedang merawat monyet bulu putih itu di Thian San, maka dia belum ke mari."
"Tapi sudah sekian lama."
"Engkau tahu, kan?"
Gouw Han Tiong ter senyum lembut.
"Monyet bulu putih itu terluka parah, tentunya membutuhkan waktu untuk merawatnya."
"Terus terang, aku...."
"Katakanlah!"
Ujar Lim Peng Hang dan menambahkan.
"Bun Yang adalah cucuku, maka engkau jangan ragu mengutarakan sesuatu ke padaku!"
"Kakek Lim, aku ingin menyusulnya."
"Apa?"
Lim Peng Hang terbelalak.
"Maksud mu ingin ke Gunung Thian San?"
"Ya."
Siang Koan Goat Nio mengangguk.
"Goat Nio____"
Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau harus tahu! Gunung thian San begitu luas dan dingin sekali, bagaimana mungkin engkau mencarinya di sana?"
"Tentunya lebih baik aku mencarinya di sana dari pada terus melamun di sini."
"Goat Nio!"
Lim Peng Hang menatapnya tajam.
"Pikirkan baik-baik jangan terlampau cepat mengambil keputusan! Lagi pula bukankah engkau harus menunggu Ai Ling?"
"Kakek Lim, aku sudah mengambil keputusan iu,"
Ujar Siang Koan Goat Nio sungguh-sungguh. Besok pagi aku akan berangkat ke Gunung Thian san."
"Goat Nio...."
Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku tidak bisa melarangmu, kalau memang engkau sudah mengambil keputusan itu, besok pagi engkau boleh berangkat kegunung Thian San!"
"Terimakasih, Kakek Lim!"
"Kalau engkau bertemu dengan Bun Yang, ajak dia ke mari!"
Pesan Lim Peng Hang.
"Sebaliknya apabila engkau tidak berhasil mencarinya ke Gunung Thian San, engkau harus segera Kembali."
"Ya,"
Siang Koan Goat Nio mengangguk.
Keesokan harinya, berangkatlah Siang Koan Goat Nio ke Gunung Thian San.
Seandainya ia bisa bersabar dua tiga hari.
gadis itu pasti bertemu Tio Bun Yang.
Akan tetapi, saking rindunya kepada Tio Bun Yang membuatnya tidak bisa sabar menunggu, maka ia mengambil keputusan berangkat ke Gunung Thian San.
Tiga hari kemudian, sampailah Tio Bun Yang di markas pusat Kay Pang.
Begitu melihat pemuda itu, Lim Peng Hang langsung menghela nafai panjang.
"Kakek...."
Tio Bun Yang tercengang.
"Kenapa Kakek menghela nafas?"
"Kakek tahu, engkau ke mari ingin menemui Goat Nio. Tapi...."
Lim Peng Hang menggeleng gelengkan kepala.
"Kenapa dia?"
Tanya Tio Bun Yang tegan.
"Telah terjadi sesuatu atas dirinya?"
"Dia sudah berangkat ke Gunung Thian Sal tiga hari yang lalu."
Lim Peng Hang memberitahu kan.
"Maksudnya menyusulmu. Kakek menyuruhnya bersabar menunggu di sini, namun dia ber keras berangkat kc Gunung Thian San."
"Lalu adik Ai Ling, apakah dia juga ikut keunung Thian San?"
Tanya Tio Bun Yang.
"Ai Ling mengantar Yatsumi ke Pulau Hong Hoang To,"
Sahut Lim Peng Hang melanjutkan.
"Sedangkan Goat Nio menunggumu di sini. Namun dia tidak sabar menunggu akhirnya mengambil keputusan berangkat ke Gunung Thian San. Kakek tahu, dia rindu sekali kepadamu.
"Kakek, siapa Yatsumi itu?"
"Gadis Jepang."
Lim Peng Hang menjelaskan. 'Ketika Goat Nio dan Ai Ling menuju ke mari, ketika tengah jalan bertemu gadis Jepang itu, yang ternyata putri Michiko, kenalan ayahmu."
"Kenapa Adik Ai Ling mengantarnya ke Pulau Hong Hoang To?"
"Yatsumi ingin belajar ilmu silat kepada ayah-mu, karena kedua orang tuanya mati dibunuh ketua ninja..."
Tutur Lim Peng Hang tentang Michiko, ibu Yatsumi.
"Oooh!"
Tio Bun Yang manggut-manggut setelah mendengar penuturan itu.
"Bun Yang!"
Lim Peng Hang menatapnya seraya bertanya.
"Bagaimana keadaan kauw heng? Kenapa engkau tidak membawanya ke mari?"
"Kakek...."
Mata Tio Bun Yang mulai basah. 'Kauw heng sudah mati."
"Haaah?"
Lim Peng Hang terperanjat, kemudian wajahnya berubah murung.
"Itu sungguh di luar dugaan!"
"Kauw heng terkena pukulan yang kan Seng Hwee Sin Kun, padahal pukulan itu diarahkan padaku. Kauw heng telah berkorban demi menyelamatkan nyawaku."
"Aaaah...!"
Lim Peng Hang menghela nafai panjang.
"Oh ya! Selama ini engkau berada di mana?"
"Aku berada di dalam goa es, di Gunung Thian San..."
Jawab Tio Bun Yang dan menutur.
"Oooh!"
Lim Peng Hang manggut-manggul "Jadi kini engkau telah berhasil menguasai ilmu Kan Kun Taylo Im Kang?"
"Ya, Kakek."
Tio Bun Yang mengangguk dan menutur lagi tentang Bokyong Sian Hoa, putri Manchuria itu.
"Pantas engkau tidak ke mari, ternyata engkau membawa putri Manchuria itu ke Pulau Hong Hoang To menemui ayahmu!"
Ujar Lim Peng Hang.
"Tapi Goat Nio dan Ai Ling malah berangkat ke mari, jadi kalian selisih jalan."
"Kakek, aku mohon pamit untuk berangkat ke Gunung Thian San. Aku harus segera menyusul Goat Nio."
"Itu____"
Lim Peng Hang berpikir sejenak, lama sekali barulah mengangguk seraya berkata.
"Baik lah. Engkau boleh berangkat sekarang, mudah mudahan engkau berhasil menyusulnya!"
"Terimakasih, Kakek!"
Ucap Tio Bun Yang Pemuda itu segera meninggalkan markas pusat Kay Pang, dan langsung berangkat ke Gunung thian San.
Setelah berada di tempat sepi.
barulah ia menggunakan ginkangnya.
---oo0dw0ooo---Sementara itu.
Lie Ai Ling dan Yatsumi sudah tiba di Pulau Hong Hoang To.
Tentunya mengherankan para penghuni pulau itu, dan Kou Hun bijin langsung menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Kenapa engkau pulang seorang diri? Di mana goat Nio? Siapa gadis berpakaian aneh ini? Kenapa engkau membawanya ke mari?"
"Aduuuh!"
Keluh Lie Ai Ling sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku harus bagaimana menjawabnya?"
"Ai Ling,"
Sahut Tio Hong Hoa sambil memandangnya.
"Jawablah pertanyaan-pertanyaan itu satu persatu!"
"Ibu, aku sudah lupa apa yang ditanyakan Bibi Mijin,"
Ujar Lie Ai Ling.
"Langsung mengajukan begitu banyak pertanyaan sih!"
"Baik."
Kou Hun Bijin manggut-manggut.
"Aku akan mengajukan satu persatu pertanyaanku. Kenapa engkau pulang seorang diri?"
"Aku mengantar Yatsumi ke mari."
"Di mana Goat Nio?"
"Siapa gadis berpakaian aneh ini?"
"Dia berada di markas pusat Kay Pang."
"Dia bernama Yatsumi, gadis berasal dai Jepang."
"Kenapa engkau membawanya ke mari?"
"Dia ingin bertemu Paman Cie Hiong, maka aku membawanya ke mari."
"____"
Ketika Kou Hun Bijin ingin bertanyi lagi, mendadak Sam Gan Sin Kay tertawa gelak "Bijin! Jangan terus bertanya, kapan gilian Cie Hiong bertanya kepadanya?"
Ujar pengemi tua itu.
"Gadis Jepang itu ke mari menemuinya biar Cie Hiong yang bertanya."
"Pengemis bau!"
Kou Hun Bijin melotot.
"Memangnya aku tidak boleh aku mewakili Cie Hong untuk bertanya ?"
"Tentu boleh. Tapi...."
Sam Gan Sin Kj tertawa lagi.
"Ha ha ha! Apakah engkau tidak merasa capek terus-menerus bertanya?"
"Justru tidak."
Kou Hun Bijin tertawa nyaring kemudian memandang Tio Cie Hiong seraya berkata.
"Adik, sekarang engkau boleh bertanya padanya."
"Biar Kakak saja yang bertanya,"
Sahut Cie Hiong sambil tersenyum.
"Kalau aku terus-menerus bertanya, pengemis bau yang mau mampus itu pasti bertambah tidak senang,"
Ujar Kou Hun Bijin.
"Maka lebih baik engkau saja yang bertanya."
Tio Cie Hiong mengangguk, lalu memandang Yatsumi seraya bertanya.
"Engkau berasal dari Jepang?"
"Maaf!"
Ucap Yatsumi sambil menatap Tio Cie Hiong.
"Apakah aku sedang berhadapan dengan Paman Cie Hiong?"
"Betul."
"Paman, terimalah hormatku!"
Yatsumi segera membungkukkan badannya, kemudian memberitahukan.
"Aku memang berasal dari Jepang, namaku Yatsumi."
"Siapa yang menyuruhmu ke mari menemuiku?"
Tanya Tio Cie Hiong heran.
"Ibuku,"
Jawab Yatsumi dengan air mata berlinang-linang.
"Ibuku bernama Michiko."
"Oh?"
Tio Cie Hiong. Lim Ceng Im dan lainnya terbelalak. Mereka memang kenal Michiko.
"Duduklah, Yatsumi!"
Ujar Lim Ceng Im.
"Terimakasih, Bibi!"
Yatsumi duduk dan memberitahukan.
"Sebelum menghembuskan nafas penghabisan, ibuku berpesan kepadaku harus ke Tionggoan mencari Paman."
"Jadi...."
Tio Cie Hiong mengerutkan kening. 'Ibumu sudah meninggal?"
"Ya."
Yatsumi terisak-isak.
"Ibu dan ayahku meninggal karena dibunuh oleh ketua ninja baru."
"Ketua ninja baru?"
Tio Cie Hiong terkejut.
"Siapa ketua ninja baru itu?"
"Dia adik seperguruan ketua ninja lama, nama nya Takara Nichiba. Kepandaiannya tinggi sekali maka ibuku menyuruhku kabur ke Tionggoan untuk mencari Paman. Aku pun disuruh belajar ilmu silat kepada Paman agar bisa membalas dendam,"
Ujar Yatsumi dengan air mata berderai derai.
"Aaaah...!"
Tio Cie Hiong menghela nafas panjang.
"Itu merupakan kejadian yang sungguh di luar dugaan!"
"Oh ya!"
Kou Hun Bijin menatapnya seraya bertanya.
"Bagaimana engkau bisa bertemu Ai Ling dan putriku?"
"Secara kebetulan."
Tutur Yatsumi dan menambahkan.
"Setelah itu, Ai Ling dan Goat Nio mengajakku ke markas pusat Kay Pang. Sesudah berunding, akhirnya Ai Ling mengantarku kemari menemui Paman Cie Hiong."
"Ooooh!"
Kou Hun Bijin manggut-manggut kemudian bertanya kepada Ai Ling.
"Kalian belum bertemu Bun Yang?"
"Belum,"
Jawab Lie Ai Ling.
"Dia tidak berada di markas pusat Kay Pang, mungkin masih berada di Gunung Thian San!"
"Itu gara-gara kalian tidak bisa bersabar,"
Tegur Kou Hun Bijin.
"Maka kalian tidak bertemu Bun Yang."
"Memangnya kenapa?"
Lie Ai Ling bingung "Setelah kalian berangkat ke Tionggoan, beberapa hari kemudian Bun Yang justru pulang."
Tio Hoang Hoa memberitahukan.
"Dia pulang bersama Bokyong Sian Hoa."
"Oh?"
Lie Ai Ling terbelalak.
"Ibu, siapa Bokyong Sian Hoa itu?"
"Mantan putri Manchuria."
Tio Hoang Hoa menjelaskan.
"Ayahnya adalah raja Manchuria, teman baik pamanmu, tapi kedua orang tuanya sudah meninggal."
"Oooh!"
Lie Ai Ling manggut-manggut.
"Jadi kakak Bun Yang sudah berangkat ke Tionggoan?"
"Ya."
Tio Hoang Hoa mengangguk.
"Kalau begitu...."
Lie Ai Ling tersenyum.
"Dia pasti bertemu Goat Nio di markas pusat Kay Pang, sebab Goat Nio menunggu di sana."
"Syukurlah!"
Ucap Kou Hun Bijin sambil tertawa gembira.
"Legalah hatiku!"
Sementara Tio Cie Hiong terus memandang Yatsumi. Ia merasa iba pada gadis Jepang itu.
"Yatsumi,"
Tanya Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"Jadi engkau ingin belajar ilmu silat?"
"Ya, Paman,"
Sahut Yatsumi sambil menganggukkan kepala.
"Baiklah."
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Aku akan mengajarmu ilmu silat tingkat tinggi.' "Terimakasih, Paman!"
Ucap Yatsumi gembira. 'Setelah aku berhasil menguasai ilmu silat tingkat tinggi, aku akan segera pulang ke Jepang untuk membalas dendam kedua orang tuaku."
"Oh ya!"
Tio Cie Hiong menatapnya seraya bertanya.
"Engkau pernah belajar ilmu silat kepada ibumu?"
"Ibuku mengajarku ilmu Giok Siauw Bit Ciat Kang Khi. Katanya Paman yang mengajarkan padanya,"
Ujar Yatsumi.
"Betul."
Tio Cie Hiong manggut-manggut dan menambahkan.
"Besok aku akan mulai menggemblengmu."
"Terimakasih, Paman!"
Ucap Yatsumi, kemu dian melirik Lie Ai Ling seraya berkata.
"Paman, di tengah jalan kami dihadang beberapa panjahat Untung muncul seorang pendekar muda membantu kami. Pendekar muda itu tampan sekali."
"Oh?"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Siapa pendekar muda itu?"
"Dia bernama Sie Keng Hauw,"
Jawab Yatsumi memberitahukan.
"Kelihatannya dia dan Ai Ling sudah saling jatuh hati."
"Yatsumi!"
Wajah Lie Ai Ling kemerah-merahan.
"Jangan omong yang bukan-bukan! Aku akan marah lho!"
"Aku berkata sesungguhnya, kenapa engkau akan marah?"
Yatsumi heran.
"Seharusnya engkau berterus terang kepada orang tuamu."
"Eh? Engkau...."
Lie Ai Ling melotot.
"Kok engkau banyak mulut sih?"
"Ai Ling!"
Lie Man Chiu menatapnya tajam "Bagaimana pemuda itu, apakah dia tergolong emuda baik, jujur, ramah tamah dan sopan?"
"Ayah...."
Wajah Lie Ai Ling bertambah merah.
"Hi hi hi!"
Mendadak Kou Hun Bijin tertawa berkikikan.
"Man Chiu, kenapa engkau begitu kalut?"
"Ai Ling adalah putriku satu-satunya, tentu-iya aku kalut karena dia sudah jatuh hati pada seorang pemuda,"
Sahut Lie Man Chiu sungguh-sungguh.
"Hi hi hi!"
Kou Hun Bijin tertawa cekikikan lagi.
"Engkau memang keterlaluan dan tidak bisa bersabar. Bukankah engkau boleh bertanya kepadanya di dalam kamar? Bertanya secara terang-terangan di sini sama juga mempermalukannya."
"Benar."
Lie Man Chiu manggut-manggut.
"Sungguh mengagumkan!"
Ujar Sam Gan Sin Hay sambil tertawa gelak.
"Ha ha ha! Bahkan juga sungguh diluar dugaan. Kali ini Bijin bisa berpikir sampai sejauh itu."
"Memangnya aku tidak punya pikiran?"
Sahut ou Hun Bijin sambil melotot.
"Hm! Dasar pengemis bau!"
"Ha ha ha...!"
Sam Gan Sin Kay terus tertawa gelak, sedangkan Kou Hun Bijin pun terus melototinya.
"Oh ya!"
Mendadak Lie Ai Ling teringat suatu.
"Ayah, Ibu, ketika aku dan Goat Nio nuju markas pusat Kay Pang, di tengah jalan aku mendengar suara siulan aneh yang sangat menyeramkan. Setelah itu terdengar pula suara derap kaki kuda."
"Oh?"
Lie Man Chiu mengerutkan kening "Kemudian apa yang kalian lihat?"
"Kami melihat segerombolan orang menung gang kuda, mereka terus mengeluarkan siulan aneh yang menyeramkan, bahkan juga memakai kedok setan."
"Apa?"
Tio Tay Seng, majikan pulau Hong Hoang To itu tampak terkejut sekali.
"Mereka juga berpakaian serba putih?"
"Ya."
Lie Ai Ling mengangguk.
"Kui Bin Pang (Perkumpulan Muka Setan)!"
Seru Tio Tay Seng tak tertahan dan wajahnya tampak berubah.
"Mungkinkah mereka itu para anggota Kui Bin Pang?"
"Tio Tocu!"
Kou Hun Bijin menatapnya.
"Engkau tahu jelas tentang perkumpulan itu?"
"Aku cuma dengar dari almarhum ayahku!"
Sahut Tio Tay Seng dan menutur.
"Ketika ayahku baru muncul di Tionggoan menggunakan Hong Hoang Leng, di luar perbatasan dekat gurun pasir Sih Ih juga muncul sebuah perkumpulan misteri yang para anggota maupun ketuanya memakai kedok setan, dan berpakaian serba putih. Kemunculan mereka pasti disertai dengan suara siulan aneh yang menyeramkan. Mereka membantai ma nusia seperti membunuh semut. Para anggota perkumpulan itu rata-rata berkepandaian tinggi sekali, apalagi ketuanya."
"Aku pernah dengar mengenai Kui Bin Pang itu, kira-kira sudah hampir seratus tahun yang lalu,"
Ujar Kou Hun Bijin.
"Tapi Kui Bin Pang itu cuma bergerak di luar perbatasan, tidak pernah memasuki daerah Tionggoan."
"Benar."
Tio Tay Seng manggut-manggut.
"Pada waktu itu, ayahku memperoleh informasi tentang Kui Bin Pang, maka segera berangkat ke kota Giok Bun Kwan (Kota Perbatasan). Namun ketika sampai di sebuah desa, ayahku justru malah bertemu dengan ketua Kui Ban Pang."
"Oh?"
Sam Gan Sin Kay tertarik.
"Lalu apa yang terjadi?"
"Ternyata ketua Kui Bin Pang memasuki daerah Tionggoan dengan maksud menyelidiki keadaan rimba persilatan Tionggoan. Setelah itu, barulah ia akan membawa para anggotanya untuk menyerbu ke rimba persilatan Tionggoan,"
Ujar Tio Tay Seng memberitahukan.
"Oleh karena itu, ayahku menantangnya bertarung."
"Mereka berdua jadi bertarung?"
Tanya Kou iiun Bijin.
"Tentu jadi,"
Jawab Tio Tay Seng dan melanjutkan.
"Sebab ketua Kui Bin Pang bersifat angkuh, maka terjadilah pertarungan yang amat seru dan sengit. Beberapa ratus jurus kemudian, ayahku berhasil memukulnya hingga jatuh ke jurang. Namun dada ayahku juga tertendang oleh tendangannya, sehingga membuat ayahku mengalami luka dalam yang cukup parah. Beberapa bulan kemudian, barulah ayahku bisa pulih.' "Pantas sejak itu tiada kabar beritanya mengenai Kui Bin Pang yang misteri itu!"
Ujar Kou Hun Bijin. 'Ternyata ayahmu berhasil memukul ketua itu jatuh ke jurang!"
"Tio Tocu,"
Tanya Kim Siauw Suseng.
"Tentang kejadian itu tiada seorang pun yang mengetahuinya?"
"Memang tidak,"
Jawab Tio Tay Seng.
"Bahkan para anggota Kui Bin Pang pun tidak tahu tentang itu"
"Kalau begitu...."
Tio Cie Hiong mengerutkan kening.
"Kenapa kini malah muncul para anggota Kui Bin Pang itu?"
"Aku pun tidak habis pikir,"
Sahut Tio 'Im Seng sambil menggeleng-gelengkan kepala, kemudian menambahkan.
"Para anggota Kui Bin Pang itu telah muncul, pertanda perkumpulan itu sudah punya ketua. Karena itu...."
"Hi hi hi!"
Kou Hun Bijin tertawa nyaring "Tio Tocu, engkau khawatir perkumpulan itu akab ke mari menuntut balas?"
"Kalau terjadi itu, bukankah ketenangan Pulau Hong Hoang To ini akan terusik?"
Sahut Tay Seng sambil menghela nafas panjang.
"Kita semua ingin hidup tenang dan damai di sini.' "Paman,"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Kui Bin Pang itu sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi atas diri ketua yang dulu. tentunya mereka tidak akan ke mari menuntut balas."
"Tapi biar bagaimanapun, kita harus berjaga-jaga,"
Sahut Tio Tay Seng sungguh-sungguh.
"Ha ha ha!"
Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.
"Tio Tocu, kalau Kui Bin Pang ke mari, kita habiskan saja mereka."
"Pengemis bau...."
Tio Tay Seng menggeleng-geengkan kepala.
"Engkau harus tahu, para anggota Kui Bin Pang dan ketuanya berkepandaian tinggi sekali. Terus terang, kemungkinan besar aku bukan tandingan ketuanya."
"Hi hi hi!"
Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.
"Tio Tocu, kenapa engkau berubah menjadi pengecut?"
"Bijin!"
Tio Tay Seng tersenyum getir.
"Aku tidak berubah menjadi pengecut, melainkan memikirkan ketenangan pulau ini."
"Sudahlah!"
Tandas Kim Siauw Suseng.
"Belum tentu mereka itu para anggota Kui Bin Pang. kalaupun benar, kita tidak usah takut."
"Tapi...."
Tio Tay Seng menghela nafas panjang.
"Apabila Kui Bin Fang muncul di rimba persilatan, pasti akan terjadi pula bencana di rimba persilatan."
"Paman,"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Itu urusan rimba persilatan, kita tidak usah mencampurinya."
"Ngmmm!"
Tio Tay Seng manggut-manggut.
Sementara Lie Ai Ling diam saja dengan pikiran menerawang.
Apa yang mereka bicarakan bagaikan angin lalu, sebab pikirannya terus mengarah pada Sie Keng Hauw yang telah mencuri hatinya.
"Ai Ling!"
Tio Hong Hoa menatapnya seraya bertanya.
"Kenapa engkau melamun. Apa yang engkau pikirkan?"
"Ibu...."
Wajah Lie Ai Ling agak kemerah merahan.
"Yatsumi tidur di kamar mana?"
"Itu..."
Pikir Tio Hong Hoa sejenak.
"Sekamar saja dengan Hui San dan Bokyong Sian Hoa."
"Kalau begitu, aku akan mengantarnya ke kamar untuk beristirahat,"
Ujar Lie Ai Ling sambil menarik Yatsumi ke dalam. Perlahan-lahan Lie Ai Ling membuka pintu kamar itu, dilihatnya Lu Hui San dan seorani gadis duduk di situ.
"Ai Ling"
Panggil Lu Hui San gembira.
"Hui San!"
Lie Ai Ling menggenggam tangannya erat-erat.
"Engkau kok agak kurusan?"
"Aku...."
Lu Hui San menghela nafas panjang "Oh ya, mari kuperkenalkan! Ini adalah Bokyon Sian Hoa, berasal dari Manchuria."
"Selamat bertemu, Sian Hoa!"
Ucap Lie ai Ling sambil memberi hormat, lalu memperkenalkan Yatsumi.
"Dia berasal dari Jepang, namanya Yatsumi"
"Selamat bertemu Nona Hui San dan Non Sian Hoa!"
Ucap Yatsumi sambil membungkuk badannya.
"Hi hi hi!"
Bokyong Sian Hoa tertawa geli, sekaligus balas memberi hormat dengan cara menjura.
"Kenapa engkau membungkukkan badanmu dalam-dalam begitu?"
"Ini cara Bangsa Jepang memberi hormat,"
Sahut Yatsumi memberitahukan sambil tersenyum.
"Ooh!"
Bokyong Sian Hoa manggut-manggut, kemudian bertanya kepada Lie Ai Ling.
"Engkau bertemu Kakak Bun Yang?"
"Tidak."
Lie Ai Ling menggelengkan kepala.
"Tapi dia bertemu seorang pemuda tampan. Mereka berdua sudah saling jatuh hati,"
Sela Tatsumi memberitahukan.
"Eh? Engkau kok begitu banyak mulut sih?"
Tegur Lie Ai Ling sambil melotot.
"Ai Ling!"
Lu Hui San tampak gembira.
"Siapa pemuda itu? Betulkah kalian berdua sudah saling jatuh hati?"
"Dia bernama Sie Keng Hauw, kami berdua...."
Lie Ai Ling tidak melanjutkan ucapannya, Mainkan tampak tersipu.
"Apa?"
Lu Hui San tersentak.
"Pemuda itu bernama Sie Keng Hauw?"
"Engkau kenal dia?"
Lie Ai Ling heran.
"Mungkinkah dia putra pamanku?"
Sahut Lu Hui San.
"Tentunya engkau masih ingat, pamanku adalah Sie Kuang Han."
"Ooooh!"
Lie Ai Ling manggut-manggut.
"Aku ingat sekarang, pantas aku merasa pernah mendengar nama itu! Ternyata dia putra pamanmu Sungguh di luar dugaan!"
"Ai Ling..."
Bisik Lu Hui San.
"Ingat, engkau tidak boleh membuka tentang hubunganku dengan Lu Thay Kam!"
"Jadi...."
Lie Ai Ling terbelalak.
"Hingga kini dia belum tahu ayah angkatmu adalah Lu Tha Kam?"
"Dia sama sekali tidak tahu,"
Sahut Lui Hu San dengan suara rendah.
"Kalau dia tahu, entah apa yang akan terjadi? Sebab dia sangat men dendam kepada ayah angkatku itu."
"Jangan khawatir!"
Lie Ai Ling tersenyum "Aku tidak akan memberitahukan tentang itu. oh ya, ayahku sudah tahu?"
"Tentu, tahu,"
Sahut Lu Hui San.
"Karena ayahmu mantan wakil ayah angkatku."
"Oh?"
Lie Ai Ling terbelalak.
"Ayahmu..."
Tutur Lu Hui San dan menambahkan.
"Namun ayahmu sama sekali tidak membuka rahasiaku itu."
"Oooh!"
Lie Ai Ling manggut-manggut.
"Baik lah. Aku akan ke kamar untuk beristirahat sebentar. Kalau engkau berjumpa Keng Hauw lalu ajaklah dia ke mari!"
"Baik."
Lie Ai Ling mengangguk, lalu melangkah ke kamarnya. Begitu memasuki kamarnya ia terbelalak karena melihat kedua orang tua sudah menunggu di situ.
"Ayah, Ibu!"
"Ai Ling,"
Sahut Tio Hong Hoa sambil tersenyum lembut.
"Duduklah!"
Lie Ai Ling duduk di sebelah ibunya dengan kepala tertunduk. Gadis itu yakin ibunya akan tanya ini dan itu kepadanya.
"Ai Ling!"
Tio Hong Hoa menatapnya seraya bertanya.
"Betulkah engkau bertemu seorang pemuda, bahkan kalian berdua sudah saling jatuh hati?"
"Ya."
Lie Ai Ling mengangguk malu-malu.
"Siapa pemuda itu?"
Tanya Lie Man Chiu.
"Apakah dia pemuda yang baik?"
"Dia bernama Sie Keng Hauw. Menurut aku dia memang pemuda yang baik,"
Jawab Lie Ai ling dan menambahkan.
"Justru sungguh di luar dugaan, ternyata pemuda itu saudara Hui San."
"Oh?"
Lie Man Chiu tertegun.
"Dari mana engkau tahu?"
"Tadi Hui San memberitahukan, maka aku pun ingat...."
Lie Ai Ling memberitahukan sekaligus menutur tentang itu.
"Ooooh!"
Lie Man Chiu manggut-manggut sambil tersenyum, kemudian berpesan.
"Ai Ling, engkau tidak boleh memberitahukan kepada Hay Thian bahwa Lu Thay Kam adalah ayah angkat Hui San."
"Tadi Hui San juga berpesan begitu,"
Ujar Lie Ai Ling melanjutkan.
"Aku pun tak menyangka jikalau Ayah pernah jadi wakil ayah angkatnya."
"Ai Ling...."
Lie Man Chiu menghela nafas panjang.
"Itu telah berlalu, jangan diungkit lagu"
"Ya, Ayah."
Lie Ai Ling mengangguk.
"Ai Ling!"
Tio Hong Hoa menatapnya lembut "Apabila engkau bertemu lagi dengan pemuda itu, ajaklah dia ke mari menemui ibu dan ayah!"
"Ibu...."
Wajah Lie Ai Ling berseri.
"Besok aku akan berangkat ke markas pusat Kay Pang sebab Goat Nio masih menunggu di sana. Lagi pula Keng Hauw akan ke markas pusat Kay Pang menemuiku. Aku... aku harus segera berangkat ke sana."
"Baik,"
Pesan Lie Man Chiu sungguh-sungguh "Setelah kalian berjumpa, ajaklah dia ke mari!"
"Ya, Ayah."
Lie Ai Ling mengangguk. Keesokan harinya, Lie Ai Ling berpamit ke pada semua orang.
"Ai Ling, kalau engkau bertemu Bun Yang dan Goat Nio, ajaklah mereka pulang!"
Pesan Lim Ceng Im.
"Seandainya cuma bertemu Goat Nio...."
Kou Hun Bijin juga ikut berpesan pada gadis itu "Biarlah dia tetap di markas pusat Kay Pang menunggu Bun Yang."
"Ya."
Lie Ai Ling mengangguk.
"Ai Ling!"
Sam Gan Sin Kay menatapnyi seraya berkata.
"Sampaikan pesanku kepada Peng Hang, bahwa menyuruh dia menyelidiki Kui Biu Pang!"
Lie Ai Ling mengangguk lagi, dan setelah itu barulah berangkat. Lie Man Chiu, Tio Hong Hoa, Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im mengantarnya sampai di luar rumah.
"Syukurlah dia sudah punya kekasih!"
Ucap m Cie Hiong setelah Lie Ai Ling tidak kelihatan.
"Memang sungguh di luar dugaan!"
Sahut Lie lan Chiu sambil tersenyum.
"Pemuda itu saudara Li Hui San!" 'Oh, ya?"
Tio Cie Hiong tertegun.
"Kok engkau tahu?"
"Ai Ling yang beritahukan,"
Sahut Lie Man hiu menjelaskan.
"Pemuda itu bernama Sie Keng Kauw, putra Sie Kuang Han, paman Lu Hui San."
"Aku jadi bingung nih,"
Ujar Lim Ceng Im dengan kening berkerut.
"Hui San bermarga Lu, sedangkan Keng Hauw bermarga Sie. Kok ayah Seng Hauw adalah paman Hui San?"
"Perlu kuberitahukan..."
Ujar Lie Man Chiu n menutur, kemudian menambahkan.
"Kini kalian sudah tahu ayah angkat Hui San adalah Lu lay Kam, namun jangan menceritakan kepada Hay Thian!"
"Ooh!"
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Tenyata begitu! Baiklah. Kami tidak akan menceritakan tentang itu kepada Hay Thian."
"Tapi...."
Lim Ceng Im mengerutkan kening.
"Kelak Hay Thian pasti mengetahuinya."
"Itu urusan kelak, lagi pula Hay Thian mungkin sudah mencintai Hui San,"
Sahut Tio Hong Hoa "Mudah-mudahan!"
Ucap Tio Cie Hiong sambil menghela nafas panjang.
"Kini yang kupikirkan adalah Kui Bin Pang itu." ---ooo0dw0oo---Bagian ke tiga puluh sembilan Menanti dengan penuh kesabaran Di ruang depan markas pusat Kay Pang, tampah Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong sedang duduk sambil bercakapcakap.
"Entah Bun Yang berhasil menyusul Goat Nio apa tidak?"
Ujar Lim Peng Hang sambil menghela nafas panjang.
"Aku justru khawatir mereka tidak bertemu"
Sahut Gouw Han Tiong.
"Sebab Gunung Thian San begitu luas, tinggi dan udaranya dingin. Cara bagaimana Bun Yang bisa mencarinya?"
"Itu...."
Lim Peng Hang menggeleng-geleng kan kepala. Di saat bersamaan, muncul seorang pengemis tua menghadap mereka. Setelah memberi hormat pengemis itu melapor.
"Pangcu, ada seorang pemuda berkunjung kemari."
"Oh?"
Lim Peng Hang tercengang.
"Siapa pemuda itu? Mau apa dia berkunjung ke mari?"
"Dia bernama Sie Keng Hauw, ingin menemui Lie Ai Ling."
"Kalau begitu..."
Pikir Lim Peng Hang sejenak.
"Suruh dia masuk!"
"Ya, Pangcu."
Pengemis tua itu memberi hormat lalu melangkah pergi. Tak lama muncullah Sie Keng Hauw.
"Pangcu!"
Sie Keng Hauw menjura.
"Terimalah hormatku!"
"Silakan duduk!"
Sahut Lim Peng Hang sambil menatapnya tajam.
"Terimakasih!"
Ucap Sie Keng Hauw lalu duduk.
"Anak muda, sebetulnya siapa engkau?"
Tanya iuw Han Tiong.
"Bolehkah engkau menjelas-n/ "Namaku Sie Keng Hauw. Aku pernah bertemu Lie Ai Ling dan gadis Jepang itu."
Sie Keng Hauw memberitahukan.
"Dia yang berpesan kepadaku ke mari menunggunya, karena dia sedang mengantar gadis Jepang itu ke Pulau Hong Hoang to "
"Ooh!"
Lim Peng Hang manggut-manggut.
"Tapi dia belum ke mari, mungkin masih dalam perjalanan menuju ke sini."
"Kalau begitu...."
Sie Keng Hauw bangkit dari tempat duduknya.
"Aku mohon diri saja. Beberapa hari kemudian, aku akan ke mari lagi."
"Begini saja,"
Ujar Gouw Han Tiong mengusulkan.
"Lebih baik engkau tinggal di sini menunggunya, jadi engkau tidak usah repot ke sana ke mari!"
"Tapi akan merepotkan Paman-paman."
"Tidak apa-apa."
Lim Peng Hang tertawa gelak.
"Engkau boleh tinggal di sini menunggu Ai Ling. Oh ya, bolehkah kami tahu siapa orang tuamu?"
"Ayahku bernama Sie Kuang Han."
Sie Keng Hauw memberitahukan.
"Ooh!"
Lim Peng Hang manggut-manggut.
"Oh ya!"
Sie Keng Hauw teringat sesuatu, dia langsung memberitahukan.
"Aku juga kenal Tio Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio. Mereka yang membawa Hui San pergi menemui ayahku.' "Oh?"
Wajah Lim Peng Hang berseri.
"Sungguh diluar dugaan, engkau juga kenal cucuku!"
"Apa?"
Sie Keng Hauw tertegun.
"Bun Yang adalah cucu Paman?"
"Benar."
Lim Peng Hang manggut-manggut "Ibunya adalah putriku. Oh ya, engkau juga kena! Lu Hui San?"
"Terus terang, Hui San dan aku bersaudara."
Sie Keng Hauw menjelaskan.
"Ayahku dan ayah nya adalah saudara kandung."
"Oooh!"
Lim Peng Hang manggut-manggut lagi.
"Ternyata begitu! Tak disangka Lu Thay Kam adalah ayah angkatnya!"
"Paman, apakah Bun Yang, Goat Nio dan Hui .San tidak berada di sini?"
Tanya Sie Keng Hauw.
"Mereka tidak berada di sini. Hui San berada di Pulau Hong Hoang To, sedangkan Bun Yang dan Goat Nio...."
Lim Peng Hang memberitahukan.
"Oooh!"
Sie Keng Hauw manggut-manggut.
"Keng Hauw,"
Ujar Gouw Han Tiong mendadak sambil tersenyum.
"Engkau jangan memanggil kami paman, harus memanggil kami kakek!"
"Maaf!"
Sie Keng Hauw cepat-cepat minta maaf.
"Aku sama sekali tidak berpikir sampai kesitu, harap Kakek Lim dan Kakek Gouw sudi memaafkan ku!"
"Ha ha ha!"
Gouw Han Tiong tertawa gelak.
"Tidak apaapa."
"Keng Hauw!"
Lim Peng Hang menatapnya lain.
"Setelah engkau bertemu Ai Ling, bagaimana perasaanmu terhadapnya?"
Tanyanya.
"Aku..."
Wajah Sie Keng Hauw agak kemerah-merahan.
"Terkesan baik terhadapnya."
"Juga jatuh hati padanya?"
Tanya Lim Peng Hang lagi sambil tersenyum.
"Ya."
Sie Keng Hauw mengangguk.
"Tapi____"
"Kenapa?"
Tanya Lim Peng Hang cepat.
"Aku tidak tahu apakah dia juga jatuh hati padaku apa tidak,"
Jawab Sie Keng Hauw sambil menghela nafas panjang.
"Keng Hauw,"
Ujar Gouw Han Tiong sungguh sungguh.
"Engkau harus bertanya kepadanya, jangan ragu dan merasa malu untuk bertanya!"
"Ya."
Sie Keng Hauw mengangguk.
"Ha ha ha!"
Lim Peng Hang tertawa gelak "Dia yang menyuruhmu menunggu di sini, tentunya dia juga telah jatuh hati padamu. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia akan menyuruh ke mari menunggunya?"
"Benar."
Wajah Sie Keng Hauw berseri. Lim Peng Hang dan Gouw Hang Tiong salii memandang, kemudian keduanya tertawa terbahak bahak.
"Ha ha ha! Ha ha ha...!"
Walau Sie Keng Hauw sudah menunggu beberapa hari, Lie Ai Ling yang ditunggunya belum juga kunjung datang.
Namun pemuda tersebut tidak putus harapan atau patah semangat, dia tetap menanti dengan penuh kesabaran.
Menyaksikan itu, diam-diam Lim Peng Han dan Gouw Han Tiong memujinya dalam hati Mereka berdua juga bersyukur dalam hati, karena Lie Ai Ling bertemu pemuda yang baik, sopan, tampan dan penuh kesabaran.
Hari ini Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong in Sie Keng Houw duduk di ruang depan sambil bercakap-cakap.
"Heran?"
Gumam Lim Peng Hang.
"Kenapa sudah lewat lima enam hari Ai Ling masih belum kemari?"
"Mungkin dia ada halangan,"
Sahut Sie Keng Hauw.
"Itu tidak apa-apa, aku akan tetap menunggunya di sini. Tapi apakah aku tidak akan Mengganggu Kakek Lim dan Kakek Gouw?"
"Tentu tidak."
Lim Peng Hang tersenyum.
"engkau boleh terus menunggunya di sini."
"Terimakasih, Kakek Lim."
Ucap Sie Keng lauw.
"Aku yakin..."
Ujar Gouw Han Tiong.
"Dia pasti ke mari."
Di saat bersamaan, tampak sosok bayangan berkelebat ke dalam, terdengar pula suara seruan nyaring.
"Kakek Lim! Kakek Gouw!"
"Ai Ling!"
Sahut Lim Peng Hang dan Gouw lan Tiong sambil tertawa.
"Ha ha ha! Akhirnya engkau muncul juga!"
"Ai Ling!"
Sie Keng Hauw buru-buru mendekatinya.
"Ai Ling!"
"Keng Hauw!"
Panggil Lie Ai Ling sambil memandangnya dengan mata berbinar-binar.
"Sudah lama engkau menungguku di sini?"
"Tidak begitu lama,"
Sahut Sie Keng Hau "Aku...."
"Tidak begitu lama, namun sudah enam hari dia menanti di sini,"
Ujar Lim Peng Hang memberitahukan.
"Akan tetapi, dia tetap menanti def ngan sabar sekali."
"Oh?"
Wajah Lie Ai Ling berseri.
"Terima kasih, Kakek Lim dan Kakek Gouw!"
"Lho?"
Lim Peng Hang heran.
"Kenapa engkau berterimakasih kepada kami?"
"Karena..."
Ujar Lie Ai Ling dengan suara rendah.
"karena Keng Hauw diperbolehkan tinggal di sini menungguku."
"Ooh!"
Lim Peng Hang manggut-manggut sambil tersenyum.
"Ai Ling, dia pernah bertanya sesuatu kepada kami!"
"Apakah yang dia tanyakan?"
"Dia bertanya, apakah engkau juga jatuh hati padanya?"
"Dia____"
Wajah Lie Ai Ling agak kemerah-merahan, namun hatinya berbunga-bunga.
"Kakek Lim, betulkah dia bertanya begitu?"
"Betul."
Lim Peng Hang mengangguk.
"Nah engkau harus memberitahukan kepadanya!"
"Kakek Lim____"
Lie Ai Ling cemberut.
"Baiklah."
Ling Peng Hang dan Gouw Hai Tiong bangkit dari tempat duduknya.
"Kami ke dalam, silakan kalian berdua saling mencurahkan isi hati masing-masing di sini!"
Usai berkata begitu, Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong berjalan ke dalam sambil tertawa gelak.
"Konyol sekali Kakek Lim dan Kakek Gouw!"
Ujar Lie Ai Ling dengan suara rendah.
"Mereka tidak konyol, melainkan demi kebaikan kita,"
Sahut Sie Keng Hauw.
"Ai Ling, mari kita duduk!"
Lie Ai Ling mengangguk. Mereka lalu duduk sambil saling memandang dengan mata berbinar-binar.
"Eeeh?"
Lie Ai Ling menengok ke sana ke mari.
"Kok Goat Nio tidak kelihatan?"
"Dia sudah berangkat ke Gunung Thian San."
Sie Keng Hauw memberitahukan.
"Apa?"
Lie Ai Ling tertegun.
"Kapan dia berangkat?"
"Entahlah."
Sie Keng Hauw menggelengkan kepala.
"Kakek Lim yang memberitahukan kepadaku."
"Aaah...!"
Keluh Lie Ai Ling sambil menghela nafas panjang.
"Kenapa dia tidak sabar menungguku?"
"Karena dia tak tahan menahan rindunya kepada Bun Yang,"
Ujar Sie Keng Hauw.
"Maka dia berangkat ke sana."
"Oooh!"
Lie Ai Ling manggut-manggut.
"Seandainya aku tidak muncul hari ini, bagaimana engkau?"
"Aku akan tetap menanti dengan penuh ke sabaran."
"Bagaimana kalau aku tidak muncul sama sekali?"
"Aku pasti menyusulmu ke Pulau Hong Hoan To,"
Ujar Sie Keng Hauw sungguh-sungguh.
"Namun dengan membawa kekecewaan."
"Lho?"
Lie Ai Ling terbelalak.
"Kenapa harus membawa kekecewaan?"
"Karena engkau tidak muncul di sini, berarti engkau sudah melupakan aku. Nah, bukankah aku akan kecewa sekali?"
"Keng Hauw...."
Lie Ai Ling tersenyum.
"Kini aku sudah berada di sisimu, bagaimana perasaan mu?"
"Aku gembira sekali,"
Sahut Sie Keng Hauw kemudian mendadak menggenggam tangan gadis itu erat-erat.
"Ai Ling, engkau jatuh hati padaku?"
"Ng!"
Lie Ai Ling mengangguk perlahan.
"Engkau?"
"Sama."
Sie Keng Hauw tersenyum lembut "Oh ya! Ternyata engkau teman baik Hui San itu sungguh di luar dugaan!"
"Benar."
Lie Ai Ling tertawa gembira.
"Setelah aku tiba di Pulau Hong Hoang To, barulah aku tahu tentang itu. Hui San yang memberitahukan kepadaku. Pantas aku merasa pernah mendengar namamu!"
"Ai Ling, bagaimana keadaan adikku? Dia baik-baik saja?"
Tanya Sie Keng Hauw penuh perhatian.
"Dia baik-baik saja,"
Jawab Lie Ai Ling.
"Engkau tahu tentang itu dari ayahmu?"
"Ya."
Sie Keng Hauw mengangguk.
"Bahkan ayahku berpesan, aku dan Hui San tidak perlu menuntut balas terhadap Lu Thay Kam."
"Syukurlah!"
Ucap Lie Ai Ling.
"Tapi ketika itu, Lu Thay Kam justru nyaris mati di tangan Hui San."
"Oh?"
Sie Keng Hauw mengerutkan kening. 'Kenapa bisa begitu?"
"Ternyata Lu Thay Kam sangat menyayangi Kui San, maka dia rela mati di tangan Hui San."
Lie Ai Ling memberitahukan, kemudian menutur tentang kemunculan Tio Bun Yang, yang menyelamatkan nyawa Lu Thay Kam.
"Aaaah!"
Sie Keng Hauw menghela nafas panjang.
"Pada dasarnya Lu Thay Kam tidak jahat, tapi dikarenakan politik di istana, maka dia tertaksa bertindak kejam."
"Tapi ada satu hal yang sangat memusingkan,"
Ujar Lie Ai Ling sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Hal apa?"
"Mengenai Kam Hay Thian."
"Memangnya kenapa?"
"Hui San mencintainya, namun Kam Hay Thian bersikap acuh tak acuh kepadanya. Lagi pula dia sangat mendendam pada Lu Thay Kam karena...."
Lie Ai Ling menceritakan tentang kematian guru silat Lie dan putrinya yang dibunuh para anggota Hiat Ih Hwe.
"oleh karena itu, Kam Hay Thian bersumpah akan membunuh Lu Thay Kam, sedangkan Lu Thay Kam adalah ayah angkat Hui San."
"Itu memang sangat memusingkan."
Sie Ken, Hauw menghela nafas.
"Oh ya! Apakah Kam Hay Thian belum tahu bahwa Lu Thay Kam adalah ayah angkat Hui San?"
"Belum tahu. Karena itu, engkau juga tidak boleh memberitahukannya apabila kalian bertemu!"
Pesan Lie Ai Ling.
"Ya."
Sie Keng Hauw mengangguk.
"Ai Ling aku ingin menemui Hui San. Maukah engkau mengantarku ke Pulau Hong Hoang To?"
"Tentu mau,"
Sahut Lie Ai Ling sambil tersenyum manis.
"Karena kedua orang tuaku pingin bertatap muka denganmu."
"Oh? Aku...."
"Engkau tidak mau bertatap muka dengan kedua orang tuaku?"
"Tentu mau dan memang harus. Tapi...."
Sie Keng Hauw tersenyum.
"aku agak gugup."
"Kenapa harus gugup?"
Ujar Lie Ai Ling sambil menatapnya.
"Kalau engkau gugup, pertanda... engkau tidak bersungguhsungguh terhadapku lho!"
"Ai Ling!"
Sie Keng Hauw menatapnya lembut seraya berkata.
"Aku bersungguh-sungguh terhadapmu, percayalah!"
"Aku percaya."
Lie Ai Ling menundukkan ppala.
"Ha ha ha!"
Terdengar suara tawa gelak, muncul Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.
"Bagaimana? Kalian berdua sudah beres menarahkan isi hati masing-masing?"
"Kakek Lim...."
Lie Ai Ling cemberut.
"Sudah, Kakek Lim,"
Sahut Sie Keng Hauw sambil tersenyum.
"Terimakasih atas perhatian kakek Lim dan Kakek Gouw! Terimakasih!"
"Ha ha ha!"
Lim Peng Hang dan Gouw Han tertawa lagi, lalu duduk sambil memandang mereka.
"Kalian berdua merupakan pasangan yang cocok dan serasi. Kami turut gembira."
"Kakek Lim...."
Lie Ai Ling melotot, lalu mendadak teringat sesuatu.
"Oh ya! Ada titipan pesan dari Sam Gan Sin Kay. Beliau berpesan...."
"Ayahku berpesan apa?"
Lim Peng hang heran.
"Menyelidiki gerak gerik Kui Bin Pang (Perkumpulan Muka Setan)!"
Lie Ai Ling memberitahukan.
"Ternyata orang-orang berpakaian putih dan memakai kedok setan yang pernah kami lihat tempo hari itu, adalah para anggota Kui Bin Pang"
"Kui Bin Pang?"
Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong saling memandang, keduanya kelihatan bingung.
"Apakah Kui Bin Pang itu merupakai perkumpulan yang baru muncul di rimba per silatan?"
"Entahlah."
Lie Ai Ling menggelengkan kepala.
"Aku tidak begitu jelas. Tapi kakek Tio tahu tentang Kui Bin Pang itu."
"Oh?"
Lim Peng Hang mengerutkan kening "Apa yang dikatakan Tio Tocu mengenai Kui Bin Pang itu?" .
"Kakek Tio memberitahukan..."
Lie Ai Lini menutur sesuai dengan apa yang dikatakan Tio Tay Seng. Setelah mendengar penuturan Lie Ai Ling muka Lim Peng Hang dan Gouw Han Tion tampak berubah hebat.
"Kui Bin Pang..."
Gumam Gouw Han Tiong "Tidak salah. Almarhum pernah menceritaka tentang itu."
"Ayahmu tahu jelas mengenai Kui Bin Pang"
Lim Peng Hang tertegun.
"Ketika berusia belasan, ayahku pernah ke kota Giok Bun Kwan. Di kota perbatasan itu ayahku mendengar tentang Kui Bin Pang,"
Ujar Gouw Han Tiong dan melanjutkan.
"Perkumpulan itu merupakan perkumpulan misteri, ketua dan para anggotanya berkepandaian sangat tinggi sekali. Namun perkumpulan itu tidak pernah memasuki daerah Tionggoan."
"Kalau begitu...."
Kening Lim Peng Hang berkerut-kerut.
"Kenapa kini para anggota Kui Bin Pang itu berada di Tionggoan?"
"Karena itu, Sam Gan Sin Kay menyuruh kita menyelidikinya,"
Sahut Gouw Han Tiong.
"Ngmm!"
Lim Peng Hang manggut-manggut. kita harus perintahkan beberapa anggota handal untuk menyelidiki itu."
"Betul."
Gouw Han Tiong mengangguk.
"Tapi jangan bentrok dengan mereka sehingga menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan!"
Lim Peng Hang manggut-manggut lagi, kemudian memandang Lie Ai Ling seraya bertanya, iTempo hari engkau dan Siang Koan Goat melihat mereka, apakah engkau masih ingat mereka menuju mana?"
"Mereka menuju utara!"
Lie Ai Ling mem-itahukan.
"Baiklah,"
Ujar Lim Peng Hang.
"Kami akan menyelidiki tentang itu. Oh ya, Goat Nio tidak lagi menunggu di sini, dia sudah berangkat ke gunung Thian San."
"Keng Hauw sudah memberitahukan kepadaku"ujar Lie Ai Ling.
"Kakek Lim, aku dan Keng Hauw harus segera berangkat ke Pulau Hong Hoang To."
"Tidak mau menunggu Goat Nio atau Bun Yang?"
Tanya Lim Peng Hang.
"Ayah dan ibu berpesan kepadaku, aku harus segera membawa Keng Hauw ke Pulau Hong Hoang To,"
Jawab Lie Ai Ling dan menambahkan.
"Lagi pula Keng Hauw ingin bertemu Hui San."
"Kapan kalian akan berangkat?"
"Besok pagi. Oh ya! Paman Cie Hiong berpesan, kalau Kakak Bun Yang dan Goat Nio ke mari, tolong suruh mereka segera pulang ke Pulau Hong Hoang To!"
"Baik."
Lim Peng Hang manggut-manggut.
"Kalau mereka ke mari, pasti kusuruh segera pulang ke Pulau Hong Hoang To."
"Terimakasih, Kakek Lim!"
Ucap Lie Ai Ling.
"Ha ha ha!"
Lim Peng Hang tertawa gelak.
"Ai Ling, engkau sungguh beruntung sekali, karena Keng Hauw merupakan pemuda yang baik, tampan dan penuh kesabaran."
Lie Ai Ling dan Sie Keng Hauw telah meninggalkan markas pusat Kay Pang, langsung menuju Pulau Hong Hoang To.
Perjalanan ini sung guh menggembirakan mereka.
Mereka bersenda gurau, bercanda ria dan memadukan cinta.
Oleh karena itu, tak terasa sama sekali mereka sudah tiba di Pulau Hong Hoang To.
Dapat dibayangkan, betapa gembiranya Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa, begitu pula yang lain.
Kou Hun Bijin terus memandang Sie Keng Hauw dengan penuh perhatian, kelihatannya seakan sedang mengamati suatu benda antik.
"Bijin!"
Tegur Sam Gan Sin Kay sambil tertawa pelak.
"Ha ha ha! Kenapa engkau begitu?"
"Ngmmm!"
Kou Hun Bijin manggut-manggut.
"Pemuda itu memang pantas menjadi suami Ai Ling."
"Ha ha ha!"
Sam Gan Sin Kay tertawa gelak lagi.
"Kenapa engkau berubah menjadi begitu usil?"
"Hi hi hi!"
Kou Hun Bijin tertawa nyaring. 'Aku paling tua di sini, tentunya berhak menentukan sesuatu."
"Oh, ya?"
Sam Gan Sin Kay terbelalak.
"Tio Tocu!"
Kou Hun Bijin menatapnya seraya bertanya.
"Apakah aku tidak boleh menentukan sesuatu di sini?"
"Tentu boleh. Tentu boleh..."
Sahut Tio Tay Seng sambil tertawa terbahak-bahak.
Sementara Sie Keng Hauw berdiri terbengong-bengong di tempat, sebab barusan Kou Hun Bijin mengatakan bahwa dirinya paling tua, itu sungguh mengherankannya.
"Keng Hauw,"
Bisik Lie Ai Ling memberitahu "Kou Hun Bijin sudah berusia seratus tahun lebih. Suaminya adalah Kim Siauw Suseng yang juga awet muda."
"Ooooh!"
Sie Keng Hauw manggut-manggu dengan mata terbelalak.
"Goat Nio putri mereka."
Lie Ai Ling mem beritahukan lagi.
"Pantas Goat Nio begitu cantik, ternyata kedua orang tuanya awet muda!"
Bisik Sie Keng Hauw.
"Anak muda,"
Ujar Tio Tay Seng sambil tersenyum.
"Duduklah! Jangan terus berdiri!"
"Terimakasih, Kakek!"
Ucap Sie Keng Hauv sambil duduk. Kemudian Lie Ai Ling pun duduk di sebelahnya dengan wajah berseri-seri.
"Bocah,"
Ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa "Hi hi hi!
Mari kuperkenalkan mereka semua Yang duduk di sisiku ini suamiku tercinta, yang dekil itu adalah pengemis bau dan yang duduk ditengah-tengah itu adalah Tio Tay Seng, majikan pulau ini."
Sie Keng Hauw terus-menerus memberi hormat kepada mereka satu persatu.
Hal itu membuat Lie Ai Ling tertawa geli dalam hati.
Sementar Lie Man Chiu dan Tio Hoang Hoa tersenyum senyum, keduanya tampak merasa suka kepada pemuda itu.
Seusai Kou Hun Bijin memperkenalkan mereka, muncullah Kam Hay Thian, bersama Lu Hui San, Bokyong Sian Hoa dan Yatsumi.
"Ai Ling!"
Seru gadis Jepang itu gembira 'Syukurlah engkau pulang bersama Sie Keng Hauw!"
"Yatsumi!"
Wajah Lie Ai Ling agak kemerah-merahan. Kemudian ia berkata kepada Lu Hui San.
"Hui San, tahukah engkau siapa dia?"
"Aku tahu...."
Lu Hui San manggut-manggut.
"Dia Kakak Keng Hauw, putra pamanku."
"Adik Hui San!"
Panggil Sie Keng Hauw sama memandangnya.
"Belasan tahun kita tidak bertemu, engkau... engkau sudah dewasa!"
"Engkau juga sudah dewasa,"
Sahut Lu Hui San dan menambahkan.
"Aku dengar... engkau dan Ai Ling sudah saling jatuh hati. Ya, kan?"
"Ya."
Sie Keng Hauw mengangguk.
"Engkau dan Kam Hay Thian pun sudah saling mencinta, bukan?"
"Itu...."
Lu Hui San melirik Kam Hay Thian.
"Kami memang merupakan kawan akrab,"
Sahut Kam Hay Thian. Betapa kecewanya Lu Hui San mendengar ucapan itu, sehingga nyaris menangis.
"Benar."
Sie Keng Hauw tertawa.
"Kalian berdua memang sudah akrab sekali. Bagus, bagus!"
"Hi hi hi!"
Mendadak Kou Hun Bijin tertawa nyaring.
"Kalian tingkatan muda, kalau mau muntahkan isi hati atau memadu cinta, janganlah diruang ini! Di tempat yang sepi saja, jadi tidak ada yang mengganggu."
"Biarkan saja!"
Sahut Sam Gan Sian Kay.
"Kenapa engkau usil?"
"Hai! Pengemis bau!"
Kou Hun Bijin melotot "Kenapa engkau selalu menentangku? Mau dihajar ya?"
"Jangan, jangan!"
Sam Gan Sin Kay mengoyang-goyangkan sepasang tangannya.
"Takut aku"
"Hmm!"
Dengus Kou Hun Bijin dingin sekaligus mengancam.
"Kalau engkau berani lagi pasti kutampar mulutmu!"
"Ampun! Ampun!"
Sahut Sam Gan Sin Kay "Sam Gan Sin Kay,"
Ujar Lie Ai Ling memberitahukan.
"Aku sudah menyampaikan pesan itu kepada Kakek Lim."
"Terimakasih!"
Ucap Sam Gan Sin Kay, yang kemudian melirik Sie Keng Hauw.
"Kalian berdua memang merupakan pasangan yang serasi."
"Terimakasih, Sam Gan Sin Kay!"
Ucap Sie Keng Hauw sambil memberi hormat.
"Kami ber dua...."
"Ha ha ha!"
Sam Gan Sin Kay tertawa gelak "Ha ha ha! Aku tahu, kalian berdua sudah saling mencinta, bukan?"
"Ya."
Sie Keng Hauw mengangguk.
"Keng Hauw____"
Wajah Lie Ai Ling tampak kemerahmerahan.
"Engkau...."
"Ai Ling,"
Ujar Sie Keng Hauw sambil tersenyum.
"Di hadapan tingkatan tua, kita harus berterus terang. Tidak boleh merasa malu."
"Betul! Betul! Ha ha ha...!"
Sam Gan Sin Kay terus tertawa gembira, kemudian bertanya mendadak.
"Kapan kalian berdua akan melangsungkan pernikahan?"
"Eeeeh?"
Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling ling memandang, keduanya tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.
"Itu akan dirundingkan nanti,"
Sahut Lie Man Chu.
"Sekarang mereka baru tiba, tidak baik mengutarakan itu."
"Oh ya! Ai Ling!"
Kou Hun Bijin menatapnya seraya bertanya.
"Kenapa Goat Nio dan Bun Yang tak pulang?"
"Aku tidak bertemu Goat Nio,"
Sahut Lie Ai Ling memberitahukan.
"Ternyata dia tidak sabar menunggu. Karena saking rindunya pada Kakak Bun Yang, maka dia berangkat ke Gunung Thian san."
"Dia berangkat ke Gunung Thian San menyusul Bun Yang?"
Kou Hun Bijin terbelalak.
"Kenapa jadi kacau begitu?"
"Sebab Goat Nio tidak tahu, kalau Kakak Bun Yang sudah ke mari, bahkan juga sudah berangkat kemarkas pusat Kay Pang. Lantaran tidak sabar nunggu, akhirnya dia berangkat ke Gunung Thian San. Beberapa hari kemudian, Kakak Bun Yang justru tiba di markas pusat Kay Pang, namun takk bertemu Goat Nio. Karena itu, Kakak Bun Yang segera berangkat ke Gunung Thian San."
"Mereka berdua...."
Kou Hun Bijin menggeleng-gelengkan kepala.
"Main kejar kejaran, kasihan sekali! Mudah-mudahan mereka akan bertemu di Gunung Thian San!"
"Itu tidak apa-apa,"
Sela Sam Gan Sin Kay "Kejar-kejaran itu akan memperdalam cinta kasih mereka, sekaligus membuat mereka semakin rindu satu sama lain."
"Engkau senang ya mengetahui mereka belum bertemu?"
Tanya Kou Hun Bijin ketus sambil melotot.
"Aku tidak mengatakan senang, namun...! Sam Gan Sin Kay tersenyum.
"Itu merupakan suatu cobaan bagi mereka."
"Hmm!"
Dengus Kou Hun Bijin.
"Diam! Jangan banyak omong!"
"Baik! Baik! Aku akan diam."
Sam Gan Sin Kay segera menutup mulutnya rapat-rapat.
"Ai Ling,"
Ujar Tio Hong Hoa.
"Engkau boleh ke dalam untuk beristirahat. Ajak juga Sie ken Hauw!"
"Ya."
Lie Ai Ling segera menarik Sie Ken Hauw ke dalam. Kam Hay Thian, Lu Hui San, Bokyong Sian Hoa dan Yatsumi pun ikut ke dalam. Mereka semua menuju ke halaman belakang.
"Saudara Kam...."
Sie Keng Hauw menepuk bahunya.
"Aku gembira sekali bertemu denganmu."
"Sama-sama,"
Sahut Kam Hay Thian sambil tersenyum.
"Aku pun senang sekali bertemu denganmu."
"Hui San adalah adikku, aku harap engkau baik-baik menjaganya!"
Ujar Sie Keng Hauw mengandung suatu maksud tertentu.
"Itu...."
Kam Hay Thian mengerutkan kening.
"Kak,"
Ujar Lu Hui San cepat.
"Aku sudah dewasa, tentunya bisa menjaga diri sendiri."
"Adik...."
Sie Keng Hauw menghela nafas panjang, kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Sayang sekali, aku belum bertemu Bun Yang."
"Dia tampan sekali,"
Ujar Bokyong Sian Hoa mendadak sambil tersenyum.
"Bahkan kepandaian nya juga tinggi sekali."
"Sian Hoa...."
Lie Ai Ling tertegun.
"Eng-kau....
"Aku tahu, Kakak Bun Yang sangat mencintai Goat Nio,"
Ujar Bokyong Sian Hoa.
"Goat Nio pun sangat mencintainya. Kalau mereka berdua tak saling mencinta, aku pasti berupaya mendampingi Kakak Bun Yang."
"Ngmm!"
Lie Ai Ling manggut-manggut.
"Engkau adalah gadis yang blak-blakan, bahkan juga tau diri. Bagus! Engkau memang pantas menjadi adik Bun Yang."
"Ai Ling!"
Bokyong Sian Hoa tertawa kecil.
"aku sudah memanggilnya Kakak Bun Yang."
"Sama."
Lie Ai Ling tersenyum.
"Sejak kecil aku memanggilnya Kakak Bun Yang."
"Lagi pula aku pun harus tahu diri,"
Tambah Bokyong Sian Hoa.
"Kakak Bun Yang mencintai Goat Nio, namun dia menyayangiku. Aku sudah merasa puas. Kita harus ingat akan satu hal, cinta tidak bisa dipaksa. Kalau dipaksa justru akan menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan."
"Eeeh?"
Lie Ai Ling terbelalak.
"Engkau paling kecil di antara kita, tapi pikiranmu sudah begitu jauh dan matang. Aku salut kepadamu."
"Yaah!"
Bokyong Sian Hoa menghela nafai panjang.
"Terus terang, aku merasa kasihan sekali kepada Hui San."
"Lho?"
Lu Hui San tersentak.
"Kenapa?"
"Engkau begitu mencintai Kam Hay Thian"
Sahut Bokyong Sian Hoa secara blak-blakan.
"Namun sebaliknya dia selalu bersikap acuh tak acuh, kelihatannya dia merindukan gadis lain."
"Sian Hoa____"
Air muka Kam Hay Thian tampak berubah.
"Engkau harus tahu, gadis yang engkau rindukan itu mencintai pemuda lain. Maka percuma engkau merindukannya. Lebih baik arahkan perhatianmu pada Lu Hui San! Kalau engkau menolak cintanya, pasti menyesal kelak,"
Ujar Bok yong Sian Hoa.
"Engkau____"
Wajah Kam Hay Thian tampak tidak senang.
"Hmm!"
Dengus Bokyong Sian Hoa.
"Hui San begitu baik terhadapmu, namun engkau malah bersikap dingin dan acuh tak acuh terhadapnya. Aku juga anak gadis, tentunya merasa simpati padanya, tapi merasa sebal padamu."
"Sian Hoa____"
Yatsumi segera menarik tangan gadis itu.
"Jangan terus menegurnya!"
"Dia adalah pemuda yang tak tahu diri,"
Ujar Bokyong Sian Hoa.
"Setahuku, Hui San yang membopongnya ke mari ketika dia terluka parah. tapi dia...."
"Sian Hoa!"
Lie Ai Ling merasa tidak enak.
"Sudahlah! Jangan...."
"Aku merasa kasihan pada Hui San, sebab batinnya tersiksa sekali,"
Sahut Bokyong Sian Hoa dan menambahkan.
"Kalau aku adalah Hui san, sudah kutendang pemuda yang begitu macam!"
"Sian Hoa____"
Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala. Kam Hay Thian memandang mereka semua, kemudian meninggalkan tempat itu dengan kepala tertunduk.
"Hay Thian!"
Panggil Lu Hui San dengan suara rendah.
"Percuma engkau memanggilnya,"
Sahut Bok-Yong Sian Hoa.
"Dia adalah pemuda yang tak punya perasaan dan tidak mengenal cinta yang suci murni. Kelak dia pasti hidup menderita karena itu."
Sementara Sie Keng Hauw diam saja.
Namun ia terus menatap iba pada Lu Hui San.
Dalam hal ini, ia tidak bisa membantu apa-apa.
---ooo0dw0ooo---Pintu kamar Lie Ai Ling terbuka, Lie Mu Chiu dan Tio Hong Hoa melangkah ke dalam dengan wajah berseri-seri.
"Ayah, Ibu..."
Gadis itu tercengang, karena sudah larut malam kedua orang tuanya justru datang di kamarnya.
"Engkau belum tidur, Nak?"
Tanya Tio Hong Hoa lembut.
"Aku baru mau tidur,"
Sahut Lie Ai Ling.
"Ada urusan apa, sehingga Ibu dan Ayah ke mari lagi malam?"
"Kami ingin membicarakan sesuatu dengan mu,"
Sahut Tio Hong Hoa sambil duduk di pinggir tempat tidur, sedangkan Lie Man Chiu cuma berdiri memandangnya sambil tersenyum.
"Ibu ingin membicarakan apa?"
Tanya Lie / Ling heran.
"Nak!"
Tio Hong Hoa menatapnya dalam-dalam seraya bertanya.
"Engkau sungguh-sungguh mencintai Sie Keng Hauw?"
"Ya."
Lie Ai Ling mengangguk.
"Dia juga mencintaimu?"
Tanya Tio Hong Hoa lagi.
"Ya,"
Jawab Lie Ai Ling dengan wajah agak kemerahmerahan.
"Dia memang mencintaiku."
"Syukurlah!"
Ucap Tio Hong Hoa.
"Lalu bagaimana rencana kalian?"
"Rencana apa?"
Lie Ai Ling heran.
"Tentunya mengenai pernikahan kalian,"
Sahut Lie Man Chiu.
"Kira-kira kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?"
"Ayah...."
Lie Ai Ling tersipu.
"Kami baru saling mencinta, kenapa Ayah sudah membicarakan itu? Bukankah terlampau cepat?"
"Kalau kalian berdua sudah saling mencinta, apa salahnya segera melangsungkan pernikahan?"
Ujar Lie Man Chiu sambil tertawa.
"Ayah!"
Lie Ai Ling tersenyum.
"Aku tidak mau begitu cepat menikah, sebab aku belum ingin punya anak."
"Kami justru ingin cepat-cepat menggendong cucu,"
Ujar Tio Hong Hoa sambil tersenyum.
"Karena itu, engkau harus segera menikah."
"Ibu, aku belum mau menikah."
Lie Ai Ling cemberut.
"Aku masih muda, belum bisa mengurusi bayi."
"Jangan khawatir! Ibu akan mengurusinya,"
Ujar Tio Hong Hoa sungguh-sungguh.
"Jadi engkau tidak usah mengkhawatirkan itu."
"Ibu, pokoknya aku belum mau menikah!"
Lie Ai Ling membanting-banting kaki.
"Baiklah."
Tio Hong Hoa tersenyum.
"Terus terang, kami sangat menyukai Sie Keng Hauw Dia memang merupakan pemuda baik, sopan dan penuh kesabaran."
"Dia memang sabar,"
Ujar Lie Ai Ling mem beritahukan.
"Dia terus menungguku di markas pusat Kay Pang."
"Ngmm!"
Tio Hong Hoa manggut-manggut.
"Nak, kini legalah hati kami karena engkau sudah punya kekasih."
"Ibu...."
Mendadak wajah Lie Ai Ling tampak agak berubah.
"Aku...."
"Ada apa, Nak?"
Tanya Tio Hong Hoa sambil menatapnya.
"Hatimu masih terganjel sesuatu? Katakanlah pada ibu!"
"Aku mengkhawatirkan Hui San."
Lie Ai Ling menggelenggelengkan kepala.
"Dia begitu mencintai Kam Hay Thian, tapi Kam Hay Thian malah acuh tak acuh terhadapnya."
"Nak!"
Tio Hong Hoa tersenyum.
"Cinta tidak bisa dipaksa, kalau Kam Hay Thian tidak mencintai Lu Hui San, maka Lu Hui San harus menjauhinya."
"Memang."
Lie Ai Ling manggut-manggut "Tapi Hui San sudah begitu dalam mencintainya aku khawatir mereka akan terjadi sesuatu kelak"
"Ai Ling,"
Ujar Lie Man Chiu sungguh-sungguh.
"Engkau harus berusaha menasihatinya."
"Ya, Ayah."
Lie Ai Ling mengangguk dan memberitahukan.
"Tadi Sian Hoa telah mencetuskan yang pedas dan tajam terhadap Kam Hay Ihian, mungkin pemuda itu akan tersinggung."
"Oh?"
Tio Hong Hoa mengerutkan kening. 'Itu akan menimbulkan suatu masalah di pulau"
"Belum tentu,"
Ujar Lie Man Chiu.
"Sebab kam Hay Thian merupakan pemuda yang baik, hanya saja cintanya belum tumbuh terhadap Hui san. Aku yakin suatu saat nanti, dia akan mencintainya."
"Mudah-mudahan!"
Ucap Tio Hong Hoa, kemudian berkata kepada Lie Ai Ling.
"Nak, kami harap engkau dan Keng Hauw jangan begitu cepat meninggalkan pulau ini, tinggallah di sini beberapa bulan!"
"Baik."
Lie Ai Ling mengangguk.
"Akan kuberitahukan kepadanya, mungkin dia akan menuruti perkataanku."
"Ngmm!"
Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa manggutmanggut, kemudian keduanya pun tersenyum.
"Syukurlah!" ---ooo0dw0ooo---
Jilid 9 Bagian ke empat puluh Bu Ceng Sianli (Bidadari Tanpa Perasaan) Sementara itu, Siang Koan Goat Nio terus melakukan perjalanan menuju Gunung Thian San.
Enam tujuh hari kemudian, gadis itu merasa menyesal atas tindakannya.
Gunung Thian San begitu luas, tinggi dan hawanya dingin sekali.
Bagaimana mungkin ia bisa mencari Tio Bun Yang di sana?
Kini barulah terpikirkan olehnya, karena itu ia merasa menyesal.
Seharusnya ia tetap menunggu di markas pusat Kaypang.
Namun sudah terlanjur, maka gadis itu terpaksa melanjutkan perjalanan.
Hari ini Siang Koan Goat Nio tiba di sebuah kota kecil.
Ia mampir di kedai teh, karena sudah merasa haus sekali Setelah Siang Koan Goat Nio duduk, pelayan kedai itu langsung menyuguhkan secangkir teh hangat seraya bertanya.
"Nona mau pesan makanan lain?"
"Tidak usah!"
Sahut Siang Koan Goat Nio.
Di saat ia baru mau mengangkat cangkirnya, mendadak melangkah ke dalam seorang gadis berusia dua puluhan.
Bukan main cantiknya gadis itu, sudah barang tentu membuat para tamu terpukau menyaksikannya.
Siang Koan Goat Nio adalah gadis yang sangal cantik, namun ia merasa mengakui akan kecantikan gadis yang baru datang itu.
Karena tiada meja yang kosong, maka gadis itu mendekati meja Siang Koan Goat Nio.
"Adik manis!"
Tanya gadis itu.
"Bolehkah aku duduk di sini?"
"Silakan!"
Sahut Siang Koan Goat Nio dengan ramah sambil tersenyum lembut.
"Aku gembira sekali Kakak mau duduk bersamaku."
"Terima kasih!"
Ucap gadis itu sambil duduk di hadapannya. Pelayan segera menyuguhkan secangkir teh, kemudian bertanya dengan sopan dan tersenyum "Nona mau pesan makanan lain?"
"Sajikan makanan ringan untuk kami berdua!"
Sahut gadis itu.
"Ya, ya."
Pelayan itu mengangguk dan cepat-cepat menyajikan beberapa macam makanan ringan "Adik manis, mari kita nikmati makanan ringan ini!"
Ujar gadis itu sambil tersenyum ramah.
"Terimakasih, Kak!"
Ucap Siang Koan Goat Nio, yang terkesan baik pada gadis itu. Mereka berdua mulai menikmati makanan ringan sambil mengobrol, dan gadis itu memandang Siang Koan Goat Nio.
"Adik manis, engkau sungguh cantik!"
"Kakak lebih cantik dariku,"
Sahut Siang Koan Goat Nio.
"Oh ya, bolehkah aku tahu siapa Kakak?"
"Panggillah aku Kakak Cui!"
"Baik."
Siang Koan Goat Nio mengangguk lalu memperkenalkan diri.
"Namaku Siang Koan Goat Nio. Kakak Cui boleh panggil namaku saja."
"Goat Nio, engkau sedemikian cantik, tentunya sudah punya kekasih, bukan?"
Tanya gadis itu mendadak.
Siapa sebetulnya gadis itu?
Ternyata Tu Siao Cui yang berusia delapan puluhan itu, murid Thian Gwa Sin Hiap-Tan Liang Tie.
Setelah merendam di sumur alam di dalam goa, maka Tu Siao Cui berubah menjadi muda seperti gadis berusia dua puluhan yang cantik jelita.
"Aku...."
Siang Koan Goat Nio menundukkan kepala.
"Kenapa harus malu? Berterus teranglah!"
Ujar Tu Siao Cui sambil tertawa.
"Aku berterus terang kepadamu, aku belum punya kekasih."
"Oh?"
Siang Koan Goat Nio tampak kurang percaya.
"Kakak Cui secantik bidadari, bagaimana mungkin belum punya kekasih?"
"Yaah!"
Tu Siao Cui menghela nafas panjang.
"Memang banyak sekali pemuda mendekatiku, tapi mereka kubunuh semua."
"Haaah...?"
Siang Koan Goat Nio terperanjat.
"Kenapa engkau membunuh mereka?"
"Sebab mereka berlaku kurang ajar terhadapku."
Tu Siao Cui memberitahukan.
"Belum apa-apa mereka sudah berani meraba-raba diriku."
"Sungguh sadis dan tak punya perasaan!"
Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.
"Bukankah mereka bisa kau usir, jadi tidak usah kau bunuh?"
"Hmm!"
Dengus Tu Siao Cui dingin.
"Pemuda-pemuda macam itu cuma mengotori dunia, lebih baik dibasmi!"
"Kakak Cui...."
Siang Koan Goat Nio terbelalak.
"Hi hi hi!"
Tu Siao Cui tertawa geli.
"Kenapa engkau terbelalak? Takut padaku ya?"
"Aku tidak takut, hanya tidak menyangka...."
Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang.
"Aku memang Bu Ceng Sianli (Bidadari Tanpa Perasaan)."
Tu Siao Cui memberitahukan sambil tertawa.
"Maka engkau tidak usah merasa heran aku begitu sadis. Tapi aku tidak sembarangan membunuh."
"Kakak Cui...."
Di saat Siang Koan Goat Nio ingin mengatakan sesuatu, mendadak muncul belasan orang berpakaian hijau, yang tidak lain adalah anggota Seng Hwee Kauw.
Ketika melihat Siang Koan Goat Nio dan Tu Siao Cui, para anggota Seng Hwee Kauw itu langsung tertawa gembira.
"Ha ha ha! Ada dua gadis cantik di kedai teh ini, sungguh beruntung kita hari ini!"
Sementara para tamu lain sudah kabur terbirit-birit, sehingga di dalam kedai itu cuma tertinggal Siang Koan Goat Nio dan Tu Siao Cui.
Pemilik kedai itu dan beberapa pelayannya sudah menggigil ketakutan, mereka mencemaskan kedua gadis itu.
"Ha ha ha! Nona-nona manis!"
Kepala anggota Seng Hwee Kauw mendekati Siang Koan Goat Nio dan Tu Siao Cui.
"Bolehkah aku duduk di sini?"
"Tentu boleh,"
Sahut Tu Siao Cui sambil tersenyum manis.
"Silakan duduk!"
"Terima kasih! Terimakasih!"
Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu gembira sekali lalu duduk seraya bertanya.
"Kalian berdua berasal dari mana?"
"Dari Kang Lam,"
Sahut Tu Siao Cui.
"Pantas kalian berdua begitu cantik!"
Ujar Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu sambil tertawa.
"Ternyata kalian berasal dari Kang Lam!"
"Oh ya!"
Tu Siao Cui. Tertawa kecil.
"Engkau tampak begitu gagah dan membawa begitu banyak anak buah. Bolehkah aku tahu engkau dari partai mana?"
"Seng Hwee Kauw,"
Sahut Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu sambil membusungkan dada, karena barusan Tu Siao Cui mengatakannya begitu gagah.
"Jadi kalian bukan berasal dari tujuh partai besar!"
Ujar Tu Siao Cui dan menambahkan.
"Seng Hwee Kauw tidak begitu terkenal."
"Seng Hwee Kauw sangat terkenal, bahkan tak lama lagi akan menguasai rimba persilatan."
"Oh, ya?"
Tu Siao Cui tertawa.
"Siapa Ketua Seng Hwee Kauw?"
"Seng Hwee Sin Kun. Ketua kami berkepandaian tinggi sekali. Kami semua pun berkepandaian cukup tinggi. Engkau membawa pedang, apakah kalian juga gadis rimba persilatan?"
"Bukan."
Tu Siao Cui tersenyum.
"Tapi kami pernah belajar ilmu silat, maka kami membawa pedang untuk menakuti para penjahat."
"Oooh!"
Kepala anggota Seng Hwee Kauw tertawa.
"Kalian berdua sudah berkenalan dengan kami, maka kami berani jamin tiada seorang penjahat pun berani mengganggu kalian."
"Kalau begitu, kami harus berterima kasih kepadamu!"
Ucap Tu Siao Cui.
"Sungguh beruntung kami berkenalan dengan kalian!"
"Tidak salah! Ha ha ha! Bahkan kalian pun tidak akan kesepian, sebab kami semua siap melayari kalian berdua!"
"Oh?"
Tu Siao Cui tersenyum.
"Maaf, aku tidak mengerti maksudmu! Bolehkah engkau menjelaskan?"
"Engkau harus tahu, kami semua lelaki gagah. Pokoknya pasti dapat memuaskan kaum anak gadis yang mana pun. Nah, engkau mengerti?"
"Aku...."
Tu Siao Cui menggelengkan kepala.
"Aku masih kurang mengerti, tolong jelaskan sekali lagi agar aku mengerti!"
"Begini...."
Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu berbisik.
"Kami semua siap menemani kalian berdua tidur."
"Oh, itu!"
Tu Siao Cui tertawa merdu.
"Tapi kalau kami tidak mau, bagaimana kalian?"
"Ha ha ha! Jangan sampai kami bertindak secara paksa!"
"Kalau begitu...."
Tu Siao Cui menatapnya.
"Kalian sudah sering memperkosa anak gadis?"
"He he he!"
Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu cuma tertawa terkekeh.
"He he he...!"
"Jadi...."
Tu Siao Cui tersenyum.
"Kami berdua harus menemani kalian tidur?"
"Betul."
"Goat Nio,"
Ujar Tu Siao Cui.
"Bagaimana engkau, apakah engkau bersedia menemani mereka tidur?"
"Kakak Cui! Engkau...."
Siang Koan Goat melotot.
"Kita tidak bisa melawan mereka, maka terpaksa harus menemani mereka tidur,"
Ujar Tu Siao Cui sambil memberi isyarat.
"Engkau tidak berkeberatan, bukan?"
"Aku...."
Siang Koan Goat Nio tidak mengerti akan isyarat itu.
"Terserah Kakak Cui."
"Baiklah."
Tu Siao Cui manggut-manggut, kemudian memandang Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu seraya berkata.
"Kalau begitu, kita harus pergi ke tempat yang sepi."
"Benar! Benar!"
Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu tertawa gembira, lalu meninggalkan kedai teh itu. Para anak buahnya langsung mengikutinya sambil tertawa terbahakbahak.
"Mari kita ikut mereka!"
Tu Siao Cui menarik Siang Koan Goat Nio.
"Kakak Cui...."
Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening.
"Tenang saja!"
Tu Siao Cui tersenyum.
"Aku tahu engkau pun berkepandaian tinggi, tentunya engkau tidak takut terhadap mereka."
Siang Koan Goat Nio tidak menyahut. Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di suatu tempat yang sangat sepi. Tempat itu merupakan sebuah rimba.
"He he he!"
Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu tertawa terkekeh.
"Bagaimana dengan tempat ini? Kalian berdua merasa cocok?"
"Cocok sekali,"
Sahut Tu Siao Cui.
"Kalau begitu, cepatlah kalian buka!"
"Buka apa?"
"Buka pakaian kalian,"
Sahut Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu sambil tertawa.
"Ha ha ha...!"
"Seharusnya kalian yang buka duluan, tidak mungkin kaum wanita yang buka pakaian duluan, bukan?"
"Itu...."
Kepala anggota Seng Hwee Kauw memandang yang lain seraya bertanya.
"Bagaimana menurut kalian?"
"Apa yang dikatakan nona itu memang benar, kita kaum lelaki yang harus buka pakaian duluan,"
Sahut mereka sambil tertawa.
"Ha ha ha! Pokoknya kita harus bergilir secara adil!"
"Beres."
Kepala anggota Seng Hwee Kauw tertawa terkekeh.
"Seperti biasa... harus aku yang menikmatinya duluan."
"Ayoh!"
Desak Tu Siao Cui sambil tertawa genit.
"Cepatlah kalian buka, pokoknya kalian semua pasti memperoleh giliran secara memuaskan."
"Eeeh!"
Siang Koan Goat Nio terbelalak.
"Kakak Cui...."
"Tenang saja!"
Sahut Tu Siao Cui.
Sementara Kepala anggota Seng Hwee Kauw dan lainnya sudah mulai melepaskan pakaian masing-masing.
Setelah tinggal tersisa celana dalam, mereka mendekati Tu Siao Cui dan Siang Koan Goat Nio dengan penuh nafsu birahi.
"Kalian sudah siap?"
Tanya Tu Siao Cui merdu.
"Nona, kami... kami sudah tidak tahan nih! Ayohlah! Cepatan dikit!"
"Baik,"
Sahut Tu Siao Cui dan mendadak tertawa nyaring sambil menggerakkan jari tangannya ke arah para anggota Seng Hwee Kauw itu.
Sungguh menakjubkan, karena jari tangannya memancarkan cahaya, yang kemudian meluncur laksana kilat ke arah dada para anggota Seng Hwee Kauw.
"Aaakh! Aaaakh! Aaaakh...!"
Terdengar suara jeritan yang menyayatkan hati.
Belasan anggota Seng Hwee Kauw itu telah terkapar berlumuran darah, dada mereka berlubang tertembus Hian Goan Ci (Ilmu Jari Sakti) yang dilancarkan Tu Siao Cui.
"Engkau... engkau...."
Kepala anggota Seng Hwee Kauw masih sempat menudingnya.
"Engkau... engkau siapa?"
"Hi hi hi!"
Tu Siao Cui tertawa nyaring.
"Aku Bu Ceng Sianli (Bidadari Tanpa Perasaan)! Hi hi hi...!"
"Haaah...!"
Mata Kepala anggota Seng Hwee Kauw mendelik-delik, kemudian nyawanya melayang.
"Kakak Cui...."
Siang Koan Goat Nio tidak tega menyaksikan kematian mereka.
"Engkau... engkau sungguh sadis! "Goat Nio!"
Tu Siao Cui tersenyum.
"Yang sadis aku atau mereka? Seandainya kita tidak memiliki ilmu silat, apa yang akan terjadi atas diri kita? Bukankah mereka akan memperkosa kita secara bergilir? Nah, mereka begitu jahat maka aku harus membunuh mereka demi membela sesama kaum wanita."
"Kakak Cui...."
Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.
"Goat Nio!"
Tu Siao Cui tersenyum lagi.
"Mereka adalah para penjahat, jadi pantas diberantas. Engkau berhati lemah, itu akan membahayakan dirimu sendiri lho!"
"Tapi...."
Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang.
"Cukup melukai mereka saja, tidak perlu membunuh."
"Hi hi hi!"
Tu Siao Cui tertawa cekikikan.
"Engkau berhati bijak dan penuh rasa kasihan, maka engkau tidak boleh berkecimpung di rimba persilatan. Lebih baik hidup tenang di suatu tempat yang sepi."
"Aku memang tidak ingin berkecimpung di rimba persilatan, hanya saja...."
Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku sedang mencari seseorang...."
"Mencari seseorang?"
Tu Siao Cui menatapnya seraya bertanya.
"Mencari kekasihmu?"
"Ng!"
Siang Koan Goat Nio mengangguk dengan wajah agak kemerah-merahan.
"Hi hi hi!"
Tu Siao Cui tertawa nyaring.
"Engkau tidak perlu mencarinya, seharusnya dia yang mencarimu."
"Tapi...."
Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening, kemudian menatapnya seraya berkata.
"Engkau seperti ibuku...."
"Oh, ya?"
"Engkau dan ibuku sama-sama suka tertawa cekikikan. Heran! Kenapa bisa begitu?"
"Siapa ibumu?"
"Kou Hun Bijin."
"Apa?"
Tu Siao Cui terbelalak.
"Ibumu adalah Kou Hun Bijin yang awet muda itu?"
"Ya."
Siang Koan Goat Nio mengangguk.
"Engkau kenal ibuku?"
"Puluhan tahun lalu, kami pernah bertemu."
Tu Siao Cui memberitahukan, kemudian menatapnya dengan penuh keheranan.
"Engkau adalah anak angkatnya?"
"Aku anak kandungnya, ayahku adalah Kim Siauw Suseng."
"Apa?"
Tu Siao Cui tertegun.
"Kim Siauw Suseng yang juga awet muda itu ayahmu?"
"Ya."
Siang Koan Goat Nio mengangguk, gadis itu memandangnya dengan mata terbelalak.
"Tadi engkau bilang, puluhan tahun lalu pernah bertemu ibuku?"
"Benar."
"Bagaimana mungkin?"
Siang Koan Goat Nio tidak percaya.
"Usiamu baru dua puluhan."
"Hi hi hi!"
Tu Siao Cui tertawa cekikikan.
"Kalau kubilang usiaku sudah hampir sembilan puluh, engkau percaya?"
"Tentu tidak."
"Ayah dan ibumu awet muda, apakah aku tidak bisa dari tua kembali menjadi muda seperti anak gadis berusia dua puluhan?"
"Itu...."
Siang Koan Goat Nio tetap tidak percaya.
"Aku tidak percaya sama sekali."
"Kelak engkau pasti percaya."
Tu Siao Cui tersenyum.
"Oh ya, Goat Nio, kita terpaksa harus berpisah di sini, karena masih ada urusan yang harus kuselesaikan."
"Kakak Cui...."
Siang Koan Goat Nio memandangnya seraya bertanya.
"Tadi engkau menggunakan ilmu apa membunuh para anggota Seng Hwee Kauw itu?"
"Hian Goan Ci!"
Tu Siao Cui memberitahukan.
"Hian Goan Ci?"
Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening.
"Ilmu apa itu?"
"Ilmu jari sakti,"
Ujar Tu Siao Cui menjelaskan.
"Tadi aku menggunakan empat bagian lwee-kangku, maka dada mereka tertembus oleh ilmu tersebut. Seandainya aku cuma menggunakan dua atau tiga bagian lweekangku, mereka hanya akan mengalami kelumpuhan."
"Kalau begitu, kenapa engkau tidak melumpuhkan mereka, melainkan membunuh mereka?"
"Engkau harus tahu, mereka adalah penjahat yang suka memperkosa wanita,"
Sahut Tu Siao Cui.
"Oleh karena itu, mereka harus diberantas tanpa ampun."
Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.
"Goat Nio!"
Tu Siao Cui tersenyum.
"Kalau kita berjodoh, kelak pasti akan berjumpa lagi."
"Ya."
Siang Koan Goat Nio manggut-manggut.
"Goat Nio, sampai jumpa!"
Baca Juga: Kisah Si Pedang Kilat 5
Baca Juga: Istana Pulau Es 6