Ceritasilat Novel Online

Iblis Sungai Telaga 12

Eps 12 Iblis Sungai Telaga - Khu Lung

Baca online Iblis Sungai Telaga - Khu Lung

Cersil Iblis Sungai Telaga - Khu Lung.

Adalah dua orang pendeta yang tak turut bertempur yang lantas lari menghampiri pendeta dari Siong San itu, untuk mengawasinya dengan mata mendelik.

Mereka memberi hormat tetapi keduanya menanya dengan suara dalam.

"Suheng, kalau suheng tidak punya urusan apa-apa, silahkan istirahat di dalam pendopo samping sana ! Buat apa suhen berseru ?"

"Su heng"

Ialah kakak seperguruan. Bu Kie sedang mengawasi medan pertempuran, waktu ia melihat dua pendeta muda itu dan mendengar suara orang yang dalam itu.

"Hm !"

Ia memperdengarkan suara dingin.

"Sute berdua, apakah kalian kenal atau mengenali sepasang muda mudi yang sedang dikepung itu ?"

"Sute"

Ialah adik seperguruan. Salah seorang pendeta bukannya menjawab hanya menanya keras.

"Suheng pernah apakah dengan mereka itu ?"

Itulah kata-kata yang nadanya mengejek. Hampir Bu Kie mendamprat pendeta itu, baiknya ia ingat bahwa mereka adalah dari satu perguruan dan ia sendiri berkedudukan lebih tinggi.

"Hm !"

Ia mengasih dengar pula suara dinginnya, sebab saking hebatnya ia menguasai hatinya yang panas itu, sedang wajahnya terlihat merah padam.

"Kedua muda mudi itu bukan sanak atau kadang dari kakakmu ini tetapi mereka adalah kedua penolong dan pembela dari kuil kami !"

Kedua pendeta itu heran sampai mereka mengawasi dengan mendelong.

"Apakah pria itu adalah Tio It Hiong yang melabrak dan mengusir kawanan bajingan penyerbu Siauw Lim Sie ?"

Mereka tegaskan. Bu Kie membaliki dengan suara dalamnya.

"Sute, apakah kau tidak kenal tuan penolong kami itu ?"

Belum lagi si pendeta menjawab, atau dari medan pertempuran terdengar suara bentakan dan berisikanya beradunya senjata.

Kiranya pihak Lohan Tiu telah memperkeras serangannya.

Itulah yang dinamakan perubahan tingkat dua dan namanya ialah "Bun Had Tiauw Thian,"

Berlaksa Buddha Menghadap Ke Langit kepada Tuhan".

Pendeta yang menjadi pimpinan Barisan sudah lantas lompat kepada Hong Kun dan Kiauw In buat mulai dengan seranganya dahsyat.

Karena desakan itu, muda mudi itu melawan dengan sama kerasnya.

Dengan perubahan itu, para pengurung lantas berubah menjadi dua rombongan dan pengurungan atau penyerangan menjadi bergantian.

Yang kiri dan yang kanan bergantian maju, serangannya hebat sekali.

Itulah yang menyebabkan suara berisik itu.

Bu Kie terperanjat menyaksikan perubahan itu.

Dan melihat nyata bagaimana muda mudi itu didesak hebat.

Sampai disitu terlihat bedanya diantara Hong Kun dan Kiauw In.

Si anak muda ternyata kalah latihan, dia kalah ulet.

Kerja sama mereka jadi tak teratur dan berat sebelah.

Di pihak Lohan Tiu, orang tetap bersemangat dan ulet.

Kegagahan para pendeta itu tak berkurang bahkan lebih mantap.

Bu Kie menjadi mandi peluh tanpa merasa.

Dia mesti menyaksikan suasana hebat itu.

Di dalam keadaan seperti itu, lebih-lebih tidak sempat dia meneliti Hong Kun.

Dia hanya menyangkan bahwa It Hiongsudah mulai letih, ia tidak memikir kenapa tuan penolong dari Siauw Lim Sie itu menjadi demikian lemah, bahwa ilmu silatnya beda dari ilmu silatnya Kiauw In.

Mereka berdua toh suci dan sute, kakak beradik seperguruan.

Kenapa bukannya mereka menang atau dapat merobohkan keluar dari tiu tetapi justru terus terkurung.

Di saat itu tampak Hong Kun dikepung empat buah golok, yang menyerangnya dari atas dan bawah, dari kiri dan kanan.

Dari berkelit sambl menangkis jurus "Dengan Delapan Tangan Membunuh Naga"

Sebuah jurus istimewa dari Heng San Pay.

Dengan berkelit itu, dapat dia mundur tiga tindak.

Tapi dia tak luput seluruhnya.

Ada golok yang menggores celananya, serta mengenai betisnya hingga kulitnya berdarah.

"Tahan !"

Berteriak Bu Kie sambil dia berlompat maju, niatnya membantu orang yang dia sangka It Hiong itu, tetapi bukannya dia maju, dia justru tertarik balik sebab mendadak ada tangan yang kuat yang membetotnya dari belakangnya.

Hingga dia menjadi heran dan lekas-lekas menoleh.

Sehingga dia melihat Pie Te Taysu dihadapannya.

"Susiok !"

Panggilnya sambil dia lekas-lekas memberi hormat. Di saat itu mukanya masih merah sebab gusar dan mendongkol. Pie Te Taysu mrengulapkan tangan terus ia tertawa.

"Sutit, selesailah tugasmu !"

Katanya.

"Pergilah kau pulang !"

Bu Kie sang kemenakan murid melengak.

"Susiok,"

Katanya pada paman guru itu.

"orang didalam itu ialah........"

Belum habis ia berkata tubuhnya Bu Kie sudah terpental keundakan tangga Toa tian.

Tapinya dia tak jatuh, dapat dia berdiri tegak.

Lantas dia mendengar suara yang disalurkan dengan ilmu Toan Im Jip Bit .

"Dua orang ini sudah menyerbu kuil, dia telah membinasakan dan melukai beberapa anggauta kita, maka itu mereka berdua hendak ditawan untuk diperiksa. Sutit, baik jangan campur tangan hanya lekas-lekas kau pulang membawa laporan."

Bu Kie bingung, ia bersangsi.

Tetapi ia mempunyai tugas, ia pun mesti percaya paman gurunya itu.

Maka itu dengan hati tak karuan rasa lantas ia melakukan perjalanan pulang.

Hong Kun sementara itu letih sekali, kecuali luka dibetisnya itu, ia terluka parah sebab ia masih dapat memaksa bergerak dengan cepat dan cepat.

Kiauw In tidak terluka, tapi sia-sia saja percobaannya akan menerobos keluar.

Beberapa kali ia mencoba selalu gagal hingga ia kembali terdesak ke dalam tiu dan terkurung.

"Kedua sicu !"

Terdengar Pie Te Taysu berkata nyaring.

"jika kalian sudi meletakkan senjata kalian dan manda ditangkap, pinceng akan memberi ampun kepada kalian !"

Suara itu mendapat jawaban tidak diperhatikan sama sekali.

Sekalipun telah diulang dan diulangi beberapa kali.

Muda-mudi itu berkelahi terus.

Mereka tampak seperti tak mendengar apa-apa.

Pie Te Taysu telah melihat keadaan orang, ia menduga muda mudi itu menjadi korban racun maka ia merasa kasihan terhadap mereka dan tak ingin segera membinasakannya.

Tidaklah demikian dengan para pendeta yang bersakit hati dan membenci hingga memikir menuntu balas bagi sekalian saudara mereka.

Demikianlah, habis seruan Pie Te berseruseru itu, pemimpin tiu berseru nyaring goloknya diangkat naik digeraki sebagai aba-bab, maka lagi sekali tiu bergerak secara luar biasa gesit dan bengis.

Bayangan orang dan sinar golok bergerak makin cepat.

Di dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba dari pojok kiri pendopo terlihatnya berkelebat satu bayangan terus tampak munculnya seorang seebie, kacung pendeta.

Dia lari menghampiri Pie Te Taysu untuk memberi hormat dan berkata.

"Di houw tian terdapat musuh, maka itu Ciang bun Su sun menitahkan Susiok pergi menghadangnya !"

Ciang bun Su Cun ialah ketua kuil dan houw tian pendopo belakang. Di pendopo belakang itu terdapat banyak kamat, satu diantaranya menjadi "Ceng sit"

Kamar istirahat dari Sie Siansu, ketua dari Gwan Sek Sie. Kamar dipisahkan sendiri dengan sebuah taman. Pie Te Taysu kaget sekali.

"Baiklah !"

Bilangnya sambil memberi isyarat.

Selagi kacung ini mengundurkan diri, Pie Te sudah berlompat ke gang yang menuju ke belakang.

Semua pendeta di kiri dan kanan heran melihat Pie Te Taysu berlalu secara demikian tergesa-gesa, tetapi karena aturan kuil keras sekali, tanpa ijin atau perintah, mereka tidak berani meninggalkan tempat.

Jilid 47 Mendadak ada terdengar sesuatu suara diatas penglari Toa-tain disusul dengan terlihatnya beberapa titik hitam menyambar ke arah Lohan Tiu.

Berbareng juga mendengung siulan keras dan nyaring, seperti tangisan iblis, sangat menusuk telinga dan menembusi hati hingga tubuh orang menggigil karenanya.

Bukan itu saja, titik-titik hitam itu telah membentur beberapa buah golok hingga goloknya tiga orang pendeta terlepas dari cekalannya dan terpental jatuh, habis mana titik-titik hitam itu lantas terbang pergi.

Karena itulah beberapa ekor kampret.

Heran bahwa kampret dapat membuat golok terpental, maka itu pada itu pastilah ada sebabnya dan sebab itu bukan lain bahwa kampret itu telah ditimpukkan oleh seseorang yang tenaga dalamnya mahir sekali.

Seterbangnya beberapa ekor kampret itu, lagi ada titik-titik hitam seperti tadi yang menyambar kedalam tiu.

Kembali ada tiga buah golok yang jatuh ke lantai sedang si pendetanya berkaok kesakitan dan tangannya yang kiri memegang lengannya yang kanan yang memegang golok itu !

Kembali tiga ekor kampret terbang pergi.

Kejadian itu hebat bekerjanya, Lohan Tiu menjadi kacau seketika, apa pula ketika terdengar pula siulan nyaring dan menyeramkan, mendengar mana sebaliknya, Hong Kun dan Kiauw In seperti mendapat semangat lantas keduanya menyerang dengan hebat hingga dilain saat mereka berhasil menerobos kurungan, tak perduli lowongannya tiu itu sudah lantas ditambal oleh kawan-kawannya yang diluar kalangan.

Pemimpin Lohan Tiu yang merasa heran segera memperdengarkan suaranya.

"Orang pandai dari mana telah datang kemari ? Kenapa kau menyembunyikan kepala menonjolkan ekor ? Kenapa kau menyerang secara menggelap ? Bagaimana andiakata kau memperlihatkan dirimu ?"

Pertanyaan itu tidak mendapat jawaban, hanya setelah diulangi dengan terlebih keras, barulah terdengar jawabannya yang berupa tawa dingin berulang-ulang. Kemudian barulah terdengar kata-katanya.

"Muridku, jangan libatkan diri dengan ini rombongan keledia gundul ! Lekas kalian menyerbu ke dalam kamar pertapaan, gurumu hendak menempur si keledia tua Pie Sie !"

Hong Kun dan Kiauw In melengak, tetapi segera mereka menjawab, lantas mereka berlompat pergi menuju ke belakang, memasuki gang untuk ke Houw tian.

Kawanan pendeta hendak menghadang, sayang mereka terlambat.

Itulah karyanya Im Ciu It Mo yang mula-mulanya terus main menyembunyikan diri karena sifatnya ialah menggunakan tenaga kedua murid istimewa itu, guna mengacau pendeta-pendeta dari Gwan Sek Sie.

Dengan begitu dia juga main perang urat syaraf.

Sebab aneh Kiauw In dan "Tio It Hiong"

Menyerbu kuil Gwan Sek Sie yang menjadi cabang dari Siauw Lim Sie.

Dia girang melihat kedua murid itu bisa mengacau dengan baik, sampai ia mendapatkan mereka itu terkurung.

Maka juga, sampai disitu, ia menolong meloloskan mereka itu, yang terus diberi tugas lain.

Lebih dahulu daripada itu Im Ciu It Mo telah menghajar mati beberapa pendeta houw tian.

Dengan begitu dia menggunakan akal mengacaukan kedua belah pihak hingga saatnya Pie Te Taysu meninggalkan Toa-tian.

Ia sengaja memperdengarkan suara nyaring buat mengejutkan orang.

See bie yaitu kacung pendeta yang menjaga Ceng sit menjadi murid termuda dari Pie Sie Siansu.

Ketika dia mendengar suara itu, dia keluar untuk melihat.

Dia membekal pedang.

Dia muda tetapi cerdas.

Dengan mengira-ngira dari mana suara datang dia menuju ke arah suara itu lalu tiba ditaman.

Di sini dia tidak melihat musuh.

Maka dia lantas mendekam, bersembunyi diantara pepohonan bunga.

Belum lama maka muncullah Im Ciu It Mo di dalam taman itu.

Dia heran yang dia tidak melihat orang.

Dia menghentikan tindakannya sambil berpikir.

Lalu dia bersiul pula terus tertawa dingin.

Dari tempat sembunyinya, si siebie melihat orang itu, seorang wanita tua dengan pakaian kuning, matanya tajam, tangannya memegang tongkat panjang.

Wanita itu celinguk ke empat penjuru.

Dengan tangan memegang golok kaylo, ia lantas menyiapkan biji thie-liam-cu, mutiara besi yang dijadikan senjata rahasia, kemudian dengan berlompatan dia pergi ke tempat lebat di depan wanita itu, jaraknya lima atau enam kaki.

Ia menanti si wanita justru melihat ke arah lain, mendadak dengan cepatnya, ia mencelat tinggi melewati semak, untuk menyerang dengan senjata rahasianya itu dengan sasarannya ialah tu-tong, jiu-tong dan thian-cut, ketiga jalan darah yang berbahaya.

Ketika tubuhnya turun, dia terus berjumpalitan menghampiri si wanita, buat melanjuti menyerang dengan goloknya !

Siebie itu lihai tetapi ia masih terlalu muda bagi si nenek yang lihai itu.

Nenek itu terkejut tapi dia dapat segera berkelit mundur, hingga dia bebas dari senjata rahasia, sebab tongkatnya segera diputar dipakai melindungi tubuhnya sedang serangan golok ditangkis keras sampai siebie itu kaget sebab tangannya nyeri sebagai akibat beradunya kedua senjata tongkat kontra golok, dan goloknya terbang pergi !

Ketika si siebie menginjak tanah, dia memisahkan diri setombak lebih.

Sebenarnya Im Ciu It Mo masih hendak menyembunyikan dirinya, sekarang dia terpegok.

Dia jadi benci si bocah dan berniat membinasakannya.

Itulah jalan membungkam mulut orang.

Maka juga dengan tak sudi memberi kesempatan beristirahat kepada bocah itu, dia lompat menghantam dengan tongkatnya !

Bocah itu kaget, dia lantas menjerit minta tolong, meski begitu dia tidak diam saja, dengan cepat dia menjatuhkan diri terus berguling sejauh empat kaki.

Hebat serangan si wanita, tongkatnya sampai nancap tiga kaki dan tanah muncrat ke empat penjuru !

Im Ciu It Mo melengak sedetik.

Adalah diluar dugaannya, yang serangannya gagal.

Hal itu menambah kegusarannya.

Ia mencabut tongkatnya dengan niat menghajar pula.

Ia melihat orang terpisah satu tombak dari ianya.

Siebie itu melihat sinar mata si nenek, ia memutar tubuh dan lari pergi.

Nenek itu penasaran, dia berlompat menyusul terus dia menyerang !

Bocah itu sangat lincah, dia tersusul dan dihajar, tetapi dia masih dapat berkelit.

Maka dia terus diserang lagi, tetapi sampai tiga kali, tetap dia selamat.

Si nenek heran hingga ia berdiam sampai ia melihat ujung tongkatnya tercantelkan sebatang gelang emas.

"Ah !"

Serunya kemudian.

Itulah gelang, yang merintangi tongkatnya hingga ujung tongkat gagal mengenakan si bocah.

Pantas tadi dia merasa tongkatnya tertahan sesuatu.

Maka ia sekarang berpikir menerka-nerka, siapa pemiliknya gelang emas itu.

Ya, siapakah ?

"Ah, mestinya ini gelang emasnya Pie Sie Siansu ketua Gwan Sek Sie....."

Pikirnya kemudian. Karena ini, tidak bersangsi pula, dia membentak.

"Pie Sie si kepala gundul bangkotan, kapannya kau pelajari ini kepandaian hina dina, menyembunyikan kepala menongolkan ekor ? Kenapa kau tak berani menemui orang ?"

Tepat si nenek membuka suara jumawa itu, mendadak di depan matanya muncul dua orang pendeta setengah tua, jubahnya seragam dengan warna kuning, mukanya lebar, tangannya sama-sama bersenjatakan sepasang Liong Houw Kim Hoan, gelang emas naga-nagaan dan harimau-harimauan.

Melihat gelang emas itu maka mengertilah It Mo siapa pelepasnya tadi.

Hanya berbareng dengan ini, dia menjadi heran sekali.

Gelang emas pada tongkatnya lenyap secara tiba-tiba tanpa dia merasakannya, hingga dia menjadi bingung.

Dia juga heran yang si siebie tadi pun hilang tak karuan.

Dia tidak tahu, justru Liong Houw Sian Ceng muncul justru siebie itu lari menghilang kedalam semak pohon bunga.

Kedua pendeta lantas memberi hormat kepada wanita itu.

"Sicu,"

Kata yang satu.

"Sicu sudah langsung memasuki kuil dan juga telah membinasakan dan melukai beberapa saudara kami, sekarang sicu berkaok-kaok mengatai guru kami, apakah artinya itu ? Apakah sicu sangka Gwan Sek Sie dapat membiarkan orang berbuat begitu kurang ajar dan kejam, main membunuh orang ?"

Im Ciu It Mo sedang heran dan gusar, teguran itu membuatnya naik darah.

"Kamu mempunyai kepandaian apa maka kamu berani begini kurang ajar terhaap aku si wanita tua ?"

Demikian tegurnya. Bu Sek terbangun sepasang alisnya. Kata dia.

"Aku yang muda memang berkepandaian rendah sekali, itulah aku ketahui maka itu aku bukanlah lawan sicu, akan tetapi walau demikian gelang ditangan kami hendak mengajar adat kepada orang yang tidak tahu aturan sopan santun !"

It Mo mengangkat tongkatnya, dia tertawa.

"Aku si wanita tua tidak memikir menempur segala anak muda !"

Katanya menghina.

"Maka itu lekas kamu suruh Pie Sie si gundul bangkotan supaya dia muncul menemui aku, supaya dia iseng-iseng mencoba kedua rupa kepandaianku, Sun Im Lu San Kang dan tongkat Tuowlo Thung Hoat !"

Bu Sek tertawa.

"Buat apa kau berjumawa begini rupa, sicu ?"

Katanya.

"Baiklah, dengan sepasang gelang emas Naga dan Harimau kami, siauwseng akan mencoba melayani kedua rupa kepandaian yang istimewa itu ! Tak usahlah sicu menganggu ketenangan guruku !"

Pendeta ini bukan cuma berkata, dia malah segera mengeluarkan senjatanya dengan apa dia mendahului menyerang !

Tanpa bergerak tubuh dan kakinya, Im Ciu It Mo menyambut serangan itu dengan tongkat.

Sengaja ia membuat ujung tongkat terkutungkan sepasang gelang lawan.

Bu Sek terkejut buat keberaniannya musuh itu, sampai pucat.

Tak ayal lagi dia mengerahkan tenaga Tay Poan liak Sian Kang, Prajna besar.

Dia menggerakkan kedua tangannya menarik pulang gelangnya itu.

Im Ciu It Mo bersenyum dan kata.

"Murid ajarannya Pie Sie si gundul tua ada juga kepandaiannya !"

Dia memuji tetapi dia pun mengejek.

Tiba-tiba dia ingat bahwa datangnya ini ada guna membantu kedua muridnya lolos dari Lohan Tiu, supaya Pie Tie Taysu dapat dipancing pergi dari tin-nya itu, maka ia lantas merubah sikapnya dari takabur menjadi sabar sekali.

Kata dia dengan tenang.

"Akulah si wanita tua sengaja datang kemari buat dengan ilmuku Sun Im Cit San Kang belajar kenal dengan ilmu silat lihai Siauw Lim Sie, karena itu kalau ketua Pie Sie sedang bertapa, baiklah sekarang kau bolah titahkan orang memanggil Pie Te Taysu datang menemui aku."

Bu Sek dan Bu Siang saling mengawasi.

Itulah pertanda bahwa sekalipun mereka berdua bukannya lawan setimpal nenek ini, dari itu baiklah permintaan si nenek diterima baik.

Dengan demikian Bu Sek lantas berpaling ke semak pohon bunga untuk berkata dengan perintahnya.

"Sute, lekas mengundang paman guru datang kemari !' Dari dalam pepohonan itu terdengar jawaban yang mengiyakan lalu tampak satu bayangan orang kecil berlompat lari ke jalan yang menjurus ke depan. Im Ciu It Mo mendapat lihat kepergiannya bayangan kecil itu. Ia kuatir sebelum Pie Te datang, Bu Sek dan Bu Siang juga nanti pergi ke Toa-tian, maka itu ia lantas perdengarkan siulannya yang nyaring itu guna memberi isyarat kepada Hong Kun dan Kiauw In, setelah mana ia kata kepada kedua pendeta di depannya itu.

"Aku si wanita tua juga ingin belajar kenal dengan kepandaian lihai dari Liong Houw Siang Ceng."

Itulah tantangan kepada kedua pendeta itu, supaya mereka berdua bersama menyerangnya.

Tapi dia juga bukan cuma menantang, dia lantas mulai menyerang supaya si kedua pendeta tak sempat memikir lainnya.

Kedua pendeta itu tak menyangka orang menantang sambil terus menyerang.

Terpaksa, terpaksa mereka harus menyambut serangan itu, terutama pertama-tama untuk mengelakan diri dari hajaran orang.

Akan tetapi belum sampai mereka bergerak lebih dahulu, mendadak Im Ciu It Mo sudah berlompat pergi terus menghilang !

Sebaliknya yang tampak ialah Pie Te Taysu, paman guru mereka !

Mereka heran hingga mereka melengak.

Lekas-lekas mereka memberi hormat kepada paman guru mereka itu kemudian ketika mereka mau bicara mereka didahului si paman guru !

Pie Te Taysu mengernyitkan alisnya dan berkata .

"Sutit, kita kena diakali si jahat dan licik itu ! Si bajingan tua sungguh cerdik !"

"Paman, apakah paman tak melihat Im Ciu It Mo ?"

Bu Siang tanya.

"Rupanya dia sudah kembali ke pendopo besar,"

Menyahut sang paman guru, yang lebih dahulu memuji sang Buddha.

"Mungkin dia hendak membantu sepasang muda mudi yang terkurung di dalam Barisan rahasia Lohan Tiu itu...."

Liong Houw Siang Ceng melengak.

"Bagaimana kalau kami berdua pergi ke pendopo besar ?"

Tanyanya. Pie Te Taysu menggeleng kepala.

"Sudah, tak usah !"

Jawabnya.

Memang tepat terkaan Pie Te Taysu.

Im Ciu It Mo sudah menyingkir ke pendopo besar dimana ia membantu kedua muridnya, sepasang muda mudi itu.

Dan justru Pie Te Taysu itu berbicara, muncullah Cio Kiauw In dan Gak Hong Kun yang nampak sudah sangat letih sebab mereka masih bersiap dengan pedangnya masing-masing.

Melihat orang muncul tanpa Im Ciu It Mo, Pie Te Taysu kata kepada kedua kemenakan muridnya.

"Kamu layani mereka secara main-main, supaya mereka dapat terlibat. Aku sendiri, hendak mencari si bajingan bangkotan itu !"

Belum berhenti suara pendeta ini, tubuhnya sudah berlompat pergi, keluar dari taman bunga itu.

Liong Houw Siang Ceng tidak sempat memikir apa-apa.

Kiauw In dan Hong Kun sudah tiba di depan mereka dan muda mudi itu sudah lantas menyerang pada mereka, yang diarah dadanya.

Mereka menangkis sambil berlompat mundur.

Bu Sek Hweshio heran, kapan ia melihat si pemuda yang ia kenali sebagai murid dari Pay In Nia ialah Tio It Hiong.

Sama sekali ia tak dapat membedakan It Hiong tulen dari It Hiong palsu, hingga ia tidak tahu bahwa pemuda ini sebenarnya Hong Kun adanya.

Lantas ia menjadi memikiri peristiwa baru-baru ini di luar kota Gakyang, ditengah jalan dimana "Tio It Hiong"

Ini sudah menggunakan bubuk beracun membinasakan dua muridnya, ia pun lantas ingat keterangannya Koiy To Ciok Peng halnya ada Tio It Hiong palsu.

Dan sekarang It Hiong menyerang kemari !

Justru itu Bu Siang membentak si pemuda.

"Murid licik dari Pay In Nia, apakah sekarang kau masih hendak menipu orang dengan wajah palsumu ?"

Mendengar suara saudaranya itu, Bu Sek menyangka pasti kepada It Hiong palsu.

Maka berdua mereka menyambuti penyerangannya muda mudi itu, hingga sepasang pedang jadi bentrok dengan gelang-gelang yang berkilauan hingga terdengarlah suaranya yang berisik, sedang percikan apinya pun berpeletikan, suara nyaring memekakkan telinga, percikan yang menyilaukan mata.

Yang mengagetkan ialah mereka harus mundur satu tindak saking kerasnya bentrokan itu.

Kiauw In dan Hong Kun mundur juga, dengan sinar mata lalu berdua mereka saling mengawasi.

Jelas dari tampangnya hal muda mudi itu sudah letih sekali.

Toh mereka tetap gagah !

Sepasang pendeta Naga dan Harimau itu penasaran.

Dengan muka merah mereka maju pula, diwaktu mereka menyerang mereka menggunakan silat gelang mereka yang diberi nama Liong Houw Hong In -Angin dan Mega Naga dan Harimau.

Sebaliknya kedua pendeta yang sedang panas hati, telah bergerak dengan keras dan lincah.

Memangnya merekalah tenaga-tenaga baru.

Tengah muda mudi itu terdesak demikian hebat, tiba-tiba dari kejauhan terdengar satu suara nyaring dan tajam.

Mudamudi itu mendapat dengar suara itu, sambil membela diri mereka memasang telinga.

Segera terdengar suara ulangan dari suara nyaring itu.

Kali ini suara itu sangat berpengaruh bagi si muda mudi.

Mendadak sontak lenyaplah keletihan mereka, secara tiba-tiba mereka menjadi gagah pula, bahkan mata mereka juga lantas berubah menjadi bersinar sangat tajam dan bengis.

Habis dua kali suara nyaring itu, tibalah gilirannya kedua pendeta mendengar seperti suara laler.

Itulah bukannya suara dari orang yang pertama tadi hanya puji Sang Buddha dan suara itu ialah isyarat dari Pie Sie Siansu yang menggunakan ilmu saluran suara Thian Liong Sian Ciang "Nyanyian Suci Naga langit".

Kalau suara nyaring tadi menakuti, suara yang belakang ini lembut dan membangunkan semangat dan suara ini menentang suara yang pertama itu.

Dengan demikian Thian Liong Siang Ceng jadi tengah menempur suara iblis Sun Im Cit Sat Kang dari Im Ciu It Mo.

Aneh pengaruhnya kedua suara itu.

Kedua pendeta dan sepasang muda mudi sudah lantas berhenti bertarung.

Sendirinya mereka pada mengundurkan diri, yang pertama berwajah keren, yang kedua tampak tenang.

Kedua belah pihak sama-sama bungkam.

Beberapa kali mereka maju pula, untuk bertempur lagi, terus mereka mundur kembali.

Hingga mereka seperti bermain-main.

Mereka bergerak mengikuti nada atau iramanya kedua rupa suara keras dan lembut itu.

Secara demikian diam-diam Pie Sie Siansu dan Gwasn Sek Sie tengah menempur ilmunya Im Ciu It Mo yang dilatih selama empat puluh tahun.

Mereka mengadu tenaga dalam yang berupa suara, tanpa tangan-tangan mereka bentrok satu dengan lain.

Walaupun demikian, mereka bertempur jauh terlebih hebat daripada Liong Houw Siang Ceng kontra sepasang muda mudi itu.

Im Ciu It Mo datang ke Gwan Sek Sie dengan berniat melakukan penyerangan dan pembunuhan, buat memancing munculnya Pie Sie Siansu, supaya nanti mereka bertemu dan bertarung selama pertemuan di Bu Lim Cit Cun.

Siapa tahu disini mereka sudah mengadu kepandaian lebih dahulu.

Hanya kali ini, dia tak dapat sembarang mengundurkan diri.

Siapa mundur secara sepihak, dia bisa celaka sendiri.

Sesudah berlangsung sekian lama, suara keras dari Im Ciu It Mo terdengar menjadi kendor dan kendor, hingga akhirnya dia seperti tertindih puji sang Buddha.

Menghadapi Ceng-sit, kamar suci dari pendeta kepala, terdapat sebuah taman, disitu tumbuh sebuah pohon cemara yang besar dan tua, banyak dahannya dan lebat daunnya.

Justru selagi pertempuran luar biasa itu berlangsung, di atas pohon itu terdapat seorang yang rambutnya terlepas terurai, yang kedua biji matanya bersinar sangat tajam, sinarnya kebiru-biruan.

Itulah dia Im Ciu It Mo yang lagi menggunakan ilmunya, San Im Cit Sut Kang.

Sinar matanya itu sekarang tampak kurang tenang.

Sembari menongolkan sedikit kepala, kembali ia memperdengarkan suaranya yang nyaring itu, yang menyeramkan lebih hebat daripada yang semula.

Terang ia sudah mengerahkan tenaga dalamnya secara dahsyat sekali.

Tengah kedua gelombang suara yang keras dan lunak bertempur seru itu, tiba-tiba saja keduanya berhenti di dalam sekejap, menyusul mana sinar mencorong dari kedua matanya Im Ciu It Mo pun menjadi suaram dan lenyap disusul dengan berhentinya juga suara puji Buddha.

Hanya berbareng dengan itu, satu bayangan hitam kecil tujuh atau delapan kaki panjangnya terlihat berkelebat ke arah Cengsitu, kamar semedhi dari kuil, akan tetapi belum lagi bayangan itu dapat masuk, dia sudah berhenti setengah jalan bagaikan ada yang merintanginya, terus jatuh ke tanah sambil memperdengarkan suara nyaring.

Kiranya itulah sebatang tongkat panjang.

Dari dalam kamar semadhi segera terdengar suara tawa disusul kata-kata ini .

"Kau berbelas kasihan sicu tua, terima kasih ! Telah aku menerima pengajaranmu. Sicu, kesesatan itu datangnya dari diri sendiri maka juga baiklah sicu jangan lupa memuji."

Apakah yang sebenarnya sudah terjadi ?

Itulah pertanda bahwa pertarungan mengadu tenaga dalam sudah sampai diakhirnya dan Sun Im Cit Sat Kang diperdalam empat puluh tahun dari It Mo kalah dari Tay Poanjiak Sin Kang dari Pie Sie Siansu, tenaga dalam yang diberi nama "Sian Liong Ciang Im"

Nyanyian Naga Langit itu.

It Mo tidak sampai terluka atau terbinasa, tetapi tenaga dalamnya telah terkuras habis delapan atau sembilan bagian.

Pie Sie Siansu masih berbelas kasihan, kalau tidak It Mo tentu telah dihajar hingga dia kehilangan nyawanya.

Ia masih mengharap lawannya itu sadar dan merubah kekuatannya untuk menjadi orang baikbaik.

Tapi It Mo bertabiat keras.

Dia selalu mau menang sendiri, sesudah kalah mengadu suara, dia masih penasaran, dia menyerang dengan tongkatnya itu, tongkat mana kena disampok jatuh oleh orang yang dibokongnya.

Menyusul berhentinya pertempuran kedua jago itu, berhenti juga perkelahian diantara dua rombongan orang di dalam taman karena herannya, mereka itu jadi saling mengawasi.

Im Ciu It Mo berlompat turun dari atas pohon, berdiri ditanah, dia terhuyung-huyung dahulu, nafasnya pun memburu.

Masih dia penasaran, maka juga sambil menuding ke arah Cengsit dia berkata termoga-moga .

"Pie Sie tua bangka gundul. Jangan kau bergirang dahulu ! Lain tahun di ini hari, aku si wanita tua, akan aku datang pula guna membalas dan membayarkan penasaranku ini !"

Ancaman itu diakhiri dengan satu suara seperti bersuit perlahan, atas mana Cio Kiauw In dan Gak Hong Kun segera bertindak menghampiri ke depan Bajingan itu.

Liong Houw Siang Ceng tak terbengong terlebih lama pula.

Mereka melihat kedua lawannya bertindak pergi, mereka berlompat akan menyusul atau mereka terus merandak tubuh, mereka mendengar ini suara yang halus sekali.

"Muridku, berikanlah mereka satu jalan hidup......"

Maka merekapun segera menyimpan gelang mereka. Bu Sek Hweshio berpaling ke arah kuil, kata dia.

"Suhu, membinasakan orang jahat berarti berbuat kebaikan untuk umum, kenapa mereka harus diberi hidup ?"

Dari dalam kamar bersemadhi terdengar pula suara halus ini .

"Amida Buddha ! Kau mengertilah muridku, baik atau jahat semua itu tak akan lolos dari takdirnya. Karena itu buat apa kau menambah kejahatan ? Biarkan mereka pergi......"

Selagi si pendeta berkata-kata itu, Im Ciu It Mo telah mengerahkan sisa tenaganya untuk berlompat keluar dari taman kuil buat pergi mengangkat kaki dengan diikuti Hong Kun dan Kiauw In.

Liong Houw Siang Ceng mengawasi ketiga orang itu pergi berlalu, hati mereka nyeri sekali.

Mereka bersakit hati buat beberapa adik seperguruannya yang berbinasa dan terluka yang sakit hatinya tak terbalaskan.

Tak dapat mereka menentang guru mereka itu yang hatinya mulia hingga kemudian mereka hanya dapat berdiam dan bertunduk saja.

Im Ciu It Mo keluar dari tembok tengah dengan terus menuju ke gunung belakang.

Selekasnya dia tiba diatas, terang di dalam hati dia terkejut tak terkira.

Itulah sebab dia melihat lima tombak di depan dia, Pie Te Taysu lagi berdiri sambil mengawasinya.

Walaupun dia sudah tidak mempunyai tenaga lagi, dia toh berlaku tenang, bahkan sembari tertawa dingin dia kata .

"Sungguh diluar dugaanku yang diluar kuil Gwan Sek Sie ini aku dapat bertemu dengan bapak pendeta yang mulia ! Selamat bertemu !"

Habis mengucap demikian kembali jago wanita ini memperdengarkan suara perlahan terhadap Kiauw In dan Hong Kun guna mengisiki kedua muda mudi yang berada dibawah pengaruhnya itu buat segera menyerang si pendeta tua.

Sepasang muda mudi itu masih sangat letih akan tetapi mendengar perintah itu tiba-tiba mereka bersemangat pula, mendadak saja mereka seraya terus berlompat maju, hendak menyerang pendeta di depannya itu.

Pie Te Taysu tertawa.

"Sicu, jangan kau salah paham !"

Katanya sabar.

"Datangku kemari bukannya buat menempur kalian bertiga guru dan murid."

Kiauw In berpaling pada It Mo, terus dia menyerang Pie Te Taysu. Sungguh pendeta menangkis dengan satu kebutan ujung jubahnya yang gerombongan.

"Sicu,"

Katanya sabar.

"Kau telah berkelahi satu malam suntuk. Kau sudah letih sekali, maka itu jangan mencari kesengsaraan lebih jauh......"

Justru pendeta itu berbicara dengan si nona, Gak Hong Kun maju menyerang, menebas ke arah pinggang.

Pie Te Taysu tidak menangkis, karena ia lagi menghadapi Kiauw In.

Tubuhnya jadi berada disampingnya penyerang, maka itu ia terus memutar tubuhnya itu, bahkan dengan berani ia memasang perutnya, untuk dibiarkan kena tertebas !

Hebat, pedang mengenai perut tetapi tak mempan, bahkan setelah satu suara nyaring, pedang itu terpental jatuh ke tanah sejauh enam kaki sebab cekalannya Hong Kun terlepas sendirinya !

Im Ciu It Mo terkejut menyaksikan kegagalannya kedua murid itu.

Ia sendiri tak berdaya, sebab ia terluka parah.

Tapi seorang It ciu.

Sekarang tidak lagi memperlihatkan tampang seram atau garang.

Sebaliknya dia tertawa.

"Eh, anak-anak, jangan kalian sembrono !"

Demikian ia tegur Hong Kun dan Kiauw In.

"Baiklah kalian dengari apa pengajarannya bapak pendeta yang mulia ini."

Pie Te Taysu memuji Sang Buddha.

"Sicu,"

Tanyanya.

"bagaimanakah dengan lukamu ?"

Pertanyaan diluar sangkaan itu membuat Im Ciu It Mo melengak. Tak dapat ia menerka maksudnya si pendeta itu.

"Tak usah taysu merisaukan hati."

Sahutnya kemudian.

"Aku si wanita tua masih dapat bertahan !"

"Sicu,"

Berkata pula si pendeta.

"telah empat puluh tahun kau bertapa, kau sudah mendapatkan kemajuan yang tak sedikit. Hanya kau masih belum menyadari apa artinya nama dan laba !"

Kembali si wanita tua membungkam.

"Hm !"

Demikian terdengar suaranya paling akhir, suara tawar. Dengan sinar mata tajam, Pie Te Taysu menatap wanita tua itu, terus ia kata dengan kata demi kata yang terang dan tegas .

"Sicu, aku si pendeta tua menerima perintah dari ketua kami buat pihak kami menyudahi semua perbuatan pihakmu membinasakan dan melukai murid-murid kami, supaya kalian bertiga dibiarkan bebas meninggalkan kuil kami ini !"

Cuma sedetik si pendeta berdiam, segera ia menambahkan .

"Cuma aku si pendeta tua ingin menasehati sicu secara sungguh-sungguh hati."

Hatinya It Mo menggetar, akan tetapi ia mencoba menenangi diri, selagi ia ditatap, ia membalas mengawasi.

"Silahkan bicara, taysu !"

Katanya. Pie Te Taysu berkata .

"Kesesatan itu adalah perbuatan diri sendiri, maka itu aku si pendeta tua ingin memohon sicu suka memikirkan dan menyadarinya, supaya kelak di belakang hari tidaklah sampai sicu menyia-nyiakan kebaikan ketua ini yang menjadi kakak seperguruanku, yang suka membebaskanmu supaya sicu memperoleh jalan hidupmu ! "

Selekasnya dia mengucapkan kata-katanya itu, Pie Te Taysu segera berlalu pergi menuruni lereng itu.

Im Ciu It Mo melongo saja.

Coba ia tidak tengah terluka parah, pasti ia tak mau mengerti.

Tak puas ia dengan nasehat itu.

Ia telah dipengaruhi kejumawaannya, keinginannya menjadi orang pandai dan disegani.

Nama termashur dan kedudukan telah menutupi kesadarannya.

Dia telah dibudaki sigarnya suka menang sendiri dan keunggulan yang melebihkan orang lain.

Demikian, seberlalunya si pendeta, dia tertawa dingin berulang-ulang untuk mengejek pendeta yang murah hati itu.

Kemudian ia mengulapkan tangannya, menyuruh Hong Kun menjemput pedangnya, buat mereka terus berjalan turun dari lereng itu, guna meninggalkan gunung Gwan Sek Sie.

Mereka berjalan baru beberapa tombak atau dari balik sebuah batu karang yang besar muncul seorang wanita dengan dandanan jubah kependetaan, usianya setengah tua, tampangnya genit, pinggangnya tergantungkan sepasang golok.

Dan wanita itu segera menghadang di tengah jalan.

Gak Hong Kun terkejut selekasnya dia melihat wajah wanita itu.

Dia sedang dibawah pengaruh It Mo tetapi dia masih ingat orang yang menghadang di depan mereka ini.

Dia hanya lupa nama orang.

Apa yang dia ingat adalah dia pernah roboh dibawah pengaruh bubuk biusnya.........

Kapan Im Ciu It Mo sudah melihat orang itu, dia lantas kata dingin .

"Eh, Sek Mo Ceng Ciang Nikouw. Bagaimana kau berani main gila dihadapan si wanita tua ?"

Wanita setengah tua itu, seorang nikouw ialah Ceng Kiang Bajingan Paras Elok.

Dia tertawa geli dan kepalanya bergoyang-goyang seumpama bunga yang bertangkai.

Ketika dia membuka mulutnya, terdengarlah sahutnya yang sabar.

"Eh, perempuan tua, kau harus mengenali aku !"

Demikian katanya.

"Sekarang ini telah aku menukar gelarku ! Aku bukan lagi Sek Mo hanya Peng Mo, si Bajingan Es ! Dan sekarang aku berhadapan dengan kau karena aku ingin menguji kepandaianku terhadap kepandaianmu "San Im Cit Sat Kang !"

It Mo heran hingga ia melengak, ia lagi terluka.

Mana dapat ia berkelahi ?

Sebalik kejumawaannya Peng Mo membuat darahnya bergolak.

Hatinya sangat panas.

Saking mendongkol ia lantas tertawa nyaring.

Hanya kali ini suaranya tidak berpengaruh dan menakuti seperti biasanya.

Sekarang ini suaranya lemah dan juga tidak lama.

Ia mau menggertak orang tetapi ia gagal.

Selekasnya ia bersuara itu, lantas nafasnya memburu keras sekali hingga ia lalu selekasnya memegangi bahunya Kiauw In supaya tubuhnya tidak terhuyung roboh.

Pada mulanya hati Peng Mo menegang ketika ia mendengar suaranya It Mo itu tetapi selewatnya itu dengan matanya yang tajam ia mendapat kenyataan orang seperti lagi terluka parah, maka berubahlah hatinya dari jeri menjadi berani !

Dan tak lagi ia menunjuki tampang centilnya.

Rupanya menjadi bengis dan matanya menyorong galak sekali.

"Hai bajingan perempuan tua !"

Demikian tegurnya.

"Bajingan perempuan mana bisa kau menyembunyikan kepadaku hal kekalahanmu di Gwan Sek Sie ? Jika kau tahu selatan, lekas kau serahkan murid orang yang kau rampas itu kepadaku supaya dapat aku membawanya pergi ! Dengan begini jadi tak usahlah kerukunan kita menjadi terganggu !"

Berkata begitu Peng Mo menunjuk Hong Kun.

Selama orang bicara It Mo berdiam saja.

Diam-diam ia mencoba meluruskan nafasnya dan mengumpulkan tenaganya juga.

Ia mencoba mencegah agar darahnya tak bergolak terus.

Kemudian ia mengawasi Hong Kun dan terutama Kiauw In.

Dengan mengawasi muda mudi itu, ia bagaikan tak mendengar kata-kata lanjutan dari si Bajingan Es.

Ceng Ciat Nikouw juga mengawasi tajam pada Hong Kun, si anak muda yang tampan.

Pemuda itu tetap ganteng walaupun pikirannya tak sadar hingga dia membuatnya si bajingan wanita menjadi mengiler.

Peng Mo ingin segera merangkul pemuda tampan itu.

Dengan Peng Mo berdiam dan It Mo tidak menjawab, sejenak itu sunyilah suasana diantara mereka kedua belah pihak.

Hanya It Mo berpikir keras bagaimana harus melayani bajingan yang menjadi saingannya itu.

Ia lagi terluka, tak dapat ia menggunakan kekerasan.

Apa akal ?

Karena Hong Kun kena dirampas Peng Mo itulah suatu penghinaan dan kehinaan untuknya.

Pasti nama besarnya bakal tercemar.

Asal namanya rusak, tak dapat ia berdiri pula di muka orang banyak, diantara sesama kawannya kaum sesat.......

Ada satu hal yang dikuatirkan Im Ciu It Mo, Sek Mo atau Peng Mo biasanya bertiga, sebagaimana julukan mereka ialah Hong Gwa San Mo, Tiga bajingan dari luar perbatasan, kalau sekarang muncul Peng Mo, siapa tahu kedua kawannya tak berada di tempat yang berdekatan ?

Satu Peng Mo sudah tak dapat dilawan, bagaimana lagi apabila datang dua saudaranya itu ?

Hiat Mo Hweshio dan Tam Mo Tojin tidak dapat dipandang ringan !

It Mo mengawasi wanita di depannya yang lagi tersengsem oleh ketampanannya Hong Kun.

Diam-diam tetapi dengan disengaja ia batuk untuk perlahan.

Peng Mo sadar mendengar suara batuk itu, kulit mukanya menjadi merah.

Lekas sekali telah muncul nafsu birahinya.

Maka lantas dia mengawasi tajam pada It Mo.

"Bagaimana, eh ?"

Tegurnya.

"Apakah kau tak sudi minum arak hutangan hanya lebih suka menenggak arak doang? Hari ini aku, Peng Mo mau mendapat bagianku !"

It Mo tidak menjawab pertanyaan orang, dia hanya mengalihkan itu.

"Aku heran akan Hong Gwa Sam Mo."

Demikian katanya.

"Kenapa sekarang cuma muncul Peng Mo, satu nikouw ? Aku Im Ciu It Mo, walaupun aku tengah terluka ingin aku belajar kenal dengan kepandaiannya Sam Mo bertiga ! Jadilah perlu supaya nanti di dalam pertemuan Bu Lim Cit Cun di In Bu San, dapat kita mengambil keputusan !"

Peng Mo cerdas dan licik, mana ia tak dapat menerka maksudnya It Mo itu ? Maka ia tertawa dan kata.

"Kau mau maksudkan kedua saudara seperguruanku ? Mereka berdua berada diatas ! Mereka tengah menikmati kota dan hutan di sana, disebelah dalam. Bajingan tua, kau tahulah diri sedikit !"

It Mo menahan sabar.

"Oh, kiranya Hiat Mo Hweshio dan Tam Mo Tojin, kedua orang lihai itu juga takut menemui aku!"

Demikian katanya.

Peng Mo menjadi panas hati, alisnya terbangun, matanya mencelak bengis !

"Jika kau bertemu dengan kakakku yang tua, Hiat Mo Hweshio sukar dijamin yang darahmu tak akan bermuncratan !"

Katanya sengit. Im Ciu It Mo menggerakkan kepalanya hingga rambutnya turut bergerak juga.

"Aku si orang tua tak memiliki apa juga !"

Katanya.

"Dengan sesungguhnya ingin sekali aku bertemu dengan Hiat Mo ! Apakah yang aku takuti ?"

Peng Mo tak puas, ia pun berkata nyaring.

"Mungkin kakakku yang kedua Tam Mo Tojin menyukai jantungmu untuk dikorek dikeluarkan guna dilihat-lihat warnanya putih atau hitam !"

Peng Mo tidak tahu bahwa dengan caranya itu It Mo sedang mengulur waktu.

Segera diam-diam wanita tua ini tengah mengerahkan tenaga dalamnya guna menyembuhkan lukanya.

Dengan perlahan-lahan dia berhasil membuat lukanya sembuh.

Sebagai seorang licik telah dia memikir semakin lama dia mengulur waktu, semakin baik untuknya.

Asal dia sembuh !

It Mo pun berlaku cerdik.

Apa yang dikatakan Peng Mo tak dia hiraukan, sedangkan dia biasanya pemarah, mukanya mudah menjadi merah padam.

Bahkan dia dapat bersenyum dan tertawa.

"Sebenarnya memang ada niatku memberi kau jantungku kepada kakakmu yang nomor dua itu!"

Katanya sengaja.

"Hanya itu aku tidak tahu kakakmu menginginkan itu atau tidak !"

Dia hening sebentar untuk meneruskan.

"Hari ini aku si wanita tua sangat beruntung karena aku tidak bertemu dengan Hiat Mo dan Tam Mo ! Dengan demikian maka bebaslah aku dari ancaman darahku bermuncratan dan jantungku dikorek keluar untuk dilihat warnanya ! Aku justru bertemu kau, wanita tua hingga kita jadi berhadapan wanita dengan wanita, hingga pertemuan ini tak merugikan siapa juga ! Ha ha ha !"

Alisnya Peng Mo terbangun.

"Eh, kau dengar tidak ?"

Tegurnya.

"Bukankah barusan telah kukatakan supaya muridmu kau serahkan padaku, supaya dengan begitu dapat aku beri jalan hidup padamu ?"

It Mo melengak. Tak ia sangkat bahwa orang menimbulkan pula hal yang ia telah alihkan itu. Tapi ia lekas bersenyum. Kata ia.

"Aku si wanita tua bukannya tak ikhlas memberikannya, cuma aku pikir, aku memberikannya padamu juga tak ada gunanya !"

Peng Mo heran dengan jawaban itu. Sejenak ia pun melengak. Lalu dia tersenyum dan kata .

"Tak dapat aku diperdaya kau ! Dia toh seorang pria, kenapa dia boleh tak ada gunanya ?"

Berkata begitu, dia melirik tajam pada Hong Kun, sinar matanya menunjuki bahwa dia sangat mengiler terhadap si pemuda. It Mo tertawa.

"Aku si orang tua, aku juga seorang yang telah berpengalaman !"

Katanya.

"Dahulu hari lakon asmaraku melebihi lakon asmaramu sekarang ! Dahulu itu, asal aku menemui pria yang tampan, hatiku lantas goncang keras dan semangatku seperti terbang pergi..........."

Bajingan ini berhenti bicara secara tiba-tiba.

Terus dia berdiam saja.

Sebenarnya Peng Mo sangat tertarik hati mendengar katakata orang itu.

Asal ada soal asmara, tak perduli itu sebenarnya soal nafsu birahi, lantas saja dia menjadi sangat gembira.

Maka juga, dengan tak sabaran dia lantas bertanya.

"Bagaimana, eh ? Murid priamu itu apakah dia telah kehilangan tenaga laki-lakinya ? Dia pula, benarkah ?"

Dengan sendirinya, Peng Mo nampak kurang gembira. Puas It Mo melihat rupa orang itu. Ia mengerti yang katakatanya telah memberi pengaruh. Maka terus ia main komedi.

"Sahabatku, sabar !"

Demikian katanya.

"Buat apa tergesagesa ? Kau tahu, bicaraku si wanita tua belum sampai diakhirnya........"

Peng Mo menggertak gigi. Dia tak sabaran.

"Perempuan tua !"

Tegurnya.

"Urusan asmara dahulu, hari itu baiklah ditangguhkan dahulu ! Apa yang aku ingin ketahui sekarang ialah apa benar dia pelu ? Aku minta kau bicara secara jujur!"

It Mo berpikir keras.

Inilah saat yang mendesak.

Kalau ia menjawab Hong benar pelu, Hong Kun pasti tak akan dibawa pergi.

Kalau ia menjawab, sebaliknya Peng Mo dapat menjadi gusar dan ia dapat dimarahi.

Itulah berbahaya.

Bagaimana kalau mereka bertiga diserang nenek cabul itu ?

Ia lagi terluka parah, tak sanggup ia melawan wanita itu.

Kalau Hong Kun dibawa lari saja, pasti sudah ia bakal mendapat malu.

Tapi dasar cerdas, tiba-tiba ia mendapat pikiran.

"Muridku ini,"

Kata ia sambil mengangkat kepalanya.

"dia sedang muda dan gagahnya. Kalau kau mendapati dia, kau pasti bakal merasa puas luar biasa, cuma...."

Peng Mo bukan main tertarik ketampanannya Hong Kun, yang ia kuatir ialah pemuda itu tak memiliki tenaga kelelakiannya, sekarang ia mendengar It Mo mengatakan si anak muda gagah sekali, girangnya bukan kepalang.

Tapi, mendengar kata-kata "cuma"

Dari si bajingan di depannya, mendadak hatinya menjadi bimbang. Seketika juga ia menjadi tak sabaran pula, hingga dia maju menghampiri It Mo, untuk berkata keras.

"Bajingan tua, jangan kau jual lagak pula ! Lekas kau bicara !"

Matanya Peng Mo terbuka lebar, sinarnya bengis.

Selama itu Kiauw In dan Hong Kun berdiam saja.

Mereka mendengari pembicaraannya kedua bajingan tua itu tetapi mereka tak mendengari apa-apa.

Inilah sebab keduanya tengah dipengaruhi Thay Siang Hoan Hun Tan, pil pelupa diri, yang mereka diberi makan oleh It Mo.

Berdua mereka cuma bengong mengawasi It Mo saja.

Peng Mo mengerutkan alis, matanya mengawasi It Mo.

Ia heran orang tidak menjawabnya.

"Hayo, kau bicaralah !"

Desaknya.

"Apa mungkin muridmu itu berhati keras seperti Liu Hee Hui dijaman dahulu, yang tak gentar akan soal asmara ? Aku tak percaya ada pria yang lain dapat lolos dari genggamanku !"

It Mo tertawa tawar.

"Muridku ini bukannya suhengku Liu Hee Hui !"

Sahutnya.

"Dia juga bukan telah kehilangan tenaga kelaki-lakiannya. Dia hanya makan obat Thay Siang Hoang Hun Tan dari si wanita tua, dengan demikian, hilang sudah kecerdasannya ! Karena itu, mana dia dapat mengerti urusan asmara ?"

Peng Mo melengak. Mulanya berdiam terus, dia tampak murka, matanya mendelik pula.

"Aku tak perdulikan muridmu itu ada gunanya atau tidak !"

Katanya kemudian sengit.

"Hari ini dia bertemu denganku, hendak aku bawa dia pergi ! Hendak aku mencobanya !"

Kata-katanya ditutup dengan tubuhnya si Bajingan bergerak, agaknya dia hendak mengajukan diri buat memegang Hong Kun buat diseret pergi.

It Mo berpikir keras.

Selama memperdayai wanita itu, diamdiam ia sudah mencoba terus mengerahkan tenaga dalamnya.

Lekas sekali ia telah memperoleh kemajuan.

Maka itu sampai disitu ia dapat berpikir.

"Aku merasa kesehatanku sudah pulih banyak. Bersama kedua muridku, kami ada bertiga ! Mustahil aku tidak dapat lawan kepadanya ? Sedikitnya kami dapat mundur teratur......."

Selam itu It Mo pun heran.

Ia masih belum juga melihat munculnya Hiat Mo Hweshio dan Tam Mo Tojin, dua anggota lainnya itu dari Hong Gwa Sam Mo.

Mereka itu biasanya tak pernah memisahkan diri dan tadipun Peng Mo mengatakan bahwa kedua saudara angkatnya itu berada berdekatan.

Dimana adanya mereka itu berdua ?

Apakah mereka lagi menyembunyikan diri ?

"Ah, perduli apa mereka itu !"

Pikir Im Ciu It Mo kemudian. Sendirnya nyalinya menjadi besar pula. Peng Mo maju lebih dekat pula. Orang tetap tak menjawabnya.

"Kau harus tahu diri !"

Tegurnya pula.

"Kau harus tahu selatan ! Mari dengan baik-baik kau serahkan muridmu supaya persahabatan diantara kita tetap terjamin !"

It Mo berlaku sabar sekali.

"Orang setolol dia percuma aku serahkan dia padamu !"

Sahutnya.

"Maka itu aku pikir lebih baik kau memberi muka kepada aku si perempuan tua supaya kita tetap bersahabat !"

Hatinya Peng Mo tergerak juga mendengar kata-kata orang itu, ia ingat kalau It Mo tidak tengah terluka, sulit buat ia menempurnya.

Mungkin ia kalah seurat.

Sekarang bagaimana ia harus bertindak ?

It Mo agaknya membalas........

"Tak dapat aku sudah saja....."

Pikirnya lebih jauh. Daging tinggal dicaplok saja ! Lantas Peng Mo mengawasi tajam kepada Hong Kun, sekian lama, barulah ia berpaling kepada It Mo. Ia bersenyum, bersenyum licik. Terus dia kata.

"Bajingan tua, kau benar juga ! Memang kita kaum sungai telaga, baik digunung maupun di air, ada saatnya buat kita saling bertemu ! Baiklah, bajingan tua. Aku dengar kata-katamu, kita saling mengalah, untuk melindungi kerukunan kita kelak di belakang hari. Cuma, bajingan tua, kau harus menerima baik dahulu satu permintaanku."

Lega juga It Mo mendengar orang berubah sikap.

"Aku kagum yang kau dapat melihat selatan, sahabatku."

Katanya.

"Sekarang tolong coba beritahukan aku, apakah permintaanmu itu ?"

"Itulah permintaan yang sangat sederhana."

Sahut Peng Mo, si Bajingan Es.

"Kau bagi aku sedikit obat pemunah pil Thay Siang Hoan Hun Tan, supaya aku dapat menyadarkan muridmu itu, supaya dengan demikian dapat aku pinjam dia selama satu bulan...."

It Mo melengak.

Itulah permintaan yang diluar dugaannya.

Mana dapat ia memberikan obat pemunah itu ?

Mana dapat ia meminjamkan Hong Kun, apa pula buat satu bulan ?

Apa dayanya sekarang ?

Agaknya pertempuran tak dapat disingkirkan........

Selagi berpikir keras, It Mo memandang ke sebelah depan, sambil mengangkat kepalanya ia mengawasi heran diatas tanjakan, di lereng di depannya itu.

Ia melihat cahaya matahari.

Ketika itu sudah siang, sebab sang pagi telah lewat sekian lama.

Sunyi disekitar mereka.

Cuma angin bertiup halus dan burung-burung kecil beterbangan.

Parasnya si Bajingan Tunggal berubah dengan cepat.

Dari tenang ia menjadi bersungguh-sungguh, menjadi tegang.

Dengan tawar dia berkata kepada si Bajingan Es.

"Bagaimana sahabat andiakata aku si wanita tua tidak suka memberikan obat pemunah kepadamu ?"

Dengan begitu, It Mo sudah mengambil keputusan akan apabila perlu mengadu tenaga dan kepandaian !

Lalu terjadi hal diluar dugaan !

Peng Mo, yang tadinya selalu bersikap keras, mendadak saja bersenyum dan tertawa !

"Telah aku menerka bahwa tak nanti kau sudi memberikan obat pemunahmu itu !"

Katanya.

"Tapi tak apalah ! Aku Peng Mo, aku pun telah membuat obat pemunah yang dapat memusnahkan obat Thay Siang Hoang Hun Tan buatanmu itu !"

Berkata begitu, si bajingan mengawasi lawannya.

"Jika kau memberi pinjam muridmu padaku buat lamanya satu bulan maka di belakang hari pastilah persahabatan kita dapat dilanjuti seperti sediakala !"

Ia menambahkan kemudian. Pergi pulang, Peng Mo tetap menghendaki murid orang itu. Im Ciu It Mo tertawa nyaring. Tak lagi dia jeri seperti semula tadi.

"Jika aku tidak sudi memberikan muridku itu, kau akan berbuat apa ?"

Tanyanya seperti menantang. Parasnya Peng Mo menjadi merah padam, matanya bercahaya jahat.

"Kalau begitu, jangan kau sesalkan Peng Mo telengas !"

Sahutnya keras.

Begitu lekas ia berkata, begitu lekas juga Peng Mo menyerang.

Ia menggunakan tangan kirinya dan sasarannya ialah dada orang.

Tetapi serangan itu gertakan belaka, serangan benar-benar adalah susulan tangan kanan, yang menuju ke buah pinggang !

Im Ciu It Mo juga menjadi seorang bajingan yang lihai dan telengas, dia sudah berpengalaman di dalam pertempuran, tidak mudah dia kena dijual.

Dia tidak menangkis, hanya dengan gesit sekali dia memutar tubuh sambil berkelit tiga kali, sebaliknya, menyusuli kesulitan itu, tongkat panjangnya dikasihh bekerja guna membalas menghajar.

Dia menggunakan jurus silat.

"Si Sembrono Menggebuk padi". Dia tidak menyerang cuma satu kali, hanya dimulai dengan ujung yang satu diteruskan dengan ujung yang lain. Mengenai atau tidak mengenai, ia membalas dan serempak ! Peng Mo terperanjat sebab dua-dua serangannya gagal, lebih-lebih setelah tongkat panjang berkelebat ke arahnya. Untuk menyelamatkan diri, terpaksa dia menyingkir sambl berlompat tujuh tindak, kalau tidak tongkat yang panjang ia pasti bakal menegur juga tubuhnya. Sebab serangan tongkat dilakukan dengan luar biasa cepatnya. Selekasnya Peng Mo lolos dari serangannya, baru saja orang berdiri tatap muka, Im Ciu It Mo sudah mengasih dengar siulannya yang nyaring yang terkenal itu atas mana Hong Kun dan Kiauw In yang semenjak tadi berdiri diam saja, lantas maju sambil menggerakkan senjatanya, menghampiri si Bajingan Es guna dikepung bersama, pedang mereka berdua menikam berbareng ! Peng Mo terkejut. Itulah ia tidak sangka. Guna menyelamatkan diri, dia berkelit dengan jurus silat Tiat Poan kio, Jembatan Papan Besi, hingga tubuhnya melengak rata, kedua ujung pedang lewat diatas perut atau dadanya. Dia kaget berbareng mendongkol, maka juga selekasnya dia bisa bangkit berdiri, dia lantas membalas menyerang dengan berjingkrak lompat, menendang berbareng kepada muda mudi itu. Itulah jurus silatnya yang diberi nama Wan Yon Twie Kaki, Burung Mandarin. Kiauw In dan Hong Kun terkena pengaruh obat tetapi ilmu silatnya tak terganggu seperti ingatan atas syarafnya, maka juga ketika didepak itu, keduanya dapat menyingkirkan diri dengan sama-sama berlompat mundur. Habis mendepak itu, Peng Mo berlompat untuk berdiri, karena selama menendang itu, kedua tangannya menekan tanah, sebab tengah melengak tadi, kedua tangannya itu diteruskan diturunkan. Sekarang, setelah bangun berdiri dengan cepat ia menyambut kingato, sepasang goloknya yang tergantung dipinggangnya. Oleh karena hatinya panas, tanpa ayal pula ia maju menyerang dalam gerakan Sepasang Walet Terbang Berbareng. ia menyerang pula kepada dua dua Hong Kun dan Kiauw In, karena mana, sepasang goloknya dilancarkan ke kiri dan kanan. Sepasang anak muda itu berani, keduanya lantas menangkis untuk seterusnya melakukan perlawanan, hingga bertiga mereka menjadi bertarung, hingga pedang-pedang dan golok-golok tak hentinya berkelebatan menikam dan menebas, menyambar ke bawah. Di dalam sekejap itu, orang bagaikan berkelahi untuk mati dan hidup ! Im Ciu It Mo menyaksikan kedua pembantunya turun tangan. Dia jeri terhadap Peng Mo maka dia mengajukan muda mudi itu. Walaupun demikian dia masih memikir menguatirkan kedua muridnya itu nanti kalah dari bajingan itu. Ia berdiri diam di dekat mereka, siap sedia dengan tongkatna. Sembari menonton dia memikirkan bagaimana ia harus turun tangan guna merebut kemenangan. Ia ingin menyelak maju selekasnya datang kesempatannya. Dengan sepasang goloknya, Peng Mo benar-benar lihai, walaupun demikian untuknya ia melayani dua orang yang urat syarafnya terganggu, jika tidak, tidak nanti dia dapat melayani Kiauw In dan Hong Kun, yang mempunyai masing-masing ilmu pedangnya yang istimewa. Selainnya cahaya pedang berkilauan, percikan api pun sering bermuncratan dan suara beradunya pedang dan golok senantiasa mendatangkan suara berisik. Sekian lama itu, mereka masih selalu berimbang. It Mo memasang mata, tidak cuma terhadap medan pertempuran, kadang-kadang ia melirik ke sekitarnya karena ia kuatir akan munculnya si Bajingan lainnya, saudarasaudaranya Peng Mo. Setelah bertempur sekian lama itu tanpa hasil, Peng Mo lantas memikir buat menggunakan bubuk biusnya. Ia pula mengawasi Hong Kun, ketampanannya yang membuat hatinya goncang, ia suka menggertak gigi sekira gatal sendirinya. Hong Kun tidak menghiraukan yang orang selalu menginplangnya. Selagi urat syarafnya terganggu itu, dia tak kenal akan asmara. Dia tetap berkelahi dengan keras sampai satu kali mendadak pedangnya meluncur secara sangat membahayakan Peng Mo hingga si Bajingan Es terkejut dan repot membela dirinya. Hingga Peng Mo penasaran sekali belum juga ia bisa membekuk anak muda, walaupun ia sudah mencoba pelbagai macam ilmu silatnya. Diakhirnya likat atau tidak, ia memikir terpaksa ia mesti minta bantuannya Tam Mo dan Hiat Mo, dua orang saudaranya. Maka itu selekasnya ia sudah mengambil keputusan sembari berkelahi itu, sekonyong-konyong, ia memperdengarkan siulannya yang nyaring, siulan yang berupa isyarat. Suaranya itu satu pendek dua panjang, iramanya mirip "burung jenjang menangis atau bajingan memekik-mekik". Sebenarnya sejak di Ngo Tay San, ditengah jalan, Hong Gwa Sam Mo sudah melihat Im Ciu It Mo bersama-sama Kiauw In dan Hong Kun, selekasnya melihat Hong Kun, hatinya Sek Mo tergiur bukan main.

Jilid 48 Dimatanya, Hong Kun adalah si anak muda yang ia ketemukan di kota Gakyang, yang ia telah tawan tetapi yang kena dirampas oleh Tok Mo.

Ia tidak berani lantas turun tangan setelah ia mengenali Im Ciu It Mo yang ia segani, walaupun demikian ia minta dengan sangat agar dua saudaranya suka mengikuti ia menguntit It Mo bertiga.

Selama Im Ciu It Mo menyerbu Gwan Sek Sie dan bertempur seru itu, Peng Mo bertiga menonton sambil bersembunyi dalam rimba, diatas pohon hingga mereka dapat melihat tegas jalannya pertempuran.

Peng Mo girang sekali menyaksikan It Mo terluka di dalam, hingga ia membayangi Hong Kun si tampan, sudah berada dalam rangkulannya...........

Dasar jumawa, disamping ingin mendapati si anak muda, Sek Mo juga mau mempertontonkan kegagahannya.

Begitulah ia menemui Im Ciu It Mo sambil meminta dua saudaranya tetap menyembunyikan diri dengan dipesan agar mereka itu jangan muncul kecuali ia memberi isyarat.

Ia ingin mereka menonton bagaimana ia merampas Hong Kun Tam Mo dan Hiat Mo mengiringi permintaannya san sumoay adik seperguruan, terhadap siapa mereka suka mengalah.

Demikianlah sudah terjadi, selama Peng Mo melayani It Mo berbicara dan bertempur sampai dia dikepung Hong Kun dan Kiauw In, mereka terus menonton saja dari atas pohon.

Hanya selama paling belakang, hati mereka tegang sendirinya sebab pertempuran seru dan meminta waktu lama sehingga mereka kuatir adik itu gagal dan terluka.

Begitulah, selekasnya mereka mendengar isyarat itu, tak ayal lagi mereka berlompatan turun dari atas pohon dan lari mendatangi kepada sang sumoay.

Bahkan Hiat Mo segera menyerang Kiauw In selagi nona itu membaliki belakang dan menyerangnya dengan pukulan tangan kosong Tangan Bajingan Asuara atau Bajingan Raksasa.

Syukur Kiauw In dapat mendengar hal datangnya bantuan lawan dan ia keburu berkelit dari serangan berbahaya itu.

Dengan loncatan Tangga Mega, ia menjatuhkan dirinya tiga tindak.

Dengan si nona mencelat menyingkir, tinggallah Hong Kun sendiri melayani Peng Mo.

Dengan ilmu silat pedang Heng San Kiam Hoat, tak nanti Hong Kun mudah dikalahkan lawannya itu, apa lacur, kawan sudah menggunakan senjata rahasianya, yaitu sebuah peluru yang ditimpukan, meledak pecahlah dia dan bubuknya terbang berhamburan.

Lawan itu bukannya Peng Mo, hanya Tam Mo, yang menyerang secara diam-diam.

Peng Mo melihat saudaranya menimpuki peluru, ia lompat dan menghajarnya pecah.

Ia sendiri terus lompat maju kepada Hong Kun.

Bubuk beracun itu berbau harus dan buyarnya pesat, saking kerasnya Bieus bukan hanya Hong Kun, melainkan Peng Mo sendiri roboh bersama.

Hanya itu Tam Mo berlaku dengan sangat cepat.

Dia segera lompat kepadan Peng Mo, akan menciumnya dengan sebuah kantong harum, setelah dia melihat sang adik seperguruan sadar dan membuka matanya, dia kata sambil tertawa.

"Sumoay, saudaramu telah membantumu. Maka kau gunakanlah baik-baik kesempatan ini !"

Selekasnya dia siuman dan mendengar suara saudaranya itu, Peng Mo lantas bergerak, ia lompat bangun.

Ia girang sekali.

Terus dia menoleh, mengawasi Hong Kun yang rebah tak berkutik dengan pedangnya terletak disisinya.

Tak ayal lagi, dia lompat ke sisi anak muda itu, buat memondongnya bangun.

Dia pula menolong memungut pedangnya pemuda itu.

Ketika ia hendak menjemput goloknya sendiri, mendadak ada bayangan tongkat panjang menyambar dibarengi anginnya.

Bukan main kagetnya Peng Mo.

Kedua tangannya lagi memegangi Hong Kun, tak sempat ia menangkis, malah berkelit pun sukar.

Justru itu mendadak ada angin keras yang menolak tongkat itu.

Tahulah ia yang Tam Mo, kakaknya sudah membantunya.

Pasti tongkat telah dihajar dengan Siulo Mo Ciang, pukulan Tangan Bajingan Raksasa itu.

Maka itu tanpa berpikir panjang pula, ia berlompat pergi sambil mengempit tubuhnya Hong Kun.

Ia memang pandai ilmu loncat "Rusa Menggali Lobang".

Sekali dia melejit, dia lari terus turun gunung !

Kiauw In habis berkelit dan mundur, dia kaget waktu dia mendapati benda meledak dan asap berhamburan, baunya membuat kepalanya pusing dan matanya berkunang-kungan.

Mulainya ia memikir maju pula buat membantui Hong Kun, atau ia terus jatuh duduk disebabkan bubuk bius yang lihai itu.

Ia tidak pikir tetapi ia tak dapat bangun berdiri pula !

It Mo mau membantu Hong Kun karena dihadang Hiat Mo Hweshio, ia jadi menempur si Bajingan Darah itu.

Tetapi baru bebarapa jurus ia sudah memaksa lawannya lompat mundur.

Justru itu ia menyaksikan Hong Kun dibawa lari oleh Peng Mo.

Bukan main panas hatinya, ia lompat menyusul tetapi kembali ia dirintangi Hiat Mo, bahkan kali ini selagi ia menghajar si Bajingan Es, tongkatnya kena terhajar keras sekali oleh Hiat Mo sampai tongkat itu terlepas dan jatuh dan ia merasai sangat nyeri di dalam tubuhnya.

Maka insyaflah ia akan kelemahan dirinya.

Hanya sebagai seorang yang berpengalaman yang tak mau hilang muka, ia lantas kata dingin .

"Tak kusangka Hong Gwa Sam Mo juga dapat bertindak secara begini tak tahu malu !"

Tam Mo yang memungut sepasang goloknya Peng Mo menjawab dingin .

"Siapa beruntung dia dapat, siapa malang dia gagal. Semua itu sudah takdir ! Karena itu bajingan tua buat apa kau menyesal ?"

Dia sengaja menyebut orang si Bajingan Tua.

Pula kata-katanya itu mempunyai arti .

It Mo menawan murid orang, pantas kalau murid orang itu dirampasnya.

Jadi mereka saling ganti merampas..........

Hiat Mo pun tertawa dan kata nyaring.

"Adik seperguruanku menyukai muridmu itu, maka dia meminjamnya untuk dipakai buat sementara waktu. Maafkanlah dia yang sudah terlalu terburu nafsu hingga dia berbuat salah terhadapmu, cianpwe. Di sini aku si pendeta muda menalanginya menghatur maaf, harap dia suka dimaklumi !"

Terus si pendeta menjura dalam.

Bukan main sulitnya It Mo.

Marah salah, tidak marah ia mendongkol sekali.

Berkeras pun ia tidak bisa.

Hanya dasar Bajingan ulung pandai pikir.

Pengalaman membuatnya pintar dan cerdik.

"Hong Kun telah dibawa lari. Kini aku tak bisa berbuat apaapa......."

Demikian pikirnya.

"Baiklah, aku bersabar."

Maka terus dia menjawab si Bajingan Darah .

"Adikmu itu tepat julukannya ! Dia memandang paras elok dan asmara lebih hebar dari jiwanya ! Cumalah tanpa obat pemusnahnya sia-sia saja dia nanti menghadapi pemuda yang linglung itu, yang suka berdiam saja bagai patung ! Mana ada rasa nikmatnya ?"

Hiat Mo berlagak pilon. Jawabnya sabar.

"Tentang urusan diantara pria dan wanita, maafkan aku si pendeta. Aku tak suka mencampur tahu !"

It Mo berpaling kepada Tam Mo si Tamak. Kata dia.

"Muridku ini telah kena mencium bubuk biusmu, dia duduk tidak berkutik, apakah dia juga hendak dipinjam oleh kau, rahib tua ?"

Dengan rahib tua yang dimaksudkan tosu tua, penganut To Kauw, agama To. Tam Mo Tojin menggoyang-goyangi tangannya.

"Tidak, tidak !"

Katanya cepat.

"Pinto adalah orang kaum Sam Ceng, biasanya kami pantang paras elok ! Mana pinto memikir hal demikian ?"

Hiat Mo sementara itu mengawasi Kiauw In yang lagi duduk berdiam saja, bersila ditanah, tangannya menunjang dagu, matanya dipejamkan.

Nona itu mirip orang yang lagi tidur nyenyak.

Lantas dia tertawa dan berkata .

"Tidak disangka obat paling beracun It Toan In buatan adik seperguruanku yang nomer dua begini lihai, asal orang menciumnya orang lantas tak sadarkan diri ! Budak ini cuma membaui sedikit, terus dia roboh dan tak ingat apa-apa lagi. Tam Mo pun tertawa, dia juga berkata .

"Kakak, jangan kakak meniup mengepul keterlaluan ! Inilah kepandaian yang sangat tak ada artinya ! Kalau ilmu ini dicoba di depan Cianpwe Im Ciu itu sama saja orang bertingkah di depan ahli !"

Berkata begitu, kawan ini melirik kepada Hiat Mo Hweshio, guna memberi isyarat, kemudian ia menoleh pula kepada Im Ciu It Mo untuk memberi hormat sambil menjura, seraya berkata .

"Cianpwe, kami berdua memohon diri !"

Lalu terus mereka memutar tubuhnya jalan menuruni lereng ! Hati It Mo panas sekali. Belum pernah orang menghinanya secara demikian.

"Tahan !"

Teriaknya, sambil dia berlompat maju untuk menghadang.

Kedua Bajingan menghentikan langkahnya.

Mereka pun berpaling.

Hiat Mo mengasi lihat wajah heran ketolol-tololan, dengan berpura pilon dia bertanya.

"Cianpwe, ada perintah apa lagi ?"

Im Ciu It Mo mengangkat tongkatnya, dipakai menunjuk kepada Kiauw In.

"Obat pingsan kalian membuat pemudi itu menderita !"

Katanya.

"Apakah dapat kalian pergi dengan begini saja ?"

Tam Mo Tojin tertawa. Dia maju dua tindak.

"Tidak, tidak !"

Sahutnya.

"Ini hanya permainan kecil saja, locianpwe ! Tak usahlah locianpwe terlalu memperhatikannya ! Kenapa locianpwe tak mau menyadarkannya sendiri ?"

"Kalian boleh main gila !"

Bentak It Mo.

"Jika kalian tak menyadarkan muridku ini, hati-hatilah tongkatku tidak akan mengenal persahabatan lagi !"

Dengan satu gerakkan tangan, It Mo membuat tongkatnya melesat dan nancap pada sebuah pohon kayu sebesar pelukan manusia, nancapnya dalam dua kaki dan ujungnya yang lain bergoyang-goyang.

Di waktu melontarkan tongkatnya itu, It Mo menggunakan seluruh tenaga dalamnya yang mulai pulih kembali.

Ia tidak membuka mulut, hanya menyalurkan nafasnya dengan rapi.

Hiat Mo dan Tam Mo terbengong menyaksikan kepandaian wanita tua itu.

Memangnya mereka jeri.

Kalau toh mereka berani main gila, itu disebabkan It Mo tengah terluka parah.

Tidak disangka yang si Bajingan Tunggal dapat sembuh demikian cepat.

Habis terguguh sebentar, Hiat Mo lantas tertawa.

Dia memang sangat cerdik dan licik.

Lantas dia kata .

"Perkara ini perkara kecil ! Tak usah kau bergusar orang tua ! Nah ! Jie Sute, lekas kau sadarkan budak perempuan itu ! Memang siapa yang membelenggu, dialah yang harus melepaskannya !"

Tam Mo sebaliknya. Dia membawa aksi memandang ringan. Kata dia sengaja pada It Mo .

"Sicu toh seorang ahli. Apakah artinya bubuk bius It Toat In dari aku ini ? Pasti bubukku ini tak dilihat mata ! Ha ha !"

Berkata begitu, tanpa menoleh lagi kepada si Bajingan Tunggal, Bajingan Tamak bertindak ke arah Kiauw In yang masih berduduk diam bagaikan patung itu.

Sementara itu mukanya It Mo menjadi merah padam dan pucat pasi bergantian, sebab ia insyaf yang kedua bajingan itu tengah mengejeknya, walaupun demikian terpaksa dia berdiam saja sebab memang dia tidak sanggup menyadarkan Nona Cio.

Selekasnya dibikin siuman oleh Hiat Mo, Kiauw In lantas bangkit berdiri.

Ia menggerakkan tubuhnya dan melonjorkan tangan dan kakinya untuk melemaskan otot-ototnya, sesudah itu ia melihat ke sekitarnya.

Dengan ayal-ayalan ia memasuki pedangnya ke dalam sarungnya.

Segera setelah itu, It Mo menatap bengis kepada Tam Mo dan Hiat Mo yang justru lagi membaliki belakang padanya.

Kemudian ia kata seperti orang mendamai tetapi nadanya mengancam .

"Di saat aku Im Ciu It Mo pu ia seluruh kegusaranku, maka itulah hari akhir dari kamu bertiga Hong Gwa Sam Mo". Terus ia membuka langkahnya akan menghampiri Kiauw In guna memegang tangan orang.

"Muridku, mari kita pergi !"

Dia mengajak.

Kemudian diapun menyambar tongkat dipohon untuk ditarik lolos.

Sesudah itu sambil itu, sambil dipayang Nona Cio dia bertindak turun gunung !

Memang hebat sekali luka di dalam tubuh dari Im Ciu It Mo.

Kalau tadi ia bisa beraksi sebentar menggertak Hong Gwa Sam Mo itulah karena dia memaksakan diri, dia mencoba mengerahkan seluruh sisa tenaga dalamnya itu.

Sekarang setelah urusan beres, ia merasai pula nyerinya itu.

Hingga Kiauw In mesti memegangi ia selama mereka berlalu.

Untuk penghinaan yang It Mo tak mudah melupakannya.

Di depan matanya Hong Kun telah dibawa lari oleh Peng Mo, Bajingan Paras Elok, Tam Mo dan Hiat Mo pun mengoloknya, menambah sakit hatinya.

Maka juga kelak dalam pertempuran Bu Lim Cit Cun, di sana telah terjadi sesuatu kontrak di sana !

Sementara itu, Pie Te Taysu, habis dia memberi nasihat kepada Im Ciu It Mo dilereng gunung, terus dia pulang ke dalam taman.

Biarnya dia seorang pertapa dan suci, dia pun mendongkol yang tak karu-karuan.

It Mo datang mengacau itu artinya menghina Sang Buddha pujaannya.

Hanya saking taatnya kepada ajarannya nabinya itu, ia menahan perasaan hatinya, ia menguasai dirinya untuk tetap berlaku sabar.

Itulah uji derita yang harus dimiliki oleh setiap umat beragama.

Tiba ki go gee mai, pintu rembulan dari taman, Pie Te bertemu dengan Liong Hauw Siang Ceng serta muridnya bertiga, yang pun baru tiga, ia merunduk dan bertanya kepada kedua pendeta Naga dan Harimau .

"Tahukan kalian berapa orang murid kita yang terbinasa dan terluka ?"

Liong Hauw Siang Ceng bertiga memberi hormat sambil menjura. Lantas Bu Sek menjawab .

"Diantara para petugas di pendopo, dua terluka parah, lima terluka ringan. Diantara murid tingkat dua, telah terluka enam anggauta."

Alisnya sang pendeta terbangun.

"Adakah mereka semua telah diobati ?"

Tanyanya pula. Siebie kecil, kacung muridnya Liong Houw Siang Ceng menjawab .

"Semua telah dirawat, cuma kedua pendeta yang terluka parah itu, sampai sekarang ini masih belum siuman."

Bibirnya Pie Te bergerak, kumis dang janggutnya terbangun, pertanda bahwa ia gusar sekali, akan tetapi ia tetap bungkam.

Ia dapat mengendalikan kemurkaannya.

Ia berdiri diam sekian lama, lalu ia menatap kedua pendeta di depannya itu, kemudian ia memutar tubuh, meninggalkan pintu model rembulan itu.

Selekasnya ia melangkah dari ambang pintu, ia berpaling dan kata .

"Bu Sek dan Bu Siang, kedua kemenakan, pergilah kalian ke seluruh pendopo guna melakukan penyeledikan !"

Kedua pendeta itu mengangguk, tetapi mereka bertindak menghampiri, hingga mereka berada di belakangnya si pendeta tua.

"Paman guru !"

Katanya. Pie Te Taysu memutar tubuh.

"Ada apakah ?"

Tanya dia. Liong Hauw Siang Ceng saling mengawasi, kemudian Bu Sek yang membuka mulutnya. Katanya perlahan-lahan sekali.

"Paman, bukankah paman baru dari gunung belakang ?"

Pie Te Taysu bersenyum.

"Sebelumnya kalian membuka mulut, lolap telah ketahui maksud pertanyaan kalian."

Katanya. Berkata begitu, dia menatap tajam sekali. Bu Sek dan Bu Siang tunduk, mereka menjura sambil merangkapkan kedua tangannya masing-masing. Pie Te Taysu mengawasi, terus dia menghela nafas.

"Lolap telah mentaati pesan dari ciangbun suheng, di lereng gunung belakang sana telah lolap mengasi lolos pada Im Ciu It Mo bertiga."

Katanya, memberikan keterangan.

Ciangbun suheng ialah panggilan yang berarti kakak seperguruan (suheng) yang berbareng pun menjadi ketua (ciangbun).

Liong Houw Siang Ceng berdiam.

Sesaat kemudian, mereka mengangkat kepala mereka.

"Paman."

Kaat Bu Siang.

"Kami berdua memohon perkenan paman untuk turun gunung buat melakukan suatu perjalanan ! Dapatkah ?"

Dengan "kami berdua", Liong Houw Siang Ceng menyebutkan "tua ca"

Yang berarti "murid"

Tetapi disisi katakata itu selain untuk merendahkan diri berbareng juga untuk menghormati sang susiok, paman guru. Pie Te Taysu mengawasi kedua kemenakan murid itu. Ia menghela nafas.

"Kemenakanku,"

Sahutnya kemudian.

"Sekarang ini ada jaman lagi kacau dari dunia Sungai Telaga. Karena itu dengan tenaga kalian berdua untuk menyusul Im Ciu It Mo, hasilnya sungguh sukar diterka. Dengan kata lain, mungkin kalian tak akan berhasil."

"Kami berdua justru hendak mencari tahu sampai dimana kejahatan dan tenaga Bajingan itu !"

Bu Sek turut bicara. Parasnya si pendeta tua berubah, tetapi dia berkata cepat .

"Baik, kalian boleh pergi ! Cuma haruslah kalian hati-hati !"

Bu Siang dan Bu Sek girang sekali, mereka bersyukur.

Mereka memohon ijinnya sang paman guru disebabkan di saat itu guru mereka Pie Sie Siansu, sedang menyekap diri, hidup bersendirian di dalam sebuah kamar suci dan segala tugasnya diwakilkan pada Pie Te, sang paman guru yang menginap Ing Ciang Ih, pendopo tempat pendeta kepala, ketua Gwan Sek Sie.

Sekarang kita melihat dulu pada Sek Mo alias Peng Mo si Bajingan Es.

Dia kabur dengan mengempIt Hong Kun.

Jalan yang diambil yaitu lereng di belakang gunung Gwan Sek San.

Dia lari dan jalan cepat bergantian selama tujuh atau delapan lie tak henti-hentinya.

Baru setelah itu dia memperlahan langkahnya.

Sebenarnya Sek Mo adalah seorang nikouw, tapi cara hidupnya mirip separuh siluman.

Dengan telah berhasil mendapatkan Gak Hong Kun girangnya tak kepalang.

Sehingga dia bagaikan tengah bermimpi manis, terus dia menatap wajah tampan si pemuda, hingga ia seperti juga hendak mencaplok dan menelan pemuda itu..........

Ketika itu angin gunung meniup, membuat berdeburan jubarahnya si nikouw, sedangkan sinar layung matahari memancarkan wajahnya yang cantik tetapi berwajah sangat centil, bayangannya berpeta di jalan lereng itu.

Dia berjalan perlahan dengan tindakan elok, lemah gemulai..........

Sembari jalan, Sek Mo memikirkan dimana dia harus singgah atau mondok, maka juga matanya selalu mencari rumah atau pondokan dimana ia mengharap ia bisa menumpang bermalam, supaya disitu malam juga dapat ia mempuaskand irinya, bagaikan bidadari terbang melayanglayang diangkasa........

Toh didalam keadaan sepertiitu, ia masih sadar akan keganjilan diri atau perbuatannya.

Sebab sebagai seorang wanita, apa pula wanita yang beribadat, mengapa ia mengempit dan memeluki seorang pria muda belia ?

Tidakkan itu akan membuat orang heran dan curiga ?

Ia telah memikir dan mencari saja sebuah gua tetapi ia tak setujui itu.

Ia pula kuatir Im Ciu It Mo nanti dapat menyusulnya.

Selagi berpikir itu, Sek Mo berjalan dengan perlahan-lahan.

Kapan ia melihat cuaca ia mulai bingung.

Sang lohor sudah tiba, sang magrib lagi mendatangi, sedang ia belum juga mendapatkan pondokan.

Terpaksa, si Bajingan Es lantas mempercepat langkahnya.

Di sebelah depan terdapat sebuah tikungan, selewatnya mana tampak sebuah tanah kosong yang bertumbuhkan rumput tebal.

Justru ia menikung justru ia melihatnya sesosok tubuh manusia, cepat bagaikan bayangan berkelebat.

Peng Mo terkejut hingga ia melengak, lantas ia maju dua tindak.

"Sahabat, siapa disitu ?"

Tegurnya.

"Silahkan sahabat keluar untuk kita bertemu."

Dari dalam semak terdengar tawa nyaring disusul paling dahulu dengan munculnya sebuah kepala orang yang gundul, segera seluruh tubuhnya tampak, nyata dialah seorang pendeta dengan jubahnya warna kuning.

Dia tertawa pula, terus dia berlompat hingga di detik yang lain dia sudah berdiri di depannya Sek Mo.

Jaraknya lima kaki satu dengan yang lain.

Dengan mata dibuka lebar, pendeta itu mengawasi Peng Mo dan Hong Kun bergantian, terutama si anak muda.

Peng Mo melihat pendeta itu berumur kurang lebih tiga puluh tahun, mukanya montok, matanya bundar.

Ia merasa asing terhadap orang suci itu.

Karena orang mengawasi terus padanya, ia mau menyangka pendeta itu kurang pendidikan, atau dialah si pendeta cabul sebab dia terus mengawasi padanya !

Habis mengawasi Hong Kun, pendeta itu mengangkat kepalanya, akan memandangi si wanita untuk terus menanya hormat .

dari mana didapatnya si anak muda yang yang dikempitnya..........

Ditanya begitu, Peng Mo justru tertawa.

Ia lantas menjawab tetapi bukannya menyahuti pertanyaan orang, dia justru balik bertanya .

"Suheng, apakah nama suci suheng ?"

Pendeta itu merakopi kedua tangannya.

"Pinceng ialah Bu Kie dari Siauw Lim Sie."

Jawabnya. Peng Mo tertawa manis, matanya memain galak.

"Suheng, untuk apalah maksud suheng maka suheng menguntitku ?"

Dia tanya. Kembali dia menanya. Bu Kie tidak puas terhadap pertanyaan itu yang dibarengi dengan tingkah centil. Maka dia kata keras .

"Akulah pendeta yang mengutamakan aturan-aturan agama, sekalipun si wanita cantik yang muncul di depanku, tak nanti hatiku tergiur, maka itu aku minta sukalah kau menghargai dirimu sendiri !"

Parasnya Sek Mo berubah. Inilah tidak disangkanya. Dia menjadi tidak senang hingga dia lantas memperlihatkan tampang bengis. Kata dia keras .

"Air tidak mengganggi air sungai, orang mengambil jalannya sendiri-sendiri, maka itu, kepala keledia, kau pikir baik-baik ! Sekarang ini telah tiba saatnya buat kau memanjat sorga !"

Bu Kie makin gusar. Bentaknya .

"Oh, manusia penuh dosa ! Tak dapat kau lolos dari tanganku! Rupanya inilah yang dinamakan jodoh !"

Diantara waktu Bu Kie keluar dari Gwan Sek Sie dengan saatnya Peng Mo merampas Hong Kun dan turun dari gunung, bedanya ialah setengah hari satu malam.

Karena itu, mereka berpapasan dari siang-siang.

Tapi itulah bukan soal bagi si pendeta.

Dia hanya tertarik oleh tampangnya Hong Kun yang mirip It Hiong hingga ia menyangka pemuda itulah murid Pay In Nia.

Orang yang telah melepas budi besar terhadap Siauw Lim Sie.

Maka itu, selagi si anak muda terjatuh dalam tangannya wanita cabul, hendak ia membantunya.

Telah ia mendengar berita perihal It Hiong lagi menempuh bahaya.

Karena ia tidak sanggup memberikan bantuannya, ia mundar mandir saja di sekitar gunung Ngo Pay San.

Sungguh kebetulan hari ini, ia bertemu dengan Peng Mo yang lagi melarikan Hong Kun sebagai It Hiong palsu !

Tempat Hong Gwa Sam Mo bertempur dengan Im Ciu It Mo, Bu Kie dapat melihat.

Ia menonton dari tempat jauh tanpa ia dapat dilihat mereka itu.

Sampai Im Ciu It Mo menghilang, ia tidak tahu tetapi disini apa mau mereka berselompokan.

Maka ia lantas muncul dan merintanginya.

Peng Mo mendongkol.

Kata dia dingin .

"Kepala keledia gundul, kita berjodoh ! Marilah hendak aku lihat, kepandaian apa yang kau miliki !"

Berkata begitu, dengan berani si wanita menunjukan dirinya.

Masih ia mengempIt Hong Kun.

Ia bertindak dengan langkah elok tetapi ia sengaja mau menabrak pendeta itu !

Bu Kie gusar, dia bersiap sedia.

Kedua tangannya digeraki dengan berbareng !

Tangan kiri diluncurkan ke muka si wanita dengan jurus .

"Arhat Menggoyang Lonceng", tangan kanannya menyambar Hong Kun buat dirampas. Inilah jurus "Di dalam Laut Menawan Naga". Dua-dua jurus itu adalah jurus-jurus dari "Cap jie Na Liong Ciu".

"Dua belas Tangan Menawan Naga", yang semuanya terdiri dari tujuh puluh dua jurus. Tangan kiri separuh menggertak, tangan kanan bekerja benar-benar. Peng Mo terkejut merasai angin menyambar keras. Dengan cepat ia mencelat mundur dua tindak. Dengan begitu bebaslah ia dari dua-dua tangannya si pendeta. Menyaksikan kelincahan si wanita, tahulah Bu Kie yang dia lagi menghadapi bukan sembarang wanita. Ia lantas maju pula untuk merangsak. Kembali ia menggerakkan kedua belah tangannya. Kali ini dengan gerakan "Merogoh Rembulan Didalam Air". Kedua tangannya bergerak ke kiri dan kanan tubuh orang. saking cepatnya, tangan kanannya sudah lantas menyentuh tubuhnya si anak muda. Peng Mo kaget sekali. Dia tidak menyangka si pendeta demikian lihai, hingga dia telah kena ditipu. Lekas-lekas dia menangkis dan merampas pulang tetapi dia gagal. Tubuhnya Hong Kun sudah pindah tangan. Dan Bu Kie berlaku cerdik, dengan lantas dia memutar tubuh untuk berlari pergi ! Bukan main panas hatinya Peng Mo. Maka juga ia lantas lari mengejar. Dulu di dalam rimba diluar kota Gakyang ia telah dipermainkan Ya Bie, yang menggunakan ilmu silat. Tetapi sekarang Bu Kie mempermainkannya terang-terang. Ia pun tidak takut terhadap pendeta itu. Bahkan dia bisa berlari dengan keras. Dengan dua kali lompat, ia sudah dapat menyandak dan melewatinya, untuk terus menghadang. Dengan memondong tubuhnya Hong Kun, Bu Kie tak dapat lari keras. Ia pun segera menjadi repot selekasnya si wanita menyerangnya. Tadi Sek Mo melayani ia dengan satu tangan, sekarang ia membela diri dengan satu tangan juga, sebab tangan yang lain terus mengempit tubuhnya si anak muda. Untung baginya, ilmu silatnya yang dinamakan Nu Liong Cu -Menawan Naga dan Kim kong Ciang Hoat, Tangan Arhat, sudah sempurna hingga ia dapat melindungi dirinya. Setelah terdesak ia berdiri tegak, matanya mengawasi tajam pada si Bajingan Paras Elok.

"Kita tidak bermusuhan, kenapa kau begini mendesak aku ?"

Tanyanya. Alisnya Peng Mo bangun, matanya mendelik.

"Kau telah merampas sahabatku, apakah itu bukannya permusuhan ?"

Dia balik bertanya sambil membentak.Bu Kie mengawasi mukanya Hong Kun. Lantas dia memperlihatkan tampang sabar.

"Mari aku memberikan keteranganku"

Katanya.

"Pemuda ini adalah orang gagah yang pernah melepas budi terhadap Siauw Lim Sie. Dialah sicu Tio It Hiong yang budiman. Kita kaum rimba persilatan toh membedakan budi dari dendam ? Dia sekarang terancam bahaya, mana dapat aku tidak menolongnya guna membalas budinya ?"

"Hm !"

Peng Mo memperdengarkan ejekannya.

"Kiranya pemuda ini tuan penolong dari Siauw Lim Sie kamu !"

Bu Kie mengangguk.

"Tak salah !"

Sahutnya. Dari murka, mendadak Peng Mo tertawa. Dia pandai sekali memainkan peranan.

"Dia... dia.. Denganku pun bermusuhan !"

Katanya.

"Bagaimana sekarang ?"

"Bagaimana kalau pinceng yang bertanggung jawab sendiri ?"

Tanya Bu Kie yang mau percaya keterangan dusta si wanita licik.

"Pinceng sangat menghargai kau, bapak pendeta, maka juga pinni suka mengalah.. kata Peng Mo. Ia sekarang membahasakan dirinya pinni, si nikouw melarat, untuk merendahkan diri.

"Nah, coba kau pikir masak-masak, kepandaian apa yang lihai yang kau miliki buat kau melayaniku."

Bu Kie berlaku sabar.

"Paling baik ialah kau mengalah supaya kelak di belakang hari akan aku membalas kebaikanmu ini."

Sahutnya. Mendadak saja Peng Mo gusar.

"Mana dapat !"

Serunya sambil dia maju untuk menyerang dengan dua-dua tangannya. Dia pun membentak .

"Sudah, jangan ngaco belo saja !"

Terus dua tangannya terluncurkan hingga si pendeta membuat perlawanan.

Dengan tangan kiri tetap mengempIt Hong Kun, dengan tangan kanannya si pendeta menangkis serangan dahsyat itu.

Berbareng dengan itu ia pun berkelit dari tangan lawan yang lainnya.

Setelah beradu tangan itu Peng Mo ketahui tentang musuhnya ini.

Musuh kuat tenaga luarnya tetapi belum sempurna tenaga dalamnya.

Ia sendiri masih lemah tetapi sebagai seorang yang berpengalaman, ia bisa mengimbangi diri bagaimana harus melayani lawan yang tangguh itu.

Begitulah ia menyerang gencar dengan dua-dua tangannya, sebagaimana dia pun dengan lincah sekali berkelit sana dan berkelit sini atau sewaktu-waktu dia lari berputaran mengelilingi lawan untuk membikin lawan pusing dan repot, terutama agar lemas kehabisan tenaganya.

Lawan mengempit si anak muda !

Hong Gwan Sam Mo mempunyai ilmu silat istimewa yang diberi nama "San Hoa Siauw Cia"

Atau "Menyebar Bunga".

Maka juga Sek Mo sudah lantas menggunakan ilmunya itu.

Ia berputaran terus, saban-saban ia menyerang dengan ilmu silatnya itu.

Bu Kie menjadi repot, hingga jangan kata menyerang, membela diri saja sukar.

Ia tak dapat bergerak dengan leluasa.

Sedangkan mulanya ia memikir menggunakan kekerasan akan melumpuhkan lawannya itu.

Ia tidak menyangka bahwa lawan licik sekali dan pula masih mempunyai kegesitan.

Sesudah menyerang beberapa puluh kali dengan sia-sia saja pendeta itu menjadi bingung juga.

Ia mulai lelah karena sudah menggunakan tenaga terlalu banyak.

Sebaliknya Peng Mo.

Dia lihai, dia mendapat lihat lawan mulai kehabisan tenaga, lantas dia menggencarkan serangannya.

Dia menyerang sambil lompat berputaran untuk membikin lawan pusing kepala.

Dia pula selamanya menyingkir dari serangan dahsyat lawannya itu.

Bagus buat Bu Kie, walaupun dia sudah kalah angin tetapi ia masih dapat bertahan.

Terus ia mengempIt Hong Kun yang ia sangka It Hiong adanya, ia selalu menangkis serangan, atau kalau ia berkelit selamanya ia berkelit dengan lompat mundur.

Ia selalu mundur di jalan pegunungan itu.

Peng Mo bertempur dengan gembira.

Harapannya telah timbul.

Ia melihat lawan sudah terdesak hingga lekas juga si anak muda yang dijadikan barang perebutan bakal segera kembali ke dalam rangkulannya.

Ia tertawa saking girangnya.

"Bapak pendeta awas !"

Katanya kemudian yang lantas menyerang dengan ilmu silat "Boan Thian Hoa In, Hujan Bunga di Seluruh Langit".

Dengan begitu saking gencarnya serangan kedua belah tangannya bergerak-gerak cepat bagaikan bayangan berkelebatan.

Bu Kie Hweshio bingung.

Matanya telah berkunang-kunang.

Satu kali ia berkelit dari serangannya lawan.

Ia bisa menyelamatkan dirinya tetapi karena lambat, angin serangannya Peng Mo mengenai Hong Kun yang tak sadarkan diri.

"Aduh !"

Mendadak si anak muda menjerit karena serangan itu membuatnya siuman. Ia tertotok pada jalan darah giok-cim di belakang batok kepalanya itu.

"Ah, kau sadar Tio sicu !"

Kata Bu Kie girang sambil dia mengambil kesempatan mengawasi muka si anak muda.

Justru itu pendeta ini mengeluarkan jeritan tertahan.

Sedangnya dia tunduk, tangannya Peng Mo menghajar bahu kirinya hingga dia roboh dan hatuh bergulingan dengan Hong Kun terus terkempit.

Peng Mo lompat menyusul, tangannya pun menyambar Hong Kun.

Apa mau, ia telah kena injak sebuah batu bundar, maka tidak ampun lagi, ia terpeleset dan jatuh, hingga bertiga mereka jadi bergumulan.

Tubuh mereka bergelindingan.

Karena jalanan disitu turun, mereka jatuh ke bawah sejauh belasan tombak, baru mereka kena terhalangi batu karang besar disebuah tikungan !

Dua-dua Peng Mo dan Bu Kie merasakan nyeri sekali, sebaliknya Hong Kun yang berada ditengah-tengah diantara mereka berdua tak kurang suatu apa.

Selekasnya tubuhnya tak bergulingan pula, Peng Mo menarik tangan kirinya melepaskan cekalannya atas Hong Kun, dengan cepat dia bangun berduduk buat menyerang Bu Kie atau mendadak ia menjadi kaget dan segera membatalkan serangannya itu, tidak dapat dihajar atau Hong Kun yang mesti dihajar terlebih dahulu !

Walaupun demikian ia tidak sempat menarik pulang tangannya, karena mana dengan disampingkan, ia jadi kena menyampok batu karang hingga batu karang itu pecah berserakan !

Justru Peng Mo menyampingkan serangannya, justru Bu Kie dan Hong Kun berlompatan bangun berbareng.

Bu Ki memangnya tidak pingsan dan Hong Kun siuman sebab kepalanya -jalan darah giok-cim kena terserempet sampokannya Peng Mo.

Dengan berlompat bangun, keduanya jadi berdiri terpisah satu dari lain.

Asap bius It Toan In -Segumpal Awan -dari Tam Mo adalah obat bius yang istimewa.

Siapa mencium asap itu kontan dia pingsan dan tubunya menjadi lemas.

Namun kekuatan obat itu tak lama, cuma enam jam.

Selewatnya waktu itu, dapat orang siuman sendirinya.

Selayaknya Hong Kun harus sudah sadar siang-siang, tetapi diapun terkena obat Thay Siang Hoan Han Tan dari Im Ciu It Mo, maka juga dia pingsan lebih lama dari semestinya.

Hingga dia menjadi barang perebutan dan dibawa berlari-lari.

Syukur untuknya, sampokan meleset dari Peng Mo membuatnya terasadar, hanya sejenak dia merasakan nyeri hingga dia mengeluh "aduh".

Hanya tetap setelah siuman itu dia masih terpengaruhi obatnya It Mo.

Ia berdiri menjublak saja, tak tahu Peng Mo dan Bu Kie itu lawan atau kawan.........

Si nikouw mengebuti pakaiannya yang berdebu, terus ia mengawasi Hong Kun sambil ia memperlihatkan senyuman manisnya.

Memang ia berwajah sangat genit dan sekarang ia beraksi nampaknya ia menggairahkan.

"Ah, adikku yang baik, bagaimana kau rasa ?"

Tanyanya prihatin.

Lantas ia bertindak menghampiri akan mencekal dan menggenggam tangan orang erat-erat, agaknya ia sangat mengasihi.

Bu Kie merasai bahunya nyeri sekali, tetapi ia tidak menghiraukan itu.

"Tio sicu !"

Ia memanggil Hong Kun yang ia tetap sangka It Hiong adanya.

"sicu, siauteng ialah pendeta dari Siauw.........."

"Sie-cu ialah pengamal atau penderma dan oleh kaum beragama biasa digunakan sebagai panggilan. Dengan mendadak Peng Mo memutus kata-katanya si biksu dengan menyampok padanya sedangkan mulutnya memperdengarkan suara kasar sekali .

"Jika kau tahu diri, lekas kau mengangkat kaki dari sini."

Bu Kie berkelit sambil mundur. Ia tidak mau menangkis atau melawan. Luka dibahunya hebat sekali, hingga ia insyaf tak nanti ia sanggup menggempur pendeta wanita itu.

"Sicu Tio It Hiong !"

Ia memanggil si anak muda.

"Tio sicu ! Apakah kau telah melupai Bu Kie dari Siauw Lim Sie ?"

Atas suaranya si biksu, Hong Kun cuma mengawasi pendeta itu, matanya mendelong, tubuh berdiri bagaikan terpaku sedangkan kedua tangannya ia biarkan dipegangi si nikouw atau nikouw.

Ia tak bergirang atau bergusar, ia melongo saja.

Sampai disitu tahulan Bu Kie bahwa It Hiong, penolong dari Siauw Lim Sie telah orang pengaruhi, entah dengan obat atau ilmu apa.

Sekarang ia menjadi heran kenapa pemuda yang demikian gagah dan cerdas kena orang celakai.

Tak mungkin pemuda itu kena pengaruh paras elok.

Sedangkan selama di Gwan Sek Sie, It Hiong ada berdua bersama Kiauw In, pacarnya.

"Aneh !"

Demikian ia cuma bisa kata dalam hati.

Peng Mo beraksi akan mengambil hatinya si anak muda.

Ia sampai tak merasa likat tingkahnya itu ditonton Bu Kie.

Ia tidak mendapati hasil, Hong Kun tetap berdiam saja, bungkam dan tawar, matanya mendelong saja.

Karena itu ia jadi berpikir keras.

Satu kali ia mendongkol karena kekasih tak melayaninya.

Dalam mendongkol dan masgulnya, mendadak ia ingat perkataannya It Mo tentang pil Thay Siang Hoan Hun Tan, bahwa tanpa obatnya itu, Hong Kun akan tak ada faedahnya.......

"Ah !"

Serunya di dalam hati, mukanya menjadi merah.

Dia likat sendirinya.

Diapun merasa malu sudah beraksi dihadapannya Bu Kie.

Tapi ketika dia menoleh kepada pendeta asal Siauw Lim Sie itu, hatinya lega juga.

Bu Kie lagi tunduk diam, rupanya dia sedang berpikir keras.

"Bagus !"

Pikirnya pula.

Lantas timbul keinginannya akan mencium Hong Kun.

Disitu toh tak ada orang yang melihatnya.

Bu Kie tengah kelelap dalam pikirannya.

Justru ia mau mengangsurkan mukanya, tiba-tiba telinganya dengar satu suara lapat-lapat .

"Ah ....!"

Mulanya melengak, nikouw ini menjadi mendongkol.

"Kurang ajar !"

Pikirnya.

Ia gusar terhadap Bu Kie, yang ia sangka telah mengeluarkan suara itu guna mengganggunya.

Hendak ia menghajarnya, atau segera ia mendengar tawa yang nyaring, hingga ia menjadi kaget.

Ketika ia menoleh ia melihat munculnya secara tiba-tiba dari Hiat Mo Hweshio dan Tam Mo Tojin, kedua saudara seperguruannya yang berdiri berendeng disampingnya.

Sebaliknya, waktu ia berpaling kepada Bu Kie, pendeta itu sudah lenyap entah kapan dan kemana perginya !

"Suheng !"

Kemudian ia memanggil kedua saudara seperguruannya itu.

Tam Mo Tojing dilain pihak sudah bertindak akan menjemput sepasang goloknya saudaranya, sembari menghampiri dan menyodorkan golok itu, dia berkata .

"Bunga indah tak membuat orang lupa daratan, hanya orang sendiri yang melupai dirinya ! Sumoay kau rupanya telah terpesonakan pemuda tampan ini hingga kau lupa segala apa ! Benarkah ?"

Hiat Mo Hweshio pun kata tertawa .

"Selama satu hari ini pastilah sumoay telah merasakan kenikmatan yang memuaskan sekali ! Lihatlah, hati sumoay memain, matanya bercanda dan pinggangnya lemas ! Ha ha ha ! Kau tahu sumoay, kau membuat kami berdua mencari kau ubek-ubakan diempat penjuru angin, sampai kami bermandikan peluh sampai kita menjadi seperti si hweshio bersengsara dan Tojin menderita."

Mukanya Sek Mo menjadi merah saking likat tetapi ia tak gusar cuma ia mendelik kepada kedua saudara seperguruan itu.

"Cis !"

Katanya sengit.

"Suheng berdua, mulut kalian tak bersih !"

Meski begitu ia menyambuti sepasang goloknya yang terus ia masuki ke dalam sarungnya.

Hiat Mo dan Tam Mo saling mengawasi dan tertawa.

Kemudian mereka pun saling memandang dengan sang adik seperguruan untuk bersenyum juga bersama-sama.

Selama itu mereka tidak perhatikan lagi pada Gak Hong Kun yang sejak tadi berdiri menjublak saja.

Mereka baru sadar ketika melihat sesosok tubuh berlompat kepada mereka sambil sebatang pedang dibalingkan, hingga serentak mereka berlompat misah menjauhkan diri dati tubuh orang itu yang ternyata Gak Hong Kun adanya !

Ketika itu sang malam telah tiba dengan cepat, maka juga sinar pedang nampak berkilauan, anginnya pun bersuara nyaring menyambar kepada Hong Gwa Sam Mo.

Habis serangan yang pertama itu menyusul yang lainnya karena si anak muca bersilat dengan serupa jurus silat pedang berantai dari Heng San Pay !

Tam Mo segera memasang mata.

Habis menyerang beberapa kali itu, kembali Hong Kun berdiri menjublak, matanya mendelong ke satu arah.

Ke arah sebuah batu karang.

"Sute, tahan !"

Berseru Hiat Mo kepada Tam Mo si Bajingan Loba, yang tadi beraksi hendak melakukan penyerangan membalas.

Peng Mo pun sudah lantas memberi isyarat supaya kedua saudaranya jangan sembarang turunt angan, terus ia mengawasi Hong Kun yang ia hampiri dengan langkah perlahan-lahan, niatnya membokong dengan satu totokan, supaya anak muda itu kembali mati kesadarannya.......

Habis berdiri diam itu sekonyong-konyong Hong Kun tertawa nyaring, disusul dengan suara gusarnya berulangulang .

"Hm ! Hm !". Setelah itu dia tertawa terbahak-bahak. Diakhirnya, dia tampak berdiam dengan tampang sangat berduka, tubuhnya tak bergerak. Peng Mo mengawasi kelakuan tidak beres ingatan dari orang yang dikasihhaninya itu, ia merasa sangat kasihan, maka setelah orang berdiam, ia menghampirinya. Dengan jari tangan kanan, ia menotok jalan darah ouwtian dari si anak muda. Heran pemuda itu. Dia seperti tidak merasai totokan itu. Mendadak ia memutar tubunya sambil terus miring sedikit, dengan pedangnya dia membarengi menebas. Si Bajingan Es menjadi kaget dan heran sekali. Syukur dia sempat berlompat berkelit. Hampir lengan kanannya kena terbabat.

"Bagaimana kalau kakakmu yang muda membantumu ?"

Tanya Tam Mo si rahib agama To yang terus mengibaskan tangan kanannya, maka juga sebutir peluru It Toan In lantas meluncur ke arah si anak muda.

Cuaca sudah mulai gelap.

Hong Kun tak melihat apa-apa, apa pula peluru bius itu.

Ia toh luput dari roboh tak sadarkan diri.

Justru ia tengah berlompat ke samping, pada Peng Mo yang ia serang pula.

"Kau.... kau..."

Tegurnya Peng Mo.

Peluru lewat terus, tanpa mengenai sasarannya, jatuh ke tanah, tak meledak.

Dengan begitu bebaslah anak muda itu.

Bahkan dia tetap tidak tahu bahwa orang telah menyerangnya dengan senjata rahasia.

Peng Mo mengawasi sekian lama lantas menghampiri.

"Adik !"

Sapanya tertawa.

"Apakah kau hendak bilang ?"

Karena orang memegang pedang terhunus dan barusan baru saja dia menyerang, Sek Mo tidak berani menghampiri sampai dekat, ia pula siap sedia kuatir nanti diserang lagi.

Hong Kun bicara seorang diri, suaranya sangat perlahan hingga tak terdengar kata-katanya, dengan tangannya dikasih turun, ia terus berdiri diam.

"Sumoay"

Tam Mo berkata kepada adik seperguruannya itu.

"kalau kita menghadapi musuh, hati kita lemah dan kita menaruh belas kasihan, itu artinya kita mudah mendapat celaka. Maka itu, baiklah pemuda ini dibekuk terlebih dahulu, sesudah itu baru kau baiki dia. Nanti aku yang mewakilkan kau menawannya...."

Begitu ia berkata, tanpa menanti jawaban lagi dari si adik seperguruan, Tam Mo lantas bertindak kepada Hong Kun sambil terus menyerang dengan tangan kosong.

Hong Kun seperti tidak melihat orang menyerangnya, hanya justru ia lari turun gunung !

Dengan begitu kembali ia bebas dari serangan itu.

Malah ia lari terus hingga ia lenyap di dalam kegelapan !

Tam Mo heran hingga ia berseru sendirinya.

Ia sudah lantas menarik pulang tangannya.

"Ah, jie suheng !"

Peng Mo kaget dan menyesalkan saudaranya yang nomor dua itu.

"Kau lihat, lantaran diserang olehmu dia telah pergi kabur...."

Saking menyesal, si nikouw membanting-banting kaki. Tanpa berunding lagi ia lari menyusul. Hiat Mo tertawa menyaksikan adik seperguruan itu demikian tergila-gila pada si anak muda. Kata dia tertawa .

"Bocah tolol itu lagi tak sadarkan diri, dia dapat lari kemana ? Mustahil dia bisa naik ke langit ! Ha ha ha !"

"Kau benar, suheng."

Berkata Tam Mo yang barusan disesalkan adiknya dan dia menyesal juga.

"Sekarang mari kita pergi membantu mencari pemuda itu, supaya dia tak usah bersusah hati. Bisa-bisa dia penasaran dan bergusar."

Hiat Mo mengangkat kepalanya, melihat ke langit. Ia mendapati sudah banyak bintang dan rembulan bermodel sisir.

"Nah, marilah kita pergi !"

Sahutnya.

"Kita sama-sama si biksu dan Tojin menderita. Ada baiknya kita berjalan malammalam guna melemaskan otot-otot kaki kita."

Habis dia mengucap itu, bersama saudaranya, Bajingan Tamak itu lantas berangkat menyusul.

Malam itu kedua anggauta Hong Gwan Sam Mo ini mesti berputaran di gunung Ngo Tay San itu, entah berapa puncak telah didaki dan berapa rimba telah dilewati, emreka tidak dapat menyusul atau mencari Sek Mo, adik seperguruan yang paling muda itu !

Karenanya, mereka mencari terus sampai munculnya sang fajar tetapi sia-sia belaka !

Biar bagaimana, keduanya merasa letih.

Maka mereka berdiri di sebuah puncak, matanya mengawasi sekitarnya.

Dengan begitu mereka sekalian beristirahat.

Keduanya berdiam saja.

Mereka itu, yang satu berkepala gundul, yang lain berjanggut seperti janggutnya kambing gunung.

Keduanya berdiam, mereka cuma dapat bersenyum berduka.

Lewat sekian lama dengan membungkam saja.

Kemudian Hiat Mo si Bajingan Darah yang berkata terlebih dahulu.

"Adikku, mari kita turun gunung !"

Demikian katanya kepada sang jie-sute, adik seperguruannya yang nomor dua itu.

"Bagaimana kalau kita pergi ke Biauw Im Am, biaranya adik kita itu ?"

Tam Mo akur, ia mengangguk.

Karena Hiat Mo sudah lantas berjalan, ia bertindak mengikuti.

Sekarang kita menyusul Sek Mo atau Peng Mo si Bajingan Paras Elok atau Bajingan Es.

Ia menyusul terlambat, sejarak belasan tombak.

Tetapi syukur sinar bintang membantunya hingga samar-samar ia bisa melihat bayangannya si anak muda.

Ia perkeras larinya untuk dapat menyandak.

Yang membuat masgul dan berkuatir ialah larinya Hong Kun, sebentar ke kiri, sebentar ke kanan, seperti orang berkelitkelit.

Dalam bingung dan penasaran, Sek Mo lari dengan ilmunya yang dinamakan "Hon Eng Lie Heng".

"Merubuh bayangan, meninggalkan bentuk". Maka ia bagaikan melesat seperti sesosok bayangan hitam. Apa pula adalah Hong Kun. Dia lari cepat dan lama diluar dugaan, mungkin itu disebabkan lari tanpa tujuan atau karena pikirannya tidak sadar. Terus terusan dia kabur tiga sampai empat puluh lie, sampai dua jam lamanya, masih belum ia mau berhenti. Maka taklah kecewa ia menjadi murid tunggal dari Heng San Pay karena dia telah berhasil mewariskan kepandaiannya ilmu ringan tubuh gurunya, It Yap Tojin. Dalam tak sadara, dia pula seperti dapat tenaga istimewa. Hingga ia tak kenal lelah. Sudah lari puluhan lie, dia nafasnya tak memburu. hanya, sebab lari tanpa tujuan itu, beberapa kali dia terpeleset dan jatuh memegang tanah ! Peng Mo Ni kouw menggunakan ilmu lari seluruhnya tak berhasil dia menyusul si anak muda yang digilainya itu, sampai dia bermandikan peluh dan bajunya demek, sedang nafasnya tersengal. Tetapi dia beradat keras dan penasaarn, makin tak dapat menyandak, dia lari makin sengit. Demikian yang seorang lari tanpa tujuan, yang lain dengan akan maksudnya, lalu dengan sendirinya mereka bagaikan main kejar-kejaran atau mengadu kepandaian lari. Dan mereka berlari-lari ditanah pegunungan, diantara rumput tebal, diantaranya batu besar dan pepohonan. Lagi tiga puluh lie dilalui, maka terpisah sudah mereka dari wilayah gunung Ngo Tay San, lewat jauh sekali. Sebelumnya fajar, Hong Kun sudah melintasi sebuah tanjakan dan mulai berlari-lari di jalan umum. Dari jauh sekali, Peng Mo melihat anak muda itu, dalam rupa seperti bayangan lenyap didalam suatu benda yang gelap. Ia menyusul terus. Setelah cuaca sedikit terang, benda gelap itu mirip sebuah gubuk, tapi sesuah dihampiri dekat kiranya kereta bertenda yang ditarik kuda, yang berhenti di tepi jalan.

"Heran...."

Pikir si Bajingan Es.

"Kenapa kereta ini diberhentikan di tepi jalan ini tanpa kusir ? Keretanya juga tanpa sesuatu pertanda hingga tak diketahui pemiliknya siapa."

Sesudah berdiri mengawasi sekian lama, dengan dia tetap tak melihat ada orang keluar dari dalam kereta itu, Peng Mo habis sabar.

"Kereta ini ada penumpang atau tidak ?"

Demikian dia tanya.

"Pinni hendak menanyakan sesuatu."

Tiada jawaban dari dalam kereta. Tidak sekalipun, pertanyaan telahh diulang beberapa kali. Oleh karena ia tak mendapat jawaban, si Bajingan Es menjadi mendongkol.

"Kurang ajar !"

Pikirnya.

Maka hendak dia menaiki kereta itu, guna memeriksa dalamnya.

Atau disaat itu dari tepi jalan dimana ada rumput tebal tampak munculnya seorang pria yang berjalan perlahan sambil dia merapikan pakaiannya, kemudian dia melompat naik ke atas kereta itu untuk membuka tambatan tali kudanya, guna memegang juga cambuknya.

Hanya sebelum dia memberangkatkan kereta, dia tunduk akan melirik ke bawah kereta kepada si nikouw !

Karuan Peng Mo pun memandang muka orang.

Empat buah mata bentrok sinarnya satu sama lain.

Lantas Peng Mo merasa seperti pernah mengenal kusir itu, cuma ia tak ingat nama atau gelarannya dan lupa juga dimana mereka pernah jumpa.

Yang pasti si kusir pun orang Kang Ouw !

Pria itu tampan, bajunya panjang biru punggungnya menggendol pedang yang ada rendanya -renda merah.

Dia sudah setengah tua tetapi nampak seperti seorang muda dan gerak geriknya halus.

Hampir Peng Mo lupa akan dirinya, karena ia mengawasi saja kusir kereta itu, akhirnya bagai orang baru sadar, ia memberi hormat dan menanya .

"Sicu, pinni mohon bertanya, kereta ini ada penumpangnya atau tidak ?"

Kusir itu melongo.

Ia tersengsem oleh suara merdu dari biksui, tanpa merasa ia menurunkan tangannya yang mencekal cambuk dan terus mengawasi muka orang.

Ia tidak lantas menjawab, hanya bersenyum.

Orang pengalaman seperti Peng Mo ketahui baik bahwa orang telah tertarik oleh dirinya, maka itu ia menjadi girang sekali.

"Sia-sia belaka aku menyusul si anak muda, ada baiknya kusir ini menjadi penggantinya."

Demikian pikirnya. Karena ia sudah pandai beraksi lantas ia mempertunjuki gerak geriknya yang menggairahkan.

"Sicu !"

Katanya tertawa manis, alisnya memain.

"sicu, apakah kau tak dengar ? Pinni menumpang bertanya, di dalam keretamu ini ada penumpangnya atau tidak ?"

"Oh !"

Pria itu kaget. Ia seperti baru sadar dari tidur.

"suthay, apakah gelaranmu yang mulia dari suthay ?"

Bukannya menjawan, ia malah sebaliknya.

"Ha, kau licik, anak !"

Kata Peng Mo di dalam hati, sebab ia bukan dijawab hanya ditanya.

"Awas kalau sebentar kau sudah tergenggam olehku ! Asal saja kau telah mengundangku naik ke dalam keretamu ! Sampai itu waktu mana dapat si anak muda lolos dari tanganku."

Dengan tindakan elok, Peng Mo menghampiri kereta dua tindak, hingga ia jadi berdiri di sisinya. Di situ ia berdiri, sambil tertawa ia berkata .

"Sicu, ketahuilah bahwa pinni adalah Beng Hiat Nikouw dari Biauw Im Am, salah seorang dari Hong Gwa Sam Mo. Sicu belum lagi pinni belajar kenal dengan she dan namamu yang mulia dan tersohor !"

Jilid 49 Pertanyaan itu membuat mukanya si pria berubah sedikit pucat dan merah, entah dia likat atau terkejut tetapi lekas juga dia tertawa dan berkata manis .

"Saru nama besar yang telah lama kudengar ! Sungguh berbahagia aku yang sekarang ini aku dapat bertemu denganmu suthay ! Aku yang rendah ialah Cek Hong Bu Ciu Tong si Angin Merah ! Suthay terimalah hormatku !"

Kusir itu sudah lantas memberikan hormatnya sambil ia berbangkit, sedangkan matanya yang tajam tak mau menyimpang dari wajahnya si nikouw. Ceng Ciat Nikouw melirik pula pria setengah tua itu.

"Oh, kiranya seorang gagah dari Heng Keng To !"

Katanya tertawa manis.

"Sungguh kecewa mataku yang ada bijinya tak bisa mengenali orang Kang Ouw yang tersohor ! Maaf, maaf !"

Memang juga pria itu Ciu Tong dari Hek Keng To, pulau ikan Lodan Hitam, adik seperguruan dari Beng Leng Cinjin, ketua Hek Keng To dan suheng, kakak seperguruan yang kedua dari Tan Hong.

Dialah orang golongan sesat tetapi dia telah ketahui namanya Hong Gwa Sam Mo yang tidak dapat dipandang ringan.

Maka itu tidak mau dia berlaku sembrono, hanya itu dia sangat tertarik oleh kecantikanya Peng Mo yang centil itu, hingga disaat itu juga darahnya bagaikan bergolak.

Maka disaat detik itu, disamping jeri, dia ingin mendapati si nikouw.

Cia Tong memegang lis dengan tangan kiri.

Mestinya ia menarik mengedutnya, membikin kudanya membuka langkah untuk menarik keretanya, tetapi sekarang, dia berdiam saja, seperti juga tangan kirinya kehabisan tenaga.

"Ciu sicu"

Kemudian ia mendengar suara merdu dari si nikouw.

"pagi-pagi begini sicu berada di tengah jalan ini, sebenarnya sicu hendak pergi kemanakah ? Nampaknya sicu agak tergesa-gesa !"

Ciu Tong bingung tapi ia lekas memberikan jawabannya.

"Aku hendak pergi ke Hek Sek San."

Demikian sahutnya. Mendadak ia berhenti. Sebab ia ingat tak dapat ia sembarang bicara Peng Mo tersenyum manis.

"Kita sama-sama orang Kang Ouw, kalau kita kebetulan bertemu satu dengan lain, tak apa-apa bila kita memasang omong !"

Katanya manis.

"Bukankah kau tak bakal terbinasa, Ciu Sicu. Laginya kita..."

Parasnya Ciu Tong merah.

Dia jengah sendirinya.

Sikapnya barusan bukan lagi sikap orang Kang Ouw.

Sebagai orang Kang Ouw, tak dapat ia pemaluan.

Ia lantas berpura batuk untuk guna melindungi diri, terus dia tertawa.

"Harap jangan salah mengerti, suthay !"

Katanya.

"Jika suthay benar suka memandang mukaku, aku senang sekali yang kita mengikat perkenalan. Itulah suatu kehormatan bagiku, hingga mukaku bagaikan ditempel emas !"

Senang Peng Mo mendengar orang bicara demikian hormat. Ia mengangkat kepalanya memandang wanita itu, wajahnya sendiri tersungging senyum ramai, matanya mengawasi mata orang.

"Ah !"

Serunya perlahan.

Tetapi Ciu Tong telah mendengar itu, dia senang sekali.

Suara itu sangat merdu dan membuat hatinya berdebaran.

Hingga ia merasai dirinya seperti lagi terbang melayanglayang.

Peng Mo, orang mengawasi dia dengan sinar mata menyayangi.

"Su thay."

Berkata pula jago muda dari Hek Keng To itu.

"Kalau kita sama tujuannya tidak ada halangannya buat su thay naiki keretaku ini untuk kita jalan bersama-sama. Maukah su thay diantar oleh buat satu rintangan ?"

Itulah kata-kata yang menggirangkan Peng Mo.

Itulah tawaran yang ia harap-harap semenjak tadi.

Saking girangnya, alisnya bangun berdiri.

Tapi ialah seorang licik, ia beraksi membawa diri agar orang memandang tinggi padanya.

Bukankah ia menang diatas angin ?

"Terima kasih, sicu."

Katanya.

"Meski benar tujuan kita sama tetapi aku tak berani kalau sicu sampai mesti mengantarku. Harap sicu tidak berlaku sungkan !"

Ciu Tong berpikir. Tiba-tiba ia sadar. Tak dapat ia dipengaruhi nikouw ini. Ia pun jeri terhadap Hong Gwa Sam Mo. Maka itu lekas-lekas ia memberi hormat seraya berkata .

"Kalau su thay mengatakan demikian, baiklah ! Maaf, su thay. Ijinkanlah aku pamitan ! Sampai kita jumpa lagi !"

Selekasnya suaranya berhenti, jago dari Hek Keng To itu menggemprak kudanya yang ia sekalian bentak, maka berbengarlah kuda itu, yang terus membuka langkahnya, hingga roda-roda kereta tadi berjalan bergelindingan !

Peng Mo melengak.

Orang pergi berlalu mendadak.

Tak ada waktu buat ia bicara pula.

Bahkan buat lompat naik ke kereta, kesempatan sudah tidak ada lagi.

Ia berdiri diam saja mengawasi kereta berlalu meninggalkannya.

"Hai !"

Serunya kemudian saking mendongkol.

"Awas, Ciu Tong ! Hendak aku lihat, berapa kuatnya hatimu ! Mesti datang saatnya yang kau jatuh kedalam tanganku !"

Dengan satu lompatan, nikouw ini lantas lari untuk menyusul kereta itu.

Ia lari dengan ilmunya "Hoa Eng Lie Hong".

Ciu Tong sendiri kabur dengan pikirannya pusing kacau, tak dapat ia melupai si pendeta perempuan.

Ia seperti kehilangan sesuatu.

Selagi sadar, ia jeri terhadap Bajingan itu.

Selekasnya pikirannya butek, ia ingin mendekatinya.

Pernah ia melihat seperti si nikouw cantik berada di depannya.

"Sayang aku tidak ajak dia naik keretaku."

Pikirnya kemudian, menyesal. Ceng Ciat Nikouw seperti lagi main mata dengannya ! "Ciu sicu !"

Tiba-tiba ia mendengar suara merdu memanggilnya.

Lebih dulu ia pun bagaikan mendengar tawa yang manis sekali.

Ia menjadi bingung.

Ia lalu berpikir mungkin ada harganya kalau dia bersahabat dengan Hong Gwa Sam Mo yang pasti bisa membantu segala usahanya Hek Keng To.....

Oleh karena pikirannya kacau itu tanpa merasa, Bek Hoan Siancu membuat keretanya berlari kendor.

Bahkan dilain saat mendadak kudanya menghentikan langkahnya, hingga keretanya turut berhenti juga.

Ia menjadi melengak, matanya mendelong ke depan, kemudian ia melihat juga ke sekitarnya.

"Ah !"

Serunya sendiri perlahan. Ia menyesal sudah tidak mau lantas mengikat persahabatan dengan Peng Mo. Dalam pikiran sadar seperti itu ia bisa menggunakan otaknya.

"Ciu sicu ! Ciu Sicu !"

Tiba-tiba ia mendengar panggilan halus disaat ia hendak menjalankan pula keretanya.

"Ciu sicu, tunggu dahulu......"

Itulah suara Peng Mo, maka giranglah Ciu Tong.

"Ada apa ?"

Sahutnya sambil ia menoleh ke belakang, bahkan kudanya pun diputar untuk dikasih balik ke tempat darimana si nikouw datang..........

Boleh dibilang di dalam sekejap saja disusul dengan berkelebatnya tubuh bagaikan bayangan.

Peng Mo sudah berlompat naik ke atas kereta, malah dengan tidak malu-malu lagi dia lantas duduk disampingnya kusir.

Bukannya dia likat, dia justru bersenyum manis.

"Ada beberapa kata-kata yang pinni ingin tanyakan kepada sicu......."

Katanya merdu.

"Jangan sungkan, su thay !"

Berkata Ciu Tong cepat.

"Pengajaran apakah itu ? Katakanlah !"

Roda-roda kereta bergelindingan terus, karenanya kereta itu berjalan dengan tetap bergoncang seperti biasanya, maka juga tubuh Ciu Tong dan si nikouw menjadi saling bentur tak hentinya, memangnya tempa bukannya lega dan mereka duduk rapat satu sama lain.

Di hatinya si kusir saban-saban berdenyut kapan tubuhnya membentur tubuh yang lunak dari penumpangnya yang tak diundang itu..........

Masih ada satu hal yang membuat hatinya Ciu Tong sabansaban bergoncang.

Itulah harum kewanitaan dari tubuhnya Sek Mo.

"Sicu"

Berkata Ceng Ciang Nikouw yang memecahkan kesunyian diantara mereka berdua.

"Sudikah kau mengijinkan aku masuk ke dalam keretamu ini ?"

Ciu Tong memegang les mengendalikan kudanya, akan tetapi diam-diam ia selalu melirik wanita disisinya itu.

Ia seperti tak bosan-bosannya ia bersinggungan demikian rupa sampai ia tak dapat dengar perkataan orang.

Peng Mo menoleh akan memandang muka orang, maka juga ia mendapati jago dari Hek Keng To itu lagi medelong mengawasinya.

Di dalam hati ia girang sekali.

Tahulah ia yang ia telah berhasil mempengaruhi pria disisinya ini.

Dalam girangnya ia tertawa garing.

"Ciu sicu !"

Sapanya kemudian.

"Ciu sicu, kau kenapakah ? Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku ?"

Ia melirik dan tertawa pula. Ciu Tong bagaikan mendusin dari tidurnya.

"Ah !"

Katanya.

"Apakah katamu ?"

Peng Mo menatap tajam.

"Jangan berlagak pilon, sicu !"

Katanya aleman.

"Bukankan sicu tak melihat mata padaku ? Bukankah kau tak sudi bicara denganku ?"

Ciu Tong jengah tetapi ia paksakan diri tertawa.

"Bukan, bukan begitu !"

Katanya cepat.

"Sebenarnya aku tengah memikirkan sesuatu. Harap suthay tidak menjadi kecil hati !"

Peng Mo tertawa.

"Oh, kiranya sicu lagi berpikir ! Tidak, aku tidak menjadi kecil hati !"

Karena berjalan terus, tubuh mereka berduapun sabansaban saling beradu ! "Haa !"

Ciu Tong menggeprak kudanya. Kemudian ia menoleh kepada orang disampingnya untuk berkata .

"Suthay tolong ulangi apa katamu barusan. Suka sekali aku mendengarnya !"

Peng Mo bersenyum.

"Pinni ingin masuk ke dalam keretamu, bolehkah ?"

Katanya.

Ciu Tong bungkam.

Airmukanya pun berubah sedikit.

Peng Mo heran, hingga ia mau menerka apakah Hong Kun bersembunyi di dalam kereta itu.

Walaupun demikian, ia tidak mengatakan sesuatu lagi, tak mau ia mendesak.

Pikirnya.

"Cukup sudah asal aku mendapatkan dia sebagai gantinya....."

Tapi kemudian ia didesak rasa ingin tahunya.

"Tak apalah sicu, tak dapat aku masuk kedalam keretamu."

Katanya.

"Hanya dapatkah sicu menjelaskan sesuatu padaku ?"

Lega juga hatinya Cek Hong Sian cu yang orang tidak mendesaknya.

"Apakah itu suthay ?"

Sahutnya.

"Silahkan tanyakan. Asal apa yang aku tahu, pasti suka aku memberikan keterangan !"

Peng Mo mengawasi dengan sinar mata lunak. Ketika ia bicara, ia pun bicara dengan sabar.

"Sicu"

Demikian katanya.

"didalam keretamu ini ada atau tidak murid dari Pay In Nia yang sedang menyembunyikan diri ?"

Peng Mo tidak tahu halnya It Hiong tulen dan It Hiong palsu, maka itu ia mengira Hong Kun sebagai muridnya Tek Cio Siangjin.

Ia mendengar nama Gak Hong Kun selama pertempurannya di Ngo Tay San di waktu mana Hong Kun menyebut dirinya sebagai murid dari Pay In Nia.

Hatinya Ciu Tong tergerak mendapat pertanyaan nikouw ini.

Ia jadi ingat pada Tio It Hiong.

Ketika baru-baru ini ia turut Beng Leng Cinjin menyerbu Siauw Lim Sie, ia pernah menempur It Hiong dan Kiauw In.

Karena perbedaannya golongan sesat dan lurus, pihak Pay In Nia jadi termasuk musuhnya.

Sekarang ia mendengar disebutnya nama Tio It Hiong, maka ingatlah dia akan kekalahannya di gunung Siong San serta lolosnya ia dari ujung pedang di jalan umum di kaki gunung Heng San.

Karena ia menjadi berpikir.

Setelah dapat menentramkan hatinya, ia menggeleng-geleng kepala.

Katanya .

"Aku dengan pihak Pay In Nia adalah musuh satu dengan lain, mana mungkin dia bersembunyi di dalam keretaku ?"

Peng Mo heran, ia tidak ketahui adanya permusuhan diantara Pay In Nia adan Heng Keng To.

"Kenapa kalian kedua belah pihak bentrok ?"

Demikian tanyanya.

"Hm !"

Ciu Tong memperdengarkan suara membenci.

"Pihak sana menganggap diri sebagai pihak lurus !"

"Tetapi sicu"

Kata Peng Mo tawar.

"dahulu Gak Hong Kun menjadi murid Pay In Nia tetapi sekarang dia telah menjadi muridnya Im Ciu It Mo !"

Ciu Tong heran sekali.

Kenapa Peng Mo menyebut Gak Hong Kun ?

Yang ia tahu, muridnya Pay In Nia cuma dua ialah Cio Kiauw In dan Tio It Hiong dan belakangan karena ada hubungannya dengan Tio It Hiong, Pek Giok Peng menjadi murid yang ketiga.

Kenapa sekarang muncul Gak Hong Kun ?

Menurut apa yang ia tahu, Gak Hong Kun adalah muridnya It Yap Tojin dari Heng San Pay.

Bagaimana sebenarnya ?

Saking herannya, jago Heng Keng To ini menggelenggelengkan kepalanya.

"Suthay"

Katanya.

"Mungkin kau telah kena orang persilatan ! Atau kau sendiri yang keliru ! Di dalam keretaku ini tidak ada Gak Hong Kun yang menyembunyikan dirinya !"

Sek Mo pun heran.

"Kau tahu ?"

Katanya menjelaskan.

"Gak Hong Kun itu adalah seorang pemuda dengan baju panjang dan menggedong pedang dipunggungnya. Sudah satu malam aku mengejarnya, ketika tadi dia tiba disini dari kejauhan aku melihat dia lompat kedalam keretamu ini !"

"Suthay, benarkah orang itu Gak Hong Kun ?"

Ciu Tong tegaskan. Peng Mo agak bersangsi.

"Dialah seorang pemuda dengan ilmu silat pedangnya hebat !"

Sahutnya.

"dan ilmu ringan tubuhnya pun mahir sekali. Hanya waktu aku menemuinya, dia tidak sehat disebabkan dia telah makan obat Thay Siang Hoang Han Tan dari Im Ciu It Mo. Nama Gak Hong Kun itu dia sendiri yang menyebutnya."

Mendengar disebutnya nama Im Ciu It Mo, Ciu Tong mulai mengerti duduknya hal.

"Ah, apakah dia bukannya............."

Katanya ragu-ragu, hingga suaranya terputus sampai disitu. Peng Mo tidak sabaran menyaksikan tingkahnya pria tampan ini.

"Ah, buat apa kau menerka sana menduga sini !"

Tegurnya.

"Cukup asal kau menjawab aku secara terus terang ! Di dalam tenda keretamu ini ada orang bersembunyi atau tidak ?"

"Tidak !"

Sahut Ciu Tong cepat.

"Tidak."

Sepasang alisnya si nikouw terbangun.

"Benarkah tidak ?"

Tanyanya.

"Baiklah ! Sudah kita jangan bicarakan pula urusan itu ! Kau akur bukan ?"

Lantas ia berpaling ke kiri dan kanan di mana terdapat banyak pepohonan, sebab itulah rimba. Ia melihat cuaca.

"Ciu Sicu."

Tanyanya kemudian.

"Sekarang ini kau sedang menuju kemana ?"

Ciu Tong melengak.

Pertanyaan itu menyadarkannya.

Saking asyiknya mereka bicara, keretanya tengah berjalan menuju Hek Sek San kebalikannya !

Tanpa merasa mereka sudah berjalan satu jam lebih, mereka sudah melalui lebih daripada dua puluh lie.

Hingga mereka telah berada di luar wilayah kecamatan Ngo tay koan !

Untuk kembali ke Hek Sek San, kereta harus diputar balik !

Sesudah melengak sekian lama, Cak Hong Siancu mengawasi Peng Mo, terus dia tertawa.

Dia tanya.

"Bukankah tadi kau bilang bahwa kau mau pergi ke Hek Sek San ? Dengan demikian, kita jadi ada bersamaan tujuan."

Nikouw itu tertawa manis.

"Bagiku si orang Kang Ouw, kemana aku pergi, semua itu sama saja !"

Sahutnya.

"Aku girang bertemu denganmu, sicu, bahkan kita agaknya cocok sekali satu dengan lain. Sicu, dapat kita berjalan bersama-sama, bahkan aku merasa, berat buat berpisah dari kau......"

Selagi bicara itu, lemah lembut nampaknya si nikouw, hingga dia mendatangkan kesan baik bagi Ciu Tong hingga jago Hek Keng To yang berpengalaman itu menjadi jatuh hati, hingga ia tak ingat lagi tugasnya menuju ke Hek Sek San !

"Meskipun aku tak dapat berpisah dari kau,"

Kata Sek Mo kemudian.

"akan tetapi aku tidak memikir buat pergi ke Hek Sek San...."

Ciu Tong heran.

"Kenapakah ?"

Tanyanya. Dengan sinar matanya yang sayup-sayup, Sek Mo menatap penarik kereta itu.

"Jalanan ke Hek Sek San itu jalan tegal belukar yang sepi sunyi."

Sahutnya.

"Di sana tidak ada tempat yang indah menarik hati, tidak juga rumah penginapan atau rumah makan, dimana kita dapat berplesiran. Sekarang ini dengan kita duduk berdua saja diatas kereta ini, aku pun merasa kurang gembira."

Ciu Tong menyela kata orang.

"Aku mau pergi ke Hek Sek San, di sana kana kau tunaikan tugasku, habis itu, akan aku temani kau pesiar ke tempat-tempat yang indah dan menarik hati, untuk kita dapati kepuasaan ! Kau setuju, bukan ?"

"Tak sudi aku pergi ke Hek Sek San."

Kata Peng Mo manja.

"Di sana ada Im Ciu It Mo, orang yang paling menjemukan ! Kalau kau pergi ke sana kau aku tak mau mengikut !"

Tapi Ciu Tong tertawa.

"Habis,"

Katanya.

"habis kalau menurut kau, kita harus pergi kemana ?"

Peng Mo menekan dahi orang, dia bersenyum.

"Nah, beginilah baru kau menjadi saudaraku yang manis !"

Katanya girang.

"Kau bilanglah !"

Kata Ciu Tong, yang ia pun girang sekali.

"Bilang kemana kita harus menuju. Akan kau ikut kau !"

Peng Mo menengadah langit, agaknya dia berpikir.

"Mari kita pergi ke Kang Lam !"

Bilangnya sejenak kemudian.

"Kang Lam indah segala-galanya ! Kau akur bukan ?"

Dengan matanya yang tajam tetapi jeli, Sek Mo menatap orang yang disampingnya itu. ia menantikan jawaban. Perlahan sekali ia menyanyikan syairnay Pek Kie Ek.

"Mengenang Kang Lam".

"Kang Lam indah, sudah semenjak dahulu kala ! Kalau matahari muncul, merahnya melebihi api ! Kalau musim semi datang, air sungainya hijau kebirubiruan ! Dapatkah Kang Lam tak dikenangkan ?"

Suara itu merdu sekali, puas Ciu Tong mendengarnya.

"Baik, baik !"

Katanya cepat.

"Baik akan kau selalu mendampingimu ! Kang Lam memang indah, dengan aku berada bersama, bagaimana aku berbahagia !"

Berkata begitu, jago Hek Keng To ini mengangguk berulang-ulang.

"Hm, kau bisa saja !"

Kata Peng Mo yang cahaya mukanya terang sekali.

"Nah, sudah !"

Katanya kemudian.

"Tengah hari akan segera tiba, mari kita percepat perjalanan kita !"

Ciu Tong tertawa, dia mencambuk kudanya.

Maka dengan berlarinya Bienatang itu, terdengarlah suara berisiknya rodaroda keretanya.

Sang kuda pun meringkik beberapa kali.

Dua-dua Ciu Tong dan Peng Mo ada pikirannya masingmasing, tetapi dalam hal asmara untuk berplesiran hati mereka bersatu.

Selagi kuda berlari-lari masih mereka berbicara tak hentinya, saban-saban sambil tertawa, mereka terus bergurau........

Tiba disebuah tikungan, disitu terdapat jalan cagak.

Ciu Tong hendak mengambil jalan yang satu untuk memasuki sebuah dusun atau mendadak Peng Mo menarik dan menahan kudanya.

"Kita menuju ke kecamatan Kang pou !"

Kata nikouw itu.

"Di sana ada restoran Kui Hiang Koan yang tersohor. Di sini tidak menarik !"

Ia pun melirik manis pada si sahabat baru. Ciu Tong tertawa.

"Baik su thay. Akan aku iringi kehendakmu."

Bilangnya.

"Kita harus berjalan malam-malam ! Bagaimana, apakah kau dapat makan rangsum kering ? Aku kuatur kau nanti mengeluh perutmu perih......"

Peng Mo bersenyum. Ia menarik las kuda, membuat binatang itu mengambil jurusan jalan besar.

"Kita akan jalan siang dan malam !"

Kata ia.

"Jalan malam pun menarik hati, kita dapat melihat sinarnya si putri malam yang indah permai. Jangan kau menguatirkan apa-apa, akan aku membuatmu puas !' Selagi kedua orang itu berbicara dan bergurau, mereka tidak tahu bahwa diatas kereta mereka diatas tenda, ada rebah seorang lain yang tidur nyenyak sekali hingga dia mirip mayat hidup. Dialah Gak Hong Kun. Dia terganggu urat syarafnya tetapi dia tak kenal capek, adalah setelah berlompat naik ke atas keretanya Ciu Tong dan merebahkan diri disitu, kontan dia tidur pulas demikian nyenyaknya. Dengan demikian dia telah dibawa terus oleh jago Hek Keng To itu diluar tahu si jago dan diluar tahunya sendiri....... Kota kecamatan Kangpou terletak di tengah jalan hubungan yang ramai dan penting antara utara dan selatan hingga banyak kereta dan orang mondar mandir di sana, kotanya pun ramai sekali. Disitu terdapat banyak restoran dan kedia teh, begitu juga rumah-rumah penginapan. Siapa lewat disitu pasti dia mampir akan bermalam. Ada pula tempat keramaiannya, yang terpisah dari pusat kota kira lima lie. Itulah sebuah rimba ditengah-tengah mana terdapat bagian yang tumbuh pelbagai macam bungan dan walaupun di musim gugur, semua pepohonan itu tetap hidup segar hingga selalunya indah pula sejuk. Sangat menyenangkan dan nyaman rasanya berdiam disitu. Dan Kui Hiang Koan justru dibangun dan dibuka ditengah-tengah rimbah itu indah. Dia bagai dikurung pohon-pohon itu. Dan untuk tiba disitu orang merasa leluasa dengan dibuatnya sebuah jalan besar yang berbata putih, tepat sampai di muka hotel sekali. Hotel kenamaan itu tinggi dan besar, ruang dalam berlapislapis, ada lauteng dan sanggounya, ada pelbagai paseban atau pafiliunnya dimana orang dapat duduk berangin atau main catur. Setiap halamannya ada taman kecilnya. Sedangkan gentengnya hijau dan temboknya merah, membuat menarik hati siapa gemar akan syair........... Oleh karena hotal ternama, para tamunya juga orang-orang yang tersohor atau berharta seperti pemuda-pemuda hartawan dan gagah para saudagar besar bahkan tak terkecuali kaum Lok Lim Rimba hijau kalangan atas. Mereka itu termasuk golongan orang-orang yang tangannya terlepas yang biasa dilayani oleh nona-nona manis pelayan biasa atau tukang-tukang bernyanyi. Di muka umum pemilik hotel adalah Siang Kang Ba Fung Theng Liok Cim si Tongkat Tak Berbayang dari Siangkan. Sedangkan sebenarnya dialah seorang Kang Ouw golongan sadar yang benci akan segala kejahatan, maka juga sambil mengusahakan perusahaannya itu, diam-diam ia dapat mengawasi gerak geriknya setiap orang kaum sesat yang singgah di hotelnya itu. Menarik hati adalah seluruh ruang dari Kui Hiang Koan, Kui Hiang berarti hanya kesatria yang harum. Maka itu disemua bagian temboknya dipajang gambar-gambar lukisan yang indah-indah serta syair-syari yang berarti. Diantaranya ada sebuah lian atau syair berpigura yang penulisnya menyebut dirinya "Anak nakal !"

Sudah tulisan huruf-hurufnya indah dan "gagah", bunyinya pun mengherankan banyak orang. Beginilah lian itu.

"Semasa hidupnya tiada lawan. Berlaksa urusan tak meminta bantuan". Bersama si penulis syair si Anak Nakal itu tertera juga namanya pemilik Kui Hiang Koan. Sudah belasan tahun Kui Hiang Koan diusahakan. Selama itu belum pernah terjadi peristiwa apa juga di dalam hotel itu. Kata orang kesejahateraan itu berkatnya syair itu bahwa sekalipun orang-orang yang bermusuh satu dengan lain mereka tak berani berselisih atau berkelahi di dalam Kui Hiang Koan. Demikian itu satu hari maka Ciu Tong bersama Peng Mo telah menghentikan keretanya yang berkuda dua di depan hotel yang tersohor itu. Cek Hong Siancu memimpin Sek Mo turun dari kereta untuk bertindak masuk ke dalam hotel, sedangkan seorang pelayan sudah lantas menyambuti tali kereta itu ke istal buat dijagai dan dirawat kudanya. Sementara itu diluar tahunya si jongos hotel, Hong Kun tetap tertidur nyenyak diatas tenda kereta itu. Untuk dapat mengambil hatinya Peng Mo, Ciu Tong meminta sebuah kamar yang terkurung taman bunga serta memesan barang hidangan yang istimewa. Sambil menenggak arak perlahan-lahan, mereka ngobrol dengan asyiknya. Sampai jam tiga lewat mereka masih terus bergurau memain asmara. Sekonyong-konyong daun pintu kamar terbuka dan satu bayangan orang menyeplok masuk tanpa diketahui sepasang merpati yang lupa daratan itu. Merekalah yang dibilang .

"Arak tak memabukkan orang, orang mabuk sendirinya."

Ciu Tong pula merasa sangat puas karena ia selalu membaui bau harum kewanitaan.....

Bayangan atau orang yang baru masuk itu sudah lantas mengawasi bergantian kepada si pria dan wanita, juga seluruh kamar, sesudah itu mendadak ia memperdengarkan suaranya.

"Hm !"

Peng Mo yang mendengar paling dahulu hingga dia menjadi terkejut. Dengan lantas dia mengangkat kepalanya, mengawasi orang itu. Dalam kagetnya dia menegur.

"Siapakah kau ? "Hampir berbareng dengan itu, ia berjingkrak bangun sambil sebelah tangannya menarik lengan Ciu Tong hingga keduanya jadi berdiri berendeng. Ciu Tong pun mengawasi orang dengan ia bermata berkedip-kedip, tetapi ia lekas sadar dari separuh sintingnya selekasnya ia sudah melihat nyata. Lantas ia menyapa.

"Oh, Ie Tok Sinshe ! Malam begini sinshe datang kemari, ada apakah pengajaranmu ?"

Orang itu memang Ie Tok Sishe, hanya dialah si Ie Tok Sinshe palsu, sebab dia adalah Couw Kong Put Lo. Dia bersenyum atas teguran itu.

"Saudara Ciu, bagus, bagus !"

Demikian katanya.

"Saudara, datangku si tua kemari ialah guna mengambil pulang sebuah guci arak !"

Ciu Tong melengak.

Tidak mengerti dia akan kata-kata itu.

Peng Mo sebaliknya dapat menerka, maka juga ia lantas menatap orang itu dengan matanya dibuka lebar-lebar sehingga sinarnya tampak bengis tetapi ketika ia bicara, ia tertawa .

"Tua tua, kau keliru mengenali orang ! Di sini tidak ada guci arak yang kau cari itu !"

Couw Kong Put Lo menunjuki tampang heran, nampak ia mendongkol.

Ia mengira Peng Mo tidak mau mengenalnya sebab si Bajingan Es sudah mendapati pacar baru.

Walaupun sepintas lalau, dahulu hari pernah mereka berdua bercintacintaan.

Ia tidak puas sebab orang seperti tak sudi mengenalnya !

Setelah melengak sejenak, Couw Kong Put Lo lantas terasadar.

Ia mengerti yang orang tak mengenalnya karena ia lagi menyamar sebagai Ie Tok Sinshe.

Ia mengenakan topeng yang merupakan wajah lain orang.

Biar begitu, ia toh tergiur hatinya menyaksikan bekas pacar itu demikian menggairahkan.

Hampir ia menyebut dirinya sebagai Couw Kong Put Lo dan bukannya Ie Tok Sinshe.

Syukur ia dapat mencegahnya.

Sebagai gantinya kata-kata, ia berpura batuk.

Walaupun demikian, ia tetap likat.

Ciu Tong jeri terhadap Ie Tok Sinshe, tapi setelah mengawasi sekian lama dan mendengari pembicaraan orang dengan Peng Mo, ia bercuriga.

Terutama ia merasa cemburu.

Saking tak puas, ia lantas kata keras .

"Sahabat, di depan aku Cek Hong Siansu, jangan kau mendusta ! Jikalah kau tahu gelagat, baiklah besok kita bicara pula !"

Kata-kata itu tak terlalu keras tetapi itu lah pengusiran.

Couw Kong Put Lo pun merasa tak puas.

Sebenarnya ia jelas melihat Peng Mo ada bersama pria lain.

Di sini mereka bertemu secara kebetulan saja.

Ia sengaja muncul dengan maksud menggertak Ciu Tong.

Ia percaya orang bakal menjadi ketakutan dan pergi menyingkir.

Ia tak mengira, Siansu itu justru tak takut padanya.

Mungkin Ciu Tong sudah mengetahui penyamarannya itu......

Couw Kong Put Lo tertawa dingin.

Ia tak puas.

"Eh, saudara Ciu !"

Katanya.

"Apakah kau hendak menguji kepandaianku si orang tua menggunakan racun maka barulah kau puas ?' Sepasang alisnya Ciu Tong terbangun.

"Sret !"

Dia menghunus pedang di punggungnya. Lantas dia tertawa tawar dan kata sabar .

"Aku yang rendah barulah takluk jika aku menghadapi Ie Tok Sinshe yang sejati yaitu Tok Mo Cianpwe yang namanya tersohor di seluruh dunia sungai telaga, sebaliknya terhadap si palsu, hendak kau mainmain dengan pedang disaat habis aku minum arak."

Jago dari Heng Keng To ini menjadi bercuriga dan menyangka orang adalah orang palsu.

Ia pula tak senang sebab ia terganggu kesenangannya.

Orang hendak merampas pacarnya !

Mana ia mau mengerti ?

Demikian ia menantang.

Couw Kong Put Lo membawa sikap tenang-tenang saja.

"Saudara Ciu"

Katanya.

"Walaupun ilmu pedang Hek Keng To sangat tersohor tetapi kau, mana kau sanggup menyambut aku barang tiga jurus ? Maka itu tak usahlah kau bicara tentang digunakannya Racun !"

Sebisa-bisa Couw Kong Put Lo tetap hendak membawa tingkahnya Tok Mo, tenang tapi jumawa.

Walaupun ia bicara dengan Ciu Tong, ia tak lengah akan melirik kepada Peng Mo.

Ciu Tong gusar tak terhingga, maka melesatlah ia ke depan orang tua itu.

Pedangnya segera digeraki dipakai membacok.

Ia menggunakan tipu pedang "Angin Puyuh Menyapu Salju."

Cepat luar biasa, Couw Kong Put Lo berkelit. Ia melihat ilmu pedang orang telah terlati baik tetapi ia tak takut. Ia tertawa dingin dan kata .

"Dengan ilmu pedang begini macam kau berani menerbitkan onar di dalam Kui Hiang Koan ? Hmm !"

Hebat kata-kata itu menusuk hatinya Ciu Tong.

Dia terkejut hingga segera dia menghentikan serangannya terlebih jauh.

Sedangkan menurut panas hatinya ingin dia menikam mampus pada penggoda ini.

Memang semenjak beberapa puluh tahun untuk di Selatang dan Utara baik dikalangan Putih maupun golongan Hitam, tak ada orang yang berani berkelahi di dalam penginapannya Liok Cim ini.

Siapa menjadi orang Kang Ouw yang sudah biasa bertualang jarang yang tak mendengar namanya pemilik penginapan Kiu Hiang Koang.

Dan Ciu Tong bukannya satu kecuali.

Itulah sebabnya kenapa jago Hek Keng To ini lantas merubah sikapnya.

Tapi ia penasaran, maka tak mau ia mengalah dan kata .

"Kalau kita bicara dari hal peraturan Kui Hiang Koan, maka kaulah yang paling utama harus mendapat hukuman !"

Couw Kong Put Lo menyambut dengan tawanya......

"Apakah katamu ?"

Katanya sengaja.

"Jika peristiwa malam ini aku keluarkan di muka umum"

Berkata Ciu Tong.

"hendak aku lihat kau masih mempunyai muka atau tidak untuk melihat orang ! Berbareng kepalsuanmu sebagai Tok Mo juga pasti akan terbongkar."

Kata-kata itu ditutup dengan tawa yang nyaring. Di dalam hati Couw Kong Put Lo terkejut juga hingga tanpa merasa ia berhenti tertawa. Hanya sebentar ia berkata pula .

"Saudara Ciu, jangan kau mencoba memfitnahku ! Kau lihat disini cuma ada kita orang bertiga ! Pula di saat ini ada tengah malam buta. Nah, saudara, bagaimana kalau buat urusan dia kita berbicara dengan mementang jendela."

Tamu tak diundang ini berpaling kepada Peng Mo dan menunjuknya.

Couw Kong Put Lo tidak tahu halnya Ciu Tong menuduh dialah Tok Mo palsu tanpa buktinya bahwa jago Hek Keng To itu cuma menerka dan menggertak saja.

Ciu Tong menggunakan akal biasa yang disebut "Menimpuk rimba dengan batu secara sembarangan saja".

Kapan dia mendengar suaranya penggoda ini menjadi lunak, dia mendapat hati.

Maka dia tertawa terkekeh dan kata .

"Sicu tahu selatan, dialah si orang gagah ! Kau saudara, kaulah si orang gagah itu !"

"Hm !"

Couw Kong Put Lo memperdengarkan suara dinginnya. Agaknya dia mencoba menguasai kemarahannya. Lantas dia bertindak ke meja perjamuan untuk duduk diatas sebuah kursi, sembari berbuat begitu dia kata .

"Jangan tertawakan aku, si tua hendak mencicipi arak kalian !"

Terus dia mengangkat poci arak, menuang isinya ke dalam sebuah cawan.

Dia pun mengisikan cawan-cawannya CIu Tong dan Peng Mo.

Setelah itu sendirinya dia menengak isi cawannya !

Selama itu Peng Mo berdiam saja.

Ia cuma memperhatikan gerak geriknya kedua orang itu, sekarang menyaksikan perubahan sikap dari si tetamu tidak diundang, ia lantas menoleh kepada Ciu Tong.

Ia memberi isyarat dengan menjebikan bibirnya, habis mana ia menghampiri kursi buat terus berduduk disitu.

Ciu Tong tertawa dingin, dia masuki pedangnya kedalam sarungnya.

Dia pun terus berkata tawar .

"Sahabat, kalau kau ada sesuatu, bicaralah supaya aku dapat mendengarnya."

Couw Kong Put Lo mengangkat cawannya. Dia tertawa.

"Mari kita keringi dulu cawan kita !"

Katanya dengan gembira.

"Malam yang indah ini pun tak dapat disia-siakan !"

Dan dia mendahului meneguk araknya.

Ciu Tong dan Peng Mo saling mengawasi.

Keduanya bercuriga dan kuatir nanti kena dibokong.

Mereka tidak minum arak mereka dan juga membungkam.

Couw Kong Put Lo membuat main janggutnya yang mirip janggut kambing, dia tertawa terbahak-bahak.

"Sungguh diluar sangkaku si orang tua yang dua orang yang gagah kaum Kang Ouw yang tersohor tidak memiliki nyali besar untuk minum arak yang disuguhkan oleh aku si orang tua !"

Demikian katanya. Dan dia tertawa puas. Peng Mo tertawa dan kata .

"Orang Kang Ouw yang licik dan licik, aku si pendeta telah banyak melihatnya ! Dan kau tuan, kau orang kalangan apa, sampai nama dan julukanmu pun kau tak berani memberitahukannya ! Cobalah kau pikirkan, apakah caramu ini ada caranya laki-laki sejati kaum kangouw ?"

Couw Kong Put Lo mengawas tajam nikouw itu, kembali dia tertawa.

"Su thay yang baik, kau cuma ingat sahabat yang baru hingga kau melupai sahabat yang lama!"

Katanya.

"Ah, aku si tua walaupun rupaku telah berubah akan tetapi suaraku tetap suaraku yang lama ! Kau bilang kau tidak kenal aku si tua, itulah rada keterlaluan !"

Kembali dia mengisikan cawannya terus cawan itu diangkat.

"Aku minta sukalah saudara Ciu berlaku sedikit polos !"

Kata dia.

"Saudara mari kita mengeringi cawan kita ! Habis minum maka aku si tua akan memberitahukan namaku yang buruk !"

Ciu Tong sebenarnya cerdik dan jumawa, tak biasanya ia menerima ajakan atau penghinaan, maka itu di dalam keadaan sesulit itu ia lantas mendapat satu pikiran.

Mendadak sontak ia bangkit berdiri dan mengangkat cawannya terus ia berkata nyaring .

"Aku Ciu Tong di dalam dunia Kang Ouw, ada juga namaku yang kecil, maka arak ini biar ada rencananya yang dapat memutuskan haus, akan aku coba meminumnya !"

Ia terus membawa cawan ke mulutnya untuk ditengak kering !

Tetapi ia tidak telan itu, ia berpura jatuh membungkuk pada belakang kursi, tangannya dipakai menekan semua arak itu.

lantas dikeluarkan pada tangan bajunya !

Couw Kong Put Lo heran menyaksikan Ciu Tong "roboh"

Demikian cepat hingga ia menerka yang ia telah menggunakan racunnya terlalu banyak.

Ia pula terlalu tergiur terhadap Peng Mo hingga ia tak ingat akan memperhatikan Ciu Tong benar terkena racun atau tidak.

Peng Mo tak menyangka Ciu Tong lagi main gila, melihat kawan itu roboh tak sadarkan diri ia bersyukur yang ia tidak minum arak dan tidak roboh karenanya.

Ia girang yang ia tidak berlagak menjadi seorang kosen.

Di sebelah itu heran yang tamunya demikian lihai.....

"Aku pun harus mencoba."

Pikirnya kemudian. Dia tetap berlaku tenang. lalu dia kata pada tamunya itu .

"Orang jaman dulu kala berkata, 'Sekali sinting lenyap seribu kedukaan', karena itu pinni juga ingin menemani kau lotiang untuk mengeringi cawanku supaya kita sama-sama mabok."

Dengan lirikan tajam dan menggiurkan hati, Peng Mo memandang Couw Kong Put Lo terus ia berbangkit dan bertindak lembut menghampiri orang tua itu sambil ia mengangkat cawannya.

Tamu itu girang sekali.

Ia cuma memperhatikan Peng Mo.

Pikirnya kalau Peng Mo pun mabuk betapa senangnya dia nanti.........

Karena ini ia menyambut ajakan si nikouw.

Biar bagaimana ia rada bimbang.

Tak puas ia andiakata Peng Mo roboh seperti Ciu Tong.

pasti ia akan kurang merasai kenikmatan.

Karenanya ia tak lantas menengak araknya.

Sek Mo tertawa.

"Bagaimana, eh ?"

Tegurnya.

"Apakah kau tak memandang mata kepada aku Peng Mo ?"

Couw Kong Put Lo tersengsam. Tapi dia tertawa.

"Minum ?"

Katanya.

"Sebenarnya tak tega aku kalau sampai kau sinting ! Dengan begitu kita sudah menyia-nyiakan malam yang indah ini !"

Ia menoleh kepada Ciu Tong, akan melihat jago Hek Keng To itu. Ciu Tong diam tak berkutik di kursinya. Peng Mo menghampiri lebih dekat pada si tamu, dia membawa aksinya.

"Kau mau minum atau tidak ?"

Tanyanya manja.

"Minum, pasti aku akan minum !"

Sahut Couw Kong Put Lo, yang jadi lupa pada dirinya sendiri.

"Asalkan tidak takuti menjadi mabuk, aku si tua akan melayanimu."

Meski ia berkata begitu, ia tapinya tidak lantas minum araknya. Kedua orang itu berdiri berhadapan dekat sekali satu dengan lain, tak ada sekali terpisahnya.

"Kau menyia-nyiakan kebaikan orang, akan aku tidak hiraukan kau !"

Kata Peng Mo, yang terus melemparkan cawannya, hingga cawan itu terus jatuh ke lantai, pecah dan araknya melelehan.

Couw Kong Put Lo tercengang, hingga ia terdiam saja.

Justru ia tercengang atau lantas ia terkejut sekali.

Tahu-tahu ia sudah tidak memakai topengnya lagi sebab penutup mukanya itu secara tiba-tiba dijambret Sek Mo tanpa berdaya !

Segera Pek Mo tertawa geli.

"Oh, kiranya kau, Couw Kong Put Lo. Tidak lagi berkumis atau berjanggut, bahkan mukanya putih dan segar mirip anak muda. Dengan telah berhasil memahamkan isinya kitab "So Lie Kang,"

Dia berhasil mempertahankan kemudaannya.

Di dalam usia lanjut, dia nampak seperti orang setengah tua.

Tak marah Couw Kong Put Lo yang Peng Mo melocotkan kedoknya itu, bahkan ia lantas tertawa.

Katanya gembira.

"Lakon asmara kita dahulu hari itu, aku si tua masih mengenangkannya setiap siang dan malam, tak dapat aku melupakannya. Malam ini, siapa sangka, kita telah bertemu pula. Maka itu sudah selayaknya kalau cinta kasih kita itu kita lanjuti, kita sambung pula."

Peng Mo tertarik hati. Dalam soal asmara dialah juara. Dia selalu mengagumi paras tampan, sambil membuat main topeng orang, ia tertawa dan kata .

"Kalau ini dipakai wanita, entah bagaimana jadi macamnya !"

Ia tertawa mengimplang pria di depannya.

Wajahnya tersungging senyuman.

Ia benarbenar menggiurkan.

Couw Kong Put Lo mengawasi nikouw itu, hatinya melonjak-lonjak, matanya bersinar berapi, sikapnya bagaikan singa hendak menerkam mangsanya.

Peng Mo berkelit lincah ke sisi meja, ketika orang hendak merangkulnya !

Karena ia merangkul tempat kosong, Couw Kong Put Lo menjadi terkusruk ke depan, sampai ia menubruk dinding.

Hampir dia roboh terguling.

Dengan cepat ia memutar tubuh buat maju pula kepada pacarnya.

Sek Mo menghindarkan dari dengan ia berputar di seputar meja, sembari lari itu ia tertawa manis.

Sebab si pria terus mengejar, mereka lantas bagaikan main petak di seputar meja itu !

Kedua orang itu demikian asyik bergurau hingga mereka melupakan Ciu Tong yang masih diam mendekam seperti juga dia benar-benar tak sadarkan diri sebab terkena obat biusnya Couw Kong Put Lo itu.

Sesudah merasa puas mempermainkan pria di depannya itu, Sek Mo menyerah dengan ia berpura terlalu letih dengan nafas tersengal-sengal ia roboh dilantai sesudah ia membentur kursinya Ciu Tong !

Couw Kong Put Lo berlompat menubruk sembari tertawa, ia berkata .

"Sudah su thay, sudah cukup kau menunjuki kenakalanmu ! Mari kita pergi ke sorga !"

Sambil saling berpeluk, keduanya bangkit berdiri.

Peng Mo sempat menjebi ke arah Ciu Tong unguk memberitahukan Couw Kong Put Lo yang dia kuatir Ciu Tong nanti keburu siuman.

Couw Kong Put Lo mengulur tangan kirinya kepada Ciu Tong, niatnya menotok otot suwtian di belakang batok kepalanya jago Hek Keng To itu.

Sembari dia tertawa dan kata .

"Apakah kau kuatir obat biusku kurang cukup kuat ? Nah, begini sja, kau tentu tak akan berkuatir lagi....."

Belum berhenti kata-katanya si jago tua itu, tau-tau tubuhnya Ciu Tong sudah bergerak bangun seraya sebelah tangannya diluncurkan ke pinggang orang buat menotok jalan darah tay meh.

Couw Kong Put Lo kaget sekali sampai tak sempat dia berdaya hingga seketika juga tubuhnya roboh terkulai dilantai.

Peng Mo kaget sekali, tetapi dia sangat cerdik.

Dia lantas menuding Put Lo sambil mendamprat.

"Oh, bajingan tua bangka ! Bagaimana kau berani menghina aku si pendeta ?"

Dan terus ia mendepak membuat tubuh orang berbalik ! Setelah itu lantas dia berpaling kepada Ciu Tong sembari menanya .

"Saudara Ciu, kau tak kurang suatu apa bukan ?"

Ciu Tong tertawa puas.

"Aku yang muda mana mudah saja aku kena minum racun ?"

Katanya. Terus ia mengawasi Couw Kong Put Lo seraya berkata .

"Setan tua ini menganggu kesenangan kita, sudah selayaknya dia mendapat bagiannya !"

Rupanya panas hatinya jago Hek Keng To ini, dia maju menghampiri terus dia menendang tubuh yang lagi rebah tak berkutik itu ! "Aduh !"

Demikian satu jeritan hebat, jeritan kesakita dibarengi dengan robohnya satu tubh manusia.

Itu bukannya jeritannya Put Lo hanya Ciu Tong gelar Cek Hong Siancu !

Peng Mo melengak.

Dia kaget dan heran hingga dia terus mengawasi Ciu Tong yang tubuhnya terhuyung-huyung, tangannya memegang kaki kanannya.

Di lain pihak Couw Kong Put Lo tampak telah meletik bangun untuk terus mengawasi bergantian kepada Ciu Tong dan Peng Mo !

Hatinya Peng Mo bercekat menyaksikan kelicikan dua orang itu, ia pun bingung sekali.

Siapakah yang harus ia berati ?

Put Lo si sahabat lama atau Ciu Tong si kawan baru ?

Put Lo lihai sekali.

Sudah puluhan tahun dia melatih tenaga dalamnya.

Ketika tadi dia dibokong Ciu Tong dia roboh tak berdaya, tetapi dia bukannya pingsan hanya tetap sadar, maka diam-diam dia mencoba mengarahkan tenaga dalamnya untuk ia dapat pulih tenaganya.

Kebetulan sekali untuknya, selagi ia mencoba menyelamatkan diri itu Peng Mo menendang padanya terkena otot kehidupannya, maka dia bebas dengan segera.

Maka juga sekalian membalas sakit hati, dia menghajar kakinya jago Hek Keng To itu yang mendepak padanya !

Ciu Tong merasai sakit bukan main, terasa hampir kakinya patah.

Maka selekasnya dia dapat berdiri tegak, dia lantas menghunus pedangnya.

"Setan tua, serahkan jiwamu !"

Bentaknya sambil terus menikam ulu hati orang.

Put Lo berkelit, sambil berkelit, dia menyentil belakang pedangnya penyerang itu hingga pedangnya terpental, baiknya tak lepas dari tangan pemiliknya.

Dalam hal imu silat atau tenaga dalam, Put Lo menang dari Ciu Tong, akan tetapi ilmu pedang Hek Keng To juga tidak dapat dipandang ringan.

Couw Kong Put Lo batuk-batuk, terus dia tertawa.

"Saudara Ciu !"

Katanya.

"kita tidak bermusuhan satu dengan lain, bahkan kita dari satu kalangan, karena itu kenapa kau hendak mengadu jiwa denganku ?"

Ciu Tong gusar, dia membentak .

"Tapi kau pikirlah baikbaik ! Kenapa kau melintangi golok dan merampas kekasih orang ? Apakah kau masih menghargai cara-cara kaum Kang Ouw ?"

Lenyap tawanya Put Lo, lantas dia berwajah tawar.

"Habis, apakah tetap kau hendak mengadu jiwa ?"

Tanyanya.

"Kau toh tak mampu melawan aku si orang tua ? Dalam hal asmara kau juga tidak dapat menandingi aku. Maka itu baiklah kau berlaku tenang, kau menerima baik kalau kita membagi rasa ! Bagaimana pendapatmu ?"

Mendengar itu merah mukanya Peng Mo.

"Ciis, setan tua !"

Bentaknya.

"Bagaimana kau berani menghina aku begini rupa ? Siapa yang menghendaki ilmumu yang didapati dari kitab So Lie Kang itu ?"

Di mulut nikouw berkata keras, demikian matanya tetapi dibuat main.

Melihat tingkahnya Peng Mo itu, Ciu Tong gusar sekali.

Tetapi ia membungkam.

Adalah setelah kakinya tak terasakan nyeri hebat seperti tadi, ia maju menyerang pula kepada Tok Mo palsu.

Lima kali dia menyerang berulang-ulang hingga pedangnya berkilauan dan suara anginnya berserabutan, sampai api lilin pun bergoyang-goyang !

Couw Kong Put Lo benar lihai.

Dia tidak membalas.

Asal dibacok, ditikam atau ditebas, dia berkelit secara gesit dan lincah sekali, senantiasa dia menyingkir dari ujung pedang.

Baru kemudian dia kata secara menantang .

"Akan kau mengalah buat sepuluh jurus seranganmu, supaya dengan begitu puaslah hatimua, supaya kau dapat berpikir dan mengerti !"

Ciu Tong menyerang berantai lima kali dengan ilmu pedang istimewa dari Hek Keng To, biar bagaimana ia cepat dan gesit selalu ia gagal.

Karenanya ia menjadi berpikir.

Lantaran berpikir ini hawa amarahnya berkurang sendirinya.

Begitulah ia menghentikan serangannya lebih jauh untuk berkata dengan tawar .

"Setan tua, kau berjumawa ! Bagaimana kau berani bertahan buat sepuluh jurusku ? Apakah ini lima jurus yang sudah lewat masuk hitungan atau tidak ?"

Put Lo mengawasi orang dengan tampangnya sangat temberang terus dia tertawa ! "Eh, orang she Ciu !"

Demikian sahutnya.

"Jika memangnya kau mempunyai kegembiraanmu bolehlah kau menyerang pula kepadaku sepuluh jurus lagi ! Ketahuilah olehmu, aku si orang tua, aku akan tidak membalas menyerangmu !"

Hatinya Ciu Tong panas tetapi dia tersenyum. Terus dia mengangkat pedangnya.

"Berhati-hatilah kau !"

Teriaknya seraya terus memutar pedangnya itu untuk mulai dengan penyerangannya. Itulah jurus silat "Angin Puyuh Menggulung Gubuk"

Yang dimulai dengan serangan dari bawah sesaat pedangnya berputar.

Put Lo kaget oleh serangan itu.

Itulah karena disaat itu ia kebetulan berdiri membelakangi tembok.

Terpisahnya tidak ada dua kaki.

Sangat sulit buat ia berkelit mundur.

Pedang pun terus dibolang balingkan.

Maka jalan selamat baginya cuma berlompat tinggi.

Karenanya tidak ada jalan lain, segera ia mengeluarkan ilmu penolong dirinya yang istimewa.

Begitu dia berkelit, begitu ia bagaikan lenyap dari pandangan mata !

Apakah yang terjadi ?

Di saat serangan tiba, Put Lo mundur menempelkan tubuhnya pada tembok terus ia menjejak lantai, terus kedua tangannya ditempelkan juga kepada tembok.

Kali ini ia menggunakan "Pek Houw Yu Cong", ilmu "Cecak merayap memain di tembok"

Hingga ia dapat melompat naik lima kaki tingginya !

Ciu Tong heran dan kagum.

Tipunya sangat lihai, sebab dia menebas dari bawah ke atas, terus ke bawah lagi disebabkan pedangnya diputar sebab bagaikan angin puyuh yang.

Kecepatannya itu dinamakan "Hung Khong Thian Mo".

"Kuda Langit Jalan Udara". Ia heran dan kagum sebab ia gagal. Karena menghilang, dengan cepat ia memutar tubuh ! Maka ia mendapati Put Lo lagi berdiri di belakangnya ! Selekasnya ia tiba diatas, Put Lo menekan tembok dengan kedua tangan dan kakinya, membuat tubuhnya mencelat melewati kepala orang, hingga ia dapat menaruh kaki di lantas tanpa dapat dilihat lawan. Gerakan itu dilakukan dengan kecepatannya. Couw Kong Put Lo menyangkal kata-katanya, kalau dia menyerang, pasti celakalah jago dari Hek Keng To itu, tak nanti dia sempat menangkis atau berkelit. Peng Mo bingung, menyaksikan pertempuran itu. Kalau keduanya sudah bersungguh-sungguh, salah satu pasti bakal roboh korban, atau ada kemungkinan dua-duanya nanti samasama mendapat luka. Kalau sampai terjadi begitu, itulah berabe ! Pemilik Kui Hiang Koan pastilah bakal jadi gusar sekali atau urusan mereka bertiga, rahasia asmara mereka bakal tersebar luas. Pasti ia bakal dapat malu besar karenanya.

"Tahan !"

Akhirnya dia berseru. Put Lo tertawa nyaring. Katanya nyaring juga .

"Kau takut ? Apakah yang harus ditakuti ? Walaupun ilmu pedangnya saudara Ciu sangat lihai dan dia juga telengas, tak nanti dia dapat berbuat sesuatu atas diriku !"

Mendengar itu, mukanya Ciu Tong menjadi merah.

Ia merasa kulit mukanya sangat panas !

Tapi dialah orang Kang Ouw yang berpengalaman, dia tahu diri.

Dia anggap dimana dia harus berhenti.

Maka dia menguasai dirinya, mengekang hawa amarahnya.

Justru Peng To memperdengarkan cegahannya itu, walaupun dengan jengah, dia toh tertawa dan kata .

"Couw Kong cianpwe, benar-benar kau lihai ! Baiklah dengan memandang mukanya Peng Mo Su thay, suka aku menghentikan pertempuran kita ini !"

Dan dia masuki pedangnya kedalam sarungnya, dia pula bertindak mundur. Sepasang alisnya Put Lo bangun berdiri.

"Kau baik, Saudara Ciu"

Katanya.

"Senang aku menerima kebaikanmu ini !"

Berkata begitu, jago tua ini memutar tubuhnya untuk menghampiri Peng Mo. Ia mau menjambret ujung bajunya si nikouw, nikouw, buat ditarik diajak masuk kedalam. Sek Mo tertawa.

"Ah, kau terlalu !"

Katanya, matanya mengawasi Ciu Tong.

"Mana dapat ?"

Put Lo pun tertawa. Kata dia .

"Saudara Ciu laki-laki sejati, hatinya terbuka ! Dia toh cuma membiarkan aku si tua berjalan lebih dahulu satu tindak ! Sebentar akan tiba gilirannya ! Ha ha ha!"

Mukanya Ciu Tong merah padam, bukan main ia mengekang diri, dadanya sampai naik turun. Ia mengawasi Peng Mo, wajahnya murah.

"Su thay"

Katanya.

"kau."

Cuma begitu ia dapat membuka mulutnya, terus ia membungkam.

Peng Mo bingung juga.

Ya, ia ingin merasakan segar, siapa tahu dua orang itu tak sudi saling mengalah.

Mana dapat ia memecah diri.

Ia pula tak dapat bicara.

Bergantian ia mengawasi kedua kekasih itu, lalu tiba-tiba setelah megngertak gigi ia kata sengit .

"Kalian berdua boleh bertempur sampai hidup atau mati ! Aku mau pergi !"

Dengan hanya satu kali menjejak lantai, nikouw ini sudah lantas lompat keluar jendela !

Dua-dua Couw Kong Put Lo dan Ciu Tong Siancu melengak.

Itulah perubahan sikapnya Biekuni yang mereka tak sangka sama sekali, hingga tidak ada kesempatan buat mereka mencegah.

Mereka lantas saling mengawasi lantas keduanya sama-sama lompat juga ke jendela untuk lari menyusul !

Jilid 50 Di luar Peng Mo tak tampak !

Entah dia menyingkir kemana.......

Sebaliknya, mereka lantas menyaksikan sesuatu yang membuat mereka heran dan kaget karean mereka tidak mendapat tahu tak dapat menerka, di dalam Kui Hiang Koan sudah terjadi perkara apa !

Di jalan umum yang menuju ke penginapan terdengar suara berisik dan tampak banyak orang berjalan berlari-lari dalam rombongan-rombongan dari empat atau lima orang, semua mengenakan pakaian hitam, semua bersenjata, seperti juga mereka itu lagi menghadapi musuh besar.

Lebih-lebih ialah cahaya sangat terang dari banyak obor dan lentera yang membuat golok dan pedang bercahaya berkilau-kilau.

Bentakan-bentakan pun terdengar tak putusnya.

Kawanan orang-orang berseragam itu terus menuju ke sebelah kiri penginapan.

Ciu Tong mengangkat kepalanya, memandang ke arah kiri itu.

Ia melihat sebuah pemandangan dimana terdapat cahaya terang naik tinggi, umpama kata sampai diudara, seluruhnya merah.

Ketika itu mungkin baru jam empat tetapi langit terang bagaikan siang hari.

Lekas-lekas jago Hek Keng To ini menoleh ke sisinya, atau dia melengak !

Couw Kong Put Lo tidak ada disisinya itu, entah kapan perginya dia dan setahu dia pergi kemana.

Maka lekas-lekas ia berlompat naik ke genteng.

Maka sekarang ia bisa melihat diantara cahaya api itu, didalam sebuah halaman beberapa orang berseragam hitam tengah mengurung dan menyerang seorang pemuda yang bergenggaman pedang.

Mereka itu bertempur sambil membentak-bentak.

Diantaranya terdengar juga suaranya ringkik kuda !

"Aneh !"

Pikir Ciu Tong atau segera dia ingat bahwa di dalam kereta karungnya justru termuatkan sesuatu yang penting miliknya Im Ciu It Mo.

"Mungkinkah yang terbakar itu istal dimana mereka dan kudaku ditambatkan ?"

Karena ia mengingat demikian, tanpa ayal sedetik juga, jago Hek Keng To ini berlari-lari diatas genteng menuju ke tempat kebakaran dan perkelahian itu.

Baru ia melintasi beberapa wuwungan, mendadak ada sinar pedang yang berkelebat menyambar pinggangnya sambil ia dibentak .

"Tahan !"

Cepat luar biasa, ia berlompat ke samping akan berkelit buat seterusnya memutar tubuh, mengawasi penyerangnya itu. Itulah seorang muda yang goloknya tajam mengkilat.

"Kau siapakah tuan ?"

Cui Tong mendahului menyapa.

"Tuan dari golongan mana ? Aku sendiri ialah Ceng Hong Siancu Ciu Tong......."

Orang itu tidak mau menyebutkan nama dan golongannya, dia hanya menjawab bengis.

"Kami mau membekuk orang jahat yang melepas api ! Mau apa kau pergi menuju kesana ?"

Ciu Tong mendongkol atas perlakuan itu, maka ia pun kata tak kalah bengisnya .

"Tuan kenapa kau tak sudi memberitahukan nama atau gelaranmu ? Kenapa kau justru merintangi aku ? Rupa-rupanya kaulah konco dari pelepas api itu !"

Pemuda bergegaman golok itu menjadi gusar sekali.

"Di Hek Keng To juga tidak ada orang baik-baik !"

Katanya nyaring.

"Mana orang ? Mari kepung manusia ini jangan biarkan dia lolos !"

Atas seruan itu, dari empat penjuru wuwungan lantas muncul empat orang berseragam hitam yang terus mengurung jago dari pulau Ikan Lodan Hitam itu.

"Segala manusia tak berguna !"

Kata Ciu Tong yang tertawa tawar.

"Kalian mau mencari mampus ?"

Dan ia menghunus pedangnya.

"Bekuk dia !"

Membentak si pemuda bersenjatakan golok itu yang lalu mendahului maju menyerang.

Ciu Tong berkelit atau mana ia diserang pula beruntun hingga lima kali.

Si anak muda berdarah panas dan telah mendesak keras.

Menyusul dia maju pula empat orang kawannya itu.

Dengan lantas Ciu Tong mengenali kelima orang itu bersilat dengan ilmu silat golongannya Koay To Ciok Peng si Golok Kilat.

Ia berlaku lincah akan selalu berkelit sampai satu kali ia menangkis keras hingga pedang dan golok bentrok nyaring dan berisik.

Dengan begitu ia menghalangi kelima orang itu dengan ia terus lompat mundur ke sebuah wuwungan dimana ia berdiri tegak sambil berseru .

"Tahan ! Tuan, kau pernah apakah dengan Koay To Ciok Peng Ciok Cianpwe ?"

Jago Hek Keng To ini menghormati Koay To Ciok Peng juga maka ia membahasakannya cianpwe, orang tingkat lebih tua yang terhormat.

Ia pun sengaja menanya untuk menegaskan saja.

Namanya Ciok Peng sangat dikenal dan ia menghargainya.

Memang Ciok Pen, sejak beberapa tahun ini, telah menjadi pengusaha dari Kui Hiang Koan, maka itu para pelayan atau pegawai hotel itu mesti murid-muridnya.

Sedangkan menurut orang yang tahu pemilik sah dari Kui Hiang Koan adalah seorang jago rimba persilatan yang tersohor yang sudah lama hidup menyembunyikan diri.

Terhadap Ciok Peng sendiri Ciu Tong tidak jeri tetapi ingin dia berhati-hati.

Atas kata-kata Ciu Tong yang terakhir lagi si anak muda menjawab dingin .

"Tuan mudamu ini ialah muridnya keluarga Ciok dan namaku San Sie ! Kau telah ketahui nama guruku, sekarang terangkan mau apa kau datang ke tempat kami ini ?"

Ciu Tong dapat menyadari diri. Ia merangkapkan tangannya memberi hormat.

"Aku baru tadi sore tiba disini dan singgah di penginapanmu, tuan."

Ia memberi keterangan.

"Tempat kebakaran itu justru tempat dimana keretaku ditaruh, maka itu hendak aku melihatnya !"

Begitu dia menutup kata-katanya, orang she Ciu itu lekas berlompat untuk melanjuti kepergiannya.

"Tahan !"

Si anak muda membentak pula. Dan ia mencoba menghadang lagi.

"Tuan mudamu masih hendak menanyakan sesuatu."

Cegahan anak muda itu diikuti oleh ke empat kawannya. Sikap mereka itu sangat mengancam Ciu Tong gusar tetapi ia masih menguasai dirinya.

"Ada apakah pengajaranmu tuan ?"

Tanyanya tetap hormat. See Sie menatap tajam. Dia melirik.

"Kui Hiang Koan mempunyai aturannya sendiri !"

Katanya keras.

"Kau telah ketahui itu, tetapi kenapa kau melanggarnya ? Apakah kau sengaja ?"

Ciu Tong melihat ke arah kobaran, ia menjadi bingung sekali.

Api berkobar demikian rupa hingga ia kuatir keretanya menjadi hangus.

Di dalam kereta itu ada termuat "batang yang sangat berharga", tetapi pemuda garang dan jumawa ini menghalang-halanginya !

"Aku mau melihat keretaku itu !"

Katanya mendongkol.

"Di dalam keretaku itu termuat barang yang berharga. Apakah dengan begitu aku jadi melanggar aturan penginapanmu ?"

See Sie membalingkan goloknya.

"Di dalam kereta bertenda semacam itu juga dimuatkan barang berharga ?"

Katanya mengejek.

"Ha ha ! Sungguh lihai tipu dayamu untuk mengelabui orang !"

Ia lantas menghadapi ke empat kawannya untuk memberi isyarat, setelah mana, ia menyambungi berkata lebih jauh pada tamunya .

"Barang pentingmu itu bukan dibakar oleh orang-orang kami ! Buat apa kau tergesa-gesa tak karuan ?"

Hebat kata-kata ini.

Dengan begitu bukan saja Ciu Tong tidak dipercaya bahkan tetapi dia dicurigai sebagai konconya si pembakar !

Pikirannya Ciu Tong bagaikan kacau.

Ia gusar dan berkuatir.

Ia menyaksikan menghebatnya api.

Ia pula makin nyata suara bentrokannya pelbagai senjata tajam.

Terpaksa ia menghunus pula pedangnya, sambil ia berkata keras .

"Bocah, kalau kau mampu, kau rintangilah aku !"

Kata-kata bengis itu ditutup dengan satu tikaman kepada si anak muda, untuk diteruskan ditebas ke kiri dan kanan kepada ke empat orang berseragam hitam itu.

See Sie berkelit lalu sembari maju pula ia membalas membabat pinggang orang !

Ciu Tong gusar, hatinya pansa.

Ia melawan dengan hebat.

Cuma karena musuh ada berlima ia mesti memecah juga perhatiannya berbareng ia mesti melayani ke empat orang lainnya itu, yang juga berkepandaian bukan sembarangan.

Hingga tak mudah untuk merobohkan atau mengundurkannya.

Karena ia adalah seorang yang berpengalaman, ia tahu caranya melayani banyak lawan, hanya ia tidak menyangka kelima lawan itu pun lihai, hingga tak dapat ia pandang ringan.

Jurus demi jurus telah dilewati, lama-lama Ciu Tong menjadi bingung juga.

Tak berhasil ia meloloskand iri.

Setelah sampai pada jurus yang ketiga puluh ia merasakan bagaimana sukarnya untuk meloloskan diri.

Mak ia menyesal sekali yang mula-mula ia telah tak memandang mata kepada kelima musuh itu.

Tengah mereka lagi bertempur seru, tiba-tiba Ciu Tong mendengar teriakan berulang-ulang .

"Bekuk dia ! Bekuk dia !"

Teriakan itu datangnya dari bawah genteng.

Itu tibanya orang-orang Kui Hiang Koan berjumlah besar dan mereka itu telah mendatangi semakin dekat.

Itu pula berati yang perguruan mereka telah diperketat.........

Tengah bertempur itu, Ciu Tong berpikir keras, bagaimana ia harus meloloskan diri.

Tadinya ia memandang soal remeh sekali.

Diam-diam dia memperhatikan ke empat pengepungnya yang berseragam hitam itu.

Ia mencari salah satu yang terlemah.

Selekasnya ia mendapati, lantas ia menggunakan tipu.

Selagi menghadapi lawan itu sengaja ia bergerak lambat......

Lawan itu girang melihat musuh lamban, tidak waktu lagi dia membacok hebat kepada perut lawannya !

Ciu Tong bersiaga.

Setibanya golok, ia berkelit sambil memiringkan tubuhnya, dengan begitu mudah saja dia memutar pedangnya membalas menebas lengan orang berbareng dengan mana, tangan kirinya pun menyerang dengan satu bacokan tangan kosong.

Lawan itu kaget sekali, sebab serangannya gagal.

Ia melihat kalau ia tidak melepaskan goloknya, lengannya Bisa buntung.

Tetapi ia berhati keras, tak sudi ia menyerah dengan begitu saja.

Maka ia berkelit, tangannya dikasih turun, sambil bertindak maju sambil mendekam dia meninju dengan tangan kirinya pada pinggangnya lawan itu !

Saking gagah si hitam itu bersedia mati bersama.

Ciu Tong kaget.

Dia kalah hati.

Maka dia lompat mundur.

Mendadak ada suara angin datang dari belakang.

Kembali Ciu Tong terkejut.

Tahulah ia yang orang membokongnya dari belakang itu.

Inilah berbahaya, sebab dari depannya musuh tadi melanjuti menyerangnya !

Justru itu bentakan terdengar dan kilaunya golok tampak menyambar.

Itulah See Sie yang menyerang justru lawan itu lagi terancam di depan dan belakang.

Dia datang dari samping !

Di dalam saat yang berbahaya itu, Ciu Tong ingat satu jalan buat menyelamatkan dirinya ialah dengan keras ia menjejak genteng hingga genteng pecah dan bolong, lantas ia menceploskan tubuhnya ke dalam lobang genteng itu sambil pedangnya diputar dipakai menangkis ke sekitarnya!

Maka lenyaplah ia dari atas genteng bagaikan ditelan rumah !

See Sie berlima tercengang.

Mereka tidak sangka lawan sedemikian cerdik, sudah meloloskan diri dengan cara yang sangat luar biasa itu.

Anak muda yang dikepung orang-orang Kui Hiang Koan adalah Gak Hong Kun.

Dia tidur sangat nyenyak diatas tenda kereta sampai lewat satu hari dan satu malam.

Dia telah disadarkan oleh ringkik kuda.

Dia heran waktu dia membuka matanya dia tak tahu bahwa malam itu sudah jam dua kira

KANG ZUSI website

http.//cerita-silat.co.cc/ kira.

Dia melihat ke sekitarnya.

Dia lantas melihat sinar api bergoyang-goyang di bawah tenda kereta.

Karena seram ingin ia melihat api itu api apa.

Lantas dia berbangkit atau "Duk !", kepalanya kena membentur genteng hingga dia merasa nyeri.

Justru itulah yang membuatnya sadar.

Dia mendak pula, kembali dia mengawasi ke sekelilingnya.

Tak dapat dia melihat tegas sebab cahaya api lemah dan juga memain saja.

Dia berdiam, matanya dipejamkan.

Dia mencoba mengingat-ingat.

"Ah !"

Serunya tertahan.

Lewat sedetik ia ingat bahwa ia tengah dikepung orang tapi dia berhasil lompat naik ke atas kereta dimana dia mendekam akan menyembunyikan diri dan tanpa merasa disitu dia ketiduran hingga pula nyenyak.

"Ah, aku berada dimana sekarang ?"

Demikian dia tanya dirinya sendiri.

Kembali terdengar ringkik kuda.

Kali ini tahulah Hong Kun halnya dia tidur diatas kereta di dalam istal, disisi kandang kuda.

Karena dia tidak dapat berdiri atau duduk tegak diatas tenda itu, Hong Kun merayap turun akan mendekati sinar terang itu hingga dia mendapat kenyataan, inilah pelita yang berada pada dinding istal.

Terus dia merayap turun akan berduduk di tempat kusir.

Tengan dia berfikir, tiba-tiba pikirannya menjadi gelap pula.

Maka tanpa disengaja dia menepuk-nepuk kereta sambil dia tertawa keras !

Di waktu malam begitu, pengurus istal sudah lama tidur nyenyak.

Memangnya mereka tidak tidur di istal, maka juga tawanya Hong Kun itu dapat penyahutan ringkik kuda.

Tak lama dia berhenti tertawa, ringkik kuda pun lenyap.

Bangkit dari tempat duduknya, Hong Kun pergi ke tenda.

Kali ini otaknya rada terang.

DI muka pintu tenda, dia berdiri mengawasi tetapi dia tak melihat apa-apa.

Karena gelapnya dalam tenda dia menyangka itulah sebuah kereta kosong.

Tetapi dia ingin mausk kedalamnya walaupun tanpa ada niatnya yang tertentu.

Selekasnya dia menyingkap tenda, Hong Kun bertindak memasukinya.

Sang gelap membuatnya tak melihat apa juga.

Maka tu dia keluar, dia menghampiri pelita di tembok untuk diambil dan dibawa kembali ke dalam kereta.

Kereta itu benar kosong, cuma terdapat tempat duduknya.

Ketika dia mengangkat tempat duduk yang kosong, dia melihat sebuah peti atau kotak kecil yang warnanya hitam, rupanya bekas di cat.

Dia mencekal gelang peti untuk diangkat.

Ketika dia menyentil peti itu dua kali terdengar suara yang menyatakan peti bukannya kosong.

Peti itu tak ada satu kaki persegi.

Dia mengawasi.

Dia agaknya heran.

Tapi dia tak mengerti.

Kenapa ia ketarik hati.

Bahkan dia berniat membukanya walaupun tanpa maksud.

Muridnya It Yap Tojin mengangkat peti kecil itu, dia membulak baliknya, dia menyentil-nyentil pula tetapi tak dapat dia membukanya, tidak ada anak kunCinya atau alat rahasianya untuk membuka itu.

Sementara itu tangan kirinya yang memegang pelita itu, hingga cahaya apinya bermainmain.

Lewat lagi beberapa saat, dalam keadaan syaraf tak sehat itu, Hong Kun tampak mendongkol.

Belum juga ia bisa membuka peti itu.

Ia mengawasi dengan tajam, sinar matanya bengis.

Tiba-tiba saja naik darahnya, maka peti itu dilemparkan kedalam kereta, ia sendiri lantas merebahkan diri.

Tangannya masih memegangi pelita tadi.

Tubuhnya bergerakgerak, sebentar meringkuk, sebentar dilempengkan.

Hingga dia mirip seekor caCing.

Dia bergerak sekian lama.

Karena bergeraknya sedikit keras, kereta sampai bergoyang-goyang.

Tiba-tiba anak muda ini tertawa sendirinya, terus dia bangun untuk berduduk.

Tangan kanannya menyambar peti hitam tadi, akan dibulak balik di depan matanya, habis mana dia meletakkannya diatas kereta di depannya.

Tiba-tiba saja dia menggunakan tangannya menghajarnya !

Tak pecah peti itu, cuma satu kali bersuara keras disebabkan hajaran itu.

Hong Kun mengangkatnya pula, ia membulak balik lagi kemudian menaruhnya kembali dengan dibanting.

Mendadak tutup peti itu terbuka dengan sendirinya dengan bersuara nyaring beberapa kali.

Selekasnya peti terbuka, dari dalamnya menyorot keluar sinar hijau yang membuat mukanya si anak muda menjadi hijau juga, hingga wajahnya nampak mirip wajah bajingan.......

Rupanya sinar itu dianggapnya bagus, maka juga Hong Kun tertawa nyaring, dia terbahak-bahak hingga dia melangsing sebab perutnya mulas lantaran tertawa itu, yang berisik bukan cuma didalam kereta hanya jauh jauh keluar.

Dia terus tertawa dengan terlebih keras pula, berbareng dengan mana pelitanya dilemparkan ke tenda keretanya !

Sebenarnya itulah obat beracun Thay Siang Hoang Hun Tan buatannya Im Cio It Mo yang It Mo memesan Ciu Tong membawanya ke Hek Sek San.

Obat itu lihai tetapi tidak ada baunya.

Maka juga terkena obat, Hong Kun tidak merasakan apa-apa.

Ia tertawa kalap justru disebabkan pengaruhnya obat itu.

Ia tertawa terus sampai pelitanya telah membakar tenda, apinya merembet dari kecil menjadi besar, menjadi membakar seluruh kereta itu.

Pengaruh obat membuat si anak muda makin besar.

Cahaya api tetap hijau.

Di dalam waktu yang pendek, peti lantas berupa mirip bola api.

Karena peti itu pun menyala.

Hong Kun baru kaget sesudah dia merasai hawa panas, sebab api membakar rambutnya juga bajunya.

Karena ini, dia menjadi sedikit sadar.

Dia melemparkan peti, dia lompat turun dari kereta.

Api tidak ada yang padamkan, dari kereta menyambar ke rumput terus ke lainnya barang di dalam istal itu.

Kebetulan sekali angin malam seperti membantu meniupinya.

Maka mulai dari kereta Hek Tak Seng Kun, Dewa Api terus menyambar bangunan istal seluruhnya.

Baru setelah itu pihak Kui Hiang Koan mendapat tahu adanya bahaya api.

Maka mereka menjadi kaget, berisik dan repot.

Mereka lantas menerka kepada perbuatan orang jahat !

Disamping membunyikan kentongan, orang repot berdaya memadamkan api itu.

See Sie adalah orang yang memegang pimpinan, disamping menitahkan orang memerangi api, ia membawa beberapa orang untuk mencari si orang jahat.

Ia pula memasang jagajaga di sana sini.

Kui Hiang Koan luas beberapa bun, semuanya dihubungi dengan jalan yang kecil.

Di jalan-jalan itulah yang orang-orang berseragam hitam lari mondar mandir atau berdiri diam melakukan penjagaan.

Semua mereka itu membekal golok yang kedua bagian mukanya berkilat berkilauan.

Hong Kun berlari-lari tanpa tujuan.

Dia pula tidak tahu dirinya berada dimana.

Dia terus terpengaruhkan obat pengganggu syaraf itu.

Dia kaget waktu dia mendengar ada yang memegatnya sambil membentak, terus orang mengurungnya dengan mereka itu memperlihatkan golokgolok telanjang.

"Berhenti !"

Demikian teriakan itu.

Hong Kun berhenti berlari.

Ia melihat delapan orang mengurungnya, ia mendelong mengawasi mereka itu, mulutnya bungkam.

Semua orang mengawasi si anak muda yang rambut dan bajunya bertanda bekas kebakar.

Lalu See Sie menegur dingin .

"Bangsar, apakah kau masih berlagak pilon ?"

Dengan kelakuan orang separuh mengerti separuh tidak, si anak muda balik bertanya .

"Kenapa kalian memegat aku ?"

"Kau bekas terbakar, pastilah kau si penjahat yang melepas api !"

Bentak seorang berseragam.

"Kawan-kawan, mari kita ringkus dia !"

Menyusul itu enam buah golok menyerang berbareng kepada Hong Kun.

Anak muda itu segera menyambuti.

Dia terpengaruhkan obat tetapi ilmu silatnya tidak dilupakan karenanya.

Selekasnya pelbagai senjata beradu, nyaring dan berisik suaranya.

Dua barang golok lantas mental terbuang.

"Awas !"

Beberapa orang berseru.

"Hati-hati !"

Mereka itu tidak takut, mereka maju pula. Yang goloknya terlepas mencari dulu senjatanya itu. Hong Kun berdiri diam, matanya mengawasi, pedangnya dilintangi.

"Kalian menyerang aku, kenapakah ?"

Tanya dia, sikapnya ketolol-tololan.

"Kenapa kalian tidak mengenali aku ?"

Sementara itu tiba pula serombongan lain dari orang-orang berseragam hitam itu.

Mereka pada membawa obor hingga wajahnya Hong Kun tampak tegas, tidak ada orang yang mengenali si anak muda.

Mereka tidak tahu yang anak muda ini memakai topeng, sedang menyamar sebagai Tio It Hiong.

Sekarang, yang jadi pemimpin rombongan lantas menanya .

"Tuan, kau berani mengacau di Kui Hiang Koan ini, sudah selayaknya kau berani memperkenalkan dirimu ! Beritahukan nama besar tuan, nanti aku pergi melapor kepada majikan kami !"

Di luar dugaan, orang itu berubah sikapnya menjadi lunak.

"Akulah Gak Hong Kun dari Heng San !"

Sahutnya si anak muda seenaknya saja.

"Siapa itu majikan kalian ? Suruhlah dia datang kemari menemui aku !"

Tanpa disengaja, anak muda ini menyebutkan nama aslinya.

Dia tak ingat lagi yang dia lagi memalsukan Tio It Hiong.

Semua orang berseragam itu berdiam saja, tetap mereka mengurung.

Cuma seorang yang diam-diam lari mencari Ciok Peng, guna memberi laporan.

Maka itu tak lama kemudian Koay To si Golok Kilat sudah muncul bersama delapan orang pengiringnya, yang pun hitam seragamnya.

Bakan di belakang dia ada Siang Kun Buan thung Liok Cim.

Ciok Peng sudah lantas mengasi si anak muda, yang tenang habis kena terbakar dan tampan, bahkan dia mengenali Tio It Hiong murid dari Pay In Nia !

Maka ia menjadi heran sekali.

"Tio It Hiong Laote !"

Akhirnya dia menanya.

"apakah benar-benar kau hendak menyeterukan lohu ?"

Laote atau "adik tua"

Adalah panggilan hormat terhadap anak muda yang dihargai. Sedangkan lohu adalah "aku"

Untuk orang tua berbicara dengan anak mdua, artinya "aku si orang tua". Siang Kun Bu teng sebaliknya tetap tertawa tawar.

"Hm ! Sekarang ini orang dan buktinya telah ada, tak usah dikuatir yang kau nanti menggunakan lidahmu yang tajam untuk menyangkal perbuatanmu ini !"

Liok Cim telah terluka dan rumah bercelaka, itulah satu permusuhan yang besar sekali, sekarang dia justru menghadapi musuh besarnya, maka dapat dia mengenali musuhnya itu, sudah sepantas saja dia menyatakan kemurkaannya.

Hanya sayang, hutang itu dibebankan atas dirinya Tio It Hiong karena dia tidak tahu musuhnya ialah Gak Hong Kun !

Ciok Peng menghalangi sahabatnya itu.

Ia takut, saking gusar si sahabat nanti segera turun tangan.

Dia pun maju lebih jauh.

"Tio It Hiong !"

Sapanya, sebab pertanyaannya belum memperoleh jawaban. Gak Hong Kun mengawasi dengan mendelong. Dia tetap tidak menjawab. Salah seorang berseragam hitam menyela .

"Ciok Loyacu, bocah ini barusan menyebukan namanya sendiri ! Menurut dia, dia she Gak, bukannya she Tio !"

Ciok Peng menjadi terlebih heran pula.

"Apakah dia menyebut juga namanya ?"

Tanyanya.

"Apakah namanya itu ?"

Orang yang ditanya berpikir keras.

"Ya, dia menyebutkan namanya."

Sahutnya. Lalu dia raguragu dan suaranya terputus-putus.

"Dia menyebut Gak. Gak, entah, entah, apa, Jun".

"Hm !"

Koay To si Golok Kilat memperdengarkan suara dinginnya. Matanya mengawasi gusar pada orangnya itu, hingga orang itu menundukkan kepala saking takut.

"Tio It Hiong !"

Liok Cim menegur pula keras.

"Tio It Hiong, apakah kau tetap berpura-pura pilon ?"

Kali ini Hong Kun bagaikan terasadar, maka dia lantas mengawasi dengan mata dibuka lebar, sinarnya bengis. Dengan dingin dia berkata nyaring .

"Buat apakah kau pentang bacot keras-keras. Jika kau benar laki-laki, mari sambut barang beberapa jurus ilmu pedang Heng San Pay ku !' Hong Kun menyamar menjadi It Hiong, tetapi disaat dibawah pengaruh pil Thay Siang Hoang Hun Tan itu, dia ingat hanya she dan namanya sendiri, partainya sendiri juga. Mendengar jawaban itu yang berupa tantangan, Liok Cim menjadi heran. Dunia Kang Ouw ketahui baik Tio It Hiong murid dari Tek Cio Siangjin dari Pay In Nia, kenapa dia sekarang ini menyebut partainya ialah Heng San Pau dan tadi namanya Gak entah apa Kun ? Koay To Cio Peng pun heran sekali tetapi karena dia harus memegang derajat supaya nama Kui Hiang Koan yang tersohor puluhan tahun tak jadi jatuh mata, dia perlu membekuk dahulu anak muda ini. Dia pula tahu semua orangnya bukanlah lawan dari si anak muda, jadi perlu ia turun tangan sendiri.

"Anak muda !"

Bentaknya.

"tak perduli kau orang macam apa, karena kau telah mengacau disini, kaulah musuh lohu ! Lihatlah golokku !' Kata-kata itu dibarengi dengan satu serangan. Karena golok diputar, Hong Kun seperti juga lantas kena terkurung atau ketutupan sinar senjata tajam itu. Melihat kesehatan dan kelincahannya, tak kecewa Ciok Peng memperoleh gelarannya Koay To si Golok Kilat. Otaknya Hong Kun bagaikan sadar, selekasnya dia melihat golok musuh menyambar berulang-ulang. Dia tidak mau menangkis, dia hanya main berkelit hingga nampak kelincahannya yang luar biasa. Tujuh kali dia berkelit, lima tindak dia mundur. Setelah itu mendadak dia berseru-seru .

"Aku Tio It Hiong ! AKu Tio It Hiong ! Kenapa kalian menyerang aku ?"

Ciok Peng menunda penyerangannya ! "Bukankah kau yang melepas api menerbitkan kebakaran ?"

Tegurnya. Dan dengan goloknya dia menunjuk ke tempat dimana api masih berkobar-kobar. Hong Kun berpaling ke tempat kebakaran.

"Kamu yang melepas api membakar aku !"

Katanya nyaring.

"Sekaragn kamu mau menyangkal itu ?"

Pil beracun membuat pikirannya anak muda ini kacau tak karuan.

Sealgi dia memperdengarkan suaranya itu keras, dia pun lantas menyerbu rombongan orang-orang berseragam hitam !

Dua orang maju menangkis dengan golok guna menghadang, tetapi golok mereka kena disampok terbang, menyusul mana si anak muda berlompat lari nyeplos diantara dua musuh itu yang tak berani merintanginya.

Dia kabur keras sekali.

"Kejar !"

Teriak Ciok Peng yang menjadi panas hati.

"Jangan kasih dia lolos !"

Dan dia mendahului berlompat lari mengejar.

Liok Cim turut mengejar, hanya ia memencar rombongannya.

Hong Kun kabur, tanpa tujuan.

Dia lagi langsung ke depan, maka itu dia mesti melewati beberapa pendopo, beberapa halaman terbukan dan taman-taman bunga kecil.

Dia lari dan berlompatan mirip seekor rubah atau tupai.

Di sepanjang jalan itu, selalu ada orang yang melintang, yang menghadang, tetapi semua dapat dilewati, baik karena senjatanya diterbangkan maupun karena mereka dilukai.

Malam itu sunyi tetapi sekarang berubah menjadi sangat berisik, lonceng Kui Hiang Koan berbunyi nyaring tak hentinya.

Suara kebakaran pun riuh dan teriakan-teriakan serta bentakan-bentakan menambah ramainya.

Di dalam keadaan berisik dan kacau itu, Hong Kun lari terus-terusan, sering kali dia berlompatan.

Toh disaat tak sadar itu, dia ingat mencari tempat yang ruyuk dan celah untuk menyembunyikan diri.

Begitulah ketika ia melihat sebuah jendela terbuka, didalam mana ada cahaya api yang terbayang diantara kain jendela, sewajarnya saja dia lompat memasuki jendela itu dengan satu lompatan "Ular Hijau Melintas Pohon".

"Oh !"

Jerit seorang wanita, menyusul mana suatu hembusan angin yang keras menjurus ke mulut jendela itu, kepada orang yang berlompat masuk !

Hong Kun terkejut.

Tubuhnay telah tertolak keras hingga dia terhuyung membentur tembok.

Justru itu, api pun padam secara tiba-tiba.

Di dalam gelap dan sunyi, terdengar suara berkeresekan perlahan dari orang yang tengah mengenakan pakaian terburu-buru.

Hong Kun merasai kepalanya pening, dia sangat lelah.

Tengah sadar dan tidak, dia jatuh berduduk di lantai, punggungnya menyender pada tembok.

Bahkan dia terus berdiam.

Karena dia memejamkan matanya hendak tidur.....

Tidak antara lama, api di dalam kamar menyala pula.

Bahkan kali ini dengan terlebih terang, maka tegas nyata tampak kamar itu seluruhnya.

Itulah sebuah kamar tamu.

Pembaringan tertutup kelambu yang indah sebanding dengan kamarnya seorang nona anak pahlawan atau putri bangsawan.

Kamar pula berbau harum, membangkitkan rasa gairah sukma.

Setelah menyalanya api, tampak di depan pembaringan itu berdiri seorang wanita yang bukan lain dari pada Sek Mo atau Peng Mo, si Bajingan Es.

Wajahnya ramai dengan senyuman manis, matanya tajam jeli mengawasi seluruh kamarnya, sedangkan tangannya masih merapihkan jubahnya.

Diatas pembaringan, yang kelambunya terpentang, rebah seorang pria setengah tua, matanya dipejamkan, separuh tubuhnya tertutup selimut.

Dia rebah dengan diam saja, entah lelah atau terlalu kantuk.

Dia sampai tak menghiraukan bahwa barusan ada orang yang lancang masuk ke dalam kamarnya itu !

Siapakah pria itu ?

Dialah Couw Kong Put Lo si ahli So Lie Kang, kitab ilmu awet muda.

Dia berada bersama Peng Mo di dalam satu kamar, dapat dimengerti bahwa mereka tengah berplesiran.

Ketika siangnya Ciu Tong dan Couw Kong Put Lo berselisih disebabkan memperebutkan dia, Peng Mo yang cerdas lantas memikir jalan guna mencari kepuasan dirinya.

Ia berpokok pada satu soal .

Mendapati dua-dua pria itu atau hanya satu diantaranya.

Jalannya ialah ia meninggalkan kamar dengan lompat keluar dari jendela.

Ia tapinya tidak kabur terus hanya bersembunyi di tempat gelap, matanya mengawasi ke jendela.

Ia melihat Couw Kong Put Lo menyusul keluar.

Segera ia menyampok dengan pukulan angin kepada pria itu, ia sendiri menyingkir ke semak pohon bunga lainnya.

Couw Kong Put Lo seorang Kang Ouw ulung.

Dia tak roboh karena serangan pukulan angin itu.

Dia berkelit dan sempat melihat satu tubuh langsing berkelebat lewat.

Dia lantas menerka, itulah Peng Mo yang memanggilnya.

Sebab serangan angin itu tidak hebat.

Ketika ia menoleh, dia melihat Ciu Tong lompat keluar dari kamar.

Dia tak ingin mengenai serangan itu, dia menyingkirkan diri dari penglihatan orang.

Ciu Tong sebaliknya cuma mencari Peng Mo.

Dia sebal dan jemu terhadap Couw Kong Put Lo, dia justru hendak menyingkir dari situ.

Langsung dia lompat naik ke atas genteng karena dia menyangka Peng Mo mengambil jalan itu.

Lacur baginya, dia berpapasan dengan See Sie dan jadi bertempur karenanya !

Put Lo sebaliknya menyusul ke tempat kemana tubuh ramping tadi menghilang.

Segera ia melihat si nikouw tengah mengawasinya.

Ia lompat kepada wanita itu, terus keduanya saling bersenyum.

Di lain saat, si wanita telah dituntun diajak jalan berbareng.

Mereka melintasi sebuah taman, tiba di sebuah kamar dimana tampak sinar api.

Mereka melongok di jendela dan menyaksikan sebuah kamar dengan perlengkapan indah.

Dengan berani keduanya memasuki kamar itu !

"Sungguh kamar yang indah, cocok untuk kita !"

Put Lo kata tertawa.

Peng Mo mengiringi tawa itu.

Di saat sepasang merpati ini menikmati lakon asmaranya, mereka tidak tahu apa yang telah terjadi diluar, mereka tak mendengarnya.

Mimpi sedap mereka baru terganggu loncat masuknya Hong Kun.

Peng Mo yang menyerang, terus dia menyalakan lilin.

Selekasnya dia mengenali orang itu ialah orang yang lagi ia cari seperti dalam impian, perlahan-lahan dia menghampirinya.

Luar biasa Hong Kun, cepat sekali dia telah tidur pulas dan menggeros.

Hatinya Peng Mo berdebaran.

Ia sudah mengambil keputusan, Couw Kong Put Lo mau ditinggal pergi, sebaliknya Hong Kun mau dibawa lari.

Hanya belum lagi ia bekerja, mendadak ia mendengar daun pintuk diketuk keras dua kali, terus terdengar suara orang berkata .

"Tetamu kami, harap suka membuka pintu !"

Disebelah itu terdengar suara orang lainnya .

"Aku lihat bocah itu lari kemari, lantas dia lenyap ! Mestinya dia berada di dalam kamar ini !"

Peng Mo berdiam, Couw Kong Put Lo sebaliknya.

"Siapa ?"

Tanyanya lagi.

"Siapa yang mengetuk pintu ?"

Tanpa menanti jawaban, Peng Mo menyambar tubuhnya Hong Kun buat diangkat dan dipondong dibawa lari bersembunyi ke belakang pembaringan.

"Buka pintu ! Lekas !"

Demikian terdengar suara.

Terpaksa Put Lo turun dari pembaringannya, dengan tindakan tak tetap ia menghampiri pintu dan membukakan.

Maka segera ia melihat serombongan orang berseragam hitam, yang semua membekal senjata tajam.

"Hei, bagaimana ini ?"

Tanya Put Lo tak puas.

"Malam gelap gulita begini, kenapa kalian mengganggu tidurku ?"

"Maaf, tuan !"

Berkata seorang sambil memberi hormat.

"Di dalam kamar tuan ini ada siapa lagi? Kami mendapat perintah akan memeriksa setiap kamar !"

Put Lo tidak melihat Peng Mo, ia menerka orang sudah pergi menyembunyikan diri, maka itu lantas ia memperlihatkan sikap tawar.

"Kalian keluarlah !"

Bentaknya. Beberapa orang itu saling mengawasi. Nampak mereka tidak senang.

"Maaf, tuan"

Kata orang yang tadi, tetap sabar.

"Kami mendapat perintah membekuk seorang penjahat yang membakar penginapan kami. Maka itu kami minta suka apalah kau memandang pemilik kami, supaya kau sudi mengijinkian kami melakukan pemeriksaan !"

Put Lo memperdengarkan tampang gusar.

"Di sini tidak ada si pembakar rumah !"

Katanya keras.

"Tidak ada orang lainnya ! Kalian mau pergi atau tidak ?"

Ia hendak menggertak rombongan itu. Si pemimpin rombongan menghunus goloknya. Kata dia terpaksa .

"Tuan, karena tuan tidak sudi memberi muka kepada kami, maaf !' Rombongan itu turut menghunus goloknya masing-masing, lantas mereka mengatur diri, bersiap-siap untuk menggeledah ! Couw Kong Put Lo menjadi sangat tidak puas.

"Hm, hm !"

Ia perdengarkan suara dingin berulang-ulang.

"Kalian mencari mati kalian sendiri. Jangan kalian mengatakan aku si orang tua telengas !"

Rombongan itu tidak menghiraukan ancaman, mereka lantas menggeledah.

Mereka tidak mendapati siapa juga.

Diantaranya tiada ada yang menyangka ke belakang pembaringan......

Si pemimpin rombongan menjadi bingung.

Dia heran dan bercuriga.

Tadi justru dia sendiri yang melihat si pelepas api lari ke halaman ini.

Pelepas api itu tidak ada !

Habis, kemanakah ia itu menyingkir ?

"Kalian sudah memeriksa seluruhnya ?"

Tanyanya pada kawan-kawannya.

"Sudah !"

Sahut rombongan itu, yang terus berkumpul di belakang pemimpinnya ini.

Put Lo diam-diam girang dan heran.

Girang sebab orang tidak mendapatkan bukti, heran sebab dia menerka-nerka kemana menyingkirnya Peng Mo.

Tentang datangnya Hong Kun, dia memangnya tidak tahu sama sekali.

"Cukup sudah kalian menggeledah ?"

Tanyanya bengis.

"Kalian sudah menghina padaku si orang tua ! Jangan kalian harap akan dapat keluar pula dari kamar ini !"

Kata-kata itu ditutup dengan satu gebrakan pada meja hingga meja itu pecah. Dengan bengis dia mengawasi rombongan itu dan berulang-ulang dia memperdengarkan suara dingin.

"Hm ! Hm! Dia pula berdiri tegak dan keren. Si pemimpin rombongan penasaran. Sebenarnya dia tak kenal hati. Sikapnya mengancam dari tetamu membuat orangnya bersiap sedia melakuka perlawanan.

"Coba periksa disitu !"

Perintahnya sambil menunjuk ke belakang pembaringan. Rombongan itu ragu-ragu.

"Periksa !"

Perintah si pemimpin.

"Dia tentu bersembunyi disitu !"

Justru itu tiba-tiba angin menghembus kelambu, lilin diatas meja padam seketika.

Maka gelaplah seluruh kamar.

Justru itu terdengar beberapa orang menjerit tertahan, terdengar juga suara orang dan golok roboh ke lantai !

Lewat sekian lama, lilin telah menyala pula.

Tiga orang tampak berdiri, yang lainnya rebah malang melintang.

Si pemimpin baru saja melayap bangun, mukanya pucat pasi dan merah padam bergantian sebab malu dan marah.

Kamar itu kosong.

Kelambu belakang pembaringan tersingkap.

Di situ ada kamar pakaian.

Yang heran, penghuni kamar tadipun turut lenyap !

Pemimpin rombongan itu heran.

Ia mendapatkan tidak ada orangnya yang luka, walaupun mereka roboh dan rebah, cuma golok mereka yang terlepas dan berserakan di lantai.

Ketika kawan-kawannya pada bergerak bangun, mereka semua saling mengawasi dengan muka menyeringai saking likat.

Habis menjemput goloknya, mereka meninggalkan kamar dengan mulutnya semua bungkam.

Peng Mo telah berlaku lihai sekali.

Mendengar orang hendak menggeledah belakang pembaringan, dia mengeluarkan pukulan angin yang membuat pelita padam.

Menyusul itu, dia memondong Hong Kun berlompat meninggalkan kelambu.

Dengan sampokan lihai, dia merobohkan rombongan itu.

Maka mudah saja dia lari meninggalkan kamar.

Hong Kun tetap dikempitnya.

Couw Kong Put Lo, orang Kang Ouw berpengalaman.

Ia tahu apa artinya angin itu dan padamnya pelita.

Tanpa ragu sedikit juga, ia lompat keluar dari dalam kamar.

Tak sudi dia menjadi rewel dan pusing.

Peng Mo membawa Hong Kun lari sampai di jalan besar ditepi rimba.

Ia melihat sang fajar bakal segera tiba.

Ia heran mendapati Hong Kun menjublak saja.

Dengan prihatin dia menanya .

"Saudaraku yang baik, kau kenapakah ?"

Hong Kun tidak menjawab, dia tetap berdiam saja.

Peng Mo heran dan menerka-nerka, lantas ia merogoh sakunya mengeluarkan peles obat, mengambil tiga butir pil, yang ia terus jejalkan ke dalam mulutnya si anak muda.

Itulah obat pemusnah racun dari Hong Gwa Sam Mo.

Inilah obat yang di Ngo Tay San ia banggakan terhadap Im Ciu It Mo yang katanya dapat memusnahkan racun Thay Siang Hoang Hun Tan.

Habis mengasi makan obat itu, Peng Mo tarik si anak muda dibawa masuk kedalam rimba, di tempat yang terkurung.

Di situ ia suruh si anak muda duduk ditanah, terus ia menguruti, akan mencoba meluruskan jalan darahnya.

Disaat itu Hui Hiang Koan sudah menderita kerugian kebakaran.

Kecuali istal, telah musnah beberapa ruang lainnya yang berdekatan.

Hanya akhirnya api dapat juga dipadamnkan hingga tampak puing dan abunya saja, asapnya yang masih mengepul......

Ciok Peng gusar dan mendongkol bukan main.

Sia-sia belaka ia mencari si orang jahat yang melepas api itu.

Tetapi ia memerintahkan orang-orangnya berjaga-jaga, melarang orang masuk terutama keluar.

Kerugian benda ia tak hiraukan, yang hebat ialah nama baik Kui Hiang Koan akan tercemar.

Akhirnya Koay To beramai berkumpul di Toa tian, ruang besar.

Tetap ia bergusar.

"Setelah fajar, undanglah semua tetamu hadir diruang ini !"

Demikian perintahnya.

Ia masih hendak terus membuat penyelidikan.

Ciu Tong sementara itu lolos juga dari kepungannya Dee Sie sekalian sesudah dia menjebloskan diri ke dalam kamar yang gelap gulita.

Dia menjaga diri supaya tidak roboh keras dan terluka.

Untuk herannya, kakinya menginjak barang yang lunak yang terus pecah.

Kiranya dia jatuh diatas kasur.

"Aduh !"

Terdengar jeritan tajam tetapi halus.

Menyusul itu orang she Ciu ini terasampok tangan yang halus yang membuatnya terguling jatuh ke lantai.

Ia terkejut.

Ia menerka yang ia sudah jatuh diatas pembaringannya orang perempuan.

Ia merasai nyeri sekali tetapi ia menahannya.

Ia menutup mulut sedang otaknya bekerja memikirkan jalan lolos !

Matanya pun melihat kelilingan, tak perduli kamar gelap sekali.

Tiba-tiba tampak cahaya terang !

Kiranya lilin diatas meja telah ada yang menyalakan.

Disitu berdiri seorang nona dengan baju hijau, matanya berkesap kesip mengawasi tamunya yang tak diundang itu.

Terang dia kaget dan heran, dia pula gusar.

Ciu Tong memandang nona itu, ia menoleh ke pembaringan.

Tampak ia jengah.

Di situ tidak orang lainnya.

Si nona tetap berdiam saja, cuma tangannya memegangi ikat pinggangnya.......

Ciu Tong berbangkit perlahan-lahan.

Lega juga hatinya mengetahui si nona sendirian saja.

Lekas sekali timbullah nafsu birahinya.

"Peng Mo lenyap, sekarang ada gantinya, nona ini ! Bukankah ini jodoh ?"

Demikian pikirnya. Maka lekas-lekas ia merangkap tangannya memberi hormat pada nona itu seraya berkata .

"Nona, Kui Hiang Koan terbakar, nona ketahui atau tidak ?"

"Hm !"

Si nona memperdengarkan jawabannya.

"Kui Hiang Koan kebakaran tetapi kau jatuh dari atas genteng ke atas pembaringanku ! Benar bukan ?"

"Maaf, nona. Itulah tidak aku sengaja."

Kata jago Hek Keng To itu. Ia merendah sendirinya sebab tak berani ia membuka rahasianya. Nona itu mengawasi dengan mata mendelik, lantas dia tertawa.

"Kau... kau bukannya orang baik-baik !"

Katanya, tangannya menuding.

"Aku larang kau mengaco belo !"

Ciu Tong mengawasi, hatinya bekerja.

Ia lantas duga si nona siapa dan macam orang apa ?

Adalah dia tahu hotel ?

Kalau benar dialah seorang nona !

Kenapa dia bersendirian saja ?

Biar bagaimana hotel adalah sebuah tempat dimana naga dan ular biasa berdiam bercampuran !

Adakah diantara dia orang Lang Ouw ?

Gerak geriknya tak mirip-miripnya !

Toh dia tenang, dia tak bingung.

Jago Hek Keng To ini menatap si nona, kata dia sungguhsungguh.

"Nona, aku orang baik atau jahat, nona dapat lihat sendiri. Nona dapat menetapkannya. Bahkan mungkin ada saatnya yang nona menyukai aku si orang jahat."

Nona itu balik menatap, ia agaknya kurang mengerti.

"Aku Ya Bie, aku tak menyukai orang jahat !"

Katanya kemudian.

"Orang yang aku sukai ialah seorang kakak Hiong !"

Ciu Tong melongo. Tak mengerti ia akan kepolosan nona tiu, hingga ia mau menerka orang benar-benar polos atau tengah berlagak polos. Lalu ia bersenyum dan maju satu tindak, ia memberi hormat pula.

"Nona, kebetulan sekali kita bertemu disini !"

Katanya.

"Di empat penjuru lautan, manusia itu sebenarnya bersaudara ! Nona, aku mohon bertanya she yang mulia serta nama besar dari nona ! Bagaimanakah aku harus memanggilnya ?"

Nona itu mengangkat kepalanya. Dia berpikir. Tiba-tiba dia tertawa.

"Namaku Ya Bie !"

Katanya pula kemudian.

"Pernah kau dengar atau tidak ?"

Ciu Tong mengernyitkan alisnya, otaknya berfikir keras.

Ia mengingat-ingat namanya orang-orang Kang Ouw yang ia pernah kenal dan dengar.

Mana ada yang bernama Ya Bie.

Nama itu aneh !

Belum pernah ia mendengarnya !

Maka ia heran sekali.

Si nona mengawasi, tanpa menanti jawaban lagi ia berkata pula .

"Ya Bie dari Ceng Lo Ciang ! Aku datang dari pegunungan Ceng Lo Ciang itu ! Masihkah kau belum pernah mendengarnya !"

Ciu Tong terpaksa menggeleng kepala, agaknya dia bingung.

"Maafkan aku nona yang aku kurang pendengaran dan penglihatanku kurang luas"

Demikian katanya.

"Menyesal aku belum pernah mendengar nama nona. Walaupun demikian kita toh dapat menjadi sahabat bukan ?"

Ya Bie memperlihatkan tampang tidak senang.

"Jika kau tidak tahu ya sudah "

Katanya.

"Memangnya siapakah yang menginginkan kau ketahui nama nonamu ini ?"

Ciu Tong sebaliknya tertawa. Dia maju lagi dua tindak.

"Aku menyesal nona, aku mohon maaf yang aku tak mengenal nona !"

Kata dia hormat.

"Aku girang yang sekarang telah aku mengetahuinya !"

Ya Bie polos, pengalamannya sangat sedikit. Melihat tingkahnya Ciu Tong, ia tertawa sendirinya.

"Ah, kau benar orang tak punya muka !"

Katanya.

"Terhadap seorang wanita kau bicara bergula begini manis !"

Senang hatinya Ciu Tong. Ia menyangka si nona menyukainya. Maka maulah ia bergurau.

"Nona, sabuk hijaumu indah sekali !"

Demikian pujinya mengangkat-angkat.

"Nona, dari bahan apakah kau membuatnya ?"

Lalu dengan berani dia mengulur tangannya akan meraba sabuk dipinggangnya nona itu. Tapi dia bukan meraba atau menoel, mendadak saja dia terus menotok jalan darah "Yauw hiat"

Nona itu.

Ya Bie berseru kaget, baru setengahnya ia sudah roboh lemas.

Tak terkirakan girangnya Ciu Tong.

Dia telah berhasil membokong nona yang polos itu, yang kecantikannya sangat menggiurkannya.

Maka dia tertawa terbahak-bahak.

Kemudian tanpa ayal lagi, dia membungkuk akan memondong, mengangkat tubuh si nona guna dipindahkan ke atas pembaringan.

Bahkan dengan kecepatan luar biasa, dia pun meloloskan sabuk hijau nona itu, hingga usahanya tinggal satu tindak lagi....

Sekonyong-konyong jago Hek Keng To ini menjadi kaget sekali.

Sabuk hijau itu memperlihatkan cahaya berkilau.

Saking kagetnya dia mencelat mundur tiga tindak, matanya mengawasi mendelong terhadap sabuk itu yang dirabanya bukan terasa sebagai kain.....

Mengawasi terlebih jauh, Ciu Tong menjadi terlebih kaget hingga dia bergidik jeri.

Sabuk itu ternyata seekor ular yang sekarang kedua biji matanya memain bercahaya merah seperti darah.

Begitu pun merah juga lidahnya yang pastinya beracun sebab itulah ular hijau yang disebut ular bunga laut.

Cuma Ciu Tong belum tahu ular itu ular apa, dia hanya menyangka....

Ular itu melingkar ditubuhnya Ya Bie, kepalanya diangkat, matanya mengawasi manusia dihadapannya, lidahnya tetapi diulur keluar masuk.

Walaupun dia jatuh, Ciu Tong bersiap sedia andia kata binatang itu lompat menyambarnya.

Sesudah lewat sekian lama, ia mendapati sang binatanga hanya diam melingkar, hatinya menjadi tenang.

Dia tak berkuatir lagi seperti semula.

"Ha !"

Pikirnya.

"sekiranya dia mengembara dengan mengandali ularnya ini...Hm !"

Segera jago Hek Keng To itu menghunus pedangnya, tanpa ragu pula ia menebas ke arah ular itu, ia tidak membacok sebab bacokannya dapat mengenai tubuhnya si nona.

Ia pula tidak menikam karena kuatir tikamannya kurang tepat.

Ia telah memikir, asal ular itu sudah mati, akan puaslah ia !

Ia pun mau membinasakanulat itu sebab ia sangat mengilari si nona.

Bukankah si nona itu bagaikan daging angsa, bayangan yang sudah disajikan di depannya ?

Ia percaya ilmu silatnya lihai, maka ia merasa pasti dapat ia membunuh binatang beracun itu.

Baru pedang diluncurkan setengah atau Ciu Tong sudah merasakan lengannya lengan kanan yang dipakai menebas itu nyeri sekali, dan rasa sakit itu terus menyelusup ke ulu hatinya.

Karena itu, tidak dapat ia terus menggunakan tenaganya untuk menebas ular itu.

Masih ada satu hal lagi, yang membuat disebelahnya nyeri lengannya itu juga tubuhnya tertarik keras ke belakang, hingga dia menjadi mundur limbung tiga tindak, hampir dia terguling jatuh.

Selekasnya dia sudah dapat menetapkan tubuhnya, dia lantas menoleh ke belakang.

Kembali dia menjadi kaget sebab dia melihat siapa yang telah menariknya itu !

Ialah seekor orang utan yang tubuhnya besar dan berbulu tebal, yang mestinya bertenaga kuat sekali, sebagaimana dia mudah saja dibetot mundur itu, sedang matanya Bienatang itu yang bengis dipakai mengawasi padanya secara menyeramkan !

Orang utan itu membuka lebar mulutnya hingga tampak giginya atas dan bawah yang tajam, dia pula berPekik beberapa kali, habis mana dia bukan menerkam manusia itu, dia hanya lompat ke pembaringan untuk memondong bangun tubuhnya Ya Bie.

Sebelumnya dia dikasih bangun dan duduk dipembaringan, nona dari Cenglo ciang itu sebenarnya sudah lantas ingat apa yang barusan terjadi.

Tak ia lemah dan roboh, ia pingsan sebentar saja, hingga ia menjadi tidak berdaya.

Setelah sadar ia lantas mengerahkan tenaga dalamnya.

Ia pula menggunakan Sin Kut Kang, ilmu memperciut tubuhnya.

Selekasnya sudah dapat menyalurkan seluruh darahnya, bebaslah ia dari totokan pada jalan darahnya itu.

Ya Bie adalah Cianglo ciang adalah muridnya Kip Hiat Hong Mo, walaupun dia belum pernah merasai atau menikmati hubungan pria wanita atau suami istri, dia telah sering melihatnya.

Karena itu dia lantas mengetahui maksudnya Ciu Tong.

Maka dari bersikap tenang, dia menjadi gusar sekali Ciu Tong hendak membukai pakaiannya.

Itulah dia harus balas.

Dia polos tetapi dia cerdas bagaimana harus bertindak.

Maka dia berpura-pura masih lemas meskipun sebenarnya kesehatannya sudah pulih seluruhnya.

Dia merebahkan diri sambil mengawasinya si pria, matanya mengintai.

Si orang utan tidak tahu niatnya sang majikan, dia muncul secara tiba-tiba, melihat si nona terancam bahaya, dia membetot Ciu Tong keras sekali.

Menampak demikian, Ya Bie lantas berlompat turun dari atas pembaringan degnan sebab ia menjemput ularnya, hanya waktu ia mengangkat kepalanya menoleh ke arah Ciu Tong, pria itu lenyap entah kemana.

Sementara itu kecuali sinar lilin, kamar pun mulai diterangi remang-remang sang fajar.

Justru itu terdengar juga suara genta dan berisik dari Kui Hiang Koan hanya samar-samar.

Ya Bie pergi ke jendela, dia menengadah langit.

Katanya seorang diri, perlahan .

"Sekarang sudah terang tanah, dapat aku cari dia ! Kemana juga kau pergi akan aku cari padamu. Hendak aku membalas untuk perbuatan ceriwis dan kurang ajarmu ini !"

Begitu berpikir begitu si nona bekerja.

Ia memadamkan lilin, terus ia lompat keluar jendela.

Si orang utan berlompat menyusul nonanya itu sambil dia beberapa kali memperdengarkan Pekiknya.

Ciu Tong sementara itu keluar dari jendela dengan pikirannya kaget.

Dia sangat berduka, menyesal dan mendongkol dengan berbareng.

Dialah seorang Kang Ouw yang berpengalaman, namanya pun cukup terkenal, bahkan dia pernah menemukan orang segolongannya yang luar biasa baik di jalan putih maupun di jalan hitam, akan tetapi kali ini dia dibuat kecele oleh seorang Ya Bie yang dia belum kenal sama sekali, yang namanya dia belum pernah dengar !

Siapakah nona itu ?

Kenapa dia berikat pinggangkan seekor ular ?

Dan kenapa dia membawa-bawa orang utannya yang bertenaga luar biasa itu ?

Lagi pula nona itu dari golongan manakah ?

Baca Juga: Pedang Hati Suci 4

Baca Juga: Medali Wasiat 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert