Ceritasilat Novel Online

Seruling Perak Sepasang Walet 7

Eps 7 Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung

Baca online Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung

Cersil Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung.

Karena itu dia harus baik-baik menyimpannya.

Kalau tidak, sulit baginya berhubungan intim dengan Ciok Giok Yin kelak.

Terdengar Bok Tiong Jin berkata lagi.

"Nona, silakan berjalan ke arah timur!"

Ciok Giok Yin langsung berkata.

"Adik Yong, baik-baik menjaga dirimu!"

"Kakak Yin, kau pun harus hati-hati!"

Mereka berdua saling menatap.

Manusia merasa paling berduka di saat berpisah, terutama berpisah dengan kekasih.

Tidak mengherankan mata mereka berdua berkaca-kaca, kemudian meleleh.

Berselang sesaat, barulah Ciok Giok Yin melesat pergi, tujuannya adalah Gunung Liok Pan San.

Sedangkan Seh Yong Yong juga sudah berangkat ke Gunung Kee Jiau San, dengan hati amat berduka lantaran berpisah dengan Ciok Giok Yin.

Sementara Ciok Giok Yin terus melesat ke arah utara, hari pun sudah mulai gelap.

Sejauh mata memandang, yang tampak hanya gununggunung yang menjulang tinggi ke langit.

Saat itu adalah musim semi, maka hembusan angin senja sungguh membuat hati orang terasa nyaman.

Panorama pun amat indah, namun Ciok Giok Yin sama sekali tidak menikmati keindahan alam, sebab dia ingin lekas-lekas tiba di Gunung Liok Pan San.

Berselang beberapa saat, perutnya mulai terasa lapar.

Dia berhenti lalu duduk di atas sebuah batu dan mengeluarkan sedikit makanan kering yang dibawanya.

Dia mulai makan sambil menikmati keindahan panorama.

Usai makan dia ingin melanjutkan perjalanan agar bisa tiba di tempat tujuan selekasnya.

Namun ketika dia baru bangkit berdiri, mendadak terdengar suara rintihan yang amat lemah.

Hati Ciok Giok Yin tersentak dan berpikir.

'Apakah ada orang terluka?' Karena merasa heran, membuat sepasang kakinya melangkah ke tempat suara rintihan itu.

Kira-kira lima puluh depa lebih, tampak seorang pengemis berusia lanjut berguling-guling di tanah, bahkan tangannya tak henti-hentinya menarik baju bagian dadanya.

Terlihat pula sebatang tongkat bambu hijau tergeletak di sampingnya.

Melihat keadaannya, dapat diketahui bahwa pengemis itu amat menderita.

Timbullah rasa iba dalam hati Ciok, Giok Yin.

Dia menghampiri pengemis itu, lalu membungkukkan badannya sedikit seraya bertanya.

"Lo cianpwee sakit?"

Pengemis berusia lanjut tidak menyahut, hanya terus menarik-narik bajunya yang telah sobek itu.

Akhirnya tampak dadanya yang bernoda darah bekas cakaran kukunya.

Hati Ciok Giok Yin tergetar.

Dia yakin bahwa pengemis itu pasti tokoh rimba persilatan.

Kalau tidak, bagaimana mungkin dia menderita sakit di tempat yang amat sepi ini?

Lagi pula kelihatannya pengemis itu mengindap penyakit aneh.

Ciok Giok Yin mengerti ilmu pengobatan, tentunya harus turun tangan memeriksa penyakitnya, tanpa peduli pengemis itu orang baik atau penjahat.

Karena itu jari tangan Ciok Giok Yin bergerak cepat menotok jalan darah bagian dada pengemis itu.

Seketika pengemis berusia lanjut tidak bergerak.

Perlahan-lahan sepasang matanya mengarah kepada Ciok Giok Yin, kemudian menyorotkan sinar aneh.

Berdasarkan sorot matanya Ciok Giok Yin bertambah yakin bahwa pengemis itu merupakan seorang tokoh rimba persilatan, bahkan memiliki lwee kang yang amat tinggi.

Namun Ciok Giok Yin justru tidak tahu jelas pengemis itu mengidap penyakit atau terluka.

Sebab itu dia bertanya.

"Lo cianpwee merasa tidak enak di mana?"

Pengemis berusia lanjut menyahut dengan suara lemah.

"Akhirnya kau harus kembali ke asal."

Ciok Giok Yin tertegun mendengar sahutan itu.

"Maksud lo cianpwee?"

Pengemis berusia lanjut menatapnya sejenak kemudian berkata perlahan-lahan.

"Ketika aku sedang duduk beristirahat, mendadak serangkum angin pukulan menerjang dari belakang, terasa pula hawa yang amat panas menyerang jantung."

"Selanjutnya bagaimana?"

"Terdengar suara siulan panjang, kemudian lenyap."

Ciok Giok Yin segera memeriksa nadi pengemis berusia lanjur, lalu air mukanya tampak berubah.

"Lo cianpwee terkena racun pukulan Soan Hong Ciang."

"Soan Hong Ciang?"

"Ya."

Pengemis berusia lanjut mengeluarkan suara.

"Hah?"

Wajahnya yang keriput itu tampak tegang dan serius. Itu pertanda dia tahu akan kelihayan ilmu pukulan Soan Hong Ciang. Mendadak sepasang matanya menyorotkan sinar yang penuh dendam.

"Ternyata adalah pewaris Sang Ting It Koay!"

Katanya sengit.

"Sang Ting It Koay memang punya seorang murid murtad,"

Sahut Ciok Giok Yin.

"Namanya Chiu Tiong Thau. Aku pengemis tua pernah dengar, dia adalah jago nomor wahid di dunia persilatan."

Ciok Giok Yin berpikir sejenak.

"Lo cianpwee, aku mengerti sedikit ilmu pengobatan. Untung luka lo cianpwee tidak begitu parah, maka tidak sulit untuk pulih."

Dia cepat-cepat mengeluarkan sebuah botol kecil berisi obat cair Giok Ju. Kemudian dituangnya dua tetes obat itu ke dalam mulut pengemis berusia lanjut seraya berkata.

"Lo cianpwee harus menahan derita. Aku akan menggunakan lwee kang perguruanku untuk mendesak ke luar racun itu agar lo cianpwee segera pulih."

Setelah berkata demikian, Ciok Giok Yin cepat-cepat menempelkan telapak tangannya di punggung pengemis berusia lanjut kemudian mengarahkan Sam Yang Hui Kang untuk mendesak ke luar racun yang bersarang di dada pengemis itu.

Terdengar suara rintihan dari mulut pengemis berusia lanjut.

Berselang beberapa saat, sekujur badan pengemis berusia lanjut telah basah oleh keringat.

Wajahnya meringis-ringis, tampaknya dia amat menderita.

Tak lama, kening Ciok Giok Yin juga mengucur keringat.

Saat ini mereka berdua dalam keadaan genting.

Apabila terganggu, pasti kedua-duanya akan cacat seumur hidup, bahkan mungkin akan mati sekarang.

Justru di saat genting itu sekonyongkonyong muncul empat sosok bayangan orang mendekati mereka berdua.

Keempat orang itu adalah Setan Tinggi, Setan Pendek, Setan Gemuk dan Setan Kurus dari perkumpulan Sang Yen Hwee.

Keempat setan itu saling memandang, kemudian tersenyum licik.

Setelah itu mereka berempat melangkah maju perlahan-lahan mendekati Ciok Giok Yin yang sedang mengobati pengemis berusia lanjut dengan menggunakan lwee kangnya.

Keempat setan itu merupakan pesilat tinggi di dunia persilatan, tentunya tahu keadaan Ciok Giok Yin dan pengemis tersebut.

Saat ini apabila mereka berdua terganggu, pasti akan membuat mereka berdua menderita cacat seumur hidup, bahkan kemungkinan besar kedua-duanya akan mati seketika.

Sementara Ciok Giok Yin sudah melihat kemunculan keempat setan itu.

Akan tetapi di saat genting seperti itu dia tidak bisa menarik kembali lwee kangnya.

Kalau dia menarik kembali lwee kangnya, pasti akan membuat pengemis berusia lanjut mati seketika dan dirinya sendiri juga akan menderita luka parah.

Pengemis berusia lanjut juga sudah tahu akan kehadiran keempat setan tersebut, dan itu membuatnya berpikir.

'Yang menolongku adalah pemuda berusia puluhan, sedangkan diriku sudah berusia lanjut.

Anak muda ini akan mati bersamaku.

Sungguh....

Pengemis berusia lanjut tidak pikir lagi.

Namun dia tidak berani bergerak sedikitpun, sebab kalau salah bertindak, bukan cuma dia yang akan mati, bahkan juga akan mencelakai pemuda tersebut.

Dapat dibayangkan betapa dukanya hati pengemis itu!

Sudah barang tentu menyebabkan badannya tergoncang sedikit.

Di saat bersamaan terdengar suara Ciok Giok Yin yang amat perlahan.

"Lo cianpwee, saat ini hati lo cianpwee tidak boleh tergoncang, kita pasrah saja!"

Ciok Giok Yin segera menambah lwee kangnya sehingga hawa panas terus mengalir ke dalam tubuh pengemis berusia lanjut melalui telapak tangannya.

Sementara keempat setan itu sudah semakin mendekat.

Terdengar jelas pula senjata si Setan Gemuk yang berupa Sui Poa terus berbunyi.

Plak!

Plaak!

Wajahnya tampak berseri licik, menengok ke kiri dan ke kanan seraya berkata dengan gembira.

"Kita empat bersaudara, hari ini akan memperoleh keuntungan besar!"

"Memang seharusnya bocah itu jatuh ke tangan kita! He he he..."

Sahut Setan Pendek.

Dia tertawa gelak sambil melangkah maju, begitu pula ketiga setan lainnya.

Kini jarak mereka berempat dengan Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut cuma tiga depa.

Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut betul-betul berada di ambang Akan tetapi saat ini Ciok Giok Yin sedang menyalurkan lwee kangnya, maka tidak bisa berbuat apa-apa.

Kalaupun usai mengobati pengemis berusia lanjut, dia tetap tidak mampu mengadakan perlawanan, sebab dia sudah kelelahan.

Perlahan-lahan si Setan Tinggi dan Si Setan Kurus mengangkat tangannya, yang satu mengarah pada Ciok Giok Yin dan yang satu lagi mengarah pada pengemis berusia lanjut.

elihatannya kedua setan itu sudah siap melancarkan pukulan ke arah Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut.

Mendadak si Setan Gemuk tertawa terkekeh dan berkata.

"Bagaimana kalau kita menyiksa bocah itu dulu biar dia merasakan...."

"Hati-hati dengan lidahmu itu!"

Sahut si Setan Pendek.

Si Setan Gemuk langsung diam.

Sedangkan si Setan Tinggi dan si Setan Kurus saling memandang, lalu menarik kembali tangan masing-masing.

Ternyata mereka berdua sudah mendengar perkataan si Setan Gemuk, mau menyiksa Ciok Giok Yin dulu.

Karena itu si Setan Tinggi menjulurkan jari tangannya, menotok jalan darah Siau Yan Hiat Ciok Giok Yin.

Di saat bersamaan mendadak dari arah samping menerjang dua rangkum angin pukulan yang amat dahsyat.

Boleh dikatakan bagaikan tindihan gunung dan terjang ombak, membuat Setan Tinggi cepat-cepat menarik kembali tangannya, tidak berani melanjutkan serangannya terhadap Ciok Giok Yin.

Sebab apabila dia melanjutkan serangannya, nyawanya pasti akan melayang.

Dia langsung mencelat ke belakang, diikuti ketiga setan lainnya.

"Ada apa?"

Tanya si Setan Gemuk.

"Ada hantu,"

Sahut si Setan Tinggi. Mendengar itu si Setan Gemuk tertawa gelak lalu berkata.

"Kita berempat adalah Si Sing Kui! Hantu yang mana pun melihat kita pasti kabur terbirit-birit! Kau memang tak berguna sama sekali!"

Si Setan Tinggi tidak menghiraukan perkataan si Setan Gemuk.

Sepasang matanya yang sipit menengok ke sana ke mari.

Sikap si Setan Tinggi itu membuat Si Setan Kurus tertawa terkekeh-kekeh, kemudian dia berkata menyindir.

"Hai! Jangan-jangan kau belajar ilmu pada sunio (Istri Guru)mu!"

"Suhunya adalah seorang penjual obat keliling!"

Sambung si Setan Gemuk.

"Wah! Aku sama sekali tidak tahu itu, beritahukanlah!"

Sela si Setan Pendek. Si Setan Kurus tertawa terkekeh lagi lalu menyahut.

"Dia punya dua suhu, kedua-duanya adalah tukang obat keliling dunia persilatan!"

"Dua suhu yang mana?"

Tanya si Setan Gemuk dan Setan Pendek dengan seretak. Setan Kurus melirik Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut sejenak lalu menyahut.

"Salah satu suhunya adalah penjual obat kuat, maka dia cuma bisa duduk bersemedi saja!"

"Suhunya yang satu lagi penjual obat apa?"

Tanya si Setan Gemuk.

"Wah! Suhunya yang satu lagi adalah penjual obat istimewa!"

Sahut si Setan Kurus dengan serius.

"Obat istimewa apa?"

Tanya si Setan Pendek.

"Obat anti senjata tajam...."

Di saat si Setan Kurus menyahut, si Setan Tinggi melancarkan serangan lagi ke arah jalan darah Siau Yun Hiat Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut.

Apabila jalan darah tersebut tertotok, maka Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut akan tertawa terbahak-bahak hingga mati.

Ketika jari tangan si Setan Tinggi hampir berhasil menotok jalan darah Sian Yun Hiat Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut, mendadak terdengar suara bentakan nyaring.

"Kau berani!"

Tampak sosok bayangan melesat ke luar laksana kilat dari balik sebuah batu besar, sekaligus melancarkan pukulan ke arah si Setan Tinggi.

"Gadis sialan, ternyata kau lagi!"

Bentak ketiga setan lainnya.

Ketiga setan itu menerjang ke arah gadis yang baru muncul.

Siapa gadis itu?

Tidak lain adalah Cou Ing Ing.

Demi menyelamatkan diri, si Setan Tinggi terpaksa mencelat ke belakang.

Setelah itu dia maju lagi untuk menotok jalan darah Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut.

Sesungguhnya keempat setan itu berasal dari satu guru.

Tadi ketiga setan itu berbicara menyindir, tidak lain hanya untuk memecahkan perhatian pendatang gelap itu, agar si Setan Tinggi dapat turun tangan terhadap Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut.

Di saat mereka berhasil, karena Cou Ing Ing terpancing keluar, maka ketiga Setan itu langsung menyerangnya.

Sedangkan si Setan Tinggi punya peluang untuk menyiksa Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut.

Akan tetapi di saat si Setan Tinggi baru mau turun tangan, mendadak melayang turun sesosok bayangan merah dan terdengar pula suara bentakan.

"Setan Tinggi, kau berani melukai adikku?"

Tampak bayangan telapak tangan berkelebat ke arah si Setan Tinggi, sehingga membuat si Setan Tinggi terdesak ke belakang.

"Heng Thian Ceng!"

Serunya kaget.

Ternyata yang baru muncul itu adalah Heng Thian Ceng.

Wanita iblis itu terus menyerang si Setan Tinggi dengan bertubi-tubi.

Di saat bersamaan terdengar suara siulan yang amat memekakkan telinga.

Siapa yang mengeluarkan suara siulan dahsyat itu?

Tidak lain adalah Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut.

Seusai Ciok Giok Yin mengobati pengemis berusia lanjut, mereka berdua beristirahat sejenak, kemudian mengeluarkan suara siulan, sekaligus menerjang ke arah ketiga setan yang mengeroyok Cou Ing Ing.

Mendadak si Setan Tinggi menjerit, kemudian lari terbirit-birit ke dalam lembah.

Ketiga Setan lainnya pun cepat-cepat melesat pergi.

Kini suasana di tempat itu berubah menjadi hening.

Ciok Giok Yin memandang Cou Ing Ing sambil berkata dengan penuh rasa haru.

"Adik...."

Sesungguhnya Ciok Giok Yin ingin memanggilnya 'Adik Ing', namun langsung berubah.

"Terimakasih atas bantuan Nona!"

"Kau merasa malu tidak? Aku ingin membunuhmu, bukan menyelamatkanmu!"

Sahut Cou Ing Ing dingin sambil melotot. Sekonyong konyong Heng Thian Ceng mendekatinya sambil membentak sengit.

"Gadis tak tahu diri! Kalau kau berani mengganggu seujung rambut adikku, aku pasti mencincangmu!"

Lantaran Heng Thian Ceng turut campur, justru membuat Cou Ing Ing semakin gusar.

"Aku mau memukulnya hingga mati, lihat kau bisa berbuat apa! Dasar tak tahu malu!"

Katanya. Dia langsung melancarkan serangan menggunakan tujuh bagian tenaganya ke arah dada Ciok Giok Yin. Pukulan yang dilancarkannya sungguh cepat melebihi kilat, bahkan amat dahsyat.

"Gadis sialan, nyalimu sungguh besar!"

Bentak Heng Thian Ceng.

Dia pun langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah Cou Ing Ing.

Sedangkan Ciok Giok Yin sama sekali tidak menduga bahwa Cou Ing Ing akan menyerangnya sedemikian cepat dan dahsyat.

Sementara pukulan yang dilancarkan Heng Thian Ceng juga amat cepat dan dahsyat, meluncur ke arah lengan Cou lug Ing.

Apabila lengan Cou Ing Ing terpukul, pasti akan remuk dan cacat seumur hidup.

Cou Ing Ing merupakan teman Ciok Giok Yin dari kecil.

Kalaupun gadis itu memukul Ciok Giok Yin tetap akan mengalah.

Namun Heng Thian Ceng justru adalah penolongnya.

Mereka berdua punya hubungan erat dengan Ciok Giok Yin.

Sudah jelas Ciok Giok Yin tidak menghendaki mereka berdua bertarung.

Oleh karena itu Ciok Giok Yin pun jadi nekad.

Dia langsung melesat ke tengah-tengah mereka agar mereka berdua menarik kembali pukulan masing-masing.

Namun tak disangka kedua pukulan itu menghantam Ciok Giok Yin.

Plaaak!"

Pukulan yang dilancarkan Cou Ing Ing mengenai bahunya, sedangkan pukulan yang dilancarkan Heng Thian Ceng mengenai rusuk kirinya. Terdengar suara jeritan.

"Aaaakh...!"

Ciok Giok Yin terhuyung-huyung ke belakang lima langkah lalu roboh.

"Uaaakh ! "

Dari mulutnya menyembur darah segar dan pandangannya berkunang-kunang, pertanda lukanya cukup parah.

Cou Ing Ing tertegun kemudian melototi Heng Thian Ceng dengan mata berapi-api.

Setelah itu mendadak dia melesat pergi dan dalam sekejap sudah tidak kelihatan bayangannya.

Heng Thian Ceng tidak menghiraukan kepergian Cou Ing Ing.

Dia segera mendekati Ciok Giok Yin dengan penuh perhatian.

"Adik, bagaimana keadaanmu?"

Tanyanya menepiskan tangan Heng Thian Ceng. Dia bangkit berdiri sendiri dengan sempoyongan. Pengemis berusia lanjut juga mendekati Ciok Giok Yin.

"Saudara Kecil, bagaimana rasamu?"

Tanyanya dengan penuh perhatian.

"Tidak apa-apa,"

Sahut Ciok Giok Yin sambil tersenyum getir.

Dia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi obat cair Giok Ju kemudian dituangnya dua tetes obat itu ke dalam mulutnya.

Di saat bersamaan Heng Thian Ceng berkata sengit.

"Adik, suatu hari nanti aku pasti membunuhnya demi membalas dendammu!"

Sedangkan pengemis berusia lanjut tampak terbengongbengong.

Ternyata dia tidak paham akan hubungan kedua orang itu.

'Bagaimana kedua orang itu saling memanggil kakak dan adik?' tanyanya dalam hati.

Ciok Giok Yin memandang Heng Thian Ceng, kemudian berkata.

"Cianpwee tidak usah mencemaskan urusanku dengan Nona Cou. Di antara kami tidak terdapat dendam apa pun. Cuma terdapat sedikit salah paham, bukan merupakan urusan besar."

Heng Thian Ceng mendengus.

"Hm! Adik, dia telah memukulmu, mengapa kau masih membelanya?"

Ciok Giok Yin menghela nafas panjang.

"Aku berhutang banyak padanya."

Keningnya tampak berkerut.

"Cianpwee, tidak baik bagi kita saling memanggil kakak dan adik."

"Adik, apakah... kau merasa sebal, karena wajahku buruk?"

Pengemis berusia lanjut bertambah tercengang. Dia merasa keberadaannya di tempat itu mungkin akan membuat mereka kurang leluasa berbicara. Maka dari itu dia berkata pada Ciok Giok Yin.

"Silakan kalian berdua bercakap-cakap! Saudara Kecil, aku pengemis tua menunggumu di depan sana."

Dia menyambar tongkat bambu hijaunya yang tergeletak di tanah, lalu melesat pergi dan tak lama sudah hilang dari pandangan Ciok Giok Yin.

"Siapa dia?"

Tanya Heng Thian Ceng.

"Akupun tidak jelas."

"Kalau begitu, kalian berdua tidak bersama?"

"Memang tidak."

"Bagaimana dia akan menunggumu di depan?"

"Itu pun aku kurang jelas!"

"Kalian berdua bertemu di mana?"

"Di tempat ini."

Heng Thian Ceng mengerutkan kening lalu memandang Ciok Giok Yin seraya bertanya lagi.

"Di tempat ini?"

Ciok Giok Yin mengangguk.

"Ng!"

"Lalu bagaimana kau bertemu Si Sing Kui?"

Ciok Giok Yin segera menceritakan tentang dirinya mengobati pengemis berusia lanjut. Setelah mendengar cerita itu, Heng Thian Ceng manggut-rnanggut.

"Ooooh! Kalau begitu, kau telah diselamatkan oleh gadis itu."

Dia menggenggam tangan Ciok Giok Yin erat-erat.

"Masih beruntung kau selamat!"

Tambahnya.

Hati Ciok Giok Yin tersentak.

Ternyata tangan Heng Thian Ceng amat halus.

Itu sungguh di luar dugaannya!

Sehingga tanpa segaja Ciok Giok Yin meliriknya.

Dan di saat bersamaan, secara reflek dia pun menggenggam tangan halus itu.

Setiap orang kalau suka pada suatu benda, pasti akan membuat hatinya tergerak dan membelainya.

Lantaran tangan Heng Thian Ceng amat halus, boleh dikatakan lebih halus dari tangan Cou Ing Ing atau tangan Seng Seh Yong Yong, menyebabkan Ciok Giok Yin balas menggenggam tangannya tanpa sadar.

Bersamaan itu sepasang mata Ciok Giok Yin menatap wajahnya, dan itu membuatnya cepat-cepat melepaskan tangannya.

Diam-diam Ciok Giok Yin menghela nafas panjang dan berkata dalam hati.

'Wajahnya begitu buruk, namun sepasang tangannya amat halus dan indah.

Sungguh sayang sekali!' Untuk menutupi sikapnya tadi, Ciok Giok Yin berkata.

"Kalau dia tidak muncul tepat pada waktunya, aku dan lo cianpwee itu pasti sudah mati di tangan Si Sing Kui."

Apa yang dikatakan Ciok Giok Yin justru tidak masuk ke dalam telinga Heng Thian Ceng.

Ternyata ketika tadi Ciok Giok Yin balas menggenggam tangannya, hati Heng Thian Ceng terus berdebar-debar dan dia pun merasa nyaman sekali.

Seketika Heng Thian Ceng berkata dalam hati.

'Ternyata dia suka padaku!' Di saat dia berkata dalam hati, Ciok Giok Yin justru melepaskan tangannya, bahkan tampak keningnya berkerut.

Mendadak Heng Thian Ceng menggenggam tangannya lagi sambil berkata perlahan-lahan.

"Adik, apakah kau begitu keras tidak mau memanggilku kakak?"

"Cianpwee, bukan aku tidak mau, melainkan tidak pantas. Sebab usia kita terpaut jauh, maka aku tidak boleh memanggil cianpwee kakak,"

Sahut Ciok Giok Yin.

"Jadi kau mengikuti adat istiadat itu?"

"Ini bukan adat istiadat, melainkan tata krama."

"Di dunia persilatan, bagaimana ada tata krama ini?"

Ciok Giok Yin tetap berkeras.

"Cianpwee, maafkan aku! Biar bagaimana pun aku tidak bisa memanggil Cianpwee kakak!"

Heng Thian Ceng tetap menggenggam tangannya.

"Adik, kau berkata apa pun, kakak tidak akan marah padamu."

"Cianpwee, hidup tidak terlepas dari tata karma, orang yang tidak tahu tata krama berarti orang itu tak berguna. Aku percaya cianpwee mengerti, maka aku tidak bisa memanggil cianpwee kakak."

Tak disangka Heng Thian Ceng malam tertawa cekikikan.

"Adik, memang benar katamu. Tapi agak berlebihan."

"Bagaimana agak berlebihan?"

"Memang agak berlebihan."

"Mohon petunjuk cianpwee."

"Apa yang kau katakan tadi memang benar dan masuk akal, namun apabila disepakati kedua belah pihak, itu pun termasuk tata krama."

Heng Thian Ceng menatapnya.

"Seandainya kita saling memanggil kakak dan adik, orang lain pun tidak akan mengatakan kita tidak benar."

Ciok Giok Yin tidak menyangka bahwa Heng Thian Ceng akan mengemukakan begitu banyak alasan, membuatnya nyaris tertawa geli.

Sedangkan Heng Thian Ceng mengira Ciok Giok Yin sudah setuju memanggilnya kakak.

"Adik, betul kan apa yang Kakak Katakan?"

"Cianpwee...."

Heng Thian Ceng langsung memutuskan perkataannya.

"Kok kau masih memanggilku cianpwee?"

"Biar bagaimana pun aku tidak berani memanggil cianpwee kakak,"

Sahut Ciok Giok Yin dengan tegas. Heng Thian Ceng mengerutkan kening hingga wajahnya tampak serius.

"Apakah kau anggap wajah kakak amat buruk?"

Ciok Giok Yin menggelengkan kepala.

"Cianpwee tidak usah banyak curiga. Pepatah mengatakan 'Menilai orang jangan berdasarkan wajahnya, haruslah berdasarkan hatinya'. Karena itu, aku tidak mempermasalahkan wajah cianpwee yang buruk."

Mendadak terdengar suara desiran angin di belakang mereka. Ciok Giok Yin dan Heng Thian Ceng segera menoleh, sekaligus mengerahkan lwee kang. Terdengar suara tawa gelak.

"Ha ha ha! Tak disangka Heng Thian Ceng juga berada di sini!"

Orang yang baru muncul itu, ternyata Te Hang Kay.

"Lalu kenapa?"

Sahutnya. Ciok Giok Yin khawatir mereka berdua akan bertarung, maka segera menjura seraya berkata.

"Lo cianpwee, tadi aku bertemu beberapa musuh tangguh, untung muncul Heng Thian Ceng cianpwee menyelamatkanku, maka kami bercakap-cakap di sini."

Te Hang Key pengemis tua itu menatap Heng Thian Ceng dengan sorot mata dingin.

"Khui Fang Fang, apakah kau sudah lupa katakata si Bongkok Arak?"

"Apa katanya?"

"Melarangmu bersamanya."

"Kau perduli amat?"

"Aku pengemis tua memang memperdulikan ini."

"Apa alasanmu?"

"Berdasarkan usiamu, sudah tidak pantas kau bersamanya."

Sepasang mata Te Hang Kay menyorot dingin lagi.

"Sekarang kau harus meninggalkan tempat ini!"

"Kalau aku tidak mau meninggalkan tempat ini?"

"Kau akan kumampusi!"

Heng Thian Ceng mendengus dingin.

"Hm! Kau mampu itu?"

"Lihat saja aku mampu atau tidak?"

Ketika Te Hang Kay baru mau melancarkan serangan, mendadak Ciok Giok Yin melangkah maju ke tengah-tengah mereka berdua seraya berkata.

"Lo cianpwee, kalau ada persoalan harap bicara baik-baik saja!"

Te Hang Kay yang sudah pasang kuda-kuda untuk menyerang Heng Thian Ceng berkata dengan suara dalam.

"Khui Fang Fang, kau boleh jadi ibunya! Tapi malah mendesaknya untuk memanggilmu kakak, sesungguhnya apa maksudmu itu? Apakah dua puluh tahun lalu...."

Dia memandang Ciok Giok Yin sejenak, tidak melanjutkan perkataannya.

"Siapa kau?"

"Aku pengemis tua Te Hang Kay!"

"Te Hang Kay?"

"Tidak salah! Mungkin kau belum mendengar! Tapi cepat atau lambat kau akan jelas!"

"Kau menyembunyikan kepala dan ekor, tidak berani menyebut nama aslimu, justru masih punya muka mencampuri urusan orang!"

"Urusan ini aku pengemis tua pasti mencampurinya!"

Sepasang mata Heng Thian Ceng membelalak lebar kemudian sepasang bola matanya berputar ke arah Ciok Giok Yin.

"Adik, katakanlah! Sebetulnya kau mengaku aku sebagai kakakmu atau tidak?"

Ciok Giok Yin jadi serba salah.

Di hadapan kedua orang itu, yang satu melarang Heng Thian Ceng bergaul dengannya, sedangkan yang satu lagi justru mendesaknya harus memanggil kakak.

Apa maksud kedua orang itu, sungguh membuatnya tidak hasib berpikir.

"Adik, katakanlah!"

Desak Heng Thian Ceng. Ciok Giok Yin tersenyum getir.

"Tentang urusan ini bagaimana kalau kita bicarakan kelak?"

Heng Thian Ceng manggut-manggut.

"Baik, kapan pun aku akan mencarimu."

Kemudian dia menatap Te Hang Kay dengan penuh kebencian, setelah itu barulah melesat pergi. Sesudah Heng Thian Ceng melesat pergi, Ciok Giok Yin bertanya pada Te Hang Kay.

"Lo cianpwee, apa sebabnya aku tidak boleh bergaul dengan Heng Thian Ceng? Bolehkah lo cianpwee menjelaskan?"

"Dia...."

Te Hang Kay cuma mengucapkan itu, lalu berhenti. Itu membuat Ciok Giok Yin bercuriga.

"Sebetulnya dia kenapa?"

"Pokoknya kau tidak boleh bergaul dengannya."

"Apakah lo cianpwee punya alasan?"

Te Hang Kay mengangguk.

"Tentu. Bagaimana mungkin aku pengemis tua akan membohongimu?"

Ucapannya.

"Berdasarkan usianya, dia boleh jadi ibumu. Kau bergaul dengannya, bukankah akan ditertawakan orang?"

"Sesungguhnya itu tidak jadi masalah,"

Sahut Ciok Giok Yin. Te Hang Kay mengerutkan kening.

"Kau tahu siapa dia?"

"Bukankah lo cianpwee memanggilnya Khui Fang Fang?"

"Tidak salah, namanya memang Khui Fang Fang. Dua puluh tahun yang lalu dia telah menggemparkan dunia persilatan, entah berapa banyak pendekar muda tergila-gila padanya."

Ciok Giok Yin terbelalak.

"Berdasarkan wajahnya itu?"

Serunya tak tertahan.

"Kau anggap dia tak sedap dipandang?"

Sahut Te Hang Kay.

"Wajahnya memang tak sedap dipandang."

"Keliru."

"Bagaimana keliru?"

"Dia memakai semacam kedok kulit. Kau tidak tahu itu?"

Ciok Giok Yin tertegun, sehingga sepasang matanya terbeliak lebar.

"Dia memakai semacam kedok kulit?"

"Tidak salah."

"Aku memang tidak tahu itu."

"Sesungguhnya dia amat cantik bagaikan bidadari. Mengenai usianya memang sudah ada, tapi aku percaya kecantikannya masih seperti berusia dua puluhan."

"Hah? Betulkah itu?"

Seru Ciok Giok Yin tak tertahan lagi.

"Tentunya tidak salah."

"Bagaimana dia merawat dirinya sampai bisa begitu?"

"Tidak bisa dikatakan merawat diri. Kemungkinan besar dia pernah makan semacam buah langka, maka dia tetap awet muda. Kalau tidak, bagaimana mungkin lwee kangnya begitu tinggi dan wajahnya tetap begitu cantik?"

"Bagaimana lo cianpwee tahu begitu jelas?"

"Ini...."

Te Hang Kay diam, tidak melanjutkan ucapannya. Ciok Giok Yin ingin agar teka-teki itu terungkap.

"Bagaimana?"

"Mengenai dirinya, kelak kau akan tahu perlahan-lahan."

Ciok Giok Yin tahu Te Hang Kay tidak bersedia menceritakan tentang itu, maka tidak mau mendesaknya.

Namun dia mengambil keputusan dalam hati, apabila bertemu Heng Thian Ceng lagi, dia akan berupaya membuka kedok yang dipakainya, agar tahu bagaimana parasnya.

"Sekarang aku tidak boleh tahu?"

"Tidak boleh."

"Mengapa?"

"Kalau kuberitahukan, tiada manfaatnya bagimu, bahkan sebaliknya malah akan mencelakaimu!"

Mendadak Ciok Giok Yin teringat akan satu hal, yaitu mengenai sebuah tahi lalat merah di dadanya.

Orang yang pertama menanyakan tentang itu adalah Te Hang Kay.

Karena itu pengemis tua itu pasti tahu akan asal-usulnya, maka Ciok Giok Yin bertanya.

"Lo cianpwee, sebetulnya siapa kedua orang tuaku? Bolehkah lo cianpwee memberitahukan?"

Te Hang Kay menggeleng-gelengkan kepala.

"Tetap seperti yang kukatakan dulu, kini tidak bisa diberitahukan."

"Mengapa tidak bisa diberitahukan?"

Wajah Ciok Giok Yin tempak murung.

"Tentunya lo cianpwee tahu jelas asal-usulku. Coba pikir, seorang hidup di dunia tidak tahu asal-usulnya dan tidak tahu kedua orang tuanya, bukankah amat menderita sekali? Apakah lo cianpwee tidak merasa iba padaku?"

Te Hang Kay menghela nafas panjang.

"Aku memang tahu sedikit, namun masih belum waktunya aku memberitahuan...."

Mendadak sepasang matanya menyorot aneh, lalu dia mengalihkan perkataannya.

"Sekarang kau mau ke mana?"

Ciok Giok Yin tahu percuma mendesaknya, maka dia menyahut.

"Ke Gunung Liok Pan San!"

"Gunung Liok Pan San?"

"Ya."

"Mau apa kau ke sana?"

Ciok Giok Yin memberitahukan tentang sepotong kain baju yang diperoleh dari Cou Kiong. Mendengar itu sepasang mata Te Hang Kay berbinar, lalu dia bertanya.

"Betulkah ada urusan itu?"

"Tidak salah."

Ciok Giok Yin segera memperlihatkan kain potongan itu.

Cukup lama Te Hang Kay memperhatikan kain potongan tersebut, namun sama sekali tidak menemukan rahasianya.

Akan tetapi Ciok Giok Yin yakin, kain potongan itu pasti ada hubungannya dengan asal-usulanya, mungkin juga berkaitan dengan jejak Seruling Perak.

Mendadak Te Hang Kay berkata.

"Dengar-dengar Thian Thong Lojin bersifat amat aneh, maka kau harus hati-hati dan berlaku sungkan padanya!"

Ciok Giok Yin mengangguk.

"Tentang itu aku sudah tahu."

Te Hang Kay mengembalikan potongan kain itu pada Ciok Giok Yin, dan berpesan.

"Kau harus baik-baik menyimpan kain potongan ini."

Ciok Giok Yin mengangguk lagi dan bertanya.

"Lo cianpwee mau ke mana?"

"Aku juga ingin mencari seseorang, sampai jumpa!"

Te Hang Kay langsung melesat pergi.

Sedangkan Ciok Giok Yin masih berdiri termangu-mangu.

Perasaannya agak tercekam karena Te Hang Kay, Si Bongkok Arak dan juga Seng Ciu Suseng, mertuanya itu, mengapa sikap mereka begitu misterius?

Padahal mereka bertiga tahu akan asal-usulnya, namun mengapa tidak bersedia memberitahukan padanya?

Mendadak tampak beberapa sosok bayangan melayang turun di hadapan Ciok Giok Yin, membuatnya langsung mengerahkan lwee kangnya, siap menghadapi segala mungkinan.

Ciok Giok Yin menatap mereka, ternyata pernah bertemu mereka di luar Goa Toan Teng Tong.

Mereka adalah Sin Ciang Yo Sian, Kang Sun Fang, ketua partai Heng San Pay dan tiga orang yang tidak dikenalnya.

Sin Ciang-Yo Sian adalah pemimpin mereka.

Dia maju selangkah seraya berkata dengan wajah dingin.

"Ciok Giok Yin, lohu ingin mengajukan satu pertanyaan."

"Silakan!"

Sin Ciang Yo Sian menegaskan.

"Kau harus menjawab sejujurnya."

Ciok Giok Yin tertegun.

Dalam benaknya langsung teringat pada Heng Thian Ceng dan Seruling Perak.

Sebab setengah tahun yang lalu mereka menghadang Ciok Giok Yin lantaran Heng Thian Ceng berjalan bersamanya, sehingga mereka bercuriga Seruling Perak telah berada di tangan Ciok Giok Yin.

Kini mereka muncul di hadapan Ciok Giok Yin, tentunya adalah dikarenakan urusan tersebut.

Namun Ciok Giok Yin belum memperoleh Seruling Perak, juga tidak bersama Heng Thian Ceng mencelakai dunia persilatan, maka dia menyahut tanpa merasa takut sedikitpun.

"Namun harus mendengar dulu pertanyaannya apa yang dilakukan itu!"

Sin Ciang-Yo Sian menatapnya tajam, kemudian bertanya.

"Apakah kau adalah keturunan Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie Goan?"

Ciok Giok Yin tertegun mendengar pertanyaan tersebut.

Dia sama sekali tidak menyangka Sin Ciang-Yo Sian akan mengajukan pertanyaan seperti itu.

Padahal tadi dia baru membicarskan tentang asal-usulnya dengan pengemis tua Te Hang Kay.

Setengah tahun yang lalu, Sin Ciang-Yo Sian pernah bersama Te Hang Kay, apakah pengemis tua itu tidak pernah memberitahukan pada mereka?

Kelihatannya mereka berlima tidak begitu jelas akan asal-usul Ciok Giok Yin.

Karena itu setelah tertegun sejenak, barulah Ciok Giok Yin menyahut.

"Maaf! Urusan ini tidak dapat kujawab."

"Lohu menginginkan jawabanmu yang jujur. Kau mau mengatakannya atau tidak, itu terserah,"

Kata Sin Ciang-Yo Sian.

"Aku mohon maaf, sebab aku sendiri pun kurang jelas."

"Kalau begitu, mengapa begitu banyak orang bilang kau adalah keturunannya?"

"Aku sama sekali tidak bilang begitu. Sebelum aku jelas akan asal-usulku, aku tidak mau omong sembarangan diriku keturunan siapa, harap kalian maklum!"

Wajah Sin Ciang-Yo Sian tampak kemerah-merahan. Ternyata dia tersindir oleh perkataan Ciok Giok Yin. Mendadak Kang Sun Fang, ketua Heng San Pay menyela.

"Saudara Yo, aku pernah mendengar seorang misterius menceritakan tentang Ciok Khie Goan setelah kawin. Suatu hari ketika sedang berlatih silat, tanpa sengaja dia merusak badan bawahnya sendiri, sehingga membuatnya tidak bisa berhubungan intim dengan istrinya. Apakah benar kejadian itu?"

"Itu memang benar, namun tidak begitu banyak orang tahu tentang itu. Kau tahu dari siapa?"

"Orang itu tidak mau menyebut namanya,"

Sahut Kang Sun Fang.

Ciok Giok Yin yang berdiri di situ tentunya mendengar semua percakapan mereka.

Ternyata dalam hatinya sedikit percaya dirinya adalah keturunan Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie Goan.

Namun kini setelah mendengar percakapan mereka, timbullah keraguan dalam hatinya.

Mendadak Sin Ciang Yo Sian bertanya pada Ciok Giok Yin.

"Sungguhkah kau tidak jelas?"

"Sungguh!"

"Ciok Giok Yin, kau adalah keturunannya atau bukan, itu tidak jadi masalah bagiku. Tapi aku dengar kau telah memperoleh sebatang Seruling Perak, bolehkah kami melihatnya?"

Kata Kang Sun Fang. Mendengar itu Ciok Giok Yin langsung tertawa dingin.

"Kalian Tayhiap berdua, dari tadi bicara panjang lebar cuma karena Seruling Perak. Namun sayang sekali, sebab hingga saat ini aku masih belum tahu Seruling Perak itu berada di mana."

"Benarkah kau belum memperoleh Seruling Perak itu?"

"Percaya atau tidak terserah Anda."

"Kau tahu di mana jejak Heng Thian Ceng?"

Di saat bersamaan mendadak melayang turun sosok bayangan merah dan terdengar pula suaranya.

"Bukankah Heng Thian Ceng sudah datang?"

Setelah itu terdengar lagi suara bentakan.

"Ada urusan apa kalian mencari Heng Thian Ceng?"

Kelima orang itu langsung menoleh. Sekujur badan mereka langsung merinding.

"Heng Thian Ceng!"

Seru mereka serentak. Mereka berlima melihat sepasang mata Heng Thian Ceng menyorot tajam dan dingin. Tiba-tiba Heng Thian Ceng menoleh memandang Ciok Giok Yin, lalu bertanya dengan lembut sekali.

"Adik, mereka menghinamu?"

Sesunggunya Ciok Giok Yin memang merasa tidak puas terhadap Sin Ciang-Yo Sian, Kang Sun Fang dan lainnya.

Namun setelah dipikirkan sejenak, dia pun menyadari bahwa semua kaum rimba persilatan memang ingin memperoleh Seruling Perak tersebut, lalu mengapa harus merasa tidak puas terhadap mereka?

Lagi pula dia tahu jelas, Heng Thian Ceng merupakan wanita ibilis yang membunuh orang tanpa mengedipkan mata.

Apabila dia salah bicara, tentunya Heng Thian Ceng akan membunuh kelima orang itu.

"Tidak, kami berada di sini cuma bercakap-cakap saja,"

Sahutnya. Heng Thian Ceng bertanya lagi.

"Mau diapakan mereka itu?"

Tanya Heng Thian Ceng lagi.

"Biarkanlah mereka pergi."

Heng Thian Ceng segera menoleh memandang kelima orang itu.

"Aku masih memandang muka adikku, cepatlah kalian enyah dari sini!"

Bentaknya.

Sin Ciang Yo Sian dan Kang Sun Fang adalah orang orang rimba persilatan yang sudah terkenal.

Bagaimana mereka dapat merima perlakuan Heng Thian Ceng?

Namun mereka tidak berani melawannya, cuma melototinya, kemudian Sin Ciang-Yo Sian menjura.

Setelah itu mereka berlima segera meninggalkan tempat itu.

Heng Thian Ceng memutar badannya mendekati Ciok Giok Yin.

"Adik, kakak tidak bisa meninggalkanmu!"

Katanya dengan lembut sekali. Seketika terlintas dalam benak Ciok Giok Yin, mengenai apa yang dikatakan pengemis tua Te Hang Kay.

"Kau secantik bidadari...."

Ciok Giok Yin tidak melanjutkan ucapannya, melainkan memperhatikan wajah Heng Thian Ceng yang amat buruk itu, namun tidak melihat kedok yang dipakainya.

Cuma kelihatan wajah buruk itu sama sekali tidak ada perasaan apa pun.

Kemudian Ciok Giok Yin memandang lehernya yang amat putih dan halus, sehalus dan seputih tangannya.

Karena itu ingin sekali rasanya Ciok Giok Yin menjulurkan tangannya melepaskan kedok yang dipakai Heng Thian Ceng.

Namun dia berkata pula dalam hati, 'Kau tidak boleh berbuat begitu, sebab orang semacam ini kalau sudah marah pasti tak berperasaan.

Mengapa harus melakukan kesalahan terhadapnya, yang akhirnya akan menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan!

Lebih baik dia sendiri yang melepaskannya.' Kemudian dia bertanya.

"Cianpwee tadi sudah pergi jauh?"

"Tidak begitu jauh. Setelah aku melihat pengemis tua yang menyebalkan itu pergi, barulah aku balik ke mari,"

Sahut Heng Thian Ceng. Dia menatap Ciok Giok Yin seperti ingin menelannya bulat-bulat.

"Adik maukah kau memanggilku kakak?"

Tambahnya dengan membalas sambil menjulurkan tangannya menggenggam tangan Ciok Giok Yin.

Sudah barang tentu jarak mereka menjadi bertambah dekat.

Sepasang daging menojol di dada wanita itu, sudah menekan dada Ciok Giok Yin.

Di saat bersamaan mulut Heng Thian Ceng juga menyemburkan aroma yang amat harum sekali.

Sedangkan Ciok Giok Yin sudah bergejolak darahnya, ditambah aroma harum dari mulut Heng Thian Ceng, membuat pikirannya menerawang, sehingga tanpa sadar dia langsung memeluknya erat-erat.

"Kakak! Kakak!"

Gumamnya. Badan Heng Thian Ceng tampak gemetar. Dia tampak seperti mabuk, sepasang mata merem melek dan mendesah.

"Adik! Adik!"

Setelah itu bibir mereka saling mendekat dan kemudian melekat menjadi satu.

Mereka melakukan ciuman mesra, bahkan saling memeluk seerat-eratnya.

Tentunya menimbulkan hawa nafsu birahi Ciok Giok Yin.

Barang yang ada di selangkangannya sudah berontak ingin menerobos ke dalam suatu tempat.

Akan tetapi mendadak Ciok Giok Yin teringat sesuatu dan langsung mendorong Heng Thian Ceng.

"Cianpwee, kita tidak boleh berbuat begini,"

Katanya dengan mata terbelalak. Dorongan yang tak terduga itu membuat Heng Thian Ceng terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah lalu berdiri tertegun. Sesaat kemudian barulah dia berkata.

"Adik, mengapa tidak boleh?"

Ciok Giok Yin tidak berani menatapnya.

"Cianpwee adalah penolongku, bagaimana aku boleh berlaku kurang ajar terhadap cianpwee?"

Sahutnya dengan kepala tertunduk. Heng Thian Ceng maju dua langkah seraya berkata.

"Adik, jangan berkata demikian lagi. Sejak pertama kali melihatmu di Goa Toan Teng Tong, aku sudah merasa suka padamu. Asal Adik membutuhkan, Kakak pasti menyerahkan."

Pikiran Ciok Giok Yin mulai menerawang lagi, namun jawabnya berlawanan.

"Tidak boleh."

"Mengapa? Kau kira aku akan membohongimu?"

"Tidak sih."

"Kalau begitu, apa alasanmu?"

Tercium lagi aroma yang amat harum dari mulut wanita bertubuh sintal itu.

Ciok Giok Yin segera menutup pernafasannya, tidak berani mencium aroma harum tersebut, khawatir tidak dapat mengendalikan hawa nafsu birahinya, yang akhirnya akan mencelakai Heng Thian Ceng dan mencelakai diri sendiri.

Karena itu Ciok Giok Yin segera mengarahkan pandangannya ke tempat lain, tidak berani beradu pandang dengannya.

Mendadak Heng Thian Ceng menjulurkan tangannya lalu ditaruh di atas bahu Ciok Giok Yin.

"Adik, aku mengerti,"

Katanya. Tanpa sadar Ciok Giok Yin membalikkan kepalanya.

"Mengerti apa?"

Tanyanya sambil menatapnya.

"Apakah kau anggap paras Kakak amat buruk?"

Hati Ciok Giok Yin tergerak.

"Cianpwee...!"

Serunya tertahan. Namun Heng Thian Ceng tidak membiarkan Ciok Giok Yin melanjutkan ucapannya langsung memutuskannya.

"Berdasarkan wajah seseorang, tidak dapat menilai baik buruk orangnya. Kalau buruk di luar indah di dalam, justru tidak bisa dikatakan buruk. Apabila indah di luar, namun hatinya bagaikan ular beracun, tidak dapat dikatakan indah. Adik, aku akan menutur sebuah cerita."

"Sebuah cerita?"

"Ya."

"Cerita apa?"

Heng Thian Ceng menatap Ciok Giok Yin dengan mata berbinar-binar.

"Adik, kau pernah membaca cerita tentang Cuang Cu?"

"Pernah."

"Dalam cerita Cuang Cu, terdapat seorang bernama Yo Cu Sianseng yang amat kikir. Sampai di Negeri Song, dia tinggal di sebuah penginapan. Majikan penginapan punya dua istri, yang satu cantik dan satu lagi buruk....". Heng Thian Ceng tersenyum.

"Justru amat mengherankan, karena majikan penginapan itu amat menyayangi istri yang buruk rupa, sebaliknya malah tidak memperdulikan istri yang cantik. Tentunya mencengangkan Yo Cu Sianseng, maka dia bertanya pada majikan penginapan apa sebabnya? Majikan penginapan menjawab, yang cantik itu amat angkuh dan bertingkah, maka dia tidak tahu di mana letak kecantikannya. Sedangkan yang berparas buruk, amat tahu diri dan penurut. Karena itu majikan penginapan itu jadi lupa parasnya yang buruk itu. Setelah mendengar jawaban majikan penginapan, Yo Cu Sianseng manggut-manggut. Sesudah itu Yo Cu Sianseng berkata. 'Aku kikir lantaran ingin hemat untuk diri sendiri, bukan berarti tidak mau membantu orang lain. Kelakuan yang baik dan berhati bijak, justru tidak dapat dinilai dari wajah!' Nah, Adik! Kau bilang betul tidak?"

Ciok. Giok Yin tertegun. Dia tidak menyangka Heng Thian Ceng yang kedua tangannya penuh noda darah, malah tahu akan cerita tersebut. Sebab itu Ciok Giok Yin manggutmanggut.

"Memang benar, tapi...."

Ciok Giok Yin tidak melanjutkan ucapannya. Sepasang matanya turus menatap wajah Heng Thian Ceng. Heng Thian Ceng tercengang dan segera bertanya.

"Kenapa? Katakanlah! Kakak tidak akan marah."

"Cianpwee selalu membantuku, aku amat berterimakasih...."

Belum juga Ciok Giok Yin usai berkata, Heng Thian Ceng sudah memutuskannya.

"Panggil Kakak, aku tidak mau dengar kamu memanggilku cianpwee lagi! Ayo! Panggil, panggil...."

Ciok Giok Yin betul-betul terdesak, akhirnya terpaksa memanggilnya.

"Kakak!"

Heng Thian Ceng tertawa gembira. Suara tawanya amat merdu bagikan kicau burung di pagi hari.

"Ini baru adikku yang baik,"

Katanya.

"Tapi Kakak tidak jujur padaku."

Ucapan ini membuat Heng Thian Ceng tertegun.

"Bagaimana Kakak tidak jujur padamu?"

Tanyanya heran. Ciok Giok Yin menuding wajah wanita itu seraya menyahut.

"Kau memakai kedok kulit, maka aku tidak bisa melihat wajah aslimu."

Heng Thian Ceng mundur selangkah, kemudian bertanya dengan suara bergetar.

"Adik, kau dengar dari siapa?"

"Aku bisa melihat."

Heng Thian Ceng menggelengkan kepala.

"Tidak benar. Kau pasti tidak dapat melihat. Sebetulnya siapa yang memberitahu?"

"Sudah kukatakan, aku yang melihat sendiri."

Sepasang bola mata Heng Thian Ceng berputar.

"Aku tidak percaya. Mungkin pengemis bau itu. Sebetulnya siapa pengemis bau itu?"

Hati Ciok Giok Yin tergerak dan membatin. 'Te Hang Kay tahu masa lalunya, tentunya Heng Thian Ceng juga tahu tentang Te Hang Kay. Tentang siapa kedua orang tuaku, tidak sulit kupancing dari mulutnya."

Karena itu, dia menyahut.

"Te Hang Kay."

"Te Hang Kay?"

Ciok Giok Yin mengangguk.

"Ya."

"Siapa nama aslinya?"

"Apakah kau tidak tahu siapa dia?"

Heng Thian Ceng menggelengkan kepala.

"Aku tidak pernah dengar. Apakah kau juga tidak jelas?"

"Ya."

"Aku percaya dia memakai nama palsu,"

Kata Heng Thian Ceng setelah berpikir sejenak. Kemudian dia menatap Ciok Giok Yin.

"Adik, karena urusan inikah tadi kau menolakku?"

"Setengah memang ya."

"Setengah? Maksudmu?"

"Karena tubuhku tidak seperti orang biasa."

"Adik, jangan membuatku bingung. Jelaskanlah!"

"Tentunya kau masih ingat akan kejadian perebutan benda pusaka di dalam Coa Cian Hud Tong, bukan?"

"Tidak salah. Ketika itu kakak tahu kau berada di dalam, maka kakak menghalangi orang-orang yang ingin menerobos ke dalam. Kemudian kau ke luar, dan diselamatkan oleh orang tua bongkok."

"Coba terka aku memperoleh benda pusaka apa?"

"Katakanlah!"

"Sebutir Pil Api Ribuan Tahun."

Ciok Giok Yin tidak memberitahukan tentang kertas yang berisi ilmu Jari Darah itu.

Heng Thian Ceng sudah lama berkecimpung di duna persilatan, tentunya pengetahuannya amat luas dan tahu pula mengenai Pil Api Ribuan Tahun.

Maka dia tertegun tak bersuara sama sekali.

Namun hatinya terus berdebar-debar tidak karuan.

Ciok Giok Yin nyaris tertawa menyaksikan sikap Heng Thian Ceng.

Mendadak wanita itu berseru.

"Hah? Pil Api Ribuan Tahun?"

Ciok Giok Yin mengangguk.

"Ya."

Heng Thian Ceng termangu-mangu, beberapa saat kemudian barulah bertanya.

"Adik, apakah kau tidak akan kawin seumur hidup?"

Ciok Giok Yin menghela nafas panjang.

"Terpaksa harus begitu."

Ciok Giok Yin khawatir Heng Thian Ceng akan mendesak dengan pertanyaan lain, maka cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.

"Bolehkah Kakak melepaskan kedok itu?"

Heng Thian Ceng mengangkat sebelah tangannya. Namun ketika baru mau melepas kedoknya, tiba-tiba dia menurunkan tangannya lagi, lalu bertanya kepada Ciok Giok Yin.

"Adik, betulkah kau menilai orang berdasarkan wajah?"

"Yang jelas, aku harus melihat wajahmu."

Heng Thian Ceng manggut-manggut.

"Adik, Kakak mengabulkan permintaanmu."

Usai berkata, Heng Thian Ceng langsung melepaskan kedok kulit yang pakainya.

Seketika sepasang mata Ciok Giok Yin bersinar terang, namun sekujur badannya tergetar.

Ternyata di hadapannya muncul seorang wanita muda berusia dua puluhan, parasnya sungguh amat cantik sekali, boleh dikatakan bagaikan bidadari yang baru turun dari khayangan.

Lelaki mana yang melihatnya, pasti terpukul dengan pikiran menerawang.

Begitu pula Ciok Giok Yin.

Dia menatap Heng Thian Ceng dengan mata terbelalak dan mulut ternganga lebar.

Berselang sesaat, dia berseru memanggilnya.

"Kakak!"

Dia langsung memeluk Heng Thian Ceng erat-erat.

Di saat bersamaan, Heng Thian Ceng mengenakan kedoknya lagi, sehingga wajahnya tampak buruk kembali.

Heng Thian Ceng bagaikan seekor domba, mendekap di dada Ciok Giok Yin, kelihatan lembut sekali.

Dia seorang wanita iblis yang sering membunuh orang, namun saat ini justru berubah menjadi amat lembut dan jinak.

Sepasang matanya terpejam merasakan kenikmatan ini.

Hatinya juga merasa amat nyaman.

Dia telah kehilangan gairah untuk berkecimpung di dunia persilatan lagi, ingin bersama 'Adik Yin' ini, hidup di suatu tempat sepi untuk melewati hari-hari yang indah hingga tua.

Puluhan tahun dia berkecimpung di dunia persilatan, tidak pernah bersungguh-sungguh menyukai lelaki.

Namun kini dia justru rela menyerahkan dirinya pada Ciok Giok Yin.

Sedangkan Ciok Giok Yin memang telah tergiur oleh kecantikannya.

Dia sama sekali tidak menyangka bahwa di balik wajah yang buruk itu, terpadat paras yang amat cantik bagaikan bidadari.

Dia terus memeluk Heng Thian Ceng erat-erat, seakan ingin menyatukan diri.

Dia telah melupakan usia Heng Thian Ceng, yang boleh dikata seusia ibunya.

Dan juga lupa akan pesan Te Hang Kay dan Si Bongok Arak, melarangnya bergaul dengan Heng Thian Ceng.

Dia lupa pula akan tunangannya, Seh Yong Yong dan pesan terakhir Cak Hun Ciu, yang telah menjodohkan putrinya padanya.

Bahkan dia juga melupakan janjinya pada Bok Tiong Jin, bahwa hatinya harus diserahkan padanya.

Pokoknya di saat ini dia telah lupa segala-galanya, termasuk dendam yang harus dibalasnya.

Papatah mengatakan bahwa Kecantikan Tidak Memikat Orang, Justru Orang Terpikat Sendiri Oleh Kecantikan.

Ciok Giok Yin terpikat oleh kecantikan Heng Thian Ceng, hingga lupa diri, lupa daratan dan lupa segala-galanya.

Dalam hatinya cuma terdapat satu bayangan, yaitu Heng Thian Ceng.

Kini walau pun Heng Thian Ceng telah memakai kedok kulit yang amat buruk, namun di depan mata Ciok Giok Yin tetap muncul wajah yang amat cantik.

Mendadak terdengar suara lirih yang tergetar-getar.

"Adik, sungguhkah kau menyukaiku?"

"Kakak, aku rela jadi budakmu, rela demi dirimu...."

Heng Thian Ceng sudah tahu apa yang akan dikatakan Ciok Giok Yin, maka dia segera menutup mulutnya dengan jari tangan yang amat halus dan indah itu, kemudian berkata dengan lembut.

"Adik, untuk apa kau harus bersumpah?"

Setelah itu dia melanjutkan.

"Dunia persilatan penuh bahaya dan kelicikan. Alangkah baiknya kita pergi ke suatu tempat yang sepi, hidup bersama selamanya di sana. Bagaimana?"

Bukan main girangnya Ciok Giok Yin! "Sungguhkah itu, Kakak?"

Tanyanya dengan mesra.

"Tentu sungguh! Bahkan aku pun akan melahirkan beberapa anak untukmu."

Saat ini Heng Thian Ceng telah lupa akan tubuh Ciok Giok Yin yang tidak seperti orang biasa.

Sebab di dalam tubuhnya terdapat daya hisap yang amat kuat apabila berhubungan intim dengan kaum wanita.

Karena itu, wanita yang berhubungan intim dengannya harus mengerti Im Yang Cin Koy, barulah dapat melayaninya.

Namun itu pun tidak cukup satu wanita, harus beberapa wanita barulah mampu melayani Ciok Giok Yin dalam hal hubungan intim.

Di saat ini Ciok Giok Yin telah menudukkan kepalanya.

Dengan mesra diciumnya bibir Heng Thian Ceng.

Sedangkan bibir Heng Thian Ceng juga menyambut bibir Ciok Giok Yin dengan penuh kemesraan dan kehangatan, sehingga mengeluarkan suara.

Cup!

Cuuup!

Ciuman itu membuat sekujur badan mereka tergetar, kemudian perlahan-lahan api nafsu birahi mulai berkobar-kobar pada diri mereka, sehingga membuat mereka merasa tidak tahan.

Di saat Ciok Giok Yin ingin melepaskan pakaiannya, mendadak terdengar suara desiran baju di belakang mereka.

Meskipun mereka telah terbakar oleh kobaran api birahi, namun pendengaran mereka tetap tajam.

Mereka segera memisahkan diri, sekaligus menoleh ke belakang.

Seketika, wajah Ciok Giok Yin berubah menjadi merah ke telinganya, saking merasa malu.

Jilid 16

"Lo cianpwee...!"

Serunya tak tertahan. Orang yang baru datang itu tertawa terbahak-bahak lalu berkata.

"Maaf, siauhiap! Aku pengemis tua renta muncul tidak tepat pada waktunya, maaf!"

Ternyata orang itu adalah pengemis berusia lanjut yang diselamatkan Ciok Giok Yin.

Tadi dia pergi, tapi kemudian kembali lagi.

Untung Heng Thian Ceng memakai kedok kulit, maka orang lain tidak dapat melihat bagaimana perubahan wajahnya.

Dengan rasa jengah Ciok Giok Yin bertanya.

"Lo cianpwee kok belum pergi?"

Pengemis berusia lanjut melirik Heng Thian Ceng sejenak, kemudian menyahut.

"Aku telah menerima budi pertolongan siauhiap, bagaimana mungkin pergi begitu saja? Aku menunggumu di depan, tapi tidak melihat kau muncul. Aku khawatir kau bertemu musuh, maka aku segera ke mari. Siapa sangka.... Ha ha ha!"

Suara tertawanya menyebabkan mereka berdua merasa tidak enak. Mendadak Heng Thian Ceng berkata.

"Adik, aku tunggu kau di jalan depan itu."

Badannya bergerak, langsung melesat pergi.

Begitu dia pergi, Ciok Giok Yin merasa kehilangan.

Diam-diam Ciok Giok Yin mencaci pengemis berusia lanjut dalam hati.

'Dasar tua pikun, tidak tahu urusan sama sekali!' Akan tetapi wajahya tidak memperlihatkan reaksi apa pun.

Berselang sesaat, dia berkata kepada pengemis berusia lanjut dengan nada halus.

"Terimakasih lo cianpwee."

Pengemis berusia lanjut tersenyum lalu menyahut.

"Aku telah menerima budi pertolongan siauhiap, namun masih belum tahu nama siauhiap."

"Namaku Ciok Giok Yin. Siapa sebutan lo cianpwee?"

"Sudah lama aku melupakan namaku, namun teman-teman rimba persilatan memberikan julukan Tek Cang Sin Kay (Pengemis Sakti Tongkat Hijau)."

Ciok Giok Yin tidak pernah mendengar tentang para tokoh rimba persilatan yang terkenal, maka terhadap julukan Tek Cang Sin Kay ini, terasa asing baginya. Namun dia tetap berkata.

"Sudah lama kudengar nama besar lo cianpwee."

Tak disangka Tek Cang Sin Kay malah menghela nafas panjang, sambil berkata.

"Aku menyendiri 'di tempat sepi selama dua puluh tahun lebih. Lantaran urusan kecil aku terpaksa muncul lagi di dunia persilatan. Justru terkena serangan gelap, bahkan sama sekali tidak tampak bayangan penyerang gelap itu. Sungguh... memalukan sekali!"

Usai berkata, dia menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela nafas panjang lagi.

"Itu adalah perbuatan orang rendahan lo cianpwee tidak usah berduka karena itu,"

Kata Ciok Giok Yin menghiburnya. Tek Cang Sin Kay menggelengkan kepala lalu menyahut.

"Itu pertanda aku pengemis tua renta sudah tak berguna lagi."

Sepasang matanya memancarkan sinar.

"Saudara Kecil!"

Serunya perlahan.

"Ada urusan apa, katakan saja lo cianpwee!"

"Kalau Saudara Kecil tidak merasa keberatan, harap panggil aku saudara tua saja."

"Itu mana boleh!"

Sahut Ciok Giok Yin dengan terbelalak.

"Kalau Saudara Kecil terus-menerus memanggilku lo cianpwee, akan membuatku tiada tempat berpijak lagi,"

Kata pengemis itu sambil tersenyum. Ciok Giok Yin tahu, apabila berkeras menolak, pasti akan membuat pengemis itu serba salah, bahkan juga perasaannya akan tersinggung. Oleh karena itu, dia berkata.

"Baik, siaute (Adik) menurut pada lo koko (Saudara Tua) saja. Lo koko ingin mengatakan sesuatu, katakan saja!"

Wajah Tek Cang Sin Kay berseri-seri.

"Saudara Kecil, yang kau lihat itu adalah Sam Yang Hui Kang?"

Ciok Giok Yin mengangguk.

"Ya."

"Suhumu adalah...."

"Suhuku bernama Cu Wei To."

"Julukannya adalah Sang Ting It Koay?"

"Ya."

"Aku pernah mendengar nama besar suhumu, namun sayang tidak pernah berjumpa. Entah sekarang tinggal di mana suhumu?"

Wajah Ciok Giok Yin berubah menjadi murung.

"Suhuku telah meninggal."

"Sudah meninggal."

"Ya."

"Walau aku tidak pernah berjumpa suhumu, tapi aku tahu jelas dia berjiwa satria. Tak disangka dia telah meninggal. Rupanya aku tidak harus muncul di dunia persilatan lagi."

"Mengapa lo koko menjadi tak bersemangat?"

Tek Cang Sin Kay menghela nafas panjang lalu berkata.

"Saudara Kecil, gelombang belakang mendorong gelombang depan. Karena itu, sudah waktunya aku mengundurkan diri, tidak boleh berkecimpung di dunia persilatan lagi."

Dia menatap Ciok Giok Yin.

"Kau berbakat luar biasa, maka harus bisa menjaga diri. Mengenai murid murtad suhumu itu, harus dibasmi agar suhumu bisa tenang di alam baka."

Usai berkata, dia merogohkan sebelah tangannya ke dalam bajunya. Sedangkan sepasang mata Ciok Giok Yin menyorot dingin, kemudian berkata.

"Aku tidak akan melepaskan murid murtad suhuku itu!"

Tek Cang Sin Kay tidak menyahut apa-apa. Dia mengeluarkan sepotong belahan bambu berukuran sejengkal lalu berkata.

"Saudara Kecil, ini adalah tanda perintah Tianglo (Tetua) Kay Pang. Melihat tanda perintah ini seperti melihat orangnya. Kau berkelana di dunia persilatan, amat membutuhkan benda ini, Lo koko menghadiahkan padamu. Apabila kau membutuhkan bantuan Kay Pang, perlihatkan saja tanda perintah ini, para anggota Kay Pang pasti menuruti perintahmu."

Ciok Giok Yin menggelengkan kepala.

"Lo koko, mana berani siaute menerima?"

"Saudara Kecil, terimalah dulu dengarkan perkataanku! Mungkin Kay Pang juga akan minta bantuanmu. Saat itu, harap kau bersedia memberi bantuan pada Kay Pang!"

Ciok Giok Yin melihat wajah Tek Cang Sin Kay amat serius, maka diterimanya tanpa perintah itu seraya berkata.

"Seandainya Kay Pang membutuhkan bantuanku, walau harus menerjang lautan api, pasti kulakukan!"

Usai berkata, Ciok Giok Yin memperhatikan tanda perintah itu yang merupakan sepotong belahan bambu.

Ternyata tanda perintah itu berukura seekor naga dan di bagian dalamnya terukir beberapa huruf yang menyerupai huruf-huruf bervariasi.

Maka Ciok Giok Yin tidak mengenal huruf-huruf tersebut.

"Terimakasih, Saudara Kecil,"

Kata Tek Cang Sin Kay. Pengemis berusia lanjut tahu bahwa Ciok Giok Yin sedang memperhatikan tanda perintah itu, maka dia segera berkata lagi.

"Tanda perintah itu berukiran huruf-huruf Chu. Turuntemurun tiada seorang pun tahu apa arti huruf-huruf itu. Kalau Saudara kecil punya kesempatan mengenal huruf-huruf itu kelak, boleh diterjemahkan untuk mengungkap teka tekinya."

Ciok Giok Yin manggut-manggut.

"Siaute akan berusaha."

Tek Cang Sin Kay tersenyum, lalu merogoh kedalam bajunya mengeluarkan dua botol kecil.

"Saudara Kecil berkelana dalam rimba persilatan, pasti punya musuh dari golongan hitam. Kebetulan dulu lo koko memperoleh dua botol obar rias wajah, lo koko hadiahkan padamu."

Tek Cang Sin Kay juga memberitahukan cara menggunakannya.

Bukan main girangnya Ciok Giok Yin, karena obat rias wajah tersebut memang amat berguna bagi dirinya.

Maka, disimpannya baik-baik tanda perintah dan dua botol obat rias wajah itu ke dalam bajunya.

Setelah itu dia berkata.

"Lo koko sedemikian menyayangi siaute, entah harus bagaimana siaute membalasnya?"

"Saudara kecil berkata demikian, lo koko merasa berat sekali."

"Memangnya kenapa?"

"Mengenai urusan lo koko dengan Saudara Kecil tentunya akan lo koko memberitahukan pada ketua Kay Pang. Setelah itu, lo koko akan hidup tenang di tempat sepi dan selamanya tidak akan muncul lagi. Saudara Kecil, jaga dirimu baik-baik! Sampai jumpa!"

Usai berkata Tek Cang Sin Kay melesat pergi dan tak lama sudah tidak tampak bayangannya.

Ciok Giok Yin berdiri termangu-mangu di tempat.

Berselang sesaat barulah dia melesat pergi menuju Gunung Liok Pan San.

Kini Ciok Giok Yin harus cepat-cepat menemui Thian Thong Lojin untuk mengungkap rahasia potongan kain tersebut, sebab potongan kain itu menyangkut asal-usulnya dan jejak Seruling Perak.

Oleh karena itu, dia melesat bagaikan kilat.

Sementara saat waktu terus berlalu, senja berganti malam dan malam berganti pagi.

Sedangkan jalan yang dilalui Ciok Giok Yin penuh batu curam yang amat berbahaya.

Setelah seharian dia menempuh perjalanan itu, badannya terasa agak lelah.

Ingin rasanya mencari suatu tempat untuk beristirahat sejenak, kemudian melanjutkan perjalanan lagi.

Akan tetapi mendadak sesosok bayangan melesat bagaikan meteor lewat di sampingnya.

Tentunya membuat Ciok Giok Yin tersentak, Berdasakan gerakannya dapat dibayangkan betapa tingginya kepandaian orang itu.

Sudah pasti membuat Ciok Giok Yin tercengang karena kagum.

Maka dia pun mengerahkan ginkangnya, melesat di belakang orang itu.

Dia ingin melihat, sebetulnya siapa orang itu.

Oleh karena itu, dia pun berusaha mengejarnya.

Orang itu, sepertinya tidak tahu kalau dirinya diikuti orang.

Berselang beberapa saat, sudah tiba di sebuah bukit yang penuh tanah kuning.

Orang itu masih terus melesat.

Sesaat kemudian, mendadak dia berhenti di tepi dinding tebing tanah kuning, lalu menengok ke sana ke mari, seakan ingin tahu apakah ada orang lain berada di sana.

Ciok Giok Yin khawatir kalau-kalau orang itu akan melihatnya, maka buru-buru bersembunyi.

Orang itu mendongakkan kepala, memandang ke arah dinding tebing tanah kuning itu.

Ciok Giok Yin yang bersembunyi juga ikut memandang ke sana.

Dia nyaris berseru tak tertahan.

Ternyata pada dinding tebing tanah kuning itu, terukir tiga huruf warna putih 'Wang Tou Po' (Bukit Tanah Kuning)!

Karena huruf-huruf itu amat besar, lagi pula berwana putih, maka tampak jelas walau di malam hari.

Mengapa Ciok Giok Yin tampak terkejut?

Tidak lain karena teringat akan ucapan Bok Tiong Jin, bahwa dengar-dengar kemungkinan besar Seruling Perak berada di luar Kota Lok Yang di Wang Tou Po....

Justru tak terduga sama sekali, dia sampai di tempat tersebut.

Seandainya dia berhasil memperoleh Seruling Perak dan disatukan dengan kitab Cu Cian, pasti bisa mempelajari ilmu silat yang tertinggi dan terhebat di kolong langit, tentunya bisa pula menuntut balas semua dendam itu.

Di saat dia berpikir sementara, mendadak orang itu bertepuk tangan tiga kali.

Pok!

Pok!

Pok!

Menyusul terdengar pula suara tepukan tangan tiga kali di tempat jauh.

Suara tepukan tangan itu berasal dari tebing tanah kuning yang melekuk ke dalam.

Orang itu segera mencelat ke atas dan bertanya dengan suara ringan.

"Apakah bisa buka malam ini?"

Orang yang bersembunyi di tempat lekukan tebing itu menyahut.

"Mungkin belum bisa, namun... ketua utama dan kedua akan kemari."

Hati Ciok Giok Yin tersentak mendengar percakapan mereka.

'Apakah mereka adalah para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee?

Siapa ketua utama itu?' Tanyanya dalam hati.

Kemudian dia merayap ke atas dari tempat persembunyiannya.

Sungguh di luar dugaan, dia melihat sebuah pintu batu di bawah tebing tanah kuning itu, sehingga membuatnya melangkah perlahanlahan ke tempat tersebut.

Ketika berjarak lima enam depa dari tempat itu, sekonyong-konyong Ciok Giok Yin merasa ada angin pukulan yang amat dahsyat menerjang ke arahnya.

Pada saat bersamaan terdengar pula suara bentakan.

"Berhenti!"

Ciok Giok Yin hendak kembali bersembunyi, namun sudah terlambat.

"Hm! Mengapa aku harus berhenti?"

Dengusnya sambil berkelit.

Kemudian dia segera mengerahkan lwee kangnya, siap menghadapi pertarungan.

Terdengar suara desiran angin.

Seer!

Seer!

Seer!

Muncul tiga sosok bayangan orang, yang kemudian mengepung Ciok Giok Yin.

"Eh! Ternyata kau bocah keparat!"

Bentak mereka. Ciok Giok Yin memandang mereka bertiga, ternyata orangorang perkumputan Sang Yen Hwee. Seketika api kebenciannya berkobar.

"Aku memang sedang mencari kalian!"

Sahutnya dengan dingin.

"Kau mencari kami untuk mengantar kematian?"

Kata salah seorang dari mereka. Menyusul seorang lagi membentak sengit.

"Bocah keparat, malam ini kau harus mampus!"

Mereka bertiga mulai melangkah maju. Lantaran Ciok Giok Yin belum tahu asal-usul dirinya, begitu mendengar mereka mencacinya 'Bocah keparat', otomatis membut kegusarannya memuncak.

"Aku akan membunuh kalian semua!"

Bentaknya mengguntur.

Dia langsung mengeluarkan jurus pertama dari kedua ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Tampak badannya bergerak laksana kilat, dan telapak tangannya berkelebatan menimbulkan suara menderu-deru yang mengandung hawa panas.

Terdengar suara jeritan.

"Aaaakh!"

Salah seorang dari mereka tersambar pukulan.

Tentunya membuat terkejut kedua temannya.

Mereka langsung menghunus golok sekaligus menyerang Ciok Giok Yin dari arah kiri dan kanan.

Terdengar lagi suara jeritan.

"Aaaakh!"

Seorang lagi terpental. Mendadak terdengar suara tawa terkekeh-kekeh, yang disusul oleh seruan.

"He he he! Kami akan membuat perhitungan!"

Tampak empat sosok bayangan orang melesat ke tempat itu, lalu terdengar suara seruan lagi.

"Berhenti! Berhenti!"

Tinggal seorang itu, segera meloncat mundur dan memberi hormat kepada mereka berempat.

"Hamba menyambut kedatangan Empat Pelindung,"

Katanya. Keempat orang yang baru muncul itu, ternyata Si Sing Kui. Si Setan Gemuk tertawa gelak lalu berkata.

"Ini adalah urusan besar, kalian mundur saja!"

Dia menoleh memandang Ciok Giok Yin.

"Bocah, urusan kita belum selesai. Namun malam ini akan kami bereskan di depan Bukit Tanah Kuning!"

Senjata Sui Poa yang di tangannya terus berbunyi.

Plak!

Plak!

Praaak!

Ciok Giok Yin mengerutkan kening, karena tahu jelas dirinya bukan lawan mereka berempat, tapi juga tidak bisa tidak bersuara.

Karena itu, dia menatap Si Sing Kui seraya membentak.

"Suatu hari nanti, aku pasti membeset kulit kalian! Malam ini aku punya urusan lain, kita akan berjumpa lagi kelak!"

Ketika Ciok Giok Yin baru mau melesat pergi. Sekonyongkonyong si Setan Tinggi membentak.

"Berhenti!"

Dia langsung menyerang Ciok Giok Yin dengan dahsyat. Angin pukulannya menerjang ke arah Ciok Giok Yin. Si Setan Gemuk tertawa gelak lalu berkata.

"Hei, Pendek! Kau lihat dia mau pergi, kok belum ke sana bercakap-cakap dengannya?"

Tanpa menyahut, si Setan Pendek segera mencelat ke atas tiga depa.

Setelah badannya berada di angkasa, dia bersalto hingga kepalanya ke bawah, meluncur ke arah Ciok Giok Yin dengan terkaman.

Ketika Ciok Giok Yin berada di luar markas perkumpulan Sang Yen Hwee, pernah menyaksikan jurus yang dikeluarkan si Setan Pendek ini.

Sebab itu, Ciok Giok Yin bergerak cepat mencelat ke belakang.

Justru tanpa sengaja menuju pintu batu.

Sedangkan si Setan Pendek bergerak cepat pula mengikutinya.

Saat ini agar tidak diserang secara gelap si Setan Pendek Ciok Giok Yin langsung melindungi dirinya dengan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang, yaitu jurus pertama dan jurus kedua.

Si Setan Pendek tahu akan kehebatan ilmu pukulan itu, maka segera meloncat ke belakang.

Medadak si Setan Gemuk tertawa gelak.

"Dasar pendek tak berguna! Jurus Ie Tiong Sung Ca (Dalam Hujan Mengantar Payung)mu itu sudah tiada artinya!"

Bukan main marahnya si Setan Pendek mendengar sindiran itu.

"Dasar babi gemuk, lihatlah!"

Bentaknya keras sambil melesat ke depan.

"Cepat maju! Jangan membiarkan bocah haram itu mendekati pintu batu!"

Seru ketiga setan lainnya dengan serentak.

Di saat bersamaan mereka bertiga pun melancarkan serangan ke arah Ciok Giok Yin.

Bukan main dahsyatnya serangan mereka!

Terdengar suara menderu-deru bagaikan gelombang mengarah sekujur badan Ciok Giok Yin.

Apa boleh buat, Ciok Giok Yin terpaksa mengerahkan tenaga sepenuhnya untuk menangkis, mengeluarkan jurus pertama dan jurus kedua ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Terdengar suara ledakan dahsyat yang memekakkan telinga.

Bum!

Bum!

Tampak badan Ciok Giok Yin tergoncang keras, sedangkan keempat setan itu mulai maju lagi.

Kelihatanya Ciok Giok Yin akan...

Sekonyong-konyong dia merasa sebelah kakinya menginjak tempat kosong, sehingga membuat dirinya terjengkang.

Tapi dia bergerak cepat meloncat ke depan, barulah bisa berdiri tegak.

Justru di saat bersamaan, tampak sesosok bayangan berkelebat bagaikan arwah, lewat di sampingnya memasuki pintu batu.

Pada saat bersamaan terdengar suara deruan angin pukulan menerjang ke luar dari dalam pintu batu itu.Ciok Giok Yin sama sekali tidak bersiapsiap, maka dadanya terserang angin pukulan itu.

Sementara menyembur darah segar dari mulutnya, dan pandangannya menjadi gelap lalu pingsan.

Di saat dia roboh si Setan Gemuk menerobos ke dalam pintu batu.

Namun pintu batu itu amat sempit, sedangkan badannya begitu gemuk, maka dia tidak bisa masuk, malah terjepit, maju tidak bisa mundur tidak bisa.

Dia mencoba mengerahkan tenaganya, tapi tak di sangka malah terdengar suara gemuruh.

Ternyata pintu batu itu tiba-tiba menutup.

Seketika terdengar suara jeritan yang menyayat hati.

Tampak darah muncrat ke mana-mana.

Sungguh mengerikan!

Si Setan Gemuk terhimpit sehingga semua tulangnya remuk dan dagingnya pun hancur tidak karuan.

Memang merupakan suatu kejadian kebetulan.

Ketika Ciok Giok Yin roboh, justru tersambar oleh angin yang ditimbulkan si Setan Gemuk ketika menerobos ke dalam pintu batu itu.

Ciok Giok Yin tersambar angin itu hingga melayang ke dalam pintu batu.

Sebaliknya si Setan Gemuk malah terhimpit di pintu batu itu.

Setelah pintu batu itu tertutup rapat, Ciok Giok Yin dan bayangan orang yang masuk ke dalam itu menjadi terkurung di dalam pintu batu.

Entah berapa lama kemudian, Ciok Giok Yin mulai siuman perlahan-lahan.

Dia merasa dirinya dipapah seseorang ke dalam.

Justru dia mengira dirinya telah ditangkap oleh Si Sing Kui.

Maka, tanpa banyak berpikir lagi, dia langsung mengarahkan sisa lwee kangnya menyerang orang yang memapahnya.

Serangan itu amat dahsyat, sehingga terdengar suara rintihan orang tersebut.

Tampak orang itu terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah, kemudian roboh.

Kelihatannya luka yang diderita orang itu cukup parah.

Ciok Giok Yin segera maju.

Ketika baru mau melancarkan serangan lagi, mendadak dia berseru tak tertahan.

"Hah? Ternyata kau!"

Ternyata orang itu adalah seorang wanita, yang tidak lain Teng Hiang Kun, wanita berkedudukan sebagai Pelindung di perkumpulan Sang Yen Hwee.

Teng Hiang Kun duduk bersila di tanah dengar kening berkerut-kerut.

Kelihatannya dia sedang menghimpun hawa murninya untuk mengobati lukanya.

Begitu melihat wanita tersebut, hawa amarah Ciok Giok Yin lansung memuncak.

Dia mengangkat sebelah tangannya ingin melancarkan pukulan ke arah wanita itu.

Namun mendadak perutnya terasa mual.

Uaakh!

Dia memuntahkan darah segar dan merasa matanya gelap, akhirnya roboh.

Ternyata Ciok Giok Yin juga menderita luka parah.

Kini dirinya berhadapan dengan Teng Hiang Kun yang cabul itu.

Entah harus bagaimana cara meloloskan diri?

Oleh karena itu, setelah roboh, dia segera duduk seraya berpikir.

Akan tetapi, sama sekali tidak menemukan akal untuk meloloskan diri.

Dia menegok ke sekelilingnya.

Seketika dia terbelalak, karena dirinya berada di sebuah goa.

Dapat diterka, untuk apa Teng Hiang Kun membawanya ke dalam goa tersebut?

Di saat bersamaan terbayang kembali apa yang terjadi di dalam kuil Thay San Si.

Teng Hiang Kun yang cabul itu bermaksud berbuat yang bukan-bukan atas dirinya.

Kalau dia terlambat meloloskan diri, kemungkinan besar hari itu....

Terbayang sampai kesitu, hati Ciok.

Giok Yin langsung berdebar-debar.

Akan tetapi dirinya terluka parah, bagaimana mungkin dapat meloloskan diri dari cengkeraman wanita cabul itu?

Pikirannya sungguh panik.

Tanpa sadar dia menoleh ke arah Teng Hiang Kun yang sedang menghimpun hawa murninya untuk mengobati lukanya.

Ingin rasanya mendekati Teng Hiang Kun untuk membunuhnya, namun sepasang kakinya tak kuat berdiri.

Akhirnya dia memejamkan mata, mulai menghimpun hawa murninya untuk mengobati lukanya.

Berselang beberapa saat, Teng Hiang Kun sudah pulih.

Dia bangkit berdiri sambil tertawa cekikikan lalu berkata.

"Ciok Giok Yin, saat ini kau tak ubahnya seekor ikan yang telah terjaring. Hari ini kau tidak akan bisa meloloskan diri!"

Ciok Giok Yin membuka matanya, menatap Teng Hiang Kun dengan penuh kebencian.

"Kau mau apa?"

Bentaknya.

"Tidak mau apa-apa, cuma ingin menangkapmu!"

Sahut Teng Hiang Kun.

"Kini aku sudah jatuh ke tanganmu. Kau mau membunuhku, silakan! Jangan harap kau bisa menghina diriku!"

Teng Hiang Kun tertawa terkekeh-kekeh.

"Wah! Bagaimana mungkin aku akan membunuhmu? Aku merasa tidak sampai hati lho!"

Wanita itu mendekatinya, kemudian mengecup keningnya dan bertanya.

"Kau sudah tidak galak lagi 'kan?"

"Wanita cabul tak tabu malu! Suatu hari nanti aku pasti membunuhmu!"

Teng Hiang Kun tersenyum.

"Aku memang berharap pada hari itu, bisa mati di tangan pujaan hatiku, tentunya amat menyenangkan."

Teng Hiang Kun lalu duduk di samping Ciok Giok Yin, dan menaruh kepalanya di bahu pemuda itu, kelihatannya bagaikan sepasang suami istri saling mengasihi.

Wajah .wanita itu tampak kemerah-merahan.

Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin, tapi sekujur badannya sudah tak bertenaga, sama sekali tidak bisa melancarkan pukulan.

Mendadak Teng Hiang Kun berkata dengan lembut sekali.

"Ciok Giok Yin, cobalah kau terka tempat apa ini?"

"Tempat apa ini?"

"Kita berada di dalam Goa Ku Ciau Cung."

"Di dalann Goa Ku Ciau Cung?"

"Tidak salah."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening, kemudian mencacinya dan bertanya.

"Dasar wanita cabul, tak tahu malu! Kau yang membawaku ke mari?"

Teng Hiang Kun mengangguk.

"Sedikit pun tidak salah."

Dia menatap Ciok Giok Yin.

"Ciok Giok Yin, kuberitahukan! Ketika kau tersambar masuk, pintu batu tersebut. Kini pintu batu telah tertutup. Kalau kau tidak mendengar perkataanku, kau akan terkurung di sini selamanya. Namun apabila kau mau mendengar perkataanku, tentu aku bersedia membawamu meninggalkan tempat ini."

"Kentut! Aku pasti punya akal keluar dari tempat ini!"

Wanita itu tersenyum.

"Kau jangan berkeras kepala. Kalau percaya silakan coba! Di luar aku memang bukan lawanmu, namun di sini kau justru bukan tandinganku!"

Dia mengecup kening Ciok Giok Yin lagi, kemudian bangkit berdiri.

"Aku pergi sebentar dan segera kembali menemanimu. Baik-baiklah beristirahat, sebab kita akan melakukan hal yang cukup melelahkan, tapi terasa nikmat sekali!"

Badan Teng Hiang Kun bergerak menuju sebuah terowongan.

Tentunya dia pergi mencari Seruling Perak.

Sedangkan Ciok Giok Yin tahu jelas bahwa kini dirinya berada di dalam Goa Ku Ciau Cuang, tempat penyimpanan Seruling Perak.

Karena itu, dia segera memejamkan matanya sekaligus menghimpun hawa murninya.

Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara bernada tua.

"Goa Ku Ciau Cuang ini penuh perangkap dimana-mana, tapi telah kututup semua. Bocah, aku percaya kau juga mendengar desas-desus, bahwa di tempat ini tersimpan Seruling Perak."

Ciok Giok Yin membuka matanya lebar-lebar, namun tidak melihat seorang pun di situ.

"Siapa kau?"

Tanyanya.

"Kita boleh dikatakan kenalan lama, sebab pernah bertemu dua kali."

"Bolehkah Anda memperlihatkan diri?"

"Tidak usah."

"Bagaimana Anda masuk ke mari?"

"Tentunya aku punya akal. Tentang ini kau tidak perlu bertanya."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Anda menutup semua terowongan di sini, sebetulnya mengandung maksud apa?"

"Aku tidak menghendaki orang lain masuk."

Berhenti sejenak, setelah itu melanjutkan.

"Kelihatannya kau terluka?"

"Betul."

"Baik, aku akan mengobatimu."

Ketika Ciok Giok Yin membuka mulutnya ingin berkata, justru di saat bersamaan, sebuah benda kecil meluncur ke dalam mulutnya.

Dia ingin memuntahkan benda kecil itu, tapi sudah masuk ke dalam tenggorokannya.

Terasa amat harum, bahkan juga terasa amat nyaman.

Terdengar lagi orang itu berkata.

"Kau baik-baik beristirahat, tidak akan ada orang ke mari mengganggumu lagi. Namun, kau harus ingat! Kalau kau berhasil keluar dari goa ini, akan ada seorang gadis mencarimu untuk bertanding."

Usai orang itu berkata, suasana di tempat itu berubah menjadi hening. Ciok Giok Yin segera bertanya.

"Mohon tanya siapa gadis itu'?"

Tiada sahutan.

Ciok Giok Yin bertanya lagi berulang kali, tapi tetap tiada sahutan.

Dia tahu bahwa orang itu telah pergi, tidak akan menyahut lagi, barulah dia mulai memejamkan matanya menghimpun hawa murninya.

Sembari menghimpun hawa murninya, dia pun berpikir sesungguhnya siapa orang itu?

Katanya pernah bertemu dua kali, bertemu di mana?

Walau Ciok Giok Yin terus berpikir, tapi tetap tidak ingat siapa orang tersebut.

Karena itu dia tidak mau berpikir lagi, melainkan memusatkan perhatiannya untuk menghimpun hawa murninya.

Berselang beberapa saat kemudian, luka dalamnya telah sembuh.

Dia bangkit berdiri sambil menengok ke sana ke mari.

Tampak beberapa terowongan di situ.

Terowongan yang mana yang dilaluinya tadi?

Dia sama sekali tidak ingat lagi.

Dia berdiri termangu-mangu.

Apabila terus berdiri di situ, sudah pasti tiada gunanya.

Karena itu dia beranjak menuju sebuah terowongan yang berada di sebelah kiri.

Dia pikir kalau tiada jalan keluarnya, masih bisa kembali ke tempat semula.

Siapa sangka setelah dia berjalan sejenak dan ketika menoleh ke belakang, justru sudah tidak menemukan jalan yang semula itu.

Apa boleh buat, dia terpaksa menerobos ke sana ke mari tanpa arah tujuan sama sekali.

Entah berapa lama kemudian, barulah dia berhenti.

Tiba-tiba dia merasa agak tidak beres.

Sebab sepertinya tadi dia pernah melalui terowongan ini.

Karena itu, dia segera memikirkan suatu cara untuk mengatasi hal ini.

Timbul suatu ide, dia mulai melangkah, beberapa langkah dia pasti memberi tanda pada dinding.

Justru sungguh mengherankan, hampir setengah harian berputar, tetap kembali ke tempat semula.

Kini barulah Ciok Giok Yin mengerti, ternyata dirinya terjebak di dalam sebuah formasi.

Dia menyesal sekali, sebab sama sekali tidak paham tentang formasi.

Saat ini Teng Hiang Kun juga entah ke mana.

Dia masih ingat akan ucapan wanita cabul itu, kalau tidak mendengar perkataannya, maka akan terkurung di tempat ini selamanya.

Kelihatannya wanita cabul itu mengerti akan formasi tersebut.

Tapi ke mana dia?

Kini tenaga Ciok Giok Yin telah pulih.

Otomatis tidak takut padanya.

Kalau tidak berhasil mencarinya, apakah dirinya akan terkubur hidup-hidup di sini?

Menyusul dia teringat pada suara orang tua itu yang bersedia menyembuhkannya, namun mengapa tidak membantunya meninggalkan tempat ini?

Karena berpikir begitu, Ciok Giok Yin segera berseru-seru.

"Lo cianpwee! Lo cianpwee!"

Suaranya bergema di tempat itu.

Akan tetapi tiada sahutan sama sekali.

Ciok Giok Yin berdiri termangu-mangu tidak tahu harus berbuat apa.

Tiba-tiba dalam benaknya terlintas sesosok bayangan hitam, yang memancingnya hingga sampai di bukit Tanah Kuning ini.

Kejadian ini apakah merupakan rencana perkumpulan Sang Yen Hwee?

Kalau tidak, bagaimana begitu kebetulan orang-orang perkumpulan Sang Yen Hwee bersembunyi di sana?

Semakin dipikirkan membuat Ciok Giok Yin semakin yakin, dan itu membuatnya amat gusar, sehingga sekujur badannya menjadi gemetar.

Dendamnya terhadap perkumpulan Sang Yen Hwee otomatis semakin menjadi.

Kalau tiada suatu kemukjizatan, dia pasti akan mati kelaparan di dalam goa tersebut.

Ini sungguh merupakan goa misteri!

Entah siapa yang membuat goa ini?

Mengapa harus dilengkapi dengan formasi aneh?

Apakah di dalam goa ini terdapat makam raja jaman dulu, maka khawatir makam itu akan digali orang?

Kalau benar, raja yang telah mati itu, tentunya seorang raja lalim.

Seandainya tidak, bagaimana mungkin meninggalkan formasi ini untuk mencelakai orang lain?

Manusia di saat merasa putus asa, tentu akan teringat masa lalunya.

Begitu pula Ciok Giok Yin.

Semua kejadian yang dialaminya mulai muncul di dalam benaknya.

Beberapa saat kemudian terdengar suara helaan nafas panjang.

Setelah itu Ciok Giok Yin bergumam.

"Nasibku memang demikian, apa yang harus di katakan?"

Akhirnya Ciok Giok Yin duduk, kelihatannya ingin menunggu ajal datang menjemputnya.

Kini hatinya malah menjadi tenang.

Sepasang matanya dipejamkan, tidak mau memikirkan urusan apa-apa lagi.

Dia berharap bisa segera mati, agar rohnya dapat pergi ke dunia persilatan, setelah itu barulah menuju ke alam baka.

Ternyata Ciok Giok Yin teringat akan kata-kata yang terdapat di dalam kitab suci.

'Sebelum lahir siapa aku?

Setelah lahir aku siapa?

Setelah tumbuh dewasa adalah diriku, mata dipejamkan justru siapa....' Walau Ciok Giok Yin tahu namanya, tapi justru tidak jelas dirinya keturunan siapa?

Berdasarkan apa yang dikatakan Sin Ciang-Yo Sian, tak ragu lagi dirinya pasti bukan keturunan Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie Goan.

Karena alat kelaminnya terluka ketika berlatih silat, maka tidak dapat melakukan hubungan intim dengan istrinya.

Sudah pasti istrinya tidak bisa hamil.

Kalau begitu, sesungguhnya Ciok Giok Yin keturunan siapa?

Cuma beberapa orang yang mengetahuinya.

Sebab itu Ciok Giok Yin duduk seakan telah tiada dirinya.

Akan tetapi tak disangka, tiba-tiba aliran tenaga yang amat kuat di dalam Tantiannya menerjang ke seluruh jalan darahnya.

Secara reflek dan tanpa banyak dia berpikir, dia langsung menghimpun hawa murninya.

Berselang beberapa saat, dia merasa badannya terapung ke atas.

Dia tetap memejamkan matanya, berkata seorang diri.

"Apa gunanya lagi?"

Dia tidak bangkit berdiri, cuma menggeserkan badannya menyandar pada dinding batu dan matanya tetap terpejam rapat.

Akan tetapi dalam benaknya timbul berbagai macam kejadian yang pernah dialaminya.

Dendam, kebencian dan budi, semuanya terlintas dalam benaknya.

Mulutnya mulai bergumam.

"Adik Yong, tahukah kau bahwa aku akan mati kelaparan di tempat ini? Aaah! Kitab Im Yang Cin Koy itu tak perlu kau baca lagi, lebih baik kau bakar agar tidak jatuh ke tangan orang jahat, sehingga akan mencelakai orang lain."

Seketika dia pun teringat pada Heng Thian Ceng dan pikirannya pun menerawang.

Sejak dia tahu urusan, otomatis banyak melihat kaum wanita pula.

Namun yang paling cantik adalah Heng Thian Ceng.

Kecantikannya dapat membuat orang terpukau dan mabuk kepayang.

Oleh karena itu, tanpa sadar Ciok Giok Yin berseru-seru.

"Kakak! Kakak! Aku amat menyukaimu!"

Sepasang tangannya merangkul ke depan, tapi cuma merangkul tempat kosong. Dia membuka sepasang matanya, lalu tersenyum sedih seraya berkata.

"Ini bukan dalam mimpi?"

Di saat bersamaan mendadak terdengar suara alunan harpa.

Ciok Giok Yin.

langsung mendengarkan dengan penuh perhatian.

Kedengarannya suara itu tidak seberapa jauh dari tempatnya.

Alunan suara harpa itu bernada sedih, siapa yang mendengarnya pasti mengucurkan air mata.

Saat ini Ciok Giok Yin dalam keadaan putus asa, bahkan juga belum jelas tentang asal-usulnya.

Sudah barang tentu gampang terpengaruh oleh suara harpa itu, menyebabkan air matanya meleleh dan menangis terisak-isak.

Berselang beberapa saat, sekonyongkonyong nada suara harpa itu meninggi, kedengarannya seperti suara pembunuhan, juga bagaikan derap ribuan kuda yang gemuruh.

Ciok Giok Yin langsung bangkit berdiri.

Sepasang matanya menyorot tajam dan sekujur badannya dipenuhi tenaga.

Dia mengangkat sebelah tangannya.

Tanpa sadar dia melancarkan jurus ketiga ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Bum!

Terdengar suara ledakan dahsyat.

Tampak debu dan hancuran batu beterbangan, bahkan goa itu goncang.

Bersekang sesaat, barulah suara gemuruh di dalam goa itu berhenti dan suara harpa pun tak terdengar lagi.

Ciok Giok Yin berdiri tertegun.

Dia sama sekali tidak menyangka, bahwa dirinya telah mampu melancarkan jurus ketiga ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang, tidak membuat darahnya bergolak lagi seperti tempo hari.

Padahal sesungguhnya dia harus kegirangan hingga meloncat-loncat.

Akan tetapi dia malah menghela nafas panjang.

"Kepandaian bertambah tinggi, tapi apa gunanya?"

Dia memandang ke arah dinding batu, ternyata dinding batu itu telah hancur oleh pukulannya tadi, bahkan muncul sebuah terowongan.

Ciok Giok Yin terbelalak lalu berjalan ke dalam terowongan itu.

Setelah berjalan beberapa langkah, dia melihat lagi beberapa terowongan.

Dia tidak berani berjalan lagi, cuma berdiri termangu-mangu di situ.

Justru di saat bersamaan terdengar lagi suara harpa itu dan nadanya bertambah sedih.

Ciok Giok Yin segera pasang kuping mendengarkan dengan seksama.

Setelah itu dia berani memastikan bahwa suara harpa itu berada di dalam goa.

Hatinya tergerak, dan dia segera berjalan ke arah suara harpa itu.

Asal berhasil menemukan pemain harpa itu, tentu akan membantu Ciok Giok Yin meninggalkan goa kecuali pemain harpa itu seorang musuhnya..Karena kini sudah timbul harapan baru, maka Ciok Giok Yin melangkah cepat dan pasti.

Namun siapa sangka, meskipun dia telah melewati beberapa terowongan, tapi tetap belum menemukan jejak pemain harpa itu.

Otomatis membuat langkahnya terhenti.

Begitu dia terhenti, hatinya tersentak.

Karena suara harpa itu justru terdengar di belakangnya, bukan di hadapannya lagi.

Sebab itu, dia segera membalikkan badan sekaligus mengayunkan kaki.

Sungguh diluar dugaan, suara harpa itu sepertinya sengaja mempermainkannya karena kedengarannya berada di belakangnya.

Ciok Giok Yin betul-betul kewalahan, namun rasa penasaran.

Dia cepat-cepat membalikkan badannya lagi, melangkah ke arah suara harpa itu.

Begitulah berkali-kali, suara harpa itu kedengaran di depan, di belakang, di kiri dan di kanan.

Itu membuat Ciok Giok Yin sungguh tak mengerti, gugup dan panik, tidak tahu harus berbuat apa.

Ciok Giok Yin terus berpikir.

Akhirnya dia berkesimpulan, bahwa pemain harpa itu bukan sengaja mempermainkan dirinya, melainkan dirinya masih terkurung di dalam formasi aneh.

Dia percaya, telinganya dapat mendengar suara harpa itu, membuktikan bahwa pemain harpa itu tidak terpisah jauh dari dirinya.

Mungkin juga formasi aneh ini, justru pemain harpa yang membentuknya.

Tak diragukan lagi pemain harpa itu pasti orang aneh yang hidup menyendiri.

Dan dia memiliki lwee kang yang amat tinggi sekali.

Sebab kalau tidak, bagaimana mungkin suara harpa itu menggetarkan hati dan mempengaruhi orang yang mendengarnya?

Namun berdasarkan nada suaranya yang sedih dan memilukan itu, pemainnya pasti seorang wanita.

Otomatis membuat Ciok Giok Yin merasa simpati padanya dan berharap dapat bertemu, agar dapat mencurahkan semua kedukaannya.

Ciok Giok Yin berdiri tercenung.

Dia tahu, apabila tiada seorang pun membawanya keluar, pasti terkurung selamanya di tempat ini.

Pepatah mengatakan 'Orang tidak harus mati, pasti selamat'.

Seketika Ciok Giok Yin berseru sekeraskerasnya.

"Lo cianpwee mana yang hidup tenang di sini, mohon bertemu!"

Suara harpa itu berhenti, dan suasana berubah menjadi hening. Beberapa saat kemudian mendadak terdengar suara yang amat nyaring.

"Siapa kau?"

Tak terduga sama sekali, ternyata seorang wanita. Berdasarkan suaranya, membuktikannya masih muda, mungkin masih merupakan seorang gadis. Ciok Giok Yin segera menyahut dengan lantang.

"Aku bernama Ciok Giok Yin!"

"Kau lelaki atau wanita?"

Ciok Giok Yin tertegun, sebab pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan anak kecil.

Suara lelaki dan suara wanita berbeda, mengapa dia tidak dapat membedakannya?

Apakah dia adalah orang dungu?

Seandainya dia orang dungu, kalau pun bertemu juga tidak ada gunanya.

Itu menyebabkan Ciok Giok Yin kembali putus harapan.

Lantaran berpikir demikian, maka dia lupa menyahut.

Mendadak wanita pemain harpa bertanya lagi.

"Kau lelaki atau wanita? Beritahukanlah padaku!"

Kedengarannya dia tidak sabar lagi. Ciok Giok Yin menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku adalah lelaki!"

Terdengar suara seruan tak tertahan.

"Hah? Kau sungguh lelaki?"

"Ya!"

Kemudian Ciok Giok Yin balik bertanya.

"Kau tidak dapat membedakan suara lelaki dan suara wanita?"

"Aku tidak pernah bertemu lelaki, juga tidak pernah mendengar suara lelaki, maka aku tidak dapat membedakannya."

Ciok Giok Yin terperangah mendengar ucapan itu.

Di kolong langit ini memang terdapat banyak hal aneh.

Justru ada wanita yang tak pernah bertemu lelaki.

Bukankah itu aneh sekali?

Pikirnya.

Kemudian dia bertanya.

"Apakah kau tidak pernah berkelana di dunia persilatan?"

"Tidak pernah!"

"Kau tidak pernah meninggalkan goa ini?"

"Ya."

"Kalau begitu, bagaimana kau datang di tempat ini dan hidup bersama orang mati?"

"Di sini sama sekali tiada orang mati!"

"Tiada orang mati?"

Seru Ciok Giok Yin kaget.

"Aku tidak pernah bohong, karena juga tidak pernah ada orang bercakap-cakap denganku. Kini kau ke mari, pertama kali aku bicara sama orang!"

Ciok Giok Yin berpikir, mungkin usia wanita itu sudah tua.

"Lo cianpwee...."

"Aku bukan lo cianpwee, sebab aku masih kecil!"

Ciok Giok Yin tertegun.

"Hah? Apa?"

"Tahun ini usiaku baru tujuh belas, jadi aku bukan lo cianpwee."

"Usiamu baru tujuh belas?"

"Ya."

Ini sungguh membingungkan Ciok Giok Yin, bahkan juga tidak habis berpikir.

Bagaimana seorang gadis berusia tujuh belasan hidup seorang diri di dalam goa?

Karena itu sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi merinding.

Apakah dia hantu?

Dia teringat pula pada Bok Tiong Jin, yang ingin memperoleh hatinya.

Kini jangan-jangan...

telah bertemu seorang hantu lagi?

Saking terkejut dia menjadi lupa bersuara.

Berselang sesaat, gadis berusia tujuh belas itu bertanya.

"Kak? Mengapa kau tidak bicara?"

Ciok Giok Yin balik bertanya dengan suara agak bergemetar.

"Nona adalah orang atau hantu?"

"Tentunya aku orang. Berapa usiamu sekarang?"

"Usiaku delapan belas."

"Delapan belas tahun?"

"Ya."

"Usiamu lebih besar satu tahun dariku. Aku amat gembira sekali dapat bertemu kau. Kalau ibuku bertemu kau, aku yakin ibuku juga amat gembira."

Ciok Giok Yin tercengang.

"Kau punya ibu?"

"Setiap orang pasti punya ibu. Aku dilahirkan ibu, tentunya punya ibu."

Mendengar ucapan itu, barulah Ciok Giok Yin berlega hati. Mungkin ibunya yang membawa gadis tersebut kemari, lalu tidak pernah membawanya keluar, maka tidak pernah bertemu lelaki.

"Aku punya kesempatan melihat matahari,"

Kata gadis itu.

"Apa maksudmku Nona?"

"Ibu pernah berpesan padaku, kalau kelak aku punya kesempatan bertemu lelaki di sini, dia harus membawaku pergi. Nah, bukankah aku bisa melihat matahari? Aku... aku sungguh gembira sekali!"

Hati Ciok Giok Yin tergerak.

"Ibumu juga berada di dalam?"

"Ibuku sudah terbang jauh."

Mendengar ucapan itu Ciok Giok Yin menjadi melongo.

"Ibumu sudah terbang jauh?"

"Ya. Ibuku memperoleh sebuah kitab pusaka. Setelah berhasil menguasai semua ilmu yang ada di dalam kitab pusaka itu, ibuku menjadi dewa, terbang pergi meninggalkanku seorang diri."

Seketika timbullah rasa simpati dalam hati Ciok Giok Yin. Gadis ini sungguh patut dikasihani! Dia dan dirinya sama-sama bernasib malang dan hidup merana. Mendadak Ciok Giok Yin teringat sesuatu.

"Ayahmu?"

"Ibu tak pernah memberitahukan padaku."

Ciok Giok Yin menjadi termangu.

Ternyata nasib gadis itu lebih beruntung.

Walau dia tidak tahu siapa ayahnya, namun masih punya ibu.

Sebaliknya Ciok Giok Yin sama sekali tidak tahu siapa kedua orang tuanya.

Meskipun ada orang yang tahu, tapi tidak bersedia memberitahukannya.

Karena itu, apabila kembali berkecimpung di dunia persilatan, selain menuntut balas dendam, juga harus menyelidiki asal-usul dirinya.

Akan tetapi dalam setengah tahun lebih ini Ciok Giok Yin hanya menerima berbagai macam penderitaan, belum berhasil membasmi murid murtad suhunya, bahkan juga belum berhasil mengungkap asal usul dirinya.

Ciok Giok Yin terus berpikir, sehingga lupa akan dirinya masih berada di dalam formasi aneh.

Terdengar gadis itu berkata.

"Maukah kau datang ke tempatku ini?"

Bukan main girangnya Ciok Giok Yin mendengar pertanyaan gadis itu.

"Nona, aku terkurung di dalam formasi, tidak dapat keluar."

"Terkurung di dalam formasi?"

"Ya."

"Kau boleh ke luar 'kan?"

"Tidak bisa, karena aku tidak mengerti tentang formasi."

"Mengapa kau tidak bilang dari tadi?"

"Nona mengerti?"

"Itu adalah Ngo Heng Tin (Formasi Lima Elemen)."

"Nona, tolong keluarkan aku dari formasi ini! Aku tidak akan melupakan budiman selama-lamanya."

"Karena kau akan membawaku melihat matahari, tentunya aku harus menolongmu ke luar dari formasi itu. Beritahukan padaku, saat ini kau berdiri di mana?"

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Nona, aku tidak paham formasi ini, bagaimana aku memberitahukanmu di mana aku berdiri?"

"Asal kau memberitahukan keadaan di sekitarmu, itu sudah cukup."

Ciok Giok Yin menengok ke sekelilingnya, lalu memberitahukan.

"Kau tunggu sebentar!"

Kata gadis itu. Beberapa saat kemudian barulah gadis itu berkata lagi.

"Saat ini kau berada di sebelah kiri dalam formasi itu."

"Apakah aku bisa keluar?"

"Bisa. Sekarang kau dengar petunjukku!"

Berhenti sejenak, kemudian melanjutkan.

"Berjalanlah kau menuju terowongan sebelah kiri itu terus sampai ke ujung!"

Ciok Giok Yin berjalan menuju terowongan kiri, terus sampai ke ujung.

"Nona, aku harus ke mana lagi?"

"Ke terowongan sebelah kiri."

Ciok Giok Yin berjalan menuju terowongan sebelah kiri, terus ke dalam. Berselang sesat di depan matanya tampak sebuah terowongan yang amat luas, tapi tiada ujungnya.

"Kau sudah keluar dari formasi,"

Kata gadis itu. Ciok Giok Yin tertegun.

"Nona, sekarang aku harus melangkah ke mana?"

Gadis itu balik bertanya.

"Kau mengerti ilmu silat?"

"Mengerti."

"Bagus. Sekarang kau harus mengerahkan lwee kangmu menghantam dinding batu yang di hadapanmu. Setelah itu kau akan melihat diriku."

Ciok Giok Yin justru berpikir, gadis itu berada di batik dinding batu itu. Apakah dia mengerti ilmu silat? Kalau dinding itu hancur, apakah tidak akan melukainya? Karena itu dia berkata.

"Harap Nona mundur dua tiga langkah!"

"Mengapa?"

Tanya gadis itu.

"Aku akan menghancurkan dinding batu ini, khawatir hancuran batu akan melukaimu...."

"Jangan khawatir. Dinding batu ini tak dapat dihancurkan, cuma akan terbuka kalau terhantam pukulanmu."

"Kalau begitu, Nona harus hati-hati!"

"Baik, aku menurut perkataanmu."

Suara gadis itu amat lembut.

Ciok Giok Yin mulai mengerahkan lwee kangnya pada kedua lengannya, lalu menghantam ke arah dinding batu itu.

Terdengar suara ledakan dahsyat disertai hancuran batu dan debu beterbangan.

Namun sungguh diluar dugaan dinding batu itu cuma berlubang tapi lubang itu tidak menembus ke dalam.

Kelihatannya dinding batu itu amat tebal.

Ciok Giok Yin mulai mengerahkan lwee kangnya lagi.

Tapi ketika baru mau menghantam lubang-lubang yang tak tembus ke dalam itu, mendadak terdengar suara gemuruh yang memekakkan telinga.

Ternyata dinding batu itu merosot ke bawah.

Seketika tampak cahaya menyorot ke luar, akan tetapi mendadak dinding batu itu terhenti.

\ Jadi tinggi dinding batu itu masih mencapai satu depa lebih.

Ciok Giok Yin tidak dapat melihat ke dalam karena terhalang oleh dinding batu itu.

Terdengar suara gadis itu.

"Kau bisa meloncat tinggi?"

"Bisa."

"Kalau begitu, cepatlah kau lompati dinding batu itu! Karena sebentar lagi dinding batu itu akan naik lagi."

Mendengar itu, Ciok Giok Yin tidak berani menunggu.

Dia langsung mencelat ke dalam melalui dinding batu itu.

Ketika sepasang kakinya menginjak tanah, terdengar suara gemuruh di belakangnya dan terdengar pula suara yang amat dahsyat.

Bummm!

Tempat Ciok Giok Yin berpijak terasa tergoncang.

Dia segera menoleh ke belakang, ternyata dinding batu itu sudah tertutup seperti semula.

Bukan main terkejutnya!

Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara yang amat merdu.

"Beginikah lelaki?"

Ciok Giok Yin menolehkan kepalanya.

Di depannya tampak seorang gadis yang cantik jelita.

Namun wajah gadis itu pucat pias.

Mungkin selama ini dia tidak pernah kena sinar matahari.

Sepasang mata gadis itu terbeliak lebar, terus menatap Ciok Giok Yin.

Rupanya dia merasa heran karena dandanan Ciok Giok Yin berbeda dengan gadis itu.

Ciok Giok Yin memakai topi kain, dan berjubah panjang.

Sepasang matanya bersinar terang, menimbulkan rasa suka pada orang yang melihatnya.

Karena gadis itu tidak pernah melihat kaum lelaki, maka tanpa sadar menundukkan kepala melihat dirinya sendiri.

Dia merasa dadanya lebih menonjol, daripada dada Ciok Giok Yin.

Maka dirabanya dadanya sendiri.

Dia terheran-heran karena merasa jantungnya berdetak lebih cepat.

Itu merupakan hal alami, karena timbul rasa suka dalam hatinya terhadap lelaki yang tidak seperti dirinya.

Dia tersenyum simpul, sebab merasa terhibur.

Sedangkan Ciok Giok Yin sudah melihat jelas gadis itu, berikut keadaan di sekitarnya.

Ternyata dirinya berdiri di sebuah ruang batu.

Sepasang matanya terbelalak, karena semua perkakas yang ada di tempat itu terbuat dari emas yang bergemerlapan, begitu pula cangkir dari emas dan teko dari giok hijau.

Sejak lahir hingga kini, baru saat ini Ciok Giok Yin menyaksikan semua itu.

Maka tidak mengherankan kalau sepasang matanya terbeliak lebar.

Tampak sebuah pedupaan di atas meja.

Pedupaan itu mengepulkan asap harum dan di samping kirinya terdapat sebuah harpa.

Tak diragukan lagi, yang memainkan harpa tadi pasti gadis tersebut.

Sungguh tak terduga, usia gadis itu masih begitu muda, namun sudah mahir memainkan harpa.

Berselang sesaat, barulah Ciok Giok Yin bertanya, sebab dari tadi gadis itu terus menatapnya dengan mata tak berkedip.

"Sungguhkah Nona tidak pernah melihat kaum lelaki?"

Pertanyaan tersebut membuat gadis itu tampak tertegun. Namun kemudian wajahnya berubah menjadi berseri.

"Memang pertama kali aku melihatnya,"

Sahutnya. Ciok Giok Yin mengerutkan kening. Kelihatannya dia agak curiga sehingga bertanya tak tertahan.

"Nona...?"

"Namaku Soat Cak, bukan Nona,"

Sahut gadis itu. Ciok Giok Yin terperangah oleh sahutan gadis itu, kemudian tertawa geli.

"Nona Soat, selama kau berada di sini, biasanya makan apa?"

Soat Cak tertawa cekikikan.

"Ibuku meninggalkan banyak makanan kering untukku. Lagi pula ibuku sudah memperhitungkan akan ada lelaki ke mari membawaku pergi, maka aku tidak mencemaskan soal makanan."

"Tapi aku justru tidak mampu membawamu pergi,"

Kata Ciok Giok Yin.

"Mengapa?"

"Sebab aku seorang pengembara, tiada tempat tinggal yang tetap, lalu harus membawamu ke mana?"

"Kemana kau pergi aku akan mengikutimu,"

Kata Soat Cak setelah berpikir sejenak. Ciok Giok Yin menggelengkan kepala.

"Ini mana boleh?"

Wajah Soat Cak berubah menjadi murung.

"Kau tidak bersedia?"

Ciok Giok Yin menghela nafas panjang.

"Musuhku ada di mana-mana, kalau aku terhalang tidak dapat melindungimu, bagaimana tanggung jawabku?"

Wajah Soat Cek tampak ceria.

"Itu tidak jadi masalah. Kalau ada orang jahat, aku akan membantumu memukulnya,"

Katanya sungguh-sungguh. Ketika Ciok Giok Yin baru membuka mulut, Soat Cak sudah mendahuluinya melanjutkan.

"Ibuku berpesan, kalau yang datang adalah lelaki tua, aku harus mengangkatnya sebagai ayah. Setelah itu, membawaku pergi berkelana di dunia persilatan."

"Bagaimana kalau lelaki yang masih berusia muda?"

Tanya Ciok Giok Yin. Ternyata Ciok Giok Yin khawatir kalau Soat Cak mengemukakan permintaan yang tak sanggup dilakukannya. Soat Cak memandang sejenak Ciok Giok Yin, kemudian menyahut.

"Ibuku bilang, diriku akan menjadi miliknya."

Ciok Giok Yin tersentak mendengar ucapan itu.

"Bagaimana mungkin?"

"Aku sudah menjadi milikmu, seumur hidup tidak akan berubah."

Ciok Giok Yin termundur dua langkah.

"Tidak bisa begini,"

Katanya. Soat Cak melotot, kelihatannya kesal sekali.

"Ibuku yang berpesan begitu. Lagi pula setelah aku melihatmu, aku telah bersungguh-sungguh menyukaimu. Kanda Ciok, kau harus membawaku ke luar melihat-lihat. Aku tidak mau seumur hidup di tempat ini."

Usai berkata, dia tampak penuh harapan.

Gadis yang polos ini tanpa sadar telah menaburkan benih cintanya.

Sebab pemuda yang berdiri di hadapannya, telah menyusup ke dalam hatinya.

Lagi pula ibunya telah berpesan demikian padanya.

Gadis yang polos tentunya cintanya juga polos dan suci murni.

Namun Ciok Giok Yin justru tidak bisa memenuhi hasrat hatinya.

Sebab Ciok Giok Yin sudah punya tunangan.

Kalau membawa gadis itu di sampingnya merupakan hal yang amat bahaya.

Karena itu, biar bagaimana pun dia harus melepaskan diri dari gadis tersebut.

Berpikir sampai di situ lalu timbul ide dalam hatinya.

"Nona Soat, maksudku kau tetap tinggal di sini,"

Katanya. Soat Cak mengerutkan kening sambil menggelengkan kepala.

"Kanda Ciok, di sini aku amat kesepian,"

Sahutnya.

"Banyak orang jahat di dunia persilatan. Di sini kau lebih aman, tenang dan damai. Bahkan tidak akan bermusuhan dengan siapa pun. Bukankah lebih baik kau tinggal di sini? Untuk apa berkelana di luar?"

"Aku suka bersama Kanda Ciok, aku tidak takut."

Ciok Giok Yin betul-betul serba salah.

Bersamaan itu Soat Cak terus memanggilnya 'Kanda Ciok', membuat Ciok Giok Yin merasa tidak enak.

Sebutan itu memang tidak pantas untuk mereka berdua.

Mendadak Ciok Giok Yin menemukan suatu cara untuk melepaskan diri dari gadis tersebut.

"Nona Soat, biar bagaimana pun aku tidak bisa membawamu pergi,"

Katanya lembut. Mendengar kata-kata itu sepasang mata Soat Cak yang indah mulai berkaca-kaca.

"Memangnya kenapa Kanda Ciok?"

Tanyanya dengan suara gemetar.

"Sebab aku sudah punya tunangan."

"Sudah punya tunangan? Maksud Kanda Ciok?"

"Maksudku...."

"Jelaskanlah! Sebab ibuku tidak pernah memberitahukan padaku."

Ciok Giok Yin tidak menyangka bahwa Soak Cak tidak mengerti tentang pertunangan, maka dia menjelaskan.

"Maksudku sudah ada seorang wanita yang kelak akan menjadi istriku."

Namun siapa sangka setelah mendengar penjelasan itu, wajah Soat Cak malah berseri.

"Itu bagus sekali! Aku dan dia akan terus mendampingimu. Jadi kau tidak akan kesepian lagi."

Dia melangkah maju mendekati Ciok Giok Yin, kemudian menggengam tangannya seraya berkata lagi.

"Kanda Ciok, kau harus segera membawaku pergi."

Mimpi pun Ciok Giok Yin tidak menduga bahwa gadis itu malah girang setelah mendengar penjelasannya.

Oleh karena itu, Ciok Giok Yin sudah tidak punya alasan untuk menolaknya lagi.

Dia berdiri termangu-mangu.

Mendadak Soat Cak berkata.

"Kanda Ciok, kau duduk di sini dulu!"

Dia menarik Ciok Giok Yin ke sebuah kursi, kemudian mengambil secangkir teh untuk disuguhkan ke hadapan Ciok Giok Yin.

"Kanda Ciok, minumlah! Aku pergi sebentar, segera balik ke mari."

Usai berkata, tampak badannya bergerak, melesat ke arah sebuah pintu di sudut ruangan.

Setelah gadis itu pergi, Ciok Giok Yin menikmati keindahan semua perabotan di ruangan itu.

Dia berkata dalam hati, 'Dari mana ibu Soat Cak memperoleh semua perabotan ini?

Benarkah apa yang dikatakan Soat Cak?

Sungguhkah dia seorang diri tinggal di tempat ini?

Ciok Giok Yin terus berpikir, tapi sama sekali tidak menemukan jawabnya.

Namun, dia tahu jelas satu hal, yaitu Soat Cak berkepandaian tinggi, bahkan juga paham akan berbagai macam formasi.

Berpikir sampai di situ, tiba-tiba dia teringat akan formasi yang ada di luar markas perkumpulan Sang Yen Hwee.

Tentunya dia harus mohon petunjuk pada Soat Cak, agar bila kelak datang di markas tersebut tidak akan terkurung lagi.

Namun dia pun teringat akan tubuhnya.

Kalau dia melakukan perjalanan bersama Soat Cak, sewaktu-waktu tak dapat mengendalikan diri, bukankah akan mencelakai gadis itu?

Masalah tersebut sungguh membuatnya serba salah, tidak menemukan suatu cara yang cocok.

Di saat bersamaan terlintas suatu ide dalam benaknya.

Kemudian dia berkata dalam hati.

'Kalau dia terus berkeras mau pergi bersamaku, setelah kembali dari Gunung Liok Pan San, jalan satu-satunya aku harus mengantarnya ke Gunung Kee Jiau San, markas partai Thay Kek Bun, kemudian...."

Mendadak sayup-sayup terdengar suara percakapan, namun amat lirih.

Timbullah kecurigaan Ciok Giok Yin.

Dia bangkit berdiri lalu berjalan ke pintu kecil itu.

Tampak sebuah terowongan yang amat panjang.

Pada dinding terowongan itu terdapat entah berapa banyak mutiara yang memancarkan cahaya menerangi terowongan tersebut.

Ciok Giok Yin melangkah memasuki terowongan itu.

Setelah melangkah hampir sepuluh depa, suara percakaan itu semakin terdengar jelas.

Dia tidak berani melangkah lagi, berhenti di situ sambil memusatkan pendengarannya ke arah suara itu.

Terdengar suara seorang wanita.

"... dengar, kau harus ikut dia pergi!"

Terdengar suara Soat Cak yang terisak-isak.

"Ibu, aku pasti ingat pada Ibu."

Ciok Giok Yin tertegun.

Ternyata apa yang dikatakan Soat Cak, semuanya bohong belaka.

Ibunya masih hidup, namun dia mengatakan sudah terbang jauh alias sudah mati.

Seketika hawa amarah bergejolak di rongga dadanya, karena merasa dirinya tertipu.

Dia ingin membuka suara, tapi mendadak ibu Soat Cak berkata.

"Nak, kau harus baik-baik mendengar perkataannya. Seorang wanita harus menuruti kemauan suami, agar dia gembira, barulah merupakan seorang istri yang baik, juga harus membantunya mewujudkan cita-citanya. Pergilah Anakku!"

"Ibu, perbolehkan anak Cak menemuimu satu kali lagi!"

"Tidak usah, ibu sudah menutup ruangan batu ini, tidak mau bertemu siapa pun."

"Ibu...."

Soat Cak terisak-isak, sehingga tidak mampu melanjutkan ucapannya.

"Nak, pergilah!"

Terdengar suara langkah yang amat ringan, pertanda Soat Cak sedang berjalan ke luar.

Namun Ciok Giok Yin sama sekali tidak bergeming, tetap berdiri tegak di tempatnya.

Dalam hatinya entah gusar, simpati atau..., pokoknya orang lain tidak mengetahuinya.

Soat Cak sudah berjalan di terowongan itu.

"Hah! Kanda Ciok, kau sudah mendengar semua itu?"

Serunya kaget. Karena Soat Cak telah membohonginya, sehingga menyebabkan hatinya amat gusar, maka Ciok Giok Yin menyahut dengan dingin.

"Tidak salah, aku sudah mendengar semuanya."

Dia berhenti sejenak.

"Ibumu telah terbang pergi, namun Nona masih bisa bercakap-cakap dengan ibumu itu. Sungguh mengagumkan!"

Lanjutnya menyindir. Wajah Soat Cak tampak kemerahmerahan, berkata dengan perasaan malu.

"Kanda Ciok, mengenai ini... aku memang telah membohongimu. Tapi ini atas kemauan ibuku, mohon kau sudi memaafkanku. Ibuku berharap aku bisa cepat-cepat meninggalkan tempat ini, maka berpesan begitu padaku."

Seusai Soat Cak berkata, mendadak terdengar suara ibu Soat Cak berseru.

"Nak, kalian berdua boleh kemari! Aku ingin bicara!"

Soat Cak ingin menarik tangan Ciok Giok Yin, tapi Ciok Giok Yin langsung menepiskannya, kemudian berjalan ke ruang batu itu.

Soat Cak tidak marah, bahkan mengikutinya dari belakang.

Begitu memasuki ruang batu itu, Ciok Giok Yin terbelalak, karena di sana tidak terdapat seorang pun.

"Ibu, Kanda Ciok sudah datang,"

Kata Soat Cak. Terdengar suara sahutan yang jelas sekali dari balik dinding batu.

"Nak, kau jangan menyalahkan Anak Cak. Itu memang kemauanku dia berbicara begitu. Sebetulnya aku boleh lebih awal meninggalkan dunia ini, namun hatiku tidak bisa lega terhadap anakku ini. Kini kau sudah datang, maka kuserahkan padamu. Biar bagaimana pun, harap kau membawanya pergi dari sini, agar dia tidak hidup merana seumur hidup di sini."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening. Ternyata dia mencurigai suatu hal.

"Bagaimana lo cianpwee dan Soat Cak bisa tinggal di tempat ini?"

Ibu Soat Cak menghela nafas panjang.

"Aku akan menutur sesingkatnya...."

Berselang sesaat barulah melanjutkan.

"Aku bernama Khouw Pei Ing. Sejak kecil aku bersama ibuku tinggal di Gunung Tiang Pek San. Ibuku adalah Coat Ceng Hujin (Nyonya Tanpa Cinta)...."

Mendadak Ciok Giok Yin memutuskan penuturannya.

"Coat Ceng Hujin?"

"Kau pernah mendengar nama itu?"

"Tidak pernah."

"Kalau begitu, kau jangan memutuskan penuturanku, dengarkan saja."

Ternyata ibu Khouw Pei Ing, walau julukannya adalah Coat Ceng Hujin, namun orang-orang yang dibunuhnya semuanya merupakan para penjahat rimba persilatan.

Ayahnya adalah Thian Lui Sianseng (Tuan Geledek Langit).

Lantaran melihat istrinya berhati keji sering membunuh orang, dia menasehatinya, namun malah menimbulkan salah paham, sehingga terjadi keributan besar, akhirnya Thian Lui Sianseng pergi tanpa pesan.

Sedangkan Coat Ceng Hujin, melihat sang suami tidak tahu jelas persoalannya, langsung menuduh sembarangan dia amat gusar.

Kemudian dia meninggalkan Gunung Tiang Pek San tanpa membawa Khouw Pei Ing.

Setelah itu, terjadilah pembunuhan besar-besaran di dunia persilatan.

Siapa yang melakukan itu?

Tidak lain adalah Coat Ceng Hujin.

Maka baik golongan putih maupun golongan hitam, begitu mendengar nama Coat Ceng Hujin, mereka langsung lari terbirit-birit.

Terakhir kali Coat Ceng Hujin muncul di Gunung Thian San dekat sebuah telaga.

Wanita itu dikeroyok oleh tiga tokoh persilatan tangguh, sehingga terdesak jatuh ke dalam telaga itu, namun mayatnya tidak pernah timbul.

Sejak saat itu, Coat Ceng Hujin menghilang dari rimba persilatan.

Ketika itu, begitu mendengar tentang kematian Coat Ceng Hujin, Khouw Pei Ing amat sedih.

Dia membawa kitab peninggalan ibunya, yaitu Hong Lui Ngo Im Keng (Kitab Lima Suara Angin Dan Geledek), menuju Gunung Thian San mencari mayat ibunya.

Akan tetapi air telaga itu amat dingin, maka Khouw Pei Ing tidak bisa masuk ke dalam telaga itu.

Sudah barang tentu hati Khouw Pei Ing menjadi bertambah sedih.

Wanita itu berdiri termangumangu beberapa hari di tepi telaga, namun tetap tidak menemukan jalan untuk turun ke dalam telaga itu.

Akhirnya dia membatalkan niatnya mencari mayat ibunya di dalam telaga tersebut.

Tapi justru timbul niat lain, yaitu membalaskan dendam ibunya.

Namun dunia persilatan begitu luas, bagaimana mencari orang yang tak tahu namanya?

Tentunya amat sulit sekali!

Namun Khouw Pei Ing sama sekali tidak putus asa.

Dia terus menyelidik.

Tapi tetap tidak berhasil memperoleh informasi tentang nama musuh itu.

Begitu beberapa tahun, akhirnya dia menjadi putus asa dan tidak berniat lagi mencari musuh itu.

Sebab itu, dia mencari suatu tempat untuk hidup menyendiri.

Justru pada sutu hari, ketika tengah malam, tanpa sengaja dia menerobos ke dalam istana.

Banyak pesilat tangguh rimba persilatan berada di dalam istana itu maka dia ditangkap.

Kebetulan malam itu kaisar belum tidur.

Karena tidak menyangka akan muncul pembunuh, maka sang kaisar amat gusar sehingga turun tangan sendiri untuk mengadili Khouw Pei Ing.

Sedangkan Khouw Pei Ing yakin bahwa dirinya akan dijatuhi hukuman penggal kepala.

Tapi tak disangka, ketika melihat Khouw Pei Ing, sang kaisar malah tertegun.

Ternyata sang kaisar sering menyamar sebagai orang biasa untuk mengetahui kehidupan rakyat, sekaligus menyelidiki apakah ada pembesar yang korupsi.

Pada suatu hari ketika sang kaisar tiba di sebuah rimba, mendadak muncul beberapa perampok, yang kemudian mengikatnya dan memukulnya, bahkan juga merampok semua uang emas yang dibawanya.

Kebetulan Khouw Pei Ing melewati rimba itu dan langsung menghajar para perampok hingga mereka kabur terbirit-birit.

Kemudian Khouw Pei Ing mengantar sang kaisar yang menyamar itu ke kota, setelah itu dia pergi tanpa pamit.

Khouw Pei Ing merupakan wanita yang amat cantik.

Ketika tiba di kota tersebut, sang kaisar baru ingin memberitahukan tentang identitasnya, tapi Khouw Pei Ing sudah tidak kelihatan bayangannya.

Oleh karena itu, sang kaisar amat rindu pada wanita penolongnya itu.

Tapi sang kaisar tidak berani mengutus orang mencarinya, hanya mengutus beberapa Thay Kam kepercayaannya, mencari Khouw Pei Ing di sekitar kota itu.

Akhirnya sang kaisar menjadi putus asa, sebab beberapa Thay Kam itu, sama sekali tidak menemukan jejak Khouw Pei Ing.

Akan tetapi sang kaisar masih merasa penasaran.

Secara diam-diam dia mengutus beberapa pengawal kepercayaannya pergi mencari Khouw Pei Ing.

Dia pun selalu tidur sampai larut malam, menunggu beberapa pengawal kepercayaannya pulang untuk melapor.

Begitulah setiap malam, namun sang kaisar tetap kecewa dan putus asa, karena tiada jejak wanita penolongnya.

Memang sungguh kebetulan!

Tanpa sengaja Khouw Pei Ing menerobos memasuki istana lalu tertangkap dan dihadapkan pada sang kaisar.

Benarkah Khouw Pei Ing tanpa sengaja menerobos ke dalam istana?

Ternyata tidak.

Melainkan dia melihat seseorang berpakaian malam, sehingga menguntitnya sampai di dalam istana.

Tidak mengherankan, begitu melihat Khouw Pei Ing, sang kaisar menjadi tertegun.

Sebab wanita yang ada di hadapannya, justru wanita cantik yang amat dirindukannya.

Namun sang kaisar tetap mengadilinya dengan cara membentak.

Khouw Pei Ing menjawab sejujurnya, bahwa dia tidak bermaksud membunuh kaisar.

Setelah itu sang kaisar mendongakkan kepala, agar wanita itu mengenalinya.

Mata Khouw Pei Ing memang tajam.

Begitu melihat sang kaisar, dia langsung mengenali bahwa kaisar itu adalah orang yang pernah diselamatkannya.

Seketika sang kaisar pun menjelaskan dan mencurahkan isi hatinya pada Khouw Pei Ing.

Semula wanita cantik itu menolak, namun setelah melihat sang kaisar bersungguh hati, maka Khouw Pei Ing mau tinggal di istana.

Setelah melewati hari-hari yang indah, Khouw Pei Ing pun hamil.

Ketika itu permaisuri dan para selir merasa iri terhadap Khouw Pei Ing, karena sang kaisar amat menyayanginya.

Justru karena itu permaisuri dan para selir berupaya mencelakainya.

Akhirnya Khouw Pei Ing tahu akan hal itu, maka lalu memberitahukan pada sang kaisar sambil menangis.

Oleh karena itu, sang kaisar bersedia mengangkat Khouw Pei Ing menjadi selir.

Namun Khouw Pei Ing malah menolak dan mengusulkan pada sang kaisar, bahwa dia ingin hidup di suatu tempat yang sepi, yang tidak diketahui siapa pun.

Sang kaisar berpikir, setelah itu menyuruh Khouw Pei Ing tinggal di istana belakang.

Akan tetapi walau dia sudah tinggal di istana belakang, permaisuri dan para selir masih tetap berupaya mencelakainya.

Sesungguhnya Khouw Pei Ing tidak takut terhadap mereka.

Namun kalau dia tidak waspada, suatu hari nanti pasti akan dicelakai.

Oleh karena itu, sesudah berpikir dia mengambil keputusan untuk meninggalkan istana.

Sang kaisar terus menahannya, tapi Khouw Pei Ing tetap berkeras mau pergi.

Sang kaisar tidak bisa berbuat apa-apa, tapi justru terpikirkan suatu ide yang amat bagus.

Secara diam-diam sang kaisar menyuruh beberapa pengawal kepercayaannya untuk membangun sebuah tempat tinggal yang menyerupai istana di Bukit Tanah Kuning.

Seusai tempat itu dibangun, Khouw Pei Ing pun tinggal di sana.

Sesungguhnya tujuan sang kaisar, akan mengunjungi Khouw Pei Ing, tetapi setelah Khouw Pei Ing pergi, sang kaisar jatuh sakit dan akhirnya meninggal.

Tentang ini Khouw Pei Ing pun datang di istana untuk menyelidiki.

Memang benar sang kaisar meninggal karena sakit, dan itu membuat Khouw Pei Ing amat berduka.

Kemudian dia kembali ke tempat tinggalnya di Bukit Tanah Kuning.

Sembilan bulan kemudian Khouw Pei Ing melahirkan seorang bayi perempuan, yang tidak lain adalah Soat Cak.

Sebetulnya Soat Cak adalah putri almarhum kaisar, namun hasil dari hubungan gelap.

Maka Khouw Pei Ing tidak mau mengantar Soat Cak ke istana, melainkan menggemblengnya dengan ilmu silat di Bukit Tanah Kuning.

Selama tinggal di dalam goa itu, tanpa sengaja Khouw Pei Ing berhasil menciptakan suatu ilmu, namun masih harus diperdalam.

Berhubung dia tidak bisa berlega hati terhadap Soat Cak, maka hingga saat ini, dia belum memperdalam ilmu ciptaannya itu.

Khouw Pei Ing juga mengerti ilmu meramal.

Karena itu dia pergi menyebarkan isyu, bahwa Seruling Perak tersimpan di dalam goa Bukit Tanah Kuning.

Seusai menutur semua itu, Khouw Pei Ing juga menambahkan.

"Nak, kau harus membawa anak Cak pergi. Kini aku menjodohkannya padamu, agar lebih leluasa kalian melakukan perjalanan."

"Lo cianpwee, aku sudah punya tunangan, maka tidak berani...."

Ucapan Ciok Giok Yin terputus karena mendadak terdengar suara yang amat dahsyat dari bawah. Bum! Bum!

Jilid 17 Soat Cak yang berdiri di samping Ciok Giok Yin, segera menariknya seraya berkata.

"Kanda Ciok, kita harus cepat-cepat ke luar!"

Dia tidak menunggu sahutan Ciok Giok Yin, langsung menariknya ke luar. Setelah ke luar dari ruang batu itu, terdengar lagi suara yang amat dahsyat memekakkan telinga.

"Blammm! Ciok Giok Yin terbelalak, karena ruang batu itu telah tertutup sebuah batu besar. Kini Khouw Pei Ing telah menutup diri, sedangkan Ciok Giok Yin berdiri termangu-mangu. Akan tetapi, berselang sesaat wajah Ciok Giok Yin berubah menjadi merah padam. Ternyata hawa kegusarannya mulai bergejolak lagi, karena merasa dirinya tertipu. Ketika melihat wajah Ciok Giok Yin hati Soat Cak menjadi berdebar-debar.

"Kanda Ciok, kenapa kau?"

Tanyanya dengan lembut. Ciok Giok Yin mengibaskan tangannya, kemudian menyahut dengan gusar.

"Kalian ibu dan anak sungguh pandai membohongi orang!"

Usai menyahut, dia langsung berjalan pergi. Soat Cak cepatcepat mengikutinya dari belakang dan berseru.

"Kanda Ciok, aku mohon maaf! ibuku berbuat begitu karena demi diriku, memancingmu ke mari. Tapi... aku pasti membantumu mencari Seruling Perak itu."

Kegusaran Ciok Giok Yin belum reda.

"Aku tidak membutuhkan bantuanmu, aku akan mencarinya sendiri!"

Bentaknya. Sepasang mata Soat Cak yang indah itu mulai mengucurkan air mata.

"Kanda Ciok, diriku sudah jadi milikmu. Kalaupun kau tidak membutuhkan bantuanku, aku tetap harus berlaku sebagai seorang istri, berbagi rasa dan lainnya denganmu,"

Katanya terisak-isak.

"Siapa mau berbagi rasa dan lainnya darimu?"

Sahut Ciok Giok Yin ketus.

Sesungguhnya dia bukan tidak bersimpati pada Soat Cak, melainkan teringat akan isyu yang disebarkan ibu Soat Cak, sehingga dia terpancing sampai ke tempat itu dan nyaris terbunuh oleh Si Sing Kui dari perkumpulan Sang Yen Hwee.

Karena itu hawa kegusarannya masih tetap berkobar dalam rongga hatinya.

Bahkan juga telah menyita waktunya yang seharusnya tiba di gunung Liok Pan San selekasnya, akhirnya menjadi tertunda!

Meskipun sikap Ciok Giok Yin amat kasar dan perkataannya juga ketus, namun Soat Cak tetap berkata dengan lembut.

"Kanda Ciok, beristirahatlah sejenak, agar hawa kegusaranmu reda!"

Dia mengambil secangkir the untuk Ciok Giok Yin.

"Kanda Ciok, minumlah! Aku akan berkemas sebentar, setelah itu kita berangkat."

Ciok Giok Yin tidak mengambil minuman itu.

"Terimakasih!"

Sahutnya dingin. Soat Cak, menaruh minuman itu ke atas meja.

"Kanda Ciok, duduklah sebentar!"

Katanya dengan lembut.

Soat Cak mendekati dinding batu lalu menekan sebuah tombol kecil.

Tak lama muncullah sebuah pintu kecil dan seketika tampak pula cahaya menyorot ke luar.

Ciok Giok Yin menolah memandang ke dalam ruangan itu.

Ternyata di dalamnya terdapat tempat tidur dan perabotan lainnya, yang juga terbuat dari emas.

Dia yakin kamar itu adalah kamar Soat Cak.

Usai berkemas, Soat Cak juga membawa perhiasanperhiasan yang amat berharga untuk bekal di perjalanan.

Dia tidak pernah pergi ke mana-mana, namun bisa berpikir panjang seperti itu.

Sungguh luar biasa!

Tak seberapa lama kemudian Soat Cak sudah keluar.

Dia menekan tombol kecil itu lagi dan pintu itu pun tertutup kembali seperti semula.

Soat Cak menatap Ciok Giok Yin, kemudian tersenyum lembut dan berkata.

"Kanda Ciok, ibu memberiku kitab Hong Lui Ngo Im Keng, kalau sempat, kau boleh melatihnya agar kepandaianmu bertambah tinggi."

"Aku tidak perlu itu, tolong antar aku keluar!"

Sahut Ciok Giok Yin dingin. Wajah Soat Cak yang semula berseri, seketika berubah menjadi murung dan sedih. Namun itu pun hanya sekilas. Kini wajah gadis itu telah berubah menjadi berseri kembali.

"Kanda Ciok, kusimpan juga sama. Kalau kau berniat berlatih, aku pasti serahkan padamu..."

Katanya lembut. Dia menatap Ciok Giok Yin.

"Kita boleh ke luar sekarang."

Gadis itu tersenyum lembut, lalu berjalan mendekati dinding batu yang di sebelah kanannya.

Dia menekan sebuah tombol kecil dan seketika muncul sebuah terowongan.

Soat Cak menoleh memandang Ciok Giok Yin.

"Ikut aku!"

Ajaknya.

Gadis itu langsung mengayunkan kakinya.

Ciok Giok Yin mengikutinya dari belakang, tanpa mengeluarkan suara.

Ternyata Ciok Giok Yin sedang berpikir, setelah keluar dari tempat ini, biar bagaimanapun tidak boleh membiarkan Soat Cak tetap berada di sisinya, sebab amat merepotkan.

Sebetulnya Ciok Giok Yin juga merasa simpati pada Soat Cak, hanya karena mereka berdua ibu dan anak telah berbohong, maka membuat Ciok Giok Yin amat kesal dan jengkel.

Di saat berjalan, Soat Cak melihat Ciok Giok Yin diam saja, membuat hatinya berduka sekali.

"Kanda Ciok, ada urusan apa yang terganjal di hatimu? Utarakanlah! Kalau tidak, kau akan sakit,"

Katanya dengan suara rendah.

"Tidak ada,"

Sahut Ciok Giok Yin dingin.

"Kanda Ciok, aku dapat melihat itu."

"Aku bilang tidak ada ya tidak ada. Mengapa kau begitu cerewet?"

"Syukurlah kalau tidak ada."

Di saat bersamaan, mereka berdua sudah melewati beberapa terowongan. Berselang sesaat, sudah tiba di ujung terowongan. Soat Cak memandang Ciok Giok Yin, kemudian memberitahukan.

"Kanda Ciok, sebentar lagi kita akan melihat matahari. Aku... aku sungguh gembira sekali!"

Wajah gadis itu tampak cerah ceria.

Namun sebaliknya Ciok Giok Yin mendengus dalam hati dan berkata, 'Tidak lama lagi adalah waktunya kau menangis.' Mendadak Soat Cak mengajak Ciok Giok Yin ke dinding batu yang ada di sebelah kiri, lalu menekan sebuah tombol kecil.

Kreeek!

Dinding batu itu terbuka dan seketika cahaya matahari menyorot ke dalam.

Soat Cak dan Ciok Giok Yin segera melesat ke luar.

Begitu sampai di luar, dinding batu itu tertutup kembali.

Ciok Giok Yin menengok ke sekelilingnya, ternyata dirinya berada di sebelah lain bukit Tanah Kuning.

Sedangkan Soat Cak menengadahkan kepala memandang ke langit.

Wajahnya berseri dan bersorak penuh kegirangan.

"Horeee! Sugguh indah sekali! Aku... aku amat gembira sekali!"

Saking gembira, dia bersandar di dada Ciok Giok Yin.

"Kanda Ciok, sekarang kita mau ke mana?"

Tanyanya perlahan-lahan.

"Terserah kau saja,"

Sahut Ciok Giok Yin. Soat Cak tertegun dan air mukanya langsung berubah menjadi murung.

"Kanda Ciok, kau mau ke mana, aku pasti mengikutimu."

"Aku mau pergi mati! Apakah kau juga mau ikut?"

Kata Ciok Giok Yin sengit.

Padahal dalam hati Soat Cak merasa bahagia sekali, sebab bertemu Ciok Giok Yin, yang kemudian menjadi pujaan hatinya.

Lagi pula kini dirinya sudah berada di luar Goa Tanah Kuning, sehingga hatinya bertambah bahagia dan gembira.

Akan tetapi ketika Ciok Giok Yin berkata begitu, membuat semuanya sirna seketika.

Namun Soat Cak tetap bersabar, karena tahu Ciok Giok Yin masih kesal.

"Kanda Ciok, kalau memang ada hari yang begitu naas, aku tidak akan membiarkanmu pergi seorang diri, karena seorang diri amat merana. Lagi pula aku harus melayanimu, maka aku harus ikut,"

Katanya lembut. Mendengar perkataan itu, timbullah rasa haru dalam hati Ciok Giok Yin. Akan tetapi dia tetap berkata dengan dingin.

"Mengapa kau harus terus-menerus ikut aku?"

Soat Cak meliriknya mesra.

"Karena aku adalah orangmu."

"Aku tidak bisa mengakuinya."

"Tapi ibuku bilang, aku justru harus melayanimu."

"Itu adalah urusanmu, tiada hubungannya dengan diriku. Sebab perjodohan harus disetujui kedua belah pihak, karena itu, lebih baik kau kembali pada ibumu."

"Ibuku telah menutup diri, tidak akan menerimaku lagi, kini cuma ada kau."

"Tapi, aku pun tidak bisa menerimamu."

Usai berkata, Ciok Giok Yin langsung melesat pergi. Betapa gugupnya hati Soat Cak. Gadis itu segera melesat pergi mengikutinya.

"Kanda Ciok, kau tidak boleh tinggalkan aku!"

Serunya memilukan.

Gadis itu melesat cepat menyusul Ciok Giok Yin.

Sedangkan Ciok Giok Yin telah mengerahkan ginkangnya sepenuh tenaga, tapi tetap tidak dapat meninggalkan Soat Cak.

Jarak mereka cuma selisih dua tiga depa.

Sebaliknya Soat Cak kelihatan belum mengerahkan tenaga sepenuhnya.

Di saat melesat, tanpa sengaja Ciok Giok Yin justru menuju ke depan Bukit Tanah Kuning.

Tampak empat puluh orang lebih berdiri serius di sana.

Mereka adalah para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee.

Mengenai si Setan Gemuk yang terjepit mati di pintu goa, Ciok Giok Yin sama sekali tidak tahu.

Yang duduk di tengah-tengah adalah Siau Bin Sanjin-li Mong Pai, kepala pelindung perkumpulan Sang Yen Hwee.

Masih terdapat beberapa orang yang tidak dikenal Ciok Giok Yin.

Saat ini Soat Cak sudah berada di samping Ciok Giok Yin.

"Kanda Ciok, orang-orang itu sedang berbuat apa?"

Tanyanya dengan suara rendah. Ketika Ciok Giok Yin melihat Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai dan Si Peng Khek, timbullah rasa dendam dalam hatinya. Maka dia menyahut ketus.

"Tanya saja pada mereka!"

Tentunya dia juga tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan. Dia berkertak gigi, sepasang matanya membara, kemudian menggeram mengguntur.

"Kalian para iblis, serahkan nyawa kalian!"

Ciok Giok Yin amat mendendam pada Si Peng Khek, maka tidak mengherankan kalau dia langsung menerjang ke arah empat orang itu.

Akan tetapi Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai dan Si Peng Khek, sama sekali tidak bangkit.

Mereka cuma menatap Ciok Giok Yin sambil tersenyum dingin.

Sedangkan sepasang telapak tangan Ciok Giok Yin mengarah pada Tam Peng Khek.

Namun siapa sangka di saat bersamaan terasa hawa yang amat dingin menghadang badan Ciok Giok Yin.

Sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi tak bertenaga dan sepasang telapak tangannya pun tak mampu diturunkan.

Tam Peng Khek tertawa dingin lalu berkata.

"Bocah haram, kau boleh turun tangan!"

Ciok Giok Yin sama sekali tidak menduga bahwa Si Peng Khek mampu mengerahkan hawa dingin menghadangnya. Pada saat bersamaan terdengar suara Hian Peng Khek, berkata lantang.

"Mohon petunjuk Tay Hu Hoat (Kepala Pelindung), apakah nyawa bocah haram ini harus dihabisi?"

Terdengar suara sahutan nyaring, namun tidak tampak orangnya.

"Ketua utama belum ada perintah, tidak boleh bertindak sembarangan!"

Saat ini Soat Cak sudah berada di samping Ciok Giok Yin.

"Kanda Ciok, apakah mereka orang-orang jahat?"

Tanyanya dengan lembut.

"Tidak salah."

"Perlukah aku turun tangan terhadap mereka?"

"Terserah kau."

Soat Cak menduga, orang-orang itu pasti musuh Ciok Giok Yin, maka secara tidak langsung mereka juga musuhnya.

Karena itu dia langsung melancarkan serangan terhadap para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu.

Terdengar suara jeritan.

Tampak beberapa anggota perkumpulan Sang Yen Hwee telah terluka oleh serangan Soat Cak.

Setelah itu Soat Cak malah berdiri tertegun di tempat, sebab selama ini dia tidak pernah bertarung.

Ketika melihat beberapa orang yang terluka itu merintih-rintih, hatinya yang masih polos itu justru merasa tidak tega.

Maka dia tidak berani melancarkan serangan lagi.

Mendadak terdengar suara jeritan di belakangnya.

Soat Cak segera menolah ke belakang, ternyata Ciok Giok Yin terpental oleh serangan salah seorang Si Peng Khek.

Di saat Soat Cak menyerang para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee, Ciok Giok Yin juga melancarkan serangan ke arah Si Peng Khek, namun malah terpental oleh tangkisan Si Peng Khek.

Phuuuh!

Mulut Ciok Giok Yin menyemburkan darah segar.

Betapa terkejutnya Soat Cak!

Dia cepat-cepat mendekatinya.

Namun ketika dia baru mau memapahnya bangun, Ciok Giok Yin sudah bangkit berdiri lalu menerjang lagi.

Justru di saat bersamaan terdengar suara.

"Hussh! Husssh...."

Ternyata suara itu keluar dari mulut Si Peng Khek. Tampak badan Ciok Giok Yin menggigil dan mulutnya menyemburkan darah segar lagi.

"Kanda Ciok, bagaimana kau?"

Tanya Soat Cak dengan rasa cemas.

Pada waktu bersamaan dia mendengar suara seperti tadi, membuat sekujur tubuhnya menggigil seketika.

Namun lwee kang Soat Cak amat tinggi.

Dia segera mengerahkan hawa murninya untuk melawan.

Sementara wajah Ciok Giok Yin tampak kekuning-kuningan dan badannya sempoyongan mau roboh.

Itu membuktikan bahwa dia telah menderita luka dalam yang amat parah.

Soat Cak ingin memapahnya, tapi mendadak Ciok Giok Yin mengeluarkan siulan pilu dan kemudian badannya melesat pergi.

Soat Cak berotak cerdas, maka tahu bahwa Ciok Giok Yin dilukai oleh keempat orang itu.

Wajahnya langsung berubah dingin dan dia segera menerjang ke arah Si Peng Khek.

Sedangkan Si Peng Khek masih tetap duduk di tempat sambil tersenyum dingin.

Setelah berdiri tegak, barulah Soat Cak tahu bahwa Ciok Giok Yin sudah tidak berada di situ.

Gadis itu gugup dan langsung melesat pergi menyusulnya.

"Kanda Ciok! Kanda Ciok!"

Serunya. Namun tiada sahutan.

"Kanda Ciok! Jangan tinggalkan aku, kau pergi ke mana?"

Serunya lagi.

Dia terus berseru-seru memanggil 'Kanda Ciok'.

Suara seruannya, amat memilukan.

Saat ini Soat Cak seperti bayi kehilangan ibu, sedang lapar ingin menyusu.

Suara seruan Soat Cak serak, akhirnya dia menangis dengan air mata bercucuran.

Namun dia masih berseru.

"Kanda Ciok, kau telah terluka! Jangan lari sembarangan, lukamu akan bertambah parah !"

Seruannya itu amat lembut, bahkan juga penuh perhatian.

Dia adalah gadis baik hati dan masih polos.

Tapi justru tidak tepat waktunya bertemu Ciok Giok Yin.

Apabila tepat waktunya, tentunya Ciok Giok Yin akan memberikannya suatu kelembutan.

Sementara Ciok Giok Yin terus melesat.

Dia merasa darahnya terus bergolak tidak karuan.

Phuuuh!

Mulutnya menyemburkan darah segar lagi, akhirnya dia roboh di tanah.

Namun telinganya masih mendengar suara seruan Soat Cak yang memilukan.

Dia ingin menyahut agar gadis itu menghampirinya, namun mulutnya tidak mampu mengeluarkan suara, sedangkan suara seruan Soat Cak makin lama makin jauh.

Ciok Giok Yin bangkit perlahan-lahan, lalu melanjutkan perjalanan.

Kini dia tahu jelas akan kepandaiannya sendiri.

Melawan Si Peng Khek saja dia tidak mampu, apa lagi melawan Chin Tiong Thau untuk membasmi murid murtad suhunya itu?

Mendadak terdengar suara tawa terkekeh-kekeh, dan perkataan seseorang.

"Adik kecil, tak disangka kita bertemu di sini lagi!"

Ciok Giok Yin langsung berhenti. Ternyata yang berkata itu adalah Teng Hiang Kun, salah seorang pelindung perkumpulan Sang Yen Hwee, yang juga merupakan wanita cabul.

"Wanita jalang, aku tidak akan melepaskanmu!"

Bentak Ciok Giok Yin.

Dia langsung menyerang dengan jurus pertama ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Badannya mencelat ke atas.

Namun karena dia dalam keadaan terluka parah, maka tidak dapat mengerahkan lwee kangnya.

Ketika badannya berada di udara, pandangannya justru berkunang-kunang dan akhirnya jatuh gedebuk di tanah.

Pada waktu bersamaan Teng Hiang Kun segera mengeluarkan seutas tali lalu cepat-cepat mengikatnya.

Setelah itu dia tertawa terkekeh dan berkata.

"Apakah kau masih bisa kabur?"

Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin! Dia coba mengerahkan lwee kangnya untuk memutuskan tali itu, tapi sedikit pun tidak mampu.

"Mari pergi, kita cari tempat sepi untuk bercakap-cakap!"

Kata Teng Hiang Kun.

Tali itu ditariknya, sehingga Ciok Giok Yin terpaksa mengikutinya seperti seekor hewan yang terikat.

Mendadak tampak sosok bayangan melayang turun.

Ternyata adalah Ouw Cih, penasihat perkumpulan Sang Yen Hwee.

Sepasang matanya menyorot dingin, terus menatap Teng Hiang Kun, kemudian dia berkata.

"Teng Hiang Kun, ada perintah dari ketua utama, sementara ini harus melepaskannya."

Kelihatannya Teng Hiang Kun amat takut pada Ouw suya itu.

Dia langsung melepaskan tali yang mengikat Ciok Giok Yin, namun masih mengerlingnya, lalu melesat pergi.

Begitu melihat Teng Hiang Kun telah pergi, Ouw Cih segera berkata pada Ciok Giok Yin dengan suara rendah.

"Kau harus berusaha meninggalkan tempat ini secepatnya, jangan lama-lama di sini."

Usai berkata, dia pun segera melesat pergi.

Ciok Giok Yin tidak habis pikir, mengapa Ouw ih sering membantunya?

Apa maksud tujuan sebenarnya?

Namun dia tahu, orang itu tidak berniat jahat terhadap dirinya.

Oleh karena itu dia tidak berani membuang waktu lagi, langsung melesat pergi.

Tak berapa lama kemudian, mendadak terdengar suara tua di dalam rimba di hadapannya.

"Ciok Giok Yin, sudah lama ada orang menunggumu."

Ciok Giok Yin tersentak, sebab dia pernah mendengar suara itu di dalam Goa Bukit Tanah Kuning.

"Anda siapa?"

Tanyanya.

"Sementara ini kau tidak perlu tahu namaku. Kau terluka ya?"

"Tidak salah."

"Kau harus segera beristirahat. Aku pernah berkata padamu, setelah kau keluar dari goa itu, akan ada seorang gadis mencarimu untuk mengajak bertanding. Sekarang aku akan menghadiahkan sebutir obat untukmu, sambutlah!"

Tampak sebuah benda kecil meluncur ke arah Ciok Giok Yin. Dia segera menjulurkan tangannya menyambut obat tersebut. Namun kemudian dia merasa ragu menelannya.

"Aku tidak akan mencelakaimu, kau harus cepat-cepat pulih,"

Kata orang itu.

"Sebetulnya Anda punya maksud apa?"

"Karena ada seorang gadis ingin bergebrak denganmu."

"Siapa dia?"

"Cepat atau lambat kau akan tahu, namun...."

Orang itu sepertinya sedang mempertimbangkan sesuatu, harus dikatakan atau tidak? "Tapi kenapa?"

"Sulit dikatakan. Apabila kau masih bisa hidup, kelak kau pasti tahu."

"Dia punya dendam denganku?"

"Tentang itu, kau pun tidak perlu takut."

Ciok Giok Yin mengeraskan hatinya dan bergumam.

"Musibah atau bukan kalau musibah pasti tak terhindarkan."

Dia menelan obat itu lalu duduk bersila menghimpun hawa murninya.

Berselang beberapa saat kemudian, luka dalamnya telah sembuh.

Bukan main mujarabnya obat itu.

Dia membuka matanya lalu bangkit berdiri.

Dia melihat seorang berpakaian serba hitam, memakai kain penutup muka.

Dari bentuk tubuhnya, dapat diketahui bahwa dia seorang gadis.

Sepasang matanya menyorot tajam.

"Ciok Giok Yin, kau sudah boleh turun tangan!"

Katanya dingin.

Jarak antara Ciok Giok Yin dengan gadis itu cuma kira-kira enam depa.

Memang banyak kejadian aneh dalam rimba persilatan, tiada alasan apapun menyuruh orang turun tangan.

Karena itu, siapa pun tidak akan turun tangan.

Akan tetapi gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka itu begitu membuka mulut menyuruh Ciok Giok Yin turun tangan.

Itu membuat Ciok Giok Yin tertegun, tak bergerak sama sekali.

Dia tidak dapat melihat jelas wajah gadis itu, juga tidak tahu dia sedang gusar atau amat membencinya.

Ciok Giok Yin terus berpikir, sebetulnya siapa gadis yang berada di hadapannya ini?

Namun dia yakin, berdasarkan bentuk tubuhnya, dulu tidak pernah bertemu dengannya.

"Bolehkah aku tahu identitas Nona?"

Tanyanya.

"Tidak perlu,"

Sahut gadis itu. Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Apakah Nona punya dendam denganku?"

"Tidak."

"Punya kebencian terhadapku?"

"Tidak."

Ciok Giok Yin jadi curiga.

"Kalau begitu, mengapa Nona ingin mencariku untuk bertanding?"

"Tentu ada sebabnya."

"Aku harap Nona sudi menjelaskan sebabnya. Karena kalau sudah terjadi pertandingan, sehingga terjadi sesuatu, bukankah akan menyesal seumur hidup?"

"Hm! Apakah kau yakin akan menang?"

Dengus gadis itu.

"Aku tidak bermaksud demikian. Tapi di antara kita tiada permusuhan apa-apa, lalu mengapa harus bertanding?"

"Kalau kau takut mati, berlututlah di hadapanku dan memanggilku nona besar, aku pasti mengampunimu,"

Bentak gadis itu. Dapat dibayangkan, betapa murkanya Ciok Giok Yin mendengar itu! Semula dia masih bersabar dan berusaha menekan hawa amarahnya. Namun kini timbullah sifat anehnya.

"Bukannya aku takut mati, melainkan ingin penjelasan!"

Bentaknya.

"Setelah kau berada di alam baka, baru akan memperoleh penjelasan!"

"Kau terlampau mendesakku!"

Bentaknya sengit. Namun dia tetap tidak bergerak, sebab yang dihadapinya adalah seorang gadis. Seandainya yang di hadapannya bukan seorang gadis, dari tadi dia sudah turun tangan menyerangnya.

"Aku memang sengaja mendesakmu. Kau boleh turun tangan sekarang!"

Kata gadis itu.

"Aku tidak pernah turun tangan duluan!"

Sahut Ciok Giok Yin.

"Hm! Sombong juga kau! Sambut seranganku!"

Gadis baju hitam memakai kain penutup muka langsung menyerang Ciok Giok Yin.

Bukan main cepatnya gerakan gadis itu tampak telapak tangannya berkelebat, tahu-tahu enam jurus sudah dilancarkannya.

Setiap jurus mengarah pada jalan darah Ciok Giok Yin yang mematikan, ganas, lihay dan dahsyat.

Setengah mati Ciok Giok Yin berkelit ke sana ke mari.

Terlambat sedikit pun pasti terluka oleh serangan-serangan itu.

Ciok Giok Yin mengucurkan keringat dingin.

Setelah berhasil berkelit, dia mulai menyerang dengan Soan Hong Ciang.

Terdengar suara menderu-deru dan angin pukulannya mengandung hawa yang amat panas.

Akan tetapi Ciok Giok Yin tahu bahwa kepandaian gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka itu lebih tinggi setingkat darinya.

Maka dia segera mencelat ke belakang beberapa langkah.

Kini Ciok Giok Yin ingin mengeluarkan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Namun serangan gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka yang bertubi-tubi itu membuatnya tiada berkesempatan untuk mengeluarkan ilmu pukulan tersebut.

Lagi pula dia pun pikir, dirinya tiada permusuhan apa-apa dengan gadis itu lalu mengapa harus turun tangan jahat terhadapnya?

Mungkin gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka itu hanya ingin menguji kepandaiannya.

Oleh karena itu Ciok Giok Yin sama sekali tidak mengeluarkan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Sesungguhnya, seandainya Ciok Giok Yin ingin mengeluarkan ilmu pukulan tersebut, itu pun sudah tidak memungkinkan lagi.

Sebab gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka terus-menerus menyerangnya, sehingga membuat Ciok Giok Yin tak mampu balas menyerang, cuma berkelit ke sana ke mari saja.

Mendadak gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka itu berseru.

"Roboh!"

Seketika terdengar suara jeritan.

Tampak sosok tubuh terpental dua tiga langkah kemudian jatuh di atas tanah.

Bum!

Gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka, melesat maju sambil melancarkan sebuah pukulan.

Plak!

Pukulan itu mendarat telak di dada Ciok Giok Yin.

Gadis itu tertawa puas lalu berkata.

"Kini tentunya kau sudah tahu siapa aku bukan?"

Kemudian ditendangnya Ciok Giok Yin hingga terpental beberapa depa. Saat ini terdengar suara tua di dalam rimba.

"Nak, pergilah, dia tidak akan hidup lagi."

Akan tetapi, gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka, malah mencelat ke atas, kelihatannya ingin menghatam kepala Ciok Giok Yin Di saat bersamaan dari dalam rimba melesat sosok bayangan hitam, yang langsung menahannya seraya berkata.

"Biar utuh mayatnya!"

Bukan main cepatnya gerakan bayangan hitam itu!

Dalam sekejap mata dia pergi ke dalam rimba sambil menarik gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka itu lalu menghilang.

Tak seberapa lama kemudian tampak beberapa ekor burung elang terbang berputar-putar di angkasa, yang kemudian meluncur ke bawah dengan perlahan-lahan.

Ternyata burung-burung elang itu melihat sosok mayat di tanah.

Namun burung-burung elang itu tampaknya merasa takut, tidak berani meluncur terlampau ke bawah.

Sedangkan Ciok Giok Yin yang tergeletak di tanah tak bergerak sama sekali, kelihatannya sudah mati.

Walau dia memiliki lwee kang tinggi, namun tidak akan tahan.

Karena dia terpukul beberapa kali oleh gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka itu, bahkan setelah itu, sebuah tendangan lagi membuatnya terpental beberapa depa.

Semua itu memang kesalahan Ciok Giok Yin.

Sebab dalam bertanding dia terlalu memikirkan banyak hal.

Lantaran ingin tahu mengapa gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka itu berkeras ingin bertanding dengannya, maka dia tidak berani mengeluarkan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Karena itu, dirinya malah yang terpukul.

Lagi pula begitu mulai bergebrak, gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka itu langsung menyerangnya bertubi-tubi, sehingga membuat Ciok Giok Yin terdesak.

Oleh karena itu dia terkena beberapa pukulan yang dilancarkan gadis baju hitam memakai kain penutup muka, ditambah sebuah tendangan keras.

Ciok Giok Yin terpental beberapa depa, kemudian tergeletak tak bergerak sama sekali.

Akan tetapi benarkah dia telah mati?

Dia sendiri tidak tahu.

Tentunya para pembaca yang budiman juga tidak tahu.

Namun burung-burung elang yang terbang berputar-putar di angkasa pasti dapat melihat.

Kalau tidak, burung-burung elang itu pasti sudah dari tadi berebut mematuk daging Ciok Giok Yin, bahkan kini mereka malah terbang lebih tinggi.

Saat ini suasana di sekitar tempat itu berubah menjadi amat sunyi.

Ternyata hari sudah mulai senja.

Sementara Ciok Giok Yin tetap tidak bergerak sama sekali.

Wajahnya pucat pias bagaikan kertas, dari mulutnya masih mengalir darah segar, yang perlahan-lahan berubah menjadi hitam.

Sungguh kasihan Ciok Giok Yin!

Semua budi, dendam dan kebenciannya belum terbalaskan, tapi sudah menjadi mayat.

Dia tidak bisa mati dengan mata terpejam.

Dia tidak bisa mati begitu saja.

Seandainya dia benar mati begitu saja, murid murtad suhunya semua dendam, orang-orang yang menyayanginya, pasti tidak terbalas.

Dan juga beberapa gadis yang mencintainya, bukankah akan hidup hampa dan merana selama-lamanya?

Yang jelas Ciok Giok Yin memang sudah tidak bergerak lagi.

Sementara itu Soat Cak masih terus berseru-seru memanggil Ciok Giok Yin.

Suara seruannya amat memilukan.

"Kanda Ciok, kau tidak boleh meninggalkanku, kau pergi ke mana?"

Soat Cak terus melesat pergi sambil berseru-seru.

Suara seruannya membuat orang yang berhati baja pun akan merasa iba padanya.

Soat Cak adalah gadis yang suci murni dan polos, sama sekali tidak pernah berkelana di dunia persilatan.

Kini begitu Ciok Giok Yin pergi, dia tidak tahu harus ke mana mencarinya.

Sedangkan di dunia persilatan penuh bahaya dan berbagai kelicikan serta kejahatan.

Bagaimana dia bisa hidup dikelilingi semua itu?

Tentunya membuatnya amat gugup dan panik.

Dia cuma tahu mengerahkan ginkangnya untuk mengejar Ciok Giok Yin.

Dia pun tahu jelas bahwa Ciok Giok Yin dalam keadaan terluka, tidak akan pergi jauh.

Oleh karena itu dia terus-menerus berseru-seru memanggil Ciok Giok Yin.

Soat Cak yakin dan percaya bahwa Ciok Giok Yin tidak akan meninggalkannya, sebab dia sudah menjadi milik Ciok Giok Yin.

Bagaimana mungkin Ciok Giok Yin tega meninggalkan istrinya sendiri?

Akan tetapi sementara ini Ciok Giok Yin memang merasa kurang senang.

Itu disebabkan ibunya telah berbohong.

Namun kebohongan itu tidak akan mencelakai Ciok Giok Yin.

Asal berlalu beberapa waktu, Ciok Giok Yin pasti akan memaafkannya.

Sesungguhnya Soat Cak juga terluka oleh Si Peng Khek.

Namun dia terus melesat pergi mencari Ciok Giok Yin, karena nyawa Ciok Giok Yin lebih penting dari pada nyawanya sendiri.

Berhubung berpikir demikian, maka dia tidak mempedulikan lukanya yang dideritanya.

Akan tetapi walau dia berseru hingga suaranya berubah serak, tidak mendengar suara sahutan Ciok Giok Yin.

Kini nafasnya sudah tersengal-sengal dan keringatnya pun mengucur deras.

Akhirnya dia duduk di atas sebuah batu dan kemudian menangis terisakisak.

Suara isak tangisnya amat memilukan.

Sesungguhnya ada hubungan apa Soat Cak dengan Ciok Giok Yin?

Mereka boleh dikatakan sebagai suami istri!

Kini Ciok Giok Yin hilang entah ke mana, bagaimana hati Soat Cak tidak berduka?

Dia sama sekali tidak tahu bahwa Ciok Giok Yin sedang menghadapi maut.

Kalau dia tahu, mungkin akan bunuh diri demi mendampingi Ciok Giok Yin.

Soat Cak terus menangis, tapi mulutnya masih terus memanggil Ciok Giok Yin.

Oleh karena itu pendengarannya menjadi tidak begitu tajam.

Di saat bersamaan tampak sosok bayangan melayang turun di belakangnya.

Yang muncul itu justru adalah Teng Hiang Kun, salah seorang pelindung perkumpulan Sang Yen Hwee.

Wanita jalang itu tersenyum licik dan wajahnya tampak bengis sekali.

Dia langsung menotok jalan darah Soat Cak, yakni jalan darah Hong Bwee Hiat.

Soat Cak mengeluarkan suara rintihan, lalu roboh dan tidak bergerak lagi.

Suara isak tangisnya pun berhenti seketika.

Dia memandang ke samping melihat seorang wanita berdiri di situ, memperlihatkan senyuman licik dan bengis.

Soat Cak tidak kenal wanita itu, cuma memandangnya dengan mata terbelalak lebar.

Walau jalan darah Hong Bwee Hiatnya sudah tertotok, namun dia masih bisa berbicara.

"Kakak, mengapa kau berbuat begitu?"

Tanyanya.

"Aku masih ingin membunuhmu!"

Sahut Teng Hiang Kun sengit. Hati Soat Cak tersentak ketika mendengar jawaban itu.

"Kakak, aku dan kau tiada dendam apa pun, mengapa Kakak ingin membunuhku?"

Teng Hiang Kun tertawa sinis lalu menyahut.

"Karena aku merasa tidak senang padamu!"

"Apakah di dunia persilatan, kalau seorang tidak senang terhadap orang lain lalu harus membunuhnya?"

"Kira-kira begitulah!"

Hati Soat Cak bertambah berduka. Dengan air mata meleleh deras dia bergumam perlahan-lahan.

"Ibu, mengapa kau menghendakiku berkelana di dunia persilatan? Kalau aku tahu dunia persilatan begini macam, biar bagaimana pun aku tidak akan keluar."

Dia memandang Teng Hiang Kun.

"Kakak, kalau kau memang ingin membunuhku, silakan turun tangan!"

Katanya. Gadis itu memejamkan mata, namun air matanya masih berderai-derai membasahi kedua pipinya.

"Aku ingin membunuhmu karena ada suatu sebab!"

Soat Cak membuka matanya hingga terbeliak lebar.

"Apa sebabnya?"

Teng Hiang Kun menatapnya dingin "Dalam hatimu kau pasti mengerti!"

Soat Cak tertegun.

"Aku mengerti?"

"Ng!"

"Maukah Kakak menjelaskannya?"

"Menjelaskannya?"

"Ya. Agar aku tidak mati penasaran."

"Sungguhkah kau ingin tahu?"

Soat Cak mengangguk.

"Ya."

"Siluman kecil, kau telah memikat seseorang. Maka begitu dia melihatku, menganggapku sebagai musuhnya!"

"Kakak, aku memikat siapa?"

"Siluman kecil, kau tahu tapi sengaja bertanya! Aku akan membunuhmu agar kalian tidak dapat bertemu lagi!"

Teng Hiang Kun mengangkat sebelah tangannya, kelihatannya sudah siap turun tangan membunuh Soat Cak. Mendadak Soat Cak berseru.

"Tunggu, Kakak!"

Teng Hiang Kun menurunkan tangannya, lalu bertanya dengan dingin sekali.

"Kau masih ingin pesan apa?"

Saat ini Soat Cak justru tidak menangis lagi, sebab tahu dirinya akan dibunuh.

"Kakak, sebelum aku mati, aku ingin mengajukan sebuah permintaan."

"Sebuah permintaan?"

"Ya."

"Permintaan apa? Katakanlah!"

"Aku mohon Kakak sudi mencari seseorang!"

"Siapa?"

"Dia adalah tunanganku."

"Untuk apa mencari tunanganmu?"

Tanya Teng Hiang Kun. Tiba-tiba dia tertawa.

"Aku mengerti. Kau ingin suruh dia mengubur mayatmu?"

Soat Cak menggelengkan kepala.

"Bukan."

"Lalu mengapa?"

"Aku menginginkan Kakak menyerahkan sebuah kitab padanya."

"Sebuah kitab?"

"Ya."

Terlintas suatu pikiran dalam benak Teng Hiang Kun. Dia yakin bahwa kitab itu merupakan kitab pusaka. Maka, dia segera bertanya.

"Di mana?"

Soat Cak memberitahukan.

"Di dalam bajuku!"

Tanpa menunggu lagi Teng Hiang Kun segera menarik baju bagian dada Soat Cak sehingga robek.

Kemudian diambilnya sebuah kitab dari dalam baju gadis itu, yang tidak lain adalah kitab Hong Lui Ngo Im Keng.

Begitu meliat kitab tersebut, seketika mata Teng Hiang Kun terbelalak lebar.

Ternyata pengetahuannya cukup luas, tahu bahwa itu merupakan ilmu andalan Coat Ceng Hujin, tentunya membuatnya girang bukan kepalang.

Dia menengok ke sana ke mari, lalu dimasukkan ke dalam bajunya.

"Kakak harus menyerahkan padanya,"

Kata Soat Cak dengan rasa duka. Teng Hiang Kun manggut-manggut.

"Tentu, aku pasti serahkan padanya."

Di kolong langit ini terdapat begitu banyak lelaki, yang mana tunangan Soat Cak?

Teng Hiang Kun tidak bertanya, sedangkan Soat Cak juga tidak memberitahukan.

Seandainya Soat Cak punya sedikit pengetahuan mengenai dunia persilatan, pasti bisa melihat, bahwa Teng Hiang Kun sesungguhnya cuma membohonginya.

Akan tetapi dia tidak berpengalaman dalam dunia persilatan, maka tidak tahu Teng Hiang Kun membohonginya.

Oleh karena itu dia telah menghilangkan kitab pusaka keluarganya itu.

Berselang sesaat Soat Cak berkata lagi.

"Kakak, kau boleh turun tangan!"

Teng Hiang Kun mengangkat sebelah tangannya, kelihatannya sudah mau turun tangan membunuhnya. Namun tiba-tiba dia menarik kembali tangannya, dan berkata.

"Pikiranku berubah!"

Soat Cak menatapnya heran.

"Kakak tidak jadi membunuhku?"

"Tidak begitu gampang."

"Maksud Kakak?"

"Aku telah menotok jalan darah Hong Bwee Hiatmu."

"Aku tahu itu."

Perlu diketahui, siapa yang tertotok jalan darahnya itu maka enam jam kemudian, darah di dalam tubuhnya akan membeku hingga mati.

Teng Hiang Kun yang berhati keji itu justru ingin menyiksa Soat Cak perlahan-lahan.

Sebab dia amat membenci Soat Cak, yang telah merebut jantung merebut jantung hatinya.

Siapa jantung hati itu?

Dia tidak memberitahukan.

Sedangkan Soat Cak juga tidak bertanya.

Kemudian Teng Hiang Kun tertawa terkekeh-kekeh dan berkata.

"Syukurlah kau jelas..."

Dia tertawa lagi.

"Kini aku masih memandang kitab ini maka membiarkanmu hidup beberapa jam. Kau mengerti maksudku?"

Soat Cak tampak girang sekali. Tapi gadis itu malah berpurapura sedih, karena khawatir pikiran Teng Hiang Kun akan berubah lagi.

"Kakak yang baik, bunuhlah aku agar aku tidak menderita!"

Katanya lagi.

"Kau memang harus bertahan!"

Sahut Teng Hiang Kun.

Wanita jalang itu membalikkan badannya, langsung melesat pergi.

Dalam sekejap mata sudah tidak kelihatan bayangannya.

Saat ini Soat Cak mulai tersadar akan kedustaan Teng Hiang Kun.

Dia amat menyesal karena telah kehilangan kitab pusaka keluarganya.

Akan tetapi dia pun merasa bersyukur sebab secara tidak langsung kitab pusaka tersebut telah menyelamatkan nyawanya.

Dia masih merasa khawatir Teng Hiang Kun akan kembali membunuhnya.

Maka, dia segera menghimpun hawa murninya untuk menembus jalan darah Hong Bwee Hiatnya.

Ternyata dia pernah belajar pada ibunya mengenai cara membebaskan totokan, tak disangka sangat bermanfaat baginya saat ini.

Di saat mengerahkan hawa murninya, dia pun memikirkan Ciok Giok Yin.

Berada dimana sekarang 'Kanda Ciok'nya itu?

Biar bagaimana pun harus pergi mencari Ciok Giok Yin sebab Ciok Giok Yin dalam keadaan terluka.

Namun bagaimana kalau bertemu musuh?

Bukankah dirinya akan celaka Semakin dipikirkan, hatinya menjadi semakin gugup.

Soat Cak ingin cepat-cepat membebaskan jalan darahnya yang tertotok.

Oleh karena itu dia segera mengosongkan pikirannya, menghimpun hawa murninya untuk menembus jalan darah yang tertotok tersebut.

Sementara sang waktu terus berlalu.

Entah berapa lama kemudian akhirnya Soat Cak berhasil membebaskan totokan pada jalan darahnya.

Namun sekujur badannya telah basah oleh keringat.

Padahal dia masih harus beristirahat sejenak, namun sudah tidak memungkinkan, sebab hatinya sudah terbang ke arah Ciok Giok Yin.

Baca Juga: Misteri Kapal Layar Pancawarna 13

Baca Juga: Dendam Iblis Seribu Wajah 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert