Eps 8 Pedang Angin Berbisik - Han Meng
Baca online Pedang Angin Berbisik - Han Meng
Cersil Pedang Angin Berbisik - Han Meng.
"Sebelum kalian memutuskan aku ingin memberi beberapa masukan pada kalian. Kembalinya kalian pada apa yang tersisa dari keluarga Huang, ada kemungkinan akan membuat keadaan yang sudah mulai tenang kembali bergoncang. Entah goncangan besar atau kecil, hal itu tidak bisa dikatakan dengan mudah. Tergantung dengan bagaimana kalian menyikapi keadaan sekarang ini.", ucap Hua Ng Lau segera setelah dia menanyakan hal itu.
"Kalian bisa saja datang dan mengambil alih apa yang tersisa dari keluarga Huang, sebagai orang yang paling berhak atas warisan dari keluarga Huang. Jika demikian, itu berarti akan ada sebagian besar dari Partai Pedang Keadilan yang akan memisahkan diri. Atau bisa juga kalian datang hanya sebagai bagian lain dari sisa-sisa keluarga Huang. Mengikuti mereka yang sudah terlebih dahulu menggabungkan diri dengan Ding Tao. Meskipun tidak ada goncangan besar, namun tentu saja dengan kemunculan kalian akan ada penyesuaian dan ada singgungan-singgunngan yang muncul.", ujar Hua Ng Lau sambil memandang ke arah Huang Ying Ying. Dia tidak ingin menjelaskan dengan detail tapi berharap Huang Ying Ying bisa membayangkan sendiri bagaimana kemungkinan akan munculnya singgungan-singgungan baik dalam partai maupun dalam keluarga Ding Tao. Setelah mengambil nafas dalam-dalam Hua Ng Lau melanjutkan.
"Atau jika kalian ingin memulai hidup yang baru. Aku memiliki satu tawaran bagi kalian."
"Pertemuan kita yang terjadi oleh karena satu kebetulan, kupandang sebagai ketentuan langit. Beberapa hari ini, aku sering sekali memikirkan keadaanku yang tidak memiliki keluarga maupun pewaris untuk mewarisi ilmu dari keluarga Hua. Dalam keadaan seperti ini, bertemu dengan kalian yang kehilangan akar kalian, membuat aku berpikir."
"Jika kalian bersedia, aku ingin mengangkat kalian sebagai pewarisku, menjadi murid-muridku yang bisa meneruskan ilmu yang sudah kupelajari. Agar tidak punah di tanganku, melainkan boleh diamalkan demi kebaikan sampai ke generasi-generasi yang selanjutnya.", ujar Hua Ng Lau sambil tersenyum pada kedua anak muda itu. Tawaran Hua Ng Lau itu tentu saja membuat kedua bersaudara itu terkejut bukan main. Mereka sudah menyaksikan sendiri kehebatan Hua Ng Lau saat menghadapi Ong Bun dan anak buahnya, jika dibandingkan tentu kehebatannya beberapa tingkat di atas kemampuan ayah mereka sendiri. Bagi Huang Ren Fu tawaran itu membuah pilihan menjadi mudah, kembali ke Wuling tidak berarti apa-apa lagi baginya, seluruh keluarganya sudah tiada. Usaha yang dulu dimiliki keluarganya sekarang sudah berada di tangan orang lain. Jika usaha itu masih berada di tangan Tiong Fa, mungkin masih ada keinginan untuk merebutnya kembali, namun sudah ada yang membalas dendam pada Tiong Fa dan sisa-sisa keluarga Huang sudah jatuh ke tangannya, orang itupun adalah sahabatnya sendiri, maka keinginan itu pun hampir-hampir tidak ada. Di lain pihak, melepaskan masa lalu juga berarti mendapatkan seorang guru yang mumpuni. Apalagi dari nama orang tersebut, ada satu ingatan tentang nama-nama tokoh besar dalam dunia persilatan. Seorang tokoh sakti yang juga pandai dalam hal pengobatan, bermarga Hua, menurut orang masih keturunan dari Hua Tuo di jaman tiga kerajaan. Tapi Huang Ren Fu masih ragu-ragu untuk memutuskan, keraguannya itu muncul karena Huang Ying Ying. Bagi Huang Ren Fu, sekarang ini Huang Ying Ying adalah orang yang paling berharga buatnya. Seluruh keluarganya sudah mati terbantai, tinggal adiknya seorang. Sementara Huang Ying Ying memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Ding Tao. Jika Huang Ying Ying memutuskan untuk menemui Ding Tao, maka Huang Ren Fu tidak akan tega untuk melepaskannya pergi sendirian, menghadapi situasi yang mungkin tidak mengenakkan. Bagaimanapun juga Ding Tao sudah berkeluarga, pertemuan mereka itu nanti, tentu akan penuh dengan perasaan yang serba salah. Karena itu, Huang Ren Fu tidak segera menjawab pertanyaan Hua Ng Lau, sebaliknya dia menoleh dan memandang ke arah Huang Ying Ying. Huang Ying Ying tentu saja bisa merasakan apa yang ada dalam hati kakaknya itu. Gadis ini pun berusaha memahami hatinya yang sedang tidak menentu. Ada kerinduan untuk bertemu kembali dengan Ding Tao. Ada ketakutan untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja muncul jika dia bertemu kembali dengan Ding Tao. Setelah beberapa lama dia berpikir, dengan suara lirih dia bertanya.
"Bisakah kita pergi diam-diam untuk mengunjungi Wuling? Aku ingin melihat bagaimana kehidupan Ding Tao sekarang ini, setelah itu aku akan mengikuti Kakak Ren Fu dan Kakek Hua."
Huang Ren Fu memandangi adiknya dalam-dalam, kemudian dengan lembut bertanya.
"Adik Ying Ying, sebenarnya apakah yang ada dalam hatimu? Jika kau ingin hidup bersama Ding Tao, aku akan menemanimu. Di dunia ini tinggal dirimu seorang keluargaku, apa pun keputusanmu aku akan menemanimu dengan senang hati. Jika memang ingin melepaskan diri dari masa lalu, apakah tidak lebih baik jika tidak usah melihatnya sekali lagi, meskipun dari kejauhan."
"Tidak Kakak Ren Fu, aku sudah memutuskan untuk meninggalkan masa laluku, termasuk hubunganku dengan Ding Tao. Aku mengerti kedatanganku hanya akan membawa gangguan dalam rumah tangganya. Aku hanya ingin melihat dirinya sekali lagi.", jawab Huang Ying Ying.
"Tidakkah hal itu akan membuat hatimu terluka nantinya?", tanya Huang Ren Fu dengan hati-hati. Huang Ying Ying tersenyum dan menjawab.
"Hatiku tidak serapuh itu. Kakak Ren Fu dan Kakek Hua tidak perlu kuatir."
Huang Ren Fu memandangi adiknya sebentar, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Hua Ng Lau.
"Menurut ... Kakek Hua bagaimana"
Hua Ng Lau dengan tertawa menjawab.
"Ya sudah, kalau Anak Ying Ying sendiri sudah berkata demikian, aku percaya sepenuhnya. Jadi kalian mau menjadi pewarisku?"
Sejenak Huang Ren Fu dan Huang Ying Ying saling berpandangan sebelum menjawab dengan serempak.
"Ya Kakek Hua, kami mau."
Tanpa menunggu banyak aba-aba, keduanya pun segera menjatuhkan diri berlutut dan memberikan hormat pada Hua Ng Lau, sesuai dengan adat kebiasaan pada jaman itu ketika mengangkat seseorang menjadi guru.
Dalam dunia persilatan, hubungan guru dan murid tidak sama dengan hubungan antara guru dan murid di masyarakat biasa.
Hubungan guru dan murid adalah satu hubungan yang khusus, tidak ubahnya hubungan antara orang tua dengan anaknya.
Selesai dengan segala tatacara yang biasa dilakukan, termasuk menyuguhkan teh dan sebagainya.
Huang Ren Fu kemudian bertanya pula pada Hua Ng Lau.
"Hmm... apakah kami sebaiknya memanggil Guru Hua atau Kakek Hua saja?"
"Hehehe, kalian lebih kuanggap sebagai cucuku sendiri, oleh karena itu, panggil saja aku kakek.", jawab Hua Ng Lau sambil tertawa bahagia. Huang Ying Ying pun tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Hua Ng Lau. Ada kalanya membuat orang lain bahagia, terasa lebih membahagiakan daripada mencari kebahagiaan bagi diri sendiri. Penderitaan yang dialami pun terasa lebih ringan, saat perhatian kita tertuju pada orang lain dan bukan berpusat pada diri sendiri.
"Kakek..., sebenarnya siapa julukan kakek dalam dunia persilatan?", tanya Huang Ying Ying dengan manja.
"Jika cucu tidak salah, apakah kakek yang berjuluk Tabib Dewa?", ujar Huang Ren Fu yang dengan cepat ikut menyesuaikan diri.
"Hahaha, kalian ini memang cucu kakek yang pintar. Ya, ada juga orang yang memanggilku demikian.", jawab Hua Ng Lau sambil tertawa.
"Tabbib Dewa? Kalau begitu selain mahir ilmu silat, kakek tentu juga mahir ilmu pengobatan, pantasan di pelataran rumah ada banyak tanaman obat-obatan yang sedang dikeringkan.", sahut Huang Ying Ying.
"Kakek, kakek pandai ilmu pengobatan dan juga bermarga Hua, apakah kakek masih keturunan dari Tabib Hua Tuo yang terkenal dalam sejarah itu?", tanya Huang Ying Ying yang berbicara tanpa henti.
"Heh... menurut orangtuaku demikianlah halnya.", jawab Hua Ng Lau dengan mata berbinar-binar.
"Tapi setahuku, Tabib Hua Tuo tidak pandai bersilat, bagaimana kakek bisa jadi mahir pula bersilat?", tanya Huang Ying Ying sekali lagi.
"Hmm... kejadiannya seperti ini...", ujar Hua Ng Lau membuka ceritanya.
"Sebenarnya dari keluarga Hua, tidak banyak yang meneruskan ilmu keluarga mengikuti Kakek moyang kami Tabib Hua Tuo. Tapi setidaknya di setiap generasi harus ada satu anak yang berkewajiban meneruskan ilmu keluarga."
"Sejak dari dulu, sebagai seorang tabib, hubungan antara penerus keluarga ilmu keluarga Hua dengan orang dari dunia persilatan memang tidak pernah putus. Namun prinsip kami adalah mengobati siapapun yang datang tanpa mau berpihak pada golongan tertentu. Tokoh-tokoh dunia persilatan pada umumnya menghargai keputusan ini dan tidak pernah mengganggu kami."
"Siapa sangka, pada jaman kakek buyutku hidup, ada seorang tokoh dunia persilatan yang mendendam pada kakek buyutku, karena dia telah menyelamatkan nyawa dari musuh bebuyutannya. Tanpa menghiraukan kesepakatan yang tidak tertulis di masa itu, dia berusaha membunuh kakek buyutku itu."
Sambil mengambil nafas Hua Ng Lau menghirup teh di cangkirnya sambil diam-diam melirik Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu yang sedang mendengarkan cerita Hua Ng Lau dengan penuh perhatian.
Entah kenapa, kebanyakan orang tua memang suka bercerita dan kesenangan bercerita itu semakin berlipat saat pendengarnya mendengarkan dengan penuh perhatian.
Demikian juga Hua Ng Lau, sudah lama orang tua ini hidup sendirian.
Munculnya dua anak muda ini membawa semangat baru dalam hidupnya.
"Lalu apa yang terjadi kemudian? Mengapa ada yang berani berusaha menyakiti kakek buyut, apakah dia tidak takut pada orang-orang dunia persilatan yang lain?", tanya Huang Ying Ying yang tidak sabaran. Senyum lebar terbentuk di wajah Hua Ng Lau.
"Hee... sabar sedikit biar kakek membasahi tenggorkan kakek dulu."
Huang Ying Ying pun mendapatkan sodokan di pinggangnya dari kakaknya.
Sambil meleletkan lidah, Huang Ying Ying segera bangkit dan mengisi cangkir Hua Ng Lau dengan teh.
Setelah menghirup teh dalam cangkirnya untuk kedua kalinya dan berdehem beberapa kali, Hua Ng Lau kembali melanjutkan ceritanya.
"Tokoh jahat yang berusaha menyakiti kakek buyut ini bukan orang sembarangan. Bisa dikatakan dia termasuk 4 besar dalam dunia persilatan di masa itu. Untung saja rencananya untuk mencelakai kakek buyut berhasil didengar oleh partai Kaypang."
"Ketua Kaypang di masa itu, yang termasuk 4 besar juga, mengundang sahabatnya untuk menggagalkan rencana tokoh jahat itu. Pertarungan hebat pun terjadi sampai beberapa kali. Karena ilmu mereka memang hampir seimbang, Ketua Kaypang dan sahabatnya tidak pernah berhasil mengalahkan dengan telak. Meskipun mereka berhasil menyelamatkan nyawa kakek buyut, namun selama tokoh jahat itu masih hidup, bahaya terus saja mengancam."
"Akhirnya Ketua Kaypang dan sahabatnya itu memutuskan untuk mengajarkan dua macam ilmu silat andalan mereka pada kakek buyutku. Dengan demikian diharapkan kakek buyut bisa melindungi dirinya sendiri dan tidak harus selalu bergantung pada perlindungan orang lain."
"Sejak itu pula, selain mewarisi ilmu pengobatan, pewaris ilmu keluarga Hua, juga mewarisi ilmu silat.", ujar Hua Ng Lau menutup ceritanya.
"Oh... rupanya demikian. Kakek, ada hal yang membuatku heran. Bukankah ilmu keluarga Hua diwariskan turun temurun sampai beberapa generasi. Jika demikian, bukankah harusnya keluarga Hua sudah menjadi satu kekuatan yang besar? Ataukah di tiap generasi hanya boleh ada satu pewaris saja, sementara yang lain tidak mendapatkan bekal apa-apa sedikitpun?", tanya Huang Ying Ying sambil mengerutkan alisnya.
"Hehehe, kami Keluarga Hua memang berbeda dengan yang lain. Sejak keturunan Tabib Hua Tuo yang pertama, kami sudah merasakan beratnya menyandang nama besar. Bukankah beliau akhirnya harus menderita hukuman mati oleh karena nama besarnya itu?"
"Itu sebabnya hanya ada satu pewaris di tiap generasi dan hanya ada satu orang yang berhak menyandang nama marga Hua dari keturunan Tabib Hua Tuo. Hal ini pun dilakukan hanya agar ilmu itu tidak lenyap begitu saja.", ujar Hua Ng Lau menjelaskan.
"Wah.. tapi bagaimana kali pewaris itu tidak memiliki keturunan atau mengalami kecelakaan? Apa tidak terlalu riskan dengan mempercayakannya pada satu orang saja?", tanya Huang Ying Ying sekali lagi.
"Hehehe, sebenarnyalah demikian dan memang pernah terjadi demikian. Contohnya seperti diriku yang tidak memiliki keturunan. Dan pernah juga ada salah seorang pewaris ilmu keluarga Hua yang mati sebelum sempat mewariskannya pada seseorang.", jawab Hua Ng Lau sambil tertawa.
"Lho... jika begitu, kakek mendapatkan ilmu keluarga Hua dari siapa. Kok aku sekarang jadi bingung.", ujar Huang Ying Ying sambil menggosok-gosok ujung hidungnya yang mancung.
"Hahahaha, hmm... rupanya kalau tidak diceritakan sampai tuntas, kau tidak akan pernah puas.", jawab Hua Ng Lau sambil tertawa. Huang Ren Fu pun ikut tertawa, sejak mendengarkan jawaban Hua Ng Lau tentu saja dia sudah memiliki dugaan. Namun dia tidak ingin menjawabnya, dia lebih suka berdiam diri dan mendengarkan percakapan antara Huang Ying Ying dan Hua Ng Lau, karena terlihat jelas bagaimana keduanya menikmati percakapan itu.
"Tentu saja tidak puas, karena itu kakek baik tolong ceritakan sampai tuntas", ujar Huang Ying Ying dengan manja. Ya, untuk sejenak lamanya segala penderitaan yang dialami Huang Ying Ying jadi terlupakan. Tidak salah keputusan Huang Ren Fu untuk berdiam diri.
"Hehehe, ya,ya. Nah dengarkan baik-baik. Selain mewariskannya pada satu orang, kami penerus ilmu warisan keluarga Hua juga diwajibkan untuk menuliskan ilmu yang kami miliki serta pengembangannya di sebuah kitab. Kitab itu sendiri tersimpan di tempat yang aman. Sehingga bila terjadi sesuatu pada diri kami, jika langit mengijinkan dan ada orang yang berjodoh, ilmu itu masih ada yang meneruskan. Dan itulah yang terjadi saat salah seorang penerus keluarga Hua meninggal sebelum sempat mewariskan ilmunya.", jawab Hua Ng Lau.
"Kalau memang salah seorang keturunan Tabib Hua Tuo meninggal tanpa meninggalkan keturunan dan ilmu itu diwarisi lewat kitab, mengapa sampai sekarang penerusnya masih bermarga Hua? Apakah memang karena jodoh maka yang menemukannya juga orang bermarga Hua?", tanya Huang Ying Ying.
"Tidak, bukan demikian. Saat itu penemunya tidak bermarga Hua, namun ketika dia menemukan kitab itu dan membaca pesan dari penulisnya. Hatinya tergerak oleh budi pekerti dari para penerus Tabib Hua Tuo dan diapun memutuskan untuk mengganti marganya menjadi Hua, demi meneruskan nama keluarga Hua yang terputus. Hal itu dia tuliskan dalam kitabnya dan sampaikan pada penerusnya. Sejak saat itu, setiap penerus ilmu keluarga Hua, otomatis memiliki nama marga Hua, meskipun jika sebelumnya mereka bukan bermarga Hua."
"Kakek, jika demikian, apakah kakek berharap agar kami juga mengubah nama marga kami menjadi Hua?", Huang Ren Fu yang sejak tadi diam mendengarkan, sekarang membuka suara. Hua Ng Lau tersenyum lembut.
"Memang seharusnya demikian. Namun dalam kasus kalian, kupikir, tidak ada salahnya jika kau tetap bermarga Huang dan hanya Ying Ying yang mengganti marganya menjadi Hua."
Menoleh ke arah Huang Ren Fu dia melanjutkan.
"Hal ini kuputuskan karena kebetulan dirimu adalah satu-satunya penerus nama keluarga kalian."
Kemudian kepada Huang Ying Ying dia berkata.
"Kuharap kau tidak keberatan, apalagi kalau dipikir sebenarnya hanya masalah nama, hubunganmu dengan kakakmu juga tidak berubah, kalian tetap kakak beradik."
Dengan rasa malu Huang Ren Fu berkata.
"Kuharap kakek tidak salah paham, sebenarnya jika dikatakan meninggalkan masa lalu, sudah sepantasnya kalau cucu mengganti juga nama marga menjadi Hua, hanya saja seperti yang kakek bilang, penerus nama keluarga Huang dari Wuling hanya tinggal diriku seorang."
Hua Ng Lau tertawa sambil menepuk bahu Huang Ren Fu.
"Hahaha, apa perlunya merasa sungkan? Sejak hari ini kalian sudah kuanggap cucuku sendiri, masalah nama marga bukan hal yang perlu dipikirkan. Hal itu menjadi penting untuk menunjukkan rasa terima kasih kita pada para pendahulu."
"Nah, apakah kalian setuju dengan pengaturan itu?", tanya Hua Ng Lau sambil melihat ke kanan dan ke kiri, ke arah Huang Ren Fu dan Huang Ying Ying.
"Tentu saja kek, tidak ada masalah. Tapi omong-omong, karena cucu perempuanmu ini yang mewarisi marga Hua, apakah itu artinya ilmu warisan keluarga Hua yang diwariskan akan lebih lengkap?", jawab Huang Ying Ying atau yang sekarang lebih tepatnya bernama Hua Ying Ying, sambil bertanya.
"Hahaha, apakah kau mau seperti itu?", tanya Hua Ng Lau sambil tertawa lebar.
"Ya... tidak usah selisih banyak-banyak, sedikit saja, asal cucu perempuanmu ini punya senjata rahasia untuk melawan kakaknya kalau kakaknya sedang nakal.", jawab Hua Ying Ying sambil menempel-nempel pada Hua Ng Lau.
"Hahahaha, baiklah, biar orang berkata kalau aku kurang adil, nanti aku beri satu ilmu rahasia, supaya kakakmu tidak berani nakal padamu.", jawab Hua Ng Lau sambil tertawa lebar. Huang Ren Fu tentu saja tidak keberatan, Hua Ying Ying adalah adik kesayangannya, jika Hua Ng Lau bersikap baik padanya, diapun ikut bergembira. Apalagi sejak ayah mereka merebut Pedang Angin Berbisik dari tangan Ding Tao, adiknya itu sering sekali menjadi murung dan semakin murung sejak terbunuhnya seluruh anggota keluarga mereka. Kehadiran Hua Ng Lau sebagai kakek yang memanjakan cucunya, tampaknya menjadi penghibur yang tepat untuk mengakhiri masa-masa kesedihan Hua Ying Ying. Huang Ren Fu hanya ikut tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Hua Ying Ying yang melihat kakaknya hanya bisa tertawa pun, menggodanya.
"Nah, jangan iri ya. Tapi jangan kuatir, kalau kakak baik padaku aku tentu tidak akan memakai ilmu rahasia itu."
"Hahaha, baiklah aku akan jadi kakak yang patuh pada adiknya.", jawab Huang Ren Fu sambil tertawa.
"Hehehe, Ying Ying, kakek belum beritahukan ilmu rahasia untuk melawan kakakmu, tapi melihat gelagatnya, sebaiknya kakek beritahukan sekarang. Ilmu rahasia itu namanya, ilmu menjadi adik yang sopan dan penurut. Kalau kau sudah mahir ilmu itu, kutanggung kakakmu tidak akan pernah mengganggumu.", ujar Hua Ng Lau sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Waah... kalau ilmu itu sih sudah tidak perlu diajari lagi kek...", ujar Hua Ying Ying sambil menepuk-nepuk jidatnya, berpura-pura kecewa, diiringi tawa Huang Ren Fu dan Hua Ng Lau. Sudah berpuluh tahun rumah kecil itu tidak pernah ramai oleh tawa. Tentu saja perubahan yang terjadi membuat tetangga kiri kanan ingin tahu. Dinding rumah tidak tebal, jarak antara rumah yang satu dengan yang lain juga tidak berjauhan. Pun ketiga orang itu tidak menahan-nahan suaranya, hati sedang gembira, dengan sendirinya suara menjadi cukup keras. Tapi tidak ada yang merasa terganggu dengan suara tawa mereka. Sebaliknya ketika para tetangga dekat mulai menangkap bahwa Hua Ng lau mengangkat dua orang muda sebagai cucunya, mereka ikut merasa bergembira. Maklum saja sebagai tabib, entah sudah berapa banyak orang yang tertolong oleh kebaikan hati Hua Ng Lau.
"Kakek, tentang keinginan Adik Ying Ying untuk melihat keadaan Ding Tao, menurut kakek, kapan baiknya perjalanan itu kita mulai?", tanya Huang Ren Fu setelah tawa mereka mereda.
"Hmm... aku tahu Ying Ying tentu ingin secepatnya melihat keadaan Ding Tao, namun setidaknya aku ingin kalian menunggu kira-kira 1/2 tahun lamanya. Dalam waktu itu aku akan melatih kalian dengan ilmu beladiri warisan keluarga Hua. Kalian sudah memiliki dasar yang cukup baik, jadi kurasa waktu yang 1/2 tahun itu sudah cukup untuk membuat kalian menjadi jagoan yang tangguh.", ujar Hua Ng Lau menjawab pertanyaan Huang Ren Fu. Wajah Hua Ying Ying berubah menjadi sedikit muram, namun dia tidak mengeluh, sebaliknya justru dia menganggukkan kepala.
"Aku mengerti kek, tanpa bekal yang cukup untuk menjaga diri. Berkelana di dunia persilatan hanya akan mengundang bahaya saja. Aku juga tidak ingin menjadi beban bagi kakek."
Hua Ng Lau tersenyum dan mengelus kepala Hua Ying Ying yang dengan cepat menjadi cucu kesayangannya itu.
"Baguslah kalau kau bisa berpikir dengan matang. Mulai besok kita akan mempelajari dasar-dasar dan teori ilmu bela diri keluarga Hua."
"Hmm... kek, waktu 1/2 tahun itu tentunya bukan waktu yang tidak bisa ditawar bukan? Jika ternyata kami bisa maju dengan pesat, melebihi perkiraan kakek, tentu waktu yang 1/2 tahun itu bisa menjadi lebih singkat.", tanya Huang Ren Fu. Pertanyaan itu timbul bukan dari ketidak sabarannya, namun Huang Ren Fu yang melihat kemurungan Hua Ying Ying ingin menunjukkan kemungkinan itu pada adiknya. Sekaligus ingin melecut pula semangat adiknya itu dalam berlatih dengan adanya harapan tersebut. Hua Ng Lau yang sudah mulai sedikit-sedikit memahami watak Huang Ren Fu tersenyum dalam hati.
"Ya, tentu saja, semakin tekun kalian dalam mempelajarinya, semakin pendek pula waktu yang dibutuhkan. Hanya saja aku perlu mengingatkan bahwa tubuh kitapun memliki batasan-batasannya. Berlatih tanpa beristirahat yang cukup, justru akan merusak tubuh.", jawab Hua Ng Lau dengan bijak.
"Wah, kalau begitu kek, kenapa harus menunggu besok untuk memulai pelajarannya? Bagaimana kalau dimulai dari sekarang?", tanya Hua Ying Ying pada Hua Ng Lau.
"Hehehehe, bukankah sudah kubilang, tubuh kalian pun perlu istirahat. Barusan kalian harus bertempur dan memaksa tubuh kalian untuk bekerja melebihi batas kekuatannya. Sekarang kalian harus mengistirahatkan tubuh kalian baik-baik, besok barulah kalian bisa perlahan-lahan mulai berlatih.", jawab Hua Ng Lau sambil tertawa.
"Hmmm... tapi kek, kalau hanya dalam bentuk teori, kan bisa dilakukan sambil beristirahat?", ujar Hua Ying Ying terus memaksa.
"Hahaha, ya,ya, kalau begitu pun boleh. Baiklah hari ini kita mulai pelajarannya, tapi ingat hanya teorinya saja yang akan kuuraikan. Besok baru kalian boleh menggunakan tenaga kalian.", jawab Hua Ng Lau sambil menggelengkan kepala, diikuti oleh sorakan Hua Ying Ying yang senang karena keinginannya terpenuhi.
"Adik Ying, omong-omong, apa kau tidak ada yang terlupa?", tegur Huang Ren Fu setelah tawa Hua Ying Ying mereda.
"Lupa? Apa ya yang terlupa?", Hua Ying Ying balik bertanya dengan wajah bingung.
"Hari sudah siang, sedari tadi sejak menolong kita kakek belum sempat makan apa-apa, hanya meminum beberapa cangkir the. Apa tidak kasihan?", tegur Huang Ren Fu sambil menahan senyum.
"Astaga... aku lupa. Maafkan aku ya kek, kakek mau makan apa? Apa ada bahan-bahan di dapur yang bisa dimasak? Atau kita pergi untuk membeli makanan?", ujar Hua Ying Ying sambil segera berjalan ke arah dapur. Rumah Hua Ng Lau tidak besar, tentu saja dengan cepat keduanya sudah tahu di mana dapur, ruang tidur dan sebagainya. Hua Ng Lau merasa bahagia, memang manusia sudah dikodratkan untuk hidup bersama-sama. Rumah yang biasanya sepi jadi ramai, orang tua itu pun merasakan kehangatan dalam hatinya. Sambil tersenyum dia menyahut.
"Di dapur masih ada nasi yang kumasak tadi pagi, ada juga beras, sayuran, tepung dan bumbu-bumbu seadanya."
Huang Ren Fu pun menyusul Hua Ying Ying sambil berpamitan pada Hua Ng Lau.
"Kek, biar aku bantu Adik Ying Ying menyiapkan makan siang."
"Ya, ya, pergilah. Aku akan beristirahat sebentar, sudah lama juga aku tidak menggerakkan badan seperti tadi", jawab Hua Ng Lau sambil menepuk-nepuk pundak pemuda itu. Dari tempatnya Hua Ng Lau bisa mendengar senda gurau kakak beradik itu di dapur.
"Hee... memangnya kau bisa masak apa?", terdengar suara Huang Ren Fu berkata pada adiknya.
"Oh, jangan salah ya, aku kan sering belajar memasak juga di rumah. Bukan seperti dirimu yang hanya tahu makan saja.", sahut Hua Ying Ying.
"Katanya sudah pandai ilmu sopan dan penurut pada kakak, tapi sepertinya kok belum dipraktekkan ya?", balas Huang Ren Fu.
"Hooo, maunya...", ujar Hua Ying Ying dibalas tawa oleh Huang Ren Fu. Sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok, mata Hua Ng Lau pun mulai terpejam dengan senyum masih menghiasi wajahnya. Tidak salah jika orang bijak pernah mengatakan, untuk segala sesuatu di bawah langit ini ada waktunya. Ada waktu untuk mencucurkan air mata, ada pula waktunya untuk tersenyum dan tertawa. Kali ini adalah saat bagi Hua Ng Lau dan kedua cucu barunya untuk tertawa dalam kebahagiaan. -----------------------0 --------------------------Di tempat lain, Ding Tao dan sahabat-sahabatnya sepertinya belum bisa lepas dari perjuangan dan kerja keras. Pernikahan Ding Tao memberikan selingan yang menyegarkan, namun beberapa bulan berjalan usia pernikahannya, mereka sudah kembali sibuk dengan pekerjaan mereka. Permasalahan pertama muncul dari keinginan Murong Yun Hua agar Ding Tao memanfaatkan kitab-kitab koleksi keluarga Murong. Terutama kitab-kitab ilmu silat yang berisi berbagai macam aliran ilmu silat yang berhasil dikumpulkan oleh ayah Murong Yun Hua dan Murong Huolin. Ding Tao yang sejak awal enggan untuk melanggar batasan dan kebiasaan dalam dunia persilatan, tentu saja dengan cepat menolak ide Murong Yun Hua tersebut. Mencuri belajar dari ilmu orang lain adalah perbuatan yang dipandang hina dalam dunia persilatan. Tidak ingin berselisih dengan Ding tao, Murong Yun Hua pun tidak memaksa Ding Tao untuk ketiga kalinya. Namun Murong Yun Hua yang menyadari betapa pentingnya peran Ding Tao sebagai pimpinan dari satu partai, tidak mau menyerah begitu saja, diam-diam Murong Yun Hua menemui Chou Liang untuk membicarakan hal ini. Chou Liang seperti biasa sibuk dengan masalah jaringan mata dan telinga Partai Pedang Keadilan. Terutama dengan semakin besarnya bayangan dari Partai Pedang Keadilan yang digerakkan oleh Guru Chen Wuxi, Fu Tong si tongkat besi dan Song Luo si pemilik rumah makan. Chou Liang tidak ingin mereka yang bergerak di luar ini sembarangan menerima anggota. Justru karena mereka bergerak tanpa membawa nama Partai Pedang Keadilan, tiap-tiap anggota harus benar-benar dapat dipercaya sebelum mereka boleh tahu bahwa sebenarnya mereka masih merupakan bagian dari Partai Pedang Keadilan. Jumlah anggota inti dari gerakan bayangan ini tidaklah besar, namun tiap orang tentu memiliki jaringannya sendiri yang tidak tahu menahu tentang hubungan mereka dengan Partai Pedang Keadilan. Hingga saat itu, jumlah mereka yang menjadi inti dari bagian tersebut baru sejumlah 14 orang, termasuk guru Chen Wuxi, Fu Tong dan Song Luo. Dari 14 orang itu, 5 di antaranya bertugas untuk mengurusi rumah-rumah aman, tempat anggota inti Partai Pedang Keadilan bisa bersembunyi jika diperlukan. Selain 5 tempat tersebut, secara lebih terbuka untuk anggota Partai Pedang Keadilan sendiri, Chou Liang juga sudah menempatkan 8 orang tersebar di berbagai tempat untuk menyiapkan tempat serupa itu. Demikian juga dengan jaringan mata dan telinga bagi Partai Pedang Keadilan yang dibentuk dari orang-orang Partai Pedang Keadilan sendiri. Demkian sibuknya Chou Liang menangani dua jalur jaringan mata-mata dari Partai Pedang Keadilan. Bukan hanya sebagai muara akhir dari setiap sumber informasi, Chou Liang juga bertanggung jawab untuk menyaring dan menganalisa setiap informasi yang dia terima untuk disampaikan pada Ding Tao dan orang-orang kepercayaannya. Karena itu dahi Chou Liang pun sedikit berkerut saat mendengar Murong Yun Hua berkunjung ke tempat kerjanya dan meminta bertemu. Salah seorang anggota yang sedang menyampaikan laporan, cepat-cepat disuruhnya meninggalkan tempat dan berkas-berkas pun dirapikan sebelum kemudian dia mempersilahkan Murong Yun Hua untuk masuk ke dalam. Tentu saja pintu dibiarkan terbuka lebar-lebar dan seorang pembantu perempuan diminta untuk menghidangkan minuman bagi Murong Yun Hua. Murong Yun Hua sendiri tidak datang sendirian, dia datang bersama seorang pelayan pribadinya. Setelah bertemu, tentu Murong Yun Hua tidak langsung menyinggung masalah yang ingin dia sampaikan. Terlebih dahulu mereka berbasa-basi sejenak. Setelah selesai dengan basa-basi, Murong Yun Hua pun dengan tenang berujar.
"Penasehat Chou Liang, sebenarnya aku datang karena aku memiliki sedikit masalah dengan barang-barang warisan keluarga Murong yang baru saja dikirimkan dari rumah."
"Oh... begitu, kalau memang bisa membantu tentu akan kubantu. Coba nyonya ceritakan masalahnya, barangkali Chou Liang bisa memberikan sedikit bantuan.", ujar Chou Liang sambil menduga-duga. Murong Yun Hua sudah dua bulan lebih tinggal bersama Ding Tao, sebagai orang kepercayaan dan sahabat Ding Tao, sudah berulang kali Chou Liang bertemu dan juga sempat bertukar pikiran dengannya. Dari apa yang dia lihat dan dengar Chou Liang sudah tahu bahwa Murong Yun Hua bukan seorang wanita cantik dengan otak kosong. Murong Yun Hua dengan cepat menyesuaikan diri dengan keadaan di kediaman mereka, markas besar dari Partai Pedang Keadilan. Dalam waktu yang singkat dia berhasil memperoleh kepercayaan dan kesetiaan para pelayan di sana. Mereka dengan senang hati melaksanakan apa yang diminta Murong Yun Hua dari mereka, bukan hanya karena mereka menghargai Ding Tao suaminya, tapi karena mereka hormat dan segan pada Murong Yun Hua sendiri. Murong Yun Hua tidak ragu untuk menegur, tidak lupa juga untuk memuji, tidak canggung untuk mengambil inisiatif dan terbukti apa yang dia sarankan membuat kehidupan dalam rumah tangga Ding Tao berjalan dengan lebih baik. Selesai dengan mengatur para pelayan pribadi untuk keluarga Ding Tao, Murong Yun Hua mengalihkan perhatiannya pada lingkungan di sekelilingnya. Pada tempat bangsal di mana anggota-anggota lain berdiam, perawatan keseluruhan kompleks bangunan, penyediaan makanan dan minuman dan masalah-masalah lain yang menyangkut penghidupan seisi markas besar tersebut. Di sinipun Murong Yun Hua menunjukkan kepiawaiannya dalam mengatur dan menata. Dan dengan bijaksana, dalam melakukan semuanya itu, Murong Yun Hua tidak pernah lupa untuk bertanya terlebih dahulu pada Ding Tao, meskipun hal itu sebenarnya tidak berkenaan secara langsung dengan masalah organisasi. Sehingga ketika pada awalnya ada yang meragukan dan mempertanyakan perintah dari Murong Yun Hua, dengan sendirinya harus menutup mulut ketika mengetahui bahwa hal itu sudah diketahui dan disetujui oleh Ding Tao sendiri. Dengan demikian dalam waktu yang beberapa bulan Murong Yun Hua bukan hanya menjadi isteri Ding Tao, tapi juga berperanan dalam berputarnya roda Partai Pedang Keadilan, meskipun dalam fungsi yang berbeda dengan anggota inti Partai Pedang Keadilan yang lain. Tidak ada seorangpun yang merasa keberatan dengan apa yang dilakukan Murong Yun Hua, justru kesigapan dan kecekatan nyonya muda ini membuat mereka terkagum-kagum. Bahkan Sun Liang yang memiliki keluarga cukup besar dan 3 orang isteri yang cantik dan cakap, juga mengakui kelebihan Murong Yun Hua dibandingkan kebanyakan ibu rumah tangga lainnya. Dalam satu pertemuan, dengan bercanda dia menggoda Ding Tao dan memuji keberuntungannya karena mendapatkan Murong Yun Hua sebagai isterinya. Chou Liang sebagai orang yang berperanan cukup besar untuk menyatukan Ding Tao dan Murong Yun Hua, dalam hati merasa berbangga akan ketepatan keputusannya waktu itu. Itu sebabnya jika kini Murong Yun Hua mengajak dia berbincang, meskipun merasa terganggu tidak kemudian Chou Liang meremehkan nyonya muda ini. Dalam hati dia bertanya-tanya dan yakin bahwa tentu ada persoalan yang cukup penting untuk dibicarakan.
"Sebenarnya, ayah kami berdua, aku dan Adik Huolin, memiliki kegemaran mengumpulkan kitab-kitab berharga dari berbagai tempat. Baik kitab berisikan ilmu pengobatan, kesenian, kerajinan sampai pada kitab-kitab yang berisi ilmu bela diri. Begitu banyaknya koleksi buku mereka, hingga sewaktu kami pindah untuk tinggal di tempat ini, hanya koleksi mereka tentang ilmu bela diri yang bisa kubawa.", ujar Murong Yun Hua bercerita.
"Tadinya kupikir, Kakak Ding Tao yang gemar belajar ilmu bela diri, tentu akan menyukainya. Siapa sangka, ternyata Kakak Ding Tao tidak ingin melihatnya sama sekali, karena tidak ingin disangka mempelajari ilmu orang tanpa ijin. Sekarang aku jadi bingung, hendak disimpan di mana kitab-kitab itu. Jika disimpan di rumah, tentu Kakak Ding Tao akan merasa tersinggung. Hendak disimpan di tempat lain, tentu akan sulit mengawasinya. Bagaimanapun barang itu adalah peninggalan keluarga, apalagi kitab jika tidak disimpan di tempat yang baik akan mudah rusak oleh cuaca.", demikian Murong Yun Hua menjelaskan duduk masalahnya. Chou Liang tentu saja bukan bernama Chou Liang jika tidak dapat segera menangkap maksud dari pembicaraan ini. Meskipun Chou Liang tidak tertarik dengan kitab ilmu silat tapi dia juga paham betapa besar artinya jika Ding Tao mau mempelajari ilmu dalam kitab-kitab tersebut. Sudah tentu yang dibawa Murong Yun Hua bukanlah kitab yang tidak berharga. Sudah tentu pula yang dimaksudkan Murong Yun Hua bukanlah di mana kitab itu harus disimpan, tapi bagaimana caranya agar Ding Tao mau mempelajarinya. Dengan senyum sopan Chou Liang pun menjawab.
"Ah... rupanya begitu, baiklah, jika demikian, orang bermarga Chou ini akan coba bantu untuk mengurusnya. Nyonya tidak perlu memikirkan hal itu lagi."
Murong Yun Hua pun tersenyum mengerti.
"Syukurlah kalau begitu, baiklah kalau begitu aku pamit dahulu, aku tidak berani mengganggu pekerjaan Penasehat Chou Liang lebih jauh lagi. Kuharap Penasehat Chou Liang bisa menemukan solusinya secepat mungkin."
Dengan itu pula pertemuan mereka berakhir, tentunya diwarnai dengan beberapa basa-basi sebelum Murong Yun Hua meninggalkan Chou Liang untuk berpikir.
Berpikir keras karena Chou Liang pun sadar, bahwa masalah mencuri ilmu ini memang masalah yang sensitif bagi orang-orang dalam dunia persilatan.
Bagi beberapa aliran dan tokoh yang keras, terkadang sebelum seseorang diterima menjadi murid, terlebih dahulu harus melalui seleksi yang ketat dan kemudian melakukan upacara yang rumit.
Sudah seperti itupun, belum tentu seluruh ilmu diajarkan, untuk melanjutkan ke tahap tertentu, tidak jarang kembali ada tata cara yang harus dilewati.
Tentu saja bukan tanpa alasan jika satu ilmu dijaga dengan demikian ketatnya.
Karena perbuatan buruk murid tentu akan menjatuhkan nama gurunya.
Kekalahan murid akan menjatuhkan juga nama besar gurunya.
Meskipun tidak semua orang begitu kukuh dengan aturan tidak tertulis ini.
Bagaimanapun juga pada akhirnya, dalam dunia yang mengadu kekuatan maka hukumnya menjadi, siapa yang kuat dialah yang benar, tapi Chou Liang tidak ingin bertindak dengan gegabah.
Dia tahu betapa keras kepalanya Ding Tao, jika dia tidak berhati-hati, bukan tidak mungkin dia justru membuat Ding Tao semakin enggan untuk membaca kitab-kitab itu.
Perlahan-lahan sebuah siasat muncul dalam benaknya.
Seperti juga saat dia membuat Ding Tao menikahi Murong Yun Hua, Chou Liang pun berpikir untuk mencari rekan dalam menjalankan siasatnya dan dia sudah tahu siapa orang yang tepat untuk diajak berbicara.
Tapi Chou Liang tidak terburu nafsu untuk melaksanakan siasatnya.
Kebetulan orang yang hendak ia mintai tolong memang berencana untuk berkunjung ke Jiang Ling.
Chou Liang pun dengan sabar menunggu kedatangannya.
Siapa yang sedang ditunggu kedatangannya oleh Chou Liang?
Ternyata tidak lain dan tidak bukan adalah Ma Songquan dan isterinya.
Keduanya sejak dulu memang tidak pernah terpisahkan, meskipun keadaan di cabang Wuling jadi kurang kuat karena ditinggalkan oleh mereka berdua, Ding Tao dan yang lainnya pun tidak pernah terpikir untuk meminta mereka membagi tugas.
Yang seorang pergi ke Jiang Ling untuk bertemu dengan Ding Tao dan yang seorang lagi menunggu di Wuling.
Bagi setiap orang dalam Partai Pedang Keadilan, Ma Songquan ya Chu Linhe, Chu Linhe ya Ma Songquan.
Ada Ma Songquan tentu ada Chu Linhe dan demikian pula sebaliknya.
Bukan tanpa alasan kuat jika Chou Liang memilih sepasang pendekar itu untuk menolongnya meyakinkan Ding Tao mempelajari ilmu dari kitab-kitab milik Murong Yun Hua.
Jika ada orang dalam Partai Pedang Keadilan yang hampir-hampir sama sekali tidak terikat dengan adat istiadat dunia persilatan yang berlaku secara umum, maka itulah mereka.
Bukankah dulu mereka ini sepasang iblis, dijuluki sepasang iblis bukan hanya karena kekejiannya, tapi juga karena sifatnya yang sesat.
Sesat ketika diukur dengan ukuran tata cara baku yang disepakati bersama sejak ratusan tahun lamanya.
Bisa dikatakan sepasang pendekar ini adalah lawan dari Ding Tao dalam hal pandangan hidup.
Justru itu hubungan mereka ini termasuk hubungan yang sangat unik.
Mereka saling menghormati dan bersahabat erat, namun pandangan mereka terhadap suatu masalah seringkali berbeda.
Jika sepasang iblis itu jadi jinak sekarang ini, hal itu tidak lepas dari kesediaan mereka untuk tunduk pada perintah Ding Tao yang lurus.
Namun cara pandang dan cara berpikir mereka sendiri sebenarnya tidak banyak berubah.
Hanya letak kesetiaan mereka yang berpindah tempat.
Jika dulu mereka hidup untuk diri mereka sendiri, maka sekarang sepasang pendekar itu memutuskan bahwa selain demi diri mereka sendiri, mereka juga hidup untuk Ding Tao yang mereka pandang sebagai sahabat sejati mereka.
Kemudian perlahan-lahan, dengan berjalannya waktu, merekapun belajar untuk menghargai dan bersahabat pula dengan orang-orang yang dekat dengan Ding Tao.
Rasa hormat dan persahabatan yang timbul karena kesamaan, mereka sama-sama mengagumi dan mengasihi Ding Tao.
Bagi sepasang pendekar ini, perasaan demikian adalah sesuatu yang sudah lama mereka lupakan.
Diawali dengan hilangnya kepercayaan mereka terhadap sesama, mereka pun hidup sebagai sepasang iblis, semua orang menjadi musuh di mata mereka.
Padahal kodrat manusia untuk hidup sebagai makhluk sosial, tidak heran, hubungan mereka berdua pun menjadi sangat erat.
Hidup berlawanan dengan kodrat, tentu saja sangat menyiksa, mungkin itu pula sebabnya mereka makin hari makin kejam dalam beraksi.
Seperti lingkaran setan, semakin sakit mereka karena dikucilkan, makin kejam perbuatan mereka, sebagai balasan pada dunia.
Semakin kejam mereka, semakin pula mereka dimusuhi dan dikucilkan.
Kehadiran Ding Tao dalam perjalanan hidup mereka akhirnya berhasil memutuskan pusaran kebencian dan permusuhan dalam hidup sepasang iblis itu.
Kejujuran Ding Tao dan kebesaran hatinya, telah membuka celah dalam benteng kecurigaan yang mereka bangun selama bertahun-tahun.
Lewat Ding Tao mereka belajar mempercayai kembali sesamanya.
Dimulai dari pertemuan mereka dengan Ding Tao, hati mereka mulai dibebaskan dari penderitaan pengucilan, kecurigaan, ketakutan yang terus menerus dan kesepian.
Jadi tidak heran pula, jika dibandingkan para pengikut Ding Tao yang lain, sepasang iblis yang cara pandangnya jauh berlawanan dengan Ding Tao justru menjadi pengikutnya yang paling setia.
Berdasarkan dua hal ini, yaitu ketidak terikatan mereka dengan tata cara dunia persilatan yang sudah diterima secara umum dan kesetiaan mereka pada Ding Tao yang tidak tergoyahkan, Chou Liang memutuskan bahwa mereka adalah orang yang tepat untuk dimintai bantuan.
Kedatangan sepasang iblis kali ini, ada hubungannya dengan keluhan dari salah satu biro pengawalan yang sudah bersumpah setia dengan Partai Pedang Keadilan, mengenai gerombolan penjahat di sepanjang jalur dari Kota Gui Yang sampai ke Ling Ling.
Dari kabar yang dikumpulkan Chou Liang, akhirnya diputuskan bahwa Ma Songquan dan Chu Linhe saja yang nampaknya sanggup mengatasi gerombolan ini.
Sebelum pergi ke tempat yang dituju bersama kepala biro pengawalan yang meminta bantuan.
Mereka berdua akan berkunjung ke Jiangling dulu untuk kemudian, bersama-sama beberapa orang anggota yang lain pergi menyerang markas gerombolan perampok tersebut.
Salah satu penyebab makin populernya Partai Pedang Keadilan adalah usaha sungguh-sungguh dari tiap anggotanya untuk saling melindungi seperti yang akan dilakukan Ma Songquan kali ini.
Satu hari sebelum kedatangan Ma Songquan di Jiang Ling, Chou Liang sudah tahu keberadaan mereka yang sedang menginap di sebuah desa kecil yang berada di dekat perbatasan Jiang Ling.
Pagi-pagi benar, Chou Liang pun sudah berada di atas punggung kuda, berderap kencang menuju desa itu.
Pasangan itu sedang menikmati sarapan mereka ketika Chou Liang masuk ke dalam rumah dan menyapa keduanya.
"Haha, Saudara Ma Songquan, Nyonya Chu Linhe, senang bertemu lagi dengan kalian berdua. Bagaimana tidur kalian kemarin? Kuharap kedatanganku tidak mengganggu selera makan kalian.", ujarnya sambil tersenyum lebar.
"Hoo... Saudara Chou Liang... ada urusan apa pagi-pagi sudah menyambut kedatangan kami di sini? Apakah ada masalah di Jiang Ling?", sahut Ma Songquan dengan kening berkerut. Bukannya Ma Songquan tidak suka melihat kedatangan Chou Liang, hanya saja timbul sedikit kekuatiran dalam hatinya. Meskipun senyum lebar di wajah Chou Liang tentu saja menandakan bahwa tidak ada masalah apa-apa di Jiang Ling.
"Ah.. tidak ada masalah besar. Hanya saja aku pribadi, memiliki satu masalah kecil yang ingin kubicarakan dengan kalian berdua.", jawab Chou Liang dengan senyum di wajahnya. Tanpa sungkan-sungkan, diapun menarik sebuah kursi dan duduk di sana. Tidak lama kemudian menyusul pemilik rumah datang sambil membawa cangkir, mangkok dan sepasang sumpit untuk Chou Liang.
"Hee, kuharap kalian tidak keberatan kalau aku ikut makan bersama kalian. Dari Jiang Ling aku berangkat pagi-pagi sekali dan tidak sempat sarapan.", ujar Chou Liang sambil mulai mengisi mangkoknya.
"Hmm... pantas saja semalam aku bermimpi buruk. Rupanya hari ini kita akan kedatangan tamu yang tidak tahu malu.", ujar Chu Linhe sambil tersenyum ramah.
"Hahaha, Nyonya Chu Linhe ini bisa saja. Tapi buatku lebih baik tidak tahu malu daripada kelaparan.", jawab Chou Liang sambil tertawa.
"Heh... daripada bicara ke sana ke mari, cepat ceritakan masalahmu. Kalau ada masalah menggantung, makanku jadi kurang lahap.", ujar Ma Songquan sambil tertawa.
"Hmm... baik, tidak masalah. Masalah ini munculnya dari Nyonya Murong Yun Hua.", ujar Chou Liang mengawali penjelasannya. Kedua suami isteri itu pun memasang telinga mereka baik-baik sambil mengangkat alias. Apa pula urusannya Murong Yun Hua hingga Chou Liang menyempatkan diri berangkat pagi-pagi dari Jiang Ling untuk menemui mereka? "Kalian tahu Keluarga Murong itu ternyata memiliki latar belakang yang cukup unik dalam dunia persilatan. Pertama Pedang Angin Berbisik ternyata mereka yang membuatnya, kemudian beberapa hari yang lalu, Nyonya Murong Yun Hua menemuiku dan memberi tahu bahwa merekapun memiliki koleksi kita-kitab ilmu silat dari berbagai aliran.", lanjut Chou Liang.
"Hmm... soal itu sedikit banyak kami sudah bisa menduga.", ujar Chu Linhe sambil terus mendengarkan. Sepasang iblis itu memang sudah lebih dahulu mengetahui hubungan Ding Tao dengan keluarga Murong sebelum yang lain mengetahuinya. Bahkan mereka juga yang pertama kali merasakan dahsyatnya ilmu Ding Tao setelah meminum obat dewa pengetahuan dan mempelajari ilmu tenaga dalam inti bumi.
"Oh, begitu. Nah baiklah, kalau begitu kulanjutkan ceritaku. Selain memberitahukan masalah itu, Nyonya Murong Yun Hua, secara tidak langsung juga bercerita bahwa dia sempat meminta Ding Tao untuk mempelajari isi kitab-kitab tersebut, namun ditolak mentah-mentah oleh Ketua Ding Tao. Mendapati jalan buntu, dia datang kepadaku dengan harapan aku dapat membujuk Ketua Ding Tao untuk mempelajari isi dari kitab-kitab itu.", lanjut Chou Liang menjelaskan.
"Hohoho dan kau ingin kami berdua untuk membantumu, meyakinkan Ding Tao untuk mempelajari isi dari kitab itu. Begitu maksudnya?", ujar Ma Songwuan sambil tertawa.
"Ya, begitulah maksudku. Nah bagaimana menurut kalian?", jawab Chou Liang.
"Hmm... ada beberapa hal yang jadi masalah. Yang pertama, mempelajari ilmu silat tidak sama dengan mempelajari satu hafalan. Tidak cukup hanya dengan mengerti teorinya, tapi perlu dipraktekkan dan dilatih dalam kurun waktu tertentu untuk bisa menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Sehingga meskipun ada banyak kitab, untuk mempelajari satu saja dari kitab itu, akan memakan waktu yang cukup lama.", jawab Ma Songquan.
"Bagi orang yang sudah matang ilmunya seperti Ketua Ding Tao, kira-kira berapa lama waktu yang diperlukan?", tanya Chou Liang ingin tahu.
"Ketua Ding Tao memiliki bakat di atas rata-rata... tergantung juga jenis ilmu yang dipelajari, tapi kira-kira, setidaknya dia membutuhkan waktu 1 bulan untuk mempelajari 1 ilmu.", jawab Ma Songquan sambil menghitung-hitung.
"Hmm... dari sekarang sampai pertemuan untuk pemilihan Wulin Mengzhu masih ada waktu 7-8 bulan. Bukankah itu artinya Ketua Ding Tao akan mampu menguasai 8 macam ilmu baru pada saat maju nanti?", tanya Chou Liang.
"Hehh... sekarang kita membicarakan masalah kedua. Banyaknya pengetahuan seseorang, tidak selalu menjadikannya satu keuntungan dalam sebuah pertarungan. Tidak sedikit orang berbakat yang mempelajari banyak hal, namun karena terlalu banyak yang dia pelajari ilmunya jadi setengah matang. Dan akhirnya dia kalah melawan orang yang hanya mempelajari satu ilmu saja, namun sampai pada puncaknya.", jawab Ma Songquan sambil menyengir, melihat kurangnya pengetahuan Chou Liang dalam hal imu bela diri.
"Ahh... benar juga... tapi apakah tidak ada keuntungannya bagi Ketua Ding Tao dengan mempelajari isi kitab-kitab tersebut?", tanya Chou Liang. Wajahnya berubah murung dan matanya memandangii isi mangkoknya yang sudah hampir kosong, sementara benaknya merenungi kitab-kitab keluarga Murong yang tersia-sia itu.
"Hei, tidak perlu kau susahkan mangkokmu yang kosong itu.", ujar Chu Linhe sambil menyumpitkan sepotong tahu besar ke dalam mangkok Chou Liang.
"Hahaha, meskipun aku berkata demikian, bukan maksudku kitab-kitab itu tidak ada gunanya sama sekali.", ujar Ma Songquan yang tertawa geli melihat waah kecewa Chou Liang.
"Ah, mengapa Saudara Ma Songquan tidak mengatakannya dari tadi. Jika dari tadi dikatakan, tentu selera makanku tidak hilang.", ujar Chou Liang yang wajahnya menjadi cerah kembali.
"Nah, kau dengarkan saja penjelasanku sambil menghabiskan saja isi mangkokmu. Sederhana saja sebenarnya, kekurangan Ketua Ding Tao yang paling besar jika dibandingkan dengan pesaing-pesaingnya dalam perebutan kursi Wulin Mengzhu nanti adalah dalam hal pengalaman bertanding. Kitab-kitab yang berisi ilmu dari berbagai macam aliran itu, dapat menutupi kekurangannya ini. Di saat yang sama, jika dia menemukan jurus-jurus tertentu atau tehnik-tehnik tertentu yang dapat dia satukan dalam ilmu yang sudah dia tekuni selama ini, maka ilmunya pun akan menjadi semakin mapan dan tinggi tingkatnya.", jawab Ma Songquan dengan puas.
"Baguslah kalau begitu, jadi kalian berdua setuju bahwa Ketua Ding Tao harus dibuat setuju untuk mempelajari isi dari kitab-kitab itu?", tanya Chou Liang dengan gembira. Ma Songquan dan Chu Linhe saling berpandangan sejenak. Chu Linhe kemudian menganggukkan kepala dan Ma Songquan-lah yang kemudian menjawab pertanyaan Chou Liang.
"Ya, kami rasa hal itu akan sangat membantu Ketua Ding Tao untuk meningkatkan ilmunya. Aku yakin dia cukup cerdas untuk tahu, seberapa banyak dia harus membaca, mana yang bisa diambil mana yang harus ditinggalkan. Mana yang cukup dipakai untuk menambah pengetahuan, mana pula yang bisa dia gunakan dalam pertarungan."
"Penasehat Chou Liang datang menemui kami, tentunya sudah memiliki siasat yang jitu untuk membuat Ketua Ding Tao bersedia mempelajarinya.", ujar Chu Linhe menyambung jawaban suaminya. Chou Liang pun tersenyum lebar dan dengan gaya yang kocak menjawab.
"Hehee, soal itu baiklah akan kujelaskan dalam perjalanan."
Ma Songquan dan Chu Linhe dibuat tertawa terbahak-bahak oleh cara Chou Liang berkata-kata.
Tidak ada hal penting lain yang mereka bicarakan lagi selama sarapan itu.
Baru di perjalanan, Chou Liang pun mulai menjelaskan siasatnya.
Mereka menempuh perjalanan dengan santai, matahari sudah berjalan cukup tinggi ketika mereka sampai di markas besar Partai Pedang Keadilan.
---------------------------------------o ---------------------------------------Kedatangan mereka bertiga tentu saja disambut dengan hangat, tidak ada yang bertanya mengapa Chou Liang bisa bersama-sama dengan Ma Songquan dan Chu Linhe.
Karena memang tidak terlalu aneh juga bila Chou Liang datang menyambut tamu terlebih dahulu.
Sebelum mereka bertiga sempat datang ke ruangan Ding Tao, ternyata Ding Tao sudah terlebih dahulu menemui mereka.
Hubungan Ding Tao dengan sepasang pendekar itu memang cukup erat.
Hari itu Ding Tao yang biasanya ikut datang melihat-lihat anggota mereka yang sedang berlatih, dengan tidak sabar menanti-nantikan kedatangan Ma Songquan dan Chu Linhe.
Namun betapa heran hati Ding Tao saat keduanya tampak sedikit dingin dan menyembunyikan sesuatu darinya.
Meskipun sikap mereka di luaran tetap sopan, namun kehangatan yang biasanya dia rasakan hilang.
Karena itu sewaktu mereka berjalan bertiga seja menuju ke ruangan Ding Tao, Ding Tao pun bertanya pada Ma Songquan.
"Kakak Ma Songquan, hari ini aku merasa ada sedikit ganjalan di antara kita. Apakah aku ada berbuat kesalahan? Jika memang ada, katakan saja secara terbuka, karena sedikitpun tidak ada maksud dalam hatiku untuk berlaku demikian."
Ma Songquan dan Chu Linhe berpandangan sejenak, kemudian seperti biasa Chu Linhe membiarkan Ma Songquan untuk menjawab.
"Hmm... sebenarnya memang ada sedikit ganjalan dalam hati ini. Kalau Ketua Ding Tao tidak keberatan, bisakah kita memakai ruang latihan pribadi milik Ketua Ding Tao untuk meluruskan sesuatu?", ujar Ma Songquan.
"Ah, tentu saja. Tapi ada masalah apa sebenarnya?", jawab Ding Tao. Sambil menjawab Ding Tao pun mengambil jalan menuju ruang latihan miliknya pribadi. Ruangan latihan itu hanya digunakan oleh Ding Tao dan orang-orang yang diajaknya berlatih. Di saat Ding Tao tidak berlatih, ruangan itu pun dibiarkan kosong, tidak ada yang menggunakannya.
"Soal itu akan jadi jelas nanti. Kami sendiri tidak merasa yakin, namun kami ingin memastikannya terlebih dahulu.", jawab Ma Songquan.
"Apakah lewat latih tanding?", tanya Ding Tao dengan hati-hati.
"Ya, benar, kami ingin memastikan dugaan kami terlebih dahulu dengan berlatih tanding melawan Ketua Ding Tao.", jawab Ma Songquan dengan sedikit dingin. Berdebar juga hati Ding Tao mendengarnya. Bukan karena dia takut kalah, atau takut dicelakai oleh dua orang yang pernah dijuluki Sepasang Iblis Muka Giok itu, melainkan karena dia sungguh-sungguh tidak ingin timbul permusuhan di antara mereka. Begitu sampai di dalam ruangan latihan, pintu pun ditutup rapat, agar tidak ada orang luar yang bisa melihat. Mereka bertiga berjalan ke tengah-tengah ruangan lalu berdiri saling berhadapan.
"Apakah... akan kita mulai sekarang?", tanya Ding Tao sedikit ragu-ragu.
"Ya. Sekarang. Awas serangan!", jawab Ma Songquan pendek-pendek dan dengan itu pula dia langsung memulai pertarungan. Serangan sepasang pendekar itu tetap rapat dan saling mengisi seperti yang lalu-lalu. Tidak ada yang hilang dari kekompakan mereka, bahkan dengan pengalaman mereka beberapa waktu yang lalu, saat menyaksikan pertarungan Ding Tao dengan Pan Jun dan kemudian Xun Siaoma. Ilmu mereka pun meningkat pesat. Serangan mereka lebih tajam, pertahanannya pun jadi lebih rapat. Tanpa sungkan mereka dengan segera mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk mendesak Ding Tao. Tapi Ding Tao yang sekarang juga berbeda dengan Ding Tao yang dulu. Ketajaman serangan mereka, tetap saja seperti membentur dinding batu. Bukan hanya bertahan, sekarang Ding Tao juga mampu balas menyerang dan mengimbangi serangan-serangan sepasang iblis itu. Jika pada pertarungan mereka yang terakhir, Ding Tao masih bersandar pada staminanya yang lebih kokoh dari lawan. Sekarang jurus serangan Ding Tao sudah cukup tajam untuk mendesak lawan. Bagusnya sepasang pendekar itu selama ini sudah mencurahkan waktu dan pikiran mereka untuk memperbaiki pertahanan dalam ilmu pasangan mereka. Pertarungan pun berjalan makin seru, di satu titik, tiba-tiba Ding Tao melihat adanya lowongan yang terbuka di pertahanan Ma Songquan. Sebenarnya sudah beberapa kali dia melihatnya, namun tidak ingin mempermalukan lawan, dengan sengaja dia tidak mengambil kesempatan itu. Kali ini Ding Tao merasa sudah cukup banyak memberi muka pada lawan dan tanpa ragu menyerang di celah yang dia dapatkan itu. Tapi Ding Tao jadi terkejut, ketika tiba-tiba sepasang iblis itu segera melompat berjumpalitan, menjauh ke belakang sambil berseru.
"Itu dia!"
"Nah, apa kataku, bocah cilik ini sudah mencuri ilmu kita dengan diam-diam.", geram Chu Linhe sambil menunjuk-nunjuk Ding Tao.
"Ya... kau benar isteriku. Selama ini aku tidak percaya perkataanmu. Siapa sangka, ternyata orang yang aku percayai ini sampai hati mencuri ilmu kita tanpa ijin.", jawab Ma Songquan pada Chu Linhe, sambil menunjukkan wajah bengis pada Ding Tao. Ding Tao yang dituduh demikian pun menjadi pucat wajahnya.
"Ini... soal ini... sebenarnya apa maksud kalian?"
"Ding Tao, jangan berpura-pura lagi, aku tidak tahu bagaimana caranya kau melakukan hal itu. Namun aku ingin bertanya kepadamu. Jawablah dengan sejujurnya. Jurus serangan yang baru saja kau lancarkan tadi, bukankah itu jurus serangan milikku?", geram Ma Songquan sambil mengacungkan pedangnya ke arah Ding Tao. Ding Tao pun sudah membuka mulut untuk menyangkal, ketika dia teringat dari mana dia mempelajari jurus serangan itu. Jurus serangan yang dimiliki Ding Tao memang sebelumnya sangat terbatas, yaitu hanya berasal dari ilmu keluarga Huang. Namun sejak dia berkelana dan mendapatkan pengalaman dari bertarung melawan berbagai macam lawan. Dengan sendirinya diapun mulai menyisipkan dan menggunakan jurus serangan yang dia lihat dari pengalamannya tersebut, untuk melengkapi ilmu yang sudah ada pada dirinya. Salah satunya yang menjadi jurus andalannya adalah jurus yang dia serap ketika dia bertarung melawan Sepasang Iblis Muka Giok. Teringat akan hal ini, mulut Ding Tao yang tadinya sudah terbuka untuk menjawab, terkatup kembali.
