Eps 13 Iblis Sungai Telaga - Khu Lung
Baca online Iblis Sungai Telaga - Khu Lung
Cersil Iblis Sungai Telaga - Khu Lung.
Jilid 51 Biar bagaimana jago Hek Keng To ini sangat tertarik kecantikannya Ya Bie.
Sekeluarnya dari jendela, dia kabur sembari otaknya bekerja keras.
Maka itu dia lari tanpa arah.
Dia memasuki rimba.
Kapan dia sudah melewati rimba itu dan berada di jalan umum, baru dia terasadar karena angin pagi yang halus meniup mukanya.
Tapi dia baru sadar separuhnya !
Yang separuhnya lagi sadar setelah telinganya mendengar suara genta !
Demikianlah bagaikan baru mendusin dari tidur nyenyak, dia memasang mata melihat ke depan dan sekitarnya.
Tibatiba dia melihat dua orang dibawahnya sebuah pohon yanglie yang besar.
Itulah seorang berjubah pendeta tengah menguruti seorang muda.
Dia cuma melihat jubah, sebab orang alim tengah membaliki belakang kepadanya.
Sesudah mengawasi sekian lama, dia merasa bahwa dia kenal jubah itu serta potongan tubuh orang.
Dia melengak terus dia mengingat-ingat.
Segera dia ingat kepada Peng Mo si Bajingan Es.
Tiba-tiba timbul rasa cemburunya.
Tidak ayal pula dia berlompat lari kepada nikouw itu.
Peng Mo menoleh kapan ia mendengar suara berisik di belakangnya.
Dengan begitu ia menjadi melihat dan mengenali jago dari Hek Keng To itu.
Lantas saja ia mengasi suara menghina dari hidungnya.
Cuma sebegitu, terus ia tak menghiraukan orang.
Ia terus melanjuti dayanya membantu si anak muda guna meluruskan saluran jalan darahnya.
Ciu Tong telah datang cukup dekat, maka dia lantas mengenali si anak muda sebagai Tio It Hiong dari Pay In Nia.
Dia tak tahu yang Hong Kun sudah menyamar sebagai muridnya Tek Cio Siangjin.
Dia kaget hingga dia mundur dua tindak.
Segera dia menghunus pedangnya, sambil menunjuki si anak muda dia membentak .
"Eh, orang she Tio, kau telah menipu dan membawa kemana Tan Hong adik seperguruanku ?"
Jago Hek Keng To ini tidak cuma menanya, bahkan dia terus maju pula sambil membabat dengan pedangnya itu !
Peng Mo terkejut.
Karena ia melihat gerak gerik orang, mudah saja ia menyampok pedang orang itu.
"Tahan !"
Bentaknya dingin.
Ciu Tong tertawa, walaupun pedangnya kena dibikin terpental tapi syukur tak lepas dari tangannya.
Biar bagaimana dia menyukai nikouw ini.
Bukankah diatas kereta kudanya telah bergurau secara gembira sekali.
Bukankah selama itu dia terus duduk berendeng dengan wanita cantik itu ?
Sampai saat ini kesannya tetap baik.
Maka juga suka dia mengalah.
Dia telah disampok pedangnya dan dibentak, tetapi dia masih dapat bersabar.
Demikianlah dia dapat memaksakan dirinya tertawa.
"Su thay, apakah su thay kenal bocah ini ?"
Begitu dia tanya. Peng Mo melirik sambil mendelik. Sahutnya dingin .
"Dialah muridnya Im Ciu It Mo ! Kau peduli apa padanya ?"
Ciu Tong melengak atas jawaban itu.
Dia lantas mengawasi meneliti jawabannya Peng Mo.
Ketika itu Hong Kun sudah mendusin dan sadar tujuh bagian.
Obatnya Hong Gwa Sam Mo dapat juga melawan obat Thay Siang Hong Hun Tan.
Ia melihat Ciu Tong dan akhirnya dia itu ia berdiam saja.
Ia pun tidak membuka mulutnya.
Peng Mo telah menyampok pedang orang.
Ciu Tong tetap mengawasi tajam, tetap dia tak dapat membedakan It Hiong palsu dan It Hiong tulen.
Maka dia menganggap inilah pemuda yang menjadi musuh besarnya !
Musuh tak dapat hidup bersama, seperti si sesat dan si lurus, tak dapat berdiri berdampingan !
Dia pula jelus karena gerak geriknya Peng Mo menguruti pemuda itu !
Dendam kesumat dan kejelusan bercampur menjadi satu membuat hatinya sangat panas, hingga dadanya turun naik, mukanya merah padam, otot-otot pada mukanya menonjol.
Matanya merah membara !
Timbul pulalah niatnya menyerang dan membinasakan anak muda itu !
Peng Mo selalu memperhatikan orang sekalipun dia tengah membantu Hong Kun, sering-sering dia melirik, maka itu dapat ia melihat sikapnya Ciu Tong itu.
Diam-diam ia terkejut.
Segera ia menunda usahanya membantu Hong Kun, terus ia menoleh seraya bangkit berdiri.
"Kau mau apa ?"
Tegurnya.
"Kenapa kau kelihatan begini bengis ?"
Ciu Tong tengah dikuasai amarahnya, dia seperti tak mendengar suaranya Peng Mo itu, justru si Bajingan Es bangun, justru dia lompat maju dan pedangnya terus dipakai membacok kepalanya Hong Kun !
Peng Mo kaget luar biasa.
Tak sempat dia menyampok pedangnya jago Hek Keng To itu.
Dia kaget sebab bagaimana kalau si anak muda terbinasakan penyerang itu ?
"Traaang !"
Demikian satu suara nyaring, suara dari beradunya senjata-senjata tajam, menyusul mana terlihat percikan api pada meletik, dua sinar pedang lantas berpisah serta berpisah juga dua sosok tubuh yang sama-sama berlompat mundur !
Ciu Tong kaget dan heran !
Peng Mo terlebih heran pula !
Itulah Hong Kun yang menangkis pedangnya jago Hek Keng To itu.
Dia telah memasang mata, dia cepat luar biasa, maka juga selagi diserang itu dia dapat menghunus pedangnya dan menangkis serangan lawan sesudah dia mencelat bangun dalam gerakannya "Lee Hie Ta Teng", Ikan tamora meletik !
Ciu Tong mundur dengan kaget.
Dia telah merasai tangkisan yang keras sekali.
Ini justru membuat dugaannya makin kuat bahwa si anak muda ialah It Hiong adanya.
"Aku tidak salah mata !"
Pikirnya.
Peng Mo sebaliknya heran karena anak muda itu sadar demikian cepat dan dapat mengelak ancaman maut itu.
Ia tahu orang sudah mendusin hanya tidak menyangka tenaganya pulih demikian rupa.
Habis mundur itu, Ciu Tong segera maju pula.
Dia tidak takut bahkan dia makin penasaran.
Maka dia menyerang pula.
Tapi baru pedangnya meluncur atau pedang itu sudah tertahan, terlilit sesuatu yang berwarna hijau, membarengi mana telinganya mendengar satu bentakan yang cempreng merdu !
"Ah !"
Serunya terkejut.
Segera dia menoleh.
Lantas dia menjadi terlebih kaget pula.
Yang merintangi dia ternyata Ya Bie adanya, dan ularnya si nona yang mengganggu tikamannya itu !
Ya Bie mengasi lihat wajah murka tetapi toh ia terus ia bersenyum ketika ia berkata sambil menanya .
"Di tengah malam gelap gulita kau telah menghina aku, itu masih belum cukup. Kenapa sekarang kau masih hendak membinasakan Kakak Hiong ku ?"
Berkata begitu, si nona melepaskan lilitan ularnya kepada pedang lawan.
Lantas ular hijau itu mengangkat kepalanya, memperlihatkan lidahnya yang lancip dan tajam !
Ciu Tong menarik pulang pedangnya sambil dia mundur satu tindak, tetapi dia terus menuding Hong Kun seraya bertanya .
"Pernah apakah kau dengan dia ?"
Ya Bie mendahului menjawab cepat .
"Dialah kakak Hiong ku !"
Terus ia menghampiri Hong Kun, untuk berdiri berendeng dengannya.
Selama itu Hong Kun pun berdiri diam sebab dia juga merasa heran dengan munculnya secara tiba-tiba dari nona itu.
Ya Bie melanjuti kata-katanya sebelum Ciu Tong berkata pula .
"Sebenarnya aku lagi mencari kau buat membikin perhitungan ! Tapi sekarang aku telah bertemu dengan kakak Hiong kun ini, baiklah, akan kau tidak sudi berurusan lebih lama pula denganmu, kau maburlah ! Lekas !' Justru itu, Peng Mo sambil tertawa menghampiri si nona. Dia berdiri di depan orang.
"Adik Ya Bie, kau salah mengenali orang."
Katanya dengan manis.
"Dia ini bukannya Tio It Hiong."
Peng Mo lagi menggunakan akal bulusnya.
Sebenarnya dia belum pernah melihat sama sekali wajahnya asli dari It Hiong maupun Hong Kun.
Dia banyak jeri terhadap nona ini.
Waktu diluar kota Gakyang, dia bertemu dengan Ya Bie, disitu dia mengetahui si nona ialah muridnya Kip Hiat Hong Mo yang lihai dan dia telah menyaksikan sendiri halnya si nona pandai ilmu sihir Hoan Kak Bie Ciu, bahkan Kim Lam It Tok yang lihai yang menyamar sebagai Tok Mo, si Bajingan Racun kena dipermainkan nona itu.
Jadi dia pun tidak berani main gila terhadap si nona.
Maka ia menggunakan cara liciknya ini.
Ya Bie mengawasi Peng Mo, ia menggeleng kepala.
"Tak dapat aku percaya kau !"
Katanya selang sejenak.
"Sebab aku menemui Kakak Hiong, salalu aku melihat kau berada bersama, kau berada disampingnya ! Apakah bukannya kau hendak merampas Kakak Hiong ku ini ?"
"Sabar, adik". Peng Mo membujuki.
"Jangan tergesa-gesa ! Apakah kau tak akan mendatangkan tertawaan orang kalau kau memaksa mengakui orang sebagai Kakak Hiong mu ?"
Ya Bie heran.
Ia jadi curiga.
Maka ia mengawasi Hong Kun, mengawasi lagi.
Selama itu Ciu Tong berdiri diam saja.
Dia belum mau mengangkat kaki walaupun si nona dari Cenglo ciang telah mengusirnya.
Ia menyaksikan tingkahnya Peng Mo itu, maka tahulah ia yang Peng Mo pasti menyintai Hong Kun.
Maka ia menjadi jelus.
"Hm !"
Ia bersuara di dalam hati. Mau ia merusak usaha si Bajingan Es. Segera ia membentak Tio It Hiong.
"Tio It Hiong, apakah kau masih berlagak pilon saja ? Jika kau tidak serahkan adikku Tan Hong padaku, hendak aku mengadu jiwaku dengan jiwamu !"
Sengaja orang she Ciu ini memutar pedangnya sehingga terdengar siutan angin yang keras.
Selama itu ia mengawasi Peng Mo dan Ya Bie, menantikan sikapnya mereka itu.
Tapi mendadak ia menjadi kaget sekali.
Tahu-tahu tubuhnya telah terangkat dan terlempar jauh dua tombak !
Syukur dia hanya jatuh duduk.
Ketika terangkat itu, ia cuma merasa tubuhnya tercekal dua buah tangan yang berbulu !
Sebab itulah si orang utan yang melontarkannya !
"So Hun Cian Li, jangan ladeni dia !"
Ya Bie berseru.
Si orang utan membuka mulutnya, dia mengangguk, terus dia pergi ke belakang pohon.
Biar bagaimana Ciu Tong merasa nyeri.
Tetapi dia tak menghiraukan itu.
Dia melanjuti akalnya memecah belah.
Sembari masih duduk numprah itu, dia berkata nyaring .
"Tio It Hiong, sungguh lihai akalmu menipu kaum wanita ! Perempuan siapa saja menginginimu, mereka seperti juga seluruh yang menyerbu api !"
Peng Mo mendongkol.
Ia tahu maksudnya Ciu Tong berkaok-kaok itu ialah supaya Ya Bie percaya Hong Kun benar It Hiong.
Itulah bakal merugikannya.
Kalau sampai si nona merampas kekasihnya ?
Maka dengan mata mendelik dan menggertak gigi, ia mengawasi orang asal luar lautan itu !
Ya Bie menarik ujung jubahnya si nikouw.
"Dia itu orang jahat, jangan layani dia !"
Katanya sambil menunjuk Ciu Tong. Peng Mo berpaling. Lantas ia bersenyum.
"Adik Ya Bie, cara bagaimana kau ketahui dia itu orang busuk ?"
Tanyanya. Mukanya si nona menjadi merah, tandanya ia jengah.
"Tadi malam dia mencoba menganggu aku."
Sahutnya.
Terus ia tunduk sambil membuat main ularnya.
Peng Mo cerdas, ia mengerti kata-katanya si nona itu.
Pasti tadi malam Ciu Tong sudah mencoba main gila terhadap si nona.
Diam-diam, ia melirik pada Hong Kun, memberi isyarat supaya anak muda itu pergi menyingkir.
Ia sendiri lantas kata pula pada si nona .
"Bagaimana adik? Dia itu berani main gila terhadapmu ? Dia berhasil atau tidak ?"
Ya Bie mengangkat mukanya. Parasnya masih merah. Dia tetap likat. Sambil menggeleng kepala, ia kata keras .
"Tidak ! Dia cuma....."
"Binatang itu sangat tak tahu malu !"
Berkata Peng Mo sengit.
"Kau harus ajar adat padanya, supaya tahu rasa."
Ya Bie menggeleng kepala.
"Barusan telah aku katakan."
Sahutnya.
"Aku telah dapat menemukan Kakak Hiong, maka itu biar aku beri ampun padanya......"
Hong Kun sementara itu tak mengangkat kaki walaupun dia mengerti isyarat Peng Mo.
Dia justru memikir harus dia mendapati Ya Bie.....
Peng Mo mendongkol melihat si anak muda tak mau pergi hingga ia menjejak tanah terus sebelah tangannya menyampok Ya Bie, di lain pihak tangan kirinya menarik Hong Kun buat diajak lari keluar dari rimba itu !
Tiba-tiba Peng Mo kaget.
Mendadak saja di depannya muncul si orang utan menghadangnya.
Tentu ia menjadi berkuatir apabila ia kena dirintangi.
Ketika barusan ia menyerang Ya Bie, ia gagal, serangannya tidak mengenai sasarannya, maka ia takut Ya Bie mengejarnya.
Maka itu dengan kedua tangannya terus ia menyerang So Hun Cian Li !
Si orang utan tak kena dihajar.
Dia dapat berkelit.
Memangnya dialah seekor binatang yang cerdas dan ringan tubuh, dia pula muridnya Kip Hiat Kong Mo, dia makin lincah.
Dia tak lari, dia tetap menghalangi dua orang itu, tidak peduli Sek Mo menyerang terus beruntun beberapa kali.
Selagi Peng Mo menyerang terus pada So Hun Cian Li buat merobohkannya atau sedikitnya buat membikin dia itu tidak menghadangnya lebih jauh, tiba-tiba ada benda hijau melesat kepadanya, ke arah tangannya.
"Aduh......!"
Dia menjerit seraya memegangi lengan kirinya, tubuhnya terus roboh ke tanah terus dia merintih tak henti, sedangkan keringat dingin membasahi dahinya !
Ya Bie bertindak menghampiri si nikouw, mulanya ia menoleh kepada Hong Kun, terus ia kata kepada nikouw itu .
"Kakak Peng Mo, kenapa kau begitu bermuka tebal ? Kenapa kau hendak merampas Kakak Hiong ku ini ? Nah, aku mau lihat sekarang, kau masih berani mencoba merampasnya atau tidak."
Peng Mo kena dipagut ular, racunnya binatang itu sudah menyerang terus ke lengan bagian atas.
Mulai naik ke sikut atau pergelangan tangan, menjalar ke sebelah atas lagi menuju ke paha.
Tangan itu pun segera membengkak dan memerah.
Peng Mo merasa nyeri sekali sampai tubuhnya bergemetaran seluruhnya, kapan dia mendengar suara si nona, dia mengangkat kepalanya mengawasi nona itu dengan sinar mata membenci.
Dia pun menggertak gigi.
Dengan tangan kanannya dia mengeluarkan peles obat pemunah racun istimewa buaTan Hong Gwa Sam Mo, dengan mulutnya dia membuka peles obat itu, untuk dengan cepat mengunyah dan menelan beberapa butir diantaranya.
Dia memikir obatnya itu dapat menentang atau memunahkan racun si ular hijau.
Menyaksikan penderitaannya Peng Mo, Ya Bie merasa kasihan juga.
"Obatmu itu mana dapat menolongmu......."
Katanya.
"Obatmu itu mana dapat memunahkan racunnya Siang Liong ? Dengan memandang mukanya kakak Hiong, suka aku membantu kau !"
Si nona mengeluarkan peles obatnya, buat mengambil sebutir pil warna hijau yang terus ia jejalkan ke mulutnya si Bajingan Es.
Ketika itu sudah terang tanah, matahari sudah melancarkan cahayanya ke seluruh rimbah.
Dari kejauhan terdengar berisiknya suara riuh dari banyak orang.
Lekas sekali tibalah serombongan orang berseragam hitam.
Tiba di hutan yangliu itu mereka itu segera berpencar diri, buat mengurung Ya Bie bertiga !
Seorang muda dengan pakaian singsat dengan diikuti dua orang berpakaian hitam bertindak maju.
Mereka menghampiri sampai di depannya Ya Bie bertiga itu.
Dia terus mengangkat tangannya memberi hormat seraya memperkenalkan diri dan bertanya .
"Aku yang muda adalah See Sie ! Aku mohon bertanya nona bertiga, apakah kalian adalah tamu-tamu dari penginapan kami ?"
Ya Bie mengawasi orang, dia terus menoleh, tangannya menunjuk.
"Itu di kamar sebelah sana!"
See Sie mengawasi si orang utan di belakangnya nona itu, dia heran hingga melongo.
"Di dalam kamarmu itu mana muat begini banyak orang serta hewan itu ?"
Tanyanya. Ditanya begitu, si nona tertawa.
"Kau menanya terlalu banyak !"
Sahutnya.
"Kau usilan !"
See Sie heran sekali. Si nona dan kawan-kawannya itu mengherankan ia, menimbulkan kecurigaannya. Diantara mereka itu juga ada si orang utan yang tentunya liar.......
"Pemilik penginapan kami memerintahkan aku yang muda datang kemari buat mengundang nona beramai datang berkumpul di ruang besarnya"
Katanya.
"Ada sesuatu yang hendak didamaikan......"
Ketika itu Peng Mo bangkit berdiri ! Habis makan obatnya si nona, nyerinya lenyap, bengkak lengannya kempes.
"Ada urusan apa pemilik hotel mengundang kami ?"
Dia bertanya. See Sie memperlihatkan tampang sungguh-sungguh.
"Apakah su thay beramai masih belum tahu ?"
Sahutnya. Lantas dia menjelaskan.
"Tadi malam Kui Hiang Koan telah terbakar dan pemiliknya lagi mencari orang yang membakarnya."
Si Bajingan Es tertawa dingin.
"Hotelmu terbakar dan kalian masih belum berhasil mencari pembakarnya ? Hm !"
See Sie menajadi sabar. Sejak semula ia menguasai dirinya.
"Kalian mau pergi atau tidak ?"
Tanyanya gusar. Dengan acuh tak acuh, Peng Mo kata .
"Kau datang kemari buat mengundang atau buat menawannya ?"
Sepasang alisnya See Sie bangkit berdiri.
"Hm !"
Diapun memperdengarkan suara dingin.
"Kau tidak sudi minum arak undangan hanya arak dendaan. Nah, kalian lihatlah di sana ! Itu contohnya ! Peng Mo menoleh ke arah yang ditunjuk. Di sana tampak rombongan orang berseragam hitam tengah menggiring Couw Kong Put Lo. Ia melihat kekasihnya itu jalan dengan tunduk saja serta tangannya di belakangkan. Mereka itu tengah menuju ke ruang besar yang dimaksudkan. Semua pengiring itu membekal golok. Ia heran.
"Couw Kong Put Lo lihai, kenapa dia kena ditawan beberapa orang itu ?"
Demikian pikirnya.
Atau mendadak dia ingat halnya di belakang pemilih Kui Hiang Koan ada seorang terahasia yang lihai, jago rimba persilatan yang sudah lama hidup menyendiri.
Tak lama muncul pula satu rombongan lain lagi.
Kali ini orang yang digiring ialah Ciu Tong.
Di dalam rombongan itu terdapat juga beberapa orang dengan pakaian singsat pertanda bahwa merekalah orang-orang Bu Lim rimba persilatan.
Yang paling menyolok mata adalah seorang pendeta dengan jubah kuning.
Hanya sedetik itu Peng Mo mengenali siapa si pendeta.
Dialah Bu Kie dari Siauw Lim Sie, yang di dekat gunung Ngo Tay San sudah pernah memegatnya.
Semua mereka itu berjalan sambil tunduk saja.
Ketika itu pun See Sie mengawasi Gak Hong Kun untuk terus menanya .
"Tuan, aku mengenal baik tampang tuan. Siapakah guru tuan yang mulia itu ?"
See Sie ingat halnya ia pernah bertemu Tio It Hiong diluar kota Gakyang.
Ketika itu Liong Houw Siang Ceng Pendeta Naga dan Harimau yang mau membalaskan sakit hati dari adik seperguruannya yang sebelumnya telah menempur si anak muda she Tio itu tetapi ketika itu gurunya Koay To Ciok Peng telah memisahkan mereka kedua pihak dengan memberikan keterangan bahwa musuhnya Liong Houw Siang Ceng adalah musuhnya It Hiong yang memfitnah It Hiong bahwa mungkin ada seseorang yang sudah menyamar menjadi Tio It Hiong.
Sekarang ia melihat Gak Hong Kun mirip dengan Tio It Hiong yang ia pernah ketemukan di luar kota Gakyang itu cuma sekarang ini "Tio It Hiong"
Berdiam saja maka karena ia merasa heran, ia bukan menanya nama orang hanya nama dan gelaran gurunya orang itu.
Gak Hong Kun tetap berdiri menjublek bagaikan tidak mendengar pertanyaan orang, dia berdiam saja.
Melihat demikian Ya Bie tertawa.
"Kakak Hiong !"
Katanya.
"Kakak, orang tanya kau kenapa kau diam saja ?"
Ia pun mengulur tangannya menarik ujung tangan bajunya si pemuda. Bagaikan orang baru mendusin, Hong Kun memutar tubuh.
"Apa ?"
Tanyanya singkat.
"Siapakah gurumu yang mulia itu tuan ?"
See Sie mengulangi pertanyaannya. Hong Kun berpikir lalu jawabnya ayal-ayalan .
"Aku yang muda ialah Tio..... It Hiong murid dari Heng San...."
Itulah jawaban yang membukan rahasia sendiri.
Habis membelai Siauw Lim Sie, namanya Tio It Hiong menjadi sangat tersohor hingga semua orang Kang Ouw atau rimba persilatan tahu baik sekali yang ia adalah murid ahli waris dari Cio Tek Siangjin dari Pay In Nia.
Sekarang Hong Kun menyebut nama It Hiong tapi dari Heng San.
Ya Bie pun heran.
"Kakak Hiong, jangan kau sembarang bicara !"
Katanya.
"Kenapa kau menyebut dirimu murid dari Heng San Pay ?"
See Sie sebaliknya tertawa. kata dia .
"Nona pengalamanmu tentang dunia Kang Ouw masih terlalu cetek. Tuan ini telah membuat pengakuan tanpa disiksa lagi !"
Terus dia mengulapkan tangannya kepada kawan-kawannya seraya menambahkan .
"Aku mengundang kalian suka pergi ke ruang besar kami !"
Di dalam keadaan seperti itu, Ya Bie dan terutama Peng Mo tidak dapat menampik lagi, maka bersama-sama mereka lantas berseragam itu mengiringi mereka.
Di tengah jalan si Bajingan Es atau Bajingan Paras Elok mengasah otaknya.
Dia heran sekali, dia bingung hingga tak dapat dia memberi keputusan sendiri.
Kekasihnya ini siapakah ?
Dia benar Tio It Hiong atau hanya murid dari Heng San Pay ?
Kalau dia It Hiong dialah murid dari partai kaum lurus, kenapa dia turut Im Ciu It Mo, bahkan dia pergi ke Gwa Sek Sie dimana dia melakukan penyerangan dan pembunuhan ?
Taruh kata dia telah makan Thay Siang Hoan Hun Tan tetapi diapun sudah diberi obatnya yang mujarab, bukankah kesadarannya telah pulih separuhnya ?
Ya mustahil beginilah Tio It Hiong yang orang sohor itu.
Aneh !
Dia menyebut diri Tio It Hiong, dia pun mengaku murid Heng San Pay !
Hampir meledak otaknya Peng Mo walaupun dialah si Bajingan cerdik dan licin.
Dia baru berhenti berfikir ketika dia dikejutkan suaranya See Sie .
"Sudah sampai !"
Dia mengangkat kepalanya dan melihat pintunya sebuah ruang besar berada dihadapannya.
Segera juga mereka bertindak memasuki ruang besar itu, yang benar-benar luas sekali.
Di dalam situ telah kedapatan banyak orang duduk berkumpul, pria dan wanita, tua dan muda.
Dari dandanannya mereka itu semua, terang sekali mereka ada dari pelbagai golongan, orang-orang Kang Ouw, saudagar, pemuda tukang berfoya-foya, pembesar negeri dan nyonya-nyonya hartawan atau berpangkat.
Di tengah ruang tergantung sehelai tirai sulam yang lebar yang ujungnya nempel dengan lantai.
Di empat penjuru dinding terdapat lentera-lentera berkaca, juga pelbagai pigura lukian dan tulisan.
Suasana ialah kemewahan merangkap kewibawaan.
Di depan tirai itu terdapat beberapa buah kursi, yang semua ada orang-orang yang duduki.
Diantarany Koay To Ciok Peng si Golok Kilat, Bu Eng Thung Liok Ciu si Tongkat Tanpa Bayangan, serta seorang nikouw setengah tua yang berjubah warna gwee pee, putih rembulan, yang wajahnya cantik.
Ciok Peng lantas memasang mata selekasnya dia melihat tibanya rombongannya Ya Bie ini, terutama ia mengawasi Peng Mo, si nona serta orang utannya yang besar itu.
See Sie menghampiri gurunya, buat memberi hormat seraya memberikan laporannya halnya beberapa orang ini telah ditemui didalam hutan yangliu.
Kemudian dia mundur ke samping.
Ciok Peng mengangguk.
"Apakah tamu-tamu yang diundang sudah hadir semuanya ?"
Tanyanya.
"Kira-kira sudah semuanya."
Sahut seorang yang baru berbangkit habis dia batuk-batuk dan mengangguk.
Dialah pengurus hotel yang memelihara janggut seperti janggut kambing dan bajunya thungsha yaitu baju panjang.
Kemudian pengurus hotel ini berpaling akan menghadapi sekalian tetamunya, tiga kali tangannya ditepuk, hingga sunyilah ruang yang besar itu.
Tadinya ada beberapa orang yang ramai berbicara.
Kembali dia batuk-batuk, baru dia berkata .
"Para hadirin ! Hotel kami telah terbakar, kalian tentu telah ketahui ! Pastilah tadi malam kalian menjadi kaget sekali, hingga kalian terganggu dalam impian sedap kalian ! Sudah begitu sekarang ini kami pun membuat capek pada kalian dengan mengundang kalian hadir disini ! Para hadirin buat semua itu atas nama pemilik, kami menghaturkan maaf."
Kuasa ini berhenti sejenak, lantas dia menambahkan .
"Kebakaran ini cuma memusnahkan istal serta beberapa kamar yang berhubungan. Jadi itulah kerugian yang tidak berarti, hanya disebelah itu ada sesuatu yang penting. Itulah nama baiknya Kui Hiang Koan selama beberapa puluh tahun. Dengan sambil mengucap banyak berterima kasih kepada sekalian orang gagah kaum Kang Ouw dan Bu Lim, belum pernah kami terganggu. Sekalipun sehelai bulu ayam atau selembar kulit bawang. Itu artinya belum pernah ada orang yang berani melanggar aturan kami !"
Kata-kata yang terakhir ini diucapkan secara tandas. Selagi mengucapkan itu, pengurus hotel itu mengawasi hadirin. Setelah itu dia melanjuti dengan suaranya yang dibesarkan .
"Sekarang para tamu sudah hadir dalam ruang ini, maka itu dengan ini jalan kami mohon bantuan berharga dari kalian untuk mencari orang yang melepas api itu."
Kata-kata itu diakhiri dengan seluruh ruang sunyi senyap.
Ciok Peng menantikan sekian lama, dengan perlahan dia bangkit dari kursinya.
Dia menghadapi para hadirin untuk memberi hormatnya, kemudian baru dia bicara, suaranya dalam .
"Semenjak dibangun, Kui Hiang Koan bekerja untuk para tamunya yang datang dari delapan penjuru angin, dan selama itu, segala aturannya yang dikeluarkan pasti dilaksanakan sebagaimana layaknya. Apa lacur, tadi malam toh ada orang yang mengacau, mengganggu kami dengan orang itu melepas api melakukan pembakaran ! Justru itulah perbuatan yang melanggar peraturan kami ! Maka itu sekarang aku minta yang melepas api, sukalah dia jangan merembet-rember lain orang, sudi apalah dia mengajukan diri, untuk bertanggung jawab ! Kau minta sahabat itu suka bangun berdiri, dengan begitu lohu suka sekali bersahabat dengannya, tetapi jika dia tidak mengenal persahabatan, dia tetap menyembunyikan kepalanya, dia cuma mampu menonjolkan ekornya, hm! Lohu tak dapat mengatakan apaapa lagi..."
Dengan "lohu"
Aku si orang tua, Ciok Peng bicara dengan merendah diri.
Selagi ia berkata itu, matanya diarahkan tajam kepada Ciu Tong dan Couw Kong Put Lo.
Kiranya dua orang berdiam saja sebab mereka telah kena ditawan dengan "Kak Kiong Tiam-hoat".
"Dititik di antara udara". Tegasnya mereka ditotok dari jauh, tanpa tangan mengenakan tubuhnya. Mereka sangat mendongkol tetapi mereka tidak dapat membuka suara, cuma air mukanya saja menunjuki bahwa hati mereka sangat panas. Semua mata orang lain juga diarahkan kepada dua orang itu, hingga sikap mereka itu menambah panasnya hati Ciu Tong dan Couw Kong Put Lo, sampai sinar matanya seperti berapi ! Hadirin berjumlah seratus orang lebih tapi ruang sunyi senyap. Lewat beberapa detik, tiba-tiba terdengar beberapa kali suara memekik yang keras, terus tampak si orang utan bertubuh besar itu bagaikan orang habis sabar, dia menggerakkan tubuhnya, menarik-narik ujung bajunya Ya Bie, kemudian kedua tangannya itu digerak-geraki memberi isyarat buat mereka berdua mengangkat kaki ! Si nona juga agaknya hilang sabarnya, dia lantas berkata dengan suara tinggi .
"Kalau tak mempunyai kepandaian menawan si pelepas api itu, ya sudah saja ! Kenapa kalian hendak mengganggu kami semua ? Nona kalian mau pergi !"
Benar-benar Ya Bie menarik si orang utan bertindak ke pintu besar.
Sesosok tubuh berkelebat cepat.
Lantas tampak See Sie menghadang di depan si nona dan orang utannya.
Goloknya dilintangkan !
Segera terdengar suara berat Cio Peng .
"Nona, tunggu dulu ! Nona, lohu ingin menanyakan sesuatu !"
Ya Bie tidak mau membawa tabiatnya yang gemar bergurau atau jail, ia menarik si orang utannya, untuk bersama-sama menghampiri Ciok Peng. Ia berdiri tegak untuk terus berkata .
"Kau mau bicara apa dengan nonamu ? Mustahilkah kau menyangka aku si pelepas api itu ?"
Liok Cim tidak puas mendengar pertanyaan jumawa itu.
"Hm !"
Dia memperdengarkan suara dinginnya.
"Budak liar, usiamu masih begini muda, kenapa mulutmu sudah belajar nakal ?"
Ya Bie gusar mendengar teguran itu, alisnya terbangun, matanya dibuka lebar.
"Si orang tua, dia toh cuma pandai memaki orang !"
Katanya tajam.
"Segala penjahat membakar rumah saja tak mampu membekuknya ! Dengan kepandaian semacam itu bagaimana urusan yang kecil begini hendak dibesar-besarkan ? Cuma itu akan membuat orang tertawa sampai mati karenanya !"
Ciok Peng lekas mengulapkan tangannya pada Liok Cim.
Ia melihat ular hijau dipinggangnya si nona, ia percaya ular itu beracun, sedangkan di sini nona itu berdiri si orang utan yang setinggi dan sebesar orang.
Ia menerka orang bukan sembarang orang, hanya ia tak dapat menerka pasti orang dari golongan mana.
Karenanya sejak tadi ia mengawasi saja nona itu.
"Harap dimaklumi nona,"
Katanya tertawa.
"Lohu sudah ada umur, mataku sudah kurang terang lagi, maka itu lohu tidak ketahui nona dari perguruan mana dan apakah nama atau gelaran nona yang mulia ?"
Di tanya begitu Ya Bie tertawa geli. Ia pun mencibirkan bibir.
"Jika kau tidak tahu, sudah !"
Sahutnya.
"Kalau kau mau juga aku menyebut nama guruku, aku kuatir kau kaget dan takut....."
Ciok Peng tertawa lebar, agaknya dia gembira.
"Tak ada halangannya, tak ada halangannya, nona !"
Katanya.
"Silahkan nona memberitahukannya !"
Justru itu si nikouw berjubah gweepee itu, yang usianya setengah tua, campur berbicara, kata pada Ya Bie .
"Pinni mungkin dapat menerka beberapa bagian, nona ! Bukankah guru nona itu ialah Touw Houw Jie Touw Losicu dari Cenglo ciang ? Benar bukan ?"
Ya Bie girang pendeta wanita itu dapat menyebut nama gurunya, dia tertawa.
"Oh, guru benar, kenalkah kau akan guruku ?"
Tanyanya.
"Sungguhlah kau yang dapat disebut banyak penglihatannya, luas pendengarannya ! Kau bukannya seperti dua orang tua bangka itu, mereka sembrono, mereka cuma pandai mencaci orang !"
Nikouw atau nikouw itu ialah Hay Thian Sin ni dari Hay In Am, biara Mega Laut di pulau Poau To San, Laut Selatan Lam Hay.
Karena dia telah menyampaikan kesempurnaan, di dalam usia tujuh puluh lebih, sekarang wajahnya seperti orang setengah tua saja.
Dia hadir di Kui Hiang Koan ini bukannya kebetulan saja, dia hanya memenuhi suatu undangan, guna menemui pemilik hotel yang tersohor itu, si pemilik yang hidup menyendiri, jago rimba persilatan yang terahasia, yang umum menyebut saja Bu Lim It Hiap.
Mereka hendak membicarakan soal suasana penting dunia rimba persilatan, perihal ancaman berbahaya bagai kaum lurus.
Karena ia kebetulan berada di hotel, ia jadi menghadiri pertemuan para penghuni hotel itu.
Ia bermata jeli, ia melihat kepolosannya Ya Bie.
"Nona, tahukah kau siapa si pelepas api itu ?"
Tanyanya pula kemudian, lembut.
Ciok Peng dan Liok Cim sementara itu berdiam saja.
Hati mereka kurang nyaman.
Di luar sangkaan, mereka menghadapi seorang bocah muridnya si jago kesohor dari Cenglo ciang.
Ya Bie menggeleng kepala.
"Aku tidak tahu"
Sahutnya singkat.
"Aku hanya tengah mencari kakak Hiong ku itu !"
Dan ia menunjuk kepada Hong Kun. Hay Thian Sin Ni mengangguk "Apakah nama lengkap kakak Hiong mu itu ?"
Tanyanya pula. Mukanya si nona menjadi merah. Dia likat sekali. Tapi matanya membelalak.
"Dialah Tio It Hiong...."
Sahutnya. Hay Thian Sin Ni telah melihat Hong Kon. Pemuda itu masih meninggalkan bekas-bekas terbakar pada rambut dan pakaiannya. Lalu dia kata pada si nona .
"Kakak Hiong mu itu telah melepas api, kenapa kau masih membelai dia ? Kau tahu atau tidak bahwa dengan begini kau telah merusak nama gurumu ?"
Hong Kun sementara itu sudah sadar separuhnya.
Obatnya Peng Mo membuat pengaruhnya Thay Siang Hoan Hun Tan punah sebagiannya.
Karena tenaga ingatan taknya tak murni sewaktu dia sehat seluruhnya.
Dia seperti mengerti hal yang lagi diperbincangkan itu itu, lantas dia mengingat-ingat terutama halnya dia bersembunyi diatas tenda kereta.
Justru berpikir itu, dia menoleh kepada Ciu Tong, mendadak dia berludah .
"Cis ! Dia, dia ! Itulah dia !"
Dan ia menunjuk pada jago Hek Keng To itu, suaranya berhenti secara tiba-tiba.
Tiba-tiba tangan kanannya Hay Thian Sin Ni diangkat, terus dilancarkan ke arah Ciu Tong dan Couw Kong Put Lo.
Dengan demikian ia melakukan penyerangan dengan ilmu "Kek Kiong Tiam hoat,"
Terhadap dua orang itu.
Dengan mendadak itu dua-dua Couw Kong Put Lo dan Ciu Tong pada mengeluarkan nafas lega.
Sedetik itu juga, mereka sadar dan pulih ingatannya.
Maka itu mengertilah mereka akan lihainya si pendeta perempuan hingga di dalam sekejap lenyaplah penasaran dan dongkolnya.
Ya Bie sebaliknya, menarik ujung bajunya Hong Kun.
Dia tak sabaran.
"Kakak Hiong, bicaralah !"
Katanya.
"Kakak kenapa kau diam saja ?"
Pikirannya Hong Kun kacar tapi suaranya si nona membuatnya sadar, hatinya terus goncang. Atas kata-kata si nona, ia lantas berkata .
"Menurut apa yang aku yang muda ketahui tidak ada orang yang sengaja membakar istal itu, cuma benda yang ditaruh didalam keretanya saudara itu menyala sendiri....."
Ciu Tong adalah orang yang ditunjuk Hong Kun. Dia kaget dan menjadi gusar sekali. Maka dia berteriak .
"Apakah kau bocah yang membakar barang berharga itu ? Jika kau tidak bicara dengan terus terang awas ! Kau harus mengganti dengan jiwamu !"
Ciok Peng puas menyaksikan pembicaraan dua orang itu. Ia mulai dapat menduga-duganya hal! Maka ia tertawa, terus ia kata manis .
"Kita semua ada orang-orang Kang Ouw, sahabat-sahabat satu dengan lain ! Nah, silahkan duduk supaya kita dapat bicara secara tenang !"
Dengan satu tepukan tangan Koay To membikin dua berseragam hitam datang dengan beberapa buah kursi, dengan begitu dia jadi mengundang Hong Kun beramai berduduk bersama-sama.
Hong Kun masih berfikir keras, ia belum juga sadar seluruhnya, tetapi ia ingat ingin membersihkan diri dari tuduhan membakar istal, ada yang ia lupa waktu ia memberikan penuturannya terlebih jauh.
Ciu Tong heran mendapat tahu barang penting yang ia bawa itu dapat menyala sendiri.
Ia melongo, memang ia membawa itu dengan keretanya tetapi itulah barang titipannya Im Ciu It Mo, tak berani ia membukanya, hingga ia tak tahu juga rahasianya seperti keterangannya Hong Kun itu.
Kemudian ia ingat halnya ia sudah makan obat beracun dari Tok Mo, bahwa setiap bula ia mesti makan obat pemunahnya, atau kalau tidak, katanya ia bisa mati dengan tubuhnya bakal rusan dan lodoh, darahnya bakal menjadi tanha, akan akhirnya tinggallah kerangka atau tulang belulangnya.
Bahwa ia telah tiba di Kanglam ini, itulah sebab ia terpikat Peng Mo hingga ia berniat berfoya-foya beberapa hari dengan nikouw itu, sesudah itu baru ia melanjuti perjalanannya ke Hek Sek San, siapa tahu urusan berupa sepeti onar besar ini !
Ia menjadi bingung.
Ia pikir kalau pulang ke Hek Sek San ia bakal mati juga !
Maka ia duduk menjublak saja.......
Lewat sesaat Couw Kong Put Lo bangkit.
Kata dia .
"Sekarang sudah terang sebab musababnya kebakaran, perkenankanlah aku si orang tua memohon diri !"
Ia bicara terhadap tuan rumah tetapi ia melirik pada Peng Mo habis itu ia bertindak ke pintu ruang besar itu.
Peng Mo masih memberati Hong Kun, sebenarnya belum ada niatnya meninggalkan pemuda itu, akan tetapi keadaan sekarang lain, terpaksa ia melegakan hatinya.
Ia memang harus segera berlalu dari Kui Hiang Koan.
Maka itu ia berlalu dengan mengikuti Couw Kong Put Lo, hanya selagi mau memutar tubuh, ia melirik dahulu kepada si anak muda yang ia gilai itu.
Semua hadirin lainnya menganggap urusan sudah beres, satu demi satu mereka memohon diri meninggalkan ruang besar itu.
Hay Thian Sin Ni diam-diam berkata dengan Ciok Peng .
"Hong Gwa Sam Mo muncul sendiri, sekarang dia agaknya bersekongkol dengan orang yang menyamar sebagai Tok Mo itu, mungkin ada maksudnya yang tertentu mereka datang kesini........"
Ciok Peng terkejut.
"Su thay menganggap dia Tok Mo sendiri ?"
Sahutnya.
"Betul !"
Sahut sang nikouw.
"Dialah si palsu !"
Ketika itu Ciu Tong merasakan seluruh tubuhnya kejang.
Lekas sekali keluar darah dari mulut, hidung.
mata dan telinganya.
Darah hidup dan mukanya perlahan-lahan berubah menjadi pucat kebiru-biruan.........
"Lihat ! Lihat !"
Berseru See Sie yang paling dulu melihat keadaan tamu hotelnya itu yang dia tunjuk.
Semua orang heran.
Hay Thian Sin Ni segera menghampiri untuk melihat dengan teliti muka orang serta darahnya yang mengalir keluar itu, ia lantas menghela nafas dan kata .
"Sicu ini mungkin telah terkena racunnya Tok Mo palsu itu..... Jangan sentuh padanya !"
Begitu tangannya berkelebat nikouw dari Lam Hay ini telah mengeluarkan sebuah peles batu gemala dari dalam dimana ia menuang semacam bubuk dengan jeriji tanganya, ia cipratkan itu ke tubuhnya jago Hek Keng To itu, kepada tempat-tempat yang mengeluarkan darah.
Selagi Ciu Tong diobati itu, mendadak dari luar Toa thia terdengar siulan nyaring dan lama yang suaranya dapat menggoncangkan hati.
Ketika Hong Kun mendengar suara aneh dan dahsyat itu, bagaikan orang sadar mendadak dia berlompat sambil mencabut pedangnya, terus dia menyerang Ciok Peng serta beberapa orang didekatnya Koay To !
Hebat serangan itu, walaupun dia lihai Ciok Peng toh kaget.
Hanya sebelum pinggangnya kena terbabat kutung maka Trang !
Terdengar suara nyaring, tahu-tahu pedang itu sudah terlepas dan jatuh di lantai !
Berbareng dengan itu terdengar pula suara aneh dan dahsyat tadi.
Hong Kun bagaikan disihir, dia berlompat dan lari keluar ruang.
Hay Thian Sin Ni menyaksikan kejadian itu, dia mengebutkan kebutannya seraya berkata .
"Itulah ilmu gaib......"
Tapi belum berhenti suaranya itu, satu bayangan orang sudah berkelebat dihadapannya, sebatang pedang terbulang balingkan hingga mendatangkan hawa dingin yang menggigilkan tubuh.
Kilauannya pedang pun membikin bayangan tak tampak tegas.
Ciok Peng semua kaget dan mundur, Hay Thian Sin Ni tidak menjadi terkecuali tetapi Sin Ni mundur buat segera maju pula, tangannya mengebut dengan kebutannya yang halus dan lembut itu, yang sebaliknya mendadak kaku sebagai tombak menghadang pedang itu !
Di dalam sekejap, pedang yang menyerang itu telah terlilit kebutannya Sin Ni.
Dengan begitu tampaklah pemiliknya seorang nona yang cantik, tangan kirinya mengempit Ciu Tong, tangan kanannya mencoba menarik buat meloloskan pedangnya itu.
Dia menggunakan jurus silat "Lek Poat Tay San, Mencabut Gunung Tay San".
Hay Thian Sin Ni lantas mengenali Cio Kiauw In yang matanya terbuka lebar tetapi mulutnya bungkam.
"Ah !"
Mengeluh pendeta itu terharu.
Ia lantas melepaskan libatan kebutannya pada pedangnya si nona, ia mundur satu tindak.
Kiauw In tidak melihat siapa juga, dia menarik pedangnya dan pergi berlalu !
Tiba-tiba terdengar pula satu suara nyaring, suara siulan mulut.
Siulan itu dimulai dengan panjang diakhiri dengan dua yang pendek.
Kapan Kiauw In mendengar itu, dia menghentikan langkah di ambang pintu besar, dia berdiri sebentar, dia melihat ke kiri dan kanan lalu terus dia berlompat kembali !
Itulah Ya Bie yang menggunakan "Hoan Kak Bie Ciu"
Yang lihai, membuat matanya Nona Cio bimbang hingga dia melihat pintu besar itu seperti jurang yang penuh dengan kabut hingga tak tampak jalanannya.
Dia melihat ke sekitarnya, dia bingung sekali.
Ya Bie tertawa habis ia menggunakan ilmunya itu, setelah itu ia bersiul, menitahkan So Hua Cian Li maju membentur pinggang kirinya Kiauw In, setelah mana dia roboh sendirinya.
Nona Cio terhuyung-huyung beberapa tindak, Ciu Tong lepas dari kempitannya.
Dia kaget, dia melihat kepada Ciu Tong.
Kiranya jago Hek Keng To itu lagi rebah disisinya.
Lekas-lekas dia menjemputnya buat dikempit kembali.
Hanya itu dia tidak tahu yang mau dia tolongi itu bukan Ciu Tong sejati, hanya si orang utan !
Hay Thian Sie Ni menyaksikan peristiwa itu, dia memuji .
"Buddha Maha Pemurah. Nona, ilmu sihirmu lihai sekali tetapi tak dapat kau membantu Ciu Tong ! Dia telah terkena racunnya Im Ciu It Mo ! Dia telah membakar Kui Hiang Koan ! Biarkanlah mereka pergi !"
Lagi-lagi terdengar suara aneh dan dahsyat tadi datangnya ke Toa thia bagaikan kilat cepatnya.
Hanya kali ini di dalam ruang yang besar itu sudah lantas tambah seorang yang berbaju kuning dan rambutnya kusut awut-awutan, yang matanya tajam, bengis luar biasa dan tangannya mencekal sebatang tongkat panjang.
Dialah seorang nenek-nenek yang berdiri tegak.
Kiauw In mendengar siulan itu, mendadak dia lari ke sisinya si nenek.
Nampaknya dia seperti orang baru mendusin dari tidur nyenyaknya.
Si orang utan yang dikempitnya dia haturkan kepada nenek itu.
Itulah Im Ciu It Mo si nenek lihai, hanya karena di Ngo Tay San dia kalah bertempur ilmu tenaga dalam dari Pie Sie Siansu maka perlu dia lekas-lekas pulang ke Hek Sek San untuk beristirahat sambil mengobati diri, tetapi justru dia lagi beristirahat ada orangnya yang mengabarkan bahwa kereta barang yang dikendarai Ciu Tong telah menukar haluan, sudah menuju ke Kang Lam, maka dia kaget.
Terpaksa dengan masih belum sembuh dia pergi menyusul dengan dia mengajak Kiauw In.
Di sepanjang jalan, dia mencari keterangan sampai dia mendengar keretanya singgai di Kui Hiang Koan.
Sebagai orang lihai Im Ciu It Mo ketahui siapa pemilik sejati dari rumah penginapan yang tersohor itu ialah musuh besar dari kaum sesat, maka ia kuatir Ciu Tong tak dapat lebih jauh oleh racunnya hingga benda pentingnya itu dibawa si orang she Ciu ke Kui Hiang Koan.
Hanya dia menerka keliru, Ciu Tong bukan berkhianat, hanya dia lalai disebabkan urusan asmara.
Im Ciu It Mo sangat membenci Ciu Tong, dia puas yang Kiauw In menyerahkannya kepadanya, akan tetapi sesudah mengawasi sekian lama dia kaget dan menjadi gusar sekali.
Dia mendapati bukannya si penghianat atau pendurhaka, hanya seekor orang utan.
Maka sambil menggertak gigi, dia menyerang dengan pukulan mautnya, Tauw lo ciang !
Hay Thian Sin Ni menyaksikan itu.
Ia menyerukan sang Buddha, seraya terus berkata .
"Sicu, binatang itu tidak bersalah dosa, kau berlakulah murah hati terhadapnya !"
Dan ia mengulur tangannya yang kanan buat terus ditarik pulang.
Karena itulah jurus silat "Ciat Im To Yang, Menyambut Im, Memimpin Yang" (Im dan Yang ialah wanita dan pria, atau negatif dan positif).
Maka itu tubuhnya So Han Cian Li telah terlindungkan.
Serangan kematian dari Im Ciu It Mo meleset mengenai batu, maka hancurlah batu itu yang terbang berhamburan dan lantai pun melesak dalam !
Sementara itu Ya Bie terkejut.
Dia tidak kenal wanita itu yang matanya tajam sekali, dia gugup.
Hingga sendirinya runtuhlah ilmu sihirnya yang biasa dipakai mengabur mata orang !
Itulah sebabnya kenapa si orang utan berubah sendirinya menjadi asalnya hingga Im Cio It Mo mendapati dia terpedayakan dan murka karenanya.
Karena ia kuatir binatang piaraannya itu bercelaka, sempat ia menetapkan hatinya, terus ia memperdengarkan siulannya untuk menggunakan Sin Kut Kang, ilmu memperciut tubuh sendiri, dengan begitu tubuh besar So Han Cian Li seperti manusia berubah kecil seperti anak kera.
Karena ini ilmunya itu dapat bekerja berbareng dengan ilmunya Hay Thian Sin Ni hingga gagallah serangannya si nenek.
So Hun Cian Li pun cerdas, dengan tubuhnya itu berubah menjadi kecil, dia berontak melepaskan diri dari cekalannya Kiauw In, dia berlompat minggir untuk terus lari ke sisinya Ya Bie buat berPekik berulang-ulang.
Im Ciu It Mo berdiri melongo, dia heran yang pukulan mautnya itu tidak memberikan hasil seperti kehendaknya.
Dia pun mendongkol sekali.
Segera dia melihat kepada semua orang di depannya.
Hatinya tercekat, selekasnya dia mengenali Hay Thian Sin Ni, Koay To Ciok Peng dan Bu Eng Thung Liok Cim, semua orang Kang Ouw kenamaan.
Cuma Ya Bie, si nona yang memegangi ular ditangannya yang didampingi si orang utan, sangat asing baginya tetapi sebab si nona pandai ilmu Hoan Kak Bie Ciu dan Sin Kut Kang, ia menerka orang mesti ada hubungannya dengan Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Jie !
Biasanya Im Ciu It Mo tidak kenal kepuasan, tak suka dia mengalah kalau dia belum mendapatkan atau mencapai sesuatu keinginannya, tidak mau dia sudah saja.
Kali ini dia gusar sekali.
Mesti Ya Bie dibekuk dan dihajar.
Tetapi dia sekarang lagi terluka di dalam, terpaksa mesti dia menyabari diri.
Di dalamnya pula ada Hay Thian Sin Ni yang tak dapat dibuat permainan.
Maka dia menghela nafas, dia mengekang amarahnya.
Kemudian dia mengawasi Ciu Tong yang rebah dilantai tanpa berkutik.
Lantas dia mengibasi tangan pada Kiauw In.
Itulah isyarat supaya Nona Cio menjemput Ciu Tong buat dibawa pergi dan Kiauw In segera bekerja dengan menurut perintah.
Hanya belum lagi ia mengangkat kaki, Ciok Peng mendahuluinya lompat ke depan Im Ciu It Mo untuk memberi hormat seraya berkata sabar .
"Locianpwe, aku mohon supaya locianpwe sudi memberi muka padaku agar locianpwe tidak merusak aturan penginapan kami dengan sesukanya saja menangkap dan membawa orang pergi dari sini !"
Im Ciu It Mo mengawasi tajam.
"Hm !"
Dia perdengarkan suara dinginnya.
"Apakah ini namanya aku si perempuan tua merusak aturan hotelmu ini, kalau aku datang membekuk orang yang berkhianat kepadaku buat aku membawanya pulang guna dihukum ?"
Ciok Peng terus berlaku merendah. Kata dia hormat .
"Aturan penginapan kami ini sudah diadakan sejak tiga puluh tahun yang lampau, maka itu locianpwe sebagai seorang tertua pasti telah mengetahuinya......"
Mendengar suara orang itu, tiba-tiba Im Ciu It Mo ingat kepada Kang Ouw In Hiap, si pemilik terahasia dari Kui Hiang Koan.
Maka ia lantas berpikir keras.
Ia pun ingat pula akan luka tubuhnya bagian dalam.
Maka mau tidak mau ia mesti mengendalikan dirinya.
Tapi ia tertawa dingin ketika ia membuka mulutnya.
"Saudara Ciok". katanya.
"Habis sekarang kau menghendaki aku si nenek tua bagaimana harus bertindak ?"
Dengan katakatanya ini masih dia mengharap agar Koay To suka mengalah terhadapnya. Ciok peng tertawa. Jawabnya .
"Kami minta locianpwe suka menyerahkan orang she Ciu ini kepada kami buat itu kami sangat berterima kasih !"
Parasnya si nenek menjadi sangat suaram, sinar matanya berjilatan tak hentinya. Lewat sejenak dia menoleh kepada Cio Kiauw In seraya berkata .
"Kau lepaskan murid durhaka itu ! Mari kita pergi !"
Kiauw In menurut, dia meletakkan tubuhnya Ciu Tong dilantai, tapi baru saja dia melepaskan tangannya, mendadak Im Ciu It Mo meluncurkan tangannya terhadap orang she Ciu itu, hingga terdengar jeritannya yang tertahan, terus tubuhnya bergulingan beberapa kali.
Menyusul itu dua sosok bayangan orang melesar keluar dari pintu besar itu !
See Sie terkejut, dia berseru, dia lompat mengejar, terus terdengar bentakannya berulang-ulang, hanya suaranya makin lama makin jauh, sampai lenyap sendirinya.......
Ya Bie menarik So Hun Cian Li, buat diajak pergi menyusul......
Melihat demikian, Hay Thian Sin Ni kata pada Ciok Peng dan Lik Cim .
"Mereka berdua bukan lawan dari Im Ciu It Mo. Hendak pinni pergi menyambut mereka !"
Dan pendeta wanita ini lenyap dari ruang besar penutupnya suaranya itu.
Kita sekarang hendak melihat dahulu kepada Bu Kie si pendeta Siauw Lim Sie yang sebab keliru mengenali Hong Kun sebagai It Hiong sudah menyusul ke Kui Hiang Koan tetapi kena diserang dengan totokan kosong hingga diapun digiring ke Toa thia dari hotel itu.
Waktu Hay Thian Sin Ni membebaskan Couw Kong Put Lo dan Ciu Tong dari totokan istimewa itu, dia turut terbebaskan karena dia sekalian kena terseret.
Setelah itu, dia terus berdiam saja sebab dia ingin menyaksikan si Tio It Hiong palsu.
Dia pun berdiam saja sebab dia sengaja supaya Ciok Peng tidak memperhatikannya, tetapi sekaburnya Gak Hong Kun diam-diam dia pergi menyusul.
Sementara itu Im Ciu It Mo yang bersama Cio Kiauw In keluar dari hotel menyangka Hong Kun bakal menantinya di luar hotel itu.
Menurut ia Hong Kun belum bebas dari pengaruh obatnya yang lihai itu.
Bukankah tadi Hong Kun terkejut mendengar siulannya yang dahsyat ?
Tapi setibanya diluar, ia menjadi heran.
Ia melihat kelilingan, Hong Kun tak ada !
Ia pula tidak mendengar suara pertempuran apa-apa.
Karena ini ia menerka tentulah Hong Kun pergi menyingkirkan diri ke belakang hotel, ke dalam rimba.
Maka tak ayal lagi, sambil memberi isyarat kepada Kiauw In supaya si nona mengikutinya lari ke belakang hotel itu.
Di belakang rimba itu ada sebuah lotengnya yang banyak batunya serta pohon-pohon yang katai, yang terkurung pegunungan yang berlugat lagot, yang puncaknya tinggi.
Kesana Im Ciu It Mo menuju.
Sekalian mencari Hong Kun, ia perlu menyingkir dari wilayah hotel.
Ia tak sudi ada yang menyusulnya.
Jilid 52 Im Ciu It Mo mempunyai kepandaian ringan tubuh yang lihai tetapi sekarang dia tak berani menggunakan itu sekehendak hatinya.
Luka di dalam melarang ia memakai tenaga keterlaluan.
Karenanya, ia lari kurang cepat, bahkan perlahan.
Di situ dia membelok ke sebuah tikungan hingga dia lantas melihat cahaya pedang berkilauan sebab beberapa orang tengah bertarung.
Dengan mengajak Kiauw In, dia lekas-lekas pergi ke sana.
Baru jarak empat tombak, ia sudah melihat tegas It Hiong tengah menempur Hong Gwa Sam Mo.
Ia pun lantas menjadi heran.
Ia mendapat ilmu pedang It Hiong lain dari biasanya selama dia terkekang obatnya, sekarang ini It Hiong luar biasa lincah dan sinar matanya sangat bercahaya.
Dia lantas maju lebih dekat, hingga timbullah rasa herannya.
Ia menampak seorang Tio It Hiong yang lainnya, yang lagi rebah ditanah dan disisi It Hiong ini berdiri seorang pendeta dengan jubah kuning.
Si pendeta agaknya lagi menjagai It Hiong yang rebah itu.
Sama sekali Im Ciu It Mo belum pernah melihat Tio It Hiong, ia cuma mengenal Gak Hong Kun yang menyamar menjadi pemuda she Tio itu, tak heran kalau ia tak mengerti kenapa sekarang ada dua Tio It Hiong dengan yang satu lagi berkelahi, yang lainnya sedang rebah tak berdaya.
Ia tua dan berpengalaman, toh tak dapat ia memikir hal aneh itu !
Yang mana It Hiong yang telah makan obatnya ?
Maka ia berdiri diam memandang ke depannya itu.
Kiauw In sebaliknya.
Ia melihat dua Tio It Hiong itu, mendadak ia berseru dan tubuhnya digeraki maju untuk berlompat, atau segera It Mo menahannya, menarik ia kembali.
Hal yang sebenarnya ialah yang lagi bertempur itu Tio It Hiong dan yang rebah adalah Gak Hong Kun dan It Hiong tengah dikepung oleh Hong Gwa Sam Mo.
Walaupun demikian, pemuda kita itu segera mendapat lihat tibanya Im Ciu It Mo.
Ia tidak kenal si nenek tetapi ia menyangka orang adalah kaum sesat dan mungkin konco atau kenalannya Sam Mo.
Ia menempur Sam Mo guna mencegah Hong Kun nanti dilarikan Peng Mo.
Maka itu melihat ada orang datang, ia memikir tak dapat ia berkelahi lebih lama pula.
Di saat ia henda menggunakan satu jurus istimewa dari ilmu pedangnya, mendadak ia melihat seorang nona muncul dari belakang si nenek, malah ia segera mengenali Kiauw In, tunangannya itu.
Tiba-tiba saja hatinya tergetal.
Inilah sebab ia heran sekali.
Kenapa Kiauw In ada bersama si nenek ?
Hingga ia mau menerka, mungkinkah ada dua Kiauw In seperti ada dua It Hiong ?
Dan kenapa si nona tiu agaknya menjadi bodoh ?
Kenapa melihat dia, nona itu berdiam saja ?
Segera It Hiong memikir buat mencari kepastiannya.
Lantaran ini, ia mendongkol yang Sam Mo terus mengurungnya.
Tiba-tiba saja timbul semangatnya.
Lantas ia menggunakan "Samhong Sauw Hoat"
Atau "Angin puyuh menyapu salju", salah satu jurus istimewa dari ilmu pedang Khiebun Patkwa Kiam.
Dengan memutar pedangnya, ia paksa Sam Mo mundur dengan kaget.
Dengan begitu juga, ia mendapat peluang waktu, hingga ketika ia mencelat dengan menggunakan ilmu pedang meluncur Gie Kiam Sut, di dalam satu detik tiba sudah dia di depannya Kiauw In.
"Kakak !"
Ia lantas memanggil. Nona Cio terus berdiri diam, cuma matanya mengawasi saja. It Hiong heran dan menjadi bercuriga karenanya. Ia menjadi bersangsi.
"Kakak !"
Panggilnya pula.
"Kakak Kiauw In !"
Ia pun maju mendekati, guna mengulurkan tangannya mencekal tangan si nona.
Di saat itu, hatinya It Hiong tergerak luar biasa.
Justru tangannya si anak muda diulur itu, justru ada satu bayangan hitam yang menghajarnya, maka terkejutlah ia.
Tapi ia tak menjadi bingung.
Dengan satu gerakan "Wan Te Hoan In -Di bawah Lengan Membalik Mega", ia memutar tangannya, berkelit dari serangan sambil berbareng mencekal tongkat itu !
Penyerangan itu ialah penyerangannya Im Ciu It Mo, sebab tak dapat dia mengijinkan orang meraba Kiauw In.
Bukan main herannya dia tatkala dia mendapat serangannya itu gagal, bahkan sebaliknya ujung tongkatnya kena orang tangkap.
Dia justru menggunakan pukulan "Tauw Lo Thunghoat"
Yang istimewa ! Maka luar biasalah herannya sebab dia menyangka "Gak Hong Kun"
Menjadi sedemikian lihainya.........
Habis menangkap tongkatnya si nenek lihai, It Hiong tadi bertindak terlebih jauh.
Ia justru berdiam, mendelong mengawasi Kiauw In, yang pun tetap berdiam saja.
Juga Im Ciu It Mo berdiam sebab kagum dan herannya buat si anak muda yang lihai itu, hingga ketiga pihak jadi sama-sama tak berkutik......
Sementara itu berdatanganlah beberapa orang lain.
Itulah Hay Thian Sin Ni bersama Ya Bie dan So Hun Cian Li si orang utan raksasa.
Selekasnya Ya Bie melihat It Hiong, girangnya luar biasa.
Tidak waktu lagi, ia berkaok-kaok .
"Kakak Hiong ! Kakak Hiong !"
Terus ia lari menghampiri.
Akan tetapi, setelah ia datang dekat, ia melengak sebab ia melihat ditanah ada satu Tio It Hiong lainnya yang lagi rebah menggeletak !
Maka berhentilah ia dengan teriakannya, dengan langkahnya, terus ia menggunakan sapu tangannya mengucak-ucak matanya karena ia mengira matanya itu lamur !
Hong Gwa Sam Mo juga berdiri menjublak setelah mereka ditinggalkan It Hiong, sedangkan sebenarnya itulah kesempatan mereka buat membawa kabur pada It Hiong yang lagi rebah itu.
Itulah disebabkan mereka pun heran akan adanya dua It Hiong !
Peng Mo heran sekali.
It Hiong yang ditempur ia bertiga berilmu silat luar biasa lihai, beda daripada It Hiong yang dirobohkannya dengan ditotok oleh Hiat Mo, kakak seperguruannya.
Bahkan melihat It Hiong, hatinya jadi semakin tertarik.
It Hiong lebih menggiurkan hatinya....
Im Ciu It Mo melihat tibanya Hay Thian Sin Ni, ia melirik dan terus mengawasi dengan tampang gusar.
Segera terdengar tawa dinginnya, disusul dengan tegurannya .
"Eh, nikouw tua. Setelah kau berhasil dengan usahamu, sudah selayaknya kau memalingkan mukamu dan pergi ! Bukankah aku si wanita tua telah mengalah terhadapmu ? Sekarang kau datang pula ke sini, apakah maumu?"
Kapan It Hiong mendengar suaranya Im Ciu It Mo itu, segera ia menoleh kepada Hay Thian Sin Ni.
Sebenarnya ia tidak kenal It Mo dan Sin Ni dan yang lain-lainnya lagi.
Yang ia kenal cuma Ya Bie bersama Hong Kun yang memalsukan dirinya itu.
Tentu saja, ia pun gelap mengenai segala peristiwa di Kui Hiang Koan.
Demikianlah ia berdiam saja, melainkan ia menoleh kepada Hay Thian Sin Ni.
Nikouw tua itu tidak menjawab Im Ciu It Mo, sebaliknya ia mengawasi It Hiong.
"Sicu, sudikah sicu memberitahukan nama besarmu padaku ?"
Demikian ia tanya.
Sampai disitu It Hiong melepaskan ujung tongkatnya Im Ciu It Mo yang ia cekal terus sekian lama, ia memutar tubuh akan menghadapi pendeta yang menyapanya itu, dengan air muka terang ia menjawab .
"Aku yang muda ialah Tio It Hiong dari Pay In Nia ! Su-thay, dapatkah aku yang muda menanyakan gelaran suci dari su-thay ?"
Hay Thian Sin Ni bersenyum. Ia menjawab cepat.
"Pinni ialah Hay Thian"
Sahutnya.
"Kiranya sicu adalah murid pandai dari sahabatku Tek Cio Toya ! Kau lihai sekali, sicu. Sungguh, melihat padamu melebihkan daripada pendengaran belaka!"
Mendengar pembicaraannya kedua orang itu Ya Bie lantas saja menyela .
"Kaulah Kakak Hiong dari Pay In Nia ! Habis orang itu, siapakah dia ?"
Dan dia menunjuk Hong Kun yang tak berdaya itu.
Dia pula menunjuki tampang sangat heran.
Si nona menunjuk kepada Hong Kun, tunjukannya itu diterima So Hun Cian Li dengan salah tafsir.
Mendadak saja si orang utan berlompat kepada Hong Kun, tubuh siapa disambar dan diangkat, dibawa kehadapan nonanya, dibanting ke tanah !
Hong Kun ditotok Hiat Mo pada jalan darahnya yang disebut tay-meh, ketika dia digbaruki si orang utan, jalan darahnya itu terkena batu, maka dengan sendirinya dia bebas.
Lantas saja dia mengeluarkan nafas panjang, sesudah mana dia berjingkrak bangun.
Ketika dia menoleh kepada It Hiong, dia berdiri melongo.
Agaknya dia seperti mengenali anak muda itu....
Selagi semua orang itu berdiam, mendadak saja Im Ciu It Mo memperdengarkan suara dahsyat yang biasa, siulan yang menggoncangkan hatinya Kiauw In dan Hong Kun.
Habis itu, dia berlompat lari, untuk menghilang kedalam rimba diatas gunung.
Selekasnya dia kabur itu, Kiauw In dan Hong Kun lari menyusul !
It Hiong dan Ya Bie terperanjat saking herannya, keduanya bergerak untuk mengejar.
"Sicu berdua, tahan !"
Seru Hay Thian Sin Ni mencegah.
It Hiong sudah berlompat sejauh satu tombak, dia berhenti dan berbalik.
Ya Bie, seperti dijanji atau diperintah, turut kembali juga.
Hay Thian Sin Ni berpaling kepada Hong Gwa Sam Mo, kata dia sabar .
"Toyu bertiga, persilakan ! Disini sudah tidak ada urusan kalian !"
Suara itu halus tetapi nadanya menyuruh pergi !
Hong Gwa Sam Mo baru saja menempur It Hiong, mereka bertiga tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa terhadap anak muda itu, mereka tak puas tapi mereka tak berdaya.
Hiat Mo dan Tam Mo saling mengawasi,lantas mereka memutar tubuh, buat berjalan pergi.
Peng Mo sebaliknya, si Bajingan Es masih memberati It Hiong, dia hendak diam saja.
"Sumoay !"
Hiat Mo Hweshio memanggil.
"Sumoay, mari kita pergi !"
Bu Kie berada diantara mereka, sejak tadi dia terus membungkam, dia cuma menonton, akan tetapi menyaksikan tingkahnya Sam Mo dia tertawa dan kata .
"Kalau tikus melihat kuCing tetapi dia tidak mau lantas pergi, dia mau menunggu sampai kapan lagi ?"
Peng Mo mendelik terhadap pendeta itu, lalu terpaksa dia mengangkat langkahnya, pergi mengikut kedua kakak seperguruannya itu. It Hiong sementara itu memberi hormat kepada Hay Thian Sin Ni.
"Cianpwe Sin Ni, ada pengajaran apakah dari cianpwe untukku yang muda ?"
Tanyanya.
"Ada pembicaraan yang pinni hendak lakukan."
Sahut nikouw itu.
"Mari kita cari tempat dimana kita dapat bicara dengan menyenangkan."
Dan terus ia bertindak turun gunung. Bu Kie mendekati It Hiong, yang ia pegang ujung bajunya sebelum si anak muda mengikuti nikouw itu. Kata dia gembira .
"Tio sicu, kiranya kaulah sicu Tio It Hiong ! Aku si pendeta kecil, mataku kabur ! Ah, aku harus dihajar !"
Dan dia menyentil kedua telinganya ! It Hiong menjublak menyaksikan tingkahnya pendeta yang sarangu-dunguan itu, ia mengawasi, kemudia ia tertawa dan menanya .
"Bapak pendeta, adakah kau dari Siauw Lim Sie ?"
Bu Kie nampak girang sekali.
"Tak salah !"
Sahutnya mengangguk.
"Tak salah, aku yang muda ialah Bu Kie ! Aku hendak memberitahukan sicu tentang suatu urusan yang aneh !"
It Hiong heran, dia menatap pendeta itu.
Ingin dia mendengar keterangan si pendeta, tetapi ketika dia menoleh, Hay Thian Sin Ni sudah berjalan terus dan berhenti ditengah jalan di depannya sebuah jurang dangkal.
Nikouw itu lagi bicara dengan seorang muda tetapi ia agaknya tengah manantikannya.
"Bapak pendeta."
Katanya.
"Kalau ada urusan, tak dapatkah kita bicara sambil berjalan ?"
Ia tanya si pendeta kepada siapa ia berpaling.
Namun, tanpa menanti jawaban lagi, ia menarik ujung jubah orang untuk diajak jalan bersama hingga mereka berdua menjadi jalan berendeng.
Ya Bie bersama si orang utan jalan mengikuti si anak muda itu.
Sambil berjalan, Bu Kie menuturkan segala sesuatu yang dia lihat di kuil Gwan Sek Sie digunung Ngo Tay San.
Kemudia ia tertawa dan menambahkan .
"Syukur Sang Buddha kami amat bijaksana. Dia membuat hari itu aku bertemu denganmu, Tio Sicu ! Maka tercapailah maksud hatiku !"
Rupanya si pendeta merasa puas luar biasa disebabkan dia sudah melakukan sesuatu yang sangat menggirangkannya, dia tertawa dan terus bersenyum berseri-seri.
It Hiong sebaliknya.
Walaupun ia senang mendengar penuturan si biksu, ia toh masgul.
Kalau Gak Hong Kun kena diracuni Im Ciu It Mo hingga ingatannya menjadi terganggu, mungkin sekali Kiauw In pun diperlakukan demikian.
Jadi, tadi itu, wanita yang berada disisinya si nyonya tua bermata kelabu mesti Kiauw In adanya, dia bukanlah Kiauw In yang palsu !
Menerka demikian, si anak muda bergidik sendirinya.
Kalau benar, sungguh hebat bagi Kiauw In !
Nona itu harus dikasihhani !
Dia pasti menderita sekali.
Habis bercerita, Bu Kie tidak memperhatikan anak muda disisinya.
Dia kelelap dalam kepuasannya, seorang diri dia tertawa saja.
Dilain saat, tiba sudah mereka di depannya Hay Thian Sin Ni, sejarak lima tombak.
Di situ Bu Kie menghadap It Hong dan kata .
"Tio Sicu, semoga kau menjaga dirimu baik-baik ! Ijinkanlah aku meminta diri !"
Dan ia bertindak pergi tanpa menanti jawaban lagi. Dia turun gunung dengan tindakan lebar. It Hiong bagaikan sadar mendengar suara si pendeta.
"Bapak guru, tahan !"
Panggilnya. Bu Kie kembali.
"Ada pengajaran apakah Tio sicu ?"
"Apakah bapak mau pulang langsung ke Siauw Lim Sie ?"
Tanya si pemuda.
"Benar !"
Si pendeta mengangguk.
"Kalau begitu, bapak, aku mohon pertolonganmu."
Kata It Hiong perlahan.
"Di sana dikamar disuci ada kedua nona Pek Giok Peng dan Tan Hong, tolong bapak....."
Tiba-tiba si anak muda memutuskan kata-katanya itu. Bu Kie heran hingga ia mengawasi, terus ia menatap.
"Apa itu, sicu ?"
Tanyanya.
"Kenapa sicu tidak bicara terus ?"
It Hiong berpikir, lalu dia menggeleng kepala.
"Sudah, tak usahlah........"
Katanya kemudian. Bu Kie menjublak, ia sangat tidak mengerti. Ia pun tak dapat menerka hati orang. Hanya sebentar, It Hiong toh berkata juga. Katanya .
"Aku minta bapak sukalah memberitahukan kedua nona itu halnya aku hendak pergi ke gunung Hek Sek San guna membantu kakak Cio Kiauw In....."
Niatnya si anak muda ialah meminta Giok Peng dan Tan Hong menyusulnya, buat membantu padanya atau segera ia ingat, Siauw Lim Sie pun membutuhkan bantuannya kedua nona itu, jadi nona-nona itu lebih tepat berdiam terus di Siauw Lim Sie.
Bu Kie tertawa, alisnya terbangun.
"Apakah cuma sebegini pesanmu, sicu ?"
Tanyanya, nadanya separoh menggoda.
"Kala ada apa-apa yang sukar dipesan dengan mulut, silahkan sicu tulis surat saja, nanti aku sampaikan sekalian........"
It Hiong menggeleng kepala.
"Sudah, tidak ada apa-apa lagi."
Katanya.
"Cukup asal mereka ketahui kemana aku pergi, agar mereka tak membuat pikiran."
Si anak muda lantas memberi hormat pada pendeta itu, yang dibalasnya, setelah mana, ia terus menghampiri Hay Thian Sin Ni. Ya Bie yang sudah jalan mendahului menyambut si anak muda. Dia tertawa.
"Kakak Hiong."
Katanya manis.
"Kenapa ada banyak sekali yang diomongkan dengan bapak pendeta itu ? Cianpwe Sin Ni sudah melanjuti perjalanannya dan kita disuruh menyusulnya ke Kui Hiang Koan. Nah, mari kita lekas pergi !"
It Hiong tidak mencintai Ya Bie tetapi gerak gerik si nona yang manis dan wajar mendatangkan kesan baiknya.
Pula, mengingat pertolongannya Kip Hiat Hong Mo terhadapnya, Ya Bie terhitung juga saudari seperguruannya.
Maka ia mau memandang nona itu sebagai adiknya.
"Apakah Sin Ni sendiri yang menitahkan adik menyampaikan pesannya ini padaku ?"
Tanya ia bersenyum, kemudian mengusap-usap rambut yang bagus dari nona itu.
Bukan kepalang girangnya Ya Bie mendapat perlakuan lemah lembut dari It Hiong ini.
Dengan sebenarnya ia mencintai anak muda itu hingga ia berani secara diam-diam meninggalkan Cianglo ciang, guna mencari padanya.
Ia gagah tetapi ia hijau dalam pengalaman.
Maka ia tetap bersikap polos.
Ia girang sekali yang hari itu ia dapat menemui It Hiong, malah si anak muda telah mengusap-usap rambutnya itu.
Ia merasai manis sekali hingga air mukanya bercahaya dengan senyumnya berulang-ulang.
Ia pun nampak seperti tambah cantik dan manis !
Lalu bertiga mereka mempercepat langkahnya guna menyusul Hay Thian Sin Ni.
Ya Bie memegangi ujung bajunya It Hiong hingga berdua mereka menjadi jalan berendeng.
So Hun Cian Li berlari-lari mengintil di belakangnya muda mudi itu.
Tanpa merasa It Hiong tertawa menyaksikan nona disisinya masih saja bersenyum berseri-seri, hingga wajahnya menjadi ramai sekali.
"Adik, kapannya kau turun gunung ?"
Tanyanya kemudian.
"Apakah Touw Locianpwe gurumu itu baik-baik saja ?"
Ya Bie bersenyum menatap si anak muda.
"Aku turun gunung diluar tahunya guru."
Sahutnya terus terang.
"Aku turun gunung buat mencari kau, Kakak Hiong. Entah sudah berapa bulan aku merantau, entah berapa banyak lie telah aku lalui, banyak tempat yang aku telah pergikan, bahkan aku telah menemui orang busuk....."
It Hiong memotong kata-kata orang, karena si nona menyerocos terus.
"Kenapa kau demikian bercapek lelah mencari aku, adik ?"
Demikian selanya.
"Kenapa buat turun gunung kau sampai berlaku secara diam-diam hingga kau mendustai gurumu ?"
Mukanya si nona menjadi merah. Ia polos, ia merasa malu sendirinya. Ia jengah. Toh ia menjawab.
"Aku suka pada kau, Kakak Hiong !"
Begitu jawabnya polos.
"Karenanya aku mau mencari kau!"
Hatinya It Hiong tergetar. Kembali lakon asmara. Kembali ada seorang nona yang tergila-gila terhadapnya. Maka ia berpikir .
"Apakah ini bukan kembali bencana asmara seperti katanya guruku ? Ah, adik, kau harus dikasihhani.... Adik, kau belum merasai apa itu asmara. Kau tahu, kadang kala itulah penderitaan belaka........"
Tentu sekali, Ya Bie tak dapat mendengar kata-kata It Hiong di dalam hati itu.
Karena orang tidak mengatakan sesuatu atas jawabannya itu, ia menatap si anak muda.
Ia mendapati orang berdiam seperti tengah berfikir.
"Eh, Kakak Hiong, apakah juga kau sedang pikirkan ?"
Tanyanya halus, prihatin sekali. It Hiong menghela nafas.
"Aku memikirkan halmu, adik."
Sahutnya.
"Aku pikir sudah waktunya buat kau pulang ke Ciang lo ciang. Kau harus mencegah yang gurumu nanti memikirkan dan mengawatirkanmu......."
Ya Bie melengak, hingga ia tak tertawa pula. Ia menatap si anak muda.
"Kakak Hiong"
Tannyanya heran.
"Kenapa kakak menghendaki kau pulang ? Kakak tahu, aku ingin selamalamanya mengikuti kau...."
It Hiong melongo, matanya mendelong terhadap nona itu.
"Kakak Hiong"
Si nona melanjuti.
"mari aku beritahukan kau ! Sejak itu hari kau berangkat dari Ciang lo ciang, entah kenapa, hatiku menjadi kosong, dalam hal apa juga, aku tidak bergembira. Setiap hari aku senantiasa ingat kau dan didalam benak otakku, melainkan wajahmu yang membayang-bayang, hanya wajahmu yang berseri-seri yang terbayang-bayang ! Aku menjadi berjalan salah, berduduk salah juga....... Aku jadi suka mencari tempat yang sunyi diman aku dapat berduduk diam seorang diri, hatiku berpikir, hingga selama ini aku lupa dahaga dan lapar, bahkan ilmu silatku, aku malas melatihnya ! Suhu sampai mengatakan bahwa aku tersesat ! Aku tidak tahu apa itu yang dinamakan setan penggoda ! Aku cuma tahu bahwa aku menyukaimu dan selalu memikirkanmu, aku girang sekali apabila aku bertemu dan melihatmu !"
It Hiong berdiam.
Si nona bicara terus-terusan dalam kepolosannya.
Dia tidak membuat-buatnya.
Dia bagaikan kekanak-kanakan dalam kegembiraannya yang murni.
Wajahnya ketika itu mendatangkan rasa haru, sebab dia nampak bersedih dan diujung matanya ada air mata mengembang......Ya, dia seperti mau menangis !
It Hiong mengawasi, berkasihan berbareng merasa lucu.
"Adik."
Katanya menghibur.
"Jika kau tidak mau pulang, sudahlah ! Sudah, jangan kau berduka ! Hanya, bagaimana dapat kau selalu mengikuti kakakmu ini ? Kau tahu, aku bakal pergi entah sampai dimana ! Apakah kau tidak takut ?"
Walaupun airmatanya berlinang, mendengar suaranya si anak muda, nona itu tertawa. Lekas-lekas dia menepas airmatanya itu.
"Kakak Hiong, benarkah kata-katamu ini?"
Ia mengawasi.
"Oh, sungguh bagus !"
It Hiong merasai hatinya tertekan batu besar dan berat.
Itulah cinta pertama yang bersemi di dalam hatinya Ya Bie.
Nona itu sangat polos hingga dia mengutarakan cintanya dengan itu cara sangat wajar, tak berliku-liku, tanpa malumalu "Bagaimana nantinya ?"
Si anak muda tanya dirinya sendiri.
"Bagaimana aku harus bertindak agar bebas dari gerembengannya bocah ini ?"
Sementara itu mereka berjalan terus, Ya Bie pernah singgah di Kui Hiang Koan, ia tahu jalan untuk pergi ke restoran itu.
Ia berjalan dengan gembira, tanganya menarik ujung bajunya si pemuda.
Senantiasa ia bersenyum berseriseri.
Ia cantik, ia nampak manis sekali.
Ia pula dapat berjalan dengan ringan dan cepat !
Jalan yang dilalui jalan batu diantara pohon-pohon yangliu.
Di dalam waktu semakanan nasi, tiba sudah mereka ditempat yang dituju.
Ketika itu tengah hari, maka juga restoran itu penuh dengan banyak tamu-tamu.
Mereka itu makan dan minum dengan gembira, tak hentinya terdengar teriakan kepada pelayan buat minta arak dan barang hidangan.
Memasuki ruang besar, It Hiong melihat kelilingan.
Ia belum tahu Hay Thian Sin Ni duduk dimeja yang mana, atau mungkin di lain ruang.
Segera juga, rombongannya itu menarik perhatian para tamu.
ia berdua Ya Bie berpakaian seperti umumnya banyak orang lain, mereka tak menimbulkan perhatian orang, tidak demikian dengan pengikut mereka, si orang utan So Hun Cian Li !
Orang utan itu besar dan tampangnya bengis !
Baiknya lekas juga seorang pelayan yang pipinya terokmok datang menghampiri It Hiong.
Dia memberi hormat sambil membungkuk seraya lantas menanya .
"Tuan, apakah Tuan Tio ?"
It Hiong mengangguk.
"Aku Tio It Hiong"
Sahutnya.
"Apakah kau tahu Hay Thian......"
Pelayan itu menyela.
"Majikan kami memesan aku menantikan kau, Tuan Tio. Silahkan tuan turut aku !"
Dan dia memutar tubuh buat berjalan keluar dari ruang besar itu, terus pergi ke samping dimana ada jalanan yang terapit pohon-pohon bunga.
It Hiong bertiga.
Dari ruang yang ramai dan berisik, mereka tiba ditempat yang sunyi dan tenang, sesudah melewati beberapa halaman, mereka jalan disebuah lorong yang kecil panjang, yang kedua sisinya penuh tertanamkan pohon bunga seruni, yang warnanya kuning, putih, ungu dan merah, indah dipandangnya.
Siapa berada disitu tentu hatinya terbuka......
Ujungnya jalanan itu merupakan sebuah halaman dimana ada sebuah bangunan rumah tak besar dan belakangnya terbatas dengan dinding gunung.
Karena letaknya, tak heran tampang itu tenang dan nyaman.
Tiba di muka pintu Pekarangan, si pelayan menghentikan langkahnya, untuk tangannya terus mengetuk pintu seraya berkata pada It Hiong .
"Tuan Tio, silakan masuk ! Aku meminta diri !"
Dan tanpa menanti jawaban lagi, dia ngeloyor pergi.
It Hiong mengawasi pelayan itu dan bersenyum, kemudian dia menghadapi pintu Pekarangan, yang terbuka sedikit, hingga untuk memasukinya orang harus berjalan miring.
Ia menarik tangannya Ya Bie dan menyeplos masuk disitu.
"Tio Sicu, masuklah !"
Tiba-tiba si anak muda mendengar satu suara halus bagaikan suara nyamuk. Sebab itulah suara yang dikeluarkan dengan "Gie Gie Toan Seng"
Saluran "Bahasa Semut".
Perlahan tetapi toh sangat terang.
Pintu Pekarangan itu tertutup rapat pula selekasnya It Hiong bertiga memasukinya, seperti juga itulah sebuah pintu rahasia, tak ada suaranya sama sekli, seperti tadi terbuka renggangnya.
Mereka sekarang berada didalam halaman taman bunga yang teratur rapi, ada gunung-gunungnya yang mungil.
Halaman itu penuh dengan daun rontok, seperti juga taman sudah lama tanpa penghuninya.
Hanya keadaannya tetap menarik hati, suasananya tenang sekali.
Disitu orang tak merasa jeri, sebaliknya menaruh hormat.
Diatas tanah penuh daun itu tak tampak tapak kaki, maka itu untuk berjalan lebih jauh, It Hiong menggunakan "Te In Ciong", ilmu ringan tubuh "Tangga Mega..
Ia mencekal tangannya Ya Bie dan mengangkatnya, buat dibawa lari bersama.
Jalanan disitu berliku-liku.
"Eh, mana So Hun Cian Li ?"
Tanya Ya Bie rada terkejut. Ia melihat ke belakang dan tak nampak orang utannya. It Hiong melihat kesekelilingnya. Binatang itu benar tak terlihat.
"Biarlah dia menanti diluar !"
Katanya, lalu jalan terus.
Selekasnya mereka melintasi bukit buatan itu, muda mudi itu mendengar satu suara berkelisik di belakangnya.
Lantas mereka menoleh, atau mereka menyaksikan si orang utan melesat lewat disisi mereka, terus binatang itu berdiri diatas tangga di depan sebuah rumah, yang bagaikan menghadang di depan mereka.
Itulah sebuah rumah batu dan tangganya itu berbatu marmer.
So Hun Cian Li memekik, kaki tangannya digerak-geraki.
Agaknya dia girang sekali.
Ya Bie mengulapkan tangannya, melarang binatangnya berisik.
Selekasnya tiba di muka undakan tangga terakhir, It Hiong menghadapi pintu sembari menjura, ia kata perlahan .
"Tio It Hiong bersama Ya Bie telah tiba dan memohon bertemu dengan Sin Ni Locianpwe."
Bagaikan ada angin yang meniupnya, daun pintu lantas terbuka, maka It Hiong segera bertindak masuk, diturut oleh Ya Bie dan So Hun Cian Li.
Di dalam terdapat tiga buah kamar, yang satu terang, yang dua gelap.
Di tengah-tengah ada sebuah ruang kecil.
Dinding tengah tergantungkan sehelai tirai.
Di depan itu, sebuah perapian kuno kaki tiga, tubuh perapiannya terang mengkilau, entah dari bahan apa terbuatnya.
Dari dalam perapian mengepul asap dupa yang harum.
Di sebelah kiri itu, diatas sebuah kursi kayu merah, terlihat Hay Thian Sin Ni berduduk seorang diri.
Di kanannya ada para-para buku, meja tulis serta sebuah kursi.
Jendela dan meja bersih sekali, tak ada debunya.
Di situ tak ada lainnya orang lagi.
Suasana sunyi dan nikmat, seperti diluar tadi.
Apa yang toh terdengar ialah ocehannya dua ekor burung diluar rumah.
Selekasnya dua orang itu berada didalam, dengan isyarat tangannya, si nikouw kata .
"Sengaja pinni mengundang Tio sicu datang kemari supaya kau bertemu dengan Bu Lim Cianpwe disini, agar kau mendapat petunjuk buat menghadapi rombongan bajingan rimba persilatan nanti."
It Hiong dan Ya Bie memberi hormat, baru mereka berduduk. Ia heran mendengar nikouw itu menyebut "Bu Lim Cianpwe"
Yaitu orang tingkat tua dari rimba persilatan. Disitu toh tidak ada orang lainnya.
"Boanpwe bersedia menerima petunjuk."
Katanya, walaupun dia heran sekali. Matanya kembali melihat ke sekitarnya. Hay Thian Sin Ni melihat sikapnya si anak muda, ia tidak berkata apa-apa hanya berkata pula .
"Bu Lim Cianpwe itu ada hubungannya sangat erat dengan Tek Cio Totiang gurumu itu, sicu. Hanya semenjak tiga puluh tahun dahulu ia menutup diri, dia tak mau menemui orang pula, karena dia telah berkeputusan buat hidup menyendiri di dalam kesunyiannya kaum Kang Ouw golongan sesat itu, yang mudah saja main bunuh, dia telah memikir lain. Bertambah hebat sepak terjangnya kaum itu hingga dia tergerak hatinya dan semangatnya. Dia lantas mengambil sikap mencoba untuk menumpasnya ! Dia telah ketahui perbuatanmu melindungi gunung Siong San, sicu, maka ia pikir kaulah seorang calon yang tepat......."
Berkata sampai disitu, Hay Thian Sin Ni berhenti, matanya terus mengawasi ke tirai.
Melihat demikian, tahulah It Hiong bahwa si Bu Lim Cianpwe, tertua rimba persilatan itu berada di belakang tirai itu.
Lantas dia berbangkit untuk menjura ke arah tirai sambil ia kata hormat .
"Tio It Hiong, murid Pay In Nia menghunjuk hormat kepada Cianpwe serta bersedia menerima segala petunjuk....."
"Jangan memakai adat peradatan, Tio Laote !"
Terdengar dari balik tirai itu suara perlahan tetapi jelas sekali.
"Silakan duduk ! Selama kau merantau, laote, pernah atau tidak kau bertemu dengan seorang yang disebut Tok Mo ?"
It Hiong menurut, ia berduduk.
"Boanpwe ketahui tentang dia tetapi belum pernah melihat orangnya."
Sahutnya.
"Di dalam waktu satu malam, kelima tertua dari Siauw Lim Sie menemui ajalnya disebabkan racun, mungkin itulah hasil perbuatannya Tok Mo. Pula boanpwe sendiri pernah pingsan dikarenakan boanpwe kena meraba kertas lambang pembunuhannya, lambang yang berbunyi Giok Lauw Kip Ciauw. Sejak boanpwe turun gunung, telah boanpwe pergi ke pelbagai tempat propinsi Sucoan, Ouwlam, Ouwpak dan Holam, tetapi tak pernah boanpwe berhasil mencarinya....."
"Pernah aku bertemu dengan Tok Mo dan malah pernah juga bertempur dengannya !"
Tiba-tiba Ya Bie campur bicara. Dibalik tirai itu terdengar tawa nyaring, disusul dengan kata-kata ini .
"Nona kecil, Tok Mo yang kau ketemukan itulah Tok Mo palsu !"
Kemudian kata itu ditambahkan kepada Hay Thian Sin Ni .
"Toasuhu, coba bilang, menurut kau, Tok Mo masih hidup atau sudah mati ?"
Orang yang ditanya mengernyitkan dahinya.
"Sulit untuk mengatakannya."
Sahutnya.
"Kalau kita melihat kematiannya kelima tertua Siauw Lim Sie, tak mungkin itulah perbuatannya si palsu Kim Lam It Tok atau Couw Kong Put Lo. Mereka berdua pasti tak mempunyai kepandaian semacam itu."
Kembali si Bu Lim Cianpwe tertawa.
"Agaknya tak tepat kalau dikatakan Tok Mo muncul pula dalam dunia Kang Ouw."
Katanya pula.
"Tio Laote telah mencari dia berputaran, tak mungkin dia menyabarkan diri dan tak muncul ! Mungkinkah dia sudi terus menyembunyikan kepalanya saja dan cuma menongolkan ekornya ?"
Setelah kata-kata itu, dari belakang tirai terdengar satu suara perlahan, entah si Bu Lim Cianpwe melakukan apa. Hay Thian Sin Ni tertawa dan kata .
"Ketika dulu hari itu dilakukan penyergapan kepada Tok Mo dilembah Peng Kok, Losicu toh turut bersama menurunkan tangan, leh karena itu kenapa Losicu tidak hendak melukiskan wajah dan potongan tubuhnya dia itu, supaya sekarang Tio sicu dapat mendengar dan mengetahuinya ? Dengan demikian, selanjutnya Tio sicu dapat berlaku berhati-hati terhadapnya."
Orang dibalik tirai itu menghela nafas perlahan.
"Dahulu hari itu telah tiga kali lohu pernah bertemu dengan Tok Mo."
Katanya kemudian. Dia membahasakan diri lohu, si orang tua.
"Hanya selama itu belum pernah satu kali juga lohu melihatnya berwajah atau berdandan serupa, bahkan senjata dan gerak gerik silatnya pun berlainan ! Karena itu, bagaimanakah lohu harus melukiskannya ?"
It Hiong merapatkan keningnya mendengar suaranya si Bu Lim Cianpwe itu. Pikirnya .
"Kenapa di dalam dunia ada manusia jahat dan beracun yang licin itu ?"
Kemudian ia kata .
"Locianpwe, baiklah locianpwe jangan memusingkan diri memikirkan tentang dia. Selanjutnya, asal boanpwe menemukannya, tak perduli si asli atau palsu, hendak boanpwe membunuhnya saja ! Tidakkah itu paling sempurna ?"
"Kakak Hiong, itu benar !"
Ya Bie memuji. Tapi Hay Thian Sin Ni memuji Sang Buddha.
"Jangan kau terlalu bengis, Tio Sicu."
Katanya.
"Di dalam segala hal, kita jangan melupakan Thian Yang Maha Kuasa !"
Jago yang tak dikenal itu campur bicara. Kata dia .
"Lohu sudah menyembunyikan diri tiga puluh tahun, belum dapat lohu mencapai kesempurnaan, maka itu di dalam hal ini, lohu menyetujui sikapnya Tio laote. Hanya, biar bagaimana, bengis itu juga ada batasnya dan pada bengis harus ditambahkan kecerdasan ! Oleh karenanya Tio laote, kau bertindaklah dengan berhati-hati !"
"Terima kasih, locianpwe !"
Berkata It Hiong.
Tiba-tiba tirai itu bergerak keras bagaikan dipermainkan badai, mendadak dari celah-celahnya meluncur keluar satu sinar putih mengkilat, juga menyilaukan mata.
Menyusul itu, terdengar suaranya si jago rimba persilatan yang tidak dikenal itu .
"Tio laote, inilah sebutir mutiara Lee-cu, harap kau terima sebagai bingkisan pertemuan kita ini. Sambutlah !"
Dengan perlahan, benda bercahaya itu bergerak ke arah It Hiong, tapi tanpa merasa mengulur tangannya menyambuti, hingga ia melihat tegas dan merasa, mutiara ada sebesar telur burung merpati, tubuhnya bening, sinarnya memancar ke empat penjuru.
Hingga bisa dimengerti yang itulah mustika adanya.
Lekas-lekas dia berkata .
"Locianpwe, hadiah sangat berharga ini tak sanggup boanpwe menerimanya. Boanpwe biasa hidup mengembara, mana dapat boanpwe membawabawa mustika ini yang pasti akan menarik perhatian orang banyak, terutama kaum sesat. Mungkin mutiara dapat membahayakan keselamatanku sedangkan boanpwe barangkali tak dapat menjaganya. Oleh karena itu, harap locianpwe jangan kecil hati, harap locianpwe suka menerimanya kembali......"
Lantas It Hiong menolakkan tangannya seraya melepaskan cekalannya, atas mana mutiara itu bergerak kembali ke arah tirai. Bu Lim Cianpwe itu tertawa berkakak.
"Tio Laote, sungguh kau muda dan gagah, hatimu putih bersih !"
Berkata dia dengan kekaguman.
"Tetapi laote, lohu mengenalmu ! Kau bukanlah si kemaruk harta dunia ! Baik laote ketahui, kalau mutiara ini mutiara belaka, tak nanti aku menghadiahkannya kepadamu......"
Kata-kata itu dihentikan secara tiba-tiba. Ketika itu justru dibuat pemikiran oleh It Hiong, yang memikirnya.
"Oh, kiranya mutiara ini ada faedahnya....... hanya entah khasiatnya dan bagaimana cara menggunakannya ?"
Tanpa merasa, ia menoleh ke arah Hay Thian Sin Ni.
Nikouw itu mengangguk kepada si anak muda.
Itulah isyarat untuk anak muda itu menerimanya.
Selama itu, mutiara masih bagaikan mengambang saja di muka celah-celah tirai, tak mau jatuh dan sinarnya terus mencorong ke segala arah.
Menyaksikan itu, It Hiong menerka si jago tak dikenal sengaja menahannya.
Justru itu maka terdengarlah suaranya Bu Lim Cianpwe itu .
"Tio Laote, baiklah kau ketahui tentang mutiara Leecu ini ! Inilah mutiara berasal dari dalam karang laut cui-seng-giam di laut utara Pak Hay dan karena besarnya, dapat dimengerti yang umurnya pasti sudah diatas seribu tahun. Ini pula mutiaranya naga hitam Lee Liong, yang meninggalkannya di dalam karang disaat dia hendak menukar kulit dan entah berapa banyak bulan harus lewat sebelumnya dia bercahaya seperti sekarang ini. Mutiara ini berkhasiat antaranya guna melemahkan pelbagai macam racun dan mengobati rupa-rupa penyakit. Kalau mutiara ini dimasuki ke dalam mulut dan dikemuh, di dalam satu jam dia bisa menghidupi orang yang telah mati keracunan dan lainnya. Kau suka merantau laote, kau lagi menjalankan tugas perikemanusiaan, sewaktu-waktu kau bisa menghadapi bahaya keracunan, dari itu kalau kau membawa mutiara di tubuhmu, pasti itu besar faedahnya. Inilah untuk persiagaan saja, maka itu janganlah kau tampik !"
Menyusul kata-kata itu, mutiara kembali meluncur kepada si anak muda. It Hiong menyambuti, kali ini untuk terus menyimpan didalam sakunya. Ia berbangkit buat menjura, memberi hormat sambil berkata .
"Terima kasih, locianpwe ! Andiakata cianpwe sudah tidak ada pesan lainnya, boanpwe memohon diri !"
Orang gagah tak dikenal itu tertawa.
"Saat pertapaanku juga akan berakhir, maka itu, laote, persilakanlah !"
Katanya gembira.
"Di dalam hal-hal lainnya, kau dapat meminta pengajaran dari Hay Thian Sin Ni saja !"
Habis itu sunyilah ruang tersebut.
"Mari kita pergi !"
Kata Hay Thian Sin Ni kemudian. Ia berbangkit dan bertindak mendahului. It Hiong berdua Ya Bie mengikuti. Tiba diluar taman, Hay Thian Sin Ni baru berkata pula .
"Tio sicu, apabila kau pergi ke Hek Sek San, kau harus waspada terhadap Im Ciu It Mo, buat jala beracunnya yang dinamakan Hoa Hiat Thian Lo, jala langit yang melumerkan darah. Nah, sampai nanti di dalam pertemuan besar di In Bu San, kita akan berjumpa pula !"
Kata-kata itu diakhiri dengan orangnya lompat ke sisi mereka, ke dalam pepohonan lebat, hingga orang tak sempat mengatakan sesuatu.
"Mari kita pun pulang !"
It Hiong mengajak Ya Bie.
Nona polos itu mengikuti.
Setibanya di Kui Hiang Koan, mereka beristirahat, setelah itu dimulailah perjalanan mereka menuju ke gunung Hek Sek San.
Hatinya It Hiong tak tenang.
Ia selalu ingat Kiauw In dan mengawatirkan kakak seperguruan itu, yang pun menjadi kekasihnya, maka itu ia melakukan perjalanan secepat bisa.
Turutnya Ya Bie dan So Hun Cian Li membuatnya tak dapat menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega.
Pasti nona itu dan orang utannya tak sanggup menyusulnya.
It Hiong pula pikir, Ya Bie harus diberitahukan bahwa perjalanannya ini akan penuh dengan ancaman bencana.
Di sarangnya Im Ciu It Mo, pasti bisa akan ditemui dimanamana.
Satu kali, ia melirik nona itu.
Ia mendapatkan selainnya cantik, nona itu benar-benar polos, wajahnya sangat menarik hati.
"Inilah sulit"
Pikirnya kemudian.
"Dia polos tetapi dia berasal dari tempat kaum sesat. Siapa tahu kalau hatinya mudah berubah ? Kalau dia merasa dipersakiti, yaitu kalau aku tinggalkan dia, mungkin dia bersakit hati. Inilah berbahaya. Dia belum tahu apa-apa, sakit hati membuatnya sanggup melakukan apa juga. Dia pula mudah disesatkan orang jahat. Kalau dia menjadi sesat, itulah berbahaya. Tak mudah menaklukan orang dengan kepandaian seperti dia....."
Anak muda kita tidak mencintai Ya Bie, walaupun nona itu cantik manis.
Ia hanya menyayangi.
Ia pula menganggap, tak dapat ia melepaskan nona itu, agar dia tak sampai terjatuh ke dalam tangannya orang jahat.
Maka ia mengambil keputusan, sulit atau tidak, si nona dan orang utannya harus diajak bersama !
"Adik Ya Bie"
Kemudian katanya kepada si nona.
"kau hendak mengikuti aku ke Hek Sek San, aku pikir lebih baik kau menyamar menjadi pria. Inilah guna menjaga agar ditengah jalan, kau tak usah menarik perhatian orang banyak. Kau setujukah ?"
Nona itu menatap si anak muda, matanya dibuka lebar.
Hanya sejenak, dia mengangguk.
Senang It Hiong.
Syukur nona itu suka menurut.
Di kecamatan pertama, It Hiong singgah untuk membeli pakaian buat Ya Bie dan So Hun Cian Li.
Di dalam hotel, nona itu berdandan hingga dia serupa sebagai seorang kacung.
Si orang utan juga berpakaian, mirip seorang bujang tua.
Pula selanjutnya, mereka berjalan dengan menunggang kuda, hingga perjalanan dapat dilakukan dengan cepat tanpa si anak muda memikirkan nona itu dan binatangnya.
Selang beberapa hari, tiba sudah mereka di Kho-tiam-cu, sebuah dusun yang harus dilalui buat orang pergi ke Hek Sek San.
Karena sudah magrib, mereka mencari hotel.
It Hiong minta dua kamar, satu buat dia sendiri, yang satunya buat Ya Bie dan So Hun Cian Li.
Habis bersantap, It Hiong duduk seorang diri dikamarnya.
Kembali ia ingat Kiauw In, maka ia menyesal juga di Siauw Lim Sie mereka jalan berpencaran hingga nona itu terjatuh kedalam tangannya Im Ciu It Mo.
Ia berpikir sambil matanya mengawasi tajam Keng Hong Kiam, pedangnya yang digantung di tembok.
Dengan lewatnya sang waktu, tanpa merasa si anak muda tidur kepulasan, hingga ia terasadar dengan terperanjat apabila ia mendengar tanda waktu tiga kali yang diperdengarkan dari tembok kota.
Ketika ia membuka matanya, sisa lilinnya masih menyala.
Justru itu, mendadak angin menghembus dari jendela, membuat sisa lilin padam hingga kamar menjadi gelap seketika.
Menyusul itu ada angin bertiup perlahan, membawa bau harus dari dupa, yang membuat otak pusing hingga orang ingin tidur.....
Sebagai orang yang telah berpengalaman, It Hiong tahu apa artinya bau harum itu.
Ada orang mau mencelakainya.
Lantas ia lompat turun dari pembaringannya, akan menjambret pedangnya.
Adalah niatnya, akan lompat keluar, buat menyusul orang yang menyulut hio itu.
Tiba-tiba kepalanya pusing dan tubuhnya terhuyung mau jatuh.
Ia lekas-lekas menguatkan hati dan memusatkan pikirannya.
Ia lantas merogoh sakunya buat mengambil obat kay-yoh dari si pendeta tua dari Bie Lek Sie atau tangannya mengeluarkan Lee-cu yang didapat di Kui Hiang Koan.
Selekasnya keluar dari saku, mutiara itu lantas mengeluarkan cahaya terang, menerangi seluruh ruang, hingga segala apa tampak tegas, hingga tampak juga semacam asap beterbangan.
Lekas-lekas It Hiong memasuki mutiara mustika itu kedalam mulutnya.
Lantas ia merasai hawa dingin.
Seketika itu juga, lenyap pusingnya dan tubuhnya tak terhuyung pula.
Ia menjadi girang sekali.
Inilah yang pertama kali ia membuktikan khasiatnya mutiara mustika itu.
Selekasnya ia menyimpan mutiara, dengan membawa pedangnya, ia lompat keluar dari jendela, terus lompat naik ke tembok Pekarangan hingga ia sempat melihat sesosok bayangan hitam kabur keluar dusun.
"Tak perlu aku susul dia"
Pikirnya.
Ia merasa percuma, orang tentu takkan kecandak sebab dia bisa menyembunyikan dirinya.
Ia pun tak kurang suatu apa.
Masih sekian lama It Hiong berdiri diatas tembok, disaat dia mau lompat turun akan kembali ke kamar, tiba-tiba ia mendengar suara yang terbawa angin .
"Anak tolol ! Pedang Keng Hong Kiam yang mengangkat nama toh lenyap !"
Itulah suara "Gie Gie Toan Im"
Saluran "Bahasa Semut".
Dua kali suara itu terdengar, lantas lenyap.
Anak muda kita heran sekali.
Ia mengangkat dan melihat pedangnya, terus ia menghunusnya.
Ia bukan mendengar suara nyaring seperti biasa, hanya suara dari besi biasa.
Pedang pula bukan bersinar menyilaukan amta, cuma mengkilat sedikit saja.
Maka bukan kepalang kagetnya !
Jadi benar pedangnya telah orang curi dengan jalan ditukar !
"Aku toh pusing hanya sejenak........"pikirnya.
"Kenapa aku tidak mendengar apa-apa san orang dapat berlalu tanpa suara ? Kalau begitu, dia telah memiliki ilmu ringan tubuh yang sangat sempurna.....Siapakah dia ?"
It Hiong berdiri menjublak diatas tempat itu.
Kemudian ia memikiri, menerka-nerka.
Siapakah pencuri pedang itu ?
Musuhkah ?
Dia dari golongan manakah ?
Kenapa pedangnya dicuridengan ditukar ?
Apakah maksudnya si pencuri ?
Kenapa ia dipancing mengubar ?
Ia bingung sekali.
Sejenak itu, pikirannya menjadi gelap.
Tengah si anak muda berdiam, ia melihat dua sosok tubuh mendatangi cepa sekali ke arahnya.
Ia lantas menyangka kepada musuh.
Tidak ayal lagi ia mendahului menyerang dengan satu pukulan dari Han Long Hok Houw.
Atau .
"Kakak Hiong, jangan ! Inilah aku !"
Kiranya itulah Ya Bie bersama So Hun Cian Li, yang datang menyusul. Bagus kedua-duanya dapat berkelit dari serangan dahsyat itu. Di saat lain, keduanya sudah berdiri di depan si anak muda.
"Malam-malam kau keluar, kakak Hiong ?"
Ya Bie bertanya.
"Apakah ada musuh ?"
It Hiong menghela nafas.
"Pedangku ada yang curi......."
Sahutnya perlahan, tanda kemasgulannya.
"Apa ?"
Tanya Ya Bie, kaget dan heran.
"Pedang kakak lenyap ? Kemana kaburnya si pencuri ?"
It Hiong menggeleng kepala, terus ia menengadah langit. Ia membiarkan sang angin menyampok-nyampok bajunya. Ya Bie pun berdiam. Nona ini heran dan bingung.
"Adik Ya Bie, mari kita pulang."
Kemudian kata si pemuda perlahan.
Dan ia mendahului lompat turun dari tembok.
Ya Bie mengikuti.
Tiba dikamarnya, It Hiong menyulut lilin.
Ia memeriksa seluruh kamarnya, tidak terlihat apa juga yang mencurigakan.
Ketika itu, asap pun telah buyar habis.
Maka ia duduk dikursinya, pikirannya kacau.
Ya Bie berduka menyaksikan orang bersusah hati itu.
Karena ia turut berdiam, kamar menjadi sangat sunyi.
Kesunyian segera diganggu So Hun Cian Li, yang masuk belakangan.
Dia muncul sambil berjingkrakan dan memekikmekik, sedangkan sebelah tangannya memegangi sehelai kain.
Ya Bie segera mengambil kain dari tangan binatang piaraannya itu.
"Kakak Hiong, kau lihat apakah ini ?"
Katanya sambil mengangsurkannya. It Hiong menyambuti, hingga ia lantas dapat membaca .
"Di atas sungai jernih berliku sembilan, pedang mustika akan dikembalikan sebagai adanya."
Itulah sehelai cita tersulam, yang tersulamkan juga empat buah huruf dengan benang sulamnya berwarna kuning muda. Bunyinya surat ialah "Giok Lauw Kip Ciauw !"
Itulah lambang kematian !
Mulanya heran, It Hiong menjadi gusar, maka ia banting kain itu ke lantai !
Ia kenali lambang kematian, yang pernah ia lihat di Siauw Lim Sie.
Itulah bukti ancaman dari Ie Tok Sinshe atau Tok Mo.
Itu pula keputusan kematian !
Ya Bie menjemput kain itu, untuk dilihat teliti.
"Kakak Hiong, kau melihat apakah yang mencurigakan ?"
Tanyanya.
"Ada racunnya !"
It Hiong berteriak, kaget.
"Lepaskan lekas !"
Ya Bie tertawa dan kata .
"Setelah sesuatu lewat ditangannya So Hun Cian Li, racun apapun sudah tidak ada lagi !"
Si nona bergembira sekali, tingkahnya jenaka.
It Hiong melongo mengawasi nona itu.
Dia itu memang tak keracunan.
Lewat sesaat ia menarik nafas lega, hatinya menjadi tenang.
Ya Bie sementara itu mengutip perlahan berulang-ulang .
"Kiu Kiok Ceng Kee... Kiu Kiok Ceng Kee...."
Itulah kata-kata yang terjemahannya adalah "sungai jernih berliku sembilan"
Atau "sungai dengan sembilan tikungan".
Ya, ditempat manakah adanya sungai itu ?
Kemudian si nona mengawasi It Hiong, yang berduduk menjublak saja.
Kepalanya ditundukkan, sedangkan api lilin bergoyang-goyang, cahayanya menyinari suaram wajah pemuda itu.
"Kakak Hiong."
Kemudia si nona bertanya.
"Mungkinkah pencuri pedang itu seorang sangat kosen dan kau kuatir tak sanggup melawannya ?"
It Hiong menggeleng kepala.
Ia tak menjawab.
Ya Bie mengawasi, ia heran.
Tiba-tiba It Hiong menyambar surat ditangan si nona, untuk dibawa ke depan pelita, untuk diperiksa dengan teliti, dibulak balik depan belakang dan atas bawahnya, kemudian sembari meletakkan itu di meja, ia kata seorang diri .
"Tok Mo ? Ya, Tok Mo ! Aku memang mau mencari dia, dia mendahului datang ! Dia mencoba main gila terhadapku !"
Ya Bie mendengar kata-kata orang, dia menjadi bertambah heran.
"Benarkah Tok Mo si pencuri pedang ?"
Tanyanya.
"Tok Mo ini manusia siapakah yang menyaruh memalsukannya ?"
Dia menanya demikian sebab meski belum berpengalaman, telah dua kali dia menemui Tok Mo palsu -Couw Kong Put Lo dan Kin Lam It Tok !
Dia polos, mudah saja dia menerka pada Tok Mo palsu lagi !
Suara si nona membuat It Hiong sadar bahwa benar dikolong langit ini ada banyak Tok Mo palsu, yang suka bergaya licik dan telengas.
Hanya empat huruf "Giok Lauw Kip Ciauw"
Membuatnya menerka kepada Tok Mo yang asli. Sinarnya pun lain, yang dahulu hijau, dan ini muda, dan dahulu beracun, ini tidak ! "Biarlah,"
Pikirnya kemudian.
"Dia yang palsu atau bukan, aku toh harus mencari padanya ! Pedangku harus dicari dan dirampas pulang !"
Maka terus ia mengawasi Ya Bie dan bertanya.
"Adik, apakah katamu barusan ? Bukankah kau menanya dimana letaknya Kiu Kiok Ceng Kee ?"
"Ya"
Sahut si nona mengangguk. It Hiong berfikir sebentar, lantas dia menjawab .
"Kiu Kiok Ceng Kee berada di proponsi Hokkian, diatas bukit, Bu In San, jaraknya dari sini seribu lie lebih."
Ya Bie mengernyitkan keningnya. Ia berdiam untuk berpikir. Hanya sejenak, ia mengangkat kepalanya, wajahnya tampak berseri-seri saking ia bergirang.
"Aku mengerti sekarang !"
Kata ia.
"Nah, mari kita lantas berangkat menyusulnya ke Bu Ie San, siapa tahu ditengah jalan dapat kita menyandaknya. Hanya entahlah, dia mengambil jalan yang mana...."
Senang It Hiong memandang nona itu, sudah cantik, dia manis sekali, terutama dia sangat polos, segalanya wajar.
Tak mau ia mengatakan bahwa pemikiran nona itu terlalu sederhana, agar si nona tidak menjadi kecewa.
Toh ia merasa lucu sendirinya, hingga tak dapat ia mencegah tertawanya......
Ya Bie mementang mata mengawasi pemuda itu.
"Apakah keliru apa yang aku katakan barusan ?"
Tanyanya. Dia heran.
"Sebaliknya !"
Sahut si anak muda mengangguk.
Tiba-tiba wajahnya It Hiong suaram pula.
Kembali ia ingat Kiauw In yang berada ditangannya Im Ciu It Mo dan itulah berbahaya.
Kiauw In tak sadarkan diri, orang dapat berbuat sesukanya terhadapnya.......
Di lain pihak, ia malu berbareng mendongkol sebab hilangnya pedangnya.
Ia boleh tak usah mengandalkan pedang tetapi pedang itu hadiah dari ayahnya Giok Peng di Lek Tiok Po.
Maka itu, biar bagaimana, pedang itu harus dapat dirampas pulang !
"Mana lebih dahulu ?
Membantu Kiauw In atau mencari pedang ?"
Demikian ia pikir dalam kesangsian.
Sulitnya, tanpa pedang, tak dapat ia menggunakan ilmu "Gie Kiam Hui Heng", jalan terbang bareng dengan pedang.
Untuk menghadapi Im Ciu It Mo, ia pula membutuhkan pedang.
Terhadap lawan lainnya, itulah lain.
Ya Bie, yang berdiri di depan si anak muda, terus mengawasi, hingga ia melihat air muka orang berubah-ubah saking anak muda itu berpikir keras.
Ia pun tidak berani menanya apa-apa.
Barulah It Hiong terkejut ketika percikan lilin meletik menyambar ke tangannya.
"Ah !"
Serunya.
"kenapa aku jadi begini tolol ? Orang toh lebih penting daripada pedang !"
Maka ia lantas menepuk meja.
"Mari kita pergi ke Hek Sek San !"
Katanya keras. Tepukan itu membuat pedang diatas meja berlempar jatuh ke lantai. It Hiong segera menjemput itu. Ya Bie heran.
"Kakak Hiong...."
Katanya.
"kau mau pergi dahulu ke Hek Sek San, bukan ? Jadinya kau mau membiarkan pedangmu....."
Alisnya si anak muda bangkit.
"Jiwanya Kakak Kiauw In lebih penting."
Bilangnya.
"Dalam segala hal kita harus dapat membedakan mana yang lebih perlu !"
Ya Bie mementang pula matanya, sinarnya memain, terus dia mengangguk.
"Kakak benar !"
Katanya kemudian.
"Memang tak dapat kakak membiarkan kekasihmu nanti tersiksa dan bercelaka, tanpa kakak pergi menolongnya !"
Hebat si nona.
Dia kenal asmara tetapi dia toh tetap polos.
Cuma, kalau ia memikirkan itu, sendirinya tubuhnya menggigil......
Ya Bie menyinta, tak mau ia merampas kekasih lain orang tetapi ia pun tak sudi kehilangan kekasihnya sendiri.
Buat ia cukup asal ia tak usah berpisah dari anak muda itu.......
"Kakak Hiong,"
Katanya kemudian.
"aku ingin supaya tetap aku berada disisimu, agar aku dapat melakukan segala apa untukmu ! Sudikah kau meluluskan aku ?"
Lagi-lagi si nona menatap mukanya si pemuda.
Tak likat ia mengawasi orang.
It Hiong tak memikir banyak tentang kata-katanya nona polos itu sebab pikirannya dipusatkan pada Kiauw In, soal caranya menyerbu Hek Sek San guna membantu Kiauw In.
Bagaimana ia harus bertindak.
"Baik, adik !"
Sahutnya.
"Bagus kau suka membantu aku !"
Bukan main senangnya Ya Bie mendengar suara itu.
"Mari kita lekas berangkat !"
Dia mengajak.
"Fajar bakal lekas tiba !"
It Hiong melongok ke jendela. Memang fajar lagi mendatangi. Terpaksa ia menggendol pedang palsu itu.
"Nah, mari kita berangkat !"
Ajaknya.
Ia padamkan lilin dan terus bertindak keluar.
Ya Bie mengikuti.
Dengan satu siulan, ia memanggil So Hun Cian Li.
Segera perjalanan dilakukan.
It Hiong nampak mirip puteranya seorang hartawan yang diikuti kacungnya.
Angin fajar bertiup halus, rembulan masih bersisa.
Sekeluarnya dari batas dusun, langsung mereka menuju ke Hek Sek San.
Mereka mendekati kaki gunung pada jam delapan lewat, jaraknya tinggal tujun atau delapan lie lagi.
Justru itu diarah belakang mereka, mereka mendengar suara kuda, yang makin lama terdengarnya makin keras, pertanda bahwa orang cepat sekali datangnya, bahkan segera juga mereka dilewati oleh empat penunggang kuda yang tengan menuju ke Hek Sek San sebagai mereka sendiri.
Empat orang itu berdandan sebagai orang Kang Ouw dan yang kabur di muka mirip seorang wanita.
Menarik perhatian adalah dua orang yang ditengah, sebab masing-masing menggendol sebuah karung besar, melendung dan tinggi kira lima kaki.
Entah benda apa isinya itu!
Penunggang kuda paling belakang tampak tegas.
Dia berkepala besar dan berjenggotan.
Mulanya dia mengawasi It Hiong bertiga, sesudah lewat, masih dia menoleh satu kali, dari mulutnya terdengar suara tertahan.
"Oh !........."
Mereka itu kabur luar biasa cepat !
It Hiong merasa aneh, hingga timbul kecurigaannya, maka ia memberi isyarat kepada Ya Bie, terus ia melarikan kudanya buat menyusul, atas mana si nona dan orang utannya lantas menyusul, untuk dapat menguntit.
Dari jalan besar, empat orang itu mengkol memasuki jalan kecil, akan setelah beberapa tikungan menghilang disebuah rimba.
Jalan kecil itu bukan jalan umum, bala dan banyak durinya, banyak batunya juga, suasananya belukar dan sunyi.
Tidak ada lain orang berlalu lintas disitu.
It Hiong memasang mata.
Ia mendapat kenyataan jalan kecil itu menjurus ke gunung, dan jalannya lugat-legot.
Puncak gunung tinggi umpama kata nempel pada mega.
Walaupun si anak muda tidak kenal tempat, tetapi dia menerka bahwa ia sudah tiba didekat-dekat sarangnya Im Ciu It Mo, hingga ia pun mau menerka yang empat orang tadi menjadi murid-muridnya si bajingan.
It Hiong dan Ya Bie cepat dapat menyusul sampai di muka rimba.
Di situ So Hun Cian Li berPekik beberapa kali.
Inilah sebab banyak buah diatas pohon yang membuatnya mengilar.
Ia sampai berjingkrakan.
Kiranya ke empat orang tadi bukan menghilang kedalam rimba hanya mereka telah turun dari atas kudanya masingmasing.
Semua binatang itu ditambat dipohon.
Mereka sendiri duduk berkumpul.
Kedua bungkusan mereka itu diletaki disisi mereka.
Mereka melihat tibanya It Hiong bertiga, semua mengawasi terutama terhadap si anak muda.
Mulanya agak heran, mereka lekas mendapat pulang ketenangannya, bahkan si pria yang berkepala besar bagaikan menyambuti itu lantas menegur tawar.
"Saudara Gak, dimatamu benar tidak ada orang lain ! Kita telah bertemu disini, kenapa kau tidak menyapa kami ? Hm !"
Belum sempat It Hiong menjawab, si wanita sudah menambahkan pria itu .
"Kenapa kau mengatakan demikian, Toako ? Orang itu berkepandaian silat pedang Heng San Pay ! Apakah Toako mengira dapat Toako melawan dia ? Laginya......."
"Toako"
Ialah kakak paling tua.
"Laginya apa ?"
Si Toako menyela dan matanya mencelak.
"Tampang jumawa binatang ini membuat orang sebal ! Nanti aku coba-coba adatnya !"
Dan ia bangkit berdiri untuk menghampiri anak muda kita.
"Tahan, Toako !"
Seru si nona setelah dia melirik pergipulang pada It Hiong. Pria itu menghentikan langkahnya. Agaknya dia jeri pada wanita muda itu. Mendengar panggilan "saudara Gak"
Itu, tahulah It Hiong yang orang telah salah menyangka padanya.
Ia juga percaya mereka itu ada kawan atau sebawahannya Im Ciu It Mo.
Inilah kebetulan.
Mereka itu dapat diikuti terus sampai ke sarangnya si bajingan.
ia berpura tidak mendengar, ia ajak Ya Bie dan So Hun Cian Li duduk dibawah sebuah pohon untuk mereka mengeluarkan rangsum kering dan memakannya.
Si wanita, yang kepalanya dibungkus dengan pita hijau bertindak menghampiri dengan perlahan-lahan, setelah datang cukup dekat, dia mengawasi, terus dia memperdengarkan suaranya .
"Oh, kiranya seekor binatang."
Ya Bie tidak puas.
"Apa katamu ?"
Tegurnya. Wanita itu bersenyum ewah. Dia menengadah langit. Dia bukannya menjawab, hanya dia kata seorang diri .
"Seekor binatang menyaru menjadi manusia, mana bisa dia mengelabui sepasang mata nonamu ! Dan kau, kau sama dengan aku, mengapa kau menyamar menjadi pria ?"
Tegurnya kemudian. Parasnya Ya Bie menjadi merah. Ia malu kena dikenali. Tapi ia menyangkal.
"Ngaco belo !"tegurnya.
"Kau mempunyai bukti apa ?"
Wanita itu tertawa sambil melirik.
"Mau bukti ?"
Katanya.
Mendadak tangannya disampoki ke arah So Hun Cian Li, anginnya keras sekali hingga kopiahnya si orang utan terbang jatuh.
Wanita dan tiga orang kawannya tertawa berkakakan.
Sebaliknya Ya Bie, ia menjadi jengah dan mendongkol !
So Hun Cian Li juga tidak puas.
Walaupun dia binatang, dia mempunyai perasaan.
Tak senang dia orang permainkan.
Matanya mencilak bengis dan tubuhnya berlompat secara tibatiba, kedua tangannya diluncurkan guna menyambar wanita itu yang dia arah rambut kepalanya.
Dia bergerak dengan gerakan "Bayangan Tonggeret Melewati Cabang Pohon", gerakannya sangat cepat.
Wanita berikat kepala hijau itu kaget sekali.
Tahu-tahu ia melihat satu sosok bayangan hitam berlompat kepadanya.
Segera ia berkelit.
Masih ia terlambat sedikit.
Ikat kepalanya itu terasambar jatuh, tepat seperti ia menjatuhkan kopiahnya si orang utan itu.
Lantas ia berdiri diam sambil menenteramkan hatinya.
So Hun Cian Li lompat mundur pula, akan berduduk kembali di bawah pohon.
Tanpa ikat kepala, kusutlah rambut si wanita, apa pula itu waktu ada angin bertiup hingga mukanya ketutupan.
Terpaksa ia menjeraput ujat kepalanya itu, untuk diambil pula.
Dengan sinar mata bengis, ia mengawasi si orang utan.
Si pria bermata gede dan berkepala harimau tutul menjadi panas hatinya.
"Tangkap mata-mata itu !"
Teriaknya, tangannya menuding It Hiong.
"Jahanam itu menyamar sebagai Gak Hong Kun ! Telah aku lihat tegas penyamarannya itu !"
It Hiong mendongkol yang ia dikatakan Hong Kun palsu dan dituduh mata-mata, tetapi ia pun merasa lucu, hingga ia bergusar bercampur geli dihati.
Ia menahan sabar, ia terus duduk bercokol saja sambil tetap membungkam.
"Hm !"
Si wanita pun memperdengarkan suara tawarnya.
"Lagak mereka bagaikan lagak setan ! Mereka telah menyelundup ke wilayah Hek Sek San ini, memang, tak mestinya mereka orang baik-baik !"
"Benar !"
Seru si kepala macan tutul.
"Tak mungkin mereka orang baik-baik !"
Sekonyong-konyong saja dia lompat mencelat pada It Hiong, tangannya diluncurkan guna dipakai menjambak dada orang ! Dengan mudah It Hiong berkelit ke sini.
"Jika kami mau bertempur, sebutkan dahulu nama kamu !"
Katanya sabar. Gagal cengkramannya, si macan tutul menyampok dengan tangannya yang lain. Dia tak menghiraukan kata-kata orang. Baru setelah menyampok itu, yang gagal pula, dia kata .
"Mustahil Gak Hong Kun tak tahu nama kami ? Kaulah si Gak Hong Kun palsu, maka juga kau bagaikan orang yang tanpa dikompas sudah mengaku sendirinya !"
Baru dia menutup kata-katanya, atau dia melengak sejenak seraya terus bertanya .
"Kau...... kau....."
Inilah sebab mendadak ia ingat keterangan muridnya Im Ciu It Mo tentang Gak Hong Kun tengah menyamar sebagai Tio It Hiong dan dia itu sudah menerbitkan pelbagai keonaran, hingga karenanya, Gak Hong Kun itu telah dipengaruhi Im Ciu It Mo, buat diperintah mengacau terlebih jauh.
Belakangan Im Ciu It Mo tahu Gak Hong Kun adalah Tio It Hiong palsu akan tetapi sudah terlanjur, dia membiarkannya saja, melainkan murid-muridnya dipesan untuk menyimpan rahasia.
Si kepala macan tutul itu takut nanti membeberkan rahasianya Im Ciu It Mo tentang It Hiong palsu itu, maka selanjutnya dia membungkam.
Si wanita kawannya si macan tutul itu berpikir lain.
Dia bahkan kata nyaring .
"Tak peduli dia siapa, bekuk saja ! Kita bicara belakangan !"
Dan dia menggantikan maju, untuk segera menyerang dengan dua-dua tangannya sebab dia menggunakan ilmu silat "Ngo Heng Ciang"
Pukulan tangan -Lima Benda Utama (itulah kelima elemen, logam, kayu, air, api dan tanah).
It Hiong mendongkol kapan ia merasai sambaran angin pedas dari wanita itu, maka ia menangkis dengan keras diteruskan dengan serangan membalas "Hang Liong Hok Houw Kun", guna memaksa orang mundur.
Wanita itu bandel, habis mundur, dia maju pula, bahkan dia berlaku telengas, selanjutnya dia saban-saban mengincar nadi orang !
Dia memiliki dua tangan yang lihai.
Heran It Hiong yang orang demikian lihai, umpama kata ia terkurung kedua tangannya lawan, terpaksa ia melayaninya dengan seksama.
Orang cepat, ia gesit, orang merangsak, ia mendesak.
Selewatnya dua puluh jurus, ia menjadi habis sabar.
"Apakah kau masih tidak mau berhenti menyerang ?"
Tanyanya.
"apakah artinya pertempuran kita ini ?"
Ia menolak, lalu mencelat mundur. Wanita itu tertawa dingin.
"Habis, kau mau bertempur dengan cara apa yang ada artinya ?"
Tanyanya. It Hiong menatap tajam.
"Kita tidak kenal satu pada lain."
Katanya.
"Kita juga tidak bermusuhan ! Kenapa kita mesti bertempur secara membabi buta begini ?"
Wanita itu melengak. Pertanyaan itu benar sekali. Tapi hanya sebentar, lantas dia memperdengarkan suara dinginnya .
"Hm ! Siapakah kau sebenarnya ? Kenapa kau datang ke Hek Sek San ini ? Mau apa kau ?"
It Hiong tertawa.
"Nona, apakah kau muridnya Im Ciu It Mo ?"
Ia tanya, sebaliknya daripada menjawab.
"Su-moay !"
Memanggil si pria berkepala macan tutul, yang matanya berputar.
"Su-moay"
Ialah panggilan "adik seperguruan". Si wanita menoleh dan melirik, terus dia tertawa.
"Jangan khawatir, Toasuko."
Sahutnya.
"Toasuko"
Ialah kakak perguruan yang paling tua. Ia lantas mengawasi It Hiong dan bertanya.
"Kau sebut dahulu namamu buat kami dengar !"
It Hiong menerka orang bangsa licik tetapi ia tidak takut.
"Aku Tio It Hiong !"
Sahutnya dengan sebenar-benarnya.
Bertepatan dengan suaranya si anak muda, di pihak sana terdengar suara tertahan, lalau tampak dua orang pria yang menjagai dua bungkusan besar pada roboh tak berdaya, dan kedua bungkusannya itu telah dirampas Ya Bie dan So Hun Cian Li yang membawanya lari ke luar rimba.
Si wanita dan pria kawannya kaget sekali, tanpa menghiraukan kawannya yang roboh itu, mereka berlompat ke luar rimba, untuk mengejar.
Si wanita pun meninggalkan It Hiong.
Terpaksa, anak muda kita lari menyusul.
Tiba di luar rimba, ia mendapati Ya Bie berdua lari mendaki gunung, mereka itu sudah terpisah sejauh seratus tombak lebih.
Walaupun membawa kantung besar, nona itu dan orang utannya dapat lari sangat cepat.
Si pria berkepala mirip kepala macan tutul berseru, dia mengejar dengan keras.
Sembari lari mengejar, si wanita berikat kepala hijau melepaskan panah api empat atau lima kali, anak panah mana meluncur ke udara hingga tampak seperti bunga api yang sinarnya Biru.
Melihat itu It Hiong menghela nafas, ia menghentikan larinya.
Ya Bie dan So Hun Cian Li di lain pihak lekas juga lenyap diantara semak rumput tebal di pinggang gunung.
Si wanita pengejar masih saja berulang-ulang melepaskan panah apinya, sebab rupanya itulah suatu pertanda untuk kaumnya.
Tiba-tiba It Hiong dua orang dari pihak lawan, yang tadi kena dirobohkan.
Ia pikir, mereka itu dapat diminta keterangannya, atau mereka boleh dijadikan petunjuk jalan.
Maka ia lari kembali ke dalam rimba.
Hari tanpa terasa mulai gelap, maka di dalam rimba, tujuannya sudah mulai suaram.
Syukur masih ada sisa sinar matahari, yang dapat menembus rimba.
Maka itu, kedua orang tadi tampak masih rebah tak berdaya, suaranya pun tidak terdengar.
It Hiong menghampiri dua orang itu, ia mengangkat saru demi satu untuk diperiksa.
Ia mendapati orang tak berdaya disebabkan totokan.
Lantas ia menotok, buat membikin orang tak dapat berkutik, sesudah mana ia menotok pula, membuatnya siuman.
Dua orang itu mendusin denan lantas mengeluarkan nafas dalam-dalam, matanya terus dibuka, akan tetapi lantaran tubuhnya tak dapat bergerak, mereka cuma bisa mengawasi si anak muda musuhnya itu........
"Kau mau apa ?"
Tanya mereka lewat sesaat. Sebab si anak muda cuma menatapnya. It Hiong menunjuki sikap garang.
"Jika kamu menyayangi jiwa kamu, kamu bicaralah !"
Katanya.
"Satu pertanyaan aku ajukan, satu pertanyaan kamu mesti jawab !"
"Bagaimana kalau lo-cu tak menjawab ?"
Tanya yang satu. Dia menyebut dirinya "lo-cu"
Artinya "aku si tua". Agaknya dia pun mau bersikap keras. Kali ini It Hiong tertawa. Ia pun mengubah sikapnya.
"Apa yang hendak ditanyakannya olehku yang muda,"
Sahutnya sabar.
"ialah soal yang sangat biasa saja dan juga sangat singkat !"
Kedua orang itu merapatkan matanya.
Agaknya tak sudi mereka bicara.
It Hiong menyambar lengan seseorang, tenaganya dikerahkan.
Segera orang itu bergemetar sekujur badannya, sebab dia merasakan nyeri sekali.
Wajahnya juga menunjuki dia mencoba mempertahankan diri.
Toh dia memperdengarkan satu kali suara "Hm !"
It Hiong perkendor cekalannya. Ia memberi ketika akan orang itu bernafas lega.
"Saudara, kau mau bicara atau tidak ?"
Tanyanya, sabar. Orang itu kembali memejamkan matanya, dadanya dibesarkan, sedang dahinya mengucurkan peluhnya. It Hiong mengawasi. Ia mendongkol berbareng mengagumi keberanian orang.
"Aku yang rendah ingin tanyakan,"
Katanya pula, tetap sabar.
"jalan mana berdiamnya Im Ciu It Mo di dalam gunung ini. Aku minta saudara jangan terus bersikap berkepala batu sebab itu cuma kana membuatmu menderita saja !"
Orang itu tetap tidak mengambil mumat, dia tetap membungkam. Terpaksa, habis juga sabarnya anak muda kita.
"Kau terlalu, sahabat !"
Katanya, dan ia perkeras cekalannya.
Kali ini ia membuat tulang orang berbunyi meretak, hingga orang meringis dan peluh di dahinya turun tetes demi tetes.
Dengan paksakan diri, orang itu memperlihatkan tampang gusar, matanya pun mendelik.
Habis menggertak gigi, dia kata keras .
"Kau... kau..... mesti.... menjawab dahulu....aku !"
It Hiong menerka orang tak tahan menderita. Ia mengendorkan pula cekalannya.
"Apa yang kau hendak tanyakan ?"
Tanyanya.
"Sebutkanlah !"
Orang itu menatap beberapa detik.
"Kau jelaskan dahulu she dan namamu yang asli"
Katanya.
"Juga tentang dirimu ! Nanti baru aku pikir-pikir, dapat aku menjawab pertanyaanmu atau tidak........"
It Hiong melengak.
Itulah pertanyaan aneh.
Ia pun merasa mungkin barusan ia menerka keliru waktu ia menyangka orang menyerah disebabkan tak sanggup menahan siksaan.
Kiranya orang tetap bernyali besar dan beradat keras.
"Aku she Tio dan namaku It Hiong."
Demikian ia menjawab dengan suka mengalah. Tiba-tiba orang itu mengangkat kepalanya menengadah langit dan tertawa nyaring.
"Orang licik !"
Serunya.
"Orang licin !"
Sepasang alisnya It Hiong bangkit. Sejenak itu, dia mendongkol. Orang tida percaya padanya sedang ia sudah berlaku jujur.
"Belum pernah aku mendusta !"
Katanya sengit, saking gusar.
"Apabila dalam hal she namaku ! Tak pernah aku memalsukan diri ! Jika kau tetap main gila terhadapku, jangan nanti kau menyesal !"
Orang itu berhenti tertawa, tetapi kedua matanya itu tetap dipentang lebar-lebar.
"Orang dengan nama Tio It Hiong !"
Katanya keras.
"Orang itu telah aku lihat sampai dua orang! Kaulah Tio It Hiong muridnya siapa ? Jangan kau menjawab sembarangan saja !"
It Hiong menganggap pertanyaan itu beralasan.
Ia tahu tentang adanya dua Tio It Hiong disebabkan penyamarannya Gak Hong Kun, yang sifatnya -diluar dugaannya-berubah, menjadi rendah, hingga namanya rusak karenanya.
Karena ini, ditanya orang itu, ia mengangguk.
"Bagus pertanyaanmu !"
Sahutnya.
"Tepat ! Akulah Tio It Hiong murid Pay In Nia ! Aku bukannya Tio It Hiong yang palsu !"
Orang itu mengawasi, terutama pedang di punggungnya si anak muda. Lalu katanya .
"Kalau benar kau Tio It Hiong dari Pay In Nia, tolong kau perlihatkan dahulu pedangmu yang kesohor itu, supaya itu menjadi bukti yang kuat ! Dapatkah ?"
Itu pula pertanyaan yang sangat beralasan, tetapi itu membuat sulit pada It Hiong.
Baru saja pedangnya kena orang curi.
Dapatkah ia membuka rahasia ?
Tidakkah itu sangat memalukan ?
Maka juga ia menggigil seluruh tubuhnya, saking menahan mendongkolnya, ia pun merasa hatinya nyeri bagaikan ditusuk-tusuk.
Tapi, tanpa memberi keterangan, orang ini tentunya sukar mempercayainya.
Maka itu ia berdiri diam dengan likat.
Orang itu mengawasi, hatinya menerka-nerka.
Sampai ia mau menyangka bahwa inilah Tio It Hiong palsu yang ketiga !
Karena ia tidak dapat menggerakkan tangan dan kakinya, ia cuma bisa beberapa kali memperdengarkan ejekan "Hm !
Hm !"
Dan tertawa dingin.
Tapi itu sudah cukup membuat si anak muda panas hati dan malu tak berdaya.........
It Hiong mencoba menguasai diri.
Akhirnya dapat ia mengambil keputusan buat tidak membuka rahasia tentang tercurinya pedangnya itu.
Maka ia kata .
"Percuma kau melihat Keng Hong Kiam ! Kau toh belum pernah melihatnya dan tak tahu palsu atau tulennya ! Bagaimana kau bisa mengenali dan membedakannya ?"
Pertanyaan ini membuat hati orang tergerak, hingga orang ini nampak reda kemendongkolannya. Dia pula tampak merasa heran juga. Dengan kurang tegas, dia kata kemudian.
"Selama di Lek Tiok Po, pernah aku menyaksikan sinarnya Keng Hong Kiam. Hanya entah bagaimana bentuk aslinya......"
Mendengar suara itu, It Hiong menanya .
"Kapan kau pernah pergi ke Lek Tiok Po ? Dimana pernah kau melihat sinarnya Keng Hong Kiam ?"
Orang itu berdiam, tetapi terang ia tengah berpikir keras, memikirkan pertanyaan anak muda kita. Lewat sesaat, dia menjawab pertanyaan .
"Dahulu hari itu, akulah bawahannya Loyacu Pek Kiu Jie, oleh karena aku kemaruk sama harta dan kedudukan lebih baik, aku terpincuk memasuki rombongan Hek Sek San, hingga sekarang aku masuk dalam kalangan kaum sesat, hingga aku mesti melakukan segala sesuatu yang bertentangan dengan rasa peri-keadilan ! Ya, semuanya yang aku lakukan, semua itu tidak serasi dengan tugas orang Kang Ouw sejati........"
Berkata begitu, orang itu menjadi lesu. Terang dia telah menyesal. Kemudian dia menghela nafas dan melanjuti berkata tanpa diminta pula. Katanya .
"Selama di Hek Sek San, yang pertama kali aku melihat Tio It Hiong ialah ketika dia dibawa datang oleh Im Ciu It Mo waktu ia pulang. Bersama dia ada seorang nona she Cio. Sifatnya muda mudi itu bagaikan terpengaruh sesuatu yang menganggu atau mengekang ingatannya, hingga mereka tak tampak wajar lagi. Ketika itu aku belum tahu siapa si pemuda, hanya menerka Tio It Hiong dari Pay In Nia. Belakangan aku ingat bahwa Tio It Hiong ialah calon menantu dari Lek Tiok Po, yaitu tunangannya nona Pek Giok Peng. Maka aku heran, kenapa dia ada bersama nona Cio itu. Aku pula heran Tio It Hiong yang kesohor gagah, yang sejak peristiwa di Siong San namanya telah naik tinggi, kenapa dia kena dipengaruhi Im Ci It Mo ? Demikianlah aku bercuriga dan menduga-duga...."
It Hiong mendengari orang yang mengoceh bagaikan tengah mengigau atau ngelamun itu.
Tak ia memotong atau menanya.
Sementara itu, si puteri malam mulai menyinari rimba itu.
Dengan perantaraan sinar rembulan, tampak wajah orang itu mirip wajahnya orang gagah.
Hanya entahlah hatinya, dia tengah memikirkan apa.
Lewat sesaat, orang itu menambahkan .
"Tak lama maka tahulah aku bahwa pemuda itu bukannya Tio It Hiong, hanya Gak Hong Kun dari Heng San Pay, yang menyaru menjadi Tio It Hiong ! Yang aneh ialah binatang itu memakai bahan apa maka dia dapat menyamar menjadi demikian sempurna !"
"Cukup !"
It Hiong akhirnya menyela.
"Tak usah kita bicarakan lebih jauh soal itu. Cukup asal kau memberitahukan aku dimana sarangnya Im Ciu It Mo."
Orang itu mengawasi, tampangnya sungguh-sungguh. Katanya.
"Sebelum kau membuktikan dirimu sebagai Tio It Hiong sejati, sekalipun kau menghendaki jiwaku, tidak nanti aku membuka mulutku."
It Hiong bingung. Kecuali Keng Hong Kiam, tidak ada jalan lain buat membuktikan dirinya. Ia menjadi gusar karena orang mengotot. Maka akhirnya ia kata bengis .
"Kau terang sudah lama berdiam di Lek Tiok Po, mustahil kau tidak mengenali aku ?"
"Tapi tak sukar buat orang mendatangi Lek Tiok Po !"
Kata orang itu, tetap bersikeras.
"Tak ada larangannya akan mendatangi dusun itu, bukan ? Sekarang mari aku tanya kau. tahukah kau aturan di Lek Tiok Po ? Tahukah kau namanya loteng Nona Pek Giok Peng ?"
It Hiong menatap. Ia mendongkol tetapi ia menahan sabar.
"Apakah pertanyaanmu cuma ini dua macam ?"
Ia menegaskan. Orang itu mengangguk.
"Kalau demikian, kau dengarlah biar jelas !"
Kata si anak muda, nyaring.
"Siapa hendak berkunjung ke Lek Tiok Po, ditempat satu lie di muka dusun itu orang sudah harus turun dari kudanya. Dan loteng tempat kediamannya Nona Pek Giok Peng ialah loteng Ciat Yan Lauw ! Nah, benar atau tidak jawabanku ini ?"
Orang itu mengangguk.
"Tak salah !"
Bilangnya.
"Namun...."
"Namun apa lagi ?"
Bentak It Hiong.
"Kedua pertanyaanku itu, Gak Hong Kun pun dapat menjawabnya."
Sahut orang itu.
It Hiong mendongkol dan bingung.
Orang sangat membelar.
Ia melihat si puteri malam yang dengan lekas sudah mulai miring.
Mungkin ketika itu sudah jam tiga.
Ia lalu memikirkan Ya Bie.
Entah nona itu telah pergi atau berada dimana.
Maka ia pikir, baik ia tak usah membuang-buang waktu lebih lama pula.
Ia pula tidak berniat membinasakan orang, yang ada satu laki-laki sejati.
Diakhirnya ia menghela nafas dan kata keras .
"Dengan memandang kepada poocu dari Lek Tiok Po, suka aku memberi ampun padamu ! Nah, kau pergilah !"
Pengusiran itu dibarengi dengan satu tepukan pada bahu orang yang membuat orang itu bebas bebas dari totokannya tadi, tetapi dia heran hingga dia berdiri menjublak.
Dia menarik nafas lega, bukannya dia kabur, dia justru melongo mengawasi si anak muda.
Tadinya dia menyangka bahwa dialah sisa mati....
It Hiong tidak mau melayani lebih lama, bahkan tanpa menoleh lagi, ia bertindak keluar dari rimba.
"Kakak Tio, tahan !"
Mendadak orang itu memanggil. It Hiong mendengar akan tetapi ia berlagak tuli, ia jalan terus tanpa berpaling. Orang itu menggerakkan kaki tangannya, juga tubuhnya, habis itu dia lari menyusul.
"Kakak Hiong ! Kakak Hiong !"
Panggilnya berulang-ulang.
"Kakak Hiong, tunggu ! Tunggu, aku mau bicara !"
Terpaksa, It Hiong menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Kau mau apa ?"
Ia tanya. Habis menyusul dengan berlari keras, nafas orang itu tersengal-sengal.
"Apakah benar kau Tio It Hiong, hiapsu yang selama hidupku aku kagumi ?"
Tanyanya terengah-engah. It Hiong masih mendongkol ketika ia menjawab .
"Terserah pada kau, kau percaya aku atau tidak ! Buat apa kau menanya melit-melit lagi ?"
"Aku percaya, ya, aku percaya...."
Kata orang itu kemudian. Di depan It Hiong nafasnya masih memburu keras, hingga tak dapat dia melanjuti kata-katanya. It Hiong mengawasi. Biar bagaimana ia mengherani sikap orang itu.
"Kenapa kau jadi begini tergesa-gea ?"
Tanyanya.
"Aku menganggap bahwa aku tak perlu bicara lagi denganmu ! Kau pun tak perlu bicara pula denganku !"
Orang itu berdiri tegak. Nafasnya mulai reda.
"Aku ingin bicara dengan sebenar-benarnya"
Katanya kemudian.
"Terhadap sesama orang rimba persilatan, aku ingin bicara secara jujur, supaya hati nuraniku tak kecewa....."
Sepasang alisnya It Hiong bangkit.
"Kau, kamu orang-orangnya Im Ciu It Mo, masihkah kau mempunyai hati nurani ?"
Tegasnya.
"Hati nurani, hati tulus dan putih bersih, itulah yang disebut liangsim."
"Tio tayhiap, aku masih mempunyai hati nuraniku !"
Teriak orang itu.
"Inilah sebabnya kenapa aku lari menyusulmu ! Hendak aku memberitahukan kau tentang sarangnya Im Ciu It Mo !"
It Hiong menghela nafas.
"Jadi kau tak kuatir bahwa akulah Tio It Hiong palsu ?"
Tanyanya. Orang itu nampak jengah, tetapi hanya sejenak, dia berwajah seperti biasa pula.
"Sekarang aku percaya kau, Tio tayhiap."
Sahutnya, suaranya tetap.
"Kau begini gagah dan jujur, kau tak mau memaksa orang, kalau kau bukan Tio It Hiong asli, habis siapa lagi ?"
Dia mengangkat tangannya, menyusuti peluh di dahinya. Terus dia menambahkan .
"Menghadapi orang semacam kau, taruh kata kau bukannya Tio It Hiong, aku pun ingin bicara terus terang...."
It Hiong menengadahi si puteri malam, ia bersikap tenang dan membiarkan orang mengoceh sendirinya.
Ia bagaikan tak mendengar suara orang.
Orang itu mendekati satu langkah.
Lalu katanya, perlahan sekali.
"Sarangnya Im Ciu It Mo berada disebuah gua batu diperutnya gunung Hek Sek San ini, letaknya di lembah Kian Gee Kiap Kok......"
Lembah itu berarti lembah sempit gigi anjing....... Mendengar keterangan itu, It Hiong memutar tubuh cepat sekali.
"Apa katamu ?"
Ia tanya. Orang itu, dengan sama perlahannya, mengulangi keterangannya. It Hiong girang.
"Untuk pergi ke sana, aku mesti mengambil jalan arah mana ?"
Tanyanya kemudian.
"Berapa jauhnya lembah itu dari sini ? Coba kau terangkan biar jelas !"
Orang itu menunjuk ke arah gunung, ke atasnya.
"Kalau tayhiap mendaki pinggang gunung itu,"sahutnya seraya memberikan keterangannya.
"terus tayhiap menuju ke barat. Setelah melewati beberapa punggung puncak...."
Mendadak dia berhenti, It Hiong pun memasang telinganya.
Lantas samar-samar ia mendengar suara berdebarannya ujung baju yang terasampok-sampok angin, suara itu tercampur suaranya dedaunan.
Suara itu pun segera didengar terang oleh orang itu tetapi dia ini terus melanjuti keterangannya .
"Di barat itu ada sebuah lembah yang dalam, yang berada dibawah jurang. Itulah lembah Kian Gee Kiap Kok itu. Disitu......."
Mendadak kata-kata orang terputus.
Mendadak saja It Hiong mencekal lengannya dan menariknya kaget, hingga orang terhuyung berpindah ke belakangnya.
Gerakan itu diikuti dua sambaran cahaya putih mengkilat, yang lenyap diantara rumput.
"Siapa ?"
Tanya si anak muda nyaring.
Tidak ada jawaban.
Sunyi disekitar mereka.
Cuma angin bertiup perlahan diantaranya pepohonan.
Hanya, didalam kesunyian itu, menyambar pula dua sinar putih lainnya, habis mana, suasana sunyi kembali.
It Hiong mendongkol, dia menolak keras dengan tangan kanannya, membuat sinar putih itu terasampok jatuh ke samping, mengenai batu hingga bersuara nyaring dua kali.
Kiranya itulah dua batang senjata rahasia sam-leng-piauw.
Menyusul itu muncullah seorang tua dengan baju panjang gerombongan, tangannya memegang tongkat bambu, matanya bersinar bengis.
Di belakang orang itu mengintil seorang lain ialah salah seorang yang tadi Ya Bie totok pingsan, jadi dialah kawan dari orang yang It Hiong lagi mintakan keterangannya.
Si orang tua segera menuding dengan tongkat bambunya itu.
"Kawanmu telah merampas dua kantong barangku, kemana kaburnya dia ?"
Tegurnya. Belum sempat It Hiong menjawab, atau orang di belakangnya si orang tua menuding orang di belakangnya anak muda kita, untuk menegur bengis .
"Pengkhianat ! Kemarilah kau !"
Dan dia segera menghunus goloknya. Orang di belakangnya It Hiong itu tidak takut, ia pun menghunus goloknya dan berlompat maju.
"Apakah kau sangka aku takut padamu ?"
Tantangnya.
It Hiong hendak mencegah, tetapi sudah terlambat.
Dua orang itu sama-sama menjadi orang-orangnya Im Ciu It Mo akan tetapi ketika itu bukan lagi sebagai kawan, bahkan mirip musuh besar.
Mereka saling menyerang dengan hebat.
Kebetulan sekali, kepandaian mereka berimbang hingga pertempuran menjadi seru sekali.
Si orang tua tak menghiraukan pertempuran itu, agaknya dia tak bersangkut paut sedikit juga.
Dia maju setindak pada It Hiong, dia kata tawar .
"Hm ! Barang lohu juga ada yang berani ganggu! Sungguh bernyali besar !"
Dengan jumawa dia menyebut "lo-hu", aku si orang tua.
It Hiong sebaliknya.
Dia sangat memperhatikan dua orang yang lagi mengadu jiwa itu hingga sikap dan kata-katanya si orang tua dia seprti tak melihat dan tak mendengarnya.
Ia memperhatikan orang yang tadi ia ajak bicara itu sebab ia menganggap orang sebagai seorang laki-laki sejati.
Orang toh berani omong terus terang dan bersedia merubah perbuatan sesatnya.
Karenanya, ia kuatir orang itu nanti mendapat luka andiakata dia kena dikalahkan kawannya yang galak itu.
Mereka itu bertempur hebat.
Si orang tua gusar sebab It Hiong tidak menghiraukannya.
"Kau dengar tidak kata-kata lohu ?"
Tegurnya keras.
Suaranya mendengung bagaikan genta besar hingga dapat membuat orang kaget dan ketuliat !
It Hiong menoleh acuh tak acuh.
Ia melirik si orang tua.
Tetapi ia membungkam.
Ia berpaling pula akan mengawasi dua orang yang lagi bertarung itu.
Habis sudah sabarnya si orang tua.
Janggutnya yang mirip janggut kambing gunung sampai bangkit berdiri, bergerakgerak diantara seliwerannya sang angin.
Dia tapinya tidak segera mengumbar hawa amarahnya terhadap si anak muda, dia cuma mengawasi, tampangnya bersangsi entah dia jeri atau berkasihan......
Tongkat di tangan si orang tua menggetar, sebab tangannya itu bergemetaran, mungkin disebabkan dia lagi mengekang diri.
It Hiong menonton dengan lama-lama nampak sinar matanya sinar tak puas.
Rupanya dia sebal menyaksikan pertempuran berlarut-larut, hebat tetapi tanpa keputusan.
Mendadak si orang tua menghadapi orang yang lagi berkelahi itu.
"Masih kamu tidak mau berhenti ?"
Tegurnya, keren.
Dua orang itu mendengar teriakan, tetapi mereka bertempur terus.
Itulah saat mati-hidup bagi mereka, tidak ada yang mau sudah saja hanya karena titah itu.
Sang waktu berjalan terus.
Si puteri malam sudah mulai doyong ke barat.
Mungkin ketika itu sudah mendekati jam lima.
Angin bertiup keras dan hawa sangat dingin.
Di kejauhan bahkan beberapa kali terdengar mengaumnya sang raja hutan !
Si orang tua terperanjat mendengar suara harimau, mukanya sampai menjadi pucat, hanya setelah itu, dia pun bersiul lama, suaranya keras, hingga terdengar kumandangnya.
Itulah pertanda bahwa dia memiliki ilmu tenaga dalam yang sempurna.
Selekasnya sirap siualannya itu, orang itu agaknya gusar.
ia mengibaskan tongkatnya, terus ia maju ke medan pertempuran.
Ia pun terus menyampok.
Maka beruntun terdengar dua kali suara berkontrang.
Segera goloknya dua orang kawan yang menjadi musuh satu dengan lain itu terlepas dari cekalannya, masing-masing dan terpental jauh.
Yang hebat ialah telapakan tangan kanan mereka, yang tadi memegang golok itu, pecah kulitnya dan mengeluarkan darah, nyerinya bukan main.
Keduanya lantas lompat mundur dan bersama-sama, saling mendelong, mereka mengawasi orang tua itu.
"Kamu semua bukannya makhluk baik-baik !"
Bentak si orang tua gusar.
"Hampir lohu kena ditipu kamu berdua !"
It Hiong menyaksikan lihainya si orang tua, diam-diam ia mengagumi di dalam hati.
Tapi ia berdiam terus, memasang mata sambil memasang telinga.
Dia heran mendengar dua orang itu dikatakan memperdayakan orang tua itu.
Bukankah mereka berdua orangnya Im Ciu It Mo ?
Entah dia ditipu dalam urusan apa ?
Bukankah dia maksudkan dua kantung besar yang dibawa kabur Ya Bie berdua ?
Kembali terdengar derum harimau.
Lagi-lagi si orang tua tampak kaget.
Justru dia kaget, justru dia terlihat makin gusar.
Kali ini kedua biji matanya mencorong bengis.
"Eh, apakah kamu berdua masih tidak mau bicara ?"
Demikian tegurnya, garang. Dia juga menuding dengan tongkat bambunya yang lihai itu.
"Apakah benar-benar kamu sudah bosan hidup lebih lama pula ?"
Kedua orang itu saling mengawasi, keduanya mendelong. Mereka tetap menutup mulut. Si orang tua terus menatap, sampai orang yang tadi datang bersamanya Bisa juga berbicara. Kata dia .
"Dengan sebenarnya barang itu tadi telah kena dirampas di dalam hutan dan yang merampas ialah konconya bocah ini !"
Dia menuding It Hiong. Orang tua itu gusar pula.
"Apakah katamu ?"
Tegurnya bengis. Dia gusar terusterusan.
"Konconya dia bukankah koncomu juga ? Hm ! Tipu daya licik Im Ciu It Mo telah dilakukan terhadap diriku si orang tua !"
Kiranya si orang tua menyangka It Hiong adalah Gak Hong Kun "muridnya"
Im Ciu It Mo.
Karenanya, terhadap It Hiong dia tidak lantas turun tangan, dia hanya melayani kedua orang itu, yang berseragam hitam, sampai dia mendengar keterangan si hitam yang mengiringinya tadi.
Karena ini dia menerka makin keras yang Im Ciu It Mo sudah menggunakan akal, menugaskan dua orangnya menipu padanya dengan melenyapkan dua bungkusan atau kantung besar itu.
Tegasnya dia menuduh barangnya dibawa kabur oleh dua orang itu.
Dua orang itu berdiri menjublak.
Tak dapat mereka membuat si orang tua mengerti akan duduknya hal, mereka tidak dipercaya.
Lewat sesaat maka si hitam bekas orang Lek Tiok Po, yang setelah bertemu It Hiong ini hendak merubah cara hidupnya, tidak berdiam saja.
Dia memberi hormat pada orang tua itu seraya berkata .
"Harap lotiang bersabar, nanti aku pergi mencarinya......"
Begitu dia berkata, begitu dia memutar tubuh, terus dia berlari pergi, hingga dilain detik, dia sudah lenyap ditempat gelap.
Melihat caranya orang berlalu itu, It Hiong menerka bahwa orang hendak menggunakan ketika itu buat mengangkat kaki.
Ia lantas mengherani si orang tua, apa pula dia mau mencari kedua kantung besar itu ?
Kenapa si orang tua sangat menghargakannya ?
Tiba-tiba si anak muda kita ingat Ya Bie dan orang utannya.
Mereka sudah pergi sekian lama dan belum kembali !
Kemana perginya mereka itu ?
Apakah mereka menemui sesuatu ?
Karena ini, ingin ia menyusul, mencari mereka.
Karenanya ia memberi hormat pada si orang tua, terus ia pun pergi !
Ia kabur turun gunung.
Orang tua itu menyaksikan orang pergi saling susul, berulang kali dia memperdengarkan ejekannya .
"Hm ! Hm !"
Kemudian dia menunjuk murkanya pada si hitam, yang masih berdiri menjublak.
"Masih kau tidak mau pergi ?"
Bentaknya.
Dan tongkatnya dikasih bekerja.
Orang itu memperdengarkan teriakan tertahan, tubuhnya terus roboh untuk tak berkutik pula.
Masih si orang tua mencaci kalang kabutan.
Rupanya dia tetap sangat mendongkol.
Entah sebab hilangnya kedua kantung itu, atau dia merasa terhina karena sudah diperdayakan Im Ciu It Mo........
Habis mencaci, orang tua itu mengangkat kepalanya, dongak melihat langit.
Aneh !
Dia tertawa dua kali, tawanya keras dan nyaring dan lama !
Tawa itu mengalun tinggi, bagaikan melayang-layang di tengah udara.......
Berhenti tawa itu, deruman harimau menyambungnya.
Seperti harimau itu menyambuti suara majikannya.
Dan benar saja, lekas tampak seekor raja hutan lari mendatangi.
Harimau itu besar sekali.
Itulah macan loreng.
Dia datang bersama angin yang berbau engas.
Tiba di depan si orang tua, dia berdiri sambil menggoyang-goyang ekornya !
"Kemana mereka itu telah pergi ?"
Tanya si orang tua kepada macan itu.
"Apakah kau telah berhasil mencarinya ?"
Aneh si raja hutan.
Dia mengerti kata-kata orang.
Dia mengangguk.
Lantas dia memutar tubuh, buat berlari pergi.
Justru itu tubuh si orang tua pun mencelat, lompat akan duduk bercokol diatas punggungnya, hingga dilain detik mereka berdua kabur bersama !
It Hiong kagum menyaksikan jinak dan lulutnya raja hutan itu.
Sekarang kita melihat dahulu Ya Bie bersama So Hun Cian Li, yang menyingkir dengan membawa dua buah bungkusan besar itu.
Mereka mendaki bukit.
Sebenarnya Ya Bie tidak tahu isinya karung.
Dia berbuat begitu sebab dia sebab terhadap si nona dengan ikat kepala hijau itu.
Jadi dia mau melampiaskan kemendongkolannya.
Satu keinginannya yang lain ialah ia berniat membekuk salah seorang dari mereka itu, guna memaksa orang menunjuki dia sarangnya Im Ciu It Mo.
Si nona dan pria berkepala besar mirip kepala macan tutul itu mengejar terus.
Mereka mendongkol sekali.
Orang lari keras, mereka lari makin keras.
Mereka ingin menyandak.
Mereka berlari-lari ke tengah atau pinggang puncak.
Di situ mereka menikung ke sebuah tikungan yang penuh dengan rumput dan batu-batu sependirian manusia, hingga mudah sekali akan bersembunyi disitu.
Disitu pula tak ada jalan tembusnya.
Ya Bie sudah lantas membalik tubuh, akan mengawasi orang-orang yang mengejarnya.
Ia melihat orang mendatangi semakin dekat.
Tidak ada jalan lolos lagi andiakata musuh menggeledah tempat itu.
Sekira orang terpisah sepuluh tombak lagi, mendadak ia menarik tubuhnya So Hun Cian Li buat disuruh mendak, sambil ia berseru menggunakan ilmu Hoan Kak Bie Cin.
Terus dua potong batu besar dilemparkan keluar tempat sembunyinya, hingga kedua batu itu tampak seperti kedua kantung besar tadi !
"Hm, budak bau !"
Berseru si nona dengan ikat kepala hijau, yang menyangka orang kabur dengan meninggalkan barang rampasan.
"Budak bau, kau masih tahu diri ! Tapi awas kau ! Sebentar, setelah menerima barangku, akan aku bereskan kau !"
Kata-kata itu diucapkan berbareng dengan orangnya berlompat kepada kedua batu yang merupakan dua kantung besar itu.
Ia tunduk, akan melihat.
Tak ia mendapatkan kantungnya.
Ia heran, hingga ia menerka mungkin itu ketutupan rumput....
Maka ia membowek rumput, hingga ular dan tikus pada kaget dan lari serabutan.
Tetap karung tak ada, kecuali batu-batu besar.
Si pria membantu mencari berputaran tanpa hasil.
Jilid 53 Diam-diam Ya Bie tertawa di dalam hati.
Dari tempatnya berdiam, ia menonton lagak orang.
Mereka itu bercapek, lelah dan heran dan bingung dan penasaran juga !
Ia dan orang utannya tak terlihat sebab mereka merupakan batu besar yang diam bercokol saja.
"Heran, su-moay !"
Kata si pria.
"Telah kita mencari di seluruh sini, mereka tak tampak, juga tidak kedua bungkusan besar itu ! Apakah tadi kau melihatnya dengan nyata ?"
"Tak salah, suheng !"
Sahut si wanita, si adik seperguruan (su-moay), sedangkan pria itu Toasuhengnya, kakak seperguruannya.
"Kau toh tahu gelaranku ! Jangan kata baru sejarak lima tombak, sekalipun lima puluh tombak, orang tak akan lolos dari mataku ! Tak percuma aku dijuluki Sin Gan Go Bie -Alis Lentik Bermata Malaikat !-"
Pria itu tertawa.
"Cuma malam ini Sin Gan Go Bie telah menjadi lamur !"
Katanya.
"Atau orang telah mempermainkannya !"
Wanita itu berdiam. Tiba-tiba saja ia ingat sesuatu. Lantas ia menghampiri si pria sampai dekat sekali, untuk berbisik ditelinganya .
"Tak mungkinkah aku terkena Yam-gan-hoat, ilmu sihir menutupi mata ?"
Pria itu memperlihatkan tampang heran.
"Mungkin....... mungkin.........."
Katanya ragu-ragu. Wanita itu berpikir pula, atau tiba-tiba "Ya ! Ya !"serunya.
"Ya apa ?"
Tanya si pria, terperanjat.
"Aku rasanya ingat barusan,"
Sahut si wanita.
"Kedua karung itu jatuh bagaikan bayangan, terus saja lenyap. Kalau wanita itu membuangnya, dia dan binatangnya itu tak nanti lolos dari mataku !"
Si pria tertawa.
"Kalau begitu, mereka pasti bersembunyi disini !"
Katanya.
"Habis dimanakah sembunyinya mereka ? Kita telah mencari tanpa hasil...... Apakah mereka sempat bersembunyi di dekatdekat sini ?"
Wanita itu berseru tertahan, matanya celigukan.
Tidak ada orang didekatnya, tampak hanya rumput tebal dan tinggi serta batu-batu besar dan kecil.
Di balik batu, di dalam semak rumput, mereka itu tak tampak !
"Celaka !
Sungguh celaka !"
Di pria mengoceh seorang diri saking panas hatinya.
"Habis, bagaimana dapat kita membekuknya ?"
Masih si wanita celingukan ke sekitarnya, tubuhnya turut berputaran.
Ia mementang lebar matanya, yang katanya pandai ilmu SIn Gan Go Bie !
Tengah mereka itu berdua berdiam, tiba-tiba mereka mendengar geraman harimau, disusul dengan siulan yang panjang.
"Suhu datang !"
Sru si pria.
"Suhu"
Ialah guru -bapak guru mereka. Si wanita berpikir keras.
"Suko, mari !"
Panggilnya.
"Suko"
Ialah "kakak seperguruan", mirip dengan Toa-suheng, kakak seperguruan yang paling tua.
Pria itu, yang kebetulan memisahkan diri dua-tiga tombak, bertindak menghampiri.
Setelah dia datang dekat, si nona membetot baju orang, untuk terus membisikinya.
Habis itu, keduanya memisahkan diri.
Nona itu mempunyai akal yang busuk sekali.
Kewalahan mencari Ya Bie tanpa hasil, sedangkan ia masih penasaran dan percaya orang masih bersembunyi di dekat-dekat situ, dia memikir menggunakan api, guna membakar hutan rumput itu.
Demikian, habis membisiki kawannya, mereka lantas melepas api.
Hingga dilain saat, rumput itu terus menyala dan apinya mulai berkobar.
Kebetulan bagi mereka, angin gunung pun tengah meniup keras.
Orang utan paling takut pada api, apa pula ketika api mulai menghampiri padanya.
Dari jauh-jauh, hawa api sudah hangat lalu panas, sedang asapnya mengepul berhembus-hembus.
Ya Bie pun mulai merasa panasnya api itu.
Tak dapat mereka bersembunyi lebih lama pula, apa pula So Hun Cian Li sudah mulai berPekik-Pekik.
Tidak ayal lagi, berbareng punahnya ilmu sihir mereka, si nona menarik lengannya si orang utan buat diajak berlompat ke tempat yang belum dimakan api.
Si wanita, yang selalu mementang mata, melihat berlompatnya dua sosok tubuh.
Dia girang sekali.
Itu berarti akalnya sudah memberi hasil.
Lantas dialompat memapaki bahkan dia terus menyerang !
"Perempuan berkepala pria, apakah kau masih memikir buat lolos lagi ?"
Dia menegur bengis.
Agaknya dia puas sekali.
Serangannya pun hebat, sebab dia menggunakan dua-dua tangannya sambil terus diulangi setelah yang pertama gagal, begitupun yang kedua !
Ya Bie berlompat sambil berkelit, ia rada lambat, walaupun tubuhnya tak kena terhajar tetapi mukanya terasampok anginnya hingga ia merasai kulit mukanya pedas.
Hal itu membuatnya gusar.
Belum lagi ia melihat tegas siapa si penyerang, ia sudah lantas meraba pinggangnya meloloskan sabuk ular hijaunya.
Si wanita penasaran, dia maju terus, dia menyerang pula, atau dia kaget waktu dia melihat senjatanya lawan bersinar mengkilat dan berkutik-kutik.
Lekas-lekas dia menahan diri seraya terus berkelit.
Dia lompat mundur tiga tindak, lantas dia mengawasi.
So Hun Cian Li masih tetap mengenakan baju dan celananya, pakaiannya seorang tua, hanya sekarang ini, ikat kepalanya sudah lolos, hingga terlihat tegas muka binatangnya.
Ia telah dihadang si pria yang berkepala besar seperti kepala macan tutul itu dan pria itu menyerang keras sebab dia tak memandang mata pada seekor binatang.
Si orang utan tidak mau memberi hati.
Dia tidak menangkis atau berkelit, bahkan dia menyambuti tinju penyerang dengan satu sambaran, guna menangkap tangan orang, sedang tangan yang sebelah lagi, menjambak dada lawan itu !
Sebenarnya pria itu berkepandaian tidak rendah, kalau toh dia kena terjambret itu, itulah disebabkan dia sembrono, tadinya dia memandang tak mata pada si orang utan atau mawas.
Dia kaget hingga dia mundur terhuyung.
Justru itu, dia pun mesti menoleh ke arah kawannya yang lagi berkelahi dengan si kacung -Ya Bie, yang menyamar menjadi pria itu.
Dia mendapati adik seperguruannya itu lagi berdiri diam mengawasi lawannya, hingga dia menjadi heran.
Biasanya sumoay yang jumawa itu tak mudah memberi ampun kepada lawan, maka aneh akan menyaksikan ia tak bertindak terus.....
"Mungkinkah ia gagal ?"
Pikirnya.
Karenanya ia lantas memandang Ya Bie.
Ia mendapati nona dalam penyamaran itu lagi berdiri sambil bersenyum, tangannya memegang seekor ular hijau yang kecil, yang tubuhnya bergerak melingkarlingkar dan tubuhnya itu berkilauan.
Ular itu mempunyai mata yang tajam dan lidah merah seperti darah dan lidahnya lagi diulur memain !
Semua kejadian barusan terjadi dalam sekejap.
Ialah habis si wanita menyulut rumput, dan Ya Bie berdua lompat keluar dan mereka segera diserang.
Menyusul itu, api berkobar-kobar dan dengan cepat merembet kesana kemari, hingga cahayanya menjadi terang, hingga berempat mereka terlihat nyata.
Selagi api mulai mendekati mereka itu, terlihat diantara rumput suatu sinar hijau berkilau, menyusul itu tak sedikit bayangan hitam yang bergerak-gerak mengikuti angin, angin mana pun menyiarkan bau baCin.
Si wanita dapat menguasai dirinya.
Dia menghadapi Ya Bie dan kata dingin .
"Mana dia dua kantung kami yang kau bawa lari tadi ? Dimana kau sembunyikannya ? Jika kau masih menyayangi jiwa, lekas kau keluarkan dan bayar pulang kepada kami !"
"Lekas bicara !"
Si pria nimbrung, tak kurang galaknya.
"Dimana barang kami itu ?"
Parasnya Ya Bie menunjuki dia likat. Dia pun merasa, merampas milik orang bukanlah perbuatan benar. Tapi ia tak puas yang orang berlaku kasar sekali. Lalu ia pun ingat dimana barang ditinggalkannya.
"Itu di sana !"
Sahutnya sambil ia menunjuk. Si pria dan wanita menoleh ke arah ditunjuk itu. Mereka melihat sinar hijau samar-samar serta sesuatu yang berbayang hitam bergerak-gerak.
"Celaka !"
Mendadak si wanita menjerit tajam.
"Celaka !"
Si pria pun menjerit sama.
Bahkan dia ini terus menghela nafas.
Keduanya melongo mengawasi sinar hijau samar-samar itu serta bayangan hitam yang seperti berlompatan dan dari situ pun bertiup bau yang busuk, yang dapat membuat orang mual hendak tumpah-tumpah.
Ya Bie heran.
Tak tahu ia barang apa itu.
Ia hanya menerka bahwa kedua orang itu pastilah orang-orang kaum sesat.
Justru itu si pria berpaling, untuk terus membentak .
"Budak bau, kau merusakkan dua kantung kami ! Bagaimana kami harus bertanggung jawab terhadap guru kami ?"
Ya Bie tertawa, mulutnya dicibirkan.
"Kau aneh !"
Sahutnya.
"Kamu sendiri yang melepas api dan membakar barangmu itu ! Kenapa kamu menyalahkan aku ?"
Si wanita sebaliknya, gusar sekali. Matanya mendelik.
"Awas kau !"
Teriaknya.
"Kalau tetap kau bicara seenaknya saja, nanti nonamu membunuhmu !"
Terus dia melirik kepada si pria, guna mengasi isyarat, setelah mana keduanya bergerak, mengambil sikap mengepung si nona.
Karena mereka cuma berdua, mereka berdiri di kiri dan kanan orang.
Tiba-tiba terasa deburan angin keras.
Belum lagi kedua orang itu menyerang si nona, atau seekor harimau loreng dan besar sekali sudah tiba didekat mereka, sejarak tiga tombak.
Dari atas punggung binatang liar itu lantas lompat turun si orang tua dan dia terus bertindak ke arah api.
"Suhu !"
Si wanita dan pria berseru dengan berbareng.
Orang tua itu mengawasi api, hidungnya dipakai menciumcium.
Api hampir padam tetapi cahaya hijaunya masih tampak tipis-tipis.
Bayangan hitam tadi sudah lenyap.
Api pun, karena tiupan angin, menjurus ke arah lain.
Akhirnya orang tua itu menoleh kepada Ya Bie, untuk mengawasi tajam.
"Hm !"
Dia bersuara dingin.
"Apakah ini si bangsat yang merampas kantung kita ?"
Dia pun menuding.
"Benar dia !"
Menjawab si murid wanita. Si orang tua maju dua langkah kepada nona kita. Dia mengawasi dari atas ke bawah dan sebaliknya. Mendadak wajahnya kelihatan suaram, matanya pun bercahaya sangat bengis.
"Siapa kamu ?"
Mendadak dia bertanya keras dan keren. Ya Bie mengawasi tampang orang yag sangat bengis itu, diam-diam ia merasa rada jeri.
"Aku Ya Bie dan ini So Hun Cian Li."
Ia menjawab, suaranya sedikit bergetar.
"Siapakah guru kamu ?"
Si orang tua tanya pula, sama bengisnya.
"Bicaralah sejujurnya !"
Ya Bie mempunyai sifat aneh.
Ialah, ia paling senang kalau orang menanyakan perihal gurunya.
Demikian kali ini, pertanyaannya si orang tua membuat lenyap rasa jerinya.
Sebaliknya, ia menjadi girang sekali.
Hingga ia mendadak seperti sudah lupa akan urusan itu.
Ia menjadi girang sekali hingga ia lantas tertawa.
"Guruku ialah Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Jie !"
Sahutnya terus terang.
"Kip Hiat Hong Mo dari Cianglo ciang ! Apakah Lojinkee kenal guruku itu ?"
Sambil balik bertanya itu, ia membahasakan orang Lojinkee, artinya orang tua yang dihormati.
Air mukanya si orang tua berubah selekasnya dia mendengar nama Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Jie, hingga ia menatap tajam, menyusul mana, wajahnya tak lagi sesuaram dan sebengis tadi.
Dia lantas berwajah ramah tamah.
Perlahan sekali terdengar suaranya, bagaikan orang mendumel.....
Orang tua ini bukan lain daripada Gwa To Sin Mo, jago dari Houw Tauw Gay, jurang kepala harimau, dari gunung Tiam Cong San.
Sudah selama tiga puluh tahun dia memahamkan ilmu sesat kaum kiri, yaitu Co To Pang-bun, hingga di dalam ilmu sesat atau kepandaiannya itu, dia merupakan suatu golongan tersendiri.
Dia pandai menangkap segala macam binatang berkaki dua atau berkaki empat, teristimewa dalam hal menangkap ular.
Pria dan wanita itu menjadi murid-murid kesayangannya.
Atas anjurannya Im Ciu It Mo, dia hendak membuat jala hijau "Hoan Hiat Thian Lo -Jala Mencairkan Darah".
Maksud utamanya dibuat senjata rahasia itu ialah guna membasmi semua jago pelbagai partai persilatan yang tersohor.
Buat banyak tahun, Sin Mo sudah menangkap dan membinasakan banyak macam ular beracun yang dicampur menjadi satu dengan lain-lain macam benda beracun, hingga merupakan semacam pupur, yang ia taruh didalam dua kantung besar itu.
Racun itu mau diserahkan kepada Im Ciu It Mo di Hek Sek San.
Kedua muridnya itu yang diperintah mengantarkannya dengan diikuti dua orang muridnya Im Ciu It Mo sendiri.
Dia sendiri masih hendak mengurus sesuatu, maka dia pergi menunggang harimaunya.
Secara kebetulan, mereka berempat bertemu Ya Bie dan barangnya kena dirampas si nona, sedangkan kedua muridnya Im Ciu It Mo itu ditotok nona itu, hingga, kalau yang satu kena dibawa oleh It Hiong, yang lainnya ketolongan oleh Sin Mo sendiri.
Setelah memperoleh keterangan dari muridnya It Mo itu, Sin Mo lantas menyusul kedua muridnya.
Bertemu sama It Hiong, ia menyangka It Hiong adalah Hong Kun muridnya It Mo.
Karena ini, dia sampai mau menyangka It Mo hendak memperdayakannya.
Sekarang, menghadapi Ya Bie, baru dia ketahui duduknya kejadian.
Lantas dia menjadi serba salah.
Dia mengenal namanya Hong Mo dan jeri terhadapnya.
Dia pun segani ilmu Hoan Kek Bie Cin dari Hong Mo hingga tak berani dia sembarang turun tangan terhadap Ya Bie.
Demikian dia membawa sikap sabar.......
Melihat sisa sinar hijau serta baunya barang yang terbakar, Gwa To Sin Mo tahu yang dua karung racunnya sudah terbakar habis.
Dia pula melihat dua muridnya berdiam saja terhadap Ya Bie.
Mengertilah dia yang dua orang murid itu pasti tak dapat berbuat sesuatu terhadap muridnya Hong Mo itu.
Dia sebenarnya sangat nyeri dihati dan gusar sekali.
Bubuk racunnya, yang dikumpulkan dan dibuat begitu lama dengan susah payah, sekarang ludas didalam sekejap !
Menuruti hatinya, hendak dia membinasakan Ya Bie, tetapi dia segani Kip Hiat Hong Mo.......
Selama keadaan sunyi diantara mereka kedua belah pihak, mendadak kesitu datang seseorang lain, yang segera ternyata Tio It Hiong adanya.
Inilah sebab anak muda itu lagi menyusul dan mencari Ya Bie berdua.
"Kakak Hiong ! Kakak Hiong !"
Ya Bie berseru-seru dengan kegirangan selekasnya ia melihat pemuda itu, bahkan setibanya si anak muda, ia lompat menubruk hingga It Hiong mesti merangkulnya supaya orang tidak sampai terjatuh.
Nona itu berkelakuan mirip bocah cilik, saking polosnya, dia tak kenal malu atau likat.
It Hiong mengusap-usap rambut orang, ia memperlakukan dengan lemah lembut seperti juga nona itu adalah adiknya sendiri.
"Ada apakah ?"
Tanyanya kemudian, karena ia melihat sikap aneh dari Gwa To Sin Mo dan pria dan wanita muridnya si Bajingan dari Houw Tauw Gay. Perlahan-lahan, ia menolak tubuh si nona.
"Oh, kiranya kalian dari satu rombongan !"
Kemudian kata Sin Mo, sesudah dia mengawasi orang sekian lama. It Hiong tak puas menyaksikan lagak orang takabur.
"Kiranya kau juga rombongan Im Ciu It Mo ?"
Tanyanya tawar.
"Apa katamu ?"
Sin Mo tegaskan. Ya Bie yang bersender pada bahunya si anak muda, seenaknya saja, menalangi si anak muda itu menjawab. Katanya .
"Kakak Hiong ku ini menanya kau, kau satu gerombolan dengan Im Ciu It Mo atau tidak ?"
Gwa To Sin Mo gusar sekali, kedua matanya sampai bersinar mencorong.
"Kalau benar bagaimana ?"
Tanyanya, bengis.
"Kalau tidak benar, bagaimana ?"
It Hiong tertawa dan mendahului si nona menjawab.
"Aku dengan kau, lotiang, tidak bermusuhan."
Katanya sabar.
"Adalah dengan murid-muridmu ini kami terlibat selama satu malam...."
Sin Mo membentak sambil menuding Ya Bie .
"Kalau bukannya budak itu merampas barangku, aku si tua, tak akan aku memandang kau walaupun satu kali lirik saja !"
Si wanita dengan ikat kepala hijau campur bicara.
"Dia bukannya laki-laki !"
Dia memberitahukan gurunya.
"Dia seorang budak perempuan ! Suhu salah mata !"
Dan dia mencibir pada Ya Bie, agaknya dia memandang sangat rendah. Dia menambahkan .
"Wanita menyamar menjadi pria, mana dia dapat menjadi orang baik-baik !"
Mendengar kata-kata orang, Ya Bie baru sadar bahwa ia sedang menyamar. Ia tunduk melihat pakaiannya dan mukanya menjadi merah. Hanya sejenak, mendadak ia mengangkat kepalanya dan membentak .
"Jika kembali kau enteng mulut dan mengoceh tidak karuan, awas, di depan gurumu ini nanti aku mengajar adat padamu !"
"Tutup bacotmu !"
Sin Mo mewakili muridnya.
Hebat bentakan itu, telinga ketulian bagaikan mendengar guntur.
Dua-dua Ya Bie dan si wanita berikat kepala hijau berdiam.
Sejenak itu, mereka semua membungkam.
Sin Mo mengawasi ke satu arah, entah apa yang dia lagi pikirkan.
Diam-diam It Hiong berbisik pada Ya Bie .
"Baik kau kembalikan barang orang itu. Kalau kita berkata terus dengan mereka, urusan kita sendiri bisa gagal karenanya....."
Mulutnya si nona dimonyongkan.
"Dia sendiri yang telah menyalakan api membakarnya...."
Sahutnya. Mendengar demikian, It Hiong lantas berpaling kepada si orang tua.
"Lotiang,"
Sapanya.
"apabila sudah tidak ada pesan lain, aku memohon diri !"
Dan ia menarik tangannya Ya Bie, buat diajak bertindak pergi.
"Tahan dulu !"
Seru Gwa To Sin Mo, keren.
"Ada apa, lotiang ?"
Tanya It Hiong. Dia menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Silakan bicara !"
Si kepala macan dan wanita berikat kepala hijau bertindak maju, guna menghadang. Dengan satu gerakan tubuh pesat, Sin Mo maju mendekati. Lantas dia menuding si muda mudi dan kata keras .
"Kalian telah merusak bahan obatku ! Tak mudah buat kalian berlalu dari sini dengan masih hidup !"
"Nonamu tidak percaya kau !"
Bentak Ya Bie, menyela.
"Apakah kau sangka kau dapat menempur kakak Hiong ku ini ? Hm !"
Sin Mo melirik nona jumawa itu.
"Kalian harus mengerti, lohu adalah orang yang mengerti segala apa,"
Kata dia.
"Lohu dapat membedakan mana yang benar mana yang salah !"
Dia batuk-batuk. Terang dia menahan hawa amarahnya. Kata dia pula .
"Bukankah benar barangku itu kau yang bawa lari dan yang membakar ialah muridku ?"
Mendengar orang bicara dari hal yang pantas, reda kejumawaannya Ya Bie.
"Kau benar, lotiang !"
Sahutnya.
"Walaupun demikian,"
Kata pula si orang tua.
"Siapa merampas barangku maka kedua tangannya harus dikutungkan !"
Tiba-tiba saja dia berubah sikap pula dan suaranya pun tegas sekali.
Ya Bie panas hati, hendak dia menegur atau It Hiong mengutiknya.
Maka ia terus berdiam, melainkan sinar matanya serta wajahnya yang berubah menjadi suaram.
Sin Mo tertawa beberapa kali.
Lalu kembali dia menjadi sabar, suaranya menjadi ramah pula ketiak ia berkata .
"Suka aku memandang mukanya sahabat Touw si Kip Hiat Hong Mo ! Kali ini suka aku melanggar aturanku sendiri ! Aku memberi ampun kepada sepasang lenganmu !"
It Hiong mengerti bahwa orang tengah menindak turun dari tangga, ia lantas kata dengan tawar .
"Lotiang, selesai sudahkah kau bicara ? Aku yang muda hendak melanjuti perjalanan kami!"
"Eh, nanti dulu !"
Kata Sin Mo, cepat.
"Masih ada lagi !"
"Silahkan bicara !"
Kata It Hiong, terang dan jelas, bahkan agak lantang. Ia mulai sebal akan lagak orang. Sin Mo seperti tak menghiraukan itu. Dia justru tertawa.
"Beginilah tabiat anak muda, keras dan bandel !"
Katanya.
"Sama denganku semasa aku muda ! Sungguh itulah sifat yang harus disayangi !"
"Lotiang !"
Kata It Hiong tak sabaran.
"kalau ada bicara, bicaralah. Kami perlu sekali hendak pergi ke Kian Gee Kiap Kok dimana kami mempunyai urusan penting !"
"Baik, baik !"
Sahut si orang tua.
"Lohu justru mau pergi ke Kian Gee Kiap Kok itu ! Nah, mari kita pergi bersama !"
It Hiong heran hingga ia melengak.
"Kenapa lotiang mau pergi bersama kami ?"
Tanyanya. Gwa To Sin Mo tertawa.
"Bersama-sama kau, lohu hendak menemui Im Ciu It Mo !"
Sahutnya terus terang.
"Di depan dia itu hendak aku jelaskan dan buktikan bahwa kedua kantung obat itu telah dirusak oleh kalian ! Dengan begitu lohu hendak membuat bahwa lohu tidak merusak kepercayaanku disebabkan salah janji !"
It Hiong takut orang terlalu licik dan ia nanti kena diperdayakan. Tak sudi ia nanti kena perangkap. Maka ia memberi hormat dan kata .
"Aku yang muda masih hendak mencari seorang kawanku, dari itu silakan lotiang berjalan lebih dahulu ! Kita bertemu saja nanti di Kian Gee Kiap Kok ! Bagaimana ?"
Alisnya si orang tua bangkit berdiri. Dia tertawa bergelak.
"Lohu bukan orang dari golongan ternama kaum rimba persilatan yang lurus,"
Kata dia.
"walaupun demikian, dalam dunia Kang Ouw, lohu mempunyai juga namaku sebagai lakilaki ! Tak nanti lohu menurunkan tangan hina dina terhadap kalian kaum muda ! Apakah yang kau khawatirkan ?"
It Hiong jengah sebab rahasia hatinya dibeber orang tua itu. Tapi ia kata.
"Seorang bujang tuaku telah pergi entah kemana, dari itu tidak dapat aku meninggalkan dia pergi tanpa memperhatikannya......."
Masih si tua mengotot.
"Aku si tua bermaksud baik !"
Demikian katanya.
"Aku khawatir kamu tidak tahu dimana letaknya Kian Gee Kiap Kok ! Karenanya lohu suka menemani kalian jalan bersama-sama ! Janganlah kita menyia-nyiakan waktu. Tapi baiklah, akan lohu berdiam disini menantikanmu, pergi kau lekas mencari orangmu itu !"
Hatinya It Hiong tercekat juga, memang tak tahu dia dimana letaknya lembah Gigi Anjing itu. Di lain pihak, dia memikirkan So Hun Cian Li. Barusan itu si kera telah pergi mengeleos entah kemana....
"Kakak Hiong,"
Ya Bie berbisik.
"kau jeri pergi bersamanya ?"
"Bukan begitu,"
Sahut si anak muda.
"Mana So Hun Cian Li ?"
Ya Bie melihat kelilingnya.
Ia tidak melihat binatang piaraannya itu.
Lantas dia bersiul nyaring beberapa kali.
Tiba-tiba muncullah sesosok tubuh yang mulanya tampak sebagai sebuah batu besar.
Itulah si orang utan.
Gwa To Sin Mo heran.
Dia melihat seorang tua, tetapi setelah diawasi, itulah seekor orang utan yang mengenakan pakaian orang tua.
Diam-diam hatinya bercekat.
Heran seekor orang utan dapat merubah diri dengan ilmu Hoan Kak Bie Cin.
Selekasnya menengok si orang utan, It Hiong mengajak.
"Lotiang, mari kita berangkat !"
Sin Mo mengangguk.
Maka berangkatlah mereka dalam rupa satu rombongan.
Cahayanya matahari pagi masih lemah.
Lembah Kian Gee Kiap Kok itu berada di sebelah barat Hek Sek San, mukanya terapit dengan dua batu karang besar bagaikan dinding, renggangnya kecil sekali hingga cuma muat satu orang berlalu lintas disitu.
Jalanan itu, sudah sempit, juga berliku-liku dan tidak rata, sebentar mendaki, sebentar mudun ke bawah.
Jalannya sendiri tak rata dengan batu koral sebesar telur ayam.
Bisa-bisa orang kesandung atau terpeleset.
Jalan sulit itu cuma sepuluh tombak lebih, habis itu, tampak jalanan lebar setombak lebih dan tertumbuhkan banyak rumput.
Dinding kiri dan kanan tinggi dan lamping, licin, tanpa pepohonan.
Rumput pun tidak.
Kapan Gwa To Sin Mo, beramai tiba di mulut gua, hari sudah mulai tengah hari.
Diantara rombongan Sin Mo, cuma si pria dengan kepala macan tutul itu yang pernah datang ke guanya It Mo dan mengenalinya.
"Sudah sampai !"
Kata si kepala macan tutul itu, yang berjalan di muka.
Terus dia menghentikan tindakannya.
Dia mengangkat kepalanya, dongak melihat ke atas.
It Hiong semua dongak tetapi mereka tidak melihat mulut gua.
Semuanya heran.
"Bo Pa, mana dia mulutnya gua ?"
Tanya Sin Mo, sang guru. Bu Pa, si kepala macan tutul, menunjuk ke atas.
"Nanti, tecu memanggil !"
Katanya.
Bu Pa ini sebenarnya bergelar Tok Jiauw Bu Pa, si Macan Tutul Berkabut Berkuku Beracun dan si wanita bernama In Go gelar SIn Gan Go Bie, si Alis Lentik Bermata Sakti.
Merekalah muridnya Sin Mi.
Lantas Bu Pa mengulur sebelah tangannya, menekan sebuah ujung batu pada dinding gunung, hingga terdengar beberapa kali suara nyaring tingtong, menyusul mana terbukalah sebuah mulut gua yang kecil sekali, dari mana segera terdengar suara orang .
"Siapa ?"
"Bu Pa dari Houw Tauw Gay !"
Sahut Bu Pa.
"Tunggu sebentar !"
Kata pula suara di mulut lubang kecil itu, sedangkan pintunya tertutup pula, hingga kembali tak tampak bekas-bekasnya. Tak usah lama orang berdiri menanti.
"Silahkan masuk !"
Tiba-tiba terdengar suara mengundang.
Kali ini dinding bergerak dan bersuara, terus terbuka sebuah pintu rahasia, bergeraknya sangat perlahan, besarnya pintu lima kaki kira-kira, lebar dibawah, ciut diatas.
Di sebelah dalam tampak gelap, cuma terasa angin bertiup.
Pintu itu merupakan sebuah batu besar.
Bu Pa mengajak rombongannya bertindak masuk.
Tanpa bersuara, pintu rahasia itu lantas tertutup pula seperti sediakala.
Di belakang gua itu terdapat jalan pegunungan semacam gang atau terowongan, di kiri dan kanannya, diatasnya, juga terdapat batu, seperti dibawahnya, batu injakannya.
Rupanya itulah terowongan buatan manusia.
Di atas tampak cahaya suaram, yang membuat orang melihat jalanan dengan samarsamar.
Sembari jalan diam-diam It Hiong kata di dalam hati .
"Tanpa bersama Gwa To Sin Mo, tak nanti aku sanggup mencari sarangnya Im Ciu It Mo ini. Itulah lembah, atau lebih benar gua, yang sangat istimewa."
Berjalan tak lama, habis sudah terowongan itu dilewati, maka mereka lantas berada di sebuah tempat terbuka, sebuah lembah yang mirip mangkuk lebar, luasnya dua sampai tiga puluh bahu sekitarnya.
Di sekitar itu, semuanya dinding bukit yang lamping, batunya hitam-hitam.
Sinar matahari menembusi uap.
Dari suatu bagian dinding terdapat air mengalir keluar, berupa sebuah sumber atau kali kecil, merintangi lembah itu, nyeplos di sebuah liang diseberang, atau hadapannya.
Di atas kali kecil itu melintang sebuah jembatan kayu, yang buatannya indah, hingga indah juga pemandangan disitu.
Menyeberangi kali itu terdapat semacam taman bunga serta sebuah rumah batu dengan beberapa wuwungannya.
Tiba di muka rumah batu itu, selagi Bu Pa hendak memanggil orang, atau mereka lantas mendengar tawa terkekeh yang keluar dari dalam rumah dan kata-kata ini .
"Sahabat Sin Mo, kau telah datang ! Maaf, maaf, aku gagal menyambut siangsiang !"
Suara itu berhenti berbareng dengan terpentangnya daun pintu, maka diambang pintu itu lantas tampak Im Ciu It Mo, muncul dengan air muka berseri-seri, tangannya memegang tongkatnya.
"Wanita tua, kau sungkan sekali !"
Berkata Sin Mo, yang pun tertawa.
Dan ia bertindak memasuki rumah batu itu, diturut murid-muridnya serta It Hiong dan Ya Bie bertiga.
Rumah batu itu katai tetapi ruang dalamnya lebar sekali.
Rupanya itulah perut gunung yang digali dibuat menjadi ruang rumah.
Dengan ramah It Mo mengundang para tetamunya berduduk dan seorang kacung wanita yang kecil segera datang dengan air teh dengan cangkirnya yang lima hijau dan sebuah merah.
Habis suguhan teh itu, Im Ciu It Mo tertawa dan kata manis .
"Aku membuat Sin Mo bercapek lelah datang sendiri membawa baarng, pastilah barang-barang itu bukan sembarang bahan ! Sahabatku, aku si perempuan tua, lebih dahulu aku menghaturkan terima kasihku !"
It Mo telah menyuguhkan teh yang dicampuri racun, maksudnya supaya ia memperoleh bahan obat atau racun dengan gratis, sekalian ia hendak menguasai dirinya Sin Mo, seperti dia telah mengekang Hong Kun dan Kiauw In.
Sin Mo, sebaliknya menghela nafas.
"Sayang, bahan obat itu telah hilang ditengah jalan......."
Kata dia, lesu. It Mo heran, hingga air mukanya berubah. Inilah diluar sangkaan ia. Sendirinya ia tertawa dingin.
"Bagaimana, sahabat Sin,"
Ia lantas tanya.
"Adakah ini akal untuk memperdayakan bocah umur tiga tahun ?"
"Lohu tidak pernah bicara dusta, sahabatku !"
Kata Sin Mo, sungguh-sungguh. Dia jengah tetapi dia penasaran sebab dia tidak dipercaya.
"Dengan sebenarnya bahan obat itu hilang ditangannya ketiga orang itu !"
Dan dia menunjuk It Hiong bertiga Ya Bie dan So Hun Cian Li. Im Ciu It Mo mengawasi It Hiong. Dia tertawa lebar.
"Dialah muridku si perempuan tua !"
Katanya.
"Cara bagaimana dia membuat obatmu hilang ?"
Mendadak Sin Mo menjadi gusar.
"Dia ini muridmu ?"
Tanyanya gusar. It Mo mengangguk.
"Buat apa disebutkan pula,"
Sahutnya.
"Dia bernama Gak Hong Kun !"
Gwa To Sin Mo penasaran dan mendongkol.
"Barangku itu dirampas mereka !"
Katanya keras.
"Kalau mereka benar muridmu, perempuan tua, kau pun harus memberi keadilan padaku !"
"Memang barang itu dirampas mereka ini !"
In Go turut bicara seraya terus dia menuturkan duduknya kejadian.
Im Ciu It Mo putus asa berbareng murka sekali.
Musnahnya bahan obat itu membuat ia gagal membikin obat racunnya yang lihai --Hoa Hiat Thian-lo itu.
Dia gusar hingga tubuhnya menggigil.
Dengan tongkatnya, dia lantas menuding anak muda kita.
"Hong Kun, sudah gilakah kau ?"
Tegurnya, bengis.
It Hiong tahu yang orang telah keliru mengenali padanya.
Dia dikirakan Gak Hong Kun.
Dia berdiam saja ditegur keras itu.
Dia cuma mengawasi wanita tua itu.
Dengan berdiam saja itu, dia jadi sama dengan gerak geriknya Hong Kun yang telah dikasih makan obat Thay-siang Hoan Hun Tan.
It Mo tidak gusar yang "muridnya"
Itu berdiam saja.
Dia menyangka orang tolol karena pengaruh obatnya.
Maka dia kembali berpaling kepada Sin Mo.
Dia menghendaki mendapatkan obat yang baru.
Dia pula tak bergusar pula pada sahabat atau tamunya itu.
Sebaliknya, dia tertawa.
"Beginilah memang kelakuannya muridku, otaknya mirip orang tak beres,"
Kata dia.
"Dia telah membakar bahan obat itu, biarlah, kali ini suka aku memberi ampun padanya."
Sin Mo tertawa dingin.
"Tetapi, perempuan tua, bagaimana dengan janji kita ?"
Tanyanya.
"Janji itu berlaku atau tidak?"
It Mo berdiam sebentar, baru dia menjawab.
"Kenapa tak berlaku?"
Jawabnya, membaliki.
"Namun, sahabat Sin Mo, aku minta kau sukalah membawakan aku pula obatmu itu."
Gwa To Sin Mo menggeleng kepala.
"Perempuan tua, janganlah kau bicara secara mudah begini."
Katanya.
"Kalau lohu mesti mengumpul pula bahan obat itu, sekalipun dalam waktu satu tahun, aku masih belum tahu akan dapat mengumpulnya lengkap atau tidak....."
It Mo terkejut, parasnya pucat.
"Kalau begitu, mana itu keburu untuk tanggal harinya Bu Lim Cit Cun ?"
Katanya, bingung.
"Aku hendak membuat Hoa Hiat Thianlo justru guna menjagoi di dalam rapat persilatan besar itu !"
"Itulah karena terpaksa,"
Sahut Sin Mo wajar.
"Aku tak dapat berbuat apa-apa !"
Hatinya It Mo bercekat, terus wajahnya menjadi dingin.
"Sebenarnya itu ada hubungannya sangat besar denganmu !"
Katanya kemudian.
"Kau tahu air teh harum barusan ?"
Air teh yang disuguhkan itu, yang diminum Gwa To Sin Mo, telah dicampurkan racun.
Sin Mo dapat menerka dari lagu suara orang bahwa air teh itu mesti telah diracunkan, bahwa ia dan kedua muridnya sudah kena minum racun itu, tetapi dia sendiri adalah ahli racun, dia tak menghiraukan itu.
Maka itu, mendengar suara orang, yang seperti mengancam secara diam-diam itu, dia tenang-tenang saja.
Bahkan dia tertawa dan kata .
"Kiranya, perempuan tua, kau telah main gila dengan air tehmu itu ! Kiranya perut lohu sudah keracunan ! Ha ha ha ha !"
Im Ciu It Mo berlaku tawar. Kata dia dingin .
"Racun itu ada banyak macamnya dan di depan kau, sahabat Sin Mo, kalau aku menggunakan racun yang umum, aku bagaikan jual lagak di depan ahli ! Tapi racun di dalam air tehku ini racun lain macam ! Kau tahu, itulah racun serangga Toh-hoa-ciang asal dari tanah Biauw-kiang !"
Jago Hek Sek San berhenti sebentar, selagi tamunya belum mengatakan sesuatu, dengan tampang bangga, dia menambahkan .
"Racun Toh-hoa-ciang sangat jahat tetapi masih ada obat untuk memunahkannya, cuma itu harus dipunahkan oleh orang yang membuat racun itu sendiri, tidak oleh orang lain. Sahabat Sin Mo, aku tahu kaulah seorang ahli racun, karenanya tak usah aku si perempuan tua menjelaskan lagi !"
Kali ini Sin Mo kaget berbareng gusar sekali.
Dia berdiri menjublak bagaikan patung.
Sebab dia menyesal yang dia kurang berhati-hati hingga dia kalah licin dari sahabatnya yang licik ini.
Sedangkan kedua murid, Bu Pa dan In Go, mendengar suaranya It Mo, mereka menjadi takut tak terhingga, tubuh mereka menggigil !
Bukan main puasnya It Mo akan mengawasi ketiga orang itu, guru dan murid-muridnya.
Ia tertawa perlahan, tertawa dingin atau mengejek.
Kemudian ia berkata pula .
"Sin Mo, kita adalah orang-orang dari satu kalangan, sahabat-sahabat baik ! Percaya aku si perempuan tua, tidak nanti aku mencelakai kau, asal saja kau suka mendengar kataku ! Sekarang aku suka menjanjikan kau setiap kali kau melakukan sesuatu padaku, setiap kali aku memberikan kau sedikit obat pemunah racunku itu, nanti, sesudah kau menyelesaikan tiga rupa Pekerjaan maka kau akan mendapatkan obat yang terakhir yang membuatmu bebas dari racun dan menjadi sehat walafiat seperti sedia kala !"
Sin Mo seorang berpengalaman, apa yang dikatakan It Mo itu, tak sepatah kata yang dia jawab, sebaliknya dengan diamdiam, dia mencoba mengerahkan tenaga dalamnya.
Dia mau mencoba mengusir racun yang maha dahsyat itu.
Asal dia berhasil, dia akan bebas dan tak nanti kena orang kekang dan pengaruhkan.
Begitulah mulanya jago tua ini merasai seluruh jalan darahnya berjalan lurus, adalah apa yang dinamakan otot "Kie Keng Pat Meh,"
Yang rada tak wajar, agaknya lamban.
Tapi ini saja sudah cukup menginsafkan padanya bahwa racun musuh nyata sudah bekerja dan tak lagi berdiam disuatu anggota tubuhnya itu.
Ia jadi berpikir keras.
Tiba-tiba ia tertawa lebar dan kata .
"Lohu telah berusia lanjut, karenanya buat apa aku takuti segala racun serangga ? Lohu tidak membenci atau bersakit hati terhadapmu, aku tidak penasaran, hanya itu aku benci yang kau telah menurunkan tangan jahat kepada ini anak-anak muda !' Im Ciu It Mo tertawa.
"Sahabat Sin Mo !"
Katanya gembira.
"Nyata kau terlalu memandang ringan pada aku si perempuan tua ! Silahkan kau tengok warnanya teh itu, dari situ kau akan ketahui sendiri !"
Memang, diantara enam cawan teh itu, lima berwarna hijau dan yang satunya merah.
Di situ ada tiga cawan, yang air tehnya belum terminum.
Itu artinya, It Hiong bertiga tidak turut minum bersama, hingga mereka tak usah keracunan !
Mendengar keterangannya Im Ciu It Mo, In Go dan Bu Pa beranggapan yang telah minum racun adalah Gwa To Sin Mo, guru mereka sendiri, sebab itu adalah teh yang airnya merah.
Mereka kaget tetapi taklah kaget sebagai semula.
In Go licik, ia hendak mencari kepastian.
Ia tertawa dan kata pada Im Ciu It Mo .
"Terima kasih locianpwe Im Ciu, yang kau berkenan menaruh belas kasihan atas diriku......."
Im Ciu memperlihatkan tampang si tua agung-agungan. Dia mengeluarkan suara ejekan dari hidungnya dan kata .
"Kalian bangsa orang muda dan dari tingkat rendah, mana aku si orang memandang mata pada kalian ! Kalau aku berbuat busuk terhadap kalian, bukankah orang bakal mentertawakan aku ?"
Selagi orang berkata jumawa itu, In Go pun turut tertawa, hanya sembari tertawa diam-diam ia menggunakan kedua tangannya untuk mengulapkannya perlahan, tetapi berbareng dengan itu, segumpal jarumnya yang halus sekali, telah terluncurkan ke mukanya si wanita tua, sembari berbuat begitu, ia membarengi berkata .
"Segala kepandaian tidak berarti, pastilah locianpwe tidak menaruh di mata locianpwe !"
Hebat bokongan itu, Im Ciu It Mo bermata jeli dan cepat, tetapi hampir dia kena terhajar.
Satu kibasan tangan kanannya membuat jarum beracun itu terkebut runtuh jatuh ke tanah !
Akan tetapi In Go tidak berhenti dengan satu kali menyerang saja, dia menyerang saling susul, segumpal demi segumpal.
Bahkan bukan si nona, malah Bu Pa turut turun tangan bersama, hingga mereka menyerang bergantian beruntun-runtun tak hentinya.
Gwa To Sin Mo menyaksikan penyerangan kedua muridnya itu, yang membuat Im Ciu It Mo menjadi repot, ia puas berbareng mendapat pikiran.
Bukankah ia telah kena minum racun yang sangat jahat itu ?
Tidakkah hal itu membuatnya sangat bersakit hati ?
Maka juga, justru murid-muridnya menyerang, dia turut menyerang juga !
Secara tiba-tiba dia menggunakan pukulan kedua tangannya, Siang-wie-ciang !
Hebat serangannya Sin Mo ini, angin serangannya saja telah membuat jarum-jarum yang runtuh berbalik menyerang pula pada sasarannya tadi !
Dalam repotnya Im Ciu It Mo menggunakan dua-dua tongkat dan tangan kosongnya menangkis setiap serangan ketiga orang lawan itu, dan dia membuat jarum-jarum mundar mandir diantara pelbagai serangan mereka kedua belah pihak.
Dia pun memiliki serangan yang dahsyat.
Dalam tenaga dalam, Im Ciu It Mo menang jauh dari pada In Go dan Bu Pa, kalau toh dia menjadi repot, ialah mulanya dia memandang tak mata pada mereka berdua, siapa sebaliknya menyerang dengan semangat penuh, sebab mereka hendak membantu guru mereka.
Setiap serangan, jarum yang menyambar terdiri dari lima sampai enam batang, begitu pun jarumnya Bu Pa.
Biasanya jarum itu mengarah kerongkongan orang, siapa terkena, dia jangan harap selamat lagi.
Tapi Im Ciu It Mo sangat lihai, dia menggunakan Tauw-lo thung, tongkatnya yang lihai itu, secara lihai sekali.
Di samping itu, ada sampokan-sampokannya dengan tangan kirinya...........
Sampai di situ, Gwa To Sin Mo tidak menghiraukan pula derajatnya.
Dia turun tangan, membantui kedua muridnya yang lihai itu.
Dia mendesak hebat, saban-saban dia menyampok balik semua jarum beracun itu yang dikembalikan It Mo !
Dia bermaksud, kalau It Mo terkena jarum, hendak dia memaksa dia itu membuat perjanjian akan saling menukar kay-yoh, yaitu obat pemunah racun masing-masing.
Demikian berempat mereka bertempur, satu melawan tiga, atau tiga mengepung satu.
Dan dua-dua pihak, karena digunakannya jarum beracun, sama-sama memperhatikan jarum itu saja.
Pertempuran itu memberikan satu kesempatan baik bagi It Hiong.
Ia datang buat mencari Kiauw In.
Sejak mulai memasuki gua, ia selalu memasang mata, mengharap dapat melihat bakal istrinya itu.
Hanya, seperti telah diketahui, selama itu ia selalu berpura-pura tolol, hingga ia mirip dengan Gak Hong Kun, si It Hiong palsu yang dipengaruhkan obatnya It Mo.
Selama itu juga, diam-diam ia memperhatikan seluruh ruang dan formasinya.
Ia menerka-nerka dimana Kiauw In dikurung.
Mendengar It Mo halnya air teh dicampuri racun, di dalam hati, anak muda kita ini terkejut.
Syukur ia dan Ya Bie berdua tidak minum air teh itu.
Ia dapat bersabar sampai tiba saatnya pertempuran disebabkan In Go habis sabar.
Di saat In Go menyerang dengan jarum dan It Mo menangkis, mengertilah dia yang ketika baiknya pun telah tiba.
Begitulah selagi orang bertarung seru, diam-diam It Hiong menarik Ya Bie, buat menyelinap ke pojok dimana terdapat sebuah pintu batu.
So Hun Cian Li cerdik, dia segera bergerak mengikuti.
Dengan demikian, bertiga mereka memasuki pintu pojok itu dan menghilang di baliknya.
Empat orang yang lagi mengadu jiwa itu tidak sempat melihat mereka bertiga.
Pertempuran berjalan cepat tetapi saking serunya, sang waktu berlalu dengan tak kurang cepatnya.
Im Ciu It Mo menjadi repot sekali.
Dia nampak seperti kehabisan nafas.
Memangnya lukanya disebabkan melawan Pie Sie Siansu di Gwan Sek Sie belum sembuh seluruhnya.
Mungkin dia tak akan bertahan lebih lama lagi.
Di lain pihak, Gwa To Sin Mo ingin pertempuran disudahi dengan lekas.
Dia seperti lupa yang dia telah kena minum racun, dia berkelahi dengan keras sekali.
Dia mendesak terusterusan.
Karenanya, diluar tahunya, dia menyebabkan racunnya It Mo bekerja lebih cepat dari biasanya.
Dengan mengerahkan tenaga dalam terlalu keras, dia bagaikan menyebabkan tubuhnya lebih cepat lelah dan lemah.
Demikian sudah terjadi, selagi hatinya ingin lekas-lekas merebut kemenangan, selagi dia mendesak sekeras-kerasnya, tenaganya berkurang sendirinya, hingga sendirinya pula desakannya menjadi kendor.......
It Mo sendiri, kedudukannya tak menjadi lebih baik walaupun Sin Mo sudah letih itu.
Inilah karena ia sudah menjadi lelah terlebih dahulu.
Nafasnya menjadi tersengalsengal, gerak-gerik tongkatnya menjadi lamban.
Maka satu kali telah terjadi, satu kali dia lambat menangkis, sebatang jarum mampir dan nancap dibahunya.
Mendadak saja dia merasai nyeri yang sangat.
Dengan begitu, ia jadi mendapat luka diluar dan didalam.
Ia insaf yang ia menghadapi bencana, lantas ia mencoba mengerahkan tenaga dalamnya, guna mencegah racun jarum menjalar ke lain bagian dari tubuhnya.
Berbareng dengan itu, segera ia memperdengarkan suaranya yang nyaring dan tajam, guna memanggil murid-muridnya.
Ia merasa bahwa ia perlu memperoleh bantuan.
Sedangkan tadinya ia merasa sendiri saja ia akan sanggup bertahan.
Selekasnya It Mo berseru itu, selekasnya juga buyarlah tenaga dalamnya, maka itu racun pun bekerja, menyerang ke lain-lain bagian tubuhnya itu.
Sekarang tak dapat ia bertahan lama lagi, di dalam waktu satu detik, tubuhnya bergemetar dan menggigil, segera robohlah ia !
In Go tertawa melihat orang roboh itu.
"Nah, lihatlah sekarang !"
Katanya mengejek.
"Kau masih menaruh mata pada kami atau tidak?"
Justru itu, racun di dalam tubuhnya Sin Mo pun bekerja keras sekali, dia mulai tak dapat bertahan.
Syukur untuk dianya, ialah otaknya masih tetap jernih hingga dapat dia berpikir.
Selekasnya It Mo roboh, dia khawatir orang lantas mati.
Lantas dia mengeluarkan dua butir obat pulungnya.
"In Go, lekas jejalkan sebutir pil merah ke dalam mulutnya !"
Ia menitahkan muridnya yang wanita.
"Ini obatnya !"
Ketika ia menyerahkan obat itu, tangannya bergemetar. In Go menyambut obat itu tetapi ia sembari menanya .
"Suhu, buat apa membantu dia ? Nenek-nenek ini sangat jahat dan tidak kenal malu !"
"Supaya dia jangan segera mati,"
Sahutnya nafasnya mendesak.
"Supaya dia masih hidup dan suka mengeluarkan obat pemunah racunnya, guna mengobati aku. Racunnya dia itu sudah... be... bekerja....di.... di.... dalam..... tubuhku...."
Baru habis mengucap itu, Sin Mo roboh tak tertahan pula, malah terus dia mengeluh meringis-ringis sebab dia merasa sangat nyeri di dalam tubuhnya......
In Go tahu khasiat obat gurunya, yang sebenarnya terdiri dari tiga macam dan warnanya merah, hitam dan putih.
Obat merah guna bertahan sedikit waktu, agar racun tidak menjalar ke nadi.
Racun menyerang nadi berarti jiwa si kurban tak tertolong pula.
Obat hitam memperlambat menjalarnya racun.
Dan obat putih buat menyembuhkan seluruhnya.
Karena ini, segera ia menjejalkan obat merah ke mulutnya It Mo sebagaimana perintah gurunya, ia bantu obat itu dengan secawan air teh.
Bu Pa sudah lantas membantu gurunya, yang ia pondong dan dudukan di atas kursi.
Hanya, sebab guru itu lemah dan terus merintih, ia bingung sekali.
Ia tidak tahu caranya guna membantu.
In Go tidak memperhatikan gurunya, ia hanya menjagai It Mo.
Dengan demikian, ruang gua yang luas itu menjadi sunyi kecuali dengan rintihannya Sin Mo, yang makin lama menjadi makin lemah, mulutnya bagaikan sukar bernafas.
Lewat sesaat, tiba-tiba saja tampak dua sosok tubuh berlompat muncul, cepat bagaikan bayangan, keduanya lompat langsung ke arah Im Ciu It Mo.
"Sumoay, awas !"
Teriak Bu Pa yang awas matanya.
In Go segera menoleh, hingga ia melihat tibanya dua orang perempuan.
Tanpa mengatakan sesuatu, ia menyerang kepada mereka itu, guna mencegah mereka datang mendekati It Mo.
"Duk !"
Demikian satu suara nyaring, dan nona yang baru datang itu, yang maju paling muka, kena terhajar.
Sebab dia tidak sempat menangkis atau berkelit.
Di lain pihak, nona yang lainnya sudah lantas mendukung bangun pada It Mo, guna memeriksa lukanya.
Kiranya kedua nona itu adalah murid-muridnya Im Ciu It Mo, yang termasuk dalam Cit Biauw Yauw-ni, Tujuh Siluman Wanita.
Yang dua ini ialah Ek Sam Biauw dan Ek Su Biauw.
Ek Sam Biauw menyaksikan gurunya pingsan, lantas dia menoleh ke sekitarnya, hingga dia dapat melihat Sin Mo bertiga.
Dia pun segera mengenali mereka itu.
"Bagus !"
Serunya dingin.
"Kalian datang dengan alasan membawa bahan obat lantas kalian menggunakan kesempatan kalian menyerang secara menggelap kepada guru kami ini ! Hm ! Kalau guru kami ini tidak siuman lagi, awas, jangan harap kalian dapat keluar dari sini dengan masih hidup !"
In Go menjawab ancaman itu sambil tertawa.
"Budak, tak dapatkah kau mengurangkan kata-katamu yang tak sedap ini ?"
Tanyanya.
"Kau harus ketahui yang guru kamu itu roboh oleh jarumku !"
Ek Su Biauw gusar sekali, matanya melotot.
Lantas tangannya diayun, hingga melesatlah pisau belati yang disembunyikan di dalam tangan bajunya, sinarnya itu berkelebat menikam ke arah dada atau perutnya nona di hadapannya !
Dan dia menggunakan dua-dua tangannya, menyerang dengan dua pisau belati, disusul dengan tikaman yang ketiga !
Dengan lincah In Go berkelit, menyusul itu, ia mengayun tangan kirinya sambil ia tertawa dan kata nyaring .
"Kau juga boleh coba merasai jarumku yang beracun !"
Tetapi itu hanya itu gertakan belaka, sebab jarumnya tidak melesat !
In Go cerdas.
Ia tahu bagaimana harus bersiasat.
Ia membutuhkan obatnya Im Ciu It Mo guna membantu gurunya, maka itu ia harus menggunakan tipu daya.
Tak berfaedah akan berkutat dengan Su Biauw atau Sam Biauw......
Su Biauw tidak melihat datangnya jarum, maka dia maju pula.
"Su-moay, tahan !"
Sam Biauw mencegah. Saudara itu menunda majunya.
"Apa ?"
Tanyanya seraya menoleh kepada kakaknya. Belum lagi Sam Biauw menjawab, In Go yang cerdik sudah mendahului .
"Budak, kalau kau mau bertempur terus, kau tunggu dulu sampai siumannya gurumu ! Waktunya masih belum kasip..."
Ek Su Biauw mengawasi musuh itu, lalu dia kata .
"Jika kau tahu selatan, lekas kau keluarkan obat pemunahmu ! Dengan demikian, akan aku ampuni jiwamu !"
In Go balik mengawasi dengan mata melotot.
"Nona, aku tak segalak kau !"
Katanya, sabar.
"Mudah saja kau mengancam jiwa orang ! Kau tahu, gurumu telah diberi obat pemunahnya, segera dia bakal terasadar ! Buat apa kau galak tidak karuan ?"
Tengah dua orang itu mengadu lidah, tubuhnya It Mo tampak berkutik, terus saja dia mengeluarkan nafas panjang.
Ketika dia membuka matanya, penglihatannya masih lemah, masih kabur.
Dia pula sangat lesu.
In Go maju dua tindak.
"Locianpwe !"
Panggilnya.
"Locianpwe, tahukah kau siapa yang menolong menghidupkan pula padamu ?"
Baru siuman itu, otaknya It Mo masih butek. Karenan lemahnya, ia merapatkan pula matanya dan tidak menjawab.
"Mau apa kau membuat banyak berisik ?"
Su Biauw menegur bengis. Bu Pa memimpin bangun gurunya. Dia merasa tubuh sang guru panas sekali. Dia bingung sekali. Selekasnya dia melihat It Mo siuman, dia teriaki saudara seperguruannya .
"Su-moay, masih kau tidak mau minta obat ?"
Mendengar suara orang, Sam Biauw dan Su Biauw segera sadar. Su Biauw cerdik. Dia pikir pihaknya yang lebih unggul. Maka ia berbisik pada kakak .
"Sam-cie, guru kita sudah sadar, kita jangan berikan obat pada musuh ! Kita lihat, apa budak itu bisa bikin terhadap kita !"
Su Biauw lain daripada adik seperguruannya itu. Dia teliti dan dapat berfikir. Lekas dia mengasah otaknya, terus dia berkata .
"Soal pergaulan dalam dunia Kang Ouw tak semudah pikiranmu, anak tolol !"
Sam Biauw heran, dia mengawasi kakak itu.
Tapi karena dia tahu sang kakak cerdas, dia terus berdiam.
Im Ciu It Mo menjadi terlebih sadar, sambil dibantu Sam Biauw, dia mencoba bangun berdiri, untuk terus duduk dikursi.
In Go mengawasi orang, lantas dia berkata nyaring .
"Locianpwe sudah mendusin ! Nah, mari kita bicarakan urusan perdagangan kita !' It Mo berpengalaman puluhan tahun, begitu mendengar suara orang, dapat ia mengerti maksudnya itu. Orang mengajaknya menukar kayyoh, obat pemunah racun. Hanya ia cerdik, ia tidak lantas menjawab. Diam-diam ia mencoba mengerahkan tenaga dalamnya. Jalan darah dibahunya mandek, bahkan terasakan sedikit nyeri. Itu artinya racun lawan belum bersih dari tubuhnya. Lebih tegas lagi, ia belum bebas dari kekangan lawan. Jadi, tak dapat ia bersikeras. Maka ia menarik nafas dalam.
"Sam Biauw, muridku,"
Kemudian ia kata pada muridnya, sedang matanya dipentang lebar.
"pergi lekas kau mengambil kayyoh !"
Sam Biauw berbangkit.
"Baik, suhu"
Katanya.
Terus dia keluar dari rumah batu itu.
Ia kembali dengan cepat, tanganya membawa sebuah peles kecil.
Lantas dia menyerahkan itu pada gurunya.
It Mo menyambuti, terus ia menggapai terhadap In Go.
"Mari !"
Katanya.
"Ini obatnya !"
In Go menghampiri, ia menyambuti peles obat itu.
"Terima kasih, locianpwe,"
Katanya hormat.
Toh sembari berkata itu, ia mengawasi tajam pula pada It Mo sambil ia tertawa dingin.
It Mo keras kepala, dia mendongkol sekali !
Toh dia harus bersabar.
Seumurnya belum pernah dia menerima penghinaan semacam itu, hingga dia gusar salah, tertawa tak bisa.
Maka dia lantas katanya .
"Obat itu campurkan arak, lantas kasih minum pada gurumu !"
In Go mengawasi peles obat itu.
"Mana araknya ?"
Tanyanya kemudian. Ek Su Biauw menunjuk ke pojok dimana ada sebuah almari.
"Itulah arak beracun,"
Katanya.
"Maukah kau menyaksikan kami meminumnya ?"
In Go tidak menghiraukan kata-kata orang.
Ia tahu bahwa ia tengah diejek.
Ia segera pergi mengambil arak itu, terus ia mengaduki obatnya, yang pun terus ia kasih gurunya minum, sesudah mana, ia menantikan sang waktu seraya ia mengawasi gurunya itu.
"Hm ! Hm !"
It Mo tertawa dingin.
"Budak, kau terlalu sembrono !"
Dia pula memperlihatkan wajah suaram. In Go mendengar suara itu, ia menoleh dengan sabar dan mengawasi dengan tenang. Kemudian ia kata tertawa .
"Locianpwe, mengapa locianpwe memandang jiwa locianpwe ringan sekali ? Laginya, bukankah diantara kita tidak ada permusuhan besar ? Kenapa kita mesti mengadu jiwa hingga dua-duanya terluka parah atau terbinasa bersama ?"
Tajam kata-kata itu. Mendengar demikian, wajahnya Im Ciu It Mo menjadi merah padam. Ia insaf, nona di depannya itu cerdas dan berpikiran panjang, dia tak mudah kena diakali.
"Bukankah aku si perempuan tua telah memberikan kayyoh kepada gurumu ?"
Katanya kemudian.
"Apakah kau belum mau memberikan kayyoh padaku ?"
In Go bersenyum, terus dia tertawa manis.
"Locianpwe, kau dan kami memiliki kepandaian yang sama !"
Sahutnya sabar.
"Kita baru sama-sama memberikan obat separuh ! Bagaimana kalau kita bicara pula sebentar setelah guruku siuman ?"
Dua orang itu saling mengawasi, hati mereka sama-sama bekerja.
It Mo berdiam.
Ia kewalahan terhadap nona cerdik itu.
Tak lama maka Gwa To Sin Mo terlihat bergerak terus dia menghela nafas lega.
Selekasnya dia sadar, terdengar suaranya dalam .
"Teh !..... air teh !"
Menyusul itu, jago ini membuka matanya dan terus ia berduduk tegak. Bu Pa lantas lari ke meja, guna mengambil air teh. Di antara enam cawan, ia mengambil yang merah.
"Suheng !"
In Go berseru melihat perbuatan tergesa-gesa kakak seperguruan itu.
Bu Pa melengak.
Segera ia insyaf.
Lekas-lekas ia menukar cawan itu dengan air teh yang hijau.
Ia lantas memberikan gurunya minum.
Cepat sekali, Gwa To Sin Mo sadar seluruhnya.
Lantas ia mementang mata mengawasi sekitarnya, terutama terhadap pihak lawan.
Sambil mengawasi Im Ciu It Mo, ia tertawa dan kat .
"Eh, perempuan tua, aku kagum sekali atas kepandaianmu !"
It Mo jengah sekali.
"Sudahlah !"
Katanya, memaksakan diri tertawa.
"Mari kita saling menukar kayyoh, supaya kita tak usah mengobrol tak karuan, jadi membuang-buang waktu saja !"
Ia terus menoleh kepada Sam Biauw, akan melirik, memberi isyarat buat muridnya mengambil obat.
Kedua pihak sama cerdiknya, masing-masing cuma memberikan obat sebagian, baru setelah itu, menukar obat selengkapnya.
Sam Biauw memberikan In Go arak dengan warna merah yang kental, dan In Go menyerahkan sebutir pil hitam.
Habis makan obat, kedua bajingan berduduk diam masingmasing, akan mengerahkan tenaga dalam mereka, guna mencari tahu kesehatan mereka sudah pulih seluruhnya atau belum.
Sementara itu, meskipun sudah sembuh, terasa darah mereka belum terasalurkan sempurna.
Tanpa perhatian seksama, hal itu tak akan terasakan.
Im Ciu It Mo jauh terlebih jumawa dari pada Gwa To Sin Mo.
Walaupun ia merasa yang sisa racun belum terusir semua, ia sudah beraksi pula.
Inilah sebab ia percaya habis akan ketangguhan tenaga dalamnya yang sempurna sekali.
Ia pula telah membuat banyak kayyoh, hingga ia menjadi tak berkhawatir sama sekali.
Sekarang ia mau mempuaskan kemendongkolannya.
Ia mau mendapat pulang muka terangnya.
Habis mengerahkan tenaga dalam itu, lantas ia tertawa terkekeh-kekeh !
"Sahabat Sin Mo !"
Demikian, ia kata jumawa.
"Sahabat, jiwamu tinggal satu tahun lagi ! Di dalam waktu satu tahun, jika kau tidak mendapat obat dari aku si nenek-nenek, tubuhmu akan berubah hancur menjadi darah semuanya ! Ha ha ha !"
Sin Mo berlagak tidak mengerti, hingga tampak dia ketololtololan.
"Eh, eh,"
Sahutnya kemudian.
"apakah obat yang kau berikan padaku bukan obat seluruhnya ? Jadinya kau menipu aku si tua ?"
It Mo sangat puas, dia tertawa pula sangat girangnya.
"Di mulut kau memuji aku si perempuan tua !"
Katanya.
"Kau pandai pura-pura ! Baik, aku terangkan padamu, obatku barusan obat yang asli, bukannya aku menipu kau ! Hanya obat itu bekerjanya sangat perlahan, obat yang cuma memperpanjang waktu saja ! Satu tahun selewatnya hari ni, racunku masih harus bekerja pula, maka itu, tua bangka, hendak aku melihat kepandaianmu !"
Sin Mo menjadi sangat mendongkol. Orang benar-benar sangat licik. Tapi dapat ia mengekang dirinya. Hanya, sengaja ia memperlihatkan wajah gusar. Kata dia nyaring .
"Di dalam dunia Kang Ouw, orang sebenarnya harus paling menghargai kehormatan diri ! Maka itu, kalau kau benar tidak memberikan obat yang membersihkan diriku seluruhnya, lohu hendak mengadu jiwa denganmu !"
It Mo mengawasi, ia tertawa dan tertawa pula. Ia merasa puas sekali sudah mempermainkan musuh itu. Habis tertawa, ia berhenti dengan memperlihatkan sikap sungguh-sungguh. Kata ia dingin .
"Kalau kau menghendaki tubuhmu bersih seluruhnya dari racunku, kau mesti berjanji di dalam waktu satu tahun kau mesti mendengar segala kata-kataku ! Kau mesti bersedia diperintah olehku ! Kau mengerti ?"
Mendengar itu, tampang gusar sekali dari Sin Mo bertukar menjadi wajah dingin menghina.
"Kiranya demikian kehendakmu !"
Katanya.
"Hanya baiklah kau ketahui, peristiwa kita hari ini adalah apa yang dibilang si buaya darat bertemu si penipu."
It Mo heran menyaksikan tampangnya Sin Mo, yang berganti air muka tak hentinya itu.
Lenyaplah rasa puasnya tadi.
Sekarang ia merasa bahwa ia benar-benar menemui lawan yang tangguh.
Habis berpikir, ia berpura tertawa dan kata .
"Sahabat, jangan menggertak aku buat mendapati obatku ! Memangnya kau masih belum puas ?"
Gwa To Sin Mo memperlihatkan tampang sungguhsungguh. Ia pun kata .
"Im Ciu It Mo, jangan kau puas terlebih dahulu ! Kau juga hidup senangmu tinggal setengah tahun lagi ! Bukankah kita masing-masing masih meninggalkan separuh dari obat kehidupan kita ? Obat yang terakhir ? Aku bakal hidup lebih lama setengah tahun dari pada kau, maka aku masih mempunyai kesempatan menyaksikan bagaimana kau nanti merasai penderitaan siksaan racunku ! Ha ha ha !"
Di dalam hati It Mo kaget.
Ia memang tahu, tubuhnya belum bersih seluruhnya dari racun lawan itu.
Ia gusar, menggertak gigi.
Tapi, apa ia bisa bikin ?
Lawan menggunakan siasat, dengan gigi membayar gigi.
Tak dapat ia mengumbar hawa amarahnya !
Bahkan ia menyesal yang ia kalah cerdik, hingga ia kalah unggul !
Bahkan sejenak itu, tak dapat ia menjawab orang.
Ek Su Biauw bertabiat keras.
Mendengar gurunya kena terpedayakan, dia bangkit berdiri, sambil menuding Gwa To Sin Mo, dia kata bengis .
"Kau juga jangan bergirang dahulu ! Jika kau tidak menyerahkan kayyoh, apakah kau sangka kau dapat keluar dari tempat kami ini ?"
"Budak tidak tahu adat !"
In Go menegur, gusar.
"Jika kau bicara, jangan kau bermuka tebal ! Apakah kau mau berkelahi ?"
Lantas dia berlompat maju, tangan kanannya yang menggenggam jarumnya diluncurkan, sedang tangan kirinya menolak pingang, hingga dia tampak keren sekali.
Tepat itu waktu ada datang seorang yang dandanannya sama seperti Sam Biauw dan Su Biauw.
Dia pula seorang nona muda.
Tanpa menoleh kepada siapa juga, dia lari langsung kepada Im Ciu It Mo.
Setibanya, dia membungkuk memberi hormatnya, untuk seterusnya berbisik di telinga si bajingan nenek.
Setelah itu, tanpa menanti perintah atau pesan, dia lari kembali.
Dapat diterka bahwa dia membawa berita dari suatu kejadian penting sekali.
Im Ciu It Mo nampak terkejut akan tetapi dia sengaja bersikap tenang saja.
Di sisi dia sebaliknya Sam Biauw dan Su Biauw nampak bingung sendirinya !
Wajah mereka nyata tak tenang lagi !
Gwa To Sin Mo dan murid-muridnya menonton lagak oang, lalu Sin Mo kata dengan suaranya dalam .
"Eh, perempuan tua, bukankah kita asalnya sahabat kekal satu dengan lain ? Maka itu, mari kita bicara secara terus terang ! Bagaimana dengan kayyoh kita yang terakhir ini, kau mau tukar atau tidak ?"
Im Ciu It Mo seperti juga tidak mendengar kata-kata orang.
Seterimanya laporan dari nona tadi, pikirannya menjadi kacau sekali.
Saking kuatnya hatinya, dia masih dapat bersikap tenang.
Toh dia berdiam saja.
Sebenarnya dia lagi berpikir keras bagaimana harus mengambil tindakan.......
In Go tidak sabaran.
Melihat pihak sana berdiam saja, dia kata dengan suara keras pada gurunya.
"Suhu, orang tidak memperdulikan kita ! Buat apa suhu menanya dia lebih jauh ? Di dalam keadaan kedua belah pihak bakal rusak bersama, belum tentu suhu yang bakal menampak kerugian lebih hebat ! Suhu, kau lihai sekali, kaulah ahli racun, mustahil dalam waktu satu tahun kau tidak sanggup mengobati dan menyembuhkan dirimu sendiri. Aku tak percaya ! Suhu, mari kita pergi !"
Berkata begitu, nona ini membuat main matanya, melirik sana melirik sini, untuk kemudian dia membuka tindakan kakinya, akan melangkah ke arah pintu.
Ek Su Biauw terkejut.
Dia menyangka benar-benar orang hendak mengangkat kaki sebelum orang menyerahkan kayyoh.
Dengan satu gerakan tubuh yang ringan, ia berlompat maju untuk menghadang In Go.
"Kalian mau pergi, ya ?"
Tanyanya, mengejek.
"Tak mudah, sahabat !"
Kata-kata itu diiringi dengan satu sambaran tangan Tauwlo-ciang, ilmu silat istimewa dari Im Ciu It Mo.
Itulah justru yang membuat It Mo mengangkat namanya !
In Go tidak takut.
Ia memang sudah siap sedia.
Bahkan semenjak tadi, tangannya sudah mengenggam jarum beracunnya.
Begitulah atas tibanya serangan mendadak itu, ia tidak berkelit atau menangkis, ia justru menyambuti tangan lawan dengan tangannya yang berjarum itu !
"Aduh !"
Su Biauw menjerit seraya dia lompat mundur.
Karena ketika tangannya bentrok dengan tangannya In Go, ia merasakan sesuatu yang menusuk yang mendatangkan rasa sangat nyeri.
Ketika ia sudah berdiri tetap dan membawa tangannya ke depan mukanya, ia mendapati beberapa titik merah dan ditengah-tengah titik-titik itu ada titik hitam yang halus sekali !
Titik merah-hitam itu seperti menjalar ke arah nadinya !
Baca Juga: Pedang Abadi 1
Baca Juga: Pendekar Setia 3