Eps 3 Manusia Aneh Dialas Pegunungan - Gan Kl
Baca online Manusia Aneh Dialas Pegunungan - Gan Kl
Cersil Manusia Aneh Dialas Pegunungan - Gan Kl.
Jing-kin menjadi heran, tapi ia pun tak berani sembarang bergerak, ia ingin tahu dulu apa yang dikehendaki musuh2 itu.
Tapi sudah lama, masih empat orang itu berdiam saja, tiba2 tergerak pikiran Jing-kin, ia insaf orang sengaja mengepungnya ditengah empang itu, dengan begitu akhirnya ia sendiri akan menyerah tak berdaya.
Namun ia pantang menyerah, ia coba tunggu kesempatan dan berharap bisa terjang keluar, ia bertahan sekuatnya, dan tunggu menunggu demikian ternyata berlangsung sampai tiga hari tiga malam, selama itu boleh dikata Ang Jing kin tidur saja tidak berani, kuatir kalau mendadak diserbu keempat musuh itu.
Sampai esok hari keempat, ia sudah terlalu letih, lapar dan dahaga, sebaliknya keempat orang itu seenaknya mengeluarkan rangsum mereka dan memakannya dengan nikmat, mulut mereka sengaja ber-kecap2 hingga mengeluarkan suara se-akan2 orang kelaparan ketemukan makanan.
Karuan tidak buatan gemasnya Ang Jing-kin, sedapat mungkin ia tahan selera yang terus memuncak, ia pura2 melengos kejurusan lain tak mau menatap musuh.
Bwe-hoa-siancu , tiba2 satu diantara empat orang itu berseru, sudah tiga hari kau bertahan, rasanya tiga hari lagi kaupun takkan bisa lolos, biasanya kau sok pintar, kenapa sekarang begini bandel ?
Jing-kin tahu maksud orang tetap mengincar kedua barang miliknya itu, tapi meski ia benar2 serahkan barang2 itu, serupa saja jiwanya tak terjamin mengingat kekejaman musuh2 itu.
Maka ia hanya tertawa dingin tanpa gubris.
Haha, Bwe-hoa-siancu, nih, makan sedikit !
seru sijangkung tadi.
Berbareng itu sepotong Siopia terus dilemparkan kearahnya.
Sesungguhnya Ang Jing-kin sudah terlalu lapar, tanpa kuasa ia ulur tangan hendak menyanggapi makanan itu.
Diluar dugaan cara melempar sijangkung itu memakai 126 tenaga efek, ketika sampai didekat Ang Jing-kin, mendadak makanan itu bisa membiluk kesamping terus nyemplung keempang.
Maka tertawalah keempat orang itu ber-gelak2 dengan senangnya.
Sebaliknya Ang Jing-kin malu dan murka, kalau tenaga mengijinkan, segera ia bermaksud menubruk maju buat adu jiwa.
Sementara itu didengarnya sijangkung itu berkata lagi ; Bwe-hoa-siancu, ditempat begini kau masih berlagak, makanan demikian kau tidak doyan, tunggulah nanti pulang kerumah nenekmu minta disusui, hahaha !
Habis tertawa, ia berjongkok, dengan tangannya ia mengeruk air empang yang jernih itu buat minum.
Tiga hari yang lalu Ang Jing-kin telah menyaksikan Kek Pang terbinasa sebab minum air sungai yang beracun itu, kini melihat orang juga minum air sungai, pula ketiga kawannya juga akan menirukan sijangkung, diam-diam hatinya bersyukur musuh2 itu mencari kematian sendiri dan memberi jalan hidup bagi dirinya.
Dalam saat demikian, sinar matanya terus menatap orang berkedok yang berdebat dengan sijangkung tadi.
Ia lihat orang ini tidak gunakan tangannya mengeruk air, tapi berjongkok sambil sedikit menyingkap kain kedoknya, dengan mulutnya akan menghirup air empang itu.
Sekilas Jing-kin mengenali separuh muka orang itu seketika kepalanya se-akan2 pening, serunya tak lampias .
Keparat she Cu, ki..kiranya kau adanya ?
Mendadak orang yang dikatakan she Cu itu terkejut, belum sampai air menempel mulut, cepat ia melompat mundur dengan tertegun.
Sedang tangan Ang Jing-kin terus menuding orang dengan gemetar tapi tak sanggup buka suara.
Pada saat itulah, se-konyong2 terdengar suara jeritan berulang2 dari ketiga orang yang lagi minum tadi, lalu bergedebuk roboh ketanah kulit badan mereka seketika berubah biru gosong, lalu tak berkutik pula.
Nyata merekapun binasa oleh racun air sungai seperti halnya Kek Pang.
Diam2 Jing-kin menyesal terburu napsu bersuara, kalau tadi diam2 menanti, bukankah jahanam she Cu itupun tak terluput dari kematian ?
Dan kini manusia itu sudah lantas angkat langkah seribu melihat kawan2nya sudah terbinasa.
Hati Ang Jing-kin merasa lega sesudah ketiga musuh sudah mati dan seorang lagi lari terbirit2.
Ia hitung2 masih ada waktu belasan hari dari janjinya dengan sang suami 127 dan dapat membawa kembali empedu Kiu-bwe-coa dan Chit-kim-ko untuk menolong jiwanya, sungguh ia tidak pernah membayangkan akan begini mudah menyelesaikan kepungan musuh tadi.
Saking girangnya, belum lagi ia berbangkit tiba2 matanya serasa gelap, orangnyapun jatuh pingsan di atas batu itu.
Dalam pada itu, mengenai diri si A Siu yang ditinggalkan sendiri dan terlupa itu, dasar kanak-kanak, ketika tiba-tiba dilihatnya ada seekor kelinci putih dengan kedua matanya yang merah bundar didalam semak-semak rumput lagi memandang padanya, ia menjadi sangat tertarik, tanpa bilang-bilang lagi ia terus memburu kearah kelinci itu.
Binatang itu rupanya binal juga, ketika melihat sibocah mendekati, ia tidak lari, sebaliknya mengeluarkan gerak-gerik yang menggoda hingga makin menggembirakan hati A Siu, dengan tertawa-tawa ia berjongkok terus hendak menangkap kelinci itu, tapi sedikit binatang itu melompat, tangan A Siu yang kecil telah menangkap tempat kosong, kelinci itu tidak lari terus, tapi masih menggoda pula dengan berbagai macam mimik, tentu saja A Siu semakin getol, ia memburu dan menangkapnya lagi, namun luput pula, dan begitulah seterusnya hingga makin lama makin jauh.
A Siu bergurau dengan kelinci putih itu, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa saat itulah, ayahnya Kek Pang telah menemui ajalnya meminum air beracun.
Maka tanpa merasa A Siu telah mengejar kelinci itu sampai beberapa li dan memasuki sebuah lembah yang dikedua tepi dinding tebing curam, makin jauh jalan makin lika-liku, tapi ia masih terus mengudak.
Maka tanpa merasa haripun mulai gelap, perutnya berasa lapar, barulah sekarang A Siu ingat pada ayah dan bibi Jing-koh, ia mulai bingung dan kuatir, segera ia bermaksud kembali kejalan semula, tapi makin putar makin kesasar, haripun makin gelap hingga berulang kali ia jatuh bangun, saking letihnya ia merebah sekenanya ditanah dan pulas.
Besok paginya, ia ber-lari2 lagi hendak pulang kembali, tapi sudah kian kemari masih belum ketemukan jalan yang betul, sampai kelaparan, lalu ia petik buah-buahan yang diketemukan dan dimakan sekedarnya, keadaan begitu sampai beruntun tiga malam, baiknya dimalam hari, karena dadanya memakai kalung permainan mutiara yang memancarkan cahaya terang, maka ia masih bisa berjalan dengan bebas.
Namun begitu, untuk jarak jauh, juga kegelapan belaka yang tertampak, lama-lama A Siu menjadi ketakutan dan duduk ditanah sambil menangis.
Tidak lama, tiba-tiba didengarnya dari jauh ada suara tindakan orang yang sedang mendatangi, mula-mula A Siu menyangka itulah ayahnya, cepat ia berhenti menangis 128 sambil mendengarkan, dan memang benar suara tindakan orang, saking girangnya ia terus meloncat bangun sambil berseru .
Ayah, Jing-koh, aku berada disini, kemanakah kalian, A Siu sendirian menjadi ketakutan!
Selesai ia berkata, orang itupun sudah mendekat, ketika A Siu menengadah, tanpa merasa ia mundur beberapa tindak.
Ternyata yang datang ini bukan ayahnya, bukan lagi Jing-koh tapi seorang lelaki bangsa Han yang berusia 30-an yang tampaknya linglung, ketika tiba-tiba melihat A Siu, orang itu terus menubruk maju dan A Siu dipondongnya tinggi-tinggi sambil menggumam sendiri ; Oh, Jing-kin, Jing-kin, sesungguhnya aku tiada maksud mencelakai kau !
A Siu menjadi bingung mendengar ocehan yang tak karuan junterungannya itu, ia lihat mata orang mengembang air mata, dalam hati kecilnya menjadi heran, apakah orang ini juga kesasar jalan, maka menangis ?
Dasar kanak-kanak, segera iapun menanya .
Toacek, kenapakah kau menangis, apakah kau kesasar ?
Jangan kuatir, sebentar kalau ayah dan Jing-koh sudah datang, nanti kita bersama-sama pergi pulang .
Mendengar nada suara A Siu ini, seketika orang itu tercengang, dengan teliti ia mengamat-amati A Siu sejenak, mendadak katanya .
Eh, kau bukan Siau Yan ?
Anak siapakah kau ?
Sebaliknya A Siu bertambah heran, sahutnya .
He, kaupun kenal enci Siau Yan ?
Aku adalah kawan baiknya dan kelak akan datang memain kerumahnya, demikian Jing-koh berkata padaku?
Siapa namamu ?
tanya orang itu dengan wajah berubah.
A Siu, ayahku bernama Kek Pang , sahut sidara cilik.
Hm, kiranya anak Biau, benda didepan dadamu itu darimana kau dapatkan ?
jengek orang itu mendadak.
A Siu tidak tahu akan perubahan air muka orang, maka sahutnya wajar saja .
Jing-koh yang memberikan padaku !
Jing-koh siapa ?
bentak orang itu.
Berbareng tangannya mengulur terus hendak menarik kalung mutiara yang dipakai A Siu itu.
Jangan kau merebut barangku !
teriak A Siu sambil tangannya yang kecil memegangi kalungnya kencang2.
129 Tapi sekali tangan orang itu mengipat, kontan A Siu terlempar jatuh, kasihan bocah sekecil itu, tentu saja tidak tahan oleh sengkelitan itu, ia jatuh kesakitan hingga pingsan.
Orang itu tertegun sejenak, tapi segera berjongkok hendak mengambil mutiara dari kalung yang dipakai A Siu itu.
Tak terduga, baru saja tangannya menyentuh mutiara itu, tahu2 pergelangan tangannya se-akan2 terjepit sesuatu, ketika ia menunduk, ia menjadi terkejut sekali.
Ternyata pergelangan tangannya seperti kena dipegang oleh tangan seseorang, cuma tangan itu se-akan2 bersisik yang tumbuh diatas kuku jarinya, tenaga cekalan itu demikian besarnya hingga bagai tanggam, sampai setengah tubuhnya ikut kesemutan kaku.
Orang itu sendiri tidak rendah ilmu silatnya, tentu saja ia terkejut, cepat ia berpaling maka terlihatlah ada seorang tua pendek gemuk merebah telentang ditanah.
Orang ini tubuhnya pendek, wajahnya jelek, malahan mukanya seperti bersisik pula, sebaliknya kedua lengannya panjang luar biasa melebihi badannya, kalau berdiri, boleh jadi kedua tangannya itu akan menyentuh tanah.
Sepasang matanya menyorotkan sinar ber-kelip2, rambutnya serawutan bagai rumput kering, manusia aneh semacam demikian, sungguh jarang terlihat.
Siapa kau ?
bentak lelaki pertama tadi.
Dan kau sendiri siapa ?
balas orang aneh ini.
Aku she Cu bernama Hong-tin, orang dari Tionggoan , sahut laki2 itu.
Ya, aku sudah menduga kau bukan orang Biau kami, tak nanti mereka berjiwa rendah seperti kau , jengek kakek aneh itu.
Sambil berkata, Cu Hong-tin itu merasa genggaman tangan kakek aneh itu bertambah kencang hingga tulang tangannya kesakitan luar biasa, walaupun orang itu 130 tampak merebah saja, tapi terang memiliki lwekang yang tinggi, dalam gugupnya ia menanya lagi .
Sobat, selamanya kita tiada kenal, kenapa kau mencari setori padaku ?
Dan permusuhan apa dara cilik itu dengan kau, kenapa kau hendak mencelakainya ?
sahut orang tua itu dengan bengis.
Cu Hong-tin menjadi bungkam, selang agak lama, barulah ia berkata .
Dara cilik ini tiada permusuhan apa2 dengan aku, tapi mutiara yang berkalung dilehernya ini justru adalah milik seorang musuhku yang besar, haraplah kau lepaskan aku, nanti kututurkan yang jelas !
Kiranya Cu Hong-tin yang masih muda ini memang sama orangnya dengan Cu Hong-tin pada permulaan cerita ini.
Tatkala mana ia belum menjadi Tosu, ilmu kebutnya Kek-lok-hut-hoat juga belum terlatih, jadi ilmu silatnya masih belum tergolong tinggi, walaupun begitu, sekali cekal telah dibikin tak berdaya seperti sekarang ia diperlakukan si orang aneh ini, selamanya belum pernah dialaminya.
Sebab itulah, ia ganti siasat memakai permohonan dengan kata2 halus.
Betul juga kakek aneh itu terbujuk, ia kendorkan cekalannya dan berkata .
Baiklah, coba apa yang bisa kau terangkan.
Diluar dugaan, Cu Hong-tin terus melompat mundur jauh2, habis itu tanpa berpaling lagi terus lari dalam kegelapan.
Tentu saja kakek aneh itu sangat gusar, ia mengaum keras hingga menggema jauh dilembah, ia coba berdiri, tapi kakinya terlalu lemas, kembali ia jatuh ditanah, saking gemasnya kedua tangannya yang panjang besar itu memukul tanah ber-ulang2 hingga menerbitkan suara keras.
Tampaknya percuma saja ia memiliki ilmu kepandaian tinggi, karena kedua kakinya lemas bagai tak bertulang, sama sekali tak bisa berjalan.
yoza collection Hong san Koay Khek -Halaman yoza collection Hong san Koay Khek -Halaman Sesudah ber-teriak2 aneh beberapa kali, lalu ia merangkak kesamping A Siu.
Waktu itu A Siu telah siuman kembali, ia menangis pula sambil merintih kesakitan.
Jangan takut, nak, jahanam itu sudah kuusir , kata kakek itu sembari mengamat-amati A Siu, lalu tanyanya pula .
Kau tinggal digua mana ?
Ketika A Siu melihat orang yang berada di hadapannya sedemikian luar biasa hampir2 ia menjerit kaget, namun kakek aneh itu telah menghiburnya lagi.
Lambat laun A Siu menjadi berani, sahutnya kemudian ; Aku tinggal di Tiok-teng-tong .
131 He, orang Tiok-teng-tong ?
seru kakek itu seperti sangat senang oleh keterangan A Siu itu.
Pernah kau mendengar cerita bahwa Tiok-teng-tong itu ada seorang aneh yang bernama Lo-liong-thau yang telah diusir kegunung dan kemudian telah menghilang ?
Ia merandek sejenak lalu dengan menghela napas ia menyambung pula .
Tapi, ah, kau masih kecil, tak mungkin kau mengetahuinya.
Ya, ya, aku pernah mendengar, kata A Siu tiba2, Pernah ayah bercerita bahwa Encim Teng-kiu tetangga telah melahirkan seorang bayi aneh yang bersisik, dan kedua lengannya panjang luar biasa, sebaliknya kaki lemas bagai tak bertulang.
Encim Teng-kiu tak berani bilang pada orang lain, kuatir kalau orang menyangka bayi itu adalah siluman, maka diam2 membesarkannya sampai tujuh tahun, akhirnya telah diketahui orang luar dan diusir pergi ke gunung, anak itu dipanggil Lo-liong-thau, kata ayah, diam2 ia malah bersahabat dengan Lo-liong-thau itu, maka iapun tidak pernah ceritakan pada orang lain.
He, ayahmu bernama Kek Pang bukan?
seru kakek aneh itu dengan girang.
Ya, ya, betul, sahut A Siu.
Ah, kiranya kau puteri Kek Pang !
kata kakek aneh itu sembari merangkul A Siu dengan mesra.
Baik2kah ayahmu ?
Baik, sahut A Siu mengangguk, kami bersama-sama berburu kegunung ini, aku menguber seekor kelinci hingga terpencar dengan dia !
Dan dimana Encim Teng-kiu ?
tanya si orang aneh lagi.
Entahlah, mungkin sudah meninggal, sahut A Siu.
Orang itu menghela napas terharu, katanya kemudian .
A Siu, akulah Lo-liong-thau yang diusir para tetangga kegunung itu.
Mata A Siu membelalak heran, katanya kemudian sambil menggeleng kepala .
Bukan, bukan !
Kata ayah, sesudah Lo-liong-thau masuk gunung, ia telah berubah seekor siluman naga yang mempunyai kepandaian luar biasa .
Ya, Lo-liong-thau memang berkepandaian tinggi, lihatlah A Siu, kata orang itu sambil ulur sebelah tangannya mencengkeram sekenanya satu pohon kecil disampingnya, maka terdengarlah suara krak-krak , batang pohon itu telah kena dipatahkan mentah2.
132 Hebat sekali, Lo-liong-thau, marilah kau ajarkan kepandaian demikian padaku , seru A Siu terkesima oleh tenaga luar biasa Lo-liong-thau itu.
Kau adalah puterinya sobatku Kek Pang, tentu saja aku akan mengajarkan kepandaian kepadamu , sahut Lo-liong-thau.
Marilah kau ikut padaku !
Habis berkata, sekali menggelundung, cepat sekali ia telah merangkak pergi jauh, lekasan A Siu menyusulnya berlari-lari.
Tidak Iama mereka telah memasuki sebuah gua batu yang diluarnya teraling-aling dua buah batu seakan-akan daun pintu buatan alam.
Dalam gua itu ternyata penuh beraneka batu-batu hiasan dinding hingga bersinar gilap ketika tersorot cahaya mutiara dikalungnya A Siu itu.
Karuan bocah ini kegirangan, ia bertepuk-tepuk tangan gembira.
Lihatlah lukisan didinding itu !
kata Lo liong-thau.
Ketika A Siu berpaling kearah yang ditunjuk, ia lihat dinding batu itu halus licin selebar lebih dua tombak dan terukir tujuh orang dewasa, ada yang berduduk, ada yang berdiri, yang berjongkok, yang merebah, macam-macam.
Dibawah ukiran orang-orang besar itu, dibawahnya ada lagi ukiran yang lebih kecil dan semuanya dilukis dalam berbagai gaya yang tidak sama, malahan ada lagi catatan-catatan dengan huruf-huruf kecil.
Apakah itu, Lo-liong-thau ?
tanya A Siu.
Entah, sahut si orang tua, aku sendiripun tidak tahu, secara tak sengaja aku terluntang-lantung sampai disini, lalu tinggal menetap disini sampai dua tahun, sesudah memperoleh api, barulah mengetahui di dinding situ ada lukisan, saking iseng, aku menirukan gaya gambar2 itu, beberapa tahun kemudian, diluar dugaan sekali ayun tangan, aku telah bisa patahkan satu pohon.
Kalau sekarang kau ikut aku tinggal disini, bukankah juga dapat mempelajari ilmu kepandaian hebat ini?
Dengan ragu2 A Siu memandangi dinding itu, tiba2 sahutnya .
Lo-liong-thau, ayahku hendaklah dicari kemari, biar kita bersama-sama mempelajari ilmu kepandaian hebat ini, bukankah lebih baik?
Ya, tentu saja lebih baik, sahut Lo-liong thau.
Tapi pegunungan seluas ini, Lo-liong-thau sendiri tak bisa berjalan, kemana harus mencarinya ?
133 A Siu tak rewel lagi, ia lihat gua itu sangat menarik, maka ia tinggal disitu bersama Lo liong-thau dan tanpa merasa 12 tahun sudah lampau.
Selama itu, seperti halnya Lo-liong-thau, setiap hari A Siu menirukan gaya lukisan di dinding itu untuk belajar, lama2 tubuhnya menjadi enteng, tenaganya besar luar biasa, nyata kemajuannya tidak terhingga.
Sudah tentu A Siu senang sekali, namun demikian, sebab apa dan ilmu kepandaian apa yang dipelajarinya itu, sama sekali ia tak mengerti.
Sama sekali tak tersangka olehnya bahwa lukisan2 yang terukir didalam gua itu sebenarnya adalah dasar2 latihan Lwekang yang maha tinggi tinggalan Siau-yang Cinjin dijaman dahulu yang sudah lenyap dalam dunia persilatan itu, yaitu yang disebut Siau-yang-chit-kay atau tujuh kunci dasar latihan Siau-yang.
Siau-yang Cinjin itu asalnya adalah seorang tukang kayu, tanpa sengaja dipegunungan sunyi diperolehnya satu kitab Lwekang yang mujijat, dengan giat ia melatih diri beberapa puluh tahun hingga menjagoi dunia persilatan pada jamannya.
Ketika merasa hidupnya tiada tandingnya lagi, ia telah menyepi kedaerah Biau serta tinggal didalam gua ini, disini ia menciptakan lagi ilmu Lwekangnya yang meliputi inti sari dari cabang2 ilmu silat lain dan diberi nama Siau-yang-chit-kay .
Setiap kunci itu punya 7x7 gerakan, maka seluruhnya menjadi 7x7x7 = 343 gerak tipu.
Ketika hari tuanya ia telah mengukir hasil karyanya itu didinding gua, lalu tinggal pergi menghilang tak ketahuan rimbanya.
Sungguh sama sekali tak terduga bahwa ilmu luar biasa yang hanya didengar orang Bu-lim, tapi belum pernah dilihat itu, kini bisa diperoleh seorang Biau yang aneh dan cacat serta anak perempuan yang sepele.
Kecerdasan A Siu sudah terang jauh melebihi Lo-liong-thau, tapi karena tidak mendapatkan petunjuk dan bimbingan orang pandai, serupa saja, iapun tak paham dimana letak rahasia ajaran menurut lukisan itu.
Namun begitu, berkat kegiatannya selama dua belas tahun, beberapa bagian kepandaian Siau-yang-chit-kay itupun dapat diperolehnya, dan sedikitnya sudah setingkat dengan jago silat kelas tinggi umumnya.
Tahun itu ia baru menginjak umur lima belas, namun cantiknya sudah kentara lain dari yang lain, karena ber-tahun2 tinggal digua pegunungan, pakaian yang dikenakan telah berganti dengan kulit binatang, namun begitu makin menggairahkan bagi siapa yang melihat akan gadis jelita ini.
134 Berbareng dengan makin bertambah usianya urusan yang diketahuinya pun bertambah banyak, pengawasan Lo-liong-thau kepadanya pun tidak keras lagi, seringkali ia pergi ngelayap jauh tinggalkan gua itu sampai beberapa hari lamanya.
Suatu hari, sudah tiga-empat hari ia tinggalkan Lo-liong-thau, ia terus menuju kedepan.
Tiba2 teringat olehnya tempat tinggal ayahnya adalah Tiok-teng-tong, lalu dimanakah tempat itu, kalau ketemukan orang, bukankah bisa menanya ?
Dan betapa baiknya kalau bisa pulang menyambangi orang tua ?
Setelah mengambil keputusan itu, segera ia percepat langkahnya kedepan, sampai hari hampir petang, dari jauh tiba-tiba dilihatnya ada asap seperti mengepul dari cerobong rumah penduduk, tak lama lagi, dilihatnya ditepi jalan ada empat-lima orang lagi merubungi segundukan api unggun dan sedang makan rusa panggang.
Melihat orang, tentu saja A Siu bergirang.
Sesudah dekat, ia lihat seluruhnya ada lima orang.
Tiga diantaranya laki-laki berewok semua dan lainnya, yang satu adalah hwesio gendut, sedang satunya lagi seorang lelaki kurus kecil.
Para paman, pergi ke Tiok-teng-tong harus ambil jalan mana ?
segera A Siu menanya.
Rupanya kelima orang itu rada kaget ketika mendadak mendengar suara teguran orang, mereka menoleh berbareng, dan mereka menjadi tercengang demi melihat seorang gadis jelita berpakaian kulit binatang telah berdiri disitu.
Namun sejenak saja, satu diantara laki-laki berewok itu terus bersiul panjang seperti lelaki bangor umumnya.
Ehmmm, alangkah manisnya nona cilik ini, darimanakah kau dara cantik?
segera kawannya menggoda.
Ah, kau ini, orang menanya kau, sebaliknya kau menegur ?
ujar temannya yang satu lagi.
Sebagai seorang gadis yang masih hijau, sudah tentu A Siu tak paham kata-kata orang yang bersifat rendah, ia masih menantikan jawaban orang sambil membetulkan sedikit pakaiannya, ketika tanpa sengaja mutiara kalungnya itu tertarik keluar hingga memancarkan sinar gemilapan, kelima orang itu menjadi curiga.
He, mutiara mestika seperti ini, masakan dijagat ini ada dua butir ?
seru satu diantara lelaki berewok tadi.
135 Mana bisa ada dua butir?
sahut silelaki kurus kecil tadi dengan suaranya yang banci.
Lihatlah untaian kalungnya itu begitu indah buatannya, kalau bukan bikinan Ong-lothau, tukang emas kenamaan di Tiangsah yang terkenal itu, siapa lagi mampu membuatnya ?
Hai, anak dara, dimana Ang Jin-kin berada, lekas kau mengaku!
bentak sihwesio gendut mendadak.
A Siu menjadi bingung, ia tidak mengerti mengapa kelima orang itu sedemikian garang kepadanya, ia hanya mengulangi nama Ang Jin-kin yang ditanya itu, ia pikir nama ini seperti sudah dikenalnya, tapi siapa dan dimana ia tidak ingat.
Karena itu, dengan membelalak ia pandangi paderi gemuk itu.
Mendadak Hwesio itu putar2 tongkat paderinya hingga mengeluarkan angin, lalu bentaknya lagi.
Hayo, anak dara, lekas katakan yang benar, dimana adanya Ang Jin-kin ?
Hai, Hwesio gede, tiba2 silelaki kurus kecil itu menukas, caramu begini dan potonganmu bagai raksasa apa takkan bikin takut dara jelita ini ?
Ya, ya, daripada Siucay kecut macam orang sakit tbc seperti kau, masih berani kau berlagak apa?
sahut si hwesio tak mau kalah.
Karuan lelaki kurus kecil itu menjadi gusar.
Kiranya ia berjuluk Im-su Siucay atau si sastrawan akherat, walaupun datang berombongan dengan hwesio gemuk yang bergelar Tiat-pi Siansu itu, namun dalam hati mereka sebenarnya saling iri dan bermusuhan.
Karena kena diolok2, tentu saja menjadi murka.
Lihatlah ketiga saudara she Tio, keledai gundul ini yang mencari gebuk, bukan aku lm-su Siucay Swe Hiang-ang yang tidak kenal sobat, seru lelaki kurus itu kepada tiga kawannya yang berewok itu.
Lalu ia berpaling kepada Tiat-pi Siansu dan mendamprat .
Baiklah, hari ini biar aku memberi hajaran kepada keledai gundul, supaya kau kenal lihaynya orang she Swe!
Bagus, biar aku pereteli juga tulang2mu yang terbungkus kulit melulu itu !
teriak Tiat pi Siansu murka.
Ketiga lelaki berewok itu tidak melerai, sebaliknya mereka mundur semakin jauh supaya mereka berkelahi lebih bebas.
Namun begitu, entah sengaja atau tidak, mereka seakan-akan mengurung A Siu ditengah-tengah.
136 A Siu sendiri ter-longo2 melihat kelima orang itu saling bertengkar sendiri.
Ia lihat Tiat pi Siansu tinggi besar bagai raksasa, sebaliknya si Im-su Siucay itu kurus kecil, keduanya terang tak setanding.
Namun dasar masih kanak kanak, ia menjadi ketarik akan perkelahian yang bakal terjadi itu.
Kiranya datangnya kelima orang itu memang bukan tiada maksud tujuan, mereka sama-sama hendak mencari jejaknya seseorang.
Cuma satu sama lain hanya lahirnya saja akur, dalam batin setiap waktu bila perlu tidak segan2 menjegal pihak lain.
Ketiga lelaki berewok itu terkenal didaerah Hun-lam dengan julukan Thian-lam-sam-say atau tiga singa dari Hun lam selatan, yang tertua bernama Tok-jiau-say Thio Jiang, singa bercakar tunggal, kakak kedua bernama Kiu-thau-say Thio Seng, singa berkepala sembilan, dan yang terakhir ialah Cui-say-cu Thio Sia, singa mabuk.
Kini melihat Swe Hiang-ang akan saling gebrak dengan Tiat-pi Siansu, kebetulan malah bagi mereka, maka sengaja menonton akan menarik keuntungan dari pertengkaran kedua orang itu.
Sementara itu Tiat-pi Siansu sudah membentak .
Nah, Siucay setan madat, lekas keluarkan senjatamu, supaya orang tidak mengatakan aku menghina seorang setan kurus macammu ini!
Melayani keledai gundul seperti kau, kenapa perlu pakai senjata?
sahut Im-su Siucay Swe Hiang-ang dengan tertawa dingin.
Berbareng itu, pukulan pertama terus dilontarkannya mengarah dada lawan.
Bagus, biar aku mengalah tiga serangan padamu !
sambut Tiat-pi Siansu dengan lincahnya, tubuhnya yang gede gemuk itu telah memutar kesamping dengan cepat sambil tongkatnya diangkat tinggi2, betul juga ia tidak balas menyerang.
A Siu menjadi senang melihat pertandingan telah dimulai.
Ia lihat cara menghindar si hwesio gendut itu tidak terlalu pintar, kalau saja Im-su-siucay itu terus menubruk maju dan menyusuli hantaman, pasti ia takkan dapat menghindarkan diri.
Apa yang dipikirkan oleh A Siu ini adalah ilmu silat tertinggi dalam Siau-yang-chit-kay yang lihay, tentu saja hal mana tak mungkin diketahui Im-su-siucay.
Dan karena serangan pertama tak kena, segera Im-su-siucay melontarkan serangan kedua.
Ketika melihat tenaga serangan sekali ini tidak terlalu keras, Tiat-pi Siansu bermaksud membiarkan dirinya dihantam dengan menggunakan ilmu Ngekang, tapi sekilas dapat dilihatnya pada telapak tangan lawan penuh berduri kecil2 dan tajam dengan warna merah tua, ia menjadi terkejut dan lekas mundur kebelakang.
137 Tapi dengan tertawa aneh sekali, lagi2 Im-su-siucay merangsang maju dan sebelah tangannya menggaplok lagi keatas kepala hwesio yang gundul.
Belum lagi Tiat-pi Siansu berdiri tegak, tiba2 melihat serangan orang yang sayup-sayup membawa angin yang berbau busuk, maka insyaflah dia kalau telapak lawan tentu berbisa.
Kalau sampai kena berkenalan dengan tangan orang, pasti kepalanya akan berlubang seperti sarang tawon oleh duri2 ditangan orang.
Maka tak terpikir lagi olehnya apakah kata-katanya akan mengalah tiga kali serangan itu sudah habis belum, sekali tongkatnya mengetok ketanah, mendadak senjata itu terus membal keatas, secepat kilat ujungnya menyodok ketelapak tangan lawan sambil berteriak .
Cara turun tanganmu terlalu keji, jangan kau salahkan aku tak pegang janji, Siucay kecut!
Walaupun Hwesio gendut ini tampaknya urip, tapi lucu-lucu ngong-tit , atau geblek-geblek jujur.
Dengan serangannya yang lihay yang disebut ting-thian-lip-te atau berdiri di bumi menyundul langit, kalau sampai Im-su-siucay Swe Hiang-ang kesodok, pasti dadanya akan amblek berlubang.
Tapi disaat berbahaya itu, sempat Swe Hiang-ang merosot kesamping hingga sodokan tongkat Tiat-pi Siansu mengenai tempat kosong.
Sebaliknya begitu turun ketanah, mendadak Im-su-siucay berjongkok, kedua kakinya terus menyepak.
Karena serangannya tadi luput, Tiat-pi Siansu lagi melengak, maka depakan musuh tak sempat dihindarinya, pahanya telah kena hingga tubuhnya ter-huyung2 mundur, dan akhirnya jatuh terlentang dengan muka pucat sambil ber-kaok2 kesakitan.
Ketika ia meraba pahanya, ternyata tangannya berlumuran darah.
Hm, keledai gundul, sekarang sudah kenal kelihayan tuanmu belum?
jengek Im-su-siucay menyindir.
Tiat-pi Siansu sesungguhnya tidak mengerti cara bagaimana pahanya bisa terluka, hanya kena didepak saja.
Begitu pula A Siu yang menyaksikan itupun merasa bingung, hanya Thian-lam-sam-say saja yang tahu bahwa diujung sepatu Im-su-siucay itu dipasang pelat baja yang sangat tajam, tentu saja daging paha musuh yang tertendang takkan tahan.
Tapi Tiat-pi Siansu masih merasa penasaran, cepat ia merangkak bangun, ia angkat tongkatnya lagi, tanpa bicara terus mengemplang dengan tipu Thay-san-ap-teng atau gunung raksasa menindih kepala.
138 Betapapun lihaynya Im-su-siucay, tak nanti ia berani menangkis serangan hebat ini, apalagi ia bertangan kosong, terpaksa cepat berkelit kesamping.
Dan saking bernafsunya kemplangan Tiat-pi Siansu itu hingga sebuah batu kena dihantam remuk, tangan sendiri yang berasa kesemutan, malah luka pahanya tadi ikut2 kesakitan lagi.
Karuan kesempatan bagus ini digunakan Im-su-siucay dengan baik untuk menubruk maju dari samping terus menggablok kepundak lawan.
Maka terdengarlah teriakan Tiat-pi Siansu terus terguling ketanah.
Waktu Im-su-siucay periksa tangannya, ternyata telapak tangannya sudah berlepotan darah.
Kiranya tangan Im-su-siucay itu terkenal sebagai Sian-jing-ciang atau tangan dewa alias tangan kaktus, yaitu memakai kaos tangan dari kulit landak yang berduri.
Tentu saja pundak Tiat-pi Siansu yang kena dihantam itu seketika bertambah berpuluh lubang2 kecil dan jatuh knock-out , ia menggereng kesakitan, tapi tak berani merangsang maju lagi, melainkan dengan mata mendelik memandangi lawan yang licik itu.
Melihat Tiat-pi Siansu telah kalah kena hantamannya, Swe Hiang-ang menjadi jumawa seperti ayam jago yang habis mendapat kemenangan, dengan sinar mata sombong yang tiada takeran ia mengerling pada Thian-lam-sam-say hingga yang tersebut belakangan ini merasa kebat kebit.
Ha, ilmu kepandaian Swe-toako memang benar hebat!
kata Thian-lam-sam-say setengah mengejek.
Hm, bila kalian ingin coba2, boleh tunggu nanti!
sahut Swe Hiang-ang dengan angkuhnya.
Habis ini ia berpaling kepada A Siu dan membentak .
Bocah, hayo katakanlah, dari manakah kau peroleh mutiara yang kau pakai itu?
A Siu melengak oleh teguran itu, ia lihat wajah Im-su-siucay yang kurus bengis itu lagi memandang padanya dengan sinar mata jahat, ia menjadi muak rasanya.
Mutiara ini pemberian Jing-koh , sahutnya kemudian sambil melengos.
Sudah tentu Im-su siucay tidak pandang sebelah mata pada seorang gadis desa seperti A Siu, dengan suara keras ia membentak pula.
Siapa Jing-koh ?
Dia berada dimana ?
Lekas katakan!
A Siu mengkerutkan keningnya, lalu katanya .
Kenapa kau begitu galak, aku justeru tak mau katakan, sahutnya kemudian.
139 Im-su-siucay menjadi murka.
Budak kurang ajar!
bentaknya, terus melesat maju.
Tangannya diangkat terus hendak mencengkeram kemuka si gadis.
Hai, Im-su.......
bentak Thiam-lam-sam-say hendak mencegah.
Tapi belum sampai ucapannya habis, tahu2 bukannya A Siu yang kena dicengkeram, tapi Im-su-siucay sendiri yang terpental pergi bagai layangan yang putus benangnya, hingga tepat terbanting disampingnya Tiat-pi Siansu.
Kalau tadi Im-su-siucay masih mentah2 bersitegang, siapa tahu sekarang ia sendiri menggeletak juga ditanah sambil meng-gereng2.
Thian-lam-say-say dan Tiat-pi Siansu menjadi bingung menyaksikan itu.
Tapi segera Tiat pi Siansu ter-bahak2 juga, Bagus, sekarang kaupun tahu rasa !
serunya sembari merangkak bangun terus balas menyepak ketubuh Im-su-siucay hingga sasaran ini terpental pergi setombak lebih.
Dalam keadaan terluka kena Lwekang yang dilontarkan A Siu tadi, dengan sendirinya Im-su-siucay tak dapat menghindari depakan si hwesio itu, malahan Tiat-pi Siansu merangkak bangun hendak menambahi sekali tendang lagi untuk melampiaskan rasa dongkolnya tadi, namun keburu diteriaki A Siu.
Tiat-pi Siansu menjadi gusar mendengar ada orang berani merintangi perbuatannya, segera ia hendak memaki, tapi mendadak teringat olehnya bahwa robohnya Im-su-siucay itu justeru disebabkan anak dara itu, jika dirinya berani-berani memakinya, mungkin akan celaka juga.
Karena itu ia menjadi terheran-heran.
Melihat Hwesio yang tolol2 lucu ini, A Siu menduga orang tentu tidak berjiwa jahat, segera ia hendak maju mengajak bicara pula.
Jangan lari !
bentak Thio Seng mendadak.
Habis itu bertiga saudara mereka lantas merubung kedepannya A Siu.
A Siu menjadi dongkol kebebasannnya dirintangi.
Kalian mau apa?
bentaknya kemudian.
Apakah nona anak muridnya Bwe-hoa-siancu Ang Jin-kin ?
tanya Thiam lam-sam-say itu.
Entahlah, aku tidak kenal Bwe-hoa atau Thoa-hoa, sahut A Siu.
Lekas minggir !
140 Akan tetapi Thian-lam-sam-say itu malah mendesak lebih dekat.
Sesudah saling memberi tanda, mendadak Tok-jiau-say Thio Jiang, singa bercakar tunggal, mendadak ulur tangan terus mencakar ke lehernya A Siu hendak menarik kalung mutiara yang dipakainya itu.
Melihat kekurang ajaran orang, A Siu sangat mendongkol, sekenanya ia tangkis serangan orang.
Dengan tipu Tok-jiau-kim-liong atau cakar tunggal menawan naga, tujuan Thio Jiang ialah hendak mengarah mutiara dileher orang, tapi karena tangkisan A Siu itu, maka cengkeramannya itu menjadi kena ditangan si gadis.
Melihat A Siu kecil mungil, lengannya kecil bagai batang kayu, sebaliknya lengannya Thio Jiang hitam lebat dengan bulunya yang panjang-panjang, pula besar kuat penuh otot, setiap jarinya saja hampir sebesar lengan si A Siu, kalau sampai kena dicengkeram, sungguh entah bagaimana jadinya ?
Demikian pikir Tiat pi Siansu, maka ia merasa penasaran, segera berteriak .
Tok jiau say, jangan kau agulkan lenganmu yang lebih besar!
A Siu tersenyum sambil melirik kearah Hwesio itu, ia pikir hati paderi dogol ini ternyata memang betul tidaklah jahat.
Pada saat itulah kelima jari tangan Thio Jiang sudah kontak dengan lengannya, cepat ia keluarkan tenaga dalamnya hingga Thio Jiang tergetar pergi seakan-akan kena aliran listerik.
Thio Jiang terkejut, ia bingung pula akan kepandaian A Siu itu, ia masih penasaran, sekali membentak, kembali ia mencengkeram lagi keatas kepala si gadis.
Diam2 A Siu mendongkol akan kebandelan lawan, sekali ini tak ia beri ampun lagi, sekonyong-konyong ia samber tangan orang terus disengkelit pergi hingga tubuh Thio Jiang yang besar terlempar keudara.
Melihat saudara mereka bakal kebanting mati, cepat2 Thio Sia dan Thio Seng berlari-lari hendak menyanggapi badannya Thio Jiang.
Di luar dugaan tenaga yang dipakai A Siu tampaknya enteng, tapi sebenarnya sangat besar, ketika tubuh Thio Jiang dapat mereka tangkap, mereka berdua ikut terguling juga ditanah.
Karuan yang paling geli adalah Tiat-pi Siansu, ia tepuk tangan bersorak tertawa.
Bagus, bagus, tiga ekor singa kalah dengan seekor kucing!
serunya ter-bahak2.
Dan kau bagaimana, kau takluk padaku tidak?
tanya A Siu mendadak kepada Tiat-pi Siansu dengan tertawa-tawa.
141 Tiat-pi Siansu melengak.
Takluk?
ia menegas.
Tapi segera iapun geleng2 kepala .
Ah, tidak, tidak!
Tiba2 A Siu menghampiri Tiat-pi Siansu hingga tubuh mereka satu sama lain seperti anak kecil berhadapan dengan raksasa saja.
Tanpa bicara A Siu terus ulur jari tengahnya menutuk pelahan ke Hoa-kap-hiat didada orang.
Ilmu kepandaian A Siu diperoleh dari menirukan gambar2 Siau-yang-chit-kay sebanyak tiga ratus empat puluh tiga jurus dalam gua itu, ia hanya tahu cara menggunakannya, tapi tidak mengerti bahwa Hoa-kap-hiat yang ditutuknya itu adalah salah satu jalan darah terpenting ditubuh manusia, dengan Lwekangnya, kalau sampai kena, dapat diduga Tiat-pi Siansu akan melayang jiwanya.
Tapi jelek2 Tiat-pi Siansu adalah keluaran Siau-lim-si, karena tololnya serta tak taat pada pantangan2 perguruan, maka ia diusir.
Sudah tentu dalam pengertian ilmu silat ia lebih paham daripada A Siu.
Ketika tiba2 merasa dadanya se-akan2 diseruduk suatu tenaga yang maha besar.
Karuan ia terkejut, cepat ia hendak berkelit, tapi sudah terlambat, terasa sebuah tulang iganya kena tertutuk patah hingga Tiat-pi Siansu terhuyung-huyung kebelakang dengan muka pucat.
Ah, Toahwesio telah terluka bukan?
tanya A Siu cepat.
O, tak........tak apa, hanya luka sedikit, aku takluk sudah, sahut Tiat-pi Siansu dengan menahan sakit.
Menyaksikan itu, barulah sekarang Thiam lam-sam-say dan Im-su-siucay Swe Hiang-ang insyaf bahwa nona jelita yang mereka hadapi itu sebenarnya memiliki ilmu kepandaian luar biasa, tanpa bicara lagi, Thian-lam-sam-say yang lukanya enteng terus merangkak bangun dan kabur pergi.
Begitu pula Swe Hiang-ang, walaupun dengan rasa sayang, iapun larikan diri.
A Siu tak urus mereka, sebaliknya ia merasa menyesal telah melukai sihwesio gede itu maka tanyanya .
Toahwesio, apakah lukamu parah ?
Dasar wataknya Tiat-pi Hwesio memang tolol jujur, terhadap kepandaian A Siu, sekarang ia sudah menyerah benar2, sahutnya .
Ah, tidak, luka patah tulang ini sedikit hari saja akan baik.
Toahwesio, apakah orang2 tadi adalah kawanmu, kenapa mereka hendak merampas mutiaraku ini ?
tanya A Siu tiba2 dengan heran.
142 Ya, mutiara mestika yang kau pakai itu sesungguhnya tak ternilai harganya, tapi bukan maksudku hendak mengincarnya, sahut Tiat-pi Siansu.
Aku hanya ingin mencari tahu jejak seseorang yang bernama Ang Jin-kin, yaitu pemilik asal dari mutiaramu itu.
Mendengar ini A Siu menjadi teringat pada peristiwa dua belas tahun yang lalu ketika Jing-koh memberikan kalung mutiara itu padanya, tatkala mana orang seperti perkenalkan diri bernama Ang Jing-kin, pantas ketika tadi mendengar nama itu disebut, ia merasa seperti sudah kenal.
Dan sekali ingat akan itu, segera ia menjadi ingat juga kejadian diwaktu kecilnya ketika kesasar dipergunungan itu.
Maka tuturnya kemudian .
Ya, benar, Toa hwesio, bibi yang memberi mutiara ini memang bernama Ang Jing-kin, ada apakah kau hendak mencarinya ?
Ceritanya terlalu panjang, kata Tiat-pi Hwesio, orang Bu-lim yang hendak mencarinya bukan aku saja, tapi masih sangat banyak.
Dia bersama suaminya sudah menghilang dua belas tahun tapi dua macam pusaka dipuncak Kim-teng-san diwilayah Kuiciu diketahui dibawa oleh mereka suami isteri!
A Siu menjadi bingung oleh cerita itu, ia menjadi ketarik dan menanya lebih jelas.
Tapi dasar Tiat-pi Siansu tidak pandai bicara, setelah melantur2 kalang kabut, akhirnya barulah A Siu dapat menangkap maksud kedatangan mereka berlima itu adalah karena ingin mencari jejaknya Bwe-hoa-siancu Ang Jing-kin bersama suaminya, Sam-siang-sin-tong Siang Hiap.
Kiranya pada dua belas tahun yang lalu pada saat Chit-bok-Lo-sat Ki Teng-nio lagi bersemedi, Ang Jin-kin dan Siang Hiap telah menggerayangi tempat kediamannya dan dapat menggondol lari dua macam pusaka.
Ki Teng-nio itu adalah tokoh terkemuka dari aliran sesat, baru saja ia selesai menjalankan tirakatnya lantas mengetahui pusakanya dicuri orang, akibatnya darah naik dan badan lumpuh, yaitu dalam istilah silat disebut Cau hwe-jip-mo atau api membakar diri sendiri.
Dengan badan lumpuh sudah tentu ia tak bisa menguber musuh, sampai siapa pencurinya ia pun tidak tahu.
Kemudian dikalangan Kangouw lantas tersiar kabar bahwa pernah orang melihat ada empat orang berkedok telah menguber Bwe-hoa-siancu dan Sam-siang-sin-tong berdua sampai kedaerah perbatasan diwilayah suku Biau.
Sejak itu pula empat orang berkedok dan suami istri Bwe-hoa-siancu menghilang juga.
Sedangkan diantara orang2 Kangouw yang terkenal dari lapisan Hek-to hanya tiga orang saja yang ikut lenyap, 143 yaitu yang terkenal dengan Bong-san sam-sia atau tiga momok dari gunung Bong.
Karena itu, lantas orang menyangka Bong-san-samsia dapat mencium bau bahwa pada diri Bwe-hoa-siancu berdua ada menggondol pusaka orang maka mereka terus menguber dan akhirnya sama-sama lenyap didaerah Biau.
Namun orang2 berkedok itu seluruhnya ada empat orang, lalu kecuali Bong-san-sam-sia, siapa lagi yang seorang itu ?
Sebenarnya ayahnya Bwe-hoa-siancu Ang Jing-kin adalah pendekar besar diwilayah barat Ohlam, pergaulannya luas dengan segala lapisan dan golongan.
Walaupun Sam-siang-sin-tong Siang Hiap resminya adalah anak menantunya tapi Siang Hiap sejak kecil sudah pintar dan cerdas luar biasa, makanya mendapat julukan Sin-tong atau anak sakti.
Tidak heran kalau sang mertua memandangnya bagai anak sendiri.
Ketika mendengar puteri kesayangan dan menantunya itu lenyap berbareng, pernah juga orang tua itu mencarinya jauh ketanah Biau ini, tapi sayang hasilnya nihil, malahan setahun kemudian, seluruh isi keluarganya telah dibunuh musuh hingga bersih, hanya puteri satu2nya Ang Jing-kin yang nama kecilnya disebut Siau Yan yang berhasil lolos, tapi kemana perginya juga tidak diketahui.
Sedari itu, sang waktu lewat dengan cepatnya, sekejap saja dua belas tahun sudah lalu.
Namun orang2 Bu-lim masih belum melupakan dua macam pusaka milik Ki Teng-nio yang dibawa Ang Jing-kin itu, maka tidak pernah berhenti orang berusaha mencari jejaknya Ang Jing-kin, cuma semuanya harus pulang dengan kecewa atau mati menjadi korban binatang berbisa ditanah Biau ini.
Begitu pula maksud kedatangan Tiat-pi Siansu berlima itu, tiada lain juga serupa saja.
Nyata cerita ini serba baru semua bagi A Siu, sama sekali tak terduga olehnya bahwa di dunia ini masih begitu luas serta penuh manusia-manusia kejam.
Ia merenung sejenak, kemudian katanya .
Jika sejak masuk gunung, Jing-koh tak pernah keluar lagi, lalu bagaimana dengan suaminya ?
Lapat2 aku masih ingat Jing-koh datang bersama seorang lelaki berkerudung katanya lelaki itu terluka, harus disembuhkan dengan dua macam obat apa yang aku tidak ingat lagi, mereka lantas berpisah sejak itu dan akupun terpencar dengan dia selama dua belas tahun tinggal dipegunungan.
Nona.......nona tinggal selama dua belas tahun didalam gunung, apakah tak pernah berjumpa pula dengan Ang Jin-kin?
tanya Tiat-pi Hwesio ragu2, semula ia bermaksud menanya kepandaian A Siu dipelajari dari siapa, tapi tidak jadi.
144 Tidak, akupun tidak tahu kalau dia masih tertinggal digunung, tapi sekarang aku harus mencarinya, ujar A Siu.
Biar aku ikut, seru Tiat-pi Hwesio.
Tapi bagaimana dengan lukamu ?
Asal nona suka menolong, sedikit turun tangan saja, pasti lukaku akan baik!
Betul ?
A Siu menegas dengan mata membelalak.
Ya, dengan Lwekangmu yang tinggi itu, tidak sulit rasanya lukaku hendak disembuhkan, kata Tiat-pi Hwesio.
Walaupun sebenarnya Lwekang A Siu sudah mencapai tingkatan jago kelas satu, tapi ia sendiri hakekatnya tidak mengerti.
Maka katanya .
Bagaimana caranya, coba kau ajarkan padaku!
Tiat-pi Hwesio menjadi heran dan melongo oleh sahutan si gadis.
Ia tutuk punggungnya sendiri dan berkata .
Tempelkan telapak tanganmu disini dan kerahkan tenaga dalammu !
A Siu menurut.
Ketika tangannya menyentuh punggung Tiat-pi Hwesio dengan sendirinya timbul semacam tenaga perlawanan dari tubuhnya, sekejap saja beberapa jalan darahnya yang tadinya buntu kini tiba2 menjadi tembus.
Kiranya Tiat-pi Hwesio ini berhenti setengah jalan dan diusir dari Siau-lim-si, maka kepandaian yang masih dapat diandalkan olehnya adalah ilmu Gwakang, kini dengan bantuan A Siu, tanpa merasa tenaga dalamnya bertambah banyak hingga merupakan dasar latihan Lwekangnya dikemudian hari, karuan girangnya tidak kepalang sampai ia bersuara gembira.
Menyangka orang sudah sembuh seluruhnya, A Siu telah tarik kembali tangannya.
Tiba2 pikiran Tiat-pi Hwesio tergerak, mendadak ia menjura terus memberi sembah kepada A Siu dan katanya .
Nona, meski usiamu lebih muda dariku, tapi aku mohon kau suka menerima aku sebagai Toute (murid)!
A Siu melengak, ia tidak paham maksud orang, tanyanya .
Apakah Toute itu ?
Dengan ter-heran2, Tiat-pi Hwesio mendongak memandang si gadis, pikirnya, semua orang suka bilang aku tolol, tapi gadis ini ternyata lebih tolol dari padaku.
Namun begitu tak berani diucapkannya, hanya sahutnya .
Artinya aku mengangkat nona sebagai suhu!
145 Tapi A Siu masih tidak paham apa Suhu, apa Toute segala.
Maka Tiat-pi Hwesio coba menerangkan .
Aku panggil nona Suhu dan nona sebut aku Toute.
Mau tak mau Tiat-pi Hwesio garuk2 kepala, sebab ia sendiri merasa sulit juga untuk menerangkan.
Lalu Suhu mengajarkan kepandaian kepada toute dan toute akan menurut segala perkataan Suhu.
Suhu suruh toute melakukan apa, toute lantas menurut, sahutnya kemudian.
A Siu menjadi gembira.
Ya, tahulah aku sekarang.
Baiklah, aku menjadi suhumu!
katanya tertawa.
Tanpa disuruh lagi Tiat-pi Hwesio terus menjura memberi hormat sambil memanggil Suhu.
Kedua orang ini yang satu adalah Hwesio tolol, yang lain adalah nona cilik yang kekanak-kanakan, maka tidak heran apapun dapat terjadi.
Namun demikian ada baiknya juga bagi Tiat-pi Hwesio hingga kelak ia dapat mempelajari ilmu Lwekang yang tinggi dari A Siu.
Toute, daripada kita nganggur, marilah kita pergi mencari Jing-koh, kata A Siu kemudian.
Sudah tentu Tiat-pi Hwesio mengia.
Segera mereka berdua kembali kejalan pegunungan itu.
Sedapat mungkin A Siu ingin meng-ingat2 masa dahulu ketika dirinya dipanggul dipundak ayahnya pergi mencari obat bersama Jing-koh dan tempat mana yang telah didatanginya.
Namun ia tidak ingat lagi, hanya samar2 masih ingat pernah meng-uber2 kelinci hingga akhirnya ditolong Lo-liong-thau ketika seorang lelaki hendak mencelakai dirinya.
Begitulah mereka terus menjelajahi lereng pegunungan itu hingga dua hari, tapi tiada sesuatu yang mereka ketemukan, tapi sudah dekat dengan gua tempat tinggal Lo-liong-thau itu, A Siu pikir kenapa tidak pulang dulu untuk menanyakan orang aneh itu, mungkin ia masih ingat cara bagaimana dahulu menemukan dirinya.
Sesudah ambil keputusan, segera Tiat-pi Hwesio diajaknya kesana.
Dari jauh sudah tampak Lo-liong-thau lagi duduk didepan gua sambil melongak-longok, dan begitu melihat A Siu segera orang tua itu berteriak aneh .
A Siu, kemana saja kau ngelayap sampai hari ini baru pulang?
146 Sudah tentu Tiat-pi Hwesio tidak paham apa yang dimaksudkan kata2 orang dalam bahasa Biau yang ngawur itu, ia menyangka A Siu sedang dimaki, maka dengan mata mendelik ia membentak.
Hai, kau setan alas ini, berani kurang ajar pada Suhuku !
tanpa pikir lagi ia mendekati dengan langkah lebar, begitu tongkatnya diangkat, mendadak ia mengemplang kepala orang.
Tapi Lo-liong-thau seperti tidak menghiraukannya, masih katanya dengan gusar .
A Siu, siapakah orang ini ?
Kenapa kau membawa kemari ?
Habis itu, baru cepat ia mengulur tangannya memapak tongkat sihwesio yang sementara itu sudah hampir berkenalan dengan kepalanya.
Sekali tangkap dan ditarik, tahu2 tubuh Tiat-pi Hwesio menyelonong kedepan.
Karena inilah baru Hwesio tolol itu insyaf orang Biau yang aneh ini ternyata jauh lebih lihay daripada si A Siu, lekas2 ia kendorkan cekalannya dan menyusul terdengarlah suara krak , tongkatnya telah patah ditekuk orang aneh itu.
Saking terkejutnya sampai Tiat-pi Hwesio mencelat mundur pula setengah mengumpet dibelakang A Siu.
Cepat A Siu mendekati Lo-liong-thau, Tiat pi hendak ikut maju, tapi mendadak terasa suatu tenaga maha besar telah mendorongnya dibarengi dengan bentakan Lo-liong-thau .
Kau enyah keluar sana !
seketika tubuh Tiat-pi Hwesio ter-huyung2 mundur setombak lebih.
Toute jangan takut, memang beginilah watak Lo-liong-thau, kau tunggu dulu diluar situ, kata A Siu.
Sudah tentu Tiat-pi Hwesio tak berani membantah, dengan mata membelalak heran ia mundur lagi beberapa tindak.
Selama dua belas tahun ini, sudah tentu kepandaian Lo-liong-thau bertambah tinggi lagi daripada dulu.
Sekali tangannya menahan ditanah segera tubuhnya menerobos kedalam gua dan disusul A Siu dengan cepat.
Tapi A Siu menjadi heran ketika sudah berada didalam gua, ternyata disitu sudah bertambah seorang nenek.
Siapakah dia, Lo-liong-thau ?
He, kenapa orang sendiri kau tak kenal lagi!
ujar Lo-liong-thau dengan tertawa.
Tiba2 nenek itu berbangkit sambil mengamati-amati A Siu.
Ai, kau benar2 A Siu, betapa rindunya ibumu akan dirimu, serunya dengan girang.
Nenek, kau.
......
147 Aku adalah Tiat-hoa-popo, masakan kau tidak ingat lagi ?'' potong nenek itu sebelum A Siu menanya.
Tapi sesungguhnya A Siu tidak ingat siapakah gerangan Tiat-hoa-popo ini, maka ia rada kesima.
Ibu Lo-liong-thau, nini Teng-kiu adalah adik perempuanku, waktu kau masih kecil, sering juga aku menggendong kau.
ujar nenek itu.
Samar2 A Siu coba mengingat masa dulu memang seperti ada seorang nenek seperti ini, maka dengan girang serunya .
Ah, tentunya ayah dan ibuku juga baik2 bukan?
Aku tadinya hendak pulang menjenguk mereka, tapi sampai tengah jalan telah putar balik.......
Ai, ibumu saking berduka ditinggal pergi ayahmu, lalu jatuh sakit dan sudah meninggal tahun yang lalu, sela Tiat-hoa-popo dengan menghela napas.
Apa, ibuku sudah meninggal ?
A Siu menegas dengan sedih.
Jika begitu, terang ayahku tidak pernah pulang?
Tentu Jing-koh juga benar2 masih berada ditengah gunung!
Jing-koh siapa ?
tanya sinenek.
Ialah wanita yang minta ayahku membawanya kegunung dahulu itu, sahut A Siu.
Ya, ingatlah aku, kata Tiat-hoa-popo.
Gara2 kedua orang asing itu, sekeluargamu jadi morat-marit.
Sesudah suaminya ditinggal pergi dirumahmu dan memesan agar kain kerudung suaminya itu jangan dibuka.
Siapa duga, suatu kali ibumu kurang hati2 hingga menyingkap kainnya itu, ibumu berteriak kaget, sebab muka lelaki itu sudah tidak berwujut manusia lagi, tapi penuh dengan darah kering dan bernanah pula.
Mendengar jeritan ibumu, lelaki itupun terus meloncat bangun dan berlari pergi entah kemana.
Orang sama berkata bahwa kedua orang asing itu adalah siluman yang sengaja datang hendak mencelakai sekeluargamu.
A Siu ter-mangu2 sejenak, dalam hati ia pikir tidaklah mungkin orang baik seperti Jing-koh itu, tak nanti mencelakai keluarganya.
Kalau bukan Tiat-hoa-popo kesasar jalan digunung dan dapat kupergoki tanpa sengaja, mungkin kita belum lagi tahu bahwa pemilihan Seng-co dari tujuh puluh dua gua suku kita segera akan diadakan dua tahun yang akan datang, kata Lo-liong-thau kemudian.
148 A Siu terkesima tidak paham tentang Seng-co apa segala.
Maka Tiat-hoa-popo telah berkata lagi .
Ya, sekali ini mungkin bintang suku kita sudah mulai terang hingga terdapat dua orang kalian.
Dengan kepandaianmu, Lo-liong thau, rasanya kedudukan Seng-co kita takkan jatuh ditangan bangsa Han lagi!
Tapi akupun takkan menjadi Seng-co, sahut Lo-liong-thau sesudah memikir sebentar.
Jika ingin kedudukan Seng-co tidak jatuh ditangan bangsa lain, rasanya A Siu yang dapat memenuhi kewajiban itu.
Sudah tentu A Siu tidak peduli tentang Seng-co apa segala dan betapa artinya kedudukan itu bagi bangsa mereka.
Ya, A Siu sibocah ini memang sejak semula orang menyangkanya punya rejeki besar, kini ternyata memiliki kepandaian tinggi, tentu saja kita sangat bersyukur, kata Tiat-hoa-popo kemudian.
Baiklah, dua tahun lagi, kalau waktunya sudah dekat, bolehlah kau kemari lagi, kata Lo-liong-thau.
Tiat-hoa-popo mengiakan dan sejak itu sering ia datang menjenguk Lo-liong-thau.
Cuma terhadap pertemuan mereka ini yang selamanya tak pernah diceritakannya kepada orang lain.
Sebaliknya Tiat-hoa-popo sendiri juga tidak sedikit memperoleh faedah dari Siau-yang chit-kay yang terukir didalam gua itu hingga menjadikannya diindahkan suku bangsanya serta diangkat se-akan2 pemimpin mereka.
A Siu, kata Lo-liong-thau kemudian, rasanya sudah tibalah waktunya kita menghadapi hari2 bahagia.
Sesudah kelak kau menjabat Seng-co, hendaklah datang membawa aku kembali kerumah.
Maka Hwesio gede tadi lekaslah kau enyahkan.
Lo-liong-thau, Toahwesio itu sudah mengangkat guru padaku, rasanya ia pasti akan turut perintahku, sahut A Siu, dan sesudah merandek sejenak, tiba2 ia menanya tentang kejadian dahulu dan tempat dimana ia diketemukan orang aneh itu.
Kejadian sebenarnya aku sendiri tidak tahu, ujar Lo-liong-thau, tapi tempat kutemukan kau adalah dibukit sebelah sana yang tidak jauh dari sini.
Tanpa bicara lagi segera A Siu berlari pergi sembari menteriaki Tiat-pi Hwesio.
Kemudian ia berpaling melambaikan tangan kepada Lo-liong-thau dan berseru .
Lo-liong-thau, aku ingin pergi lagi untuk beberapa lamanya akan mencari tahu jejaknya Jing-koh !
149 Dengan sendirinya Lo-liong-thau tidak tahu siapa Jing-koh itu, dia hanya geleng-geleng kepala melihat kelincahan si gadis itu.
Sementara itu Tiat-pi Hwesio terus saja menyusuli A Siu dengan kencang, sesudah melintasi suatu bukit, A Siu coba membayangkan kejadian masa dahulu, tapi sama seperti sudah tak teringat olehnya, hanya lapat-lapat seperti ada air disuatu tempat yang dapat dibuat patokan olehnya.
Toute, ternyata Jing-koh itu benar-benar tidak pernah kembali kepada suaminya yang ditinggalkan itu dan katanya mukanya penuh darah, entah apa sebenarnya yang sudah terjadi, masakan mereka benar-benar jelmaan siluman?
tanya A Siu ditengah jalan.
Siluman?
Mana mungkin, sahut Tiat-pi Hwesio.
Menurut kabar orang Kangouw katanya mereka kena dipedayai Bong-san Sam-sia yang mahir menggunakan racun itu, dan Sam-siang-sin-tong Siang Hiap terkena racun jahat, maka isterinya, Ang Jing-kin tidak kenal jeri payah menyingkir kedaerah Biau ini dengan maksud mencari obat.
Tempo hari A Siu sudah mendengar sedikit tentang Ang Jing-kin dan suaminya itu, maka dia menjadi ketarik akan kisah-kisah Bu-lim, kembali dia tanya .
Toute, cobalah ceritakan sedikit tentang jago2 silat yang menarik diantara bangsa Han kalian.
Benar Tiat-ti Hwesio seorang dogol tapi pengalamannya di Kangouw sesungguhnya cukup luas.
Maka dia menjadi bangga diminta oleh sang guru agar bercerita, segera dia memulai dengan dirinya sendiri yang tidak lupa dibumbu-bumbui dan di-tiup2 setinggi langit sampai A Siu ter-senyum2 geli tapi tak mencelanya.
Kemudian Tiat-pi menceritakan tentang Jing-ling-cu dari Heng-san yang katanya sebatang pedangnya tiada tandingan dikolong langit, tentang dua paderi wanita dari puncak emas Go bi-san yaitu Sian-hoat Suthay dan Biau-in Sut-hay yang mahir ilmu Ji-lay-it-ci atau jari tunggal Budha dan pernah menaklukan delapan iblis terkenal di Jing-le-kok lalu tentang betapa lihaynya Thi-thau-o dari Ngo-tay-san yang atos kepalanya, tentang kelakuan Thong-thian-sin-mo Jiauw Pek-king yang tak terkekang, tapi ilmu silatnya tiada bandingan hingga tiga saudara she ln dari Holan yang terkenal dengan ilmu pukulan geledek kena ditundukan dan tentang tokoh kenamaan didaerah Kang-lam, Tai-lik-sin Tong Po yang takut bini, tentang Chit-bak-losat Ki Teng-nio dan sumoynya Li-giam-ong To Hiat koh yang kejam tak kenal ampun.
Serentetan kisah yang aneh2 dan Iucu2 telah diceritakannya hingga A Siu ter-longong2 saking ketarik.
Dan tanpa merasa haripun sudah petang.
150 Dibawah sebuah pohon besar mereka duduk mengaso buat lewatkan sang malam, A Siu duduk bersila bersemadi menurutkan ukiran yang dipelajarinya dari gua, iapun memberi beberapa petunjuk seperlunya kepada Tiat-pi Hwesio hingga tidak sedikit manfaat bagi paderi itu.
Besok paginya mereka melanjutkan perjalanan, tapi tidak jauh tiba2 mereka mendengar gemerciknya air, A Siu menjadi girang, serunya, Hei, air, air air !
Ya, mungkin suatu sungai kecil, ya, ya, sungai kecil dan aku diletakkan ketanah oleh ayah ditepi air itu !
Segera A Siu mendahului berlari kedepan, tapi sudah dekat sungai itu masih tidak tertampak, setelah menerobos sebuah sela2 batu, tiba2 pandangan didepan terbeliak, sebuah sungai kecil mengalir dengan airnya yang bening menyusur sebuah lembah yang sekelilingnya terkurung oleh tebing2 curam.
Perlahan-lahan A Siu menyusur tepi sungai itu, sampai suatu tempat, tiba2 ia berkemak-kemik.
Ya, ya, ini tempatnya ayah meletakkan aku ketanah.
Pada saat itulah tiba2 Tiat-pi Hwesio di belakangnya telah berseru .
Hai, Suhu, apakah yang berada disamping kakimu itu ?
Waktu A Siu menunduk, dia menjadi kaget.
Ternyata tidak jauh dari tempat berdirinya situ ada kerangka tengkorak yang utuh seperti tengkurap ditepi sungai.
Segera Tiat-pi mendekati kerangka tulang itu dan memeriksanya, tiba2 ia berseru lagi .
Eh, pada tulang orang ini bersemu warna hitam, terang mati keracunan.
He, disini ada lagi sepotong lencana emas segi tiga !
Mendengar ada lencana emas disitu, hati A Siu tergerak.
Sebab ia masih ingat diwaktu kecilnya pernah memainkan sepotong lencana emas milik ayahnya yang biasanya dipakai sebagai jimat untuk menolak gangguan.
Maka cepat ia minta lencana itu dari Tiat-pi Hwesio.
Ia lihat diatas benda itu terukir seekor ayam jago yang lagi berkokok, terang sudah ia memang benar barang ayahnya dahulu, tanpa merasa ia mengeluh .
O, ayah, jadi kau telah meninggal keracunan disini!
Mendengar kerangka tulang itu adalah ayah si gadis, tiba2 Tiat-pi berseru .
Aha, kebetulan, jika ayahmu berada disini, tentu Ang Jin-kin itupun takkan jauh dari tempat ini .
Lalu ia memandang sekitarnya terus berlari menuju kehilir sungai sana.
151 A Siu tidak urus kelakuan Hwesio dogol itu karena sedang berduka, tapi sejenak kemudian ia mendengar Tiat-pi lagi memanggilnya dikejauhan.
Suhu lekas kemari!
Mendengar suara agak genting, cepat A Siu menyusul kesana.
Sesudah menerobos suatu gua, terlihatlah dibalik sana Tiat-pi Hwesio lagi berdiri disuatu empang.
Ditepi ada lagi tiga kerangka tulang, dan diatas batu besar yang menonjol di-tengah2 empang ada lagi kerangka tulang lainnya, sebelah tangannya melambai kebawah seperti sebelum ajalnya telah melemparkan sesuatu kedalam empang, sebab itu sebagian tulang lengan itupun jatuh kedalam empang, hanya ketinggalan buku bagian atas.
Disamping kerangka tulang itu ada lagi seutas tulang ular dan sebutir biji buah-buahan.
Tiap-pi Hwesio tampak lagi memegangi tiga macam benda yang bentuknya aneh dan berkilau.
Toute, barang apakah yang kau lihat itu?
tanya A Siu tidak mengerti.
Tiat-pi tertawa bangga, sahutnya.
Orang selalu mengatakan aku goblok, tapi sekali ini rasanya akulah yang paling pintar.
Ketiga macam senjata ini disebut Tui-hong-liap-hun-boan (petel mencabut nyawa), adalah senjata andalan dari Bong-san-sam-sia, rasanya ketiga rangka tulang di tepi empang ini bukan lain adalah tulang Bong-san-sam-sia yang sudah menghilang selama dua belas tahun itu !
Lalu siapa lagi yang berada diatas batu di tengah empang itu?
tanya A Siu.
Tiat-pi Hwesio menjadi bingung, padahal tadi ia sombongkan dirinya pintar.
Namun dijawabnya juga.
Aku menduga pasti seorang manusia juga.
A Siu geli melihat jawaban yang tak tegas itu.
Sengaja ia menanya lagi .
Dan ketiga orang itu sebab apa telah mati ?
Tentu saja Tiat-pi Hwesio semakin repot, ia hanya geleng2 kepala tak bisa menjawab.
Mereka mati keracunan oleh air sungai ini, tentu, ujar A Siu kemudian.
Ya, ya, memang aku sudah menduga mereka mati keracunan, sebab tulang mereka bersemu hitam, seru Tiat-pi.
Cuma air sungai sebening ini, masakan ada racunnya ?
A Siu cukup cerdik, ketika melihat kerangka tulang ayahnya dan Bong-san-sam-sia sama tengkurap ditepi empang, segera ia menduga air ada sesuatu yang tak benar.
Maka katanya pula.
Kalau perlu boleh coba kau minumnya seceguk.
152 Seketika Tiat-pi melompat mundur sambil goyang2 tangannya.
Eh, eh, Suhu jangan bergurau, masakan air beracun boleh dibuat main2.
Pada saat itulah tiba2 seekor rusa kecil berlari lewat didekatan situ, seru A Siu .
Kau tak berani biar rusa itu yang mencoba !
Dan sekali melesat dengan cepat ia menguber binatang itu.
Betapa enteng gerakan A Siu itu maka tidak seberapa jauh ekor binatang itu kena diseretnya.
Segera Tiat-pi Hwesio meraup sekukupan air dan dicekokan kemulut rusa, hanya sekejap saja segera kulit binatang itu berubah biru hangus terus roboh binasa.
Hebat sekali dugaan Suhu, memang betul orang2 itu mati minum air beracun ini tapi entah orang diatas batu sana, apakah juga mati keracunan ?
teriak Tiat-pi Hwesio.
Habis itu tanpa pikir ia terus meloncat kedepan, ia sangka sekali loncat tentu akan mencapai batu ditengah empang itu.
Tak terduga tampaknya batu itu tidak jauh padahal sedikitnya hampir dua tombak, pula badan Tiat-pi Hwesio terlalu gendut maka sampai batu itu badannya sudah menurun kebawah, dan bila teringat olehnya air empang beracun ia menjadi sibuk dan ber-kaok2 minta tolong !
Syukur A Siu bisa berlaku sebat sekali, sekali melesat secepat kilat ia menyambar tengkuk sihwesio itu dan ditarik kedepan.
Maka sebelum kaki Tiat-pi Hwesio menyentuh air, tubuhnya sudah menurun diatas batu besar itu.
Sesudah berdiri tegak disitu, dengan muka pucat Tiat-pi ter-longong2 memandangi, A Siu tak mengurusnya lagi, cepat ia memeriksa kerangka tulang yang terdapat diatas batu itu, ia tunjuk sesuatu disamping kerangka tulang itu dan berkata pada Tiat-pi .
Lihatlah, apakah itu ?
Cepat Tiat-pi menjemputnya, ternyata itu adalah sepasang anting2, ketika ia periksa lebih teliti, ternyata anting2 itu terdapat tulisan, yang satu tertulis satu huruf Jin dan yang lain Kin .
He, Ang-jing-kin !
seru Tiat-pi terperanjat.
A Siu buta huruf, maka iapun melengak mendengar kerangka tulang inilah Ang Jin-kin, hatinya kembali berduka.
Sementara itu Tiat-pi Hwesio telah putar kayun sekeliling batu besar itu, katanya dengan heran .
Aneh, orang mengatakan dua macam pusaka Chit-bok-lo-sat Ki Teng-nio berada di tangannya Bwe-hoa-siancu Ang Jing-kin.
Kalau ia sudah mati disini, kenapa pusaka2 itu tidak tertampak?
Jangan2 telah kena dibawa pergi oleh salah 153 seorang dari empat orang berkedok yang mengubernya itu ?
Tapi peristiwa itu kenapa selamanya tidak pernah terdengar dikalangan Kangouw ?
Sudah beberapa kali A Siu mendengar tentang dua macam pusaka Ki Teng-nio itu, maka katanya.
Selalu kau singgung2 tentang pusaka sebenarnya dua macam benda apakah ?
Menurut kabar, katanya yang satu adalah sebatang pedang dan yang lain sepotong kain sutera merah, sahut Tiat-pi Hwesio.
A Siu tidak mengerti apa kasiatnya kedua macam pusaka itu, kalau pedang masih bisa dimengerti, tapi sepotong kain sutera merah apa gunanya?
ia memandangi kerangka tulang itu dengan ter-menung2, tiba2 hatinya tergerak, serunya.
Ah, melihat keadaannya tentunya orang diatas batu ini sebelum ajalnya telah melemparkan sesuatu kedalam empang.
Bagus, Jika begitu biar aku selulup kedalam empang untuk mencarinya!
teriak Tiat-pi tanpa pikir, lalu ia membuka jubahnya dan benar-benar hendak terjun kedalam empang.
Melihat kedogolan si hwesio, A Siu menjadi geli.
Toute, apa barangkali kau sudah bosan hidup ?
tegurnya.
Tiat-pi melengak dengan mata membelalak lebar, untuk beberapa lama ia bingung apa yang dimaksudkan si gadis, tapi buk , tiba2 ia tabok perutnya sendiri yang gendut itu dan terteriak .
Haya, aku benar2 tolol, bukankah air empang itu beracun, mengapa aku menjadi lupa ?
Lalu ia menyambung pula dengan wajah menyesal .
Ai sayang, jika begitu pusaka pusaka Ki Teng-nio itu tentu akan hilang ditelan empang ini untuk selamanya.
Tapi itu hanya dugaanku saja, mungkin kejadian sebenarnya bukanlah demikian, ujar A Siu kemudian.
Tiba2 matanya tertatap pada sesuatu benda pula disebelah kerangka tulang sana.
Cepat ia menjemputnya pula dan meng-amat2i.
Apakah ini ?
tanyanya sambil angsur benda itu kepada Tiat-pi.
Waktu Tiat-pi bersihkan karatan diatas benda itu, ternyata itu adalah sebuah piau yang diatasnya terdapat sehuruf Tin .
Tin ?
Adakah sesuatu orang bernama Tin ?
tanya A Siu memikir.
154 Diantara bangsa Han yang bernama Tin sudah tentu tentu terlalu banyak, sahut Tiat pi Hwesio.
Tapi sungguh aneh.
Dahulu yang menguber-uber Ang Jing-kin dan suaminya itu seluruhnya ada empat orang.
Kalau Bong-san-sam-sia sudah mati disini kenapa yang seorang lagi tak kelihatan, pula bagaimana dengan nasib suaminya Ang Jin-kin itu ?
Mendengar itu, betul juga pikir A Siu, walaupun dogol, kadang2 Hwesio gendut ini dapat pula berpikir.
Maka katanya.
Teka-teki ini kecuali mereka sendiri berdua, rasanya tiada orang lain lagi yang bisa tahu.
Tapi sekarang aku menjadi ingin tahu apakah manfaat kedua pusaka yang dibuat rebutan itu, kalau kau tidak mengetahui, kenapa kita tidak pergi menanya pada pemilik asalnya?
Tiat-pi meloncat kaget.
Ha, menanya pemilik asalnya ?
Itulah aku tak berani pergi!
Eh, bukankah kau bilang apa yang Suhu perintahkan, akan menurut?
omel A Siu.
Ya...
ta....
tapi pemilik asalnya itu, Cit-bok-lo-sat Ki Teng-nio meski lumpuh, tapi ia masih punya tiga murid yang terkenal dengan sebutan Kim-teng-sam-sat (Tiga Iblis Dari Puncak Emas) yang kepandaiannya sudah hampir menurunkan seluruh kemahiran sang guru, pu...
pula meski Ki Teng-nio sudah lumpuh, tapi mahir ilmu 'bersuara mencabut nyawa', menyembur senjata rahasia dengan mulut, lihaynya tiada kepalang...
Sudahlah, sudahlah, betapapun lihaynya, toh kita tidak mencari berkelahi padanya ?
Apakah kau benar2 tidak turut pada kata2ku ?
potong A Siu tidak sabar.
Nyata dasar masih hijau, pula jiwanya terlalu polos, maka sama sekali tak terpikir olehnya tentang baik jahatnya orang Kangouw.
Terpaksa Tiat-pi Hwesio mengaku terus terang bahwa ia dahulu sudah pernah merasakan bogem mentah dari Hek-hong-tongcu Nio Kiat, satu diantara tiga murid Ki Teng-nio itu.
Sebab itulah, ia minta agar A Siu suka berlaku hati2.
A Siu ganda tertawa saja, segera mereka menuju ke gunung Kim-teng-san diwilayah Kuiciu.
Sepanjang jalan semua orang menjadi ter-heran2 melihat seorang gadis jelita bikin perjalanan bersama satu hwesio gendut yang berwajah bengis.
Sementara itu A Siu sudah berganti pakaian putih sebagaimana gadis umumnya.
155 Sesudah beberapa hari, tibalah mereka dikaki gunung Kim-teng-san itu.
Sepanjang jalan A Siu merasa segalanya serba baru baginya hingga sering menanya ini itu kepada Tiat-pi Hwesio.
Kim-teng-san itu tidak terlalu tinggi, tapi terjal sekali.
Setiba dikaki gunung itu, A Siu menjadi bingung karena dimana-mana tebing curam belaka, kemana harus mencari tempat tinggal orang, maka ia menanya Tiat-pi .
Toute, gunung sebesar ini, dimana tempat tinggalnya Ki Teng-nio ?
Menurut cerita orang Kangouw, dikaki gunung ia pasang sebuah genta raksasa, siapa yang membunyikan genta itu, lantas ada orang datang menyambut, tutur Tiat-pi Hwesio.
Mereka coba mengitari lereng gunung itu, betul juga, disuatu tanjakan terdapat suatu genta raksasa yang digantung diantara dua pohon besar sebagai kerangka.
Tinggi genta itu sedikitnya dua-tiga tombak, entah tadinya cara bagaimana menggantungnya keatas.
Ketika A Siu mendongak, ia lihat diatas kerangka pohon itu terletak pula sebuah palu pemukul genta.
Tiat-pi angkat pundak nampak betapa tingginya genta itu.
Sebaliknya A Siu tersenyum saja.
Tiba-tiba ia enjot tubuhnya setinggi lebih setombak, selagi tubuhnya masih terapung di udara kedua kakinya mengenjot lagi dan kembali tubuhnya membubung keatas pula.
Segera palu diatas kerangka tadi sudah dapat dipegangnya terus dipukulkan tiga kali keatas genta itu.
Lalu palu itu ia letakkan kembali ketempatnya dan orangnya menurun kebawah dengan enteng.
Suara genta itu nyaring sekali berkumandang menggema angkasa pegunungan itu hingga lama sekali.
Ketika suara genta sudah hampir reda tiba-tiba terdengar suara genta juga diatas gunung sana dipukul tiga kali.
Menyusul diatas suatu tebing yang curam dan tinggi sekali muncul satu orang, saking jauhnya hingga orang itu hanya sebesar jari saja.
Mendadak orang itu menerjun kebawah dengan cepatnya.
Karena tak tahu seluk-beluknya sampai A Siu bersuara kaget.
Tapi hanya sekejap saja tahu-tahu orang tadi sudah turun sampai dibawah melalui seutas rotan pegunungan yang sangat kuat, orang itu membuai gesitnya bagai kera saja dan sekejap pula orangnya sudah berhadapan dengan mereka.
156 Kenal siapa orang yang datang ini, wajah tiat-pi Hwesio terus berubah.
Kiranya orang ini sudah bukan kanak2 lagi, tapi justru berdandan seperti anak kecil, malahan rambut di atas kepalanya diikat menjadi dua gelungan hingga tampaknya sangat lucu.
Dengan sinar mata yang bengis ia mengawasi kedua tamunya ini lalu menegur kearah Tiat-pi.
Keledai gundul rupanya kepandaianmu sudah maju banyak hingga mampu menabuh genta pencabut nyawa digunung kami ini !
Tiat-pi tidak menjawab sebaliknya ia membisiki A Siu .
Suhu, inilah murid pertamanya Ki Teng-nio yang bernama Hek-hong-tongcu Nio Kiat.
Maka dengan tersenyum A Siu melangkah maju dan menyapa .
Karena ada sesuatu urusan perlu aku menanya pada Chit-bok-lo-sat Ki Teng-nio, maka sukalah Toako membawa kami kepadanya?
Budak kurangajar, bentak Nio Kiat mendadak.
Nama guruku masakan dapat kau sebut sesukanya ?
Mengingat usiamu masih terlalu muda, biarlah aku tidak persoalkan lebih panjang.
Nah, lekas enyah saja dari sini!
Habis ini ia berpaling kepada Tiat-pi .
Tapi kau keledai gundul ini tidak boleh pergi dari sini!
Eh, aneh, sahut A Siu dengan heran, nama orang perlunya dipanggiI, kenapa kau melarang aku menyebut nama gurumu ?
Kedatanganku ini ada yang perlu menanya gurumu, kenapa kau mengusir aku ?
Mendadak Nio Kiat bergelak ketawa, Ha haha, rupanya kau kena dibohongi keledai gundul itu, hingga berani-berani datang bergurau ke sini.
Hahaha, hendaklah kau ketahui bahwa keledai gundul itu sudah kenyang merasakan pukulanku !
Keledai gundul ini tidak membohongi aku tapi akulah yang mengajaknya kemari!
sahut A Siu terus terang.
Nyata ia tidak tahu bahwa kata2 keledai gundul itu adalah makian kepada kepala Hwesio yang pelontos, tapi ia menirukan apa yang diucapkan Nio Kiat saja.
Tentu saja bagi Tiat pi Hwesio yang mendengarkan menjadi mendongkol dan geli.
Akan tetapi Nio Kiat belum mau percaya, tanyanya pula dengan bengis .
Budak kecil berani membual!
Siapa namamu ?
Aku bernama A Siu dan keledai gundul ini adalah muridku, sahut A Siu.
Suhu, aku bukan gundul, tapi keparat itu sengaja memaki aku !
teriak Tiat-pi tak tahan.
157 A Siu menjadi melengak, tapi lantas katanya .
Oh, jadi aku salah omong.
Melihat kedua orang itu benar2 saling sebut guru dan murid, Hek-hong-tongcu Nio Kiat menjadi heran tak terhingga.
Ia lihat A Siu cantik molek ke-kanak2an, sebaliknya Tiat-pi Hwesio itu walaupun dogol, tapi juga bukan kaum lemah dikalangan Kangouw, mengapa bisa mengangkat guru pada seorang gadis jelita demikian ?
Dalam pada itu A Siu telah mendesak lagi agar menunjukkan jalan untuk menemui gurunya.
Ia pikir orang mohon bertemu dengan menurut aturan, yaitu dengan menabuh genta, kalau tak dibawanya keatas gunung, mungkin gurunya juga akan menyalahkannya.
Baiklah mari kalian ikut padaku, katanya kemudian.
Kiranya ilmu kepandaian Chit-bok-lo-sat Ki Teng-nio itu sudah mencapai puncaknya pada dua puluh tahun yang lalu.
Semula ia adalah anak murid seorang paderi suci kenamaan, tapi karena tidak taat pada ajaran suci, ia telah diusir dari perguruan lalu dia menyingkir jauh kedaerah terpencil diperbatasan ini dan tanpa sengaja dapat memperoleh semacam kitab ilmu silat dari aliran sesat, keruan seperti harimau tumbuh sayap, kepandaiannya semakin tinggi dan kelakuannya bertambah menyendiri.
Ia pikir kalau ilmu silat dalam kitab baru itu sudah sempurna dilatihnya, tatkala mana pasti akan menjagoi dunia silat.
Tapi celaka baginya ketika sampai detik terakhir peyakinannya tahu tahu datang Ang Jing-kin bersama suaminya dan berhasil mencuri dua macam pusakanya.
Saking gusarnya hingga darah meluap dan tenaga dalam nyasar menyebabkan badannya menjadi lumpuh.
Sehabis itu wataknya makin hari makin aneh, tapi hatinya semakin merasa sunyi juga.
Maka setiap kali ada orang luar datang minta berjumpa, ia memberi pesan murid2nya agar menyambut dengan beraturan.
Sebab itulah maka Hek-hong-tongcu Nio Kiat mau bawa A Siu dan Tiat-pi Hwesio keatas gunung.
Setelah lama mereka menanjak keatas gunung mengikuti jalan yang ber-liku2, akhirnya tiba juga dipuncak tertinggi gunung itu.
Karena diatas gunung tandus tak tumbuh rumput dan pohon, maka batu cadas disitu licin mengkilap, bisa tersorot cahaya sang surya, maka sinar membalik ke-emas2an membikin puncak gunung itu seluruhnya se-akan2 berlapiskan emas, sebab itulah maka disebut Kim-teng-san , atau gunung puncak emas.
Di-tengah2 puncak gunung itu terdapat sebuah empang yang luasnya lebih dua tombak, ditengah empang yang membelakangi tebing terdapat sebuah batu cadas menonjol keluar, diatasnya persis tumbuh satu pohon Siong yang tua dan rindang hingga mirip sebuah payung, dan diatas batu itulah duduk bersila seorang wanita 158 berbaju hitam.
Disamping wanita tua ini berdiri dua orang lelaki yang berdandan seperti Nio Kiat, yang satu bertubuh jangkung dan yang lain berwajah pucat lesi.
Suhu, tetamu sudah datang !
lapor Nio Kiat segera kehadapan wanita berbaju hitam itu.
Mendengar itu, barulah per-lahan2 wanita itu membuka matanya, dan seketika sinar matanya bagai kilat memancar keatas tubuh A Siu berdua.
Diam2 A Siu terkejut, tak terduga olehnya Lwekang orang itu ternyata begitu hebat.
Kalian berdua datang kemari, ada urusan apa ?
segera wanita itu membuka suara.
Melihat ditepi kedua mata orang ada lima bekas luka kecil2 sebesar kuku hingga dipandang dari jauh mirip tujuh mata dimukanya, A Siu menduga tentu inilah orang disebut Chit bok-lo-sat atau siwanita bermata tujuh itu, Memangnya ia tidak kenal sungkan2 apa segala, terus saja ia menanya.
Apakah kau inikah Chit-bok-lo-sat Ki Teng-nio ?
Seketika Tiat-pi Hweshio dan Kim-teng-sam-sat berubah hebat wajahnya mendengar si gadis terang2an menyebut nama orang.
Begitu pula Kim Teng-nio telah pentang matanya melototi si gadis.
Tapi A Siu merasa tidak berbuat sesuatu kesalahan, sama sekali ia tak gentar.
Melihat sikap si gadis yang luar biasa ini, Ki Teng-nio coba menahan rasa gusarnya, ia tersenyum dingin, lalu sahutnya .
Ya, benar.
Ada urusan apakah kau ?
Aku ingin menanya tentang kejadian belasan tahun yang lalu, yaitu pedang dan kain sutera merah yang tercuri oleh Jing-koh...
Sekonyong-konyong Ki Teng-nio bersuit aneh hingga rambutnya yang kusut itu seakan-akan menegak.
Nyata peristiwa itu merupakan kejadian yang tidak pernah dilupakan olehnya sebagai suatu noda besar selama hidupnya, malah ia menjadi korban pula hingga badannya lumpuh, sama sekali tak terduga A Siu berani menyinggung hal itu dihadapannya, tentu saja ia menjadi murka sebelum A Siu selesai berkata.
Mendadak ia membentak pula .
Budak kurang ajar, hehe, hehehe!
nyata saking murkanya hingga ia tertawa dingin saja.
Disamping sana, Kim-teng-sam-sat terus saja merubung maju demi nampak kegusaran sang guru yang tak terhingga itu.
159 Namun A Siu menjadi tercengang, dengan tertawa ia menanya .
He, aneh kau ini, aku hanya menanya, kenapa kau marah2 ?
Hemm, budak semacam kau ini, benar2 aku belum pernah melihat, kata Ki Teng-nio kemudian.
Tapi kalau kau sudah berani datang kemari, rasanya kaupun punya andalan apa2, Lalu ia berpaling berteriak sengit kepada ketiga muridnya itu .
Ambilkan senjata !
Cepat juga Kim-teng-sam-sat bergerak begitu mendengar suara teriakan gurunya yang keras melengking, sekali jari mereka menjentik, secepat kilat tiga macam senjata rahasia telah menyambar kemuka Ki Teng-nio.
A Siu semakin heran melihat kelakuan mereka yang aneh itu, senjata rahasia itu tidak diarahkan padanya, sebaliknya menyerang guru mereka sendiri ?
Namun lantas terlihat Ki Teng nio sedikit mengap mulutnya, tahu2 ketiga senjata rahasia itu telah masuk kedalam mulutnya menyusul Kim-teng-sam-sat terus melompat mundur.
Sebaliknya A Siu masih ter-heran2, tak paham apa artinya itu ?
Sementara itu terdengar Ki Teng-nio sudah bersuara aneh sekali, dan sedikit mulutnya bergerak krok , tahu2 senjata rahasia telah menyembur dari mulutnya.
Anehnya sesudah senjata itu disembur keluar, mula2 seperti ber-putar2 saja didepan Ki Teng-nio, lambat laun sesudah berputar makin cepat, mendadak terus menyambar kearah A Siu.
Sementara itu A Siu sudah melihat jelas senjata rahasia itu adalah sepotong Hui-hong-ciok atau batu belalang terbang.
Karena datangnya batu itu tampaknya lambat2 saja, maka A Siu tidak ambil perhatian.
Siapa duga ketika batu itu menyambar lewat diatas empang, air empang itu tiba2 bergolak seperti ditiup angin kencang.
Barulah sekarang A Siu tahu betapa hebat tenaga dalam yang dilontarkan Ki Teng-nio itu untuk meniup batu belalang itu.
Belum lagi batu itu mendekati, segera dia merasa suatu tenaga maha hebat telah menyerang dulu kedadanya hingga hampir2 dia tidak bisa tegak.
Namun dengan Lwekang yang diperolehnya tanpa sadar dari Siau-yang-chit-kay yang hebat, A Siu tidak mudah dirobohkan, ia justru ingin mencoba betapa lihaynya tenaga dalam orang.
Tidak mundur, ia malah melangkah maju terus meraup batu yang sudah menyambar tiba itu.
160 Melihat usia A Siu semuda itu tidak tergetar mundur oleh tenaga semburan batu, sebaliknya malah melangkah maju, pula melihat si gadis berani mengulur tangan hendak menangkap batunya, dalam terkejutnya Ki Teng-nio menduga pula pasti tangan A Siu bakal patah kebentur senjata rahasianya itu.
Ketika A Siu rangkap tangannya menyambut batu itu, ia merasa tenaga yang maha besar seakan2 mematahkan tangannya hingga separoh tubuhnya seperti lumpuh.
Lekas2 dia kerahkan tenaga dalamnya buat melancarkan jalan darahnya.
Ia menjadi terkejut, lalu pertama kali inilah A Siu menjumpai tenaga dalam yang luar biasa, maka dengan mata membelalak ia pandang wanita kosen itu.
Sebaliknya bagi Ki Teng-nio dan ketiga muridnya juga terperanjat tidak kepalang.
Menyembur senjata rahasia dengan mulutnya adalah semacam kepandaian tunggal wanita kosen itu sejak badannya lumpuh, maka boleh dikata dilontarkan dengan segenap tenaga dalamnya.
Tapi seorang gadis lemah gemulai seperti A Siu ternyata mampu menangkap batunya, tentu saja ia terkesiap, dengan suara tajam ia menanya.
Budak cilik, siapakah gurumu?
semula ia menduga si gadis ini mungkin anak murid kedua Nikoh dari Go-bi-pay atau murid Thong-thian-sin-mo Jiauw Pek-ki tersohor, namun ilmu silat mereka paling banyak juga mampu menangkap senjata rahasianya seperti perbuatan si gadis tadi saja.
Padahal usia gadis ini masih muda belia begini, seumpama melatih diri sejak masih dikandungan sang ibu juga tidak mungkin mencapai tingkatan demikian.
Maka terdengarlah A Siu menjawab .
Suhu?
Ah, aku tidak punya suhu, tapi punya Toute, ialah Hweshio gendut ini !
sembari berkata ia-pun menunjuk Tiat-pi Hwesio yang berada di belakangnya.
Mendengar jawaban si gadis yang susah dipercaya itu, Ki Teng-nio bertambah gusar, bentaknya .
Bagus jawabanmu.
Tak punya Suhu katamu?
Nih, sambutlah senjata kedua!
kembali batu kedua menyembur keluar lagi dari mulutnya secepat kilat.
Kalau batu pertama tadi sangat lambat, adalah batu kedua ini ternyata cepat luar biasa.
A Siu terkejut oleh menyambarnya batu yang cepat itu, lekas2 ia mengegos kesamping sembari kebas lengan bajunya untuk mengebut batu itu seraya mengerahkan tenaga dalamnya membuang batu itu kesamping, tapi tidak urung ia sendiripun ter-huyung2 beberapa tindak ke belakang.
161 Karena itu, tanpa bicara lagi Ki Teng-nio semprotkan batu ketiga terlebih keras lagi.
Namun sekali ini A Siu sudah bersiap sedia, sekali tangannya mengayun, tiba2 batu yang kena ditangkapnya tadi terus ia sambitkan kedepan hingga kedua batu saling bentur hingga hancur remuk ditengah udara.
Tenaga dalam kedua orang sama2 hebatnya, tentu saja kedua batu itu hancur menjadi bubuk.
Kejadian ini membikin Kim-teng-sam-sat semakin terkejut.
Tiba2 Ki Teng-nio tertawa ter-kekeh2 aneh, mendadak ia berseru meraung bagai singa menggerung, suaranya makin lama makin seram, walaupun waktu itu siang hari bolong, tapi suara meraung itu membikin suasana seakan-akan dimalam sunyi yang dingin.
Semula A Siu merasa heran akan suara Ki Teng-nio itu, sejenak kemudian ia merasa pandangannya se-akan2 kabur dan kepalanya pening.
Ia terkejut, cepat ia menjalankan lwekang yang dipelajarinya dari Siau-yang-chiat-kay, ia pusatkan pikiran dan tenangkan batin, dengan sinar matanya yang bening bercahaya itu ia tatap Ki Teng-nio.
Apa yang dilontarkan waktu itu adalah semacam ilmu sakti Ki Teng-nio yang lain, yaitu disebut Ho-im-liap-hun atau meraung mencabut nyawa.
Semacam ilmu kepandaiannya yang memabukkan lawan dengan suara, cuma ciri daripada ilmu ini adalah tiada gunanya ditujukan kepada anak2 kecil yang sama sekali masih belum bisa berpikir.
Walaupun A Siu bukan kanak2 lagi, tapi selama belasan tahun ia tinggal menyepi dipegunungan sunyi, dengan sendirinya hatinya bersih dan pikirannya jernih, ditambah lagi Lwekang yang dilatihnya dari Siau-yang-chit-kay, tentu saja ilmu Ki Teng-nio itu tidak membawa hasil apa2.
Malahan melihat kelakuan wanita tua ini A Siu merasa geli, ia terus menatap diri orang dengan tersenyum.
Tak lama kemudian, ia lihat Ki Teng-nio masih terus meraung-raung, saking bernapsunya, tertampak urat-urat mukanya berkerut-kerut se-akan2 kekejangan.
Eh, eh, Ki Teng-nio kenapakah kau meraung semacam serigala lapar?
Ada apa kenapa tak kau bicarakan saja !
demikian kata A Siu dengan tertawa.
Melihat ilmu andalannya Ho-im-liap-hun tidak manjur, sama sekali tak merobohkan A Siu dari terkejut Chit-bok-lo-sat menjadi gusar.
Diakhiri dengan sekali suara aneh mendadak ia berhenti meraung dengan napas memburu.
Kenapa kalian tidak turun tangan !
teriaknya kemudian dengan suara lemah.
162 Kata2nya itu terang ditujukan kepada ketiga muridnya.
Tapi melihat sang guru saja tak berdaya kalahkan, apa lagi mereka.
Namun terpaksa He-hong-tongcu bertiga melangkah maju dengan ragu-ragu.
Diluar dugaan mendadak A Siu berseru.
Marilah kita pergi, Toute!
lalu dia memberi tanda pada Tiat-pi Hwesio sambil memutar tubuh.
Melihat A Siu tahan uji akan kepandaiannya Ki Teng-nio terutama terhadap ilmu raungan pencabut nyawa yang Iihay itu, Tiat-pi Hwesio sudah menjunjung A Siu sebagai malaikat dewata, la menjadi heran tiba-tiba sang guru mengajaknya pergi dengan membelalak ia menanya .
Pergi?
Bukanlah Suhu hendak menanya perempuan tua bangka itu.
Sudahlah, kalau dia tidak mau berkata, tak perlu kita paksa dia, sahut A Siu.
Tiat-pi tambah heran oleh jawaban A Siu yang polos ini, betapapun Tiat-pi dogol tolol, tapi dikalangan Kangouw ia sudah bisa melihat pihak menang memaksa pihak yang terdesak.
Maka sesudah tertegun sejenak, katanya kemudian.
Nah, kau saja Hek-hong-tong-tongcu, lekas kau maju kemari biar aku toyor kau tiga kali dahulu kau menjotos aku sekali, kini aku memberi rante dua kali padamu, Gurumu kalah dengan guruku, apa kau berani membangkang !
Nio Kiat sendiri bukanlah jago lemah, walaupun terkesiap melihat Suhunya tak berdaya merobohkan seorang gadis jelita, tapi kalau ia disuruh terima gebuk mentah2, sudah tentu tidak mau menyerah begitu saja.
Maka dengan wajah gusar ia menjadi terpaku ditempatnya.
Pengecut, kau tak berani kemari, biar aku mendekati kau !
teriak Tiat-pi Hwesio semakin dapat angin.
Segera saja ia melangkah maju dengan tindakan lebar.
Ia angkat bogemnya terus menjotos kemuka musuh.
Tentu saja Nio Kiat tidak terima mentah-mentah, sekali tangannya membalik menangkis sembari balas mencengkeram kemuka si hwesio.
Kalau sampai cengkeraman ini kena, pasti biji mata Tiat-pi akan dicolok keluar.
A Siu semula geli melihat kelakuan sang Toute itu tapi ia menjadi terkejut melihat Tiat-pi bakal tertimpah bahaya, cepat dia berseru .
Tarik tangan kesamping hantam punggungnya!
163 Terhadap A Siu sekarang Tiat-pi sudah memujanya bagai dewa sakti, maka ia menurut petunjuk itu, tangan dengan cepat ditarik terus melangkah kesamping berbareng tangan yang lain menggebuk punggung musuh.
Walaupun A Siu memberi petunjuk seada-nya saja, tapi yang diucapkan itu adalah gerak tipu paling hebat dari Siau-yang-chit-kay mana mampu Nio Kiat menghindarinya.
Tanpa ampun lagi punggung nona dihantam dengan keras seketika isi perutnya se-akan2 terjungkir balik dia ter-huyung2 sambil muntahkan darah lalu terkulai ditanah.
Tiat-pi sendiri terkesima ketika sekali hantam telah bikin lawannya roboh tak berdaya.
Tapi segera serunya .
Haha, ternyata kau lebih tak becus dari padaku, sekali gebuk saja tak tahan.
Baiklah masih ada dua kali toyoran.
biar aku titip dulu padamu, kalau kelak bertemu lagi awas kau!
Kedua Sutenya Nio Kiat menjadi heran melihat sang Suheng dijatuhkan orang, tapi gurunya tinggal diam saja.
Ketika mereka berpaling, tiba2 terlihat Ki Teng-nio setengah bersandar pada dinding batu dengan muka pucat bagai mayat, kepalanya terkulai dengan mata meram.
Hai, Suhu, Suhu!
Kenapa kau!
teriak mereka beramai.
Melihat keadaan Ki Teng-nio rada tidak beres, cepat A Siu mendahului melesat keatas batu disudut empang itu, ia periksa pernapasan orang, ternyata sudah sangat lemah tinggal senen-kemis saja.
Ia menjadi tak enak sendiri kalau dirinya tidak datang merecoki, me -hwe-jip-mo atau api nyasar dan darah naik hingga badannya lumpuh, tapi rasanya takkan mati begitu cepat.
Tiba2 ia melihat Ki Teng-nio sedikit pentang matanya, ternyata sinar matanya sudah guram, katanya lemah dan hampir tak terdengar .
Kain......kain sutera.....merah,.....
tapi hanya sekian saja, ketika sekali napasnya sesak putuslah nyawanya !
Kiranya dalam keadaan lumpuh karena tenaga dalamnya yang dilatihnya nyasar ditubuhnya, pula tadi telah kerahkan seluruh tenaga murninya untuk mengeluarkan ilmu Ho-im-liap-hun , tapi tidak membawa hasil apa-apa, saking gusarnya hingga urat nadi sendiri tergetar putus.
Sebab itulah maka Ki Teng-nio bisa tewas begitu cepat.
Dan sebelum ajalnya ia hendak menuturkan rahasia yang meliputi pedang dan kain suteranya yang merah, namun sudah tak keburu lagi.
Hayo, kalian bertiga ada yang tahu rahasia Jin-kiam Ang-leng ( Pedang Hijau dan Kain Merah ) tidak ?
tiba2 Tiat-pi Hwesio membentak Kim-teng-sam-sat.
164 Namun Nio Kiat bertiga hanya menggeleng kepala.
Sudahlah, Toute, yang mengetahui hanya Ki Teng-nio sendiri dan dia sudah mati, ujar A Siu.
Bagus, kini yang tahu rahasia pusaka2 itu mungkin sudah habis mati semua, baik malah, dari pada selalu dibuat rebutan melulu, teriak Tiat-pi.
A Siu menghela napas, segera Tiat-pi Hwesio diajaknya tinggalkan puncak gunung itu.
Karena tiada tempat tujuan, A Siu sengaja pesiar kesana kemari untuk menambah pengalaman.
Dasar otaknya cukup cerdik, maka perlahan2 mulailah ia kenal tulisan.
Sebenarnya ia pikir hendak pergi mencari Siau Yan, itu teman kecil yang pernah dikatakan Jin-koh, namun mengingat sang waktu tak mengijinkan, terpaksa ia tidak berani merantau terlalu jauh.
Tapi sejak insaf dirinya ternyata berilmu silat sangat tinggi, iapun tidak gegabah turun tangan lagi, wataknya menjadi peramah dan sabar.
Begitu pula Tiat-pi Hwesio yang dogol kasar itu banyak terpengaruh oleh kelakuan si A Siu, iapun banyak belajar intisari lwekang dari sang guru itu.
Ketika sudah dekat waktunya A Siu harus pulang menemui Lo-liong-thau, Tiat-pi Hwesio seakan-akan otaknya menjadi terang, ia minta tinggal untuk selamanya disuatu biara buat sucikan diri.
Karena tak mau memaksa, A Siu lalu pulang sendiri kedaerah Biau.
Setiba dipegunungan tempat tinggalnya, sebelum sampai digua itu, dari jauh A Siu melihat Lo-liong-thau dan Tiat-hoa-popo sudah menanti disitu, cepatan saja ia berlari mendekati dan menyapa .
Lo-liong-thau, Tiat-hoa-popo, aku sudah kembali!
Hem, aku sangka kau takkan pulang lagi!
jengek Lo-liong-thau.
A Siu, sejak kecil aku membesarkan kau, apa benar kau akan turut segala perkataanku ?
Tentu saja, Lo-liong-thau, urusan apakah katakanlah, sahut A Siu.
Bukankah kau sudah tahu bahwa pemilihan Seng-co dari tujuh puluh dua gua suku bangsa kita sudah akan dimulai, tutur Lo-liong thau.
Dan setiap ada pemilihan, selalu banyak bangsa Han yang datang ikut sayembara tersebut hingga suku kita selalu dikalahkan.
Tapi sejak Seng-co kedelapan menghilang, kedudukan itu kalau jatuh lagi ketangan orang Han, lalu pamor suku kita harus ditaruh dimana ?
Mendengar itu, diam2 A Siu mengkerut kening, suruh dia pergi bertengkar dengan orang untuk merebut kedudukan apa segala, sesungguhnya sangat bertentangan dengan watak pembawaannya.
165 A Siu, demikian Lo-liong-thau telah melanjutkan, menurut pendapatku, perebutan Seng-co sekali ini tiada yang bisa melawan kau.
Suatu hal yang kuharapkan dengan sangat ialah, bila kau sudah menjadi Seng-co, harus kau pimpin kepala tujuh puluh dua gua suku kita datang kemari untuk membawa aku pulang ke Tiok-teng-tiong!
Melihat orang berkata dengan sungguh2 dan dari wajahnya tampak itulah satu2nya harapan yang sangat dirindukannya, pula mengingat dirinya telah dibesarkan selama ini, mau tak mau A Siu mengangguk juga.
Bagi Lo-liong-thau yang ilmu silatnya sebenarnya masih jauh diatas A Siu, sebenarnya bukan sesuatu hal sulit bila dia mau menonjolkan diri.
Tapi dia merasa diwaktu kecilnya telah diusir orang sekampung bagai binatang berhubung sejak dilahirkan badannya dalam keadaan tidak normal, hal mana senantiasa sangat disesalkanyya, maka sekarang kalau dia bisa dipapak oleh pemimpin2 suku mereka, ia merasa barulah cukup untuk menebus sakit hatinya itu.
Maka katanya pula .
Baiklah, A Siu, bila kau sudah berjanji sekarang bolehlah kau ikut pulang dulu bersama Tiat-hoa-popo!
Lantas tampak Tiat-hoa-popo berbangkit, tapi A Siu menjadi terkejut melihat nenek itu jalannya meraba-raba dan geremat-geremet.
Hai, kenapakah kau Popo ?
tanyanya cepat.
Oh, mataku kini sudah lamur, sudah lama aku merasa penyakit mataku akan membutakan mataku, dan barulah tahun lalu aku benar benar lamur sama sekali, sahut Tiat-hoat-popo.
tapi jangan kuatir aku kenal jalanan!
Lekas A Siu maju memayang nenek itu dan keluar dari gua.
A Siu, hendaklah kau ingat baik2 pesanku, janganlah mengecewakan harapanku !
demikian Lo-liong-thau berseru dari jauh.
Dengan terharu A Siu menoleh, dia mengangguk dengan perasaan berat.
Sudah tentu ia tidak tahu bahwa kemudian ia akan bertemu dengan Kanglam-it-ci-seng Ti Put-cian hingga lupa daratan akan semua pesan Lo-liong Thau itu.
ooOOoo BEGITULAH asal-usul si gadis A Siu itu.
Maka ketika Ti Put-cian diam2 mendengar tentang Lo-liong-thau di-singgung2 itu, ia menduga pasti orang tersebut jauh lebih lihay dari A Siu, boleh jadi A Siu akan dipaksa menurut segala perintahnya.
166 A Siu, segera terdengar Tiat hoa popo berkata pula dengan suara gusar, betapapun juga, gadis Han itu sudah sekian lamanya masuk gua itu, rasanya sudah mati keracunan didalam sana.
Kalau lewat malam ini ia tidak kembali, perebutan Seng-co akan diulangi lagi, dan kau masih ada kesempatan baik, maka harapan Lo liong thau hendaklah jangan kau kecewakan.
Sebenarnya A Siu sama sekali tidak pikirkan tentang kedudukan Seng co segala, yang terbayang selalu olehnya melulu sisastrawan muda ganteng itu.
Namun iapun ingat benar akan budi kebaikan Lo-liong-thau serta pesannya diwaktu hendak berpisah.
Maka akhirnya ia menyahuti dengan suara berat .
Baiklah, Popo, aku akan berbuat sekuat tenagaku.
Melihat pembicaraan mereka sudah selesai, cepat Ti Put-cian gunakan ilmu entengi tubuhnya lagi kembali ketepi empang sebelah sana, ia sembunyi disemak-semak, maka tertampaklah Tiat-hoa-popo keluar lebih dulu dan A Siu ikut dibelakangnya.
Sungguhpun nenek itu tidak sedikit mendapatkan intisari dari Siau-yang-chit kay yang diajarkan Lo-liong-thau kepadanya, tapi kalau dibandingkan A Siu, benar2 ilmu entengi tubuh si gadis itu jarang ada bandingannya.
Malahan sesudah jauh, A Siu masih menoleh lagi sekejap kearah sembunyinya Ti Put-cian.
Maka Ti Put-cian yakin jejaknya memang sudah dapat diketahui gadis itu.
Iapun semakin heran melihat ilmu kepandaian A Siu yang luar biasa itu, sekalipun jago terkemuka dari Tiong goan, rasanya juga tidak lebih dari dia.
Ia menunggu sesudah kedua orang sudah pergi jauh barulah ia kembali kegua tempat pertandingan itu.
Sementara itu orang-orang Biau masih terus menari dan menyanyi walaupun sesungguhnya sudah tidak sabar menantikan kembalinya Jun-yan dari gua labah2 berbisa itu, sebab mereka menyangka sembilan bagian gadis itu sudah tewas didalam.
Ketika Ti Put-cian melihat sekitarnya, ia lihat orang2 Han yang berada disitu tadi sudah pergi semua.
A Siu sendiri dengan rambut terurai lagi duduk termenung disuatu gua itu.
Pelahan2 ia mendekati gadis itu dan menegurnya.
A Siu terkejut oleh teguran itu, tapi ia menjadi girang ketika tahu siapa yang berhadapan dengan dia.
Sungguh sejak hidup dipegunungan tanpa gangguan suatu pikiran apa pun, A Siu sama sekali lepas bebas dari segala ikatan batin, sebab itulah 167 sampai ilmu Ho im-liap-hun Ki Teng-nio yang lihay juga tak mempan terhadapnya.
Tapi aneh, sejak bertemu dengan Ti Put-cian, hati si gadis seperti kena guna2.
Maka dengan ter-mangu2 A Siu mendongak memandangi Ti Put-ciang dengan sinar mata penuh arti.
Sudah tentu Ti Put-cian yang licin tahu akan maksud hati gadis jelita itu.
Ia pikir sangatlah kebetulan akan dapat memperalat si gadis yang lagi dibutakan cinta itu.
Maka dengan lagu suara merayu iapun berkata pula.
A Siu percakapanmu dengan Tiat-hoa popo tadi sudah kudengar semuanya.
Aku sangat berterima kasih akan kesungguhan hatimu kepadaku.
Tapi siapakah gerangan Lo-liong-thau itu ?
Apakah kepandaiannya lebih lihay dari kau?
Ya, sahut A Siu mengangguk, ia jauh lebih lihay dariku.
Dia boleh dikata adalah Suhuku.
Untuk beberapa saat Ti Put-cian tercengang tapi segera timbul lagi akal kejinya, katanya kemudian .
A Siu, betapa bahagiaku apabila mendapatkan cintamu yang kukuatirkan justru pertanggungan jawabmu terhadap Lo-liong-thau sedang mengenai kedudukan Seng-co bagiku tidak ada artinya.
Nyata betapa liciknya akal Ti Put-cian ini.
Mula2 ia telah peralat Lou Jun-yan berhubung gadis ini mempunyai andalan bantuan si orang aneh yang berkepandaian luar biasa itu.
Kini mendengar A Siu adalah Lo liong thau yang katanya jauh lebih lihay itu, lantas timbul pikiran akan memperalat A Siu untuk menarik bantuan dari kakek aneh itu.
Sebab itulah ia curahkan segenap kepandaiannya untuk memikat hati A Siu dengan kata2 penuh manis madu.
Ujarnya akhirnya .
Betapa beruntungku apabila kelak akupun dapat mengangkat guru juga Lo liong thau.
Sudah tentu A Siu sangat terharu akan kesungguhan hati sang kekasih, sama sekali dia tidak bercuriga, maka dengan asyik sekali mereka tenggelam dialun asmara.
Sementara itu Jun-yan masih belum keluar dari gua meski sudah lewat sehari semalam.
Padahal saat mana Jun-yan sama sekali tidak tewas oleh racun saput labah2 yang jahat didalam gua itu, malahan sesudah ditutuk oleh manusia aneh itu, sejam kemudian jalan darahnya sudah lancar kembali lalu ia gerayangi seluruh isi kamar batu 168 didalam gua itu dan dapat menemukan sebarang pedang kuno yang berwarna hijau gelap, pula sepotong kain sutra merah lalu keluar dari kamar itu.
Tapi bagi yang menanti diluar gua sampai sekian lama itu, mereka menyangka si gadis pasti sudah mati didalam.
Maka dengan ramai2 mereka menuntut diadakannya pemilihan ulangan terutama Ti Put-cian sebagai orang kedua sesudah Lou Jun-yan menjatuhkannya maka hak utama jatuh kepadanya untuk menyusul kedalam gua beracun yang dimasuki lebih dulu oleh Jun yan itu.
Sebab itulah belum jauh Put-cian masuk gua, tepat kepergok Jun-yan yang lagi keluar dari kamar batu itu.
Begitulah, maka Ti Put-cian sangat terkejut ketika mengetahui Jun-yan ternyata belum mati.
Namun sebagai seorang licik, sama sekali ia tidak memberi tanda2 mencurigakan, ia malah pura2 menyatakan kuatir atas keselamatan si gadis, maka sengaja datang mencarinya.
Dasar hati anak gadis, mudah disanjung dan gampang dirayu, walaupun sangat panas ketika melihat kelakuan Ti Put-cian terhadap A Siu, namun kini sesudah berada berduaan serta diuruk dengan kata2 madu, kembali ia lupa daratan, malahan Jun-yan merasa sangat bersyukur orang telah menyusul padanya.
Maka sembari bicara mereka melanjutkan kedepan.
Kalau diam2 Ti Put-cian sedang memikirkan akal keji cara bagaimana melenyapkan Jun-yan untuk se-lama2nya didalam gua ini, adalah sebaliknya Jun-yan meski biasanya nakal lincah, namun sifat aslinya sebenarnya tidaklah jahat.
Sama sekali ia tidak bayangkan bahwa elmaut sebenarnya setiap saat akan mencabut nyawanya.
Ketika suatu saat dimana obor mereka menyorot, mereka dikagetkan oleh sinar kemilauan yang menyilaukan mata.
Untuk sejenak Jun yan merandek hingga tanpa merasa Ti Put-cian mendahului kedepan beberapa kaki jauhnya.
Pada saat itu tiba2 Jun-yan merasa angin berkesiur suatu bayangan secepat kilat melesat lewat di sampingnya, dari samping gua yang gelap itu, tiba2 ia merasa tangannya sudah bertambah sesuatu benda, ketika ia memeriksanya, kiranya adalah sebatang pedang, yaitu pedang kuno yang diketemukan didalam gua tadi, tapi ditinggalkannya itu.
Kembali hati Jun-yan terkesiap, nyata gerak bayangan secepat itu, siapa lagi kalau bukan si orang aneh itu.
Ketika ia pandang Ti Put-cian, pemuda itu ternyata sudah sampai dimulut gua didepan sana.
Maka tanpa pikir iapun gantung pedang itu dipinggangnya.
Ternyata diujung gua ini sedikit menurun, menyambung pula sebuah gua yang lebih besar dan lebar.
Gua besar ini tampak sangat lembab dengan air lumpur sedikitnya 169 setinggi betis.
Gua besar ini tidak panjang, sebab tampak sekali diujung sana sinar sang surya menyorot dengan terangnya.
Anehnya dilorong gua ini banyak terdapat jaring labah2 sebesar mata uang dengan warna yang sangat indah.
Sedang ditengah jaring yang wujutnya bagai selapis saput itu berdiam masing2 seekor labah-labah yang berwarna kehijau-hijauan.
Nampak ini, kedua orang itu sama terkejut, mereka tahu itu labah-labah mata uang serta saput mata uang sangat berbisa yang harus dilalui itu.
Ketika Jun-yan coba melongok kebawah, tanpa merasa ia berseru kaget.
Ternyata dibawah gua yang becek dengan air lumpur itu terdapat berpuluh rangka tulang belulang yang sebagian sudah lapuk, agaknya karena tak tahan akan rendaman air itu.
It-ci Toako, Seng-co apa segala aku tidak pingin lagi, biarlah orang Biau mereka yang menjabatnya saja, kata Jun-yan sambil mundur beberapa tindak.
Sebenarnya Ti Put-cian sudah ambil keputusan segera akan bereskan nyawa si gadis, dengan demikian ia akan keluar gua sendirian dan kedudukan Seng-co itu terang berada di tangannya.
Namun menghadapi rintangan gua luar biasa ini, mau tak mau ia kehabisan akal.
Aneh, ujarnya kemudian.
Lazimnya, kalau sudah ada delapan angkatan Seng-co, tentu gua ini ada jalan keluarnya.
Lalu cara bagai manakah mereka melalui gua ini ?
Peduli amat, sahut Jun yan, kenapa kita mesti adu jiwa hanya untuk jadi Sengco segala ?
Namun Put cian tidak menghiraukannya, ia angkat obornya tinggi2 dan memeriksa disekitarnya.
Ia lihat kecuali sebuah lubang gua ini, sekitarnya hanya dinding batu belaka yang terjal, terang tiada jalan tembus lain lagi.
Karena kehabisan akal, tiba2 timbul maksud kejinya, ia pura-pura berseru .
Lihatlah, apakah itu!
Tanpa curiga suatu apa, cepat Jun-yan mendekatinya dan melongok ketempat yang ditunjuk.
Pada saat itulah sebelah tangan Ti Put-cian sudah pegang pundaknya, asal sekali dorong saja, pasti Jun-yan akan terjerumus kedalam gua yang penuh sarang labah2 itu.
Tapi ketika ia hendak kerahkan tenaga, mendadak dilihatnya dipinggang si gadis tergantung sebatang pedang, walaupun sarungnya tidak menarik, tapi bentuknya rada aneh.
Hatinya tergerak, ia urung mendorong.
170 Sudah tentu Jun-yan tidak insaf bahwa barusan saja sebelah kakinya sebenarnya sudah melangkah masuk lubang kubur, dengan heran ia masih menanya .
He, ada apakah kau bilang tadi ?
Ti Put-cian menjadi terkejut, cepat sahutnya .
Oh, ah, tidak, tadi aku kira semacam binatang aneh didalam air lumpur itu.
Lalu ia bilukkan perkataannya dan menanya .
Eh, kenapa sekarang kau punya pedang ?
Ehm, aku sendiripun heran, tahu-tahu pedang ini berada ditanganku, mungkin pemberian si orang aneh itu, sahut Jun-yan.
Habis ini, tanpa pikir ia tanggalkan senjata itu dan diangsurkan pada Put-cian.
Put-cian mundur beberapa langkah dulu dan kemudian melolos pedang itu, ia lihat pedang itu gelap tanpa bersinar, tipis bagai kertas, enteng seperti tiada bobot.
He, Tung-kau kiam !
tanpa merasa ia berseru.
Nyata sebagai seorang cendekia, Put-cian banyak membaca dan mempelajari sejarah, maka ia tahu bahwa Tung-kau-kiam itu termasuk salah satu pedang pusaka tertajam yang digembleng oleh ahli pedang Au-ti-cu dijamannya Liat kok.
Sebagai seorang tokoh persilatan, tentu saja Put cian sangat kesemsem oleh pedang pusaka demikian ini.
Dan apabila ia periksa lebih teliti, ternyata digaran pedang itu terukir pula beberapa baris huruf kecil, ia membacanya dan untuk beberapa saat ter-menung2.
It-ci Toako, tulisan apakah yang berada dipedang itu ?
Tung kau kiam apa katamu tadi ?
tanya Jun yan heran.
Oh, digaran pedang ini tertulis bahwa pedang ini bernama Tung-kau-kiam dan asalnya milik Kiam sin Khong Siau lin dari Siangyang, tutur Put cian terpaksa.
Kiam-sin Khong Siau-lin?
Siapakah dia?
Jun-yan mengulangi dengan heran.
Ti Put-cian menjadi melengak mendengar pertanyaan itu, ia heran mengapa guru si gadis Thong-thian-sin-mo Jiau Pek-king tidak pernah mengatakan padanya tentang siapa Khong Siau lin itu?
Padahal setahunya Kiam-sin atau dewa pedang Khong Siau lin dari Siangyang itu justru adalah gurunya Jiau Pek-king yang pada lebih dua puluh tahun yang lalu namanya sangat tersohor dikalangan Bu lim.
Karena ilmu pedangnya tiada bandingannya maka orang memberikan julukan Kiam-sin atau dewa pedang padanya.
Ketika Jiau Pek king mengangkat guru padanya, usia kedua orang itu selisih tidak banyak.
Tapi karena watak Jiau Pek king yang lain dari pada yang lain maka sering 171 guru dan murid itu saling bertengkar.
Namun Khong Siau lin cukup sabar dan dapat memahami tabiat buruk sang murid, sedapat mungkin ia coba menginsafkannya.
Suatu kali, untuk sesuatu keperluan guru dan murid itu telah keluar, tapi pulangnya hanya Jiau Pek king saja sendirian sedang Khong Siau lin untuk seterusnya tak diketahui jejaknya lagi.
Sudah tentu keluarga Khong mengusut keselamatan Khong Siau lin kepada Jiau Pek-king, namun Pek-king justru sama sekali tidak mau menerangkan, karuan semakin menimbulkan curiga orang, jangan2 Pek-king yang mencelakai sang guru sendiri tapi terhadap tuduhan demikian iapun tidak membantah.
Berhubung dengan peristiwa ini, sudah ber-kali2 terjadi percekcokan dikalangan Bu lim, namun banyak juga kawan yang kenal baik Jiau Pek-king, walaupun wataknya menyendiri, namun bilang membunuh guru sendiri, rasanya tidak mungkin.
Urusan itu masih terus berlarut2 tidak pernah selesai dengan sendirinya Jiau Pek-king pun meninggalkan perguruan dan tindak tanduknya semakin tak terkekang, maka akhirnya mendapatkan julukan Thong-thian-sin-mo atau iblis raksasa maha sakti.
Kini Tun-kau-kiam ini terukir sebagai miliknya Khong Siau lin, padahal sebelum menghilang, orang tidak pernah melihat dia menggunakan pedang demikian maka dapat diduga pedang ini tentu diperolehnya sesudah orangnya menghilang, lalu kenapa bisa terdapat ditengah gua sunyi didaerah Biau ini ?
Betapapun cerdiknya Ti Put-cian menghadapi soal ini iapun merasa bingung.
Semula Jun-yan pun tidak kenal siapakah Khong Siau lin itu, tapi lantas teringat olehnya diwaktu kecilnya, pada suatu hari seperti pernah ada seorang lelaki yang berbaju compang camping, dipundaknya menggandul dua buah buli2 besar, tengah malam buta mengunjungi gurunya.
Disitu kedua orang telah pasang omong sambil minum arak dengan bebas puas, sampai fajar barulah orangnya pergi.
Esok paginya ketika dia tanya sang guru, maka sekedar gurunya telah memberitahu padanya nama orang itu seperti Khong Siau-lin apa, cuma waktu itu masih terlalu kecil, maka tidak menaruh perhatian.
Begitulah, selagi ia termenung2, tiba2 ia mendengar bentakan Ti Put-cian yang seram.
Dengan terkejut ia berpaling dan segera ia berteriak .
He, kau ...
kau ...
tapi belum sempat ia berkata lebih banyak, tahu2 sinar hijau berkelebat, dengan sorot mata yang bengis, saat itu Ti Put-cian telah tusukan pedang Tun-kau-kiam kedadanya.
Namun pada detik yang menentukan itulah, tiba2 terdengar dibelakang sana ada suara gerengan tertahan, mendengar itu, seketika tangan Ti Put-cian tergetar dan tanpa 172 merasa gemetar.
Sebaliknya semangat Lou Jun-yan menjadi terbangun, ketika ia pandang kedepan, ia lihat si orang aneh yang selama ini selalu mengintil dibelakangnya itu sudah berada lagi disitu tidak jauh dari Ti Put-cian.
Sementara itu terdengar suara mencicit nyaring dua kali, dua butir batu kecil secepat kilat telah menyambar, sebutir kearahnya dan yang lain menuju pergelangan tangan Ti Put-cian.
Segera Jun-yan merasa pinggangnya kesemutan, nyata ia sudah tertutuk oleh sambitan batu kecil itu hingga badannya berdiri kaku disitu.
Berbareng itu mendadak tampak tangan Ti Put-cian sedikit ditarik, namun sudah terdengar suara Ting yang nyaring, batu kecil tadi tepat kena diatas jari tunggalnya yang berselongsong emas itu, tangannya tergetar pegal, cekalannya kendor dan pedang Tun-kau-kiam terjatuh ketanah.
Kejadian2 itu berlangsung dalam sekejap saja, kalau pedang Ti Put-cian tadi sempat diulurkan sedikit lagi, pasti tubuh Jun-yan akan tertembus atau jika melompat mundur tentu akan ditelan lumpur serta sarang labah-labah di gua sebelah bawahnya itu.
Syukurlah saking jeri terhadap orang aneh itu, begitu muncul lantas Ti Put-cian gemetar ketakutan dan sesudah pedangnya jatuh ketanah, orangnya terus melompat kesamping.
Mendadak orang aneh itupun putar tubuh dan melontarkan sekali pukulan dari jauh, begitu keras angin pukulannya hingga debu berhamburan didalam gua itu, lekas2 Ti Put-cian jatuhkan diri kesamping pula dan dengan cepat menggelundung pergi sampai 7-8 kaki jauhnya.
Habis ini cepatan saja ia merangkak bangun terus berlari sipat kupingnya keluar gua sana.
Manusia aneh itupun tidak mengejar, dengan mulutnya ternganga sambil mengeluarkan suara.
Ah ah dia mendekat Jun-yan serta menuding2 kebelakang si gadis.
Untuk sejenak Jun-yan merasa bingung, tapi kemudian iapun paham akan maksud orang sebabnya menyambitkan batu menutuk jalan darahnya ialah kuatir kalau dia melompat kebelakang hingga terjerumus kedalam gua yang lebih besar itu.
Tapi segera ia menjadi heran pula, terang mata orang aneh ini sudah buta mengapa justru tahu ada gua yang menurun dibelakangnya dengan sarang labah2 beracun itu ?
Kenapa terhadap keadaan dalam gua ini orang seperti apal betul?
Sedang dia memikir, sementara itu orang aneh ini sudah mendekatinya serta menepuk perlahan dipundaknya untuk melancarkan jalan darahnya.
173 Tatkala mula2 Jun yan melihat manusia aneh ini, ia merasa rupa orang lebih mirip setan daripada manusia.
Tapi kini kalau dibandingkan Ti Put-cian yang berwajah cakap ganteng itu namun berhati palsu dan keji, ia merasa muka si orang aneh ini tiba2 seperti muka yang penuh welas asih.
Banyak terimakasih atas pertolonganmu tadi, kata Jun-yan kemudian sambil menjemput Tun-kau-kiam yang jatuh ditanah ditinggalkan Ti put-cian tadi.
Walaupun tusukan Ti Put-cian tadi gagal mencelakai Jun-yan, namun sejak inilah corak asli pemuda yang berhati palsu dan berjiwa keji itu sudah dapat diketahui si gadis.
Sejak kecil Jun-yan sudah berada dibawahan asuhan gurunya, Thong-thian-sin-mo Jiau Pek-king, maka pengaruh jiwa sang guru itu menjadikannya enteng pikir, mudah menerima dan gampang melepas.
Sungguhpun tadinya hati kecilnya mulai bersemi cinta pada Ti Put-atannya yang rendah' ia malah bersyukur dapat mengetahui kepalsuan orang sebelum terlambat.
Sementara itu si orang aneh masih ah ah uh uh tak jelas apa yang hendak dikatakannya.
Melihat itu, hati Jun-yan menjadi terharu dan merasa kasihan, dengan suara lembut ia menanya .
Paman aneh, aku tidak mengerti apa yang hendak kau katakan.
Akupun tidak kepingin jadi kepala orang-orang Biau segala, marilah kau ikut aku pulang ke Jin-sia-san, nanti kumohon Suhu agar mencarikan tabib terpandai untuk menyembuhkan kau?
Tapi orang aneh itu hanya miringkan kepalanya seperti mendengarkan, sesudah Jun yan selesai bicara, kembali dari tenggorokannya keluar pula suara gerengan tertahan yang susah dimengerti apa maunya.
Marilah paman aneh, kita pergi saja, ujar Jun-yan sambil melangkah maju.
Diluar dugaan, baru beberapa langkah, mendadak si orang aneh itu merintangi sembari tarik lengannya dan diseretnya pergi cepat.
Semula Jun-yan terkejut, tapi mengingat ia selalu melindungi dirinya, rasanya tidak nanti bermaksud jahat, maka iapun tidak melawan dan membiarkan dirinya dibawa kembali kedalam kamar batu itu.
Sesudah berada didalam kamar batu itu, segera orang aneh itu lepaskan si gadis terus me-raba2 kedinding kamar itu, Sampai suatu sudut, tiba2 ia berhenti, lalu terdengar pula ia menggereng tertahan, ia mencengkeram dengan jarinya, tahu2 bubuk dinding ditempat itu berhamburan, ternyata sebuah lubang kecil 174 tembus kena terkamannya itu.
Sungguh tidak kepalang terkejutnya Jun-yan melihat betapa lihai tenaga jari orang.
Sedang Jun-yan ternganga kagum, sekonyong-konyong orang aneh masukan tangannya kedalam lubang kecil itu, ketika ia tarik sikutnya, dibarengi suara gemuruh yang keras, tahu-tahu sepotong batu besar dinding itu telah kena disingkirkan hingga berwujut sebuah lorong yang menurun.
Jun-yan bertambah kaget, namun saat itulah si orang aneh itu telah baliki badannya terus pegang pundak si gadis, dan sebelah tangan lain mengangkat pinggangnya hingga tubuhnya terangkat naik.
He, he, apa2an ini !
teriak Jun-yan sambil kedua kakinya meronta2.
Namun orang aneh itu tak memperdulikannya, tubuh Jun-yan tetap diangkat dan dimasukkan kedalam lubang besar itu dan terus didorong sekuatnya, Jun-yan merasa tubuhnya merosot kebawah dengan cepat oleh dorongan suatu tenaga yang besar, ia terus meluncur kebawah hingga berpuluh tombak jauhnya, ketika tiba2 tubuhnya menggelundung diatas semak2 rumput dan matanya terbeliak, ternyata dirinya sekarang sudah berada disuatu goa besar yang tidak jauh dari situ nampak ada cahaya sang surya, ia merangkak bangun dan berjalan keluar, waktu ia menoleh dan coba memanggil paman aneh , namun tiada sesuatu suara sahutan.
Sesudah berada diluar gua itu, ia dapat mengenali tempat itu adalah tempat yang pernah dilaluinya diwaktu datang bersama Ti Put-cian tempo hari.
Cepat Jun-yan masukkan pedang kesarungnya, ia pikir tentu Ti Put-cian masih berada dilembah kurung itu, biarlah mencari padanya untuk bikin perhitungan.
Maka segera ia berlari menuju kepintu besi yang sudah dikenalnya itu, beberapa orang Biau yang tinggi besar penjaga pintu menjadi terkejut demi nampak datangnya Jun-yan, se-konyong2 mereka letakkan tombak mereka serta berjongkok ketanah memberi sembah, lalu bersorak sorai se-keras2nya hingga mengejutkan kawan-kawannya yang berada disebelah dalam.
Ketika pintu dibuka dan Jun-yan masuk kelembah kurung didalamnya, suku Biau yang sedang menyanyi dan menari itu mendadak berhenti, seluruh pandangan diarahkan padanya.
Masih Jun-yan hendak mencari Ti Put-cian yang mungkin campurkan diri diantara orang banyak tapi ternyata tak kelihatan batang hidungnya.
175 Hanya sebentar saja suasana menjadi sunyi, mungkin saking herannya karena Jun-yan bisa keluar dari gua sarang labah2 berbisa dengan selamat.
Namun sejenak kemudian tiba2 genderang berbunyi lagi, suara sorak sorai gegap gempita memecah bumi.
Terlihatlah tujuh puluh dua orang Biau dibawah pimpinan Tiat-hoa-popo telah berlutut ditanah memberi sembah sambil bersorak .
Tongcu dari tujuh puluh dua gua menyampaikan sembah bakti kepada Seng-co kesembilan!
Untuk sesaat Jun-yan tercengang, ia pikir dirinya belum mampu menembus gua sarang labah-labah berbisa itu, kenapa mereka telah menganggapnya sebagai Seng-co ?
Tapi segera iapun menjadi jelas, sebab dirinya datang kembali melalui pintu besi diluar sana, sudah tentu orang tak tahu apakah datangnya itu menembus gua labah-labah itu atau tidak.
Dasar sifatnya yang masih kekanak-kanakan, ia menjadi senang ketika melihat semua orang begitu menghormat kepadanya betapa jayanya menjadi kepala suku Biau.
Maka dengan tersenyum ia memberi tanda agar semua orang berdiri.
Dengan ber-bondong2 lalu Jun-yan disongsong ke 72 kepala gua itu keatas panggung batu ketika Tiat-hoa-popo memberi tanda, kemudian suasana menjadi sunyi lagi, lalu dia angkat bicara dengan suaranya yang tajam.
Walaupun Lengpay (lencana tanda perintah, mandaat) Seng co telah dihilangkan sejak lenyapnya Seng-co ke 8 dan hingga kini belum diketemukan, namun sesudah Seng-co baru sekarang kita angkat, kita tetap akan menurut dan tunduk kepada segala perintah Seng-co.
Habis itu Tiat-hoa-popo berpaling minta petunjuk kepada Jun-yan apakah sebagai Seng-co baru ada petua apa2 yang perlu disampaikan.
Sudah tentu si gadis gelagapan entah apa yang harus dikatakan, ia hanya minta Tiat-hoa-popo menyampaikan kepada para kerabat agar tetap hidup damai berdampingan, semoga makmur dan bahagia.
Sembari berkata ia coba men-cari2 lagi Ti Put-cian diantara orang banyak, tapi masih tak diketemukan.
Sementara itu Tiat-hoa-popo menuturkan lagi kepada Jun-yan, tentang adat istiadat serta kewajiban2 seorang Seng-co, bahwa tiap sebulan sekali Seng-co harus bergiliran tinggal bersama disetiap gua dengan suku bangsanya, sesudah itu barulah boleh pilih tempat kediaman sendiri untuk selamanya.
Diam2 Jun-yan mengeluh akan ikatan demikian itu.
Masakan ia harus tinggal untuk selamanya didaerah Biau ini.
176 Tiat-hoa-popo, jika menurut penuturanmu, jadi Seng-co sama sekali tak boleh tinggalkan tempatnya ini ?
Tentu saja boleh, sahut sinenek, asal sebelumnya ia mengangkat seorang wakilnya.
Aha, jika begitu, Tiat-hoa-popo adalah seorang yang paling dihormati diantara sukumu, padahal masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan ditempat lain, maka biarlah sementara ini aku angkat kau sebagai wakilku, mumpung seluruh kepala tujuh puluh dua gua berada disini, sekarang juga aku umumkan maksudku ini.
Betapa girangnya Tiat-hoa-popo, hampir2 ia tidak percaya akan pendengarannya sendiri.
Saking terharu sampai air matanya meleleh, segera ia sampaikan keinginan Jun-yan kepada para kawannya, maka didahului sinenek, kembali para kepala gua itu berjongkok menyembah lagi.
Lapor Seng-co, demikian Tiat-hoa-popo berkata pula, Sebenarnya Seng-co Baru mendengar sampai disini, se-konyong2 Jun-yan merasa sesosok bayangan berkelebat dari samping, tanpa pikir Jun-yan meraup dengan tangannya serta memandang kearah datangnya bayangan itu.
Tetapi ia menjadi heran ketika tiada seorangpun disitu, hanya tangannya tahu-tahu bertambah satu bungkusan hitam entah apa isinya, cuma bobotnya terasa agak antap, waktu ia buka, ia menjadi tercengang.
Ternyata isi bungkusan itu adalah dua belas buah lencana emas segi tiga, diatas lencana2 itu terukir gambar yang ber-beda2.
Saking herannya Jun-yan membolak-balik lencana-lencana itu untuk dilihat hingga mengeluarkan suara yang gemerincing.
Ia menjadi heran, darimanakah datangnya lencana-lencana emas ini dan apa gunanya ?
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Tiat-hoa popo berhenti menutur, tapi dengan cermat sedang mendengarkan suara gemerincing yang diterbitkan lencana2 emas itu.
Benda apakah yang kau pegang itu, Seng-co?
tiba2 ia menanya.
Entahlah, tapi bentuk lencana segitiga dan seluruhnya ada dua belas buah, sahut Jun-yan.
Ha?
seru Tiat-hoa-popo kaget, lalu dengan suara terharu pintanya .
Dapatkah aku meraba sebuah diantaranya ?
177 Segera Jun-yan serahkan sebuah lencana emas itu ditangan sinenek.
Ketika nenek itu sudah meraba dan pegang2 lencana itu dengan teliti mendadak wajahnya berobah hebat, lalu dengan suara keras ia berkata dalam bahasa Biau.
Jun-yan bingung oleh kelakuan orang.
Ia lihat orang2 Biau yang tadinya bersorak-sorai tadi, kini mendadak berdiam lagi, lalu Tiat-hoa-popo angkat lencana tadi tinggi2 sembari mengucapkan serentetan kata2 lagi dalam bahasa mereka, maka orang2 Biau itu kembali menjura lagi dengan hikmatnya.
Selagi Jun-yan hendak menanya, tiba2 sinenek berganti dalam bahasa Han dan berkata padanya .
Lencana Seng-co sudah hilang selama tiga puluhan tahun, kini mendadak berada ditangan Seng-co baru, ini suatu tanda rejeki Seng-co baru yang maha besar dan suku Biau menerima rahmatnya.
Jun-yan berseru kaget oleh penjelasan itu, jadi lencana itulah Lengpay yang dianggap benda keramat oleh bangsa Biau.
Lalu siapakah tadi yang menimpukkan kepadanya ?
Apakah orang aneh itu ?
Padahal orang aneh itu diketemukan Jing-ling-cu dijurang Ciok-yong-hong di-pegunungan Hengsan, dari manakah ia dapat memperoleh Lengpay dari Seng-co 72 gua suku Biau ini ?
Dan karena masih tidak mengerti, akhirnya Jun-yan bertanya.
Lalu apakah gunanya Leng pay ini, Popo?
Lengpay ini adalah tanda kebesaran Seng-co, tutur Tiat-hoa-popo.
Beratus ribu suku Biau kita akan tunduk pada segala perintah Seng-co asal melihat Lengpay itu.
Diam2 Jun-yan bergirang akan manfaat lencana kebesaran itu.
Maka ia ambil enam buah diantaranya, sisa enam buah lainnya ia serahkan kepada sinenek serta mengumumkan dihadapan 72 kepala gua itu, bahwa untuk sementara berhubung urusan penting yang harus diselesaikannya didaerah lain, maka Tiat-hoa-popo ia angkat sebagai wakil mandaat penuh sesuai dengan enam buah lencana yang diserahkan padanya itu.
Dengan sorak gemuruh para orang Biau itu menyatakan setuju, saking terharunya kembali Tiat-hoa-popo meneteskan air mata.
Pada saat itulah tiba-tiba sesosok bayangan putih berkelebat, tahu seorang telah melompat keatas panggung, kiranya adalah A Siu yang lincah itu.
Walaupun tadinya merasa cemburu oleh karena melihat A Siu kesemsem pada Ti Put-cian namun sesudah tahu perangai jahat pemuda itu Jun-yan merasa gegetun malah bila si gadis cantik ini terpikat oleh pemuda yang tak bermoral itu.
Memangnya 178 iapun suka bersahabat, terutama terhadap seorang gadis jelita yang lincah seperti A Siu ini, maka segera ia menyapanya dengan tertawa .
Eh, adik ini siapakah namanya ?
Aku bernama A Siu, sahut si gadis dengan tersenyum.
Kemarin Jun-yan sudah menyaksikan juga betapa A Siu telah robohkan Siau-yau-ih-su Cu Hong-tin hanya dengan sekali-dua gebrakan saja, terang ilmu silatnya sangat tinggi, A Siu, hebat sekali kepandaianmu.
Siapakah suhumu ?
segera ia tanya.
Lapor Seng-co, aku tak punya Suhu.'' sahut A Siu terus terang.
Aneh, diam2 Jun-yan membatin.
Segera ia pun membisiki A Siu .
Harap kau jangan sebut aku Seng-co umur kita sepadan, panggillah padaku enci saja.
Mana boleh jadi?
sahut A Siu tertawa.
Sebab apa?
tanya Jun-yan.
Kau adalah Seng-co, mana boleh terang2an aku panggil kau enci?
sahut A Siu.
Tapi lantas ia membisikan pula .
Hanya kalau sudah diluar daerah sini, barulah tidak menjadi soal.
Melihat sifat dan tutur kata A Siu berbeda dengan orang Biau lainnya, Jun-yan bertambah suka padanya.
Tiba2 ia ingat akan diri Ti Put cian lagi, maka tanyanya .
A Siu dimanakah pemuda satu jari itu.
Seketika wajah A Siu bermuram durja sahutnya .
Tidak lama baru saja ia keluar dari gua, lantas buru2 pergi ingin aku menyusulnya tapi dicegah Popo sebab bila kau masih belum keluar gua pada waktunya orang berikutnya adalah giliranku.
A Siu apakah kau suka pada pemuda itu?
tanya Jun-yan melihat wajah A Siu tiba-tiba muram demi mendengar Ti Put-cian disebut.
Sebenarnya ia hendak menasehatkannya tentang jiwa kotor pemuda itu, tapi urung.
Sebaliknya A Siu tidak menjawab, ia hanya mengangguk sambil memandang dengan sinar mata yang jernih dan mantap.
A Siu, karena urusan lain aku harus tinggalkan tempat ini dahulu, apakah kau suka ikut bikin perjalanan bersamaku ?
kata Jun-yan kemudian.
Tentu saja A Siu bergirang, memangnya ia ingin sekali bisa menyusul buah hatinya.
Asal bisa menyusul buah hatinya.
Asal bisa ikut pergi bersama Jun-yan, harapan 179 bertemu tentu sangat besar.
Maka tanpa ragu2 lagi ia mengia, segera ia bicarakan hal itu dengan Tiat-hoa-popo.
ENGAN enam buah lencana, sudah tentu Tiat-hoa-popo dapat bertindak sesukanya seperti Seng-co.
Maka iapun tidak merintangi akan kepergian A Siu bersama Jun-yan.
Besoknya, kedua gadis itu lantas berangkat dihantar oleh 72 kepala gua Biau hingga jauh.
Sesudah menginjak daerah, dengan tertawa Jun-yan berkata pada A Siu.
Nah, sekarang kau boleh panggil enci, bukan?
Betul juga A Siu lantas memanggil enci kembali padanya.
Karenanya Jun-yan kegirangan.
Selama ia berkelana di kangouw, siapa saja kalau tidak menyebutnya anak dara, tentu memakinya budak liar, tetapi belum pernah orang memanggil taci padanya.
A Siu, kata Jun-yan pula.
Walaupun kita bukan saudara kandung, tetapi menurut kebiasaan bangsa Han kami, kita bisa mengangkat saudara.
Ya, ya, aku tahu, bangsa Han suka angkat saudara sehidup semati, ujar A Siu.
Eh, darimana kau tahu, apa pernah kau pergi kenegeri kami ?
tanya Jun-yan heran.
Pernah, ketika pergi bersama muridku, kata A Siu.
Muridmu ?
Jun-yan menegas dengan heran, ah bagus bakal ada orang memanggil aku Supeh, tentu!
Dan siapakah nama muridmu itu?
Dimana dia sekarang ?
Muridku adalah seorang Hwesio gede, namanya Tiat-pi Hwesio, sebulan yang lalu tinggal disuatu biara, mungkin masih disana, tutur A Siu.
Mendengar nama Tiat-pi Hwesio, Jun-yan bertanya.
itu paderi jahat terkenal disekitar Hunlam ?
Benar, walaupun orangnya kelihatannya jahat, sebenarnya tidak demikian, ujar A Siu.
180 Lalu iapun ceritakan pengalamannya dahulu ketika merantau bersama Tiat-pi Hwesio ke-daerah Hunlam dan Kuiciu.
Melihat A Siu sama sekali tidak menyinggung ilmu silat yang dimilikinya, diam2 Jun-yan sangat ingin mengetahui sampai dimanakah sebenarnya ilmu kepandaian gadis jelita itu, meski sudah terang sangat tinggi seperti waktu menghajar Cu Hong-tin diatas panggung batu, tapi gaya aslinya masih belum jelas kelihatan seluruhnya.
Siapakah gurumu, A Siu ?
tanyanya kemudian.
Namun A Siu hanya geleng2 kepala saja dan menjawab .
Aku tak punya guru.
Diam2 Jun-yan tidak percaya, masakan tanpa Suhu dapat mempelajari ilmu silat setinggi itu, bahkan jauh lebih unggul daripada Kang lam-it-ci-seng Ti Put-cian yang sudah ngacir itu.
Ia pikir mungkin peraturan perguruan yang melarang memberitahukan orang luar, maka A Siu tak mau bilang.
Maka iapun tidak menanya lebih jauh.
Petangnya tibalah mereka disuatu kota kecil, setelah mendapatkan hotel, Jun-yan minta pelayan menyediakan alat sembayangan dan sekedar sesajen, karena ia hendak mengangkat saudara dengan A Siu.
Selesai upacara singkat itu, Jun-yan pikir sebagai enci, sepantasnya memberi sesuatu tanda mata padanya.
Tetapi merasa tidak membawa barang2 apa yang berharga, pedang Tun-kau-kiam ia merasa berat, pecut mulut bebek tidak mungkin, sebab itu senjata pemberian sang guru.
Sesudah berpikir lama, ia lihat telinga A Siu tanpa hiasan, tiba2 hatinya tergerak, katanya .
A Siu, biarlah aku memberi sepasang anting2 padamu, dengan itu, tentu kau akan lebih menggiurkan.
Aku sudah punya anting-anting, sahut A Siu dengan tertawa.
Sembari berkata, ia keluarkan sepasang anting2 pualam hijau yang ditemunya waktu mencari jejak ayahnya dan Jin koh tempo dulu.
Coba kulihat, pinta Jun-yang.
Tapi ia menjadi heran dan terperanjat ketika melihat diatas anting2 itu masing2 -king yang kecil-kecil, ia jadi teringat pada peristiwa2 sesudah dirinya tinggalkan Cio-jong hong, waktu malam pertama tahu2 orang meletakkan golok Pek-lin-to disamping bantalnya, kemudian ketika orang aneh itu merampasnya kapal jambrud dari tangannya Siang Lui untuk dirinya, setiap kali selalu disertai secarik kertas dengan tulisan Jing kin .
Melihat huruf itu, tampaknya nama seorang, hal ini selamanya 181 menjadi tanda tanya baginya, dan kini diatas anting2 terdapat lagi nama itu, sungguh aneh!
Ada apakah, enci Jun-yan ?
Apa anting2 ini tidak bagus ?
tanya A Siu ketika melihat Jun-yan ter-menung2 penuh kesangsian.
A Siu, darimanakah kau mendapatkan anting2 ini ?
tanya Jun-yan kemudian.
Entahlah, cuma dapat diduga miliknya Jing-koh (bibi Jing), sahut A Siu.
Jing-koh ?
Siapakah dia?
Entahlah, hanya tahu dia she Ang bernama Jing-kin, iapun memberi sebutir mutiara besar padaku, kata A Siu pula.
Lalu ia unjukkan mutiara mestika yang terkalung di lehernya itu.
Nampak mutiara itu, kembali hati Jun-yan tercekat, diam2 ia heran sekali .
Aneh, mutiara ini aku seperti pernah melihatnya entah dimana ?
Makin lihat ia merasa makin kenal akan benda itu, se-akan2 benda itu pernah dimilikinya.
Tapi meski ia meng-ingat2nya lagi, masih tak mengerti apakah itu kebetulan saja atau sesuatu peristiwa yang pernah terjadi.
A Siu, siapakah gerangan Ang Jing-kin itu, dapatkah kau ceritakan padaku sedikit tentang dia ?
katanya kemudian.
Akupun tidak begitu paham, hanya masih kuingat ketika aku ikut dia masuk gunung bersama ayah untuk mencari obat untuk suaminya.
sahut A Siu.
Lalu iapun cerita sekenanya tanpa teratur apa yang masih teringat olehnya ketika rumahnya kedatangan suami isteri Ang Jing-kin, kemudian bersama Tiat-pi Hwesio pergi mencari ayahnya dan menemukan kerangka tulang ditepi empang.
Sudah tentu cerita yang tak keruan susunannya itu membikin Jun-yan tambah bingung.
Siapakah gerangan suaminya Ang Jing-kin itu ?
Kemudian kemana dia telah pergi ?
ia tanya pula.
Entah, cuma menurut cerita Tiat-hoa-popo, ketika tanpa sengaja ibuku menyingkap kain kerudung kepalanya, ibuku menjerit kaget karena melihat wajah orang yang lebih mirip setan, lalu orang itu berlari pergi menghilang , tutur A Siu.
Mukanya jelek mirip setan ?
Apakah karena bekas luka ?
demikian Jun-yan menggumam sendiri.
182 Namun A Siu tak bisa menjelaskan lebih banyak, iapun tidak menanya lebih jauh, mereka melanjutkan perjalanan tanpa terjadi apa2.
Akhirnya tibalah mereka sampai ditapal batas propinsi Ciat-kiang.
Tatkala itu menginjak musim rontok, hawa sejuk pemandangan permai.
Terutama A Siu yang belum pernah menjajaki daerah Kanglam yang indah, ia sangat terpesona oleh pemandangan alam yang dilaluinya.
Suatu hari, sampailah mereka didaerah kabupaten hi-sui-koan.
Karena kesemsem akan pemandangan indah disekitarnya, mereka berdua menjadi melampaui waktu istirahat, makin jauh makin memasuki tanah pegunungan.
Sementara itu sang surya sudah mulai mendoyong kebarat.
Tiba2 mereka melihat didepan sana tumbuh beberapa rumpun pohon bambu, ditepinya mengalir sebuah sungai yang mengelilingi tiga buah rumah gubuk.
Melihat pemandangan itu, tanpa merasa Jun-yan memuji, Betapa indahnya tempat ini entah siapa gerangan yang tinggal itu, benar2 pandai menikmati !
Dan selagi ia hendak berseru akan memohon mondok bermalam digubuk itu, tiba2 dilihatnya ada seorang lagi jalan keluar dari salah satu rumah itu sambil mengukur, dengan laku sangat hormat orang itu lagi berkata dengan badan membungkuk .
Ki-locianpwee, haraplah pada waktunya nanti kau orang tua bisa hadir disana, betapapun juga, sedikitnya akan membikin semangat Jing-ling-cu dan begundalnya melempem !
Habis itu dari dalam rumah lantas terdengar sahutan seorang yang bersuara tuan besar .
Ehm, tiba waktunya nanti aku datang kesana.
Sekarang lekaslah kau enyah !
Ber-ulang2 orang yang keluar itu membungkuk sambil mengia.
Sebaliknya lagak lagu orang didalam rumah itu terang angkuh luar biasa.
Diam2 Jun-yan terkejut ketika mendengar nama Jing-ling-cu disebut.
Cepat ia tarik A Siu dan membisikinya .
Coba kita sembunyi dulu untuk melihat siapakah orang itu !
lalu keduanya menyelinap masuk kesemak-semak pohon bambu sana.
Cuaca waktu itu sudah mulai sore, namun cukup jelas untuk melihat orang yang keluar itu ternyata seorang Thauto atau paderi yang memelihara rambut panjang, mukanya bengis dilehernya terkalung serenceng tasbih dari emas yang bentuknya dibikin seperti tengkorak, jumlahnya beratus biji.
Tampak mukanya ber-seri2, kadang2 mengelus2 jenggotnya yang pendek dengan tangannya yang penuh bulu.
183 Jun-yan tak kenal Thauto itu, ia lihat orang berjalan dengan bersitegang leher dan lewat tidak jauh dari tempat sembunyinya tanpa merasa.
Diam2 Jun-yan bergirang, ia membisiki A Siu.
Tampaknya paderi ini bukan manusia baik2.
Jing-ling-cu yang disebutnya tadi adalah tokoh ternama dari Heng-san yang menjadi sobat baikku.
Marilah kita coba mengintil dibelakangnya untuk melihat apa yang hendak dilakukannya.
Sudah tentu A Siu menurut saja, apalagi sifat kanak2nya masih belum hilang, untuk berbuat hal2 yang nakal justeru sangat cocok dengan kelincahannya.
Maka dengan ilmu entengi tubuh yang tinggi mereka menguntit Thauto itu dari jauh.
Sudah tentu ilmu Ginkang A Siu jauh lebih hebat daripada Jun-yan, maka kagum sekali Jun-yan terhadap kepandaian kawannya yang tinggi itu, ia heran akan keterangan A Siu tempo hari bahwa ilmu kepandaian yang dimilikinya itu dipelajarinya tanpa guru.
Ia tidak tahu bahwa Siu-yang-chit-Kay yang dipelajari oleh A Siu itu adalah merupakan kombinasi dari intisari berbagai cabang persilatan, maka tidak heran ilmu kepandaian A Siu susah diukur dengan ilmu silat umumnya.
Saking kagumnya, maka Jun-yan coba menanya sedikit tentang dasar2 Ginkang yang dimiliki A Siu itu.
Tanpa ragu2 A Siu suka memberi penjelasan juga, begitu pula ia terangkan Lwekang yang pernah dipelajarinya dari ukiran digua itu.
Dan karena asyik tanya jawab itu, sampai mereka lupa bahwa mereka lagi mengintil Thau-to berambut panjang tadi.
Ketika mereka ingat kembali, namun Thauto itu sudah tak kelihatan lagi bayangannya, kedua gadis itu hanya saling pandang dengan tersenyum geli.
Keenakan paderi itu, demikian Jun-yan menggerutu.
Dan selagi mereka hendak mencari jalan lain buat melanjutkan perjalanan mereka, tiba-tiba tercium bau sedap yang menusuk hidung.
Nyata itulah bau makanan yang dipanggang, mungkin babi atau ayam panggang.
Dasar perut mereka sudah sangat lapar, maka Jun-yan yang pertama-tama tak tahan, hampir-hampir air liurnya menetes dari mulutnya.
Ehm, betapa lezatnya bau itu!
Siapakah gerangan yang lagi panggang daging babi itu ?
Ehm, betapa wanginya!
demikian ia berkecap2 sambil lidahnya menjilat-jilat.
Habis berkata, cepat ia mendahului berlari menuju ke tempat datangnya bau sedap itu.
184 A Siu menjadi geli melihat wajah kerakusan kawannya itu, tetapi iapun berlari mengikut dibelakang.
Tidak seberapa jauh, tampaklah oleh mereka disuatu lapang sedang menyala segunduk besar api unggun ternyata Thauto tadi lagi membolak-balikkan tangkai kayu yang menyunduk tiga ekor kelinci panggang diatas api, pantas bau wangi lewat jauh.
Nampak itu, tiba2 timbul lagi pikiran jahilnya Jun-yan.
A Siu, harap kau pancing paderi itu pergi sejauh mungkin, biar aku goda dia agar tahu rasa, supaya kelak jangan berani-berani sembarangan omong, katanya segera.
Suruh menggoda orang, tentu saja A Siu sangat senang.
Segera ia melompat maju mendekati Thauto yang asyik memanggang kelinci itu.
Mungkin juga lagi bayangkan betapa lezatnya kelinci panggang itu, maka paderi berambut itu sama sekali tidak merasa bahwa dibelakangnya sudah berdiri seorang A Siu.
Tiba-tiba A Siu telah tertawa sekali, lalu cepat sekali ia melesat pergi.
Sungguh diluar dugaan Jun-yan, gerakan Thauto ternyata sebat luar biasa, mendadak ia putar tubuh, tapi A Siu sudah melesat kedalam semak2 pohon, maka tiada suatu bayanganpun yang dilihatnya.
Ia menjadi curiga, terang tadi suara tertawa orang, kenapa tiada terdapat seorangpun ?
Kembali ia teruskan memanggang kelinci.
Kembali A Siu mendekatinya, sekali ini ia cabut setangkai rumput panjang, dengan itu ia jentikkan kepunggung si Thauto.
Karena rumput itu sangat enteng, tapi dengan tenaga dalamnya A Siu, rumput itu meluncur kedepan dengan cepat sekali tanpa suara menuju punggung Thauto itu terus menyusup masuk Kasa (jubah padri) dan nancap didaging.
Karuan paderi itu ber-kaok2 kaget sambil meloncat tinggi.
Bettt, kontan ia menghantam kebelakang, betapa keras tenaga pukulannya hingga dua pohon kecil dibelakangnya seketika patah kena angin pukulan itu.
Namun A Siu sendiri sudah melesat pergi dengan cepat.
Sekilas bayangan A Siu sekali ini dapat dilihat oleh Thauto itu, tentu saja ia menjadi murka, dengan menggerang terus saja mengudak.
Ketika melihat angin pukulan si Thauto yang maha hebat itu, untuk sejenak Jun-yan terkejut kalau Thauto itu saja demikian lihay-nya apalagi orang she Ki yang sangat dihormatinya didalam gubuk itu?
demikian ia pikir.
185 Tapi demi nampak Thauto itu sudah jauh pergi mengejar A Siu, kembali Jun-yan membayangkan macamnya orang yang menggelikan ketika kena teperdaya olehnya nanti.
Maka cepat ia melompat keluar mendekati api unggun sementara itu dia sudah mengempal tiga comot besar lempung (tanah liat) yang bentuknya mirip kelinci, segera dia lepaskan tiga ekor kelinci panggang dari tangkai kayu, sebagai gantinya ia tusuk kelinci tepung itu keatasnya, ia tambahi pula kayu bakar agar api unggun berkobar lebih keras, lalu berlari sembunyi ketempatnya tadi.
Tak lama pula, ia lihat bayangan A Siu berkelebat, gadis itu sudah kembali dengan tertawa, Eenci Jun-yan, Thauto itu cukup lihay, tapi telah kuperdayai mungkin orangnya sekarang masih putar kayu dirimba sana sambil mencaci maki, demikian tuturnya dengan geli.
Dasar watak Jun-yan memang binal, biasanya dikalangan Kangouw orang segan pada nama gurunya, maka sama mengalah padanya.
Apalagi sekarang ada A Siu yang mengawalinya ia menjadi semakin berani, sahutnya dengan tertawa .
Ha-ha, biar kita tunggu sebentar lagi dan mempermainkan Thauto itu!
Baru selesai ia berkata, tampak Thauto tadi sudah datang kembali dengan langkah lebar, dari wajahnya yang merah padam, tampak sekali rasa gusarnya yang tidak terhingga.
Begitu datang dengan marah-marah ia duduk diatas batu disamping api unggun, lalu termenung-menung seakan-akan lagi mengingat siapakah gerangan yang bergurau padanya tadi.
Tak lama kemudian tiba-tiba ia menggablok keatas batu disampingnya hingga remukan batu berhamburan.
Diam-diam Jun-yan terkejut dan memuji akan tenaga pukulan orang, ia pikir tenaga pukulan yang paling lihay di jaman ini yalah Thi-thau-to dari Ngo-tai-san.
Paderi piara rambut berkepala baja..
Dengan tenaga pukulannya Jian-kin-cio-tui atau hantaman beribu kati pernah ia patahkan pohon yang bulat tengahnya sebesar paha.
Sekarang orang inipun thauto jangan-jangan dia inilah Thi-tha-to yang tersohor itu ?
Tapi pernah dia mendengar tentang sipat Thi-thau-to yang berjiwa besar, apalagi sebagai seorang ketua cabang persilatan, tak nanti mau merendah dan menjilat seperti kelakuan Thauto ini tadi.
Sementara itu si Thauto melihat kelinci panggangnya sudah berwarna hitam, ia sangka telah hangus, maka cepat2 ia angkat kayu sunduk-nya, tapi sebelum kelinci pangggang itu dihantar kemulutnya, mendadak ia membentak, sambil menoleh.
Nyata 186 karena digoda A Siu tadi, ia menjadi senewen, padahal dibelakangnya tiada seorangpun, tapi untuk ber-jaga2, ia sengaja menghardik kebelakang.
Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 5
Baca Juga: Istana Pulau Es 3