Ceritasilat Novel Online

Iblis Sungai Telaga 17

Eps 17 Iblis Sungai Telaga - Khu Lung

Baca online Iblis Sungai Telaga - Khu Lung

Cersil Iblis Sungai Telaga - Khu Lung.

"Aku yang rendah cuma dapat menerima sebagian saja"

Sahutnya.

Mendengar demikian, Toa Biauw girang, hingga lupa ia pada mendongkolnya barusan, semua itu tidak lain, ialah sebabnya sebenarnya ia sangat tertarik pada pemuda itu, yang diam-diam ia gilai sendiri.

"Saudara It Hiong yang mana kau pilih ?"tanyanya.

"Makan Sin-tan!"

Sahut It Hiong tegas. Toa Biauw tertawa, dia nampak sangat girang.

"Jadinya saudara Tio lebih menghargai paras daripada jiwa!"

Katanya "Benar, bukan"

Pemuda itu tak sudi melayani orang bicara.

"Dengan memandang muka gurumu, maka aku mau makan obat itu."

Katanya.

"dengan jalan ini, hendak aku menghargai aturan gurumu, sekarang sudah tak siang lagi. kami mau lekas-lekas melakukan perjalanan kami, aku minta lekas kau keluarkan obatmu itu!"

Toa Biauw berhenti tertawa.

"Jadi budak itu akan pergi bersamamu turun gunung bukan?"

Dia masih bertanya, It Hiong mengangguk.

"Ya"

Jawabnya.

"Aku yang rendah hendak mentaati janjiku buat mengantarkan dia pulang kerumahnya supaya dia dan keluarganya hiudup berkumpul rukun dan damai!"

"Melindungi murid orang yang murtad, itu berarti melanggar pantangan besar kaum rimba persilatan kata Toa Biauw.

"Itulah pelanggaran yang tak terampunkan! saudara Tio, pernahkah kau memikirkan itu?"

"Kira-kira bicara, nona"

Kata It Hiong .

"Tak sanggup aku menerima kata-katamu ini! bukankah hal yang benar ialah nona ini pada mulanya diculik oleh Tok Mo si manusia beracun, yang kemudian dia obati dan membuatnya menjadi boneka perkakasnya? disini tidak ada soal perguruan, karenanya. mana ada soal murid mendasarkan? aku sebaliknya, aku lagi menjalankan keadilan dalam dunia kang ouw, aku hendak menolong seorang sampai pada akhirnya!. kalau seorang laki-laki sejati bekerja, mana dia jeri terhadap kesukaran atau bencana? memang sulit menghindarkannya kalau aku langgar janjiku, bukan cuma terhadap sahabat terutama aku mendatangkan malu besar pada guruku"

Sampai disitu Ek Jie Biauw, yang sejak tadi berdiam saja bersama lain saudaranya, lantas bercampur bicara, dia memang pandai bicara.

katanya dia "kalau seorang laki-laki menggilai seorang wanita, dia suka menggunakan alasan keadilan dan perikemanusiaan sebagai senjatanya, guna menutupi kejahatannya itu, dia biasa mangoceh balelo, hingga dia mau menipu orang tetapi jadi menipu dirinya sendiri.

Dia kata ada Tok Mo disini, di Hek Sek San!

siapakah yang dapat membuktikan itu?

disini bukan tempatnya Tok Mo"

Tok Mo ialah bajingan racun.

"Kenyataan adalah bukti lebih menang dari penyangkalan"

Kata It Hiong.

"Dan pendengarannya kalah dengan penglihatannya! dengan mataku sendiri aku pernah melihat Tok Mo muncul disini"

"Bagaimana macamnya Tok Mo yang kau lihat itu!"

Tanya Cie Biauw "Coba kau jelaskan buat kami mendengar!"

"Dialah seorang tua yang mukanya keriputan, yang berdandan sebagai pelajar,"

It Hiong memberi keterangan "Dia sangat gemar menggunakan racunnya!

didalam gua digunung ini, dia telah membangun Barisan rahasianya yang dia beri nama Ngo Tok Tin dan pembantunya ialah sepasang pria dan wanita muda, yang pria bersenjatakan sepasang tongkat, dan yang wanita kaitannya Bwe-hoa taot cukup dia itu buka Tok Mo atau bukan"

Mendengar itu, ketujuh nona tertawa ramai, lalu Ek Cit Biauw kata nyaring.

"Pintar belingar! kiranya kalian kembali dipermainkan Couw Kong......"

"Tahan "

Ek Toa Biauw menyela saudaranya. Cit Biauw berhenti mendadak, tak dapat dia meneruskan.........put lo"

Tanpa terasa It Hiong melengak, ia lantas menerka, tentu ada rahasia apa-apa maka juga Cit Biauw dicegah bicara terus. Tanpa disebutnya nama "Couw Kong"

Membikin ia ingat pada Couw Kong Put Lo dari Ceng Lo Ciang. yang memiliki tentang So Lie Keng, kitab tentang wanita, maka ia berkata dalam hatinya"

Pantas pelajar tua itu yang bermuka keriputan itu berulang kali bertemu dengan diriku tetapi dia tidak sudi memperlihatkan dirinya, kiranya dia takut rahasianya terbuka........."

Karena itu ia menerka pasti Im Ciu It Mo telah mengurung dan mengekang banyak jago kang-ouw tua didalam gunung Hek Sek San ini dan mereka itu semua telah dipakai sebagai boneka atau perkakas......

Darahnya It-Hiong bergelok.

tahulah ia sekarang siapa si manusia jahat, yang hendak merebut kemenangan dalam pertemuan Bulim Ciu Cun nanti, dan pengaruh obatnya, membikin orang-orang kosen menjadi perkakasnya.

Lantas pemuda kita menyabarkan diri.

ia kembali pada persoalan mereka.

katanya.

"Telah aku beritahukan hal Ihwalnya adik berbaju hijau itu dengan sebenarnya dia bukan murid murtad! dalam halnya dia, aku si orang she Tio, aku berani menjaminnya dengan jiwaku! maka itu aku minta guru kalian suka memberi muka padaku supaya dia dilepaskan dan dibiarkan turun gunung"

Ketujuh nona itu tertawa, tidak ada yang menjawab, semua cuma nmenatap tajam anakmuda itu mata mereka juga dibuat main.

Nyata sekali kebencian mereka itu, Rupanya mereka tetap menyangka ada apa-apa diantara pemuda itu serta si nona berbaju hijau.

Panas hatinya It-Hiong.

"Kalian dengar atau tidak apa yang aku katakan?"

Tanyanya keras. Ek Toa berhenti tertawa.

"Kami cuma percaya separuh"

Sahutnya.

"Sebenarnya masih ada soalmu, soal asmara yang manis."

Kata-kata itu dihentikan secara tiba-tiba.

Dalam panasnya hati, It Hiong katakan ."Walaupun ada sesuatu diantara aku dan nona berbaju hijau, kalian tak perlu campur tahu?

bukankah kamu semua nona-nona remaja?

kenapa kalian begini tidak tahu malu?"

Toa Biauw merasa pipinya panas.

"Ciss"

Serunya.

"Jangan kau menyangkal tentang perbuatanmu dengan nona itu memang tidak ada hubungannya dengan kami tetapi di sana ada wanita yang iri hati dan jelas yang akan mengurusnya? dialah yang akan membuat perhitungan denganmu! hati-hati kau dengan dengkulmu!......."

Habis berkata , kembali si nona tertawa, guna menggoda si anak muda. Kiauw In tidak puas menyaksikan tingkahnya nona-nona itu, akhirnya dia maju ke depan dan berkata keras.

"Sudah cukup kalian bicara? kalian masih ada urusan, aku yang bertanggung jawab. Aku Cio Kiauw In! Jika kalian sudah tidak punya urusan lagi, hendak kami berangkat pergi! sampai jumpa!"

Segera ia menutup mulutnya, nona Cio menghunus pedangnya, terus ia membuka jalan buat berlalu dari situ.

Si orang utan yang cerdik, yang menggendong Ya Bie, lantas lompat akan menyusul, akan berjalan di belakang nona Cio itu.

karenanya, si nona berbaju hijau turut menyusul juga.

Cit Biauw Yauw pun segera bergerak.

dengan memutar sabuk mereka, mereka lantas melompat maju untuk mengatur diri, buat merintangi.

Sedangkan Ek Toa Biauw lantas berkata pula.

"Saudara Tio, tadi kau telah berjanji akan makan sin-tan, bagaimana dengan janjimu itu? janji itu masih berlaku atau tidak?"

It Hiong di belakang nona berbaju hijau itu berkata pula.

"Bagaimana bendanya kalau obat sin-tan gurumu itu dibandingkan dengan Wan Te Jie?"

Tanyanya. Ketujuh nona itu bingung, tak tahu mereka itu apa itu "Wan Te Jie,"

Yang dapat diartikan "main main"

Adakah itu mainmain diantara pria dan wanita, tegasnya bercumbu-cumbuan?

mereka belum tahu bahwa yang dimaksud ialah obat mujizat anti racun dari Pak-yam Siansu dari biara Bie Lek Sie.

Toa Biauw mengawasi si anak muda, matanya berlinang air mata, kata dia "Obat guruku itu berkhasiat dapat membetot arwah dan merusak tulang-tulang serta membikin dunia berputar, setelah makan nanti barulah kau mengerti.!"

It Hiong tidak menjawab. kata-kata nona itu seperti mengandung dua maksud .

"Benar-benar dan menyindir."

Melihat sikap orang, Cie Biauw turut bicara. ia tertawa dan berkata .

"Bagaimana saudara Tio? bukankah kau telah memberikan janjimu pada kakakku? apakah kau takut nanti arwahmu terbetot dan tulang-tulangmu hancur remuk?"

Cit Biauw juga tertawa geli.

"Kau benar kakak kedua!"

Kata dia.

"Kalau seorang pria telah memberikan janjinya tetapi dia sangkal itu. itulah tak dapat ! tak dapat tidak, dia mesti makan obat dari kakak kita!"

It Hiong sementara itu, dengan pedang ditangannya, mengawasi formasi Cin atau Barisan nona-nona itu, kemudian ia berkata.

"Bagaimana kalau aku makan itu, habis kalian minggir? apakah dengan begitu lantas sudah saja"

"Ciss"

Cit Biauw meludah.

"Berapa lihainya ilmu kepandaianmu?"

"Kalian lihat saja!"kata It Hiong keras. Demikian nona-nona itu mengganggu si anak muda. Ketika itu Kiauw In sudah maju sampai diantara Sam Biauw dan Su Biauw, tanpa mengatakan sesuatu, ia menyerang mereka itu dengan suatu jurus dari Khie Bun Pay Kwa Kiam yang di teruskan, kedua nona itu berlompat mundur, mereka tidak menangkis , dengan begitu mereka membiarkan nona Cio lewat dan disusul So Hua Ciante yang menggendong Ya Bie, selekasnya si nona berbaju hijau mau turut lewat , lantas keduanya bergerak pula mengambil kembali kedudukan mereka seperti tadi guna menghadang nona itu. Si nona berbaju hijau loloskan ikat pinggangnya. Dengan itu ia lantas menyerang kedua orang yang merintanginya. Melihat nona itu berani membuka jalan, Sam Biauw dan Su Biauw menarik sabuk mereka, sebaliknya mereka bersama menolakkan tangan kirinya, menyerang dengan satu jurus dari Tauwlo-ciang. Dasar ilmu silatnya masih sangat rendah, si nona berbaju hijau repot mengelakkan diri. setelah mana bergeraklah tin lawan dan kedudukan Yauw Lie segera mengurung padanya. tapi walaupun kepandaiannya masih sangat terbatas. nyalinya si nona besar sekali, ia menjadi nekat lantas ia menyerang dahsyat ke kiri dan ke kanan, ke depan dan ke belakang. kepada sekalian pengurungnya itu! itulah jurus silat "Loan Sek Ta Tiok Lim,"

Dengan satu kali menimpuk kalang kabutan dalam rimba bambu-.

Jadi ia menyerang siapa saja diantara ketujuh Yauw Lie itu!

Satu kali Cie Biauw adalah yang menerima giliran diserang si nona baju hijau.

dia menggunakan senjatanya menangkis dengan sampokkan keatas, apa mau, ujung ikat pinggang meluncur kekepalanya.

justru itu si baju hijau menarik senjatanya itu, yang ia khawatir nanti kena terlibat sabuk lawan, dan kebetulan sekali, seutas rambutnya nona Ek kena tarik hingga dia kenekatan dan menjadi gusar sekali karenanya.

dalam sengitnya, dia membalas menyerang kemuka orang, jurusnya ialah "Tok Coa Touw Sin,"

Ular beracun muntahkan racun Kembali si nona berbaju hijau menjadi repot.

serangan itu sangat berbahaya, untuk menyelamatkan diri.

ia melompat berjumplitan mundur dengan jurus silat "ikan gabus meletik"

Justru nona kita menginjak tanah, justru Ek Toa Biauw tibatiba ke belakang karena ketujuh nona main berputaran.

dengan cepat nona Ek meluncurkan tangannya, menolok lawannya itu pada jalan darah sin tong.

Si nona baju hijau tidak berdaya lagi, maka habis menjerit, robohlah dia.

Cit Biauw berlaku cepat melihat lawan roboh, ia lantas melompat kesana, guna di pondong untuk dibawa pergi Ketika itu It Hiong terpisah dari si nona baju hijau kira-kira tiga tombak, ia ketinggalan karena ia mesti melayani Toa Biauw dan lainnya berbicara.

ia terkejut mendengarakan jeritan kawannya itu dan lalu melihat tubuh si kawan roboh, sedangkan Cit Biauw hendak menangkap lawannya yang sudah tak berdaya itu, tidak ayal barang sedetik saja juga ia melompat menghampiri kawan itu, dalam hal ini.

ilmu Tangga Mega membantu banyak padanya, ia sampai sebelumnya Cit Biauw sempat meraba tubuh orang, maka mudah saja ia menyambar si nona baju hijau, terpisahnya mereka berdua hanya dua kaki.

Dengan tangannya kirinya, It Hiong memondong nona yang ia tolongi itu, justru itu, tubuhnya kena ditabrak tubuhnya Cit Biauw sebab nona Ek, yang pun menyambar, tak keburu berkelit lagi, Hingga tiga buah tubuh bagaikan menjadi satu!

hingga mereka bukan seperti lagi saling berebutan hanya mirip tengah rangkul-merangkul!

Mukanya Cit Biauw menjadi merah, biar bagaimana, dia jengah.

sambil lekas-lekas memisahkan diri, dia memperdengarkan suara penasarannya.

"Cis,! Kau mau menjadi si pelindung Bunga, ya? siapa kesudian melayani kau?........."

Justru It Hiong pun jengah maka Yauw Lie lainnya sudah merangsak pula.

empat nona lantas mengurung anak muda kita, karena tiga yang lainnya lari pergi, mungkin mereka hendak menyusul Ya Bie dan Kiauw In.

Selama itu Kiauw In bersama si orang utan sudah lari jauh tigah puluh tombak kapan ia menoleh dan tidak melihat si nona baju hijau masih sangat lemah ilmu silatnya, sebaliknya Barisan Cit Biauw tin sangat lihai.

terpaksa ia memberi isyarat akan si orang utan menantikan, ia sendiri lantas lari balik, maka itu, tepat sekali, ia berpapasan dengan ketiga Yauw Lie lagi terus mengepung padanya!.

Siasatnya Ek Toa Biauw benar sekali, dengan begitu, rombongannya dapat merintangi lawan kabur, hanya ia tak ingat tentang kepandaian silat mereka sendiri.

bertujuh mereka tidak sanggup melawan Kiauw In, apapula sekarang si nona dikurung melainkan tiga orang, juga hati si nona sedikit lega sebab ia tahu, kalau It Hiong pun berada terkepung cuma harus melawan empat orang lawan bukankah bersama It Hiong pun berada si nona baju hijau?

cuma ia tidak tahu nona baju hijau itu justru mengurangi kebebasanya si anak mudah sebab dia pingsan dan mesti dipondong bagaimana kalau Im Cit It Mo sempat mengirim bala bantuan kepada Cit Biauw Yauw Lie.

It Hong sebaliknya berlega hati melihat Kiauw In kembali, itu tandanya, meski si nona belum lolos dia tapi tidak kurang suatu apa dan senang ketika melihat musuh memecah Barisan.

hingga tenaga mereka itu pasti berkurang sendirinya.

Ke empat Yauw Lie mengurung, mereka tidak lantas menyerang, inilah saat yang menguntungkan bagi anak muda kita.

"Lekas-lekas ia membebaskan totokan si nona baju hijau, membuatnya siuman, walaupun dia lemah ada baiknya nona itu sadar, dan dengan cepat sadar, dia tak usah terancam bahaya akibat totokan lawan. terlalu lama pingsan dapat menyebabkan kesehatannya terganggu. dengan segera si nona berbaju hijau membuka kedua matanya. It Hiong segera menyuruh si nona berdiri seraya ia menanya."Kau tidak kurang suatu apa, bukan?"

Nona itu mengawasi si anak muda, ia menggelengkan kepala.

Disaat itu Kiauw In mulai diserang tiga orang lawannya, hingga ia membuat perlawanan, hingga mereka berempat jadi bertempur pula.

Maka berkilauanlah pedangnya, diantara berkibarannya ketiga helai sabuk sekalian lawannya itu.

Kali ini ketiga lawan itu menjadi bingung sendirinya, tak dapat mereka merobohkan si nona sebaliknya, tak mudah buat mereka sendiri mundur teratur....

It Hiong itu secara diam-diam memperhatikan keadaan sekitaranya, hingga ia merasa sudah tibalah saatnya buat mengangkat kaki, lalu ia berkata dengan sabar kepada ke empat orang nona yang mengurungnya.

"Nona-nona, aku yang rendah hendak pergi turun gunung, oleh karena itu aku minta sudi apakah kalian memberi muka padaku!"

Berkata begitu, tanpa menanti jawaban sebagaimana seharusnya.

karena dia mengajukan pertanyaan.

anak muda kita terus saja menuntun tangannya si nona berbaju hijau guna diajak pergi.

Ek Toa Biauw tertawa.

"Saudara Tio, tegakah kau meninggalkan nona Cio sendirian?"

Tanyanya. Ditanya begitu It Hiong juga dapat ingat sesuatu, ia tersenyum dan berkata.

"Sang malam bakal lekas tiba dan jalanan berbatu disini pun sangat licin. oleh karena itu aku tidak memikirkan akan bertempur dengan kalian! bagaimana kalau kita bertaruh?"

Toa Biauw heran, alisnya bangkit. ia lantas berpikir.

"Coba kau terangkan dahulu, taruhanmu itu taruhan apa?"

Tanyanya kemudian.

"Bagaimana kalau nona Ek sendiri yang mulai?"

It Hiong tanya ramah.

"Bukankah barusan kau mengatakan yang kau tidak suka bertempur?"

Nona itu bertanya.

"Apakah kau bukannya maksudkan supaya kita berkelahi cara bun, tanpa menggunakan senjata, hanya dengan cara lunak"

It Hiong lantas menjawab.

"Nona menjadi seperti nyonya rumah dan aku tamu karena aku bersedia bertaruh secarah bun ataupun Bu putusannya terserah pada kau sendiri nona!"

Ek Toa Biauw melirik tajam pemuda di depannya itu, lantas ia tertawa manis, gerak-geriknya menggiurkan.

ia merogoh kedalam sakunya, ketika tangannya ditarik keluar, semua jarinya dikepal, seperti menyembunyikan sesuatu dalam kepalannya itu.

setelah itu, lantas ia berkata.

"Coba kau terka, didalam genggamanku ada barang apa? jika kau menebak jitu, barang ini aku berikan padamu dan akan aku biarkan kalian turun gunung"

It Hiong berpura-pura kurang mengerti.

"Jika aku gagal, dan menerkanya tidak tepat, bagaimana ?"

Tanyanya berlagak pilon. tak ada perlunya untuk ia menanya menegaskan. Ek Toa Biauw tertawa geli.

"Jika kau menerka salah, masih juga kami memberi ijin buat kau pergi turun gunung!"

Katanya "Asal kan tinggalkan budak berbaju hijau itu"

It Hiong tertawa.

"Tadi nona menginginkan aku melakukan dua hal"

Katanya.

"Ialah aku makan obat Sin-tan atau aku menyerahkan nona berbaju hijau ini! Bukankah ini sama saja dengan kehendakmu sekarang ini? kalau begitu, buat apa kita bertaruh!...."

Toa Biauw mementang matanya lebar menatap si anak muda, terus sinar matanya memainkan, separuh tertawa separuh gusar. ia berkata.

"Inilah kehendak pihak si nyonya rumah, yang mengajukan syarat! kenapa pihak tamu yang menyarankan akan bertaruh, sekarang menampik?"

"Tetapi nona"

Sahut It Hiong.

"Aku bersedia memakan sintan, namun si nona aku menghendaki supaya dibiarkan turut aku turun gunung"

Berkata begiru, si anak muda maju, tangannya diangsurkan, guna menyambuti obat.

Nona Ek membuka genggamannya.

maka terciumlah bau harum, sedang diatas telapak tanganya tangan itu tampak sebiji Lok Ho Hoa seng, kacang tanah.

yang disebut 'siang sutauw' kacang rindu.

maka itu teranglah maksudnya nona bahwa ia mengutarakan rindu hatinya terhadap pemuda itu?

It Hiong menyambut kacang itu, tanpa ragu, ia masuki itu kedalam mulutnya, tanpa gigit lagi.

ia menelannya, habis mana ia berkata.

"Aku yang rendah mentaati janjiku, maka dimana sekalipun Sin-tan. obat beracun buatan gurumu. aku berani makan dengan mempertaruhkan nyawaku!"

Berkata begitu, anak muda kita menatap tajam nona di depannya itu.

sikapnya itu menunjukkan halnya ia tidak mempedulikan kacang tanah itu kacang tanah tulen atau sintan, obat dari Ciu It Mo Ek Toa Biauw juga mengawasi si anak muda.

Maka sinar mata mereka seperti bertemu.

maka juga mukanya menjadi merah karena dia likat sendiri.

biar bagaimanapun diapun sangat tertarik pemuda tampan dan gagah itu.

itulah sebabnya kenapa dia mainkan perasaannya ini!

Sebenarnya itulah racunnya si nona sendiri ketika dia mengajukan syarat agar It Hiong makan sin-tan serta menyerahkan si nona baju hijau, ia cuma mau mempermainkan si anak muda.

dari pihak gurunya tidak ada titah demikian.

bahkan Sin-tan, obat mujarab gurunya, juga tidak ada gurunya tidak menyerahkan kepadanya.

It Hiong tidak ketahui rahasia hati orang ia menduga benarbenar Im Ciu It Mo yang tak mengijinkan ia beramai turun gunung hingga si bajingan mengajukan syarat seperti itu.

sengaja ia makan Sin-tan, atau lebih benar kacang tanah itu, sebab ia tidak takut racun apa juga.

bahkan dengan itu, ia jadi memegang kepercayaannya.

maka itu melengaklah si nona, yang menemui batunya.

It Hiong memandang terus sehingga melihat sinar mata si nona, yang juga terus memandanginya, itulah sinar mata cinta.

"Bagaimana nona?"

Ia menegur.

"Kenapa kau berdiam saja ? apakah kau hendak mencari alasan lain buat menyangkal taruhan kita ini?"

"Cisss"

Berludah si nona, yang ia lantas berhenti memandang orang.

"Siapa yang menyangkal, aku atau bukan, kau sendirilah yang ketahui! tapi kau benar cerdas, kau menyangkal secara menarik hati ! baiklah kali ini aku memberi ampun padamu?"

Lega juga It Hiong mendengar suara itu.

"Terima kasih nona"

Katanya seraya terus menarik tangannya si nona baju hijau buat diajak berjalan ke arah ke empat nona-nona she Ek itu.

Mendadak Ek Toa Biauw menggerakkan senjatanya yang istimewa itu, maka bergeraklah ketiga saudaranya serentak hingga mereka menjadi berdiri menghadang.

diapun berseru dengan perintahnya.

"Berhenti"

It Hiong bertindak dengan segera ia berdiri tiga langkah di depannya nona-nona itu. ia mengawasi mereka saling heran.

"Kau telah bertaruh, nona apakah masih kau tidak puas?"

Tanyanya. Toa Biauw tertawa dingin.

"Dalam urusan taruhan kita, siapakah yang kalah?"

Diapun balik bertanya.

"Dan bagaimana caranya kalah?"

It Hiong menjawab sabar.

"Taruh kata kita tidak kalah dan tidak menang, nona tidaklah selayaknya kau mengganggu aku begini rupa kau lihat di sana"

Dan ia menunjuk ke arah Kiauw In. yang lagi dirintangi ketiga nona Ek lainnya. Toa Ek Biauw tertawa.

"Habis bagaimana?"

Tanyanya.

Mendengar begitu, ketiga orang lainnya tertawa nyaring.

It Hiong mendongkol saking serba salah sebab terhadap nona -nona itu ia tidak berniat berlaku keras.

Kemudian ia membangkkitkan alisnya terus ia pun tertawa dan katanya "Baiklah, hendak aku menyaingi cara kalian ini marilah kita main menahan sabar sampai sebentar terang tanah!

hendak aku lihat!"

Begitu habis ia berkata itu, begitu mendadak It Hiong menyambar pinggangnya si nona berbaju hijau, terus kakinya menjejak tanah, guna melompat mengapungi diri.

itulah jurus silat "Peng Te Seng Kui" -guntur ditanah datar-dengan jitu ia melompat tinggi lewat diatas kepalanya nona-nona itu, sehingga lain detik dia telah turun di jalan gunung sebelah bawah nona-nona itu!.

Ke empat nona-nona itu kaget hingga mereka mengeluarkan seruan tertahan, menyusul mana semua lalu lari berlompatan akan menyusul, hingga dilain detik mereka dapat menghadang dan mengurung pula muda-mudi itu berdua.

Tanpa merasa, kedua belah pihak telah memperlihatkan kepandaiannya masing-masing dalam ilmu meringankan tubuh.

sebab It Hiong kembali berlompat melintasi orang, hingga orangnya menyusul pula, begitulah mereka berkejarkejaran turun gunung.

Hingga setengah jalanan telah dilintasi.

Sampai disitu, ke empat nona-nona menjadi bermandi keringat dan napasnya tersengal-sengal tetapi mereka masih mencoba menyusul terus......

It Hiong menjadi heran.

sang malam telah tiba, orang masih menjejarnya-ngejarnya.

"Heran mau apakah mereka?"

Pikirnya.

"Mereka tidak mau berkelahi, mereka hanya mengurung kami. mereka merintangii aku. nyata mereka memiliki kepandaian ringan tubuh yang tak dapat dipandang enteng begitupun keuletan mereka!"

Kemudian It Hiong ingat tidak dapat ia melayani nona-nona itu secara demikian terus menerus.

Hal itu akan menyulitkan si nona berbaju hijau.

nona itu pasti tidak dapat dibawa berlarilari terus.

Tentu, kesehatannya dapat terganggu karenanya, si nona justru harus istirahat, demikianlah, ketika ia meletakkan kakinya di tanah dan berhenti berlari, terus dengan perlahanlahan ia menurunkan nona itu, membiarkan dia duduk.

Ia sendiri berdiri disisi nona itu, merapikan rambut dan pakainannya, sesudah itu ia pun beristirahat secara tenang.

Belum terlalu lama, tiba juga ke empat nona Ek, yang mengejar, atau mengekor mereka tak hentinya.

belum lagi beristirahat, mereka itu sudah menempatkan diri, dua di depan dan dua lagi lagi di belakang It Hong berdua.

tetap mereka mengurung siap menjagai.......

It Hiong melirik mereka itu bergantian.

"Benarklah kalian hendak merintangi aku sampai terang tanah?"

Tanyanya sabar.

Tidak ada jawaban.

ke empat nona membisu.

Si anak muda mengulangi pertanyaannya, sampai berapa kal;i, terus ia seperti bicara sendiri.

maka dia lantas mengawasi mereka itu.

Kiranya ke empat nona itu lagi duduk bersila beristirahat!

Menyaksikan hal demikian It Hiong bersenyum lalu menyeringai.

ia merasa lucu dan berbareng merasa kasihan juga.

maka ia pun berdiam.

Sementara itu, kita melihat kepada Kiauw In yng dirintangin ketiga Yauw Lie lainnya.

ia tidak seleluasa It Hiong, ia mesti berkelahi dengan sungguh-sungguh melayani ketiga lawan itu.

ia menang unggul tetapi ketiga saudara Ek berkelahi secara teratur hingga tak mudah buat mereka dipukul mundur.

langit pula sudah gelap sebab sang sore tiba dengan cepat.

keadaan tempat dan sang malam membuat ketiga nona itu dapat bertahan terus.

Kiauw In memancing ketujuh lawan memisahkan diri dengan harapan agar It Hiong dapat dapat bebas, ia tidak menduga bahwa ia sendiri diganggu begini rupa.

seperti It Hiong.

ia juga tidak memikir melukai nona-nona itu.

siapa tahu, orang justru melibatnya dengan keras, sehingga salahsalah ia dapat keliru menggerakkan tangannya.

Kapan nona Cio ingat pada It Hiong, ia menerka tentu anak muda itu telah lolos bersama-sama si nona baju hijau, maka ia pikir baiklah ia jangan berdiam lebih lama pula disitu, ia lantas mengambil keputusan dan melaksanakannya itu.

dengan satu jurus 'angin puyuh menyapu salju"

Khan Bin Patkwa Kiam, ia membikin seorang lawan yang terdekat kaget dan berkelit.

Kesempatan itu digunakannya untuk satu loncatan Tangga Mega, hingga ia berhasil menjauhkan diri.

hanya setelah sang malam menjadi gelap itu, sukar buat melihat jauh, hingga It Hiong tak nampak pula sedangkan dari tempat dimana semula tadi si anak muda bertempur, tidak terdengar suara apa juga, itulah tanda bahwa pertempuran dimana sudah berhenti dan entah orang telah pergi atau berada dimana sekarang............

Menduga bahwa It Hiong sudah lolos, Kiauw In terus berlari trus, ia masih disusul oleh musuh-musuhnya tapi ia membiarkannya.

tetap ia lari keras, membuat orang tetap ketinggalan.

Di belakang orang yang berkejar-kejaran itu ada mengikut sesosok tubuh hitam dan besar, jaraknya kira-kira sepuluh tombak, itulah So Hun Cien Lie.

yang menggendong Ya Bie, sebab orang utan itu cerdas sebagai manusia, tahu ia akan tugasnya menolong nonanya.

Ketika Kiauw In menyuruh si orang utan berhenti, dia ini lantas meletakkan tubuhnya Ya Bie dibalik batu, terus dia berdiam menjaganya.

diam-diam dia menonton pertempuran diantara Kiauw In dan ketiga nona lawannya.

Dengan lewatnya sang waktu, kesegarannya Ya Bie pulih perlahan-lahan, tetapi belum mampu ia menggunakan tenaganya, apa pula buat berkelahi, maka ia pun duduk dia saja mengasuhkan diri, mereka juga tetap menyembunyikan diri.

Tidak lama So Hun Cien Lie memberikan isyarat bahwa ada orang datang.

Ya Bie lantas memasang mata.

dalam satu kelebatan, terlihat orang berlari lewat dengan sangat cepat, ia tidak melihat tergas, ia pun membiarkannya.

Lewat sesaat si orang utan memberi isyarat pula, kali ini dia berpikir beberpaa kali, menyusul itu.

si nona melihat pula orang lari lewat dengan saagat cepat.

"Mari"

Kata Ya Bie kemudian kepada binatang peliharaannya, setelah mana ia bangkit dan minta si orang utan menggendongnya pula, buat terus berlari-lari menyusul orang barusan leawat itu.

Tak lama, Ya Bie melihat bahwa bayangan itu ada sosoksosok tubuh dari empat orang, maka ia lantas menerka pada empat orang Yauw Lie, karenanya ia segera menyuruh So Hun Cian Li memperlahan larinya agar mereka tak dapat di lihat empat orang itu.

Sang malam merayap terus, si puteri malam, yang tadinya dekat dengan permukaan laut, telah memisahkan diri naik makin jauh ke timur.

dengan begitu juga sang malam tak lagi gelap gulita semula.

samar-samar segala sesuatu mulai nampak.

Tepat itu waktu Kiauw In yang lagi lari melihat jauh di depannya "It Hiong tengah berdiri ditepi jalan, kedua tangnnya digendongkan ke belakang, agaknya anak muda itu menantikan sesuatu, ia menduga anak muda itu lagi menunggunya.

senang hatinya, lantas ia mempercepat larinya, untuk menghampiri anak muda itu.

Setelah dekat, Kiauw Ini heran juga.

ia mendapatkan tak jauh dari It Hiong ada beberapa orang nona tengah duduk bersila beristirahat justru itu, ia pun mendengar suara memanggil si anak muda.

"Kakak!"

Suara itu sangat prihatin!

Bangga ia menjadi bersyukur.

Tanpa menjawab lagi, nona Cio melompat lari pada anak muda itu, setelah tiba segera ia menunjuk ke empat nona itu seraya berkata ."Apakah barusan kau melayani mereka itu bertempur?"

It Hiong menggelengkan kepala.

"Bukannya bertempur,"

Sahutnya.

"Cuma percobaan mengadu ilmu ringan tubuh dan ternyata mereka itu tidak dapat bertahan lama!"

Ketika si anak muda berkata itu. si nona baju hijau bangkit bangun. ia telah pulih kesegaran tubuhnya.

"Kakak Cio,"

Katanya.

"Kakak baru baru sampai ?"

Kiauw In mengangguk, tetapi melihat nona itu, ia latas ingat pada Ya Bie dan orang utannya. maka ia segera menoleh kebelakangnya.

"Ah...kemanakah mereka itu? ..."

Tepat waktu itu, ketiga Yauw Lie si pengejar pun tiba, tetapi mereka demikian letih hingga mereka tak dapat berkata-kata, mereka berdiri diam saja dengan napasnya tersengal-sengal.

Dilain detik dari tibanya ketiga Yauw Lie, tiba juga sesosok tubuh yang besar dan hitam, ialah So Hun Cian Li, yang terus saja mendekam, guna menurunkan Ya Bie.

karena nona itu menitahkan ia lari menghampiri It Hiong.

Belum sempat rombongan itu berbicara satu dengan lain.

mata jeli dari It Hiong dapat melihat ketiga sosok tubuh tengah lari dipinggang gunung mendatangai dengan sangat pesat.

"Kembali musuh"

Kata si anak muda.

"Kalau mereka orang-ornag kosen yang pikirannya telah dikekang, kita bakal mengalami kesulitan......"

Tatkala itu si putri malam lagi mendekati tengah langit, cahayanya, cahayanya sangat terang, ayu dan indah cemerlang Kiauw In menoleh ke arah ketiga orang yang disebutkan It Hiong itu.

ia merasa bahwa ilmu meringankan tubuh mereka itu tidak lemah, mereka itu mengikuti jalan gunung menuju ke tempat mereka lagi berkunjung.

"Sekarang ini sulit buat kita menyingkir dari mreka"

Berkata si nona.

"Mari kita menantikan dan melihat pasti siapa mereka itu. jika mereka kaum sesat, barulah kita lihat apa yang harus kita lakukan..?"

"Jika mereka orang-orang jahat, baik kita habisi saja"

Berkata Ya Bie. yang turut bicara, suaranya sengit.

"Jangan kita kasih mereka itu banyak tingkah! bukankah begitu, kakak Hiong?"

"Barusan kakak In berkata, kalau mereka orang-arang yang otaknya terganggu jangan kita malakukan banyak pembunuhan"

Sahut si anak muda.

"Tak baik kita menambah badai pembunuhan!"

Si nona tertawa lebar, tak puas dia nampaknya.

"oiarlah aku yang turun tangan!"

Katanya pula.

"Kalau ada kutukan, biarlah aku yang bertanggung jawab! Kau tak sangkut pautnya, kakak,!"

Dan ia pun segera mengeluarkan ularnya.

Baru saja Ya Bie menutup mulutnya atau tibalah sudah ketiga orang yang mereka bicarakan itu, yang pertama muncul adalah seorang hwesio, pendeta agama budha, dan dua yang lainnya ialah seorang tosu atau Tojin, rahib agama To, dan seorang nikouw, wanita suci agama budha juga, dan kiranya merekalah Hong Gwo Sam Mo, tiga bajingan kalangan pertapaan.

It Hiong dan Kiauw In menggeser tubuh mereka, sedikitpun mereka tidak menaruh perhatian kepada tiga orang itu.

Hiat Mo hwesio mengawasi muda-mudi itu dan juga yang lainnya, lantas ia tertawa tergelak-gelak, terus dia kata gembira!

"Selamat berjumpa!

selamat berjumpa!

sungguh kau sangat gembira, Gak sicu!

Pada tengah malam begini kau telah berada bersama-sama nona-nona dan empat muda remaja!

sungguh suatu kehidupan seorang berbahagia seperti cara hidupnya seorang raja!."

Ada sebabnya kenapa Hiat Mo si bajingan berdarah mengucapkan demikian!

sebab itu ialah ia menyangka keliru terhadap It Hiong!

ia mengira anak muda di depannya ini Hong Kun adanya!.

Peng Mo, si bajingan Es, sebaliknya menatap tajam pada pemuda kita, kemudian dia mengawasi Cit Biauw Yauw Lie, masih pada duduk bersemedi ditanah, setelah itu barulah ia bekata dingin.

"Pantaslah didalam sekelebatan saja kalian telah menghilang bagaikan menggunakan ilmu lenyap masuk kedalam tanah! kiranya kalian semua tengah membuat pertemuan perjanjian istimewa disini!"

Kiauw In mengerti kenapa kedua biksu dan nikouw itu mengatakan demikian, ia telah memergoki waktu Hong Kun bersama-sama Peng Mo bercumbu-cumbuan.

ia merasa lucu yang Peng Mo tidak dapat membedakan antara It Hiong dengan Hong Kun, sedangkan pergaulan mereka itu berdua demikian erat.

Di lain pihak, ia merasa sebal sebab si nikouw bersikap demikian.

It Hong adalah yang menjadi bingung sekali.

namun ia pun sebal.

Peng Mo telah mengucapkan kata-kata yang tak manis untuk telinga.

"Hmm!"

Ia memperdengarkan suara dinginnya. tak lebih! "Hmm!"

Si nikouw mengulangi. dia menjadi mendongkol.

"Kau mau menyangkal, ya? apakah ini disebabkan kau telah mendapat kawwan baru. It Hiong tetap diam. Tam Mo Tosu, si bajingan tamak, bertindak maju. dia tertawa.

"Tuan Gak,"

Katanya sebat.

"Baiklah kau minta maaf terhadap adik sepergurunku ini, supaya kalian berdua hidup akur dan rukun! buat apa beselisih?"

It Hiong masih menahan sabar.

"Totiang, mengapa totiang begini lancang?"

Tegurnya.

"totiang, mengapa kau mengeluarkan kata-kata yang tidak bersih?"

Matanya Tam Mo terbuka lebar, lalu mukanya menjadi merah padam.

"Pinto bicara untuk kebaikan kalian berdua."

Katanya keras.

"Ialah guna kerukunan kalian, supaya kalian menjadi bersatu kenapa kau tidak mau menerima kebaikanku ini kenapa kau bersikap begini keras?"

Seperti biasanya kaum rahib agama To, si bajingan tamak ini menggunakan kata "pinto"

Sebagai gantinya "aku"

Pinto itu berarti "rahib melarat"

Peng Mo sudah berusia mendekati empat puluh tahun tetapi terhadap kedua kakak seperguruannya itu dia manja sekali, demikian dengan tingkah seperti di bikin-bikin dia berkata.

"Nah, kalian lihatlah, kakak! lihat, bagaimana dia tak mengenal budi kebaikan kakak, aku minta supaya kalian memberikan keadilan pada adikmu ini!..."

Habis berkata si nikouw pun membanting-banting kakinya melampiaskan kedongkolannya dan penyesalan...

Menyaksikan tingkahnya si pendeta wanita, Ya Bie bersama si nona baju hijau tertawa geli.

Parasnya Tam Mo hweshio menjadi merah padam.

"Hong Gwa Sam Mo bukanlah orang yang dapat dibuat permainan!"

Katanya bengis.

"kau harus tahu gelagat! janganlah kau menampik arak kebahagiaan dan sebaliknya menerima arak dendam?"

It Hiong mengawasi tajam pada nikouw itu.

"Kelihatannya kalian salah mata, para bapak suci!"

Demikian katanya.

"Kau juga ibu yang murah hati! orang yang kalian cari bukanlah aku Tio It Hiong dari Pay In Nia!"

Anak muda kita mengharap, setelah menyebut nama dan gunungnya, urusan akan sudah selesai, kan tetapi terkaannya meleset. Tam Mo tidak mengerti dia tertawa tawar.

"Tuan Gak, pandai kau menggunkan akal tongret meloloskan kulit rangkahnya!"

Demikian sindirnya.

"Bagaimana kau berani menyangkal? apakah ini perbuatannya seorang laki-laki kang ouw."

It Hiong berdiri tegak.

"Segala tindak tandukku, semuanya terang dan tegas!"

Ia berkata, nyaring.

"Jangan totiang memfitnahku! jangan kau membuatku penasaran. Melihat semua itu, air mata nya Peng Mo berlinang-linang, sambil menggigit gigihnya, dia bertindak maju.

"Tak kusangka kau begini licik dan kejam"

Teriaknya.

"Kau mesti memberi kepuasaan padaku!"

Tidak cuma berkata demikian, si nikouw juga melompat kepada It Hiong sambil Sebelah tangannya diangsurkan guna menjambak bajunya si anak mudah.

It Hiong waspada.

mudah saja ia berlompat menyingkir, justru ia menjauhkan diri justru Kiauw In dan Ya Bie bergerak berbareng.

nona Cio menyampok dan Ya Bie meluncurkan tangannya yang memegang ular hijaunya, mereka ini bukan cuma menghadang tetapi menyerang dengan sikap menjepit, sebab mereka tak kerasan menyaksikan orang demikian tak tahu malu!.

Peng Mo melompat mundur, dia kaget dan jeri.

bukannya dia gusar, dia justru lantas menangis, justru begitu, dia menyebabkan Hiat Mo dan Tam Mo menjadi gusar.

dalam murkanya, Hwesio dan tosu itu sama-sama lompat menerjang Kiauw In dan Ya Bie.

"Tahan!"

Teriak It Hiong, yang mencoba malang ditengah.

"Mari kita bicara secara baik-baik?"

Kiauw In dan Ya Bie menurut. mereka mundur satu tindak.

"Jika kita mesti berkelahi maka harus kita ketahui dahulu sebab musababnya"

It Hiong lantas berkata pula.

"Bapak guru, bukankah apa yang kukatakan ini?"

Tak dapat It Mo membeberkan lakon asmara dari adik seperguruannya itu. itulah hal yang memalukan mereka. karena itu, tak sudi ia menjawab anak muda kita, ia malah menyimpangkannya.

"Eh budak liar"

Tegurnya pada Ya Bie.

"Jika aku tidak melihat pada gurumu, tentu dengan satu hajaran sebelah tanganku akan aku bikin darahnya berhamburan disini. Hm!"

Dengan jalan ini, Hiat Mo hendak meredakan suasana.

Tapi Ya Bie muda dan belum berpengalaman, dialah yang dibilang tak tahu mundur atau maju, maka juga mendengar suara si biksu, dia mementang matanya terhadap pendeta itu dan katanya dengan jumawa .

"Memang hebat ilmu kepandaiannya Bong Gwa Sam Mo! jika kau benar laki-laki mari rasakan cambuk ular hijauku! coba merasakan satu pagutan saja!"

Tantangan itu membuat jeri pada Hiat Mo. dahulu Peng Mo pernah terpagut ular itu hingga dia merintih dan menderita karenanya dan Ya Bie justru yang membantu memberikan obat pemunahnya.

"Hm!"

Ia perdengarkan suara dingin.

dia tak mau kalah gertak.

terpaksa ia mesti maju menyambut tantangan si nona remaja.

atau Peng Mo menarik ujung jubahnya seraya terus membisikinya.

Menyaksikan demikian.

Kiauw In tahu apa yang mesti ia lakukan.

Ia mirip si tukang perahu memasang layar setelah melihat arah angin.

"Bapak guru beramai, kami memohon diri!"

Katanya, hormat.

"Sampai berjumpa pula!"

Habis berkata, nona Cio memberi isyarat kepada It Hiong dan si nona baju hijau, supaya mereka itu berangkat terlebih dahulu, setelah itu ia sendiri bertindak pergi sambil menarik tangannya Ya Bie.

Dengan berlalunya mereka bertiga maka mengitlah So Hun Cian Li!

Peng Mo berdiri menjublak, kekasihnya itu--tak pedulikan dia Tio It Hiong atau Gak Hong Kun--telah meninggalkannya.

tadinya ia memikirkan akal, guna mencapai maksudnya, ia tidak sangkah, kakaknya mencampur bicara dan pergilah kekasihnya itu.......

Tam Mo dan Hiat Mo menjadi panas hati, sang kekasih adik seperguruannya sebaliknya ia sangat berduka, sampai dia membanting-banting kaki.

kapan dia melihat Cit Biauw Yauw Lie, mendadak dia menumplak kemarahannya kepada ke tujuh orang nona itu, yang masih saja bersemedi tanpa memperdulikan tempat itu tempat apa.

"Dasar itu segala budak bau"

Katanya sengit, pada kakaknya.

"Kalau bukan dikarenakan adanya mereka disini, tak nanti kekasihku berangkat pergi! kakak, hayo kau beri keadilan pada adikmu!"

Tam Mo sebaliknya menggoda adiknya itu. katanya dia ."Banyak nona yang muda dan jenaka tetapi dalam hal bicara, sukar dicari nona yang melebihkan kau pandainya, adik! kau sangat pandai membujuk!"

Sang adik seperguruan menarik janggut kambing kakak seperguruannya itu.

"Kau bisa saja!"

Katanya.

"Kau menghina aku, ya? kau lihat, janggutmu dapat tumbuh lebih banyak atau aku yang menjambaknya lebih cepat!"

Dan dua kali ia membetot janggutnya si kakak yang nomor dua itu!.

Si rahib menjadi jeri, dia berkaok-kaok meminta ampun, barulah adik itu tidak membetotnya pula.

Selama itu, Cit Biauw Yauw Lie telah ketahui tentang datangnya Hong Gwa Sam Mo, sengaja mereka berdiam saja, berpura-pura terus semedi, hingga mereka dengar apa yang It Hiong semua bicarakan.

mereka jeri terhadap ketiga bajingan itu.

karenanya mereka pikir, baik mereka berlagak pilon, hanya pada waktu Peng Mo menjahili kakaknya.

tanpa merasa mereka tertawa sendirinya.

Hiat Mo sedang mendongkol, mendengar tawanya nona, maka ia menerka bahwa orang hanya berpura-pura beristirahat, maka timbullah hawa amarahnya, terus ia mengumbarnya terhadap mereka itu, dengan sekonyongkonyong ia menyerang mereka itu dengan kedua tangannya saling susul.

ia hendak membinasakan mereka, guna menyumpal mulut mereka semua.

Semua nona Ek menjadi kaget sekali.

tahu-tahu angin serangan dahsyat itu mengenai muka mereka, hingga terasa pedas, Toa Biauw bersiul pendek, tubuhnya mencelat bangun, segera disusul oleh enam orang saudaranya, maka dilain saat, bertujuh mereka sudah menggunakan sabuk mereka menyerang si bajingan darah!

Peng Mo gusar.

tetapi dia masih suka bicara, tegurnya dengan mengancam "Kalian mau hidup atau mau mampus?

lekas pilih jangan nanti kalian sesalkan kami tidak memandang lagi."

"Bagus benar suaramu?"

Toa Biauw membalas "Siapakah yang lebih dulu menyerang kami, hingga muka kami terasa nyeri? adakah itu perbuatan baik, perbuatan memandang?"

Peng Mo mau mengatakan dia memandang mata pada Im Ciu It Mo.

terhadap Cit Biauw Yauw Lie, ia bertiga saudaranya tak jeri barang sedkitpun.

Toa Biauw dapat menerka maksud kata-kata orang itu tetapi ia toh menanggapi.

ia berkata pula."Wilayah gunung Hek Sek San ini menjadi tempat terlarang kami.

kalian bertiga sudah lancang datang kemari, apakah kata kalian?"

Hiat Mo mengelus janggutnya yang masih terasa nyeri, dia berkata sengit ."Budak bau, masih kau banyak mulut! rupanya jika kamu tidak diajar adat. kamu masih tidak tahu kelihaian kami?"

Dan kata-katanya itu disudahi dengan satu srangan kedadanya si nona.

Toa Biauw berkelit dengan lincah.

berbareng dengan itu dengan satu pukulan tauwlo hiang, ia membalas kepada jalan darah cun kwan dari si bajingan!

Hiat Mo terkejut.

ia menarik pulang lenangnya.

kembali ia menyerang.

Toa Biauw melayani.

maka itu bertempurlah mnereka.

Sampai disini, keenam Yauw Lie lantas mengambil tempatnya masing-masing, mengurung ketiga bajingan itu.

Peng Mo menjadi bingung.

maksudnya hendak menyusul Gak Hong Kun, dengan kakaknya itu untuk berkelahi.

waktunya jadi terbuang secara sia-sia.

pula pertempuran itu tidak ada artinya.

saking jengkelnya, ia membanting-banting kakinya, lalu ia berseru-seru menganjurkan orang berhenti bertarung!

Tam Mo tahu adatnya adik seperguruannya itu, ia khawatir orang nanti rewel, terpaksa ia melompat mundur.

Toa Biauw pun tahu keadaan, ketika baik itu ia pergunakan, ialah ia membiarkan orang mundur, tak mau ia menyusul guna menyerang terus, tapi ia tidak mau kalah gertak, maka ia lantas kata nyaring."Kau tidak mau berkelahi, nonamu juga tidak mau keterlaluan!

asal kalian suka berurusan dengan guruku, suka kami bukakan jalan hidup!"

Suara itu keras tetapi itulah umum dalam dunia kang ouw, itulah cara buat mundur teratur.

"Kalian mau apa?"

Tanya Hiat Mo, yang hatinya masih panas, iapun maju satu tindak, kedua belah tangannya disiapkan, supaya sembarang waktu ia dapat menyerang secara dahsyat.

terus ia berkata pula."Beginilah aku bersedia mengiringi kehendak kalian, budak bau!

kau ingin mencobacoba, budak?

kalau tidak, pergi, pergilah kau berlindung!"

Kembali satu serangan, sebab si pendeta tak dapat mengekang dirinya. Toa Biauw kaget, dia berkelit sambil melompat menjatuhkan diri, dengan gerakan tipu "tambra emas menembus gelombang"

Dia mundur sampai setombak lebih, baru dia bebas.

Enam orang nona lainnya menjadi repot, hingga mereka menyelamatkan diri secara kacau.

mereka justru berada di belakang si kakak dan tidak menyangka yang orang bakal menyerang pula!

Toa Biauw insap yang mereka tidak dapat melayani hong Gwa Sam Mo, terpaksa ia bersiul pendek, terus ia lari menyingkir.

maka semua saudaranya lantas lari menyusulnya!.

Menyaksikan itu, Tam Mo bersorak sambil tertawa menepuk-nepuk tangan.

"Kakak hebat!"

Pujinya.

"Dengan serangan itu kakak, cukup sudah kau melayani mereka itu!"

Hiat Mo tertawa, dia puas sekali.

"Murid-muridnya Im Ciu si bajingan tua cuma pandai bermain asmara!......."

Katanya, dan mendadak ia menutup mulutnya, sebab mendadak juga ia ingat justru adik sepergurunnya lagi mabuk cinta, dengan mencaci Cit Biauw Yauw Lie, ia seperti mencaci adik seperguruannya sendiri,........

Matanya Tam Mo memainkan melihat kesekitaranya, kepada kedua saudaranya itu.

"Sayang, kamilah orang-orang yang menuntut hidup suci"

Katanya kemudian "Kalau tidak.

disini, selama malam yang indah ini, dapat kita berpelesiran puaslah.......kita murid-murid sang budha, kita sudah bersih bebas dari satu akar..........

Peng Mo heran mendengar kata-kata kakaknya yang nomor dua itu.

"Kenapa kau menyebut satu akar, kakak?"

Tanyanya.

"bukankah kaum agama kita mempunyai enam yang harus semua bersih?"

Yang disebut "enam akar"

Itu, Lion-kin, ialah mata, telinga, hidung, mulut, tubuh dan hati (pikiran).

Seorang suci harus membersihkan harus membersihkan diri dari semua itu, hingga dirinya menjadi kosong seluruhnya (su tay kay khong).

"Kau benar, adik ,"

Kata Tam Mo.

"Tapi dapatkah kau bersih dari semuanya ?"

"Aku baru dapat membersihkan yang lima, kakak. tinggal satu yang belum.....

"Hu, kalian bicarakan apa saja?"

Hiat Mo campur bicara. Peng Mo tidak menjawab, hanya bertanya "Kakak, sudah lama kau menyucikan diri, apakah kau telah bersih dari enam akar? Baru satu bukan?"

Hiat Mo mengangguk.

"Ia"sahutnya Tertarik hatinya ketiga saudara itu bicara tentang sari agamanya, hingga mereka jadi berbicara panjang lebar, sampai Peng Mo dapat kenyataan, kedua kakaknya itu gagah dan galak, apa saja mereka lakukan, cuma satu hal yang tak menarik perhatian mereka, yaitu paras elok. pantas selama bergaul, kedua kakak itu tidak pernah membicarakan soal tersebut dan seingatnya, ia belum pernah diganggu mereka. kedua saudara seperguruan itu bahkan menyanyangi seperti saudara kandung sendiri.

"Kedua kakak tak dapat mempuaskan dirinya, bagaimana aku dapat membantunya?"

Kemudian Peng Mo berpikir.

"Mereka harus hidup seperti orang umumnya....."

Selagi berpikir keras mendadak bajingan es ingat seseorang.

"Couw Kong Put Loo!"

Serunya perlahan. hanya orang itu yang namanya diingat secara tiba-tiba. Hiat Mo melengak.

"Ada apakah adik?"

Tanyanya. heran.

"Apakah dia pun orang....... yang sangat kau perhatikan?"

Hampir kakak ini menyebut "kekasih"

Syukur dia lantas ingat dan segera merubahnya. Peng Mo tidak menjawab, hanya menatap kakaknya itu.

"Apakah kakak kenal dia?"

Tanyanya.

"Buat apa berkenalan dengannya!"

Sahut Hiat Mo.

"dalam hal ilmu silat, dia telah ditindih, Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Cie"

Si adik tersenyum.

"Kakak kenal baik dia itu, rupanya kakak dan dia sahabatsahabat kekal?"

Katanya. Hiat Mo menggeleng kepala.

"Tidak"

Sahutnya, ada apa adikku menanyakan tentang dia?"

"Bukankah itu mengenai soal kekuranganmu, kakak?"

Ia berbalik bertanya. Hiat Mo heran. tapi ia menjadi girang.

"Apakah dia mempunyai surat obat yang mujizat, adikku?"

Tanyanya.

"Coba bilang?"

"Oh, adikku yang baik!"

Tam Mo memuji. Puas hati Peng Mo mengetahui kakaknya itu memperhatikan kata-katanya. ia mengawasi mereka dan tertawa, terus ia berkata."

Touw Kong Put lo memahami bunyinya kitab So Lie Keng, rupanya dia telah berhasil baik.

dia bagaikan menyulap kekuatan pria, jika kakak berdua mendapat bantuan pengobatan dari dia, pasti kakak pun akan memperoleh kebaikan!"

"Dimana adanya Touw Kong Put Lo sekarang?"

Tanya Tam Mo Si To kauw.

"Dimana dia menyakinkan ilmunya?"

"Sejak beberapa puluh tahun, tempatnya ialah Tiang Lo Jiang. didalam rimba pohon bambu"

Sahut Peng Mo.

"Hanya selama yang belakangan ini, orang bilang dia sudah muncul pula dalam dunia kang ouw hingga orang tak tahu pasti dimana dia tengah merantau...."

Hiat Mo m,enghela napas, nampaknya dia berduka.

"Kalau begitu, sulit buat mencari dia, adik"

Katanya masgul.

"Dengan mencari sembarangan saja, sadma dengan kita merogoh rembulan didalam air."

"Jangan mudah putus asa, kakak"

Tam Mo menghibur,"

Didalam segala hal biasanya terjadi sesuatu yang diluar perkiraan! coba adik ingat-ingat pula dimana kau pernah mendengar tentang dia?........"

Ia meneruskan namanya adik seperguruannya. Peng Mo berpikir, lalu ia ingat pertemuannya dengan Touw Kong Put Lo dalam penginapan Kui Hiang San Koan di Kang lam. tapi ia hendak "mengekang"

Dua saudaranya itu, ia berpura-pura belum mengingatnya, ia melihat sana melihat sini, ia berjalan mondar mandir perlahan-lahan. Hiat Mo tidak sabaran.

"Sudah adik, tak usahlah kau pikirkan pula?"

Katanya.

"Biarlah kekuranganku itu kami derita selama hidup kami..........."

Peng Mo berhenti berjalan. dia menoleh "Kenapa, kakak?"

Tanyanya.

"Kenapa kakak habis sabar? baru saja aku ingat tentang dia, sekarang tinggal soalnya, dia akan dapat di cari tidak! inilah tergantung dengan peruntungan baik dari kakak berdua......."

"Kau bicaralah terus terang adik!"

Katanya Hiat Mo, suaranya menjadi sabar pula "aku minta kau jangan bicara setengah-setengah......."

"Demi kakak berdua, telah aku kuras otakku, kakak, berkata adik seperguruannya yang manja itu.

"Kalau nanti aku berhasil mencari dia, buatku tidak ada untungnya. itulah buat kebaikan kakak berdua..."

Tam Mo tertawa.

"Syukur adik!"

Katanya "kami berterima kasih padamu!"

Peng Mo puas, alisnya terbangun.

"Nah, kakak, dengan apa kalian akan membalas budiku?"

Tanyanya.

"Bagaimana kalau kau mengajariku aku limu silat Thian Lui Ciang? kau toh tak akan menyimpannya buat dirimu sendiri. bukan?"

"Thian Lui Ciang"

Ialh ilmu silat "Guntur tangan"

Atau "tangan guntur"

"Akan aku ajari kau ilmu itu, adik!"

Hiat Mo memberi janjinya. Peng Mo tertawa.

"Memang kesohor ilmu silatmu itu kakak!"

Katanya memuji.

"Tapi telah aku mempunyai satu ilmu silat tangan kosong lainnya. bukankah kaum persilatan paling pantang kemaruk? mana dapat aku mempelajarinya pula? kakak, terimah kasih untuk kebaikanmu itu......." ***** Sementara itu It Hiong dan Kiauw In beramai telah dapat berkumpul bersama-sama. banyak soal yang mereka bicarakan terutama ialah urusan pertemuan besar digunung in Busan nanti, guna menghadapi Pihak Thian Liong pang. Sang waktu berjalan terus dan saatnya pertempuran terus mendatangi semakin dekat, karena itu, Perlu It Hiong membuat persiapan, biar bagaiman, Thian Liong Pang tidak dapat dipandang ringan. bukankah katanya Tong Thian Tok Liong Sian Hiauw telah mengundang, mau meminta bantuan gurunya dan lainnya. yang semuanya ada orang-orang lihai maka itu harus ia teliti. Oleh karena nya, ia pasti perlu mendapat bantuan, Demikianlah, serbua perundingan permintaan bantuan akan diminta dari pihak pejuang dan utusan segera ditetapkan, keputusan yang akhir ialah Cukat Tan bersama Tan Hiong yang diminta harus pergi terlebih dahulu ke In Bu San guna menentukan siapa-apa guna membantu menyambut, orang rimba persilatan golongan sadar dan lurus yang diundang itu. Semua orang sangat menyetujui pikiran It Hiong itu, maka lantas juga mereka mau berkemas-kemas, agar mereka semua dapat berangkat ketempat itu , si nona berbaju hijau tiba-tiba saja dia mengeluarkan air mata deras dan menangis sesunggukan terus dia menghampiri It Hiong. untuk memberi hormat sambil berlutut dan mengangguk-angguk.

"Tuan Tio,"

Kata dia selagi menangis sangat sedih itu.

"Budimu yang beasr, entah kapan dapat aku membalasnya.........dan perpisahan kita ini, sampai kapan kita bakal dapat bertemu pula....."

Mendengar suara nona itu, semua orang menjadi terharu, hingga air muka mereka menjadi suaram.

"Ah, adik!"

Berkata It Hiong jangan memperlihatkan sikap tegang, walaupun hatinya terharu bukan main.

"Apakah begini cara lakunya seorang nona kaum kang Ouw? bukankah manusia itu, dia berpisah atau berkumpul, semua itu telah ditakdirkan? kenapa kau begitu bersedih dengan perpisahan kita ini? kita menjelajah sungai telaga. dunia yang luas menjadi sempit mirip satu kaki, oleh karena itu, hari-hari pertemuan kita yang mendatang masih banyak sekali! adik, kau pulanglah dengan hati tenang!"

Nona itu menghapus air matanya.

"Aku berjanji"katanya.

"setelah pulang ini, akan aku belajar dengan sungguh sungguh, agar kemudian hari dapat aku membasmi semua orang jahat kaum sesat, guna sekalian membalas dendamku!"

It Hiong tertawa.

"Kau benar adik!"katanya.

"Baiklah-baiklah saja kau menjaga dirimu"

"Adik"

Teng Hiang campur bicara.

"bagaimana kalau kau meninggalkan she dan namamu? di belakang hari. apabila ada jodoh kita bertemu pula, dapat aku mengenal dan dapat memanggilmu..."

Mendengar kata-katanya Teng Hiang itu, semua orang tak terkecuali It Hiong bagaikan baru mendusin dari tidurnya!

ia, sudah lama berkumpul tetapi tak ada satu yang ingat akan menanyakan nama orang, sebegitu jauh nona itu cuma dikenal dan dipanggil sebagai si nona berbaju hijau.

Si nona berbaju hijau agak bersangsi, tetapi kemudian ia toh menjawab."Aku she Tio nama Toan, biasa dipanggil Toan jie, anak Toan, aku asal Kwan tiong.

kakekku menyingkir dari musuhnya maka itu kami merantau dan tinggal di Kwan gwa.

hidup kami berkelana.

ayah pernah berkata aku bahwa satu waktu kami akan pulang kekampung halam kami......."

"Oh kiranya adik Toan jie"

Berkata Teng Hiang, tertawa."Sungguh satu nama yang bagus!"

"Kau ingin melanjuti pelajran silatmu, adik. itulah bagus seali!"

Kiauw In turut berkata.

"Ilmu silat memang sangat baik, baik guna kesabaran maupun guna pembalasan sakit hati, terutama buat menegakkan keadilan! buat sekarang ini. adik. selama dalam perjalanan pulang, baik-baiklah kau terlebih dahulu mempelajari ilmu istimewa Hoan Kuk Bie Cin dari adik Ya Bie. itulah suatu kepandaian sangat berharga terutama bagi kaum wanita, guna dia membela dirinya"

Si nona berbaju hiaju mengangguk, ia mengucap terima kasih.

Sementara itu hatinya It Hiong lega buka main.

inilah disebabkan ia ketahui si nona berbaju hijau ada orang dari satu she dengannya, syukurlah, selama bergaul erat dengan nona itu, ia berlaku jujur dan hormat terhdap nona itu!

bagaimana celakanya andiakata ia tersesat!

untuk sejenak ia mengeluarkan peluh dingin, hatinya berdebar-debar.

"Syukur..."pujinya dalam hati. Kemudian tibalah saatnya Toan jie diantar pergi keluar dari dusun Kho Tiam cu disitu, ditengah jalan kedua bela pihak lantas berpisahan. Toan jie memberi hormat. ia mengucap terima kasih terus ia memohon diri. tentu sekali ia berangkat dengan hati berat.... Disitu bukan cuma Toan jie yang memisahkan diri, juga lain-lain. satu pada lain, karena masing-masing mempunyai tugasnya sendiri-sendiri. Lebih dahulu, kita mengikuti It Hiong. pemuda ini berkeinginan sangat lekas-lekas mendapat pulang pedangnya yang hilang, pedang mustika Keng Hom Kiam, maka juga ia membuat perjalanan dengan cepat. Pada suatu hari sampailah anak muda itu kita dikaki gunung Bu Ie San. ia mengangkat kepalanya mengawasi gunung itu, bagian atas dan sekitarnya. otaknya pun berbareng bekerja. ia memikirkan dimana adanya kali Kiu Kiok ceng koan. Selagi It Hiong mencari tempat tujuannya itu, baiklah kita belajar kenal lebih dahulu dengan orang-orang atau anggota keluarga Tong Hong Se kee, ialah keluarga Tong Hong. Tiada orang ketahui asal usulnya keluarga Tong Hong itu akan tetapi di Bu Ie San mereka sudah tinggal kira-kira empat puluh tahun. dan mereka telah terdiiri dari tiga turunan, kakek sampai pada cucunya. Tong-hong Tan, sang kakek, ketika dimasa mudahnya, tatkala diadakan rapat Bu Lim yang kelima, telah berhasil menundukkan semua lawannya, hingga ilmu pedangnya jadi kesohor, tapi disaat sedang terkenal itu, entah apa sebabnya , tahu-tahu ia mengundurkan diri dengan mengajak istri dan anaknya laki-laki tinggal berdiam di Kiu Kiok Ceng Kee yang sunyi. ia membangun gubuk buat hidup dalam ketenangan. kemudian ternyata, ia tak dapat berumur panjang. Selang satu tahun habis hidup menyendiri, pada suatu malam Tong Hong Tan kedapatan telah menutup mata, Nyonya Tong Hong menjadi heran, dia pun memanggil putrinya seorang guru silat dan dia pandai ilmu pedang, maka dia periksa mayat suaminya itu, juga semua barang didalam kamarnya, Tak ada sesuatu yang mencurigakan kecuali sehelai kertas yang ada tulisannya empat buah huruf, sebenarnya itulah bukan kertas hanya sehelai sulaman sutera dengan sulaman huruf-hurufnya yang berbunyi "Giok Leuw Kio Ciauw"

Artinya "panggilan kilat dari neraka"

Sulaman itu berkilauan mirip api kunang-kunang.

Nyonya itu bingung dan berduka, juga anak dan menantunya, tak berdaya mereka mencari keterangan, mereka cuma mengira pasti kematian itu disebabkan musuh, yang belum diketahui siapa adanya....

Dengan lewatnya sang waktu, akhirnya keluarga Tong Hong tinggal terdiri dari seorang nenek dengan seorang cucunya, sebab anak dan menantunya yang pergi mencari musuh, pergi dan tak kembali selama belasan tahun, hingga tak diketahui mereka telah menutup mata atau bagaimana.

Sebagai pembantu rumah tangga sinenek memelihara pelayan.

Sebagai nenek Tong Hong sudah berusia diatas enam puluh tahun, rambutnya sudah putih semua.

maka orang memangilnya Tong-hong Po--Nyonya Tonghong.

nyonyanya ialah Tonghong Liang.

Kecuali dua tiga orang kang-ouw yang menjadi kenalannya, sangat jarang Tonghong Po menerima tamu kunjungan, lamalama hanya beberpa lewat dua bulan yang lampau, ia kedatangan seorang sahabatnya dengan siapa sudah banyak tahun ia tak pernah bertemu muka.

dialah Couw Kong Put Lo, yang ada bersama seorang nona yang masih muda sekali.

Nona itu cantik.

pakaiannya yang singsat memperlihatkan tubuhnya yang langsing, dipunggungnya dia menggendong sebatang pedang, nampaknya dia mirip seorang nyonya muda, apa yang luar biasa ialah dia mempunyai mata bersinar ketolol-tololan hingga mudah untuk diterka yang urat syarafnya tak tak sehat wajar, rupanya dia telah terkena pengaruh semacam obat bius.

Habis dia minum teh, yang disuguhkan nyonya rumah, Couw Kong Put Lo memberitahukan halnya nona itu adalah muridnya yang baru dan telah mempunyai bakat silat baik.

ia berkata ia datang buat minta si nyonya rumah mengajari nona itu ilmu pedang keluarga Tonghong, ilmu pedang "Koay Kiam"

Atau pedang kilat, yang sangat kesohor, dalam dunia rimba persilatan.

bahkan si tamu mengatakan lebih cepat nona itu belajar pedang hingga sempurna terlebih baik pula!

Habis berkata, Couw Kong Put Lo menyerahkan dua peles berisi obat pada Tonghong Po.

obat yang satunya buat membebaskan nona itu dari gangguan ingatannya, dan obat yang lainnya.

namanya "Sek Sim Tan"

Guna membikin dia lupa pada she dan namanya serta asal usulnya. Tonghong menerima dua peles obat itu, dia tertawa dan berkata.

"Aku si tua lagi menganggur, tugas yang kau berikan ini dapat aku guna mengisi waktu menganggurku itu, tetapi sekarang kau harus beritahukan aku perguruan atau asal usulnya si nona , juga she dan namanya, supaya kelak di belakang tak nanti muncul soal yang menertawakan.... Couw Kong Put Lo berpikir sekian lama, barulah dia menjawab."Muridku ini berasal dari pulau To Liong To, namanya Siauw Wan Goat, dia sendiri yang datang padaku buat minta diajari silat, jadi bukanlah aku yang memaksanya menjadi muridku"

Sinyonya mengawsi sahabatnya, dia tertawa dingin.

"Dihadapan sahabat karib, buat apakah kau mendusta?"

Katanya "Kalau dia benar datang atas kehendak sendiri, mengapa kau mengekang syarafnya dengan obat?"

Si tamu tua jengah, tapi ia menjawab."Baik, kau katalah aku telah mendusta!

hanya sekarang aku minta, nyonya tua, tolong lah aku memeriksa dia, buat mengajarinya ilmu pedang yang kesohor itu dari keluargamu itu"

"Jika demikian maksudmu, kau sebenarnya tidak boleh bekerja kepalang tanggung."

Kata si nyonya Tonghong kemudian.

"Sudah ingatannya dikekang, baik juga sekalian saja tampang wajahnyapun dirubah, supaya dia tak lagi berupa seperti diri asalnya!...."

Couw Kong Put Lo girang ia memuji sambil bertepuk tangan.

"Bagus-bagus"

Demikian serunya.

Demikian karena mampunya Couw Kong Put Loo itu, Siauw Wan Goat menjadi berada dirumah Tong Hong Sie Kee dimana dia belajar silat, dia telah dikasih makan obat hingga dia lupa diri asalnya, dan wajahnya pun menjadi lain daripada wajah semula, dia tidak ingat lagi nama Siauw Wan Goat!

selanjutnya dia cuma tahu dirinya ialah Tong Hong Kiauw Couw, hingga dia menjadi seperti juga "Tong Hong Kiauw Couw"

Cucu perempuan dari sinyonya hidup pula, Belajar ilmu pedang tidak mudah, waktu yang diperlukan pun bertahun-tahun.

akan tetapi Tonghong Po pintar dan cerdik, dia mendapat akal.

dia memakai jalan singkat.

"Dia harus mengangkat nama Tonghong Sie Kee!"

Demikian pikir sinyonya tua dan dengan demikian dia mengambil keputusannya.

Jalan singkat itu termasuk jalan sesat.

untuk itu, si nyonya mencoba obatnya Couw Kong Put Lo, sebab sekalian ia mau membuktikan, obat itu benar mujizat atau tidak, kalau obat itu dimakan satu satu butir, maka dalam waktu satu bulan dengan latihan tidakk lengahnya, tenaga dalam si nona bakal seperti latihan dari sepuluh tahun.!

Latihan itu perlu dibarengii latihan semedhi, supaya pikiran tidak tergoda urusan lainnya, jika tidak si nona bakal terseret dan gagal, tubuhnya bakal rusak dan binasa.

Dengan memakan dua rupa obat itu, Siauw Wan Goat tidak lagi nampak tolol, hanya sekarang ia lupa asal-usul dirinya, tak ingat ia pada namanya dan padanya cuma ia tahu adalah Tonghong Kiauw Couw dan menjadi cucu si nenek Tonghong.

Hanya satu hal yang tak dapat dilupakan oleh obat Sek Sian Wan dari Couw Kong Put Lo.

itulah nama atau wajah Tio It Hiong, meski sebenarnya It Hiong palsu, ialah Gak Hong Kun, samar-samar otaknya masih seperti terbelenggu......

Rupanya ikatan sang asmara sangat kuat.

Maksudnya Tong Hong po tercapai.

didalam waktu dua bulan, Tong Hong Kiauw Couw telah berhasil mempelajari Koay Kiam, ilmu pedang kilat itu.

dia bahkan memilkiki hasil latihan seperti dua puluh tahun, lamanya.

maka juga dia jadi gesit, lincah dan lihai.

Bukan main girangnya Tonghong Po hingga ia menyayangi Siauw Wan Goat seperti cucunya sendiri, hingga ia lantas menyuruh cicitnya itu pergi merantau.

katanya buat mengangkat naik pula nama baru dari Tonghong Sie Kee.

Tonghong Kiauw Couw menerima tugas itu hanya diamdiam mau sekalian mencari Tio It Hiong!

Disaat Kiauw Couw mau berangkat maka Tonghong Liang sang adik ingin turut serta bersama.

anak ini meminta dengan memaksa hingga akhirnya ia mendapat perkenan dari neneknya itu, yang cuma memesan "berhati-hatilah kau!"

Sinenek masih bersemangat dan tak menghawatirkan apa-apa mengenai cucunya itu.

Demikian Tonghong Kiauw Couw dan Tonghong Lian meninggalkan Kiu Kiok Ceng Kee, tempat halamannya, untuk melakukan pengembaraanya, selama mana senantiasa si nona mencari tahu tentang Tio It Hiong, hingga akhirnya ia berhasil, bahkan paling belakang ia mendengar halnya si anak muda berada di Kho-tiam Cu justru malam itu ia mau cari It Hiong, ia bertemu dengan Couw Kong Put Lo dan si orang tua terus mengajari ia bagaimana harus berbuat, guna memancing anak muda itu supaya datang ke Kiu Kiok Ceng Kee!

malah orang tua itu memberikan bubuk serta sulaman empat huruf "Giok Lauw Kip Ciauw"

Itu.

Demikian terjadi It Hiong kehilangan pedangnya dan di anjurkan datang ke Kiu Kiok Ceng Kee guna mendapatkan pulang pedangnya itu.

Selama ia masih ada lain pengalamannya kiuw couw, seperti halnya dia bertemu Gak Hong Kun si Tio It Hong palsu.

Terjadilah malam itu Gak Hong Kun menyusul Kiauw Couw, maksudnya ada dua mendapatkan pedang Keng Hom Kiam serta juga tubuhnya si nona, guna ia milikinya!.

Ada sedikit kecurigaan Kiauw Couw terhadap Hong Kun, kendati begitu, ia toh terus memancing anak muda itu sehingga Hong Kun terus mengintilnya, sedangkan It Hiong, diapun telah tiba dikaki Bu Ie San seperti yang dituturkan dibagian atas ini.

Sesudah berdiam dikaki gunung sekian lama.

It Hiong segera mendakinya.

ia menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Megah.

Bu Ie San banyak puncaknya yang kecil.

banyak rimbanya, juga kali dan lembah.

It Hiong harus melintasi semua itu, ia hanya nampak kesulitan sebab majunya tanpa sasaran yang tentu, ke arah mana ia mesti menuju?

ia cuma menerka-nerka maka sedapat-dapatnya ia mencari tempat dimana ada kali atau selokan, sebab "kee"

Dari Kiu Kiok Ceng Kee berarti "kali"

Dengan demikian, disamping telah menyaksikan perbagai pemandangan alam yang indah, sering ia mendengar air tumpah.

Selain itu, tak pernah anakmuda kita menemui orang.

gubuk pun tidak, sudah setengah hari ia menjelajah, sampai akhirnya di satu tempat sayup-sayup ia mendengar orang berbicara,suara mana dibawa sang angin, segera ia memasang telinga dan membuka matanya lebar-lebar.

"Mungkin mereka tukang cari kayu!"

Pikir It Hiong, girang lantas ia lari mendekati, ke arah suara itu datang, selagi mendekati ia melihat dua sosok tubuh orang, yang lagi duduk berandeng diatas sebuah batu besar di hulu kali, selagi mendatangi semakin dekat, tampaklah sepasang pria dan wanita.

Hari sudah lohor, matahari bersinar layung, magrib akan segera tiba, puncak gunung berbayang di muka air, begitupun tubuhnya sepasang pria dan wanita itu.

Datang semakin dekat It Hiong merasa pasti orang bukannya tukang kayu.

pada punggungnya mereka itu masing-masing pun terdapat pedang.

maka ia mau menerka, jangan-jangan itulah pencuri pedangnya, selagi berpikir begitu, ia tetap melangkah terus, hingga di lain saat ia sudah berada di dekat dengan mereka itu, hanya berjarak tiga tomabak.

"Sahabat"

Ia lantas menyapa, untuk mana ia menahan sabar seberapa bisa.

"Sahabat, aku menumpang bertanya dimanakah letaknya kali Kiu Kiok Ceng Kee? dapatkah kau menunjukkan padaku?"

Kedua orang pria dan wanita itu agak melengak sebab keduanya lantas mengangkat mukanya dan mengawasi hingga mereka seperti lupa menjawab.

It Hiong menanya pula, tetap ia dapat mengusai dirinya, akan tetapi kali ini suaranya menjadi terlebih keras, katanya ."Sahabat, adakah kau berlagak pilon?

akulah Tio It Hiong dan aku datang kemari untuk memenuhi janji undangan!"

Mendengar nama Tio It Hiong itu kedua orang pria dan wanita itu terkejut hingga mereka bagikan sadar dari mimpinya yang nyenyak.

"Ya, ya"

Kata si wanita, yang mirip orang terlepasan bicara.

Yang pria mengawasi terus, kali ini mukanya menunjukkan rasa heran berbareng girang, lantas ia bangkit berdiri, untuk memberi hormat, serunya balik bertanya ."Tuan, benarkah kau It Hiong adanya?"

It Hiong membalas dengna suara keren ."Apakah kau khawatir aku memalsukannya?"

Sebelum si pria menjawab, wanita mendahului ."Tio It Hiong yang palsu, telah nonamu melihatnya bahwa kau dan dia itu bukanlah satu orang, itulah sukar untuk dibilang pasti!"

It Hiong bagaikan habis sabar.

"Baiklah kita tangguhkan soal Tio It Hiong tulen dan Tio It Hionga palsu!"

Katanya, kaku.

"Sekarang aku tanya kalian berdua, tuan dan nona, benar atau bukan kalian penduduk Kiu Kiok Ceng Kee ?"

Si nona tertawa manis.

dia tidak menjawab hanya bertanya ."Baiklah kau sebutkan dahulu she dan namamu yang sebenar-benarnya begitupun gelaranmu!

setelah itu barulah kau menanyakan tentang diri orang lain!

dapat, bukan?"

It Hiong menjadi tidak senang, tapi ia toh menjawab .

"Barusan telah aku memberitakukan bahwa akulah Tio It Hiong yang tulen, akulah Tio It Hiong murid dari Pay In Nia!"

Wanita itu menatap tajam. ketika ia berkata pula, suaranya lunak .

"Karena ada satu urusan maka kami menanya pelit tentang she dan namamu. ini toh urusan kecil, bukan? kenapa kau nampaknya gusar? apakah demikian prilakunya seorang kang ouw ternama?"

Mendapat pertanyaan itu, It Hiong merasa tidak tentram hati, sendirinya lantas kemarahannya mereda, lantas ia berkata."Nona, telah aku beritahukan namaku yang sejati serta asal perguruanku, maka itu sudah selekasnya kalau sekarang nona menjawab pertanyaannku barusan!"

Nona itu mengangguk.

"Kau benar!"

Bilanglah. lantas ia menoleh kepada pria disisinya, akan mengedipi mata sambil membuat main bibirnnya. Si pria segera bertindak mendekati It Hiog. kembali ia memberi hormat.

"Sahabat she Tio"

Katanya.

"Ada satu urusan dalam hal mana kami mengharapkan bantuanmu untuk menyempurnakannya........"

It Hiong heran hingga ia melengak.

"Tuan, apakah she dan nama besarmu?"

Ia bertanya.

"Aku In Go!"

Si nona mendahului memberikan jawabannya.

"Akulah muridnya Gwa Toa Sin Mo dari lembah Houw Touw digunung Tiam Cong San"

Ia menunjuk si pria dan menambahkan "dan dialah Bu Pa, kakak seperguruanku!"

It Hiong pernah medengar nama gwa To sin mo hanya dengan orangnya belum pernah ia bertemu, demikian muda mudi di depannya ini, mereka itu asing baginya.

satu hal yang menarik perhatiannya ialah, persoalan apakah dari mereka ini?

bukankah mereka datang jauh dari Tiam Cing San?

mau apa mereka mendatangi gunung Bu Ie San ini?

Aneh, bukan?

"Saudara Bu Pa"

Kemudian ia bertanya.

"Buat urusan apakah saudara mencariku? nampaknya kalian mempunyai urusan yang sangat penting......dapatkah saudara memberi penjelasan kepadaku?"

Si nona mengawasi, agaknya dia tidak sabaran, lantas dia membanting kaki.

"Kakak, kau bicaralah"

Desaknya "kakak"

Itu ialah suheng, kakak seperguruan.

Bu Pa menggusai dirinya, supaya ia tidak jengah, tapi ketika ia toh bicara, suaranya perlahan sekali, kartanya.

."Kami mencari kau, sahabat she Tio, yaitu untuk memohon kau membantu menyempurnakan perangkapan jodoh kami berdua...."

It Hiong heran hingga dia bagaikan ditutupi halimun, suara orang pun tidak lancar, ia heran bukan main. lantas ia mendapatkan dugaan yang tidak-tidak, ia pikir.

"Ah, ini juga soal yang sulit,....Mungkinkah nona kaum sesat ini mencintai aku?....", ia menerka demikian karena ia segera ingat lakonnya Tan Hong dari pulau Ikan lodan hitam, Siauw Wan Goat dari pulau naga melengkung, Ya Bie dari Ciang Lo Ciang. dan juga terakhir. Tio Toan Cie si nona berbaju hjau dari gunung Hek Sek San...."Ah!..."ia menghela napas masgul. maka ia ingat kata-kata gurunya bahwa ia bakal terlibat soal asmara. Hanya kali ini ia terkaannya keliru jauh sekali. Sama sekali In Go tidak mencintai Tio It Hiong. dia hanya menyukai kakak seperguruannya dan mereka berdua seluruh seperguruannya sudah bersepakatan merangkap ikatan jodoh mereka. hanya dalam hal itu, si nona mengajukkan suatu syarat istimewa. syarat mana itu ialah."Bu Pa harus bertanding melawan It Hiong! It Hiong tengah mencari orang, ia ingin mendapat pulang pedangnya karena nya tak suka ia bercengkrama dengan muda mudi itu, lantas ia memberi hormat pada Bu Pa dan berkata "Saudara Bu Pa, kau telah keliru mencari orang! memang aku bernama It Hiong tetapi aku bukanlah orang jahat yang kalian cari. silakan kau cari Tio It Hiong dia itu sejati, agar kalian dapat mencari dia maka persoalan dari merangkapkan sempurna jodoh kalian ! nah, ijinkanlah lah aku pergi!"

Dengan kata-katanya itu, tanpa terasa It Hiong mengatakan dialah It Hiong palsu, habis itu, ia lantas memutar tubuh dan bertindak pergi! "Sahabat, tahan"

Bu Pa berseru, memanggil.

"Sahabat dengar dahulu aku"

Begitu berkata, begitu si pria lompat menyusul. hanya sebentar, ia sudah berada di depannya si anak muda kita, In Go si wanitanya menyusul bersama.

"Sahabat she Tio, dengar dulu penjelasan kami,"

Berkata si nona itu.

"Dapat bukan? kita toh baru saja bertemu dan berkenalan! kenapakah tuan begini tergesa-gesa?"

It Hiong tidak puas, ia masih menyangka orang tergila-gila padanya, walaupun demikian, ia masih juga memberi muka pada muda mudi iotu, maka ia berhenti berjalan, ia mengekang rasa jemunya.

"Silakan bicara nona"

Katanya. Matanya si nona bersinar, lantas ia tertawa perlahan pada anak muda kita.

"Barusan kakak Bu Pa bicara kurang jelas"

Katanya.

"Kau agaknya tak puas. sahabat she Tio! benarkah?"

"Seorang wanita kang ouw, dia dapat bebas bicara!"

Kata It Hiong.

"Maka itu, nona aku minta kau jangan bicara secara tak langsung itu hanya membuang waktu!"

Si nona menoleh pada Bu Pa.

"Kakak kau bicaralah sekali lagi"

Kata dia pada kakak seperguruannya itu.

"Kau bicara terus terang, jangan seperti lagak nenek-nenek! nanti aku tak mau mengerti!"

Bu Pa menggaruk-garuk kepala, sepasang matanya memainkan, nampaknya dia ragu.

"Sahabat she Tio"

Katanya akhirnya.

"Aku bersama adik seperguruanku, kami telah berjanji akan mengikat jodoh. untuk menikah nanti...."

Sampai disitu, pria itu berhenti, Mendengar demikian, sekarang mengertilah It Hiong, bukannya In Go hendak merecokinya ia tetapi sebenarnya mereka telah bertunangan, hanya tingagal soal syarat saja.

maka legalah hatinya.

"Kalian telah mengikat janji"

Katanya "Habis, apakah kalian kehendaki lagi? coba kalian bicara biar jelas!"

"Ya, kaka bicaralah"

In Go mendesak , dia membanting kakinya.

"Kenapa kakak pemaluan melebihkan orang perempuan?"

Bu Pa terkejut, diapun malu, dia dikatakan melebihi wanita! dia juga berkhawatir si nona mundur teratur....

"Begini tuan!"

Akhirnya ia berkata pada It Hong, suaranya terang dan tegas "Kami sudah mengikat janji buat menikah, tetapi dengan satu syarat, dan syarat itu ialah aku mesti menempur dahulu pada Tio It Hiong, yaitu kau sendiri, tuan.

seperti telah aku sebutkan tadi.

beginilah janji kami.

kalau kau suka mengalah barang satu jurus atau dua jurus, sahabat, maka dapatlah kami menikah!"

It Hiong mengawsi muda mudi itu.

ia heran dan juga merasa lucu, itulah syarat aneh.

sudah suka sama suka, sudah setuju, habis buat apa syarat itu,?

kenapa harus bertempur dahulu?

dan, kenapa justru ialah yang dicari buat diajak bertempur?

mana ada tempo ia melayani?

ia sendiri mempunyai urusan yang sangat penting!

pedangnya harus didapat kembali.

agar nanti ia dapat menghadiri rapat umum Bu Lim Cit Cun.

"Oh, kiranya demikian!"

Katanya kemudian sambil tertawa.

"Inilah janji pernikahan yang luar biasa istimewa! bagaimana kalian dapat memikir untuk kalian menguji aku? saudarasaudara, aku memberi selamat kepada kalian! semoga kalian hidup rukun dan berbahagia! nah, maafkan aku!"

Begitu ucapan itu ditutup, begitu tubuhnya anak muda kita menjelat sejauh satu tombak lebih, untuk terus berlari, hingga didalam sekejap, ia sudah pergi belasan tombak!

Bu Pa dan In Go terperanjat akan tetapi mereka pun segera berlari menyusul!

keduanya memanggil manggil meminta si anak muda berhenti berlari...

Tiga orang itu terus berlari-lari disepanjang tepi kali, cepat larinya mereka, lantas juga mereka tiba disebuah tikungan.

diatas itu ada sebuah batu karang tinggi dan bayangannya itu berpeta di jalanan, melihat itu, It Hiong memikir guna menyembunyikan diri dibalik bebatuan itu, akan tetapi ia mendapat kenyataan, ditengah jalan dimana terdapat bayangan batu itu justru ada seorang lagi berdiri diam.

Ketika itu, rembulan baru saja muncul dan cahayanya terang cemerlang, hingga orang itu nyata berpeta sebagai bayangan hitam juga.

It Hiong terkejut lantaran ia sedang berlari keras, dikanan itu ada dinding batu gunung, dan kirinya tepian kali, celaka kalau ia kena tubruk orang itu, sedangkan jalanan disitu tidak cukupo buat dua orang jalan berendeng....syukur ia telah dapat melihat orang dari sedikit jauh, maka sempat ia melompat tinggi untuk melewatinya, waktu ia tiba di depan orang itu sekali, mendadak telah terjadi hal yang membuatnya terperanjat dan heran.

orang itu mendadak menghunus pedang dan dengan mengangkat pedangnya itu dia menghadang!

Dalam keadan berbahaya itu, It Hiong dapat berlaku tabah dan gesit, dengan satu loncatan Tangga Mega, ia melompat terus melewatinya, sejauh dua tombak, baru ia turun, akan menjejaki kaki ditanah, justru itu ia mendengar berisiknya suara senjata-senjata beradu, maka ia lantas memasang mata hingga ia menyaksikan bayangan-bayangan orang lagi bertempur.

It Hiong mendapatkan, itulah ujung tikungan, disitu terlihat sebuah tempat terbuka.

mungkin itulah belakang bukit, itulah sebuah tanah yang penuh rumput dan pohon!

bunga hutan serta pohon-pohon kayu kecil, dari situlah datangnya suara beradu itu, disitu pula ia menyaksikan pedang-pedang berkelebatan berkilauan diantara terangnya si putri malam.

Maka terlihat jelas, yang bertempur itu adalah dua orang, dan yang satu besar, yang lain kecil, keduanya bergerak dengan sangat gesit, orang yang besar itu memang unggul dalam ilmu kegesitan, sebaliknya orang yang kecil itu pesat sekali gerakan pedangnya, maka juga, mereka berdua jadi imbang.

Diam-diam It Hiong memuji kedua orang itu, ia berdiri diam menonton hingga ia lupa pada orang yang menghadang dan yang menyusulnya!

mereka itu tiba dengan cepat, In Go dan Bu Pa seperti di belakangnya oleh seorang pria tua, yang berdandan sebagai pelajar, yang mukanya sudah keriputan.

Pertempuran sangat menarik hati hingga It Hiong menontonnya dengan asyik, tak dapat ia melihat jelas wajahnya kedua orang itu, tetapi dari cara gerak -geriknya mereka itu, ia menerka pada ilmu pedang Heng San Pay, entahlah ilmu pedang orang yang kecil itu, yang sukar buat lantas dikenali, ini pula yang menambah keasyikannya sebab sebagai ahli ilmu pedang ia toh tak mudah mengenali ilmu pedang orang...

Kiranya itulah ilmu pedang Koay Kiam, atau pedang kilat, dari Tonghong Sie Kee--keluarga Tonghong, sebab yang lagi bertempur itu, yang satu adalah Gak Hong Kun yaitu It Hiong palsu, dan yang lainnya adalah TonghongLling, adiknya Tonghong Kiauw Couw.

Malam itu ditanah datar gunung Hek Sek San, Tonghong Kiauw Couw mendapat tau Gak Hong Kun menyusulnya, ketika itu, si nona mengira Hong Kun adalah It Hiong, didalam benaknya otaknya, masih berbayang tampang atau tubuhnya Gak Hong Kun---yang ia sangka It Hiong adanya, bukankah didalam penginapan Lap Kee, mereka berdua telah bermain asmara-asmara?

hanya itu ketika itu Kiauw Couw masih merupakan Siauw Wan Goat, dan Siauw Wan Goat kemudian menyesal, waktu ia mengetahui ia telah keliru, menyangka Hong Kun sebagai It Hiong, hingga ia menjadi menyesal berbareng penasaran, hanya peristiwa itu sukar ia lupakan, hingga sekarang sebagai Kiauw Couw masih ada sisa bayangan dalam ingatannya.

Nona Tonghong tahu, orang yang menyusulnya mungkin bukannya Tio It Hiong tetapi karena pengaruh sisa ingatannya itu, yang masih berbekas, ia mau memancingorang ke Bu Ie San, guna nanti mencoba mendapatkan bukti kenyataan bagi keragu-raguannya itu.

Demikianlah Tonghong Ling, si adik, dititahkan memancing anak muda itu, agar orang tak kehilangan menguntitnya, dua hari satu malam mereka telah lewati didalam perjalanan, sampai mereka tiba ditempat terbuka itu, dan It Hong tiba belakangan, hingga kesudahannya anak muda itu dapat menyaksikan Tonghong Ling tengah melayani Hong Kun, bedanya merekka tiba cuma kira dua jam.

Mulanya pertempuran diantara Tonghong Ling dan Gak Hong Kun ialah, selagi Hong Kun masih mengejar, Kiauw Couw berkata pada adiknya."Adik, pergi kau turun tangan lebih dahulu, akan menguji ilmu silatnya orang muda itu!"

Tonghong Ling girang menerima titah sang kakak, dia memang paling gemar berkelahi.

lantas dia berlari memapaki Hong Kun, bahkan segera dia menegur dengan kaku "Eh, sahabat, mau apa kau selalu mengikuti kami?

apa bukannya mau mengambil pedang tuan kecilmu ini?"

Selama dikaki gunung Hek Sek San, pernah Hong Kun bertempur dengan bocah itu, ia ketahui baik kepandaiannya orang, tetapi walaupun demikian, ia tidak memandang mata .

ia percaya seorang bocah tak akan lihainya luar biasa dan tak dapat bertahan lama melawannya.

maka itu, ia tidak menggubris teguran oarang, ia lari terus ke arah nona Tonghong!.

Tonghong Ling menjadi tidak puas, segera dia menghadang.

"Tahan"

Teriaknya keren. Bahwa sekarang Hong Kun mengawasi bocah itu.

"Kakakmu lagi menunggui aku?"

Katanya sengaja "Masih kau tidak suka memberi jalan padaku! awas kalau nanti kau pulang, kau bakal mendapat hajaran!"

Berkata begitu, si anak muda ini mengegos tubuh akan lari melewati penghadangnya itu.

Tong Hong Ling mendongkol, ia melompat maju sambniil terus menyerang punggung orang!

Hong Kun mengawasi Kiauw Couw, nampak mata airnya telah meleler keluar, maka itu hampir punggungnya tertikam pedang, disaat terakhir, dapat ia berkelit menyelamatkan diri, hal ini membuatanya gusar, maka ia lantas menghunus pedang mustikanya dan menebas sambil ia berseru.

"Kau sambutlah pedangku!....."

Hanya belum berhenti seruannya, tebasannya sudah mengenai sasaran kosong, hingga ia menjadi heran! menurut ia, mestinya berhasil.... Tonghong Ling berdiri di depan lawan, dia tertawa.

"Serangan pedangmu barusan terlalu lambat!"

Kata si bocah.

"lebih lambat daripada sang keong merayap naik pohon! buat apa kau heran?"

Hong Kun mendongkol dan gusar sekali.

"Kau terlalu, saudara kecil"

Tegurnya.

"Aku telah mengatakan, siapa tahu kau jadi begini kurang ajar! awas, jangan kau nanti mengatakan aku kejam!"

Tonghong Liang mengangkat mukanya.

"Tunggu dulu"

Kata dia kemudian.

"Kiu Kiok Ceng Kee digunung Ie Bu San ini menjadi kampung halamanku, maka itu berada disini, kau mesti menyebutkan dahulu she dan namamu serta apa perlunya kau datang kesini! itu barulah pantas!"

Mendengar demikian, Hong Kun suka melayani.

"Aku yang rendah adalah Tio It Hiong."

Demikian jawabnya.

"aku datang kesini tanpa maksud sesuatu kecuali...karena aku sangat mengagumi ilmu silat lihai dari nona!...."

Dia menunjuk ke arah Kiauw Couw, yang lagi berdiri menonton.

sebab si nona mau mengetahui kesudahan ujian adiknya itu.

Sebenarnya Hong Kun mau mengatakan si nona cantik luar biasa tetapi disaat terakhir ia merubah itu menjadi ilmu silat.

Sampai disitu barulah Kiauw Couw berbicara.

"Tuan Tio"

Sapanya.

"Benar apa tidak yang kau kemari guna meminta pulang pedangmu?"

Sebenarnya Hong Kun tidak tahu menahu urusan pedang itu tetapi karena ia mengaku diri sebagai It Hiong, lantas saja ia menjawab.

"benar! benaar!"

Kiauw Couw tertawa pula--manisnya tertawanya.

"Kalau benar demikian. tuan harus pertunjuki dahulu kepandaianmu menggunakan pedang!"

Katanya. Kembali Hong Kun menjawab cepat.

"Aku yang rendah justru lagi memikirkan buat belajar kenal dengan ilmu silatmu yang lihai, nona!"

"Tetapi sabar tuan, tunggu dahulu!"

Berkata nona itu.

"Buat menguji kepandaianmu, lebih dahulu kau mesti main-main dengan adikku! kau melayanilah dia buat beberapa jurus!"

Hong Kun mendongkol akan tetapi dia berpura-pura tersenyum. dia tertawa.

"Hanya aku khawatir yang aku tidak sanggup mengendalikan pedangku!"

Katanya tembereng.

"aku khawatir yang aku nanti kena melukai adikmu itu! aku harap nona tiidak bergurau..."

Nona Tonghong tertawa pula.

"Nada suaramu besar sekali tuan!"

Katanya"Apakah tuan tak takut nanti dikatakan si katak dalam di tempurung ?

kau harus ketahui keluargaku, Tonghong Sie Kee, sangat terkenal buat ilmu pedangnya yang disebut Koay Kiam!

sudah beberapa puluh tahun, nama tersohor itu bukannya nama curian belaka!

jika kau dapat mengalahkan adik nonamu ini, barulah kau dapat dibilang orang kosen kelas satu!

mengertikah kau?"

Biarlah ia melukai si nona, bahkan tergila-gila tehadapnya, Hong Kun toh mendongkol juga, kata-kata si nona terasa sebagai hinaan besar terhadapanya, maka ia lantas memikir menggunakan ilmu pedang Heng San Pay akan menundukkan nona itu, lantas ia berkata."baiklah aku menurut perintahmu, nona!

akan aku layani adikmu bersilat buat beberapa jurus!"

Tonghong Liang gusar mendenagar suara orang.

"Lidah dan mulutmu serampangan saja!"

Bentaknya.

"Kau terlalu lancang mulut, berhati-hatilah dengan batok kepalamu kau lihat!"

Kata-kata itu ditutup dengan satu serangan dahsyat, gerakan pedang memperdengarakan suara angin yang keras.

Hong Kun percaya akan ketangguhannya sendiri, ia memikir akan melaewan keras dengan keras maka iapun segera menggunakan tenaga dan pedangnya!

Bocah she Tonghong itu kecil tetapi cerdik, diapun tahu tentang pedang lawan pedang mustika, maka tak sudi dia membuat pedangnya beradu dengan pedang lawan.

begitu ditangkis, dia mengelit padanya, buat diteruskan dipakai menyerang pula, hingga Hong Kun menjadi kedodoran dan repot berkelit.

Demikian saja bergebrak, keduanya sudah lantas bertempur seru, Koay Kiam benar-benar dapat bergerak bagaikan kilat cepatnya, dar itu, sejenak itu, Hong Kun masih menjadi pihak yang membela diri.

dia berlaku waspada dan gesit, agar dia tak sampai roboh ditangannya bocah itu, yang mulanya ia pandang ringan.

Kuat penjagaan diri dari Hong Kun, memang Heng San Pay tidak dapat dipandang ringan, ia pun lihai dan telah berpelangalaman, tidak demikian dengan Tonghong Liang yang masih terlalu muda, hingga dia galak karena bengisan, pengalamannya belum ada serta latihan tenaga dalamnya juga belum mencukupi.

dia hanya berani dan gesit.

dilain pihak, Hiong kun menang senjata.

Perlahan-lahan pertempuran berlangsung dengan sengit, hingga lantas mulai memasuki tahap mati atau hidup, sinar pedang terus berkelebatan dan anginnya menyambarnyambar, tubuhnya kedua orang muda itu bergerak dengan sangat gesit dan lincah.

Adalah disaat itu, yang It Hiong dan Bu Pa tiba bersama In Go hingga bersama-sama mereka menonton dengan asyik, tak terkecuali si orang tua keriputan yang berdandan sebagai pelajar itu, dia hanya berdiam seorang diri sebab dia tidak berkawan.

Masih ada seorang lain, yang menonton dengan perhatiannya tak berkurang, bahkan bertambah, dan dialah nona Tonghong Kiauw couw, kakaknya Tonghong Liang, nona ini memasang mata sebab yang lagi mengadu jiwa adalah adiknya, hanya nona ini tidak tahu hal adanya orang tua berkeriputan itu, Selama pertempuran berlangsung, sang putri malam bergeser terus hingga tahu-tahu dia telah berada ditengahtengah langit, di atas semua orang yang lagi bertarung serta menonton itu, mereka itu berdua tak menghiraukan rembulan yang permai.

Lewat lagi sekian lama, Hong Kun mendapat kenyataan lawannya, mulai bernapas memburu, maka giranglah ia, sebab ia tahu yang orang sudah mulai letih, bocah itu kalah ulet, maka ia lantas menanti ketika ada yang baik buat turun tangan...

Tanpa menanti lama pula, Gak Hong Kun segera menggunakan jurus silat "Hong Kun Sauw Hoat"

Badai menyapu salju, ia mau mengandalkan pedangnya yang tajam luar biasa.

guna menguntungkan padang lawan, bahkan ia ingin dapat menebas sekalian pinggangnya si bocah!

pedang Kie Koat tidak dapat ditangkis kecuali oleh sesama pedang pusaka!, Demikian pernyerangan pedang Hong Kun yang berbahaya itu selekasnya ia memperoleh kesempatannya yang baik sekali, maka diantara suara nyaring dari beradunya senjata tajam dan berpeletakan , percikan api serta jeritan kaget "ayy"

Yang keras, empat sosok tubuh manusia tampak mencelat! Didalam waktu sejenak, maka berhentilah pertempuran dahsyat itu. Gak Hong Kun memperdengarkan suara "hm!"

Dingin, pedangnya ia masukkan kedalam sarung, terus ia mengawasi tajam pada pihak lawannya dan orang yang menyela diantara ia dan lawannya itu, kemudian ia menghadapi Tonghong Kiauw Couw nona yang berdiri di depannya, sambil bertanya .

"Apakah artinya perbuatanmu ini?"

Belum lagi nona Tonghong memeberikan jawabannya, Tonghong Liang sudah mendahului dengan berkata.

'Kau menggunakan padang mustika, dengan begitu barulah kau berani memakai jurusmu barusan!

apakah kau tidak malu?"

Hong Kun mengawasi tajam.

"Bocah harum. mulutmu hebat!!"

Katanya.sengit.

"Nah, marilah coba satu kali lagi !"

Mendengar suara orang itu, Kiauw Couw gusar.

"Mulutmu ringan sekali!"

Katanya. menegur.

"Apakah dengan kata-kata kasarmu ini kau tidak merobohkan sendiri nama tersohor dari Tio It Hiong?"

Diantara empat sosok tubuh yang bergerak itu, yang ketiga ialah tubuhnya Tio It Hiong, bahkan dialah yang mendahului Nona Tonghong lompat maju kekalangan pertempuran, sebab dia menggunakan pedangnya menangkis sampingnya pedang Kie koat dari Gak Hong Kun, hingga Tonghong Liang bebas dari ancaman maut, nona Tonghong berlompat maju setelah It Hiong itu, kemudian It Hiong sendiri Mundur satu tindak sedangkan si nona itu terus maju menghadapi Hong Kun, demikian nona itu jadi berselisih mulut, dengan jago muda dari Heng San Pay itu.

Sembilan puluh satu Selekasnya It Hiong mendengar si nona itu menyebut namanya, ia lantas berkata pada nona itu "Nona, aku cuma membantu adikmu mengelakkan bahaya, tidak ada maksud lainnya dari aku"

Tonghong Kiauw Couw melengak sedetik, lantas ia mengawasi Hong Kun dan It Hiong bergantian, ia heran bukan main.

di depannya berdiri dua orang yang mirip saudara kembar "Apakah kalian berdua sama-sama bernama Tio It Hiong?"

Tanganya.

"Siapakah diantara kalian telah kehilangan pedangnya?"

Hebat pertanyaan itu, yang telak dan tegas. Tapi Hong Kun cerdik, dia lantas menjawab.

"Siapa yang kehilangan pedangnya soal? yang penting ialah mana buktinya keterangannya? dan siapa Tio It Hiong yang sebenarnya ialah lagi sekali -buktinya mana, buat apakah kau usilan sampai begini?"

Jilid 60 Mendengar demikian, Kiauw Couw memperdengarkan suaranya.

"dalam hal itu, nonamu ada punya maksudnya sendiri!"

Sampai disitu, It Hiong bicara pula, ia memberi horamat pada si nona ketika ia menanya.

"Nona, apakah she dan nama nona yang mulia? dan Kiu Kiok Ceng Kee tempat apakah itu? sudikah nona memberi keterangan padaku?"

Kiauw Couw balik menatap pemuda yang tampan itu, sepasang alisnya yang lentik terbangun.

"Namaku Yang rendah ialah Tonghong Kiauw Couw,"

Sahutnya halus.

"dan Kiu Kiok Ceng Kee adalah kampung haklamanku!"

It Hiong menggangguk.

"Nona, aku yang rendah dartang kemari guna memenuhi undangan nona,"

Katanya.

"aku ingin belajar kenal dengan ilmu pedang nona supaya dengan demikian dapat aku meminta pulang pedangku!"

Belum sempat nona menjawab, Hong Kun sudah mendahului.

lebih dahulu dia tertawa dingin, untuk mengejek, lalu katanya tajam."Segala penipu!

telah kau memalsukan she, nama dan tampang wajahku, sekarang kau berani mendusta di depan orang terhormat!

di depan Tio It Hiong sejati!

sungguh tak tahu malu!

Jika kau tahu diri, lekas menggelinding pergi?"

It Hiong mengawasi pemuda itu yang ia tahu cerdik dan licik, ia tidak sudi melayani, ia cuma ingat urusan meminta pulang pedangnya, agar ia dapat lekas berangkat ke Bu San, dilain pihak, sedikitnya ia terharu juga bagi pemuda itu yang gagal memperoleh Giok Peng sebab Giok Peng justru mencintai ia, maka ia merasa kasihan dan tak tega mendesak orang sampai dipojok, siapa tahu, kelemahannya hatinya ini digunakan oleh Hong Kun, hingga ia seperti kalah angin...

Tanpa menghiraukan orang, It Hiong berkata pula pada Tonghong Kiauw Couw "nona, ketika pedangku lenyap di Khotiam cu, aku menyangka itulah perbuatan seorang sesama kaum kang-ouw yang menaruh harga padaku, yang telah bergurau dan bermain main denganku, nona, tentang bagaimana syaratnya supaya pedang dapat dikembalikan padaku, asal yang aku sanggup, aku suka akan mengiringi segala kehendakmu."

Nona Tonghong tertawa.

"Mengembalikan pedang?"

Katanya "Itulah sangat sederhana! cukup asal kau memberi pelajaran beberapa jurus ilmu pedang padaku, supaya mataku menjadi terbuka!"

It Hiong segera mundur dua tindak, terus ia memberi hormat.

"Bagaiman kalau sekarang juga kita main-main beberapa jurus nona"

Demikian ia tanya.

"Silahkan nona mulai!"

Kata-katanya anak muda itu disusul dengan gerakan kedua tangannya, tangan kirinya diturunkan, tangan kanannya menghunus pedang dipunggungnya, menyusul itu, ia berdiri tegak, akan menantikan si nona.

Kiauw Couw mengawasi gerak-gerik si anak muda, hatinya tergerak bukan main.

ia rada likat, ia merasa seperti telah bertemu pula dengan kekasihnya dengan siapa ia telah berpisah lama....tapi tak dapat ia berdiam lama-lama.

maka iapun maju, tangan kanannya di gagang pedang Keng Hong Kiam, hanya, pedang itu tidak ia segera hunus.

Masih ada satu pertanyaanku"katanya perlahan,"Dapat atau tidak aku ajukan itu?"

"Silakan nona!"

Sahut It Hiong lantas.

Tak puas Hong Kun menyaksikan tingkahnya si nona terhadap It Hiong.

ia menerka nona itu menyukai orang muda di depannya.

tanpa merasa, timbullah iri hati dan jelusnya, ia menahan sabar, hingga ia mesti menggertak gigi.

mendadak timbul pikirannya jahatnya.

"Biar, aku tunggu sebentar!"

Demikian pikirnya itu.

"Selagi mereka bertempur, akan aku serang dia dengan senjata rahasia, supaya si nona yang nanti bertanggung jawab?"

Sementara itu Tonghong Liang waspada, terus ia memperhatikan gerak-geriknya Hong Kun.

ia cerdas dan curiga, diam-diam ia menggeser tubuh ke dekat orang yang dicurigai itu.

Hong Kun tidak menyangka apa-apa sebab pikirannya tengah ditumpakan atas dirinya It Hiong dan Kiauw Couw.

Ketika itu Kiauw Couw tertawa dan berkata pada anak muda kita.

"Menurut kau nama Tio It Hiong itu namamu dan bukan nama palsu?"

Ia bicara manis dan mantap. Mulanya melengak, akhirnaya It Hiong tersenyum.

"Kenapa nona begini prihatin pada nama Tio It Hiong?"

Ia balik betanya ."Kenapa nona begini jelas untuk mengetahui palsu dan tulennya?"

Pertanyaan itu membuat Kiauw Couw mendapat kepastian bahwa Tio It Hiong ini adalah Tio It Hiong yang tulen, maka timbullah kehendaknya mengembalikan pedang pada anak muda kita.

ia maju pula satu tindak, pedangnya segera di hunus hingga terdengar suara menyeretnya serta tampak sinarnya yang berkilauan.

"Nah, tolong kau memberikan beberapa petunjuk padaku!"

Katanya, yang terus menggerakan pedangnya.

Tepat itu waktu sebuah sinar pedang meyambar ke arah It Hiong dan Kiauw Couw, hingga muda mudi itu yang lagi hendak bertempur, menjadi kaget sekali, hingga mereka masing-masing mencelat mundur menyusul itu, tampakaTonghing Lian sudah bergebrak pula dengan Hong Kun.

sebab barusan itu, Hong Kun telah membokong muda mudi, ia demikian bernafsu akan percaya bahwa ia bakal berhasil, sama sekali ia tidak menyangka, si bocah di sisinya selalu mengawasinya, maka begitu ia menyerang, begitu bocah itu melompat juga seraya menyampok padangnya!

Hingga beradulah senjata mereka, maka gagallah serangan selap itu.

Bahkan karena Tonghong Liang menyerang terus, mereka jadi kembali bertarung!

Bukan main panas hatinya Hong Kun, orang telah menggagalkan usahanya yang telah dipikir matang itu, maka tanpa dapat mengekang diri lagi, ia menyerang bengis pada si bocah.

Sementara itu, dengan wajaha merah.

Tonghong Kiauw Couw mengawasi It Hiong.

"Tuan Tio."

Katanya, manis.

"Entah kenapa, aku seperti pernah mengenalmu! Apakah tak mungkin yang dahulu hari kita pernah bertemu satu pada lain?...."

It Hiong mengawasi, ia tidak kenal nona itu, tidak ada bekas-bekas tampangnya Siauw Wan Goat pada wajah nona itu, sebaliknya si nona, dia cuma mengingat samar-samar sebab tenaga ingatannya telah diperlemah oleh pengaruh obat-obat, jangan kata si anak muda kita, sebab sekalipun Gak Hong Kun, dia pun tak dapat mengenali wanita yang dia pernah ganggu....

Coba kedua anak muda ketahui bahwa Kiauw Couw adalah Wan Goat, entah bagaimana perasaan mereka masing-masing dan juga setahu bagaimana perasaanya nona andiakata ia mendapat tahu, Hong Kun adalah orang yang pernah mencemarkan kesuciannya......

Tio It Hiong mengawasi si nona, hatinya bekerja, sia-sia belaka ia mengingat-ingat, ia merasa tak pernah mempunyai kenalan nona she Tonghong, kemudian ia lalu menanya ."Nona, apakah nona tidak keliru mengenali orang?"

"Apakah kau bukannya Tio It Hiong?"

Mendadak si Nona tanya pula.

"sebenarnya, kau siapakah?"

It Hiong mendelong. orang bukannya menjawab hanya menegaskannya. ia menjadi merasa tidak enak hati. lantas ia menghela napas, akan melegakan hatinya, setelah itu dapat ia menentramkan diri.

"Begini saja nona,"

Katanya, sabar.

"Nama Tio It Hiong itu, siapa saja di dalam dunia ini dapat memakainya! maka guna mendapatkan kepastiannya, baik itu disaksikan pada kepandaianya saja, pada prilakunya baik atau buruk! dari situ nona nanti ketahui, siapa yang tulen siapa yang palsu? tidak benarkah begitu?"

Nona Tonghong tidak mengatakannya lagi, ia pun tidak menyerang pula buat mengadu kepandaian ilmu silat pedangnya masing-masing, sebaliknya lantas mereka menonton pertempuran diantara Tonghong Liang dan Gak Hong Kun, si nona menyimpan pedangnya, dia mundur terus dia mengawasi adiknya.

It Hiong mundur, ia merasa kecele.

ia juga mesti menonton saja.

"Tahan!"Tiba-tiba terdengar satu seruan mengguntur sedangnya dua orang itu bertarung dengan hebat, menyusul itu maka disitu muncul seorang laki-laki yang sikapnya kereng, sebab diallah yang dikatakan mempunyai "kepala macan tutul serta mata bundar gelang"

Dia berdiri tegak dengan sebatang pedang dipunggungnya! Tonghong Liang dan Gak Hong Kun terperanjat, mereka heran, maka dengan sendirinya mereka berhenti saling menyerang, sama-sama mereka mundur.

"Hari sudah lewat jauh malam,"

Kata orang yang baru datang itu.

"sekarang sudah jam empat, apakah kalian masih juga belum selesai berkelahi?"

Tonghong Liang mengawasi orang itu, dia tidak menjawab hanya balik bertanya.

"Apakah kau juga sudah gatal tangan?"

Demikian tanyanya.

"apakah kaupun ingin bertempur? benarkah?"

"Tidak ada waktuhnya buat aku berkutat denganmu!"

Sahutnya si orang bertubuh gagah itu.

"Aku hanya ingin mengadu kepandaian dengan Tio tayhiap, buat beberapa jurus saja, supaya urusan besar kami segera dapat diselesaikan?"

Dengan "urusan besar"

Orang itu maksudkan urusan perjodohannya, sebab ia bukan lain orang diaripada Bu Pa, yang telah menyusul It Hiong itu bersama In Go dan berhasil menyandak si anak muda, yang kepergiannya, atau kaburnya itu, terhalang oleh pertempuran diantara Tonghong Liang dan Hong Kun tadi.

It Hiong tak tenang hati melihat porang dapat menyusulnya.

Juga Gak Hong Kun tidak puas, dia mengenali Bu Pa sebagai muridnya Gwa To sin Mo dan dia khawatir orang nanti juga mengganggunya.

dia dalam usahanya mendapatkan Kiauw couw, maka itu dia lantas berpikir, jalan apa dia harus diambil supaya Bu Pa tidak sampai mengeroyoknya.

dia berpikir keras tidak lama, lantas dia mendapat sati jalan, maka juga dia segera menghadapi Bu pa dan menanya dengan keras.

"Bu Pa, mari aku tanya kau!, kau hendak mencari aku Tio It Hiong yang tulen atau yang palsu?"

Bu Pa suka menjawab.

"Aku mau mencari Tio It Hiong tayhiap sendiri! demikian jawabnya. Hong kun segera menunjuk pemuda kita.

"Itu Dia Tio It Hiong yang tulen! Nah, kau pergilah membereskan urusanmu dengannya!"

Dibawah sinar rembulan, Bu Pa mengawsi Tio It Hiong, kemudian ia mendekati Hong Kun, untuk menatap dengan tajam.

Kemudian lagi.

ia mengawasi mereka bergantian berapa kali.

ia melihat seorang muda yang sama potongan tubuhnya, sama pakaiannya, terutama sama tampang mukanya.

ia menjadi heran dan bingung, toh ia merasa seperti mengenalnya...

Gak Hong Kun tertawa lebar karena ia sudah menyaksikan tingkahnya Bu Pa itu, yang bingung hingga nampaknya Tolol.

"Bagaimana, Eh?"

Tegurnya keras.

"Bagaimana apakah kau tak percaya perkataanku?"

Bu Pa membuka mata lebar, ia mengawsi tajam.

"Tuan kau siapakah?"

Ia menegaskan. Hong Kun menjawab segera, dia berlaku berani mati.

"Aku adalah Tio It Hiong palsu?"

Demikian sahutnya keras.

Hebat si licik ini.

dia menggunakan akal muslihatnya perang syaraf.

saking terdesak, dia mengambil sikap ini.

tak malu dia mengakui demikian.

Dengan begitu dia hendak membuat bimbang pikirannnya Kiauw Couw dan lainnya.

orang dapat menyangka pula mana It Hiong palsu dan mana It Hiong tulen.

Segera setelah mendengar kata-kata Hong Kun itu, Tonghong Kiauw maju mendekati, seperti Bu Pa, bergantian mengawasi Hong Kun dan It Hiong, wajah mereka berdua menandakan keraguan-raguan mereka.

Tengah orang bernagansan itu, tiba-tiba terdengar suara saluran Toan Im Cip bit .

"Wajah Tio It Hiong sejati mana dapat lolos dari mataku si orang tua? dua mahluk ini palsu dua-duanya!"

Semua orang menoleh, maka terlihatlah oleh mereka semua siapa yang memperdengarkan suara itu, dialah si orang tua berdandan sebagai pelajar, yang mukanya keriputan, yang lagi berjalan mundar-mandir perlahan sambil kedua belah tangannya digendongkan pada punggungnya, berulang kali diapun menengadah ke langit, mengawasi rembulan yang sudah tidak purnama lagi....

In Go dan Bu Pa telah melihat orang itu, yang tadi mengintili Tio It Hiong, hanya mereka tidak menghiraukannya, mereka berdua repor mikirin urusan mereka sendiri hingga tak ada kecurigaaan sama sekali, siapa tahu sekarang mendadak pelajar tua itu menyela diantara mereka dengan kata-katanya yang membingungkan itu.

Semua orang lantas menerka, orang tua itu mesti orang kang ouw tingkat atas tetapi tak ada yang mengenalnya.

Cuma It Hiong yang tertawa di dalam hati mendengar katakata orang tua itu, ia menerka, dia orang tua juga orang yang palsu, maka hendak ia mencoba membuka rahasia orang, tinggallah ketika dia caranya.

Hong Kun turut bingung, ia tahu ia adalah Tio It Hiong palsu, di depannya ada Tio It Hiong tulen.

sekarang si tulen dikatakan palsu oleh si orang tua, bagaimana?

benarkah perkataan orang tua?

Kalau benar, Saipa Tio It Hiong yang dianggapnya tulen ini?

dan.

siapakah orangnya kecuali ia sendiri, yang memalsukannya Tio It Hiong?

apakah perlu, atau maksudnya, orang tersebut menyamar menjadi si pemuda she Tio?

Tonghong Kiauw Couw baru saja mengambil keputusan, mana It Hiong tulen dan It Hiong palsu, sampai ia mengingat baik-baik dimana It Hiong berdiri, maka sekarang ia menjadi heran di buatnya.

benarkah kata-katanya orang itu?

benarkah It Hiong tulen inipun It Hiong palsu?

Bu Pa bercuriga selekasnya dia mendengar perkataan si orang tua, hingga ia berpikir keras, akan tetapi dilain saat, ia pun dapat menenangkan diri, ia pikir peduli apa It Hiong tulen atau palsu, buat ia asal ia menempur It Hiong, habis perkara!

Tengah orang masih berdiam itu, kembali terdengar suaranya si orang tua, yang tajam, agaknya diapun puas sekali dengan hasil kata-katanya yang pertama tadi.

kata dia"

Separuh kata-kataku si orang tua jauh lebih menang daripada pertempuran kalian setengah hari! Hm! Hm!"

In Go yang sekian lama berdiam diri saja, sampai disitu lalu membuka mulutnya, ia toh ragu-ragu.

"Cianpwe,"

Tanyanya pada si orang tua.

"Kalau cianpwe ketahui mereka itu adalah It Hiong palsu, sekarang sudikah kau memberi tahu aku mana It Hiong yang tulen? Bukankah Cianpwe ketahui itu dengan baik?"

Bu Pa telah memikir, maka itu, mendengar suaranya si kekasih, lantas ia mencela."Adik, jangan kau sembarang percaya kata-kata orang!

kau tahu sendiri didalam dunia kang ouw terdapat banyak manusia licik yang suka mengoceh tidak karuan.

Habis berkata, ia lantas maju ke depannya It Hiong, untuk memberi hormat sambil berkata dengan perlahan."Tayhiap, aku harap kau sudi mengalah sedikit dengan beberapa jurusmu, supaya perjodohanku dengan adik seperguruanaku dapat disempurnakan!

buat itu seumur hidupku akan aku bersyukur sekali terhadapmu..."

Suaranya pemuda itu belum berhenti satu tubuh langsing berlompat kepada ia dan It Hiong dan orang itu lantas berkata."Kakak, apakah yang kau bicarakan dengan Tio tayhiap?

kenapa kau membisik ?apakah kau memintah Tio tayhiap suka berpura guna memperdaya aku?

awas, akan aku tak mau mengerti!"

Memang, itulah In Go, yang mencurigai pacarnya itu, maka juga dia lantas menegur.

"Aku tidak mengatakan apa-apa adik!"

Berkata Bu Pa. terpaasa ia mesti menyangkal kalau ia tak sudi adik seperguruannya itu rewel terus.

"jangan kau menerka yang tidak-tidak....."

It Hiong berdiam saja, ia sebal berbareng merasa jenaka melihat tingkahnya sepasang muda mudi itu.

yang lakon jodohnya unik sekali.

In Go tidak mudah mempercayai kakak seperguruannya itu, berulang kali ia masih mengatakannya ."aku tidak mengerti!

aku tidak mengerti!"

Sebenarnaya It Hiong sudah memikir, maka ia menegaskan pada Bu Pa, agar itu berdua dapat menikah, akan tetapi melihat tingkahnya si nona, yang manja itu, ia lantas berpikir lain.

diam-diam ia meninggalkan mereka itu, akan mendekati nona Tonghong.

"Nona"

Sapanya sabar.

"Jika sudah tidak ada urusan lainnya lagi, aku mohon sudilah kau menyerahkan pedangku..."

Sepasang alis lentik dari Kiauw Couw terbangun, ia menatap tajam wajahnya si anak muda.

"Apa tanyanya.

"Kau menghendaki pedangmu? oh. tak semudah itu"

"Bagaimana caranya aku harus memintanya, nona?"

Tanyanya It Hiong.

"Coba kau tolong tunjuki!"

Selagi berbicara itu, ke empat buah mata beradu sinarnya satu dengan yang lain.

Dua--dua pihak saling tertarik lebihlebih si nona, It Hiong melihat raut muka yang cantik manis serta mata yang jeli.

si nona melihat muka orang yang tampan dan mata yang tajam.

"Sebetulnya, pedang ini adalah pedangnya Tio It Hiong"

Kemudian si nona berkata perlahan, kalau pedang diserahkan pada Tio It Hiong itulah sudah sepantasnya....."

It Hiong mengangguk.

"Pandangan nona tepat,"

Bilangnya. Nona itu menghela napas perlahan.

"Hanya....ah!"

Katanya, tertahan.

"Sekarang ada kesukarannya, yaitu kesukaran mencari Tio It Hiong yang benar-benar Tio It Hiong !"

Alisnya It Hiong terbangun, lalu rapat satu pada lain.

"Kalau begitu, nona, nyatanya kau percaya aku!"

Katanya, ia menyesal tetapi ia bersikap tenang. Kiauw Couw tersenyum, terus ia menggeleng kepala.

"Bukannya begitu tuan,"

Kata ia.

"Tuan. maukah tuan memperlihatkan sesuatu bukti padaku?"

It Hiong tidak lantas menjawab, ia mesti berpikir.

"Nona, bukti apakah yang kau minta?"

Tanyanya kemudian.

"Bukti manusia! atau bukti barang!"

Sahutnya si nona, terus terang dan tegas, toh ia mengawasi si anak muda, nampaknya ia berkasihan... Si anak muda menghela napas perlahan.

"Apa kau tak khawatir nanti mempersulit orang, nona?"

Tanyanya.

"Sekarang ini, ditempat seperti ini, mana dapat aku mencari bukti untuk diajukan kepdamu? disini dimana aku mesti mencari saksi?"

"Kalau saksi tidak ada, bukti barangpun boleh!"

Kata si nona, yang memperlunak syaratnya.

It Hiong merasa sukar sekali, akan tetapi aneh, terhadap nona, tak sedikit juga ia merasa gusar atau kurang senang.

ia justru berpikir.

ia menganggap si nona lucu!

pula sungguh aneh ia yang mau meminta pulang pedangnya, ia justru mesti memperlihatkan bukti atau menonjolkan saksi!

Kemudian ia berkata, sungguh-sungguh."Nona, aku tengah merantau, maka juga tak ada persiapanku mengadakan barang bukti atau saksi.

oleh karena itu, sekarang aku cuma dapat menyebutkan diriku sebagai pualam asli, aku ingin kau dapat mengandalkan ketajaman matamu sendiri akan melihat aku palsu atau bukan!"

"Mau tidak mau, nona Tonghong mengangguk. pemuda itu bicara benar.

"Tetapi tuan"

Katanya "Apakah pada tubuhmu benar-benar tidak ada ssuatu barang yang dijadikan bukti untuk dirimu?"

"Ada, itulah pedang Keng Hong Kiam."

Sahutnya It Hiong.

"Namun...."

"Itulah tak usah disebutkan lagi!"

Menjelaskan si nona.

"Pedang itu telah berada ditangan nonamu!"

Tiba-tiba It Hiong tersadar.

"Ada, ada bukti sekarang!"

Katanya lantas.

"Apakah itu?"

Tanya si nona, ccepat. dia agak terkejut.

"Bukti apakah itu? mari aku lihat!"

It Hiong tenang pula.

"Itulah bukan bukti barang"

Sahutnya sabar."Aku maksudkan ilmu silat, yaitu pelajaran yang aku peroileh dari rumah perguruanku, seperti ilmu pedang Khie-Bun-patkwa Kiam, ilmu tenaga dalam Hian Bun Sia Thian Khie-kang, dan ilmu meringankan tubuh Te Ciong sut.

,masih ada satu lagi yaitu ilmu tenaga dahsyat Hong Liong Hok Houw Ciang ajarannya ayah angkatku, Sin Ciu Cui Kiu.

apakah semua bukti itu masih belum cukup?"

Menyebut perbagai macam ilmunya itu, It Hiong puas.

ia percaya si nona bakal menerimanya dengan baik, dan pedangnya bakal segera kembalikan.

Akan tetapi nona Tonghong menggeleng kepala perlahanlahan, hingga tusuk kundianya yang berupa burung-burungan pionix emas, turut bergoyang-goyang juga.

meski demikian, airmukanya tenang, bahkan ayu dan mendatangkan kesan baik bagi siapa yang melihatnya.

kemudian ia berkata dengan sabar."Semuanya itu cukup, akan tetapi janganlah mengatakan nonamu licik serta mau mempersulitmu, sebenarnya sukar buat aku menaruh kepercayaan sepenuhnya.

semua kepadiaan perguruanmu itu mana dapat dijadikan bukti bagiku?...."

It Hiong mengaswasi. Si nona segera menambahkan.

"Memang kepandaian tuan itu sebenarnya dapat juga dijadikan bukti, hanya sayang...."

It Hiong tetap mengawasi.

ingin ia ketahui, ada keberatan apa lagi dari si nona Kiauw couw mengasi lihat tampang sayup-sayup, ia puas mengawasi si anak muda.

lalu katanya pula."Sayang bahwa pengalamanku masih kurang sekaai, mengenai ilmu silat perbagai partai, pengetahuanku masih sangat terbatas, jangan kata tenaga dalam Hian bun sian Thia Khie kang yang sukar dibedakna, sekalipun ilmu pedang Khie Bun ptkwa kiam, belum pernah aku melihatnya.

bukankah sia-sia belaka andiakata kau pertunjukkan semua itu di depanku?

...."

It Hiong bungkam, inilah ia tidak sangka.

ia menatap si nona dengan mata mendelong, ia harus memikirkan bukti lainnya.

Tonghong Kiauw Couw berkata pula, memberikan penjelasannya, selalu ia bicara dengan sabar dan halus, katanya.

"Keng Hong Kiam adalah pedang mustika dan terutama pedang yang membuatnya namanya Tayhipa Tio It Hiong menggetarakan sungai telaga. maka pedang itu harus dihargai. baik aku jelaskan bahwa aku mencuri pedang itu melulu dikarenakan aku ingin dapat berjumpa dengan kau sendiri, tuan, supaya kita dapat membandingkan ilmu pedang kita berdua. oleh karena itu, untuk membayar pulang pedang itu, harus aku memperoleh bukti yang mengesankan. agar hatiku lega, maka itu, dalam hal ini. aku minta tuan suka apalah memaklumi aku...."

It Hong mengangkat kepalahnya.

"aku dapat memaklumi kau nona,"

Bilangnya. Kiauw Couw tersenyum.

"Kau lihat sendiri, tuan, sekarang telah muncul dua Tio It Hiong"

Katanya pula "Bagaimana....."

Mendadak ia tertawa hingg ia mesti lekas mengeluarkan sapu tangannya untuk memebekap mulutnya yang mungil. It Hiong tetap bungkam, ia cuma mengawasi.

"Sekarang ada lagi yang aneh!"

Kata lagi si nona.

"sekarang ada orang yang mencari Tio It Hiong guna mengadu kepandaian ilmu pedang! bagaimana? karena adanya dua Tio It Hiong, maka tak tahulah aku, siapa pemilik yang sebenarnya dari pedang itu..."

It Hiong tidak menjawab, cuma sebentar, matanya tampak bersinar, kemudian menghela napas.

"Sekarang kita bicara dari hal suara saluran Toan Im Cip Bit barusan."

Berkata pula Tonghong Kiauw Couw.

"itulah suara dari seorang cianpwe. dia mengatakan yang kalian kedua Tio It Hiong, dua duanya palsu! ah, bagaiman itu ? memang tak dapat kata-kata itu lantas dipercaya habis , akan tetapi katakata itu pula telah menggoyah kepercayaanku atas dirimu, tuan! mana dapat aku menyerahkan pedang pada pemiliknya yang belum dipastikan?"

It Hiong bingung. ia mengerti si nona, tetapi ia merasa sulit. ia cuma menghendaki pedangnya. ia tidak dapat memikirkan alasan lain, walaupun ia memakluminya.

"Aku mengerti, nona,"

Katanya kemudian.

"Sekarang coba jelaskan, apa lagi kehendakmu supaya urusan kita dapat segera diselesaikan?"

Nona Tonghong mengawasi si pemuda tampan.

"Bagaimana kalau kita mengambil kepastian dengan jalan mencoba-coba ilmu pedang kita"

Demikian tanyanya.

"Dengan demikian pertama akan tercapai maksud keinginanku semula dan kedua aku jadi akan mendapat tambahan pengetahuan yang berharga. demikian begini akan tenanglah hatiku, bagaimana kau pikir?"

It Hiong kewalahan, pergi pulang, soal tetap harus diselesaikan dengan satu pertandingan ilmu silat pedang! itulah justru yang ia buat keberatan! tapi sekarang! apa boleh buat! tidak ada jalan lain...

"Jika begitu nona,"katanya akhirnya, terpaksa, silahkan nona mulai memberikan pengajarannya padaku..."

Ia pun segera menghunus padangnya, untuk bersiap menangkis penyerangan.

"Baik"menyambut si nona.

"lihatlah!"

Menyusul bergeraknya bahu kanannya, si nona sudah lantas menghunus Keng Hong Kiam dengan apa ia segera menyerang dengan jurus "Tit To Oey Liong"

Langsung menyerbu istana naga kuning.

Dengan jurus "Peng Se Seng Lui"--guntur ditanah datar---mendadak serangannya itu tersampok keras hingga kedua pedang bentrok, menyebabkan letupannya bagaikan kembang api.

Kiauw Couw heran, sebab ia ketahui pedang lawan adalah pedang mustika, tetapi ia lebih heran pula ketika ia melihat bahwa penentangnya itu justru Tio It Hiong yang satunya lagi!

ia sudah lantas mundur sambil mengawasi tajam pada pemuda itu.

Hong Kun berdiri diantara kedua muda mudi itu, memang dialah yang barusan menangkis pedangnya si nona, lantas ia mengawasi bergantian kepada muda mudi itu.

Nona Tonghong menjadi tidak puas.

"Mau apakah kau?"

Tegurnya.

"Kenapa kau tidak mematuhi aturan pertempuran kaum rimba persilatan? apakah kau memangnya mau mengacau?"

"Kau bertindak putar balik, nona!"

Sahutnya Hong Kun dingin.

"Kau bertindak tidak adil kenapa kau masih menegur aku?"

Nona itu mengawasi tajam.

"Tidak adil bagaimana?"

Tanyanya.

"Coba jelaskan."

Dengan pedangnya, Hong Kun menuding It Hiong.

"Apakah nona merasa pasti dialah Tio It Hiong tulen?"

Tanyanya. Kiauw Couw diam. telak pertanyaan mengenainya, yang lagi ragu-ragu. Hong Kun menerka keraguan-raguan si nona, dia puas, tapi dia bertindak terus kata dia pula.

"Kalau nona sudah merasa pasti, tidak ada halangannya nona menyerahkan pulang pedang Keng Hong Kiam pada nya. buat apa kau mengadu pedang segala! kalau sebaliknya, baik nona meminta dia segera menggelinding pergi dari gunung ini! buat apa membuang bunag waktu saja"

Kiauw Couw membuka lebar-lebar matanya.

"Dalam hal ini mataku tidak cukup tajam akan menembusi wajah orang,"

Katanya.

"Karena itu tak dapat aku memutuskan dia si tulen atau si palsu! karena itu juga tidak ada jalan lain jalan dari pada mengadu pedang..."

Hong Kun senang menerima jawaban itu.

"Aku pun orang yang datang buat meminta pedangku,"

Katanya pula.

"Bagaimana nona pikir tentang diriku? bukankah nona juga masih menyangsikannya?"

Kiauw Couw bingung, dia kerena diajak bicara, dia mengangguk.

"Ya"

Sahutnya Hong Kun melengak, lalu tertawa.

"Nah inilah yang kukatakan nona tidak adil!"

Bilangnya. Nona Tonghong heran hingga ia melengak. ia merapikan rambutnya didahinya.

"Kalau bicara, bicaralah biar terang!"

Tegurnya.

"Kenapa kau bicara setengah-tengah kenapa mesti berputar-putar?"

Kembali si pemuda girang, ia percaya si nona telah kena dipengaruhinya.

"Nona"

Katanya.

"Bukankah syaratmu mengadu pedang, mulanya kau mengajukan dahulu adikmu dan kalau adikmu mengalah barulah kau sendiri yang turun tangan? sahabat itu mau meminta pulang pedangnya, bukankah dia pun harus mentaati syarat itu?"

Nampak si nona menyesal.

"Oh!"

Serunya, tertahan.

"Kiranya kau bicara panjang lebar ini cuma buat urusan itu!"

Hong Kun memperlihatkan roman jumawa.

"Nah, nona!"

Serunya.

"Itu dianya"

Barusan aku meladeni adikmu, syukur dia suka mengalah, maka itu menurut bunyinya syarat sekarang nona harus bertanding denganku!"

"Gila!"

Si nona mencela.

"Bagaimana kau dapat mengatakan begini? bukankah kau sendiri tadi mengakui bahwa kaulah Tio It Hiong palsu? apakah katamu sekarang? kau mengaku tanpa dipaksa!"

Hong Kun bungkam. itulah sanggapan diluar dugaanya, ia lupa yang tadi ia telah mengatakan, demikain. tapi ia berani mati dan cerdik, hanya sejenak, ia lantas tertawa dan berkata.

"Bagaimana dengan sahabat itu? apakah dia dapat memberikan bukti? habis, apakah dia bukannya si palsu?"

Kiauw Couw habis sabar.

"Kau lihat saja!"

Serunya.

"Tuan ini akan bertanding dengan adikku!"

Dan ia menggapainya saudaranya.

Tonghong Liang lompat menghampiri ia berpaling senang kalau kakaknya menitahkannya ia bertempur, ia memang tidak kenal takut, ia pula menyangka bakal disuruh bertanding dengan Hong Kun, ia berbuat membals kegagalannya tadi....

"Kali ini kau berhati-hatilah"

Demikian ia berkata pada Hiong kun yang ia tuding sekali.

"Tuan kecilmu tidak mau sudah jiklau diantara kita belum ada keputusannaya. Hong Kun mememperlihatkan sikap tak memandang mata.

"Apakah kau masih tidak mau mengaku kalah"

Tanyanya.

"Bertempur dengan kau bocah, memang juga tidak ada artinya!"

Mendadak darahnya si kacung meluap, mendadak ia menghunus pedangnya dan menikam! Hong Kun melihat serangan, ia tidak menangkis hanya mencelat mundur.

"Tahan!"

Kiauw Couw berseru.

"Tonghong Liang tidak menyusul lawannya, ia bahkan menyimpan pedangnya ke dalam sarungnya. Selama itu It Hiong berdiam diri saja menonton tingkahnya Gak Hong Kun, tapi ia melihat kelicikannya pemuda she Gak itu, ia lantas mencari keletakan tempat yang menguntungkan baginya, katannya, ia terus menggeser tubuh, untuk terus berkata pada nona Tonghong.

"Baik, nona, akan aku menerima baik syaratnya itu, nona, suka aku melayani adikmu bertempur buat beberapa jurus...."

Kiauw Couw girang, dia mengangguk.

"Baiklah"

Sahutnya. lantas ia menepuk bahunya Tonghong Liang, yang berdiri disisnya, seraya berkata."Adik, pergi kau melajyani tuan itu buat beebrapa jurus!"

Diluar sangkahnya si nona, adiknya itu menggeleng-geleng kepala.

"Kenapa?"

Tanyanya heran.

"Apakah akau letih"

"Aku menyerah kalah!"

Sahutnya adik itu, lebih diluar dugaan. Kiauw Couw mendelong mengawasi adiknya itu.

"Kau kenapa adik?"

Tanyanya pula.

"Kau letih atau terluka didalam?"

Si adik balik menatap, matanya dipentang lebar. dia menjawab gagah.

"Sekarang tanganku masih gatal! aku letih? mana mungkin ? mustahil aku akan mendatangkan malu? aku hanya tidak mau kena terperangkap akal muslihatnya dia itu!"

Ia menuding Hong Kun.

Mendengar itu, It Hiong, Kiauw Couw dan Hong Kun kagum, lebih-lebih Hong Kun sendiri.

kacung itu sangat cerdik.

karenanya, ia pun kecele, sebab gagal maksudnya mengadu It Hiong dengan si bocah !

Maksudnya Hong Kun mengadu domba It Hong ialah guna mempersulit pemuda itu saingannya itu dalam lakon asmara.

kalau It Hiong kalah dari Tonghong Liang, sekarang dia tak akan menempur si nona, biar bagaimana, Tonghong Liang lihai, tak mudahh ia kalahkan.

kalau It Hiong kalah, dia pasti mendapat malu dan mengundurkan diri atau bersembunyi .

seri juga tak ada kemungkinannya.

Dan, kalau dia menang, dia sebenarnya sungkan melayani nona Tonghong..."

Justru anak muda kita bingung, justru Tonghong Liang menunjuki kecerdasannya.

dia menampik bertanding dengannya!

Bukan main menyesalnya Hong Kun, dia mendelu sekali terhadap si bocah, pada wajahnya tampak kedongkolan itu.

Tonghong Kiauw Couw tidak memaksa adiknya.

maka ia berkata pada Hong Kun.

"Adikku sudah menyerah kalah, apa katamu sekarang, sahabat?"

Hong Kun licik sekali. dia tersenyum.

"Nona,"

Katanya.

"Apakah nona tidak khawatir yang adikmu ini membuat runtuh nama Tonghong Sie Kee yang tersohor itu?"

Nona itu jemu. tak sudi ia melayani orang bicara lebih lama lagi. maka ia lantas berpaling pada It Hiong.

"Bagaimana tuan?"

Tanyanya.

"Maukah kau menjalankan beberapa jurus terhadapku?"

It Hiong tidak melihat jalan lain.

"Dengan segala senang hati, nona!"

Sahutnya. Bahkan ia segera menghunus pedangnya. Tiba-tiba dua sosok tubuh maju kepada mereka berdua.

"Tuan tio, tunggu dahulu!"

Terdengar satu diantaranya berseru. Kiranya itulah Bu Pa serta In Go, dua saudara seperguruan yang aneh itu. Terpaksa It Hiong menunda pertandingannya.

"Kau mau apa lagi?"

Tyanynya.

Bu Pa memberi hormat, dia menjawab."Dengan banyak susah akhirnya dapat juga menunjuki adik seperguruanku agar dia suka menerima baik bahwa kau, tuan adalah tayhiap Tio It Hiong!

itulah pula berarti untung bagus kami!"

It Hiong tersenyum, dia merasa lucu. Justru itu. In Go berkata."Tuan, kalau sebentar kau mengadu kepandaian dengan kakakku ini. aku melarang kau menggunakan akal! aku tak sudi yang kau berpura kalah!"

It Hiong menatap si nona, ia heran sekali, melihat lagak orang itu, ia jadi tak berkeinginan bicara dengannya.

"Jangan kau khawatir adikku"

Berkata Bu Pa selagi si anak muda berdiam saja.

"Tak nanti tayhiap Tio It Hiong yang namanya termasyur berbuat demikian....."

"Cis!"

Si adik seperguruan meludah, mencela. kemudian ia mengawasi It Hiong dan berkata pada pemuda itu ."Sahabat she Tio. kau menerima baik, bukan, akan melayani adikku ini?"

Bu Pa pun menjelas selagi It Hiong belum menjwab, kata dia."Tayhiap, terima! terimalah!"

In Go b, meludah pula pada kekasihnya itu.

"Aku tak suka kau turut bicara!"

Bentaknya, Bu Pa lantas diam.

ia mengawasi saja pada It Hiong, nampak ia sangat bingung.

Tonghong Kiauw Couw mengawasi muda mudi itu.

ia menganggap mereka itu jenaka.

lantas ia menyimpan pedangnya sembari tertawa, ia berkata pada It Hiong."Tuan Tio, kau terima baiklah permintaan nya nona ini!"

It Hiong suka menerima baik permintaanya Kiauw Couw.

"Nona, kau menghendaki apakah?"

Tanyanya pada In Go.

"Kau harus bersumpah bahwa kau tak nanti berpura-pura kalah!"

Demikian jawabnya kemudian, singkat dan getas.

Itulah permintaannya yang sederhana akan tetapi hebat artinya, It Hiong justru seorang jujur dan paling menghargai janji.

ingin ia menyempurnakan jodohnya muda-mudi itu akan tetapi bagaimana habis bersumpah, mana dapat ia melanggar sumpahnya ia sendiri?

Bu Pa murid pandai dari Gwa To sin Mo dan Hong Kun jeri melawannya, kalau tidak mengalah berpura-pura?

kalau ia melawan menang, pasti gagallah jodohnya mereka itu...

Maka itu aneh keinginan In Go ini.

dia mencintai Bu Pa tetapi toh dia mempersulitnya!

"Nona"

Kemudian kata si anak muda.

"Akan aku terima permintaanmu ini tetapi buat apakah aku mesti mengangkat sumpah "katanya. In Go nampak likat waktu ia menjawab.

"Pernikahan, adalah urusan besar mana dapat itu dilaksanakan dengan cara sembrono? oleh karena itu aku minta, sahabat Tio, tolonglah kau tak menganggap remeh!"

Bu Pa berda di sisi mereka. dia tertawa.

"Seorang lelaki sejati, apakah halangannya buatnya mengatakan sepatah dua sumpah?"

Katanya.

"tayhiap, kau bersumpahlah, buat menenangkan hatinya adikku ini!"

Hong Kun melihat dan mendengar saja, sampai disitu dia campur bicara,.

"Benar! tidak berani bersumpah berarti hendak berlaku palsu!"

Demikian katanya. Guna mengejek It Hiong.

"Didalam dunia ini, orang yang menipu perempuan, didalam sepuluh orang, delapan atau sembilannya adalah orang laki-laki! jodoh atau pernikahan memang bukan permainan anak-anak, maka itu, nona. pantaslah kalau kau berlaku hati-hati!"

Kata-kata Hong Kun penghabisan itu ditujukan kepada In Go, guna membikin panas hatinya si nona.

dia pernah menggilai nona itu tetapi dia gagal.

inilah sebabnya kenapa dia telah mengeluarkan kata-katanya yang berbisa itu!

dia mengipasi api yang sedang berkobar itu!

Semua orang menoleh mengawasi orang si she Gak.

semua bersinar jemu.

melihat demikian , mau tidak mau, Hong Kun jengah sendiri.

ia tidak menyangka yang orang semua tidak menyukainya.

Tonghong Liang tidak sabaran, dia masih muda dan belum tahu banyak soal asmara, maka itu seperti juga orang lagi menggerutu, dia berkata seorang diri ."Kalau seorang wanita mau menikah, menikahlah!

buat apa menciptakan segala aneka warna ini?

Hm!....."

In Go berpaling dengan cepat.

"Eh, saudara kecil, apakah katamu?"

Tanyanya. dia mendengar tetapi tidak jelas. Tonghong Liang mengangkat kepalanya menghadapi nona itu.

"Aku menyuruh kakak she Tio ini jangan bersumpah dan juga jangan turun tangan!"

Sahutnya dengan nyaring.

"Biarlah kau, budak. menjadi budak tua. supaya seumur hidupmu kau tidak menikah!"

Mendengar jabawan, yang bernada lucu itu, semua orang tertawa. In Go menjadi malu dan gusar karenanya.

"Kurang ajar!"

Teriaknya.

"Kau masih berusia muda tetapi kenapa kau dapat bicara begini rupa?"

Tonghong Liangpun tidak puas tetapi dia tidak menjadi marah.

dia hanya berkata ."Kau tunggulah, lewatnya beberapa tahun pula.

lantas kau boleh tanya dirimu sendiri, pria mana yang sudi menikah denganmu yang pasti telah menjadi bertambah tua!

sekarang ini ada orang yang penujui dan mau menikah denganmu.

kenapa kau banyak tingkah seperti ini?

sungguh, aku sangat berkhawatir buat hari kemudianmu nanti!..."

In Go gusar sekal;i.

"Jika kembali kau banyak bacot. nonamu akan menghajar padamu!"

Teriaknya.

"Tetapi benar katanya-katanya saudara kecil ini. nona,"

Berkata It Hiong.

"Baiklah nona suka memikirkannya dengan hati yang tenang..."

In Go tak bergusar tadi. ia cuma mengawasi bengis pada si bocah.

"Kata-kataku tidak dapat berubah!"

Sahutnya pada si anak muda kita.

"Sabahat she Tio. jika kau berniat membantu akakak seperguruanku itu, supaya maksudnya tercapai, nah. kau bersumpahlah!"

Hebat nona ini, dia hanya menyebut Bu Pa Seorang. Mendengar demikian, Tonghong Liang tidak dapat menahan sabar.

"Hm,"

Ia perdengarkan pula suara dinginnya, Eh, saudara Tio!"

Ia menambahkan pada It Hiong.

"Kalau nanti perempuan ini menjadi seorang nenek-nenek, apa sangkut pautnya dengan dia? apa perlu nya kau memberi nasihat begini rupa padanya?"

"Fui!"

In Go meludah.

"Inilah urusanku bocah, apakah sangkut pautnya urusanku denganmu? buat apa kau usil urusanku?"

Tonghong Liang berkata pula. .Dengan meniru lagak si nona. kata ia dengan lagu suara seperti sedang menghapalkan buku bacaan.

"Bagaikan bunga adalah manisnya sebuah rumah tangga, bagaikan air yang mengalir tenang atau sang waktu yang lewat dengan tenteram, berduka kalau hari sudah larut, seperti musim semi yang indah telah berlalu.

"Nah itu waktu, kau rasailah nanti!"

In Go menyabarkan diri.

maka dengan memonyongkan muka ke si kacung, dia berakta."Oh, orang dengan lidah busuk, yang kata-katanya jahat, kau lihatlah nanti kapan telah tiba saat berputaranya roda di dalam neraka!

itu wakrtu kau boleh rasai bagaimana lidahmu ditarik keluar!"

Bu Pa menjadi bingung. lekas-lekas ia memberi hormat pada semua orang.

"Para hadirin, maaf,"

Katanya.

"Aku minta kalian sukalah memberi muka padaku dengan kalian mengurangi pembicaran kalian..."

Terus ia maju dua tindak pada It Hiong, buat menjura dan berkata.

"Tolong Tayhiap menyempurnakan kami berdua! aku minta sukalah tayhiap memberikan sumpahnya."

It Hiong bingung akan tetapi belum sempat ia mengusai dengan pikirannya tahu-tahu Hong Kun mencela pula.

Si dengki itu berkata "Siapa tidak mempunyai kepandaian, dia memang banyak lagak dan akalnya!

apakah susahnya bersumpah terhadap seorang wanita?

bukankah itu mudah seperti seorang mencaplok barang makanan saja?

saudara Bu Pa sendianya kau minta bantuanku, selaksa kali bersumpah pun segera akan aku habis mengucapnya dalam waktu sekelebatan!"

Pemuda itu bicara seenaknya saja, tanpa merasa ia telah membuat merosot kehormatan atau derajat dirinya sendiri, mungkinkah oarng bersumpah semudah itu?

It Hiong melirik, mau ia membuka mulutnya atau ia batal.

Hong Kun melihat sikap orang, dia tertawa berkakakan, Tonghong Liang telah berpikir, maka juga sembari tersenyum, ia berkata pada muridnya Gwa To Sin Mo ."Saudara Bu Pa!

baiklah kau merubah dan sekarang kau minta It Hiong ini yang mengangkat sumpah untukmu!

dia sudi bersumpah untukmu, sungguh dialah orang kang ouw sejati!"

Diam-diam Bu Pa dan In Go melengak keduanya mengawasi Hong Kun.

tak sedetik juga yang mata mereka berkedip.

Hong Kun kaget sekali, kata-katanya Tong Hong liang itu membuatnya sadar bahwa ia seperti telah membuka rahasia sendiri.

ia menyebut nama Tio It Hiong sedangkan ia sendiri mengaku menjadi Tio It Hiong yang tulen.

tadinya ia pernah mengatakan dialah Tio It Hiong palsu, mudah akan mengangkat sumpah tetapi merobohkan Bu Pa itulah sukar...

Tapi murid dari It Yap Tojin itu tidak kekurangan akal.

ia bermuka tebal, terus ia berlaku tidak tahu malu, ia pikir, biarlah orang ragu-ragu terus tentang dirinya dan It Hiong, maka ia lekas berkata lagi."Akulah Tio It Hiong palsu!

mana mungkin nona In Go Mau percaya aku?"

Tepat itu waktu, terdengar pula suara tajam dari si orang tua keriputan tadi.

dia itu berdiri terpisah jauh dari mereka.

kata dia ."Apa kataku si orang tua?

kalian berdua semuanya Tio It Hiong palsu?

nah, sekarang ini tampaklah ekornya si rase?"

Suara itu dsusul dengan tawa nyaring tak sedap didengar Semua orang melengak. Justru itu suara tersebut kembali terdengar, kali ini."

Sebenarnya masih bagus aku cuma mengatakan kalian adalah Tio It Hiong palsu!

sebenarnya kalian adalah dua buah kantung nasi!

bahwa saja mendengar nama-nama murid Gwa To Sin mo--kamu sudah takut melawannya, kamu berdualah saling dorong, saling tolak menolak !

sungguh sangat memalukan!--Hm!"

Dua-duanya It Hiong dan Hong Kun mendeongkol sekali mendengar kata-katanya arang tua berkulit muka keriputan itu, bahkan si orang se Gak yang terlebih gusar, maka juga dia mendahului It Hiong membentak keras."Seorang tua bangka masih tidak mengharagakan dirinya sendiri!

bagaimana kau suka usil orang lain!

Kenap akau mengaco belo?

benarbenarkah kau berani?

kalau benar, kemarilah kau?

mari kita main-main buat beberapa jurus coba lihat siapa yang memalukan saja!"

Hebat dampratan itu semua menerka tentunya si orang tua akan sangat gusar.

Bahwa bakal terjadilah peristiwa, semua orang lantas menoleh, dan mengawasi orang tua itu, guna menyaksikan apa sambutannya.

Sambutan itu sungguh diluar dugaan!

Si orang tua berdiri tenang, kepalanya di angkat, matanya mengawasi si putri malam, kemudian dia bertindak perlahan, kedua tangannya digendongkan dipunggungnya, ia berjalan mondar-mandir, ia berdiam saja, sedikitpun ia tidak menghiraukan suaranya Hong Kun itu.

It Hiong kemudian memperdengarkan suaranya, tetapi ia tidak berlaku kasar seperti itu.

Hong Kun ia hanya berkata."Cianpwe, kau mengatakan kau dapat membedakan Tio It Hiong yang tulen dan palsu, aku kira itulah cuma kata-kata buat menipu orang saja.

jika cianpwe benar pandai dan juga bernyali besar, silakan cianpwe datang kemari, guna membuktikan kami berdua siapa sebenarnya kantung nasi!

coba cianpwe pastikan, siapa Tio It Hiong dan siapa si palsu!"

Baru saja mendengar suara tajam anak muda itu.

si orang tua keriputan itu menoleh, terus dia mengawasi dengn suaranya yang dingin ."Jika kalian berdua memikir menyuruh aku si tua turun tangan buat memberi hajaran kepadamu, buat itu kamu harus menantikan kesempatan yang baik, kalau telah tiba saatnya yang aku sedang bergembira!

apa saja kamu kira dengan dua tiga dampratan saja kamu dapat membuat aku gusar atau turun tangan?

tidak!

Tidak demikian mudah!"

Bu Pa gusar sekali, si orang tua itu, menurut anggapannya, telah mengganggunya, suaranya juga tidak sedap di telinga.

"Tua bangka tak mau mampus!"

Dampratnya, sengit "Bagaimana di depan Tio Tayhiap kau berani omong tentang tulen dan palsu? lekas kau pergi!"

Masih si pelajar tidak bergusar, dia cuma tertawa dingin berulang-ulang. ***** sembilan puluh dua "Tio It Hiong sudah kabur keluar lautan?"

Kata dia.

"Dia telah terdampar sampai di kouw long-ta. Jika tidak ada aku si tua yang menolongnya, pasti dia sekarang sudah tinggal tulang belulangnya yang berserakan di pesisir pasir! Mana dia mempunyai jiwanya lagi?"

It Hiong mendapat kesan bahwa bicara nya si tua itu benar adanya, hanya saja kapannya dia telah tiba di kouw long-ta?

maka itu ia lantas berpaling kepada Gak Hong Kun, yang diam melengak.

Hong Kun menginsafi kata-katanya si tua.

ia menerka si tua mestinya Hay Thian It siuw, si kokok beluk laut, yang tinggal menyembunyikan diri di kouw long ta, hanya itu, setahunya, Hay Thian iT Siauw bermuka merah, berhidung bengkung dan potongan mukanya mirip muka kuda, dia ini sebaliknya berkulit muka keriputan, ia menundukkan kepala seakan mikir itu.

It Hiong mengawasi, ia melihat lagak orang itu, ia menerka apa yang dia itu pikir.

"Saudara Gak, kenalkah kau akan orang tua ini?"

Ia tanya sabar.

"siapakah dia?"

Panggilan "saudara Gak"

Itu membikin Hong Kun terkejut, panggilan itu menyatakan sendiri bahwa It Hiong ialah It Hiong, toh terpengaruh pertanyaan itu dia menjawab singka"

Mungkin dialah Hay Thian It Siauw yang hidup menyendiri di kouw long ta......"

Nama Hay Thian It Siauw membuat It Hiong terkejut di dalam hati.

Jago tua itu muncul pula, mungkin dia ada sangkut pautnya dengan pertemuannya di In Bu San nanti, maka itu makin perlu saja ia mendapatkan pulang pedangnya mustikanya.

"Bagaimana?"

Ia tanya dirinya sendiri.

"Apakah perlu aku merampasnya dengan kekerasan?"

Karena berpikir begini, ia lantas mengawasi Kiauw Couw.

Justru itu terdengar tawanya Bu Pa, yang terus berkata keras "Mahluk menjemukan itu benar-benar mengacau kata!

adik, kau lihat, hendak aku mengusirnya pergi!"

Tatkala itu, sang fajar tengah mendatangi, sang rembulan telah tenggelam ke arah barat, sang angin mendadak saja datang menderu-deru, membuat pepohonan tergoyanggoyang keras.

"Cis"In Go memperdengarkan suaranya.

"Buat apa memperdulikan dia? urusan kita lebih penting! Kau mau urus atau tidak ?"

Bu Pa heran hingga ia membuka matanya lebar-lebar.

"Sabar,adik"

Katanya bermohon.

"Sekarang ini hatiku sedang bingung, tak dapatkah kau mengalah sedikit dengan kau merubah syarat itu dengan yang terlebih ringan?"

Sang adik seperguruan menggeleng kepala.

"Kakak, apakah kau takut akan kesulitan dan hatimu telah berubah?"

Tanyanya.

"Kenapa? benarkah kau menghendaki aku menukar pikiranku?"

Suara si nona halus tetapi nadanya tajam. Nona Tonghong mendengar pembicaraan orang, dia tertawa.

"Aku mendapat sebuah pikiran, yang ada baiknya buat kedua belah pihak!"

Katanya.

"Tinggal kau, adik, kau sudi menerimanya atau tidak?...."

In Go mengawasi Kiauw Couw, dia agak tertarik hati.

"Pikiran apakah itu, kakak?"

Tanyanya cepat.

"Coba kakak jelaskan!"

Tonghong Kiauw Couw mengawasi nona itu, dia bersikap sungguh-sungguh.

"Menurut kau, adik apakah sudah pasti yang kau baru mau menikah dengan kakakmu kalau kakakmu itu telah dapat mengalahkan Tio It Hiong?"

Tanyanya. Mukanya In Go menjadi merah, tetapi dia mengangguk.

"Ya"

Sahutnya.

"Sekarang ini Tio It Hiong telah dapat dicari"

Kiauw Couw berkata pula "Tapi disamping itu, adik.

kau kuatir kakakmu dan saudara Tio itu berkongkol, kau bercuriga yang mereka berdua akan main gila supaya Tio It Hiong berpura-pura kalah karena itu, benarkah kau menghendaki Tio It Hiong mesti mengangkat sumpah?"

In Go mengangguk pula.

"Benar"

Sahutnya, dia tetap likat. Tonghong Kiauw Couw tertawa.

"Rupanya kau masih belum sadar, adik!"

Demikian katanya.

"Taruh kata benar mereka berdua bersekongkol dan Tio It Hiong berlagak kalah, bukankah itu baik sekali untukmu? bukankah mereka telah melakukan perbuatan mereka dengan maksud baik?"

"Siapa yang menghendaki mereka bersekongkol dan Tio It Hiong mengalah?"

Kata In Go, suaranya tetap.

"Aku hendak menguji kepandaian sungguh dari kakak seperguruanku itu!"

"Nah, bagaimanan andaikata kakakmu kalah?"

Nona Tonghong menanya pula.

"Aku akan menjadi pendeta!"

Sahut In Go tanpa berpikir pula.

"akan aku cukur gundul rambutku dan menjadi nikouw! demikianlah perjanjiannya kami dahulu! dalam hal itu aku tidak menyesal!' Kiauw Couw terharu mendengar jawabannya nona itu, yang tabiatnya aneh dan teguh, biar bagaimana, ia bingung juga, lalu ia menghela napas perlahan.

"Sungguh cinta sejati!"

Katanya kemudian "hanya itu dibalik itu sang penasaran dan penyesalan tengah mengancamnya!

oh, adik yang baik, aku harap janganlah sampai tejadi kesalahan besar di belakang hari, sebab Yaitu akan berarti penyesalan seumur hidup!"

In Go mementang mata lebar mengawasi nona di depannya itu, hatinya tergugah mendengar disebutnya penasaran dan penyesalan tanpa terasa, air matanya meleleh keluar.

"Perjanjiannya tak dapat dapat disangkal!"

Katanya.

"hal itu tak dapat dibuat sesalan. kesudahan urusan ini, bagus atau buruk, tergantung kepada kepandaiannya kakakku ini?"

"Orang yang palsu atau yang sengaja mengalah, tak aku terimah baik. !"

Sahut si nona tergas.

"Siapa yang tulen dan siapa yang palsu tak dapat aku menentukannya,"

Berkata Kiauw couw, walaupun demikian, aku kira, dapat kita minta mereka jangan mau mengalah..."

In Go berdiam dia hanya mengawasi nona di depannya ini. Nona Tonghong menunjuk pada It Hiong, ia tanya nona itu ."Bukankah tadi kakakmu menunjuk Tio It Hiong ini untuk diajak bertempur?"

In Go mengangguk.

"Tetapi dia tidak mau mengangkat sumpah. dia harus di curigai!"

Sahutnya. Nona Tonghong menunjuk Gak Hong Kun.

"Dan ini tuan Tio It Hiong, dia telah mengatakan suka mengangkat sumpah, bukan ?"

Tanyanya.

"Benar"

Jawab In Go.

"Tetapi kakakku tidak sudi bertempur dengan dia!"

Kiauw Couw tertawa.

"Nah, disinilah terletak cara pemecahannya!"

Bilangnya.

"Maksud ialah membuat mereka dua Tio It Hiong! biarlah yang bersedia bersumpah mengangkat sumpahnya dan yang suka bertempur melakukan pertempurannya dengan kakakmu! bukankah itu bagus?"

"Bagus!"

Bu Pa mendahului menyatakan persetujuannya, bahkan dia bertepuk tangan.

"Cuma kau yang cerdas, nona yang berhasil mendapatkan cara pemecahannya ini! nona, aku sangat kagum terhadapmu!"

In Go melirik kakaknya itu, dia membungkam. Hong Kun mendengar semua itu, dia berpikir.

"Memang aku menyatakan bersedia buat mengangkat sumpah, tetapi aku mengatakannya itu cuma guna mendorong hatinya Tio It Hiong supaya dia berkutat melayani Bu Pa bertempur, tak peduli siapa yang kalah atau menang diantara mereka, aku hanya tetap menyaksikan suatu tontonan yang menarik hati! baiklah, akan aku berikan sumpahku!"

Maka ia lalu berkata "Demi membantu menyempurnakan jodoh kalian berdua, aku suka mengangkat sumpah! nah, kalian dengarlah!"

Dengan sikap gagah, Hong Kun mengajukan diri, lantas ia menunjuk keatas lalu kebawah!

segera terdengar sumpahnya ."Raja di langit dan ratu di bumi menjadi saksi, disini Tio It Hiong dan Bu Pa hendak mengadu kepandaian silat, jika ada salah satu yang mengalah dan berpura kalah, biarlah dia dikutuk biarlah bajingan membetot arwahnya dan siluman merampas sukmanya, supaya tubuhnya dikutungkan dua dan dicincang!...."

"Bagus! bagus! "

Nona Tonghong berseru memuji, hingga karenanya , kata-katanya Hong Kun kena diputuskan, dia tidak meneruskan hanya terus dia menghampiri It Hiong kkan berkata pada pemuda itu."Sekarang tinggal kau, sahabat"

It Hiong segera berpikir ."Aku tidak bersumpah, tidak apa aku mengalah terhadap Bu Pa ini pun guna membantu jodoh mereka itu dapat dirangkap! bukankah itu bagus dan baik sekali?""

Maka segera ia mengambil keputusan, terus ia menyapa Bu Pa "Saudara Bu Pa, mari! sudilah kau memberi pengajaran padaku?"

"Baik!"

Sahut Bu Pa lantas, bahkan ia segera lompat menghampiri sejauh dua tombak!

It Hong pun lompat menghampiri, ia memberi hormat, yang dibalas oleh muridnya Gwa To sin mo, yhabis itu, keduanya sudah lantas merapatkan diri, buat mulai mnyerenag dan menangkis buat bertempur.

Bu Pa menggunkan Ilmu silat "Ngo heng Ciang,"--tangan panca berdua, sedangkan It Hiong mengeluarkan hang liong Hok kuhouw kun.

mulanya Biasa saja, lambat laun pertandingan berubah menjadi seru.

In Go adalah orang menaruh perhatian paling besar, mulanya ia memasang mata guna menjaga agar ia tidak sampai kena diselomoti.

mulanya itu, ia terus curiga, hatinya lega selekasnya ia menyaksikan kedua pemuda itu bertempur dengan seru, dengan bersungguh-sungguh.

Orang kedua yang perhatiannya sama sseperti si nona adalah Gak Hong Kun, si licik yang tengah mengadu domba, ia mau mencelakai It Hiong, maka ia mencari cara rahasia orang andaikata It Hiong berlagak kalah.

ia ingin membangkitkan kecurigaan dan kemarahannya In Go.

Tonghong Kiauw Couw menaruh perhatian tetapi ia hanya untuk menyaksikan cara kerjanya It Hiong, ia ingin pemuda itu tidak digembrengi pula oleh In Go, si nona aneh, tipu apakah yang It Hiong bakal gunakan?

Tonghong Liang tak terdengar lagi suaranya, kiranya dia tengakh duduk bersemedi di tanah, mata dan mulutnya rapat, hidungnya bekerja dengan tenang, ia mirip orang yang lagi tidur pulas.

Di tengah kalangan, kedua pemuda itu terus bertarung, angin, yang disebabkan gerak-gerik mereka terdengar jelas.

Hang Liong Hok Houw Ciang dan Ngo Heng Ciang memiliki masing-masing keistimewaan, buat sementara, tak terlahat yang mana yang terlebih lemah.

Dalam hal tenaga dalam.

It Hiong mencapai kesempurnaan tetpai juga Bu Pa adalah hasil latihan selama kira-kira dua puluh tahun, di dalam kalangan kaum sesat, dia menjadi bintanganya yang mentereng!

Lewat satu jam kemudian maka tampak sang pagi yang cerah, di ufuk timur muncul cahaya terang, burung-burung pada bernyanyi, angin fajar pun halus dan mendatangkan rasa nyaman.

Pertarungan berlangsung terus , tetap makin seru, kalau tadinya In Go merasa hatinya lega, perlahan-lahan ia mulai berkhawatir, biar bagaiman ia menguatirkan kakaknya salah tangan dan itu dapat mendatangkan ancaman maut, karenanya pada parasnya tampak tampang lesu atau tak tenang hati.

lantas ia menghampiri Tonghong Kiauw couw....

"Kakak!"....panggilnya, suaranya tidak lancar. Nona Tonghong menoleh.

"Ada apa?"

"Kakak,"tanyanya pula In Go.

"Bagaimanakah pandangan kakak? siapa yang bakal kalah atau menang?"

Kiauw Couw menatap muka orang, ia pun memperhatikan suaranya si nona.

"Siapa tahu?"

Kemudian jawabnya, yang berupa pertanyaan juga.

"kalau angin dari hujan dahsyat saling bermunculan, siapa tahu apa akibatnya nanti?"

In Go menarik napas perlahan.

"Aku cuma menghendaki mereka menguji kepandaian, siapa tahu mereka seperti berkelahi, untuk hidup dan mati,"

Katanya suaranya tak wajar lagi. Kiauw Couw mengawasi nona itu.

"Kalau dia terhajar mati dengan satu tangan, itulah sepantasnya,"

Katanya sengaja.

"siapa suruh pelajaran silatnya tidak sempurna?"

In Go terkejut, kata-katnya nona itu telak mengenai perasaan khawatirnya.

"Kakak, lihat!"

Tiba-tiba dia berkata nyaring.

Nona Tonghong terperanjat juga, segera ia menoleh, hingga ia masih sempat melihat It Hiong berkelit dengan melengakan tubuhnya kebelakaag, menyelamatkan diri dari satu hajarannya Bu Pa, sebab nampak dahsyat itulah pukulan yang dahsyat sekali.

hanya itu selagi tubuhnya itu melengak sebelah kakinya anak muda ini diluncurkan mengarah ke ulu hati lawannya!

Menyusul suara nyaring dari In Go, tubuhnya Bu Pa nampak roboh terjengkang, hanya saja, dia bukan terus roboh terguling untuk terkulai di tanah, dia justru dapat meneruskan berjumpalitan, hingga diapun bebas dari dupakan lawannya itu Menyaksikan kesudahan itu, tiba-tiba In Go tertawa dan berkata."Oh, sungguh hebat, kakak!

nyata ilmu silatmu sempurna sekali"

Inilah sebab dia merasa lega dan bersuka cita.

Tonghong Kiauw melirik nona itu diam-diam dia tersenyum.

Sementara itu, pertempuran telah dilangsungkan, tetap makin seru, Gak Hong Kun menonton dengan hati puas, ia percaya akhirnya kedua pemuda itu akan kehabisan tenaga dan itu dapat mengakibatkan mereka dapat terluka didalamnya.

Di Hek Sek Han, pernah ia berkelahi sehebat ini demikian melawan Bu Pa, syukur ia dapat ditolong dengan obat mujarab dari Gwa To Sin Mo, sekarang, kalau mereka berdua itu roboh, siapa nanti yang menolongnya?

maka juga jiwa mereka adalah bagian mati.....

Saking girang, tanpa merasa muridnya Yap To jin ini tertawa sendirinya!

In Go menoleh, dia heran.

"Kenapakah kau tertawa?"

Tergurnya. Hong Kun tertawa lagi. geli tawanya.

"Nona salah mata!"

Sahutnya.

"mereka itu tengah bersilat balik mengawasi nona yang lagi menangis dengan ilmu silat kembang, cuma kau saja yang kena dikelabui!"

"Ngaco belo!"

Bentak si nona. Hong Kun tertawa pula.

"Habis,"

Tanyanya.

"Habis apakah nona sangka mereka itu tengah berkelahi dengan sungguh-sunggguh?"

"Apakah itu perlu dibilang lagi?"

Hong Kun menoleh, mengawasi pertempuran, ia agaknya sangat memperhatikan karena heran.

"Kalau mereka bersungguh-sungguh, sungguh mereka berdua seimbang kepandaiannya!"

Katanya kemudian, nadanya mengejek.

"Nona, pertempuran mereka itu bakal menyebabkan mereka berdua kehabisan tenaganya! bagaimana kalau kejadian mereka terbinasa karenanya? apakah dengan demikian nona tak bakal menjadi janda?"

Hatinya In Go tercekat, itulah kata-kata yang ia tidak siap. ia memang lagi menghawatirkan keselamtan kakak seperguruannya itu.

"Kalau sampai terjadi begitu, terserah kepada takdir...."katanya sambil menghela napas. Hong Kun tertawa.

"Tak dapat kau menjadi janda nona!"

Katanya.

"Jangan terlalu berduka!"

In Go heran, lalu ia menjadi bergirang, tiba-tiba saja ia memperoleh harapan.

"Bagaimana kau lihat kakak seperguruanku itu?"

Ia bertanya.

"apakah ia bakal menang?"

"Bukankah begitu, nona...."jawab Hong Kun, karena dia memang memikir lain, dia bukan mau mengatakan Bu Pa bakal menang, dia memikir sesuatu buat kepentingan dirinya sendiri, dia mengarah nona itu....

"Kau bicaralah!"

Desak si nona, yang seperti telah habis sabarnya.

"Kenapa kau bicara setengah-setenagah?"

Hong Kun mengawasi, alis dan matanya bertemu.

"Jikalau kakak seperguruanmu itu mati"

Katany sembari tertawa.

"Masih ada aku! maka itu mana dapat kau menjadi janda!"

In Go kaget saking gusarnya, matanya lantas mendelik.

"Jahanam!"

Dam pratnya.

"Bagaimanan kau menjadi begini kurang ajar! lihat"

Dan tanganya segera melayang! Hong Kun berkelit.

"Hargailah dirimu nona!"

Katanya.

"Jangan kau turuti saja adatmu dan mudah menyerang orang!----hahaha.."

Kiauw Couw maju menghampiri nona itu, ia tarik lengannya.

"Jangan layani dia,"

Bujuknya.

"Sebenarnya apakah yang dia katakan barusan?"

Dadanya In Go berombak, tak dapat ia menjawab, ia justru menjerit menangis.

Tonghong Liang tersadar tangisan itu.

ia membuka matanya dan berjingkrak bangun, untuk terus melemaskan pinggangnya, kemudian ia mengawasi Hong Kun sambil ia memperlihatikan wajah tersungging senyuman, kemudian lagi ia balik mengawasi nona yang lagi terseguk-seguk itu.

Segera bocah ini mengerti bahwa terntunya si pria telah menggoda si nona, memang ia jemu terhadap pria itu, sekarang ia jadi membenci, diam-diam ia mengumpulkan ludahnya serta juga tenaga dalamnya, setelah itu mendadak ia meludah pada pemuda itu yang dibencinya itu!

Hong Kun kaget sekali, dia tengah menggoda In Go, serangan gelap itu diluar dugaannya, telak mukanya kena terludahkan, selagi kaget itu, ia pun merasakan mukanya panas dan nyeri, serangkum hidungnya mencium bau yang tak sedap, tapi ia tidak menjadi gusar, ia menyangka In Go yang meludahinya, dengan sabar ia menyusuti mukanya.

"Kau baik sekali, nona!"

Katanya semabari tertawa.

"Kenapa nona tidak meludahi saja mulutku? pasti harapannya bertambah-tambah dan itu menandakan cintamu padaku"

Tonghong Liang tertawa terbahak-bahak.

"Bagaimana kalau sekali lagi?"

Tanyanya, yang terus meludah pula!

Hong Kun melengak.

lalu gusar, kiranya dia diganggu si bocah nakal lantas mendadak saja dia serang bocah itu!

Tonghong Liang melihat serangan, dengan mudah ia berkelit, habis itu ia melompat maju, untuk membalas menyerang dengan pedangnya.

Hong Kun panas hati, dia berkelit lalu terus menyerang pula, maka dengan demikian, bertempurlah mereka berdua, hanya sementara itu, belum sempat ia menghunus pedangnya, Diantara dua orang, walaupun Hong Kun tanpa senjata, dia menang latihan serta pengalaman pertempuran, dan si bocah menang bunga dan pedangnya yang cepat gerak-gerakannya, maka sekilas, Hong Kun kalah angin.....

Sedikit demi sedikit, Tonghong Liang mendesak lawannya sampai si lawan mundur dua tombak lebih, maka juga ketika itu ditanah datar berlumpur itu tampak dua rombongan orang yang lagi mengadu kepandaian.

In Go dan Tonghong Kiauw Couw lagi memperhatikan Bu Pa dan Tio It Hiong mereka sampai seperti melupakan Tonghong Liang dan Gak Hong Kun, Didalam rombongan It Hiong, si anak muda mesti berkelahi dengan berhati-hati sekali, ia tidak dapat memperlihatkan kelemahan yang dibuat-buat atau nona In Go bakal mencurigainya, maka juga, ia mesti mencari suatu kesempatan, yang mana segera gunakan.

Mula-mula anak muda kita menyerang dengan Jurus.

"kay bun kaiu san" --membuka rimba melihat gunung,--disusul dengan"

Tongcu pay hud,--kacung memuja sang budha.

kedua tanganya dilonjorkan.

maksudnya buat memancing Bu Pa mengunakan jurus silat "ngo lui kek liang,"--Lima guntur menindih batok kepala.

Benar-benar muridnya Gwa To sin Mo kena dipancing, benar-benar dia lantas menyerang dengan jurusnya yang dahsyat itu, tangan kanannya yang berupa seperti sambaran guntur itu.

It Hiong segera menggunakan akal biasa, ia membuang tubuhnya ke belakang, mengelak dengan jurus "sia kwa leng kie,"--miring menggatung bendera, hanya kali ini ia sambil berseru seperti berbisik."gunakanlah kesempatan ini!

"isyarat itu disusul dengan satu tendangan.

Bu Pa tercengang sedetik atau segera dia menyambar dengan tangannya, menyambar kaki orang, ketika It Hiong menarik kakinya, sepatunya copot sebab terus terpegang kena oleh lawannya.

Lantas Bu Pa tertawa dan berkata ."Terima kasih, Tio taihiap!

kau telah mengalah terhadapku"

It Hiong menghela napas, ia menunjuki tampang sangat menyesal.

Bu Pa tidak menghiraukan lagi keadaan orang, dia hanya lantas menoleh kepada adik seperguruannya, buat terus berlari seraya berkaok girang ."Adik, adik In Go, kau lihat!"

Dan ia mengancungkan sebelah tanganya, mengangkat tinggi sepatunya It Hiong yang terus ia pegang saja.

In Go meliat itu, diapun lari menghampiri, kegirangannya bukan kepalang ia menubruki dan merangkul Bu Pa dengan Ia tak dapat bicara, ia merangkul erat-erat dan meletakkan kepalanya didada sang suheng, kakak seperguruannya.

Tonghong Kiauw Couw juga lari menghampiri.

"Saudara Bu Pa. kau hebat"

Pujinya.

"Kau mengagumkan! aku beri selamat padamu, buat perjodohan kalian yang terangkap dengan indah. Bu Pa sangat girang, dengan sebelah tangannya, merangkul In Go, tangannya yang lain mengangkat tinggi memperlihatkan sepatu rampasannya.

"Terimah kasih! terima kasih! kau memuji saja!"

Serunya. Dengan langkah jingkat. It Hiong terus menghampiri, ia memberi hormat pada Bu Pa seraya berkata ."Saudara Bu Pa. terimah kasih untuk kebaikanmu, yang menaruh belas kasihan padaku,"

"Oh, saudara, kau terlalu merendahkan diri!"

Kata Bu Pa.

"Saudara Bu Pa! kata pula It Hiong menggoda.

"Kalau nanti tiba saatnya buat minum arak kebahagiaan, aku harap kau jangan lupa aku--tapi , eh. adikmu itu, kenapa dia berdiam saja?"

In Go mendengar semua, ia girang berbareng jengah, ia malu sendiri, maka ia mendekam terus di dada kakaknya seperguruannya itu, sang kekasih.

Kiauw Couw tertawa melihat lagak nona itu, kemudian ia tertawa pula kapan ia melihat mengawasi sepatunya It Hiong, ditangannya Bu Pa.

It Hiong pun ingat sepatunya.

"Saudara Bu Pa, bagaimana kalau kau kembalikan padaku barang tanda kemenanganmu itu?"

Tanyanya tertawa. Bu Pa lupa pada sepatu orang, atas tawa dan kata-katanya muda-mudi itu, dia bingung .

"Apa?"

Tanyanya pada It hinog.

"Itu, sepatu yang menjadi perantara jodoh kalian berdua!"

Sahut si anak muda.

"maukah kau memulangkannya padaku?"

Baru sekarang Bu Pa sadar, ia melihat sepatu ditangannya, terus ia tertawa, maka lantas ia melepaskan tubuhnya In Go. akan ia melompat pada It Hiong.

"Aku lupa!"

Katanya seraya terus memakaikan sepatu orang.

Selagi Bu Pa bekerja itu, telinga mereka berempat mendengar suara nyaring dar bentrokan senjata tajam, maka semua lantas menoleh, maka sekarang baru mereka ingat yang Tonghong Liang sedang bertempur hebat dan suara itu disebabkan beradunya senjata mereka itu berdua!

Selama bertempur, terus Tonghong Liang mendesak lawannya, ia dapat berbuat begitu sebab ia bersenjatakan pedang dan ilmu pedangnya ilmu pedang kilat, Hong Kun terus main melompat, mundur atau menyamping ke kiri dan kanan, desakan si bocah membuatnya tak sempat menghunus pedang dipunggungnya, untung buat ia ialah keuletannya dan tenaga dalamnya yang terlebih mahir.

beberapa kali ia menghajar dengan hebat tetapai selalu gagal, sebab lawannya gesit sekali, barulah selagi Bu Pa dan In Go kegirangan, selagi Kiauw Couw dan It Hiong mengghoda dan meminta sepatu itu, waktu itulah baru Hong Kun memperoleh kesempatannya.

Tiba-tiba murid cerdik dan licik ini dari It Yap Tojin menggunakan waktunya, disaat ia diserang mendadak ia menjejakkan tanah melompat jauh setombak jauhnya, dan selekasnya ia menaruh kaki sebat luar biasa, ia menghunus pedangnya, maka itu, ketika Tonghong Liang menyusul dan menikam pula, sempat ia menangkis dengan pedangnya, hingga senjata mereka beradu keras, habis itu, segera ia membalas menyerang, dengan menggunakan pedangnya, dengan cepat ia mencoba membalas menyerang.

Kiauw Couw terkejut mendengar suara pedang, apapula selekasnya ia melihat adiknya mulai didesak Hong Kun, tidak ayal lagi ia melonpat berlari, akan menghampiri adiknya, cepat ia tiba, tepat Hong Kun membacok adiknya itu, terus saja ia mewakili adiknya menangkis, selagi si anak sendiri mengegos tubuhnya, begitulah pedang mereka beradu keras, menyusul mana Hong Kun melompat mundur, karena pedangnya mustikanya keras lawan keras, karena si nona telah menggunakan Keng Hong Kiam pedang mustika juga!

Dengan sinar mata gusar, Kiauw Couw mengawasi tajam pada Hong Kun, habis itu ia menarik tangan adiknya, buat di ajak pergi ke rombongannya It Hiong bertiga Bu Pa dan In Go.

Hong Kun tidak berkata apa-apa, dengan langkah perlahan ia susul muda-mudi itu, pedangnya ia masukkan kedalam sarungnya selagi ia berjalan.

Bu Pa dalam kegirangannya menyambut Tonghong Liang tahu siapa terus ia tepuk-tepuk.

"Saudara, hari ini kita berdua beruntung sekali!"

Katanya, gembira.

"Kita telah dilindungi tuhan yang maha kuasa!"

Ketika itu hatinya Tonghong Liang masih sedikit berdebaran sebab ia ingat ancaman bahaya dari lawannya tadi, syukur kakaknya ia dapat menolong pada saatnya yang tepat, ia mengawasi Bu Pa tanpa mengatakan sesuatu.

Tio It Hiong sebaliknya, pemuda ini dengan bersemangat berkata.

"Setiap laki-laki sejati, dia mesti bersedia menghadapi golok yang dapat mengucurkan darah atau pedang yang akan menerbangkan semangat, siapa yang dapat berbuat barulah dia sanggup mengangkat namanya didalam dunia sungai telaga! kali ini satu ancaman bahaya berarti tambahan pengalaman! maka itu, saudaraku yang muda, kau harus ingat ini baik-baik! jangan sekali-kali kau menjadi takut!"

Kata-kata gagah itu sangat meresap dalam hatinya Tonghong Liang.

"Akan aku ingat baik-baik!"demikian jawabnya.

"Kalau mesti bertempur lagi sekali, akupun tidak takut!."

Lantas dia menoleh pada Kiauw Couw, sang kakak, untuk berkata."Kakak, pedangmu itu hebat! bagaimna kalau lain kali ada kesempatan, dapatkah kau mencurikan pula sebuah untukku?"

Dasar masih seorang bocah, enak saja si Liang ini ,mengutarakan kata-katanya itu. satu kali kakaknya "Mencuri"

Pedang orang, ia menyangka lain kali kakaknya itu boleh mencuri pula.

"Hus!"

Berseru sang kakak, yang terus tertawa.

"dirumah ada sebuah golok mustika yang tajam luar biasa, yang dapat dipakai menguntungkan emas atau membelah batu kemala, kenapa kau justru menghendaki pedang?"

Matanya Tonghong Liang berputar, otaknya bermain.

"Tidak"

Sahutnya.

"Golok tidak cocok bagiku! aku menyukai sekali pedang!"

Inilah sebab dia terpengaruh pedang lihai dari Hong Kun.

It Hiong rada bingung, ia khawatir anak itu menginginkan Keng Hong Po Kiam.

kalau begitu, urusannya dapat menjadi berlarut-larut, sedangkan pedang itu ia sangat butuhkan, bagaimana kalau ia terlambat hadir di In Busan?

maka ia lekas-lekas berkata pula."Adik, siapa hidup merantau, pribadinya harus melebihi golok dan pedang mustika!

mengertikah kau akan hal itu?"

Tonghong Kiauw Couw mengawasi Tio It Hiong, mulanya ia heran, atau dilain detik, ia insaf, maka ia lantas menandingi."Benar, kata-katamu benar, tuan Tio!

hampir aku kena dilibat keinginan memiliki pedang mustika!"

It Hiong mengangguk, masih ia berkata pula."Masih ada satu hal !

buat apa memiliki pedang mustika kalau kita tidak sekalian memiliki pribadi tinggi?

dengan begitu, mudah sekali kita mengundang datangnya bahaya maut, tanpa pedang tetapi hanya membekal pribadi luhur, dapat juga kita merantau, keselatan atau ke utara, dan di empat penjuru lautan, kita menanam memupuk persahabatan!"

Mendengar itu Hong Kun turut bicara, katanya.

"Itulah cuma cara bicaranya si orang sekolah, cuma buat mengelabui orang banyak, --Hm! bagaimana dengan jiwanya bocah ini barusan? dia telah ditolong oleh pribadi luhurkah, Hahahaha! siapakah hendak kau perdayakan?"

Tonghong Liang tunduk, ia memikirkan kata-katanya dua pemuda itu. It Hiong menjadi gusar sekali. orang she Gak itu menjadi pengacau! "Gak Hong Kun!"

Serunya. Hong Kun kaget, orang menyebut she dan nama lengkapnya, sinar matanya lantas berputar, otaknya bekerja, hanya sebentar, ia lantas mendapat pikiran.

"Dengan mata berputar, ia berkata keras."Gak Hong Kun, benarkah kau tidak tahu malu?"

Ia menyebut Gak Hong Kun walaupun Gak Hong Kun adalahnya dirinya sendiri.

didalam keadaan seperti itu, masih ia hendak mengacaukan pikirannya Kiauw Couw berempat.

Hong Kun berbuat begitu karena ia takut ada langkah dari Tonghong Kiauw Couw, ia ingin mengacaukan pikirannya nona itu, agar jangan berpihak pada saingannya itu, orang yang ia tengah sarukan tampang dan namanya, tegasnya, It Hiong ia jadikan Hong Kun!

kembali ia mau perang uraf syaraf.

It Hiong gusar hingga ludeslah sisa kesan baiknya terhadapnya, dari merasa kasihan ia menjadi benci.

maka dengan alis berdiri dan sinar mata bengis, ia menatap muridnya It Yap Tojin itu, lalu sembari menoleh kepada Tonghong Kiauw Couw, ia berkata."Nona, aku memintah sudikah apakah kau mengembalihkan pedang mustika padaku, sekarang ingin aku membinasakan dahulu manusia jahat ini, kemudian baru aku mau pergi ke In Bu San guna membasmi semua bajingan agar tidak ada sisanya sekali pun satu iblis saja!"

Dalam murkanya itu, It Hiong menjadi keren sekali.

lantas ia menghampiri nona Tonghong, untuk mengulurkan tangnya, buat mencabut pedang Keng Hom Kiam yang berada di punggungnya nona itu.

Kiauw Couw berkelit dengan ia mundur selangkah.

"Tahan dullu!"

Katnya saabr, Hong Kun sendiri sudah lantas melompat mundur sejauh lima tindak, untuk ia menghunus pedangnya-Kie Koat Kiam, untuk segera menantang."Apakah kau sangka aku takut padamu? Hm,"

Nona Tonghong mengawasi It Hiong dan Hong Kun bergantian, terhadap It Hong kepadannya luar biasa, ia mencuri pedangpun melulu dengan maksud mencari pemuda itu, hanya buat apa, ia mencari pemuda itu, hanya buat apa , dia sendiri tidak tahu jelas, ia cuma merasa ada sesuatu yang mengingatkannya pada pemuda itu, tetapi itu tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, diluar dugaannya, sekarang muncul dua orang Tio It Hiong yang membuatnya ragu-ragu pikirannya Bimbang, disaaat terkhir itu, ia memikirkan pemecahannya.

dan ia percaya kalau kedua anak muda itu dibiarkan bertempur, akan ketahuan siapa yang terlebih lihai dan pada orang itu ia ingin serahkan pedang Keng Hong Kiam.

Paling akhir ia melirik Hong Kun, yang sikapnya tembereng itu, setelah maju ia berkata."Ada pedang mustika tanpa kejujuran, itu memudahkkan kebinasaan diri sendiri, maka itu kau sahabat, kau memmiliki pedang mustika tetapi kau tidak jujur, kau kurang bijaksana!

kenapa kau menantang pada orang tanpa senjata mustika?"

Hong Kun tertawa.

"Habis, apakah maksudmu, nona?"

Dia bertanya. Tonghong Kiauw Couw tertawa.

"Supaya adil, baik kau tukar pedangmu dengan pedang biasa saja!"

Sahutnya "setujukah kau?"

Hong Kun tersenyum, otaknya bekerja, tak sudi ia mempercayai nona itu, ia curiga, bahwa mungkin orang mengarah pedangnya itu.....

"Siapa tidak mempunyai pedang mustika, baiknya dia terima nasib saja!"

Kemudian katanya getas.

"Buat apa aku diharuskan menukar pedang?"

Ia lantas menoleh, akan menatap It Hiong, untuk berkata keras."

"Gak Hong Kun, jika kau suka menyerah kalah maka aku, Tio It Hiong, akan memandang kepada persahabatan kaum kang-ouw, akan aku tak membinasakan kau habis-habisan! kau insaf sekarang?"

Hebat muridnya It Yap Tojin itu, sampai disaat itu, ia masih hendak membikin kacau pikirannya Tonghong Kiauw Couw!

masih dia menyebut dirinya Tio It Hiong dan menyebut It Hiong sebagai Hong Kun!

Mendengar suara itu, hampir dadanya anak muda kita meledak saking panas hati, bagaimana rendah orang yang tadinya ia kasihani itu!

tapi dasar sudah mahir latihan tenaga dalam, masih ia dapat menguasai dirinya.

sebaliknya dari pada mengumbar hawa amarahnya, diam-diam ia mengerahkan tenaga dalamnya, akan menyalurkannya pada pedangnya, guna sewaktu-waktu siap digunakan.

Tonghong Kiauw Couw mengawasi kedua pemuda tu bergantian, ia tersenyum.

"Sahabat."

Katanya pada Hong Kun.

"Tidak apa jika kau tidak sudi, menukar pedangmu. sekarang aku mempunyai satu cara lain, yang patut"

Ia memegang gagangnya pedangnya, lantas ia berkata."Itulah cara pedang mustika melwan pedang mustika! Nah, bagaimana anggapan kalian berdua?"

Setelah berkata begitu, ia pedang Keng Hong Kiam pada ujungnya, terus menyodorkan gagangnya kepada It Hiong, ia mengulur tangannya perlahan. Hong Kun tercekat hati.

"Ah, aku tolol!"

Ia sesalkan diri.

"Kenapa aku justru menyebabkan nona itu menyerahkan pedangnya pada lawan? mana mungkin pedang itu dikembalikan pada pemiliknya?"

Karena itu, dalam sejenak itu, , ia mengambil keputusannya dan segera melaksanakan itu!

dengan kecepatan luar biasa, ia membabat pada tangannya si nona yang lagi diulur itu.

Penyerangan gelap itu tapinya gagal, selagi penyerangan dilakukan, satu serangan lain dilakukan terhadap si orang rendah, yang terhajar sikutnya, hingga tengannya tertolak keras dan pedangnya terlepas dan terbang!

dengan menggertak gigi menahan nyeri, dengan tangan kiri memegangi sikut kanannya, dia lompat mundur menjauhkan diri!

Itulah It Hiong yang menyerang secara tiba-tiba sebab ia melihat nona Tonghong terancam bahaya, ia menyerang mendahului tanpa pikir lagi, sebab itulah perlu guna melindungi Kiauw Couw, iapun dapt menyerang lantas dengan dahsyat sebab ia telah mengerahkan tenaga dalamnya sejak tadi.

Ketika It Hiong sudah menyambut pedangnya, yang diberikan si nona selekasnya nona itu melihat bagaimana oarang berlaku kejam hendak menyerangnya, maka sambil menuding ia berkata keras.

"Gak Hong Kun, pungutlah pedangmu! mari kita bertempur secara laki-laki! bagaimana hina kau membokong terutama terhadap seorang wanita!"

"Sungguh hebat!"

Tonghong Liang berseru dengan pujiannya.

"Sungguh cepat!"

Dia ia bersorak bertepuk tanganbp!

Hong Kun tidak mengatakan sesuatu, lekas-lekas ia mengeluarkan obatnya untuk di telan tanpa bantuan air lagi, setelah mana ia melompat pada pedangnya guna menjemputnya itu, tapi ia tidak mencekal pedang memasukinya kedalam sarungnya!

lalu dengan tampang gusar ia menegur anak muda kita kau sendiri, bukankah kau juga membokong aku?

bagaimana nyaring kau berbunyi!"

Begitu ia berkata itu, begitu ia memutar tubuhnya buat berjalan pergi! Ketika itu, Tonghong Kiauw Couw tertawa, ia telah melihat dan mengetahuinya.

"Emas sejati tak takut panasnya api"

Demikian katanya, nyaring.

"kiranya kaulah si Tio It Hiong palsu!"

It Hiong panas.

"She dan nama dia yang sebenarnya ialah Gak Hong Kun,"

Katanya pada si nona.

"sudah sekian lama dia telah menyaru menjadi Tio It Hiong!!"

Justru itu Hong Kun, yang sudah ngeloyor pergi, balik kembali, langsung dia menghadapi nona Tonghong dan berkata secara temberang.

"Nona, jika nona mau menyaksikan aku yang rendah menempur jahanam ini, silahkan kau datang kegunung In busan! sekarang ini aku tidak mempunyai kesempatan buat melayani dia!"

"Benarkah itu?"

Ejek Tonghong Liang, yang mendahului kakaknya membuka mulut. ia pun membuat main kedua belah tangannya di depan mukanya. Biar bagaimana, panas juga hatinya Hong Kun.

"Orang mulut jail, kau mencari susahmu sendiri!"

Bentaknya.

"Kau lihat, nanti akan tiba saatnya aku memberi hajaran padamu!"

Kiauw Couw mengulapkan tangan pada adiknya, kemudian ia berkata pada orang jumawa tetapi licik itu."Kalau orang Bu Lim mengadu kepandaian, biasanya dia mulai secara memuaskan, oleh karena itu kalian berdua buat mengadu kepandaian apa perlunya kau mesti menanti sampai waktu lainnya?

kenapa naniti sampai di In busan?"

Hong Kun melengak, mukanya merah, ia bungkam.

It Hiong lantas berkata."Rupanya nona belum tahu!

lagi beberapa hari, yaitu tanggal lima belas bulan pertama saatnya kaum sesat menempur kaum sadar, sekalian kaum sesat berikut bajingan-bajingannya dari luar lautan, bakal berkumpul di gunung In Bu San, guna mengadakan pertemuan atau pertempuran yang mereka namakan Bu Lim Cit Cun.

guna disana mendapatkan kepastian paling pandai, gagah dan lihai!"

"Benar demikian!"

Hong Kun menyelutuk.

"kau yang menamakan dirimu kaum sadar, jika kau berani, datanglah keau kesana! beranikah kau?"

It Hiong tertawa.

"Telah pasti aku akan menyambut tantangan itu"

Sahutnya.

"Di sana aku nanti minta pengajaran dari kau kaum Heng San Pay!"

Hong Kun berdiam, karena ia ingat bahwa ia harus menjawab si nona, maka ia lantas berkata."Kau benar, nona memang kalau kaum rimba persilatan bertempur, tak usah mereka memiliki tempat dan waktu, akan tetapi lainlah halnya aku dan jahanam ini, kami mau mengadu ilmu pedang kami sebab aku hendak memperoleh keputusan dalam urusan merampas isteri orang!

di sana akan dapat diputuskan siapa yang bakal memperoleh julukan yang nomor satu dikolong langit ini!"

Tonghong Kiauw Couw Heran mendengar kata-kata? Merampas isteri orang"

Itu pikirnya .

"Siapakah yang merampas isteri orang? bagaimana duduknya itu? ia adalah seorang wanita, bahkan seorang nona, tidak heran kalau ia memperhatikan sekali soal itu, maka dalam herannya, ia tanya."

Kalian bukannya mengadu pedang, kalian justru berebutan isteri! buat itu, kalau mau bertempur hidup atau mati! kenapakah?"

Hong Kun dengan sikap dan suara gagah berkata."Di antara kami tidak ada satu jua yang dapat hidup bersama, karenanya kami harus mengambil keputusan dengan cara kekerasan!

maka itu kebetulan sekali, kami hendak menggunakan saat pertemuan di In Bu San untuk mengambil keputusan!

keputusan akan diambil di muka orang-orang gagah supaya jahanam ini mati puas!

disini, cuma nona seorang yang menyaksikannya!

biarlah dunia rimbah persilatan semuanya mengetahui segala kejahatannya dan dosa-dosanya!"

Gusarnya It Hiong bukan kepalang, akan tetapi ia masih dapat mengendalikan diri, maka juga sebaliknya daripada mengumbar hawa amarahnya, ia justru tertawa.

"Sahabat she Gak, benar katamu ini!"

Katanya.

"Siapa yang tubuhnya penuh kejahatan dan dosa, nanti di In Busan dapat diputuskan! itu waktu sang pedanglah yang bakal memberikan keadilan!"

Hong Kun menunjuk pedang berikut sarungnya ditangan It Hiong, ia berkata pada nona Tonghong "Nona, kau telah kerna tertipu!

bagaimana mudah kau menyerahkan pedang pada jahanam ini!

bukankah nona seperti menampar pipi sendiri?

bukankah nona bakal ditertawai orang?"

"Urusan mengembalikan pedangku adalah urusanku sendiri, bukan urusanmu!"

Menjawab si nona terang dan tegas.

"Karena itu, tak berhak kau untuk mencampur tahu! aku tahu apa yang aku lakukan!"

Ia berdiam sebentar, baru ia menambahkan."Sebenarnya aku ingin menyaksikan kalian berdua mengadu kepandaian, siapa yang menang dialah Tio It Hiong sejati, dia pula pemilik asli dari pedang Keng Hong kaim!

siapa sangka, kau telah melepaskan hakmu?

siapa yang harus disalahkan?"

Hong Kun terdesak, tetapi dia tertawa.

"Aku yang rendah bukan melepaskan hakku!"

Katanya membela.

"Aku hanya menjanjikan tempat dan waktu kepada jahanam ini! maka itu, nona, kalau aku benar-benar seorang yang menepati janji, aku minta kau jangan dahulu menyerahkan pedang sebelum ada pertempuran yang memutuskan!"

Kembali orang she Gak itu hendak menghasut, supaya si nona batal mengembalikan pedangnya. Kiauw Couw cerdas sekali, tak mudah ia terpedayakan. maka juga ia berkata."

Bu Ie San tak dapat disamakan dengan In Bu San, dari itu, urusan pemulangan pedang dengan urusan pertandingan kalian berdua tak dapat disangkut pautkan!

pedang itu terserah padaku, pada siapa aku merasa senang, kepadanya akan aku menyerahkannya!

kau telah melepaskan hakmu, maka pedang aku serahkan pada sahabat ini!"

Gak Hong Kun melengak, gagal ia dengan lidahnya yang tajam.

"Nah, sampai jumpa pula di In Bu San!"

Kemudian ia berseru, terus ia melompat pergi, akan terus lari turun gunung! It Hiong lantas memberi hormat pada si nona.

"Nona, kau baik sekali, telah kau mengembalikan pedangku,"

Katany "Nona aku menghaturkan banyak-banyak terima kasih! nona, lain waktu kita akan bertemu pula! sampai jumpa lagi!"

Begitu ia menutup mulutnya, It Hiong pun mau berlalu.

"Tunggu dulu!"

Tiba-tiba si nona mencegah It Hiong menundah kepergiannya.

"Kalau ingin bicara apa, nona?"

Tanyanya sabar. Dengan tampang sungguh-sungguh, Kiauw Couw berkata."

Sebenarnya aku mengembalikan pedang ini, bertentangan dengan maksudku yang semula, maka juga hal itu kalau diketahui kang ouw, orang akan menertawakan aku, ah......"

Nona itu berhenti bicara dengan tiba-tiba , mukanya merah sendiri. It Hiong dapat menerka kekhawatirannya si nona.

"Bagaimana caranya mengembalikan pedang itu yang dapat membuat hatimu tenang, nona?"

Ia tanya.

"Coba kau memikirkannya"

Sahut si nona, dia justru membalikan. It Hiong heran hhingga ia melengak, bagaimana justru ia yang harus memikirkannya.

"Jika aku yang memikirkannya nona, mungkin nona justru nanti tak menyetujuinya,"

Sahutnya. Nona itu tersenyum.

"Cobalah kau utarakan itu,"

Katanya si nona "Percaya, tak nanti aku mempersulitmu. buatku sudah cukup asal itu selayaknya atau selaras..."

It Hiong heran juga, setelah urusan sampai begini jauh, masih ada ekornya yang berupa syaratnya aneh ini.

"Bukankah mudah saja buat aku meninggalkan pergi"

Pikirnya, disaat itu, ia memang tidak mendapat memikirkan sesuatu, maka sekian lama ia berdiri diam saja.....

Ketika itu sudah mendekati tengah hari, diantara rantingranting pohon, burung-burung kecil beterbangan pergi datang dan turun naik sambil ramai mengasi dengan celotehnya.

ditanah datar itu, sunyi segalanya.

Dalam keadaan diam itu, It Hiong mengangkat kepalanya melihat kelangit.

Tiba-tiba ia melihat beberapa ekor burung elang lagi beterbangan.

tiba-tiba juga ia ingat sesuatu.

Pikir, inilah saatnya buat ia memberi kepuasan pada si nona, siapapun telah berdiam saja.

"Saudara Bu Pa, silahkan kalian datang kemari!"

Ia memanggil muda-mudi murid -muridnya Gwa To sin mo itu.

yang tengah duduk berduaan dan berbicara asyik akan mencicipi madu asmara, hingga mereka melupai segala urusan lainnya, tak peduli It hiong dan Hong Kun telah bentrok.

Si anak muda masih harus mengulang-ulang panggilannya, baru Bu Pa berdua mendapat dengar dan menoleh, lantas si pria menarik tangannya si wanita, buat diajak lari menghampiri.

"Ada Perintah apakah tayhiap?"

Bu Pa tanya sambil memberi hormat.

"Aku hendak meminta kembali pedangku ini, suka apalah kalian berdua menjadi saksinya."

Kata It Hiong. Bu Pa segera menepuk dadanya dan berkata."

Tayhiap, urusanmu ialah urusanku si Bu Pa, maka itu tak peduli ada urrusan bagaimana besar, aku berani bertanggung jawab"

In Go melirik dan berkata perlahan."Orang belum lagi menjelaskan urusannya kau sudah tergesa-gesa tidak karuan...."

"Begini duduknya hal ini"

It Hiong segera memberi keterangan."Mulanya syarat si nona Tonghong akan mengembalikan pedang ialah si pemilik pedang harus bertempur dahulu dengan nona, dan kalau si pemilik menang satu atau setengah jurus , barulah pedang itu dikembalikan, tetapi sekarang telah berubah, maka si nona mengubah juga syaratnya itu, bahkan ia menghapus, tapi si nona khwatir orang kang ouw nanti menertawakannya, kalau ia menyerahkan dengan bersahaja, dari itu ia....."

"Kau menghendaki kami berbuat apa, sahabat she Tio?"

In Go bertanya .....

"Bagaimana harusnya aku bilang, kalian berdua cuma diminta menjadi saksi saja"

Sahutnya It Hiong.

"kami tidak berani mmbikin berabeh atau sulit.

"ia terus menghunus pedangnya.

"Maka itu di depan kalian dan nona Tonghong, hendak aku pertunjukan ilmu silat pedangku yang buruk, itulah Gie Kiam hui Hong sut, ilmu pedang terbang, dengan pertunjukan ini aku harap akan dapat meyakinkan nona Tonghong dan membuatnya kelak tidak mendapat tertawaan orang yang tidak tahu duduknya urusan kita ini."

"Itulah bagus!"

Berseru Bu Pa dan In Go "Aku akur! suka aku menjadi saksinya."

Nyatanya Tonghong Kiauw juga menyetujui cara itu, katanya."sahabat, dengan mempertontonkan ilmu kepandaianmu itu, aku anggap itu melebihkan cukupnya Bila kita mengadu pedang, bahayakan itu justru membuat kami tambah penglihatan serta pengetahuan!

silahkan!"

"Baiklah, nona!"

Berkata si anak mudah.

"Saudara Bu Pa, kalian saksikanlah,"

Segera setelah suaranya berhenti, It Hiong sudah lompat mencelat dengan Te Ciong sut, ilmu meringankan tubuh Tangga Mega, sembari berlompat itu, ia mementangkan kedua belah tangannya dalam sikap jurus "Pek ho liang ce," --jenjang putih membuka sayap, ia melompat tinggi dan kaki lebih berbareng itu, ia menghunus pedangnya, seterusnya ia melompat tak hentinya, tinggi jauh, hingga gerak-geriknya itu nampak mirip orang yang lagi terbang melayang mundar mandir, selama mana selain pedangnya dibulang-balingkan, hingga sinarnya pedang berkilauan, ia bergerak dengan sangat cepat dan lincah, hingga ujung bajunya pun terus berkibar-kibar.

Bu Pa berdua In Go, terutama Tonghong Kiauw Couw , juga Tonghong Liang, mengawasi tanpa berkedip, mereka sangat tertarik hatinya, kagumnya bukan main.

bahkan Tonghong Liang yang kekanak-kanakan turut menjadi mendelong saja, dia merasa tegang sendirinya, tanpa merasa ia mendekati kakaknya akan memeluknya.

Lewat sekian lama maka tiba-tiba saja It Hiong mencelat ke depannya ke empat orang penontonnya itu, dia menginjak tanah tanpa suara, menandakan kesempunaan dari ilmu peringan tubuhnya itu, ia tersenyum dan berkata merendah."Telah aku memperlihatkan pertunjukan yang buruk......"

Tonghong Kiauw Couw berempat masih mengawasi anak muda itu.

"Nona, bagaimana sekarang?"

Tanya si anak muda.

"Cukupkah pertunjukanku ini menenangkan hatimu?"

Dari diam mengawasi, nona Tonghong lantas tersenyum.

sekarang tenanglah hatinya, maka ia menjadi girang sekali.

diam-diam ia sangat mengagumi pemuda tampan di depannya itu, yang memiliki kepandaian demikian lihai.

"Tadinya aku keliru memandang kau, tayhiap?"

Katanya kemudian mengakui kekeliruan pandangannya.

"Aku harap tayhiap suka maafkan aku"

Selagi berkata begitu, nona ini melirik pada In Go dan Bu Pa, maka ia mendapatkan si nona In masih merangkul pacarnya, sebab tadi itu dia kagum berbareng ngeri menyaksikan pertunjukan luar biasa dari It Hiong itu, dia ternyata mendapat serupa kesan seperti Tonghong Liang mengenai kepandaian It Hiong, menyaksikan tingkahnya Nona In itu, ia jengah sendirinya, mukanya menjadi bersemu merah dadu.

Justru Kiauw Couw melirik padanya, justru In Go menoleh juga, maka dia menjadi likat sekali, sebab orang pergoki dia lagi merangkul Bu Pa, lekas-lekas dia melepaskan rangkulannya, sembari memisahkan diri, dia merapikan rambutnya, guna menutupi rasa malunya itu,...

Bu Pa sebaliknya sudah lantas berkata nyaring "Inilah dibilang bahwa kenyataan mengalahkan segala apa!

inilah ilmu pedang yang langkah dikolong langit ini!

kalau nanti ada oarng yang usil mulut, yang berani menyatahkan yang tidak tidak, maka aku Bu Pa, aku suka menjadi saksinya!

malah sebagai saksi, aku sangat girang, mukaku menjadi terang!"

Tidak cuma berkata begitu, Bu Pa bertindak menghampiri It Hiong, guna memberi hormat buat mengutarakan penghargaannya. Maka It Hiong menjadi tersipu-sipu membalas hormat itu.

"Ah, saudara Bu Pa bisa saja!"

Katanya.

"Terima kasih, saudara, yang kalian suka menjadi saksi kami!"

Tonghong Liang pun menghampiri It Hiong, tangan siapa ia cekal keras-keras.

"Kakak, aku minta sukalah kau mengajari aku ilmu Gie Kiam Hui Heng Sut itu!"

Pintanya. It Hiong menyukai bicoh itu, tak tega ia menampiknya, maka ia berkata."Nanti adik, setelah selesai pertemuan besar di In Bu San, baru aku mengajari kau"

Tonghong Ling menerima baik janji itu, dia girang sekali.

"Inilah janji!"

Katanya.

Bu Pa dan In Go sementara itu tercekat hatinya.

keduanya menjadi tidak enak, mendengar di sebutnya gunung In Bu San, mereka jadi ingat pesan guru mereka disaat guru dan murid mau berpisah, ketika itu sang guru.

Gwa To Sin Mo, memesan mereka buat datang tepat di In Bu San Nanti!

karena Ini, mereka menjadi merasa sukar.

Muda-mudi itu berasal dari kalangan lurus-lurus sesat, Gwa To Sin Mo tidak terkenal jahat, hanya dialah ahli racun, hingga dia memperoleh julukannya itu, Sim Mo, bajingan Sakti, dan bantuannya dibutuhkan Im Ciu It Mo, yang hendak membikin "Hoa Hiat Thian Lo,"

Jaring langit yang dapat mencairkan darah.

karena itu, tak dapat tidak, sin mo mesti pergi ke In Bu San, karenanya kedua ,muridnya ini pun di pesan mesti pergi ke gunung itu, tentu saja kedua murid ini menjadi sulit sendirinya, di Bu Ie San ini mereka telah bertemu Tio It Hiong dan telah mendapat pertolongan dari pemuda kaum lurus yang baik hati itu, bagaimanan nanti di In Busan andaikata mereka mesti menghadapi It Hiong sebagai lawan?

Mulanya Bu Pa dan In Go tidak memikirkan soal pertentangan diantara kedua golongan sadar dan sesat, gurunya p[un tidak bersangkut paut, sampai Im Ciu It Mo membujuk gurunya berpihak pada kaum sesat itu, baru mereka merasakan kesulitannya itu, demikianlah kali ini, selagi mereka berdiri menjublak, It Hiong sudah berpamitan dari Tonghong Kiauw Couw sambil ia berkata.

"Nona, berkat pedang ini, kita telah bersahabat! nona, gunung itu tinggi, air itu panjang, maka itu, sampai berjumpa pula lain kali!"

Kiauw Couw berduka sekali, ia merasa berat berpisah dari anak muda itu. tanpa merasa, air matanya berlinang-linang.

"Sahabat she Tio,"

Katanya dengan berduka.

"Jika kau tidak memandangku sebagai orang luar, aku minta sembarang saat kau sudi datang menjenguk kami....."

Dan mukanya pun merahlah......

It Hiong mengawasi, ia bingung untuk memberikan jawabannya, menghibur atau menampik?

ia jeri untuk lakon asmaranya.

dilain pihak, tak ingin ia membuat si nona bersusah hati, ia mesti menjawab dengan tepat!

ia mengawasi sekian lama, lalu ia menghela napas, untuk akhirnya berkata."

Sampai jumpa pula, nona Tonghong! sampai jumpa pula."

Segera ia memutar tubuhnya, buat melangkah dengan cepat sekali hingga lekas juga ia lenyap dikaki gunung!

Tonghong Kiauw couw berdiri mengawasi, matanya mendelong saja, semangatnya seperti telah disedot anak muda yang tampan dan gagah itu!

Jilid 61 Bu Pa dan In Go berpamitan tetapi nona Tonghong seperti tak melihat atau mendengarnya, sebab sebab ia masih terus berdiri menjublak, matanya tak berkedip mengawasi kekaki gunung dimana It Hiong menghilang.....

Masih lama nona ini berdiam terus, ketika kemudian ia bagaikan tersadar, seperti orang melamun ia berkata seorang diri.

"aku mesti pergi melihat dia...."

Tapi Tonghong Liang, sang adik, mengwasi saja lagak kakaknya itu, kemudian ia menyambar tangan orang, buat ditarik, buat diajak pulang ke Kiu Kiok Ceng Kee.

***** Dunia Bu Lim, Rimba persilatan, atau kalangan kang Ouw--sungai telaga, telah digemparkan berita tentang Bu Lim Cit Cun, pertemuan besar kaum Bu Lim, diwaktu mana bakal dilakukan pertandingan mati hidup diantara kaum sesat dan kaum sadar dikarenakan kaum sesat hendak merebut pengaruh, untuk menjadi jago tunggal agar kelak dunia menjadi dunianya sendiri, supaya selanjutnya mereka dapat melakukan apa yang mereka suka, lebih-lebih setelah tibanya hari-hari pertama dari permulaan tahun, sebab pertemuan akan diadakan pada tanggal lima belas bulan pertama hingga waktunya sudah datang dekat sekaali.

Dari perbagai penjuru angin orang telah datang kegunung In Bu San, tempat pertemuan besar itu, telah datang orangorang dari dua golongan, terutama mereka yang bersangku paut, karena datangnya dari berbagai arah banyak yang tanpa berjanji, maka juga datangnya pun masing-masing, cuma sedikit yang berombongan, setelah sampai digunung, barulah orang belkelompok masing-masing.

Semua orang yang datang itu pula terdiri dari berrbagai golongan, sebagaimana dari cara berpakaiannya atau berdandannya.

ada orang-orang biasa, ada imam To kauw, atau biksu dan nikouw kaum hud kauw, ada pelajar, ada juga pengemis, usianya pun tak tentu, ada yang tua, ada yang muda atau setengah tua, hanya yang seragam senjata mereka, pedang dan golok.

Diatas gunung kau sesat dan kaum lurus memisahkan diri, masing-masing ada gubuknya sendiri, ada gubuk yang ketiga dan itulah dari kaum penonton, maka juga gunung, yang tadinya sepi dan sunyi, sekarang menjadi ramai.

Diatas puncak utama, yang dipilih sebagai medan pertempuran, terdapat tanah datar yang luas, yang beralaskan rumput, hingga itu merupakan tempat yang tepat sekali buat maksud tersebut, disekitar itu, yang gundul, terdapat banyak batu berserakan serta juga pepohonan kecil.

Puncak itu dinamakan Pek Lok Hong, di kiri dan kanan itu terdapat puncak-puncak lainnya yang sambung menyambung, juga rimbanya, oleh karena kaum sesat mengambil tempat disebelah kiri, maka sedirinya kaum lurus menempati bagian sebelah kanan.

Tio It Hiong berangkat dari Bu Ie San, propinsi Hokkian, dia melakukan perjalanan cepat, tanpa singgah kalau tidak ada perlunya, waktu ia sampai di tempat, tujuan itu, waktunya sudah tanggal lima belas, bahkan diwaktu magrib, ia ulet tetapi toh ia merasa lelah juga, hanya setelah tiba, hatinya merasa lega, ia tak terlambat, dikaki gunung ia berhenti, buat lantas menangsal perutnya, ia membekal rangsum kering, sembari makan dan beristirahat itu, ia mengawasi orang-orang yang baru tiba, yang bagaikan berbelok berjalan mendaki gunung.

Dipermulaan musim semi, sisa hawa dingin belum lenyap, seluruhnya, maka juga diwaktu magrib, mega masih tebal, akan tetapi matahari sore cerah, hawa udarapun nyaman sekali.

Satu kali, It Hiong melihat tibanya serombongan orang, yang menarik perhatiannya.

Itulah kira-kira sepuluh orang pendeta, diantaranya ada sebuah tandu atau usungan terbuat dari rotan peranti ditanah pegunungan, diatas itu bercokol seorang biksu yang telah berusia lanjut yang tampangnya tenang sekali, sedangkan jubahnya kuning serta lehernya digantungkan rantai mutiara Liam Cu.

Dengan lantas It Hiong mengenali biksu tua itu, ialah Pek Yan Siansu.

orang suci dari kuil Bie Lek Sie ,orang yang pernah menghadiakan Wan Ie Jie, obat yang pernah menolongnya bebas dari kematian keracunan.

Di belakang tandu itu berjalan sekalian biksu, dua yang depan adalah Liang Houw Siang Ceng, sepasang biksu naga dan harimau, yang gelang-gelang emasnya dilengannya bercahaya berkilauan!

gan Sek Sie digunung Ngo Tay San, murid-murid dari kepala Pie Sie Siansu, yang lainnya, yang anak muda kita kenali, adalah Bu Kie hwesio dari Siauw Lim Sie.

Tadinya It Hiong hendak muncul, akan menemui para biksu itu, tetapi ia gagal sebab kedua tukang mengusung tandu itu jalan cepat bagaikan lari, maka agar tidak mencurigai orang, ia batal menyusul.

Sebenarnya Pie Sie Siansu sudah sampai terlebih diatas In Bu San, dia datang dengan mengajak Pie Te Siansu, adik seperguruannya, adalah ia yang mengirim surat mengundang Pek Yam Siansu karena bantuannya Biksu ahli racun itu perlu guna menghadapi para bajingan yang beracun Baik kuil Gwan Sek Sie dari Ngo Tay San maupun kuil Bie Lek Sie dari Ciong Lam San, dua-duanya menjadi cabang dari Siauw Lim Sie gunung Siong San, karenanya Pie Sie dan Pek Yam terhitung sebagai pendeta-pendeta dari satu kaum dan satu tingkat juga, juga Liauw In taysu dari Siauw Lim Sie telah mengirim undangan pada Pek Yan Siansu, hingga biksu tua itu dan berilmu ini tak dapat tidak turun gunung, maka itu para biksu yang mengiringi Pek Yam, kecuali Bu Sek dan Bu Siang, semuanya pendeta dari Siauw Lim Sie.

It Hiong tidak mendapat tahu sebab musabab dari datangnya Pek Yam Siansu itu.

maka ituy ia merasa heran, tengah ia berpikir itu, tiba-tiba telinganya mendengar beberapa kali seruan, yang datangnya dari kaki gunung.

ia lantas menoleh, ia melihat mendatangi sebuah joli, yang dilarikan keras, tendanya dikasihh turun, dan jendelanya tertutup dengan jala hitam, hingga tak terlihat siapa penumpangnya, sebentar saja, joli itu sudah lewat jauh.

Walaupun sudah magrib, itu waktu masih saja ada orang yang datang mendaki gunung, seperti tak putusnya.

Tidak lama, dengan suara sedikit berisik, tampak mendatangi serombongan wanita, yang berambut panjang dan dikasih turun terlepas, semua mereka itu mengenakan ikat pinggang tersulam, disebelah depan mereka berjalan belasan orang lainnya.

"Ah, mereka pun telah tiba!"

Kata It Hiong didalam hati, sebab ia kenal semua wanita itu ialah tujuh orang muridnya Im Cin It Mo, belasan orang yang berjalan di muka itu, sinar matanya semua sinar mata bodoh dan jalannya pun sambil tunduk.....

Ketika Ek Toa Biauw lewat di sisi It Hiong, dia mengangguk memberi hormat, di menyapa, sebab dia mengenali anak muda kita dan dia tak jumawa, dan dia menyapa terlebih dahulu, maka si anak muda mengangguk menyambutnya.

"Apakah kalian saja yang baru tiba? "It Hiong tanya. Ek Toa Biauw tertawa.

"Guru kami duduk di joli, tadi telah jalan lebih dahulu,"

Sahutnya. Mendengar itu maka mengertilah It Hiong bahwa joli tadi diduduki Im Ciu It Mo. Selewatnya rombongan Cit Biauw Yauw-lie itu, cuaca makin suram.

"Apakah aku pun sudah waktunya naik keatas,"

Pikir si anak muda.

Atau hampir bertepatan dengan itu, tiga orang perrempuan tampak mendatangi, mereka semua bertubuh ramping, semua membekal pedang pada punggungnya, dan jalannya pun tenang-tenang saja, sebab sembari mendaki mereka itu sambil bicara.

diantaranya terdengar kata-kata."

Kakak Kiauw In...."

Mendengar demikian, tiba-tiba saja semangatnya It Hiong terbangun, segera dia memasang mata, atau lantas hatinya menjadi girang luar biasa.

Meskipun dengar samar-samar, segera ketiga wanita itu dapat dikenal si anak muda sebagai tiga orang terhadap siapa dia paling prihatin!

maka tidak waktu lagi, ia berlari pergi memapaknya.

"Kakak!"

Panggilnya setelah ia datang dekat.

Dengan lantas ketiga orang perempuan itu menghentikan langkahnya, semua mengangkat muka, mengawasi ke depan, hingga mereka pun mendapat lihat siapa yang menyapanya itu.

Ketiga orang itu ialah Kiauw In yang terdepan, lalu Pek Giok Peng, lalu Tan Hong si nona kaum sesat yang telah sadar dan mengubah tingkah lakunya.

"Oh, kau adik Hiong?"

Nona Cio menanya.

"Kau sendiri saja?"

Belum lagi orang menyahuti. Giok Peng sudah lompat menyambar lengan orang seraya dia berkata keras."Oh, bagaimana sukarnya aku mencari kau!"

"Kakak Hiong, Tan Hong pun menyapa dengan girang luar biasa.

"Bagaimana kesudahannya kau meminta pulang pedangmu, kakak? bagaimana kau dapat tiba terlebih dahulu dari pada kami?"

It Hiong demikian gembira hingga ia tidak tahu siapa yang ia mesti jawab.

"Mari!"

Kiauw in lalu mengajak, ia insaf bahwa jalanan itu bukannya tempat mereka memasang omong, ia menarik tangannya Giok Peng sambil menambahkan."Adik Hiong tak bakal lari, maka itu mari kita cari tempat yang aman di mana kita dapat berbicara dengan bebas"

Giok Peng semua setuju, maka berempat mereka berjalan bersama, mereka pergi jauh tiga tombak dari jalanan, di sana ada sebuah batu besar, di belakang batu itu mereka menempatkan diri, hingga mereka tak mudah dilihat orang lain.

It Hiong segera memberika penuturan bagaimana caranya ia berhasil mendapatkan pulang pedangnya.

ia bercerita jelas, dan akhirnya ia memberitahukan, Tan Hong halnya kakak seperguruan kakak nona itu yaitu Beng Leng Cinjin, kedapatan digunung Hek Sek San dalam keadan ingatannya terganggu disebabkan terpengaruhkan orang jahat.

Tan Hong kaget, berduka dan gusar berbareng, hingga ia menggertak gigi.

"Sungguh jahat, Im Ciu It Mo!"

Berkata si nona dalam sengitnya.

"Bairlah, akan aku mencara balas terhadapnya, supaya aku dapat membantu kakakku itu!"

"Adik, kau sabarlah."

Kiauw In memberikan nasehat.

"Janganlah kau terpengaruhkan kemarahanmu hingga pikiranmu menjadi kacau.

mernurut aku, lebih dahulu kita pergi ke In Bus San, di sana kita tuturkan perihal kakakmu itu dan kemudian pikirannya para cianpwe.

aku kira mereka tentu akan memberi petunjuk bagaimana kita harus bertindak.

"Menurut terkaanku tentunya Gak Hong Kun turut memainkan peranan dalam urusan ini"

Giok Peng mengutarakan sangkaannya.

"Itulah benar,"

It Hiong kasih tahu.

"It Yap Tojin justru menjadi pemimpin di belakang layar dalam usaha Bu Lim cit Cun itu! laginya...."

Sudah terlanjur bicara, It Hiong memikir buat mengasih tahu halnya, bahwa dalam pertemuannya dengan Hong Kun di Bu Ie San, pemuda she Gak Itu telah menentangnya bertempur di In Bu San nanti.

Justru itu, Giok Peng telah mencelanya."Lagi apa?

kau bicaralah, apa mungkin kau menyangsikan aku masih berat memikirkan manusia buruk itu?"

It Hing tertawa, tak sudi ia menimbulkan urusan lama, itu cuma akan membuat nona Pek menjadi menyesal, berduka dan mendongkol saja, ia tertawa dan berkata, ."Urusanmu dengan Hong Kun ada bagaikan awan yang telah buyar dan lenyap, oleh karena itu tak usah kakak masih mengingatnya!

Tio It Hiong bukanlah seorang laki-laki yang cemburu...."

Kiauw tertawa.

"Kau bicara tidak lancar, adik, maka juga adik Giok Peng menjadi tidak sabaran!"

Katanya.

"kau mengatakan lagian.......Nah, kau bicaralah terus! lagian apakah itu?"

"Lagiannya begini kakak...."sahut It Hiong, yang terus menceritakan bagaimnan ia meminta pedangnya tetapi di gunung Bu Ie San ia bertemu dengan Hong Kun yang ngotot mengaku diri sebagai"

Tio It Hiong,"

Hingga kesudahannya pemuda itu she Gak itu, menantangnya buat mengadu kepandaiannya di gunung In Bu San. Mendengar itu , Giok Peng tertawa.

"Kalau begitu aku keliru menerkamu!"

Katanya, yang mengakui kekeliruan terkaannya.

Habis itu, masih mereka bicara lain-lain urusan, mereka asyik sekali hingga tanpa ,merasa mereka ditinggal pergi sang waktu, hingga tahu-tahu sang malam telah tiba dan si putri malam mulai memperlihatkan cahayanya yang indah permai, malam itu terang mirip seperti siang hari....

Tiba-tiba malam yang sunyi dipecahkan suara siul yang nyaring dan tajam seperti menikam telinga, hingga It Hiong berempat lantas menggerakkan tubuh mereka, untuk berbalik dan mengawasi dari mana suara hebat itu datang, dengan demikian mereka lantas melihat seorang wanita tua bersama seorang nona muda sekali mendatangi mereka, mereka berdua itu mirip nenek dan cucunya.

Kedua orang perempuan itu menggunakan masing-masing baju panjang dengan tangan pendek, kaki mereka tanpa sepatu, dan bajunya itu disulam dengan kupu-kupu warna merah maron, hingga nampak sangat mencorong dan mentereng!

Si nona yang berjalan disebelah depan, meriap-riapkan rambutnya yang turun kebahunya, usianya baru tiga atau empat belas tahun, dialah yang memperdengarkan suara siulan tajam itu, berulang-ulang, tak hentinya, hingga sikapnya itu yang aneh pasti membuat orang merasa heran.

It Hiong melengak, ia telah melihat dan mendengar banyak tetapi tidak kenal nenek dan kacung wanita itu, demikianpun Kiauw In dan Giok Peng, tidak demikian dengan Tan Hong, nona yang menjadi salah satu Cin dari Hek Keng To, pulau Ikan lodan hitam dari Hay-lam, ingat yang ia pernah menemukan dua orang itu ditengah jalan disuatu tempat dalam propinsi Ouw lam, bahwa ia kenal mereka itu.

"Eh, kakak Hiong, kenapa kau nampak bingung?"

Tanyanya pada It Hiong, ia tertawa.

"Apakah kakak lupa halnya kau pernah bertemu dengan mereka itu?"

It Hiong menggeleng kepala.

"Seingatku, belum pernah aku bertemu dengan mereka...."sahutnya.

"Kalau demikian, benar-benar kau lupa!"

Berkat si nona.

"Si orang tua adalah Ang Gan Kwie Bo dari gunung Le Kong Sam di Haylam...."

Kemudian ia menunjuk si nona kecil seraya melanjutkannya.

"anak itu bernama Cio Hoa, muridnya, dan siulannya itu ialah ilmu kepandaian yang istimewa dari Ang Gan Kwie Bo, namanya Toat Pek Im Po, yang dia sangat andalkan, Cio Hoa masih muda, kepandaiannya itu dia pergunakan sebagai semacam barang mainan, dia belum melatihnya sampai sempurna kepadiaan itu, hingga suaranya cuma terdengar tajam, tidak demikian apabila Ang Gan Kwie Bo, sendiri yang menyuarakannya, orang menjadi putus nyawa karenanya...

"Jika perempuan dari Lamhai itu begitu rupa, dia bakal menjadi lawan berbahaya bagi kita,"

Kata Giok Peng. Tan Hong tertawa.

"Dengan kata-katamu ini, kakak, kau jadinya mengangkat Ang Gan Kwie Bo terlalu tinggi?"

Katanya.

"Dia lihai cuma dalam siulannya itu, sedangkan kepandaiannya silatnya belum berarti banyak!"

"Bagaimana kau pikir kalau kepandaiannya Ang Gan Kwie Bo itu dipadu dengan suara seruling maut Kwie Tiok Mo Im dari Kwie Tiok Giam Po, kaucu dari Losat Kauw dari gunung Ay lo san,"katanya. kemudian.

"karena aku harus membantu melindungi cianpwe Beng Kee Eng, aku telah turun gunung terlebih dahulu, jadi aku tidak dapat mendengar siulannya itu, cuma kau sendiri yang mendengar........."

It Hiong berdiam, akan tetapi otaknya berpikir, terbayanglah peristiwa digunung Ay lao san itu dimana ia telah menempuh bahaya, hampir jiwanya melayang disebabkannya terjatuh kejurang....

Kiauw In yang sejak tadi berdiam saja, turut bicara.

"Bagaimana lihainya ilmu kaum sesat, jangan kita gentar hati,"

Demikian katanya.

"Tak dapat pikiran kita terganggu oleh karena itu, bukankah buat kau adik, sama saja itu adalah Toat Pek Im Po atau Kwie Tiok Mo Im? kau toh telah makan belut emas! kita harus berlaku tenang dan tabah, It Hong diingatkan pada darahnya binatang itu, maka segera juga pikirannya menjadi tenang, karena itu, ia sangat bersyukur pada kakak seperguruannya itu, Giok Peng dan Tan Hong pun mengagumi ingatannya tajam dari si nona.

"Ingatanmu sangat tajam, kakak,"

Kata It Hiong, menggoda.

"Pantaslah kalau kakak menjadi separuh guruku!......"

Kiauw In tersenyum, sedangkan Giok Peng tertawa dan segera berkata pada suaminya."Kau pintar sekali bicara, ya?

kalau kau mau mengangkat kakak In sebagai separuh gurumu, lebih dahulu kau mesti menjalakan kehormatan besar padanya"

Disebutnya kata guru membuat nona Cio ingat barang sesuatu, lantas ia merogoh kedalam sakunya, buat menarik keluar dua pucuk surat tertutup, itulah "kim long"

Surat rahasia, dari gurunya, yang ia telah menyimpannya dengan berhati-hati, setelah itu ia mendekati It Hiong, katanya."Ketika guru kita mau melakukan perjalanan merantau, ia telah meninggalkan tiga pucuk surat rahasia untuk kita, sampai sebegitu, baru sepucuk yang telah kita buka.

sekarang masih ada dua buah lagi kau lihat, adik, ditempat dan disaat ini, bukankah saat buat membukanya?

Aku maksudkan surat yang kedua"

It Hiong menyambuti.

"Kakak benar."

Sahutnya. ia melihat sampul surat bertuliskan empat buah huruf, bunyinya "Ban Hoa Pie Teng"

Yang berarti "selaksa bunga menutupi langit (atau kepala)"

Ia lantas menyobek pinggiran sampul, akan menarik keluar suratnya.

Ketiga nona datang dekat sekali pada si anak muda, hingga berempat mereka merubung menjadi satu, sebab semuanya ingin segera melihat bunyinya surat, setelah surat dibeber, maka mereka membacanya sebaris dari enam belas huruf kecil, beginilah bunyinya.

Gie Kiam Siauw Seng, Ban Ho Apie Teng Ay Lao Tek Cie, Hek Sek Yu Keng"

Berempat muda-mudi itu lantas mengawasi saja, tak mudah mereka membacanya mengerti, mereka harus menggunakan otak memikirin. Lewat sekian lama, Kiauw In yang mulai bicara, katanya.

"Menurut dugaanku, surat rahasia ini, kita terlambat membukanya. ada disebut-sebut nama Ay lao dan Hek sek, itulah toh gunung Ay lao sian dan Hek Sek San? bukankah adik Hiong telah menjelajah sarang-sarang bajingan dikedua gunung itu?"

It Hiong mengangguk.

"Aku sepakat dengan kau, kakak,"

Katanya.

"Rupanya sampul ini harus dibuka setelah kita meninggalkan Ay lao san atau sebelumnya pergi Ke Hek Sek San, benar demikian, bukan?"

"Tapi, apakah artinya dua baris, atau delapan huruf yang pertama itu?"

Tanya Giok Peng. It Hiong berpikir, sampai ia bagaikan tersadar.

"Empat huruf dari baris kedua, itulah kata-kata rahasia, atau kunci buat mempelajari Ilmu Gie Kiam Hui Heng Sut,"

Katanya.

"ban hoa pie teng berarti berlaksa bunga menutupi langit, maksudnya ialah di waktu mempelajari ilmu pedang orang harus mencapai batas kesempurnaan, buat mana, hati mesti tetap, belajar mesti tekun, hingga akhirnya orang dapat terbang mengedalikannya pedang, Yakni Gie Kiam Siauw Seng, jadi artinya ringkasnya belajar harus sungguh-sunguh sampai maksudnya tercapai,"

"Jika demikian,"

Tan Hong turut bicara.

"Rupanya gurumu itu. kakak, bermaksud memberi anjuran pada kau, yaitu setelah kau mememperoleh Ilmu Ay lao san, kau mesti mempelajari itu sampai sempurna, seperti berlaksa bunga menutupi langit, setelah mana, di Hek Sek San nanti, haruslah kau berhati-hati, harus waspada sebab mungkin di sana ada ancaman malapetaka."

"Aku kira taksiran adik Tan Hong cuma benar separuhnya saja,"

Kata Giok Peng.

"menurut aku, empat huruf dari baris ke empat, yang terakhir, berarti menunjuk pada kakak Kiauw In, yang digunung Hek Sek San sudah terkena racun yang mengekang kesadarannya, maksudnya ialah kita harus berjaga-jaga akan ancaman bahaya itu,..."

"Aku percaya kau benar! adik Peng,"

Berkata Kiauw In.

"Hanya sekarang ini, semua telah berlalu lewat, nah, adik Hiong, coba kau buka sampul yang ketiga itu, supaya kita tidak menyia-nyiakan waktu dan terlambat seperti sampul! kedua itu!"

It Hiong menurut, ia lantas membacanya muka sampul itu, ketiga nona bersama melihatnya, nyata tulisannya ialah "

Cit Mo Tong Hian,"

Yang berarti "tujuh bajingan muncul bersama,"

"Kleihatannya kali ini kita tidak terlambat"

Kata It Hiong pada ketiga nona kawannya, sembari tertawa.

"Masih kau bicara saja!""

Kata Giok Peng.

"Bukannya lekas buka sampulnya"

It Hiong menurut, ia merobek sampul dan menarik suratnya, maka ia lantas membacanya Bunyinya."satu racun berubah tiga racun, seratus tak suka daging atas nampan, darah bajingan mencuci pelangi kaget, laki-laki atau suami kenal mulia dan hina malu,"

Kiauw In bertiga turut membacanya.

Lalu berulang-ulang mereka membacanya dan mengulangi sebelum mereka dapat menangkap artinya maksudnya tulisan itu, yang terbagi dalam empat baris, mereka sampai pada "menunduk kepala akan mengasah otak,"

Sebab semua katakata itu sulit untuk segera ditangkap artinya dengan satu kali melihat atau membaca saja.

"Bagaimana kalau kita masing-masing menerka satu baris?"

Baca Juga: Pedang Kiri Pedang Kanan 6

Baca Juga: Manusia Yang Bisa Menghilang 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert