Ceritasilat Novel Online

Iblis Sungai Telaga 15

Eps 15 Iblis Sungai Telaga - Khu Lung

Baca online Iblis Sungai Telaga - Khu Lung

Cersil Iblis Sungai Telaga - Khu Lung.

Sebab ia tak dapat membiarkan orang nanti menyerangnya dengan piauw "walet"

Yang lihai itu.

Ketika itu pula, Yan Tio Siang Cian sudah berhasil merapatkan diri pula satu dengan lain, hingga golok mereka dapat dibuat bersatu padu kembali.

Kembali Kiauw In menempur kedua musuhnya.

Nampaknya kedua belah pihak seimbang kekuatannya.

Tapi setelah It Hiong dan Ya Bie maju, perubahan sudah mengambil tempat dengan cepat sekali.

Lebih-lebih karena si anak muda tak sudi memberi hati.

Baru sepuluh, dua saudara Leng sudah lantas kena terkurung.

Syukur bagi mereka, ilmu golok Cu-NgoHap Pek To lihai sekali, mereka masih sanggup bertahan.

Kiauw In tidak sudi mengepung lawan.

Melihat majunya It Hiong bersama Ya Bie, ia lantas mencari kesempatan buat mengundurkan diri, untuk berdiri diam di pinggiran seraya memasang mata, bersiap sedia buat sesuatu kejadian.

Dari empat orang berseragam hitam, semua sudah melayang jiwanya.

Kecuali yang satu yang terbinasa piauw jahat itu, tiga yang lain menyerahkan jiwanya pada pagutannya sang ular hijau.

Pertempuran di antara It Hiong dan YanTio Siang Cian berjalan terus, hanya kali ini tak berlarut-larut lagi.

Lewat sesaat, sinar pedang menyambar kedua saudara she Leng itu, Leng Gan menangkis dengan goloknya, hingga kedua senjata bentrok keras dan berisik sekali, hanya menyusul itu, darah muncrat berhamburan, disusul robohnya tubuh si penderita cacat yang terguling di tanah !

Namun korban itu bukannya sang kakak, hanya Leng Ciauw sang adik !

Apakah yang telah terjadi ?

Kejadian itu membuat It Hiong menjublak sedetik !

Sebenarnya ilmu silat Cu-Ngo Hap Pek To dari Yan Tio Siang Cian juga berdasarkan kedudukan Ngo Heng atau panca benda, ialah emas, kayu, air, api dan tanah, yang satu sama lain saling menarik manfaatnya.

Dengan demikian, kedua saudara itu biasa bergerak saling mengambil atau menukar tempat.

Ketika It Hiong menikam, tepat Leng Gan dan Leng Ciauw sedang menukar tempat, maka itu Leng Gan selamat dan sang adik bercelaka !

Sebenarnya Leng Ciauw masih sempat menangkis, tetapi disini mereka mengadu bukan melulu tenaga luar, golok melawan pedang, hanya tenaga dalam, maka itu, sebab si orang she Leng keteter, dialah yang kalah dan roboh sebagai korban !

Kagetnya Leng Gan bukan kepalang, sendirinya tubuhnya segera mencelat mundur, hatinya giris menyaksikan saudaranya roboh dengan bermandi darah.

Dia bergemetar dan bermandikan peluh seketika juga.

Tanpa ragu pula, dia memutar tubuhnya buat terus melangkah, mengangkat kaki panjang untuk kembali ke dalam rumah batu itu !

Bukan main mendelnya It Hiong menyaksikan cara pengecut dari Leng Gan tiu.

Dia bukan bergusar dan berdaya membalaskan sakit hati adiknya, dia justru kabur.

Saking mendongkol, anak muda kita berlompat menyusul.Leng Gan dapat berlari keras, sebentar saja dia sudah memisahkan diri belasan tombak jauhnya dari anak muda kita, akan tetapi dia keliru menerka anak muda itu.

Orang dapat lari keras dengan mengandalkan ilmu ringan tubuh Tangga Mega dan juga Gie Kiam Sut, terbang mengendalikan pedang.

Dalam sengitnya, si anak muda menyerang dengan satu lemparan pedang !

Itulah jurus silat yang diberi nama "Melemparkan Pedang Tercipta Menjadi Naga", pedang diluncurkan dengan dorongan tenaga dalam, dengan demikian, senjata itu racun menyerang ke tempat jauh.

Hanya sekejap terdengarlah jeritan hebat dari si orang she Leng, yang tubuhnya lantas roboh dengan bermandikan darah, sedang larinya belum sejauh tiga puluh tombak.

Yang paling hebat ialah ketika kepalanya jatuh bergelutukan di tanah sebab batang lehernya kena tertebas kutung !

Sambil berseru nyaring, It Hiong menarik pulang pedangnya itu, yang mirip pedang mustika.

Ya Bie melongo mengawasi pedang itu atau si anak muda.

"Sungguh pedang mujizat !"

Pujinya. Kiauw In sebaliknya, menghela nafas.

"Ah, adik....."katanya.

"Mengapa kau bertindak secara demikian ?"

It Hiong mengangkat alisnya, terus dia tertawa.

"Mungkin ini disebabkan kutukan pembunuhanku......"

Sahutnya, singkat.

Ketika itu, gunung sangat sunyi dan dari rumah batu juga tidak terlihat gerakan atau terdengar suara apa-apa.

It Hiong mengawasi ke rumah batu itu, kemudian ia menoleh pada Kiauw In.

"Aku kira jalan untuk turun gunung mesti dengan melewati rumah batu itu,"

Katanya.

"karena itu, mari kita pergi ke sana akan melihat-lihat !"

Tanpa menanti jawaban, habis berkata itu, si anak muda terus bertindak maju.

Tanpa kata apa-apa, Kiauw In mengikuti.

Ia dibuntuti oleh Ya Bie serta So Hun Cian Li.

Kiranya rumah batu itu berpintu satu, ditengah-tengah, dan ketika itu, pintunya pun tengah terpentang lebar-lebar !

"Tahan !"

Mencegah Kiauw In, waktu ia melihat It Hiong dan Ya Bie mau lancang masuk ke dalam rumah itu. Si anak muda segera menghunus pedangnya.

"Kepandaiannya Im Ciu It Mo mengandalkan pada racun melulu !"

Katanya.

"Kalau bicara tentang ilmu silat......."

Belum selesai kata-katanya si anak muda ini atau Ya Bie telah bersiul nyaring, atas mana terus So Hun Cian Li berlompat memasuki pintu ! Kiauw In menoleh kepada nona polos itu, katanya .

"Adik cerdas sekali dan pengetahuanmu tentang kaum Kang Ouw telah bertambah banyak ! Nona itu tertawa.

"Kakak cuma memuji !"

Katanya, tertawa.

"Dengan caraku ini, aku cuma seperti melemparkan batu untuk menanyakan jalanan !"

Kiauw In bersenyum, begitu juga It Hiong.

Langit sementara itu makin guram.

Dari pihaknya si orang utan tidak terdengar apa-apa, dia masuk ke dalam rumah batu itu bagaikan dialah batu besar yang tenggelam ke dalam lautan.

Terpaksa, Ya Bie bertiga menjadi heran, dari heran lantas timbul kecurigaannya.

Kiauw In bertindak maju ke undakan tangga, terus ia melongok ke dalam rumah.

Di sebelah dalam, keadaan gelap sekali.

Tidak ada api di dalam situ.

Tengah nona Cio mengawasi terus dengan otaknya bekerja, ia mendengar suara angin bersiur di belakangnya, atau tahutahu satu bayangan orang berlompat memasuki rumah itu, disusul dengan jeritannya Ya Bie .

"Kakak Hiong !"

Dan belum suara si nona berhenti, orang sudah lompat pada Nona Cio, yang dia tarik ujung bajunya. Dia pun berkata tergesa-gesa .

"Kakak, mari kita masuk !"

Kiauw In melengak sebentar, lantas bersama kawannya itu ia lari masuk ke dalam rumah batu.

Di dalam terdapat sebuah lorong, di kiri dan kanannya ada kamar-kamar dengan semua pintunya tertutup.

Setelah masuk lagi lima tombak, gelapnya bukan main, sampai kamar pun tak tampak.

Maka itu dengan cepat Ya Bie menyalakan apinya.

Berjalan di lorong yang panjang itu, kedua nona merasai angin dingin bersiur ke muka dan tubuh mereka, hawanya menggigilkan tubuh, masih saja lorong panjang, masih saja pelbagai kamar di kiri dan kanan.

Tak usah diterangkan lagi suasana sangat diam dan sunyi mencekam.

Tiada terdengar suara apapun.

Kiauw In cerdas dan berani, toh ia merasa cemas sendirinya.

Maka timbul kesangsian dan kecurigaannya.

Dari It Hiong atau dari So Hun Cian Li juga tidak terdengar apa-apa.

Ya Bie jalan terus mengikuti Kiauw In, ia tak jeri sedikit juga.

Ia berdiam saja.

Ia mengandal betul kepada kakak In itu......

Mereka berjalan hingga sumbu di tangan muridnya Touw Hwe Jie hampir habis.

Justru itu baru pertama kali mereka mengkol di sebuah tikungan.

Di situ, ruang tetap gelap.

Sampai mendadak, nyala api di tangan si Nona Tanggung padam sendirinya.

"Kakak !"

Panggil Ya Bie.

Kiauw In mencekal keras tangan orang.

Itulah isyarat buat sang kawan menutup mulut.

Sebaliknya, sambil menarik tangan orang, ia berjalan cepat sekali.

Barusan itu, disebelah depan tampak cahaya api, yang padam dalam sekelebatan.

Nona Cio mencurigai api itu.

Ia bertindak semakin cepat, untuk menyusulnya.

Sampai disitu, tiba sudah mereka di ujung lorong itu.

Itulah sebuah Toa-thia, ruang besar.

Di sebelah kiri ada sebuah kamar samping, yang pintunya separuh tertutup, dari situ tampak sinar api yang memain tak hentinya.

Dengan langkah yang ringan sekali, Kiauw In menghampiri pintu itu, untuk terus mengawasi ke dalam kamar.

Ia mendapati sebuah kamar orang perempan dan diatas pembaringan tampak dua tubuh manusia tengah rebah merapat satu dengan lain.

Karena lain menghadapnya, muka mereka tidak terlihat.

Kaki mereka separuh turun ke sisi pembaringan.

Teranglah itu tubuhnya masing-masing seorang pria dan seorang wanita.

Karena kedua tubuh tak pernah bergeming, entahlah orang hidup atau mayat.

Mukanya Kiauw In merah sendiri menyaksikan cara rebahnya kedua tubuh manusia hingga ia mesti menenangkan diri.

Ia mesti mengawasi terus sebab ia perlu mendapat tahu siapa mereka itu dan kenapa keduanya berdiam saja.

Lewat beberapa detik, Nona Cio masih terus mengawasi.

Kedua orang itu tetap berdiam saja, maka ia juga tidak berkutik atau bersuara, keculai memasang mata.

Selama itu, Ya Bie pun membungkam.

Di lain pihak, Kiauw In memikirkan It Hiong, bahkan ia menguatirkannya.

Kemana perginya pemuda itu ?

Dia selamatkah atau menemui suatu rintangan ?

"Cis !"

Ya Bie memperdengarkan suara jemunya setelah ia mengawasi kedua tubuh diatas pembaringan itu. Ia menoleh ke lain arah dengan kulit mukanya merah saking jengah. Ia polos tetapi ia mengerti keadaan itu.

"Asal dia bukannya Kakak Hiong......."

Katanya kemudian, perlahan.

Kiauw In terkejut mendengar suara si nona, hingga ia membuka lebar matanya mengawasi tubuh pria di pembaringan itu.

Likat atau tidak, jemu tak jemu, ia toh mesti mengawasinya.

"Adik, kau tunggu disini."

Katanya kemudian.

"Aku mau masuk ke dalam kamar guna melihat tegas siapa mereka itu...."

Ya Bie mengangguk, menyatakan setuju.

Kiauw In berjalan berjinjit memasuki kamar, pedangnya ia hunus ketika ia berlompat ke depan pembaringan.

Api lilin di dalam kamar membuat orang bisa melihat cukup terang.

Sekarang nona Cio dapat melihat.

Si wanita ialah Peng Mo si Bajingan Es.

Entahlah si pria, yang mukanya teraling bantal sulam.

Hanya pakaiannya menandakan dialah It Hiong....

Saking terkejut, tubuhnya Kiauw In menggigil, hatinya goncang.

Tak kelirukah penglihatannya itu ?

demikian pikirnya.

Ia bingung bukan main.

Selagi pikirannya kacau itu, Kiauw In toh ingin sekali ia memperoleh kepastian.

Maka juga ia mencoba menenangkan hatinya, sembari mengawasi, ia meluncurkan tangannya yang memegang pedang.

Hendak ia menowel tubuh pria itu.

Tau-tau tiba-tiba.

"Jangan bergerak !"

Itulah suara yang tawar sekali.

Yang nadanya bengis, namun tak dapat dipastikan itulah suara pria atau wanita....

Tiba-tiba saja api lilin bergerak, terdengar suara meletupnya bunga apinya, yang mengeluarkan sinar kebirubiruan.

Sinar itu membuat suasana di dalam kamar menjadi seram......

Dalam terkejutnya, Kiauw In menarik pulang tangannya yang di ulur ke pembaringan serta ia segera berpaling, buat melihat siapa itu yang membuka suara yang nadanya bengis itu.

Di belakangnya, Nona Cio melihat seseorang dengan rambut panjang yang teriap-riap ke bahunya, mukanya ditutup dengan kain hitam, hingga tampak saja dua biji matanya yang sinarnya tajam dan galak, sinar mata itu kebiru-biruan.

Tubuh orang tertutup jubah hitam gelap, yang tangan bajunya lebar.

Ujung tangan bajunya itu sama panjangnya dengan ujung bajunya, turun sampai nempel dengan lantai.

Hingga kalau dipakai berjalan, pasti kedua ujung itu bakal terseret-seret !

Biar bagaimana, hatinya Nona Cio toh giris, orang nampak seram sekali.

Tapi dengan lekas ia dapat menentramkan hatinya.

Maka lantas ia dapat menerka, orang tentunya muridnya Im Ciu It Mo atau orangnya si Bajingan yang telah menjadi korban obatnya yang lihai.

"Kau pergilah !"

Akhirnya dia mengusir.

Orang bertopeng itu berdiri tegak, dia seperti tak mendengar bentakan si nona.

Tetap dia menatap dengan matanya yang tajam itu.

Kiauw In menjadi tidak puas.

Ia memang paling tak menyukai orang menatapnya tanpa sebab atau urusan.

Tidak bersangsi pula, ia meluncurkan pedangnya pada orang itu !

Aneh si orang berjubah hitam mirip bajingan itu.

Dengan mudah dia berkelit setindak, habis itu dia berdiri diam pula, sama sekali dia tak mau membalas menyerang.

"Sahabat !"

Nona Cio menegur dengan bengis.

"kalau kau tetap membawa lagakmu seperti bajingan ini, jangan kau sesalkan yang pedang nonamu nanti tak mengenal kasihan lagi !"

Masih orang itu tidak mau membuka mulutnya, tetap dia membisu.

Dia berdiri laksana patung dengan cuma matanya yang terus mengawasi dengan sinarnya yang bengis.

Dengan si nona cuma terpisah kira tiga kaki.

Kiauw In meliriki kepada dua orang yang rebah diatas pembaringan, kapan ia melihat pula yang dandanannya mirip dengan dandanannya It Hiong, hatinya bercekat.

Sedangnya melirik itu, si orang bertopeng hitam mau dua tindak kepadanya.

Hingga sekarang mereka berdiri berhadapan sejarak satu kaki !

Mau tak mau, Kiauw In mundur satu tindak, akan tetapi berbareng dengan itu, dengan pedangnya ia menikam, terus ia membabat ke kiri dan kanan pergi dan pulang --sasarannya ialah dada dan pinggang.

Ia pula menggunakan jurus-jurus dari Khie-bun Patkwa Kiam.

Walaupun ia sabar, kali ini dia habis sabarnya.......

Masih saja si orang berjubah hitam itu selalu berkelit, tak sekali juga dia mau membalas menyerang.

Masih pula dia mengawasi dengan tajam.

"Aneh !"

Pikir Kiauw In.

Lantas ia menyerang pula, secara berantai.

Kembali ia heran dibuatnya.

Orang tetap tak melayaninya.

Yang mengherankan yaitu orang pun bisa bergerak demikian lincah di dalam sebuah kamar yang sedemikian sempit.

Mestinya orang tak dapat menyingkir dari pelbagai tusukan atau bacokannya itu.

Diakhirnya, saking herannya, Nona Cio jadi berpikir keras.

Orang aneh sekali, mesti ada sebabnya !

Apakah sebab itu ?

Tiba-tiba muridnya Tek Cio Siangjin menyerang pula, kali ini beruntun sampai delapan kali.

Dan kali ini, si orang aneh terus melayani dengan main mundur hingga dia berada dekat pinggir pembaringan.

Sampai disitu, disaat sinar matanya bergemerlap bengis, mendadak dia menggerakkan kedua belah tangannya, hingga ujung bajungay terus menungkrap nona di depannya !

Kiauw In terkejut, akan tetapi ia menyambut dengan sabetan pedangnya, membuat kedua ujung baju itu kutung !

Hingga kedua ujung baju itu jatuh ke lantai !

Orang berjubah itu agak terperanjat, dia sudah lantas mundur satu tindak.

Saat ini digunakan baik sekali oleh nona Cio.

Ia maju dan menebas, gerakannya cepat bagaikan kilat !

Dan ia berhasil !Tubuhnya orang itu sebatas pinggang telah kena tertebas, pinggangnya kutung, kedua tubuhnya terus roboh, hanya aneh, walaupun dia telah berlaku demikian hebat, dia tak menjerit atau suara lainnya, dia pula tidak mengeluarkan darah !

Kiauw In berdiri diam sambil mengawasi tajam.

Sampai disitu, lenyap sudah keheranan si nona.

Kalau toh ia heran, ia cuma mengherani orang yang membuat orang berjubah hitam itu.

Dia bukannya manusia yang berdarah daging, dia hanya sebuah boneka !

Apa yang aneh, dari manakah datangnya tadi suara tawanya boneka itu ?

Kiauw In melihat rahasia orang setelah dia memeriksa pinggang orang yang terkutung itu, yang terbuat dari benang perak.

"Hm !"

Si nona memperdengarkan suara dinginnya.

Ia telah menjadi korban kelihaiannya Im Ciu It Mo.

Karena ini dengan perlahan ia bertindak ke pembaringan.

Ia lantas mengulur sebelah tangannya, niat meraba tubuhnya It Hiong, guna menyadarkannya.

Atau mendadak ia menarik pulang tangannya itu.

"Ah !"

Pikirnya tiba-tiba.

"Bukankah dua orang ini dua orang manusia palsu belaka ?"

Dengan merandak itu, Kiauw In mengawasi tajam.

Untuk memperoleh kepastian, ia lalu menowel dengan ujung pedangnya, menyingkap baju si pria.

Kembali ia heran dibuatnya.

Orang itu bukannya boneka, dialah orang benar.

Anehnya ialah kenapa dia terus berdiam saja.

Habis menyingkap pakaiannya yang pria, Kiauw In juga menyingkap bajunya yang wanita.

Dia ini pun manusia adanya.Kenapa mereka tidur bagaikan mayat ?

Bahkan suara menggerosnya pun tak terdengar ?

Sekarang Kiauw In dibikin sangsi oleh si pria.

Dia It Hiong atau bukan ?

Ia belum melihat muka orang.

Ia menjadi berfikir keras.

Ia memasuki tempat itu saling susul dengan It Hiong.

Mungkinkah It Hiong lantas bertemu dengan Peng Mo dan keduanya terus tidur bersama ?

Kalau memangnya mereka tidur bersama, kenapa mereka menjadi lupa daratan seperti itu ?

Kalau It Hiong kena perangkap, itu pun disangsikan si nona.

Tak mudah anak muda itu dirobohkan orang.

Dia cerdas dan waspada.

Dia pula tak nanti terkena racun mengingat yang pada tubuhnya ada Lee-cu, mutiara mustikan yang mujizat itu.

Kalau bukannya It Hiong, habis siapakah orang itu ?

Kenapa dia justru mengenakan pakaiannya si anak muda ?

Bukan main kerasnya Kiauw In berpikir, sampai akhirnya ia menggertak giginya.

Tak mestinya ia menerka-nerka saja.

Tak benar buat membiarkan dirinya terus terbenam dalam keraguraguan.

Mesti ia mengambil keputusan.

Maka lantas ia bekerja.

Dengan sebelah tangannya, ia memegang dan mengangkat tubuhnya "It Hiong", buat dikasih berduduk diatas pembaringan !

Tubuh orang itu sangat lemas, kedua matanya ditutup rapat.

Dia rupanya sangat mengantuk.

Tapi yang membuat nona Cio kaget ialah ketika ia melihat muka orang.

Itulah mukanya Tio It Hiong !

"Ah !"

Serunya.

It Hiong tidur bersama-sama Peng Mo !

It Hiong yang demikian muda-lela dan gagah perkasa !

Tanpa merasa, Kiauw In melelehkan air matanya.

Ia heran berbareng berduka, bersedih hati.

Inilah diluar sangkaannya sama sekali.

Sebagai seorang wanita, ia toh merasa jelus juga.

Tapi dasar dia sabar dan luwes, hanya sejenak, lantas dapat berlaku tenang pula.

Ia tetap heran dan penasaran.

Maka ia terus menatap anak muda di depannya itu.

Ia seperti hendak menembusi muka dan hati orang !

It Hiong bukannya tidur, dia juga bukannya terkena racun.

Kiranya dia adalah korban totokan !

Maka itu, dengan satu gerakan cepat, Kiauw In menotok tubuh anak muda itu.

Hanya sekejap, It Hiong lantas terasadar.

Dia membuka matanya, terus dia mengawasi orang di depannya.

Dia menghela nafas perlahan.

Terus dia masih mengawasi saja.

"Adik, kau kenapakah ?"

Kiauw In akhirnya tanya. Orang muda itu melepaskan tangannya Kiauw In, yang sejak tadi masih memegangi tubuhnya, terus dia bergerak bangun, untuk melempangkan pinggangnya.

"Tidak kenapa-napa...."

Sahutnya kemudian.

Kembali Kiauw In heran.

Ia mendengar suara orang.

Itulah bukan suaranya It Hiong.

Ia mengenal baik suara adik seperguruannya dengan siapa baru beberapa menit yang berselang ia berpisah.

Karenanya, ia segera menatap.

Si anak muda berpaling, dia memandang si nona.

Maka sekarang sinarnya empat buah mata bertemu satu dengan lain.

Lagi-lagi Kiauw In terkejut, hatinya bercekat.

Ia melihat dua buah mata dengan sinar sesat bengis.

Itu bukanlah sinar matanya It Hiong.

"Siapakah kau ?"

Bentaknya sambil ia lantas lompat mundur. Habis menatap, anak muda itu nampak telah pulih kesadarannya.

"hm !"

Ia memperdengarkan suara dinginnya.

"Aku ialah aku ! Buat apa kau menanya aku selagi kau sudah tahu ?"

Ia menatap pula dengan terlebih tajam, wajahnya memperlihatkan kecentilan. Tiba-tiba ia bersenyum. Katanya pula .

"Akulah Tio It Hiong ! Akulah adik Hiong mu ! Kenapa kau tidak mengenali aku ?"

Kiauw In terus menatap tajam.

Terang itulah bukan suaranya Tio It Hong !

Tapi, kenapakah pakaian bahkan wajah orang demikian mirip ?

Saking heran ia menjadi bingung.

Syukur juga, lekas sekali ia memperoleh pula ketenangannya.

Ya, suara dia itu bukannya suara si adik Hiong !

Karena memikir demikian, nona Cio lantas berpikir keras.

Segera ia mengerjakan otaknya.

Ia lantas dibantu kesadarannya.

Mendadak ia ingat !

Orang itu orang yang memakai topeng !

Orang itu ialah Tio It Hiong palsu !

Dialah Gak Hong Kun yang menyamar sebagai Tio It Hiong !

"Gak Hong Kun !"

Teriaknya kemudian.

"Ha ha ha !"

Sela Hong Kun dengan tawa tawarnya.

"Nah, kakak Cio, bagaimanakah kalau kau menganggap aku sebagai Tio It Hiong ? Bukankah......"

Mendadak saja darahnya Kiauw In meluap.

Ia menjadi sangat gusar.

Maka mendadak pula ia menebas ke muak orang !

Itulah serangan jurus silat "Daun Yangliu Mengusap Muka".

Si nona gusar sebab Hong Kun bersikap centil.

Hong Kun sudah sadar betul-betul, dia cerdik sekali dan matanya pun sangat tajam.

Dia mengerti kemarahannya si nona, maka dia selalu waspada.

Atas datangnya sontekan, dia lantas berkelit ke samping, tubuhnya terus berlompat maka di saat berikutnya dia sudah mencelat keluar dari jendela dengan lompatan "Ikan Meletik di Antara Gelombang".

Hingga lantas dia lenyap di luar jendela itu !

Untuk sedetik, Kiauw In melongo.

Ia heran, menyesal dan penasaran.

Setelah itu kembali ia dapat menguasai dirinya.

Maka paling dahulu ia masuki pedangnya ke dalam sarungnya.

"Ah !"

Katanya seorang diri, kemudian ia merasai kulit mukanya panas, sebab kulit muka itu menjadi merah.

Ia jengah kapan ia ingat tanpa sengaja ia menjeluskan pemandangan di depan matanya itu.

Lantas ia memikir buat mengangkat kaki dari dalam kamar itu bilamana melihat di atas pembaringan masih ada satu orang.

Orang itu entah tidur pulas atau sebab kena ditotok orang seperti Hong Kun tadi.

Sebagai seorang kaum sadar, yang hatinya mulia, tak tega Kiauw In meninggalkan orang itu secara begitu saja.

Maka timbul keinginannya buat membantu.

Maka ia lantas menghampiri, untuk mengawasi terlebih dahulu.

Ya, dari cara berdandannya, orang itu Peng Mo atau si Bajingan Es adanya.

Peng Mo menjadi salah satu dari Hong Gwa Sam Mo, dia dengan nona Cio beda diantara sesat dan sadar.

Si nona tidak mempunyai hubungan dengan si Bajingan Es, tetapi itu tak mengurangi minatnya menolong.

Kecuali menumpas kejahatan, nona kita tak nanti turun tangan membunuh atau melukai orang.

Apa pula ia tahu selama di Kiap Gee Kok dari Im Ciu It Mo, Peng Mo pernah membantu It Hiong.

Dalam hal ini ia tidak mengambil pusing Peng Mo menolong dengan sejujurnya atau dikarenakan mengandung sesuatu maksud lain.

Maka itu, tanpa ragu pula, ia menotok si Bajingan Es membuat orang sadar.

Peng Mo berbangkit untuk berduduk, setelah ia membuka matanya, ia melihat Kiauw In berdiri di depan pembaringannya.

"Ah !"

Serunya seranya terus mukanya menjadi merah karena jengah.

Ia malu sendirinya kapan ia ingat lakonnya tadi sudah berplesiran dengan si anak muda yang ia sangka Tio It Hiong adanya.

Dan sekarang ia berhadapan dengan Kiauw In, yang ia tahu siapa adanya.

Ia insyaf yang dirinya adalah orang kaum sesat dan si nona orang golongan lurus.

Betapa malu ia merasa yang orang telah memergokinya.

Tapi, kapan ia tidak melihat "Tio It Hiong"

Di sisinya atau di seluruh kamar itu, perlahan-lahan bisa ia menenangi diri.

Ia mau menerka yang Kiauw In tak memergokinya....

Walaupun semua itu, si Bajingan Es lantas menunduki kepala dan mulutnya bungkam.

Ia masih khawatir orang tahu rahasianya.

Ia hanya tidak tahu, pria kawan plesirannya itu bukannya Tio It Hiong hanya Gak Hong Kun si It Hiong palsu !

Kiauw In terus mengawasi si Bajingan Es, menantikan sampai ia rasa orang sudah sadar seluruhnya, kemudian sebab orang tunduk dan diam saja, ia menyapa juga.

"Toa suhu, apakah kau bertemu dengan Tio It Hiong ?"

Demikian tanyanya.

Itulah pertanyaan biasa saja dan diajukannya juga dengan sabar tetapi Peng Mo terkejut bagaikan dia mendengar guntur, tanpa merasa tubuhnya bergemetar, hingga sekian lama dia tak dapat memberikan jawabannya.

Kiauw In mengawasi.

Ia melihat orang likat.

Tahulah ia apa artinya itu.

Ia masih belum mengulangi pertanyaannya ketika Peng Mo berkata perlahan .

"tidak..... tidak... aku tidak bertemu dengan Tio sicu...."

Kiauw In menerka hati orang tetapi ia tidak mau menggoda. Maka ia cuma mengatakan .

"Baiklah, Toa suhu! Aku hendak mencari adik Hiong, di sini saja kita berpisahan !"

Begitu ucapannya itu dikeluarkan, begitu Kiauw In lompat keluar kamar.

Tentu saja ia tak tahu lakonnya Peng Mo itu.

Si Bajingan Es bertemu dengan Hong Kun secara kebetulan saja.

Dari Hek Sek San, dia pergi mendahului Tio It Hiong beramai.

Dia tidak diganggu oleh Im Ciu It Mo.

Sebab mereka berdua sama-sama kaum sesat dan kedua, It Mo tidak mau bentok dengan Hong Gwa Sam Mo.

Biar bagaimana, si Bajingan Tunggal memandang mata juga pada ketiga Bajingan itu.

Maka itu, Peng Mo dibiarkan mengambil jalan di dalam terowongan istimewa itu.

It Mo hanya mengharap orang lekas meninggalkan wilayahnya.

Kebetulan sekali, diluar terowongan, Peng Mo bertemu dengan Gak Hong Kun yang tetap menyamar sebagai Tio It Hiong.

Ketika itu si anak muda justru habis kabur dari wilayah gunung Ngo Tay San dimana ia telah bertempur dengan Hiat Mo Hweshio dan Tam Mo Tosin dari Hong Gwa Sam Mo dan kena orang totok pingsan, sampai It Hiong menolong menyadarkannya.

Ketika itu Hong Kun tidak sadar seluruhnya.

Dia masih terpengaruhkan obat Thay-siang Hoan Hun Tan dari Im Ciu It Mo.

Maka dia mirip orang setengah gila.

Dia kabur mengikuti jalan pegunungan, tanpa tujuan.

Dia cuma tahu yang ia lapar atau berdahaga.

Dia melakukan perjalanan buat beberapa hari dan malam, sampai dia tiba di Hek Sek San.

Di kaki gunung, di rimba yang jurang, dia berhenti untuk duduk beristirahat.

Kebetulan sekali, hari itu Gwa To Sin Mo muncul bersama dua orang muridnya, In Go dan Bu Pa.

Mereka itu dalam perjalanan pulang ke Tian Cong San habis bertempur dengan Im Ciu It Mo dan saling menukar obat pemunah racun.

Sin Mo melakukan perjalanan cepat tetapi toh ia sambil berfikir, memikirkan cara bagaimana nanti ia dapat mengalahkan It Mo.

Inilah sebabnya, tanpa dikehendaki, langkahnya menjadi pelan.

Bu Pa mengerti pemikiran gurunya itu, ia mengikuti berjalan perlahan pula di belakangnya sang guru.

Tidak demikian dengan In Go, yang masih muda sekali, yang cuma tahu bermain-main, yang gemar akan keindahan alam, apa pula waktu itu pikirannya lagi terbuka habis dia berhasil menggunakan jarumnya di Kian Gee Kiap.

Terus dia berjalan cepat hingga tahu-tahu dia sudah jauh melewati guru dan kakak seperguruannya itu, masih saja ia berjalan terus.

Dia berjalan dengan air muka berseri-seri saking riang hatinya.

Tanpa merasa, dia memasuki rimba yang tidak lebat dimana Hong Kun tengah duduk seperti ngelamun.

Hong Kun tidak menghiraukan si nona walaupun dia melihat nona yang cantik itu.

Di lain pihak, In Go jadi tertarik hati.

Si pemuda tampan dan gagah tampangnya.

Dia sebaliknya, dia sedang muda belianya, hatinya mudah tergoda.

Ketika itu, mereka pun berada berdua saja.

Lama dia mengawasi pemuda itu, akhirnya dia mendongkol juga.

Kenapa orang berdiam saja ?

Kenapa orang tak tergiur akan kecantikannya?

Dia tidak tahu yang Hong Kun adalah korban obat dan kesadarannya seperti lenyap.

Dalam mendongkolnya, In Go berpaling ke lain arah, akan mengawasi burung-burung kecil tengah beterbangan berpasangan, hanya tanpa merasa, kelakuannya burungburung itu justru membangunkan hati mudanya itu.

Dengan perlahan-lahan hatinya bergolak, hingga pikirannya pun mulai kacau......

Buat sejenak, In Go pun berdiri diam, sampai suara burung mengejutkannya.

Apabila dia sudah coba menentramkan hatinya, dia tertawa sendirinya.

Mengingat gejolak hatinya itu, terasa kulit mukanya panas.

Tetap dia penasaran.

Masih si anak muda duduk menjublak saja.

Beberapa kali dia menoleh dan mengawasi.

Pernah dia pikir, tak usah dia hiraukan pemuda itu.

Dia ingat akan harga dirinya.

Selama itu, In Go terus berdiri diam saja.

Dia masih mengawasi burung-burung kecil itu, yang terbang bersenda gurau.

Tak tahu dia bagaimana harus mengambil keputusan, meninggalkan rimba itu atau tidak.

Akhir-akhirnya muridnya Gwa To Sin Mo kata secara menggerutu .

"Kau tidak mempedulikanku, buat apa aku mempedulikanmu ?"

Hong Kun sebaliknya masih berdiam terus, hanya dengan lewatnya sang waktu, pengaruh obat Thay-siang Hoan Hun Tan atas dirinya berkurang sendirinya, berkurang dengan perlahan-lahan.

Terlalu banyak bergerak atau hati bergolakpun dapat melemahkan tenaga obat itu.

Di lain pihak, kalau obat itu merangsang obatnya, itu bertambah hebat.

Demikian kali ini, dia seperti sedang lupa akan dirinya hingga dia tak tahu In Go berdiri di dekatnya lagi mengawasi padanya.

Biasanya, dalam keadaan sadar, tak pernah Hong Kun menyia-nyiakan waktunya andiakata ia didekati seorang nona cantik apa pula nona seperti In Go yang hati mudanya itu tengah terbangun hingga si nona tampak sangat cantik dan manis.

Sekarang ia telah duduk terbengong buat banyak waktu, itu berarti yang ia sudah beristirahat cukup lama, maka juga perlahan-lahan dengan berkurangnya tenaga obat, ia sedikit sadar.

Akhir-akhirnya, dia dapat melihat juga pada si nona.

Ia melihat tubuh orang yang langsing.

Dengan melihat punggung orang, ia toh sudah tertarik hati.

Angin rimba meniup-niup rambut dan bajunya In Go, yang menjadi memain-main.

Angin itu pula membawa bau harum dari tubuhnya, harumnya pupur dan yancie.

Bau harum itu membantu banyak menjernihkan otaknya si anak muda.

Maka kemudian, dia berbangkit, matanya terus menatap nona itu.

Tak berani ia berlaku sembrono.

Di saat Hong Kun memikir buat menyapa nona itu, kebetulan sekali In Go pun tengah menoleh pula ke arahnya, maka sinar mata mereka beradu satu pada lain.

Sama-sama mereka saling melihat dengan tegas.

Maka dua-duanya lantas melengak, lebih-lebih si nona, yang memperdengarkan suara kaget lalu menunduki kepala sebab dia likat sendirinya.

Dalam keadaan hampir sadar, hatinya Hong Kun pun terbuka.

Ia senang menemui nona cantik itu.

Lantas ia menoleh ke sekitarnya.

Di situ tidak ada orang lain kecuali mereka berdua.

Maka legalah hatinya.

Akhir-akhirnya .

"Nona !"

Sapanya, dan ia tertawa.

"apakah nona mau pergi ke Kian Gee Kok ?"

In Go mengawasi, matanya dibuka lebar.

"Buat apa kau tanya-tanya tentang nonamu ?"

Dia menjawab, suaranya keras tetapi dia tertawa.

"Toh bukan urusanmu sendiri !"

Di mulut dia menegur akan tetapi kakinya tak bergeming, tak ada niatnya buat mengangkatnya. Hong Kun tertawa.

"Aku ialah murid dari Kian Gee Kiap !"

Katanya.

"Aku menyapa kau, nona, sebab aku khawatir nanti tidak dapat menyambut kau sebagaimana selayaknya."

In Go merapikan rambutnya.

"Kau murid dari Kian Gee Kiap ?"

Ia balik menanya.

"Kau hendak memperdaya siapa ?"

"Tidak aku mendusta, nona !"

Kata Hong Kun.

"Aku memang muridnya Im Ciu It Mo !' In Go menatap.

"Kau tahu atau tidak, apakah aku pernah mendatangi Kian Gee Kiap ?"

Tanyanya. Hong Kun melengak.

"Kita baru pernah bertemu satu dengan lain, mana aku ketahui tentang kau, nona ?"

Katanya.

"Laginya......."

"Sudah !"

Si nona menyela. Tapi dia tertawa.

"Kaulah seorang penipu !"

Alisnya Hong Kun terbangun, tetapi dia pun tertawa.

"Jangan sembarang menuduh, nona ! Siapa bilang aku penipu ?"

In Go mengawasi dari menatap, matanya menjadi separuh mendelik.

"Mari aku tanya dahulu padamu !"

Ktanya.

"Tadi pagi siapakah itu nona yang membawa-bawa ular hijau yang muncul di ruang besar dari rumah barunya locianpwe Im Ciu It Mo ? Nona itu ada bersama-sama kau ! Dia pernah apakah denganmu ? Dan, kemana perginya dia sekarang ?"

In Go menerka pasti orang di depannya ini ialah It Hiong.

Sekarang ia telah mengenalinya.

Hanya ia mengenali It Hiong yang palsu.

Sebaliknya, pertanyaannya itu membuat Hong Kun melengak.

Hong Kun tidak tahu peristiwa It Hiong dengan It Mo itu.

Melihat orang berdiam saja, alisnya In Go terbangun.

"Kamu sudah menyerbu Kian Gee Kiap dan mengacau !"

Tegurnya, bengis.

"Kau sudah tidak sanggup melawan, lantas kau tinggalkan nona itu ! Sekarang di depanku, kau masih berani berpura-pura pilon begini macam ! Bagaimana kau masih berani menipu aku dengan kau mengaku dirimu sebagai muridnya It Mo ? Kalau kau bukannya penipu, habis apakah ?"

Di desak begitu, Hong Kun menjadi tidak senang. Ia gusar.

"Sebenarnya kau mempunyai kepandaian bagaimana lihai maka kau berani mengatakan aku Gak Hong Kun sebagai penipu ?"

Tegurnya.

"Buat apakah aku menipumu ?"

"Hm !"

In Go memperdengarkan suara dingin. Dia pun mendongkol.

"Kalau kau menjadi orang rimba persilatan, tahukah kau akan harga dirimu sendiri ? Seorang jago rimba persilatan, dia berjalan, dia berduduk, tidak nanti dia merubah she dan namanya !"

Hong Kun maju satu tindak.

"Kau mengaco belo, ya ?"

Tegurnya.

"Apakah maksudmu ?"

In Go mencibirkan bibirnya.

"Bilang !"

Katanya bengis.

"Bilang sebenarnya, siapakah kau ? Kau Tio It Hiong atau Gak Hong Kun ? atau....."

"Tutup bacotmu !"

Teriak Hong Kun bengis.

In Go gusar hingga dia tertawa berkakak.

Dia belum berpengalaman, dia menyangka orang kalah suara dan karenanya menjadi gusar.

Dia tertawa sampai dia melengking.

Hong Kun gusar tetapi dia tetap tertarik oleh paras elo si nona.

Dia mencoba menguasai dirinya.

Dia pun tertawa.

Dia lantas menggunakan akal.

"Nona,"

Katanya.

"nona, kau cerdik sekali ! Tak dapat aku memperdayaimu ! Nona.... aku mempunyai kesulitan......."

In Go mengawasi. Memangnya dia tertarik oleh ketampanan pemuda itu. Melihat orang menjadi sabar, ia turut menjadi sabar juga. Tak lagi ia tertawa, ia justru lantas menanya .

"Bilanglah terus terang, sebenarnya siapakah kau dan apa namamu ? Dan, apa kesulitanmu itu ?"

Hong Kun menghela nafas. Ia senang menyaksikan orang berubah sikap.

"Sebenarnya musuhku ialah Tio It Hiong,"

Katanya kemudian.

"Dia telah menyamar sebagai aku, baik wajah maupun pakaiannya ! Dimana dia berada, disitu dia menerbitkan onar, untuk menimpakan kesalahan padaku......"

"Benarkah itu ?"

Si nona menyela.

"Tadi pagi ada seorang anak muda yang datang bersama-sama seorang nona yang membawa-bawa ular ! Dia itu memusuhkan gurumu ! Apakah benar dia itu ?"

"Coba nona bilang, wajah dan pakaiannya dia itu, bukankah semuanya sama benar dengan wajah dan dandananku sekarang ini ?"

Hong Kun bicara dengan lemah lembut ! "Ya, segala-galanya sangat mirip !"

Sahut si nona, yang mengangguk.

"Manusia itu sangat jahat !"

Hong Kun kata pula.

"Sengaja dia datang mengacau ke Kian Gee Kiap, guna meminjam tangan guruku supaya guruku membersihkan rumah perguruannya ! Dengan begitu, itu artinya dia ingin aku dibinasakan guruku !"

In Go mementang matanya lebar-lebar.

"Apakah kau tidak sanggup merobohkan musuhmu itu ?"

Tanyanya. Hong Kun menghela nafas.

"Sudah beberapa kali kami bertempur,"

Sahutnya.

"Hanya, selama itu kami berdua sama tangguhnya, kami selalu seri saja....."

In Go tidak puas terhadap "It Hiong", tetapi berbareng merasa kasihan terhadap Hong Kun, pemuda di depannya ini. Lantas ia menatap pemuda itu.

"Kau memikir atau tidak untuk menghajar musuhmu itu, guna melampiaskan sakit hatimu ?"

Tanyanya kemudian. Hong Kun berpura girang.

"Kau tentunya murid seorang guru yang ternama, nona,"

Katanya.

"Kau pasti mempunyai kepandaian silat yang mahir sekali ! Nona, kalau kau benar hendak membalaskan sakit hatiku maka kelak di belakang hari buat selama-lamanya akan aku mendampingimu, untuk setiap saat melayani padamu...."

Hebat kata-kata bergula itu.

Sedangkan sebenarnya Hong Kun berniat memiliki tubuh orang.

In Go kurang jelas tetapi ia toh merasa senang, hatinya puas.

Manis sekali rasanya kata-kata si anak muda.

Lantas ia tertawa dan kata .

"Kepandaianku tidak mahir akan tetapi akulah muridnya Gwa To Sin Mo si Bajingan Sakti ! Guruku itu ternama semenjak beberapa puluh tahun dahulu !"

Hong Kun terkejut mendengar si nona muridnya Gwa To Sin Mo, tanpa merasa kulit mukanya menjadi panas. Tapi, karena dia cerdik, dia lekas-lekas bersenyum, terus dia tertawa.

"Oh, nona !"

Serunya.

"Kiranya kaulah muridnya seorang guru yang termashur ! Nona, maaf ! Memang telah lama aku mendengar nama besar dari gurumu itu yang aku kagumi !"

Ia berhenti sedetik, lalu menambahkan.

"Nona kebetulan saja kita bertemu, sudah sekian lama kita bicara, akan tetapi aku masih belum kenal dengan nona, maka itu, apakah dapat nona memberitahukan aku nama nona yang mulia ?"

In Go mengangkat tangannya dan menuding. Tapi dia tertawa.

"Jika kau hendak menanya namaku, tanyakanlah secara langsung !"

Sahutnya.

"Kenapa kau mesti bicara panjang lebar dahulu ? Lagakmu mirip dengan seorang guru sekolah si kutu buku."

Hong Kun merangkap tangannya, buat memberi hormat.

"Kau baik sekali, nona !"

Ujarnya.

Tanpa merasa ia pun sudah bertindak menghampiri nona itu hingga mereka terpisah hanya satu kaki.

In Go tertawa manis, kepalanya pun digoyangi, sedangkan sinar matanya memain dengan indah sekali.

Kemudian ia melirik pemuda itu.

"Namaku In Go !"

Katanya kemudian.

"Oh !"

Seru Hong Kun, bagaikan orang kaget.

"Oh, kiranya nona, Nona In ! Maaf, maaf,aku kurang hormat !"

Puas In Go mendengar panggilan Nona In itu.

"Ya, aku bernama In Go !"

Katanya.

"Baguskah nama itu ? Baik kau panggil saja aku In Go ! Kau toh terlebih tua dari pada aku."

"Baik, nona, aku menurut perintahmu !"

Berkata Hong Kun.

"Adik In Go ! Adik In Go !"

Manis panggilan itu terdengarnya, In Go puas sekali.

Ketika berkata begitu, Hong Kun menatap, air mukanya tersungging senyuman hingga tampak ketampanannya.

Dengan begitu, ia menambah girangnya si nona.

Si nona sendiri balik menatap dengan sinar matanya mengandung arti..........

Keduanya berdiam, wajah mereka bersenyum berseri-seri.

Masih mereka saling mengawasi, sampai Hong Kun merasa yang ia sudah memperoleh kemenangan.

Lantas ia menganggap baiklah jangan ia melewatkan ketika yang baik itu.

"Adik". katanya.

"Kita bertemu secara kebetulan, kita menjadi sahabat, aku girang sekali !"

"Apakah kau ingin bersahabat denganku ?"

Si Nona Tanya, menatap.

"Asal kau tidak menolak, adik !"

Sahut Hong Kun cepat.

"Bukankah sekarang kita sudah bicara dengan akrab sekali ? Benar bukan ?"

"Benar !"

Kata si nona, alisnya berkerut.

"Sayang, sayang.....kita harus akan berpisah pula......."

Hong Kun melongo.

"Memangnya kau hendak pergi kemana, adik ?"

Dia tanya. Dengan berani dia mengangsurkan tangannya, akan menyingkap merapikan rambut di dahi si nona, yang dikacaukan angin. In Go diam saja, membiarkan orang merapikan rambutnya itu.

"Aku harus pulang !"

Katanya kemudian. Hong Kun sengaja menurunkan tangannya ke bahu orang.

"Kenapa begini tergesa-gesa, adik ?"

Tanyanya, prihatin.

"Buat apa kau lekas-lekas pulang ? Kita toh baru berkenalan, bukan ? Bukankah lebih baik kita mencari tempat yang sunyi dimana kita dapat duduk memasang omong dengan asyik ?"

Si nona menggeleng kepala.

"Kenapa ? Kenapa ?"

Tanya Hong Kun. Mendadak sekali, agaknya dia bingung.

"Kau bilang, bilanglah, adik ! Apakah kau mencela aku buruk hingga aku tak pantas menjadi sahabatmu ?"

In Go menghela nafas.

"Jangan menyebut demikian,"

Katanya perlahan.

"Bukannya soal tidak pantas..... Aku mesti lekas-lekas pulang karena aturan guruku sangat keras. Laginya......."

"Adik....."

Berkata Hong Kun, yang terus bersandiwara, buat membikin lemah hati orang. Ia menggoyang-goyang bahu nona itu, agaknya ia menyesal sekali.

"Adik, tak kusangka kau begini tega, lantas saja kau hendak meninggalkan aku ! Tahu begini, terlebih baik kita tak usah bertemu...."

Kata-kata itu menarik hatinya In Go tetapi ada sesuatu yang membuatnya menahan diri.

Itulah tak lain dan tak bukan karena lebih dahulu daripada ini, ia sudah mencintai Bu Pa, kakak seperguruannya, dan Bu Pa pun membalas mencintainya.

Kalau sekarang ia tertarik oleh Hong Kun, itulah karena dimatanya anak muda ini tampan luar biasa dan sangat menggiurkannya.

Di saat itu maka terbayanglah dua orang muda .

Hong Kun dan Bu Pa !

In Go mengenal Bu Pa semenjak mereka berguru bersama, keduanya selalu berada berdua-duaan, sudah sekian lama mereka mencintai satu dengan lain.

Sekarang, mendengar kata-katanya Hong Kun, ia bagaikan tidak mendengarnya.

Itulah sebabnya kenapa ia tidak lantas memberikan jawabannya.

Hong Kun bersenyum.

Ia maju lebih jauh.

Ia memang pandai beraksi.

"Adik........"

Katanya, seraya maju terlebih rapat setelah mana ia memeluk pinggang langsing nona itu.

"adik, tak dapat aku berpisah dari kau........ Aku pikir, kau juga tentu tak tega meninggalkan aku......"

In Go terkejut dipeluk laki-laki itu.

Mendadak saja ia sadar.

Maka merahlah mukanya.

Dia malu.

Dengan satu gerakan tubuhnya, dia meloloskan diri dari pelukan si anak muda.

Tetapi dia tidak menjadi gusar.

Dia bersenyum, lalu dia kata perlahan, nadanya berduka .

"Aku mau lekas pualgn sekarang, tentang diriku, jangan kau pikir terlalu banyak........"

Hong Kun maju mendekati pula. Dia menyangka si nona malu-malu kuCing.

"Kalau kau toh mau pulang, adik, tak usah kau begini tergesa-gesa,"

Katanya tertawa.

"Mari kita duduk pula, kita bicara lebih jauh. Kita bakal berpisah, bukan ? Kenapa kita tidakmau bicara lebih lama sedikit ? Kita harus melakukan sesuatu yang kelak sukar kita lupakan........"

Dan ia maju lagi, berniat memeluk kembali. In Go menatap tajam.

"Eh, eh, kau mau apakah ?"

Tanyanya. Hong Kun tertawa manis.

"Mau apa ?"

Katanya bertanya.

"Kau tentu telah ketahui sendiri, adikku. Kita harus saling mencinta, dari semula hingga di akhirnya. Sampai kita mati. Mustahil kau tidak tahu itu, adikku ?"

Dan dia tertawa pula, lau dengan satu sambaran, dia memeluk pinggang si nona !

In Go kaget.

Inilah ia tidak sangka.

tak sempat berkelit, tak dapat ia melepaskan pula tubuhnya.

Si anak muda memeluk keras sekali.

Mendadak ia menjadi gusar.

Maka ia melayangkan sebelah tangannya !

"Plok !"

Mukanya si pemuda kena terhajar.

Hong Kun terperanjat.

Pipinya sampai balan, bertandakan lima jari tangan si nona, hingga ia mesti mengusapnya.

Menggunakan saatnya orang terperanjat, In Go meronta, membebaskan diri, setelah mana ia mundur dua tindak.

Ia menatap anak muda itu, agaknya ia pun bingung sendirinya.......

Hong Kun mengawasi pula si nona.

Mulanya hendak ia menggunakan kekerasan, akan tetapi kapan ia melihat wajah orang, ia percaya si nona masih belum dapat membaca maksudnya yang sebenarnya.

Ia mengawasi, lalu tertawa.

"Ah, adik !"

Katanya sambil bertindak maju.

"Adik, kau main-main secara kelewatan. Kenapa kau menggunakan tanganmu ?"

Kembali ia maju mendekati satu tindak.

In Go menatap tajam.

Ia bisa melihat wajah orang.

Nampaknya si anak muda itu bersikap keras tetapi segera sikap itu berubah pula.

Buktinya dia itu tertawa dan berlaku manis lagi.

Tapi ia sudah sadar, maka ia waspada.

"Apakah kau marah padaku ?"

Tanyanya, tertawa.

"Aku telah terlepasan tangan. Apakah kau masih merasa nyeri ?"

Hong Kun mengusap-usap pula pipinya, kemudian dia mengasi lihat tapak balannya, yang masih bersemu merah.

"Nyeri di pipiku tetapi girang di dalam hati !"

Sahutnya.

"Mungkin inilah tanda dari cinta kasihmu, adik..."

Selagi orang maju, In Go mundur pula.

Sekarang ia sadar benar-benar, maka juga dari menyukai pemuda itu, di dalam waktu sependek ini, ia jadi memandang tak mata.

Ia mundur dengan sepasang alisnya terbangun.

"Aku menyesal atas kelakuanmu ini,"

Katanya.

"Aku menyayanginya !"

Hong Kun heran hingga ia melengak. Sungguh hebat perubahan sikapnya si nona.

"Apakah yang kau sayangi, adik ?"

Tanyanya berlagak pilon.

"Apakah yang kau maksudkan yang pertemuan kita ini terlambat ?"

Lagi-lagi In Go mundur satu tindak.

"Bukan itu,"

Sahut si nona.

"Aku melihat gerak gerikmu ini ! Dengan orang dengan lagak sepertimu ini, tak suka aku bergaul lagi ! Kau harus ketahui aku bukanlah orang yang dapat dipermainkan !"

Habis mengucap itu, In Go memutar tubuh terus melangkah keluar rimba.

Panas hatinya Hong Kun yang kedoknya dibuka si nona, sedangkan nafsunya memiliki nona itu keras sekali.

Ia menggertak gigi, lantas ia bertindak ringan tetapi cepat untuk menyusul, setelah datang dekat, tiba-tiba saja dia menotok jalan darah hektiam nona itu !

In Go tidak menyangka jelek, dia tidak bersedia sama sekali.

Begitu dia kena totok, tubuhnya terus terhuyung beberapa tindak.

Dia pun mengeluarkan jeritan kaget.

Justru dia mau jatuh itu, si pria lompat padanya merangkul pinggangnya tanpa dia dapat berbuat apa-apa.

Hong Kun puas sekali berhasil menawan nona itu, dari bersenyum ewah, ia tertawa bergelak.

Kemudian ia memandang ke sekitarnya, guna mencari tempat yang cocok dimana ia dapat memuaskan nafsu hatinya terhadap nona itu.

Rimba jarang tetapi di sana sini terdapat semak-semak pohon rendah atau rumput yang tebal dan lebat !

Ketika itu pula, suasana sangat sunyi, sampai suara kupu atau binatang kecil lainnya pun tidak terdengar.

Segera si anak muda melihat batu besar dan rata dibawah pohon dimana tadi dia duduk, itulah batu yang menurutnya pantas dijadikan pembaringan.

Maka kesana dia pergi sambil memondong In Go.

Dengan perlahan-lahan ia meletakkan nona itu di atas batu tersebut.

Di dalam keadaan seperti itu, Hong Kun ingat untuk berlaku hati-hati.

Ia lantas melihat sekelilingnya.

Rimba tetap sunyi, tak ada lain orang disitu.

Kemudian ia mengawasi batu besar, maka ia mendapat kenyataan, meskipun suasana sunyi, batu itu toh terlalu terbuka.

Tapi, selekasnya ia mengawasi In Go yang rebah diam saja, yang kecantikannya, juga potongan tubuhnya, sangat menggairahkan, tiba-tiba tak dapat ia menguasai dirinya lagi.

Cepat luar biasa, ia lantas membukai kanCing bajunya si nona !

Tepat pemuda itu tengah membukai kanCing orang, hingga dia tak memikir lainnya apa juga, mendadak saja dia merasai kedua belah iganya ada yang sentuh hingga dia terkejut sekali.

Kedua iga itu pun terasa sedikit sesemutan.

Lantas ia menduga kepada penyerangan pembokongan, maka tanpa ayal pula, berbareng dia memutar tubuhnya, untuk melakukan penyerang hebat dengan dua-dua tangannya.

Akan tetapi, dia menyerang tempat kosong.

Tak ada orang disitu.

Serangannya itu hanya mengenai daun-daun pohon, yang rontok berhamburan.

Dia heran sekali.

Menurut dia, sekalipun orang yang tubuhnya paling ringan tak nanti lolos dari hajarannya itu.

Toh tadi ia merasa tubuhnya tersentuh dan tubuh itu sedikit bergemetar.

Habis apakah itu kalau bukannya serangan gelap ?

Dengan perasaan heran sekali, anak muda ini melihat pula ke sekitarnya, terutama ia memperhatikan pohon-pohon dan semak di seputarnya itu.

Tetap ia tidak melihat suatu apa-apa, tetapi --ia merasa--seperti telinganya mendengar langkah kaki di atas daun-daun dan bagaikan ada bayangan orang diantara semak.......

Dari merasa aneh, Hong Kun menjadi bersangsi bahkan bercuriga.

Ia lantas menerka yang tidak-tidak.

Ia menyangka mesti ada orang yang mengintai dan membokongnya.

Tapi, mana orang itu dan siapakah dia ?

Ia berdiam tetapi ia waspada, matanya dibuka lebar-lebar, mengawasi tajam ke sekelilingnya.

Rimba tetap sunyi.

"Sahabat yang mana yang berada disini ?"

Akhirnya si anak muda bertanya nyaring.

"Sahabat, silahkan kau perlihatkan dirimu supaya kita dapat saling bertemu muka !"

Pertanyaan itu tidak memperoleh jawaban walaupun telah diulangi beberapa kali.

Setelah itu, baru anak muda ini merasa hatinya tenteram.

Ia mengawasi pula, ia tidak melihat bayangan orang dan tidak mendengar suara langkah kaki diantara dedaunan.

Rupanya tadi, ia merasa, bahwa ia dipermainkan daun-daun rontok hingga ia mendapat perasaan yang tidak-tidak......

Matahari pun bersinar terang.

Segera sesudah berfikir tenang, Hong Kun menghampiri pula batu besar dimana In Go tetap rebah tak berdaya.

Keadaannya mirip seorang nona yang lagi tidur nyenyak.

Tubuh dan wajah nona itu sangat menggiurkan hatinya.

Sang nafas membuat dadanya si nona naik dan turun dengan perlahan.

Mengawasi nona itu, dadanya Hong Kun pun memain naik turun seperti dadanya si nona.

Dia dipengaruhi sangat perasaan hatinya.

Darahnya lantas bergolak, dadanya itu terasa sesak.

Dia mirip si srigala kelaparan tengah menghadapi sang kelinci !

Di dalam keadaan seperti itu, masih anak muda ini bercuriga, hingga ia merasa batu besar itu bukanlah tempat yang tepat untuk ia melampiaskan nafsu hatinya.

Maka juga lantas ia mengambil keputusan.

Segera ia mengangkat dan memondong tubuhnya In Go buat dibawa masuk ke dalam sebuah ruyuk tak jauh di depannya.

Dengan berada di dalam situ, mereka berdua akan tak terlihat siapa juga.

Karena merasa senang dan puas, selagi memasuki ruyuk, ia menggerutu seorang diri....

Tepat tengah ia melangkah masuk ke dalam ruyuk itu, sekonyong-konyong Hong Kun merasa ada jari tangan yang menekan sin-tong, jalan darahnya yang berarti kematian untuk setiap orang.

Dia kaget, hingga lantas saja dia memutar tubuhnya berniat melakukan penyerangan.

Atau segera dia didahului bentakan bengis .

"Jangan bergerak !"

Terpaksa dia membatalkan serangannya. Dia tahu, asal dia menyerang, jiwanya bakal lenyap seketika........

"Hm !"

Ia lantas mendengar suara yang dingin.

"Sahabat, kau datang kemari, apakah maumu ? Apakah yang kau hendak lakukan ?"

Dari suara orang, Hong Kun menerka pada seseorang yang usianya telah lanjut.

Pertanyaan itu bernada tak bermaksud jahat.

Karenanya ia memikir baiklah ia berlaku sabar, selekasnya ada kesempatan, baru ia mau mengasi hajaran.

Maka lekas-lekas ia menjawab .

"Urusanku, lotiang, tidak ada sangkut pautnya denganmu !"

Ia membahasakan "lotiang" --orang tua yang dihormati karena ia percaya orang itu benar seorang tua.

"Oh !"

Orang itu memperdengarkan suaranya. Hong Kun telah bersiap sedia, hendak dia menyerang tetapi dia batal. Jari tangannya orang tak dikenal itu tetap mengancam jalan darah kematiannya itu......

"Lotiang,"

Kata ia kemudian.

"kaulah seorang dari tingkat tertua, kenapa kau melakukan ini ancaman menggelap atas diriku ? Apakah lotiang tidak takut yang perbuatanmu ini akan merendahkan derajatmu sendiri ?"

Agaknya orang itu melengak, sebagaimana terasa tekanan tangannya tak berat seperti semula.

"Sahabat !"

Kemudian terdengar suaranya pula.

"sahabat, jika kau masih menyayangi jiwamu, kau mesti dengar setiap pertanyaanku dan menjawabnya dengan sebenar-benarnya ! Jika tidak, hm !"

"Kau tanyakanlah !"

Sahut Hong Kun cepat.

"Aku yang rendah, biasanya tak pernah aku mendustai !"

Orang itu tidak menjawab, hanya dia lantas mulai dengan pertanyaannya.

"Sahabat,"

Demikian tanyanya.

"Siapakah nona yang kau pondong ini?"

Sinar mata galak dari Hong Kun memain beberapa kali.

"Dia ini sahabatku !"

Demikian sahutnya.

"Sungguh licik !"

Kata orang itu, suaranya menandakan kemendongkolannya.

"Jangan sembarangan mencaci orang, lotiang !"

Hong Kun pun sengaja memperdengarkan suaranya yang menyatakan dia tak puas.

"Di dalam dunia ini, urusan yang paling besar pun tak melebihkan kematian ! Kenapa lotiang mendongkol tidak karuan ?"

Agaknya orang itu terpengaruhkan kata-kata si anak muda, maka ketika ia bersuara pula, suaranya sabar seperti semula.

"Jika benar seperti katamu, nona ini adalah sahabatmu,"

Katanya.

"coba kau jelaskan she dan namanya serta juga nama perguruannya. Kau tentunya tahu jelas, bukan ? Kau bicaralah !"

Hong Kun melengak. Ia cuma tahu namanya In Go, tidak perguruannya. Tapi ia toh menjawab cepat .

"Sahabatku ini bernama In Go, kami baru saja bertemu secara kebetulan, lantas kami mengikat persahabatan."

Sebenarnya In Go pernah menyebutkan namanya Gwa To Sin Mo tetapi Hong Kun melupai itu sebab tadi sewaktu si nona memberitahukannya pikirannya masih belum sadar seperti sekarang ini dan ia pun tidak memperhatikannya.

"Oh !"

Kembali orang itu memperdengarkan suaranya.

"Kenapa nona ini tak sadarkan diri di dalam pondonganmu ?"

Kembali Hong Kun terkejut.

"Sebenarnya kita sedang bergurau....."

Sahutnya kemudian, sebab tak ada alasan lainnya yang bisa dia kemukakan.

"Sedang bergurau ?"

Tanya orang itu, suaranya menandakan kemurkaannya. Dia pun terus menekan, membuat si anak muda berjengit menahan nyeri, sampai giginya dijatrukan atas dan bawah. Lewat sesaat, tekanan reda pula.

"Sahabat, kau bicaralah baik-baik."

Katanya pula orang itu.

"Kau harus mengaku dengan sebenar-benarnya ! Jika kau memikir mendustai lohu, itu artinya kau mencari penderitaanmu sendiri ! Mengertikah kau ?"

Dengan kesabarannya, orang itu membahasakan dirinya "lohu", kata-kata merendah dari seorang tua, yang sama artinya dengan "aku".

Hong Kun cerdik sekali.

Dia bukannya menjawab, dia justru balik menanya.

"Lotiang,"

Demikian tanyanya.

"lotiang pernah apakah dengan nona ini, maka juga lotiang begini memperhatikan tentang dirinya ?"

Sebagai jawabannya, orang itu tertawa bergelak-gelak hingga kumandang tawanya itu menggetarkan rimba. Lalu, terasakan kata-kata demi kata oleh Hong Kun, dia menambahkan.

"In Go ini ialah muridku si orang tua !"

Kagetnya Hong Kun tak terkirakan.

Dia seperti mendengar guntur.

Dia sampai bergemetar seluruh tubuhnya.

Dengan lantas, tapinya ia mengasah otaknya.

Hingga dia bisa lekaslekas memulihkan ketenangan dirinya.

"Oh, kiranya nona ini murid kesayangan lotiang,"

Demikian katanya, tertawa.

"Bagus !"

Orang itu heran.

"Apa katamu ?"

Tanya dia. Hong Kun tertawa pula, tertawa licik.

"Coba lotiang tanyakan dirimu sendiri,"

Dia menjawab.

"Sebelumnya lotiang dapat membinasakan aku, mampukah lotiang membantu murid kesayanganmu ini ?"

Si orang tua melengak. Baru sekarang ia insyaf yang muridnya berada di dalam tangan orang. Jadinya murid itu terancam bahaya seperti sekarang si anak muda berada dalam ancamannya sendiri.

"Aku si tua bukanlah orang yang dapat diancam, dipaksa !"

Katanya kemudian.

"Kalau muridku mati, aku cuma kehilangan seorang murid ! Sahabat, kau agaknya licik sekali, maka itu silahkan kau ambil jalanmu ke neraka sana !"

Kata-kata itu disusul dengan satu tekanan jari tangannya.

Hong Kun kaget sekali, segera ia merasakan nyeri sampai alisnya berkerut rapat satu pada lain.

Terpaksa ia mesti menyerah, maka ia kata susah .

"Lotiang, kau berlakulah murah hati ! Aku yang muda akan bicara dengan sebenarbenarnya......"

Orang itu mengendorkan pula tekanannya, dia tertawa.

"Hm, bocah yang baik !"

Katanya mengejek.

"bukankah kau barusan mengatakan manusia itu cuma mati satu kali ? Kalau benar kaulah seorang gagah sejati, buatmu mati ialah mati ! Habis kau mau bicara apakah lagi ?"

Hong Kun meluruskan nafasnya yang sesak, dengan begitu juga ia memperbaiki saluran nafasnya itu.

"Aku yang rendah,"

Sahutnya kemudian.

"aku sebenarnya bukan takut mati. Aku hanya tidak memikir akan terjadinya permusuhan diantara guruku dengan kau, lotiang. Permusuhan itu akan berarti hebat, akan merupakan balas membalas dengan kematian !"

Orang itu tertawa perlahan.

"Di dalam hal ini, bicaramu beralasan,"

Katanya.

"Tapi dapat aku jelaskan pada kau, aku Gwa To Sin Mo, jika aku bunuh kau, aku tidak takut yang gurumu nanti datang mencari balas !"

Girang Hong Hun mendengar suara itu. Ia memperoleh kesempatan.

"Lotiang,"

Tanyanya.

"Apakah lotiang bersahabat dengan guruku ?"

Pemuda licik ini tidak tahu Gwa To Sin Mo mengenal gurunya atau tidak, ia menggoyang lidah sekenanya saja. Gwa To Sin Mo sebaliknya heran.

"Siapakah itu gurumu ?"

Tanyanya.

Ditanya begitu Hong Kun lekas memikir.

Ia tahu Gwa To Son Mo yang berdiam di jurang Houw Tauw Gay di gunung Tiaom Chong san menjadi seorang lihai yang sesat bukannya sesat, sadar bukannya sadar.

Dia itu bertindak sesat atau lurus dengan melihat suasana.

Dia ingat, mesti ada sebabnya kenapa Gwa To Sin Mo muncul di Hek Sek San ini.

Maka dia pun menerka jangan-jangan Sin Mo mempunyai hubungan dengan It Mo dan mungkin Sin Mo mengandung sesuatu maksud dalam urusan Bu Lim Cit Cun.

Dia menduga juga, kalau Sin Mo mengenal gurunya, ada kemungkinan ia pasti pergi ke Heng San.

Di dalam sekejap, Hong Kun mendapat akal.

Maka lekaslekas dia menjawab .

"Lotiang, guruku ialah Im Ciu It Mo !"

Mendengar jawaban itu, mukanya Gwa To Sin Mo berubah menjadi suaram, tetapi cuma sejenak, dia terus tertawa dan menanya .

"Sahabat, apakah she dan namamu yang mulia ? Kau sebutkanlah !"

Mendengar suara orang bernada sungkan, timbul pula kelicikannya Hong Kun.

"Aku yang rendah bernama Tio It Hiong."

Demikian jawabannya.

Dia sadar pula akan peranannya.

Gwa To Sin Mo heran hingga ia berdiri melengak.

Pernah ia bertemu dengan Tio It Hiong, hanya ketika itu It Hiong bersama Ya Bie, muridnya Touw Hwe Jie.

Di Kiam Gee Kiap ia bertemu dengan Im Ciu It Mo dan Im Ciu It Mo mengatakan bahwa muridnya bernama Tio It Hiong, hanya ketika itu Tio It Hiong agaknya terganggu urat syarafnya.

Ketika ia dan muridmuridnya bertiga melayani Im Ciu It Mo bertempur, Tio It Hiong bersama Ya Bie lenyap tidak karuan.

Sekarang di sini ia bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Tio It Hiong dan bukannya Gak Hong Kun !

Bagaimanakah duduknya hal ?

Benarkah dua nama itu tetapi orangnya satu ?

Kalau It Hiong dari Kiam Gee Kiap, maka manakah kawan wanitanya ?

Kenapa dia justru muncul disini tengah mempermainkan In Go ?

Kenapakah In Go berdiam saja itu ?

Ia tercelakakan atau hanya ditotok hingga pingsan ?

Bingung si Bajingan, tetapi di akhirnya ia dapat pikiran bahwa cuma sesudah muridnya terasadar barulah ia akan mendapat keterangan jelas tentang duduknya hal.

Dasar ia telah berpengalaman, walaupun terbenam dalam kesangsian, ia dapat tertawa ringan, pada wajahnya tak nampak sesuatu perubahan.

"Kiranya kaulah laote Tio It Hiong !"

Katanya tertawa pula.

Bajingan ini telah memikir tak mau menanam bibit permusuhan baru, cukup asal muridnya dapat ditolong dan terasadar, tetapi sebab si naka muda nampak licik, ia berpikir keras bagaimana ia harus mendapati muridnya itu.

Habis tertawa, Sin Mo lantas mengendorkan tekanannya pada jalan darah orang.

"Kiranya kaulah orang sendiri, Tio laote !"

Katanya pula kemudian.

"Aku minta supaya peristiwa barusan jangan kau buat pikiran !"

Hong Kun merasa lega mendapatkan jalan darahnya tak tertekan pula, hanya untuk sejenak ia masih bingung.

"Terima kasih, locianpwe !"

Katanya yang mendadak berlompat memisahkan diri beberapa tindak, setelah mana dia memutar tubuhnya, terus dia menatap orang dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas.

Orang itu sebaliknya pun mengawasi, sebab ia tetap bersangsi, It Hiong dan Hong Kun satu orang atau dua........

"Tio laote,"

Tanya pula Sin Mo lewat sesaat.

"kenapa In Go tidak sadarkan diri ? Tahukah kau sebabnya ? Bagaimana kalau lohu memeriksanya ?"

Hong Kun menjadi bingung.

Sebenarnya apa yang dipikirkan ialah segera kabur dengan membawa In Go, supaya di lain tempat, dapat ia ganggu kehormatannya nona itu.

Sekarang si jago tua menanya demikian padanya.

Buat kabur dengan begitu saja, dia ragu-ragu.

Dia memondong tubuh si nona, tak nanti dia dapat lari cepat dan lolos dari tangannya si bajingan.

Bagaimana sekarang ?

Di dalam keadaaan sadar sejenak itu, mendadak Hong Kun ingat halnya si nona adalah muridnya si Bajingan.

Maka inilah kebetulan, bajingan itu dapat ia pengaruhi selama si nona belum ia bebaskan atau serahkan.

Nona itu dapat digunakan sebagai alat mengancam.

Gwa To Sin Mo menghampiri In Go.

Seperti katanya barusan, hendak ia memeriksa kenapa murid itu berdiam saja, tak bergerak, tak sadar.

Hong Kun tak mau dengan mudah saja menyerahkan murid orang.

Maka itu selagi si bajingan menghampiri dan sudah mendekati, mendadak ia membentak .

"Tahan ! Berdiri diam disitu !"

Sin Mo heran hingga dia berdiri melengak, setelah sadar, dia mengawasi tajam.

"Kau kenapa, Tio Laote ?"

Tanyanya heran.

"Kenapa sikapmu ini ?"

Hong Kun bersikap dingin ketika dia menjawab .

"Dalam dunia Kang Ouw terdapat banyak sekali kecurangan, karena itu, aku harus berhati-hati ! Demikian dalam urusan kita ini ! In Go ini sahabatku, dari itu lotiang, kau perlu membuktikan dahulu bahwa dia benarlah muridmu ! Apakah bukti lotiang ?"

Gwa To Sin Mo berdiri menjublak mendengar pertanyaan itu, tetapi cuma sejenak, lantas timbul kemarahannya.

Alis dan janggut kambing hutannya bangkit berdiri, janggut itu bergoyang-goyang sendirinya !

Dia pun mesti menahan hawa amarahnya.

Kemudian lagi, dia tertawa dingin.

"Ka menyebut diri sebagai sahabatnya In Go, apakah buktinya ?"

Dia balik bertanya. Hong Kun tertawa. Ia mendongkol yang usahanya dirintangi, ia lupa segala apa.

"Dia berdiam saja ditanganku, itulah buktinya !"

Ia menjawab keras, sikapnya mengejek.

"Dia bukan melulu sahabatku, dia juga daging suguhanku ! Hm !"

Mukanya Gwa To Sin Mo menjadi pucat dan biru saking gusarnya.

"Bagaimana dapat Im Ciu It Mo mendidik murid begini bagus ?"

Katanya sengit.

"Baik, Tio laote! Seakrang hendak aku menyaksikan bagaimana kelicinanmu ! Hendak aku mendapat bukti, siapakah pemilik daging suguhan itu."

Sembari berkata Sin Mo bertindak perlahan menghampiri si anak muda.

Hong Kun bingung.

Tadi ia cuma membuka mulut lebar saja.

Lantas dia mengangkat tubuhnya In Go, di bawa ke depan dadanya.

Sembari berbuat begitu, dia berkata nyaring .

"Jika lotiang maju lagi satu tindak maka aku akan membinasakan dahulu nyawanya In Go !"

Sembari mengancam itu, dia bertindak mundur.

Dia mau mundur ke dalam rimba, untuk terus melarikan diri !

Gwa To Sin Mo tidak menghiraukan ancaman itu.

Ia melihat orang mundur, ia maju terus.

Karena si anak muda mundur tindak demi tindak, ia pun maju langkah demi langkah.

Tak berani Hong Kun membuktikan ancamannya akan membinasakan si nona.

Dia masih berat.

Dia percaya, kalau In Go mati, tentu si Bajingan tak mau sudah dengan begitu saja.

Demikian dua orang itu, dengan yang satu mundur yang lain maju.

Walaupun dengan sangat lambat, akhir-akhirnya mereka masuk juga ke dalam rimba, diantara banyak pepohonan ke dalam mana Hong Kun berniat lari menyelindung agar si jago tua sukar mengejarnya.......

Mendadak Sin Mo menghentikan langkahnya.

Lantas dia kata dingin .

"Kau harus ketahui sifatku si orang tua ! Seumurku, belum pernah aku menerima ancaman atau paksaan ! Apakah kau memikir menggunakan In Go sebagai manusia jaminan supaya aku tidak turun tangan terhadapmu ? Hm, kau keliru ! Dengan begitu kau justru mencari mampusmu sendiri ! Kau tahu atau tidak ?"

Hong Kun makin bingung. Jantungnya berdebaran. Tak tega dia membinasakan In Go. Dia juga tidak berani melakukannya ! Dia menjadi serba salah ! Tanpa merasa, dia rangkul pula si nona dalam pelukannya.

"Tua bangka ini mengikuti aku, belum juga dia mau turun tangan. Apakah yang dia pikirkan ?"

Demikian tanyanya di dalam hatinya.

"Ah, dia juga tentu cuma menggertak aku......"

Terus si anak muda mengasah otaknya. Kemudian ia mendapat satu akal, maka ia lantas menanya .

"Lotiang, bagaimana lotiang pikir kalau keadaan kita berdua berubah menjadi sebaliknya ? Lotiang menjadi aku dan aku menjadi lotiang ?"

Sin Mo menjadi berpikir pula. Ia mengangguk-angguk dan kata seorang diri .

"Seorang muda dalam keadaan berbahaya, pikirannya tidak kacau itulah pertanda dari orang yang bersemangat......"

Lantas ia mengusuti janggutnya dan mengawasi anak muda itu. Lalu lewat sekian lama, dengan wajah menjadi sabar lagi, ia kata perlahan "

"Kau letakan dahulu In Go ! Percaya, lohu akan berbuat suatu kebaikan untuk dirimu !"

Jago tua ini mau menghargai orang yang bernyali besar.

Karena itu, kata-katanya itu mempunyai arti yang sebenarnya.

Dia berniat merekoki jodoh muridnya dengan jodoh si pemuda.

Dia belum tahu yang In Go adalah kekasihnya Bu Pa !

Tapi lain adalah niatnya Hong Kun.

Dia bukan mencintai In Go.

Hanya dia ingin mendapatkan tubuh orang, guna melampiaskan nafsu birahinya.

Lantas si anak muda tertawa dan tanya .

"Lotiang, kebaikan apa itu yang lotiang hendak perbuat atas diriku ?"

Dia pikir, kalau ada kesempatannya, janji si jago tua ini hendak dia memegangnya erat-erat. Gwa To Sin Mo tertawa.

"Laote !"

Katanya, yang merubah pula cara panggilannya.

"Laote, telah lohu melihat jelas segala tindak tandukmu diatas batu besar tadi ! itulah bagus sekali ! Maka itu cobalah kau terka, kebaikan apa hendak kuberikan terhadapmu ?"

Puas Hong Kun mendengar suaranya si Bajingan tua. Tapi dia bermain komedi. Dia menggeleng kepala.

"Sulit, sulit lotiang !"

Sahutnya. Teka-teki lotiang sukar sekali untuk diterkanya ! Aku minta lebih baik lotiang saja yang menjelaskannya ! Sulitkah ?"

Habis berkata begitu, si anak muda menurunkan tubuhnya In Go, untuk diberdirikan.

Supaya si nona dapat berdiri tegak, ia mengulurkan lengan kirinya guna menjagai tubuh orang.

In Go rapat kedua belah matanya.

Dia berdiri menyender di tubuhnya si pemuda.

Dengan caranya itu, Hong Kun mau mengelabui Gwa To Sin Mo, agar si Bajingan menyangka nona itu lagi berdiri supaya dia dikira sudah meluluskan permintaan orang itu.

Sin Mo mengawasi, dia mengangguk.

"Tio laote !"

Katanya.

"apakah dengan sesungguhnya hatimu yang kau mencintai In Go ?"

Hong Kun mengangguk.

"Ya,"

Sahutnya.

"Lotiang mau apakah ?"

Sin Mo menatap, dia menjawab .

"Lohu berniat agar In Go......"

Belum sempat si jago tua melanjuti kata-katanya itu, mendadak dari antara segunduk pohon rumput tampak mencelat keluarnya seorang anak muda, yang terus lari ke arah Gak Hong Kun !

Pemuda she Gak itu waspada, dia melihat munculnya orang, lekas-lekas dia memegangi tubuhnya In Go buat diajak menyingkir dari anak muda itu.

Tapi si anak muda maju terus dengan sama cepatnya, bahkan dia segera menyerang !

Hong Kun mengenali serangan itu serangan Ngo Heng Ciang.

Lekas-lekas dia berkelit.

Sekarang dia mengenali Bu Pa, maka dia berseru dengan tegurannya .

"Eh, Bu Pa, kau berani kurang ajar ya?"

Dia sengaja menyebut keras-keras namanya anak muda tu karena ada pula maksudnya, yang supaya Sin Mo yang mencegak sepak terjang muridnya itu.

Dia mau menunjuki yang dia sabar luar biasa, bahwa dia tak mau sembarang bertempur........

Walaupun demikian, Hong Kun tidak pernah menyangka yang segala gerak geriknya yang tadi dipergoki Gwa To Sin Mo telah terlihat oleh Bu Pa sebab muridnya si Bajingan ini mengiringi gurunya.

Dan Bu Pa gusar sekali karena kekasihnya telah orang permainkan .

Sebegitu jauh, Bu Pa terus bersembunyi di luar rimba.

Ia mengintai dan melihat segala apa.

Ia telah menyaksikan gerak geriknya In Go.

Ia pun menyaksikan sikap gurunya.

Biarnya ia panas hati, ia tetap mentaati pesan gurunya buat tidak sembarang muncul.

Terus ia melihat dan mendengari.

Paling akhir habislah sabarnya kapan ia dapat menerka maksudnya gurunya, yang agaknya tertarik hati oleh si anak muda dan berniat merekoki jodohnya In Go dengan pemuda itu.

Maka tanpa menanti guru itu menyatakan mau menyerahkan In Go, ia lantas muncul dan terus menyerang Hong Kun.

Si anak muda she Gak berkelit, ketika ia diserang pula, kembali ia mengegos tubuhnya.

Hal itu membuat kemurkaannya Bu Pa meluap.

Maka waktu dia menyerang buat ketiga kalinya, dia sekalian menyiapkah tok-ciam, jarum beracun di tangan kirinya.

Sampai disitu, tak dapat Hong Kun berkelit terus.

Terpaksa dia menangkis serangan orang, hingga tangan mereka berdua bentrok keras.

Justru kedua tangan beradu, justru tangan kirinya Bu Pa bergerak.

Menyusul mana benda-benda halus dan berkeredepan menyambar ke arahnya.

Hong Kun melihat senjata rahasia itu.

Dia tahu itulah mesti senjata beracun.

Bukankah Gwa To Sin Mo tukang membuat benda beracun ?

Maka itu, supaya tidak berkelit untuk sia-sia belaka, ia mengajukan tubuhnya In Go guna dijadikan semacam perisai.

Jarum rahasia dari Bu Pa dilepaskan bukan hanya satu kali.

Itulah serangan berantai.

Jarum pertama mengenai tubuhnya In Go, segera menyusul yang kedua.

Inilah tidak disangka Hong Kun.

Dia baru kaget ketika ada senjata rahasia yang mengenakan bahu kanannya dimana nancap sampai empat atau lima batang jarum !

"Aduh !"

Dia berteriak disebabkan rasa nyeri, menyusul mana bahunya itu bagaikan beku karena kesemutan dan nyerinya.

Menyusul itu, tangan kanannya Bu Pa pun tiba.

Karena dia ini tidak berhenti sampai disitu saja.

Dengan bahu kanannya terkena jarum rahasia, tidak dapat Hong Kun menggunakan tangannya itu buat menangkis membela diri, terpaksa ia mengajukan pula tubuhnya In Go yang ia masih belum mau melepaskannya.

Kali ini Bu Pa berlaku cerdik.

Melihat tubuh kekasihnya diajukan, dia membatalkan serangannya yang hebat itu.

Ia mengubahnya dengan serangan lainnya.

Kalau serangan yang pertama menuruti ilmu Ngo Heng Ciang, yang belakangan satu jurus dari Kim Liok Ciu, Tangan Menawan Naga.

Maka juga, hanya di dalam sedetik, In Go sudah pindah ke dalam rangkulannya.

Hampir pemuda itu menangis menyaksikan kekasihnya pingsan bagaikan tidur nyenyak.

Lekas-lekas ia menyuapi obat pemunah racunnya.

Setelah itu menyusul tepukannya pada jalan darah si nona buat menyadarkannya.

Lewat sesaat, mendadak In Go mengeluarkan suara tertahan, terus dia membuka matanya.

Maka dia lantas melihat yang tubuhnya berada dalam pelukan kekasihnya.

"Kakak !"

Panggilnya lemah, seperti berbisik. Dengan sikap sangat menyayangi, Bu Pa tanya .

"Adik, apa yang kau masih rasakan pada tubuhmu ?"

In Go menggeleng kepala, terus ia memejamkan pula matanya.

Sebagai gantinya, airmatanya terus meleleh keluar.

Ia menangis terisak-isak perlahan.

Sampai disitu, Bu Pa mencabuti jarum rahasianya dari tubuhnya kekasihnya itu.

Bahaya sudah tidak ada lagi, karena obatnya sudah bekerja, menolak dan membasmi racunnya.

Bahkan lekas juga si nona pulih tenaganya hingga ia bisa berbangkit, akan bangun berdiri seperti sedia kala.

Ia melirik pada kakak seperguruannya seraya bertanya .

"Kakak, kau mengawasi saja padaku, kenapakah ?"

Bu Pa menatap, terus dia menghela nafas.

"Adik, kau tak tahukah bagaimana bahayanya keadaanmu barusan ?"

Dia balik bertanya.

In Go menggigit bibinya.

Ia tunduk.

Mukanya pun berubah merah sampai ke telinganya.

Lagi-lagi ia melirik si anak muda.

Bu Pa tetap mengawasi, maka itu sinar empat mata mereka beradu satu dengan lain.

Sinar mata itu jauh lebih berarti dari pada kata-kata mereka.

Tiba-tiba mereka berdua itu dikejutkan oleh satu suara merintih.

Lantas keduanya menoleh ke arah dari mana suara itu datang.

Maka mereka menoleh ke arah dari mana suara itu datang.

Maka mereka melihat si anak muda yang lagi rebah di tanah.

"Dia kenapakah ?"

Tanya In Go kaget, lalu tubuhnya mau lompat menghampiri. Bu Pa menarik bajunya si nona.

"Adik masih mau melihatnya ?"

Tanya.

"Dialah seorang hina dina !"

Suara itu bernada menyesali dan beririh hati. In Go menatap anak muda itu.

"Kakak,"

Tanyanya.

"kenapa kakak menghina orang ? Kenapa kakak agaknya sangat membenci pemuda itu ?"

Bu Pa membuka matanya lebar-lebar, dari mulutnya terdengar suara tawar "Hm !"

"Kau tak tahu, adikku,"

Sahutnya kemudian.

"Hampir saja kau bercelaka ditangannya sebab lenyapnya kesucian dirimu !"

Bu Pa bicara terus, menuturkan apa yang ia saksikan perihal gerak geriknya si anak muda, yang mau merusak kehormatannya si nona.

Mukanya In Go menjadi merah, hatinya pun memukul keras.

Di luar dugaannya, segala perbuatannya si anak muda, segala gerak geriknya sendiri telah terlihat gurunya serta kakak seperguruannya itu.

Bu Pa melihat kekasih itu malu sekali.

Lantas ia menghibur .

"Tak usah kau bersusah hati, adik. Dia pun telah seperti selaruh diantara api, jiwanya tinggal sekali hembusan saja......."

In Go mengawasi kakak seperguruan itu dengan matanya dibuka lebar.

"Kakak"

Tanyanya.

"apakah dia tak sanggup melawan kakak dan telah terluka parah ?"

Bu Pa tertawa, agaknya dia puas.

"Dia terkena beberapa batang jarum beracun."

Sahutnya.

"Dia bersuara itu tentu disebabkan racunnya jarum sedang bekerja."

Si nona tampak kurang puas, matanya berkesip beberapa kali.

"Kakak, tahukah kakak siapa dia itu ?"

Kemudian dia tanya. Bu Pa melihat sikapnya si nona, ia merasa tak enak hati. Ia pun berpikir .

"Aneh adik ini ! Dari ancaman maut aku menolongnya, tak juga dia menghaturkan terima kasih padaku.... Kenapa dia justru prihatin terhadap manusia rendah itu ?"

Tapi dia toh menjawab kekasihnya itu.

"Kau tahu dia siapa, adikku ?"

Demikian tanyanya.

"Dialah Gak Hong Kun muridnya Im Ciu It Mo ! Dia tampan tetapi hatinya busuk seperti racun...."

"Eh, kakak !"

Si nona menyela kata-kata orang.

"Kakak, kaulah seorang laki-laki sejati. Kenapa kau bicara seperti perilakunya seorang wanita ?"

Bu Pa tertawa terpaksa.

"Itulah hal yang harus ditanyakan kepada kau sendiri, adik."

Sahutnya. Lalu ia mengangkat kepalanya dan menarik nafas perlahan. In Go tertawa.

"Ah, kakak kau aneh !"

Katanya, manis.

"Kakak, kau jenaka, kau pun harus dikasihhani !"

Tapi si anak muda kata sungguh-sungguh .

"Adik, hatimu telah berubah ! Kau telah melupakan hari kita dulu-dulu !"

In Go tertawa terus sampai terpingkal-pingkal. Kemudian ia mendelik pada si pria.

"Tolol !"

Katanya keras.

"Jangan jadi tolol ! Jangan kau memikir terlalu banyak ! Apakah kau sangka aku In Go seorang wanita yang mudah berubah hatinya ?"

Bu Pa memperlihatkan wajah dingin, sebisa-bisa ia mengendalikan hatinya yang panas. Kata dia .

"Adik, suaramu manis didengarnya, tetapi hatimu...."

Tiba-tiba ia berhenti di tengah jalan. In Go tertarik kata-kata pemuda itu, lenyap tawanya. Sebaliknya, dengan jari tangannya ia menekan dahi orang, sembari menggertak gigi ia kata .

"Siapa suruh apa yang kau katakan , kau anggap seperti tidak ada..."

"Kapan aku berbuat demikian, adik ? Thian menjadi saksinya...."

"Tapi cobalah kau pikir-pikir !"

Kata si nona. Bu Pa berdiam, otaknya bekerja. Akhirnya ia kata .

"Adik, jangan kau bergurau pula padaku ! Asal hatimu tidak berubah, bersedia aku andiakata kau menitahkan aku naik ke langit atau masuk ke dalam tanah !"

Si nona mengawasi.

"Aku bukannya mau menyuruh kau naik ke langit atau masuk ke dalam bumi !"

Katanya manja.

"Buat apa melakukan sesuatu sesukar itu ? Asal kau buktikan kata-katamu dan memberi itu suatu wujud, itu sudah cukup ! Itu saja akan menjadi tanda kasihmu padaku !"

Bu Pa mencekal keras tangan si nona. Dia nampaknya Bingung, hatinya tegang.

"Jangan main teka teki, adik."

Katanya perlahan.

"Tak dapat aku menerkanya. Coba kau memberikan penjelasan padaku."

In Go menatap muka orang, terus dia tertawa.

"Itulah musuhnya Tio It Hiong !"

Katanya kemudian.

"Kalau kau benar mencintai aku, kenapa kau melupakan itu ?"

Mendengar itu, barulah Bu Pa sadar.

Dahulu pernah satu kali, selagi keduanya berlatih silat, mereka berjanji buat nanti sehidup semati.

Dan ketika itu In Go sembari bergurau mengasi tahu si anak muda kalau dia sudah memiliki kepandaian sebagai Tio It Hiong dan dapat mengalahkan pemuda she Tio itu, baru ia --si pemudi --sudi menyerahkan diri pada si pemuda, buat mereka berdua menjadi pasangan suami istri.

Bu Pa telah memberikan janjinya, hanya kemudian, dia telah melupakan itu sampai sekarang dia ditegur sang kekasih !

Satu hal harus dijelaskan, Bu Pa dan In Go belum pernah merantau.

Maka itu tentang namanya Tio It Hiong mereka cuma mendengar orang buat sebutan, orangnya sendiri belum pernah mereka menemui atau melihatnya.

Laginya, tanpa sebab musabab, tak ada alasannya buat Bu Pa mencari It Hiong guna mengadu kepandaian kecuali dia mencari alasan yang dibikin-bikin.

Siapa tahu sekarang, si adik ingin dia membuktikan janjinya itu.

Dan justru ditimbulkan di saat si nona habis bertemu dengan Tio It Hiong palsu !

Bu Pa tahu benar tabiatnya sang adik seperguruan yang keras dan sukar buat ditundukkan.

Tapi dia pun cerdas.

Justru Hong Kun merintih itu, justru dia mendapat suatu akal.

Jilid 56

"Adik", katanya sambil dia menunjuk pemuda itu.

"kau lihat dia ! Nah, inilah harinya yang aku akan mewujudkan katakataku dahulu hari itu !"

"Hus !"

Bentak si nona.

"kau mengaco belo !"

"Eh, eh,"

Kata Bu Pa.

"kalau kau tidak merasa pasti, pergi kau tanya suhu ! Tadi dia ini sendiri yang menyebut Tio It Hiong !"

In Go menarik tangannya, dia menunjukkan tampang tidak puas.

"Kenapa tadi kau menyebut dia dia Gak Hong Kun ?"

Tanyanya. Bu Pa berdiam hingga sekian lama.

"Mungkin dia mempunyai dua nama,"

Sahutnya kemudian.

"Satu Gak Hong Kun dan satu lagi Tio It Hiong ......."

In Go mencibirkan mulutnya. Ia tidak mengatakan sesuatu lagi pada kakak seperguruannya itu hanya segera menoleh.

"Suhu !"

Panggilnya kepada gurunya.

Ketika itu hari mendekati magrib, uap mulai tampak di empat penjuru jagat.

Rimba sudah mulai gelap.

Sia-sia saja In Go memanggil gurunya, gurunya tidak tampak.

Jawabannya tidak terdengar, ketika ia mengulangi memanggil beberapa kali tetap tanpa penyahutan dari gurunya, ia lantas bertindak pergi untuk mencari.

Gwa To Sin Mo sebenarnya tidak pergi kemana-mana, dia membiarkan murid-muridnya itu, dia sendiri bercokol diatas pohon sambil bersemadhi, tetapi tak lama, In Go dapat mencarinya.

Maka ujung bajunya ditarik-tarik, dia dikasihh bangun oleh muridnya itu, yang dengan manja berkata padanya .

"Suhu, mari lekas ! Mari memberikan keputusan adil kepada muridmu......."

"Ah, anak tolol !"

Berkata guru itu tertawa.

"Mengapa masih rewel saja ? Sekarang langit sudah gelap, mari lekas kita pulang !"

In Go tidak menghiraukan kata-katanya guru itu, dia bahkan menariknya, untuk kemudian menunjuk Hong Kun, dia berkata .

"Suhu, siapakah namanya orang ini ? Aku minta suhu menjadi saksi !"

Sin Mo mengawasi si anak muda. Ia tidak tahu kedua murid itu rewel di dalam urusan apa, lantas ia menjawab dengan seenaknya saja .

"Dia pernah menyebut namanya yaitu Tio It Hiong..."

"Nah, adik, kau telah dengar, bukan ?"

Bu Pa menyela, tampangnya sangat girang.

"Dia memangnya Tio It Hiong !"

Si nona membanting-banting kakinya.

"Aku tidak mau mengerti !"

Katanya, manja.

"Suhu, suhu, kenapa suhu membantu kakak ?"

"Hus, jangan bingung !"

Bentak si guru.

"Mungkin orang ini tengah memalsukan diri."

"Suhu !"

Berseru Bu Pa.

"Suhu, jangan suhu sembarang mengatakan !"

"Nah, kakak, kau dengar tidak ?"

In Go menyela. Dia tertawa.

"Kata suhu dialah si orang palsu!"

Bu Pa melengak. Lantas dia mengawasi gurunya, untuk bertanya .

"Suhu, entah dialah Gak Hong Kun atau sebaliknya Tio It Hiong yang menyaru menjadi Gak Hong Kun ?"

"Suhu berkata apa yang benar,"

In Go menyela pula.

"maka itu, tak usah kita saling membantah lagi !"

"Nampaknya dia bakal kehilangan jiwa......"

Kata sang guru.

"Suhu !"

Bu Pa kata, bingung.

"suhu, tolonglah bilang, sebenarnya dia ini menyamar menjadi siapa ?"

Sang guru tertawa.

"Dua-dua ada kemungkinannya !"

Sahutnya.

"Buat apa kita perdulikan dia !"

In Go mengawasi gurunya. Terang guru itu pun ragu-ragu. Kemudian ia menoleh ke lain arah, mulutnya bungkam. Tapi cuma sejenak, ia menoleh pula, sinar matanya pun memain.

"Suheng !"

Katanya, pada si kakak seperguruan.

"aku mempunyai satu pikiran....."

"Apakah itu ?"

Tanya sang suheng cepat.

In Go menghampiri, tangannya merogoh sakunya dari mana terus ia menarik keluar sebuah peles kecil yang isinya tiga butir yang warnanya berlainan.

Ia menuang mengeluarkan itu, buat terus dijejalkan ke dalam mulutnya It Hiong, tubuh siapa ia angkat bangun berduduk, kemudian ia meneruskan mencabut jarum beracun yang nancap di bahunya orang itu.

Kemudian lagi, sembari bangkit berdiri si nona memandang Bu Pa dan tertawa.

Katanya .

"Aku memberikan dia obat pemunah racun. Aku juga mencabut jarumnya. Itulah ada faedahnya buat dia ! Kakak, tahukah kau maksudku berbuat begini ?"

Hatinya Bu Pa tak mengasih menyaksikan pacarnya itu mengobati si pemuda.

Akan tetapi karena ia menyayanginya, ia mencintai nona itu, tak mau ia membuat orang mendongkol dan bergusar.

Maka ia membiarkan saja.

Sekarang ia ditanya, itulah sangat menyulitkan padanya.

Ia tidak dapat menerka maksudnya si nona itu.

Namun dia ditanya, terpaksa ia menjawab sekenanya saja .

"Mungkin kau, adikku, kau....."

"Jangan sembarang bicara !"

In Go menyela.

"Baik, mari aku beritahukan ! Aku mengobati dia supaya dia mendusin dan sadar, lalu kita tunggu sampai dia pulih seperti biasa. Setelah itu, aku ingin kau, kakak, menempur dia !"

Bu Pa mementang lebar matanya.

"Apakah yang hendak diadu pula ?"

Tanyanya heran.

"Aku toh telah menghajarnya hingga kalah?"

In Go memperlihatkan wajah sungguh-sungguh, matanya menyilak.

"Melukai orang dengan senjata rahasia, itulah bukan perbuatan secara laki-laki !"

Katanya sungguh-sungguh.

"Dengan caramu itu kau merebut kemenangan, itulah yang paling aku tak sukai !"

Di dalam hati, Bu Pa ragu-ragu.

Tadi pun, selagi menempur si anak muda, ia merasa orang lihai sekali.

Tak ada kepastian baginya untuk memperoleh kemenangan dengan mudah.

Sekarang timbulnya soalnya In Go ini.

Maka ketika ia berkata pula, ia bicara secara menyimpang.

Katanya .

"Janji kita bukankah janji asal aku dapat mengalahkan Tio It Hiong ! Benar, bukan ?"

In Go mengangguk.

"Tidak salah !"

Sahutnya lantas.

"Nah, sekarang tinggal soalnya !"

Kata Bu Pa.

"Orang ini benar Tio It Hiong atau bukan ! Suhu sendiri tak dapat memastikannya. Maka itu aku pikir, baik kita tungguh sampai dia siuman. Baru kita tanya tegas padanya dia sebenarnya siapa ! Setelah itu masih ada waktu buat aku menguji kepandaiannya......."

In Go mengawasi kawannya dengan dia mementang mata lebar-lebar. Dia berpikir. Kemudian dia bersenyum.

"Kakak, kenapa kau memikir banyak begini ?"

Katanya.

"Apakah mungkin kau pun mendusta waktu kau mengatakan kau mencintai aku ?"

Bu Pa melengak. Dia bingung.

"Jangan salah mengerti, adik !"

Katanya.

"Dapat aku membelek dadaku buat aku mengasi lihat hatiku padamu ! Adik, aku harap kau menjunjung cinta kasih kita berdua......."

In Go tunduk.

"Cinta kasih kita berdua........"

Katanya perlahan.

"Ya, adik ! Apakah adik memandang itu hanya main-main saja ?"

"Bukan begitu, kakak."

Kata si nona.

"Selama kedua orang pria dan wanita belum menikah, cinta kasih diantara keduanya adalah hal mengasi dan menerima bersama. Benar begitu, bukan ?"

"Ah, kembali adik main-main !"

"Bukan, kakak ! Aku hanya ingin bicara jelas. Bukankah dalam keadaan seperti kita sekarang, kaulah pihak yang meminta dan aku pihak yang menerima ?"

Bu Pa mengawasi. Ia sungguh tidak mengerti. Mau apa kekasih ini. Apakah yang dikandung di dalam hatinya. Karenanya, tak berani ia sembarang memberikan jawabannya. Lewat sejenak, In Go berkata pula .

"Kakak, kau harus membedakan kedudukan meminta dan menerima. Itulah mengasi dan memberikan. Kita harus sama-sama saling mengetahui keadaan masing-masing. Buat minta cinta kasih seorang nona, kau harus mendengar kata-kata oarng, kau harus membuat hati orang senang ! Tahukah kau artinya itu ?"

Bu Pa kata di dalam hatinya.

"Hm, kiranya dia mau tunduk di bawah pengaruhnya ! Keadaan tapinya adalah sedemikian rupa......"

Karena ini, ia lantas menjawab .

"Adik, kau benar ! Nah, kau bilanglah, bagaimana kehendakmu !"

Alisnya In Go bangkit.

"Kata-kataku ialah perintahku."

Sahutnya.

"Jika kau memikir tentang cinta, kau harus mendengar kata......"

Justru si nona baru berkata sampai disitu, kata-katanya disela Gak Hong Kun yang tiba-tiba mengeluarkan suara tertahan.

Kiranya dia sadar terus hendak tumpah-tumpah, lalu dia memuntahkan ilarnya.

Habis itu dia menghela nafas panjang.

Tatkala itu sang malam telah tiba dan si puteri malam sudah muncul.

Di antara cahaya rembulan, In Go melihat Hong Kun mendusin untuk terus bangun duduk.

Melihat pemuda itu siuman, Bu Pa ingat kepada janjinya pada In Go, maka lantas ia kata .

"Adik, dia sudah sadar. Coba kau suruh dia bangun. Buat dia mengadu silat denganku !"

In Go mengangguk.

"Nah, ini barulah tandanya kau mencinta !"

Katanya, tertawa, terus dia bertindak menghampiri si orang muda untuk berkata .

"Tio It Hiong, aku telah memberikan kau obat serta mencabut jarum beracun dari tubuhmu. Itu artinya aku telah membantu jiwamu. Maka buat itu, kau harus mengucap terima kasih padaku ! Kau bangunlah !"

Hong Kun mengangkat kepalanya, sinar matanya tolol. Ia mengawasi si nona. Ia tidak kata apa-apa. Ia pun tidak bergerak sama sekali.

"Orang bertabiat keras !"

Kata si nona.

"Kau bangunlah ! Nonamu hendak bicara denganmu !"

Hong Kun bagaikan mendengar dan tidak mendengar. Ia duduk diam saja. In Go heran. Ia menjadi tidak senang. Ia angkat kakinya dan mendupak perlahan pada paha orang.

"Bangun !"

Bentaknya. Hong Kun tetap tidak bangun. Ia cuma mengusut-usut pahanya itu.

"Bangun !"

Si nona membentak pula.

"Bangun !"

Percuma In Go memperdengarkan suaranya itu berulangulang. Hong Kun tetap duduk diam saja. Maka makin panaslah hatinya. Lantas ia berpaling kepada Bu Pa.

"Kau lihat, kakak."

Katanya.

"Dia berpura-pura atau tubuhnya belum bersih seluruhnya dari racun ?"

"Dia tidak mau berkata terima kasih kepada kau, adik."

Kata si kakak seperguruan.

"Dia juga tak mau mendengar kata terhadapmu. Menurut aku, kita bereskan saja padanya. Habis perkara !"

Bu Pa berkata dengan terus bekerja.

Dengan tangannya, dengan satu pukulan Ngo Han Ciang, ia lantas menghajar ke arah ubun-ubun Hong Kun.

Anak muda itu melihat serangan, sewajarnya saja ia berlompat bangun dan menangkis, tetapi karena tangkisannya itu, tubuhnya terhuyung, terus ia jatuh pula, jatuh duduk !

Hong Kun bukannya tidak menghiraukan si nona, sebenarnya dia belum bersih seluruhnya dari sisa pengaruh racunnya jarum.

Sebab kebetulan sekali, racun itu bekerja sama dengan sisanya Thay-siang Hoan Hun Tan.

Maka dia kembali kepada keadaannya tak sadar seperti semula.

Bu Pa heran.

Tapi ia tetap berpikir, bukankah lebih baik ia binasakan saja pemuda itu ?

Bukankah In Go pun telah merasa tidak puas ?

Dengan begitu, ia pun jadi bertinak menuruti keinginannya si nona.

Maka ia maju pula sambil menyerang lagi.

Masih sempat Hong Kun menangkis serangan yang ia dapat lihat.

Habis menangkis, kembali ia jatuh duduk.

Menyaksikannya keadaannya si anak muda, In Go heran.

"Tahan, kakak !"

Serunya. Bu Pa mengawasi si nona.

"Kau hendak menarik perintahmu, adik ?"

Tanyanya. Dia agak girang.

"Bukan !"

Sahut si nona yang menggelengkan kepalanya.

"Aku hendak melihat dahulu padanya!"

Dan lantas ia mengawasi si anak muda. Hong Kun bermandikan peluh pada dahinya dan sinar matanya tolol sekali.

"Aneh !"

Pikir si nona.

"Dia telah diberi obat, kenapa dia masih belum sadar seluruhnya ? Apakah mungkin jarum kakak telah dipakaikan lain racun ?"

Maka ia menoleh pada kakak seperguruan itu seraya berkata .

"Kakak, mari obat pemunahmu !"

Bu Pa tidak mau menentang adik seperguruan itu. Ia berikan peles obatnya, walaupun demikian ia toh menanya .

"Kau hendak bikin apa, adik ?"

In Go menyambuti peles, ia buka tutupnya dan menuang isinya ke dalam tangannya. Lalu ia periksa obat itu, memeriksa berulang-ulang, setelah mana ia kata dingin .

"Ah, kiranya suhu pun bisa menyimpan sesuatu. Dia berat sebelah terhadapmu, kakak !"

Bu Pa heran.

"Jangan sembarangan omong, adik !"

Katanya mencegah. Terus dia berpaling ke arah gurunya. Khawatir guru itu mendengar perkataan adik seperguruan itu. In Go melengak melihat kelakuan kakak itu.

"Kau takut apa ?"

Katanya.

"Akan aku beri dia obatmu ini, kakak. Hendak aku lihat bagaimana hasilnya !"

Terus dia menuang tiga butir obat yang semua berlainan warnanya.

Obat selebihnya, ia angsurkan pada kakak seperguruannya itu.

Setelah itu ia bertindak menghampiri Hong Kun, guna memberi makan obat itu.

Tiba-tiba saja, berbareng dengan itu terdengar batuk-batuk dari Gwa To Sin Mo yang terus berkata .

"Ah, anak tolol ! Mana dapat gurumu berlaku berat sebelah ? Sudah, jangan kau sia-siakan obat pemunah itu yang dibikin dengan sangat bersusah payah !"

Sembari berkata begitu, guru itu bertindak perlahan menghampiri.

In Go terperanjat.

Ia menghentikan tindakannya.

Ia khawatir gurunya itu gusar.

Lantas Sin Mo berkata pula, dengan suara dan sikapnya yang sungguh-sungguh .

"In Go, kau sudah tidak kecil lagi. Jika kau bicara, kau berlakulah hati-hati !"

Cepat-cepat si murid menjura.

"Tak berani aku, suhu !"

Katanya. Bu Pa khawatir adik dimarahi atau dihukum. Ia menghampiri, sembari tertawa ia kata pada gurunya .

"Suhu, anak muda itu aneh sekali ! Dia sudah diberi makan obat tetapi dia masih tetap tolol ! Coba suhu periksa, apakah dia bukan lagi berlagak pilon ?"

Sang guru agak heran.

"Nanti aku lihat !"

Katanya.

Mendadak saja Sin Mo berlompat pada si anak muda, sebelum si orang sempat berdaya, ia sudah menotok jalan darah hek-tiam, atas mana Hong Kun terus rebah tetapi mulutnya tidak memperdengarka sepatah kata juga.

Dengan kedua tangannya, Sin Mo lantas mengusap-usap sekujur tubuh orang, buat mencari sesuatu.

Di akhirnya, ia menekan jalan darah Pek-hiat yang mana dilakukan beberapa kali.

Kemudian ia berbangkit sambil memperdengarkan tawa dingin.

"Suhu, dia kenapakah ?"

Tanya In Go heran.

"Dia pandai berpura-pura. Tak nanti dia dapat mengelabui suhu !"

Kata Bu Pa. Masih Sin Mo menepuk-nepuk tubuh Hong Kun, membuat orang tetap rebah. Setelah itu, dia bertindak kepada muridmuridnya seraya berkata .

"Di dalam tubuhnya pemuda ini masih mengeram sisa racun. Itulah yang menyebabkan dia tak sadar. Racun itu bukannya racun yang dapat disembuhkan oleh obat kita....."

"Heran !"

Kata In Go.

"Tadi, sebelum dia terkena jarum, dia sehat seperti kita. Kenapa sekarang dia jadi begini ?"

Habis berkata, nona itu tunduk dan mukanya merah. Mendadak ia ingat lakon berguraunya dengan Hong Kun tadi. Ia menjadi malu sendirinya.

"Pengetahuan kalian tentang racun masih sangat dangkal."

Berkata guru itu kemudian.

"Kalian pasti tak dapat melihat. Racun itu racun istimewa untuk mengekang urat syaraf orang ! Tidak salah, ini pasti buah tangannya Im Ciu si tua bangka !"

Mendengar demikian, Bu Pa lantas berakat .

"Dia tak sadarkan diri. Mana dapat aku menempur padanya ! Taruh kata aku menang, itulah bukan berarti kegagahan ! Adik, bukankah benar kata-kataku ini !"

In Go tidak menjawab. Ia tunduk saja.

"Sebenarnya telah aku menang satu kali darinya."

Kata pula Bu Pa.

"Maka itu, kalau aku menempurnya pula, bukankah kesudahannya akan sama saja ?"

Dengan kata-katanya itu, ingin Bu Pa membebaskan diri dari tugas yang diberikan kepadanya oleh In Go, si adik seperguruan.

In Go membungkam, bahkan ia tak menghiraukan orang.

Tetapi kali ini ia mengangkat kepalanya, akan berkata kepada gurunya .

"Suhu, aku tidak mengerti kenapa obat suhu tidak mempan terhadap racun dia itu ? Ya, racunnya Im Ciu It Mo !"

Di tanya begitu, Gwa To Sin Mo menunjukkan tampang bersemangat. Kata dia sungguh-sungguh .

"Kalau di dalam halnya racun Im Ciu It Mo terlebih lihai dari pada aku, kenapa dia datang ke Tiang Chong Sang memohon bantuanku ? Mustahil dia nanti minta aku membuatkannya obat Hoa Hiat Thian-lo ?"

"Benar,suhu !"

Kata si murid perempuan.

"Bagaimana kalau suhu menolong orang ini, lalu terus suhu menggunakan tenaganya ? Aku pikir dia dapat dipakai sebagai pengkhianat terhadap Im Ciu It Mo ! Biar dia mendekam di dalam Bu Lim CIt Cun ! Aku percaya dengan begitu, suhulah yang bakal menjadi kepala rimba persilatan !"

Manusia umumnya senang diangkat-angkat. Demikianpun Gwa To Sin Mo. Dia girang sekali mendengar perkataan muridnya ini. Lantas dia tertawa dan berkata .

"Anak tolol ! Jangan kau memuji aku ! Apakah aku sangka aku tidak tahu perasaan hatimu ?"

Mukanya In Go menjadi merah.

Dia malu sendirinya.

Kembali ia tunduk.

Sinar rembulan memanjang ke mukanya nona ini.

Nyata dia cantik sekali.

Tak heran kalau Bu Pa melihat wajah orang, telah goncang hatinya......

Lewat sesaat, In Go mengangkat kepalanya dan tertawa.

"Suhu, kalau suhu hendak mengangkat diri suhu, sedikitnya suhu harus perlihatkan kepandaian suhu menggunakan obat beracun !"

Demikian katanya. Sang guru memandang kepada si puteri malam. Ia berdiam, hatinya bekerja. Lewat sesaat, ia kata perlahan .

"Selaksa aliran air, sumbernya ialah satu ! Demikian juga, seratus macam racun asalnya satu saja !"

Berkata begitu, guru ini merogoh ke dalam tangan bajunya.

Ia mengeluarkan setangkai pohon obat ban-lian cie-cie.

Ia kepal remuk sedikit kemudian ia keluarkan sebutir pil merah yang ia terus aduk dengan remasan itu hingga keduanya menjadi serupa bubuk.

Dengan tangannya sendiri, ia terus masuki obat itu ke dalam mulutnya Hong Kun, yang rebah tak berdaya.

In Go heran menyaksikan gerak gerik gurunya itu.

Apa yang ia tahu ialah pil merah gurunya justru pil beracun, bukannya obat pemunah racun.

"Su... suhu !"

Serunya kaget.

"Suhu kenapa dia dikasih makan Cek Ang Tan Wan ?"

Cek Ang Tan Wan itu adalah namanya pil merah itu.

"Anak tolol !"

Sahut sang guru, tertawa.

"Gurumu tahu apa yang dia lakukan ! Aku mempunyai caraku sendiri ! Kau lihat selewatnya satu jam, kesadarannya orang ini akan pulih !"

Terus si guru pergi ke batu besar, akan berduduk di sana.

Bu Pa dan In Go heran sekali.

Karena itu mereka mau menerka mungkin obat guru itu benar mempunyai khasiat istimewa, bisa untuk melawan racun......

Mereka berdiam tetapi sering mereka saling mengawasi dan mengawasi juga guru mereka..........

Bulan purnama ketika itu sedang indahnya dan suasana rimba tenang sekali.

Tanpa merasa, satu jam telah berlalu.

Tepat seperti katanya Gwa To Sin Mo, Hong Kun sadar setelah lewat satu jam habis dia dikasihh makan obat oleh si Bajingan Sakti.

Obat yang pertama ialah ban-lian cie-cie yang telah dicampur menjadi satu dengan Cek Ang Tan Wan.

Benar-benar obat istimewa itu berhasil menumpas kejahatannya Thay-siang Hoan Hun Tan.

Selekasnya sisa racunnya si Bajingan Tunggal musnah, dia tersadar.

Pulih kesehatannya seperti sedia kala.

Matanya menjadi bersinar tajam, semangatnya terbangun.

Selekasnya dia menggerakkan pinggangnya, lantas saja dia bangun berdiri !

In Go yang melihat paling dahulu, sebab dia selalu memasang mata.

"Tio It Hiong !"

Segera ia memanggil "Tio It Hiong, sadarkah kau ?"

Hong Kun menoleh ke arah suara yang memanggilnya.

Ia melihat tak jauh dari tempatnya berdiri sepasang muda mudi yang wajahnya ia seperti pernah mengenalnya.

Hanya ketika itu, tak dapat ia segera mengingatnya.

Maka ia terus mengawasi.

"Jiwie, siapakah kalian ?"

Tanyanya sambil memberi hormat.

Bu Pa dan In Go melengak sejenak tetapi lekas-lekas mereka membalas hormat.

Lantas Hong Kun bertindak menghampiri.

Masih ia mengawasi muda mudi itu sebelum ia tertawa dan kata .

"Jiwie, agaknya aku mengenali kalian ? Harap dimaafkan yang aku suka lupa. Tak ingat aku dimana kita pernah bertemu satu dengan lain......Sukakah jiwie memberi keterangan paadku ?"

Dalam syarafnya sadar seperti itu, muridnya It Yap Tojin dapat bicara dengan rapi. In Go menjawab cepat .

"Inilah Bu Pa, kakak seperguruanku. Kakakku ini pernah bertemu denganmu di Tiam Chong San. Aku sendiri In Go. Akulah yang baru tadi bertemu denganmu disini !"

Tak berani In Go bicara lebih banyak. Sebab ia kuatir pemuda itu nanti menimbulkan urusan mereka tadi di dalam rimba.

"Oh, kiranya kakak Bu Pa bersama nona In Go !"

Kata Hong Kun hormat.

"Maaf, maafkan aku !"

Bu Pa mengawasi.

"Saudara, apakah kau saudara Gak Hong Kun ?"

Tanyanya sengaja.

"Benar !"

Sahut Hong Kun cepat. In Go tampak heran.

"Eh, eh, apakah kau bukannya Tio It Hiong ?"

Tanyanya. Hong Kun melengak sejenak. Segera ia ingat yang ia tengah mainkan peran sebagai Tio It Hiong, si saingan dalam medan asmara. Lekas-lekas dia tertawa dan kata .

"Ruparupanya jiwie juga kena dipermainkan oleh Gak Hong Kun ! Jahanam itu telah menyamar sebagai aku, dimana-mana dia melakukan kejahatan. Maka itu aku tengah mencarinya. Karenanya, setiap sahabat Kang Ouw menyebut diriku Gak Hong Kun, aku mengiakan saja. Dengan itu kuingin supaya mudah aku mencari jahanam itu !"

Dengan kata-katanya ini, Hong Kun hendak memperbaiki penyahutannya tadi terhadap Bu Pa, supaya pemuda itu tidak ragu-ragu lagi.

"Maafkan aku, saudara Tio."

Kata Bu Pa.

"Aku tidak tahu yang saudara tengah menderita kesulitan itu !"

In Go pun girang sekali. Ia tertawa dan kata .

"Harap kau maafkan kelancangan kami ini."

Lantas Hong Kun menunjuki sikap yang gagah.

"Jangan mengatakan demikian, nona In."

Katanya sembari tertawa.

"Namaku yang tidak berarti itu disebabkan kebaikannya para sahabat yang memberi muka terang padaku. Nona, sekarang ini tak berani aku bertanding pula dengan kakak seperguruanmu."

In Go melirik manis. Kata dia tertawa .

"Kita sudah mengikat perasahabata, sebagai sahabat-sahabat tidak ada halangannya kita melatih diri. Lagi pula....."Ia terus menatap dan sengaja menunda kata-katanya selanjutnya. Hong Kun tertawa.

"Mengapa kau tidak bicara terus, Nona In ?"

Tanyanya manis.

"Apakah maksud nona ? Aku tolol sekali, aku tidak mengerti. Maka itu aku mohon nona tolong jelaskan......"

"Adikku hendak mengatakan........."

Bu Pa campur bicara. Dengan adik ia artikan adik seperguruan wanita.

"Ah, kakak !"

In Go menyela kakak seperguruannya itu.

"Aku......."

Ia terus menoleh pada Hong Kun atau It Hiong palsu, untuk menambahkan .

"Saudara Tio, kau telah orang bikin secara diam-diam ! Di dalam tubuhmu telah mengeram racun yang berbahaya, yang membuat ingatanmu tidak sadar seluruhnya. Rupanya kau tak mengetahuinya, bukan ?"

Hong Kun menunjuki tampang kaget dan heran.

"Bagaimana kau ketahui itu, nona In ?"

Tanyanya. In Go memperlihatkan tampang puas. Dia tertawa.

"Guru kami menjadi ahli racun ! Orang Kang Ouw siapakah yang tak kenal nama termashurnya?"

Katanya.

"Racun di dalam tubuhmu, saudara Tio, mana dapat lolos dari pandangan matanya ?"

Hong Kun ragu-ragu.

"Entah tubuhku telah terkena racun apa ?"tanyanya.

"Tahukah kau, nona In ?"

In Go menunjuki tampang puas. Hanya kali ini dia menahan untuk tertawa.

"Tapi kau jangan khawatir, saudara Tio !"

Katanya kemudian.

"Racun di dalam tubuhmu telah dibersihkan oleh guruku !"

Hong Kun heran, ia berpikir keras.

Bukankah mereka berdua pihak tidak mengenal satu dengan lain dan tanpa budi juga, bahkan bertemunya baru kali ini ?

Kenpa orang sudah lantas membantu, membebaskannya dari sisa racun ?

"Siapakah guru kalian itu, Nona In ?"

Tanyanya kemudian.

"Aku telah ditolongi, ingin aku menemuinya guna menghaturkan terima kasih......"

Si nona melirik.

"Nama guruku itu, sudah aku beritahukan !"

Sahutnya.

"Coba kau ingat-ingat, akan kau ketahuinya. Sebentar, habis kau berlatih dengan kakakku ini, baru kau menemui guru kami."

It Hiong palsu heran sekali. Tak dapat ia menerka maksud orang ! Kenapa dia seperti dipaksa untuk main-main dengan Bu Pa ? Tapi ia lekas mengambil keputusan. Ia memberi hormat dan berkata .

"Baiklah, aku yang muda akan menerima perintah. Silahkan saudara Bu Pa maju !' Lantas pemuda itu lompat keluar dari dalam rimba akan pergi ke tanah datar itu. Bu Pa menyambut dan terus menyusul. Ia tahu, pertandingan ini akan menentukan soal cinta kasihnya dengan In Go. Lantas keduanya berhadapan. Lantas mereka mulai bertempur. Di sisi mereka, In Go berdiri menonton. Hatinya puas. Bu Pa bersilat dengan ilmu Ngo Heng Ciang ajaran gurunya Gwa To Sin Mo dan Hong Kun dengan ilmu Tauwlo-ciang dari Im Ciu It Mo. Ia tidak menggunakan ilmu pedang Heng San Pay. Hanya menggunakan Tauwlo-ciang, ia kurang kemahiran. Tidak demikian dengan Bu Pa. Sebaliknya, sebagai murid Heng San Pay, ia memiliki kelincahan dan telah berpengalaman. Hingga ia menjadi menang unggul. Bu Pa ingin merebut kemenangan. Ia berkelahi dengan keras. Karenanya, Hong Kun melayani dia dengan kecerdikan. Namanya berlatih tetapi sebenarnya itulah pertempuran mati atau hidup, hingga kesudahannya terjadilah pertandingan diantara ilmu Ngo Heng Ciang dari Gwa To Sin Mo melawan Tauwlo-ciang dari Im Ciu It Mo merangkap Keng Sin Kang, ilmu ringan tubuh Heng San Pay. Di bawah sinar rembulan, bayang kedua orang bergerak-gerak luar biasa cepat dan anginnya bersiur-siur. Menarik hati untuk ditonton. Sejak dia muncul dalam dunia Kang Ouw, baru kali ini In Go menyaksikan pertempuran demikian hebat. Sudah matanya berkunang-kunang dan hatinya pun berdebaran, dan beberapa kali dia hampir menjerit kaget disebabkan menyaksikan pukulan-pukulan yang membahayakan. Sekarang ia menjadi bersangsi, siapa yang ia harapkan akan menang......... Di atas batu, Gwa To Sin Mo terus duduk beristirahat. Dia juga kena terganggu suara berisiknya pertempuran. Sang angin pun membuat dedaunan rontok yang pada terbang berhamburan. Saking tak dapat menguasai diri lagi, ia membuka matanya, hingga ia pun menyaksikan pertempuran itu. Sendirinya ia bertindak maju, akan mencari tahu siapa yang lagi bertarung itu. Pertarungan berlangsung terus. Kedua pemuda sekarang mempunyai pikirannya sendiri-sendiri. Bu Pa hendak merebut kemenangan guna merebut sekalian cinta adik seperguruannya. Dan Hong Kun mau melindungi nama baik perguruannya. Lama-lama Bu Pa menjadi penasaran. Ia ingin sekali menang. Maka itu ia lantas ingat senjata rahasianya, jarum beracun. Di lain pihak, Hong Kun juga ingat ilmu pedangnya hingga ia berpikir buat apa ia membuat pertempuran berteletele....... Hanya di dalam keadaan mendesak itu, belum ada kesempatannya akan kedua belah pihak mewujudkan apa yang mereka masing-masing pikir. Mereka lagi repot dengan pelbagai penyerangan dan penangkisan, sebab siapa ayal atau lalai, dia akan bercelaka...... Sementara itu, perlahan-lahan keduanya mulai merasa letih. Mereka telah menguras tenaga mereka. Lantas juga dahi mereka mengeluarkan peluh dan nafas mereka mulai terengah. In Go melihat dan memperhatikan, baru sekarang timbul rasa cemasnya. Ia tidak menyangka bahwa orang berlatih sedemikian rupa. Sekarang ia merasa menyesal yang tadi ia tidak memikir lebih jauh. Gwa To Sin Mo mengawasi tajam. Ia melihat bahwa tenaganya kedua orang itu bakal lekas habis. Itu berarti, duaduanya mereka akan bercelaka bersama. Tentu sekali ia menyayangi muridnya, yang ia telah didik bertahun-tahun dan tak sudi ia si murid mati konyol. Siapa nanti mewarisi kepandaiannya ? Di lain pihak lagi, ia tertarik kepandaiannya Hong Kun dan menyayangi kepandaiannya anak muda itu. Bahkan ia memikir juga akan membersihkan racun dari tubuhnya anak muda itu....... Adalah luar biasa yang Sin Mo dapat berpikir demikian. Pertanda dari munculnya liangsim, kesadaran hati nuraninya sebagai manusia sejati. Sedangkan tadi-tadinya dialah si Bajingan kejam tak kenal perikemanusiaan........ Selagi pertempuran berlangsung terus, nafasnya kedua orang itu bekerja makin keras. Dari hanya terengah-engah, nafas mereka itu mulai memburu. Tepat disaat genting itu, mendadak Gwa To Sin Mo memperdengarkan seruan geledeknya .

"Tahan !"

Maka berkumandanglah gemuruh suaranya itu hingga burungburung kaget dan beterbangan sambil bercowetan berisik !

Perintah itu ditaati kedua orang yang lagi mengadu jiwa itu, keduanya terperanjat dan berlompat mundur masing-masing.

Tubuh mereka terus terhuyung-huyung, akan akhirnya samasama jatuh terduduk.

Nafas mereka mendesak.

"Lekas tolong mereka !"

Sin Mo menitahkan In Go kepada siapa ia memberikan dua butir obat pulungnya Kiu Coan Siok Beng Hoan Hun Tan, atas mana si murid wanita lantas bekerja dengan cepat.

Dia menjejalkan masing-masing mereka itu sebutir pil seraya terus memesan mereka untuk beristirahat.

"Kenapa mereka bertempur ?"

Tanya Sin Mo kepada In Go sesudah ia mengawasi muridnya itu.

Sang murid tidak menjawab, sebaliknya dia menangis.

Baru saja dia berhasil menenangkan diri atau datanglah pertanyaan sulit itu.

Dasar dia manja, lantas dia melempar diri jatuh dalam rangkulan gurunya sambil terus menangis sedu sedan........

Si Bajingan tua heran.

Tak tahu dia sebabnya kesedihannya muridnya itu.

Ia mengelus-elus rambut hitam indah si murid, sikapnya sangat menyayangi.

"Anak Go,"

Katanya sabar.

"kau bicaralah ! Kenapa mereka itu bertempur ?"

Akhirnya In Go mengangkat mukanya, mengawasi sang guru hingga tampak air matanya masih berlinang-linang dan kedua belah pipinya pun berpetah dengan air suci murni itu.

"Semua ini karena salahnya muridmu, suhu,"

Sahutnya kemudian berterus terang.

"Akulah yang minta kakak Bu Pa dan Tio It Hiong bertanding untuk mereka melatih diri, lalu kejadiannya diluar dugaanku, mereka bertempur matimatian......."

"Hm !"

Bersuara si guru.

"Itukah namanya berlatih ?"

In Go mengangguk.

"Begitulah keinginanku semula,"

Katanya.

"Mulanya telah dijanjikan sampai pada batas saling towel saja......."

"Kemudian nyatanya mereka mengingkari janji, bukan ?"

"Entahlah, hal itu aku tidak tahu."

Gwa To Sin Mo lantas menunjuki tampang gusar.

"Nampaknya inilah gara-garamu, anak nakal !"

Katanya nyaring.

"Bagus benar perbuatanmu ini! Lekas kau bicara terus terang ! Atau........"

In Go takut sekali menyaksikan gurunya itu gusar, maka itu dengan terpaksa ia menuturkan sebab musababnya pertempuran itu, pertandingan dengan sifat menguji kepandaian tetapi berakhiran dengan pertempuran sungguhsungguh.

Katanya, ia baru mau menikah dengan kakak seperguruan kalau kakak itu menang dari Tio It Hiong.....

Mendengar keterangan itu, di dalam hati, Sin Mo berduka berbareng mau tertawa.

Ia mengerti yang murid manja ini telah terbangun hati kedewasaannya hingga ia mulai mengenal asmara.

Anehnya si murid dapat berpikir mengadu kedua pemuda itu.

Lantas Sin Mo mengusut-usut janggut kambingnya, dia tertawa.

"Jika kakakmu itu tak dapat mengalahkan lawannya, habis bagaimana ?"

Tanyanya. In Go berbangkit bangun, dengan sapu tangannya ia menyusut air mata.

"Muridmu tidak mau menikah, suhu !"

Sahunya.

"Kakak tidak mau menikah juga ! Kami...... kami berdua.... kami mau mensucikan diri saja !"

Gwa To Sin Mo tertawa bergelak.

"Budak tolol !"

Katanya.

"Pernahkah kau membayangi bagaimana penderitaannya hidup mensucikan diri akan setiap waktu duduk bersila saja ? Itulah artinya kesepian....."

In Go membuka lebar matanya menatap gurunya itu. Ia menggeleng kepala.

"Muridmu tak memikir sampai kesitu, suhu."

Bilangnya.

"Asal kakak tak dapat melawan Tio It Hiong, kami tidak bakal menikah. Demikianlah janji kami !"

Sin Mo heran hingga dia melengak. Dia menatap muridnya itu.

"Tahukah kau jelas siapa Tio It Hiong itu ?"

Tanyanya.

"Tahukah kau siapa gurunya dan bagaimana lihainya guru itu ? Tahukah kau bagaimana Tio It Hiong dengan sebatang pedang Ken Hong Kiam sudah mengangkat nama dengan menggetarkan dunia sungai telaga atau rimba persilatan ?"

Sang murid berdiam saja.

"Tentang kakakmu ini,"

Tambahnya.

"dia telah mewariskan seluruhnya ilmu Ngo Hong Ciang dari gurumu ini. Begitu pun tenaga dalamnya serta ilmunya menggunakan senjata rahasi beracun sudah sempurna. Walaupun demikian, dia masih ada kekurangannya yaitu pengalaman dalam dunia sungai telaga."

"Jika demikian, suhu, kakak tentu akan berhasil mengalahkan Tio It Hiong ?"

Si murid menanya menegaskan. Sang guru bersenyum.

"Kau bicara enak saja, budak !"

Katanya tertawa. In Go heran.

"Suhu,"

Tanyanya "tolong suhu jelaskan bagaimanakah kepandaiannya kakak dibanding dengan kepandaian Tio It Hiong ?"

"Ilmu silat kakakmu terang bagaikan cahaya kunangkunang !"

Sahut guru itu tawar.

"Dan ilmu silatnya Tio It Hiong seperti sinarnya si puteri malam !"

In Go mengira gurunya bergurau.

"Tak kupercaya, suhu !"

Katanya.

"Kenapakah mereka berbeda demikian jauh ? Namanya Tek Cio Siangjin serta nama suhu dalam dunia Kang Ouw tak dapat ditetapkan siapa lebih atas dan siapa lebih bawah. Maka itu mana mungkin murid-murid mereka dapat dibandingkan dengan sinar kunang-kunang dan sinar rembulan ?"

Goa To Sin Mo menghela nafas perlahan.

"Perbedaan ilmu silat mereka itu berdua bukan perbedaan disebabkan guru mereka masing-masing."

Jelasnya kemudian.

"Seperti tadi aku bilang, Tio It Hiong telah dapat mengangkat namanya itu disebabkan terutama karena peruntungannya yang bagus sekali. Karena pengalamannya yang luar biasa......"

In Go melengak hingga ia berdiam saja.

"Tentang pengalamannya It Hiong itu, gurumu tidak tahu jelas."

Sin Mo menambahkan.

"yang pasti ialah, saban suatu penemuan, kepandaiannya lantas bertambah maju !"

In Go bertambah heran. Dia mengangkat mukanya.

"Suhu, tolong kau jelaskan lebih jauh !"

Pintanya.

"Apakah penemuannya Tio It Hiong yang luar biasa itu ?"

"Di masa kecilnya dia telah makan darahnya belut emas."

Berkata sang guru dengan keterangannya.

"Darah itu telah menambah kekuatan darah dan tenaganya hingga dia menjadi ulet luar biasa. Sudah begitu, selama di jurang Ay Lao San dia telah menemui sebuah gua di dalam tanah dimana terdapat pelajaran rahasia Gie Kiam Sut ilmu pedang terbang melayang. Kedua penemuan itu saja sudah menjadi penemuan-penemuan yang langka selama seratus tahun yang paling belakangan ini !"

"Itulah baru ceritera burung, suhu. Itu tak dapat dipercaya seluruhnya."

Kata In Go tertawa.

"Dalam dunia Kang Ouw biasa terjadi orang mengangkat-angkat dan lalu orang turutturutan seperti orang latah !' Sin Mo terdiam. Kata-kata si murid memang benar.

"Kau benar juga, muridku."

Katanya mengangguk.

"Mendengar tak sama seperti melihat dengan mata sendiri. Benar It Hiong menemukan pelbagai pengalaman, tetapi semua itu pun masih membutuhkan pengalaman untuk mencapai batas kemahirannya......."

Mendadak terbangunlah semangat harga diri Gwa To Sin Mo hingga kepercayaannya atas kegagahannya Tio It Hiong seperti ia sering dengar menjadi goyah.

Bahkan melebih dari pada itu, timbullah keinginannya akan mengadu Bu Pa dengan It Hiong, guna memperoleh kepastian........

In Go mengawasi gurunya, hatinya puas.

Guru itu telah kena terpengaruhkan kata-katanya itu.

"Tetapi suhu,"

Katanya kemudian.

"Bukankah bukti telah ada di depan mata ? Bukankah kakak Bu Pa dan Tio It Hiong sama tangguhnya ?"

Dan dia menunjuk pada kedua anak muda yang masih berduduk mengistirahatkan diri masingmasing. Gwa To Sin Mo menggeleng kepala.

"Muridku,"

Katanya pada muridnya itu.

"apakah sampai sekarang kau masih tetap menyangka dialah Tio It Hiong adanya ?"

Si nona merapatkan alis.

"Jadi dia bukannya ?"

Ia balik bertanya.

"Padaku ia telah menjelaskan yang dia adalah Tio It Hiong !' "Melihat dari jalan ilmu silatnya, dia bukanlah asal Pay In Nia."

Sin Mo berkata.

"Karena itu aku percaya mungkin dia bukanlah Tio It Hiong!"

In Go bingung.

"Habis dia siapakah ?"

Tanyanya cepat. Sang guru berpikir, kemudian katanya .

"Barusan dia menggunakan ilmu silat Tauwlo-ciang, karenanya dia mesti muridnya Im Ciu It Mo. Hanya ilmu ringan tubuhnya, itulah ilmu ringan tubuh dari si imam tua It Yap dari Heng San Pay ! Dia pula membawa-bawa pedang di punggungnya."

Tiba-tiba Sin Mo bagaikan terasadar, hingga dia membuka lebar matanya.

"Bukankah dia pernah mengatakan dia bernama Gak Hong Kun ?"

Katanya kemudian.

"Nah, itulah namanya murid dari It Yap Tojin !' In Go membuka matanya lebar-lebar.

"Jika dia bukannya Tio It Hiong dari Pay In Nia,"

Katanya, kecele.

"kakak Bu Pa telah menempur dia sekian lama, bukankah itu sia-sia belaka ?"

Nona ini tetap masih bersangsi atau menyayangi sesuatu.

Ia masih memberati Hong Kun walaupun telah ada janjinya dengan Bu Pa.

Sedangkan gurunya tidak saja menyetujui dia menikah dengan Bu Pa bahkan menganjurkannya.

Sekarang si guru melihat wajah murid perempuan itu, ia menerka yang murid itu pasti menghendaki ada pertempuran yang memutuskan kalah menang diantara Bu Pa dan Hong Kun.

Kedua anak muda itu sudah seri, tidaklah In Go merasa puas ?

Akhirnya Sin Mo tertawa dan berkata .

"Sekalipun benar orang ini Gak Hong Kun adanya, ilmu silatnya sudah mahir sekali dan menyamakan separuh dari kepandaian Tio It Hiong ! Anak Bu Pa telah bertempur seri dengannya, itulah bagus sekali. Maka itu anak, kalau kalian kakak beradik seperguruan menjadi sepasang suami isteri, sungguh setimpal ! Kau tidak terhina, anak !"

Tapi In Go masih bertanya .

"Suhu, mana dapat Gak Hong Kun dipadu dengan Tio It Hiong ?"

"It Yap Tojin dari Heng San menjadi salah satu dari Sam Kie, tiga orang gagah luar biasa dari jaman ini."

Kata Sin Mo.

"Dalam hal ilmu pedang dan ringan tubuh, dialah terhitung orang yang langka. Gak Hong Kun dididik oleh guru rahib itu, ia pasti lihai. Kabarnya Hong Kun dan It Hiong pernah bertarung di Heng San dan ketika itu mereka sama tangguhnya......"

In Go mengawasi gurunya, dia menunjuki sikap manjanya.

"Sekarang begini saja, suhu !"

Demikian katanya.

"Sekarang tolong suhu cari tahu, dia itu sebenarnya siapakah."

Nona ini menganggap, kalau demikian, tiga orang itu --Bu Pa dan Hong Kun serta It Hiong --kepandaiannya berimbang satu dengan lain.

Dengan demikian, cintanya terhadap kakak seperguruan makin kuat.

Hanya karena biasa manja, dia selalu hendak membawa kebiasaannya itu.

Gwa To Sin Mo tahu tabiatnya si murid, maka dia kata .

"Begini ! Sekarang di depanku, kau harus berjanji yang kau bersedia sehidup semati sampai di hari tua bersama-sama kakakmu, Bu Pa. Tentang keinginanmu, akan aku membuat puas kau."

Walaupun dengan likat, In Go memberikan jawabannya .

"Janjiku dengan kakak Bu Pa bukan janji main-main, suhu ! Kalau suhu mengatakan demikian, baiklah aku menerima katakata suhu !"

Senang Sin Mo memperoleh jawaban muridnya, dia tertawa bergelak.

Ketika itu, sang waktu telah berjalan terus.

Tanpa terasa, sang fajar pun tiba.

Justru begitu, satu bayangan orang berkelebat mendatangi lantas tampak tibanya diantara guru dan murid itu.

"Oh, tosuhu Peng Mo !"

Seru Sin Mo yang segera mengenali si nikouw setengah tua.

"Selamat bertemu ! Selamat bertemu ! Aku merasa beruntung sekali !"

"Selamat berjumpa !"

Menjawab si pendeta wanita.

"Kiranya kau belum pulang, Toheng !"

Berkata begitu, nikouw ini melirik kelilingan.

Tak puas In Go mendengar suara orang yang ia rasa takabur.

Orang toh bicara dengan gurunya yang ia pandang tinggi.

Maka itu, ia mendahului gurunya menyahut dengan kata-katanya ini .

"Eh, nikouw, apakah kau kira kau dapat mencampuri urusan kami disini ?"

Sepasang alisnya si pendeta wanita terbangun.

"Selagi orang tua bicara, mana ada tempatmu untuk campur bicara, budak !"

Bentaknya.

"Sungguh tidak tahu adat !"

Habis menegur itu, si Bajingan Es terus bertindak ke arah Hong Kun dan Bu Pa. Melihat demikian, In Go lompat mencelat. Segera dia menghadang.

"Kau hendak berbuat apa ?"

Tegurnya keras.

Peng Mo tidak menjawab hanya sebelah tangannya dikibaskan !

Nona In berlaku celi dan gesit, belum lagi tangan si Bajingan tiba, ia sudah lompat berkelit.

Hanya sembari mengegos tubuhnya ke samping, sebelah kakinya diluncurkan kepada penyerangnya itu !

Itulah tendangan "Kaki Di dalam Sarung".

Peng Mo terkejut.

Ia pun menjadi mendongkol sekali karena berpikir kenapa seorang nona berhati demikian kejam.

Maka itu habis berkelit, dia maju dengan pesat seraya menjambak tangan kanannya dengan jurus "Tangan menangkap mega"

Jurus "Sekalian Menuntun Kambing".

In Go sangat cerdik.

Dengan cepat ia menarik pulang kaki kanannya itu, untuk seterusnya menaruhnya ditanah.

Kaki kirinya meneruskan menendang pula.

Seba ia sudah lantas menggunakan jurus silat "Lian-hoan Wan-joh Twie"

Kaki berantai Burung Mandarin yang semuanya terdiri dari delapan belas jurus.

Maka menyusuli kaki kirinya ini yang lolos, lantas saja bergantian kedua kakinya menendang dan medepak terus menerus !

Peng Mo menjadi repot.

Dia kagum berbareng bergusar.

Si nona dianggapnya terlalu.

Terpaksa dia main mundur, hingga kesudahannya dia berkelit enam atau tujuh tindak.

Beberapa kali dia terancam kakinya nona itu.

In Go puas dapat membuat si Bajingan Es terdesak demikian rupa.

Dimata umum, dia memang menang desak.

Setelah desakannya itu, selagi lawan mundur dia berhenti menyerang.

Lalu sembari berdiri diam, dia tertawa dan menanya separuh mengejek .

"Nah, bagaimana kau lihat ilmu kakiku ? Dapatkah kau membalas mendesak aku, nikouw ?"

Hatinya Peng Mo panas bukan kepalang.

Sebenarnya dia masih memandang mata pada Gwa To Sin Mo dan selalu mengalah, karena mana ia menjadi terdesak.

Sekarang orang mengejeknya !

"Budak, jangan takabur !"

Bentaknya dingin.

"Aku hanya memandang gurumu dan aku mengalah ! Hati-hatilah jika kau masih tidak tahu selatan ! Nanti pin-ni menjadi tidak berlaku sungkan lagi !"

Berkata begitu, si Bajingan Es terus melirik Gwa To Sin Mo, si Bajingan Sakti. In Go tak berpengalaman, dia pun sangat besar kepala dan suka menang sendiri. Mendengar suara orang itu, dia tertawa.

"Hm !"

Ejeknya pula.

"Sudah tidak sanggup melawan, kau menempel emas pada mukamu ! Sungguh manis kata-katamu itu ! Sekarang baiklah, jangan kau main berkelit dan mundur saja. Mari rasai kakiku !"

In Go menyerang pula.

Dia tak jeri emang sedikit, dia sangat mengandali gurunya, yang masih berdiam saja.

Dalam panasnya hati, Peng Mo tetap masih memandang Sin Mo.

Maka itu, ketika ia ditendang pula itu, walaupun ia melawan, ia tidak mau berlaku kejam.

Mulanya ia menolak dengan kedua tangannya.

Ketika tendangan datang, ia lekaslekas menarik pulang kedua tangannya itu untuk berkelit.

Karena ini, lantas juga ia terdesak pula.

Si nona kembali merangsak tak hentinya.

Kedua kakinya naik dan turun dengan cepat dan secara membahayakan lawan.

Sebenarnya ia tahu dua jurus jurus silat guna memecahkan Wan Yoh Twie itu tetapi tak mau ia segera menggunakannya.

Di lain pihak, ia melayani dengan "Hong Pa Louw Hoa", Angin Mengombak Bunga Gelaga.

In Go mendapat hati, dia mendesak terus.

Hal ini membuat Peng Mo mendongkol sekali.

Terpaksa, ia terpaksa menggunakan dua jurus jurus silatnya itu.

Mulanya dengan tangan kanan ia menangkis dengan jurus "Sebelah Tangan Mengalingi Langit"

Terus dengan tangan kirinya ia menggunakan jurus "Sebuah Jeriji Suci".

Sebenarnya dengan tangan kiri ini ia mesti menotok sambil menekan, tetapi karena ia ingat Sin Mo, ia tidak menotok hanya menggunakan saja tangan terbuka akan menyentuh paha si nona, sedangkan sasarannya totokan ialah anggota rahasia !

Maka seranganya itu sendirinya berbalik menjadi jurus "Menyingkap Mega Mengintai Rembulan".

Serangan cuma menyentuh tidak lebih.

Baru sekarang In Go kaget sekali berbareng malu bukan main sebab pahanya kena tersentuh walaupun penyentuhnya bukan laki-laki hanya wanita bahkan seorang nikouw, jantungnya jadi memukul keras dan muka dan telinganya menjadi merah.

Dengan kelabakan dia mundur dengan lompatan mengapungi diri "Yauw Co Hoan Sin"--Burung Eng berjumpalitan.

"Cis, tak tahu malu !"

Dia menegur si nikouw selekasnya dia menaruh kaki dengan tegak di atas tanah.

Jengah dan bergusar berbareng.

Matanya mendelik terhadap si lawan, mulutnya pun berludah.

Peng Mo pun rada jengah, selagi si nona berlompat ia juga mundur.

Ia tidak melayani si nona, hanya ia menoleh dengan mata tajam terhadap Sin Mo.

Gwa To Sin Mo memperlihatkan tampang sungguh-sungguh hingga ia nampaknya keren sekali.

"Budak tak tahu maju dan mundur !"

Ia membentak muridnya.

"Masih kau tidak mau menghaturkan terima kasih kepada Peng Mo Su-thay yang berlaku murah hati terhadapmu !"

"Sudah Toheng, cukup !"

Kata Peng Mo pada Sin Mo.

"Sebenarnya pinni hanya ingin ketahui siapa kedua orang yang lagi beristirahat itu."

Dan ia bertinak pula perlahan-lahan ke arah Bu Pa dan Hong Kun.

In Go masih tetap likat.

Ia heran atas sikap gurunya itu.

Ia merasa ia belum roboh.

Ia mundur sebab ia malu.

Kenapa gurunya justru menyuruh ia mengucap terima kasih ?

Kapannya si nikouw berbuat baik terhadapnya ?

Walaupun demikian, ia tidak berani meminta keterangan pada gurunya itu.

Karena gurunya diam saja, ia pun tidak dapat mencegah Peng Mo menghampiri kedua anak muda itu.

Sin Mo dan muridnya saling mengawasi sekejap, lantas ia batuk-batuk dan mengangkat mukanya menengadah langit.

Peng Mo mengawasi kedua anak muda.

Melihat Bu Pa, ia mengenali muridnya Sin Mo.

Mengawasi Hong Kun, ia heran sekali.

Ia mengawasi dengan tajam, otaknya bekerja.

Itulah si pemuda melihat siapa hatinya goncang, semangatnya terbang........

Selama di Ngo Tay San, Peng Mo telah melihat dua-dua It Hiong dan Hong Kun dan mengenali mereka berdua.

Hanya melihat orang yang digilai itu, ia sampai tak dapat membedakan It Hiong dari Hong Kun atau sebaliknya.

Ia percaya Hong Kun ini ialah It Hiong.

Kemudian Peng Mo ingat juga peristiwa di puncak Hek Sek San.

Di sana It Hiong ada bersama Kiauw In dan Ya Bie bertiga.

Dari puncak itu ia berlalu terlebih dahulu.

Di sana ia bisa lolos dari pelbagai pesawat rahasianya Im Ciu It Mo.

Ia tiba di kaki gunung dengan selamat.

Hanya tiba di rimba sang malam telah larut.

Selama itu, ia mesti mencari tempat untuk beristirahat.

Apa mau, ia justru mendengar suara orang bicara berisik dan bertempur.

Ia heran, ingin ia mendapat tahu.

Dengan mengikuti suara angin, dari mana suara itu datangnya, ia sampai tepat di saat Bu Pa dan Hong Kun mencapai saat yang membahayakan mereka berdua.

Ia pun melihat Sin Mo dna muridnya menonton pertempuran itu.

Saking tertarik hati, Sin Mo dan In Go tidak ketahui tibanya itu.

Waktu pertempuran berhenti, Peng Mo memikir buat melanjutkan perjalanannya atau tiba-tiba ia mendengar pembicaraan di antara SinMo dan In Go yang menyebutnyebut halnya It Hiong tulen dan palsu hingga ia menjadi tertarik hati dan terus memasang telinga.

Di dalam hatinya, tak mungkin It Hiong berada di tempat itu.

It Hiong ada bersama Ya Bie dan Kiauw In, tetapi ia ingin memperoleh kepastian.

Maka diakhirnya ia muncul di depannya In Go dan Sin Mo, hingga terjadilah ia mesti melayani nona manja dan takabur itu.

Sesudah berdiri menjublak sekian lama, Peng Mo berpikir.

Perlu ia mendapatkan Hong Kun atau It Hiong palsu ini.

Hanya di saat itu, ia masih tetap ragu-ragu.

Justru itu, Sin Mo dan In Go bertindak menghampiri buat melihat keadaannya kedua pemuda sesudah mereka itu beristirahat habis bertempur hebat itu.

In Go sangat prihatin terhadap kakak seperguruannya, ia lantas meletakkan tangannya di jalan darah cie-tong dari kakak itu untuk menyalurkan tenaga dalamnya guna membantu si kakak pulih kesegarannya.

Gwa To Sin Mo sebaliknya kata pada Peng Mo seraya ia menunjuk pada Hong Kun .

"Kalau orang ini sahabatmu, suthay, silahkan kau membantunya agar dia pulih kesehatannya. Su thay bersediakah ?"

Peng Mo tertawa. Itulah pertanyaan yang dia harap-harap. Tadinya ia masih memikir-mikir bagaimana ia harus membuka mulutnya.

"Memang pinni tengah memikir....."

Sahutnya. Tiba-tiba Sin Mo ingat sesuatu.

"Su-thay,"

Tanyanya mendadak.

"Su-thay, sahabatmu ini orang she dan nama apakah ? Dan dia murid siapakah ?"

"Lain hari kau akan ketahu itu, Toheng."

Sahut si nikouw sambil menekan jalan darah Hong Kun.

Sebenarnya ia masih ragu-ragu, orang itu It Hiong atau Hong Kun....

Sin Mo melihat Peng Mo menotok jalan darah hek-tiam.

Ia menerka orang bermaksud tidak baik, tetapi karena itulah totokon minta jiwa ia berlagak tidak tahu apa-apa.

Ia bahkan tertawa dan berkata pula .

"Kalau su-thay mau membawa pulang dia untuk diobati di rumah, itulah terlebih baik lagi. Lohu sendiri hendak lekas-lekas pulang ke Tiam Chong San !"

Kembali Peng Mo merasa girang. Tepat kata-katanya Sin Mo untuknya. Lantas ia merapatkan kedua tangannya, sembari memberi hormatdan bersenyum, ia mengucapkan .

"Terima kasih Toheng ! Di sini saja aku pamitan !"

Dan lantas ia mengangkat tubuhnya Hong Kun buat di bawa ke pinggangnya guna dikempit.

Setelah mana dia mengangkat kaki memutar tubuh dan berangkat pergi !

Mendadak Sin Mo batuk-batuk seraya terus berkata .

"Suthay, tunggu !"

Peng Mo mendengar, segera ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Ia merasa tak tentram karena khawatir si Bajingan Sakti nanti main gila terhadapnya.

"Ada pengajaran apa pula, Toheng ?"

Tanyanya ramah. Sin Mo tertawa dan kata .

"Orang itu telah terkena racun yang masih mengeram di dalam tubuhnya hingga ingatannya masih sedikit terganggu. Sebenarnya perbuatan siapakah itu ?"

Peng Mo terkejut. Ia berkesan orang mencurigainya. Ia pula tidak tahu pasti, si Bajingan Sakti tengah mempermainkannya atau tidak.

"Benarkah itu ?"

Tanyanya sembari memaksa diri bersenyum, supaya tampaknya dia tenang-tenang saja. Sin Mo membuat main janggut kambingnya. Jawab dia tenang tentram .

"Orang yang menggunakan racun itu, dia belum pandai benar. Dan racunnya juga bukan racun istimewa ! Hahaha ! Dia bertemu dengan aku si orang tua, itu artinya dia sedang apes !' Peng Mo berpura tertawa.

"Kalau begitu Toheng, kau telah mengobati membuat dia bebas dari racun ?"

Katanya.

"Benar !"

Kata Sin Mo.

"Karena itu, su-thay aku menghendaki su-thay menyampaikan kata-kataku pada dia itu !"

Peng Mo mengawasi, ia tertawa pula.

"Bukankah Toheng ingin aku berkatai dia supaya dia menghaturkan terima kasih kepada Toheng karena budi Toheng menyingkirkan racun itu ?"

Sin Mo tertawa bergelak.

"Jika demikian, itu berarti suthay tidak memandang mata terhadapku ! Menyingkirkan racun adalah urusan kecil, tentang itu tak usah dibuat pikiran lagi !' Peng Mo heran hingga dia melengak sejenak.

"Sebenarnya Toheng, apakah maksud Toheng ?"

Tanyanya.

"Silahkan bicara !"

Sin Mo bersenyum.

Ia dapat menerka sebabnya kenapa si Bajingan Es mau membawa pergi pemuda itu.

Ia ketahui lakon atau kegemarannya Nikouw ini.

Sebenarnya dia bahkan cabul.

Maka ia lantas menatap muka orang.

"Sebelumnya aku menyebutnya,"

Katanya sabar.

"aku suka minta apalah su-thay memaafkan dahulu. Bicara sejujurnya tetapi itu dapat dipandang sebagai kelakuan tidak hormat. Itulah tidak kukehendaki. Pula bagi kaum beragama, itu hanya mengotori saja telinga !"

Peng Mo berpaling. Likat ia akan mengadu sinar mata dengan si Bajingan Sakti. Tapi ia menjawab.

"Jangan sungkan, Toheng ! Apakah itu ? Silahkan Toheng sebutkan !"

Gwa To Sin Mo berayal sejenak, baru dia berkata .

"Pemuda itu telah terkena racun dan aku telah memberikan dia obat guna menyembuhkannya. Walaupun demikian, di dalam tubuhnya sisa racun masih tetap mengeram. Dari itu dia masih memerlukan waktu tiga bulan untuk beristirahat guna menanti sisa racun musnah seluruhnya. Di dalam tiga bulan, pemuda itu tak dapat mendekati paras elok. Nah, suthay. Inilah kata-kataku yang aku ingin disampaikan oleh su-thay kepada si anak muda ! Dapatkah ?"

Sepasang alisnya si nikouw bergerak bangun, wajahnya berubah. Toh tampak tegas bahwa dia kecele. Lantas dia menjawab .

"Itulah kata-kata kotor. Maafkan pinni, tidak dapat pinni menyampaikannya !"

Sin Mo tidak menghiraukan keberatan orang. Ia berkata pula sungguh-sungguh .

"Inilah soal penting yang menyangkut jiwanya si anak muda, su-thay ! Bukankah dia pun sahabat karibmu ? Kenapa su-thay tidak mau berlaku demikian --muris akan kata-kata hingga kau tak sudi menyampaikannya ?"

Peng Mo berpikir keras.

Lantas ia dapat menerka bahwa Sin Mo sebenarnya sedang menggoda atau mengejeknya.

Maka ia mengawasi hutan di depannya itu dengan sinar mata merah tanda dari kegusaran.

Ia pun terus berkata .

""Toheng, dengan kata-katamu ini maka teranglah diartikan bahwa tempat ibadatmu telah terjadi peristiwa asmara !"

Sin Mo tertawa lebar, dia tidak menjawab.

Peng Mo jeri terhadap orang di depannya ini.

Walaupun dia mendongkol dan gusar sekali, ia masih mencoba mengekang diri.

Ketika ia bicara pula, lebih dahulu ia menyingkirkan tampang gusarnya.

Sebaliknya dia tertawa !

"To-heng, telah lama aku mendengar tentang obatmu istimewa buat memusnahkan racun,"

Demikian katanya.

"Maka itu dengan mengandal kulit mukaku yang tipis, ingin aku memohon obatmu yang mustajab itu ! Dapatkah Toheng memberikan obat guna menolong sahabat muda ini?"

Sin Mo menggeleng kepala.

"Barusan telah aku jelaskan yang pemuda ini telah makan obatku !"

Sahutnya.

"Yang utama penting baginya ini ialah dia harus menantang mendekati paras elok ! Nanti, selewatnya tiga bulan, aku si tua akan memberikannya pula obat pemunah racun itu !"

Kembali alisnya si nikouw terbangun.

"Ini artinya, Toheng !"

Katanya keras.

"Selewatnya waktu tiga bulan itu maka anak muda ini harus pergi ke Tiam Chong San kepada Toheng guna meminta obat tersebut ! Benarkah itu ?"

Sin Mo mengangguk. Katanya singkat .

"Dia suka pergi atau tidak, terserah padanya. Sekarang pun, andiakata sahabat ini berkeinginan berplesiran, kalau dia mati karenanya, lohu tidak dapat berbuat apa-apa !"

Lantas si Bajingan Sakti memutar tubuhnya buat berjalan menghampiri muridnya. Tetapi ia melangkah ayal-ayalan. Baru beberapa tindak, ia sudah menoleh pula, untuk menambahkan kata-katanya .

"Pemuda ini ada perlunya bagiku. Oleh karena itu janganlah karena urusan dia, kita berdua menjadi bentrok !"

Kembali Peng Mo berpikir keras.

Sebelumnya menjawab ia melirik Hong Kun.

Tiba-tiba, ia merasa hatinya pepat.

Mengawasi wajah si anak muda, timbul rasa penasaran dan cintanya !

Kemudian ia melirik pada punggungnya Sin Mo, habis mana dengan sekonyong-konyong dia lari keras keluar rimba !

Baru lari sejauh sepuluh tombak lebih, mendadak si Bajingan Es berhenti.

Dia lantas meletakkan Hong Kun di atas rumput, di dalam sebuah semak.

Setelah itu dia lari kembali ke rimba tadi, tentu saja secara diam-diam guna mengintai Sin Mo.

Dia ingin ketahui gerak geriknya itu guru dan muridmuridnya bertiga.

Ketika itu Bu Pa sudah mendapat pulang tenaganya.

Ia membuka matanya dan perlahan-lahan bangun berbangkit.

In Go telah menarik pulang tangannya, menghentikan bantuan tenaga dalamnya.

Bu Pa memegang tangan halus adik seperguruan itu.

"Kau baik sekali, adik,"

Katanya perlahan.

"Kau begini menyayangi aku, tak nanti aku melupakannya !"

In Go mengawasi.

"Kau tak merasa kurang apa-apa lagi, kakak ?"

Tanyanya.

"Tidak. Kau telah menghamburkan tenaga dalammu, adik. Lihat bagaimana kau letih !"

Dan ia mengulur tangannya, akan menyusuti peluh di muka si nona.

"Hus !"

Kata In Go hampir berbisik.

"Apakah kau tidak malu ? Lihat, suhu lagi mendatangi........"

Sin Mo sudah lantas tiba di belakang orang. Dia batukbatuk perlahan.

"Anak Pa, apakah kau terluka di dalam ?"

Tanyanya prihatin. Bu Pa menjura.

"Tidak, suhu."

Sahutnya.

"Tenagaku sudah pulih."

Tiba-tiba In Go tertawa.

"Kakak berkelahi seperti membabi buta !"

Katanya.

"Aku juga berkelahi serupa dengan si nikouw usilan !"

Berkata sampai disitu, si nona berhenti secara tiba-tiba dan mukanya menjadi merah sendirinya.

Itulah karena sekonyongkonyong ia ingat yang Peng Mo telah menggunakan ilmu silat dan pahanya telah disentuh hingga ia merasa malu sendirinya.

"Bagaimana, adik ?"

Bu Pa tanya, heran.

"Dengan siapakah kau bertempur ? Siapa nikouw yang kau sebut itu ?"

In Go menggigit bibirnya, ia tidak menjawab. Ia hanya mengawasi gurunya. Sin Mo tertawa dan berkata .

"Anak In telah bertempur denan Peng Mo si nikouw, salah seorang dari Hong Gwa Sam Mo. Hampir dia roboh karena ilmu silat Wan Yoh Twie dari adikmu ini!"

Bu Pa girang sekali mendengar itu.

"Adik telah maju pesat sekali !"

Pujinya.

"Kelak dikemudian hari, nama In Go pasti akan menggemparkan dunia Kang Ouw !"

In Go merasa manis sekali, ia sangat girang. Tapi ia kata ."Sudah kakak, jangan kau memakaikan tudung padaku !"

Kemudian ia menoleh pada gurunya terus bertanya .

"Suhu, kenapa suhu ijinkan nikouw itu membawa Tio It Hiong pergi ? Menurut penglihatanku, nikouw itu bukannya manusia baikbaik........."

Ditanya muridnya itu, Sin Mo tertawa.

"Kalau Hong Gwa Sin Mo disebut orang baik-baik, maka di dalam dunia rimba persilatan pastilah tidak ada lagi si bangsa busuk !"

Demikian jawabannya. Alisnya si nona rapat satu dengan lain.

"Tio It Hiong dilarikan olehnya, mana dia akan selamat............"

Katanya.

"Di dalam waktu yang singkat, tidak."

Kata Sin Mo.

"Peng Mo tahu akulah ahli ilmu racun. Maka dia tentu akan percaya perkataanku ! Telah aku bilangi dia, di dalam waktu tiba bulan dia mesti pantang paras elok ! Pastilah dia akan berlaku hatihati !"

"Tapi Gak Hong Kun itu muridnya Im Ciu It Mo...."

Kata Bu Pa.

"Aku khawatir...."

"Oh !"

In Go menyela kakak seperguruannya itu.

"Kakak menyebut dia Gak Hong Kun ? Jadi dia benar bukannya Tio It Hiong ?"

Sin Mo segera melirik murid laki-lakinya itu.

"Kakak,"

Si nona menambahkan.

"mengenai pertempuranmu barusan, aku suka memburaskan segala janji kita tadi."

"Dalam hal itu, adik, terserah kepada kau !"

Sahut Bu Pa.

"Kalau bicara dari hal cinta, itu memang tak layaknya didapatkan dengan jalan curang !"

In Go puas.

"Kau memang laki-laki sejati !"

Katanya.

"Kakak, aku bersedia membantu kau mencari kepastian tentang pemuda itu !"

Bu Pa lantas menoleh kepada gurunya.

"Suhu,"

Katanya, sambil menjura dalam.

"aku mohon petunjuk suhu ! Dapatkah suhu mengijinkan aku berdua adik In Go pergi merantau ?"

"Tentang itu, memang telah aku pikirkan,"

Menjawab sang guru.

"Kalian memang mesti belajar kenal dunia guna memperoleh pengalaman. Hanya dalam pada itu harus kalian menghormati aturan perguruan guna menjaga diri, terutama tidak dapat kalian menanam permusuhan ! Kalian boleh pergi, anak-anak. Asal kalian ingat, sebelum tiba saatnya pertemuan Bu Lim Cit Cun kalian mesti lekas-lekas pulang ke In Bu San untuk menemui aku !"

Bu Pa bersama In Go lantas menekuk lutut di depan gurunya itu.

"Terima kasih, suhu !"

Kata mereka.

"Akan aku ingat baikbaik pesan suhu !"

Lantas mereka berbangkit.

"Selamat berpisah, suhu !"

Sin Mo mengangguk. Bu Pa melihat cuaca. Sang fajar baru tiba. Ia berdiam, agaknya ia bersangsi untuk membuka langkahnya. In Go menarik ujung baju kakak seperguruan itu. Ia pun menatap.

"Bagaimana, eh ?"

Tegurnya.

"Mari kita berangkat !"

"Kita hendak mencari Tio It Hiong......"

Si kakak kata separuh berbisik.

"Kemanakah arah tujuan kita ?"

In Go pun melengak. Itu memang soal sulit. Tapi ia membuka lebar matanya. Ia berpikir, akan akhirnya berkata .

"Mari kita susul Peng Mo si nikouw. Kita kuntit dia, pasti kita akan berhasil....."

Setelah menutup kata-katanya, tak peduli orang masih ragu-ragu atau tidak, si nona sudah lantas menarik tangannya kakak seperguruannya itu.

Ia menuju keluar rimba, ke arah yang tadi diambil Peng Mo.

Sin Mo mengawasi kepergiannya kedua muridnya.

Ia agak merasa berat, maka juga kemudian ia menarik nafas dalamdalam dan lalu menghembuskannya perlahan.

Akhirnya, ia pun bersiul panjang.........

Ketika itu, berbareng dengan cerahnya sang pagi, burungburung pun berbunyi dan beterbangan........

Sin Mo masih belum berlalu dari rimba ketika ia melihat seseorang muncul dari balik pepohonan lebat dan orang segera berada di hadapannya.

"Selamat pagi, Toheng !"

Demikian orang itu, suaranya merdu. Sin Mo melengak mengawasi "Kau datang pula ?"

Tegurnya.

"Kau hendak mengacau aku ?"

"Hm !"

Bersuara orang itu yang bukan lain dari pada Peng Mo.

"Toheng, bagus perbuatanmu ! Mana kau melihat mata padaku si nikouw !"

Sin Mo mengawasi. Ia melihat tidak ada Hong Kun bersama nikouw itu.

"Bagaimana, eh ?"

Tanyanya.

"Kau kehilangan laki-laki itu ? Apakah kau hendak meminta tanggung jawab dari aku ?"

Matanya Peng Mo mendelik, dia gusar sekali.

"Itulah urusanku !"

Bentaknya.

"Tak perlu kau usil urusanku itu ! Hanya, kalau kau tahu selatan, harus kau memberi jawaban padaku ! Apakah yang kau perbuat atas dirinya anak muda itu ?"

Sin Mo tertawa lebar.

"Obat beracun yang aku buat taruh kata kau beritahukan padamu, itu pun sia-sia belaka. Cuma-cuma mencapekkan lidah !"

Katanya. Kembali si nikouw menjadi gusar sekali.

"Kalau demikian !"

Teriaknya.

"Lekas kau keluarkan kayyohnya !"

Sambil menyebut "kay-yoh"

Obat pemusnah racun, Peng Mo meluncurkan tangan kanannya lurus ke depan, telapakan tangannya dibalik ke atas !

Itulah caranya kalau dia meminta sesuatu.

Itu namanya sikap "Cian Ciu Pian, Perubahan Seribu Tangan".

Itu pula gerakan istimewa dari Hong Gwa Sam Mo disaat mereka mengajukan permintaan.

Sin Mo mengawasi.

Ia tahu tangan orang itu bukan wajar mau menerima barang saja.

"Lohu tidak mau memberikan kay-yoh !"

Katanya.

"Habis kau mau apa ?"

Peng Mo menjawab dingin . Di Hok Houw Gay ada dua orang bocah yang baru muncul buat belajar merantau ! Kau menghendaki jiwa mereka itu atau tidak ?"

Sin Mo terkejut hingga ia melengak. Dia lantas dapat menerka. Hanya sedetik, segera dia tenang kembali. Maka dia tertawa dingin.

"Bagaikan air yang telah disiramkan atau bunga yang gugur dari tangkainya,"

Kata ia.

"Demikian juga seorang atau muridmurid yang baru keluar dari rumah perguruannya ! Urusan mati hidupnya mereka tiu, ada sangkut pautnya apakah dengan aku ?"

Di dalam hati, Peng Mo terperanjat.

Kiranya ancamannya itu tidak mempan terhadap si Bajingan Sakti.

Pancingan tangannya juga telah tidak memberikan hasil.

Ia sudah mengulur tangannya itu, maka dapat ia menarik pulang dengan begitu saja sedangkan tangan itu masih kosong hampa ?

Untuk menggunakan kekerasan, ia pula bersangsi yang ia nanti dapat menang di atas angin.

Tetapi ia tidak mau kalah gertak.

Maka berulang kali terdenar suara dinginnya .

"Hm ! Hm !"

Sambil menggertak gigi, dia kata pula .

"Kau majulah ! Kau lihat !"

Tangannya itu masih ia tidak mau tarik pulang ! Sin Mo melirik dengan lirikannya yang memandang hina.

"Sungguh mulut besar !"

Katanya dingin.

"Baiklah, akan lohu beri lihat padamu !"

Begitu berkata begitu Sin Mo mengibaskan tangan bajunya hingga tampak tangannya --tangan kanan.

Ia terus menyentil dengan jeriji telunjuknya, atas mana tampak sesuatu mirip asap putih keluar dari ujung jari tangannya itu, menghembus ke dalam telapak tangannya si nikouw !

Itulah bukan asap biasa.

Itulah asap yang merupakan hawa beracun.

Itu pula Tan Cie Kang-hu, ilmu pukulan sentilan jari tangan yang sengaja si Bajingan Sakti keluarkan guna pertontonkan kepandaiannya sebab si nikouw mau memperlihatkan kepandaian telapan tangannya.

Peng Mo terkejut.

Terpaksa, ia mesti menolak hawa jahat itu.

Maka juga selekasnya dengan tersipu-sipu ia menarik pulang tangan kanannya itu.

Lantas ia meneruskan menolak dengan tangan kiri yang dibantu tangan kanannya itu.

Itulah penolakan kepada hawa beracun.

Menolaknya ke samping, sedangkan tubuhnya sendiri mundur dua tindak guna menyingkir dari hawa lihai itu.

Setelah itu, Gwa To Sin Mo berkata dengan keras dengan kata-katanya keluar sepatah demi sepatah .

"Aku si orang tua malas melibatkan diri denganmu ! Toasuhu, sampai jumpa pula !' Sesosok tubuh yang meluncur sebagai bayangan adalah penutup dari kata-kata tawar itu. Itulah Sin Mo yang berlalu dengan pesat sekali, berlalu dari dalam rimba. Suaranya masih mendengung dalam kumandang tetapi orangnya telah lenyap seketika saking dahsyatnya ilmu ringan tubuhnya itu ! Peng Mo melongo. Ia mau minta obat, ia nampak kecewa. Pikirannya bekerja keras sekali sebab ia tidak sanggup segera memperoleh pemecahan. Ia pun ingat kata-katanya Sin Mo tadi selagi ia mengintai. Sin Mo mengatakan Hong Gwa Sam Mo, ketiga Bajingan --ialah ia dan dua saudaranya--ada orang-orang busuk kaum Bu Lim. Itulah ucapan hebat. Tapi ia toh merasai kebenarannya itu. Sebab mereka bertiga memang bukan orang kaum lurus.

"Benar ! Benar !"

Kemudian katanya seorang diri. Tanpa merasa ia tertawa sendirinya. Karena tertawa ini, ia jadi ingat Hong Kun. Maka ia kata pula di dalam hatinya .

"Aku mesti mencari kepuasan. Kepuasan dari dirinya lain orang ! Aku mesti mendapatkan kesenangan sejati ! Dalam hal itu, aku peduli apa kalau orang mampus habis aku plesiran puaspuasan dengannya ?"

Di saat itu, hatinya si Bajingan Es mirip hati kala.

Begitu ia mendapat pikiran itu, begitu ia berlompat lari buat kembali ke tempat dimana ia telah menyembunyikan Gak Hong Kun.

Tiba di sana, ia melengak.

Di luar dugaannya, ia mendapatkan si anak muda lagi duduk bersila, beristirahat sambil mencoba memulihkan tenaga atau kesegarannya.

"Mungkinkah ada orang membebaskan dia dari totokanku ?"

Peng Mo menerka-nerka di dalam hatinya.

"Benarkah ada orang menolong menyadarkan padanya ?"

Maka ia melihat kelilingan dengan mata dipentang lebarlebar.

Akan tetapi ia tidak melihat siapa juga.

Di situ tidak ada orang lainnya walaupun seorang saja !

"Ah, mungkin dia dapat membebaskan diri sebab dia memang pandai...."

Kemudian si Bajingan Es berbalik pikir.

"Mungkin juga tadi aku menotoknya kurang keras sedangkan dia bertenaga dalam tangguh sekali.........."

Sambil berpikir itu, Peng Mo bertindak menghampiri Hong Kun hingga ia berada disampingnya si anak muda.

Segera ia mengawasi tajam.

Bukan main hatinya tergiur.

Di matanya, anak muda itu tampan sekali.

Ia lantas berduduk disisinya.

Lantas ia seperti lupa segala sesuatu yang tadi memenuhi benak otaknya.

"Saudara Tio !"

Katanya merdu. Ia masih mengira si anak muda It Hiong adanya.

"Kau sudah mendusin, saudara ?"

Hong Kun berpaling.

Dia mengawasi nikouw itu.

Sama sekali dia tidak menjawab.

Bahkan habis itu, dia memejamkan kedua matanya.

Selama itu, tenaganya telah pulih demikian pun kesegarannya.

Maka sambil meram itu dia mengingatingat nikouw disisinya ini.

Orang berwajah cantik dan menggiurkan.

Dia pula ingat yang dia rada-rada mengenalnya.

Dia pun menerka-nerka si nikouw orang dari golongan mana.........

Peng Mo tidak dapat membade apa yang di pikiri si anak muda.

Ia hanya menyangka mungkin anak muda itu masih menderita racun yang tentunya telah merusak tubuhnya bagian dalam.

Maka sendirinya ia merasa sayang........

Nikouw ini juga masih belum dapat membedakan Hong Kun dari It Hiong atau sebaliknya.

Selagi mengawasi si pemuda yang masih terus memejamkan mata, ia mengulur tangannya meraba dada orang.

Lalu sembari menatap ia tertawa dan berkata dengan merubah panggilannya.

"Oh, kiranya saudara Gak --Gak Hong Kun !"

Si anak muda membuka matanya.

"Toasuhu, apakah gelaran sucimu ?"

Demikian tanyanya sambil menatap juga. Si nikouw tertawa.

"Saudara Gak sangat pelupa !"

Katanya.

"Atau mungkin kau tidak memandang mata pada pinni? Bukankah selama diatas gunung Ngo Tay San kita telah mengikat persahabatan ?"

Nikouw ini mengatakan demikian sebab ia tidak tahu ketika itu Hong Kun tengah dipengaruhi obat Tay-siang Hoan Hun Tan hingga kesadarannya terganggu hingga urat syarafnya sangat lemah.

Dia separuh sadar separuh lupa segala apa.

"Oh !"

Kata si anak muda yang tak mau membuka rahasia hal dirinya itu.

"Kiranya kita pernah bertemu satu dengan lain ! Aku pelupaan, Toasuhu. Harap kau maklumi aku. Apakah gelaran tosuhu ?"

Peng Mo melirik tajam, sinar matanya galak sekali.

"Nama suci pinni sudah lama tidak pernah digunakan lagi."

Sahutnya.

"Sahabat-sahabat biasa memanggil pinni dengan sebutan Peng Mo saja."

Hong Kun terkejut di dalam hati. Kiranya inilah salah seorang anggauta dari Hong Gwa Sam Mo. Ia memang pernah mendengar tentang ketiga Bajingan itu.

"Oh, maaf, maaf, Toasuhu !"

Katanya cepat-cepat.

"Kiranya Toasuhu Peng Mo !"

Sementara itu Peng Mo setelah meraba dada si anak muda, mendapat kepastian orang tidak terluka di dalam.

Hanya ia tidak tahu apa racunnya masih mengeram atau tidak di jalan darah.

Ia tertawa manis mendengar kata-kata orang.

"Saudara Gak."

Katanya.

"Selama kau beristirahat barusan, ada apakah yang kau rasai beda dalam tubuhmu ?"

Ia bersikap sangat prihatin. Hong Kun menggoyangi kepala.

"Tidak !"

Sahutnya.

"Terima kasih buat perhatian Toasuhu."

Peng Mo maju lebih dekat, terus ia menggenggam tangan orang.

"Bagus !"

Katanya.

"Dengan sesungguhnya kakakmu berkhawatir terhadap dirimu, saudara."

Lekas sekali si nikouw merubah sebutan dirinya dari pinni --si rahib melarat --menjadi kakak --kakak wanita.

Hong Kun sebaliknya berhati-hati.

Ia tahu kejahatannya Hong Gwa Sam Mo.

Maka ia tidak sudi yang dirinya nanti kena dipengaruhi ketiga Bajingan itu atau oleh si Bajingan Es ini.

Ia pula melihat orang bagaimana centil dan ceriwis.

"Apakah katamu, kakak ?"

Ia tanya. Ia pun lantas merubah panggilan dari Toasuhu menjadi kakak, akan mengikuti cara orang. Sepasang alis lentik dari Peng Mo terbangun.

"Saudara yang baik,"

Dia tanya.

"Kau pernah makan obatnya Gwa To Sin Mo atau tidak ?"

Obat itu dia anggap adalah soal penting.

Mendengar pertanyaan itu, Hong Kun lantas ingat pertempuran dengan Bu Pa.

Ketika itu dia merasa dadanya bergolak hingga hampir mau copot.

Setelah mana ia telah diberi makan sebutir pil, habis mana, redalah pergolakan itu.

Terus ia merasa tenang dan nyaman sedangkan darahnya lantas berjalan dengan lurus.

"Ya, aku telah makan obat."

Sahutnya.

"Tetapi itu bukanlah racun."

Peng Mo tertawa manis.

"Kakakmu pun menerka Sin Mo main gila !"

Katanya.

"Dia rupanya sengaja menggertak kakakmu ini ! Tapi bajingan itu pernah berkatai yang kau saudara selewatnya tiga bulan, kau bakal merasai akibatnya dari obatnya itu........"

Mau tidak mau, Hong Kun terkejut juga.

"Benarkah itu, kakak ?"

Tanyanya.

"Habis apa maksudnya maka si Bajingan tua itu meracuni aku ?"

"Itulah karena ilmu silatmu mengatasi banyak lain orang !"

Kata Peng Mo.

"Kau tahu, puterinya si bajingan tua itu menaruh hati padamu !"

Hong Kun berpikir, terus dia menggeleng kepala.

"Tak mungkin keteranganmu ini, kakak !"

Katanya.

"Aku tidak percaya maksudnya si bajingan tua demikian sederhana !"

Peng Mo mendekati mukanya, akan berbisik di telinga orang.

"Benar, saudaraku. Benar si bajingan yang berkatai aku begitu."

Demikian bisiknya.

"Tapi dia pun memesan aku supaya aku menyampaikan kata-katanya padau. Ialah kapan telah cukup waktunya tiga bulan maka kau harus pergi ke lembah Hok Houw Gay di gunung Tiam Chong San untuk mencari dianya. Itu waktu dia nanti memberikan kau obat pemunah racun. Oleh karena itu saudara yang baik, janganlah kau berkhawatir."

Nikouw ini tidak menyampaikan seluruh pesannya Sin Mo ialah bagian yang Hong Kun dilarang mendekati orang perempuan selama waktu tiga bulan itu.

Sebenarnya Hong Kun pernah makan semacam obatnya Gwa To Sin Mo, obat Pian Sim Wan yang bekerjanya lunak.

Itulah obat "Mengubah Hati."

Biar bagaimana Sin Mo toh orang kaum sesat.

Maka itu dia dapat membuat obatnya yang lihai itu.

Hanya khasiatnya obat itu bukan buat mencelakai si anak muda.

Hanya guna membikin pikirannya berubah supaya dia nanti menurut atau mendengar kata terhadap si Bajingan Sakti.

Hong Kun memikir lain.

Benar tak mau ia percaya perkataannya Peng Mo.

Tetapi ia anggap berhati-hati tidaklah salah.

Maka itu diam-diam ia lantas meluruskan tenaga dalamnya.

Ia ingin memperoleh kenyataan kesehatannya terganggu atau tidak.

Asal saja ada perasaan tidak lurus.

Kesudahannya, ia merasa tidak ada yang kurang dan kesehatannya sempurna sekali.

Kalau toh ada yang kurang lancar itulah dua jalan darah niwan dan cie-hu, tak lebih.

Sementara itu, karena mereka berada sangat dekat satu dengan lain, hidungnya Hong Kun selalu diserbu bau harum dari tubuhnya si pendeta wanita.

Hingga hatinya pun turut berdenyutan saja.

Sulit buat dia mencoba menenangi hatinya itu.....

Detik-detik yang lewat membuat hatinya Hong Kun makIn Goncang.

Hingga akhir-akhirnya tanpa merasa tangannya merangkul pinggang orang yang langsing menyusul mana si nikouw membalas merangkul tubuhnya !

Maka lupalah mereka yang mereka berada di dalam gerombolan rumput dan pepohonan.

Cuma hati mereka yang terus memukul dan dada mereka berombak-ombak.

Kapan bakal tibanya saat yang paling genting, maka diluar semak terdengar suara panggilan berulang-ulang .

"Saudara Tio ! Tio It Hiong ! Sadar ! Sadar !' Itulah suara seperti suara kekanak-kanakan, tetapi bagi sepasang "bebek mandarin"

Itu cukup mengejutkan hati mereka. Suara itu mirip suara guntur yang mengagetkan.

"Ada orang !"

Hong Kun berbisik seraya ia menolak tubuhnya si nikouw.

"Oh !"

Seru Peng Mo tertahan dan masih dia memeluki.

"Saudara Tio !"

Kembali terdengar suara orang memanggil. Suara itu menandakan bahwa orang telah datang semakin dekat dan datangnya dari sebelah kiri.

"Lepaskan tanganmu !"

Kata Hong Kun.

"Jelek kalau orang memergoki kita, malu !"

Peng Mo menjadi tidak puas.

"Peduli apa !"

Katanya mendongkol.

"Cis !"

Dan ia merangkul lebih erat bahkan ia terus mencium pipi orang.

Baru setelah itu, dia melepaskan rangkulannya.

Hong Kun berlompat bangun akan mengebuti dan merapikan pakaiannya.

Lekas sekali, di depannya pemuda itu muncul seorang bocah usia tiga atau empat belas tahun.

Kepalanya besar, mukanya lebar, besar juga mulut dan matanya.

Dia berpakaian serba kuning, kuning juga pedangnya yang di gendol di punggungnya.

"Kaukah saudara Tio It Hiong ?"

Tanyanya selekasnya dia melihat Hong Kun. Hong Kun tertarik gerak gerik bocah itu, yang agaknya rada tolol.

"Siapakah kau ?"

Tanyanya.

"Aku Tong-hong Liang,"

Bocah itu menjawab.

"Kakakku....."

Dengan "kakakku"

Itu, bocah itu maksudkan cie-cie, kakak wanita. Suaranya itu tertahan karena ia melihat Hong Kun pun mempunyai pedang yang panjang.

"Tong-hong Liang !"

Kata Hong Kun keras.

"Kau mencari orang atau meau menggoda saja ?"

Alisnya bocah ini terbangun.

"Kenapa kau berlaku galak ?"

Tanyanya.

"Kalau bukannya kakakku menyuruh aku mencari Tio It Hiong, perlu apa aku datang kemari !"

Ia menatap tajam muka orang, setelah mana ia menambahkan .

"Kau bukannya Tio It Hiong ! Aku salah mencari orang !"

Dan terus dia memutar tubuh dan bertindak pergi.

"Tahan !"

Hong Kun membentak.

"Ada apa ?"

Tanya bocah itu, yang berhenti bertindak dan terus membalik tubuh.

"Kau kata kau mencari Tio It Hiong !"

Kata Hong Kun.

"Ada urusan apakah ?"

"Kau bukannya Tio It Hiong, buat apa aku memberitahukanmu ?"

Sahut si bocah. Hong Kun bercuriga karena orang hanya mencari Tio It Hiong. Ia menjadi tertarik hati. Lalu ia tertawa. Sembari tertawa itu, ia kata manis .

"Saudara Tonghong Liang, akulah Tio It Hiong ! Ada urusan apa kau mencari aku ?"

Kembali Tonghong Liang menatap, terus dia menggeleng kepala.

"Tak dapat kau memperdayai aku !"

Bilangnya. Hong Kun tertawa bergelak.

"Saudara Tonghong Liang, siapakah mau menipumu ?"

Katanya. Kacung itu lagi-lagi menatap.

"Kau tak miripnya dengan Tio It Hiong !"

Katanya.

"Kau memalsukan diri ! Bukankah itu berarti kau menipuku ?"

Di dalam hati, Hong Kun terkejut.

Di luar dugaannya, si bocah dapat mengatakan demikian.

Rahasianya telah dibuka !

Tapi ia tak mau menyerahkan kalah dengan begitu saja.

Bahkan mendadak timbul napsunya membinasakan kacung itu.

Maka dia tertawa dan menanya .

"Kau belum pernah melihat Tio It Hiong, kenapa kau mengatakan aku bukannya dia ?"

Tonghong Liang menunjuk pedang di punggung orang.

"Dengan demikian, kau justru bukannya Tio It Hiong !"

Sahutnya polos. Hong Kun melengak. Tak dapat ia menerka maksudnya bocah itu. Maka ia memikir-mikir, dalam hal apa ia telah membuka rahasianya sendiri.......

"Saudara Tonghong"

Katanya kemudian.

"Kau masih berusia sangat muda, kenapa kau bicara dengan setengahsetengah ?"

"Hm !"

Bocah itu memperdengarkan suara tawarnya. Tibatiba ia menjadi gusar.

"Kau sudah berusia tinggi tetapi kau pun turut bicara ngaco belo !"

Ia pun berhenti sebentar akan mengawasi tajam pedang orang, selang sedetik ia menambahkan .

"Itu pedang di punggungm ! Pedang apakah itu ?"

Baru sekarang Hong Kun sadar. Kiranya orang mengenalinya dari pedangnya itu. Lantas dia bersenyum.

"Jadi kau maksudkan pedang dipunggungku ini ?"

Tanyanya.

"Ya ! Pedang apakah itu ?"

"Keng Hong Kiam !"

Sahut si pemuda setelah berpikir sejenak. Mendadak Tonghong Liang tertawa nyaring.

"Pedang Keng Hong Kiam dari Tio It Hiong berada di tangannya kakakku !"

Dia berkata keras.

"Hahaha!"

Kembali Hong Kun melengak. Tapi sekarang ia ketahui yang It Hiong telah kehilangan pedang mustikanya itu. Lantas ia mendapat satu pikiran. Maka ia tertawa dan kata memuji .

"Saudara Tonghong, kau sangat cerdik ! Memang juga pedangku ini pedang biasa saja ! Dimanakah kakakmu itu ? Bukankah dia memikir hendak mengembalikan pedangku ini ? Benarkah ?"

"Tak demikian mudah !"

Sahut Tonghong Liang tegas. Tampangnya sungguh-sungguh. Gak Hong Kun tertawa.

"Habis, mau apakah kau mencari aku ?"

Tanyanya. Tetap ia mengaku sebagai It Hiong. Alisnya bocah itu terbangun.

"Kakakku bilang, kalau orang dapat mengalahkan dia diujung pedang, baru dia suka mengembalikan pedang itu !"

Sahutnya polos.

"Siapakah kakakmu itu ?"

Hong Kun tanya.

"Apakah namanya ?"

"Tonghong Kiauw Couw !"

Sahut si bocah, tegas dan terang.

"Sungguh sebuah nama yang bagus sekali !"

Hong Kun memuji, tertawa.

"Baik, akan aku cari kakakmu itu buat kita mengadu ilmu pedang !' Tonghong Liang mencibirkan bibirnya.

"Lebih dahulu kau mesti menempur aku !"

Katanya, gagah.

"Kalau kau menang dari aku, baru kau menempur kakakku ! Masih ada waktunya, belum terlambat !"

Justru itu Peng Mo muncul dari dalam ruyuk. Melihat nikouw itu, Tonghong Liang segera berkata pula .

"Kau ada bersama seorang nikouw. Entah apa yang kamu lakukan ! Rupanya kau bukanlah orang baik-baik !"

Mukanya si anak muda menjadi merah dan terasa panas.

Segera berpaling kepada nikouw itu dengan mata mendelik, suatu tanda dia gusar dan menyesal orang.

Peng Mo sementara itu sedang mendongkol sekali karena dia beranggapan Tonghong Liang, si bocah, telah mengganggu kesenagannya.

Lalu haaw amarahnya meluap setelah mendengar si bocah mencari Tio It Hiong buat diajak bertanding pedang dan selanjutnya mendengar Hong Kun mau pergi mencari Tonghong Kiauw Couw, nona kakaknya si bocah.

Mendadak saja ia menjadi iri hati dan jelus.

Celakanya, Hong Kun pun pergi dengan memakai namanya It Hiong !

"Hm !

Hm !"

Dia memperdengarkan suaranya menyaksikan Hong Kun mendelik terhadapnya.

"Siapa yang memergoki kami, apa kiranya dia dapat berlalu dengan hidup ? Hm ! Apakah kau takut ?"

"Dengan sekali mencelat, nikouw ini segera tiba di depannya Tonghong Liang.

"Hei makhluk tak tahu selatan !"

Bentanya.

"Kau mencari mampusmu ya ?"

Menyusul bentakannya itu, tangannya si nikouw sudah lantas melayang ke kepalanya si bocah !

Itulah hajaran yang hebat yang dapat merampas jiwa orang !

Tonghong Liang melihat orang menyerang padanya, ia tidak berkelit.

Hanya segera ia menghunus pedangnya guna dipakai melindungi dirinya.

Dengan satu kelebatan, pedang itu berkilau di depannya menutup dirinya, sinarnya kehijauhijauan !

Peng Mo terperanjat.

Inilah dia tidak sangka.

Syukur dia lantas melihat sinar pedang itu.

Di dalam kaget, dia berlompat mundur.

Dia batal melangsungkan serangannya itu atau lengannya dapat tertebas kutung !

Si kacung berdiri tegak ditempatnya, matanya mengawasi tajam.

Melihat orang mundur teratur, dia tertawa bergelak lalu berkata .

"Kami dari keluarga Tonghong, pedang kami tak nanti membinasakan orang yang tidak bernama atau berjulukan !"

Peng Mo mengawasi dengan melongo !

Entah kapan disimpannya, tangannya kacung itu tidak lagi mencekal pedangnya.

Sebab pedangnya sudah dimasuki pula ke dalam sarungnya.

Baru sekarang dia terkejut dan sadar dan juga ingat kiranya bocah itu menggunakan ilmu pedang keluarga Tonghong yang pernah menggetarkan dunia Kang Ouw yaitu ilmu "Hong Eng Tam Hoa --Bayangan Pelangi Bunga Mega Hitam".

Sementara itu dia jengah, dia malu sekali sebab sebagai salah seorang dari Hong Gwa Sam Mo dia jeri terhadap seorang bocah !

Maka itu, tak dapat dia sembarang mundur pula.

Malah dia memikir buat membinasakan bocah itu !

"Hm !

Hm !"

Dia perdengarkan suara dinginnya.

"Aku Peng Mo, aku mengalah terhadapmu. Siapa sangka kau justru menjadi berkepala besar ! kau berani main gila terhadapku !"

Tonghong Liang pun tidak senang.

"Jika kau tak puas,"

Katanya keras.

"tidak ada halangannya buat kau mencoba-coba pula !"

Tak puas hanya dengan kata-kata, dasar bocah cilik, Tonghong itu membawa kedua tangannya ke depan hidungnya guna mengejek si nikouw itu !

Lupalah Peng Mo kepada dirinya sendiri sebagai nikouw kosen dari tingkat terlebih tinggi, dari tingkat tua.

Maka terlihatlah sifat aslinya.

Dia tertawa dingin.

Lalu sembari tertawa itu dia mengerahkan tenaga dalamnya sampai sembilan bagian sesudah mana dia berlompat maju menghampiri si bocah terus sebelah tangannya menyerang !

Itulah semacam pembokong guna mencelakai si anak tanggung.

Tonghong Liang terkejut sekali.

Tidak ia sangka orang akan menyerangnya pula secara sedemikian licik.

Syukur ia tidak menjadi gugup.

Cepat seperti pertama tadi, ia menghunus pedangnya untuk dipakai menyambut serangan.

Kembali ia menggunakan jurus silat pedang yang tadi "Hong Eng Tam Hoa".

Hanya kali ini ia membabat sambil berlompat mundur supaya ia tak terdesak dan dapat bebas menggunakan pedangnya.

Di lain pihak, si nikouw gagal pula dan kembali mesti berlompat mundur juga !

Sebagai seorang yang usianya masih sangat muda, Tonghong Liong tidak kenal takut.

Ia pun tidak punya pengalaman.

Barusan itu ia tertolong ilmu pedang keluarganya.

Kalau tidak, pasti ia sudah terbinasa di tangannya si nikouw telengas.

Walaupun demikian, tak tahu ia yang ia telah memperoleh keselamatan karena ilmu pedangnya itu yang ia dapat wariskan dengan baik.

"Eh, nikouw, apa kau dapat bikin atas diriku ?"

Tanyanya pada si penyerang.

Peng Mo kaget tetapi pada parasnya ia menunjuki senyuman.

Tak sudi ia yang orang ketahui ia keteter dalam satu gebrakan itu.

Coba ia kurang cepat, tentulah tangannya akan buntung sebelah!

"Mari aku tanya kau."

Katanya.

"Ilmu silat pedang kalian kaum Tonghong apakah cuma yang barusan satu jurus saja ?"

Tonghong Liang menjawab dengan jumawa .

"Apakah kau hendak mencoba jurusku yang kedua ? Aku khawatir darahmu nanti muncrat berhamburan !"

Tepat bocah ini mau menghunus pedangnya atau ia mendengar satu siulan yang rendah dan halus tetapi tajam.

Tidak ayal lagi ia berlompat pergi dan terus lari ke arah dari mana suara itu datang hingga di lain detik ia sudah hilang dari depannya Peng Mo.

Meski juga ia mendongkol, si Bajingan Es toh senang juga dengan kepergiannya bocah itu dengan siapa ia tidak bermusuhan.

Ia membenci cuma disebabkan orang seperti datang menggerocoki menggodanya.

Ia membiarkan orang pergi.

Bahkan itu membuat hatinya lega.

Sekarang ia mendapat pula kebebasannya akan berpelesiran dengan pemuda yang ia gilai.

"Saudaraku yang baik, mari !"

Ia memanggil Hing Kun tanpa menanti sampai ia berpaling pula.

"Mari, jangan kita lewatkan kesempatan kita yang baik ini !"

Baru setelah menutup mulutnya ia menoleh. Hanya kali ini ia menjadi kaget sekali. Hong Kun tidak ada di depannya.

"Ah !"

Serunya kecewa hingga ia menjublak saja. Kemudian ia melihat ke sekitarnya. Benar-benar si anak muda tidak ada disitu. Entah kapan dan kemana perginya dia ! "Kurang ajar !"

Serunya. Saking heran, ia menjadi gusar. Maka disaat itu, lupa ia akan napsu hatinya buat berpesta dengan Hong Kun.

"Hm !"

Ia perdengarkan pula suara gemasnya setelah mana ia berlompat pergi, berlari-lari menuju ke Hek Sek San !

Kiranya Hong Kun melepaskan diri dari Peng Mo karena ia berniat mencari Tonghong Kiauw Couw, si nona gagah seperti keterangannya Tonghong Liang, si bocah yang polos tetapi lihai ilmu silatnya.

Selagi si Bajingan Es melayani bocah itu, diam-diam ia mengundurkan diri untuk bersembunyi.

Ia telah pikir kalau nanti si bocah pergi, ia hendak menyusulnya dengan menguntit supaya ia bisa mencari dan menemui kakaknya bocah itu.

Ia ingin melihat si nona, yang ia juga mesti cantik wajahnya.

Demikianlah sudah terjadi.

Karena mendengar suara siulan, Tonghong Liang kabur meninggalkan si nikouw atas mana Hong Kun pun lantas lari menyusul padanya.

Tujuannya Tonghong Liang ialah pinggang gunung.

Kesana ia lari keras sekali.

Ketika Hong Kun hampir menyandak, dia menjadi heran sekali.

Dia mendapatkan bocah itu mendadak saja berhenti berlari lalu berdiri tegak.

Kemudian ia menghunus pedangnya guna menghadang di tengah jalan !

"Hai, kau bertindak bagaikan memedi.

Apakah maksudu ?"

Demikian bocah itu menegur.

"Kenapa tadi kau bersembunyi dan sekarang kau menguntit aku ?"

Hong Kun berhenti berlari. Ia tertawa.

"Adik kecil"

Katanya.

"toh dapat aku pun mengambil jalan disini ?"

Tonghong Liang mengawasi dengan mata menjublak. Agaknya ia dibingungkan pertanyaan itu. Di tempat umum, memang siapa pun dapat berjalan. Hong Kun melihat kesempatan. Dia tertawa pula.

"Sebenarnya, saudara kecil. Ingin sekali aku melihat wajah cantik kakakmu !"

Kata dia terus terang.

"Dan aku juga memikir buat mencoba ilmu pedangnya ! Itulah sebabnya kenapa sekarang aku menyusul kau ! Aku tidak berbuat salah, bukan ?"

Kata-kata itu membuat si bocah merasa akan kelirunya menghadang orang tanpa sebab.

"Jika kau ingin mengadu silat dengan kakakku, kau mesti dengar kata-kataku !"

Katanya kemudian. Hong Kun maju satu tindak. Dia tertawa.

"Apakah syaratmu itu, adik kecil ?"

Tanyanya ramah.

"Silahkan kau sebutkan ! Buat aku, asal aku dapat melihat kakakmu apa juga yang kau kehendaki, akan aku turut !"

Tonghong Liang mengibaskan pedangnya.

"Bukankah tadi telah aku jelaskan ?"

Katanya.

"Untuk dapat melihat kakakku, kau mesti menangkan pedangku ini !"

Hong Kun menjublak.

"Senjata tajam tidak ada matanya, kau tahu !"

Katanya.

"Aku khawatir tangan kita tak dapat dikendalikan ! Itulah tak baik. Itu dapat merusak persahabatan. Adik kecil, bukankah dapat kita tak usah mengadu pedang ?"

Matanya si bocah dibuka lebar. Tampak dia tidak senang.

"Beranikah kau memandang ringan padaku ?"

Tegurnya.

"Kalau begitu, tidak ada halangannya buat kau menyambut aku barang satu jurus !"

Tanpa menanti suaranya berhenti mendengung, Tonghong Liang sudah berlompat maju dengan satu tikamannya !

Hong Kun tidak sempat menghunus pedangnya.

Keduanya berdiri terlalu dekat satu dengan lain.

Tanah disitu pun tidak rata, banyak batunya.

Pula bergeraknya si bocah terlalu gesit.

Walaupun demikian, dia tak sampai menjadi korban pedang.

Dia bermata awas dan bertubuh lincah.

Pengalamannya bertempur juga banyak sekali.

Maka dia lantas menjatuhkan diri, buat seterusnya bergulingan menyingkir jauh tak peduli tanah tak rata.

Itulah jurus silat "CaCing Bergulingan di Pasir".

Selekasnya sudah terpisah cukup jauh, dia berloncat bangun bagaikan ikan meletik buat terus mencabut pedangnya, buat tanpa istirahat lagi dia maju kepada kacung itu !

Tonghong Liang tidak mengejar orang.

Ia hanya berdiri tegak mengawasi sambil menantikan gerak gerik si anak muda.

Pedangnya dipasang dengan sikap "It Cu Keng Thian--Sebatang Tiang Menunjang Langit".

Dengan satu lompatan tinggi, Hong Kun mencoba menyerang.

Karean ia berlompat, ia jadi turun dari atas ke bawah.

Tonghong Liang tidak merubah sikapnya.

Dengan sikapnya itu ia menyambut lawan.

Itulah bahaya buat kedua belah pihak.

Siapa gagal menyerang atau gagal menangkis, dia bakal menjadi korban ujung pedang.

Hong Kun terkejut.

Kalau kedua senjata mereka beradu.....

Maka ia lantas bergerak cepat.

Di samping pedangnya, ia membarengi menggunakan kakinya, mendupat sikutnya kacung itu !

"Mundur !"

Tiba-tiba terdengar satu seruan nyaring halus !

Berbareng dengan itu, tubuhnya Tonghong Liang mendak terus berlompat mundur karena ia berkelit dengan jurus "Hie Yauw Kim Po --Ikan Menerjuni Gelombang Emas".

Hingga ia bebas dari tendangan dan lolos dari ujung pedang lawan.

Sebaliknya adalah dengan Gak Hong Kun.

Dia bergerak bagaikan ditengah udara.

Dengan dua-dua tangan dan kakinya mengenakan sasarannya, dia kehilangan keseimbangan tubuhnya.

Tidak ampun lagi, dia jatuh ke tanah dimana dia mesti menggulingkan diri kalau dia tidak mau terbanting keras.

Di saat itu, telinganya pun mendengar suara nyaring yang menyusul .

"Orang she Gak, jika kau tidak puas, kau datanglah ke Kin Kiok Hoa Kee !"

Bukan main menyesalnya murid dari It Yap Tojin ini.

Ia tidak kalah dari Tonghong Liang tetapi ia toh kecele.

Karena melayani seorang bocah, ia tidak dapat berbuat banyak.

Lekas-lekas ia berlompat bangun.

Lantas ia menghadapi bocah itu seraya berkata .

"Aku terima tantangan ! Inilah kata-kata janjiku !"

Biar bagaimana juga, Hong Kun penasaran sebelum melihat Tonghong Kiauw Couw atau bertanding dengan nona itu yang ia percaya pasti sangat cantik.

Sedangkan si nona pun memiliki Keng Hong Kiam, pedangnya It Hiong yang lenyap itu.

"Apakah kau tak takut bakal roboh pula ?"

Tanya si kacung, atas mana tanpa menanti jawaban lagi lantas dia memutar tubuh dan ia pergi mendaki bukit !

Hong Kun mendongkol.

Tajam kata-katanya si kacung yang bernada mengejek.

Ia menahan sabar tetapi matanya mendelong mengawasi bocah nakal itu yang lekas juga tampak mirip bayangan saja.......

"Ah,"

Katanya sambil menyeringai.

Ia jengah sendirinya.

Tengah berdiri diam itu, mendadak si anak muda kaget.

Ada tangan yang menekan bahunya.

Hanya belum sempat ia menoleh, jalan darah Yauwhiat-nya terasa tertotok.

Karena itu, tubuhnya menjadi lemas terus ia roboh tak berdaya.

Di saat lainnya, ia merasa ada orang memeluk pinggangnya buat diangkat terus dibawa lari menaiki gunung !

Hong Kun tertotok tanpa pingsan.

Maka itu walaupun ia mati kutunya, otaknya tetap sadar.

Maka ia tahu, ia telah dikuasai Peng Mo, si Bajingan Es.

Ia mendongkol tak terkirakan.

Saking tidak berdaya, ia berdiam saja.

"Saudara yang baik, jangan kau bergusar padaku."

Kemudian Hong Kun mendengar suara yang manis.

"Kakakmu sangat mencintai kau, kau tahu ?"

Berbareng dengan itu, Hong Kun merasai pipinya dicium.

Ia memejamkan mata.

Ia menggigit rapat giginya atas dan bawah.

Saking gusar, ia mencoba menyabarkan diri.

Sementara itu, hidungnya mencium bau yang harum sekali dan pipinya terus merasai tekanan pipi yang halus.

Dasar ialah seorang pemogor, tanpa merasa napsu birahinya telah terbangun.

Peng Mo --demikian orang yang menawan si anak muda--lari terus sampai diatas gunung Hek Sek San.

Disitu tanpa memikir-mikir lagi, dia memasuii sebuah rumah batu, terus kedalam sebuah kamar yang sunyi tetapi cukup perlengkapannya.

"Sungguh tepat !"

Kata si nikouw girang tak kepalang.

"Inilah waktu yang baik dan ini pula tempat yang cocok ! Ya, inilah kamar pengantin kita !' Segera Peng Mo menutup pintu, kemudian ia meletakkan tubuhnya Hong Kun diatas pembaringan. Sesudah itu ia menubruk tubuh orang, untuk dirangkul dan dipeluk terus ! Hong Kun tidak berdaya. Untuk diajak pelesiran, totokan pada jalan darah Yauwhiat telah dibebaskan. Sebaliknya, ia ditotok pula jalan darah bengbun. Karena itu, ia tetapi mesti manda dipermainkan nikouw murtad itu. Kedua orang itu lupa daratan. Maka juga mereka tidak tahu bahwa diluar kamar ada orang yang mengintainya. Bahkan dengan satu timpukan dua butir batu kerikil kecil, yang mengenakan maisng-masing jalan darahnya, lantas saja mereka rebah tanpa berkutik. Orang telah menggunakan "Bie Liap Ta-hoat", ilmu timpukan "Sebutir beras."

Menyusul itu, dari luar kamar itu terdengar satu suara tajam ini .

"Dua orang manusia tak tahu malu ! Nah, kalian bercinta-cintaanlah sampai tiga hari lima malam !"

Lalu terdengar suaranya seorang kacung .

"Bagus kakak ! Timpukanmu jitu sekali !"

Habis itu, sunyilah rumah batu itu.

Demikianlah lakon Hong Kun bersama Peng Mo ketika mereka dipergoki Kiauw In dan Ya Bie.

Hampir saja Nona Cio menyangka Hong Kun itu It Hiong adanya.

It Hiong yang tengah disusul si nona berdua.

Waktu Hong Kun menggunakan kesempatannya mengangkat kaki, di luar rumah ia justru bertemu dengan Ek Jie Biauw, nona yang kedua dari Cit Biauw Yauw Lie.

"Berhenti !"

Demikian si Nona Ek yang kedua membentak si anak muda.

Hong Kun kaget sekali.

Ketika itu dia memang sedang sangat bingung.

Hatinya seperti runtuh.

Dia mengira Kiauw In yang menyusulnya, dengan lantas ia menghentikan langkahnya.

"Nona Cio, jangan......"

Katanya seraya mengawasi orang yang menegurnya itu.

Diantara sinar rembulan yang lemah, ia mendapat kenyataan orang bukannya Kiauw In.

Maka juga ia menghentikan kata-katanya itu setengah jalan.

Ek Jie Biauw pun segera mengenali pemuda she Gak itu.

Orang yang membuat hatinya goncang.

Maka itu ia sudah lantas merubah suaranya yang bengis.

Ia tertawa dan kata .

"Ah, kau! Kau kenapakah ? Mengapa kau menyebut-nyebut Nona Cio ? Kau sangat prihatin terhadap nona itu ya ?"

Juga Hong Kun dengan cepat mendapat pulang ketabahannya.

Ia pula telah bebas dari Thay-saing Hoan Hun Tan.

Sebagai seorang yang berpengalaman, lekas sekali ia dapat menggunakan otaknya.

Maka ia pun tertawa.

"Oh, Nona Ek !"

Katanya.

"Kiranya kau ! Kau membuatku kaget !"

Hong Kun tidak merasa cinta sedikit juga pada Nona Ek tetapi si nona sebaliknya.

Jie Biauw justru sangat terjatuh hati terhadapnya !

Hanya dia pandai sekali membawa tingkahnya, terutama terhadap seorang nona.

Walaupun demikian, selama di dalam lembah Kian Gee Kiap, semua gaya menggairahkan dari Nona Ek, dia tidak tahu menahu karena ketika itu dia masih terpengaruhkan Thay-siang Hoan Hun Tan.

Sekarang dia mengerti yang si nona tergila-gila padanya, lantas dia mau membawakan lakonnya pula.

Buat dia, bermain asmara ada untungnya tak ada ruginya.

Satu hal Hong Kun tidak insaf.

Selagi dia telah sembuh dari Thaysiang Huan Hun Tan dari Im Ciu It Mo, maka sekarang dia terpengaruhkan pil hitam dari Gwa To Sin Mo.

Itulah pil untuk menambah atau untuk membangunkan napsu birahi.

Hingga dengan demikian dia pun menjadi menampak bencana asmaranya yang sesat !

Lantas Hong Kun bertindak mendekati Nona Ek.

"Seseorang tak dapat melakukan sesuatu yang tak benar."

Kata Jie Biauw.

"Kau kata barusan aku membuatmu kaget. Kenapakah ?"

Hong Kun insaf bahwa barusan ia telah keliru bicara, maka ia harus perbaiki itu.

"Nona, keangkeranmu membuatku jeri. Begitulah mendengar bentakanmu, aku jadi kaget......."

Demikian ia bermain sandiwara. Ek Jie Biauw mengawasi, bibirnya dicibirkan.

"Benarkah itu ?"

Tanyanya.

"Benar, nona !"

Sahut Hong Kun cepat.

"Tidak berani aku mendustaimu !"

Sebenarnya Jie Biauw mau lantas menggunakan kesempatannya atau rasa hormat dirinya membuat ia berpikir harus bersabar.

"Masa bodoh kau berdusta atau tidak !"

Katanya manja.

"Namun kau harus ketahui, aku bukanlah si tolol !"

Hong Kun tertawa.

"Terhadap nona pintar sebagai kau, Nona Ek, aku mau mendusta pun tak dapat !"

Katanya. Senang Jie Biauw mendengar pujian itu. Toh ia masih berpura bersikap tawar.

"Sudah, jangan bicara saja !' katanya.

"Sekarang aku mau tanya kau ! Tadi selagi malam gelap dan sunyi, kenapa kau kabur dengan meloncati jendela ?"

Hatinya Hong Kun bercekat.

Itulah pertanyaan yang sulit untuk dijawabnya sebab ia justru berada dalam kedudukan seperti terdakwa yang lagi menanti hukuman.

Tak sudi ia yang rahasianya nanti terbuka.

Tapi ia tidak kekurangan akal.

Setelah berdiam sejenak, ia memperlihatkan wajah lesu dan terus ia menarik napas panjang.

Ek Jie Biauw heran.

Dia menatap.

Sebaliknya dari pada bercuriga atau menanya lebih jauh, dia justru berkhawatir si anak muda menjadi tidak senang hati.

Maka dia tertawa dan kata .

"Eh, kau kenapakah ? Aku paling tidak menyukai orang yang saban-saban menarik napas panjang pendek...."

Hong Kun puas mendengar kata-kata si nona. Kembali ia ketahui kelemahan nona itu.

"Kau tidak tahu, adik !"

Katanya yang terus merubah panggilan dari nona menjadi adik.

"Tadi itu aku kabur melewati jendela sebab aku bertemu dengan musuh. Ah !"

Ia berhenti sejenak, baru ia menambahkan .

"Tidak kusangka di Hek Sek San ini, suatu tempat yang tertutup, orang toh berani mendatanginya ! Aku maksudkan musuhku !"

"Siapakah yang kau ketemukan itu ?"

Jie Biauw tanya. Dia tertarik hati.

"Dialah Cio Kiauw In dari Pay In Nia."

Hong Kun menjawab terus terang. Ia mengasi lihat tampang masih jeri..... Jie Biauw tertawa.

"Ah, kenapa kau begini takuti dia ?"

Mukanya Hong Kun merah, separuh benar-benar malu, separuh berpura.

"Itulah sebab dia datang bukan sendiri saja."

Sahutnya.

"Dia datang entah bersama berapa banyak kawan.."

Jie Biauw mengawasi.

Mau ia percaya yang pemuda ini takut benar-benar.

Karena ini, ia lantas tertawa.

Ia tertawa terpingkal-pingkal.

Ia tahu halnya It Hiong berdua Ya Bie membantu Kiauw In dan malah ia pernah menempur pemuda itu yang tadinya ia sangka Hong Kun adanya !

Ia tertawa sebab ia pikir inilah saatnya untuk menarik hati orang agar orang roboh dalam rangkulannya !

Hong Kun mengawasi.

Ia mau menangkap hati orang.

Jie Biauw bersungguh-sungguh atau berpura-pura.

Ia bersangsi sebab ia ingat ia sendiri paling bisa membawa lagak.

Si puteri malam terus bergesr ke arah barat.

Makin laru malam, makin bersinar cahanya yang indah.

Kedua muda mudi ini bermandikan cahayanya si puteri ini.

Suasana di sekitar mereka sangat sunyi.

Itulah saat paling tepat buat bermain asmara.

Tiba-tiba Jie Biauw yang lagi tertawa, menghentikan tawanya itu.

"Siapa ?"

Bentaknya, matanya mengawasi ke samping dimana terdapat sebuah pohon.

Tidak ada jawaban, hanya tampak sesosok tubuh bagaikan bayangan berlompat turun dari atas pohon itu terus dia berdiri sejauh dua tombak dari hadapan si muda mudi.

Tetap dia tidak bersuara.

Gerakan gesitnya itu membuat Hong Kun dan Jie Biauw heran.

Hong Kun berlaku tenang mengawasi orang itu yang mengenakan pakaian warna gelap dan potongannya singsat.

Rambutnya dikundiakan tinggi, punggungnya menggendolkan sebatang pedang.

Yang menyulitkan ialah separuh mukanya ditutup jalan hingga tampak alis dan matanya saja.

Jelas dialah seorang wanita.

Dan jelas pula, dia bermuka potongan telur serta tubuhnya langsing, tinggi dan rendahnya sedang sekali....

Hong Kun melengak, hingga ia hampir lupa segala apa.

Wanita itu terus mengawasi Ek Jie Biauw terus kepada si pemuda dan dia mengawasi si anak muda sekian lama.

Sikapnya itu segera membangkitkan jelusnya Jie Biauw hingga dia ini lantas menghunus pedangnya.

"Hei, budak hina. Darimanakah kau datang ?"

Demikian tegurnya.

"Lekas kau sebutkan she dan namamu ! Di Hek Sek San ini tak dapat kau banyak tingkah !"

"Hm !"

Terdengar suara perlahan dari wanita itu yang terus menengadah langit, mengawasi si puteri malam. Kemudian dia menambahkan .

"Kiranya Tio It Hiong yang namanya menggetarkan dunia Kang Ouw toh dapat secara diam-diam melakukan ini macam perbuatan buruk yang memalukan !"

Kata-kata itu disusul dengan gerakannya mencabut pedangnya juga hingga pedangnya itu bergemerlapan diantara sinar rembulan.

Sebab pedang itu ialah pedang Keng Hong Kiam kepunyaannya Tio It Hiong !

Dua-dua Ek Jie Biauw dan Gak Hong Kun mundur beberapa tindak.

Si nona mengawasi lagak orang, dia tertawa.

"Kalian takut ?"

Katanya.

"Apa yang harus ditakuti ? Nonamu tak sudi bertempur dengan kalian!"

Suara itu terang dan jelas, polos nadanya.

Habis itu, si nona memasuki pula pedangnya ke dalam sarungnya.

Mungkin dia lupa bahwa sikapnya ini sikap yang kurang tepat.

Suatu pantangan dalam kalangan persilatan.

Itulah sikap memandang rendah !

Hong Kun dan Jie Biauw merasa tersinggung.

Barusan mereka bukannya takut hanya ragu-ragu.

Sekarang mereka bergusar.

Si pemuda sudah lantas menghunus pedangnya.

"Tutup bacotmu !"

Bentaknya. Si nona mengawasi pemuda itu. Ia tertawa.

"Pedangmu itu apa khasiatnya ?"

Tanyanya.

"Bahkan dihunusnya itu membuat orang tertawa. Memalukan saja ! Mana dapat pedangmu itu dibandingkan dengan pedangnya nonamu ini ?"

Memang nona itu ialah nona Tonghong Kiauw Couw.

Dia menghunus Keng Hong Kiam bukan untuk menantang berkelahi.

Dia sengaja memperlihatkan pedangnya itu guna menguji si anak muda itu siapa sebenarnya.

Kalau dia Tio It Hiong, melihat pedangnya sendiri pasti Tio It Hiong tertarik dan akan menanya atau meminta pulang pedang mustikanya itu.

Siapa tahu, Hong Kun berdiam saja mengenai pedang itu, bahkan dalam murkanya dia menghunus pedangnya sendiri.

Di luar dugaan Nona Tonghong, kata-katanya itu membuat muda mudi di depannya menjadi gusar sekali.

Secara mendadak, si nona maju untuk menebas pinggangnya.

Saking mendongkol, Ek Jie Biauw berniat mengutungkan pinggang orang.

Maka juga dia menyerang secara tiba-tiba itu.

Memangnya dia bersama-sama enam saudaranya tersohor telengas.

Mereka kaum sesat.

Tonghong Kiauw Couw melihat datangnya serangan.

Dengan mudah saja ia berlompat mundur.

Berlompat seraya memutar tubuh.

Ia tidak menghunus pedangnya, tak mau ia membalas menerjang.

Ia malah tertawa.

"Sungguh telengas !"

Katanya singkat.

Belum berhenti kata-kata itu mendengung atau satu serangan lainnya.

Kali ini dari Hong Kun sudah menyusul.

Sinar pedangnya berkelebat diantara cahaya rembulan.

Itulah tikaman ke arah dada.

Manis sekali Nona Tonghong berkelit pula.

Ujung pedang lewat disisi iganya.

Masih ia tidak mau membuat perlawanan.

Karena gerakannya muda mudi itu, dengan sendirinya mereka menjadi berada di depan dan belakangnya nona yang mereka serang itu.

Karena serangan mereka gagal, lantas mereka mengulanginya.

Kali ini si nona menjadi terkepung di dua arah.

Dan kali ini, bangkit jugalah hawa amarahnya.

Ia menganggap orang keterlaluan.

Ia bersilat dengan ilmu silat warisan, namanya "Loan Hoa Kong Sie --Bunga Berserabutan, Sutera Awut-awutan".

Ia bergerak sangat gesit dan lincah.

Tubuhnya bagaikan gerakan ular diantara pelbagai tikaman.

Sementara itu, ia pun berpikir.

"Kenapa pemuda ini begini membenci aku ? Apakah ini disebabkan aku telah curi pedangnya ? Ah, mungkinkah dia benar Tio It Hiong ?"

Mengingat pemuda she Tio ini, otak si nona menjadi bekerja keras sekali.

Dialah seorang nona muda belia yang baru mulai mengenal asmara, maka dia cuma mengenal cinta, lainnya tidak.

Dia tak tahu cinta itu banyak liku-likunya, lebih banyak duka cintanya daripada suka cintanya....

Justru karena berpikir demikian, tanpa merasa Kiauw Couw berayal sendirinya.

Dan justru begitu, pedangnya Hong Kun meluncur hebat padanya !

Itulah ancaman maut !

Bukan main kagetnya Nona Tonghong.

Syukur ia tidak menjadi gugup.

Sambil memaksa berkelit, ia membarengi menghunus pedangnya dengan apa ia menyampok pedang lawan hingga pedang mereka beradu keras hingga percikan apinya beterbangan.

Di lain pihak, saking kerasnya bentrokan, mereka sama-sama terhuyung mundur setengah tindak masing-masing !

Tonghong Kiauw Couw menjadi heran hingga ia mengawasi pedang si anak muda.

Bukankah ia menggunakan pedang mustika Keng Hong Kiam ?

Kenapa pedang lawan tidak terbabat kuntung ?

Maka itu, tentunya pedang lawan pun pedang mustika.

"Benarkah dia Tio It Hiong ? Kalau benar, darimana ia memperoleh lain pedang mustika pula ?"

Demikian si nona berpikir.

Ia ingat ketika ia mencuri pedang dengan membiuskan It Hiong sampai It Hiong tak sadarkan diri.

Sekarang ternyata, kepandaiannya It Hiong ini pun lihai.

Dia melihat pakaian, raut muka dan potongan tubuh yang tak berbeda....

"Aneh !"

Demikian pikirnya, pusing.

Ia pun orang asing untuk dunia Kang Ouw, maka ia kurang pengalamannya.

Pasti ia tidak ketahui yang pedangnya Hong Kun ialah pedang mustika Kie Koat Kiam kepunyaannya Teng It Beng si sahabat yang mengolah wajah orang hingga menjadi sangat sama dengan wajahnya It Hiong.

Ia boleh cerdas dan cerdik tetapi dalam hal ini, kecerdasannya tak menolong padanya.

Selagi orang berdiam itu, Ek Jie Biauw maju menyerang.

Tonghong Kiauw Couw melihat tibanya serangan, ia berkelit.

Ia tidak memikir akan melayani nona itu.

Ia hanya ingin menempur Hong Kun guna ia mencari kepastian tentang dirinya si anak muda.

Tapi Jie Biauw mendesaknya, terpaksa ia meladeni juga.

Disamping itu, Hong Kun juga maju lagi.

Segera setelah Nona Tonghong mendongkol sekali, Jie Biauw tidak dapat bertahan lama.

Dengan satu tebasan, pedangnya kena terbabat kuntung atau babatan lainnya membuat ia memegangi saja gagang pedangnya !

Baru sekarang dia kaget dan lompat mundur, keringat dingin membasahkan tubuhnya.

Sementara itu Hong Kun yang cerdik lantas dapat menerka siapa nona ini.

Ia pun mengenali pedang orang.

Maka akhirnya ia tertawa terbahak-bahak.

"Oh, nona. Adakah kau Nona Tonghong Kiauw Couw ?"

Sapanya.

"Maaf, nona, maaf. Aku telah berlaku kurang hormat !"

Kiauw Couw heran. Ia lantas mengawasi.

"Kau siapakah ?"

Tanyanya saking herannya itu. Hong Kun tertawa.

"Akulah aku, nona !"

Sahutnya.

"Nona sudah tahu, buat apa nona menanyakannya ?"

Ek Jie Biauw heran menyaksikan dua orang itu berbicara.

Sejak tadi dia berdiam saja sebab kutungnya pedangnya.

Sekarang dia dibingungkan gerak geriknya dua orang itu.

Mengenai Hong Kun, dia mendapat kesan kurang baik.

Hong Kun tidak membantu dia hanya Bicara sambil tertawa-tawa.

Tiba-tiba saja muncul iri hatinya.

Jilid 57

"Cis !"

Serunya, membentak si nona.

"Budak hina dina ! Bagaimana kau berani datang ke Hek Sek San ini guna memancing laki-laki ? Sungguh perempuan lacur tidak punya muka !"

Tonghong Kiauw Couw heran, dari heran ia menjadi mendongkol.

"Kenapa kau menggunakan kata-kata kasarmu ?"

Tegurnya.

"Bukankah kita sama-sama wanita?"

Jie Biauw tidak mempedulikannya.

"Kalau kau bukan hendak mencuri laki, buat apa malammalam kau datang kemari ?"

Dia balas bertanya. Hatinya Nona Tonghong menjadi panas.

"Siapa kesudiaan bicara denganmu !"

Bentaknya.

"Kau mementang dan menutup mulut, selalu kau menyebut-nyebut orang laki-laki ! Bagaimana hebat kau memfitnah orang !"

Jie Biauw tertawa kering berulang kali. Dia menunjuk Hong Kun.

"Kau tentunya menganggap dirimu putih bersih !"

Katanya.

"Tetapi kenapa kau justru hendak menculik pria ini ?"

"Maksudku tak lain tak bukan hendak aku mendapat kepastian tentang diri dia !"

Sahut Nona Tonghong.

"Aku ingin ketahui, dia Tio It Hiong atau bukan !"

Segera Hong Kun mendahului Jie Biauw.

"Akulah Tio It Hiong !"

Katanya nyaring.

"Nona Tonghong, ada apakah petunjukmu untukku ?"

Belum lagi Tonghong Kiauw Couw memberikan jawabannya atau mengatakan sesuatu, tiba-tiba seseorang telah menyelanya, menyela dengan suaranya yang nyaring .

"Oh, kakak Hiong. Kiranya kau disini ! Kau membuat aku bersusah payah mencarimu !"

Dan orangnya pun segera muncul.

Seorang Nona Tanggung yang tangannya memegangi seekor ular hidup, sebab dialah Ya Bie !

Gak Hong Kun dan Nona Tong Hong menjadi dibuat heran karenanya.

Keduanya lantas berpaling, mengawasi nona yang baru tiba itu.

Ya Bie tidak menghiraukan sikap orang, habis mengawasi ketiga orang disitu, ia bertindak maju ke arah Jie Biauw dan Kiauw Couw terus ia menatap mereka, untuk akhirnya berkata .

"Kiranya kamulah berdua yang selalu mengikat kakak Hiong !"

Kemudian ia bertindak ke arah Hong Kun.

Kiauw Couw heran sekali.

Ia tak kenal Nona Tanggung itu hingga ia tak tahu orang dari kalangan mana.

Ia pun heran karena melihat si nona dapat menjinakkan ular beracun.

Maka selama itu, ia mengawasi dan mendengari saja kata-kata orang.

Tidak demikian dengan Ek Jie Biauw.

Tidak saja ia tahu nona itu bahkan ia mengenalinya.

Sebab selama di ruang besar dari kamar batu di Kian Gee Kiap, berdua mereka pernah bertempur hingga ia mengerti baik juga lihainya si ular hijau di tangannya si nona cilik !

Walaupun demikian, hatinya telah panas.

Ketika itu saatnya ia untuk dapatkan Hong Kun guna mempuasi hatinya.

Siapa tahu sudah muncul Nona Tonghong.

Sekarang muncul juga ini bekas lawan.

Ia jadinya sangat terganggu.

Sikapnya Ya Bie pula membuat kegusarannya meluap, hingga timbullah niatnya membinasakan nona itu.

Beberapa kali ia memperdengarkan suara tawar "Hm !"

Dan matanya mengawasi tajam.

Ya Bie tidak menerka apa yang orang pikir, ia maju mendekati.

Jie Kiauw menanti sampai orang sudah datang dekat sekali.

Mendadak ia mengayun sebelah tangannya, menyerang dengan serangan tipu Tauwlo-ciang, mengarah jalan darah sin-ciang dari si nona !

Mereka berdua berada dekat sekali satu dengan lain, seranganpun serangan bokongan yang hebat.

Bahkan Ya Bie tidak menyangka sama sekali.

Walaupun ia sangat gesit, ia tak sempat berkelit.

Maka kagetlah ia, hingga sendirinya ia memperdengarkan jeritannya yang halus tapi tajam dan panjang yang membuat hati orang goncang.

Itulah suara dahsyat bagaikan burung malam yang memperdengarka suaranya selagi terbang di tengah udara.

Dengan sendirinya, jeritan itu merupakan jeritan ilmu Hoan Kan Bie Cin dari Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Jie.

Tak pernah Jie Kiauw mendengar suara seperti itu, hatinya goncang seketika.

Bahkan matanya pun menjadi seperti kabur.

Ia melihat tubuhnya Ya Bie tercipta menjadi sebuah batu besar dan serangannya mengenai batu besar itu.

Ia kaget hingga ia mengawasi dengan melengak !

Tangannya pun sudah lantas ditarik pulang.

Ya Bie mundur tiga kaki untuk berkelit.

Dengan begitu, bebaslah ia dari serangan maut itu.

Tapi itu belum semua, jeritannya itu seperti juga ia memanggil kawannya yaitu So Hun Cian Li, si orang utan yang besar.

Tonghong Kiauw Couw heran hingga dia mementang lebarlebar matanya menyaksikan gerak gerak aneh dari Ya Bie....

Ek Jie Kiauw penasaran.

Habis melengak ia maju pula akan mengulangi serangannya.

Maka Ya Bie melayaninya.

Begitulah mereka berdua bertempur di depannya Hong Kun.

Demikian juga Nona Tonghong jadi turut menonton.

Jie Kiauw repot juga ketika Ya Bie menggunakan ularnya sebagai senjata.

Tak berani ia menangkis dengan tangannya sedangkan ia berkelahi tanpa genggaman.

Terpaksa ia main berlompatan ke kiri dan kanan atau mencelat mundur.

Hingga ia menjadi pihak yang terdesak.

Karena ia menang di atas angin, Ya Bie tidak mau berlaku sungkan lagi.

Ia mendesak hebat, ularnya mengangkat kepalanya dan mengulur-ulurkan lidahnya yang tajam dan beracun.

Sedangkan matanya yang merah bersinar bengis menakutkan !

Setiap saat lidah itu dapat memagut sasarannya.........

Oleh karena ia terus main mundur, sendirinya Jie Kiauw mendekati Hong Kun.

Ia menerka, pastilah si anak muda bakal turun tangan membantunya.

Atau sedikitnya anak muda itu bakal menyela disama tengah, guna memisahkan mereka berdua.

Tapi Hong Kun berpikir lain.

Dia justru lagi memperhatikan Tonghong Kiauw Couw.

Kecantikan nona tiu dan tubuhnya yang ramping sangat membuatnya kesengsam.

Ia pula sangat mengagumi ilmu pedang nona itu.

Mak itu, ia seperti tidak dengar atau melihat jalannya pertempuran diantara kedua nona itu....

Untuk selalu mundur, Jie Kiauw mundur memutarkan Hong Kun.

Ia heran bukan main mendapat kenyataan si anak muda tidak menghiraukannya.

Bahkan ia tidak menjadi puas waktu ia mendapat kenyataan pemuda pujaannya itu justru sedang asyik memperhatikan Nona Tonghong !

Dalam bingungnya, Jie Kiauw berpeluh pada dahinya.

Ia jadi berpikir keras sekali.

Dasar ia cerdik, tiba-tiba ia ingat sesuatu.

Begitulah ketika Ya Bie menyerang pula, ia berlompat kepada Hong Kun.

Itulah loncatan "Rase Lompat dari Sarangnya".

ketika itu Hong Kun yang lagi mengawasi si nona Tonghong sudah menurunkan pedangnya hingga ujung pedang nempel pada tanah di kakinya.

Itulah pedang yang diarah Nona Ek, yang mau merampasnya guna membela diri, buat melawan terus musuhnya dan kedua membikin si pemuda kehilangan pedangnya hingga mungkin dia terkejut.

Pemuda she Gak itu kaget sekali ketika tahu-tahu pedangnya telah kena orang rampas, karenanya ia sadar dari lamunannya.

Ia lantas mengenali Jie Biauw, siapa dengan bersenjatakan pedang lantas tak main mundur pula, malah dia mencoba akan balik mendesak Ya Bie.

"Tahan !"

Teriak si anak muda.

Baca Juga: Kuda Putih 4

Baca Juga: Si Rase Terbang Pegunungan Salju Chin

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert