Eps 14 Iblis Sungai Telaga - Khu Lung
Baca online Iblis Sungai Telaga - Khu Lung
Cersil Iblis Sungai Telaga - Khu Lung.
Tiba-tiba saja titik-titik itu mendatangkan rasa nyeri yang terlebih hebat, nyeri hampir sukar tertahankan, maka dengan tangan kirinya memegangi tangan kanannya itu, tubuhnya terus limbung dan mundur terhuyung-huyung.....
Sam Biauw kaget sekali.
Dia lompat kepada saudaranya itu, untuk memegangi tubuhnya agar jangan roboh.
Ia lantas saja ketahui bahwa kembali pihaknya kena dirugikan !
Sudah gurunya, sekarang saudari seperguruan ini terkena racun lawan !
Selama detik-detik lewat, mendadak Su Biauw roboh untuk tak sadarkan diri !
"Kau kejam !"
Teriak Sam Biauw pada In Go, matanya menyala saking gusar. Orang yang ditegur sebaliknya tertawa.
"Budak itu sangat bermulut besar !"
Sahutnya, seenaknya saja.
"Aku beri rasa sedikit padanya ! Inilah tepat sebagai ganjaran !"
Im Ciu It Mo bingung tak kepalang. Kembali roboh korban dipihaknya. Mana dapat ia bertahan lebih lama ? Maka ia harus memutar haluan, buat memutar arah layar ! "Sin Mo !"
Lalu katanya terpaksa pada lawannya itu.
"benar apa katamu barusan ! Kita memang asal satu golongan ! Kalau kita bertempur terus, itu cuma-cuma akan merusak kerukunan kita ! Ya, paling benar mari kita saling menukar obat kita.........."
Gwa To Sin Mo tertawa nyaring.
"Jika kau masih mempunyai kepandaian yang lainnya, tak ada halangannya buat kau pertunjukan terlebih jauh !"
Katanya, tawar.
"Lohu selalu bersedia untuk menontonnya !"
Sengaja dia menggunakan kata-kata "lohu"
Sebagai penggantiannya "aku".
Im Ciu It Mo mengendalikan dirinya.
Dia tidak menjawab, hanya dari sakunya dia menarik keluar sebungkus obat bubuk, selekasnya dia sudah memeriksanya teliti, dia melemparkan itu kepada lawannya.
Tapi dia tidak mau kalah aksi.
Sembari menyerahkan obatnya itu, dia kata seenaknya .
"Aku si perempuan tua, aku bersedia berlaku murah hati, lebih dahulu aku menyerahkan obatku padamu !"
Sin Mo sudah lantas menjambret bungkusan obat itu, akan dengan sama cepatnya membukanya.
Tanpa ragu pula, sebungkus obat itu ia masuki ke dalam mulutnya, buat segera dikunyah dan ditelan !
Habis itu, ia pun merogoh sakunya, akan mengeluarkan obatnya, sembari melemparkan itu pada Ek Sam Biauw, ia kata .
"Lekas kau kasih makan obat ini pada bocah itu !"
Kemudian ia kembali duduk, akan berdiam saja, buat beristirahat sambil menyalurkan tenaga dalamnya.
Dengan demikian, ia belum memberikan obatnya yang terakhir pada It Mo.
Sam Biauw menyambuti sebutir obat merah, terus ia jejalkan itu ke dalam mulut adik seperguruannya.
Selama itu, It Mo terus diam menonton saja.
Ia tahu diri, ia membungkam.
Ia kalah unggul, terpaksa ia mesti menyerah.
Ia membiarkan Sin Mo mempermainkannya.
Ia tahu sengaja Sin Mo berbuat demikian, kesatu buat menggoda atau mempermainkannya, kedua agar dia memiliki ketika akan menyembuhkan diri dahulu.
Sin Mo berpatokan .
"Lebih baik aku mencelakai orang, jangan orang mencelakai aku !"
Sebab dia ingin selamat.
It Mo duduk berdiam terus, pikirannya tetap kacau.
Sebelum mendapat obat tak sanggup ia menentramkan hatinya.
Ia juga memikirkan laporan muridnya tadi, murid itu sebenarnya mengabarkan hal adanya orang mengacau di dalam guanya itu.
Ia sudah pikir, begitu ia mendapat obat dari Sin Mo, baru ia mau meninggalkan guanya itu.
Maka itu, selama itu seluruh ruang menjadi sangat sunyi.
Tidak lama, Su Biauw sudah siuman.
Dia berdiam menyender pada bahu Sam Biauw, kakak seperguruannya itu.
Dia perlu beristirahat.
Bu Pa dan In Go menempati diri di kiri dan kanan gurunya, guna melindungi guru itu.
Mata mereka dipasang tajam, buat sesuatu kejadian yang tak diingini.
Belum terlalu lama maka ruang yang sunyi itu telah kedatangan sesosok bayang hitam, yang mulanya berloncat masuk dalam rupa segumpal cahaya terang.
Bayangan itu lantas berdiri tegak ditengah ruang besar itu, matanya lantas menatap semua hadirin.
Di akhirnya, dia menghadapi Im Ciu It Mo dan tertawa gembira.
"Eh, Im Ciu, perempuan tua !"
Demikian tegurnya kemudian.
"perempuan tua, apakah kau tak menyesalkan aku yang aku datang secara tiba-tiba ini, tanpa melaporkan dan meminta perkenan lagi dari kau ? Apakah aku tidak lancang ?"
Orang asing itu tertawa geli, agaknya dia jenaka.
Segera juga semua orang melihat tegas pada tetamu yang tidak diundang itu.
Dia kiranya seorang ni-kouw atau pendeta wanita kaum agama Hud Kauw, yang usianya baru tiga puluh tahun.
Dia mengenakan jubah suci tetapi dipinggangnya tergantung sepasang pedang, alisnya lentik.
Maka dialah seorang pendeta yang cantik, yang nampak rada centil.....
Im Ciu It Mo mengawasi dengan melongo.
Ia mencoba mengerahkan tenaga dalamnya.
Setelah itu ia tertawa dingin berulang-ulang .
"Hm ! Hm !"
Terus dia berkata .
"Oh, kiranya Peng Mo Nikouw yang terhormat yang datang berkunjung ! Ah, kenapakah muridku yang mengawal pintu lalai sekali ? Kenapa dia tidak terlebih dahulu datang melaporkan padaku ? Maafkan aku si perempuan tua, aku jadi tak dapat menyambut sebagaimana mestinya, aku menjadi kurang hormat !"
Im Ciu It Mo bukannya jeri terhadap Peng Mo si Bajingan Es, kalau toh dia berlaku demikian merendah, ini disebabkan keadaannya yang sulit itu.
Selagi tubuhnya belum bersih dari sisa racun, Sin Mo pun belum berlalu dari guanya itu.
Ia pun heran yang Peng Mo bisa masuk secara demikian mudah ke guanya yang sangat terahasia itu.
Pula Peng Mo bukanlah tamu yang disukai olehnya !
Peng Mo tertawa dan kata .
"Pengawal pintumu itu bukannya gemar memain dan lalai, dia hanya si kantung nasi ! Dia terlalu tolol !"
It Mo tidak lantas menjawab, dia hanya berpikir .
"Hong Gwa Sam Mo belum pernah berpisah satu dari lain, sekarang Peng Mo muncul seorang diri, mestinya Hiat Mo dan Tam Mo Tosu lagi bersembunyi atau menantikan diluar......"
Tapi tak dapat ia berdiam saja, apa pula terlalu lama, maka ia lantas berkata .
"Peng Mo, kalau kau ada urusan, kau bicaralah !"
Peng Mo tertawa geli.
"Apakah aku mesti mengatakannya pula ?"
Dia balik bertanya.
"Pinni datang kemari guna mencari dan menyusul Gak Hong Kun !"
Gak Hong Kun belum pulang ke Kian Gee Kiap Kok, yang datang bersama Sin Mo ialah Tio It Hiong, akan tetapi si Bajingan Es ini keliru mengenalinya.
Mendengar itu, It Mo mengerti akan kekeliruannya kenalan itu.
Tapi sengaja ia kata .
"Peng Mo, kenapa kau begini menggilai orang laki-laki ? Dengan perilakumu ini, mana dapat kau menuntut penghidupan sucimu, untuk menghadap San Buddha nanti ?"
Matanya Peng Mo mendelik.
"Jangan ngoceh tidak karuan !"
Bentaknya.
"Itulah bukan urusanmu ! Mana dia Gak Hong Kun?"
Dari dalam ruang itu, dari arah sebuah kursi, terdengar ini suara nyaring .
"Suhu sekalian bukankah orang sesama golongan ? Ada urusan apakah maka kalian sampai berselisih begini ?"
Itulah suaranya Sin Mo, yang setelah lewat sekian waktu itu merasa kesehatannya sudah pulih.
Ia kurang puas sebab Peng Mo garang sekali.
Ia tidak tahu yang It Mo dan Peng Mo bukannya bermusuh hanya mereka lagi memperebuti seorang pria !
Peng Mo berpaling mengikuti suara pertanyaan itu, maka ia melihat seorang tua yang tampangnya bersih tetapi matanya tajam, yang lagi duduk dengan diapit dua orang pria dan wanita, yang ketiga-tiganya asing baginya.
"Siapakah kau, lo-sicu ?"
Ia tanya Sin Mo.
"Cara bagaimana kau berani usil urusannya Peng Mo?"
Sin Mo tetap duduk dengan tenang dikursinya itu.
"Gelaran lohu ialah yang orang luar sebut Gwa To Sin Mo,"
Ia memperkenalkan dirinya.
"Kalau lohu sampai berani mencampur bicara, maksudku tak lain tak bukan keculai mengharap kalian janganlah merusak kerukunan..........."
"Hm !"
Peng Mo memperdengarkan suara dingin.
"Tapi baiklah kalau Losicu sudi memberikan pertimbanganmu, nanti aku jelaskan duduknya perkara."
It Mo mendengari pembicaraan dua orang itu, dia tak puas.
Dia pun bingung.
Sin Mo sudah makan obatnya, dia sembuh dan kesehatannya pulih seluruhnya.
Dia sebaliknya.
Di pihaknya, bahkan Su Biauw keracunan juga.
Itulah tidak menguntungkan baginya.
Ia pula perlu pertolongannya Sin Mo.
Bagaimana kalau Sin Mo sampai bentrok dengan Peng Mo ?
Bukankah urusannya bakal jadi rusak ?
Ia bisa celaka karenanya !
Maka dalam bingungnya, dia lantas campur bicara.
"Eh, sahabat Sin Mo !"
Demikian dia menyela.
"apakah kau masih takut aku si orang tua nanti memperdayaimu ?"
Gwa To Sin Mo bersenyum. Ia dapat membaca hati orang. Maka lantas ia merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa buah butir pil, sembari menyerahkan itu pada In Go, ia kata .
"Kau bagi rata obat ini pada mereka itu berdua !"
It Mo dan Su Biauw menyambuti obat, terus mereka menelannya, habis itu, keduanya terus duduk berdiam bagaikan tengah bersamadhi.
Peng Mo menonton, dia heran.
Ada urusan apa diantara kedua belah pihak ?
"Kalian lagi bikin apa ?"
Tanyanya, saking herannya. Gwa To Sin Mo merasa tak leluasa buat menuturkan duduknya hal yang sebenarnya, ia tertawa dan kata .
"Bukankah suhu datang kemari mencari orang ? Kenapa suhu tidak mau segera mencarinya ? Ha ha ha ! Lohu mau pergi !"
Begitu dia berkata, begitu Sin Mo berbangkit, terus dia mengajak In Go dan Bu Pa bertindak pergi.
Peng Mo menerka-nerka mendengar suaranya Sin Mo itu.
Bukankah itu petunjuk bahwa orang yang ia lagi cari berada di dalam gua itu ?
Maka itu, tanpa mempedulikna orang berlalu, ia lantas mengawasi It Mo bertiga bersama muridnya itu.
It Mo lagi menyalurkan darahnya, begitu juga Su Biauw.
Adalah Sam Biauw yang berdiri menemani mereka itu berdua.
Dia berdiam saja, tetapi dia mendapat firasat bahaya yang mengancam mereka.
Tadi dia telah melihat sikap garang dari Peng Mo.
Maka itu diam-diam dia mengawasi gerak geriknya si Bajingan Es.
Dia juga tak menghiraukan lagi kepergiannya Sin Mo bertiga.
Habis mengawasi orang, Peng Mo bertindak menghampiri It Mo.
Dia berjalan pelahan-lahan.
Setelah datang dekat, sambil memperlihatkan senyuman aneh, dia kata .
"Jiwa gurumu bersama jiwa kamu berdua berada di dalam tanganku, oleh karena itu jika kau tahu gelagat, lekas kau bicara secara terus terang ! Bilanglah dimana adanya Gak Hong Kun sekarang ! Kau mengerti ?"
Sam Biauw cerdik.
Tak mudah ia dipermainkan.
Dia gusar sekali tetapi dapat dia menguasai diri.
Musuh mestinya tangguh, harus dia mengalah.
Dia pula mesti menang waktu.
Dia ketahui, tak dapat dia menyangkal hal Gak Hong Kun tidak ada di dalam gua.
Si nikouw pendeta perempuan, tentuanya tidak bakal percaya padanya.
Maka diakhirnya dia pikir, baik dia pancing orang masuk ke dalam, untuk dia menjebak orang dalam kamar rahasia.
Oleh karena itu, dia lantas memperlihatkan tampang putus asa.
"Dia berada di dalam gua disebelah dalam ruang ini,"
Kaanya tawar.
"Kalau Toa suhu mempunyai kepandaian, pergi Toa suhu susul sendiri padanya di daLam Sana......."
Parasnya Peng Mo menjadi padam. Lantas dia menyeringai tawar.
"Budak cilik !"
Katanya dingin.
"Awas jika kau main gila terhadapku ! Baiklah kau pikir masak-masak dahulu, baru kau menjawab aku !"
"Mana aku berani mendustai kau, Toasuhu ?"
Kata Sam Biauw lekas.
"Di sana ada pintu pojok. Silahkan Toasuhu masuk dari sana !"
Dia pun menunjuk ke pintu yang disebutkan itu di pojok kiri.
Peng Mo melengak.
Sebabnya ialah ia menerka, di dalam situ tentu ada perangkapnya.
Sebaliknya, kalau ia tidak memasuki pintu itu, ia bakal dapat malu.
Laginya, tak dapat ia melepaskan maksudnya dengan begitu saja !
Hanya sebentar ia bersangsi, si nikouw lantas menggertak giginya.
Segera ia bertindak memasuki pintu pojok itu !
Sekarang kita melihat dulu pada It Hiong bersama Ya Bie dan So Hun Cian Li, yang kita tinggalkan semenjak dia meninggalkan Gwa To Sin Mo dan kedua muridnya itu, guna mereka mencari Kiauw In.
Semasuknya di pintu pojok itu, It Hiong melihat sebuah ruang kecil di kanan mana ada sebuah pintu yang tertutup rapat.
Empat penjuru dinding ada dinding batu putih.
Di satu arah, di tengah ruang, ada sebuah gang atau lorong yang sempit.
Di dalam situ tampak cahaya api remang-remang.
Ruang atau kamar kecil itu, tidak ada orangnya.
Habis meneliti seluruh kamar, It Hiong bertindak di lorong sempit itu.
Ia mendapatkan beberapa tikungan, hingga ia mesti jalan belok sana belok sini, jauhnya kira tiga puluh tombak.
Sinar terang lemah tampak di ujung lorong.
Kiranya itulah tempat terbuka dan sampai disitu jalanan sangat sempit, cuma muat satu orang saja.
Dari situ, orang bisa melihat langit.
Kedua lamping tinggi dan licin.
Tanah pun sumPek dan basah.
It Hiong maju terus di jalan sempit itu.
Setelah belasan tombak, ia sampai di muka sebuah gua.
Ia berhenti sebentar akan menoleh, melihat kepada Ya Bie, habis itu, ia menyeplos masuk ke dalam gua itu !
Di luar dugaan, selagi lorongnya sangat cupat, gua sebaliknya lebar sekali dan di empat penjuru dindingnya ada api pelita.
Di suatu pinggiran terdapat banyak dapur besar dan kecil, jumlahnya kira empat puluh buah.
Apinya semua dapur itu pun sedang berkobar.
Di atas setiap dapur ada kwalinya, kwali besi yang mirip eng atau tripod, pendupaan kaki tiga dan pada tiap tutupnya terdapat sebatang semprong asap, hanya warnanya berlainan dan asapnya menghembus tinggi, baru buyar.
Asap itu berwarna-warni dan dilangit kamar ada sawang apinya.
Di setiap pinggiran dapur terdapat beberapa puluh orang laki-laki, yang tubuhnya telanjang sebatas dada.
Mereka semua repot mengurusi api, atau dapurnya, dan atas datangnya It Hiong, mereka tak menghiraukan sama sekali.
Ya Bie heran.
Dia mengagumi warna-warni asap itu, yang tujuh rupa.
Ia tersengsam sampai ia lupa bahwa ia berada di dalam gua yang berbahaya.
So Hun Cian Li pun gembira, hingga ia berPekik dan menari-nari !
It Hiong memperhatikan tujuh macam warna asap itu, yang beda dari pada asap umumnya.
Kemudian ia mengawasi itu puluhan kuli dapur.
Mereka pun aneh, muka mereka sama semuanya.
Sesudah diteliti, baru ternyata yang mereka semua mengenakan topeng seragam.
"Heran !"
Pikirnya.
"Tempat ini tentulah tempat Im Ciu It Mo memasak obat racunnya tetapi heran tak ada bau yang luar biasa......"
Tidak ada pengurus atau kepala tukang masak itu.
Hawa disitu juga panas sekali.
Si orang utan takut hawa api tetapi dia sanat tertarik hati, dengan bersembunyi di belakang Ya Bie, dia berPekik-Pekik.
It Hiong menghampiri seorang tukang masak itu.
"Tuan, dapatkah aku mengajukan satu pertanyaan ?"
Tanyanya hormat.
Orang itu tidak menjawab, hanya dengan tangannya dia menunjuk pada mulut, bibir dan telinganya.
Anak muda itu bertambah heran.
Ia menerka orang tidak berani bicara di tempat banyak orang itu.
Ia mencekal tangannya seorang dan menariknya ke mulut gua.
Di sini dia mengulangi pertanyaannya.
Di luar sangkaan, mendadak orang itu meloloskan tangannya yang dipegang itu, terus dia meninju dibarengi satu depakan.
Nyata dia bergerak cepat sekali.
Serangan itu mengarah dada dan perut.
It Hiong kaget.
Itulah diluar dugaannya.
Syukur ia awas dan gesit.
Dengan muda ia berkelit ke samping, kedua tangannya digeraki juga.
Tangan yang satu dipakai menangkis, tangan yang lain buat menangkap kaki orang !
Orang itu berontak, kembali dia meninju.
Tidak ada niatnya si anak muda mencelakai orang.
Ia tidak membalas menyerang, hanya kali ini tangannya digeraki untuk mengekang penyerang itu.
Terutama ia mencekal kaki orang hingga orang tak dapat berkutik, sedangkan sebelah tangannya dia itu dipegang keras sampai dia tak dapat meronta.
"Aku cuma menanya kau, kenapa kau menyerang aku ?"
Kemudian It Hiong tanya pula.
Ia tertawa manis tetapi tangan dan kaki orang itu dibikin tak berdaya !
Ia pun menarik pula, buat membawa orang keluar.
Atau mendadak, ia mendengar bunyi kelenengan nyaring, terus di mulut gua itu jatuh turun sebuah pintu besi, sesudah mana dari empat penjuru terlihat asap tujuh warna menyembur !
Kalau tadi semua asap itu tidak berbau apa-apa, sekarang tercium bau yang sangat memualkan, hingga orang mau tumpah-tumpah.
Asap pula lantas makin lama makin tebal, hingga yang terlihat tinggal sinar api dapur.....
It Hiong pun kaget.
Manyusul keluarnya asap itu, orang yang ia pegangi itu roboh terkulai, mungkin dia terbinasakan rekan atau rekan-rekannya, mungkin dia mati disebabkan asap itu.
Lekas sekali tubuh orang itu menjadi dingin, akan akhirnya nafasnya pun berhenti berjalan......
"Hebat !"
Pikir It Hiong, yang menjadi bingung.
Tidak disangka-sangka, Im Ciu It Mo demikian lihai.
Selagi ia berpikir keras, It Hiong merasa punggungnya ada yang tubruk.
Hampir ia menangkis sambil menyerang, kapan ia ingat pada Ya Bie, maka batal menyerang, ia berbalik merangkul tubuh orang.
Hanya tak dapat ia memastikan, tubuh itu tubuh si nona polos atau bukan.
Tak dapat It Hiong membuka suara, buat bicara dengan nona itu.
Sejak munculnya asap, ia sudah menahan nafas.
Walaupun demikian, asap memasuki mulut dan tenggorokan, atau kerongkongannya menjadi perih.
Matanya juga terasa pedas.
Masih It Hiong memeluki tubuh yang lunak itu, yang ia belum berani pastikan Ya Bie atau bukan.
Dengan tebalnya asap, tak dapat ia melihat muka orang.
Ia hanya menerka, kalau orang itu Ya Bie, tentulah Ya Bie telah pingsan disebabkan asap itu.
Ia pun pernah memikir, kalau dia itu bukannya Ya Bie, kenapa orang menubruknya........
"Jika dia Ya Bie dan dia mati sungguh dia harus dikasihhani....."
It Hiong bagaikan ngelamun.
"Dia baik sekali, dia datang kemari buat membantui aku. Tak nanti aku dapat melupakannya !"
Asap terus bergulung-gulung.
Lama-lama It Hiong menjadi kewalahan.
Hampir ia tak dapat membuka matanya itu.
Ia membuka mata lebar-lebar tetapi ia tidak mampu melihat atau membedakan apa juga.
Hanya asap tebal yang tampak.
Akhir-akhirnya pemuda kita menjatuhkan diri, akan duduk bersila ditanah, matanya dipejamkan.
Bagaikan bersamadhi, ia memasang telinganya.
Di tempat begitu, ia terus waspada.
Terutama, ia harus dapat melawan serangannya racun.
Caranya ini membuat hatinya terbuka dan pikirannya tenang dan terang !
Tiba-tiba It Hiong ingat mustika mutiara Leecu hadiah dari Bu Lim In-Cin, si orang rimba persilatan yang tak dikenal di Kui Hiang Koan.
Bukankah mutiara itu katanya dapat membasmi racun dan lainnya ?
Maka tanpa ayal pula, ia merogoh keluar mutiaranya itu.
Benar mujizat mutira Lee-cu, ketika itu sinarnya nampak lemah tetapi segera juga buyarlah asap yang tebal itu.
Si anak muda masih belum tahu bahwa mutiaranya sudah menunjuki khasiatnya, ia masih meram saja.
Dengan tangannya, ia meraba mukanya orang yang rebah di pangkuannya, dengan begitu ia bisa memasuki Lee-cu ke dalam mulut orang......
Selekasnya Lee-cu berada di dalam mulut orang itu, asap datang menyerang pula.
It Hiong merasai itu pada hidung dan mulutnya.
Tapi ini membuat mengerti akan adanya perubahan itu.
Masih ia meram saja.
Tiba-tiba si anak muda merasa ada tangan lunak menggoyang-goyang bahunya, disusul dengan suara halus ini .
"Kakak Hiong......... Kakak Hiong......."
Itulah suaranya Ya Bie.
Baru sekarang si anak muda membuka matanya.
Maka ia melihat Ya Bie, ditangan siapa tercekal Lee-cu, yang menyiarkan sinar terang bergemerlapan.
Nona itu tetap rebah dipangkuannya, mukanya menghadapi muka ia, wajahnya nona itu ramai dengan senyuman berseri-sei.
Agaknya si nona tengah merasai sesuatu yang membuatnya sangat gembira.
It Hiong pun girang.
Suaranya si nona menandakan si nona itu sudah sadar berkat kemukjizatannya mutiara mustika itu.
Begitulah maka ia membuka matanya, hingga ia melihat nona itu, bahkan sinarnya empat buah mata seperti kontak satu dengan lain.
Ia melihat sinar mata si nona terang, jernih dan halus, wajar sekali.
Karenanya, tanpa merasa, hatinya berdebaran, semangatnya bagaikan melayang-layang.
"Kakak Hiong !"
Terdengar pula suara si nona, halus dan merdu.
"Kakak Hiong !"
Justru panggilan itu membuat si anak muda terasadar ! Hatinya masih guncang, tetapi matanya segera dipejamkan pula, supaya ia bisa menenangkan diri.
"Ha, It Hiong !"
Katanya di dalam hati.
"It Hiong, kenapa kau berbuat begini ? Kenapa hatimu tergerak oleh nona yang kau pandang sebagai adikmu sendiri ?"
Lewat sejenak.....
"Oh, adik, kau sudah mendusin ?"
Tanyanya, walaupun suaranya menggetar.
"Kakak......."
Kata si nona.
"Apa adik ?"
It Hiong tanya. Tubuh nona itu bergerak.
"Kakak !"
Katanya pula.
Segera It Hiong ingat yang mereka lagi berada di dalam guanya Im Ciu It Mo, bahwa baru saja mereka diganggu asap jahatnya si wanita tua.
Itulah berbahaya.
Setiap waktu, dapat orang menyerang mereka.
Maka ia lantas melihat kelilingnya.
Masih ada sisa asap tebal.
Perlahan-lahan asap mumbul, lenyap di langit-langit ruang.
Ya Bie masih memegangi mutiara, yang sinarnya terus mencorong.
Ruang tetap sunyi saja, tak terdengar suara apa juga.
It Hiong tunduk, ia melihat si nona, dengan rebah tenang, lagi membuat main Lee-cu dalam genggaman kedua tangannya bergantian.
"Hawa beracun sudah buyar."
Kata si anak muda kemudian.
"Mari kita keluar !"
Tubuh si nona tak bergerak. Dia seperti ketagihan rebah diatas pangkuan orang.
"Begitu ?"
Katanya, acuh tak acuh, seperti juga dia tak insyaf yang mereka lagi berada di sarang orang jahat.......
It Hiong heran menyaksikan lagak orang, hingga ia mau menerka mungkin si nona belum bersih dari racunnya asap jahat itu.
"Adik, coba kau kemut pula mutiara itu."
Katanya.
"Dengan begitu sisa racun akan bersih semuanya........"
Si nona tapinya tertawa manis.
"Mana ada racun di dalam tubuhku ?"
Katanya, tertawa pula.
"Cuma, aku rasanya letih sekali, aku bagaikan ingin rebah terus....."
It Hiong terkejut, hingga ia melengak.
Kembali si nona tertawa, hingga seluruh tubuhnya bergerak.
Dengan matanya yang celi dia menatap si anak muda.
Di saat itu, mukanya berwarna merah dadu.
Ia layulayu segar !
Itulah pengaruh kewanitaan.......
"Kakak Hiong."
Kata ia pula, perlahan, selagi si anak muda masih berdiam saja.
"Kakak, aku girang sekali ! Kakak, kenapa aku merasai seluruh tubuhku letih sekali ?"
Tiba-tiba Lee-cu lepas dari tangan si nona, mutiara itu menggelinding ke depannya So Hun Cian Li, binatang mana lagi rebah mendekam tak jauh di sisi mereka.
Orang utan itu takut api, sejak tadi dia mendekam saja, mukanya ditempel rapat pada tanah, tetapi asal terlalu tebal, dia kena juga menyedot asap itu, hingga dia bagaikan lupa daratan.
Sekian lama dia dalam keadaan sadar dan tidak sadar, tetapi selekasnya asap buyar dan mutiara jatuh ke depan mukanya, mendadak ia sadar seluruhnya.
Sekonyong-konyong, satu bayangan orang berlompat ke arah So Hun Cian Li.
It Hiong terkejut.
Itulah seorang perempuan.
Lebih dahulu daripada itu, ia telah melihat jatuhnya mutiara mustikanya.
Justru mutiara itulah yang disambar nona itu, yang segera berlompat mundur pula, gerakannya cepat bagaikan kilat.
Mau It Hiong mencegah atau ia telah terlambat.
Lantas ia menjadi terlebih kaget pula !
Ya Bie tidak berada lagi di pangkuannya.....
"Ha !"
Serunya, yang terus berjingkrak bangun.
Ia lantas melihat gerak-geriknya bayang orang yang cepat dan ke empat tangannya bayangan itu saling menyambar.
Segera ia mengenali, Ya Bie tengah berkutat dengan Ek Su Biauw, muridnya Im Ciu It Mo itu !
Su Biauw muncul sesudah sekian lama sehabis ia melepaskan asap beracunnya, karena ia mendengar suara sunyi saja, ia menyangka It Hiong semua sudah terkena racun dan pingsan, maka ia muncul, hingga ia menyaksikan Ya Bie lagi rebah di pangkuan si anak muda, malah ia melihat jatuhnya mutiara dari tangannya si nona itu.
Maka ia lantas lompat menjambret merebutnya !
Ya Bie melihat orang datang, ia berseru nyaring, ia berjingkrak bangun, untuk terus menyerang nona penjambret mutiara itu.
Su Biauw licik, dia dapat berkelit, tetapi Ya Bie cepat dan menyerang pula, maka itu jadi bertempurlah mereka berdua.
Dengan tangan kanan mengepal mutiara, Su Biauw berkelahi dengan hanya tangan kirinya.
Ia menutup tubuhnya dengan ilmu "Sebelah tangan menutup langit".
Di dalam hal tenaga dan kepandaian silat, dia menang setingkat dari pada Ya Bie.
Sebaliknya, muridnya Touw Hwe Jie menang gesit dan lincah.
Dengan begitu, mereka jadi seimbang.
It Hiong menyaksikan sekian lama, tetapi pikirannya ada pada Lee-cu.
Itulah benda mustika dan hadiah dari Bu Lim In-Cin, tak dapat ia membuatnya lenyap.
Lewat sesaat dan orang masih bertarung saja, ia habis sabar.
"Tinggalkan mutiara !"
Teriaknya.
"Tinggalkan atau kau tak bakal dapat ampun !"
Walaupun dia berseru demikian itu, tubuhnya It Hiong toh sudah mencelat ke medan pertempuran dan kedua tangannya segera bergerak, hingga di dalam sekejap saja ia telah memisahkan dua nona yang lagi bertempur itu, hingga mereka pada berdiri diam !
Su Biauw melihat mutiara di tangannya.
Dia tertawa.
Nyata dia tak takut.
"Adakah ini barangmu ?"
Dia tanya.
"Hm !"
It Hiong memberikan jawabannya.
"Mari serahkan padaku !"
Su Biauw menatap si anak muda.
"Gak Hong Kun,"
Katanya kemudian, suaranya lunak.
"Apakah budak ini yang membuat kau berubah menjadi begini rupa ?"
Ia terus menoleh kepada Ya Bie, sinar matanya menandakan dia sangat membenci. Alisnya It Hiong bangun berdiri.
"Jangan banyak bicara lagi !"
Bentaknya.
"Tak ada waktu buat mengadu lidah denganmu !"
Parasnya Su Biauw menjadi padam. Agaknya dia mendongkol.
"Jika kau tidak mengembalikan mutiara padamu ?"
Dia tanya, dingin.
"Jangan kau salahkan kalau aku berlaku keras !"
Ada jawabannya si anak muda, keras.
Itu bukan jawaban belaka, jawaban itu dibuktikan berbareng dengan perbuatan.
Cepat luar biasa, sebelah tangannya si anak muda meluncur dengan satu cengkraman "Kim Liong Ciu --Tangan Menawan Naga !"
Ek Su Biauw masih dapat berkelit, hanya dia kalah cepat, bajunya kena terjambret hingga pecah, hingga ia pun merasai kulitnya panas dan nyeri.
Berbareng dengan itu, mendadak pintu gua terpentang lebar, lantas bayangan orang bergerak-gerak.
Di dalam satu kelebatan saja, tiga orang wanita telah muncul diambang pintu itu, terus masuk kedalam.
Dandanan mereka itu, dari pakaian sampai cara menjalin rambutnya, serupa saja.
Yang beda melainkan usia mereka tetapi toh tak terpaut jauh.
Kiranya merekalah Ek Toa Biauw, Ek Jie Biauw dan Ek Cit Biauw, tiga diantara Cit Biauw Lie, tujuh wanita siluman murid-muridnya Im Ciu It Mo.
Selekasnya Toa Biauw terancam bahaya, segera ia menyerang It Hiong yang dia hajar punggungnya dimana ada jalan darah cie-tong.
Inilah seranga yang membuat jambretannya si naak muda gagal.
Jika tidak, Su Biauw tak akan separuh lolos.
Heran It Hiong menyaksikan ketiga nona itu sangat mirip dengan Su Biauw.
Mereka itu cantik-cantik tetapi pun berwajah centil.
"Kalian mencari mampus,"
Tegurnya sengit. Walaupun demikian, ia tidak menghiraukan mereka itu, ia bergerak menyambar pula kepada Su Biauw. Kali ini dia berlompat dengan ilmu ringan tubuh Tangga Mega.
"Aduh !"
Su Biauw menjerit sambil dia berkelit mundur, akan tetapi sebelumnya itu, pergelangan tangannya sudah dicekal si anak muda, yang terus merampas pulang mutiara dari genggamannya !
Sebagai pemuda gagah, sebagai laki-laki sejati, anak muda kita tidak mau mencekal terus pada Su Biauw.
Dia melepaskannya selekasnya dia berhasil merampas pulang Lee
KANG ZUSI website
http.//cerita-silat.co.cc/ cu.
Kalau dialah seorang lain, pasti dia membekuk Su Biauw guna memaksa orang menunjuki dimana dikurung atau beradanya Kiauw In.
Habis melepaskan tangan si nona, ia mengawasi nona-nona itu.
"Apakah cuma kalian saja murid-muridnya Im Ciu It Mo ?"
Ia tanya dingin. Ek Toa Biauw mengawasi pemuda itu, lantas alisnya yang lentik terbangun, air mukanya pun berubah. Kelihatan tegas dia licik.
"Gak Hong Kun !"
Katanya tawar. Dia pula tertawa dengan suaranya tak sedap.
"Gak Hong Kun! Kenapa kau menjadi begini tidak berbudi ? Kenapakah kau menghina adikku ?"
Ia maksudkan Su Biauw. Kemudian dia berpaling pada adiknya itu dan menanya .
"Barang apakah yang dia rampas darimu ?"
Toa Biauw tidak menyangka sama sekali bahwa It Hiong bukannya Hong Kun dan ia pula mengira Su Biauw berkasihkasihan dengan pemuda itu hingga timbullah rasa jelusnya.
It Hiong tidak menanti orang bicara.
"Kamu dengar atau tidak perkataanku ?"
Ia tanya keras. Toa Biauw berpaling pula pada anak muda itu.
"Apa ?"
Dia balik bertanya. Dia mengganda tertawa. Sementara itu Cit Biauw telah mengawasi Ya Bie dan orang utannya.
"Siapakah kau ?"
Tegurnya.
"Kenapa kau lancang masuk kemari ?"
Belum lagi Ya Bie menjawab nona itu, It Hiong sudah mendahului.
"Baiklah kalian ketahui !"
Katanya nyaring.
"Bicara terus terang, akulah Tio It Hiong ! Aku bukannya Gak Hong Kun kalian !"
Cit Biauw paling muda, pengalamannya masih hijau. Dia heran mendengar keterangannya It Hiong. Timbullah keraguraguannya hingga dia jadi menjublak saja. Tidak demikian dengan Toa Biauw.
"Gak Hong Kun !"
Katanya keras. Tetap dia mengukuhi anggapannya sendiri.
"Gak Hong Kun, tak peduli kau menukar nama apa, tak dapat kau mendustai aku !"
Kemudian dia menoleh kepada Su Biauw, akan melanjutkan menanya .
"Apakah kau yang mengajak dia masuk kemari ? Su Biauw menggeleng kepala. Dia tidak dapat menjawab sebab dia lagi merasa sangat heran kenapa si anak muda demikian lihai, mudah saja mutiara ditangannya dirampas tanpa dia sempat berdaya. Tadi pun, kalau anak muda itu tidak dibokong Toa Biauw, dia tentu tak akan lolos. Karena kepandaiannya anak muda itu, dia mau percaya bahwa orang benar bukannya Hong Kun....
"Habis siapakah dia ?"
Demikian pikirnya.
"Dia sangat mirip dengan Hong Kun...."
Su Biauw jatuh hati pada Hong Kun semenjak semula dia melihat orang she Gak itu, dia selalu mencoba akan mendekati si pemuda, tetapi dalam usahanya itu dia mendapat rintangan samar-samar dari Toa Biauw, sang kakak paling tua, hingga dia jadi kurang bebas.
Toa Biauw tidak lantas mendapat jawaban dari adiknya itu, dia tidak puas, maka juga --dalam jelusnya--dia kata pula .
"Aku yang menjadi kakakmu, aku rupanya tidak disenangi kau, mungkin disebabkan aku telah menggangu kesenanganmu, adikku...."
Suara itu pun dingin sekali.
Su Biauw malu dan mendongkol.
Kakak itu telah menyindirnya.
Walaupun demikian, ia berdiam saja, melainkan wajahnya menjadi gelap.
Toa Biauw puas melihat orang berdiam dan malu, lantas dia bersenyum.
Lalu dia berkata pula .
"Oh, mungkin katakataku berkelebihan, adikku, walaupun demikian, harap kau tidak taruh hati....."
Habis berkata, kakak itu mengibasi tangannya terhadap Jie Biauw dan Cie Biauw, sembari ia meneruskan .
"Mari kita pergi ! Tak dapat kita berdiam disini, nanti kita mengganggu orang yang sedang memasang omong !"
Terus kakak ini memutar tubuhnya, tetapi ketika ia melangkah, tindakannya ayal-ayalan seperti juga dia tak ingin berlalu dari ruang itu.......
Ya Bie mengawasi mereka itu, ia mendengar dan melihat, tetapi ia mendengarnya dengan separuh mengerti dan separuh tidak.
Ia hanya mendapati kata-katanya Toa Biauw keras dan tajam dan wajahnya tak mengasih.
Tapi ia tak menghiraukan mereka itu, ia hanya melirik pada It Hiong, memberi isyarat supaya si anak muda tanya nona-nona itu perihal Kiauw In.
It Hiong pun mendadak ingat halnya Nona Cio.
"Tahan !"
Teriaknya pada Toa Biauw semua. Nona itu menghentikan langkahnya. Lantas dia berpaling. Memang dia sengaja mau menggodia Su Biauw, jalannya pun di buat-buat lambatnya.
"Apa ?"
Tanyanya pada si anak muda.
"Apakah kau tidak takut kami nanti mengganggumu ?"
"Hm !"
It Hiong memperdengarkan suara mendongkol.
"Lekas bilang dimana adanya Cio Kiauw In sekarang !"
Toa Biauw bersikap ugal-ugalan. Tingkahnya centil sekali.
"Mau apa kau mencari dia ?"
Tanyanya dingin. It Hiong gusar.
"Jika kamu tahu selatan, lekas kamu bicara terus terang !"
Katanya keras.
"Kalau tidak, harap jangan menyesal, aku yang rendah terpaksa tak berlaku sungkan lagi terhadap kamu !"
"Aduh, aduh !"
Toa Biauw berseru-seru, kembali tingkahnya dibikin-bikin.
"Sungguh mulut besar!"
Terus dia berpaling pula pada adiknya seraya berkata .
"Nah, adik, kau harus sadar, nyatanya orang datang kemari bukannya buat mencari kau hanya orang lain !"
Habis sabarnya It Hiong sebab Toa Biauw tidak menghiraukan dan nona itu selalu mengejek Su Biauw.
Tibatiba saja ia melayangkan sebelah tangan pada nona itu.
Toa Biauw berdiri berendeng dengan Jie Biauw dan Cit Biauw, meliha datangnya serangan, ia berkelit berbareng bersama dua orang adiknya itu.
Berhasil mereka membebaskan diri.
Ketujuh muridnya Im Ciu It Mo itu bukannya cuma barengan dandanan dan senjatanya, juga caranya berkelahi, ialah selalu mereka bertujuh, atau sedikitnya beberapa orang seadanya mereka bersama.
Itu pula yang membuatnya menjadi lihai.
Melihat orang dapat menyelamatkan diri, It Hiong maju terus guna mengulangi serangannya.
Ia menggunakan jurusjurus dari Hang Liong Hok Houw-ilmu menaklukan naga menundukkan harimau.
Toa Biauw bertiga berlompat mundur buat segera mengambil tempatnya masing-masing, dengan demikian, dapat mereka membuat perlawanan.
Mereka merenggang dan merapatkan diri dengan sempurna.
Kalau mereka maju, enam buah tangan mereka bekerja sama.
Su Biauw pun lantas turun tangan.
Menuruti suara hatinya, tak sudi dia membantui ketiga saudara seperguruan itu, lebihlebih Toa Biauw, akan tetapi ia mesti mentaati peraturan dan pesan gurunya.
Begitulah terpaksa ia mengambil tempatnya, untuk maju dan mundur bersama.
Karena mereka telah terlatih sempurna, tidaklah heran apabila mereka berempat jadi tangguh sekali, It Hiong bagaikan dikurung sekawanan kupu-kupu.
Cit Biauw Lie terancam hukuman berat kalau mereka menyaitui aturan gurunya.
Maka juga mereka bertempur dengan sungguh-sungguh, mereka seperti tak takut mati.
Sebenarnya, kalau mereka menempur It Hiong satu lawan satu, tak seorang juga dari mereka yang sanggup bertahan lebih dari tiga jurus, tetapi sekarang mereka dapat bertahan dengan baik.
Mereka mundur kalau diserang, atau mereka merangsak pula selekasnya datang kesempatan.
Ya Bie berdiri menonton bersama So Hun Cian Li.
Si nona mementang lebar matanya.
Tak ada kesempatan buat dia turun tangan membantu It Hiong.
Terus pertempuran berlangsung.
Keadaan masih berimbang.
It Hiong menang unggul, cuma bedanya, ia tidak memiliki Keng Hong Kiam seperti semasa ia menempur musuh di Ay Lao San.
Ia pula berniat menawan musuh, supaya si orang tawanan dapat dipaksa menyebutkan dimana Kiauw In dikurung.
Keadaan berlarut-larut membuat ia akhirnya menjadi tidak sabaran.
Kurungan lawan itu lihai sekali.
Jadi harus dia memecahkannya.
Maka juga, lagi sesaat, ia harus bertindak.
Dengan satu gerakan Tangga Mega, anak muda kita menjejak tanah, untuk mencelat tinggi, lalu tubuhnya seperti berada di "tengah udara", ia melihat ke bawah, kepada musuh.
Musuh heran menyaksikan orang berlompat tinggi, sendirinya gerakan mereka tak berjalan sebagaimana selayaknya.
Sebab musuh diatas dan tak dapat diserang sambil berlompat tinggi juga.
Terutama yang heran adalah Toa Biauw, murid terpandai dari It Mo.
Tengah dia heran itu mendadak tubuhnya It Hiong turun ke arahnya seraya terus menyerang padanya !
Cepat luar biasa, si nona berkelit, menyusul itu, ia membalas menyerang.
Selagi ia berkelit, tempatnya yang kosong sendirinya diisi Cit Biauw.
Dia ini justru yang kepandaiannya terendah diantara mereka bertujuh.
Dengan begitu juga, It Hiong jadi berada paling dekat dengan nona yang ketujuh itu, maka terus ia menyerang si nona.
Cit Biauw terkejut.
Belum sempat ia memperbaiki kedudukannya.
Guna menyelamatkan diri, ia berkelit dengan satu gerakan "Tiat Poan Kio"
Atau Jembatan Papan Besi.
Tubuhnya melenggak seperti terlentang sebatas perutnya.
Mestinya ia meneruskan itu dengan berjumpalitan atau menyelosor terus.
Justru begitu, It Hiong meneruskan menggerakkan kedua belah tangannya.
Maka bentroklah tangannya dengan tangannya Taoa Biauw, yang telah membalas menyerang itu.
Cit Biauw dapat melenggak, ia lolos dari hajaran, tetapi anginnya tangannya si anak muda mengenai dadanya, serangan angin itu membuatnya terkejut, hingga tak dapat ia bergerak lebih jauh sebagaimana kehendaknya Barisannya.
Dengan begitu juga kacaulah pengurungan mereka.
Ia sendiri merasa malu hingga mukanya menjadi merah.
Toa Biauw yang tangannya beradu dengan tangannya It Hiong, kena tergempur mundur beberapa tindak, tubuhnya terhuyung-huyung, ketika ia dapat berdiri tetap pula, ia merasa tubuhnya bagian dalam bergolak, hingga ia pun mesti berdiri diam akan memperbaiki saluran nafasnya.
Dengan Toa Biauw beristirahat dan Cit Biauw berdiam, tinggallah Su Biauw dan Jie Biauw.
Mereka tidak takut.
Mereka melanjuti pengurungan.
Sekarang mereka menggunakan joanpian, yaitu cambuk lunak, dengan senjata itu, It Hiong dikepung pula.
Habis menyerang dadanya Cit Biauw, It Hiong merasa likat sendirinya.
Justru itu, kedua cambuk menyambar padanya.
Terpaksa, ia harus membela diri.
Cambuk datang dari kiri dan kanan.
Yang hebat, ujung cambuk ada senjata tajamnya.
Ia juga mengeluh, yang kedua nona itu tidak mau mengalah.
Maka buat menyambuti kedua batang cambuk, ia mementang tangannya ke kiri dan kanan.
Itulah gerakan "Co Yu Kay Kong --Kiri Kanan Mementang Busur".
Dengan itu, It Hiong menyambar ujung cambuk lawan, untuk menangkap dan mencekalnya.
Kedua nona lihai, mereka berhasil lekas-lekas menarik pulang senjata lunaknya itu.
Setelah itu, mereka menyerang pula, bahkan dengan keras.
Terang maksudnya guna membikin si anak muda repot, agar Cit Biauw dan Toa Biauw sempat bernafas......
Toa Biauw dan Cit Biauw sempat melegakan diri.
Toa Biauw lantas memikir buat menggunakan tipu daya.
Mereka memang masih mempunyai perangkap.
Diam-diam dia melirik kepada Cit Biauw.
Setelah itu, bukannya dia maju akan menyerangnya pula, dia justru bertindak ke kanannya, dimana ada sebuah pojokan.
Pada dinding sebelah kiri, tangannya menekan sesuatu.
Selekasnya terdengar satu suara perlahan, disitu terpentang sebuah pintu rahasia, pintunya kecil.
Lantas dia bersiul dua kali, menyusul tubuhnya memasuki pintu itu.
Cit Biauw menyusul dengan cepat, akan memasukinya juga.
Su Biauw dan Jie Biauw mendengar siulan itu, diam-diam mereka menoleh hingga mereka melihat kedua kawan itu menghilang ke dalam pintu rahasia.
Lantas Su Biauw menyerang keras pada It Hiong, selagi si anak muda terdesak, mendadak ia berlompat mundur.
"Jie jia, kita menyingkir atau tidak ?"
Dia tanya Jie Biauw, si kakak nomor dua. Jie Biauw tertawa.
"Maksudmu, saudara ?"
Tanyanya.
"Kau tahu maksudku, hanya........."
Sahut si saudara ke empat. Jie Biauw tertawa pula.
"Hm, budak !"
Katanya.
"Kau tak ikhlas meninggalkannya, bukan ?"
Memang Su Biauw mencintai Hong Kun dan tak ingin memeletnya masuk ke dalam perangkap.
Ia hanya tidak tahu, It Hiong bukannya pemuda she Gak itu.
Ia tetap tidak mengenali anak muda ini, si pemuda tulen bukan yang palsu.....
Ia pula tidak ingat halnya Hong Kun sudah minum Thay-siang Hoan Hun Tan dan kesadarannya telah terganggu, sedangkan pemuda ini sehat walafiat.
Bahkan It Hiong selalu menyebut-nyebut Kiauw In.
Cit Biauw pun lain lagi.
Dia belum pernah merantau, dia tak tahu mana Hong Kun mana It Hiong.
Dia cuma tahu melihat Hong Kun dan sekarang pemuda di depannya ini sama dengan Hong Kun itu.
Laginya Hong Kun jarang berdiam di dalam goa, sebab It Mo selalu memerintahkannya bekerja di luaran.
Sedangkan kalau Hong Kun pulang ke Kian Gee Kiap Kok, It Mo pun menjaga keras kedua pihak bercampur gaul erat-erat.
Hingga kalau mereka bertemu, bertemunya sebentaran di depan sang guru.
Ketika itu, Su Biauw pun mendapat satu pikiran lain.
Dia mau percaya, mungkin benar pemuda ini bukannya Hong Kun hanya lain orang yang menyamar menjadi Hong Kun itu.......
Karena berpikir demikian, gerakannya si nona menjadi kendor, lantas dia kena didesak.
Jie Biauw pun lantas mendapat pikiran serupa.
Dalam kesempatannya, dia lompat ke sisinya Su Biauw dan terus kata berbisik pada adik seperguruan itu .
"Budak, jangan kau sesatkan sang asmara ! Rupanya dia ini benar bukan Gak Hong Kun...."
Selama mundur, Su Biauw telah sampai di dinding, disitu dia menempelkan tubuhnya pada tembok, dengan mendelong, dia mengawasi si anak muda.
Tiba-tiba dia mengernyitkan alis dan menghela nafas.......
It Hiong heran kedua nona itu menghentikan pengepungannya, bahkan orang bediri menjublak dan agaknya berduka.
Ia lantas melihat kelilingnya.
Di situ sudah tidak ada lain orang lagi kecuali kedua nona itu.
Bahkan Ya Bie bersama So Hun Cian Li lenyap juga !
"Ah !"
Serunya tertahan.
Lantas ia lari ke pintu, untuk melongok.
Mendadak ia mendengar suara berkelisik di belakangnya, dengan cepat ia menoleh.
Kembali ia menjadi heran.
Pintu rahasia sudah tertutup pula, Su Biauw dan Jie Biauw pun lenyap !
Semua terjadi di dalam sekejap !
"Kemana Ya Bie dan si orang utan ?"
Pikirnya.
Ia bingung juga.
Ia menguatirkan mereka itu kena terjebak musuh.
Jangan kata suaranya Ya Bie, Pekiknya So Hun Cian Li pun tak terdengar.....
Kiauw In belum dapat ditemukan, sekarang Ya Bie berdua juga lenyap.
Saking bingung, It Hiong menjadi gusar.
Mendadak saja ia bersiul keras dan lama, hingga seluruh ruang bagaikan tergetar !
Sekonyong-konyong pintu gua terbuka dan satu bayangan orang berlompat muncul !
"Ah, kiranya kau disini !"
Seru bayangan itu, yang lantas tertawa nyaring.
"Berapa sengsara aku mencarimu !"
"Hm !"
It Hiong memperdengarkan suara dingin setelah dia melihat tegas orang itu, Peng Mo, si Bajingan Es. Nikouw itu menghampiri, tindakannya halus, langkahnya menggiurkan. Kali ini dia tertawa centil.
"Berhenti !"
It Hiong membentak, melarang orang mendekatinya. Tanpa merasa Peng Mo menghentikan langkahnya, parasnya menjadi suaram. Hanya sejenak, dia tertawa pula.
"Ah, kau membuatku kaget !"
Katanya. Dengan sama perlahan seperti tadi, ia bertindak pula akan mendekati si anak muda. It Hiong memperlihatkan tampang gusar.
"Awas !"
Ancamnya.
"Lagi satu langkah kau maju, jangan sesalkan aku tak mengenal kasihan !"
Suara itu bengis sekali. Kembali Peng Mo menghentikan langkahnya. Hanya kali ini dia tidak menjadi heran atau kaget. Bahkan dia tertawa pula dan kata .
"Aku ingin memasang omong denganmu ! Toh boleh, bukan ?"
It Hiong mendelikkan matanya.
"Di antara kita ada kelainan jalan !"
Katanya.
"Apakah yang dapat dibicarakan ?"
Peng Mo tetap tertawa manis. Dia tak menghiraukan sikap keras pemuda itu. Inilah sebab ia menyangka pemuda itu adalah kekasihnya.
"Ah, kau tega........."
Katanya.
"Kenapa kau begini tawar terhadapku ? Tipis sekali budi rasamu ! Mustahil berbicara saja tidak dapat ! Kau............"
"Tutup mulut !"
Bentak It Hiong, menyela. Dia menjadi semakin gusar. Sepasang alisnya si Bajingan Es bangkit.
"Apakah kau menghendaki aku turun tangan ?"
Tanyanya mendongkol.
It Hiong tidak memperdulikan pertanyaan itu.
Kiauw In membuatnya bingung, lalu itu ditambah dengan hilangnya Ya Bie berdua So Hun Cian Li.
Maka ia bertindak ke dinding, akan meneliti seluruh dinding itu, guna mencari pintu rahasia.
Dinding itu tapinya licin seluruhnya, tak ada sesuatu yang ia dapatkan atau mencurigakannya.
Peng Mo menjadi panas hati.
Orang tidak menghiraukannya.
Maka ia menggertak gigi dan kata dengan sengit .
"Jika aku tidak mengasi lihat kepandaianku kepadamu, kau pasti tidak mengetahui lihainya Hong Gwa Sam Mo !"
Lantas ia bertindak maju, dengan perlahan, tangannya meraba sakunya mengeluarkan Bie Hun Tok Hun, pupur biusnya.
Selekasnya ia berada di belakang si anak muda, yang tetap memperhatikan dinding, mendadak ia berseru nyaring dan tangannya yang memegang pupurnya, dikibaskan hingga pupur jahatnya itu lantas tersebar menyambar ke mukanya si anak muda.
Pupur itu berupa seperti asap atau uap merah.
It Hiong mendengar seruan itu, ia berpaling dengan lantas, selekasnya ia melihat asap, lantas ia menutup hidungnya, untuk menahan nafas, sedangkan tubuhnya sengaja diterhuyung-huyungkan hingga jatuh ke tanah !
Lalu, sambil rebah itu diam-diam ia memasang mata.
Peng Mo girang melihat usahanya telah berhasil.
Tapi ia belum puas.
Ia mau mendapatkan Gak Hong Kun.
Maka ia bertindak menghampiri anak muda kita.
Segera setelah datang dekat, sambil berjongkok ia mengulur sebelah tangannya, jari tangannya dibuka, guna menotok jalan darah pingsan anak muda itu !
Tiba-tiba si Bajingan Es menjadi kaget sekali.
Belum lagi totokannya mengenai sasarannya, tahu-tahu pergelangan tangannya sudah ditangkap It Hiong bahkan terus dipencet hingga dia mati kutunya !
"Tak kusangka kau begini telengas !"
Berkata si anak muda sambil dia berlompat bangun, suaranya keras, wajahnya keren. Peng Mo tak berdaya, tetapi dia hanya kaget saja, waktu dia ditegur itu bukannya dia jauh, dia justru tertawa manis.
"Yang telengas bukannya aku, hanya kau !"
Dia membalik.
"Secara baik-baik aku bicara denganmu, kau justru tidak mempedulikan aku ! Kenapa ?"
Dan ia menghela nafas. It Hiong heran juga. Inilah karena ia tidak tahu bahwa orang menerka siapa ianya. Ia melengak sebentar, terus ia menanya .
"Bukankah kita tidak kenal satu dengan lain, dan tidak berhubungan juga ? Kenapa kau membokong aku ? Apakah artinya perbuatan kejammu barusan ?"
Peng Mo merasai pipinya panas. Toh ia tetap tertawa manis.
"Apakah kau masih belum tahu hatinya orang perempuan ?"
Tanyanya. Ia menghela nafas pula. Lantas ia melanjuti .
"Sejak di Ngo Tay San, aku menyusul kau sampai disini ! Toh kau masih saja tak mengenal budi terhadapku !"
Entah darimana datangnya, tiba-tiba si nikouw bercucuran air mata, nampaknya ia sangat bersedih berbareng penasaran saking menyesalnya.......
It Hiong mengawasi.
Ia heran tetapi ia mengerti, disini ia menghadapi pula bencana asmara.
Ia menjadi mendapat dua rupa perasaan, orang harus dikasihhani berbareng lucu.
Sendirinya ia menghela nafas, lantas ia melepaskan cekalannya.
"Kau pergilah !"
Katanya akhirnya.
Peng Mo tidak lantas mengangkat kaki, bahkan ia menatap si anak muda.
Dia mengira bahwa air matanya benar-benar mustika wanita, sebab air mata dapat membuat hati orang lemah.
Maka ia maju lagi satu tindak.
"Mari kita pergi bersama......."
Katanya halus.
It Hiong sementara itu sudah bertindak ke dinding yang lain, untuk mencari terus pintu rahasia, kata-kata orang itu ia dengar tetapi seperti tidak mendengarnya.
Ia tidak mempedulikan.
Peng Mo menghampirkan, dengan kedua tangannya, ia memegang kedua bahunya si anak muda.
Nampak ia sangat berduka.
"Saudaraku yang baik,"
Katanya.
"kau tidak mempedulikan aku, kalau begitu kau bunuh saja aku....... Itu lebih baik, bukan ?"
It Hiong tetap memekakkan telinga, terus saja ia mencari pesawat rahasia.
Hatinya Peng Mo guncang memegang bahu si anak muda, tubuhnya bergetar.
Sendirinya terbangunlah nafsu birahinya.
Ia mencoba menguasai diri, hingga giginya seperti berjatrukan.
It Hiong tetap mencari pintu rahasia dengan asyiknya.
Panas hatinya Peng Mo.
Ia menganggap orang terlalu.
Kedua matanya bersinar membara.
Tiba-tiba ia mencekal keras bahu orang dan mengajukan mulutnya buat menggigit !
Si anak muda kaget sekali.
Ia pun merasa nyeri.
Maka ia memutar tubuh sambil tangannya menyampok !
Kontan nikouw itu terguling.
"Kau !... Kau gila ?"
Bentak si anak muda sambil menuding. Ia heran orang menjadi kalap begitu. Dalam gusarnya, ia sampai tak dapat mengatakan lebih. Rebah ditanah, Peng Mo menangis.
"Kau kejam !"
Katanya.
"Kau pria sangat kejam !"
It Hiong mengawasi. Tiba-tiba ia sadar. Sendirinya berkuranglah kemarahannya.
"Kau keliru,"
Katanya kemudian, tak bengis lagi.
"Kau keliru mengenali orang !"
Masih si nikouw menangis.
"Aku tidak keliru,"
Bilangnya.
"Dasar kau yang kejam, kau tipis budi !"
Bukannya ia gusar, si anak muda menjadi tertawa.
"Kau kira kau tidak keliru mengenali orang ?"
Tanyanya sabar.
"Nah, kau bilanglah, siapakah aku ?"
Tanpa berpikir lagi, Peng Mo menjawab .
"Tio It Hiong !"
Maka heranlah si anak muda, hingga dia melengak. Peng Mo pun mengawasi, ia berkata pula .
"Saudara Tio, kau telah dicelakai Im Cit It Mo ! Dia telah memberi kau obatnya yang lihai, yang membuat syarafmu terganggu hingga kau tak lagi sadar sesadar-sadarnya ! Kau toh kehilangan ingatanmu yang sehat, bukan ?"
Ia berbangkis dan berjalan menghampiri. It Hiong mengawasi. Masih dia heran.
"Kau salah mengenali orang !"
Katanya pula.
"Orang yang kau maksudkan itu Gak Hong Kun, bukannya aku ! Bagaimana hubungan diantara kalian berdua, aku tidak tahu menahu !' Peng Mo mendelik pula.
"Masa bodoh, kau Tio It Hiong atau Gak Hong Kun !"
Katanya keras, mengotot.
"Tidak hari ini tak dapat aku melepaskan kau !"
It Hiong jadi mendongkol. Ia tertawa tawar.
"Kau tak mau melepaskan aku ?"
Tegaskannya.
"Habis, kau mau apakah ?"
Sekonyong-konyong Peng Mo tertawa. Dia menatap.
"Saudara yang baik,"
Katanya.
"Kau dengarlah aku ! Hendak aku bicara terus terang padamu ! Asal saja kau suka turut aku berlalu dari sini, dalam hal apa juga akan aku turuti kau !"
Mendengar kata orang itu, mendadak It Hiong mendapat satu pikiran.
"Benar-benarkah kau akan turut segala kehendakku ?"
Ia menegaskan. Peng Mo tertawa pula.
"Saudara yang baik !"
Katanya, manis --dia sangat girang--.
"Suadara, benar-benar akan kau iringi segala kehendakmu !"
Mendadak pula It Hiong memperlihatkan tampang kerennya.
"Baik !"
Katanya keras.
"Sekarang aku menyuruh kau pergi ! Nah, pergilah !"
Peng Mo melengak, lenyap tawanya. dia menjadi panas hati.
"Hm !"
Dia perdengarkan suara dinginnya. Mukanya pun menjadi pucat.
"Baiklah !"
Jilid 54 Benar-benar si Bajingan Es memutar tubuhnya, buat terus bertindak ke pintu !
Tapi, di muka pintu, di sana berdiri Im Ciu It Mo bersama Ek Sam Biauw !
Im Ciu It Mo telah beristirahat cukup, dapat dia bersemadhi, juga telah bersih racun jarum yang menyerang tubuhnya, hingga telah pulih seluruh kesehatannya, maka dengan mengajak Sam Biauw, dia lekas-lekas pergi ke kamarnya ini yang menjadi kamar peranti memasak racun.
Ketika sampai di kamar dapurnya, dia menjadi heran sekali.
Tak ada barang satu muridnya di kamar tersebut, dapurnya tapinya terus menyala.
Maka dia menjadi mendongkol sekali.
Dia pula bergusar mengetahui si Bajingan Es telah lancang memasuki guanya terus ke dapur obatnya itu, hingga rahasia dapurnya kena terlihat orang.
Karena itu, selekasnya dia melihat Peng Mo lagi bertindak ke pintu, tiba-tiba saja dia menyerang dengan satu pukulan Tauw-lo-ciang !
Bukan main kagetnya Peng Mo.
Serangan itu, selainnya sangat mendadak, juga tak disangka-sangka olehnya, seperti juga dia tak mengira yang Im Ciu It Mo dengan sekonyongkonyong saja muncul di ambang pintu.
Dalam kagetnya, dia lantas berkelit.
Tak kecewa Hong Gwa Sam Mo menjagoi dalam dunia Kang Ouw, mereka memiliki kepandaiannya.
Demikian si Bajingan Es itu.
Hanya walaupun dia bebas dari tangan lawan, anginnya serangan toh mengenai juga bahunya hingga dia merasai nyeri sekali.
Juga, belum lagi dia dapat berdiri tegak, telinganya sudah mendengar suara dingin berulang-ulang .
"Hm ! Hm !"
Im Ciu It Mo melangkah ke dalam kamar dapurnya itu, langkah demi langkah.
Dialah yang bersuara dingin itu.
Sembari melangkah itu bergantian dia menatap tajam pada Peng Mo dan It Hiong.
Akhirnya dia kata sengit .
"Siapa yang telah melihat dapurku ini, jangan dia harap keluar dari sini dengan masih bernyawa !"
Dia terus mengangkat tongkat Touw-lo-thungnya sambil membentak .
"Siapa yang tahu diri, lekas dia mengambil keputusannya sendiri ! Atau kalian berdua baiklah menjadi sepasang bebek mandarin mati ! Yang dipanggil bebek mandarin itu sebenarnya ialah burung yuan-yang atau wanyoh. Peng Mo jeri hingga dia mundur setindak dengan setindak. Dia mengerti baik sekali yang dia bukanlah lawan dari Im Ciu It Mo. Ketika dia datang ke sarang orang ini, dia ada bersama dua saudaranya, Hiat Mo si Bajingan Darah dan Tam Mo si Bajingan Tamak. Hanya dua saudara angkat itu bersembunyi di luar gua. Dia masuk dengan diam-diam. Di ruang besar, dia melihat Im Ciu It Mo lagi duduk bersemadhi, tetapi dia sangat bernafsu ingin menemui "kekasihnya", maka tanpa memanggil lagi dua kakak seperguruannya, dia meninggalkan Im Ciu It Mo, dia masuk terus kedalam sampai di kamar tempat membuat obat itu. Sekarang, selain gagal menghadapi It Hiong, dia pun kepergok pemilik gua.... It Hiong lain dari pada Peng Mo, ia tidak kenal takut. Apa pula ketika itu ia lagi sangat berkeinginan keras mendapatkan Kiauw In. ia pun sedang mendongkol sebab semua muridnya It Mo kabur meninggalkannya, hingga ia merasa sulit mencari mereka itu. Maka kebetulan sekali sekarang ia berhadapan dengan It Mo sendiri. Inilah tepat dengan bunyinya pepatah yang berkata "buat meloloskan genta mesti orang yang mengikatnya sendiri". Demikianlah, sebaliknya mundur atau berdiri tetap ditempatnya, dia justru berlompat maju akan memapaki It Mo.
"Kebetulan sekali kau muncul !"
Katanya sambil tertawa seraya terus ia menyiapkan tenaganya guna menyambut segala kemungkinan.
Menyaksikan gerak geriknya It Hiong itu, Peng Mo keliru menerka hati orang.
Dia justru menduga It Hiong mau membelainya.
Diam-diam dia merasa manis sekali.....
Im Ciu It Mo menatap It Hiong lebih tajam pula.
Dia heran atas sikap orang.
"Kau siapakah ?"
Tanyanya bengis.
"Akulah Tio It Hiong dari Pay In Nia !"
Sahut It Hiong dengan tegas dan terang.
"Telah kau mengenalinya baik ?"
Parasnya It Mo berubah-ubah, dari pucat menjadi merah. Dia mendongkol sekali. Lantas dia kata pula keras .
"Bocah, jangan kau berjumawa ! Akan aku si perempuan tua mengujimu akan mengetahui pasti kau si tulen atau si palsu !"
Lantas It Mo maju sambil memutar tongkatnya dengan apa ia terus mengurung si anak muda, tongkatnya itu bergerakgerak bagaikan bayangan dan anginnya seperti menderu-deru.
Sebab ilmu silat yang dia gunakan itu ialah "Kwie Eng Twie Hun --Bayangan Bajingan Mengejar Roh".
It Hiong mengawasi tongkat lawan dengan matanya seperti berkunang-kunang, tak tahu pasti ia yang mana serangan benar-benar dan yang mana gertakan belaka, dari itu terpaksa ia menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega, akan berkelit menyingkirkan diri dari ancaman malapetaka !
Hanya itu, belum lagi ia tetap menginjak tanah, tongkat sudah menyambar pula !
Hebat serangannya pemilik gua itu.
Kembali It Hiong berkelit, malah ia mesti menyelamatkan diri berulang-ulang hingga lima kali, hingga ia mesti undur lima tindak.
Yang terakhir ini, sambil berkelit, ia menghunus pedangnya.
Itulah Pekerjaan yang sulit tetapi ia berhasil melakukannya.
Barulah setelah itu, ia menyambut penyerangan terlebih jauh.
Ia menyampok tongkat panjang lawan dengan sampokan satu jurus dari ilmu pedang Khie Bun Patkwa Kiam.
Tongkatnya It Mo kena tertangkis, hingga terpental, atas mana si anak muda berlompat maju, akan membalas menyerang dengan satu susulan tikaman "Burung Sungai Mematuk Ikan".
Begitu si anak muda membalas menyerang, repotlah Im Ciu It Mo.
Dia dapat menangkis dengan dia sambil mundur, tetapi justru mundurnya itu membuat lawan memperoleh kesempatan akan maju, hingga selanjutnya dialah yang kena didesak, ditikam dan ditebas berulang-ulang.
Dia menggunakan ilmu tongkatnya dengan separuh sia-sia sebab tak sanggup dia segera memperbaiki diri seperti semula tadi !
"Tahan !"
Akhirnya It Mo berseru.
It Hiong suka mengiringi kehendak orang.
Begitu ia berhenti menyerang, begitu ia berlompat mundur.
Lawan menggunakan tongkat panjang, tak dapat ia memernahkan diri terlalu dekat dengannya, agar ia tak sampai kena dibokong.
Im Ciu It Mo mengawasi pula si anak muda, kali ini ia menatap dengan luar biasa sungguh-sungguh.
Dari mulutnya terdengar suara perlahan seperti orang menggerutu .
"Benarbenar dia murid dari Pay In Nia, dari si imam tua she Cio ! Dia ini bersilat dengan ilmu Tangga Mega dan Khie Bun Patkwa Kiam......"
"Apakah kau kenal Gak Hong Kun ?"
Tanyanya kemudian, yang herannya tak segera lenyap. Sebab ia mendapati dua orang yang segala-galanya sangat sama satu dengan lain.
"Aku kenal !"
Sahut si anak muda mengangguk.
"Dimana adanya Gak Hong Kun sekarang ?"
Im Ciu It Mo tanya pula.
"Aku tidak tahu,"
Sahut lagi si anak muda.
"Apakah bukan kau telah membunuhnya lalu menyamar datang kemari ?"
It Mo menyangka jelek maka dia bertanya begitu.
"Kau mengoceh tak karuan !"
Jawab It Hiong sambil tertawa.
"Bukankah kau jago Kang Ouw yang telah berpengalaman beberapa puluh tahun ? Mengapa kau dapat mengucapkan kata-kata jenaka itu ? Ha ha ha !"
"Hai, bocah !"
Teriak It Mo dengan bentakannya.
"Beranikah kau mentertawakanku ?"
It Hiong tertawa pula.
"Kenapa aku tak berani tertawa ?"
Jawabnya menantang.
"Sebab apa perlunya buat aku menyamar menjadi Gak Hong Kun ? Kau yang menerkaku yang bukan-bukan !"
It Mo melengak. Dia bungkam.
"Ini........ ini.........."
Katanya kemudian, sukar. Peng Mo turut menjadi heran, dia jadi ingin ketahui hal yang benar.
"Kenapakah Gak Hong Kun menyamar menjadi kau ?"
Ia tanya si anak muda. Berani ia mencampur bicara. Di tanya begitu, panas hatinya It Hiong.
"Sebab dia mau melakukan pelbagai macam kejahatan !"
Sahutnya sambil berteriak.
"Dan dia telah melakukannya ! Dengan itu dia mau menimpakan segala kejahatannya atas diriku !"
Diam-diam It Mo mengangguk.
"Jadinya kalian berdua musuh satu pada lain !"
Katanya.
"Sebenarnya kami berdua bukannya musuh bahkan sahabat satu dengan lain."
Kata It Hiong.
Dua-dua Peng Mo dan It Mo heran sekali, maka keduanya mengawasi mendelong kepada si anak muda.
Ek Sam Biauw turut merasa aneh, hingga dia pun mengawasi.
Habis mengucap keras itu, It Hiong menghela nafas.
"Hal yang benar ialah,"
Katanya kemudian, dengan sabar.
"Hong Kun kalah denganku dalam urusan asmara, dia menjadi bersakit hati dan membenci aku, maka dia telah melakukan semua perbuatannya itu. Sebaliknya aku, terhadapnya sama sekali aku tidak membenci atau mendendam."
Mendengar itu, Peng Mo berduka bukan main.
Jadi sekian lama ia telah kena orang permainkan, hingga ia tergila-gila dan mencari-cari It Hiong tak ujungnya.
Dalam kedukaannya itu, ia mengangkat kepala menengadah langit-langit kamar di dalam goa itu.......
It Mo pun berdiam sekian lama, akan akhirnya menanya si anak muda.
"Kau bilang kau tidak membenci atau mendendam terhadap Gak Hong Kun, habis apa perlunya kau menyerbu ke tempatku ini ? Buat apakah ?"
It Hiong tertawa nyaring.
"Aku mencari kakakku, Kakak Cio Kiauw In !"
Mendengar disebutnya nama Kiauw In, hati It Mo bercekat. Tapi dia cerdik bahkan licin. Dia lantas bermain komedi.
"Pernah apakah kau dengan Cio Kiauw In ?"
Dia sengaja menanya. Ditanya begitu, It Hiong gusar.
"Dia pernah apa denganku, apakah perlunya kau usilan ?"
Dia balik menanya. Im Cio It Mo mengulapkan tongkatnya. Kata dia keras.
"Aku si perempuan tua memandang mata pada gurumu ! Kali ini suka aku memberi ampun padamu ! Nah, kau pergilah, lekas !"
"Hm !"
It Hiong menjawab pengusiran itu.
"Tak semudah ini, nyonya tua ! Biarnya aku mesti menginjak-injak Kian Gee Kiap Kok hingga rata dengan bumi, mesti aku mencari dahulu kakak In ku itu !"
It Mo mengawasi pula pemuda itu buat kesekian kalinya.
Diam-diam ia bercekat hati.
Orang berani dan telah bertekad bulat.
Ia pula telah menyaksikan kepandaiannya pemuda itu barusan.
Hingga ia harus berfikir dengan seksama.
Ingin ia menempur pula, tetapi ia ragu-ragu.
Telah ia melihat tegas, Peng Mo mencintai anak muda itu, kalau ia mencoba mengusir It Hiong dengan paksa, pasti si Bajingan Es akan berdiri dipihaknya anak muda itu !
Dan itulah berbahaya !
Melayani It Hiong seorang diri ia belum merasa pasti, bagaimana kalau It Hiong dibantu wanita yang lagi mabuk cinta itu ?
"Ah !"
Pikirnya kemudian.
"Baiklah aku tarik Peng Mo ke pihakku........."
Sebagai seorang berpengalaman, wanita tua ini dapat cepat menggunakan otaknya. Maka ia lantas mengawasi kepada Peng Mo, untuk berkata sambil tertawa .
"Toyu Peng Mo, bukankah kita berdua orang dari satu golongan ? Nah, bagaimana jika aku sempurnakan minatmu supaya kau berhasil berjodoh dengan Gak Hong Kun ?"
Peng Mo melongo mendengar tawaran itu. Tak ia sangkat kata-kata semacam itu dapat keluar dari It Mo si Bajingan Tunggal. Maka ia lantas menerka-nerka .
"Hm ! Jika dia bukan hendak menipuku, mestinya dia ingin memeras sesuatu dari aku !"
Segera Peng Mo ingat peristiwa di Ngo Tay San.
Di gunung itu, buat merampas Gak Hong Kun, Hong Gwa Sam Mo sampai bentrok dengan It Mo dan ketika itu mereka tidak berhasil.
Sekarang It Mo mengajukan sarannya itu.
"Hm ! Dia tentu hendak merusak perhubunganku dengan It Hiong......"
Demikian pikirnya. Tetap dia bercuriga. Maka itu, diakhirnya, dia menggeleng-geleng kepala dan kata .
"Terima kasih, sahabatku, aku bersyukur buat kebaikan hatimu ini.........."
Habis berkata itu, ia segera berpaling kepada It Hiong. Im Ciu It Mo menyela lagak orang. Tegurnya pada si Bajingan Es .
"Bukankah kau mau mencari Gak Hong Kun ? Nah, habis mau apakah kau datang kemari ?"
Peng Mo tidak menjawab pertanyaan itu. Bahkan menoleh pun tidak. Sebaliknya ia kata pada si anak muda .
"Saudara Tio, mari aku bantu kau mencari Cio Kiauw In ! Bagaimana nanti kau hendak mengucap terima kasih padaku ?"
"Entahlah !"
Sahut It Hiong cepat.
"Entahlah dengan cara apa tetapi pasti !"
Peng Mo tertawa manis.
"Kata-katamu menjadi suatu kepastian, bukan ?"
Katanya.
"Apakah kau tak akan menyesal ?"
It Hiong menjawab keras.
"Aku yang muda, belum pernah aku omong kosong !"
Di saat itu, keras sangat keinginannya si anak muda mendapati Kiauw In, kekasihnya yang ia paling cintai dan hargai, Kiauw In cantik dan luas dan jauh pandangan matanya, dia sabar luar biasa, dia tak kenal kejelusan.
Cuma ia tidak pernah menyangka apa itu yang Peng Mo bakal minta sebagai pembalasan budi !
Maka kembali ia menghadapi "bencana asmara".......
It Mo menjadi gusar melihat tingkahnya Peng Mo Ia tahu yang ia gagal membujuk atau mencoba memperdayai wanita itu.
Maka ia kata keras .
"Peng Mo ! Jika kau tahu selatan, lekas-lekas kau keluar dari sini ! Jika tidak, awas, dengan tanganku akan aku bunuh padamu !"
Mendengar suara orang itu, bukannya dia lantas mengangkat kaki, Peng Mo justru tertawa. Malah lantas dia kata .
"Menurut aku, lebih baik kau siang-siang menyerahkan Nona Cio ! Janganlah kau keliru pikir hingga nanti lembah Kian Gee Kiap ini berikut kamar obatmu ini musnah tampak rata !"
It Mo sudah gusar, sekarang ia mendengar suara orang itu.
Kegusarannya meluap, hingga umpama kata rambut ubannya pada bangkit berdiri, sedangkan sinar matanya menyala tajam sekali.
Kalau dapat, ia ingin dengan satu kemplangan saja membuat wanita centil dan gila laki itu mampus disitu juga !
It Hiong tidak sabaran, selagi orang berbicara itu, ia justru mencampur bicara.
"Dimana adanya Nona Cio Kiauw In ?"
Tanyanya bengis.
"Kau memberitahukan atau tidak ?"
It Mo mencoba menyabarkan diri.
"Jika kau berani, mari turut aku !"
Katanya tak sekeras tadi, lenyap pula tampang bengisnya.
Dan ia bertindak ke dinding kiri.
Dia mengangkat sebelah tangannya, akan menekan sesuatu pada dinding itu.
Satu suara keras segera terdengar, disusul dengan terpentangnya sebuah pintu rahasia yang keci.
Sambil membawa tongkatnya, It Mo bertindak memasuki pintu itu.
Ia lantas disusul muridnya.
It Hiong melongok sejenak, lantas ia menyusul masuk.
"Saudara Tio, awas akan pembokongan !"
Peng Mo memberi ingat.
Sebelumnya pintu itu tertutup pula, ia pun berlompat memasukinya.
Pintu rahasia itu merupakan pintu dari sebuah lorong atau jalan terowongan.
Hawa disitu sumPek dan tak menyedapkan hidung.
It Mo dan muridnya berjalan dengan cepat sekali.
Inilah tak heran sebab mereka kenal baik guanya sendiri itu.
It Hiong berlaku berani, ia mengikuti dengan cepat, cuma ia mengambil jarak kira dua tombak.
Di belakang ia, Peng Mo mengintil terus.
Lorong itu mendaki, sebagaimana makin jauh orang jalan main naik.
Lorong pula ada beberapa pengkolannya.
Setelah itu, jalan berubah makin lebar.
Bahkan mulai pula tampak cahaya terang.
Sesudah berjalan sekian lama, tibalah mereka di ujung lorong.
Kiranya itu merupakan bagian belakang gunung.
Sinar terang tadi ada sinarnya si puteri malam, sinar yang lemah sekali.
Di situ angin sebaliknya bertiup keras.
It Hiong percaya ketika itu sudah jauh malam.
Di sini It Mo dan Sam Biauw berjalan terus, sampai di depannya sebuah jurang batu karang.
Itulah kaki jurang.
Karena disitu ada sebuah gua batu dan cahaya api tampak di mulut gua.
It Hiong berlompat maju, guna memernahkan dia lebih dekat dengan It Mo dan muridnya itu.
Dengan saling susul, mereka memasuki mulut gua.
Peng Mo turut juga sebab dia tak sudi ketinggalan.
Setibanya di dalam gua, di sana tampak sinar terang dari api.
Maka It Hiong lantas melihat juga Ya Bie, dengan tangan memegangi ular hijaunya, lagi menempur dua orang musuh.
So Hun Cian Li berada bersama di dalam gua itu, pakaiannya sudah rubat-rabit.
Selekasnya dia berada di dalam, It Mo bersiul nyaring sekali, atas mana kedua orang muridnya segera menghentikan pengepungannya terhadap Ya Bie, dan Ya Bie pun suka berdiri diam.
It Mo membuka mata lebar-lebar.
Ia melihat belasan orang laki-laki dengan tubuh besar dan seragam hitam pada rebah bergeletakan di lantai tanah, maka juga ia segera memperdengarkan suara dinginnya.
"Hm ! Apakah semua ini hasil perbuatannya budak itu ?"
Dan dengan tongkatnya ia menuding Ya Bie. Ia menanya kepada murid-muridnya. Ek Toa Biauw maju setindak.
"Budak ini mengerti ilmu siluman !"
Menjawab murid kepala ini sambil dia pun menuding muridnya Touw Hwe Jie.
"Dan ular ditangannya itu sangat beracun ! Semua mereka itu, karena tidak berhati-hati telah kena dipagut ular hingga mereka roboh tak berdaya !' Sengaja Toa Biauw menyebut lihainya ular hijau dari Ya Bie agar ia bisa mengelakkan tanggung jawabnya. It Hiong sementara itu menghampiri Ya Bie. Ia puas yang nona itu tak kena perangkap lawan. Bahkan dia berhasil merobohkan banyak musuh.
"Adik, kau tak kurang suatu apa, bukan ?"
Tanyanya halus. Nona itu masih bernafas terengah-engah.
"Aku kena ditusuk satu kali pedangnya kakak Cio !"
Katanya.
It Hiong terkejut, hingga segera ia mengawasi tubuhnya si nona, hingga ia melihat belakang bahu kiri nona itu, bajunya telah robek dan disitu tampak darah segar !
Tidak ayal lagi, ia menotok atasan bahu itu, guna menghentikan darahnya yang masih mengalir keluar, kemudian dengan sama cepatnya ia mengeluarkan obatnya akan mengobati luka itu.
Ya Bie tertawa melihat keprihatinan si anak muda.
"Kakak Hiong, aku tidak kenapa-napa......"
Katanya bersenyum manis. Justru itu terdengar suara nyaring bengis dari Im Ciu It Mo.
"Eh, bocah she Tio ! Orang yang kau hendak cari berada disini ! Hendak aku lihat, kepandaian apa kau miliki hingga kau sanggup membantunya !"
It Hiong menoleh dengan cepat.
Maka ia melihat Cio Kiauw In berada dalam rombongannya ketujuh muridnya Im Ciu It Mo.
Nona itu memegangi pedang tetapi sinar matanya tolol tampangnya mirip orang hilang ingatan.
Bukan main sedihnya ia.
"Kakak In !"
Serunya.
"Kakak In !"
Dan segera ia maju untuk menghampiri.
"Serrr ! Serrrr !"
Demikian suara nyaring terdengar saling susul. Itulah suara anginnya beberapa lembar cambuk lunak, yang dihajarkan kepada si anak muda. It Hiong terkejut, ia berlompat mundur pula.
"Kakak Kiauw In !"
Ia memanggil lagi.
"Kakak Kiauw In !"
Nona Cio mendengar, dia mengawasi dengan berdiam saja.
Terang sekali matanya memperlihatkan sinar ketololan, suatu bukti yang dia tak sadarkan diri seluruhnya.
Dia mendengar tetapi sebagai tiada..........
Im Ciu It Mo berkata pula, tetap dengan suaranya yang dingin.
"Dia telah makan obatku si tua, obat Thay-siang Hoan Hun Tan !"
Demikian katanya.
"Mana dia mengenali pula padamu ? Hm !"
It Hiong berduka berbareng mendongkol melihat keadaannya Kiauw In itu serta menyaksikan lagak tengik jumawa dari si wanita tua dan busuk, kata-katanya wanita itu membuat darahnya bergolak, matanya merah dan bersinar membara.
Begitulah tanpa mampu mengendalikan diri lagi, ia menghunus pedangnya menerjang lawan.
Dengan menggerakkan tongkatnya dengan jurus silat "Mengangkat tongkat, Menutup pintu", Im Ciu It Mo menangkis sambil dia berlompat berkelit.
"Bocah, jangan tergesa-gesa !"
Teriaknya.
"Jika kau hendak menempur aku, baik, tetapi masih ada waktunya, kita tak akan kelambatan ! Mari kita bicara dahulu !"
It Hiong tetap mendongkol, ia gusar sekali.
"Apa lagi yang hendak dibicarakan ?"
Tegurnya. Im Ciu It Mo menjawab dengan tenang.
"Aku si wanita tua,"
Katanya.
"aku yang tua tak sudi menghina yang muda, aku tidak mau menjadi si besar menindih si kecil ! Lebih-lebih sungkan kami yang banyak merebut kemenangan dari yang sedikit ! Aku malu kalau aku sampai ditertawai orang Kang Ouw !"
"Habis kau mau apa ?"
Bentak It Hiong sambil menuding dengan pedangnya.
"Aku ingin yang kita berdua membuat garis,"
Sahut It Mo, tertawa tawar.
"Kita mengadakan syarat atau perjanjian ! Dengan cara demikian, kalau sebentar kau mampus, kau tak bakal penasaran !"
"Lekas jelaskan !"
It Hiong membentak pula. Ia menjadi sangat tak sabaran. Im Ciu It Mo bersenyum ewah. Dia lantas menunjuk Nona Kiauw In.
"Syaratku sangat sederhana !"
Sahutnya acuh tak acuh.
"Begini . Kalau kau dapat mengalahkan pedang ditangannya dia itu, akan aku memberikan kebebasan padamu buat membawanya pergi ! Percayaitu aku si wanita tua, tak nanti aku menghalang-halangi padamu !"
It Hiong melengak mendengar syarat itu.
Sungguh, itulah diluar dugaannya !
Jadi dia hendak diadu dengan kakaknya itu, dengan pacarnya sendiri !
Ia melengak saking mendongkol dan gusar melewati batas !
Sulitnya bagi si anak muda.
Kiauw In tengah tak sadarkan diri, hal itu bisa mendatangkan bencana untuk dirinya si nona demikian pun buat dirinya sendiri.
Bagaimana kalau si nona atau ia salah menurunkan tangan ?
Ya Bie melihat dan mendengar.
Ia dapat mengerti kesulitannya si anak muda.
Ia pun bingung hingga ia turut berdiam saja.
Im Ciu It Mo mengawasi si anak muda, dia puas sekali.
Beberapa kali dia memperdengarkan tawa dinginnya.
Itulah penghinaan yang sangat.
Tawanya pun bernada mirip Pekiknya si burung malam.
"Eh, bocah she Tio !"
Katanya pula, habis tawanya yang paling belakang.
"Eh, bocah, apakah kau tidak mau bertanding dengan Cio Kiauw In ? Jika benar, aku si perempuan tua, aku tidak mau memaksamu ! Baik, aku persilahkan kau berlalu dari sini !"
Matanya It Hiong terbuka lebar hingga menjadi mendelik. Ia pun menggertak giginya.
"Baiklah !"
Sahutnya singkat.
"Kau suruhlah kakak In maju !"
Sesaat itu, anak muda kita dapat juga mengambil keputusannya.
"Tunggu dahulu !"
Tiba-tiba Peng Mo, si Bajingan Es, menyela.
"Aku hendak bicara sedikit."
"Siapa menghendaki kau banyak bacot !"
Bentak It Mo pada nikouw itu.
"Minggir !"
Tapi nikouw itu membelar. Dia mengotot.
"Cara bertempur itu tidak adil ! Syarat itu tak tepat !"
"Apa yang tidak adil ?"
Bentak It Mo.
"Taruh kata dia kalah, aku pun tidak menghendaki jiwanya !"
Dengan dia, It Mo maksudkan It Hiong. Peng Mo Nikouw masih tidak mau mengerti.
"Taruh kata dia menang, Kiauw In toh tetap milikmu, bukan ?"
Katanya. Ia pun maksudkan "dia"
Dengan It Hiong.
"Nona itu lupa akan dirinya sendiri, dia bagaikan mayat hidup !"
Mendengar suaranya Peng Mo itu, hatinya menggetar.
Ia insaf kenapa Kiauw In tidak mengenali pacarnya, pula nona itu berdiam saja.
Memang, si nona telah menjadi korban obat jahat dari Im Ciu It Mo, kalau tidak, tak nanti dia tak sadarkan diri.
Kalau ia menang obat apa bisa dipakai mengobati Kiauw In ?
It Mo sangat cerdik.
Dia berpura tidak mengerti.
"Nah, kau bilanglah."
Katanya pada si pemuda.
"Kau mempunyai pikiran apa ? Atau apakah yang kau hendak ajukan ? Kau bicaralah !"
Mendengar itu, It Hiong lantas kata pada It Mo.
"Cianpwe, kau telah memberi kelonggaran padaku, baik, aku terima ! Buat itu terlebih dahulu terimalah terima kasihku ! Hanya sebelum kami mulai bertempur, lebih dahulu hendak aku minta sesuatu......."
Im Ciu It Mo tertawa terkekeh. Dia geli sekali.
"Begini,"
Sahut It Hiong.
"Andiakata aku berhasil merebut kemenangan dari Nona Kiauw In, cianpwe mesti memberikan aku obat pemunah mesti memberikan aku obat pemunah guna menyembuhkan dia dari siksaan obat Thay-siang Hoan Hun Tan !"
"Tak sukar buat aku memberikan obat itu !"
Katanya singkat.
"Asal kau hendak mencoba-coba Barisan rahasiaku, Barisan Cit Biauw Tin !"
It Hiong menjawab tanpa berpikir pula.
"Baik !"
Demikian sahutnya. Anak muda itu mau mengajukan diri, tetapi Ya Bie menghampiri dan berbisik ditelinganya .
"Kakak Hiong, kau harus menggunakan tipu Hoan Kak Bie Cin, ajarannya guruku, kau totok pada Kakak In, setelah itu, kita segera membawanya berlalu !"
"Tapi,"
Kata It Hiong.
"kita membutuhkan obat pemunahnya...."
Tapi si nona langsung melirik dan tertawa manis.
"Aku tidak percaya Thay-siang Hoan Hun Tan demikian lihai !"
Katanya.
"Mustahil kita tidak dapat mencari lain obat buat menyembuhkannya !"
It Hiong menggeleng kepala.
"Obat memang banyak tetapi........"
"Tetapi,"
Si nona menyela.
"bukankah tadi hawa beracun di dalam gua telah disirnakan oleh cahaya mutiara mustikamu, kakak Hiong ?"
It Hiong bukannya kalah cerdas dari si nona, tetapi ia tengah pepat pikiran.
Ia pula memikir buat mencoba kejujurannya Im Ciu It Mo.
Andiakata Bajingan itu menyangkal, itulah urusan lain.
Hanya kata-katanya Ya Bie membuat pikirannya terbuka, hingga ia dapat sedikit lebih tenang.
"Bagaimana kalau sekarang kita mulai bertempur ?"
Demikian ia tanya It Mo. Si Bajingan mengawasi.
"Bagaimana kehendakmu,"
Balas tanyanya.
"Kau mau menempur dahulu Tio Kiauw In atau melawan Barisan Cit Biauw Tin ku ?"
Belum lagi It Hiong menjawab, atau ia sudah didahului oleh Ya Bie .
"Kakak Hiong ! Kau tempur dahulu Kakak Kiauw In !"
Nona itu mempunyai pikirannya sendiri. Dia memang sangat cerdas. It Mo mendongkol sekali.
"Budak bau !"
Bentaknya.
"Budak bau, mau apa kau banyak mulut ? Kau tunggu sampai sebentar lagi, aku pun hendak membuat perhitungan denganmu !"
Ya Bie menatap, ular hijaunya dibuat main ditangannya.
"Siapa jeri padamu ?"
Katanya, mengejek. Ia memang sangat berani. It Hiong mengulapkan tangannya, mencegah nona itu melayani It Mo mengadu lidah.
"Nah, locianpwe,"
Katanya.
"silahkan kau suruh kakak In keluar !"
Sementara itu orang-orangnya It Mo yang dipagut ular telah dapat ditolongi kawannya hingga terasadar pula, setelah itu It Mo memberi isyarat buat orang-orangnya itu pada mengundurkan, akan memberi peluang ditengah gua, yang memangnya lebar sekali.
Ruang itu luas kira-kira dua puluh tombak persegi.
Dekat dinding terdapat para-para alat senjata, suatu bukti ruang itu ruang peranti berlatih silat.
Habis menyuruh orang-orangnya mundur, It Mo bertindak ke pinggir kiri dimana ada sebuah kursi, di situ ia lantas menjatuhkan diri untuk berduduk, buat membawa tingkahnya sebagai ketua atau pemimpin.
Ia lantas diapit oleh ketujuh Biauw-Yauw-lie, murid-muridnya berikut Kiauw In.
Ya Bie bersama Peng Mo mengambil tempat di sisi kanan, keduanya memasang mata terhadap It Mo dan sekalian orangnya itu.
Aneh ada So Hun Cian Li, dia justru duduk tePekur dan ngelenggut !
It Hiong sudah lantas maju ke tengah ruang kosong itu, matanya mengawasi tajam ke arah Cio Kiauw In.
Ia berlaku tenang tetapi toh pikirannya kacau, sebab ia berduka, berkhawatir berbareng mendongkol dan gusar.
Ia terutama sangat mengawatirkan Kiauw In, yang tak sadarkan diri itu.
Ia mendongkol hingga hampir ia memuntahkan darah saking keras mengekang diri.
Im Ciu It Mo berlaku ayal-ayalan.
Masih dia memandang dahulu pada orang-orangnya dan ke sekitarnya.
"Eh, bocah she Tio, kau sudah siap atau belum ?"
Demikian tanyanya, disengaja, meski juga ia telah melihat sendiri bagaimana orang sudah bersiap sedia. Ia mau memperlambat waktu, guna menegangkan pikirannya anak muda itu.
"Sudah siap !"
Sahut It Hiong, yang sebisanya menentramkan hatinya.
"Mari !"
Im Ciu It Mo mengerahkan tenaga dalamnya, sesudah mana dua kali ia memperdengarkan Pekiknya yang aneh, hanya kali ini Pekik perlahan, sedangkan dengan sepasang matanya yang bersinar tajam, ia mengawasi Kiauw In, menatap muka orang.
Tubuhnya Nona Cio menggetar waktu ia mendengar dua kali Pekik itu, mendadak matanya yang bersinar tolol menjadi bercahaya tajam, setelah mana dia mengangkat kepala atau mukanya, mengawasi si Bajingan.
Selekasnya kedua sinar matanya beradu satu dengan lain, Kiauw In lantas membungkuk memberi hormat pada si Bajingan.
Dia bagaikan kena sihir.
Lagi dua kali Im Ciu It Mo memperdengarkan suaranya, kali ini dengan dua kali siulan tajam, kemudian ia menuding pada It Hiong sembari dia memberi perintah pada nona dibawah pengaruh gaibnya itu .
"Kau bekuk bocah itu !"
"Ya !"
Menyahut Kiau In dengan cepat, setelah mana dia menoleh ke arah yang ditunjuk It Mo, ialah ke arah It Hiong, yang ia awasi dengan tampang mendelong, sedikit juga tak ada perasaan apa-apa.
Sebaliknya, sinar matanya ialah sinar mata jahat !
Setelah itu, sambil menghunus pedangnya, nona itu berlompat maju, akan tiba di depannya si anak muda, sejarak empat atau lima kaki.
"Kakak !"
It Hiong menyapa.
Kiauw In mendengar bagaikan tidak mendengar, masih dia mendelong mengawasi si anak muda.
Kembali sinar matanya itu sinar mata tolol.
It Hiong mengawasi nona itu, pikirannya tetap kacau.
Ia berkasihan terhadap si nona berbareng mendongkol terhadap Im Ciu It Mo.
Justru mereka berdua tengah saling memandang, kembali terdengar Pekiknya It Mo, dua kali Pekik pendek seperti tadi.
Menyusul Pekik itu, Kiauw In lompat maju pada It Hiong, pedangnya diputar terus dipakai menikam !
Saking cepatnya si nona, hampir dadanya si anak muda terpanggang, syukur ia dapat cepat bekelit ke samping.
Cuma ujung bajunya kena terobek sedikit !
Biar bagaimana, dia heran dan terkejut juga.
Melihat caranya si nona menyerang, maka It Hiong telah mendapat kenyataan yang kakak In-nya sudah berhasil menyempurnakan latihan ilmu pedang guru mereka, ilmu pedang Khie Bun Patkwa Kiam.
Hal ini menggirangkan hatinya.
Hanya ia berduka yang si nona tak ingat diri.
Dan sekarang ia mesti melayani si kakak seperguruan dalam keadaan mirip musuh besarnya.....
Tak ada niatnya si anak muda akan sedikit juga mencelakai Kiauw In, di lain pihak, ia mesti berkelahi dengan sungguhsungguh sebab si nona sebaliknya menyerang ia dengan hebat sekali.
Gagal dengan tikamannya yang pertama itu, Kiauw In terus menangkis sampai delapan kali, tikaman dan tebasannya itu berbahaya semuanya, celaka kalau orang kurang waspada dan kalah gesit !
It Hiong selalu menyelamatkan diri dengan pelbagai loncatan Te In Ciong, ilmu ringan tubuh Tangga Mega.
Selama itu juga, tak pernah satu kali pun ia membalasa menyerang.
Ya Bie menonton dengan hatinya tegang sendirinya.
Selagi si anak muda tidak pernah membalas menyerang, anak muda itu sendiri senantiasa terancam bahaya.
Ia menjadi sangat berkuatir, sulit buat ia menenangkan diri.
"Kenapa kakak Hiong tidak mau membalas ?"
Demikian pikirnya.
"Ia hendak menanti sampai kapan ?"
Dan ia menjadi demikian tidak sabar hingga akhirnya, ia berseru .
"Kakak Hiong ! Kakak ! Lekas hunus pedangmu !"
Memang benar, si anak muda belum juga mencabut pedangnya.
Masih saja It Hiong bertangan kosong.
Ia cuma berkelit sana dan berkelit sini.
Ia bergerak diantara pelbagai tikaman dan tebasan pedang yang sangat membahayakan itu.
Sebab si nona berkelahi dengan sungguh-sungguh.
Dia tidak sadar tetapi dia toh tak melupakan ilmu pedangnya.
Itulah hebatnya ilmu sihir dari Im Ciu It Mo, si Bajingan Tunggal !
It Hiong insyaf bahaya yang mengancam dirinya, ia mengerti kekhawatirannya Ya Bie, tetapi ia tidak mau menggunakan pedangnya sebab ia takut nanti kesalahan melukai pacarnya itu, si kakak perguruan yang cantik, luwes, yang ia sangat hargakan.
Im Ciu It Mo menonton dengan puas.
Adalah keinginannya yang utama akan mengadu domba itu dua saudara seperguruan, supaya mereka saling bunuh, hanya keinginan itu ia sangsikan akan berwujud.
Inilah karena dia mau menerka, biarnya It Hiong lebih lihai daripada Kiauw In, mungkin It Hiong tidak berniat melukai, jangan kata membinasakan, kakak seperguruannya itu.........
Syukur buat It Hiong, ia telah menyampaikan kesempurnaannya dalam hal melatih Khiebun Patkwa Kiam, hingga ia dapat melebihi Kiauw In.
Ditengah ruang itu, kedua lawan bergerak sangat cepat, tubuh mereka bagaikan berputaran, maka juga banyak penonton, ialah orang-orangnya Im Ciu It Mo, lantas saja matanya seperti kabur disebabkan sangat cepatnya kedua tubuh muda mudi itu bergerak-gerak, terpaksa, mereka itu menjadi heran dan kagum, semua mengawasi dengan mendelong.......
Im Ciu It Mo juga menjadi sangat kagum, hingga ia memuji pada Tek Cio Siangjin yang dapat mengajari murid-muridnya menjadi demikian lihai.
Di lain pihak, dia menjadi bertambah penasaran dan berkhawatir.
Muda mudi itu bisa menjadi lawannya yang paling berbahaya andiakata mereka berdua tetap dikasih tinggal hidup, dari itu ingin dia yang dua orang itu sama-sama terbinasa di depannya ini !
Lebih dahulu daripada itu, It Mo ingin sekali It Hiong kena terpancing atau terpedayakan hingga si anak muda juga kena makan Thay-siang Hoan Hun Tan, hingga pemuda itu dapat dipengaruhkan sebagai si pemudi.
Kalau mereka berdua dapat menjadi alatnya.....
Sementara itu pertarungan sudah berjalan terus dan mengalami perubahan juga.
Itulah sebab, sampai itu waktu, It Hiong mulai berubah sikap.
Si anak muda kadang-kadang membalas menyerang, walaupun hanya dengan tangan kosong.
Karena sekarang anak muda itu mau mencari ketika akan menotok si nona.
Dengan penyerangan pembalasannya itu, ia mencari kelemahan si nona.........
Begitulah, sinar pedang berkilauan dan tangan kosong berkelebatan.
Setelah pertarungan berjalan begitu lama tanpa tandatanda salah satu bakal kalah, diantara para penonton muncul kecurigaan apa tak mungkin muda mudi itu tengah membuat pertunjukan.
Nampaknya aneh mereka tetap sama tangguhnya sedang yang satu bersenjata tajam, bahkan pedang yang panjang, dan yang lainnya bertangan kosong.
Mestinya si tangan kosong yang bakal terdesak terlebih dahulu......
Sedangkan sebenarnya, karena ingatannya terganggu, Kiauw In cuma mampu berkelahi menurut gerak geriknya yang biasa, tak dapat ia menggunakan kecerdasan atau kecerdikan asalnya, yang sejati.
It Hiong sebaliknya, dapat ia memahamkan setiap gerak gerik si nona yang seperti itu-itu juga.
Sampai disitu, Im Ciu It Mo yang lihai dapat melihat yang akalnya bakal tidak memberikan dia hasil yang memuaskan.
Dia berpendapat, tak nanti muda mudi itu dapat saling membinasakan seperti sering terjadia diantara kedua orang musuh yang lagi mengadu jiwa.
Hampir ia menghentikan pertermpuran itu guna digantikan saja oleh tujuh orang muridnya.
Karena ini, ia terus menonton sambil otaknya bekerja.......
Dengan berlangsungnya pertempuran, lantas juga tampak Kiauw In mulai bermuka semu dadu dan dahinya pun mulai mengeluarkan sedikit peluh.
Itulah bukti yang ia telah mengeluarkan tenaga terlalu banyak, hingga ia mulai terserang letihnya.
Karenanya, juga terus terlihat yang pedangnya tak lagi bergerak gesit seperti jurus-jurus permulaan.
Di sebelahnya si nona, It Hiong tetap tenang dan tangguh.
Ia puas melihat Kiauw In mulai bergerak kendor, tetapi ia tidak mau berlaku sembrono dengan lekas-lekas turun tangan menotok si nona.
Ia berlaku sabar menantikan sang waktu......
Peng Mo Nikouw adalah seorang yang berpengalaman, setelah pertempuran berjalan sekian jauh itu, dia mulai dapat menerka hatinya It Hiong.
Walaupun demikian, dia nyatanya kurang sabar, maka juga akhir-akhirnya dia memperdengarkan suaranya.
"Saudara Tio !"
Demikian teriaknya. Atau dia berhenti dengan mendadak, sebab justru itu waktu, Kiauw In melakukan satu penyerangan dahsyat ! Ya Bie heran, hingga dia menanya ;
"Eh, Toa-suhu, mengapa kau tidak melanjuti kata-katamu?"
"Toa-suhu"
Adalah panggilan yang berarti guru besar atau guru tua.
Dengan matanya terus mengikuti gerak gerik pedang, Peng Mo menghela nafas.
Itulah jawabannya terhadap si nona yang polos itu.
Ketika itu tujuh muridnya Im Ciu It Mo pun mulai habis sabar, sebab mereka menyaksikan pertarungan muda mudi itu berlarut, setelah saling memandang, mereka terus berpaling kepada guru mereka, akan mengawasi guru itu.
Mereka ingin turun tangan membantu si pemudi mengeroyok si pemuda.........
Im Ciu It Mo sebaliknya berpikir lain.
Dia masih dapat menyabarkan diri.
Dia tidak mempedulikan sekalian muridnya itu.
Tetap dia duduk tak bergeming, cuma wajahnya yang memperlihatkan hatinya tegang sendirinya.
Parasnya si Bajingan suaram........
Si Bajingan Tunggal dipersulit oleh janjinya tadi kepada It Hiong, maka itu, tak dapat dia sembarang bertindak.
Dia merasa malu kalau sampai si anak muda menegurnya.
Sedangkan maksudnya adalah memegang harga diri supaya nanti dihormati kaum rimba persilatan.
Lebih-lebih disitu berada Ya Bie, muridnya Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Jie serta Peng Mo salah seorang anggauta dari Hong Gwa Sam Mo, pasti pamornya turun seketika apabila mereka itu mengabarkan tak tepat janjinya ini.
Di lain pihak, tak mudah untuknya membekap mulutnya dua orang ini, yang tak sanggup dia membinasakannya.
It Mo pun mengerti maksud ketujuh muridnya itu, diamdiam dia mengasah otaknya, ia berpikir keras.
Dengan tongkatnya, berulang kali dia mengetuk-ngetuk lantai, guna mencari ilham........
Sekonyong-konyong It Mo dikejutkan satu teriakan "Aduh !"
Disusul suara jatuhnya pedang ke lantai, dengan lantas dia mengangkat mukanya, mengawasi ke tengah medan pertempuran.
Maka dia melihat It Hiong tengah merangkul tubuhnya Kiauw In yang terhuyung-huyung dan pedangnya nona itu menggeletak ditanah sejauh lima kaki.
Biar bagaimana, It Mo terkejut sendirinya dan hatinya berdenyutan.
Ia tidak menyangka Kiauw In roboh demikian cepat.
Ia tidak menerka yang si nona, sudah berkelahi keras terus menerus, akhirnya letih sendirinya, hingga tenaganya bagaikan habis, darahnya telah bergolak berlebihan.
Tepat disaat dia melakukan satu serangan, It Hiong menggunakan kesempatan yang baik, sembari berkelit si anak muda menyentil pedangnya si nona hingga terlepas, menyusul mana, dia ditotok jalan darahnya --jalan darah bun-hiang dan hoa kay, hingga ia menjadi terhuyung dan mudah saja tubuhnya disambar dan dipeluk hingga tak usah dia roboh terguling !
Walaupun It Hiong memeluki si nona, ia toh berdiri diam mengawasi wajah nona itu.
Inilah sebab ia melihat wajahnya Kiauw In, mukanya pucat dan matanya mendelong saja, hingga ia menjadi terharu sekali.
"Kakak Hiong, mari kita pergi !"
Begitu Ya Bie berkata setelah dia menyaksikan kesudahannya pertempuran itu.
Tapi dia masih harus mengulangi itu beberapa kali, baru It Hiong seperti mendusin.
Maka sembari terus memegangi tubuhnya Kiauw In, dia berpaling kepada Im Ciu It Mo, akan mengawasi si Bajingan Tunggal.
Tiba-tiba Im Ciu It Mo memperdengarkan suaranya yang keras .
"Bocah she Tio, jangan kau pergi dahulu ! Ingat, masih ada Cit Biauw Tin !"
Si Bajingan memperingatkan orang dengan Barisan rahasianya, Barisan Cit Biauw Tin itu. It Hiong menjawab terang dan tegas .
"Sekarang ini aku perlu lekas-lekas mengobati kakak Kiauw In ! Tentang Cit Biauw Tin, biarlah lain kali saja aku mencobanya !"
Dan sambil membopong Kiauw In, ia terus bertindak menuju ke mulut gua.
Mendadak saja terdengar suara angin bergerak, segera Cit Biauw Tauw ni, nona-nona muridnya si Bajingan Tunggal, bergerak maju untuk menghadang.
Im Ciu It Mo pun segera berkata nyaring .
"Apakah kau mempunyai kepandaian untuk mempunahkan khasiat dari obatku Thay-siang Hoan Hun Tan ? Lebih baik kau melayani dahulu Cit Biauw Tin, supaya sekalian saja kau memperoleh obatku !"
It Hiong menoleh.
"Terima kasih untuk kebaikanmu, cianpwe !"
Katanya nyaring.
"Tak usah, tak usahlah aku meminta obat Thay-siang Hoan Hun Tan lagi dari cianpwe !"
Dan terus ia berjalan pula.
Ketujuh nona sudah lantas menghadang di mulut gua.
Dengan masing-masing mencekal cambuk, mereka bersikap mengancam.
Ya Bie menyaksikan suasana itu, dengan satu siulan nyaring ia membangunkan si orang utan yang bertubuh besar dan berwajah bengis itu, sedangkan ia sendiri, segera bertindak ke mulut gua sambil membulang-balingkan tangannya dimana ularnya melilit-lilit lengannya !
"Kakak Hiong, akan aku membuka jalan untukmu !"
Kata si nona berani.
Menyusul kata-katanya itu, muridnya Touw Hwe Jie sudah mencelat ke sebelah depan It Hiong, untuk berjalan di muka guna membuka jalan diantara ketujuh nona penghadang itu.
Ular hijau itu mengangkat kepalanya, dia membuka mulutnya akan mempermainkan lidahnya !
Dari ketujuh nona itu, yang ditengah ialah Jie Biauw bersama Cit Biauw, nona-nona kedua dan ketujuh.
Mereka itu telah menyaksikan belasan orangnya menempur si nona "cilik"
Tetapi mereka semua kena terpagut ular dan roboh tak berdaya, karena itu, melihat ular datang dekat, mereka lompat menyingkir.
Hanya itu, justru mereka berdua menjauhkan diri, empat yang lainnya berbareng menyerang dengan cambuk mereka !
Ya Bie melihat datangnya serangan, ia memutar tangannya, ia mengangkat ularnya tinggi-tinggi.
Dengan itu ia membela dirinya.
Sebab itulah yang dinamakan jurus silat "Sian So Hok Liong"
Atau "Tambang Dewa Merantai Naga".
Hebat si ular hijau, dia menyambuti ke empat cambuk untuk terus melilitnya !
Nona-nona itu kaget sekali, serentak mereka menarik cambuk mereka, untuk mencoba meloloskannya.
Di lain pihak, Ya Bie sebaliknya menarik ularnya.
Kedua pihak jadi berkutat, karena itu majunya It Hiong yang memeluki Kiauw In menjadi terhalang.
Mereka jadi berhenti di belakangnya si Nona Tanggung.
Peng Mo bingung menyaksikan suasana bentrok itu.
Dia insyaf, kalau pertempuran sampai terjadi, itulah tak menguntungkan pihaknya It Hiong.
Itulah mungkin yang dikehendaki Im Ciu It Mo.
Sekian lama Peng Mo berdiam, akan tetapi otaknya diputar, akhirnya ia dapat memikir satu jalan.
Maka lantas ia berpaling pada It Mo, sembari tertawa tawar, ia kata .
"Hm, Im Ciu It Mo yang ternama di keliling jagat, kiranya dia cuma pandai menggunakan cara-cara yang rendah !"
Mukanya It Mo menjadi merah padam. Panas dia mendengar ejekan itu.
"Peng Mo !"
Bentaknya.
"Peng Mo, apakah maksudmu ?"
Peng Mo mengimplang.
"Kau masih berlagak pilon ?"
Jawabnya.
"Kalau peristiwa ini sampai tersiar diluaran, hendak aku lihat bagaimana mukamu, dimana kau hendak menaruhnya ?"
Kembali parasnya It Mo berubah.
Sebenarnya dia puas yang muridnya menempur Ya Bie dan ingin melihat kesudahannya, siapa sangka tahu-tahu Peng Mo memperdengarkan ejekan, serta ancamannya itu !
"Hm !
Hm !"
Dua kali dia memperdengarkan tawa dinginnya. Dia pun menyeringai mengejek. Terus dia menambahkan .
"Mereka itu sendiri yang hendak berkelahi, habis apakah sangkut pautnya dengan aku !"
Peng Mo memperlihatkan tampang memandang enteng. Dia juga tertawa dingin.
"Dengan kata-katamu, It Mo, kau telah menonjolkan hatinya Suma Ciauw !"
Katanya.
"Buat apakah kau bersikap begini rendah ?"
Suma Ciauw adalah orang yang di hati lain, berkata lain lagi. Mendadak It Mo gusar sekali.
"Kau berani begini kurang ajar terhadapku ?"
Tegurnya.
"Kau berani bicara tidak karuan ?"
Dari tertawa dingin, Peng Mo menyambut teguran itu dengan tertawa terbahak-bahak. Dia mengangkat mukanya dan memelengoskan itu, matanya dibuat main.
"Kita sebenarnya orang-orang satu golongan !"
Kata dia.
"Dan itulah sebabnya kenapa pin-ni berani bicara sejujurjujurnya memberi nasihat padamu, cianpwe. Kalau cianpwe hendak mengangkat nama dan melindungi itu di dalam dunia rimba persilatan, yang paling dahulu dan paling utama ialah memegang kepercayaan atas diri sendiri, buat mengharga nama harum ! Coba cianpwe pikir, benar atau tidak katakataku ini !"
Telak kata-kata itu, dan It Mo merasai dia kena terejek.
Di dalam hati, dia kaget sekali.
Sementara itu pergulatan masih berlaku diantara ke empat Cit Biauw Yauw Lie serta Ya Bie, yang melilitkan ular hijaunya kepada cambuknya ke empat muridnya Im Ciu It Mo itu.
Kedua belah pihak telah saling menarik, saling membetot.
Ya Bie mesti memperkokoh tenaga dalamnya melayani empat orang lawan sekaligus !
Masih ada tiga orang muridnya Im Ciu It Mo.
Setelah orang berkutat sekian lama tanpa kesudahan, mereka itu lantas memikir buat turun tangan, guna membantui ke empat saudara seperguruan itu.
Begitulah setelah saling melirik, dengan diam-diam mereka bergerak serempak, untuk menyerang Ya Bie secara membokong !
Hebat buat Ya Bie.
Untuk menyelamatkan dirinya, dia mesti melepaskan ularnya dan sendirinya juga mesti berkelit sambil terus berlompat menyingkir, akan tetapi sebelum ia sempat bertindak, guna menyelamatkan diri itu, si orang utan sudah mendahuluinya.
Binatang itu sangat waspada.
Dia seperti tahu yang nonanya mau dibokong.
Justru orang menyerang, justru dia berlompat maju, buat menalangi Ya Bie menjambret-meraup tiga batang cambuk.
Dia menggunakan kedua tangannya.
Ya Bie sendiri sementara itu sudah menggunakan kecerdasan dan kecerdikannya.
Di saat genting itu, ia masih ingat bagaimana harus bertindak.
Dengan tiba-tiba dia memperdengarkan seruannya yang nyaring, dia menggunakan ilmu gaibnya, Hoan Kak Bie Cin !
Maka didalam sekejap saja So Hun Cian Li berubah wujud menjadi Im Ciu It Mo !
Ketiga citBiauw Yauw Lie terkejut mendengar jeritannya nona itu, sejenak itu juga kacaulah pikirannya dan kaburlah penglihatan matanya, sedangkan hati mereka terasakan gentar sendirinya.
Selagi membokong Ya Bie, mendadak mereka melihat yang lompat kepada mereka adalah Im Ciu It Mo, guru mereka sendiri !
Serentak mereka itu memperdengarkan jeritan kaget, dengan cepat mereka menarik pulang cambuknya masingmasing sambil mereka pun berlompat mundur.
Ya Bie menggunakan kesempatan yang baik.
Kalau tadi ia menarik, sekarang ia mendadak mengangsurkan tangannya --ya, ularnya; dengan cara demikian, ia membuat lilitannya menjadi longgar, berbareng dengan itu, tangan kirinya menyusul meluncur dengan satu hajaran jurus silat "Cian Eng Ciang"
Atau tangan Seribu Bayangan, untuk menghadang sekalian lawannya itu !
Selagi ketiga nona kabur penglihatannya, empat yang lainnya lantas saja mundur dengan terhuyung-huyung sebab dengan tiba-tiba saja cambuk mereka lepas dari libatan, hingga mereka mesti terpaksa mundur sendirinya, mundur dengan tindakan kaki tidak teratur.
Syukur untuk mereka, tidak sampai mereka pada terguling roboh.
Tapi hajaran Cian Eng Ciang tidak memberi kesempatan pada mereka untuk memperbaiki diri, sedangnya mata mereka pun kabur, serangan tiba.
Maka kali ini, tanpa ampun pula, mereka pada roboh terduduk mendeprok !
Dengan roboh dan menyingkirnya ketujuh penghadang itu, maka terbukalah jalan di muka pintu gua.
Maka dengan saling susul, It Hiong dan kawan-kawannya berlompatan keluar.
Selekasnya ke empat nona bagaikan sadar dan membuka matanya, begitu mereka berlompat bangun, mereka mendapati ketiga lawan sudah berada diluar gua.
It Hiong keluar bersama si orang utan.
Hanya itu Peng Mo, selagi ia keluar bersama, terhadap So Hun Cian Li, dia telah melakukan sesuatu......
Ek Toa Biauw mementang matanya, terus ia berseru, lalu tubuhnya mau berlompat menyusul.
"Tahan !"
Mencegah Im Ciu It Mo.
"Ada apa, suhu ?"
Tanya Toa Biauw sambil dia batal mengejar, dia membalik diri sambil mengajukan pertanyaannya itu kepada gurunya.
"Toa Biauw, mari,"
Si guru memanggil tanpa dia menjawab dahulu muridnya.
Murid itu datang menghampiri, sedangkan enam orang kawannya lantas mengawasi padanya dan pada guru mereka itu, sebab mereka ingin sekali mengetahui guru itu hendak mengatakan atau berbuat apa.
"Ada titah apa, suhu ?"
Toa Boauw menanya pula setibanya ia di depan gurunya kepada siapa ia menjura hormat.
Im Ciu It Mo menarik muridnya sampai dekat sekali, untuk terus membisikinya, kemudian dengan mengulapkan tangannya, ia kata tegas-tegas .
"Dengan begini aku hendak menguji kecerdasan kalian ! Nah, pergilah !"
Ek Toa Biauw mengangguk, terus ia memutar tubuh, lalu dengan satu gerakan tangan, ia minta kawan-kawannya turut padanya.
Ia pun mendahului bertindak pergi.
Maka bagaikan angin melesat, tubuh-tubuh yang langsing itu pada berlompatan keluar gua.
Ketika itu diluar gua, Ya Bie yang membuka jalan dengan jalan di muka dan Peng Mo berjalan paling belakang selaku pelindung.
Dengan memondong Kiauw In, yang tetap tak sadarkan diri, It Hiong berjalan ditengah-tengah.
Si orang utan berada di belakang si anak muda atau di depannya si Bajingan Es.
Mereka mesti melalui jalan yang sempit, bagaikan terjepit antara dua dinding gunung.
Jika tidak berhati-hati, mereka akan kena menyentuh batu-batu yang nonjol keluar dari ujung tepian dinding disitu, batu besar yang ujungnya lancip tajam.
Di dalam ini pula orang tak dapat melihat langit, hanya ada sinar remang-remang, seperti cahaya kunang-kungan.
Syukurlah mereka masih mampu melihat jalanan untuk dapat maju terus.
Di dalam hati, It Hiong menerka-nerka darimana datangnya sinar terang itu.
Biar bagaimana, mereka merasa sedikit berkhawatir.....
Mereka juga tidak tahu jalan itu bakal menuju kemana, ke arah buntu atau ke jalan keluar.....
Sekian lama mereka berjalan, mereka belum sampai juga diakhirnya.
Mereka cuma mengkol di beberapa tikungan.
Selama itu, masih tampak sinar terang itu yang warnanya kehijau-hijauan......
Jalanan sempit sekali, hingga orang mau menerka bahwa mereka sedang menuju ke jalan buntu.....
Jangan kata Ya Bie, yang masih hijau, Peng Mo pun mendapati serupa kekhawatiran.
Cuma It Hiong yang tidak memikirkan itu, sebab perhatiannya lagi dipusatkan kepada Kiauw In, yang berada dalam pondongannya, bagaimana nona itu akan dapat ditolong dari pengaruhnya obat Thay-siang Hoan Hun Tan yang lihai itu....
Masih mereka berjalan terus.
Kembali sebuah tikungan dilewatkan.
Tiba-tiba Ya Bie menghentikan langkahnya.
Keraguraguannya sampai di puncaknya hingga tak berani ia sembarangan maju terus.
"Kakak Hiong !"
Panggilnya sambil menoleh pada si anak muda. Tanpa merasa, suaranya agak menggetar. It Hiong pun menghentikan langkahnya.
"Ada apa ?"
Tanyanya heran. Ia heran sebab otaknya tetap berada pada Kiauw In. Terus ia kelelap dalam pikiran memikirkan obat untuk menyembuhkan nona Cio.......
"Kakak Hiong,"
Kata Ya Bie.
"Kita sudah berjalan lama sekali, kita sudah melalui jauh, kenapa jalan sempit ini masih juga belum tiba pada ujungnya. Aku pun mendapat rasa jalan makin sempit....."
Mendengar itu barulah It Hiong bagaikan sadar. Maka lantas ia memasang amta, melihat ke depan dan ke sisi kiri dan kanannya.
"Adik Ya Bie benar,"
Peng Mo turut bicara.
"Apakah tak mungkin jalanan ini benar jalanan buntu ? Apakah tak mungkin ada sebabnya kenapa Im Ciu It Mo membiarkan kita lari tanpa dia mengejar ?"
It Hiong berpikir.
Kata-katanya kedua kawan itu beralasan.
Terpaksa, ia pun menjadi bercuriga.
Walaupun demikian, sebagai orang yang telah banyak pengalamannya, dapat ia bersikap tenang.
Terus ia memasang matanya, maka juga, habis si Bajingan Es berkata itu, ia melihat si Bajingan justru berada disisinya, terpisah kira tiga kaki, dan tubuhnya Bajingan itu cuma sebatas ketiaknya.
Sebaliknya Ya Bie, yang berada di depannya, terlihat sedikit lebih tinggi daripadanya, lebih tinggi sebatas kepala......
Hanya sejenak It Hiong lantas menerka sebabnya mereka jadi katai dan tinggi tak rata itu.
Itulah tanda bahwa habis menikung itu, mereka tengah mendaki.
Mungkin mereka lagi menuju ke arah puncak gunung !
Akhir-akhirnya pemuda she Tio itu tertawa.
"Maju terus !"
Katanya kemudian.
"Mari kita maju dengan hati tenang ! Kita tengah menuju ke puncak gunung !"
Ya Bie heran hingga dia melengak.
"Kakak Hiong,"
Tanyanya tak mengerti.
"bagaimana kau bisa menerka begini ? Benarkah jalan sempit ini jalanan menuju ke puncak gunung ?"
It Hiong menoleh pada Peng Mo. Kata dia .
"Aku percaya yang taysu juga telah melihat sebagai aku...."
Peng Mo pun melengak mendengar kata-kata si anak muda, hingga ia jadi berfkir.
Ia tidak segera menjawab, hanya lalu memperhatikan formasi tempat dimana mereka berdiri.
Memang tanah agak manjat naik.
Baru setelah itu, dia kata pada Ya Bie .
"Eh, adik, apakah kau tidak memperhatikan formasi tanah yang kita injak ini, iya atau tidak ? Tanpa sejauh satu tombak, nampak tegas tanah disini mudun ke bawah, meninggi ke atas ! Sungguh, dalam hal ini kakak Hiongmu itu jauh terlebih cerdik dari pada kita !"
Seruannya si Bajingan Es pun menyadarkan Ya Bie, ia memang cerdas. It Hiong pun lantas berkata pada nona itu .
"Adik Ya Bie, baiklah kau juga ingat bahwa itulah suatu pengalaman buat orang yang menjelajah dalam dunia Kang Ouw !"
Ya Bie sadar, ia pun girang.
"Iya, akan aku ingat baik-baik !"
Sahutnya, sedangkan hatinya lega bukan main.
Maka bertiga mereka berjalan terus mendaki, sampai mereka mesti berjalan sambil sedikit membungkuk.
Sinar terang guram itu terus membantu mereka.
Mungkin mereka sudah melalui dua puluh tombak lebih, lantas jalanan makin sempit.
Di lain pihak, sinar itu makin terang, seumpama terangnya cahaya si puteri malam !
Ya Bie berjalan terus bagaikan merayap, lalu merayap benar-benar !
It Hiong mesti memondong tubuh Kiauw In, tidak dapat ia merayap seperti si nona.
Apa akal ?
Lantas ia menggunakan Gie Heng Hui Heng Sut, ilmu pedang rahasia bagaikan terbang melayang.
Itulah ilmu ringan tubuh yang teratas.
Maka majulah ia bagaikan asap mengepul naik !
Hanya sebentar, pemuda ini sudah melewati Ya Bie, dua puluh tombak lebih.
Peng Mo Nikouw sebaliknya maju dengan menggunakan ilmu Pek-houw Yu Cian Kang, atau Cicak Merayap di Tembok.
Maka ia dapat maju mirip tikus atau ulat.
Jalanan menanjak itu tinggi dua ratus tombak lebih, tempat yang dapat diinjak kaki pun licin.
Syukur buat Ya Bie, dia tak menghadapi kesulitan.
Sebab Kip Hiat Hong Mo telah mewariskan dia ilmu ringan tubuh yang sangat mahir, hingga dia tak usah kalah dengan orang Kang Ouw kelas satu yang mana juga.
Walaupun demikian, nona itu telah dapat disusul dan dilampaui oleh Peng Mo.
Hal itu membuatnya penasaran, ia tak mau kalah, ia lantas percepat larinya.
Di lain detik, berhasillah ia merendeng si Bajingan Es.
Saking girang ia tertawa nyaring.
Peng Mo cuma menoleh dan melirik, ia maju terus tanpa mengatakan sesuatu.
Ya Bie tertawa tanpa sengaja, itu justru membahayakan padanya.
Siapa lagi menggunakan ilmu ringan tubuhnya, pantang baginya buat tertawa, sebab dengan tertawa, ia mengganggu pemusatan pikirannya sendiri.
Demikian si nona, lantaran ia tertawa, tubuhnya turun pula, sejauh sepuluh tombak lebih, hingga ia tertinggalkan pula oleh si Bajingan Es.
Ia kaget sekali.
Hampir ia jatuh.
Untuk menyelamatkan diri, selain meminta bantuan ularnya, yang ia libatkan kesisinya dimana ada sepotong batu besar.
Dengan begitu, ia bukan saja tak jatuh terus, bahkan ia lantas dapat merayap naik pula.
Akhirnya nona kita tiba ditempat yang aman, disitu ia bercokol dengan mengeluarkan nafas, melegakan hati.
Ia bergidik kapan ia ingat bahaya barusan yang mengancamnya.
Itulah ancaman bahaya maut !
Syukur ada si ular hijau, yang dapat melibat batu besar dan menahan tubuh nonanya !
Tempat aman itu berupa sebuah gua, yang gelap sekali.
Di situ Ya Bie meluruskan nafasnya.
"Adik Ya Bie ! Adik Ya Bie !"
Demikian berulang kali terdengar suara panggilannya It Hiong.
"Kakak..... Hiong.... !"
Si nona menjawab, nafasnya belum lurus seluruhnya.
"Kakak kau.... kau dimana ?"
"Aku disini !"
Begitu terdengar suara Peng Mo, yang bagaikan menalangi It Hiong menjawab.
"Adik Ya Bie, mari merayap naik kemari !"
Saking gelapnya gua, mereka tidak melihat satu sama lain.
Sebenarnya Peng Mo terpisah dari muridnya Touw Hwe Jie cuma setombak lebih....
Ya Bie mendengar suara orang dan mengira-ngira dari mana suara itu datang, maka ia lantas merayap menghampiri.
TIba di depannya Peng Mo, samar-samar ia melihat It Hiong lagi duduk sambil terus memondong tubuhnya Kiauw In.
Ia terpisah dari kakak itu cuma tiga atau empat kaki.
Bagaikan anak kecil, melihat It Hiong, tiba-tiba Ya Bie menangis !
Sebab ia sangat girang dapat menemui pula anak muda itu.
Ia lekas merayap naik, untuk mendekati, setelah mana sambil menangis terus ia merangkul bahu pemuda itu.
It Hiong terkejut.
Tak tahu ia sebabnya kelakuan si adik Ya Bie......
Bahkan Peng Mo juga tidak kurang herannya.
Kiranya Ya Bie berduka karena ingat bahaya yang mengancamnya selagi ia jatuh turun itu, sesudah lega hati, ia membayangi itu, lalu ia sedih sendirinya.
Ia menangis hingga tubuhnya bergemetaran.
It Hiong mengusap-usap rambut yang hitam indah dari nona itu.
"Sudah, jangan menangis, adikku !"
Katanya, menghibur, membujuki seperti juga si nona ialah seorang bocah cilik.
"Sebenarnya kau kenapakah ?"
Mendengar pertanyaan itu, lega hati si nona.
Ia memangnya tidak berduka lara.
Maka setelah mendengar suara si anak muda, yang merdu sekali bagi telinganya, tibatiba ia tertawa.
Mendadak saja hatinya terbuka pula.
Selagi si anak muda heran, si nona jengah sendirinya.
Ia berhenti tertawa dan menyelusupkan mukanya di atas bahu oang.
Baru setelah itu, ia berkata perlahan "
Barusan aku lupa yang aku lagi mengerahkan tenaga dalamku, untuk dapat lari keras dengan ilmu ringan tubuh, tiba-tiba saja aku tertawa, maka sendirinya tubuhku jatuh turun, hingga hampir aku menemui ajalku."
It Hiong heran hingga ia melengak.
"Benarkah ?"
Tanyanya.
"Bukankah ilmu ringan tubuhmu sudah sempurna sekali ? Kenapa kau masih takut jatuh ? Apakah kau bukannya dibikin menjadi mendongkol atau penasaran sendiri sebab diantara kita bertiga, kaulah yang larinya kurang cepat ? Kalau benar begitu, kau keliru........."
Peng Mo mendengar pembicaraan itu, dia tertawa.
"Adik !"
Katanya.
"adik, ilmu ringan tubuhmu sudah sempurna sekali sedangkan usiamu masih sangat muda ! Aku tahu, didalam dunia Kang Ouw, cuma beberapa gelintir orang saja yang sanggup menyamaimu ! Memangnya kau ingin menyaingi kakak Hiong mu ini?"
Ya Bie senang mendengar kata-kata orang dua orang itu, ia mementang matanya, terus ia menghela nafas.
"Barusan, Toa-suhu,"
Kata ia.
"ketika aku dapat menyandak kau, girangku bukan kepalang, maka juga aku tertawa tanpa dipikir pula, siapa tahu lantaran tertawa, tenagaku lenyap hingga aku jatuh turun. Syukur sekali Sian Liong, ularku, telah menolong padaku, kalau tidak, tentulah jiwaku sudah melayang........"
Begitu dia menyebut Sian Liong, ularnya yang Naga Sakti itu, tiba-tiba Ya Bie ingat akan So Hun Cian Li, si orang utan, hingga tanpa merasa, ia berseru dengan pertanyaannya .
"Mana So Hun Cian Li ?"
Diam-diam It Hiong pun terperanjat.
Ia juga melupai orang utan itu.
Ia hanya tidak menyangka binatang itu kena ditawan Im Ciu It Mo sebab So Hun Cian Li sudah mewariskan kepandaian ringan tubuh dari Kip Hiat Hong Mo.
"Entah dia pergi kemana."
Kata si anak muda kemudian.
"Sebentar, sekeluarnya dari sini, kita cari padanya ! Aku percaya dia tak nanti terancam bahaya !"
Peng Mo tertawa. Dia pun turut bicara.
"Adik, kau legakan hatimu !"
Katanya.
"Binatang itu menjadi kesayangan gurumu, dia telah dididik sempurna, tidak nanti dia roboh ditangannya Im Ciu It Mo. Pula, tidak nanti Im Ciu It Mo berani mencelakainya ! Mana berani dia menanam bibit permusuhan dengan gurumu ? Itu pula dapat mengganggu usahanya membangun Bu Lim Cit Cun...."
Sejak keluar dari Cianglo ciang, belum pernah Ya Bie ketinggalan atau berpisah dari orang utannya, sekarang keduanya terpisah, tidak heran kalau hatinya menjadi tidak tenang.
Ia tidak tahu sebabnya kenapa So Hun Cian Li tidak berjalan bersamanya.
Dia tidak sangka bahwa Peng Mo telah main gila terhadapnya dengan dia itu menuntun tangan gelap terhadapnya Bienatang kesayangannya.
Disaat sama-sama molos dari mulut gua, Peng Mo berjalan di belakangnya So Hun Cia Lie, maka itu mudah saja dia menotok binatang itu.
Si orang utan tidak bercuriga sama sekali.
Orang pula menggunakan ilmu totoknya yang lihai.
Dua jari tangan diulurkan pada jalan darah tay-meh di pinggangnya Bienatang itu.
Ilmu totok itu ilmu ciptaan Hong Gwa Sam Mo sendiri, beda dari pada ilmu yang dimiliki orang.
Siapa kena tertotok, ia tidak segera roboh, hanya nantinya, lewat sekian waktu.
Jadinya totokan bekerja belakangan.
Peng Mo berbuat demikian karena ia takut kepada Ya Bie, takut si nona nanti menggunakan ilmu Hoan Kak Bie Cin terhadapnya.
Kalau dia menotok So Hun Cian Li hingga binatang itu roboh seketika, dia khawatir nanti dicurigai It Hiong atau Ya Bie, maka dia menggunakan kepandaian istimewanya itu.
Maksudnya Peng Mo merobohkan si orang utan tak lebih tak kurang karena kehendaknya mendapati It Hiong, supaya anak muda itu nanti menjadi penggantinya Gak Hong Kun !
Dia tetap ingin melampiaskan nafsu binatangnya terhadap anak muda kita.
Dia menggunakan akal bulusnya ini sebab dia merasa gagal memancing It Hiong dengan paras elok, dengan kecentilannya dan dengan obat beracun juga.
Dengan kekerasan terang dia telah tidak berhasil.
Maka sekarang dia memakai akal membaiki, dengan melepas budi membantui si anak muda menentang Im Ciu It Mo, agar orang itu nanti ingat dan mau membalas budinya.
Lain dari itu, dia pula hendak menggunakan Ya Bie buat dijadikan sandera, jaminan manusia, agar It Hiong suka "menyerah"
Kepada kehendaknya.....
Selagi Ya Bie bingung karena lenyapnya So Hun Cian Li, Peng Mo diam-diam bergirang di dalam hatinya.
Ia hanya berpura-pura saja yang ia membantu membujuki nona yang cerdas tetapi masih hijau itu.
Benar-benar hatinya si nona menjadi tidak tenang dan berkhawatir pula seperti semula.
Sekian lama mereka sama-sama berdiam, maka juga terperanjatlah mereka bertiga ketika tiba-tiba saja mereka mendengar orang menghela nafas serta suara seperti merintih.
Kiranya itulah suara dari mulutnya Kiauw In, yang sadar di pangkuan It Hiong.
Si anak muda terperanjat berbareng hatinya lega, tidak ayal lagi ia lantas menguruti nona itu, supaya dia bebas seluruhnya dari totokannya yang membuat orang seperti tidur nyenyak.
Meskipun ia masih terpengaruhkan obat Thay-siang Hoan Hun Tan, sebebasnya totokannya It Hiong, Kiauw In dapat sadar seperti biasa, tinggal otot-otot syarafnya saja yang tetap terganggu.
Ya Bie girang sekali mendengar Nona Cio terasadar.
"Kakak In mendusin !"
Katanya gembira.
"Bagaimana sekarang ?"
Saking prihatin, nona ini meraba-raba mukanya Kiauw In.
"Gua ini gelap sekali, bagaimana mukanya Kakak In dapat dilihat ?"
Tanyanya kemudian.
It Hiong seperti tidak mendengar kata-katanya nona itu.
Ia sedang terbenam dalam pikiran bagaimana caranya ia harus membantu pacarnya, bebas dari pengaruh obatnya Im Ciu It Mo.
Baru sesaat kemudian ia kata .
"Kau benar, adik. Memang kita harus dapat melihat mukanya....."
Tiba-tiba It Hiong ingat Lee-cu, mutiara mustikanya.
Lantas ia merogoh sakunya dan mengasi keluar mutiara itu.
Hingga di dalam sekejap, cahaya terang dari benda mustika lantas menerangi seluruh gua, yang ternyata hanya sebuah gua kecil.
Untuk dapat melihat wajah pacarnya, It Hiong membawa tangannya yang memegang mutiara ke mukanya Kiauw In, matanya sendiri terus mengawasi.
Ya Bie menggeser tubuh buat melihat dari dekat, sambil separuh bersender pada tubuhnya It Hiong.
Ia mengawasi nona Cio.
Dengan suara prihatin, ia menghela nafas perlahan.
Kiauw In memejamkan kedua matanya, mukanya pucat.
Ia bagaikan lagi tidur nyenyak.
Nafasnya pun terasalurkan dengan tenang.
It Hiong membawa Lee-cu ke hidungnya si nona terpisah hanya dua dim kira-kira, dengan demikian ia bisa memandang jelas parasnya si nona.
Cuma sebab matanya nona itu tertutup, ia tidak dapat melihat sinarnya yang guram.
Diarahkan kepada mukanya Kiauw In, aneh mutiara mustika itu.
Mendadak sinarnya menjadi suaram, atau dilain saat, lantas terang pula seperti biasa.
Kiranya mutiara itu terkena nafasnya si nona.
Samar-samar nampak, hawa nafas nona itu bercahaya hijau.
Lagi sekali, mutiara suaram dan bercahaya kembali.
It Hiong mengawasi terus.
Ia pun membiarkan mutiaranya tetap berada diatas hidungnya sang kakak seperguruan.
Maka ia melihat tegas bagaimana saban si nona mengeluarkan nafas, saban-saban sinar mutiara itu guram, lalu terang.
Lalu tampak suatu perubahan lain.
Sinar hijau dari nafasnya si nona perlahan-lahan menjadi makin kecil dan makin kecil, sinar itu bagaikan buyar atu menipis dengan perlahan-lahan.
Sebaliknya, mulutnya si nona seperti juga dapat menyedot sinar terang dari mutiara mustika itu.
Nampaknya Kiauw In senang sekali dengan Lee-cu.
Dalam keadaan seperti lagi tidur itu, terus menerus ia menarik nafas keluar dan masuk.
Keluar ia mengeluarkan hawa hijau, masuk ia memasuki sinar putih terang dari sinar mutiara mustika itu.
Lewat lagi sekian lama, maka habis atau hilanglah sudah cahaya hijau itu --ialah warna kotor dari Thay-siang Hoan Hun Tan dari Im Ciu It Mo.
Habis itu, ia terus berdiam, ia seperti lagi tidur pula dengan nyenyaknya.
It Hiong terus mengawasi, ia tidak bergerak agar tidak mengganggu si nona.
Ya Bie mementang matanya lebar-lebar mengawasi perubahan yang terjadi atas dirinya nona Cio itu.
Tampak tegas yang ia merasa aneh.
Ia juga tidak berani memperdengarkan suara apa-apa, supaya ia tidak mengganggu nona itu.
Dengan sabar It Hiong menyimpan mutiaranya, matanya terus ditatapkan ke muka Kiauw In.
Ia memasang mata, tetapi hatinya bekerja.
Ia pun heran dengan kesudahannya gerakgeriknya mutiara mustika itu.
Maka ia sangat ingin tahu bagaimana kesudahannya nanti.
Perlahan-lahan ia memperoleh harapan besar sebab ia mendapat kenyataan pacarnya tidur sangat nyenyak.
Itu bukan tanda bahaya, hanya alamat baik........
Sehabisnya ia bicara paling belakang, Peng Mo sementara itu duduk bersila sambil bersemadhi, guna mengumpulkan tenaga, buat menenangkan diri.
Ia terus berada di dalam kegelapan sang gua sampai It Hiong mengeluarkan Lee-cu, hingga ia bisa samar-samar melihat sedikit sinar terang, ketika ia membuka matanya, baru ia melihat tegas cahaya terang itu, hingga ia ketahui dari mana datangnya cahaya itu.
Berbareng terkejut dan heran, mendadak timbul rasa tamaknya !
Ialah ia ingin memiliki mutiara itu !
"Bagaimana aku harus mendapatkannya ?"
Demikian pikirnya. Ketika itu Ya Bie justru seperti sedang menghadang di depannya.
"Kalau aku gagal dengan satu kali rampas saja, jangan aku harap nanti bisa molos keluar dari sini....."
Hebat si nikouw, selagi di satu pihak ia ingin memiliki mutiara mustika, di pihak lain ia pun sangat bernafsu mengangkangi dirinya It Hiong sendiri, si pemuda gagah dan tampan yang setiap waktu dapat menimbulkan rasa birahinya.
Maka itu, letih berpikir ia terus duduk berdiam.
Ia harap dengan bersemadhi ia nanti dapat mengekang diri, agar ia selalu bisa berlaku tenang.
Tiba-tiba Peng Mo dikejutkan satu suara tertahan .
"Oh !"
Dan menyusul itu terdengar seru girang dari Ya Bie .
"Kakak Kiauw In mendusin !"
Memang juga nona Cio sudah terasadar, ketika ia membuka matanya, paling dahulu ia melihat It Hiong, disusul dengan kesadarannya bahwa ia rebah di pangkuannya anak muda itu, hingga saking terkejut dan heran ia mengeluarkan seruan tertahan itu.
It Hiong diam menjublak selekasnya ia mendengar suara pacarnya itu.
Ia heran dan berbareng girang.
Itulah berarti yang Kiauw In sudah bebas dari pengaruh jahat dari obat yang lihai dari Im Ciu It Mo.
Hanya berbareng dengan itu, masih ada sedikit kekuatirannya yang ingatannya si nona nanti terganggu disebabkan sudah terlalu lama dia menjadi korbannya Thay-siang Hoan Hun Tan.
Kiauw In mengawasi It Hiong, lalu Ya Bie, yang suara kegirangannya ia dengar, setelah itu dengan cepat ia menggerakkan tubuhnya, buat bangun berdiri.
Nampaknya ia mirip orang yang baru sembuh dari penyakit berat, karena sambil berdiri itu, ia toh menghimpit tubuhnya pada tubuh It Hiong, nafasnya kelihatan memburu.
Kemudian lagi Nona Cio mengawasi Ya Bie, untuk sembari tertawa bertanya .
"Adik Ya Bie, kenapakah kau mengawasi saja kakakmu ini ? Memangnya kau lihat aku bagaimana ?"
Ya Bie girang tak terkirakan. Dia tidak lantas menjawab pertanyaan orang, ia justru maju merangkul nona itu, setelah mana barulah ia berkata .
"Kau telah mengenali aku, kakak ! Kau nyata telah sadar seluruhnya !"
Kiauw In menatap nona di depannya itu.
"Apakah katamu, adik ?"
Tanyanya heran, sepasang alisnya pun terbangun.
"Pantas kau masih belum tahu, kakak !"
Sahut Ya Bie.
"Kau telah makan obat Thay-siang Hoan Hun Tan dari Im Ciu It Mo, lantas kesadaranmu lenyap, hingga kau tak ingat lagi dirimu sendiri. Hal ini telah berjalan selama beberapa bulan kakak ! Sekarang kakak sadar. Inilah aneh ! Sama sekali kakak belum diobati. Kiauw In sudah pulih seluruhnya, maka itu mendengar keterangan Ya Bie, ia menjadi heran. Ia tak ingat apa-apa sejak ia terkena obatnya Im Ciu It Mo. Ia pun heran yang ia sembuh tanpa obat! Kenapakah ? Karena itu, keras ia memikirkannya, kepalanya ditundukkan. It Hiong telah berbangkit bangun. Biar bagaimana, ia masih mengkhawatirkan masih ada sisa pengaruh obatnya It Mo terhadap pacarnya itu. Maka dengan menggunakan mutiaranya mirip sebagai lampu, ia menerangi mukanya si nona dan mengawasinya dengan seksama. Kiauw In tengah berfikir keras ketika matanya disilaukan cahaya mutiara, seperti terpengaruhkan sesuatu, kesegarannya atau semangatnya terbangun dengan tiba-tiba. Maka ia sudah lantas mengangkat mukanya, untuk terus menatap It Hiong. Ia pun membuka bibirnya, buat sambil menghadapi mutiara itu menarik nafas dalam-dalam ! Selekasnya si nona menyedot cahaya mutiara dihadapannya itu, mendadak saja It Hiong terasadar ! Terang sudah yang cahaya mutiara mustika itu yang menjadi penawar bagi nona itu ! Ya, pengaruhnya Thay-siang Hoan Hun Tan telah disirnakan Lee-cu ! Jadi Lee-cu adalah mutiara mustika serba guna ! Sampai disitu, tanpa ragu pula, anak muda kita mengangsurkan mutiaranya ke mulut si nona, untuk memasuki itu ke dalam mulut orang seraya ia berkata lembut .
"Kakak, kau kemutlah mutiara ini, lalu ludahmu kau telah masuk kedalam perutmu, habis itu lantas kau rasakan tubuhmu, bagaimanakah perubahannya !"
Ya Bie heran mendengar kata-kata si pemuda, hingga ia melengak.
Dengan mutiara dikemut si nona, gua menjadi gelap pula dalam seketika.
It Hiong segera meraba bahunya Kiauw In, di sisi siapa ia berdiri.
Ia bersiap sedia untuk sesuatu kejadian.
Di lain pihak, dengan perlahan ia kata pada Ya Bie .
"Adik, kau berhatihatilah....."
"Ya", menjawab si nona polos, yang terus mengawasi ke arah muda mudi itu. Ia dapat menangkap artinya kata-kata si pemuda, sebab habis itu, gelaplah gua itu. Bahkan dengan mengeluarkan ularnya, ia terus memernahkan diri di depannya si pemuda. Sedangkan ularnya, dengan memutar-mutar lidahnya, memperlihatkan sinar berkilauan pada lidahnya itu. Sementara itu lain lagi perasaannya Peng Mo. Selekasnya dia mendapat kenyataan gua berubah menjadi gelap pula. Ketika itu dia telah dipengaruhi pelbagai perasaan tamak dan kemaruk, sebab dia ingin memperoleh si anak muda serta mutiaranya itu, karena dia menghendaki sangat memperoleh tubuhnya anak muda itu. Gelap petang itu adalah ketika atau kesempatan paling baik baginya, demikian pikirnya. Lebih dahulu ia mengawasi tajam ke arah ketiga muda mudi itu yang sedang berdiam diri, lalu mendadak ia meluncurkan tangannya kepada mereka ! Ketika itu, Peng Mo masih belum menginsyafi khasiat dari Lee-cu. Ia menyangka It Hiong memasuki itu ke dalam mulutnya Kiauw In melulu untuk mencoba-coba saja. Di lain pihak, ia tak menyangsikan lihainya obat dari Im Ciu It Mo, hingga ia pun tidak percaya nona Cio bakal sembuh karena mutiara itu. Ketika ia meluncurkan tangannya itu, mendadak ia menariknya pulang. Tiba-tiba ia melihat satu cahaya kehijauhijauan, yang bergerak-gerak. Ia kenali itulah lidahnya Sian Liong, ularnya Ya Bie, yang ia telah ketahui dengan baik beracunnya. Maka juga batallah ia hendak melakukan penyerangan membokong. Di lain pihak lagi, kecerdikannya membuatnya dapat memikir aka.
"Adik Ya Bie !"
Tegurnya, kemudian sembari tertawa.
"Adik, apakah nona Cio sudah terasadar ? Benarkah ?"
Ia menanya sambil bertindak menghampiri.
"Ya,"
Ya Bie menjawab. Tetapi dia menambahkan .
"Toasuhu, jangan kau mendekati kami !"
Kata-kata itu dikeluarkan wajar, tanpa sungkan-sungkan, sedangkan ularnya, si nona membulang-balingkannya.
Hingga dengan mata malamnya, Peng Mo dapat melihatnya.
Dia jeri sekali dan lekas-lekas dia mundur pula.
Hanya, karena sangat panas hatinya, dia menggertak giginya sendiri.
Dia sangat membenci nona itu.
"Tio sicu....."
Kemudian dia memanggil It Hiong.
Suara itu halus, akan tetapi berhenti dengan tiba-tiba.
Dengan itu Peng Mo ingin mendapat kenyataan si pemuda membencinya atau tidak.
Tegasnya ia masih dipandang sebagai sahabat atau lawan.......
Jawabannya It Hiong diberikan dengan cepat.
"Kakak Kiauw In sudah mendusin,"
Demikian suara si anak muda.
"Toa suhu, mari kita pergi mencari jalan keluar dari gua ini."
Ketika itu, Kiauw In sudah mengeluarkan mutiara dari dalam mulutnya dan menyerahkan itu pada si anak muda, kemudian ia kata .
"Oh, kiranya Toa-suhu Peng Mo pun berada disini....."
Itulah kata-kata ringkas dan sederhana, tetapi mendengar itu, tubuhnya Peng Mo menggigil.
Inilah sebab si Bajingan insyaf, dengan sadarnya nona Cio, makin sult buat ia mendapatkan It Hiong.
Maka itu, saking bingung, ia sampai tak dapat menyambuti kata-katanya si nona.
Adalah Ya Bie, yang menalangi menjawab.
"Dia datang untuk mencari Gak Hong Kun !"
Kata nona itu.
"Setelah dia bertemu dengan Kakak Hiong, dia lantas tak meneruskan pergi mencari orang she Gak itu !' Tak tentram hatinya It Hiong mendengar kata-katanya Ya Bie itu. Ia kuatir nona polos ini nanti bicara terus tanpa pembatasan, hingga dia khawatir juga Peng Mo nanti menjadi tak puas dan mendongkol karenanya. Berbahaya andiakata Peng Mo bergusar dan mengambil tindakan keras. Maka itu, ia berkata pula .
"Kakak In, kau harus menghaturkan terima kasih kepada Toa-suhu. Mengenai kebebasan kakak ini, Toasuhu telah memberikan bantuannya........"
Lega hatinya Peng Mo mendengar suaranya It Hiong itu. Ia justru berkuatir si nona menjadi beranggapan lain mengenai dirinya. Ia lantas menyambungi si anak muda. Katanya .
"Di dalam kalangan Kang Ouw sudah umum orang saling membantu ! Itulah bantuanku yang tidak berarti ! Tio sicu, berat kata-katamu......."
Di dalam hatinya, Ya Bie mengatakan "Cis !". Ia sebal terhadap si Bajingan Es. Tetapi ia tidak mengatakan apa yang ia pikir itu.
"Kakak Hiong, mari kita pergi !"
Kata ia, sengaja dengan suara nyaring.
Walau ia mengatakan demikian, muridnya Touw Hwe Jie tak bergeming.
Ia berdiri diam dengan waspada, ular beracunnya tetap ditangannya, siap sedia buat menurunkan tangan apabila saatnya tiba.....
Peng Mo melihat sikapnya Ya Bie, ia menahan sabar.
Ia harus tahu diri.
Di saat seperti itu, tidak dapat ia menggunakan kekerasan.
Sesudah Kiauw In sadar, It Hiong memperoleh tenaga bantuan yang besar sekali.
Ia juga takut Ya Bie nanti mengatakan hal-hal yang dapat menyakiti hatinya.
Bahkan saking cerdiknya, ia lantas tertawa dan kata .
"Tio sicu, mari pinni membuka jalan buat kalian !"
Peng Mo sudah lantas merubah panggilannya, tidak lagi saudara Tio hanya Tio sicu. Habis itu, terus dia meringankan langkahnya.
"Banyak capek saja, Toa-suhu !"
Kata It Hiong, yang di dalam hatinya dapat menerka nikouw itu jeri terhadap ularnya Ya Bie.
Diam-diam ia menarik ujung bajunya si nona, guna membiarkan pendeta perempuan itu melewatinya.
Selekasnya si nona menggeser tubuh, Peng Mo maju terus.
It Hiong memanggil Ya Bie, buat diajak berjalan bersama, ia sendiri membuka langkahnya dengan sebelah tangan memapah Kiau In dan tangannya yang lain mengangkat tinggi mutiara mustikanya.
Lee-cu dipakai sebagai lentera.
Berempat mereka berjalan dengan perlahan-lahan.
Gua itu memang gua yang merupakan jalanan di dalam perut gunung, jalannya selalu berliku-liku, dikedua sisinya, sepanjangnya hanya dinding gunung.
Pada langit-langit gua terdapat stalaktit.
Yang heran ialah jalanannya yang rata seperti buatan manusia.
Peng Mo berjalan terus di depan.
Mulanya masih terdengar suara tindakan kakinya samar-samar yang terbawa angin, atau di lain saat, lalu tak terdengar sama sekali.
It Hiong tidak pedulikan orang yang telah pergi jauh atau meninggalkannya.
Apa yang ia pikirkan ialah halnya Kiauw In, yang harus dilindungi keluar dari terowongan itu.
Ia ingin dapat menyingkir jauh dari Im Ciu It Mo, agar si Bajingan Tunggal tak dapat menyusulnya.
Bertiga It Hiong berjalan terus.
Entah berapa buah tikungan telah dilalui.
Rintangan tidak ada, kecuali batu gunung yang menonjol keluar.
Mungkin mereka sudah berjalan selama satu jam lebih, baru mereka melihat sinar terang samar-samar.
Di situ pun mulai terasa siurannya angin dingin.
Angin mendatangkan hawa segar.
"Mungkin kita bakal muncul di mulut gua....."
Kata Kiauw In perlahan.
"Kita harus waspada,"
Kata Ya Bie, yang berjalan di belakang nona Cio.
"Kita mesti berhati-hati supaya jangan sampai kita terbokong atau terperangkap di mulut goa oleh Im Ciu It Mo !"
Kiauw In tertawa manis.
"Kau telah belajar berlaku cerdik, adik !"
Katanya.
"Pantaslah Peng Mo Nikouw pun rada jeri terhadapmu !"
It Hiong tertawa dan turut bicara.
"Berhati-hati berarti bernyali besar !"
Katanya.
"Adik Ya Bie memang tengah belajar banyak !"
Senang Ya Bie mendengar pujiannya muda mudi itu.
"Mari kasikan aku yang keluar dahulu di mulut gua !"
Katanya kemudian, tertawa.
"Biarlah aku dapat berlatih lebih jauh !"
Dengan gerakan gesit, si nona polos sudah mendahului It Hiong dan Kiauw In yang dia lewatkan, terus dia lari ke mulut gua yang sudah berada di depannya.
"Hati-hati, adik !"
Kiauw In memperingatkan.
Selama itu, dengan perlahan-lahan, tenaganya Kiauw In mulai pulih.
Selanjutnya tak lagi ia dipapah, cuma kepalanya masih ditempel pada dada lebar dari si pemuda.
Di dalam keadaan seperti itu, tidak lagi ia merasa likat.
Ia berjalan dengan perlahan.
Di dalam hati, ia pun senang yang ia dapat berdampingan dengan kekasihnya itu.
Biar bagaimana, ia tetap seorang wanita muda....
Segera juga Ya Bie sudah sampai di mulut gua atau terowongan luar biasa itu.
Ia sekarang mau berlompat keluar.
Masih lagi beberapa kaki, ia sudah bersiap dengan ularnya, yang dililitkan di lengannya.
Ketika ia akhirnya berlompat, ia menggunakan tipu loncat "Ya Bie Toan Hiat", Kijang hutan loncat keluar dari lubang.
Tepat si nona bergerak, cepat Kiauw In lompat menghadang di depannya It Hiong sebab si anak muda mau segera menyusul.
"Sabar !"
Katanya.
Lalu ia mengawasi ke mulut gua.
Hanya sebentar, lalu terdengar suara Ya Bie, sebagai jeritan atau seruan.
It Hiong khawatir nona itu menghadapi lawan tangguh, sambil menarik lengannya Kiauw In, ia lompat keluar, maka sempat ia melihat Ya Bie berdiri sedikit jauh dari mulut gua itu, tubuhnya terhuyung, hingga ia memegangi sebuah pohon kecil.
Masih si nona itu mengeluarkan suara tajam, sedangkan di atasan rambutnya masih tampak sisa mirip halimun keunguunguan.
Di dalam sekelebatan saja, It Hiong menerka Ya Bie terkena semacam bubuk bius, maka itu sambil menyuruh Kiauw In menanti, ia berlompat pesat pada kawannya itu.
Ia menggunakan ilmu lompat ringan Tangga Mega.
Selekasnya ia tiba, ia sambar tubuh orang, buat diangkat dan dibawa berlompat kembali.
Sama cepatnya, ia mengeluarkan Lee-cu yang terus ia dijejalkan ke dalam mulut si nona.
Tadi itu, Ya Bie telah berlaku cerdik.
Ketika ia berlompat, ulatnya dibulang balingkan dahulu dan ia pun menahan nafasnya.
Adalah setelah ia berlompat keluar, suatu benda mirip asap yang warnanya keungu-unguan, yang ia tak lihat dari mana datangnya, sudah menyambar kepadanya.
Ia tidak kena mencium atau menyedot uap itu tetapi mukanya bagaikan ketutupan, terus ia merasa bingung sekali, maka juga ia sudah lantas perdengarkan seruannya itu.
Ia masih dapat mengingat buat membela diri, maka juga sambil menggoyang-goyang ularnya, ia lompat pula ke pohon kecil itu, sampai It Hiong muncul dan menolongnya.
Syukur ia tak sampai roboh.
Lekas sekali mutiara kena dikemut, Ya Bie mendapat pulang kesadarannya.
Hawa yang adem dari mutiara membuatnya --hati dan otaknya--segar pula seketika.
Bahkan sebaliknya, ia menjadi sangat segar.
Tapi ia cerdik dan nakal, ia menyender terus di tubuhnya It Hiong, ia pula tak mau segera membuka matanya.
Ia berdiam saja, tanpa berkutik.......
It Hiong dan juga Kiauw In, tidak menyangka apa-apa.
Mereka hanya menerka orang menjadi korbannya bubuk bius yang berupa seperti halimun ungu itu.
Karena itu, sebaliknya dari bercuriga, mereka justru berkhawatir buat keselamatannya nona itu.
Selagi si anak muda memeluki tubuh orang, Kiauw In lekaslekas mengurutinya.
Mereka pun memikirkan, sampai kapan nona itu akan mendusin.
Tak tahunya, orang lagi menikmati hangatnya tubuh si anak muda serta "sedap"nya urutan tangan halus nona Cio....
Hanya sebentar, Kiauw In lantas merasai nafasnya si nona sudah pulih.
Ia meraba nadi orang, nadi itu pun biasa saja.
"Ia tak kurang suatu apa,"
Katanya kemudian, hatinya lega.
Ya Bie khawatir rahasianya terbuka.
Habis mendengar katakatanya Kiauw In, ia lantas memperdengarkan suara perlahan, terus ia membuka matanya.
Ia nampak terkejut, maka ia berlompat bangun, setelah mana, ia mengeluarkan mutiara dari dalam mulutnya.
It Hiong menyambut mustika mutiara itu buat disimpan di dalam sakunya.
"Bagaimana rasamu, adik ?"
Tanyanya perlahan. Ya Bie melirik Kiauw In, lantas ia menggelengi kepala. Nona Cio menggenggam tangan orang dan tertawa.
"Kembali kau belajar cerdik !"
Katanya.
"Ini pula satu pengalaman ! Apakah kau mendapat lihat orang macam apa yang membokongmu ?"
Ya Bie tidak menjawab, ia melainkan menggeleng pula kepalanya sambil tangannya membuat main ularnya. Di dalam hati ia khawatir Kiauw In nanti mendapat lihat sikap purapuranya itu.....
"Melihat macamnya bubuk atau asap itu,"
Kata It Hiong, yang mengungkapkan dugaannya.
"pasti penyerangan dilakukan oleh Peng Mo Nikouw."
"Memang juga, diantara Hong Gwa Sam Mo tak akan ada orang yang baik hatinya."
Kata Kiauw In. Ya Bie berlega hati mendapat tahu nona Cio tidak mencurigainya.
"Sayang sebelum aku melihat si penyerang, kepalaku sudah lantas terasa pusing,"
Kata dia.
Baru nona itu mengucapkan kata-katanya itu, atau mereka bertiga segera mendengar tawa dingin berulang-ulang, yang datangnya dari suatu arah, menyusul mana lantas tampak munculnya beberapa orang, yang mulanya terlihat seperti bayangan saja !
It Hiong yang paling dahulu berpaling.
Suara dan orangorang itu datangnya dari tengahnya tiga puncak yang bagaikan menjadi satu.
Nampaknya tak ada jalanan di sana itu.
Toh dari sana ada orang yang memperlihatkan diri.
Lekas sekali orang-orang itu sudah sampai di depannya si anak muda bertiga.
Mereka berjumlah berlima, semuanya bersenjatakan pedang dan golok.
Dilihat dari tampangnya, mereka mestinya bukan sembarang orang Kang Ouw.
Mereka itu berdiri berbaris.
Menghadapi rombongan itu, anak muda kita berlaku sangat tenang.
Ia bukannya mengawasi orang, hanya ia menengadah langit melihat awan disekitarnya.
Ketika itu malam, mungkin sudah jam empat.
Sisa rembulan remang-remang dan angin bertiup shilir.
Masih terlihat cukup tegas, kelima orang itu berwajah bengis.
Kulit muka mereka seperti hijau.....
Dengan satu kelebatan saja, It Hiong sudah mengenali kelima orang itu --orang-orang Kang Ouw dari kalangan sesat.
Ya Bie tidak kenal kelima orang itu, sedangkan Kiauw In mengenalnya samar-samar.
Mereka itu adalah kelima bajingan dari To Liong To, ialah Lam Hong Hoan, Cie Seng Ciang, Siauw Tiong Beng, Bok Cee Lauw dan Tio Siong Kan.
Mereka telah meninggalkan pulau mereka dan pergi merantau setelah kematiannya ketua mereka, To Cu Kang Teng Thian yang mati bersama Ang Sian Taysu disebabkan mereka itu berdua berkelahi mati-matian.
Mereka mengembara buat mencari Siauw Wan Goat, adik angkat mereka.
Di luar dugaan mereka telah bertemu Im Ciu It Mo dan roboh sebagai korbannya Thay-siang Hoan Hun Tan, obat biusnya si Bajingan Tunggal, hingga mereka tak sadarkan diri seperti Gak Hong Kun dan Cio Kiauw In.
Setelah urat syarafnya terganggu, mereka dikurung di puncak gunung Hek Sek San, di sana mereka diajari ilmu menggunakan senjata rahasia beracun yang lihai, yaitu Sun Im Ciat Sat Kang.
Sebab Im Ciu It Mo hendak menggunakan mereka itu sebagai senjata guna nanti menjagoi dalam pertemuan Bu Lim Cit Cun.
Supaya mereka itu menjual jiwa baginya !
Im Ciu It Mo merasa penasaran kepada It Hiong, maka itu terpaksa ia mengeluarkan orang tawanannya yang lihai itu, guna mereka menempur si anak muda.
Rombongannya kelima Bajingan ini adalah rombongannya It Mo yang pertama.
Di setiap tikungan lainnya masih ada jago-jagonya yang disembunyikan.
Itulah orang-orang yang diandali maka juga tadinya dia tak mau mengejar It Hiong bertiga, hanya ia memegat di muka terowongan atau mulut goa ini.
Semua orangnya telah dibikin kacau urat syarafnya, supaya mereka berkelahi tanpa kesadaran hanya menuruti saja segala perintahnya.
Lam Hong Hoan yang bersenjatakan juan pian terbuat dari baja sudah maju paling dahulu, matanya mengawasi tajam dan bengis pada ketiga muda mudi di depannya.
Ia maju dengan membuka langkah lebar.
Segera ia membentak .
"Bunuh mereka !"
Dan terus ia menyerang dengan senjata lunaknya itu !
Menyusul bentakan itu, empat Bajingan lainnya turut bergerak serentak.
Hanya mereka lebih dahulu lompat memencar, guna mengambil sikap mengurung ketiga orang itu, sesudahnya, baru serempak mereka menyerang !
It Hiong bermata celi, ia sudah lantas dapat melihat sinar mata orang --sinar mata guram seperti sinar matanya Kiauw In sebelum nona itu sadar.
Maka tahulah ia yang ia tengah menghadapi lawan dari kalangan apa.
Karena ini, tak ingin ia yang Kiauw In dan Ya Bie menempur mereka itu.
Ia sudah lantas berlompat maju, akan melayani kelima lawan itu.
Ia segera menggunakan ilmu pedang Kie-bun Patkwa Kiam.
Kepada Kiauw In dan Ya Bie, ia menggunakan kesempatan akan memesan .
"Kalian jangan maju, hanya bersiaga saja !"
Kiauw In dapat menangkap maksudnya si anak muda, ia terus menarik tangannya Ya Bie untuk diajak menyingkir dari pengepungan, kemudian mereka berdua berdiri di tempat terpisah lima kaki, buat benar-benar memasang mata.
"Bagaimana, kakak ?"
Tanya Ya Bie heran.
"Mana dapat kita menonton saja kakak Hiong menempur lima orang jahat itu ? Mereka semua nampaknya kosen-kosen......."
"Kita menyimpan tenaga....."
Kiauw In membisiki.
"Kita menonton dahulu, kalau perlu baru kita turun tangan membantui kakak Hiongmu !"
Ya Bie berdiam tetapi matanya segera mengawasi kepada It Hiong.
Pertempuran, atau lebih benar pengepungan sudah berlaku.
Senjatanya musuh berkilau tak hentinya.
Mereka itu menyerang dengan hebat.
It Hiong kelihatan bergerak bagaikan naga licin diantara para penyerangnya itu.
Sesudah terkepung sekian lama, panas juga hatinya si anak muda.
Orang seperti sangat ingin membinasakannya.
Mereka itu berkelahi seperti tak kenal ampun.
Sinar mata mereka suaram tetapi ilmu silat mereka tak berkurang lihainya.
Sejak keluar dari rumah perguruan, tak pernah It Hiong melupakan pesan gurunya.
"Kau mengampunilah dimana kau mampu !"
Demikian pesan itu.
Selamanya It Hiong melakukannya.
Tapi sekarang ia didesak begini rupa.
Mana mampu ia meloloskan diri kalau ia melayani mereka seperti biasa ?
Musuh pun entah masih ada berapa banyak lagi kawannnya.
Lagi satu kesukaran dari It Hiong, ialah pedangnya telah orang curi dan pedangnya yang sekarang ini tidak dapat dipakai memapas kutung sejata lawan seperti kalau ia menggunakan Keng Hong Kiam.
Maka kemudian ia memikir buat melontarkan senjata-senjata musuh dengan ia mengandalkan tenaga dalamnya, yang disalurkan kepada lengan atau pedangnya.
Tanpa merasa pertempuran sudah berlangsung sebanyak empat puluh jurus, selama itu belum juga kelima Bajingan dapat menang diatas angin.
Inilah sebab, walaupun mereka berlima lihai, tetapi It Hiong bukan lagi sembarang lawan, ilmu silat si anak muda sudah mencapai batas kemahirannya.
Lam Hong Hoan nampak penasaran, ia perhebat tikaman dan tebasannya bergantian.
Ia bersenjatakan sebatang ruyung panjang.
Anginnya senjata itu bersuara nyaring.
Tengah pertarungan berlangsung, dari kejauhan terdengar satu suara, sebentar singkat sebentar panjang.
Itulah suara yang tak menyenangi siapa yang mendengarnya.
Itulah suara yang umum menyebutnya tangisan bajingan.....
Seram iramanya !
Mendengar suara itu, Lam Hong Hoan berlima memperhebat serangannya secara tiba-tiba.
Mereka nampaknya bagaikan sedang kalap.
Selagi merangsak itu, mereka mengeluarkan bentakan perlahan.
Demikianlah Siauw Tong Beng dengan golok lunaknya menebas dari samping kepada bahu kirinya It Hiong.
Itulah tebasan "Menghunus Golok, Memutus Air".
Berbareng dengan itu, dengan sepasang rodanya, Bok Cee Lauw menyerang iganya It Hiong kiri dan kanan.
Ketika itu It Hiong tengah menangkis bacokannya Cie Seng Ciang serta tangan kirinya menolak ruyungnya Lam Hong Hoan, nampaknya iganya menjadi kosong.
Pasti semua lawannya tidak tahu bahwa dengan itu ia justru lagi memasang umpan !
Kiauw In dan Ya Bie terkejut, berbareng mereka berseru, berbareng juga mereka berlompat maju, berniat membantu anak muda pujaannya itu.
Akan tetapi belum lagi mereka memasuki kalangan, aau mereka sudah mendengar satu suara nyaring, yang disusul dengan terbangnya ketiga senjatanya lawan, sedangkan Siauw Tiong Beng dan Bok Cee Lauw lompat mundur serentak, tubuhnya terhuyung tujuh tindak, setelah itu baru mereka bisa mempertahankan diri untuk berdiri tegak.
Setelah berdiri tegak itu, Siauw Tiong Beng memegangi tangan kanannya, yang telapakannya mengalirkan darah hidup.
Bok Cee Lauw sebaliknya menurunkan kedua-dua tangannya dan tubuhnya bergemetaran, sedang mukanya pucat, giginya berjatrukan dan dari mulutnya terdengar rintihan perlahan....
Kiranya It Hiong menerbangkan senjata orang dengan satu gerakan berbareng dari kedua kakinya, yang mendupak selekasnya dia menjejak tanah guna mengapungi tubuh.
Itulah satu tipu dari ilmu Gie Kiam Hui Heng, terbang dengan mengendalikan pedang, sedangkan kedua belah kakinya mengerahkan tenaga dari Hian bun Sian Thian Khie-kang.
Ketiga lawan lainnya kaget sekali apabila mereka menyaksikan dua kawan mereka kena dibikin tak berdaya itu, mereka berdiri diam dengan mendelong, hingga mereka lupa membantu atau sekalipun menghibur saja.
Sementara itu dari pojok gunung terdengar pula suara siulan nyaring tetapi pendek, selekasnya Lam Hong Hoan mendengar itu, dia bagaikan lupa pada mendelong atau rasa ngerinya, tiba-tiba saja dia berlompat maju akan menerjang pula kepada lawan.
Tapi Hong Hoan bukan maju sendiri, bahkan dia telah orang dahului.
Itulah Tio Sing Kang, yang telah menyerang selekasnya dia mendengar suara siulan yang luar biasa itu !
Dengan sepasang kaitannya, kaitan Wan Yho Kauw, dia menerjang It Hiong di atas dan di bawah !
Di antara tujuh bajingan dari To Liong To, ilmu silatnya Tio Sing Kang yang paling rendah, walaupun demikian, sepasang senjatanya itu, telah dia latih selama dua puluh tahun lebih, maka itu dapat dimengerti yang ilmu kaitannya tak dapat disamakan dengan orang-orang Kang Ouw yang kebanyakan.
Dengan ilmu kaitannya itu, dia dapat termasuk orang golongan tingkat utama.
Karena dia berasal dari bajak, dia pula pandai sekali berenang dan selusup, sedangkan gerakan ringannya, dalam ilmu Kwie Sian Tong Hian --Iblis Berkelebat--dia dapat disamakan dengan Siauw Wan Goat, adik angkatnya itu.
Cie Seng Ciang juga turun tangan membarengi penyerangannya Tio Siong Kang itu.
Bajingan ini lantas menyerangdengan timpukan senjata rahasianya yang berupa thie-lian-cie, biji teratai besi.
Alisnya It Hiong berbangkit melihat lawan menggunakan senjata rahasia.
Ia jadinya dibokong !
Sementara itu, dengan satu gerakan Tangga Mega, ia telah dapat menyingkirkan diri dari beberapa senjata lawan-lawannya itu, habis mana ia terus bertindak !
"Aduh !"
Demikian terdengar jeritannya Cie Seng Ciang.
Tio Siong kan menoleh dengan lantas, atau hatinya menjadi gentar.
Seng Ciang roboh dengan mandi darah, tangannya memegangi pedangnya yang sudah menjadi buntung.
Ruyungnya Lam Hong Hoan sendiri terpental tinggi, syukur tak lepas dari cekalannya.
Walaupun demikian, menyaksikan kebinasaannya Seng Ciang, Siong Kang menjadi gusar sekali, hingga ia lantas maju pula sambil berseru .
"Saudara Lam, mari kita maju bersama ! Kita harus membalaskan sakit hatinya saudara-saudara kita !"
Lam Hong Hoan menyahuti sambil menjerit keras, selagi Siong Kang menyerang dengan kaitannya, ia menyerbu dengan ruyungnya.
Justru itu dari belakangnya dinding batu tampak munculnya dua orang citBiauw-Yauw Lie, hanya sejenak, mereka lenyap pula.
Mereka berlalu selekasnya mereka masing-masing menyambar dan mengempit Siauw Tiong Beng dan Bok Cee Lauw, yang tadinya pada duduk di tanah tengah menungkuli rasa nyerinya........
Selagi Siong Kan dan Hong Hoan menyerang ia dengan hebat, It Hiong sebaliknya berkesan baik terhadap mereka itu.
Memangnya ia tidak berniat membinasakan ketujuh Bajingan dari To Liong To, kalau tadi ia membinasakan juga Seng Ciang, itulah disebabkan meluapnya amarahnya seketika lantaran Bajingan she Cie itu menyerang ia dengan senjata rahasia.
Ia dapat mengerti kemarahannya saudara angkat bajingan itu terhadapnya.
Demikian, karena It Hiong tidak berniat membinasakan lawan, ia jadi melayani mereka itu bagaikan ia sedang bermain petak.
Ia menggunakan melulu kegesitan dan kelincahan tubuhnya.
Lekas sekali, sang fajar telah tiba.
Ketika itu Kiauw In, disamping memasang mata, telah memberesi rambutnya yang kusut, kemudian ia menengadah langit, lalu mengeluarkan nafas melegakan kalbunya.
Ya Bie sebaliknya !
Nona itu mengawasi pertempuran dengan dia seperti tak sanggup mengendalikan hatinya.
Dia tak sabar sekali.
"Bagaimana, eh ?"
Katanya kemudian.
"Kenapa kakak Hiong bermurah hati terhadap sekalian lawannya itu ?"
Kiauw In menghela nafas.
"Kakakmu itu sedapatnya hendak pantang membunuh."
Katanya menjelaskan.
"Dia biasa menggunakan timbangan yang adil disebelahnya dia memang memiliki apa yang dinamakan hati wanita......"
Ya Bie berdiam, dia agak kurang mengerti. Tapi hanya sejenak, dia lantas kata keras .
"Kakak Hiong takut melanggar bencana pembunuhan tetapi aku, Ya Bie tidak !"
Nona ini sudah melibatkan ularnya pada pinggangnya, lalu ia membukanya pula.
"Kakak, tolong kau waspada !"
Katanya kemudian tiba-tiba, lalu sebelum lenyap suara mendengungnya kata-katanya itu, tubuhnya sudah mencelat maju, bahkan terus ia memperdengarkan seruannya yang tajam.
Sebab ia lantas menggunakan ilmu sesatnya --Hoan Kak Bie Cin.
Dengan suaranya itu, ia hendak mengacaukan pikirannya sekalian musuh !
Setelah itu si polos sudah berada diantara musuh sambil ia membulang-balingkan Sian Liong, si Naga Sakti, ular beracunnya itu !
Tio siong Kang kalah latihan semadhinya dari pada Lam Hong Hoan, selekasnya dia mendengar suaranya Ya Bie, tubuhnya lantas menggigil sendirinya, menyusul mana, hatinya pun berdebaran, bahkan segera juga gerak gerik sepasang kaitannya lantas menjadi ayal secara tiba-tiba.
Ya Bie bermata sangat celi, ia melihat perubahan pada bajingan she Tio itu, tidak ayal pula, ia merangsak pada Bajingan itu, untuk meluncurkan ularnya kepada dada dan perut orang !
Tio Siong Kang terkejut, tetapi ia belum tahu lihainya si Naga Sakti, untuk membela diri, guna membinasakan binatang menyelosor itu, segera ia menghajar dengan dua-dua kaitannya kiri dan kanan.
Adalah keinginannya akan dengan satu kali kait, binatang jahat itu nanti mati dengan tubuhnya terkutung menjadi dua potong !
Adalah diluar sangkaan dari jago dari To Liong To itu bahwa Sian Liong lihai sekali.
Tubuhnya yang bersisik, yang tak seperti ular lain umumnya yang kulitnya cuma licin saja, tak mempan senjata tajam, kebalnya luar biasa.
Dia pula sangat celi dan cerdas.
Dia melihat tibanya kaitan, dia lantas berkelit melejit, menyusul mana, selagi tubuhnya bebas dari ancaman petaka, mulutnya sendiri tahu-tahu sudah memegat lengan kanan Bajingan itu !
Ketika itu Lam Hong Hoan pun memperoleh kesempatan menghajar ke arah pinggang si nona, ruyung panjangnya digerakkan dengan hebat, dengan tenaga sepenuhnya, dengan antaran seluruh tenaga dalamnya !
Ya Bie cerdik sekali.
Begitu ia melihat ancaman bahaya, ia tidak mau menangkis, hanya dengan satu gerakan lincah, ia menjatuhkan diri ke tanah terus bergulingan sejauh lima kaki lebih !
Hingga bebaslah ia dari ancaman maut.
Tapi setelah selamat itu, segera ia berlompat bangun, buat berlompat lebih jauh menghampiri pula lawan, guna merapatkan !
Inilah daya cerdik guna membuat lawan tidak leluasa mengunakan senjatanya yang panjang.
Kembali dari kejauhan terdengar siul nyaring tetapi pendek, berulang-ulang.
Kali ini suara itu jauh lebih mendesak !
Lam Hong Hoan berlompat mundur, ruyungnya ditarik pulang, kemudian dia mengawasi kepada Siong Kang, setelah mana dia berlompat pula, kali ini berlompat mundur, maka selanjutnya dia lari menghilang dari tempat dari mana tadi mereka muncul !
Tio Siong Kang rebah ditanah.
Dia roboh terkulai setelah berdiri diam tak lama.
Tubuhnya bergemetar, mukanya menjadi pucat pasi.
Hebat pagutannya Sian Liong yang beracun itu.
Tanpa berkutik pula, ia hilang nyawanya dengan tubuhnya tetap menggeletak di tanah.
Ya Bie melihat kaburnya Hong Hoan, saking panas hatinya, hendak ia mengejar.
"Adik Ya Bie !"
Tiba-tiba ia mendengar panggilannya It Hiong.
"Adik, jangan kejar musuh !"
Mendengar suara itu, si nona mendengar kata.
Dia sangat patuh terhadap kakak Hiongnya itu !
Sebaliknya dari pada mengejar musuh, dia memutar tubuhnya dan menghampiri si anak muda, menghadapi siapa dia tertawa manis.
"Ada apakah kakak ?"
Tanyanya gembira. Kiauw In menghampiri kawan itu.
"Adik, apakah kau ketahui namanya beberapa orang ini ?"
Tanyanya. Ya Bie membuka mata lebar-lebar, terus dia menggeleng kepala. Nona Cio menghela nafas, lalu ia menoleh pada It Hiong.
"Sungguh tak kusangka !"
Kata ia perlahan setelah ia menatap wajahnya si pemuda.
"Sungguh tak kusangka, orangorang dari To Liong To pun dapat dipengaruhi Im Ciu It Mo, hingga mereka kena diperintah mengadu jiwa......."
It Hiong mengawasi dua orang yang rebah ditanah.
"Kakak mengenali mereka ?"
Tanyanya. Kiauw In tertawa dan menjawab.
"Ketika kawanan bajingan menyerbu Siauw Lim Sie, mereka ini telah memperlihatkan dirinya, namun ketika itu aku mengenalinya samar-samar. Yang aku ingat lebih tegas, itulah dia !"
Si nona menunjuk tubuhnya Tio Siong Kang. It Hiong pun kata .
"Yang barusan kabur itu adalah Lam Hong Hoan, locu nomor dua dari To Liong To. Baru-baru ini di pinggang gunung Heng San, pernah aku menempur Lam Hong Hoan dan Bok Cee Lauw. Maka dua korban ini, mereka tentulah kawan-kawannya mereka itu."
"Kalau merekalah Tujuh Bajingan dari To Liong To,"
Tanya Ya Bie.
"kenapa sekarang cuma ada lima orang ? Mungkinkah ?"
Mendadak saja si nona menghentikan kata-katanya itu.
Tiba-tiba ia ingat mungkin masih ada dua orang, yang belum terpengaruhkan Im Ciu It Mo atau mereka itu berdua dapat meloloskan diri....
Kata-katanya Ya Bie mengingatkan It Hiong pada Siauw Wan Goat, nona Bajingan nomor tujuh yang tergila-gila kepadanya, bahkan karenanya itu sudah terpedayakan Gak Hong Kun.
Entah dimana adanya nona itu sekarang.....
Kemudian It Hiong pun ingat akan kematiannya Kang Teng Thian, ketua To Liong To.
Jago itu telah menuduh dialah orang yang mencelakai Siauw Wan Goat itu.
Bagaimana fitnah itu sedangkan ia adalah seorang yang putih bersih ?
Kang Teng Thian mengajak Siauw Wan Goat mendatangi Siauw Lim Sie di gunugn Siong San, di sana dia tak mau mengerti, maka juga dalam pertempurannya dengan Ang Sian Siangjin, ia berdua bersama biarawan itu telah membuang jiwa bersama-sama......
"Itulah hebat"
Pikir It Hiong.
"Semua itu gara-garanya Hong Kun."
Mengenang Siauw Wan Goat, It Hiong menyesal dan berduka.
Bukankah nona itu sangat mencintainya, hingga dia menjadi tergila-gila ?
Karena itu, dia telah menderita, kesucian dirinya sampai dirusak Hong Kun.
Tanpa merasa, anak muda kita menghela nafas, wajahnya pun suaram.
Ya Bie terkejut, dia heran.
Mulanya ia melengak sejenak, cepat-cepat ia menanya .
"Kakak Hiong, apakah aku keliru bicara ?"
Pemuda itu menggeleng kepala.
Kiauw In sebaliknya dari pada Ya Bie.
Ia dapat menerka kedukaannya si anak muda, sebab ia tahu lakonnya Siauw Wan Goat itu.
Maka ia lantas melirik anak muda itu dan bersenyum.
"Adik Ya Bie, kau tidak salah bicara !"
Ia pun kata.
"Dia --orang ini--sangat berat bencana asmaranya ! Dia tentunya telah mengingat kepada Siauw Wan Goat dari To Liong To...."
Mendengar suara si nona, mukanya It Hiong menjadi merah, ia merasai kulitnya panas.
Tepat dugaan nona itu.
Dengan alisnya berkernyit, ia berpaling ke lain arah.
Tak mau ia mengatakan sesuatu.
Tapinya Kiauw In sangat halus budi Pekertinya.
Tak sedikit juga ia menyesal atau jelus dengan lakon asmara kekasih itu.
Ia pun dapat membaca hatinya si anak muda.
Maka ia lantas tertawa dan kata .
"Eh, eh, kau kenapakah ? Kecelakaannya Siauw Wan Goat yang harus dikasihhani, aku percaya bukanlah perbuatanmu !"
It Hiong menoleh, mengawasi pacarnya.
"Jika aku yang berbuat tak tahu malu seperti itu, apakah kakak kira ada mukaku buat datang menemuimu ?"
Katanya. Lantas nona Cio memperlihatkan wajah sungguh-sungguh.
"Sudah, jangan kita bicarakan urusan sampingan itu !"
Demikian katanya.
"Kita sekarang lagi berada di tempat yang berbahaya ! Nanti saja, selolosnya kita dari Hek Sek San, setelah ada kesempatan, kita pergi cari Siauw Wan Goat buat membantui dia melakukan pembalasannya !"
Sekonyong-konyong It Hiong menghunus pedangnya.
"Gak Hong Kun !"
Katanya sengit.
Terus dia membacok batu di depannya, hingga batu itu pecah dengan memuncratkan percikan apinya.
Itulah tanda bahwa ia sangat penasaran terhadap murinya It Yap Tojin.
Ya Bie melengak menyaksikan perbuatannya It Hiong.
Inilah sebab ia tidak tahu tentang lakonnya Siauw Wan Goat dengan Gak Hong Kun dan anak muda itu sendiri.
Matahari sementara itu mulai menaik dan halimun sudah buyar, maka tanah pegunungan itu mulai terlihat terang dan nyata.
Kiauw In segera mengawasi ke sekitarnya, hingga ia mendapatkan sebuah jalan kecil untuk turun gunung.
"Untuk dapat keluar dari gunung ini, kita cuma dapat mengambil jalan kecil itu,"
Katanya, menghela nafas. Ia masgul. Ya Bie si polos kata .
"Tadi pun musuh kita menyingkir dari jalan dari jalan itu ! Mari kita pergi, asal kita berhati-hati ! Mungkin ada perangkap di tengah jalan sana......."
It Hiong mementang lebar kedua matanya.
"Untuk keluar dari sini, kita jangan takut pada perangkap lagi !"
Katanya keras. Nyata bahwa ia masih panas hati.
"Benar !"
Seru Ya Bie, gembira dan bersemangat.
"Apa yang harus dibuat takut ? Mari kita pergi!"
Malah nona polos ini terus mengajak ujung bajunya Kiauw In buat diajak berjalan. Nona Cio mau mengikuti kawan muda itu atau It Hiong segera menghadang di depan mereka.
"Jangan sembarangan, adik !"
Kata si anak muda pada Ya Bie.
"Biar aku yang membuka jalan !"
Dan anak muda ini lantas bertindak di muka, mengambil jalan kecil itu.
Jalan kecil menanjak naik itu, banyak tikungannya.
Jalan pun sempit.
Kira setengah lie jauhnya, tiba sudah orang di jalan yang buntu --buntu karena terpegat sebuah jurang yang dalam mungkin seribu tombak.
Dari dalam jurang itu tampak uap mengepul naik, diantara sorotan cahaya matahari, uap itu memberi penglihatan aneka warna.
"Sungguh berbahaya !"
Kata It Hiong.
"Terang kita salah jalan !"
Kiauw In mengawasi anak muda itu.
Kalau It Hiong maju terus, dia pasti akan tercemplung ke dalam jurang.
Syukur, matahari terang sekali.
Ia lalu mengawasi ke seputarnya.
Kesudahannya, bertiga mereka berdiri melengak.
Tak tampak jalan lain !
Habis, kemana perginya musuh yang kabur tadi ?
Kiauw In berdiam sambil otaknya bekerja.
TIba-tiba ia tertawa.
"Kita tolol !"
Katanya.
"Di sini mesti ada sebuah gua, yang menjadi jalanan keluar ! Hanya gua itu rupanya tertutup hingga kita tidak melihatnya........"
It Hiong dan Ya Bie membenarkan dugaan itu.
"Mari kita cari !"
Kiauw In menambahkan, mengajak.
Kedua kawan itu mengangguk.
Bertiga mereka lantas memutar tubuh, buat berjalan baik.
Hanya kali ini mereka berjalan dengan perlahan sambil selalu memeriksa kedua sisi jalanan itu.
Mereka mesti menggunakan waktu banyak sebab mereka berjalan dengan sangat perlahan.
Perjalanan yang jauh tak ada setengah lie meminta waktu lama.
Sudah satu jam tetapi mereka belum menemui jalanan atau gua yang dicari itu.
It Hiong menjadi mendongkol dan penasaran.
"Aku tidak percaya Im Ciu It Mo demikian lihai hingga dia mampu mengurung kita di puncak gunung ini !"
Katanya sengit. Melihat orang mengumbar hawa nafsunya, Kiauw In tertawa.
"Adik !"
Katanya manis.
"Sejak kapan kau belajar tak tahan sabar ? Toh terang-terang kita melihat musuh mengambil jalan ini ! Kalau disini tidak ada jalan keluarnya, habis dari manakah lenyapnya mereka itu ? Mungkinkah mereka naik ke langit ? Mulanya toh mereka datang, lalu pergi !"
"Jika kita tidak menemukan jalanan itu,"
Ya Bie turut bicara.
"kita merayap turun saja ! Apa yang mereka dapat lakukan atas diri kita ?"
It Hiong tidak berkata apa-apa.
Mereka berjalan balik lagi.
Tanpa merasa, selagi mereka itu naik dan turun, sang waktu sudah mendekati tengah hari.
Tio It Hiong duduk di tanah, otaknya bekerja, matanya melihat jauh ke depan.
Ia heran yang mereka tak berhasil mencari jalan keluar itu.
Kiauw In dan Ya Bie turut berduduk, untuk beristirahat.
Gunung itu sunyi, cuma angin bersiuran.
Ya Bie membekal rangsum kering, ia keluarkan itu dan membagi kedua kawannya.
Dengan begitu, mereka dapat mengisi perut.
Si nona sangat polos, tiba-tiba dia tertawa.
"Aku girang dapat berdiam bersama-sama kalian, kakak Hiong !"
Kata ia.
"Sekali pun sampai lama, ya, sampai lama sekali, aku senang !"
Hatinya si anak muda tergetar, dengan wajah likat, ia melirik nona Cio. Nona itu berpura-pura tak mendapat lihat anak muda itu.
"Adik yang tolol !"
Katanya tertawa.
"Janganlah kau bicara setolol ini ! Paling benar, kau bersiaplah terhadap senjata gelap dari pihak lawan !"
Ya Bie terperanjat, juga It Hiong.
Memang benar katanya Kiauw In itu.
Maka mereka lantas menoleh kelilingan.
Tiba-tiba dari sebuah tikungan muncul satu tubuh manusia bagaikan bayangan, tubuh itu lari cepat seumpama terbang.
Kiauw In bertiga melihat orang, serempak mereka berlompat bangun, untuk bersiap sedia menyambut.
Mereka menerka kepada musuh.
Hanya It Hiong, di lain saat sudah lantas berlompat maju, guna memapaki orang itu.
Lekas sekali orang yang mendatangi itu tiba dekat kepada si anak muda, untuk lega hatinya anak muda itu.
Dia kiranya So Hun Cian Li.
Ia lantas tak bersiap siaga lagi.
Di depannya It Hiong, si orang utan memperdengarkan suaranya beberapa kali dan kedua tangannya yang berbulu digerak-geraki.
Entah apa yang mau dikatakan.
Syukurlah Ya Bie datang menyusul.
Nona itu lantas bersiul.
Melihat si nona polos, nampak So Hun Cian Li girang bukan kepalang.
Dia berlompat menubruk, terus dia memeluki eraterat nona itu sedang Pekiknya diperdengarkan berulang-ulang.
Baru sesudah lewat sekian lama, dia melepaskan pelukannya.
Apa yang telah terjadi atas dirinya orang utan ini ?
Sebenarnya dia telah ditotok Peng Mo, hingga dia ketinggalan, sesudah orang berjalan jauh lima atau enam tombak, dia roboh sendirinya.
Dia kehilangan tenaganya, dia rebah terkulai.
Sementara itu tibalah ketujuh Yauw Lie murid-muridnya Im Ciu It Mo.
Mereka diperintahkan guru mereka mengatur perangkap guna membekuk It Hiong beramai.
Ek Toa Biauw mengajak kawan-kawannya pergi ke jalan kecil itu.
Lantas mereka melihat si orang utan sedang rebah menggeletak.
Mereka heran, tetapi mereka menerka orang utan itu sudah mati, maka mereka tidak menghiraukannya.
Tidak demikian dengan Ek Cit Biauw, si nona bungsu.
Dia jail, sembari lewat itu dia mendepak pinggangnya si orang utan.
Dia mau tahu, binatang itu benar sudah mati atau bukan.
Justru ia mendepak, ia mendepak tepat jalan darah orang yang ditutup Peng Mo.
Lekas sekali So Hun Cian Li siuman, hanya ketika dia membuka kedua matanya, dia melihat beberapa orang tengah berlari-lari pergi.
Dia lantas menduga kepada Ya Bie bertiga, maka dia berlompat bangun, terus dia lari menyusul, untuk mengikuti.
Cit Yauw Lie menggunakan jalan rahasia, mereka tak usah seperti It Hiong beramai yang mesti melintasi banyak pengkolan serta mendaki tinggi dua ratus tombak.
Tiba di atas, mereka terus bekerja.
Keenam nona tahu si orang utan siuman tetapi mereka membiarkannya.
Adalah Ek Cit Biauw yang mengajak So Hun Cian Li bermain-main....
Kemudian, ketika Ek Toa Biauw mendengar tawanya Ek Cit Biauw serta Pekiknya si orang utan, tiba-tiba ia mendapat pikiran kenapa ia tidak mau menggunakan orang utan itu sebagai perangsang, guna menipu It Hiong semua menghampiri pesawat rahasia mereka.
Inilah sebabnya kenapa ia membiarkan terus si orang utan mengikuti mereka sampai di atas puncak datar.
Jilid 55 Tindakannya Im Ciu It Mo yang pertama-tama ialah menitahkan kelima Bajingan dari To Liong To, yang telah roboh dibawah pengaruh gaibnya, pergi menghadang dan menyerang It Hiong bertiga.
Di luar dugaan, kelima bajingan gagal, bahkan dua hilang jiwa, dua lagi terluka.
Karenanya, Im Ciu It Mo memanggil Lam Hong Hoan pulang.
Ek Toa Biauw melihat It Hiong bertiga, ia khawatir anak muda itu dapat mencari jalan rahasia, setelah berpikir, mereka sengaja membikin So Hun Cian Li pergi memperlihatkan diri, supaya sehabis itu, si orang utan nanti mengajak It Hiong bertiga mendatangi pesawat rahasia mereka, agar mereka itu kena terjebak.
Segera setelah dapat membikin tenang pada si orang utan, Ya Bie lantas mengajaknya berbicara, minta dia suka menunjuki jalan keluar, ialah jalan yang tadi diambil si orang utan sendiri.
So Hun Cian Li tetap binatang, dia tidak tahu perangkap Im Ciu It Mo.
"Kita tidak berhasil mendapati jalan keluar itu, tidak ada halangannya kalau So Hun Cian Li yang menunjuki,"
Kata It Hiong setelah Ya Bie memberitahukan si orang utan dapat menjadi penunjuk jalan. Kiauw In sebaliknya mengernyitkan alisnya. Dia berpikir keras.
"Sia-sia saja percobaan kita mencari jalan keluar,"
Katanya selang sesaat.
"tetapi So Hun Cian Li dapat datang kemari dengan mudah saja, tanpa dia mendapat celaka, inilah aneh. Aku rasa pada ini mesti ada rahasianya......"
Walaupun Nona Cio mengatakan demikian, Ya Bie tapinya tidak takut.
"Lihai ia Im Ciu It Mo menggunakan racunnya serta kepandaiannya orang-orangnya, semau telah kita kenal !"
Katanya gagah.
"Karena itu, apalagi yang harus kita buat takut ?"
Kiauw In menghela nafas.
"Kau benar, adik,"
Katanya.
"akan tetapi apakah barusan kau tidak lihat cara munculnya orang-orang To Liong To itu serta cara kaburnya yang satunya ? Bukankah mereka pun mengambil jalan serupa datang dan perginya ? Kenapa kita justru gagal mencari jalan rahasia itu ?"
"Kakak benar,"
Berkata It Hiong.
"Di sini tentu ada rahasianya. Meski demikian kakak, justru karena kita tidak berhasil mencari jalan keluar itu, kenapa kita tidak mau pakai perantaraannya orang utan ini ? Biarlah dia yang menunjuki jalan !"
"Ya, biar dia menjadi penunjuk jalan kita !"
Ya Bie campur bicara.
"Marilah kita ikuti So Hun Cian Li, lainnya hal biar kita lihat saja !"
Biar bagaimana Kiauw In mesti menyetujui nona kecil itu. Memang mereka tidak mempunyai pilihan lain.
"Baiklah,"
Katanya diakhirnya.
"Asal kita waspada !"
Begitulah mereka berangkat.
Ya Bie menyuruh orang utannya jalan di depan mereka.
Mereka menempuh pula jalan kecil tadi dimana mereka telah berjalan bulak balik tanpa hasil Setibanya di depan jurang, si orang utan sudah lantas berlompat turun !
Ketika itu tengah hari, jurang yang tadi tertutup uap, sekarang uapnya telah buyar.
It Hiong heran melihat So Hun Cian Li berlompat turun, segera ia menyusul ke tepiannya jurang, untuk melongok ke bawahnya.
Cahaya matahari dapat menembus terang sekali ke dalam jurang itu.
Maka di situ tampak sebuah apa yang dinamakan "batu rebung", yang muncul nonjol panjang tiga atau empat tombak, yang berupa mirip sebatang penglari melintang diantara jurang atas dan dasarnya.
Tadi itu, sebelum uap buyar, ia beramai tak melihatnya.
Si orang utan berdiri di atas batu panjang itu, dia berPekik-Pekik sambil menggerak-geraki kaki dan tangannya.
Kiauw In dan Ya Bie telah turut melongok ke dalam jurang itu.
"Pasti ada gua di tempat di mana batu itu menonjol,"
Kata Nona Cio.
"hanya....."
"Kalian tunggu,"
It Hiong menyela.
"Nanti aku lompat turun buat melihatnya......"
Belum habis kata-kata itu diucapkan, orangnya sudah berlompat turun, untuk menaruh kaki di batu panjang itu, yang jaraknya dari atas cuma tujuh atau delapan tombak.
Mudah saja buat si anak muda turun ke situ karena kemahirannya ilmu ringan tubuh Tangga Mega serta ilmu pedang melayang Gie Kiam Hui Heng Sut.
Juga mudah saja buatnya mendapati gua, atau lubang seperti diterka Kiauw In.
Karena gua justru merupakan mulut terowongan.
So Hun Cian Li menunjuk pada mulut gua, kembali dia berPeki berulang kali.
It Hiong mengawasi.
Mulut gua itu gelap dan dari situ bertiup keluar angin shilir.
Kecuali angin halus itu, tidak ada suara lainnya.
Anak muda kita segera menggunakan otaknya.
Di dalam situ mesti ada orang yang menjaga atau telah dipasangi perangkap yang berbahaya.
"Mari !"
Kata It Hiong yang terus menarik si orang utan buat diajak berlompat naik pula.
"Adakah jalanan di situ ?"
Ya Bie paling dahulu menanya si anak muda. It Hiong tertawa.
"Di situ ada sebuah mulut gua."
Sahutnya.
"Hanya entahlah, gua itu menembus ke perut gunung atau ke bawahnya........"
"Bagus !"
Seru si nona polos.
"Mari kita turun !"
Dan ia maju ke tepian jurang, bersiap lompat turun ke dalamnya.
"Tahan !"
Mencegah Kiauw In sambil menarik lengan orang. Kemudian dia menoleh kepada It Hiong, untuk bertanya .
"Adik, bagaimana penglihatanmu mengenai gua itu ?"
"Jika aku tidak keliru menerka."
Sahut orang yang ditanya.
"itulah mesti salah sebuah gua sarangnya Im Ciu It Mo."
Alis si anak muda bangkit, tampangnya menjadi gagah sekali ketika ia menambahkan.
"Namun, walaupun itu adalah sarang naga atau sarang harimau, pasti aku akan menerjang memasukinya !"
Kiauw In membuka mata lebar memandan si anak muda, lalu dia tertawa.
"Melawan harimau tanpa bersenjata atau menyeberangi sungai tanpa perahu, itulah yang dinamakan kegagahannya si orang biasa saja,"
Katanya.
"Adik, apakah kau tak kuatir orang Kang Ouw menertawakanmu andiakata mereka mendengar tentang cara lakumu ini ?"
It Hiong melengak.
Ia sadar yang barusan ia telah terlalu menuruti suara hatinya sendiri.
Segera ia menatap nona di depannya itu.
Terhadap kakak seperguruan ini, disebelah rasa cintanya, ia pun sangat menghormatinya.
Lalu, sendirinya, ia pun tertawa.
"Kau benar, kakak,"
Katanya kemudian.
"Nah, apakah kakak telah memikir sesuatu ?"
Ya Bie sebaliknya berdiri bengong mengawasi bergantian muda dan mudi itu.
Ia pun insyaf akan kecerdasannya Kiauw In, maka diam-diam ia menjadi menaruh hormat sekali.
Kiauw In dengan perlahan menggeleng kepala.
"Di saat ini, aku belum memikir apa-apa,"
Sahutnya halus.
"Aku cuma ingat bahwa disini ada faedahnya jika kita gunakan bunyi pepatah yang berkata melempar batu buat menumpang tanya jalanan........."
Pepatah itu berbunyi "Touw-sek-bun-louw--Melempar batu, Menanya jalan".
Dengan menuruti pepatah itu, orang biasa melempar batu dari atas ke bawah atau ke sebelah depan, guna kemudian mendengari jatuhnya batu itu, guna mengetahui reaksinya.
Hanya disini, Pekerjaan itu sulit juga.
Untuk melempar, atau menimpukkan batu, ke dalam mulut gua, orang mesti berdiri di palangan batu itu.
Batu panjang itu sebaliknya meluncur hanya sebatang dan sekitarnya jurang, maka kecuali berlompat ke atas, ke kiri dan kanan atau ke dasar jurang, semua itu berbahaya.
Bagaimana apabila muncul reaksi yang mengancam hebat ?
Orang sukar menangkis atau berkelit, atau orang bakal tercemplung ke dasar jurang......
It Hiong menggunakan otaknya selekasnya ia mendengar kata-kata si nona, karena ia berpikir itu, ia tidak lantas membuka mulutnya.
Kiauw In bersenyum mengawasi pemuda itu.
"Adik,"
Katanya.
"buat apak kita memikir lama-lama ? Menurut aku, kita gunakan saja ilmu Kiauw-keng !"
"Oh !"
Suara It Hiong mendengar perkataannya si nona. Ia bagaikan baru mendusin dari tidurnya. Ya Bie sebaliknya tidak mengerti.
"Kakak Kiauw In, apakah itu Kiauw-keng ?"
Tanyanya. Menurut arti biasanya, kiauw-keng berarti tenaga kekuatan yang dikendalikan kecerdasan. Kiauw In mengawasi nona itu sebentar, lalu ia bersenyum.
"Biarlah Kakang Hiongmu melakukan itu buat kau lihat !"
Sahutnya kemudian. Lalu ia menuntun nona itu, buat diajak memungut tujuh atau delapan buah batu sebesar telur, batu mana terus mereka letaki di tepian jurang. It Hiong tertawa. Kata dia .
"Kakak, siapakah yang sangka bahwa cara bermain-main kita menggunakan batu di Pay In Nia sekarang ada gunanya di gunung Hek Sek San ini ?"
Nona Cio tidak menjawab, ia cuma bersenyum.
It Hiong lantas mengerahkan tenaga dalamnya, Hian-bun Sian Thian Khie-kang, untuk menyalurkan ke tangannya kiri dan kanan, setelah itu kedua tangannya itu menjemput batu sebesar telut itu, beberapa buah.
Di lain saat, cepat sekali, ia sudah lantas perlihatkan kepandaiannya.
Dengan digeraki sebagai dipentil, sebuah batu lantas terpental, yang mana disusul dengan pentilan lainnya.
Luar biasa cepat adalah batu yang terpentil belakangan, yang menyusul batu pentilan terdahulu.
Bedanya ialah pentilan pertama rada perlahan, pentilan belakangan sangat cepat hingga yang pertama tercandak dan terhajar keras, karena mana, batu terdahulu itu mental keras ke arah mulut gua !
Ya Bie heran dan kagum menyaksikan batu dapat dibikin terpental demikian macam.
"Hebat !"
Serunya girang sekali.
"Kakak Hiong, sungguh kau pandai !"
Justru orang memujinya, It Hiong sudah menyentil pula, sampai buat ke empat kalinya !
Kiauw In sementara itu mendekam di pinggiran jurang, buat memasang telinga, guna mendengar hasilnya permainan "Touw sek bun louw"
Itu. Ia tak usah menanti lama akan mendengar sambutan dari dalam gua itu.
"Jawaban"
Yang datang setiap batu mental masuk ke dalam gua, jawaban itu berupa menyambarnya senjata-senjata rahasia yang disinarnya matahari bercahaya kebiru-biruan.
Itulah sinar yang menandakan senjata rahasia itu tadinya telah dicelup dahulu ke dalam racun !
Itulah pula pelbagai pisau belati, anak panah dan piauw !
Karena It Hiong melanjuti timpukan istimewanya itu, maka juga Kiauw In bersama Ya Bie terus memunguti dan mengumpuli batu-batu kolar sebesar telur itu, sampai serangan-serangan senjata rahasia itu berhenti, baru mereka turut berhenti juga.
Ya Bie heran, tetapi ia lantas berkata .
"Serangan senjata rahasia sudah berhenti, mari kita turun akan memasuki gua !"
"Tunggu dulu !"
Kata It Hiong, tangannya masih menggenggam batu.
"Dalam waktu pereang orang tak pantang berlaku palsu ! Maka itu, kita harus waspada ! Siapa tahu kalau musuh menggunakan akal liciknya."
Ya Bie mendengar kata, ia mundur pula. Kata-katanya "Kakak Hiongnya"
Itu benar sekali. Kiauw In bertindak ke tepi jurang, akan mengawasi ke mulut gua tadi.
"Aku mendengar suara banyak kaki bergerak-gerak"
Katanya seraya memasang telinga.
"Rupanya beberapa orang lagi berjalan mundar mandir hanya tibanya di mulut gua, mereka pada berhenti......."
"Apakah kakak telah mendengarnya dengan jelas ?"
Ya Bie tanya.
"Kenapa mereka pada berhenti di mulut gua ? Kenapa mereka tak berani muncul ?"
Kiauw In mengerutkan alisnya, terus ia menghela nafas.
"Mungkin sekali merekalah orang-orang yang telah makan obat jahatnya Im Ciu It Mo,"
Sahutnya.
"Mereka itu tak cerdas lagi, semua gerak geriknya menuruti saja kendalinya si Bajingan Tunggal........"
It Hiong melemparkan batu ditangannya, ia berjalan mundar mandir. Otaknya bekerja. Lewat sesaat, ia mengangkat kepalanya, menoleh kepada Kiauw In.
"Bagaimana sekarang ?"
Tanyanya pada si nona.
"Mereka tidak mau muncul, kita sebaliknya tidak mau turun ! Habis, sampai berapa lamakah kita harus menanti ?"
"Kita lihat saja,"
Sahut nona Cio.
"Buat kita, tindakan yang utama ialah kita memasuki goa di luar sangkaan mereka, supaya mereka dapat dikekang andiakata mereka menyerang dengan senjata rahasianya. Kita harus menjaga diri agar kita tak terkena senjata rahasia beracun dan tidak nyemplung ke dasar jurang !"
Ya Bie terkejut. Sungguh hebat apabila mereka sampai tercemplung ! "Kakak benar !"
Katanya kemudian. Ia menyenderkan tubuhnya pada tubuhnya Kiauw In, nampaknya ia seperti takut nanti jatuh ke dasar jurang itu ! It Hiong berdongkol, ia menjemput pula beberapa buah batu tadi.
"Akan aku coba !"
Katanya.
"Hendak aku menggunakan ilmu Gie Kian Hui Heng Sut. Kakak berdua menunggu sampai aku memanggil, baru kalian lompat turun ke jurang ini buat menyusulku!"
Berkata begitu, si anak muda menghunus pedangnya, buat terus diputar, hingga terdengar suara anginnya yang keras.
Mendengar suara itu, mendadak ia melongo.
Karena mendadak ia ingat, itu bukanlah Keng Hong Kiam, pedang mustikanya.
Bahwa pedang mustikanya justru ada yang curi.
Pasti, dengan pedang biasa itu, kemahirannya akan berkurang.
Kiauw In belum pernah menyaksikan ilmu pedang Gie Kiam Hui Heng Sut dari adik seperguruannya itu, ia mengawasi dengan prihatin.
Ia pun memesan .
"Adik, kau berhati-hatilah, jangan kau terlalu menempuh bahaya........"
"Aku mengerti,"
Sahut It Hiong, yang lantas saja berlompat, sedangkan pedangnya ia putar hebat, lantas mengeluarkan sinar berkelebatan.
Berbareng, tubuh manusia dan pedang mencelat ke dalam jurang, terus melesat ke mulut gua !
Matanya Kiauw In berkunang-kunang melihat gerakan si pemuda yang demikian cepat itu.
Menyusul itu, satu bayangan tubuh pun turut berlompat ke dalam gua.
Segera terdengar beberapa kali suara tertahan, menyusul mana lantas terdengar juga suara nyaring dari It Hiong .
"Kalian turunlah !"
Kiauw In dan Ya Bie sudah siap sedia, akan tetapi, mendengar panggilan itu, mereka melengak juga.
Lantas mereka saling melirik, baru mereka lompat menyusul !
Gua gelap gulita, akan tetapi samar-samar tampak beberapa buah mayat menggeletak di tengah jalan.
Lewat tiga atau empat tombak, terowongan mulai menikung.
Dari sebelah dalam segera terdengar suara nyaring dari beradunya alat senjata, juga terdengar bentak-bentakan.
Kiauw In menarik bajunya Ya Bie, buat diajak lari terlebih keras pula, menyelusupi jalan maju lebih jauh, akan mencari suara berisik itu.
Lagi kira sepuluh tombak, setelah sebuah tikungan, orang telah keluar di mulut gua yang lainnya, maka disitu tampak suatu pemandangan alam dari tanah pegunungan.
Disitu, kedua nona menyusul It Hiong yang justru lagi masuki pedangnya ke dalam sarungnya.
Pemuda itu berdiri tenang di sebuah tempat mirip pengempang kering, disekitarnya rebah berserakan tujuh atau delapan tubuh dari orang-orang yang berseragam hitam, yang pakaiannya bermandikan darah, tak ada yang tubuhnya berkutik.
Ya Bie mengawasi semua mayat itu, lantas dia tertawa.
"Sungguh kau hebat luar biasa, kakak Hiong !"
Pujinya. Kiauw In sebaliknya menghela nafas.
"Semua ini ada akibatnya kejahatan dari Im Ciu It Mo......"
Katanya.
"Inilah badai pembunuhan disebabkan kelicikan dan kekejamannya !"
Ketika itu keduanya telah sampai di depannya si anak muda.
Kiauw In lantas memandang ke sekitarnya.
Ia melihat dinding gunung diseputarnya itu, tinggi umpama kata mirip langit.
Cuma di tempat mereka berdiri, yang tanahnya datarnya cukup luas.
Sekitar tiga sampai empat puluh tombak, tak ada tumbuh rumput.
Semua batu karang telah berubah menjadi hita.
Di sebelah depan, jauh sepanahan, terlihat sederet rumah batu, rumahnya katai, katai juga semua pintunya.
Deretan rumah itu bagaikan menghadang jalanan.
"Tak kusangka di dalam gua terdapat melulu orangorangnya Im Ciu It Mo."
Kata It Hiong pada nona Cio.
"Syukur kepandaian mereka biasa saja dan diantaranya tak ada pemimpin yang lihai. Aku cuma mendapatkan pesawat rahasianya yang mengobral pelbagai senjata rahasia tadi."
"Mungkin si pemimpin sudah mundur teratur ke dalam deretan rumah batu,"
Kiauw In mengutarakan dugaannya.
"Jangan jangan mereka akan bertahan di dalam rumah itu........"
"Peduli apa !"
Kata Ya Bie menyela.
"Apa yang harus dibuat takut ? Dapatkah deretan rumah-rumah itu menghadang ilmu Gie Kian Hui Heng Sut dari kakak Hiong ?"
Begitu si nona menutup mulutnya, begitu mukanya menjadi merah. Di depannya Kiauw In, ia menyebut orang dengan "kakak Hiong". Ia likat sendirinya. It Hiong sebaliknya, mengawasi deretan rumah batu itu.
"Ya"
Katanya kemudian.
"tak peduli di dalam rumah itu ada pemimpinnya yang lihai atau pelbagai macam senjata rahasianya yang beracun, kita toh harus menyerbunya !"
Panas hatinya karena pertempuran barusan, anak muda ini tak lagi berhati-hati seperti semula.
Tepat itu waktu tampak So Hun Cian Li yang tadi lari di depan sudah lari kembali.
Di belakang dia terlihat dua orang mirip bayangan-bayangan lari mengejar dengan keras sekai.
Mereka itu muncul dari salah sebuah jendela rumah batu itu.
Hanya sebentar, si orang utan dan pengejarnya sudah sampai di depannya It Hiong bertiga.
So Hun Cian Li berPekik tak hentinya, dia kelabakan.
Inilah sebab di punggungnya menancap sebatang pedang yang berkilauan, yang pasti adalah jarum beracun.
Dia berkulit tebal dan kuat, dia toh tak tahan nyerinya.
Melihat lukanya si orang utan, Kiauw In lekas berkata pada It Hiong .
"Adik, So Hun Cian Li dilukai senjata beracun, lekas kau obati padanya. Nanti aku yang menghadapi musuh."
Ya Bie gusar sekali mendapat kenyataan binatangnya itu telah dilukai, dengan mata terbuka lebar dan bijinya bagaikan terputar, ia sudah lantas meloloskan ularnya dari libatan pada pinggangnya, tanpa membuka mulut lagi, ia maju mengikuti Nona Cio menghampiri musuh.
Dua orang yang keluar dari rumah batu itu berseragam singsat, tampang dan mata mereka tampak sangat bengis.
Mereka berhenti berlari, untuk segera mengawasi tajam kepada kedua nona yang menghampirinya.
Kiauw In lantas mengenali Yan Tio Siang Cian, sepasang si kejam dari wilayah Yan-TIo (propinsi Cilee), ialah dua saudara Leng Gan dan Leng Ciauw.
Yang mencolok mata dari dua orang itu yakni masing-masing kehilangan tangan kanan dan tangan kirinya, yang lenyap selama pertarungan di puncak Tiauw JIt Hong di gunung Tay San selama diadakan pertemuan besar kaum sesat dan golongan lurus.
Bahkan yang menebasnya kutung justru Kiauw In bersama Giok Peng.
Dahulu itu, Kiauw In berlaku murah hati, dia tak membasmi terus, siapa tahu sekarang mereka itu muncul pula di depannya di gunung Hek Sek San.
Yan Tio Siang Cian tidak merasa berhutang budi, sebaliknya, mereka bersakit hati, maka itu sesudah meninggalkan gunung Thay San, mereka mengobati diri dan seterusnya pergi mencari guru, akan belajar silat terlebih jauh, maka sekarang, kalau mereka bertempur, selalu bekerja sama.
Dengan berdiri berendeng dan rapat, mereka seperti masih mempunyai sepasang tangan kiri dan kanannya !
Mereka pula masuk dalam rombongannya Im Ciu It Mo hingga mereka menjadi pandai menggunakan senjata beracun, bahkan mereka diajari juga ilmu silat Tauw-lo-ciang, hingga mereka diandali Im Ciu It Mo sebagai pembantu-pembantu setia dan lihai, guna nanti dia menjagoi dunia Kang Ouw.
Melihat nona Cio, yang dia kenali, Leng Gan tertawa mengejek berulang kali.
"Hm, budak bau !"
Hardiknya.
"Nyata disini kita bertemu pula ! Tak nanti kami melupakan sakit hati terkutungnya tangan kami, maka sekarang kami mau menuntut balas berikut bunganya !"
Kiauw In tertawa.
"Tak kusangka kalian berdua, kegalakan kalian masih tak berubah !"
Katanya.
"Percuma saja ketika di puncak Tiauw JIt Hong aku menaruh belas kasihan kepada kalian !"
Leng Ciauw gusar sekali. Dengan tangan kirinya, tangan semengga-mengganya itu, dia menghunus goloknya, untuk dikibaskan.
"Cio Kiauw In !"
Bentaknya.
"kau kurangilah ocehanmu yang tak ada gunanya itu ! Paling baik kau serahkan nyawamu !"
Leng Gan juga mencabut golok dengan tangan kanannya yang tunggal, terus dia melangkah maju hingga berdua saudara, mereka berdiri berendeng rapat, hingga mereka tampak seperti seorang dengan kedua tangannya lengkap.
Di lihat dari berkilauannya golok mereka, tak usah disangsikan lagi yang kedua golok itu pernah direndam atau telah dipakaikan semacam racun.
Ya Bie tidak puas menyaksikan lagakanya dua orang yang bertangan buntung itu.
Dia berlompat maju seraya memutar ularnya, untuk diteruskan dipakai menyambar mukanya dua orang yang jumawa itu.
Ular hijau itu mengulur lidahnya, buat dibuat main, sedangkan matanya bersinar beringas.
Melihat ular itu, Yang Tio Siang Cian yang ada orang-orang Kang Ouw berpengalaman menjadi kaget.
"Sian Liong !"
Seru mereka berbareng.
Ternyata mereka mengenali Sian Liong, si ular beracun, Naga Sakti.
Lantas mereka berlompat mundur, sebab mereka takut nanti kena dipagut ular lawan itu.
Meski demikian, habis mundur mereka berlompat maju pula, kali ini untuk menebaskan golok mereka.
Niat mereka agar ular itu dapat dibacok kutung !
Ya Bie menarik pulang ularnya, atas mana ia lantas diserbu.
Kedua saudara Leng maju terus sambil mengulangi serangannya, kali ini golok mereka mencari sasaran pada bahu dan perutnya si nona.
Hebat serangan serempak itu.
Nyata sekali, walaupun tangan mereka masing-masing kurang satu, sekarang ini mereka itu berlipat lihai daripada semasa di puncak Tiauw JIt Hong.
Ya Bie sudah cukup berpengalaman, tetapi toh belum pernah ia kena dibikin repot senjata begini cepat, maka juga ia berkelahi dengan waspada.
Leng Ciauw bukan saja kejam, dia juga jail bahkan cabul.
Selamanya dia menusuk atau membacok ke arah perutnya si nona, membuat nona itu mendongkol berbareng jengah hingga mukanya menjadi merah.
Tentu sekali, ia gusar bukan main.
Muridnya Kip Hiat Hong Mo bukan sembarang murid, karena panas hatinya, nona polos itu jadi menggertak giginya.
Ia memasang mata dengan tajam.
Begitulah ketika golok menyambar ke bahunya, ia berkelit dengan dibarengi gerakan kaki "Angin puyuh di tanah datar".
Tubuhnya bagaikan melilit dengan lincah sekali, hingga ia bebas dari ancaman maut.
Jangan kata tubuhnya, ujung bajunya pun tidak berkenalan dengan golok lawan.
Karenanya, kontan ia membalas dengan meluncurkan ularnya ke dada orang !
Cepatnya gerakan senjata kedua belah pihak tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Itulah bagaikan berkelebatnya sang kilat.
Leng Gan dan Leng Ciauw merasa heran, kaget dan kagum.
Nona yang baru berusia tujuh atau delapan belas tahun ini ternyata lihai luar biasa, sebab ia sanggup menyelamatkan diri dari serangannya dengan jurus silat golok "Giok Sek Hun Tuaw"
Atau "Batu Kemala Terbang Berhamburan".
Itulah suatu jurus mereka yang lihai sekali.
Sudah musuh lolos, lantas mereka pun dibalas serang dengan sama hebatnya, sebab ular hijau itu, si Naga Sakti, meluncur ke depan mereka !
Terpaksa dua saudara itu bergerak mundur seperti semula tadi.
Ya Bie pun mengerti ancaman bahaya dari musuh barusan, maka itu selagi kedua musuh mundur, ia tidak menyusul, sebaliknya, ia berdiri diam untuk menatap kedua musuh itu.
Diam-diam di dalam hatinya ia mengucap syukur yang barusan ia dapat menyingkir dari ancaman maut.
Jantungnya memukul keras, nafasnya pun mendesak.
Seperti si nona mengawasi lawannya, kedua lawannya pun menatap tajam pada nona itu.
Mereka heran sekali.
Kiauw In juga kaget ketika melihat Ya Bie terancam bahaya, hampir ia berlompat membantunya, buat menghindarkan dia dari bahaya atau segera ia mendapat kenyataan kawan itu lihai, tubuhnya ringan dan gesit dan pengalamannya pun cukup.
Ia merasa hatinya lega.
Walaupun demikian, tidak dapat ia membiarkan kawan itu tetap melayani dua orang musuh yang lihai.
"Adik, silahkan mundur !"
Katanya kemudian.
"Biarlah kakakmu yang berhitungan dengan mereka, buat menyelesaikan segala-galanya !"
Dan ia lompat maju ke depan orang guna menghadapi lawan.
Ketika itu It Hiong telah dengan cepat membantu So Hun Cian Li.
Dengan bantuannya Lee-cu, ia mencabut jarum beracun dari tubuhnya si orang utan.
Sebenarnya jarum tidak menancap dalam saking kerasnya kulit tetapi jarum beracun dan racunnya tetap berbahaya.
Berkat khasiatnya mutiara mustika, racun itu dapat dilenyapkan dengan segera dan lukanya lantas sembuh seperti sedia kala.
Adalah pikirannya It Hiong akan menempur Yan Tio Siang Cian tetapi waktu ia mendengar suaranya Kiauw In, ia membatalkan niatnya itu.
Ia bersedia membiarkan si manis yang melayani musuh.
Ia hanya berdiri di sisi sambil memasang mata.
"Fui !"
Ya Bie berludah, lalu terus bertindak kepada It Hiong untuk berdiri berendeng dengan anak muda itu.
Habis berkata itu, Kiauw In maju dengan perlahan, kemudian ia menghentikan langkahnya sambil berbareng merintangi pedangnya di depan dadanya.
Kata ia dengan bengis .
"Orang-orang she Leng, hendak aku melihat ilmu pedang bersatu padu dari kalian berdua ! Hendak aku membuktikan sampai dimana kemahiran kalian menggunakan golok kalian ! Nah, kalian majulah !"
Sepasang alisnya Leng Gan bangkit. Hebat kata-katanya si nona.
"Hm ! Hm !"
Dia perdengarkan suara seramnya.
"Bagus ! Memang hendak aku mencoba ilmu golokku kepadamu ! Kau kenalilah Cu-Ngo Hap Pek To !"
Itulah nama golok yang berarti "golok bersatu padu diwaktu tengah hari dan tengah malam".
Dan menyusuli berakhirnya kata-katanya itu, Leng Gan dan saudaranya sudah lantas bergerak dengan berbareng, goloknya masing-masing turut bergerak juga, hingga sinarnya berkilauan di antara cahaya matahari.
Kedua golok bergerak satu dari atas ke bawah dan yang lainnya dari bawah ke atas.
Nona Cio sudah bersiap sedia, ia lantas menggerakkan pedangnya buat melayani.
Oleh karena percaya kedua lawan benar-benar lihai ilmu goloknya, Kiauw In tidak sudi berlaku sembrono.
Ia berkelahi dengan berhati-hati dengan ilmu pedangnya Sam Cay Kiam, yang berarti "Langit, Bumi dan Manusia".
Karena ia bersedia menyambut bentrokan, senjata mereka bertiga lantas juga saling bentrok satu dengan lain hingga terdengarlah berulangkali suaranya yang nyaring dan membisingkan telinga.
Benar-benar lihai ilmu golok Cu-Ngo Hap Pek To dari Yan Tio Siang Cian.
Semua gerakannya cepat dan rapi, satu dengan lain dapat bekerja sama dengan baik.
Mereka menangkis sendiri atau menyerang sendiri juga, tetapi lebih sering mereka menyerang dengan berbareng tetapi dengan arah sasarannya berlainan, guna membingungkan lawan.
Tak jarang mereka membatalkan atau merubah serangan mereka melulu buat menukar siasat, guna memakai sekali jalan.
Kiauw In melayani dengan sama cepatnya tetapi pun berbareng dengan hati dingin.
Dengan bersikap tenang itu, perlahan-lahan ia menyelami ilmu golok lawannya.
Dengan cepat ia mengetahui kedua lawan ini bukan lawan-lawan yang dahulu.
Mereka benar-benar lihai.
Maka ia terus berlaku sabar dan waspada.
Ia mengerti, kedua lawan tak dapat dirobohkan dalam tiga atau empat puluh jurus saja.
Ia bergerak gesit dengan menggunakan ilmu ringan tubuh Te In Ciong atau Tangga Mega, yang telah dikuasai It Hiong dengan baik sekali.
Nyata ia dapat mengimbangi si anak muda.
Demikian, ia senantiasa berkelebatan bagaikan gerak geriknya seekor walet.
Di dalam pertempuran itu, yang paling tegas tampak ialah berkilauannya sebatang pedang dan dua batang golok, mirip sinar membulang-baling dari sang kilat.
It Hiong menonton dengan perhatian penuh, ia pun mengagumi kedua saudara Leng itu, yang menjadi lihai luar biasa.
Tentu sekali ia sangat perhatian terhadap Kiauw In, sang kakak seperguruan yang ia hormati berbareng kekasih yang ia cintai.
Tanpa merasa pertempuran sudah melalui jurus kelimapuluh.
Matahari miring ke barat, sang waktu telah mendekati magrib.
Hal itu membuat hatinya It Hiong menjadi kurang tenang.
Beberapa kali ia berniat maju, guna membantui sang kakak tetapi selalu ia batal sendirinya.
Ia malu sendirinya.
Sebab ia mesti menghargai kehormatan dirinya selaku laki-laki sejati.
Bukankah ia muridnya satu partai persilatan tersohor ?
Tak dapat ia melanggar aturan kaum Kang Ouw walaupun Yan Tio Siang Cian bukanlah orang yang harus dihormati.
Disebelah itu, puas ia menyaksikan Kiauw In tak kalah desak.
It Hiong terus berdiri diam mengawasi pertempuran berlangsung.
Ya Bie juga kagum bukan main.
Belum pernah ia melihat caranya Kiauw In bersilat seperti itu, bagitu pun tidak ia sangka yang Yan Tio Siang Cin demikian tangguh.
Goloknya si penderita cacat lihai sekali, sangat berbahaya !
Pertempuran berlangsung terus sampai mendadak dari rumah batu tampak munculnya beberapa orang yang berlari-lari bagaikan bayangan hitam, sebab sudah pakaian mereka seragam hitam, muka mereka ditutup dengan topeng hitam juga.
Ya Bie bermata celi, ia mendapat lihat munculnya orangorang itu.
Segera ia menarik ujung bajunya It Hiong dengan ia memperdengarkan suara tertahan.
Menyusul seruannya si nona, dari belakang yang terus menyambut orang-orang yang baru datang itu.
Hingga mereka itu tampak terkejut terus memisah diri, guna melayani serangan tiba-tiba itu.
Kiranya bayangan hitam itu ialah So Hun Cin Lie.
Dia ini mendongkol yang tadi dia telah terkena jarum beracun, meski dia selamat, hatinya toh panas sekali.
Maka itu, melihat datangnya beberapa orang itu, dia lantas maju menyerang !
Dia ingin melampiaskan kemendongkolannya itu.
Dalam halnya ilmu silat, kepandaiannnya So Hun Cian Li sudah mencapai taraf orang Kang Ouw kelas satu, sekarang dia berkelahi karena kemarahannya, dapat dimengerti yang dia menjadi kosen sekali, sepasang tangannya yang berbulu menyambar-nyambar dengan hebat !
Beberapa orang berseragam hitam itu menjadi repot dalam sekejap, tak peduli mereka berjumlah lebih banyak serta bersenjatakan senjata tajam.
Terpaksa mereka lebih banyak berkelit daripada menyerang.
Ya Bie yang polos menyaksikan pertempuran binatang piaraannya itu, ia senang sekali, dengan menaruh kepalanya di dadanya It Hiong, ia tertawa geli.
It Hiong sebaliknya berfikir keras menyaksikan dua rombongan pertempuran itu, yang dua-duanya berimbang serunya.
Justru itu, ia bagaikan disadarkan kelakuan polos dari Ya Bie itu, telinganya mendengar tawa halus yang merdu dan hidungnnya mencium bau harum dari nona cilik itu.
Tanpa merasa, ia merangkul nona itu.
"Adikku, apa artinya ini ?"
Tanyanya. Ya Bie berhenti tertawa, ia mengangkat kepalanya, menatap si pemuda.
"Aih !"
Serunya perlahan.
Ke empat mata bentrok sinarnya, itu berarti banyak bagi hatinya kedua orang.
Mereka merasakan seperti tengah bermimpi atau melayang-layang di udara....
Tak lama muda mudi itu bagaikan bermimpi, mendadak It Hiong sadar.
Itulah disebabkan dari medan pertempuran, suara berisik berkurang secara tiba-tiba.
Ia lantas menoleh dan mengawasi.
Benar-benar pertempuran telah berubah sifatnya.
Tiba-tiba terdengar satu suara tertahan.
Lantas tampak tubuhnya seorang berseragam hitam terlempar tinggi, terus jatuh ke dalam jurang disisi mereka.
Di pihak lain, dua saudara Leng bertempur tanpa rapat lagi satu pada lain seperti mulamulanya, mereka jadi terpisah hingga meraka tidak dapat bersilat golok bagaikan bersatu padu, akan tetapi di lain pihak, dengan memisahkan diri, mereka merangsak, menggencet di kiri dan kanan.
Kiauw In merubah juga caranya bersilat dari ilmu Sam Thay Kiam, ia menukarnya dengan Khie-bun Patkwa Kiam, hingga sekarang dapat ia mengimbangi tangkisannya dengan serangan pembalasannya.
Ia sanggup membikin sepasang golok lawan bagaikan terkekang di luar.
Tadi pun ia yang memaksa lawan merenggangkan diri.
Walaupun mereka telah memisahkan diri, hingga ilmu golok gabungan mereka menjadi terintang, Leng Gan dan Leng Ciauw pun telah memikir akal mereka yang licin.
Dan akal itu, mereka tak menunda lama untuk mewujudkannya.
Dengan satu gertakan goloknya, Leng Gan si kakak menggunakan jurus silat "Walet Menyambar Air"
Hingga ia mencelat ke belakang si nona.
Selagi mencelat itu, ia menggunakan kesempatan merogoh ke dalam sakunya, menyusul mana tangannya dikibaskan, membuat tiga buah sinar perak berkilauan meluncur ke kepalanya Nona Cio, meluncurnya sambil berputar !
Senjata rahasia itu pun berbunyi nyaring.
Itulah senjata rahasia istimewa dari Leng Gan, namanya "Hui Hoan Yan-ciu Piauw atau piauw walet terbang berputar".
Sudah piauw itu direndam di dalam racun, juga meluncurnya berputar-putar mirip bumerang.
Bentuknya piauw mirip burung walet dari mana nama itu diambil (yan-ciu).
Jahatnya racun ialah membuat daging bonyok dan lepas dari tulang !
It Hiong melihat senjata rahasi itu, diam-diam ia berkuatir buat keselamatan pacarnya.
Bukankah piauw itu telah berputar dan bersuara membingungkan ?
Dari terkejut, ia menjadi gusar!
Musuh berlaku curang !
Maka maulah ia membantu kakak seperguruannya.
Begitulah ia menolak tubuhnya Ya Bie, berniat melompat maju.
Di luar dugaan anak muda ini, ia telah didahului si nona polos.
Tahu-tahu nona itu sudah mencelat tinggi dua tombak, dengan loncatan "Ular Hijau Melintasi Pohon", jauhnya setombak lebih.
Berbareng denganitu, dia pula sudah lantas menyerang dengan dua-dua tangannya, tangan kanannya meluncurkan ularnya dengan jurus silat "Rantai Putih Melintangi Sungai"
Dan tangan kirainya menolak keras dengan tolakan "Menolak -Menumbuk"
Hingga tiga batang piauw musuh kena tertolak terbang kembali !
Celakanya, piauw itu menyambar ke arah empat orang yang lagi mengepung So Hun Cian Li, mereka itu kena mencium bau racun, kontan kepala mereka terasa pusing.
Syukur mereka masih dapat bertahan, sedang kawan mereka yang satunya, ialah orang yang telah dilemparkan ke dalam jurang.
Dua batang piauw kena disampok si ular hijau, terpentalnya keras hingga mengenakan batu gunung, suaranya nyaring, percikannya pun terpencar terus terlihat asapnya.
Yang hebat ialah batu itu lantas menjadi hangus seperti bekas terbakar !
Maka celakalah siapa terkena piauw jahat itu !
Masih satu piauw mencelat kepada si orang utan, ketika dia ini berkelit, piauw meluncur terus pada seseorang yang berseragam hitam itu.
Dia terkena pipinya, dia menjerit, terus dia roboh seketika, tak berkutik pula.
Ketika dia kena terhajar, piauw mengeluarkan asap biru, waktu dia roboh terkulai, cepat sekali dagingnya lodoh dan lepas dari tulang-tulangnya !
Tatkala itu It Hiong pun maju.
Baca Juga: Pendekar Satu Jurus 1
Baca Juga: Pendekar Satu Jurus 7