"Nah, Ding Tao, kenapa kau diam. Sekali lagi aku bertanya, bukankah jurus yang baru saja kau gunakan berasal dari ilmu andalanku?", geram Ma Songquan. Akhirnya dengan lemah, Ding Tao menganggukkan kepalanya.
"Ya... soal itu... Kakak Ma Songquan memang benar. Jurus itu berasal dari ilmu andalan kalian."
"Bagus kalau kau mau mengakuinya. Sekarang aku mau tanya, dari mana dan kapan kau mencuri ilmu itu? Apakah kau mengirimkan orang untuk memata-matai kami saat berlatih?", desak Ma Songquan sambil berjalan mendekat.
"Kakak Ma Songquan, kuharap kau jangan salah paham. Tidak pernah aku mencurinya, hal itu..., hal itu aku dapatkan ketika kita bertarung di waktu yang lampau.
", jawab Ding Tao serba salah.
"Hoo... benarkah demikian? Jadi maksudmu, karena kau mendapatkannya dalam sebuah pertarungan, maka hal itu tidak bisa disebut mencuri belajar? Begitu maksudmu?", desak Ma Songquan tidak mau mengalah. Ding Tao pun tidak tahu harus menjawab apa.
"Entahlah, menurutku memang demikian. Tapi jika Kakak Ma Songquan memaksaku berkata yang sebaliknya, apa lagi yang dapat kukatakan. Aku hanya berharap Kakak Ma Songquan dapat memakluminya. Bukankah kakak tahu, ilmuku sendiri yang kudapatkan dari guruku sangatlah terbatas. Lewat pengalaman aku berusaha mengembangkannya, bukan dengan sengaja jika kemudian ada unsur-unsur tertentu yang kuambil dari ilmu orang lain, yang kudapatkan lewat pengalamanku bertarung."
"Hmm.. mudah buatmu untuk berkata demikian, kau tentu juga akan membela diri dengan mengatakan, bukankah demikian juga dengan semua orang lain dalam dunia persialatan. Kita mengembangkan ilmu kita melalui pengalaman. Dengan sendirinya, cara bertarung orang lain pun termasuk di dalamnya. Benar tidak?", desak Ma Songquan pada Ding Tao.
"Ya..., apa hendak dikata, bukankah memang demikian yang terjadi?", jawab Ding Tao dengan pasrah.
"Hee... jika begitu bukankah lama kelamaan, ilmu-ilmu yang ada akan semakin bercampur baur. Tergantung dari bakat tiap orang saja untuk mengolahnya.", ujar Ma Songquan sambil menghela nafas, namun suasana permusuhan yang tadinya terpancar sudah menghilang. Melihat itu Ding Tao merasa bersyukur, kiranya Ma Songquan sudah tidak lagi mencurigai dirinya, diapun kemudian menjawab.
"Kukira demikian pun tidak ada buruknya. Bukankah dengan cara itu, apa yang ada semakin lama semakin berkembang. Jika tidak salah, ada pula yang berpendapat, bahwa sebenarnya semua ilmu bela diri itu berasal dari satu sumber saja. Maka dari itu, adanya berbagai macam golongan dan aliran, harusnya tidak perlu bersaing."
"Ketua Ding Tao benar juga. Jika setiap orang memiliki wawasan yang luas seperti itu, bukan saja ilmu bela diri bangsa kita akan berkembang maju. Suasana persaingan yang tidak sehat antar aliran pun bisa dihilangkan.", ujar Ma Songquan sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Benar, lagipula, ciri-ciri setiap perguruan juga tidak akan hilang. Bagaimanapun juga ilmu itu, kalaupun memang berasal dari satu sumber yang sama, terlalu luas untuk dipahami dan diyakinkan oleh satu orang saja. Itu sebabnya muncul berbagai macam aliran, karena satu orang lebih menitik beratkan pada satu hal, dan orang yang lain menitik beratkan latihannya pada hal yang lain.", jawab Ding Tao yang sudah lupa dengan kemarahan Ma Songquan beberapa waktu yang lalu.
"Hmm... jika benar ada satu ilmu yang menjadi sumber bagi sekian banyak aliran... andai saja ada orang yang memiliki cita-cita yang tinggi dan mulia, yang mau mengumpulkan berbagai macam ilmu yang tercerai berai itu. Dan mengolahnya menjadi satu ilmu yang lebih lengkap. Tentu saja hanya sebagai usaha, agar kebesaran ilmu yang menjadi sumber dari setiap aliran itu tidak terlupakan orang.", ujar Ma Songquan sambil matanya melayang memandang ke kejauhan. Ding Tao yang terbawa suasana ikut mengangguk-anggukkan kepala.
"Apakah Ketua Ding Tao setuju dengan perkataanku barusan?", tanya Ma Sonquan.
"Ya, ya, seandainya saja ada orang demikian. Hanya saja, perbuatannya itu bisa memancing pula salah paham, seperti yang terjadi barusan.", ujar Ding Tao.
"Hmm... kalau dia mengumpulkannya dengan cara menantang setiap aliran yang ada untuk bertarung bagaimana?", ujar Ma Songquan.
"Wah... tidak baik itu, justru cara demikian akan menanamkan benih-benih permusuhan.", ujar Ding Tao sambil menggelengkan kepala.
"Ya, ya... seandainya saja kitab-kitab yang memuat berbagai macam ilmu dari berbagai macam aliran terkumpul di satu tempat... Hehehe, tapi bukankah aku terlalu mengkhayal, hal demikian mana mungkin terjadi?", ujar Ma Songquan, mentertawakan sendiri ucapannya. Tapi justru ucapan Ma Songquan itu membuat Ding Tao tercenung, bukankah apa yang dikatakan Ma Songquan itu justru sudah ada di tangannya saat ini? Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang karena dia menyadari bahwa pada waktu yang sesaat lamanya, dia sempat mempertimbangkan untuk mempelajari pula ilmu-ilmu yang tertulis dalam kitab-kitab itu. Karena memikirkan hal itu, maka cepat Ding Tao menggelengkan kepala dan berkata.
"Sekalipun jika ada yang demikian, tidak baik pula jika orang mempelajarinya. Bukankah sama dengan mencuri ilmu namanya?"
"Tentu saja tidak.", jawab Ma Songquan dengan tegas.
"Jika buku-buku itu sampai di tangannya bukan lewat jalan mencuri, bagaimana bisa dikatakan sebagai pencuri? Jika mempelajari sesuatu dianggap mencuri, lalu apa bedanya dengan menyerap ilmu lawan saat bertarung?", lanjut Ma Songquan, membuat jantung Ding Tao makin berdebar. Melihat Ding Tao masih termangu dan tidak menjawab, Ma Songquan pun meneruskan argumentasinya.
"Bukankah peraturan itu dulu muncul karena ada seseorang menggunakan ilmu silat dengan ciri-ciri ilmu milik seorang guru yang melakukan kejahatan. Melihat ciri-ciri itu, orang pun menduga bahwa guru silat itu atau muridnya sudah berbuat kejahatan. Belajar dari pengalaman itu, maka dibuatlah aturan yang ketat, agar pewaris dari satu ilmu bukanlah orang sembarangan."
"Tapi coba lihatlah sekarang, murid keluaran dari perguruan besar yang kemudian mencari makan dengan menjadi guru silat. Tidak ada yang namanya ilmu rahasia, jika uang sudah di depan mata dan perut kelaparan. Tidak sedikit ilmu rahasia yang tersebar dengan cara demikian."
"Hmm... Kakak Ma Songquan, bukankah justru itu menunjukkan sisi buruk dari mempelajari ilmu orang lain?", ujar Ding Tao berusaha menyanggah.
"Hee... justru itu menunjukkan betapa konyolnya aturan tentang mencuri ilmu itu. Lebih baik jika ilmu itu dipelajari dengan niat yang benar, entah bagaimana caranya. Daripada dipelajari lewat jalur yang benar, namun dengan niat yang tidak benar. Atau dengan iman yang kurang kokoh, lalu hanya jadi alat untuk mengisi perut yang lapar.", ujar Ma Songquan membalas bantahan Ding Tao.
"Selain itu, bukankah kita tadi sudah sepakat, bahwa sebenarnya semua ilmu itu bersumber dari satu ilmu yang sama. Jika demikian, bagaimana bisa dikatakan mencuri? Bukankah ketika mempelajari ilmu aliran lain, sebenarnya yang dipelajari hanyalah percabangan dari ilmu kita sendiri?", sambung Chu Linhe yang dari tadi diam saja mendengarkan.
"Orang besar harus bisa melihat dari sudut pandang yang luas baru menentukan benar tidaknya satu masalah. Tidak boleh terlalu terikat pada kebiasaan, tanpa mau memahami konteksnya. Mengerti semangatnya, dan tidak terikat pada bentuknya. Seperti seorang hakim harus mengerti keadilan dan bukan sekedar mengerti peraturan.", ujar Ma Songquan lebih lanjut. Mendengarkan perkataan kedua orang itu, Ding Tao pun jadi termangu-mangu. Teringat pula dengan perdebatannya melawan Murong Yun Hua mengenai masalah yang sama. Sekarang dia melihat pula dari sisi yang berbeda dan dari dua orang yang berbeda. Mau tidak mau Ding Tao pun jadi semakin ragu akan keputusannya yang terdahulu, sewaktu dia menolak tawaran Murong Yun Hua.
"Hee... mengapa melamun? Ketua Ding Tao, sudahlah, maafkan aku kalau tadinya aku sempat curiga padamu.", ujar Ma Songquan sambil menepuk pundak Ding Tao, membangunkan dia dari lamunannya.
"Ah, ya. Tidak apa-apa, justru aku yang merasa tidak enak hati pada Kakak Ma Songquan.", ujar Ding Tao.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menemui mereka yang akan ikut berangkat denganku menuju ke Guiyang hari ini.", ujar Ma Songquan.
"Ya..., apakah tidak beristirahat lebih dulu? Kita bisa duduk-duduk dulu sebentar sambil mengobrol.", ujar Ding Tao.
"Hmmm... harusnya begitu, tapi kulihat Ketua Ding Tao sepertinya ada yang sedang dipikirkan. Mungkin itu karena kesalahanku barusan juga yang terburu-buru menuduh tanpa menyelidik terlebih dahulu.", ujar Ma Songquan.
"Maafkan kami Ketua Ding Tao, padahal kalau dipikirkan lagi, bukankah kita juga sering bercakap-cakap dan bertukar pikiran mengenai ilmu kita masing-masing. Entah mengapa tiba-tiba kami jadi kesal oleh masalah kecil.", ujar Chu Linhe sambil tersenyum manis.
"Sudahlah... memang saat ini hatiku gundah memikirkan sesuatu dan hal itu timbul setelah percakapan kita barusan. Namun bukan karena aku tersinggung oleh ucapan kalian. Hanya saja kalian baru saja mengingatkan aku tentang sesuatu.", jawab Ding Tao dengan sungguh-sungguh.
"Syukurlah kalau begitu, kuharap Ketua Ding Tao bisa cepat menyelesaikan masalah yang mengganggu pikiran Ketua Ding Tao. Bagaimanapun juga, pemilihan Wuling Mengzhu semakin lama semakin dekat. Ketua Ding Tao sebagai orang yang mewakili harapan kami semua, harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.", kata Chu Linhe dengan manis.
"Ya... masalah lain tidak usah dipikirkan, Ketua Ding Tao cukup berkonsentrasi saja untuk meningkatkan ilmu Ketua Ding Tao. Kukira pertarungan antara Ketua Ding Tao dan Tetua Xun Siaoma cukup membuka mata. Ada banyak jagoan di luar sana yang ilmunya sukar dijajaki.", sambung Ma Songquan.
"Sebenarnya aku yakin kalau Ketua Ding Tao tidak kalah dengan mereka dalam hal bakat, hanya sayang pengalaman Ketua Ding Tao masih kalah jauh dengan mereka.", ujar Chu Linhe ke arah suaminya.
"Aku sependapat, dengan banyaknya pengalaman, otomatis semakin banyak jenis ilmu silat yang pernah dihadapi dan dilihat. Ilmu kita sendiri menjadi semakin kaya. Pikiran kita juga jadi semakin berkembang.", jawab Ma Songquan pada Chu Linhe.
"Sudahlah, ayo kita pamit sekarang. Soal itu tidak ada jalan keluarnya, yang bisa kita lakukan hanya membantu Ketua Ding Tao sebisanya, kecuali bila kita memiliki perpustakaan seperti Shaolin, mungkin ada gunanya kita berbicara tentang hal itu.", ujar Chu Linhe sambil menarik ujung baju suaminya.
"Ya... benar... orang-orang Shaolin memiliki perpustakaan yang sangat lengkap. Entah ada kitab apa saja di dalam perpustakaan mereka. Kalau saja mereka memperbolehkan orang luar untuk melihatnya, mungkin tidak ada salahnya kita mengajak Ketua Ding Tao untuk berkunjung ke sana.", ujar Ma Songquan menyesali keadaan.
"Ah sudahlah, Ketua Ding Tao, kami pamit dulu.", ujar Ma Songquan mengakhiri pembicaraan mereka.
"Ya.. hati-hatilah kalian di jalan. Maaf aku tidak bisa membantu banyak. Sebenarnya ingin juga aku ikut pergi berangkat.", ujar Ding Tao dengan tulus.
"Hah! Kecoak kecil macam mereka cukup ketua serahkan pada kami sekalian. Tugas ketua justru lebih berat, lawan-lawan yang nanti akan muncul pada pertemuan Wulin Mengzhu tentu tidak akan bisa dibandingkan dengan lawan yang akan kami hadapi beberapa hari lagi. Bukan tidak mungkin, dedengkot-dedengkot macam Tetua Xun Siaoma juga akan bermunculan di sana.", ujar Ma Songquan sambil tertawa lebar. Sekali lagi sepasang suami isteri itu pun berpamitan dan akhirnya mereka meninggalkan Ding Tao sendirian dalam ruang latihannya. Setelah mereka berdua pergi, Ding Tao tidak segera beranjak dari tempatnya. Dia justru menutup pintu ruang latihan dan pergi ke tengah ruangan. Perlahan-lahan dia mulai bertarung dengan bayangannya sendiri. Entah untuk ke berapa kalinya Ding Tao berhadapan dengan bayangan Xun Siaoma. Sampai sekarang pun dia belum berhasil meyakinkan dirinya bahwa dia dapat menang melawan Tetua Xun Siaoma jika harus berhadapan untuk kedua kalinya. Bukan karena dendam jika Ding Tao sering berlatih dengan mambayangkan dirinya sedang berhadapan dengan Xun Siaoma. Tapi karena Xun Siaoma adalah lawan terkuat yang pernah dia hadapi dan Ding Tao sadar dalam perebutan kursi Wulin Mengzhu tentu akan ada lawan-lawan setangguh Xun Siaoma atau bahkan lebih tangguh darinya. Sebenarnya sulit dikatakan, apakah benar jika Ding Tao bertemu dengan Xun Siaoma untuk kedua kalinya, pemuda itu akan kalah untuk kedua kalinya. Bayangan Xun Siaoma dalam benak Ding Tao, tidak mewakili Xun Siaoma yang sesungguhnya. Apalagi pemuda itu memandang Xun Siaoma sebagai orang yang dituakan, seorang pendekar pedang legendaris, dengan sendirinya, Xun Siaoma yang muncul dalam bayangannya beberapa kali lebih tangguh dari kenyataannya. Meskipun demikian pemikiran itu tidak pernah terlintas dalam benak Ding Tao. Perasaan rendah dirinya tidak mudah diobati. Sudah bertahun dia merasa diri lebih rendah ilmunya dibandingkan orang lain. Kemenangan yang pernah dia raih hanya mampu meningkatkan sedikit keyakinan dalam dirinya dan yang sedikit itu hilang lenyap begitu dia berhadapan dengan Pan Jun dan Xun Siaoma. Baiknya Ding Tao bukan orang yang mudah berputus asa, rasa tanggung jawab yang kuat menyebabkan dia bekerja berkali lipat lebih keras untuk menutupi kekurangannya. Tapi latihan kali ini berbeda dengan latihan biasanya. Jika biasanya Ding Tao berkonsentrasi penuh, berusaha memecahkan serangan-serangan Xun Siaoma yang muncul dalam benaknya. Kali ini dia mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi, tidak jarang saat dia hendak bergerak, teringatlah dia dari mana dia mengambil gerakan itu. Terkadang gerakan yang hendak dia pakai adalah gerakan yang dia "curi"
Dari Liu Chuncao, ada kalanya gerakan itu dia dapatkan saat berlatih melawan Wang Xiaho, atau gerakan dari Ma Songquan dan Chu Linhe.
Bahkan ada pula gerakan-gerakan yang dia serap dari pertarungannya melawan Pan Jun dan Xun Siaoma sendiri.
Akhirnya pemuda itu menjatuhkan dirinya ke lantai dan merenungi kembali percakapannya dengan Ma Songquan dan Chu Linhe.
Teringat pula dengan kumpulan kitab yang dibawa Murong Yun Hua dari rumahnya yang lama.
Rumah warisan turun temurun, milik keluarga Murong.
Sesaat kemudian terlintas lagi dalam benaknya, pertemuan untuk memilih Wulin Mengzhu, entah sejak kapan, setiap orang mulai menaruh harapan pada dirinya untuk merebut kedudukan itu.
Jika dia gagal, berapa banyak orang yang akan merasa kecewa?
Murong Yun Hua mengatakan wataknya yang terlalu kaku mengikuti adat istiadat akan merugikan dirinya dan juga orang lain yang bergantung padanya.
Sebelumnya Ding Tao berkeras bahwa adat istiadat terbentuk karena alasan tertentu dan dia tidak ingin menganggap dirinya lebih bijak daripada orang lain, hingga dia bisa menentukan mana yang harus diikuti dan mana yang bisa dilanggar.
Berbeda memang dengan pandangan Murong Yun Hua, apalagi dengan pandangan Ma Songquan dan Chu Linhe.
Jika Ding Tao lebih suka berjalan mengikuti adat yang ada dan hidup dalam keselarasan dengan masyarakat di sekitarnya.
Murong Yun Hua berpendapat, jika dia yakin akan kebenaran tindakannya, maka dia akan melakukan hal itu, meskipun hal itu bertentangan dengan pendapat orang banyak.
Ding Tao tidak menyukai konflik, sebisa mungkin dia menghindarinya.
Namun akhir-akhir ini, kedudukannya menempatkan dia di posisi di mana dia tidak bisa menghindari konflik.
Tidak jarang pilihan yang ada hanyalah konflik kecil atau konflik besar.
Apa yang dia pandang adil dan sepantasnya, tidak jarang dipandang berat sebelah bagi pihak yang dirugikan oleh keputusannya.
Sungguh menjadi seorang ketua bukan urusan yang mudah.
Beruntung ada orang-orang yang bersedia memberikan nasihat padanya.
Meskipun tidak jarang akhirnya Ding Tao memilih mengambil keputusan yang merugikan partai, tapi tidak melanggar hati nuraninya daripada keputusan yang menguntungkan mereka namun tidak sesuai dengan hati nuraninya.
Jika demikian yang terjadi, maka biasanya Chou Liang-lah yang bekerja keras untuk meminimalkan kehilangan mereka, sambil menggunakan hal itu untuk membangun reputasi Ding Tao sebagai orang yang adil.
Perselisihan baik kecil maupun besar, dalam dunia persilatan, tidak urung membawa korban.
Itu sebabnya keteguhan Ding Tao untuk menolak belajar dari kitab-kitab pemberian Murong Yun Hua pun mulai goyah.
Jika dibandingkan korban jiwa yang sering terjadi akibat keputusannya.
Sekedar melanggar sopan santun dunia persilatan dengan mempelajari ilmu-ilmu aliran lain terlihat begitu remeh.
Ding Tao masih duduk merenungkan cara untuk mengalahkan Tetua Xun Siaoma, ketika dia mendengar suara pintu diketuk.
"Siapa itu?", tanya Ding Tao sambil bangkit berdiri dan membenahi pakaiannya.
"Aku ketua... Chou Liang", sahut orang yang berada di luar. Mengenali suara Chou Liang, Ding Tao pun bertanya-tanya dalam hati, tidak biasanya Chou Liang mengganggu jam latihannya. Dengan segera dia berjalan untuk membukakan pintu.
"Kakak Chou Liang, mari masuk. Ada apakah gerangan hingga kakak mencariku? Apakah ada masalah yang gawat?", tanya Ding Tao setelah membukakan pintu buat Chou Liang. Sembari berjalan bersama Ding Tao masuk ke dalam, menuju ke salah satu bangku-bangku panjang yang berada di ke empat sisi ruangan, Chou Liang menjawab.
"Tidak ada masalah gawat yang muncul.Hanya saja aku agak heran, mengapa Ketua Ding Tao tidak ikut mengantar kepergian Saudara Ma Songquan dan Nyonya Chu Linhe berangkat. Apakah Ketua Ding Tao merasa kurang sehat?"
"Oh, begitu rupanya... Tidak ada apa-apa, hanya saja percakapan kami mengingatkanku akan kemampuanku yang masih kurang. Sehingga aku ingin berlatih dan mencoba menguraikan beberapa masalah.", jawab Ding Tao sambil duduk ke salah satu bangku yang ada.
"Oh... jadi bagaimana dengan hasil latihan Ketua Ding Tao selama ini? Apakah akhirnya Ketua Ding Tao berhasil menemukan cara untuk menang melawan Tetua Xun Siaoma?", ujar Chou Liang sambil menganggukkan kepala tanda mengerti. Sudah sering mereka bercakap-cakap. Chou Liang pun sudah tahu benar, bagaimana Ding Tao akhir-akhir ini berlatih melawan bayangan Xun Siaoma yang ada dalam benaknya. Hampir tidak ada hal yang disembunyikan Ding Tao dari Chou Liang. Chou Liang sendiri orang yang pandai mengajak bicara dan mengorek keterangan dari lawan bicaranya. Ditanya demikian oleh Chou Liang, Ding Tao hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum getir.
"Sayangnya tidak... meskipun sudah ada kemajuan, namun pada akhirnya aku selalu berhasil dikalahkan olehnya."
Chou Liang tersenyum menenangkan.
"Ketua jangan berkecil hati..., aku juga sering bermain catur melawan diriku sendiri untuk membuang-buang waktu dan tahu betapa sulitnya untuk menang, sementara diriku tahu apa maksud dari setiap langkah yang kujalankan."
Ding Tao tertawa kecil.
"Ya... bisa juga demikian... Entahlah, aku hanya tidak memiliki keyakinan yang cukup tentang pemilihan Wulin Mengzhu yang akan diadakan. Kakak Chou Liang, seandainya aku tidak berhasil menduduki kursi itu, apakah menimbulkan banyak masalah?"
"Hmm... seandainya tidak ada kejadian pembantaian keluarga Huang di kota Wuling mungkin keadaannya tidak terlalu mengkhawatirkan. Meskipun menurut pendapatku tidak ada banyak bedanya. Yang jadi masalah adalah adanya gerakan Ren Zuocan yang diam-diam menjalin hubungan dengan tokoh persilatan dari dalam perbatasan. Siapa orangnya masih gelap, yang terlihat hanya cecunguk macam Tiong Fa. Tapi dari keterlibatan seorang tokoh semacam Pan Jun, bisa kita bayangkan, kekuatan mereka tidak bisa diremehkan. Jika mereka juga ikut dalam pemilihan tersebut...", jawab Chou Liang dengan akhir yang menggantung.
"Bisa jadi, orang yang menjadi Wulin Mengzhu tidak lain adalah kaki tangan Ren Zuocan.", ujar Ding Tao menyelesaikan jawaban Chou Liang.
"Ya... benar..., bisa jadi kedudukan tersebut justru dipegang oleh orang yang sudah menjalin hubungan dengan Ren Zuocan. Satu-satunya jalan untuk memastikan bahwa hal itu tidak terjadi, Ketua Ding Tao harus bisa memenangkan kedudukan tersebut.", jawab Chou Liang serius.
"Jika kita berpikir demikian, bukankah juga banyak di luar sana yang berpikiran sama? Kemudian apa yang akan terjadi dalam pemilihan nanti? Sesama patriot yang cinta negara akan saling berlawanan demi sebuah kedudukan, didorong oleh ketakutan yang sama. Pada akhirnya Ren Zuocan tetap saja akan mengambil keuntungan.", keluh Ding Tao dengan sedih.
"Ketua Ding Tao benar, dengan adanya lawan yang tersembunyi dalam gelap seperti saat ini. Kita berada di posisi yang serba salah. Tapi kukira masih ada kemungkinan untuk menghindari bentrokan yang merugikan pihak sendiri.", ucap Chou Liang dengan sungguh-sungguh.
"Benarkah itu Kakak Chou Liang? Cara apa itu?", tanya Ding Tao penuh perhatian.
"Hanya saja, cara ini ... Ketua Ding Tao tidak perlu pikirkan terlalu mendalam. Cara ini memang bisa dikatakan cara yang terbail. Hanya sayang, dalam pelaksanaannya terlampau bergantung pada satu orang.", jawab Chou Liang sambil menggelengkan kepalanya, menolak sendiri usulan yang dia ajukan.
"Tunggu dulu, jangan terburu memutuskan sesuatu. Coba kakak ceritakan dulu cara yang kakak maksudkan. Jika memang cara ini bisa menghindarkan jatuhnya banyak korban. Meskipun harus mengorbankan diriku sendiri, aku tidak keberatan mencobanya.", desak Ding Tao dengan penuh harap. Chou Liang terdiam dan berpikir beberapa lama, sementara Ding Tao menunggu jawaban darinya dengan tidak sabar. Beberapa kali Chou Liang seperti ingin mengatakan sesuatu namun dibatalkan. Akhirnya Chou Liang berbicara juga, meskipun dengan wajah serba susah.
"Cara ini kalau kupikir lagi sebenarnya bisa dikatakan bukan cara yang baik. Tapi kakau Ketua Ding Tao mau tahu, baiklah akan kukatakan."
"Jika dalam perebutan kursi Wulin Mengzhu itu, Ketua Ding Tao bisa menunjukkan kemampuan yang jauh melampaui kemampuan dari semua peserta yang ada. Dengan sendirinya mereka yang melihat hal itu akan mundur sebelum mencoba. Dengan kemampuan yang jauh lebih tinggi dari lawan, Ketua Ding Tao juga tentunya akan mampu mengalahkan lawan tanpa melukainya.", ujar Chou Liang sambil tersenyum kecut. Mendengar jawaban Chou Liang, Ding Tao pun menggelengkan kepala dengan sedih.
"Bisa jadi benar, tapi hal itu mana mungkin terjadi. Melawan Tetua Xun Siaoma saja aku masih belum memiliki keyakinan. Apalagi hendak menundukkan semua lawan dalam perebutan kedudukan Wulin Mengzhu dengan gemilang."
Chou Liang menganggukkan kepala tanda setuju sambil tersenyum kecut.
"Ya... bukankah sudah kukatakan. Untuk sejenak lamanya cara itu seperti cara yang baik. Hanya sayang terlalu tidak masuk akal. Sama saja seperti mengharapkan langit menurunkan dewa bermata tiga untuk berdiri di pihak kita."
Ding Tao ikut tersenyum kecut mendengar perkataan Chou Liang itu. Menghela nafas panjang, Chou Liang pun berkata.
"Yah... begitulah, mengharapakan keajaiban terjadi memang tidak salah, hanya saja kita harus berusaha sekuat tenaga kita tanpa memikirkan kemungkinan-kemungkinan seperti itu. Andai saja ada cara agar Ketua Ding Tao bisa mempelajari ilmu-ilmu dari setiap aliran. Bukankah dikatakakan dalam seni berperang, tahu diri sendiri dan lawan, 100 kali berperang, 100 kali menang."
Tergerak hati Ding Tao mendengar perkataan Chou Liang, tahu diri sendiri dan tahu lawan, 100 kali berperang, 100 kali menang.
Jika dia mempelajari kitab-kitab yang dibawa Murong Yun Hua, bukankah hal itu akan jadi kenyataan?
Jika dia tahu setiap gerak tipu, serangan dan pertahanan lawan, maka dengan mudah dia bisa bertahan dan menyerang.
Dalam bertarung pun dia tidak perlu menirukan gerakan lawan, yang penting dia sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh lawan, tentu dia dapat memikirkan cara untuk mematahkannya.
Melihat Ding Tao termenung, Chou Liang pun cepat-cepat berkata.
"Sudahlah Ketua Ding Tao, jangan dipikirkan perkataan ngawurku tadi. Asalkan ketua bisa menunjukkan bahwa ilmu ketua tidaklah di bawah peserta yang lain, hal itu sudah cukup. Percayalah, Chou Liang akan berusaha menggalang kekuatan untuk memastikan keberhasilan ketua. Dalam kenyataannya dukungan dari sahabat-sahabat Partai Pedang Keadilan cukup besar."
Ding Tao hanya menganggukkan kepala setengah hati, menanggapi usaha Chou Liang untuk menghibur dirinya itu.
"Apakah Ketua Ding Tao ingin melanjutkan kembali latihan?", tanya Chou Liang bersiap untuk berpamitan.
"Ya, waktu yang tersisa ingin kugunakan sebaik-baiknya. Moga-moga pada waktunya nanti aku tidak mengecewakan kalian semua.", jawab Ding Tao.
"Baiklah kalau begitu aku pamit lebih dahulu. Kuharap Ketua Ding Tao, jangan pula terlalu memaksakan diri. Setiap manusia memang ada keterbatasan, asalkan ketua sudah berusaha semaksimal mungkin, apapun hasilnya pada pemilihan Wulin Mengzhu nanti, tidak ada yang perlu disesalkan.", ujar Chou Liang. Setelah sekali lagi berpamitan, Chou Liang akhirnya meninggalkan Ding Tao sendirian didalam ruang latihan. Setelah menutup pintu, Ding Tao berjalan ke tengah ruangan, kemudian duduk bersila. Benaknya penuh dengan pertanyaan, tidak terpikir lagi untuk berlatih, melainkan Ding Tao ingin terlebih dahulu mengambil keputusan, akankah dia mempelajari isi dari kitab-kitab yang dibawa Murong Yun Hua ataukah dia akan terus berlatih seperti yang selama ini dia lakukan? Sambil menggigit bibir Ding Tao pun bertanya pada diri sendiri, apakah terus berlatih seperti yang dia lakukan selama ini, akan membawa dia melangkah lebih jauh lagi? Ataukah kemampuannya untuk mengembangkan diri sudah sampai pada batasnya? Teringat dahulu ketika dia hendak mengikuti ujian kenaikan tingkat dalam keluarga Huang, melatih jurus-jurus yang sama, mencoba menyelaminya, semuanya terasa seperti membenturkan diri melawan tembok yang kokoh. Namun saat pencerahan itu datang, terobosan itu terjadi dan tiba-tiba dia memahami segala sesuatunya dengan pengertian yang lebih dalam. Saat ini pun dia mengharapkan hal yang sama. Berbulan-bulan lamanya, dia menghabiskan sekian banyak waktu untuk memerah tenaga dan pikiran, tapi masih saja mendapati jalan buntu. Dia menantikan saat-saat di mana pikirannya berhasil memecahkan kebuntuan itu, namun saat itu tidak juga kunjung datang. Di saat yang sama, Murong Yun Hua sudah menyediakan jawaban bagi persoalan yang dia hadapi. Jika dia tidak memanfaatkan kesempatan yang sudah dihadirkan ini, apakah masih bisa dikatakan bahwa dia sudah berusaha sekuat tenaga? Jika sampai jatuh banyak korban dalam pertemuan Wulin Mengzhu nanti, apakah dia bisa tidur dengan nyenyak, mengetahui bahwa dia memiliki kesempatan untuk mencegah hal itu terjadi namun tidak mengambilnya? Lama Ding Tao menutup mata dalam sikap duduk bersila. Lama dia berpikir, menimbang dan bertanya. Akhirnya dia membuka mata dengan satu keputusan sudah terbentuk dalam hatinya. Ding Tao pun berjalan keluar dari ruangan latihan itu, pergi menuju ke tempat dia tinggal bersama kedua isterinya. Ada kalanya seseorang harus mengaku bahwa sikap yang dia ambil tidaklah tepat. Banyak orang merasa malu untuk mengakui kesalahan, padahal berkeras pada hal yang salah justru menunjukkan kekerdilan hati seseorang. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, hanya saja ada yang berani mengakuinya dan ada yang tidak mau mengakuinya Selesai masalah pertama, masih ada masalah kedua. Hari itu juga, segera setelah Chou Liang menjalankan siasatnya dibantu oleh sepasang suami isteri, Ma Songquan dan Chu Linhe, Ding Tao pergi untuk menemui Murong Yun Hua. Dalam hati terselip juga rasa malu, malu untuk mengakui kesalahan. Bukankah suami itu kepala keluarga, pemimpin dari keluarganya. Betapa sering kedudukan ini, membuat suami merasa dirinya harus menjadi manusia yang tidak pernah bersalah, pun jika terbukti dirinya bersalah. Memang seorang pemimpin, harusnya tidak membuat kesalahan. Namun sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan, seharusnya pemimpin juga sanggup untuk mengakui kesalahannya. Dengan begitu, jalan menuju pada yang benar akan terbuka. Jika karena malu, seorang pemimpin tidak bersedia mengakui kesalahannya, maka hilang pula kesempatan untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Bahkan lebih buruklagi, bila langkah tersebut diambil oleh seorang pemimpin, maka biasanya yang terjadi adalah, kesalahan tersebut ditutupi dengan cara yang mengundang kesalahan-kesalahan lain. Sehingga perlahan-lahan, pimpinan yang tadinya baik, bisa berubah menjadi pembawa mala petaka bagi mereka yang dipimpinnya. Bagusnya Ding Tao bukan jenis pemimpin yang demikian. Sadar atau bahkan terlalu sadar bahwa dirinya bukan orang paling bijaksana di dunia ini, Ding Tao tidak segan-segan untuk mengakui kesalahannya. Termasuk mengakui kesalahannya pada isteri-isterinya. Murong Yun Hua sedang bersenda gurau dengan adiknya Murong Huolin di taman, saat Ding Tao datang untuk mengakui kesalahannya.
"Kakak Ding Tao..., wah tidak biasanya belum waktunya makan siang sudah datang", ujar Huolin sambil berlari kecil menyambut Ding Tao, disusul oleh Murong Yun Hua di belakangnya. Murong Yun Hua tentu saja tidak bisa berlarian seperti Murong Huolin, perutnya sudah bertambah besar saja. Jika tidak ada aral melintang tentu 2 bulan lagi dia akan melahirkan. Ding Tao menyambut Murong Huolin yang ceria dengan senyum di wajahnya, tangannya dengan serta merta menggenggam mesra tangan gadis itu. Bergandengan mereka berjalan ke arah Murong Yun Hua yang datang menyusul. Ding Tao pun berkata.
"Sebenarnya aku datang karena ada satu urusan dengan kakakmu, Yun Hua."
"Oh... kusangka kakak rindu padaku, ternyata yang dirindukan adalah Kakak Yun Hua, aduh malunya...", keluh Murong Huolin dengan manja.
"Hush... jangan sembarangan.., ini masalah Partai Pedang Keadilan.", jawab Ding Tao sambil mencubit Murong Huolin dengan lembut.
"Masalah partai? Apakah ada masalah genting dalam partai kita?", tanya Murong Huolin dengan nada yang lebih serius. Karena sudah sampai pula ke dekat Murong Yun Hua, maka Ding Tao pun dengan segera meraih tangan Murong Yun Hua untuk digandengnya pula. Dengan menggandeng dua orang isteri yang cantik di kiri dan kanannya, Ding Tao berjalan ke arah bangku-bangku yang ada.
"Dikatakan masalah yang genting tidak juga. Tetapi bukan berarti tidak penting. Hal ini ada hubungannya dengan pemilihan Wulin Mengzhu yang akan diadakan dalam beberapa waktu ke depan, hitungan bulan.", ujar Ding Tao menjelaskan.
"Ah... apakah hubungannya dengan diriku?", tanya Murong Yun Hua.
"Soal itu, ada hubungannya dengan apa yang pernah kita bicarakan sebelumnya. Mengenai koleksi kitab-kitab, milik keluarga Murong. Aku sudah banyak berpikir dan harus kuakui, sebelumnya aku sudah terlalu kaku dalam memikirkannya. Saat ini waktu yang tersisa semakin sedikit, sementara aku tidak memiliki keyakinan yang kuat untuk maju dalam pemilihan tersebut. Jika imbangan kekuatan dalam pemilihan tersebut, tidak berbeda jauh, bukan tidak mungkin akan jatuh korban dari kalangan sendiri. Aku ingin berusaha sebisa mungkin untuk menghindari jatuhnya korban.", jawab Ding Tao menjelaskan. Murong Huolin yang mendengarkan, tidak berani banyak berkomentar, hanya pandang matanya saja yang terarah pada Murong Yun Hua. Sebaliknya Murong Yun Hua dengan senyum menyambut jawaban Ding Tao.
"Syukurlah kalau Adik Ding Tao memutuskan demikian. Sebenarnya apakah kitab-kitab itu akan bermanfaat atau tidak, aku sendiri tidak bisa mengatakan dengan pasti. Tapi jika aku bisa membantu Adik Ding Tao, sesedikit apapun, hal itu akan membuatku senang.", ujarnya sambil meremas tangan Ding Tao dengan mesra.
"Bantuan Enci Yun Hua sudah terlampau banyak, tempat ini pun terasa lebih menyenangkan untuk ditinggali setelah kedatangan kalian berdua. Jika kitab-kitab itu tidak bermanfaat, maka kesalahan terletak pada otakku yang bebal. Aku berjanji akan berusaha segiat mungkin untuk mempelajarinya dan tidak menyia-nyiakan kebaikan Enci Yun Hua.", jawab Ding Tao sambil mencium lembut pipi Yun Hua.
"Aduh irinya... Aku pun ingin bisa membantu Kakak Ding Tao. Apa daya aku tidak sepandai Enci Yun Hua.", keluh Huolin sambil tersenyum menggoda.
"Hahaha... kenapa harus iri. Adik Huolin juga sudah banyak membantuku dengan cerita-cerita yang lucu. Jika tidak kepalaku tentu sudah pecah menghadapi urusan partai setiap hari.", ujar Ding Tao, tidak lupa memberikan kecupan mesra di pipi Murong Huolin. Sembari mendudukkan badan mereka ke bangku yang terdekat, ketiganya pun bertukar cerita mengenai apa yang mereka alami hari itu. Setelah bercakap-cakap mengenai hal-hal yang ringan, Murong Yun Hua kembali mengarahkan pembicaraan mereka pada hal yang penting.
"Adik Ding Tao, kitab-kitab itu cukup banyak, sudahkah memikirkan kitab mana dulu yang akan dibaca dan mana yang akan ditekuni? Ataukah adik akan membaca dulu semuanya secara sekilas sebelum memutuskan akan mempelajari kitab yang mana?", tanya Murong Yun Hua.
"Tentang hal itu sudah kupikirkan baik-baik. Aku tidak akan memilih ilmu tertentu untuk dipelajari, melainkan lebih menekankan pada mengenali setiap kelebihan dan kekurangan ilmu dari berbagai aliran. Dengan begitu aku bisa menemukan cara untuk mengalahkan lawan tanpa harus terlalu banyak mencuri belajar dari mereka.", jawab Ding Tao.
"Oh begitu, maksud kakak, kakak hanya ingin menemukan cara untuk menghadapi setiap aliran dengan ilmu yang kakak kembangkan sendiri?", tanya Murong Huolin untuk menegaskan.
"Ya, begitulah. Sebisa mungkin aku akan berusaha untuk tidak mencuri ilmu dari aliran lain. Namun jika memang hal itu tidak bisa dihindarkan, misalnya ketika ilmu itu bisa menjadi pelengkap yang baik dari apa yang sudah kutekuni, maka sebisa mungkin aku menekuninya dengan meleburkannya dengan ilmu yang sudah kumiliki dan bukan menirunya mentah-mentah.", jawab Ding Tao.
"Apakah ada cukup waktu untuk melakukan hal itu?", tanya Murong Huolin dengan wajah khawatir. Alis Ding Tao pun berkerut memikirkan hal itu, dengan ragu dia menggelengkan kepala.
"Sebenarnya aku sendiri tidak yakin, namun yang bisa dilakukan hanyalah berusaha mempelajari sebanyak mungkin dalam waktu yang tersisa. Kalaupun tidak bisa mempelajari semuanya, setidaknya dari yang sudah dipelajari akan membuat pengetahuanku menjadi lebih lengkap."
"Kalau begitu, biarlah kitab-kitab yang memuat ilmu-ilmu andalan dari perguruan besar dipelajari terlebih dahulu. Dengan kitab yang menerangkan jurus lebih diutamakan daripada kitab yang berkenaan dengan pengolahan tenaga.", ujar Murong Yun Hua setelah mendengarkan penjelasan Ding Tao. Ding Tao pun mengangguk membenarkan.
"Kurasa itu salah satu jalan yang baik."
Murong Yun Hua termenung beberapa saat kemudian bertanya.
"Adik Ding Tao, apakah membutuhkan obat pengetahuan dewa untuk mempercepat proses pembelajaran ini?"
Ding Tao terdiam dan berpikir, Murong Huolin-lah yang terlebih dahulu berkata.
"Kakak, kurasa terlalu banyak menggantungkan diri pada obat-obatan tidaklah baik. Kakak Ding Tao sudah mendapatkan banyak perkembangan setelah meminumnya. Meminumnya kembali bukan hanya belum tentu memberikan hasil seperti yang lalu, tapi juga tentu memiliki resikonya sendiri."
Ding Tao memandang Murong Huolin sejenak, kemudian tersenyum dan menjawab.
"Adik Huolin benar, sejak meminum obat itu untuk berapa lama, memang sekarang kerja otakku jadi lebih encer. Meskipun setelah berhenti meminumnya beberapa bulan, tidak kurasakan daya kerjanya menurun. Kupikir lebih baik, kali ini aku tidak meminumnya kembali. Terlalu banyak pun kurasa tidak akan baik jadinya."
Murong Huolin terlihat bersyukur mendengar jawaban Ding Tao. Murong Yun Hua pun menganggukkan kepala setelah mendengarkan jawabannya.
"Hal itu pun baik, ada kalanya karena mengharapkan keajaiban seseorang jadi terlalu bergantung pada obat-obatan. Jika setelah berhenti meminumnya Adik Ding Tao tidak merasakan penurunan dalam kerja otak dan syaraf Adik Ding Tao, maka hal itu menunjukkan satu perubahan yang sudah mapan dalam sistim syaraf Adik Ding Tao dan obat itu sudah tidak diperlukan lagi.", ujar Murong Yun Hua sambil tersenyum.
"Kapan kakak akan mulai mempelajari kitab-kitab itu?", tanya Murong Huolin.
"Waktunya tinggal sedikit, makin cepat, makin baik.", jawab Ding Tao dengan ringkas. Mendengar jawaban Ding Tao Murong Yun Hua menganggukkan kepala dan bangkit dari duduknya.
"Jika adik sudah berketetapan demikian, baiklah kita mulai saja sekarang. Kitab-kitab itu kusimpan dalam kamar, sekarang kita bisa pergi ke sana dan mengambil satu kitab untuk dibawa Adik Ding Tao ke ruang latihan. Sambil Adik Ding Tao mempelajarinya, aku dan Adik Huolin akan memilah-milah kitab-kitab yang lainnya sambil juga menyiapkan segala keperluan Adik Ding Tao nanti. Kukira setelah ini, Adik Ding Tao akan menghabiskan banyak waktu di ruang latihan.", ujar Murong Yun Hua dengan tegas. Ding Tao menganggukkan kepala, dia tidak keberatan dengan sikap Murong Yun Hua yang terkadang bertindak sebagai seorang kakak terhadap adiknya. Lagipula sejak awal, memang itu pula yang dia pikirkan. Mereka berdua menunjukkan tekad yang kuat, hanya Murong Huolin sedikit muram membayangkan akan berjauhan dengan Ding Tao dalam waktu yang lama. Dengan cara kerja yang cepat dan tepat, tanpa banyak membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting, tidak lama setelah itu, Ding Tao sudah berada di dalam ruang latihan, membaca dan menekuni sebuah kitab. Karena sudah pernah membaca kitab yang menjadi salah satu sumber ilmu perguruan Kongtong, Ding Tao memilih kitab-kitab dari perguruan tersebut untuk dipelajarinya pertama kali. Dalam benaknya dia berpendapat, kalaupun waktu yang ada itu tidak memungkinkan untuk memahami semuanya, setidaknya ada satu atau dua yang sudah dimengertinya dengan tuntas, walaupun hanya dalam bentuk teori. Sementara Murong Huolin memilah-milah kitab-kitab yang ada, sesuai dengan petunjuk Murong Yun Hua. Murong Yun Hua sendiri memilih untuk mengarahkan para pelayan, mengenai persiapan kebutuhan Ding Tao selama dalam ruang latihan. Setelah selesai memberikan pengarahan dan juga membantu di dapur beberapa lama. Murong Yun Hua pun pergi untuk menemui Chou Liang dan menyampaikan rasa terima kasihnya. Chou Liang pun ikut bergembira melihat siasatnya berhasil dengan baik.
"Syukurlah kalau begitu. Berarti saat ini Ketua Ding Tao sudah mulai mempelajari isi kitab-kitab itu?"
"Ya, benar, segera setelah menyampaikan keinginannya pada kami, Adik Ding Tao membawa beberapa
Jilid kitab ke ruang latihan dan mulai mempelajarinya.
Penasehat Chou Liang, melihat keadaannya kukiralebih baik jika Adik Ding Tao tidak diganggu dengan urusan partai sampai waktu yang cukup lama.", ujar Murong Yun hua menjawab pertanyaan Chou Liang.
"Ya... tentu saja, kuharap tidak akan muncul masalah yang di luar kemampuanku untuk memecahkannya. Sebisa mungkin akan kujaga agar tidak ada yang mengganggu pikiran Ketua Ding Tao selama dia berlatih nanti.", jawab Chou Liang.
"Ya, kuharap juga demikian. Jika tidak maka dengan waktu yang singkat ini, tentu akan sulit untuk mendapatkan hasil yang maksimal.", ujar Murong Yun Hua sambil mendesah.
"Sudahlah, kuharap Nyonya jangan terlalu merisaukan hal itu. Aku percaya Ketua Ding Tao adalah orang yang berbakat.", jawab Chou Liang berusaha menghibur Murong Yun Hua. Selesai menemui Chou Liang, Murong Yun Hua pun bergegas kembali menemui Murong Huolin dan ikut membantu adiknya itu memilah-milah kitab-kitab yang ada. Demikianlah keputusan Ding Tao membuat kesibukan rumah itu menjadi meningkat. Meskipun para pelayan tidak seluruhnya mengerti ilmu silat, namun sebagai bagian dari satu partai besar dalam dunia persilatan mereka memahami pentingnya apa yang dilakukan Ding Tao saat ini. Dan bersama-sama mereka berusaha untuk mendukung Ding Tao agar berhasil dalam usahanya, meskipun bila hal itu hanya dalam bentuk doa sekalipun. Entah karena manjurnya doa mereka, atau mungkin karena suasana hati Ding Tao yang baik. Begitu dia mulai mempelajari isi dari satu kitab, pikirannya bekerja dengan terang. Semangatpun jadi terbangkit dan pelajaran yang berat jadi terasa menyenangkan. Ding Tao hampir lupa makan dan minum, jika saja bukan Murong Yun Hua dan Murong Huolin yang sesekali datang menengok mengingatkan dirinya. Memang benar Ding Tao hanya mempelajari teorinya saja tanpa melatih isi dari kitab-kitab yang dia baca. Namun tenaga yang diperlukan tidak kalah banyaknya, apalagi Ding Tao seperti orang yang kehausan, berusaha mereguk ilmu-ilmu yang ada sebanyak-banyaknya dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Tanpa terasa beberapa minggu pun sudah lewat, dengan Ding Tao selalu berada di dalam ruang latihan. Sedikitpun dia tidak pernah beranjak keluar. Beruntung Partai Pedang Keadilan memiliki orang-orang yang cakap seperti Chou Liang, Sun Liang, Qin Hun, Pendeta Liu Chuncao dan Ma Songquan. Mereka juga tidak kekurangan orang-orang yang setia dan bisa dipercaya seperti Wang Xiaho, Li Yan Mao dan yang lainnya, mereka ini orang-orang tanpa ragu-ragu akan bersedia mati demi Ding Tao. Dengan demikian, absennya Ding Tao dari kegiatan Partai Pedang Keadilan tidak mengganggu jalannya partai. Meskipun tidak mengganggu jalannya roda partai, tidak urung keadaan Ding Tao yang seperti lupa makan dan minum ini membuat hati Chou Liang menjadi risau. Ma Songquan dan Chu Linhe yang baru saja selesai membasmi kelompok pembegal di Gui Yang, ikut risau pula melihat keadaan Ding Tao.
"Sudah berapa lama Ketua Ding Tao bersikap seperti ini?", tanya Ma Songquan kepada Chou Liang. Sore itu mereka bertiga sedang duduk-duduk di ruangan kerja Chou Liang. Setelah selesai dengan tugasnya Ma Songquan dan Chu Linhe memutuskan untuk menginap beberapa hari di markas besar Partai Pedang keadilan di Kota Jiang Ling, untuk menilik hasil dari siasat Chou Liang.
"Sudah 16 hari, sebentar lagi genap 3 minggu Ketua Ding Tao mengurung diri dalam ruang latihan.", jawab Chou Liang dengan wajah murung. Melihat wajah Chou Liang yang murung, Ma Songquan tertawa dan menjawab.
"Tidak perlu terlalu kuatir, Ketua Ding Tao rupanya juga orang yang keranjingan ilmu silat. Bukan hal yang aneh bila orang jadi lupa waktu, saat bertemu dengan sesuatu yang mengasyikkan."
"Hmmm... Saudara Ma Songquan, belum bertemu dengan Ketua Ding Tao jadi bisa berbicara demikian. Kalau sudah bertemu, mungkin akan beda lagi pendapatnya.", keluh Chou Liang.
"Memangnya seperti apa Ketua Ding Tao sekarang ini?", tanya Chu Linhe penasaran.
"Hehh... setiap kali bertemu, kulihat dia seperti sudah kehilangan akalnya. Pikirannya hanya penuh terisi dengan ilmu dari kitab-kitab tersebut. Hal-hal lain sama sekali tidak dia hiraukan. Jika bukan kedua Nyonya Murong dan diriku yang mengingatkan untuk makan dan minum, mungkin dia tidak akan makan dan minum sampai berhari-hari."
"Oh... itu sih biasa...", ujar Ma Songquan menenangkan Chou Liang.
"Kalian belum melihat tumpukan kitab yang sudah selesai dia baca. Bukankah kalian sendiri mengatakan, paling bijaksana jika Ketua Ding Tao hanya melihat-lihat sekilas, kemudian memilih salah satu kitab untuk ditekuni benar-benar. Tapi jika melihat keadaannya, aku tidak akan heran, jika kenyataannya dia melahap setiap ilmu dalam kitab-kitab tersebut.", gerutu Chou Liang. Mendengar itu Ma Songquan pun jadi mengerutkan kening.
"Hmm... apa benar demikian? Masakan Ketua Ding Tao seceroboh itu?"
"Hmph, coba saja nanti malam kalian ikut dengan diriku, membawakan makanan untuk Ketua Ding Tao, nanti kalian akan lihat sendiri apa yang membuatku kuatir.", jawab Chou Liang menggerutu. Meskipun mulai merasa khawatir, Ma Songquan meragukan kekhawatiran Chou Liang. Bagaimanapun juga Chou Liang bukanlah seorang pesilat.
"Apakah sudah ada yang pernah menengok kondisi Ketua Ding Tao selain dirimu dan kedua isterinya?", tanya Ma Songquan. Chou Liang menggelengkan kepala.
"Belum, pada anggota Partai Pedang Keadilan yang lain aku hanya menyampaikan bahwa Ketua Ding Tao sedang berusaha mempelajari satu ilmu dan tidak bisa diganggu hingga dia selesai."
Ma Songquan termenung mendengar jawaban Chou Liang, sedikit banyak dia bisa meraba alasan apa yang melatar belakangi tindakan Chou Liang yang menyembunyikan keadaan Ding Tao saat ini.
Tidak semua orang akan menerima dengan pikiran terbuka, apa yang sedang dilakukan Ding Tao saat ini.
Contoh saja Sun Liang dari keluarga Sun di Luo Yang, walaupun ilmu mereka tadinya bersumber dari Shaolin, namun sejak beberapa generasi, mereka sudah mengembangkan sendiri ilmu keluarga Sun.
Ilmu yang diwariskan turun temurun dan dijaga ketat.
Atau keluarga Huang sendiri, bukankah ilmu keluarga Huang tidak diwariskan, kecuali pada garis keturunan penerus keluarga Huang?
Orang-orang seperti mereka, tentu akan mengerenyitkan alis jika mereka mendengar Ding Tao sedang mempelajari ilmu dari berbagai aliran tanpa ijin dari ketua aliran tersebut.
Bahkan mungkin dalam hati mereka akan bertanya-tanya juga, jangan-jangan ilmu warisan keluarga mereka ada di salah satu kitab-kitab yang dipelajari Ding Tao.
"Hmm... sepertinya kita sudah mengambil resiko terlalu besar...", gumam Ma Songquan.
"Resiko yang tidak pernah kupikirkan adalah, jika sampai terjadi sesuatu pada Ketua Ding Tao akibat mempelajari kitab-kitab tersebut. Resiko yang lain masih bisa aku tangani.", sahut Chou Liang dengan suara lirih.
"Soal itu, justru kupikir, resikonya adalah yang terkecil. Aku sudah melihat bagaimana dia bisa berkembang pesat dalam hitungan bulan, hal itu membuktikan bakatnya yang sangat baik. Aku juga sudah melihat wataknya yang tidak lapar dan haus pada kekuasaan atau kekuatan. Itu sebabnya terasa aneh jika Saudara Chou Liang mengatakan, Ketua Ding Tao tampaknya berusaha melahap semua ilmu yang ada dalam kitab-kitab itu.", jawab Ma Songquan.
"Kukira..., kukira... dalam hal ini aku ada sedikit salah perhitungan", ujar Chou Liang dengan wajah memucat dan hati berdebar.
"Apa maksud Saudara Chou Liang?", tanya Ma Songquan. Lama Chou Liang terdiam sebelum kemudian menjawab.
"Tadinya aku hanya berpikir untuk memancing Ketua Ding Tao, agar tergerak untuk mempelajari kitab-kitab tersebut. Mengenal wataknya yang keras kepala dalam hal-hal prinsip, sepertinya skenario yang kuatur terlalu berlebihan."
"Dari yang kudengar lewat Nyonya Yun Hua, tampaknya Ketua Ding Tao ingin mempelajari seluruh kitab-kitab tersebut meskipun hanya terbatas pada teorinya saja."
"Hoo... mempelajari seluruh kitab tanpa memilih salah satu ilmu untuk dikuasai dengan baik?", gumam Ma Songquan sementara otaknya berpikir cepat.
"Hmm... kukira aku mengerti...", gumam Ma Songquan perlahan-lahan.
"Apa yang kakak mengerti?", tanya Chu Linhe yang sejak tadi mendengarkan.
"Mudah saja, kelemahan Ketua Ding Tao yang terbesar adalah pengalaman bertarungnya. Hal itu pula yang kita tekankan. Dengan mengenali seluruh ilmu-ilmu yang tercatat dalam kitab itu, sama saja dengan menambah pengalaman bertarungnya melawan berbagai aliran tanpa sungguh-sungguh bertarung. Setelah itu, dia bisa memikirkan pemecahan dari setiap serangan dan kelemahan dari setiap pertahanan. Dengan cara itu, tanpa mencuri belajar ilmu dari aliran lain, dia memiliki kesempatan yang lebih baik untuk mengalahkan mereka.", ujar Ma Songquan menjelaskan.
"Jika Ketua Ding Tao bukan sedang berusaha menguasai ilmu-ilmu tersebut. Bukankah bahayanya bisa dibilang hampir tidak ada? Salah jalan hanya terjadi jika seseorang berusaha menguasai satu ilmu dan pikirannya bercabang, hingga hawa murni yang diperkuat, lepas kendali dan menjadi liar. Sedangkan saat ini, Ketua Ding Tao tidak sedang berusaha menguasai satu ilmu pun, resiko tersesatnya hawa murni bisa dibilang tidak ada? Bagaimana menurut kakak, benar tidak pemikiranku ini?", tanya Chu Linhe. Ma Songquan tidak langsung menjawab, sementara Chu Linhe dan Chou Liang menantikan jawabannya dengan penuh harap. Jika benar uraian Chu Linhe, itu artinya Chou Liang pun boleh bernafas lega, mereka semua boleh bernafas lega.
"Uraianmu tidaklah salah, namun keadaan Ketua Ding Tao saat ini juga tidak bisa dikatakan aman dari bahaya. Yang pertama, hawa murni bergerak mengikuti pikiran dan kehendak. Jika dalam mempelajari kitab-kitab tersebut, Ketua Ding Tao tidak berhati-hati, maka bisa jadi tanpa sadar, pikiran dan kehendaknya tergerak untuk melakukan apa yang sedang dia baca."
"Yang kedua, meskipun hanya menggunakan pikiran saja, sementara kehendak ditidurkan dan hati dijaga ketenangannya. Bukan berarti tidak ada resiko mengalami kesesatan. Bagaimana pun juga untuk mempelajari ilmu itu, pikiran harus bekerja, maka ada kemungkinan akan mengalami kesesatan juga. Hanya saja, kesesatan yang terjadi tidak mengakibatkan kelumpuhan, seperti yang biasa terjadi saat seorang pesilat yang melatih hawa murni mengalami salah jalan. Namun yang terjadi adalah kegilaan, kepribadiannya yang akan terganggu.", jelas Ma Songquan dengan nada prihatin. Mendengar jawaban Ma Songquan, wajah Chou Liang berubah semakin pucat. Chu Linhe yang melihatnya merasa kasihan juga, apalagi dirinya dan suaminya juga tersangkut dalam masalah yang sama. Maka dengan nada prihatin dia bertanya pada Ma Songquan.
"Jika begitu, apakah tidak ada yang bisa kita lakukan?"
"Hmm... pada saatnya mengantarkan makanan nanti, kita akan ikut menjenguk dan melihat keadaannya. Jika memang pikirannya terlampau jauh terseret dalam pembelajarannya, kukira asalkan kita bisa menghentikan Ketua Ding Tao untuk berpikir beberapa lama, resiko yang kita kuatirkan bisa dikurangi.", ujar Ma Songquan setelah berpikir beberapa lama.
"Ah... kalau benar demikian, mengapa harus menunggu nanti. Baiklah kita datangi dia sekarang.", ujar Chou Liang sambil bangun dari duduknya. Tapi Ma Songquan menggelengkan kepala.
"Tidak, lebih baik pada waktu kita mengantarkan makanan."
"Mengapa demikian? Bagaimana jika terlambat?", tanya Chou Liang tidak mengerti.
"Bukankah biasanya makanan dan minuman diantarkan pada waktu yang sama?", tanya Ma Songquan.
"Ya, benar, kedua nyonya tidak pernah terlambat untuk menyiapkan makanan dan minuman. Semuanya selalu siap pada saatnya.", jawab Chou Liang.
"Pada saat makanan dan minuman diantarkan, apakah Ketua Ding Tao bisa makan dan minum sendiri?", tanya Ma Songquan.
"Tentu saja, hanya saja bisa terlihat bahwa pikirannya banyak tertuju pada hal-hal di luar apa yang sedang dia lakukan saat itu.", jawab Chou Liang.
"Lalu apakah pernah kau atau kedua nyonya mengajaknya bicara di waktu dia makan dan minum tersebut?", tanya Ma Songquan.
"Ya, tentu saja pernah, menunggui dia makan tanpa berkata-kata apa pun tentu saja terasa aneh. Lagipula pikiran Ketua Ding Tao yang tampak melayang-layang membuat suasana jadi terasa sedikit aneh. Jadi meskipun tidak banyak selalu ada percakapan pada waktu-waktu tersebut. Sekedar untuk mengisi kekosongan dan mencairkan suasana.", jawab Chou Liang.
"Hmm... jadi ada kemungkinan, setelah berhari-hari melakukan rutinitas yang sama, yang dimulai jauh sebelum pikirannya semakin masuk dalam pembelajaran, secara alami sebuah kebiasaan sudah terbentuk. Setidaknya pada waktu-waktu tersebut, pikiran Ketua Ding Tao, dengan sendirinya menyediakan sebagian kemampuannya untuk makan, minum dan juga berinteraksi dengan kalian.", ujar Ma Songquan setelah puas bertanya. Mendengar perkataan Ma Songquan, Chou Liang pun perlahan-lahan kembali duduk sambil menganggukkan kepala tanda paham. Chou Liang bukan orang bodoh, tentu saja dia bisa memahami alasan Ma Songquan.
"Ya... dengan memanfaatkan kebiasaan yang sudah terbentuk, kita sengaja datang pada saat pikiran memberikan celah bagi kita untuk masuk.", gumamnya.
"Benar... jika bukan di saat-saat itu, kukira, dengan daya konsentrasinya yang tinggi. Sulit bagi kita untuk berkomunikasi dengan Ketua Ding Tao, di saat dia sedang memfokuskan pikirannya pada kitab yang sedang dia pelajari.", ujar Ma Songquan.
"Baiklah, kalau begitu kita menunggu terlebih dahulu. Omong-omong, Saudara Ma Songquan dan Nyonya Chu Linhe, kuharap tetap berada di Jiang Ling sampai masalah ini selesai. Di Wuling sudah kuminta Saudara Sun Liang dan puteranya, dibantu Qin Bai Yu yang sekarang bersahabat dekat dengan Sun Gao, untuk mengambil alih pimpinan di kota Wuling sampai kalian berdua kembali ke sana.", ujar Chou Liang.
"Baguslah kalau begitu. Di saat seperti ini aku pun tidak ingin berada jauh dari Ketua Ding Tao.", jawab Ma Songquan. Sambil menunggu waktu, ketiganya pun bercakap-cakap mengenai banyak hal lain. Mendekati waktunya, terdengar pintu ruangan diketuk dari luar. Rupanya Murong Huolin datang membawakan makanan dan minuman yang sudah disiapkan untuk Ding Tao. Setelah berbasa-basi sebentar, merekapun pergi bersama-sama menemui Ding Tao dalam ruang latihannya. Di luar ruangan tersebut, sekarang tampak beberapa orang anggota Partai Pedang Keadilan yang berjaga. Panca indera Ma Songquan dan Chu Linhe yang tajam, juga merasakan adanya orang-orang yang berjaga di tempat-tempat yang tersembunyi. Bahkan sudah dimulai dari ratusan meter sebelum mereka sampai di ruangan latihan Ding Tao. Dengan gerakan yang tidak kentara, Ma Songquan melirik Chou Liang dengan alis terangkat. Chou Liang yang paham maksudnya, segera mengangguk sambil tersenyum dan bergumam.
"Hanya ini saja yang bisa kulakukan. Setelah kedatangan kalian berdua hatiku tentu akan merasa lebih tenteram."
Rupanya Chou Liang mengkhawatirkan keadaan Ding Tao yang seperti orang ling lung dan menempatkan penjagaan di sekitar ruang latihan itu.
Akan tetapi sebagian besar dari mereka ditempatkan di tempat yang tersembunyi, karena jumlah yang terlampai banyak justru akan memberi sinyal bahwa ada yang kurang beres dengan keadaan Ding Tao.
Serba salah memang, tidak dijaga salah, dijaga pun salah.
Itu juga salah satu sebab Chou Liang merasa cemas beberapa hari ini.
Setiap hari Ma Songquan belum datang, setiap hari itu pula Chou Liang harus tidur dengan jantung berdebar-debar.
Setelah mengetuk pintu dengan ringan, tanpa menunggu jawaban, Murong Huolin mendorong pintu sampai terbuka.
Ding Tao yang sedang duduk dalam posisi bermeditasi, perlahan membuka matanya.
Seperti yang dikatakan Ma Songquan, jam dalam tubuhnya sudah menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang berjalan selama beberapa minggu tersebut.
Setelah membuka mata, masih perlu waktu beberapa lama sebelum Ding Tao menyadari hadirnya Ma Songquan dan Chu Linhe.
Ding Tao menatap kosong ke arah kedua orang tersebut, samar-samar otaknya mengenali ada yang berbeda dengan hari biasa.
Namun sebagian besar dari otaknya sedang sibuk menganalisa dan mengurai apa yang dia baca.
Tinggal sebagian kecil yang bersentuhan dengan realita di sekelilingnya dan meskipun dia segera sadar bahwa ada sesuatu yang berbeda, dia pun butuh waktu cukup lama sebelum memahami apa yang berbeda itu.
Ketika dia mulai memahami keberadaan Ma Songquan dan Chu Linhe, wajahnya pun berubah menjadi cerah, sambil tersenyum dia menyapa mereka berdua.
"Saudara Ma Songquan, Enci Chu Linhe, kalian berdua sudah kembali. Bagaimana kabar kalian?"
"Baik, kami semua baik-baik saja. Ada beberapa orang yang luka ringan, namun tidak ada yang serius, masalah pencoleng itu juga semuanya sudah beres. Ketua Ding Tao sendiri, bagaimana kabarnya?", jawab Ma Songquan balik menanya.
"Baik... baik...", jawab Ding Tao sedikit mengambang, sejenak matanya menerawang entah ke mana, sebelum kemudian berfokus kembali pada mereka yang hadir seruangan dengan dirinya.
"Ah.. ayolah kita mulai makan, perutku sudah mulai lapar.", ujar Ding Tao kemudian bergerak untuk duduk di kursi-kursi yang sudah disediakan. Makanan dan minuman sudah diatur oleh Murong Huolin dan Chu Linhe, sambil menunggu Ding Tao dan Ma Songquan bercakap-cakap tadi. Setelah mereka duduk bersama, Murong Huolin dengan telaten, mengambilkan nasi dan lauknya untuk Ding Tao. Sementara Ding Tao seperti sebuah robot, mengucapkan terima kasih, sambil mengajak yang lain untuk ikut makan, kemudian dengan lahap dia makan apa yang sudah dihidangkan oleh Murong Huolin dengan pandangan mata yang seringkali kosong. Hanya sesekali matanya terlihat hidup dan perhatiannya terarah pada keadaan di sekelilingnya. Jika ada yang bertanya pada Ding Tao, maka butuh waktu beberapa lama sebelum dia menjawab. Setelah menilik keadaan Ding Tao akhirnya Ma Songquan membuka mulut dan berkata.
"Ketua Ding Tao, apakah tidak bisa berhenti sejenak memikirkan ilmu-ilmu yang sedang ketua pelajari?"
"Huh ?", sahut Ding Tao dengan ekspresi wajah kosong. Ma Songquan pun mengulangi lagi pertanyaannya dan harus menunggu beberapa saat sebelum Ding Tao akhirnya menjawab dengan alis berkerut dan nada kurang suka.
"Tentu saja bisa, tapi apakah ada sesuatu yang penting?"
"Penting, sangat penting malah dan berhubungan erat dengan perkembangan ilmu dari Ketua Ding Tao. Jika Ketua Ding Tao mau mendengarkan usulanku, kujamin proses belajar Ketua Ding Tao akan menjadi lebih cepat beberapa kali lipat.", jawab Ma Songquan dengan sungguh-sungguh. Mata Ding Tao berkilat saat mendengar bahwa usulan Ma Songquan bisa membantunya dalam mempelajari ilmu dari kitab-kitab yang sedang dia baca.Sebagian perhatiannya mulai bergeser pada Ma Songquan, tanpa sadar dia meletakkan mangkok dan sumpitnya ke meja. Melihat perhatian Ding Tao sudah lebih banyak terarah pada dirinya Ma Songquan melanjutkan usahanya untuk menarik Ding Tao dari pusaran ilmu yang mengikat benaknya.
"Sebelumnya, marilah kita coba berlatih tanding untuk menilai sampai sejauh mana Ketua Ding Tao mengalami kemajuan dengan apa yang ketua baca selama ini.", ujarnya sambil melangkah ke tengah ruangan. Sejenak Ding Tao memandangi Ma Songquan dan kemudian menjawab.
"Baik."
Keduanya pun berhadapan di tengah ruangan, Ma Songquan merangkap tangan di depan dada dan berujar.
"Mari Ketua Ding Tao, silahkan dimulai lebih dulu."
Ding Tao mengangguk dan menatap kuda-kuda lawan, segera saja benaknya berputar, segala apa yang sudah pernah dia pelajari berkelebatan dalam otaknya.
Semakin banyak pengetahuannya, semakin banyak kemungkinan-kemungkinan yang dapat dia bayangkan dari kedudukan awal mereka.
Semakin lama, Ding Tao semakin terjebak oleh benaknya sendiri, berputar-putar dengan ingatan akan apa yang sedang dia baca.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Ma Songquan pun berucap.
"Jika Ketua Ding Tao segan untuk memulai, bagaimana kalau aku yang memulai lebih dulu.", tanyanya dengan sopan. Dengan ragu-ragu, Ding Tao menganggukkan kepala.
"Silahkan...."
Tanpa banyak cakap lagi, Ma Songquan pun mulai menyerang.
"Awas serangan Ketua Ding Tao!"
Serangan yang dilancarkan tidaklah rumit, tapibenak Ding Tao yang masih sibuk memikirkan ilmu-ilmu yang baru dia baca, tidak cukup cepat untuk bereaksi terhadap serangan Ma Songquan yang sederhana.
Menatap kosong pada kepalan Ma Songquan yang bergerak lurus ke depan, tiba-tiba kepalan itu sudah mampir di dadanya.
Tanpa dapat dicegah, Ding Tao terhuyung mundur beberapa langkah sebelum akhirnya jatuh terduduk.
Murong Huolin dan Chou Liang yang menyaksikannya dengan tegang terpekik kaget.
Chu Linhe buru-buru menenangkan mereka yang sudah hendak bergerak menolong Ding Tao.
"Jangan takut, sabar dulu. Kakak Ma Songquan tahu keadaan Ketua Ding Tao dan membatasi tenaganya. Biarkan dulu mereka, jangan diganggu. Pelan-pelan Ketua Ding Tao akan sadar akan keadaannya.", ujar Chu Linhe sambil menahan tangan Murong Huolin dengan lembut. Dengan ragu Murong Huolin memandang ke arah Chu Linhe, kemudian mengangguk setuju. Sekali lagi pandang matanya diarahkan pada Ma Songquan dan Ding Tao yang sudah saling berhadapan untuk kedua kalinya. Meskipun masih ada jejak-jejak kecemasan di raut wajahnya, Murong Huolin tidak lagi memburu ke depan, melainkan menanti dengan tegang.
"Ketua Ding Tao... bagaimana keadaan ketua? Apakah bisa kita mulai sekali lagi?", tanya Ma Songquan datar. Ding Tao yang masih terkejut ketika menyadari betapa Ma Songquan bisa menjatuhkan dirinya dengan mudah terdiam mendengar pertanyaan itu. Perlahan akal sehatnya mulai bekerja, menganalisa kekalahannya barusan. Serangan yang sederhana masuk dengan mudah. Dengan penasaran dia mengangguk perlahan.
"Mari kita mulai lagi. Silahkan Kakak Ma Songquan menyerang lebih dahulu."
"Baik, awas serangan!", seru Ma Songquan. Sekali lagi dia menyerang dengan serangan yang sama, kali ini gerakannya lebih cepat dari gerakan sebelumnya. Ding Tao yang sudah lebih berkonsentrasi mengamati gerakan lawan, tidak seterkejut tadi saat kepalan Ma Songquan sudah hampir sampai di dadanya. Namun benaknya masih berkutat dengan apa yang barusan dia pelajari. Bukannya menghindar, dia justru lebih sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan perkembangan selanjutnya. Dengan semakin banyaknya pengetahuan yang ada, semakin terbuka pikirannya terhadap jumlah kemungkinan yang muncul dari satu serangan yang sederhana. Setiap langkah memiliki pecahan kemungkinannya sendiri, jika untuk memikirkan satu langkah ke depan saja sudah puluhan jumlah kemungkinan yang muncul, betapa lebih banyak lagi ketika Ding Tao berpikir dua sampai tiga langkah ke depan. Akibatnya sebelum dia sempat memutuskan apa yang harus dia lakukan, pukulan Ma Songquan yang sederhana tanpa jebakan atau kembangan kembali mampir ke dadanya. Sekali lagi Ding Tao tersurut mundur, beberapa langkah ke belakang dan jatuh terduduk. Kembali Murong Huolin dan Chou Liang terpekik kecil. Dada mereka ikut berdebar, tidak sabar dan cemas, menyaksikan pertarungan yang bodoh ini. Ding Tao sendiri bukannya tidak sadar dengan pekik kaget mereka, wajahnya pun berubah merah oleh malu dan rasa penasaran. Bagaimana mungkin dia bisa dijatuhkan semudah ini? Seperti seorang anak yang baru belajar ilmu bela diri. Dengan menggeram dia bangkit berdiri dan sebelum Ma Songquan sempat bertanya, dia sudah berkata.
"Mari kita coba sekali lagi, silahkan Kakak Ma Songquan mulai menyerang lebih dulu."
"Baiklah, awas serangan!", seru Ma Songquan yang segera menyerang tanpa ragu lagi. Dua kali di amenyerang dengan pukulan yang sederhana, kali ini Ma Songquan bergerak seperti hendak memukul lurus dengan tangan kiri, namun hanya bahunya yang bergerak maju, di tengah jalan tangan kirinya ditarik ke belakang, sementara tangan kanannya bergerak menebas dari samping. Ding Tao yang sudah bersiap hendak menerima pukulan dari depan, ketika melihat perubahan gerakan Ma Songquan, tiba-tiba kembali lagi benaknya diserang dengan berbagai macam pikiran dari kemungkinan yang bisa saja terjadi. Tanpa dapat dielakkan, sisi tangan kanan Ma Songquan dengan telak mampi di leher Ding Tao. Beruntung di saat-saat terakhir Ding Tao masih sempat mengumpulkan hawa dan semangat untuk melindungi tempat yang akan terpukul oleh Ma Songquan dengan hawa murninya. Meskipun demikian pukulan itu menyengatnya dengan keras, pusat syarafnya tergetar dan dengan keluhan pendek Ding Tao melompat jauh ke samping, menjauhi kedudukan Ma Songquqn yang sudah siap dengan serangan berikutnya. Ma Songquan tidak memberikan kesempatan pada Ding Tao untuk beristirahat, segera setelah Ding Tao bergeser, diapun memburu dengan sebuah tendangan berputar, menutup gerak menghindar Ding Tao. Kakinya yang panjang bergerak melingkar, menyerang ke arah badan Ding Tao yang sedang bergerak menghindar. Sekali lagi Ding Tao harus menahan nyeri, saat tendangan tersebut dengan telak mengenai sisi tubuhnya. Dengan menggunakan tenaga dorongan kaki Ma Songquan Ding Tao pun melompat, mengikuti arah serangan Ma Songquan, selain mengurangi benturan, juga membantu dia untuk melompat lebih jauh ke arah yang berlawanan. Begitu kaki Ma Songquan menyentuh lantai, dengan segera dia melompat memburu ke depan, sebuah pukulan kembali dilontarkan. Sebuah pukulan lurus ke arah kening Ding Tao yang terbuka lebar, ketika Ding Tao hendak menghindar, ternyata serangan tersebut hanyalah tipuan, justru kaki Ma Songquan yang diam-diam mengambil posisi untuk menendang dan sebuah tendangan menyapu ke arah kaki Ding Tao dilancarkan. Kali ini reaksi Ding Tao lebih cepat daripada sebelumnya. Dengan cepat dia melompat pendek ke atas, menghindari sapuan kaki Ma Songquan, tidak lupa kakinya berbalik mengincar kaki Ma Songquan yang sedang menyerang. Ma Songquan pun menarik mundur serangannya dan bersiap dengan serangan berikutnya. Demikianlah, kemudian keduanya saling bertahan dan menyerang. Semakin Ding Tao menunjukkan kegesitannya, Ma Songquan pun menambah kecepatan serangannua. Perlahan-lahan, otak Ding Tao ditarik keluar dari kungkungan pikiran yang diciptakannya sendiri. Setiap kali Ding Tao berhasil menahan serangan Ma Songquan, Ma Songquan akan bergerak lebih cepat dan menggunakan jurus serangan yang lebih rumit, memaksa benak Ding Tao untuk lebih berkonsentrasi pada pertarungan mereka dan bukan pada ilmu-ilmu yang sedang dia pelajari. Melihat keduanya sekarang bertarung dengan imbang, Murong Huolin dan Chou Liang pun menarik nafas lega. Dengan nada penuh rasa terima kasih, Murong Huolin berkata pada Chu Linhe.
"Enci Chu Linhe, syukurlah, rupanya serangan-serangan Kakak Ma Songquan akhirnya bisa menyadarkan Kakak Ding Tao dari ketidak sadarannya."
Chu Linhe pun tersenyum manis dan membalas.
"Ya, memang itu tujuannya. Namun Kakak Ma Songquan belum sepenuhnya berhasil. Dalam keadaan yang normal, Ketua Ding Tao dapat mengalahkan Kakak Ma Songquan yang bertarung berpasangan dengan diriku dengan mudah. Namun sekarang ini, baru melawan Kakak Ma Songquan saja, dia sudah dibuat keteteran."
Murong Huolin dan Chou Liang mengarahkan kembali pandangan mereka pada pertarungan yang terjadi antara Ding Tao dan Ma Songquan.
Mereka pun dapat melihat kebenaran dari perkataan Chu Linhe.
Memang Ding Tao tidak jatuh dalam satu kali pukulan seperti yang terjadi sebelumnya.
Namun sampai sekarang Ding Tao belum dapat mengimbangi serangan-serangan Ma Songquan, beberapa kali serangan Ma Songquan kena dengan telak dan Ding Tao harus terhuyung sambil mengeluh, menahan nyeri.
Meskipun demikian, perlahan-lahan, keadaan tampak berubah.
Semakin lama gerakan mereka berdua semakin cepat, semakin jarang serangan Ma Songquan mampu menghantam Ding Tao dengan telak.
Setiap rasa sakit yang menyengatnya, membangkitkan rasa marah dan frustasi dalam diri Ding Tao.
Semakin dia marah, semakin sedikit dia memikirkan teori-teori ilmu silat yang saat itu membelenggu benaknya dan semakin cepat reaksi Ding Tao terhadap serangan Ma Songquan.
Perlahan-lahan Ding Tao mulai dapat mengimbangi permainan Ma Songquan.
Chu Linhe pun berpaling ke arah Murong Huolin dan Chou Liang, sambil tersenyum kecil dia berkata.
"Kukira, ini sudah waktunya bagiku untuk bergabung."
Dengan bergabungnya Chu Linhe kembali Ding Tao terdesak dan dipaksa untuk lebih banyak lagi berkonsentrasi pada pertarungan yang ada di depannya dan bukan pada ilmu-ilmu yang sedang dia pelajari.
Murong Huolin dan Chou Liang hanya bisa memandangi pertarungan di hadapan mereka dengan penuh harap.
Melihat setahap demi setahap, Ding Tao terbebas dari jeratan yang menjauhkan dia dari dunia nyata.
Tidak seorangpun dari mereka sadar, bahwa telah terjadi sesuatu di luar, di ruang besar tempat Partai Pedang Keadilan menerima tamu-tamu mereka.
Kehebohan itu terjadi beberapa saat setelah Chou Liang, Ma Songquan, Chu Linhe dan Murong Huolin memasuki ruang latihan untuk bertemu dengan Ding Tao.
Mengingat pentingnya saat-saat itu bagi keselamatan Ding Tao, Chou Liang berpesan agar selama mereka berada di dalam ruang latihan, tidak ada seorangpun yang mengganggu mereka.
Di saat markas besar Partai Pedang Keadilan bisa dikatakan kosong dari tokoh-tokoh pentingnya, tiba-tiba serombongan belasan orang membawa panji-panji Partai Kunlun datang berkunjung dan meminta bertemu dengan Ding Tao atau perwakilannya.
Belasan orang itu dipimpin oleh Seorang muda berbaju putih-putih dan berjubah luar hijau muda, dengan wajah yang cakap dan berwibawa.
Mengiringi di belakangnya adalah 12 orang, 6 orang laki-laki dan 6 orang perempuan.
Setiap orang berdiri berpasangan, umur mereka bervariasi dari yang tampak berumur 30-an sampai remaja berusia 12-an tahun.
Dengan suara yang tegas, pimpinan rombongan mengibaskan kipas di tangannya dan berkata pada para penjaga di luar.
"Katakan pada Ding Tao, Guang Yong Kwan dari Kunlun ingin bertemu!"
Mendengar nama orang yang datang, para penjaga pun dengan segera merangkapkan tangan di depan dada dan menganggukkan kepala.
Dalam dada mereka terselip rasa tegang, berita tentang Ding Tao yang sedang mempelajari ilmu dan tidak bisa diganggu sudah menyebar dan hampir semua pengikut Partai Pedang Keadilan di Jiang Ling mengetahui akan hal ini.
Kedatangan seekor harimau di kala jagoan mereka sedang tidak bisa diganggu, tidak urung membuat selapis rasa takut menyusup dalam dada mereka.
Pemimpin para penjaga itu menjawab dengan hormat.
"Sungguh besar kehormatan yang Ketua Guang Yong Kwang berikan, mari silahkan masuk ketua. Siauwtee akan mengantar ketua ke ruang pertemuan, sementara saudara yang lain akan memberikan kabar ke dalam."
Guang Yong Kwang menganggukkan kepala dengan sikap dingin.
"Hmm"
Tanpa banyak cakap, pemimpin dari penjaga di depan, segera berjalan lebih dulu dan mengantarkan Guang Yong Kwang ke dalam.
Melalui penjagaan yang berlapis, dengan segera berita kedatangan Ketua Partai Kunlun Guang Yong Kwang, menyebar pada para penjaga yang sedang bertugas.
"Guang Yong Kwang dari Kunlun? Benarkah dia datang mengunjungi tempat kita?", tanya salah seorang pimpinan penjaga lapis kedua.
"Benar, baru saja A Siau mengantarkannya melewati pintu utara dan melaporkan kunjungan ini pada Kakak Feng Qin. Sekarang ini, Kakak Feng Qin dan yang lain ikut mengiringi mereka, sementara aku diperintah untuk memberi kabar pada regu lain di lingkar kedua.", jawab salah satu anak buah dari Feng Qin tersebut.
"Hmm... baiklah, kami akan meningkatkan pengawasan di daerah kami dan memperlebar jangkauan pengawasan kami sampai di wilayah Kakak Feng Qin. Kau, segera kabarkan berita ini ke regu-regu penjaga yang ada di lingkaran dalam, pakai jalur rahasia, supaya kau bisa sampai lebih dulu dari rombongan tamu."
"Baik Kakak Bong Yo, aku pergi sekarang."
"Ya pergilah", ujar Bong Yo. Sambil menyaksikan kepergian pembawa kabar itu, Bong Yo menggosok-gosok lehernya, berusaha menyingkirkan rasa tegang yang muncul. Berbalik pada anak buahnya dia berkata.
"Kalian dengar berita dari A Tiong tadi? Pertinggi kewaspadaan, ada harimau masuk ke dalam rumah kita."
"Partai Kunlun adalah golongan lurus, apakah mungkin mereka melakukan keonaran di sini?", tanya salah seorang anak buahnya.
"Hmm... lurus atau sesat, bagaimana pun juga ada orang kuat yang datang. Kita tidak bisa memperlihatkan kelemahan. Dalam dunia persilatan, segala macam hal bisa terjadi dan kita tidak boleh menunjukkan kelemahan jika ingin dihormati dalam dunia persilatan..", jawab Bong Yo. Saling memandang, para penjaga di bawah pimpinan Bong Yo pun mengangguk. Di saat yang sama, salah seorang dari penjaga berlari ke dalam untuk memberikan kabar pada pimpinan di Jiang Ling untuk hari ini. Dengan tidak bisa diganggunya Chou Liang saat itu, orang yang ditugaskan untuk menerima tamu adalah Bo He, seorang kawakan yang cukup berpengalaman. Ayahnya pernah belajar ilmu bela diri dari Emei sebelum keluar berkelana, sejak kecil Bo He sudah belajar ilmu tombak dari ayahnya. Meskipun belum bisa disamakan dengan Ma Songquan atau Sun Liang, ilmunya masih selapis di atas Wang Xiaho atau Li Yan Mao yang sudah mulai dimakan usia. Watak ayahnya yang suka berkelana, menular pula pada putra tunggalnya, Bo He pun segera setelah tamat belajar dari ayahnya, berkelana dalam dunia persilatan. Setiap orang muda yang terjun dalam dunia persilatan, jika masih hidup sampai pada umur setua Bo He, bila bukan amat berbakat, setidaknya tentu orang yang pandai melihat keadaan. Bo He bukan termasuk yang pertama, dia termasuk yang kedua. Tidak mengikuti darah mudanya yang panas, Bo He cukup tahu diri bahwa bekalnya tidak akan mampu melindungi dia dari amukan tokoh-tokoh kelas atas dalam dunia persilatan. Karena itu selama dia berkelana, tak pernah dia mencari musuh. Jika ada singgungan dengan orang lain, maka dia akan memilih untuk mengalah. Selama belasan tahun dia berkelana dalam dunia persilatan, hanya 2 kali dia bentrok dengan orang lain dan keduanya bukan atas alasan kepentingannya pribadi. Dalam dua perkelahian itu, Bo He terjun atas dasar rasa setia kawan. Itu sebabnya nama Bo He tidak begitu terkenal dalam dunia persilatan. Namun mereka yang mengenal Bo He akan berkata bahwa dia memiliki pengetahuan yang sangat luas mengenai orang-orang dalam dunia persilatan. Salah satu alasan mengapa Chou Liang mengangkat Bo He menjadi salah satu orang kepercayaannya, tidak lain dan tidak bukan adalah pengetahuannya yang luas tersebut. Alasan kedua adalah sikap bijak Bo He dalam mengukur kekuatan diri sendiri dan lawan. Dan alasan ketiga adalah rasa setia kawan yang dimiliki Bo He. Setelah menerima laporan dari penjaga pintu gerbang, Bo He mengelus-elus jenggot kesayangannya. Alisnya berkerut dan jantungnya berdebaran.
"Kenapa justru sekarang?", keluh Bo He dalam hati.
"Dan bagaimana bisa tidak ada kabar sedikitpun dari saudara-saudara yang bertugas di luar?", Bo He merenungkan kedatangan tamu dari Partai Kunlun yang terjadi tiba-tiba dan di luar persiapan Partai Pedang Keadilan. Tentu saja jaringan mata-mata yang dibangun Chou Liang juga mengawasi pergerakan orang-orang dalam dunia persilatan di setiap daerah Partai Pedang Keadilan sendiri. Dengan demikian, setiap orang atau golongan yang berada dalam lingkup wilayah kekuasaan Partai Pedang Keadilan tidak luput dari pengawasan mereka. Jika Ketua Partai Kunlun hendak berkunjung, tentu beberapa hari sebelum kedatangannya di depan gerbang mereka, berita akan keberadaannya di dekat Jiang Ling sudah diketahui. Chou Liang pun tentu sudah bersiap-siap terhadap adanya kemungkinan mereka datang mengunjungi Partai Pedang Keadilan. Kedatangan mereka yang luput dari jaringan mata-mata Partai Pedang Keadilan, berarti kedatangan mereka tentu dengan sengaja disembunyikan dengan rapi. Hal ini juga menunjukkan masih kurang matangnya orang-orang Partai Pedang Keadilan yang bertugas sebagai mata-mata di luar sana. Menghela nafas, Bo He pun merapikan pakaiannya dan berjalan keluar dengan senyum terpasang di wajahnya. Siapapun yang datang, dia tidak boleh menunjukkan sikap bermusuhan, sebisa mungkin bentrokan harus dihindarkan. Para tamu sudah diantarkan ke ruang dalam, sesuai adat kesopanan hidangan makanan kecil dan minuman sudah pula dihidangkan. Untuk menghapus keringat dan debu dari wajah dan tangan mereka, disediakan juga baskom dan handuk kecil untuk tiap-tiap orang. Tidak ada kesan permusuhan dari tamu yang datang, mereka tampaknya juga merasa puas dan dihargai dengan perlakuan yang diberikan tuan rumah. Tuan rumah pun tidak kalah wibawa dengan rombongan tamu yang datang, di dalam ruang pertemuan bisa terlihat belasan penjaga yang berbaris dengan rapi dan disiplin tinggi. Sepanjang perjalanan masuk, rombongan dari Kunlun bisa melihat penjagaan yang kaut dan berlapis. Tidak lama rombongan tamu itu menunggu, Bo He pun muncul menghampiri Ketua Kun Lun Pai, Guang Yong Kwang dengan senyum terkembang dan hati berdebar. Dengan hormat, Bo He merangkapkan tangan di depan dada dan sedikit membungkukkan kepala.
"Selamat datang Ketua Guang Yong Kwang, maafkan kami yang kurang persiapan. Kunjungan ketua begitu mendadak sehingga kami tidak sempat menyiapkan sambutan yang lebih baik."
Guang Yong Kwang membalas penghormatan Bo He dengan merangkapkan tangan di depan dada.
"Hmm, sambutan kalian cukup baik, memang salahku sendiri datang tanpa diundang. Aku ingin bertemu dengan Ketua Ding Tao untuk membicarakan masalah penting."
Bo He menjawab.
"Jika itu keperluan Ketua Guang Yong Kwang, maka dengan berat hati, siauwtee harus minta maaf lebih dulu. Karena saat ini Ketua Ding Tao tidak bisa menemui tamu."
Mata Guang Yong Kwang berkilat.
"Apa tidak salah? Kukira yang kau maksudkan adalah Ketua Ding Tao sedang sibuk dan tidak dapat menemui sembarang tamu tapi saat ini aku yang datang, bukan sebagai diriku pribadi, tapi Guang Yong Kwang sebagai ketua Partai Kunlun."
Bo He menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering.
"Jangan Ketua Guang Yong Kwang salah mengerti. Ketua Ding Tao dalam keadaan tidak bisa ditemui oleh siapapun."
"Kalau begitu, boleh aku tahu apa alasannya hingga dia tidak mau ditemui siapa pun? Jangan katakan dia sedang tidak ada di Jiang Ling, karena aku tahu pasti bahwa dia ada di Jiang Ling. Apakah dia sedang sakit? Atau sedang berlatih? Apa pun alasannya, dia toh masih bisa menemuiku. Kecuali jika dia sedang terbaring tidak sadarkan diri saat ini.", geram Guang Yong Kwang yang mulai kehilangan kesabarannya. Bo He terdiam beberapa lama, otaknya berputar dengan cepat, membuat perhitungan. Chou Liang bersama Ma Songquan dan Chu Linhe baru saja memasuki ruang latihan untuk menemui Ding Tao. Seharusnya sore hari nanti, setidaknya sepasang pendekar yang bisa diandalkan tersebut sudah keluar dari ruang latihan. Kapan Ding Tao selesai berlatih sulit dikatakan, tapi setidaknya sepasang pendekar itu bisa membantu melindungi Ding Tao. Sementara itu, jika dia tidak berterus terang dengan Guang Yong Kwang sekarang juga, perselisihan antara Partai Kunlun dan Partai Pedang Keadilan tidak dapat dihindarkan lagi. Bo He sudah mengambil keputusan, meskipun dia tidak yakin benar dengan ketputusan yang dia ambil, tapi saat ini, dia tidak melihat ada kemungkinan lain.
"Ketua Guang Yong Kwang, sebenarnya saat ini Ketua Ding Tao memang sedang melatih satu ilmu baru dan sedang dalam tahapan yang sangat penting. Tentu Ketua Guang Yong Kwang bisa mengerti, kondisi Ketua Ding Tao saat ini. Itu sebabnya kami tidak berani mengganggunya.", ujar Bo He dengan suara sedikit bergetar. Tiba-tiba seulas senyum terkembang di wajah Guang Yong Kwang. Entah mengapa, saat melihat senyum itu, perut Bo He tiba-tiba merasa mulas, hatinya terasa terjun bebas sampai ke lantai, sebelum Guang Yong Kwang membuka mulutnya dan berkata-kata, Bo He sudah mendapatkan firasat yang tidak baik. Guang Yong Kwang pun membuka mulut dan mulai berkata-kata, setiap kata membuat jantung Bo He semakin lama semakin tenggelam.
"Kiranya begitu..., sebenarnya aku bisa mengerti, sayangnya kedatanganku kali ini untuk membahas satu hal yang penting dan tidak bisa kutunda-tunda lagi. Jika Ketua Ding Tao tidak ada, maka harus ada yang bisa mewakili dirinya untuk membahas hal ini. Jika tidak ada yang bisa mewakilinya, maka aku terpaksa harus bertemu dengan Ketua Ding Tao sendiri, apa pun keadaannya saat ini."
Mata Guang Yong Kwang berkilat-kilat saat memandangi raut muka Bo He dan menunggu jawaban.
Senyum di bibirnya memperlihatkan rasa puas atas keadaan yang dihadapinya saat ini.
Berbalik 180 derajat dengan Guang Yong Kwang, Bo He justru pucat pias wajahnya.
Pilihan yang diberikan Guang Yong Kwang jelas-jelas memojokkan Partai Pedang Keadilan.
Siapa orangnya yang bisa mewakili Ding Tao?
Seandainya Chou Liang bisa ditemui, beban ini tentu akan dilepaskan ke atas pundaknya.
Tapi sekarang bahkan Chou Liang pun tidak bisa ditemui dan beban itu harus jatuh ke atas pundak Bo He.
Bo He memang dipercaya oleh Chou Liang, tapi jelas dia bukan salah satu tokoh tingkat atas dari Partai Pedang Keadilan.
Bahkan seandainya dia adalah tokoh setingkat Chou Liang pun, tentu saja keputusannya tidak bisa disamakan dengan keputusan Ding Tao.
Jika dia mewakili Ding Tao memberikan keputusan, berarti keputusannya mengikat seluruh partai.
Bagaimana mungkin hal itu dia lakukan?
Tapi jika dia menolak untuk mewakili Ding Tao, Guang Yong Kwang secara halus sudah menyampaikan ancaman, bahwa dia akan memaksa untuk menemui Ding Tao.
Tidak ada arti lain dalam perkataannya ini kecuali kecelakaan bagi Ding Tao.
Bukan hanya Bo He yang merasakan ancaman di balik perkataan Guang Yong Kwang tersebut, segenap orang Partai Pedang Keadilan yang berjaga di sekitar ruangan ikut menegang mendengar perkataan ketua Partai Kunlun itu.
Diam-diam salah seorang pemimpin regu, yang posisinya kebetulan berada di belakang rombongan dari Kunlun, mengirimkan anak buahnya keluar untuk melapor pada pemimpin regu yang berada di luar.
Gerakan keluarnya salah seorang penjaga ini tidak luput dari mata Bo He.
Bo He pun merasa sedikit lega, meskipun jantungnya tidak juga berhenti berdegup keras.
Dengan susah payah Bo He berusaha menenangkan perasaannya dan menjawab.
"Jika aku boleh tahu, urusan penting apakah yang ingin dibicarakan oleh Ketua Guang Yong Kwang dengan Ketua Ding Tao. Mungkin setelah itu aku baru bisa memutuskan."
Guang Yong Kwang tersenyum saja mendengar pertanyaan Bo He dan menjawab.
"Kulihat kau ini adalah orang yang dipercaya untuk mewakili Ketua Ding Tao sementara dia masih sedang berada dalam ruang latihan. Jadi kukira tidak ada salahnya kalau kusampaikan alasan dari kedatangan kami kali ini."
"Kedatangan kami berhubungan dengan akan diadakannya pemilihan Wulin Mengzhu sebentar lagi. Dalam pertemuan untuk memilih pemimpin bagi seluruh anggota dunia persilatan, bentrok antar calon tentu saja akan terjadi. Karena itu kami berpendapat, jika tidak berhati-hati, tujuan pemilihan ini, untuk menyatukan dan memperkuat dunia persilatan kita, bisa berbalik jadi senjata makan tuan dan memperlemah keadaan kita."
"Untuk menghindari hal-hal demikian, alangkah lebih baik, jika sebelum diadakannya pertemuan, jumlah calon Wulin Mengzhu yang maju sudah bisa dipersempit dengan adanya perundingan-perundingan antar partai yang diadakan sebelum pemilihan Wulin Mengzhu itu sendiri.", demikian Guang Yong Kwang menguraikan alasan kedatangannya kali ini. Wajah Bo He dari cemas, perlahan-lahan berubah jadi dingin, saat dia kemudian menyahut, suaranya tidak menunjukkan kegentaran, melainkan lebih pada rasa geram yang ditahan.
"Jadi maksud Ketua Guang Yong Kwang, alangkah baiknya jika Ketua Ding Tao mendukung Ketua Guang Yong Kwang sebagai calon, daripada mencalonkan diri sendiri?"
"Oh tidak, tidak", ujar Guang Yong Kwang sambil tersenyum lebar. Dengan nada ringan dia kemudian menyambung.
"Kita tentukan siapa mendukung siapa lewat pertandingan persahabatan. Sengaja kami datang ke pusat Partai Pedang Keadilan untuk melakukan hal ini. Silahkan kalian ajukan wakil dari Partai Pedang Keadilan dan kami akan mengajukan wakil dari partai kami."
Bo He dengan geram berkata.
"Jika demikian mau kalian, mengapa kalian tidak menunggu sampai Ketua Ding Tao selesai dengan latihannya?"
"Hahahaha, dan kapankah dia akan selesai dari latihannya? Bisakah kau memberi kami kepastian? Atau jangan-jangan latihan ini hanyalah alasan untuk menghindari kami. Pemilihan Wulin Mengzhu makin dekat, kami tidak bisa menunggu terlalu lama.", ujar Guang Yong Kwang sambil tertawa merendahkan. Tawanya meledak dengan tiba-tiba, berhenti pula dengan tiba-tiba, dengan dingin dia berkata.
"Kalian harus mengambil keputusan sekarang juga."
Bo He hanya bisa menggeram marah, keputusan apa yang harus dia ambil?
Dia bisa mengukur kemampuannya sendiri, juga mereka yang ada di sana.
Jika mereka harus bentrok sekarang juga dengan orang-orang Partai Kunlun, tentu akan banyak korban yang jatuh di kedua belah pihak, terutama pihak Partai Pedang Keadilan, siapa di antara mereka yang bisa mengimbangi Guang Yong Kwang?
Masalahnya bukan nyawa mereka, tapi siapa yang bisa menjamin mereka bisa menahan Guang Yong Kwang untuk melabrak masukdan mencederai Ding Tao?
Guang Yong Kwang tidak kalah nama dibanding Pan Jun ketua Partai Hoasan, bahkan Ma Songquan dan Chu Linhe sebagai orang terkuat setelah Ding Tao, tidak memiiliki keyakinan melawan Pan Jun.
Meskipun sekarang kemampuan mereka sudah maju cukup pesat, Bo He tidak yakin mereka berdua bisa menahan Guang Yong Kwang untuk tidak menerobos masuk dan merusak konsentrasi Ding Tao yang sedang dalam masa genting.
Tapi jika Bo He menyetujui permintaan Guang Yong Kwang, tidak mungkin Partai Pedang Keadilan bisa mencalonkan Ding Tao dalam pemilihan Wulin Mengzhu.
Bagaimanapun juga, masalah kehormatan adalah masalah yang penting dalam dunia persilatan.
Sekali mereka memberikan janji di depan umum, tidak mungkin mereka bisa mengingkarinya tanpa menjatuhkan nama sendiri.
Bo He seperti duduk di atas punggung harimau, turun salah, tetap duduk juga salah.
"Berikan keputusan kalian sekarang!", geram Guang Yong Kwang menekan. Suaranya bergema di ruangan pertemuan yang besar itu. Dari pihak Partai Pedang Keadilan, tidak ada seorang pun yang mampu menjawab desakan Guang Yong Kwang, mereka semua hanya bisa memandang Bo He. Menunggu jawaban keluar dari mulut Bo He, dengan tangan menggenggam senjata masing-masing erat-erat. Satu kata perlawanan dari Bo He dan ruangan pertemuan itu pun akan banjir dengan darah. Suasana sudah begitu mencengkam, Bo He hanya berpikir untuk mengulur waktu, memastikan kawan yang di luar sudah siap untuk mengurung rombongan Kunlun, agar mereka tidak mampu keluar dari ruang pertemuan tersebut. Rombongan dari Kunlun pun dapat melihat bahwa Bo He sudah mengambil keputusan. Meskipun belum ada senjata yang dicabut, namun ruangan tersebut sudah pekat dengan hawa pembunuhan. Kedua belah pihak sama-sama yakin bahwa pertarungan tidak dapat dihindarkan. Kunlun dengan keyakinannya pada kemampuan mereka masing-masing dan terutama ketua mereka Guan Yong Kwang. Partai Pedang Keadilan dengan modal kesetiaan dan keteguhan hati untuk mempertahankan kehormatan dan keselamatan ketua mereka. Di saat yang genting itulah tiba-tiba Murong Yun Hua memasuki ruangan diiringi oleh pelayan-pelayan pribadinya, yang semuanya tentu saja wanita. Dalam keadaan hamil tua pun Murong Yun Hua masih terlihat cantik. Bahkan wajahnya yang anggun terlihat memancarkan aura berwibawa namun lembut, layaknya seorang ibu dalam pandangan anak-anaknya. Pengiringnya pun adalah gadis-gadis pilihan berusia belasan, baru saja meninggalkan masa kanak-kanak dan memasuki usia dewasa. Meskipun tidak secantik Murong Yun Hua, keremajaan mereka memancarkan daya tariknya sendiri. Jika mereka tidak mengiringi Murong Yun Hua, orang seorang tentu mereka pun merupakan gadis-gadis yang cantik. Tapi bersanding dengan Murong Yun Hua, kecantikan mereka jadi tampak begitu sederhana. Namun kesederhanaan itu membuat kecantikan Murong Yun Hua makin menonjol, seperti bunga mawar yang dikelilingi daun-daunnya yang segar. Kehadiran mereka yang begitu tiba-tiba mengejutkan setiap orang. Kecantikannya sedemikian anggun dan menggetarkan hati, hingga melemahkan semangat bertarung setiap orang. Bahkan 6 orang murid perempuan dari Partai Kunlun pun ikut terpesona melihat kehadiran mereka. Keberadaan mereka yang berbeda 180 derajat, begitu kontras dengan hawa pembunuhan yang sebelumnya memenuhi ruangan, tanpa bisa dihindari membuat setiap mata terpaku pada mereka dan menumpulkan konsentrasi setiap orang. Bagi Bo He dan yang lain, yang sebelumnya sudah bersiap-siap untuk menggadaikan nyawa mereka demi keselamatan Ding Tao, kejadian itu merupakan satu kelegaan. Bagi Guang Yong Kwang yang sudah bersiap-siap menebas setiap penghalang, seperti seseorang menebas rumput untuk makanan kambingnya, kejadian itu merupakan satu gangguan. Tapi bahkan Guang Yong Kwang pun tidak sampai hati untuk bersikap keras pada nyonya rumah yang datang dengan senyum menawan. Murong Yun Hua merangkapkan tangan dan memberi hormat dengan anggun dan luwes. Tentu saja jauh berbeda rasanya mendapatkan salam dari Murong Yun Hua yang cantik, jika dibandingkan dengan mendapat salam dari Bo He yang berewokan.
"Salam Ketua Guang Yong Kwang, dari luar kudengar berita tentang kunjungan ketua juga tujuan dari kunjungan ini. Aku harap, kedudukanku sebagai isteri dari Ketua Ding Tao membuatku cukup pantas untuk mewakilinya ketika dia sedang berhalangan.", ujar Murong Yun Hua dengan lembut. Guang Yong Kwang masih muda, dia pun lelaki normal, siapa lelaki yang bisa bersikap kasar jika ditegur oleh seorang wanita cantik dengan lemah lembut? Tidak sulit bagi Guang Yong Kwang untuk menahan kekesalan hatinya, karena kemenangan yang sudah hampir dipetik harus ditunda sementara, dengan senyum dikulum dia menjawab.
"Tentu saja, orang she Guang ini tidak keberatan. Tapi bagaimana dengan orang-orang nyonya sendiri? Bisakah mereka menerima nyonya sebagai wakil dari suami nyonya?"
Murong Yun Hua menengok ke arah Bo He dengan suara merdu dia bertanya.
"Saudara Bo He, apakah ada keberatan?"
Bo He tergagap ditanya demikian.
"Soal ini... soal ini..."
Murong Yun Hua pun tersenyum manis dan berkata.
"Alasan yang dikatakan Ketua Guang Yong Kwang, bukannya tidak terpikir oleh Ketua Ding Tao. Jika bentrokan terjadi antar calon dan pendukungnya dalam pertemuan Wulin Mengzhu nanti, maka yang meraih keuntungan justru lawan yang hendak dihadapi. Mengingat kemungkinan bentrok antar saudara sendiri, Ketua Ding Tao pun mengambil resiko dengan mempelajari ilmu simpanan dengan bertaruh nyawa."
"Apakah menurut kalian Ketua Ding Tao itu orang yang berambisi? Adakah dia menginginkan kedudukan Wulin Mengzhu bagi dirinya sendiri? Ataukah dia mencalonkan diri demi kepentingan yang lebih luas?", tanya Murong Yun Hua pada sekian orang Partai Pedang Keadilan yang ada di ruangan tersebut.
"Sangka kalian, jika dia hadir di sini saat ini, dia akan meminta kalian untuk mempertaruhkan nyawa kalian demi sebuah kesempatan untuk maju dalam pencalonan Wulin Mengzhu? Sedemikian lama kalian mengikut dia, serendah itukah penilaian kalian terhadapnya?", tanya Murong Yun Hua pada orang-orang Partai Pedang Keadilan. Mendengar pertanyaan Murong Yun Hua dan pandang matanya yang tajam, tanpa terasa mereka menundukkan wajah.
"Saat ini aku hadir di sini untuk mewakili dia, karena aku yakin pilihan apa yang akan dia pilih seandainya dia dapat memberikan keputusannya saat ini. Sebelum kalian menyetujui atau menentang jawaban yang akan aku berikan, kuharap kalian mengingat baik-baik sifat dari Ketua Ding Tao. Nilailah dengan jujur, sudahkah keputusanku ini mewakili dirinya?", ujar Murong Yun Hua kepada sekalian orang Partai Pedang Keadilan, sebelum dia mengalihkan pandangannya kembali pada Guang Yong Kwang. Kehadiran dan perkataan Murong Yun Hua menimbulkan tanda tanya dan ketertarikan dalam diri masing-masing orang Kunlun yang mendengarkannya. Cara Murong Yun Hua bertanya pada anggota Partai Pedang Keadilan, dengan caranya yang unik, memberikan gambaran akan sifat dan karakter Ding Tao, yang digambarkan sebagai seorang pemimpin yang lurus dan mementingkan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi. Seorang pemimpin yang menjadi pelindung bagi pengikutnya, bukan memanfaatkan pengikutnya demi ambisi pribadi. Tanpa disadari, timbul rasa simpati pada Ding Tao dalam hati beberapa orang di antara mereka. Sementara Guang Yong Kwang merasa seperti ditodong oleh Murong Yun Hua. Seakan dirinya ditanya dan dibandingkan dengan Ding Tao, jika Ding Tao memperhatikan keselamatan pengikutnya, bagaimana dengan dia yang justru siap mengorbankan pengikutnya demi tercapainya tujuan? Jika Ding Tao digambarkan sebagai seorang pemimpin yang tidak memiliki ambisi pribadi, maka seakan-skan Murong Yun Hua sedang bertanya pada dirinya, apakah dia sedang mengejar ambisinya pribadi? Lalu jika hendak menentukan siapa yang pantas menjadi pemimpin seluruh dunia persilatan, maka siapa yang lebih pantas? Dirinyakah? Atau Ding Tao kah yang lebih pantas untuk menduduki jabatan itu? Dipojokkan sedemikian rupa, jantung Guang Yong Kwang berdebaran, dia sendiri tidak tahu, apakah dia merasa kagum atau marah pada wanita cantik yang sekarang ada di hadapannya itu. Mungkin keduanya, antara merasa marah karena Murong Yun Hua dengan cerdiknya menguasai keadaan, tapi juga kagum pada kemampuannya. Mungkin juga ada rasa kecewa dan iri karena hati wanita cantik dan cerdik ini sudah dimiliki oleh lelaki lain.
"Jadi, sebagai wakil Ketua Ding Tao, apa jawaban nyonya?", tanya Guang Yong Kwang dengan jantung bergetar. Pedas sindiran Murong Yun Hua, namun manis senyumnya saat menjawab.
"Tentu saja, Partai Pedang Keadilan setuju dengan pemikiran Ketua Guang Yong Kwang yang bijak. Jika kedua partai bisa bekerja sama dalam pemilihan Wulin Mengzhu nanti, tentu akan ada banyak korban yang bisa dihindarkan. Setidaknya korban dari Partai Kunlun dan Partai Pedang Keadilan."
"Tentang siapa yang memimpin persekutuan dari kedua partai ini, bagaimana menurut Nyonya?", tanya Guang Yong Kwang dengan kepala serasa ringan melihat senyum manis Murong Yun Hua.
"Tentang hal itu, paling adil tentu saja jika diukur berdasarkan tingkat kepandaian masing-masing pihak. Hanya saja perlu diingat, karena tujuan yang utama adalah menghindarkan jatuhnya korban, maka dalam mengukur kepandaian hendaknya dicari cara yang tepat.", jawab Murong Yun Hua dengan penuh keyakinan. Selama menjawab, senyum manis tidak pernah lepas dari bibir Murong Yun Hua, bahkan matanya yang jeli pun mengerjap dengan kerlingan yang bisa dianggap menggoda. Lelaki normal tentu terpikat melihat kecantikan Murong Yun Hua dan Guang Yong Kwang juga lelaki normal. Jika tanpa berusaha pun Murong Yun Hua bisa membuat lelaki terpikat, apalagi ketika dia sengaja menebar pesona. Mungkin hanya Ding Tao yang bisa menolaknya, meskipun hatinya toh tetap saja terpikat. Suara Guang Yong Kwang sedikit serak saat dia hendak menjawab, entah mengapa tenggorokannya tiba-tiba menjadi kering. Tapi tidak malu dia menjadi seorang ketua dari partai yang besar, dengan cepat dia menekan perasaannya dan meneguk sedikit arak yang disediakan tuan rumah untuk membasahi tenggorokannya. Tindak tanduknya terlihat wajar, tidak tersirat sedikitpun gejolak perasaan dalam dadanya. Setelah merasa tenggorokannya lega, Guang Yong Kwang menjawab.
"Tidak salah jika orang memuji keberuntungan Ketua Ding Tao yang mendapatkan dua orang dewi sebagai isteri. Nyonya bisa bercakap begitu yakin, apakah sudah mendapatkan satu pikiran, dengan cara apa kita akan saling mengukur kepandaian tanpa ada jatuh korban di kedua belah pihak?"
Murong Yun Hua tertawa sopan sambil menutup mulutnya dengan tangan, sikapnya begitu gemulai dan menggemaskan, tanpa terasa Guang Yong Kwang ikut tertawa bersamanya.
"Ketua Guang Yong Kwang pandai memuji. Entah ide apa yang ketua punya, tentu saja akupun memiliki ide yang baik. Tapi jika hanya aku seorang yang mengajukannya, orang bisa menuduh aku memilih jenis pertandingan yang hanya menguntungkan pihak kami sendiri."
"Jadi bagaimana pendapat nyonya?", tanya Guang Yong Kwang tanpa sadar dibuat mengikuti kemauan Murong Yun Hua.
"Kita adakan 3 pertandingan, kita adakan lempar dadu untuk menentukan siapa yang boleh terlebih dahulu menentukan bentuk pertandingan pertama yang akan diadakan. Pihak yang kalah pada pertandingan pertama, berhak menentukan bentuk pertandingan kedua. Demikian juga setelah pertandingan kedua, pihak yang kalah bisa menentukan bentuk pertandingan yang ketiga.", ujar Murong Yun Hua dengan gaya yang sedikit manja.
"Bentuk pertandingan boleh apa saja, syaratnya, tidak beresiko akan jatuhnya korban dari kedua belah pihak dan mewakili kepandaian yang digunakan dalam mempelajari ilmu bela diri. Bagaimana menurut Ketua Guang Yong Kwang? Cukup pantas tidak peraturan ini?", tanya Murong Yun Hua sambil mengerjapkan matanya.
"Pantas, sangat pantas, adil dan tidak berat sebelah.", jawab Guang Yong Kwang sambil bertepuk tangan.
"Syukurlah kalau Ketua Guang Yong Kwang merasa demikian. Hatiku jadi terasa lega, nama besar Partai Kunlun sudah lama kudengar, jika terjadi bentrokan di antara kawan sendiri tentu sangat disayangkan.", ujar Murong Yun Hua dengan lembut.
"Benar, nyonya memang bijaksana, dengan cara ini dua kekuatan besar bisa disatukan tanpa harus terjadi pertumpahan darah.", jawab Guang Yong Kwang dengan senyum lebar, yakin akan memenangkan ketiga pertandingan tersebut. Bo He dan pengikut yang lain hanya bisa mengikuti percakapan antara Murong Yun Hua dan Guang Yong Kwang dengan hati berdebar. Tidak sedikit di antara mereka yang sempat terkilas dalam benaknya, bagaimana jika Murong Yun Hua sedang bermain gila dengan Guang Yong Kwang? Namun pikiran itu dengan segera disingkirkan jauh-jauh. Pengabdian Murong Yun Hua pada Ding Tao sudah tidak perlu diragukan lagi. Pertanyaan Murong Yun Hua juga masih bergaung dalam benak mereka. Terkoyak antara rasa percaya dan juga ragu, mereka hanya mampu memandangi kejadian demi kejadian.
"Apakah akan kita mulai sekarang?", tanya Murong Yun Hua dengan senyumannya yang menggoda.
"Baik, silahkan dimulai.", jawab Guang Yong Kwang pendek. Murong Yun Hua dan gadis-gadis yang mengikutinya terlihat jelas sudah siap, hanya dengan satu anggukan kepala salah seorang pelayan pribadinya maju ke depan. Pelayan tersebut membawa sebuah tempat kocokan dadu, segera setelah dia sampai di depan dia segera mulai memutar mangkuk dadunya. Murong Yun Hua masih dengan senyum memikatnya bertanya.
"Baiklah Ketua Guang Yong Kwang memilih nilai kecil atau besar?"
"Besar", jawab Guang Yong Kwang dengan yakin. Gadis pelayan itu pun memutar mangkuk dadu beberapa kali lagi sebelum kemudian dia meletakkan mangkuk di meja.Sejak melihat munculnya gadis pelayan itu, keraguan Bo He dan beberapa orang lain yang cukup jeli melihat, terhadap Murong Yun Hua dengan segera lenyap. Tinggal rasa cemas, apakah Murong Yun Hua benar-benar memiliki rencana untuk menyelamatkan Partai Pedang Keadilan dan apakah rencananya itu akan berhasil. Tentu saja bukan tanpa alasan keraguan mereka lenyap seketika saat melihat gadis pemegang mangkuk dadu itu. Alasannya tidak lain tidak bukan, adalah karena mereka mengenal siapa gadis pembawa mangkuk dadu itu. Shu Lin nama gadis itu, tentu saja dia bukan gadis pelayan, dia adalah salah satu pengikut Partai Pedang Keadilan. Sebelum bergabung, Shu Lin ini bekerja di salah satu rumah judi di daerah Chang Sha. Dari sini bisa dilihat bahwa Murong Yun Hua tentu sudah memiliki rencana sendiri. Dengan membawa Shu Lin sebagai gadis pelayan pribadinya, setidaknya Murong Yun Hua sudah menang satu langkah terhadap Guang Yong Kwang, karena dengan keahlian Shu Lin memainkan dadu, hampir bisa dipastikan nilai dadu yang keluar akan menguntungkan Murong Yun Hua. Jika Murong Yun Hua bisa menentukan bentuk pertandingan yang pertama, maka kemungkinan besar mereka akan dapat memenangkan pertandingan pertama. Setidaknya Murong Yun Hua dapat memilih bentuk pertandingan yang menguntungkan pihak mereka. Hanya saja apakah dengan kecerdikan Murong Yun Hua, Partai Pedang Keadilan dapat mengalahkan orang-orang dari Kunlun yang lebih kuat? Shu Lin membuka mangkuk dadu dan Guang Yong Kwang serta Murong Yun Hua, bersama-sama maju ke depan untuk melihat hasilnya.
"Kecil!", seru Murong Yun Hua sambil bertepun tangan dengan gembira, seakan-akan dia juga ikut menantikan dengan tegang hasil kocokan dadu Shu Lin. Guang Yong Kwang yang masih merasa di atas angin pun tersenyum saja, siapa yang tidak senang melihat seorang wanita cantik tersenyum dan bergembira? Lagipula Guang Yong Kwang merasa yakin dengan dirinya sendiri. Buktinya dia sudah berani datang ke pusat Partai Pedang Keadilan dan mengajak bertemu Ding Tao. Apalagi sekarang ternyata Ding Tao berhalangan untuk hadir, keyakinan Guang Yong Kwang jadi berlipat-lipat. Sebelum dia datang, dia sudah mengadakan penyelidikan dan dia yakin kecuali Ding Tao tidak ada orang lain yang perlu dia kuatirkan. 12 orang yang dia ajak pun bukanlah orang sembarangan, mereka ini memang tidak memiliki nama di dunia persilatan. Tapi bukan berarti mereka tidak memiliki keahlian, justru mereka inilah orang-orang pilihan yang keberadaannya disembunyikan Kunlun dari dunia luar. Bukan pula berarti mereka hanya diam dan berlatih tanpa memiliki pengalaman di dunia nyata. Kenyataannya setiap orang dari 12 orang ini sudah pernah menumpahkan darah orang yang cukup ternama. Hanya saja mereka melakukannya dengan diam-diam. Dengan perhitungan tersebut, Guang Yong Kwang tidak perlu merasa kuatir akan kalah dalam pertaruhan ini.
"Rupanya keberuntungan berpihak pada nyonya, silahkan, pertandingan seperti apa yang nyonya mau?", ujar Guang Yong Kwang dengan sopan.
"Hmm... orang bilang, seni bela diri tidak ubahnya seni perang, mengatur tangan dan kaki tidak ubahnya mengatur pasukan untuk menyerang dan bertahan. Dan permainan catur (Xiang Qi) adalah permainan yang mampu mewakili kerumitannya. Mengatur wilayah, beradu kecerdikan, tahu bertahan, tahu pula kapan menyerang. Jadi untuk pertandingan pertama ini, biarlah aku mengajukan tanding catur, karena permainan ini mewakili ilmu bela diri dari sisi strategi tanpa harus menggunakan badan dan beresiko menumpahkan darah.", ujar Murong Yun Hua setelah diam beberapa lama, berpura-pura berpikir sebelum mengambil keputusan. Tentu saja aksinya itu ditanggapi Guang Yong Kwang dengan setengah percaya setengah tidak. Bagaimanapun juga Guang Yong Kwang tahu di pihak mana Murong Yun Hua berdiri. Tapi Guang Yong Kwang tidak mengajukan keberatan. Pertama karena alasan Murong Yun Hua memang tepat dan sesuai dengan aturan yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Yang kedua karena di antara orang yang dibawanya ada seorang yang jago bermain catur. Orang-orang dari Partai Pedang Keadilan sendiri mulai tumbuh harapannya. Mengikuti percakapan Murong Yun Hua dan Guang Yong Kwang. Kemudian melihat bagaimana Murong Yun Hua memiliki kesempatan, setidaknya dua kali untuk menentukan bentuk pertandingan. Dan melihat pula bentuk pertandingan yang dipilih Murong Yun Hua, maka mata mereka pun terbuka dan sadar bahwa masih ada cara untuk lolos dari ancaman yang ditimbulkan orang-orang Kunlun.Jika tadinya mereka seperti menghadapi jalan buntu, di mana pilihan yang ada hanyalah menyerah atau bertarung tapi kalah. Sekarang mereka dengan kagum berpikir, kenapa tidak terpikirkan cara diplomatis yang dipakai Murong Yun Hua? Kunlun memakai alasan untuk menghindarkan bentrokan dan mengurangi jatuhnya korban pada pertemuan Wulin Mengzhu. Murong Yun Hua dengan luwesnya, menerima alasan Kunlun yang dibuat-buat sebagai kebenaran, tapi kemudian berbalik menggunakan alasan yang sama, untuk mengajukan bentuk pertandingan yang tidak mengandalkan kekuatan. Dengan cara ini, Partai Pedang Keadilan yang tadinya berada di bawah angin, karena orang-orang terkuatnya sedang tidak ada, sedikit banyak berhasil menyeimbangkan keadaan. Rasa hormat dan kagum mereka pada Murong Yun Hua jadi bertambah. Guang Yong Kwang sendiri juga mulai sadar, bahwa dirinya sudah terseret oleh permainan Murong Yun Hua. Dia maju untuk menundukkan Partai Pedang Keadilan dengan membawa kelebihan-kelebihan dalam hal ilmu bela diri untuk menunjang kemenangannya, bersiap untuk menggunakan cara keras atau setidaknya menggunakan kekuatannya itu untuk mengancam pihak Partai Pedang Keadilan. Tapi permainan kata Murong Yun Hua sudah membuat dia terlena dan menyetujui bentuk yang berbeda untuk menentukan kalah dan menang. Sambil menggigit bibir dia memaksa diri untuk tertawa, meski terasa getir dalam dadanya.
"Baiklah, pilihan yang tepat, catur memang jenis permainan tanpa resiko tapi juga mampu mewakili salah satu sisi dari sebuah pertarungan. Dari pihakku aku akan mengajukan Deng Zhi, dia adalah salah seorang ahli catur dari Kunlun. Bagaimana dengan Partai Pedang Keadilan, siapa yang akan maju?", ujar Guang Yong Kwang. Orang yang bernama Deng Zhi pun segera maju ke depan saat dia mendengar Guang Yong Kwang menyebut namanya. Sejak Murong Yun Hua mengajukan bentuk pertandingan pertama, dia sudah tahu bahwa dialah yang akan diperintahkan untuk maju. Sementara Murong Yun Hua terlihat berpikir, pandangan matanya mengitari mereka semua yang ada dalam ruangan. Dua orang pelayannya sedang mengatur meja dan kursi untuk kedua orang pemain. Seorang yang lain sudah pergi meninggalkan ruangan untuk mengambil papan dan buah catur. Sambil mengetuk-ngetuk dagunya yang runcing dengan jarinya yang lentik, Murong Yun Hua akhirnya menjawab.
"Seandainya Penasehat Chou Liang ada di sini, kukira dialah sepantasnya maju mewakili kami... Namun karena dia berhalangan... biarlah aku yang maju mewakili pihak kami dalam pertandingan ini. Akhir-akhir ini aku sudah banyak belajar dari Penasehat Chou Liang mengenai permainan catur."
Berkilat mata Deng Zhi mendengar hal ini, dalam banyak kebudayaan seringkali kaum wanita dipandang sebagai makhluk yang lebih lemah, cenderung mendengarkan perasaan daripada logika dan keberadaannya tidak lebih daripada menjadi pendukung kaum pria.
Padahal dalam setiap sejarah satu bangsa, selalu saja ada sosok pahlawan wanita yang menonjol dan tidak kalah dengan kaum pria.
Tapi seringkali kebanyakan kaum pria tidak juga belajar dari sejarah dan meremehkan kaum wanita.
Deng Zhi yang jago catur pun tidak luput dari kelemahan ini.
Tidak menunggu lama satu set papan catur sudah diletakkan di atas meja.
Buah catur sudah tersusun rapi di atasnya.
Deng Zhi memegang sisi warna hitam sedang Murong Yun Hua memegang warna merah.
Kedua lawan sudah duduk di kursi dan permainan dimulai oleh Murong Yun Hua.
Tidak ada keraguan dan tidak butuh waktu lama saat Murong Yun Hua menggerakkan buah caturnya yang pertama.
Deng Zhi pun dengan cepat melakukan langkah kedua.
Dibalas dengan cepat pula oleh Murong Yun Hua, dalam waktu singkat kedua pemain sudah melewati tahap pembukaan awal.
Deng Zhi yang sempat sedikit kuatir dengan keyakinan Murong Yun Hua akan permainan caturnya, mulai menampakkan senyum mengejek di wajah.
Meskipun hanya berupa seulas senyum, bagi mereka yang melihatnya, inilah tanda bahwa Deng Zhi sudah yakin bahwa kemenangan akan ada di tangannya.
Murong Yun Hua yang bergerak lebih dulu, menyerang lawan dengan agresif, prajuritnya dengan cepat menyeberangi sungai.
Sayang rupanya Murong Yun Hua terlalu terburu-buru melangkahkan prajuritnya maju ke depan.
Akibatnya 2 prajuritnya terambil oleh lawan, dan Murong Yun Hua pun dengan cepat mengirim kuda dan kereta untuk maju menyelamatkan sisanya.
Tapi sekarang Murong Yun Hua menghadapi masalah lain, prajuritnya yang berhasil menyeberang sungai sudah selamat, kedudukannya di seberang sungai cukup aman.
Masalahnya dengan hampir seluruh buah caturnya di seberang sungai, di daerah pertahanan hanya tersisa buah catur yang memang tidak bisa menyerang ke depan.
Deng Zhi dengan cerdik memanfaatkan hal ini dan menyerang lubang-lubang pertahanan yang ada.
Salah satu buah caturnya, sebuah kereta perang menyusup masuk dan mengancam raja milik Murong Yun Hua.
Meskipun keadaan sudah kritis, Murong Yun Hua tidak juga menurunkan kecepatannya dalam mengambil keputusan.
Berbeda dengan Deng Xhi yang mulai berhati-hati dan berpikir panjang sebelum melakukan gerakan, setelah melewati tahap awal.
Melihat hal itu tanpa sengaja salah seorang pelayan pribadinya mengeluh dan berujar.
"Nyonya, kenapa tidak berhati-hati dalam bermain. Sebelum bergerak seharusnya nyonya waktu untuk berpikir. Jika tidak nyonya akan sering mengambil keputusan yang salah. Bukankah Penasihat Chou Liang pernah menasihati nyonya demikian?"
Saat itu giliran bergerak sudah kembali pada Deng Zhi, ancaman pada raja dengan cepat digagalkan oleh Murong Yun Hua dengan mengorbankan salah satu gajahnya.
Deng Zhi yang mendengar hal itu hanya tertawa menghina dalam hati, di luaran dia berpura-pura sedang memikirkan strategi permainan.
Murong Yun Hua yang mendengar masihat pelayan pribadinya, menengok lalu menjawab dengan lembut.
"Siauw Hoa, apakah kamu tidak mengerti? Permainan catur ini aku ajukan, sebagai pengganti pertandingan pedang. Jika kau bermain pedang, apakah lawanmu akan memberi waktu bagimu untuk berpikir? Apakah pedang lawan yang bergerak untuk menusuk, akan menunggu sampai dirimu mengambil keputusan sebelum dia benar-benar menusuk?"
Sambil tersenyum lembut dan dengan nada seperti seorang tua yang mendidik anaknya dia melanjutkan.
"Itu sebabnya setiap kali giliranku bergerak, aku pun bergerak dengan cepat. Selayaknya seorang yang bertanding dengan pedang."
"Tapi lawan tidak berlaku demikian, mengapa nyonya tetap saja berlaku demikian.", sahut pelayannya dengan kesal.
"Diamlah Siauw Hoa.", tegur Murong Yun Hua dengan nada yang tegas, meskipun suaranya tetap lembut terdengar dan tidak menaikkan suara. Ditegur oleh Murong Yun Hua, Siauw Hoa pun menunduk terdiam, meskipu di wajahnya jelas masih merasa penasaran. Murong Yun Hua melirik sekilas dan melihat rasa penasaran di wajah Siauw Hoa.
"Siauw Hoa, setiap orang memiliki pertimbangannya masing-masing. Pertimbangan siapa yang benar dan pertimbangan siapa yang salah, tidak mudah untuk ditentukan. Dalamnya lautan bisa diukur, hati orang siapa yang tahu? Karena itu aku berprinsip, untuk tidak menghakimi kelakuan orang lain, tapi lebih baik dengan cermat mewaspadai sikap hati kita sendiri. Sudahkah kita berpikir, merasa dan berlaku dengan sebenar mungkin? Seadil mungkin dan sebisa mungkin mengikuti jalan yang menjunjung tinggi kehormatan dan kegagahan."
Mendengar penjelasan Murong Yun Hua, Siauw Hoa hanya bisa mengangguk perlahan dengan wajah menyesali keadaan.
Jawaban Murong Yun Hua mampu membuat kepala orang-orang Partai Pedang Keadilan yang menyaksikan pertandingan catur itu terangkat ke atas.
Meskipun dalam hati mereka merasa khawatir bahwa Murong Yun Hua akan kalah dalam pertandingan catur itu, namun jawaban Murong Yun Hua yang gagah membuat mereka pun merasa bangga.
Sebaliknya wajah orang-orang Kunlun jadi sedikit bersemu merah, mereka yang awalnya merasa berbesar hati melihat keunggulan Deng Zhi dalam bermain catur, sekarang berbalik merasa malu.
Dunia persilatan didirikan di atas dasar kegagahan dan kehormatan, tidak jarang nama baik dan sikap-sikap kepahlawanan lebih berarti daripada kemenangan.
Keunggulan Deng Zhi berupa beberapa buah biji catur, tentu saja tidak sebanding dengan kegagahan yang ditunjukkan oleh cara Murong Yun Hua menyikapi pertandingan catur tersebut.
Dengan wajah memerah Deng Zhi pun menggerakkan buah caturnya tanpa menyelesaikan lebih dulu rencana yang sedang dia susun dalam benaknya.
Murong Yun Hua tidak mengubah gaya permainannya, segera setelah Deng Zhi selesai menggerakkan biji caturnya, Murong Yun Hua dengan cepat dan tegas mengambil langkah balasan.
Permainan pun berjalan dengan cepat, karena sekarang bukan hanya Murong Yun Hua yang mengambil keputusan dan menggerakkan buah caturnya dengan cepat.
Deng Zhi pun melakukan hal yang sama.
Tapi baru beberapa langkah permainan itu berlangsung dengan cara demikian, wajah Deng Zhi yang tadinya merah oleh rasa malu, berubah menjadi pucat oleh rasa terkejut.
Hatinya dicekap oleh rasa takut.
Bagaimana tidak?
Jika tadinya dia berpikir sudah berada di atas angin, setelah berjalan beberapa langkah lebih jauh barulah dia sadar bahwa Murong Yun Hua yang bermain dengan cepat bukan berarti bermain tanpa rencana.
Pertahanan di daerah Murong Yun Hua sepertinya terbuka dengan kematian salah satu gajahnya dan posisi prajuritnya yang sudah terlanjur jauh di daerah lawan.
Tapi lubang yang menganga itu tidak lebih dari sebuah jebakan.
Kereta perang Deng Zhi yang masuk ke daerah Murong Yun Hua, tiba-tiba terjebak jalan mundurnya oleh prajurit-prajurit Murong Yun Hua yang bergerak ke samping, didukung oleh pergerakan kuda menutup jalan mundur kereta perang Deng Zhi, di pihak lain kereta perang Murong Yun Hua ditarik ke belakang dan mengancam kereta perang Deng Zhi.
Bahkan raja dan penasehat pun ditempatkan sedemikian rupa sehingga kedua kereta perang Deng Zhi berada di posisi yang sulit.
Perkembangan ini di luar dugaan Deng Zhi, sehingga sebenarnya dia butuh waktu beberapa lama untuk menganalisa situasi dan memikirkan ulang rencana permainannya.
Namun perkataan yang dikeluarkan Murong Yun Hua sebelumnya, membuat dia mati kutu.
Terselip satu kecurigaan dalam hati Deng Zhi, jangan-jangan pelayan yang bernama Siauw Hoa tadi mengeluh dan menasihati Murong Yun Hua dengan sengaja.
Dengan sengaja memberi peluang pada Murong Yun Hua untuk mengeluarkan kata-kata yang membuat dirinya terpaksa harus bermain dengan cepat, jika tidak nama baik dan reputasinya bisa rusak.
Malu, karena kalah gagah dengan seorang wanita.
Berbagai macam pikiran dan dugaan pun berkelabatan di benak Deng Zhi, pada langkah ke berapa, Siauw Hoa mengeluh tadi?
Seperti apa kedudukan tiap-tiap biji catur pada waktu itu?
Jangan-jangan, bahkan pemilihan waktunya pun disesuaikan dengan kedudukan biji-biji catur miliknya.
Jangan-jangan, Siauw Hoa memancing perkataan Murong Yun Hua, tepat di saat Deng Zhi sudah jatuh dalam perangkap permainan catur Murong Yun Hua.
Apakah benar demikian?
Entah benar atau tidak, tapi seharusnya Deng Zhi lebih berfokus pada permainannya daripada menyesali kesalahan di waktu yang lalu.
Permainan berlangsung dengan cepat, hanya orang dengan konsentrasi yang tinggi yang bisa mengambil keputusan dengan tepat.
Bercabangnya pikiran Deng Zhi hanya membuat dia semakin banyak melakukan kesalahan, semakin bertumpuk penyesalan dan akhirnya semakin ketat hal itu membelenggu pikirannya untuk bekerja dengan tenang.
Jika benar Murong Yun Hua merencanakan itu semua, maka bisa dikatakan Deng Zhi sudah kalah sebelum dia mulai bertanding.
Diawali dengan memanfaatkan kedudukan wanita yang dianggap lebih lemah dari kaum pria, Murong Yun Hua membuat lawan memandang remeh dirinya.
Cara dia menggerakkan biji caturnya yang berakibat hilangnya beberapa prajurit dan satu gajah semakin menguatkan kesan ini.
Di lain pihak, dia menyiapkan perangkap bagi Deng Zhi dan pukulan terakhir adalah komentarnya atas pertanyaan Siauw Hoa yang dilakukan tepat saat perangkap sudah siap dan Deng Zhi sudah memakan umpannya.
Bagaimanapun juga untuk menyiapkan perangkap itu, Murong Yun Hua harus mengorbankan beberapa biji caturnya.
Seandainya Deng Zhi punya waktu untuk berpikir, dengan mudah dia akan dapat meloloskan diri dari perangkap Murong Yun Hua dengan mengantongi keunggulan beberapa biji catur.
Tapi justru di saat itu, Deng Zhi dibuat tidak sempat berpikir ulang dengan tenang.
Biji-biji catur Murong Yun Hua bergerak dengan telengas dan tanpa ampun.
Guang Yong Kwang bukan ahli catur, namun dia seorang petarung yang berpengalaman.
Tanpa melihat papan catur pun, dia sudah bisa melihat kekalahan di pihaknya.
Murong Yun Hua bergerak dengan penuh energi dan semangat, tepat di saat moral Deng Zhi hancur berantakan.
Di akhir-akhir permainan Deng Zhi pun akhirnya melupakan gengsi dan berpikir dengan keras dan lama sebelum dia menggerakkan biji caturnya.
Namun kerusakan yang diakibatkan sudah terlalu parah dan selama apapun dia berpikir, Deng Zhi tidak melihat jalan untuk membalikkan keadaan.
Melihat tidak ada jalan untuk menang, dengan nelangsa Deng Zhi memandang sekilas ke arah Guang Yong Kwang.
Pandangan mata Deng Zhi begitu mengenaskan, dengan mudah Guang Yong Kwang mengartikan pandangan Deng Zhi yang sekilas itu.
Dengan menggigit bibir, Guang Yong Kwang pun berkata dingin.
"Pertandingan pertama ini sudah cukup, tidak perlu dilanjutkan lebih jauh lagi, kami sudah kalah."
Perkataan Guang Yong Kwang itu tentu saja disambut dengan sorakan gembira, terutama dari gadis-gadis pelayan pribadi Murong Yun Hua yang ikut tegang menyaksikan pertandingan catur antara Murong Yun Hua dengan Deng Zhi.
Lebih menegangkan bagi mereka yang tidak memahami pertandingan yang mereka saksikan dan hanya bisa merasakan ketegangan antara dua pemain itu.
Tapi permainan itu memang begitu menegangkan bagi orang-orang Partai Pedang Keadilan, hingga bukan hanya gadis-gadis remaja itu saja yang bersorak, beberapa orang dari para penjaga pun ikut bersorak.
Murong Yun Hua pun berbatuk kecil sambil melontarkan pandangan mengingatkan pada mereka semua.
Dengan wajah memerah oleh rasa malu, mereka berhenti bersorak dan menundukkan kepala, meskipun kemudian, ketika Murong Yun Hua tidak lagi melihat, diam-diam mereka berbisik-bisik membicarakan kemenangan Murong Yun hua dengan teman di sebelahnya.
Setelah memperingatkan orang-orangnya untuk tidak bersorak atas kekalahan lawan, Murong Yun Hua segera berbalik dan mengangguk hormat pada lawannya dan pada Guang Yong Kwang, suaranya yang merdu berusaha menghibur lawan yang kalah.
"Ah... hanya keberuntungan seorang pemula."
"Terima kasih Kakak Deng Zhi, sudah memberi muka pada kami sebagai tuan rumah dan banyak memberikan kelonggaran dalam permainan tadi. Jika tidak tentu aku sudah kalah dalam permainan tadi.", ujar Murong Yun Hua pada Deng Zhi yang wajahnya pucat seperti baru saja ditebas lawan dengan pedang. Deng Zhi hanya bisa menggeleng dengan lemah, kemudian setelah memberi hormat dia mundur kembali ke tempatnya dalam barisan Kunlun tanpa berani mengucapkan sepatah katapun. Wajah Guang Yong Kwang sudah tidak secerah tadi, tapi tidak mungkin pula bagi dirinya untuk marah-marah saat ini. Ada kewibawaan sebagai ketua dari Partai Kunlun yang harus dia jaga. Tidak mungkin dia mengakui bahwa dia sudah terjebak oleh permainan kata Murong Yun Hua. Tidak bisa pula dia menarik mundur kesepakatannya dengan Murong Yun Hua. Satu-satunya jalan hanyalah meneruskan pertandingan dan memenangkan dua pertandingan yang tersisa.
"Nyonya terlalu rendah hati, sudah jelas nyonya seorang ahli dalam bermain catur. Deng Zhi sama sekali bukan tandingan nyonya. Sesuai dengan kesepakatan kita, itu artinya, sekarang giliran kami yang menentukan bentuk pertandingan yang kedua.", ujar Guang Yong Kwang dengan senyum di wajahnya, meskipun hatinya sudah tidak sehangat tadi.
"Ketua terlalu memuji, tapi terima kasih buat pujian ketua. Tentu saja, sekarang giliran ketua untuk mengajukan bentuk pertandingan yang kedua. Pertandingan macam apa yang Ketua Guang Yong Kwang kehendaki?", tanya Murong Yun Hua tanpa lupa menyertakan senyum manisnya. Guang Yong Kwang berpikir dengan dahi berkerut, semakin lama dia berpikir, semakin dia sadar bahwa dia sudah terjebak dengan ide Murong Yun Hua yang sudah dia setujui itu. Ketika dia membuat rencana untuk menaklukkan Partai Pedang Keadilan, dia sudah bersiap untuk melakukannya lewat kekuatan. Nmaun sekarang persiapannya itu berbalik jadi kelemahan, karena salah satu syarat yang dia sepakati bersama Murong Yun Hua menyatakan bahwa pertandingan yang dilakukan tidak boleh sampai melukai salah satu dari pihak yang bertanding. Cukup lama dia berpikir, sebelum akhirnya dia mengambil keputusan.
"Nyonya, kudengar Partai Pedang Keadilan menciptakan satu ilmu barisan untuk menahan lawan. Untuk pertandingan kedua ini, baiklah kalian mengepung diriku dengan barisan itu."
"Jika kalian dapat menahan agar aku tidak dapat keluar dari kepungan berarti kalian menang. Sebaliknya jika aku berhasil lolos dari barisan kalian, berarti aku yang menang. Untuk mencegah agar tidak ada pihak yang terluka, semuanya ini dilakukan tanpa melakukan serangan pada lawan, hanya dengan mengandalkan olah gerak tubuh saja. Siapapun yang bergerak dan gerakannya itu membentur tubuh lawan, maka dia dianggap kalah, dengan cara ini maka yang diadu sungguh-sungguh adalah kecepatan dan ketepatan berpikir dan bergerak. Masing-masing pihak tidak dapat menggunakan tenaga untuk mengalahkan lawan."
Murong Yun Hua dengan cepat menjawab.
"Bagus, sungguh cara yang bagus. Tidak salah, memang beberapa waktu yang lalu, tokoh-tokoh Partai Pedang Keadilan memang sempat berkumpul bersama untuk menciptakan ilmu barisan. Tapi tentu saja, sulit dibandingkan dengan ilmu barisan yang diciptakan tokoh-tokoh besar di masa lampau, semoga kepandaian kami tidak terlalu mengecewakan."
Mendengar jawaban ini, Bo He mengerutkan alis, kemudian dengan berbisik dia menyampaikan sesuatu pada salah seorang gadis pelayan pribadi Murong Yun Hua.
Selesai Bo He berbisik, gadis itu cepat-cepat menghampiri Murong Yun Hua dan berbisik di telinganya.
"Nyonya..., Tuan Bo He bertanya, jika tidak ada batas waktu yang ditentukan, bukankah akan merugikan pihak kita? Karena Ketua Guang Yong Kwang tidak akan pernah bisa dikatakan kalah selama dia belum mengaku kalah.", bisik gadis pelayan itu pada Murong Yun Hua. Mendengar keprihatinan Bo He, Murong Yun Hua hanya tersenyum saja, kemudian dia pun berbisik pada gadis pelayannya itu.
"Katakan pada Tuan Bo He, hal ini sudah kuperhitungkan. Jika ada batas waktu, maka selepas batas waktu itu habis kita akan sampai pada pertandingan ketiga. Jika tidak ada batas waktu, maka selama barisan kita bisa menahan Ketua Guang Yong Kwang di dalamnya, selama itu pula pertandingan kedua berlangsung. Yang kuharapkan adalah, barisan kita mampu menahan Ketua Guang Yong Kwang dalam kepungan, memberi kita waktu untuk menunggu Ketua Ding Tao hadir di sini, untuk menghadapi mereka di pertandingan ketiga."
Mendapat penjelasan Murong Yun Hua, wajah gadis pelayan itu pun menjadi cerah, buru-buru dia kembali pada Bo He dan menyampaikan pesan Murong Yun Hua.
Mendengar penjelasan itu, Bo He pun menengok ke arah Murong Yun Hua, seakan meminta kepastian, apakah benar masih ada harapan Ding Tao bisa datang menghadapi rombongan Kunlun di pertandingan yang ketiga?
Murong Yun Hua yang melihat pandangan mata Bo He, samar-samar menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Besarlah hati Bo He melihat hal itu.
Bo He melihat ke pihak Kunlun,dilihatnya Guang Yong Kwang sudah berdiri di tengah ruangan dan bersiap menghadapi kepungan orang-orang Partai Pedang Keadilan.
Buru-buru Bo He pun pergi untuk memilih mereka yang akan menghadapinya dengan ilmu barisan yang baru saja mereka ciptakan.
Setiap regu pengawal, terdiri dari kelipatan 8 orang.
Hal ini bersesuaian dengan ilmu barisan mereka yang menggunakan sistem Bagua.
Di antara mereka yang berjaga hari itu, Bo He sudah kenal siapa yang paling bisa diandalkan, karena itu tanpa ragu diapun pergi menemuinya.
Sistem barisan yang diciptakan menggunakan 8 orang untuk membentuk segi delapan, menjaga delapan penjuru mata angin.
Tapi bisa dilipat gandakan menjadi penjagaan 16 orang dengan membuat segi delapan di lingkar luar segi delapan yang sudah ada.
Dengan posisi menjaga di titik antara dua orang pada bagian dalam.
Dengan mudah hal yang sama dilakukan dengan membentuk garis penjagaan berikutnya dan barisan pun menjadi rangkap tiga dan meliputi 24 orang.
Guang Yong Kwang hanya mengatakan akan melawan ilmu barisan milik Partai Pedang Keadilan.
Dia tidak menentukan akan melawan berapa orang.
Di saat yang sama, yang diminta Murong Yun Hua adalah agar Bo He berusaha, membuat Guang Yong Kwang tertahan dalam kepungan selama mungkin, memberikan waktu seluas-luasnya bagi Ding Tao untuk menyelesaikan hambatan yang sedang dia hadapi.
Karena itu tanpa ragu, Bo He memilih 4 orang regu terkuat yang dia tahu, untuk mengepung Guang Yong Kwang dengan 32 orang dalam ilmu barisan delapan penjuru yang diciptakan para pimpinan Partai Pedang Keadilan bersama-sama.
Melihat 32 orang maju ke depan dan mengepungnya dalam 4 lapis barisan penjagaan, Guang Yong Kwang mengumpat dalam hati.
Dari informasi yang sempat dia serap sebelum kedatangannya ke Jiang Ling, barisan yang diciptakan itu terdiri dari 8 orang yang bergerak berdasarkan formasi Bagua.
Melihat ada 32 orang yang maju dan melihat bagaimana mereka menyusun barisan, segeralah Guang Yong Kwang menyadari bahwa dia sedang menghadapi 4 barisan.
Namun menjaga harga dirinya sebagai seorang ketua dari partai besar, dia tidak mau mengajukan protes, seakan-akan dirinya takut menghadapi kepungan 32 orang penjaga Partai Pedang Keadilan.
Jangankan hanya 32 orang, 100 pun akan dengan mudah dia libas.
Lagipula, bagaimana mungkin dia sebagai orang luar bisa mengatakan apakah ilmu barisan buatan Partai Pedang Keadilan terdiri dari 8 atau 32 orang?
Sementara ilmu barisan itu senditi masih jarang digunakan di luaran.
Bisa-bisa pihak Partai Pedang Keadilan akan menuduhnya mencuri-curi, mempelajari ilmu barisan buatan mereka.
Dengan menyatakan bahwa dia tahu ada ilmu barisan yang diciptakan mereka saja, sudah menyiratkan hal tersebut.
Meskipun masih bisa dianggap wajar jika orang memasang telinga terhadap berita di luaran.
Tapi bila sampai dia menunjukkan bahwa dia tahu lebih dari apa yang sudah dia katakan, maka pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya berupa tuduhan bukan tidak mungkin akan dikeluarkan.
Sekalipun sulit dibuktikan namun bisa mencoreng nama besar Partai Kunlun yang terkenal lurus.
Karena alasan-alasan itu, akhirnya Guang Yong Kwang pun hanya bisa menggertakkan gigi sambil merangkapkan tangan ke 8 penjuru.
"Apakah kalian sudah siap?", tanyanya dengan suara dingin.
"Silahkan", jawab salah seorang pemimpin regu, kebetulan dia memimpin regu yang akan menjadi barisan pada lingkar penjagaan terdalam. Dengan satu jawaban itu, Guang Yong Kwang mulai bergerak perlahan-lahan ,menggeser tubuhnya, mencoba mengubah kedudukannya terhadap barisan yang menghadang jalan keluarnya. Demikian Guang Yong Kwang bergerak perlahan sambil mengamati reaksi lawan. Dengan cara itu dia berusaha mengenali prinsip yang digunakan barisan lawan. Barisan Partai Pedang Keadilan, tentu saja bergerak memperbaiki kedudukan, setiap kali Guang Yong Kwang bergerak. Menyesuaikan posisi mereka dengan posisi Guang Yong Kwang yang baru. 32 orang memusatkan perhatian mereka pada Guang Yong Kwang, hasil dari kerasnya latihan tidaklah mengecewakan. Apalagi bagi mereka yang tinggal di Jiang Ling, mereka memiliki banyak kesempatan untuk menguji hasil latihan mereka dengan orang terkuat dari Partai Pedang Keadilan, Ding Tao. Pancingan-pancingan Guang Yong Kwang tidak mampu menimbulkan celah dalam barisan yang ketat itu. Namun Guang Yong Kwang bukan mendapatkan kedudukan sebagai ketua Kunlun karena keberuntungan. Sejak dia masih baru memasuki perguruan Kunlun, bakat dan ambisinya menonjol dibanding teman-teman seangkatannya. Dalam hitungan tahun dia sudah naik menjadi murid langsung dari ketua Kunlun waktu itu dan tidak menunggu lama sebelum ketua Kunlun menyadari potensi Guang Yong Kwang dan memutuskan untuk mengkhususkan diri hanya melatih Guang Yong Kwang seorang. Sejak saat itu, kemajuannya tidak bisa ditandingin oleh murid-murid Kunlun yang lain. Kunlun juga sudah mengembangkan ilmu barisan khas Kunlun. Jika ilmu barisan yang diciptakan para tokoh Partai Pedang Keadilan ini baru berumur beberapa bulan. Ilmu barisan milik Kunlun sudah berumur lebih dari seratus tahun. Dari generasi ke generasi dilatih, diuji dan dikembangkan. Guang Yong Kwang tidak menjadi gugup melihat kesigapan 32 orang yang mengepungnya. Tubuhnya terus bergerak sementara, matanya yang tajam dan otaknya yang lincah tidak pernah luput mengamati mereka yang mengepungnya. Dengan sabar dia mencatat dalam benaknya kecekatan tiap-tiap orang. Guang Yong Kwang tidak terburu-buru mencoba menerobos lewat lubang yang dia lihat. Cukup keterlambatan satu dua orang itu dia catat, untuk selanjutnya dia menguji bagian lain dari barisan. Setelah beberapa lama mereka saling menguji, sebuah gambaran sudah terpeta dalam benak Guang Yong Kwang. Untuk meyakinkan, sekali lagi dia menguji titik-titik lemah dalam barisan itu. Titik-titik lemah yang disebabkan karena tidak meratanya kemampuan setiap orang dalam menjalankan tugasnya. Dalam hati Guang Yong Kwang pun mengakui bahwa barisan ini adalah sebuah barisan yang baik. Jika Partai Pedang Keadilan memiliki waktu yang cukup panjang, untuk menyaring orang-orang yang berbakat, maka dalam hitungan tahun Partai Pedang Keadilan akan memiliki satu regu yang dapat bekerja sama dengan tangguh dan dapat menghadapi tokoh dunia persilatan tingkat atas. Tapi hari ini mereka belum sampai di sana. Dengan sebuah seringai puas, Guang Yong Kwang tiba-tiba berteriak nyaring, tubuhnya yang sedari tadi bergerak tidak terlalu cepat dalam waktu singkat tiba-tiba bergerak bagai kilat. Kecepatannya yang luar biasa membuat dirinya tampak seperti akan bergerak ke beberapa arah sekaligus. 32 orang yang mengepungnya, tidak kalah gesit, seluruh panca indera mereka sudah dikerahkan untuk mengamati pergerakan Guang Yong Kwang. Segera setelah Guang Yong Kwang mulai menggebrak, mereka pun dengan cepat bergerak menutup jalan lari Guang Yong Kwang. Meskipun demikian, tidak urung ada waktu jeda beberapa saat sebelum mereka bereaksi terhadap gebrakan Guang Yong Kwang. Lebih-lebih lagi, jeda waktu yang dibutuhkan untuk menangkap gerakan Guang Yong Kwang, kemudian mengolahnya dalam otak mereka, lalu menentukan langkah-langkah pencegahan yang sesuai dengan ilmu barisan yang mereka pelajari, tidaklah sama antara satu orang dengan satu orang yang lain. Semakin lama, perbedaan yang kecil dan keterlambatan yang beberapa saat itu semakin besar. Guang Yong Kwang bukan bergerak tanpa perhitungan. Jauh sebelum dia mulai bergerak dia sudah mempelajari barisan yang menghadangnya. Jika dia bergerak ke utara, jika dia berbalik arah, jika dia mengincar bagian bawah dan seterusnya. Bisa dikatakan sebelum dia bergerak dia sudah bisa membayangkan, ke arah mana para pengepungnya akan bereaksi bila dia bergerak seperti ini dan ke arah mana pula mereka akan bergerak jika tiba-tiba dia mengubah arahnya ke arah yang itu. Bukan hanya itu saja, dengan mengenali kemampuan setiap orang dari pengepungnya, dia dapat pula membayangkan keretakan yang terjadi dalam barisan mereka, setiap kali barisan itu harus mengubah susunan, akibat pergerakan Guang Yong Kwang. Karena itu Guang Yong Kwang bergerak seakan-akan tidak peduli dengan gerakan yang dibuat lawan. Dia sudah membuat rencana, setelah menyerbu ke utara, dia harus berbalik dengan tiba-tiba seakan-akan hendak mengubah arah larinya ke arah selatan. Tapi sebelum dia benar-benar ke selatan, dia harus menggeser titik berat tubuhnya, dan seterusnya. Benar saja perhitungan Guang Yong Kwang, pada gerakan yang ke 45 terbuka celah yang lebar di lingkaran pertama dan kedua. Tanpa ragu lagi Guang Yong Kwang pun menerobos dua baris pengepungnya. Barisan ketiga dan keempat yang masih sempat mengamati keadaan rekan-rekan mereka, dengan cepat menutup lubang-lubang tempat Guang Yong Kwang bisa meloloskan diri tapi tentu saja Guang Yong Kwang tidak hanya berhenti sampai di sana. Dengan cepat tubuhnya bergerak menyisir di antara barisan kedua dan ketiga. Gerakannya yang cepat dan tepat, membuat orang-orang Partai Pedang Keadilan saling berbenturan. Hal ini terjadi karena lingkaran pertama dan kedua yang berhasil dilewati Guang Yong Kwang, berusaha untuk bergerak keluar. Tujuan mereka adalah berganti kedudukan sehingga lingkaran ketiga dan keempat akan menjadi barisan pertama dan kedua, sementara mereka akan menjadi barisan ketiga dan keempat. Dengan cara itu Guang Yong Kwang akan kembali dikepung oleh 4 barisan. Cara ini sangat efektif untuk terus mengurung Guang Yong Kwang, karena aturan dari pertandingan ini tidak memungkinkan Guang Yong Kwang untuk menyerang dan menjatuhkan lawan. Sayang Guang Yong Kwang bukan lawan yang bisa diperlakukan demikian. Rencana mereka sudah diperhitungkan oleh Guang Yong Kwang dan dia pun memanfaatkan detik-detik di mana barisan kesatu dan kedua hendak bergerak keluar, untuk memancing reaksi barisan ketiga dan keempat untuk bergerak ke jalur lari teman mereka sendiri. Tidak urung sesama rekan pun saling bertabrakan, sementara Guang Yong Kwang justru berhenti di tempat dengan mata yang tajam mengamati timbulnya celah untuk dia meloloskan diri. Namun bukan hanya Guang Yong Kwang yang memiliki akal cerdik. Bo He yang cukup berpengalaman juga menunjukkan kecerdikannya. Orang yang paling awas dan cekatan justru dia tempatkan dia lingkaran yang terluar, bukan lingkaran yang terdalam. Sewajarnya justru yang paling cekatan berada paling dekat dengan Guang Yong Kwang, karena dialah yang harus bereaksi paling cepat. Namun tidak demikian pendapat Bo He, Bo He bisa mengukur diri sendiri dan mengakui bahwa tidak seorangpun dari mereka yang berada di sana mampu mengimbangi kecekatan, kecepatan dan kecerdasan Guang Yong Kwang. Secekatan apapun orang yang ditempatkan untuk berhadapan langsung dengan Guang Yong Kwang, pasti akan jatuh dalam permainan oleh geraknya. Jika dia menaruh orang yang paling cekatan pada posisi itu, maka segera setelah lingkaran pertama berhasil diterobos oleh Guang Yong Kwang, barisan kedua, ketiga dan keempat pun akan dengan cepat bergurguran. Bo He memilih menaruh orang paling cerdas dan cekatan di lingkaran terluar. Dari kedudukannya yang paling jauh dengan pertempuran dibanding yang lain, orang ini memiliki kesempatan paling besar untuk mengamati jalannya pertandingan. Benar saja, runtuhnya barisan pertama dan kedua membuat barisan ketiga sama keroposnya. Beruntung mereka yang berada di barisan keempat memiliki cukup waktu untuk mencerna rencana Guang Yong Kwang, meskipun barisan ketiga harus dikorbankan. Ke delapan orang yang membentuk barisan terakhir ini dengan cepat bergerak menjaga jalan lari Guang Yong Kwang. Bentuk dan luasan arena pertarungan yang terbentuk oleh pergerakan mereka sudah meluas, demi menjaga agar Guang Yong Kwang tidak bisa lolos, bentuk barisan yang segi delapan dengan cepat diubah menjadi barisan garis bersudut dengan dua ujung terbuka. Gerakan mereka yang cekatan membuat Guang Yong Kwang terkurung di antara barisan terluar dengan sisa barisan yang sudah diterobos di belakangnya. Sekaligus memberikan jalan bagi rekan-rekan mereka untuk keluar dari barisan keempat tanpa saling menubruk dengan barisan keempat. Sambil bergerak, pemimpin regu barisan keempat pun berteriak memberikan petunjuk.
"Gerbang utara dan barat membuka!"
Bersamaan dengan mundurnya rekan-rekan mereka, barisan keempat pun bergerak merapat dan mengurung Guang Yong Kwang.
Tujuannya adalah membuat barisan mereka perlahan-lahan kembali merapat sesuai dengan jumlah rekan yang berhasil keluar dari kekacauan.
Dengan demikian saat seluruh rekan mereka sudah menjauh dari kekacauan, Guang Yong Kwang akan kembali dikepung oleh mereka berdelapan dalam bentuk formasi Bagua.
Di saat itu, rekan-rekan mereka bisa dengan tenang bergerak untuk membentuk lapis kedua, ketiga dan keempat.
Sulit untuk menggambarkan kedudukan tiap-tiap orang pada waktu itu, bagi mereka yang mengamati dari luar dan kurang jeli, maka yang tampak hanyalah satu keruwetan dan kekacauan.
Hanya mereka yang cukup cerdas dan jeli dapat melihat bagaimana Guang Yong Kwang bergerak untuk lepas dari kepungan delapan orang terakhir tanpa menubruk mereka yang bergerak keluar.
Di saat yang sama, ke delapan orang yang membentuk barisan terakhir bergerak pula dengan cepat untuk mencegah hal itu terjadi.
Untuk sesaat tampaknya ke-delapan orang itu berhasil dalam melakukan tugasnya.
Guang Yong Kwang kembali terkurung dan rekan-rekan mereka mulai berlompatan untuk menempati kedudukan mereka masing-masing, membentuk lapis dua, tiga dan empat.
Namun Guang Yong Kwang pun bergerak lebih cepat berusaha menerobos, sebelum lapisan-lapisan berikutnya terbentuk dengan mantap.
Jangankan ke-32 orang penjaga itu, Guang Yong Kwang yang namanya sudah sejajar dengan orang-orang nomor satu di dunia persilatan pun bajunya sudah basah oleh keringat.
Desah nafas ke 32 orang itu terdengar menderu-deru, seperti lokomotif yang dipacu kecepatannya.
Semakin tinggi tingkat kelelahan mereka, semakin sulit untuk tetap mengimbangi kecepatan Guang Yong Kwang yang tidak juga berkurang.
Pada satu titik, ke delapan orang itu akhirnya tidak mampu menahan laju gerak Guang Yong Kwang yang bergerak mundur ke arah yang berada di luar dugaan mereka.
Yang patut dipuji adalah semangat dan moral mereka yang tinggi.
Lolosnya Guang Yong Kwang dari barisan terakhir tidak membuat semangat dan moral mereka runtuh, sehingga kemudian mereka diam di tempat meratapi kekalahan.
Melihat Guang Yong Kwang masih terjebak di antara mereka, sebisa mungkin mereka bergerak menutup jalan lari Guang Yong Kwang.
Ilmu barisan yang mereka pelajari sudah tidak berguna, karena kedudukan mereka sudah tidak lagi teratur seperti pada awal pertandingan.
Tiap-tiap orang hanya bisa bergerak menurut pertimbangan dan keyakinan mereka masing-masing.
Dengan mudah Guang Yong Kwang bergerak ke kiri dan ke kanan, melewati mereka yang berusaha menghadang jalan larinya dan menerobos keluar.
Hanya berbekal semangat dan kekerasan hati, ke-32 orang itu berusaha menutup jalan lari Guang Yong Kwang.
Namun bagi mereka yang melihat pertandingan itu, hasil akhirnya sudah dapat dipastikan.
Sorak-sorai pun lepas dari rombongan Kunlun saat Guang Yong kwang melewati orang terakhir dan dengan tenang berdiri di luar 32 orang yang sudah tidak tampak lagi bentuk barisannya dan lebih mirip kumpulan orang yang berkerumun di pasar malam.
"Menang!", seru mereka ditanggapi senyum dingin oleh Guang Yong Kwang.
"Selamat atas kemenangan Ketua Guang Yong Kwang, sungguh tinggi tingkat ilmu ketua sulit dipahami, 32 orang dalam satu barisan yang teratur bisa dipermainkan sedemikian rupa seperti kumpulan anak-anak kecil yang tidak mengenal bela diri.", ujar Murong Yun Hua sambil merangkapkan tangan. Guang Yong Kwang tersenyum tawar sambil menggelengkan kepala, katanya.
"Biasa saja, hanya hal yang kecil saja tidak ada yang patut dibanggakan."
Dalam hati Guang Yong Kwang harus mengakui kelihaian orang yang menciptakan ilmu barisan tersebut.
Butuh waktu lama bagi dirinya sebelum dia dapat membentuk satu rencana untuk memecahkan barisan mereka.
Benar memang setelah dia mulai bergerak, tidak butuh waktu lebih dari satu hio untuk terbakar habis, sebelum dia lepas dari kepungan.
Tapi untuk sampai pada titik itu, dia harus memeras otak dan menghabiskan cukup banyak waktu.
Bahkan setelah dia berhasil membongkar barisan itupun dia harus mengakui kebandelan orang-orang Partai Pedang Keadilan yang tidak kenal kata menyerah sebelum sampai pada garis akhir.
Guang Yong Kwang pun dipaksa untuk memikirkan ulang, penilaiannya akan kekuatan Partai Pedang Keadilan.
Kenyataan yang menunjukkan potensi besar Partai Pedang Keadilan, mendorong Guang Yong Kwang untuk merendahkan mereka dengan sindiran halusnya.
Ada perasaan tidak mau kalah yang muncul dari kebanggaan dirinya sebagai anak murid bahkan sekarang sebagai ketua dari satu perguruan yang ternama.
"Janganlah Ketua Guang Yong Kwang terlalu merendahkan diri, jika ketua berlaku demikian, bagaimana dengan ke -32 orang yang ketua kalahkan hari ini?", ujar Murong Yun Hua dengan senyum yang tak pernah meninggalkan wajahnya. Guang Yong Kwang hanya bisa menanggapi ucapan Murong Yun Hua dengan senyum masam, tidak ingin berkutat terus dengan pertarungannya barusan, dia mengalihkan pembicaraan.
"Sesuai dengan kesepakatan kita, pertandingan ketiga dan juga pertandingan penentu. Adalah pihak nyonya yang berhak menentukan bentuk pertandingannya. Jadi pertandingan seperti apa yang ada dalam benak nyonya?"
Murong Yun Hua tersenyum dan menganggukkan kepala.
Matanya melirik ke arah pintu masuk dari arah dalam.
Apakah Ding Tao sudah bisa hadir dalam pertandingan yang ketiga ini?
Bo He dan pengikur Partai Pedang Keadilan yang lain tanpa terasa mengarahkan pandangan mata mereka ke pintu yang sama.
Jantung mereka serasa ingin berhenti ketika pintu itu bergerak terbuka.
Siapa yang akan muncul di sana?
Berita seperti apa yang akan dibawa olehnya?
Apakah Ding Tao berhasil melewati masa kritis dalam latihannya dan sekarang siap untuk menghadapi lawan?
Ataukah yang datang adalah pembawa berita bagi Murong Yun Hua, yang mengatakan bahwa Ding Tao belum bisa hadir untuk pertandingan yang ketiga ini.
Atau mungkin lebih buruk lagi, yaitu bahwa Ding Tao gagal melewati masa kritis tersebut dan sekarang dalam keadaan lumpuh atau gila?
Pintu akhirnya terbuka lebar dan 4 sosok orang masuk melewatinya.
Siapa lagi mereka kalau bukan Ding Tao, Ma Songquan, Chu Linhe dan Chou Liang.
Ding tao sudah mencuci muka dan berpakaian rapi, penampilannya tidak menampakkan bekas-bekas kelelahan setelah berlatih berminggu-minggu lamanya.
Bukankah tadinya Ding Tao sedang bertarung dengan sepasang pendekar Ma Songquan dan isterinya?
Bukankah Chou Liang melarang satu orang pun untuk mengganggu mereka.
Lalu bagaimana mereka bisa tahu akan kedatangan kelompok dari Kunlun jika tidak ada seorang pun yang berani memberitahu mereka?
Tentu saja ada satu orang yang berani menerobos masuk dan memberi tahukan masalah ini pada Chou Liang dan Murong Huolin yang sedang menonton di pinggir lapangan.
Murong Yun Hua.
Sejak kedatangan tamu dari Kunlun di depan gerbang Partai Pedang Keadilan, sampai kemudian Bo He menemui mereka.
Ada waktu yang cukup lama, waktu yang terbuang saat pengantar harus melaporkan kedatangan mereka di tiap gerbang penjagaan yang berbeda.
Setelah sampai di ruang pertemuan pun mereka masih harus menunggu Bo He datang menemui.
Setelah bertemu Bo He pun masih ada tanya jawab yang harus dilewati.
Dikatakan lama, memang cukup lama bagi Murong Yun Hua untuk memikirkan satu rencana.
Dikatakan lama, tapi sebenarnya tidak akan ada cukup waktu untuk bersiap jika Murong Yun Hua tidak berpikir dengan cepat.
Ketika secara tidak sengaja mendengar berita kedatangan tamu dari Kunlun, Murong Yun Hua segera menyadari bahaya yang mereka hadapi.
Tanpa membuang waktu otaknya berpikir cepat dan menghasilkan satu rencana nekat.
Rencana nekat yang tampaknya berhasil menyelamatkan Partai Pedang Keadilan dari bahaya yang mengancam.
Bukan hanya cekatan dalam berpikir, tapi juga tegas dalam mengambil keputusan.
Tidak jarang ada orang pandai dalam menganalisa masalah, namun ragu-ragu dalam mengambil tindakan.
Hal ini tidak terlihat dalam kecekatan Murong Yun Hua yang menyelamatkan seluruh partai.
Seluruh usaha Murong Yun Hua bersama anggota yang lain akhirnya sampai pada akhirnya.
Ding Tao sudah tiba.
Sebuah beban berat terasa lepas dari pundak mereka, meskipun rasa itu hanya sesaat saja lewat dan tidak lama kemudian digantikan oleh ketegangan yang berbeda.
Ding Tao berjalan ke arah Guang Yong Kwang dan merangkapkan tangan di depan dada, memberi salam.
"Salam Ketua Guang Yong Kwang, selamat datang di Jiang Ling. Maaf jika aku terlambat menyambut kedatangan ketua."
Jantung Guang Yong Kwang berdegup kencang saat Ding Tao memasuki ruangan.
Perkembangan yang terjadi berada di luar perhitungannya, dengan sendirinya keyakinannya pun menjadi goyah.
Tapi kebanggaan sebagai ketua dari sebuah perguruan besar tidak mudah luntur.
Dengan menggertakkan gigi dia pun membalas salam Ding Tao.
"Ketua Ding Tao..., kiranya bisa hadir di sini. Dari penjelasan salah seorang pengikutmu, tadinya kusangka Ketua Ding Tao sedang berada di dalam ruang latihan dan tidak bisa hadir. Apa mungkin ada salah mengerti?"
Ding Tao hanya tersenyum dingin, sepanjang perjalanan dari ruang latihan menuju ruang pertemuan dia sudah menerima laporan akan kejadian yang berlangsung hari ini.
Jika Guang Yong Kwang merasa kesal karena terperangkap siasat Murong Yun Hua, maka Ding Tao terlabih lagi merasa kemarahannya sulit ditahan.
"Hmm... kata-katanya memang tidak salah. Selama beberapa hari terakhir aku mengurung diri dalam ruang latihan. Adalah satu kebetulan yang tidak di sengaja jika kedatangan Ketua Guang Yong Kwang, bertepatan dengan selesainya latihanku. Justru adanya pertandingan antara Perguruan Kunlun dengan partai kami yang membuatku bertanya-tanya. Jika ketua sudah tahu aku tidak bisa hadir di tempat, mengapa memaksakan satu pertandingan yang akan menentukan masa depan dari partai kami tanpa kehadiranku sebagai ketuanya?", tegur Ding Tao tanpa basa-basi. Memerah wajah Guang Yong Kwang dan sekalian pengikutnya, dengan senyum masam Guang Yong Kwang pun menjawab.
"Keputusan yang akan diambil sangatlah penting bagi kemaslahatan dunia persilatan dan waktunya sudah mendesak. Kapan Ketua Ding Tao bisa ditemui tidak ada batas waktu yang jelas, demi kepentingan umum mau tidak mau, kami harus memaksa untuk mendapatkan hasilnya hari ini. Siapa tahu? Jangan-jangan ketidak hadiran Ketua Ding Tao hanyalah siasat untuk mengulur waktu."
Melotot mata Ding Tao mendengar jawaban Guang Yong Kwang, hawa murni dalam tubuhnya pun bergolak seturut pergolakan rasa dan semangatnya.
Tiba-tiba terdengar suara gemeretak lantai yang dipijak Ding Tao.
Terlihat telapak kaki Ding Tao melesak ke bawah setidaknya satu-dua jari dalamnya, marmer yang keras dibuat seperti lunak, tidak ubahnya tanah berlumpur.
Lantai terbuat dari batu marmer, tebal dan kerasnya tidak perlu ditanyakan.
Namun hawa murni yang dilatih Ding Tao berkaitan dengan tenaga bumi, dalam kemarahannya tanpa terasa Ding Tao mengerahkannya sampai pada puncaknya.
Jangankan lantai yang terbuat dari marmer, seandainya dia menginjak bongkahan batu raksasa yang ada di sungai-sungaipun, mungkin batu itu akan retak oleh ledakan hawa murninya yang seperti menghunjam ke bawah, ke arah pusat bumi.
Pameran tenaga dalam itu membuat jantung setiap orang berdetak setingkat lebih kencang.
Guang Yong Kwang yang terbilang masih muda ikut terpancing emosinya.
Tanpa ragu dia pun menghimpun dan mengerahkan hawa murninya sampai ke puncaknya.
Segera saja sebuah hawa panas terasa meledak keluar dari tubuhnya.
Beberapa orang yang berdiri terlalu dekat dengan Guang Yong Kwang pun tanpa terasa menjauh beberapa langkah, seakan terdorong satu tenaga yang tidak terlihat.
Hanya Ding Tao yang berada di hadapannya yang berdiri teguh seperti batu karang yang tidak terpengaruh, meninggalkan dua orang ketua dari dua partai besar dengan usia yang terbilang masih muda saling berhadapan.
Suasana yang pekat dengan permusuhan kembali muncul dengan hadirnya Ding Tao.
Sebelumnya anggota Partai Pedang Keadilan yang merasa berada di pihak yang kalah kuat, menyambut dengan gembira usulan Murong Yun Hua yang menghadirkan jalan tengah.
Apalagi dengan usulan Murong Yun Hua, kekalahan yang sudah pasti, tiba-tiba menjadi situasi di mana ada kemungkinan untuk menang.
Kehadiran Ding Tao membuat posisi mereka menguat, semangat mereka untuk bertarung secara keras kembali muncul.
Di lain pihak Guang Yong Kwang dan orang-orangnya datang dengan persiapan untuk menggunakan kekerasan, kecerdikan Murong Yun Hua membuat rencana mereka bergerak ke arah yang berbeda.
Dua kali pertandingan dengan pertandingan terakhir yang menentukan berada di pihak lawan, menunjukkan bahwa siasat Murong Yun Hua merugikan mereka.
Kehadiran Ding Tao dan bergeraknya arah kejadian menuju kembali pada rencana awal mereka adalah satu keadaan yang bisa diterima.
Kedua belah pihak sudah saling berhadapan dengan tangan berada di gagang senjata masing-masing, siap dicabut begitu kedua pemimpin mereka saling bergebrak.
Gadis-gadis yang mengiringi Murong Yun Hua, yang masih dapat menggerakkan kakinya tanpa sadar sudah berdiri jauh-jauh dari Ding Tao dan Guang Yong Kwang.
Ada juga yang terpaku beku di tempatnya, merasa ngeri sampai tidak bisa bergerak.
Hanya Murong Yun Hua yang masih dapat menggunakan nalar jernihnya.
Sekilas dia menengok ke arah Ma Songquan, Chu Linhe dan Chou Liang.
Melihat pula ke arah Bo He dan teman-temannya.
Dari yang sekilas itu dia dapat melihat kalau mereka pun sudah dibakar oleh amarah dan keinginan untuk bertarung.
Diam-diam Murong Yun Hua menghela nafas sambil tersenyum kecil.
"Dasar lelaki... jika sudah bicara soal harga diri, tentu lupa diri...", pikir Murong Yun Hua sambil menggelengkan kepala. Tadinya dia berharap pada Chou Liang, tapi dia lupa Chou Liang sendiri seorang laki-laki. Meskipun bukan ahli bela diri, tapi hatinya pun tidak kalah panas dengan mereka yang sudah bisa menyandang pedang. Akhirnya Murong Yun Hua pun berpendapat, dia tidak bisa berdiam diri saja.Dengan langkah yang tegas dan tenang, dia melangkah mendekati Ding Tao. Ding Tao yang sedang berusaha mengendalikan kemarahannya, tiba-tiba merasakan bau harum yang sudah sangat dia kenal menyentuh lembut penciumannya. Saat sebuah sentuhan lembut pada bahunya dan suara Murong Yun Hua sampai pada telinganya, ketegangannya sudah jauh banyak berkurang.
"Suamiku... apakah tidak lupa dengan tujuanmu semula saat mengurung diri dalam ruang latihan?", ujar Murong Yun Hua. Ucapan Murong Yun Hua seperti guyuran air dingin yang memadamkan api kemaraham dalam dada Ding Tao. Perlahan hawa murni yang dikerahkan Ding Tao menyurut, kemarahan di wajahnya menyusut. Butuh dua orang untuk bertarung, butuh dua pihak untuk berperang, jika satu pihak mundur sementara yang lain tetap mengejar, bukan lagi pertarungan namanya. Perguruan Kunlun bukan perguruan sesat, mereka dihormati oleh banyak orang dan tergolong perguruan lurus. Meskipun kali ini mereka datang dengan niat untuk menundukkan Partai Pedang Keadilan dengan segala cara, masih ada garis-garis yang tidak bisa mereka langgar dengan sembarangan. Sekejap saja mata Guang Yong Kwang melintas, melihat ke arah Murong Yun Hua, tapi yang sekejap itu sudah cukup untuk membuat bulu kuduk Ding Tao meremang. Menyadarkan dia betapa hampir saja dia justru memberikan api pada suksesnya rencana Guang Yong Kwang. Hanya ada satu orang dalam ruangan itu yang benar-benar menjadi penghalang atas rencana Guang Yong Kwang, Murong Yun Hua. Menyadari hal itu membuat Ding Tao semakin tenang dalam menghadapi Guang Yong Kwang. Ding Tao menengok ke arah Murong Yun Hua dan tersenyum padanya. Tidak perlu ada perkataan apa-apa, Murong Yun Hua sudah paham bahwa maksudnya sudah tersampaikan. Dengan senyum manis, dia pun meninggalkan Ding Tao untuk berhadapan dengan Guang Yong Kwang sendirian.
"Kalau begitu aku pamit dahulu", ujarnya pada Ding Tao. Ding Tao menganggukkan kepala dan meremas lembut tangan Murong Yun Hua sebelum kembali mengalihkan perhatiannya ke arah Guang Yong Kwang. Murong Yun Hua pun menghampiri gadis-gadis yang dia ajak untuk mengiringi dirinya. Bersama-sama mereka pun keluar dari ruangan.
"Kalau Ketua Ding Tao sudah mengetahui apa maksud kedatanganku, lalu sekarang bagaimana sikap Ketua Ding Tao?", tanya Guang Yong Kwang setelah menanti beberapa saat, menunggu Murong Yun Hua dan rombongannya meninggalkan ruangan. Ding Tao tersenyum dingin.
"Bukankah Ketua Guang Yong Kwang sudah membuat kesepakatan dengan isteriku? Kukira tidak ada alasan untuk mengingkarinya sekarang. Apa kata orang jika sekarang aku mengingkari apa yang dia katakan saat bertindak sebagai wakilku?"
Guang Yong Kwang balik tersenyum dingin kemudian menjawab.
"Tapi toh isteri Ketua Ding Tao bukanlah Ketua Ding Tao sendiri. Sudah wajar jika seorang wanita takut melihat darah dan mencari jalan untuk menghindarinya. Atau... apakah maksud Ketua Ding Tao, bahwa sebenarnya yang menjalankan roda kepemimpinan di sini adalah isteri Ketua Ding Tao?"
"Ketua Guang Yong Kwang salah mengerti...", ujar Ding Tao dengan tenang, tanpa terprovokasi oleh sindiran Guang Yong Kwang.
"Saat isteriku maju ke depan dan berkata hendak menjadi wakilku dalam pembicaraan yang dilakukan dengan ketua. Bukankah ada puluhan anggota Partai Pedang Keadilan yang ikut mendengarkannya. Adakah mereka menyatakan keberatannya? Jika sekarang aku berbalik dari kesepakatan yang dia buat, maka bukan saja aku mempermalukan isteriku, tapi juga puluhan anggota Partai Pedang Keadilan yang setia padaku. Sebagai ketua, aku tidak bisa melakukan hal itu.", jawab Ding Tao menjelaskan.
"Dan alasan yang kedua adalah, karena pemikiran yang mendasari kesepakatan ini, memang tepat sesuai dengan hati nuraniku. Bukankah tujuan utama dari diadakannya pemilihan Wulin Mengzhu adalah untuk menyatukan kekuatan seluruh pendekar di negeri ini, dalam menghadapi ancaman dari luar? Jika sebelum tujuan itu tercapai kita justru sudah saling membunuh, bukankah hal itu merupakan satu kebodohan yang tidak terkira?", ujar Ding Tao menjelaskan sekaligus balik bertanya. Guang Yong Kwang pun terpaksa tersenyum masam dihadapkan dengan jawaban Ding Tao.
"Hmm... baguslah kalau kita sepaham. Jadi pertandingan seperti apa yang ketua inginkan untuk menjadi pertandingan penentu kali ini?"
Guang Yong Kwang sadar tidak bisa mengelak dari jebakan yang sudah dibuat Murong Yun Hua.
Untuk sesaat dia sempat berharap bisa memancing Ding Tao untuk bermain keras.
Namun melihat ketenangan Ding Tao, Guang Yong Kwang pun membatalkan niatnya.
Ding Tao bukan orang bodoh, jika dia sering terliht bodoh, hal itu muncul karena perasaannya yang sering menghalangi dia untuk bersikap keras pada lawan-lawannya.
Namun Guang Yong Kwang sudah membangkitkan amarah Ding Tao, perbuatan Guang Yong Kang yang hampir saja membuat banyak jatuh korban membuat Ding Tao tidak memiliki perasaan semacam itu terhadap Guang Yong Kwang.
Justru karena perasaan itu, Ding Tao tidak ingin mengikuti keinginan Guang Yong Kwang.
Dia tidak mau terpancing kemarahannya dan mengikuti keinginan Guang Yong Kwang untuk melepaskan kesepakatan yang sudah dibuat.
Pembalasan yang paling mengena menurut Ding Tao adalah meneruskan rencana Murong Yun Hua dan menolak memberikan Guang Yong Kwang apa yang dia inginkan.
Ding Tao pun menjawab.
"Hmm... karena aku sudah hadir di sini, kukira tidak ada lain yang lebih baik, kecuali satu pertandingan antara Ketua Guang Yong Kwang melawan diriku. Namun mengingat tujuan dari diadakannya pertandingan ini, maka kita tidak bisa bertarung secara langsung."
Ding Tao berhenti sejenak untuk mengamati reaksi Guang Yong Kwang.
Guang Yong Kwang hanya berdiri tenang, memandangi dirinya, menunggu Ding Tao menyelesaikan ucapannya.
Meskipun rencananya mengalami hambatan yang tidak kecil, Guang Yong Kwang tidak serta merta berputus asa.
Dia masih memiliki cukup keyakinan bahwa dirinya masih berada di atas Ding Tao baik dalam hal kecerdikan maupun dalam ilmu bela diri.
"Jadi aku ingin mengajukan pertandingan adu jurus di antara kita berdua, sebagai pihak tuan rumah biarlah aku mengalah dan silahkan Ketua Guang Yong Kwang nanti memulainya terlebih dahulu. Untuk memperagakan jurus yang akan digunakan, boleh dilakukan sendiri atau lewat seorang perwakilan."
"Bagaimana apakah pertandingan ini cukup memuaskan bagi Ketua Guang Yong Kwang?", tanya Ding Tao usai menjelaskan.
"Kenapa harus bertanya? Bukankah sesuai dengan kesepakatan yang kita buat, maka apapun bentuk pertandingan ketiga ini aku tidak berhak untuk mengomentarinya. Kecuali jika tidak sesuai dengan syarat yang sudah ditetapkan.", jawab Guang Yong Kwang dengan senyum sinis. Ding Tao tertawa di dada kemudian menjawab.
"Memang benar demikian kesepakatan yang dibuat, namun aku khawatir jika Kunlun kalah dalam pertandingan ketiga ini, di kemudian hari akan muncul perkataan bahwa kekalahan itu terjadi karena permainan kata-kata saja. Oleh sebab itu aku berusaha mempertimbangkan segala sisi dan memutuskan bentuk pertandingan seperti yang sudah kuajukan. Supaya apa pun hasil dari pertandingan ketiga ini, jangan sampai orang mengatakan kami menang karena keadaan bukan karena kemampuan."
Mendengar itu dada Guang Yong Kwang ingin meledak rasanya, tapi di luar dia masih bisa bersikap biasa.
"Oh begitu rupanya? Ketua Ding Tao tidak perlu khawatir soal itu, tapi jika memang khawatir masalah perkataan orang mengapa kita tidak bertanding saja secara langsung. Agar tidak saling melukai, buat saja peraturan agar menang kalah hanya dilihat dari satu sentuhan saja."
"Hahaha", Ding Tao tertawa.
"Ketua Guang Yong Kwang bisa-bisa saja, ketua ahli pedang, aku pun ahli pedang. Bermain dengan pedang, memburu menang dan kalah, meskipun hanya dibatasi dengan sentuhan, apa bisa dipastikan tidak ada yang terluka? Kecuali jika tingkatan yang seorang berada jauh di atas tingkatan yang lain. Lagipula, sebelum pertandingan Ketua Guang Yong Kwang sudah harus menguras tenaga untuk memenangkan pertandingan kedua, sementara aku datang dalam keadaan segar bugar, jika aku menang pun, orang akan mengatakan pertandingan itu berjalan dalam keadaan yang memang tidak seimbang.", jawab Ding Tao sambil tertawa. Guang Yong Kwang ingin marah, namun sebelum membuka mulut dia berpikir terlebih dahulu. Benar memang kenyataannya sebelum Ding Tao datang dia sudah harus menguras tenaga untuk memenangkan pertandingan kedua, sementara Ding Tao masih tampak segar bugar. Juga tadi sewaktu Ding Tao bangkit amarahnya, dia memamerkan hawa murninya yang mampu membuat lantai marmer menjadi pecah dan melesak ke bawah. Jadi dalam hal hawa murni pun, tampaknya Ding Tao lebih unggul, meskipun dia belum dapat memastikan. Jika dia harus bertarung, apakah dia hendak mengadu kecepatan yang menguras stamina atau mengadu tenaga, dia tidak memiliki keyakinan. Terpikir demikian, maka mau tidak mau Guang Yong Kwang pun setuju, bahwa mengadu jurus adalah jalan terbaik.
"Hmm... jadi aku menunjukkan satu jurus dan kemudian Ketua Ding Tao akan menunjukkan jurus lain untuk mengatasinya? Demikian kita saling bergantian menunjukkan jurus-jurus untuk menyerang dan bertahan, sampai salah satu dari kita tidak mampu memecahkan jurus lawan. Begitu?", tanya Guang Yong Kwang memastikan.
"Benar, begitu dan untuk memperagakan jurus-jurus tersebut, bisa diwakilkan atau bisa dilakukan sendiri.", jawab Ding Tao.
"Baiklah..., kupikir itu cara yang cukup baik.", ujar Guang Yong Kwang.
"Kalau begitu, silahkan dari pihak Kunlun memulainya terlebih dahulu.", jawab Ding Tao sambil mundur, memberikan ruangan bagi salah seorang dari pihak Kunlun untuk memperagakan jurus yang hendak digunakan. Guang Yong Kwang berpikir sejenak, kemudian dia menggamit salah seorang pengikutnya dan memberikan petunjuk. Setelah mendengarkan petunjuk dari Guang Yong Kwang, orang itu pun maju dan memperagakan sebuah jurus serangan. Jurus itu tampak sederhana, sebuah tusukan lurus ke depan saja, namun mata Ding Tao yang cermat dengan cepat melihat keseluruhan tubuh dan tidak jatuh dalam perangkap yang tidak terlihat. Jurus yang sederhana namun menyimpan perkembangan yang cukup banyak. Sebenarnya bagaimana keadaan Ding Tao saat ini? Setelah bertarung dengan Ma Songquan dan Chu Linhe, Ding Tao akhirnya terbebas dari pusaran ilmu yang melingkari benaknya. Pikirannya sudah dapat digunakan, namun ilmu yang dia pelajari jadi tidak berguna. Karena ilmu itu belum luluh lantak ke dalam tubuh dan pikirannya, menggunakan apa yang dia pelajari hanya akan membuat reaksinya melambat. Ding Tao yang menghadapi Guang Yong Kwang saat ini, tidak ada bedanya dengan Ding Tao sebelum dia mengurung diri dalam ruang latihan. Tapi Ding Tao tidak kalah cerdik dengan Murong Yun Hua jika dia mau. Bertanding dengan memperagakan jurus satu demi satu, tentu jauh berbeda dengan bertarung dalam pertarungan yang sesungguhnya. Dalam pertarungan, kesempatan untuk berpikir sangatlah sempit. Sekali mereka mulai bergebrak, maka keputusan demi keputusan harus diambil dalam hitungan kurang dari satu kejapan mata. Dalam keadaan itu, maka pengetahuan Ding Tao yang luas namun belum menyatu dalam dirinya hanya akan jadi hambatan. Pertarungannya melawan Ma Songquan dan Chu Linhe sudah membuat dia menyadari hal itu. Itu sebabnya Ding Tao memilih bentuk pertandingan yang dia ajukan sekarang ini. Dengan cara ini, dia memiliki waktu yang cukup banyak untuk berpikir dan menggunakan pengetahuan yang baru saja dia peroleh dengan semaksimal mungkin. Itu pula alasannya mengapa Ding Tao yang biasanya tenang bisa kehilangan kendalinya. Sekali-kali bukan karena Ding Tao kehilangan kendali. Memang benar amarahnya bangkit oleh sifat curang Guang Yong Kwang, tapi pengerahan hawa murni yang dia lakukan bukanlah karena marah. Hal itu dia lakukan untuk menunjukkan pada Guang Yong Kwang puncak pengerahan hawa murninya. Dengan demikian Guang Yong Kwang akan berpikir dua kali untuk bertarung dalam pertarungan yang sungguh-sungguh melawan Ding Tao. Kemarahan Ding Tao bukanlah pura-pura, itu sebabnya lakon yang dia lakukan tampak begitu meyakinkan. Sampai-sampai Murong Yun Hua pun tertipu olehnya. Apalagi citra diri Ding Tao yang lugu dan jujur itu sudah tertanam begitu kuat dalam benakbanyak orang. Hingga ketika dia berpura-pura maka dengan mudah orang pun tertipu olehnya. Begitulah dengan kecerdikannya Ding Tao membuat keadaan menguntungkan bagi dirinya. Siasatnya yang kedua adalah menawarkan pada Guang Yong Kwang, bahwa untuk memperagakan jurus-jurus mereka, mereka bisa menggunakan perwakilan. Dibandingkan dengan berpikir kemudian memperagakan sendiri, berpikir, kemudian memberitahukan pada orang lain tentu memakan waktu lebih banyak. Yang berarti lebih banyak lagi waktu bagi Ding Tao untuk mengamati dan memikirkan pemecahannya. Selain sebagai siasat, Ding Tao juga memiliki tujuan yang lain, dia ingin menggunakan kesempatan itu untuk sebisa mungkin mengajarkan jurus-jurus yang baru saja dia pelajari dan memperkaya pengetahuan pengikutnya. Setelah mengamati gerakan yang dilakukan oleh pihak Kunlun, dalam hati Ding Tao pun tertawa penuh kemenangan. Bagaimana tidak, jurus seperti itu sudah pernah dia baca dalam salah satu kitab yang diberikan Murong Yun Hua.
"Bo He, ke mari", ujarnya memanggil Bo He untuk datang mendekat. Cepat-cepat Bo he pun datang mendekat, kemudian dengan setengah berbisik, Ding Tao menjelaskan jurus yang tadi diperagakan oleh pihak Kunlun. Ding Tao bukan segera menjelaskan jurus yang harus diperagakan Bo He untuk melawan jurus yang dilakukan pihak Kunlun. Dia justru menggunakan kesempatan itu untuk menjelaskan jurus yang dipakai Kunlun dengan sejelas-jelasnya. Bagi orang yang tidak tahu, mereka akan mengira bahwa Ding Tao berhasil menguraikan jurus itu setelah melihatnya. Padahal sepandai-pandainya Ding Tao, tentu tidak dapat dengan cepat menguraikan jurus itu sedemikian jelasnya, jika dia belum mempelajari teorinya terlebih dahulu dalam salah satu kitab yang dia baca. Demikianlah Ding Tao menemukan cara untuk mengajarkan apa yang dia pelajari pada pengikutnya, tanpa menimbulkan kecurigaan orang bahwa dia sudah mencuri belajar ilmu orang lain. Selesai menjelaskan barulah Ding Tao mengajarkan pada Bo He bagaimana cara memecahkannya. Bo He yang mendengarkan penjelasan Ding Tao pun terkagum-kagum oleh kecerdasan ketuanya. Sebagai orang persilatan sudah tentu diapun tergila-gila dengan ilmu. Khawatir ada penjelasan yang terlupa, Bo He pun mencurahkan perhatiannya dengan sungguh-sungguh. Setiap kata yang diucapkan Ding Tao dia pahatkan kuat-kuat dalam otaknya. Jika Bo He merasa beruntung, sebaliknyalah yang terjadi pada Guang Yong Kwang dan orang-orang Kunlun. Melihat Ding Tao berlama-lama menjelaskan, gatal rasanya hati mereka. Ingin mereka berteriak-teriak, agar Ding Tao mempercepat penjelasannya. Tapi mau ditaruh ke mana muka mereka jika mereka melakukan hal seperti itu. Kelakuan yang demikian tentu tidak sesuai dengan kedudukan mereka sebagai perguruan terhormat. Guang Yong Kwang hanya bisa menggeram dan memaki.
"Awas saja kau nanti, apa kau pikir hanya dirimu seorang yang bisa menguraikan jurus-jurus lawan."
Setelah selesai mendengarkan penjelasan Ding Tao, Bo He pun maju ke depan dan memperagakan jurus yang digunakan Ding Tao untuk menghadapi serangan tadi.
Bo He tidak menghindari serangan pedang, dia justru bergerak menyerang kuda-kuda lawan.
Serangan ini dan cara Bo He menyerang tepat mengena pada kelemahan jurus dari Kunlun tersebut.
Baca Juga: Pendekar Remaja 8
Baca Juga: Dewi Ular 7