Ceritasilat Novel Online

Manusia Aneh Dialas Pegunungan 4

Eps 4 Manusia Aneh Dialas Pegunungan - Gan Kl

Baca online Manusia Aneh Dialas Pegunungan - Gan Kl

Cersil Manusia Aneh Dialas Pegunungan - Gan Kl.

Melihat kelakuan orang yang menggelikan, hampir2 Jun-yan terbahak-bahak, tapi sedapat mungkin ia bertahan.

Pada saat lain, terlihatlah Thauto itu terus menggerogoti kelinci panggang.

Apa celaka, masih untung juga baginya, baru sekali-dua ia cokot kelinci itu dan baru mulai dikunyah, segera ia merasa rasanya kelinci panggang itu rada-rada luar biasa, ia menjadi kelabakan, frr....frr...

berulang-ulang ia semburkan lempung dari mulutnya disertai dengan suara gerengan yang murka.

Melihat macam orang yang lucu.

semula Jun-yan masih menahan rasa gelinya sedapat mungkin, sampai akhirnya ia benar-benar tak tahan lagi, dengan ter-bahak2 iapun berdiri dari tempat sembunyinya sambil menggoda .

Haha, Thauto busuk, kelinci panggangmu ini kurang pandai kau membakarnya, bukankah kelinci panggang yang kubikin untukmu itu jauh lebih lezat ?

Thauto itu terkejut karena tiba-tiba melihat dari semak-semak sana muncul dua gadis dengan ter-tawa2 sambil tangan masing2 memegangi seekor kelinci panggang dan sedang dimakan dengan nikmatnya.

Maka tahulah dia duduknya perkara sebenarnya, karuan alangkah gusarnya tanpa pikir lagi ia kerahkan seluruh tenaga di sebelah tangannya terus dihantamkan kedepan.

Saat itu Jun-yan masih ter-pingkal2 dengan mulutnya penuh daging kelinci panggang, ketika mendadak Thauto itu melontarkan serangan, sama sekali ia tidak ber-jaga2.

Baiknya A Siu selalu waspada, melihat bahaya, cepat ia berseru sambil tumbuk badan Jun-yan dengan pundaknya sambil meloncat kepinggir.

Karena tumbukan A Siu itu, Jun yan ter-huyung2 kesamping hingga jauh, dalam kagetnya segera ia hendak mengomeli A Siu yang sembrono, namun bila ia pandang lagi, ia terkejut sendiri.

Ternyata dimana pukulan Thauto tadi sampai, seketika batu kerikil berhamburan.

Betapa hebat tenaga pukulan itu, sungguh sangat mengejutkan.

Namun Jun-yan bukan Jun-yan kalau dia menjadi takut, dengan gusar ia malah balas mendamperat .

Thauto keparat, hanya tiga ekor kelinci panggang, kenapa kau mesti turun tangan sekeji itu ?

Siapakah ?

187 Saking murkanya Thauto itu tidak menjawab lagi, ia hanya memaki .

Setan alas!

habis ini, sekali lompat, kembali ia melontarkan serangan pula, sebelah tangannya dengan kelima jarinya yang dipentang lebar terus mencengkeram keatas kepalanya Jun-yan, sedang telapak tangan lain dari samping bergaya merangkul ke tengah.

Tiba2 Jun-yan merasa suatu tenaga maha besar seakan-akan mencakup kepalanya, segera ia hendak melompat menghindari, tapi tahu-tahu sesuatu tenaga lain dari samping seakan-akan menggondeli tubuhnya hingga dirinya seperti sudah dikurung ditengah, sementara itu terdengar pula suara tertawa sinis si Thauto.

Dalam gugupnya Jun-yan terpaksa pukulkan juga kedua tangannya coba bertahan, pada saat itu pula iapun ingat siapa akan diri si Thauto itu, teriaknya .

He, kau Tai-lik-eng-jiau Ngo-seng Thauto!

Kiranya Ngo-seng Thauto yang berjuluk Tai-lik-eng-jiau atau cakar elang bertenaga raksasa, adalah sutenya Thi-thau-to, ini ketua Ngo-tai-san yang tersohor.

Tapi karena jiwanya yang kotor dan kemurtadannya, maka ia telah mendurhakai perguruan dan memusuhi sang Suheng, malahan secara rendah berani menggondol lari kitab pelajaran Tai-lik-jiau-hoat dan kabur jauh ketempat lain, akhirnya berhasil juga melatih ilmu cakar elang itu, maka seperti harimau tumbuh sayap saja, kelakuannya semakin se-wenang2.

Begitulah, maka Jun-yan benar2 payah merasakan kurungan tenaga pukulan orang, sedapat mungkin ia coba bertahan, tetapi dadanya serasa sesak, mata ber-kunang2 diam2 ia mengeluh mengapa A Siu tidak lekas turun tangan membantu.

Namun A Siu sudah dapat juga melihat keadaan Jun-yan yang payah, serunya segera .

Thauto, jangan kau sesalkan aku bila kau tak mau lepaskan enciku !

Sudah tentu Ngo-seng tidak pandang sebelah mata pada seorang gadis jelita yang lemah itu segera iapun dapat mengenali orang yang menggoda dan diudak olehnya itu adalah gadis ini, tiba2 ia tertawa aneh, berbareng tangan kiri memutar, mendadak mencengkeram juga keatas kepalanya A Siu.

Nyata dengan demikian ia telah salah perhitungan.

Jika seorang diri Jun-yan yang diserangnya terang tenaganya masih jauh berlebihan tapi terhadap A Siu satu melawan satu saja belum tentu Ngo-seng sanggup menang, sudah tentu ia tidak tahu akan betapa tinggi ilmu lwekangnya A Siu hanya 188 disangkanya seperti Jun-yan yang mudah dilayani, maka sekaligus ia pikir hendak robohkan kedua gadis itu untuk kemudian akan disiksa.

Maka sekali A Siu kebas lengan bajunya menangkis mendadak Ngo-seng merasakan suatu tenaga yang maha besar membentur kemukanya begitu hebat hingga napasnya se-akan2 sesak matanya ber-kunang2.

Barulah sekarang ia terkejut tidak kepalang.

Terpaksa ia mesti tarik kembali sebelah tangan yang melayani Jun-yan tadi untuk membela diri.

Dan karena mendadak tangannya ditarik, Jun-yan menjadi kehilangan imbangan badannya karena dia juga lagi kerahkan sepenuh tenaga untuk melawan, gadis ini terhuyung-huyung kedepan hingga mendekati Ngo seng namun Jun-yan bukan anak murid Thong thian-sin-mo kalau dia lantas jatuh begitu saja.

Dalam keadaan sempoyongan ia masih sempat ayun tangannya menampar hingga plok dengan keras Ngo-seng telah kena ditempilingnya sekali sampai beberapa giginya rompal dan darah mengucur dari mulut.

Dan pada saat lain karena melihat Jun-yan sudah terbebas dari bahaya, cepat A Siu tarik kembali tenaga serangannya tadi.

Sungguh tidak kepalang murkanya Ngo-seng, belum pernah ia kecundang seperti sekarang ini sejak ia malang melintang didunia Kangouw, apalagi kecundang dibawah tangan si gadis cilik yang dianggap masih ingusan.

Saking gusarnya hingga untuk sesaat tampak ia berdiri menjublek dengan sinar mata bengis.

Sudahlah, enci Jun-yan, marilah kita pergi, ajak A Siu kemudian.

Nanti dulu, sahut Jun-yan sambil melolos pedang.

Habis siapa suruh paderi busuk itu berlaku begitu garang, kalau tak diberi sedikit hajaran, boleh jadi ia akan lebih me-mentang2 lagi.

Habis ini, tiba2 ia membentak Ngo-seng ; Nah, kau sudah dengar tidak, paderi busuk, jika kau ingin hidup, biarlah aku mengiris dulu kedua kupingmu, dan kau boleh pergi lantas.

Terdengar Ngo-seng mendengus tertahan, tetapi tidak buka suara, masih terus melotot, malahan dari ubun2nya se-akan2 mengepulkan hawa.

Nampak itu, segera Jun-yan hendak membentaknya pula, tak terduga, mendadak Ngo-seng telah mendahului menggertak sekali sekeras guntur, berbareng kedua tangannya diangkat, seperti cakar elang saja, dengan tipu Siang-jiau-bok tho atau dua cakar mencengkeram kelinci, segera mengarah kemukanya Jun-yan.

189 Kiranya berdiamnya Ngo-seng tadi ialah sedang mengumpulkan seluruh tenaga dalamnya untuk melontarkan serangan yang mematikan kepada Jun-yan yang sudah dibencinya tujuh turunan.

Maka sekali serang, ia yakin akan matikan lawannya itu.

Alangkah terkejutnya Jun-yan oleh serangan maha lihay itu.

cepat ia putar pedangnya keatas dengan gerak tipu heng-hun-liu-sui atau awan meluncur air mengalir, secepat kilat ia sambut cakaran orang.

Untuk kesebatan si gadis itu, mau tak mau Ngo-seng terkejut juga, mendadak ia putar telapak tangannya kesamping, namun begitu, lengan bajunya sudah terpapas sobek, cuma serangannya masih terus mencengkeram kedepan.

Dalam keadaan begitu, walaupun Jun-yan berhasil memapas baju orang, tapi ia sendiri masih tetap terancam bahaya.

Maka A Siu tak bisa tinggal diam lagi, terpaksa ia turun tangan menolong.

Saat itu Ngo-seng lagi kerahkan seluruh tenaganya untuk mematikan Jun-yan, ketika tiba2 merasa angin pukulan menyambar lagi dari samping, ia menjadi kaget dan sadar akan kepandaian A Siu yang tak boleh dipandang enteng itu, maksud hatinya akan mengegos kesamping sambil membaliki sebelah tangannya menangkis.

Tapi lagi2 ia mesti telan pil pahit, sedikit kelonggaran telah dipergunakan oleh Jun-yan dengan baik, plok-plok dua kali ia hantam pundak orang, berbareng pedang diputar dengan tipu hun-kay-goat-hian atau awan menyingkap, bulan kelihatan, tiba2 Ngo-seng merasa pipinya nyes dingin tahu2 sebelah kupingnya sudah berpisah dengan tuannya.

Sungguh apes bagi Ngo-seng akan kejadian hari ini, berulang kali ia kena dihajar, sebelah kupingnya kena diiris lagi.

Karuan bukan main murkanya, tapi apa daya?

Menghadapi dua gadis lincah itu, ia benar-benar mati kutu, hanya sesudah melompat pergi ia memutar tubuh dan melotot dengan mata berapi.

Paderi busuk, tiba-tiba Jun-yan memaki pula, rupanya ia masih belum puas mempermainkan Thauto itu, kau masih punya sehelai daun kuping, supaya tidak ganjil, ada lebih baik biar kupotong sekalian!

habis berkata, benar saja ia melompat maju dengan pedang terhunus.

Gemas luar biasa sebenarnya Ngo-seng kepada Jun-yan, kalau bisa gadis ini hendak ditelannya bulat2, tapi ia kuatir kalau2 A Siu nanti mengerubut maju lagi dan jangan2 kuping yang tinggal satu itu benar2 akan berkorban lagi, bagaimana macam kepalanya tanpa daun kuping itu ?

190 Karena itu, dengan gusar2 takut itu, mendadak ia hantamkan kedepan sekali sebelum Jun yan mendekat, angin pukulan yang keras itu menyambar kemuka si gadis, terpaksa Jun-yan sedikit merandek, maka Ngo-seng sempat putar tubuh angkat langkah seribu.

Namun begitu, berulang2 ia menoleh kuatir diudak.

Jun-yan ter-bahak2 geli, dampratnya dengan tertawa, Hahaha, paderi keparat, apa mungkin kau ajak berlomba lari ?

lalu ia berpaling kepada A Siu dan berseru.

Marilah A Siu, paderi busuk itu sudah ketakutan, cepat kita kejar dia !

Sebenarnya A Siu yang lebih halus perangainya itu enggan ikut mengudak, tapi karena Jun yan sudah mendahului lari, terpaksa ia menyusul dari belakang.

Sebaliknya ketika mula2 Ngo-seng melihat Jun-yan sendiri yang mengejarnya, ia telah berhenti sejenak, tapi demi nampak A Siu sudah menyusul, ia menjadi jeri dan cepat berlari.

Uber punya uber, akhirnya mereka sampai didekat kompleks rumah2 gubuk tadi.

Melihat itu dari jauh, Jun-yan menjadi ragu2, teringat olehnya waktu Ngo-seng Thauto keluar dari gubuk itu telah mem-bungkuk2 badan sambil mengia dengan merendah sekali, terang didalam rumah itu terdapat seorang kosen, yang sangat disegani paderi itu.

Melihat Jun-yan berhenti dengan sangsi, sudah tentu Ngo-seng tidak tinggal diam, segera ia memaki2 lagi dengan kata2 kotor dan rendah untuk bikin hati si gadis menjadi panas.

Betul juga Jun-yan menjadi murka, dampratnya.

keparat, jika aku tidak potong lehermu, jangan kau panggil nona Lou kepadaku!

Dan segera ia mengejar pula.

Karena kuatirkan keselamatan Jun-yan, cepat A Siu menyusul dibelakangnya.

Sebaliknya ketika sampai didepan pintu gubuk tadi, mendadak Ngo-seng berhenti dengan celingukan.

Lalu ia berpaling kearah Jun-yan dan memaki pula, tapi tidak keras, hanya dengan suara tertahan.

Karuan Jun-yan berjingkrak saking murka, la lihat gubuk itu ada suara lentera dari dalam tetapi keadaan sunyi saja, ia menjadi berani, ia mendamprat pula terus menubruk maju, sekali pedangnya mengayun, terus ia tusukkan.

191 Rupanya serangan inilah yang sedang ditunggu2 Ngo-seng, sebab begitu Jun-yan menubruk maju, tiba2 dengan bahunya ia dorong pintu gubuk dan orangnya menerobos masuk.

Tanpa pikir terus saja Jun-yan ikut menguber kedalam.

Diluar dugaan, suatu tenaga maha besar lantas menerjang dari depan, baiknya Jun-yan cukup cekatan, begitu merasa gelagat jelek, segera ia melompat mundur terdorong oleh damparan tenaga itu, menyusul mana suatu bayangan ikut melayang tiba hendak menubruk tubuhnya, dalam gugupnya cepat Jun-yan berjumpalitan ke samping, maka terdengarlah suara buk yang keras, sesosok tubuh telah terbanting ditanah.

Dan sejenak kemudian barulah A Siu dan Jun-yan dapat melihat itu adalah Ngo-seng Thauto yang gede.

Rupanya jatuhnya itu sangat keras hingga Ngo-seng berjongkok meringis hingga lama baru bisa bangun.

A Siu dan Jun-yan telah merasakan betapa lihaynya Ngo-seng, kalau satu lawan satu mereka belum pasti menang, tapi kini begitu mudah Ngo-seng terlempar keluar, maka betapa hebat tenaga pukulan orang yang berdiam didalam rumah itu dapat dibayangkan.

Dalam pada itu dengan ter-sipu2 Ngo-seng telah merangkak bangun walaupun dengan meringis kesakitan, sesudah berdiri, dengan sangat hormat ia masih berkata kearah rumah itu.

Ki-lociappwe, memang aku terlalu sembrono masuk tanpa permisi, tetapi kedua budak ini sesungguhnya keterlaluan...

Ngo-seng, tiba-tiba suara ke-malas2an menyela dari dalam rumah, kenapa kau berani main gila didepan rumahku dengan kata2mu yang kotor tadi?

Apakah memangnya kau sudah bosan hidup?

Dengan membungkuk2 Ngo-seng mengia belaka.

Melihat macam orang yang lucu karena masih meringis kesakitan itu, Jun-yan tertawa geli.

Karena Ngo-seng gemas dan mendongkol, ia pelototi dara nakal itu dengan sengit.

Ngo-seng, terdengar orang didalam gubuk berkata pula, Mengingat hormatmu kepadaku, kesalahanmu itu biarlah kuampuni.

Tapi budak yang membawa Tun-kau-kiam tadi, mana dia, suruh masuk minta ampun padaku !

Jun-yan melangkah, tadi ia hanya melangkah masuk terus terdesak mundur keluar hanya sekejap itu, siapa orangnya didalam saja ia tak jelas melihatnya.

Tapi orang itu sekilas saja sudah dapat mengetahui dia membawa pedang yang dihunusnya adalah Tun-kau-kiam, sungguh tajam amat matanya ?

192 Sementara itu Ngo-seng tampak berseri-seri, ia melirik ngejek Jun-yan sekejap, lalu katanya pula.

Ya, Ki-locianpwe.

Malahan dia masih punya seorang kawan budak lainnya.

Keduanya suruh masuk semua, kata orang didalam itu tanpa pikir.

Lagu suaranya angkuh seakan-akan dunia ini dia kuasa.

Ngo-seng menjadi senang, dengan mengejek ia berkata pada Jun-yan berdua.

Nah, kalian dengar tidak?

Ki-locianpwe suruh kalian masuk minta ampun padanya.

A Siu menjadi sangsi, Enci Jun-yan, siapakah Ki-locianpwe itu kenapa kita disalahkan?

Cis, buat apa kita peduli, sahut Jun-yan penasaran.

Siapa kenal orang she Ki ini manusia macam apa ?

Peduli !

Kata2 Jun-yan itu diucapkan dengan keras, maka Ngo-seng juga mendengar dengan jelas, wajahnya berubah hebat dan bingung, tapi segera ia bergirang pula.

Sebaliknya Jun-yan telah menuding sambil membentak lagi.

Thauto keparat, kau mau maju kemari atau tunggu aku iris lidahmu yang kotor itu dan...

Sampai disitu, suara yang ke-malas2an didalam gubuk tadi menyela lagi .

Bocah dara, kau murid siapakah, ha ?

Besar amat nyalimu ?

Walaupun nakal, tapi Jun-yan juga mengerti bahwa orang didalam gubuk itu pasti bukan orang sembarangan.

Tiba2 hatinya tergerak, ia pikir gunakan nama gurunya untuk menggertak maka dengan tegak leher sahutnya .

Kau tanya nama guruku ?

Hm, mungkin kau akan mati kaget bila kukatakan !

Dia orang tua she Jiau, namanya Pek-king, orang menjulukinya Thong-thian-sin-mo !

Nah, apa abamu sekarang ?

sembari berkata ia bertolak pinggang dengan lagak nyonya besar.

Mendadak orang didalam gubuk itu tertawa tawar.

Aha, kukira siapa, tahunya murid ajaran siauw-Jiauw !

Pantas licin dan belut seperti sang guru.

Nah, tidak lekas masuk terima hukuman, apa kau minta aku keluar malah ?

Jun-yan terkejut, tapi orang ini berani menyebutnya siau-Jiau atau Jiau sikecil, suatu tanda derajat angkatannya masih diatas gurunya.

Untuk sesaat, ia terpengaruh oleh perbawa orang.

Dasar gadis lincah yang tak kenal tingginya langit dan tebalnya bumi, segera ia berpendapat jangan2 orang menggertak saja, persetan orang macam apa?

Kontan saja 193 dia menjawab.

Eh, kau she Ki bukan?

Ya tahulah aku, bukankah kau adalah siau-Ki yang tercantum didalam kamus Kang-ouw itu?

Melihat kau suka kasak-kusuk dengan Thauto keparat itu, tentu kau pun bukan manusia baik2.

Hayo, lekus kau menggelinding keluar.

Tapi baru saja ucapannya habis, se-konyong2 suara gelak tawa bergema dari dalam gubuk, suara ini keras tajam menggetar sukma, jauh berbeda dengan suara ke-malas2an tadi.

Terkejut sekali Jun-yan begitu pula A Siu terkesiap oleh tenaga lwekang itu.

Pada saat itulah tiba2 dua suara keras krak-krak berjangkit disamping mereka, dua pohon bambu besar telah patah tertimpuk dua batu kecil yang menyambar keluar dari gubuk itu.

Menyusul suara orang didalam itu berkata.

Budak bernyali besar nah sekarang sudah kenal lihayku belum?

Apa tidak lekas masuk kemari?

A Siu lebih baik kita angkat kaki saja, bisik Jun-yan kepada kawannya demi nampak gelagat tidak menguntungkan.

Sudah tentu A Siu hanya menurut saja, maka cepat mereka terus melompat kerimba bambu sana, diluar dugaan, baru mereka tiba didepan rimba bambu itu, tahu2 beberapa bintik sinar berkelebat mendahului mereka disusul dengan suara gemuruh robohnya beberapa pohon bambu merintang didepan, malahan suara orang didalam gubuk itu berkata lagi.

Jangan coba lari, dara bandel, tidak lekas kembali ?

Melihat betapa hebat tenaga jari orang itu hanya beberapa batu kerikil sudah mematahkan pohon bambu, bila dia mau mencelakai mereka sesungguhnya seperti membaliki tangannya sendiri.

Maka sesudah ragu2 sejenak, segera Jun-yan mendengus dengan dada membusung ia mendahului kembali kearah gubuk tadi sambil berkata.

Mari A Siu, masakan kita takut kepada segala manusia?

Hayo, dia minta masuk kegubuknya, marilah kita masuk saja, masakan dia sanggup telan kita ?

Habis itu, dengan langkah lebar ia menuju kegubuk itu dan tanpa permisi terus menerobos kedalam.

Maka terlihatlah ruangan gubuk itu terawat rapih bersih, disebuah kursi malas buatan bambu berduduk seorang berbaju hitam lagi asyik membaca dibawah sinar pelita.

Mengetahui masuknya Jun-yan, tanpa menoleh, dengan nada kemalas2an tadi ia berkata .

Sekarang kau baru mau kemari bukan ?

Hendaklah kau ketahui peraturanku, siapa yang berani membangkang perintahku, maka hukumannya akan ditambah sekali lipat.

Waktu Jun-yan menoleh ia lihat A Siu sudah ikut masuk, hatinya menjadi besar.

Ketika ia mengamat2i orang itu, walaupun sedang menunduk membaca, hingga 194 wajahnya tidak jelas kelihatan, tetapi usianya ditaksir takkan lebih setengah abad, terutama mengingat rambutnya yang masih hitam mengkilap.

Dengan lagak angkuh orang itu masih duduk ditempatnya tanpa sesuatu yang aneh, kembali timbul pandang rendah pada hatinya Jun yan, ia menyesal tadi kenapa mesti lari kena digertak orang, jika orang ini ada hubungannya dengan Ngo-seng Thauto tentunya juga bukan manusia baik?

Karena itu sesudah memberi isyarat kepada A Siu, sahutnya .

lantas cara bagaimana kau akan menjatuhkan hukuman?

Diatas saka situ ada gelang rantai, masukkanlah tanganmu sendiri dan suruh kawanmu ambil cambuk dilantai itu dan pecutkan tiga puluh kali, tidak boleh kasih ampun !

kata orang itu tetap menunduk.

Waktu Jun-yan mendongak, benar juga diatas saka sana ada gelang besi dan dilantai terdapat seutas pecut panjang hitam.

Baiklah, sahutnya tanpa pikir.

Mendadak ia terus meloncat keatas.

Tapi bukannya masukan tangannya kedalam gelang besi itu seperti yang diminta, tapi terus lolos pedangnya Tun-kau-kiam dan mengayun dua kali, terdengarlah suara creng-creng kedua gelang besi Itu sudah terpapas putus semua.

Bahkan ketika tubuhnya menurun, tiba2 pedangnya membalik, dengan gerak tipu hoat-hun-ji-goat atau menyingkap awan mengarah rembulan, ujung senjatanya itu terus menikam keatas buku yang dipegangi orang itu dengan maksud membikin kaget padanya.

Rupanya orang itu masih tidak berasa akan serangan itu, maka bles , buku yang dipegang itu tahu2 tertembus tusukan pedang, sungguh diluar dugaan Jun-yan bahwa serangannya bisa berhasil begitu mudah, dan lagi ia hendak congkel pedangnya agar buku orang terpental, se-konyong2 terasa pedangnya se-akan2 melengket pada sesuatu tenaga dan susah ditarik kembali.

Waktu ia dorong sekalian kedepan, ternyata pedangnya seperti menancap dibatu saja susah digoyah.

Dan selagi Jun-yan kaget dan bingung itulah orang itu telah geser bukunya sambil berpaling, kiranya sebabnya senjata Jun-yan itu tak bisa bergerak adalah disebabkan batang pedangnya kena dijepit oleh dua jari tangan orang itu.

Kini wajah orangpun dapat dilihat Jun-yan dengan jelas, benar umurnya antara lima puluhan saja wajahnya cakap gagah, matanya bersinar, alisnya tebal, sambil memandang Jun-yan, mulutnya mengulum senyum, nyata ia tidak bergusar pada si gadis yang sembrono.

195 Mendadak orang itu bergelak ketawa, tangannya yang menjepit pedang itu sedikit diangkat keatas, terasalah oleh Jun-yan suatu tenaga maha besar menumbuk ketubuhnya, tanpa kuasa pedangnya dilepaskannya, sedang tubuhnya terus mencelat menyundul atap rumah, kuatir kalau turun kembali akan dipermainkan orang lagi, tanpa pikir Jun-yan rangkul belandar diatas itu.

Diluar dugaan, tak-tak dua suara berjangkit dan pergelangan tangannya yang merangkul belandar itu terasa kencang seperti dijepit sesuatu.

Apabila ia menegasi, ia menjadi kaget, kiranya yang menjepit tangannya itu adalah kedua belahan gelang besi yang dipapas olehnya tadi, kini setengah gelang besi itu ambles kedalam belandar hingga kedua tangannya seperti terpaku dan badannya ter-katung2.

Waktu ia memandang kebawah, orang tadi masih acuh tak acuh membaca bukunya.

Kau dara ini tampaknya lebih mendingan, kata orang itu kemudian kepada A Siu, tadi aku hanya mau hajar dia tiga puluh kali cambukan, tapi ia berani membangkang, kini hukuman harus ditambah sekali lipat menjadi enam puluh cambukan.

Nah lekas kau mulai, sembari berkata, iapun letakan Tun-kau-kiam yang dijepitnya dari Jun-yan itu keatas meja lalu membaca bukunya lagi.

Ketika menyaksikan Jun-yan tahu2 mencelat keatas terus dipantek diatas belandar, untuk sementara itu A Siu heran juga akan kepandaian orang.

Kini mendengar dirinya diharuskan mencabuk enam puluh kali kepada Jun-yan ia menjadi ragu2 katanya cepat .

Toacek apakah hukuman ini tidak terlalu berat?

Berat?

orang itu menegas.

Malahan menurut aku harus enam puluh kali biar ia kapok.

Biarlah selanjutnya kami takkan merecoki kau, dapatkah kau lepaskan enciku itu?

pinta A Siu ramah.

Orang itu bersangsi sejenak, tanyanya kemudian .

Apakah kau muridnya Siau-jian?

Bukan aku tak punya Suhu, sahut A Siu.

Orang itu meng-amat2inya sejenak, tapi katanya lagi.

Tidak, dara bandel ini harus kuhajar mewakili siau-jiau.

Kalau kau tak mau lakukan, biar kupanggil Ngo seng yang menghajarnya.

Dalam pada itu, Jun-yan yang tergantung diatas itu lagi me-ronta2 berusaha melepaskan diri, dalam hati ia mendongkol sekali kenapa A Siu tidak lekas turun tangan 196 menolongnya, sebab ia yakin ilmu kepandaian A Siu yang tinggi itu cukup untuk melawan orang, cepat saja ia ber-kaok2 suruh A Siu turun tangan.

Dilain pihak, rupanya percakapan itu telah didengar Ngo-seng, tanpa disuruh lagi ia sudah masuk kedalam dan berseru.

Ki-locianpwe, biar kuhajar adat budak liar ini!

Orang itu mengangguk setuju.

Dengan girang segera Ngo-seng hendak menjemput pecut panjang dilantai itu.

Tahan!

bentak A Siu mendadak sambil kebas lengan bajunya kedepan, menyusul sebelah tangannya menyodok dada orang.

Lekas-lekas Ngo-seng hendak mundur, namun begitu angin pukulan A Siu sudah membikin tubuhnya ter-huyung2 mundur dan akhirnya jatuh duduk.

Walaupun Jun-yan sendiri ter-katung2 di-udara, tapi melihat A Siu menghajar Ngo-seng, ia tidak lupa bersorak.

Bagus!

Tahu rasa kau, Thauto busuk.

Hajar lagi, A Siu!

Sebaliknya orang itu rada heran melihat sekali gebrak Ngo-seng kena dirobohkan si gadis, Anak perempuan, boleh juga kepandaianmu.

Kau bernama apa dan siapa gurumu?

Namaku A Siu, guru aku tidak punya, sahut A Siu ke-kanak2an, Toacek, silahkan kau turunkan enciku itu.

A Siu hajar saja, kenapa mesti banyak cing cong, teriak Jun-yan tak sabaran.

Sebaiknya orang tadi telah berkata pula.

Jika kau sanggup menerima tiga kali seranganku, segera aku lepaskan dia!

A Siu suruh dia yang terima tiga seranganmu, biar dia tahu rasa, kembali Jun-yan ber-kaok2.

Nyata ia anggap ilmu kepandaian A Siu sudah tiada tandingan di jagat, tak tersangka bahwa A Siu cukup insaf akan betapa tinggi ilmu lwekang orang itu, apalagi ia sudah ambil keputusan takkan sembarang bergebrak dengan orang.

Tapi orang hanya minta menangkis tiga kali serangan saja lantas A Siu menerimanya dengan baik.

Jadilah, marilah kita keluar.

Tak perlu!

sahut orang itu.

Nah hati2lah.

Habis berkata, sambil tetap berduduk, mendadak lengan bajunya menggontai, seluruh rumah itu seketika penuh terisi angin keras.

Memangnya Jun-yan yang tergantung diatas itu lagi me-ronta2, kini tubuhnya ikut ter-buai2 oleh angin keras itu 197 hingga pergelangan tangannya yang terjepit itu serasa akan patah.

Sedang angin keras itu menyambar kearah A Siu dengan dahsyatnya.

Tapi A Siu sudah siap siaga, cepat sekali ia mengegos, berbareng kedua lengan bajunya juga mengebas hingga kedua tenaga angin saling bentur.

Tapi ia sendiri lantas terasa kalah kuat hingga ter-huyung2 mundur beberapa tindak.

Bagus.

orang itupun berseru, menyusul mana sebelah telapak tangannya menepuk kedepan.

Saat itu baru saja A Siu dapat berdiri tegak, terpaksa ia meloncat minggir sembari sebelah lengan bajunya mengebas pula untuk mematahkan tekanan tenaga pukulan orang.

Dengan demikian barulah ia berhasil lolos dari bahaya.

Diam2 ia terkejut luar biasa, sungguh belum pernah diduganya bahwa lwekang orang bisa sedemikian hebatnya.

Nyata A Siu tidak tahu bahwa orang itu dimasa dahulu mendapat julukan Put-kue-sam atau tidak lewat tiga artinya selamanya tiada ada orang yang sanggup menerima tiga kali serangannya.

Kini A Siu sudah mampu mengelakan dua kali, sebenarnya sudah membuat orang itu bertambah heran.

Awas!

kembali orang itu berseru, sekali ini kedua lengan bajunya mengebas kesamping, habis ini mendadak merangkup kedalam hingga tenaga pukulan itu se-akan2 menggulung terus menggunting.

Menghadapi gelombang serangan ini, mula2 A Siu seakan2 tertarik kesamping, tetapi mendadak seperti terjepit oleh dua tenaga dari kanan kiri.

Tidak kepalang terkejutnya, cepat ia hantam kedua tangannya kebawah hingga tubuhnya terangkat keatas.

Inilah satu diantaranya tujuh kunci ilmu Siau-jang-chit-kay yang dipelajarinya itu.

Pada saat itulah Jun-yan telah berhasil melepaskan tangannya dari jepitan gelang besi serta turun kebawah, maka teriaknya.

Bagus, tiga kali serangan sudah selesai.

Nah, lekas kembalikan pedangku biar kami pergi!

Sementara itu muka orang tadi jadi berobah hebat demi nampak A Siu mampu mengelakkan tiga serangannya, pelan2 ia berdiri.

Anak perempuan, siapa gurumu?

Katakan atau tidak?

katanya dengan memandang tajam.

198 Toacek, bukankah kau sendiri sudah berjanji, setelah aku terima tiga kali seranganmu, lantas kau akan melepaskan enci Jun-yan ?

tanya A Siu.

Benar, sahut orang itu dengan tertawa aneh.

Dan aku telah lepaskan dia, namun sekarang kau yang hendak kutahan!

He, kenapa ?

sahut A Siu heran.

Eh, kau kenal malu tidak, ludah sendiri dijilat kembali?

teriak Jun-yan mengejek.

Akan tetapi orang itu tak menggubrisnya, sebaliknya mukanya masam dan berkata pula kepada A Siu .

Kau mampu menerima tiga kali seranganku, itulah suatu dosa besar!

Aneh, sebab apa ?

tanya A Siu tak mengerti.

Tidak aneh, ujar orang itu, Kini saja kau mampu menahan tiga kali seranganku, lalu kelak, bukankah kau akan mampu menahan berpuluh, mungkin beratus jurus?

Dimasa hidupku, mana boleh ada orang berkepandaian yang memadai aku !

Dasar usiamu yang sudah ditakdirkan pendek!

Sungguh tidak terduga oleh A Siu bahwa adat orang itu begini aneh.

Dengan mengkerut kening ia menanya .

Toacek, apakah tujuan kata-katamu tadi ?

Hahaaha, tiba2 orang itu tertawa, lalu ia menanya pula .

Siapa gurumu ?

Jika dia dapat mendidik seorang murid seperti kau, tidak nanti aku dapat hidup bersama dia didunia ini.

Aku benar2 tidak mempunyai Suhu, sahut A Siu.

Orang itu menjengek sekali, tiba2 ia berseru memanggil Ngo-seng.

Dengan muka ber-seri2 kembali Ngo-seng Thauto masuk dengan mem-bungkuk2.

Mendongkol sekali Jun-yan oleh lagak tengik paderi itu, ia pikir bila sebentar ada kesempatan, biar kuhajar pula.

Ngo-seng, tanya orang itu, paling akhir ini, dikalangan Kangouw adakah muncul tokoh-tokoh lihay ?

Ada, sahut Ngo-seng tanpa pikir, baru-baru saja ada seorang aneh yang linglung, mahir segala macam ilmu silat, lihaynya luar biasa.

Kabarnya Jing-ling-cu hendak mengundang semua tokoh silat untuk mengenalinya.

199 Apakah anak dara ini muridnya?

tanya orang itu.

Rasanya tidak mungkin, sahut Ngo seng geleng kepala.

Lalu ada lagi siapa ?

Banyak!

kata Ngo-seng.

Seperti Thong thian-sin-mo Jiau Pek-king, Liok-hap-tongcu Li Pong, kedua paderi dari Go-bi, Tai-liksin Tong Po, Bok Siang Hiong dan........

Stop!

bentak orang itu mendadak.

Kenapa manusia2 sebangsa itu kau sebut2 didepanku?

Masa mereka sanggup mendidik murid seperti ini?

Hm, sekali orang itu masih hidup, tetap aku tidak lega!

habis berkata, ia mendadak ia hantam meja disebelahnya hingga ujung meja sempal seketika.

Karuan Ngo-seng mengkeret sampai agak lama barulah ia berani bersuara.

Ki-locianpwe, aku ada satu usul.

Jika kau tahan bocah perempuan ini disini, bukankah gurunya akau mencari kemari?

Fui,masakah kau ukur dirimu yang rendah dengan derajatku, semprot orang she Ki itu.

Diam2 Jun-yan dan A Siu memuji orang yang mendamprat jiwa Ngo-seng yang rendah itu.

Tapi mereka lantas dibikin terkejut bentakan orang she Ki itu.

Baiklah, biar bocah ini sekarang juga binasa dibawah Thian-sing-cing-lik-ku.

Kiranya ilmu pukulannya yang dasyat tadi disebut Thian-sing-cing-lik atau tenaga murni taburan bintang maka terlihat Tun-kau-kiam yang terletak dimeja itu mendadak diambilnya terus disentilnya hingga senjata itu menyambar kearah Jun-yan.

Terimalah bocah, bolehlah kalian berdua maju berbareng dan melawan sekuatnya supaya matipun tidak penasaran !

seru orang itu pula.

Jun-yan bergirang melihat senjatanya pulang kandang, cepat ia ulur tangan menyambutnya.

Diluar dugaan, mukanya menjadi merah dan badannya hampir2 terjengkang, ternyata tenaga jentikan orang itu kuat luar biasa, sampai2 ia tidak sanggup menahannya.

Tapi nyali Jun-yan menjadi besar pula sesudah memegang senjatanya, ia pikir dengan kepandaian dua orang masakan akan kalah?

Maka bisiknya lantas kepada A Siu.

Lihatlah betapa liciknya manusia, maka jangan kau sungkan2 lagi, marilah kita hajar manusia busuk ini!

200 Diam-diam A Siu membenarkan ujar Jun-yan itu, tapi bila ia pikir pula, apa yang terjadi itu toh gara-gara Jun-yan yang telah mencuri kelinci panggang orang, bukankah ini pun keterlaluan.

Cuma pikiran demikian tak enak dikatakannya.

Sementara itu orang she Ki itu masih menunggu walaupun melihat kedua gadis itu main bisik2.

Malahan kemudian Jun-yan memulai bersuara garang lagi.

Supaya tidak menyesal, hai, siapa namamu, kenapa tak kau beritahukan lebih dulu !

Tapi belum lagi orang itu bersuara, tiba2 Ngo-seng telah menyeletuk dengan mengejek.

Hm, budak picak, masakan Ki-go-thian, Ki-lo cianpwe yang berjuluk Tok-poh-kian-kun yang namanya termashur dikalangan Bu-lim berpuluh tahun yang lalu, tidak kau kenal?

Sebenarnya Jun-yan lantas hendak memaki Ngo-seng yang berani menimbrung itu, tapi mendengar siapa adanya orang she Ki itu, seketika ia terperanjat sampai mundur beberapa langkah tanpa merasa.

Kiranya pernah didengarnya dari sang suhu bahwa jago silat terkemuka pada jaman itu dan dari lapisan apa saja, tiada yang bisa menandingi Tok-poh-kian-kun Ki Go-thian.

Ilmu silat Ki Go-thian ini sukar diukur tingginya, anehnya iapun tidak suka ada orang yang berkepandaian lebih tinggi darinya, maka tindakannya sewenang-wenang, beberapa kali tokoh Bu-lim hendak membasminya, tapi lima kali berkumpul; setiap kali kena dikalahkannya.

Paling akhir tokoh2 Bulim itu berkumpul ditepi tembok besar, tapi begitu Ki Go-thian tiba, sekali ia bergelak ketawa berpuluh tokoh silat itu menjadi keder semua akan Lwekangnya yang hebat, malahan yang ilmu silatnya sedikit rendah sudah lantas ter-kencing2 sampai senjata terjatuh tak disadarinya.

Tatkala itu usia Jiau Pek-king masih muda, adatnya juga sombong, namun nyalinya cukup besar, ialah yang tampil kemuka sebagai juru bicara Ki Go-thian, katanya.

Kami mengakui ilmu silatmu memang susah dilawan, tapi berkepandaian sungguh hebat tanpa tandingan, apanya yang menarik?

Apabila kau dapat memberi kesempatan kepada kaum muda untuk melatih diri dalam jangka waktu tertentu, aku yakin bukan mustahil akan muncul jago baru yang sanggup merobohkan kau, tatkala mana bila kau masih mampu menjagoi barulah kami benar2 takluk.

Dasar adat Ki Go-thian sangat tinggi, tanpa pikir terus saja menjawab.

Haha, jago muda?

Baik usiaku sekarang tiga puluh delapan tahun biarlah aku tunggu sampai berumur tujuh puluh tahun, aku akan muncul pula mencari kalian, tatkala mana bila kalian toh masih begini tak becus, haha, jangan salahkan aku yang tak kenal ampun.

201 Habis berkata, iapun tinggal pergi dan betul saja sejak itu Ki Go-thian menghilang dari dunia Kangouw dan lama2 orangpun se-akan2 lupa padanya.

Sebenarnya Jun-yan sudah ragu-ragu sejak mula ketika mendengar Ngo seng Thauto yang bukan orang sembarangan itu menyebut Ki-locianpwe pada orang tua itu, sungguh tidak terduga olehnya bahwa tokoh tertinggi berpuluh tahun yang lalu itulah yang kini dijumpai, padahal usianya kalau dihitung sudah 70an namun tampaknya belasan tahun lebih muda.

Maka untuk sejenak ia rada tercengang, tapi segera ia tenangkan diri dan berkata .

Oho kiranya adalah Tok-poh-kian-gun Ki-locianpwe, sungguh tidak nyana dapat berjumpa disini, kalau tidak salah, menurut ceritera, katanya kau berjanji takkan menjelajah Kangouw dalam waktu tertentu ?

Karena teguran ini, tiba2 Ki Go-thian mengerling sekejap kepadanya, tapi lantas berpaling pula menatap A Siu dan katanya dengan dingin .

Ya, tiga hari yang lalu, persis genap waktu yang kujanjikan itu !

Jun-yan menjadi putus asa, maksudnya memancing menjadi gagal.

Ia pandang A Siu sekejap, sebaliknya A Siu yang polos merasa tenang saja walaupun dalam tiga gebrak tadi sudah merasakan betapa lihaynya orang itu.

Maka kata A Siu dengan sewajarnya .

Mungkin dia hanya bergurau saja dengan kita, marilah kita pergi saja, enci Jun-yan.

Melihat A Siu pandang suasana berbahaya itu seakan tak terjadi apa2, diam2 Jun-yan gegetun akan kepolosan sang kawan.

Tapi segera terpikir pula olehnya, kenapa tidak tiru caranya Suhu mengumpak musuh, lalu tinggal ngeloyor pergi ?

Maka segera sahutnya dengan tertawa .

Ya, ya, kau benar A Siu, Locianpwe ini hanya bergurau saja dengan kita, masakan seorang Bu-lim-cianpwe benar2 sudi main2 dengan si anak kecil, kalau tersiar keluar, bukankah akan dibuat tertawaan?

sembari berkata, ia coba melirik sikap Ki Go-thian, ternyata tokoh itu bermuka masam saja tanpa mengunjuk apa2, maka katanya pula.

Ki-locianpwe, sering guruku berkata bahwa tokoh Bu lim seluruh jagat tiada satupun yang ia kagumi, kecuali kau seorang!

Tiba-tiba Ki Go-thian mengejek, sahutnya.

Ya, dan diseluruh jagat ini, dalam hal keberanian juga melulu siau-jiau saja seorang!

Jangan kau senang dulu, kata guruku lagi bahwa disaat genting, kelakuanmu juga rada-rada rendah,maka dapat dipastikan kaupun bukan seorang kesatria sejati!

kata Jun-yan pula.

202 Ngaco belo!

mendadak Ki Go-thian menggerung keras.

Begitu hebat suara gerungan itu hingga muka Jun-yan pucat, telinga pekak.

Nyata suara gerungan itu apa yang disebut Say-cu-bo atau raungan singa, semacam lwekang yang hebat.

Diantara mereka bertiga hanya A Siu yang masih sanggup bertahan; walaupun jantungnya memukul keras juga.

Yang paling celaka adalah Ngo-seng Thauto, hampir-hampir ia jatuh tergetar oleh suara raungan itu, baiknya cepat ia menutupi telinganya, namun begitu kepalanya sudah pening dan mata ber-kunang2.

Kini barulah Jun-yan mau percaya sebabnya sang guru kagum terhadap Ki Go-thian yang memang bukan omong kosong ini padahal biasanya Jiau Pek-king tidak memandang sebelah mata kepada siapapun.

Segera iapun mengerti umpannya telah termakan Ki Go thian sekali tokoh itu sudah gusar pasti sudah akan masuk perangkapnya, ia tunggu sesudah suara raungan orang sudah reda; segera ia tambahi minyak lagi .

Tak perlu kau gusar tanpa alasan masakan guruku berani omong begitu tentang dirimu?

Buktinya seperti sekarang ini, kau melihat ilmu silat A Siu sangat tinggi lantas ketakutan pada gurunya seketika minta bergebrak padanya disini.

A Siu coba kau mengaku terus terang apakah kau sanggup melawannya?

Sudah tentu dengan jujur tanpa aling2 A Siu menjawab.

Mungkin aku hanya sanggup menandinginya paling banyak dalam sepuluh jurus.

Bagus, seru Jun-yan tertawa.

Nah Ki-lo-cianpwe kau sendiri sudah dengar, jika kau hanya pintar mencari lawan yang selalu menandingi kau sebanyak 10 jurus saja lalu macam jagoan apa kau ini?

Kenapa kau tidak mencari gurunya saja buat bertanding ?

Tapi terang kau tak berani kepada gurunya, paling2 kami berdua boleh kau binasakan saja.

Haha !

Enci Jun-yan, aku toh tidak mempu.....

Ya, sudah tentu kau tak mempunyai pendirian apa2, sela Jun-yan cepat sebelum A Siu selesai berkata, nyata ia tahu gadis itu hendak bilang tak mempunyai guru , hal mana berarti usahanya mengumpak Ki Go-thian akan gagal maka sembari berkata, terus iapun mengedipi A Siu hingga gadis itu menjadi bingung dan urung bicara lagi.

Mm, lantas siapa gurunya ?

tanya Go-thian menjengek.

Muridnya saja begini lihay, apalagi sang guru,'' ujar Jun-yan.

Apalagi dia orang tua melarang kami menyebut 203 namanya diluaran, seumpama diperbolehkan, juga aku takkan terangkan, supaya kau tidak bakal kebat kebit merasa tidak tenteram.

Melihat tutur-kata Jun-yan itu tanpa merasa jeri sedikit juga, benar saja Ki Go-thian menjadi ragu2, ia coba meng-ingat2 tokoh persilatan terkemuka dimasa lalu, tapi ia merasa tiada seorangpun diantaranya yang dapat mengungkuli dirinya.

Kalau bilang selama ini muncul lagi jago baru, masakan Ngo-seng tidak tahu ?

Setelah di-ingat2 pula, mendadak hatinya tergerak, teringat olehnya pada waktu dirinya malang melintang tanpa tandingan dahulu, pernah mendengar ceritera orang katanya di puncak tertinggi Khong-tong-san yang terdiri dari puncak timur dan barat itu, masing2 berdiam seorang paderi.

Kedua paderi sakti itu, bagi orang Khong-tong-san-pay sendiri belum pernah melihatnya.

Tapi kalau ada kabar demikian tentunya bukan tiada alasan.

Konon kedua paderi itu sangat tinggi ilmu lwekangnya, walaupun puncak timur dan barat itu berjarak beberapa li jauhnya tapi bila perlu mereka menyiarkan suara mereka dengan Iwekang yang tinggi itu untuk saling bicara.

Berpikir begitu, bukannya Ki Go-thian menjadi jeri, tapi dia merasa senang malah, sebab bakal mendapatkan tandingan yang selama ini dirasakannya hampa, maka dengan tertawa dingin katanya.

Hm budak setan, kenapa mesti pura-pura, apa kau sangka aku tak tahu gurunya kalau bukan kedua keledai gundul di Khong tong-san itu siapa lagi?

Sebenarnya selama hidupnya belum pernah Jun-yan mendengar tentang paderi sakti dipuncak Khong-tong-san itu sebab usianya masih terlalu muda bagi kejadian dahulu.

Tapi gadis cerdik begitu mendengar kata2 Ki Go-thian itu ia merasa paderi2 yang dimaksud itu pasti bukan sembarangan orang, maka sengaja ia mengunjuk rasa heran dan berkata kepada A Siu .

Eh, dari mana dia dapat tahu ?

Jika benar, bocah ini tetap harus kutahan disini!

kata Ki Go-thian lagi, nyata seorang tokoh terkemuka dan pintar seperti dia ini juga kena diselomoti Jun-yan.

Melihat akalnya berhasil, dengan cepat kata Jun-yan lagi .

He, bukankah kau tadi sedang berunding dengan Ngo seng katanya hendak hajar adat kepada Jing-ling Totiang, hendak kemanakah kalian itu ?'' Menghadiri pertemuan para jago Bu-lim yang diadakan Jing-ling-cu di kuilnya Lo-kun-tian dipuncak Ciok-yong-hong, sahui Ki Go-thian.

204 Wah, sangat kebetulan sekali, jika begitu pasti kau akan bertemu dengan kedua Locianpwe dari Khong-tong-san itu, ujar Jun-yan.

Tapi segera ia pura2 ketelanjur omong .

Eh, jangan2 kau tidak jadi pergi kesana mendengar kabarku ini!

Amarah Ki Go-thian memuncak dikatai jeri pada orang lain.

Kau boleh saksikan kedatanganku disana nanti !

Sekarang lekas enyah !

bentaknya sembari kebaskan lengan bajunya hingga Jun-yan merasa se-akan2 ditiup angin badai terus mencelat keluar sejauh beberapa tombak.

Cepat, A Siu !

seru Jun-yan sembari lari ketika dilihatnya A Siu juga sudah memutar tubuh.

Setelah beberapa li jauhnya, barulah mereka berani kendorkan langkah, namun suara bergelak Ki Go-thian masih terdengar berkumandang keras bagai guntur.

Cepat mereka berlari pula meninggalkan tempat berbahaya itu.

Wah, bila orang she Ki itu tak mau masuk perangkap, boleh jadi jiwa kita sudah melayang, ujar Jun-yan sesudah jauh.

Enci Jun-yan, kenapa kau suruh dia bertanding dengan guruku, darimana aku mempunyai guru?

tanya A Siu tertawa.

Jangan kuatir A Siu, kalau sudah tiba harinya pertemuan di Ciok-yong-hong nanti, biarlah kita juga kesana, tentu disana akan terkumpul banyak jago2 terkemuka, masakan benar2 semuanya akan dikalahkan orang she Ki itu ?

ujar Jun-yan, Dan bila benar2 dia memang lihay, kita punya kaki, masakan kita tak bisa angkat langkah seribu ?

Kita juga hadir kesana, tapi kalau kepergok, bagaimana ?

tanya A Siu lagi ragu2.

Kau jangan kuatir, guruku mahir menyamar, maka akupun sudah mempelajari kepandaian itu, sahut Jun-yan, nanti kalau kita sudah menyamar, tanggung kau takkan kenali dirinya sendiri lagi.

Sekarang paling perlu kita mencari tahu dulu kapan pertemuan para jago Bu-lim itu akan diadakan Jing-ling-cu.

sampai disini, ia merandek, lalu katanya pula.

A Siu kita sudah seperti saudara sekandung saja, dapatkah kau ceritakan padaku, kau bilang tiada punya guru, lantas dari mana kau belajar kepandaian?

A Siu menjadi ragu2, tapi bila mengingat hubungan mereka memang melebihi saudara sekandung, tanpa sangsi lagi lalu diceritakannya tentang Siau-jang-cit kay yang diperolehnya dari Lo-liong-thau digua itu.

205 Heran sekali Jun-yan oleh penemuan aneh itu, sungguh tidak nyana seorang tua cacat Suku Biau yang sepele itu juga mahir ilmu silat setinggi itu.

Sembari bicara mereka sambil berjalan, kata Jun-yan pula.

A Siu, kata orang diatas ada sorga, dibawah ada Soh Hong (Sociau dan Hangciu), perjalanan kita toh mesti lewat wilayah Ciatkang, biarlah kita pesiar sekalian ke Hangciu.

Bagus, seru A Siu girang.

Tempat seindah itu, boleh jadi disana kita akan bertemu dengan Ti-koko.

Diam2 Jun yan gegetun akan hati A Siu yang telah begitu kesemsem atas diri Ti-put-cian.

Tidak seberapa hari, tibalah mereka dikota Hangciu dan mereka pesiar beberapa hari menikmati keindahan kota sorga itu.

Dan karena selama itu tidak melihat bayangannya Ti-put-cian hati A Siu menjadi murung.

Suatu hari mereka lagi pesiar mendayung perahu ditelaga So-oh yang indah permai itu.

Sedang mereka asyik tamasya, se-konyong2 suara air telaga gedebyuran, tahu2 sebuah kapal pesiar yang besar menerjang dari samping dengan kerasnya, diatas Kapal belasan lelaki sedang makan-minum sambil terbahak2 hingga suasana yang tadinya aman tentram itu jadi gaduh.

A Siu mengkerut kening, sebaliknya Jun-yan menjadi gusar.

Tanpa pikir lagi, cepat ia berdiri, ia tunggu kapal itu sudah hampir mendekat, ia samber sebuah ember disampingnya terus menciduk seember air penuh dan digebyurkan sekuatnya kearah kapal itu.

Betapa hebat tenaga yang digunakan Jun-yan, byur , itu tepat masuk kedalam ruangan kapal itu melalui jendela dan belasan lelaki di-dalamnya menjadi gelagapan dan jatuh pontang-panting, kemudian kapal itu sedikit miring hingga hampir2 terbalik.

Jun-yan ter-bahak2, dan sekali dayungnya bekerja, cepat perahunya sudah meluncur pergi jauh, tiba2 dari dalam kapal itu melompat keluar seorang terus terjun ketengah telaga, hebatnya meski didalam air, orang itu tidak tenggelam, tapi air hanya sebatas lututnya, dengan cara inilah orang itu mengejar perahunya Jun-yan dengan berjalan diatas air, dan cepatnya sungguh luar biasa.

Hayo, berhenti, siapa berani tepuk lalat diatas kepala harimau, main gila di telaga ini ?

Suara itu Jun-yan merasa sudah pernah kenal, tapi karena perahunya meluncur sangat cepat, pula deburan air yang tinggi, lantaran diseberangi orang itu, maka 206 mukanya tidak nampak jelas.

Dalam pada itu, A Siu sudah samber dayung satunya lagi membantu percepat lajunya perahu.

Rupanya melihat tak sanggup mengejar lagi, mendadak tubuh orang itu tenggelam kedalam telaga, hingga lama belum kelihatan muncul.

Jun-yan menyangka orang itu mungkin sudah kelelap ditelan ikan, maka ia berhenti mendayung untuk bergurau dengan A Siu.

Diluar dugaan, tiba2 terdengar suara pluk-pluk beberapa kali dibawah perahu, tahu2 air telaga merembas masuk dari bawah, ternyata dasar perahu itu tahu2 bertambah beberapa Iobang kecil, menyusul mana suara pluk2 terdengar pula dihaluan dan buritan perahu berlubang lagi beberapa buah hingga cepat sekali separuh dari perahu itu sudah terendam air.

Baru sekarang Jun-yan insaf orang tadilah yang telah menyabot perahunya itu, cepat ia sumpal sebilah papan perahunya terus dilemparkan ke-permukaan telaga sambil peringatkan A Siu agar berlaku cara yang sama.

Menyusul mana, ia genjot tubuhnya melompat keatas papan yang terapung ditelaga itu.

Melihat perahunya sudah hampir tenggelam cepat A Siu berbuat seperti caranya Jun-yan hingga mereka menumpangi dua papan sejajar seperti orang main ski.

Dan baru saja mereka selamatkan diri, terdengarlah suara air gedeburan, seorang telah muncul dari dasar telaga dengan tangan memegang senjata Hun-cui-go-bi ji semacam cundrik kaum nelayan, sekali tusuk perahu itu telah ditenggelamkannya, tapi ketika melihat kedua gadis itu sudah berpisah keatas dua papan ia alihkan senjatanya sambil membentak.

Berani kau ...

Hanya sekian saja ucapan orang itu karena orangnya lantas saja terkesiap.

Berbareng itu Jun yan pun sudah melihat jelas bahwa orang itu adalah Tong-ting-hui-hi Bok Siang-hiong.

Haha kiranya kau!

seru Jun-yan tertawa.

Melihat Jun-yan untuk sesaat Bok Siang-hiong juga tertegun, karena jeri terhadap gurunya thian-sin-mo Jiau Pek-king, pula kepandaian si gadis sendiri juga tidak rendah, sebagaimana dahulu Siau-yau-ih su Cu Hong-tin pernah dipermainkan, maka Bok Siang-hiong menjadi serba salah terpaksa iapun menyapa dengan tertawa.

O kiranya nona Lou juga pesiar kesini apakah kau datang bersama gurumu dan hendak menghadiri undangannya Jing liang Totiang?

207 Maafkan Bok-bengcu kami telah mengganggu kesenanganmu dikapal tadi, sahut Jun-yan terpaksa merendah melihat kesungkanan orang.

Tentang undangan Jingling Totiang, entahlah aku sendiri tidak tahu kapan harinya?

Terus terang saja sejak tempo hari sampai sekarang aku masih belum pulang maka kalau ketemu Suhu, tolonglah kau banyak memberi alasan.

Sebenarnya Bok Siang hiong rada heran oleh munculnya Jun yan disitu, tapi demi mendengar penuturan itu segera sahutnya dengan tertawa.

Ah jamak juga orang muda suka pesiar, kalau sudah keluar segan kembali, tentunya gurumu takkan mengenali kau.

Tentang hari undangannya Jing ling cu telah ditetapkan tanggal satu bulan dua belas, tinggal setengah bulan saja sudah tiba.

Diatas kapal kami sana masih ada Tai lik-sin Tong-Po dan beberapa kawan Bu-lim lain bila nona Lou tidak mencela, maukah kita bikin perjalanan bersama !

Mendengar itu Jun-yan menaksir kalau terus langsung menuju ke Hing-san menghadiri pertemuan yang diadakan Jing-ling-cu, waktunya masih cukup, maka jawabnya .

Terima kasih atas kebaikanmu, masih ada sedikit urusanku yang lain, tolonglah kau sampaikan guruku, dan aku tidak sekapal dengan kau, nyata diam2 dalam hati Jun-yan sudah mempunyai rencana sendiri, bukan saja hendak mengingusi Tok-poh-kian-gun Ki Go-thian yang disegani semua jago silat, bahkan gurunya sendiri juga akan diselomotinya.

Bok Siang-hiong pun tidak memaksa, ia melihat tidak jauh dari situ sebuah perahu kecil lagi meluncur tiba, anehnya diatasnya tiada pengemudinya, melainkan satu orang sedang ngantuk mendekam diatas meja.

Kebetulan disitu ada sebuah perahu, silahkan nona menumpang kesana, dihadapan gurumu kelak aku akan memberi penjelasan bagimu, katanya kepada Jun-yan, lalu ia selulup lagi kedalam air terus menghilang.

A Siu, kepandaian berenang orang ini rasanya tiada seorangpun dijagat ini yang menandinginya, kata Jun-yan.

Marilah kita naik keperahu itu !

Sebenarnya A Siu ragu2 melihat perahu orang itu.

Tetapi Jun-yan sudah mendahului luncurkan papan yang diinjaknya kesana, terpaksa ia menyusul.

Hai, Toako diatas perahu, kami minta numpang perahumu !

seru Jun-yan ketika sudah dekat.

Namun orang itu masih menggeros dengan pulasnya.

Tanpa pikir lagi Jun-yan melompat keatas perahu dengan enteng sekali dan disusul oleh A Siu.

208 Waktu Jun-yan meng-amat2i orang yang masih mendengkur itu, ia lihat perawakan orang rada tegap, berbaju hitam singsat, warnanya sudah luntur, malahan disana sini banyak tambalan.

Karena mukanya terbenam disekap kedua lengannya diatas meja, maka tidak kelihatan.

Yang terang, tidurnya ternyata nyenyak sekali.

Orang ini pulas seperti babi mati, mungkin perahu ini sudah kita dayung ketepi, ia sendiri masih belum tahu, ujar Jun-yan geli.

Perlahan-lahan mereka angkat penggayuh dan mendayung perahu itu ketepi sana.

Sembari mendayung Jun-yan berkata perlahan kepada A Siu.

Hari pertemuan jago Bu-lim yang diadakan Jing-ling-cu katanya tgl.

1 bulan 12.

Jika begitu, sesudah mendarat, kita harus terus berangkat.

Untuk tidak diketahui Suhu, biarlah aku menyamar seorang seperti Thio Hui (tokoh dalam cerita Sam Kok yang berwajah hitam bengis) dan kau, menurut pendapatku menyamar seorang pemuda ganteng, boleh jadi sepanjang jalan kau akan digilai oleh kaum gadis !

Wajah A Siu menjadi merah oleh olok-olok itu, sahutnya.

Apakah aku dapat lebih gagah daripada Ti-koko ?

Terang lebih bagus dari dia, ujar Jun-yan.

Maka untuk selanjutnya aku disebut Say Thio-hui dan kau bernama....

bernama Giok bin-long-kun (sijejaka bermuka bagus), kita mengaku bersaudara, aku Toako dan kau adik.

Aku sebenarnya ingin mencari Ti koko dulu, ujar A Siu.

Eh, kembali kau rindu lagi, siapa tahu, kalau di Ciok-yong hong nanti justru dapat kau jumpai dia?

bujuk Jun yan.

Tidak lama, perahu mereka sudah dekat tepi telaga, tiba2 mereka mendengar suara orang menguap, waktu mereka menoleh, kiranya lelaki yang tidur tadi sedang mengulet sambil julurkan kedua tangannya kelantai, sehabis mengulet, sambil mulutnya berkemak-kemik bagai orang ngelindur, mendekam diatas meja tertidur pula.

Melihat tangan orang itu ketika dijulurkan keatas, panjangnya luar biasa, alisnya juga tebal sekali, cuma tadi orang lagi menguap, maka wajahnya macam apa, belum tampak jelas Jun-yan menjadi geli melihat kelakuan orang, katanya.

A Siu...

tidak, Giok-bin-long-kun, tampaknya orang ini kerjanya hanya gegares dan tidur melulu, tidur dirumah kuatir diganggu, maka pindah tidur diatas perahu.

Marilah kita tinggal pergi, peduli amat dia mau tidur sampai tahun depan !

209 Diwaktu bicara, karena anggap dirinya sekarang sudah Say Thio-hui atau si Thio Hui kedua, sengaja Jun-yan bikin kasar suaranya, karena A Siu tertawa geli, katanya.

Enci Jun-yan...

Stop, sela Jun-yan mendadak, bukan enci lagi, tapi ingat, selanjutnya harus panggil Toako !

Ah, nanti saja kalau sudah sampai di Ciok-yong hong, tawar A Siu geli.

Sementara itu perahu sudah menepi, mereka meletakan dayung dan melompat kedaratan dalam pada itu lelaki tadi kedengaran lagi menguap dan kemak kemik mengigau pula.

Tanpa ambil pusing lagi, mereka tinggal menuju kekota.

Disebuah toko, Jun-yan membeli pupur minyak, jenggot palsu dan sebagainya lalu membeli pula bahan obat2an disebuah apotik.

Dengan semua itu mereka pulang kehotel.

Hai dimanakah pedangmu, kenapa tinggal sarungnya melulu !

seru A Siu kaget ketika melihat senjata yang terselip dipinggang Jun-yan sudah tak kelihatan.

Jun-yan terkejut ketika diperiksanya benar saja sarung pedang masih, senjatanya sudah hilang.

Ia ingat ketika menghadapi Bok Siang-hiong tadi karena menyangka orang akan menyerangnya ia masih meraba senjatanya itu, kenapa sekarang bisa mendadak hilang?.

Untuk sesaat itu Jun-yan menjadi bingung, yang bikin mengejutkan lagi, ketika ia merasa sutera merah yang diperolehnya dari gua didaerah Biau itu juga sudah hilang tak berbekas, padahal ia ingat benar barang tersebut tersimpan baik2 dalam bajunya.

A Siu ikut sibuk melihat kawannya kelabakan, lekas2 ia tanya apalagi yang hilang.

Sepotong kain sutera merah, sahut Jun-yan.

Entah keparat jahanam yang mana berani main gila dengan aku, jika dapat kubekuk, kalau tidak kucacah badannya, tidak puas hatiku.

Dan sedang Jun-yan mencak2 tanpa sasaran tiba2 datanglah pelayan hotel menghantarkan sepucuk surat sambil menanya.

Apakah nona she Lou ?

Jun-yan melengak, tapi cepat sahutnya.

Benar.

Ada apa ?

Disini ada sepucuk surat ditujukan untuk nona, kata pelayan.

210 Cepat Jun-yan menerima surat itu dengan heran, ia lihat diatas sampul tertulis .

Dihaturkan kepada nona Lou !

Tulisannya indah kuat.

Sebagai murid Thong-thian-sin-mo yang serba pandai, dengan sendirinya dalam hal seni tulis Jun-yan pun terhitung akhli, ia merasa tidak kenal gaya tulisan siapakah dari orang2 yang dikenalnya.

Ketika sampul itu disobeknya, ia lihat kertas surat didalamnya putih kosong kecuali dua huruf yang cukup besar .

Kiam, Leng.

Melihat tulisan kedua huruf yang berarti .

pedang dan sutera, segera Jun-yang tahu ada hubungannya dengan kedua bendanya yang hilang itu.

Dari siapakah surat ini ?

Cepat ia tanya sipelayan.

Saking tidak sabar, bahu pelayan itu terus dicengkeramnya sambil di-gentak gentak.

Karuan pelayan itu meringis kesakitan sambil ber-kuik2 seperti babi disembelih.

Sementara itu Jun-yan telah membentak pula suruh mengaku.

Aku...

akupun tidak tahu siapa pengirimnya, aku hanya terima dari satu kacung penjual kacang, katanya suruhan seorang sastrawan ....sahut pelayan itu tak lampias.

Untuk sejenak Jun-yan tertegun oleh jawaban itu, tapi segera pelayan itu dilepaskannya ia tarik A Siu.

Marilah, kita pergi bikin perhitungan dengan jahanam itu.

He, siapakah?

tanya A Siu heran.

Masakan kau sudah lupa pada lelaki yang tidur seperti babi mati diatas perahu itu?

sahut Jun-yan.

A Siu menjadi ingat pada orang itu.

Namun begitu, iapun heran apakah mungkin orang itulah yang mempermainkan mereka.

Tapi selamanya ia hanya menurut saja segala apa yang dikehendaki kawannya, tanpa bicara segera ia ikut dibelakang Jun-yan ketelaga Se-oh.

Sementara itu hari sudah sore, sinar mata sang surya diwaktu senja menyorot indah diair telaga yang biru ke-hijau2an itu, namun Jun-yan berdua tiada pikiran buat menikmati keindahan pemandangan itu mereka terus langsung menuju ketempat pagi tadi, mereka melihat ditepi telaga sana masih tertambat sebuah perahu yang dikenalnya sebagai perahu lelaki sastrawan baju hijau itu, malahan diatas perahu itu masih ada seorang yang kelihatan masih sibuk entah apa yang sedang dikerjakan.

Hai, keparat, bagus sekali perbuatanmu.

Ya!

teriak Jun-yan sebelum dekat.

211 Tapi sesudah dekat, ia menjadi melongo, karena orang diatas perahu itu ternyata seorang kacung berumur belasan tahun, maka cepat tegurnya dengan nada lain.

He, kau bocah ini lagi kerja apa disini?

Kacung itu tidak menjawab, tapi matanya berjelilatan mengawasi Jun-yan berdua, kemudian baru buka suara.

Apakah kalian ini berdua masing2 bernama Say Thio-hui dan Giok Bin-long-kun?

Seketika Jun-yan dan A Siu melengak oleh pertanyaan itu.

Tapi bila dipikir lagi, segera merekapun sadar duduknya perkara, tentu ketika mereka berunding tentang menyamar diatas perahu, rahasianya telah didengar oleh sastrawan itu, dan jika begitu, orang yang mencuri lebih terang lagi juga sastrawan itu.

Aku menanya dimana majikanmu, kenapa kau cerewet?

bentak Jun-yan lagi tak sabar.

Tunggu sebentar, nona, memang aku ditugaskan menyambut kedatangan kalian, ujar kacung itu tertawa.

Habis itu, kembali ia sibuk mengurusi kerjanya tadi, ia mengangkat sebuah Khim kuno, sebuah anglo yang kecil mungil, seperangkat alat2 minum komplit dengan teko dan cangkir yang indah.

Semuanya itu diboyongnya kedaratan dan diletakkan didalam dua keranjang, lalu dipikulnya dan berjalan didepan mendahului Jun-yan, sambil me-nyanyi2 kecil.

Dengan mendongkol Jun-yan berdua ikut dibelakang kacung itu.

Tidak terlalu lama, ketika hari sudah remang-remang, tibalah mereka sampai di suatu gubuk yang terletak ditepi sebuah sungai kecil.

Tampaknya atap gubuk itu masih baru, agaknya belum lama dibangun.

Sudah sampai, silahkan kalian masuk, kata sikacung.

Gubuk itu ternyata dikitari pagar bambu, didalam pekarangan tertanam aneka warna bunga yang indah.

Waktu Jun-yan ikut melangkah masuk kedalam, ia lihat keadaan dalam rumah sederhana saja, diujung timur sana sebuah dipan di-aling2 pintu angin dari anyaman, diruangan sebuah meja lengkap dengan alat2 tulis, diterangi sebuah pelita yang ber-kelip2.

Ketika tidak melihat majikannya disitu, kacung itu coba berseru memanggilnya, tapi tiada sahutan.

Tiba2 dilihatnya diatas meja tulis terdapat sehelai surat, disamping surat itu terletak sebuah pedang terbungkus kain sutera merah.

212 Cepat kacung itu ambil kertas surat itu, sesudah dibaca sekedarnya, segera ia sodorkan kepada Jun-yan.

Waktu Jun-yan membaca surat itu tertulis .

Nona Jun-yan yang terhormat, Pencurian Kiam dan Leng ini melulu bergurau belaka, sebagai timpalan olok2 nona siang tadi.

Sebenarnya kedatangan nona sangat kunantikan sekedar memenuhi kewajiban tuan rumah, tetapi sayang, karena keperluan harus segera berangkat tak sempat menunggu, harap dimaafkan.

Kiam dan Leng lengkap berada di sini, harap nona terima kembali dengan baik.

Cuma sayang Leng tulen, tapi Kiam tiruan, sayang!

Surat ini ternyata tidak dibubuhi tandatangan pengirimnya, dibawah tertulis seekor burung belibis serta beberapa pucuk rumput egel2.

Untuk sesaat Jun-yan ter-mangu2 ia merasa ilmu silat sastrawan itu sebenarnya susah diukur, mengingat mencuri barangnya tanpa berasa, pula sekarang ternyata gaya tulisannya begitu indah, nyata orang itu serba pandai, silat dan surat.

Diam-diam iapun menyesal tak bisa berjumpa dengan orangnya.

Kiam dan Leng ini sudah kuambil kembali, marilah kita kembali, katanya kemudian.

Tapi sebelum melangkah keluar, tiba2 ia menanya sikacung .

Eh, siapakah nama majikanmu?

Ternyata kacung itu hanya menggeleng kepala tanpa menjawab.

Jun-yan menjadi masgul.

Sungguh aneh, hatinya yang polos tiba2 timbul semacam perasaan gegetun.

Dengan rasa hampa ia ajak A Siu pulang kehotel.

Besok paginya, Jun-yan sudah pulih akan kelincahannya.

Ia merasa senang apabila terpikir sesudah menyamar dan sampai di Hing-san ia akan dapat menggoda gurunya sendiri.

Segera ia bangunkan A Siu dan ber-kemas2 menyamar dengan bahan2 yang sudah dipersiapkan itu.

Lebih dulu Jun-yan membantu A Siu bersolek, sebentar saja A Siu ternyata sudah berubah menjadi satu pemuda pelajar yang tampan, ketika A Siu bercermin, ia sendiri hampir-hampir tak kenal dirinya lagi.

Kemudian Jun-yan merias dirinya sendiri, lebih dulu ia poles mukanya agak ke-hitam2an lalu ditempeli lagi berewok palsu.

Ketika mendadak berpaling, A Siu menjadi kaget.

Ternyata seorang gadis cantik ayu, kini telah berwujud seorang laki2 hitam 213 berewok seperti sikat kawat.

Apalagi kalau Jun-yan berteriak, boleh jadi A Siu bisa lari ketakutan.

Habis merias muka mengenakan pakaian yang serasi dengan penyamaran.

Haha, dengan dandanan kita sekarang, kalau kita keluar, boleh jadi kuasa hotel takkan kenal kita, dan kita tinggal kabur saja, ujar Jun-yan.

Ya, tapi tanpa sebab bikin rugi orang, buat apa?

sahut A Siu.

Perduli amat, kalau kita sewaktu butuh, sewa hotel juga akan mereka catut berlipat ganda, kata Jun-yan.

Dan benar juga, ketika melangkah keluar dengan lagak seperti tidak pernah terjadi apa2, pelayan dan kuasa hotel menjadi ternganga heran, kenapa dari kamar yang tadinya ditinggali dua nona, sekarang keluar dua lelaki yang berbeda seperti langit dan bumi ?

Namun Jun-yan tak ambil pusing, terus saja ia ajak A Siu pergi, mereka membeli dua ekor kuda dulu, lalu menempuh perjalanan dengan cepat menuju Hing-san.

Mereka menghitung masih cukup waktu, maka mereka lanjutkan perjalanan seenaknya.

Jun-yan tahu undangan Jing-ling-cu kepada para jago silat seluruh jagat, tujuannya yalah untuk mengenali siapa adanya manusia yang lebih mirip setan dari pada manusia itu.

Namun begitu, kebiasaan orang Bu-lim yang suka unggul, untuk mencari nama , entah berapa orang rela mati untuknya, apalagi sudah dekat waktunya janji Ki Go-thian yang beritanya disebarkan Ngo seng Thauto, bahwa pada saat para jago berkumpul di Ciok-yong-hong, akan muncul untuk memenuhi janjinya dahulu.

Sebab itulah maka begitu Jun-yan berdua memasuki wilayah Oulam, mereka lantas melihat tidak sedikit tokoh Bu-lim ber-bondong2 melampaui mereka menuju ke Ciok-yong-hong, cuma diantara mereka semua belum ada yang kenal, terutama manusia aneh itu tidak terlihat lagi sejak pertemuan terakhir digua berbahaya didaerah Biau.

Selagi mereka mengenali setiap orang yang jalan searah dengan mereka, tiba2 dari belakang seekor kuda putih menyalip lewat dengan cepatnya.

Penunggangnya seorang Tosu atau imam setengah umur dengan jubahnya yang bersih dan berkopiah pertapaan, dipunggung terselip sebuah kebut, kiranya dialah Siau-yau-ih-su Cu-hong-tin.

Diam2 Jun-yan saling pandang dan tertawa bersama A Siu, dalam hati mereka mentertawai jago2 yang sudah keok dibawah tangannya A Siu itu masih berani 214 berlagak.

Sedangkan Jun-yan bermaksud meneriaki dan menggodanya, mendadak terdengar dibelakangnya ada suara orang ter-bahak2 dan berkata.

Haha, kehadiran Li-heng dalam pertemuan para jago diatas hinsan sekali ini, pasti Li-heng sudah siapkan semacam kemahiran Khong-tong-pay untuk dipertunjukkan dihadapan kawan2 semuanya!

Nyata, lagu suara orang ini seperti memuji juga se-akan2 mengolok-olok, tapi orang she Li itu agaknya sangat sabar dan merendah, sahutnya.

Ah, mana ada!

Khong-tong-pay jauh terpencil disebelah barat sana, kami justru akan minta petunjuk kepandaian2 dari aliran lain.

Maka terdengar lagi orang tadi bergelak ketawa.

Waktu Jun-yan berpaling, kiranya orang yang dipanggil Li-heng itu bukan lain ialah Liok-hap-tong-cu Li-pong, itu ketua dari Khong tong-pay.

A Siu, kakek itu bernama Li Pong adalah sobat baik guruku, biarlah kutegurnya, coba dia kenali aku tidak, katanya kepada sang kawan.

Habis itu, ia tahan kudanya sedikit dijalan, setelah mendekat, ia lihat orang setengah umur dengan lagak tengik yang memuakkan, tampak Li Pong agak sungkan bikin perjalanan dengan dia, tapi orang itu terus ajak bicara padanya.

Sesudah dekat, segera Jun-yan memapaki sambil memberi hormat dan berkata .

Ah, mendengar suaranya, ternyata memang benar Li-heng adanya, sungguh tidak nyana sesudah sekian lamanya, kini berjumpa lagi disini.

Li Pong menjadi heran ketika mendadak ditegur seorang hitam berewok yang tidak pernah dikenalnya, tapi mengapa dengan begitu menghormat.

Sesudah melengak, terpaksa ia menjawab dengan tertawa .

O ya, sudah lama tidak berjumpa, apakah Heng-tay (saudara) juga hendak pergi ke Giok-yong-hong ?

Diam2 Jun-yan geli oleh jawaban itu, sudah terang tidak kenal masih berani menyahut Sudah lama tidak berjumpa.

Segera ia teriaki A Siu .

Jite, marilah kuperkenalkan Li-heng kepadamu, selanjutnya kau mungkin harus banyak minta pelajaran Li-heng.

Ketika Li Pong memandang A Siu, ia melihat seorang pemuda tampan dengan sipat likat2 seperti anak perempuan, meski usianya muda, tapi sinar matanya tajam, sebagai seorang ahli begitu pandang, segera Li Pong tahu pemuda 215 ini lihainya memiliki ilmu Lwekang yang tidak bisa dibilang rendah.

Li Pong terkejut, diam2 dia heran darimana tiba-tiba muncul dua saudara yang satu jelek yang satu tampan, tapi selamanya tidak dikenalnya.

Ketika Jun-yan melihat kawan perjalanan Li Pong tadi sedang memandang padanya dengan wajah menghina, ia menjadi gemas apa lagi setelah mendengar lagu suaranya yang sombong kepada Li Pong tadi, ia pikir, manusia congkak demikian harus diberi hajaran.

Maka pura2 ia tanya.

Li-heng, siapakah sobat ini, sudikah kau memperkenalkan kepada kami ?

Sudah tentu mimpi pun Li Pong tidak menduga bahwa sang keponakan perempuan nakal itu lagi bergurau kepadanya, maka jawabnya.

Saudara ini murid Pi-lik-jiu In Thian Sang In-locianpwe dari Holam, namanya Ong Lui, orang menjulukinya Siau-pi-lik !

Jun-yan terkejut mendengar nama itu, ia pernah dengar beledek itu, usianya sudah lebih 80 tahun, tingkatannya dikalangan Bu-lim sangat tinggi, ilmu pukulan beledek yang dilatihnya sangat disegani.

Tentu muridnya ini juga tidak boleh dibuat main.

Maka ia cepat bersoja dan berkata.

O, kiranya Ong-hiantit, sungguh kagum !

Mendengar sebutan Hian-tit atau keponakan itu bukan saja wajah Ong Lui seketika berubah hebat, bahkan Li Pong rada terkejut dan merasa siberewok ini sengaja cari2.

Masakan Ong Lui yang usianya sudah dekat 50an dan nampak jelas masih lebih tinggi dari siberewok itu, tapi orang berani menyebutnya keponakan yang berarti anggap dirinya lebih tua setingkat.

Padahal Li Pong saja sebut Ong Lui saudara, walaupun tingkatannya sebenarnya sejajar dengan gurunya yaitu sitangan geledek.

Benar juga, Ong Lui menjadi amat murka, biasanya ia tidak pandang sebelah mata pada siapapun juga, apalagi kini dipandang rendah terang2an, segera iapun berseru.

Li-heng siapakah orang ini?

Untuk sejenak Li Pong gelagapan, sebab ia sendiripun sebenarnya tidak kenal siberewok.

Baiknya dengan cepat Jun-yan sudah menggantikan menjawab.

Ah, Cayhe hanya orang tak terdaftar, maka tidak tenar seperti Ong-hiantit, aku bersama Kah-lotoa, dan saudaraku ini Kah loji, karena macam maki yang tak berarti ini, ada kawan juga yang sudi memberikan julukan pada kami sebagai Say-thio-hui dan Giok-bin-long-kun.

Ong Lui tambah murka mendengar orang terus sebut hiantit padanya, ia pikir Kah-loji?

Kenapa selamanya tidak pernah dengar nama jago silat demikian?

216 Tapi iapun tak mau kalah gertak, segera ia menjengek dan menanya pula.

Ehm, entah kalian dari golongan atau aliran mana?

Eeh, kenapa Ong-hiantit begitu pelupa?

sengaja Jun-yan meng-olok2 lagi.

Bukankah aliran kami dengan golongan gurumu, Lo In (In si tua) terkenal sebagai dua aliran terkemuka di Holam, cuma nama Pi-lik-pay kalian lebih kumandang sedikit sebaliknya kami hanya Tang-ko-pay (aliran genderang) maka suaranya kalah keras.

Karuan Ong Lui murka oleh sindiran itu masakan golongan Beleged mereka diimbangi dengan golongan genderang segera dia mendamprat.

Orang she Kah, apakah barangkali mulutmu belum dicuci, kenapa kentut semuanya?

Eeeeh, panas amat darah orang Ong-hiantit ini!

sahut Jun-yan semakin menggoda.

Bicara tinggal bicara, apa kau sangka orang Tang ko-pay kami kena digertak?'' Karena sambil berjalan, tatkala itu kebetulan mereka tiba sampai disuatu tanah datar, segera saja Ong Lui melompat turun dari kudanya sambil menantang.

Hayolah orang she-kah bila kau berani, turunlah kemari!

Tatkala itu, orang berlalu lalang dijalan cukup ramai, ketika mendengar Ong Lui berteriak-teriak menantang, semua orang menjadi ketarik, sebentar saja ditanah lapang itu sudah dirubung penonton.

Begitu pula Li Pong ikut merandek ingin melihat gaya dari golongan manakah Jun-yan berdua.

Jun-yan sendiri tahu bila ia turun lapangan sekali gebrak pasti akan dikenal Li Pong, maka katanya pada A Siu, Jite, Toako sungkan turun kalangan, bolehkah kau mewakilkan aku !

A Siu ragu2, masakan tanpa sebab disuruh berkelahi.

Jun-yan tahu bahwa kawannya itu sungkan bergebrak dengan orang, cepat katanya lagi.

A Siu, cukup asal kau jungkalkan dia, tak usah melukainya, kenapa mesti takut?

Terpaksa A Siu meloncat turun dari kudanya, dengan ayal2an ia masuk kalangan.

Melihat A Siu begitu ganteng, semua penonton lantas saja sudah bersorak memuji, karuan Ong Lui semakin murka, tanpa bicara lagi ia memukul dengan tangannya.

Ilmu Pi-lik-jiu atau pukulan geledeg dari keluarga In di Holam itu nyata bukan kepalang hebatnya, begitu pukulan dilontarkan, segera angin men-deru2 bagai guntur gemuruh.

Lekas-lekas A Siu pasang kuda-kuda dengan kuat sambil kedua lengan bajunya mengebas ke-samping.

217 Satu kali, tiba-tiba Jun-yan berseru mengejek.

Ong Lui tambah sengit, angin pukulannya tadi belum mengenai musuh atau tahu2 sudah dipatahkan musuh, padahal pukulan pertama yang disebut Lui-su-kay-loh atau malaikat beledeg membuka jalan, hampir seluruh tenaga dikeluarkannya, tapi hasilnya malah tenaga pukulannya itu se-akan2 terpental oleh kebasan A Siu tadi.

Terkejut dan gusar Ong Lui, sekali menggerung, kembali sebelah tangannya memukul lagi kedepan dengan sekuatnya.

Serangan ini dilakukan dengan cepat dan dari jarak dekat, asal badan A Siu kesenggol boleh jadi akan remuk seketika.

Melihat kekejian Ong Lui, semua orang ikut kuatir bagi A Siu.

Siapa duga dengan enteng sekali A Siu menggunakan samberan angin pukulan itu, tubuhnya terus ikut tergintai ikut pergi, habis itu, dengan pelahan ia turun kembali.

Melihat keindahan gerakan itu, kembali penonton bersorak.

Sebaliknya Jun-yan terus berseru pula .

Dua kali!

Alangkah mendongkolnya Ong Lui, musuh yang satu selalu bisa hindarkan serangannya dengan gesit, sebaliknya musuh yang lain berkoak-koak mengejek disamping.

Keparat, sambutlah seranganku ini!

teriaknya murka.

Habis mana, tiba2 kedua telapak tangannya bergetar hingga bersuara, lalu didorongkan kedepan dengan tenaga beledek yang mengejutkan.

Dalam pada itu A Siu semakin sengit oleh maki-makian orang, ia pikir bila tidak diberi tahu rasa, mungkin pertandingan ini takkan habis2.

Ia berdiri diam menunggu, ketika tenaga pukulan lawan sudah mendekat ia membaliki tangannya terus menekan dari atas kebawah, memapak pukulan orang.

Gerakan lemas saja, tapi membawa kekuatan maha besar.

Melihat sebagai akhli silat, segera Li pong menduga Ong Lui bakal celaka.

Benar saja, segera Ong Lui menjerit sekali sambil sempoyongan kebelakang, untung dia masih tahan tubuhnya hingga belum terjungkal, namun begitu, darah segar terus saja menyembur dari mulutnya.

Nyata beradunya tenaga pukulan itu hanya digunakan separo dari Lwekang A Siu, bila tidak, mungkin Ong Lui sudah menggeletak tak bernyawa lagi.

218 Sebaliknya demi nampak keadaan Ong Lui yang cukup parah, A Siu menjadi tak tega, ia mendekatinya sambil mengurut dua kali dipunggung orang untuk menenangkan jalan darahnya lalu katanya .

Maaf, saudara sudi mengalah sejurus !

Ong Lui menjadi malu, sahutnya lesu .

Ilmu silatmu sungguh hebat, biarlah kita bertemu lagi kelak !

habis berkata tanpa berpaling lagi ia mengeloyor pergi diantara penonton sampai berpamit kepada Li Pong pun dilupakan.

Kah-heng, kata Li Pong kepada Jun-yan.

Pi-lik-cio In Thian-sang suka mengeloni anak muridnya, pulangnya Ong Lui ini mungkin akan mengadu biru kepada gurunya, kelak kalian harus berhati-hati!

Jika begitu, kejadian tadi Li heng sendiri ikut menyaksikan, bila kelak perlu dibuat saksi, tolong Li-heng suka berlaku adil, ujar Jun yan.

Diam2 Li Pong pikir kejadian tadi benar disebabkan Ong Lui yang menantang, tapi asalnya karena Jun-yan yang mulai mengolok-olok dengan kata-kata Tang-ko-pay yang terang dimaksudkan untuk menimpali Pi-lik-pay orang, apalagi asal usulnya kedua orang dihadapannya ini tidak pernah dikenal.

Namun begitu bila melihat kepandaian adiknya sudah begini hebat, jangan kata lagi sang kakak.

Maka iapun menjawab sekedar memuaskan hati Jun-yan .

Sepanjang jalan Li Pong terus memikirkan dari golongan mana atau aliran manakah kedua teman perjalanan ini, terutama gerak silat A Siu yang aneh dan lihay itu hakekatnya tidak pernah dilihatnya.

Sudah tentu mimpipun tak terpikir olehnya bahwa A Siu alias Kah-loji hanya seorang gadis Biau yang secara kebetulan memperoleh ilmu Siau-yang-chit-kay yang lihay.

Ingat punya ingat, mendadak hatinya tergerak, terpikir seseorang lihay dimasa mudanya dahulu, cepat ia mendekati Jun-yan dan menanya .

Kah-heng apakah gurumu she-Ki ?

Kiranya ia teringat kepada Tok-pok-kian-gun Ki Go-thian, ia pikir, selain orang she Ki ini, rasanya tiada jago lain lagi yang mampu mendidik murid seperti kedua saudara Kah ini.

Untuk sesaat Jun-yan tertegun mendengar pertanyaan itu, tapi segera jawabnya sambil menggeleng kepala .

Orang she Ki, apakah Li heng maksudkan Tok-poh-kian-gun Ki Go-thian dimasa dahulu itu ?

Benar, kata Li Pong.

219 Bukan, guruku adalah orang lain.

sahut Jun-yan.

Sedang mereka tanya jawab, se-konyong2 suara derapan kuda dari belakang berbunyi dengan riuhnya, seekor kuda tinggi kurus secepat angin telah melampaui mereka.

Kaki kuda itu jauh lebih panjang dari kuda biasa, maka larinyapun sangat kencang, ketika lewat, debu ikut bertebaran hingga muka Jun-yan se-akan2 ditabur debu.

Hai, orang itu apakah kau jalan tak pakai aturan ?

seru Jun-yan segera dengan gusar.

Mendengar itu, mendadak penunggang kuda yang berbaju kelabu itu menahan kudanya hingga kedua kaki muka binatang itu terangkat keatas.

Waktu penunggangnya menoleh seketika rasa gusarnya Jun-yan tadi lenyap, bahkan hampir ia tertawa.

Ternyata orang berbaju kelabu itu bermuka sangat lucu, muka potongan segitiga seperti kepala walang, rambutnya jarang setengah botak.

Dan selagi Jun-yan hendak menegurnya lagi tiba2 A Siu menjawilnya memberi tanda hati2.

Dalam pada itu terdengar Li Pong telah berseru.

Hai, kiranya kau Hwe-heng, cepat amat binatang tungganganmu itu!

Apakah dia kawanmu, Li-heng?

tanya Jun-yan.

Benar dia she Hwe, bernama Tek adalah sobat baikku, sahut Li Pong.

Jun-yan geleng2 kepala seperti seorang tua bicara kepada orang muda, ujarnya.

Li-heng mencari kawan juga harus yang genah, kalau segala manusia congkak kau jadikan teman apakah kau tidak kuatir ikut campur namamu?

Sungguh geli dan dongkol Li Pong oleh lagak orang, sebagai seorang ketua Khong-tong-pay, biasanya dia memberi petuah, masa sekarang dia yang diberi ceramah?

Tapi dasarnya memang seorang sabar, maka ia hanya tersenyum tak menjawabnya.

Begitu pula lelaki jelek itupun tak menggubris akan olok2 Jun-yan itu, ia mendengus sekali, lalu keprak kudanya tinggal pergi.

Maaf, Kah-heng, Cayhe berjalan dahulu, kata Li Pong kemudian larilah kudanya menyusul orang aneh itu.

Dari jauh mereka terus pasang omong, malahan kadang kala menoleh lagi memandang Jun-yan berdua.

220 Jun-yan pun tidak ambil pusing, sebaliknya A Siu senantiasa pasang mata kekanan ke kiri, sudah tentu yang dicarinya yalah buah hati yang dirindukannya itu, Kang Lam-it-ci-seng Ti Put-cian.

Melihat kelakuan kawannya ini, aneh juga tanpa merasa Jun-yan terkenang pula kepada sastrawan baju hitam yang menggodanya di Hang ciu itu.

Selamanya Jun-yan suka menggoda orang tapi sekali itu dia yang kena dipermainkan ketika diketahui siapa penggodanya serta melihat kepandaiannya yang serba pintar, timbul juga rasa kagumnya yang aneh yalah timbul rasa menyesalnya karena tak bisa berjumpa dengan sastrawan itu.

Begitulah tanpa pernah terjadi apa2 lagi, akhirnya merekapun sampai di Hian-san, mereka menghitung waktunya masih ada tiga hari pertemuan yang akan diadakan Jing-ling-cu.

Jun-yan pikir, puncak keramaiannya dari pertemuan itu tentu takkan terjadi pada permulaan, buat apa mesti buru-buru hadir kesana, pegunungan Hian-san seindah ini, kenapa tempo beberapa hari ini tak digunakan untuk menikmatinya.

Tapi...

tapi aku ingin mencari Ti-koko, kata A Siu tak sabaran, mengingat sudah sampai di Hian-san, tapi sang kawan tidak mau terus naik ke Ciok-yong-hong.

Kita sendiri belum lagi pasti, apakah dia hadir, bukankah percuma bila sudah sampai di sini, tapi tak menjumpainya?

ujar Jun-yan.

Diam2 ia sangat gegetun akan cinta A Siu yang sudah buta itu, namun begitu iapun tidak mau mengecewakan sang kawan, katanya pula.

Baiklah A Siu, bila kau ingin datang ke Ciok-yong hong dahulu, bolehlah kau kesana.

Tapi ingat, untuk sementara jangan sekali-kali kau ajak bicara pada Ti-put-cian apabila kau melihat dia disana.

Sebab apa ?

tanya A Siu heran.

Bukankah atas kehadiran Ki Go-thian ke Ciok-yong-hong ini kecuali kita berdua, orang lain tiada yang mengetahui?

tutur Jun-yan perlahan.

Dan kalau kau unjukkan asal usul dirimu penyamaran kita sekarang ini, boleh jadi kita akan celaka.

Baiklah, Enci Jun-yan, pasti aku akan berlaku hati2, sahut A Siu.

Habis itu, dia putar kudanya dan ikut pendatang lain keatas gunung.

Jun-yan sendiri terus keprak kudanya menyusur lembah pegunungan itu.

Tapi jalannya menjadi berliku-liku terpaksa ia melompat turun dari kudanya, dia tambat binatang itu disuatu pohon, lalu melanjutkan dengan berjalan kaki.

221 Sebabnya Jun-yan tidak mau terus menuju Ciok-yong-hong, sebenarnya adalah karena terbayang oleh sipemuda sastrawan yang menggodanya ditelaga Se oh itu.

Ia pikir alangkah sedapnya apabila dapat mencari tempat yang sepi untuk duduk melamun mengenangkan orang yang tanpa merasa telah mencuri hatinya itu.

Maka ia melanjutkan langkahnya tanpa tujuan, sehingga hari sudah petang, sampailah disatu lembah yang suasananya terasa aneh, tatkala itu bulan sabit sudah menongol diujung langit, hingga menambah sekitarnya terlebih seram.

Ia melihat sekelilingnya sunyi senyap, hanya gemercik sebuah sungai kecil yang mengalir pelahan merupakan suara satu-satunya dalam suasana seakan-akan membeku itu.

Jun-yan melihat sungai itu mengalir lewat dua tebing yang curam.

Dalam keadaan remang2, mendadak Jun-yan tertarik oleh dua hurup besar yang terukir didinding tebing itu, hurup2 itu adalah Su-kok atau Lembah kematian.

Hati Jun-yan ber-debar2 melihat tulisan itu, tanpa merasa Tun-kau-kiam dilolosnya.

Ia lihat dibawah hurup besar itu tertulis pula sebaris hurup yang lebih kecil, maksudnya.

Disanalah Lembah kematian, siapa yang masuk takkan bisa keluar.

Diam2 Jun-yan menjengek, mungkin siapa yang jahil sengaja mengukir tulisan itu disitu, masakan lembah sunyi begitu diberinya nama Lembah kematian , padahal bila benar2 tempat itu berbahaya, masakan selama ini tidak pernah didengarnya dari sang guru, terutama Jing-ling-cu yang bertempat tinggal dipegunungan ini?

Ia melihat dinding gunung itu ada sebuah batu besar diatas mendatar rata, kalau dibuat merebah dan melamun, rasanya sangat tepat.

Karena ingin tahu, segera ia melompat ke atas batu itu, terbayang olehnya kelakuan Sasterawan diatas perahu yang sedang mengulet dan menguap itu, tatkala mana orang sama sekali tak menarik perhatiannya, siapa tahu sekarang justru terkenang.

Selagi pikirannya terbenam lamunan yang aneh itu, tiba2 ia merasa tengkuknya se-akan2 ditiup dari belakang, cepat ia berbangkit, tapi tiada seorangpun terlihatnya.

Tanpa merasa ia mengkirik, apalagi dibawah sinar bulan yang remang2 tapi kembali tiupan angin itu terjadi lagi.

Ia coba meneliti dibelakang batu itu, maka tahulah ia kemudian, ternyata dibelakang batu yang mepet tebing itu ternyata ada sela-selanya.

Ia coba tempelkan jarinya kesela-sela itu ternyata tiupan angin yang dingin.

Nyata dibalik batu itu ada lobangnya.

222 Ia menjadi heran dan curiga, ia mencoba korek lobang itu dengan pedangnya, benar saja disitu ada sebuah goa yang ditutup dengan batu besar, lekas-lekas ia melompat turun, batu itu didorongnya, karena beralaskan pasir, maka batu itu dengan mudah lantas menggeser, maka tertampaklah sebuah gua yang gelap gulita, segera terasa pula angin dingin meniup keras dari dalam gua.

Ia bertambah heran, masakan angin meniup keluar dari dalam gua, dan bukan meniup kedalam, jika begitu tentu gua ini bertembusan dengan sebelah sana.

Ia hendak menyalakan api, tapi api selalu sirap oleh angin itu.

Padahal di dalam gua terlalu gelap.

Segera ia tabahkan diri, dengan pedang terhunus ia menerobos kedalam gua itu.

Gua itu ternyata hanya cukup dilalui seorang saja, dengan kedua belah dindingnya basah dengan penuh lumut.

Syukur dengan berkat sinar kemilau pedangnya Tun-kau-kiam lapat lapat sekedar dapat dibuat penerangan.

Benar juga tidak diantara lama, ia telah menembus kebalik gua sana, diatas langit bulan remang2, bintang ber-kelip2, nyata ia telah berada diudara terbuka lagi.

Malahan terdengar pula diatas karang sana ramai dengan suara berisik orang.

Jun-yan menjadi heran.

Tapi segera ia paham, tentu diatas situ adalah Ciok-yong-hong, dimana Jing-ling-cu hendak mengadakan pertemuan dengan para jago silat, dan suara berisik itu orang yang berbondong2 datang memenuhi untuk memenuhi undangan itu.

Tiba2 Jun-yan mendengar suara pluk-pluk yang tidak terlalu keras, waktu ia memandang kedepan, ia lihat disana sebuah kolam lumpur penuh tumbuh-tumbuhan aneh, suara pluk-pluk itu keluar dari dasar lumpur, ditengah kolam lumpur itu ada sebuah batu besar hingga seperti pulau kecil, diatas batu itupun penuh lumut dan cendawan yang ber-macam2.

Hati Jun-yan tergerak melihat itu, ia menjadi ingat cerita Jin-ling-cu dahulu tentang diketemukannya manusia aneh didasar lembah itu, Jangan2 inilah yang diketemukannya orang aneh itu ?

pikir Jun-yan.

Mendadak ia tertarik oleh beberapa tempat diatas batu yang kelihatan bersih dari lumut, ia menjadi heran, ia coba mendekati, ternyata lumut yang tumbuh disitu memang sudah bersih dikorek orang, malahan sebagai gantinya terdapat beberapa hurup Jing-kin , yang terang digores dengan tenaga jari.

Goresan tulisan itu sudah sangat dikenal Jun-yan, yaitu mirip seperti tulisan dicarik kertas yang ditinggalkan orang aneh ketika memberikan Pek-lin-to dan mencurikan 223 kapal jamrut dahulu.

Dari goresan hurup diatas batu itu Jun-yan bertambah yakin bahwa tempat itu memang bekas tempat tinggal manusia aneh.

Teringat pada orang aneh itu, Jun-yan merasa nasib orang harus dikasihani, baiknya sekarang Jin-ling-cu sudah mengundang semua jago silat ke Ciok-yong-hong ini untuk mengenalinya, kalau melihat bekas tempat tinggalnya yang banyak goresan hurup Jing-kin ini, boleh jadi disekitar gua ini masih dapat diperoleh tanda2 lainnya, bukankah untuk mengenali asal usul orang aneh itu akan jadi lebih gampang ?

Karena itu Jun-yan masuk kedalam gua itu lagi untuk meneliti dalamnya.

Sungguh tak tersangka olehnya bahwa hampir ia terkubur benar benar didalam lembah kematian sesuai dengan nama pegunungan itu......

Sementara itu A Siu yang mengikuti orang banyak menuju ke Lo-kun-tiau dipuncak Ciok-yong-hong itu sudah sampai ditempat tujuannya.

Ia lihat kuil itu tidak terlalu megah, tapi cukup angker, ditanah lapang depan kuil itu tampak baru dibangun belasan rumah atap, agaknya disediakan untuk kediaman darurat para tamu undangan.

Disitu ternyata sudah tidak sedikit tamu yang datang lebih dahulu.

Sebelum tiba sepanjang jalan A Siu sudah mengawasi kian kemari, untuk berhadapan dengan orang banyak itu dapat dilihatnya Ti-put cian.

Kelakuannya yang lucu banyak menimbulkan heran bagi semua orang, tapi nampak A Siu berdandan sebagai pemuda sastrawan, orangpun tidak banyak ambil perhatian.

Sebenarnya A Siu sudah janji dengan Jun yan akan tutup mulut, sekalipun sudah ketemu dengan Ti Put-cian.

Tapi ketika sudah sampai di Ciok-yong-hong, pesan Jun-yan sudah dilupakan semua.

Ia lihat didepan kuil sama berdiri seorang imam tua para pengunjung itu satu persatu maju menyapa dan memberi salam padanya.

A Siu pikir tentu itulah Jing-ling-cu yang menjadi tuan rumah dalam pertemuan besar ini.

Kehadiran Ti Put ciang kesini, kalau ditanyakan pada imam itu pasti akan diketahui dengan jelas.

Segera iapun maju kehadapan imam itu dan menyapa sambil memberi hormat.

Apakah Totiang Jing-ling-cu adanya?

Cayhe memberi hormat disini.

Imam itu memang benar ketua Hing-san-pay tuan rumah dari Lo-song-tian, yaitu Jing-ling-cu adanya.

Ketika mendadak melihat pemuda ganteng dengan sorot mata tajam suatu tanda Lwekangnya yang tinggi, Jing-ling-cu menjadi heran darimanakah 224 tiba2 muncul satu jago muda yang begini hebat, maka cepat jawabnya.

Ah, terima kasih atas kunjungan Hengtay, pinto memang benar bergelar Jing-ling-cu dan Siauko ini...

Jing-ling Toheng, Siauko ini bernama Kah loji!

tiba2 seorang menyanggapi dari samping.

Ternyata orang yang menyela itu bukan lain adalah Liok Hap-tongcu Li Pong yang sudah mendekati mereka.

Jing-ling-cu bertambah heran, masakan seorang jago muda yang begitu ganteng, suatu nama saja tidak ada, tapi pakai panggilan menurut urut2an, ia pikir didalamnya pasti ada apa2nya, maka katanya kemudian .

O, kiranya Kaheng adanya silahkan masuk dan istirahatlah seadanya !

habis itu ia sibuk menyambut tamu yang lain lagi.

A Siu pikir Li Pong adalah sahabat baik Jing-ling-cu, pergaulannya luas, pengalamannya banyak, kalau tanya tentang Ti Put-cian kepadanya, tentu ia bisa memberi keterangan.

Maka orang tua itu hendak segera dihampirinya, namun baru ia memutar atau Li Pong sudah mendekatinya lebih dulu sambil menyapa .

Kah-laute, apakah saudaramu tidak ikut datang?

Melihat orang tua itu sangat peramah, cepat jawab A Siu .

Ia sudah datang, cuma masih banyak tempo, sementara ini ia masih menikmati pemandangan indah pegunungan ini, sebaliknya aku ingin sekali mencari seseorang, maka datang kemari lebih dulu.

Memangnya Li Pong ingin tahu asal usulnya A Siu dan Jun-yan, mendengar ada seseorang yang hendak dicarinya, segera tanyanya .

Eh, entah siapakah yang hendak Ka-laute cari ?

Ia she Ti bernama Put-cian, orang Kang ouw menjuluki dia Kang Lam-it-ci-seng, sahat A Siu.

Li Pong menjadi terkesiap, pernah beberapa kali ia melihat Ti Put-cian, orangnya memang tampan, tapi kelakuannya sama sekali tidak dipuji.

Entah Kah-loji ini untuk apa hendak mencarinya ?

Kemudian iapun menjawab .

Agaknya tiada kelihatan bayangannya bahwa Ti Put-cian disini, hanya dua tahun yang lalu pernah kuberjumpa dengan dia.

A Siu menjadi kecewa dan Li Pong bertambah heran.

Ia pikir mungkin Ti Put-cian yang terkenal jahat itu telah berbuat sesuatu dosa apa, maka Kah-loji hendak mencari 225 dan bikin perhitungan dengan dia.

Sudah tentu tak terpikir olehnya bahwa Kah-loji dihadapannya ini justru satu gadis jelita yang putih bersih tapi kesengsem dan merindukan Kam Lam it-ci-seng Ti Put-cian yang jahat laknat itu.

Apakah mungkin hadir kesini, Li-locianpwe ?

tiba2 A Siu bertanya pula dengan sipatnya yang polos.

Susah dipastikan, sahut Li Pong ragu2.

..Tapi biasanya Ti Put-cian itu berkeliaran di daerah Kanglam, sekarang tidak sedikit tokoh2 Kanglam yang lagi duduk2 mengobrol didalam, jika Kah-laute suka mencari keterangan pada mereka, tentu akan diketahui jejaknya.

Segera A Siu menerima usul itu lalu ikut menuju keruangan belakang, lantas terdengarlah suara gelak tawa yang ramai didalam.

Ketika A Siu ikut Li Pong melangkah masuk ruangan kamar itu, terlihatlah ditengah duduk lelaki jelek bermuka walang yang dijumpainya ditengah jalan itu lagi ter-bahak2 suaranya yang nyaring melengking.

Didepannya duduk seorang Nikoh atau paderi wanita yang berwajah welas asih, tangannya memegang sebatang kebut.

Disamping mereka duduk lagi dua orang, satu lelaki dan yang lain wanita.

Yang lelaki berjidat lebar, penuh berewok sangat gagah, sedang yang wanita kira-kira berusia lima puluhan tahun, kurus kering badannya, dari mukanya kelihatan bukanlah orang jahat.

Disebelah lagi duduk dua orang, juga satu lelaki dan seorang wanita.

Yang lelaki berperawakan pendek, bermuka cemberut mirip rupanya orang kematian.

Sedang yang wanita tinggi besar itu kulitnyapun juga yang sudah keriput, rambutnya ubanan, mukanya juga bersengut seakan2 orang menagih utang, tapi tidak berhasil.

Diantara mereka terdapat pula seorang Thauto atau Hwesio yang berambut, kepalanya sebesar gantang, wajahnya merah ber-seri2, duduknya bersandar tiang.

A Siu mengerling sekeliling atas dari semua orang itu, ia merasa silelaki jelek bermuka walang dan Nikoh tua itulah yang kelihatan Lwekangnya yang paling hebat, sedang yang lain biasa saja baginya.

Kemudian satu persatu Li Pong memperkenalkan padanya kepada A Siu.

Ternyata Thauto itu adalah Thi-thau-to sipaderi kepala besi dari Ngo-tai-san.

Ilmu Lwekangnya sudah mencapai tingkatan yang tinggi.

Lelaki berewok dan wanita kurus kering itu 226 bukan lain yalah Tai-lik-sin Tong Po bersama isterinya Tay-jing-siancu Cio Ham.

Lelaki pendek dan wanita tinggi bermuka cemberut itu masing2 adalah Ok Hua to Ciok Kat-sing dan Li-pian-jiok Sian Tim, keduanya juga tokoh persilatan juga mahir ilmu pertabiban, maka mereka diundang oleh Jing-ling-cu dengan maksud, kalau perlu supaya bisa mengobati manusia aneh yang cacat itu.

Sedang lelaki yang bermuka walang itu sudah kenal A Siu sebagai Hwe Tek dan Nikoh tua itu ternyata satu diantara kedua paderi sakti dari Go-bi-san yang terkenal dengan ilmu Ji-lay-it-ci, tutukan dengan jari sakti namanya Boh-hoat Suthay.

Ketika semua orang mula2 melihat Li Pong membawa masuk seorang pemuda, semua orang merasa heran.

Tapi demi nampak tindakan A Siu yang kokoh kuat, sinar matanya yang tajam semua orang bertambah aneh oleh pemuda yang lihay ini.

Sesudah Li Pong memperkenalkan, kemudian katanya pula, Kah-heng ini ingin mencari keterangan satu orang.

Dalam hal ini rasanya Tong-heng akan lebih mengetahui.

Siapakah yang dia tanya, tentang urusan apa ?

tanya Tong Po.

Ia ingin tahu jejaknya Kang Lam-it-ci-seng Ti Put-cian, sahut Li Pong.

Mendengar nama itu disebut, wajah Tay-lik-sin Tong Po mendadak berdiri dan berseru .

Apakah Ti Put-cian hadir kemari ?

Tidak, tapi Kah-heng justru lagi mencarinya, sahut Li Pong.

Perawakan Thay-jing-siancu Cio Ham yang kurus kering tinggi gala bambu itu tingginya, ternyata melebihi sang suami.

Dengan wajah merah padam mendadak dia berteriak kearah A Siu.

Kau pernah apanya Ti Put-cian, untuk keperluan apa kau mencari dia?

Diam2 A Siu pikir, kenapa wanita kurus ini begitu galak?

untuk sejenak ia ragu2 cara bagaimana dia harus menjawabnya, sahutnya kemudian.

Aku adalah sobat baiknya.

Lau Tong, seru Cio Ham kepada sang suami, akhirnya dapatlah kita menemukan dia!

Tong Po mengangguk, sudah tentu orang semua yang hadir disitu tidak paham apa yang sudah terjadi dan apa maksud kata2 Cio Ham itu.

227 Bagus sekali, orang she Kah, jika memang kau sobat baik sikeparat Ti Put Cian itu, sekarang juga ingin kami tanya kau kejadian dua bulan yang lalu, dua murid kami terbunuh di dekat Tinkang itu, kau ikut serta tidak?

tanya Cio Ham sambil melangkah maju.

Karuan A Siu bingung.

Dar ...

darimana aku tahu?

sahutnya kemudian dengan tidak lancar.

Cio Ham menjadi gusar.

Masih berani kau pura2 tidak tahu, apabila kau mengaku sobat baik dengan Ti Put-cian, tentu kaupun bukan manusia baik2, bentaknya sembari ulur tangannya terus mencengkeram.

Tenaga cengkeraman itu ternyata keras sekali, hingga membawa angin mendesing, sedang Li Pong terus berseru .

Enso Tong, ada urusan apa, terangkanlah dahulu, jangan buru2 turun tangan !

Untuk sejenak Cio Ham berhenti, katanya dengan muka merah padam .

Kedua murid kami dua bulan yang lalu telah terbinasa ditangannya Ti Put-cian, sebelum ajalnya, mereka sempat mengirim berita pada kami bahwa musuh yang membokong mereka adalah Ti Put cian beserta seorang kawannya, jika begitu, siapa lagi kawannya itu kalau bukan bocah sekarang ini ?

Apakah sakit hati membunuh murid harus kudiamkan begini saja ?

Li Pong menjadi bungkam mendengar alasan itu.

Sebaliknya silelaki jelek bermuka walang itu tiba2 ter-kekeh2 dan berkata .

Aha, muridnya sendiri yang tak becus, pembunuh biang keladinya tak diketemukan, sekarang malah merecoki pada seorang yang belum pasti diketahui berdosa atau tidak !

Cio Ham menjadi murka, muridnya dibunuh orang, masih di-olok2, ia tertawa dingin dan menyahut.

Lo-mo-thau (iblis tua), kau membual apa ?

Kembali lelaki jelek bernama Hwe Tek itu terkekeh-kekeh katanya.

Alangkah garangnya lagakmu!

Apa kau sangka orang mudah kau robohkan?

Cobalah kalau kau tak percaya, kalau kalian suami istri berdua mampu mengalahkan anak muda ini, aku terima menjura tujuh likur kali padamu !

Hm, Lo-mo-thau, kau benar2 memandang rendah pada kami!

jengek Cio Ham.

Habis ini mendadak berseru.

Lo Tong!

228 Rahasia Tong Po takut bini sudah bukan rahasia lagi dikalangan kangouw, maka demi mendengar panggilan istrinya itu, cepat ia mengia dan melompat maju.

Mari kita jajal bocah ini kepelataran depan sana, kata Cio Ham pula.

Melihat orang sungguh2 hendak bergebrak dengan dia, A Siu menjadi gugup, ia menggoyang-goyang tangannya sambil berkata, Kita selamanya tidak kenal, tanpa dendam takkan sakit hati!

habis berkata, sekali tubuhnya melesat, segera bermaksud undurkan diri.

Namun baru sedikit badannya bergerak, tahu2 Cio Ham sudah mendahului membentak.

Jangan lari!

berbareng itu, pedang sudah dilolosnya dan menghadang diambang pintu.

Melihat kesebatan dan gerak senjatanya yang lihay, A Siu tak berani sembrono, ia mundur selangkah, lalu menegur.

Sudah kukatakan kita tiada bermusuhan apa2, kenapa kau memaksa aku turun tangan ?

Justru aku ingin kau turun tangan!

teriak Cio Ham sambil ayun pedangnya dengan cepat dan kencang, sinar pedang kemilauan menyilaukan mata.

Akan tetapi A Siu tidak ingin berkelahi dengan orang, ia terus mundur hingga tanpa merasa telah mundur sampai didepan kursi silelaki jelek bernama Hwe Tek itu.

Ketika ia hendak mundur lagi, ternyata dari belakang se-akan2 ditahan oleh selapis tembok kuatnya.

Ia melengak, ketika melirik, kiranya Hwe Tek itu masih duduk tenang ditempatnya, hanya sebelah telapak tangannya sedikit membalik mengarah kepunggungnya A Siu, dengan sorot mata tajam sedang menatap padanya.

Maka tahulah A Siu tenaga kuat yang menahan dari belakang terang keluar dari tangan Hwe Tek itu.

Ia menjadi terkejut, memang sejak bertemu ditengah jalan, ia sudah melihat Lwekang lelaki jelek ini luar biasa, tatkala iapun menjawil A Siu agar berlaku hati-hati, kini dugaannya itu ternyata tidak salah.

229 Dan karena ditolak dari belakang, terpaksa A Siu berulang kali mesti menghadapi bahaya, ia berkelit kian kemari oleh serangan Cio Ham yang sementara itu sudah dilontarkan.

Tapi A Siu dapat menghindarkannya dengan enteng dan manis sekali.

Ilmu pedang yang dimainkan Cio Ham itu terkenal sebagai Thay-jing-kim-hoat , anehnya setiap kali serangan tampak hampir mengenai sasaran, selalu A Siu dapat menghindar dengan cepat dan enteng seperti gontai pergi oleh angin serangannya.

Lama2 Cio Ham menjadi gemas.

Tiba2 ia getarkan pedangnya hingga mengeluarkan sinar gemilapan; seketika A Siu seperti terkurung didalam sinar pedangnya, tampaknya asal sekali tusukan pedang dilontarkan, pasti A Siu akan mengalami nasib malang.

Nampak keadaan itu, tanpa pikir Li Pong sudah lantas lolos golok pusakanya Pek-lin-sin-to dan Boh-hoat-suthay juga angkat kebutnya dengan maksud hendak menolong A Siu.

Tak terduga, tiba2 bayangan orang berkelebat, tahu2 A Siu sudah menyelinap keluar dari kurungan sinar senjata itu, anehnya tak kelihatan dari arah mana A Siu menerobos keluar.

Karuan semua orang tercengang, sungguh tidak tersangka dengan ilmu pedangnya Cio Ham yang terkenal lihay dan tampaknya A Siu sudah terkurung oleh sinar senjatanya itu, tapi tahu2 bisa loloskan diri, sampai seujung bajunya saja tidak sobek, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat Ginkang atau ilmu mengentengkan tubuh bocah itu.

Maka tak mau mereka pun berseru memuji.

Tentu saja Cio Ham tambah sengit, dengan gusar teriaknya .

Anak busuk, tidak lekas kau lolos senjata, jangan salahkan aku jika kau sebentar badanmu berlubang!

Sudah kukatakan tidak bermaksud berkelahi dengan kau, darimana aku punya senjata ?

sahut A Siu tenang.

Ternyata jawaban yang tulus itu telah disalahartikan sebagai ejekan oleh Cio Ham, tanpa berkata lagi ber-runtun2 ia melontarkan serangan lagi beberapa kali.

Akan tetapi masih tetap A Siu menghindarkan tanpa balas menyerang.

Keparat, terimalah serangan ini!

teriak Cio Ham pula, dengan geram cepat pedangnya menebas.

Namun dengan sebat dan enteng sekali A Siu tergontai pergi hingga saking cepatnya pedang Cio Ham menyerempet tiang disamping A Siu.

Sungguh hebat serangan itu, sedikit berayal saja tubuh A Siu mungkin sudah terkutung.

230 Semua orang menjadi ter-heran2 pula melihat gerakan A Siu yang lincah dan aneh itu.

Walaupun disitu hadir jago silat dari berbagai golongan, tapi tiada satupun yang mengenali dari aliran mana ilmu silat A Siu itu.

Maka baru sekarang mereka mau percaya olok2 Hwe Tek tadi, memang nyata, kalau mau sungguh2 A Siu sudah dapat mengalahkan Cio Ham.

Diluar dugaan, mendadak A Siu melompat kesamping lalu berseru.

Sudahlah cukup, baiklah aku mengaku kalah saja!

Karuan semua orang ternganga heran, lebih2 Cio Ham yang tahu jelas yang tak mampu menyenggol seujung rambut lawannya tapi mengapa tiba2 lawannya itu terima mengaku kalah?

Untuk sesaat ia menjadi tertegun ditempatnya.

Aha, teranglah dia bukan manusia sebangsanya It-ci-seng Ti Put-cian, harap Enso Tong dapat berlaku bijaksana, lekas2 Li Pong berusaha meredakan suasana tegang itu.

Haha, bocah ini terang memiliki kepandaian yang sangat tinggi, mengapa dia berlaku sungkan2?

Biarlah aku menjajalnya, seru Hwe Tek tiba2 sambil melangkah maju.

Habis ini ia menanya pula kepada A Siu.

Bocah, siapakah gurumu ?

Hai, Lo-mo-thau, orang begitu muda, dengan pamormu, masakan kau akan bergebrak dengan dia?

seru Li Pong tiba-tiba.

Hm, pamor apa segala?

jengek Hwe Tek mendadak.

Mungkin selekasnya kalian akan terbinasa tanpa kubur, masih bicara tentang pamor segala!

Apa maksud kata2mu ini, Lo-mo-thau?

tanya Li Pong heran.

Bocah ini umurnya belum ada 20 tahun tapi sudah sekian tinggi kepandaiannya, lantas kalian sangka siapa gurunya?

Kecuali dia , siapa lagi?

Dan kalau dia untuk kedua kalinya muncul pula di Kangouw, siapa diantara kita mampu menandinginya?

kata Hwe Tek.

Mendengar itu, semua orang menjadi bungkam dengan saling pandang, tiba-tiba Thi-thau to berkata tak lancar.

Kau maksudkan dia..., dia....

Ya, dia!

Dikalangan jaman ini, siapa orangnya bisa lebih lihay dari dia?

sahut Hwe-tek.

231 Tanya jawab itu walaupun tidak dijelaskan siapa nama si dia itu, tapi semua orang hadir disitu semua sudah sama memahami siapa gerangan yang dimaksudkan.

Kalian masih ingat bahwa tahun ini adalah tepat waktu yang dia janji akan muncul pula, kata Hwe Tek pula.

Selama 32 tahun ini dia juga sudah berumur tujuh puluhan dan kalau dia belum mati dan benar2 muncul kembali siapa sanggup menandingi?

Menandingi siapa?

tiba2 seorang menyambung dari luar.

Kiranya dia adalah Tuan rumah Jing-ling-cu yang masuk membawa seorang Hwesio pendek gemuk, didadanya tergantung tiga buah kecer tembaga yang kuning gilap.

Marilah kita perkenalkan, inilah Hoat-teng Taysu dari Thian-tongsi di Ciatkang, kata Jing ling-cu.

Lalu dia menanya lagi tentang siapa yang tak bisa ditandingi itu.

Gurunya, sahut Hwe Tek sambil menunjuk A Siu.

Sudah kukatakan aku tak mempunyai guru kalau murid sih ada!

sahut A Siu ke-kanak2an.

Karuan semua orang melengak lagi, masakan ada murid tanpa guru?

Lalu, siapa muridmu itu?

tanya Hwe Tek lagi.

Muridku juga seorang Hwesio gede, namanya Tiat-pi Hwesio, ujar A Siu.

Mendengar itu orang lain hanya heran saja, sebaliknya Hoat teng Taysu terus berjingkrak, teriaknya .

Dusta !

Mengapa ?

tanya silelaki jelek alias Hwe Tek itu.

Tiat-pi adalah saudara angkatku, kepandaiannya Gwakangnya jarang ada tandingannya disekitar Hunlam dan Kuiciu, namanya sudah tersohor lebih 20 tahun yang lalu, mana mungkin mengangkat bocah cilik ini sebagai guru ?

tutur Hoat-teng.

Semua orang diam2 tertawa geli dan mau percaya apa yang dikatakan itu memang sungguh-sungguh.

Sebab kalau benar Tiat-pi Hwesio adalah muridnya A Siu, bukanlah Hoat-teng juga menjadi keponakan guru anak muda ini, pantasan saja ia berjingkrak.

Hwe Tek tak urus soal itu lagi, tiba2 ia menghela napas dan berkata .

Sungguh tidak nyana sang Tempo liwat begini cepat, tahu2 30 tahun sudah lewat.

Dan sampai sekarang, toh masih tiada seorangpun diantara kita yang dapat menandingi dia !

232 Sebelum ini akupun sudah teringat soal ini, sela Jing-ling-cu.

Menurut aku orang yang bisa menandingi dia bukannya tidak ada !

Hwe Tek bergelak ketawa mengadah.

Siapa?

tanyanya.

Lagu suaranya penuh kesombongan se-akan2 pertanyaan siapa itu termasuk pula .

Aku saja mengaku tak bisa menandingi, lalu dijagat ini siapa lagi yang mampu ?

Justru undanganku ini kepada para tokoh Bu-lim, karena aku ingat tahun ini adalah tahun yang dijanjikan iblis itu, menurut pendapatku, orang yang mampu menandinginya, mungkin sobat aneh yang tak diketahui asal usulnya itu, ujar Jing-ling-cu.

Sobat itu berada dimana ?

tanya Hwe Tek.

Beberapa hari yang lalu sudah kelihatan muncul dipegunungan ini, tapi pagi hari ini telah menghilang lagi, kata Jing-ling-cu.

Usul Jing-ling Toheng memang beralasan, ujar Li Pong.

Kebetulan hari ini kita berkumpul disini, tentu dia akan datang kemari untuk memenuhi janjinya.

Siapakah gerangan yang kalian bicarakan ?

saking heran A Siu menanya.

Tiba2 hati Li Pong tergerak, sahutnya .

Kah laute, kebetulan kali ini kaupun hadir disini, maka alangkah baiknya bila kaupun suka membantunya nanti.

Orang itu she Ki, namanya Go-thian, berpuluh tahun yang lalu sudah tiada tandingan diseluruh Bu-lim, kini kalau muncul lagi, terang malapetaka bagi dunia persilatan kita.

Ah, kiranya Ki Go-thian itu, ujar A Siu.

Semua orang menjadi heran, masakan usia semuda Kah-loji ini juga kenal Ki Go-thian.

Jadi Kaheng sudah kenal dia ?

Dimana bertemu ?

tanya semua orang berbareng.

Aku bertemu dia diwilayah Ciatkang, ia berada bersama seorang Thauto yang bernama Ngo-seng.

tutur A Siu.

Lalu ia ceritakan pengalaman yang lalu itu.

Mendengar kepandaian Ki Go-thian ternyata jauh bertambah lihay itu, seketika wajah semua orang berubah pucat.

Dan selagi Li Pong hendak menanya pula, mendadak diluar kuil sana terdengar suara blung yang keras, begitu keras suara itu hingga debu sana bertebaran.

Semua orang terkesiap dan semua orang berkata .

Ah, datanglah dia !

233 Suara dentuman itu terlalu keras datangnya maka seketika semua orang menduga pasti Ki Go-thian yang sudah datang.

Untuk sesaat ruangan itu menjadi hening.

Hanya Hwe Tek yang tampak tenang-tenang saja.

Betapapun juga, sebagai jago kawakan serta tuan rumah, kemudian Jing-ling-cu buka suara.

Hari ini kita akan menghadapi musuh lama mati atau hidup kita biarlah bersama.

Marilah kita menghadapi diluar!

Segera Jing-ling-cu mendahului keluar dan diikuti oleh semua orang.

Ternyata dipelataran luar sudah ramai dikerumuni orang, apa yang dikerumuni itu tidak kelihatan.

Anehnya orang-orang yang lagi merubung itu sama-sama bisik-bisik entah apa yang diceritakan, tapi tiada seorangpun diantara mereka yang tampak ketakutan.

Siapakah gerangan yang bikin ribut disini?

Mungkin sobat lama yang mana sudi berkunjung kemari, maafkan bila penyambutan kami kurang sempurna!

Segera Jing-ling-cu berseru.

Suaranya keras berkumandang hingga berisik semua orang itu tersirap, nyata Lwekang yang diunjukan Jing-ling-cu ini tak bisa dipandang enteng.

Melihat munculnya tuan rumah, maka menyingkirlah orang2 yang merubung itu kepinggir maka tertampaklah di-tengah2 situ seorang berbaju hitam yang sudah luntur hingga lebih mirip warna kelabu, lagi meringkuk tidur sambil berpeluk dengkul, disampingnya ada segunduk benda kehitam-hitaman entah apa barangnya.

Ketika sudah dekat, ternyata orang itu berdandan sebagai sastrawan miskin, tampaknya masih muda, bukanlah Ki Go-thian yang mereka takuti itu.

Sedang gundukan benda tadi ternyata sebuah genta raksasa yang sudah berkarat.

Semua orang menjadi heran mengapa tiba-tiba muncul seorang aneh demikian.

Siapakah tuan, ada keperluan apakah kunjunganmu kemari ?

segera Jing-ling-cu menegur lagi.

Tiba-tiba orang itu menguap sambil mengangkat kedua tangannya kelangit dan mengulet ke-malas2an, tangannya ternyata panjang luar biasa, kemudian dengan sungkan ia menjawab.

Ah, kiranya Jing-ling Totiang sendiri sudi keluar menyambut.

Kunjunganku kemari tiada maksud lain, cuma kabarnya hari ini semua tokoh dan jago Bu-lim sama berkumpul disini, maka Cayhe hanya datang sebagai peninjau saja!

Tutur kata sastrawan miskin ini ternyata cukup sopan santun, suara nyaring jelas, terang bukan sembarangan orang.

Anehnya tiada seorangpun tokoh2 yang hadir itu 234 yang kenal padanya, padahal seorang jago yang membawa sebuah genta raksasa yang menyolok itu, masakan selamanya tak pernah dengar namanya.

Hanya A Siu saja segera mengenali bahwa orang inilah yang telah menggodanya diatas perahu ditelaga Se-oh itu.

Tatkala mana sastrawan inipun sedang nyenyak, lalu menguap dan mengulet, lagaknya persis seperti barusan ini.

Dalam pada itu Tong Po mempunyai tenaga raksasa pembawaan, menjadi ketarik oleh genta yang dibawanya sastrawan miskin itu, ia tidak percaya orang sekurus itu mampu mengangkat genta yang besar dan antap itu.

Tanpa pikir ia terus mendekati genta itu, ia pegang kupingan genta itu sambil membentak naik !

Diluar dugaan, tiba2 sastrawan itu sedikit menahan genta itu dengan sebelah tangannya, kontan Tong Po merasa suatu tenaga besar menggetar dadanya.

Lekas ia lepas tangan, namun begitu, iapun tergetar mundur beberapa tindak, dengan tercengang ia pandang sastrawan miskin itu.

Tapi sastrawan itu hanya tersenyum tawar saja, dengan enteng sekali tiba2 ia angkat gentanya secara terbalik diatas pundak, lalu hendak menuju kegubuk yang dibangun untuk para tetamu itu.

Se-konyong2 bayangan orang berkelebat, tahu2 Hwe Tek melesat menghadang kehadapan sastrawan itu sambil berkata dengan dingin .

Jika saudara datang kemari untuk ikut pertemuan kita kenapa nama saja tak kau beritahukan kepada tuan rumah ?

Aha, namaku yang rendah sebenarnya tiada harganya disebut, tapi kalau kalian ingin tahu, terserahlah, sahut sastrawan itu dengan lagak jenaka.

Namaku Ko, she Wi, dari wilayah barat, ditengah jalan kebetulan memperoleh genta rombeng ini, maka sekalian kubawa.

Nah, apa lagi yang kalian ingin tahu ?

Mendengar nama orang Wi Ko, diam2 Hwe Tek tersenyum geli, ia pikir orang pakai nama samaran lagi seperti Ka-loji itu.

Tapi demi mendengar orang datang dan wilayah barat, tanpa merasa ia pandang Liok-hap-tongcu Li Pong.

Hendaklah diketahui bahwa Khong-tong-pay terhitung suatu aliran terbesar dikalangan wilayah barat, sebagai seorang ketua, tentunya Li Pong kenal nama orang.

Tak terduga Li Pong hanya menggeleng kepala saja.

235 Sementara itu sastrawan yang memperkenalkan namanya sebagai Wi Ko itu telah berdiam saja kepada semua orang, lalu pergi sendiri ke gubuk disamping sana.

Selagi Jing-lingcu heran oleh kelakuan orang tiba2 dilihatnya Thi-thau-to yang berdiri disampingnya mengunjuk rasa curiga seperti tiba2 ingat sesuatu.

Rupanya Li Pong juga sudah melihat perubahan sikap Thi-thau-to itu segera ia menanya.

Lau Thi, ada apakah kau, kenapa tak kau katakan saja dihadapan orang banyak!

Aku hanya ragu2 kepada genta yang dibawa orang she Wi itu seperti....

Seperti apa?

Apa kau maksudkan seperti genta besar milik Biau-jiu-losat Ki Teng-nio di puncak Go-bisan itu?

sela Cio Ham tiba2.

Thi-thau-to melengak bingung, sebab ia tidak tahu kalau Ki Teng nio itu menggantung sebuah genta bwsar dikaki gunung kediamannya, maka ia tak bisa menjawab.

Sebaliknya A Siu yang sejak tadi mendengarkan terus, kini tiba2 menyela.

Hanya mirip, tapi bukan Genta yang tergantung dikaki gunung Go-bisan itu, berukiran kembang yang menonjol keluar, tapi ukiran genta tadi mendengkuk kedalam!

Dari mana kau tahu?

bentak Cio Ham.

Rupanya ia masih mendongkol pada A Siu.

Aku pernah memukul genta itu digunung, maka cukup jelas melihatnya, sahut A Siu.

Lalu Lau Thi maksudkan genta yang mana?

tanya Li Pong tak sabaran.

Kejadian itu kalau dibicarakan sungguh memalukan, tutur Thi-thau-to.

Dahulu karena menguber Ngo-seng yang mendurhakai perguruan itu, aku telah tiba sampai disuatu pulau terpencil dilautan selatan, pulau itu ternyata tiada penduduknya, dan disanalah aku melihat genta tadi.

Pikirku kalau pulau tanpa penduduk, dari manakah terdapat genta semacam itu?

Aku menjadi heran dan bermaksud membawa kembali genta itu, tak terduga belum maksudku terlaksana, tiba2 muncul seorang wanita berambut panjang terurai, berjari merah membara, tapi wajahnya cukup cantik, cuma dari sifatnya tampak sekali bukan dari aliran suci.

Dan karena percekcokan mulut, akhirnya aku terpaksa bergebrak dengan dia....

Tak usah diterangkan lagi pasti kau dikalahkan, bukan?

tiba2 Hwe Tek menyela.

236 Benar, apakah Hengtay tahu siapa wanita itu?

sahut Thi-thau-to.

Aneh, sebagai seorang ketua aliran terkemuka, masakan wanita itu tak kau ketahui?

jengek lelaki jelek alias Hwe Tek itu.

Sungguh memalukan, harus diakui, memang sampai kini aku masih belum tahu siapa dia, kata Thi-thau-to.

Aneh juga dengan kedudukan Thi-thau-to sebagai Ketua Ngo-thay-pay, terhadap Hwe Tek ternyata sangat merendah dan mengia.

Dari sini dapat dibayangkan betapa disegani Hwe Tek itu.

Apa kalian pernah dengar disana dahulu diwilayah Hunlam dan Kuiciu muncul seorang jago wanita, Kui-bo Li-hun ?

tutur Hwe Tek.

Selama hidupnya ia sungkan terima murid, baru usianya sudah lanjut, ia menerima dua orang murid.

Tatkala mana usia Kui-bo Li-hun sudah hampir sembilan puluh tahun, tapi betapa tinggi ilmu silatnya juga susah diukur.

Kedua muridnya itu yang satu kita kenal sebagai Biau-jiu-losat Ki-teng-nio yang sudah mati, sedang seorang lagi adalah wanita yang dijumpai Lau Thi yang berjari merah membara, rambut terurai tapi ilmu silatnya jauh lebih tinggi dari sang suci boleh dikata hampir mewariskan seluruh kepandaian gurunya, ia bernama Li-giam Ong To Hiat-koh!

Mendengar Li-giam-ong To Hiat-koh atau siratu akherat, seketika semua orang terkejut.

Sudah lama nama Li-giam-ong itu lenyap dari Bu-lim, apabila dia masih hidup, pasti ilmu silatnya bertambah tinggi lagi.

tapi genta pusakanya tahu2 jatuh ditangan sastrawan miskin she Wi itu, maka kepandaiannya yang belakangan ini dapat dibayangkan.

Yang mengherankan yalah umurnya masih begitu muda, siapa gurunya pun tak diketahui.

Dalam pada itu masih juga memikirkan daya-upaya akan menghadapi Ki Go-thian yang ditakuti itu.

Karena itu be-ramai2, mereka terus masuk kembali kekuil untuk berunding lebih dulu, tapi tiada sesuatu hasil pembicaraan yang diambil.

Sementara itu hari sudah petang, dalam hati A Siu masih tetap terkenang kepada Ti-put-cian, akan tetapi selama itu masih belum diketahui jejaknya, ia menjadi masgul, ia ingin sekali berbicara kepada seseorang kawan, seperti Jun-yan, yang selalu menghibur hatinya yang lara.

Tapi gadis itu entah berada dimana sekarang.

237 Dalam keadaan murung, A Siu terus ayun langkahnya menjelajahi bukit pegunungan itu, ia mendapatkan sebuah batu besar, dengan duduk bersandarkan batu itu, ia melamun jauh kelautan mega sana sambil menghela napas.

Dan sekali ia duduk melamun, tahu-tahu 2-3 jam telah lewat, dewi bulan sudah menghiasi ditengah cakrawala, tapi diatas puncak sana bertambah berisik oleh datangnya tetamu yang baru.

A Siu merasa jemu dengan segala suara ramai itu ia ingin keadaan sunyi senyap, alangkah baiknya diganti dengan suaranya Ti-put-cian biarpun suara makian atau cacian, rasanya ia pun suka, daripada hati selalu dirundung rindu.

Per-lahan2 ia berdiri hendak kembali kepondoknya, tapi baru selangkah, tiba2 didengarnya diatas batu besar yang dibuatnya bersandar itu ada suara orang menghela napas juga.

Malahan terdengar orang itu bersenandung pula yang bernada rindu.

Segera A Siu dapat mengenali suara orang itu sebagai sastrawan she Wi itu, ia heran siapakah gerangan yang dirindukan sastrawan itu?

Sedang A Siu berpikir, terdengar orang she Wi itu berkata lagi pada dirinya sendiri.

Haha, wanita menyamar sebagai lelaki, hampir aku kena diingusi!

A Siu tergerak pikirannya, ia coba mendongak keatas, terang itulah sorot mata orang yang tajam lagi memandang juga kebawah.

Ia menjadi jengah sendiri, nyata penyamarannya sudah diketahui orang.

Dalam pada itu Wi Ko itu sudah lantas berkata dengan tertawa .

Maaf, nona Siu, bila aku bikin kaget padamu.

Aku hanya ingin numpang tanya.

Kenapa nona Jun-yan tidak ikut serta bersama kau kesini ?

Enci Jun-yan sudah berada disini, sahut A Siu.

cuma dia bilang hatinya masgul, ingin menikmati pemandangan alam pegunungan ini, sebaliknya aku kesusu hendak mencari Ti-toa ko, maka hadir kesini lebih dulu.

Ti-toako?

Apakah kau maksudkan Ti Put cian berjuluk Kang Lam-it-ci-seng itu ?

tanya Wi Ko.

Benar, sahut A Siu, Apakah kau tahu dia berada dimana ?

Ah, rasanya dia takkan hadir kesini!

Heran sekali Wi Ko mendengar orang yang dicari si gadis adalah Ti put-cian yang terkenal ganas laknat itu, padahal kalau dibandingkan gadis polos dihadapannya ini, 238 terang bedanya langit dan bumi.

Namun begitu, ia menjawab juga .

Dimana dia berada sekarang, aku tidak tahu.

Tapi bagaimanakah nona kenal dan berkawan dengan dia ?

belum lama kami berkenalan, hanya secara kebetulan saja kami bertemu didaerah Biau, tutur A Siu singkat.

Ah, kiranya nona berasal dari suku Biau, tanya Wi Ko.

A Siu hanya mengangguk.

Sebaliknya sikap Wi Ko yang biasa ke-malas2an itu tiba2 berubah sungguh2, nyata perhatiannya terhadap diri A Siu bukanlah secara kebetulan saja.

Tiba2 katanya dengan menahan suara, Nona Siu, ingin aku menanya sesuatu kepadamu ...........

Tapi belum lagi ia melanjutkan kata2nya terdengarlah suara tertawa orang yang seram sekali bergema diangkasa pegunungan itu, begitu seram menusuk suara tawa itu hingga bagi yang mendengar, seketika bulu roma sama berdiri.

Suara tertawa siapakah, begitu menyeramkan dimalam buta ?

tanya A Siu.

Sebentar lagi tentu kau akan tahu, ujar Wi Ko seakan-akan ia sudah kenal suara siapa itu.

Dalam pada itu, suara tertawa itu rupanya juga sudah mengejutkan semua orang yang berada dipuncak Ciok-yong-hong itu, sebab beramai-ramai mereka terus bangkit berkerumun ke pelataran depan kuil, sebaliknya didalam kuil itu lantas terang benderang agaknya mereka juga terjaga bangun, lalu sama keluar ingin melihat apa yang bakal terjadi.

Segera A Siu juga hendak kembali ke Ciok yong hong dibawah sana, tapi keburu ditahan Wi Ko, kata sastrawan rudin itu.

Tunggu sebentar nona Siu, daripada kita ikut bikin kacau, tidakkah lebih baik kita menonton saja disini?

Sementara itu terlihat Jing-ling-cu, Liok-hap-tong-cu Li Pong dan silelaki bermuka walang, Hwe Tek, serta lain-lainnya sudah muncul.

Tiba2 Wi Ko menunjuk Hwe Tek dan menanya A Siu.

Nona Siu, kau datang lebih dulu, apakah kau tahu siapakah lelaki jelek itu ?

Entah, cuma dia diperkenalkan sebagai Hwe Tek, ada juga yang mau menyebut Lo-mo thau (iblis tua) padanya.

kata A Siu.

239 Lo-mo-thau ?

Hahaha !

Memang aku sudah menduga dia, ternyata tidak salah!

seru Wi Ko bergelak tertawa.

ELAGI A Siu hendak menanya lebih jelas tiba-tiba belasan obor yang dipasang dipelataran sana, apinya se-akan2 menjulang keatas seperti ditiup angin besar, sampai A Siu yang jaraknya belasan tombak jauhnya merasakan angin yang kuat itu.

Dalam pada itu suara ringkik tawa tadi semakin keras, seorang wanita berambut terurai kusut mendadak muncul diatas puncak itu.

Wanita itu angkat tinggi2 tangannya sambil tertawa-tawa menengadah, karena mukanya tertutup rambutnya yang kusut, maka tidak tampak jelas, yang terang sepuluh jari tangannya merah membara, ditumbuhi kuku jarinya yang panjang, tapi putih bersih, paduan warna merah putih itu menjadi sangat menyolok.

Maka terlihatlah Jing-ling-cu dan Hwe Tek serta jago lainnya sama memapak maju, wajah Jing-ling-cu nampak terkejut dan heran, dari jauh segera membalas orang dengan suitan nyaring.

Walaupun suaranya singkat pendek, begitu suara suitan itu berkumandang, maka berkatalah Jing-ling-cu.

Ah, kiranya Li giam-ong To Hiat koh yang sudah lama tidak keluar dikangouw hari ini mendadak sudi hadir kemari, maafkan bila sebelumnya tak dilakukan penyambutan!

A Siu pikir, kiranya wanita aneh inilah yang disebut si Ratu akherat To Hiat-koh yang ilmu silatnya masih diatas Sucinya, yaitu Ki Teng-nio.

Ia coba melirik Wi Ko.

Pemuda itu ternyata biasa saja, tetap dengan sikap yang ke-malas2an, si ratu akherat yang menggetarkan itu seperti tak dipandang mata olehnya.

Dalam pada itu, karena teguran Jing-ling-cu tadi, mendadak wanita itu menggeleng kepalanya, rambutnya yang kusut terurai itu lantas tergontai kebelakang.

Diluar dugaan wajahnya ternyata cantik ayu tampaknya juga belum terlalu tua, cuma saja bila dilihat dari sorot matanya yang tajam dapat diketahui pasti bukan orang dari aliran baik2.

Ia hanya mengerling sekejap kearah Jing-ling-cu, lalu menyahut.

Hidung kerbau, pakai banyak adat apa segala!

Aku hanya ingin tanya kau, apakah tadi ada seorang sastrawan rudin yang datang kemari, harap kau suruh keluar terima kematian!

habis berkata, dia perdengarkan lagi suara ketawanya yang menyeramkan itu.

240 Eh, kiranya kedatangannya kemari hendak mencari kau, diam2 A Siu berkata pada Wi Ko ditempat sembunyinya itu.

Ya, sudah kuketahui ia akan datang kemari, herannya kenapa dia baru sekarang tiba, ujar Wi Ko tertawa.

Dalam pada itu baru Jing-ling-cu mengetahui maksud kedatangan To Hiat-koh itu, pikirnya, walaupun sastrawan she Wi itu barusan dikenal tapi sekali ia sudah hadir disini, sebagai tuan rumah aku harus konsekwen, aku menghadapi segala kemungkinan.

Maka sahutnya segera.

Ah Li-giam-ong hendaknya suka menerima usulku ini karena berkumpulnya kami disini justru perlu persatuan sesama kita untuk menghadapi lawan tangguh, maka sebelum peristiwa itu berakhir haraplah Li-giam-ong kesampingkan dahulu percekcokan pribadi!

Diam2 Wi Ko memuji akan sifat kesatria Jing-ling-cu itu, katanya pada A Siu.

Jing-ling Totiang nyata tidak kecewa sebagai tokoh yang dikagumi orang Bu-lim!

Sementara itu Tohiat-koh sudah berjingkrak karena sahutan Jing-ling-cu tadi, teriaknya sengit.

Jing-ling-cu yang kutanya adalah sastrawan keparat itu, jika benar dia berada disini, kau akan menyerahkan dia tidak?

Betapa sabarnya Jing-ling-cu, melihat kekerasan orang, dia menjadi gusar juga, sahutnya dingin.

Hm, siapa yang sudah berada ditempatku ini, rasanya tidak mudah orang hendak berbuat se-wenang2 padanya!

Walaupun aku tidak becus, sekalipun hancur lebur, demi kehormatan biarlah!

Jing-ling-cu bukan seperti manusia pengecut!

Karuan To Hiat-koh berjingkrak murka oleh tantangannya itu, rambutnya yang terurai itu se-akan2 mengak, jari tangannya yang merah darah itu, sudah lantas diangkat hingga ruas tulangnya bunyi kertikan, segera dia hendak menyerang.

Tahan dulu!

tiba-tiba terdengar seruan orang, tahu2 bayangan orang berkelebat, ditengah kalangan itu sudah bertambah seorang, dia bukan lain, adalah Wi Ko.

Keparat, akhirnya kau keluar juga!

bentak To Hiat-koh terus mencengkeram dengan jari tangannya yang sudah diangkat tadi.

Cengkeraman jari yang dilontarkan To Hiat koh itu terkenal dengan nama Kau-beng-jiu atau cakar pencabut nyawa yaitu sesuai pula dengan julukannya sebagai ratu akherat.

Kuku jari itu tampaknya putih bersih, tapi sebenarnya sudah direndam air 241 berbisa, sekali kena terpukul, racunnya meresap kedalam badan, tanpa keluar darah seketika orangnya terbinasa.

Akan tetapi dengan gesit sekali Wi Ko sudah menghindarkan cengkeraman itu.

Sedang Jing-ling-cu terus berseru .

To Hiat-koh, betapapun besarnya urusan, Ciok-yong-hong ini adalah kediaman Jing-ling-cu, mana boleh orang berlaku sewenang-wenang didepan mata hidungnya.

To Hiat-koh tertawa dingin, tapi demi dilihatnya dipihak orang begitu banyak jumlahnya, ia pikir gelagat tidak menguntungkan, maka jawabnya .

Apa kira aku jeri terhadap hidung kerbau macammu ?

Katakanlah apa kau minta satu lawan satu, atau hendak maju berbareng ?

Jing-ling totiang, seru Wi Ko sebelum Jing-ling-cu menjawab orang, sembelih ayam tak perlu pakai golok, bagi perempuan bawel macam dia, tak perlu totiang capekan diri !

To Hiat-koh menjadi murka dikatakan perempuan bawel, tanpa bicara lagi ia mencengkeram lagi kearah punggung Wi Ko yang rada mungkur itu.

Serangan itu cepat lagi tanpa suara, pula dilakukan diluar dugaan Wi Ko, semua orang ikut terkejut dan menyangka pasti sastrawan itu bakal celaka, untuk menolongnya juga tak keburu lagi.

Siapa nyana, seenaknya saja Wi Ko melangkah maju, maka cengkeraman To Hiat Ko itu luput mengenai sasaran, sekalipun demikian baju Wi Ko sobek juga sebagian.

Sungguh hebat, memang Kau-beng-jiau tidaklah tersohor kosong !

seru Wi Ko.

Diam2 To Hiat-koh sangat terkejut, serangan kilat dan ganas yang diandalkan itu, dengan enteng dapat dihindarkan oleh orang.

Keparat, siapa kau sebenarnya, kenapa mencuri gentaku ?

bentaknya kemudian.

Siapa diriku, rasanya tiada perlu kau tahu.

sahut Wi Ko dengan mata berkilat2.

Sedang untuk apa aku mencuri gentamu, kau sendiri cukup tahu !

Kata2nya itu diucapkan dengan tenang dan biasa saja, tapi bagi pendengaran To Hiat-koh, kata itu se-akan2 guntur disiang bolong.

Tangan yang sudah diangkat yang hendak menyerang pula seketika terhenti diudara, sedang wajah yang cantik penuh nafsu pembunuh itu, seketika pun lenyap dan berobah hebat.

242 Semua orang menjadi heran, mengapa kata-kata Wi Ko tadi, telah bikin iblis perempuan itu sedemikian terkejutnya.

Apakah mungkin siapa gerangan Wi Ko itu dapat diketahuinya, atau gurunya yang disegani ?

Siapa gurunya, apa mungkin Ki Go-thian yang bergelar Tok-po-kian kun itu ?

Akan tetapi dugaan mereka itu telah tersangkal oleh seruan To-Hiat-ko sesudah tertegun sejenak.

Jadi ....

jadi kau sudah mengetahui manfaat Tui-hun-kim-ceng (genta pembunuh nyawa)?

lagu suaranya itu lemas lesu, seakan-akan rahasia yang disekamnya sekian lama mendadak kena dibongkar orang.

Dalam pada itu Wi Ko hanya tersenyum tawar saja sambil mengangguk.

Darimana kau mengetahui ?

teriak To Hiat-koh pula dengan suaranya yang tajam melengking.

Nyata gusarnya sudah memuncak.

Kalau ingin orang tidak tahu, kecuali diri tidak berbuat!

ujar Wi Ko tertawa.

Apakah ada sesuatu dijagat ini dapat membohongi orang selamanya ?

Rupanya hati To Hiat-koh tergoncang luar biasa, kembali ia melangkah maju dan membentak lagi.

Kecuali kau siapa lagi yang mengetahui?

Hahaha, langit mengetahui, bumi mengetahui, kau tahu dan akupun tahu, apa masih kurang ?

sahut Wi Ko bergelak tertawa.

Baik dan untuk selanjutnya hanya langit tahu, bumi tahu, dan aku yang tahu !

seru To Hiat-koh.

Berbareng itu, jarinya yang merah membara itu terus mencengkeram kebatok kepalanya Wi Ko.

Ternyata sekali ini Wi Ko tak berkelit lagi, tapi mengebas lengan bajunya yang besar longgar itu keatas, hingga tangan To-Hiat-koh terlibat.

Maka terasalah To Hiat koh semacam tenaga maha besar merintangi cengkeramannya itu, tanpa pikir lagi kelima jari tangannya yang lain terus menjojoh kedepan pula mengarah lambung lawan.

Serangan ini sangat ganas sekali, asal sedikit tubuh Wi Ko kena kuku jarinya, seketika air racun akan meresap kedalam darah, kecuali obat pemunah To Hiat-koh sendiri, sekalipun malaikat dewata juga tak sanggup untuk mengobatinya.

Siapa tahu sebelah lengan baju Wi Ko tiba-tiba mengibas juga keatas, melibat tangan To Hiat-koh sembari melindungi badan sendiri.

Tahu akan betapa tenaga dalam lawannya itu, asal kedua tangannya itu semua terlibat oleh lengan baju orang mungkin 243 susah lepaskan diri lagi, maka sekuatnya To Hiat-koh menyampok kesamping, berbareng kakinya menutul terus membetot kebelakang.

Walaupun begitu tidak kuranglah terdengar suara krak, krak, krak tiga kali, To Hiat-koh sempat melompat mundur kebelakang tapi tiga kuku jarinya telah patah tertinggal dilibatan lengan baju Wi Ko.

Keruan To Hiat-koh terkejut dan berdiri terpaku ditempatnya dengan wajah pucat.

To Hiat koh, jengek Wi Ko dengan tertawa dingin, masih mujur bagimu, hanya kuku jarimu yang tercabut, belum lagi pergelangan tanganmu patah.

Gentamu berada disini, apa kau masih menginginkannya ?

To Hiat-koh benar-benar mati kutu, sungguh tak diduga bahwa lawan semuda itu sudah memiliki kepandaian sedemikian tingginya, kalau pertandingan diteruskan, rasanya tak menguntungkan, maka jawaban sambil berkekeh-kekeh .

Baik, genta boleh kau tahan, lihatlah apa yang bisa kau lakukan !

Habis berkata, sekali tubuhnya melesat, secepat kilat orangnya sudah berada belasan tombak jauhnya dan sekejap pula menghilang dibalik tebing sana, hanya ketinggalan suara tertawa yang tajam melengking.

Begitu To Hiat-koh angkat kaki, mendadak wajah Wi Ko berubah, ia berpaling kearah Jing-ling-cu terus menanya .

Jing-ling Totiang undanganmu pada seluruh jago Bu-lim ini bukankah tujuannya hendak mengenali manusia aneh yang kau ketemukan dipegunungan sini itu ?

Kecuali itu apakah Wi-heng tahu ada tujuan lain?

tiba2 Li Pong menyela.

Nyata dengan pertanyaan ini, Li Pong bermaksud akan memancing asal-usul dari orang, apa mungkin ada hubungannya dengan Ki Go-thian.

Siapa tahu, tiba2 Wi Ko mengerut alis dan menyemprot; Tujuan apalagi, aku tidak pusing, aku hanya ingin menanya Jing-ling Totiang, apakah orang aneh itu kini berada disini?

Betapa tinggi kedudukannya dan nama Li Pong dihormati dikalangan persilatan, belum pernah ia disemprot orang dihadapan umum, apa lagi orang muda seperti Wi Ko, karuan semua orang merasa orang she Wi itu rada kelewatan.

244 Benar juga mendadak lelaki jelek alias Hwe Tek yang berada disamping Li Pong itu, lantas tampil kemuka sambil ter-kekeh2 aneh, katanya dingin.

Hehe, selamanya justru aku paling suka pusing urusan orang lain, entah saudara mau apakah dariku?

Tertegun juga Wi Ko oleh sikap Hwe Tek itu, tapi segera katanya.

Apa maksudmu ini?

O, apa barangkali kau anggap kata-kataku kepada Liheng tadi rada kasar, bukan?

Emangnya apa kau kira halus?

sahut Hwe Tek.

Jika tahu salah, seorang kesatria harus berani mengaku keliru.

Mendengar perdebatan itu, Li Pong dan Jing ling-cu merasa keadaan bakal runyam, kedua orang itu pasti segera akan saling gebrak.

Diluar dugaan, mendadak Wi Ko terus berpaling kearah Li Pong sambil membungkuk badan katanya.

Ya, memang kata-kataku tadi kurang pantas, harap Liok-hap-tong-cu jangan ambil marah!

ternyata apa yang dikehendaki Hwe Tek itu telah diturutnya dengan baik.

Padahal terjadinya percekcokan dikalangan Bu-lim pada umumnya biasanya disebabkan menjaga muka saja, kalau semua orang mau berlaku jujur seperti Wi Ko, tentu segala percekcokan dapat dilenyapkan.

Li Pong sendiri menjadi likat melihat kejujuran Wi Ko itu, lekas-lekas ia membalas hormat dan berkata.

Ah, kenapa Wi-heng bersungguh-sungguh.

Permintaan maafku kepada Liok-hap-tongcu adalah timbul dari hatiku sendiri.

tiba2 Wi Ko berkata kepada Hwe Tek.

Tapi, jangan kau kira aku kena kau gertak, lalu turut perintahmu ?

Hm, walaupun asal usulmu sangat disegani, kalau ada kesempatan aku justru ingin belajar kenal padamu !

Hwe Tek menjadi gusar, tapi belum juga buka suara, se-konyong2 Wi Ko berseru .

Celaka.

berbareng orangnya terus melesat pergi, hanya beberapa kali lompatan, orangnya sudah lenyap ditempat gelap.

Sungguh aneh orang she Wi ini, tapi apa yang dia maksudkan celaka tadi ?

Ujar Li Pong tak mengerti.

Semua orang ter-heran2 juga macam2 dugaan dan tafsiran mereka, tapi tiada satupun pendapat mereka yang masuk diakal, sampai merekapun pada bubar kembali kepondoknya sendiri-sendiri untuk mengaso.

Hanya ketinggalan Si A Siu saja seorang diri masih termenung-menung diatas batu yang besar itu.

245 Kembali bercerita tentang Jun-yan yang kembali masuk gua untuk mencari kalau-kalau ada sesuatu tanda lain mengenai diri si orang aneh itu.

Gua itu terlalu gelap, walaupun dengan gemilang pedangnya Tun-kau-kiam, lapat2 jalanan gua itu masih dikenali, tapi hendak melihat jelas keadaan disitu terang tidak mungkin.

Ia hendak menyalakan api, tapi angin meniup santar diduga itu, tentu akan tersirap.

Tiba2 ia berpikiran lain, ia mundur kembali dan mendapatkan dua batang kayu, ia nyalakan dulu hingga berupa suatu obor besar, karena besarnya obor, tidaklah mudah sirap tertiup angin, dengan penerangan obor itu, dapatlah dilihatnya didalam gua itu penuh tumbuh macam-macam lumut dan jamur yang beraneka warnanya, malahan batu dinding gua itu macam2 bentuknya sampai jauh gua itu dimasukinya tapi tiada suatu tanda yang mencurigakan.

Sampai akhir ia tertarik oleh suatu tempat yang terdapat segundukan rumput kering yang sudah apak, karena lembabnya gua rumput kering itu sampai tumbuh jamurnya.

Dinding di samping rumput kering itu tiba2 tertampak banyak goresan tulisan yang serupa, yaitu kesana kemari melulu dua huruf saja, Jing-kin.

Jun-yan menduga tempat ini tentu dahulu digunakan manusia aneh itu sebagai kediamannya.

Ia coba menggunakan Tun-kau kiam untuk menjingkap rumput kering itu, diluar dugaan tiba-tiba pandangannya menjadi silau oleh sesuatu benda putih didalam rumput itu.

Waktu Jun-yan menegasi, kiranya itu adalah sebuah mutiara sebesar biji lengkeng, malah mutiara itu malah masih terdapat sebagian rantai emas yang sudah putus.

Cepat Jun-yan menjemputnya, tapi segera hatinya tergerak, ia merasa mutiara ini mirip benar dengan mutiara yang dipakai A Siu itu, keduanya sama-sama bersinar hingga bercahaya terang ditempat gelap, tanpa pikir ia masukkan mutiara itu kedalam bajunya lalu meneruskan pemeriksaannya dirumput itu, tapi tiada lagi yang diketemukan.

Yang ada hanya bau apak dari rumput kering yang sudah membusuk itu.

Dalam pada itu obor ditangannya sudah terbakar lebih separoh, kuatir obor itu mati sirap, Jun-yan tak berani tinggal disitu lama, segera ia bermaksud keluar kembali dari gua itu.

Tapi tidak seberapa jauh ia melangkah, sekonyong-konyong ia berhenti lagi, entah mengapa selalu ia rasa ada yang menguntit dibelakangnya, persis seperti dahulu ia dikuntit si orang aneh itu.

Ia pikir, jangan-jangan orang aneh itu telah kembali, ia menjadi girang, cepat ia berpaling dan serunya .

He, sobat aneh apa...

246 Akan tetapi belum lanjut parkataannya atau sesuatu tenaga yang maha besar sudah menyambar kemukanya.

Dalam keadaan tak berjaga-jaga, baiknya Jun-yan sudah makan empedu dari katak berwajah manusia didaerah Biau, Lwekangnya sudah jauh maju, cepat ia pinjam sambetan angin pukulan itu untuk ikut tergontai mundur ke luar.

Sekilas obornya memanjang terang, tetapi sekejap lantas padam oleh angin pukulan tadi.

Walaupun belum jelas apa yang terjadi, dan ilmu silat yang menyerang tinggi sekali.

Tak berani gegabah lagi, segera Tun-kau-kiam diputarnya untuk melindungi tubuhnya.

Siapa tahu, diantaranya sinar pedangnya yang rapat gemilapan itu, tahu-tahu sebuah tangan menerobos masuk mencengkeram dadanya.

Sungguh terkejut Jun-yan tidak kepalang, lekas-lekas ia balikkan pedangnya memotong ke bawah, dari sinarnya pedang yang terang itu sekilas dapat pula dilihatnya sebuah wajah yang aneh dan jelek luar biasa lagi berhadapan dengan dirinya.

Siapa lagi dia kalau bukan manusia aneh yang diduga Jun-yan dan selalu mengintil padanya itu.

Sama sekali tak tersangka oleh Jun-yan bahwa manusia aneh yang begitu menurut dan membela mati2an padanya, kini bisa mendadak menyerangnya malah.

Ia menjadi tertegun sejenak, dalam pada itu tangan si orang aneh sudah membalik pula hendak mencengkeram pundaknya, lihat serangan orang bukan pura2 belaka, Jun-yan terkejut, sukur dia masih sempat mengegos, hanya bajunya tersobek sebagian dan karena itu mutiara yang tersimpan dibajunya terjatuh ke tanah.

Mendengar suara jatuh benda itu tiba2 orang aneh itu merandek, dia menjemput mutiara itu, kesempatan ini telah digunakan Jun-yan untuk melompat mundur sejauh lebih setombak.

Ketika ia pandang orang aneh itu, ternyata mutiara itu lagi diciumnya dengan bibirnya yang sumbing itu.

Tidak lama orang aneh itu mendongak pula sambil mengeluarkan suara uh, uh, tak lampias, lalu kepalanya miring seperti lagi mendengar sesuatu.

Jun-yan tahu tentu orang sedang mendengarkan suara dimana dirinya berada, syukurlah sekarang dirinya sudah setombak lebih jauhnya dari orang aneh itu.

Perlahan2 ia coba menggeser lebih jauh.

Diluar dugaan sedikit dia bergerak, secepat kilat orang aneh itu menubruk maju lagi.

247 Belum dekat orangnya, angin pukulannya sudah membentur Jun-yan hingga badannya tertumbuk dinding gua, sampai tulang punggungnya terasa sakit sekali.

Lekas2 Jun-yan berdiam, sampai bernapas pun tak berani, kuatir didengar lagi oleh orang aneh itu.

Ia tahu pengliatan orang aneh itu sudah tidak ada, tapi pendengarannya justru tajam luar biasa, sedikit ia bersuara, segera akan diserang pula.

Benar juga untuk sesaat orang aneh itu kelihatan berdiri bingung sambil mendengarkan lagi.

Tapi sampai sekian lamanya, ia tidak mendengar apa2, ia bersuara Uh, uh lagi seperti tadi sambil menyeringai seram dengan bibirnya yang sumbing itu.

Untuk beberapa saat mereka sama2 berdiri diam, yang satu lagi pasang kuping hendak mencari sasarannya, yang lain menahan napas kuatir diterkam.

Sedang Jun-yan heran mengapa manusia aneh itu bisa berubah sikap terhadap dirinya, tiba2 ia menjadi sadar.

Yah, karena mata orang tak bisa melihat, hanya berdasarkan suara saja, padahal kini dia dalam penyamaran, suaranya juga sudah dibikin serak dengan obat-obatan sedikitnya juga harus belasan hari baru bisa pulih kembali.

Dengan sendirinya orang aneh itu sama sekali tidak tahu lagi berhadapan dengan siapa.

Tapi sebab apakah suaranya begitu menarik perhatian orang aneh itu?

Padahal merasa dirinya tak ada sangkut paut apa-apa dengan dia?

Segera teringat olehnya orang aneh itu suka menuliskan huruf Jing-kin .

Apakah itu nama seorang wanita, yang suaranya mirip benar dengan dirinya.

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 7

Baca Juga: Pusaka Pulau Es 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert