Eps 16 Iblis Sungai Telaga - Khu Lung
Baca online Iblis Sungai Telaga - Khu Lung
Cersil Iblis Sungai Telaga - Khu Lung.
Jie Biauw tidak menghiraukan teriakan itu.
Ia memang lagi panas hati.
Ia pula ingin membinasakan Ya Bie.
Ia tidak tahu, orang tak mungkin mendesaknya kalau tadi ia tidak menggunakan Tauwlo-ciang guna menjatuhkan lawannya itu.
Pertempuran selanjutnya menjadi hebat sekali.
Jie Biauw penasaran dan dengan bersenjatakan pedang, dia hendak mengumbar kemarahannya.
Lantas dia mendesak.
"Tahan !"
Kembali Hong Kun berteriak dengan cegahannya.
Kali ini suaranya mendengung laksana genta.
Sayang, suaranya itu didengar tetapi tidak dihiraukan.
Suara itu lenyap dibawa sang angin.
Justru Hong Kun berseru itu, justru dia seperti membuka rahasianya sendiri.
Kalau dia selalu memperhatikan nona Tonghong, nona itu pun sebaliknya.
Sebab si nona ingin memperoleh kepastian, pemuda itu Hong Kun atau It Hiong.
Sekarang ia merasa si anak muda bukannya Tio It Hiong.
Maka lantas ia menghela napas.
Ia menyesali dirinya yang tak berpengalaman hingga mudah saja ia menaruh hati terhadap seseorang yang belum dikenal.
Karena ini dengan diam-diam ia mengangkat kakinya, meninggalkan tempat pertempuran itu serta ketiga orang muda mudi, menghilang di dalam rimba yang gelap.
Hong Kun sementara itu menjadi panas hati.
Sia-sia belaka teriakannya untuk menghentikan pertempuran.
Sedangkan ia ingin sekali mendapat pulang pedangnya.
Ia berduka menyaksikan Kiauw Ciauw meninggalkannya pergi.
Nona itu tanpa melirik pula padanya bahkan cuma menghela napas.
Untuk menyerbu merampas pulang pedangnya dari tangannya Jie Kiauw, ia pun ragu-ragu.
Dua orang itu lagi bertempur hebat dan kepandaian mereka berdua agak berimbang.
Pemuda she Gak ini menjadi serba salah.
Ingin ia menyusul nona Tonghong tetapi ia memberati pedangnya.
Senjata itu bukan saja perlu terutama itulah pedang mustika.
Kalau ia berati senjatanya, si nona mungkin keburu lenyap hingga tak dapat disusul lagi....
Selagi bingun dengan hatinya pun panas, tiba-tiba Hong Kun melihat Ya Bie berhasil melibat Kie Koat Kiam, pedang ditangannya Jie Biauw dengan ular hijaunya.
Gerakannya Ya Bie gerakan sederhana saja.
Kalau toh ia menjadi lihai, itulah sebab ia dapat mewarisi ilmu cambuk dari Kip Hiat Hong Mo.
Jie Biauw sendiri berasal murid Ceng Khia Pay.
Hanya belum sampai ia sempurna mempelajari ilmu pedang kaum itu, ia sudah memisahkan diri.
Sebabnya ialah ia lebih suka mempelajari ilmu yang menggunakan racun.
Begitulah ia pergi pada Im Ciu It Mo dan menjadi muridnya Bajingan itu hingga ia menjadi berkawan bersama enam saudari seperguruannya.
Ia berhasil mendapatkan dua ilmu tongkat Tauwlo Tiang dan pukulan tangan kosong Tauwlo-ciang.
Kalau ia toh dapat menggunakan pedang, itulah karena ia sudah mempunyai dasar dan kemudian menggunakan ilmu tongkat sebagai gantinya.
Lebih dahulu dia dan kawan-kawannya mempelajari Barisan rahasia Cit Biauw Tin, baru ia menggunakan ilmu tongkatnya.
Sekarang ia menghadapi Ya Bie, yang genggamannya luar biasa.
Walaupun keduanya seimbang, ia toh repot.
Maka diakhirnya itu, pedangnya kena terlibat ular hijau.
Ia menjadi kaget sekali.
Senjatanya Jie Biauw adalah cambuk lunak yang berupa ikat pinggang, namanya cambuk Kim-tay Piancu.
Tapi senjatanya itu ia tidak bawa.
Kesatu disebabkan ia terlalu mengandalkan racunnya.
Kedua karena kepalanya besar, suka menang sendiri.
Ia sangat suka bertindak "semau gue".
Di lain pihak, ia sedang gila asmara.
Maka juga ia gilai Hong Kun selekasnya ia melihat anak muda itu.
Dalam hal mana ia sampai tak menghiraukan yang Hong Kun tidak memperhatikannya, lebih-lebih disaat si anak muda masih terpengaruhi obat Thaysiang Hoan Hun Tan.
Ia suka mengeluh sendirinya kapan ia ingat Hong Kun acuh tak acuh terhadap dirinya, sedangkan ia sendiri sudah menggunakan segala dayanya guna menarik perhatian orang hingga ia mengeluarkan lagak centilnya.
Begitulah sekarang, ia terpaksa mesti melayani Ya Bie sendiri saja.
Bukan main kagetnya mendapati pedangnya kena dilibat.
Ia menjadi bingung sekali.
Justru orang bingung itu, justru Hong Kun maju.
Baru sekarang dia mendapatkan kesempatan akan merampas pulang pedangnya.
Dengan meluncurkan sebelah tangannya, dia henda menyerang senjata istimewa dari Ya Bie atau dia membatalkan serangannya itu selagi Ya Bie terperanjat.
Lantas ia bersenyum terhadap Nona Tanggung itu, seraya berkata .
"Adik Ya Bie, sudahlah ! Buat apa kau mengotot melayani dia ?"
Dengan kecerdikannya, Hong Kun membawa aksinya It Hiong supaya Ya Bie kena diakali. Dan ia berhasil. Ya Bie pun tertawa.
"Baik, kakak Hiong. Akan aku dengar perkataanmu !"
Demikian jawabnya.
Lantas nona cerdik tetapi polos ini melepaskan libatan ularnya pada pedang Kie Koat Kiam terus ia mundur satu tindak.
Hatinya Jie Biauw lega berbareng girang yang akhirakhirnya Hong Kun toh datang sama tengah.
Tapi ia terus ingin menguji anak muda itu.
Sampai di detik penghabisan ini, ia masin belum memperoleh kepastian, It Hiong inii Hong Kun atau Hong Kun sebenarnya It Hiong.
Ia terus bersenyum menatap anak muda itu.
"Oh, kau kenal budak ini !"
Demikian katanya.
"Kiranya kalian ada dari satu kalangan ! Nah, lihatlah jurusku !"
Berkata begitu mendadak nona Ek menyerang si anak muda.
Ia membacok ke arah kepala.
Gerakanya itu sangat cepat tetapi ia tidak menggunakan tenaga keras......
Hong Kun berkelit ke samping, bukannya dia mundur, dia justru maju setengah tindak.
Dengan tangannya, dia pun menyangga lengan orang yang memegang pedang, hingga di lain detik mudah saja dia dapat merampas pulang pedangnya itu.
Sembari mengambil alih senjatanya itu, ia kata .
"Oh, adikku yang baik ! Terhadapku juga kau masih bersikap begini telengas ?"
Menutup kata-katanya itu, mendadak Hong Kun berlompat pergi akan lari masuk ke dalam rimba buat menyusul Tonghong Kiauw Couw !
Dua-dua Ya Bie dan Jie Biauw heran.
Terutama Nona Ek, dia bingung sekali.
Kiranya dia telah kena orang permainkan !
Memang, Hong Kun bertindak secara licin sekali.
Justru itu terdengarlah suara berPekik dua kali, lantas tampai sesosok tubuh besar dan hitam lari berlompatan ke arah Ya Bie.
Tiba di depan si nona, dengan tangannya dia menunjuk ke arah rumah batu.
Sebab dia So Hun Cian Li yang tadi mendengar seruan si nona.
Dia nampak girang sekali, sedangkan petunjuknya itu cuma si nonalah yang mengerti.
Ketika itu, dengan berjalannya sang waktu sudah lewat jam empat.
Ketika itu pula, di dalam rumah batu sedang terjadi pertempuran seru, umpama kata "Naga bergulat, harimau bertarung".
Im Ciu It Mo itu, diatas gunung Hek Sek San sudah membuat rumah batunya yang istimewa itu yang dilengkapi dengan pelbagai pesawat rahasia.
Kesanalah It Hiong masuk.
Ia mendahului Kiauw In dan Ya Bie kira setengah jam.
Hanya ketika ia masuk, alat-alat rahasia sudah lantas bekerja.
Karenanya ia menjadi terpisah dari Nona Cio dan Ya Bie.
Kiauw In dan Ya Bie tidak menghadapi sesuatu rintangan.
Mereka justru mempergoki Peng Mo bersama Hong Kun !
It Hiong sebaliknya, dia menghadapi ancaman malapetaka !
Selekasnya tiba di dalam, It Hiong lantas melihat sebuah ruang yang besar tetapi kosong tanpa perlengkapan kursi mejanya.
Ada juga perlengkapan lainnya tetapi membuat halaman itu lebih mirip ruang piranti berlatih silat.
Di dalam ruang itu ada sebuah pembaringan model pembaringan selir raja.
Di kiri dan kanannya terdapat parapara senjata.
Lainnya tiada.
Pada dinding di empat penjuru nampak sinar hijau berkilauan, sinar itu menerangi seluruh lantas dan lantainya licin.
Sulit menaruh kaki disitu.
Anehnya pintu cuma satu dan jendela tak ada barang sebuah juga.
cahaya terangpun tak tembus dari luar.
Maka ruang diterangi hanya sinar hijau itu.
Suasana ruang yang aneh itu dapat mendatangkan rasa jeri.....
Ketika It Hiong baru memasuki ruangan, pintu di belakangnya sudah lantas tertutup sendirinya.
Sedangkan di dalam ruang terus tampak sebuah sinar hijau yang keras sekali.
Ia bernyali besar, ia tidak takut.
Sebaliknya, ia terus mengawasi tajam ke empat penjuru dinding, guna mencari jalan keluar terutama buat mencari musuh.
Ketika kemudian matanya menuju kepada pembaringan, di atas itu tampak rebah sesosok tubuh manusia yang tidur miring madap ke tembok.
Kepalanya tertutup dengan kopian pelajar sebagaimana jubahnya jubah pelajar juga.
Kedua kakinya tubuh itu tertekuk sampai tubuh melengkung.
Di ujung jubah tampak dasar sepatu.
Orang itu rebah tanpa berkutik, napasnya pun tidak terdengar.
Hingga tak dapat dipastikan dialah seorang hidup atau mayat atau dia manusia benar atau boneka saja.......
It Hiong sudah berpengalaman.
Ia tidak menjadi jeri karenanya.
Hal itu justru membuatnya bertambah berhati-hati.
Ia hanya menerka disitu mesti terdapat banyak pesawat rahasia, peranti mencelakai orang.
Itulah yang mesti dijaga.
Setelah mengawasi tubuh yang rebah di atas pembaringan itu, It Hiong bertindak perlahan mendekatinya.
Ia ingin memperoleh kepastian, orang atau mayat siapa itu adanya.
Baru beberapa tindak, ia sudah berhenti.
Lantas ia merogoh sakunya dan mengeluarkan peles hijau akan menuang enam butir obatnya yang terus ia telan.
Itulah Wan Ie Jie, pil peranti memunahkan racun, pemberiannya pendeta dari biara Bie Lek Sie.
Setelah itu, ia maju pula.
Tiba di depan pembaringan, anak muda kita menyiapkan tangan kirinya didadanya.
"Sahabat, bangun ! Tio It Hiong datang untuk belajar !' Tidak ada jawaban dari orang yang lagi tidur itu, pun tidak waktu teguran diulangi sampai beberapa kali, hingga akhirnya anak muda kita mendongkol juga. Maka ia terus berkata nyaring .
"Sahabat, Tio It Hiong tidak mau membokong. Maka juga lebih dahulu aku menyapamu ! Aku mau berlaku hormat terhadapmu ! Sahabat, kau bangunlah ! Mari kita bicara. Sahabat, jika benar-benar kau tidak tahu selatan, jangan kau sesalkan aku !"
Kata-kata itu ditutup dengan dihunusnya pedang !
Tetap saja tubuh diatas pembaringan itu tidak berkutik.
Tetapi baru lewat sedetik maka dengan sekonyong-konyong dari bantal, kepalanya tahu-tahu menyembur asap hijau yang makin lama makin banyak, makin tebal hingga lekas sekali asap sudah beruap seperti awan yang bergulung-gulung hingga di lain saat kecuali tubuh orang bahkan pembaringannya pun tak tampak lagi sebab tertutup asap itu !
It Hiong waspada.
Matanya tajam.
Ia dapat lihat mengepulnya asap.
Lantas dia lompat mundur beberapa tindak, untuk seterusnya mengawasi lebih jauh.
Tengah ia memasang mata itu tiba-tiba ia mendengar suara anginnya senjata menyambar di belakang kepalanya.
Tanpa berpaling pula, ia berkelit ke samping guna menyelamatkan diri.
Belum lagi ia berdiri tegak, senjata sudah datang pula.
Sekarang sempat ia menangkis dengan pedangnya hingga senjata gelap itu dapat dihalau.
Anak muda kita yang telah memutar tubuh dapat melihat penyerangnya itu.
Seorang dengan tubuh besar dan kekar, pipinya berewokan, alisnya tebal, matanya gede dan bengis sorotnya.
Dia berumur setengah tua, mulutnya lebar, kulit mukanya hitam.
Pakaiannya singsat sekali.
Senjatanya ialah siang-koay, sepasang tongkat.
Dia agak melongo setelah serangannya tidak ditangkis.
It Hiong rasa ia seperti kenal orang itu.
Hanya ia lupa dimana orang pernah diketemukan atau siapa nama atau gelarannya.
Orang itu bersikap gagah, melainkan matanya yang kurang bercahaya.
Mengawasi pemuda kita, dia memperdengarkan suara tak jelas hingga terdengar bagaikan menggerutu.
Melihat mata orang itu, It Hiong segera insaf.
Orang itu mesti seorang jago rimba persilatan golongan lurus tetapi karena sesuatu dia kena dipengaruhkan Im Ciu It Mo.
Rupanya dia telah diberi makan obat yang melemahkan urat syarafnya hingga selanjutnya dia kena dipakai sebagai perkakas hidup !
"Hai, sahabat !"
Ia lantas menyapa.
"Sahabat, kenapa kau membokong aku ? Bukankah perbuatanmu ini perbuatan rendah ? Apakah kau tak kuatir nanti ditertawakan orang sesama kaum Kang Ouw ?"
Ditegur begitu, orang itu nampak terkejut. Air mukanya pun berubah.
"Hm !"
Dia mengasi suara di hidung. It Hiong percaya terkaannya tepat. Maka ia lantas berkata pula .
"Sahabat, apakah nama dan gelarmu ? Bagaimanakah aku harus berbahasa terhadapmu ?"
Orang itu melihat ke empat penjuru. Agaknya ia menjerikan sesuatu. Habis itu barulah dia menjawab perlahan .
"Akulah Boan Thian Ciu Kim Tay Liang...."
It Hiong merasa gelaran dan nama itu asing baginya. Ia tetap percaya orang bukannya kaum sesat atau dari kalangan pancalongok. Maka ia lantas tanya pula .
"Sahabat, kau asal manakah ? Apakah kau murid dari lembah Kian Gee Kiap ?"
Kim Tay Liang menggeleng kepala, terus dia menghela napas.
"Tahukah kau akan perkampungan Kim-kee-chung di kota Haphui ?"
Tanyanya.
Mendengar disebutnya nama Haphui itu, hati It Hiong menggetar.
Darahnya terus bergolak.
Ia telah diingatkan pada sesuatu yang sukar dilupakan.
Karena urusan itu mengenai soal minatnya menuntut balas serta jodohnya.
Ketika dahulu hari Tio It Hiong berguru pada Tek Cio Tojin, di dalam waktu tujuh tahun ia telah berhasil memperoleh kepandaian yang berarti.
Maka guna mencari musuhnya, ia minta ijin turun gunung.
Ia menuju ke Haphui mencari Sanbu Ong Pa guna membuat perhitungan.
Karena turun gunung itu, ia telah bertemu Nona Pek Giok Peng dari Lek Tiok Po hingga ia disukai si nona hingga ia dibantu si nona waktu malam itu ia menyerbu gedung musuhnya.
Setelah itu, berdua mereka melakukan perjalanan bersama sampai mereka singgah dan bermalam di Kim kee-chung.
Kebetulan sekali pemilik dari perkampungan itu, Kim Tay Liang menjadi sahabatnya Pek Kiu Jie dari Lek Tiok Po.
Begitulah, It Hiong jadi bersahabat bersama chungcu itu bahkan ia berdiam beberapa hari di rumah orang she Kim itu.
Sekarang secara kebetulan ia bertemu Tay Liang didalam keadaan Tay Liang yang tak wajar itu, maka ingatlah ia akan persahabatan mereka dahulu.
Lekas-lekas ia memberi hormat.
"Kiranya kaulah Kim Jie-ko, chungcu dari Kim kee-chung !"
Katanya.
"Selamat berjumpa !"
Di luar dugaan adalah penyambutannya Kim Tay Liang. Mendadak ia tertawa dingin dan kata bengis .
"Kalau kau telah ketahui nama dari Kim Jieko mu ini, kenapakah kau tidak mau lantas manda kasih dirimu ditelikung ? Kau mau tunggu apa lagi ?"
It Hiong tercengang. Orang bicara tidak karuan.
"Benarlah dia telah terpengaruhkan obat."
Pikirnya kemudian. Maka tak sudi ia melayani chungcu dari Kim keechung itu, sebaliknya ia menjadi sangat membenci Im Ciu It Mo ! Tay Liang melihat si anak muda berdiam, dengan keras dia menegur .
"Sebenarnya siapakah kau ? Kenapa kau lancang memasuki Kian Gee Kiap, lembah terlarang ini ? Apakah kau tidak takut nanti kehilangan nyawamu ?"
Habis berkata itu, tanpa menanti jawaban, dia tertawa bergelak sendirinya.
It Hiong tidak menjadi kurang senang.
Bahkan sebaliknya ia menjadi masgul.
Ia menyesali dan mendukakan kesesatannya chungcu itu.
Maka ia memikir buat menolong mengobati.
Ia ingat obatnya yang mujarab.
Tiba-tiba saja sebelum It Hiong memberikan obatnya, dari belakangnya ia mendengar teguran nyaring dan bengis ini .
"Manusia tak tahu mati tidak tahu hidup !"
Entahlah teguran itu ditujukan kepada Kim Tay Liang atau terhadapnya tetapi It Hiong sudah lantas memutar tubuhnya hingga ia mendapat lihat si penegur ialah seorang pelajar sebagaimana terlihat dari kopiah dan jubahnya.
Bahkan dialah si pelajar yang tadi rebah tak berkutik di atas pembaringan yang kemudian lenyap di dalam kegelapannya sang asap tebal !
Ketika itu asap sudah buyar seluruhnya dan pembaringan pun kosong.
Dengan sabar anak muda kita mengawasi si pelajar.
Dia itu dengan tenang bertindak menghampiri, kedua tangannya digendongan di punggungnya.
Nyatanya muka dia itu sudah keriputan.
Akan tetapi sepasang matanya sangat berpengaruh.
Dialah Ie Tok Sinshe, si ahli racun yang bernama Kan Tie Uh si murid murtad dari Siauw Lim Pay telah menyerbu Siauw Lim Sie.
"Tuan, kau bergerak gerik laksana bajingan. Apakah kau tidak takut perilakumu ini nanti menurunkan derajatmu ?"
Kemudian It Hiong menegur.
Suaranya keras tetapi sikapnya tenang dan pedangnya dibawa ke depan dadanya.
Si pelajar keriputan mengangkat kepalanya memandangi langit-langit rumah.
Tanpa menoleh atau melirik si anak muda, dia kata perlahan .
"Kau telah mengenali lohu. Apakah kau masih tidak mau tunduk untuk memohon ampun ? Kalau benar, itu artinya kau tidak tahu hidup atau mati !' Jawaban itu sangat tak sedap untuk telinga. Sepasang alisnya It Hiong terbangun. Dia gusar.
"Tok Mo, jangan kau bertingkah dengan usia lanjutmu !"
Tegurnya.
"Pendekar ini biasa dipakai menaklukan siluman dan membela keadilan ! Yang aku hormati ialah tertua rimba persilatan yang lurus dan sadar. Sebaliknya penjahat-penjahat perusak negara, pengacau dunia Bu Lim, tak peduli dia siapa, dengannya aku tak sudi hidup bersama di kolong langit ini !"
Begitu gagah It Hiong bicara. Si pelajar menjadi terperanjat dan air mukanya pun berubah sejenak. Selekasnya dia sadar, dia batuk-batuk lalu terus berseru.
"Kim lo-jie, kau bekuk bocah ini!"
"Ya !"
Menjawab Kim Tay Lian yang lantas turut berubah sikapnya.
Dengan sepasang kaitannya segera ia menyerang anak muda kita.
Tidak ada niatnya It Hiong melukai Tay Liang.
Atas serangan itu ia berkelit dengan satu gerakan Tangga Mega.
Karena itu ia pun bepikir .
"Apakah Ie Tok ini palsu atau si tulen ? Perlu aku menyelidikinya lebih dahulu agar dapat aku mengenalinya benar-benar....."
Menurut pantasnya, tidak dapat Ie Tok Sinshe berada di Hek Sek San untuk bekerja sama dengan Im Ciu It Mo.
Biasanya orang-orang sebangsa mereka itu --meski samasama kaum sesat --tak sudi mengalah satu dari lain.
Mareka biasa berjumawa dan pikirannya cupat dan juga kejam.
Pepatah pun berkatai .
"Dua jago tak dapat berdiri bersama --Sebuah gunung sukar menempatkan dua ekor harimau."
Dan kalau benar dugaannya, orang ini adalah Tok Mo, maka ia harus bersedia mengorbankan jiwanya guan menyingkirkannya.
Selagi It Hiong memikir, Tay Lian sudah menyerang pula padanya.
Dia jadi hebat sekali.
Tetapi si anak muda melayani dengan kelincahannya.
Ia selalu berkelit.
Namun, setelah lewat sekian lama ia masih diserang pulang pergi, mendadak ia berseru .
"Tahan ! Kita mesti bicara dahulu biar jelas !' Kim Tay Liang telah bernapas mendesak, dahinya penuh peluh.
"Apa ?"
Tanyanya. Nyatanya ia masih dapat mendengar kata-kata orang. It Hiong tidak menjawab orang she Kim itu. Ia hanya menoleh kepada si pelajar yang lagi berjalan mundar mandir.
"Tuan !"
Sapanya.
"Bagaimana emas murni tidak takut api, demikian juga dengan kau ! Kalau kau menghargai derajat kehormatanmu, maukan kau memberitahukan aku nama dan gelaranmu?"
Pelajar keriputan itu menghentikan langkahnya. Agaknya dia berpikir.
"Kau ingin ketahui nama lohu ?"
Sahutnya kemudian. Ia menyebut diri lohu, si orang tua.
"Apakah kau tak takut nyalimu nanti rontok ?"
Ia berhenti sejenak, baru ia menambahkan .
"Siapa yang ketahui nama lohu, dia biasanya tak akan berjiwa pula ! Apakah kau masih memikir buat menarik pulang perkataanmu ini ? Masih ada waktunya !"
It Hiong membuka mata lebar-lebar hingga tampak sinarnya berkelebat.
"Jangan banyak tingkah, tuan !"
Tegurnya.
"Kau cuma tahu menggertak orang, sama sekali kau tidak berani menyebutkan nama dan gelarmu ! Rupanya kaulah si manusia palsu yang banyak orang nanti datang untuk membuat perhitungan denganmu !' Si pelajar keriputan tertawa dingin. Tak sedap suara tawanya itu, yang dapat membuat orang jeri. Habis tertawa, dia mengawasi Kim Tay Liang, untuk membentaknya .
"Kim Lojie ! Kau perlihatkan dia benda kepercayaan lohu !"
Habis berkata, dia terus menengadah dan berjalan pula pelan-pelan.
Kim Tay Liang menyahuti, terus ia lari ke pembaringan.
Dari situ ia mengambil sehelai bendera kecil warna merah darah untuk terus dikibarkan.
Bendera itu kecil tetapi ada empat buah hurufnya yang bersinar hijau, bunyinya "Giok Hauw Kip Ciauw"
Artinya "Panggilan kilat ke neraka".
Begitu melihat lencana itu, It Hiong mengerti.
Lantas ia ingat halnya dahulu hari di Tay Hong Poo Tian dari Siauw Lim Sie waktu ia terkena racun hingga dia pingsan.
Yang beda ialah sekarang ini bendera kecil sedang dahulu sehelai kertas benang sutera, sementara hurufnya sama, empat huruf serta bersinar hijau.
Lantas juga Kim Tay Liang mau menyimpan bendera itu atau mendadak si pelajar mengulur tangannya dan menjambretnya.
It Hiong tertawa.
Kata dia .
"Bendera kecil itu milik siapa, aku tidak tahu. Sebab pendengaran dan penglihatanku belum banyak ! Sebenarnya bagaimanakah asal usulnya itu ?"
Pelajar keriputan itu menjadi gusar.
"Benar kau mau tahu juga ?"
Tanyanya bengis.
"Nah, serahkanlah jiwamu !"
It Hiong tak gentar akan ancaman itu. Sahut dia sabar .
"Tuan, kau sebutkan dahulu nama dan gelaranmu. Setelah itu baru kau ambil jiwaku ! Umpama berdagang, kita harus berlaku jujur satu pada lain. Kau toh tahu aturan itu, bukan ?"
"Hm !"
Si pelajar keriputan memperdengarkan ejekannya.
"Orang tak tahu mati atau hidup !"
Lantas ia menyentilkan jeriji tangannya membuat bendera kecil itu melesat ke arah pemuda kita !
Hebat sentilan itu, sebab bendera melesat keras sekali sampai terdengar suaranya.
Tetapi kira-kira ditengah jalan, mendadak lajunya menjadi kendor seperti ada tangan yang menarik menahannya.
It Hiong mengawasi tajam.
Ia mengerti si pelajar tengah menunjuki kepandaiannya.
Maka itu diam-diam ia menyiapkan pedangnya, bersedia buat sesuatu kejadian.
Ia pun berdiri tegak, tak berkisar dari tempatnya.
Kapan bendera itu sudah sampai di depannya It Hiong tinggal lagi satu kaki, tiba-tiba dia mundur lagi tiga kaki.
Habis mana, terus dia maju dan mundur pula.
Gerak geriknya mirip dengan lidah ular yang dikeluar masukkan.
Dan itu berjalan sekian lama, tak mau lantas berhenti !
It Hiong heran berbareng mendongkol.
Tapi ia dapat mengendalikan diri.
Hanya ia lantas berpikir .
"Siapa mau membekuk penjahat, dia harus membekuk dahulu pemimpinnya ! Demikian kali ini. Baiklah aku tak pedulikan dia Tok Mo yang tulen atau yang palsu. Akan aku singkirkan lebih dahulu ! Tidak nanti aku keliru membinasakan orang baik-baik ! Dengan begini pula aku jadi lantas dapat bukti kenyataan !"
Lantas secara diam-diam anak muda kita mengumpul tenaga dalamnya, membuat Sian Thian Hian bun Khie-kang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Setelah itu ia membungkuk seraya kedua kakinya dimendakkan sedikit, guna mempersiapkan loncatan "Rase loncat dari lubangnya".
Habis mana mendadak saja tubuh bersama pedangnya mencelat kepada si pelajar keriputan !
Di luar dugaan, tubuhnya si pelajar lenyap secara mendadak !
Dengan serangannya tanpa mengenai sasarannya, tubuhnya anak muda kita jadi meluncur terus.
Karena serangannya dilakukan dengan ilmu Gie Kiam Sut, maka itu supaya ia tak usah membentur dinding dengan lantas ia menolakkan tangan kirinya.
Selekasnya ia berdiri diam, segera ia memutar tubuh melihat ke belakang terus ke kiri dan kanan.
Benar-benar si pelajar keriputan telah lenyap dari dalam kamar itu.
Bahkan bersamanya hilang juga Kim Tay Lian, chungcu dari Kim kee-chung itu !
Sementara itu barusan karena bertolak tangan kirinya anak muda kita, dinding bersuara nyaring dan sinar hijaunya buyar.
Syukur dinding itu kokoh kuat hingga tak usah terhajar tergempur.
Sinar hijau itu membayang-bayang, mirip kunangkunang.
Menyusul itu, ruang pun menjadi sebentar gelap dan sebentar terang.
Entah apa yang menyebabkannya.
Selagi It Hiong memasang mata dan telinga, dari satu ujung kamar ia mendengar ini suara parau .
"Bocah she Tio, kau untung bagus sebab kau masih mempunyai daya untuk menyelamatkan dirimu sendiri dari serangannya sinar beracun ! Pernahkah kau merasai racun itu ? Maukah kau merasainya ?"
It Hiong mendongkol.
Tanpa mengatakan sesuatu, ia menyerang ke pojok itu !
Kembali serangan itu gagal, kembali cuma sinar hijau yang runtuh.
Terus runtuhannya melayang berhamburan.
Kali ini terdengar pula suara parau tadi, didahului dengan tawa dinginnya.
"Oh, manusia tak tahu mampus atau hidup !"
Demikian ejekan itu.
"Apakah kau berniat menempur aku ? Baiklah, lohu tak akan membuatmu kecewa ! Nah, kau lihatlah !"
Mendadak saja, tembok terdengar berbunyi bagaikan pintu menjublak hingga terlihatlah sebuah renggangan besar dari mana muncul kepalanya satu orang, ialah kepalanya si pelajar keriputan !
It Hiong sangat cerdik.
Segera ia menerka kepada kepala dari sebuah boneka.
Ia tidak jeri sama sekali.
Menuruti amarahnya, lantas ia serang kepala itu !
Bagaikan sebuah kepala hidup, kepala itu dapat membuat main alis dan matanya.
Dia tampak seperti merasa nyeri habis dihajar, bahkan terdengar juga suara kesakitannya !
Kepala itu dapat merasai nyeri tetapi tidak rusak !
Serangannya It Hiong ada serangan pukulan Han Long Hok Houw--Menaklukan Naga, Menundukkan Harimau.
Suatu ilmu silat ajarannya Pat Pie Sin Kay In Gwa Siau sedangkan tenaganya berpokok pada tenaga dalam Hian-bun Sian Thian Khie-kang.
Maka aneh sekali kepala itu dapat bertahan, tak terluka atau remuk !
Biar bagaimana It Hiong menjadi penasaran.
Terang ia tengah dipermainkan.
Karena ini, ia memikir menggunakan pedangnya.
Bertepatan dengan itu, dari belakangnya pemuda kita lantas mendengar suara yang merdu bagaikan nyanyinya seekor burung kenari.
Kata suara itu .
"Ayo ! Buat apa kau bergusar tidak karuan ! Bukankah itu tak menarik hati, tak ada artinya ? Bagaimana jika kau main-main saja denganku ?"
It Hiong terkejut berbareng redalah hawa amarahnya.
Inilah sebab ia heran mengetahui orang mempunyai kepandaian ringan tubuh yang istimewa hingga ia tak menyadari akan kehadiran orang di dalam kamar itu.
Celaka andiakata oang membokongnya.
Ia melindungi diri dengan satu gerakan pedang "Hoat Kong Hok Te".
Pedang berputar kilat di seputar tubuhnya yang terkurung pedangnya itu.
Berbareng dengan mana ia memutar diri untuk dapat melihat wanita yang menyapanya itu.
Dekat pada dinding, di sana tampak seorang nona usia enam atau tujuh belas tahun dengan seluruh pakaiannya berwarna hijau.
Tangan bajunya singsat, ujung sepatunya lancip dan pinggangnya terlilitkan sabuk sulam.
Nona itu menguraikan rambutnya ke punggung dan kedua belah bahunya.
Alisnya lentik, matanya tajam.
Dia memiliki muka yang bulat, yang memakai pupur dan yancie hingga tersiar keras baunya yang harum, yang menggiurkan hati....
Melihat si anak muda menggunakan pedang menjaga diri, nona itu tertawa geli.
"Itulah berlebihan !"
Katanya manis.
"Jika nonamu mau membokongmu, mana sempat kau membela dirimu ?"
"Sungguh mulut besar !"
Si anak muda menanggapi. Nona berbaju hijau itu bersenyum. Dia menatap tajam.
"Nonamu tidak berminat mengadu mulut denganmu !"
Katanya.
"Nonamu cuma memikir aka menyaksikan ilmu silatmu yang sejati !"
Alisnya It Hiong terbangun. Ia mengawasi tajam.
"Bagaimana kalau kau dipadu dengan Im Ciu It Mo atau Ie Tok sinshe ?"
Tanyanya. Nona itu tertawa pula, alisnya memain.
"Itulah tak dapat dibanding dan disamakan !"
Sahutnya. It Hiong heran juga.
"Kau jelaskanlah !"
Pintanya. Kembali matanya si nona memain manis sekali. Kembali dia tertawa.
"Apakah kau masih belum mengerti ?"
Dia balik bertanya.
"Kalau orang-orang rimba persilatan mengadu kepandaiannya, tak peduli dia dari tingkat tua atau tingkat muda, bukankah mereka semuanya mengandalkan senjatanya masing-masing ? Atau kalau menggunakan tangan kosong, mereka sekalian mengadu tenaga dalamnya ! Benar, bukan ?"
"Habis kau mempunya cara lainnya apa lagi ?"
Tanya It Hiong. Nona itu memiringkan kepalanya, ia melirik. Ia pun menyingkap rambutnya.
"Kamilah orang perempuan."
Katanya kemudian.
"Laginya aku adalah seorang wanita yang masih muda sekali. Untuk kami mencoba kepandai kau bangsa pria, jalan atau macamnya banyak sekali ! Kalau kau mau, kau cobalah !"
Lantas nona itu mengangkat langkahnya menghampiri si anak muda.
Ia berjalan dengan perlahan, tubuhnya bergerakgerak halus sekali.
Ia sangat menggairahkan.
Hatinya It Hiong goncang.
Sungguh lagak orang sangat menggiurkan.
Bagaikan tertiup angin, bau harum semerbak mendesak makin keras ke hidungnya si anak muda.
Itulah karena si nona telah mendatangi semakin dekat.
Hatinya It Hiong berdebaran.
Ia tidak menolak orang, ia pun tidak mundur.
Ia berdiri seperti menjublak saja.
Tak ada suaranya sama sekali.
Segera juga si nona datang dekat sekali sampai sebelah tangannya di ulur ke jalan darah hongku di bahu si anak muda, lalu dengan suaranya yang merdu ia kata .
"Kakak yang baik, kau sempurnakanlah keinginannya adikmu ini....... Kakak, aku ingin sekali mencoba-coba kepandaianmu yang sejati......"
Baru saja tangan nona itu menyentuh bajunya, It Hiong sudah lantas mengelit bahunya itu. Tubuhnya pun mundur sekalian. Ia menatap tajam si nona.
"Kau mau apa ?"
Tanyanya. Si nona menunda langkahnya. Ia menatap si anak muda.
"Hatinya seorang anak perempuan,"
Katanya.
"Kau mengerti atau tidak...."
"Aku mengerti maksudmu !"
Kata It Hiong.
"Kau menjual lagak, lalu secara diam-diam kau hendak membokong !"
Nona itu melengak. Hanya sedetik, dia tertawa.
"Kaulah orang Kang Ouw, jago Bu Lim !"
Katanya.
"Sudah sewajarnyaitu kalau kau berhati-hati menjaga dirimu dari perbuatan curang ! Dalam hal itu, nonamu tidak mau menyesalkanmu. Aku pun tidak akan menjadi kurang senang. Akan tetapi, hendak aku memberitahukan kau dalam hal meramalkan orang, penglihatanmu keliru !"
Ia berdiam sesaaat, lalu ia menambahkan .
"Apa juga yang kau kehendaki dari nonamu, akan nonamu iringi ! Aku cuma ingin kau...."
Mendadak alisnya si anak muda terbangun, matanya pun mendelik.
"Tutup multu !"
Bentaknya. Karena kata-katanya dirintangi bentakan itu, si nona tampak kurang puas. Nyata wajahnya menunduk. Dia menyesal dan penasaran. Tapi dia tidak bergusar. Terus ia menatap muka si anak muda.
"Kau tunggulah aku sampai aku bicara habis, baru kau bicara."
Katanya agak penasaran.
Berkata begitu, mendadak matanya si nona berlinang air.
Dua butiran matanya lantas menetes jatuh..
It Hiong melihat wajah orang serta air matanya itu, ia pun mendengar suara yang halus dan bernada sedih itu.
Ia menyesal, tanpa merasa muncullah kesannya yang baik.
Ia tunduk lalu menghela napas dan berkata .
"Apa yang kau hendak utarakan itu, telah aku ketahui !"
Si nona sudah berpaling ke arah lain. Lantas ia menoleh pula. Ia mengawasi si pemuda. Air matanya masih meleleh tetapi ia toh tertawa.
"Jika kau sudah mengerti, nah, kau hiburlah hatiku !"
Katanya.
"Aku ingin hatiku dilegakan ! Kau menerima baik, bukan ?"
Sembari berkata begitu, si nona maju mendekati. Tetapi It Hiong mengulapkan tangan.
"Kau pergilah !"
Katanya. Nona itu cerdik. Ia menerka bahwa hatinya si pemuda sudah menjadi lunak.
"Jika aku pergi, apakah kau tidak bakal menyesal ?"
Tanyanya, tetap dengan gerak geriknya yang menggiurkan.
"Kau telah keliru melihat orang, nona !"
Kata It Hiong sungguh-sungguh.
"Tidak, aku Tio It Hiong. Aku tidak bakal menyesal !"
Ia berhenti sejenak.
"Aku tidak berniat membinasakanmu ! Kau pergilah !"
Si nona berbaju hijau mencibir, dia tertawa.
"Kau mirip seorang beribadat !"
Katanya.
"Kau tidak kenal asmara, benarkah ? Aku rasa mulutmu lain dari pada hatimu !"
Ia maju setindak mendekati, ia mengeluarkan sapu tangannya.
Agaknya ia hendak menyusut air matanya tetapi tahu-tahu sapu tangan itu dikebutkan ke mukanya si pemuda !
Hanya sekejap, tersiarlah bau harum yang sangat keras.
It Hiong terkejut.
Inilah ia tidak sangka.
Karena mencium bau itu yang tersedot masuk ke dalam hidungnya terus ke otaknya, mendadak ia merasai sesuatu yang luar biasa.
Tanpa tahunya, napsu birahinya telah terbangun, karena mana hatinya pun goncang.
Si nona berbaju hijau sudah lantas berada di sisinya si anak muda kita.
Agaknya dia hendak melemparkan tubuhnya ke dalam rangkulan orang.
Sedang matanya bersinar kecentilan dan wajahnya tersungging satu senyuman manis sekali.
Semua tampang dan gerak geriknya sangat menggiurkan hati.
Di matanya It Hiong, nona itu sangat menarik hati, sangat menggairahkan.
Ia mengawasi dengan hatinya terus memukul.
Ia menatap terus-terusan.
Hingga sinar mata mereka beradu satu dengan lain.
Dadanya kedua muda mudi itu segera juga mau bertemu satu dengan lain.
Tidak cuma dada si pemuda, juga dada si pemudi bergolak.
Ruang besar itu sunyi sekali.
Cahaya hijau membuat suasana sangat sejuk hingga sarang bajingan itu bagaikan suatu rumah pelesiran.
Kedua tubuh pun hampir saja bersentuhan.....
Segera tibalah saat yang paling genting.
Kedua tangannya si nona sudah lantas merangkul tubuh orang dan kedua tangannya si pemuda membalasnya.
Ketika itu digunakan si nona akan menekan jalan darah bwe-in dari It Hiong untuk dengan jalan itu menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam tubuh si anak muda !
Di luar sangkanya si nona, totokannya itu mendapat perlawanan yang kuat.
Ia memang tidak tahu yang It Hiong mempunyai tenaga dalam yang istimewa tangguh.
Pertamatama si anak muda berbakat, lalu dia telah makan darahnya belut emas yang berkhasiat luar biasa.
Kemudian dia sudah melatih diri dengan ilmu Hian-bun Sian Thian Khie-kang yang istimewa yang mana diperkuat dengan latihan Gie Kiam Sut, ilmu pedang mirip terbang melayang.
Si nona sebaliknya.
Usianya masih terlalu muda dan dia cuma mengandalkan paras eloknya serta obat biusnya itu.
Ketika ia mencoba mengerahkan tenaga dalamnya, akan menekan lebih keras, dia lantas merasai sesuatu yang membuatnya kaget.
Tenaga kokoh kuat dari It Hiong telah menolak tekanan itu !
Si nona tidak melainkan merasa tangannya tertolak keras.
Bahkan dia pun merasai hawa panas terasalurkan ke jalan darahnya !
Dia kaget, tak dapat dia mempertahankan diri.
Celakanya, ketika dia hendak menarik pulang tangannya itu, tiba-tiba saja tenaganya habis.
Tangannya menjadi kaku dan tak dapat digerakkan........
"Celaka !"
Serunya di dalam hati dan ia menjadi sangat kaget dan takut.
It Hiong di lain pihak sudah lantas berhasil menekan hatinya hingga di lain saat ia memperoleh kembali ketenangan dirinya.
Tak lagi ia terganggu napsu birahinya.
Dengan telah makan obat kay-tok-wan dari pendeta dari Bie Lek Sie, ia memang sukar terserang pelbagai macam racun.
Di saat si anak muda sadar, tubuhnya masih dipeluji si nona berbaju hijau.
Sedangkan kedua tangannya pun belum dilepaskan hingga mereka berdua saling rangkul....
"Kau bikin apa, eh ?"
It Hiong menegur. Dengan perlahan si nona mengangkat kepalanya, akan menatap si anak muda.
"Kau lihatlah !"
Katanya perlahan.
"Sebenarnya akulah yang membuat kau tak sdar atau kaulah yang membikin aku tak ingat akan diriku...."
It Hiong membuka kedua tangan orang dan menolak tubuhnya dia itu.
"Kau lihat !"
Tegurnya.
"Apakah kau tidak malu ? Lepaskan tanganmu !"
Nona itu menggeleng kepala, wajahnya menjadi suaram.
"Aku sudah kalah, aku menyerah......"
Katanya lemah.
"Aku suka mati ditanganmu....... Inilah lebih baik daripada aku terbinasa tersiksa hebat ditangan guruku......"
"Apakah kau masih mau main gila ?"
It Hiong membentak.
"Masihkah kau hendak merayu aku ? Tak nanti aku terkena akal muslihatmu ! Baiklah kau tahu diri !"
Air matanya si nona turun meleleh. Dia menangis.
"Aku....."
Katanya.
"Aku.........."
Dengan perlahan It Hiong menolak bahu orang.
"Mengingat usiamu yang masih terlalu muda, suka aku memaafkan kau."
Kata It Hiong.
"Aku percaya segala perbuatanmu masih belum berbau darah. Aku tahu perbuatanmu sekarang ini disebabkan orang telah menyesatkanmu. Karena kau terpaksa. Karena itu, suka aku membukakan satu jalan hidup ! Sekarang pergilah kau, untuk kau kembali ke jalan yang lurus !"
Nona itu mengangguk. Agaknya dia sangat tertarik hati.
"Tuan Tio,"
Katanya.
"Kau telah tidak membunuhku, budimu ini akan aku ingat baik-baik. Nasihat emasmu juga aku nanti ukir di dalam hati sanubariku. Cumalah aku.... aku........."
"Sudah !"
Kata It Hiong yang ingat sesuatu.
"Tak usah kau bicara lagi. Kau pergilah !"
Lantas ia menotok jalan darah Pekjie nona itu hingga lengan kanannya jadi dapat digeraki pula dengan bebas.
Tadi, tanpa merasa ia kena totok jalan darah itu.
Dengan sinar mata bersyukur --bukan lagi sinar mata centil--nona itu mengawasi si anak muda.
Sedangkan lengan kanannya itu digerak-geraki guna membikin pulih jalan darahnya.
Kemudian dengan suara berbisik ia kata .
"Tempat ini tempat berbahaya. Maka itu tuan, baiklah kau lekas-lekas mundur teratur. Nah, kau berhati-hatilah tuan ! Sampai jumpa pula !"
Nona itu memberi hormat terus ia memutar tubuh bertindak ke arah pojok kamar dari mana tadi ia muncul.
Tiba-tiba saja terdengarlah satu siulan sangat nyaring dan tajam yang memekakkan telinga.
Suara itu pun sangat seram.
Mendengar suara itu, si nona berhenti melangkah dan tubuhnya lantas menggigil.
Mukanya terus menjadi pucat.
It Hiong turut terkejut, apa pula kapan ia melihat si nona.
Tetapi cuma sedetik, lantas ia mengerti.
Perubahan nona itu tentulah disebabkan dia telah makan Thay-siang Hoan Hun Tan, obat pengganggu syaraf yang lihai itu.
Menyusul itu dari pojokan terdengar suara yang sayupsayup, suara musik yang merdu.
Sebentar rendah, sebentar tinggi.
Suara itu bagaikan dibawa datang oleh sang angin.
Mendengar suara itu, si nona mendadak meloloskan ikat pinggangnya yang terasalut benar emas.
Selekasnya dia mengibaskan tangannya, ikat pinggang itu menjadi panjang dua atau tiga tombak hingga tampak warnanya.
Mengikuti irama musik itu, si nona berbaju hijau lantas menggerak-geraki kedua tangannya membuat main ikat pinggangnya itu yang terus berkelebatan.
Kedua kakinya pun turut bergeraka akan mengimbangi gerakan tangannya dan tubuhnya.
Dia nampak seperti orang yang lagi menari.
Gerak geriknya itu cepat dan perlahan menuruti irama.
Bahkan terus ia mengitari si anak muda.
Hingga karenanya, It Hiong mesti turut berputaran untuk memasang mata.
Sebenarnya anak muda kita sudah memikir mencari jalan keluar guna pergi turun gunung.
Siapa tahu ia telah menyaksikan gerak gerik si nona yang terang sudah menarikan tarian "Thian Mo Biauw Bu --tari Bajingan Langit".
Untuk meloloskan diri, ia tidak menghiraukan tarian itu.
Terus ia pergi kepojok guna mencari pintu rahasia.
Hanya dalam usahanya itu, ia terintang si nona yang terus saja menari-narik memutarinya.
Kalau dia sadar akan dirinya, sekarang terang nona itu telah terjatuh di bawah pengaruh orang.
Ya, dibawah pengaruh obat yang mengacaukan urat syarafnya itu !
Dia bergerak-gerak secara indah dan menarik hati.
It Hiong mencari terus di sekitar dinding.
Ia tidak memperoleh hasil.
Maka juga kemudian ia berdiri diam.
Matanya diarahkan ke empat penjuru kamar.
Selagi mengawasi, otaknya tak henti-hentinya bekerja.
Si nona dengan tarian ikat pinggang itu masih terus mengganggu seperti juga mengganggunya lagu yang merdu itu yang entah dari mana datangnya.
Halus sekali gerak gerik pinggang langsing dari nona itu.
Hatinya It Hiong goncang ketika ia mengawasi si nona.
"Oh, kakak yang baik,"
Kemudian nona itu kata, matanya mengawasi tajam. Sinar matanya memain.
"Kakak, kalau kau ketarik dengan tarianku ini, Bajingan Langit, maka kau tentulah tertarik juga mendengari nyanyianku, yaitu lagu Daging Sakti...... Benar bukan ?"
Dan si nona tertawa manis.
Tanpa menanti jawaban si naak muda, nona itu lantas mulai dengan nyanyiannya .
Kekasihku --diujung langit....
Kekasihku --di dalam istana rembulan........
Kekasihku --di dalam hatiku....
Bukan, bukan !
Hanya di depanku !
Lagi menantikan kasihnya daging sakti.......
Nyanyian itu sangat halus dan merdu.
Sangat sedap untuk telinga, sedangkan tubuh si nona bergerak-gerak halus merayu sang mata.
Sinar matanya pun sangat menawan hati......
Masih berputaran dengan ikat pinggangnya itu, si nona mendesak si anak muda.
Dengan sinar matanya memain, ia bernyanyi pula .
Kekasihku --dialah jago di selalu tempat !
Kekasihku --adalah ahli asmara !
Kekasihku --dialah bangsawan halus Pekertinya !
Bukan, bukan !
Dialah orang gagah.
Dialah laki-laki sejati !
Dan kau, kaulah adanya.
Lekaslah !
Kenapa kau tak mau merangkul aku ?....
Kenapa kau tak mau menerima cintaku ?.......
Ya, cintaku........
Tetap lagu itu sangat merdu, sangat sedap untuk telinga.
Yang bernyanyi sudah menutup multnya tetapi suara nyanyian masih seperti terdengar di telinga.
Baru setelah dia berhenti menyanyi, maka berhenti juga si nona menari.
Hanya sekarang dengan tindakan halus, dia menghampiri si anak muda.
Ia menatap dan tertawa manis.
"Oh, kakak. Kakak yang baik. Kau kenapakah ?"
Demikian sapanya lemah lembut.
"Seharusnya orang yang berhati besi atau batu pun hatinya akan tergerak ! Maka itu, mari aku tanya, hatimu tergerak atau tidak ?"
"Hm !"
It Hiong memperdengarkan jawabannya.
"Toh kepandaianmu cuma sebegini saja. Apakah masih ada yang lainnya ? Coba kau keluarkan ! Tak ada halangannya, akan aku mengujinya. Matanya si nona memain galak.
"Baik, baik !"
Sahutnya.
"Kaulah arhat besi, kakak. Kaulah arhat tembaga, pendekar sejati. Tetapi hendak aku coba ! Lihatlah !"
Si nona bertindak ke tengah ruang. Sembari berjalan ia melirik. Tubuhnya melangkah lemas dan menarik hati. Kata dia .
"Kau lihat, kakak. Adikmu akan memberikan pula pertunjukannya yang jelek......"
Segera nona itu bersilat dengan ikat pinggangnya itu.
Ia bagaikan tengah menari.
Hebat ikat pinggang itu dapat ia geraki dalam pelbagai gerakan.
Ikat pinggang berputar-putar, bergulung-gulung.
It Hiong heran dan kagum.
Nona itu diluar sangkaannya.
Dia masih muda tetapi ilmu silatnya sudah sedemikian lihai.
Karena ini, timbullah rasa kasihannya akan nasib orang yang terjatuh di bawah pegnaruh manusia jahat.
Sesudah menonton sekian lama, diam-diam hatinya It Hiong gatal.
Maka ia pun hendak menunjuki kepandaiannya.
Demikianlah mendadak ia melonjorkan tangan kirinya, diarahkan ke ikat pinggang si nona seraya ia menggapai.
Hanya sedetik itu, ikat pinggang telah tertarik ke dalam genggamannya !
Mendapatkan ikat pinggangnya ditarik itu, si nona bukannya gusar bahkan sebaliknya.
Dia tertawa.
Dia girang luar biasa.
Sembari tertawa dia kata .
"Kakak, apakah kau jemu melihatnya ?"
"Menurut aku, kepandaianmu ini sama saja dengan pertunjukannya tukang jual silat yang mencari arak dan nasi !"
Sahut It Hiong.
"Tidak ada yang bagus dan menarik hati untuk ditonton !"
Kedua biji matanya si nona berputar, dia nampak berpikir. Kemudian dia tertawa dan kata .
"Oh, kiranya bukanlah permainan semacam ini yang kakak ingin lihat ! Kiranya itu ! Benar, bukan?"
"Apakah itu ?"
Si pemuda tanya.
"Apakah artnya itu ? Ada macam apakah lagi ?"
"Itulah bagian bawah dari tarian Bajingan Langit serta Daging Sakti !"
Sahut si nona.
"Aku jamin, melihat itu, kau bakal menjadi sangat tertarik hati !"
Begitu dia mengucap, begitu si nona menepuk tangannya atas mana musik tadi berbunyi pula.
Menyusul itu, ia pun mengangkat kakinya serta menggerak-geraki kedua belah tangannya untuk mulai menari, sedangkan mulutnya lantas memperdengarkan nyanyiannya yang merdu .
Aku ada maksudku, tuan ada hatinya.
Bagaimana kalau Daging Sakti dirapatkan ?
Diatas semangat terbetot.
Dari air, dari tanah, itu dapat dicampur aduk.
Kalau baju dilolosi, kakak.
Hatimu pasti goncang !
Tak puas It Hiong mendengar kata-kata menyeleweng itu.
Justru ia lagi berpikir, si nona telah membuka baju hijaunya itu hingga terlihat dadanya yang tertutup dengan semacam kutang merah dadu.
Sembari berbuat begitu, matanya memain tak hentinya.
Setelah itu, dia melanjuti nyanyiannya.
Kali ni nyanyiannya itu makin mendekati kecabulannya.
It Hiong menjadi tidak puas, apa pula ketika ia mendapat kenyataan sembari bernyanyi itu tangan si nona pun bekerja meloloskan pakaiannya hingga dia hampir telanjang hingga berpetalah tubuhnya yang montok.
"Pergilah !"
Bentak anak muda kita yang menguatkan hatinya untuk mencegah dirinya disesatkan si nona yang benar-benar telah terjatuh ke dalam pengaruh sesat hingga dia lupa malu.
Si nona tapinya tidak menghiraukan.
Dia menari terus, dia melanjuti nyanyiannya.
Selalu dia melirik secara menggiurkan.
Memperlihatkan tubuh asli hadiah ayah dan ibu.
Dari sana timbullah rasa sesar dan sadar !
Ah !
Cinta ?
Penasaran ?
Semangat ?
Daging ?
Bagaimana ?
Semenjak dahulu hingga sekarang.
Orang menipu orang !
Habis menyanyi, si nona lari pada It Hiong, untuk memeluknya.
Sebelaum si anak muda tahu apa-apa, lehernya telah dirangkul dan bibir dia itu telah nempel di pipinya hingga disitu tertinggal bekas yancie dadu !
Bukan main terkejutnya si anak muda.
Karena ia berkasihan, tidak dapat dia menolak dengan kekerasan.
Si nona sebaliknya merangkul erat-erat.
Lekas ia menjatuhkan diri untuk duduk bersila ditanah guna mengheningkan cipta.
Ia bersemadhi !
Tidak lama maka merasalah si anak muda bahwa hatinya tenang.
Dengan demikian juga pulihlah ketenangan hatinya.
Ia sadar seluruhnya.
Maka ia lantas dapat menggunakan otaknya.
"Aku berkasihan, hampir aku celaka."
Pikirnya.
"Hebat pengaruh obatnya si jahat ! Sekarang bagaimana aku harus bertindak terhadap nona ini yang menjadi lupa daratan karena dia terpengaruh ?"
Perlahan-lahan It Hiong membuka matanya akan mengawasi si nona yang masih saja merangkul lehernya.
Begitu ia melihat muka orang ia menjadi terkejut.
Nona itu menjadi pucat.
Sinar matanya sayup-sayup.
Yang hebat ialah mulutnya mengeluarkan darah segar !
"Sungguh jahat !"
Seru It Hiong di dalam hati.
"Sungguh telengas !"
Tak tega ia membiarkan orang mati keracunan.
"Aku mesti tolong padanya !"
Pikirnya.
Maka ia mengeluarkan peles obatnya yang hijau, enam butir pil ia jejalkan ke dalam mulut nona itu.
Kemudian ia berbangkit bangun sambil mengangkat juga tubuh si nona.
Nona itu lemas sekali.
Tenaganya seperti telah habis.
Karena itu, ia dipondong dibawa ke pembaringan untuk direbahkan di sana.
Lekas sekali bekerjanya obat.
Belum lama jalan napasnya si nona menjadi tak lemah seperti barusan, kemudian terdengar dia merintih.
Menampak demikian, lega juga hatinya It Hiong.
Jiwanya si nona ada harapan akan tertolong.
Dengan berdiri di depan pembaringan, ia menguruti tubuh orang guna meluruskan jalan darahnya.
Tetapi melihat tubuh orang yang separuh telanjang, ia jengah.
Mana dapat ia meraba-raba tubuh nona itu, malah nona yang tidak dikenal ?
Sekian lama, ia mengawasi saja muka orang.....
Si nona merintih semakin keras lalu dia bergulak gulik.
Terang dia tengah menderita.
Racun dan obat pemunahnya rupanya sedang bertarung.
Itulah saat mati atau hidup..
It Hiong mendengar, ia berdiam saja.
Hati nuraninya sedang digempur.
Ia membantu atau tidak.
Kasihan nona itu.
Tak dapat ia dibiarkan tersiksa lama-lama.
Giris hatinya mendengari suara lemah orang !
Tanpa bantuan pengurutan, sulit nona itu tertolong.
Obat harus dibantu tenaga dari luar, baru bisa dapat dibasmi seluruhnya.
Bagaimana sekarang ?
Dapatkah ia membiarkan orang menghembuskan napasnya dihadapannya tanpa ia berdaya ?
Kalau si nona mati, bukankah seperti dialah yang membiarkannya putus jiwa ?
It Hiong pula berada di dalam sarang penjahat, sarang musuh.
Bagaimana kalau ada musuh yang muncul ?
Ia terancam bahaya, ia pula dapat dituduh, difitnah secara tidaktidak !
"Ha, kenapa hatiku menjadi begini lemah ?"
Pikirnya kemudian.
"Kemana semangat kegagahanku ? Aku mesti mengambil keputusan !"
Sampai di situ anak muda kita lantas bertindak.
Paling dahulu ia masuki pedangnya ke dalam sarungnya.
Ia pun menjemput baju hijau si nona yang tadi dilemparkannya ke lantai.
Setelah itu ia kembali ke pembaringan.
Si nona masih merintih, darah dimulutnya berubah menjadi hitam.
Pembaringan kotor dengan darah itu.
Cepat sekali It Hiong membeber baju orang diatas tubuh pemiliknya, menyusul itu ia mengerahkan tenaga Hian-bun Sian Thian Khie-kang buat akhirnya mulai meraba tubuh orang buat diuruti.
Sebelah tangannya diletaki diatas jalan darah tan-tian, buat menekannya guna menyalurkan tenaga dalamnya.
Demikianlah pertolongan diberikan.
Lewat kira setengah jam, rintihan si nona lantas berkurang bahkan terus berhanti.
Tetapi sekarang tubuhnya lantas bermandikan peluh.
Malah peluh itu berbau tak sedap.
Rupanya hawa racun telah keluar dengan perantaraan peluh itu.
Lega hatinya pemuda kita.
Jiwa si nona sudah dapat ditolong.
Maka ia lantas menghentikan mengurutnya serta juga mengangkat tangannya.
Terus ia bangun berdiri.
Atau mendadak ada angin yang menyambarnya.
Ia kaget sekali.
Ia mengerti itulah serangan gelap.
Tidak ada waktu buat dia menghunus pedang, maka terpaksa ia mengegos tubuh ke sisi terus membalik badan dengan kedua tangannya segera ditolakkan keras !
Kiranya serangan itu berupa tiga buah senjata rahasia Yan bwe Hui-hoan Piauw, yaitu piauw yang dapat berputar dan berbalik mirip bumerang.
Dan ketika kena tertolak, piauw itu tidak jatuh ke tanha hanya kembali ke arah dari mana datangnya.
Juga aneh, penyerangan bukan ditujukan kepada si anak muda, hanya terhadap si nona !
Lantas It Hiong dapat menerka.
Si orang jahat mau membinasakan orang itu yang gagal dalam tugasnya.
Tentunya dengan maksud menutup mulut orang !
Sungguh kejam !
Habis menghalau senjata rahasia, It Hiong menoleh kepada si nona.
Dia masih rebah, matanya sudah dibuka tetapi sinar matanya itu sangat bodoh.
Dia tampak seperti orang yang baru sembuh dari penyakit berat.
Kelihatannya dia tidak bertenaga sama sekali.
Walaupun demikian, dia memegangi bajunya.
Rupanya dia telah insaf akan keadaan tubuhnya itu.
Mulanya It Hiong memikir menganjurkan orang pergi kabur.
Akan tetapi melihat keadaannya dia itu, dia batal membuka mulutnya.
Dalam keadaan selemah itu, tidak nanti dia mengangkat kaki.
Waktu It Hiong memandang muka orang, si nona justru mengawasi padanya.
Empat sinar mata lantas beradu !
Kesudahannya si nona lekas-lekas tunduk.
Nampak dia sangat likat.
Telinga dan mukanya pun menjadi merah.
Itulah menyatakan dia sudah sadar dan malu sendirinya.
Itu pula menandakan yang dia belum tersesat.
Dia hanya korban racun yang lihai sekali.
Dalam malunya, si nona rebah tak berkutik.
Tubuhnya ditutupi bajunya.
Dia pun terus membungkam.
Kalau dia membuka mulut, dia khawatir si anak muda nanti menoleh ke arahnya....
Sementera itu, piauw bumerang itu masih berputaran.
Menyaksikan demikian, It Hiong menjadi panas hati.
Itulah berbahaya buat ia sendiri terutama buat si nona yang jiwanya di arah.
Maka ia lantas menghunus pedangnya terus ia memutarnya dengan keras.
Kesudahannya itu ialah ketiga buah piauw runtuh, semua jatuh ke lantai.
Baru sekarang anak muda kita mendekati si nona seraya berkata .
"Nona, lekas kau mengenakan pakaianmu ! Lekas kau menyingkir dari sini, guna membantu dirimu !"
Sembari berkata begitu dengan pedang ditangan, It Hiong memasang mata ke sekitarnya buat menjaga kalau-kalau datang pula serangan pengejut.
"Aku mengerti !"
Berkata si nona.
Dia melihat si anak muda membaliki belakang, hatinya lega.
Segera ia membalik tubuh, akan turun dari pembaringan buat berdandan dengan cepat.
Ia mengenakan pula pakaian hijaunya itu.
Selesai merapikan rambutnya yang panjang, ia maju ke muka si pemuda.
Ia tidak berani mengangkat kepala akan mengawasi anak muda itu, hanya sambil tunduk ia kata .
"Tuan, kau telah membantu jiwaku. Budi besarmu ini tak nanti kau lupakan selama aku masih hidup."
Ia lantas menangis, akan tetapi ia menjura memberikan hormatnya. Inilah It Hiong tidak sangka, ia melengak. Biar bagaimana, ia pun rada likat. Lalu ia kata .
"Jangan mengucap terima kasih, nona. Kita sama-sama orang Kang Ouw. Tak usah kita memakai banyak ada peradatan."
Si nona menyusuti air matanya dengan ujung bajunya. Dia menghela napas.
"Biar bagaimana, tuan, kau telah menolong jiwaku."
Katanya.
"Kaulah orang yang telah menghidupkan pula nyawaku. Sekarang aku insaf, maka aku hendak menyingkir dari jalan yang sesat ini. Akan aku menyingkir buat seterusnya mengembalikan wajahku yang asli !' "Nona, memang aku telah menolong kau. Tetapi sama benarnya kau telah menyelamatkan dirimu sendiri."
Kata It Hiong.
"Kau tahu, aku telah memberikan kau obat guna membasmi obat yang mengeram di dalam tubuhmu. Selanjutnya tinggal kau beristirahat guna menjaga kesehatanmu supaya tubuhmu bersih dari godaan napsu hatimu."
Si nona mengawasi. Ia agaknya belum mengerti jelas katakatanya si anak muda.
"Tuan."
Katanya.
"Sekarang ini, apa juga nanti terjadi, aku mengharapkan bantuanmu supaya aku dapat menyingkir dari tempat ini. Aku ingin tidak lagi menjadi boneka orang hingga aku dapat diperintah melakukan segala apa di luar kesadaranku !"
"Tetapi nona,"
Kata It Hiong.
"bukan maksudku menyuruh atau menganjurkan kau berdurhaka terhadap gurumu. Aku......"
"Aku mengerti, tuan !"
Si nona menyela.
"Akan tetapi, apakah tuan tak sudi menolong aku dipermulaannya lalu terus sampai di akhirnya ? Apakah tuan bermaksud menyuruh aku tetap berdiam disini supaya aku menderita siksaan hebat ? Di sini aku dapat dihukum picis......"
Lantas si nona menangis tersedu sedan, tubuhnya sampai menggigil. It Hiong terkejut. Tak dapat menerka kekejamannya guru si nona.
"Baik, nona."
Katanya akhirnya.
"Baik, akan aku melindungi kau sampai kau lolos dari sini !"
Nona itu menahan tangisnya.
"Dengan kau menjanjikan aku untuk membantu aku keluar dari sini tuan, itu berarti bahwa bagiku barulah terbuka kesempatan buat hidup baru pula !"
Demikian katanya bersyukur. It Hiong berdiam sebentar, baru dia menanya .
"Nona, siapakah gurumu ? Apakah nama atau gelarannya ?"
Di tanya begitu, si nona melengak. Akan kemudian menggeleng kepala.
"Aku berada di sini bukannya karena aku mengangkat orang menjadi guruku."
Sahutnya.
"Di luar tahuku, orang telah menculik dan membawaku kemari....."
It Hiong heran, sepasang alisnya bangkit berdiri.
"Nona, baiklah kau bicara secara terus terang saja."
Katanya. Nona itu menggeleng pula kepalanya.
"Tak sepatah kata juga aku mendusta !"
Bilangnya.
"Aku berani bersumpah !"
Berkata begitu, si nona nampak berduka pula dan air matanya meleleh. It Hiong lantas memperlihatkan pula wajah sabar.
"Kalau begitu, nona, selama dirumahmu, kau telah belajar silat, bukan ?"
Tanyanya pula Kembali si nona menggeleng kepala.
"Tidak."
Sahutnya. It Hiong tertawa dingin. Dia tak percaya.
"Kalau begitu, sungguh aneh !"
Katanya keras.
"Kau sebenarnya orang golongan apa ?"
Si nona melengak. Dia menatap si anak muda. Agaknya dia sadar.
"Ya, tuan."
Katanya sabar.
"Aku ini orang macam apakah ?"
Ia mengangkat kepalanya, agaknya dia berpikir keras akan mengingat-ingat.
Nona itu menunjuki bahwa ia sudah keracunan hebat.
Walaupun dia telah mendapatkan obat mujarab, ingatannya masih kurang sempurna.
Ia belum sehat seluruhnya.
It Hiong menatap.
Ia dapat melihat keadaan sebenarnya dari nona itu.
Jadi ia siapa telah tidak mendusta.
Karena itu, ia tidak mau mendengar.
Lewat sekian lama, si nona berkata pula.
"Aku ingat sekarang."
Bilangnya.
"Pada tiga tahun yang lalu, pada suatu malam, tengah aku tidur nyenyak ada orang yang menculikku......"
It Hiong mengawasi, ia masih tidak mau menanyakan sesuatu. Si nona menambahkan .
"Akulah anak dari seorang gembala yang biasa hidup mengembara. Selama hidup kami, kami berada di gurun pasir, memelihara kambing dan kuda. Menyusuri tempat-tempat berumput dimana ada perairan. Kami selalu berpindahan, dimana kami tiba, disitu kami berkemah...". Ia berhenti pula sejenak, baru ia menambahkan lagi .
"Di rumahku, aku mempunyai ayah dan ibu serta kakak laki-laki juga banyak kawan kerabat........"
"Sudah nona, tak usah kau bicaraterlalu banyak."
It Hiong memotong.
"Yang aku ingin ketahui ialah ilmu silatmu. Darimanakah kau pelajari itu ?"
Si nona berpikir pula.
"Aku ingat sekarang."
Sahutnya.
"Aku mempelajarinya dari Paman Kim...."
"Siapakah paman Kim mu itu ?"
It Hiong tanya.
"Dia toh gurumu ?"
Si nona melengak.
"Paman Kim tidak ada namanya. Dia juga bukannya guruku."
It Hiong heran.
"Bagaimana caranya pamanmu itu mengajari kau ilmu silat ?"
"Panjang buat kau menutur, tuan."
Sahut si nona.
"Apakah tuan tidak sebal kalau aku bercerita panjang lebar ?"
"Bukannya aku sebal mendengarnya, nona."
Sahut It Hiong.
"Hanya sekarang ini kita berada di dalam sarang bajingan. Ini bukannya tempat memasang omong. Baiklah nona menjelaskan yang paling penting saja !"
Nona berbaju hijau itu mengangguk.
"Aku ingat."
Demikian ia mulai dengan keterangannya.
"setelah aku siuman, aku mendapatkan yang aku bukan berada di rumahku lagi. Yaitu bukannya kemah dimana terdapat kambing dan kuda kami. Aku justru berada di dalam gua yang sunyi senyap ! Di situ pula tidak ada seorang lain juga kecuali seorang yang berewokan dan kulit mukanya hitam. Baru belakangan aku mendapat tahu dialah orang yang dipanggil Paman Kim......"
Lantas si nona memperlihatkan tampang sangat berduka.
"Mulanya aku menangis terus, aku merengek minta diantarkan pulang."
Kemudian ia meneruskan ceritanya.
"Lantas paman Kim memberi aku makan sebutir pil. Habis mana selanjutnya aku tidak ingat apa-apa lagi, kecuali sampai sekarang ini......."
"Apakah kau pernah dengar namanya Im Ciu It Mo ?"
"Tidak."
"Apakah kau pernah melihat seorang pelajar tua yang mukanya keriputan ?"
Si nona membuka matanya lebar-lebar. Matanya itu dikesap-kesipkan.
"Sudah, sudah !"
Sahutnya.
"Apakah namanya si pelajar tua itu ? Apakah dia yang mengajari kau ilmu silat ?"
"Namanya dia itu belum pernah aku dengar. Tapi sehabisnya Paman Kim mengajari ilmu silat, lantas ada orang yang bicara disebelah tembok yang mengajari aku ilmu secara lisan."
"Aneh !"
Pikir It Hiong.
"Ada biasa saja kalau orang mengajar silat tetapi dia tidak sudi dianggap sebagai guru. Yang aneh ialah kalau dia tidak mau memberitahukan she dan namanya juga wajahnya ! Apakah yang terkandung di dalam hatinya orang itu ?"
"Dengan begitu, nona."
Ia lantas berkata pula.
"Ilmu silat kau jadi diajari oleh Paman Kim yang berewokan itu. Sedangkan orang disebelah tembok itu mengajarkan kau ilmu tenaga dalam. Benar begitu, bukan ?"
Si nona mengangguk.
"Benar."
Sahutnya. Dia mengangkat kedua tangannya, akan menyingkap rambutnya. Kemudian dia menengadah langitlangit rumah untuk melanjuti berkata sabar .
"Secara demikian, tiga tahun sudah aku belajar ilmu silat ini. Selama hari-hari dan bulan-bulan yang dilewati itu, sudah berapa banyak gunung dan rimba yang kami telah pergikan, berapa banyak rumah batu yang kami diamkan, sampai paling belakang ini kami tiba dan berdiam disini......"
"Sudah berapa lama kalian tinggal disini ?"
Nona berbaju hijau itu berpikir.
"Sudah berapa lama kami tinggal disini, itulah aku tidak ingat."
Sahutnya kemudian.
"Menurut perasaanku, itulah rasanya baru kemarin....."
"Apakah si pelajar tua yang bermuka keriputan itu datang bersama Paman Kim mu itu ? Apakah ada orang lainnya lagi ?"
Si nona melengak, matanya menatap si anak muda. Kemudian dengan polos dia tertawa.
"Eh, eh, kenapakah kau menanya begini banyak ?"
Dia balik bertanya.
"Selama beberapa tahun ini aku cuma berada bersama Paman Kim, belum pernah ada orang lain....."
Si anak muda memperlihatkan tampang sungguh-sungguh.
"Nona."
Katanya pula buat kesekian kalinya.
"Bukankah barusan nona berkatai aku bahwa nona pernah melihat si pelajar tua yang bermuka keriputan itu ? Kenapa sekarang nona bilang tidak pernah ada lainnya orang ?"
Di tanya begitu, nona itu bungkam. Ia berpikir keras.
"Heran, apa kataku barusan ?"
Katanya.
"Kenapa aku jadi bicara tidak ketentuan, tidak jelas......."
It Hiong menghela napas.
"Mungkinkah barusan nona keliru bicara ?"
Ia mengingatkan. Nona itu tidak menjawab hanya dia terus bicara seorang diri .
"Sungguh menyesalkan ! Semakin dipikir otakku semakin tumpul !"
It Hiong tidak menanya lagi, ia hanya mengawasi.
Ia tahu orang keracunan hebat, karena mana kesadarannya yaitu tenaga ingatannya tidak mudah segera pulih.
Kalau dia ditanya terus menerus, pikirannya Bisa menjadi kacau.
Nona itu beberapa kali hendak menggerakkan bibirnya, saban-saban dia gagal.
Ia agaknya tengah berpikir keras guna memberikan jawabannya.
Lewat sekian lama, baru ia berkata pula.
"Pelajar tua yang keriputan mukanya itu, memang benar pernah aku melihatnya."
Demikian katanya.
"Hanya kesanku mengenai dia bagaikan impian saja. Di dalam impian itu, rasanya dia pernah mengajari aku beberapa jurus ilmu silat, antaranya ilmu silat yang menggunakan senjata tajam, juga bertangan kosong dan ilmu ringan tubuh serta latihan pernapasan... Hanya selekasnya aku mendusin, aku cuma melihat Paman Kim sendiri....."
Aneh si nona, tetapi melihat lagak polosnya orang mesti percaya. Maka itu It Hiong menganggap tidak bisa lain dia itu belum sadar seluruhnya, ingatannya masih lemah. Di lain pihak, ia tertarik hati.
"Selama dalam keadaan seperti bermimpi itu, selama kau berlatih,"
Ia tanya sambil tertawa.
"bagaimana kalian berbahasa satu pada lain ? Dan apakah kalian tidak bicara juga tentang lain-lain partai persilatan ?"
Si nona juga rupanya merasa aneh, bahwa ia bergembira. Karenanya ia tertawa.
"Tuan, kau sangat cerdik !"
Katanya.
"Bagaimana kau dapat ingat urusan selama aku seperti bermimpi itu dan menanyakan justru urusan yang aku ingin menyebutkannya ?"
Ia berdiam sejenak, lalu melanjuti .
"Di dalam hatiku melihat orang tua itu, hatiku jeri berbareng jemu. Akan tetapi aku tidak berani mengutarakan apa juga terhadapnya. Asal aku bertemu dengannya, lantas aku belajar silat, ak melatih pelajaranku ! Aku tidak tahu menahu tentang nama partai !"
It Hiong tertawa. Ia mau menahannya tetapi tidak dapat. Si nona agak jenaka.
"Selagi kau belajar silat atau berlatih itu,"
Ia tanya pula.
"apakah kalian tetap tidak memanggil atau membahasakan satu pada lain ? Tak sepatah kata juga ?"
"Itulah bukannya. Aku memanggil dia paman dan dia memanggil aku A Hoa --si Hoa. A Hoa itu aliasku"
Dengan "paman"
Si nona maksudkan "piehu"
Paman yang terlebih tua.
"Apakah pamanmu itu tidak menyuruh kau memanggil guru padanya ?"
"Rasanya dia pernah berkatanya. Katanya sesudah aku belajar sempurna, baru aku memanggil dia guru. Dia pula membilangi aku, buat aku turut perintahnya. Yaitu aku diharuskan membunuh dahulu seratus orang ! Bahkan orang yang aku tidak niat bunuh, juga dia mestikan aku membinasakannya ! Itulah syaratnya buat mengangkat dia menjadi guru !"
"Habis, apakah kau telah lakukan kemestian itu ?"
Nona itu nampak masgul.
"Pasti tidak aku lakukan."
Sahutnya.
"Kenapa aku mesti membunuh orang ? Apa pula membinasakan seratus orang dengan siapa kau tidak bermusuhan atau bersakit hati ? Lagi pula, kenapa aku mesti mengangkat seorang yang aku paling jemu menjadi guruku ?"
It Hiong berpikir, lalu berkata .
"Jika kau tidak menerima baik syaratnya itu, itu tandanya kau merenggangkan diri dari dianya ! Itulah suatu tanda bahwa kau terancam bahaya !"
"Kau benar, tuan."
Kata si nona. Agaknya dia hendak mengajukan pengaduan atau mengutarakan kesukarannya itu.
"Orang tua itu telah menyuruh Paman Kim berkatai aku, jika aku tidak meluluskan kehendaknya buat aku membunuh seratus orang, dia hendak membinasakan aku. Dia pula menyuruh aku memilih kematian macam apa ! Katanya itulah kemurahan darinya maka dia memberi aku kebebasan memilih............."
"Apakah orang sekejam dia masih mempunyai kemurahan hati ?"
Si nona mengangguk.
"Itulah kemurahannya yang dia menyuruh aku memilih. Dari pada disiksa, lebih baik mati wajar saja......."
It Hiong menghela napas.
"Jadi kau memilih yang belakangan itu ?"
Mukanya si nona menjadi merah.
"Biar bagaimana, aku hendak berdaya meloloskan diri dari tangannya dia itu !"
Katanya.
"Aku tidak sangka bahwa dia justru memerintahkan aku melakukan apa yang aku telah berbuat atas dirimu ini!"
"Sudah, jangan kau sebut pula urusan kita barusan !"
It Hiong mencegah.
"Sekarang mari bicara tentang dirimu ! Kau tahu, kau masih tetap terancam maut. Tidak nanti mereka madah saja membebaskanmu !"
Nona itu memperlihatkan tampang duka tetapi ia menggertak gigi dan berkata dengan keras.
"Mereka boleh menebas kutung tubuhku menjadi dua potong ! Mereka boleh berlaku itu sembarang waktu ! Aku tidak takut !"
Kata-kata bersemangat itu membangunkan juga semangatnya si anak muda.
Dia kagum sekali yang seorang nona bernyali demikian besar.
Bukankah nona itu tak usah kalah dari kebanyakan pria ?
Maka ia lantas berkata sungguhsungguh .
"Nona, telah aku bilang hendak aku membantu kau ! Akan kau membantu kau lolos dari tangannya si bajingan jahat ! Sekarang aku ketahui bahwa kaulah orang baik-baik yang telah terjatuh ke dalam tangan orang jahat. Maka akan kau lakukan segala apa guna membuktikan janjiku ! Tak nanti aku hiraukan ancaman golok atau kapak di batang leherku !"
Si nona nampak senang sekali mendengar janji itu.
Tetapi di saat ia hendak memberikan jawabannya, tiba-tiba terdengar suara parau yang datangnya dari pojok ruang, disusul dengan tawa dingin serta kata-kata ini .
"Di depan seorang wanita, kau bicara enak saja ! Bocah she Tio, apakah kepandaianmu ? Cara bagaimana kau dapat membantu jiwanya budak hina dina itu ?"
It Hiong mendongkol sekali.
"Aku bukannya orang yang berjumawa dengan kepandaianku !"
Sahutnya nyaring.
"Akan tetapi menghadapi bangsa sesat dan jahat, aku bersumpah tak akan hidup bersama-sama dengannya !"
Suara parau di pojok itu terdengar pula. Kali ini nadanya dingin .
"Murid yang dididik Tek Cio si imam tua sungguh bersemangat ! Melihat kau, lohu senang sekali ! Maka itu mengingat akan kepandaianmu, suka aku memberi ampun padamu ! Supaya kau dapat hidup terus. Kau tahu diri atau tidak ?"
Suara itu terdengar tegas tetapi wujud orangnya tidak tampak. Saking murka, It Hiong mendelik mengawasi ke pojok. Kata dia bengis .
"Sudah, jangan kau bicara seenaknya saja ! Jika kau berani, kau keluarlah ! Kenapa kau membawa lagak bajinganmu, main sembunyi di tempat gelap ? Kenapa kau takut dilihat orang ?"
Orang dengan suara parau itu terdengar pula suaranya. Nyatanya dia tidak mendongkol atau gusar walau It Hiong telah mendampratnya. Ketika dia berkata pula, suaranya tetap perlahan, tetap dingin.
"Apa yang lohu bilang menyayangi kau."
Demikian katanya.
"Itu bukan berarti aku menyayangi kepandaianmu, aku hanya menyayangi keberanianmu ! Kau bersemangat, itulah menyenangi aku!"
It Hiong sangat mendongkol. Ia meluncurkan tangannya ke pojok tembok itu. Itulah serangan di udara terbuka. Maka gempurlah sinar-sinar hijau yang nempel ditembok itu.
"Oh, orang tak tahu mati atau hidup !"
Terdengar pula suara parau, datangnya dari pojok yang lainnya.
"Kau baik dengar dahulu aku bicara sampai habis. Baru kau umbar napsu amarahmu ! Belum terlambat, bukan ? It Hiong segera memutar tubuh tanpa berkata apa-apa. Ia hendak menyerang pula ke arah pojok dinding itu, atau mendadak ia membatalkannya karena ia insyaf, ia berada di tempat terbuka dan terang. Sebaliknya musuh tidak dikenal itu di tempat gelap. Itulah berbahaya untuknya. Laginya, dengan mengumbar hawa amarahnya, ia menjadi membikin keruh otaknya sendiri. Itulah satu pantangan besar kaum rimba persilatan ! Maka juga dengan hati bercekat, ia lantas menyabarkan diri.
"Kau hendak bicara apa ?"
Kemudia ia menegur, sabar.
"Bicaralah, akan aku mendengarnya !"
"Oh, bocah she Tio."
Kata suara itu.
"Bagus sekali. Disaat bergusar kau dapat menentramkan hatimu ! Hanya sayang kau telah keliru berguru hingga kau tidak dapat mempelajari ilmu yang luar biasa mujizatnya. Dengan apa kau dapat membunuh orang tanpa orang dapat melihatmu !"
It Hiong menahan marah hingga tubuhnya menggigil.
Ia memang paling benci mendengar orang menghina gurunya.
Ia mengepal keras kedua tangannya.
Ia terus berdiri diam, cuma matanya dipasang, telinganya siap sedia.
Si suara parau itu tertawa dingin berulang-ulang.
Lagi-lagi dia memperdengarkan suaranya yang tidak sedap .
"Kau tahu, kau beruntung sekali yang kau telah berhasil melintasi benteng-bentengku, benteng tarian bajingan langit dan nyanyian daging sakti..."
Mendengar suara itu, mukanya si nona menjadi pucat.
Ia tidak berkata apa-apa.
Tetapi dia menarik ujung bajunya si pemuda, membuat si anak muda datang dekat satu tindak padanya.
It Hiong membiarkan nona itu.
"Kau telah bicara habis atau belum ?"
Tanyanya pada si suara parau yang orangnya tak nampak itu. Si parau tidak menjawab. Dia hanya melanjutkan katakatanya .
"Untung bagus kau ini bocah she Tio. Itu adalah pemberian orang lain ! Itulah bukan disebabkan kepandaian tenaga dalammu yang mahir......"
"Manusia pengecut !"
It Hiong mendamprat.
"Kau takut bertemu orang, maka juga cuma suaramu saja yang terdengar ! Itu pula kata-kata yang takut menemui orang ! Apakah artinya tarian Bajingan Langit dan nyanyian Daging Sakti ? Pengaruh apakah keduanya memiliki ? Apakah kau sangka tarian dan nyanyian itu dapat merintangi aku ? Hm !"
Mendengar suaranya si anak muda, si nona diam-diam mengangguk sendirinya.
Ia menganggap anak muda ini gagah dan laki-laki sejati.
Bicaranya terus terang.
Pemuda itu pun tidak cabul.
Ia menjadi sangat mengaguminya.
"He, bocah !"
Kata pula si parau itu.
"Apakah kau masih tidak mengenal budi ? Bagaimana aku telah memberi hadiah padamu ? Kau rupanya telah melupakan diri dan menjadi takabur sekali !"
"Apakah artinya kata-katamu ini, sahabat ?"
It Hiong tanya.
"Siapa bilang aku mendapat hadiah? Aku bebas dari tarian dan nyanyianmu karena kepandaianku sendiri ! Tidak ada orang yang membantui dan menolongku ! Kau bicaralah !"
Tiba-tiba si nona berbisik .
"Itulah gurumu, tuan !"
Habis itu dia pun tertawa. It Hiong tidak berkatai apa-apa, ia hanya mengangguk.
"He, bocah. Kau rupanya sudah lupa !"
Terdengar pula si parau itu.
"Kau tahu nama lohu ?"
Dia terus menyebut dirinya lohu, si tua yang harus dihormati.
"Namaku itu pada beberapa puluh tahun dahulu sudah menggetarkan rimba persilatan ! Itulah sebab lihainya obat yang aku buat ! Ketika itu, tidak ada seorang juga yang dapat menentang aku. Kalau toh ada satu orang, dialah si keledia gundul bernama Pek Yam dari kuil Bie Lek Sie ! Dan itu peles hijau kecil ditubuhmu, itu tentulah obat Wan Ie Jie miliknya keledia botak itu ! Maka juga, untuk bagusmu hari ini adalah untung bagus hadiah dari si keledia gundul Pek Yam itu ! Nah, kau mengaku atau tidak ?"
It Hiong telah bertemu dengan pendeta dari biara Bie Lek Sie itu.
Ia pula telah diberikan itu satu peles obat pemunah racun yang mustajab.
Walaupun demikian, ia masih belum ketahui namanya si pendeta.
Karena sang alim tidak mau menyebutkan namanya, ia juga tidak berani menanyakannya.
Sampai di sini si parau itu menyebutkan nama orang !
Di dalam kalangan Siauw Lim Pay atau biara Siauw Lim Sie, pendeta tingkat tua dari turunan huruf "Pek"
Sudah tinggal beberapa orang lagi saja.
Maka itu, Pek Yam ini mestinya saudara seperguruan dari Pek Cut Taysu.
Mungkin dia suheng atau sute, kakak atau adik seperguruan ketua Siauw Lim Sie itu.
Mengetahui namanya si pendeta yang telah melepas budi padanya itu, It Hiong girang sekali.
Sendirinya ia lantas menaruh hormat.
Setelah itu ia kata pada si parau .
"Memang, aku lolos dari bahaya tarian dan nyanyian karena pertolongannya obat LoSiansu Pek Yam dari Bie Lek Sie itu. Akan tetapi gelarannya loSiansu, tidak aku tahu. Karena ia belum pernah menyebutkannya. Kau ketahui gelerannya loSiansu, cianpwe ? Bagaimana sebabnya itu ? Maukah kau memberi keterangan padaku ?"
Karena orang menyebut namanya Pek Yam, It Hiong jadi memanggil cianpwe --orang dari tingkat tua --pada si parau ini. Si parau tertawa secara jumawa.
"Eh, bocah. Berapa luaskah pengetahuanmu ?"
Tanyanya.
"Bagaimana sekarang kau berani menantang lohu ?"
It Hiong tidak puas. Ia menanya kemana, dijawabnya kemana. Maka itu, dengan sungguh-sungguh, dengan suara nyaring ia kata .
"Cianpwe, si sesat dengan si lurus tidak dapat berdiri atau hidup bersama ! Aku Tio It Hiong, memang aku tidak memiliki kepandaian yang berarti. Akan tetapi tetap hendak aku membasmi kawanan bajingan guna menegakkan keadilan ! Pendeknya, tidak dapat aku menahan sabar membiarkan orang-orang yang biasa menggunakan racun secara sewenang-wenang hidup malang melintang di dalam dunia Kang Ouw ini !"
Si parau bersuara pula, agaknya dia gusar.
"Sudah, jangan mengoceh tidak karuan."
Dia membentak.
"Aku tanya kau, bagaimana kepandaianmu dibanding dengan si rahib tua Tek Cio ?"
Kembali It Hiong menjadi mendongkol.
Tek Cio Siangjin, gurunya itu, disebut secara demikian memandang rendah !
Bukankah gurunya itu menjadi salah satu dari Sam Kie, tiga orang berilmu dijamannya itu ?
"Sudah !"
Bentaknya.
"Sekarang mari kau coba ilmu Hianbun Patkwa Kiam dari guruku itu !"
Lantas It Hiong menghunus pedangnya untuk diputar. Si parau menyambut dengan tawa dingin.
"Lohu tidak memikir menurunkan derajatnya dengan melayani menempur kau si orang muda dari tingkat rendah !"
Demikian katanya mengejek.
"Aku pula tidak memikir akan bicara lebih banyak pula denganmu ! Sekarang aku membiarkan kau dapat hidup lebih lama sedikit. Nah, kau larilah ke belakang untuk melihat-lihat di sana !"
Habis si parau berkata, maka sunyilah ruang itu.
Sebaliknya lewat sedetik, maka di sebuah pojok tampak terpentangnya sebuah pintu yang kecil.
Melihat pintu itu, It Hiong segera berpaling pada si nona berbaju hijau.
Agaknya ia ingin bicara atau menanya.
Akan tetapi ia ragu-ragu.
Nona itu melihat gerak geriknya si anak muda, dia cerdik, dia lantas mengerti.
Maka ia lantas berkata .
"Di belakang ruang itu ada sebuah lorong yang menembus sampai ditanah datar di kaki puncak. Mungkin itulah jalan untuk turun gunung !"
Alisnya si anak muda bangkit.
"Kita jangan hiraukan itu !"
Katanya nyaring.
"Mari kita maju !"
Dengan tangan kanan bersiap dengan pedangnya dan tangan kiri mencekal tangan halus lembut si nona, It Hiong lantas berjalan berendeng menghampiri pintu kecil itu untuk memasukinya.
Ia melihat suatu tempat mirip gua dimana terdapat sinar terang yang lemah.
Segala sesuatu tampak cukup nyata.
Ke empat dinding temboknya tidak rata dan ada celah-celah atau renggangan dimana molos sinar terang.
Di atas --pada langit-langit--terlihat stalakmit yang merakar ke bawah, panjang dan pendeknya tidak rata.
Tempat itu demek dan mendatangkan rasa dingin.
Jadi tempat itu beda seperti langit dan bumi dibanding dengan ruang besar tadi.
"Nona, pernahkah kau datang kemari ?"
Tanya It Hiong selekasnya kakinya melangkah masuk. Si nona bukannya menjawab, dia justru menjerit. Eh, kenapa dapat berubah begini ? Kenapa berubahnya begini cepat ?"
Mendengar itu, insaflah It Hiong yang mereka sudah kena perangkap.
Maka segera ia memutar tubuh atau ia menjadi kaget !
Pintu yang barusan itu sudah lenyap !
Pintu tertutup tanpa suara apa-apa !
Si nona sebaliknya kaget hingga dia menjerit.
Maka tahulah si anak muda yang nona ini masih hijau pengalamannya.
Maka ia lantas menghibur dengan suara perlahan .
"Jangan takut, nona ! Di dalam keadaan seperti ini hilang jiwa juga jangan kita gentar ! Segala apa sudah terlanjur, kita harus besarkan hati ! Apakah yang harus ditakuti ? Walaupun pesawat mereka lihai, mereka tak akan dapat berbuat apa-apa terhadap pedangku ini ! Seluruh tubuh kita adalah jadi merah !"
Dengan memasang matanya, It Hiong segera mengawasi tajam ke empat penjuru.
Ia tidak percaya ruang itu tidak mempunyai jalan keluar.
Di lain saat maka ia melihat sesuatu yang mencurigai.
Di dinding tampak menonjol sepotong rebung batu warna hijau.
Besarnya seperti jeriji tangan.
Biasanya batu semacam itu tidak akan menarik perhatian, tidak demikian bagi pemuda kita.
Juga si nona baju hijau yang turut memasang mata melihat batu itu.
Ia pula melihat perhatiannya si anak muda.
"Tuan, apakah tuan hendak mengambil batu itu ?"
Tanyanya. It Hiong menjawab perlahan sekali.
"Mungkin batu itu alatnya pesawat rahasia..... Mungkin juga orang telah menaruh racun hingga tak dapat orang merabanya...."
Si nona mengawasi tajam.
"Nanti aku coba."
Katanya.
"Kita tak dapat terlalu lama berdiam disini."
Berkata begitu, si nona melepaskan tangannya dari cekalan It Hiong.
Terus ia berduduk bersila di tanah untuk bersemadhi.
Kedua matanya dipejamkan.
It Hiong berdiri di sisi si nona.
Ia pun memusatkan perhatiannya.
Ia meluruskan otot-ototnya.
Ia bernafas dengan perlahan-lahan.
Satu kali ia ingat Kiauw In dan Giok Peng, tiba-tiba saja pikirannya menjadi terganggu.
Ia tak tahu bagaimana dengan mereka itu.
Ingat Giok Peng, terus ia ingat Hauw Yan, puteranya.
Karena pikirannya tidak tenang itu, lantas ia teringat juga kepada Tan Hong dan Ya Bie...
Syukur Tan Hong dan Ya Bie dapat kembali ke jalan lurus....
demikian pikirnya.
Lalu ia ingat juga Hong Kun.
Hebat kawan itu yang menjadi saingan dalam asmara hingga mereka berdua menjadi musuh satu dengan lain.
Atau tegasnya, Hong Kun yang memusuhkannya hingga ia mau dibikin celaka.
"Dia tersesat, dia harus dibinasakan."
Pikirnya lebih jauh.
"Tapi dialah bekas sahabatku, pantas kalau dia diberi maaf."
Kemudian It Hiong ingat gerakan Bu Lim Cit Cun.
Itulah pergerakan besar dan berbahaya yang dapat merusak dunia Kang Ouw atau Bu Lim.
Saatnya pertemuan sudah mendatangi semakin dekat.
Sebaliknya pedang Keng Hong Kiam masih juga belum di dapat pulang.
Pedang itu sangat perlu guna menaklukan para pengacau sungai telaga itu....
"Dan sekarang aku lagi menghadapi Tok Mo yang lihai ini......"
Pikirnya pula. Tanpa merasa, anak muda kita menghela napas dalamdalam. Karenanya pemusatan pikirannya menjadi buyar.
"Ah !"
Serunya kemudian.
Tengah bermasgul itu, It Hiong lantas merasai hawa rada hangat.
Segera ia sadar pula.
Maka ingatlah ia yang tidak dapat berdiam lebih lama pula di dalam sarang lawan.
Kemudian It Hiong menoleh kepada si nona berbaju hijau.
Nona itu masih terus duduk bersila tanpa bergeming.
Matanya terus dipejamkan.
Terang nona itu tengah memusatkan perhatiannya.
Melihat keadaan si nona, ia merasa berpikir....
Ingat akan keadaan dirinya, It Hiong lantas memikir jalan buat meloloskan diri.
Pertama-tama ia melihat dua jalan.
Satu ialah menggempur pintu atau tembok buat keluar dengan paksa.
Satu lagi ialah mencari dan menemukan pintu rahasia.
Pintu rahasia sukar dicari.
Pintu batu itu mestinya sangat tangguh hingga tak mudah didobrak dengan kekuatan tenaga......
Sesudah berpikir keras sekian lama, It Hiong bertindak menghampiri batu menjol itu.
Ia sudah mengulur tangannya akan memegang batu itu atau segera ia menarik pulang tangannya itu.
Tiba-tiba ia ingat kalau-kalau batu itu ada racunnya.
Kalau ia terkena racun, bisa-bisa ia roboh atau mungkin jiwanya akan melayang pergi.....
Sesaat itu, It Hiong lupa yang ia telah menelan Wan Ie Jie, obat si pendeta dari biara Bie Lek Sie.
Tapi sehabis menarik tangan kirinya, It Hiong sebaliknya meluncurkan pedangnya di tangan kanan.
Ujung pedang disentuhkan kepada batu itu.
Nyata batu itu nancap keras, pedang tak dapat membuatnya bergeming.
Batu itu pula licin seperti memangnya sudah lama berada disitu.
Hanya adakah itu batu wajar dan bukannya dipasang oleh tangan manusia ?
Di awasi sekian lama, batu itu tidak memperlihatkan sesuatu yang mencurigai.
"Mungkinkah ini bukannya alat rahasia ?"
Pikir anak muda kita.
Ia agak menyesal.
Tapi ia penasaran.
Ia mengawasi lebih jauh.
Formasi batu luar biasa sekali.
Tak mungkin batu itu wajar saja berada disitu !
Batu lainnya tidak ada yang seaneh itu !
Lalu dengan ujung pedangnya, It Hiong membentur batu itu pergi dan pulang, ke kiri dan ke kanan, dari perlahan sampai keras.
Masih batu rebung tetap tak berkutik !
Kemudian It Hiong menekan batu dengan ujung pedang, dari perlahan sampai keras.
Maka itu dengan sendirinya ujung pedang melesak ujungnya sedikit ke dalam batu.
Karena itu, terdengarlah suara batu tergorok pedang.
Anak muda kita bercuriga, telinganya pun terang sekali.
Kapan ia mendengar suara goresan itu, kecurigaannya menjadi bertambah.
Maka akhirnya ia mau percaya, batu itu memang pesawat rahasia.
Hanyanitu alat ini terpasang dengan kuat sekali hingga tak mudah tergoyah.
Tidak bersangsi pula, It Hiong mengerahkan tenaga dalamnya, lengan kanan.
Ia tidak mau berlaku sembrono.
Tenaganya ditambah sedikit demi sedikit.
Tak lama maka terdengarlah satu suara keras, suara menjublaknya pintu rahasia.
Maka dihadapan mereka berdua terbentanglah sebuah pintu !
It Hiong girang bukan main.
Mau ia memanggil si nona berbaju hijau yang sejak tadi duduk bersila terus.
Justru ia berpaling, justru si nona maju padanya hingga mereka hampir saling bertabrakan, muka mereka hampir menempel satu dengan lain !
Dua-dua muda mudi itu terkejut, mereka melongo saling mengawasi.
Mulut mereka tertutup rapat.
Barusan si nona mendengar suara menjublak, dia membuka matanya.
Melihat pintu rahasia, dia girang tak terkirakan.
Lantas dia berlompat bangun dan lari pada si anak muda, justru anak muda itu berpaling hingga hidung mereka hampir beradu !
It Hiong lekas juga menentramkan hati.
Ia pun dengan berani lantas memutar tubuh pula.
Buat bertindak masuk ke dalam pintu rahasia itu.
Si nona mengikuti tanpa berkata apa-apa.
Keduanya berlaku waspada.
It Hiong mendapatkan dirinya berada di dalam sebuah kamar yang empat penjuru dindingnya berbatu granit.
Kedua sisi tembok tidak ada jendelanya.
Ruang pun kosong, bahkan tanpa kursi atau meja.
Cuma nempel pada tembok terdapat sebuah pembaringan yang hitam mengkilat, entah terbuat dari kayu atau semacam logam.
Di atas pembaringan itu duduk numprah seorang tosu, rahib Agama To, melihat siapa anak muda kita menjadi heran hingga ia terus menatap.
Tosu itu sudah berusia lanjut.
Dia mengenakan jubah putih, tubuhnya tegak, mukanya merah segar, rambutnya sudah putih seluruhnya sedangkan alisnya panjang.
Ketika itu dia duduk samil memejamkan mata.
Yang membuat It Hiong heran ialah ia kenali tosu itu adalah Tek Cio Siangjin, gurunya sendiri !
Maka anehlah yang gurunya berada di tempat itu hingga ia terus mengawasi dengan dadanya bergelombang sebab jantungnya memukul keras.
Sudah banyak tahun karena perantauannya, ia tak bertemu gurunya itu hingga ia pun tidak tahu gurunya berada dimana.
Segera timbul rasa hormatnya, tanpa ragu pula ia menekuk lutut di depan tosu itu untuk memberi hormat seraya ia memanggil perlahan .
"Suhu !"
Pula tanpa merasa, saking gembiranya, air matanya turun meleleh.
Tetapi aneh adalah si guru.
Beberapa kali dia dipanggil muridnya itu, dia berdiam saja.
Dia duduk tidak bergeming.
Dia seperti tidak mendengar suara orang atau kehadirannya orang lain di dalam kamar itu.
Si nona berbaju hijau berdiri di sisinya It Hiong.
Ia pun mengawasi saja si tosu hingga ia melihat dan mendengar dengan nyat.
Karena si tosu berdiam saja, timbullah rasa anehnya.
Sendirinya ia menjadi bercuriga.
"Kakak."
Katanya pada It Hiong sesudah ia menantikan sekian lama pula.
"Kakak, coba kau perhatikan ! Coba kakak lihat, tosu itu masih hidup atau sudah mati !"
Tidak cuma berkata, si nona pun memegang lengannya si anak muda buat diangkat dikasih bangun terus ia berkata pula .
"Kakak, apakah kakak tidak merasa aneh ? Bukankah guru kakak seorang pertama yang lurus ? Kenapa ia justru datang kemari dan berdiam disini ?"
It Hiong menepas air matanya. Ia lantas berpikir. Benar kata-kata si nona. Gurunya itu bersikap aneh. Tak biasanya gurunya pendiam sedangkan ia tahu benar, biasanya guru itu ramah tamah.
"Kau benar juga, nona....."
Katanya perlahan. Sambil mengawasi tajam, It Hiong menghampiri gurunya itu lebih dekat. Ia meneliti rambut dan muka orang. Ia merasa tak salah lagi, tosu itu benar gurunya.....
"Suhu !"
Ia memanggi pula. Kembali ia menekuk lutut.
"Suhu, maafkan muridmu ! Aku telah mengganggu pertapaan suhu ! Suhu, tolong suhu membuka matamu, melihat pada muridmu ini....."
Kembali si murid menangis, walau tanpa suara.
Si tosu terus duduk bagaikan patung.
Ia tak bergerak, tak membuka matanya, tak mengatakan sesuatu.
Dia bagaikan tak mempunyai perasaan.
Dari berlutut It Hiong mendekam di lantai.
Ia bingung.
Ia juga lantas ingat segala sesuatu yang telah berlalu selama ia berdiam di Pay In Nia melayani gurunya itu pada siapa ia belajar silat dan surat.
Guru itu menyayang dia sebagai juga ia adalah seorang anak.
Guru itu keras mendidiknya tetapi belum pernah ia ditegur atau dirotani.
Maka heran sekarang, menghadapi murid kesayangannya, guru itu berdiam saja sebagai patung.
"Mungkinkah suhu tengah bersemadhi sampai di bagian yang paling genting ?"
Demikian si murid berpikir.
"Kalau benar, kalau kena terganggu, suhu bisa celaka karena kegagalannya. Inilah berbahaya......"
Diam-diam It Hiong mengeluarkan peluh dingin, hatinya berdebaran.
It Hiong menyesal sekali, maka ia terus mendekam tanpa berkutik.
Tapi pikirannya terus kacau.
Ia heran dan bingung, ia ragu-ragu...
Karena semua orang berdiam, kamar menjadi sunyi seperti semula tadi.
Si nona berbaju hijau berdiri mematung, matanya mengawasi It Hiong.
Ia pun heran hingga ia berpikir keras.
Dengan lewatnya sang waktu, It Hiong mulai dapat berpikir.
Ia ingat kata-kata si nona yang meragukan gurunya itu.
Memang, kenapa gurunya bertapa di tempat rahasia itu yang menjadi sarang si bajingan ?
Itulah tak mungkin, bukan ?
Hek Sek San bukan tempat yang cocok dimana orang dapat mensucikan diri.
Bukankah Kiu Hoa San jauh terlebih baik ?
Saking heran, pikirannya si anak muda menjadi kacau.
Hingga ia mau menerka, pa-apa yang tak menjadi, lantaran kejujurannya, gurunya itu telah kena orang akali hingga dia kena makan racun dan karenanya menjadi terpengaruhkan orang jahat.
Giris memikir demikian, It Hiong menggigil saking berkuatir.
"Tidak ! Tidak mungkin !"
Ia berseru tanpa disengaja.
"Tidak mungkin !"
Kembali murid ini mengangkat kepalanya, mengawasi gurunya itu. Kembali air matanya menetes jatuh ! Si nona berbaju hijau terperanjat.
"Kakak !"
Serunya.
"Kakak, kau kenapakah ?"
Si nona kaget karena menyaksikan lagak orang serta mendengar seruannya itu.
Segera It Hiong berlompat bangun, matanya mengawasi ke seluruh kamar.
Sekarang ia telah berpikir tetap.
Matanya pun bersinar berapi.
"Jahanam yang malu bertemu orang !"
Demikian katanya keras.
"Kenapa kau bersembunyi saja? Kalau kau benar mempunyai kepandaian, perlihatkan dirimu ! Mari kau bertempur denganku, Tio It Hiong !"
Nadanya itu mengandung penasaran. Segera terdengar jawaban parau yang dingin .
"Kepandaian ? Kau mau bertempur ? Hm ! Oh, bocah tak tahu hidup atau mati ! Memangnya kau sudah bosan hidup ?"
Suara itu mendengung di dalam kamar itu. Baru suara itu lenyap, lantas terdengar pula sambungannya .
"Bocah ! Kau telah melihat tegas atau tidak ? Kau mau menempur aku ? Hm ! Lihat gurumu itu, Tek Cio si hidung kerbau ! Dia tersohor kosen tetapi dia toh tak mampu lolos dari tanganku ! Telah aku tahan dia, telah kukurung disini ! Bagaimana kepandaian gurumu ? Jangan kau membuat lohu gusar, itu cuma berarti kau meminta mampusmu saja !"
Suara tak sedap itu ditutup dengan suara batuk-batuk kering ! Bukan kepalang gusarnya It Hiong. Dadanya bergolak, matanya berapi, alisnya pun berdiri.
"Jika kau benar berani, muncullah !"
Bentaknya.
"Kalau kau berani bertanding hidup mati denganku, barulah kau benarbenar mempunyai kepandaian !"
"Hm ! Hm !"
Demikian suara mengejek tawa, jawaban lainnta tidak ada. Baru lewat sejenak, si parau itu berkata .
"Kau mau menempur aku ? Hm ! Kau tahu, hari ini aku mau berurusan dengan Tek Cio si hidung kerbau ! Kau mengerti !"
"Iblis !"
Seru It Hiong.
"Iblis !"
"Bocah, kau harus mengerti !"
Kata si suara parau.
"Kau tahu bocah, aku minta keadilan !"
"Kau mengoceh saja !"
Bentak It Hiong.
"Keadilan apa yang kau minta ?"
Si parau tertawa. Tapi kemudian dia menghela napas.
"Buat aku menjelaskan bocah, itulah suatu cerita panjang."
Katanya.
"Kalau aku tidak menuturkan kau tentunya tidak tahu. Itulah satu peristiwa yang menyedihkan. Karena itu, keadilan pun telah terpendam......"
"Jangan kau mengoceh saja !"
It Hiong membentak.
"Lekas kau perlihatkan dirimu. Lekas kau beri keterangan padaku ! Ingat, Tio It Hiong dapat menggempur kamar ini dan menginjak rata sarangmu !"
Dalam sengitnya, si anak muda menikam kepada dinding hingga batu granitnya gempur dan rontok.
"Jangan galak, bocah !"
Kata si suara parau.
"Kau dengar dulu ceritaku ! Di saat aku bercerita habis, itu pula saatnya jiwamu lenyap !"
Mendengar itu, si nona berbaju hijau menarik ujung bajunya si anak muda terus dia berbisik .
"Kakak, tidak ada halangannya untuk mendengarkan ceritanya......."
"Hm !"
It Hiong perdengarkan suara tawar, lantas ia berdiam. Cuma pedangnya yang disiapkan. Kembali terdengar suara parau tadi.
"Nah, dengan berlaku begini barulah artinya kau tahu selatan !"
Demikian katanya.
"Kalau kalian mengerti ceritaku, itu pun ada baiknya.... It Hiong berdiam saja, juga si nona. Si anak muda menyabarkan diri. Suara parau itu terdengar pula, nadanya sedikit lain. Suara itu lebih keras.
"Cerita yang hendak aku tuturkan ini adalah peristiwa pada empat puluh tahun dahulu !"
Demikian si parau mulai.
"Itulah cerita yang menyedihkan dan hebat. Maka itu lohu demi pembalasan dendam sudah membunuh juga membinasakan beberapa orang Kang Ouw. Semua itu guna meminta keadilan ! Kau tahu, perbuatanku itu telah menarik perhatiannya apa yang dinamakan kaum sadar dan lurus ! Mereka para ketua dari sembilan partai besar. Mereka itu mencari dan mengejarngejar lohu, yang mereka hendak binasakan ! Di antara mereka itu terhitung juga Tek Cio si hidung kerbau, gurumu itu bocah !"
Dia berhenti sebentar, terdengar dia menghela napas.
"Ketika itu,"
Begitu dia melanjuti.
"Lohu berada seorang diri. Tidak dapat lohu melawan mereka. Kau tahu, jumlahnya mereka belasan dan semuanya orang-orang tersohor ! Seorang diri lohu diperhina mereka itu ! Apa juga mau dibilang, buatku ialah lohu mesti melindungi diriku. Karenanya lohu selalu membela diri sambil mundur setapak demi setapak. Tapi mereka itu telengas sekali, terus-terusan lohu dikejar mereka. Akhirnya lohu telah di desak sampai di tepi jurang es di gunung Thian San. Adalah gurumu, si hidung kerbau itu yang mengandalkan ilmu pedangnya yang lihai telah memaksa aku mundur ke tepi jurang itu. Disitulah kesembilan ketua partai tidak lagi menghormati sopan santun kaum Kang Ouw. Berbareng mereka menyerang lohu dengan pengerahan tenaga dalam mereka. Tak lagi lohu berdaya. Maka robohlah lohu ke dalam jurang ! Dasar orang baik dilindungi Tuhan, lohu tak mati walaupun lohu telah terlempar ke dalam jurang itu. Lohu roboh terasangkut di sebuah pohon besar dan lebat, dimana selembar jiwaku ketolongan........."
Lagi si parau berhenti sebentar. Lewat sejenak baru ia mulai pula.
"Sejak itu lohu hidup di dalam penderitaan. Lohu mencari hidupku dan ilmu kepandaian pula. Lewat belasan tahun, barulah lohu muncul pula dalam dunia Kang Ouw. Demikianlah kali ini, lohu berhasil membekuk Tek Cio si hidung kerbau dan mengurungnya disini. Meski begini, lohu tidak menghendaki jiwanya. Lohu menaruh belas kasihan terhadapnya. Sebaliknya, lohu mau mencari penggantinya dari siapa lohu hendak meminta keadilan ! Dan itulah kau !"
Kembali dia berhenti, lalu batuk-batuk. Agaknya dia puas sudah dapat menutur lakonnya itu. Dia pun mengeluarkan napas lega. Setelah itu dia kata pula .
"Nah, bocah. Bagaimana pikirmu sesudah kau mendengar peristiwa hebatku ini ? Sekarang ini maksudku yang utaman yang ingin lekaslekas aku lakukan ialah membalas sakit hati itu. Dan itu mungkin soal paling menyedihkan untukmu ! Bocah, bagaimana kau pikir andiakata kita balik keadaan kita ini ? Kau menjadi aku dan aku menjadi kau. Bagaimana kau hendak bertindak ?"
It Hiong mendongkol sekali.
"Hm !"
Ia memperdengarkan suara dinginnya.
"Itulah urusan kalian dahulu hari ! Semua itu cuma diketahui oleh para ketua dahulu itu ! Aku sendiri, aku tak menghiraukannya ! Aku cuma mau mengurus kejadian di depan mata kita ! Jika kau tidak pulihkan kesehatan guruku sebagaiman adanya, aku cuma mau mengadu jiwa denganmu !"
Si suara parau itu tertawa dingin.
"Bocak cilik, kau benar-benar bernyali besar !"
Katanya.
"Tetapi bocah, tentang ilmu silatmu, lohu ketahui sampai di dasarnya ! Buat apa kau berlagak galak begini ? Lihat saja gurumu itu ! Kau lihatlah tulang selangkanya ! Telah aku belenggu erat-erat ! Begitu juga ingatannya, telah lohu kekang ! Dia sekarang cuma mayat hidup ! Dia sudah bercacat, dia tidak ada dayanya samasekali !"
It Hiong kaget dan gusar menjadi satu.
Ia masuki pedangnya kedalam sarungnya dan bertindak menghampiri pembaringan akan melihat ke belakang gurunya itu.
Maka ia lantas mendapat kenyataan benarnya kata-kata si parau itu !
Pada punggungnya si rahib tua tampak sehelai rantai, ujungnya yang satu masuk ke pungung, ujung yang lain mendam ke dalam tanah !
Maka bergolaklah darah si anak muda, darahnya itu seperti naik ke otaknya.
Itulah penglihatan dahsyat luar biasa.
Lupa segala apa, ia menghunus pedangnya dan pakai membacok rantai besi itu hingga terdengar suara sangat keras dari beradunya barang logam --pedang kontra rantai besi!
Di waktu begitu, It Hiong lupa yang pedangnya bukan pedang Keng Hong Kiam, hanya pedang biasa.
Pedang Keng Hong Kian dapat memapas besi hingga kutung, pedang biasa tidak !
Akan tetapi si anak muda mempunyai tenaga dalam mahir sekali.
Dia pula sedang meluap angkara murkanya.
Walaupun pedangnya pedang biasa, toh terbabat putus !
Sementara itu, kejadian yang terlebih hebat menyusul penyerangan dahsyat kepada rantai itu !
Karena putusnya rantai, roboh juga tubuhnya si rahib yang tercancang tulang selangkanya itu.
Bahkan robohnya dengan tubuhnya terkutung menjadi dua potong, roboh berbareng jatuh ke tanah !
Bukan main kagetnya It Hiong.
Lupa ia akan segala apa.
Dia lompat menubruk tubuh gurunya itu, tak dapat ia menjerit menangis, cuma air matanya yang mengucur deras.
Pula hanya sedetik saja, terus dia roboh tak sadarkan diri !
Si nona berbaju hijau kaget sekali.
Hingga ia menjublak saja.
Tanpa merasa, air matanya pun mengucur turun.
Dia sampai lupa segala apa.
Matanya cuma mengawasi It Hiong serta itu dua potong tubuhnya si rahib tua....
Tengah kamar menjadi sunyi itu, sebab si pemuda pingsan dan si pemudi berdiam sebagai patung.
Mendadak daun jendela yang satunya menjublak roboh dengan menerbitkan suara keras.
Di situ lantas terlihat sebuah liang sebesar liang anjing.
Sebab jendela itu kecil dan sempit, cuma dapat muat sesosok tubuh manusia saja !
Itulah apa yang dinamakan lobang anjing.....
Menyusul robohnya daun jendela, dari sebelah daLam Sana sudah tampak munculnya sesosok tubuh hitam yang nyeplos ke sebelah sini.
Dialah seorang usia setengah tua, yang mukanya hitam.
Dia pula Kim Tay Liang !
Setibanya di dalam kamar, Tay Liang mengawasi It Hiong dan si nona baju hijau.
Lantas dia bertindak menghampiri nona itu.
Sebelum orang sadar dari menjublaknya, dia sudah menyambar tangan orang untuk dicekal keras dan ditarik.
Nona itu kaget, dia juga merasai nyeri pada tangannya hingga dia tak sadar terus menjerit.
Cuma satu kali dia dapat membuka suaranya, selanjutnya dia bungkam sebab jalan darahnya telah ditotok Tay Liang.
It Hiong siuman disebabkan kaget mendengar jeritan si nona.
Lantas ia membuka matanya, terus ia berlompat bangun.
Dengan begitu lantas ia mendapat lihat si nona berada dibawah pengaruhnya Tay Liang.
Bahkan pria itu sudah menarik si nona ke jendela.
Rupanya dia berniat membawanya pergi !
Tay Liang mendapat kesulitan akan menyeploskan si nona ke dalam lubang anjing itu.
Kalau ia masuk lebih dahulu, si nona mesti dilepaskan.
Kalau ia menolak lebih dahulu nona itu, berarti ia menyusul belakangan.
Sulitnya jalan tengah terpengaruhkan urat syarafnya hingga ia tidak dapat berpikir jernih seperti orang yang sehat otak.
Ketika ia mencekal si nona, ia pun mencekal tanpa pikir-pikir lagi.
Maka juga ia membuat nona itu habis tenaganya sampai dia tak dapat berdaya....
It Hiong menyaksikan kesulitan Tay Liang itu, ia menjadi puas sekali.
Tanpa banyak pikir pula, dia lompat pada pria itu untuk menotok jalan darahnya yang dinamakan hek-tiam.
Ia berhasil dengan mudah sebab orang she Kim itu tidak menyangka dan dia juga kalah cepat.
Lantas saja dia roboh terkulai, rebah seperti orang lagi tidur pulas !
It Hiong segera memegangi si nona, buat dipondong dan direbahkan setelah mana ia membantu dengan menotok menyadarkannya serta menguruti membuat tenaganya pulih.
Tidak ada niatnya It Hiong membinasakan Tay Liang sebab dia tahu orang she Kim itu sedang terpengaruhkan obat jahat hingga ia tak sadar akan segala pebuatanya itu.
Bahkan kalau ada kesempatan, hendak ia membantu kenalannya itu.
Setelah si nona sadar dan dapat bangun berdiri, It Hiong mengeluarkan napas lega.
Nona itu lantas ingat segala apa, terus ia mengawasi tubuh mayatnya Tek Cio Siangjin.
Tiba-tiba ia menunjuk tubuh itu sambil berkata nyaring .
"Kakak, lihat !"
It Hiong terperanjat.
Segera ia berpaling.
Maka dia pun melihat seperti apa yang dilihat nona itu.
Untuk sejenak, dia melengak saking herannya.
Tubuh itu kutung sebatas pinggang.
Anehnya kutungan itu berikut jubahnya juga.
Dan jubah itu, warna biru rembulan sudah terlalu tua dan habis kekuatannya, mudah pecah dan hancur sendirinya.
Di tengah-tengah tubuh itu tampak tulang punggung yang dirantai.
Maka sekarang teranglah ternyata, tubuh itu bukan tubuh berdarah daging.
Hanya tubuh dari anak-anakan yang terbuat dari lilin !
Pantas hebatnya serangan pedang pada rantainya, tubuh itu roboh sendirinya !
Hanya apa yang mengagumkan, buatan boneka itu sangat hidup dan mirip sekali dengan Tek Cio Siangkin.
Sampai muridnya yang telah tinggal bersamanya tujuh tahun lamanya masih kena dikelabui !
Tapi tak aneh kalau It Hiong membuat kekeliruan itu.
Di saat seperti itu, pikirannya tak jernih seluruhnya.
Ia kena dikacaukan kapan ia ingat halnya gurunya tertawa dan dirantai !
Berdua bersama si nona, It Hiong segera menghampiri tubuh palsu itu sampai dekat sekali untuk meneliti.
Mereka memegang jugah yang sudah usang itu dan merobeknya secara mudah sekali.
Sekarang lega hatinya, It Hiong menghela napas dalamdalam.
Hilanglah kaget dan kekhawatirananya.
Sebaliknya, terbangunlah semangatnya.
Maka ia mendongkol sekali yang ia telah dipermainkan musuh yang bersuara parau itu, yang masih belum ketahuan siapa adanya.
Satu kali si anak muda menoleh pada si nona hingga mereka saling memandang.
Berbareng dua-duanya bersenyum.
Leganya hati membuat mereka sesaat itu seperti lupa yang mereka masih berada di tempat yang berbahaya itu.
"Nona"
Kata si anak muda kemudian.
"Inilah yang dibilang, melihat satu tambah pula satu pengetahuan ! Inilah dia pengalaman kita kaum Kang Ouw ! Aku malu yang pengalaman kurang. Kali ini aku telah kena dipermainkan musuh yang licik !"
Si nona mengawasi.
"Sebenarnya kakak, ini bukanlah disebabkan pengetahuanmu yang kurang."
Bilangnya.
"Tadi kau telah dibikin kacau saking kau kaget melihat gurumu yang kau sangat sayang dan hormat. Buatku, aku justru mengagumi kecintaanmu terhadap guru itu......."
Suara si nona belum berhenti, atau mereka berdua lantas mendengar suara si parau. Katanya .
"Kenyataan tinggal kenyaan, demikian si manusia palsu dan tulen ! Aku pun mengagumi kepada murid ajarannya Tek Cio si rahib tua. Kau hebat anak muda ! Hm !"
"Bagus kata-katamu !"
Kata It Hiong keras.
"Akal busukmu telah pecah. Apa lagi yang hendak kau bilang ? Kenyataan ? Kenyataan apakah ?"
Jilid 58
"Tapi aku bicara hal lain, bocah."
Kata si parau yang tidak mau kalah bicara, yang hendak mendoja orang.
"Aku bicara dari hal gurumu si hidung kerbau ketika dia dahulu mendesak aku hingga aku terjungkal ke dalam jurang ! Itulah pengalamanku ! Aku tidak bicara dusta !"
"Kau keliru, sahabat !"
Kata It Hiong yang mau berlaku tenang.
"Permusuhan kalian toh sudah berselang puluhan tahun, bukan ? Bukankah kau sekarang sudah berusia lanjut ? Kenapa kau tidak dapat melihat lebih jauh ? Kenapa kau tidak mau membuka hatimu ? Kenapa kau tidak mau menyudahi ganjelan itu ?"
Si parau tertawa. Mungkin dia tertawa meringis.
"Bocah, kau harus ketahui sifatku !"
Katanya keras.
"Kalau aku berkata satu, itu bukannya dua ! Apakah kau sangka sakit hati dan soal pembalasannya itu dapat dibereskan dengan satu atau dua patah kata saja ? Hm !"
"Jangan salah mengerti, sahabat !"
Kata It Hiong.
"Aku bukannya memohonkan ampunan bagi guruku ! Kalau aku berbuat demikian, aku jadi merusak nama baik guruku itu ! Aku hanya Bicara dari hal kenyataan ! Bukankah ada pepatah yang berkata, dimana dapat orang harus memberi ampun ? Maka itu, kau harus tahu diri. Seharusnya kau mundur teratur !"
"Eh, bocah ! Kau tahu apa ? Bukankah Co Beng Tek telah berkata, biar aku mengecewakan orang tetapi tak dapat orang mengecewakan aku ! Itulah kata-kata yang tepat sekali, yang cocok dengan rasa hatiku !"
Co Beng Tek ialah Co Coh, seorang perdana menteri atau dorna di jaman kerajaan Han. It Hiong tertawa bergelak.
"Oh, orang yang bersisa jiwa di ujung pedang guruku !"
Katanya.
"Bagaimana kau masih memikir untuk membalas dendam ? Andiakata kau bertemu dengan guruku, dapatkah kau melawan ilmu pedang Khie-bun Patkwa Kiam guruku ? Dapatkah kau melayani Hian-bun Sian Thian Khie-kang guruku ? Bukankah kau bakal menderita pula dan bertambah malu hingga kau seperti menyusun sakit hatimu ?"
"Hm !"
Si parau memperdengarkan suara dinginnya.
"Kau tahu, telah lama lohu berdiam di jurang es dimana aku mempelajari ilmu hawa dingin yang beracun. Karena mana lohu berani muncul pula dalam dunia Kang Ouw terutama guna mencari gurumu si hidung kerbau itu ! Baik dalam hal ilmu silat biasa maupun dalam ilmu pedang, hendak aku menempurnya pula ! Andiakata aku tetap kalah maka masih ada kepandaianku yang istimewa ialah hawa dingin yang beracun itu ! Dengan ilmuku ini, akan aku merebut kemenangan terakhir ! Hm !"
"Hm !"
It Hiong memperdengarkan suara dinginnya.
"Dapatkah kau mewujudkan niatmu itu ? Guruku hidup di dalam pengembaraan. Ia tak ketentuan dimana adanya ! Bukankah sia-sia belaka kau mencarinya hingga kau membuat boneka dari lilin yang kau sengaja rantai dan kurung di dalam kamar ini ? Apakah artinya siksaan semacam itu ? Tak lain tak bukan, itu melainkan guna mempuaskan hati busukmu yang kecewa, niatmu tak tercapai ! Kau cuma menghibur diri !"
Si parau menjadi gusar sekali. Telak ia terserang katakatanya si pemuda.
"Oh, bocah ! Kau berani menghina lohu ?"
Tegurnya.
"Kau benar-benar tidak tahu mampus atau hidup !"
Ia hening sejenak lalu menambahkan .
"Kau catat ! Di dalam waktu satu tahun, jika lohu tidak berhasil mencari gurumu itu si rahib hidung kerbau guna lohu membalas dendamku, maka perhitungan ini bocah, akan lohu timpakan atas dirimu ! Nah, kau ingatlah baik-baik !"
Alisnya It Hiong bangkit.
"Jangan kau membuang-buang waktu !"
Katanya lantang.
"Bagaimana kalau sekarang juga kau perhitungkan sakit hatimu itu terhadap guruku kepadaku ?"
Berkata begitu, si anak muda menyiapkan pedangnya dan matanya diarahkan tajam ke arah dari mana suara datang. Si parau memperdengarkan pula suaranya. Dari nadanya, terang dia sangat gusar.
"Hendak lohu memegang kata-kataku !"
Demikian suara mendongkolnya itu.
"Kalau lohu kata satu, itu tidak nanati menjadi dua ! Barusan lohu menjanjikan waktu satu tahun, janji itu akan lohu hormati ! Eh, bocah apakah kau sudah bosan hidup ?"
It Hiong tertawa dingin.
"Oh, manusia yang takut melihat manusia !"
Ejeknya.
"Kiranya kaulah si mulut besar belaka ! Nyata-nyata kau cuma mencari alasan buat mundur teratur ! Ha ha ha !"
Si parau menjadi semakin gusar.
"Jangan takabur, bocah !"
Teriaknya.
"Jika lohu hendak mengambil jiwamu, itu mudah sama seperti lohu membalik telapak tangan ! Sama mudahnya seperti lohu merogoh saku ! Tetapi lohu mesti memegang kata-kataku, lohu mesti mentaati janjiku ! Hari ini lohu tidak bersedia menempur kau ! Tapi kau lihat, bocah ! Sekarang hendak aku pertunjuki kepandaianku supaya kau tidak tak tahu mati atau hidup mendapat bukti !"
"Kepandaian apakah itu ?"
It Hiong tanya tawar.
"Coba kau pertunjukkan ! Aku yang rendah hendak melihatnya !"
"Baik, bocah !"
Teriak si parau.
"Sekarang hendak aku mengasi bukti ! Kau pentang matamu lebar-lebar ! Kau lihat si Kim yang rebah di lantai itu. Hendak aku merampasnya pulang !"
Begitu lekas si parau menutup mulutnya, begitu lekas di dalam ruang itu timbul angin besar seperti topan hingga debu beterbangan naik, menyerang mata dan hidung sampai orang mesti memejamkan mata serta menutup hidung, hingga orang sukar bernapas !
Walaupun sambil meram, It Hiong memutar pedangnya melindungi dirinya sendiri serta si nona yang ia suruh mendak di depannya.
Syukurlah "topan"
Itu tidak berjalan lama dan juga tidak ada senjata rahasia yang membokong.
Selekasnya topan sirap, si anak muda pun berhenti bersilat.
Lalu keduanya membuka mata mereka.
Satu hal aneh segera tampak.
Kim Tay Liang yang tadi rebah di lantai lenyap tidak karuan paran dan daun jendela yang tadi menjeblak, tertutup rapat pula seperti semula !
"Hm !"
Si anak muda kita memperdengarkan suaranya, meskipun dia sebenarnya heran.
"Segala ilmu jejadian ! Ada apakah yang aneh ? Apakah kau kira kau dapat mengandalkan tembokmu ini buat mengurung kami ?"
Si nona baju hijau menggebriki pakaiannya dan merapikan rambutnya. Kemudian ia pun mengebuti pakaiannya It Hiong. Ketika ia mendengar kata-kata si anak muda, ia berkata .
"Kau berhati-hati, kakak ! Kita mesti waspada terhadap akal muslihat liciknya !"
Belum lagi It Hiong menjawab atau ia sudah mendengar suaranya si parau, suara yang jumawa sekali ! Katanya .
"Taruh kata tembok ini tidak dapat mengurung kalian tetapi kalian harus waspada. Sekeluarnya dari kamar ini, kalian bakal menghadapi Barisan racun lohu ! Bocah, kau lihat bagaimana nanti kau tahu rasa !"
"Jangan kau mengoceh saja !"
It Hiong menegur.
"Kau bilang kau pandai membuat hawa beracun tetapi itu tentulah untuk menggertak belaka ! Kau dapat menggertak mereka yang tolol tetapi kami tidak ! Menurut dugaanku, hawa racunmu itu belum tentu menjadi hawa racun yang teristimewa !"
Kembali si parau menunjuki kemurkaannya.
"Hm, manusia tak tahu mampus atau hidup !"
Teriaknya.
"Apakah kau tidak ketahui tentang kebinasaannya kelima Ngo Lo dari ruang Ciang Ih Siauw Lim Sie serta si rahib tua ketua Ngo Bie Pay ? Mereka pada pulang ke Tanah Barat tanpa tubuhnya terluka ! Dengan demikian, bukankah ilmu kepandaianku itu ada nomor satu di kolong langit ini ?"
Tapi It Hiong menyambutnya sambil tertawa lebar.
"Bajingan tua, bagus !"
Serunya.
"Bagus sekali ! Tanpa dikomper, kau telah mengakui kejahatanmu melakukan pembokongan. Kau telah membuka rahasiamu sendiri. Tadinya orang tidak tahu sebabnya kematiannya semua orang tertua itu. Sekarang terbuktilah yang hutang darah mesti dibayar dengan darah juga ! Manusia jahat, lekas juga akan tiba saatnya keadilan di jalankan ! Sudah, manusia busuk. Baik sekarang kita jangan bicarakan soal itu ! Mari aku beri tahu padamu, jangan kau membuka mulut besar sebab kau berhasil menciptakan hawa beracunmu itu ! Kau harus ketahui, di luar langit ada langit lainnya, di atas orang ada orang lainnya lagi ! Di dalam dunia ini ada hidup seseorang yang pasti dapat melumpuhkan hawa dinginmu itu, Tok Mo ! Kau tahu atau tidak ?"
"Hm !"
Si parau bersuara pula, suaranya selalu dingin. Kali ini sengaja disuarakan panjang. Dia agaknya berpikir. Setelah itu baru dia melanjuti .
"Eh, bocah, apakah kau maksudkan Pek Yam si kepala keledia gundul dari kuil Bie Lek Sie ?"
"Benar !"
It Hiong menjawab cepat.
"Ya, dialah LoSiansu Pek Yam dari Bie Lek Sie ! Kalau begitu, kau tahu diri juga ya ?"
Kembali si parau, yang si anak muda menyebutnya Tok Mo --si Bajingan Beracun --memperdengarkan suara tawanya . Hm !"
Kemudian dia lantas menambahkan .
"Aku tahu kepandaiannya Pek Yam si kepala keledia botak itu ! Kitab racun Tok Kang miliknya adalah kitab bagian yang kedua, sedangkan kitab milikku adalah bagian yang kesatu ! Karena itu, mana dapat ia mempunahkan racunku ?"
"Sudah, Tok Mo ! Tak usah kau mengadu bicara !"
It Hiong menyenggapi.
"Kenyataan lebih menang dari pada bicara melulu ! Lihatlah aku sendiri ! Dengan menggunakan Wan Ie Jie dapat aku menerjang tempatmu yang berbahaya hingga aku dapat menolong nona ini yang kau siksa !"
Agaknya si parau seperti kalah bicara.
"Mungkin itu hanya kebetulan saja !"
Katanya rada lunak.
"Tak mungkin Wan Ie Jie demikian lihai ! Tak mungkin racunku tidak akan mengalahkannya ! Nah, kau lihat saja nanti !"
"Cukup, Tok Mo !"
Ejek It Hiong.
"Kepandaian racunmu itu telah aku buktikan beberapa kali, jadi tak perlu kau panjang lebarkan lagi ! Sekarang begini saja ! Hendak aku mencoba ilmu silatmu. Dari itu, beranikah kau melayani aku ? Sengaja si anak muda kita berjumawa supaya si parau itu mau memperlihatkan dirinya. Ia ingin melihat wajah orang atau sekalian mengetahui asal usulnya. Tapi si parau gusar. Dia berteriak .
"Kau kira lohu orang dari derajat apa ? Mana dapat lohu mudah saja bertempur denganmu ! Bukankah itu bakal mendatangkan buah tertawaan ? Jika kau bisa lolos dari kamarku ini, kau nanti lantas masuki Barisan rahasia yang beracun yang aku atur, yang aku beri nama Nyo Tok Tin ! Kalau kau benar kosen, di sanalah kau boleh coba-coba kepandaianmu !"
Dia berhenti sebentar, terus ia menambahkan .
"Lohu adalah seorang lakilaki sejati ! Lohu biasa berlaku terus terang, tak mau lohu main selingkuh ! Sekarang lohu kasi tahu padamu, kalau sebentar kau memasuki Barisan rahasiaku, itulah sebab kau sendiri yang mencari mampusmu ! Jangan nanti kau katakan lohu kejam !"
It Hiong tidak gusar. Sebaliknya dia tertawa.
"Jangan berpura bermurah hati, bajingan !"
Ejeknya pula.
"Aku telah berani masuk kemari, tentu saja aku berani menerjang keluar !"
Lantas pemuda kita merapikan pakaiannya, sedang matanya dikedipi pada si nona berbaju hijau supaya si nona selalu mengiringinya.
Si nona bersenyum, dia mengangguk.
Nyata dia bernyali besar.
Selagi orang berbicara dengan gerak gerik mata, si parau sudah berkata pula.
Dia seperti dapat melihat gerak gerik orang itu.
Kata dia .
"Lohu cuma mengijinkan kau, bocah she Tio menerjang Barisanku ! Tentang si budak wanita itu, jangan harap dia nanti dapat berlalu dari sini dengan masih hidup ! Oh, orang yang tak tahu hidup atau mati !"
Hebat si parau itu.
Selalu dia menyebut-nyebut tentang "tak tahu hidup atau mati!".
Mendengar suara orang itu, si nona kaget hingga mukanya menjadi pucat.
Baru saja ia bersenyum atau sekarang mendadak air matanya meleleh turun.
Itulah sebab ia telah ketahui kekejamannya si parau itu !
It Hiong mengawasi nona itu, ia dapat mengerti kekhawatiran orang.
Karena ini hatinya panas, ia menjadi membenci sangat pada si parau yang belum dikenal itu, yang ia menyebutnya Tok Mo, si Bajingan Racun sebab orang sangat licik.
Si nona berbaju hijau bekas lawan tetapi sekarang berdua mereka menjadi kawan, bahkan kawan senasib.
Karenanyaia menjadi berkesan baik sekali terhadapnya, malah ia merasa kasihan.
Seperti tabiatnya, ia selalu berpihak kepada si lemah.
Segera anak muda ini memutar pedangnya sembari terus ia berkata .
"Sahabat yang baik, aku yang rendah hendak menguji pedangku ini ! Pedang yang terlebih keras atau mulutmu ! Dan kau, nona, kau keraskan hatimu !"
Tapi si nona menjawab .
"Tuan, kalau toh aku mesti mati, tolong kau mendayakan mengirim mayatku kepada ayah bundaku. Dapatkah kau menolong ?"
Alisnya si anak muda terbangun.
"Aku berjanji, nona !"
Sahutnya.
"Bahkan aku berjanji tidak hanya mengantar mayatmu tetapi juga tubuhmu yang masih bernyawa ! Kalau aku hanya mengantar mayat, itulah hal yang memalukan ! Nona, jiwamu ialah jiwaku ! Maka itu, mari kita hidup atau mati bersama !"
Si nona sudah lantas menyusut keras air matanya.
Ia menjadi berbesar hati hingga dadanya menjadi berombak.
Hanya itu ia telah salah paham.
Ia menyangka pemuda itu justru mencintainya.
Sejenak itu, lupa dia pada bahaya maut dan mukanya yang tadi bersedih tampak menjadi gembira.
"Baik, tuan !"
Katanya perlahan.
"Baik, selembar jiwaku kau serahkan pada kau !"
Dengan sapu tangannya lantas nona itu mengikat rambutnya yang riap-riapan terus ia bertindak mendekati anak muda itu. ia menempelkan tubuhnya pada tubuh orang. Ketika itu terdengar pula suara "Hm !"
Berulang-ulang dari si parau.
It Hiong tidak mempedulijan lagi suara itu.
Ia hanya menghampiri pintu untuk menusuknya dengan satu serangan Heng Hong Hek Hoan Kiam.
Tak usah disebutkan lagi yang ia telah mengerahkan seluruh tenaganya.
Maka juga tampaklah lubang besar, sedangkan tembok bagikan tergetar seluruhnya.
Selagi pasir-kupa meluruk, It Hiong berlompat nyeplos di lobang itu sambil sebelah tangannya menarik lengan si nona.
Tiba di luar kamar, muda mudi itu berdiri terbengong.
Mereka berada disebuah tempat terbuka seluas dua sampai tiga puluh tombak.
Itulah semacam lembah.
Di sebelah kiri ada tanjakan yang berbatu.
Di kanan terdapat beberapa buah puncak, diantaranya ada sebuah jalan kecil yang mendakinya berliku-liku menuju ke atas atau ke dalam gunung.
Entah kemana arah tujuannya jalan kecil itu.
Berdua mereka berdiri diam sekian lama, ragu-ragu untuk mengambil jalan.
Tidak lainnya yang mereka lihat, tida ada Ngo Tok Tin, Barisan rahasia Lima Racun seperti katanya si parau yang belum dikenal wajahnya itu.
Kecuali angin, sunyi segala apa.
Bahkan sinar matahari pun lemah, entah disebabkan ketika itu sudah lewat lohor atau bagaimana.......
Tetapi tak usah lama mereka berdiam berdiri menjublak.
Lantas juga mereka mendengar suara yang menarik perhatian.
Itulah suara bergeraknya satu batu besar di kaki sebuah puncak sebelah kanan hingga karenanya terlihatlhat mulutnya sebuah gua.
Melihat gua itu, It Hiong tertawa.
"Kiranya di sana terdapat pintu rahasia !"
Katanya nyaring.
"Benar-benar si bajingan parau ini sangat pintar dan cerdik !"
Hebat si anak muda.
Dia bernyali sangat besar.
Bukannya dia kaget atau jeri, ia justru tertawa kegirangan !
Toh dia belum tahu gua itu menembus kemana dan di dalamnya ada perangkapnya atau tidak !
Aneh, batu terbuka sendiri merupakan sebuah lobang.........
Si nona sebalinya melengak.
"Jangan-jangan itulah Ngo Tok Tin......."
Katanya raguragu.
"Kenapa kakak tertawa ?"
It Hiong berlaku sabar ketika ia menjawab .
"Kita bakal menyingkir dengan turun gunung. Apakah kau kira dapat kita menyingkir dengan mudah saja ? Kalau benar si bajingan mengatur Barisan rahasianya itu, mana dapat kita tak melintasinya ? Biar bagaimana, kita mesti bertempur ! Maka itu, bukankah lebih baik kita bertempur siang-siang ?"
Si nona mengerutkan alisnya.
"Aku hanya mengkhawatirkan hawa beracunnya....."
Katanya.
"Bagaimana kalau dia menyebarkannya di luar tahu kita ?"
It Hiong bagai terasadara.
"Kau benar juga, nona !"
Katanya. Lantas ia mengeluarkan peles obatnya, enam butir pil diserahkan pada si nona seraya berkata .
"Kau makanlah obat ini, obat buatan LoSiansu Pek Yam, lalu kau jangan kuatirakan apa juga !"
Nona itu mengawasi, matanya dibuka lebar, ia menggeleng kepala.
"Obat ini telah menolong jiwaku,"
Katanya.
"Bagaimana sekarang dapat aku menghamburkannya dengan memakannya pula ? Kau baik sekali kakak, kau menerima baik kebaikanmu ini !"
It Hiong tertawa.
"Lekas kau makan !"
Desaknya.
"Jiwa kita paling berharga ! Kaulah orang Kang Ouw, kenapa kau membawa lagak seperti caranya si kutu buku ?"
Bukan main meresapnya kata-kata itu dalam hatinya si nona.
Ia menerka pula kepada rasa cinta si anak muda terhadapnya.
Ia lantas mengawasi obat ditangannya anak muda itu.
Ia ragu-ragu sebab ia tak mementingkan dirinya sendiri.
Kemudian ia balik menatap orang di hadapannya itu.
"Bukankah tadi aku telah makan obat ini cukup banyak ?"
Katanya pula.
"Aku rasa khasiatnya obat dapat bertahan lama, dari itu tak usahlah sekarang aku memakannya pula....."
It Hiong balik mengawasi.
Ia tidak mencintai nona itu, ia hanya mengasihani.
Ia menduga memang selayaknya pengaruh obat itu bertahan lama tetapi kalau ia toh menyuruh orang makan pula, itulah guna menjaga keselamatan nona itu.
Siapa tahu sisa obat tak dapat menentang racunnya si parau yang licik dan jahat itu ?
Kalau si nona tidak terganggu racun, itu artinya ia bebas untuk melayani si parau.
Jika sebaliknya, pasti dia menjadi repot sekali, mau membela diri berbareng harus membantu atau sedikitnya terus melindungi nona itu !
Dengan menyuruh si nona makan obat, itu pun guna membikin tenang hatinya nona itu agar dia jangan takut lagi racun lawan.
Mengawasi si nona hingga sinar mata bentrok, diam-diam It Hiong menggigil di dalam hati.
Sinar mata si nona itu lain dari pada sinar mata orang umumnya, hingga ia memikir.
"Inikah pula bencana asmaraku ? Kalau sekarang juga aku menjelaskannya, bagaimana hatinya ? Bagaimana andiakata dia kecewa dan putus asa ? Tidakkah aku bakal memperbahayakan jiwanya andiakata dia nekat ? Bagaimana aku harus berbuat ?"
Dasar ia telah berpengalaman, segera juga pemuda ini mendapat satu pikiran.
"Biarlah tak usah aku hiraukan dia."
Demikian keputusannya.
"Terhadap rasa cintanya itu, tak boleh aku memberikan apa-apa. Sekarang ini aku perlu mencari kakak Kiauw In dan Ya Bie. Aku mengajak nona ini karena aku ingin membebaskan dianya. Asal aku telah bertemu dengan Kiauw In, urusan dia ini mudah diselesaikannya. Harap saja dia nanti mundur teratur kalau dia ketahui bahwa aku telah mempunyai isteri......"
Lantas menatap pula nona itu, It Hiong tertawa dan kata .
"Nona, aku tahu maksudmu kenapa kau tidak suka makan obat ini ! Tentunya kau menyayanginya, bukan ? Sekarang begini saja, kau makan separuhnya selaku penjagaan untuk dirimu ! Kalau kau tidak makan obat ini, hatiku tidak tenang."
Lantas si anak muda menyimpan tiga butir obatnya itu dan yang tiga lagi ia angsurkan di muka nona itu, ke mulut orang.
"Kau makanlah !"
Ia menganjurkan. Nampak nona itu sangat bersyukur, kembali sinar matanya nampak menyala. Itulah sinar mata dari sang cinta. Kemudian ia tertawa dan kata .
"Kakak, lebih baik kaulah yang memakannya. Kakak, jiwaku ada ditanganmu..... aku telah menyerahkannya !"
It Hiong menjadi kewalahan. Tapi ia menganggap perlu nona itu makan obatnya, maka supaya ia tidak usah menyia
KANG ZUSI website
http.//cerita-silat.co.cc/ nyiakan waktu lagi, ia mengambil tindakan yang berani.
Tibatiba saja dengan tangan kanannya ia merangkul tubuh orang, untuk ditarik dekat padanya sedangkan dengan tangan kirinya ia menjejalkan tiga butir obat itu ke dalam mulut orang hingga si nona mirip anak kecil yang tengah dicekoki !
Sembari berbuat begitu, ia tertawa dan kata .
"Kalau kau telah menyerahkan jiwamu padaku maka haruslah kau menyayangi jiwamu itu !"
Si nona berbaju hijau menelan obat itu, dia bersenyum tetapi dia memejamkan matanya.
Rupanya selain menikmati obat juga rasa puasnya sebab si anak muda merangkulnya, memaksa dia memakan obat secara prihatin.
Sama sekali dia tidak meronta yang si anak muda memperlakukannya demikian rupa, malah dia menerimanya mesra !
It Hiong adalah seorang muda, dia bukannya Liu Hee Hui dijaman dahulu yang tak goyah dari godaan asmara.
Benar dia telah memikir yang dia tidak mencintai nona itu, akan tetapi setelah tubuh mereka nempel satu pada lain sedemikian lama, hatinya toh berdebar-debar.
Memangnya dia telah merasa berkasihan terhadap nona itu.
Bukankah rasa kasihan berupa satu langkah kepada sang asmara ?
Bukankah mereka berada berduaan saja ?
Tepat di saat keteguhan hati si anak muda ini hampir gempur, tiba-tiba telinganya mendengar suara bentroknya senjata-senjata tajam yang keluarnya dari dalam gua di depan mereka itu.
Kontan ia bagaikan terguyur air dingin.
Duaduanya lantas bagaikan sadar dengan kaget dari mimpinya.
Lantas keduanya memasang telingan lebih jauh sambil sekalian memasang mata ke arah gua itu.
Segera juga tampak dua tubuh orang berlompat keluar dari dalam gua itu, yang satu terlebih dahulu, yang lainnya belakangan.
Kembali senjata mereka itu beradu satu dengan lain.
Karena yang satu menyerang, yang lain menangkis.
Orang yang keluar pertama bersenjatakan kaitan Bwe-hoa-Toat.
Dialah wanita cabul dari Kwan-ga, Hiat-ciu Jie Nio.
Dan yang menyusul, yang bergenggaman pedang, adalah Cio Kiauw In dari Pay In Nia !
Teranglah Jie Nio kalah dan karenanya dia sedang mencoba mabur !
Bukan main girangnya It Hiong, tak kepalang lega hatinya melihat kakak seperguruannya itu.
"Kakak !"
Serunya lantas tanpa merasa lagi.
"Kakak Kiau In ! Kakak !"
Si nona berbaju hijau melengak mendengar pemuda itu memanggil kakak. Ia belum tahu wanita yang mana yang dipanggil kakak itu, tetapi ia telah berpikir .
"Oh, kiranya mereka kakak beradik mereka datang kemari....."
It Hiong tidak cuma memanggil-manggil, ia sudah lantas lari menghampiri.
Bahkan hampir ia lantas maju membantu kakak seperguruannya itu atau tiba-tiba ia ingat aturan Kang Ouw bahwa orang tak dapat main mengerubuti.
Kalau ia maju, ia bakal mendapat nama jelek dan gurunya pun bakal ditertawai orang banyak.
Maka itu lantas ia menunda majunya lebih jauh.
Kiauw In tengah mengejar Hiat-Cin Jie Nio ketika ia mendengar suara orang memanggilnya, suara yang ia rasa kenali.
Segera ia pun menoleh, bukan main girangnya ia kapan ia pun mengenali orang itu It Hiong adanya.
Saking bersuka cita itu, tanpa ia merasa gerakan tangannya menjadi rada lambat.
Sementara itu, Jie Nio juga kaget sekali apabila ia mengenali It Hiong.
Ia memang sedang sangat terdesak Kiauw In.
Ia sudah melakukan perlawanan seberapa ia mampu.
Tentu sekali melihat It Hiong, jerinya bukan main.
Kiauw In ditambah pemuda itu berarti jiwanya terancam bahaya.
Memangnya ia telengas, lantas ia menjadi nekat.
Tak sudi ia binasa secara kecewa.
Justru ia memikir nekat itu, justru Kiauw In berayal.
Tidak waktu lagi, kesempatan baik ini ia gunakan dengan segera.
Ia memikir untuk mati bersama Nona Cio !
Begitulah dengan senjatanya yang istimewa ia menangkis Kiauw In !
Jurus silatnya yang ia gunakan juga "Kong Hong Kian Te --Topan melanda bumi".
Senjatanya ditangan kanan membabat Kiauw In di bagian bawah !
Berbareng dengan itu, senjatanya di tangan kiri juga menyerang --menyerang ke atas dengan jurus "Keng See Pok Bian --Pasir menyambar muka".
Hiat Ciu Jie Nio tersohor telengas.
Gelarannya saja telah menunjuki itu.
Hiat Ciu berarti Tangan Berdarah.
Kali ini dalam nekatnya, dia menunjuki ketelengasannya itu.
Bukan main kagetnya Kiauw In kapan ia menyaksikan lawannya yang sudah keteter, yang tengah dikejar-kejar menyerang secara demikian hebat.
Syukur ia bermata jeli dan cepat.
Di dalam keadaan sangat terdesak itu masih sempat ia melindungi dirinya.
Cepat luar biasa, ia menutup diri dengan jurus silat "Heng Pay Lok Kak --Menjejer Tanduk Menjangan"
Hingga ia bisa menghalau serangan maut bagian atas dari lawannya itu berbareng dengan mana ia menjejak tanah berlompat tinggi menyingkir dari serangan di sebelah bawah itu.
Hampir berbareng dengan lolosnya Nona Cio dari serangan nekat dari Jie Nio maka terdengarlah si Tangan Berdarah itu menjerit keras sebab tubuhnya tiba-tiba saja roboh terguling.
Tetapi dasar lihai, begitu dia roboh begitu dia terus menggulingkan tubuhnya hingga dia berhasil memisahkan diri dari Kiauw In sejauh dua tombak lebih.
Ia telah menggunakan jurus silat "CaCing Bergulingan di pasir".
Jie Nio roboh bukan wajar, bukan ia terpeleset atau terdesak perlawanannya Kiauw In, ia hanya menjadi korban dari tolakan keras dari pukulan Han Liong Hok Houw Ciang --Menaklukan Naga, Menundukkan Harimau dari It Hiong, siapa sudah terpaksa membantu kekasihnya sebab dia melihat sang kekasih terancam bahaya hebat.
Kalau dia mau, dia dapat merobohkan wanita itu hingga tak dapat berbangkit pula.
Akan tetapi ia telah tidak melakukan itu sebab ia ingat kehormatan dirinya serta gurunya juga.
Bertepatan dengan robohnya Jie Nio itu, orang mendengar satu suara parau.
Mulanya ejekan "Hm !
Hm !"
Berulang-ulang lalu disusul dengan kata-kata dinginnya ini .
"Beginilah perilakunya seorang murid dari rumah perguruan lurus yang ternama ! Yang banyak mengepung yang sedikit ! Sungguh memalukan ! Lohu......."
Tapi Kiauw In memotong ejekan itu .
"Bagus perbuatanmu ! Bagaimana dengan lagakmu sendiri ? Sudah kau menyerang dengan hawa beracun, itu pula dilakukan secara menggelap ! Adakah kelakuanmu itu kelakuan laki-laki sejati ? Mudah saja kau menggoyang lidahmu !"
Justru Kiauw In menegur itu, justru Jie Nio mencelat bangun untuk terus kabur ke dalam gua.
Sebagai seorang yang cerdik dan licik, si Tangan Berdarah pandai sekali menggunakan kesempatan yang baik itu !
Kiauw In melihat orang kabur, ia tidak mengejar.
Ia hanya tertawa tawar mengawasi tubuh orang lenyap di dalam gua.
Habis itu ia lantas berpaling kepada It Hiong.
"Adik !"
Tanyanya.
"Adik, kenapa kau berada disini ? Kau tahu, kau telah membuat aku menderita mencarimu !"
Baik sinar matanya maupun wajahnya, Kiauw In menunjuk keprihatinannya yang luar biasa terhadap kekasihnya itu.
Itulah pertanda dari kasihnya yang sangat.
It Hiong menghampiri untuk mencekal erat-erat tangannya si kakak seperguruan, ia menghela napas.
"Oh, kakak. Panjang kalau aku mesti bercerita....."
Demikian sahutnya perlahan.
"Hampir aku bercelaka di dalam perangkapnya si bajingan jahat, bahkan aku telah terkena pula bencana asmara.... Kakak aku menyesal, aku malu terhadapmu........"
Terhadap kekasihnya yang demikian cantik dan luwes, yang sabar luar biasa, yang cerdas dan berpandangan jauh, It Hiong selalu berlaku jujur, tak sedikit jua ia memikir selingkuh.
Ia mencintai berbareng menghormati kakak seperguruan itu yang sebaliknya pun sangat mencintai dan menghargainya.
Mendengar kata-katanya si pemuda, Kiauw In mengawasi orang dengan sinar matanya yang sangat mengasihi.
Tak ada rasa jelus atau iri hatinya mendengar pengakuan si kekasih tentang bencana asmara itu.
"Syukurlah kau tak sampai kena perangkap, adik."
Demikian katanya, lemah lembut.
"Ah, kau aneh ! Lihat ! Kau sekarang bertemu dengan kakakmu, jangan lagakmu seperti bocah cilik bau......."
Mukanya It Hiong merah, ia likat sekali. Ia ingat bagaimana tadi ia dengan si nona baju hijau, biarpun hatinya keras, ia toh tertarik juga oleh nona itu.......
"Pengalamanku hebat, kakak."
Katanya jengah.
"Aku telah menghadapi saat-saat yang berbahaya yang menggoncangkan hati bahkan semangatku. Hampir saja....... Kaget juga Kiauw In mendengar kata-kata pemuda ini.
"Apakah kau terperangkap dan terkena racun hingga musnah kepandaian silatmu ?"
Tanyanya Bingung. It Hiong menggeleng kepala.
"Dalam hal menghadapi racun, aku senantiasa bersedia, kakak."
Sahutnya.
"Selainnya telah memakan obat pemunahnya, aku juga selalu menyediakannya. Apa yang membuat hatiku hampir copot jatuh tadi ketika aku menyaksikan suhu terkurung dan tersiksa di dalam kamar rahasia !"
Terpaksa, Kiauw In kaget sekali. Mukanya sampai menjadi pias. Tapi hanya sebentar, lantas ia memperoleh kembali ketenangannya.
"Adik."
Katanya sabar.
"Bukankah itu cuma seorang manusia palsu yang segala-galanya mirp dengan suhu ? Apakah kau telah melihatnya dengan teliti ? Dimanakah adanya kamar rahasia itu?"
Si nona pun menjadi tenang karena sekarang ia lagi menghadapi si anak muda yang sadar dan tenang seperti sediakala. It Hiong mengeluarkan napas lega.
"Kakak."
Katanya.
"Andiakata kakak ada bersamaku itu waktu, tidak nanti aku kaget sampai pingsan......"
Kiauw In menatap kekasihnya itu, lalu ia bersenyum.
"Kau melihat sendiri suhu terkurung dan tersiksa, adik. Tidak heran kalau kau kaget tak terkirakan."
Katanya.
"Memang, kakak. Dalam hal pandangan jauh dan kesabaran serta ketelitian, aku kalah jauh dari kakak. Buktinya sekarang. Lantas saja kakak bisa menerka tepat. Memang itulah manusia palsu!"
Kiauw In tertawa, matanya melirik manis.
"Adik, sejak kapan kau mempelajari ilmu mengangkatangkat, memuji-muji orang untuk membuat orang senang hati ? Pantaslah kalau dimana-mana selalu saja kau mendatangkan rasa suka orang hingga kau memancing bencana asmara !"
It Hiong tunduk, mukanya merah.
Ia jengah sekali.
Ia memuji si kakak dengan sesungguhnya hati.
Siapa tahu kakaknya menggunakan itu untuk berkelakar.
Tetapi ia senang, ia puas sekali.
Sungguh kakak ini sangat baik hati, sabarnya luar biasa.
Melihat lagak orang itu, Kiauw In tertawa.
"Eh, eh, kau kenapakah ?"
Tanyanya.
"Apakah ini disebabkan kakakmu menyebut-nyebut hal bencana asmaramu itu ?"
It Hiong mengangkat kepalanya, menatap nona manis di depannya itu terus dia mengasi lihat wajah sungguh-sungguh.
"Kakak,"
Katanya.
"Biar bagaimana, dalam hal asmara, aku masih mempunyai keteguhan hatiku. Hanya mengenai nona ini, benar-benar ia harus dikasihhani......"
Lantas pemuda ini menuturkan tentang si nona berbaju hijau yang telah keracunan dan tersiksa tetapi ia berhasil membantu hingga selanjutnya si nona bersedia mengikuti dia.
Ia menuturkan segala apa dengan jelas.
Tentu saja tak lupa ia menyebut bagaimana segala ia pingsan, ia sadar sebab jeritannya nona itu.
Kalau lama ia tidak sadar, entah bagaimana jadinya jika musuh menyerangnya..........
Mendengar keterangan itu, Kiauw In tertawa geli.
Tapi kemudian ia menghela napas dan berkata dengan perlahan .
"Adik, kakakmu adalah wanita Kang Ouw sejati. Aku bukannya itu macam orang perempuan yang tak dapat menghindarkan dirinya dari rasa jelus, iri hati dan cemburu !"
Berkata begitu, Nona Cio menoleh pada si nona berbaju hijau yang sejak tadi berdiri diam saja sebab dia bingung menyaksikan si pemuda kenal si pemudi.
"Adi, adik yang baik, mari !"
Panggilnya. Tangannya pun menggapai. Si nona berbaju hijau mengawasi dengan ragu-ragu tetapi ia toh bertindak menghampiri dengan perlahan-lahan. Ia berhenti di depan Nona Cio.
"Ada perintah apa dari kau, kakak ?"
Tanyanya, perlahan.
Sebagai seorang anak perempuan yang terlahir dan menjadi besar di Kwan ga, sebagai seorang anak nomad, penggembala, si nona berbaju hijau bisa hidup bebas dan polos.
Ia tidak kenal adat kebiasaan di Tionggoan.
Ia menyangka Kiauw In sebagai kakak, saudara perempuan dari It Hiong, maka ia lantas saja memanggil kakak juga.
Kiauw In lantas mengawasi nona itu.
"Kalian berdua bertemu secara kebetulan ditempat yang berbahaya."
Katanya kemudian.
"lalu kalian bersama-sama pula menderita. Maka itu sekarang kalian menjadi kawan senasib satu dengan lain. Benar, bukan ?"
Nona itu mementang lebar matanya yang jeli, mengawasi nona dihadapannya.
"Aku dengan dia,"
Katanya sembari menunjuk It Hiong.
"bukan melainkan kawan saja, namun........"
Mendadak si nona berhenti berkata, ia berdiam, mukanya merah. Dengan berpura menyingkap rambutnya, ia mencoba menutupi mukanya itu. Kiauw In tertawa.
"Kau belum bicara habis, adik !"
Katanya.
"Bolehkah kakakmu meneruskan dengan menerkanya? Adik, usiamu masih terlalu muda. Bagaimana kau dengan mudah saja menyukai seorang pria yang masih asing bagimu ?"
Nona baju hijau itu mengawasi Nona Cio. Ia menunjuk It Hiong.
"Kakak, jiwaku dialah yang membantu !"
Sahutnya terus terang.
"Tentang kesucian diriku, dia juga yang menyaksikannya. Dia pula telah menyatakan padaku bahwa kami berdua harus hidup dan mati bersama ! Kakak, dapatkah ini dikatakan bahwa dialah seorang asing bagiku ?"
Tak tenang hatinya Kiauw In mendengar keterangannya nona itu.
Di dalam hatinya itu tak dapat ia tertawa atau menangis.
Benar-benar hebat bencana asmaranya It Hiong yang keteguhan hatinya tergoyah sedemikian rupa.
Si pemuda sendiri berdiam saja.
Ia malu dan jengah.
Begitulah ketiga orang itu, semua berdiam, semua bungkam.
Lewat sekian lama, Kiauw In juga yang berkata.
Ia segera mendapat pulang ketenangan dirinya.
Kata ia sungguhsungguh .
"Urusan kalian berdua, lain kali saja kita bicarakan pula ! Yang paling penting sekarang ialah bagaimana kita dapat berlalu dari tempat berbahaya ini !"
Kata-kata itu menyadarkan It Hiong dan juga si nona berbaju hijau.
Memang, mereka belum keluar dari tempat yang sangat berbahaya itu.
Maka itu, sikap mereka bertiga lantas menjadi wajar pula.
Tapi It Hiong toh masih tidak enak hati karena ia tak dapat menyelami kata-katanya Kiauw In ini.
Ia mengira nona itu menyangka diantara dia dan si nona berbaju hijau telah ada persetujuan pernikahan, sedangkan ia, ia cuma maksudkan kawan, persahabatan sejati.
"Kakak !"
Katanya kemudian, matanya menatap kakak seperguruan itu. Si nona berbaju hijau sebaliknya. Saking gembiranya dia kata .
"Kakak, kakak benar ! Kita memang harus berdaya agar kita dapat berlalu dari gunung Hek Sek San ini ! Kakak, bukankah benar kata-kataku ini ?"
Kata-kata yang belakangan ini ditujukan kepada It Hiong, kepada siapa ia berpaling.
It Hiong menjadi serba salah, hingga ia memperdengarkan suara yang tidak jelas.
Hendak ia membuka mulutnya tetapi Kiauw In segera mengedipi mata padanya seranya si nona berkata pada si nona berbaju hijau .
"Adik, apakah adik ketahui jalan untuk berlalu dari gunung ini ? Aku maksudkan untuk kita turun gunung ?"
Nona itu balik mengawasi. Ia membuka matanya lebarlebar.
"Aku tidak tahu !"
Sahutnya. Justru itu, It Hiong mendadak mengeluarkan suara tertahan.
"Mana Ya Bie ?"
Demikian tanyanya.
"Aku telah kehilangan dia karena kami berpisahan tanpa merasa."
Sahut Kiauw In sabar.
"Kau tahu, adik. Ketika Ya Bie dan aku memasuki sebuah kamar, di sana kami mempergoki Hong Kun bersama Peng Mo tengah berkasih-kasihan. Mulanya aku mengira Hong Kun kaulah adanya, setelah kami masuk di dalam kamar itu, baru kami memperoleh kepastian dia bukannya kau, adik. Kiranya dialah Hong Kun ! Setelah aku keluar dari kamar itu, tahu-tahu adik Ya Bie sudah hilang......."
Si nona tak menjelaskan perbuatan busuk dari Hong Kun dan Peng Mo, si Bajingan Es. Biar bagaimana, ia malu. It Hiong melengak.
"Kalau begitu,"
Katanya kemudian.
"Kalau kita turun dari gunung ini, terlebih dahulu kita mesti mencari ketemu pada adik Ya Bie ! Akulah Tio It Hiong, tak dapat aku meninggalkan kawan yang demikian setia ! Itulah perbuatan tak pantas dari aku !"
Kiauw In pun bingung.
Di dalam hal ini, sukar ia menggunakan kecerdasannya.
Ya Bie terperangkap atau dia sudah turun gunung ?
Dia sudah tertawan musuh atau masih berputar-putar ditempat musuh ini ?
Cuma dua kemungkinannya tetapi sulit menerkanya........
Semua orang berdiam, semua mengasah pikiran mereka.
Akhirnya, Nona Cio yang membuka mulut paling dahulu.
"Buat mencari adik Ya Bie, kita harus menggunakan akal."
Katanya kemudian, tenang.
"Kita mesti menggunakan tipu Melempar Batu Menanyakan Jalan, lainnya jalan tidak ada........."
Tipu itu ialah yang disebut "Touw Sek Bun Liuw."
It Hiong mengangguk. Lantas ia melihat sekelilingnya.
"Kemana kita menimpuknya ?"
Tanyanya kemudian.
"Kepada siapa kita menanyakan jalan ?"
Si nona berbaju hijau diam melengak. Dia tak mengerti apa yang kakak beradik itu bicarakan. Dia pula tidak berani mencampur bicara. Tapi Kiauw In tertawa.
"Ha, kutu buku !"
Katanya.
"Percuma kau belajar surat, sampai mati pun tidak ada terpakainya ! Dapatkah dalam urusan begini kita menganut pepatah Mengukir Perahu Mencari Pedang ?"
Mulanya It Hiong melengak, lantas dia sadar dari jengah, dia tertawa.
"Kakak benar !"
Katanya.
"Mari kita maju !"
Sambil mengibaskan tangannya, pemuda ini lantas mengajak kedua nona itu lari ke arah gua karang.
Akan tetapi segera juga ia kecele.
Pintu gua tadi telah tertutup rapat pula.
Bahkan tak terlihat tanda-tandanya atau bekas-bekasnya !
"Aneh !"
Pikir si anak muda, matanya mengawasi ke dinding puncak di tempat yang tadi rasanya pintu rahasia menjublak.
Kiauw In dan nona berbaju hijau tiba belakangan, sebab barusan mereka tak lari sekeras si anak muda.
Mereka melihat si anak muda berdiri menjublak.
Hanya sejenak, Kiauw In lantas tertawa.
Ia mengangkat tinggi tangannya, guna menghunus pedangnya yang digendol di punggungunya, lantas dengan ujung pedang ia mengguratgurat di dinding batu guna mengukir enam buah huruf yang besar .
"Tok Mo Pie Tek Ie Cie"
Yang berarti .
"Tok Mo, si Bajingan Beracun, disini dia menyingkirkan diri dari kawannya."
Selekasnya Nona Cio selesai mengukir, si nona kawannya membacanya dengan keras. Baru berhenti suaranya si nona atau satu suara serak menyusulnya.
"Oh, budak setan !"
Demikian suara itu.
"Rupanya sebelum kau tiba di lain dunia, belum juga hatimu mati ! Marilah masuk, hendak aku melihat berapa besar kepandaianmu !"
Satu suara keras segera terdengar, segera pintu batu rahasia terbuka pula hingga tampaklah mulut sebuah gua.
It Hiong dan Kiauw In saling memandang.
Keduanya terus bersenyum, setelah itu dengan satu pengerahan tenaga dalam tiba-tiba si anak muda melakukan penyerangan ke dalam !
Dia menggunakan suatu pukalan Hong Liong Hok Houw Ciang.
Segera terdengar satu suara yang menandakan serangan itu mendapat halangan ialah dari dinding gua, jauh serangan itu mungkin cuma sepuluh tombak.
Sedangkan penyerangan itu dilakukan guna mencoba mencari tahu di dalam gua itu masih bersembunyi atau tidak buat membokong lawan yang memasukinya.
Menyusul serangannya itu, It Hiong berlompat memasuki gua diturut oleh Kiauw In dan si nona berbaju hijau yang mengikuti dengan selalu berdekatan.
Gua gelap sekali hingga sekalipun lima jari tangan di depan muka, tak tampak.
Jadi gua ini beda dari pada yang tadi.
"hati-hati, adik !"
Kiauw In memberi peringatan.
"Aku mengerti !"
Sahut It Hiong.
Untuk dapat melihat keadaan gua itu, si anak muda lantas saja mengeluarkan Lee-cu, mutiara mustika hadiah si jago Bu Lim yang menyembunyikan diri.
Dengan demikian, gua itu lantas tampak terang.
Bahkan makin gelap tempat, mutiara makin bercahaya kuat.
Gua luas atau lebar sepuluh tombak lebih, seluruhnya kosong.
Di empat penjuru cuma dinding yang tampak.
Kiauw In mengawasi dengan seksama, maka ia ingat rasanya ketika ia menempur Hiat Ciu Jie Nio, ia masuk dari pintu rahasia di sebelah kiri dan tiba di gua ini.
Apa daya sekarang ?
Lawan tetap bersembunyi.
Setelah berpikir sejenak, Nona Cio lantas menggunakan tipu daya memancing kemarahan lawan.
Ia teruskan kata dengan nada mengejek .
"Rupanya kepandaian Tok Mo ialah cuma pintar menggunakan segala gua batu guna mengurung lawan-lawannya. Kemanakah kepandaiannya yang dahulu dipakai melakukan pembantaian kejam di antara kaum rimba persilatan ? Hm ! Pasti rahasianya ini ada disebelah kiri sini ! Kalau dia tetap tidak berani perlihatkan dirinya, mesti kita menggempurnya ransak ! Kita menggunakan kekerasan !"
Kembali terdengar suara parau itu .
"Tempatku ini adalah salah satu dari Barisan rahasiaku yang diberi nama Ngo Tok Tin, namanya ini Tok Kong Tin, ialah Barisan rahasia Sinar Beracun. Jangan kamu memandang ringan, sahabat-sahabat !"
It Hiong tertawa.
"Gua kosong melompong begini kau katakan Tok Kong Tin ?"
Katanya.
"Sungguh aku yang rendah tidak mengerti ! Dimana adanya sinar terangnya ? Dimana ada racunnya ?"
Si nona berbaju hijau jeri terhadap si orang tua yang mukanya keriputan itu, sebegitu jauh tak berani dia mencampur bicara.
Sekarang dia menyaksikan sebuah gua kosong, tak ada juga bekas-bekasnya manusia.
Timbul pula pula keberaniannya, apa pula sekarang dia berada bersama It Hiong dan Kiauw In terhadap siapa si keriputan tidak dapat berbuat apa-apa.
Maka lupalah dia kan ancaman orang yang melarangnya dia meninggalkan Hek Sek San dengan jiwanya masih hidup !
Demikianlah dia menyela .
"Kongcu benar ! Segala kepandaian untuk menggertak saja ! Dia sungguh bermuka tebal.
"Budak hina durhaka !"
Mendamprat si suara parau.
"Rupanya kau memikir kabur mengikuti orang laki-laki ! Tak semudah itu ! lebih dahulu lohu akan mengambil jiwamu buat diperlihatkan kepada si bocah !"
Nona itu bungkam, suara orang telah membuat hatinya ciut pula.
Bahkan tubuhnya pun bergemetar.
Diantaranya sinarnya mutiara, Kiauw In melihat mukanya nona yang ketakutan itu.
Ia lantas menarik tangan orang untuk membuat tubuh dia itu nempel dengan tubuhnya, kemudian ia mengusap-usap rambutnya yang indah.
"Kuatkan hatimu, adik !"
Ia menghibur.
"Dia cuma mengucapkan gertakannya si orang Kang Ouw ! Jangan takut ! Kita pasti bakal dapat lolos dari sini !"
Berbareng dengan berhentinya suara nona Cio, mendadak saja mereka melihat satu sinar yang menyorot keras, warnanya kehijau-hijauan.
Sinar itu membuat mata sukar melihat.
Kiauw In segera memejamkan matanya.
Tetapi karena barusan ia kena tersorot, ia pun merasakan panasnya nyeri, hingga air mata lantas meleleh keluar.
Maka juga ia tunduk membekap mukanya pada bahunya si nona berbaju hijau.
Si nona baju hijau itu turut mengeluarkan air mata.
Ia pun terkena sorotan cahaya istimewa itu yang luar biasa kerasnya.
Kiauw In lantas kata pada nona itu.
"Adik, kau kerahkan tenaga dalammu ! Sinar itu harus dilawan dengan tenaga batin !"
Berkata begitu, nona Cio sendiri sudah lantas mengerahkan tenaga dalamnya sendiri hingga walaupun tubuh mereka tidak bergerak, hati mereka telah dibikin tenang dan mantap.
Hatinya Kiauw In tapinya tidak tenang.
Ia memikirkan It Hiong, siapa tak dapat ia lihat karena ia mesti merapatkan matanya terus-terusan hingga ia tak tahu bagaimana jadinya dengan kekasih itu.
Taruh kata ia membuka matanya, tetap ia bakal tak dapat melihat.
Sinar hijau itu tidak menyoroti ke satu tempat saja.
Sinar menuju ke pelbagai arah.
Rupanya dia dapat menyinari kemana dia suka.
Tetap sinar itu keras dan panas terasanya.
Bergantian kedua nona itu dan It Hiong juga mendapat giliran.
Tidak lama maka terdengarlah tawanya si orang bersuara parau itu.
"Inilah sinar beracun dari lohu !"
Kata dia, suaranya bernada mengejek.
"Kalau orang disoroti terus menerus selama setengah jam saja, sinar bakal membakar mata orang ! Dan kalau sampai dua jam, tubuh orang bakal menjadi daging yang berdarah dan lumer karenanya ! Kamu tidak tahu hidup atau mampus, kamu membuat lohu gusar. Maka sekarang kamu rasailah !"
Jadi itulah yang si parau menyebutnya Tok Kong Tin, tin Lima Racun (Ngo Tok). It Hiong tidak takut. Ia berkata nyaring .
"Ada apakah kelihaian lainnya dari tin kau itu ? Kau sebutkanlah ! Hendak aku mendengarnya !"
Kiauw In mendengar nyata suara kekasihnya itu, lantas hatinya menjadi lega.
Suara itu menyatakan yang si anak muda tidak terganggu sinar jahat itu.
Apa sebabnya itu ?
Ia berpikir tidak lama.
Lantas ia ingat Lee-cu, mutiara mustika miliknya si anak muda.
Rupanya mustika itu dapat menaklukan sinar jahat lawan itu......
Demikian kecerdasannya si nona, maka tidaklah kecewa dia menjadi muridnya seorang guru silat yang lihai luar biasa.
Habis memikir, ia lantas teriaki It Hiong.
"Adik, mari ! Mari lekas ! Kau gunakanlah mutiaramu !"
Memang It Hiong telah disoroti lawan.
Akan tetapi dia tidak kurang suatu apa.
Dia tidak merasakan hawa tajam dan panas hingga dia bebas.
Walaupun demikian, dia selalu memasang mata kalau-kalau lawan mencuranginya dengan jalan membokongnya.
Sebab ini, dia sampai melpai kedua nona itu.
Dia pula tidak menyangka yang Kiauw In dapat diganggu sinar jahat itu.
Si nona berbaju hijau juga menderita.
Tetapi masih bagus baginya, ia telah dirangkul Kiauw In.
Dengan begitu ia tak usah mengeluh, sedangkan nona Cio sebagai wanita gagah dapat bertahan hati, bertahan diri.
Kecuali setelah ia ingat mutiara kekasihnya itu, hingga ia memperdengarkan suaranya tadi.
Hingga si anak muda pun sadarlah akan ancaman bahaya bagi kakaknya yang baik hati itu.
Lantas It Hiong menghampiri tunangannya serta si nona berbaju hijau.
Ia heran menyaksikan mereka itu saling merangkul dengan kepala mereka masing-masing disembunyikan.
Tadinya ia menyangka lawan menggunakan sinar buat main-main atau menggertak saja, sekarang........
"Kakak, kalian kenapakah ?"
Tanyanya sambil menyoroti.
Terkena sinarnya Lee-cu, Kiauw In dan si nona berbaju hijau lantas merasa tubuh mereka nyaman, hilang rasa panas dan nyeri pada matanya.
Segera Nona Cio insaf akan keadaan yang sebenarnya.
Itulah pengaruhnya mutiara yang dahsyat itu.
Dalam girangnya, ia mengangkat kepalanya dan berkata .
"Lee-cu menjadi penolong jiwa kita, kau tahu atau tidak ?"
Si nona bukannya menjawab si anak muda, hanya berkata seperti balik bertanya.
Si nona berbaju hijau juga mengeluarkan kepalanya untuk berdiri tegak.
Ia menyusut airmatanya terus ia mengawasi Kiauw In dan It Hiong.
Ia agaknya heran.
Dengan demikian, bertiga mereka itu saling mengawasi.
It Hiong tetap memegangi mutiaranya hingga sinarnya itu melindungi mereka bertiga.
Sementara itu ia melihat matanya kedua nona merah, sedang rambutnya Kiauw In, begitu pun baju dibahunya seperti bekas terpanggang, seperti kering hangus.
Tahulah ia sekarang hebatnya sinar lawan.
"Aku yang keliru, kakak !"
Katanya sengit.
"Sinar itu demikian jahat tetapi aku tidak menyangka hingga aku tidak memperhatikan kalian ! Kakak, apakah ada bagian tubuhmu yang dilukai ?"
Si anak muda sangat prihatin hingga tanpa likat lagi ia mengelus-elus rambut si nona dan mengusap-usap baju dibahunya itu. Kiauw In tertawa.
"Aku tidak terluka, adik !"
Sahutnya.
"Siang-siang aku telah mengerahkan tenaga dalamku menentang serangan sinar jahat itu !"
Lega hatinya It Hiong. Lalu ia membawa mutiara ke mukanya kedua nona itu sembari ia kata .
"Cobalah kalian menyedot hawa sinarnya mutiara ini, supaya kalau ada racun yang menelusup masuk, racun racun diusir pergi !"
Kiauw In berdua menurut.
Mereka menghadapkan mutiara, terus mereka membuka mulut mereka akan menyedot hawa.
Dengan begitu mereka merasai dada mereka lapang, seluruh tubuhnya agaknya nyaman sekali hingga mereka pun merasa segar.
Pula dengan lekas mata mereka tidak lagi merah, rasa perihnya lenyap seketika.
Sementara itu, dengan berlalunya sang waktu, mendadak sinar jahat itu sirna.
Maka seluruh ruang kembali menjadi gelap gulita seperti semula tadi.
Hingga sekarang tampak tinggal cahayanya si mutiara mustika bagaikan si puteri malam di malam yang gelap petang.
Sinar itu mengitari mereka bertiga sejauh kira dua tombak.
Selenyapnya sinar terang yang jahat itu, lantas terdengar si suara parau berbicara pula.
Kata dia .
"Bocah hitung saja peruntunganmu bagus sekali ! Kamu telah berhasil membebaskan diri dari dalam Tok Kong Tin ! Tapi kamu belum bebas seluruhnya ! Sekarang lohu hendak mengajukan pertanyaan kepadamu mengenai satu urusan. Lohu menghendaki kamu bicara dengan sebenar-benarnya. Kalau tidak, hm !"
It Hiong sementara itu panas hati. Orang telah mengganggu rambut dan bajunya Kiauw In.
"Jangan kau mengaco belo !"
Bentaknya.
"Lebih baik mari kita mengadu jiwa. Mendengar demikian, diam-diam Nona Cio menarik ujung baju tunangannya itu separuh berbisik, ia kata .
"Kita harus menggunakan kecerdikan kita untuk lolos dari kurungan ini, kurungan Ngo Tok Tin ! Buat apa melulu melayaninya ?"
Terdengar pula suaranya si parau itu .
"Masih lebih bagus kesabarannya si budak perempuan tua ! Memang, siapa luhur dia mengadu kecerdasan, siapa rendah dia mengadu tenaga ! Itulah cuma kegagahan si manusia biasa melawan harimau tanpa senjata atau menyebrangi kali tanpa perahu ! Hm !"
Selagi It Hiong berdiam, Kiauw In tertawa.
"Cianpwe,"
Katanya.
"Urusan apakah itu yang cianpwe hendak tanyakan ? Bicaralah, jangan kau berlaku mirip si akiaki atau si nenek !"
Suara parau itu terdengar pula.
"Bocah, dari manakah kau perolehnya mutiara itu ?"
Demikian tanyanya.
"Lekas bilang !"
It Hiong mengawasi Kiauw In, si kekasih yang ia sangat hargakan. Ia menahan sabar walaupun pertanyaan itu tak disenanginya.
"Aku dapatkan mutiara ini dari Kanglam."
Sahutnya.
"Sungguh licin !"
Bentak si parau.
"Jika kau tahu gelagat, lekas kau bicara dengan sebenar-benarnya !"
Dengan memegang mutiaranya dengan kedua jeriji tangannya, It Hiong mengulapkan itu untuk dilihat oleh si parau, siapa sebaliknya cuma terdengar suaranya saja.
"Coba kau sebut dahulu namanya mutiara ini !"
Ia balik bertanya.
"Setelah kau dapat menyebutnya, baru kau mempunyai harga atau kehormatan untuk menanyakan hal ikhwalnya ! Kau sebutkanlah !"
"Lee-cu."
Berkata si parau, suaranya keras.
"Mari aku beritahukan !"
Berkata It Hiong kemudian.
"Mutiara ini aku peroleh dari Kui Hiang Sian-Koan di Kanglam, dari seorang locianpwe yang telah mengundurkan diri dari dunia rimba persilatan ! Nah, apalagi yang hendak kau tanyakan ?"
"Bagaimana wajah dan dandanannya si tua tak mau mampus itu ?"
Tanya si parau.
"Kau bicaralah !"
"Sulit buat aku menjawab pertanyaanmu ini !"
Sahut It Hiong.
"Ketika aku bertemu dengan locianpwe itu, itulah secara kebetulan saja, sekilas lalu !"
Agaknya si parau tidak senang. Ketika dia bicara pula, lagu suaranya tak sedap di dengarnya. Kata dia .
"Tua bangka tak mau mampus itu sangat menyayangi mutiaranya seperti dia menyayangi jiwanya sendiri, kenapakah dia sampai menghadiahkan itu padamu ?"
It Hiong tidak menjawab, sebaliknya ia bertanya .
"Ada sangkut pautnya apa urusan locianpwe itu menghadiahkan mutiara padaku dengan kau ? Kenapa kau menanyakan secara begini kasar dan sengit ?"
Si parau menjawab, sekarang dengan suara gusar .
"Aku si orang tua hendak mencari tua bangka tidak mau mampus itu guna membuat perhitungan dengannya ! Aku pula mau membuktikan dahulu omonganmu ini, cocok dengan kenyataannya atau tidak !"
"Tak dapat aku bicara banyak tentang mutiaraku ini !"
It Hiong berkata.
"Ketika locianpwe itu menghadiahkan mutiaranya padaku, beliau cuma memberi petunjuk padaku untuk menaklukan segala bajingan guna melindungi keadilan, juga guna membasmi segala sampah kaum rimba persilatan yang suka merusak segala apa ! Sedemikian, tak lebih tak kurang !"
Si parau itu seperti juga lebih dapat menerima cara keras daripada cara halus. Ketika dia memperdengarkan pula suaranya, sekarang suaranya itu tak sekeras tadi.
"Kau benar, kau benar."
Kata dia yang terus mengalihkan pokok pembicaraan. Ketika dia meneruskan, dia kata .
"Dari Ngo Tok Tin aku si tua, kamu baru belajar kenal dengan Tok Kong Tin, satu tin ! Di sebelah itu, masih ada empat lainnya yaitu Tok Seng Tin --suara beracun, Tok Kie Tin --hawa beracun dan lainnya ! Apakah kau masih hendak belajar kenal lebih jauh dengan empat tin yang berikutnya ?"
"Coba jawab dahulu !"
Berkata It Hiong.
"Bagaimana kalau aku mau belajar kenal ? Bagaimana andiakata aku tidak sudi, aku segan ?"
Si parau terdengar menghela napas dengan perlahan.
"Sebenarnya aku si tua menyayangi kepintaranmu,"
Katanya.
"Karenanya suka aku memberikan kau satu jalan hidup !"
Sampai disitu, Kiauw In campur bicara.
"Murid-murid dari Pay In Nia bukannya bangsa pengecut yang takut mati !"
Demikian katanya.
"Meskipun demikian, cianpwe, kami mengucapkan terima kasih atas kebaikan hatimu ini !"
Si nona mendahului si anak muda karena ia khawatir anak muda itu menuruti hawa amarahnya dan nanti mengeluarkan kata-kata keras.
Buat ia yang utama ialah lekas berlalu dari tempat yang berbahaya itu !
Agaknya si suara parau itu puas mendengar kata-katanya si nona.
Maka ketika dia bicara pula, bicaranya perlahan.
"Oh, anak. Kau juga muridnya Tek Cio si rahib tua dari Pay In Nia ?"
Tanyanya.
"Nyata kau pandai bicara, kau cerdas sekali ! Bagus, bagus !"
Kiauw In hendak mengatakan sesuatu tetapi si suara parau mendahuluinya dengan kata-katanya .
"Nah, pergilah kalian turun gunung ! Lohu tidak mempunyai banyak ketika akan melayani kalian !"
Mendengar itu, It Hiong tertawa.
"Lee-cu dari locianpwe yang sudah mengundurkan diri itu serta obat pemunah racun dari Pek Yam Siansu !"
Kata ia keras.
"Kedua benda mustika itu memiliki khasiat luar biasa guna membasmi segala macam racun. Maka itu kau Tok Mo si Bajingan Racun, jika kau tidak menjual lagak, pada akhirnya, kau bakal merasai sendiri akibatnya ! Benar, bukan ?"
"Bocah !"
Bentaknya.
"Jika kau masih mengoceh saja, lohu akan mengunakan Tok Seng Ting guna menahan mutiara serta obatmu itu !"
Tok Seng Tin ialah Barisan rahasia Suara Beracun. Belum lagi It Hiong menjawab, Kiauw In sudah tertawa dan kata .
"Kami mau turun gunung. Untuk itu kami harus mendapatkan jalannya. Jika cianpwe tidak mau membukai pintu rahasiamu, apakah itu bukannya berarti cianpwe sengaja hendak menyusahkan kami ?"
Kembali suaranya si parau berubah menjadi sabar.
"Kau benar, anak. Kata-katamu menyenangkan di dengarnya."
Katanya.
"Dapat aku membukai jalan pada kamu semua. Akan tetapi buat itu, kalian harus menolong lohu melakukan sesuatu !"
Kiauw In melengak, hingga ia kata di dalam hatinya .
"Dasar kaum sesat, mulutnya saja manis, hatinya hati serigala ! Dialah si setan licik !"
Tapi, meskipun demikian ia toh menanya .
"Apakah itu? Silahkan sebutkan ?"
Si parau membuka suaranya tinggi.
"Kalian harus mewakilkan lohu membersihkan partaiku !"
Demikian katanya.
"Kalian harus binasakan itu budak yang menjadi murid murtadku !"
Itu artinya, si pemuda dan si pemudi diharuskan membinasakan si nona berbaju hijau.
Kiauw In menoleh kepada nona itu.
Ia melirik memberi tanda akan si nona menyelindung di belakangnya.
Kemudian ia berpura menanya .
"Siapakah muridmu itu cianpwe ? Dimana adanya dia sekarang ? Dan, apakah kesalahannya muridmu itu ?"
"Banyak mulut !"
Si parau membentak.
"Lohu bilang dia harus dibunuh, dia mesti dibinasakan ! Buat apa kau mesti menanya begini melit ?"
Si nona berbaju hijau yang telah menggeser ke belakangnya Nona Cio bergemetar tubuhnya. Dia takut sekali.
"Cianpwe."
Kata Kiauw In sabar.
"Jika cianpwe tidak bicara dengan jelas, maka maafkanlah boanpwe yang boanpwe sulit menjalankan titahmu itu.........."
"Hm ! Hm !"
Si parau memperdengarkan suara dongkolnya.
"Nampaknya kalian tidak berniat turun gunung, bukankah ?"
Tapi It Hiong menjawab keras .
"Apa yang aku si orang she Tio hendak tolongi, biarnya aku mesti menyebur ke air atau menyerbu ke api, kendati mesti mengadu jiwa hendak aku membuktikan apa yang aku janjikan ! Laginya adik ini masih belum ketahuan muridnya siapa dan kenapa dia bolehnya datang kemari ! Beranikah kau omong terus terang mengenai hal ikhwalnya dia ?"
Si parau bagaikan terdesak. Lewat sekian lama, baru ia membuka mulutnya.
"Sebenarnya kalian mau pergi atau tidak ?"
Dia menegaskan, bengis. Sepasang alisnya si anak muda bangkit berdiri ! "Biarnya aku mesti menginjak-injak Hek Sek San menjadi rata, mesti aku berhasil mencari sahabatku !"
Katanya keras.
"Setelah itu baru aku mau pergi ! Siapa yang jeri terhadap tinmu yang beracun ?"
Begitu dia menutup mulutnya, begitu si anak muda menghunus pedangnya. Aneh si parau itu. Kali ini bukannya bergusar, dia justru tertawa berkakak.
"Kau boleh pergi !"
Katanya nyaring.
"Lihatlah ! Di saat berhasilnya pertemuan besar di In Bu San, maka itulah saatnya juga yang kalian semua akan habis terbasmi ! Kalianlah ikan-ikan di dalam kwali dan sang semut di dalam telapakan tangan ! Ha ha ha !"
Tanpa menanti suara orang berhenti, It Hiong sudah berlompat maju ke kirinya dimana dengan pedangnya ia mengetuk tembok guna mencari pesawat atau pintu rahasianya ruang tertutup itu.
Mendadak terdengar satu suara menjublak keras, mendadak juga sebuah pintu tampak terbuka sendirinya hingga disitu lantas tampak sebuah lorong.
Agaknya pintu itu terbuka tanpa dicari pula oleh si anak muda.
Dengan berani anak muda kita berlompat masuk ke dalam pintu itu.
Sembari berlompat dia memutar pedangnya guna melindungi diri andiakata nanti datang penyerangan gelap dari dalam terowongan itu.
Itulah semacam jurus silat bagaikan melesatnya anak panah.
Menyaksikan tindakannya It Hiong itu, si nona berbaju hijau menarik ujung bajunya Kiauw In, sedangkan kakinya melangkah.
Dia ingin segera menyusul si pemuda.
Sebab dia ingin sekali lekas-lekas menyingkir dari tempat yang berbahaya itu.
Kiauw In memegang lengan orang untuk ditarik.
"Jangan bingung !"
Katanya.
"Adik Hiong cuma hendak menyelidiki jalanan. Sebentar dia kembali untuk kita berjalan bersama-sama !"
Si nona berbaju hijau dengan sinar mata guram berdiri mengawasi ke dalam terowongan, hatinya tetap tegang sendirinya.
Benar saja, tak lama maka tampaklah berkelebatnya bayangan dari sesosok tubuh hitam atau segera It Hiong berdiri di hadapan mereka berdua.
"Ujungnya terowongan ini adalah sebuah tanah datar berbatu."
Kata si anak muda seranya tangannya menunjuk ke dalam terowongan itu.
"Di sana, di kiri adalah kaki puncak dan di kanan terdapat serentet rumah petak terbuat dari batu. Di sebelah terowongan terdengar samar-samar suara pertempuran....."
Alis indah dari Kiauw In dirapatkan, otaknya bekerja.
"Mari kita pergi !"
Ajaknya sejenak kemudian.
It Hiong mengangguk.
Lantas dia jalan di muka memasuki pula pintu rahasia itu hingga bertiga mereka berjalan didalma lorong atau terowongan.
Si nona berbaju hijau jalan di tenah, agar Kiauw In yang berjaga-jaga di sebelah belakang.
Panjangnya lorong belasan tombak.
Mulut jalan keluar itu terhadang dengan selat yang teraling dengan dinding batu, maka orang harus jalan mengidar ke kanan untuk tiba ditanah datar berbatu.
Di dalam waktu yang singkat, It Hiong bertiga sudah tiba disisi tanah datar itu, di pinggiran yang tinggi.
Di depan mereka adalah puncak.
Di situ mereka dapat menyedot hawa yang nyaman.
Sang surya menyatakan yang sang waktu sudah siang, sudah mendekati tengah hari.
Tanah datar itu adalah tempat dimana kemarin Gak Hong Kun dan Ek Jie Biauw main perlip-perlipan.
Itu pula tempat Ya Bie bertempur dengan Ek Jie Biauw sekeluarnya dia dari rumah batu.
Ketika malam itu Kiauw In kehilangan Ya Bie, ia telah memasuki serentetan rumah batu itu serta melintasi beberapa pintu dan pendopo guna mencarinya, hanya ia belum sampai di tanah datar berbatu itu.
Waktu Ya Bie kembali, ia sebaliknya sudah pergi jauh.
Maka juga mereka berdua tak dapat bertemu satu dengan lain.
Selama bingung mencari Ya Bie dan It Hiong itu, beberapa kali Kiauw In bertemu dan bertempur dengan beberapa orang berseragam.
Hanya mereka itu aneh, nampaknya mereka semua tak beres pikiran dan cara berkelahinya tidak memakai aturan.
Tegasnya mereka berkelahi masing-masing.
Mereka pula menyerang asal orang ada ditempat jagaan mereka.
Selekasnya orang dapat melewatinya, mereka tidak mengejar.
Setelah sampai di rumah batu terakhir, disitu barulah nona Cio bertemu dengan Hian Ciu Jie Nio dan bertempur dengannya.
Kali ini dia merasa bahwa ia tengah menempur orang yang otaknya tidak terganggu.
Ia mesti melewati tiga puluh jurus lebih barulah lawan dapat dipaksa mundur dan kabur hingga ia mengejarnya sampai di luar rumah batu itu.
Di situ baru ternyata, itulah bukan rumah batu hanya gua karang.
Selama terpisah satu dengan lain, pengalamannya It Hiong dan Kiauw In berlainan.
Toh akhirnya mereka bertemu dan berkumpul kembali.
Ya Bie sebaliknya terpisah sebab dia ketinggalan Kiauw In dan karena ilmu silatnya masih rendah dia pasti menderita.
Di antara beberapa orang Kang Ouw yang melindunginya, ada beberapa orang rimba persilatan hingga sangat sukar baginya melayani mereka itu.
Demikianlah sampai It Hiong mendengar di sebelah puncak gunung ada suara pertempuran.
Itu pula bukannya nona itu bergulat matimatian guna meloloskan diri dari rintangan.
Syukur baginya, ia dibantu oleh So Hun Cian Li si orang utan yang beberapa kali menolongnya dari serangan berbahaya dari lawan-lawannya tiu.
Dari tengah malam sampai besoknya pagi barulah ia dapat keluar dari beberapa rumah batu itu tetapi belum bebas seluruhnya.
Demikianlah It Hiong bertiga, setelah mendengari suara pertempuran itu, mereka lantas mencari jalan untuk menghampiri dan melihatnya.
Mereka jalan melintasi beberapa rumah batu, hingga suara tadi nampak makin nyata.
"Mungkin itulah adik Ya Bie yang masih bertempur di dalam rumah batu......."
Kata Nona Cio setelah dia memasang telinganya. It Hiong heran.
"Kenapa kau menerka demikian, kakak ?"
Tanyanya.
Ia menjadi heran sebab ia tidak menyangka Ya Bie yang masih begitu muda dan belum berpengalaman dapat berkelahi satu malam lebih......
Sebenarnya sebagai murid Kip Hiat Hong Mo, Ya Bie mempunyai suatu kelebihan ialah ilmu menyamarnya Hoan Kak Bie Cin, hingga ia dapat mengaburkan mata orang.
Ilmu itu membuat umumnya ahli silat dapat melihat dan menerka keliru.
Demikianlah sampai It Hiong pun membutuhkan keterangan dari si kakak......
"Panjang buat aku menjelaskan !"
Kata Kiauw In.
"Yang perlu sekarang ialah membantu orang ! Mari !"
Nona Cio berkata terus bekerja.
Ia lompat masuk ke dalam rumah batu dengan melewati jendela, sembari berlompat ia menghunus pedang dipunggungnya.
It Hiong masih tetap heran tetapi ia pun tidak mau terlambat.
Mak ai lompat menyusul sambil terlebih dahulu ia menyambar tangannya si nona berbaju hijau untuk mengajak nona itu.
Rumah batu itu gelap, apa yagn tampak ialah sinar berkilauan kehijau-hijauan mirip seperti terang kunang-kunang hingga penglihatan menjadi rada seram.
Meski begitu, Kiauw In dapat maju dengan lekas.
Ia seperti berjalan di tempat yang ia kenal baik sekali.
Ia melintasi kamar-kamar untuk menuju langsung ke tempat suara pertempuran itu.
Kiranya tempat pertempuran adalah sebuah ruang pertengahan segi empat, kiri dan kanannya berdinding tembok.
Jendela hanya satu dan juga kecil.
Maka itu sekalipun siang hari, ruang guram.
Setibanya di muka kamar, Kiauw In melihat senjata-senjata berkelebatan dan mendengar bentakan.
Ia segera memasang mata tajam guna bisa melihat terlebih tepat.
Yang bertempur itu adalah tiga orang pria bertubuh besar dan tegar mengepung seorang wanita dengan tubuh kecil langsing serta seekor orang utan yang tubuhnya besar dan berbulu.
Nona Cio pernah memasuki ruang ini dimana ia menempur tiga orang yang bertubuh besar seperti tiga orang ini, maka dia lantas menerka kepada Sam Mo atau tiga Bajingan dari pulau To Liong To.
Karena itu, yang lainnya ialah Ya Bie bersama binatang piaraannya itu yang kuat dan lincah.
Dengan satu loncatan ilmu ringan tubuh Tangga Mega dan sembari berseru juga Kiauw In lompat masuk ke dalam ruang itu.
Seruannya ialah .
"Kakakmu datang ! Juga kakak Hiongmu lagi datang menyusul !"
Ia pun terus menangkis senjatanya Lam Heng Hoan, si Bajingan nomor dua. Yang ia gunakan ialah jurus "Pelangi Mengelilingi Langit."
Menyusul itu, satu desakannya membuat kedua Bajingan yang lainnya terpaksa mundur seperti yang pertama itu.
Kiauw In berbesar hati melayani ketiga Bajingan itu, karena ia tahu meski juga mereka itu lihai tetapi mereka berkelahi tanpa menggunakan otak yang sadar.
Sebabnya ialah urat syaraf mereka itu sudah dipengaruhi obat.
Ya Bie lantas berlompat mundur selekasnya ia mendengar seruan dan melihat sinar pedang menghadang ketiga lawannya.
Ia girang dan bersyukur hingga ia tidak dapat segera membuka mulutnya.
Ia berdiri disisi dengan naps memburu.
Cuma kedua matanya yang mengucurkan air mata kegirangan mengetahui datangnya Kiauw In terutama It Hiong, sang "kakak Hiong"
Sebagaimana Nona Cio menyebutnya barusan !
Letih dan kegirangan dan terharu berbareng.
Terutama keletihan, membuat muridnya Kip Hiat Hong Mo tak dapat bertahan lama berdiri di sisi itu.
Mendadak saja ia merasai napasnya sesak, lalu tubuhnya basah dengan peluh, akan dalam detik lain roboh dengan sekonyong-konyong !
Tepat ketika itu It Hiong sampai, maka anak muda ini berlompat akan mencegah tubuh nona itu yang ia pegang pada pinggangnya.
"Adik Ya Bie !"
Panggilanya keras.
"Adik Ya Bie !"
Ketika itu Kiauw In tengah melayani ketiga Bajingan.
Ia mengharap Ya Bie dapat beristirahat, maka ia terperanjat waktu ia mendengar suaranya It Hiong memanggil Ya Bie itu.
Ia lantas mengambil kesempatan akan melirik, hingga ia melihat si adik Hiong tengah memondong tubuhnya anak perempuan itu.
Kedua matanya nona itu dipejamkan dan napasnya memburu keras.
Selagi nona kita menyimpangi perhatiannya itu, Lam Hong Han menyerang pula.
Ujung senjatanya mengancam dada dan perut si nona.
Hebat erang itu hingga untuk menangkisnya pun sudah habis waktu.
Karena itu, guna menyelamatkan diri, si nona menjatuhkan dirinya terus bergulingan ke kaki penyerangnya itu.
Ia menggunakan jurus silat "Keledia Malas Bergulingan !"
Setelah bebas dari ancaman itu, ia segera membalas menyerang.
Ia menyerang tanpa berhenti sampai ia berlompat bangun.
Ia mengarah lengan kanan dan tikamannya yaitu tikaman "Guntur Menyambar".
Lam Hong Hoan kaget sebab dia tidak menyangka lawan justru berguling ke arahnya.
Ia menjadi repot sekali ketika ia mencoba menyelamatkan diri dengan menangkis serangan yang berbahaya itu.
Tentu sekali, karena itu senjata mereka berdua saling bentrok dengan keras.
Kesudahannya senjata si Bajingan yang kalah, bahkan ia hampir kutung lengannya jika tidak dia senjatanya yang malang ditengah !
Ia lantas berlompat mundur !
Tapi juga Kiauw In tidak memikir buat mencelakai orang yang kurang ingatan itu.
Ia melainkan membela diri berbareng hendak mengalahkan lawan bukan merobohkannya hingga terbinasa.
Habis mengundurkan Lam Hong Hoan, Kiauw In berlompat bangun terus berlompat lebih jauh kepada Ya Bie yang ia lantas raba mukanya akan kemudian memeriksa seluruh jalan darahnya.
Ia merasa lega mendapatkan nona itu tidak terluka apa-apa terutaman tidak anggauta dalam badan.
Jadi orang pingsan hanya sebab terlalu letih.
Maka lekas-lekas ia menjejalkan pil Kian tan kedalam mulut nona itu.
"Telah aku menguruti dia,"
Kata It Hiong.
"Aku rasa keadaannya tidak berbahaya."
"Mari kita lekas menyingkir dari sini"
Kata Nona Cio berbisik. Di tempat yang aman, kita akan mencoba menolongnya lebih jauh pada adik Ya Bie ini."
Kemudian ia menggapaikan memanggil si nona berbaju hijau serta si orang utan atau untuk ia berkata .
"Kalian lekas keluar terlebih dahulu dari sini, aku yang akan berjaga-jaga di belakang !"
Si orang utan berdiri dengan tampang lesu, tampangnya dia terlalu lelah.
Sinar matanya pun sayup-sayup.
Tadinya dia duduk numprah saja di lantai.
Si nona berbaju hijau mengawasi binatang itu.
Kata dia pada Kiauw In .
"Rupanya Binatang ini mengerti akan katakata orang. Kasihan dia....."
Binatang itu sebaliknya, menunjuk-nunjuk si nona yang berbicara itu berulang-ulang ia memperdengarkan suaranya, cuma entah apa yang ia katakan.
Kemudian ia menghampiri It Hiong, tangannya menunjuk Ya Bie yang masih rebah, terus dipakai menepuk-nepuk punggungnya.
Menyaksikan demikian, It Hiong mengerti akan maksudnya Binatang cerdik itu.
Ia angkat tubuhnya Ya Bie akan digembloki di punggungnya sang binatang.
Justru bertepatan dengan itu, mendadak ada seseorang yang berlompat kepada si orang utan lantas tampak suatu sinar terang meluncur pada punggungnya !
Itulah serangan terhadap Ya Bie !
Si nona berbaju hijau melihat sinar itu berkelebat.
Dia kaget hingga dia berseru dan mundur dua tindak.
Tapi sebelumnya pedang mengenai sasarannya, mendadak serangan itu ditarik pulang dan si penyerang terdengar suaranya perlahan !
Si orang utan sangat cerdik, dengan lantas dia lari sambil menggendong nonanya itu.
Kiauw In pun segera menolak tubuhnya si nona baju hijau sambil dia berkata keras .
"Lekas lari!"
Nona itu mengerti, lantas dia lari menyusul si orang utan.
Ketika itu It Hiong sudah mulai bertempur dengan si penyerang barusan, senjata mereka beberapa kali beradu dengan keras hingga percikannya berpeletikan.
Saat itu digunakan Kiauw In akan mengawasi lawan tunangannya itu hingga ia melihat seorang berbaju rahib To Kauw, agama To.
Tubuhnya besar, cuma matanya ketolol-tololan.
Dia pula memelihara janggut yang biasa disebut sebagai janggut kambing gunung.
"Ah, siapakah dia ?"
Pikirnya menerka-nerka.
Ia rasa pernah melihat rahib itu.
Ia tidak usah berpikir lama akan terus ingat dan mengenali orang.
Dialah Beng Leng Cinjin dari Hek Keng To, tocu, pemilik pulau ikan Lodan Hitam !
Dalam penyerbuan terhadap Siauw Lim Sie diwaktu malam dahulu hari itu, Beng Leng Cinjin turut mengambil bagian.
Dia datang bersama-sama kedua adik seperguruannya, pria dan wanita yaitu Cek Hong Cu Cin Tong dan Giok Bin Yauw Ho Tan Hong.
Adalah di itu waktu Tio It Hiong dengan pedang Keng Hong Kiam telah memukul mundur para penyerbu karena dengan pedang mustikan ia dapat menundukkan bajingan serta berbareng melindungi keadilan.
Semenjak kegagalan itu, Beng Len Cinjin insaf dan lantas mengundurkan diri dengan tinggal menyendiri di dalam gubuk yang ia bangun di sebuah dusun dekat Kho tiam-cu.
Dan Kiauw In ketahui rahib itu dari mulutnya Tan Hong yang menuturkan perihal kakak seperguruannya yang tertua itu.
Akan tetapi sekarang tiba-tiba tocu dari Hek Keng To itu yang telah mengundurkan diri, muncul di Hek Sek San ini, ditempatnya orang sesat bahkan urat syarafnya telah terganggu !
Tidakkah itu aneh ?
Maka teranglah sudah, dia tentunya telah kena dikekang lawan yang lihai itu.
"Kasihan !"
Kata si nona kemudian dalam hatinya. Habis bentrokan dengan Beng Len Cinjin itu, It Hiong mundur seperti juga si rahib sendiri. Keduanya berdiri diam sambil saling mengawasi.
"Adik, kenalkah kau akan orang itu ?"
Kiauw In tanya.
"Orang atau orang-orang sesat mana ada yang bersahabat dengan kita ?"
Sahut It Hiong dengan suara tegas.
"Buat apa kita mengenalnya ?"
"Bukannya begitu, adik."
Kiauw In bilang.
"Dialah kakak seperguruan dari adik Tan Hong ! Dia toh Beng Leng Cinjin dari Hek Keng To ! Mendengar disebutnya nama Tan Hong, pikirannya It Hiong bagaikan kacau secara tiba-tiba. Itulah kekusutan yang dibilang "digunting tak putus, diberesi masih kusut juga". Tan Hong sangat menyulitkan padanya. Nona sesat itu menjadi sadar dan lurus karena dia dengan setulusnya hati mencintainya ! Beng Leng Cinjin mendengar si nona menyebut namanya, dia tertawa dingin lantas dia kata keras .
"Jika kalian tahu selatan, lekas kalian mengikat sendiri tanganmu supaya tak usah lohu turun tangan lagi !"
Ia pun mengulapkan pedangnya dan menyingkap janggut kambingnya..... It Hiong mengawasi jago tua itu, di dalam hatinya timbul rasa sayang dan lucu.
"Kakak !"
Katanya kemudian kepada Kiauw In.
"tolong kau melindungi mereka itu, akan aku menyusul kau belakangan........"
Justru si anak muda berkata, justru tubuhnya Beng Leng telah mencelat ke muka pintu, pedangnya dilintangkan.
Akan tetapi Kiauw In tak dapat dirintangi karena si nona telah berlompat dengan menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega.
Maka melengak dan mengocehlah ia seorang diri saking herannya orang dapat lewat.
It Hiong datang guna membantu Ya Bie, tidak ada niatnya menempur para jago sesat itu.
Lebih-lebih tak ingin ia melukakan atau membinasakan orang-orang yang pikirannya lagi sesat.
Akan tetapi sekarang ia dihadang Beng Leng serta di belakangnya berada Bajingan-Bajingan dari To Liong To, itulah berbahaya andiakata mereka berempat dapat bekerja sama menghadangnya.
Maka ia pikir, perlu ia berkelahi cepat, guna meloloskan diri buat mengangkat kaki.
Segera setelah berpikir itu, anak muda kita menggerakkan pedangnya.
Ia bersilat dengan jurus "Sie Toat Hong Sim"
Yaitu "Anak panah menyambar sasaran merah".
Ia menikam ke dadanya Beng Leng Cinjin tetapi ditengah jalan ia merubah sasarannya itu dari menikam langsung menjadi menebas dari samping !
Beng Leng lihai, tidak kena dipermainkan secara begitu.
Dengan berani dia menangkis.
Kakinya tak berkisar barang setengah tindak.
Dia tidak takut mengadu tenaga.
"Minggir !"
It Hiong membentak.
"Bukankah harimau menyingkir melompati tembok dan manusia menghindari ancaman bahaya ? Apakah untungnya perbuatan ngototmu ini ?"
Beng Leng tertawa dingin berulang-ulang, terdengar suara "hm !"
Nya.
"Bocah, sungguh mulutmu besar !"
Serunya.
"Kau sebutkan namamu ! Ingin aku tahu betapa besarnya namamu itu !"
"Akulah Tio It Hiong dari Pay In Nia !"
Sahut It Hiong keras dan terus terang.
"Bukankah kita pernah bertemu diatas Siong San ? Lupakah kau ?"
Beng Leng memperdengarkan suara bagaikan menggeruru.
Berulang kali ia menyebut namanya si anak muda.
Terus ia berpikir keras, alisnya pun dirapatkan satu dengan lain.
Sekonyong-konyong ia menuding dan mendamprat berulangulang .
"Penipu ! Penipu ! Ya, penipu !"
Hampir It Hiong tertawa melihat lagak orang mirip lagak orang edun hingga ia tak menggubris yang ia katakan penipu.
"Apakah itu yang dinamakan penipu ?"
Tanyanya sabar.
"Coba kau jelaskan, ingin aku dengar !"
Matanya Beng Leng mendelik, mulutnya dibuka lebar.
"Masih kau berlagak gila ?"
Bentaknya.
"Kau....... kau telah menipu hatinya Tan Hong adik seperguruanku itu ! Bahkan kau telah merampas juga sifatnya ! Hm ! Penipu ! Penipu !' Belum lagi It Hiong mengatakan sesuatu maka Lam Hong Hoan, tocu kedua dari To Liong To mendahului turut bicara. Kata dia nyaring .
"Beng Leng Toheng benar ! Penipu ini bukan cuma menipu adik seperguruanmu, Tan Hong. Dia juga telah menipu adik seperguruanku, Siauw Wan Goat ! Ya, cara menipunya sama saja !' Biar bagaimana, It Hiong toh gusar karena Lam Hong Hoan turut menuduhnya.
"Tutup mulutmu !"
Ia membentak.
"Mengapa kau mengoceh tidak karuan ?"
Lam Hong Hoan tidak mempedulikan orang gusar, dia kata pula .
"Kau bukan melainkan sudah menipu Tan Hong, kau juga telah membujuk dan mengajaknya bersama pergi bertualang di dalam dunia sungai telaga. Kau telah mengacau di Ay Lao San, menyerbu kaum Losat Bun ! Itu masih tidak apa ! Tapi yang celaka ialah setelah kau menipu Siauw Wan Goat, adik seperguruanku itu, sampai sekarang ia tak ketahuan berada dimana, entah dia sudah mati atau masih hidup ! Bagaimana kau hendak memberikan pertanggungan jawabmu terhadap kami ?"
It Hiong mengawasi tajam dua orang itu. Tuduhan itu membuat ia bingung hingga tak tahu ia harus menjawab bagaimana, terutama mengenai lenyapnya Siauw Wan Goat. Ini dia yang pepatah bilang .
"Kalau seorang mahasiswa bertemu dengan pasukan perang, ada alasannya toh tak dapat dia menjelaskannya."
Pikirnya.
"soal Tan Hong ada satu soal yang dapat dimengerti, tetapi bagaimana dengan Siauw Wan Goat yang telah ditipu dan dipemainkan Gak Hong Kun ? Aku sekarang haru memikul kedosaannya Hong Kun ! Tidakkah hebat ?"
Akhir-akhirnya dari mendongkol, si anak muda tertawa.
"Habis, kalian mau apakah ?"
Tanyanya singkat, sikapnya menantang. Lam Hong Hoan maju satu tindak, senjatanya diulapkan.
"Dimana adanya sekarang adik seperguruanku ?"
Dia tanya bengis.
"Kau bilang !"
It Hiong memang tidak tahu dimana adanya Nona Siauw tetapi ia melihat selatan dan menjawab .
"Bukankah nona tadi yang ada bersama disini adik seperguruanmu itu, Siauw Wan Goat ? Kenapa kau tidak dapat mengenali adik seperguruanmu itu ? Kenapa kau justru menangih orang padaku ?"
Lam Hong Hoan melongo.
"Dimana adanya dia sekarang ?"
Tanyanya habis melengak.
"Dia sudah pergi !"
"Dimana adanya Tan Hong adik seperguruanku itu ?"
Beng Leng Cinjin pun menanya.
"Bilanglah !"
"Kalian tidak mengenali adik seperguruanmu sendiri !"
Kata It Hiong yang menggunakan kesempatan untuk mengacau otak mereka itu, yang kadang beres kadang tidak.
"Dia juga sudah pergi !"
Ketua dari Hek Keng To pun melongo.
"Dia sudah pergi ?"
Tanyanya, menegaskan.
It Hiong mengawasi dua orang itu, hatinya tidak tenang.
Ia bukannya tukang mendusta, maka juga merasa tak enak yang ia sudah membohongi mereka itu.
Ia terpaksa bersikap demikian karena orang telah berlaku keterlaluan mengatakan ia penipu dan mencaci padanya.
Tapi dengan demikian juga ia menjadi memperoleh kepastian bahwa benar-benar pikiran orang tak seluruhnya sadar.
Buktinya mereka percaya Kiauw In adalah adik seperguruan mereka......
Beng Leng Cinjin tunduk dan berkata-kata seorang diri .
"Adikku sudah pergi....... Adikku sudah pergi........."
Mendengar itu, Lam Hong Hoan pun berkata sendirinya .
"Adikku sudah pergi...... Adikku sudah pergi....."
Dan ia ngoceh terus.
Suaranya dua orang itu menyatakan keprihatinan mereka terhadap masing-masing adik seperguruannya, kedukaan mereka itu mendatangkan kesan baik dan rasa terharu.
Inilah yang membikin hati It Hiong tak enak, tak tega ia menyaksikan kelesuan dan kedukaannya dua orang itu.
Tak peduli ketika itu merekalah kedua lawan yang berbahaya dan telah menyulitkannya...........
"Kalian menyebut-nyebut penipu,"
Katanya kemudian.
"Apakah sekarang kalian telah insaf akan kekeliruan kalian ?"
Tiba-tiba saja Beng Len Cinjin dan Lam Hong Hoan membentak berbareng .
"Di depanku, kau masih berani mendusta ? Kau mencari mampusmu sendiri !"
Dan tiba-tiba pula mereka menyerang dengan masing-masing senjatanya !
Menyaksikan sikap orang tak waras pikiran itu, It Hiong merasa hatinya lega.
Tapi ia tidak dapat berpikir lagi, ia mesti melayani kedua musuh bahkan selanjutnya menjadi empat lawan karena dua jago lainnya dari To Liong To pun turut turun tangan.
Karena ia bukan berkelahi dengan sungguh-sungguh, It Hiong melayani sekalian penyerangnya dengan terlebih banyak berkelit.
Maka juga ia mengandalkan Te Ciong Sui, ilmu ringan tubuh Tangga Mega guna selalu berlompat menjauhkan diri dari setiap tikaman, bacokan dan tebasannya ataupun sabetan.
Ia bergerak lincah ke kiri atau kanan dan ke atas atau mendak.
Beng Leng Cinjin dan Lam Hong Hoan termasuk kelas satu, dua jago To Liong To lainnya masih kalah dari Lam Hong Hoan tetapi mereka bukan sembaran orang.
Dari itu tidaklah heran jika pengepungan mereka tak dapat dipandang ringan.
Lebihlebih mereka itu dalam pikiran tak waras sempurna, berkelahi dengan sungguh-sungguh, tanpa kenal takut mati.......
It Hiong repot sebab ruang kurang luas dan ia tak berniat membinasakan lawan.
Jalan keluar juga cuma satu-satunya jendela yang dijaga keras oleh Beng Leng Cinjin.
Setelah bertempur sekian lama, It Hiong merasa yang cara berkelahi itu tidak sempurna.
Ia yang mungkin nanti mendapat kerugian.
Ia telah membuang-buang waktu.
Dan bagaimana andiakata ia salah turun tangan ?
Ia pula lantas memikirkan Kiauw In bertiga.
Apakah mereka tidak terlintang pula oleh musuh yang licik ?
Ya Bie memerlukan tempat aman guna ia memelihara kesehatannya.
Sedangkan si nona berbaju hijau, ilmu silatnya tidak dapat diandalkan.
Setelah mengingat semua itu, anak muda kita menjadi berpikir keras.
Bagaimana ia harus bertindak.
Dengan berpikir, It Hiong ingat cara berkelahinya Beng Leng Cinjin si penjaga pintu itu.
Setiap kali ia menerjang, si rahib menerjang dengan jurus "Pat Hong Hong Ie --Angin Hujan di Delapan Penjuru".
Serangan itu sukar dihadapi kecuali kalau ia melawan keras dengan keras dan itu berarti mungkin ia mendapat rugi dilengannya.
Kalau ia bersedia melukai Beng Leng, itulah lain.
Akhir-akhirnya muridnya Tek Cio Siangjin memikir buat menggunakan kecerdasan saja.
Ialah memakai tipu, buat mengelabui si rahib atau ketiga kawannya itu.
Maka ia lantas menanti kesempatan.
Di saat Hong Hoan menghajar, ia berkelit.
Sembari berkelit itu mendadak ia berseru .
"Tan Hong datang !' Beng Leng Cinjin melengak ! Orang bukan menyerangnya hanya menyerukan namanya adik seperguruannya itu ! Tepat dan telak si anak muda menyerang hati nuraninya itu. Segera ia menoleh dan mengawasi ! Ketika yang baik itu tidak dikasihh lewat oleh It Hiong. Habis berseru, ia pun lantas menggunakan ilmu Hoan Kak Bie Cin, ilmu menyamar dan mengelabui mata ajarannya Kip Hiat Hong Mo Tauw Hwe Jie. Itulah ilmu sesat, yang ia tak penuju dan sejak ia pelajari belum pernah ia pakai. Hanya kali ini, saking terpaksa guna mengelabui matanya jago dari Hek Keng To itu. Tengah si rahib berdiam itu, ia terus mencoba lewat disisinya. Beng Leng melihat ada orang berjalan ke sisinya, wajar saja ia mengangkat pedangnya untuk menyerang atau ia lantas merasa ada tangan yang menahan turunnya senjatanya itu dan waktu ia mengawasi ia melihat yang melintasi itu Tan Hong adanya, si sumoay, adik seperguran yang ia buat pikiran. Tanpa merasa ia berseru . Adik ! Adik !"
Karena ini, lupa ia buat menggunakan lebih jauh pedangnya !
It Hiong berlaku sangat gesit dan lincah.
Selekasnya ia lewat disisinya Beng Leng, ia lantas menjejak lantai akan berlompat melesat melompat jendela yang menjadi pintu atau jalan satu-satunya buat ia dapat keluar dari ruang yang terkurung rapat itu oleh empat orang musuhnya.
Hanya sekejap saja, lenyaplah ia berikut bayangannya !
Beng Leng Cinjin bersama Lam Hong Hoan berempat berdiri menjublak, matanya mengawasi keluar ruang.
Mereka seperti juga tidak berani setindak saja meninggalkan tempat jagaan itu.........
It Hiong lari dengan keras.
Setibanya ia ditanah datar terkaannya ternyata terbukti.
Ia melihat suatu pertempuran yang seru.
Di sisi si orang utan tampak sedang menggendong Ya Bie dan disebelahnya mereka itu si nona berbaju hijau lagi bersiap saja menghadapi bahaya.
Matanya mengawasi tajam ke medan pertempuran.
Di sana Kiauw In tengah dikurung oleh Cit Biauw Yauw Lie yang bersenjatakan kim tay, sabuk sulaman air emas.
Mereka itu bergerak cepat hingga ujung baju mereka turut bergerak tak hentinya.
Demikian juga Nona Cio.
Mereka itu berkumpul dan memegat di tanah datar itu karena diperintahkan Im Ciu It Mo, guru mereka.
Caranya mereka menyerang pun dengan memakai aturan, sebab mereka tahu Kiauw In lihai dan hendak membikin nona itu lelah sendirinya.......
Kiauw In tidak takuti ketujuh nona itu, apa pula ia mendapat kenyataan Im Ciu It Mo terus tidak mau munculkan diri.
Begitu bergerak, ia menggunakan ilmu pedangnya guna mendahului membuat lawannya kalah angin.
Inilah tindakan yang perlu guna membikin ketujuh pengepungnya kalah hati !
Cit Biauw Yauw Lie kecele.
Tadinya mereka memikir yang mereka mudah saja akan mengepung dan membuat si nona letih, semua tahu segera senjata merekalah yang justru didesak sedangkan senjatanya mereka yang berjumlah banyak dan selayaknya saja dapat mengurung dan mengekang lawan itu.
Sekarang justru mereka sendiri yang kena dibikin repot !
Nona-nona itu juga heran mendapatkan Kiauw In lekas sekali pulih kesehatannya.
Disamping pedangnya, nona itu senantiasa bergerak dengan pasti dan lincah sebab nona ini menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega.
Tak ada tanda-tandanya yang ia masih dipengaruhkan obat Thay siang Hoan Hun Tan.
Si orang utan pun menyaksikan pertempuran dengan matanya dibuka lebar.
Serta dia memperdengarkan Pekikannya.
Rupanya dia bersitegang hati seperti si nona berbaju hijau.
Mereka sama-sama mengharapkan Nona Cio lekas menang.........
Tak sudi It Hiong menonton lama-lama pertempuran yang tak seimbang itu.
Tujuh orang mengepung satu orang !
Ia bahkan melihatnya dengan sepasang alisnya bangkit berdiri karena hatinya tak puas.
Maka ia berlompat maju sambil berseru .
"Tahan !"
Terus pedangnya berkelebat dan tubuhnya berada disisinya Nona Ciu !
Cit Biauw Yauw Lie berhenti menyerang secara serentak.
Mereka terkejut.
Lantas mereka mengawasi oang yang baru datang itu.
Lantas mereka menjadi melengak saking jeran.
Itulah orang yang tampang muka dan pakaiannya tak asing lagi bagi mereka !
Bahkan hati mereka lantas goncang disebabkan ketampanan dan sikap gagah dari si anak muda.
Bahkan hatinya Ek Jie Biauw bergoncang lebih keras.
Ketujuh nona itu mengurung tetapi mereka berdiri diam, mereka tidak menyerang dan juga tidak mundur.
It Hiong mengawasi semua orang.
Lalu dia kata pada Yauw Lie yang tertua, katanya .
"Nona Ek Toa Biauw, tolong kau sampaikan pada gurumu bahwa Barisan Cit Biauw Tin lain hari saja aku datang pula untuk belajar kenal dengannya ! Hari ini kami perlu lekas-lekas meninggalkan gunung Hek Sek San !"
Ek Toa Biauw mengawasi dengan membuka lebar matanya.
"Bagaimana jika guru kami hendak memaksakan tuan berdiam disini ?"
Tanyanya sembari tertawa tawar. It Hiong mengulapkan pedangnya hingga sinar pedang itu berkilauan.
"Biasanya aku si orang she Tio sabar terhadap setiap orang,"
Sahutnya.
"Suka aku mengalah dan melepas budi. Tetapi kesabaran itu ada batasnya. Bukankah senjata tajam tidak ada matanya? Maka itu siapa tidak takut darahnya nanti muncrat berhamburan, dia majulah mencoba-coba !"
Jilid 59 Ketika It Hong melayani nona-nona itu, bicara, tanpa mengtakan sesuatu, Kiauw In lantas meninggalkannya.
buat ia menghampiri Ya-Bie, guna segera membantu nona itu, yang ia bantu dengan emposan tenaga dalamnya.
Itulah ilmu yang dinamakan "menyambut yin menyebrang Yang."
Tangannya diletaki pada jalan darah.
itulah cara yang menghamburkan tenaga dalam sendiri tetapi cepat sekali menyembukan orang yang ditolongnya.
Demikian Yan-bie, dalam waktu yang singkat sekali, ia lantas sadar.
waktui ia melihat nona Cio, lantas ia berseru.
"kakak kiauw-in!"
Kiauw In menepuk bahu orang.
"Jangan khawatir, ada apa lagi adik!"
Katanya, menghibur.
"buatmu sudah tidak ada ancaman bahaya lagi! kau beristrirahatlah!"
Ya-bie turun dari punggungnya So-Hun Cian Li. ia mau bertindak, atau tubuhnya terhuyung, hampir saja ia roboh baiknya Kiauw In segera meyambarnya.
"Kau berhati keras melebihi aku, adik"
Kata nona Cio tertawa.
"lekas kau berdiam dipunggung si orang utan, untuk beristirihat!"
Ya Bie tahu tenaganya belum pulih, ia berduka sekali, sehingga air matanya melel keluar.
sebenarnya ia ingin sangat dapat bergerak pula dengan bebas.
terpaksa ia membiarkan tubuhnya digendong pula binatang piarannya itu, untuk bersiap turun gunung.
Tepat itu waktu, terdengar suara nyaring dari It Hong pada kiauwin "kakak, mari kita pergi!"
Ek Toa Biauw agak terperanjat, dia lantas menglapakan tubuhnya.
"Kami datang kemari bukan untuk membantu kau menyampaikan kabarmu, tuan!"
Kata dia.
"Aturan guru kami keras sekali, tak dapat itu diabaikan cuma karena beberpa patah kata dari kau bagaimana kami nanti harus berurusan dengan guru kami?"
It Hong tidak puas. ia tapinya menahan sabar.
"Habis kalian mau apa?"
Tanyanya Nona itu menjawab dengan tertawa dingin "Hek Sek San bukannya gunung dimana orang dapat datang dan pergi menuruti suka hatinya sendiri!
jika kalian mau turun gunung maka kalian harus menuruti aturan pihak tuan rumah, sedikitnya kalian harus meningalkan sesuatu!"
It Hong pun tertawa.
"Kami perlu lekas-lekas melakukan poerjalanan kami, tak usah nona -nona mengantarkan kami!"
Demikian katanya.
"bagaimana kalau aku persilakan nona-non pulang saja?"
Ek Toa Biauw gusar, alisnya berdiri wajahnya bengis, tapi dia mencoba tertawa.
"Masihkah kau berlagak pilon tuan?"
Tanyanya dingin "guru kami meletakkan kakinya didalam dunia kang-ouw, dia telah menjadi orang tingkat tinggi yang ada kepala dan mukanya!
maka itu, setiap kata-kata yang diucapkannya, itu mesti dilakukan dan diwujudkannya, itu tak pernah dirubah!
pendeknya, siapa yang menentang guru kami, maka.
janganlah dia mengucap akan dapat berlalu dari sini dengan masih bernyawa!"
Alisnya It Hong berdiri.
"Kau bicara berputar-putar. nona Ek"
Tegurnya.
"bagaiman jika kau omong terus terang saja?"
Ek Toa Biauw menatap tajam.
"Benarkah tuan mau mendengar pesan guru kami?"
Dia menegaskan "Apakah tuan tak nanti habis sabarnya"
Panas hatinya It Hong, hampir ia bersikap keras kalau ia tidak melirik Ya Bie dipunggungnya si orang utan dan ingat yang nona itu memerlukan waktu istirahat, ia pula melihat si nona berbaju hijau bersama kiauw.
Ia lagi mengawasinya, buat mendengar apa katanya.
mengenai si nona berbaju hijau, ia juga ingat janjinya akan nanti mengantarkannya pulang kerumahnya.
maka ia lantas mengenadalikan diri.
"Nona Ek kalau kau mau bicara ya bicaralah"
Katanya kemudian, sungguh-sunggih.
Ek Toa Biauw mengawasi.
ia dapat melihat orang sabar dan keras hati.
terpaksa, iapun menghargai sikap orang itu.
maka ia juga tertawa, sembari tertawa , ia berkata.
itulah cuma dua urusan kecil!
guruku tidak nanti memaksakan orang membuat orang sulit!"
It Hong menatap, telinganya ia pasang.
"Pertama-tama,"
Kata Ek Toa Biauw kemudian.
"Yaitu tentang perbuatanmu sendiri yang telah lancang memasuki wilayah Hek Sek San ini dimana kau telah menembusi lembah Kiau gee kiap serta menjelajah beberapa bagian tempat yang terlarang, hingga kalian mengetahui beberapa rupa rahasia kami. oleh karena itu guru kami menghendaki kau makan sebutir pil sintan supaya dengan begitu kau jadi dapat lupa segala apa yang kau telah lihat dan lakukan disini"
Untuk sekejap mata, It Hong nampak gusar, akan tetapi dengan lekas ia nampak sabar pula.
"Dan yang kedua?"
Tanyanya.
"Apakah itu?"
Toa Biauw membuat main matanya. lalu tangannya diangkat, menunjuk si nona berbaju hijau.
"Guruku berkata untuk menyampaikan kepada kau tuan. menasehati supaya kau jangan terpincut anak perempuan itu.!"
Sahutnya, tertawa "kalau sampai nama dan tubuh tuan tercemar dan rusak karena dia, itulah harus disayangi.
maka itu baiklah tuan tinggalkan disini, buat kami mengantar pulang agar guru kami yang mendidiknya begitu bagus, bukan?"
Suara itu halus dan rapih tetapi bagi It Hiong, terdengar tajam, ia rupanya dianggap sebagai penggemar paras elok serta dituduh telah melindungi seorang murid murtad, saking mendongkolnya serta menahan amarahnya, ia sampai berdiam diri saja.
Ek Toa Biauw tertawa dan kata pula "Tak salah bukan?
bukankah ada pepatah kuno yang berkata, dikolong langit ada hanya wanita cantik, kenapakah mesti hanya dianya seorang?
saudara Tio, cobalah pikir bukankah dibalik keberuntungan adalah kecelakaan?....."
Kata-kata itu ditutup dengan tertawa geli. Dari mendongkol dan gusar, dapat It Hiong menguasai dirinya. sebaliknya dari pada menyatakan amarahnya, ia tertawa.
"Kaulah seorang wanita terhormat. nona Ek, mengapa sekarang, kau bicara begini. seperti juga kaulah seorang perempuan hina dina?"
Tanyanya.
"Baiklah kau menjaga kehormatan dirimu!"
Muka Toa Biauw menjadi merah.
"Cisss"
Serunya, gusar lalu dia tanya dengan bengis "Bagaimana, kau terima dua syarat ini atau tidak?"
Hebat nona Ek, selama ini, tiga macam panggilannya pada It Hiong, mulai dengan "tuan"
Lalu "saudara"
Dan sekarang "kau"
It Hiong tetap berlaku sabar.
Baca Juga: Bakti Pendekar Binal 4
Baca Juga: Imbauan Pendekar 6