Ceritasilat Novel Online

Mayat Kesurupan Roh 3

Eps 3 Mayat Kesurupan Roh - Khu Lung

Baca online Mayat Kesurupan Roh - Khu Lung

Cersil Mayat Kesurupan Roh - Khu Lung.

Cuma sayang, lawan yang di hadapinya sekarang ialah Coh Liu-hiang.

Baru saja kedua kakinya menendang dan lawan mengelak tahutahu dengkulnya terasa kaku kesemutan, tubuhnya terus anjlok ke bawah, sama sekali tak diketahuinya cara bagaimana Coh Liu-hiang balas menutuknya.

Cepat si anak perempuan memburu maju untuk memapahnya sehingga pemuda itu tidak sampai terjatuh.

"Ap.... apakah kau terluka?"

Tanyanya kuatir. Anak muda itu menggeleng, katanya kemudian dengan geram.

"Jika dia sudah kemari, jangan lagi membiarkannya pergi."

Coh Liu-hiang tertawa, katanya.

"Sudah cukup lama kucari kalian, umpama kalian menyuruhku pergi juga tak dapat kuterima."

"Kami tidak kenal kau, untuk apa kau cari kami?"

Tanya anak perempuan itu.

"Kalian tidak tahu, tapi sudah lama kutahu nama kalian, lebihlebih tuan muda Yap ini, siapa gerangan anak muda di kotaraja yang tidak kenal tuan Yap Seng-lan kita yang serba mahir dan serba genit."

Dia sengaja menambahi kata-kata "genit"

Yang lebih pantas digunakan atas diri orang perempuan. Keruan seketika muka anak muda itu berubah merah. Dengan gusar si anak perempuan lantas mendesis.

"Ya, memang betul dia seorang pemain panggung, tapi orang panggung kan juga manusia. Apalagi menjadi aktor kan lebih baik daripada menjadi maling "

Coh Liu-hiang menghela napas gegetun, katanya.

"Anak perempuan kalau sudah jatuh cinta, maka segala apapun baik baginya. Hanya saja, coba jawab, nona yang baik, mengapa kau tidak suka menjadi manusia, tapi ingin menjadi setan?"

Berubah air muka anak perempuan itu, katanya.

"Apa katamu? Aku tidak paham?"

"Urusan sudah lanjut begini, biarpun nona Si tidak paham juga percuma,"

Kata Coh Liu-hiang. Bergetar tubuh si anak perempuan itu, tanpa terasa ia mundur dua-tiga tindak, tanyanya dengan terputus-putus.

"Ap......apa katamu? Siapa itu nona Si? Aku tidak kenal dia?"

"Nona Si ialah puteri kesayangan Si Hau-liam, she Si bernama In,"

Ucap Coh Liu-hiang sekata demi sekata.

"Rupanya dia telah jatuh cinta pada seorang muda bernama Yap Seng-lan, cuma sayang, ayah ibunya tak memahami isi hati sang puteri dan akan menjodohkannya kepada Sih-jikongcu dari Sih-keh-ceng. Lantaran cinta nona Si kepada pemuda she Yap sudah kadung bersemi, terpaksa dia pura-pura mati untuk menghindari perkawinannya dengan Sih-jikongcu. Tapi orang mati harus ada mayatnya, maka lantas dia menggunakan mayat nona Ciok sebagai gantinya."

Coh Liu-hiang berhenti sejenak, kemudian dengan tertawa ia menyambung.

"Nah, nona Si, apa yang kukatakan sudah cukup gamblang bukan?"

Sejak tadi Liang-ma melototi Coh Liu-hiang dengan gemas, kini mendadak ia berteriak.

"Betul, apa yang kau katakan memang betul seluruhnya. Dia memang nona In, lalu kau mau apa?"

Si in menggenggam erat-erat tangan Yap Seng-lan, ucapnya dengan tegas.

"Jika kau bermaksud menyuruhku pulang, kau harus bunuh dulu diriku."

"Tidak, kau harus membunuhku dulu!"

Seru si pemuda alias Yap Seng-lan.

"Ai, cinta memang buta, cinta seorang memang tak dapat dipaksakan oleh siapapun juga......"

Coh Liu-hiang menghela napas gegetun.

"Jika demikian, mengapa kau ikut campur urusan kami?"

Seru Si ln.

Dengan beringas Liang-ma lantas menambahkan "Sejak bayi nona In sudah kuasuh, hubungan kami jauh lebih rapat daripada anak dan ibu kandung, maka tidak dapat kubiartan dia dijodohkan kepada pemuda yang tak disukainya.

Apa artinya hidup ini jika harus tersiksa, maka aku tak dapat tinggal diam dalam urusan perjodohan nona In."

Dia menatap tajam Coh Liu-hiang, lalu menyambung dengan bengis.

"Sebab itulah kuharap engkau pun jangan ikut campur urusan ini, kalau......."

"Aku kan tidak menghendaki dia pulang?"

Sela Coh Liu-hiang dengan tersenyum.

"Aku pun tidak termaksud membuyarkan tekad kalian, maksudku mencarinya adalah untuk membuktikan bahwa dia tidaklah mati."

"Masa kau tidak......... tidak ada maksud lain?"

Liang-ma menegas.

"Selain itu aku cuma ingin minta secawan arak bahagia mereka."

Ujar Coh Liu-hiang dengan tertawa.

Liang-ma melenggong hingga sekian lama, sikapnya rada kikuk, seperti mau omong apa-apa, tapi urung, entah apa yang hendak diutarakannya.

Dalam pada itu Yap Seng-lan dan Si In telah berlutut di depan Coh Liu-hiang, setelah mereka menyembah dan menengadah, ternyata sang pendekar sudah tidak kelihatan lagi, hanya terdengar suaranya berkumandang dari jauh.

"Tengah malam besok harap kalian menunggu di sini..........."

Ketika kata terakhir itu terdengar, sementara itu suaranya sudah sayup-sayup jauh sekali. Liang-ma menghela napas lega, gumamnya.

"Bilamana diketahui Coh Hiang-swe sedemikian bijaksana jalan pikirannya, tentu aku tidak perlu lagi menahan nona Ciok itu sebagai sandera."

Kiranya orang yang menyergap Ciok Siu-hun di taman keluarga Si itu ialah Liang-ma. Mendadak bati Yap Seng-lan tergerak, katanya dengan tertawa.

"Kalau urusan sudah kadung begini, kenapa kita tidak bekerja lebih lanjut sekalian."

"Lebih lanjut bagaimana?"

Tanya Liang-ma.

"Kenapa engkau tidak memindahkan nona Ciok itu ke sini saja,"

Kala Yap Seng-lan dengan tertawa "kan Coh Hiang-swe akan kemari lagi besok malam. Dia sudah membantu kita, kan layak jika kita pun membantu mereka."

Tapi Si In menghela napas, ucapnya.

"Dia telah membantu kita, semoga dia juga dapat membantu orang lain lagi." ******* Bagi Coh Liu-hiang sekarang tinggal satu soal lagi. Bahwa Si In jelas tidak mati, lalu cara bagaimana Cu Beng-cu dapat hidup kembali dengan roh Si In? Tentang kematian Cu Beng-cu sebenarnya tidak mungkin dipalsukan, jadi sudah mati sungguh-sungguh, ini sudah dinyatakan sendiri oleh tabib sakti Thio Kan-cay. Sebagai tabib termasyhur, tentunya tidak perlu disangsikan lagi kepastiannya tentang mati-hidup seseorang. Jika dia sudah menyatakan Cu Beng-cu telah mati, maka tidak mungkin terjadi nona itu hidup kembali. Jadi persoalan ini sebenarnya sangat sulit untuk dijelaskan, namun sedikitpun Coh Liu-hiang tidak merasa cemas, tampak nya dia sudah mempunyai keyakinan sendiri. Karena si gundul mengundangnya minum kembang tahu dan makan Siopia serta Yuciakwe, maka hadirlah dia ke tempat yang disebut. 'Menjamu tamu' adalah urusan yang sangat menyenang kan, bisa menjamu tamu tentu jauh lebih menyenangkan daripada di jamu orang. Yang lucu ialah semakin miskin orangnya semakin suka pula menjamu tamu. Si gundul merasa bangga dan kegirangan, kalau bisa ia ingin mengeluarkan segenap persediaan santapan rumah makan kecil itu, berulang-ulang ia membujuk Coh Liu-hiang agar makan lebih banyak. Sementara itu hari belum lagi terang, baru mulai remang-remang di ufuk timur. Selagi Coh Liu-hiang menghabiskan semangkuk kembang tahu, tiba-tiba muncul si burik dan Siau-hwe-sin. Kedua orang ini sangat gelisah dan tegang. Berulang-ulang si burik malahan menoleh ke belakang, seperti takut dikuntit orang, Setelah berduduk, segera Siau-hwe-sin berkata dengan suara tertahan.

"Wah, semalam telah terjadi lagi dua peristiwa besar."

"O, kejadian apa?"

Tanya Coh Liu-hiang "Kedua peristiwa itu seluruhnya terjadi di Sih-keh-ceng,"

Tutur Siau-hwe-sin.

"Konon beberapa pedang pusaka simpanan Sih Ih-jin telah lenyap."

Sambung si burik. Padahal setiap orang di Sih-keh-ceng, baik tukang sapu maupun tukang masak, semuanya mahir ilmu pedang,"

Demikian Siau-hwe-sin bercerita lebih lanjut.

"Tapi pencuri pedang ini dapat keluar masuk leluasa di Sih-kehceng, bahkan berhasil membawa lari pedang simpanan Sih Ih-jin. Tidak usah bicara lain, melulu Ginkangnya serta keberaniannya sudah boleh dikatakan luar biasa."

Meski dia bercerita mengenai pencuri pedang., tapi pandangaunya tak pernah meninggalkan perubahan air muka Coh Liu-hiang. Namun Coh Liu-hiang tidak mengacuhkannya, ia tertawa dan berkata.

"Memang betul, sesungguhnya memang tidak banyak yang memiliki Ginkang setinggi itu, cuma peristiwa ini sudah kuketahui sejak dulu."

Siau-hwe-sin melengak mendengar jawaban ini, seketika ia merasa tegang sehingga napas terasa sesak. Dengan tergagapgagap si burik lantas bertanya.

"Dar...... darimanakah Hiang-swe mengetahui peristiwa itu?"

"Orang pertama yang mengetahui peristiwa pencurian pedang itu dengan sendirinya ialah si pencurinya....... Coh Liu-hiang sengaja menghentikan ucapannya, dilihatnya wajah Siau hwe-sin dan si burik berubah pucat, bahkan kedua orang saling berkedip, jelas mereka merasa yakin si pencuri pedang pasti Coh Liu-hiang adanya. Maka tersenyumlah Coh Liu-hiang dan melanjutkan ucapannya.

"Tapi peristiwa yang kuketahui ini kudengar langsung dari Sih Ih-jin sendiri."' "O, pantas Hiang-swe mengetahui lebih dulu daripada kami?"

Kata si burik.

"Dan apa peristiwa yang lain?*' tanya Coh Liu-hiang. Dengan menahan suaranya Siau-hwe-sin berbisik.

"Semalam Sih-keh-ceng kedatangan pembunuh gelap."

Mau tak mau Coh Liu-hiang juga melengak, tanyanya sambil mengerut kening.

"Pembunuh gelap? Memangnya siapa yang hendak dibunuhnya?"

"Sih Ih-jin,"

Jawab Siau-hwe-sin. Pelahan-lahan Coh Liu-hiang mengangkat tangannya untuk meraba hidung pula.

"Sih Ih-jin terkenal sebagai jago pedang nomor satu di dunia, tapi ada orang yang berani mencari perkara padanya, nyali orang itu sungguh terlebih besar daripada harimau,"

Kata Siau-hwe-sin, sembari bicara ia terus mengawasi perubahan air muka Coh Liuhiang. Sudah tentu Coh Liu-hiang dapat meraba jalan pikiran orang, katanya dengan tertawa.

"Jika kau mengira aku inilah penyatron Sih keh-ceng itu, kenapa tidak kau katakan terus terang saja?"

Muka Siau-hwe-sin menjadi merah, katanya dengan tergagap.

"Menurut cerita orang Sih-keh-ceng, sedikitnya mereka mengerahkan empat atau lima puluh orang, tapi si penyatron tak dapat ditangkap, bahkan wajah dan perawakan orang inipun tidak terlihat jelas, hanya sayup-sayup tercium bau harum yang sedap, sebab itulah kukira....... kukira.......

" .

"Kau kira apa?"

Tanya Coh Liu-hiang dengan tersenyum.

"Selain Coh Hiang-swe, rasanya sukar bagiku untuk menemukan orang lain yang memiliki Ginkang setingg itu serta nyali sebesar itu,"

Ujar Siauhwe-sin sambil rnenyengir. Coh Liu-hiang menghela napas gegetun, katanya.

"Jangankan kau, bahkan aku sendiri pun tak dapat mengemukakannya"

"Tapi sekarang Sih Ih-jin merasa pasti Hiang-swe yang melakukan kedua peristiwa itu, maka sejak tengah malam tadi Sih Ihjin mengirim orang-orangnya mencari Hiang-swe, mereka telah memasang perangkap pula di sekitar Ceng-pwe-san-ceng,"

Tutur si burik.

"Ya, padahal kota sekecil ini, bila Hiang-swe tidak lekas-lekas mencari akal, mungkin sebentar lagi akan dipergoki mereka,"

Kata Siau-hwe-sin.

"Mencari akal? Mencari akal apa? Memangnya Hiang-swe harus sembunyi, harus lari ketakutan?"

Mendadak si gundul berteriak penasaran sambil menggebrak meja. Siau-hwe-sin menarik muka dan mendampratnya.

"Tutup mulut......"

Coh Liu-hiang tersenyum dan berucap.

"Ya, kutahu maksud baikmu, cuma sayang, urusan sudah telanjur begini, seumpama aku ingin lari juga tak dapat lagi."

Pada saat itulah sekonyong-konyong seseorang mendengus.

"Hm, pintar juga kau. Dalam keadaan demikian, adalah aneh bilamana kau dapat lari."

Tempat penjual kembang tahu ini terletak di ujung jalan dengan memasang sebuah gedek sebagai atap, lalu sebuah meja panjang dengan beberapa bangku.

Begitu lenyap ucapan orang tadi, serentak terdengarlah suara gemuruh, gedek bambu itu telah disingkapkan orang, belasan orang berbaju hitam ringkas serentak menerjang tiba dengan pedang terhunus, jelas semuanya jago silat pilihan.

Seketika pucat air muka Siau-hwe-sin, kontan ia meraih sebuah bangku terus dilemparkan ke sana.

Meski bangku itu tidak terlalu berat, tapi daya lemparannya cukup keras.

Tak terduga seorang berbaju hitam yang menjadi pemimpin cuma mencukit pelahan dengan ujung pedangnya, seketika bangku panjang itu tersengkelit balik, bahkan jauh lebih keras daripada meluncurnya tadi dan hampir saja menyodok tubuh Siau-hwe-sin.

Maka mangkuk di atas meja seketika hancur berrantakan.

"Siau-hwe-sin,"

Dengan gusar si baju hitam mendamprat.

"Kami menganggap kau sebagai kawan dan mencari kabar Coh Liu-hiang padamu, tak apalah jika kau tidak mau menerangkan nya, tapi sekarang kau sengaja mengkhianati kami dan malah membela orang she Coh ini."

Di tengah bentakan gusar, serentak tiga empat pedang menusuk ke arah Siau-hwe-sin.

Mendadak Coh Liu-hiang berbangkit karena terkejut, seketika para penyerang itu menyurut mundur.

Tak tahunya Coh Liu-hiang hanya menepuk-nepuk pundak si gundul dan berkata padanya dengan tersenyum.

"Sedap juga kembang tahu ini, sebelum kupulang nanti pasti akan kumakan lagi satu kali "

Meski si gundul sudah pucat ketakutan, tapi dia tetap tertawa dan menjawab.

"Baik, nanti tetap aku yang menjamu engkau."

"Tidak, lain kali harus giliranku."

Kata Coh Liu-hiang.

"Jangan, jangan,"

Seru si gundul "Aku cuma mampu menjamu engkau dengan kembang tahu dan Yuciakue, bila engkau mau menjamu diriku, engkau harus menjamu minum arak,"

Mereka bicara dengan bebas, seolah-olah kawanan jago pedang seragam hitam ini tak digubrisnya.

Tentu saja si baju hitam yang menjadi pemimpin mendongkol, ia membentak gusar, secepat kilat pedangnya menusuk.

Serentak kawanan baju hitam yang lain juga ikut menyerang, gerak pedang mereka ini sangat cepat, arah yang di incar juga jitu, cara kerja-sama sangat rapat, biasanya sukar bagi lawan untuk menghindarkan sekali tusuk saia.

Di luar dugaan mendadak terdengar suara gemerantang beradunya pedang dengan pedang, Coh Liu-hiang yang sudah terkurung di tengah sinar pedang itu entah dengan cara bagaimana tahu-tahu sudah menghilang.

Keruan si baju hitam terkejut, cepat ia menyurut mundur sambil memutar pedangnya.

Terdengar suara tertawa di atap gedek, entah sejak kapan Coh Liu-hiang sudah melayang ke atas payon dan sedang memandang mereka dengan tertawa "Kalian bukan tandinganku, lebih baik bawalah aku untuk menemui Sih-toacengcu kalian,"

Kata Coh Liu-hiang. Kawanan baju hitam segera hendak menerjang maju lagi, tapi di cegah oleh orang yang menjadi pemimpin, dengan pandangan tajam orang ini menatap Coh Liu-hiang dan bertanya.

"Jadi kau berani menemui Cengcu kami?"

"Kenapa tidak berani?"

Jawah Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Memangnya dia suka makan manusia dan harus di takuti?" ********* Tanpa banyak bicara lagi Coh Liu-hiang mengikuti kawanan baju hitam itu ke Sih-keh-ceng. Sementara itu hari sudah terang benderang. Coh Liu-hiang berjalan di depan dengan muka bercahaya dan penuh semangat, melihat keadaannya itu, siapa pun takkan percaya bahwa dia tidak tidur semalam suntuk, lebih-lebih tak terpikir bahwa orang-orang yang mengikut di belakangnya itu setiap saat dapat menusuk dan membuat punggungnya berlubang. Yang mengintil di belakang Coh Liu-hiang makin banyak, beberapa kelompok kawanan baju hitam kini telah bergabung menjadi satu, semuanya berbisik-bisik membicarakan orang she Coh yang sedemikian besar nyalinya dan berani ikut mereka ke Sih-kehceng, ada sementara diantara mereka mengira otak Coh Liu-hiang mungkin kurang waras seperti halnya Sih-jicengcu mereka ^* Siau-hwe-sin, si gundul dan si burik menaruh perhatian besar atas keselamatan Coh Liu-hiang, mereka tidak berani bertindak, terpaksa menguntit juga dari kejauhan. Mereka heran melihat ketenangan Coh Liu-hiang, mereka tidak tahu apa maksud tujuan kepergian Coh Liu-hiang ke Sih-keh-ceng, diam-diam mereka kuatir. Sih-keh-ceng tiada ubahnya seperti sarang harimau dan kubangan naga, pedang Sih Ih-Jin bahkan lebih menakutkan daripada harimau maupun naga. Kepergian Coh Liuhiang ke sana apakah dapat keluar lagi dengan hidup. Sembari menguntit, berbareng Siau-hwe-sin juga memberi isyarat di sepanjang jalan yang dilalui, maka dari berbagai penjuru, kawanan pengemis berbondong-bondong juga berkumpul, barisan kaum jembel yang berada di belakang juga semakin panjang. Seorang gagah dan tampan berjalan paling depan, di belakangnya mengikut satu rombongan jago pedang dengan sikap bengis, di belakangnya lagi satu barisan pengemis. Barisan panjang ini sungguh mirip pawai yang menarik, untung hari masih pagi, orang yang berlalu lalang di jalan tidak banyak, tokotoko di tepi jalan juga belum buka pintu. Setiba di Sih-keh-ceng, Sih lh-jin tidak melakukan penyambutan, ia malah membawa sebuah kursi malas ke belakang taman dan duduk mencari angin di sana. Jago pedang nomor satu di dunia ini memang tidak sia-sia terkenal sebagai seorang Kangouw ulung, dia tahu kapan harus bertindak dan cara bagaimana harus bertindak. Baginya cerita tentang Coh Liu-hiang sudah tidak asing lagi, masing-masing kisah di dunia Kangouw mengenai Coh Liu-hiang telah membuat Pendekar Harum itu seperti tokoh dalam dongeng. Meski dia tidak percaya penuh seluruh cerita itu, tapi memang terbukti banyak tokoh Kangouw kelas wahid yang telah dikalahkan Coh Liu-hiang, ini kejadian nyata bukan dongeng. Sih lh-jin sendiri juga tidak pernah meremehkan Coh Liu-hiang, kini ia sedang menantikan kedatangannya, rada bersemngat dan juga rada tegang. Perasaan demikian sudah timbul sejak beberapa tahun, maka sekarang dia harus dapat menahan perasaan, harus bisa bersabar menanti kedatangan Coh Liu-hiang. Dan akhirnya Coh Liu-hiang muncul juga. sedang rnemandangnya dengan tersenyum. ' "Kau sudah datang,"

Sapa Sih lh-jin tak acuh sambil membuka matanya dengan kemalas-malasan.

"Ya, aku sudah datang,"

Jawab Coh Liu-hiang "Apakah lukamu sudah sembuh?"

Tanya Sih lh-jin.

"Terima kasih, sudah banyak lebih baik."

"Ehm, bagus,"

Sih lh-jin tidak tanya lebih banyak lagi, segera ia berbangkit, ia memberi tanda, segera seseorang membawakan pedang.

Pedang ini sangat panjang, belasan inci lebih panjang dari pada pedang umumnya, pedang sudah terlolos dari sarungnya tanpa hiasan, memang pedang Sih lh-jin bukanlah pedang untuk dipamerkan, pedangnya hanya untuk membunuh.

Pedang yang berwarna kehijau-hijauan itu, rnemancarkan cahaya kebiru-biruan, meski berdiri dalam jarak beberapa langkah jauhnya, namun Coh Liu-hiang dapat merasakan hawa dingin yang terpancar dari pedang itu.

''Pedang bagus!

Inilah benar-benar senjata hebat,"

Puji Coh Liuhiang. Sih lh-jin memandang pedangnya sekejap, lalu berkata de ngan hambar.

"Kau memakai senjata apa?"

Coh Liu-hiang tak menjawab pertanyaan ini, sebaliknya ia menyapu pandang sekelilingnya. Sementara itu kawanan orang berseragam hitam telah mengepung rapat sekitar taman.

"Apakah kau tidak merasa tempat ini terlalu sempit?"

Tanya Coh Liu-hiang kemudian.

"Hm, selama hidupku menghadapi siapapun juga tak pernah kuminta bantuan seseorang."

Jengek Sih Ih-jin.

"Aku pun tahu mereka pasti tidak berani ikut turun tangan, tapi mereka adalah anak buahmu, beradanya mereka di sekitar sini, betapapun aku merasa terancam sekalipun mereka tidak turun tangan,"

Ujar Coh Liu-hiang dengan tersenyum. Lalu sambungnya pula.

"Semalam suntuk aku tidak tidur, jika kutempur kau sekarang, dalam hal kondisi badan aku sudah kalah satu langkah. Sedangkan taman ini adalah tempatmu, setiap pohon dan setiap benda di sini sudah sangat hapal bagimu, jika kutempur kau di sini dalam kondisi tempat, aku pun sudah kalah satu langkah. Kalau saja harus ditambah lagi kalah pengaruh oleh keadaan, maka pertempuran ini tanpa berlangsung juga jelas aku sudah kalah seluruhnya."

Sih Ih-jin memandangnya dengan tajam, meski dingin sorot matanya, namun sudah menampilkan setitik rasa menghormat, inilah rasa hormat yang khas antara seorang ahli terhadap ahli yang lain.

Begitu sorot mata kedua orang saling tatap, begitu pula dalam hati masing-masing sudah saling memahami.

Mendadak Sih Ih-jin memberi tanda kepada anak buahnya dan berseru.

"Mundur keluar, tanpa perintahku, siapa pun dilarang masuk kemari!"

"Terima kasih,"

Ucap Coh Liu-hiang. Meski sikapnya sangat prihatin, tapi ucapan "terima kasih"

Ini tercetus dari lubuk hatinya yang dalam, tiada sedikitpun mengandung nada menyindir.

Selama hidupnya sudah banyak mengucapkan "terima kasih", tapi belum pernah satu kali pun berucap setulus sekarang.

Sebab ia tahu perintah Sih Ih-jin mengundurkan anak buahnya itu tiada lain juga suatu tanda penghormatan padanya.

Sekalipun pertempuran ini akan segera menentukan mati dan hidup, tapi rasa hormat inipun pantas mendapatkan terima kasih.

Terima kasih yang diperoleh dari pihak lawan selalu jauh lebih berharga daripada diperoleh dari kawan sendiri, tentu juga jauh lebih mengharukan.

Sih Ih-jin mengangkat pedangnya, ditatapnya pedangnya lekattekat hingga sekian lama, kemudian mengangkat kepalanya dan berkata.

"Keluarkan senjatamu!"

"Belum lama berselang aku pernah hadapi Swe It-hoan, Swelocianpwe, senjata yang kugunakan waktu itu tidak lebih hanya sebatang ranting kayu lemas saja,"

Tutur Coh Liu-hiang dengan tenang. Sih Ih-jin tidak menanggapi, ia memandangnya dengan dingin dan ingin mendengarkannya lebih lanjut.

"Takkala itu kukatakan pada Swe-locianpwe bahwa pertarungan antara tokoh kelas tinggi, faktor mencapai kemenangan tidak terletak pada senjatanya yang tajam,"

Demikian Coh Liu-hiang berkata pula.

"Jika kutempur lawanku dengan kayu lemas, bagiku tidaklah rugi, bahkan lebih menguntungkan."

Sih Ih-jin mengernyit dahi, seperti tak paham logika yang dikemukakan Coh Liu-hiang itu, mana mungkin setangkai kayu lemas menghadapi pedang yang tajam bisa lebih menguntungkan malah?

Walaupun tidak sependapat, tapi dia tidak mengutarakan jalan pikirannya sendiri.

Apalagi Swe lt-hoan (Baca dalam PERISTIWA BURUNG KENARI, oleh Gan KH.

sudah terbit) juga terkenal sebagai jago pedang nomor wahid.

masa Coh Liu-hiang dapat mengalahkannya dengan setangkai kayu saja.

Dalam pada itu Coh Liu-hiang telah menyambung.

"Sebab kalau kugunakan setangkai kayu untuk menghadapi pedang yang tajam, tentu hal ini akan mempengaruhi pikiran Swe-licianpwe, dengan kedudukannya yang terhormat itu tentunya dia tidak mau menarik keuntungan atas diriku dalam hal senjata, sebab itu pula pada saat melancarkan serangan, dia tentu akan selaki was-was."

Mendengar sampai di sini. tanpa terasa Sih Ih-jin manggutmanggut juga. Sedang Coh Liu-hiang telah melanjutkan ucapannya.

"Dan kalau tidak menarik keuntungan berarti menderita rugi. Umpamanya menggunakan jurus 'Hong-hong-tian-ih' (burung Hong pentang sayap) untuk menyerang mukanya, seharusnya pedangnya akan menangkis ke atas untuk menyampuk senjataku, tapi lantaran dia pikir senjataku cuma setangkai kayu, tentu dia tidak merasa perlu menyampuk seranganku itu, dan pada saat dia belum menggunakan jurus pengganti itulah aku lantas mendahului menyerangnya pula.

"Padahal,"

Demikian Coh Liu-hiang menyambung pula dengan tersenyum.

"Seperti halnya peperangan antara dua negara, setiap jengkal tanah yang harus direbut, bila ada rasa waswas dan sungkan maka pertempuran itu pasti akan gagal."

Sorot mata Sih Ih-jin menampilkan rasa memuji pula, ucapnya tawar.

"Tapi aku bukan Swe It-hoan."

"Memang,' kata Coh Liu-hiang.

"Ilmu pedang Swe It-hoan terlalu kolot, setiap jurus mengikuti peraturan, sedangkan ilmu pedang Cianpwe mengutamakan 'mendahului' mencapai kemenangan. Di antara keduanya jelas ada perbedaan yang menyolok."

Sih Ih-jin menggut-manggut pula sebagai tanda sependapat, katanya.

"Ya, uraian yang tepat."

"Sebab itulah, sekarang takkan kugunakan tangkai kayu untuk melawan Cianpwe,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Kau ingin menggunakan apa?"

Kata Sih Ih-jin.

"Hanya dengan kedua tanganku ini"

"Kau akan melawan pedangku dengan bertangan kosong?"

Tanya Sih Ih-jin sambil mengerut kening.

"Pedang Cianpwe jelas tajam tiada bandingannya, ilmu pedang Cianpwe juga tiada tandingannya, senjata apapun yang kugunakan rasanya sukar untuk melawannya, apalagi kecepatan Cianpwe juga tiada taranya di dunia ini, seumpama aku dapat memperoleh pedang yang sama tajamnya dengan Cianpwe juga sukar untuk menahan sekali serangan Cianpwe."

Tanpa terasa timbul juga rasa senang pada sorot mata Sih Ih-jin.

Maklum setiap manusia di dunia ini pasti suka di sanjung puji, tidak terkecuali pula Sih Ih-jin, apalagi kata-kata itu dari mulut Coh Liuhiang.

Waktu bicara, Coh Liu-hiang selalu mengawasi perubahan air muka Sih Ih-jin, maka pelahan-lahan ia menyambung pula.

"Sebab itulah bila sudah mulai bergebrak, sama sekali aku tak kan menangkis atau balas balas menyerang, hanya akan kuhindari dengan cara gesit dan enteng, untuk itu bila tak bersenjata tentu gerak-gerikku akan lebih ringan dan juga bisa lebih cepat."

Ia tertawa, lalu menambahkan.

"Terus terang, jika tidak sungkan dan kuatir dianggap kurang sopan, sebenarnya ingin kutanggalkan baju luar sekalian agar dapat bergerak lebih leluasa."

Sih Ih-jin termenung sejenak, katanya kemudian.

"Jika demikian, bukankah kau sendiri telah mengikat dirimu dalam keadaan 'takkan menang'?"

"Tapi 'tidak kalah' kan sama juga dengan 'menang', jadi harapanku hanya memperoleh kemenangan dalam keadaan 'tidak kalah."

"Kau yakin pasti tidak akan kalah?"

Tanya Sih Ih-jin dengan sinar mata gemerlap.

"Ketika menghadapi beberapa lawan yang lihai dulu, mana Cayhe berani yakin pasti akan menang?"

Jawab Coh Liu-hiang dengan tersenyum. Sih Ih-jin tertawa terbahak-bahak, begitu berhenti tertawa, dengan suara bengis ia lantas membentak.

"Baik, silakan bersiap untuk menghindar!"

Tidak perlu disuruh lagi, dengan sendirinya Coh Liu-hiang sudah bersiap sejak tadi, sebab sejak ia mulai bicara, sejak itu pula dia sudah mulai dalam keadaan 'darurat perang', dan apa yang diucapkannya itu setiap katanya juga mempunyai tujuan, cara bicaranya itupun semacam siasat perang.

Ia pun tahu bilamana pedang Sih Ih-jin sudah mulai menyerang , maka cepatnya pasti laksana kilat menyambar dan sukar dielak.

Maka sebelum pedang Sih Ih-jin bergerak, lebih dulu tubuh Coh Liuhiang mulai bergeser.

Pada saat itulah sinar pedang menyambar secepat kilat, hanya dalam sekejap saja bagian pundak, dada dan pinggang Coh Liuhiang sudah ditusuk enam kali.

Gerakan pedang Sih lh-jin tampaknya tiada sesuatu yang istimewa, tapi cepatnya sukar dibayangkan, enam kali tusukan itu seolah-olah dilakukan oleh enam pedang sekaligus.

Untung sebelumnya Coh Liu-hiang sudah bergerak lebih dahulu, dengan demikian dapatlah serangan-serangan itu terhindarkan.

Akan tetapi serangan Sih Ih-jin mirip gelombang samudra bergulung-gulung, baru habis serangan tadi, menyusul enam kali tusukan dilontarkan pula, sama sekali tidak memberi kesempatan bernapas bagi lawannya.

Meski Ginkang Coh Liu-hiang tiada bandingannya, tetapi menghadapi serangan kilat Sih Ih-jin yang sambung-menyambung itu, sudah beberapa kali ia menghadapi bahaya maut.

setiap kali pedang lawan seolah-olah menyerempet lewat, namun tajam pedang orang dapat dirasakannya, bilamana terlambat sedetik sa ja, maka akibatnya sukar dibayangkan.

Tanpa berkedip Coh Liu-hiang terus mengikuti gerakan pedang Sih Ih-jin, agaknya dia ingin menyelami gerak perubahan dan cara serangan Sih Ih-jin.

Waktu untuk belasan kalinya Sih Ih-jin melontarkan serangan berantai, sekonyong-konyong Coh Liu-hiang bersuit panjang terus meloncat ke atas, waktu tusukan pedang Sih lh-jin tiba, lebih dulu dia sudah melayang jauh ke sana.

Ketika Sih Ih-jin memburu maju dan melancarkan serangan lagi, namun Coh Liu-hiang sudah melayang ke atas jembatan kecil, sekali kakinya menutul, segera ia melayang lagi ke atas gunung-gunungan.

Untung pekarangan taman ini sangat luas, begitu Coh Liu-hiang mulai mengeluarkan Ginkangnya, seperti burung terbang saja ia melayang kian kemari dari satu tempat ke tempat lain.

Hanya sekejap saja tak terlihat lagi, yang tertampak cuma sesosok bayangan berlompatan naik turun di depan sana, di belakangnya menyusul selarik cahaya mengkilat terus membayanginya.

Berbareng itu terdengar pula suara gemerisik yang ramai, daun pohon sama rontok seperti hujan.

Baru sekarang Sih Ih-jin tahu Ginkang Coh Liu-hiang memang sukar ditandingi siapa pun juga.

Sih lh-jin sendiri selain terkenal ilmu pedangnya yang nomor satu, juga Ginkangnya tidak kurang hebatnya, tapi sekarang ia merasakan agak payah, terutama matanya.

Maklumlah, kalau usia sudah lanjut, mau tak mau ketajaman mata akan mundur juga.

Betapapun Sih Ih-jin juga manusia, kini dirasakannya setiap benda di tengah taman itu seolah-olah sedang bergerak menari-nari tiada hentinya.

Seorang kalau melarikan kudanya dengan cepat menyusur hutan, tentu akan terasa pepohonan di kedua sisinya seakan-akan menyambar dari depan.

Sekarang gerak tubuh Sih Ih-jin secepat terbang, dengan sendirinya timbul juga perasaan serupa itu.

Cuma ia pun yakin Coh Liu-hiang pasti juga mempunyai perasaan sama seperti dia, bukankah Coh Liu-hiang juga manusia, tentu tidak terkecuali.

Cara bertempur Coh Liu-hiang ini tak menurut aturan yang layak, namun sebelumnya sudah dikatakannya bahwa dia hanya main menghindar saja, maka Sih Ih-jin juga tak dapat menyalahkan dia.

Dalam pada itu terlihat Coh Liu-hiang sedang menyelinap masuk ke tengah-tengah apitan dua pohon.

Di luar dugaan, antara dua pohon itu masih ada lagi satu batang, jadi tiga pohon berdiri dalam bentuk segitiga, bayangan gelap kedua pohon yang di depan telah menutupi pohon yang ketiga sehingga tidak kelihatan sebelum mendekat.

Jika dalam keadaan biasa tentu Coh Liu-hiang dapat melihatnya, tapi sekarang gerak tubuhnya teramat cepat, waktu mengetahui di depan mengalang sebatang pohon lagi, tahu-tahu ia sudah menerjang ke batang pohon itu.

Ingin menahan diri sudah tidak keburu lagi.

Keruan Sih Ih-jin kegirangan, cepat pedangnya menusuk.

Bila tubuh Coh I iu-hiang tertumbuk batang pohon, jelas sukar baginya untuk menghindarkan serangan Sih lh-jin itu, apa lagi seumpama dia sempat menahan diri dan menyurut mundur, tentunya punggungnya akan tertembus oleh pedang lawan.

Rupanya Sih Ih-jin juga yakin serangan pasti akan berhasil.

Jika pertarungan ini berlangsung dalam keadaan biasa, bisa jadi akan timbul rasa sayangnya terhadap bakat Coh Liu-hiang sehingga cara turun tangannya mungkin akan lebih ringan.

Tapi sekarang segala sesuatu terjadi dengan sangat cepat hakikatnya tiada waktu baginya untuk berpikir, tahu-tahu pedangnya sudah menusuk ke depan.

Dan kalau pedangnya sudah berjalan, maka sukarlah untuk ditarik kembali.

"Cret", pedang telah menembus...... tapi bukan punggung Coh Liu-hiang yang tertembus melainkan batang pohon.. Kiranya gerakan Coh Liu-hiang itu hanya pancingan belaka. Betapa cepat gerak tubuhnya sungguh sukar untuk dibayangkan oleh siapa pun juga. Waktu tubuhnya sudah hampir menumbuk pohon, pada detik terakhir itulah mendadak tubuhnya menyurut, kakinya memancal batang pohon, ia terguling ke sana. Ia pun mendengar suara "cret"

Tadi, ia tahu pedang lawan sudah menusuk batang pohon.

Itulah pohon cemara yang sangat keras, bilamana pedang menancap di batang pohon, jelas tak dapat dicabut kembali begitu saja, pasti akan membuang tenaga dan makan waktu pula.

Apabila pada saat demikian Coh Liu-hiang menubruk maju lagi dan turun tangan, pasti Sih Ih-jin tak dapat mengelak, sebab dia pasti belum sempat mencabut kembali pedangnya.

Dan Sih Ih-jin tanpa pedang tentu tidak menakutkan lagi.

Namun Coh Liu-hiang tidak berbuat demikian, ia hanya berdiri diam saja disamping sambil memandang Sih Ih jin.

Ternyata Sih Ih-jin tidak lantas mencabut pedangnya dan tidak menyerang pula.

Yang dipandangnya adalah pedang yang tergigit oleh batang pohon, sampai lama ia memandang, akhirnya ia berkata dengan tertawa.

"Nyata kau memang mempunyai jalan untuk mencapai kemenangan, kau benar-benar tidak terkalahkan". Bahwasanya Sih Ih-jin mengakui Coh Liu-hiang tidak kalah ini sama halnya dia mengakui Coh Liu-hiang telah menang Sih Ih-jin termasyhur sebagai jago pedang nomor satu di dunia, selama hidup belum pernah ketemu tandingan. Tapi sekarang kalah menang hanya diterimanya dengan tertawa saja, kebesaran jiwa dan kelapangan dadanya sungguh harus dipuji. Mau tak mau Coh Liu-hiang merasa kagum juga di dalam hati, ucapnya kemudian dengan hormat.

"Meski Cayhe belum terkalahkan, tapi Cianpwe juga tidak kalah."

"Kau tak kalah kan boleh dikatakan sudah menang, sebaliknya kalau aku tidak menang akan berarti sudah kalah, sebab cara yang kita gunakan memang berbeda kata,"

Sih Ih-jin.

"Sekali-kali Cayhe tidak berani bilang 'sudah menang', sebab Cayhe telah menarik keuntungan atas diri Cianpwe."

"Sebenarnya aku sendiri pun tahu, betapapun aku tetap tertipu olehmu,"

Ujar Sih Ih-jin dengan tertawa, lalu ia menyambung pula.

"Sebelumnya aku telah siap siaga menghadapimu di sini, takkala mana baik tenaga maupun pikiranku telah berada di dalam puncaknya, laksana busur sudah terpentang dan siap dibidikkan."

"Maka Cayhe sama sekali tidak berani bergebrak dengan Cianpwe pada saat itu,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Tapi kau sengaja mengajak bicara dulu padaku untuk memencarkan semangat dan perhatianku, lalu memakai kata-kata sanjungan untuk membikin senang hatiku, setelah timbul kesan baikku padamu, dengan sendirinya semangat tempurku sudab mulai buyar,"

Setelah tersenyum, lalu Sih lh-jin melanjutkan.

"Yang kau gunakan adalah akal bagus dalam ajaran siasat militer buah pikiran Sun-cu, bahwa sebelum pertempuran terjadi harus berusahalah agar semangat tempur prajurit lawan patah dan runtuh. Kemudian kau telah menguras tenagaku dengan Ginkang andalanmu, paling akhir kau gunakan juga akal memancing musuh masuk ke dalam perangkap. Padahal ilmu pedang adalah pertarungan satu lawan satu, siasat perang total, pantas kau tidak pernah kalah dalam pertempuran, sampai-sampai tokoh kelas wahid seperti Swe lt-hoan, Ciok Koan-im, Sin-cui Kiongcu dan lain-lain juga bukan tandinganmu."

Coh Liu-hiang meraba hidungnya dengan likat, ucapnya dengan tersenyum.

"Cayhe sungguh merasa malu......."

"Apa yang menjadikan kau malu? Pertarungan antara dua jagoan top adalah seperti peperangan dua negara, jika dapat mengalahkan lawan dengan tipu akal yang bagus, itulah baru cara seorang panglima sejati, kenapa kau bilang malu? Apalagi betapa tinggi Ginkangmu juga kukagumi lahir batin."

"Kelapangan dada dan kebesaran jiwa Cianpwe sungguh membuat Cayhe tunduk benar-benar, sesungguhnya sama sekali tiada maksud Cayhe hendak menantang Cianpwe, pertempuran ini hanya karena terpaksa saja."

"Sebenarnya akulah yang salah menuduhmu,"

Ujar Sih Ih-jin dengan menghela napas gegetun.

"Sekarang aku harus pahami bahwa kau sama sekali bukan si pencuri pedang dan penyergap itu, sebab kalau tidak, waktu serangan ku meleset dan pedangku menancap di pohon, tentu kesempatan mana takkan kau sia-siakan."

"Kedatanganku ini bukan saja ingin memberi penjelasan kepada Cianpwe, tetapi juga sekaligus ingin melihat kehebatan ilmu pedang Cianpwe, sebab sebegitu jauh kurasa ilmu pedang si pembunuh gelap itu mempunyai gaya dan cara yang sama dengan Cianpwe "

"O, ya?"

Tergerak juga Sih Ih-jin.

"Cepat atau lambat rasanya tak terhindar lagi harus kutempur pembunuh gelap itu, pertempuran mana akan sangat besar artinya dan menentukan segalanya, sama sekali aku tak boleh kalah, makanya ingin ku belajar kenal dulu dengan ilmu pedang Cianpwe untuk kugunakan sebagai cermin."

"Ehm, aku menjadi ingin tahu wajah asli orang itu......."

"Tapi kukira orang itu takkan berani memperlihatkan diri di hadapan Cianpwe,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Sebab apa?"

Tanya Sih lhjin.

"Memangnya kau kira orang itu ada sesuatu sangkut-pautnya dengan diriku?"

Air mukanya menampilkan rasa sangsi dan kualir, namun Coh Liu-hiang tetap tidak mau memberi jawaban pasti atas pertanyaannva, ia malah menengadah memandang sekelilingnya, seakan-akan merasa tertarik oleh suasana sekitar ini.

Tempat ini adalah sebuah taman yang sunyi dengan pepohonan yang rindang, kebanyakan adalah pohon-pohon tua yang sudah berumur ratusan tahun, dahannya tinggi, juga rumah dan pagar tembok dibangun lebih tinggi daripada rumah umumnya, juga bukan tempat sembunyi yang baik, sekalipun jagoan yang memiliki Ginkang tinggi juga tak dapat pergi datang sesukanya, apalagi di sini adalah tempat tinggal Sih lh-jin, si jago pedang nomor satu di dunia.

Setelah berpikir sejenak, kemudian Coh Liu-hiang berkata pula.

"Jika aku, jelas aku tak berani melakukan tindakan kekerasan di sini kecuali sebelumnya sudah kuatur jalan untuk kabur."

Diketahuinya di pojok pagar taman sana ada sebuah pintu kecil, pagar tembok penuh dirambati akar-akaran yang sudah setengah kering, sebab itulah pintu kecil ini sebagian besar tertutup oleh akarakaran itu, kalau tidak diperhatikan, sukar untuk mengetahui pintu ini.

Segera Coh Liu-hiang mendekati pintu itu, gumamnya.

"Apakah ini pintu yang digunakannya untuk kabur?"

"Pintu ini selalu tergembok, malah sudah beberapa tahun tak pernah dibuka,"

Kata Sih lh-jin.

Memang benar, palang pintu yang terbuat dari besi itu tampak sudah karatan, itulah tandanya sudah lama sekali tak pernah dibuka.

Tapi kalau diteliti secara cermat tentu akan diketahui sebagian karat pada palang besi telah terkelupas dan rontok di tanah, dari bekasnya jelas kelupasan baru, Coh Liu-hiang memungut secuil rontokan karat besi itu, katanya setelah berpikir sejenak.

"Apakah tempat ini sering dibersihkan?"

"Setiap hari tentu disapu."

Kata Sih Ih-jin.

"Cuma.....cuma selama dua hari ini karena....."

"Karena selama dua hari ini selalu disibukkan menangkap penyatron, dengan sendirinya lupa membersihkan halaman sehingga karat besi inipun tidak tersapu, begitu bukan?"

Tukas Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Karat besi apa maksudmu?"

Tanya Sih Ih-jin.

"Daun pintu ini jelas baru saja dibuka orang, makanya karat besi pada gembok dan palang pintu ini terkelupas dan jatuh di tanah,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Tapi pagi kemarin dulu, halaman ini jelas telah disapu oleh si Lau Li yang biasanya bekerja sangat teliti, tempat yang sudah disapu, tidak mungkin meninggalkan kotoran apapun,"

Kata Sih Ih-jin.

"Sebab itulah daun pintu ini pasti dibuka orang setelah halaman ini dibersihkan Lau Li, mungkin hal ini terjadi pada malam harinya,"

Ujar Coh Liu-hiang. Tergerak hati Sih Ih-jin. katanya.

"Jadi maksudmu......."

"Maksudku, si pembunuh gelap itu mungkin menyelinap masuk dari pintu ini, lalu kabur lagi melalui pintu ini pula."

Air muka Sih Ih-jin tambah prihatin, ia mondar-mandir pelahan sambil menggendong tangan, katanya kemudian.

"Padahal pintu ini sudah lama tak terpakai, orang yang kenal pintu inipun tidak banyak......"

Coh Liu-hiang meraba hidung pula, entah apa yang dipikirnya. Sesudah berdiam agak lama baru Sih Ih-jin menyambung pula.

"Jelas Ginkang orang itu sangat tinggi, dia dapat pergi datang tanpa diketahui orang lain, untuk apa dia mesti melalui pintu ini?"

"Justru tiada seorang pun yang menyangka dia akan keluar masuk melalui pintu ini, makanya dia sengaja memakai pintu ini untuk masuk secara diam-diam dan keluar lagi dengan aman."

"Dan sekarang pintu ini sudah tergembok lagi."

"Ya, di sinilah letak keanehannya."

"Sesudah kabur, masakah dia berani kembali ke sini untuk menggembok pintu?"

Coh Liu-hiang tertawa, katanya.

"Bisa jadi dia merasa yakin dapat menghindari mata telinga orang lain."

"Memangnya dia anggap orang-orang yang berada di sini orang buta semua."

"Mungkin dia mempunyai cara yang khas."

"Cara apa? Memangnya dia memiliki ilmu menghilang?"

Ujar Sih Ih-jin.

Coh Liu-hiang tidak menanggapi lagi, dia sedang memperhatikan gembok pintu.

Tiba-tiba ia mengeluarkan seutas kawat yang agak panjang, kawat itu dimasukkan ke lubang gembok, lalu diputarnya pelahan.

"klik", tahu-tahu gembok itu dapat dibukanya.

"Aku pun tahu gembok ini tak dapat merintangi penyatron malam yang berpengalaman, yang kuharapkan cukup menjaga keamanan saja,"

Kata Sih Ih-jin sambil mendorong daun pintu itu, lalu menyambung pula.

"Apakah Hiang-swe bermaksud melongok halaman di sebelah?"

"Ya, maksudku juga demikian, harap Cianpwe sudi mengantar,"

Kata Coh Liu-hiang.

Agaknya dia sangat berminat terhadap gembok yang sudah karatan itu, pada saat Sih Ih-jin melangkah masuk ke halaman sebelah, di luar tahu tuan rumah itu, dia terus masukkan gembok itu ke dalam bajunya.

Dilihatnya halaman sebelah juga sangat sunyi, bangunan yang ada juga tidak banyak, namun daun kering tampak memenuhi halaman, debu juga menumpuk di kusen jendela, semua itu menambah beningnya suasana.

Setelah memandang debu dan daun yang memenuhi halaman, air muka Sih Ih-jin tampak mengunjuk rasa marah.

Maklumlah, melihat keadaan yang kotor ini, siapa pun dapat menduga sedikitnya sudah dua-tiga bulan halaman ini tidak pernah di sapu.

Diam-diam Coh I iu-hiang merasa geli, pikirnya.

"Rupanya kaum budak Sih-keb-ceng juga sama dengan hamba keluarga lain, cara kerjanya hanya giat di depan sang majikan saja."

Waktu ini ada angin meniup santer sehingga daun kering bertebaran dan menerbitkan suara gemerisik.

"Apakah halaman ini memang kosong?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Di sini sebenarnya adalah tempat tinggal saudaraku Siau-jin,"

Tutur Sih Ih-jin.

"Dan sekarang?"

Tanya Coh Liu-hiang pula.

"Sekarang...... ai memang saudaraku itu kurang rapi dalam soalsoal kecil begini, makanya kaum hamba juga berani teledor."

Ucapan Sih Ih-jin ini cukup taktis, tapi juga menerangkan tiga hal.

Yakni, pertama membuktikan Sih Siau-jin masih bertempat tinggal di sini.

Kedua, kaum hambanya tidak mengindahkan 'Sih-jiya' yang sinting ini, maka tempat tinggalnya tidak mendapat perhatian kaum budaknya.

Ketiga, secara tidak langsung Sih Ih-jin seakan-akan menjelaskan hubungan renggang antara mereka bersaudara, sebab kalau dia sering berkunjung ke sini, mustahil kaum budak itu berani meremehkan tempat ini?

Pula daun pintu itu tidak mungkin tergembok serapat itu.

"Mungkin akhir-akhir ini Sih-jiya jarang berdiam di sini?"

Kata Coh Liu-hiang dengan sorot mata tajam.

Sih Ih-jin tidak menjawab, dia hanya menghela napas menyesal saja.

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara ribut di luar, ada orang berteriak kaget.

"Ha, api,,,,,, istal kuda terbakar......."

Meski Sih Ih-jin seorang yang sabar, tidak urung naik pitam juga sekarang, Jengeknya.

"Hm, bagus, bagus sekali. Kemarin dulu ada pencuri pedang, kemarin ada pembunuh gelap, sekarang ada orang membakar lagi. Apa barangkali aku Sih Ih-jin benar-benar sudah tua dan loyo?"

Cepat Coh Liu-hiang menghiburnya.

"Ah, di musim kering, kurang hati-hati sedikit tentu mudah menimbulkan kebakaran, apalagi istal kuda biasanya banyak tertimbun jerami dan rumput kering......."

Meski begitu ucapannya, tapi diam-diam Coh Liu-hiang sudah tahu siapa yang berbuat.

Jelas itulah buah tangan Siau-hwe-sin.

Mungkin pemimpin Kay-pang kelompok Siong-kang-hu itu merasa kuatir atas diri Coh Liu-hiang yang sudah sekian lama masuk ke rumah Sih Ih-jin dan belum nampak keluar, tentu saja ia tidak dapat tinggal diam lagi dan terpaksa mulai bertindak.

Sih Ih-jin tersenyum hambar tanpa menanggapi ucapan Coh Liuhiang tadi.

Pada saat itu kembali ada suara jeritan kaget orang ramai.

"He, dapur juga terbakar, lekas dipadamkan........ Hm, itulah dia keparat yang membakar halaman belakang sana, lekas kejar!"

Rupanya tehnik membakar Siau-hwe-sin tidak terlalu tinggi sehingga jejaknya ketahuan musuh.

Diam-diam Coh Liu-hiang menghela napas gegetun, dilihatnya air muka Sih Ih-jin pucat-pasi, mungkin karena geramnya.

Agaknya dia ingin mengejar si penyatron itu, tapi tidak enak meninggalkan Coh Liu-hiang di sini sendirian.

Waktu mereka memandang ke balik pagar tembok sana, tertampak api sudah mulai berkobar.

Tiba-tiba terkilas sesuatu pikiran dalam benak Coh Liu-hiang, katanya.

"Silakan Cianpwe memadamkan kebakaran itu, biarlah Cayhe tunggu di sini, bisa jadi sebentar Sih-jihiap akan pulang dan dapat kuajak mengobrol dia."

"Jika begitu, maaf, aku tidak menemanimu lagi."

Kata Sih Ih-jin, cepat ia melangkah keluar, tapi baru dua-tiga tindak, mendadak ia berpaling dan berkata pula.

"Apabila terjadi saudaraku kurang adat, Hiang-swe tidak perlu sungkan-sungkan padanya, silakan engkau memberi hajaran saja."

Coh Liu-hiang tidak menjawabnya, ia hanya tersenyum saja, senyuman yang sangat misterius.

******* Tempat tinggal Sih Siau-jin ini serupa benar dengan sang kakak, bedanya cuma dimana-mana penuh debu dan tidak pernah dibersihkan.

Pintu rumah juga tertutup rapat, bahkan pada gelang pintu diikat dengan sepotong tali.

Padahal jika ada orang ingin masuk ke situ, biarpun diikat sepuluh tali juga tiada gunanya.

Ikatan tali itu tidak lebih hanya sebagai petunjuk saja, apakah ada orang masuk secara diam-diam atau tidak.

Dengan sendirinya Coh Liu-hiang tahu arti pemberian tali itu.

Untuk sejenak ia berdiri diam sambil mengawasi tali pengikat pintu, akhirnya ia membukanya.

Tapi dia tidak segera melangkah masuk.

Daun pintu berkeriat-keriut tertiup angin, di dalam rumah sangat gelap, cahaya matahari tak dapat menyorot ke dalam rumah karena terhalang oleh tembok yang tinggi dan ke teduhan pepohonan.

Coh Liu-hiang menunggu setelah matanya dapat menyesu aikan keadaan yang gelap itu, barulah mulai melangkah masuk ke dalam, langkahnya sangat lambat dan hati-hati.

Mungkinkah dia anggap rumah ini sangat berbahaya?

Memang betul, terkadang 'orang gila' memang sangat berbahaya, tapi tempat tinggal orang gila masakah juga berbahaya?

Akhirnya Coh Liu-hiang terbelalak melihat keadaan di dalam rumah itu.

Siapa pun, apabila sudah masuk ke rumah ini dan bermaksud mentari Sih Po-po, tentu akan mendadak mengira dirinya kesasar.

Sebab dari keadaan di dalam rumah ini hakikatnya tidak mirip tempat tinggal orang lelaki.

Di pojok sana ada sebuah meja rias yang sangat besar, di atas meja rias tertaruh bermacam-macam benda dan hampir semuanya adalah barang keperluan bersolek orang perempuan.

Di atas ranjang, di atas kursi, juga tertaruh macam-macam pakaian yang beraneka warna, semuanya bermotif bunga yang berwana-warni, mungkin anak perempuan saja jarang ada yang berani memakai kain baju macam begini.

Apabila yang bertempat tinggal di sini adalah orang perempuan, maka perempuan ini pun pasti ada sesuatu yang tidak beres, apalagi yang tinggal di sini adalah seorang lelaki, lelaki yang sudah berumur empat puluh tahun lebih.

Dengan sendirinya lelaki ini adalah seorang gila dan tidak perlu disangsikan lagi.

Seketika sorot mata Coh Liu-hiang menjadi guram pula.

Ia coba mengitari ruangan rumah dan meneliti setiap benda.

Tiba-tiba ia menemukan bahwa Sih Po-po adalah seorang yang rajin, semua barang yang dipakainya di sini adalah barang pilihan yang mahal, kwalitas bajunya juga tergolong yang paling baik, bahkan semuanya serba bersih.

Meski hampir semua barang di dalam rumah ini tertaruh begitu saja seperti tidak teratur, tapi semuanya resik, apik dan bagus.

Lantas siapakah yang membersihkan tempat ini?

Jika ada orang membersihkan rumahnya, mengapa tiada orang membersihkan halaman rumah?

Mendadak sorot mata Coh Liu-hiang mencorong terang.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara gemerasak di atap rumah, Coh Liu-hiang terkejut, tanpa pikir ia mengayun tangannya, sebatang tusuk kundai segera menyambar ke atas.

Tusuk kundai itu tadinya berada di atas meja rias, Coh Liu-hiang sedang mengamat-amatinya, sekarang mendadak disambitkannya.

"cret", tusuk kundai menancap di langit-langit rumah. Anehnya mendadak terdengar suara mencicit yang mengerikan di atas langit-langit rumah itu, langit-langit rumah itu terbuat dari papan sehingga mirip loteng, cuma tiada tangga dan sesuatu lubang. Tusuk kundai yang menancap di papan langit langit itu nampak gemerdap. Dengan enteng Coh Liu-hiang melayang ke atas, dan menempel di langit-langit, menempel rata seperti lengket di situ, dengan pelahan ia cabut tusuk kundai itu, maka dilihatnya setitik darah ikut menetes keluar melalui lubang kecil itu, darah itu ke hitam-hitaman seperti tinta, bahkan membawa semacam bau busuk yang sukar dilukiskan.

"Ah, kiranya seekor tikus,"

Gumamnya dengan tertawa.

Akan tetapi tikus ini telah banyak membantunya.

Ia bersihkan darah yang merembes keluar itu, lalu ia mengetuk pelahan langit-langit rumah dengan tusuk kundai itu.

Dengan sendirinya langit-langit rumah itu kosong bagian atasnya.

Seperti seekor cecak saja Coh Liu-hiang menggeser ke pinggir sana, mendadak sebelah tangannya menolak langit-langit atap itu, sepotong papan lantas terangkat ke atas dan tertampaklah sebuah lubang masuk yang gelap, dengan gesit Coh Liu-hiang lantas menyusup ke atas loteng itu.

Suara gempar di luar sana sementara itu sudah mulai reda.

Tapi Coh Liu-hiang rada kecewa melihat keadaan di atas loteng itu, ternyata tiada sesuatu rahasia yang ditemukannya, yang ada di situ hanya sebuah bangku dan sebuah peti baju.

Peti yang su dah amat tua, seperti barang yang sudah lama disingkirkan oleh pemiliknya.

Tapi waktu Coh Liu-hiang merabanya, peti itu ternyata sangat bersih, tiada berdebu sedikitpun.

Inilah penemuan yang menarik.

Cepat ia membuka peti itu, ternyata isinya cuma beberapa potong baju yang sangat umum, tiada sedikitpun tanda-tanda yang aneh pada baju-baju ini, siapa pun pasti tidak heran melihat baju demikian.

Akan tetapi Coh Liu-hiang harus dikecualikan mungkin karena baju-baju ini terlalu biasa, terlalu umum makanya membuat Coh Liuhiang terheran-heran.

Mengapa di atas loteng tempat tinggal seorang gila bisa tersimpan baju yang biasanya dipakai.

Dan kalau baju-baju ini sudah biasa dipakai, mengapa disimpan di atas loteng, padahal peti baju ini tiada berdebu sedikitpun.

Coh Liu-hiang manaruh kembali baju-baju itu ke dalam peti dan ditutupnya lagi, lalu ia memberosot keluar melalui lubang loteng tadi dan merapatkan papannya, ia coba memandangnya dari bawah, jelas tiada tanda-tanda pernah disentuh orang.

Lalu ia menaruh kembali tusuk kundai tadi di meja rias, kemudian keluar dan merapatkan pintu, diikatnya kembali daun pintu dengan tali.

Sementara itu cahaya api di luar sana sudah berubah menjadi kepulan asap, agaknya api sudah berhasil dipadamkan.

Di luar halaman sana terdengar suara orang berseru memanggil, ada orang datang mencari Coh liu-hiang.

Cepat Coh Liu-hiang melompat ke atas, dengan enteng dia melayang ke wuwungan dan mendekam di situ.

Didengarnya ada dua orang berlari datang, seorang sedang memanggil.

"Coh-tayhiap, Cengcu mengundang engkau minum teh di ruangan depan."

Tapi seorang lagi menanggapi.

"Jelas orang sudah pergi apa gunanya kau berkaok-kaok di sini?"

Orang pertama tadi agaknya menjadi ragu, omelnya kemudian.

"Masa dia pergi tanpa pamit, jangan-jangan Sih-jiya kita yang menyeretnya pergi."

Orang kedua lantas menanggapi dengan tertawa.

"Kedatangan orang she Coh ini hanya menimbulkan gara-gara saja, sehingga dua hari kita tak dapat tidur nyenyak, jika dia kena dikerjai Jiya, barulah tahu rasa."

Coh Liu-hiang mendengarkan percakapan mereka dengan mendongkol.

Sesudah kedua orang itu pergi, cepat ia membuka beberapa genteng, dari situ ia menyusup masuk lagi ke atas loteng tadi.

Ia menemukan bangkai tikus tadi dan disingkirkannya ke pojok sana, ia robek ujung bajunya untuk mengusap lantai loteng hingga bersih.

Maka tertampaklah lubang kecil yang ditembus tusuk kundai tadi, ia mendekam di situ dan mengintip ke bawah melalui lubang kecil tadi, kemudian ia gunakan kawat pembuka gembok tadi untuk memperbesar lubang itu.

Selesai bekerja, dengan rileks ia berbaring di situ, ia meraba hidungnya dengan tersenyum agaknya ia merasa sangat puas terhadap segala apa yang telah dikerjakannya itu.

Entah sudah berapa lama pula, pintu di bawah mendadak berbunyi, cepat Coh Liu-hiang terjaga, ia membalik tubuh pelahan dan mengintip ke bawah melalui lubang kecil itu.

Sebelumnya ia sudah memperhitungkan letaknya sehingga lubang yang kecil ini cukup digunakan untuk mengintip segala gerak-gerik orang yang masuk ke dalam rumah.

Ia lihat yang masuk itu memang betul Sih Po-po adanya.

Mulamula si sinting itu menguap ngantuk, lalu menggeliat seperti orang sakit pinggang, kemudian punggung diketuk-ketuk dengan kepalan sambil mondar-mandir di dalam rumah seperti mengendurkan otot.

Kecuali bajunya yang tidak layak itu, kalau melihat gerakgeriknya sekarang jelas tiada sesuatu tanda orang gila.

Apakah orang gila kalau sudah berada di tempat tinggalnya lantas berubah menjadi normal kembali?

Apakah kebanyakan orang gila di dunia ini baru akan kumat penyakit gilanya bilamana bertemu dengan orang lain?

Coh Li-hiang sangat tertarik oleh semua ini, maklum meski banyak pengetahuannya dan luas pengalamannya, tapi belum di ketahuinya apa yang dilakukan seorang gila bilamana berada sendirian.

Dilihatnya Sih Po-po sedang mengitar kian kemari, kemudian ia duduk di depan meja rias dan termangu mangu memandang cermin perunggu, lalu tusuk kundai tadi diambilnya dan diendus-endus, ia mencibir terhadap cermin sambil bergumam.

"Hm, pencuri sialan, memangnya apa yang ingin kaucuri?"

Nyata dia telah mengetahui ada orang masuk ke rumahnya.

Diam-diam Coh L.u-hiang merasa senang seperti anak sekolah dasar yang berhasil memecahkan soal berhitung yang sulit.

Di luar dugaan baru saja ia mengedip, tahu-tahu Sih Po-po sudah menghilang.

Entah sengaja atau tidak, mendadak Sih Po-po telah menyelinap ke pojok, yang sukar dipandang Coh Liu-hiang.

Walaupun begitu Coh Liu-hiang dapat mendengar suara berkeriut pada lantai di bawah.

Apa yang sedang dilakukan Sih Po-po?

Bila orang lain tentu akan menunggu lagi, tapi Coh Liu-hiang tidak sabar lagi, ia sudah lama menunggu dan kesempatan sekarang tidak boleh disia-siakan.

Sekali menarik papan lubang loteng, secepat angin ia terus melompat turun.

Jika terlambat satu langkah saja, mungkin sukar lagi bagi Coh Liu-hiang untuk menemukan Sih Po-po.

Kiranya di belakang meja rias itu ada sebuah jalan rahasia bawah tanah dan Sih Po-po sudah hampir menerobos ke situ.

"Eh, ada tamu masa tuan rumahnya malah tinggal pergi begitu saja?"

Demikian Coh Liu-hiang menegur dengan tertawa. Sih Po-po menoleh, melihat Coh Liu-hiang, seketika ia berjingkrak gusar dan mengomel.

"Tamu? Kau terhitung tamu apa? Kau penipu, pencuri......."

Sebenarnya ia memegang sesuatu benda gepeng entah apa, pada saat menoleh itulah dengan cepat benda itu lantas disimpannya di dalam baju.

Coh Liu-hiang pura-pura tidak melihat, ia tetap tersenyum dan berkata.

"Apapun juga, yang jelas aku tidak berbuat sesuatu kesalahan dan berdosa, maka juga tidak perlu masuk ke lorong bawah tanah."

Mendengar itu, kemudian Sih Po-po berjingkrak gusar, teriaknya.

"Aku menerobos ke lorong bawah tanah untuk mencari kawan, peduli apa dengan kau?"

"O, menyusup ke terowongan situ untuk mencari kawan? Kiranya kawanmu tinggal di bawah tanah?"

"Ya, memang, kau mau apa?"

Jawab Sih Po-po.

"Hanya kelinci saja yang tinggal di terowongan bawah tanah semacam ini, apakah kawanmu itu kelinci?"

"Memang betul, kelinci jauh lebih menyenangkan daripada manusia, mengapa aku tidak boleh berkawan dengan mereka?"

Kata Sih Po-po dengan melotot.

"Betul juga,"

Ujar Coh Liu-hiang sambil menghela napas gegetun.

"Berkawan dengan kelinci paling tidak takkan berbahaya, cara bagaimana kita akan berpura-pura gila pasti takkan diperdulikan oleh kelinci."

Sih Po-po tidak marah, sebaliknya ia terus bergelak tertawa dan berkata.

"Bagus, bagus, kiranya kau pun suka berkawan dengan kelinci, hayo, marilah lekas ikut bersamaku."

Berbareng ia terus melompat maju hendak menarik tangan Coh Liu-hiang.

Sudah tentu Coh Liu-hiang tak dapat diakali untuk kedua kalinya, dengan enteng ia mengegos ke samping Sih Po-po katanya dengan tertawa.

"Aku tidak membunuh orang dan juga tidak pura-pura gila, untuk apa harus berkawan dengan kelinci?"

"Apa katamu? Aku tidak paham?"

Tanya Sih Po-po sambil tertawa. Coh Liu-hiang memandangnya tajam-tajam, katanya tegas.

"Kau tidak perlu pura-pura gila lagi, aku sudah tahu siapakah engkau."

"Sudah tentu kau tahu siapa diriku!"

Seru Sih Po-po sambil bergelak tertawa.

"Aku ini Sih-Jiya dari Sih-keh-ceng, adik kandung si jago pedang nomor satu di dunia, si anak ajaib, anak jenius."

"Ya, kecuali itu, kau pun si pembunuh berdarah dingin nomor satu di dunia,"

Tukas Coh Liu-hiang.

"Pembunuh?"

Sih Po-po menegas.

"Pembunuh apa? Memang barusan aku telah membunuh seekor ayam."

Coh Liu-hiang tidak pedulikan dia meski orang berlagak pilon, ia berkata pula dengan pelahan.

"Begitu masuk ke rumah segera kau tahu, ada orang masuk ke sini, sebab meski barang-barang ini tampaknya tertaruh secara semrawut, tapi sebenarnya sudah kau atur sedemikian rupa sehingga sedikit digeser orang saja segera akan ketahuan. Kau pun yakin kecuali diriku, tiada orang lain yang menaruh curiga padamu, sebab itulah, begitu diketahui ada orang masuk ke sini dengan segera kau teringat padaku."

"Ya, sebabnya lantaran sudah kuketahui kau ini bukan cuma penipu saja, bahkan juga pencuri,"

Kata Sih Po-po.

"Rumah ini meski tampaknya seperti tempat tinggal seorang gila, padahal banyak lubang-lubang kelemahannya dan tidak nanti dapat mengelabui orang yang berpandangan taiam,"

Kata Coh Liu-hiang pula.

"Hm, apakah kau ini orang berpandangan tajam? Kukira pandanganmu tidak tajam, bahkan rada lamur, seperti kawanku si kelinci,'' jengek Sih Po-po.

"Rumah ini mirip kamar seorang pelajar, tampaknya segala sesuatunya kacau balau, tapi sesungguhnya sengaja diatur, bahkan semua serba resik dan apik,"

Kata Coh Liu-hiang pula. Mendadak ia tertawa dan menyambung.

"Selanjutnya jika kau masih ingin purapura gila, paling tidak kau harus menaburi rumahmu ini dengan sedikit kotoran sapi atau tahi anjing, pupur yang kau gunakan juga jangan begitu tinggi kwalitasnya, gunakan saja kapur labur, kan lebih masuk akal."

"Haha, pantas mukamu putih bersih, kiranya kau suka pakai pupur labur sebagai bedak,"

Seru Sih Po-po sambil berkeplok tertawa.

"Dan yang paling penting, tidak seharusnya kau meninggalkan bajumu di atas loteng,"

Kata Coh Liu-hiang pula. Sih Po-po berkedip-kedip, tanyanya kemudan.

"Baju, baju apa?"

"Baju yang kau pakai pada waktu kau hendak membunuh orang,"jawab Coh Liu-hiang. Mendadak Sih po-po tertawa terkekeh-kekeh, tapi sorot matanya tiada sedikitpun menampilkan rasa tertawa. Dengan tajam Coh Liu-hiang menatapnya dan berkata.

"Kau tahu semua ini sudah kutemukan, kau tahu segala rahasiamu lambat atau cepat pasti akan terbongkar olehku, makanya kau ingin mengeluyur pergi, tapi sekali ini tak dapat lagi kulepaskan kau."

Tertawa Sih Po-po semakin keras, makin terpingkal-pingkal hingga dia beguling-guling di lantai, akan tetapi Coh Liu-hiang selalu menatapnya dengan tajam, kemana pun dia berguling selalu diawasi dengan ketat oleh Coh Liu-hiang.

"Waktu mula-mula bertemu dengan kau, sudah timbul rasa heranku,"

Kata Coh Liu-hiang pula.

"Tapi sama sekali tak terpikir olehku bahwa kau inilah si pembunuh berdarah dingin itu. Apabila kau tidak terburu nafsu ingin lekas-lekas membunuhku, bisa jadi takkan kusangka akan dirimu untuk selamanya."

Sambil berguling-guling di lantai, Sih Po-po berkata pula.

"Orang lain semua sudah bilang aku gila, hanya kau saja yang bilang aku tidak gila. Hahaha, engkau benar-benar orang yang baik hati."

Mendadak ia berguling pula ke depan Coh Liu-hiang, tapi dengan cepat Coh Liu-hiang menjauhinya, katanya dengan tersenyum.

"Kemudian kau pun tahu untuk membunuh diriku bukan pekerjaan yang mudah, maka kau lantas ganti siasat dan bermaksud memfitnah diriku, kau ingin meminjam kecepatan pedang kakakmu untuk mencabut nyawaku."

Meski Sih Po-po masih terus tertawa, tetapi tertawanya sudah tak bersuara lagi, jadi lebih tepat dikatakan menyengir. Dalam pada itu Coh Liu-hiang sedang berkata pula.

"Untuk maksud tujuanmu itu maka lebih baik dulu kau mencuri pedang pusaka kakakmu, lalu hendak melakukan pembunuhan gelap. Karena setiap jengkal Sih-keh-ceng sudah kau kenal, dengan sendirinya kau dapat pergi datang sesukamu dan tiada seorangpun yang mampu menangkapmu,"

Ia tertawa lalu menyambung pula.

"Lebih-lebih daun pintu perbatasan halaman itu, bilamana orang hendak menangkap si pembunuh, segera kau menyelinap masuk lewat pintu itu dan pulang ke rumah sendiri, kalau orang sudah tidak menaruh perhatian lagi, lalu kau pasang lagi gemboknya. Seumpama perbuatanmu kepergok orang juga tidak jadi soal, sebab tiada seorang pun yang memperhatikan dan mencurigaimu, bagi pandangan orang lain, kau tidak lebih cuma seorang gila, dan justru inilah ilmu 'menghilang' yang ampuh bagimu."

Mendadak Sih Po-po berdiri dan menatap Coh Liu-hiang tajamtajam. Dengan hambar Coh Liu-hiang berkata pula.

"Kau memang seorang cerdik, setiap pekerjaanmu selalu kau atur sedemikian rapinya sehingga tiada seorang pun yang menerka akan dirimu. Bahwa Sih-jisiauya dari Sih-keh-ceng, adik kandung Sih Ih-jin bisa menjadi pembunuh bayaran, membunuh orang untuk mendapatkan uang, cerita ini betapapun sukar dipercaya oleh siapa pun juga."

Mendadak Sih Po-po bergelak tertawa, katanya.

"Memang aneh, Sih-jicengcu dari Sih-keh-ceng bisa membunuh orang demi mendapatkan duit, ini benar-benar kejadian yang ganjil dan tidak masuk diakal dan sukar untuk dipercaya."

"Padahal persoalan ini sama sekali tidak ganjil,"

Kata Coh Liuhiang.

"Sebab kau membunuh orang bukanlah demi mendapatkan uang, tapi demi nama, demi kehormatan, sebagai kompensasi dari derita batinmu."

"Derita batin? Memangnya batinku menderita apa?"

Kata Sih Popo, air mukanya seperti menampilkan sesuatu yang sukar untuk dikatakan, kulit mukanya berkerut-kerut. Mendadak ia tertawa terkekeh-kekeh dan menambahkan lagi.

"Hahaha, siapakah yang tidak tahu kakakku adalah pendekar pedang nomor satu di dunia? Siapa yang berani membikin susah padaku?"

Coh Liu-hiang menghela napas pelahan, katanya.

"Justru lantaran kakakmu adalah jago pedang nomor satu di dunia, maka kau terperosok sedemikian rupa. Sebenarnya kau pun sangat pintar dan berbakat, tinggi ilmu silatmu boleh dikatakan jarang ada bandingannya di dunia persilatan, dengan bakat dan ilmu silatmu, sebenarnya kau dapat memperoleh nama besar di Kangouw, cuma sayang......."

Dia menghela napas panjang, lalu menyambung lagi dengan pelahan.

"Cuma sayang, kau adalah adik Sih Ih-jin."

Sekonyong-konyong ujung mulut Sih Po-po gemetar seperti mendadak dicambuk orang.

"Sebab semua keberhasilanmu itu tenggelam oleh kebesaran si jago pedang nomor satu di dunia, apapun yang kau lakukan, orang lain takkan memuji dirimu, tapi yang dipuji adalah 'adik si jago pedang nomor satu di dunia'. Apabila kau memperoleh sesuatu sukses, semua itu adalah layak, wajar, sebab kau adalah adik si pendekar pedang nomor satu di dunia. Tapi jika kau berbuat sesuatu kesalahan, maka kau adalah seorang yang berdosa besar, sebab semua orang pasti akan menganggap kau telah membikin malu pada kakakmu."

Sekujur badan Sih Po-po menjadi gemetar dan tak dapat bersuara lagi.

"Jika orang lain,"

Demikian Coh Liu-hiang menyambung.

"Bisa jadi dia akan menyerah pada nasib, malah mungkin terus runtuh dan tenggelam, tapi kau bukanlah manusia yang mudah menyerah dan suka mengaku kalah, tapi apa mau dikata jika kau pun tahu kesuksesanmu selamanya takkan melebihi kakakmu."

Ia menghela napas panjang, lalu berkata pula sambil menggeleng.

"Cuma sayang, jalan yang kau tempuh telah salah......."

Bibir Sih Po-po bergerak-gerak, seperti mau bicara apa-apa, tapi urung. Coh Liu-hiang lantas berkata pula.

"Semua itu sudah tentu lantaran harapan kakakmu kepadamu teramat tinggi, caranya mendidikmu terlalu keras, karena sayangnya padamu sehingga pengawasannya juga sangat ketat. Sebab itulah lantas timbul pikiran berontak dalam benakmu, tapi kau pun tahu di bawah pengawasan kakakmu, pada hakikatnya kau tidak dapat sembarangan bertindak, makanya lantas timbul akalmu untuk 'pura-pura gila' agar orang lain tidak menaruh perhatian lagi padamu, agar orang lain kecewa padamu, dengan demikian dapatlah kau bebas bergerak dan dapat berbuat apapun sesuai kehendakmu."

Dia pandang lekat-lekat Sih Po-po dengan penuh rasa menyesal. Mendadak Sih Po-po bergelak tertawa pula, tertawa latah katanya sambil menuding hidung Coh Liu-hiang.

"Hahaha, sungguh aneh jalan pikiranmu. Cuma sayang, semua ini hanya ocehanmu sendiri, jika kau anggap diriku adalah biang keladi organisasi pembunuh bayaran itu, paling tidak kau harus punya bukti nyata."

"Kau ingin bukti?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Ya, jika tak dapat kau buktikan, itu berarti kau memfitnah orang baik-baik,"

Teriak Sih Po-po dengan bengis. Coh Liu-hiang tertawa, katanya.

"Baik, kau minta bukti, biar kuperlihatkan bukti nyata padamu,"

Pelahan-lahan ia mengeluarkan gembok berkarat itu dan diperlihatkan kepada Sih Po-po, katanya.

"Inilah buktinya,"

"Ini terhitung bukti macam apa?"

Jengek Sih Po-po.

"Gembok ini kuambil dari pintu sana, gembok ini sudah sangat lama tidak pernah disentuh orang, hanya kemarin dulu si pembunuh gelap itu pernah membuka gembok ini, betul tidak?"

Kata Coh Liuhiang.

Sih Po-po tidak menjawab, sorot matanya penuh rasa kejut dan heran, nyata dia tak dapat menerka permainan apa yang hendak dibawakan Coh Liu-hiang, ia bertekad takkan tertipu lagi.

Maka Coh Liu-hiang berkata pula.

"Orang yang membuka gembok ini pasti meninggalkan sidik jari, jika gembok ini baru saja dipegang oleh pembunuh gelap itu, maka diatas inipun terdapat sidik jari pembunuh itu, betul tidak?"

Mulut Sih Po-po terkancing lebih rapat lagi.

"Dan sekarang kudapati di atas gembok ini hanya ada sidik jarimu,"

Kata Coh Liu-hiang pula.

"Sidik jari? Sidik jari apa maksudmu?"akhirnya Sih Po-po ingin tahu.

"Manusia adalah makhluk paling cerdik dari segala makhluk hidup di dunia ini, memang sangat ajaib cara Tuhan menciptakan manusia, meski kau dan aku sama-sama manusia, tapi wajah kita tidak sama, perawakan kita juga berbeda, di dunia ini hakikatnya juga tiada dua manusia yang berwajah sama persis."

Sih Po-po tampak melongo, ia belum tahu sesungguhnya apa yang dimaksudkan Coh Liu-hiang. Mendadak Coh Liu-hiang mengulurkan tangannya dan berkata pula.

"Coba lihat pada telapak tangan setiap orang pasti ada garis tangan, pada setiap jarinya juga ada sidik jarinya. Namun garis tangan dan sidik jari setiap orang tiada yang sama, di dunia ini tidak ada dua orang yang mempunyai sidik jari yang sama. Apabila kau mau mempelajarinya secara cermat tentu kau akan tertarik oleh hal yang aneh ini, cuma sayang, sejauh ini tiada seorang pun yang memperhatikan keajaiban alam ini."

Makin bingung Sih Po-po mendengarkan uraian Coh Liu-hiang itu, menghadapi sesuatu yang tidak dipahaminya, biasanya orang itu pasti akan bersikap tak acuh dan meremehkan, segera Sih Po-po menjengek.

"Hm, obrolanmu ini paling-paling hanya dapat menipu anak kecil umur tiga, dan jangan harap dapat menipu diriku."

Walaupun demikian ucapannya, tidak urung kedua tangannya lantas disembunyikannya di belakang punggung. Coh Liu-hiang tertawa, katanya.

"Sudah tiada gunanya meski sekarang kau menyembunyikan tanganmu, sebab sudah kuselidiki dan kuperiksa benda-benda di meja riasmu, sidik jari yang terdapat pada benda-benda itu memang persis sama dengan sidik jari di atas gembok ini. Asalkan keduanya diperlihatkan, seketika kesalahanmu akan terbukti dengan jelas dan tak mungkin dapat disangkal."

Sungguh kejut dan sangsi Sih Po-po, tanpa terasa air mukanya menjadi pucat, mendadak tangannya menyapu sehingga semua barang yang berada di meja rias tersapu jatuh berantakan ke lantai.

"Coba, itukan tandanya orang berdosa dan kuatir tertangkap?"

Seru Coh Liu-hiang dengan bergelak tertawa.

"Melulu kejadian ini sudah cukup membuktikan semua dosamu."

Tiba-tiba Sih Po-po meraung murka.

"Kau setan iblis, kau bukan manusia, mestinya sejak dulu-dulu kubinasakan kau."

Berbareng itu ia terus menubruk maju.

"Berhenti!"

Mendadak terdengar seorang membentak.

Keruan Sih Po-po terkejut, cepat ia menoleh, ternyata Sih Ih-jin sudah berdiri di ambang pintu.

Air muka Sih lh-jin juga kelihatan pucat menakutkan, dia menghela napas panjang, katanya dengan sedih "Jite, akhirnva kau tetap tertipu olehnya."

Jidat Sih Po-po tampak penuh berkeringat, tapi sama sekali tidak berani bergerak.

Maklumlah sejak kecil mereka sudah kehilangan orang tua, selama ini berada di bawah asuhan sang kakak sehingga kakak ini sangat diseganinya seperti ayahnya.

Dengan menyesal Sih Ih-jin berkata pula.

"Apa yang dikatakan Coh Hiang-swe memang betul, setiap orang mempunyai sidik jari yang berbeda, tangan orang menyentuh setiap benda juga akan meninggalkan sidik jarinya. Ini hanya teori saja, sama halnya orang suka bilang bumi ini bundar, namun sebegitu jauh tiada yang dapat membuktikannya."

Dia memandang lekat-lekat Coh Liu-hiang, lalu menegas pula.

"Hiang-swe, bukankah selamanya kau pun tak dapat membuktikan teorimu itu?"

Coh Liu-hiang meraba hidung, jawabnya sambil menyengir.

"Ya, teori ini bisa jadi akan dibuktikan orang setelah beratus tahun lagi, sekarang memang belum dapat dibuktikan."

Baru sekarang Sih Po-po tahu dirinya memang betul telah masuk perangkap Coh Liu-hiang, ia memelototi seterunya itu entah sedih entah gusar, entah bagaimana pula perasaannya.

Tiba-tiba Sih Ih jin tertawa, katanya.

"Tapi, Hiang-swe kau pun telah tertipu olehku."

"Aku tertipu olehmu?"

Coh Liu-hiang menegas.

"Ya."

Jawab Sih Ih-jin pelahan.

"Biang keladi organisasi pembunuh gelap itu sebenarnya bukan Siau-jin tapi diriku."

Sekali ini Coh Liu-hiang benar-benar terkejut.

"Kau?"

"Betul, aku,"

Jawab Sih Ih-jin tegas. Untuk sejenak Coh Liu-hiang melenggong, ia menghela napas panjang, katanya kemudian.

"Kutahu kasih sayang antara kalian bersaudara, makanya kau rela memikul tanggung jawab bagi adikmu."

Sih lh-jin menggeleng, katanya.

"Tidak, justru sebaliknya, aku tidak tega membiarkan dia menanggung dosaku,"

Ia menghela napas panjang, lalu menyambung pula.

"Coba kau lihat, betapa luas dan megah perkampungan ini, betapa besar biaya perawatannya pula. Padahal sudah berpuluh tahun aku pensiun, apabila aku sudah tidak mempunyai penghasilan ekstra, cara bagaimana aku dapat memelihara kediamanku yang besar ini?"

"Ini....... ini......."

Coh Liu-hiang menjadi ragu.

"Kau tahu, aku tidak mahir berdagang dan juga tidak pintar berusaha, aku pun tidak suka magang menjadi pembesar dan mencari kekayaan, lebih-lebih aku tidak sudi mencuri dan mencopet,"

Kata Sih Ih-jin.

"Maka jalan satu-satunya bagiku adalah apa yang menjadi kemahiranku, yakni memainkan pedang dan memenggal kepala orang."

Dia tersenyum pedih, lalu menyambung.

"Demi untuk mempertahankan perkampungan warisan leluhur kami ini, demi hidup berkecukupan sehari-hari anak muridku, terpaksa kugunakan jiwa orang lain sebagai sumber penghasilanku, masa teori ini masih belum kau pahami, Hiang-swe?"

Selama hidup Coh Liu-hiang belum pernah terkesiap dan sedih seperti sekarang ini. Dia berdiri melenggong, satu kata saja tidak sanggup bersuara pula. Dengan rawan Sih Ih-jin berkata lagi.

"Tapi adikku ini, demi kejayaan keluarga dan demi nama baik kakaknya, dia tidak sayang menanggung dosaku, kalau tidak, sungguh aku......."

Mendadak Sih Po-po meraung.

"Sudahlah, jangan kau katakan lagi, jangan kau katakan lagi!"

"Urusan ini sudah tiada sangkut pautnya lagi dengan kau,"

Bentak Sih Ih-jin bengis.

"Aku sendiri akan menyelesaikannya dengan Coh Hiang-swe, sekarang kau enyah dari sini!"

Sih Po-po menggreget, jengeknya.

"Hm, enyah? Sejak kecil aku selalu tunduk padamu, apapun yang kau perintahkan selalu kuturuti, tapi sekali ini, sekali ini aku tidak mau tunduk lagi padamu."

"Kau berani?"

Bentak Sih Ih-jin gusar. Sih Po-po tidak mengacuhkannya, ia berkata pula.

"Waktu aku berumur empat, kau mulai mengajarku membaca, waktu berumur enam, kau mengajarku main pedang, segala apa kau lah yang mengajariku. Selama hidupku ini selalu tertekan olehmu sehingga tidak dapat bernapas. Untuk semua itu aku harus berterima kasih padamu dan sekarang kau akan menanggung pula dosaku, jadi engkau selalu adalah kakakku yang berbudi, sebaliknya aku ini adik yang tidak tahu diri......."

Omong-omong, akhirnya ia menangis tergerung-gerung, teriaknya pula dengan parau.

"Tapi cara bagaimana kau tahu pula bahwa aku masih tetap akan menerima budi kebaikanmu? Aku yang berbuat, biarlah aku sendiri pula yang bertanggung jawab, tidak perlu kau menjadi orang baik, tidak perlu!"

Air muka Sih Ih-jin berubah pucat, ucapnya.

"Kau....... kau......."

Mendadak Sih Po-po berteriak pula sambil menengadah.

"Pembunuh gelap itu ialah diriku, pembunuh bayaran itupun diriku. Orang yang kubunuh sudah tak terhitung jumlahnya, matipun aku tidak rugi lagi....... Nah, Coh Liu-hiang mengapa tidak lekas turun tangan?"

Air mata Sih Ih-jin juga bercucuran, katanya dengan suara parau.

"Ya, semua ini salahku, aku memang keterlaluan padamu, aku terlalu keras mengekangmu. Hiang-swe biang keladi sebenarnya dari semua kesalahan ini ialah diriku, silakan kau bunuh aku saja."

Pedih rasa hati Coh L.u-hiang, hampir saja ia ikut meneteskan air mata. Dengan suara bengis Sih Po-po lantas berteriak pula.

"Coh Liuhiang, tidak perlu kau berlagak welas asih....... Baik, kau tidak mau turun tangan, biar aku yang melakukannya sendiri......"

Sampai di sini, mendadak ia melolos sebuah belati terus menikam ke tenggorokan sendiri, seketika suaranya berhenti.i Sih Ih-jin menjerit kaget dan memburu maju, namun sudah kasip.

Darah menyemprot seperti air mancur, sekali lagi mem buat bajunya menjadi merah pula.

Tapi sekali ini adalah darah adiknya.

Apakah bajunya ini akan disimpannya pula seperti yang dulu-dulu?

Hiat-ij-jin.

si manusia berbaju darah.

O, Sih Ih-jin.

Pelahan-lahan Coh Liu-hiang mengundurkan diri.

Demi melacak dan menemukan pemimpin organisasi pembunuh bayaran ini, entah telah banyak menguras tenaga dan pikirannya, entah berapa lama pula dia menyelidik dan mengikuti jejaknya, dan sekarang cita-citanya itu telah terlaksana.

Akan tetapi apakah hati Coh Liu-hiang benar-benar sangat gembira?

Siang hari di musim rontok lebih singkat, senja hampir tiba.

Angin meniup, daun kering berguguran, Coh Liu-hiang menjumput sehelai daun rontok itu dan memandangnya dengan termangu-mangu sekian lamanya, lalu daun kering itu dibuangnya dan kabur terbawa angin.

Dengan membusungkan dada, Coh Liu-hiang lantas melangkah keluar Sih-keh-ceng.

Begitu keluar pintu gerbang perkampungan Sih, segera Coh Liu-hiang mengetahui ada orang bersembunyi jauh di balik pohon sana dan sedang mengintai ke sini.

Meski orang itu hanya mengintip dan cuma kelihatan sebelah matanya, tapi sudah mengenal siapa dia.....

Kecuali Siau-tut-cu atau si gundul jelas tiada orang lain yang berkepala kelimis begitu.

Pengintai itu memang betul si gundul adanya.

Begitu melihat Coh Liu-hiang keluar dari Sih keh-ceng, seketika mata si jembel kecil ini mencorong terang.

Namun Coh Liu-hiang seperti tidak melihatnya, tentu saja si gundul menjadi cemas, berulang-ulang ia menggapai dan Coh Liuhiang tetap tidak menggubrisnya, sebaliknya malah berjalan menuju ke arah yang berlawanan.

Cepat si gundul berlari menyusulnya, tapi ia cuma mengintil di belakang saja dan tidak berani menyapa.

Orang yang baru habis membakar rumah tentu tidak tentram perasaannya.

Ia tunggu setelah jauh meninggalkan Sih-keh-ceng, barulah dia berani mendekati Coh Liu-hiang serta menegur dengan tertawa.

"Engkau orang tua jika tidak keluar, sungguh kami cemas setengah mati."

Coh Liu-hiang menepuk-nepuk pipinya dan berkata.

"Aku belum lagi tua, kalian pun tidak perlu cemas?"' Si gundul melengak mendengar jawaban yang ketus itu. Cepat ia bicara dengan mengiring tawa.

"Jangan-jangan Hiang-swe lagi marah kepada kami? Apakah lantaran kami tidak menyerbu ke dalam untuk membantumu?"

"Mana berani kuharapkan bantuan kalian?"

Jengek Coh Liuhiang.

"Yang kuharap agar selanjutnya kalian jangan lagi mengaku diriku ini sebagai sahabat kalian."

Sebenarnya si gundul lagi tertawa demi mendengar ucapan itu seketika tertawanya berubah menyengir. Selang sejenak barulah dia bertanya dengan gelagapan.

"Seb....... sebab apa?"

"Sebabnya, banyak dan macam-macam sahabatku, tapi sababat yang suka membunuh dan membakar belum pernah punya"

Jawab Coh Liu-hiang.

"Hm, masih muda belia sudah main bunuh dan bakar, jika sudah dewasa kan lebih-lebih tak keruan."

"Tapi aku tidak pernah membunuh orang,"

Kata si gundul dengan gelisah.

"Dan membakar?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Juga ti.....tidak pernah,"

Jawab si gundul menyengir.

"Cuma..... cuma"

"Cuma demi diriku, makanya kau main bakar begitu?"

Keringat memenuhi muka si gundul, ia menjadi bingung apakah harus mengangguk atau menggeleng.

"Kau membakar rumah demi diriku dan aku harus berterima kasih, begitu bukan?"

Kata Coh Liu-hiang .

"Jika demikian bila kelak kau membunuh orang demi diriku, kan lebih-lebih aku harus berterima kasih padamu."

Si gundul menjadi kelabakan dan tidak dapat menjawab, hampir saja ia menangis. Coh Liu-hiang menghela napas, katanya pula.

"Jika yang kau bakar adalah rumah orang jahat, meski tidak pantas, tapi masih dapat dimengerti juga alasanmu. Sebaliknya bila rumah yang kau bakar adalah rumah orang baik-baik dan orang yang kau bunuh juga orang baik-baik, maka apapun alasanmu dan demi siapa pun, jelas tak dapat diterima. Nah, paham kau?"

Berulang-ulang si gundul mengangguk, air matanya pun mulai menetes. Air muka Coh Liu-hiang tampak berubah ramah, katanya pula.

"Usiamu sekarang masih muda belia, maka kuharap agar kau selalu ingat bahwa seorang lelaki sejati juga ada hal-hal yang pantang dilakukannya. Artinya, ada sementara urusan, biar pun dengan alasan apapun, sekali-kali tidak boleh kau lakukan."

Seketika Siau-tut-cu atau si gundul berlutut dan menyembah, dengan lengan baju ia mengusap mukanya yang penuh air mata dan juga ingus. Katanya dengan suara terguguk.

"Ya, ya, aku paham, lain kali aku tidak berani lagi. Tak peduli demi siapa pun juga aku takkan berbuat sesuatu kebusukan lagi, takkan membunuh dan juga membakar."

Coh Liu-hiang tertawa senang setelah mendengar janji ini, katanya.

"Bagus, harus selalu kau ingat perkataanmu ini. Kau tidak cuma sahabatku, bahkan saudaraku yang baik."

Dia tarik bangun si gundul, katanya pula dengan tertawa.

"Kau mesti ingat pula, air mata lelaki harus mengalir ke dalam perut, sedangkan ingus tidak boleh ditelan."

Si gundul tertawa.

Masih mendingan kalau tidak tertawa, sekali tertawa hampir saja ingusnya lari dalam perut.

Cepat ia menyedot sekerasnya, sehingga ingus yang memanjang melewati bibir itu mengkeret pula masuk hidung.

Coh Liu-hiang tertawa geli, katanya.

"Tak tersangka kau mempunyai Lwekang yang istimewa ini."

Si gundul menjadi malu, jawabnva dengan kikuk.

"Si buruk juga ingin belajar kepandaianku ini, tapi selalu gagal, sebaliknya ingus malah memenuhi mukanya."

"Ehm, , dimana dia?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Dia mengawasi seseorang di sana, kini sedang menunggu Hiang-swe, mungkin dia sudah tidak sabar menunggu lagi,"

Tutur si gundul.

******* Si burik memang sangat cemas karena Coh Liu-hiang yang ditunggu-tunggu belum lagi muncul, tapi orang yang bersama dia itu lebih gelisah.

Sama sekali tak terduga oleh Coh Liu-hiang bahwa orang ini ialah lh-kiam, kacung Sih Bun.

Begitu melihat Coh Liu-hiang, segera Ih-kiam hendak memberi hormat.

Cepat Coh Liu-hiang mencegahnya dan bertanya dengan tertawa.

"Kalian memang sudah kenal bukan?"

"Kenal sih tidak sebelum ini."

Tutur si burik.

"Untung ada dia, jika bukan bantuannya, mungkin kami sukar meloloskan diri dari Sih kehceng......."

Mendengar si burik hendak menyinggung urusan membakar rumah tadi, cepat si gundul menariknya ke samping. Dengan hormat lh-kiam lantas berkata kepada Coh Liu-hiang.

"Pesan Hiang-swe sudah hamba sampaikan kepada Ji-kongcu."

"Dan bagaimana pendapatnya?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Ji-kongcu sudah lama kagum atas keharuman nama Hiang-swe, saat ini beliau mungkin sudah menunggu di rumah kecil sana,"

Kata Ih-kiam.

"Bagus,"

Kata Coh Liu-hiang tertawa.

"Sekarang kuharap kau ke sana dulu dan beritahukan kepada Sih-jikongcu agar dia suka menunggu sebentar, katakan segera aku akan ke sana."

Sesudah Ih-kiam pergi. Coh Liu-hiang berpikir sejenak lalu berkata kepada kedua jembel cilik itu.

"Ada suatu urusan lagi, terpaksa harus minta bantuan kalian."

Si burik kuatir diomeli berhubung soal membakar rumah di Sihkeh-ceng itu, maka dia cuma menunduk dan tak berani mendekat Sedangkan si gundul sudah mendapat persen omelan tadi, ia mendahului menjawab.

"Jangankan cuma suatu urusan, seratus urusan juga akan kami jalankan Kemudian Coh Liu-hiang menepuk-nepuk pundak si gundul, katanya dengan tertawa.

"Suami isteri yang kucari kemarin malam itu, apakah kau masih ingat dan kenal?"

"Sudah tentu ingat dan kenal,"

Jawab si gundul.

"Baik, sekarang juga pergilah kau mencari mereka, bawa lah mereka ke rumah kecil milik keluarga Sih itu, katakan aku yang mengundang mereka ke sana."

"Tanggung beres!"

Seru si gundul.

"Tapi ingat,"

Coh Liu-hiang menambahkan lagi.

"Setiba di sana, tunggu saja di luar, sebaiknya jangan sampai terlihat orang lain. Bila kupanggil, barulah kalian boleh muncul."

Sambil mengiakan segera si gundul berlari pergi dengan menyeret si burik. Coh Liu-hiang menguap mengantuk dan menggeliat, gumamnya.

"Syukurlah segala sesuatunya berjalan dengan lancar, akhirnya akan tersingkap semuanya......" ****** Tanpa banyak kesukaran, dapatlah Coh Liu-hiang membujuk Cu Kin-hou, lalu dibawanya si nona 'Cu Beng-cu' yang entah tulen atau palsu ini meninggalkan Ceng pwe-san-ceng. Muka nona Cu ini masih pucat pasi, namun matanya mencorong terang. Agaknya selama dua hari sudah cukup baginya untuk memulihkan semangat dan tenaganya, namun cara berjalannya tetap 'alon-alon asal kelakon', cukup lama dia ikut di belakang Coh Liu-hiang, katanya kemudian dengan pelahan.

"Batas waktu tiga hari sudah hampir tiba."

"Ya, kutahu,"

Sahut Coh Liu-hiang tertawa.

"Kau sudah berjanji, setelah tiga hari aku boleh pulang?"

"Betul,"

Kata Coh Liu-hiang pula.

"Jika demikian, apakah sekarang..... sekarang juga aku boleh pergi?"

"Sudah tentu aku tidak keberatan, cuma setelah pulang apakah ayah ibumu masih mengenalmu? Jika aku, tidak nanti aku mengakui seorang anak perempuan yang tak kukenal sebagai anaknya sendiri."

"Namun....... namun kau sudah berjanji, kau harus menjelaskan kepada mereka,"

Ujar si nona.

"Masa Kim-kiong Hujin mau percaya pada omonganku?"

Kata Coh Liu-hiang.

"Siapa di dunia Kangouw yang tidak kenal ucapan Coh Hiangswe adalah kata-kata emas?"

Ujar si nona.

"Asalkan Coh Hiang-swe mau bicara, sekalipun musuh juga akan percaya."

Coh Liu-hiang berpikir sejenak, tiba-tiba ia menoleh dan berkata.

"Jangan kuatir, keinginanmu pasti terlaksana, cuma untuk ini harus bersabar, tidak boleh terburu napsu. Kalau terburu-buru, semua usahaku bisa kacau-balau."

Nona Cu menunduk, setelah berjalan sejenak pula, tibalah di hutan kecil sana, dipandang dari jauh rumah kecil itu sudah kelihatan, mendadak ia berhenti dan berkata.

"Kau....... kau tidak mengantar aku pulang, tapi hendak membawaku kemana?"

"Kau melihat rumah kecil di sana itu bukan?"

Tanya Coh Liu

KANG ZUSI WEBSITE

http.//cerita-silat.co.cc/ hiang. Muka nona Cu semakin pucat, sedapatnya ia mengangguk "Nah, sudah lelah kita berjalan, marilah kita istirahat sebentar di rumah itu,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Tidak..... tidak aku tidak mau ke sana,"

Kata nona Cu. Meski dia berusaha menahan perasaannya, tak urung tampak rada gemetar.

"Di rumah itu kan tiada setannya, apa yang kau takuti?"

Ujar Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Apalagi kau sudah mati satu kali, seumpama ada setan juga tidak perlu kau takuti."

"Kabarnya rumah itu..... rumah itu milik keluarga Sih,"

Kata si nona.

"Jika kau Cu Beng-cu, dengan sendirinya kau tak dapat ke rumah she Sih. Tapi kau kan bukan Cu Beng-cu asli, Cu Beng-cu sudah mati, kau cuma meminjam jasadnya untuk hidup kembali, kenapa kau tidak boleh pergi ke sana?! Apalagi kau adalah bakal isteri Sih-jikongcu, lambat atau cepat kau pasti juga akan masuk ke rumah keluarga Sih."

"Akan.....akan tetapi....."

"Jangan menguatirkan diriku, aku adalah kawan baik Sih Ih-jin,"

Kata Coh Liu-hiang.

Si nona melenggong pula hingga lama, akhirnya dia ikut juga ke sana, dengan kepala tertunduk, kakinya serasa diganduli rantai yang berat.

Tapi Coh Liu-hiang berjalan dengan cepat, begitu sampai di depan pintu rumah kecil itu, segera pintu terbuka, seorang pemuda cakap dengan baju perlente menyambut keluar.

Sebenarnya wajah pemuda itu mengulum senyum, jelas dia bergembira akan kedatangan Coh Liu-hiang, tapi begitu melihat 'nona Cu' ini, seketika senyumnya berubah menjadi beku sehingga lebih tepat dikatakan menyengir.

Meski sejak tadi nona Cu hanya menunduk saja, kini air mukanya jelas juga berubah pucat.

Coh Liu-hiang menyapu pandang sekejap wajah kedua mudamudi ini, lalu katanya dengan tertawa.

"Kiranya kalian berdua sudah kenal sebelum ini."

Pemuda itu dan nona Cu segera menjawab berbareng.

"Tidak kenal......."

"Tidak kenal?"

Kata Coh Liu-hiang dengan tertawa "Ya tidak menjadi soal, toh lambat atau cepat, kalian pasti akan kenal."

Lalu ia memberi hormat kepada pemuda cakap itu dan berkata pula.

"Saudara ini tentunya Sih-kongcu adanya."

Pemuda itu memang Sih Bun, putera Sih Ih-jin yang telah mengikat jodoh dengan Si In, puteri Kim-kiong Hujin. Cepat ia membalas hormat dan berkata.

"Ya sudah lama kudengar nama kebesaran Coh Hiang-swe, sekali ini entah Hiang-swe hendak memberi petunjuk apa?"

"Petunjuk sih tidak ada,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Silakan masuk ke dalam saja dan bicara dan bicaralah nanti."

Dia bicara seperti tuan rumah, terpaksa Sih Bun dan 'nona Cu' menunduk dan masuk ke dalam rumah, seketika mereka tidak banyak bicara lagi mirip pesakitan yang sedang menunggu vonis hakim.

Ih-kiam tampak berada di dalam rumah, segera ia mengundurkan diri keluar.

Sebelum dia keluar, Coh Liu-hiang sempat membisikinya.

"Sebentar bila Siau-tut-cu datang, suruhlah dia masuk sendirian."

Dalam pada itu 'nona Cu' dan Sih Bun ternyata berdiri terpisah, yang satu berdiri di pojok kiri sana, yang lain di sudut kanan, keduanya berdiri tegak tak bergerak. Coh Liu-hiang tertawa, katanya.

"Tempat ini sangat baik, seumpama dijadikan kamar pengantin baru juga cocok..... eh, Sihkongcu, betul tidak?"

Sih Bun menjawab dengan tergagap.

"O, ti..... ya, betul....."

Lalu Coh Liu-hiang mengitar satu kali ruangan rumah kecil ini sambil bernyanyi-nyanyi kecil, setiba di pintu, mendadak ia membuka daun pintu dan Siau-tut-cu atau si gundul kebetulan muncul.

"Bagus, kedatanganmu sangat kebetulan,"

Seru Coh Liu-hiang.

"Apakah kau kenal kedua orang ini?"

Siau-tut-cu mengerling, seketika ia tertawa senang, jawabnya.

"Tentu saja kenal, Kongcuya dan Siocia ini sungguh orang yang baik hati, pertama kali bertemu saja lantas memberi persen satu tahil perak padaku."

Belum habis ucapannya, muka nona Cu dan Sih Bun tampak berubah hebat Keduanya cepat menyanggah.

"Ti....... tidak, aku tidak kenal dia....... anak ini salah mengenali orang."

Siau-tut-cu berkedip-kedip, katanya pula dengan tertawa.

"Tidak mungkin salah, masa aku pangling, pengemis yang pernah mendapatkan sedekah dari orang baik selamanya takkan melupakannya."

"Jika demikian, jadi Sih-jikongcu dan nona Cu memang sudah kenal sebelum ini,"

Seru Coh Liu-hiang dengan tertawa. Sekonyong-konyong nona Cu berteriak.

"Tidak, aku tidak....... aku tidak she Cu, kalian salah lihat, aku ini Si In....... aku tidak kenal dia"

Sembari meraung ia bermaksud menerjang keluar. Akan tetapi baru saja dia berlari beberapa langkah, segera dilihatnya 'Si ln' yang tulen telah berdiri di ambang pintu.

"Kau kenal dia bukan?"

Tanya Coh Liu-hiang dengan tersenyum sambil menuding Si In asli. Gemetar sekujur tubuh Cu Beng-cu, setindak demi setindak ia menyurut mundur, ucapnya dengan gemetar.

"Aku...... aku......."

"Jika kau mengaku Si In, lah siapa lagi dia?"

Tanya Coh Liu-hiang pula.

Mendadak Cu Beng-cu mengeluh tertahan, lalu jatuh pingsan.

******* Yap Seng-lan, Si In dan Liang-ma, sama duduk di sebelah sana, air muka menampilkan perasaan yang aneh, entah cemas, entah cemas, entah kuatir, entah tegang dan entah pula bergirang.

Ih-kiam, Siau-tut-cu dan Siau-moa-cu (si burik) juga berdiam melenggong di sisi lain, jelas mereka pun tidak habis mengerti duduk perkaranya, mereka merasa ragu dan juga heran.

Cu-Beng-cu mendekap dalam pelukan Sih Bun seakan tak sanggup berdiri lagi.

Tadi mereka mengaku tidak saling kenal, tapi begitu Cu Beng-cu jatuh pmgsan, tanpa pikir Sih Bun lantas memondongnya bangun dan tidak pernah dilepaskan lagi.

Meski perasaan setiap orang tidak sama, namun pandangan semua orang sama tertuju pada Coh l.iu-hiang, semuanya menunggu penjelasannya.

Lebih dulu Coh Liu-hiang membesarkan sumbu lampu, habis itu barulah dia bertutur dengan pelahan.

"Sudah banyak kudengar cerita tentang 'setan', tapi orang yang benar-benar pernah melihat setan tiada terdapat seorang pun. aku juga pernah mendengar cerita tentang 'mayat kesurupan roh'.........."

Sampai di sini ia tertawa, lalu menyambung.

"Kejadian demikian sebenarnya sulit untuk dipercaya, sebab aku menyaksikannya sendiri kematian nona Cu, aku pun menyaksikan dia hidup kembali....... Malah aku pun memeriksa sendiri jenazah nona Si, sampai-sampai baju yang dipakainya waktu meninggal juga kubuktikan memang serupa dengan baju yang dipakai nona Cu waktu dia hidup kembali Semua ini terbukti memang betul 'mayat telah kesurupan roh' dan mau tak mau orang harus percaya."

Siau-tut-cu merasa bingung, ia coba bertanya.

"Tapi sekarang nona Si kan tidak meninggal, nona Cu mengapa bisa bicara sebagai nona Si? Kalau nona Si tidak meninggal, lalu darimana datangnya jenazah dalam peti itu?"

"Hal ini memang membingungkan dan aneh, semula aku pun tidak habis mengerti,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Baru kemudian ketika tanpa sengaja kudapatkan rumah ini, kutemukan kotak berisi pupur dan gincu di dalam tungku."

"Ada sangkut apa antara sebuah kotak barang rias dengan 'mayat kesurupan roh?"' tanya Siau-tut-cu.

"Jika kau ingin tahu rahasia ini, lekas kau pergi mencari kan seorang ke sini, sebab orang itu sangat besar sangkut pautnya dengan peristiwa ini, dia pasti jugi sangat ingin tahu,"

Kata Coh Liuhiang. Belum lagi si gundul menjawab, tiba-tiba Liang-ma berkata,"Apakah orang yang Hiang-swe maksud ialah nona Ciok?"

"Betul, kau pun kenal dia?"

Tanya Coh Liu-hiang. Wajah Liang-ma yang sudah keriput itu bisa juga merah, katanya.

"Nona Ciok sudah kuundang kemari, cuma dia berkeras akan pulang dulu untuk tukar pakaian, baru mau bertemu dengan Hiang-swe."

Coh Liu-hiang menghela napas dan tidak bicara lagi, memangnya apa yang dapat dia katakan pula.

Untunglah usia Ciok Siu-hun masih muda.

Pada umumnya perempuan muda kalau berdandan akan jauh lebih cepat dari pada perempuan lanjut usia.

Lamanya berdandan orang perempuan memang selalu berbanding dengan umurnya.

Ketika Ciok Siu-hun muncul dan melihat sekian banyak yang hadir di rumah kecil ini, dengan sendirinya ia pun tercengang.

Si gundul tidak sabar lagi, segera ia membuka suara pula.

"Sesungguhnya apa sangkut-pautnya kotak rias itu dengan semua persoalan ini?"

Coh Liu-hiang tertawa, tuturnya.

"Bahwa di dalam tungku yang telantar itu ada sebuah kotak berisi barang-barang rias orang perempuan, ini menandakan di sini pasti sering ada pertemuan rahasia antara sepasang laki-perempuan. Semula aku menduga pada dua orang lagi, tapi bau harum yang pernah kuendus dari tubuh mereka ternyata tidak sama dengan bau pupur yang terdapat di kotak ini."

Dia tidak menyebut nama Hoa Kim-kiong dan Sih Hong-hong, sebab selamanya dia tidak suka merusak nama baik orang lain.

Namun wajah Cu Beng-cu segera berubah merah Si gundul melirik sekejap, ia menyela pula.

"Ketika kau mendengar dariku......."

"Ya, begitu begitu mendengar pengalamanmu, segera aku menerka seorang di antaranya pasti Sih-jikongcu ini,"

Tukas Coh Liuhiang "Akan tetapi siapa pula 'teman' Sih jikongcu itu? Sejauh ini aku tak dapat menerkanya."

Istilah 'teman' yang digunakan Coh Liu-hiang ini sangat kena sehingga wajah Sih Bun berubah merah juga. Coh Liu-hiang lantas menyambung.

"Semula kukira Cioktoakohnio (nona Ciok pertama, maksudnya kakak Ciok Siu-hun) tapi setelah kupergoki saudara cilik Ih-kiam ini di makam toakohnio, barulah kutahu dugaanku itu salah besar."

Lh-kiam tampak menunduk dan hampir mencucurkan air mata.

"Sebab itulah aku tambah heran,"

Demikian Coh Liu-hiang melanjutkan.

"Jika Ciok-toakohnio tiada sangkut pautnya dengan Sih-kongcu, mengapa Sih-kongcu sedemikian memperhatikan sakitnya? Mengapa pula dia sedemikian baik kepada paman nona Ciok? Bahkan dia disalah-pahami oleh nona Siu-hun pun tidak menyanggahnya, sebaliknya kesalahan itu di biarkan tetap salah. Maka aku lantas sangsi, di balik persoalan ini pasti ada sesuatu yang tidak beres, kalau tidak, masakah Sih-kongcu mau menerima tuduhan yang tidak benar itu?"

Dengan gemas Ciok Siu-hun melotot sekejap kepada Sih Bun, tapi wajah sendiri lantas berubah merah.

"Kupikir rahasia ini pasti ada hubungannya dengan kematian Ciok toakohnio,"

Demikian Coh Liu-hiang melanjutkan.

"Maka aku berusaha membongkar kuburan Ciok-toakohnio agar persoalannya menjadi jelas. Siapa tahu......."

"Siapa tahu Ciok-toakohnio ternyata juga tidak meninggal, peti matinya cuma berisi beberapa potong batu saja,"

Si gundul mendahului.

"Tidak, Ciok-toakohnio justru betul-betul telah meninggal."

Ucap Coh Liu-hiang sambil menghela napas gegetun. Si gundul jadi melongo, katanya kemudian.

"Jika..... jika begitu, mengapa jenazahnya bisa berubah menjadi batu?"

"Sebab jenazahnya telah dipinjam pakai oleh oleh orang lain,"

Kata Coh Liu-hiang, dia tidak memberi kesempatan lagi kepada si gundul untuk menyela, segera ia menyambung pula.

"Dan lantaran Sih-jikongcu hendak meminjam pakai jenazah nona Ciok, maka dia sangat memperhatikan sakitnya, dan lantaran orang yang menutup peti mati adalah paman nona Ciok, maka Sih kongcu sangat baik kepada sang paman.' "Tapi..... tapi untuk apakah Sih-kongcu meminjam pakai jenazah nona Ciok?"

Sela si gundul pula, rupanya dia semakin bingung.

"Sebab Sih-kongcu hendak menggunakan jenazah nona Ciok untuk menyaru sebagai jenazah nona Si In agar orang lain menyangka nona Si benar-benar sudah meninggal,"

Tutur Coh Liuhiang.

"Bisa jadi wajah dan perawakan nona Ciok rada mirip nona Si, apalagi wajah orang mati tentu juga agak berubah, setiap orang pasti takkan menaruh perhatian terhadap jenazah, andaikan kurang persis penyamarannya juga tidak menjadi soal, lagi pula Liang-ma juga telah ikut dalam tindakan rahasia ini."

Seketika Liang-ma juga menunduk kikuk. Siau-tut-cu menggaruk garuk kepalanya yang gundul, katanya.

"Akan..... akan tetapi untuk apa nona Si sengaja pura-pura meninggal?"

"Jika nona Si tidak meninggal, cara bagaimana pula sandiwara 'mayat kesurupan roh' yang dibawakan nona Cu Beng-cu itu bisa dilakonkan?*' kata Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Wah, aku menjadi semakin bingung,"

Si gundul menyengir heran.

"Kan baik-baik saja, mengapa nona Cu mesti....."

"Persoalan ini tampaknya memang sangat rumit,"

Sela Coh Liu

KANG ZUSI WEBSITE

http.//cerita-silat.co.cc/ hiang.

"Padahal urusannya sangat sederhana, kunci yang terpenting dalam hal ini hanya satu huruf saja, yakni 'cinta'. Sorot matanya menyapu wajah Cu Beng-cu lalu berhenti pada Sih Bun, katanya pula dengan tersenyum.

"Soalnya sejak kecil Cu Beng-cu telah dijodohkan dengan putera keluarga Ting, perjodohan ini sebenarnya sangat setimpal, cuma sayang nona Cu justru bertemu dengan Sihjikongcu, keduanya jatuh cinta."

"Bukankah keluarga Cu dan keluarga Sih adalah musuh bebuyutan?"

Tanya si gundul.

"Betul, setelah berkenalan dengan Sih-kongcu, mungkin nona Cu lantas menyadari tidak seharusnya jatuh cinta kepada Sih-kongcu. Akan tetapi cinta memang aneh, sekali sudah jatuh cinta, orang lain tidak dapat memaksanya, bahkan ia sendiri pun tidak mampu mengekang diri pula. Walaupun tahu dirinya tidak seharusnya jatuh cinta kepada orang itu, akan tetapi tanpa kuasa dirinya justru jatuh cinta."

Ciok-Siu-hun menghela napas, katanya,"Makanya orang sering bilang, cinta itu buta, apakah memang demikian adanya?"

"Ada sementara orang memang rela menjadi buta,"

Ucap Coh Liu-hiang sambil mengerling sekejap pada si nona.

"Tapi di dunia ini masih tetap banyak orang yang ingin membuat mata mereka terbuka. Sorot matanya beralih kembali ke arah Beng-cu dan Sih Bun, katanya pula.

"Meski cinta nona Cu dan Sih-kongcu sangat mendalam, tapi mereka pun tahu jodoh mereka sukar dirangkap, bila orang lain yang menjadi mereka, dalam keadaan kepepet begini bisa jadi mereka akan bunuh diri bersama......"

Sambil menatap lekat-kkat pada cahaya lampu, Ciok Siu-hun bergumam.

"Cara demikian kan terlalu bodoh."

"Ya, sudah tentu hal ini hanya dapat dilakukan orang lemah."

Kata Coh Liu-hiang.

"Jika aku,"

Mendadak Ciok Siu-hun mengangkat kepalanya.

"Mungkin aku akan......akan...... minggat bersama."

Dengan segala keberaniannya ia mencetuskan kata-kata ini, habis itu mukanya menjadi merah.

Coh Liu-hiang menggeleng, ucapnya lembut "Minggat juga bukan cara yang baik, sebab mereka tahu jelas antara keluarga Cu dan Sih adalah musuh bebuyutan, jika mereka minggat bersama, bisa jadi permusuhan antar keluarga akan bertambah mendalam......"

Ia tersenyum, lalu menyambung pula.

"Apalagi duel maut antawa Sih-tayhiap dengan Cu-cengcu sudah dekat waktunya, bila mereka minggat bersama dan mengetahui salah seorang ayahnya telah dibunuh oleh pihak lain, apakah hati mereka tidak akan berduka?"

Ciok Siu-hun mengangguk, ucapnya dengan pelahan.

"Ya, betul juga, minggat memang bukan cara yang baik dan tak dapat menyelesaikan persoalan......"

"Padahal nona Cu dan Sih-kongcu bukanlah kaum lemah, mereka pun bukan orang bodoh,"

Kata Coh Liu-hiang pula.

"Dalam keadaan terpaksa, akhirnya timbul jalan pikiran mereka yang aneh dan sukar dibayangkan, yaitu......."

"Mayat kesurupan roh,"

Kata Coh Liu-hiang sambil mengangguk. Dengan sorot mata memuji, ia pandang sekejap Cu Beng-cu, lalu melanjutkan.

"Jika nona Cu benar-benar telah hidup kembali dengan meminjam jazad nona Si In, maka nona Cu lantas berubah menjadi nona Si, sedangkan nona Si memang tunangan Sih-kongcu, dengan sendirinya nanti juga akan menjadi isteri Sih-kongcu, maka jelas Cujiya tidak dapat membantah, sebaliknya Sih-tayhiap juga tak dapat menolak "Lantas bagaimana dengan Si-loya dan Si-hujin?"

"Maksud tujuan Hoa Kim-kiong memang ingin lebih mempererat hubungan keluarga Si dan Sih, kini melihat puterinya yang jelas-jelas sudah mati bisa hidup kembali, tentu saja dia bersyukur dan kegirangan, dia pasti setuju."

"Ya, betul juga, dengan demikian semuanya menjadi gembira dan bahagia."

Seru si gundul dengan tertawa.

"Yang paling ajaib nona Si telah 'meminjam"

Jazad nona Cu, sebaliknya nona Cu juga telah 'meminjam' roh nona Si.

Jadi dalam kenyataannya, CuBeng-cu dan Si In telah berubah menjadi isteri Sih Bun, maka Cu-jiya juga akan berubah menjadi mertua Sih Bun, dan dengan sendirinya pula adalah besan Sih-tayhiap......."

"Betul, apapun juga anak menantu Sih-tayhiap kan juga ada setengahnya terhitung puteri Cu-cengcu, sekalipun kedua orangtua tetap tidak suka, mau tak mau mereka pun harus mengakui kenyataan."

"Memang betul begitu,"

Sambung Coh-Liu-hiang pula dengan tertawa "Tatkala mana hasrat duel mereka tentu juga akan mereda, betapapun dendam kesumat antar kedua keluarga akan luntur juga."

"Betul, akal ini sungguh sangat bagus,"

Si gundul berkeplok memuji.

"Tetapi juga terlalu berlebihan,"

Sambung si burik..

"Jika aku, pasti tidak akan percaya."

"Betul juga, makanya rencana harus dibuat sedemikian rapinya, pelaksanaannya juga harus sempurna, dengan demikian mau tak mau orang lain pun akan percaya,"

Kau Coh Liu-hiang.

"Dan untuk melaksanakan rencana mereka ini, pertama, dengan sendirinya harus mendapat persetujuan Si In, nona ini harus mau pura-pura mati."

"Dengan sendirinya nona Si takkan menolak.'' tukas si gundul pula.

"Sebab, dia juga punya kekasih lain, dasarnya memang dia tidak suka diperisteri oleh Sih-kongcu"

"Justru begitulah."

Kata Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Ketika kudengar bedak yang biasa dipakai nona Si berasal dari seorang Yap-kongcu yang datang dari kotaraja, segera timbal rasa curigaku. Waktu itu juga sudah kupikirkan, jangan-jangan nona Si cuma purapura mati untuk melepaskan diri dari keharusan kawin dengan Sihkongcu."

"Makanya kau menyuruh kami berdua menyelidiki Yap Senglan."

Kata si gundul.

"Betul, ketika kutemukan mereka berdua, maka persoalan inipun menjadi jelas dan tersingkap seluruhnya,"

Kata Coh-Liu-hiang.

"Sekarang biarlah kujelaskan sekali lagi mulai dari awal hingga akhir peristiwa ini. Lebih dulu Cu Beng-cu dan Si In sudah berjnaji untuk 'mati' pada saat yang sama. Sebab itulah, begitu Si In 'mati', di tempat lain Cu-Beng-cu juga lantas hidup kembali. Dengan sendirinya lebih dahulu Si In sudah memberitahukan kepada Cu Beng-cu pakaian apa yang akan di pakainya waktu mati serta semua alat perabot di kamarnya,sebab itulah setelah Ciu-Beng-cu 'hidup' kembali, ia dapat menjelaskan keadaan Si In tanpa selisih sedikitpun.

"Dan karena Si In cuma pura-pura mati. untuk ini diperlukan pinjaman jenazah orang lain. Kebetulan waktu itu Ciok-toakohnio lagi sakit keras, maka pilihan Sih-kongcu lantas jatuh padanya. Sihkongcu telah bersekongkol dengan paman nona Ciok, jenazah nona Ciok telah dibawa pergi waktu mau masuk peti mati dan diganti dengan batu. Setiba jenazah di kamar nona Si, terjadilah pertukaran tempat, nona Si In yang hidup lantas diselundupkan keluar."

"Lantaran Liang-ma sangat sayang kepada Si In seperti anak kandung sendiri, yang diharapkan adalah kebahagiaan anak dara itu, maka ia pun membantu sepenuhnya. Tanpa bantuan Liang-ma, hakikatnya peristiwa ini tidak mungkin berlangsung dengan baik,"

Sampai di sini Coh l.iu-hiang menghela napas panjang, lalu menyambung pula.

"Yang paling sulit dalam persoalan ini ialah 'timing'nya harus diatur dengan tepat tanpa selisih sedetikpun, maka segalanya berjalan dengan beres tanpa kesulitan apapun."

Siau-moa-cu juga mengembuskan napas panjang, katanya dengan tertawa.

"Jika menurut cerita Hiang-swe ini, peristiwa ini rasanya sangat sederhana, tapi kalau kau tidak bercerita, selama hidup juga sukar memecahkannya."

"Dan sekarang sudah kau pahami seluruhnya, bukan?"

Kata Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Masih ada satu hal yang belum kupahami,"

Kata Siau-moa-cu atau si burik.

"O, apalagi?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Jika nona Cu hakikatnya tidak meninggal, mengapa Cu-jiya percaya penuh anak perempuannya telah mati?"

Tanya si burik.

"Sudah tentu karena sebelumnya nona Cu sudah bersekongkol denagn para tabib ternama itu, coba pikir, kalau ada belasan tabib terkemuka menyatakan penyakitmu sudah tiada obatnya, tak dapat disembuhkan lagi, bisa jadi kau sendiripun akan yakin dirimu pasti akan mati. Apalagi....."

Sampai di sini mendadak Coh Liu-hiang memandang keluar jendela dan tertawa, lalu menyambung.

"Apalagi di antara tabib-tabib ternama itupun terdapat Thi Kan-cay losiansing, hasil pemeriksaan Thio losiansing masa perlu disangsikan lagi dan siapa yang tidak percaya? Bila Thio-losiansing, menyatakan seorang sudah mati, siapa yang berani, bilang orang itu masih hidup?"

Mendadak terdengar suara orang berseru dengan tertawa.

"Makian tepat, umpatan bagus, lantaran tabib tua bangka seperti aku ini termasyhur dapat menyembuhkan segala macam penyakit, tapi selama ini toh tidak mampu menyembuhkan sakit rindu orang. Maka sekali ini terpaksa aku menebalkan mukaku untuk melakukan penipuan."

Di tengah gelak tertawanya, tertampak Thio Kan-cay melangkah masuk.

Serentak Cu Beng-cu, Sih Bun, Si In dan Yap Seng-lan berbangkit dan menyembah kepada tabib sakti itu.

Coh Liu-hiang juga memberi hormat, katanya.

"Losiansing tidak cuma mahir menyembuhkan segala macam penyakit luar dalam, caramu menyembuhkan sakit rindu orang ternyata juga lebih tinggi setingkat daripada tabib lain."

"Jika betul demikian, kelak bila Coh Hiang-swe juga sakit rindu, hendaklah jangan lupa mencariku"

Kau Thio Kan-cay dengan tertawa.."Tentu, tentu, pasti aku tidak lupa."

Sahut Coh Liu-hiang dengan tertawa. Dengan tertawa pula Thio Kan-cay berkata.

"Cuma harus disayangkan, bila ada anak-gadis yang rindu pada Coh Hiang-swe, mungkin aku tidak mampu menyembuhkannya, sebaliknya jika dikatakan Hiang-swe bakal sakit rindu terhadap anak gadis orang, kukira tiada seorang pun di dunia ini yang mau percaya."

Coh Liu-hiang hanya tertawa saja dan tidak menanggapi sebab diketahuinya Ciok Siu-hun sedang menatapnya. Thio Kan-cay lantas membangunkan Cu Beng-cu, katanya dengan tersenyum.

"Bahwa sekali ini aku mau membantu, selain terharu pada cinta kalian yang murni, sesungguhnya juga karena tertarik oleh perencanaan kalian yang serba baru dan aneh ini Cuma sayang, mengapa mesti melaksanakan rencana kalian tepat pada waktu kedatangan Coh Hiang-swe, itu berarti kalian mencari kesukaran sendiri."

Muka Cu Beng-cu menjadi merah dan tak dapat menjawab. Dengan tertawa Coh Liu-hiang berkata.

"Sebabnya sekarang telah kuketahui."

"O? Kau tahu?"

Tanya Thio Kan-cay.

"Mereka justru sengaja menunggu kedatanganku agar aku bisa menjadi penghubung bagi mereka,"

Tutur Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Sebab kalau aku sudah menyaksikan sendiri persoalan ini, mau tak mau aku mesti ikut campur, kan setiap orang tahu aku ini paling suka ikut campur urusan orang lain?"

Setelah terbahak, lalu ia menyambung lagi sambil menggeleng.

"Rupanya mereka tahu bilamana aku menjadi juru bicara, mau tak mau Sih-tayhiap dan Si Hau-liam pasti akan percaya penuh, sebab........"

"Sebab setiap orang Kangouw tahu kata-kata Coh Hiang-twe adalah kata-kata emas, apa yang kau ucapkan tidak mungkin dusta,"

Tukas Thio Kan-cay dengan tertawa. Mendadak ia berpaling kepada Cu Beng-cu dan menam bahkan.

"Swipoa yang kalian ketik memang sangat rapi, cuma sayang, akhirnya kalian tetap melupakan sesuatu."

Cu Beng-cu menunduk, katanya lirih.

"Mohon penjelasan Cianpwe."

"Kalian telah melupakan bahwa Coh Hiang-swe tidak nanti dapat ditipu oleh siapa pun juga."

Kata Thio Kan-cay pula.

"Sekarang rahasia kalian telah kena dibongkar olehnya. Apakah kalian masih ingin minta dia menjadi juru bicara untuk membujuk orang tua kalian?"

Serentak Cu Beng-cu berempat berlutut dan menyembah pula kepada Coh Liu-hiang. kata mereka.

"Mohon Hiang-swe sudi membantu, sungguh kami sangat berterima kasih."

"Untuk apa kalian memohon,"

Jawab Coh Liu-hiang.

"Kan sudah kukatakan tadi, aku ini orang yang paling suka ikut campur urusan orang lain, pula tidak suka mengecewakan orang, kalau aku bisa melihat setiap pasang kekasih di dunia ini menjadi suami-isteri bahagia, kenapa tidak kubantu melaksanakannya.'' Thio Kan-cay berkeplok tertawa, katanya.

"Coh Hiang-swe memang tidak malu sebagai Pendekar Harum. Sesungguhnya harus kuingat juga sebelum ini, bahwa Hiang-swe sengaja membongkar rahasia kalian ini, soalnya dia tidak mau orang memandangnya sebagai pendekar bodoh."

Lalu ia berkata pula kepada Cu Beng-cu berempat.

"Sekarang kalian pun mendapatkan suatu pengalaman, yaitu selanjutnya apapun yang kalian harapkan dari Hiang-swe paling baik jika kalian menjelaskan dulu segala persoalannya, apabila ada yang ingin menipu Hiang-swe, akhirnya yang tertipu pasti kau sendiri." ***** Siau-tut-cu dan Siau-moa-cu tidak terhitung anak kecil lagi, terkadang mereka pun serupa orang dewasa, paling tidak mereka dapat berlagak sudah dewasa, Tapi sekarang gerak-gerik mereka jelas hanya dua anak kecil saja, bahkan anak kecil yang merasa penasaran, mulut mereka yang menjengkit itu mungkin bisa dibuat gantungan botol. Tadi Si In dan Liang-ma berkeras mengundang semua orang ke rumah mereka untuk minum arak. Dengan sendirinya Thio Kan-cay tidak mau pergi, sebab dia sudah cukup tua, pula seorang 'tabib sakti'. Minum arak baginya seperti bertaruh dengan jiwanya sendiri. Cu Beng-cu dan Sih Bun juga tidak terima undangan Si In itu, sebab mereka harus pulang untuk menyambung sandiwara mereka. Dan Liang-ma juga tidak berkeras meminta kehadiran mereka. Yang tidak adil ialah Siau-tut-cu dan Siau-moa-cu ingin hadir, tapi Liang-ma dan Si In justru tidak menyampaikan undangan pada mereka. Keruan mereka sangat mendongkol, seterusnya si gundul dan si burik lantas tidak sudi menyinggung lag| urusan itu, malahan si gundul tidak sudi memikirkannya lagi. Sedapatnya si gundul memikirkan urusan lain, gumamnya.

"Beberapa orang ini benar-benar sialan, ya pura-pura sakit, ya purapura mati juga pura-pura menjadi setan, sudah banyak membuang tenaga dan pikiran, juga mengalirkan air mata pula, dan semua itu hanya karena satu kata saja, yaitu 'cinta' he....he....he."

Dia terkekehkekeh beberapa kali, lalu berseru.

"Sungguh tak kupahami 'cinta' yang sialan itu mempunyai daya tarik yang se besar itu sehingga dapat membuat orang sebanyak ini menjadi gila semua."

"Ya, aku pun tidak paham, kuharap selama hidup ini jangan terjadi hubungan dengan satu kata ini,"

Tukas si burik.

Dengan keras dia tendang sepotong batu, seperti sekali tendang dia hendak mengenyahkan 'cinta' itu.

Ia tidak tahu bahwa "cinta' tidak sama dengan batu, betapapun besar tenaga yang digunakan tetap tak dapat mengenyahkannya.

Jika dikira sekali tendang telah mengenyahkannya, tahu-tahu dia mental balik, se makin keras tenaga tendangan, semakin cepat pula dia mental kembali lagi.

Bila dipikir dapat menginjaknya hingga hancur, maka injakan ini pasti akan menyakitkan hati sendiri.

Siau-tut-cu termenung hingga lama, tiba-tiba ia berkata pula.

"He, kaukira Cu-jiya akan membiarkan puterinya diperisteri oleh Sihjisiauya?"

"Mau tak mau dia harus setuju, sebab 'roh' anaknya kan roh orang lain,"

Kata Siau-moa-cu. Ia merasa ucapan sendiri yang bermakna ganda ini sangat lucu, maka ia terkikik geli sendiri, rasa dongkolnya tadi lantas lenyap sebagian. Tapi Siau-tut-cu lantas mendelik, katanya.

"Tapi bagaimana dengan Sih-tayhiap, apakah dia dapat menerima anak menantunya ini?"

"Jika orang lain membicarakan dengannya, mungkin akan ditolak oleh Sih-tayhiap,"

Kata Siau-moa-cu.

"Tapi sekarang Coh Hiang-swe yang bicara dengan dia, mau tak mau dia pasti menerimanya."

Si gundul mengangguk katanya.

"Betul, dia hutang budi kepada Hiang-swe, setiap orang seakan-akan hutang budi kepada Coh Hiang-swe."

Si burik mencibir, katanya.

"Pantas si nenek sialan itu berkeras mengundang Coh Hiang-swe ke tempatnya untuk minum arak."

"Plok", mendadak si gundul menampar si burik katanya.

"Kau burik sialan, memangnya kau kira dia benar-benar mengundang minum arak pada Coh Hiang-swe?"

Si burik melotot, jawabnya.

"Habis untuk apa kalau tidak minum arak?"

"Ai, dasar burik,"

Omel si gundul.

"Masa tidak dapat melihat gelagat, mereka hendak menjadi perantara bagi Coh Hiang-swe."

"Menjadi perantara? Perantara apa?"

Tanya si burik dengan melenggong.

"Sudah tentu menjadi perantara bagi Coh Hiang-swe dan nona Ciok Siu-hun itu,"

Tutur si gundul.

"Mereka merasa berhutang budi kepada Coh Hiang-swe, maka mereka ingin membalasnya dengan mengumpulkan Coh-toako dan nona Ciok itu."

Si burik berkeplok tertawa, katanya.

"Betul aku memang heran, seorang perawan seperti nona Ciok itu mengapa tengah malam buta mau pergi ke rumah orang untuk minum arak, kiranya dia telah penujui Coh-toako kita."

"Orang baik seperti Coh-toako kita, ya cakap, ya pintar, adalah aneh kalau anak perempuan tidak suka padanya,"

Kata si gundul pula.

"Akan....... akan tetapi, apakah Coh-toako juga suka pada nona Ciok itu?"

Tanya si burik.

"Wah, untuk ini, sukar untuk di jelaskan......."

Baca Juga: Pendekar Baju Putih Kho Ping Hoo

Baca Juga: Pedang Wucisan 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert