Ceritasilat Novel Online

Seruling Perak Sepasang Walet 9

Eps 9 Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung

Baca online Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung

Cersil Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung.

Hui Pian-Cu Suang tidak tahu apa yang akan dibicarakan Ciok Giok Yin.

"Kau boleh bicara."

"Aku harap Anda melihat suatu barang rahasia dulu."

Hui Pian-Cu Suang tertegun.

"Barang rahasia?"

"Ya."

"Barang rahasia apa?"

"Hanya Ketua Cu yang boleh melihat, kedua sutemu tidak boleh."

Hati To Lun dan Liok Siang Ho tersentak.

"Bocah haram! Kau berani berbuat macam-macam? Aku akan menghabisimu dulu!"

Bentak To Lun mendadak.

Ternyata orang itu sudah menyerang Ciok Giok Yin.

Namun Ciok Giok Yin tahu kini bukan saatnya bertarung dengan mereka, maka secara reflek dia mengerahkan ilmu Hui Keng Pou yang diperolehnya dari jurang maut.

Tampak badannya berkelebat menerobos ke luar dari serangan To Lun yang bertubi-tubi.

Bersamaan itu, Ciok Giok Yin pun berkata.

"Kalau Ketua Cu ingin lihat, harap Ketua Cu menyuruh kedua orang itu mundur lima depa. Kalau tidak, aku mau pergi."

Semua orang pasti akan tertarik pada hal-hal aneh, begitu pula Hui Pian Cu Suang. Walau usianya sudah cukup tua, namun tidak terhindar dari sifat itu. Sebab itu dia segera berseru.

"Sute, mundur!"

Akan tetapi, To Lun tahu bahwa Ciok Giok Yin muncul dari Kuil Yeh Ling Si, maka ingin membunuhnya. Bukannya dia berhenti atau mundur, sebaliknya malah lebih gencar menyerang Ciok Giok Yin.

"Ciangbun suheng, jangan mempercayai omongan bocah ini, kita harus membinasakannya!"

Serunya kepada Hui Pian-Cu Suang. Menyaksikan itu gusarlah Hui Pian-Cu Suang.

"Sute, kau berani tidak mendengar perkataanku?"

Bentaknya mengguntur. Begitu melihat Hui Pian-Cu Suang gusar, To Lun segera mencelat ke tempat semula, kemudian memberi isyarat kepada Liok Siang Ho.

"Kalian berdua, cepat mundur lima depa! Aku ingin melihat sebetulnya barang rahasia apa itu,"

Kata Hui Pian-Cu Suang.

"Ciangbun suheng, jangan menempuh bahaya! Bocah itu amat kejam dan banyak akal busuknya. Bagaimana kalau kami berdua yang melihat barang rahasia itu?"

Sahut To Lin atau Liok Siang Ho serentak. Mendengar itu, Hui Pian-Cu Suang tertegun. To Lun segera berkata.

"Dia tidak punya barang rahasia apa pun. Aku yakin dia ingin mencelakai Ciangbun suheng! Kalau tidak, mengapa dia melarang kami berdua turut melihat?"

Saat ini Ciok Giok Yin berdiri tak begitu jauh, tentunya mendengar jelas semua pembicaraan itu. Karena itu dia tertawa gelak.

"Kalau Ketua Cu mendengar perkataan mereka, aku pun mau pergi."

Ciok Giok Yin sudah siap melesat pergi, namun mendadak Hui Pian-Cu Suang berseru.

"Tunggu!"

Setelah itu dia berkata kepada kedua sutenya.

"Kalian berdua mundurlah, tiada urusan dengan kalian."

To Lun dan Liok Siang Ho tidak berani membantah, segera mundur lima depa.

Akan tetapi diam-diam mereka berdua sudah siap.

Kalau benar adalah urusan yang mereka khawatir itu, mereka berdua akan segera turun tangan membunuh Hui Pian-Cu Suang, lalu kembali ke gunung Cong Lam San dan...

siapa yang berani membangkang perintahnya?

Apabila tidak dapat membunuh Hui Pian-Cu Suang, mereka berdua masih punya waktu untuk melarikan diri.

Mereka berdua terus memperhatikan gerak-gerik Ciok Giok Yin dengan mata tak berkedip.

Namun Hui Pian-Cu Suang yang berdiri begitu dekat dengan Ciok Giok Yin sudah mengerahkan lwee kangnya.

"Sekarang kau boleh perlihatkan,"

Katanya. Ciok Giok Yin menatapnya sejenak kemudian berkata.

"Ketua Cu, aku berniat baik. Kalau Ketua Cu menganggapku sebagai musuh, lebih baik jangan melihat."

Mendengar itu, Hui Pian-Cu Suang merasa tidak enak.

"Baiklah! Aku mempercayaimu!"

Ciok Giok Yin manggut-manggut, tahu jelas Hui Pian-Cu Suang saat ini sudah tidak menganggapnya sebagai musuh.

Dia segera mengeluarkan kertas tersebut dari dalam bajunya, setelah itu berkata pada Hui Pian-Cu Suang menggunakan ilmu Penyampai Suara.

"Silakan, Ketua Cu melihat! Kertas ini kuperoleh dari salah seorang anggota perkumpulan Sang Yen Hwee."

Hui Pian-Cu Suang menerima kertas itu.

Begitu membacanya air mukanya langsung berubah menjadi hebat.

Justru disaat bersamaan, mendadak tampak dua sosok bayangan melesat laksana kilat ke arah Hui Pian-Cu Suang.

Salah satu menyambar kertas tersebut, sedangkan yang satu lagi melancarkan pukulan ke arah kepala Hui Pian-Cu Suang.

Ketua partai Cong Lam Pay berkepandaian tinggi, bagaimana mungkin akan terhantam serangan mendadak itu?

Dia bergerak cepat memutar sebelah tangannya agar kertas itu tidak tersambar, sekaligus membentak.

"Nyali kalian berdua sungguh besar, berani berontak!"

Dia memutarkan badannya sambil menyambut pukulan yang dilancarkan To Lun. Plak! Terdengar suara benturan. Tampak badan To Lun terpental hampir tiga depa. Namun ada serangan gelap di belakangnya.

"Ketua Cu, ada serangan dari belakang!"

Seru Ciok Giok Yin. Saat ini To Lun sudah menerjang lagi. Kini Hui Pian-Cu Suang dikeroyok kedua adik seperguruannya, membuat Ciok Giok Yin tidak tinggal diam.

"Ketua Cu, aku akan membantu membasmi kedua murid murtad partai Cong Lam Pay!"

Usai berseru Ciok Giok Yin sudah maju. Terdengar suara seruan Hui Pian-Cu Suang.

"Mohon siauhiap jangan melepaskan mereka!"

Dia pun sudah balas menyerang To Lun.

Terdengar suara jeritan.

Sedangkan Liok Siang Ho juga sudah terpental oleh pukulan yang dilancarkan Ciok Giok Yin.

Ternyata Ciok Giok Yin menggunakan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Liok Siang Ho roboh tak bangun lagi, nyawanya telah melayang.

To Lun cuma terluka ringan.

Menyaksikan kematian Liok Siang Ho, ciutlah nyalinya dan segera melarikan diri.

Mendadak tampak sesosok bayangan menghadang di hadapannya, ternyata Ciok Giok Yin.

Itu membuat To Lun ketakutan dan cepat-cepat memutar badannya lari ke tempat lain.

Akan tetapi Ciok Giok Yin tetap menghadang di depannya.

Ciok Giok Yin tidak mau turun tangan membunuhnya.

Dia berharap Hui Pian-Cu Suang yang menangkapnya.

Sementara kegusaran Hui Pian-Cu Suang telah memuncak.

Dia terus membuntuti To Lun yang berlari ke sana ke mari.

"Kau masih ingin melarikan diri?"

Bentaknya.

Terdengar Hui Pian-Cu Suang sudah mengeluarkan senjatanya, yaitu sebuah cambuk panjang.

To Lun menjerit dan mulutnya menyemburkan darah segar.

Sambaran cambuk itu telah menghancurkan tulang betisnya, sehingga membuatnya pingsan seketika.

Kegusaran Hui Pian-Cu Suang belum reda.

Dia menggerakkan cambuknya ingin membunuh To Lun.

Namun Ciok Giok Yin segera mencegahnya.

"Ketua Cu, mohon tanya apakah mereka masih bersekongkol dengan orang lain?"

"Aku tidak tahu,"

Sahut Hui Pian-Cu Suang. Setelah menyahut, ketua partai Cong Lam Payu itu membentak sambil menuding To Lun yang telah roboh tak berkutik.

"Kau betul-betul durhaka! Suhu begitu baik terhadap kalian, tapi kalian malah berkhianat! Secara diam-diam bersekongkol dengan perkumpulan Sang Yen Hwee! Ini sungguh...."

Saking gusarnya Hui Pian-Cu Suang tidak dapat melanjutkan ucapannya.

Sedangkan To Lun diam saja, ternyata masih dalam keadaan pingsan.

Hui Pian-Cu Suang mengangkat sebelah kakinya lalu dihentakkan di dada To Lun.

Seketika terdengar suara jeritan.

"Aduuuh...!"

To Lun siuman perlahan-lahan, namun sepasang matanya tampak suram.

"Katakan! Mengapa kau bergabung dengan perkumpulan Sang Yen Hwee?"

Bentak Hui Pian-Cu Suang. Mendadak To Lung tertawa gelak seperti orang gila lalu menyahut.

"Cu Suang! Kini aku telah terjatuh ke tanganmu, mau bunuh silakan! Untung nyawamu besar!"

Kemudian dia menoleh memandang Ciok Giok Yin.

"Bocah haram, kau telah merusak rencanaku! Sampai aku mati pun tidak akan mengampunimu!"

Katanya penuh dendam.

Menyusul terdengar suara pekikan.

Mulut To Lun menyemburkan darah segar.

Badannya bergerak sesaat, lalu diam, ternyata nafasnya telah putus.

Memang sungguh di luar dugaan, To Lun membunuh diri dengan cara menggigit putus lidahnya sendiri.

Begitulah!

Orang jahat pasti mendapat ganjarannya.

Menyaksikan itu Hui Pian-Cu Suang menghela nafas panjang.

"Inilah ketidak mampuan lohu memimpin, sehingga menyebabkan kedua sute itu salah langkah."

Usai berkata, tak terasa air matanya telah meleleh.

"Ketua Cu, keadaan sudah mendesak sekali, sedangkan masih ada tujuh ketua partai yang dalam bahaya. Aku tidak bisa memberitahu mereka satu persatu, maka mohon ketua Cu sudi memberi petunjuk!"

Hui Pian-Cu Suang tersentak.

"Siauhiap, mari kita pergi!"

Mereka berdua melesat pergi.

Arah yang mereka tuju adalah gunung Cong Lam San.

Karena memburu waktu, maka mereka mengerahkan ginkang dengan sepenuh tenaga.

Ketika hari mulai pagi, mereka berdua sudah tiba di markas partai Cong Lam Pay.

Hui Pian-Cu Suang segera mengutus beberapa murid handal untuk mengantar surat.

Dia berpesan pada para murid handalnya, surat itu harus sampai di tangan yang bersangkutan sebelum tanggal lima bulan lima.

Seusai Hui Pian-Cu Suang membagi-bagikan surat kepada beberapa murid handalnya, mendadak salah seorang murid tergopoh-gopoh memasuki ruangan itu lalu melapor.

"Cing Yun Cu dari Gobi Pay mohon bertemu To Lun susiok!"

Mendengar itu air muka Hui Pian-Cu Suang langsung berubah.

"Ketua Cu, dia harus ditangkap,"

Kata Ciok Giok Yin.

Ternyata nama Cing Yun Cu juga tercantum di dalam kertas rahasia itu.

Dia datang di Cong Lam Pay menemui To Lun, tentunya punya suatu rencana.

Oleh karena itu, Hui Pian-Cu Suang manggut-manggut seraya berkata.

"Demi golongan putih, terpaksa aku harus berbuat begitu."

Kemudian dia berbisik-bisik pada muridnya itu. Muridnya itu mengangguk, kemudian mengundurkan diri. Berselang beberapa saat Hui Pian-Cu Suang berkata.

"Siasuhiap, mari kita keluar melihat-lihat!"

Ciok Giok Yin manggut-manggut. Mereka berdua berjalan menuju ruangan depan. Tak lama kemudian terdengar suara teriakan gusar.

"Aku ke mari mengunjungi kawan lama! Kalian berani menjebakku ke dalam penjara batu ini?"

Bum! Bum! Terdengar suara pintu dihantam pukulan, tidak lain adalah perbuatan Cing Yun Cu. Sementara Hui Pian-Cu Suang dan Ciok Giok Yin sudah sampai di ruang batu itu.

"Cing Yun Cu, aku yakin partaimu tidak pernah berbuat salah terhadapmu, tapi kau justru berani bersekongkol dengan pihak lain untuk mencelakai ketuamu itu...."

Cing Yun Cu segera memutuskan perkataan Hui Pian-Cu Suang.

"Apa maksud perkataanmu itu?"

"Apakah kau tidak paham dalam hatimu?"

"Aku memang tidak paham!"

"Di saat lohu menyerahkanmu pada ketua kalian, kau pasti akan paham!"

"Kentut! Kalau kalian berani berlaku demikian kasar terhadapku, partaiku pasti akan membuat perhitungan denganmu!"

Hui Pian-Cu Suang mendengus dingin.

"Hmm! Ini adalah urusanku dengan ketuamu, kau tidak perlu banyak bicara!"

Mendadak Cing Yun Cu berkata dengan nada lunak.

"Ketua Cu, kau mengurungku di sini sebetulnya ada maksud apa?"

"Sekarang aku tidak mau memberitahukan!"

"Bolehkah aku bermohon pada ketua Cu?"

"Kau mau bermohon apa?"

"Aku diperintah oleh ketua karena ada urusan di luar. Dalam perjalanan ini aku pun mengunjungi beberapa kawan lama. Kalau aku tidak pulang tepat waktunya, sudah pasti akan dihukum. Apakah Ketua Cu merasa enak?"

"Tentang ini akan kubicarakan dengan ketuamu, kau tidak perlu cemas,"

Sahut Hui Pian-Cu Suang.

"Apakah ketua Cu tidak sudi menolongku?"

"Kalau lohu melepaskanmu, nyawa ketuamu pasti dalam bahaya."

Sekonyong-konyong Cing Yun Cu mencaci maki.

"Tua bangka, aku tidak akan mengampunimu!"

Saat ini Ciok Giok Yin berkata hormat pada Hui Pian-Cu Suang.

"Lo cianpwee, waktu sudah amat mendesak, aku harus segera berangkat ke kuil Siauw Lim Si."

"Siasuhiap telah menyelamatkan dunia persilatan. Lohu mewakili kaum segolongan mengucapkan terimakasih pada siauhiap. Mengenai kesalahpahaman itu lohu pun mohon maaf."

"Lo cianpwee jangan berkata begitu. Di mana letak kesalahanku, aku mohon lo cianpwee sudi memaafkanku. Sampai jumpa!"

Ciok Giok Yin menjura, lalu melesat pergi.

Dalam perjalanan, tak lupa Ciok Giok Yin menghitung hari, ternyata cuma tinggal satu hari lagi.

Kalau tidak bisa tiba dikuil Siauw Lim Si sebelum tengah malam, Hian Yun Huisu ketua Siauw Lim Pay pasti akan binasa!

Oleh karena itu dia melakukan perjalanan malam tanpa beristirahat sama sekali.

Ciok Giok Yin khawatir akan ada halangan di tengah jalan, maka dia menempuh perjalanan melalui jalan-jalan kecil yang sepi.

Perlu diketahui, Ciok Giok Yin sama sekali tidak bermaksud mengambil hati para ketua, melainkan ingin menyelamatkan dunia persilatan dari mara bahaya tersebut.

Meskipun para ketua lain masih menaruh salah paham padanya, tapi dia tidak mempedulikan itu, bahkan juga tidak pernah disimpan dalam hati, sebab cuma merupakan salah paham belaka.

Dalam perjalanan menuju Kuil Siauw Lim Si, mendadak dia melihat sebuah tandu yang digotong dua wanita berbadan kekar, sedang meluncur.

Begitu melibat tandu itu, tersentak pula.

Hati Ciok Giok Yin tersentak karena tahu bahwa tandu itu adalah tandu Thian Thay Sian Ceng.

Sesungguhnya Ciok Giok Yin tidak takut padanya.

Namun agar tidak terjadi suatu hambatan, maka dia segera bersembunyi di balik sebuah batu besar.

Akan tetap mendadak terdengar suara bentakan dingin dari dalam tandu itu.

"Berhenti!"

Setelah itu, terdengar lagi suara bentakan.

"Bocah, kau masih ingin melarikan diri?"

Ucapan itu menimbulkan keangkuhan Ciok Giok Yin. Dia segera muncul seraya menyahut.

"Kau mau apa?"

Tandu itu telah berhenti.

Kedua wanita penggotongnya segera berdiri di samping tandu tersebut.

Sepasang mata mereka menyorot tajam, menatap Ciok Giok Yin dengan tak berkedip.

Mendadak terdengar suara dari dalam tandu.

"Lo sin (Aku Yang Tua) merasa tak sedap memandangmu."

Ciok Giok Yin tertawa dingin.

"Aku tidak bermusuhan denganmu, mohon dijelaskan perkataanmu itu!"

"Tidak perlu dijelaskan, pokoknya hari ini kau harus meninggalkan nyawamu!"

"Silakan! Kau kira aku takut padamu?"

Bentak Ciok Giok Yin. Sudah beberapa kali Ciok Giok Yin bertemu Thiang Thay Sian Ceng, namun Thian Thay Sian Ceng tetap berada di dalam tandu, maka Ciok Giok Yin tidak pernah menyaksikan wajahnya.

"Kalau kau berani, keluarlah!"

Bentaknya lagi. Terdengar suara dari dalam tandu.

"Lo sin tidak perlu keluar!"

Mendadak dari dalam tandu menerjang ke luar tenaga lunak yang amat dahsyat.

"Kau memang tak tahu aturan!"

Bentak Ciok Giok Yin gusar.

Ciok Giok Yin menangkis serangan itu dengan jurus pertama ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Dia ingin dengan jurus tersebut menerbangkan tandu itu.

Namun tak disangka....

Bum!

Terdengar suara benturan dahsyat dan seketika Ciok Giok Yin terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah.

Dia merasa darahnya bergolak dan matanya berkunang-kunang.

Sedangkan tandu itu tidak bergeming sama sekali.

Hati Ciok Giok Yin tersentak.

Tapi justru membuatnya penasaran.

"Sambut lagi sebuah pukulanku!"

Bentaknya.

Mendadak dia menerjang ke arah tandu sambil melancarkan pukulan dengan jurus kedua dan ketiga ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Akan tetapi tandu itu tetap tak bergeming.

Angin pukulan yang dilancarkan Ciok Giok Yin sepertinya tenggelam ke dasar laut.

Di saat bersamaan terdengar suara yang amat dingin dari dalam tandu.

"Ciok Giok Yin, ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciangmu masih rendah sekali!"

Mendadak tandu itu melambung ke atas menimbulkan suara menderu-deru lalu menerjang ke arah Ciok Giok Yin, bukan main dahsyatnya.

Ciok Giok Yin terbelalak, 'Kungfu apa itu?

Kok bisa membuat tandu itu melambung ke atas?' tanyanya dalam hati.

Sembari bertanya dalam hati, Ciok Giok Yin pun bergerak cepat mencelat ke belakang.

Namun tandu itu seperti memiliki mata, terus mengikutinya.

Itu membuat Ciok Giok Yin gugup, sehingga tanpa sadar mengeluarkan ilmu Hui Keng Pou.

Sungguh menakjubkan!

Tampak badannya berkelebat, tahu-tahu telah berhasil menghindari serangan itu.

Tandu itu merosot ke bawah.

Di saat bersamaan mendadak kedua wanita penggotong tandu menggeram dan segera menerjang ke arah Ciok Giok Yin.

Dalam waktu bersamaan tandu itu melambung ke atas lagi lalu meluncur ke arah Ciok Giok Yin.

Jadi Ciok Giok Yin diserang dari tiga jurusan.

Bum!

Terdengar seperti suara ledakan dahsyat.

Badan Ciok Giok Yin terpental tiga depa lalu roboh di tanah dengan mulut menyembur darah segar.

Kedua wanita penggotong tandu langsung melesat ke arahnya.

Kelihatannya Ciok Giok Yin akan..., namun mendadak tampak bayangan sebuah benda kecil meluncur ke tempat itu lalu menancap di tanah.

Apakah benda kecil itu?

Ternyata sebuah panji kecil berwarna merah.

Thian Thay Sian Ceng yang duduk di dalam tandu seketika berseru kaget.

"Pek Hoat Hujin!"

Sedangkan kedua wanita penggotong tandu, begitu mendengar seruan Thian Thay Sian Ceng, langsung menghentikan tangannya yang telah dijulurkan ke arah Ciok Giok Yin, bahkan cepat-cepat melesat pergi.

Ciok Giok Yin bangun perlahan-lahan.

Dia melihat wanita anggun berpakaian mewah, yang pernah beberapa kali menyelamatkannya berdiri di tempat itu.

Sedangkan Thiang Thay Sian Ceng dan kedua wanita penggotong tandu telah tidak kelihatan.

Ciok Giok Yin menghapus noda darah di bibirnya, kemudian memberi hormat pada wanita anggun berpakaian mewah.

"Cianpwee telah menyelamatkan diriku lagi."

"Tidak dapat dikatakan menyelamatkanmu, melainkan cuma kebetulan saja."

"Tapi... aku telah banyak berhutang budi pada cianpwee."

"Jangan disimpan dalam hati. Bagaimana rasamu sekarang?"

"Baik-baik saja."

"Nak, kau harus beristirahat sejenak."

Begitu mendengar wanita anggun berpakaian mewah memangginya Nak, seketika air mata Ciok Giok Yin meleleh. Wanita anggun berpakaian mewah tertegun ketika melihat Ciok Giok Yin menangis.

"Nak, mengapa kau menangis?"

"Cianpwee, aku... amat terharu,"

Sahut Ciok Giok Yin sambil menyusut air matanya.

"Lho? Mengapa?"

"Sejak aku mengerti, kecuali Tiong Ciu Sin le, tiada orang lain yang memanggilku...."

Wanita anggun berpakaian mewah maju selangkah, seraya berkata.

"Nak, kelak pasti ada orang memanggilmu demikian, jangan sedih!"

"Apakah cianpwee tahu tentang asal-usulku?"

"Aku tahu sedikit."

"Cianpwee tahu?"

"Ya "

"Bolehkah cianpwee memberitahukan padaku?"

"Tidak boleh."

"Mengapa?"

"Belum waktunya."

Berhenti sejenak.

"Tapi aku baru mendengarnya,"

Lanjutnya. Seketika hati Ciok Giok Yin merasa terang.

"Bolehkah aku bertanya sedikit?"

"Boleh."

"Betulkah aku bermarga Ciok?"

"Margamu bukan Ciok."

"Jadi sebetulnya aku bermarga apa?"

"Aku sudah berjanji pada orang itu, tidak boleh memberitahukan."

Ciok Giok Yin merasa kecewa sekali.

"Apakah aku punya hubungan dengan Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie Goan?"

"Hubungan yang erat sekali."

"Aku bukan keturunannya?"

"Bukan."

Wanita anggun berpakaian mewah menatapnya.

"Nak, sebelum waktunya, kau jangan banyak bertanya. Sebab kalau pun tahu, tiada manfaatnya bagimu, bahkan malah akan mencelakaimu. Namun cepat atau lambat kau akan mengetahuinya."

Ciok Giok Yin teringat sesuatu, maka segera bertanya.

"Cianpwee, betulkah potongan kain yang kuperoleh itu menyangkut asal-usulku?"

"Aku dengar, kau pernah pergi mencari Thiang Thong Lojin. Betulkah?"

"Ya."

"Dia dapat mengungkap rahasia potongan kain ltu?"

"Masih harus mencari Bu Keng Sui."

"Bu Keng Sui?"

"Ya. Tapi aku tidak tahu harus ke mana mencari Air Tanpa Akar itu."

Wanita anggun berpakaian mewah itu menyahut.

"Harus perlahan-lahan mencari informasi, tidak usah terburuburu."

Ciok Giok Yin manggut-manggut. Wanita anggun berpakaian mewah menatapnya sejenak kemudian bertanya.

"Kau mau kemana?"

"Aku mau ke Kuil Siauw Lim Si."

"Ada urusan apa kau ke sana?"

Ciok Giok Yin segera memberitahukan tentang urusan itu.

"Kalau begitu, cepatlah kau ke sana agar tidak terlambat!"

Kata wanita itu. Ciok Giok Yin memberi hormat. Ketika dia baru mau melesat pergi, mendadak wanita itu berseru.

"Tunggu!"

"Cianpwee ada petunjuk?"

"Kau telah terluka, harus makan obat dulu."

Wanita anggun berpakaian mewah mengeluarkan sebutir pil lalu diberikan pada Ciok Giok Yin seraya berkata.

"Makan obat ini baru pergi!"

Ciok Giok Yin segera menerima obat itu dengan mata berkaca-kaca.

"Cianpwee sedemikian menyayangiku, selamalamanya takkan kulupakan,"

Katanya terharu.

"Baik-baiklah menjaga diri!"

Pesan wanita anggun berpakaian mewah.

Ciok Giok Yin menelan obat tersebut, lalu memandang wanita anggun berpakaian mewah sejenak.

Setelah itu barulah dia melesat pergi laksana kilat.

Wanita anggun berpakaian mewah memandang punggungnya sambil menghela nafas dan bergumam.

"Kasihan anak itu!"

Badannya bergerak, tahu-tahu sudah melesat pergi ke arah yang ditempuh Ciok Giok Yin.

Sementara Ciok Giok Yin terus melakukan perjalanan.

Ketika hari mulai gelap dia sudah tiba di gunung Song San.

Tanpa membuang waktu, dia terus melesat ke puncak gunung itu menuju kuil Siauw Lim Si.

Sebelum tengah malam, Ciok Giok Yin sudah tiba di depan pintu kuil tersebut.

Karena waktu sudah amat mendesak, maka dia langsung menerobos ke dalam.

Mendadak muncul empat hweeshio, masing-masing memegang sebatang toya menghadang di hadapan Ciok Giok Yin.

"Sicu kecil, ada urusan apa kau ke mari?"

Bentak salah seorang dari mereka.

"Aku ingin bertemu ketua kalian,"

Sahut Ciok Giok Yin.

"Urusan apa"

"Mohon Taysu segera melapor!"

"Kini sudah malam, ketua kami sedang berunding sesuatu di ruang pengawas!"

"Kalau kalian tidak bersedia melapor, aku akan menerjang ke dalam."

Ciok Giok Yin sudah mau menerjang ke dalam, namun keempat hweeshio itu segera membentak.

"Kau berani?"

"Mengapa tidak?"

Ciok Giok Yin menggunakan ilmu Hui Kong Pou. Dalam sekejap dia sudah menerobos ke dalam.

"Berhenti!"

Bentak keempat hweeshio itu. Mereka langsung menyerang Ciok Giok Yin dengan toya. Akan tetapi di saat bersamaan mendadak terdengar suara yang bertenaga di ruang besar.

"Siapa begitu berani membuat kegaduhan di kuil ini?"

Seorang hweeshio tua berjalan ke luar, langsung melancarkan pukulan ke arah Ciok Giok Yin yang sedang menerjang ke dalam.

Bukan main dahsyatnya pukulan itu.

Suaranya menderu-deru dan penuh mengandung tenaga menerjang ke arah Ciok Giok Yin.

Ciok Giok Yin menggunakan ilmu Hui Kong Pou untuk menghindar.

Dalam waktu bersamaan dia pun berkata.

"Aku harus menemui ketua kalian, sebab ada urusan rahasia yang harus kusampaikan!"

Hweeshio tua itu menarik kembali serangannya. Kemudian dia menatap Ciok Giok Yin tajam seraya bertanya.

"Mengapa tidak menunggu?"

"Waktu sudah amat mendesak!"

"Kau omong kosong! Aku tidak bisa membiarkanmu berlaku semaunya di sini!"

Hweeshio tua itu melangkah maju.

Ciok Giok Yin tidak mau bertarung dengan hweeshio tua itu, maka cepat-cepat menggunakan ilmu Hui Keng Pou melesat ke dalam melewati sisi hweeshio itu.

Justru di saat bersamaan, mendadak terdengar suara lonceng, pertanda Siauw Lim Pay akan menghadapi musuh.

Seketika muncul para hweeshio dari empat penjuru, yang kemudian mengurung Ciok Giok Yin, bahkan melancarkan serangan.

Ciok Giok Yin tetap menggunakan ilmu Hui Keng Pou untuk menghindar.

Terdengar suara seruan kaget.

"Hah? Hui Keng Pou! Ternyata kau! Cepat bentuk formasi Lo Han Tin!"

Ciok Giok Yin menengok ke arah suara seruan itu. Seketika dia pun berseru tak tertahan.

"Tay Yap Huisu!"

"Tidak salah! Hutang piutang Kuil Cing Hong Si, sudah waktunya diselesaikan!"

Saat ini terlihat lagi beberapa sosok bayangan muncul di ruangan itu. Para hweeshio yang ada di tempat itu segera menyingkir ke samping, lalu memberi hormat seraya berkata.

"Kami beri hormat pada ketua!"

Tampak seorang hweeshio tua berdiri di situ, sepasang matanya menyorot tajam menatap Ciok Giok Yin. Tay Yap Huisu segera membungkukkan badannya memberi hormat seraya berkata.

"Mohon Ketua turunkan perintah menangkap bocah itu! Dia adalah Ciok Giok Yin yang telah membunuh para hweeshio Kuil Cing Hong Si. Lagi pula tadi dia menggunakan ilmu Hui Keng Pou."

Sepasang mata Hian Yun Huisu semakin menyorot tajam.

"Dia menggunakan ilmu Hui Keng Pou?"

"Ya."

Hian Yun Huisu maju dua langkah sambil membentak.

"Sicu Kecil, kau mau bilang apa lagi?"

Legalah hati Ciok Giok Yin, karena Hian Yun Huisu tidak kurang suatu apa pun.

"Aku melakukan perjalanan siang malam menuju kuil ini cuma ingin memperlihatkan sesuatu pada Huisu."

Hian Yun Huisu tertegun.

"Sesuatu apa?"

Saat ini dua hweeshio berusia lima puluhan yang berdiri di kanan kiri Hiang Yun Haisu merapatkan diri dengan ketua Siauw Lim Pay itu.

Ciok Giok Yin berkata dalam hati.

'Mungkin kedua hweeshio itu!' Kemudian dia berkata.

"Kalau ketua ingin melihat, harus menyuruh kedua hweeshio itu minggir."

Kedua hweeshio itu langsung membentak.

"Bocah, apa maksudmu?"

"Barang yang akan kuperlihatkan tidak boleh dilihat oleh lebih dari enam mata."

"Kau punya barang apa, boleh diperlihatkan padaku! Perlu diketahui, kedua hweeshio ini adalah Hian Ceh dan Hian Hong adik seperguruanku,"

Kata Hian Yun Haisu. Diam-diam Ciok Giok Yin berkata dalam hati, 'Dugaanku tidak meleset.' Ciok Giok Yin berkata serius.

"Kalau ketua tidak menyuruh mereka mundur, jangan harap bisa melihat barang ini,"

Katanya kemudian dengan sungguhsungguh. Hian Yun Huisu terheran-heran, lalu mengibaskan tangannya seraya berkata kepada kedua hweeshio itu.

"Kalian berdua mundurlah!"

Hian Ceh dan Hian Hong segera mundur satu depa lebih.

Ciok Giok Yin segera mengeluarkan kertas itu dari dalam bajunya.

Suasana di tempat itu seketika berubah menjadi hening.

Puluhan pasang mata menatap Ciok Giok Yin dengan penuh rasa heran.

Ciok Giok Yin melempar kertas itu ke arah Hian Yun Huisu seraya berkata.

"Silakan Ketua melihat pasti mengetahuinya."

Hian Yun Huisu menyambut kertas itu lalu membaca isinya.

Seketika air mukanya berubah hebat, bahkan sepasang alisnya yang putih itu bergerak turun naik.

Di saat bersamaan mendadak dari luar menerobos ke dalam seorang hweeshio langsung berkata dengan tergopoh-gopoh.

"Lapor pada Ketua, di bawah gunung muncul dua puluh lebih anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang berkepandaian tinggi, kini sudah sampai di.... Belum juga hweeshio itu usai melapor, mendadak Hian Ceh dan Hian Hong bersiul panjang kemudian melesat laksana kilat ke arah Hian Yun Huisu. Kejadian itu membuat para hweeshio menjadi melongo. Sedangkan Hian Yun Huisu sudah membaca kertas itu, maka pasti sudah siap-siap dari tadi, dia segera berseru.

"Cepat tangkap Hian Ceh dan Hian Hong!"

Sembari berseru dia berkelit menghindar serangan yang dilancarkan kedua hweeshio itu.

Seketika tampak belasan hweeshio telah mengurung Hian Ceh dan Hian Hong.

Sedangkan Hian Yun Huisu langsung menyuruh belasan hweeshio mengikuti Tay Yao Huisu untuk pergi menghadang para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee.

Setelah itu Hian Yun Huisu memegang tangan Ciok Giok Yin seraya berkata.

"Sicu kecil, mari kita keluar melihat-lihat!"

Sementara di luar sudah terdengar suara bentakan, jeritan dan senjata berkelebat ke sana ke mari.

Pertarungan matimatian berlangsung di situ.

Tampak pula dua puluh lebih mayat tergeletak di tanah yaitu mayat-mayat hweeshio dan anggota perkumpulan Sang Yen Hwee.

Sampai di luar, Hian Yun Huisu mengundang Ciok Giok Yin ke ruang tamu.

Kemudian berkata dengan penuh rasa haru.

"Sicu kecil jauh-jauh ke mari, aku amat berterima kasih."

"Membasmi golongan iblis, juga adalah bagian dariku,"

Sahut Ciok Giok Yin sambil memberi hormat. Saat ini Tay Yap Huisu masuk ke dalam dan merangkapkan sepasang tangannya di dada sambil berkata kepada Ciok Giok Yin.

"Tempo hari terjadi kesalahpahaman, mohon Sicu Kecil sudi memaafkanku!"

Ciok Giok Yin segera balas memberi hormat sambil berkata dengan ramah.

"Taysu jangan berkata begitu, kelak aku masih mohon petunjuk Taysu."

Kini kesalah pahaman diantara mereka telah jernih.

Mendadak tampak Liau Cing Taysu dan Thian It Ceng berjalan ke dalam.

Mereka menatap Ciok Giok Yin dengan tajam.

Terutama sepasang mata Thian It Ceng, penuh mengandung dendam dan kebencian.

"Ketua, mohon penjelasan mengenai satu hal,"

Kata Ciau Cing Taysu.

"Hal apa?"

Ciok Giok Yin telah menyaksikan sikap kedua hweeshio tua itu, tentunya bermaksud tidak baik terhadap dirinya.

"Mengenai kitab Ban Siang Po Kip. Sicu Kecil ini tadi menggunakan ilmu Hui Keng Pou. Bukankah boleh bertanya padanya?"

Sahut Liau Cing Taysu. Hian Yun Huisu mengerutkan kening kemudian bertanya pada Ciok Giok Yin.

"Mengenai ilmu Hui Keng Pou, Sicu Kecil belajar dari mana?"

"Maaf, tentang itu tidak dapat kuberitahukan,"

Sahut Ciok Giok Yin. Hian Yun Huisu berkata.

"Sicu Kecil, Kuil kami menyimpan sebuah kitab Ban Siang Po Kip, peninggalkan Tatmo Cousu, namun telah hilang tiga puluh tahun yang lalu. Harap Sicu Kecil sudi menjelaskannya!"

Air muka Ciok Giok Yin langsung berubah.

"Apakah Ketua mencurigaiku telah mencuri kitab itu?"

"Sicu kecil telah menyelamatkan Kuil Siauw Lim Si. Dalam hal ini kami amat berterimakasih sekali. Tapi mengenai ilmu Hui Keng Pou, Sicu Kecil harus menjelaskannya..."

Sela Thian It Ceng.

"Maksud tujuanku ke mari bukan ingin menaruh budi pada Kuil Siauw Lim Si, sekarang aku mau mohon diri,"

Kata Ciok Giok Yin.

Dia segera melesat pergi, juga menggunakan ilmu Hui Keng Pou.

Hian Yun Huisu duduk diam di tempat, kelihatannya memang sengaja membiarkan Liau Cing Taysu dan Thian Ceng mendesak Ciok Giok Yin tentang kitab tersebut.

Liau Cing Taysu dan Thian It Ceng melesat ke luar kemudian menghadang di depan Ciok Giok Yin.

"Sicu Kecil, lebih baik dijelaskan agar tidak terjadi kesalah pahaman lagi."

Kalau Liau Cing Taysu dengan suara dalam.

"Tidak dapat kuberitahukan,"

Sahut Ciok Giok Yin dingin.

"Sungguhkah kau tidak mau memberitahukan?"

"Sungguh!"

"Kalau begitu kami terpaksa bertindak kasar terhadapmu!"

"Bagaimana!"

"Menangkapmu di sini agar ada orang tampil ke mari!"

Ciok Giok Yin tertawa gelak.

"Siauw Lim Pay amat terkenal, tapi para hwee-shionya justru tak tahu aturan!"

Mendadak Ciok Giok Yin menggunakan ilmu Hui Keng Pou lagi. Tampak badannya berkelebat menerobos ke luar, tahutahu sudah sampai di ruangan depan.

"Kau tidak bisa meloloskan diri!"

Kata Liau Cing Taysu.

Seketika terdengar lonceng berbunyi kemudian tampak puluhan hweeshio mengepung Ciok Giok Yin.

Akan tetapi ilmu Hui Keng Pou memang amat luar biasa.

Buktinya Ciok Giok Yin masih berhasil menerobos ke luar dengan menggunakan ilmu tersebut.

Saat ini sudah ada seratus lebih hweeshio Siauw Lim Si mengepung Ciok Giok Yin, tapi tetap tidak berhasil menangkapnya.

Kalau kejadian ini tersiar keluar, pasti nama Siauw Lint Pay akan runtuh.

Kelihatannya Ciok Giok Yin akan berhasil menerobos ke luar dari pintu kuil Siauw Lim Si.

Mendadak tampak beberapa sosok bayangan berkelebat menghadang di hadapannya.

Salah seorang dari mereka adalah hweeshio berusia lanjut.

Rambutnya, alisnya dan jenggotnya semuanya sudah putih, badannya agak kurus.

Para hweeshio yang ada di tempat itu segera memberi hormat seraya berkata.

"Kami memberi hormat pada Sucou Hud!"

Ternyata hweeshio berusia lanjut itu kedudukannya masih tiga tingkat di atas Hian Yun Huisu, tidak lain adalah It He Tianglo.

Begitu melihat hweeshio berusia lanjut itu Ciok Giok Yin tertegun.

Sebab sepasang mata hweeshio berusia lanjut itu menyorotkan sinar amat tajam.

Itu membuat sekujur badan Ciok Giok Yin jadi merinding.

"Sicu kecil, aku hweeshio tua sudah lama tidak mencampuri urusan duniawi. Namun tadi ketua melapor bahwa Sicu Kecil menggunakan ilmu Hui Keng Pou, itu adalah ilmu yang tercantum di dalam kitab Ban Siang Po Kip. Kalau Sicu Kecil memberitahukan, tentunya tiada urusan dengan Sicu Kecil."

"Aku sudah berjanji pada lo cianpwee itu, tidak akan memberitahukan pada siapa pun, maka mohon Taysu memaafkanku,"

Sahut Ciok Giok Yin.

"Sicu Kecil tidak mau memberitahukan, terpaksa harus ditahan di sini,"

Kata It He Tianglo.

"Aku tidak percaya itu,"

Sahut Ciok Giok Yin angkuh.

Ketika Ciok Giok Yin baru mau melesat pergi, sekonyongkonyong merasa ada tenaga yang amat lembut menerjang ke arahnya, tepat di tiga jalan darah pada bagian dadanya.

Seketika Ciok Giok Yin tak bisa bergerak, berdiri diam di tempat.

Di saat bersamaan tampak sosok bayangan berkelebat ke tempat itu.

Ternyata adalah Hian Yun Huisu, ketua Siauw Lim Pay.

Dia segera memberi hormat kepada It He Tianglo seraya berkata.

"Teecu tak berguna, telah merepotkan Sucou."

"Kalian urusi itu!"

Kata It He Tianglo.

Usai menyahut, hweeshio berusia lanjut itu langsung melesat pergi.

Ciok Giok Yin yang berdiri tak bergerak di tempat menatap Hian Yun Huisu dengan penuh kebencian.

Hian Yun Huisu memandang Ciok Giok Yin seraya berkata.

"Sicu Kecil harus maklum, kuil kami kehilangan kitab Ban Siang Po Kip, itu amat memalukan kuil kami. Dalam tiga puluh tahun ini tiada jejaknya sama sekali. Kini Sicu Kecil menggunakan ilmu Hui Keng Pou, tentunya kami harus bertanya jelas, mohon Sicu Kecil jangan gusar!"

"Orang gagah harus menepati janji, aku tidak akan memberitahukan!"

Sahut Ciok Giok Yin dingin.

"Kalau begitu Sicu Kecil tetap berkeras tidak mau mengatakannya?"

"Tidak salah."

"Apa boleh buat kami terpaksa mengurungmu di penjara."

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin! Kalau dikurung oleh mereka, bukankah selamanya tidak bisa keluar? Oleh karena itu dia segera berkata.

"Aku tidak melanggar peraturan Siauw Lim Pay. Aku ke mari cuma ingin mengabarkan tentang rahasia itu. Seandainya aku tidak ke mari, apa yang akan terjadi di Kuil Siauw Lim Si ini?"

Hian Yun Huisu tertegun. Beberapa saat kemudian baru berkata.

"Aku memang merasa tidak enak dalam hati, namun itu terpaksa. Walau Sicu Kecil dikurung di dalam penjara, namun tetap diperlakukan secara baik, hanya tidak leluasa bergerak."

Kemudian dia berseru.

"Di mana Tay Yap Huisu?"

"Ada di sini, menunggu perintah Ketua!"

Sahut Tay Yap Huisu.

"Bawa sicu kecil ini ke ruang batu yang di belakang gunung!"

Kata Hian Yun Taysu. Tay Yap Huisu mengangguk.

"Ya!"

Hwee-shio tua itu segera mendekati Ciok Giok Yin.

Justru di saat bersamaan, mendadak meluncur sebuah panji kecil merah, yang kemudian menancap di lantai ruangan itu.

Begitu melihat panji kecil merah itu, para hwee-shio langsung berseru kaget.

"Pek Hoat Hujin!"

Menyusul terdengar suara sahutan yang sebentar dekat sebentar jauh.

"Tidak salah!"

Suara sahutan itu bukan main dinginnya. Hian Yun Huisu segera berseru lantang.

"Pek Hoat cianpwee berkunjung kemari, mengapa tidak mau memperlihatkan diri?"

Terdengar suara sahutan yang tetap dingin.

"Mengapa kalian mengurung anak itu?"

Hian Yun Huisu tertegun, kemudian menyahut.

"Karena tiga puluh tahun yang lalu kuil kami kehilangan sebuah kitab Ban Siang Po Kip! Dari badan sicu kecil ini, kami memperoleh sedikit jejak...."

Mendadak suara yang amat dingin itu memutuskan perkataan Hian Yun Huisu.

"Apa hubungannya dengan anak itu?"

"Kami harus menyelidiki dari dirinya!"

"Sekarang aku menghendak kalian melepaskannya!"

"Ini...."

"Tidak ada ini dan itu! Cepat lepaskan dia!"

Hian Yun Huisu tahu jelas bahwa Pek Hoat Hujin amat terkenal enam puluh tahun lampau, telah menggemparkan dunia persilatan masa itu.

Kalau dia sudah mencampuri suatu urusan, apabila tidak dikabulkan mungkin Kuil Siauw Lim Si akan hancur di tangannya.

Akan tetapi bagaimana mungkin Hian Yun Huisu rela melepaskan Ciok Giok Yin begitu saja?

Karena itu ketua Siauw Lim Pai itu berkata.

"Boleh melepaskannya, asal sicu kecil ini mempunyai alasan kuat!"

"Dia sekarang tidak bisa mengatakannya. Lo Sin berani jamin, kelak dia pasti akan memberi jawaban yang memuaskan kalian!"

"Sungguh?"

"Perlukah lo sin membohongi kalian tingkatan rendah?"

Mendadak panji kecil merah yang menancap di lantai itu meluncur ke luar laksana kilat.

Para hweeshio yang berada di situ diam-diam mengucurkan keringat dingin.

Kini suasana di tempat itu berubah menjadi hening sekali.

Hian Yun Huisu mengibaskan lengan jubahnya ke arah Ciok Giok Yin dan seketika jalan darah Ciok Giok Yin yang tertotok itu menjadi bebas.

Ciok Giok Yin tertawa sedih.

"Suatu hari nanti aku pasti ke mari lagi untuk menjajal kepandaian Siauw Lim Pay,"

Katanya lalu melesat pergi.

Dia tidak menyangka bahwa kedatangannya di Kuil Siauw Lim Si yang mengandung tujuan baik akan mendapatkan sambutan seperti itu.

Para hweeshio di kuil itu tidak balas budi, bahkan ingin menahannya.

Kalau Pek Hoat Hujin tidak menolongnya secara diam-diam, saat ini dia pasti sudah dikurung di dalam ruangan batu.

Ciok Giok Yin tidak habis pikir, mengapa Pek Hoat Hujin berulang kali menyelamatkannya?

Siapa dia?

Apakah punya hubungan dengan Ciok Giok Yin?

Kalau ada hubungan, dari mana hubungan itu?

Ciok Giok Yin terus berpikir, namun tidak menemukan jawabannya.

Di dalam Kuil Siauw Lim Si dia tertotok oleh It He Tianglo.

Itu membuatnya amat gusar, tapi tidak dapat melampiaskannya.

Mendadak terdengar suara siulan yang amat nyaring.

Kemudian tampak lima sosok bayangan melesat ke hadapannya.

Setelah melihat jelas kelima orang itu, keringat dinginnya mengucur.

Ternyata mereka berlima adalah ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai, Setan Tinggi, Setan Pendek dan Setan Kurus.

Kelima orang itu langsung mengepung Ciok Giok Yin.

Siauw Bin Sanjin-Li Mong Pai tertawa gelak.

"Bocah, sungguh besar nyawamu!"

"Iblis tua, aku tidak akan mengampunimu!"

Sahut Ciok Giok Yin dengan sengit. Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee yang memakai kain penutup muka berkata dengan dingin.

"Bocah, kau dengan kami punya dendam yang amat dalam! Kau pula yang telah merusak rencana kami! Kalau aku tidak mengulitimu, hatiku tidak akan merasa puas!"

Kelihatannya ketua perkumpulan Sang Yen Hwee sudah mau turun tangan, tapi Setan Pendek segera berseru.

"Tunggu, Ketua! Serahkan bocah itu pada kami, sebab kami bertiga harus menuntut balas dendam saudara kami yang telah mati itu!"

Usai berkata mereka bertiga segera maju.

Ciok Giok Yin tahu akan kelihayan ketiga orang itu, maka dia cepat-cepat mengerahkan lwee kangnya.

Ketiga orang itu sudah menyerang, sedangkan Ciok Giok Yin menangkis dengan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Terdengar suara jeritan.

Ternyata Setan Tinggi telah terpental dua depa lalu roboh di tanah.

Setelah itu terdengar lagi suara jeritan dua kali.

Ternyata Setan Pendek dan Setan Kurus terpental juga.

Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai tertawa terkekeh-kekeh kemudian menerjang ke arah Ciok Giok Yin.

Kelihatannya Ciok Giok Yin akan terserang oleh Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai, tapi mendadak terdengar suara bentakan mengguntur.

"Kau berani!"

Tampak bayangan meluncur ke tempat ini, kemudian secepat kilat menyerang Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai.

Demi menyelamatkannya nyawanya Siau Bin Sanjin-Li Pai terpaksa melepaskan Ciok Giok Yin lalu cepat-cepat berkelit.

Setelah melihat siapa yang baru muncul itu dia berseru tak tertahan.

"Bu Tok Sianseng!"

"Tidak salah!"

Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee maju dua langkah sambil membentak sengit.

"Bu Tok Sianseng, kau selalu menentang kami, sebetulnya apa maksudmu?"

"Tidak bermaksud apa-apa dan juga tidak berniat menguasai dunia persilatan, hanya saja aku tidak senang akan perbuatan kalian!"

Usai berkata Bu Tok Sianeng mendekati Ciok Giok Yin sambil melirik ke arah tiga setan yang sedang duduk bersemedi mengobati luka masing-masing. Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee mendengus dingin.

"Hmm! Bu Tok Sianseng, hari ini kau harus meninggalkan kitab Cu Cian itu di sini!"

"Bukan kitab Cu Cian, melainkan nyawa kalian!"

Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee maju selangkah seraya membentak.

"Kalau begitu, cobalah!"

Dia langsung menyerang dan dalam sekejap sudah melancarkan tiga pukulan. Bu Tok Sianseng berkelit, setelah itu berkata dingin.

"Ketua Sang Yen Hwee, kalau kau masih berani melancarkan pukulan lagi, nyawamu pasti melayang!"

Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee tersentak, lalu segera berdiri diam di tempat.

Karena dia tahu jelas bahwa Bu Tok Sianseng ahli dalam hal racun, jangan-jangan dirinya telah terkena racunnya.

Oleh karena itu dia membentak dingin.

"Kau melakukan serangan gelap, apakah terhitung orang gagah?"

"Terhadap kalian, apa salahnya aku melakukan serangan gelap?"

Sahut Bu Tok Sianseng.

"Kau...."

"Bagaimana?"

Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee membentak gusar.

"Jadi kau sudah meracuni kami?"

"Tidak salah!"

Bu Tok Sianseng tertawa dingin.

"Kalau kau tidak percaya silakan melancarkan tiga pukulan lagi!"

Lanjutnya.

"Sesungguhnya kau mau apa?"

Tanya Sian Bin Sanjin-Li Mong Pai.

"Aku ingin bertanya pada kalian dulu!"

Sahut Bu Tok Sianseng. Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee mengerutkan kening.

"Bertanya apa?"

"Kalian ingin hidup atau ingin mati?"

"Bagaimana kalau ingin hidup dan bagaimana ingin mati?"

"Kalau kalian ingin hidup harus segera enyah!"

"Kalau begitu...."

Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee ingin bertanya, sebetulnya meraka terkena racun apa dan apa obat penawarnya.

Namun pertanyaan tersebut ditelannya kembali, tidak jadi dilontarkannya.

Bu Tok Sianseng sudah tahu apa yang ingin ditanyakan ketua perkumpulan Sang Yen Hwee maka segera berkata seraya tertawa dingin.

"Aku pasti akan memberikan kalian obat penawar!"

"Cepat berikan!"

Bu Tok Sianseng tertawa dingin lagi.

"Kau kira setelah makan obat penawar, akan dapat mengambil tindakan? He he! Kuberitahukan, sampai satu jam, kalian tidak boleh mengerahkan lwee kang!"

Bu Tok Sianseng merogoh ke dalam bajunya, mengeluarkan dua bungkus obat. Kemudian dilemparkannya obat itu ke arah mereka berdua seraya berkata.

"Satu orang satu bungkus! Ketiga Setan itu telah terluka, maka mereka bertiga tidak menghisap racun itu!"

Dia membalikkan badannya sambil menarik Ciok Giok Yin.

"Mari kita pergi!"

Ajaknya.

Mereka berdua melesat pergi meninggalkan tempat itu.

Sedangkan ketua perkumpulan Sang Yen Hwee dan Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai berdua, saking gusar langsung membanting kaki.

Sementara Ciok Giok Yin terus melesat mengikuti Bu Tok Sianseng.

Kira-kira belasan mil kemudian barulah mereka berdua berhenti.

"Kau sudah berhasil mencari Seruling Perak itu?"

Tanya Bu Tok Sianseng.

"Belum."

"Di mana kitab Cu Cian?"

"Kau mau?"

"Aku tidak bermaksud demikian."

"Kitab Cu Cian itu telah kusimpan di tempat rahasia."

"Tidak akan hilang?"

"Tidak."

"Mudah-mudahan begitu!"

"Anda telah menolongku lagi, kelak aku pasti membalas budi pertolonganmu."

"Tidak usah."

"Aku sudah banyak berhutang budi padamu."

"Aku melakukannya cuma menerima perintah dari seseorang, maka tidak usah kau simpan dalam hati."

"Perintah dari seseorang?"

"Ya."

"Perintah dari siapa? Bolehkah Anda memberitahukan padaku?"

"Sementara ini tidak boleh, kelak kau akan mengetahuinya."

Bu Tok Sianseng menatapnya sejenak.

"Sampai jumpa!"

Dia langsung melesat pergi dan dalam sekejap sudah tidak kelihatan bayangannya.

Sedangkan Ciok Giok Yin berdiri termangumangu di tempat.

Dia tidak habis pikir, sebetulnya Bu Tok Sianseng menerima perintah dari siapa?

Itu sungguh misterius sekali!

Akhirnya Ciok Giok Yin menghela nafas panjang.

Mendadak terdengar suara siulan yang amat aneh.

Maka Ciok Giok Yin mendengarkan dengan penuh perhatian.

Suara siulan itu amat sedap didengar.

Namun setelah sejenak mendengarnya, pikiran Ciok Giok Yin menjadi menerawang.

Dia lupa dirinya berada di mana, bahkan di wajahnya tersirat semacam keinginan.

Dalam benaknya muncul bayangan wajah Heng Thian Ceng yang amat cantik di balik kedok kulitnya.

Kemudian muncul pula wajah Seh Yong Yong, Cou Ing Ing dan wajah-wajah gadis lainya.

Dia membutuhkan mereka.

Kalau salah satu di antara mereka muncul di depannya pasti akan diterkamnya demi memuaskan hasratnya itu....

Di saat bersamaan tampak sosok bayangan berkelebat ke arah Ciok Giok Yin, bagaikan sosok roh halus, langsung menotok jalan darah Ek Hwe Hiat-nya.

Begitu jalan darahnya tertotok, Ciok Giok Yin tersentak sadar.

Ternyata di hadapannya berdiri seorang wanita, yang tidak lain adalah Teng Kun Hiang dari perkumpulan Sang Yen Hwee.

Ciok Giok Yin ingin membentak, namun semacam hasrat mulai menerjang dirinya lagi, sehingga mulutnya mengeluarkan suara desahan.

"Emmmmh!"

Kemudian dia merasa dirinya dibawa terbang memasuki sebuah goa.

Kesadaran Ciok Giok Yin telah hilang, tapi dia masih merasa goa itu amat bersih.

Teng Kun Hiang menaruhnya ke bawah sambil tersenyum-senyum penuh hawa nafsu birahi.

Setelah itu dia mulai menanggalkan pakaiannya sendiri.

Tampak tubuhnya yang putih mulus dan sepasang payudaranya menonjol montok.

Dia berdiri di hadapan Ciok Giok Yin seakan menantangnya.

Terus menatap Ciok Giok Yin dengan penuh hawa nafsu birahi, kemudian berkata perlahan-lahan.

"Ciok, pandanglah aku! Pandanglah aku!"

Usai berkata, Teng Kun Hiang menggoyang-goyangkan pinggulnya untuk merangsang Ciok Giok Yin.

Saat ini Ciok Giok Yin memang telah kehilangan kesadarannya.

Dia bangun dan langsung melepaskan pakaiannya.

Ketika dia memandang ke arah Teng Kun Hiang, justru melihat Heng Thian Ceng berdiri di hadapannya.

Dia segera menubruk ke depan, kemudian mulutnya mendesah-desah.

"Kakak! Kakak! Kakak...."

"Adik, kau mau?"

Sahut Teng Kun Hiang sambil tertawa genit. Ciok Giok Yin telah kehilangan kesadarannya dan terbakar oleh api birahi.

"Mau Kakak, aku mau."

Ciok Giok Yin memeluknya erat-erat.

Namun baru mau melakukan itu, mendadak terdengar suara siulan aneh dari dalam goa.

Bukan main terkejutnya Teng Kun Hiang!

Dia cepat-cepat mendorong Ciok Giok Yin, lalu menoleh ke belakang.

Setelah itu dia menyambar pakaiannya dan langsung melesat pergi.

Ciok Giok Yin yang telah kehilangan kesadarannya, begitu melihat Teng Kun Hiang melesat pergi, diapun ikut melesat pergi.

Mendadak terdengar serangkum angin menerjang jalan darah Ek Hwe Hiatnya yang tertotok.

Seketika jalan darahnya itu menjadi bebas sehingga hasratnya pun hilang.

Ciok Giok Yin menengok ke sana ke mari.

Mendadak dia tersentak kaget karena kira-kira dua depa di sisinya berdiri seorang aneh yang amat menyeramkan.

Orang itu hanya memiliki sebuah mata, tidak memiliki batang hidung dan giginya tampak tidak karuan.

Ciok Giok Yin mundur tiga langkah lalu bertanya dengan suara gemetar.

"Kau manusia atau hantu?"

Orang aneh menyeramkan itu tertawa terkekeh-kekeh.

"He he he he!"

Suara tawanya juga amat menyeramkan, membuat sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi merinding.

"Sebetulnya kau manusia bukan?"

Bentak Ciok Giok Yin.

"Aku manusia."

"Mengapa kau tinggal di sini?"

Orang aneh menyeramkan itu tertegun.

"Eh? Mengapa tidak boleh? Apakah aku tinggal di sini mengganggumu, maka kau merasa tidak senang?"

Wajah Ciok Giok Yin langsung memerah. Seketika dia teringat akan keadaan dirinya, maka cepat-cepat menyambar pakaiannya. Setelah mengenakan pakaiannya, barulah dia bertanya.

"Kau yang menolongku?"

"Benar. Dia telah menotok jalan darah Ek Hwe Hiatmu."

"Terimakasih atas pertolonganmu, takkan kulupakan, sampai jumpa!"

Ciok Giok Yin membalikkan badannya. Namun ketika dia mau melesat pergi, tiba-tiba orang aneh menyeramkan itu membentak.

"Tunggu!"

Ciok Giok Yin menoleh seraya bertanya.

"Ada petunjuk apa?"

"Aku mohon kau sudi mencari seseorang!"

"Mencari siapa?"

"Pek Koan Im."

"Pek Koan Im?"

"Ng!"

"Namanya?"

"Lo Keng."

"Setelah berhasil mencarinya lalu mau apa?"

"Alangkah baiknya kau tangkap dia, kemudian bawa dia kemari! Kalau tidak, kau boleh ke mari memberitahukan, aku akan pergi menangkapnya, karena aku amat merindukannya."

"Dia adalah wanita macam apa?"

"Ini tidak seharusnya kau tahu."

Ciok Giok Yin manggut-manggut.

"Baik, aku akan berusaha mencarinya."

Ciok Giok Yin baru mau melesat pergi. Namun orang aneh menyeramkan itu berkata lagi.

"Tunggu sebentar!"

"Masih ada pesan lain?"

"Kita bertemu terhitung ada jodoh, maka aku tidak boleh secara cuma-cuma memakai tanganmu. Aku hidup di dalam goa ini dua puluh tahun lebih, justru berhasil membuat dua butir obat Cih Kang Tan (Obat Penghimpun Tenaga). Obat itu diramu dari sepuluh jenis rumput langka. Jika kaum rimba persilatan memakan obat itu adalah menambah lwee kangnya di atas latihan dua puluh tahun. Aku menghadiahkanmu sebutir sebagai tanda imbalan jasamu!"

Usai berkata orang aneh menyeramkan itu mengeluarkan sebutir obat Cih Kang Tan dari dalam bajunya, kemudian diberikan kepada Ciok Giok Yin.

"Makan obat ini dulu baru pergi!"

Ciok Giok Yin menerima obat itu.

Seketika dia mencium aroma harum, membuat semangatnya bertambah.

Namun dia tidak berani segera menelan obat tersebut.

Karena dalam hatinya merasa sebal terhadap orang aneh menyeramkan itu.

Orang aneh menyeramkan itu sepertinya dapat membaca apa yang dipikirkan Ciok Giok Yin.

"Setelah kau telah obat itu baru akan tahu. Kita tidak punya dendam, bagaimana mungkin aku akan mencelakaimu?"

Ciok Giok Yin berpikir sejenak, kemudian membuka mulut menelan obat tersebut.

"Sekarang kau boleh pergi, tapi aku harap dalam waktu sebulan kau akan ke mari, sebab obat yang tersisa sebutir itu tetap akan kuhadiahkan padamu."

Ciok Giok Yin mengangguk, lain melesat pergi.

Orang aneh menyeramkan itu berdiri di mulut goa, kemudian tertawa terbahak-bahak.

Sesungguhnya apa yang terkandung dalam hatinya?

Orang lain tidak akan mengetahuinya.

Sementara Ciok Giok Yin yang telah melesat ke luar dari goa, cepat-cepat mencari tempat sepi untuk beristirahat.

Dia mencoba menghimpun hawa murninya.

Bukan main girangnya, karena lwee kangnya bertambah maju.

Oleh karena itu, dia merasa amat berterimakasih pada orang aneh menyeramkan itu.

Berselang sesaat, barulah Ciok Giok Yin meninggalkan tempat itu.

Ketika dia sedang melesat ke depan, mendadak tampak sosok bayangan meluncur dari arah depan.

Setelah ditegasi, bayangan itu ternyata Sih Ceng hweeshio yang kabur dari telaga dingin di Gunung Thian San.

Ciok Giok Yin langsung membentak.

"Iblis tua, berhenti!"

Sih Ceng hweeshio tertawa gelak.

"Bocah, kebetulan kita bertemu di sini. Aku memang sedang mencarimu!"

Ciok Giok Yin maju selangkah demi selangkah sambil berkata dengan dingin.

"Iblis tua, hari ini kau masih berharap dapat meloloskan diri?"

"Aku justru tidak berpikir begitu!"

"Kau mau bunuh diri atau aku harus turun tangan?"

"Kini aku belum ingin mati!"

Di saat bersamaan tampak dua sosok bayangan melesat ke tempat itu. Begitu melihat kedua orang itu, Ciok Giok Yin pun berseru kaget.

"Ih?"

Seketika wajahnya berubah dingin dan penuh diliputi hawa membunuh. Kedua orang itu tidak lain adalah Mo Hwe Hud dan Tong Eng Kang. Mo Hwe Hud tertawa terkekeh-kekeh.

"Bocah, nyawamu kok sedemikian panjang?"

Tiba-tiba Tong Eng Kang yang berdiri di sisi Mo Hwe Hud menyela.

"Suhu, aku dengan bocah haram itu punya dendam yang amat dalam, Suhu harus menghadangnya agar tidak melarikan diri, biar aku yang menangkapnya!"

"Baik, aku memang tidak akan melepaskannya!"

Tong Eng Kang segera maju sambil melancarkan pukulan. Ciok Giok Yin berkelit, kemudian balas menyerang.

"Tong Eng Kang, kau telah mencoreng muka leluhurmu! Hari ini aku harus mewakili keluarga Tong untuk membasmi keturunan durhaka!"

Bentaknya sengit.

Kini lwee kang Ciok Giok Yin telah bertambah, maka serangannya sangat hebat.

Dia menggunakan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang jurus ketiga, sehingga angin pukulannya menjangkau sekitar lima depa.

Terdengar suara jeritan yang menyayat hati dan tampak darah muncrat ke manamana.

Ternyata yang terkena pukulan itu adalah Mo Hwe Hud.

Seluruh tulangnya hancur remuk dan nyawanya pun melayang seketika.

Setelah itu Ciok Giok Yin mencelat maju lagi.

Dia menggunakan ilmu pukulan Coat Ceng Ciang menyerang Sih Ceng hweeshio.

Dia ingin menghabisi nyawa hweeshio jahat itu dulu, setelah itu barulah menghadapi Tong Eng Kang.

Coat Ceng Ciang merupakan ilmu andalan Coat Ceng Hujin, tentunya amat dahsyat sekali.

Terdengar suara jeritan.

Namun Sih Ceng hweeshio masih berhasil melesat pergi.

Sayup-sayup terdengar suaranya.

"Kalau kelak tidak membeset kulitmu, aku tidak mau jadi orang!"

Ciok Giok Yin sama sekali tidak menyangka bahwa Sih Ceng hweeshio masih dapat meloloskan diri.

Ketika baru mau mengejar mendadak dia melihat Tong Eng Kang membalikkan badannya ingin kabur.

Karena itu dia tidak mengejar Sih Ceng hwee-shio, melainkan membentak sengit..

"Mau kabur ke mana?"

Ciok Giok Yin mengerahkan ginkangnya melesat ke hadapan Tong Eng Kang, menghadangnya agar tidak kabur.

Di saat bersamaan dia pun menjulurkan tangannya mencengkeram lengan Tong Eng Kang sambil membentak.

"Tong Eng Kang, dulu aku tidak punya dendam apa pun denganmu, namun mengapa kau begitu kejam melempar diriku ke dalam jurang? Itu masih tidak apa-apa, juga kau telah mencoreng muka leluhurmu, bersama Mo Hwe Hud...."

Tong Eng Kang tidak dapat meloloskan diri, membuatnya membungkam.

Wajahnya sudah pucat pias dan sekujur badannya menggigil seperti kedinginan.

Sedangkan amarah Ciok Giok Yin memang telah memuncak.

Tanpa banyak bicara lagi, dia mengangkat sebelah tangannya siap untuk menghabisi nyawa Tong Eng Kang.

Akan tetapi mendadak sesosok bayangan langsing melesat ke tempat itu dan terdengar pula suaranya.

"Kau tidak boleh!"

Jilid 21 Begitu mendengar suara seruan itu, Ciok Giok Yin segera mendongakkan kepalanya. Ternyata yang melesat ke tempat itu adalah Tong Wen Wen, sehingga membuatnya berseru tak tertahan.

"Kakak Wen!"

Tong Wen Wen berdiri kira-kira dua depa.

"Lepaskan dia!"

Katanya dengan wajah dingin.

"Tidak bisa!"

Sahut Ciok Giok Yin.

Ketika melihat wajah Ciok Giok Yin penuh hawa membunuh, sekujur badan Tong Wen Wen merinding.

Dia tahu bahwa kakaknya amat kejam terhadap Ciok Giok Yin, tentunya Ciok Giok Yin tidak akan melepaskannya.

Namun keluarga Tong cuma tinggal satu keturunan anak lelaki.

Kalau Ciok Giok Yin turun tangan membunuhnya, bukankah keluarga Tong akan putus turunan?

Karena itu Tong Wen Wen berkata memohon.

"Adik Yin, aku mohon kau sudi mengampuninya!"

Sepasang mata Ciok Giok Yin menyorot penuh dendam.

"Kakak Wen, aku tidak bisa mengampuninya!"

"Mengapa?"

"Dia...."

Ciok Giok Yin tidak melanjutkan ucapannya, karena merasa tidak enak menceritakan tentang perbuatan Tong Eng Kang dengan Mo Hwe Hud.

Saat ini wajah Tong Eng Kang tampak kemerah-merahan.

Dia masih ada rasa malu, sebab apabila Ciok Giok Yin menceritakannya pada Tong Wen Wen, tentunya amat memalukan keluarga Tong.

Sedangkan Tong Wen Wen bertanya mendesak.

"Kenapa dia?"

"Kakak Wen, aku cuma bisa bilang tidak boleh melepaskannya."

"Adik Yin, aku mohon kau sudi memandang mukaku melepaskannya! Sebab keluarga Tong cuma tinggal dia satusatunya anak lelaki. Apakah kau tega melihat keluarga Tong putus turunan?"

Ciok Giok Yin menatap Tong Wen Wen dengan mata tak berkedip. Kelihatannya seperti sedang berpikir. Menyaksikan itu Tong Wen Wen segera berkata lagi.

"Lepaskan dia, leluhur keluarga Tong pasti berterimakasih padamu!"

Beberapa saat kemudian Ciok Giok Yin berkata.

"Aku boleh melepaskannya, tapi harus ada syarat."

"Syarat?"

"Ng!"

"Adik Yin, katakanlah!"

"Dia harus merubah sifat buruknya, kalau tidak, kelak kalau bertemu aku tidak akan mengampuninya."

Tong Wen Wen memandang Tong Eng Kang.

"Kakak, keluarga Tong tinggal kau dan aku, harap kau jadi orang baik-baik, jangan seperti almarhum yang cuma menuruti sifat kemauannya."

Tong Eng Kang menundukkan kepala, sama sekali tidak berani bersuara. Mendadak Ciok Giok Yin bertanya kepada Tong Wen Wen.

"Kakak Wen, kau bilang Paman Tong kenapa?"

"Sudah meninggal."

Seketika Tong Eng Kang melesat pergi, namun wajahnya penuh diliputi dendam kebencian.

Di saat bersamaan Tong Wen Wen juga melesat pergi ke arah yang berlawanan, kemudian menghilang di balik sebuah batu besar.

"Kakak Wen! Kak Wen!"

Seru Ciok Giok Yin.

Dia segera mengejar gadis itu karena harus menjernihkan kesalahpahaman tempo hari.

Ciok Giok Yin yakin bahwa Tong Wen Wen pasti amat membencinya, sebab mengira yang mempermainkannya adalah orang yang menyamar dirinya.

Oleh karena itu dia mengerahkan ginkangnya mengejar Tong Wen Wen.

Akan tetapi gadis itu sudah tidak kelihatan.

Itu membuatnya terheran-heran, karena Ciok Giok Yin tahu jelas mengenai kepandaiannya.

Tapi baru berpisah beberapa bulan, ginkang gadis itu sudah begitu tinggi, tentunya mengalami suatu kemukjizatan.

Namun dia tidak boleh membiarkan Tong Wen Wen terns salah paham terhadap dirinya.

Sebab itu Ciok Giok Yin terus mengejar seraya berseru.

"Kakak Wen, aku ingin bicara padamu!"

Ciok Giok Yin berseru lagi, lantaran tidak mendengar sahutan.

"Kakak Wen, kau berada di mana?"

Suara Ciok Giok Yin bergema sampai ke mana-mana, tapi dia tetap tidak mendengar suara sahutan Tong Wen Wen.

Ciok Giok Yin tidak putus asa.

Dia terus berseru-seru dengan mengerahkan lwee kangnya.

Mendadak tampak sesosok bayangan melesat ke arahnya.

Sepasang mata Ciok Giok Yin amat tajam, maka langsung melihat jelas siapa orang itu.

Ternyata orang itu adalah Lok Ceh, ketua baru partai Thay Kek Bun.

"Nona Lok!"

Seru Ciok Giok Yin tak tertahan.

"Kakak Yin!"

Sahut Lok Ceh bernada sedih. Gadis itu langsung mendekap di dada Ciok Giok Yin, dan isak tangisnya pun meledak seketika.

"Adik Ceh, mengapa kau tidak berada di markas Thay Kek Bun?"

Tanya Ciok Giok Yin ringan sambil membelai rambut gadis itu. Lok Ceh tidak menyahut, melainkan terus menangis dengan air mata berderai-derai. Ciok Giok Yin bertanya lagi dengan lembut.

"Adik Ceh, katakan padaku apa gerangan yang terjadi?"

Tanya Ciok Giok Yin lagi dengan lembut.

"Kakak Yin, aku bersalah padamu,"

Sahut Lok Ceh terisakisak.

"Mengapa?"

"Thay Kek Bun bersama tiga puluh orang lebih, semuanya mati tak tersisa."

Betapa terkejutnya Ciok Giok Yin mendengar itu.

"Perbuatan siapa itu?"

Lok Ceh termenung sejenak, lalu menutur.

"Tiga hari yang lalu ketika tengah malam, mendadak muncul seseorang berpakaian abu-abu, memakai kain putih penutup muka. Kepandaiannya sungguh amat tinggi sekali! Cuma beberapa saat para anggota Thay Kek Bun telah dibunuh semua, hanya aku sendiri yang berhasil meloloskan diri."

Usai menutur gadis itu menangis lagi. Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin mendengar itu! "Orang itu berasal dari perguruan mana?"

"Tidak jelas."

Tiba-tiba Ciok Giok Yin teringat sesuatu.

"Beberapa waktu lalu ada seorang gadis bernama Seh Yong Yong menuju tempatmu. Sekarang dia berada di mana?"

Lok Ceh tertegun.

"Tidak ada."

"Tidak ada?"

"Sejak kau meninggalkan tempat kami tiada seorang pun pernah ke sana."

Mendengar itu sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi lemas, bahkan matanya berkunang-kunang dan merasa dirinya tenggelam entah ke mana. Akhirnya dia bergumam.

"Dia pergi ke mana? Bok Tiong Jin, apakah kau telah mencelakainya?"

Usai bergumam dia berkertak gigi penuh kegusaran. Ternyata dia mencurigai Bok Tiong Jin. Lok Ceh tidak mengerti akan gumaman Ciok Giok Yin, maka dia bertanya.

"Apa? Bok Tiong Jin?"

"Ya."

"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."

Ciok Giok Yin menutur dengan sengit.

"Karena merasa tidak leluasa diikutinya, lagi pula aku khawatir akan terjadi sesuatu atas dirinya, maka kusuruh dia pergi ke tempatmu. Tapi kebetulan muncul Bok Tiong Jin dan dia bersedia mengantarnya...."

Kemudian Ciok Giok Yin menutur jelas tentang itu, juga mengenai Bok Tiong Jin. Setelah itu dia menambahkan.

"Aku tidak akan melepaskan Bok Tiong Jin itu!"

"Aku percaya orang itu berpura-pura,"

Kata Lok Ceh.

"Benar."

"Kau tidak pernah melihatnya?"

"Memang tidak pernah."

"Kalau begitu kepandaian orang itu pasti tinggi sekali."

"Tidak salah. Dia adalah wanita juga, mengapa tega mencelakai seorang gadis?"

Mendadak sesosok bayangan putih melayang turun di tempat itu.

"Saudara Ciok, ada sosok roh halus menyebut dirinya Bok Tiong Jin. Dia menyerahkan seorang nona padaku. Sebetulnya dia ingin mengantarnya ke Thay Kek Bun, namun ada urusan lain, maka dia menyerahkan nona itu padaku. Kini nona itu berada di tempat yang aman."

Siapa yang baru muncul itu?

Tidak lain adalah Ku Tian.

Pemuda itu memang tampan, dibandingkan dengan Ciok Giok Yin, masing-masing memiliki kelebihan.

Begitu mendengar itu timbullah rasa asem di dalam hati Ciok Giok Yin, sebab Seh Yong Yong amat cantik, dan Ku Tian amat tampan, Kalau mereka berdua berkumpul, tentunya akan menimbulkan rasa cinta.

Akan tetapi Ku Tian pernah menaruh budi padanya, karena itu walau Ciok Giok Yin merasa cemburu, tetap berlaku hormat pada Ku Tian.

"Terimakasih atas kebaikan Saudara Ku, takkan kulupakan selamanya."

Tertegun Ku Tian.

"Mengapa Saudara Ciok berkata demikian?"

Ciok Giok Yin tersenyum getir.

"Tidak ada apa-apa. Karena Seh Yong Yong melakukan perjalanan seorang diri, memang harus ada orang menjaganya, maka aku berterimakasih padamu."

Dia memandang Lok Ceh.

"Nona Lok ingin ke mana?"

"Aku ingin ke tempat suhuku."

Ciok Giok Yin menjura pada mereka berdua seraya berkata.

"Sampai jumpa!"

Kemudian dia melesat pergi laksana kilat dan dalam sekejap sudah hilang dari pandangan mereka berdua.

Lok Ceh menatap Ku Tian sejenak, lalu pergi mencari suhunya.

Sedangkan wajah Ku Tian tampak berseri.

Kemudian dia melesat ke arah yang ditempuh Ciok Giok Yin.

Sementara Ciok Giok Yin yang ingin ke Gunung Kee Jiau San markas Thay Kek Bun menengok Seh Yong Yong, kini Thay Kek Bun telah musnah, sedangkan Seh Yong Yong sudah ada orang yang menjaganya, lalu ada urusan apa lagi dengan dirinya?

Ciok Giok Yin terus berpikir.

Kemudian timbul suatu ganjalan di dalam hatinya.

Karena Ku Tian terhadap Seh Yong Yong, tentunya ada pikiran yang bukan-bukan!

Kalau tidak, bagaimana mungkin di saat Ciok Giok Yin ingin pergi menengok Seh Yong Yong, justru muncul Ku Tian.

Jangan-jangan mereka berdua....

Mendadak Ciok Giok Yin membanting kaki seraya berkata sengit.

"Dasar lelaki dan wanita anjing!"

Sekonyong-konyong terdengar suara sahutan di belakangnya.

"Siau Kun bilang apa?"

Ciok Giok Yin cepat-cepat membalikkan badannya. Ternyata yang menyahut itu adalah si Bongkok Arak. Ciok Giok Yin segera memberi hormat seraya berkata.

"Lo cianpwee...."

Si Bongkok Arak cepat-cepat memutuskan perkataannya.

"Sian Kun, jangan memanggilku demikian!"

"Sebelum jelas hubungan di antara kita berdua, aku tetap akan memanggil demikian."

Si Bongkok Arak mengerutkan kening.

"Kalau sementara, justru akan membuatku bertambah serba salah."

"Apabila lo cianpwee tidak mau merasa serba salah, alangkah baiknya memberitahukan asal-usulku."

"Sementara ini belum waktunya."

"Kira-kira kapan baru tiba waktunya?"

"Tidak lama lagi."

Kemudian si Bongkok Arak mengalihkan pembicaraan.

"Siau Kun, bagaimana hasilnya kau pergi mencari Thian Thong Lojin?"

"Katanya harus memperoleh Bu Keng Sui."

"Bu Keng Sui?"

"Ya."

Si Bongkok Arak bergumam.

"Bu Keng Sui! Bu Keng Sui!"

Seketika dia kelihatan seperti disulitkan oleh Air Tanpa Akar tersebut.

Memang merupakan suatu nama aneh, membuat orang sulit menerkanya.

Karena semua air berasal dari dalam bumi, boleh dikatakan berakar atau bersumber.

Bagaimana mungkin tidak berakar atau bersumber?

Mendadak si Bongkok Arak mendongakkan kepala.

"Siau Kun, aku akan menemanimu ke 'Lembah Tiang Ciang Kok."

"Lembah Tiang Ciang Kok?"

"Ng!"

"Untuk apa ke sana lagi?"

"Kita harus bertanya tentang Bu Keng Sui, ke mana mencarinya?"

Ciok Giok Yin menggelengkan kepala.

"Tidak."

Si Bongkok Arak tahu jelas akan sifat Ciok Giok Yin, maka dia manggut-manggut.

"Siau Kun, kau harus bermohon dengan cara sopan dan ramah!"

"Aku tahu itu."

Ciok Giok Yin memberi hormat, lalu melesat pergi menuju Gunung Liok Pan San.

Demi mengungkap rahasia tentang Bu Keng Sui, dia harus ke Lembah Tiang Ciang Kok lagi.

Karena itu dia melakukan perjalanan siang malam.

Mendadak dalam perjalanan Ciok Giok Yin teringat akan suatu hal.

Yakni pesan dari Bun It Coan sebelum mati, harus berangkat ke Liok Bun menuntut balas dendam Bun It Coan.

Akan tetapi selama ini Ciok Giok Yin sama sekali tidak memenuhi pesan saudara angkatnya itu.

Bun It Coan yang berada di alam baka, pasti mencacinya sebagai adik angkat yang tidak menepati janji.

Teringat akan hal tersebut, tanpa sadar air matanya meleleh.

Seketika dia berhenti, kemudian mempertimbangkan hal tersebut.

Tiba-tiba dia menghempas kakinya seraya berkata.

"Aku harus memenuhi pesanannya, urusan sendiri ditunda dulu."

Setelah mengambil keputusan tersebut Ciok Giok Yin langsung melesat ke arah Gunung Lu Liang San.

Dia masih ingat akan apa yang dikatakan si Bongkok Arak, bahwa Liok Bun berada di Lembah Sia Hui Kok di Gunung Lu Liang San.

Di puncak gunung seberang akan terlihat sebuah batu besar....

Ciok Giok Yin berjalan menuju Gunung Lu Liang San dengan hati-hati.

Karena itu dalam perjalanan dia tidak menemui halhal yang tak diinginkan.

Pada hari ketiga, ketika hari mulai senja Ciok Giok Yin sudah memasuki Gunung Lu Liang San.

Di sana banyak batu curam, namun Ciok Giok Yin mengerahkan ginkang melewatinya.

Saat ini sudah musim panas, tapi Gunung Lu Liang San, masih terasa sejuk.

Setiap kali tiba di sebuah puncak, dia pasti memandang ke seberang.

Hari itu juga dia tiba di sebuah puncak yang amat tinggi.

Dia memandang ke seberang dan seketika hatinya terasa terang.

Ternyata di seberang sana terdapat sebuah lembah dan tampak awan yang berwarna-warni membubung ke atas.

Berhubung dia pernah makan Ginseng Daging dan Pil Api Ribuan Tahun, maka sepasang matanya amat tajam, dapat melihat jelas apa yang terdapat di balik awan yang warna warni itu.

Memang benar ada sebuah batu besar berdiri tegar di sana.

Karena itu Ciok Giok Yin segera melesat ke seberang sana.

Dari puncak gunung ke lembah itu kelihatannya dekat, namun ketika Ciok Giok Yin melesat ke sana, justru membutuhkan waktu yang cukup lama barulah tiba di depan batu besar itu.

Batu besar itu beratnya hampir mencapai ribuan kati.

Namun Ciok Giok Yin yakin dapat menggeserkannya.

Oleh karena itu dia pasang kuda-kuda sambil mengerahkan lwee kangnya, kemudian sepasang telapak tangannya mendorong batu besar itu.

Ternyata batu besar itu tergeser, lalu tampak sebuah pintu kecil di baliknya.

Ciok Giok Yin tidak membuang waktu, segera melesat ke dalam.

Di saat bersamaan pintu besar itu tertutup kembali.

Setelah berada di dalam, dia segera mengeluarkan cincin giok pemberian Bun It Coan, lalu dipakainya di jari kelingkingnya.

Dia memandang ke depan, dan seketika hatinya tersentak.

Ternyata dia melihat cahaya kehijau-hijauan.

Akan tetapi dia percaya bahwa Bun It Coan tidak akan mencelakai dirinya.

Maka dia memberanikan diri mengayunkan kakinya melangkah ke depan.

Dia tidak berani menggunakan ginkang, melainkan berjalan selangkah demi selangkah dengan hati-hati sekali.

Ternyata dia khawatir di tempat itu, terdapat perangkap yang membahayakan dirinya.

Ciok Giok Yin terus berjalan.

Sedangkan cahaya kehijau-hijauan itu tampak semakin jelas.

Dia memandang dengan penuh perhatian, justru tidak tahu dari mana asalnya cahaya kehijau-hijauan itu.

Di saat dia sedang berjalan, mendadak berseru kaget.

"Hah?"

Seketika sekujur badannya mengucurkan keringat dingin, bahkan hatinya berdebar-debar tegang.

Dia cepat-cepat menghentikan langkahnya.

Ternyata dalam lorong itu terdapat tumpukan tulang-belulang putih, kelihatannya lorong itu tidak pernah dilalui orang.

Itu membuat Ciok Giok Yin tidak berani melangkah maju dan hatinya terus deg-degan.

Memang dalam keadaan seperti itu orang yang bernyali besarpun akan merasa takut dan seram.

Ciok Giok Yin berdiri diam di tempat, sama sekali tidak berani melangkah maju.

Tiba-tiba tanpa sadar dia memandang cincin giok itu memancarkan cahaya lembut, mengelilingi seluruh badannya.

Ciok Giok Yin bertanya dalam hati, 'Apakah cincin giok pemberian kakak angkatku ini khususnya untuk melewati lorong bercahaya kehijau-hijauan ini?' Kemudian tanpa sadar kakinya mulai melangkah maju lagi dan hatinya bebas dari perasaan apa pun.

Namun ketika dia melihat tumpukantumpukan tulang-belulang putih, sekujur badannya merinding lagi.

Sudah barang tentu langkahnya terhenti lagi.

Namun kemudian dia mengeraskan hati dan berkata.

"Demi memenuhi pesan kakak angkat, aku memang harus menempuh bahaya. Kalau pun aku harus mati, tidak jadi masalah."

Setelah berkata demikian, timbullah keberaniannya lalu melangkah maju tanpa merasa takut sedikitpun.

Mendadak terdengar suara jeritan menyayat hati tiga kali di belakangnya.

Ciok Giok Yin, segera menoleh ke belakang.

Tampak tiga sosok bayangan, yang lain adalah Bu Lim Sam Siu.

Ketiga orang itu telah roboh dan dalam sekejap sudah berubah menjadi tiga sosok tengkorak.

Betapa terkejutnya Ciok Giok Yin.

Seketika keringat dinginnya pun mengucur.

'Sungguh bahaya!' katanya dalam hati.

Kini barulah dia tahu akan kegunaan cincin giok di jari kelingkingnya.

Di saat itu pula timbullah rasa iba terhadap Bu Lim Sam Siau.

Sebab mereka bertiga tidak pernah melakukan kejahatan di dunia persilatan, hanya saja hati mereka bertiga amat tamak.

Dengan siasat busuk mereka mencuri peta Si Kauw Hap Liok Tounya.

Kini mereka bertiga binasa di dalam Liok Bun secara mengenaskan, justru Ciok Giok Yin sama sekali tidak tahu, bagaimana mereka bertiga bisa menguntitnya sampai di tempat itu.

Dia pun tidak habis pikir apa sesungguhnya cahaya kehijau-hijauan itu?

Bagaimana hegitu lihai?

Apabila dia tidak memiliki cincin giok tersebut, bukankah saat ini dirinya juga telah berubah menjadi tulang belulang putih?

Ciok Giok Yin memandang Bu Lim Sam Siu yang telah berubah menjadi tengkorak, tanpa sadar air matanya meleleh.

Dalam hatinya berpikir, setelah berhasil mencari Seruling Perak dan berhasil menuntut balas semua dendam kesumat, dia ingin mencari suatu tempat sepi yang indah untuk hidup tenang dan damai selama-lamanya di tempat tersebut.

Cukup lama Ciok Giok Yin berdiri termangu-mangu, kemudian menghapus air matanya dan menghela nafas panjang.

Setelah itu dia melangkah maju ke depan lagi.

Tak seberapa lama setelah dia melewati cahaya kehijau-hijauan, tampak sebuah batu bertulisan 'Tok Coa Kang' (Selokan Ular Berbisa).

Begitu membaca tulisan itu, bulu kuduk Ciok Giok Yin pada bangun semua.

Ternyata di belakang batu itu terdapat sebuah selokan luasnya tiga depaan, bahkan amat dalam.

Di dalamnya berisi entah berapa banyak ular berbisa, yang semuanya mendongakkan kepala sambil menjulurkan lidah dan mendesis mengeluarkan uap berbisa.

Ular-ular berbisa itu merayap ke hadapan Ciok Giok Yin, namun mendadak merayap mundur.

Kelihatannya ular-ular berbisa itu takut akan cahaya hijau yang terpancar dari cincin giok itu.

Akan tetapi di belakangnya justru merangkak maju kalajengking berbisa.

Tentunya amat mengejutkan Ciok Giok Yin.

Tapi dia yakin dapat meloncat ke seberang.

Namun di balik batu itu terdapat tulisan lain berbunyi 'Apabila ular berbisa menyingkir, orang berani meloncat ke seberang, pasti mati keracunan.

Sungguh sayang sekali!' Tulisan tersebut menyebabkan Ciok Giok Yin tidak berani meloncat ke seberang.

Berselang sesaat dia mengeraskan hati berjalan melalui selokan itu.

Justru tak terduga sama sekali semua ular berbisa yang berada di dalam selokan itu cepat-cepat menyingkir ke samping sehingga terdapat sebuah jalan di tengahtengah.

Ciok Giok Yin menarik nafas lega.

Akhirnya dia berhasil melewati selokan tersebut dan terlihat cahaya hijau di depan.

Di dalam lorong itu pun terdapat tumpukan-tumpukan tulang belulang, pertanda memang ada orang telah melewati selokan itu, tapi tidak berhasil.

Saat ini Ciok Giok Yin berkata dalam hati, 'Kalau Liok Bun adalah tempat yang lurus, mengapa harus mengatur semua ini?' Setelah berpikir demikian Ciok Giok Yin ingin kembali.

Akan tetapi dia teringat akan pesan Bun It Coan dan teringat akan ceritanya yang terjerumus ke dalam perkumpulan Sang Yen Hwee serta dicelakai istrinya.

Hal itu membuat Ciok Giok Yin membatalkan niatnya, sebab tidak diragukan lagi saudara angkatnya itu pasti orang baik.

Oleh karena itu Ciok Giok Yin terus melangkah maju.

Mendadak dia melihat sebuah batu lagi yang ada tulisannya 'Toan Hun Kio' (Jembatan Pemutus Sukma).

Tampak sebuah jembatan yang panjangnya hampir sepuluh depa melintas di tempat yang amat dalam.

Dari tempat yang amat dalam itu menyorot pula, cahaya hijau.

Sesungguhnya yang di sebut jembatan itu cuma merupakan seutas tali hingga ke seberang.

Menyaksikan itu Ciok Giok Yin tertegun.

Beberapa saat kemudian barulah dia mengambil keputusan untuk melewati jembatan tali itu.

Dengan hati-hati sekali Ciok Giok Yin berjalan di atas jembatan tali tersebut, akhirnya dia berhasil melewatinya.

Sampai di seberang, dia melihat sebuah batu lagi yang terdapat tulisan 'Cang Po Sek' (Ruang Penyimpan Pusaka).

Di sisi batu itu memang terdapat sebuah ruang batu yang sepasang daun pintunya terbuka lebar.

Ciok Giok Yin melongkok ke dalam.

Tampak cahaya bergemerlapan.

Ternyata cahaya itu terpancar dari benda-benda yang terbuat dari emas dan mutiara yang tak terhitung banyaknya.

Ciok Giok Yin terbelalak dan berkata dalam hati, 'Sungguh kaya raya bendabenda berharga itu.' Ciok Giok Yin memandang ke depan, terlihat cahaya hijau di sana, namun tidak jelas itu lorong atau sebuah ruangan.

Dia terus melangkah maju, mendadak cahaya hijau itu amat menyilaukan matanya, sehingga membuatnya tidak dapat membedakan arah timur, berat, utara dan selatan.

Akan tidak dia merasa dirinya berada di tempat yang tidak begitu luas dan berputar-putar di situ.

Ciok Giok Yin mencoba melangkah lagi, namun tetap berputar-putar di tempat itu.

Justru di saat bersamaan mendadak terdengar suara sapaan yang amat dingin.

"Siapa kau?"

Itu adalah suara wanita, tapi tidak kelihatan orangnya. Ciok Giok Yin tertegun bertanya dalam hati. 'Bagaimana ada wanita di sini?' Walau tertegun tapi dia tetap menyahut.

"Aku bernama Ciok Giok Yin."

"Ciok Giok Yin?"

"Ya."

"Bagaimana kau memperoleh Cui In Hoan (Cincin Giok), benda kepercayaan Liok Bun?"

Mendengar itu Ciok Giok Yin menjadi tertegun lagi.

Dia tidak menyangka bahwa cincin giok pemberian Bun It Coan merupakan benda kepercayaan Liok Bun yang dinamai Cui In Hoan.

Namun kedatangannya memang ingin ke rumah kakak angkatnya itu.

Karena itu dia tidak boleh berlaku kasar terhadap siapa pun yang berada di situ.

"Cincin giok ini pemberian dari kakak angkatku."

Terdengar suara gemetar.

"Kakak angkat?"

"Ng!"

"Siapa kakak angkatmu itu?"

"Bun It Coan."

"Bun It Coan?"

"Dia berada di mana sekarang? Bagaimana dia memberimu cincin giok itu padamu?"

Terlintas dalam benak Ciok Giok Yin akan pesan Bun It Coan, jangan memberitahukan tentang kematiannya pada ayahnya. Karena Ciok Giok Yin diam saja, maka terdengar lagi suara yang amat dingin itu.

"Mengapa kau tidak bicara?"

Ciok Giok Yin khawatir wanita itu akan mencurigainya, maka dia segera menyahut.

"Hubunganku dengan kakak angkat amat dalam. Karena ada urusan penting ke Kwan Gwa (Luar Perbatasan), maka dia memberiku cincin giok, agar aku ke mari bermohon pada ayahnya menurunkan ilmu silat tinggi untuk menjaga diri."

"Sungguhkah perkataanmu itu?"

"Sungguh!"

Kemudian Ciok Giok Yin bertanya.

"Mohon tanya kau adalah...."

Terdengar suara sahutan dingin.

"Bu Eng Jin (Orang Tanpa Bayangan)."

Mendengar itu seketika juga Ciok Giok Yin merinding.

Tanpa Bayangan bukankah berarti roh halus?

Sebetulnya tempat apa ini?

Di saat dia sedang berpikir, mendadak merasa adanya tenaga yang amat dahsyat menerjang dirinya dari empat penjuru.

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin!

Ketika dia baru mau membuka mulut, tak disangka dia malah roboh pingsan tak sadarkan diri.

Entah berapa lama kemudian barulah Ciok Giok.

Yin siuman perlahan-lahan.

Dia segera bangun, lalu menghimpun hawa murninya.

Ternyata dia tidak menderita luka apa pun.

Sesungguhnya apa gerangan yang telah terjadi?

Dia betul-betul tidak habis pikir.

Ciok Giok Yin menengok ke sana ke mari, ternyata dirinya berada di dalam sebuah ruang batu.

Dia menundukkan kepala memandang jari kelingkingnya, cincin giok masih melingkar di situ.

Di ruang batu itu terdapat beberapa perabotan yang tersusun amat rapi.

Ciok Giok Yin terbatuk beberapa kali, ingin tahu apakah ada orang menyahut?

Sekonyong-konyong terdengar suara parau tapi lirih di telinganya.

"Kau bernama Ciok Giok Yin'?"

"Ya."

"Kau dan Bun It Coan adalah kakak adik angkat?"

Itu adalah suara orang tua. Tapi Ciok Giok Yin tidak dapat membedakan itu suara lelaki atau suara wanita, sebab tidak kelihatan orangnya. Ciok Giok Yin segera menyahut.

"Ya, Paman!"

Dia menduga orang yang berbicara itu adalah ayah kakak angkatnya, maka memanggilnya paman.

"Aku sudah tahu tujuanmu ke mari."

"Mohon petunjuk Paman."

Hening sejenak, tidak terdengar suara apa pun. Beberapa saat kemudian barulah terdengar lagi orang itu berkata,.

"Ilmu silat aliran kami tidak pernah diturunkan kepada orang luar."

Mendengar itu hati Ciok Giok Yin menjadi dingin. Namun kemudian terdengar lagi orang itu melanjutkan ucapannya.

"Tapi, kau dan Bun It Coan adalah kakak adik angkat, maka dikecualikan."

Bukan main leganya hati Ciok Giok Yin! "Terimakasih, Paman!"

Seusai mengucapkan terimakasih, Ciok Giok Yin pun melanjutkan.

"Bolehkah Paman memperlihatkan diri agar aku bisa memberi hormat pada Paman?"

Terdengar helaan nafas panjang, berkata.

"Nak, aku terima ketulusan hatimu. Jangankan kau, sejak kakak angkatmu itu mengerti urusan, juga tidak pernah bertemu aku."

Ciok Giok Yin berseru kaget tak tertahan.

"Hah? Kalau begitu Paman..."

Seru Ciok Giok Yin kaget.

"Nak, jangan berprasangka yang bukan-bukan! Kau sudah lapar, makanlah dulu barulah bicara lagi!"

Suara itu berhenti dan suasana pun berubah menjadi hening.

Ciok Giok Yin menoleh.

Entah sejak kapan di atas meja sudah tersedia semangkok nasi putih dan beberapa macam hidangan.

Dia tidak melihat orang masuk, tahu-tahu sudah ada makanan di atas meja.

Saat ini hati Ciok Giok Yin amat berduka dan dia kecewa pada dirinya sendiri, karena kepandaiannya belum dapat menyamai kepandaian orang lain.

Buktinya ada orang masuk ke dalam ruang batu itu, tapi dia sama sekali tidak mengetahuinya.

Itu pertanda kepandaiannya masih rendah.

Kalau orang itu adalah musuhnya, bukankah saat ini dia sudah tergeletak menjadi mayat?

Mendadak terdengar suara yang amat dingin.

"Cepat makan, jangan memikirkan yang bukan-bukan!"

Ciok Giok Yin merasa merinding ketika mendengar suara itu. Sebab suara itu adalah suara wanita.

"Kau...."

Ciok Giok Yin tidak melanjutkan ucapannya sebab tidak tahu harus bertanya apa. Terdengar lagi suara dingin itu.

"Jangan banyak bertanya!"

Ciok Giok Yin mengenali suara itu, tidak lain adalah suara Bu Eng Jin, namun kali ini agak lembut dan penuh perhatian. Karena itu Ciok Giok Yin segera bertanya.

"Kau yang mengantar makanan ke mari?"

"Ng!"

"Kalau begitu kau berada di mana sekarang?"

"Berada di sampingmu."

Ciok Giok Yin cepat-cepat menengok ke sekelilingnya, tapi tidak tampak bayangan orang.

Sudah barang tentu membuat bulu kuduknya berdiri dan keringat merembes ke luar dari keningnya.

Terdengar suara Bu Eng Jin lagi.

"Cepatlah makan, jangan banyak bertanya!"

Setelah berpikir sejenak, Ciok Giok Yin mendekati meja itu lalu duduk dan mulailah bersantap bagaikan harimau kelaparan.

Tak seberapa lama, nasi dan semua hidangan itu telah habis disantapnya.

Justru di saat bersamaan terdengar suara parau di telinganya.

"Nak, geserlah kursi di bawah jendela itu, pindahlah kau ke ruang lain untuk belajar ilmu silat!"

Ciok Giok Yin cepat-cepat mendekati kursi itu kemudian memutarnya.

Seketika terdengar suara 'Kreeek'.

Dinding batu sebelah kiri terbuka.

Ciok Giok Yin segera masuk.

Kemudian dinding batu itu tertutup kembali seperti semula.

Ruang batu itu kosong melompong, tidak terdapat perabotan apa pun.

Akan tetapi pada dinding ruang batu itu terdapat lukisan orang dalam posisi duduk, berdiri, jongkok dan lain sebagainya.

Ciok Giok Yin memperhatikan semua lukisan itu.

Ternyata di bawah lukisan-lukisan tersebut terdapat tulisan.

Mendadak suara parau itu mendengung lagi di telinganya.

"Itu Kanyen Sin Kang. Ikutilah gaya orang dalam lukisan itu dan turutilah penjelasan di bawahnya! Kau boleh mulai berlatih!"

Ciok Giok Yin amat berterimakasih dan merasa terharu.

"Paman..."

Suara parau itu sudah memutuskan perkataannya.

"Baik-baiklah berlatih!"

"Ya. Paman."

Ciok Giok Yin mulai belajar dengan sungguh-sungguh tanpa mengenal waktu.

Kapan saja dia merasa lapar, selalu ada makanan di sampingnya.

Padahal selama ini dia sama sekali tidak melihat ada orang masuk.

Namun karena sudah biasa, maka dia tidak merasa heran lagi.

Sebab dia tahu bahwa yang mengantar makanan itu adalah Bu Eng Jin.

Mengenai buang air kecil dan air besar, tentunya dia mendapat petunjuk dari Bu Eng Jin.

Sementara sang waktu terus berlalu.

Namun Ciok Giok Yin tidak tahu sudah berapa hari dirinya berada di dalam ruang batu itu.

Ilmu Kan Yen Sin Kang yang dipelajarinya telah dikuasai dengan baik.

Hari ini ketika Ciok Giok Yin sedang berlatih, tiba-tiba terdengar lagi suara parau itu di telinganya.

"Nak, sudah cukup. Kalau titik hitam di dinding sebelah kanan itu ditekan, maka kau bisa keluar."

Ciok Giok Yin segera menengok ke arah dinding sebelah kanan.

Di sana memang terdapat sebuah titik hitam.

Dia mendekati dinding itu lalu menekan titik hitam tersebut.

Kreek!

Dinding itu terbuka.

Ciok Giok Yin cepat-cepat melangkah keluar.

Di saat bersamaan terdengar lagi suara parau itu.

"Nak, aku ingin bertanya padamu."

"Silakan, Paman!"

"Ketika kau ke mari, aku melihat wajahmu seperti terkena racun."

"Terkena racun?"

"Apakah kau pernah makan semacam obat?"

Ciok Giok Yin berpikir sejenak. Kemudian terlintas satu hal dalam pikirannya, yaitu obat pemberian orang aneh menyeramkan.

"Pernah,"

Sahutnya.

"Obat apa itu?"

"Aku bertemu seorang aneh menyeramkan, dia memberikan sebutir obat Cih Kang Tan padaku."

"Kau makan obat itu?"

"Ya."

"Bagaimana rasanya waktu itu?"

"Aku merasa lwee kangku bertambah tinggi."

"Itu sebabnya."

"Maksud Paman?"

"Obat apa pun yang dapat memperdalam lwee kang, kalau sudah tiba saatnya akan membuat semua aliran darah menjadi terbalik dan mati secara mengenaskan."

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin mendengar itu! Dia cepat-cepat berkata.

"Paman, aku masih memikul dendam perguruan, apakah Paman...."

Sebelum Ciok Giok Yin usai berkata, suara parau itu telah memutuskan perkataannya.

"Racun yang mengendap di dalam tubuhmu itu telah lenyap oleh cahaya hijau alami yang kau lewati itu. Kau tidak usah cemas lagi. Sekarang kau boleh pergi."

Menyusul terdengar suara Bu Eng Jin.

"Aku akan mengantarmu ke luar."

"Tidak berani merepotkanmu."

Ciok Giok Yin diam sejenak.

"Bolehkah kau memperlihatkan dirimu sebentar?"

Beberapa saat kemudian barulah terdengar suara sahutan.

"Baiklah."

Tampak sesosok bayangan langsing muncul di hadapan Ciok Giok Yin. Ternyata adalah seorang gadis yang amat cantik bagaikan bidadari.

"Nona...!"

Seru Ciok Giok Yin tak tertahan. Bu Eng Jin tersenyum-senyum. Bukan main manisnya senyuman itu, membuat Ciok Giok Yin terkesima dan terpukau.

"Aku antar kau ke luar sekarang,"

Kata gadis itu.

Mendadak Ciok Giok Yin merasa pusing, tahu-tahu sudah tak sadarkan diri.

Ketika siuman, Ciok Giok Yin sudah berada di lorong terdepan di mana terdapat cahaya hijau.

Terdengar suara Bu Eng Jin.

"Di mana kakakku sekarang?"

Ciok Giok Yin tertegun.

"Siapa?"

"Bun It Coan."

"Dia adalah kakakmu?"

"Ya."

Ciok Giok Yin tidak berani memberitahukan hal sebenarnya.

"Aku tidak begitu jelas,"

Sahutnya berdusta.

"Apakah dia dalam bahaya?"

"Tidak."

Seusai menyahut Ciok Giok Yin merasa amat berduka dalam hati, sebab dia telah membohongi mereka berdua ayah dan anak. Mendadak Bu Eng Jin bergumam.

"Mudah-mudahan begitu!"

Usai bergumam, gadis itu berkata.

"Kau pergilah!"

"Nona, bolehkan aku bertanya?"

Ternyata Ciok Giok Yin ingin tahu sedikit tentang Liok Bun, dan mengapa Bun It Coan meninggalkan Liok Bun.

Akan tetapi walau dia bertanya berulang kali, tetap tiada sahutan.

Itu membuktikan bahwa Bu Eng Jin sudah meninggalkan tempat itu.

Ciok Giok Yin berdiri termangu-mangu.

Berselang sesaat barulah dia melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

Ketika melewati tulang belulang Bu Lim Sam Siu, Ciok Giok Yin berhenti lalu memberi hormat.

Setelah itu barulah dia melangkah ke depan lagi.

Tak lama kemudian dia sudah berada di mulut lorong yang disumbat dengan batu besar.

Dia menggeser batu besar itu sekaligus melesat ke luar.

Di saat bersamaan batu besar itu pun tertutup kembali.

Sedangkan Ciok Giok Yin terus melesat pergi.

Ketika dia menikung di sebuah tebing mendadak melihat beberapa sosok mayat tergeletak di tanah.

Di pungung mayat-mayat itu tertancap sebuah panji kecil bergambar seekor naga putih.

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

Perkumpulan apa pula itu?

Tanyanya dalam hati.

Dia memperhatikan semua mayat itu tiada satupun yang dikenalnya.

Setelah berdiri termangumangu sejenak, barulah Ciok Giok Yin melesat pergi.

Kini tujuannya adalah Tiang Cing Kok di Gunung Liok Pan San.

Dia ingin menemui Thian Thong Lojin lagi untuk menanyakan ke mana dia harus mencari Bu Keng Sui.

Setelah meninggalkan Gunung Lu Liang San, dia mengambil arah barat.

Mendadak tampak beberapa sosok bayangan melesat ke arahnya.

Ciok Giok Yin segera berhenti.

Ternyata yang melesat itu adalah Sin Ciang-Yo Sian, Kang Sun Fang ketua partai Heng San Pay dan beberapa orang lainnya.

Mereka berbareng menghadang di depan Ciok Giok Yin.

Kang Sun Fang menjura pada Ciok Giok Yin sambil berkata.

"Siauhiap telah menyelamatkan para ketua delapan partai besar, termasuk lohu sendiri. Di sini kami mengucapkan terimakasih pada siauhiap."

Ciok Giok Yin melihat mereka tidak berniat buruk, maka segera balas memberi hormat seraya menyahut.

"Cianpwee jangan berkata begitu! Mohon tanya mengapa Li Mong Pai dan lainnya berada di sini?"

Sepasang bola mata Sin Ciang-Yo Sian berputar sejenak, kemudian dia menyahut dengan suara dalam.

"Ciok siauhiap, kami ingin tahu tentang tiga orang."

"Siapa ketiga orang itu?"

"Kau pasti kenal."

"Silakan katakan!"

"Bu Lim Sam Siu."

"Bu Lim Sam Siu?"

Hati Ciok Giok Yin tersentak hingga berdebar-debar dan seketika wajahnya berubah menjadi murung.

Namun apakah dia harus memberitahukan tentang kematian Bu Lim Sam Siu atau tidak, masih belum ada keputusan.

Sebab dia belum tahu jelas, maksud tujuan kedatangan mereka.

Sedangkan Sin Ciang-Yo Sian menyahut.

"Tidak salah."

"Bagaimana Bu Lim Sam Siu?"

"Kau tahu jejak mereka bertiga."

Ciok Giok Yin tertegun.

"Bagaimana aku tahu jejak mereka bertiga?"

"Harap kau bersedia mengatakannya!"

Ciok Giok Yin mulai gusar.

"Apa maksud Anda?"

"Sederhana saja. Kami sedang mencari Bu Lim Sam Siu."

"Kalian mencari Bu Lim Sam Siu adalah urusan kalian, tiada hubungannya dengan diriku! Maaf, aku mau pergi!"

Ketika Ciok Giok Yin baru mau melesat pergi, mendadak belasan orang itu membentak dengan serentak.

"Berhenti!"

Di saat bersamaan merekapun mendorong Ciok Giok Yin dengan lwee kang, otomatis membuatnya terdorong ke belakang selangkah. Tentunya Ciok Giok Yin amat murka.

"Kalian ingin mengeroyokku?"

Katanya dengan dingin. Sin Ciang-Yo Sian maju selangkah seraya menyahut.

"Tiada maksud demikian."

Ciok Giok Yin menatap Kang Sun Fang, lalu menatap Sin Ciang-Yo Sian seraya membentak.

"Kalian tidak usah menyembunyikan ekor, mau bicara apa bicaralah!"

"Tetap pertanyaan tadi, jejak Bu Lim Sam Siu!"

"Tidak dapat kukatakan!"

"Kau tidak mau mengatakannya?"

"Betul!"

Mendadak Kang Sun Fang, ketua Heng San Pay maju tiga langkah seraya berkata dengan rasa tidak enak.

"Ciok Siauhiap, agar tidak menimbulkan kerepotan, lebih baik katakanlah!"

"Sesungguhnya ada apa gerangan dengan kalian?"

"Tiga bulan yang lalu mereka bertiga menguntitmu ke arah utara. Selanjutnya mereka tidak tampak lagi. Mungkin Ciok siauhiap tahu jejak mereka."

"Tidak salah!"

Sin Ciang-Yo Sian segera bertanya.

"Berada di mana mereka sekarang?"

"Maaf! Tidak dapat kukatakan!"

"Kau yang mencelakai mereka bertiga?"

Ciok Giok Yin mendengus dingin.

"Hmmm! Melainkan kau!"

Saat ini wajah Ciok Giok Yin sudah penuh diliputi hawa membunuh.

"Bocah, hari ini kau harus meninggalkan nyawamu!"

Bentak Sin Ciang-Yo Sian. Dia langsung menyerang. Ciok Giok Yin berkelit sambil membentak.

"Kalian ingin bertarung?"

"Terpaksa harus!"

Seketika terasa angin pukulan menerjang ke arah Ciok Giok Yin, namun Kang Sun Fang justru tidak turun tangan. Ciok Giok Yin sungguh-sungguh murka.

"Kalian semua tergolong orang gagah, tapi malah tidak tahu aturan!"

Bentaknya sengit.

Dia langsung melancarkan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang jurus pertama.

Terdengar suara jeritan dan tampak seseorang terpental tiga langkah jauhnya lalu roboh.

Untung Ciok Giok Yin tidak mengerahkan tenaga sepenuhnya, maka orang itu tidak binasa.

Setelah melancarkan pukulan itu, Ciok Giok Yin pun berseru.

"Sampai jumpa!"

Tampak badannya berkelebat beberapa kali, tahu-tahu sudah tidak kelihatan lagi bayangannya.

Di saat Ciok Giok Yin melesat pergi, dia pun berpikir.

Mengapa Bu Lim Sam Siu menguntitnya?

Apakah mereka semua saling memberi kabar secara diam-diam?

Ciok Giok Yin tidak menemukan jawabannya, membuat hatinya seperti terganjal sesuatu.

Sebetulnya dia boleh memberitahukan, namun itu menyangkut rahasia Liok Bun.

Lagi pula nada pembicaraan Sin Ciang-Yo Sian amat menekannya, sehingga menimbulkan kemurkaannya.

Oleh karena itu dia boleh bersalah terhadap mereka, tapi tidak boleh mengatakannya.

Ciok Giok Yin terus melesat pergi.

Mendadak dilihatnya delapan anggota perkumpulan Sang Yen Hwee sedang menggotong sebuah peti mati.

Seketika darahnya langsung naik.

"Berhenti!"

Bentaknya gusar. Ciok Giok Yin lalu menghadang di hadapan mereka. Para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu langsung berseru kaget.

"Ciok Giok Yin!"

Mereka segera menaruh peti mati itu, kemudian menatap Ciok Giok Yin dengan penuh kebencian. Ciok Giok Yin tertawa dingin.

"Tidak salah!"

Sahutnya lalu bertanya.

"Peti mati siapa itu?"

"Peduli amat kau peti mati siapa itu?"

Sahut salah seorang anggota perkumpulan Sang Yen Hwee.

"Aku harus bertanya!"

"Kau mau cari mampus?"

Usai berkata mereka berdelapan berpencar mengepung Ciok Giok Yin, bahkan kelihatan siap menyerangnya.

"Kalian katakan tidak?"

Bentak Ciok Giok Yin lagi.

"Tidak!"

Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin!

Dia langsung maju sambil mencengkeram orang yang berbicara itu.

Menyaksikan itu yang lain segera membentak sambil melancarkan pukulan ke arah Ciok Giok Yin.

Ciok Giok Yin menangkis.

Seketika terdengar suara jeritan dan tampak dua orang roboh binasa.

Di saat bersamaan terdengar suara dengusan dingin di belakang Ciok Giok Yin.

"Hmmm! Sungguh kejam kau!"

Ciok Giok Yin membalikkan badannya.

Tampak seorang wanita memakai pakaian berkabung berdiri sejauh dua depa, sepasang matanya yang indah mengandung kebencian.

Mendadak salah seorang anggota perkumpulan Sang Yen Hwee membungkukkan badannya seraya berkata.

"Nona, bocah itu...."

"Aku tahu,"

Potong wanita itu. Kemudian dia menatap Ciok Giok Yin.

"Mengapa kau menghadang kami?"

"Aku ingin tahu siapa yang di dalam peti mati!"

Sahut Ciok Giok Yin dingin.

"Tidak ada urusan denganmu!"

"Aku cuma ingin tahu!"

"Kalau aku tidak mau beritahukan?"

"Jangan harap bisa meninggalkan tempat ini!"

Wajah wanita berpakaian berkabung langsung berubah menjadi dingin.

"Aku ingin mencoba berapa tinggi kepandaianmu, berani menentang perkumpulan Sang Yen Hwee!"

Ketika wanita berpakaian berkabung baru ingin melancarkan serangan, mendadak tampak sesosok bayangan hitam melayang turun dan langsung berseru.

"Nona, biar lohu saja!"

Mendengar seruan itu, wanita berpakaian berkabung segera mundur.

Sedangkan Ciok Giok Yin menoleh memandang bayangan hitam itu, ternyata adalah seorang lelaki berusia lima puluhan, bajunya bersulam sepasang burung walet putih.

Setelah memperhatikan orang tua itu.

Ciok Giok Yin teringat siapa orang tua tersebut, tidak lain adalah orang yang membawa pergi mayat Bun It Coan.

Bersamaan itu dia pun sudah dapat menduga identitas wanita berpakaian berkabung.

Seketika hawa amarahnya bergejolak di rongga dadanya, kemudian dia membentak wanita berpakaian berkabung.

"Siapa kau?"

"Kuberitahukan agar kau tidak mati penasaran. Aku adalah putri angkat ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, bernama Lan Lan!"

Sahut wanita berpakaian berkabung dingin. Ternyata Lan Lan dan Hui Hui adalah putri angkat ketua perkumpulan Sang Yen Hwee. Wajah Ciok Giok Yin langsung menyiratkan hawa membunuh.

"Tak kusangka kita akan bertemu di sini. Aku akan menuntut balas kakak angkatku itu!"

Katanya sambil tertawa getir.

Dengan sepasang mata berapi-api dia berjalan maju selangkah demi selangkah.

Dia sudah mengerahkan tenaga sakti Kan Yen Sin Kang yang diperolehnya dari Liok Bun, ingin membunuh wanita jalang itu.

Menyaksikan itu sekujur badan Lan Lan menjadi merinding, sehingga tanpa sadar dia mundur selangkah.

"Kau bilang apa?"

Tanyanya. Justru di saat bersamaan orang tua berpakaian hitam yang baru muncul itu segera berdiri di samping Lan Lan. Ciok Giok Yin berhenti lalu menyahut sengit.

"Wanita jalang, aku mau membunuhmu!"

"Berdasarkan apa?"

"Kau telah mencelakai kakak angkatku!"

"Siapa kakak angkatmu itu?"

"Bun It Coan!"

"Bun it Coan?"

Air muka Lan Lan langsung berubah, kemudian dia tertawa sedih dan air mata berderai-derai. Kemudian dia bertanya dengan suara gemetar.

"Ciok Giok Yin, kau boleh turun tangan!"

Mendengar itu Ciok Giok Yin malah menjadi tertegun di tempat.

"Nona, kau..."

Kata orang tua berpakaian hitam dengan kepala tertunduk.

"Kau tidak usah pedulikan ini, harus tetap melaksanakan rencana semula,"

Kata Lan Lan dengan mata terpejam.

Mendadak dalam benak Ciok Giok Yin terlintas suatu pikiran, apakah dia sedang menggunakan siasat menyiksa diri, karena tahu dirinya tidak dapat melawanku?

Setelah berpikir demikian, dia langsung membentak.

"Aku tidak akan melepaskanmu!"

Ciok Giok Yin melangkah maju lagi sambil mengerahkan lwee kangnya, sehingga jarak mereka berdua semakin dekat.

Akan tetapi Lan Lan tetap berdiri di tempat, sama sekali tidak bergeming.

Itu membuat Ciok Giok Yin berhenti.

Biar bagaimana pun dia tidak akan turun tangan terhadap wanita yang tidak mau melawan.

Sebab kalau tersiar di dunia persilatan, namanya pasti rusak dan kakak angkatnya juga tidak akan merasa senang di alam baka.

Oleh karena itu dia menuding Lan Lan seraya membentak.

"Kalau kau tidak menyerang, jangan menyalahkanku!"

Mendadak orang tua berpakaian hitam yang berdiri di samping Lan Lan bertanya dengan suara dalam.

"Kau mau balas dendam?"

"Tidak salah!"

"Kau tahu siapa yang di dalam peti mati?"

"Siapa?"

"Dia adalah musuh besar Bun It Coan kakak angkatmu itu!"

"Hah?"

Seru Ciok Giok Yin tak tertahan.

Setelah itu dia termundur-mundur tiga langkah.

Justru di saat bersamaan Lan Lan menangis tersedu-sedu, lalu melesat pergi laksana kilat.

Dalam waktu sekejap gadis itu sudah tidak kelihatan bayangannya.

Ciok Giok Yin ingin melesat pergi mengejarnya, tapi orang tua berpakaian hitam itu segera menghadang, di hadapannya "Tunggu!"

Katanya.

"Ada apa?"

Tanya Ciok Giok Yin dingin.

"Kuberitahukan, Nona kami sudah meninggalkan perkumpulan Sang Yen Hwee secara diam-diam karena tidak puas akan perbuatan ayah angkatnya. Begitu pula lohu, sudah meninggalkan perkumpulan itu."

"Benarkah begitu?"

"Tidak salah."

"Apa maksudmu tadi mengatakan di dalam peti mati adalah musuh besar kakak angkatku?"

"Tentunya kau telah menyaksikan wajah nona kami, karena ada Khong Khong Hu (Wisma Kosong)...."

"Khong Khong Hu?"

Tanya Ciok Giok Yin tak tertahan.

Ternyata Ciok Giok Yin pernah mendengar 'Khong Khong Hu' dari Fang Jauw Cang.

Namun sudah setengah tahun lebih tidak mendengar orang lain mengatakan.

Tak terduga sekarang mendengar dari mulut orang tua berpakaian hitam.

Orang tua berpakaian hitam melanjutkan.

"Khong Khong Hu dan perkumpulan Sang Yen Hwee punya hubungan erat, bahkan juga saling memberi informasi secara diam-diam. Majikan Khong Khong Hu punya dua putra, yang sulung kau pernah bertemu setengah tahun yang lalu, pemuda itu bernama Sun Bu...."

"Hah? Ternyata dia?"

Seru Ciok Giok Yin kaget.

"Kenapa dia?"

"Sun Bu amat tertarik pada paras nona yang cantik itu, sudah barang tentu menaruh cemburu pada kakak angkatmu. Maka dia menggunakan berbagai macam rencana busuk untuk mencelakainya. Nona tahu itu, maka ingin membasmi Sun Bu, tapi tidak tahu harus bagaimana membasminya. Kebetulan Sun Bun suka minum arak dan hidangan lezat. Karena itu timbul suatu ide dalam benak nona, maka menyiapkan arak dan beberapa macam hidangan di dalam kamarnya. Karena setiap kali Sun Bu pergi mencarinya, pasti makan minum di dalam kamar nona...."

Orang tua berpakaian hitam menghela nafas panjang, kemudian melanjutkan penuturannya.

"Tak disangka hari itu Sun Bu tidak pergi mencari nona, sebaliknya malah kakak angkatmu yang pulang dan langsung makan dan minum. Ketika merasa adanya gelagat tidak beres kakak angkatmu langsung kabur dan kebetulan bertemu denganmu."

Orang tua berpakaian hitam menggeleng-gelengkan kepala, setelah itu melanjutkan lagi penuturannya.

"Betapa hancurnya hati nona, karena telah meracuni suaminya sendiri! Ketika itu dia ingin membunuh diri, namun untung lohu berhasil menasihatinya, agar menuntut balas dendam suaminya."

Setelah mendengar penuturan itu , barulah Ciok Giok Yin paham, kemudian bertanya.

"Apakah nonamu yang membunuh Sun Bu?"

"Yang ada di dalam peti mati adalah Sun Bu."

"Lalu kalian mau ke mana sekarang?"

"Mengantar jenazah Sun Bu ke Khong Khong Hu secara diamdiam agar hubungan Khong Khong Hu dan Sang Yen Hwee terpecah belah."

Mendadak tampak air muka orang tua berpakaian hitam itu berubah.

"Celaka!"

Serunya.

"Ada apa?"

Tanya Ciok Giok Yin.

"Nona kami entah ke mana?"

Orang tua berpakaian hitam langsung membantu yang lain menggotong peti mati itu, lalu melesat pergi.

Ciok Giok Yin merasa menyesal, mengapa tidak membuka peti mati itu untuk memeriksanya?

Siapa tahu mereka menipunya?

Namun setelah berpikir sejenak, dia masih ingat akan kesedihan Lan Lan, tidak mungkin dibuat-buat.

Beberapa saat dia berpikir, akhirnya mengambil keputusan untuk menyelidikinya kelak.

Di saat dia baru mau melesat pergi, mendadak sesosok bayangan melesat laksana kilat ke hadapannya.

Seketika Ciok Giok Yin mengerahkan lwee kangnya, siap menghadapi segala kemungkinan.

Ternyata orang itu berdandan seperti sastrawan, yang mana pernah bertaruh dengannya di perkumpulan Pah Ong Cuang.

"Kau..."

Seru Ciok Giok Yin kaget. Ternyata dia tidak tahu nama sastrawan itu maka cuma memanggilnya 'Kau' saja. Sastrawan berusia pertengahan itu juga sudah melihat jelas Ciok Giok Yin.

"Akhirnya aku berhasil mencarimu,"

Katanya.

"Mencariku?"

"Ya."

"Ada urusan apa Anda mencariku?"

Sastrawan berusia pertengahan itu menatap Ciok Giok Yin dengan tajam kemudian berkata.

"Kau telah membuat kekacauan, kini semakin besar!"

Ciok Giok Yin terbelalak.

"Aku telah membuat kekacauan?"

Tanya Ciok Giok Yin terbelalak.

"Tidak salah."

"Harap Anda menjelaskannya! "

"Kau sudah lupa?"

Ciok Giok Yin sungguh tidak tahu maksud tujuan orang itu. Dia segera berkata.

"Aku dan Anda cuma bertemu satu kali di perkumpulan Pah Ong Cuang, aku percaya...."

"Justru adalah urusan Pah Ong Cuang!"

Sela sastrawan berusia pertengahan. Ciok Giok Yin mendengus dingin.

"Hmm! Gara-gara perbedaan satu huruf. Aku memang menyesali itu! Lalu apa maksud Anda? Lebih baik Anda jelaskan!"

"Terkalah siapa aku!"

"Aku tidak perlu tahu."

Walau Ciok Giok Yin berkata begitu, namun sastrawan berusia pertengahan itu tetap memberitahukan.

"Aku adalah pamannya Yu Ling Ling, namaku Yu Tong Keng."

Dia menatap Ciok Giok Yin.

"Mengapa kau tidak ke rumah keluarga Yu?"

Lanjutnya.

"Aku tiada keperluan untuk ke sana!"

"Kau ingin lepas tangan?"

"Karena Nona Yu bukan gadis yang kucari."

"Sekarang kau harus ke sana!"

"Itukah alasan Anda mencariku?"

"Gara-gara kau menyelamatkan Ling Ling, membuat tiga puluh enam orangnya dibunuh oleh Pah Ong Cuang, kini tinggal Ling Ling seorang diri."

Setelah mendengar itu, air muka Ciok Giok Yin langsung berubah menjadi hebat dan dia segera bertanya.

"Betulkah kejadian itu?"

"Buat apa aku membohongimu!"

Terbunuhnya tiga puluh enam keluarga Yu, secara tidak langsung memang akibat dari ulah Ciok Giok Yin.

Sebab kalau Ciok Giok Yin tidak melakukan hal itu, tentunya keluarga Yu tidak akan dibantai oleh Pah Ong Cuang.

Terdengar sastrawan berusia pertengahan itu berkata lagi.

"Biar bagaimana pun kau harus pergi ke rumah keluarga Yu, karena tiada seorang pun yang dapat menghibur Ling Ling, maka kau harus ke sana menghiburnya. Sekujur badan Ciok Giok Yin gemetar dan sepasang matanya membara. Dia kelihatan amat gusar.

"Di mana rumah keluarga Yu?"

Tanyanya sambil berkertak gigi. Yo Tong Keng memberitahukan, setelah itu menambahkan.

"Ciok siauhiap, kau harus memberesi urusan itu, sebab kini Ling Ling sudah yatim piatu, tinggal sebatang kara, harap kau bisa baik-baik memperlakukannya!"

Apa yang dikatakan Yo Tong Keng itu sudah tidak masuk ke dalam.

telinga Ciok Giok Yin, sebab dia sudah melesat ke arah rumah keluarga Yu.

Sejak berhasil menguasai ilmu Kan Yen Sin Kang, kepandaian Ciok Giok Yin menjadi maju pesat.

Maka begitu mengerahkan ginkang, cepatnya bukan main!

Sudah barang tentu membuat semua orang yang sedang terbelalak karena cuma melihat bayangan berkelebat lalu hilang.

Perjalanan sepanjang delapan puluh mil itu cuma ditempuhnya hampir dua jam.

Kini rumah keluarga Yu sudah berada di depan matanya.

Hati Ciok Giok Yin terus meledak sebab dari jauh dia sudah mendengar suara tangisan seorang gadis.

Mungkin saking lamanya menangis, sehingga suara tangis itu kedengaran serak dan lemah.

Hati Ciok Giok Yin berdebar-debar dan langkah kakinya menjadi lamban.

Dia sama sekali tidak tahu, harus bagaimana menghibur gadis itu.

Juga tidak tahu harus bagaimana memperlakukannya, dan mengurusinya dikemudian hari.

Tangis yang memilukan itu sungguh membuat hati Ciok Giok Yin bagaikan tersayatsayat.

Lagi pula masih tampak mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana, begitu pula noda darah.

Memang pemandangan itu sungguh memilukan hati!

Tampak sosok tubuh langsing merangkul sesosok mayat sambil menangis sedih.

Ciok Giok Yin mendekatinya seraya berkata.

"Nona Yu, jagalah kesehatanmu!"

Yu Ling Ling mendongakkan kepala. Ketika melihat Ciok Giok Yin, dia langsung membentak sengit.

"Gara-gara kau! Cepat enyah! Cepat!"

Suara bentakan itu membuat Ciok Giok Yin termundur beberapa langkah. Setelah itu dia manggut-manggut sambil berkata.

"Memang gara-gara aku tapi aku akan menuntut balas demi keluarga Yu yang berjumlah tiga puluh enam orang, bahkan harus berlipat ganda. Harap Nona baik-baik menjaga diri!"

Usai berkata Ciok Giok Yin langsung melesat ke arah perkumpulan Pah Ong Cuang.

Dalam hatinya cuma terdapat dendam.

Saat ini kalau ada orang melihat wajahnya, pasti akan merasa seram dan bulu kuduknya pun berdiri.

Sementara rembulan mulai bersinar remang-remang.

Sedangkan di tempat-tempat tertentu mulai kelihatan menakutkan.

Sesosok bayangan melesat laksana kilat ke perkumpulan Pah Ong Cuang.

Siapa orang itu?

Tidak lain adalah Ciok Giok Yin.

Kemunculannya di perkumpulan tersebut membawa dendam yang amat dalam.

Begitu tiba di pintu masuk Pah Ong Cuang, Ciok Giok Yin langsung menghantam pintu itu.

Blam!

Pintu itu hancur berkeping-keping.

Di saat bersamaan muncullah belasan penjaga yang bertampang seram.

Akan tetapi seketika terdengar suara jeritan yang menyayat hati dan darah muncrat ke mana-mana.

Mayat pun mulai bergelimpang di tanah.

Ciok Giok Yin menerobos masuk ke dalam.

Sepasang matanya masih membara dan wajahnya tampak kehijauhijauan.

Dia langsung mencaci maki dengan suara lantang.

"Tua bangka, kau membunuh keluarga Yu berjumlah tiga puluh enam orang! Hutang darah bayar darah, hutang nyawa bayar nyawa! Malam ini aku akan membuat perhitungan denganmu, bahkan kau harus membayar berlipat kali!"

Sementara para penjaga perkumpulan Pah Ong Cuang mulai bermunculan dan terdengar pula suara bentakan.

"Tangkap bocah haram itu!"

Namun di saat bersamaan terdengar suara jeritan yang menyayat hati.

Ternyata Ciok Giok Yin sudah turun tangan membunuh mereka dengan pukulan-pukulan yang amat dahsyat.

Mendadak terdengar suara bentakan mengguntur.

"Siapa berani cari gara-gara di perkumpulan Pah Ong Cuang?"

Tampak sosok bayangan tinggi besar melesat ke luar dari dalam rumah yang megah itu.

Siapa orang itu?

Ternyata adalah majikan Pah Ong Cuang.

Begitu melihat orang itu, Ciok Giok Yin langsung berkertak gigi.

"Tua bangka, ganti nyawa keluarga Yu yang berjumlah tiga puluh enam orang, tapi harus berlipat ganda!"

Bentaknya sengit.

Dia maju selangkah demi selangkah.

Sedangkan majikan Pah Ong Cuang sudah menyaksikan mayat-mayat bergelimpangan di tanah itu.

Maka tidak heran kegusarannya menjadi memuncak.

Dia mendengus dingin lalu berkata.

"Bocah, kau merebut menantuku! Hari ini kau harus mampus!"

Ketika majikannya baru mau menyerang, mendadak Ciok Giok Yin menerjang ke arahnya.

Ternyata dia telah mengerahkan ilmu Kan Yen Sin Kang.

Tampak telapak tangannya berkelebat dan terdengar suara jeritan yang mendirikan bulu kuduk.

"Aaaakh!"

Majikan Pah Ong Cuang yang mau melancarkan serangan, sebaliknya malah terserang.

Seluruh tulangnya remuk dan dagingnya pun hancur tidak karuan, kemudian roboh binasa seketika.

Ciok Giok Yin tertawa seperti orang gila Kemudian dia melancarkan pukulan lagi ke arah para anak buah majikan Pah Ong Cuang.

Terdengar lagi suara jeritan di sana-sini.

Walau Ciok Giok Yin telah membunuh majikan Pah Ong Cuang dan dua puluh orang lebih, namun belum merasa puas.

Dia ingin membunuh seluruh penghuni perkumpulan itu.

Terdengar lagi suara jeritan.

Setelah itu suasana di perkumpulan Pah Ong Cuang mulai hening.

Namun tercium bau anyir yang amat menusuk hidung.

Di dalam perkumpulan Pah Ong Cuang sudah tergeletak empat puluh dua sosok mayat, yang semuanya binasa di tangan Ciok Giok Yin.

Sesungguhnya dia bukan seorang pembunuh berdarah dingin.

Dia melakukan pembantaian lantaran terpaksa, sebab urusan berawal dari dirinya yang merebut mempelai wanita.

Seandainya dia tidak salah dengar satu huruf, tentunya tidak akan terjadi pertistiwa berdarah ini.

Apakah ini merupakan suatu pembalasan?

Memang sulit dikatakan.

Lagi pula orang-orang perkumpulan Pah Ong Cuang selalu menindas penduduk setempat.

Walau para penduduk setempat amat gusar, tapi tidak berani berbuat apa-apa.

Kini perkumpulan Pah Ong Cuang telah musnah.

Sudah barang tentu para penduduk setempat bersorak girang dan merasa bersyukur.

Sementara Ciok Giok Yin masih berdiri di dalam perkumpulan Pah Ong Cuang.

Dia tertawa gelak lalu bergumam.

"Nona Yu, aku telah menuntut balas dendam keluarga kalian...."

Mendadak terdengar suara yang amat dingin di belakangnya.

"Sungguh keji hatimu!"

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin, sebab ada orang berada di belakangnya, namun dia tidak tahu sama sekali.

Ciok Giok Yin segera membalikkan badannya.

Kira-kira dua depa berdiri seorang berpakaian abu-abu, dan memakai kain penutup muka warna putih.

Tentunya orang itu tidak dapat dilihat wajahnya, tapi tampak sepasang matanya menyorot tajam sekali.

Tiba-tiba Ciok Giok Yin teringat akan peristiwa pembantaian di partai Thay Kek Bun.

Dia masih ingat akan penuturan Lok Ceh, bahwa mereka dibunuh oleh orang berpakaian abu-abu dan memakai kain penutup muka warna putih.

Bukankah orang yang berdiri di hadapannya berdandan demikian?

Oleh karena itu Ciok Giok Yin membentak.

"Bagaimana?"

"Aku bilang hatimu amat keji!"

Sahut orang berpakaian abuabu memakai kain putih penutup muka dengan dingin sekali.

"Kau peduli itu?"

"Aku memang ingin coba mempedulikannya!"

"Sebutkan namamu!"

Bentak Ciok Giok Yin sengit. Ternyata Ciok Giok Yin ingin tahu identitas orang itu melalui namanya, namun orang berpakaian abu-abu itu mendengus dingin.

"Hmm! Kau pantas mengetahui namaku?"

Wajah Ciok Giok Yin langsung berubah.

"Lihat aku pantas atau tidak?"

Bentaknya. Ketika Ciok Giok Yin baru mau melancarkan serangan, sekonyong-konyong orang berpakaian abu-abu berseru dingin.

"Tunggu!"

"Kau mau tinggalkan pesan apa?"

Tanya Ciok Giok Yin sengit.

"Yang harus tinggalkan pesan adalah kau, bukan aku!"

Ciok Giok Yin tertawa dingin.

"Aku memang menghendakimu tahu rasa!"

"Punya kepandaian sebutkanlah namamu"

"Tentu saja boleh! aku adalah Hek Hong Sucia (Duta Angin Hitam)!"

"Hek Hong Sucia?"

"Tidak salah!"

"Kau dari aliran mana?"

"Tentang itu kau tidak perlu tahu!"

Berhenti sejenak, kemudian orang berpakaian abu-abu itu melanjutkan.

"Mengapa kau membantai mereka?"

"Tentunya aku punya alasan!"

"Katakan!"

"Aku tidak mau mengatakan!"

"Kau berani tidak mengatakan?"

Ketika berkata, Hek Hong Sucia mengeluarkan sebatang panji hitam kecil bergambar seekor naga putih.

Begitu melihat panji hitam kecil itu, Ciok Giok Yin teringat ketika baru meninggalkan Liok Bun.

Di suatu tempat dia melihat beberapa sosok mayat yang punggungnya tertancap panji hitam tersebut.

Tidak ragu lagi, pelaku itu pasti sehaluan dengan orang yang di hadapannya.

Akan tetapi panji hitam yang tertancap di punggung mayat dibuat dari besi biasa.

Sedangkan panji hitam kecil yang di tangan orang ini tampak bergemerlapan tertimpa sinar rembulan, berarti berbeda dengan panji hitam kecil lain.

Setelah menyaksikan panji hitam kecil yang di tangan Hek Hong Sucia, kegusaran Ciok Giok Yin langsung memuncak.

"Apakah mayat-mayat di luar Gunung Lu Liang San adalah hasil perbuatanmu?"

"Tidak salah!"

"Ada dendam apa kau dengan mereka, sehingga kau membunuh mereka?"

"Kau tidak perlu menanyakan itu, cepat katakan urusanmu!"

"Tidak akan kukatakan!"

"Sungguhkah kau tidak mau mengatakan?"

"Sungguh!"

"Baik!"

Heng Hong Sucia segera bergerak bagaikan roh halus, menyerang dada Ciok Giok Yin dengan panji hitam kecil itu.

Ciok Giok Yin cepat-cepat mengerahkan tenaga sakti Kan Yen Sin Kang untuk melindungi sekujur badannya, sekaligus mengeluarkan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Tampak badan Hek Hong Sucia berkelebat.

Dia berhasil menghindari serangan Ciok Giok Yin, tapi ujung panji hitam kecil itu tetap mengarah di dada Ciok Giok Yin.

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin!

Dia bergerak cepat mencelat ke belakang.

"Roboh!"

Bentak Hek Hong Sucia. Kelihatannya Ciok Giok Yin akan terhantam serangan itu, namun mendadak seorang wanita berambut putih terurai menutup mukanya, meluncur laksana kilat ke tempat itu.

Jilid 22 Begitu melihat kemunculan wanita berambut putih, Hek Hong Sucia langsung berseru tak tertahan.

"Haah?"

Dia langsung mundur lalu melesat pergi dan dalam sekejap sudah tidak kelihatan bayangannya.

Betapa cepatnya gerakan Hek Hong Sucia sungguh mengejutkan!

Hati Ciok Giok Yin masih berdebar-debar tidak karuan.

Dia tidak menyangka kepandaian orang berpakaian abu-abu itu sedemikian tinggi.

Walau Ciok Giok Yin telah menguasai ilmu Kan Yen Sin Kang, tapi bukan lawannya.

Sebenarnya siapa Hek Hong Sucia itu dan berasal dari aliran mana?

Ciok Giok Yin tidak habis pikir.

Dia menyeka keringat yang merembes dari keningnya, setelah itu barulah memandang wanita berambut putih.

Karena kekagetan yang dialaminya tadi belum hilang, maka ketika melihat wanita berambut putih, dia langsung termundur tiga langkah.

Ternyata Ciok Giok Yin tidak melihat wajahnya.

Yang dilihatnya cuma rambutnya yang putih terurai sampai di bawah lutut.

Di larut malam, muncul orang yang begitu aneh, tentunya membuat Ciok Giok Yin merasa agak takut.

Lagi pula di sekitarnya bergelimpang mayat-mayat yang mengerikan.

Wajah orang itu tertutup oleh rambutnya yang putih, maka Ciok Giok Yin tidak melihat jelas wajahnya.

Cantik atau buruk, tua atau masih muda, lawan atau kawan, Ciok Giok Yin sama sekali tidak tahu.

Yang jelas kemunculannya telah membuat Hek Hong Sucia kabur terbirit-birit.

"Anda adalah manusia atau hantu?"

Tanya Ciok Giok Yin sambil memberi hormat.

"Manusia dan hantu apa bedanya?"

Sahut wanita berambut putih panjang dengan lembut. Mendengar itu, keberanian Ciok Giok Yin mulai timbul.

"Mahon tanya apa maksud ucapan itu?"

Tanyanya.

"Dunia persilatan masa kini amat banyak hantu, setan dan iblis. Padahal mereka adalah manusia. Lalu apa bedanya dengan hantu, setan dan iblis?"

Wanita berambut putih panjang diam sejenak.

"Apa kesalahan mereka sehingga kau bantai?"

Lanjutnya.

"Tentu ada sebabnya,"

Sahut Ciok Giok Yin. Diam-diam Ciok Giok Yin merasa cemas. Kalau wanita berambut putih ini punya hubungan dengan perkumpulan Pah Ong Cuang, bukankah dirinya akan celaka? "Katakan!"

Bentak wanita berambut putih panjang.

Suara bentakan itu membuat sekujur badan Ciok Giok Yin merinding.

Diam-diam dia mengerahkan ilmu Kan Yen Sin Kang untuk melindungi diri.

Setelah itu barulah dia berkata.

"Mereka membunuh tiga puluh enam orang keluarga Yu."

"Mengapa?"

"Mereka memaksa putri keluarga Yu untuk menikah."

"Cuma itu sebabnya?"

Hati Ciok Giok Yin tersentak dan membatin, 'Biar kuceritakan, lihat wanita aneh ini mau berbuat apa terhadap diriku?' Oleh karena itu dia menceritakan tentang semua itu.

Setelah mendengar cerita itu, wanita berambut putih panjang berkata.

"Kejadian itu adalah gara-gara dirimu!"

"Ya."

"Mengapa kau begitu ceroboh?"

Wajah Ciok Giok Yin memerah, lalu dia menundukkan kepala seraya menyahut.

"Aku memang ceroboh. Huruf Yu kudengar seperti Ie. Karena itu menimbulkan malapetaka besar. Aku menyesal, tapi sudah terlambat."

"Itu sebagai pelajaran bagimu. Lain kali kau harus hati-hati, jangan berlaku ceroboh lagi."

Wanita berambut putih panjang itu diam sejenak.

"Tapi orang-orang perkumpulan Pah Ong Cuang memang amat jahat, dan selalu menindas penduduk di sini. Kau memusnahkan perkumpulan Pah Ong Cuang ini tentunya tidak keterlaluan."

Ciok Giok Yin tidak berkata apa-apa, hanya berdiri diam di tempat.

Apa yang dikatakan wanita berambut putih panjang itu membuktikan dia tidak berniat jahat.

Mendadak Ciok Giok Yin teringat akan seseorang.

Maka, tanpa sadar dia berseru tak tertahan.

"Pek Hoat Hujin!"

"Ya!"

Ciok Giok Yin segera maju tiga langkah dan memberi hormat seraya berkata.

"Lo cianpwee menyelamatkan diriku lagi, selama-lamanya takkan kulupakan."

"Tidak usah disimpan dalam hati."

"Boanpwee (Aku Yang Rendah)...."

"Aku ingin bertanya satu hal padamu,"

Sela Pek Hoat Hujin.

"Silakan, lo cianpwee!"

"Aku dengar kau memperoleh sepotong kain, benarkah itu?"

Ciok Giok Yin tertegun, namun tidak akan berdusta terhadap orang yang telah menyelamatkannya.

"Benar,"

Jawabnya jujur.

"Apa yang tercantum dikain potongan itu?"

"Boanpwee sudah mohon pada Thian Thong Lojin untuk mengungkapkan rahasia tersebut."

"Apa katanya?"

"Masih membutuhkan Bu Keng Sui."

"Bu Keng Sui?"

"Ya"

"Itu sangat mudah diperoleh."

"Maksud lo cianpwee?"

"Bu Keng Sui tentunya air hujan!"

Ciok Giok Yin terbelalak. Bagaimana dia tidak berpikir sampai di situ? Air Tanpa Akar bukankah air hujan? Pek Hoat Hujin berkata lagi.

"Di waktu hujan turun, taruhlah potongan kain itu di bawah hujan, pasti kau akan tahu rahasianya."

Bukan main girangnya Ciok Giok Yin! "Terimakasih atas petunjuk to cianpwee!"

Ucapnya.

"Kau harus baik-baik membawa diri!"

Tampak badan Pek Hoat Hujin berkelebat, tahu-tahu sudah hilang dari pandangan Ciok Giok Yin.

Kini Ciok Giok Yin masih harus datang di rumah keluarga Yu sebab harus mengatur Yu Ling Ling.

Tapi timbul pula kesulitan Ciok Giok Yin, sebab tahu bisa atau tidak menerima gadis itu.

Jawaban dalam hatinya adalah 'Tidak Bisa' karena timbulnya kejadian itu lantaran salah paham, lagi pula dia sudah punya tunangan dan juga masih ada Cou Ing Ing....

Setelah berpikir sejenak barulah Ciok Giok Yin melesat ke rumah keluarga Yu.

Tak lama kemudian dia sudah berada di depan rumah tersebut.

Akan tetapi tidak tampak bayangan Yu Ling Ling, sedangkan mayat-mayat masih bergelimpangan di sana.

Hati Ciok Giok Yin tersentak, sehingga berdebar-debar tidak karuan.

Apakah gadis itu telah bunuh diri?

Ciok Giok Yin bertanya dalam hati, lalu memeriksa mayatmayat itu, namun tidak melihat Yu Ling Ling.

Barulah hatinya lega, kemudian dia melesat pergi meninggalkan rumah itu.

Ciok Giok Yin menengadahkan kepala memandang langit, namun tidak tampak awan hitam.

Ternyata dia mengharap turun hujan, agar bisa mengungkap rahasia potongan kain itu.

Akan tetapi justru tiada awan hitam, pertanda belum waktunya hujan.

Mendadak telinganya menangkap suara tangis.

Hatinya tergerak, kemudian dia melesat ke arah suara tangisan itu.

Di dalam sebuah rimba terdengar suara yang amat dingin.

"Apakah toaya tidak setimpal denganmu?"

Terdengar suara bentakan yang mengandung isak tangis.

"Orang jahat! Aku tidak akan mengampunimu!"

Terdengar lagi suara tawa terkekeh, lalu berkata.

"Tapi sementara ini aku belum bisa membawamu, sampai jumpa!"

Ciok Giok Yin telah mendengar pembicaraan itu segera membentak.

"Berhenti!"

Dia melesat ke tempat itu dan kemudian melihat sosok bayangan yang dikenalnya.

"Bu Tok Sianseng! Ternyata kau seorang penjahat cabul!"

Serunya tak tertahan.

Tanpa menoleh, Bu Tok Sianseng mengibaskan tangannya.

Seketika tampak butiran-butiran hitam meluncur ke arah Ciok Giok Yin.

Serrr!

Serrr!

Ciok Giok Yin tahu jelas Bu Tok Sianseng mahir tentang racun, maka dia bergerak cepat memukul jatuh senjata-senjata rahasia itu.

Di saat bersamaan Bu Tok Sianseng sudah tidak kelihatan bayangannya.

Ciok Giok Yin tabu dirinya tidak akan berhasil mengejar Bu Tok Sianseng, maka segera mendekati gadis yang duduk di bawah pohon.

Gadis itu masih menangis tersedu-sedu.

"Nona!"

Panggil Ciok Giok Yin. Gadis itu mendongakkan kepala. Tampak air matanya masih berderai-derai.

"Kau...."

"Aku kenal Bu Tok Sianseng."

"Dia adalah Bu Tok Sianseng?"

Gadis itu berhenti menangis, menatap Ciok Giok Yin dengan penuh rasa heran. Ciok Giok Yin manggut-manggut.

"Ya!"

"Namanya bukan Bu Tok Sianseng."

Ciok Giok Yin tertegun.

"Kau tahu namanya?"

"Dia bernama Ho Tiong Kan?"

"Ho Tiong Kan?"

"Ya."

Ciok Giok Yin kebingungan.

Dia percaya akan penglihatannya.

Tadi dia melihat jelas, bagaimana mungkin berubah menjadi Ho Tiong Kan?

Beberapa saat Ciok Giok Yin berpikir, setelah itu baru mengerti.

Kemudian dia manggut-manggut seraya berkata.

"Mungkin dia sengaja mengganti namanya."

"Kau tahu nama Bu Tok Sianseng?"

Tanya gadis itu. Ciok Giok Yin menggeleng kepala.

"Aku tidak begitu jelas."

"Aku juga pernah mendengar tentang Bu Tok Sianseng, tapi bukan dia."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening, kemudian bertanya.

"Mohon tanya, bagaimana Nona bisa berada di tempat ini?"

Gadis itu mulai menangis terisak-isak lagi.

Kemudian dia menutur tentang kejadian yang menimpa dirinya.

Ternyata gadis itu bernama Kiang Cui Loan.

Tanpa sengaja dia berkenalan dengan Ho Tiong Kan, lalu mereka berdua melakukan hubungan gelap.

Setelah melewati hari-hari yang indah penuh kemesraan, akhirnya Kiang Cui Loan hamil.

Akan tetapi, Ho Tiong Kan justru tidak kelihatan batang hidungnya.

Dua bulan kemudian dia meninggalkan rumah secara diamdiam untuk mencari Ho Tiong Kan.

Beberapa bulan lamanya Kiang Cu Loan berkelana dalam rimba persilatan mencari Ho Tiong Kan, namun tiada hasilnya.

Sedangkan perut Kiang Cu Loan kian hari kian bertambah besar.

Dia tahu bahwa dirinya sudah tidak bisa lagi pulang ke rumah.

Maka pada siang hari dia tinggal di dalam goa, pada malam hari keluar untuk mencari makanan, sekaligus mencari informasi tentang Ho Tiong Kan.

Justru sungguh di luar dugaan, dia bertemu Ho Tiong Kan di tempat itu, tapi lelaki itu tetap meninggalkannya.

Seusai mendengar penuturan itu, gusarlah Ciok Giok Yin.

"Nona, aku tidak peduli dia Bu Tok Sianseng atau bukan, kelak kalau bertemu aku pasti bertanya padanya. Kalau memang dia, aku pasti membawanya ke mari agar berkumpul dengan Nona. Kalau tidak, aku pasti membunuhnya!"

Ciok Giok Yin menatapnya.

"Sekarang Nona mau ke mana?"

Kiang Cu Loan menunjuk ke arah sebuah puncak gunung, dan menyahut.

"Aku tinggal di lembah itu. Di situ terdapat sebuah goa,"

Sahut Kiang Cu Loan sambil menunjuk ke arah sebuah puncak. Ciok Giok Yin manggut-manggut.

"Baik, Nona boleh kembali, aku akan membantumu mencari Ho Tiong Kan."

Usai berkata, Ciok Giok Yin melesat pergi.

Pikirannya agak kacau, sebab dia yakin orang itu adalah Bu Tok Sianseng.

Apakah dia bernama Ho Tiong Kan?

Akan tetapi entah sudah berapa kali Bu Tok sianseng menyelamatkan dirinya.

Berdasarkan itu seharusnya Ciok Giok Yin menasehatinya agar dia mau bertanggung jawab terhadap Kiang Cu Loan.

Seandainya Bu Tok sianseng tidak menuruti nasihatnya, apakah Ciok Giok Yin harus membunuhnya?

Ciok Giok Yin terus berpikir, tapi tidak tahu keputusan apa yang harus diambil.

Disaat dia sedang melesat, mendadak tampak awan hitam mulai menyelimut langit dan angin pun mulai berhembus kencang.

Bukan main girangnya hati Ciok Giok Yin, sebab tidak lama lagi pasti akan turun hujan.

Memang ini yang diharapkannya.

Dia harus mencari sebuah goa untuk berteduh, lalu mengungkap rahasia potongan kain itu.

Ketika melewati sebuah kota kecil, dia membeli sebuah baskom dan sedikit makanan kering.

Setelah itu dia segera melesat ke dalam sebuah lembah.

Di saat bersamaan hujan pun mulai turun dengan deras.

Dia melihat sebuah batu curam yang cekung ke dalam.

Dia cepat-cepat masuk ke cekungan batu itu lalu menaruh baskom di luar untuk menampung air hujan.

Berselang beberapa saat hujan sudah mulai reda dan matahari mulai bersinar.

Ciok Giok Yin mengambil baskom yang berisi air hujan dan segera mengeluarkan potongan kain itu.

Kemudian direndamnya ke dalam air hujan yang ada di dalam baskom.

Perasaannya amat tegang hingga sekujur badannya gemetar.

Potongan kain tersebut menyangkut asal-usulnya, bahkan juga menyangkut jejak Seruling Perak.

Oleh karena itu dia terus menatap potongan kain itu dengan mata tak berkedip.

Sungguh mengherankan!

Ternyata potongan kain itu tidak basah meskipun direndam dalam air.

Itu membuat Ciok Giok Yin sedikit curiga.

Namun sepasang matanya tidak tergeser dari potongan kain tersebut.

Biar bagaimana pun harus tahu jelas tentang rahasia potongan kain ini.

Pikirnya.

Di saat bersamaan terdengar suara desiran angin yang amat lirih dan tampak sosok bayangan orang berkelebat lalu hilang.

Ciok Giok Yin cepat-cepat meraihkan tangannya ke dalam baskom, tapi ternyata baskom itu telah kosong.

Dapat dibayangkan betapa terkejutnya Ciok Giok Yin.

Dia langsung mencelat ke atas, tapi tiada seorang pun berada di tempat itu.

Dia bersiul nyaring sekaligus mengerahkan ginkangnya untuk mengejar.

Sekonyong-konyong tampak sosok bayangan merah melesat ke arahnya dari arah depan dan terdengar seruannya yang merdu.

"Adik, kau terlepas dari bahaya?"

Ternyata orang yang melesat ke arah Ciok Giok Yin itu adalah Heng Thian Ceng. Kebetulan saat ini hati Ciok Giok Yin sedang tercekam rasa duka, maka dia bertanya dengan dingin.

"Kau melihat orang melesat pergi?"

Heng Thian Ceng yang berdiri di hadapan Ciok Giok Yin balik bertanya.

"Siapa orang itu?"

"Lho? Bagaimana itu?"

"Kau sama sekali tidak melihat?"

"Adik, apakah ada urusan yang penting sekali?"

Sepasang mata Ciok Giok Yin berapi-api.

"Potongan kain itu telah hilang,"

Sahutnya samba berkertak gigi. Hati Heng Thian Ceng tersentak, kemudian dia bertanya.

"Siapa yang berkepandaian begitu tinggi mengambil potongan kain itu?"

Ciok Giok Yin tidak menyahut, karena air matanya sudah berderai-derai.

Hatinya amat berduka lantaran potongan kain itu telah hilang.

Sedangkan potongan kain itu menyangkut asal-usulnya dan jejak Seruling Perak.

Heng Thian Ceng segera mendekati Ciok Giok Yin, kemudian memegang bahunya seraya berkata.

"Adik, kau jangan terlampau berduka. Biar kakak menemanimu mencari orang itu."

Ciok Giok Yin menghela nafas pajang, kemudian bertanya.

"Kakak, selama ini kau baik-baik saja?"

Heng Thian Ceng menghapus air matanya sambil menyahut dengan suara rendah.

"Adik, Kakak nyaris tidak mau hidup."

Ciok Giok Yin tertegun mendengar itu.

"Mengapa Kakak berkata begitu?"

Heng Thian Ceng menyahut dengan suara bergemetar.

"Adik, kau terpukul jatuh ke dalam jurang....."

Sahut Heng Thian Ceng dengan suara gemetar.

"Hah? Kakak melihat kejadian itu?"

Seru Ciok Giok Yin kaget.

"Ya."

"Bagaimana Kakak bisa sampai di tempat itu?"

"Kakak ingat kepandaianmu telah punah, bahkan kau harus menuju ke Gunung Thian San. Kalau bertemu panjahat di tengah jalan, tentunya kau akan celaka. Maka aku terus mengikutimu dari belakang. Tak disangka kepandaianmu telah pulih. Di saat kau terpukul jatuh ke jurang, aku pun tiba di tempat itu...."

"Hah? Kakak pernah berseru memanggilku?"

Seru Ciok Giok Yin tak terhatan. Heng Thian Ceng manggut-manggut seraya berkata.

"Aku berada di atas tebing itu tiga hari tiga malam."

Mendengar itu bukan main terharunya hati Ciok Giok Yin. Dia langsung memeluk Heng Thian Ceng erat-erat seraya memanggilnya dengan suara rendah.

"Kakak! Kakak!"

Mereka berdua saling berpelukan, sepertinya ingin menyatukan diri.

Walau Heng Thian Ceng mamakai kedok kulit, namun bibirnya yang indah kemerah-merahan membuat hati Ciok Giok Yin deg-degan.

Heng Thian Ceng memejamkan matanya, kelihatannya sedang menunggu.

Wanita iblis yang telah menggemparkan dunia persilatan itu kini di hadapan Ciok Giok Yin justru telah berubah menjadi jinak sekali.

Nafasnya terus mendesah, menunggu dan menunggu.

Sedangkan Ciok Giok Yin adalah pemuda berdarah hangat.

Dia menundukkan kepala, lalu bibirnya mulai menyentuh bibir Heng Thian Ceng, akhirnya bibir mereka melekat menjadi satu.

Terdengar pula suara 'Cup!

Cup!

Cup!' Mereka berdua tenggelam dalam mimpi yang amat indah, bahkan terus saling mencium dan sepasang payudara Heng Thian Ceng ditempelkan pada dada Ciok Giok Yin.

Itu membuat Ciok Giok Yin merasa nyaman sekali, sehingga tanpa sadar dia menjulurkan tangannya mengusap-ngusap benda lunak itu.

Seketika Ciok Giok Yin telah lupa segala-galanya.

Dalam benaknya hanya terdapat bayangan Heng Thian Ceng.

Mungkin saking tak tahan, akhirnya Ciok Giok Yin membawa Heng Thian Ceng ke batu curam yang melengkung ke dalam itu.

Ciok Giok Yin menaruh Heng Thian Ceng ke bawah, kemudian melepaskan pakaiannya.

Namun disaat Ciok Giok Yin baru mau......

mendadak Heng Thian Ceng menarik pakaiannya dan berkata dengan suara gemetar.

"Adik, kau......"

"Kakak, aku mau."

"Adik, apakah kau sudah lupa akan tubuhmu itu?"

Ucapan Heng Thian Ceng bagaikan air dingin menyiram diri Ciok Giok Yin, membuat sekujur badan Ciok Giok Yin merinding seketika.

Dia bangkit berdiri lalu tanpa sadar mundur beberapa langkah dan wajahnya tampak kemerah-merahan.

Menyaksikan sikap Ciok Giok Yin itu Heng Thian Ceng segera mendekatinya lalu memegang tangannya seraya bertanya.

"Adik, kau berduka?"

"Kakak, aku bukan manusia. Aku bukan manusia,"

Sahut Ciok Giok Yin dengan rasa malu. Heng Thian Ceng cepat-cepat menghiburnya.

"Adik, kau jangan berkata begitu. Kau membutuhkan, Kakak pun membutuhkan, namun tubuhmu tidak seperti biasa, maka kakak tidak bisa melayanimu."

"Aku memang harus mampus!"

"Adik, cari akal kelak!"

Usai berkata, Heng Thian Ceng mengecup kening Ciok Giok Yin dengan penuh kelembutan. Itu membuat hati Ciok Giok Yin menjadi tenang.

"Adik, sungguhkah kau menyukaiku?"

Tanya Heng Thian Ceng dengan suara rendah.

"Sungguh!"

"Apakah kelak kau akan melupakanku?"

"Tentu tidak, asal Kakak jangan melupakanku."

"Bagaimana kalau ada orang berusaha menghalangi hubungan kita?"

Ciok Giok Yin tertegun.

Seketika dia teringat pada si Bongkok Arak dan Pengemis Tua Te Hang Kay.

Kedua orang itu kelihatannya tahu jelas akan identitas Heng Thian Ceng, maka melarangnya bergaul dengan Heng Thian Ceng.

Heng Thian Ceng terns menatapnya, kemudian mengusap kening Ciok Giok Yin dengan lembut.

"Ini adalah urusanku, tiada hubungannya dengan orang lain,"

Kata Ciok Giok Yin. Heng Thian Ceng menghela nafas panjang, kemudian berkata perlahan-lahan.

"Adik, mungkin mereka punya alasan tertentu. Namun kalau ada orang menghalangi demi kau aku akan bersabar. Begitu mereka pergi, kita pasti berkumpul kembali. Ciok Giok Yin menatap wajah Heng Thian Ceng yang memakai kedok kulit.

"Kakak, kau......"

"Kenapa aku?"

"Bolehkah kau melepaskan kedok kulitmu itu?"

"Di hadapanmu boleh, namun meninggalkan tempat ini harus kupakai lagi."

Usai berkata Heng Thian Ceng segera melepaskan kedok kulitnya.

Seketika mata Ciok Giok Yin berbinar-binar.

Ini kedua kalinya Ciok Giok Yin menyaksikan wajah asli Heng Thian Ceng.

Kecantikannya membuat Ciok Giok Yin rela mati demi dirinya, bahkan juga bersedia melakukan apa saja demi dirinya.

Ciok Giok Yin terus menatap Heng Thian Ceng.

Mendadak dalam benaknya muncul sesosok bayangan.

Oleh karena itu Ciok Giok Yin terus menatap Heng Thian Ceng dengan mata tak berkedip.

"Adik, cantikkah aku?"

Tanya Heng Thian Ceng lirih.

"Kakak, kau sungguh cantik!"

"Sungguhkah?"

Ciok Giok Yin mengangguk.

"Coba katakan bagaimana kecantikanku?"

"Kakak, kecantikan Kakak memang sulit dilukiskan maupun diuraikan dengan kata-kata. Aku pun teringat akan sebuah pepatah 'Kecantikan merupakan suatu santapan' kini aku telah memahami pepatah itu."

"Adik, Kakak tak menyangka kau begitu jahat."

Ciok Giok Yin tertawa, kemudian memeluk Heng Thian Ceng erat-erat seraya berbisik.

"Aku memang jahat. Aku memang jahat."

Heng Thian Ceng yang berada dalam pelukan Ciok Giok Yin, kelihatannya amat jinak sekali, bahkan juga tampak seperti kembali ke masa remajanya, menikmati cinta kasih.

Mendadak Heng Thian Ceng meronta perlahan-lahan dari pelukan Ciok Giok Yin dan berkata.

"Adik, ada satu hal ingin kutanyakan padamu."

"Bagaimana pandanganmu terhadap usia seseorang?"

"Usia?"

"Ya."

"Apa maksud Kakak?"

"Misalnya seorang wanita berusia lebih besar dari lelaki, namun mereka berdua berkumpul bersama, apakah kau akan menyalahkan mereka?"

Ciok Giok Yin pernah mendengar dari si Bongkok Arak, bahwa usia Heng Thian Ceng boleh jadi ibunya. Maka dia tahu akan maksud pertanyaan itu dan segera menyahut tanpa berpikir lagi.

"Kakak, menurut pandanganku, asal kedua belah pihak saling mencinta, tentunya usia tidak menjadi masalah."

Heng Thian Ceng manggut-manggut.

"Benar, aku mempercayaimu."

Mendadak Ciok Giok Yin teringat sesuatu dan langsung bertanya.

"Kakak, sebetulnya siapa suhu Kakak?"

Heng Thian Ceng tidak menyangka kalau Ciok Giok Yin akan mengajukan pertanyaan tersebut, maka membuatnya tertegun.

"Adik, kelak kau akan tahu."

Dia diam sejenak.

"Adik, potongan kain itu telah hilang, mari segera kita cari!"

Usai berkata, Heng Thian Ceng memakai lagi kedok kulitnya. Apa yang dikatakan Heng Thian Ceng barusan membuat Ciok Giok Yin tersentak sadar. Wajahnya langsung berubah, kemudian dia berkata sengit.

"Kakak, mari kita kejar orang itu!"

Dia menarik tangan Heng Thian Ceng, lalu melesat ke luar dari lembah itu.

Potongan kain itu harus ditemukan kembali, sebab menyangkut aal-usulnya dan jejak Seruling Perak.

Di saat sedang melesat laksana kilat, Heng Thian Ceng bertanya.

"Adik, bagaimana lwee kangmu dapat maju pesat?"

"Aku telah ke Liok Bun."

"Hah? Liok Bun?"

"Ya."

"Bagaimana kau bisa masuk?"

Ciok Giok Yin segera menuturkan tentang pertemuannya dengan Bu It Coan. Heng Thian Ceng manggut-manggut seraya berkata.

"Liok Bun di dunia persilatan boleh dikatakan cuma merupakan kabar burung saja. Tak disangka kau begitu beruntung bisa masuk ke dalam, kelihatannya asal-usulmu amat luar biasa."

Dia menatap Ciok Giok Yin.

"Adik, biar bagaimana pun kau tidak boleh melupakan Kakak!"

"Tentu tidak."

"Aku tidak ingin memilikimu, hanya berharap memperoleh sedikit cinta kasihmu, aku sudah merasa puas sekali."

Usai berkata, Heng Thian Ceng menatapnya lembut.

"Kakak, aku akan menyerahkan semua cinta kasihku padamu,"

Kata Ciok Giok Yin.

"Itu tidak bisa."

"Mengapa?"

"Sebab tubuhmu harus dilayani beberapa wanita."

Ciok Giok Yin tidak menyangka Heng Thian Ceng begitu berpengertian.

"Kakak! Kakak!"

Panggilnya dengan rasa terharu.

Di saat bersamaan, mendadak tampak tiga sosok bayangan melayang turun di tempat mereka.

Ciok Giok Yin dan Heng Thian Ceng langsung menoleh.

Ternyata tiga orang itu adalah si Bongkok Arak, Te Heng Kay dan Cou Ing Ing.

Cou Ing Ing melihat mereka saling menggenggam tangan, wajahnya langsung berubah menjadi dingin, bahkan mendengus dingin pula.

"Hmm!"

Setelah itu dia membuang muka. Sedangkan sepasang mata si Bongkok Arak menyorot tajam menatap Heng Thian Ceng.

"Khui Fang Fang, apa maksudmu terus bersamanya?"

Tanyanya dengan suara dalam.

"Karena aku suka dia,"

Sahut Heng Thian Ceng dingin. Cou Ing Ing segera menoleh.

"Lebih baik mengaca dulu!"

Katanya sinis. Heng Thian Ceng tidak marah, sebaliknya malah tertawa cekikkan.

"Tidak mengaca juga tidak akan kalah dibanding gadis yang mana pun!"

Arti perkataannya bahwa wajahnya tidak akan kalah dibandingkan dengan wajah Cou Ing Ing.

Tentunya membuat Cou Ing Ing gusar bukan main.

Badannya bergerak sedikit mau melancarkan serangan, namun mendadak si Bongkok Arak menjulurkan lengannya seraya berkata.

"Tungguh, Nona!"

Kemudian dia memandang Heng Thian Ceng.

"Khui Fang Fang! Aku suruh kau segera meninggalkannya!"

Bentaknya.

"Tetap kukatakan seperti tempo hari, tidak!"

Sahut Heng Thian Ceng ketus. Si Bongkok Arak, Te Hang Kay dan Cou Ing Ing langsung mendengus dingin.

"Hmm !"

Wajah mereka bertiga tampak bengis sekali, kelihatannya ingin menghabisi nyawa wanita itu.

"Kau sungguh?"

Bentak si Bongkok Arak lagi.

"Apakah kau berhak mengekang kebebasanku?"

"Ini bukan mengekang kebebasanmu, melainkan kau tidak boleh bersamanya!"

"Mengapa tidak?"

"Tentu ada alasannya!"

"Kau boleh katakan, aku sudah siap dengar! Kalau alasanmu itu tetap, aku segera meninggalkannya!"

"Sekarang belum bisa kukatakan."

Heng Thian Ceng tersenyum menghina.

"Kau pasti tidak dapat mengatakan alasan itu!"

"Khui Fang Fang, ini peringatan terakhir kali! Kalau kau masih berani mengatakan tidak mau meninggalkannya, aku akan segera menghabisimu!"

Usai berkata, si Bongkok Arak mulai melangkah maju.

Sedangkan Te Hang Kay juga sudah mengerahkan lwee kangnya, siap menghantam Heng Thian Ceng.

Situasi itu sungguh membuat Ciok Giok Yin serba salah.

Sebab Heng Thian Ceng adalah wanita yang disukainya, juga telah menyelamatkannya berulang kali.

Begitu pula si Bongkok Arak, entah sudah berapa kali menyelamatkannya, bahkan menyebutnya 'Siau Kun'.

Terdengar Heng Thian Ceng membentak.

"Tidak!"

Mendadak si Bongkok Arak menggeram.

"Akan kuhabisi kau!"

Orang tua bongkok itu langsung melancakan pukulan ke arah Heng Thian Ceng.

Ciok Giok Yin tahu jelas bagaimana kepandaian si Bongkok Arak.

Kalau pun ditambah satu Heng Thian Ceng lagi, tetap bukan lawannya.

Oleh karena itu dia terpaksa melesat ke tengah-tengah seraya berseru.

"Berhenti!"

Si Bongkok Arak khawatir akan mencelakai Siau Kunnya, maka segera menarik kembali serangannya seraya berkata.

"Siau Kun, sungguhkah kau menyukainya?"

Saat ini Ciok Giok Yin memang sedang dalam keadaan gusar, maka begitu ditanya langsung menjawab tanpa berpikir lagi.

"Tidak salah, aku memang menyukainya!"

Heng Thian Ceng tertawa cekikikan lalu berkata.

"Adik, sementara ini kita berpisah dulu. Sampai jumpa!"

Tampak bayangan merah berkelebat dalam sekejap sudah tidak kelihatan bayangannya.

Di saat bersamaan wajah Cou Ing Ing sudah berubah menjadi kehijau-hijauan saking gusarnya.

Dia mendengus dingin 'Hmm' lalu melesat pergi.

Kedua wanita itu pergi di saat hampir bersamaan.

Yang satu pergi dengan penuh kegembiraan menunggu di depan sana.

Sedangkan yang satu lagi justru pergi dengan membawa rasa duka.

Kaum wanita memang peka dalam hal cinta.

Heng Thian Ceng mencintai Ciok Giok Yin, begitu pula Cou Ing Ing.

Lagi pula Cou Ing Ing adalah teman sejak kecil.

Walau ayahnya mati bunuh diri terdesak oleh Ciok Giok Yin, namun Cou Ing Ing telah melancaran tiga pukulan terhadap Ciok Giok Yin, maka dendam kebenciannya telah sirna, yang tinggal adalah cinta kasih.

Kini gadis itu telah pergi dengan membawa kegusaran dan kekecewaan.

Seketika si Bongkok Arak menghela nafas panjang, lalu berkata perlahan-lahan.

"Siau Kun, biar bagaimana pun kau tidak boleh bersamanya."

"Dia merupakan segumpal api, tidak dapat disentuh. Kelak akan menjadi penyesalan,"

Sambung Te Heng Kay. Sekonyong-konyong si Bongkok Arak memberi isyarat pada Te Hang Kay, kemudian menepuk keningnya sendiri seraya berkata.

"Siau Kun, aku akan rnenutur sebuah cerita singkat."

Ciok Giok Yin tertegun.

"Sebuah cerita?"

"Ya."

"Silakan!"

Kemudian Ciok Giok Yin menatap si Bongkok Arak.

"Apakah ada hubungannya dengan Heng Thian Ceng?"

"Urusan lain."

"Urusan apa?"

Si Bongkok Arak berdehem, kemudian mulai menutur.

"Dua ratus tahun yang lampau, dunia persilatan amat tenang dan damai, tiada badai apa pun melanda. Setiap pintu perguruan memperdalam ilmu silat perguruan masing-masing, agar dapat mengangkat nama di dunia persilatan. Pada waktu itu muncul seseorang yang menyebut dirinya Thian Huang It Siu (Orang Dari Langit). Dia bertanding dengan semua perguruan, akhirnya diakui sebagai Jago Nomor Wahid Di Kolong Langit......"

Si Bongkok Arak berhenti ketika menutur sampai di situ.

"Setelah itu, bagaimana dia?"

Tanya Ciok Giok Yin.

"Walau Thian Huang It Sui telah diakui sebagai jago nomor wahid di kolong langit, namun belum merasa puas, karena masih ada satu orang belum bertanding dengannya......"

"Siapa orang itu?"

"Tatmo Cousu, pendiri partai Siauw Lim Pay."

"Mereka berdua bertanding?"

"Bertanding."

"Bagaimana akhirnya?"

"Mereka berdua bertanding di puncak Sin Li Hong Gunung Mud San selama tujuh hari tujuh malam, akhirnya seri dan saling mengagumi. Sudah barang tentu mereka berdua menjadi kawan baik. Setelah itu mereka berdua menulis sebuah kitab yang dinamai Thay Ek Khie Su, tercantum ilmu silat kedua orang itu."

"Siapa yang memperoleh kitab itu?"

"Siapapun tidak akan percaya. Berdasarkan kepandaian kedua orang itu, justru kitab itu masih di curi orang secara diamdiam."

"Dicuri orang?"

"Ya."

"Kalau begitu kepandaian orang itu pasti di atas kedua orang tersebut?"

"Nyatanya tidak begitu."

"Maksud lo cianpwee?"

"Konon kitab itu dicuri oleh seorang Pencuri Sakti, namun kemudian diketahui kaum rimba persilatan, sehingga Pencuri Sakti itu dikepung. Saking gugup dan panik, dia langsung terjun ke dalam sebuah telaga. Sejak itulah tiada kabar beritanya lagi."

"Apakah setelah itu tiada seorang pun yang tahu?"

"Ada."

"Siapa?"

"Kiu Sia Cih Cun. Dia yang memperoleh kitab tersebut. Diamdiam dia berhasil menguasai semua ilmu silat yang tercantum di dalam kitab itu, kemudian mendirikan sebuah Sin Kiong (Istana Dewa)......"

"Sin Kiong?"

Seru Ciok Giok Yin tak tertahan.

"Ya.

"Di mana Sin Kiong itu?"

Si Bongkok Arak tampak tertegun, kemudian balik bertanya.

"Sian Kun pernah mendengar tentang Sin Kiong?"

"Tidak salah."

"Dengar dari mana?"

Ciok Giok Yin teringat akan janji pada orang yang memberitahukannya, tidak boleh membocorkannya. Maka dia menyahut.

"Aku telah berjanji pada orang itu, tidak boleh membocorkannya."

"Orang itu bilang apa padamu?"

"Dia cuma bilang Sin Kiong Te Kun Bu Tek Thay Cu-Siangkoan Hua, berkepandaian amat luar biasa, tiada seorang pun yang dapat menandinginya."

Si Bongkok Arak manggut-manggut.

"Itu memang tidak salah. Orang itu bilang apa lagi?"

Ciok Giok Yin menggelengkan kepala.

"Tidak bilang apa-apa lagi."

Si Bongkok Arak minum beberapa teguk araknya, lalu melanjutkan penuturannya.

"Kiu Sia Cih Cun entah ke mana, kedudukan sebagai majikan Sin Kiong jatuh ke tangan Siangkoan Hua. Selama itu Sin Kiong dalam rimba persilatan tidak mengganggu orang lain juga tidak mau diganggu. Akan tetapi tak disangka Siangkoan Hua dan istrinya yang hidup tenang di dalam Istana Dewa mendadak mati terbunuh, bahkan anak mereka yang berusia dua tahun juga hilang tanpa meninggalkan jejak."

"Dicelakai penjahat?"

Tanya Ciok Giok Yin "Tidak salah."

"Siapa penjahat itu?"

"Chiu Tiong Thau."

"Chiu Tiong Thau?"

Seketika sepasang mata Ciok Giok Yin berapi-api, bahkan dia berkertak gigi.

Ternyata dia teringat akan suhunya yang hidup menderita di Lembah Ular Beracun selama belasan tahun, juga karena perbuatan Chiu Tiong Thau, murid murtad suhunya.

Selama ini dia terus mencari orang tersebut, namun sama sekali tidak berhasil menemukan jejaknya.

"Memang penjahat itu,"

Sahut si Bongkok Arak. Kini wajah Ciok Giok Yin telah diliputi hawa membunuh.

"Bagaimana Chiu Tiong Thau bisa berada di dalam Istana Dewa?"

Tanyanya.

"Dia bergabung dengan Istana Dewa, tujuannya adalah menyelidiki kitab Thay Ek Khie Su. Namun kitab tersebut disimpan oleh Sun Ciangbun Te Kun, maka istri Te Kun pun tidak tahu......"

Si Bongkok Arak meneguk kembali araknya. Kemudian melanjutkan penuturannya.

"Tapi Chiu Tiong Thau memang pandai mengambil hati Te Kun, sehingga Te Kun bersedia mengajarnya beberapa macam ilmu silat tinggi. Dia memang jahat sekali. Secara diam-diam dia meracuni Te Kun dan istrinya."

"Apakah anak Te Kun itu juga dicelakai Chiu Tong Thau?"

"Tidak."

"Tidak?"

"Karena Te Kun dan istrinya sedang menyelami inti ilmu silat kitab Thay Ek Khie Su, maka anak mereka dititipkan pada Hai Thian Tayhiap suami istri......"

"Bukankah Hai Thian Tayhiap tidak bisa punya anak?"

"Benar. Karena ketika sedang berlatih, tanpa sengaja Hai Thian Tayhiap melukai bagian bawah tubuhnya, maka tidak bisa punya anak. Sebab itu mereka suami istri memperlakukan anak Te Kun bagaikan anak Te Kun bagaikan anak sendiri......"

"Berada di mana orang tersebut?"

Si Bongkok Arak dan Te Hang Kay sama-sama memandangnya sejenak, setelah itu si Bongkok Arak menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata.

"Tidak begitu jelas."

"Setelah Chiu Tiong Thau meracuni Te Kun dan istrinya, bukankah dia boleh mengangkat dirinya sebagai Te Kun mengurusi Istana Dewa?"

Mendadak wajah si Bongkok Arak berubah menjadi penuh emosi.

"Dia tidak berbuat begitu. Tapi entah dari mana dia mengundang begitu banyak kaum golongan hitam. Dalam waktu satu malam para anggota Istana Dewa dibantai habis. Namun ada beberapa diantara mereka berhasil meloloskan diri. Dia lalu menyalakan api membakar musnah Sin Kiong itu!"

Ciok Giok Yin berkertak gigi.

"Kalau aku tidak membunuh penjahat itu, aku bersumpah tidak mau jadi orang!"

Si Bongkok Arak melanjutkan penuturannya.

"Kejadian itu justru diketahui oleh Sang Ting It Koay. Tapi tak disangka Chiu Tiong Thau tidak memperdulikan suhunya itu. Bahkan dia menghasut para pendekar mengeroyoknya, hingga terluka parah di puncak Gunung Muh San. Bahkan dia pun mencelakai Hai Thian Tayhiap suami istri."

Mendengar itu Ciok Giok Yin menengadahkan kepalanya sambil berseru lantang.

"Suhu harus memberi petunjuk pada murid, agar murid berhasil mencari Chiu Tiong Thau dan membasminya!"

Kemudian dia menatap si Bongkok Arak dan Te Hang Kay.

"Apakah lo cianpwee berdua pernah mendengar penjahat itu ada di mana?"

Si Bongkok Arak menggelengkan kepala.

"Tiada jejaknya."

Mendadak pengemis Tua Te Hang Kay menyela.

"Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie Goan mati di puncak Gunung Muh San, tapi......."

Dia tidak melanjutkan ucapannya, lalu melirik si Bongkok Arak sejenak. Ciok Giok Yin tidak memperhatikannya, maka segera bertanya.

"Bagaimana?"

"Nyonya Ciok tidak mati."

"Tidak mati?"

"Ya."

"Dia berada di mana sekarang?"

"Ini juga merupakan suatu teka-teki. Sebab selama belasan tahun ini, dia sama sekali tidak pernah muncul."

"Bagaimana lo cianpwee tahu dia tidak mati?"

"Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri ketika dia jatuh ke dalam jurang. Aku segera turun ke bawah jurang, namun tidak menemukan mayatnya, pertanda dia tidak mati."

Ciok Giok Yin tidak paham akan satu hal, maka segera bertanya.

"Ada hubungan apa Chiu Tiong Thau dengan Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie Goan? Mengapa Chiu Tiong Thau mencelakainya?"

Te Hang Kay menyahut.

"Nyonya Ciok Khie Goan adalah pendekar wanita yang amat cantik, julukannya adalah Cah Hoa Siancu, bernama Cen Soat Ngo. Sebelum Chiu Tiong Thau bergabung dengan Istana Dewa, dia sudah jatuh hati pada Cen Soat Ngo, namun tahu kepandaiannya masih rendah, maka tidak berani berbuat apaapa. Setelah belajar dari Sang Ting It Koay, dan kemudian ditambah beberapa macam ilmu silat dari Istana Dewa, barulah dia turun tangan."

Ciok Giok Yin menghela nafas panjang.

"Apabila tidak menemukan anak itu, maka kelak tidak dapat menyerahkan Seruling Perak dan kitab Cu Cian Padanya."

"Siau Kun sendiri harus berhasil menguasai ilmu silat tinggi. Mengenai anak itu akan dibicarakan kelak."

"Tapi aku tidak berhak memiliki barang pusaka itu."

"Kau tidak perlu memperdulikan itu."

"Aku harus tahu diri."

"Sian Kun harus belajar, kaum rimba persilatan tidak berani bilang apa-apa terhadap Siau Kun."

Baca Juga: Keajaiban Negeri Es 3

Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 17

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert