Eps 8 Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung
Baca online Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung
Cersil Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung.
Karena itu, dia langsung melesat ke arah semula.
Dia pikir Ciok Giok Yin tidak akan pergi jauh, sebab terluka parah, mungkin bersembunyi di suatu tempat untuk mengobati lukanya.
Maka ketika dia berseru-seru memanggilnya tiada sahutan sama sekali.
"Kanda Ciok, kau berada di mana?"
Dia mulai berseru-seru lagi.
Sepasang matanya yang indah menengok ke sana ke mari mencari Ciok Giok Yin.
Terutama di tempat yang agak gelap, dia memandang dengan penuh perhatian.
Semak belukar dan di balik batu besar, tidak terlepas dari sorotan matanya.
Kini suara seruannya berubah menjadi rendah.
Ternyata dia khawatir suara seruannya akan memancing kedatangan musuh, itu pasti akan mencelakai Ciok Giok Yin.
Tak seberapa lama kemudian dia sampai di depan sebuah rimba.
Di saat itulah dia memusatkan pendengarannya.
Mendadak dia mendengar suara pekikan burung elang di tempat yang tak begitu jauh.
Sebenarnya dia tidak begitu mempedulikan suara pekikan burung-burung elang itu.
Akan tetapi...
setelah berpikir sejenak, dia segera melesat ke tempat suara burung-burung elang tersebut.
Tampak beberapa ekor burung elang menukik ke bawah.
Karena itu Soat Cak memandang ke sana, dan dilihatnya sesosok mayat tergeletak di sana.
Hatinya tersentak dan dia langsung melesat ke arah mayat tersebut.
Seketika juga dia menangis meraung-raung.
"Kanda Ciok! Kanda Ciok! Siapa yang mencelakaimu?"
Soat Cak terus menangis meratap.
"Kanda Ciok, kau akan kesepian, aku harus mendampingimu,"
Gumamnya.
Soat Cak masih terus menangis hingga suaranya menjadi serak.
Dari sepasang matanya yang indah juga telah mengalir air mata bercampur darah.
Berselang sesaat dia berhenti menangis, duduk termangu-mangu di samping mayat Ciok Giok Yin.
Dalam hati dia telah mengambil keputusan untuk ikut mati bersama Ciok Giok Yin.
Dia menghapus air matanya, kemudian mengeluarkan sehelai sapu tangan untuk menghapus noda darah yang di badan Ciok Giok Yin.
"Kanda Ciok, tunggulah sebentar, istrimu ini pasti menyusul!"
Gumamnya lagi. Usai bergumam, dia memandang jauh ke depan sambil berkata.
"Ibu pernah berkata, jadi istri harus setia selamanya. Suami ke mana, istri harus ikut. Kini Kanda Ciok telah pergi, anak Cak harus ikut dia...."
Setelah berkata begitu, air matanya mulai meleleh lagi.
Kemudian dia mengangkat tangannya perlahan-lahan, siap menghantam kepalanya sendiri.
Namun mendadak tangannya yang telah terangkat itu diam, tak dapat menghantam kepalanya.
Di saat bersamaan terdengar pula suara dengusan dingin.
"Hmm! Dia belum mati, mengapa kau mau bunuh diri?"
Soat Cak tersentak segera mendongakkan kepala, dilihatnya seorang wanita anggun berpakaian mewah berdiri di situ, namun wajahnya kelihatan dingin sekali.
"Dia... dia belum mati?"
Tanya Soat Cak. Wanita anggun berpakaian mewah mengangguk perlahan.
"Dia pernah makan buah Ginseng Daging dan Pil Api Ribuan Tahun. Karena khasiat kedua benda mustika itu melindungi nadi di jantungnya, maka dia tidak mati."
Dia menatap Ciok Giok Yin.
"Di dalam bajunya terdapat sebuah botol kecil berisi obat cairan Giok Ju. Beri dia beberapa tetes, kemudian salurkan hawa murnimu ke dalam tubuhnya! Dia pasti sembuh! Tapi...."
"Tapi kenapa Cianpwee?"
"Mungkin kepandaiannya... akan punah."
"Asal dia bisa hidup, tidak memiliki kepandaian pun tidak apaapa."
Soat Cak merogoh ke dalam baju Ciok Giok Yin untuk mengeluarkan sebuah botol kecil. Kemudian dibukanya tutup botol itu dan dituangnya beberapa tetes isinya ke dalam mulut Ciok Giok Yin.
"Cukup!"
Kata wanita anggun berpakaian mewah. Namun Soat Cak melihat cairan Giok Ju itu masih berada di dalam mulut Ciok Giok Yin belum tertelan.
"Cianpwee, dia tidak bisa menelan. Bagaimana?"
Tanyanya dengan wajah murung. Wanita anggun berpakaian mewah balik bertanya.
"Kalian berdua punya hubungan apa?"
"Ibuku menjodohanku padanya."
"Kalau begitu, kalian berdua adalah calon suami istri?"
"Ya."
"Bagus! Kau boleh menggunakan mulutmu, mengerahkan hawa murni meniup obat itu agar masuk ke dalam tenggorokannya, lalu salurkan hawa murnimu ke dalam tubuhnya!"
Walau mereka berdua adalah calon suami istri, namun Soat Cak merupakan gadis yang suci murni dan polos.
Bagaimana mungkin dia dapat melakukan itu?
Maka tidak mengherankan kalau dia berdiri tertegun di tempat.
Wanita anggun berpakaian mewah tampak tidak sabaran.
"Kau tidak menghendakinya hidup? Kalian berdua adalah calon suami istri, mengapa kau tidak mau berbuat seperti yang kukatakan?"
Soat Cak berpikir sejenak, kemudian melakukan apa yang dikatakan wanita anggun berpakaian mewah obat Giok Ju masuk ke tenggorokan Ciok Giok Yin.
Setelah itu Soat Cak cepat-cepat menempelkan telapak tangannya di Tantian Ciok Giok Yin sekaligus mengerahkan hawa murninya, disalur ke dalam tubuh Ciok Giok Yin.
Meskipun Soat Cak akan kehilangan banyak hawa murni, tapi demi menyelamatkan 'Kanda Ciok'-nya, dia sama sekali tidak mempedulikan itu.
Berselang beberapa saat Ciok Giok Yin mengeluarkan suara rintihan dan nafasnya mulai berjalan.
Bukan main girangnya Soat Cak, sehingga dia terus menambah hawa murninya ke dalam tubuh Ciok Giok Yin.
Lewat beberapa saat, perlahan-lahan Ciok Giok Yin membuka matanya.
"Apakah aku sedang mimpi?"
Gumamnya.
Usai bergumam, dia segera bangun duduk.
Sedangkan sekujur badan Soat Cak telah basah kuyup oleh keringat.
Begitu melihat Ciok Giok Yin bangun duduk, cepatcepat dia menarik kembali telapak tangannya setelah bertanya.
"Kanda Ciok, kau sudah hidup lagi? Ini bukan mimpi kan?"
Ciok Giok Yin menatap Soat Cak, sambil balik bertanya.
"Kau yang menyelamatkanku?"
Soat Cak mengangguk.
"Ya. Tapi cianpwee itu yang memberi petunjuk padaku bagaimana cara menyelamatkanmu."
Ciok Giok Yin segera mendekati wanita anggun berpakaian mewah lalu memberi hormat seraya berkata.
"Sekian kali cianpwee menolongku, aku sungguh berterima kasih sekali!"
"Seharusnya kau berterimakasih pada istrimu itu."
Ciok Giok Yin segera menoleh memandang Soat Cak, kemudian berkata dengan penuh penyesalan.
"Adik Cak, aku... aku memang bersalah terhadapmu."
"Kanda Ciok, aku adalah calon istrimu. Asal kau selamat, aku sudah merasa girang sekali. Kau jangan berkata begitu."
Mendadak Ciok Giok Yin mengucurkan air mata dan berkata dengan suara gemetar.
"Adik Cak, tidak seharusnya kau menyelamatkanku."
Soat Cak tertegun.
"Kanda Ciok, kau...."
Wajah Ciok Giok Yin tampak berduka sekali.
"Ilmu silatku telah punah semua, apa artinya aku hidup?"
Katanya dengan nada tak bergairah hidup.
"Kanda Ciok, kau jangan putus asa. Perlahan-lahan ilmu silatmu akan pulih seperti sedia kala."
Di saat bersamaan tampak sosok bayangan hitam melayang turun, ternyata adalah Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai, kepala pelindung perkumpulan Sang Yen Hwee. Dia tertawa seraya berkata dengan lantang.
"Bocah, sungguh besar nyawamu!"
Selangkah demi selangkah dia mendekati Ciok Giok Yin. Sekonyong-konyong wanita anggun berpakaian mewah melesat ke hadapannya lalu berkata dengan dingin sekali.
"Li Mong Pai, hari ini kau pasti mati!"
Li Mong Pai yang masih tersenyum-senyum langsung bertanya.
"Siapa kau?"
"Kau tidak usah tahu!"
"Kalau begitu, kau ingin melindungi bocah itu?"
"Tidak salah!"
"Menurut lohu, lebih baik kau kembali ke tempat tinggalmu, dilayani para pelayan saja! Buat apa berkecimpung di dunia persialatan, yang akan merendahkan keanggunanmu?"
Karena wanita anggun itu berpakaian mewah, maka Siau Bin Sanjin menyindirnya demikian.
"Kau memang cari mampus!"
Bentak wanita anggun berpakaian mewah. Dia langsung bergerak cepat menyerang Siau Bin Sanjin. Melihat serangan itu Siau Bin Sanjin tertawa gelak.
"Bagus...!"
Serunya. Namun tak disangka kemudian terdengar suara jeritan dan tampak Siau Bin Sanjin terpental beberapa depa. Wanita anggun berpakaian mewah mendengus dingin.
"Hmm! Sungguh tak berguna! Kukira berkepandaian tinggi! Hari ini kuampuni nyawamu! Tapi kelak kalau kita bertemu lagi jangan harap aku akan mengampuni nyawamu lagi!"
Sambil meringis Siau Bin Sanjin bangkit berdiri perlahanlahan.
Dia melototi wanita anggun berpakaian mewah itu lalu pergi dengan tertatih-tatih.
Dia amat terkenal dalam rimba persilatan, jarang menemukan tandingan.
Namun tak disangka sama sekali wanita anggun berpakaian wanita itu belum menyerangnya dengan satu jurus pun sudah membuatnya terluka parah, itu sungguh di luar dugaan!
Setelah Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai pergi, wanita anggun berpakaian mewah menoleh memandang Ciok Giok Yin lalu berkata.
"Kini jalan satu-satunya bagimu, adalah harus pergi mencari Sa Pian Sih (Si Burung Murai) Gouw Ling. Mungkin dia punya cara memulihkan kepandaianmu."
"Gouw Ling?"
Tanya Ciok Giok Yin dan Soat Cak hampir serentak.
"Ng!"
"Di mana tempat tinggalnya?"
"Dengar-dengar dia telah ditaklukkan oleh perkumpulan Sang Yen Hwee."
"Haaaah...?"
Seru Ciok Giok Yin tak tertahan.
"Cepat ke sana! Lebih baik kalian menyamar saya,"
Kata wanita anggun berpakaian mewah.
Usai berkata, wanita anggun berpakaian mewah langsung melesat pergi.
Sedangkan Ciok Giok Yin dan Soat Cak saling memandang.
Kemudian Ciok Giok Yin mengeluarkan dua botol kecil dari dalam bajunya, pemberian Tek Cang Sin Kay.
Mereka berdua mulai merias wajah dan berganti pakaian.
Setelah itu kedua muda-mudi itu berubah menjadi suami istri berusia pertengahan.
Mereka saling memandang dan tertawa seketika, lalu pergi dengan bergandengan tangan.
Sementara Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai terus berjalan dengan sempoyongan.
Berselang sesaat, mendadak dia merasa seluruh jalan darahnya amat dingin dan peredaran darahnya juga kacau.
Itu membuatnya terkejut sekali.
Pengetahuannya amat luas, tahu wanita anggun itu telah menggunakan semacam ilmu, menutupi beberapa jalan darahnya.
Kalau tidak segera diobati, nyawanya pasti melayang.
Karena itu dia segera duduk bersila, menghimpun hawa murninya untuk menembus jalan darahnya yang tertutup.
Siapa duga, begitu dia menghimpun hawa murni, bagian bawah tubuhnya tak dapat bergerak sama sekali.
Dia gugup dan panik, kemudian berkata dalam hati.
'Habislah!
Sayang kini aku sudah tidak bisa jalan.
Kalau bisa..."
Tiba-tiba terdengar suara langkah dan setelah itu terdengar pula suara percakapan.
"Istriku, coba jalan cepat dikit! Kalau tidak, kita tidak dapat makan siang. Bukankah akan membuat orang membuang biaya?"
Terdengar suara sahutan wanita.
"Suamiku, apa boleh buat! Bagaimana mungkin seorang wanita berjalan cepat?"
"Istriku, biar kupapah kau."
Terdengar suara langkah yang amat berat, pertanda mereka bukan kaum rimba persilatan.
Hati Siau Bin Sanjin tergerak, kemudian dia berkata dalam hati.
'Aku harus memanggil mereka ke mari' Terdengar suara lelaki berseru kaget.
"Eh? Isteriku, bagaimana ada orang sakit di sini?"
Terdengar suara sahutan wanita.
"Peduli amat! Kita sudah tidak kuat jalan, mengapa harus mempedulikan orang lain?"
"Tapi... kita tidak boleh melihat orang hampir mati tidak menolongnya."
"Suamiku, kalau begitu pergilah kau melihatnya!"
Terdengar suara langkah semakin mendekat.
Siau Bin Sanjin segera membuka matanya.
Dilihatnya seorang lelaki berusia pertengahan, dandanannya seperti orang desa dan tampak agak kebodoh-bodohan.
Lelaki desa itu memandang Siau Bin Sanjin kemudian bertanya.
"Lo siangseng, bagaimana rasamu?"
Siau Bin San Jin-Li Mong Pai terus mengerutkan kening.
"Penyakit lohu kambuh mendadak, tidak bisa jalan. Bersediakah toako memapahku? Aku pasti berterimakasih padamu."
Lelaki desa itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku harus memapah istriku, jadi harus bagaimana?"
"Lohu mohon toako sudi membantuku!"
Saat ini muncul seorang wanita desa. Begitu melihat keadaan orang tua itu, dia segera berkata.
"Suamiku, orang tua ini patut dikasihani. Papahlah dia! Menolong orang adalah perbuatan terpuji."
"Lalu bagaimana denganmu?"
Tanya lelaki desa.
"Aku akan jalan sendiri."
Lelaki desa itu mengangguk, kemudian membangunkan Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai, setelah itu memapahnya.
Setelah tengah hari, barulah mereka tiba di depan sebuah kuil tua.
Suami istri orang desa itu memandang kuil tua, ternyata di atas pintu kuil itu terdapat beberapa huruf, yakin Kuil Ling Si.
Suami istri orang desa itu terheran-heran, karena walaupun kuil itu di kelilingi gunung, yang tidak terletak di atas tebing, mengapa disebut Kuil Tebing Liar?
Dewa apa yang bersemayam di dalam kuil ini?
Mendadak Siau Bin Sanjin-Lin Mong Pai berkata.
"Sudah sampai."
Dia bertepuk tangan satu kali, lalu tampak seorang anggota perkumpulan Sang Yen Hwee berjalan dari dalam kuil itu. Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai cepat-cepat memberi isyarat kepada orang itu dan berkata.
"Cepat bawa toako dan toaso ini ke dalam untuk beristirahat!"
Anggota perkumpulan Sang Yen Hwee tersebut menatap suami istri desa itu sejenak kemudian berkata.
"Mari ikut aku!"
"Bagaimana dengan lo siangseng ini?"
Tanya lelaki desa.
"Kau tidak usah turut campur lagi."
Suami istri desa saling memandang, setelah itu barulah mengikuti orang-orang itu ke dalam kuil, bahkan sampai di bagian belakang.
Tak terduga sama sekali, di bagian belakang kuil itu terdapat tiga kamar yang amat bersih dan teratur.
Anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu, mempersilakan suami istri desa masuk ke dalam kamar.
"Kalian berdua boleh beristirahat di kamar ini."
Usai berkata, dia langsung membalikkan badannya lalu berjalan pergi. Setelah anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu pergi, barulah wanita itu berkata.
"Kanda Ciok, keadaan di kamar ini agak ganjil."
Ternyata suami istri desa itu, adalah penyamaran Ciok Giok Yin dan Soat Cak. Ciok Giok Yin manggut-manggut.
"Adik Cak, kau harus hati-hati!"
Soat Cak tersenyum lembut.
"Kanda Ciok, aku pasti berhati-hati."
"Adik Cak, semua ini karena aku...."
Ciok Giok Yin tidak melanjutkan ucapannya.
Walau kepandaiannya telah punah, namun pendengarannya masih cukup tajam.
Dia tahu ada orang sedang berjalan menuju kamar itu.
Memang benar ada orang muncul, yakin anggota perkumpulan Sang Yen Hwee tadi.
Dia membawa beberapa macam hidangan, yang kemudian ditaruhnya di atas meja, dan setelah itu dia pun pergi.
Ciok Giok Yin dan Soat Cak tidak berlaku sungkan lagi.
Mereka langsung menyantap hidangan itu dengan lahapnya.
Tak seberapa lama kemudian, anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu muncul lagi, ternyata untuk mengambil piring itu.
"Tuan, kami mau pergi,"
Kata Ciok Giok Yin.
"Kepala pelindung ingin mengucapkan terimakasih pada kalian berdua, bagaimana mungkin kalian boleh pergi."
"Ada urusan, kami harus pergi ke rumah famili."
"Tiada perintah dari kepala pelindung, aku tidak bisa membiarkan kalian pergi, maaf!"
Kemudian dia pergi dengan membawa piring mangkok itu.
Ciok Giok Yin dan Soat Cak saling memandang, kemudian tersenyum.
Setelah itu mereka berdua duduk berdampingan, persis seperti suami istri.
Tanpa terasa saat itu hari mulai sore.
Mendadak di halaman depan kuil tua itu sepertinya ada suara orang, namun sudah tidak terdengar lagi.
Sementara Soat Cak tetap bersandar pada Ciok Giok Yin.
Gadis itu tahu bahwa kepandaian Ciok Giok Yin telah punah, maka tidak mendengar suara itu.
"Kanda Ciok, di halaman depan sepertinya ada orang datang,"
Katanya lembut sambil menatapnya. Ciok Giok Yin manggut-manggut.
"Kemungkinan besar yang datang itu adalah Sai Pian Sih."
"Kanda Ciok, kita harus bagaimana?"
Tanya Soat Cak.
"Adik Cak, pikiranku sedang kacau, kau saja yang berpikir."
Soat Cak yang lemah lembut itu, segera duduk untuk berpikir, sehingga tampak keningnya berkerut-kerut.
Gadis itu adalah calon istri yang baik, penuh pengertian dan mau berpikir demi memecahkan persoalan calon suaminya.
Sedangkan Ciok Giok Yin terus menatapnya, kemudian memegang bahunya sambil tersenyum mesra.
Soat Cak mendongakkan kepala.
"Kanda Ciok, aku sudah teringat."
Kelihatannya Ciok Giok Yin tidak mendengar apa yang dikatakan Soat Cak.
"Adik Cak, senyumanmu amat manis sekali! Sungguh beruntung aku!"
Katanya tak tertahan.
Ciok Giok Yin langsung memeluknya erat-erat.
Setelah itu, bibirnya mendekati bibir Soat Cak dan mereka saling mencium dengan mesra.
Saat ini dalam hati mereka berdua mengeluarkan suara desahan.
Di saat mereka berdua tenggelam dalam kemesraan, mendadak terdengar suara langkah ringan di luar kamar.
Ciok Giok Yin dan Soat Cak cepat-cepat melepaskan ciuman masing-masing, lalu saling memberi isyarat.
"Suamiku, kelihatannya hari ini kita tidak bisa pergi,"
Kata Soat Cak.
"Istriku, biar bagaimana pun kita harus pergi. Nanti kalau ada orang ke mari, kita titip salam padanya untuk berterimakasih pada orang tua itu."
"Suamiku, hari ini kita pasti tidak bisa sampai di rumah famili itu. Bagaimana baiknya?"
"Apa boleh buat. Kita harus melakukan perjalanan malam."
"Kau seorang lelaki, tentunya tidak masalah. Namun aku seorang wanita, bagaimana mungkin aku bisa melakukan perjalanan malam? Mungkin aku akan terpeleset jatuh."
Seusai Soat Cak berkata, tampak seorang masuk ke kamar itu, membawa beberapa macam hidangan, yang kemudian ditaruhnya di atas meja.
"Silakan makan malam!"
Kata orang itu. Ciok Giok Yin berpura-pura terkejut.
"Sungguh merepotkan kalian! Aku... aku merasa tidak enak dalam hati,"
Katanya.
"Hm! Sungguh beruntung kalian berdua orang desa bisa ke mari dan dilayani secara baik!"
Dengus anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu lalu pergi.
"Tuan, tolong beritahukan pada lo sianseng itu, kami mau pergi!"
Seru Ciok Giok Yin. Angota perkumpulan Sang Yen Hwee itu menyahut sambil melotot.
"Lo sianseng sedang sibuk, kalian beristrahat saja!"
Usai menyahut, dia langsung pergi, tanpa menghiraukan mereka lagi.
"Adik Cak, mari kita makan!"
Kata Ciok Giok Yin sambil menatap gadis itu.
Kemudian mereka berdua mulai makan.
Seusai Ciok Giok Yin dan Soat Cak makan, anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu membuka pintu kamar, lalu masuk untuk mengambil piring mangkok yang telah kosong.
Setelah anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu pergi, Soat Cak berkata dengan suara rendah.
"Kanda Ciok, aku kira San Pian Sih sudah ke mari."
"Bagaimana kau mengira itu?"
"Tadi aku mendengar suara Siaun Bin Sanjin, sepertinya sedang menghimpun hawa murninya. Pasti Sai Pian Sih membantu mengobatinya. Ya, kan?"
"Lalu kita harus bagaimana?"
"Aku sudah memikirkan suatu akal."
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Aku terus berpikir hingga tujuh keliling lho!"
"Tadi sebelum makan aku mau bilang, tapi kau...."
"Kenapa aku?"
"Kau menutupi bibirku...."
Soat Cak tidak melanjutkan ucapannya. Dia tampak tersipu dengan wajah kemerah-merahan. Ciok Giok Yin tertawa seraya berkata.
"Itu pertanda cintaku bagaikan air, lembut seperti kapas,"
Dia menatap Soat Cak.
"Adik Cak, kau punya akal apa?"
Tanyanya. Soat Cak berbisik-bisik di telinga Ciok Giok Yin, lalu bertanya.
"Kanda Ciok, bagaimana menurutmu?"
"Bagus."
"Cuma agak... merendahkan dirimu."
Ciok Giok Yin menggenggam tangan Soat Cak dengan lembut, lalu menghela nafas panjang seraya berkata.
"Adik Cak, kau ikut aku berkelana sehingga membuatmu menderita, hatiku merasa tidak tenang, maka kau jangan mengatakan merendahkan diriku."
"Kanda Ciok, jangan berkata begitu. Asal kau gembira, aku merasa puas. Karena kau adalah suami, aku adalah istri, maka aku harus menurutmu dan menggembirakan hatimu."
Bukan main terharunya hati Ciok Giok Yin mendengar itu, hingga matanya berkaca-kaca, kemudian air matanya pun meleleh.
Soat Cak segera mengeluarkan sapu tangan untuk menghapus air mata Ciok Giok Yin yang meleleh itu.
"Kanda Ciok, mengapa kau menangis?"
Tanyanya.
"Adik Cak, kau sungguh baik dan setia!"
Sahut Ciok Giok Yin lembut.
Soat Cak tersenyum lembut, lalu bersandar di dada Ciok Giok Yin.
Sedangkan Ciok Giok Yin menjulurkan tangannya, membelai-belai rambut Soat Cak.
Sementara hari sudah mulai gelap.
Anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang mengantar makanan itu tidak pernah muncul lagi.
Sunyi senyap di sekitar tempat itu.
Mendadak di dalam kamar tamu itu, terdengar suara rintihan dan jeritan.
Di saat bersamaan terdengar lagi suara seorang wanita.
"Suamiku, penyakit lamamu kambuh, apa yang harus kita lakukan?"
"Aduuuh! Sakit sekali!"
Terdengar suara lelaki itu.
"Suamiku, aku akan memijitmu."
"Percuma. Kau pun tahu itu."
"Kalau begitu apa yang harus kulakukan?"
"Aku tidak mau dengar perkataanmu, mau tinggal di sini."
"Di sini jauh dari desa, juga tiada penginapan. Harus ke mana mencari tabib? Suamiku, kau tidak boleh tinggalkan aku. Oh! Thian (Tuhan)!"
Justru di saat itulah tampak sosok bayangan menerobos ke dalam kamar tamu itu.
Soat Cak melirik.
Sosok bayangan itu ternyata adalah anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang mengantar makanan tadi.
Sepasang matanya melotot.
"Mengapa kalian merintih dan menjerit jerit?"
Bentaknya dingin.
"Tuan, penyakit lama suamiku kambuh, kau bilang harus bagaimana?"
Sahut Soat Cak sambil menangis tersedu-sedu. Ketika anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu baru mau membuka mulut, Soat Cak cepat-cepat mendahuluinya.
"Kami suami istri telah berbaik hati mengantar lo sianseng itu ke mari, tapi Tuan justru tidak memperbolehkan kami pergi. Kalau suamiku terjadi sesuatu, aku pun tidak mau hidup lagi."
"Diam! Sebenarnya dia sakit apa?"
Bentak anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu.
"Sakit perut. Setiap kali kambuh, pasti dia setengah mati. Tuan, berbaik hatilah pada kami, tolong carikan seorang tabib!"
"Mampus pun tidak jadi masalah!"
Sahut anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu.
Soat Cak berkata dengan air mata bercucuran.
Sungguh pandai gadis itu bersandiwara!
"Tuan sungguh tak punya hati nurani!
Apabila dia mati, aku akan jadi janda, lebih baik aku ikut mati saja."
"Kau boleh menikah lagi dengan lelaki lain."
Soat Cak terus menangis.
"Aku sudah ada umur, menikah dengan lelaki mana? Aku mohon pada Tuan, berbaik hatilah pada kami, tolong carikan seorang tabib! Selamanya kami tidak akan melupakan budi baik Tuan."
Mendadak Ciok Giok Yin menjerit-jerit kesakitan.
"Aduuh! Aku... aku mau buang air besar!"
Terdengar suara kentut yang cukup nyaring.
Tuuut!
Praaat!
Preeet!
Ciok Giok Yin cepat-cepat merosotkan celananya.
Seketika bau yang amat menusuk hidung memenuhi kamar itu.
Anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu cepat-cepat menutup hidungnya dan segera melesat ke luar.
"Sial dangkalan! Dasar binatang, buang air besar di sini!"
Cacinya. Sedangkan Ciok Giok Yin terus menjerit-jerit.
"Suamiku, bagaimana nih?"
Tanya Soat Cak.
Mereka berdua, justru saling menatap.
Sesungguhnya hati mereka berdua amat cemas, sebab tidak tahu Sai Pian Sih ke mari tidak.
Seandainya Sai Pian Sih tidak ke mari, bukankah sia-sia rencana atau siasat mereka?
Tak seberapa lama kemudian terdengar suara langkah menuju kamar tersebut.
Soat Cak mendengar suara langkah itu dan segera memberi isyarat kepada Ciok Giok Yin.
Seketika juga Ciok Giok Yin menjerit lebih keras, bahkan merintih-rintih tak henti-hentinya.
Terdengar pula suara kentut dan suara buang air besar.
Itu membuat kamar tersebut menjadi bau sekali.
Sementara suara langkah itu telah sampai di depan pintu kamar.
Terlihat anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu ingin melangkah ke dalam tapi langsung mundur kembali, karena tidak tahan akan bau busuk.
Sepasang matanya melotot, dia mencaci maki di luar pintu.
"Sialan! Dasar binatang! Kamar ini dibikin hingga sedemikian bau! Kalau aku naik darah, satu kali pukul kalian berdua pasti mampus!"
Dia menoleh ke belakang.
"Kau ke dalam, periksa dia!"
Kemudian terdengar suara langkah yang agak berat, masuk ke kamar itu.
Soat Cak mencuri pandang.
Dilihatnya seorang tua berwajah pucat pias, sepasang matanya suram, berjalan perlahan-lahan ke dalam.
Kening orang tua itu berkerut-kerut, kelihatannya agak tidak tahan akan bau busuk.
Namun dia tetap bertahan, berjalan mendekati ranjang.
Dia menatap Ciok Giok Yin, kemudian bertanya pada Soat Cak.
"Nyonya, suamimu sakit apa?"
Soat Cak berpura-pura sedih.
"Penyakit lamanya kambuh,"
Sahutnya. Ketika menyahut, Soat Cak sengaja meninggikan suaranya. Sesudah itu dia berkata lagi dengan suara rendah.
"Mohon tanya, apakah lo cianpwee adalah Sai Pian Sih-Gouw Ling?"
Orang tua itu tampak tertegun.
Dia langsung memandang Soat Cak.
Sepasang mata Soat Cak tampak bersinar terang.
Itu membuat orang tua tersebut tersadar, bahwa dirinya sedang berhadapan dengan kaum persilatan.
"Tidak salah,"
Sahutnya dengan hati berdebar-debar. Seketika Ciok Giok Yin berhenti menjerit. Namun baru mau membuka mulut, Soat Cak yang cerdas itu, cepat-cepat menekan bahunya.
"Suamiku, kau harus bertahan! Tabib tua ini pasti dapat menyembuhkan penyakitmu!"
Katanya lantang. Ciok Giok Yin tahu akan maksud Soat Cak. Maka dia mulai menjerit-jerit lagi seraya memandang Sai Pian Sih-Gouw Liang. Soat Cak menghadap orang tua itu.
"Lo cianpwee dikuasai perkumpulan Sang Yen Hwee?"
Tanyanya dengan suara rendah. Sai Pian Sih-Gouw Ling manggut-manggut.
"Kami mendapat petunjuk dari seorang tokoh, maka kemari minta pertolongan to cianpwee sudi memulihkan kepandaiannya!"
Kata Soat Cak lagi. Usai berkata, Soat Cak menunjuk Ciok Giok Yin. Di saat bersamaan anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang menunggu di luar itu bertanya.
"Bagaimana?"
Sai Pian Sih-Gouw Ling yang sudah berpengalaman dalam rimba persilatan itu seketika menyahut.
"Penyakitnya amat parah, membutuhkan waktu untuk memeriksanya."
Suara langkah di luar, yang kadang-kadang dekat dan kadang-kadang jauh, sepertinya mondar-mandir.
Tidak diragukan lagi, mereka pasti sedang mengawasi di luar.
Sementara Soat Cak bertanya lagi dengan suara rendah.
"Apakah kepandaian to cianpwee juga telah punah?"
Soat Cak bertanya demikian, karena melihat sepasang matanya amat suram, pertanda orang tua itu telah punah kepandaiannya. Sai Pian Sih-Gouw Ling mengangguk.
"Kepandaian lohu, telah dipunahkan oleh mereka."
Mendengar itu, hati Soat Cak menjadi tenggelam, dan kemudian dia membatin 'Kalau di luar cuma satu orang, pasti dapat menerjang keluar.
Tapi kalau banyak, pasti sulit dan membahayakan.' Akan tetapi Soat Cak sudah membulatkan hati dan nekat.
Sebelah tangannya mengempit Ciok Giok Yin dan yang sebelah lagi mengempit Sai Pian Sih-Gouw Ling, lalu menerjang ke luar.
Namun mendadak muncul seorang tua di hadapannya.
Begitu melihat orang tua itu, seketika juga sukma Soat Cak terbang entah ke mana.
Jilid 18 Siapa yang muncul di halaman depan itu? Ternyata Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai. Dia tertawa gelak seraya berkata.
"Biasanya lohu amat cermat, justru malah dapat dikelabui!"
Bukan main gugup dan paniknya Soat Cak, sebab kedua tangannya mengempit Ciok Giok Yin dan Sai Pian Sih-Gouw Ling, tentunya tidak bisa bergebrak. Dalam keadaan mendesak itu dia membentak.
"Maling tua! Lihat serangan!"
Mendadak dari dalam mulutnya meluncur keluar sebuah benda kecil.
Benda itu gemerlapan di bawah sinar rembulan dan luncurannya cepat laksana kilat.
Meskipun Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai berkepandaian tinggi dan berpengalaman luas, namun tidak tahu senjata apa yang meluncur keluar dari mulut wanita desa itu.
Badannya langsung bergerak, ternyata telah mencelat ke belakang kira-kira enam langkah.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Soat Cak, secepatnya mencelat ke atas melewati tembok kuil.
Namun Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai bergerak jauh lebih cepat.
Tampak bayangannya berkelebat, tahu-tahu sudah berada di hadapan Soat Cak.
Dia tertawa terkekeh-kekeh.
"Kalau masih bisa lobos? Cepat lepaskan orang itu!"
Sepasang matanya menyorot bengis.
"Ilmu rias kalian cukup hebat, hampir saja aku tertipu!"
Selangkah demi selangkah dia maju mendekati Soat Cak.
Gadis itu sudah putus asa, mundur selangkah-selangkah.
Seandainya dia cuma mengepit satu orang, berdasarkan kepandaiannya, tidak sulit baginya untuk kabur.
Tapi kini kedua belah tangannya mengempit dua orang, maka membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.
Kedua orang tersebut tidak ada yang bisa dilepaskannya.
Mendadak Soat Cak tampak gemetar, ternyata pahanya terkena benda yang meluncur dari kuku jari tangan Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai.
Dia maju lagi dan mengangkat sebelah tangannya, siap melancarkan pukulan.
Kelihatannya Soat Cak akan terhantam, tapi mendadak terdengar suara orang tertawa gelak dan berkata.
"Li Mong Pai! Kau berlaku sewenang-wenang lagi di tempat ini!"
Tampak sesosok bayangan melayang turun secepat kilat, langsung menyerang Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai. Siapa orang itu? Tidak lain adalah si Bongkok Arak.
"Bocah perempuan, cepat bawa mereka pergi!"
Serunya.
Soat Cak segera melesat pergi.
Akan tetapi tak disangka terasa ada serangkum angin pukulan dari arah samping.
Soat Cak menengok, ternyata adalah anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang mengantar makanan itu.
Soat Cak cepat-cepat membuka mulutnya, menyemburkan butiran-butiran air ludah, lalu menatap orang itu.
"Karena kau yang mengantar makanan untuk kami, maka kuampuni nyawamu!"
Anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu menutup mukanya dengan sepasang tangannya sambil menyurut mundur.
Sedangkan Soat Cak tidak membuang-buang waktu, langsung melesat pergi.
Tak lama dia sudah mencapai jarak beberapa mil.
Ketika sampai di sebuah rimba yang lebat dia menaruh Ciok Giok Yin dan Sai Pian Sih-Gouw Ling.
Wajah Sai Pian Sih-Gouw Ling kehijau-hijauan dan nafasnya sudah lemah sekali.
"Lo cianpwee? Lo cianpwee!"
Seru Ciok Giok Yin memanggilnya. Beberapa saat kemudian barulah Sai Pian Sih-Gouw Ling membuka matanya.
"Kalian berdua mati-matian menolongku, entah apa maksud kalian?"
Tanyanya dengan lemah.
"Lo cianpwee, aku terpukul hingga luka parah, bahkan kepandaianku juga punah. Mohon lo cianpwee sudi memulihkan kepandaianku!"
Sahut Ciok Giok Yin.
"Lohu sudah tidak mampu lagi."
Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin dan Soat Cak.
"Apakah lo cianpwee tidak sudi?"
Tanyanya hampir serak.
"Tadi lohu terkena sebutir Cap Tok Tan (Pil Sepuluh Racun). Kini racun itu telah menyerang jantungku. Maka lohu tiada waktu untuk memulihkan kepandaianmu."
"Lo cianpwee ahli dalam hal pengobatan, juga tidak dapat memunahkan racun itu?"
Tanya Ciok Giok Yin. Sai Pian Sih-Gouw Ling menghela nafas panjang.
"Tiada obat penawarnya sama sekali. Pil racun itu mengikuti aliran darah menerjang ke dalam. Kalau pun punya obat yang dapat menghidupkan orang, tidak akan bisa memunahkan racun itu."
Mendadak sepasang matanya bersinar terang.
"Kalau kau ingin pulih kepandaianmu, harus pergi mencari Thian Lui Sian Seng (Tuan Geledek Langit)."
"Thian Lui Sianseng?"
"Ya."
"Beliau berada di mana?"
Tanya Ciok Giok Yin dan Soat Cak dengan serentak.
"Sebelum lohu ditangkap oleh perkumpulan Sang Yen Hwee, lohu pernah dengar, dia tinggal di Gunung Thian San. Kau boleh ke sana, mohon Kim Kong Tan (Pil Arahat) padanya, sebab pil itu dapat memulihkan kepandaiannya."
"Terimakasih atas petunjuk lo cianpwee,", kata Ciok Giok Yin. Mereka berdua memandang wajah orang tua itu semakin menghijau dan nafasnya juga bertambah lemah, namun tidak dapat berbuat apa-apa. Mendadak Sai Pian Sih-Gouw Ling bertanya dengan suara lemah.
"Kalian berdua merias wajah?"
"Ya."
"Ke Gunung Thian San mencari Thian Lui Sian-seng, harus dengan wajah asli, jangan merias wajah. Sifat Thian Lui Sianseng bagaikan geledek. Kalian harus tahu itu!"
Ciok Giok Yin manggut-manggut.
"Kanda Ciok, lebih baik kembali pada wajah asli saja,"
Kata Soat Cak.
Ciok Giok Yin segera mengeluarkan obat penghapus.
Setelah itu, mereka berdua segera menghapus wajah masing-masing.
Maka kini sudah tampak wajah asli mereka.
Sedangkan Sai Pian Sih-Gouw Ling memejamkan matanya beristirahat, namun nafasnya sudah lemah sekali.
Ciok Giok Yin menatapnya.
Tanpa terasa air matanya telah meleleh membasahi pipi.
Soat Cak yang berdiri di sampingnya, ketika melihat keadaan Sai Pian Sih-Gouw Ling sudah sekarat, hatinya berduka sekali.
Mendadak Sai Pian Sih-Gouw Ling membuka matanya perlahan-lahan, menatap Ciok Giok Yin sekilas.
Bibirnya bergerak-gerak, namun tak mampu mengeluarkan suara.
Ciok Giok Yin tidak tahu dia ingin berkata apa, maka langsung berkata.
"Lo cianpwee mau pesan apa? Pesan saja! Aku pasti melaksanakannya."
"Kami berdua pasti memenuhi pesan lo cianpwee,"
Sambung Soat Cak.
Tiba-tiba wajah Sai Pian Sih-Gouw Ling tampak kemerahmerahan, bahkan juga bersemangat.
Melihat itu, Ciok Giok Yin tahu, itu merupakan saat terakhir bagi Sai Pian Sih-Gouw Ling.
Sai Pian Sih-Gouw Ling membuka mulut, berkata lemah sekali.
"Saudara Kecil, siapa namamu?"
"Ciok Giok Yin."
Sai Pian Sih-Gouw Ling menatap wajahnya lagi.
"Saudara Kecil, kau mirip seseorang,"
Katanya perlahanlahan. Hati Ciok Giok Yin tergerak.
"Lo cianpwee, aku mirip siapa?"
"Dia bukan marga Ciok."
Suaranya amat lemah, tidak terdengar jelas. Soat Cak yang cerdas itu tahu, Ciok Giok Yin bertanya begitu pasti ada sebabnya, maka dia segera bertanya.
"Orang tua itu bermarga apa?"
Wajah Sai Pian Sih-Gouw Ling sudah berubah pucat pias. Bibirnya bergerak berkata lirih hampir tak kedengaran.
"Marganya... marganya...."
Perlahan-lahan mulut Sai Pian Sih-Gouw Ling menutup rapat, ternyata nafasnya sudah putus. Ciok Giok Yin ingin tahu sedikit asal-usulnya, cepat-cepat menggoyang-goyangkan bahunya seraya berseru.
"Lo cianpwee bilang apa? Lo cianpwee bilang apa?"
Karena Sai Pian Sih-Gouw Ling diam saja, barulah Ciok Giok Yin tahu bahwa orang tua itu telah meninggal. Tak terbendung lagi, seketika juga air matanya bercucuran.
"Aku tidak membunuhnya, namun dia meninggal justru karena aku,"
Gumamnya.
Sesungguhnya apabila kepandaian Ciok Giok Yin tidak punah, tentunya Sai Pian Sih-Gouw Ling juga tidak akan mati.
Sedangkan Soat Cak juga mengucurkan air mata.
Gadis yang polos itu baru pertama kali melihat orang mati, maka hatinya amat duka sekali.
Mereka berdua berdiri diam dengan air mata berderai-derai.
"Adik Cak, orang mati harus dikubur. Mari kita kuburkan mayatnya!"
Soat Cak menghapus air matanya sambil mengangguk.
"Ya."
Mereka berdua menggali sebuah lubang, setelah itu mengubur mayat Sai Pian Sih-Gouw Ling di lubang itu. Setelah beres, matahari pun sudah merayap ke atas dari ufuk timur.
"Adik Cak, sekarang aku harus berangkat ke Gunung Thian San,"
Kata Ciok Giok Yin. Tanpa berpikir lagi Soat Cak langsung menyahut.
"Kita berangkat bersama."
Ciok Giok Yin memandangnya.
"Perjalanan ke Gunung Thian San amat jauh, lagi pula penuh bahaya. Karena itu aku ingin berangkat seorang diri. Sedangkan kau berangkat ke Gunung Kee Jiau San markas partai Thay Kek Bun, Setelah aku berhasil menemukan Thian Lui Sianseng dan kepandaianku pulih, aku pasti pergi ke sana menengokmu."
Soat Cak tampak gugup.
"Kanda Ciok, kepandaianmu telah punah. Aku sama sekali tidak tega melihatmu melakukan perjalanan seorang diri. Lebih baik aku mendampingimu ke Gunung Thian San. Ayo berangkat!"
Gadis itu tidak menunggu Ciok Giok Yin berkata, segera memegang lengannya lalu berangkat menuju ke Gunung Thian San.
Ciok Giok Yin sudah tidak bisa omong apa-apa, cuma menurut saja.
Berhubung kepandaiannya telah punah, dia tidak bisa menggunakan ilmu ginkang.
Ketika melihat Ciok Giok Yin begitu susah berjalan, hati Soat Cak terasa amat sedih, sehingga matanya tampak berkaca-kaca.
Di saat melakukan perjalanan, Soat Cak melihat ada orang menunggang kuda, namun tidak tahu kuda itu dari mana.
Dia memandang Ciok Giok Yin seraya bertanya.
"Kanda Ciok, kita harus cari seekor kuda, jadi Kanda Ciok tidak usah berjalan kaki."
Ciok Giok Yin tersenyum getir.
"Adik Cak, kuda itu harus dibeli."
"Beli?"
"Ng!"
"Kanda Ciok, kalau begitu kita harus membeli seekor kuda."
Ciok Giok Yin menggeleng-gelengkan kepala.
"Adik Cak, uangku tidak cukup untuk membeli seekor kuda. Lagi pula dalam perjalanan, kita masih perlu makan dan menginap, itu perlu pakai uang...."
Soat Cak tersenyum.
"Kanda Ciok, aku punya."
"Mana boleh pakai uangmu?"
"Kanda Ciok, aku adalah calon istrimu. Mengapa Kanda Ciok masih berkata begitu? Ayo, kita ke kota membeli seekor kuda!"
Ciok Giok Yin mengangguk.
Mereka berdua terus melakukan perjalanan, tak lama sudah sampai di sebuah kota kecil.
Di kota kecil itu Ciok Giok Yin dan Soat Cak membeli seekor kuda, juga makanan kering untuk bekal di perjalanan.
Mereka berdua menunggang kuda, langsung menuju arah barat.
Dalam perjalanan ini mereka berdua menempuh jalan kecil yang sepi untuk menghindari musuh.
Soat Cak amat memperhatikan Ciok Giok Yin, membuat Ciok Giok Yin terharu dan berterimakasih padanya.
Sudah barang tentu cinta kasih mereka pun tumbuh lebih mendalam.
Ciok Giok Yin tahu akan tubuhnya yang tidak seperti orang biasa, maka selalu mengendalikan diri, agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan.
Di samping itu Ciok Giok Yin juga memberitahukan pada Soat Cak mengenai dirinya, yang mana tanpa sengaja telah makan Pil Api Ribuan tahun dan juga....
Soat Cak tahu bahwa Ciok Giok Yin sudah mempunyai tunangan, namun dia sama sekali tidak merasa cemburu, sebaliknya malah bertambah gembira, karena masih ada gadis lain mendampingi Ciok Giok Yin, jadi sama-sama tidak akan kesepian.
Hari ini mereka berdua telah tiba di Gunung Thian San.
Tapi gunung itu amat luas, lagi pula puncaknya menjulang tinggi dan tertutup salju.
Ingin mencari seseorang di gunung itu bukanlah merupakan hal yang gampang.
Kuda yang mereka tunggangi, berjalan perlahan-lahan.
Soat Cak sama sekali tidak merasa lelah, tapi justru membuat Ciok Giok Yin amat menderita, lantaran udara di gunung itu dingin sekali.
Tak seberapa lama kemudian kuda itu sudah tidak sanggup mendaki lagi, maka terpaksa ditinggal begitu saja, sehingga mereka berdua harus berjalan kaki menuju puncak.
Kini pakaian Ciok Giok Yin sudah tidak karuan, tersobek sana sini.
Sedangkan telapak tangannya sudah berdarah, sebab ketika mendaki dia harus memegang batu-batu yang tajam.
Akan tetapi demi pulihnya ilmu kepandaiannya, dia berkertak gigi dan menahan rasa sakit serta dingin, terus mendaki.
Hingga beberapa hari lamanya, jangankan berjumpa orang, melihat burung pun tidak pernah.
Ketika melihat keadaan Ciok Giok Yin yang mengenaskan, bukan main dukanya hati Soat Cak.
"Kanda Ciok, lebih baik kita beristirahat sejenak,"
Katanya dengan lembut.
Ciok Giok Yin menengadahkan kepala, ternyata hari sudah senja.
Saat ini angin berhembus menderu-deru.
Suara deruan itu kedengaran amat menyeramkan, bahkan terasa amat dingin menusuk tulang.
"Adik Cak, kau ikut aku menderita...,"
Katanya perlahan. Soat Cak segera memutuskan perkataannya.
"Kanda Ciok, asal aku bisa berada di sisimu, mengalami penderitaan apa pun aku tetap merasa gembira. Kanda Ciok, di sana ada sebuah goa kecil. Mari kupapah kau ke sana Kita bermalam di situ, esok kita cari lagi."
Ciok Giok Yin memandang ke arah yang ditunjuk Soat Cak, di sana memang terdapat sebuah goa kecil.
Dia mengangguk, maka Soat Cak segera memapahnya ke dalam goa kecil itu.
Mereka duduk berhadapan.
Soat Cak mengeluarkan sedikit makanan kering, kemudian mereka berdua makan bersama.
"Adik Cak, Gunung ini amat luas. Sebetulnya Thian Lui Sianseng berada di mana? Kita mencarinya secara membabi buta, mungkin seumur hidup tidak akan dapat menemukannya,"
Kata Ciok Giok Yin.
"Kanda Ciok, bersabarlah sedikit! Asal Thian Lui Sianseng tinggal di gunung ini, aku percaya pasti dapat menemukannya."
Ciok Giok Yin manggut-manggut lalu memeluknya erat-erat.
Sebelah tangannya terus membelai rambut gadis itu, dengan penuh cinta kasih dan kemesraan.
Soat Cak yang berada dalam pelukan Ciok Giok Yin merasa hangat dan nyaman.
Kehangatan dan kenyamanan ini tidak pernah diperolehnya dari ibunya.
Karena cinta kasih ibunya merupakan cinta kasih seorang ibu terhadap anak, sedangkan cinta kasih yang diberikan Ciok Giok Yin kepadanya adalah cinta kasih suami istri.
Soat Cak memejamkan matanya, menikmati cinta kasih tersebut.
Sementara malam pun sudah tiba.
Di sekitar tempat itu gelap gulita, tidak tampak apa pun.
Mereka berdua tetap berpelukpelukan.
Mendadak sepasang mata Soat Cak terbelalak lebar, kelihatannya dia sedang mendengar suatu suara.
Suara yang didengarnya ternyata adalah suara lonceng.
Soat Cak segera duduk.
"Kanda Ciok, kau mendengar suara?"
"Suara lonceng?"
"Ya."
"Tempat yang amat dingin dan tiada jejak manusia justru ada kuil, bukankah aneh sekali?"
"Kanda Ciok, kita bertanya pada mereka, pasti dapat menemukan Thian Lui Sianseng."
Di malam nan sunyi itu suara percakapan mereka bergema keluar cukup jauh.
Karena amat girang, maka tidak mengherankan suara percakapan mereka menjadi begitu kencang.
Mendadak terdengar suara desiran.
Tampak sesosok bayangan bagaikan roh, muncul di hadapan goa kecil itu.
Soat Cak langsung bangkit berdiri, menghadang di depan Ciok Giok Yin.
Gadis itu memandang ke luar, ternyata yang muncul itu adalah seorang hweesio tua.
Sepasang matanya memancarkan sinar tajam, menatap Soat Cak dan Ciok Giok Yin.
"Ada urusan apa kalian berdua ke mari?"
Tanyanya dengan dingin.
"Taysu, kami ingin mencari seseorang,"
Sahut Soat Cak.
"Cari siapa?"
"Thian Lui Sianseng."
"Thian Lui Sianseng?"
"Ya."
"Ada urusan apa mau cari dia?"
Saat ini Ciok Giok Yin sudah bangkit berdiri.
"Aku ingin memohon sesuatu pada beliau, mohon Taysu memberi petunjuk!"
Sahut Ciok Giok Yin. Air muka hweeshio tua tampak tenggelam.
"Belum pernah dengar ada Thian Lui Sianseng tinggal di Gunung Thian San. Cepatlah kalian pergi, jangan mengantar nyawa di tempat ini."
Katanya.
"Apakah ada bahaya?"
Tanya Ciok Giok Yin.
"Gunung Thian San diselimuti salju, lagi pula banyak binatang buas. Orang yang kalian cari itu sama sekali tidak tinggal di sini, maka alangkah baiknya kalian cepat-cepat meninggalkan tempat ini."
"Bolehkah kami tahu gelar Taysu?"
"Gelarku Sih Ceng."
"Taysu berada di sini, tidak takut terhadap binatang buas?"
Sela Soat Cak. Si Ceng Taysu tidak menyangka gadis itu akan bertanya demikian, sehingga membuatnya tertegun.
"Lolap (Aku Hweeshio Tua) punya cara melawan binatang buas."
"Bagaimana cara Taysu melawan binatang buas. Bolehkah Taysu memberitahukan? Sebab biar bagaimana pun kami harus menemukan Thian Lui Sian-seng,"
Kata Soat Cak.
Di saat bersamaan mendadak terdengar suara siulan panjang di dalam lembah.
Suara siulan itu bagaikan pekikan sang naga, amat nyaring dan bergema menembus angkasa.
Seketika sepasang mata Sih Ceng Taysu berputar, lalu dia berkata.
"Kalau kalian tidak mau mendengar nasehat lohap, terserah kalian mau pergi mencari!"
Badannya bergerak, langsung melesat menuruni gunung.
"Tunggu Taysu!"
Seru Soat Cak gugup. Begitu mendengar seruan gadis itu Sih Ceng Taysu langsung berhenti.
"Ada urusan apa?"
Tanyanya.
"Taysu tinggal di sini, tentunya tahu Thian Lui Siangseng berada di mana. Mohon Taysu sudi memberitahukan, selamanya kami tidak akan melupakan budi kebaikan Taysu!"
Sahut Soat Cak dengan nada bermohon.
"Sebetulnya ada urusan apa kalian mencari dia?"
"Aku ingin mohon sebutir pil Kim Kong Tan,"
Sahut Ciok Giok Yin.
"Kim Kong Tan?"
"Ya."
"Untuk apa pil Kim Kong Tan itu?"
Ciok Giok Yin diam. Soat Cak memandangnya sambil berkata dengan lembut.
"Kanda Ciok, katakan!"
Ciok Giok Yin mengangguk lalu menutur tentang dirinya dan bagaimana kepandaiannya punah. Setelah itu dia pun menambahkan.
"Mohon petunjuk Taysu!"
"Lebih bagus kepandaian itu punah. Mengapa harus dipulihkan lagi?"
Kata Sih Ceng Taysu dingin. Mendengar itu, gusarlah Ciok Giok Yin.
"Dasar keledai gundul, sama sekali tidak tahu aturan!"
Bentaknya. Justru sungguh mengherankan. Sih Ceng Taysu tidak marah dicaci demikian. Sebaliknya dia malah tertawa gelak lalu berkata.
"Lohap tahu pun tidak akan memberitahukan pada kalian! Ha ha ha!"
Dia langsung melesat ke arah lembah itu.
Di saat bersamaan terdengar lagi suara siulan di dalam lembah itu, pertanda ada seorang tokoh berkepandaian amat tinggi di dalam lembah tersebut.
Lantaran Sih Ceng Taysu berkata begitu, membuat kegusaran Ciok Giok Yin memuncak dan dia langsung mencaci.
"Keledai gundul, suatu hari nanti aku pasti melubangi kepalamu yang gundul itu!"
"Dia adalah orang yang telah menyucikan din, namun hatinya begitu kejam, sampai hati tidak memberitahu kita,"
Kata Soat Cak.
Dia pun tampak gusar.
Ingin rasanya menyusul hweeshio tua itu untuk memberi pelajaran padanya.
Namun dia tidak berani meninggalkan Ciok Giok Yin, khawatir Ciok Giok Yin akan terjadi sesuatu.
Sementara Ciok Giok Yin masih terus mencaci Sih Ceng Taysu.
Mendadak suara bentakan sengit dari dalam lembah.
"Bocah, kalian cari Thian Lui Sianseng, apakah kalian kenal dia?"
"Beliau adalah kakek dari ibuku!"
Sahut Soat Cak.
"Tapi dia tidak kenal kalian!"
Kata orang yang ada di dalam lembah.
"Kenal tidak kenal tidak jadi masalah, yang penting kami memperoleh sebutir Pil Kim Kong Tan, agar Kanda Ciok pulih kepandaiannya!"
Seru Soat Cak. Terdengar suara seruan di dalam lembah.
"Itu omong kosong! Cepatlah kalian enyah! Ha ha ha!"
Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin! "Apakah gunung ini milikmu? Aku tidak mau pergi, kalian bisa berbuat apa terhadap diriku?"
Sahutnya.
"Bocah, kau memang cari mati!"
Terdengar suara itu semakin dekat.
Tampak sosok bayangan berkelebat bagaikan roh masuk ke dalam goa, sekaligus menyambar Ciok Giok Yin dan dibawa pergi.
Dapat dibayangkan betapa terkejutnya Soat Cak!
"Lepaskan dia!"
Bentaknya nyaring lalu melesat ke dalam lembah.
Ketika sampai di dalam lembah dia melihat tiga buah gubuk.
Di samping salah satu gubuk itu terdapat sebuah telaga kecil, yang airnya agak kehitam-hitaman.
Karena amat mencemaskan Ciok Giok Yin, Soat Cak langsung menerobos ke dalam gubuk itu.
Tampak Sih Ceng Taysu sedang duduk bersila di sebuah ranjang.
Saking gusarnya Soat Cak langsung membentak.
"Keledai gundul, cepat kembalikan Kanda Ciok-ku!"
Dia langsung menyerang Sih Ceng Taysu.
Hweeshio tua itu tersenyum dan mendadak ujung jubahnya bergerak.
Seketika Soat Cak merasa ada serangkum angin keras menerjang ke arah Cian Mo Hiatnya.
Gadis itu ingin berkelit, tapi sudah terlambat, karena jalan darahnya itu telah tertotok, sehingga membuat sekujur badannya tak dapat bergerak.
"Bocah perempuan, kau tenang-tenanglah sebentar di sini!"
Kata Sih Ceng Taysu dingin, kemudian melesat ke luar.
Gugup, panik dan gusar membaur dalam hati Soat Cak.
Tapi dia sama sekali tidak bisa bergerak, membuatnya amat cemas, karena tidak tahu Ciok Giok Yin berada di mana.
Kalau terjatuh ke tangan musuh, nyawanya pasti melayang.
Soat Cak cepatcepat menghimpun hawa murninya untuk menembus jalan darahnya yang tertotok.
Sementara Ciok Giok Yin yang dibawa pergi ternyata sudah dibawa sampai di pinggir telaga.
Orang itu melempar Ciok Giok Yin ke bawah, kemudian menamparnya dua kali.
Plak!
Plak!
"Bocah, sungguh besar nyalimu!
Berani datang di Gunung Thian san!"
Bentaknya.
Usai membentak, orang itu memukul dan menendang Ciok Giok Yin, sehingga badannya terguling-guling di tanah.
Di saat berhenti, barulah Ciok Giok Yin melihat jelas orang itu ternyata adalah seorang tua.
Ciok Giok Yin ingin membuka mulut mencacinya, tapi orang tua itu sudah menendangnya lagi, maka Ciok Giok Yin tidak sempat mencacinya.
Perbuatan orang tua itu membuat Ciok Giok Yin yakin dia adalah seorang tokoh dari golongan hitam.
Sayang sekali Ciok Giok Yin belum menemukan Thian Lui Sianseng.
Seandainya dia telah bertemu Thian Lui Sianseng dan kepandaiannya bisa pulih, dia pasti akan membunuh orang tua itu.
Memang sadis juga orang tua itu.
Dia terus menerus menendang dan memukul Ciok Giok Yin.
Mendadak orang tua itu menyambar Ciok Giok Yin dan membentak.
"Bocah, kau harus minum beberapa teguk air telaga dingin itu, agar kau tahu diri, tidak berkeliaran di tempat ini!"
Plum!
Ternyata orang tua itu telah melempar Ciok Giok Yin ke dalam telaga dingin itu.
Sedangkan dia duduk di pinggir telaga, kelihatannya santai sekali, bahkan menggoyang-goyangkan sebelah kakinya.
Walau Ciok Giok Yin dipukul dan ditendang, tapi dia tidak pingsan.
Ketika badannya tenggelam ke dalam telaga dingin itu, dia cepat-cepat menahan nafas, lalu timbul ke atas.
Namun tak disangka ketika Ciok Giok Yin timbul, orang tua itu menggunakan ilmu Sih Khong Ciap Yu (Ilmu Menyambut Jarak Jauh), maka Ciok Giok Yin jatuh di pinggir telaga.
"Bocah, nyawamu sungguh panjang!"
Bentak orang tua itu. Usai membentak dia pun mengayunkan tangannya. Plak! Plak! Ternyata dia menampar Ciok Giok Yin. Saat ini kegusaran Ciok Giok Yin sungguh-sungguh memuncak.
"Orang tua sialan! Aku tidak bermusuhan denganmu, mengapa..."
Cacinya.
"Agar kau tahu kelihayanku!"
Sergah orang tua itu. Di saat bersamaan mendadak terdengar suara bentakan nyaring.
"Tua bangka, kau berani!"
Ternyata yang membentak itu adalah Soat Cak. Dia melesat cepat ke tempat itu. Badannya masih berada di udara, sekonyong-konyong terdengar suara pujian pada sang Buddha.
"Omitohud! Bocah perempuan! Hebat juga kau dapat membebaskan totokanku!"
Tampak sebuah tasbih meluncur ke arah Soat Cak dan kemudian berkelebatan mengurungnya.
Siapa hweeshio itu, tidak lain adalah Sih Ceng Taysu.
Walau kepandaian Soat Cak cukup tinggi, namun tetap tidak dapat menandingi hweeshio tua itu.
Oleh karena itu dia terdesak ke belakang.
Kelihatannya hweeshio tua dan orang tua itu mempunyai maksud memisahkan Soat Cak dengan Ciok Giok Yin.
Sebab hweeshio tua itu terus mendesak Soat Cak, sedangkan orang tua itu terus menyiksa Ciok Giok Yin yang telah punah kepandaiannya.
Dia menampar Ciok Giok Yin kemudian menendang lagi hingga terpental ke dalam telaga.
Kali ini Ciok Giok Yin merasakan dinginnya air telaga itu sampai menusuk ke dalam tulang.
Kesadaran Ciok Giok Yin masih jernih, maka dia dapat timbul lagi di permukaan telaga lalu berenang ke tepi.
Namun tak disangka orang tua itu telah menduga akan hal tersebut.
Dia telah menunggu di tempat yang akan dituju oleh Ciok Giok Yin.
"Bocah, kau harus tenggelam ke dasar telaga dingin ini!"
Bentaknya sambil mendorongkan sepasang telapak tangannya ke arah Ciok Giok Yin.
Angin yang ditimbulkan oleh dorongan sepasang telapak tangan orang tua itu amat dahsyat, berhasil menekan tubuh Ciok Giok Yin hingga tenggelam.
Begitu berturut-turut beberapa kali, sehingga membuat Ciok Giok Yin tidak dapat mencapai pinggir telaga.
Saat ini Ciok Giok Yin sama sekali tidak menyadari satu hal, yakni dia mampu meloncat ke atas permukaan telaga hingga satu depa.
Dalam hatinya hanya terdapat dendam terhadap orang tua itu.
Akan tetapi dia tidak bisa naik ke atas.
Lagi pula dia pun tidak tahan terhadap dinginnya air telaga.
Oleh sebab itu tanpa sadar dia mengerahkan hawa murni di Tantiannya.
Buuuyar!
Ternyata dia telah mencelat ke atas tiga depa.
Namun setelah badan Ciok Giok Yin berada di udara, orang tua itu sudah tidak tampak lagi.
Ciok Giok Yin segera melesat ke tepi telaga.
Setelah sampai di tepi telaga dia tercengang.
Ternyata rasa sakit di sekujur badannya telah hilang, bahkan sebaliknya kepandaiannya malah telah pulih kembali.
Dapat dibayangakan, betapa girang hatinya!
Orang tua itu menampar, memukul dan menendangnya, tujuannya adalah memulihkan kepandaiannya.
Pantas ketika terpukul, sekujur badannya terasa panas.
Di saat itulah dia teringat sesuatu dan langsung berseru tak tertahan.
"Thian Lui lo cianpwee! Thian Lui lo cianpwee... !"
Ketika dia baru mau melesat perti, mendadak terdengar suara yang amat menderu di belakangnya.
"Tunggu, Saudara!"
Ciok Giok Yin segera membalikkan badannya.
Tampak berdiri seorang gadis berusia tujuh belasan.
Di belakang gadis itu, di permukaan telaga terapung selembar daun teratai yang amat lebar.
Kelihatannya gadis itu tidak berniat jahat, lagi pula parasnya cukup cantik.
Ciok Giok Yin segera menjura.
"Mohon tanya, Nona ada petunjuk apa?"
Gadis itu menatap Ciok Giok Yin sejenak.
"Siapa nama Saudara?"
"Namaku Ciok Giok Yin."
"Nyonya kami mengundang Saudara ke rumah."
"Nyonya?"
"Ya."
"Siapa nyonya itu?"
"Saudara ke sana pasti tahu."
Ciok Giok Yin tertegun, karena dia baru pertama kali ini datang di Gunung Thian San, bagaimana mungkin ada orang mengenalnya?
Sungguh aneh sekali!
Namun Ciok Giok Yin teringat kepada Soat Cak, maka dia berkata.
"Aku harus memberi tahu temanku dulu, setelah itu barulah pergi bersama Nona."
"Tidak perlu memberi tahu dia, sebab cuma pergi sebentar saja."
Ciok Giok Yin mengerutkan kening.
"Aku khawatir dia akan jatuh ke tangan penjahat."
"Legakan hatimu, itu tidak akan terjadi."
Berhenti sejenak, kemudian gadis itu melanjutkan.
"Silakan, Saudara!"
Jari tangan gadis itu menunjuk daun teratai lebar yang terapung di permukaan telaga. Ciok Giok Yin tidak langsung melesat ke sana, melainkan wajahnya kelihatan serba salah. Gadis itu menatapnya.
"Apakah Saudara bercuriga aku berbohong?"
Usai berkata, gadis itu melesat ke atas daun teratai tersebut.
Seketika Ciok Giok Yin berpikir.
Nyawaku boleh dikatakan terpungut kembali dan kini kepandaianku telah pulih.
Kalaupun telaga naga atau goa macan, aku harus menerjang ke sana!
Di saat Ciok Giok Yin sedang berpikir, gadis itu berkata.
"Silakan, Saudara!"
Ciok Giok Yin mengeraskan hati, lalu melesat ke atas daun teratai tersebut.
Begitu sepasang kaki Ciok Giok Yin baru menginjaknya, daun teratai tersebut mulai bergerak ke tengah telaga.
Hati Ciok Giok Yin tersentak, gadis itu masih begitu muda, namun ginkangnya sudah sedemikian tinggi.
Sungguh mengagumkan!
Ketika Ciok Giok Yin berpikir demikian, mendadak daun teratai itu mulai tenggelam.
Ciok Giok Yin terkejut.
"Nona..."
Katanya. Gadis itu sudah tahu apa yang akan diucapkan Ciok Giok Yin. Dia langsung senyum seraya berkata.
"Jangan takut, Saudara. Aku keluar masuk memang menggunakan daun teratai ini. Di dalam ada pintu rahasia, juga terdapat Pik Sui Cu (Mutiara Penangkal Air), jadi pakaian kita tidak akan basah."
Ciok Giok Yin cepat-cepat menengok ke sekelilingnya, tampak air telaga terbelah jadi dua. Melihat kejadian itu, wajah Ciok Giok Yin menjadi kemerah-merahan. Gadis itu tertawa geli.
"Hi hi! Kau takut ya?"
Hati Ciok Giok Yin menjadi kesal mendengar itu.
"Aku berkelana dalam rimba persilatan, masih belum tahu apa yang disebut takut. Sebetulnya siapa nyonya itu?"
"Sabar! Sebentar lagi Saudara akan mengetahuinya."
Sementara daun teratai itu terus merosot ke bawah.
Namun walau sudah belasan depa, belum mencapai dasar telaga.
Mendadak di depan mata Ciok Giok Yin tampak terang benderang.
Sebuah goa muncul di hadapannya.
Sungguh mengherankan!
Kira-kira dua depa di depan goa itu sama sekali tidak tampak air setetes pun.
Gadis itu langsung meloncat, sudah sampai di depan pintu goa.
Sedangkan Ciok Giok Yin mendongakkan kepala.
Dia melihat di atas pintu goa terukir beberapa huruf 'Coat Ceng Tong Thian (Goa Langit Tanpa Perasaan)'.
Setelah membaca keempat huruf itu, dia meloncat ke depan pintu goa lalu bertanya kepada gadis itu dengan suara rendah.
"Nona, mengapa di sini tidak ada air?"
"Di dinding goa terdapat Mutiara Penangkal Air, maka di dalam goa tidak ada air. Silakan masuk!"
Ciok Giok Yin mengikuti gadis itu ke dalam goa.
Lorong goa itu amat panjang.
Setiap berapa langkah pasti terdapat sebutir mutiara yang memancarkan cahaya, sehingga lorong goa itu menjadi agak terang.
Tentunya membuat Ciok Giok Yin terheran-heran.
Di kolong langit ini memang banyak hal aneh.
Mimpipun tak dapat menduga, bahwa di dasar telaga dingin ini terdapat sebuah goa.
Penghuni goa ini pasti seorang tokoh tua yang tidak tertarik akan duniawi.
Di saat Ciok Giok Yin sedang berpikir, gadis itu berkata dengan suara rendah.
"Tunggu sebentar ya, aku ke dalam melapor!"
Usai berkata, dia langsung berjalan ke dalam.
Ciok Giok Yin berjalan ke dalam menuju ruang batu.
Sampai di dalam, dia melihat seorang wanita berusia lima puluhan duduk di atas ranjang batu, sedangkan gadis yang membawa Ciok Giok Yin berdiri di sampingnya.
Sepasang mata wanita itu amat tajam, sepertinya akan menembus ke dalam hati orang.
Sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi merinding, tidak berani beradu pandang dengannya.
Setelah berada di hadapan wanita itu, Ciok Giok Yin memberi hormat seraya berkata.
"Boanpwee (Aku Yang Rendah) Ciok Giok Yin memberi hormat pada lo cianpwee!"
"Kau bernama Ciok Giok Yin?"
Tanya wanita itu dengan dingin.
"Ya."
"Bagaimana kau bisa datang di telaga dingin Gunung Thian San ini?"
"Aku ke mari mencari seorang lo cianpwee."
"Siapa? Bolehkah aku tahu?"
"Thian Lui Sianseng."
"Thian Lui Sianseng?"
"Ya."
"Ada urusan apa kau mencarinya?"
Ciok Giok Yin tahu bahwa wanita itu tidak berniat jahat terhadapnya, maka dia menyahut dengan jujur.
"Karena kepandaianku masih rendah, sehingga terluka parah di tangan seorang gadis yang memakai kain penutup muka, membuat kepandaianku punah. Seorang cianpwee memberi petunjuk padaku, harus ke mari mencari Thian Lui Sianseng."
"Kau sudah menemukannya?"
Tanya wanita itu.
"Belum."
"Bagaimana cara kepandaianmu bisa pulih kembali?"
Ciok Giok Yin tidak tahu orang tua tadi, karena itu dia menutur tentang kejadian tersebut. Setelah mendengar penuturan Ciok Giok Yin wanita yang duduk di atas ranjang batu, mendengus dingin.
"Hmmm! Tak disangka setan tua itu masih punya kehebatan!"Dia memandang Ciok Giok Yin.
"Dia sudah memberimu pil Kim Kong Tan?"
"Belum,"
Sahut Ciok Giok Yin dengan tertegun.
"Untuk apa setan tua itu menyimpan pil Kim Kong Tan?"
Mendadak hati Ciok Giok Yin tergerak, kemudian dia berkata dalam hati, 'Wanita ini menyebut Thian Lui Sianseng setan tua. Apakah mereka berdua telah lama kenal?' Karena itu dia bertanya.
"Mohon tanya siapa cianpwee?"
Sepasang mata wanita yang duduk di atas ranjang batu itu langsung menyorot dingin dan kemudian dia balik bertanya.
"Kau melihat empat huruf yang terukir di atas pintu goa?"
Ciok Giok Yin terbelalak.
"Coat Ceng Hujin?"
Serunya tak tertahan.
"Ya."
Seketika Ciok Giok Yin berseru lagi.
"Hah? Kalau begitu, cianpwee...!"
"Maksudmu aku belum mati?"
Kata Coat Ceng Hujin. Ciok Giok Yin tertegun tidak berani menyahut.
"Jangan takut, kau dengar dari siapa?"
Tanya Coat Ceng Hujin lagi.
Di saat bersamaan Ciok Giok Yin teringat akan penuturan Khouw Pei Ing, serta Soat Cak yang dijodohkan padanya.
Oleh karena itu dia langsung menutur tentang itu, kemudian menambahkan.
"Cianpwee, kini Adik Cak masih berada di tepi telaga."
"Kalau begitu dia adalah cucuku."
"Ya."
Ciok Giok Yin cepat-cepat melanjutkan.
"Dia berada di sana, apakah dalam bahaya?"
"Legalah hatimu, setan tua itu adalah Thian Lui Sianseng yang kau cari itu."
Ciok Giok Yin terbelalak.
"Jadi orang tua itu benar Thian Lui Sianseng?"
"Tidak salah."
"Kalau begitu aku tidak mau menemui orang tua itu lagi."
"Mengapa?"
"Orang tua itu... telah menyiksaku, sehingga aku pun mencacinya."
"Itu tidak jadi masalah, sifatnya memang begitu."
Coat Ceng Hujin berpikir sejenak.
"Tahukah kau apa sebabnya aku memanggilmu ke mari?"
"Tidak tahu."
Coat Ceng Hujin berkata dengan dingin.
"Urusanku masa lalu tentunya kau sudah dengar dari ibunya Soat Cak. Itu menghancurkan diriku atau bukan, aku sendiri pun tidak dapat membedakannya. Biarlah kaum rimba persilatan yang menilainya."
Mendadak terlintas suatu hal dalam benak Ciok Giok Yin, maka dia segera bertanya.
"Lo cianpwee, bolehkah lo cianpwee menjelaskan tentang urusan masa lalu itu?"
"Urusan itu telah berlalu, untuk apa diungkit kembali? Aku terpukul jatuh ke dalam telaga dingin ini oleh tiga tokoh persilatan yang berhati kerdil. Kemudian aku hidup menyendiri dua puluh tahun di sini. Namun hatiku masih amat penasaran terhadap ketiga tokoh persilatan itu."
"Siapa ketiga tokoh persilatan itu?"
"Yang pertama adalah Mok Pak Tiau (Rajawali Gurun Utara). Dia adalah hweeshio tua yang di atas itu."
"Hah? Ternyata dia!"
Seru Ciok Giok Yin tak tertahan.
"Dia berada di telaga itu sesungguhnya sedang mengawasiku, apakah aku sudah mati atau belum. Justru tak disangka setan tua itu malah jadi kawannya."
"Bagaimana sikap Mok Pak Tiau terhadap orang?"
"Dari segi luarnya kelihatan memang welas asih, namun hatinya licik dan banyak akal busuknya. Dia manusia rendah."
"Mohon tanya, bagaimana Thian Lui lo cianpwee bisa menjadi kawan baiknya?"
"Kini dia adalah Sib Ceng Taysu, menutupi wajah aslinya yang dulu."
"Dia berada di atas sana, mengapa lo cianpwee tidak mau membasminya demi keselamatan dunia persilatan?"
"Kaum rimba persilatan semuanya tahu aku telah tenggelam ke dalam telaga dingin. Lagi pula sepasang kakiku telah lumpuh, tidak leluasa berjalan, maka aku bersabar hingga saat ini. Kini kau sudah ke mari, maka aku ingin mohon bantuanmu."
"Mohon bantuanku?"
"Ya. Namun aku tidak memakaimu secara cuma-cuma."
"Bantuan apa yang dapat kuberikan, lo cianpwee katakan saja!"
"Sekarang jangan bicarakan soal ini, terlebih dahulu kau kuwarisi Coat Ceng Ciang (Ilmu Pukulan Tanpa Cinta)."
"Coat Ceng Ciang?"
Coat Ceng Hujin mengangguk.
"Benar. Sekarang perhatikan!"
Mendadak badan Coat Ceng Hujin mengapung ke atas dengan posisi tidak berubah.
Tampak telapak tangannya berkelebat ke sana ke mari, namun tidak mengeluarkan suara.
Ketika menyaksikan ilmu pukulan itu Ciok Giok Yin berpikir, ilmu pukulan itu tidak menimbulkan suara maupun angin pukulan, bagaimana mungkin dapat melukai orang?
Lagi pula dalam keadaan posisi duduk.
Kelihatannya Coat Ceng Hujin tahu akan apa yang dipikirkan Ciok Giok Yin.
"Cobalah kau berlatih sebentar!"
Walau Ciok Giok Yin tidak begitu yakin akan ilmu pukulan tersebut, namun dia tidak berani membantah.
Tak disangka begitu dia mulai berlatih, ternyata ilmu pukulan itu amat luar biasa.
Meskipun cuma satu jurus, tapi banyak mengandung perubahan yang tak dapat diduga sama sekali.
Coat Geng Hujin manggut-manggut kemudian berkata.
"Kau harus membunuh ketiga orang itu dengan ilmu pukulan ini."
Hati Ciok Giok Yin tersentak.
"Membunuh tiga orang?"
"Tidak salah."
"Siapa ketiga orang itu?"
"Orang yang pertama adalah hweeshio tua yang di atas itu."
Ketika mendengar itu, Ciok Giok Yin termundur selangkah dan membatin.
'Walau dulu orang itu amat licik dan berakal busuk, tapi kini dia telah menyucikan diri bergelar Sih Ceng Taysu.
Buddha bersabda, 'Letakkan golok pembunuh dan segeralah menjadi Buddha.' Lalu apakah aku harus turun tangan terhadap murid Sang Buddha?' Karena melihat Ciok Giok Yin diam, maka Coat Ceng Hujin segera bertanya.
"Kau tidak bersedia?"
"Kini dia telah menyucikan diri menjadi hweeshio,"
Sahut Ciok Giok Yin. Coat Ceng Hujin mendengus dingin.
"Hmm! Aku beritahukan, dia berada di sini selain mengawasiku, juga mempunyai suatu tujuan. Ciok Giok Yin tercengang.
"Masih ada tujuan lain?"
"Betul."
"Apa tujuannya?"
"Dia ingin memiliki kitab Hong Lui Ngo Im Keng."
"Hong Lui Ngo Im Keng?"
"Ya."
"Lo cianpwee, Hong Lui Im Keng ada di tangan Adik Cak."
Coat Ceng Hujin terbelalak dan langsung bertanya.
"Kini berada di tangan Anak Cak?"
"Ya."
"Kalau begitu, kau harus segera keluar, jangan sampai kitab itu direbut hweeshio keparat itu!"
Ketika Ciok Giok Yin baru mau pergi, mendadak Coat Ceng Hujin memanggilnya. Ciok Giok Yin berhenti, maka Coat Ceng Hujin lalu berkata.
"Dua orang lagi adalah Pek Hap Hui Su dari Siauw Lim Si, tapi sudah dikeluarkan dari pintu perguruan Siauw Lim Si. Yang satu lagi adalah Tong Hai Kui Mo (Setan Iblis Laut Timur). Dia menatap Ciok Giok Yin.
"Kau harus mewakiliku membasmi ketiga orang itu dengan ilmu pukulan Coat Ceng Ciang."
Ciok Giok Yin mengangguk.
"Ya."
Namun dia berkata dalam hati. 'Seandainya ketiga orang itu sudah bertobat, apakah tetap harus kubunuh?' Karena itu Ciok Giok Yin bertanya.
"Bolehkah aku mengajukan sebuah pertanyaan?"
"Pertanyaan apa?"
"Seandainya ketiga orang itu sudah bertobat, lalu aku harus bagaimana?"
Coat Ceng Hujin tertegun, karena tidak menyangka Ciok Giok Yin akan mengajukan pertanyaan seperti itu.
"Sifat manusia sulit diubah, itu tidak akan salah. Kalau memang mereka sudah bertobat, terserah kau saja,"
Katanya kemudian.
"Terimakasih, lo cianpwee."
Coat Ceng Hujin menengok gadis yang berdiri di sampingnya.
"Antar dia keluar!"
"Ya."
Gadis itu segera mengantar Ciok Giok Yin meninggalkan goa tersebut, tetap melalui daun teratai itu meluncur ke atas. Setelah sampai di permukaan telaga gadis itu berkata.
"Saudara Ciok, silakan ke darat, aku tidak mengantar lagi."
"Terimakasih, Nona!"
Ucap Ciok Giok Yin sambil memandang gadis itu.
Kemudian dia melesat ke tepi.
Ketika dia membalikkan badannya, gadis itu sudah tidak kelihatan.
Beberapa saat kemudian, ketika Ciok Giok Yin mau mencari Soat Cak, mendadak terdengar suara desiran ujung baju.
Ciok Giok Yin bergerak cepat membalikkan badannya, tampak orang tua itu berdiri di situ.
Sepasang matanya menyorot tajam menatap wajah Ciok Giok Yin, bahkan tak berkedip sama sekali.
"Bocah, kau ke mana?"
Tanya orang tua itu dingin. Ciok Giok Yin balik bertanya.
"Apakah lo cianpwee adalah Thian Lui Sian-seng?"
"Tidak salah."
"Terimakasih atas kebaikan lo cianpwee telah memulihkan kepandaianku."
"Jangan omong kosong! Tadi kau ke mana?"
"Aku pergi menemui Coat Ceng Lo cianpwee...."
Mendadak Thian Lui Sianseng bergerak cepat laksana kilat, mencengkeram lengan Ciok Giok Yin.
"Kau bilang apa?"
Bentaknya.
Ciok Giok Yin yang tidak menduga bahwa Thian Lui Sianseng akan mencengkeramnya, maka dia tidak sempat berkelit.
Begitu lengannya tercengkeram, sekujur badannya menjadi ngilu tak dapat bergerak.
Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin!
"Thian Lui lo cianpwee, kini aku sudah berada di tanganmu!
Kalau lo cianpwee mau membunuhku, silakan!
Tapi kalau lo cianpwee menginginkan aku menjawab, jangan harap!"
Thian Lui Sianseng tersadar, bahwa tindakannya memang kelewat batas. Maka dia segera melepaskan tangannya dan mundur tiga langkah.
"Katakan!"
Desaknya.
"Tadi aku pergi menemui Coat Ceng lo cianpwee."
"Dia berada di mana?"
"Di dasar telaga dingin itu."
"Benarkah itu?"
"Aku tidak perlu bohong, tapi... apakah lo cianpwee pernah salah paham terhadapnya?"
Mendadak Thian Lui Sianseng tertawa gelak. Suara tawanya bergema ke mana-mana. Beberapa saat kemudian dia berkata.
"Lohu menyesal dua puluh tahun lebih, karena telah salah paham terhadapnya, kini memang sudah waktunya."
Dia merogohkan tangan ke dalam sakunya untuk mengeluarkan sebuah botol kecil.
"Bocah, pil Kim Kong Tan!"
Serunya.
Thian Lui Sianseng melempar pil tersebut ke arah Ciok Giok Yin.
Di saat bersamaan, mendadak tampak sosok bayangan melesat ke sana laksana kilat.
Ketika Ciok Giok Yin baru menjulurkan tangannya mau menerima pil itu, bayangan tersebut mendahului bahkan langsung menelannya.
Setelah itu terdengar suara tawa terkekeh "Terimakasih, sobat lama!"
Thian Lui Sianseng dan Ciok Giok Yin memandang orang itu, ternyata adalah Sih Ceng Taysu. Bayangkan betapa gusarnya Thian Lui Sianseng! "Sih Ceng, lohu cuma punya sebutir, kau..."
Bentaknya dengan suara dalam. Saat ini wajah Sih Ceng Taysu tampak bengis dan jahat. Mendadak Ciok Giok Yin menggeserkan badannya mendekati Sih Ceng Taysu lalu membentak sengit.
"Maling tua, kau memang sungguh jahat! Hari ini aku akan mewakili Coat Ceng Hujin lo cianpwee membasmimu!"
Sembari berkata Ciok Giok Yin menyerang Sih Ceng Taysu dengan ilmu pukulan Coat Ceng Ciang.
Terdengar suara jeritan.
Mulut Sih Ceng Taysu menyemburkan darah segar.
Dia langsung melesat pergi lalu hilang di tikungan sebuah batu besar.
Ciok Giok Yin ingin mengejar, namun Thian Lui Sianseng berseru.
"Siapa dia?"
"Apakah lo cianpwee tidak kenal?"
Sahut Ciok Giok Yin.
"Lohu cuma tahu dia dipanggil Sih Ceng Taysu."
"Dia adalah salah seorang dari tiga pengeroyok Coat Ceng lo cianpwee, hingga terpukul jatuh ke dalam telaga dingin. Mok Pak Tiau adalah dirinya."
"Hah? dia... dia adalah Mok Pak Tiau?"
Seru Thian Lui Sianseng. Ciok Giok Yin mengangguk.
"Ya."
"Kau dengar dari siapa?"
"Coat Ceng lo cianpwee."
"Dua puluh tahun lohu tertipu olehnya."
Mendadak Ciok Giok Yin teringat pada Soat Cak.
"Thian Lui lo cianpwee, di mana gadis yang bersamaku itu?"
Air muka Thian Lui Sianseng langsung berubah.
"Celaka!"
Ketika Thian Lui Sianseng baru mau pergi mengejar Sih Ceng Taysu, mendadak terdengar suara seruan dari tengah-tengah telaga.
Thian Lui Sianseng dan Ciok Giok Yin menoleh, tampak dua gadis berdiri di atas daun teratai.
Salah satu gadis itu adalah Soat Cak.
Bukan main girangnya Ciok Giok Yin!
seketika itu juga hatinya menjadi lega.
Soat Cak berkata dengan nada duka.
"Kanda Ciok, untung tadi kakak ini menyelamatkanku? Kalau tidak, mungkin aku akan dibawa pergi oleh keledai gundul itu. Sementara ini aku akan tinggal di sini untuk belajar kungfu pada nenekku. Kanda Ciok, jaga diri baik-baik, aku pasti mencarimu kelak!"
Usai gadis itu berkata, daun teratai mulai merosot ke bawah. Tiba-tiba Thian Lui Sianseng menengadahkan kepalanya memandang langit seraya berseru dengan penuh kedukaan.
"Sudahlah! Sudahlah! Lohu mana masih punya muka menemuinya?"
Usai berkata, dia meloncat ke dalam telaga dingin itu.
Di saat bersamaan kedua gadis yang berdiri di atas daun teratai sudah tidak kelihatan lagi.
Sedangkan Ciok Giok Yin ingin mencegah perbuatan Thian Lui Sianseng, tapi sudah terlambat.
Ciok Giok Yin sama sekali tidak menduga bahwa Thian Lui Sianseng akan mengambil jalan pendek, membunuh diri meloncat ke dalam telaga dingin itu.
Dia menghela nafas panjang.
Kini hatinya terasa agak hampa, sebab Soat Cak tinggal di tempat Coat Ceng Hujin maka dalam perjalanan nanti dia akan kehilangan pendamping, itu membuat hatinya terasa agak duka.
Beberapa saat dia berdiri termangu-mangu, setelah itu barulah berjalan perlahan meninggalkan tempat itu.
Kini bertambah satu beban lagi di atas bahunya, yakni harus mewakili Coat Ceng Hujin membasmi tiga orang, Salah seorang di antaranya adalah Sih Ceng Taysu.
Ternyata dia belum bertobat.
Sedangkan dua orang lagi, mungkin juga belum bertobat.
Ketika Ciok Giok Yin baru berjalan beberapa langkah, mendadak terdengar suara seruan nyaring.
"Kanda Ciok, tunggu sebentar!"
Ciok Giok Yin cepat-cepat membalikkan badannya. Tampak sosok bayangan langsing melayang turun di hadapannya, lalu mendekap di dadanya. Ciok Giok Yin segera memeluknya seraya berkata dengan lembut.
"Adik Cak, kau tidak mau tinggal di sini?"
Soat Cak menyahut sedih.
"Kanda Ciok, sementara ini aku memang harus tinggal di sini. Kau harus baik-baik menjaga diri. Setelah melewati beberapa waktu, aku akan mohon pada nenekku agar melepaskanku untuk kembali ke sisimu."
Ciok Giok Yin membelai rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang.
"Adik Cak, kau juga harus baik-baik menjaga diri!"
"Aku tahu."
"Baiklah. Kau harus kembali ke sana."
"Kanda Ciok, nenekku menyuruhku menyampaikan satu masalah, harus dilaksanakan."
"Urusan apa?"
"Cari kembali kitab Hong Lui Ngo Im Keng!"
Tertegun Ciok Giok Yin, menatap Soat Cak terbelalak.
"Eh? Bukankah kitab Hong Lui Ngo Im Keng ada padamu?"
"Telah hilang,"
Sahut Soat Cak dengan wajah muram.
"Kok bisa hilang?"
Soat Cak tidak segera menyahut, sebab khawatir akan membuat hati Ciok Giok Yin berduka. Ciok Giok Yin merasa heran mengapa Soat Cak diam tidak mau memberitahukan.
"Adik Cak, beritahukanlah!"
Soat Cak menundukkan kepala, kemudian menutur tentang kejadian itu dan menambahkan.
"Kanda Ciok, kalau kau berhasil mencari kitab Hong Lui Ngo Im Keng, kakek dan nenek pasti bisa rujuk kembali. Kalau tidak, nenek tidak akan memperdulikan kakek."
Ciok Giok Yin manggut-manggut. Hatinya amat terharu akan kesetiaan Soat Cak padanya. Kemudian dia membelai gadis itu sambil berkata dengan lembut.
"Adik Cak, aku telah membuatmu menderita,"
Ciok Giok Yin menatapnya lembut.
"Adik Cak, tadi Thian Lui lo cianpwee terjun ke dalam telaga dingin, apakah tidak terjadi sesuatu atas dirinya?"
"Sudah diselamatkan oleh nenek, namun sementara ini mereka berdua belum berjumpa. Maka Kanda Ciok harus berhasil mencari kitab itu, barulah mereka berdua akan bertemu dan rujuk kembali."
Ciok Giok Yin manggut-manggut.
"Oooooh!"
Kemudian dia mendekati Soat Cak. Namun ketika baru ingin menciumnya, mendadak terdengar suara seruan nyaring.
"Kakak Cak, kita sudah harus kembali!"
Soat Cak mengangguk.
"Ya."
Kemudian dia menatap Ciok Giok Yin dengan mata berkacakaca, namun penuh diliputi cinta kasih yang amat dalam.
"Kanda Ciok, jaga dirimu baik-baik..."
Katanya dengan suara rendah.
Soat Cak langsung melesat pergi dan tak lama sudah berada di atas daun teratai.
Dalam waktu sekejap kedua gadis itu sudah tidak kelihatan.
Ciok Giok Yin termangu-mangu memandang permukaan telaga dingin itu.
Berselang beberapa saat barulah dia pergi dengan perasaan hampa.
Ketika datang di Gunung Thian San dia membawa perasaan perih dalam hati, karena kepandaiannya telah punah.
Berhasil dipulihkan atau tidak, itu masih merupakan tanda tanya besar.
Akan tetapi hatinya masih terhibur karena Soat Cak berada di sampingnya.
Kini walau kepandaiannya telah pulih, tapi Coat Ceng Hujin justru menahan Soat Cak tinggal di dalam dasar telaga dingin, sehingga membuatnya merasa merana dan kesepian.
Ciok Giok Yin terus melesat dengan pikiran kacau.
Namun dia telah mengambil keputusan menuju ke Gunung Liok Pan San, mencari Thian Thong Lojin untuk memecahkan rahasia kain potongan itu.
Sesudah itu dia harus berusaha mencari Seruling Perak agar berhasil menguasai ilmu silat tertinggi, demi membasmi murid murtad suhunya dan membasmi para penjahat rimba persilatan.
Pikiran ini membuatnya melesat lebih cepat menuju Gunung Liok Pan San.
Walaupun harus melewati batu-batu curam, namun dia tetap melesat cepat, karena ginkangnya memang sudah cukup tinggi.
Berselang beberapa saat, ketika dia sedang melesat di sebuah puncak, mendadak dia melihat sosok bayangan yang diselimuti kabut hijau.
Ciok Giok Yin segera berhenti lalu memperhatikan bayangan itu, ternyata adalah seorang wanita.
Karena wanita itu diselimuti kabut hijau, maka Ciok Giok Yin tidak dapat melihat jelas wajahnya.
Menyaksikan itu sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi merinding.
Di tempat yang amat sepi ini bagaimana mungkin ada wanita yang duduk diselimuti kabut hijau?
Kemungkinan besar adalah siluman penguasa gunung itu.
Dia ingin meninggalkan tempat itu perlahan-lahan, namun mendadak bayangan itu menghela nafas panjang dan kemudian berkata, seakan bergumam.
"Hua, sungguhkah kau tidak datang?"
Dia menghela napas panjang lagi.
"Langit dan bumi takkan tua dan berubah, namun cinta, budi dan dendam sulit dilarang."
Mendengar itu hati Ciok Giok Yin tersentak.
Kemudian dia berkata dalam hati.
'Wanita itu pasti bukan siluman penguasa gunung ini.
Mungkin dia telah berhasil melatih semacam ilmu silat tingkat tinggi, maka sekujur badannya mengeluarkan kabut hijau, dan kelihatannya dia sedang menunggu seseorang."
Di saat Ciok Giok Yin sedang berkata dalam hati, wanita tersebut sepertinya telah mengetahui akan kehadiran Ciok Giok Yin.
Badannya bergerak sedikit, kemudian bertanya pada Ciok Giok Yin dengan dingin sekali.
"Mau apa kau ke mari?"
"Kebetulan aku lewat di sini, tanpa sengaja telah mengganggu lo cianpwee, mohon lo cianpwee sudi memaafkanku!"
Sahut Ciok Giok Yin.
"Kau juga kaum rimba persilatan?"
"Aku baru berkecimpung di rimba persilatan, namaku tidak terkenal."
"Itu berarti kau memang kaum rimba persilatan. Aku ingin bertanya padamu tentang seseorang!"
"Siapa?"
"Pernahkah kau mendengar Bu Tek Thay Cu (Pangeran Tanpa Tanding) Siangkoan Hua?"
Ciok Giok Yin tertegun.
"Aku tidak pernah mendengarnya,"
Sahutnya lalu berpikir sejenak.
"Kalau cianpwee membutuhkan tenagaku untuk mencarinya, aku pasti melaksanakannya. Bagaimana menurut cianpwee?"
Lama sekali barulah wanita itu menyahut.
"Tidak usah. Aku yakin cepat atau lambat dia pasti ke mari."
Usai menyahut, mendadak wanita yang diselimuti kabut hijau melesat pergi, dan dalam sekejap sudah tidak kelihatan bayangannya.
Ciok Giok Yin terbelalak, kemudian berkata dalam hati, 'Bukan main cepatnya gerakkan wanita itu!' Dia maju beberapa langkah lalu memandang ke arah wanita itu menghilang.
Sekujur badannya menjadi bergemetaran, ternyata di situ merupakan jurang yang amat dalam.
Kalau ginkang wanita itu belum mencapai tingkat tertinggi, tentunya tidak berani melesat ke bawah jurang itu.
Ciok Giok Yin menggeleng-gelengkan kepala sambil bergumam.
"Sungguh di luar orang masih ada orang, di luar langit masih ada langit!"
Dia mengela nafas panjang, setelah itu barulah melesat pergi.
Ketika baru melesat dua puluh depa, mendadak terdengar suara percakapan.
Dia tercengang dan langsung berhenti serta pasang kuping mendengar dengan seksama.
Terdengar suara yang amat lirih, namun kemudian tidak terdengar lagi.
Itu membuat Ciok Giok Yin ragu, mungkin salah dengar, pada hal cuma suara desiran angin.
Ketika dia baru mau pergi, tiba-tiba suara lirih itu terdengar lagi, tapi kali ini terdengar agak jelas.
"Kakak Yin, beberapa waktu ini kau ke mana?"
Ciok Giok Yin tertegun, karena mengenal suara itu. Kemudian bertanya dalam hati, 'Siapa dia?' Di saat bersamaan terdengar pula suara lelaki.
"Berkelana ke mana-mana."
"Kakak Yin, aku sungguh bersalah padamu,"
Kata wanita itu.
"Maksudmu?"
"Tempo hari setelah aku mencuri peta si Kauw Hap Liok Touw, aku pergi secara diam-diam, aku... sungguh bersalah! Tapi aku melakukan itu karena terpaksa."
Mendengar sampai di sini, barulah Ciok Giok Yin ingat.
Ternyata wanita itu adalah murid Bu Lim Sam Siu, yang diperintahkan untuk mencari petanya, tidak lain adalah Cen Siauw Yun.
Seketika juga amarah Ciok Giok Yin meluap, baru mau....
Tapi setelah berpikir sejenak, dia batal keluar karena ingin tahu siapa orang yang dipanggil Kakak Yin itu.
Terdengar lagi suara lelaki itu.
"Adik Yun, urusan itu telah berlalu, jangan diungkit kembali."
"Tidak, kau harus dengar dulu perkataanku,"
Kata Cen Siauw Yun.
"Baik, katakanlah!"
"Ketika itu aku memang ingin pergi begitu saja, namun merasa tidak tega. Maka aku cepat-cepat meninggalkan tulisan di kertas itu, agar kau berangkat duluan. Apakah kau memperoleh itu?"
"Memperoleh apa?"
"Benda pusaka di dalam Goa Cian Hud Tong."
"Sama sekali tidak."
Cen Siauw Yun berseru kaget.
"Hah? Sungguh?"
"Untuk apa aku membohongimu?"
"Kalau begitu, mengapa suhuku mengambil kembali kepandaianku?"
"Bagaimana mengambil kembali kepandaianmu?"
"Suhuku Bu Lim Sam Siu, ketika pulang wajah mereka tampak gusar sekali. Mereka mencaciku telah berkhianat karena memberitahu kau secara diamdiam, maka benda pusaka yang di dalam Goa Cian Hud Tong itu telah kau peroleh."
Cen Siauw Yun berhenti sejenak, kemudian melanjutkan.
"Karena itu ketiga suhuku langsung memusnahkan kepandaianku. Seandainya aku tidak bertemu seorang lo cianpwee, tentu kepandaianku tidak akan pulih kembali."
"Bu Lim Sam Siu begitu kejam?"
Kata lelaki itu.
"Karena tidak memperoleh benda pusaka yang mereka inginkan, maka jadi amat gusar."
Hening sejenak, kemudian Cen Siauw Yun bertanya.
"Kakak Yin, sungguhkah kau belum memperolehnya?"
"Sungguh!"
"Mengapa begitu banyak orang mengatakan, bahwa kau yang memperolehnya?"
"Yah! Mereka cuma menyebarkan isyu saja."
Ketika Ciok Giok Yin mendengar sampai di situ, barulah teringat olehnya orang itu yang menyamar dirinya.
Dapat dibayangkan betapa gusarnya Ciok Giok Yin!
Di saat dia baru mau.....
Justru mendadak dia mendengar lelaki itu berkata.
"Adik yun, langit dan bumi menjadi saksi kita! Setelah kita seranjang, barulah...."
Cen Siauw Yun segera memutuskan perkataannya.
"Kakak Yin, aku...."
Belum juga Cen Siauw Yun usai berkata, Ciok Giok Yin sudah membentak sengit.
"Sungguh tak tahu malu kalian, aku Ciok Giok Yin berada di sini!"
Suara bentakannya belum lenyap, terdengar suara jeritan yang menyayat hati, kedengarannya seperti merosot ke bawah.
Di saat bersamaan tampak sosok bayangan mencelat ke atas bagaikan kilat.
Setelah diperhatikan, ternyata wajahnya mirip sekali dengan Ciok Giok Yin, seperti pinang dibelah dua atau saudara kembar.
Bagaimana Ciok Giok Yin akan membiarkannya kabur?
Dia mendorongkan sepasangan telapak tangannya ke depan seraya membentak.
"Berhenti!"
Dorongan telapak tangan Ciok Giok Yin menimbulkan angin yang amat kuat, bahkan mengandung hawa panas.
Orang itu terpaksa berhenti lalu berdiri tegak di hadapan Ciok Giok Yin.
Jarak mereka cuma dua depa.
Ciok Giok Yin maju dua langkah sambil berkata dengan dingin sekali.
"Maling jahat! Kau menyamar diriku dan melakukan kejahatan di mana-mana! Tempo hari kau dapat melarikan diri, hari ini kau jangan harap dapat kabur dalam keadaan selamat!"
Ciok Giok Yin palsu tertawa terkekeh-kekeh.
"Bocah! Siapa mati di tangan siapa masih belum tahu!"
Ciok Giok Yin maju dua langkah lagi.
"Mengapa kau menyamar sebagai diriku?"
Bentaknya sambil mencelat ke atas, kelihatannya ingin menyerang orang itu.
"Tentu ada sebabnya!"
Sahut orang itu sambil mencelat ke belakang. Mendengar itu Ciok Giok Yin batal menyerangnya.
"Katakan!"
Bentaknya.
"Aku tidak mau mengatakan! Kau mau apa?"
"Lihat kau mau mengatakan atau tidak?"
Sembari berkata badan Ciok Giok Yin sudah maju, sekaligus menyerangnya dengan ilmu pukulan Soan Hong Ciang.
Pukulan tersebut membuat orang itu termundur-mundur, namun akhirnya berhasil mengelak serangan yang bertubi-tubi itu.
Orang itu tertawa dingin lalu berkata.
"Bocah haram! Hari ini aku pun tidak akan melepaskanmu! Asal kau sudah mati, aku pun kembali pada wajah asliku!"
Mendadak dia melancarkan pukulan dahsyat ke arah Ciok Giok Yin. Amarah Ciok Giok Yin sudah memuncak. Dia berkertak gigi seraya membentak seperti guntur.
"Hari ini aku akan membuatmu kembali pada wajah aslimu!"
Ciok Giok Yin mengeluarkan jurus pertama ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.
Akan tetapi tak disangka gerakan orang itu amat gesit, bagaikan roh halus.
Dia berhasil berkelit menghindari pukulan yang dilancarkan Ciok Giok Yin.
Sedangkan Ciok Giok Yin sama sekali tidak menduga bahwa gerakan orang itu begitu aneh.
Mendadak tampak telapak tangan Ciok Giok Yin berkelebat cepat, ternyata dia telah mengeluarkan ilmu pukulan Coat Ceng Ciang.
Terdengar suara jeritan.
"Aaaakh !"
Krek!
Krek!
Krek!
Ternyata tulang rusak orang itu telah patah, badannya terpental beberapa depa.
Ciok Giok Yin melesat ke arahnya, sepasang matanya tampak membara.
Orang itu roboh tertelentang.
Ciok Giok Yin mengangkat sebelah kakinya lalu dihentakkan di dada orang itu.
"Sebetulnya siapa kau?"
Bentaknya sengit.
Wajah orang itu kini kelihatan amat menyeramkan, sebab penuh noda darah.
Bahkan mulutnya masih mengeluarkan darah.
Dia dalam keadaan pingsan.
Ciok Giok Yin menatapnya dengan bengis.
Berselang sesaat orang itu mulai siuman.
Sepasang matanya tampak suram.
"Aku sudah jatuh ke tanganmu. Kau mau membunuhku silakan!"
"Mau tidak mau kau harus bilang, mengapa kau menyamar sebagai diriku? Mengapa?"
Bentak Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin mengerahkan tangan untuk menginjak dada orang itu. Orang itu menjerit kemudian pingsan lagi. Beberapa saat kemudian barulah dia siuman.
"Ciok Giok Yin, jangan harap aku mau buka mulut. Kalau kau mau membunuhku silakan! Tapi kalau hari ini kau membunuhku, tidak sampai tiga bulan kau pun tak akan selamat!"
Usai berkata, dia memejamkan matanya dan mulutnya ditutup rapat-rapat.
Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin!
Dia mengerahkan tenaga untuk menginjak dada orang itu lagi.
Seketika terdengar suara jeritan.
Mulut orang itu menyemburkan darah segar dan badannya kelonjotan sejenak, lalu diam.
Ternyata nafasnya telah berhenti.
Ciok Giok Yin belum merasa puas.
Dia mengayunkan kakinya menendang mayat orang itu ke dalam jurang.
Dia teringat pada Cen Siauw Yun, maka segera melesat ke belakang batu besar.
Di sana dia melihat selembar kain yang bernoda sedikit darah.
Itu membuktikan bahwa laki-laki itu telah mengadakan hubungan intim dengan Cen Siauw Yun.
Namun setelah tadi terdengar suara jeritannya, gadis itu tidak kelihatan lagi.
Mungkinkah orang itu mendengar suara bentakan Ciok Giok Yin, lalu menendang Cen Siauw Yun ke dalam jurang?
Ciok Giok Yin memandang ke dasar jurang, tapi tidak tampak apa pun.
Maka dia membalikkan badannya lalu melesat pergi.
Saat ini hati Ciok Giok Yin terasa lega, karena telah membasmi orang yang menyamar dirinya.
Akan tetapi dia sama sekali tidak tahu siapa orang itu dan mengapa menyamar dirinya.
Apakah di antara mereka berdua terdapat dendam kesumat, sehingga orang itu menyamar sebagai Ciok Giok Yin untuk melakukan kejahatan, demi merusak namanya?
Sesungguhnya apa maksud tujuan orang itu?
Ciok Giok Yin terus berpikir, namun sama sekali tidak menemukan jawabannya.
Di saat dia terus berpikir, tanpa terasa sudah tiba di sebuah tebing.
Setelah menikung di tebing itu, ternyata dirinya berada di mulut sebuah lembah.
Ciok Giok Yin terbelalak, karena tadi dia melihat wanita yang diselimuti kabut hijau melayang turun ke lembah tersebut.
Ketika dia baru ingin meninggalkan lembah itu, mendadak tampak lima sosok bayangan melesat ke arahnya lalu mengepung Ciok Giok Yin.
Setelah melihat tegas, seketika juga sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi dingin dan tanpa sadar dia menyurut mundur beberapa langkah.
Jilid 19 Ternyata yang muncul itu adalah Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai dan empat orang lainnya adalah Si Peng Khek.
Ciok Giok Yin tahu jelas bagaimana kepandaian mereka.
Untuk melawan Si Peng Khek saja tidak sanggup, apalagi ditambah Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai.
Setelah mundur beberapa langkah, Ciok Giok Yin mengeraskan hatinya lalu berdiri tegak sambil menatap mereka berlima.
Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai tertawa gelak seraya berkata.
"Di mana-mana manusia pasti akan bertemu, tak disangka kita bertemu kembali di sini!"
Walau dalam hati Ciok Giok Yin ada rasa gentar, namun di wajahnya tetap tampak gagah, sepasang matanya bersinar terang.
"Setelah bertemu di sini, lalu mau apa?"
Sahutnya. Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai tertawa terkekeh.
"Terlebih dahulu aku mengucapkan terimakasih padamu, karena tempo hari kau memapahku sampai ke kuil Yeh Ling Si. Kebaikan itu masih belum kubalas."
Dia memandang Ciok Giok Yin.
"Tak kusangka ilmu rias wajahmu itu, cukup hebat!"
"Maling tua, hari itu kalau aku tidak melihatmu terluka parah, aku pasti tidak melepaskanmu!"
Bentak Ciok Giok Yin. Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai tertawa gelak.
"Aku pun tahu, kalau waktu itu kepandaianmu tidak punah, tentu aku tidak dapat melepaskan diri, dan hari ini kita pasti tidak bertemu di sini."
Ciok Giok Yin diam, tapi wajahnya tampak bengis sekali.
"Bocah, kau harus tahu diri, cepat keluarkan!"
Kata Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai.
"Keluar apa?"
Tanya Ciok Giok Yin tertegun.
"Kau jangan berpura-pura!"
"Maling Tua, bicara harus ada ujung pangkalnya, jelaskanlah!"
"Benda dari Ciu Kiong!"
"Ciu Kiong?"
"Tidak salah!"
"Benda apa itu?"
"Pokoknya serahkan benda itu, aku akan mengampuni nyawamu, jadi kau masih bisa balas dendam kelak!"
"Sekarang juga aku akan menuntut balas dendamnya!"
"Bocah, kau boleh coba!"
Sepasang mata Ciok Giok Yin membara, pertanda hawa amarah sudah memuncak. Dia berkertak gigi seraya membentak.
"Tua bangka, sambut seranganku!"
Laksana kilat Ciok Giok Yin melancarkan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang. Akan tetapi Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai dan Si Peng Khek tertawa dingin dan mendengus.
"Hmmm!"
Di saat bersamaan, mereka telah menghindari serangan Ciok Giok Yin.
Setelah menghindar, Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai juga menjulurkan tangannya untuk menyambar baju Ciok Giok Yin.
Ciok Giok Yin menyimpan kitab Cu Cian dan potongan kain di dalam bajunya, maka bagaimana mungkin dia membiarkan Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai menyambar bajunya?
Maka dia langsung mencelat ke belakang, mengelak sambaran tangan Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai.
Justru di saat ini Si Peng Khek berempat telah mendorongkan telapak tangan masing-masing ke arah Ciok Giok Yin.
Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga dorongan itu!
Bahkan juga amat dingin sekali, sulit dilawan.
Ciok Giok Yin terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah dengan badan menggigil kedinginan.
Sedangkan Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dia langsung menjulurkan tangannya untuk mencengkeram lengan Ciok Giok Yin lalu tertawa gelak.
Suara tawanya amat keras, menusuk telinga dan amat tak sedap didengar.
Di saat bersamaan dia pun membentak.
"Bocah, kau...."
Di saat lengannya hampir tercengkeram, mendadak badan Ciok Giok Yin terpental ke atas. Ternyata dia sudah terkena angin pukulan yang dilancarkan Si Peng Khek.
"Habislah!"
Serunya memilukan. Badannya melayang bagaikan layang-layang putus ke dalam jurang yang amat gelap. Di saat bersamaan terdengar suara seruan di tempat jauh.
"Adik! Adik!"
Tampak sosok bayangan merah melayang turun di tempat itu. Siapa bayangan merah itu? Tidak lain adalah Heng Thian Ceng. Dengan sepasang mata berapi-api wanita itu membentak bagaikan guntur.
"Kalian para penjahat, bayar nyawa adikku!"
Sembari membentak, dia pun menyerang Si Peng Khek. Mendadak Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai membentak.
"Berhenti!"
Si Peng Khek segera berkelit, sedangkan Heng Thian Ceng masih dalam posisi menyerang. Sepasang matanya melotot, sehingga wajahnya yang amat buruk itu tampak menyeramkan.
"Heng Thian Ceng, apa hubunganmu dengan dia?"
Tanya Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai.
"Dia adalah adikku, maling tua! Cepat bayar nyawa adikku!"
Sahut Heng Thian Ceng.
Sambil melancarkan sebuah pukulan ke arah Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai.
Perlu diketahui, dalam jiwa Heng Thian Ceng, Ciok Giok Yin merupakan orang yang tak boleh hilang.
Kini Ciok Giok Yin terpukul jatuh ke dalam jurang oleh para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee, bagaimana mungkin masih bisa hidup?
Karena itu, Heng Thian Ceng menyerang Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai dengan sepenuh tenaga dan tampak nekat sekali.
Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai tertawa dingin.
"Heng Thian Ceng, orang lain takut kau, tapi lohu justru tidak!"
Usai berkata, dia pun menangkis pukulan Heng Thian Ceng.
Perlu diketahui, Heng Thian Ceng merupakan wanita iblis dunia persilatan yang amat terkenal.
Mengenai kepandaiannya, sudah pasti amat tinggi dan luar biasa.
Setelah menangkis serangan itu, Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai terpaksa menyurut mundur karena Heng Thian Ceng menyerangnya dengan bertubi-tubi dan amat dahsyat.
Sesungguhnya kepandain Heng Thian Ceng masih lebih rendah setengah tingkat dari Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai.
Namun saat ini Heng Thian Ceng sudah nekat sehingga membuat Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai terdesak mundur.
Si Peng Khek yang menyaksikan itu segera maju dengan serentak.
"Hei! Nenek peot buruk, kau harus mati bersama bocah itu!"
Bentak Hian Peng Khek.
Si Peng Khek langsung menyerangnya.
Walau Heng Thian Ceng berkepandaian tinggi, namun tetap tidak sanggup melawan mereka.
Kini pakaiannya sudah berlumuran darah.
Akan tetapi dia tetap berkertak gigi melawan mereka, sebab hatinya amat sakit melihat Ciok Giok Yin terpukul jatuh ke dalam jurang.
Mendadak terdengar suara jeritan.
Ternyata Heng Thian Ceng terpukul jatuh di tanah.
"Uaaakh!"
Darah segar tersembur dari mulutnya, namun cepat sekali dia telah meloncat bangun.
Selama ini Heng Thian Ceng jarang bertemu lawan yang setimpal.
Tapi kini keadaannya justru amat mengenaskan.
Karena itu bagaimana dia tidak gusar?
"Aku akan mengadu nyawa dengan kalian!"
Bentaknya dengan suara gemetar sambil mencelat ke depan.
Saat ini keadaannya sudah menyerupai hantu penasaran.
Rambutnya awut-awutan, mulutnya berdarah dan pakaiannya juga sudah berlumuran darah.
Kelihatannya Heng Thian Ceng akan binasa di tangan Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai dan Si Peng Khek.
Namun mendadak terdengar suara siulan nyaring menembus angkasa lalu tampak sesosok bayangan melayang turun di tempat itu.
Siapa orang yang baru muncul itu?
Ternyata si Bongkok Arak.
Begitu melihat orang tua bongkok itu, Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai dan Si Peng Khek segera bersiul kemudian melesat pergi.
"Bayar nyawa adikku!"
Bentak Heng Thian Ceng. Ketika dia baru mau melesat pergi mengejar mereka, si Bongkok Arak langsung mencegahnya.
"Khui Fang Fang, kau bilang apa?"
Tanyanya dengan suara dalam. Sepasang mata Heng Thian Ceng memerah.
"Aku bilang apa pun ada hubungan apa denganmu? Cepat minggir! Aku tidak bisa melepaskan mereka!"
Wanita itu segera mendorongkan sepasang telapak tangannya ke depan.
Si Bongkok Arak mengibaskan tangannya, membuat Heng Thian Ceng terdorong ke belakang tiga langkah.
Sedangkan si Bongkok Arak tetap menghadang di hadapannya.
"Khui Fang Fang, kau jelaskan dulu baru pergi!"
Katanya dingin. Heng Thian Ceng tahu bahwa dirinya bukan tandingan si Bongkok Arak, maka berdiri diam di tempat.
"Uaaakh!"
Tiba-tiba mulut Heng Thian Ceng menyemburkan darah segar lagi.
"Kau terluka?"
Tanya si Bongkok Arak.
"Tidak salah."
"Sebetulnya apa gerangan yang terjadi?"
"Ciok Giok Yin terpukul jatuh ke dalam jurang oleh mereka."
"Hah? Sungguh?"
Seru si Bongkok Arak terkejut.
"Buat apa aku membohongimu?"
"Kau jalan bersamanya?"
"Tidak."
"Bagaimana kau tahu?"
"Aku menyaksikannya."
Si Bongkok Arak menghela nafas panjang lalu berkata dengan nada sedih.
"Habislah! Itu jurang maut! Kalau pun tidak mati, juga sulit keluar dari situ. Kelihatannya...."
Dia menatap Heng Thian Ceng.
"Khui Fang Fang, kini dia telah mati. Seharusnya kau tidak usah merindukannya lagi."
"Itu adalah urusanku!"
"Jadi kau mau apa?"
"Aku akan menuntut balas dendamnya, biar aku mati bersamanya!"
Mendengar itu, sekujur badan si Bongkok Arak menjadi merinding. Orang tua bongkok itu tidak menyangka bahwa Heng Thian Ceng begitu mencintai Ciok Giok Yin. Akhirnya dia bergumam perlahan.
"Jodoh yang terlarang!"
"Kau bilang apa?"
Tanya Heng Thian Ceng.
"Khui Fang Fang, tahukah kau dia keturunan siapa?"
"Keturunan siapa?"
"Keturunan...."
Si Bongkok Arak menggeleng-gelengkan kepala.
"Dia sudah mati, percuma kukatakan."
Usai berkata begitu, si Bongkok Arak langsung melesat pergi.
Sedangkan Heng Thian Ceng berjalan ke pinggir jurang itu sambil menangis terisak-isak.
Sampai di pinggir jurang, dia memandang ke dalam.
Air matanya tampak berderai-derai.
Beberapa saat dia memandang ke dalam jurang, kemudian bergumam.
"Adik, kakak pasti membalas dendammu itu!"
Usai bergumam, dia lalu duduk di pinggir jurang dan memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak.
Tak terasa dua hari sudah berlalu, namun Heng Thian Ceng masih duduk di pinggir jurang itu.
Kadang-kadang dia memandang ke bawah, berharap dapat melihat sesuatu di bawah jurang itu.
Namun jurang itu amat dalam, sehingga dia tidak dapat melihat jelas.
Kadang-kadang dia pun pasang kuping, mendengarkan dengan seksama, tapi juga tidak mendengar suara apa pun.
Akhirnya Heng Thian Ceng betul-betul putus asa.
Dia memandang satu kali lagi ke bawah, barulah melesat pergi.
Ketika Heng Thian Ceng baru melesat pergi, dari balik batu besar muncul seseorang, ternyata si Bongkok Arak.
Orang tua bongkok itu minum beberapa teguk araknya lalu mendekati pinggir jurang.
Dia memusatkan penglihatannya ke bawah jurang, namun juga tidak dapat melihat jelas ke bawah.
Orang tua bongkok itu biasanya di hadapan orang lain selalu berlaku konyol dan seperti linglung.
Tapi mengenai mati hidupnya Ciok Giok Yin, kelihatannya amat penting baginya.
Dia berharap akan terjadi suatu kemujizatan atas diri Ciok Giok Yin.
Karena itu tanpa sadar mulutnya bergumam.
"Tampang Siauw Kun tidak kelihatan pendek umur. Seandainya Siauw Kun masih punya harapan hidup, bagaimana cara memisahkannya dengan Khui Fang Fang?"
Dia menggeleng-gelengkan kepala.
"Sulit! Sulit! Sulit! Kecuali...."
Si Bongkok Arak berhenti bergumam. Keningnya tampak berkerut-kerut, seakan sedang memikirkan sesuatu. Akhirnya menghela nafas panjang seraya berkata.
"Yah! Bagaimana nanti saja!"
Usai berkata begitu, dia langsung melesat pergi.
Namun perasaan dalam hatinya amat tercekam.
Karena 'Siauw Kun' terpukul jatuh ke dalam jurang, boleh dikatakan tidak akan selamat, kecuali terjadi suatu kemujizatan.
Kalau tidak, jangan harap bisa hidup.
Sejak si Bongkok Arak pergi suasana di pinggir jurang itu berubah menjadi sunyi.
Kejadian tiga hari yang lalu meninggalkan sebuah sejarah di puncak gunung tersebut.
Tapi sejarah itu hanya diketahui beberapa orang saja.
Terutama bagi Heng Thian Ceng sejarah itu terukir dalam ingatannya.
Padahal dia mendengar kabar dari dunia persilatan, bahwa Ciok Giok Yin dilukai seorang gadis misterius sehingga kepandaiannya punah.
Kemudian mendengar lagi kabar, bahwa Ciok Giok Yin menuju ke arah barat.
Karena itu, tanpa menghiraukan apa pun dia terus mengejar ke arah barat.
Dalam perjalanan dia mendengar suara bentakan orang, maka segera menuju ke arah suara bentakan itu.
Justru tidak terpikirkan, Ciok Giok Yin terpukul jatuh ke dalam jurang oleh Siau Bin Sanjin dan Si Peng Khek.
Betapa duka hatinya!
Hatinya boleh dikatakan remuk menyaksikan kejadian tersebut.
Kini dia telah meninggalkan tempat itu dengan membawa duka yang amat dalam.
Wanita iblis itu selamanya tidak pernah menaruh cinta terhadap siapa pun.
Namun terhadap Ciok Giok Yin justru menaruh cinta murninya.
Kini hatinya telah hampa, tidak memperoleh apa pun.
Di saat seperti itulah seorang wanita memang harus dikasihani.
Akan tetapi sepasang tangan Heng Thian Ceng berlumuran darah.
Entah sudah berapa banyak orang yang mati di tangannya.
Maka tidak ada orang yang menaruh kasihan dan simpati padanya.
Sementara sang waktu terus berlalu.
Sedangkan di dunia persilatan timbul lagi suatu badai.
Timbulnya badai itu tidak lain adalah karena perbuatan Heng Thian Ceng.
Dia seperti sudah gila, membunuh orang baik golongan putih maupun golongan hitam.
Entah berapa banyak orang yang mati di tangannya, terutama para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee.
Bagaimana Ciok Giok Yin yang terpukul jatuh ke dalam jurang?
Apakah dia masih hidup?
Semula ketika jatuh, dia masih dalam keadaan sadar dan membuka matanya lebarlebar, berharap dapat meraih sesuatu agar nyawanya bisa selamat.
Tapi tak disangka dinding jurang itu amat licin.
Lagi pula jaraknya beberapa depa, sehingga tangannya tak dapat meraihnya.
Itu membuatnya putus asa.
"Habislah nyawaku!"
Katanya sambil menghela nafas panjang.
Dia memejamkan sepasang matanya, menunggu ajal datang menjemputnya.
Berselang beberapa saat, mendadak sekujur badannya terasa sakit sekali, akhirnya dia pingsan.
Sejak Ciok Giok Yin berkecimpung di dunia persilatan, memang tidak pernah merasa tenang dan aman, boleh dikatakan selalu mengalami mara bahaya dan bergumul dengan maut serta kematian.
Dari mulut si Bongkok Arak menyebutnya 'Siauw Kun' (Tuan Muda).
Dapat dibayangkan asal-usulnya amat luar biasa.
Karena itu apabila dia tidak memikul tugasnya kelak.
Kehidupan manusia di dunia memang demikian.
Kalau manusia mampu menerima segala penderitaan maupun percobaan, barulah akan membuat dirinya bertambah tabah dan menambah pengalamannya dalam kehidupannya.
Suatu penderitaan maupun percobaan justru merupakan hikmah dalam kehidupan manusia.
Sementara Ciok Giok Yin yang telah pingsan itu entah berapa lama kemudian mulai siuman perlahan-lahan.
Dia merasa dirinya melayang-layang sepertinya berada di dalam sebuah perahu.
Namun dia juga merasa seperti berada di keluarga Tong ketika masih kecil, bersama Bwee Han Ping memanjat ke atas pohon, terayunayun terhembus angin.
Ciok Giok Yin mulai berpikir, merasa bukan itu.
Namun sesungguhnya dirinya berada di mana?
Dia betul-betul bingung.
Berselang beberapa saat, mendadak dia teringat akan suatu kejadian, yakni dirinya terpukul jatuh ke bawah jurang oleh Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai dan Si Peng Khek.
Hatinya tersentak setelah teringat akan kejadian tersebut.
Kemudian dia berkata dalam hati.
'Iya!
Aku sudah mati, karena rohku melayang-layang tiada tempat untuk berteduh.' Kemudian dia berpikir lagi, semua budi dan dendam juga telah berakhir sampai di sini.
Semua kenangan masa lalu maupun kejadian yang menimpa dirinya terus bermunculan di pelupuk matanya.
Akan tetapi ada satu hal yang membuatnya amat berduka, yaitu walau sudah mati, tapi justru masih belum tahu sebetulnya dia keturunan siapa.
Kalau begitu, tetap tidak bisa mencari kedua orang tuanya.
Dia menghela nafas panjang, lalu membuka matanya perlahan-lahan.
Sungguh di luar dugaan, ternyata dirinya terbaring di atas sebuah batu.
Dia merasa heran, kemudian membalikkan badannya ingin bangun.
Akan tetapi mendadak dia merasa seluruh tulangnya seperti telah remuk.
"Aduuuh! Sakit sekali!"
Jeritnya. Di saat bersamaan, sekonyong-konyong terdengar suara yang telah dikenalnya.
"Kau sudah siuman?"
Ciok Giok Yin segera membuka matanya lebar-lebar. Dilihatnya sosok bayangan wanita diselimuti kabut hijau. Itu membuatnya merinding.
"Bukankah aku sudah mati?"
"Kau tidak mati,"
Sahut bayangan itu.
"Hah? Aku belum mati?"
Seru Ciok Giok Yin tak tertahan.
"Ya."
"Tempat apa ini?"
"Jurang Maut."
"Jurang Maut?"
"Ya."
"Lo cianpwee yang menyelamatkanku?"
"Tidak dapat dikatakan aku menyelamatkanmu, melainkan kau yang memang belum seharusnya mati."
Ucapan bayangan itu berhenti sejenak.
"Kaum rimba persilatan yang tahu Jurang Maut ini dapat dihitung dengan jari, juga tiada seorang pun yang dapat keluar masuk jurang ini."
Mendengar itu Ciok Giok Yin menghela nafas panjang.
"Kalau begitu, tidak seharusnya lo cianpwee menyelamatkanku."
Katanya.
"Maksudmu?"
"Kalau aku tidak dapat keluar dari jurang ini, berarti seumur hidup akan hidup di sini, jadi tiada artinya sama sekali."
"Apa maksud ucapanmu itu?"
"Maksudku... masih banyak urusan yang harus kuselesaikan."
"Tentang ini kau tidak usah cemas, aku punya akal agar kau dapat keluar dari tempat ini."
"Punya akal?"
"Ya. Sekarang kau tidak usah banyak berpikir, karena badanmu belum pulih. Baik-baiklah beristirahat, tentunya punya jalan untuk keluar."
Usai berkata, bayangan itu berkelebat dan dalam sekejap sudah hilang.
Ciok Giok Yin tetap berbaring di atas batu.
Dia menengok ke sana ke mari, ternyata dirinya berada di dalam sebuah ruang batu.
Kemudian dia memejamkan mata, mulai menghimpun hawa murninya.
Kira-kira setengah hari, rasa sakit di badannya mulai berkurang.
Ketika dia membuka mata, justru melihat sosok bayangan kehijau-hijauan berdiri di depannya.
Begitu melihat Ciok Giok Yin membuka mata, dia segera berkata.
"Mungkin kau sudah lapar, makanlah! Setelah itu himpun lagi hawa murnimu!"
Ciok Giok Yin bangun duduk lalu berkata.
"Lo cianpwee, entah harus bagaimana aku membalas budi pertolongan lo cianpwee?"
"Jangan berkata demikian, mungkin nanti aku membutuhkan tanganmu untuk melakukan sesuatu."
Ucapan bayangan itu berhenti sejenak.
"Kau makanlah dulu! Setelah kondisi badanmu pulih, barulah kita berbicara lagi,"
Lanjutnya.
Dalam waktu sekejap, bayangan kehijau-hijauan itu sudah hilang.
Ciok Giok Yin melihat ke arah meja, tampak sepiring nasi dan sepiring daging rusa.
Dia memang telah merasa lapar, maka segera turun lalu menyantap makanan itu dengan lahapnya.
Usai makan, dia kembali ke atas batu dan mulai menghimpun hawa murninya.
Tiga hari berturut-turut, bayangan kehijau-hijauan itu mengantar makanan untuk Ciok Giok Yin.
Setelah lewat tiga hari kondisi badannya telah pulih.
Dia mulai menghimpun hawa murninya lagi.
Ketika membuka mata, tampak bayangan kehijauhijauan itu sudah berada di tempat itu.
Entah sejak kapan dia datang?
Ciok Giok Yin cepatcepat turun.
Ketika dia baru mau berlutut, mendadak merasa di hadapannya ada selapis tembok yang tak kelihatan menahan dirinya, sehingga membuatnya tidak bisa berlutut.
Di saat bersamaan bayangan kehijau-hijauan itu berkata.
"Siauhiap tidak usah memberi hormat. Silakan duduk dan mari kita bercakap-cakap!"
Ciok Giok Yin tahu bahwa wanita itu mengerahkan semacam ilmu yang amat luar biasa dan itu membuatnya kagum bukan main.
"Budi pertolongan lo cianpwee tidak akan kulupakan selamalamanya,"
Katanya dengan hormat. Bayangan kehijau-hijauan itu duduk di kursi batu.
"Siapa suhu siauhiap?"
Tanyanya.
"Beliau bernama Cu Wei To!"
"Julukannya adalah Sang Ting It Koay?"
"Ya. Lo cianpwee kenal suhuku?"
"Aku pernah dengar."
"Mohon tanya gelar lo cianpwee."
"Aku tidak mau tersiar di dunia persilatan, maka alangkah baiknya tidak kuberitahukan. Setelah kau meninggalkan tempat ini, janganlah kau ceritakan tentang keadaan tempat ini, agar tidak menarik perhatian golongan hitam."
"Aku pasti tidak akan menceritakannya."
"Siapa namamu?"
Tanya bayangan kehijau-hijauan itu.
"Aku bernama Ciok Giok Yin."
"Ketika aku berada di atas melihatmu, membuatku teringat akan seseorang."
"Siapa?"
"Yakin yang telah kukatakan padamu, Bu Tek Thay Cu-Siangkoan Hua."
"Siangkoan Hua?"
"Ya."
"Sesungguhnya siapa dia?"
"Dia adalah Sin Kiong Te Kun (Majikan Istana Dewa). Kepandaiannya amat tinggi, boleh dikatakan tiada tanding di dunia persilatan. Dia berhati lurus dan amat baik terhadap siapa pun."
"Dia berada di mana sekarang?"
"Istana Dewa berada di mana, aku pun tidak begitu jelas."
Ciok Giok Yin berkata dalam hati, 'Ketika berada di atas tebing, dia bergumam memanggil nama Siangkoan Hua. Pasti mereka punya hubungan istimewa!' Terdengar bayangan kehijau-hijauan itu berkata lagi.
"Sekarang aku akan menurunkan dua macam ilmu padamu, agar kau dapat keluar masuk jurang ini. Tapi kedua macam ilmu itu, tidak boleh digunakan untuk menghadapi musuh, kau harus ingat!"
"Ya, aku tidak akan menggunakan kedua macam ilmu itu untuk menghadapi musuh,"
Sahut Ciok Giok Yin.
"Bagus! Mari kita keluar!"
Usai berkata, tampak bayangan kehijau-hijauan itu berkelebat ke luar.
Ciok Giok Yin segera mengikutinya dari belakang.
Begitu sampai di luar, dia nyaris berseru kaget.
Ternyata di atas kelihatan seperti mulut sumur, tingginya mungkin mencapai ribuan kaki.
Kalau tidak bertemu wanita itu, tidak mati pun sulit baginya untuk keluar.
Kecuali punya sepasang sayap seperti burung, barulah bisa terbang ke atas.
Kalau tidak, jangan harap bisa keluar dari tempat tersebut.
Bayangan kehijau-hijauan itu berdiri di hadapan Ciok Giok Yin.
"Kedua macam ilmu itu disebut Hui Keng Pou (Ilmu Langkah Terbang). Perhatikanlah!"
Tampak bayangan kehijau-hijauan itu berkelebatan, mempertunjukkan Hui Keng Pou tersebut.
Ciok Giok Yin terbelalak, karena ilmu tersebut amat aneh dan luar biasa, penuh gerakan-gerakan tak terduga.
Walau Ciok Giok Yin amat cerdas, namun untuk menguasai ilmu Hui Keng Pou itu harus membutuhkan waktu tiga hari.
"Bagus, kau telah berhasil!"
Kata bayangan kehijau-hijauan itu. Ciok Giok Yin segera bertanya.
"Apakah lo cianpwee masih ada petunjuk lain?"
Tanya Ciok Giok Yin. Bayangan kehijau-hijauan itu berpikir sejenak, setelah itu barulah menyahut.
"Kitab Cu Cian yang berada di dalam bajumu, kuharap ditinggalkan di sini!"
Hati Ciok Giok Yin tersentak.
"Mengapa?"
Tanyanya tak tertahan.
"Kau tidak usah khawatir. Aku pikir berdasarkan kepandaianmu sekarang, kemungkinan besar kau tidak sanggup menjaga kitab itu. Aku harap setelah kau berhasil memperoleh Seruling Perak, datanglah ke mari belajar ilmu itu, dan aku pun ada sedikit urusan membutuhkan bantuanmu. Apakah kau bersedia membantuku?"
Mendengar itu Ciok Giok Yin segera merogohkan tangan ke dalam bajunya.
Kitab Cu Cian tersebut masih berada di dalam bajunya.
Dia berkata dalam hati, 'Apakah dia juga ingin belajar ilmu Gin Tie Cu Cian (Seruling Perak Kitab Cu Cian)?' Mendadak bayangan kehijau-hijauan itu berkata.
"Kau tidak usah banyak curiga. Aku hanya menghendakimu ke mari satu kali lagi, sebab aku punya sedikit urusan membutuhkan bantuanmu. Tapi itu pun setelah kau menguasai ilmu tinggi, barulah dapat menyelesaikannya. Kalau tidak, akan menimbulkan musibah dalam rimba persilatan."
Setelah mendengar apa yang dikatakan bayangan kehijauhijauan itu, wajah Ciok Giok Yin memerah seketika. Dia segera mengeluarkan kitab Cu Cian itu seraya berkata.
"Kalau begitu, mohon lo cianpwee baik-baik menyimpan kitab ini! Setelah aku berhasil memperoleh Seruling Perak, pasti segera kemari."
Bayangan kehijau-hijauan itu menerima kitab tersebut seraya berkata.
"Semoga kau berhasil!"
Tampak bayangan itu berkelebat, sudah masuk ke dalam ruang batu.
Ciok Giok Yin bersiul panjang, kemudian tampak badannya mencelat ke atas.
Ternyata dia telah menggunakan ilmu Hui Keng Pou.
Ilmu Hui Keng Pou tersebut terdiri dari dua gerakan, yaitu gerakan Terbang dan gerakan Mendepak.
Setelah badannya mencelat belasan depa, lalu kakinya mendepak dinding batu, seketika badannya meluncur ke atas seperti terbang dan cepatnya laksana kilat.
Tak seberapa lama kemudian dia sudah sampai di atas tebing.
Tanpa membuang waktu, dia langsung melesat pergi.
Saat ini pakaian Ciok Giok Yin sudah tersobek sana sini, boleh dikatakan menyerupai seorang pengemis.
Akan tetapi wajahnya tetap tampan dan cerah.
Sementara sang surya pun sudah mulai tenggelam ke ufuk barat.
Sedangkan Ciok Giok Yin telah memasuki sebuah kota kecil.
Dia menundukkan kepalanya memandang pakaiannya, memang sudah tidak karuan.
Karena itu, dia membeli satu stel pakaian.
Setelah berganti pakaian, dia langsung berubah seperti putra hartawan.
Ciok Giok Yin bermalam di penginapan, keesokan paginya baru berangkat ke Gunung Liok Pan San.
Kini dia harus cepat-cepat mencari Thian Thong Lojin, untuk mengungkap rahasia potongan kain itu.
Apabila tidak berhasil menemukan Seruling Perak, selama-lamanya dia tidak akan berhasil menuntut balas semua dendam itu.
Gunung Liok Pan San begitu luas.
Harus ke mana dia mencari Lembah Tiang Cing Kok?
Dia amat menyesal mengapa hari itu tidak bertanya jelas pada si Bongkok Arak, jadi tidak usah membuang waktu mencari ke sana ke mari.
Namun dia yakin pasti berhasil mencari Thian Thong Lojin, seperti halnya ketika ke Gunung Thian Sang mencari Thian Lui Sianseng, maka dia tidak merasa gugup sama sekali.
Di saat dia sedang melesat, mendadak terdengar suara dari balik sebuah batu besar.
Dia segera melesat ke atas batu besar itu lalu melongok ke bawah.
Seketika berkobarlah hawa amarahnya.
Ternyata di bawah terdapat enam anggota perkumpulan Sang Yen Hwee sedang duduk-duduk di tanah.
Di hadapan mereka tergeletak seorang gadis dengan posisi telentang.
Gadis itu tak berpakaian sama sekali.
Sepasang payudaranya menonjol ke atas, itu sungguh merangsang sekali.
Sepasang mata gadis itu terpejam, kelihatannya seperti tidur pulas.
Siapa yang melihat pasti tahu kalau gadis itu terkena obat bius.
Ciok Giok Yin tahu apa yang akan dilakukan anggota-anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu.
Sudah barang tentu membuat amarahnya semakin memuncak.
Di saat dia baru mau meloncat turun, mendadak hatinya berkata 'Mengapa aku tidak mencuri dengar apa yang akan dikatakan mereka?' Karena itu dia batal meloncat turun, segera tengkurap di atas batu besar itu.
Untung gadis tersebut, masih belum mereka nodai.
Keenam anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu terus menatap sepasang payudara itu dengan tak berkedip, kemudian menatap ke bagian bawah tersebut.
Tampak pula mereka menelan air liur, sepertinya ingin segera merangkak ke atas tubuh yang indah dan mulus itu.
Setelah itu mereka saling memandang lalu menatap ke arah gadis itu lagi.
Mendadak salah seorang dari mereka berkata.
"Kita tidak boleh membuang-buang waktu."
"Kalau begitu, harus bagaimana?"
Tanya yang lain. Anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang bicara duluan itu menyahut.
"Aku akan mengemukakan satu usul."
"Usul apa?"
"Undi."
"Undi?"
"Ng!"
"Caranya?"
"Seperti cara yang sering kita pakai, orang pertama yang menang, berarti dia berhak duluan. Sisa lima diundi lagi, yang menang berarti giliran kedua. Nah, dengan cara demikian, kita tidak akan berebut."
"Cara ini memang tepat, tapi kalau dia dibawa pulang, jangan-jangan akan terjadi kerepotan."
"Kerepotan apa?"
"Kalau atasan memeriksa, ternyata gadis ini sudah tidak utuh, bukanlah...."
"Kita menculik gadis ini, yang penting dipersembahkan kepada tua bangka itu! Siapa yang akan memeriksa barang itu utuh atau tidak? Ya, kan?"
"Apakah gadis itu tidak akan bicara?"
"Kau memang bodoh. Dia sudah merasakan kenikmatan bagaimana mungkin akan bicara tentang itu? Bukanlah selanjutnya kita akan tinggal di dalam kuburan?"
"Kalau begitu, mari mulai kita undi!"
Mereka berenam mulai mengadakan suatu pengundian. Akhirnya salah seorang menjadi pemenang. Akan tetapi seorang di antara mereka kelihatan tidak senang.
"Cara undian ini tidak adil. Kalian jangan lupa! Aku adalah pemimpin kalian berlima. Kalau aku tidak diberi kesempatan duluan.... Hm!"
Yang menang itu diam saja, kelihatannya memang merasa segan terhadap pemimpinnya itu.
Kemudian mereka berlima mulai mengundi lagi, sedangkan pemimpin itu akan memperkosa gadis itu duluan.
Yang lain sudah usai mengundi, maka pemimpin itu berkata.
"Sekarang sudah beres, maka aku yang duluan! Setelah itu barulah giliran kalian."
Dia segera menanggalkan pakaian, lalu bagaikan macan kelaparan menerkam ke arah gadis itu. Di saat bersamaan terdengar suara bentakan mengguntur.
"Kau memang cari mampus!"
Tampak sesosok bayangan meluncur ke bawah bukan main cepatnya.
Seketika terdengar suara jeritan yang menyayat hati.
Tampak sesosok tubuh terpental beberapa depa, kemudian jatuh tak bangun lagi.
Yang lain langsung memandang orang yang baru muncul itu dan seketika mereka berseru kaget.
"Kau!"
Ternyata orang yang baru muncul itu adalah Ciok Giok Yin.
"Tidak salah, memang aku!"
Sahut Ciok Giok Yin.
Kegusaran Ciok Giok Yin memang sudah memuncak.
Maka dia langsung menyerang para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu dengan pukulan Hong Lui Sam Ciang jurus pertama.
Bukan main dahsyatnya serangan itu, menimbulkan angin yang menderu-deru.
Terdengar suara jeritan yang menyayat hati.
Tahu-tahu enam anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu telah tergeletak di tanah menjadi mayat.
Keenam anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu belum sempat melampiaskan nafsu birahi mereka, namun sudah binasa di tangan Ciok Giok Yin.
Ini sungguh tak terduga sama sekali.
Setelah membinasakan keenam orang itu, Ciok Giok Yin malah berdiri tertegun.
Karena gadis itu telanjang bulat, tidak tahu harus berbuat apa.
Tiba-tiba Ciok Giok Yin teringat sesuatu, maka segera menggeledah baju mereka mencari obat penawar.
Namun tidak menemukan obat penawar sama sekali.
Itu membuatnya termangu-mangu di tempat, sungguh tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Tentunya tidak boleh membiarkan gadis itu terus telentang di tanah dalam keadaan telanjang bulat, harus segera menolongnya.
Akan tetapi Ciok Giok Yin justru tidak tahu, gadis itu terkena obat bius jenis apa, lalu bagaimana membuatnya siuman.
Lama sekali Ciok Giok Yin berpikir, akhirnya manggut-manggut seraya berkata.
"Hanya mencari Thian Thong Lojin."
Karena itu dia segera membungkus tubuh telanjang itu dengan pakaian gadis itu sendiri, setelah itu digendongnya untuk dibawa pergi.
Ketika melanjutkan perjalanan, hidungnya mencium aroma tubuh gadis yang amat harum.
Itu membuat pikirannya menerawang.
Mendadak dia tersentak sadar dan mengingatkan dirinya sendiri.
Ciok Giok Yin, sedemikian tipis tenaga ketenangan.
Kalau kau terus seperti itu masa depanmu amat bahaya sekali.
Setelah tersentak sadar dan mengingatkan dirinya sendiri, pikiran Ciok Giok Yin sudah tidak menerawang lagi.
Namun dalam gendongannya adalah seorang gadis cantik, maka tidak mengherankan kalau hatinya tetap berdebar-debar.
Tanpa sadar dia menundukkan kepala memandang wajah gadis itu.
Memang cantik dan bibirnya juga seperti sedang menyunggingkan senyuman.
Itu membuat Ciok Giok Yin menjadi kehilangan kesadarannya.
Namun seketika dia baru mau menciumnya, mendadak terdengar suara dengusan dingin.
"Hm!"
Betapa terkejutnya Ciok Giok Yin!
Dia segera menengok ke sekelilingnya, tapi tidak tampak seorang pun.
Dengusan dingin itu justru membuatnya tersadar, tidak berani memandang wajah gadis itu lagi, langsung mengerahkan ginkangnya melesat ke dalam sebuah lembah.
Setelah melesat ke dalam lembah, justru melihat dinding batu di sisi kiri dan kanan, warnanya kehijauhijauan.
Hati Ciok Giok Yin tergerak dan membatin.
'Jangan-jangan ini adalah lembah Tiang Cing Kok!' Tak seberapa lama kemudian di depan matanya tampak sebidang tanah yang berlumut hijau.
"Lembah Tiang Cing Kok!"
Serunya tak tertahan.
Dia langsung melesat ke tanah yang berlumut hijau itu.
Dia berjalan di situ sambil memandang ke depan.
Terlihat pula rumput hijau yang pendek-pendek, dan beberapa tumpuk batu sebesar-besar kepalan.
Dia tidak begitu memperhatikan semua itu, melainkan terus berjalan ke dalam tumpukan batu itu.
Tak disangka ketika kakinya baru menginjak ke dalam, dia merasa terkurung di dalam puncak-puncak gunung yang amat tinggi.
Keadaan di tempat itu menjadi seperti di dalam jurang maut.
Di saat bersamaan, dia segera mencelat ke atas, ke arah tebing sebelah kiri.
Di saat merosot turun dia terbelalak, ternyata di situ terdapat pohon-pohon besar.
Dahan pohon bergerak-gerak terhembus angin, menimbulkan suara.
"Kreeek! Kreeeek...."
Suara itu kedengaran amat menyeramkan sehingga membuat sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi merinding.
Di saat bersamaan dia pun melihat banyak bayangan seperti roh halus bergentayangan di situ, menyebabkan matanya menjadi berkunang-kunang.
Ciok Giok Yin bersiul nyaring.
Seketika bayangan-bayangan roh halus itu sirna entah ke mana.
Namun saat ini Ciok Giok Yin justru berada di dalam rimba yang dipenuhi pohon-pohon besar yang tak terhitung jumlahnya.
Dia tahu bahwa kini dirinya berada di dalam sebuah formasi aneh, percuma kalau menerobos ke sana ke mari.
Oleh karena itu dia sendiri diam di tempat, kemudian berseru nyaring.
"Kalau tempat ini adalah Lembah Tiang Cing Kok, pasti adalah tempat tinggal Thiang Thong lo cianpwee! Aku Ciok Giok Yin ke mari mohon bertemu!"
Suara seruannya berkumandang ke mana-mana, tapi tidak terdengar sahutan sama sekali. Mendadak Ciok Giok Yin berseru lagi.
"Kalau lo cianpwee tidak ingin menemuiku, tidak jadi masalah! Tapi di tengah jalan aku menyelamatkan seorang gadis dari tangan para penjahat! Kini masih dalam keadaan pingsan, kelihatannya seperti terkena semacam obat bius, mohon lo cianpwee sudi menolongnya!"
Seusai Ciok Giok Yin berseru, sekonyong-konyong terdengar suara desiran angin.
Di saat bersamaan dia pun merasa sepasang tangannya menjadi ringan, ternyata gadis yang digendongnya telah hilang.
Ciok Giok Yin tersentak, dan langsung membentak.
"Kalau punya kepandaian cepat perlihatkan...."
Belum juga Ciok Giok Yin usai membentak, sudah merasa serangkum angin pukulan menerjang ke arahnya.
Ciok Giok Yin mencelat ke belakang secara reflek, lalu memandang ke depan.
Tampak sepasang matanya terbelalak, tenyata pemandangan tadi telah sirna.
Di hadapannya berdiri seorang tua yang rambut, jenggot dan sepasang alisnya putih bagaikan salju.
Tangannya menjinjing gadis itu, matanya menatap Ciok Giok Yin dengan tajam.
"Bocah, siapa kau?"
Bentaknya dengan dingin. Begitu menyaksikan sikap orang tua berambut putih yang amat kasar itu, timbullah keangkuhan Ciok Giok Yin.
"Siapa kau?"
Sahut Ciok Giok Yin dengan dingin pula. Seketika sepasang mata orang tua berambut putih menyorot lebih tajam.
"Lohu bertanya padamu!"
Bentaknya lagi. Ciok Giok Yin telah lupa akan tujuannya ke tempat ini, sehingga bersikap lebih angkuh.
"Mengapa aku harus menjawab pertanyaanmu?"
Orang tua berambut putih mendengus.
"Hm! Bocah, aku akan kembali baru menghajarmu!"
Usai berkata, orang tua itu melesat pergi. Ciok Giok Yin segera membentak.
"Berhenti!"
Akan tetapi, orang tua itu telah tidak kelihatan.
Ciok Giok Yin memang bersifat keras dan angkuh.
Seharusnya dia tidak boleh berlaku demikian kasar terhadap orang tua itu.
Narnun dia justru tidak dapat memastikan orang tua itu Thiang Thong Lojin atau bukan, maka mengambil keputusan untuk bertarung dengannya.
Oleh karena itu dia tetap berdiri di tempat, menunggu datangnya kembali orang tua berambut putih.
Berselang beberapa saat kemudian, terdengar suara siulan yang amat nyaring, lalu tampak sesosok bayangan berkelebat.
Dalam sekejap bayangan itu sudah berada kira-kira satu depa di hadapan Ciok Giok Yin.
Siapa bayangan itu?
Tidak lain adalah orang tua berambut putih.
"Bocah, dari mana kau membawa gadis itu kemari?"
Bentaknya sambil menatap Ciok Giok Yin dengan tajam.
"Apa hubunganmu dengan dia?"
Ciok Giok Yin balik bertanya.
"Dia adalah putriku!"
"Mohon tanya lo cianpwee adalah Thiang Thong Lojin?"
"Tidak salah!"
"Aku Ciok Giok Yin."
"Aku tidak bertanya namamu, yang kutanyakan adalah dari mana kau membawa putriku ke mari? Bagaimana dia tidak berpakaian sama sekali? Kalau kau tidak menjelaskan, jangan harap dapat meninggalkan tempat ini!"
Ciok Giok Yin tidak menyangka Thiang Thong Lojin bersikap begitu kasar, bahkan berprasangka buruk pula terhadapnya. Namun demi membersihkan dirinya, dia menekan hawa gusarnya.
"Putri lo cianpwee ditangkap oleh beberapa anggota perkumpulan Sang Yen Hwee..."
Sahutnya.
"Perkumpulan Sang Yen Hwee?"
Tanya Thiang Thong Lojin tak tertahan.
"Tidak salah, dengarlah dulu!"
Ciok Giok Yin segera menutur tentang kejadian itu.
"Ketika para penjahat itu ingin menodai putri lo cianpwee, kebetulan aku melewati tempat itu, kemudian kubunuh mereka berenam. Tapi putri lo cianpwee masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Sedangkan aku tidak tahu dia terkena obat bius jenis apa, maka aku membawanya ke mari. Salahkah aku menyelamatkannya?"
"Siapa bilang kau salah? Sekarang kau harus bagaimana membereskannya?"
Bentak Thiang Thong Lojin. Perkataan Thiang Thong Lojin yang tiada ujung pangkalnya itu membuat Ciok Giok Yin tertegun.
"Aku?"
"Tentu kau!"
"Ada urusan apa dengan diriku?"
"Bocah, kau masih berani berpura-pura di hadapan lohu?"
Ciok Giok Yin betul-betul kewalahan menghadapi Thiang Thong Lojin yang bicara tak pakai aturan itu.
"Harap lo cianpwee memberi penjelasan!"
Sahutnya dingin.
"Aku bertanya lagi, dalam hal hubungan apa lelaki boleh melihat tubuh seorang gadis?"
"Sulit dikatakan. Gadis kecil ketika mandi, sudah barang tentu kedua orang tuanya akan melihat...."
Belum usai Ciok Giok Yin berkata, wajah Thiang Thong Lojin sudah tampak gusar.
"Aku tidak bertanya tentang hubungan orang tua dengan anak!"
Bentaknya sengit. Ciok Giok Yin tertegun. Dia memang kurang pengalaman, maka tidak tahu akan maksud Thiang Thong Lojin.
"Kalau begitu, apakah hubungan suami isteri?"
Thiang Thong Lojin mengangguk "Itu baru betul!"
Dia tampak berpikir sejenak.
"Putriku bernama Tung Yun, sekarang kujodohkan denganmu. Kau mau bilang apa lagi?"
Ciok Giok Yin terbelalak. Sambil menyurut mundur tiga langkah dia menyahut dengan perlahan-lahan.
"Ini... ini mana boleh?"
"Mengapa?"
"Aku menyelamatkannya, tidak bermaksud menerima imbalan apa pun."
"Kau telah melihat tubuhnya!"
"Aku melihat tubuhnya, itu belum tentu harus memperisterinya."
"Kau tidak mau, kau harus mau!"
Mendengar itu, gusarlah Ciok Giok Yin.
"Mana ada perjodohan yang dipaksa?"
Katanya lantang. Thiang Thong Lojin maju tiga langkah seraya membentak.
"Kau berani menolak?"
Ciok Giok Yin tidak menyangka akan terjadi hal tersebut, maka dia menyahut lantang.
"Tidak mau!"
"Bocah, sungguh besar nyalimu!"
Thiang Thong Lojin maju selangkah lagi.
"Lohu bertanya padamu, siapa berani menjamin bahwa bukan kau yang melakukan itu? Hm! Kau sengaja menangkapnya, lalu membawanya ke mari seakan menaruh budi padaku?"
Ciok Giok Yin tertegun dituduh berbuat seperti itu.
"Lo cianpwee...."
Sesungguhnya Ciok Giok Yin ingin mencacinya, namun batal melontarkannya.
"Bagaimana lo cianpwee sedemikian tidak pakai aturan? Apakah lo cianpwee telah pikun?"
Lanjutnya. Sepasang mata Thiang Thong Lojin menyorot tajam.
"Lohu akan memaksamu harus mau..."
Bentaknya.
"Tidak mau! Tidak mau!"
Teriak Ciok Giok Yin sekeraskerasnya. Wajah Thiang Thong Lojin berubah bengis.
"Kalau kau tidak mau, berarti aku tidak akan mengampunimu!"
Katanya sepatah demi sepatah. Sambil melancarkan serangan. Ciok Giok Yin tersentak. Ketika dia baru mau menangkis, mendadak terdengar suara seruan.
"Ayah, jangan!"
Thiang Thong Lojin langsung mundur sambil mendengus dingin.
"Hmm! Anak Yun, kau jangan turut campur! Aku harus menghajarnya!"
Usai berkata, Thiang Thong Lojin maju lagi. Tampak sesosok bayangan melayang turun di tengah-tengah mereka, ternyata adalah Tung Yun.
"Ayah jangan marah dulu, aku ingin bertanya padanya,"
Katanya merdu. Thiang Thong Lojin melototi Ciok Giok Yin, lalu menyurut mundur beberapa langkah. Sedangkan Tung Yun maju ke hadapan Ciok Giok Yin sambil berkata dengan lembut.
"Tuan telah menyelamatkan diriku, selamanya takkan kulupakan budimu. Ayahku bersifat aneh, mohon jangan Tuan simpan dalam hati. Kalau Tuan sudah tiada urusan lain, lebih baik cepat-cepat meninggalkan tempat ini! Budi pertolonganmu, aku pasti membalasnya kelak."
Gadis itu memang cantik sekali. Maka tidak mengherankan kalau hati Ciok Giok Yin tergerak. Namun dia sudah punya tunangan, mana boleh.... Karena itu dia berkata dengan suara rendah pula.
"Nona Tung, aku sudah punya tunangan, maka tidak bisa mengabulkan permintaan ayahmu. Aku mohon maaf, dan harap Nona tidak menyalahkanku!"
Gadis cantik itu memandangnya.
"Aku tidak menyalahkanmu, lagi pula urusan ini tidak bisa dipaksa. Cepatlah kau pergi agar ayahku tidak sampai merepotkanmu lagi."
Dia bermaksud baik, tapi Ciok Giok Yin justru tidak bisa segera pergi.
"Aku ada urusan ingin mohon bantuan ayahmu."
"Urusan apa?"
"Berhubungan dengan sepotong kain."
"Sepotong kain?"
"Ya."
"Ada apa potongan kain itu?"
"Karena potongan kain itu menyangkut asal-usulku."
Tung Yun, terbelalak menatap Ciok Giok Yin seraya bertanya.
"Ada urusan begitu?"
Ciok Giok Yin mengangguk.
"Ya."
Tung Yun berpikir sejenak.
"Berikan potongan kain itu padaku, aku akan bertanya pada ayahku."
Ciok Giok Yin mengeluarkan potongan kain seraya berkata.
"Inilah potongan kain yang kumaksudkan."
Tung Yun menerima potongan kain tersebut lalu berbisik.
"Kau tunggu sebentar!"
Gadis itu membalikkan badannya lalu berjalan mendekati ayahnya. Sepasang bola matanya berputar-putar sejenak, kemudian dia berkata dengan lirih.
"Ayah telah mengambil keputusan itu, tidak boleh diganggu gugat! Pokoknya dia harus memperisterimu!"
Bentak Thiang Thong Lojin. Air muka Tung Yun berubah, kemudian dia berkata dengan air mata berlinang-linang.
"Ayah tidak takut akan ditertawakan kaum rimba persilatan?"
Thiang Thong Lojin tertegun.
"Apa yang harus ditertawakan?"
"Kaum rimba persilatan akan mengatakan Ayah memaksa orang menikah denganku. Kalau begitu, apakah aku masih punya muka menemui orang? Lebih baik aku mati saja."
Thiang Thong Lojin tampak tertegun lagi. Menyaksikan itu, Tung Yun segera berkata lagi.
"Dia bermaksud baik, lagi pula dia telah menyelamatkan diriku dari tangan para penjahat. Kalau tidak, apakah aku masih bisa bertemu Ayah?"
Usai berkata, Tung Yun menangis terisak-isak.
Air mata wanita memang merupakan senjata yang amat ampuh.
Begitu Tung Yun menangis, hati Thiang Thong Lojin pun menjadi lunak.
Namun mendadak orang tua berambut putih itu menghempas kakinya seraya berkata.
"Biar Ayah berpikir sebentar!"
Tung Yun khawatir kalau-kalau ayahnya akan berubah pikiran, maka dia cepat-cepat berkata.
"Ayah, dia ke mari ingin mohon bantuan."
"Bantuan apa?"
"Dia memiliki sepotong kain, menyangkut asal-usulnya, maka jauh-jauh dia ke mari menemui Ayah, agar mengungkap rahasia kain potongan itu, mungkin...."
Thiang Thong Lojin memutuskan perkataan Tung Yun.
"Potongan kain apa?"
Tung Yun memperlihatkan potongan kain tersebut.
"Ini, Ayah!"
Thiang Thong Lojin menerima potongan kain itu, lalu diperhatikannya dengan mata tak berkedip.
Setelah itu tampak keningnya berkerut-kerut sedang berpikir keras.
Saat ini, dia sudah tidak memikirkan urusan putrinya, karena perhatiannya tercurah pada potongan kain itu.
Kelihatannya dia amat tertarik.
Ciok Giok Yin yang melihat dari jauh hatinya berdebardebar tegang.
Tak diragukan lagi Thiang Thong Lojin juga mengalami kesulitan memecahkan rahasia potongan kain itu.
Apabila orang tua berambut putih itu tidak dapat mengungkap rahasia potongan kain tersebut, berarti selamanya tak dapat diungkapkan.
Beberapa saat kemudian mendadak Thiang Thong Lojin melemparkan kain itu sambil membentak dengan sengit.
"Mana lohu punya waktu mempedulikan urusanmu? Cepat enyah!"
Ciok Giok Yin menyambut potongan kain itu sambil menyahut dengan gusar.
"Kau cuma bernama kosong!"
Ciok Giok Yin ingin melesat pergi. Sekonyong-konyong Thiang Thong Lojin mem-bentak bagaikan guntur.
"Berhenti!"
Ciok Giok Yin membalikkan badannya lalu bertanya dengan dingin.
"Masih ada urusan apa?"
Thiang Thong Lojin tertawa gelak seraya berkata.
"Seandainya lohu bernama kosong, lihat siapa yang sanggup mengungkapnya."
"Aku pasti dapat menemukan orang yang mampu mengungkap rahasian potongan kain ini!"
Sahut Ciok Giok Yin.
Dia tidak mempedulikan Thiang Thong Lojin lagi, sebab khawatir kalau-kalau orang tua berambut putih itu akan mendesaknya menikah dengan Tung Yun.
Maka dia segera melesat pergi dengan wajah gusar.
Setelah Ciok Giok Yin melewati puncak gunung, mendadak terdengar suara merdu di belakangnya.
"Tunggu sebentar, Tuan!"
Ciok Giok Yin segera berhenti sekaligus membalikkan badannya. Tampak Tung Yun sedang melesat ke arahnya. Ginkang gadis itu cukup tinggi, sehingga dalam sekejap sudah berada di hadapan Ciok Giok Yin.
"Nona ada petunjuk apa?"
Tanya Ciok Giok Yin dingin. Tung Yun menatapnya sejenak, kemudian berkata dengan perlahan-lahan.
"Ayahku bersikap kasar padamu, aku sungguh merasa tidak enak!"
"Itu tidak apa-apa. Nona ke mari hanya karena urusan itu?"
"Bukan."
"Lalu karena urusan apa?"
"Potongan kain itu."
Ciok Giok Yin tertegun.
"Memangnya kenapa potongan kain itu?"
"Kau harus memperoleh Bu Keng Sui (Air tanpa Akar)."
"Bu Keng Sui?"
"Ya."
"Apa yang disebut Bu Keng Sui?"
"Mungkin potongan kain itu harus direndam dalam Air Tanpa Akar itu, barulah dapat diketahui rahasianya, sampai jumpa!"
Tung Yun segera melesat pergi.
"Terimakasih atas petunjuk Nona!"
Seru Ciok Giok Yin dengan lantang.
Usai berseru, dia justru berdiri termangu-mangu.
Tidak menyangka sama sekali, potongan kain tersebut berhubungan pula dengan Air Tanpa Akar.
Ini sungguh merupakan hal aneh!
Memang banyak hal aneh di dunia persilatan, sulit untuk diduga.
Ciok Giok Yin terus berpikir.
Asal-usulnya diketahui Tiong Ciu Sin Ie, mengapa tidak mau memberitahukan dari dulu?
Sebelum meninggal, kakek tua itu cuma berpesan agar Ciok Giok Yin pergi ke gunung Cong Lam San mencari Can Hai It Kiam.
Namun Can Hai Kian justru dibunuh oleh orang yang menyamar sebagai dirinya.
Kemudian muncul Cou Kiong, akhirnya Cou Kiong mati di tangan Siau Sin Sanjin-Li Mong Pai, cuma meninggalkan potongan tersebut.
Sedangkan potongan kain itu harus direndam dengan Air Tanpa Akar, lalu harus mencari ke mana Bu Keng Sui itu?
Kalau Bu Keng Sui itu kepunyaan orang lain, bagaimana mungkin orang itu akan memberikannya?
Ciok Giok Yin yakin bahwa Bu Keng Sui merupakan benda pusaka, tidak gampang memperolehnya.
Lama sekali Ciok Giok Yin berpikir, akhirnya dila membanting kakinya seraya berkata sengit.
"Bagaimana nanti saja!"
Kemudian dia melesat pergi Dalam perjalanan dia terus berpikir mana yang harus dituju.
Mendadak timbul suatu niat dalam hatinya, ternyata dia ingin menuju Kuil Yeh Ling Si yang pernah didatangi oleh Siau Bin Sanjin Li Mong Pai.
Kini apa salahnya pergi ke kuil itu melihat-lihat, lalu berangkat ke Gunung Kee Jiau San tempat markas Thay Kek Bun untuk menengok Seh Yong Yong, tunangannya.
Biar bagaimanapun harus mencari suatu tempat untuk tempat tinggalnya, tidak bisa selamanya menumpang di rumah orang.
Seusai berpikir demikian, barulah Ciok Giok Yin melesat pergi laksana kilat, menuju Kuil Yeh Ling Si.
Hari sudah mulai gelap, namun kuil tersebut sudah berada di depan.
Suasana di sekitar kuil itu sunyi senyap, tidak terdengar suara orang.
Ciok Giok Yin khawatir kalau-kalau di depan kuil terdapat anggota perkumpulan Sang Yen Hwee, maka dengan waspada dia mengerahkan ginkangnya untuk meloncati tembok lalu melesat ke dalam kuil itu.
Dari ruang dalam hingga beberapa kamar, sama sekali tidak menemukan seorangpun, bahkan kelihatannya kuil itu tidak pernah dihuni orang.
Ciok Giok Yin mengerutkan kening berpikir, mungkin kuil ini merupakan tempat pijakan sementara bagi Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai tempo hari.
Setelah berpikir demikian, dia pun ingin....
Mendadak terdengar suara yang amat lirih.
"Dengar-dengar waktu hari raya malam itu."
Suara lirih itu berasal dari ruangan depan. Ciok Giok Yin segera melesat ke ruangan itu, namun sudah tidak terdengar apa-apa lagi. Beberapa saat kemudian terdengar suara lirih itu berkata.
"Kita di sini melakukan sesuatu yang menyenangkan tanpa diketahui siapa pun, mengapa tidak boleh? Yang penting jangan menyia-nyiakan kesempatan ini."
Terdengar suara bentakan nyaring, yaitu suara seorang gadis.
"Kalian semua memang kodok buduk yang ingin makan daging angsa! Dasar tak tahu diri!"
Terdengar suara lelaki.
"Toaya hari ini memang ingin menikmati tubuhmu."
Ciok Giok Yin sudah mendengar jelas dari mana asal suara, ternyata berada di bawah lantai.
Apakah di bawah lantai terdapat ruang rahasia?
Mendadak terdengar suara 'Plak!' Kemudian terdengar pula suara jeritan, yang disusul oleh suara rintihan.
Jelas sama-sama terluka.
Mendadak Ciok Giok Yin melihat di dinding ruangan itu terdapat sebuah titik hitam yang mencurigakan.
Dia segera mendekati dinding itu kemudian menekan titik hitam tersebut.
Di saat bersamaan terdengar suara 'Kreeeek'.
Ternyata bagian lantai di ruangan itu terbuka sedikit, namun di dalam agak gelap.
Ciok Giok Yin mengerahkan lwee kangnya lalu melongok ke dalam.
Sebelum dia melihat jelas, sekonyongkonyong dari dalam melesat ke luar sosok bayangan, ternyata seorang anggota perkumpulan Sang Yen Hwee, karena bajunya bersulam sepasang burung walet.
Ketika melihat Ciok Giok Yin, anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu tampak tertegun.
"Bocah, siapa kau?"
Bentaknya.
"Ciok Giok Yin."
Anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu berseru tak tertahan.
"Apa? Omong kosong!"
Rupanya dia telah mendengar tentang Ciok Giok Yin yang terpukul ke dalam jurang maut.
Di saat dia berseru kaget, terlihat lagi dua anggota perkumpulan Sang Yen Hwee melesat ke luar dari bawah lantai.
Ciok Giok Yin amat mendendam terhadap para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee maka dia langsung menyerang ketiga orang itu dengan totokan mematikan.
Terdengar suara jeritan, ketiga orang itu telah tertotok, roboh tak bisa bangun lagi.
Setelah membinasakan ketiga orang itu, Ciok Giok Yin segera meloncat ke dalam lantai yang terbuka itu.
Ketika sepasang kakinya menginjak dasar, mendadak terdengar suara rintihan dari sebuah ruang batu dan tampak pula cahaya menyorot ke luar.
Ciok Giok Yin bergerak cepat melesat ke dalam ruang batu itu dan terbelalak begitu masuk ke dalam.
Ternyata di lantai ruang batu itu tergeletak sosok mayat.
Bajunya bersulam sepasang burung walet telah berlumuran darah, bahkan kepala mayat itu pun telah hancur.
Tentunya mayat itu anggota perkumpulan Sang Yen Hwee.
Di sudut ruang batu itu juga tergeletak seorang wanita berpakaian hitam.
Mulutnya mengeluarkan suara rintihan, pertanda dia telah terluka parah.
Dia tergeletak menghadap ke dalam, maka Ciok Giok Yin tidak dapat melihat wajahnya.
Ciok Giok Yin mendekati wanita itu dan begitu melihat seketika juga berseru kaget.
"Kau!"
Sungguh di luar dugaan, ternyata Ciok Giok Yin pernah bertemu wanita berpakaian hitam ini di kuil Cak Ong Bio.
Pada waktu itu gadis tersebut juga dalam keadaan terluka.
Tak disangka wanita berpakaian hitam ini adalah anggota perkumpulan Sang Yen Hwee juga.
Ketika Ciok Giok Yin berseru kaget, wanita berpakaian hitam itu terkejut oleh seruannya dan segera memandang ke arah Ciok Giok Yin.
Sepasang matanya tampak suram.
"Kau..."
Serunya lemah. Dia tidak tahu nama Ciok Giok Yin, karena ketika bertemu, dia tidak menanyakan namanya. Ciok Giok Yin mendengus.
"Hm! Memang aku, tak terduga kan?"
Tiba-tiba wanita berpakaian hitam itu membuka mulut.
"Uaaakh!"
Darah segar menyembur ke luar dari mulutnya, setelah itu dia berkata dengan lemah sekali.
"Bukankah kau adalah Ciok Giok Yin yang selalu menentang perkumpulan Sang Yen Hwee kami?"
"Tidak salah!"
Sahut Ciok Giok Yin dengan dingin.
"Tahukah kau siapa aku?"
"Kau adalah wanita busuk yang tak tahu diri!"
Wanita berpakaian hitam tersenyum getir.
"Katamu memang benar, demikian diriku,"
Dia menarik nafas dalam.
"Tetapi kuberitahukan, namaku Kiok San, tugasku di perkumpulan Sang Yen Hwee adalah menjaga semacam barang yang amat rahasia."
Hati Ciok Giok Yin tergerak.
"Barang apa itu?"
Kiok San tidak menyahut, melainkan berkata lain.
"Tak kusangka mereka begitu jahat, ingin menodai diriku. Salah seorang itu telah kubinasakan, tapi orang itu telah berhasil memutuskan nadi di jantungku."
Dia berhenti sejenak kemudian melanjutkan.
"Setelah kejadian ini aku sudah tidak bisa bernaung di bawah perkumpulan Sang Yen Hwee lagi."
Dia menatap Ciok Giok Yin.
"Di kuil Cak Ong Bio, kau telah menyelamatkan nyawaku."
"Pada waktu itu aku tidak tahu kau adalah anggota perkumpulan Sang Yen Hwee,"
Kata Ciok Giok Yin dingin.
"Kalau tahu?"
"Aku pasti akan menambah satu pukulan lagi untukmu."
"Sekarang masih belum terlambat."
"Terus terang, aku tidak akan mengampuni setiap anggota perkumpulan Sang Yen Hwee."
Mendadak mulut Kiok San menyemburkan darah segar lagi, setelah itu dia berkata lirih.
"Sekarang kau boleh turun tangan."
"Aku akan menunggu kau pulih dulu!"
Bentak Ciok Giok Yin. Kemudian dia menatap Kiok San tajam.
"Katakan, barang apa yang kau jaga itu?"
Akan tetapi Kiok San tidak menyahut, melainkan memejamkan matanya, kelihatannya seperti sudah mati.
Hati Ciok Giok Yin tersentak kemudian berkata dalam hati, 'Aku tidak boleh membiarkannya mati, harus tanya dia menjaga barang apa.' Ciok Giok Yin segera duduk lalu memegang tangan wanita berpakaian hitam.
Tangan wanita itu dirasakannya amat dingin, namun di tenggorokannya masih terdapat sedikit nafas.
Karena itu dia segera menghimpun hawa murninya lalu disalurkan ke dalam tubuh Kiok San.
Berselang beberapa saat kemudian, nafas Kiok San mulai lemah, sepasang matanya tetap tertutup rapat.
Ciok Giok Yin segera menyalurkan hawa murninya lagi ke dalam tubuh Kiok San dan tak seberapa lama kemudian sepasang mata Kiok San terbuka perlahan-lahan.
Bibirnya bergerak-gerak beberapa kali, akhirnya terlontar juga beberapa kata.
"Mengapa... kau... membuatku... siuman...?"
Ciok Giok Yin tahu ajal Kiok San hampir tiba, maka dia berkata lembut.
"Kau menjaga suatu barang penting perkumpulan Sang Yen Hwee. Seandainya kau ingin berbuat baik terhadap dunia persilatan dan meninggalkan nama harum, bukanlah lebih baik kau serahkan barang itu padaku?"
Tiba-tiba dia teringat sesuatu, maka segera bertanya.
"Sebetulnya ada apa waktu hari raya di malam itu? Tadi aku mendengar pembicaraan mereka."
Kiok San balik bertanya dengan suara lemah seakan bergumam.
"Apakah... aku... harus... mengatakannya?"
"Kau harus mengatakannya padaku. Aku tahu pada dasarnya kau berhati baik. Cuma kau terpengaruh sehingga terjerumus ke dalam perkumpulan itu."
Ciok Giok Yin menatapnya.
"Demi meninggalkan nama harummu, kau harus mengatakannya padaku."
Kening Kiok San tampak berkerut-kerut, kelihatannya seperti serba salah. Akan tetapi akhirnya dia berkata.
"Baik, kuberitahukan... padamu...."
Ciok Giok Yin segera memegang tangannya seraya berkata.
"Katakanlah!"
Mendadak tampak air mata Kiok San meleleh. Ciok Giok Yin cepat-cepat menghapus air matanya.
"Apakah hari ini... tanggal..."
Tanya Kiok San tersendat-sendat.
"Hari ini tanggal dua bulan lima,"
Sahut Ciok Giok Yin.
"Kalau... begitu... masih... ada... tiga... hari...."
"Maksudmu?"
"Di... di dalam... bajuku... terdapat... selembar... daftar... nama... tolong... ambilkan...!"
Ciok Giok Yin segera merogohkan tangannya ke dalam baju Kiok San untuk mengeluarkan selembar kertas. Terdengar suara Kiok San semakin lemah.
"Tepatnya... tanggal lima... bulan lima... turun... tangan... di tengah... malam... membunuh... para ketua... partai... agar... mereka... menyerah... pada... perkumpulan... Sang... Yen...."
Bibir Kiok San sudah tidak bergerak, ternyata wanita berpakaian hitam itu telah meninggal.
Sedangkan Ciok Giok Yin terkejut bukan main mendengar itu.
Dia cepat-cepat memaparkan kertas itu, ternyata di dalamnya tercantum nama delapan partai besar dunia persilatan.
Apabila perkumpulan Sang Yen Hwee berhasil membunuh para ketua partai tersebut, bukankah dunia persilatan akan dikuasai perkumpulan Sang Yen Hwee?
Kini cuma tinggal tiga hari, kalau hanya dirinya sendiri yang pergi memberitahukan kepada para ketua partai itu, tentunya akan terlambat.
Karena itu dia tidak mau membuang-buang waktu, segera melesat ke arah gunung Cong Lam San.
Mendadak ada tiga sosok bayangan melayang turun....
Jilid 20 Tiga sosok bayangan itu ternyata Hui Pian-Cu Suang ketua partai Cong Lam Pay bersama dua orang.
Namun Ciok Giok Yin tidak kenal kedua orang itu.
Berdasarkan jubah yang dipakai kedua orang itu, dapat dipastikan bahwa mereka juga dari partai Cong Lam Pay.
Kedua orang itu berperawakan sedang, tapi sepasang matanya menyorot tajam sekali, pertanda mereka berdua memiliki lwee kang yang amat tinggi.
Ketika Ciok Giok Yin baru mau membuka mulut, Hui Pian-Cu Suang sudah berkata dingin.
"Ciok Giok Yin, tak disangka kita akan bertemu di sini. Hari ini hutang piutang di antara kita harus diselesaikan!"
Ketika ketua partai Cong Lam Pay itu mau. melancarkan pukulan, Ciok Giok Yin segera menggoyang-goyangkan sepasang tangannya seraya berkata.
"Tunggu!"
"Kau masih ingin bilang apa?"
Bentak Hui Pian-Cu Suang.
"Kebetulan aku memang ingin ke tempat kalian."
Mendadak kedua orang itu mendengus dingin.
"Hmm! Bocah, kau masih ingin ke partai Cong Lam Pay?"
Ciok Giok Yin tidak menghiraukan kedua orang itu, melainkan berkata serius pada Hui Pian-Cu Suang.
"Ketua, bolehkah aku bertanya?"
Hui Pian-Cu Suang melihat wajah Ciok Giok Yin begitu serius, maka segera balik bertanya.
"Ada urusan apa?"
Ciok Giok Yin melirik kedua orang itu, setelah itu barulah bertanya.
"Aku ingin bertanya, apakah kedua orang itu juga dari partaimu?"
"Tidak salah,"
Sahut Hui Pian. Cu Suang.
"Bolehkah aku tahu nama mereka?"
Ketika Ciok Giok Yin bertanya demikian, kedua orang itu langsung saling memandang, bahkan hati mereka berdebardebar tegang. Namun salah seorang itu tertawa gelak seraya berkata.
"Bocah, apakah kau takut mati?"
"Aku bertanya pada ketua kalian, bukan bertanya pada kalian!"
Bentak Ciok Giok Yin. Hui Pian-Cu Suang tahu bahwa pertanyaan Ciok Giok Yin pasti mengandung suatu maksud tertentu. Maka dia segera menegur orang itu.
"Sute, kau jangan turut bicara!"
Kemudian dia memandang Ciok Giok Yin.
"Apa maksudmu menanyakan nama mereka?"
Tanyanya.
"Maaf! Sementara ini belum bisa kuberitahukan tapi yang jelas aku tidak berniat jahat."
Kedua orang itu mendengus dingin.
"Hmmm!"
Hui Pian-Cu Suang manggut-manggut seraya berkata.
"Baiklah! Kuberitahukan padamu, dia adalah To Lun dan yang itu adalah Liok Siang Ho, mereka berdua adalah suteku."
Setelah itu dia segera mengerahkan lwee kangnya, siap menghadapi kemungkinan adanya serangan.
mendadak dari Ciok Giok Yin.
Setelah mendengar nama kedua orang itu, Ciok Giok Yin cepat-cepat mengeluarkan kertas yang diperolehnya dari Kiok San.
Ternyata dalam kertas itu tercantum kedua orang itu.
Justru di saat bersamaan Liok Siang Ho membentak.
"Bocah haram! Kau jangan macam-macam, cepat ganti nyawa Can Hai It Kiam suhengku!"
Usai membentak, Liok Siang Ho pun ingin menyerang Ciok Giok Yin, namun mendadak Hui Pian-Cu Suang mengibaskan tangan mencegahnya.
"Sabar sute, aku masih ingin menanyakan sesuatu padanya!"
Liok Siang Hok langsung berdiri diam di tempat, namun diamdiam memberi isyarat kepada To Lun, lalu mereka berdua menatap Ciok Giok Yin dengan mata tak berkedip.
Tanpa sadar mereka berdua pun melangkah mundur.
"Sekarang kau boleh memberitahukan maksudmu,"
Kata Hui Pian Cu Suang. Ciok Giok Yin menyimpan kertas itu ke dalam bajunya sambil menyahut.
"Aku masih ingin bertanya satu hal."
Hui Pian-Cu Suang kelihatan tidak sabaran. sebab dia adalah ketua partai Cong Lam pay, namun seperti didikte oleh Ciok Giok Yin, maka dia menyahut dengan nada kurang senang.
"Tanyalah!"
"Apa kedudukan kedua sutemu?"
"Pembantu pribadiku."
"Bagaimana kepandaian mereka berdua?"
Air muka Hui Pian-Cu Suang langsung berubah.
"Untuk apa kau menanyakan itu?"
Bentaknya.
"Tentunya aku punya alasan."
To Lun dan Liok Siang Ho tersenyum-senyum dan saling memandang.
Ternyata mereka berdua mengira Ciok Giok Yin khawatir mereka akan maju bertiga, maka Ciok Giok Yin mengajukan pertanyaan tersebut.
Begitu pula Hui Pian Cu Suang, dia pun berpikir demikian.
Karena itu dia tertawa dingin lalu menyahut.
"Legakanlah hatimu, kami tidak akan maju bertiga mengeroyokmu."
"Itu bukan maksudku."
"Kalau begitu, apa maksudmu? Jelaskanlah!"
Ciok Giok Yin berkata dalam hati, kalau tidak bisa satu kali pukul merobohkan kedua orang itu, akibatnya pasti fatal. Dia memutar otaknya sejenak, kemudian berkata.
"Ketua Cu, sebelum membicarakan pokok urusan, masih ada satu hal yang harus kukatakan."
"Mengenai hal apa?"
"Can Hai It Kiam lo cianpwee mati di tangan orang yang menyamar diriku, orang itu telah kubunuh."
"Aku tidak bisa mempercayaimu."
"Anda boleh percaya boleh tidak, namun kuharap Anda sudi menaruh ke belakang urusan ini. Sebab kini kita kembali pada pokok pembicaraan."
Baca Juga: Elang Pemburu 2
Baca Juga: Bentrok Rimba Persilatan 7