Ceritasilat Novel Online

Pendekar Setia 3

Eps 3 Pendekar Setia - Gan KL

Baca online Pendekar Setia - Gan KL

Cersil Pendekar Setia - Gan KL.

Yu Wi tidak sangsi lagi sekarang, ia lantas duduk bersemadi dan memusatkan segenap pikiran, mengendurkan urat saraf dan tidak memikirkan apa pun, ia benar-benar anggap dirinya sudah mati, benaknya terasa kosong melompong.

"Awas"

Terdengar Ko Bok-cing berseru, mendadak jari telunjuknya menutuk lagi beberapa kali pada Hiat-to yang penting, setelah 24 Hiat-to bagian tangan tertutuk merata, lalu Hiat-to bagian kaki dan begitu seterusnya, lebih dari satu jam Ko Bok-cing menutuk seluruh Hiat-to badan Yu Wi.

saking lelahnya akhirnya Bok-cing duduk lemas dilantai dengan mandi keringat.

Yu Wi juga penuh keringat, namun semangatnya tampak segar, waktu ia membuka mata dan melihat keadaan Bok-cing yang lunglai itu, dalam hati sangat terharu.

Ia pikir dengan tenaga sendiri yang sudah pulih ini mungkin dapat bantu menghilangkan kelelahan si nona, tapi baru saja ia menjulurkan tangannya, tiba-tiba Bok-cing mambuka mata dan tersenyum padanya.

Dari sorot matanya yang terang itu jelas tiada rasa lelah sedikitnya dan sama seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

senyumnya seakan-akan lagi mentertawai dia yang belum sehat sudah ingin membantunya.

"Terima kasih atas maksud baikmu,"

Demikian Bok-cing berkata dengan tertawa.

"aku tidak apa-apa. sakarang coba kau kerahkan semangatmu, apakah sudah dapat dipergunakan."

Yu Wi menurut, diam-diam ia mengerahkan tenaga dalam. siapa tahu, mendadak mukanya menjadi pucat, gigi bergemertuk dan menggigil dengan hebat sambil berteriak.

"O, dingin, hujan salju ... hujan salju... ."

Keruan Bok-cing terkejut, ia heran tidak terjadi apa-apa mengapa anak muda itu bilang hujan salju?

Apakah sinting?

Selesai berteriak hujan salju.

Yu Wi tidak dapat berduduk dan juga tidak bisa berdiri, ia terus meringkuk dilantai dan menggigil tiada hentinya.

Heran dan kuatir Bok-cing, setetah direnungkan barulah ia dapat memperkirakan duduknya perkara.

Agaknya setelah urat nadinya dilancarkan, anak muda itu seketika belum dapat menggunakan tenaga dengan bebas, air keringatnya lantas dirasakan dingin luar biasa.

Kiranva Yu Wi belum lagi mampu mengerahkan tenaga dalam yang baru mulai pulih itu setelah semua urat nadi sudah lancar kembali, tapi air keringatnya yang manjadi dingin dan karena daya tahannya masih lemah, maka rasa dingin itu mengakibatkan Yu Wi merasa seperti berada di tengah hujan salju.

Dari apa yang dibacanya, Ko Bok-cing tahu akan timbulnya gejala itu, tapi dia lupa membuat api untuk menghangatkan badan.

ia tahu gejala kedinginan demikian akan berlanggung cukup lama, bilamana tenaga dalam Yu Wi sudah terhimpun lagi baru rasa dingin itu akan hilang.

Tapi dalam waktu singkat ini bila anak muda itu tak diberi bantuan menghangatkan badan, saking kedinginan bisa membuatnya tidak tahan dan bukan mustahil lidah pun akan terkerumus hancur.

Dilihatnya Yu Wi telah menggigit bibir dengan menggigil hebat sehingga darah mengucur, gigi pun berbunyi gemertak semakin keras, Bok-cing menjadi kuatir pertolongannya akan sia-sia, sebaliknya malah membikin celaka anak muda itu.

Tanpa pikir lagi ia membuka pakaian Yu Wi yang basah kuyup oleh air keringat itu.

Ia pikir bila pakaian Yu Wi yang basah itu dibuka, mungkin rasa dinginnya akan berkurang.

Mana tahu setelah baju dibuka dan memang tidak terserang oleh dingin air keringat, tapi hawa dingin dari luar lantas menyerang badan yang tak berbaju itu sehingga rasa dingin Yu Wi bertambah hebat.

Cepat Bok-cing mengangkat tubuh Yu Wi yang telanjang itu dan dimasukkan kedalam selimut.

Meski mendingan, tapi juga tidak ada gunanya, Yu Wi masih kedinginan, tampaknya kalau suhu badan Yu Wi tidak dihangatkan, bisa jadi akan mati beku atau cacat untuk selamanya.

Untuk menyalakan api tungku terang tidak keburu lagi.

setelah ragu sejenak.

Ko Bok-cing nekat membuka baju sendiri yang juga basah air keringat itu, lalu menyusup kaedalam selimut, merangkul erat Yu Wi dan tidur bersama satu bantal.

Keadaan ini mirip sepasang suami isteri di tempat tidur, keruan Ko Bok-cing merasa malu hingga sekujur badan terasa panas.

Pikirnya "Kakak Wi, wahai kakak Wi, ayah menghendaki kujadi isterimu, tampaknya badanku ini memang harus menjadi milikmu."

Betapa hebat tenaga dalam Ko Bok-cing, karena rangkulannya yang erat, segera hawa hangat tubuhnya merembes kedalam tubuh Yu Wi, seketika badan anak muda itu tidak menggigil lagi, rasa dingin mulai reda.

Saking kedinginan hingga Yu Wi sudah lupa daratan, meski tubuh halus si nona berada dalam pelukannya juga tidak dirasakan, disangkanya berada dalam dunia lain yang bersuasana nyaman dan harum memabukkan.

Tidak lama kemudian, terasa hawa hangat timbul dari dalam perut dan tersalur keseluruh tubuh.

Girang sekali Yu Wi, ia membuka mata dan berseru.

"Ah, pulihlah tenagaku, bahkan-...". Belum lanjut ucapannya ketika tiba-tika terlihat wajah si nona yang merah jengah dan cantik memikat itu mendempel di bawah dagu sendiri Bibir yang tipis itu pun dekat dengan bibirnya. Waktu tangan Yu Wi meraba. terpeganglah badan Ko Bok-cing yang halus licin dan panas itu, seketika mulut Yu Wi terasa kering, seperti orang yang kehausan di gurun pasir, sedangkan bibir si nona adalah air jernih yang diidam-idamkannya. Tanpa kuasa mulutnya lantas mengecup, ingin diisapnya air yang jernih itu. Tapi sayang cairan air itu terasa kurang, sehingga tak dapat mengatasi rasa hausnya yang tak tertahankan-Ko Bok-cing hampir tidak dapat bernapas oleh ciuman Yu Wi yang bernafsu itu, ia tahu bilamana ciuman itu diteruskan, akhirnya gunung api pasti akan meletus. Kedua orang berdekapan dalam keadaan telanjang, akibatnya tentu tidak sulit untuk dibayangkan. segera Bok-cing mengangkat kepalanya dan bertanya.

"Bagaimana keadaanmu sekarang?"

"Tenagaku berlipat ganda, semua ini berkat pertolongan cici,"

Sahut Yu Wi samar-samar.

"cici apa? Aku lebih kecil dari padamu, kenapa kau panggil diriku Cici?"

Kata Bok-cing dengan tertawa.

"Kusembuhkan kau dan menambah tenagamu. cara bagaimana kau akan berterima kasih padaku?"

Yu Wi terangsang oleh suara si nona yang mengiurkan itu nafsu birahinya seketika membakar.

Tenaganya baru pulih, mirip orang yang baru sembuh dari sakit berat, dia penuh semangat dan sulit menahan gejolak perasaan sendiri Tanpa terasa ia merangkul Bok-cing erat-erat dan menindihnya tubuh si nona ....

Kejut Bok-cing tak terkatakan, dilihatnya mata Yu Wi merah membara laksana binatang buas hendak menerkam mangsanya.

Dalam keadaan demikian, biarpun birahinya juga terangsang, tapi dia tidak hilang pikiran sehatnya seperti Yu Wi, ia thu bila tidak segera berusaha menahan gejolak nafsu berahi anak muda, akibatnya pasti bisa runyam.

segera ia angkat tanganya "plok".

ia gampar pipi Yu Wi dengan keras.

Kontan Yu Wi menjerit kaget dan melonjak bangun.

Kesempatan itu digunakau Bok-cing untuk melompat turun dari tempat tidur dan cepat mengenakan pakaian, Yu Wi termangu-mangu sejenak, mendadak ia tampar muka sendiri dua kali dan berteriak gugup.

"o. aku pantas mampus, aku harus mampus ...."

Yu Wi menjambak rambut sendiri, pikirnya.

"Kenapa aku berbuat tidak senonoh begini, orang masih gadis suci bersih, demi menolong diriku.

orang mau mendekap dan menghangatkan badanku, tapi dirinya telah bertindak lebih rendah daripada hewan.

o, Thian, dia kan kakak Ya-ji ...

." --oo0dw0oo--Setelah tenaga dalamnya pulih kembali berkat bantuan Ko Bok-cing, Yu Wi istirahat lagi tiga hari dan mengadakan penyembuhan sendiri, maka dengan cepat kesehatannya dapat pulih kembali.

Semula ia merasa dirinya pasti akan binasa oleh pukulan Kan Ciau-bu yang lihai itu, tak tersangka lantaran bencana malah mendapat untung seluruh urat nadinya malah dilancarkan sama sekali oleh Ko Bok-cing sehingga tenaganya mendadak bertambah lipat ganda.

Dia tidak jadi mati, untuk ini pertama-tama dia harus berterima kasih atas pertolangan ci Hui-liong dan gurunya, kedua orang itulah yang mempertahankan jiwanya.

Tapi kalau tidak ada bantuan Ko Bok-cing, biarpun tidak mati, tentu tenaga hilang.

tidak ubahnya seperti orang cacat belaka.

Tapi sekarang dia tidak cacat.

sebaliknya tenaga dalam bertambah lipat, semua ini adalah jasa Ko Bok-cing.

Demikian Yu wi tidak dapat melupakan budi pertolongan Ko Bok-cing, ia ingin menyampaikan rasa terima kasihnya langsung kepadanya.

Tapi selama tiga hari ini nona itu tidak pernah muncul.

Selama tiga hari kecuali dilayani Gim ji, hanya Ko siu saja yang datang menjenguknya beberapa kali, setiap kali bila Yu Wi berbicara dengan dia tentang Ko Bok-ya tentu Ko siu menghela napas menyesal.

Mestinya Yu Wi bermaksud mau minta sang paman mengirim anak buahnya untuk mencari Ya-ji, tapi sukar untuk membuka mulut.

Ia pikir paman Ko menyerahkan Ya-ji kepadaku, sekarang nona itu hilang, adalah kewajibannya untuk mencarinya sendiri.

Jika hal ini sampai merepotkan paman, kan terlihat ketidak mampuan dan ketidak seriusan dirinya.

Maka bila tenagaya sudah pulih benar, segera ia akan mengembara dunia kangouw sendirian untuk mencari jejak Bok-ya.

Hari ini dirasakan lukanya sudah tidak berhalangan apa-apa lagi.

ia pikir besok akan berangkat saja.

maka diam-diam ia sudah mengatur rencana perjalanannya, lalu hendak mohon diri lebih dulu kepada paman Ko.

Kebetulan Gimji datang mengantarkan makan siang, sekalian ia beritahukan juga kepada pelayan itu akan keberangkatannya besok.

"Jadi Kong cu pasti akan berangkat besok?"

Gimji menegas.

"Ya, aku pasti akan berangkat "

Jawab Yu Wi.

"Dari percakapanku dengan paman Ko, beliau seperti menghendaki kutinggal di sini saja, sebab itulah sukar bagiku untuk mohon diri kepada beliau. Terpaksa minta bantuanmu agar kau singgung dulu akan maksud keberangkatanku, katakan besok juga aku akan pergi."

"Maaf. tak dapat kulakukan permintaanmu."

Jawab Gim-ji sambil menggeleng.

"Kau mau pergi, silakan langsung mohon diri kepada Loya sendiri"

Setelah berpikir, Yu Wi lantas melompat turun dari tempat tidur, katanya.

"Betul juga, harus kuberitahukan langsung kupada beliau."

Melihat gerak-gerik anak muda itu lincah dan kuat, Gim-ji terkejut.

"Hai, engkau sudah sehat seluruhnya."

"Tentu saja sudah sehat jangan kau kira setiap hari aku cuma berbaring melulu. padahal badanku jauh lebih sehat daripada waktu datang."

"Hm. tentu saja."

Jengek Gim-ji."

Waktu datang kulihat keadaanmu kempas-kempis malahan kukira jiwamu sukar tertolong."

Yu Wi merasa ucapannya kurang tepat, cepat ia menambahkan.

"Maksudku, badanku sekarang jauh lebih sehat daripada waktu sebelum terluka."

"Ah. aku tidak percaya,"

Kata Gim-ji.

"sebelum pergi, ci-suhu dari Tin-wan-piaukiok itu pernah menyatakan jiwamu tidak beralangan lagi, tapi untuk pulih sehat seperti semula jelas tidak mungkin terjadi. malahan dia pesan agar setelah kau siuman supaya banyak diberi minum obat kuat, kalau tidak. mungkin bisa cacat selamanya. sekarang meski kesehatanmu sudah pulih. paling banyak juga serupa dahulu. kalau bilang lebih kuat daripada dulu, kan berarti ucapan ci-suhu itu hanya omong kosong belaka,"

Yu Wi tertawa, tidak enak untuk diceritakannya tentang bantuan Ko Bok-cing yang telah melancarkan segenap urat nadinya.

sebab ilmu sakti yang dikuasai Bok-cing tampaknya diluar tahu paman Ko dan juga Gim-ji.

maka ia pikir lebih baik tidak mengungkapkan persoalan ini.

"Kau hanya ingin pamit kepada Loya, apakah tidak juga mohon diri kepada siocia?"

Demikian kata Gim-ji pula.

Yu Wi jadi melengak.

la pikir pikir pantas Gim-ji merasa kurang senang ketika mendengar dirinya hendak pergi, agaknya pelayan itu menyesali dia karena tidak berpamitan kepada siocianya.

Padahal pada waktu dirinya dalam keadaan tidak sadar, sang siocia yang telah meladeninya dengan rajin, sekarang dirinya mau pergi tanpa pamit, memang terasa tidak pantas.

Akan tetapi Yu Wi hanya menyesal dalam hati saja, ia pikir memang seharusnya mohon diri kepada nona itu dan mengucapkan terima kasih padanya.

Tapi apakah dirinya tidak merasa malu untuk bertemu dengan nona itu?

Tiba-tiba Gim-ji mengomel.

"Hm, kenapa kau diam saja? Tidak mau pamit juga tidak apa, memangnya kau kira siocia mengharapkan pamitmu?"

Yu Wi tersenyum getir.

"sesungguhnya ingin kutemui siocia mu untuk mohon diri dan mengucapkan selamat berjumpa lagi. Cuma kukuatir siocia mu tidak mau lagi menemui orang kasar seperti diriku ini, kan aku bisa malu sendiri?"

"O, kukira kau tidak mau menemui siocia, kiranya kau sendiri yang kuatir mendapat malu,"

Ujar Gim-ji dengan tertawa.

"Tapi bolehlah kusampaikan kepada siocia akan maksudmu, kuyakin siocia pasti mau menemuimu."

Habis berkata tanpa menunggu jawaban Yu wi segara pelayan itu melangkah pergi dengan cepat.

Kiranya sebabnya Yu Wi sungkan menemui Ko Bok-cing adalah karena mengira nona itu marah pada perbuatannya, hal ini terbukti selama tiga hari nona itu tidak kelihatan sama sekali.

Padahal ia pandang Ko Bok-cing bagaikan dewi kayangan, hanya dewi saja yang memiliki kungfu setinggi itu, hanya dewi saja yang rela berkorban bagi orang sakit, tapi dirinya telah bertindak kasar dan mencemarkan maksud suci si nona.

Selagi hati merasa tidak tenteram, entah si nona mau menemuinya tidak setelah dilapori Gim-ji, tiba-tiba terdengar suara langkah orang, belum muncul orangnya sudah terdengar suara Gim-ji berseru diluar kamar.

"siocia datang sendiri menjenguk Kongcu"

Tergetar tubuh Yu Wi, sungguh tak tersangka olehnya Ko Bok-cing akan datang menemuinya lagi. dilihatnya Gim-ji telah mendorong masuk seorang nona, siapa lagi dia kalau bukan Ko Bok-cing.

"Setelah kuundang siocia kemari, cara bagaimana terima kasihmu kepadaku?"

Terdengar Gim-ji berseru pula dengan tertawa di luar.

"Cara bagaimana terima kasihmu padaku."

Kata-kata ini membuat muka Ko Bok-cing merah jengah.

Dalam pada itu suara tertawa Gim-ji terdengar sudah menjauh.

Melihat rasa kikuk Bok-cing, Yu Wi jadi teringat kepada waktu keduanya tidur satu bantal tempo hari, waktu itu si nona juga omong "cara bagaimana terima kasihmu padaku", karena rangsangan nafsu birahi, hampir saja dirinya memperlakukan si nona dengan cara tidak senonoh.

Karena itu kembali ia menggampar lagi muka sendiri.

Cepat Bok-cing berkata.

"sudahlah, jangan kau hajar dirimu sendiri, tempo hari sudah kau gampar muka sendiri dua kali, ditambah satu kali tamparanku, cukup tiga kali hajaran itu saja dan aku tidak marah lagi padamu."

"Terima kasih atas kemurahan hati Cici, budi pertolongan Cici takkan kulupakan selamanya,"

Ucap Yu Wi dengan hormat.

"Mustinya ingin kumohon diri kepada cici, tapi kuatir cici marah padaku. syukurlah sekarang cici sudi memaafkan kesalahan yang sudah kulakukan."

Berulang-ulang Yu Wi memanggil cici atau kakak, Bok-cing tampak kurang senang. ucapnya lirih.

"Kan sudah kukatakan, umurku lebih kecil dari pada mu, jangan kau panggil Cici padaku."

Tapi dengan serius Yu Wi menjawab.

"Meski usia Cici lebih muda dari padaku, tapi engkau adalah kakak Bok-ya, dengan sendirinya harus kusebut engkau sebagai cici."

Jawaban ini menandakan betapa erat hubungan antara Yu Wi dengan Ko Bok-ya sehingga hubungannya dengan Bok-cing menjadi lebih jauh, seakan lantaran Bok-cing adalah kakak Bok-ya, maka dia ikut memanggil cici padanya.

Karena salah tangkap maksud anak muda itu, Bok-cing menghala napas menyesal, ucapnya pelahan.

"Kepergianmu ini tentunya juga akan mencari jejak Jimoayku, bukan?"

Yu Wi mengangguk.Jawabnya.

"Ya, paman telah menyerahkan adik Bok-ya kepadaku untuk minta pengobatan kepada su Put-ku di siau-ngo tay-san, tapi adik Bok-ya telah hilang, meski ada sebab musababnya. tapi kewajiban ini harus kupikul, selama hidupku ini, betapa pun harus berusaha menemukan adik Bok-ya."

"Dunia seluas ini, kemana hendak kau cari dia"

Ujar Bok-cing.

"Meski dunia sangat luas kuyakin pada suatu hari pasti dapat kutemukan dia,"

"Pada suatu hari akhirnya pasti bertemu. Memang betul asal ada kemauan, apapun pasti akan terkabul. Tapi hendaklah kau pikirkan lagi, apabila Jimoay sudah meninggal dunia, apakah dapat kau temukan dia?"

Tanpa pikir Yu wi menjawab.

"Adik Bok-ya takkan meninggal."

"Berdasarkan apa kau yakin dia tidak mati?"

Yu Wi rada mendongkol, dengan suara agak keras ia menjawab.

"Memangnya Cici menganggap adik Bok-ya sudah mati?"

Pelahan Bok-cing menjawab.

"Aku tidak tahu... ."

"Asalkan tidak ada orang menyaksikan sendiri jenazah adik Bok-ya, betapa pun aku tidak percaya dia bisa mati,"jengek Yu Wi.

"Dan selama dia tidak mati, kuyakin pasti dapat menemukan dia."

Dengan nada yang aneh Bok-cing berkata pula.

"Kukatakan, takkan kau temukan dia lagi. ..."

Yu Wi jadi melengak.

Ia pikir setelah dewasa tentu diantara kedua kakak beradik ini tidak terdapat kecocokan.

cara bicara Bok-cing ini seakan-akan tidak mengharapkan Bok-ya masih hidup didunia ini, dengan demikian barulah paman Ko akan tinggal disini hingga akhir hayatnya bersama ibu kandung Bok-cing sendiri Manusia pada umumnya mamang egois, mementingkan diri sendiri, demi membela ibu kandung sendiri adalah pantas juga jika timbul pikiran sempit Bok-cing.

Meski tidak enak perasaan Yu wi karena ucapan Bok-cing itu, tapi ia tidak bicara lagi, ia berpikir sejenak.

ia marasa tidak pantas memperlakukan dingin si nona, dengan tertawa segera ia berkata pula.

"Ai, coba, kau sudah datang sekian lama belum juga kupersilakan duduk"

Setelah Bok-cing berduduk, ia menepuk kursi disebelahnya dan berkata.

"Kau pun duduk di situ"

YU Wi lantas duduk disampingnya.

"Apakah benar ayah berharap engkau tinggal seterusnya di sini?"

Tanya Bok-cing tiba-tiba.

"Memang paman ada maksud demikian,"

Jawab Yu wi.

"Beliau mengatakan hidupku sebatang-kara, mendiang ayahku tanpa saudara sekandungnya, setelah ayahku meninggal, beliau berkewajiban menjaga diriku, maka berharap aku mau tinggai disini."

"Dan kau mau tidak?"

Tanya Bok-cing dengan tertawa.

"Sebenarnya keadaanku sekarang memang sebatang kara, tanpa sanak tiada kadang, daripada terluntang-lantung di dunia Kangouw memang lebih baik tinggal saja di sini. Akan tetapi aku harus menyelesaikan beberapa tugas lain dan tidak dapat menetap dengan tenang."

"Dapatkah kau ceritakan urusan apakah yang masih harus kau selesaikan?"

Tanya Bok-cing dengan suara lemhut.

Yu Wi lantas bercerita tentang sakit hati ayah terbunuhnya kedua isteri dan juga pergi mencari anaknya yang hilang.

malahan dia harus mencari Bok-ya serta berusaha berkenalan dengan ibu kandung sendiri yang tidak waras itu.

Meski Yu Wi hanya bercerita secara ringkas saja, tapi makan waktu cukup lama juga.

Baru pertama kali Bok-cing mendengar kisah itu sehingga dia sangat tertarik oleh pengalaman Yu Wi.

Ia sendiri tidak pernah berkelana di dunia Kangouw, maka pengalaman Yu Wi dirasakannya serba baru dan sangat merangsang.

Ketika mendengar Yu Wi sudah pernah kawin dan punya anak.

tanpa terasa Bok cing memandang beberapa kejap kepada anak muda itu.

Ia pikir masih semuda ini dia sudah menjadi ayah, sungguh tidak sederhana.

Pikir punya pikir, tanpa terasa muka sendiri menjadi merah.

Diam-diam ia bersyukur kalau tempo hari dirinya tidak mencegahnya bukan mustahil tidak lama lagi anak muda ini akan menjadi ayah pula.

Berpikir sampai disini, diam-diam ia mengomeli dirinya sendiri yang tidak tahu malu.

selalu teringat saja kepada urusan begituan.

Yu Wi sendiri menjadi sedih demi menguraikan Kejadian masa lampau, ia tidak memperhatikan perubahan air muka Bok-cing.

sejenak kemudian, didengarnya Bok-cing berkata.

"Kukira agak sulit membalas sakit hati terbunuhnya ayah dan isterimu, tentang anakmu mungkin telah diselamatkan orang lain dan pada suatu hari kelak pasti akan diantar kembali kepadamu.

Hal perkenalan kembali dengan ibumu, kukira juga dapat terlaksana dalam setahun.

Hanya urusan mencari Ji-moay saja kukira tak terkabul.

sebab itulah kuharap sementara tetap kau tinggal disini saja dan tidak perlu mencari secara ngawur yang cuma membuang-buang waktu belaka."

Mendadak Yu Wi berdiri dan menjengek.

"Hm, siapa bilang tak dapat kutemukan adik Bok-ya? Pasti akan kutemukan dia, jangan lagi kau bujuk diriku, aku tak dapat tinggal disini, selama adik Bok-ya belum kutemukan, selama itu pula aku tak dapat menetap dengan tenteram."

Bok-cing menghela napas pelahan.

"jangan kau marah. tentu saja akupun berharap dapat kau temukan Jimoay."

Yu Wi mendengus pula, pikirnya.

"Huh, tidak perlu kau pura-pura, hakikatnya tidak kau harapkan Ya-ji hidup di dunia ini. memangnya kau kira aku tidak tahu."

Didengarnya Bok-cing berkata pula.

"sabar, duduklah kembali Coba jawab, untuk mencari Ji-moay, lebih baik kau cari sendirian atau dilakukan dengan orang banyak?"

Betapapun Yu Wi tetap menghormati Ko Bok-cing, ia menurut dan duduk kembali, jawabnya.

"Kalau mau mencarinya, dengan sendirinya dilakukan orang banyak akan lebih baik, tapi siapakah yang sudi membantuku untuk mencari adik Bok-ya?"

"Bisa jadi kau kira aku tidak mau ikut mencari, tapi apakah kau pikir ayah juga tidak mau? Padahal ayah berpangkat tinggi dan punya kekuasaan besar, pasukannya tersebar di segenap pelosok negeri, kalau mau mencari jejak satu orang saja kan tidak sulit?"

"Betul juga ucapanmu, tapi entah paman sudah berpikir sampai disitu atau beliau memang tak suka menggunakan kekuasaannya, ketika kusinggung tentang hilangnya Ya-ji, belum pernah beliau menyatakan hendak mencarinya."

"Memangnya kau kira ayah orang bodoh dan tidak memikirkannya? Menggunakan kekuasaan hanya persoalan kecil, tapi ayah tidak melakukannya. apa sebabnya? sebab ayah tahu Jimoay tidak dapat ditemukan lagi."

"Peduli akan kutemukan atau tidak. betapa pun tetap harus kucari,"

Kata Yu Wi dengan mendongkol.

Bok-cing tidak menyangka anak muda ini sedemikian kepala batu, betapa pun dibujuk tetap tidak mau mambatalkan niatnya mencari Bok-ya.

Ia pikir biarpun dikatakannya Jimoay sudah meninggal juga takkan dipercaya oleh Yu Wi.

Apakah lantaran cintanya kapada Jimoay sudah sedemikian mendalamnya sehingga Jimoay harus ditemukan untuk hidup bersama?

Berpikir demikian, mendadak ia keraskan perasaannya dan berkata.

"Ada satu urusan ingin ku mohon padamu, entah dapat kau terima atau tidak?"

"Tempo hari waktu kau bantu melancarkan segenap urat nadiku pernah kau katakan ada syarat yang harus kupenuhi, mestinya waktu itu ingin kutanya apa syaratmu, tapi sebelum kutanya segera kau turun tangan dan memulihkan tenagaku. Kutahu bukan maksudmu hendak memaksa kuterima syaratmu, apakah urusan yang kau maksudkan sekarang ini adalah persoalan sama seperti apa yang hendak kau katakan tempo hari itu?"

"Betul, sama urusannya,"

Jawab Bok-cing.

"waktu itu tidak kukatakan, tapi sekarang mau-tak mau harus kukatakan."

"Urusan apa? Asalkan dapat kulaksanakan pasti akan kuterima."

"Syaratku waktu itu mestinya ingin kuminta seterusnya kau lupakan Ji-moay, dan permintaanku sekarang juga tetap supaya kau lupakan Jimoay saja."

Air muka Yu Wi seketika berubah pucat, Ia pikir masakah di dunia ini ada permintaan yang tidak masuk diakal begini?

Masakah suatu perbuatan berdosa jika aku tidak dapat melupakan Ya-ji?

"Kutahu permintaanku ini tidak masuk diakal,"

Ucap Bok-cing dengan menyesal.

"sekarang ingin kurubah sedikit, sebab kutahu pikiran seorang betapa pun tidak dapat dikekang. Bahwa tak dapat kau lupakan Jimoay, hal ini membuktikan dirimu ini adalah seorang yang berperasaan dan punya iman yang kuat, adalah wajar jika selalu kau ingat kepada Jimoay. Namun kuminta agar jangan kau cari disa, boleh kaupikirkan dia. tapi tidak boleh lagi mencarinya."

"Hahaha"

Mendadak Yu Wi bergelak tertawa.

"Apa yang kau tertawakan?"

Tanya Bok-cing.

"Kugeli bahwa peristiwa lucu di dunia ini sungguh banyak. tapi tidak ada yang lebih lucu daripada hal ini."

Bok-cing kurang senang.

"Apanya yang lucu? Kuminta jangan kau cari Jimoay adalah demi kebaikanmu sendiri sebab toh tak dapat kau temukan dia, untuk apa kau bikin susah dirinya sendiri"

"Hm, daripada bilang minta, kan lebih tepat kau katakan memberi perintah padaku,"

Jengek Yu Wi. Bok-cing menghela napas gegetun."

Kata kan minta boleh, bilang memerintah juga boleh, pendek kata seterusnya tidak perlu lagi kau cari Jimoay."

Mendadak Yu Wi terbahak-bahak pula.

"Minta dan perintah tidaklah sama. Ko-toa siocia, kau berhak memberi perintah padaku, sebab kau pernah menolong jiwa ku. Tapi sebentar lagi tak dapat kau beri perintah pula padaku ... ."

Sampai disini, mendadak angkat jari dan menutuk hulu hati sendisi, menutuk Hiat-to yang mematikan.

Karuan Bok-cing terkejut, tampaknya dia tidak bergarak, tapi tahu-tahu dia bertindak sesuai kehendaknya, mendadak ia rangkul tangan Yu Wi dan meratap.

"Aku ... aku tidak memberi perintah padamu, boleh . ^ . boleh kau pergi besok"

Habis berkata, ia lepaskan tangan Yu Wi terus lari pergi sambil mendekap muka sendiri Yu Wi sempat mendengar suara tangis si nona, ia jadi melengak.

la heran sebab apakah nona itu menangis?

Ia coba merenungkan sikap dan tutur kata Ko Bok-cing selama beberapa hari ini, akhirnya ditemukannya sesuatu, yakni si nona sangat tidak suka bila dirinya memikirkan Ya Ji.

sejak hari pertama dirinya siuman Ko Bok-cing lantas tidak senang karena dirinya menyangka dia sebagai Bok-ya, dan sekarang dia telah menangis lantaran dirinya bertekad akan pergi mencari Ya-ji.

semua ini manandakan bahwa Bok-cing tidak suka bayangan Ya-ji selalu terbayang dalam benaknya, sebaiknya supaya melupakannya.

Mengapa demikian?

sebab apa Bok-cing menghendaki dirinya melupakan Bok-ya?

Apakah ada sesuatu sebab di dalam persoalan ini Yu Wi ingin tanya Ko siu, tapi bila teringat sang paman yang setiap hari selalu sibuk pekerjaan dinas, mana ada waktu untuk mengurusi soal tetek-bengek ini, sebaiknya jangan mengganggu beliau.

Malamnya, selagi Yu Wi bermaksud pergi menemui Ko siu untuk menyatakan niatnya akan berangkat untuk mencari Bok-ya, tiba-tiba dilihatnya Gimji datang dengan tergesa-gesa.

Belum lagi Yu Wi buka suara, pelayan itu sudah mendahului mengomel.

"Jangan kau tanya siocia lagi, sampai sekarang dia masih terus menangis"

"Esok pagi-pagi aku akau berangkat, tolong sampaikan kepada siociamu."

Kata Yu Wi.

"Hm. memangnya siapa yang dapat merintangimu?"

Jengek Gimji "

Apabila aku, persetan dengan kepergianmu. Tapi siocia justeru masih memikirkan dirimu dan hendak memberi barang apa padamu. Ini ambil, coba saja malam nanti apakah dapat kau tidur nyenyak?"

Habis berkata ia taruh sasuatu di atas meja, lalu tinggal pergi.

Yu Wi hanya menggeleng sambil ia nyengir, dilihatnya barang di atas meja itu terbungkus oleh saputangan sutera berbentuk persegi.

Ia mendekat dan memegang barang itu, segera tercium olahnya bau harum yang sedap.

bau harum yang sudah dikenalnya, yaitu bau barum yang pernah dicium dari tubuh Ko Bok-cing waktu mereka tidur satu ranjang tempo hari.

Jelas saputangan itu adalah milik Ko Bok-cing.

entah apa yang terbungkus.

Waktu ia membukanya, kiranya isinya adalah satu buku tua berwarna kuning.

Begitu melihat tanda diatas sampul buku itu, seketika Yu Wi terkejut, ^Hei, bukankah inilah tanda pangenal yang terdapat didada Bu-beng-lojin di Ho-lo to itu?"

Kiranya di atas sampul buku terlukis bulan sabit warna hijau, ia masih ingat pesan tinggalan Bu-beng-lojin didasar Ho-lo-to dahulu, katanya barang siapa yang menemukan jenazahnya diminta menyelidiki asal-usul orang tua itu, ada pun rahasia asal-usulnya terletak pada toh hijau berbentuk bulan sabit di atas dadanya.

Peristiwa itu masih teringat baik-baik oleh Yu Wi, kini mendadak dilihatnya tanda bulan sabit separti apa yang ditandaskan oleh Bu-beng-lojin itu, jelas hal ini bukannya kejadian secara kebetulan, tapi kitab ini pasti ada sangkut-pautnya dengan si kakek sakti tak bernama itu.

Yu Wi coba membuka halaman pertama buku itu, di atasnya tertulis tiga huruf kanji kuno.

"Goat-heng-bun"

Atau perguruan bulan sabit.

"Goat-heng-bun? Apakah nama sesuatu perguruan atau aliran?"

Demikian Yu wi bergumam sendiri. Lalu ia menggeleng kepala dan berkata pula.

"Ah, tidak betul, selamanya tidak pernah kudengar ada sesuatu aliran atau perguruan yang bernama Goat-heng-bun?,, Waktu halaman kedua dibuka, terlihat penuh tulisan huruf kecil, Yu wi tertarik oleh empat huruf besar yang ditulis dengan bentuk aneh, yakni "su-ciau-sin-kang". Berdebar jantung Yu Wi demi melihat nama ilmu sakti ini. Tanpa kuasa ia membaca tulisan yang memenuhi halaman itu . .. Tapi baru beberapa baris dibacanya, mendadak ia menutup kembali kitab itu dan bergumam pula.

"Tidak. tidak boleh kubaca ..."

Ia tahu bilamana kitab itu dibacanya lagi, akibatnya pasti akan tertarik oleh ilmu sakti itu dan hal ini berarti keberangkatannya besok akan gagal, dan selanjutnya juga takkan terpikir lagi akan mencari Bok-ya.

Maklumlah, bilamana seorang ahli silat dapat membaca satu kitab ilmu silat mujizat, jarang yang tidak menjadi tertarik.

semakin gaib sesuatu kitab ilmu silat semakin besar pula daya tariknya.

Rasanya takkan berhenti bila belum berhasil meyakinkan ilmu silat yang tercantum dalam kitab itu.

Kini ilmu silat Yu Wi sudah mencapai taraf tertinggi, sekarang diberinya kitab pusaka yang sukar dicari di dunia persilatan ini, tentu saja dia tambah melengket dan sukar melepaskan diri Apabila dia membacanya lagi, memang betul bisa lupa daratan dan urusan Bok-ya bisa dikesampingkannya.

Dan bila ilmu dalam kitab sudah dikuasainya, tentu Yu Wi akan merasa utang budi kepada Ko Bok-cing, dan kalau nona itu minta dia jangan lagi mencari Bok-ya, tekadnya tentu tidak teguh seperti sekarang.

otak Yu Wi memang encer, demi teringat kepada akibatnya nanti, ia tidak membaca lagi, ia tutup kitab itu dan dimasukkan kedalam baju dengan maksud akan dikembalikan kepada Bok-cing.

pikirnya.

"Tidak boleh kuterima barang ini."

Saat ini Ko Bok-cing lagi duduk dikamarnya dengan pikiran kacau, ia tidak tahu apakah waktu itu Yu Wi lagi membaca su-ciau-sin-kang atau tidak.

Ternyata benar dugaan Yu Wi, tujuan pemberian kitab itu memang digunakan Ko Bok-cing untuk menahan Yu Wi tetap tinggal disitu.

Ia pikir.

"Asalkan dia mau membaca, tidak nanti dia pergi besok. seperti diriku sendiri, waktu itu aku baru berumur sepuluh, tahun sengaja kubuka kotak rias ibu yang dibawanya dari rumah orang tua, kudapatkan kitab yang dibungkus dengan kertas minyak ini. karena rasa ingin tahu. kubaca isinya dan jadinya aku terpikat, selama sepuluh tahun ini hampir setiap hari kuteng gelam dalam membaca isi kitab itu dan giat berlatih, Dia adalah seorang ahli silat. tentu juga akan terpikat."

Sudah diperhitungkannya Yu Wi pasti akan melengket oleh kitab itu, maka esok akan disiapkannya sebuah kamar yang indah agar anak muda itu dapat mempelajari su-ciau-sin-kang dengan baik.

Ia yakin setarusnya Yu Wi takkan meninggalkannya dan juga takkan mencari Jimoay lagi.

Tengah melamun, sekonyong-konyong bayangan orang berkelebat, seorang menyelinap masuk kekamarnya.

siapa lagi kalau bukan Yu Wi.

Dengan sikap dingin Yu Wi mengeluarkan kitab itu dan dikembalikan kepada Bok-cing.

katanya.

"Tak dapat kuterima hadiah setinggi ini nilainya, ambil kembali saja."

Hati Bok-cing terluka oleh sikap Yu Wi yang dingin itu, dengan suara pedih ia tanya.

"Sudah kau baca tidak? Coba bacalah"

"Kukuatir bila kubaca, maka seterusnya tak dapat pergi lagi, maka tidak kubaca,"

Jawab Yu Wi ketus.

"Jika demikian, jadi kau tahu isi kitab ini adalah su-ciau-sin-kang?"

Yu Wi mengangguk.

"Dan kau ternyata mampu mengekang perasaanmu untuk tidak membacanya, hal ini menandakan betapapun tidak dapat kutahan dirimu disini. Baiklah, besok boleh kau pergi. Kuharap semoga Jimoay dapat kau temukan dan dapatlah kalian menikah dengan bahagia."

"Sementara ini kumohon diri dulu, kelak bila Ya-ji kutemukan tentu akan kutemui dirimu,"

Kata Yu wi.

"Pergilah"

Seru Bok-cing dengan menahan kepedihan-Bibir Yu wi sudah bergerak lagi hendak omong, tapi lantaran si nona sudah mengusirnya, terpaksa urung bicara dan hendak melangkah pergi.

Mendadak Bok-cing bertanya.

"Kau mau bicara apa?"

Yu Wi berpaling dan menjura, katanya.

"Ingin kutanya sesuatu keterangan mengenai kitab tadi."

"Ooo, urusan apa?"

Tanya Bok-cing.

"Pada halaman pertama kitab itu tertulis tiga huruf "Goat-heng-bun", apakah kau tahu apa artinya?"

"Itulah nama sesuatu aliran yang sangat menonjol pada seratus tahun yang lalu, tapi sekarang sudah dilupakan orang.

Aliran itu memakai tanda bulan sabit, setiap anak murid dari perguruan tersebut sama mempunyai tanda pengenal rahasia."

"Apakah toh hijau berbentuk bulan sabit?"

Tanya Yu Wi.

"Betul,"

Jawab Bok-cing dengau heran.

"Dari mana kau tahu?"

Yu Wi lantas mengisahkan pangalaman aneh di dasar Ho-lo-to dahulu.

"Ha h, Bu-beng-lojin itulah Ban put-tong"

Seru Bok-cing kaget.

"Ban Put-tong?"

Yu Wi menegas dengan kejut dan girang.

"Haha, Bu-beng-lojin, akhirnya berhasil kuselidiki namamu, bilamana engkau tahu di alam baka tentu kau dapat istirahat dengan tenteram."

"Apabila Ban put-tong betul tahu dialam baka, hakikatnya tidak perlu kau selidiki asal-usulnya, sebab tentu sudah lama ditanyakannya kepada raja akhirat."

Ujar Bok-cing dengan tertawa.

"Tapi dia minta kuselidiki asal-usulnya, sekarang baru diketahui namanya, kalau asal-usulnya bisa ketahuan tentu akan lebih baik."

"Yang ingin tahu dirimu atau dia?"

"Tentu saja dia."

"Lalu cara bagaimana akan kau beritahukan padanya jika berhasil kau selidiki?"

Tanya Bok-cing dengan tertawa. Yu Wi menggeleng sambil menyengir.

"Ya, terpaksa akan kuberitahukan jika sudah kususul ke akhirat."

"Kutahu asal-usul Ban Put-tong."

Tutur Bok-cing.

"Bahwa dia minta diselidiki asal-usulnya bukan lantaran dia ingin tahu siapa dia, sebab pada hakikatnya dia tidak tahu lagi siapa dirinya, dia sudah kehilangan ingatan, dia cuma tahu seorang musuh telah membikin nelangsa dia hingga terhanyut ke Ho-lo-to, ia tinggalkan Hian-ku-cip dengan tujuan agar orang yang menemukan kitab pusaka itu dapat mempelajari dengan baik kungfu tinggalannya. lalu manyelidiki asal-usulnya supaya dapat membalaskan sakit hatinya."

Yu Wi merasakan keterangan si nooa cukup masuk di akal, serunya.

"Tepat Dan siapakah musuhnya, aku wajib menuntut balas baginya."

"Mengapa kau wajib menuntut balas baginya?"

Tanya Bok-cing dengan tertawa.

"sebab akulah orang pertama yang menemukan pesan tinggalannya, meski tidak kutemukan Hian-ku-cip yang ditinggalkannya, asal kutahu siapa musuhnya, pasti akan kubalaskan dendamnya tanpa peduli risiko apa pun."

"Benar kau bertekad akan menuntut balas baginya?"

Tanya Bok-cing dengan tegas.

"Ya,"

Jawab Yu Wi.

"cuma ada satu dasarku, bila musuh memang orang jahat barulah dapat kubalasnya sakit hatinya."

"Baik-jahatnya seseorang sangat sukar untuk ditentukan."

Ujar Bok-cing.

"Jika benar kau bertekad menuntut balas bagi Ban Put-tong. maka kaulah ahli waris Goat-heng-bun, sebab musuhnya adalah suatu perguruan yang disebut Thay-yang-bun (perguruan matahari)."

"Thay-yang-bun"

Yu Wi menegas.

"Kembali satu aliran aneh lagi."

"Kitab su-ciau-sin-kang yang kupegang ini kini harus kuserahkan padamu."

Ujar Bok-cing.

"Tidak, aku tidak mau, sudah kukatakan tak dapat kuterima hadiah sebesar ini."

"Hm, memangnya kau kira aku tidak tahu malu dan tetap ingin memberikan kitab ini padamu?"

Jengek Bok-cing.

"Kau tahu sekarang Thay-yang-bun adalah musuh bebuyutan Goat-heng-bun, jika kau berniat menuntut balas bagi Goat-heng-bun, maka berarti kau sudah mengaku sebagai murid Goat-heng-bun. selaku murid Goat-heng-bun, masa benda pusaka perguruan sendiri tidak kau terima."

Yu Wi jadi melenggong. Dilihatnya Bok-cing telah menyodorkan kitab itu kepadanya. setelah ragu sejenak. akhirnya Yu Wi menerimanya. Dengan gemas Bok-cing lantaa berkata.

"selanjutnya kau tidak cuma mengemban tugas membalas dendam ayah dan terbunuhnya isteri, kini ditambah lagi satu tugas, yakni menuntut balas bagi perguruan sendiri"

"Dendam sakit hati Permusuhan Wah. takkan habis-habis kubalas dendam selama hidup ini"

Ujar Yu Wi sambil menyengir.

"Pejabat ketua Goat-heng-bun terakhir adalah ayah Ban put-tong."

Demikian Bok-cing bertutur pula.

"sekarang Goat-heng-bun telah bangkit kembali, bolehlah kau jabat ketua Goat-heng-bun sekarang."

"Baik, sekarang aku adalah pejabat ketua Goat-heng-bun, tapi kau telah belajar su-ciau-sin-kang, kau pun terhitung murid Goat-heng-bun, selanjutnya kau harus tunduk kepada perintah sang ketua."

Bok-cing jadi melengak, tapi segera ia menjawab dengan tertawa.

"Aku memang mau tunduk kepada perintahmu,"

Yu Wi merasa ucapannya tadi agak keluar ril, cepat ia menambahkan.

"Eh, cara bagaimana Ban-locianpwe sampai terhanyut ke Ho-lo-to, bahkan terluka parah sehingga kehilangan ingatan?"

"Soal ini aku pun tidak jelas,"

Jawab Bok-cing.

"cuma didalam bungkusan kertas minyak telah kubaca sepucuk surat wasiat tinggalan ayah Ban put-tong, surat itu memberi nasihat agar puteranya sadar kembali kejalan yang benar, ditunjukannya bahwa ibu tiri yang dicintai Ban put-tong itu adalah agen yang sengaja dikirim pihak Thay-yang-bun untuk mencuri rahasia Goat-heng-bun, terutama yang diincar adalah kitab pusaka Goat-heng-bun, yaitu Hian-ku-cip. Waktu kutanya ibuku baru diketahui bungkusan dengan kertas minyak itu termasuk barang bawaan ibu waktu menikah, barang tinggalan leluhur dengan amanat bilamana Ban Put-tong diketemukan, supaya bungkusan itu diserahkan kepadanya. semula aku tidak habis mengerti mengapa ibu tidak tahu leluhurnya she Ban, yang diketahui hanya menyerahkan bungkusan itu kepada Ban put-tong. sekarang dapatlah kupahami hal itu, rupanya Ban Put-tong telah mati di Ho-lo-to sehingga tidak mungkin bungkusan itu dapat diserahkan padanya. sedangkan barang yang termasuk emas kawin ini hanya diturunkan kepada anak perempuan dan tidak kepada anak lelaki, setelah beberapa turunan, anak perempuan yang membawa barang ini entah telah berganti she beberapa kali."

"Ibumu kawin dengan orang she Ko, bila kemudian bungkusan wasiat ini pun diberikan kepadamu sebagai emas kawin, tentu akan jatuh kepada anakmu yang berganti she lagi, dengan bagitu menjadi semakin jauh dan tidak tahu lagi leluhurnya yang she Ban. Anehnya, mengapa benda pusaka ini hanya diwariskan kepada anak perempuan dan tidak kepada anak lelaki. sebab apa kitab pusaka ini tidak diwariskan kapada putera keluarga Ban sendiri?"

"soalnya puteranya menyeleweng,"

Ujar Bok-cing dengan tertawa.

"Di dunia ini memang terlalu banyak lelaki busuk. kan lebih baik diwariskan kepada anak perempuan,""

Yu Wi pikir tidak botleh bergurau lagi, maka dengan serius ia berkata.

"Sebenarnya, bagaimana duduk perkaranya?"

"Begini,"

Tutur Bok-cing.

"Ketua Goat-heng-bun yang terakhir itu mempunyai seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan dari isteri tua yang sudah meninggal.

Anak lelaki itu ialah Ban put-tong.

waktu Ban put-tong sudah dewasa, ayahnya baru menikah lagi, isteri yang masih muda ini ternyata murid Thay-yang-bun-Padahal Thay-yang-bun adalah musuh bebuyutan Goat-heng-bun, tapi selama itu Thay-yang-bun tidak dapat mengalahkan Goat-heng-bun, maka digunakannya Bi-jin-keh (akal wanita cantik) untuk mencuri ilmu silat musuh.

Tapi sayang.

Goat-heng-bun mempunyai suatu peraturan aneh, ilmu silat perguruan hanya diajarkan kepada lelaki dan tidak kepada perempuan-Dengan sendirinya isteri muda itu tidak berhasil mendapat ajaran kungfu Goat-heng-bun, maka dia lantas mencari jalan lain, digodanya Ban put-tong, setelah anak muda itu terpikat, lalu disuruhnya mencuri kitab pusaka perguruan dan kemudian keduanya minggat bersama.

"Ban put-tong tidak tahan godaan-ia benar2 minggat bersama ibu tiri dengan mengkhianati ayah sendiri, bahkan dibawa minggat pula kitab yang berisi intisari ilmu silat Goat-heng-bun, yaitu kitab yang dikenal sebagai Hian-ku-cip. -Demi mengetahui perbuatan anaknya yang durhaka itu, sang ketua menjadi murka dan akhirnya jatuh sakit. Kemudian ia pun menyadari kesalahan terletak pada dirinya sendiri, isteri muda yang dinikahinya ternyata murid Thay-yang-bun. -setelah mengetahui duduk perkaranya, ia tidak lagi menyalahkan anak sendiri, sebelum meninggal dia menyerahkan kepada anak perempuannya kitab su-ciau-sin-kang yang biasanya hanya diturunkan kepada anak lelaki itu dengan pesan agar kelak bila Ban Put-tong diketemukan, hendaknya anak muda itu berlatih dengan baik ilmu sakti su-ciau-sin-kaag agar pihak Goat-heng-bun tidak dihina lagi oleh Thay-yang-bun. Tapi sejak itu puteri sang ketua ternyata tidak pernah bertemu lagi dengan Ban Put-tong, juga tidak didengar berita mati-hidup saudaranya. Karena kehilangan pimpinan, kekuatan Goat-heng-bun makin merosot dan selalu dikalahkan oleh pihak Thay-yang-bun, sampai sekarang, perguruan Goat-heng-bun boleh dikatakan sudah lenyap. sampai meninggalkan puteri ketua Goat-heng-bun itu tetap tidak tahu dimana Ban put-tong, rupanya dia kuatir kungfu keluarga Ban akan putus turunan, maka kitab su-ciau-sin-kang di bungkusnya dengan kertas minyak bersama surat wasiat sang ayah untuk Ban put-tong dan ditetapkan sebagai emas kawin leluhur agar bilamana kelak Ban put-tong atau keturunannya diketemukan, barang pusaka itu dapat dikembalikan kepada anggota keluarga Ban. Rupanya ia tidak tahu bahwa Ban put-tong sudah mati dan juga tidak meninggalkan keturunan."

"Kukira mungkin Bu-beng-lojin itu terluka parah oleh pukulan ibu tirinya, lalu ditinggalkan di Ho-lo-to,"

Kata Yu Wi dengan menyesal.

"Tidak. menurut dugaanku. mungkin dia sendiri yang kabur ke Ho-lo-to, mungkin diketahuinya tujuan ibu tirinya hanya mengincar Hian-ku-cip. ketika hal ini diketahuinya dia telah terkepung oleh murid Thay-yang-bun, dalam gusar dan menyesalnya, dia melakukan perlawanan dan terluka parah, lalu kabur sekuatnya dengan sebuah sampan sehingga terhanyut ke Ho-lo-to dan akhirnya tenggelam ke dasar pulau tandus itu. Waktu ia siuman di dasar pulau, lantara terluka parah dan kehilangan tenaga, pula akibat jiwanya yang terganggu sehingga kehilangan ingatan namun Hian-ku-cip dapat dipertahankan dan tidak sampai dirampas oleh orang Thay-yang-bun, dalam keadaan linglung ia mengira kitab pusaka itu baru ditemukan olehnya, lalu ia mulai berlatih lagi ilmu dalam kitab itu. Padahal Hian-ku-cip itu adalah kitab pusaka warisan keluarganya. Dan pada waktu kungfu sakti berhasil diyakinkannya, ingatannya tetap tidak dapat pulih, sampai ajalnya dia tetap tidak tahu seluk-seluk dirinya sendiri" ---ooo0dw0ooo---Bab 9 . Antara Ko-Bok-ya dan Ko-Bok-cing Diam-diam Yu Wi mengangguk, ia pikir analisa Ko Bok-Cing memang masuk di akal seperti menyaksikan sendiri kejadian yang sebenarnya, diam-diam ia sangat kagum kepada kecerdasan nona ini, pantas dalam usia sepuluh tahun sudah dapat membaca dan melatih su-ciau-sin-kang, jika dirinya yang melatihnya entah memerlukan waktu berapa lama? "Nah, jika kau hendak membalas dendam bagi Ban Put-tong alias Bu-beng-lojin, musuh yang harus kau cari adalah Thay-yang-bun, setelah Su-ciau-sin-kang berhasil kau kuasai bolehlah kau pergi mencari mereka,"

Demikian kata Ko Bok-cing. Tapi Yu Wi lantas menggeleng, katanya.

"Agaknya Thay-yang-bun serupa dengan Goat-heng-bun, keduanya sudah musnah semua, kalau tidak, mengapa selama ini tidak pernah kudengar tentang Thay-yang-bun?"

"Tentang Goat heng-bun saat ini masih ada dua orang pewaris, aliran ini akan punah tapi belum punah, sedangkan Thay-yang-bun tidak terdengar mengalami sesuatu, kukira tidak sampai musnah begitu saja, bisa jadi mereka mengasingkan diri di daerah terpencil tapi bila suatu waktu Thay-yang-bun muncul lagi di dunia Kangouw, kuyakin pasti akan terjadi kekacauan besar, tatkala mana sebagai ketua Goat-heng-bun tugasmu tidak cuma menuntut balas saja, tapi juga harus menegakkan keadilan bagi khalayak ramai."

Yu Yi tertawa.

"Tampaknya tidak saja pintar, bahkan juga banyak khayalanmu."

Ko Bok-cing merasa kikuk oleh pujIan orang, ia menunduk dan berkata.

"Bilakah kau akan berlatih su-ciau-sin-kang? Kukira boleh mulai berlatih di sini saja."

Mendadak Yu Wi bergelak tertawa, katanya.

"Haha, mana aku dapat tertipu, kau menghendaki aku menjabat ketua Goat-heng-bun dan membujuk kutuntut balas bagi Goat-heng-bun. Memang pernah kujanji akan membalaskan dendam Bu-beng-lojin, tapi sekarang belum diketahui siapa musuhnya, andaikan tahu juga dapat kugunakan kepandaianku sendiri untuk membereskannya dan tidak harus berlatih su-ciau-sin-kang. Maka kitab ini boleh kau simpan kembali saja."

Segera Yu Wi menaruh kitab itu di atas meja, tanpa ragu ia melangkah keluar, setiba diambang pintu ia berpaling pula dan berkata.

"Tentang pejabat ketua Goat-heng-bun, Kukira lebih baik dipangku oleh murid yang resmi seperti dirimu ini, Nah. sampai bertemu, esok aku tidak datang pamit lagi."

Mata Ko Bok-cing tampak merah, kembali ia menangis, dengan susah payah ia berusaha, tapi hasilnya nihil, pikirnya di dalam hati.

"Wahai kakak Wi, pada suatu hari kelak kupercaya kau akan memohon padaku."

Esok paginya Gim-ji melayani Yu Wi bercuci muka, kesempatan itu digunakannya untuk tanya.

"Apakah pagi ini Kongcu pasti akan berangkat, apakah sudah diberitahukan kepada Loya?"

Dengan kesal Yu Wi menjawab.

"Semalam ketika meninggaikan tempat siociamu sudah kuberitahukan paman sekalian. siapa tahu paman melarang keberangkatanku dan berkeras menahanku tinggal di sini. Namun mana boleh jadi, hari ini juga akan kuberangkat secara diam-diam, jika kau ditanya, katakan saja kupergi tanpa pamit."

Tiba-tiba Gim-ji menghela napas, ucapnya "Apakah Kongcu tahu sebab apa Loya melarang bepergianmu dan sebab apa pula tidak menyuruh orang lain melayani dirimu, tapi justeru siocia dan Gim-ji yang disuruh meladeni engkau?"^ Yu Wi menggeleng.

"Entah, aku tidak tahu, tapi bila aku hendak pergi, siapa pun tak dapat menahan diriku."

Gim-ji mendengus.

"Kutahu, biarpun raja juga tidak dapat menahan dirimu. Tapi ingin kukatakan satu hal padamu. sebabnya Loya menahanmu di sini adalah karena beliau bermaksud mengawinkan siocia padamu, apakah kau tahu?"

Yu Wi jadi gugup, katanya cepat.

"He, mana boleh jadi, selagi Ya-ji hilang, mana boleh kukawin dengan kakaknya?"

Ucap Gim-ji dengan menyesal.

"Justeru lantaran Ya-ji menghilang dan tidak dapat ditemukan kembali mengingat pula kebaikanmu pada Ya-ji maka Loya hendak menikahkan puterinya yang lain padamu siapa tahu orang tolol seperti dirimu ini justeru tidak mau terima. sebaliknya hendak pergi mencari Ji siocia yang tidak dapat ditemukan itu."

Yu Wi tidak menyangka sang paman ada maksud memungut menantu padanya.

seketika ia jadi tercengang.

ia coba merenungkan kembali beberapa percakapan antara sang paman dengan dirinya, ternyata memang ada tanda-tanda ingin menyodohkan Ko Bok-cing kepadanya.

Didengarnya Gim ji berkata pula.

"sejak kau terluka dan dibawa kesini, waktu itu juga sudah timbul maksud Loya akan menjodohkan siocia padamu, maka siocia disuruh melayani kau agar kalian dapat berkenalan lebih akrab lebih dulu. Loya pikir siocia serupa dengan Ji siocia, tentu kalian cocok juga, siapa tahu, meski siocia kami pribadi sudah mau, kau sendiri justeru berhati kaku seperti batu dan berkeras mau pergi. sudah kami beritahu Ji siocia tak dapat ditemukan kembali tetapi tidak kau percayai"

"Mengapa kau pun mengatakan Ya-ji tidak dapat ditemukan, sesungguhnya apa sebabnya?"

Tanya Yu Wi mendadak.

"Apa sebabnya, boleh kau pikirkan sendiri,"

Jawab Gim-ji dengan gegetun. saking gelisahnya sampai urat hijau menonjol di kening Yu Wi, serunya.

"Tak dapat kupikirkan, katakanlah padaku."

Gim-ji menjengek.

"Hm, meski derajat Gim-ji cuma seorang babu, tapi tidak takut digertak."

"O, Gim-ji yang kaik, maafkan sikapku yang kasar,"

Terpaksa Yu Wi memohon.

"tolong beritahukan padaku, sesungguhnya apa sebabnya?"

"Ji siocia yang hendak kau cari tidak pergi kemana-mana, dia justeru berdiam di rumah sendiri di tempat Ji naynay...."

Belum habis ucapan Gim-ji, saking girangnya Yu Wi terus berlari pergi tanpa memakai jubah luar lagi. Langsung ia berlari ketempat kediaman Giok-ciang-siancu, ibunda Ko Bok-ya. pikirnya.

"Kiranya Ya-ji berdiam di rumah sendiri, mengapa mereka sama mengutuki dia sudah tidak dapat ditemukan kembali? sungguh tidak pantas."

Ia masih ingat rumah Ya-ji, mesti kota Pak-khia sangat luas, hanya sebentar saja sudah diketahui arahnya dan segera ia berlari ke sana.

orang ramai sama terkejut dan saling padang dengan bingung melihat Yu Wi berlari bagai diuber setan.

Untung hari masih pagi, tidak banyak orang yang berlalu-lalang, kalau tidak-cara lari Yu Wi tentu menimbulkan kepanikan di tengah kota.

Setiba di istana Panglima Perang, dilihatnya suasana sekeliling istana sunyi senyap.

tidak tertampak orang lalu, hari masih pagi, bisa juga lantaran komplek istana panglima adalah daerah terlarang untuk dilalui umum.

Ketika menaiki anak tangga atau undak-undakan batu depan istana, Yu Wi melihat keadaan tempat masih tetap seperti dulu, tapi orang dan persoalannya sudah berubah.

Dahulu ia membawa Bok-ya meninggalkan istana ini, meski jiwa si nona waktu itu sangat menguatirkan, tapi keduanya selalu berdampingan dengan mesra, kenangan manis itu sukar untuk dilupakan.

sekarang dia kembali ke sini sendirian untuk mencari Ya-ji, hati terasa kesepian dan berduka.

Ia tidak tahu apa yang harus diucapkannya bila bertemu dengan Ya-ji nanti, bila Ya-ji tanya padanya.

"Apa kabar selama berpisah ini? sungguh entah cara bagimana dirinya harus menjawab, apakah mesti menjawab bahwa aku sudah kawin dan sudah punya anak?"

Lalu bagaimana perasaan Ya-ji setelah mendengar jawabannya?

Apakah nona itu takkan marah kepada cintanya yang tidak setia dan marah padanya karena dirinya tidak berusaha mencari ke mana perginya, tapi menikah dengan gadis lain, bahkan sudah punya anak?

Namun perkembangan selama beberapa tahun ini sukar untuk diduga oleh siapa pun, pengalaman sendiri boleh dikatakan terlalu aneh dan gaib, biarpun diceritakan beberapa hari juga takkan habis, tapi meski sampai pecah bibirnya menceritakan pengalamannya itu untuk memberi penjelasan kepada Ya-ji, apakah nona itu mau mengerti dan memberi maaf padanya?

Yu Wi ragu-ragu, ia berhenti pada undakan paling atas, ia geleng kepala pelahan dan berpikir.

"Dia takkan memaafkan diriku, dia pasti menganggap kedatanganku ini hanya karena kepepet, sesudah isteri terbunuh, setelah merasa kesepian barulah teringat kepadanya."

Berpikir sampai di sini, mendadak ia menarik kembali tangan yang sudah siap mengetuk pintu itu, dia membatin pula.

"Masakah aku tidak menemuinya? kan lebih baik jangan menemui dan pergi saja secara diam-diam"

Tapi baru membalik tubuh, kaki terasa berat untuk turun ke bawah undakan, seketika timbul pula hasratnya yang kuat, hasrat yang mendorongnya menemui Ya-ji, sebelum bertemu rasanya tidak rela.

Maka ia membatin pula.

"Aku sudah berada disini, biarlah kutemui dia saja, peduli apa yang dipikir Ya-ji atau diriku. betapa dia benci dan memaki diriku yang pasti akan kuceritakan pengalamanku selama beberapa tahun ini secara terus terang dan kutanya keadaannya selama ini. Apabila juga baik-baik, maka puaslah hatiku, sekalipun tetap benci kepada ketidak setiaan dirinya dan menyatakan takkan bertemu lagi untuk selamanya. asal sudah melihatnya dapatlah kupergi dengan hati tenteram, sebab apa pun-juga sudah kuceritakan segalanya dengan blak-blakan."

Pertentangan batin Yu Wi sekarang serupa seorang anak yang berbuat salah, betapapun akan mengaku terus terang kepada ibunda, peduli sang ibu akan menghukumnya atau tidak, yang jelas ia telah mengakui segalanya, kalau tidak demikian, selamanya hati takkan tenteram.

setelah membulatkan tekad akan menemui Ya-ji, seketika hatinya berdebur lagi, serupa pada waktu Gim-ji memberitahukan dimana beradanya Ya-ji, sekatika ia kegirangan luar biasa, sampai jubah luar tidak sempat dipakai dan segera berlari pergi seperti kesetanan.

Ia angkat tangannya yang rada gemetar itu untuk mengetuk pintu dengan gelang baja yang tergantung di daun pintu.

"Trang-trang-trang", terdengar tiga kali suara nyaring keras. Setelah mengetuk pintu, segera terpikir lagi olehnya.

"sekian tahun tidak bertemu, entah bagaimana wajah Ya-ji, tentu agak lebih kurus? Dia tidak tahu apakah diriku masih hidup tidak didunia ini. Teringat pada waktu dia meloloskan diri dari tangan gurunya dahulu, dia mengira jiwa ku paling-paling hanya tahan hidup setengah tahun saja, setengah tahun kemudian aku akan mati karena bekerjanya racun yang diminumkan pada ku oleh su Put-ku itu. Pantas dia kabur dari Tiam-jong-san, rupanya dia hendak mencari diriku agar waktu setengah tahun itu dapat digunakan untuk berkumpul denganku. Tapi dia tidak menemukan diriku, aku pun tidak sempat mencarinya, mungkin dia mengira diriku sudah mati. apabila dia masih memikirkan diriku, mustahil dia tidak menjadi kurus selama tiga tahun ini?"

Berpikir sampai disini, bergolaklah perasaannya, sungguh ia ingin segera bertemu dengan Bok-ya dan berkata padanya bahwa aku belum mati, lihatlah Toako masih hidup segar bugar di dunia ini Maka tanpa dipikir lagi mengapa sudah sekian lama pintu belum lagi dibuka orang, segera ia mendorong pintu.

Tak terduga, sekali dorong, kedua sayap daun pintu yang besar itu ternyata lantas terpentang dengan lebar.

Yu Wi jadi melenggong, pikirnya.

"Aneh, mengapa pintu tidak dipalang dari dalam? Padahal tempat panglima besar ini biasanya dijaga dengan ketat, mengapa tidak dipalang dan penjaga juga tidak kelihatan? jangan-jangan Ko siu tidak berdiam disini, maka penjagaan telah dihapus?"

Ia melangkah ke dalam, tapi baru beberapa langkah segera dirasakan gelagat tidak beres, ia heran mengapa suasana sehening ini, terasa seram seperti dikelenteng bobrok yang terpencil, sama sekali tidak mirip istana seorang pejabat tinggi yang berkuasa.

Ketika ada angin meniup pelahan, sayup,sayup tercium oleh Yu Wi bau anyir darah, seketika timbul rasa kaget dan takut yang luar biasa.

ter-hayang olehnya peristiwa terbunuhnya kedua isterinya di rumah juga serupa keadaan seperti sekarang ini.

Apakah mungkin segenap penghuni istana ini sama mengalami malapetaka?

, Segera Yu Wi berlari ke dalam, begitu masuk ruangan pendopo, tertampaklah adegan yang mengerikan, dilihatnya para pangawal satu persatu menggeletak disitu, kematiannya serupa, yakni kepala pecah entah terpukul oleh benda apa.

Ia coba menyapu pandang seluruh ruangan dan sedikitnya ada 20-an sosok mayat.

Hal ini berarti para pangawal kediaman pribadi Ko siu yang kedua ini sebagian besar terbunuh diruangan ini.

Sampai melongo Yu Wi menyaksikan keadaan yang luar biasa ini, diam-diam ia menjerit didalam hati.

"Siapa? siapa yang mengganas disini? Ko siu tidak tinggal disini, lalu apa maksud tujuan si pengganas? Apakah cuma membunuh anak isteri Ko siu saja?"

Saking sedihnya hampir saja Yu Wi berteriak tapi mendadak terpikir bisa jadi pembunuh belum pergi jauh, jika bersuara mungkin akan menjagetkan musuh malah.

Maka sedapatnya ia menahan peraaaannya dan melangkah ke belakang untuk memeriksa apalagi yang terjadi.

Setiba diluar ruangan belakang, terlihat pula beberapa sosok mayat.

Tak tertahan lagi air mata Yu Wi bercucuran, sebab dikenalnya salah satu mayat itu adalah ibunda Ya-ji, yaitu Giok-ciang-siancu.

Kalau Giok-ciang-siancu saja terbunuh, maka nasib Ya-ji dapat dibayangkan apabila benar nona itupun tinggal disini.

saking cemasnya Yu Wi terus berlari kian kemari untuk memeriksa mayat yang bergelimpangan itu, ingin diketahuinya adakah jenazah Bok-ya.

Tapi segenap pelosok rumah itu sudah dijelahinya, tetap tidak ditemukan mayat Ya-ji, pikirnya Janjan-jangan Gim-ji berdusta padaku, sebenarnya Ya-ji tidak tinggal disini.

Apabila dia tinggal disini, tidak nanti dia melarikan diri, kalau tidak mati tentu masih bertempur dengan si pengganas."

Kesimpulan Yu Wi sangat tepat, sebab kalau Gok-ciang-siancu terbunuh.

tidak mungkin Ko Bok-ya tinggal lari, tentu nona itu akan bertempur mati-matian dengan musuh.

Terpikir pula oleh Yu Wi kemungkinan dusta Giim-ji sangat kecil, jadi Ya-ji memang benar tinggal disini.

dan kalau tinggal di sini, lalu di mana dia sekarang?

sudah mati atau tidak?

Hati Yu Wi diliputi bayangan gelap.

secara langsung dirasakannya alamat tidak enak.

Maklumlah, antara dia dan Bok-ya sudah ada jalinan cinta yang mendalam, hanya karena pengalaman luar biasa yang mengakibatkan dia melupakan nona itu untuk sementara.

sekarang nasib si nona sangat menguatirkan dia sehingga membuat pikirannya kacau, sungguh ia ingin berteriak-teriak "

Ya-ji, di mana kau"

Dia menerjang kesana-sini tanpa arah tujuan sambil mengertak gigi erat-erat, ia kuatir kalau mendadak menemukan Ya-ji sudah mati.

Tapi meski dia sudah berlari kian kemari tetap tidak ditemukan sesuatu yang tak terduga.

Maka terpikir pula olehnya mungkin Gim-ji sengaja berdusta padanya, Ya-ji memang tidak tinggal di sini.

Maka rasa cemasnya menjadi rada berkurang.

Akan tetapi ia tetap merasakan bimbang yang tak terhingga, juga rada kecewa ....

Perasaannya sekarang sangat kontradiksi, dia sangat berharap Ya-ji berada di rumahnya.

tapi juga, berharap Ya-ji tidak tinggal disini, yang diharapkannya adalah supaya dapat bertemu dengan si nona untuk bercengkerama mangenai pengalaman masing2 selama berpisah ini, tapi ia kuatir pula bilamana Ya-ji berada di sini mungkin akan mengalami nasib buruk-maka akan lebih baik bila nona itu tidak berada disini, lebih baik selama hidup tidak bertemu lagi dengan nona itu asalkan dia masih hidup dengan baik di dunia ini.

Kenyataannya sekarang Ya-ji memang tidak berada dirumahnya, maka hati Yu Wi menjadi rada tenteram.

Ia coba mendekati jenazah Giok-ciang-siancu dan diangkatnya, ia hendak mewakili Ya-ji untuk mengubur sementara jenazah sang ibu, ia lihat jenazah Giok-ciang-siancu ternyata serupa dengan korban yang lain, kepalanya juga pecah terhantam, kalau tidak diperiksa dengan teliti sukar lagi dikenali.

Dengan hormat Yu Wi membawa jenazah itu ke halaman, dicarinya suatu tempat yang resik dan sejuk untuk dikubur.

Halaman itu masih tampak indah, penuh macam-macam pepohonan dan bunga beraneka warna, terdengar burung berkicau menarik.

Mungkin karena luasnya halaman, maka burung suka hinggap di pepohonan sini.

Agak jauh kesana Yu Wi mendapatkan suatu tempat yang sunyi dan sejuk.

selagi jenazah Giok-ciang siancu hendak diturunkan, mendadak didengarnya suara "tok"

Satu kali, suara benturan dua benda kayu.

Meski kecil suara ini, tapi cukup jelas terdengar oleh Yu Wi suara ini datang dari sebelah kanan.

Waktu ia memandang kesebelah kanan sana, rupanya karena teraling oleh pepohonan yang rindang, maka tidak dilihatnya dipojok halaman sana masih ada sebuah rumah.

Rumah ini tidak besar, hanya terdiri dari tiga petak.

dibangun seperti biara kaum Nikoh (pendeta Buddha perempuan).

Diam-diam Yu Wi heran mengapa dipojok halaman terpencil ini terdapat bangunan demikian?

Tiba-tiba terdengar pula suara "tok"

Satu kali, maka Yu Wi dapat menduga suara itu adalah suara ketokan "Bok-hi"

Atau ikan kayu, semacam alat bunyian pemeluk agama Buddha pada waktu membaca kitab.

Ia menjadi heran siapakah yang beribadat di dalam rumah ini?

Apakah si pembunuh tidak menemukan rumah ini sehingga orang yang bertirakat disini tidak ikut menjadi korban?

Orang yang bertapa disini-juga aneh, mengapa membangun biara di belakang istana panglima besar dan tirakat disini, dunia seluas ini, tempat tirakat lain yang bagus masih banyak.

mengapa justeru tempat ini yang dipilih?

Yang lebih aneh lagi adalah si pertapa ternyata tidak tahu segenap penghuni istana ini telah terbunuh habis, kecuali orang tuli mustahil tidak mendengar suara jeritan ngeri para korban pembunuhan itu.

Apakah karena sipertapa memang sangat saleh, pada waktu membaca kitab telah mencapai tingkatan yang lupa segalanya sehingga tidak merasakan kejadian disekitarnya.

Jika demikian halnya, sipertapa ini menjadi rada misterius, sebab seorang pertapa yang saleh ternyata bertirakat di biara yang dibangun dibelakang istana panglima angkatan perang, maka asal-usul sipertapa ini sungguh sukar untuk dimengerti.

Tengah termenung, tiba-tiba terdengar lagi suara "tok"

Seperti tadi, cuma ketukan sekali ini lebih keras sehingga jelas terdengar memang betul suara ketukan bok hi.

Maka tidak perlu disangsikan lagi didalam rumah ini memang betul ada seorang pertapa.

Mestinya Yu Wi ingin mencari tahu lebih jelas apakah benar seorang pertapa yang tirakat di situ, tapi sekarang kebendak itu dibatalkannya, ia pikir untuk apa mesti mengganggu ketenangan orang?

segeru ia menaruh jenazah Giok-ciang-siancu ketanah dan hendak dikuburnya agar arwah yang mati bisa mendapatkan tempat yang tenang.

Kemudian akan diberitahukannya kepada Ko siu agar diadakan pemakaman kembali.

selagi Yu Wi mulai menggali lobang dengan tangan, tiba-tiba terdengar suara "tok"

Lagi sekali, suara sekali ini terlebih keras, seperti diketuk oleh sipertapa dalam keadaan marah. Yu Wi menggeleng kepala dan heran.

"Aneh juga pertapa itu, mengapa cara begini dia mengetuk Bokhi? sudah tidak sama suara ketukannya, jarak waktunya juga tidak sama, pula tidak terdengar suaranya membaca kitab? Maklumlah, biasanya pendeta Buddha membaca kitab sembari mengetuk Bokhi secara teratur dan berirama, kedengarannya sangat menarik. Tapi ketukan Bokhi yaug didengar Yu Wi sekarang sudah tidak teratur. juga tidak enak didengar, bahkan boleh dikatakan menusuk telinga. Mau-tak-mau timbul rasa curiga Tu Wi dan ingin mencari tahu apa yang terjadi. segera ia berbangkit, pelahan ia mendekati bangunan yang berbentuk biara itu. Ia kuatir mengganggu ketenangan orang, maka jalannya sangat pelahan tanpa menimbulkan suara. Setiba di depan rumah kecil itu, dilihatnya pintu bagian tengah hanya setengah dirapatkan hingga keadaan di dalam dapat diintip. selagi Yu Wi menimang apakah dirinya harus mengintp atau tidak. mendadak terdengar suara "tok"

Yang keras sehingga dia berjingkat kaget.

Diam-diam ia membatin sedemikian keras pertapa itu mengetuk Bokhi, alat itu pasti terketuk pecah.

Benar juga dugaannya, Bokhi itu memang betul terketuk pecah.

Didengarnya suara pertapa itu lagi berkata.

"Jika tetap tidak kau serahkan, jiwa ibumu akan serupa Bokhi ini, akan kukatuk pecah"

Yu Wi melengak. la heran pertapa itu sedang bicara dengan siapa? Mengapa seorang pertapa bicara segalak itu, kedengarannya seperti lagi mengancam seseorang. Orang yang diancam lantas menjawab.

"suhu, janganlah engkau membunuh ibuku, biarlah kuserahkan ...."

Suaranya kedengaran gemetar, jelas karena tidak tahan diancam sehingga menerima permintaan si pertapa dan mau menyerahkan sesuatu yang dimintanya. Terdengar sipertapa bergelak tertawa dan berkata.

"Ha ha, masakah berani kau tolak permintaanku. setelah lima kali ketukan Bokhi berbunyi, sedetik pun tidak boleh tertunda. Nah, lekas katakan di mana kau simpan barangnya, kalau tidak. jangan menyesal bila kubunuh ibumu."

"Suhu,"

Jawab yang diancam.

"murid memang tidak pantas mencuri Kiam-boh suhu, sekarang terserah kepada hukuman yang akan suhu jatuhkan atas diriku."

"Hm, mengingat kau sudah bertobat, katakan saja apa permintaanmu?"

Jengek sang guru.

"Bila suhu bertemu dengan Yu Wi mohon suhu sudi mengajarkan dua jurus ilmu pedang yang belum dikuasai Yu Wi itu,"

Demikian kata si murid.

"Permintaan murid ini memang tidak pada tempatnya, namun ... namun murid rela mati asalkan suhu mau memenuhi permintaanku ini ...."

"Rela mati? Memangnya kau kira gurumu akan mcengampuni jiwamu?"

Jengek sang guru dengan gusar.

"sungguh budak kurang ajar, kau berani mengkhianati guru dan membawa lari Hai-yan-kiam-boh, kabur dari Tiam-jong-san dan hendak mencari murid Ji Pek liong itu. Hm, muluk-muluk pikiranmu, hendak kau berikan Kiam-boh itu kepada bocah itu agar dia dapat menguasai kedelapan jurus ilmu pedang itu secara lengkap sehingga dapat menjagoi dunia tanpa tandingan. Huh, enak benar perhitunganmu. Nah, lekas mengaku di mana kau simpan itu? jika kubunuh ibumu supaya kau jadi anak yang durhaka...."

Baru sampai disini, sekonyong-konyong bayangan orang berkelebat, tahu-tahu seorang melayang turun ditengah kedua orang itu, menghadapi sang guru yang berdiri di dekat pintu dan membelakangi si murid yang berpakaian nikoh.

Pendatang ini memakai kain kedok hitam, dengan suara serak ia berseru.

"Ko Bok-ya, ibumu sudah dibunuh oleh Nikoh bangsat It-teng ...."

Seketika Nikoh yang berdiri di belakangnya berubah pucat demi mendengar keterangan ini, dengan suara gemetar ia tanya.

"Jadi ... jadi ibu sudah ... sudah dibunuhnya?"

Tanpa menoleh orang berkedok itu menghela napas menyesal dan pedih tak terhingga.

Orang yang berdiri didekat pintu ternyata It teng Taysu alias Thio Giok-tin, dia sekarang sudah piara rambut lagi dan disanggul diatas kepala.

Maka kurang tepat jika orang menyebutnya sebagai "Nikoh bangsat", sebab sekarang dia berdandan seperti perempuan biasa, berbedak dan bergincu.

Cuma wajah Thio Giok-tin sekarang sudah tua sehingga dandanannya ini kelihatan berlebihan.

"Siapa kau? Lekas enyah"

Bentak Thio Giok-tin dengan melotot terhadap orang berkedok itu.

"Aku enyah, kaupun harus enyah, bang..."

Mendadak orang berkedok itu merandek dan ganti ucapannya.

"Thio Giok-tin, biarlah kita enyah bersama dari sini, jangan membikin kotor tempat suci ini."

Dia tidak jadi memaki "Nikoh bangsat", sebab sekarang Thio Giok-tin tidak menjadi Nikoh lagi,justsru Ko Bok-ya sekarang telah cukur rambut dan menjadi Nikoh, maka makiannya itu kalau jadi di-lontarkan, bukan Thio Giok-tin yang termaki melainkan Ko Bok-ya.

Segera Thio Giok-tin menjengek.

"Apakah di antara kita berdua ada permusuhan? Beranikah kau katakan siapa dirimu?"

Suara orang berkedok itu tambah serak dan menjawab.

"Jangan kau pancing kukatakan asal-usul ku, tapi dapat kuberitahukan padamu, diantara kita berdua bukan saja ada permusuhan, bahkan permusuhan yang sangat mendalam."

Thio Giok-tin merasa keder oleh gerak tubuh orang berkedok yang luar biasa tadi, maka dia tidak berani meremehkannya, ia sengaja menjajaki lagi.

"Ada permusuhan apa? Memangnya telah kubunuh orang tua dan anak isterimu?"

Orang berkedok itu merasa malas untuk banyak bicara, iapun kuatir bila tinggal terlalu lama disitu akan dikenali oieh si Nikoh muda alias Ko Bok-ya, maka cepat ia berseru pula.

"Thio Giok-tin sesungguhnya kau berani bertempur denganku atau tidak?"

Diam-diam Thia Giok-tin bertekad akan membunuh orang berkedok. bahkan akan digunakanu cara yang paling keji, tapi ia menjawab dengan tenang.

"Jika kau ingin mati di tanganku kan teramat mudah. Hm, kau tidak berani mengaku siapa dirimu, memangnya kau kira aku tidak tahu? Nah, keluar dan tunggu saja diluar, sebentar cukup dengan tiga jurus saja dapat kusebutkan siapa dirimu."

"Mau keluar harus keluar bersama sekarang juga, biarlah kita bertanding di tempat yang tidak ada orang lain,"

Kata si orang berkedok.

"Ingin mati kan tidak perlu terburu-buru."

Ujar Thio Giok-tin.

"Dengan kehormatanku, tidak nanti kukabur dimedan perang.

Boleh kau tunggu saja diluar, turutlah perkataanku, supaya kematianmu nanti dapat kuberi keringanan.

sekarang aku hendak menghukum murid durhaka, kalau tahu diri lekas kau pergi dulu"

Benci Thio Giok-tin kepada orang berkedok ini tak terkatakan, coba kalau dia tidak datang, tentu Ko Bok ya sudah menyerahkan Hai-yan-kiam-boh Kiranya Thio Giok-tin telah menggunakan tipu keji untuk menggertak Ko Bok ya agar menyerahkan kitab pusaka yang dicurinya itu, kalau tidak Giok-ciang-siancu yang dikatakan sudah ditawannya akan dibunuh, ia memberi batas waktu lima kali ketukan Bokhi, bila selesai Bokhi diketuk lima kali dan Kiam-boh tidak diserahkan, segera ibu Bok-ya akan dibunuhnya.

Padahal pada waktu Thio Giok-tin menyerbu ke situ Giok-ciang-siancu sudah dibunuhnya, hal ini tidak diketahui Bok-ya.

Tiga tahun yang lalu waktu Bok-ya kabur dari Tiam-jong-san, ia telah membawa lari Hai-yan-kiam boh, maksudnya hendak mencari Yu Wi dalam waktu setengah tahun dan menyerahkan Kiam-boh itu kepadanya agar setelah berhasil menguasai kedelapan jurus Hai-yan-kiam-hoat anak muda itu akan menjadi jago nomor situ di dunia.

Tak terduga selama setengah tahun tiada berita apa pun mengenai Yu Wi yang diperolehnya, meski dia telah berusaha dengan segala daya upaya tetapi jejak anak muda itu tidak ditemukan.

selewatnya setengah tahun, Bok ya jadi putus asa, disangkanya setelah lewat waktu yang ditentukan tentu racun yang diminumkan su Put-ku itu telah bekerja dan Yu Wi sudah mati.

Bok ya teramat mencintai Yu Wi, karena menyangka Yu Wi sudah mati, ia merasa hidup ini sudah tidak ada artinya lagi.

maka ia lantas mencukur rambut dan menjadi Nikoh.

Tahun yang lalu dia ditemukan anak buah Ko siu di sebuah biara dipegunungan Hoa-san.

Ketika menerima laporan bahwa puteri kesayangan mereka telah menjadi Nikoh, serentak Ko siu dan Giok-ciang-siancu menyusul ke Hoa-san dan membujuk agar anak perempuannya mau kembali ke kehidupan biasa.

Namun Bok ya bersumpah takkan kembali lagi ke dunia ramai.

tapi ia pun tidak tega membikin susah orang tua, ia ikut pulang kePak khia bersama ayah ibunya.

Kosiu lantas membangun sebuah biara kecil di belakang taman agar Bok-ya dapat bertapa dengan tenang di situ, agar dapat pula sering-sering bertemu dengan orang tua.

Sesudah menjadi orang beragama, iman Bok ya sangat teguh.

Mestinya orang yang sudah Jut-keh atau meninggalkan rumah, segala persoalan orang hidup dianggapnya kosong semua.

Tapi pada dasarnya Bok ya memang anak berbakti, dia mau bertapa di rumah, sampai sekarang sudah tiga tahun ia bertirakat dan asyik menyelami agamanya, namun rasa baktinya kapada orang tua juga tidak pernah berkurang.

Kini Thio Giok-tin mengancam akan membunuh ibunya, terpaksa Ko Bok-ya harus menyerahkan Hai-yan-kiam-boh yang dicurinya dahulu.

Tampaknya kitab pusaka itu akan segera kembali padanya, tahu-tahu muncul seorang berkedok sehingga semua rencananya gagal total, keruan tidak kepalang gemas Thio Giok-tin, apabila tidak ada pertimbangan lain.

sungguh dia ingin mencincang orang berkedok itu Sambil memandang pemukul Bokhi yang masih dipegang Thio Giok-tin.

si orang berkedok berkata dengan suara parau.

"Thio Giok-tin, tadinya kau jadi Nikoh dan sekarang sudah kembali preman. Tapi muridmu sekarang telah menjadi Nikoh, sebagai orang yang telah barpengalaman tentu kau tahu betapa pahit getirnya orang yang meninggalkan rumah. Umpama muridmu bersalah, kalau sekarang dia sudah menjadi Nikoh, segala kesalahan pada masa lampau juga harus dihapuskan, kau bicara lagi tentang memberi hukuman."

Thio Giok-tin mendengus.

"Asalkan dia serahkan kembali Kiam-boh yang dicurinya, soal hukuman boleh dikesampingkan. Maka sekarang juga harus lekas dia serahkan Kiam-boh, kalau tidak hukuman sukar terhindar, bahkan jiwa ibunya juga tak tertolong."

Padahal sudah diperhitungkannya, bilamana Kiam-boh sudah kembali di tangan.

segera juga dia akan turun tangan, ia sudah bersumpah takkan membiarkan orang barkedok dan Ko Bok-ya tetap hidup, si orang berkedok lantas berkata dengan menyesal.

"Wahai Thio Giok-tin, kau sungguh teramat kejam sudah jelas ibu orang telah kau bunuh. tapi masih kau ancam orang, di mana beradanya hati nuranimu?"

"Tutup mulut"

Bentak Thio Giok-tin.

"Tiada permusuhan apa pun antara diriku dengan Giok-ciang-siancu. mengapa kubunuh dia tanpa sebab?"

"Nah, Ko Bok-ya, lekas kau serahkan Kiam-boh yang kau curi dan akan kuampuni jiwamu, bila kau tetap bandel dan percaya kepada ocehan keparat ini, jangan menyesal jika aku tidak kenal ampun lagi."

Sebenarnya sejak tadi Ko Bok-ya hendak menyerahkan Hai-yan-kiam-boh, tapi di dalam hati masih mengharapkan Yu wi belum mati, sebab itulah dia mengajukan syarat agar Thio Giok-tin mengajarkan dua jurus Hai-yan-kiam hoat kepada Yu Wi, ia tidak tahu siapakah orang berkedok itu, demi mendengar ibunya sudah terbunuh, ia menjadi ragu dan setengah percaya, ia pikir masakah suhu begitu bodoh, sebelum mendapatkan Kiam-boh lantas membunuh sanderanya?

Kalau suhu telah mengancam diriku dengan lima kali ketukan Bokhi, tentu ibu belum dibunuhnya, makanya dia mengancam aku dengan cara demikian.

Padahal ia tidak tahu kekejian Thio Giok-tin, betapa licin akal busuknya, ia sengaja mengancam Bok-ya dengan batas waktu lima kali ketukan Bokhi agar nona itu merasa gelisah dan tidak sempat memikirkan keadaan sang ibu yang masih hidup atau sudah mati.

Maka sekarang Bok ya merasa sangsi meski ia mendengar si orang berkedok bilang ibunya sudah terbunuh, betapa pun ia tidak percaya sang guru telah membunuh ibunya, buktinya justeru jiwa sang ibu itu digunakan sebagai alat pemeras sang guru kepadanya.

Kuatir sang guru menjadi murka dan benar-benar bertindak keji, cepat Bok-ya berkata "Baiklah suhu, akan kuserahkan kitab ini, cuma kuharap...."

Thio Giok-tin tahu yang akan diucapkan Bok-ya selanjutnya adalah soal dua jurus ilmu pedang yang harus diajarkan kepada Yu Wi itu, ia kuatir dikacau lagi oleh orang berkedok dan urung pula mendapatkan kitab pusakanya, maka cepatja memotong.

"Baik, mengingat hubungan baik kita masa lampau, kuterima permintaanmu untuk mengajarkan anak busuk she Yu itu dengan dua jurus yang kau maksudkan."

Tujuan Bok-ya mencuri kitab pusaka Itu justeru demi kepentingan Yu Wi dan tiada maksud lain, sekarang Thio Giok-tin telah manerima permintaannya, kitab pusaka itu tidak perlu ditahan lagi.

Maklumlah, meski kitab itu sudah tiga tahun berada padanya, namun satu halaman saja belum pernah dibacanya.

selagi ia hendak mengeluarkan kitab yang diminta, mendadak si orang berbedok berseru.

"Nanti dulu"

Suara orang berkedok sekarang tidak lagi dibikin serak seperti tadi, maka Ko Bok-ya jadi tercengang karena merasa suara orang sudah cukup dikenalnya.

seketika ia urung pergi mengambil kitab yang disembunyikannya itu.

Keruan Thio Giok-tin menjadi gusar, bentaknya kepada orang berkedok.

"Keparat, apakah kau cari mampus?"

"Jika kuberani datang ke sini, jiwaku memang sudah tidak kupikirkan lagi."

Jengek oreng berkedok itu.

"Thio Giok-tin, kau bilang tidak ada permusuhan apa pun dengan Giok-ciang-siancu sehingga tidak perlu membunuhnya. sekarang ingin kutanya padamu, Ang-bau-kong dan Lam-si-khek kan juga tidak ada permusuhan apa pun denganmu, mengapa kau bunuh mereka? mengapa? Ya, mengapa? Coba sebutkan alasanmu?"

Semula si orang berkedok bicara dengan menahan suara, tapi sampai akhirnya, karena rasa gusarnya yang tak tertahankan-suara aslinya lantas tercetus tanpa sembunyi lagi.

"Sesungguhnya siapa kau? Dari mana kau tahu akulah yang membunuh sijubah merah dan sijanggut biru?"

Seru Thio Giok-tin dengan kaget.

Waktu Thio Giok-tin mambunuh kedua orang tersebut di Tiam-jong-san dahulu hanya karena mereka telah mengajarkan Hui-liong-pat-poh dan Hoa-in-ciang-hoat kepada Yu Wi, waktu Thio Giok-tin membunuhnya, disana hanya terdapat Lau Tiong-cu, Yu Wi dan Lim Khing-kiok.

Lau Tiong-cu sudah lama tidak berhubungan dengan orang Kangouw, Thio Giok-tin yakin dia pasti takkan menyiarkan keganasan itu kecuali Yu Wi atau Lim Khing-kiok yang menyiarkan kejadian itu.

Tiba-tiba si orang berkedok bergelak tertawa saking murkanya, serunya, Jika ingin orang lain tidak tahu, kecuali diri sendiri tidak berbuat Thio Giok-tin, percuma orang menyebutmu sebagai It-teng sin-ni, kenyataannya kau adalah seorang jagal perempuan.

Kau tanya ada permusuhan apa antara diriku denganmu, ketahuilah, dibunuhnya kedua Cianpwe si jubah merah dan sijanggut biru itulah merupakan permusuhanmu denganku yang tak terleraikan-"

Mendengar orang berkedok menyebut kedua orang yang terbunuh itu sebagai Cianpwe dan lantaran itu pula orang berkedok ini mengikat permusuhan dengan dirinya, jejak kedua tokoh yang sudah terbunuh itu mempunyai hubungan yang erat dengan orang berkedok ini, maka dengan cepat Thio Giok-tin dapat menduga siapakah gerangan orang berkedok ini.

Segara ia menjengek.

"Hm, kukira siapa, rupanya anak busuk she Yu. Muridku sekarang sudah menjadi Nikoh, coba bagaimana perasaanmu?"

Orang berkedok ini memang betul Yu Wi adanya.

Betapa pun tak terpikir olehnya bahwa Bok-ya yang lincah dan penuh gairah hidup itu bisa putus asa dan rela menjadi Nikoh, tadi ketika didengarnya Bok-ya meminta Thio Giok-tin suka mengajarkan kedua jurus ilmu pedang padanya, hati Yu Wi terasa pedih tak terkatakan.

Nyata Bok-ya tidak pernah melupakan dirinya, bahkan demi dirinya rela mendurhakai guru, akibatnya ibu kandung sendiri terbunuh, sebaliknya bagaimana dengan dirinya.

Pernahkah dirinya memperhatikan nona itu, malahan beberapa tahun terakhir ini sama sekali telah melupakan dia.

Kalau sekali ini dirinya tidak terluka dan dibawa orang kerumah Paman Ko, mungkin juga tetap tidak ingat kepada Ko Bok-ya.

Yu Wi pikir dirinya adalah seorang yang paling tidak berbudi dan tidak setia, terbunuhnya Giok-ciang-siancu, secara langsung pengganasnya ialah Thio Giok-tin, tapi pembunuh secara tidak langsung adalah dirinya.

Kalau bukan demi dirinya, Bok-ya takkan minggat dari Tinm-jong-san dengan mencuri Kiam-boh.

Betapa pun jahatnya Thio Giok-tin juga takkan membunuh ibu muridnya sendiri Berpikir sampai disini, tidak terkatakan pedih hati Yu Wi, ia membatin.

"Thio Giok-tin, wahai Thio Giok-tin, antara kita telah bertambah lagi permusuhan baru, selama Yu Wi masih hidup kubersumpah takkan hidup bersama-sama di dunia ini."

Karena sekarang Yu Wi tidak mau bertemu dengan Bok-ya, ia ingin menempur Thio Giok-tin untuk mengadu jiwa, ia pikir bilamana Ya-ji tahu siapa dirinya, tentu takkan membiarkan dia berduel dengan Thio Giok-tin.

Maka setelah Thio Giok-tin menyebut namanya, segera ia menjawab dengan suara yang dibikin serak.

"Kau bilang siapa Yu Wi? Huh, aku tidak tahu. Pokoknya kedatanganku ini hendak menuntut balas bagi kedua Locianpwe yang telah kau bunuh itu. Nah, Thio Giok-tin, apabila kau masih mengaku sebagai tokoh paling lihai, terimalah tantanganku dan ikut keluar untuk menentukan siapa lebih unggul denganku"

Setelah menyebutkan si orang berkedok ialah Yu Wi, diam-diam Thio Giok-tin merasa menyesal juga, sebab ia menjadi kuatir bilamana Bok-ya mengetahui anak muda itu masih hidup, mati pun kitab pusaka itu takkan dikembalikan lagi kepadanya.

Siapa tahu si orang berkedok lantas manyangkal dirinya sebagai Yu Wi, tentu saja Thio Giok tin merasa girang.

Dengan tertawa cerah Thio Giok-tin lantas bertanya pula.

"Apakah Ang-bau-kong adalah gurumu?"

Untuk menutupi asal usul sendiri, Yu Wi menjawab.

"Ya, guruku terbunuh olehmu, sakit hati ini setinggi langit."

Ia pikir Ang-bau-kong atau si jubah merah memang pernah mengajarkan kungfu padanya, kalau menganggapnya sebagai guru juga pantas. Maka Thio Giok-tin bertanya pula dengan tertawa.

"Dan kau pun ingin menuntut balas bagi sijanggut biru, apakah kaupun muridnya?"

Yu Wi mengangguk, teriaknya dengan murka.

"Ya, kedua guru yang berbudi itu telah kau bunuh semua, pendek kata hari ini harus ditentukan mati dan hidup antara aku dan dirimu, kubersumpah takkan menyudahi urusan ini sebelum ketentuan tersebut terjadi."

Thio Giok-tin merasa kepandaian Yu Wi tidak perlu ditakuti, dengan tertawa ia berkata.

"kau ingin membalas dendam bagi kedua setan tua itu, baik, akan kupenuhi kehendakmu. sekarang kau keluar dulu, ingin kubicara sebentar dengan muridku yang durhaka ini,"

Yu Wi sendiri menyadari pertarungannya melawan Thio Giok-tin lebih banyak kalah daripada menangnya, namun dia tidak gentar sedikit pun, ia melangkah keluar, tapi baru dua-tiga tindak ia berpaling dan berucap dengan suara yang dibikin parau.

"Nona Ko...."

"Gelar agamaku ialah so-sim,"

Tukas Ko Bok-ya yang kini mengenakan jubah pertapa itu.

Pedih hati Yu Wi, ia pikir dengan nama "So-sim" (hati suci) jelas segenap pikiran telah kau serahkan kepada sang Buddha.

Ia lantas menyambung ucapannya.

"lbumu memang benar telah dibunuh oleh Thio Giok-tin, jenazah beliau sekarang berada dihalaman, akan kukubur dulu layon beliau. lalu akan kuberitahukan kepada ayahmu,"

"Terima kasih atas kebaikan sicu,"

Kata Bok-ya dengan menyesal.

"Anak busuk, tidak perlu cerewet disini"

Bentak Thio Giok-tin dengan gusar.

"Suhu, tidak perlu lagi engkau menutupi hal ini, kutahu ibu memang sudah kau bunuh,"

Kata Bok-ya.

"Apakah kau jadi ngambek?"

Tanya Thio Giok-tin.

"Jika kau tidak percaya ibumu masih berada dalam cengkeramanku, biarlah segera kubawa dia kesini dan akan kubunuh dia di depanmu."

"Satu orang tidak mungkin mati dua kali,"

Ujar Bok-ya.

"suhu, tidak perlu kau takut-takuti lagi diriku. Kiam-boh sudah kuberikan kepada orang lain dan tidak dapat diminta kembali lagi. sekalipun kau bunuh diriku juga tetap tidak sanggup kukembalikan."

Thio Giok-tin menjadi gusar, ia heran mengapa pikiran Bok-ya berubah secepat ini, tadi percaya ibunya masih hidup.

tapi sekarang menyatakan tidak percaya, jelas sukar untuk memaksanya mnyerahkan Kiam-boh.

Diam-diam ia menyesal atas kecerobohan sendiri, ketika Giok-ciang-siancu tidak mau memberitahukan dimana beradanya Bok-ya, dalam gusarnya segera dia membunuhnya.

KaLau Giok-ciang-siancu tidak dibunuhnya, tentu sekarang jiwanya dapat digunakan untuk memeras Bok-ya.

Lantas apa sebabnya mendadak Ko Bok-ya percaya ibunya sudah terbunuh?

Kiranya sekarang ia pun tahu siapakah gerangan si orang berkedok itu.

Yu Wi kuatir Bok-ya akan mencegahnya mengadu jiwa dengan Thlo Giok-tin, maka sengaja muncul dengan memakai kedok serta sengaja membikin serak suaranya agar tak dikenali Bok-ya.

Tak tahunya, biarpun suaranya dapat dibuat-buat, tapi tatkala emosi, tanpa terasa suara aslinya lantas sukar ditutupi lagi.

Padahal Bok-ya dan Yu Wi pernah berkumpul cukup lama, keduanya saling mencintai, mustahil dia tidak kenal lagi suara Yu Wi.

Maka begitu Yu Wi bicara dengan suara yang berganti-ganti, segera Bok-ya tahu si orang berkedok ialah Yu Wi.

Namun sesudah Jut-keh atau meninggalkan rumah, meninggalkan dunia ramai ini, segenap jiwa Bok-ya sudah dicurahkan kepada agamanya, meski cinta kasih masa lampau belum lagi dilupakan, namun ketawakalnya terhadap agama tetap tidak bergoyah dan lebih kuat daripada cinta kasih yang sukar terlupakan itu.

Ketika mengetahui orang berkedok ialah Yu Wi memang hatinya berguncang hebat dan hampir saja ia menjerit, hampir saja ia tidak tahan dan ingin menjatuhkan dirinya kepangkuan anak muda itu untuk menguraikan betapa rasa rindunya selama berpisah ini.

Namun dengan kekuatan batin yang sangat teguh ia menahan perasaannya, diapun diam ia membaca doa penenang sehingga perasaannya terkendalikan.

Walau jelas terlihat Yu Wi berdiri di depannya.

namun ia sengaja berlagak tidak mengenalnya.

Tapi ia pun percaya ibu sudah terbunuh, meski cinta kasihnya dengan Yu Wi sudah terputus oleh ketawakalnya kepada agamanya, namun dia percaya penuh anak muda itu pasti tidak berdusta kepadanya.

Betapa pedih dan betapa hancur luluh hatinya sekurang sama seperti tiga tahun yang lalu ketika dia mengira Yu Wi telah mati lantaran bekerjanya racun yang diminumkan su Put-ku itu sehingga dia putus asa dan mencukur rambut menjadi Nikoh.

Cintanya terhadap ibunda melebihi cinta kasihnya terhadap Yu Wi, tapi dapatkah dia membunuh gurunya sendiri untuk membalas dendam?

Terdengar ia berkata dengan air mata berlinang.

"suhu, inilah untuk kali terakhir kusebut suhu pada mu, selanjutnya hubungan kita antara murid dan guru putus dan hapus seluruhnya, tentang Kiam-boh maaf tak dapat kukembalikan ...."

Melihat cara bicara Bok-ya sedemikian tegas dan pasti, Thio Giok-tin tahu tak dapat memintanya lagi, tak dapat lagi mengancamnya dengan jiwa Giok-ciang-siancu agar menyerahkan kembali kitab pusaka yang tercuri itu.

Segera timbul pikirannya akan menggunakan budi kebaikan pada masa lampau untuk menipu dan membujuk agar Bok-ya mau mengembalikan Kiam-boh, maklumlah kitab itu terlalu penting baginya, meski dia sendiri tidak dapat melatih ilmu dalam kitab itu, tapi bila sampai orang lain menguasai ilmu itu akan berarti elmaut pula baginya, betapapun ia tidak menghendaki ada kungfu orang lain didunia ini lebih tinggi daripadanya.

Dia harus memusnahkan kedelapan

Jilid kitab ilmu pedang yang dirinya tidak mampu meyakininya itu. Maka dengan lemah-lembut ia coba membujuk.

"Bok-ya, meski huhungan baik kita sebagai guru dan murid sudah putus, tapi tidakkah kau ingat betapa mula-mula kuterima dirimu menjadi muridku waktu itu badanmu sangat lemah. demi menyehatkan tubuhmu, jauh-jauh kubawa dirimu pergi ke siau-ngo tay-san untuk minta pengobatan kepada su Put-ku, dengan segala daya upaya gurumu berusaha membikin badanmu sehat dan kuat, kalau tidak. waktu itu kau pasti tidak tahan hidup dua tiga tahun lagi. Nah. apakah kebaikan ini juga akan kau coret begitu saja? Apakah kau tega membalas budi dengan kejahatan dan mencuri kitab kesayangan gurumu ini?"

Dia bicara dengan lembut, makin lirih dan penuh perasaan, setiap katanya benar-benar menyentuh hati Ko Bok-ya.

Thio Giok-tin ini memang tidak malu sebagai seorang gembong iblis perempuan, bisa keras juga bisa lunak.

demi menipu kembali kitab pusakanya dia mampu menahan rasa murkanya untuk sementara, katanya pula.

"Bok-ya, kutahu Kiam-boh masih berada padamu, mestinya tadi hendak kau kembalikan, cuma mendadak kedatangan bangsat keparat itu sehingga segalanya terkacau, jangan kau percaya ocehan bocah itu. Aku tidak membunuh ibumu. Nah, murid yang baik, lekas keluarkan Kiam-boh dan kembalikan kepada gurumu."

Bok-ya kerkerut kening, meski ucapan Thio Giok-tin itu sangat menyentuh perasaannya.

tapi sakit hati terbunuhnya ibunda masakah dapat hapus begitu saja.

Semakin ramah bujukan Thio Giok-tin, semakin yakin Bok-ya bahwa ibunya sudah dibunuhnya, yang dituju sekarang hanya ingin menipu kembali kitab pusaka itu, akal licik ini mustahil tidak diketahui oleh Bok-ya.

Maka dengan jemu Bok-ya menjawab.

"Kutahu budi kebaikanmu pada ku, pada waktu hendak Jut-keh akupun sangat menyesal tidak dapat membalas kebaikanmu.

sekarang soal budi kebaikan sudah lenyap semuanya.

Nah, Thio Giok-tin, soal terbunuhnya ibuku tidak kutuntut balas padamu adalah karena aku merasa utang budi.

Maka sekarang lekas kau pergi saja, jangan sampai kau bikin pikiranku berubah.

Kiam-boh benar-benar sudah kuberikan kepada orang lain,jut-keh-lang tidak nanti berdusta."

Ucapan terakhir Bok-ya itu membuat Yu Wi merasa heran juga.

Ia pikir diberikan kepada siapakah kitab pusaka itu?

Padahal tadi jelas-jelas dia hampir mengambilnya dan dikembalikan kepada Thio Giok-tin, kalau dirinya tidak mendadak muncul dan mencegahnya.

saat ini kitab itu pasti sudah berada ditangan Thio Giok-tin.

---ooo0dw0ooo---Bab 10 .

Keributan di kediaman Panglima Ko Ia tidak tahu bahwasanya setelah Bok-ya mengenali dia dari suaranya, dalam hati dianggapnya Kiam-boh sudah diberikan kepadanya dan bukan kepada orang lain.

Jalan pikiran anak perempuan, terutama anak perempuan aneh dan banyak tipu akalnya seperti Ko Bok-ya, kalau di dalam hati ia anggap kitab sudah diberikan kepada Yu Wi, maka apa pun dianggapnya benar sudah diberikan padanya.

Dengan sendirinya Yu Wi tidak tahu bahwa hanya dalam angan-angan saja Bok-ya menganggap kitab pusaka itu telah diberikan padanya.

Padahal sejak mula ketika Bok-ya mencuri kitab pusaka itu memang sudah diputuskan akan diserahkan kepada Yu Wi, biarpun ia sendiri apa lagi orang lain, sekali-kali tidak boleh membaca isi kitab itu, sekali pun gurunya waktu membunuh dia juga kitab itu takkan dikembalikan padanya.

Menurut tekad Bok-ya, sebelum Yu Wi mati harus berhasil menguasaikan ilmu pedang nomor satu di dunia ini, apabila benar akhirnya Yu Wi mati karena tak dapat disembuhkan, maka kitab itu akan dibakarnya didepan makamnya agar anak muda itu dapat mempelajari ilmu pedang itu di alam baka dan manjagoi dunia akhirat.

Jalan pikiran Bok-ya itu timbul demi membalas budi kebaikan dan cinta kasih Yu Wi yang pernah menyelamatkan dia tanpa menghiraukan kaselamatan sendiri.

Tapi dia gagal menemukan Yu Wi dalam waktu setengah tahun, juga tidak menemukan makam Yu Wi setelah mati, jadi rencananya telah gagal totaL Sekarang diketahuinya Yu Wi masih hidup segar bugar, bahkan berdiri didepannya, meski cinta kasih masa lampau tak dapat diresapi kembali, namun tekad memberikan kitab pusaka itu tidak tergoyahkan, sebab ia tahu Hai-yan-kiam-hoat memang ilmu pedang nomor satu di dunia, bilamana dapat dikuasai Yu Wi sepenuhnya, jadilah anak muda itu jago nomor satu tanpa tandingan.

Thio Giok-tin tidak tahu persis apakah benar Kiam-boh itu oleh Bok-ya telah diberikan kapada orang lain atau tidak.

ia cuma gusar lantaran Bok-ya sekarang langsung menyebut namanya, diam-diam ia membatin.

"Budak kurang ajar, benar-benar kau tidak mau mengaku guru lagi padaku. Memangnya kutakut kepada anak didikanku sendiri? Betapa kemampuanmu masakah tidak kuketahui? Hm, malah kau berani lagi menggertak diriku. Huh, aku justeru tidak mau pergi, ingin kulihat cara bagaimana akan kau perbuat atas diriku."

Karena cara halus tidak membawa hasil, sekarang tegas-tegas Thio Giok-tin hendak memakai kekerasan.

Apakah Kiam-boh masih ada atau tidak, yang pasti hari ini harus didapatkannya kembali.

segera ia menanggapi.

"Ya. betul, ibumu memang sudah kubunuh. salahmu sendiri, berani mendurhakai guru dan tidak berbakti kepada orang tua. sekarang sudah kubunuh sagenap anggota keluargamu, tertinggal tua bangka Ko Siu saja yang lolos, kau tunggu saja disini, akan kupenggal kepala tua bangka itu dan segera kuperlihatkan kepalanya padamu"

Sedapatnya Bok-ya menahan gejolak perasaannya, pikirnya.

"So-sim, wahai so-sim, sekarang kau sudah menyerahkan dirimu dalam agama, kau harus pantang rasa dengki dan marah, apalagi dia juga guru yang pernah mengajar dan menolong dirimu. Meski hubungan baik sekarang sudah putus, tetap tidak boleh kau turun tangan kepadanya."

Maka dengan menunduk dan mata terpejam sambil bergumam.

"Pergi, pergilah kau. Takkan kubunuh kau, takkan kubuuuh kau ...."

Tentu saja Yu Wi melongo heran, pikirnya,.

"Memangnya kepandaian Ya-ji dapat mengatasi gurunya sehingga berani bicara demikian? sungguh aneh, apakah selama beberapa tahun ini dia mendapat penemuan aneh sehingga kungfunya banyak lebih maju?"

Terdengar Thio Giok-tin tertawa terkekeh saking senangnya, ucapnya.

"Wah, murid yang baik, gurumu harus berterima kasih padamu karena kau tidak bertindak padaku. Cuma sayang, meski tidak kau bunuh diriku. aku justeru akan membunuh ayahmu. Boleh kau tunggu saja di sini, lihatlah sebentar akan kubawakan kepala tua bangka itu kepadamu ingin kulihat aba abamu nanti"

Habis berkata ia terus melayang keluar. Bok-ya mendengar suara Yu Wi yang mengejar kesana, tiba-tiba matanya yang terpejam itu mencucurkan beberapa titik air mata, dengan suara pelahan ia bergumam.

"O, Toako, hubungan klta di dunia ramai sudah selesai sampai di sini, kuharap engkau hidup dengan baik, betapa pun kini hatiku sudah terikat kepada Buddha, bagiku sudah kuanggap engkau telah lama mati"

Dia melangkah keluar biara kecil itu, tapi tidak menuju kearah perginya Thio Giok-tin dan Yu Wi melainkan kejurusan lain dengan langkah enteng Mengapa dia tidak menunggu kedatangan kembali Thio Giok-tin?

Mengapa dia juga tidak menyusul ke sana untuk membela ayahnya?

sebab dia tahu kepergian Thio Giok-tin itu pasti tidak mampu membunuh ayahnya, diantara para pengawal ayahnya itu ada seorang tokoh kelas tinggi yang diketahuinya pasti tidak bakal dibawah Thio Giok-tin.

Ia tidak ingin melihat Thio Giok-tin lagi, sebab kungfu Bok-ya sekarang memang juga di atas Thio Giok-tin, ia kuatir bilamana bertemu pula mungkin dia tidak tahan dan akan menuntut balas padanya atas terbunuhnya ibunda.

Waktu ia melihat jenazah ibunya, ia tidak berhenti, hanya dalam hati berkata.

"Oo, ibu, ayah tentu akan mengubur dirimu dengan baik, semoga arwah ibu mendapatkan tempat tenang di alam baka, anak akan pergi...."

Ia tidak berani menyentuh jenazah ibunya, ia kuatir akan menimbulkan pergolakan rasa dendamnya, jika demikian bisa jadi dia akan menyusul kearah Thio Giok-tin untuk menuntut balas, apabila sampai melanggar pantangan membunuh akan berarti sia-sialah ajaran agamanya selama ini.

Dengan air mata bercucuran ia meninggalkan rumah yang membesarkannya ini.

ibunda sudah meninggal, ia tidak parlu tinggal lagi disini.

sebabnya dia pulang dahulu hanya karena kuatir sang ibu merindukan dia dan jatuh sakit, tak tersangka pulangnya ini justeru mengakibatkan tewasnya ibunda.

Padahal seumpama dia tidak dirumah juga Thio Giok-tin dapat membunuh ayah-ibunya, bagi Thio Giok-tin, jiwa manusia seperti semut, membunuh orang bukan perkara penting baginya.

Kalau Giok-ciang-siancu sudah ditakdirkan mati terbunuh, siapa pun sukar mencegahnya.

Cuma Bok-ya tidak dapat melupakan kematian sang ibu yang mengerikan itu, ia percepat langkahnya dan makin jauh, ia ingin selekasnya meninggalkan dendam permusuhan ini, meninggalkan dunia fana yang selalu terjadi bunuh membunuh tiada habis-habis ini.

Tapi dapatkah dia meninggalkan semua itu?

Apakah selanjutnya dia benar-benar dapat mengasingkan diri, menjauhi dunia ramai dan tirakat dipegunungan sunyi?

--oo0dw0oo--Dalam pada itu Thio Giok-tin telah meninggalkan tempat kediaman Ko Siu yang kedua, ia tahu Ko Siu mempunyai dua isteri, kalau Ko Siu tidak ditemukan disini pasti berada di tempat isteri tua.

Karena gemasnya terhadap Ko Bok-ya, maka dia bertekad harus memenggal kepala Ko siu, Tadinya hendak dihantamnya dan membinasakan Bok-ya, tapi lantaran ucapan Ko Bok-ya membuatnya penasaran sehingga dia tidak segera membunuh bekas muridnya, sebaliknva ingin membunuh ayahnya, coba Bok-ya bisa berbuat apa?

Sambil berlari dengan gemas, diam-diam ia pun bergumam sendiri.

"sungguh budak kurang ajar. Masa berani bilang tidak menuntut balas bagi kematian ibunya adalah karena mengingat jiwanya pernah kutolong. sekarang akan kubunuh ayahmu sehingga tambah besar sakit hatimu, coba akan kau balas atau tidak?Justeru ingin kutahu cara bagaimana dapat kau tuntut balas padaku? Hm, memangnya benar-benar dapat kau bunuh diriku?"

Setelah melintasi jalan besar dan sampai di suatu ujung gang yang sepi, tiba-tiba dilihatnya seorang mengadang disitu, jelas Yu Wi yang telah menyusul tiba, anak muda ini masih memakai kedok.

segera ia membentak.

"Berhenti"

Sambil berhenti Thio Giok-tin menjengek.

"Hm, anak busuk she Yu, untuk apa kau pakai kedok segala, memangnya kau kira nyonyamu dapat kau takuti? Buang saja kedokmu, betapa nyonya sudah tahu siapa dirimu"

Dengan tenang Yu Wi membuka kedoknya dan berkata.

"Thio Giok-tin, apakah kau masih ingin membunuh orang?"

"Betul,"

Jawab Thio Giok-tin dengan bengis.

"hidupku memang gemar membunuh. Ang-bau-kong Lam-si-khek. keduanya kubunuh, ibu Ya-ji juga aku yang membunuhnya. Dan sekarang hendak kupergi membunuh ayahnya."

"Kalau Yu Wi berada disini, tidak boleh sembarangan kau bunuh orang yang tak berdosa,"

Bentak Yu Wi.

"Hehe. anak busuk"

Ejek Thio Giok-tin.

"Ko siu bukan mertuamu, Untuk apa kau rintangi maksudku membunuhnya, apakah ingin mengambil hati Ya-ji. Tapi sayang, andaikan ingin kau bikin senang hatinya juga sudah terlambat, budak itu sudah nekat menjadi Nikoh, tidak nanti dia kembali hidup bersama anak busuk macam dirimu lagi."

Habis berkata ia menengadah dan bergelak tertawa dengan sangat gembira.

Maklum, dia juga pernah patah hati terhadap Ji Pek-liong, sedangkan Yu Wi adalah murid Ji Pek-liong, sekarang Yu Wi juga gagal bercinta dengan muridnya, secara ilmu jiwa dirasakannya sebagai semacam pembalasan-Meski pembalasan seperti ini terjadi secara kebetulan dan lucu, tapi membuatnya sangat senang.

Inilah semacam kelainan jiwa, lantaran dia sendiri pernah patah hati, maka dia berharap setiap orang di dunia ini juga gagal bercinta.

orang berharap semoga setiap kekasih di dunia ini dapat hidup bahagia, dia justeru menghendaki setiap kekasih di dunia ini sama menjadi seteru.

Mendengar ejekan Thio Giok-tin itu, hati Yu Wi sangat pedih, pikirnya.

"O, Ya-ji, mengapa kau tinggalkan rumah dan menjadi Nikoh? Ai, engkau ..."

Ia tahu apa sababnya Bok-ya putus asa,justeru hal inilah yang membikin pedih hati Yu Wi.

Ia menyesal mengapa waktu itu dirinya tidak segera mencari Ya-ji lagi.

apabila dia dapat menemukannya sebelum racun bekerja, tentunya Bok-ya takkan cukur rambut dan menjadi Nikoh.

Melihat air muka Yu Wi memperlihatkan rasa duka dan sangat tersiksa, Thio Giok-tin sangat girang, dengan tertawa ia berkata pula.

"Yu Wi, jika Ya-ji sudah meninggalkan dirimu dan hidup bebas sebagai Nikoh, tapi kau sendiri justeru terjeblos kedalam jurang penderitaan perasaan, akan lebih baik jika kau ikut padaku untuk membunuh tua bangka Ko siu itu untuk menuntut balas kepada ketidak setianya kepadamu, agar selama hidupnya tak dapat tirakat dengan tenang."

Gagasan yang kotor dan jahat ini membuat rasa duka dalam hati Yu Wi berubah menjadi rasa pedih dan gusar yang amat kuat, mendadak ia membentak.

"Thio Giok-tin, serahkan jiwamu"

Segera sebelah tangannya menghantam dengan angin pukulan yang maha dahsyat. Keruan Thio Giok-tin terkejut, cepat ia berkelit, pikirnya.

"Wah, baru beberapa tahun tidak bertemu, kenapa tenaga bocah ini sudah tambah sedemikian kuatnya?"

Ia tidak tahu Yu Wi telah makan ikan aneh di dasar pulau Ho-lo sehingga secara mendadak tenaga dalamnya bertambah lipat, sampai-sampai Giok-bin-sin-po dari Thian-san juga tidak berani meremehkan dia.

Apa lagi belum lama ini segenap urat nadinya telah dilancarkan oleh Ko Bok-cing sehingga makin menambah tenaga dalamnya.

Kini jangankan cuma Thio Giok-tin, sekalipun Lau Tiong-cu juga belum tentu lebih kuat daripada Yu Wi.

Waktu Yu Wi menghantam lagi untuk kedua kalinya, mendadak telapak tangan kiri menepuk lengan kanan, seketika telapak tangan kiri berubah menjadi bayangan telapak tangan yang berhamburan tak terhitung banyaknya sehingga mirip bunga rontok, tapi membawa damparan tenaga yang kuat.

Thio Giok-tin kenal ilmu pukulan ini, ketika di Tiam-jong-san dahulu dia pernah dipukul mundur oleh Yu Wi dengan pukulan ini.

sekarang meski sama ilmu pukulan yang digunakannya, tapi tenaganya sudag jauh lebih kuat.

Tentu saja Thio Giok-tin tidak berani menangkis, cepat ia menggunakan langkah ajaib Leng-po-wi-poh untuk mengelak.

Segera Yu Wi mendesak maju, Thio Giok-tin menjadi kelabakan.

cuma Yu Wi tidak menyerang lagi, ia berdiri tegak dengan kedua telapak tangan siap di depan dada, maksudnya seakan-akan hendak bilang takkan menyerang selagi orang tidak siap biarlah bertanding lagi mulai dari permulaan.

Thio Giok-tin terkesiap oleh gaya Yu Wi yang gagah perkasa itu, meski diam-diam merasa jeri, tapi di mulut tidak mau kalah, ucapnya.

"Lam-si-khek saja kubunuh, masakah kutakut kepada ilmu pukulannya Hoa-sin-ciang-hoat segala?"

"Kalau tidak takut boleh coba-coba lagi"

Jawab Yu Wi dengan gagah.

Sesungguhnya Thio Giok-tin memangnya tidak takut kepada Hoa-sin-ciang-hoat, yang membuatnya gentar adalah tenaga pukulan Yu wi yang dahsyat itu, tenaga dalam yang ditambahkan pada Hoa-sin-ciang-hoat inijadinya jauh lebih kuat dari pada lam-si-khek.

-.^ pencipta ilmu pukulun itu sendiri.

Belum lagi ditambah dengan langkah ajaib Hui-liong-pat-poh yang labih lihai dari pada Leng-po-wi-poh mau Thio Giok-tin harus mengakui sukar baginya untuk memperoleh kemenangan.

Dasar licik, dia tidak mau bertempur yang membawa risiko, maka ia mencari akal lagi, katanya.

"Bocah she Yu, apakah kau tahu sebab apa kubunuh Lam-si-khek?"

Yu Wi menjadi gusar.

"Tenju saja kutahu. Makanya hari ini hendak kugUnakan ilmu pukulan ajaran Lam-locianpwe dan langkah ajaib Yim-locianpwe. dengan kombinasi kedua ilmu ini hendak kubunuh musuh mereka."

"Hm,"

Jengek Thio Giok-tin.

"asal kau tahu saja. Tapi justeru kubilang kematian Ang-bau-kong dan Lam-si-khek itu tidak berharga, demi membela seorang anak busuk. jiwa sendiri harus melayang sungguh percuma hidupnya. Padahal dengan nama kebesaran mereka di dunia Kangouw, apakah begitu saja kubunuh mereka? Tidak. tidak mungkin. Terutama bila mengingat sama-sama penghuni Tiam-jong-san selama belasan tahun, betapa pun tidak nanti kubunuh mereka. Kalau ada kesalahan adalah karena kalian sudah mengajarkan kungfunya kepada anak busuk ini sehingga telah melanggar sumpah kalian sendiri. Kalian sudah bersumpah bila kungfu kalian tidak dapat menandingi diriku, maka kalian harus mati. Tapi aku tetap tidak tega membunuh segenap anggota keluargamu. sungguh penasaran kematian kalian, bukanlah salahku jika kubunuh kalian, yang salah adalah anak busuk ini, dia yang membikin celaka kalian-"

Melengak juga Yu Wi oleh cerita orang, timbul rasa dukanya, diam-diam ia mengakui.

"Betul juga, akulah yang membikin susah kedua Cianpwe itu. Kalian mengajarkan kungfu padaku, akibatnya jiwa kalian yang melayang. Aku memang seorang yang tidak membawa berkah, mengapa kalian mengajarkan kungfu padaku. Cobakalau kalian tidak mengajarkan ilmu padaku, tentu kalian pun akan hidupaman tenteram."

Melihat anak muda itu termangu-mangu. Thio Giok-tin tahu akalnya telah berhasil, segera ia berkata pula dengan suara yang lebih menyentuh perasaan.

"sebenarnya tidak ingin kubunuh anggota keluarga kalian, meski dahulu pernah kunyatakan bila mana kalian tetap memusuhi diriku, pasti akan kubunuh kalian dan seluruh anggota keluargamu. Tapi sekarang hal itu harus kulakukan, sebab kungfu ciptaan kalian hendak digunakan lagi memusuh diriku, asalkan aku tidak mati, pernyataanku dahulu pasti akan kulaksanakan. Bila mana kalian mengetabui di akhirat juga jangan menjesali diriku, kalau mau menyesal harus menyesali diri kalian sendiri yang telah mengajarkan kungfu kepada anak busuk ini."

Tidak kepalang kuatir Yu wi, pikirnya.

"Meski kuyakin takkan dikalahkan oleh Thio Giok-tin tapi bila sekali hantam tidak dapat kubinasakan dia sehingga sempat kabur, tentu dia akan membikin susah anggota keluarga kedua Locianpwe itu lalu bagaimana? Betapa tidak boleh kubikin celaka anggota keluarganya yang tidak berdosa,"

Segera Yu Wi barkata.

"Thio Giok-tin, jangan kau salahkan kedua Locianpwe itu, cari aku menuntut balas bagi mereka sekarang takkan kugunakan kungfu ajaran mereka."

Thio Giok-tin tertawa, katanya.

"Jika tidak kau gunakan kungfu ajaran mereka, mengingat hubungan baik masa lampau takkan kubunuh anggota keluarga mereka. Tapi hendak kukatakan padamu anak busuk. jika tidak kau gunakan kungfu ajar mereka, maka jelas kau pasti akan kalah"

"Ah, belum tentu,"

Seru Yu Wi.

"Masa kau tidak parcaya?"

Kata Thio Giok-tin mendadak ia tuding kedepan sana dan barseru "Coba lihat, siapa itu yang datang"

Waktu Yu Wi menoleh dan benar dilihatnya ada seorang sedang berlari kemari, pada saat itu juga dirasakannya angin pukulan menyambar tiba.

Keruan ia terkejut, tanpa terasa langkah ajaib Hui-liong-poh lantas digunakan untuk menghindar.

Karena sergapannya tidak berhasil, diam-diam Thio Giok-tin merasa gegetun-Dilihatnya pendatang itu dari ujung jalan sana sudah semakin mendekat, meski belum jelas kelihatan wajahnya, tapi dari gerak tubuh pendatang ini pasti tidak lemah kungfunya, padahal tidak diketahui kawan atau lawan.

Mendingan kalau kawan, bila musuh, kesempatan membunuh Yu Wi mungkin akan hilang.

Maka ia lantas menjengak.

"Hm, anak busuk. kenapa bicara seperti kentut saja"

Muka Yu Wi menjadi merah, ia tahu orang menyindirnya telah menggunakan langkah ajaib ajaran Ang-bau-kong untuk menghindarkan pukulannya tadi.

Padahal kalau dia tidak menggunakan langkah ajaib itu, tentu sukar mengelakan sergapan maut Thio Giok-tin itu.

Tapi apakah benar tanpa menggunakan kungfu ajaran kedua Locianpwe itu lantas tiduk mampu melawan Thio Giok-tin?

Dasar watak Yu Wi mamang keras, apa lagi dia paling taat kepada janji dengan mangertak gigi ia lantas berkata.

"Gebrakan tadi tidak dihitung, boleh kita mulai lagi. pasti tidak kugunakan kungfu ajaran kedua Locianpwe itu."

"Mulai lagi apa? Aku tidak ada minat lagi"

Ujar Thio Giok-tin sambil membalik tubuh dan hendak melangkah pergi.

Yu Wi menjadi gelisah, disangkanya dirinya menggunakan lagi kungfu ajaran Ang-bau-kong, maka Thio Giok-tin hendak pergi membunuh anggota keluarga orang tua itu, Mana Yu Wi dapat membiarkan orang mengganas lagi, ia hendak merintanginya tapi kaki yang baru gerak itu segera ditarik kembali mentah-mentah sebab hampir saja ia menggunakan langkah Hul-liong-poh lagi.

Pada saat itu juga, mendadak Thio Giok-tin melayang pergi, berbareng tangannya menebas kebelakang, secomot senjata rahasia segera berhamburan kearah Yu Wi.

Di Tiam-jong-san dahulu Thio Giok-tin menggunakan tipu serangan aneh ini, cuma digunakannya waktu itu adalah kebut sehingga Yu Wi terluka.

Tapi sekarang ia menggunakan senjata rahasia kecil sebagai pengganti kabut, daya serangannya berlipat, senjata rahasia ini tidak langsung mengarah Yu Wi, tapi anak muda itu tahu punggung sendiri yang terancam bahaya.

Mestinya sekarang ia sudah tahu cara mematahkan serangan musuh, cukup dengan langkah ajaib Hui-liong-poh yang terakhir dapatlah serangan maut itu dihindari.

Menghadapi serangan aneh ini, dahulu ia tidak tahu cara bagaimana menghindarnya.

Maklumlah, siapa yang percaya senjata rahasia yang jelas-jelas datang dari depan itu bisa membelok untuk kemudian mengincar punggunguya dengan cara yang aneh.

Walaupun suduh tahu satu-satunya cara untuk mematahkan serangan musuh, tapi Yu Wi tidak berani menggunakannya, ia kuatir bila Hui-liong-poh digunakan, meski jiwa sendiri dapat diselamatkan, tapi sukar lagi merintangi kepergian Thio Giok-tin, dan bukankah anggota keluarga Ang-bau-kong akan menjadi korban atas perbuatan dirinya?

Berpikir demikian, Yu wi jadi lebih suka menyerempet bahaya daripada menggunakan Hui-liong-poh.

Tapi lantaran ragu sejenak itulah, tahu-tahu senjata rahasia musuh sudah menyambar sampai di belakang punggung.

Diluar dugaan, pada detik berbahaya itu, sekonyong-konyong terdengar suara "trang-trang"

Beberapa kali, suara mendering nyaring memekak telinga.

Jelas tenaga benturun itu sangat keras.

Tahulah Yu Wi ada orang telah menolongnya dengan menangkiskan senjata rahasia itu dengan sesuatu benda, kalau tidak mustahil jiwanya takkan melayang bila mana punggung tertembus oleh senjata rahasia Thio Giak-tin itu.

Hampir pada saat yang sama, Yu Wi dan Thio Giok-tin itu sama2 menoleh, terlihat pendatang tadi membawa sopotong senjata berbentuk manusia yang terbuat dari batu pualam.

orang ini ternyata bukan lain dari pada Lau Tiong-cu adanya.

Tidak kepalang gemas Thio Giok-tin setelah tahu siapa pendatang ini.

"Kembali kau lagi?"

Teriak Thio Giok-tin dengan mUrka.

Lau Tiong-cu memegangi senjatanya yang istimewa itu tanpa bersuara.

Dipandangnya sekian lama senjata itu, matanya kelihatan marah dan hampir mancucurkan air mata.

Dengan heran Yu Wi memandang senjata orang, dilihatnya senjata batu pualam berbentuk manusia itu panjangnya lima-enam kaki, diukir sebagai patung wanita cantik, begitu indah ukirannya sehingga mirip manusia hidup.

Cuma sayang, patung pualam itu sekarang telah bertambah belasan lubang kecil oleh karena senjata rahasia Thio Giok-tin tadi sehingga merusak keindahan semula.

Selagi Yu Wi hendak mengecapkan terima kasih kepada Toa supek atas pertolongannya, tiba-tiba dilihatnya Lau Tiong-cu menangis, dengan suara sedih lagi bergumam.

"Hul, o, Hui-giok telah melukaimu, betapapUn tak dapat kuampUni dia lagi"

"Orang hidup,mampus, apakah kau sinting, kenapa menangis terhadap sebuah patung?"

Teriak Thio Giok-tin dengan gusar.

Yu Wi tahu Toa supek lagi menangisi patung isterinya yang dirusak.

ia pikir Toa supek adalah seorang pencinta besar, pencinta yang tulus dan luhur.

Dengan menyesal ia lantas berkata.

"Toa supek maaf, akulah yang salah"

Lau Tiong-cu mengangkat kepalanya, kelihatan sinar mata memenuhi wajahnya, ia menjawab sambil menggeleng.

"Tidak. bukan salahmu"

Lalu ia barpaling kearah Thio Giok-tin, ucapnya dengan gusar.

"A Giok. demi suhu, berulang-ulang kuampuni perbuatanmu. Apa bila kau tetap tirakat di Tiam-jong-san dan mau memperbaiki dirimu, tentu aku takkan memusuhi puteri suhu. sekarang bukan saja jenazah isteriku kau curi, kau lari kebawah gunung dan berbuat macam-macam kejahatan, bahkan kau rusak lagi patung isteriku. Betapa pun tak dapat ku-ampuni lagi dirimu. o, suhu maafkan apa bila murid tidak sungkan-sungkan lagi kepada puterimu."

Habis berkata, ia angkat patung itu dan mendesak maju. Thio Giok-tin siap tempur, tapi segera ia goyangkan sebelah tangannya dan berseru.

"Nanti dulu, aku ingin bicara padamu."

Lau Tiong-cu berhenti dan menjawab.

"Apa pula yang akan kau katakan?"

"Hm, kau bilang kucuri jenazah isterimu, itu kulakukan dengan terpaksa, kalau tidak kubawa lari tulang jenazah isterimu, tentu sukar memaksa dirimu meninggalkan gunung, dan kalau kau tidak turun gunung, selama hidupku bukankah akan mati tua di Tiam-jong-san?"

"Apa jeleknya mati tua di Tiam-jong-san?"

Ujar Lau Tiong-cu "Pemandangan Tiam-jong-san indah permai, disanalah tampat kediaman abadi yang sukar dicari.

Memangnya kau lebih suka berkecimpung di dunia Kangouw dan senantiasa hidup menyerempet bahaya?

Ketahuilah di luar dunia masih ada langit, di atas orang pandai masih ada yang lebih pandai .Jangan kau kira kungfumu sudah maha tinggi, bila mana pada suatu hari kepergok tokoh sakti, bisa jadi akan kau terima ganjaran yang setimpal.

Daripada kau mati tak terkubur, kan lebih baik hidup aman dan prihatin di Tiam-jong-san."

"Hm, orang kosen juga tidak banyak. memangnya kutakut kepada siapa? Mati tua di Tiam-jong-san bukanlah cita-citaku, menjadi Nikoh selama hidup juga bukan niatku. Nah, Hoat-su-jin, demi diriku sendiri terpaksa kucuri tulang jenazah isterimu, hendaknya jangan kau salahkan diriku."

"Memangnya menyalahkan siapa jika bukan dirimu?"

Teriak Lau Tiong-cu dengan gusar.

"Selama hidup kutinggal berdampingan dengan isteriku tak terpisahkan, tapi sengaja kau cerai-beraikan kami sehingga aku hidup merana kesepian-Dengan susah payah dapat kubuat pula sebuah patung pualam sekedar menghibur hatiku yang rindu, sekarang patung kau rusak lagi.a giok, apapun juga hari ini tidak dapat kuampuni dirimu."

Thio Giok-tin bergelak tertawa.

"Kucerai-beraikan kalian, katamu? Kucuri tulang orang mati hal ini kau anggap hidupmu tercerai-berai? . Hoat-su-jin, kukira kau sudah kurang waras"

"Omong kosong"^ bentak Lau Tioug-cu.

"Aku kan melihat tulang jenazuh isteriku, sama hal kulihat orangnya. Dalam bayanganku sama hal kau cerai-beraikan kami. o, kau ... kau terlalu keji dimana dia? Lekas kau kembalikan dia"

"Dia? Dia siapa? Apakah tulang orang mati itu, maksudmu?"

Tanya Thio Giok-tin dengan berlagak pilon-"

Lekas kembalikan dia"

Bentak Lau Tiong-cu pula dengan lebih keras.

"Untuk apa kusimpan tulang orang mati, tulang belulang itu sudah lama kubuang, maka janganlah kau pikirkan lagi, Hoat-su-jin, jangan terus menerus merecoki diriku."

"Benar tulang jenazah isteriku telah kau buang?"

Tanya Lau Tiong-cu.

"Masaku dusta?"

Jawab Thio Giok-tin dengan tertawa.

"semua ini adalah demi kebaikanmu, kalau tulang orang mati itu tetap kau simpan, selama hidup ini kau pun akan menjadi Hoat-su-jin (orang hidup lama dengan orang mati)."

Mendadak Lau Tiong-cu menangis tergerung-gerung, ia rangkul erat patung pua lam itu dan berkeluh-kesah.

"o, Hui, Hui Kini tertinggal patungmu saja yang masih dapat mendampingi diriku."

"suheng,"

Seru Thio Giok-tin sambil menggeleng kepala.

"tampaknya kau sukar lagi diobati, lekas kau buang patung itu, kalau tidak kau bisa liaglung lagi dan hidup tersiksa. Demi kebaikanmu, kuharap jangan kau pikirkan lagi isterimu yang sudah mati itu, bangkitlah semangatmu, tempuhlah hidup baru"

Diam-diam Yu Wi maaggut-manggut atas ucapan Thio Giok-tin itu, memang benar, seorang pendekar besar sebagai Toa supek harus hidup merana dan putus asa hanya lantaran kematian isteri, sungguh tidak berharga hidupnya ini jika sekarang harus hidup ling lung lagi demi sebuah patung pualam, tentu sia-sia belaka hidupnya.

Bila mana patung itu dibuang dan buyarkan segala lamunannya, hidupnya masih dapat melakukan hal-hal yang gemilang.

Namun Lau Tiong-cu benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya, sejak tulang jenazah isterinya dibawa lari Thio Giok-tin, dengan segala daya upaya ia mengejar Thio Giok-tin untuk merampas kembali tulang janazah isterinya.

Tapi Thio Giok-tin benar-benar sangat licin, selama beberapa tahun selalu lolos dari kejaran Liu Tiong-cu, selama ini berkat patung pualam itulah Lau Tiong-cu dapat mempertahankan hidupnya, kalau tidak.

tentu dia akan sakit rindu dan mati ngenas.

Entah bantuan ahli ukir mana telah membUatkan patung pualam isterinya itu, siang dan malam patung itu tidak pernah berpisah dengan dia.

sekarang didengarnya pengakuan Thio Giok-tin bahwa tulang jenazah isterinya telah dibuang tanpa bekas, patung pualam itu bertambah besar artinya baginya.

Tapi patung itu benar-benar sudah rusak sehingga wajahnya sukar dikenali lagi, hanya masih kelihatan patung saorang perempuan, tentu saja hal ini membuat Lau Tiong-cu sangat sedih, ia terus menangis, akhirnya pikirannya menjadi gelap.

mendadak ia berteriak.

"A Giok, harus kau ganti isteriku, jika tidak kau ganti, aku bersumpah akan merenggut nyawamu"

Melihat keadaan Lau Tiong-cu yang kurang waras itu, sikapnya kelihatan beringas, Thio Giok-tin menjadi takut, tanpa pikir lagi segera ia kabur secepatnya.

Dengan membawa patungnya lau Tiong-cu lantas mengajar sembari berteriak.

"Ganti istreriku Ganti isteriku ...."

Keduanya berlari pergi secepat terbang, Yu wi agak terlambat, apalagi Ginkangnya memang kalah tinggi dibandingkan Lau Tiong-cu dan Thio Giok-tin.

Hanya sekejap saja ia sudah kehilangan jejak kedua orang itu Hanya suara teriakan Lau Tiong-cu saja yang masih kedengaran berkumandang dari jauh.

Yu Wi menggeleng kepala.

ia pikir orang yang pintar di dunia ini terkadang jutteru sukar terbuka pikirannya sehingga berduka dan merana selama hidup, akhirnya menjadi linglung.

sebaliknya orang bodoh tidak perlu banyak berpikir, hidupnya selalu tenteram dan bebas sehingga bahagia sampai tua.

Seperti halnya Lau Tiong-cu, lantaran kematian isteri, hidupnya jadi tersiksa seperti di neraka.

Apabila dia tidak banyak berpikir, isteri mati anggap saja memang sudah takdir ilahi, kan beres segalanya.

Ia pikir selama hidup Thio Giok-tin mungkin juga tak bisa tenteram, ia telah merusak patung pualam yang dipandang Lau Tiong-cu serupa membunuh isterinya.

Maka selama Lau Tiong-cu masih hidup, selama itu pula Thio Giok-tin tak dapat tidur nyenyak.

--oo0dw0oo--Selama dua-tiga hari ini penduduk kota raja diliputi perasaan was-was, disana-sini kelihatan bergerombolan rakyat yang kasak-kusak membicarakan sesuatu peristiwa yang sama.

Tamu rumah minum, bila mana bartemu dengan kenalan juga tak terhindar dari mempergunjingkan kejadian itu.

Memangnya apa yang ramai diperjuangkan itu?

Terdengar si A berkata.

"Bagaimana, pembunuhnya sudah tertangkap belum?"

"Tertangkap apa? siapa pembunuhnya saja belum diketahui, kemana dapat menangkapnya?"

Demikian jawab si B. Lalu si C ikut nimbrung.

"sungguh gemas Lebih 30 orang penghuni istana Tay-ciangkun tidak ada satu pun terkecuali, samuanya mati dengan mengenaskan. Untung waktu itu Tay-ciangkun tidak di rumah, kalau tidak. pembesar kerajaan yang paling berjasa itu juga sukar tarhindar dari kematian"

"Anehnya dalam semalam segenap penghuni istana dibunuh orang tanpa ketahuan, padahal tidak sedikit pengawal istana yang lihai,"

Demikian si B berujar.

"Akan tetapi kabarnya tidak ditemukan tanda-tanda terjadinya pertarungan, pembunuh itu seperti hantu saja, jangan-jangan digunakannya ilmu sihir lebih dulu, lalu satu persatu korbannya dibinasakan?"

Si A merinding, katanya.

"Bisa ilmu sihir katamu? Wah, jika begitu, barang siapa di incar pembunuh itu, maka dia pasti akan mati."

Seketika si B dan si C menjadi pucat, cepat si B berkata.

"Wah, lebih baik kita bicara urusan lain saja, jangan sampai ketiban pulung"

Saat itu tiga hari sudah lalu sejak segenap penghuni istana pang lima terbunuh selama tiga hari ini peristiwa itu telah menggemparkan setiap pendudUk kota raja.

Sejak peristiwa itu, penjagaan kediaman Ko siu di tempat isteri tua diperketat.

Istana dikelilingi pengawal yang berseragam dan bersenjata lengkap.

Bila malam tiba setiap orang yang tidak berkepentingan dilarang mendekati istana itu.

Padahal Ko siu tidak menaruh harapan kepada barisan pengawal yang berseragam perang itu untuk melindungi jiwanya.

Ia tahu betapa banyak pengawal itu pun tidak berguna dan tidak mampu merintangi pergi datang pembunuh dari dunia persilatan.

Di dalam istana Ko siu mempunyai pengawal pribadi lagi, pengawal pribadi pilihan ini semuanya berpakaian preman dan tidak ada bedanya separti orang biasa, namun semuanya berkepandaian tinggi, kebanyakan adalah jago persilatan terkemuka yang diundang dengan bayaran tinggi.

Menjelang tengah malam, para pengawal pribadi itu lantas terbagi dalam kelompok kecil dan meronda di sekeliling taman istana.

mereka bermata awas dan bertelinga tajam, asalkan menemukan sesuatu yang tidak beres, segera mereka menyerang dengan senjata rahasia.

Hampir setiap saat pasti ada regu peronda lalu sehingga misalkan seekor tikus saja yang berlari masuk ke taman itu pasti juga akan dipergoki mereka.

Walaupun begitu, malam ini mereka toh kebobolan juga, ada sesosok bayangan orang melayang masuk tanpa diketahui kawanan jago pengawal itu.

Betapa cepat gerak tubuh penyatron ini sungguh sukar untuk dibayangkan.

Penyatron ini dengan sendirinya adalah Thio Giok-tin-Kepandaiannya memang jauh lebih tinggi dari pada para jago pengawal pribadi Ko siu itu.

Tertampak hanya beberapa kali lompatan saja, tanpa menimbulkan suara Thio Giok-tin sudah menyusup kedalam istana.

belasan jago pengawal pribadi yang berjaga di situ sama sekali tidak tahu akan kedatangannya.

Rupanya Thio Giok-tin dapat meloloskan diri dari kejaran Lau Tiong-cu, lalu ia datang lagi hendak mambunuh ayah Ko Bok-ya.

Dia berkepandaian tinggi dan bernyali besar, tanpa menghiraukan suasana yang genting dan penjagaan yang ketat itu dia tetap mendatangi tempat kediaman Ko siu.

Kalau dia sudah bertekad membunuh seseorang.

sungguh dia ingin saat itu juga orang itu dibunuhnya.

Lebih-lebih kepala Ko siu, semakin cepat dapat dipenggalnya akan semakin baik, kalau saja dia dapat meloloskan diri dari kejaran Lau Tiong-cu, mungkin siang hari tadi dia sudah datang.

Dahulu, waktu Thio Giok-tin mengambil Ko Bok-ya sebagai murid, dia pernah datang ke sini untuk menemui Ko siu.

Maka ia tahu di mana letak kamar tidur panglima angkatan perang itu Tanpa susah payah dapatlah dia menyusup sampai di depan jendela kamar Ko siu.

Segera ia membasahi kertas penutup jendela dengan air ludah, setelah berlubang, ia intip ke dalam.

Dilihatnya Ko Siu belum tidur, lagi duduk membelakangi jendela dan asyik membaCa.

Karena buru-buru ingin memenggal kepala Ko siu agar dapat diperlihatkan kepada Ko Bok-ya selekasnya, tanpa pikir Thio Giok-tin lantas mendobrak jendela dan menerjang masuk.

dengan tertawa dingin Thio Giok-tin membentak.

"Tua bangka, coba sekarang hendak kau lari kemana?"

Dengan terkejut Ko siu melompat bangun, akan tetapi Thio Giok-tin lantas membentak pula.

"Roboh saja kau"

Secepat kilat pedangnya lantas menabas, belum sempat Ko siu bertindak sesuatu.

tahu-tahu kedua kakinya sudah buntung tertabas pedang Thio Giok-tin dan roboh terjungkal sambil menjerit ngeri.

Alangkah kejamnya Thio Giok-tin, dengan sebelah kaki menginjak di atas dada Ko siu.

segera pedangnya terangkat hendak memenggal kepala korbannya.

Tapi belum lagi pedang mengenai sasarannya mendadak ia membentak terkejut.

"He, siapa kau?"

Dia kenal Ko siu, tapi yang menggeletak di depannya ini jelas bukan Ko siu, hanya baju Ko siu saja yang dipakai, tampaknya cuma samaran belaka.

Hanya berpikir sejenak segera Thio Giok-tin tahu dirinya terjebak.

Tapi dia tidak gentar, meski didengarnya di sekitar kamar ramai orang berlari datang, tapi tanpa gugup ia menuding Ko siu palsu dan membentak.

"Di mana tua bangka she Ko itu?"

Ko siu palsu mendelik, sekuatnya ia menahan sakit kedua kaki yang sudah buntung dan bercucuran darah itu, sahutnya dengan mengertak gigi.

"Tidak tahu, pendek kata, tak ... tak dapat kau lolos dari kematian ..."

Belum habis ucapannya, Thio Giok-tin memperkuat tenaga injakan, seketika isi perut orang itu hancur, dia menjerit ngeri memecah malam sunyi.

Jeritan ini tentu saja mengejutkan segenap isi istana, segera beberapa orang berteriak.

"Ada pembunuh ... Ada pembunuh ..."

Tertampak bayangan orang yang mengecung tiba makin banyak sehingga kamar Ko siu terkepung rapat, cahaya obor terang benderang bagai siang.

Thio Giok-tin tidak gentar, ia berdiri di dalam kamar dan menghimpun tenaga.

wajahnya tampak beringas dan siap melakukan pembunuhan besar-besaran.

Tiba-tiba terdengar suara "blang"

Yang keras, pintu kamar tidur didobrak orang, menyusul tiga orang menerjang masuk dari pintu kamar dan jendala.

Tapi sekali pedang Thio Giok-tin menyabat, cahaya perak menyambar secepat kilat, kontan ketiga orang itu tertabas binasa dengan kepala menggelinding kelantai.

Dari belakang segera masuk lagi tiga orang, tapi pedang Thio Giok-tin kembali menabas seperti tadi, dia tetap berdiri di tempat semula, tapi tiga orang itu segera mati lagi dengan kepala tertabas, untuk menjerit saja tidak sempat.

Empat kali serbuan menewaskan 12 orang, sisanya menjadi jeri oleh kelihaian jurus serangan pedang Thio Giok-tin itu dan tidak ada yang berani menerjang lagi.

Mereka mengurung di luar jendela dan pintu, Kelihatan yang berdiri di depan pintu sama melongo kaget dan heran-sebab tidak diketahui dengan cara bagaimana ke-12 orang kawan meraka terbunuh.

Padahal ilmu silat ke-12 orang yaDg terbunuh itu tidak lemah, sedikitnya tergolong jago kelas dua, tapi mengapa satu jurus saja tidak sanggup bertahan dan sudah terbunuh.

Kiranya jurus seraagan Thio Giok-tin itu adalah salah satu jurus Hai-yan-kiam-hoat.

yaitu satu diantara dua jurus yang belum dikuasai Yu Wi itu.Jurus itu bernama sat-jin-kiam atau pedang pembunuh orang.

Nama jurus ini bukan pemberian Thio Giok-tin melainkan oleh si kakek tuli, jurus ini diperoleh kakek itu dari Thio Giok-tin dengan mengorbankan teliganya.

Ia merasa daya serang jurus ini sangat lihai, dapat digunakan membunuh orang semudah memotong sayur, sebab itulah diberi nama sat-jin-kiam.

Jurus serangan ini memang sangat mudah digunakan untuk membunuh orang seperti halnya Thio Giok-tin sekarang.

Thio Giok-tin sudah apal sekali menguasai kedelapan jurus ilmu pedang sakti itu, setiap jurusnya juga sudah diselami secara mendalam, memang setiap jurusnya memiliki daya serang yang ampuh cuma sayang dia tidak mampu memainkan kedelapan jurus itu secara sambung menyambung, dia hanya memainkannya dengan sejurus demi sejurus, sebab kalau sekaligus dia memainkan kedelapan jurus itu.

maka darah dalam dadanya serasa bergolak dan menimbulkan rasa sakit luar biasa.

Kemudian diketahuinya bahwa orang perempuan tidak cocok berlatih Hai-yan-kiam-hoat, paling-paling dia hanya sanggup melancarkan daya serang satu jurus saja, untuk mengeluarkan keampuhan serangkaian Hai-yan-kiam-hoat secara lengkap tidaklah sanggup dikuasainya.

Namun cukup hanya dengan satu jurus saja sudah merupakan kungfu maha lihai, para pengawal pribadi Ko Siu tergoloug jago pilihan semua.

tapi mati kutu juga menghadapi satu jurus sat-jin-kiam saja, mereka harus terima ajal belaka.

Melihat tidak ada yang berani masuk lagi, dengan senang Thio Giok-tin membersihkan darah pada pedangnya, dipandangnya senjata yang ampuh itu dan bergumam.

"Pedangku sayang, hari ini boleh kau minum darah sepuasmu"

Habis berkata ia terus melangkah keluar kamar, para pengepung yang berdiri di depan pinta sama menyurut mundur dengan jeri.

setiap kali Thio Giok-tin melangkah maju, setiap kali pula mereka menyurut mundur.

Thio Giok tin melangkah maju delapan langkah, mereka pun menyurut mundur delapan langkah.

Senang sekali hati Thio Giok-tin, ia tertawa terkekeh, katanya.

"Hah, penjaga sewaan tua bangka she Ko itu semuanya bakul nasi belaka"

Ucapan ini menimbulkan rasa murka berpuluh jago pengawal itu.

Padahal mereka umumnya adalah jago ternama di dunia Kangouw, mereka hanya jeri seketika oleh jurus serangan Thio Giok-tin yang aneh itu sehingga tidak barani sembarangan bergerak.

sekarang mereka terpancing murka, entah yang mana melolos senjata lebih dulu, serentak yang lain juga ikut mengerubut maju.

Terlihat belasan macam senjata sama menyambar kebagian mematikan di tubuh Thio Giok-tin.

Tapi sekali Thio Giok-tin mengeluarkan jurus "Put-boh-kiam", jurus yang tak terpatahkan, terdengarlah serentetan dering nyaring, belasan macam senjata yang menyerangnya sama tergetar patah.

Hanya dengan sebatang pedang biasa Thio Giok-tin telah mematahkan macam-macam senjata lawan, kekuatan ini sungguh sangat mengejutkan, selagi lawan yang kehilangan senjata itu masih merasa jeri, tahu-tahu sinar pedang menyambar lagi, belum sempat mereka menjerit, seketika leher terasa dingin dan kepalapun putus, nyawa amblas.

Melihat kawannya tewas lagi, jago pengawal yang lain menjadi nekat, sambil berteriak-teriak serentak belasan orang menerjang maju lagi.

Tampaknya mereka pun akan dibinasakan oleh Thio Giok-tin dengan cara sangat mudah, mendadak terdengar seorang membentak.

"Nanti dulu"

Suaranya keras dan berat, hati semua orang sama tergetar, tanpa terasa belasan orang itu sama berhenti di tempat.

Terlihatlah seorang jago pedang muda melangkah tiba dengan tenang, dia mendekati Thio Giok-tin, lalu memberi tanda kepada para jago pengawal dan berkata.

"Kalian mundur saja, kalian bukan tandingannya, lihat saja kuhadapi dia sendiri."

Dengan kening berkerut belasan jago pengawal itu melangkah mundur, mereka tidak puas terhadap sikap jago pedang muda yang congkak itu.

Tapi terpaksa mereka menurut, sebab jago muda ini adalah kepala barisan pengawal pribadi Ko siu.

Cukup cakap wajah jago pedang muda ini, tapi sikapnya yang angkuh membuat orang merasa segan untuk berdekatan dengan dia.

Dengan sombong ia angkat pedangnya lurus ke depan, dengan tak acuh ia berkata.

"Layani dengan baik"

Nadanya serupa orang tua sedang mengajar anak muridnya, menyuruh orang hati-hati sedikit supaya tidak kalah dengan mudah.

Walaupun mendongkol.

tapi Thio Giok-tin juga bisa melihat gelagat, sedapatnya ia bersabar, jengeknya.

"silakan maju dulu"

Dilihatnya gerak pedang anak muda itu lain daripada yang lain, sebab pedang yang diluruskan ke depan utu kelihatan kuat dan mantap.

sungguh seorang lawan tangguh yang jarang ditemunya.

Dia menyuruh anak muda itu maju lebih dulu, sebab dilihatnya ilmu pedang orang sangat kuat dalam hal bertahan, jika orang disuruh menyerang lebih dulu, hal ini tidak berarti manguntungkan orang itu sendiri Betapa pun darah mmda, jago muda itu menjadi gusar karena diremehkan oleh Thio Giok-tin, segera ia menusuk dengan pedangnya.

Melihat serangan lawan tidak ada sesuatu gerakan yang istimewa, diam-diam Thio Giok-tin mentertawainya.

Ia sangka lawan tidak tahan sekali serang juga, maka dia tidak mau banyak buang waktu, segera ia keluarkan lagi jurus Put-boh-kiamnya hendak menabas pedang lawan, lalu memotong kepalanya.

Siapa tahu, dugaannya ternyata keliru.

Meski gerak pedang jago muda itu kelihatan biasa tanpa sesuatu yang istimewa, tapi menghadapi serangan Giok-tin yang lihai itu, mendadak gerak pedangnya berubah menjadi luar biasa, sekali berputar pedangnya berubah menjadi beratus bayangan titik perak.

Dipandang dari sebelah Thio Giok-tin sini, bayangan ujung pedang seolah-olah beratus bintang meteor yang berhamburan menembus tabir cahaya pedangnya.

Betapa hebat jurus Pit-boh-kiam itu tetap juga ada setitik kelemahannya.

dan dengan tepat satu butir meteor itu menyambar masuk ketitik lemah itu sehingga jurus yang tak terpatahkan itu sekali ini dapat dibobol.

Untung Thio Giok-tin sempat menghindar dengan langkah ajaib Leng-po-wi-poh sehingga tidak tertusuk oloh pedang lawan yang menembus tabir cahaya pedangnya.

Maka sadarlah Giok-tin bahwa dirinya bukan tandingan anak muda itu, cepat ia melompat mundur manjauhi lawan dan tidak berani menerjang maju lagi.

Hendaklah diketahui bahwa ilmu silat Thio Giok-tin sangat luas, cuma tidak semuanya dikuasainya dengan baik.

Berbagai macam kungfunya adalah hasil tipuan dengan menggunakan kecantikannya.

seperti kitab pusaka Hai-yan-to-boh juga ditipunja dari oh It-to, tapi lantaran dia tidak suka main golok melainkan gemar main pedang, maka ia coba meyakinkan Hai-yan-to-hoat dengan pedang.

Padahal permainan pedang dan golok sama sekali berbeda, meski dia ubah permainan pedang dengan golok tanpa mengurangi daya serangnya, tapi sayang sukar dilatihnya hingga sempurna.

Yang dapat dipelajari hanya gerakan kedelapan jurus saja, tapi tak dapat terjalin menjadi serangkaian ilmu pedang yang ampuh.

Walaupun kedelapan jurus ilmu pedang itu sangat lihai, tapi karena tak dapat dimainkan secara lengkap.

bila ketemu jago pedang yang kuat menjadi tidak banyak artinya.

Meski Thio Giok-tin juga bertemu dengan jago pedang seperti Kwe siau-hong, tapi dia tidak menipu ilmu pedangnya, seterusnya iapun tidak pernah lagi bertemu dengan jago pedang lain, sehingga sebegitu-jauh dia tetap tak dapat menguasai pedangnya dengan sempurna.

Jadi di antara berbagai macam Kungfu yang dikuasainya, ilmu pedang terhitung kungfunya yang paling lemah.

Diam-diam Thio Giok-tin jadi menyesal telah datamg dengan membawa pedang, kalau dia membawa senjata lain, tentu sekarang dapat menghadapi jago muda ini dengan kungfu andalannya yang lebih tinggi itu.

Tapi sekarang, mau-tak-mau dia harus terima nasib.

seketika semangat tempurnya membuyar.

Melihat Thio Giok-tin berdiri lesu, jago pedang muda yang angkuh itu tertawa, serunya.

"Agaknya kau tahu ilmu pedangmu bukan tandinganku, tidak berani maju lagi? Kukira tidak menjadi soal, bila kau takut kepada ilmu pedangku, boleh kita bertanding ilmu pukulan saja."

Di antara macam-macam kungfu yang dikuasai Ciang-hoat atau ilmu pukulan bertangan kosong merupakan kungfu andalan Thio Giok-tin , diam-diam ia mendongkol atas sikap jumawa anak muda itu, pikirnya.

"Anak kurang ajar, seb entar nanti baru kau tahu rasa akan kelihaianku"

Tanpa kenal malu segera ia mendahului membuang pedangnya. Dengan sikap pongah si jago muda itu berpaling menyapu pandang para jago pengawal seakan-akan hendak bilang.

"Coba kalian lihat, hanya satu jurus saja tuanmu sudah membikin keok dia dan sekarang dia minta bertanding dengan ilmu pukulan."

Lalu dengan sikap angkuh ia mas ukkan pedang kesarungnya dan berkata.

"Nah, sekali ini boleh kau serang lebih dulur Para jago pengawal sama gusar oleh sikap sombong jago pedang muda itu, meski tidak diutarakan dengan kata, tapi jelas wajah mereka sama mengunjuk kurang senang, pikir mereka.

"Yang penting sekarang adalah menangkap si pengganas ini, masakah kesempatan ini kau gunakan untuk pamer kepandaian segala?" ---ooo0dw0ooo---Bab 11 . Ko-Bok-cing yang lihay dan sakti Thio Giok-tin juga tidak mau banyak omong lagi, segera ia menggunakan langkah Leng-po-wi-poh, ia mendesak maju dan kedua tangannya menghantam sekaligus. Baru saja jago pedang muda itu sempat menangkis, tahu-tahu bayangan musuh sudah menghilang. Langkah ajaib Leng-po-wi-poh sungguh hebat, mendadak Thio Gokstin sudah berputar kebelakang anak muda itu, kembali kedua tangannya menghantam. kungfu jago muda itu memang patut dibanggakan, sekali berputar, dengan cepat lia menghadapi lawan, serangan dapat ditangkis pula. Meski langkah ajaib ditambah Ginkang Thio Giok-tin yang juga tidak kurang lihainya, namun jago muda itu dapat menangkis dengan baik, bahkan balas menyerang, dia kalah ulet, namun ilmu pukulannya sangat aneh sehingga dapat melayani Thio Giok-tin dengan sama kuat. Makin lama makin dahsyat pertarungan kedua orang, para pengawal yang berdiri di sekitar mereka terdesak mundur jauh oleh angin pukulan mereka. Meski mereka benci kepada kesombongan anak muda itu, kini mau-tak-mau harus kagum juga terhadap kelihaian kungfunya, pantaslah kalau Ko SiU menunjuk anak muda itu menjadi komandan mereka. Sampai ratusan jurus masih belum jelas menang dan kalah, si jago muda menjadi tidak sabar, jika menangkap seorang penyatron saja tidak becus, tentu akan dipandang rendah oleh Ko Siu. Dasar watak anak muda Itu memang angkuh, setelah sekian lama lawan tak dapat ditundukkan-tentu saja ia gelisah. Sebaliknya Thio Giok-tin diam-diam terkejut dan bergirang, ia terkejut oleh kelihaian kungfu jago muda itu, selama ini belum pernah didengarnya ada seorang tokoh muda demikian, mungkin tokoh terkemuka jaman ini juga sukar mengalahkan dia. Girangnya karena melihat anak muda itu mulai gelisah, betapa hebat ilmu pukulannya, lama-lama tentu juga akan kacau dan itu berarti tanda akan kalah. Siapa tahu, sampai lebih dari 150 jurus, mendadak ilmu pukulan jago muda itu berubah, dimainkannya semacam ilmu pukulan yang aneh. Ilmu pukulan ini bernama sian-thian-ciang-hoat yang menurut peraturan perguruannya tidak boleh sembarangan digunakan-sekarang karena ingin cepat menang, tanpa pikir terus dimainkan oleh jago muda itu. Dan tidak lebih tiga jurus sian-thian-ciang di-mainkan, sekali hantam pipi Thio Giok-tin telah kena digampar oleh anak muda itu, menyusul gamparan lain mengenai pipi sebelah lagi. Betapa pedih hati Thio Giok-tin sukar dilukiskan, setelah mengalami dua kali gamparan. Dia adalah seorang tokoh termashur, tapi mukanya kena dipukul dua kali oleh seorang anak muda, tentu saja dirasakan terlebih menderita daripada terbunuh. sian-thian-ciang anak muda itu dimainkan terus, kini keadaannya tidak serupa bertempur antara dua orang lagi, tapi lebih mirip orang tua lagi mempermainkan anak kecil, kedua tangannya menampar kian kemari, berulang-ulang pipi kanan dari Giok tin kena dihajar pula, Dia sengaja pamer kepandaian, tidak mau melukai Thio Giok-tin dengan pukulan berat, namun begitu Thio Giok-tin terus menerus terpukul tanpa mampu membalas. setelah belasan kali tamparan, Thio Giok-tin tidak tahan terhina lagi, teriaknya.

"Baiklah, aku kalah"

Jago muda itu tertawa senang, ucapnya.

"Jika kau mau mengaku kalah, aku pun takkan membikin susah padamu. Nah, lekas kau ikat tangan sendiri dan menyerah."

Sudah tua begini baru mengalami penghinaan sebesar itu, tentu saja.

Thio Giok tin sangat sakit hati, mana dia rela mengikat tangan sendiri dan mandah disembelih orang, tiba-tiba ia mendapat akal, serunya dengan tertawa.

"Numpang tanya siapakah nama saudara cilik ini?"

Saking senangnya jago muda itu menjawab tanpa pikir.

"Namaku Siau Hong .jika kau masih penasaran, boleh kita bertanding lagi."

Thio Giok-tin menggeleng kepala, katanya.

"Tidak. kuakui ilmu silatmu memang nomor satu di dunia, biarpun siapa saja bukan tandinganmu."

Pada umumnya orang sombong memang suka disanjung puji orang, makin diumpak makin sombong dia.

Maka umpakan Thio Giok-tin ini membuat jago muda itu lupa daratan dan tidak ingat lagi lawan adalah penyatron yang harus ditangkapnya, malahan barusan dia harus menempurnya dengan mati-matian.

Habis bicara.

lalu Thio Giok tin membalik tubuh seperti mau pergi.

Lantaran merasa senang terhadap pujian orang, Siau Hong tampaknya tidak bermaksud mencegahnya.

Tapi para pengawal yang masih berada disitu lantas berteriak-teriak.

"Lekas ringkus dia"

Baru sekarang Siau Hong ingat kepada tugas sendiri. katanya.

"Eh, kau tidak boleh pergi"

"Aku tidak pergi, boleh kau suruh mereka meringkus diriku,"

Jawab Thio Giok-tin.

Siau Hong pikir terlalu repot meringkusnya ditutuk Hiat-to kelumpuhannya kan sama saja, Ia mengira Thio Giok-tin sudah menyerah total kepadanya.

maka caranya menutuk juga tidak memakai perhitungan.

Diluar dugaan, mendadak Thio Giok-tin menghantam kebelakang tanpa membalik tubuh.

Caranya menghantam ke belakang juga sangat aneh, sekaligus tubuhnya ikut berputar kebelakang Siau Hong.

Angin pukulan yang lihai segera mengancam bagian maut di punggung anak muda itu.

sungguh aneh dan lihai pukulan ini, apabila Siau Hong terkena pukulannya dengan tepat, sukar baginya untuk lolos dari kematian.

Untunglah pada detik yang berbahaya itu, sekonyong-konyong dari atas rumah melayang turun sesosok bayangan.

Bayangan ini seakan-akan sudah tahu kelihaian pukulan Thio Giok-tin itu, maka begitu tangan Thio Giok-tin menghantam kebelakang, serentak ia anjlok ke bawah, maka ketika tenaga pukulan Giok-tin mendakati punggung Siau Hong, dengan tepat dapat dicegat bayangan itu.

Tertampak orang ini mengapung di udara dan menahan serangan Thio Giok-tin dengan sebelah tangan, ia sambut mentah-mentah pukulan yang dahsyat ini.

-"Blang", kedua tangan beradu dengan keras, karena terapung, bayangan itu tergetar mencelat dua tombak jauhnya, ia berjumpalitan dan berdiri tegak diatas tanah tanpa cidera apa pun-Perubahan kejadian ini berlangsung dalam waktu sekejap saja, belum lagi para jago pengawal sempat berteriak kaget dan gebrakan itu pun sudah berlangsung.

Ternyata sebagian besar di antara mereka kenal bayangan orang itu, sarentak mereka berseru.

"Yu-kongcu"

Orang ini memang betul Yu Wi adanya.

Siau Hong juga pernah melihat Yu Wi.

prihal Yu Wi merawat lukanya di dalam istana telah banyak diketahui para pengawal, hanya sebagian tidak pernah melihatnya, tapi lebih banyak yang pernah melihat dan tahu dia adalah putera sahabat Tay-ciangkun yang sudah wafat, putera Yu Bun-hu.

setelah sergapannya gagal membunuh Siau Hong, Thio Giok-tin menyadari kesempatan baik sukar dicari lagi, padahal kepandaian anak muda itu jauh di atas dirinya, jelas sakit hati penghinaan tadi sukar dibalas, dengan gemas ia lantas menuding Yu Wi dan mendampsrat.

"Anak busuk, kau bikin gagal urusanku"

Memaki.

lalu ia berduduk di tanah.

Ia pikir kepandaian Siau Hong lebih tinggi dari padanya.

jangankan hendak kabur, mungkin dirinya akan dibunuh untuk membalas sergapannya tadi.

Belum lagi Yu Wi, anak muda ini pasti juga.

takkan mengampuni dirinya.

Karena itulah ia lantas memejamkan mata dan menunggu ajal.

ia tidak ingin bertempur lagi, sebab hal ini akan berarti dirinya lebih banyak terhina.

Ia pikir biarlah salah seorang dari kedua anak busuk itu boleh berikan suatu pukulan dan mematikan diriku saja.

Akan tetapi sampai sekian lama ia menunggu dan tidak terjadi sesuatu, ia menjadi heran, kalau Yu Wi yang baik budi itu dapat dimengerti jika dia tidak tega membunuh musuh yang tidak mengadakan perlawanan, tapi Siau Hong yang angkuh dan keji ini mengapa juga tidak balas menyerang diriku?

Para jago pengawal juga tidak berani sembarangan bertindak sebelum mendapat perintah Siau Hong selaku komandan mereka, mereka sama berdiri disekeliling situ dan menanti keputusan Siau Hong.

Mereka tahu meski keadaan Thio Giok-tin sekarang hanya berduduk dengan mata terpejam, kalau bukan Siau Hong sendiri yang meringkusnya, orang lain sukar untuk membekuknya.

Kedatangan Yu Wi ke tempat kediaman Ko siu ini terjadi waktu Thio Giok-tin kabur dikejar Lau Tiong-cu, ia tahu Thio Giok-tin hendak membunuh Ko siu, maka diam-diam ia hendak melindungi Ko siu.

Kemudian diketahuinya Ko siu yang sedang membaca di kamarnya itu adalah palsu, namun dia tidak pergi, ia bersembunyi disitu dan menunggu kedatangan Thio Giok-tin.

sama sekali tak tersangka olehnya bahwa di tengah para jaro pengawal pribadi Ko siu ini terdapat seorang jago muda yang mampu mengatasi Thio Giok-tin.

Diam-diam ia kagum terhadap Siau Hong.

Maka ketika melihat anak muda itu terancam bahaya oleh pukulan membalik Thio Giok-tin, Yu Wi yang bersembunyi di atas belandar rumah lantas melompat turun untuk menolongnya.

Kini meski mendapat kesempatan untuk membunuh Thio Giok-tin, namun Yu Wi tidak sudi melakukannya, pikirnya "Thio Giok-tin memejamkan mata dan menunggu kematian, jelas karena dia tahu bukan tandingannya Siau Hong.

sekarang hanya Siau Hong saja yang berhak menentukan mati-hidup Thio Giok-tin, apabila dia tidak mati dan berhasil lolos.

kelak akan kucari dia pula untuk menuntut balas."

Semua orang tidak tahu apa sebabnya Siau Hong hanya termenung saja dan tidak lantas bertindak terhadap Thio Giok-tin, sejenak kemudian agaknya Siau Hong berhasil memacahkan sesuatu persoalan, ia tmendekati Thio Giok-tin..

Dengan ketus Thio Giok-tin barkata tanpa gentar.

"Baik, aku tidak mampu membunuhmu biarlah kau bunuh diriku saja"

"Aku takkan membunuhmu, aku cuma ingin tanya sesuatu padamu,"

Ujar Siau Hong sambil menggeleng.

"Setelah kau tanya, lalu bagaimana?"

"Bila sesuai dengan apa yang kupikir, segera kubebaskan kau."

Ucapan Siau Hong membikin gempar para jago pengawal, mereka berteriak-teriak.

"Tidak. jangan lepaskan dia Bunuh saja dia untuk membalas sakit hati saudara kita"

"Hm, jika ada diantara kalian yang berani membunuh dia, silakan maju saja dan membunuhnya."

Jengek Siau Hong. Thio Giok-tin tertawa, katanya.

"Aku dikalah olehmu, hanya kau berhak membunuhku. Bila orang lain tidak tahu diri, boleh dia timbang dulu apakah dia mampu mambunuhku atau tidak."

"seumpama mampu membunuhmu juga perlu tunggu setelah selesai kutanyai dirimu,"

Kata Siau Hong. Yu Wi melangkah maju.

"Ada soal apa, dapatlah kau tanya dia selekasnya."

"setelah kutanyai dia, apakah hendak kau bunuh dia?"

Jengek Siau Hong.

Yu Wi jadi melengak, ia heran atas sikap orang yang kasar.

Padahal baru saja jiwa orang diselamatkannya, mengapa membalasnya dengan bersikap tidak sopan begini.

Tanpa menunggu jawaban Yu Wi.

segera Siau Hong berkata pula dengan ketus.

"setelah kutanyai dia, bunuh atau tidak adalah bergantung kepadaku, bila ada yang tidak menurut kepada keputusanku, boleh silakan menantang diriku, kalau dapat mengalahkan aku barulah berhak mengambil tindakan terhadap perempuan ini."

Ucapannya ini sama dengan menantang Yu Wi. Keruan para jago pengawal sama gusar. mereka sama memaki di dalam hati.

"Hm, memangnya dengan hak apa kau berani. mengambil keputusan mengenai penyatron ini? Tay-ciangkun menyewa dirimu sebagai komandan pasukan pengawal, kau harus tunduk kapada perintah Tay-ciangkun, memangnya apa yang kau andalkan? Huh, lagaknya seperti tuan besar padahal apa bedanya dirimu dengan kami? Kan sama-sama terima upah orang?"

Meski gusar didalam hati, tapi tidak ada seorangpun bersuara.

Maklumlah, Siau Hong terlalu lihai, mereka menyadari bukan tandingan anak muda itu.

Yu Wi juga tidak suka bertengkar, ia mundur kebelakang ia pikir terserah padamu akan kau bunuh atau tidak.

Pokoknya bila kau bebaskan dia, segera kucari dia untuk menuntut balas.

setelah cukup pamer kekuasaan dan tidak ada yang berani membantah lagi, Siau Hong bergelak tertawa bangga, lalu ia tanya Thio Giok-tin.

"Tadi caramu menghantam kebelakang itu, apa nama jurus seranganmu itu?"

Giok-tin menggeleng.

"Aku cuma dapat memainkannya dan tidak tahu apa namanya."

"Tadi kurasakan jurus seranganmu itu sudah kukenal serupa jurus serangan dari perguruanku, setelah kurenungkan sekian lama baru kuingat bahwa pukulan ke belakang seperti seranganmu tadi disebut sat-jiu-ciang (pukulan maut),"

Kata Siau Hong pula.

"Nama sat-jiu-ciang sama sekali tidak pernah kudengar"

Ujar Giok-tin.

"Mungkin benar tidak pernah kau dengar, tapi pasti kau tahu orang yang mengajarkan ilmu pukulan itu bermata satu bukan?"

Berubah air muka Thio Giok-tin.

"Betul, kau kenal dia?"

"Dengan sendirinya kukenal, kalau tidak. dari mana kutahu nama kungfu andalannya itu bernama sam-jiu-sam-ciau (tiga jurus pukulan maut)."

"sat-jiu-sam-ciau?"

Thio Giok-tin mendegus dengan kaget.

"Memang betul yang diajarkan orang bermata satu itu kepadaku adalah tiga jurus."

Meski namanya tiga jurus, namun cara memainkan tiga jurus itu sama sekali berlainan.

"Benar"

Seru Giok-tin. Siau Hong tambah bangga, ucapnya.

"Meski permainan ketiga jurus itu sama sekali berbeda, tapi berasal dari sumber yang sama Jurus pertama adalah penggunaan senjata rahasia, jurus kedua mengenai pemakaian senjata dan jurus yang lain lagi adalah ilmu pukulan seperti yang kau mainkan tadi."

Thio Giok-tin sangat licin, segera ia tahu watak Siau Hong yang suka diumpak ini, maka dia sengaja berkata.

"Wah, berbahaya, sungguh berbahaya... ."

"Berbahaya apa?"

Tanya Siau Hong..

"Sungguh aku tidak tahu diri, padahal Anda sedemikian paham sat-jiu-sam-cian, tapi berani kusergap Anda, untung bocah she Yu itu menghalangi seranganku, kalau tidak. bukan mustahil seranganku tidak berhasil dan berbalik akan dibinasakan oleh jarus serangan Anda yang lebih lihai". Sanjungan ini membuat hati Siau Hong kegirangan luar biasa. Padahal bilamana tidak dirintangi oleh Yu Wi, tidak mungkin dia mampu menghindarkan serangan maut Thio Giok-tin tadi. Tapi dasar orang yang sombong, jelas-jelas Yu Wi telah menyelamatkan dia, sudah tidak berterima kasih, sebaliknya malah menganggap Yu Wi mengganggu dia. Sekarang Thio Giok-tin berkata demikian, tanpa malu ia menjawab.

"Ah, mana, mana Meski sam-jiu-sam-ciau itu sangat lihai, tapi akupun mempunyai jurus yang dapat mematahkannya. Akan tetapi akupun takkan melukaimu. setelah kukenal asal-usul jurus seranganmu, segera kutahu ada hubungan antara kita berdua, mana boleh sembarangan kulukaimu sehingga dimarahi susiok nanti."

Yu Wi tidak menduga antara Thio Giok-tin dan Siau Hong bisa mendadak timbul hubungan perguruan segala.

Ia pikir hari ini Thio Giok-tin pasti akan dilepaskan oleh Siau Hong.

Hal yang membuatnya ragu adalah mengenai Siau Hong, pada waktu Thio Giok-tin menyerangnya dengan pukulan maut tadi, adalah sukar untuk dipercaya bahwa dia sanggup menyelamatkan diri Maklumiah, Yu Wi cukup kenal betapa lihainya serangan Thio Giok-tin itu, sebab sudah dua kali dia hampir mati di bawah pukulan maut itu.

satu kali terjadi di Tiam-jong-san ketika Thio Giok-tin menimpukkan kebutnya kebelakang dan tepat mengenai punggungnya.

satu kali lagi juga menyambitkan secara rahasia ke belakang, kalau saja Toa supek tidak keburu menangkiskan dengan patungnya dia pasti sudah binasa.

Dua kali pengalaman ini meyakinkan dia akan kelihaian serangan membalik Thio Giok-tin itu, maka tadi tanpa pikir ia terus melompat turun untuk menyelamatkan Siau Hong.

Tapi sekarang Siau Hong menyatakan dia mempunyai kungfu lain yang mampu menangkis serangan Thio Giok-tin, jadi bantuan sendiri tadi tidak ada gunanya, pantas orang tidak berterima kasih padanya.

Pada dasarnya Yu Wi memang lugas, meski meragukan kemampuan Siau Hong akan dapat menyelamatkan diri dari serangan maut Thio Giok tin tadi, tapi mengingat di dunia ini masih banyak orang kosen yang sukar diukur kepandaiannya, bukan tidak mungkin Siau Hong memang betul dapat mematahkan serangan Thio Giok-tin itu.

Begitulah didengarnya Thio Gin-tin lagi berkata.

"Apa katamu?Jadi orang bermata satu yang mengajarkan tiga jurus padaku itu adalah paman gurumu?"

Siau Hong tertawa.

"Haha, setelah kau pelajari kungfu andalan susiokku, tapi sampai sekarang tidak mengetahui asal-usulnya?"

"Dia hanya mengajarkan tiga jurus padaku dan tidak bicara urusan lain, bahkan she dan namanya saja tidak diberitahukan pada ku."

"Tingkah-laku susiok memang aneh, orang lain jangan harap akan dapat belajar kungfunya, pernah kuminta belajar juga ditolaknya. Tapi dia justeru suka padamu, sungguh ada jodoh."

Ucapan Siau Hong ini banyak lubang kelemahannya.

orang yang mau berpikir sedikit saja pasti dapat membongkar bualannya.

Tadi dia bilang mempunyai kungfu lain yang dapat mematahkan serangan Thio Giok-tin, tapi sekarang dia mengaku tidak pernah belajar sat-jiu-sam-ciau, jelas dia cuma omong besar untuk menutupi kelemahan sendiri.

Di antara jago pengawal itu tentu saja ada yang dapat berpikir, diam-diam mereka mengejek.

kalau saja tidak takut tentu mereka sudah tertawa geli.

Dengan sendirinya Thio Giok-tin dapat juga menarik kesimpulan bahwa Siau Hong tidak mempunyai kungfu yang dapat mematahkan serangannya tadi.

Maka sekarang ia tambah benci kepada Yu Wi, kalau saja anak muda ini tidak merintangi serangannya, tentu saat ini Siau Hong sudah dibinasakannya dan terlampiaslah sakit hati belasan kali tamparan tadi.

Tapi sekarang ia tambah kenal watak Siau Hong, ia pikir dalam keadaan tidak menguntungkan, harus lebih banyak kupuji dia agar mau membantu bilamana aku dimusuhi Yu Wi dan para jago pengawal.

Maka dengan tersenyum genit ia berkata.

"Ah, beruntung susiokmu sudi mengajarkan tiga jurus sakti padakU, padahal hanya beberapa kali saja susiokmu bertemu denganku dan beliau lantas mengajarkan kungfu andalannya kepadaku, mustahil kalau dia tidak mengajarkan kepada Anda, kukira mungkin susiokmu menganggap ketiga jurus itu tidak banyak manfaatnya bagimu, maka tidak diajarkannya padamu. Padahal dengan kepandaian Anda masakah ketiga jurus itu menjadi soal bagimu?"

Siau Hong merasa senang sekali, ucapnya.

"Betul juga perkataanmu, kungfu perguruan kita sangat luas, meski sat-jiu-sam-ciau merupakan kungfu ciptaan susiok sendiri, tapi belum terhitung kepandaian luar biasa didalam kungfu perguruan kita. Agaknya susiok kuatir kungfu perguruan sendiri tidak dapat kupelajari seluruhnya, lalu apa gunanya belajar lagi sat-jiu-sam-ciau. Akan tetapi kau dapat belajar kungfu susiok itu, sungguh ada jodoh dan kau pun dapat dikatakan terhitung anak murid perguruan kita."

Tentu saja Thio Giok-tin mengikuti arah angin, katanya cepat.

"Wah, jika demikian, harus kupanggil engkau sebagai suheng"

Padahal usia Thio Giok-tin cukup untuk menjadi ibu Siau Hong, maka para jago pengawal sama merinding mendengar ucapannya. sebaliknya Siau Hong tidak merasakan apa-apa, ia menjawab dengan serius.

"Karena kau terhitung juga murid susiok. maka sebutan suheng biarlah kuterima".

"Ya, suheng,"

Kembali Thio Giok-tin memanggil. Akan tetapi dia menggerutu didalam hati.

"Suheng kentut susiokmu memang ada jodoh denganku. cuma jodohnya jodoh ditengah jalan. Coba kalau setan mata satu itu tidak tergila-gila padaku, mana dia mau mengajarkan tiga jurus mautnya kepadaku. Dasar anak keparat, masih ingusan masih berani mengaku suheng ku. Yang benar harus kausebut nenek padaku."

Bahwa dalam keadaan kepepet Thio Giok-tin mau merendahkan diri, disinilah terletak kelicikannnya. Maka dengan sebutan "Suheng"

Ini mau-tak-mau Siau Hong harus bicara baginya, segera ia berpaling dan berkata terhadap para jugo pengawal "Nah, saudara-saudara, perbuatan orang ini mungkin timbul karena salah paham belaka.

sekarang urusan sudah jelas, rupanya dia adalah orang seperguruanku, maka orang she Siau memutuskan untuk membebaskan dia pergi, aku yang akan bertanggung jawab terhadap Ciangkun nanti, bilamana ada di antara kalian tidak dapat menerima keputusanku, boleh berurusan denganku."

Diam-diam para pengawal menjengek.

namun mereka hanya marah di dalam hati dan tidak ada yang berani bersuara.

Maklumlah, mereka tidak dapat menandirgi Siau Hong, jika bersuara hanya akan mendatangkan petaka bagi diri sendiri.

Maka dengan berseri-seri Siau Hong berkata pula kepada Thio Giok-tin.

"Nah. sekarang bolehlah kau pergi Urusan disini serahkan saja padaku, bila bertemu dengan susiok, katakan guruku "Kun-kiam-bu-siang" (pukulan dan pedang tidak ada bandingan) mengharapkan beliau pulang ke Tibet untuk menemui suhu."

"Kun-kiam-bu-siang", diam-diam Thio Giok-tin menjengek atas julukan ini, besar amat suaranya, pantas kau pun tidak pandang sebelah mata kepada orang lain, rupanya guru dan murid serupa sombongnya. Namun lahirnya Thio Giok-tin tetap merendah diri, ucapnya dengan tertawa yang dibuat-buat.

"Terima kasih, suheng, kumohon diri ... ."

"Nanti dulu"

Mendadak Yu Wi melangkah maju.

"Maksudmu aku?"

Tanya Giok-tin sambil berpaling dengan tertawa. Yu Wi menjawab tegas.

"setelah kau datang ke sini, kau harus memberi keadilan kepada Ciang-kun-"

"Keadilan apa?"

Jengek Giok-tin-"Tiga hari yang lalu, segenap penghuni rumah puteri muda Ko-ciangkun telah kau bunuh, bukan?"

Tanya Yu Wi dengan mendelik, seketika para jago pengawal menjadi gempar.

"Hah, jadi perempuan bangsat inilah pembunuh Jihujin? "

"Tangkap dia. Jangan lepaskan dia"

"Lekas undang ciangkun kemari untuk mengadili pembunuh ini... ."

Segera ada seorang pengawal yang cekatan berlari pergi. Tapi Siau Hong lantas membentak.

"Berhenti"

Namun orang itu tidak menghiraukan dan tetap berlari ke sana. Siau Hong menjadi gusar, mendadak ia menuding dari jauh.

"crit."

Angin jari yang tajam menyambar ke sana, pengawal itu menjerit kaget, lalu berdiri mematung di tempatnya dengan gaya sedang berlari.

Tutukan dari jarak jauh ini sungguh amat lihai, seketika para jago pengawal menjadi jeri dan tidak ada yang berani bersuara lagi.

"Nah. siapa lagi berani sembarangan bergerak?"

Kata Siau Hong dengan pongahnya. Thio Giok-tin terus menambahkan.

"Kalau ingin hidup janganlah bergerak"

Lalu Siau Hong berpaling dan berkata kepada Yu Wi.

"Apakah tidak kau dengar perintahku membebaskan dia pergi?"

Sedapatnya Yu Wi bersabar, jawabnya.

"Anda bekerja bagi Ciangkun. apa tugasmu sesungguhnya?"

"Melindungi keselamatan ciangkun-"

Jawab Siau Hong.

"sekarang ciangkun tidak cidera apa pun dengan sendirinya aku berhak membebaskan dia."

"Dia telah membunuh nyonya muda, tidak kau periksa dan tanyai dia?"

Kata Yu Wi dengan mendongkol.

"Tidak. dia tidak membunuhnya, bukan dia pembunuhnya,"

Jawab Siau Hong tegas.

"Dari mana Anda tahu bukan dia pembunuhnya?"

Tanya Yu Wi.

"Coba jawab dulu, antara dirimu dan dia ada permusuhan atau tidak?"

"Ada, sedalam lautan dendamku padanya,"

Jawab Yu Wi tegas.

"Hahaha, jika begitu kan jelas segalanya,"

Seru Siau Hong dengan tertawa.

"Demi kepentingan pribadimu, sengaja kau fitnah orang. apa yang kau katakan tidak dapat dipercaya."

Dan sebelum Yu Wi bicara pula, segera ia memberi tanda kepada Thio Giok-tin.

"Nah, lekas kau pergi saja"

Thio Giok-tin menyadari keadaan yang berbahaya, kalau sekarang tidak lekas pergi, mau tunggu kapan lagi? segera ia melompat keatas. Tapi Yu Wi lantas memburu maju lagi.

"Kau berani?"

Bentak Siau Hong sambil menghadang di depan Yu wi, sebelah tangannya lantas menghantam. Cepat Yu Wi menangkis.

"blug". Yu Wi tetap berdiri di tempatnya, sebaliknya Siau Hong tergetar mundur dua-tiga tindak. Adu pukulan ini memperlihatkan tenaga Siau Hong kalah kuat daripada Yu Wi. Dalam pada itu Thio Giok-tin sudah kabur, ginkangnya sangat tinggi, Yu wi merasa tidak sanggup menyusulnya, maka iapun tidak mengejar lagi. Dari malu Siau Hong me adi gusar, bentaknya.

"Kurang ajar Kau berani bergebrak denganku?" ^ Yu Wi menggeleng, ucapnya.

"Betapapun engkau adalah pengawal pribadi paman Ko, aku tidak mau bermusuhan denganmu."

"Kesampingkan tugasku ini, coba kau mau apa?"

Kata Siau Hong dengan penasaran-"Antara kita tidak ada permusuhan apa-apa, tidak perlu kita bergebrak dan menjadi musuh malah,"

Ujar Yu wi.

"Pengecut"

Ejek Siau Hong.

"Tahu begitu, belum tentu kau berani mengejar saudara seperguruan kami. Huh, hanya tok berlagak saja."

Yu Wi memang tidak ingin bermusuhan dengan pengawal pribadi sang paman, sedapatnya ia menahan rasa gusarnya.

dan tidak menghiraukannya.

Tapi ada sebagian jago pengawal yang biasanya memang benci terhadap sikap sombong Siau Hong, segera mereka berteriak-teriak.

"Yu-kongcu, beri lagi sekali pukulan, hajar adat padanya"

"Huh, pengecut apa? Yang benar Yu-kongcu tidak sudi bertengkar dengan manusia yang tidak tahu diri"

"Ya, benar, Yu-kongcu memang berbudi luhur, ampuni saja manusia yang tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi ini ..."

Sindiran itu tentu saja membikin panas telinga Siau Hong, seketika ia berjingkrak.

Meski dia menjabat komandan pasukan pengawal, tapi tidak ada anggota pengawal itu yang condong padanya.

Namun Yu wi tidak mudah terhasut, ia kuatir bila terjadi bentrokan, yang akan repot adalah paman Ko sendiri.

Maka ia membalik tubuh hendak tinggal pergi.

Tak terduga mendadak Siau Hong membentak "Berhenti"

Dengan sendirinya Yu Wi juga tidak mau dihina, ia berpiling dan menjawab.

"Kau mau apa?"

"Orang she Siau ingin berkenalan dengan kepandaianmu, supaya manusia-manusia yang picik itu tahu siapa yang lebih lihai di antara kita berdua"

"Cayhe mengaku bukan tandinganmu, nah. tentunya Anda tidak perlu marah lagi. bukan?"

Jawab Yu Wi dengan rendah hati.

Siau Hong juga menyadari bila bergebrak dengan Yu Wi takkan mendatangkan manfaat, apalagi dia adalah putera sahabat Ta y-ciangkun.

Maka ia lantas mendengus, ia berpaling dan menyapu pandang para jago pengawal, maksudnya ingin berkata.

"Nah kalian sudah dengar sendiri, dia sudah mengaku bukan tandinganku, tentunya kalian tidak perlu banyak baCot lagi"

Tak diketahui para pengawal itu sangat benci padanya, mereka justeru berharap Yu Wi dapat menghajar adat terhadap orang sombong ini. segera ada yang menghasut lagi.

"Eh, Ting-losam, menurut pandanganku, jika kalah kuat, paling baik janganlah mencari perkara kepada orang lain-"

"Cari perkara? Dia berani cari perkara? Huh mendingan kalau orang lain tidak cari perkara padanya."

Demikian jawab seorang lagi. Dasar jiwa Siau Kong memang sempit, ejekan itu membuatnyaa tidak tahan, segera ia menghadang lagi di depan Yu Wi, katanya dengan gusar.

"Harus kulayani kau sekarang juga, harus bertempur kita"

"Tidak. aku tidak ingin bertempur denganmu,"

Jawab Yu Wi sambil menggeleng. Karena ingin melabrak anak muda itu, dengan sombong Siau Hong berteriak.

"Akan kuberi seratus jurus serangan pada mu, jika kau tetap tidak berani, maka kau benar-benar pengecut besar"

Yu Wi bukan patung, dengan sendirinya ia-pun punya harga diri, lama-lama ia menjadi gusar juga, serunya.

"Baik, justeru akan kulihat cara bagaimana kau beri seratus jurus padaku?"

"Bertanding pukulan atau pedang?"

Tanya Siau Hong dengan mantap.

"Boleh kau pilih, pukulan atau pedang akan kulayani,"jawab Yu Wi. Siau-hong tertawa.

"Haha, bagus Karena kau anak sahabat Ciangkun-juga sahabat karib soh-sim, supaya tidak menyakiti pihak lain, boleh kita bertanding pukulan saja."

Karena orang menyebut nama agama Ko Bok-ya, cepat Yu Wi tanya.

"soh-sim? siapa yang kau maksudkan sebagai soh-sim?"

"Peduli siapa dia? Pokoknya. mengingat dia takkan kulukai kau"

Ucap Siau Hong dengan temb erang.

Yu Wi menjadi gusar karena orang meremehkan dia, tanpa bicara lagi ia lantas menyerang.

Mendadak tangan Siau Hong menangkis dengan gaya memutar, kontan serangan Yu Wi dipunahkan.

Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 1

Baca Juga: Anak Naga 15

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert