Eps 11 Iblis Sungai Telaga - Khu Lung
Baca online Iblis Sungai Telaga - Khu Lung
Cersil Iblis Sungai Telaga - Khu Lung.
Maka itu diam-diam dia telah berunding dengan Lek Hoat Jiu Long dalam hal dia hendak turun tangan terhadap Teng Hiang, sedang Jiu Long ingin mendapatkan Wan Goat !
Adalah diluar dugaannya kedua laki-laki busuk itu, gerak gerik mereka ada yang awasi tanpa mereka curiga apa-apa.
Di sana ada burung gereja di belakangnya si tonggeret !
Malam itu Lek Hoat Jiu Long sudah di dalam kamarnya dengan matanya terbuka seluruhnya.
Dia lagi menantikan kesempatan.
Di depan matanya terbayang kecantikan Nona Siauw.
Di dalam otaknya, dia juga ingat akan si orang tak dikenal yang telah menggaploknya, yang menyuruhnya mengantarkan nona tawanannya itu.
Maka sendirinya hatinya menjadi kurang tentram.
Kapan telah mendengar suara kentongan dua kali, Jiu Long lompat turun dari pembaringan.
Ia lantas menolak daun jendela, hingga ia melihat gelap petang di luar hotel dan sang malam sunyi sekali.
Rupanya semua penghuni penginapan lainnya sudah pada berlayar di pulau kapuk atau mereka tengah bermimpi......
Hanya bersangsi sebentar, Jiu Long dapat menguasai dirinya.
Napsu binatangnya mengalahkan keragu-raguannya.
Segera ia merogoh sakunya dimana ia menyimpan bie hun to hun, bubuk biusnya.
Ia pun memeriksa pisau belari di pinggangnya.
Di akhirnya, sambil menggertak gigi, ia lompat keluar dari kamarnya.
Langsung ia menuju ke kamarnya Siauw Wan Goat, yang terpisah dengan sebuah halaman, sedangkan kamarnya Teng Hiang, terpisah dari kamarnya Nona Siauw dengan sebuah gang.
Tegasnya, kedua kamar nona-nona itu terpisah satu dari lain.
Itulah karyanya Gak Hong Kun.
Di bawah jendelanya Wan Goat, Jiu Long mendekam sambil memasang telinga dan mata, telinga mendengari suara dari dalam kamar, matanya melihat kelilingnya, terus ia mengintai ke dalam kamar itu.
Selekasnya dia mendapati segala apa sunyi, lantas dia mengeluarkan pisau belatinya, guna mencongkel daun jendela, habis membuka itu, segera ia menghembuskan masuk bubuk jahatnya.
Ia meniup dengan hawa mulutnya !
Setelah itu ia berdiam menantikan selama beberapa detik.
Selekasnya ia mendapatkan kepastian kamar tetap sunyi, dengan berani ia mementang kedua daun jendela, untuk berlompat masuk ke dalamnya.
Di dalam kamar, memandang kepada pembaringan Jiu Long menjadi heran.
Pembaringan itu serta seluruh kamar tak ada penghuninya, entah Siauw Wan Goat telah pergi kemana.
Kemudian ia terkejut sendirinya.
Selagi ia mengawasi api lilin di atas meja, ia merasa seram.
Mendadak ia ingat si orang tak dikenal, yang tak memperlihatkan diri tetapi yang ia takuti......
Karena jerinya itu, Jiu Long lantas merasakan rupa-rupa.
Ia seperti melihat satu wajah yang bengis dimana-mana diseluruh kamar itu dan telinganya seperti mendengar tawa dingin dari orang yang ditakutinya itu !
Dalam takutnya itu, walaupun ia telah memikirnya, Jiu Long juga tidak dapat melompat jendela buat pergi berlari.
Ia jalan mondar mandir dengan pikiran tidak karuan.
Dia seperti pusing kepala dan kabur matanya, tak dapat dia mencari pintu atau jendela......
Paling akhir tibalah saat yang penghabisan.
Mendadak Lek Hoat Jiu Long menjerit sendiri dan roboh tak berdaya !
Sebenarnya Siauw Wan Goat sudah meninggalkan hotelnya dan tengah membuat perjalanan ke In Bu San.
Malam itu ia tak dapat lantas tidur pulas, sebab hatinya terus bekerja.
Terutama ia pikirkan Tio It Hiong.
Kenapa ada It Hiong dari Siong San dan dari Heng San ?
Karena ia mencintai It Hiong dari Siong San, ia mengambil ketetapan tak memperdulikan siapa.
Ia hanya memerlukan It Hiong dari Siong San itu !
"Syukur aku bertemu Teng Hiang."
Pikirnya kemudian. Tanpa Teng Hiang tak nanti ia lolos dari tangan musuh. Bukankah ia telah ditawan dan dibelenggu ? Kemudian ia memikirkan It Hiong dari Heng San ini dan kawannya itu.
"Yang pasti mereka berdua bukan orang baik-baik. Baiklah aku menyingkir dari hadapan mereka !"
Demikian pikirnya lebih jauh.
"Kalau tidak bisa aku roboh ditangan mereka itu !"
Wan Goat tidak secerdik Teng Hiang, tetapi dasar orang Kang Ouw dapat juga ia memikir sesuatu untuk kebaikannya. Malam yang sunyi pun membantu menjernihkan otaknya.
"Aku mesti bekerja guna It Hiong!"
Katanya di dalam hati.
Kapan ia ingat janjinya pada Tio It Hiong.
Maka ia mengambil keputusan batal pulang ke To Liong To, sebaliknya mau ia pergi ke In Bu San, guna menyelidiki gerak geriknya kaum sesat di sana guna merusak sepak terjangnya Bu Lim Cit Cun.
Ia pun ingin melihat si orang tua bermuka keriputan itu, sebenarnya dia orang macam apa !
Segera Wan Goat mengambil keputusannya, lantas dia bekerja.
Dia lompat turun dari pembaringannya dengan membawa pedangnya.
Dia membuka pintu kamar dan meninggalkan kamar itu secara diam-diam.
Hampir ia lantas pergi atau ia ingat Teng Hiang si nona penolong maka ia pikir baiklah ia menemui nona itu guna menghaturkan terima kasih serta berpamitan.
Maka menujulah ia ke gang yang akan membawanya ke kamarnya nona Teng.
Selagi mendekati pintu kamar, Wan Goat heran.
Ia mendengar suara bergbarukan di dalam kamarnya Teng Hiang seperti terbalik-baliknya kursi dan meja.
Ia menjadi bercuriga, sambil berlompat ia sampai di depan pintu.
Ia lantas mengangkat tangannya guna mengetuk pintu atau segera ternyata pintu itu cuma dirapatkan.
Baru saja terbentur tangan, daun pintu sudah terbuka.
Maka juga di dalam situ lantas terlihat dua orang sedang bertempur, dan diantara sinar lilin, cahaya pedang berkilauan.
Wan Goat bertindak masuk terus ia memasang mata.
Ia melihat salah seorang ialah yang berwajah seperti Tio It Hiong dan yang lainnya seorang muda yang mengenakan topeng.
Pertempuran itulah yang mendatangkan suara berisik kursi meja tadi.
"Berhenti !"
Seru Wan Goat sambil dia menghunus pedangnya. Si anak muda bertopeng melompat mundur, terus ia mengawasi nona itu, untuk akhirnya lantas menanya.
"Nona, apakah kau nona Siauw....?"
Wan Goat melintangi pedangnya di dadanya.
"Siapakah kau ?"
Dia balik bertanya.
Hong Kun sebaliknya menjadi jengah melihat munculnya nona itu.
Ia pun kuatir dengan berbicara, si anak muda bakal membuka rahasianya hingga Wan Goat mengetahuinya.
Dasar cerdik, ia lantas mendapat akal.
"Adik Wan Goat, buat apa diajak bicara lagi dengannya ?"
Katanya.
"Dia si bangsat perampas paras elok. Mari kita bekuk dahulu baru kita bicara lagi !"
Wan Goat merasai kulit mukanya panas mendengar katakata perampas paras elok itu.
Itu artinya si anak muda bertopeng adalah seorang penjahar tukang memetik bunga, tukang mengganggu kehormatan atau kesuciannya kaum wanita.
Ia lantas melihat ke pembaringan.
Di sana Teng Hiang rebah tak berkutik dan pakaiannya kusut !
Rupanya dia telah orang totok pingsan.....
Bukan main gusarnya Nona Siauw, mendadak saja dia menikam si anak muda.
Anak muda itu terkejut, lantas dia mundur dan pedangnya dipakai menangkis.
Sama sekali dia tidak membalas menyerang.
Cuma dengan suara dingin, dia kata.
"Hm, Nona Siauw ! Kau lihat dia biar tegas, dia orang macam apakah ?"
Dia menunjuk, menuding pada Hong Kun, sambil meneruskan.
"Dialah Tio It Hiong palsu ! Dialah Heng San."
Tak sempat si anak muda melanjuti kata-katanya, Hong Kun sudah lantas lompat maju menikam padanya, hingga ia mesti menangkis dan melayani bertempur pula !
Cuma sebab ia tahu lawan memakai pedang mustika, tak mau ia mengadu senjata.
Terpaksa ia mundur ke jendela.
Siauw Wan Goat bagaikan terasadar selekasnya dia mendengar keterangan bahwa Tio It Hiong itu adalah Tio It Hiong palsu.
Bukankah Teng Hiang telah berkatai ia bahwa Tio It Hiong ada yang dari Siong San, ada juga yang dari Heng San.
Tapi dia masih saja bersangsi hendak ia menyapa tegastegas dulu kepada Teng Hiang.
Maka ia masuki pedangnya ke dalam sarungnya terus ia lompat ke pembaringan untuk memeluk dan mengangkat tubuhnya kenalan itu.
Teng Hiang lemas, tak ada tanya yang ia telah kena tertotok.
Lantas ia berpaling kepada dua orang di dalam kamar itu, mengawasi bergantian dengan tajam.
"Apa yang kamu sudah perbuat atas dirinya kakak Teng ini ?"
Tanyanya.
"Buat apa disebut lagi ?"
Hong Kun mendahului menjawab.
"Siapa tukang merampasi wajah elok dia pasti menggunakan obat pulas !"
Berkata begitu mendadak dia lompat menerjang pula si anak muda sambil dia membentak .
"Lekas kau keluarkan obat pemunah racunmu ! Jangan kau tak tahu diri !"
Si anak muda bertopeng berkuatir melihat keadaannya Teng Hiang itu.
Inilah terbukti dari sinar matanya.
Karena mukanya tertutup kedok, wajahnya tak tampak.
Dengan cepat dia merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kota kemala terus dia lompat ke arah pembaringan atau Hong Kun segera menghadangnya !
"Kalau kau berani maju lagi satu tindak,"
Orang she Gak itu mengancam dengan pedangnya juga.
"awas !"
Terpaksa anak muda bertopeng itu mundur pula ! Wan Goat mengawasi.
"Kalau kau yang membikin kakak Teng tak sadar ini, lekas kau lemparkan obat pemunahmu itu!"
Katanya pada si anak muda. Anak muda itu nampak bersangsi lalu tingkahnya dia menjadi gusar sekali. Itulah sebab Hong Kun menghalanginya. Sinar matanya tampak berkelebat bengis.
"Gak Hong Kun !"
Teriaknya, pedangnya diangkat.
"Jika kau tidak lekas menyingkir, jangan salahkan aku, jika aku membeber rahasiamu !"
Hong Kun melengak, tanpa merasa dia mundur setindak. Tapi hanya sejenak, dia lantas tertawa bergelak.
"Aku Tio It Hiong !"
Katanya.
"Aku mempunyai rahasia apakah ?"
Justru Hong Kun mundur.
Justru si anak muda berlompat ke pembaringan, pedangnya sekalian ditebaskan kepada jago dari Heng San Pay itu hingga si jago muda itu kaget dan mundur pula.
Selekasnya dia datang dekat Teng Hiang, si anak muda membuka tutup kota gemalanya itu hingga kelihatan satu cahaya mengkilat sebab isinya adalah sebutir mutiara mustika.
Dengan cepat mutiara itu diajukan ke hidungnya si nona yang lagi tak sadarkan diri.
Hanya sebentar mutiara itu disimpan pula.
Si anak muda kerja cepat sekali, hingga Wan Goat melengak.
Hong Kun menjadi bersangsi.
Tak berani dia menyerang pula, kuatir si anak muda membuktikan ancamannya membeber rahasianya.
Pedangnya sudah diangkat tinggi tapi diturunkan pula.
Tapi dia tak dapat berdiam saja, maka ia kata dingin.
"Aku tidak percaya mutiaramu dapat menyadarkan pingsan yang disebabkan obat bius yang beracun ! Ha ha ha..."
Begitu dia mengucapkan perkataannya yang terakhir itu, begitu juga Hong Kun melengak.
Ia insaf bahwa ia telah keliru berkata-kata.
Ia lupa hingga ia menyebut tentang obat biusnya.
Si anak muda sebaliknya, tertawa nyaring.
"Mutiaraku ini ialah Soat Liong Cu !"
Katanya.
"Tak peduli racun apa juga pasti dapat dipunahkan dan orang akan siuman karenanya ! Apakah lihainya obat biusmu itu bie hun Toa hun itu ?' Justru itu terdengar suaranya Siauw Wan Goat.
"Kakak Teng, kau tidak kenapa-napakah ?"
Memang ketika itu Teng Hiang telah membuka matanya terus dia menggerakkan tubuhnya berduduk diatas pembaringan.
Lekas juga dia mengawasi si anak muda bertopeng itu.
Si anak muda melihat orang sudah mendusin, dia memutar tubuhnya, berniat mundur atau mendadak sebelah tangannya Teng Hiang menyambar ke mukanya, membuat kedoknya terlepas hingga lantas tampak wajahnya seluruhnya !
Melihat anak muda itu, Teng Hiang memperdengarkan seruan perlahan, lantas dengan mendelong mengawasi si anak muda, air matanya mengucur turun.....
Pemuda itu ialah Cukat Tan !
Muda mudi itu lantas saling mengawasi.
Si pemuda sangat berduka, si pemuda berkasihan berbareng panas hatinya.
Bahkan ia sampai lupa, yang Hong Kun dibiarkan saja.
Wan Goat mengawasi muda mudi itu.
Ia lantas dapat menerka duduknya hal.
Ia menjadi kurang leluasa, maka ia bertindak untuk mengundurkan diri.
Karena ini ia menjadi melihat Hong Kun.
Justru itu It Hiong palsu lagi bergerak menikam Cukat Tan.
"Celaka !"
Berseru nona Siauw yang segera menebuk lengan si jahat itu.
Dua-dua Cukat Tan dan Teng Hiang bagaikan terasadar.
Keduanya terkejut tapi sudah kasip bagi Cukat Tan !
Ujung pedang Hong Kun sudah merobek bajunya, bahu dan dagingnya tertusuk hingga darahnya mengucur keluar.
Tapi sadar dengan melawan rasa nyerinya, dia lantas membalas menyerang dengan satu tendangan "Ekor Harimau".
Untuk itu lebih dulu ia mendak dengan gesit.
Hong Kun tengah berpuas hati karena dapat melukakan pemuda itu, yang menjadi penghadangnya, dia kurang siap sedia, maka juga dia kena terdepak nyeri, tubuhnya pun terpelanting.
Teng Hiang kaget melihat Cukat Tan berdarah-darah.
Ia lompat kepada anak muda itu untuk terus membayangnya.
"Bagaimana lukamu, adik ?"
Tanyanya prihatin sekali. Cukat Tan berkeras hati walau lukanya tak ringan.
"Tak apa-apa,"
Sahutnya tertawa menyeringai, lalu dengan cepat sekali, ia menebas kepada Hong Kun. Sia-sia saja serangan itu, Hong Kun telah tak nampak.
"Dia sudah lari kabur !"
Berkata Siauw Wan Goat yang menghampiri.
"Dia lari kemana ?"
Tanya Cukat Tan gusar sekali. Ia mengangkat kakinya buat melangkah berniat mengejar. Teng Hiang menubruk pemuda itu.
"Sabar, dik !"
Katanya lemah lembut.
"Buat menuntut balas, waktunya masih banyak ! Mari aku balut dahulu lukamu...."
Dan dia membawa si anak muda ke pembaringan untuk disuruh duduk, ia sendiri lantas mengeluarkan obat lukanya.
Dengan cepat dia mengobati dan membalut lukanya anak muda itu.
Selama itu sang waktu telah berjalan terus, tahu-tahu sudah jam lima.
Selama itu Wan Goat pun berdiam saja, otaknya bekerja.
Ia tetap meragukan pemuda yang mirip It Hiong itu.
"Siapakah dia ?"
Tanyanya dalam hati.
Maka terbayanglah lakon di hotel Lapkee.
Di akhirnya ia mau menerka, pemuda tadilah yang telah merusak kesucian dirinya.
Hal ini membuatnya malu dan gusar sekali.
Ya, ia amat penasaran !
Ketiga orang itu tak memperdengarkan suara apa-apa, maka juga dengan memainnya api lilin, tubuh mereka merupakan bayangan-bayangan yang bergerak-gerak sendirinya.
Teng Hiang buat lukanya Cuka Tan.
Di sebelah situ, ia merasa tidak enak hati.
Si pemuda terluka justru di tangannya si anak muda dengan siapa ia berjalan bersama-sama.
Maka juga terhadap Cukat Tan, ia likat, ia merasa jengah sendirinya.
Ia cerdas dan cerdik, tetapi menghadapi soal asmara, pikirannya menjadi kurang terang.
Tak tahu ia apa yang ia harus ucapkan guna memberikan keterangan kepada kekasihnya ini.
Maka dengan mata tergenang air, ia hanya dapat mengawasi anak muda itu......
Cukat Tan juga memikirkan nona yang ia gilai itu.
Kalau ia telah tidak menguntit, apa akan terjadi atas diri si nona ?
Bukankah itu sangat berbahaya ?
Tadi itu Hong Kun memasuki kamarnya Teng Hiang sesudahnya dia menghembuskan masuk bubuk biusnya, disaat dia memondong tubuh si nona untuk dinaiki ke atas pembaringan, muncullah Cukat Tan yang telah mengintai dan terus menghalanginya.
Hingga mereka jadi bertempur sampai datangnya Siauw Wan Goat.
Cukat Tan baru mulai main asmara, ia kurang pengalaman.
Biar bagaimana ia heran yang Teng Hiang bergaul dengang Gak Hong Kun bahkan bergalang gelung yaitu berjalan bersama-sama.
Jilid 43 Tidakkah itu mencurigakan ?
Tidakkah membangkitkan iri hati atau cemburu ?
Maka itu, habis dibalut si anak muda lantas mengawasi tajam nona di depannya itu.
Ia nampak tak puas.
Teng Hiang menyaksikan perubahan sikap orang, ia dapat menerka sebabnya.
Itulah salah paham.
Maka ia menggenggam tangan orang, sembari tertawa ia berkata .
"Oh, adik. Kau kenapakah ? Orang yang aku cintai cuma kau sendiri, tak nanti aku melakukan sesuatu yang membuatmu kecewa !"
Cukat Tan melepaskan tangannya, dia menghela nafas, lalu menoleh ke arah lain.
"Kau berduka, kau pun tidak puas nampaknya. Kau membuatku nyeri dihati."
Kata Teng Hiang pula.
"Kalau benar kau mengusirku, nah.. kau caci dan hajar aku, aku terima ! Coba kau bicara !"
"Enak saja kau bicara !"
Kata anak muda itu tawar.
"Aku.... aku....."
Tak sanggup Teng Hiang meneruskan kata-katanya, kerongkongannya bagaikan terkanCing, air matanya terus mengucur turun.
Si anak muda mengawasi, pikirannya bimbang.
Ia merasa kasihan, tetapi kecurigaannya tetap belum lenyap.
Ia ingat kata-kata bahwa wanita itu pandai mengeluarkan air mata.
Maka pikirnya.
"Dapatkah kau mengalah ?"
Tiba-tiba Cukat Tan tertawa lebar.
"Ya, Cukat Tan tolol !"
Katanya.
"Nah, aku minta jangan kau menggunakan akal muslihatmu ini."
Teng Hiang melengak. Nyeri hatinya mendengar ucapan itu. Lantas air matanya mengucur deras.
"Oh, adik. Kau membenci aku ?"
Katanya sembari menangis. Ia mencekal keras tangannya si anak muda.
"Kalau benar, bunuhlah aku ! Tak dapat aku bertahan dari perlakuanmu ini, aku tak sanggup !"
Otaknya si anak muda bekerja keras. Ia berkasihan, ia terharu, toh hatinya ragu-ragu. Ia mengawasi nona itu. Tanpa merasa ia menepisi air mata orang.
"Aku Cukat Tan, terhadap siapa pun tak pernah aku berlaku palsu !"
Katanya keras.
"Kalau aku menyinta, aku menyinta sesungguh-sungguhnya dan kalau aku membenci, aku membencinya sangat ! Jika orang main gila padaku, bisa aku marah....."
Teng Hiang menatap, air matanya masih meleleh keluar.
"Apakah yang pernah aku lakukan, adik ?"
Tanyanya.
"Kenapa aku mesti mendustai kau ?"
Cukat Tan membuka mulutnya, ia batuk. Hanya sesaat, kemudia sembari tunduk ia kata juga.
"Jika kakak menganggap aku buruk dan kau ingin mencintai lain orang, kau bilanglah terus terang padaku. Jika Cukat Tan berhati palsu, tak nanti malam ini dia muncul di kamar ini merusak kesenangan kalian berdua !"
Teng Hiang kagum buat kepolosannya si anak muda. Ia menatap orang, tiba-tiba ia tertawa terus ia kata.
"Adik, hatiku telah diserahkan padamu ! Adik, hatiku tak akan dapat berubuah, tak perduli lautan kering dan batu membusuk ! Apakah kau menjadi tidak senang sebab aku berjalan bersama Gak Hong Kun ?"
Di tanya begitu si anak muda melengak. Nona itu tertawa, terus ia kata pula.
"Aku tahu adik, kau marah padaku sebab kau mencintaiku! Sekarang aku telah melihat tegas bagaimana kau mencintai aku, adik......"
Teng Hiang menarik tangan, ia mengajak si pemuda duduk berendeng di tepi pembaringan.
"Adik, kenapa kau dapat berada disini ?"
Tanyanya kemudian.
"Kenapa kau dapat membantu aku di saat yang tepat ini ?"
Luar biasa lekas, lenyap rasa tak puasnya anak muda ini. Ia melihat si nona berlaku jujur terhadapnya.
"Kakak."
Katanya kemudian.
"Aku melihat kau bersama Gak Hong Kun sejak di penginapan di dalam kota Gakyang, lantas aku menguntitmu. Itulah sebabnya kenapa aku berada disini ?"
Teng Hiang merasa puas berbareng lega hatinya. Kalau ia menyeleweng, celakalah ia. Syukur ia tetap berlaku jujur. Tapi ia toh kata.
"Cis ! Katanya wanita bercemburu ternyata sekarang adik, kau pun jelus....."
Cukat Tan merasai mukanya panas.
"Menyesal kakak."
Katanya.
"Sayang aku menyangka keliru padamu ! Kakak toh tidak menggusari aku bukan ?"
Teng Hiang melirik terus dia tertawa.
Sikapnya si nona membuat hatinya si anak muda lega sekali.
Ia turut tertawa.
Muda mudi itu tidak cuma duduk berendeng hanya mereka saling menyender.
Mereka saling terbenam didalam lautan asmara sampai mereka melupakan Siauw Wan Goat yang sejak tadi berdiam di dekat jendela.
Nona itu berpikiran kosong, dia bagaikan tak melihat dan mendengar....
Tiba-tiba Wan Goat dikejutkan keruyuk ayam jago, pertanda tibanya sang pagi.
Lantas ia melihat ke arah Teng Hiang dan Cukat Tan.
Mereka itu tak tampak, dikasih terus di depan pembaringan tampak sepatu mereka.
"Ah !"
Seru nona ini.
Mukanya merah.
Lantas ia lompat keluar jendela, untuk bertindak keluar dari rumah penginapan, untuk berjalan terus-terusan di waktu pagi yang sejuk dan sepi itu.
Hingga tahu-tahu ia telah melalui tujuh atau delapan belas lie, ia berada ditanah pegunungan, di depannya sebuah rimba.
Di sini ia terkejut dan sadar, sebab lantas dia melihat berkelebatannya golok-golok dan pedang-pedang !
"Di pagi begini, kenapa ada orang bertempur di atas gunung ?"
Pikirnya, heran.
"Orang-orang macam apakah mereka-mereka itu ? Baik aku melihatnya..."
Maka lantas ia mempercepat langkah.
Setelah datang dekat kira enam tombak dari tempat perkelahian, Wan Goat menyembunyikan diri di balik sebuah batu karang yang besar, dari situ ia memasang mata.
Yang bertempur itu ialah seorang nona dengan senjatanya sebatang golok dan seorang pemuda bersenjatakan pedang.
Muka mereka itu tak tampak jelas.
Kira dua tombak jauhnya dari mereka itu berdua, dipinggaran terlihat dua orang lainnya tengah menonton.
Mereka ini adalah seorang pendeta penganutnya Sang Buddha serta seorang imam atau rahib pengikutnya Loa Cu Yang Maha Agung.
Sementara itu dengan lewatnya sang waktu, tibalah sang terang tanah, maka di lain saat dapat sudah Wan Goat mengenali si pria dang melihat tegas si wanita yang mengadu jiwa itu.
Dialah Gak Hong Kun si It Hiong palsu serta seorang nikouw setengah tua yang tampangnya centil.
Selekasnya dia melihat Hong Kun, Wan Goat menenangkan hatinya.
Lantas dia mengawasi tajam kepada pemuda itu guna memastikan ia It Hiong tulen atau palsu.
Nikouw itu lihai, sepasang goloknya bergerak-gerak memperdengarkan suara anginnya yang keras.
Hanya aneh walaupun ia mendesak, dia seperti tidak mau melukai si anak muda, goloknya cuma memain di sekitar tubuh orang.....
Gak Hong Kun juga tidak mau mengalah, dia mengeluarkan kepandaiannya, ilmu silat Heng San Pay, maka juga mereka jadi bertempur seru.
Pendeta wanita itu berpengalaman, ia tahu si pemuda lihai, hendak ia mengadu kepandaian.
Kapan pertempuran sudah melalui lima puluh jurus, perubahan lantas tampak.
Gerak geriknya Hong Kun mulai kendor, nafasnya telah memburu, peluhnya sudah membasahi dahinya.
Justru itu si nikouw kata manis.
"Eh, saudara she Tio, apakah kau masih tak sudi menyerah kalah ? Bukankah kau sudi mendengar kata-katanya kakakmu ini ?"
Alisnya Hong Kun bangun berdiri, matanya mendelik.
"Aku tidak percaya nikouw siluman, ilmu golokmu dapat mengalahkan ilmu pedang Heng San Pay !"
Katanya takabur. Nikouw itu tertawa geli.
"Jangan kau mendustai aku, anak !"
Kata dia.
"Kau toh muridnya Tek Cio Totiang dari Pay In Nia, kenapa kau menyebut dirimu dari Heng San Pay ?' "Hm !"
Hong Kun perdengarkan suara dinginnya.
Dia menyamar sebagai It Hiong, tak dapat dia membuka rahasianya sendiri.
Barusan dia keliru menyebut ilmu pedang Heng San Pay.
Karena itu dia terus menutup mulutnya, terus saja dia menyerang hebat guna bisa mendesak lawannya itu !
Dari tempat bersembunyi Wan Goat mengagumi ilmu silatnya pemuda itu.
Ia pun dapat melihat orang merah karena terlalu menguras tenaga serta peluhnya menetes turun tanpa merasa, ia merasa berkasihan........
Tepat itu waktu maka terdengarlah suara keras dari beradunya pedang dengan golok.
Itulah akibat siasatnya Gak Hong Kun.
Hong Kun sudah letih sekali, terpaksa dia mengandalkan pedang mustikanya, yang tajam luar biasa.
Disaat golok mengancam, dia sengaja menangkis sambil menebas dengan sisa tenaganya !
Sepasang goloknya si nikouw bukan senjata mustika tetapi tangguhnya luar biasa, sebab terbuatnya dari campuran emas dan besi pilihan, maka juga kena terpapas pedang istimewa terdengarlah suara nyaring dan berisik itu, goloknya tapinya tetap utuh !
Hong Kun heran sampai dia mundur satu tindak dan berdiri mendelong.
Tapi cuma sedetik lantas dia sadar akan keadaannya.
Maka juga lekas-lekas dia mengeluarkan bie hun tok hun, bubuk biusnya yang menjadi seperti benda saktinya.
Dengan mengikuti tiupan angin, ia menyebarkannya.
Melihat asap merah tua terbang ke arahnya, si pendeta wanita tidak menjadi takut, bahkan dia tertawa dan kata.
"Oh, saudara yang baik, segala bubuk begini mana dapat membuat kakakmu ? Cuma mukamu yang tampan yang membuat hatiku goncang !"
Walaupun dia tertawa manis, si pendeta toh menggunakan golok kirinya akan melakukan penyerangan penangkisan, membuyarkan asap itu dengan cepat, sedangkan golok kanannya dipakai membacok ke dada lawan.
Hong Kun terperanjat, mendapati nikouw setengah tua itu dapat memunahkan bubuknya yang lihai, terus dia menjadi kaget mendapati golok orang berkelebat ke arahnya.
Dengan kelabakan dia menangkis.
Tapi tangkisannya itu tidak mengenai, cuma menyampok angin.
Lantas setelah itu, dia menjadi kaget sekali sebab jalan darahnya-jalan darah hoa kay-telah kena tertotok.
Sekejap itu juga dia merasai tubuhnya kaku, lalu kepalanya pusing lantas dia terhuyung dua kali terus tubuhnya roboh ke tanah dengan dia tak sadarkan diri lagi !
Nikouw itu tertawa nyaring menandakan dia sangat girang.
Lantas dia lompat kepada Hong Kun guna menyambar tubuh orang buat diangkat dan dikemoit kemudian dia menoleh kepada dua orang tua yang menonton tadi--si pendeta dan imam--dia melirik dengan tampang bangga.
Si pendeta tertawa lebar dan kata.
"Su moay, kau beruntung !"
"Su moay"
Ialah adik seperguruan wanita.
Justru pendeta itu tertawa, justru mereka mendengar satu bentakan nyaring lantas tampak berkelebatnya sesosok tubuh hitam menghadang di depan nikouw sejarak satu tombak.
Segera setelah berdiri diam, bayangan itu ternyata adalah seorang nona usia tujuh atau delapan belas tahun, disamping siapa pun berdiri seekor orang utan besar sekali.
Sambil berdiri tegak, ia menunjuk tubuhnya Hong Kun dan menanya si nikouw .
"Bukankah anak muda itu Tuan Tio It Hiong ?"
Nikouw itu heran hingga dia menatap.
Dia mendapati nona itu memiliki muka bundar seperti bulan purnama, tampangnya sangat cantik, matanya jeli, cuma sinar matanya itu mirip sinar mata genit.
Dia tidak menjawab, hanya balik bertanya acuh tak acuh.
"Kau siapakah ? Kau murid siapa ? Bagaimana kau berani mencampur tahu urusannya Sek Mo ?"
"Sek Mo"
Ialah bajingan paras elok. Berkata begitu, dia lantas memasuki sepasang goloknya ke dalam sarangnya. Nona itu mengawasi secara bersahaja. Ia menjawab.
"Aku ialah Kip Hiat Hong Mo ! Kalian tidak mengenal aku, aku tidak menggusarimu !"
Ia menunjuk pula tubuhnya Hong Kun untuk berkata lagi.
"Kau serahkan Tuan Tio kepadaku !"
Di sebutnya nama Kip Hiat Hong Mo mengagetkan kepada nikouw itu, juga si pendeta dan si imam.
Kemudian si pendeta maju menghampiri akan mengawasi si nona dari atas ke bawah dan sebaliknya setelah mana dia membentak dingin.
"Budak bau ! Siapakah kau ? Lekas kau bicara dengan terus terang. Tangannya Hiat Mo tak ada halangannya buat membacokkan satu jiwa !"
"Hiat Mo"
Ialah Bajingan Darah. Nona itu tidak kaget atau takut, dia tetap tenang-tenang saja. Lantas dia menuding si pendeta seraya menanya si nikouw.
"Kau bernama Sek Mo dan dia Hiat Mo. Habis apakah namanya kawanmu itu ? Dialah seorang rahib atau rahib bajingan apa ?"
Hiat Mo tertawa dingin.
"Dialah Tam Mo !"
Dia menjawab.
"Kalau kau benar Kip Hiat Hong Mo, kenapa kau tidak mengenali kami Hong Gwa Sam Mo ?"
"Tam Mo"
Ialah Bajingan Tamak dan "Hong Gwa Sam Mo"
Yaitu Tiga Bajingan dari Dunia Luar. Si nona meraba ke pinggangnya, meloloskan seekor ular hijau yang melilit pinggangnya itu, sambil mengibaskan itu ia kata.
"Senjata ini senjata apakah ? Kalian lihat ?"
Ular kecil warna hijau itu mempunyai sepasang mata merah seperti darah, tajam sinarnya, sedangkan tubuhnya panjang tiga kaki.
Lidahnya yang diulur keluar pun berwarna merah dadu.
Dia mengangkat kepalanya digoyangi ke kiri dan ke kanan.
Tingkahnya seperti hendak memagut orang !
Seluruhnya tampangnya itu, dia membuat orang jeri.
Tiba-tiba saja, Tam Mo si rahib meluncurkan tangannya menghajar tangan kanannya si nona yang lagi memegangi ular itu.
Dia bergerak tanpa sebut dan tanpa bersuara lagi.
Inilah sebab dia mengenali ular itu sebagai sian-liong, ular beracun istimewa yang hidup di Siong San yang racunnya dapat memunahkan seratus macam racun lainnya, bahkan siapa dapat minum darahnya, tubuhnya bakal menjadi sangat ringan dan gesit.
Jadi ular itu ular sangat langka.
Nona itu tidak kena diserang secara mendadak itu.
Selagi orang menyerangnya, ia berseru, tubuhnya berkelit-kelit ke belakangnya Tam Mo si Bajingan Tamak.
Di lain pihak, orang utan disisinya mendadak telah berubah sebagai ia sendiri sebab ia telah menggunakan ilmu Hoan Kak Biu Ciu !
Tam Mo hendak mencekal tangannya si nona guna merampas ularnya, siapa tahu ketika tangannya mengenai sasarannya dia menjadi kaget.
Dia bukan memegang tangan yang putih halus, hanya sesuatu yang berbulu dan licin hingga cengkramannya lolos sendirinya !
Dalam herannya Tam Mo mengawasi si nona.
Ia tetap mendapati nona tadi.
Maka lagi sekali ia menggerakkan tangannya menangkap tangan orang !
Tepat itu waktu si Bajingan Tamak mendengar suara nyaring ini di belakangnya.
"Tam Mo, sian-liong ada disini !"
Nona itu pun menyebut sian-liong, naga sakti pada ularnya itu.
Selekasnya dia mendengar suaranya si nona, Tam Mo menjadi sangat kaget.
Dia melihat tangan yang dipegang olehnya bukan tangannya si nona, hanya lengannya si orang utan, binatang mana yang berwajah bengis, mengawasi dia dengan membuka lebar-lebar mulut nya serta mementang matanya yang bersinar galak.
Tapi dia tidak takut.
Dialah salah satu dari Hong Gwa Sam Mo yang kesohor kosen dan kejam.
Dari kaget dia menjadi gusar, lantas dia mengerahkan tenaganya untuk melempar orang utan itu !
Menyusul gerakannya Tam Mo, si nona berseru nyaring lalu terlihatlah si orang utan jumpalitan di tengah udara dan jatuhlah justru ke arah nikouw setengah tua.
Melihat demikian pendeta wanita itu bergerak dengan cepat untuk berkelit tetapi gagal.
Dia kurang cepat maka tubuhnya kena terbentur hingga dia jatuh karena mana Hong Kun pun terlepas dari kempitannya.
Akan tetapi ia tak kurang suatu apa, dengan gesit dia berlompat bangun akan menyambar tubuhnya si anak muda hingga Hong Kun kena dikempit pula.
Tentu sekali dia menjadi gusar tak terkirakan.
Maka juga dia terus menyampok binatang hutan itu.
"Tahan su-moay."
Teriak Tam Mo.
Sek Mo heran tetapi dia mendengar kata, maka serangannya itu dikesampingkan.
Dia berdiri diam menoleh kepada saudara seperguruannya yang nomor dua itu.
Justru dia berdiam, tiba-tiba dia merasai tubuh Hong Kun seperti berbulu tajam yang menusuk-nusuk lengannya.
Maka dia tunduk akan melihatnya.
Lantas dia menjadi heran sekali.
Itulah bukan si anak muda, hanya si orang utan !
Selagi orang heran dan melengak, si nona tertawa dan berkata nyaring.
"Tuan Tio ada ditanganku ! Yang kau kempit ialah So Hun Cian Li ! Buat apakah kau mengempit dia ?"
Bukan kepalang mendongkolnya si nikouw. Telah orang permalukannya ! "Kip Hiat Hong Mo !"
Teriaknya.
"Kau telah merampas orangku, mana dapat aku berdiam saja ? Kamilah Hong Gwa Sam Mo, tak dapat kami kehilangan muka !"
Lantas dia lemparkan si orang utan ke arah nona itu !
Menyusul itu, dia pun menghunus sepasang goloknya !
Ketika itu Hiat Mo pun memperdengarkan suara dinginnya !
"Jiete, mari kita turun tangan !
Kita harus membantu Sam Moay membekuk budak bau itu !' "Jite"
Ialah saudara yang nomor dua, dan "Sam Moay"
Adik yang ketiga. Tam Mo si Bajingan Tamak juga gusar. Dia menoleh kepada si nona, untuk berkata bengis.
"Kip Hiat Hong Mo, saat kematianmu sudah tiba !"
Ketika itu si orang utan, yang telah dilemparkan tidak jatuh terbanting.
Dia dapa turun dengan menaruh kaki dengan baik.
Dia pun tidak gusar terhadap orang yang melemparkannya, hanya dia bertindak menghampiri si nona, akan berdiri di sisinya seperti semula.
Nona itu terus bersikap wajar.
Sembari tertawa manis, ia mengawasi ketiga bajingan itu kemudian ia kata.
"Buat apa kalian jadi galak begini ? Taruh kata kalian dapat mengalahkan aku, tak nanti kalian dapat merobohkan guruku ! Akulah Ya Bie dan tuan Tio ini jantung hatiku !"
Ia hening sejenak, lalu ia menambahkan.
"Aku baru berhasil mewariskan lima bagian ilmu guruku yang disebut Hoan Kak Bie Cie, ilmu menyalin rupa. Tetapi dengan ilmuku ini saja sudah kalian berani membuka mulut besar ? Hm !"
Hong Gwa Sam Mo saling mengawasi, mata mereka memain. Mereka merasa Hoan Kak Bie Ciu lihai, karena mana tak berani mereka sembarang bergerak. Sek Mo mengawasi tajam pada si nona. Dia jelus sekali.
"Sebenarnya kau pernah apakah dengan Kip Hiat Hong Mo ?"
Tanyanya kemudian.
"Kau bicara terus terang, nanti aku ampunkan selembar jiwamu !"
Nona itu suka menjawab dengan sebenar-benarnya.
"Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Jie adalah guruku !"
Demikian jawabnya.
"Hayo bilang kalian takut atau tidak dengan guruku itu ?"
Si nona bicara polos seperti seorang bocah cilik, tingkahnya jenaka.
Dia seperi bukan lagi bicara dengan musuh yang lihai dan ganas.
Sikapnya ini justru membuat ketiga bajingan serba salah -menangis tak bisa, tertawa tak dapat.
Sek Mo sangat penasaran, ingin ia mendapatkan pulang Hong Kun tetapi dia jeri.
Dia kuatir nanti tak sanggup melayani si nona.
Kapan dia memandang Hong Kun, dia merasa sangat gatal.
Dalam mendongkolnya itu dia mengernyitkan alis.
Tiba
KANG ZUSI website
http.//cerita-silat.co.cc/ tiba dia mendapat sebuah pikiran. Maka tiba-tiba juga dia tertawa.
"Nona Ya Bie, apakah kau mau mencari jantung hatimu ?"
Tanyanya ramah.
"Bukankah jantung hatimu itu seorang she Tio ?"
Ya Bie suka diajak bicara. Dia menunjuk It Hiong palsu di dalam kempitannya itu.
"Pemuda tampan ini ialah Tuan Tio It Hiong yang menjadi kekasihku."
Dia berkata.
"Apakah kau mau mengatakan dia bukannya Tuan Tio ?"
Sek Mo si Bajingan Paras Elok menggeleng kepala.
"Kau keliru....."
Katanya. Tiba-tiba dia berdiam. Sukar buatnya mendusta. Ya Bie heran, dengan melengak ia mengawasi Hong Kun. Sek Mo berpikir keras, ia mendapat satu pikiran lain.
"Dialah Tuan Tio yang palsu."
Dia lantas berkata.
"Dia bukan Tuan Tio yang tulen."
Kata-kata itu dapat dipercaya Ya Bie, yang cerdik tetapi polos yang kurang pengalaman.
Ia pun keluar dari Cenglo Ciang dengan diluar tahu gurunya.
Di sebelah itu, kata-kata itu juga menyadarkan Siauw Wan Goat yang sejak tadi menyembunyikan diri terus hingga ia bisa melihat dan mendengar semua itu.
"Kau benar !"
Berkata Ya Bie. Dia muda dan polos tetapi dia cerdik. Sek Mo senang mendengar perkataannya si nona itu.
"Dia bukan Tuan Tio, nona. Dia jadi bukanlah jantung hatimu."
Katanya.
"Nona yang baik, kau kembalikan dia padaku !"
Ya Bie bersangsi. Tak mau ia lantas menyerahkan pemuda ditangannya itu. Ia hanya justru mengawasi wajah orang.
"Nanti, akan kutanya dahulu dia."
Katanya.
"Kalau dia benar bukan Tuan Tio, akan aku serahkan dia padamu."
Lantas nona ini menekan jalan darah siutong dari Hong Kun, guna menghidupkan darahnya, guna membebaskan dia dari totokan.
Tidak lama maka pemuda itu sudah dapat membuka matanya.
Lantas dia mendapat kenyataan yang tubuhnya rebah dipangkuannya seorang nona yang tubuhnya menyiarkan bau harum kewanitaan.
Dengan sendirinya timbullah nafsu birahinya.
Dia lantas ingat segala apa.
Sebagai seorang licik, lekas-lekas dia memejamkan pula matanya.
Nikmat rasanya dipangku seorang nona manis seperti Ya Bie.
Ya Bie mencintai It Hiong selekasnya dia lihat anak muda itu, tetapi itulah gadis suci.
Ia tak punya pengalaman, maka itu selekasnya anak muda ini sadar dan membuka matanya, ia lantas meletakkannya diatas tanah.
Kemudian ia menggoyanggoyangkan kedua bahunya anak muda itu.
"Kau siapa sebenarnya ?"
Tanyanya.
"Kau Tuan Tio It Hiong atau bukan ?"
Itulah pertanyaan polos sekali, atau tolol.
Hong Kun membuka pula matanya, ia menggerakkan tubuhnya untuk bangun, duduk di tanah.
Lantas ia mengawasi nona di depannya itu.
Kemudian ia berpaling kepada Heng Gwa Sam Mo.
Ia berpikir karena ia tidak tahu si nona menanya ia dengan maksud baik atau jahat.
Dasar ia cerdik, sebelum memberikan penyahutannya, ia balik bertanya.
"Siapakah kau ? Mau apa kau menanyakan aku ?"
Ya Bie tidak sabaran melihat lagak orang sembarang, dia menjawab berbareng menanya.
"Akulah Ya Bie dari Cenglo Ciang."
Sahutnya.
"Kau Tio It Hiong atau bukan ?"
"Oh, saudara yang baik !"
Tiba-tiba Sek Mo menimbrung.
"Sekarang ini jiwamu sudah berada ditangan kami, kau bicaralah terus terang !"
Sek Mo belum pernah melihat Tio It Hiong palsu, maka itu ia takut kalau orang mengaku sebagai It Hiong, dia bakal dibawa pergi si nona.
Itu artinya, ia bakal kehilangan pemuda itu.
Karena itu, ia sengaja mengeluarkan kata-katanya itu akan mengancam atau menggertak si anak muda.
Hong Kun sebaliknya, belum pernah pergi ke Cenglo Ciang.
Tentu saja dia tidak kenal Ya Bie, cuma dia ingat perdamaiannya dengan Teng Hiang buat pergi ke Cenglo Ciang, guna membujuki Kip Hiat Hong Mo membantu usaha Bu Lit Cit Cun.
Ketika itu, Teng Hiang juga tidak menyebut namanya Ya Bie ini.
Ia menjadi bingung .
Ya Bie, It Hiong atau musuhnya ?
Ancamannya si nikouw barusan pun menciutkan hatinya.
Melihat orang berdiam, Ya Bie makin keras ingin mengetahui tentang dirinya pemuda itu.
Ia lantas mengawasinya tajam dengan ia mengerahkan tenaga ilmu Hoan Kak Bie Ciu.
Hong Kun menggigil selekasnya sinar matanya beradu dengan sinar mata si nona.
Lantas seperti tak sadarkan diri.
Justru begitu, ia mendengar bentakan si nona.
"Kau bernama apa ? Lekas bilang !' Tanpa sadar, sendirinya Hong Kun menjawab.
"Aku yang rendah ialah Gak Hong Kun, muridnya It Yap Totiang dari Heng San Pay, dan aku menyamar menjadi Tio It Hiong itulah karena aku berniat mencelakai padanya."
Kapan Seng Mo mendengar jawabannya Hong Kun itu, diam-diam dia bergirang sekali.
Si anak muda benar-benar bukannya It Hiong yang asli.
Pikirnya, pasti ia akan dapat hidup bersama anak muda itu, yang tentunya tak akan dibawa pergi oleh si nona yang lihai.
Ya Bie sebaliknya menjadi gusar sekali, hingga matanya mendelik dan mulutnya memperdengarkan suara sengit.
"Cis ! Kaulah bukan satu manusia baik-baik ! Kenapa kau menyamar untuk mencelakai Tuan Tio ?"
Di bawah pengaruh ilmu Hoan Kak Bie Ciu itu, Hong Kun tak dapat menggunakan kecerdikannya atau mendusta terus, dia menjadi serta si orang jujur dan polos. Atas kata-kata si nona itu dia berkata.
"Aku berbuat begitu karena aku hendak membalas sakit hatiku, karena aku penasaran sudah kehilangan pacarku. Aku bertekad tak akan hidup bersamasama dalam dunia ini dengan musuhku dalam asmara itu ! Nona, karena urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kau, aku minta sukalah kau bebaskan aku...."
Siauw Wan Goat ditempatnya bersembunyi mendengar jelas pembicaraan itu, maka sekarang ia mendapat bukti kepastian akan kata-katanya Teng Hiang, hal adanya dua Tio It Hiong.
It Hiong dari Heng San dan It Hiong dari Siong San.
Tentu sekali, karena itu ia menjadi gusar.
Ia sangat membenci Hong Kun hingga ia lantas memikir keluar dari tempat sembunyinya itu guna membuat perhitungan dengan orang Heng San Pay yang busuk itu.
Tapi belum lagi ia bergerak atau ia mesti mendelong mengawasi ke arah Ya Bie sekalian.
Mendadak Wan Goat mendengar suara tawa serak, yang membuat telinganya nyeri, yang membikin hatinya menggetar, maka lekas-lekas ia menenangkan hatinya itu dan mengawasi ke arah Ya Bie semua dimana ia melihat di depannya Hong Gwa Sam Mo dan si nona tambah seorang tua yang mukanya keriputan yang berdandan sebagai pelajar.
Dan itulah si orang tua lihai yang ia kenali !
Berhenti tertawa, orang tua keriputan itu lantas mengawasi tajam Ya Bie semua, terus ia berkata.
"Pemuda ini telah menerima baik menjadi muridku, bagaimana kalau aku membawanya pergi ?"
Ya Bie memberikan jawabannya, sabar.
"Orang ini jahat, dia hendak mencelakai Tua Tio. Karena dia telah bertemu denganku, dia seharusnya tak dapat hidup lebih lama pula ! Kalau lotiang hendak mengambil dia sebagai murid, lebih dahulu lotiang harus meninggalkan nama atau gelaranmu !"
"Oh, nona kecil. Kau ingin mengetahui namaku ?"
Menjawab orang tua itu.
"Aku adalah yang orang juluki Ie Tok Sinshe atau yang orang-orang Kang Ouw sebut Tok Mo !"
"Tok Mo"
Ialah Bajingan Racun. Ya Bie tidak kenal dan tidak tahu Ie Tok Sinshe siapa, dia kata polos.
"Kau diseebut Tok Mo. Mereka bertiga dipanggil Hong Gwa Sam Mo. Karena itu kau dari satu golongan dengan guruku....."
Si none menyebut satu golongan sebab mereka sama-sama "Mo"
Alias Bajingan ! "Hm !"
Tok Mo mengasih dengar suara dinginnya. Tanpa menoleh lagi kepada Hong Gwa Sam Mo, dia tanya si nona.
"Siapakah itu gurumu ?"
Ya Bie tertawa.
"Namanya guruku tersohor sekali !"
Sahutnya.
"Banyak orang yang takut mendengarnya ! Baik tak usah aku sebutkan !"
Matanya Ie Tok mendelik, lalu parasnya menjadi padam.
"Cobalah kau sebutkan buat aku dengar !"
Katanya dingin.
"Hendak aku si tua mencoba, aku takut atau tidak mendengarnya !"
Si nona memperlihatkan lagak jenaka.
"Baik, kau dengarlah !"
Katanya.
"Guruku itu Kip Hiat Hong Mo dari Cenglo Ciang !"
Tanpa merasa si orang tua melengak tapi hanya sekejap, dia pulih seperti semula.
Dia mengasih dengar tawanya, yang menyakiti telinga.
Hendak dia menggunakan suara tawanya itu untuk menundukkan Ya Bie.
Tetapi Ya Bie telah berhasil menguasai ilmunya Hoan Kak Bie Ciu, ia tak kena terpengaruhkan.
Ia berdiri tenang seperti biasa, wajahnya tersungging senyumannya yang manis.
Sebaliknya tawanya si orang tua mempengaruhi Hong Gwa Sam Mo.
Ketiga bajingan itu mendadak merasai hatinya ciut, lalu bergoncang keras saking jerinya, didalam sekejap mereka sudah lompat untuk berlari pergi !
Si orang tua heran melihat Ya Bie tak kurang suatu apa, maka tahulah dia bahwa orang telah mahir tenaga dalamnya.
Jadi si nona tak dapat dipandang ringan.
Karena itu, dengan lantas dia merubah sikapnya.
"Bukankah gurumu itu, Kip Hiat Hong Mo telah pergi ke In Bu San memenuhi undangan Bu Lim Cit Cun ?"
Demikian tanyanya mengalihkan persoalan. Ya Bie menggeleng kepala.
"Sudah beberapa puluh tahun, guruku tak keluar dari Cenglo Ciang."
Katanya.
"Mana dapat guruku turut dalam pertemuan di In Bu San itu ?"
"Oh, begitu ?"
Kata si orang tua. Terus dia berpaling kepada Hong Kun, untuk berkata.
"Nah, anak muda, mari kita pergi !"
Hong Kun masih terpengaruhkan Hoan Kak Bie Ciu, dia baru sadar tujuh bagian.
Dia berdiri diam saja.
Dia cuma melengak mengawasi si Bajingan Racun.
Dengan tindakan lenggang lenggok, Tok Mo menghampiri anak muda itu.
"Anak muda."
Katanya.
"Kalau kau ingin mempelajari ilmu racun dari aku si orang tua, mari kau turut aku pergi ke In Bu San ! Nona itu tak dapat dibuat permainan, dari itu buat apa kau berdiri saja disini ? Mari !"
Dia lantas mengulur tangannya buat memegang lengan orang, guna ditarik atau mendadak saja diantara mereka terdengar satu suara bersiul yang nyaring luar biasa, yang seperti menikam telinga, sampai sekalipun Tok Mo yang lihai, dia kaget juga hingga jantungnya memukul berulang-ulang.
Dengan lantas dia mendapat kenyataan itulah suaranya si nona !
Habis bersiul secara aneh itu, Ya Bie tertawa gembira terus dia menggodia Tok Mo dengan ia membuat main tangannya di depan mukanya.
Tok Mo tahu orang menjailinya tetapi dia menahan sabar, dia tak sudi melayani.
Dia hanya menarik tangannya Hong Kun buat diajak pergi.
Baru tiga tombak lebih jauhnya dia berjalan, Tok Mo lanas mendengar pula tawanya si nona, tawa gelak yang dibawa sang angin.
Dari tertawa perlahan, si nona terus tertawa keras dan nyaring.
Tok Mo heran mendengar perubahan tawanya itu hingga tanpa merasa dia menoleh untuk melihat si nona.
Segera dari heran dia jadi melengak.
Dia melihat nona itu tertawa terpingkel-pingkel, sampai ia memegangi perutnya.....
Si Bajingan Racun pula heran tak kepalang.
Disampingnya Ya Bie, dia melihat seorang pemuda tampan.
Itulah Gak Hong Kun !
Maka juga, wajar saja kalau dia lantas berpaling ke sampingnya, akan melihat si anak muda yang dia tuntun itu.
Segera dia berdiri menjublak !
Dia bukan melihat Hong Kun, hanya seekor orang utan besar !
"Ah..
Serunya tertahan.
Ia lantas mengerahkan tenaga dalamnya, buat memusatkan perhatiannya.
Karena ia dapat menerka, apa yang ia saksikan itu tentulah ilmu gaib dari Ya Bie.
Tak lama si orang tua melengak, lantas dia menjadi mendongkol sekali.
Dia bergusar sebab dia merasa orang tengah mempermainkannya !
Maka lantas saja dia melemparkan si orang utan hingga binatang itu terpental setombak lebih !
Orang utan itu telah terdidik sempurna oleh Kip Hiat Hong Mo.
Dia telah memiliki tubuh yang kuat dan lincah seperti yang biasa dipunyai ahli silat kelas satu, hingga dia dinamakan So Han Cian Li, si cantik penyedot arwah.
Dia tak hiraukan sambaran atau lemparan semacam itu.
Selekasnya tubuhnya terpental, dia jumpalitan terus dia menjatuhkan diri di tanah dengan kedua kakinya mendahului.
Dia menghadapi Tok Mo, beberapa kali dia memperdengarkan suaranya, lantas dia bertindak ke samping nonanya.
Tok Mo menjadi bertambah dongkol sebab satu orang saja tidak dapat dia robohkan.
Lantas hawa amarahnya itu ditumpahkan terhadap si nona manis, sambil tertawa dengan mata melotot dia bertindak menghampiri nona itu.
Di sampok sang angin, janggutnya model janggut kambing bergerak memain.
"Budak bau !"
Bentaknya setelah datang dekat.
"Sungguh nyalimu besar ! Cara bagaimana kau berani mempermainkan aku si orang tua ? Nyata kau tahu hidup atau mampus !"
Suaranya itu keras dan serak, didengarnya tak sedap.
"Eh, Tok Mo !"
Katanya.
"Kau sudah begini tua, toh kau masih beradat keras begini ? Bagaimana dapat kau sembarang mencaci orang ? Kenapa kau tidak mau mencaci dirimu sendiri yang tak punya guna ? Nonamu menggunakan ilmu Hoan Kak Bie Ciu yang diberi nama memindahkan bunga menyambut pohon, tetapi kau tidak mampu melihatnya ! Ha ha ha !' Tok Mo bertindak terus. Dia maju pula dua langkah.
"Budak bau !"
Teriaknya.
"Hari ini aku si tua akan memampuskan dulu padamu ! Habis ini baru aku akan pergi ke Cenglo Ciang mencari Kip Hiat Hong Mo guna membuat perhitungan dengannya!"
Kata-kata itu ditutup dengan satu luncuran tangan menghajar si nona !
Itulah satu jurus lihai dari ilmu silat ciptaannya sendiri yang dinamakan Sam Hiauw Liok Piauw Ciang atau pukulan tangan kosong "Tiga Gerakan Enam Perubahan."
Anginnya saja sudah bergemuruh dan bertiup hebat, lantas tangannya bergerak-gerak seperti juga tangan itu terdiri dari ratusan, hingga Ya Bie nampaknya bagaikan ketutupan semua tangannya itu.
Anginnya juga mendatangkan hawa yang dingin.
Nampaknya Ya Bie tak dapat lolos dari serangan dahsyat itu.
Ia kaget sebab di dalam hal pertempuran ia tak punya pengalaman.
Ia menyesal yang barusan sudah berlaku nakal dengan mempermainkan si orang tua.
Di saat berbahaya itu tapinya ia ingat akan membela diri, pertama dengan menutup semua jalan darahnya, kemudian guna melompat menyingkir.
Ia memangnya cerdas, selagi terancam bahaya itu tiba-tiba ingat akan kepandaiannya yang didapat dari Kitab Ie Kien Kang, itulah ilmu Sin Kut Kang, meringkaskan tulang belulang.
Tak ayal lagi, ia menggunakan kepandaiannya itu.
Hanya di dalam sekejap si nona telah berubah bentuk tubuhnya.
Dari seorang nona berusia tujuh belas tahun, dia menjadi kecil seperti bocah umur umur tiga atau empat tahun.
Menyusul mana, dia menjatuhkan diri bergulingan di tanah dengan jurus "CaCing Bergulingan di Pasir."
Dia pula bukannya menggulingkan tubuh buat menyingkir pergi, dia justru bergulingan ke kakinya Tok Mo sehingga selekasnya dia datang dekat, dia dapat membalas menyerang !
Tok Mo heran mendapatkan serangannya gagal.
Sudah begitu dia menjadi kaget merasai angin menyambar di kakinya.
Ia tahu itulah suatu serangan terhadapnya.
Untuk membela diri, hendak ia menendang musuh atau ternyata dia kurang gesit, mendadak ia merasai totokan pada jalan darah yong goan di kakinya.
Kontan kakinya itu kaku dan tenaganya lenyap, tanpa berdaya ia terhuyung mundur beberapa tindak, sebab gagal mempertahankan diri tubuhnya roboh seketika, rebah ditanah !
Selekasnya dia berhasil menyerang Ya Bie berlompat bangun, tanpa memperdulikan lagi kepada musuh, dia menarik So Han Cian Li untuk berlari pergi.
Dia lari turun gunung.
Tok Mo tidak jadi bercelaka karena totokan itu.
Habis rebah dia bangun untuk berduduk, terus dia lekas-lekas menguruti kakinya, hingga di lain saat kakinya itu sudah pulih seperti biasa.
Waktu dia lompat bangun, dia tidak melihat si nona dan orang utannya.
Tapi yang membuatnya mendongkol ialah juga Gak Hong Kun, si anak muda yang ia mau jadikan muridnya juga terus lenyap dari hadapannya !
"Kurang ajar !"
Dampratnya.
Mukanya merah padam.
Kemudian ia memikirkan juga kenapa si anak muda dapat lenyap.
Mulai dari jatuh sampai ia berduduk dan mengobati diri waktu yang dilewatkan hanya sejenak, dari itu kemana lari atau sembunyinya anak muda itu ?
Di sekitarnya, di jalanan kecil, sepi saja.
Di situ tak ada seorang manusia lainnya.
Ada juga rumput dan angin yang bertiup bersiur-siur.
Tengah jago ini berdiri diam dengan pikiran kacau itu tibatiba ia mendengar suara yang ia kenali sebagai "Gie Gi Toan Im"
Yaitu bahasa Semut yang disalurkan secara luar biasa, suaranya cuma mendengung perlahan di telinga ! Beginilah suara itu.
"Ie Tok Sinshe ! Aku si wanita tua hendak membalas sakit hati dari tamparan sebuah tangan, maka juga aku telah bawa pergi anak angkatnya Pat Pie Sin Kit si pengemis pemabokan tua bangkotan itu ! Nanti di dalam pertemuan Bu Lim Cit Cun di Gunung In Bu San, kita akan berjumpa lagi !"
Terkejut Tok Mo mendengar suara yang luar biasa itu.
Inilah karena ia ketahui cuma satu orang yang pandai ilmu Bahasa Semut ialah Im Ciu It Mo, Si Bajingan Tunggal Bertangan Lihai yang menjadi kok cu pemilik lemah dari Pat Ban Nia, gunung di Inlam Barat.
Ia heran kenapa bajingan itu mendadak muncul di tempat ini, bahkan dia datang merampas si anak muda.
Karena ia tahu orang adalah seorang wanita lihai yang tak dapat dibuat permainan, ia berkeok.
"Eh, perempuan tua ! Kenapa kau tidak memperlihatkan dirimu untuk kita buat pertemuan ?"
Pertanyaan itu tak ada jawaban, maka juga lewat sesaat tahulah Tok Mo bahwa orang telah pergi jauh, ia menyesal dan sangat mendongkol, dadanya terasa sesak, sebab tidak ada jalan buat melampiaskannya.
Maka ia menghampri batu karang besar dibalik mana Siauw Wan Goat lagi menyembunyikan diri.
Sebelum tiba ia sudah meluncurkan tangannya menghajar dari jarak yang cukup jauh.
Ia menggunakan pukulan Sam Hiauw Liok Piauw Ciang yang lihai.
Hebat pukulan itu, batu itu pecah berhamburan !
Hanya setelah itu, adalah hal yang membuat si Bajingan Racun menjadi heran.
Di balik batu terdengar tawa yang nyaring, disitu tampak Siauw Wan Goat bersama seorang tua yang segalanya sama dengan dia sendiri.
Pakaian, wajah dan tinggi besar tubuhnya.
Matanya melengak.
Tok Mo menjadi gusar.
"Siapakah kau ?"
Tegurnya bengis.
"Kenapa kau menyaru menjadi aku ?"
Orang tua itu tertawa pula, kali ini sambil melengak. Suara tawa itu berkumandang ketengah udara. Setelah tawa sirap, dia lantas mengasi lihat tampang tawar dan berkata seenaknya saja.
"Aku yang rendah ialah Ie Tok Sinshe ! Entahlah, kau yang menyamar menjadi aku atau aku yang menjadi kau !' Tok Mo gusar bukan main. Dia memang sedang mendongkol. Dengan suaranya yang serak dia kata sengit."Kau telah menyaru mejadi aku si tua, kau juga memalsukan namanya Ie Tok Sinshe. Karena kaulah manusia yang tak tahu malu, tak dapat kau dibiarkan hidup di dalam dunia ini !"
Dan dengan kemarahannya itu si Bajingan Racun maju dan menyerang.
Orang yang diserang itu tidak berkelit atau berlompat mundur, dengan berani dia menyambuti serangan, maka diantara bentrokan tangan mereka, sama-sama mereka bertolak mundur satu tindak !
Tok Mo terkejut di dalam hati mendapati orang memiliki tenaga yang sama kuatnya dengan tenaganya sendiri.
Ia juga menjadi dongkol dan penasaran, maka segera tangannya merogoh sakunya untuk mengeluarkan senjatanya yang istimewa ialah "Giok Lauw Kip Ciauw"
Kertas yang empat hurufnya dapat menyala itu.
Selekasnya ia mengibaskan tangannya dan senjata rahasianya itu berkilau tampaklah asap bagaikan halimun yang warnanya merah tua !
Melihat asap luar biasa itu, orang yang mengaku Ie Tok Sinshe itu tertawa lebar.
Dia juga merogoh ke sakunya dan mengeluarkan benda yang serupa, yang juga dapat memperlihatkan api berkilau !
Dari mendongkol dan penasaran dan bergusar sangat, Tok Mo menjadi heran, dia beragu-ragu.
"Di kolong langit ini dimana ada orang yang dapat menyamar menjadi dianya begini sempurna, sama tampang dan senjatanya juga ?"
"Benarkah dia Ie Tok Sinshe sejati ?"
Ia menduga-duga, saking kerasnya berpikir ia menjadi bingung.
"Kalau bukan, siapakah dia sebenarnya.....?"
Tok Mo mengeluarkan peluh dingin di dahinya.......
Selekasnya asap lenyap diserbu angin, Tok Mo tidak lagi melihat orang yang menyamarnya itu.
Dia heran hinga dia berdiri menjublak, tetapi karena sadar itu dia ingat akan dirinya.
Mendadak dia pun lari ke dalam rimba dimana dia menghilang.
Sekarang marilah kita melihat kepada Cukat Tan dan Teng Hiang yang ditinggalkan Siauw Wan Goat di dalam rumah penginapan.
Mereka bangun dari tidurnya sesudah matahari naik tinggi.
Cukat Tan bangun dari pembaringan dengan mata kesap kesip, selekasnya ia mengenakan bajunya, ia melihat di atas meja tertindih ciaktay, yakni tempat menancapkan lilin sehelai kertas yang bergerak-gerak tertiup angin yang menghembus masuk dari jendela.
Melihat surat itu, Cukat Tan bagaikan orang yang baru siuman dari pingsa !
Maka ingatlah ia yang tadi malam ia telah menempur Gak Hong Kun, bagaimana Siauw Wan Goa ada bersamanya di dalam kamarnya itu.
Coba malam itu tidak ada Wan Goat yang membantu, ia yang lagi mengobati Teng Hiang pasti bakal roboh di tangan jahat dari musuh.
Setelah itu, karena terbenam dalam laut asmara dengan Teng Hiang, ia atau mereka berdua sampai melupakan Nona Siauw.
Sekarang nona itu entah pergi kemana.
Saking likat sendirinya, ia merasai pipinya panas.
Pipinya yang jadi bersemu merah itu !
"Ah !"
Ia memperdengarkan suaranya. Karena ia menyangka surat itu ditinggalkan oleh Wan Goat, ia menoleh ke pembaringan dan kata nyaring.
"Celaka ! Tadi malam kita melupai Nona Siauw Wan Goat yang berada di dalam kamar ini ! Dia telah melihat segala apa ! Sungguh malu ! Sekarang dia telah pergi...."
Agaknya Teng Hiang terkejut, tetapi ia segera tertawa.
"Apakah adik Siauw pergi dengan meninggalkan surat ?"
Tanyanya.
"Tertindih dengan tempat lilin, ada sehelai surat."
Sahut Cukat Tan.
"Mungkin itu surat peninggalannya. Kau bangunlah !"
Sembari berkata begitu, si anak muda menghampiri meja, akan mengambil kertas itu dan membaca surat yang tertulis di atasnya.
"Ah !"
Serunya tertahan.
"Apakah budak itu mentertawakan kita ?"
Tanya Teng Hiang, yang mendengar tawa orang. Ia pun turun dari pembaringannya. Cukat Tan berdiri menjublak mengawasi kertas itu.
"Apakah sebenarnya ?' tanya si nona yang menghampiri untuk berdiri di samping si kekasih hingga ia pun dapat melihat kertas itu, yang ada suratnya, singkat saja.
"Lekas pergi ke Lu Sian Giam, untuk berrunding."
Pou To Lo sie.... Cukat Tan mengawasi si nona, nampak dia malu sekali. Kemudian dia menghela nafas dan kata seorang diri.
"Cukat Tan, kau sudah melakukan satu kesalahan besar.... Belum kau membalaskan sakit hati gurumu, kau sudah kelelap dalam cinta dan menemani kepelesiran. Apakah masih ada mukamu untuk menemui arwah gurumu nanti ?"
Habis berkata begitu, dengan tindakan perlahan pemuda ini menghampiri pembaringan untuk mengambil pedangnya.
Mendadak saja dia menghunus senjatanya itu, terus dia menebas batang lehernya !
Bukan main kagetnya Teng Hiang, sembari menjerit dia berlompat untuk menyampok lengan orang hingga pedangnya si anak muda meleset dan mengenai kulitnya terus pedang itu terlepas dan jatuh ke lantai.
Kulit itu mengeluarkan darah, yang lantas mengalir membasahi bajunya.
Cukat Tan berdiri melengak, wajahnya sangat muram.
Ketika ia sadar, ia menggertak gigi lalu dengan tangan kirinya dia menghajar batok kepalanya sendiri !
Kembali Teng Hiang kaget.
Sebenarnya dia sedang memeluki tubuh si anak muda.
"Kau gila ?"
Serunya seraya menghajar iga orang guna mencegak turunnya tangan mautnya anak muda itu.
Karena iganya dihajar itu, serangan tangannya Cukat Tan gagal pula.
Tangannya itu cuma mengenai pipinya hingga pipinya itu menjadi bersemu merah.
Teng Hiang membawa tubuh orang untuk diduduki di kursi, terus dia mengawasi dengan mata dibuka lebar.
Tadi pun dia memperdengarkan suara dinginnya.
"Ada apakah sebenarnya ?"
Tanyanya.
"Kenapa kau nekad begini ? Apakah kakakmu membuatmu malu ?"
Dengan "kakak"
Si nona membahasakan dirinya. Cukat Tan duduk diam, matanya dipejamkan, nafasnya memburu. Rupanya dia penasaran dan menyesal berbareng. Teng Hiang sudah lantas mengobati luka orang.
"Adik"
Katanya.
"Dengan perbuatanmu ini, kau dapat ditertawai orang. Dengan begitu, apakah kau kira kakakmu pun bisa hidup lebih lama pula ?"
Sampai disitu Cukat Tan beharu membuka matanya dan berkata bersungguh-sungguh.
"Kau tahu siapa Pou To Lo sie ? Dialah seorang nikouw tua dari Pou To ! Dan dialah locianpwe Haw Thian Sin Ni dari biara Pek Liam Am dibukit Pou To Haylam. Tadi malam locianpwe itu telah datang kemari, sedangkan dia biasanya tak pernah keluar dari pintu barang setindak juga. Dia pula tertua dari Ngo Bie pya, partai kami. Kalau bukan urusan guruku yang menutup mata karena dicelakai orang, tak mungkin dia datang kemari mencari aku.... aku sendiri..... aku...."
Lantas si anak muda menangis.
Teng Hiang mengeluarkan saputangannya, akan menepasi air mata anak muda itu.
Dia heran atas datangnya nikouw tua dari Pou To itu dan merasa malu sendirinya, sebab lakon asmaranya dengan Cukat Tan telah kena dipergoki, mukanya pun menjadi merah.
"Apakah kau kenali benar tulisannya locianpwe itu ?"
Tanyanya, suaranya menggetar.
"Tidak salah lagi."
Sahut Cukat Tan.
"Kalau locianpwe menulis surat, pada ketuanya selalu ada tandanya yaitu lukisan tipis dari sepasang burung jenjang putih. Sering aku melihatnya dalam surat-suratnya, yang di alamatkan kepada guruku. Nah, kau lihat, apakah itu ?"
Si anak muda menyerahkan suratnya Hay Thian Sin Ni itu. Teng Hiang menyambuti dan melihat. Benar ia mendapati gambar sepasang burung itu. Hanya habis melihat, ia lantas tertawa.
"Kenapakah kau berduka dan berkuatir tidak karuan ?"
Tanyanya.
"Bukankah Hay Thian Sin Ni cuma meminta kita pergi padanya ke Lu Sian Gam ? Aku lihat, dia tentu cuma akan membicarakan sesuatu yang penting. Nah, mari kita lekas pergi memenuhi panggilannya itu."
Matanya si anak muda terbuka lebar.
"Mana ada mukaku buat menemui locianpwe itu ?"
Katanya.
"Tadi malam ia telah mempergoki kita ! Aku menjadi murid kepala dari Ngo Bie Pay, tetapi selagi guruku mati tercelakakan orang, aku justru berplesiran......"
Teng Hiang menatap orang.
"Oh, kira begitu !"
Katanya. Dia tertawa.
"Sungguh tolol !"
Cukat Tan berlompat bangun untuk berdiri tegak dan alisnya pun terbangun.
"Masihkah kau dapat bicara begini ?"
Tegurnya.
"Hm !"
Teng Hiang berhenti bicara. Dia pun lantas memperlihatkan sikap sungguh-sungguh.
"Sepasang suami isteri saling mencinta, itulah wajar."
Bilangnya.
"Inilah bukannya sesuatu yang tak dapat dilihat orang. Adik, kaulah orang Kang Ouw. Kenapa kau membawa sikapnya si kutu buku ? Takkah itu mengecewakan ? Sudah, jangan kau banyak pikir, mari kita lekas berangkat untuk menemui locianpwe itu dan menerima pengajarannya !"
Tanpa menanti jawaban, nona ini menarik pemuda itu.
Dengan membawa pauwhoknya, mereka lantas keluar dari rumah penginapan.
Cukat Tan menurut tanpa mengatakan sesuatu.
Sembari berberesan dengan pemilik hotel, Teng Hiang bersenyum dan kata.
"Kami mau berangkat sekarang ! Tahukah kau mana jalan ke Lu Sian Giam ?"
Ia pun menyerahkan sepotong perak. Pemilik hotel itu tertawa.
"Buat pergi ke Lu Sian Giam, nona."
Katanya.
"sekeluarnya dari dusun ini, silahkan kalian menuju ke tenggara, sesudah melalui tujuh atau delapan belas lie, kalian akan tiba di bukit Hek Sek San. Hanya.... kalau tidak ada urusan terlalu penting lebih baik nona jangan pergi ke gunung itu......"
Berkata begitu tuan rumah itu tapinya tertawa. Cukat Tan heran hingga dia bertanya.
"Kenapakah ?"
Demikian tanyanya. Tuan rumah menggeleng kepala, mendadak parasnya berubah menjadi pucat. Dia hendak membuka mulutnya tetapi gagal.
"Cis !"
Teng Hiang memperdengarkan suaranya seraya dia menarik tangannya si anak muda.
"Mari kita berangkat ! Buat apa melayani dia. Menyebalkan saja !"
Cukat Tan menurut, maka berdua mereka meninggalkan Kho tiam-cu.
Mereka berjalan langsung ke arah tenggara.
Di dalam waktu yang pendek, mereka sudah melalui kira delapan belas lie.
Benar saja, mereka telah tiba di kaki bukit Hek Sek San.
Bukit itu panjang tinggi dan rendah tak menentu dan disitupun banyak batu, antaranya ada batu yang aneh-aneh bentuknya.
Walaupun di waktu pagi, bukit tampak seram.
Jilid 44 Tanpa beristirahat lagi, muda mudi itu berjalan terus.
Di situ mereka tak menemui orang, tak juga tukang kayu.
Jadi tidak ada orang yang keterangannya dapat diminta.
Maka mereka berjalan terus sampai di pinggang gunung dimana ada jurang yang memutuskan jalan.
"Kakak."
Kata si anak muda.
"Kita salah jalan. Kita bisa kecemplung !"
Teng bergembira, selagi si anak muda masgul. Dia tertawa.
"Kalau jalanan sudah buntu, mari kita singgah disini !"
Katanya.
"Kita duduk dahulu, baru kita melanjuti perjalanan kita. Aku merasa sedikit letih...."
Dia pun mendahuui duduk numprah di atas sebuah batu besar !
Cukat Tan berdiri diam, matanya mengawasi ke jurang.
Tak tampak jalanan.
di depannya uap atau sisa halimun menutupi segala apa.
Di atas puncak pun tampak asap atau mega hitam.
"Lihat, ada orang lagi mendatangi !"
Begitu si anak muda mendengar suaranya si nona, selagi ia terus masih mengasi mengawasi ke depan, guna mencari jalanan.
Ia lantas menoleh.
Maka ia dapat melihat orang itu, yang ditunjuk Teng Hiang.
Orang itu seorang wanita tua, badannya kuning, rambutnya terlepas, tangan kanannya mencekal tongkat, sedang tangan kirinya mengempit seseorang.
Dia dapat berjalan dengan cepat.
Hanya sebentar, dia sudah sampai di depannya Teng Hiang.
Cukat Tan lekas-lekas menghampiri.
Teng Hiang sudah lantas menghadapi wanita tua itu.
"Numpang tanya, nenek."
Katanya.
"Dimanakah pernahnya Lu Sian Giam ?"
Wanita tua itu tidak berhenti berjalan, cuma melirik satu kali kepada nona yang menyapanya, dia jalan terus.
Cukat Tan menerka orang ada orang rimba persilatan, dia menyusul cepat hingga dia lantas berdiri berendeng dengan Teng Hiang, hingga mereka sama-sama seperti menghadang si nenek tua.
"Hm !"
Si nenek memperdengarkan suara dingin, lalu tongkatnya diangkat, agaknya dia hendak menggunakan kekerasan, tetapi ketika dia telah mengawasi Cukat Tan, dia tersengsem kegantengan anak muda itu.
Dia membatalkan menggerakkan tongkatnya, dia terus berdiri tegak, matanya mengawasi tajam pada Cukat Tan !
"Mohon tanya, locianpwe."
Berkata Cukat Tan sambil memberi hormat.
"Tahukah locianpwe jalan mana yang harus diambil buat pergi ke Lu Sian Giam ?"
Nenek itu mengawasi orang dengan mata meram melek, lalu mendadak dia mementang lebar matanya itu, sinarnya sinar dari kegusaran.
"Bocah !"
Katanya.
"Kau mencari Lu Sian Giam, buat apakah ?"
Cukat Tan terkejut, juga Teng Hiang. Matanya si nenek sangat bengis. Telah mereka menemui banyak orang tapi belum pernah melihat sinar mata seperti sinar matanya si nenek ini.
"Kami mau pergi ke Lu Sian Giam buat satu urusan."
Teng Hiang mewakilkan kawannya menjawab, sebab si anak muda tak dapat segera memberikan jawabannya. Sinar mata bengis si nenek dipindahkan kepada si nona.
"Hm !"
Dia memperdengarkan suara dinginnya.
"Budak bau, siapa bicara denganmu ?"
Cukat Tan menjadi tidak puas. Nenek itu kasar sekali. Tapi dia masih menahan sabar.
"Ada umum dalam kalangan Kang Ouw, kalau orang tidak kenal satu sama lain suka saling bertanya."
Bilangnya.
"Demikian dengan kami. Buat apa locianpwe bergusar ?"
Parasnya nenek itu berubah. Dia tak sebengis semula. Tapi dia tertawa dengan suaranya yang tak sedap.
"Kau benar juga, bocah !"
Katanya.
"Hanya kenapakah kau melintang di depanku ?"
"Itu...."
Sahut Cukat Tan yang tergugu.
Sebagai orang jujur, tahu ia yang bersalah sebab tidak karu-karuan mereka datang dengan menentang di tengah jalan.
Dia pun lekaslekas bertindak ke pinggir.
Begitu juga kawannya.
Nenek itu lantas saja berjalan melewati muda mudi itu, sesudah beberapa tindak ia berpaling kepada mereka itu.
"Jika kalian mau pergi ke Lu Sian Giam, mari ikuti aku !"
Katanya.
Justru orang lewat disisinya Teng Hiang, justru dapat melihat mukanya orang yang dikempit si nenek.
Kebetulan saja ada angin menghembus membuat tutup saputangan hijau di muka orang itu tersingkap.
Dan ia melihat wajahnya It Hiong.
"Eh !"
Serunya tertahan. Si nenek mendengar suara si nona, dia menghentikan jalannya, dia memutar tubuh.
"Kau berseru apa ?"
Tegurnya. Teng Hiang sudah lantas berbisik dengan Cukat Tan, lalu keduanya lari menyusul si nenek.
"Siapakah itu yang kau kempit nenek ?"
Si pemuda tanya. Nenek itu melihat ke muka orang kempitannya itu, maka ia melihat tutup muka orang tersingkap. Untuk sejenak dia melengak.
"Kalian kenalkah orang ini ?"
Tanyanya pada si muda mudi.
Cukat Tan dan Teng Hiang saling mengawasi, mau mereka membuka mulut tetapi dua-duanya batal.
Si nona bersangsi sebab ia mau menyangka pada Gak Hong Kun.
Sekarang ia ingat hal maksudnya berjalan bersama Hong Kun yaitu guna meminta bantuannya Kip Hiat Hong Mo, guna ia berdaya membalaskan sakit hati gurunya.
Sekarang keadaan telah berubah disebabkan pacarnya ialah Cukat Tan dan pihaknya Cukat Tan pihak lurus, pihak yang bertentangan dengan golongannya kaum sesat.
Cukat Tan lain pikirannya.
Dia dari pihak lurus dan diapun sangat menghargai Tio It Hiong.
Ia tahu It Hiong ada yang palsu tetapi kepalsuannya itu sangat sukar dibedakannya buat itu orang memerlukan waktu dan ketelitian.
Demikian kali ini.
It Hiong ini yang tulen atau yang palsu ?
Karenanya hendak ia mencari tahu.
Pertanyaan si nenek membuatnya Bingung.
Maka ia jadi berdiri diam saja.
"Kamu berani tak menjawab pertanyaanku ?"
Tanya si nenek bengis.
Dia rupanya menjadi panas hati.
Segera dia mengancam dengan senjatanya sebatang tongkat.
Dua-dua Cukat Tan dan Teng Hiang terperanjat.
Anginnya tongkat membuat mereka sadar.
Sendirinya mereka samasama mundur satu tindak.
Tapi si pemuda menjadi tidak senang.
Orang sangat galak.
Maka ia menghunus pedangnya.
"Siapakah itu yang kau kempit ?"
Ia tanya keras, alisnya terbangun. Teng Hiang juga menghunus pedangnya.
"Lekas turunkan dan tinggalkan orang itu !"
Katanya nyaring.
"Hm !"
Si wanita tua tertawa berulang kali.
"Kamu berdua mempunyai nyali, kamu berniat menantang aku !"
Katanya.
"Kalian benar gagah! Jika kalian dapat melayani aku sebanyak lima jurus, akan aku serahkan orang ini kepada kamu!"
Berkata begitu si nenek menancapkan tongkatnya ke tanah untuk dia menurunkan tubuh yang dikempit itu dan diletaki di tanah. Habis itu dia menggerakkan kedua tangannya buat terus membentak.
"Nah, kalian majulah berbareng !"
Cukat Tan ingin lekas-lekas mendapat kepastian orang yang pingsan itu Tio It Hiong tulen atau si palsu, dia mengedipi mata pada Teng Hiang, setelah mana dia putar pedangnya terus dia mulai menyerang wanita tua itu.
Dia menggunakan jurus "Badai Menggulung Salju"
Dari "Soat Hoa Kiam hoat", ilmu silat pedang "Bunga Salju".
Teng Hiang menyambut isyarat dari pacarnya itu, dia pun maju menyerang.
Dia menggunakan jurus "Guntur Mengagetkan De Dasar Kering".
Si nenek melihat tibanya pedang yang cahayanya berkilau.
Dia mengangkat kedua tangannya untuk menyampok, maka terpentallah kedua buah pedang itu !
Dua-dua Cukat Tan dan Teng Hiang heran.
Aneh ilmu silatnya si nenek.
Nenek itu pun bertangan kosong.
"Tahan !"
Nenek itu berseru selagi muda mudi itu mau maju pula.
"Hm !"
"Perempuan tua, kau mengaku kalahkah ?"
Tanya Teng Hiang. Nenek itu tertawa.
"Kalian baru bergerak satu kali, tahu sudah aku asal usulnya ilmu pedang kalian !"
Katanya. Dia terus mengawasi muda mudi itu, dia sampai mengemplang. Kemudian seperti juga dia mengoceh seorang diri, dia berkata pula.
"Perguruan kalian berdua berdiri di tempat yang bertentangan, diantara si lurus dan si sesat. Tetapi kenapa kalian berdua berjalan bersama-sama dan kalian pun mau pergi ke Lu Sian Giam ?"
"Jangan banyak omong tak perlunya !"
Bentak Cukat Tan.
"Lihat pedangku !"
Dan anak muda ini menikam dada orang. Si nenek tidak menangkis atau menyampok seperti tadi, dia hanya berkelit dengan lincah sembari dia berkata.
"Ilmu silat Soat Hoa Kiam Hoat dari kau baru mencapai tujuh atau delapan bagiannya !"
Cukat Tan melengak, dia mundur tiga tindak. Aneh, si nenek yang dapat menerka dengan tepat. Teng Hiang penasaran, dia tertawa.
"Nah, bagaimana dengan asal usul ilmu pedangnya nonamu ini ?"
Tanyanya.
Lantas dia menyerang pula mencari iganya si nenek.
Dan dia menyerang terus menerus dengan tiga jurus yang berlainan, cepatnya bukan buatan.
Nenek itu tidak mengangkat kedua kakinya, tak pula dia geser, tetapi dengan kaki nancap itu dia berkelit berulangulang, tubuhnya bergerak ke kiri dan kanan menyingkir dari tiap tikaman.
Itulah jurus "Angin Menggoyang Bunga Gelaga", semua tiga tikaman hebat tidak ada yang mengenakan sasarannya.
"Hai budak bau !"
Bentaknya.
"Masih kau tidak mau menghentikan tanganmu ! Hatimu telengas ya, tetapi ilmu silatnya Thian Ciu si tua bangka, baru kau dapati tujuh bagian !"
Mendengar keterangan itu Teng Hiang pun melongo.
Selama itu sang matahari pagi sudah muncul dan cahayanya telah membuyarkan halimun maka juga sekarang di depan mereka melintang diantara kedua tepi jurang, tampak sebuah jembatan batu berupa seperti panglari.
Hanya sebagian yang lain masih tertutup uap hitam.
Justru jembatan itu tampak, justru tampak juga mendatanginya seorang dari ujung yang lain itu.
Dialah seorang nikouw tua yang jubahnya gerombongan.
Hebat jalannya si biarawati, sebentar saja sampai sudah dia di depannya ketiga orang itu.
Terus dia mengawasi ketiganya untuk kemudian menghadapi si nenek buat memberi hormat sambil menyapa.
"Sudah tiga puluh tahun kita tidak bertemu sicu, adakah kau baik-baik saja ?"
Kapan si nyonya tua melihat nikouw itu dia heran sampai dia melengak tetapi hanya sejenak. Dia sadar seperti biasa lagi. Lantas dia berkata.
"Oh, Hay Thian Lo yia. Sungguh beruntung kita dapat berjumpa pula !"
Ketika itu pun Cukat Tan bersama Teng Hiang sudah lantas lekas-lekas menyimpan pedang mereka masing-masing dan Cukat Tan segera menghampiri si pendeta wanita buat memberi hormat sambil berlutut.
Hay Thian Sin Ni, pendeta wanita tua itu menggerakkan tangan kirinya, maka bangun berdirilah si anak muda.
"Anak Tan, sebentar kita bicara di Lu Sian Giam !"
Katanya tertawa.
Cukat Tan menyahuti "Ya", ia terus berdiri tegak.
Mulanya hendak ia memperkenalkan Teng Hiang pada nikouw itu atau Teng Hiang sudah mendahului merangkapkan kedua tangannya memberi hormat pada biarawati itu.
Ketika itu, si nenek telah memperdengarkan tawa dingin, tawanya keras, suaranya menikam telinga.
Sengaja di depannya Hay Thian Sin Ni, hendak dia mempertontonkan ilmunya "Sun Im Cit Sat Kang"
Hawa dingin. Cukat Tan dan Teng Hiang kaget, lekas-lekas mereka menenangkan hati mereka. Berhenti tertawa, si wanita tua berkata dingin.
"Tak kusangka yang Thian Ciu siluman tua telah mengajari seorang murid yang telah berontak mendurhaka terhadap perguruannya ! Sungguh memalukan !"
Teng Hiang baru bertenang hati, ketika dia mendengar almarhum gurunya dicaci wanita tua itu, tak ampun lagi ia menghunus pedangnya.
"Orang setua ini masih banyak menggunakan mulutnya melukai orang !"
Bentaknya. Lantas dia berlompat maju berniat menyerang si nenek.
"Nona kecil, tahan !"
Berseru Hay Thian Sin Ni.
Teng Hiang mendengar kata, dia tak maju lebih jauh hanya berlompat mundur untuk terus berdiri disisinya Cukat Tan.
Si nenek mengawasi tajam pada si pendeta wanita, matanya bercahaya bengis.
Setelah itu ia kata keras.
"Nikouw tua, kitalah musuh-musuh sampai kita mati, maka itu kalau kau mempunyai nyali besar, lain tahun di malam tanggal lima belas, beranikah kau pergi ke puncak gunung In Bu San untuk di sana kita mencari keputusan siapa lebih tinggi, siapa lebih rendah ?"
Hay Thian Sin Ni memperlihatkan wajah tak puas.
"Mana dapat pinni hadir di dalam sidang Bu Lim Cit Cun kalian ?"
Kanyanya sabar.
"Walaupun demikian, seperti kau janjikan akan pinni datang ke sana untuk pinni nanti belajar kenal dengan ilmu Sun Im Cit Sat Kang dari Im Ciu It Mo !"
Wanita tua itu kembali memperdengarkan suaranya yang serak itu, dia menyambut tongkatnya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya dia mengangkat mengempit pula si anak muda yang pingsan itu, terus dia berjalan pergi menyeberang di jembatan, hingga dia lenyap di lain tepi itu.
Dia memangnya Im Ciu It Mi, si Bajingan Tunggal Bertangan Kejam dan orang yang dikempitnya Gak Hong Kun, si Hiong palsu.
"Mari kita pergi !"
Mengajak Hay Thian Sin Ni setelah Im Ciu It Mo pergi sekian lama.
Cukat Tan dan Teng Hiang mengangguk, terus mereka mengikuti nikouw itu.
Lu Sian Giam berada di pinggangnya bukit Hek Sek San.
Itulah sebuah gua diantara dinding batu-batu gunung.
Gua itu tersembunyi.
Di depan dan di sekitarnya pun terdapat banyak batu bermacam-macam bentuknya.
Luasnya gua kira sepuluh tombak persegi.
Nama Lu Sian Giam atau Karang Dewa Lu didapat dari adanya sebuah batu besar yang muncul sendirian saja yang berbentuk manusia, tampangnya mirip seorang rahib agama To ialah dewa Lu Tong.
Di langit-langit gua pada sekitanya terdapat stalaktit yang putih mengkilat, maka juga diwaktu udara gelap dan sedangnya hujan angin ribut, warna putih mengkilat itu berupa seperti ratusan pelita !
Maka itulah dia keanehannya sang gunung.
Tadinya Lu Sian Giam menjadi tempat berpariwisata, ramai disaat indah dari kedua musim semi dan gugur.
Banyak pria dan wanita yang berpesiar ke situ, tapi semenjak munculnya Im Ciu It Mo, Hek Sek San lantas juga menjadi tempat yang ditakuti.
Jangan kata datang, mendengar saja orang sudah jeri.
Ada sebabnya kenapa Hay Thian Sin Ni muncul dari tempat menyepinya.
Itulah karena kematian menyedihkan dari Teng In Tojin, ketua dari Ngo Bie Pay, sebab dia sendiri berasal dari partai itu.
Dia merantau guna mencari seorang jahat, sampai dia mencurigai si Bajingan Tunggal itu.
Demikian dia menyelidiki dan lalu menguntit sampai Hek Sek San dimana dia hidup bersendiri di Lu Sian Giam.
Tiba di dalam gua, Hay Thian Sin Ni lantas menceritakan pada Cukat Tan perihal munculnya Im Ciu It Mo bahwa itulah pertanda dari ancaman bencana dunia rimba persilatan, terutama kaum lurus.
Kemudian ia tanya si anak muda, bagaimana dengan penyelidikannya anak muda itu telah berhasil memperoleh endusan atau tidak.
Cukat Tan malu sendirinya.
"Menyesal tecu tak berguna."
Sahut pemuda itu yang membahasakan dirinya tecu-murid-.
"Sampai sebegitu jauh tecu belum pernah memperoleh hasil apa juga kecuali mendengar kabar tentang munculnya pula Tok Mo bahwa halnya empat Tianglo dari Kam Ih dari Siauw Lim Sie serta ketua dari Bu Tong dan Kun Lun Pay telah terbinasa secara menyedihkan. Di dalam hal itu, tecu mencurigai Tok Mo..."
"Mengenai kematiannya para Tianglo dan ketua itu rasanya tak mungkin itulah perbuatannya Tok Mo."
Sin Ni mengutarakan dugaannya.
"Aku percaya Tok Mo tidak mempunyai semacam kepandaian. Di dalam golongan sesat cuma Im Ciu It Mo yang sanggup melakukan itu."
"Beberapa hari yang lalu,"
Teng Hiang turut bicara.
"tecu beramai telah bertemu dengan Tok Mo diluar dusun Kho Tiam cu. Kami belum sampai bertempur tetapi Tok Mo mengatakan bahwa kami bertiga telah terkena racun jahatnya. Dia memaksa kami menjadi muridnya kalau kami masih mau hidup. Melihat sekarang ini, kami masih tak kurang suatu apa, mungkin dia cuma menggertak kami. Kami dapat membantu Siauw Wan Goat. Tok Mo tak dapat berbuat apa-apa atas diri kami. Dia sangat kesohor, mungkin itu cuma kosong belaka......"
"Di dalam hal itu, mungkin ada terjadi sesuatu yang belum jelas."
Berkata Hay Thian Sin Ni.
"Tok Mo memang kesohor kejam tetapi dia tetap seorang angkatan tua, tak nanti dia mendustai kalian."
Berkata begitu dengan tangan kanannya, nikouw itu mengambil sebuah peles dari tembok dinding.
Dia mengambil obat pulung yang dia terus berikan kepada kedua muda mudi itu.
Cukat Tan berdua tak tahu obat itu obat apa tetapi mereka terus saja makan habis.
"Pada empat puluh tahun dahulu."
Hay Thian Sin Ni bercerita lebih jauh.
"Ketika Tok Mo mulai mengganas, racunnya dia buat dari pelbagai macam racun yang dia cari dan kumpulkan dari seluruh negara. Racunnya itu tidak ada obat yang dapat memunahkannya. Kemudian, lewat dua tahun, barulah ketua dari kuil Bie Lek Sie di gunung Kiu Kiong San berhasil membuat pil yang dapat mengalahkan itu. Obat itu diberi nama Wan Ie Jie."
"Aku sendiri menyakinkan soal obat racun pada dua puluh tahun kemudian, dan inilah obatnya, yang syukur dapat menandingi obat dari Bie Lek Sie itu."
Baru sekarang Cukat Tan berdua ketahui yang mereka telah makan kay tok wan, pil pemunah racun.
Teng Hiang sangat bersyukur, dia berlutut di depan si nikouw memberi hormat sambil menghaturkan terima kasihnya.
Ia kata tak tahu ia bagaimana nanti ia membalas budi itu.
Sin Ni menerima baik hormat itu, kemudian dia mengawasi Cukat Tan untuk bertanya.
"Anak Tan, gurumu telah menutup mata. Maka itu kau, apakah kau masih ingat aturan dari Ngo Bie Pay?"
Anak muda itu buru-buru bertekuk lutut. Dia takut sekali.
"Tecu bersalah, locianpwe."
Katanya.
"Silahkan locianpwe mewakilkan guruku menjatuhkan hukuman atas diriku....."
Teng Hiang yang masih berlutut melirik si anak muda yang berada disisinya, maka ia melihat si anak muda mengucurkan air mata dengan dahinya penuh peluh dan tubuhnya bergetar.
Hal itu membuatnya malu sendiri dan juga berkasihan terhadap anak muda itu.
Dengan memberanikan hati, ia berbisik pada kekasihnya.
"Jodoh kita bersatu disebabkan perbuatanku, karena itu, kau sampai melanggar aturan adik, tetapi tidak apa, Teng Hiang bersedia mati menggantikanmu...."
Ketika itu, Hay Thian Sie Ni duduk tak berkutik dan tak bersuara juga.
Cukat Tan berdiam terus, juga Teng Hiang.
Maka gua menjadi sunyi sekali.
Lewat sekian lama, terdengarlah nikouw menghela nafas panjang, terus wajahnya yang keras menjadi lunak.
Setelah itu terdengar suaranya yang terang dan tegas.
"Sakit hati guru hendak dibalaskan, cinta kasih tak merubahnya ! Nah, kalian dapatkah melakukan itu ?"
Kedua muda mudi itu saling memandang, lantas Cukat Tan memberikan jawabannya.
"Sanggup locianpwe ! Meski tubuhku hancur lebur pasti akan aku mencari balas buat almarhum suhu !"
"Suhu"
Ialah guru, atau panggilan untuk guru. Dengan menahan rasa malunya, Teng Hiang turut memberikan janjinya. Kata dia.
"Tecu suka berjanji sampai laut kering batu membusuk, hingga kepala putih !"
Hay Thian Sin Ni memandang tajam muda mudiitu, selang sekian lama baru dia mengangguk.
"Kalian bangun !"
Katanya perlahan. Di lain pihak, ia mengembalikan peles obatnya ke tempatnya. Setelah itu ia berkata pula.
"Pinni memanggil kalian datang kemari ialah buat mengajari kalian ilmu silat Tay Lo Hian Kang serta Touw Liong Kiam Hoat sebab itulah yang akan membantu banyak pada kalian dalam usaha kalian mencari balas terhadap musuh gurumu, anak Tan."
Bukan main girangnya Cukat Tan dan Teng Hiang.
Sudah mereka diberi ampun mereka pula hendak diwariskan ilmu istimewa Tay Lo Hian Kang ialah ilmu Langit-langit dan juga ilmu Touw Liong Kiam Hoat ilmu pedang Membunuh Naga.
Maka lekas-lekas mereka mengucap terima kasih sambil mengagguk-angguk.
"Barusan kalian sudah menjalankan kehormatan, tak usah lagi."
Mencegah si nikouw.
Lagi sekali keduanya mengucap terima kasih, terus mereka berbangkit.
Di saat Cukat Tan hendak menanya, guru itu mau menitahkan apa, tiba-tiba si nikouw memberi isyarat buat mereka berdiam.
Mereka menurut tetapi mereka heran.
Hay Thian Sin Ni berdiam tetapi matanya mengawasi ke mulut gua, sesaat kemudian dengan seluruh suara "Toan Im Jip Nit"
Ia menanya.
"Sahabat baik dari mana telah berkunjung ke gua Lu Sian Giam ini ?"
Pertanyaan itu diucapkan dengan tenang dan perlahan tetapi terdengarnya diluar terang dan tegas.
Cukat Tan dan Teng Hiang heran, mereka memasang telinga dan mata.
Samar-samar mereka mendengar suara seperti berdebur-deburnya ujung baju atau lantas juga tampak tubuh orang memasuki gua.
Mereka terkejut.
Lantas keduanya berlompat ke sisi masing-masing dan pedangnya segera dihunus.
Dengan tajam mereka mengawasi.
Orang itu mengawasi tindakannya, dia mengawasi ketiga penghuni gua, sesudah mana barulah dia menghadapi Hay Thian Sin Ni, sembari memberi hormat dia berkata.
"Dengan ini aku menyampaikan titah guruku supaya nikouw tua meninggalkan gua Lu Sian Giam ini sebelum matahari turun, agar dengan demikian kerukunan diantara kita menjadi tidak terganggu !"
Hay Thian Sin Ni bersenyum.
"Lie sicu, siapakah itu gurumu ?"
Ia tanya. Pendatang itu ada seorang wanita muda. Dia menjawab bahwa gurunya ialah Im Ciu It Mo.
"Oh !"
Berseru Cukat Tan setelah dia melihat tegas si nona dan mendengar suaranya itu, tetapi belum lagi ia sempat berbicara Teng Hiang sudah mendahuluinya, sembari bertindak maju, nona ini menyapa nona itu.
"Nona Cio Kiauw In ! Nona Cio Kiauw In !"
Memang nona itu Kiauw In adanya hanya terhadap suaranya Cukat Tan dan Teng Hiang ia bagaikan tak mendengar apa-apa, cuma mengawasi Teng Hiang untuk bertanya.
"Kau siapakah ? Kenapa kau berkata-kata tidak karuan ? Kau memanggil siapakah ?"
Teng Hiang melengak saking herannya.
Dia segera menatap.
Tak salah, nona itu Nona Cio Kiauw In.
Tetapi aneh, kenapa nona itu tidak mengenalinya ?
Apa yang tak biasanya pada Nona Cio ialah pada rambut ditepi telinganya ditancapkan setangkai bunga merah darah.
Ia jadi berpikir keras.
Tak nanti nona ini bukannya Nona Cio !
Hanya, kenapakah dia menjadi demikian berubah ?
Cukat Tan juga mengawasi dengan tajam.
Ia heran seperti Teng Hiang.
Tiba-tiba si nona, dengan sepasang alisnya terbangun menegur Hay Thian Sin Ni.
"Eh, nikouw tua bagaimana ? Kau menerima baik permintaan guruku ini atau tidak ?"
Hay Thian Sin Ni tidak menjawab, hanya dia tertawa. Kemudian dengan ramah dia tanya.
"Sicu, apakah she dan nama sicu ?"
Nona ini melengak. Agaknya dia berpikir keras, untuk mengingat-ingat.
"Aku bernama Poan..... Mo....."
Sahutnya akhirnya. Sementara itu Cukat Tan lantas melihat bahwa si nona tak sadar wajar, maka ia menjadi bercuriga. Tiba-tiba ia memanggil nona itu keras-keras.
"Cio Kiauw In ! Cio.... Kiauw....... In.....!"
Suara itu mendengung di dalam gua, kerasnya dapat memekakkan telinga.
Si nona yang ditegur agak terkejut.
Lewat sekian lama baru dia tampak tenang pula.
Tapi hanya sejenak dia pun berubah pula.
Wajahnya nampak keras, tanda dari kegusaran.
Alisnya bangun berdiri, sambil menarik pedangnya dari bahunya dia berseru.
"Budak bau ! Bagaimana kau berani berlaku kurang ajar terhadap nonamu ?"
Terus dia menghunus pedangnya untuk diputar ! Menyaksikan demikian Cukat Tan bertambah heran. Lalau Teng Hiang melirik padanya dan berkata perlahan.
"Dengan menggunakan pedang akan kita dapati bukti kenyataan dia bersilat dengan ilmu pedang Pay In Nia atau bukan...."
Cukat Tan mengerti, ia lantas menghunus pedangnya, lalu sembari tertawa ia kata pada Nona Cio.
"Nona Cio hendak memberi pengajaran padaku, baiklah akan aku menerimanya dengan segala senang hati."
Walaupun si nona mengancam dengan pedangnya sudah siap sedia di depan dadanya, tetapi dia tidak maju menyerang, bahkan anehnya terhadap gerakan dan kata-katanya si anak muda ia seperti tak melihat dan tak mendengar.
Sebaliknya dia cuma mengawasi tajam pada Hay Thian Sin Ni yang duduk bersila saja !
Sesudah mengawasi sekian lama, nona itu memperdengarkan suara tawa yang tidak tegas, lalu mendadak dia menghunus pedangnya dan menikam kepada si nikouw tua !
"Tahan !"
Teriak Cukat Tan yang maju menyampok pedang si nona.
Ia memang selalu waspada.
Ia lantas menggunakan jurus "Badai Menyapu Salju".
Nona itu dapat mengelit pedangnya, setelah itu berbalik dia menyerang si pemuda.
Dia menggunakan jurus "Anak Panah Mencari Sasarannya", ujung pedangnya menikam dada.
Hebat tikaman itu, Cukat Tan mesti mengelakkan diri dengan gerakan Tiat Poan Kio atau Jembatan Papan Besi, tubuhnya ditegakkan rata dari perut sampai ke kepala.
Hampir dia tak lolos.
Sampai disitu maka Teng Hiang sudah lantas mengenali ilmu silat nona itu, benar ilmu silat Pay In Nia.
Dia itu berarti si nona besar Nona Cio Kiauw In.
Habis berkelit itu, Cukat Tan terus menendang lengan si nona, supaya ia sempat berdiri pula.
Tapi si nona lihai.
Dia cuma mengegosi sedikit pedangnya lantas senjatanya itu dipakai pula menebas kaki orang !
Masih sempat Cukat Tan menarik pulang kakinya.
Kembali ia menyerang, kali ini ia menebas punggung nona itu, yang menyebut dirinya Pan Mo, yaitu Setengah Bajingan.
Kali ini aneh si nona.
Dia tidak menangkis, hanya dia berkelit mundur.
Justru dia berlompat, Teng Hiang lantas mengenali cara berlompatannya itu, ialah ilmu ringan tubuh Te In Coam, atau Tangga Mega.
"Nona Cio Kiauw In !"
Teng Hiang segera memanggil.
"Nona, mana dapat kau mendustai aku !"
Mendengar suaranya Teng Hiang itu, si nona melengak sedikit, selekasnya dia sadar, lantas dia maju pula menyerang Cukat Tan, kali ini dia terus merangsak dan menyerang dengan gencar !
Sementara itu Cukat Tan yang sudah dapat menduga sebabnya kenapa si nona yang ia kenali benar Kiauw In adanya menjadi seperti orang tak beres ingatan itu.
Mestinya dia terkena pengaruh obat atau ilmu gaib.
Ketika diserang itu dia selalu berkelit.
Si nona menjadi tidak puas.
"Anak bau !"
Dampratannya.
"Kenapa kau selalu berkelit ? Kenapa kau tidak melayani sungguh-sungguh padaku ? Apakah kau takut ?"
Cukat Tan hendak menjawab si nona atau Hay Thian Sin Ni sudah mendahuluinya. Nikouw itu kata pada si nona.
"Sicu Poan Mo, kau telah menyampaikan pesan gurumu, sekarang silahkan kau pulang !"
Kali ini si nona mendengar kata. Dia memasuki pedangnya ke dalam sarungnya.
"Nikouw tua, ingat baik-baik !"
Berkata dia.
"Sebentar, sebelum matahari turun, kau mesti meninggalkan tempat ini ! Jangan kau membuat guruku gusar !"
Selekasnya suaranya berhenti tubuh si nona sudah mencelat mundur, keluar dari gua hingga dilain saat dia telah tak nampak lagi.
Cukat Tan lekas-lekas menyimpan pedangnya, terus ia berkata kepada gurunya yang baru itu.
"Menurut penglihatan tecu, Nona Poan Mo barusan adalah Nona Cio Kiauw In, muridnya Tek Cio Siangjin dari Pay In Nia, hanya heran, kenapa dia seperti orang tak sadarkan diri ? Locianpwe, kenapa locianpwe tidak mau menangkapnya buat mengobati dia ?"
"Aneh !"
Teng Hiang turut bicara.
"Nona Cio lihai luar biasa, kenapa dia kena orang tawan dan pengaruhkan begini rupa ? Dia mengaku menjadi muridnya lain orang dan sudi diperintah-perintah....."
Hay Thian Sin Ni bersenyum.
"Dia sedang menjalankan karmanya."
Katanya.
"Itulah soal gaib yang kalian tak mudah mengertinya...."
"Hanya locianpwe."
Kata Cukat Tan pula.
"Sekarang ada jaman kacau, kaum sesat lagi beraksi, habis nona Cio kena dipengaruhkan, dia berada di pihak sesat. Itulah berbahaya. Itu pula dapat mencelakai si nona sendiri...."
"Kau benar, anak Tan."
Berkata Hay Thian Sin Ni.
"Ada sebabnya kenapa aku tidak dapat turun tangan membantu nona itu...."
Cukat Tan dan Teng Hiang menjadi heran, tetapi sebab si nikouw tidak sudi memberikan keterangan lebih jauh terpaksa mereka tidak berani memaksa bertanya.
Hay Thian Sin Ni dapat membaca hatinya muda mudi itu, maka ia berkata.
"Tak usah kalian menjadi heran. Akan aku jelaskan sedikit. Dari gerak geriknya, aku sudah ketahui dialah murid dari Pay In Nia. Ada baiknya sekarang dia mengikuti Im Ciu It Mo, supaya dia dapat mewariskan kepandaiannya si Bajingan Tunggal itu. Si Bajingan pandai dua macam ilmu lihai. Ialah ilmu Sun Im Dit Sat Kang itu serta ilmu tangan kosong Tauwlo Cia, Tangan Halus."
Mendengar keterangan itu Cukat Tan dan Teng Hiang mengangguk.
Lewat sekian lama, Hay Thian Sin Ni mengambil peles obatnya dari dalam dinding, untuk disimpan di dalam sakunya, kemudia setelah mengangkat hudrim, kebutannya ia merapihkan pakaiannya.
"Kita jangan layani dia itu."
Katanya.
"Mari kita pergi !"
Cukat Tan berdua menurut, mereka mengikut pergi.
Sekarang kita melihat dahulu Cio Kiauw In.
Ketika itu hari Nona Cio berpisah dari It Hiong di kota Tang hong, ia langsung menuju ke Gakyang.
Dan waktu ia tiba di kota itu, Teng Hiang bersama Gak Hong Kun sudah meninggalkannya dua hari di muka, tetapi ia sabar dan teliti.
Ia membuat penyelidikan hingga ia mendapat keterangan di tempat persinggahannya bahwa dua orang itu sudah menuju ke Kho-tiam-cu, kemana ia segera menyusul.
Hari itu ditengah jalan, Kiauw In tiba di sebuah rimba yang lebat, yang rindang, yang hawanya adem, maka sekalian beristirahat, ia berhenti dan duduk dibawahnya sebuah pohonnya, diatasnya akar yang besar dan menonjol keluar.
Belum lama si nona beristirahat itu, tiba-tiba ia mendengar suara orang yang nyaring sekali.
"Kita sudah berlari-lari setengah hari, kenapa kakak Tio It Hiong ku masih tak dapat dicari ?"
Demikian suara itu, suara wanita.
"Kau tentulah bukan makhluk baik-baik, pastilah kau sedang menipu aku !"
Lalu terdengar suara serak dari seorang pria.
"Siapa itu Tio It Hiong, aku tidak tahu. Hanya sahabatku itu yang mengaku sendiri begitu. Saban kali dia ketemu orang, dia mengatakan dirinya Tio It Hiong, dan beberapa orang yang bertemu dengannya memanggil dia Tio It Hiong juga. Hanya aku....."
"Jangan kau mengoceh saja !"
Si wanita menyela.
"Dimana adanya Tio It Hiong yang kau sebut itu ? Hayo kau ajak aku pergi padanya !"
Selama itu, kedua orang itu mendatangi semakin dekat.
Hatinya Kiauw In tertarik sekali.
Orang menyebut-nyebut It Hiong.
Ia duduk terus dibawah pohon itu, tetapi ia membawa lagak tak perhatian.
Diam-diam saja ia memasang mata.
Ketika itu dari jalan dari mana ia datang, Kiauw In mendengar suara orang berbicara sambil tertawa-tawa.
Lekaslekas ia menoleh.
Kiranya itulah dua orang hweshio, atau pendeta.
Setengah tua, jubahnya serupa, jubah kuning dengan gelang emas ditangan kirinya masing-masing.
Suara mereka itu keras.
Dari kejauhan ia merasa wajah orang ia kenal.
Tak lama tibalah kedua orang suci itu.
Mereka berjalan sambil terus bicara dan tertawa.
Sama sekali mereka tak memperhatikan si nona yang duduk sendirian saja.
Sebaliknya Kiauw In lantas mengenali para Liong Houw Siang Ceng si pendeta Naga dan Pendeta Harimau dari kuil Gwan Sek Sie dan Ngo Tay San.
Baru kedua pendeta itu lewat lima tombak lebih, dari jalan dalam rimba muncullah dua orang yang tadi terdengar dengan suara nyaring.
Merekalah seorang wanita serta seorang pria yang rambutnya hijau, si wanita berusia tujuh atau delapan belas tahun, si pria setengah tua dan agaknya licik.
Bersama mereka itu ada seekor orang utan besar.
Setelah mereka lihat pria dan wanita itu, Liong Houw Siang Ceng menghentikan tindakannya di tengah jalan dan mengawasi kedua orang itu.
Si nona cantik melihat dua orang suci itu seperti menghadang di tengah jalan, dia mengawasi, lalu dia terbangun, kemudian dengan senyuman manis, dia menyapa.
"Kalian berdua pendeta, apakah hati kalian belum bersih dan otak kalian belum kosong ? Kenapa kalian mengawasi nonamu begini rupa ? Kenapa kalian juga menghadang di tengah jalan ?"
Bu Siang Hweshion tertawa dan kata.
"Sicu adalah seorang wanita, sudi apalah sicu jangan bicara sembarangan saja ! Sebenarnya pinceng mau mohon bertanya, pria yang berjalan bersama sicu ini orang macam apakah ?"
Si nona tertawa.
"Bapak pendeta, mari nonamu memberikan keterangan sebenar-benarnya saja kepada kalian ?"
Sahutnya polos.
"Dengan begitu maka tak usahlah kalian nanti menanya banyak-banyak."
Dia berhenti sebentar, dia mengawasi kedua pendeta, baru dia berkata pula.
"Bapak pendeta, aku sendiri adalah Ya Bie, muridnya Kip Hiat Hong Mo Tou Hwe Jie dari Cenglo ciang ! Dan itu."
Dia menunjuk kepada si orang utan.
"dialah So Hian Cian Li."
Kedua pendeta terdiam mendengar disebutnya nama Tou Hwe Jie, mereka saling memandang, paras mereka menjadi tenang kembali.
"Dan ini sahabat rambut hijau ?"
Bu Siang menanya pula, karena si nona tidak segera melanjuti keterangan.
"Dia pernah apakah dengan sicu ?"
Si nona menggeleng kepalanya.
"Aku tidak tahu namanya dia."
Sahutnya "Dialah sahabat yang aku ketemukan di tengah jalan."
Sementara itu, Lek Hoat Jiu Long demikian si pria berambut hijau berdiam saja.
Dia kenal kedua pendeta itu.
Dia telah membinasakan pendeta dari Gwan Sek Sir, pasti itu orang tentu mencari dia guna menuntut balas.
Sekarang dia bertemu dengan Liong Houw Siang Ceng sendiri, maka dia berlagak pilon.
Di dalam hati dia mengharap orang tidak mengenalinya.
Tapi, sudah dia mendengar suara si nona yang terakhir dia berpura tertawa dan kata pada nona itu.
"Ah, nona Ya Bie gemar bergurau ! Bagaimana orang sendiri nona mengatakannya tak kenal ?"
Berkata begitu, dia mengedipi mata pada si nona.
Ya Bie seorang golongan sesat, tetapi dia polos, dia pula baru mulai muncul, dia tak mengenal terlalu banyak gerak gerik orang, bahkan melihat tingkahnya Lek Hoat Jiu Lok, dia menjadi sebal.
Maka juga dia membuka lebar matanya, dengan tampang gusar dia kata pada pria itu.
"Apa kau bilang ? Siapakah orang tuamu sendiri ?"
Liong Hauw Siang Ceng terus mengawasi dan mendengari, lantas timbul kecurigaannya. Terlihat tegas bahwa si wanita polos dan si pria licik. Maka mereka lantas mengawasi pula si pria.
"Sahabat rambut hijau,"
Berkata Bu Sek Hweshio kemudian.
"kau ingat tegas, siapakah pinceng?"
Suara itu keras bagaikan guntur.
Lek Hoat Jiu Long kaget sampai tubuhnya bergemetar.
Dia mundur dua tindak untuk menenangkan hatinya yang bergoncang, untuk bersiap sedia, tangan kirinya mengeluarkan bie hun tok hun, tangan kanan mencabut sebatang pedang pendek.
"Keledia botak dari Gwan Sek Sie !"
Kemudian dia membentak.
"Apakah kamu mau mencari mampusmu ? Tuan besar kamu ialah Lek Hoat Jiu Long !"
Mendengar nama itu, bukan main gusarnya kedua pendeta.
Jadi inilah musuh mereka !
Bagaikan kalap Bu Sek lantas berteriak berlompat maju dengan tinjunya !
Inilah saat yang ditunggu Lek Hoat Jiu Long yang licik.
Dia tidak menangkis atau menghadang, waktu dia diserang itu dia lantas bergerak ke samping buat menyelamatkan diri dari ancaman tinju maut.
Tapi dia bukan hanya berkelit, dia pun membuat pembalasan dengan caranya sendiri.
Dia mengayun tangan kirinya, menyebarkan bubuk mautnya dan meluncurkan tangan kanannya, menikam dadanya si penyerang !
Bu Sek terkejut melihat gerakan lawan itu, apa pula selekasnya dia melihat asap merah tua itu.
Dia mundur sambil lompat berjumpalitan ke belakang terus dia menahan nafas untuk segera mengerahkan tenaga dalamnya.
Walaupun demikian dia kurang cepat, sebab penyerangan bubuk tepat sedangkan dia maju.
Maka juga dia telah kena menyedot tak sedikit bubuk bius itu.
Bau harum masuk ke dalam hidungnya, mendesak masuk ke otak, membuat kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang terus dia terhuyung-huyung dan roboh ke tanah !
Pedang pendek Lek Hoat Jiu Lon tidak berhasil seperti bubuknya itu, inilah sebab ketika dia menyerang Bu Sek, Bu Siang yang memasang mata melihat gerakannya itu dan pedangnya segera dihajar dengan gelang emasnya si pendeta hingga gelang itu terpental dan tangannya si penyerang kaku baal !
Bu Siang menguatirkan keselamatan saudara seperguruannya itu, maka juga habis menghajar pedang lawan dia lompat kepada Bu Sek untuk memondongnya bangun.
Lek Hoat Jiu Long gusar dan penasaran, justru Bu Siang lompat kepada Bu Sek, dia sendiri menerjang pendeta itu.
Lagi-lagi dia menyebar bubuk beracunnya.
Tiba-tiba terdengarlah seruan yang nyaring halus lalu satu sinar berkilat berkelebat, menyusul itu Lek Hoat Jiu Long memperdengarkan jeritan yang menyayatkan hati sebab tangannya yang menyebar bubuknya terkutung tiba-tiba sebatas bahunya dan terjatuh ke tanah, tubuhnya pun turut roboh kebanting.
Saking kesakitan, dia berkoresan ditanh.
Menyusul itu satu tubuh langsing berlompat ke depan beberapa orang itu.
Kiranya dialah Nona Cio Kiauw In, yang membantu tepat pada Bu Siang Hweshio.
Ya Bie lantas mengawasi Nona Cio dan menegur.
"Eh, eh, kenapa tidak karuan kau mengutungkan lengan orang ? Jika kau mau bertempur, nonamu bersedia melayani kau beberapa jurus !"
Kiauw In mengawasi nona itu. Ia lantas berkesan baik. Orang cantik dan polos.
"Adik kecil,"
Katanya tanpa menghiraukan tantangan orang.
"tahukah kau siapa orang yang berambut hijau ini dan benda apa yang dia sebarkan ?"
"Aku tidak tahu."
Sahut si polos.
"Inilah semacam bubuk beracun."
Kiauw In kasih tahu.
"Asal orang ada Kang Ouw jahat, maka dia menggunakan racun ini buat mencelakai orang."
Ya Bie heran, dia tertawa.
"Kakak,"
Tanyanya ramah.
"kenapa dengan sekali melihat saja kau ketahui itu ?"
Kiauw In berpaling kepada kedua pendeta.
"Lihat dua orang pendeta itu,"
Katanya.
"Mereka telah terkena racun ini !"
Ya Bie menoleh, maka ia melihat kecuali pendeta yang pertama, yang kedua pun telah roboh tidak berdaya, tubuh mereka tak berkutik. Ia menjadi kaget.
"Eh, eh, kenapa kedua pendeta tua itu kehilangan jiwanya ?"
Tanyanya. Dia menyangka Liong Houw Siang Ceng telah terbinasakan Lek Hoat Jiu Long, maka dia menjadi gusar seketika, hingga dia menggertak giginya segera dan membisikan orang utannya.
"Pergi kau, kutungkan tangan yang satunya dari orang itu !"
So Hua Cian Li lantas berseru terus dia berlompat pergi.
Paling dahulu dia memungut pedang pendeknya Lek Hoat Jiu Long, sebelum si rambut hijau tahu apa-apa, lengannya yang sebelah lagi itu sudah lantas ditebas kutung !
Sebagai orang tanpa tangan, Lek Hoat Jiu Long roboh pingsan bermandikan darah !
Ketika itu Kiauw In sudah lantas menghampiri kedua pendeta itu.
Dia mengeluarkan obatnya pendeta dari Bie Lek Sie yang It Hiong bagi padanya, obat itu ia masuki ke dalam mulutnya Bu Sek dan Bu Siang, kemudian tanpa menanti orang siuman ia bertindak menghampiri Ya Bie untuk bertanya.
"Adik, bukankah tadi kau mengatakan hendak mencari kakak entah apa Hiong ?"
Ditanya begitu mukanya Ya Bie mendadak bersemu dadu, walaupun demikian dia menjawab secara polos.
"Dialah kakak Hiong yang aku paling sukai ! Dia bernama Tio It Hiong. Guruku....."
"Gurumu telah aku ketahui !"
Tiba-tiba terdengar satu suara yang nyaring, yang orangnya segera sampai di dekat mereka itu.
Orang berlompat pesat sekali.
Kiranya dialah seorang lakilaki tua berkeriputan yang berdandan sebagai pelajar.
Setibanya itu, si orang tua lantas mengawasi tajam kepada Kiauwn In, kemudian dia menuding kepada Ya Bie sambil berkata keras.
"Namanya gurumu itu Kip Hiat Hong Mo, ada apakahnya yang luar biasa ? Nama itu tak usah dipamerekan !"
Ya Bie lantas mengenali pada Ie Tok Sinshe atau Tok Mo yang dua hari lalu ia ketemukan di Kho tiam cu, yang ia permainkan dengan Hoan Kak Bie Ciu, ketika mana ia hampir bercelaka karena ilmu Sam Hiauw Lo Piang Ciang orang itu, karenanya ia merasa jeri jgua, tak berani ia mempermainkan pula.
Karena itu dengan mata dipentang lebar-lebar dia mengawasi saja.
Nampak Tok Mo puas karena si nona tak menjawabnya, dia tertawa sampai melenggak, kemudian habis tertaaw segera tampak pula wajahnya yang menakutkan saking bengisnya.
"Kalau kalian tahu diri, lekas kalian kasih tahu padaku !"
Katanya bengis.
"Siapakah yang mengutungkan kedua lengannya Lek Hoat Jiu Long ?"
Kiauw In menerka orang tua ini bukan orang lurus, karenanya ia berhati-hati, tidak mau ia berlaku sembrono.
"Locianpwe."
Tanyanya, dapatkah aku mengetahui she dan nama besar dari locianpwe ?"
Tok Mo tertawa terkekeh-kekeh, nadanya dingin.
"Bocah bau ! Apakah namamu ?"
Dia balik bertanya kasar.
"Siapa gurumu ? Bagaimana sampai namaku si orang tua kau tidak tahu ?"
Ya Bie lantas menimbrung.
"Kakak, dialah Tok Mo yang juga dipanggil Ie Tok Sinshe ! Kakak awas terhadap ilmu silat tangannya yang aneh !"
Dengan mata bengis, Tok Mo mengawasi si nona polos. Terus dia tertawa terkekeh.
"Namaku si orang tua,"
Kata dia.
"sudah dikenal sejak empat puluh tahun lalu ! Didalam dunia rimba persilatan, siapa yang tak tahu dan tak takut ? Hanya sekarang, setelah aku baru muncul pula, yang mengetahui aku sangat sedikit ! Hmm !"
Nyata dari suaranya si tua ini jumawa, hatinya puas tak puas.
Kiauw In sementara itu sudah lantas menerka Tok Mo atau Ie Tok Mo atau Ie Tok Sinshe ini tentulah orang yang telah membunuh mati secara rahasia jago-jago Siauw Lim, Bu Tong dan lainnya.
Hal ini membuatnya girang berbareng berkuatir.
Ia berkuatir sebab ia menerka orang mestinya lihai luar biasa.
Dan ia bergirang karena ia memikir inilah kesempatan ia mencoba ilmu silatnya Khi-Bun Pat kwa kiam terhadap lawan yang tangguh.
Ia pikir juga, sungguh besar faedahnya bagi It Hiong kalau jago tua itu dapat dirobohkan atau disingkirkan.
"Hanya kalau dia menggunakan racunnya,"
Pikirnya pula. Karena ini, ia berdiam terus.
"Eh, budak !"
Tegur Tok Mo bengis.
"aku tanya kau, kenapa kau diam saja ? Kau mau menjawab atau tidak ?"
Kiauw In melengak. Sangsi buat memberikan jawabannya.
"Kakak, bilangilah !"
Ya Bie menganjurkan. Nona ini benarbenar sangat polos.
"Siapakah guru kakak ? Kenapa kakak tidak berani berkatainya ?"
Justru itu, Nona Cio telah mendapat sebuah pikiran, maka dia tertawa tawar dan kata.
"Akulah Cio Kiauw In muridnya Tek Cio Siangjin dari Pay In Nia ! Bagaimana ?"
Si muka keriputan itu nampak terbengong, terus dia mengawasi tajam pada nona di depannya itu, dari atas ke bawah dan sebaliknya, dia tertawa.
"Bagus !"
Katanya nyaring.
"Nampaknya bakatmu baik sekali ! Mari kau turut si orang tua pulang ke tempatku, untuk belajar ilmu ! Sungguh kau berbahagia !"
Kiauw In tetap mengawasi, matanya dibuka lebar, sinar matanya menandakan kemarahannya. Tetapi dapat dia menguasai dirinya. Maka ketika dia menjawab suara sabar.
"Locianpwe, tidak ada halangannya yang locianpwe hendak mengambil murid hanya sebelum itu ingin aku menanya, apakah locianpwe dapat melawan pedangku ?"
Dengan satu gerakan cepat, Nona Cio menghunus pedangnya. Terus dia menambahkan kata-kata.
"Dalam hal ilmu kepandaian, locianpwe cuma pandai menggunakan racun, maka itu dalam halnya ilmu tangan kosong atau bersenjata, locianpwe tak dapat dibungkam !"
Alisnya Tok Mo bangkit. Dia tak puas sebab telah mengekangnya. Kata-kata si nona berarti bahwa janganlah dia menggunakan racunnya. Lalu dia tertawa terkekeh.
"Anak perempuan, kau sangat licik !"
Katanya.
"Kau menggunakan akal muslihat untuk membuat hatiku panas ! Apakah kau sangka aku tidak tahu itu ? Baiklah ! Karena kau takut aku si tua menggunakan racun, hendak aku menggunakan sepasang tanganku guna melayani ilmu pedangmu Khie bun Pat kwa Kiam. Supaya kalau sebentar kau kalah, kau kalah dengan puas !"
Berkata begitu, si orang tua menggulung tangan bajunya, terus dia mengangkat sepasang tangannya.
Ya Bie dipinggiran terus mengawasi saja.
Dia jeri terhadap ilmu silatnya Tok Mo, tetapi dia mendengar Tok Mo mau melawan pedang, hal itu membuatnya girang.
Ingin dia menyaksikan pertempuran itu.
Ia pun kagum terhadap Kiauw In, yang berhasil membikin si tua suka bertempur tanpa menggunakan racun.
Saking girang, mendadak dia tertawa sendirinya !
Tok Mo heran, dia menoleh.
"Eh, budak liar, kau tertawakan apa ?"
Tegurnya. Ya Bie tidak menghiraukan teguran itu, bahkan dia mencibirkan mulutnya untuk menggodia si orang tua, kemudian dia menoleh kepada Kiauw In untuk berkata.
"Kakak, kau tenang-tenang saja melayani dia ! Kalau sampai kau tak berdaya nanti akan aku bantu kau dengan Hoan Kak Bie Ciu supaya kau lolos dari bahaya !"
Tok Mo gusar sekali, maka juga dia membentak si nona polos.
"Kalau kau lancang campur tangan, lebih dahulu akan aku habiskan nyawamu !"
Kemudian dia meneruskan pada Nona Cio.
"Kau dengar ! Kau perhatikan. Jika kau kalah, kau mesti tunduk dan menurut dengan baik-baik menjadi muridku ! Kau tahu !' Kiauw In berpura pilon, dia melirik lalu tertawa.
"Locianpwe"
Katanya hormat.
"seandianya locianpwe yang mengalah buat setengah jurus, bagaimana ?"
Tok Mo melengak. Itulah dia tidak sangka. Hanya sejenak dengan wajah muka padam, dia kata keras.
"Kalau aku kalah, maka di dalam waktu satu tahun akan aku turut segala perintahmua, aku bersedia menerjang api atau air, tak nanti aku menampik."
Belum lagi Kiauw In mengatakan sesuatu, Ya Bie sudah bertepuk tangan dan mendahului berseru.
"Bagus ! Bagus ! Bukan cuma satu tahun saja kau mesti turut segala perintahnya kakak ini, kau juga mesti mengutungkan sebelah tanganmu !"
"Tutup bacotmu !"
Membentak si orang tua mendongkol bukan main.
Ya Bie polos tetapi dia pun jenaka, dan dapat bergurau bahkan kata-katanya tajam.
Sementara itu Liong Houw Siang Ceng telah siuman dari gangguan bubuk beracun, maka lantas melihat Kiauw In hendak bertempur dengan si orang tua keriputan yang berdandan sebagai pelajar itu, lekas-lekas mereka menghampiri si nona untuk memberi hormat.
"Sicu, terima kasih buat pertolongan sicu !"
Mengucap Bu Siang Hweshio. Sedangkan Bu Sek berkata.
"Buat membereskan orang tua ini, bagaimana kalau pinceng yang turun tangan ?"
Dia pun lantas menurunkan gelang emas dari lengannya.
"Kepala keledia !"
Tok Mo membentak mendongkol.
"Dirimu sendiri masih ditolongi seorang nona, apakah kau rasa kau sanggup melayani aku si orang tua ? Kau mundurlah !"
Bu Sek heran, tak dapat dia menerima perlakuan itu. Alisnya bangkit.
"Baiklah pinceng bersedia menerima pengajaranmu, sicu !"
Katanya. Dan segera dia mendahului menyerang ! Dia lantas menggunakan ilmu silat tangan kosongnya itu, Sam Hiauw Liok Piau Ciang, jurus "Sepasang Naga Merampas Mutiara"
Untuk menyambuti gelang lawan.
dia menyentil Liong Houw Siang Houw, sepasang gelang Naga dan Harimau.
Dengan satu suara terang nyaring, sepasang gelang itu kena disentil terpental.
Bahkan Bu Sek merasai kedua lengannya tergetar dan nyeri.
Saking kageti dia lompat mundur sambil berseru dengan pertanyaannya.
Jilid 45
"Siapakah kau ?"
Sedangkan sepasang matanya dipentang lebar.
"Hm !"
Tok Mo tertawa dingin, parasnya menunjuki dia puas sekli.
"Telah aku mengenali kaulah murid dari Gwan Sek Sie ! Si tua yang gundul itu dahulu hari pun mengalah tiga bagian terhadapku ! Orang dengan kepandaian semacam kau ini, bagaimana kau berani berlaku kurang ajar terhadap aku si orang tua ?"
Bu Sek bertambah gusar.
Orang telah menghina gurunya.
Dengan berani dia lompat menyerang, gelangnya dilontarkan !
Itulah ilmu silat tersohor dari kuil Gwan Sek Sie namanya Liong Houw Hong In -Badai Naga dan Harimau-.
Tok Mo tidak berani menyambut serangan itu, dia hanya berkelit ke sisi, baru dari itu dia menoleh dengan keras.
Dia menjadi gusar, sebab berkelit baginya berarti yang dia telah didesak.
"Oh, keledia gundul tak tahu selatan !"
Bentaknya.
"Aku si tua tak dapat mengampuni kau ! Demi muridku yang dikutungkan dua belah tangannya itu, aku akan menangih hutang berikut bunganya !"
Menutup kata-kata sengitnya itu, Tok Mo mengeluarkan Giok Lauw Kio Ciauw, alat mautnya itu tetapi justru dia hendak menyerang, Kiauw In bersama Ya Bie sudah lompat menghadang di depannya.
Dan nona Cio segera berkata.
"Orang itu jahat sekali, dia suka menyebar bubuk beracun mencelakai orang ! Akulah yang mengutungkan lengan kirinya, jika kau hendak membuat perhitungan, kau lakukanlah itu atas diri nonamu ini !"
Ya Bie pun berkata.
"Lengan kanan dia itu akulah yang menyuruh So Han Cian Li membuntungkannya dan peristiwa itu tidak ada sangkut pautnya dengan kedua pendeta ini !"
Sementara itu hatinya Bu Sek tak tenang.
Kepandaiannya yang istimewa itu masih tidak dapat berbuat apa terhadap lawan yang lihai sekali ini.
Terpaksa dia mundur.
Bu Siang menarik adik seperguruannya terus dia kata nyaring kepada Kiauw In.
"Nona Cio, sampai jumpa pula !"
Segera dia lompat bersama adiknya pergi melenyapkan diri ke dalam rimba. Tok Mo mengawasi kedua nona, parasnya yang muram perlahan-lahan menjadi reda.
"Lek Hoat Jiu Long muridku ini."
Demikian tanyanya.
"kenapa kalian jadi bertempur dengannya?"
Berkata begitu dia menunjuk pemuda si rambut hijau yang rebah tak berkutik.
Baru sekarang Kiauw In tahu bahwa orang yang disebut Lek Hoat Jiu Long dan menjadi muridnya To Mo, pantaslah dia jahat dan mudah menggunakan bubuk beracunnya.
Karena ia tak dapat lantas menjawab, ia berdiam saja.
Melihat demikian, Ya Bie mendelik kepada Tok Mo terus dia tertawa dan kata.
"Muridmu itu berbuat bagus sekali, pantas dia mendapat pembalasan setimpal ini !"
Wajahnya Tok Mo menjadi padam pula. Nona ini membuatnya gusar.
"Budak liar !"
Bentaknya.
"Jangan kau kurang ajar ! Coba kau bilangi aku, apa yang muridku ini telah lakukan ? Kau bicaralah dengan terus terang, nanti aku si tua memutuskan siapa salah siapa benar ! Asal ada setengah patah saja dari kata-katamu yang dusta, aku si tua tak akan mengampunimu !"
Ya Bie berlaku tenang, bahkan dia merapikan dulu rambutnya.
"Sebenarnya panjang buatku menutur,"
Katanya seenaknya saja.
"Apakah kau tak nanti sebal mendengarkannya ?"
Tok Mo menyimpan pula senjata rahasianya itu, dia bertindak maju dengan kepala diangkat.
"Kau bicaralah !"
Katanya.
"Jangan kalian mencari alasan untuk kabur !"
Ya Bie suka bercerita, dan ia menuturkan perbuatannya Lek Hoat Jiu Long.
Beginilah keterangannya itu .
Hari itu ditanah berumput diluar Kho tiam cu, ia mengajak orang utannya menyingkir dari bajingan yang lainnya itu, lewat belasan lie barulah dia berhenti berlari-lari.
Justru disitu ia bertemu dengan Lek Hoat Jiu Long yang kabur dari rumah penginapan.
Jiu Long kabur seperti orang kurang sadar saking bingungnya, dia merasa seperti ada orang yang mengejarnya.
Dia kena menubruk si orang utan, yang terus membantingnya roboh, setelah mana dia dijambak, dibawa ke depannya Ya Bie.
Sambil berbuat itu, si orang utan berPekik tak hentinya, Jiu Long kaget terus dia pingsan.
Ya Bie mengira Jiu Long itu adalah orang Kang Ouw, dia menyuruh orang utannya mengangkatnya bangun, lalu dia menolong menyadarkannya.
Tidak lama Jiu Long siuman.
Dia heran mendapati dirinya di pangku seorang nona yang tubuhnya menyiarkan bau harum kewanitaan dan tampangnya cantik.
Lupa pada keadaan dirinya, dia tertawa girang.
Ya Bie adalah seorang gadis, ia menjadi tak senang.
"Ha, kau kenapakah ?"
Tegurnya sambil melemparkan tubuh orang. Jiu Long mengasih lihat tampang memohon.
"Nona, kau penuhkanlah keinginanku !"
Katanya. Ya Bie tak menghiraukan. Ia belum kenal kata0kata asmara.
"Eh, tahukah kau kakak Hiongku ?"
Tanyanya.
"Kakak Hiongku itu adalah seorang muda yang biasa membawa-bawa pedang pada punggungnya."
Jiu Long senang sekali. Dia merasa si nona polos dan mudah diakali. Dia mencekal tangan orang dan tertawa.
"Tio It Hiong ?"
Katanya.
"Dialah sahabatku. Ada apa kau mencari dia ?"
Nona itu tertawa.
"Aku mau mencari kakak Hiong tetapi itu tidak ada hubungannya dengan kau !"
Sahutnya.
"Karena kaulah sahabatnya, kau tentu tahu dimana adanya dia sekarang ! Maukah kau mengantarkan aku kepadanya ?"
Jiu Long tertawa, bukan main girangnya.
"Tak sukar hatiku mengajak kau pergi kepada kakak Hiongmu itu !"
Katanya.
"Hanya sebelumnya kau harus menerima baik satu syaratku....."
"Apakah syar itu ?"
Tanya si nona cepat.
"Kau sebutkanlah !"
Jiu Long tertawa bergelak.
dia menggerak-geraki kedua belah tangannya, memperlihatkannya pria dan wanita tengah bersenang-senang berplesiran.
Si nona mementang matanya.
Tak dapat ia menangkap artinya isyarat itu.
Ia berdiri menjublak mengawasi.
Lek Hoat Jiu Long mengulangi gerak gerik tangannya itu.
"Nona yang baik, kau telah mengerti bukan ?"
Tanyanya. Ya Bie menggeleng kepala.
"Aku tidak mengerti."
Sahutnya.
"Coba kau bicara biar jelas !"
Makin senang hatinya Jiu Long. Ia mendapati si nona masih hijau.
"Benar-benarkah kau tidak mengerti ?"
Dia menegaskan. Mendadak dia lompat maju dua tindak, matanya mengawasi dengan sinar menyala. Terus dia kata pula, perlahan.
"Nona yang baik, kaulah nona yang telah dewasa, masihkah kau tak mengerti maksudku ? Ni, begini......"
Ia memberi petaan pula dengan kedua belah tangannya. Ya Bie tetap mengawasi dengan mendelong, kepalanya digeleng-geleng. Kemudian dia tertawa dan kata.
"Asal kau benar-benar dapat mengantarkan kau kepada kakak Hiongku, apa juga yang kau kehendaki aku perbuat, akan aku lakukan !' Lek Hoat Jiu Long tidak kenal It Hiong, dia cuma mengoceh saja, tak tahu dia dimana si anak muda, tetapi dia cerdik luar biasa, dia licik mana untuk mewujudkan apa yang dia pikir, dia tak memilih jalan lain. Mengawasi kecantikan si nona saja, dia sudah mengiler.......
"Aku menjamin bahwa akan kau ajak kau mencari kakak Hiongmu itu !"
Kata dia sambil menepuk-nepuk dada.
"Kau jangan kuatir nona !"
Ia tertawa, terus ia menambahkan.
"Nona asal kau suka memenuhi kehendakku, hingga tubuh kita dapat tergabung menjadi satu, apa juga perintahmu, akan aku turuti !"
Mendadak menutup kata-katanya itu, Jiu Long berlompat menubruk si nona !
Ya Bie tidak kaget karena terkaman itu.
Sebenarnya dia tidak setolol seperti diperkirakan Jiu Long.
Barusan dia berlagak saja yang ia tak mengerti gerak gerik orang.
Ia mencintai It Hiong, itu artinya dia sudah kenal asmara.
Karena ia menerka orang adalah satu bajingan paras elok, ia hendak mencoba hati orang.
Demikian ketika ia diterkam itu dengan cepat ia berkelit terus ia menggunakan ilmunya, Hoan Kak Bie Ciu si orang utan ia jadikan penggantinya !
Waktu ia ditubruk si nona menjerit nyaring.
Jiu Long lantas merasa bahwa ia telah merangkul tubuh orang yang hangat, hingga ia bagaikan ditinggalkan rohnya saking puas hatinya.
Dia mengawas muka orang.
Si nona cantik.
Tanpa dia ketahui, si nona sendiri sebenarnya sudah memisahkan diri.
Segera ia lari ke dalam rimba sambil memondong tubuh orang.
Dalam tempat yang sunyi itu, hendak dia melampiaskan nafsu binatangnya.
Ya Bie sementara itu mengintai gerak gerik orang.
Dia mendongkol berbareng merasa lucu.
Kemudian dia berduduk di atas sebuah batu besar, matanya mengawasi langit, pikirannya sperti melayang-layang.
Di saat itu hatinya terasa kosong.......
Selang tak berapa lama terdengarlah suara Pekik berulangulang lalu tampak orang utan lari berlompat menghampiri nonanya.
Di depan si nona, kembali dia memperdengarkan Pekikannya berulang-ulang, kedua kakinya atau tangannya digeraki demikian rupa, seperti juga dia melukiskan apa yang terjadi diantara dia dan Lek Hoat Jiu Long.
So Hun Cian Li sudah pandai benar dalam hal menghisap darah orang dan Lek Hoat Jiu LOng bukanlah lawannya, karena dia itu telah menjadi letih bukan main, semangatnya seperti meninggalkannya, si orang utan melepaskan diri dari rangkulannya tanpa dia ketahui.
Ya Bie mengawasi binatang piaraannya itu dan tak melihat si rambut hijau keluar bersama, tahulah dia apa yang telah terjadi pada orang itu.
Ia menepuk-nepuk si orang utan dan bersenyum.
Lewat sekian lama barulah tampak Lek Hoat Jiu Long muncul dari dalam rimba, tindakannya perlahan, tubuhnya terhuyung, pakaiannya kusut.
Kapan dia melihat si nona sedang duduk dibatu, dia tertawa dan berkata.
"Nona tak dapat aku melupai cintamu terhadapku, aku telah tidur dan bermimpi baik sampai aku membuatmu menantikan lama disini, harap maafkan aku !"
Dan dia memberi hormat. Dia menjura dalam ! Ya Bie tertawa atas lagak orang itu, dia meliriknya lalu berkata.
"Kau telah menjanjikan aku mencari kakak Hiong. Sekarang hayolah kau antarkan aku ! Mari lekas !"
"Ya"
Sahut jiu Long.
Dan lantas dia bertindak pergi.
Demikianlah maka juga bertiga mereka berjalan bersamasama.
Lewat tiga hari barulah mereka tiba di wilayah Gakyang itu, di rimba luar kota, hingga mereka bersamplokan dengan Liong Houw Siang Ceng dan menjadi bertempur karenanya.
Hingga si rambut hijau menerima bagian sebagai pembalasan kejahatannya sebegitu jauh.
Begitulah penuturannya Ya Bie, yang selalu bergembira, sampai tahu-tahu dia mendapati nona Cio Kiauw In membaliki belakang dan telinganya tampak merah.
Tok Mo sebaliknya, dia lantas lari menghampiri muridnya buat memeriksa nadinya, habis mana dia katanya.
"Ah ! Masih dapat ditolong, cuma mestilah aku menjadi berabe karenanya...."
Terus dia merogoh sakunya mengeluarkan sebutir obat putih, yang dia jejali ke dalam mulutnya si murid, setelah mana dia diam mengawasi guna menantikan reaksi dari obatnya itu.
Sesaat itu muka pucat pasi dari Jiu Long tetap tak berubah.
Maka juga Tok Mo kemudian menghembuskan hawa dari mulutnya ke mukanya si murid.
Hawanya itu berupa seperti halimun.
Hanya sebentar habis dihembuskannya hawa itu, tubuhnya Jiu Long bergeming.
Dia siuman terus merintih dan membuka matanya.
Tok Mo meletakkan tubuh orang ditanah.
"Kau rebahlah !"
Katanya pada murid itu.
"Aku hendak membereskan dua anak perempuan itu, buat mengambilnya sebagai murid."
Ia berbangkit terus ia menghadapi Kiauw In dan Ya Bie ke depan siapa ia berlompat pesat.
Ketika itu Kiauw In berada berdekatan dengan Ya Bie sebab ia ingin minta keterangan lebih jauh tentang It Hiong, sebab nona itu selalu menyebut It Hiong sebagai "kakak Hiong"
Nya.
Ya Bie tidak kenal nona Cio, tak tahu dia ada hubungan apa diantara It Hiong dan nona itu, karena polosnya dia menjelaskan segala apa dengan terang.
Mendengar keterangannya itu, Kiauw In mengerutkan alisnya.
Ia terharu buat nona polos itu, yang sendirinya tergila-gila terhadap It Hiong.
Sementara itu Nona Cio tidak mau lantas menyingkir dari hadapannya Tok Mo.
Asal ia mau dapat ia berbuat begitu, tetapi ia memikir mencari keterangan hal orang tua ini, Bukankah dia pernah berhubungan rapat dengan Hoat Ciu Jiu Long dan telah melakukan penyerangan hebat pada pihak Siauw Lim Sie ?
Ia pula tidak takut, ingin ia mencoba Khie bun Patkwa Kiam dan Ten In Ciong, ilmu ringan tubuh Tangga Mega buat menjajaki berapa lihainya si Bajingan itu.
Barulah si nona dan Ya Bie berhenti bicara dan menoleh, setelah mereka mendengar suaranya Tok Mo yang menghampirinya memperdengarkan suara nyaring.
Kiauw In melirik Bajingan itu.
Berkatalah Tok Mo.
"Kalian tak menggunakan ketika kalian buat lari pergi, benar-benar kalian bernyali besar. Kalianlah orang yang cocok yang aku cari, kalian berbakat dan pantas menjadi murid-muridku !"
Kiauw In tidak menjawab, hanya ia menghunus pedangnya dan memutar itu ! Ya Bie sebaliknya berkata.
"Kalau kau hendak merampas murid orang, kau mesti pertunjuki dahulu kepandaianmu yang sebenar-benarnya !"
"Hm !"
Si Bajingan memperdengarkan suara dinginnya.
"Sudah, jangan kita bicara saja dari hal-hal kosong belaka !"
Katanya.
"Nah, mari kita mulai bertempur !"
Kiauw In tidak menjawab, dia cuma mengangguk, terus dia maju menyerang.
Serangan itu didahului dengan tangan kirinya diluncurkan lurus.
Kapan Tok Mo melihat caranya si nona menyerang, tak berani dia menangkis.
Dengan kecepatan luar biasa, dia mundur satu tindak, terus dia menggeser kaki kirinya ke kiri.
Dengan begitu, dengan berada disamping dia membalas menghajar lengan kanan si nona.
Dengan satu gerakan.
"Pelangi Menggaris Langit"
Kiauw In menangkis ke kanan.
Dengan jalan ini, ia membikin si penyerang membatalkan serangannya itu, setelah itu dengan cepat dan lincah ia mengulangi serangannya.
Kembali Tok Mo menyingkirkan diri dari serangan hebat itu.
Ternyata dia sangat gesit.
Setiap kali habis diserang, segera dia dapat membalas.
Dengan demikian dia mengimbangi kecepatan si nona.
Maka juga terliaht mereka berdua seimbang sekali.
Kedua pihak tidak bermusuhan tetapi karena sama-sama ingin merebut kemenangan pertempuran menjadi berjalan hebat.
Sama-sama mereka mengeluarkan kepandaian masingmasing.
Kiauw In tidak bermusuh dengan lawannya ini tetapi demi It Hiong, hendak menyingkirkannya, supaya dari siangsiang dapat disingkirkan salah satu ancaman bencana rimba persilatan.
Tok Mo sebaliknya sangat ingin menaklukan si nona, supaya nona itu suka menjadi muridnya.
Buat berhasilnya Bu Lim Cit Cun, ia memerlukan banyak pembantu dan kawan, dan nona itu, dengan menjadi muridnya, ia sanggup bakal menjadi bantuan tenaga yang besar sekali.
Maka juga, tak ingin ia melepaskan Kiauw In.
Begitulah, ia terpaksa mengeluarkan kepandaian "Sam Hiauw Lok Piau Ciang".
Khie bun Patkwa Kiam sudah terkenal sejak puluhan tahun.
Kiauw In telah mempelajari itu dengan sempurna, sekarang ia dibantu dengan keringan tubuh dari ilmu Tangga Mega.
Ia jadi dapat bersilat dengan baik sekali.
Dengan begitu, ia membuat Tok Mo sulit lekas-lekas merobohkannya.
Sekian lama itu, mereka tetap berimbang saja, mereka sama tangguhnya.
Ya Bie kagum dan heran menonton pertempuran yang hebat itu, yang ia belum pernah saksikan.
Dialah nona yang baru mulai memunculkan diri di dalam dunia Kang Ouw.
Dia pun merasa tegang sendirinya.
Sedang pertempuran berlalu itu, sekonyong-konyong terdengar satu bentakan keras, tampak tubuhnya Tok Mo mencelat tinggi satu tombak leibh, lalu dari atas dengan mengibasi tangan bajunya, tubuhnya itu turun kebawah sambil menyerang lawannya, yang diarah batok kepalanya !
Inilah akibatnya Tok Mo heran dan penasaran, sebab tak sudi dia kena dikalahkan si nona.
Maka ia mengeluarkan salah satu jurus silatnya itu.
"Hian Thian Pek Te"
"Mengangkat Langit Membelah Bumi". Kiauw In mendapat dengar seruan orang dan melihat tubuhnya orang itu mencelat naik, ia dapat menerka maksudnya musuh, maka juga ia tetap tenang dan waspada dan bersiap sedia. Kapan ia telah melihat tegas gerakan lawan itu, ia tidak mau mundut atau berkelit ke samping, ia justru menikam ke atas, menyambut serangan hebat itu. Itulah jurus "Sebatang Tiang Menyangga Langit". Dan itulah pula berarti keras lawan keras. Tok Mo terkejut sekali. Belum lagi tangannya mengenai sasarannya, tangannya itu sudah merasai nyerinya hawa pedang, maka itu dia kelabakan hendak menarik pula tangannya itu. Tapi dasar jagi, dia tidak gugup. Dia menjejakkan kakinya yang satu dengan kaki yang lain, tenaga dalamnya dikerahkan. Dengan begitu, tubuhnya Bisa membalik naik terapung pula. Menyusul itu, dia terus bergerak ke samping, hingga dia dapat turun di tanah tanpa kurang suatu apa-apa.
"Hebat !"
Pikirnya. Dia malu sendirinya, parasnya menjadi suaram. Kiauw In tidak melanjuti menyerang, ia justru menarik pulang pedangnya. Sambil bersenyum manis, ia menghadapi lawan itu.
"Terima kasih locianpwe, kau telah mengalah padaku."
Katanya.
"Hm !"
Tok Mo memperdengarkan suara dinginnya. Nyata dia penasaran.
"Tangan kosong melawan pedang, kalah sejurus tak berarti apa-apa. Bagaimana kalau aku si orang tua hendak mencoba-coba menggunakan ilmu pedangku Thian Tan Kiam Hoat, guna melayani ilmu pedang kesohor dari Pay In Nia ? Bersediakah kau melayani aku beberapa jurus ?"
Kiauw In bersikap tawar ketika ia memberikan jawaban.
"Jika locianpwe hendak main-main pula, aku minta biarlah kau menggariskan beberapa aturan atau syarat !"
Tok Mo melengak.
"Eh, budak bau, ada apakah akal muslihatmu ?"
Tanyanya heran.
"Kau hendak menggariskan apa lagi ? Coba jelaskan, buat aku dengar."
Nona Cio melirik.
"Kita mengadu pedang, caranya jalan apa yang dinamakan sampai batas saling towel, cukuplah sudah !"
Sahutnya.
"Atau apakah locianpwe menghendaki ada bahaya jiwa ?"
Masih Tok Mo heran, hingga dia berdiam sejenak.
"Terserah pada kau !"
Ia bilang akhirnya. Kiauw In mengangguk.
"Baiklah kita tetapkan begini"
Katanya.
"Siapa menang, dia hidup ! Siapa kalah, dia mati ! Diantara kita tidak ada lagi berbelas kasihan !"
Tok Mo tertawa terkekeh.
"Baiklah !"
Sahutnya.
"Aku si tua tak takut padamu !"
Kiauw In bukannya jumawa, kalau toh ia menyebut caranya itu, inilah sebab keinginannya menyingkirkan Tok Mo yang ia percaya adalah seorang yang mengancam keselamatan dunia rimba persilatan.
Tok Mo pun telah mengambil keputusannya.
Kiauw In dari pihak lurus, tak nanti dia berlaku curang.
Sifat lawan itu membuatnya berkesan baik.
Tapi ia mau menjadi jago, pasti ia hendak mengambil orang menjadi muridnya, karenanya, karena gagal dia membujuk, terpaksa hendak ia merampas jiwa orang....
Tepat disaat kedua orang itu mau mengadu jiwa, mendadak Ya Bie menyela.
"Tahan !"
Teriaknya, suaranya nyaring bagaikan kelenengan. Kiauw In dan Tok Mo batal bergerak, sama-sama mereka mengawasi si nona.
"Cara kalian kurang tepat !"
Berkata Ya Bie.
"Umpama kata, ada bagiannya yang bocor !"
Tok Mo menjadi tidak puas.
"Budak bau !"
Bentaknya.
"apakah yang kau maksudkan itu ?"
Ya Bie mencibirkan mulutnya. Dia kocak sekali.
"Barusan ada dikatakan siapa menang dia hidup, siapa kalah dia mati !"
Katanya.
"Itulah kurang jelas ! Bagaimana kalau salah satu pihak gagal tetapi dia tak sampai dilukai ? Apakah dengan begitu si kalah nanti lantas membunuh dirinya sendiri ?"
Tok Mo melengak, lantas ia menatap Kiauw In.
"Budak bau, kau bilanglah !"
Katanya. Seenaknya saja Tok Mo suka mengucap "budak bau"
Nya ! "Siapa kalah jurusnya, dia kalah jiwanya !"
Sahut Kiauw In tanpa berpikir pula.
"Bagus !"
Berseru Tok Mo yang lantas menghunus pedangnya bersiap buat maju.
"Tenang, locianpwe !"
Ya Bie berseru pula.
"Locianpwe, aku belum bicara habis ! Buat apa tergesa-gesa tak karuan ?"
"Hmm !"
Tok Mo lagi-lagi memperdengarkan suara dinginnya mengejek. Terpaksa dia menunda menggerakkan pedangnya. Kata dia sengit.
"Eh budak liar, apa lagi tingkah polahmu ? Jangan kau membuat aku si tua habis sabar, nanti aku akan lebih dulu membekukmu !"
Kiauw In sebaliknya tertawa, ia menganggap nona itu jenaka.
"Adik yang baik, aku ingin omong apa lagi ?"
Tanyanya manis.
"Lekas kau bicara !"
Ya Bie membuka matanya lebar-lebar, ia menatap si bajingan.
"Aku tanya kau !"
Katanya tenang.
"Bagaimana andiakata kalian sama tangguhnya, tak ada yang kalah, seri saja ?"
Tok Mo berdiam, Kiauw In pun nampak melongo tetapi ia dapat menerka maksud yang sebenarnya dari Ya Bie ini.
Nona itu hendak memancing bangkitnya kemendongkolan atau kemarahannya si Bajingan yang bertabiat keras dan rada jumawa itu.
Maka itu iapun lantas menggunakan akalnya.
"Kau benar adik !"
Katanya tertawa. Terus dia menoleh kepada lawannya, untuk berkata.
"Di dalam hal ini aku minta sukalah locianpwe yang memberikan kepastian !"
Tok Mo menunjuk tampang tak sabaran, tetapi ia mesti membawa sikapnya secara jantan, maka dia tertawa lebar.
"Baiklah aku mengalah, budak bau, agar kaulah yang membuat keputusan !"
Katanya.
"Tak ingin aku orang nanti tertawakan dan mengatakan aku si tua menghina dan menindih si muda !"
Kiauw In lantas tunduk, untuk berpikir. Diam-diam ia saling melirik dengan Ya Bie. Lewat sesaat ia kata.
"Ah, aku juga tak dapat memikir cara yang baik......"
Tetapi lekas ia mengangkat kepalanya untuk berkata kepada Ya Bie.
"Adik yang baik, kau menyadarkan kami, kau tentu mempunyai jalan pemecahannya ! Adik, cobalah kau yang bicara !"
Ya Bie menoleh kepada Tok Mo.
"Kalau aku yang bicara, kau suka turut kata-kataku atau tidak ?"
Dia tanya.
"Bicaralah !"
Jawab Tok Mo tak sabaran, tangannya pun diulapkan.
"Lekas bicara !"
Nona itu maju satu tindak. Dengan jari tangannya yang lancip, dia menunjuk pada si Bajingan.
"Aku lihat ilmu pedang kalian sama-sama ilmu pedang kenamaan,"
Demikian katanya.
"maka itu menurut pandanganku, pastilah sudah kalian bakal seri, tak ada yang menang, tak ada yang kalah! Cumalah kau, locianpwe, sebab kau menang latihan, kau jadi menang diatas angin, jika kalian bertempur lama, dengan menghamburkan banyak waktu, akhirnya kakak ini yang tentu bakal kalah ! Nah, apa katamu, benar atau tidak perkataanku ini ?"
Hebat nona dari Cenglo Ciang ini. Tok Mo mengangguk.
"Benar benar !"
Sahutnya.
"Lekas bilang, bagaimana caramu ?"
"Dalam pertempuran mengadu pedang ini, orang harus berlaku adil."
Kata pula Ya Bie.
"Mengenai ini, aku mempunyai dua cara....."
"Lekas bilang, apakah itu !"
Desak Tok Mo.
"Yang pertama ialah,"
Menjelaskan si nona.
"kalau harus bertempur dalam batas lima puluh jurus, kalau kalian sama tangguhnya maka kaulah yang kalah, locianpwe dan karena itu kau harus loloskan semua senjata rahasia beracun yang berada di dalam tubuhmu terpaksa menggoyang ekor ngeloyor pergi."
Mendadak saja Ya Bie menghentikan kata-katanya, terus dia mengawasi tajam si Bajingan guna mendengar suara orang. Tok Mo menggeleng-geleng kepala.
"Kau bicara guna pihak sana, itulah tak dapat !"
Bilangnya. Ya Bie tertawa.
"Tapi cobalah kau pikir !"
Katanya.
"Kau seorang tingkat tua bertempur dengan seorang tingkat muda, tetapi si tingkat tua tidak mau mengalah barang sedikit jua, kalau orang mendengar, apakah si tua tak kuatir dia nanti ditertawakan ? Laginya kau bukannya diminta untuk sudi mengalah atau memberi muka sesudahnya satu pertempuran sungguhsungguh ! Andiakata kau merasa tidak unggulan, sudah saja baik pertempuran ini dibatalkan !"
Tok Mo mesti berpikir keras.
Tak dia menyangka Ya Bie tengah mengocoknya.
Dia lalu menimbang-nimbang, mustahil di dalam waktu dua atau tiga puluh jurus tak dapat dia mengalahkan nona itu.
Bukankah ilmu pedangnya Thian Tan Kiam Hoat.
"Lari ke Langit"
Lihai luar biasa ! Diakhirnya dia mengangguk dan kata.
"Baiklah, aku terima caramu ini ! Nah, bagaimana yang kedua itu ?"
Ya Bie tertawa.
"Yang kedua itu"
Katanya.
"kalau kakak ini kalah, dia akan menjadi muridmu. Sebaliknya, apabila kaulah yang kalah, kau harus menguntungkan sebelah tanganmu dan buat selamalamanya kau mesti keluar dari dunia Kang Ouw !"
Tok Mo berpikir keras.
Ia heran nona semuda itu tetapi pikirannya demikian bagus dan pandangannya demikian jauh.
Ia pula merasa si nona lihai sekali, caranya yang diajukan itu sangat hebat....
Tengah orang berpikir itu, Ya Bie sudah berkata pula.
"Orang ada demikian termashur di dalam dunia Kang Ouw, tetapi heran, di dalam urusan sekecil ini dia membawa sikapnya yang beragu-ragu seperti caranya nenek saja..... !"
Parasnya Tok Mo berubah pucat dan merah. Tapi tak dapat dia bergusar.
"Oh, budak liar yang licin !"
Katanya memaksa diri tertawa.
"Budak, aku si orang tua telah kena kau jual."
Mendengar suara orang itu, Kiauw In sengaja memasuki pedangnya ke dalam sarungnya terus ia kata pada Ya Bie.
"Adik, mari kita pergi ! Berbicara dengan orang semacam ini hanya membuang waktu ! Sungguh tak menggembirakan !"
Dan terus ia memutar tubuhnya buat berjalan pergi.......
"Tahan !"
Teriak si Bajingan agak bingung.
"Kiranya kalian berdua pandai sekali menggunakan lidah kalian ! Dengan cara kalian yang licik ini, kalian mau cari alasan buat kabur pergi !"
Kiauw In menoleh.
"Siapa yang mau kabur ?"
Bentaknya.
"Hunuslah senjatamu !"
Berkata begitu si nona sendiri sudah menghunus pula pedangnya. Wajah To Mo menjadi padam.
"Dua dua syaratmu itu aku si tua menerimanya !"
Katanya sengit.
"Hanya pada itu, pada yang pertama harus ditambahkan sepatah kata ! Ialah kalau sudah lima puluh jurus kita masih saja seri, itu harus ditambah menjadi seratus jurus sampai ada keputusan siapa menang siapa kalah !"
Dengan kata-kata ini, Tok Mo bermaksud mengandalkan usianya lebih tua atau latihannya terlebih lama. Ia memiliki latihan beberapa puluh tahun dan ia percaya lama-lama si nona akan kalah ulet.
"Baik !"
Kiauw In berseru selekasnya orang baru menutup mulutnya.
"Jangan kau menyesal nanti !"
Dan si nona dengan membawa pedangnya ke dadanya segera menikam langsung.
Tok Mo terperanjat.
Tak ia sangka si nona begitu bicara begitu menyerang.
Dengan agak repot, dia menggerakkan pedangnya menangkis tikaman itu.
Nona Cio berlaku cerdik.
Tikamannya itu gertakan belaka.
Baru menikam setengah jalan, ia sudah merubahnya.
Ia menunda setengah jalan, untuk terus menikam dari sisi dan begitu lekas jago tua itu menangkis pedang, kembali ia memutar gerakannya akan melanjutkan merabu !
Di dalam sekejap, Tok Mo lantas kena terkurung sinar pedang.
Dengan ilmu pedang Khie bun Patkwa Kiam, Kiauw In mendesak secara berantai.
Ia seperti tak hendak memberi kesempatankepada lawannya itu.
Selagi pedangnya bergerak bagaikan kilat berkeredepan tubuhnya mengikutinya bergerak dengan lincah sekali.
Tok Mo sudah lantas kena terkurung selama dua puluh jurus, dia dipaksa menjadi si pembela diri saja.
Pernah dia mencoba memperbaiki dirinya, dia tidak berhasil.
Di dalam hati dia kaget.
Maka dia mencoba terus agar dia bisa merubah keadaannya yang berbahaya itu.
Sebegitu jauh dia dapat menjaga diri, tetapi lama-lama ?
Lima jurus lagi telah lewat, si Bajingan tetap terkurung sinar pedang.
"Tiga puluh jurus !"
Ya Bie berseru di luar kalangan pertempuran.
Dia menonton tetapi dengan sendirinya dia mengangkat diri menjadi wasit dan selama menonton itu dia menghitung jurus demi jurus sampai kepada jurus yang ketiga puluh itu !
Seruan si nona mendatangkan kesan lain di dalam hatinya kedua orang yang lagi mengadu kepandaian itu.
Yang satu girang, yang lain berkuatir.
Dan yang berkuatir adalah si Bajingan, Celaka kalau dia yang kalah !
Kiauw In bertempur dengan mencampuri Khie bun Patkwa Kiam dengan ilmu silatnya Pat Pie Sin Kit, ilmu Hung Liong Hok Houw Ciang.
Selagi menikam ia suka menceling itu dengan pukulan tangan kosongnya.
Tak ada kesempatan yang ia lewatkan secara percuma.
Tok Mo tetap menggunakan hanya Tan Kiam serta Sam Hauw Liok Piau Ciang yang lihai, kalau tidak, tidak nanti dia sanggup bertahan sekian lama itu walapun dia sudah sangat terdesak.
Keuletan dan ketabahannya membuatnya berhati mantap seterusnya dia berlaku sangat waspada, awas dan gesit.
Tiba-tiba Kiauw In menikam lawan sambil ia membarengi menghajar bahu lawannya itu.
Ia mencari jalan darah thian coan si lawan.
Tok Mo merasai sambaran angin pada bahunya itu, bahu kanan.
Lekas-lekas dia berkelit tetapi dia sedikit terlambat, maka kagetlah dia tatkala dia merasai nyeri pada bahunya itu.
Tangannya si nona menowelnya seperti juga tangan itu serupa senjata tajam.
Dasar dia lihai dan telah berpengalaman, selagi dia terserang itu, mendadak dia melayangkan sebelah kakinya !
Ia membalas pukulan tangan dengan tendangan !
Kiauw In pun kaget.
Inilah diluar dugaannya.
Celakalah, ia pun sedang tanggung, mengegos tubuh sukar, menangkis sulit.
Syukur ia tabah, ia tak putus asa.
Ia sudah lantas menyerang, menebas iga lawan !
Inilah siasat terluka atau terbinasa bersama !
"Hm !"
Tok Mo memperdengarkan suaranya sambil dia berlompat mundur, menyingkir dari tebasan itu.
Dia mundur sejauh tiga tindak.
Asal dia lambat, pasti tajamnya pedang menyapanya !
Walaupun demikian, dua-duanya sama-sama mengeluarkan peluh dingin.
Itulah sebabnya si nona insyaf yang barusan ia telah menghadapi ancaman maut.
Kiauw In baru mundur atau sinar pedang berkelebat ke arahnya.
Itulah serangannya Tok Mo, yang begitu mundur begitu maju pula guna melakukan penyerangan, sebab dia hendak merebut kedudukan, supaya selanjutnya dialah yang menggantikan merabu lawan, untuk didesak dan dirobohkan.
Kiauw In menginsyafi bahaya.
Ia pun tahu, tak dapat lawan diberi ketika mendesak kepadanya.
Maka itu bertentangan dengan cara biasanya, ia bukannya berkelit dari tusukan maut itu, ia justru menangkis !
Hingga ia melawan kuat dengan kuat !
"Traaang !"
Begitu satu suara nyaring dari bentroknya kedua pedang !
Sebagai kesudahan dari beradunya kedua senjata, Kiauw In tertolak mundur tiga tindak, lalu dengan susah payah ia menahan tubuhnya untuk berdiri tetap.
Di pihak Tok Mo pun mundur, hanya cuma satu tindak, tetapi berbareng dengan itu dia merasai lengannya tergetar nyeri, hingga dia ketahui bahwa tenaganya si nona besar sekali.
"Tak kusangka budak ini bertenaga begini besar."
Kataya di dalam hati. Terus dia tertawa dingin dan kata.
"Bagus ilmu pedangmu ! Bagaimana, beranikah kau menyambut pula satu jurusku?"
Dan tanpa menanti jawaban lagi, dia maju menyerang !
Dia membacok !
Tak berani Kiauw In mengadu tenaga pula.
Tadi pun ia melakukannya saking terpaksa.
Kalau ia paksa melawan dengan keras, bisa-bisa ia terluka di dalam hati.
Maka itu gunanya ia menangkis.
Ia justru berkelit ke samping, untuk dari samping itu membalas dengan satu tebasan !
Tok Mo mengerti yang orang tidak mau mengadu tenaga dengannya, ia pun lekas memutar tubuh, tetapi ia bukannya berkelit, hanya ia menangkis tebasan itu.
Ia menggunakan tenaganya sebab ia pikir, tangkisannya pun sama hebatnya seperti bacokannya.
Kiauw In berlaku sangat cerdik.
Niatnya ia menebas tetapi selekasnya ia melihat lawan dapat bersiap menangkisnya, tebasan itu dijadikan gertakan belaka.
Dengan cepat ia menarik pulang, lalu dengan sama cepatnya ia menikam !
Itulah jurus "Anak Panah mencari Sasarannya".
Tok Mo terkejut, tengah ia menangkis tak dapat ia menggunakan pedangnya itu menangkis pula.
Terpaksa ia berlompat berkelit dengan cepat sekali, hingga ia bebas dari ancaman maut !
"Hebat"
Pikirnya.
Maka insyaflah ia akan lihainya ilmu pedang dari Pay In Nia.
Tentu sekali jago tua ini tidak mau mengalah.
Mengalah berarti ia bakal kehilangan muka.
Maka ia menggerakkan pula pelbagai jurus dari Thian Tan Kiam, ilmu pedangnya itu guna melayani si nona, buat mencari ketika akan memiliki keadaan agar ialah yang memegang pimpinan.
"Sudah empat puluh jurus !"
Ya Bie berseru pula sambil dia tertawa nyaring.
"Tinggal lagi sepuluh jurus ! Hendak aku lihat bagaimana lihainya Thian Tan Kiam mu itu !"
Kalau Thian Tan Kiam digunakan oleh si Bajingan dari empat puluh tahun yang lampau, tak nanti Kiauw In dapat bertahan lama, tetapi kali ini Tok Mo adalah si Bajingan palsu.
Maka juga, setelah kewalahan itu, dia lantas berkelahi dengan terus mengandal kekuatan tenaganya.
Dia terus-terusan berlaku keras !
Kiauw In sebaliknya mengandalkan keringanan tubuhnya, maka itu di sini terlihat kekerasan melayani kelunakan.
Namanya mereka ini pin bu, mengadu kekuatan untuk memastikan siapa menang, siapa kalah, kenyataannya sebaliknya.
Mereka ini mengadu kekuatan benar-benar bukan menang atau kalah mati !
Terus-terusan kedua pedang berkelebatan dan sinarnya berkilauan, dengan begitu lewat sudah lima puluh jurus, tetapi sebab syaratnya si Bajingan, pertandingan dilanjuti tanpa beristirahat lagi.
Tok Mo toh meminta seratus jurus dan seterusnya sampai ada keputusan siapa menang dan siapa kalah.
Dan Tok Mo pun terus menggunakan kekuatan tenaga lahirnya, dia melotot dengan bernoat membuat si nona akhirnya kehabisan tenaga dan letih karenanya...............
Lama-lama Ya Bie menjadi habis sabar, ia menganggap Tok Mo tidak memegang janji, dari menggoda saja, ia menjadi gusar.
Tak lagi ia mengeluarkan kata-kata bergurau atau mengejek, mendadak ia menghunus pedangnya dan lompat menikam !
Tapi kemarahan si nona justru mendatangkan keuntungan bagi Tok Mo.
Dia gusar dan mendongkol dan penasaran, tetapi dasar jago ulung, dia pun pandai berfikir.
Ada saatnya yang dia bisa berlaku sabar dan menggunakan otaknya yang jernih.
Diam-diam dia telah memancing pihak lawan, terhitung nona diluar medan pertempuran itu.
Selekasnya Ya Bie menyerang, Tok Mo berlompat mundur sejauh dua tindak.
"Hai !"
Teriaknya.
"hai, mengapa kau campur tangan ? Apakah kau hendak melanggar aturan pertempuran ini ?"
Ya Bie melotot.
"Siapakah yang tak memegang aturan ?"
Balasnya.
"Lima puluh jurus sudah lewat. Kalian tetap sama tangguhnya ! Apakah kau hendak menyangkal itu ?"
Tok Mo tertawa dingin.
"Budak bau, kau melupakan syarat tambahanku !"
Katanya.
"Toh telah aku jelaskan, habis lima puluh jurus harus ditambah lagi lima puluh jurus pula, sampai ada yang menang dan kalah !"
Kiauw In pun mendongkol.
"Adik yang baik !"
Ia menyela.
"Untuk melayani orang tak mempunyai kepercayaan ini, tak ada lain jalan daripada menguat rasa padanya supaya dia tahu diri !"
Ia terus mengawasi lawannya untuk kata .
"Kau menghendaki sampai saatnya menang atau kalah ! Apakah kau sangka nonamu takut ?"
Dalam mendongkolnya nona Cio segera menikam dengan jurus pedang "Cun Lui Keng Ciu"
Atau "Guntur Musim Semi Mengagetkan Kutu Serangga".
Pedangnya itu menikam dada untuk diteruskan menggores perut !
Tok Mo melihat datangnya serangan, dia menangkis dengan keras, membuat pedang si nona terpental balik, dilain pihak tangan kirinya merogoh ke sakunya, mengeluarkan "Giok Lauw Kip Ciauw", senjata rahasianya yang beracun hebat itu untuk dipakai menyerang pada saatnya sebentar.
Kiauw In mengulangi serangannya.
Ya Bie tidak, ia hanya berdiri menonton hingga ia menyukai hebatnya pertempuran, jauh terlebih hebat daripada yang semula tadi.
Ketika itu disaat tengah hari, kedua pedang bersiuran menyilaukan mata, anginnya juga mender hebat.
Ya Bie mengajak orang utannya mundur karena kuati kena pedang nyasar.
Sekonyong-konyong terdengar teriak nyaring merdu.
"Kena !"
Dan sinar pedang meluncur mirip bianglala ! Itulah serangan hebat dari Kiauw In yang melihat satu kesempatan ! Itulah jurus silat "Memisahkan Kupu-kupu Menikam Ikan"
Yang mengarah dada."
Kembali Tok Mo kaget.
Inilah serangan di luar terkaannya.
Sia-sia belaka dia mencoba menghindarkan diri, ujung pedang telah mengenakan juga bahunya hingga kulitnya pecah dan darahnya mengucur keluar !
Luka itu tidak berbahaya tetapi dia toh berdarah-darah.
Kiauw In tidak puas dengan hasilnya itu, ia meneruskan menikam lebih jauh.
Ia ingin menyingkirkan kutu busuk ini yang berbahaya buat dunia rimba persilatan.
Tok Mo gusar dan penasaran, ia menjadi nekat hingga ia bersedia buat mati bersama.
Demikian satu kali habis menangkis pedangnya si nona, pedangnya diputar buat dipakai meneruskan membalas menusuk lawan itu !
Ya Bie melihat ancaman bahaya bagi Kiauw In itu.
Ia kaget hingga tanpa terasa ia berseru.
Kiauw In berlompat mundur, tak urung bajunya kena telopak ujung pedang yang menggores sedikit kulitnya.
Selekasnya ia dapat berdiri tetap, ingin ia bicara kepada lawannya itu atau Tok Mo yang tak menghiraukan luka dibahunya sendiri sudah berlompat menyusul guna mengulangi serangannya.
Kali ini dia sekalian mengayun tangan kirinya melemparkan bubuk beracunnya hingga semacam uap tertiup angin terbang ke arah nona Cio, bubuk itu yang berwarna merah tua, dapat meluas tiga tombak disekitarnya.
Tak ampun lagi Kiauw In kena menyedot bubuk jahat itu.
Ia kaget dan ketahui yang ia telah terkena racun.
Ia masih ingat akan obatnya It Hiong tetapi di saat dia hendak merogoh sakunya buat mengeluarkan obat itu kepalanya sudah mendahului pusing dan matanya kegelapan, tidak waktu lagi tubuhnya terhuyung dan roboh tak sadarkan pula !
Tok Mo bersiul nyaring, pertanda dari kepuasan hatinya.
Selekasnya dia menyimpan obatnya, dia berjongkok akan memondong tubuhnya nona Cio, kemudian dengan tangannya yang lain dia menjemput tubuhnya Lek Hoat Jiu Long, akan akhirnya membuka tindakan kaki lebar buat berlompat masuk ke dalam rimba dimana ia mau melenyapkan diri.
Ya Bie kaget sekali ketika dia melihat asap luar biasa itu, lantas Kiauw In lenyap dari pandangan matanya.
Ia pun bingung sebab ia tidak berani menyerbu uap itu.
Meski begitu selang sesaat ia sempat melihat Tok Mo keluar dari alingan uap dan berlari pergi dengan tangan kanan dan kirinya memondong tubuh orang.
"Tua bangka beracun, kemana kau hendak lari ?"
Ia membentak sambil terus berlompat menyusul.
Si orang utan dengan berpekik beberapa kali lari menyusul nonanya itu.
Tok Mo menggunakan ilmu ringan tubuhnya yang lihai buat menyingkir dari si nona.
Dia tidak takut tetap dia segani ilmu gaib si nona, ilmu Hoan Kak Bie Ciu itu, maka juga ia pikir mengangkat kaki adalah terlebih baik buat ianya.
Ia lari turun bukit, ia tidak mengambil jalan besar hanya menuju ke arah rimba di bagian gunung sebelah barat daya.
Kedua pihak berlari-lari dengan keras sekali, yang satu kabur yang lain mengejar tetapi lama-lama Ya Bie kena ditinggal di belakang sejauh tiga puluh tombak.
Hebat ilmu lari cepat dari si Bajingan.
Saking kuatirnya Bajingan itu lenyap, Ya Bie kepada si orang utan sambil menitahkan "Lekas susul !"
Binatang itu sangat cerdas, dia membuka matanya, dia memekik beberapa kali, lantas dia lari keras buat menyusul Tok Mo.
Dia telah dilatih oleh Kip Hiat Hong Mo, dia pun bisa menaiki pohon dan gunung, dia ulet dan larinya keras.
Tok Mo licik dan cerdik, dia tidak hanya lari di jalan pegunungan, tetapi dengan ilmu ringan tubuh "Ciauw Siang Hai, Terbang di Atas Rumput", dia lari berlompatan diantara rumput semak dan pepohonan kecil.
Ketika itu dia sudah sampai ditengah puncak dan menoleh ke belakang, tampak olehnya Ya Bie terpisah jauh tujuh atau delapan puluh tombak dari ianya.
Hal ia membuat pikirannya tenang.
Lantas dia menikung ke suatu jalan kecil untuk berdiam disitu, guna meluruskan nafasnya.
Ia pun masih memikirkan bagaimana caranya supaya Ya Bie letih hingga tidak berdaya, dengan begitu barulah dia merasa puas.
Maka adalah tidak disangkasangka tahu-tahu dia telah disusul si orang utan, tetapi binatang itu sangat cerdik.
Si orang utan tidak segera muncul di depan orang yang disusulnya itu, hanya menyembunyikan diri di tempat lebat kira dua tombak terpisahnya.
Diam-diam dia memasang mata.
Tok Mo beristirahat sambil terus mengawasi Ya Bie, yang ia hendak ajar adat.
Sengaja ia menantikan sekian lama.
Pikirnya, setelah Ya Bie datang dekat baru dia mau lari pula.
Kalau Ya Bie mengejar terus, nona itu bakal letih luar biasa, tenaganya akan habis sebab dia tak pernah beristirahat sama sekali.
Ia melihat Ya Bie ketinggalan masih jauh, ia meletakkan tubuhnya orang yang ia bawa lari itu.
Dengan jailnya, ia perdengarkan tawa dinginnya beberapa kali, supaya Ya Bie dapat mendengar dan menyusulnya ke situ.
Tepat Tok Mo sedang kegirangan itu sebab dia menerka Ya Bie bakal dapat dipermainkan, mendadak dia menjadi kaget sekali.
Dari belakangnya orang telah menikam padanya, walaupun dia lihai, dia toh tidak mendapat tahu sampai orang telah menyekek belakang lehernya sampai dia sukar bernafas dan peluhnya lantas saja mengucur keluar !
Dalam kagetnya dan sukar bernafas itu, Tok Mo toh masih ingat buat membebaskan diri, maka dengan tangan kanannya dia menghajar ke belakang atau mendadak dia merasa jalan darah thian-cut dikerongkongannya kena tercekek keras, tubuhnya terus bergemetar dan menggigil, terus tubuhnya roboh tak sadarkan diri !
Si orang utan tak berhenti sampai disitu.
Setelah berhasil dengan membokong dan merobohkan si Bajingan, dia pun maju, guna menjambret dada orang, untuk ditinju dengan keras, menyusul mana, dia merobek baju orang.
Saking girang dan puas, dia terus berPekik nyaring berulang kali.
Selagi tertawa itu, si orang utan mendapat lihat tubuhnya Kiauw In yang rebah tak berkutik ditanah.
Lantas dia lari menghampiri, dia angkat tubuh itu lalu dia bawa lari ke arah di jurusan mana Ya Bie tengah lari mendatangi.
Rupanya dia hendak memapaki nonanya itu.
Ketika Ya Bie lari mendekati binatang piaraannya kira sepuluh tombak lagi, ia melihat binatangnya itu telah berhasil merampas Kiauw In.
Dia girang sekali.
Apa yang membuatnya kuatir yaitu masih belum dapat diketahui bagaimana dengan nona Cio, jiwanya telah melayang atau tidak.....
Hanya sesaat kemudian, orang utan dan nonanya sudah datang dekat satu dengan lain.
Ya Bie girang, dia memberi isyarat kepada So Hua Cian Li, atas mana si orang utan menyerahkan nona yang dia berhasil merampas dari Tok Mo itu.
Ia berPekik-Pekik pula dan berjingkrakan, girangnya bukan buatan.
Ya Bie lantas menerima tubuh si nona Cio.
Lega hatinya apabila mendapati nona itu tidak terluka, kecuali dia tetap tak sadarkan diri.
Setelah itu ia bingung juga sebab tak tahu ia caranya untuk membuat Kiauw In siuman.
Ia tidak mempunyai obat buat menyadarkan orang dari gangguan bubuk beracun.
Maka itu selagi memondong si nona, ia berdiam saja, mengawasinya itu.
Ia berduka hingga sepasang alisnya berkerenyit.
Sementara itu kira semakanan nasi lamanya, Tok Mo telah sadar sendiri dari pingsannya itu.
Itulah karena tanpa tercekek lagi, nafasnya perlahan-lahan mulai berjalan pula dan ia lekas pulih.
Nyeri pada kerongkongannya itu pun lenyap seketika.
Setelah siuman dan ingat segala apa, lantas ia mendapati orang tawanannya Kiauw In telah lenyap.
Ia terkejut dan mendongkol.
Ia panas hati kapan ia ingat yang orang telah membokongnya dan orang tawanannya itu dirampas.
"Aku mesti bekuk binatang jahat itu !"
Katanya sengit.
"Akan aku besut kulitnya !"
Tiba-tiba jago tua ini mendapat dengar suara Pekikan orang utan, lantas ia lari ke sebelah depan, untuk melihat.
Maka ia mau dapatkan di kaki puncak, si orang utan lagi berlompatan dan Ya Bie tengah memondong Kiauw In orang tawanannya itu.
"Bagus !"
Katanya dalam hati.
Ia girang yang orang tak pergi menghilang.
Maka ia berlompat turun, guna lari kepada nona itu.
Ya Bie bingung tetapi dia tak kelelap dalam kebingungan, maka juga ia mendapat lihat ketika Tok Mo tengah lari mendatangi ke arahnya !
Ia tahu yang ia tidak dapat melawan si Bajingan.
Syukur ia tidak menjadi putus asa.
Tiba-tiba ia ingat satu akal.
Dengan ilmunya, ia membuat sebuah batu didekatnya berubah menjadi Kiauw In.
Ia sendiri lantas kabur bersama nona yang masih pingsan itu, sedangkan binatangnya lari menyusul.
Ia lari mendakii bukit.
Tok Mo lari turun terus.
Beberapa kali ia teraling pepohonan, maka ia tidak dapat melihat Ya Bie menghilang.
Waktu ia sudah sampai di tempat Ya Bie tadi, nona itu dan orang utannya tidak ada, ada juga Kiauw In yang lagi rebah tak bergerak.
Hatinya lega juga sedikit.
Lekas-lekas ia menjemput Kiauw In untuk dipondong pula.
"Kau budak"
Katanya seorang diri.
"Sekarang baru kau tahu lihainya aku si orang tua ! Kau cerdas, kau kabur dengan meninggalkan kawanmu ini tetapi berhati-hatilah, kau akan aku tak lepaskan kamu berdua !"
Selagi berkata begitu di depannya si Bajingan berkelebat dua bayangan orang mendaki bukut, waktu ia mengawasi, ia mengenali Ya Bie dan orang utannya.
Tiba-tiba ia tertawa dingin, menandakan hatinya mendongkol puas.
Mendongkol sebab orang kabur dan puas karena ia melihat orang sedang lari itu.
Baru saja si Bajingan mau lari menyusul atau ia merasa heran sebab tubuhnya Kiauw In terasa dingin dan bentuknya pun rasanya lain.
Ia tunduk akan melihat atau ia kaget dan tercengang.
Itu bukannya Kiauw In, hanya sebuah batu besar !
"Ah, aku diperdayakan !"
Seraya menyesal, ia lemparkan batu itu ke bawah bukit.
Menyesal dan gusar Tok Mo masih dapat mengendalikan diri.
Ia pungut Lek Hoat Jiu Long untuk dipondong buat dibawa lari ke arah mana Ya Bie menyingkir.
Ia hendak menyusul nona itu, maka ia mesti menahan sabar.
Sayang bagi Ya Bie dalam ilmu ringan tubuh, dia kalah jauh dari Tok Mo.
Ia pun memondong Kiauw In, hingga larinya bertambah kendor.
Tapi ia cerdik, selekasnya ia mendapat tahu dan masuk masuk ke dalam rimba lebat.
Rimba itu, ditengah-tengahnya ada sebuah kali kecil, yang lebarnya sepuluh tombak lebih.
Ketika Ya Bie tiba ditepi kali, ia sudah bermandikan keringat dan nafasnya memburu.
Ia melihat air kali bersih sekali.
Si orang utan dapat mengikuti nonanya, di sisi si nona, berulang kali ia memperdengarkan suaranya, tangannya menunjuk ke belakang !
Ya Bie tahu ia diberi bisikan bahwa ada orang mengejarnya.
Ketika itu ia mendapati matahari sudah turun jauh ke barat.
Sudah mendekati magrib.
Ia bingung juga.
Bagaimana ia harus menyingkir lebih jauh.
Kiauw In terus tak sadar.
Itulah berabe dan berbahaya buat nona itu.
Ia tidak tahu tubuhnya si nona ada obat yang mujarab.
Di sana Tok Mo lari mendatangi semakin dekat.
So Hun Cian Li kembali berbunyi tak hentinya dan tangannya terus menunjuk ke arah Tok Mo.
Jilid 46 Dalam bingungnya, Ya Bie lari di sepanjang kali itu.
Tidak ada jalanan disitu, batu berserakan, rumput dan pohon duri berimbunan.
Hanya syukur rintangan itu tidak berarti bagi si nona, yang biasa hidup ditanah pegunungan dan sering berkeliaran.
Walau demikian, waktu dia sudah lari lima lie, Tok Mo menyusul makin dekat.........
Mulanya si nona takut sekali yang ia nanti dikejar tetapi sekarang rasa takutnya itu lenyap dan sebaliknya diganti rasa jemunya.
Ia membenci orang jahat.
Bahkan ia bertekad bulat akan membantu Kiauw In, walaupun ia harus adu jiwa !
"Pergi kau kabur lebih dulu !"
Ia kata pada si orang utan kepada siapa ia menyerahkan Kiauw In untuk dibawa kabur kemudian ia menghunus pedangnya untuk terus lari balik guna memapaki Tok Mo !
Kapan Ya Bie telah melihat tegas kepada Tok Mo, ia mendapati si Bajingan tak lagi membawa-bawa Lek Hoat Jiu Long.
Mungkin si tangan buntung itu telah disembunyikan di salah sebuah gua supaya si Bajingan leluasa bergerak.
Tok Mo heran menyaksikan Ya Bie datang dengan tampang mukanya si nona merah karena marah, ia sampai melengak.
Ia pun mendapat kenyataan nona itu tidak lagi memondong Kiauw In serta orang utannya lenyap bersama.
Ia menanti hingga tinggal tiga timbak dan nona itu berhenti berlari untuk menghadapi orang seraya terus menegur.
"He, budak liar ! Rupanya kau mengendali ilmunya Kip Hiat Hong Mo si siluman bangkotan maka kau berani berlaku kurang ajar begitu rupa terhadapku !"
"Kaulah yang kurang ajar !"
Ya Bie membentak gusar.
"Kenapa kau mengejar-ngejar aku dan sekarang kau berani menghina guruku ?"
Begitu suara berhenti, si nona lantas menikam ! Tok Mo berkelit. Dia tak segera membalas menyerang.
"Mana budak piaraanmu itu ?"
Tanya dia perlahan.
"Kau taruh dia dimanakah ?"
"Di sana !"
Sahut Ya Bie, suaranya keras dan tajam dan tangannya pun menunjuk ke tepi kali.
Tok Mo menoleh ke arah yang ditunjuk itu.
Dia melihat sesuatu yang meringkuk seperti rumput di pinggir kali.
Muka atau kepala orang tak tampak sebab tubuh itu menungging.
Ia melihat orang seperti tubuhnya Kiauw In.
Maka lantas saja ia bertindak ke sana.
Tapi baru satu langkah, ia sudah membatalkannya.
Si Bajingan mendadak ingat Ya Bie sedang menggunakan Hoan kak Bie Ciu, ilmu silumannya itu.
Maka itu ia terus menatap si nona, lalu dengan suara dingin, dia berkata pada nona itu.
"Ilmu gaibmu itu jangan kau pertunjukan pula di hadapanku, cuma-cuma kau bakal mempertontonkan keburukanmu !"
Dan dia tertawa terbahak-bahak. Ya Bie polos, kurang berpengalaman. Dia menunjuki tampang heran, dia mengawasi si Bajingan itu, siapa sebaliknya menatap muka orang untuk menerka hatinya.
"Hm ! Hm !"
Tok Mo mengasih dengar pula suaranya yang dingin.
"Jangan kau mempermainkan pula padaku ! Awas, akan aku membuat dan menderita hingga nanti mau mati kau tak dapat, mau hidup kau tak bisa. Lihat siapa nanti yang akan menolongmu."
Tanpa menanti orang membuka mulutnya, ia menambahkan pula.
"Mana dia bocah she Cio itu ? Kau mau beritahu aku atau tidak ?"
Di mulut Tok Mo mengatakan demikian, sebaliknya terus bekerja. Dia memukul ke arah yang lagi rebah melingkar itu. Itulah pukulan tangan "Udara Kosong."
Walaupun terserang hajaran, tubuh itu tak bergeming.
Cuma rumputnya saja yang rebah bangun.
Melihat itu, si penyerang heran.
Dia mengawasi tajam.
Dia mau percaya mungkin itu benar tubuhnya si nona.....
Ya Bie mengawasi saja gerak gerik orang, otaknya pun bekerja.
Selagi si Bajingan itu nampak ragu-ragu, ia tertawa tawar dan kata dengan nada mengancam.
""Kalau kau membinasakan kau, apakah kau tidak takut guru nanti mencari kau buat minta ganti jiwa ?"
Kata-kata itu sederhana tetapi hatinya Tok Mo goncang.
Dia jeri.
Apakah yang sebenarnya dalam hal ini ?
Kiranya To Mo ini si Bajingan adalah si Bajingan yang palsu.
Sebetulnya dialah Couw Kong Put Lo, yang tengah memahami kitab kewanitaan So Lie Kang yang tinggalnya di dekat Cianglo ciang.
Selama dilembah Goh Cit Kok pernah dia merasai tangannya Kip Hiat Hong Mo hingga hampir jiwanya melayang.
Sedangkan Tok Mo yang satu lagi yang merampas Gak Hong Kun di rimba dekat Khotiam cun dari hadapannya Hong Gwa Sam Mo serta Ya Bie, dia juga Tok Mo palsu.
Sebab dialah Kim Lam It Tok.
Hanya Ya Bie sendiri yang tak dapat membedakan yang mana Tok Mo yang palsu dan asli.
Tak berani Tok Mo palsu ini mencelakai Ya Bie, dia cuma ingin mendapatkan Kiauw In sebagai muridnya, sedangkan kecantikannya nona Cio membuat hatinya goncang.
Tapi dia terus membawa aksinya.
"Gurumu berkepandaian apa maka kau gunakan dia buat menggertak aku ?"
Demikian katanya sambil tertawa tawar.
"Sudah jangan kau sebutkan gurumu itu ! Baik aku jelaskan kepada kau tentang tabiatku. Aku lemah menghadapi yang lunak dan kokoh berhadapan dengan yang keras ! Kau baikbaiklah, serahkan budak she Cio itu padaku, akan aku bebaskan sehelai nyawamu !"
Tapi Ya Bie menjadi gusar.
"Siapa takut padamu ?"
Bentaknya.
Ia maju pula dengan tebasannya.
Tok Mo menangkis.
Kembali dia tak membalas.
Ya Bie menjadi berpikir.
Ia pun ingat kepada Kiauw In.
Bukankah Tok Mo menggunakan racun ?
Pasti dia mempunyai obat pemunah racunnya !
Maka itu perlu ia mendapatkan obat guna membantu Nona Cio.
Apa jalannya ?
Tiba-tiba ia mendapat akal.
"Kau lihat kakakku yang tidak sadarkan diri itu !"
Katanya kemudian pada si Bajingan.
"Baik kau berikan obat padaku, untuk aku menyadarkan dia, nanti sesudah dia siuman akan aku bujuki dia supaya dia suka menjadi muridmu !"
Tok Mo melihat ke sekitarnya.
Sang magrib tengah mendatangi.
Maka pikirnya, tak dapat dia melayani nona ini yang cuma akan membuang-buang waktu saja.
Lantas dia merogoh sakunya dan mengeluarkan obatnya.
Hanya sesaat dia bersangsi.
Bagaimana kalau nona ini mengakalinya ?
Maka dia mengulapkan obatnya itu.
"Inilah obat itu !"
Katanya.
"Bagaimana dengan kau, bicara benar-benar atau tidak ?' "Siapa menipu ?"
Sahut si nona yang justru mau memperdayai si Bajingan.
"Mari serahkan obatmu itu padaku, lalu kau bawa nona itu kemari !"
"Jika aku si orang tua tak memberikan obat ?"
Tanya pula si Bajingan.
"Kau tak dapat menyentuh tubuhnya !"
Kata Ya Bie keras.
Karena berbareng dengan itu ia menggunakan ilmunya, Hoan Kak Bie Ciu buat membikin kacau pikirannya Bajingan itu.
Hatinya Tok Mo goncang.
Ia berpaling ke arah Kiauw In.
Ia bertindak ke arah Ya Bie.
Di saat itu, lenyaplah keraguraguannya.
Ia membuka peles obatnya dan mengeluarkan dua butir yang ia serahkan pada si nona, habis itu ia simpan pula pelesnya.
"Jika kau main gila terhadapku,"
Katanya mengancam si nona.
"jangan kau sesalkan bila aku berlaku telengas terhadapmu !"
Lantas ia memutar tubuhnya buat lari ke tepi kali, untuk menghampiri tubuh yang dikatakan tubuhnya Kiauw In itu.
Segera ia mengangkatnya.
Tepat itu waktu Ya Bie menggerakkan tangannya menyerang ke arah si Bajingan.
Dia menggunakan pukulan Udara Kosong menghajar punggung orang yang dia niat merobohkannya kecemplung ke dalam kali !
Di saat Tok Mo mengangkat tubuhnya "Kiauw In", Ya Bie bekerja lebih jauh.
Dia menggunakan ilmu Sin Kut Kang membuat tubuhnya menjadi ringkas, hingga ia mirip seorang bocah umur lima atau enam tahun sesudah mana dia mengerahkan tenaga dalamnya untuk lompat tinggi dua tombak, lompat lurus ke tepi yang lain dari kali itu !
Tok Mo sendiri terkejut, selekasnya dia mengangkat tubuhnya Kiauw In.
Tubuh itu menjadi keras dan berat sekali.
Selekasnya dia mengawasi, dia menjadi kaget berbareng gusar.
Itulah bukan tubuh manusia, hanya sebuah batu besar !
Tentu sekali dia menjadi sangat gusar, sebab ternyata dia telah diakali pula.
Justru dia bergusar itu, tibalah serangan angin dari si nona.
Dia kaget tapi tak berdaya, tubuhnya segera tertolak keras tercemplung di dalam kali !
Segera terdengarlah satu suaa nyaring dan air bermuncratan tinggi.
Ya Bie sendiri telah tiba di lain tepi, nafasnya memburu sebab dia berlompat dengan sekuat tenaganya.
Dia mendengar suaranya air nyaring itu serta melihat air muncrat naik, dia girang sekali.
Itu artinya Tok Mo sudah tercebur.
Lebih girang pula ialah dia telah berhasil mengakali obat orang.
Lantas dia melepaskan Sin Kut Kang, hingga tubuhnya menjadi besar seperti biasa.
Lebih dahulu ia periksa obat, ia mencium baunya, terus ia membungkus dengan sapu tangannya, disimpan di dalam sakunya.
Akhirnya ia lari ke tempat kemana si orang utan membawa Kiauw In.
Tok Mo sementara itu tidak mati kelelap di dalam kali.
Dia bisa berenang, maka dia cuma kaget dan pakaiannya kuyup.
Dia menyesal dan gusar dengan berbareng.
Dengan berenang dia menyampaikan tepian, untuk merayap naik.
Batu yang dia peluki, dia telah lepaskan, dibiarkan tenggelam di dalam kali.
Ketika dia memandang ke atas dia melihat satu bayangan orang.
Dia menerka itulah Ya Bie si cerdik.
Dia menggertak gigi dan lalu bersiul nyaring sekali guna melampiaskan penasarannya !
Sementara itu tadi, So Hun Cian Li sudah berlari-lari ke hulu sungai.
Dia mengikuti tepian.
Dia menjalankan perintah nonanya membawa lari nona Cio.
Dengan cepat dia tiba di hulu sungai, tempat sumbernya.
Di situ air dangkal dan batubatu besar berserabutan.
Dia berhenti disitu akan menantikan nonanya.
Tanpa terasa sang sore telah tiba.
Duduk di tepi jalan, si orang utan menanti tetapi dia telah terduduk sekian lama, tak juga nonanya muncul.
Dia menjadi heran terus dia berPekik berulang-ulang.
Kalau nonanya mendengar suaranya itu dia tentu akan dihampiri.
Belum lama si orang dikejutkan satu suara perlahan di depannya, waktu ia mengawasi, kiranya itulah setangkai buah yang baru jatuh !
Buah itu sebesar jari tangan.
Melihat itu ia mengilar sekali.
Tetapi ia lagi bertugas melindungi nona Cio, tidak berani ia memungut buah itu untuk memakannya.
Tak lama jatuh pula tangkai buah yang lainnya.
Buahnya selipat ganda besar dari buah yang pertama itu.
Orang utan itu mengawasi.
Tampaknya dia sangat mengilar.
Dia menoleh ke arah darimana dia datang tadi, tetap dia tidak melihat Ya Bie, nonanya.
Dia heran.
Dia menoleh pula melihat kedua buah, lantas dia tak sanggup bertahan lagi dari keinginannya memakannya.
Maka ia meletakkan Kiauw In ditanah dan lompat kepada buah itu.
Dia menjemput dan membawa buah itu ke hidungnya, untuk dicium atau dia melemparkannya pula.
Dia pun lompat minggir.
Sunyi suasana disekitar situ.
Si orang utan melihat kelilingan.
Tetapi Ya Bie tak kelihatan.
Maka ia menoleh ke arah buah, lalu maju menghampiri, buat menjemputnya.
Kali ini tak sangsi pula, dia makan buah itu.
Selekasnya habis buah itu, dia lompat akan menjemput buah yang kedua.
Kali ini dia tak lompat mundur pula, dia terus makan itu.
Boleh dibilang baru habis buah yang kedua itu, jatuh pula yang ketiga.
Tanpa sungkan-sungkan, si orang utan pungut buah itu.
Lalu terjadilah lakon buah jatuh dan tak hentinya si orang utan memungut dan memakannya.
Dengan begitu tanpa merasa, dia telah meninggalkan Nona Kiauw In yang tetap rebah tak sadarkan diri itu.
Dia menghampiri dan menjemput buah tanpa lompat mundur pula.
Itulah sebabnya kenapa dia jadi terpisah dari nona Cio.
Baru kemudian, tanpa merasa dia telah menyeberangi kali dangkal itu dan tiba di tepi lainnya terus ke dalam rimba !
Justru di depannya Kiauw In yang tengah rebah pingsan itu muncul seorang wanita tua, yang tangannya memegang tongkat.
Dengan mata bersinar, nenek itu mengawasi si nona, terus dia tertawa tawar dan kata seorang diri.
"Dasar aku si tua besar rejeki, aku dapat pula satu bahan yang berbakat buat dijadikan muridku !"
Terus si nenek membungkuk dan mengulur sebelah tangannya, yang taruh di depan hidung si nona, untuk merasai hembusan nafas, setelah mana ia pun meraba nadinya nona itu.
Kemudian ia menatap muka orang, lalu pakaiannya, akan akhirnya mengawasi pedang di bahu si nona.
Untuk sejenak, nenek ini memperlihatkan wajah seram, terus dia menengadah langit dan tertawa dingin, lalau dia kata pula seorang diri.
"Rupanya nona ini muridnya si rahib tua she Cio dari Pay In Nia, baik aku bawa pulang. Inilah kebetulan sebab beberapa hari yang lalu, aku telah rampas si bocah she Tio dari tangannya Tok Mo dan dia pun murid Pay In Nia ! Dua-dua anak itu berada ditanganku, dengan begitu aku akan membuat malu pada si Cio imam tua, guna membalas sakit hati tusukan pedangnya dahulu hari !"
Nenek itu ialah Im Ciu It Mo, orang yang merampas Gak Hong Kun si It Hiong palsu.
Dia tertawa pula dengan girangnya.
Kemudian dari sakunya dia mengeluarkan sebutir obat pemunah racun, yang dia masukkan ke dalam mulutnya Kiauw In sambil dia berkata.
"Entah siapa yang dapat mempelajari ilmu meracuninya Tok Mo dan dia melakukannya terhadap anak muda. Hm, segala api kunang-kunang !"
Si nenek terus berdiam.
Sambil mengawasi nona, ia menantikan bekerjanya obatnya.
Lewat sekian lama, Kiauw In siuman.
Ia bergerak untuk terus bangun berduduk.
Ketika ia membuka mata, ia melihat si nenek di depannya.
"Kau terkena racun, nona."
Si nenek lantas berkata.
"Sekian lama kau tinggal tak sadarkan diri. Siapakah yang telah meracunimu ?"
Kiauw In melegaka hatinya dengan menggerakkan kedua tanganya, untuk diulurkan diluruskan.
Setelah itu ia mengawasi si nenek.
Ia melihat sinar mata orang serta wajah yang seram, lantas ia menerka yang ia kembali bertemu dengan orang kaum sesat.
Sendirinya, hatinya mengggigil.
Tapi menduga si neneklah yang menolong menyadarkanya, ia lantas memberi hormat sambil berkata.
"Boanpwe bertemu Tok Mo ditengah jalan, dia merobohkan dengan racunnya. Terima kasih yang locianpwe berprihatin terhadapku. Locianpwe, siapakah yang telah membantu aku ?"
Si nenek tertawa dingin.
"Tok Mo !"
Katanya.
"Bajingan tak tahu malu !"
Hanya sedetik, dia menambahkan.
"Obat Ceng Liang San buatanku dapat memunahkan racun apa juga dan dalam waktu yang singkat sekali !"
Itulah jawaban yang tak langsung terhadap pertanyaan si nona. Kiauw In cerdas, dapat ia menerka maksud orang itu. Kembali ia memberi hormat, kali ini untuk mengucap terima kasih.
"Nona, kau terkena racun hebat, mungkin racun di dalam tubuhmu tidak segera musnah seluruhnya."
Kata si nenek.
"Dan itu berbahaya buat hari depanmu, karena itu, supaya aku tak menolong kepalang tangggung, maukah kau makan sebutir lagi ?"
Ia lantas merogoh sakunya dan mengeluarkan sebutir pil merah dadu yang ia terus angsurkan kepada si nona.
Diam-diam Kiauw In mengatur pernafasannya.
Ia merasa sehat seluruhnya.
Karena itu ia mengangsurkan kembali obat itu sambil ia kata.
"Terima kasih locianpwe. Aku merasa tubuhku sudah sehat seluruhnya, karenanya tak berani aku makan obat locianpwe ini."
Si nenek mengawasi.
Diam-diam dia memuji kecerdasan orang.
Sebenarnya dia memberikan obat guna melemahkan urat syaraf si nona, agar dia lupa ingatan, supaya dia dapat dijadikan murid.
Dia berbuat begini karena dia tahu pasti, di dalam keadaan sehat, tak nanti Kiauw In sudi menjadi muridnya.
"Sebutir obat tak berarti apa-apa !"
Katanya tertawa.
"Kalau kau makan ini, nona, besar faedahnya untuk kesehatanmu. Baiklah kau jangan sungkan."
Kiauw In bersangsi. Tak ada alasan buat ia menampik terus, maka terpaksa ia menyambuti pula obat itu dan terus menelannya.
"Hahaha !"
It Mo tertawa saking riang dan puas hatinya.
"Nah, nona kalau kau tidak menyela tempatku yang buruk, maukah kau turut aku untuk bermalam di sana ? Setelah terang tanah kau boleh pergi."
Lantas si nenek mengulur tangannya buat memegang tangan si nona, guna dituntun.
Di dalam waktu yang singkat itu, Kiauw In tetap sadar.
Ia menyingkirkan tangannya sambil ia mundur dua tindak.
Nenek itu heran yang ia tak dapat mencekal tangan orang.
Ia insyaf itulah disebabkan si nona lihai ilmu silatnya.
Tetapi ia berpura wajar, maka ia kata.
"Baiklah nona, kalau kau kuatir tempatku buruk. Nah, kau pergilah !"
Dengan membawa tongkatnya, nenek itu memutar tubuhnya dan berjalan dengan perlahan-lahan. Kiauw In merasa tak enak hati. Ia mengenal budi dan orang telah menolongnya.
"Tunggu, locianpwe"
Katanya seraya ia bertindak menghampiri.
"Locianpwe, dapatkah aku yang muda mengetahui nama atau gelaran mulia dari cianpwe ?"
Im Ciu It Mo berpaling dan berdiri diam.
"Tak usah tergesagesa, sanak."
Katanya.
"Kelak di belakang hari kau akan ketahui namaku."
"Locianpwe."
Kiauw In tanya pula.
"ketika tadi Locianpwe tiba disini apakah Locianpwe melihat seorang nona bersama seekor orang utan ?"
"Orang utan ?"
Nenek itu menjawab.
"Dia lari ke dalam rimba sana dimana dia mencari makan. Tentang anak perempuan, tak aku melihatnya."
Hatinya Kiauw In bercekat. Ia kuatir Ya Bie terbinasa ditangannya Tok Mo sebab nona itu mau membantunya. Maka ia kata.
"Locianpwe, hendak aku mencari adikku itu. Sampai jumpa pula !"
Terus ia memutar tubuh dan berlalu. Im Ciu It Mo mengawasi sambil menyeringai.
"Hendak aku lihat, berapa jauh kau dapat pergi."
Katanya.
Kiauw In baru berjalan sepuluh tombak lebih tatkala ia merasai panas dalam tubuhnya.
Ia terkejut dan heran.
Matanya segera berkunang-kunang, penglihatannya kabur dan kepalanya pun pusing, bumi bagaikan berputar.
Lekas-lekas dia menjatuhkan diri untuk berduduk buat lantas mengatur pernafasannya.
Selama itu ia masih ingat segala apa, hingga ia lantas menerka apa mungkin tubuhnya belum bebas dari sisa racun........
Sama sekali ia tidak menyangka jelek pada si nenek penolong.
Hanya sesaat kemudian, pikirannya mulai lemah, meskipun ia bisa berpikir tetapi tak dapat ia mengingat sesuatu yang ia pikir itu.
Matanya pun berkunangan semakin hebat.
Diakhirnya habis sudah tenaga berpikirnya.
Maka ia duduk diam bagaikan patung.
Tak lama maka terdengarlah suara bentrokannya tongkat kepada tanah.
Itulah Im Ciu It Mo yang telah tiba.
Dia menghampiri si nona.
Dan mengawasinya seketika.
Terus ia tertawa terkekeh.
Kemudian lagi dia menarik tangannya si nona itu sambil berkata.
"Mari turut aku !"
Kiauw In tetap berdiam saja, ia jinak bagaikan kambing. Karena ditarik ia bangun berdiri. Si nenek tertawa pula dan kata.
"Seorang terhormat tak akan melakukan sesuatu yang gelap, maka itu aku si wanita tua, setelah aku merampas murid orang, perlu aku meninggalkan tanda peringatan........"
Menyusul kata-katanya itu, Im Ciu It Mo menekan pesawat rahasia pada gagang tongkatnya.
Lantas melesat sesuatu tinggi setombak lebih terus jatuh ke tanah hingga menerbitkan suara.
Inilah lambang peringatannya yang dia namakan "Pie Hoat Kwie Lian Kim Pay"
Atau pay atau lencana emas "Muka Bajingan dengan Rambut Riap-riapan".
Demikian Kiauw In dibawa si nenek, lenyap daLam Sang gelap petang.
Belum lama perginya si nenek, Ya Bie muncul bersama orang utannya, yang ia berhasil mencarinya.
Nona ini sia-sia saja mencari Nona Cio.
Adalah si orang utan yang berPekik tak hentinya dan kemudian pergi ke tempat dimana Kiauw In diletakinya.
Disini dia menoleh kepada nonanya dan menggerak-geraki kedua tangannya.
Ya Bie bingung sekali.
Kiauw In adalah kenalan baru tetapi kesannya terhadap nona itu mendalam sekali.
Ia berdiri diam mengawasi gerak gerik binatang piarannya itu.
Si orang utan mencium batu, tanah dan rumput dimana Kiauw rebah dan duduk, terus dia berjalan mengikuti jalan yang dilalui Im Ciut It Mo dan Kiauw In.
Hanya selang beberapa puluh tombak, segera dia kembali.
Dia mencari terus disekitar situ sampai mendadak berlompat dan tangannya lantas mencekal kimpay, lencana emas yang ditinggalkan si Bajingan wanita tua.
Dia lari membawa itu kepada nonanya.
Ya Bie menyambuti lencana itu, yang bersinar di cahayanya air kali.
Ia mendapati ukiran yang merupakan sebuah muka bengis seperti bajingan yang rambutnya terlepas dan terurai.
Lencana itu tidak ada hurufnya.
Tak dapat Ya Bie menerka benda itu berarti apa atau siapa pemiliknya, ia membulak baliknya dengan sia-sia belaka.
Karena ia tetap tidak berdaya mencari tahu, kimpay itu ia memasuiki ke dalam sakunya.
Di saat itu, mendadak si nona mendengar suara apa-apa yang terbawa angin.
Ia kuatir Tok Mo datang menyusul, lekaslekas ia mengajak orang utannya lari untuk masuk ke dalam rimba untuk bersembunyi.
Demikianlah Ya Bie karena mencintai It Hiong telah mengajak binatang piaraannya berputar-putar mencari si anak muda dan kemudian Kiauw In dan nona Cio sebaliknya dalam perjalanannya membuat penyelidikan telah terjatuh ke tangan si nenek Im Ciu It Mo hingga selang satu bulan dia muncul di Hek Sek San sebagai pesuruh dari Bajingan wanita tua itu untuk mengusir pergi Hay Thian Sin Ni dari gua Lu Sian Giam !
In Ciu It Mo telah menyembunyikan diri selama tiga puluh tahun.
Setelah berhasil melatih ilmu Sun Im Cit Sat Kang, dia muncul pula dalam dunia Kang Ouw dan kali ini dengan citacitanya yang besar guna menjagoi dunia persilatan !
Buat mencapai cita-citanya itu, dia membutuhkan dan mencari banyak pembantu yang terdiri dari muda mudi.
Demikian dia mendapati Tio It Hiong palsu dan Cio Kiauw In yang dia beri obat menghilangi ingatan pribadinya, hingga orang dapat dititahkan berbuat segala apa menuruti kehendaknya, tanpa orang sadar akan perbuatannya itu.
Obatnya itu yang lihai dia beri nama Thay Siang Hoan Huo Tan -pil mustajab berubah roh atau sifat.
Sesudah sadar habis makan Tay Siang Hoang Huo Tan, Kiauw In cuma kenal Im Ciu It Mo seorang, yang segala perintahnya ia turuti tak perduli ia dititahkan menyerbu api atau air.
Sementara itu Im Ciu It Mo jeri terhadap beberapa jago Bu Lim rimba persilatan seperti Tek Cio Siangjin dari Pay In Nia, Pat Pie Sin Kit In Gwa Sian, Pie Sie Siansu dari kuil Gwan Sak Sie di Ngo Tay San dan Kio Hiat Hong Mo di Cenglo Ciang juga Ie Tok Sinshe si jago racun yang empat puluh tahun dahulu telah terjatuh kedalam lembah es.
Seorang lagi yang dia segani ialah Hay Thian Sin Ni dari Pouw To Sie di Haylam.
Sekarang hatinya menjadi besar sebab dia dapat kenyataan separuh dari orang-orang yang disegani itu sudah menutup mata sedangkan kepandaiannya sendiri bertambah lihai.
Sebenarnya ia menyuruh Kiauw In mengusir Hay Thian Sin Ni dengan maksud memancing kemarahannya si nikouw supaya nikouw ini datang mencari padanya, agar mereka bisa mengadu kepandaian.
Tidak ia sangka halnya Sin Ni berpandangan jauh dan dengan lunak mengajak Cukat Tan dan Teng Hiang meninggalkan guanya itu........
Setelah itu, Im Ciu It Mo hendak menyeterukan Pie Sie Siansu dan Kip Hiat Hong Mo buat nanti menjagoi dalam pertemuan Bu Lim Cit Cun.
Ia percaya bahwa ia bakal dapat mengalahkan kedua musuhnya itu !
Begitulah dengan mengajak Gak Hong Kun dan Cio Kiauw In ia berangkat ke Ngo Tay San.
Semua muridnya yang lainnya ia tinggalkan di gunungnya sebab ia mempunyai suatu maksud lain.
Gak Hong Kun dan Cio Kiauw In telah dikenal umum menjadi murid-muridnya siapa.
Kalau mereka melakukan sesuatu karena diperintah Hant tua ini orang tak akan menyangka jelek kepadanya.
Dengan begitu, ia jadi seperti memfitnah Pay In Nia sebab Hong Kun tengah menyamar sebagai It Hiong.
Sebaliknya murid-muridnya yang asli, tak usah mereka itu menjual muka berkeliaran di tempat umum kecuali nanti dalam pertempuran Bu Lim Cit Cun.
Satu hal lagi ialah It Mo menyerang Gwan Sek Sie secara menggelap.
Dia bersama dua orang muridnya yang mirip boneka itu sampai di Ngo Tay San setelah perjalanan tak kurang sepuluh hari.
Gwan Sek Sie menjadi salah satu cabang dari Siauw Lim Sie, kuilnya besar dan agung.
Tiba di depan kuil, It Mo mengawasi dengan perhatian kiri kanannya.
Ia tiba waktu fajar, maka itu dari dalam kuil masih terdengar suara para pendeta tengah liam keng membaca ro la seperti biasanya setiap pagi.
Ketika itu hawa nyaman dan burung-burung masih mengoceh disarangnya.
Dengan senantiasa membawa tongkatnya, Im Ciu It Mo mendaki tangga.
Hong Kun dan Kiauw In mengikutinya.
Tiba di muka pintu gerbang, si Bajingan membisiki sesuatu kepada kedua pengikutnya terus dia lompat naik ke tembok untuk masuk ke dalam kuil.
Kedua murid itu masih berdiam sekian lama baru mereka pun turut berlompat masuk.
Selama itu disekitar situ tak ada seorang pendeta jua.
Semua tengah berkumpul di Toa tian pendopo besar, sedikit yang berdiam di masing-masing ruang atau tempatnya.
Itulah yang menyebabkan tiga orang itu dapat memasuki kuil tanpa rintangan.
Semasuknya Hong Kun dan Kiauw In ke dalam kuil, mereka lantas merabu setiap pendeta yang diketemukan.
Maka juga selewatnya beberapa ruang atau pendopo, setiap pendeta yang bertugas di semua pendopo itu telah mesti menerima bagiannya terluka atau terbinasa.
Dan teriakan-teriakannya mereka itu sampai terdengar ke Toa-tian, hingga para pendeta disitu menjadi terkejut.
Segera juga dari dalam Toa tian terdengar suara genta dan nyaring mengalun sampai di luar pendopo itu.
Dengan begitu maka berhentilah suara membaca doa.
Di dalam sekejap seluruh pendopo menjadi sunyi sekali.
Di kuil Gwan Sek Sie, tak pernah terjadi disaat orang melakukan ibadah itu orang berhenti serentak, dan semua hati lantas menjadi tegang sendirinya.
Sebelum mereka mendapat perintah dari ketuanya, mereka tidak berani sembarang bergerak.
Semua berdiam dengan hormat dan tenang dihadapan Sang Buddha.
Semua duduk dengan kepala tunduk dan mata dipejamkan.
Tak ada seorang juga yang berkisar dari tempatnya.
Segera setelah kesunyian itu, terdengarlah suaranya Pie Te Siansu, ketua dari Gwan Sek Sie, yang perutnya besar.
"Para petugas, kalian kembali ke tempat masing-masing ! Para murid, bersiaplah dengan senjatamu masing-masing guna menghadapi setiap kejadian !"
Semua pendeta itu memperdengarkan penyahutan mereka bahwa mereka sudah mengerti.
Lantas semuanya memberi hormat dan segera berlalu, pulang ke masing-masing tempat tugasnya.
Sedangkan para murid, habis bubaran, sudah lantas kembali dengan membawa senjatanya masing-masing.
Justru itu tibalah Hong Kun berdua.
Pie Te Taysu bertindak ke depan dua orang muda-mudi itu seraya terus memberi hormat.
"Sicu berdua,"
Ia menegur.
"kenapa sicu lancang memasuki kuil kami serta sudah lantas melakukan penyerangan hingga timbul korban-korban jiwa dan luka ? Apakah sicu tidak pernah membayangkan pikiran bagaimana menderitanya orang-orang yang roboh sebagai korban-korban itu ?"
Pendeta ini sudah lantas menerima laporan tentang penyerbuan tak disangka itu. Kiauw In berdua Hong Kun melongo saling mengawasi, mereka tidak menjawab teguran itu.
"Kedua sicu,"
Pie Te bertanya pula.
"siapakah guru sicu dan dengan kuil kami ada permusuhan apa ?"
Kiauw In tidak menjawab, dia hanya bersenyum.
Lantas dia maju dua tindak dibarengi dengan satu serangan jurus Hang Liong Hok Houw Ciang.
Pie Te terkejut tetapi dapat dia berkelit ke samping.
Terus ia mengawasi tajam nona penyerangnya itu.
Sama sekali ia tidak mau membalas menyeranga, sebab ia merasa aneh akan serbuan itu.
Kiauw In berlompat maju, ia menyerang pula, bahkan kali ini ia menghajar terus menerus sampai tujuh kali !
Pie Te Taysu repot mengelakkan dirinya.
Di sebelah itu herannya bertambah-tambah.
Ia mengenali ilmu silatnya Pat Pie Sin Kit, yang didasarkan atas tenaga Tong Cu Kang.
In Gwa Sian manusia aneh, dia tak kenal paras elok dan dia juga tak pernah mempunyai murid perempuan.
Maka itu siapa nona ini yang justru menggunakan ilmu silatnya si pengemis ?
Menguasai diri sendiri, Pie Te memuji Sang Buddha.
Tetap ia berlaku sabar.
"Sicu,"
Tanyanya pula.
"kau pernah apakah dengan sicu In Gwa Sian ?"
Ditanya begitu dengan disebutnya nama In Gwa Sian, Kiauw In berhenti menyerang, ia menggeleng kepala.
Dengan sinar mata buram ia mengawasi saja si pendeta.
Sebagai seorang pendeta tua dan banyak pengalamannya, Pie Te lantas menerka sebabnya si nona berlaku aneh itu .
Menyerbu, menyerang dan berdiam......
Justru Kiauw In berdiam, justru Hong Kun menyerang, bahkan dia ini menggunakan pedangnya.
Dengan berkilauan menyilaukan mata ujung pedang mencari sasaran pada perut besar dari si pendeta !
Pie Te Taysu tak mundur atau berkelit, dia membiarkan pedang mengenai perutnya itu.
Aneh, pedang itu melesat ke sisi dan cuma merobek jubahnya si pendeta.
"Sicu !"
Pie Te tanya penyerang itu.
"Sicu, pernah apakah kau dengan It Yap Totiang dan Heng San ?"
Inilah karena dia mengenali ilmu silatnya kaum Heng San Pay.
Hong Kun tertawa.
Dia tidak menyerang pula, sambil menarik pulang pedangnya, dia terus berdiri diam.
Pie Te Taysu mengawasi tajam anak muda itu, lalu mendadak ia berseru keras laksana bunyi guntur di siang hari.
Ia mau mencoba menyadarkan muda mudi itu., yang ia terka sebabnya kenapa mereka menjadi demikian rupa.
Hong Kun dan Kiauw In tampak terkejut, keduanya melengak.
Tapi cuma sebentar, mereka pulang asal seperti semula.
Mereka berdiri bengong tak berbicara, tak bergerak.
Berdua mereka berhadapan.
Hanya sebentar matanya Hong Kun mencilas lalu mendadak dia menyerang pula.
Pie Te Taysu berkelit ke samping terus ia berseru .
"Ringkus mereka ini !"
Segera muncul dua orang pendeta setengah tua, yang jubahnya abu-abu dan senjatanya golok kaylo dan sebatang tongkat panjang masing-masing.
Dan mereka lantas menyerang Hong Kun dan Kiauw In.
Menyusul itu, tiga puluh enam pendeta lainnya turut bergerak pula, cuma mereka bukan membantu menyerang hanya terus mengambil sikap mengurung.
Sebab mereka telah mengatur tiu atau pasukan istimewa, yang diberi nama Lohan Tiu atau Tiu Arhat !
Pendeta bersenjata tongkat itu menempur Gak Hong Kun.
Dia bersilat dengan Lohan Thung hoat, ilmu silat Tongkat Arhat.
Dengan menderunya anginnya tongkat, terang ternyata itulah Gwa Kang atau Nge Gung, ilmu silat keras.
Tetapi dia menghadapi ilmu silat pedang Heng San Pay yang mengutamakan keringanan dan kegesitan tubuh, maka tongkatnya tak dapat berbuat banyak.
Pendeta yang bersenjata golok menggunakan ilmu silat Golok Arhat, nampaknya dia bisa bergerak cepat dan tenaga dalamnya sempurna karena mana sanggup dia melayani Kiauw In hingga senjata mereka berdua berkelebatan bagaikan kilat, naik dan turun ke sisi kiri dan kanan.
Pie Te Taysu menonton dengan kekaguman.
Lekas juga tiga puluh jurus telah berlalu tetapi si pendeta bergenggaman tongkat tak dapat berbuat apa-apa terhadap lawannya.
Ia mencoba mengerahkan tenaga, tetap ia tak memperoleh hasil.
Walaupun otaknya tidak sadar, Hong Kun tak melupai ilmu silatnya.
Apa pula diapun mulai mendapat tambahan ilmu san Im Cut Kang dari Im Ciu It Mo.
Maka itu sesudah banyak jurus itu, ia lalu mencoba kekerasan.
Begitulah ketika satu kali tongkat meluncur ke tubuhnya, ia menangkis dengan satu tebasan !
Berisik suara terbenturnya kedua senjata yang percik apinya berhamburan.
Melihat beradunya senjata itu, Pie Te Taysu terperanjat.
Baru sekarang ia mendapat tahu yang pemuda yang menggunakan Kie Kwat Kiam pedang mustika.
Hingga bisa-bisa tongkat muridnya nanti terbabat kutung.
"Tahan !"
Ia berseru.
Ia berkuatir muridnya nanti bercelaka dan nama Gwan Sek Sie tercemar.
Pertempuran berhenti lantas.
Kedua lawan sama-sama mundur.
Bahkan Kiauw In dan lawannya turut berhenti juga.
Semua lantas mengawasi si pendeta tua !
"Kedua sicu."
Pie Te menanya muda mudi itu.
"Sicu, apakah kalian ingat nama atau gelaran guru kalian ? Dapatkah sicu sekalian menyebutnya buat lolap dengar ?"
Suaranya pendeta ini perlahan dan ramah, suara itu mendatangkan kesan baik bagi si muda mudi. Kiauw In mengawasi, sinar matanya memain. Ia nampak mengingat-ingat.
"Guruku ialah Im Ciu It Mo."
Sahutnya sejenak kemudian. Hong Kun mengulapkan tangannya dan tertawa. Katanya.
"Baru aku ingat itu. Tetapi kau telah mendahului menyebutnya..."
Kata-kata itu lucu, maka semua pendeta bersenyum tak kecuali dua pendeta yang baru habis bertempur itu. Pie Te tidak menghiraukan lagak orang, bahkan ia mencoba menirunya.
"Guru kalian bukannya cuma satu."
Katanya pula, tetapi ramah.
"Mesti ada guru kalian yang lainnya ! Coba sebutkan !"
Muda mudi itu saling mengawasi, mereka tidak lantas menjawab, mereka hanya lantas tunduk untuk berpikir.
Pie Te Taysu semua mengawasi.
Terus kedua muda mudi itu berpikir.
Mereka seperti lagi mengasah otak, buat mengingat-ingat.
Mereka menggaruk-garuk belakang kepala mereka atau memegangi dahi.
Masih mereka tak dapat ingat.
"Pat Pie Sin Kit In Gwa Sian............."
Berkata Pie Te Taysu perlahan. Ia mau membantu mengingati.
"It Yap Totiang dari Heng San !"
Kata-kata itu diucapkan satu demi satu dan dengan penuturan ilmu Toan im Jip Bie.
Maka juga masuknya ke dalam telinga tajam dan tegas sekali.
Muda mudi itu nampak terkejut, mereka mengangkat kepala mereka mau mereka membuka mulut atau di detik yang lain mereka batal.
Lantas sinar mata mereka menjadi geram dan kepala mereka digoyang-goyangi !
Hal itu menunjuki hebatnya obat Toay Siag Hoang Hun Tan dari Im Ciut It Mo.
Ketika itu mendadak terdengar seruan yang sangat nyaring dan tajam, entah darimana datangnya.
Hanya tahu-tahu telah masuk ke dalam pendopo besar.
Suara itu membuat telinga ketulian dan hati berdebaran.
Sedangnya para pendeta heran, Hong Kun dan Kiauw In mendadak lompat menyerang menyerbu Lohan Tiu !
Ketigapuluh enam pendeta terkejut, tetapi mereka sempat menangkis, buat seterusnya mereka melayani kedua penyerbu itu, hingga mereka jadi bertarung seru sekali.
Kiauw In lemah lembut tetapi setelah mendengar seruan itu mendadak dia menjadi beringas, ia selalu menyerang dengan bengis.
Hong Kun bengis juga tetapi dialah tak aneh sebab sejak gagal dalam urusan asmara, dia berubah sifat, dia jadi mudah membenci dan tak segan-segan melukai dan membunuh orang, hanya saja, seruan itu membuatnya bertambah ganas, dia bagaikan memandang para pendeta seperti musuh-musuh besarnya !
Sudah seratus tahun lebih Lohan Tiu menjadi Barisan istimewa dari Siauw Liem Sie.
Barisan itu dianggap sebagai pembela dan pelindung, maka juga setiap pendeta yang menjadi anggautanya semua telah terlatih baik.
Dengan begitu, mereka dapat bekerja sama dengan sempurna.
Cepat dan lincah mereka mengambil tempatnya masing-masing, terutama dalam hal mengganti kedudukan atau saling mengisi kekosongan.
Diantaranya ada dua jurus utama yang dinamakan "It Ceng Jie Hu"
Atau Satu lurus, dua kiri dan kanan".
Artinya saban habis menikam atau membacok, golok tentu diteruskan dipakai menebas kedua samping.
Apa yang merugikan Hong Kun dan Kiauw In ialah walaupun mereka sama-sama lihai, perguruan asal mereka berlainan, jadi dalam hal bekerja sama mereka tidak mendapatkan kecocokan.
Benar mereka sudah mempelajari Sun Im Cit Sat Kang tetapi latihannya belum lama dan karenanya belum sempurna.
Demikianlah tidak lama, dari rapat mereka dapat dipisahkan satu dari lain.
Pie Te Taysu memuji Sang Buddha setelah dia menonton sekian lama dan mendapatkan muda mudi itu gagah berani dan ulet sekali.
Ia cuma heran yang seperti lupa ingatan.
Justru tengah pertempuran berlangsung dan Pie Te Taysu lagi beragu-ragu, tiba-tiba ia lihat dari ambang pintu pendopo munculnya seorang pendeta usia setengah tua, yang jubahnya kuning, pendeta mana bertindak masuk dengan cepat.
Dia melihat pertempuran itu tetapi dia tidak menghiraukan, langsung dia menghampiri Pie Te, untuk terus memberi hormat sambil menjura dan memuji San Buddha.
Pie Te Taysu membalas hormat sambil mengawasi dengan tajam, hingga ia mengenali bahwa orang adalah pendeta dari Siauw Lim Sie pusat di Siong San.
Maka lekas-lekas ia berkata.
"Ada apakah dengan kunjungan ini ? Silahkan masuk !"
Walaupun pendeta itu ada dari tingkat lebih muda, terhitung sebagai kemenakan murid, Pie Te toh berlaku hormat seperti biasa.
Pendeta itu menjura pula sambil mengucap terima kasih.
Kemudian dari punggungnya dia meloloskan satu bungkusan kuning, dari dalam mana dia mengeluarkan se
Jilid naskah hoat-tia sambil mengangsurkan dengan kedua tangannya, ia berkata.
"Tecu diperintahkan Paman guru Liauw In menyampaikan hoat-tiap ini dengan permintaan supaya paman menyampaikannya kepada bapak ketua disini."
Pie Te Taysu menyambut. Ia melihat hoat-tiap diikat dengan tali kain kuning dan dilapis dengan tali sutera merah, maka tahulah ia artinya kiriman itu.
"Apakah pesannya kakak seperguruan Liauw In ?"
Tanyanya. Pesuruh itu menjawab dengan perlahan.
"Paman guru Liauw In berkatai bahwa hari upacara besar harus dirahasiakan supaya pihak sesat tak dapat datang mengacau."
Pendeta tua itu mengangguk, terus ia memutar tubuh buat berjalan dengan cepat ke dalam, tetapi baru beberapa tindak dia sudah berhenti melangkah, dia memutar tubuh pula sembari berkata.
"Keponakan Bu Kie pergilah kau beristirahat !"
Setelah itu ia melanjuti berjalan masuk.
Pendeta pesuruh itu memang Bu Kie namanya.
Dialah murid tingkat dua dan gurunya ialah Ang Sian Siangjin, Tianglo dari Kam Ih.
Sejak wafatnya Pek Cut taysu dan matinya Ang Sian Siangjin disusul dengan matinya ke empat Tianglo, Siauw Lim Sie selalu berada dalam saat-saat tegang maka juga kuil dijaga keras.
Pendeta tertua tinggal Liauw In seorang, karena mana pendeta ini harus bekerja keras memegang tampuk pimpinan sementara sebelum pemilihan atau pengakuan ketua baru, kemudian dengan persetujuannya semua pendeta pemilihan ketua dilaksanakan dan diangkat ialah seorang murid yang usianya masih muda dari Pek Cut Siansu, sedangkan kelima Kam Ih dipilih dari angkatan kedua.
Karena itu upacara pelantikan harus dilakukan.
Biasanya upacara itu dilakukan secara besar dan agung dan khidmat.
Maka juga undangan harus dikirim secara meluas terhadap semua cabang Siauw Lim Sie.
Hanya kali ini disamping kehidmatan upacara mau dilakukan secara tertutup supaya jangan ada pihak luar yang mendapat tahu, agar tak ada pengacauan oleh pihak luar itu.
Hatinya Bu Kie lega setelah dia selesai menjalankan tugasnya, maka itu sempat dia menyaksikan bentroknya Lohan Tiu hanya tahu bahwa itulah pertempuran benar-benar sedangkan mulanya dia menyangka kepada latihan biasa.
Selama memasuki kuil dia pula tidak melihat para pendeta yang terbinasa dan terluka, maka dia tak tahu apa-apa.
Hanya apa yang mengherankannya ialah pihak yang diserang itu cuma dua orang muda, sepasang muda mudi.
Sendirinya dia memasang mata tajam untuk melihat tegas terutama guna mencari tahu dari ilmu silat mana muda mudi itu, mereka ada rumah perguruan atau partai mana.
Selekasnya dia melihat tegas, dia heran hingga dia tercengang.
Dia mengenali itulah suami isteri Tio It Hiong dan Cio Kiauw In, dua orang pelindung atau penolong dari Siauw Lim Sie.
Hanya sedetik itu, dia tak dapat mengenali penyamarannya Gak Hong Kun.
Maka dia hanya mengenali It Hiong.
"Aneh !"
Pikirnya.
"Kenapa kedua penolong dari Siauw Lim Sie justru bertempur di Gwan Sek Sie ini ?"
Tak lama Bu Kie ragu-ragu itu, sebab ia telah terpengaruhkan perasaan hatinya sendiri yang tegang. Tibatiba dia berseru dengan panggilannya.
"Sicu Tio It Hiong !"
Sedangnya pertempuran berlangsung hebat itu, karena itu seperti tidak ada yang dengar sebab orang bertempur terus dengan serunya.
Yang menyahuti ialah berisiknya bentrokan pelbagai senjata tajam.
Dari heran, Bu Kie menjadi penasaran.
Dia memang bertabiat keras.
Dia melihat tegas, kecuali tiga puluh enam pendeta yang lagi berkelahi itu, yang lainnya yang berkumpul di pinggiran tidak ada yang tidak menunjuki tampang gusar.
Kenapakah orang agaknya sangat membenci muda mudi itu ?
Segera setelah habis sabarnya, pendeta pesuruh dari Siauw Lim Sie lantas berseru.
"Tahan !"
Hebat suaranya itu tetapi dia tak dapat menghentikan Lohan Tiu.
Baca Juga: Pendekar Setia 6
Baca Juga: Duel Di Butong 1