Ceritasilat Novel Online

Imbauan Pendekar 6

Eps 6 Imbauan Pendekar - Khu Lung

Baca online Imbauan Pendekar - Khu Lung

Cersil Imbauan Pendekar - Khu Lung.

"Masa sepanjang jalan itu dia tidak pernah beristirahat?"

Tanya Lui-ji.

"Bukan saja tidak beristirahat, bahkan satu butir nasi saja tidak pernah masuk perut,"

Tukas Pwe-giok dengan tertawa. Lalu sambungnya.

"Sebab setiap kali dia hendak mengaso atau makan, baru saja dia pegang sumpit, segera dilihatnya Siau-sin-tong melayang lewat. Terpaksa ia terus mengejar ke depan, dan lupa berhenti akhirnya ia sampai di tempat tujuan. Ketika tiba di depan Wi-hau-lau, restoran yang menjadi tempat tujuan terakhir, ia mengira pertandingan ini pasti dimenangkan oleh dirinya. Siapa tahu, sekali mendongak, tahu-tahu Siau-sin-tong kelihatan sedang menggapai padanya di atas loteng restoran itu."

"Ha ha, bagus, bagus, cerita ini sungguh sangat menarik,"

Seru Lui-ji sambil berkeplok.

"Dan kemudian, apakah Hiat-eng-jin benar-benar membunuh diri dengan menggorok leher sendiri?"

Tanya Thi-hoa-nio.

"Biar jahat, tapi orang ini sok anggap dirinya lain daripada orang biasa, tindakan ingkar janji dan main belit tidak pernah dilakukannya, apalagi setiba di Bu-han keadaannya sudah payah, hampir berdiri saja tidak kuat, sekalipun ingin kabur juga sulit, padahal orang lainpun pasti takkan mengampuni dia."

"Dan seorang tokoh jahat itu lantas mati ditangan seorang anak kecil?!"

Tanya Thi-hoa-nio.

"Betul"

Jawab Pwe-giok. Mencorong sinar mata Lui-ji, katanya.

"Seorang anak berusia belasan tahun sudah memiliki Ginkang setinggi itu, sungguh sangat mengagumkan."

Pwe-giok tersenyum dan menggeleng.

"Meski Ginkangnya cukup hebat, tapi kalau dibandingkan Hiat-eng-jin, sungguh selisihnya sangat jauh". Liu-ji jadi melengak, tanyanya.

"Jika Ginkangnya tidak melebihi Hiat-eng-jin, kenapa dia bisa menang?"

"Bisa lantaran usianya lebih muda dan tenaganya lebih kuat."

Sambung Thi-hoa-nio. Pwe giok menggeleng pula, katanya dengan tersenyum.

"Tidak, bukan begitu sebabnya."

"Habis meng... mengapa bisa begitu?"

Tanya Lui-ji.

"Masa tak dapat kau terka?"

Tanya Pwe-giok. Lui-ji merunduk dan berpikir agak lama, mendadak ia berkeplok, katanya sambil tertawa.

"Aha, tahulah aku, Siau-sin-tong pasti dua saudara kembar yang serupa, salah seorang menunggu lebih dulu dibagian depan, apabila Hiat-eng-jin sampai di situ, dia sengaja memperlihatkan diri sejenak, sedangkan yang lain segera menunggang kuda cepat mendahului ke depan lagi, bila Hiat-eng-jin dapat melampaui yang satu, sementara itu Siau-sin-tong yang lain sudah menunggu lagi di depan."

"Bukan, juga bukan begitu,"

Kata Pwe-giok dengan tertawa.

"Masih tidak betul?"

Lui-ji melengak.

"Coba kau pikir, selama hidup Hiat-eng-jin malang melintang, masa dia mudah ditipu? Apalagi dengan gerak tubuhnya yang cepat, sekalipun ada kuda pilihan juga sukar mendahului dia jauh di depan sana."

"Bisa jadi... bisa jadi mereka mengambil jalan potong yang lebih dekat."

Kata Pwe-giok.

"Wah, jika demikian, aku menjadi... menjadi bingung,"

Ujar Liu-ji sambil tersenyum.

"Ha, tahulah aku!"

Seru Thi-hoa-nio mendadak.

"Oo? Kau tahu?"

Heran juga Pwe-giok.

"Tentu Siau-sin-tong telah mengumpulkan beberapa anak yang serupa dengan dia, lalu didandani hingga sama, mereka sembunyi di sepanjang jalan, apabila Hiat-eng-jin hendak berhenti mengaso, segera salah seorang diantara sengaja berlari lewat di depan Hiat-eng-jin."

"Tidak, tetap tidak betul,"

Ujar Pwe-giok sambil menggeleng.

"Masa tetap tidak betul?"

Thio-hoa-nio menegas dengan melengak.

"Kan sudah kukatakan tadi, Hiat-eng-jin bukan orang yang mudah ditipu, bahkan pandangannya sangat tajam, mana bisa Siau-sin-tong menipunya dengan cara begitu?"

"Betul, kalau cuma menyamar dan dirias saja tetap ada bagian yang kelihatan, apalagi, untuk mencari anak lain yang serupa dan berperawakan sama dengan Siau-sin-tong juga bukan pekerjaan yang gampang."

"Lebih-lebih Siau-sin-tong memiliki Ginkang dengan gaya tersendiri, gerak tubuhnya sangat aneh, orang lain sukar menirukannya. Justru lantaran inilah, maka sejak mula sampai akhir Hiat-eng-jin tidak curiga sedikitpun."

"Wah, jika demikian, lantas bagaimana kejadian yang sesungguhnya, aku benar-benar tidak mengerti, kata Thi-hoa-nio."

"Kalau sudah tersingkap, hal ini sedikitpun tidak mengherankan,"

Ujar Pwe-giok dengan tertawa.

"Sebabnya, meski Siau-sin-tong bukan kembar dua, tapi justeru kembar lima. Mereka lima bersaudara serupa barang cetakan." ***** Oleh karena Yang Cu-kang memberi pesan agar orang di dalam peti jangan di lepaskan dulu, agar gerak-gerik mereka bisa leluasa, terpaksa mereka menggendong peti itu dan mengikatnya dengan tali di punggung. Sudah tentu bukan pekerjaan enak menggendong peti seberat itu, tanpa terasa Thi-hoa-nio dan Lui-ji lupa pada beban di punggung mereka.

"Hah, tadinya kukira kau tidak suka bicara, siapa tahu, sekali kau mau bercerita, orang mati pun dapat kau lukiskan seolah-olah hidup kembali,"

Kata Lui-ji dengan tertawa.

"Bahkan kaupun dapat tahan harga, jual mahal, bikin ceritamu tambah menarik."

"Wah, kalau kelima bersaudara kembar itu berbentuk serupa, kukira benar-benar sangat lucu dan menarik,"

Tukas Thi-hoa-nio.

"Tapi kuberani bertaruh kelima bersaudara ini pasti sukar mencari bini,"

Kata Lui-ji.

"Aneh, sebab apa?"

Tanya Thi-hoa-nio.

"Setelah tahu kejadian itu, anak perempuan mana lagi yang berani kawin dengan mereka?"

Kata Lui-ji.

"Mengapa tidak berani?"

Tanya Thi-hoa-nio pula.

"Coba pikir, apabila mereka iseng, lalu mereka pun menggunakan cara menghadapi Hiat-engjin itu terhadap isterinya sendiri, coba, anak perempuan mana yang tahan?"

Bicara demikian, tanpa terasa muka sendiri menjadi merah. Thi-hoa-nio mengikik tawa, ucapnya.

"Ya, betul juga kalau terjadi kekeliruan, kan repot!"

Habis berkata, mukanya menjadi merah juga. Pwe-giok tertawa, katanya.

"Maksudku, apakah kalian tahu untuk apakah ku tuturkan cerita ini?"

Terbeliak Lui-ji, katanya.

"Maksudmu apakah Lengkui itupun terdiri dari lima saudara kembar?"

"Ya, kira-kira begitulah,"

Kata Pwe-giok.

"Cuma, mereka tentu saja bukan lima saudara kembar sungguhan, tapi kembar buatan."

"Tapi sama sekali tidak kulihat sesuatu ciri bekas riasan pada diri mereka,"

Kata Lui-ji. Pwe-giok menghela napas, katanya.

"Ilmu rias umumnya hanya dapat mengelabui orang untuk sementara, tapi dengan sangat mudah segera akan ketahuan. Apabila dilakukan pembedahan secara cermat, pada waktu masih kecil wajah mereka sudah dibedah dan dirias hingga serupa benar, lalu diberi obat bius untuk mempengaruhi pikiran mereka, akibatnya jadilah mereka sekawanan boneka yang berwajah serupa, suara dan gerak-gerik juga tidak banyak berbeda."

Setelah menghela napas panjang, lalu ia menyambung pula.

"Kejadian ini kedengarannya sukar untuk dimengerti, tapi tidak mustahil terjadi. Aku berani menjamin, bahwa di dunia ini memang ada orang pandai yang pintar permak wajah seseorang."

Lui-ji tercengang, katanya.

"Jika demikian, manusia segar bugar juga dapat dipermaknya menjadi seperti patung, mukanya dapat diukir menurut kehendaknya dalam bentuk apapun?"

"Ya, begitulah,"

Kata Pwe-giok.

"Jika demikian, Lengkui kedua itulah yang melukai Hay tong-jing, sebab dia yang pernah bergebrak dengan Hay Tong-jin, makanya dia sangat apal terhadap ilmu silat Yang Cu-kang."

"Betul, Yang Cu-kang dan Hay tong-jing adalah saudara seperguruan, ilmu silat mereka tentu saja sama,"

Kata Pwe-giok.

"Pantas setelah Yang Cu-kang mendengar ucapanmu tadi, seketika semangatnya terbangkit,"

Kata Lui-ji.

"Tadinya dia mengira Lengkui itu benar-benar hidup kembali, makanya begitu apal terhadap ilmu silatnya."

"Sebab itulah, biarpun datang lagi Lengkui ketiga juga tidak perlu dikuatirkan lagi,"

Kata Pwe-giok.

"Sebab Lengkui ketiga ini pasti tidak tahu gaya ilmu silatnya, sebaiknya dia sudah pernah bergebrak dengan dua Lengkui, tentu dia dapat mengenali gaya serangan lawan. Kalian pasti dapat melihatnya juga, meski cepat dan aneh daya serangan Lengkui, tapi tidak banyak perubahannya."

"Ya, kalau tidak, masa kau tinggalkan Yang Cu-kang di sana sendirian, bukan?"

Pwe-giok hanya tertawa dan tidak menjawab, tapi Thi-hoa-nio lantas berkata.

"Barang siapa yang dapat berkawan dengan orang semacam Ji-kongcu, sungguh beruntunglah dia."

"Tapi aku tetap tidak jelas sesungguhnya Yang Cu-kang kawan Ji Pwe-giok atau bukan,"

Tukas Kui-ji.

"Kupikir tindak tanduknya rada-rada bolak-balik dan sukar untuk diraba apa maksud dan tujuannya."

Mendadak seseorang menanggapi dengan menghela nafas.

"Sesungguhnya ada kesukarannya yang tidak dapat dikatakan, sebelum tiba saat terakhir tidak nanti diberitahukannya rahasia dirinya kepada orang lain..."

Ternyata entah sejak kapan Hay Tong-jing telah mendusin, sejak tadi Pwe-giok memayangnya berjalan dengan setengah merangkul, baru sekarang dia dapat berdiri sendiri dengan tegak.

"Syukur kepada Thian dan Te, akhirnya kau sadar juga,"

Kata Lui-ji.

"Tapi sampai kapan barulah hendak kau katakan rahasia kalian? Bilakah baru akan tiba saat terakhir kalian?"

"Meski sekarang belum sampai detik terakhir, tapi rasanya sudah boleh kukatakan rahasia ini."

Ucap Hay Tong-jing setelah berpikir sejenak.

"Oo ? Sebab apa ?"

Tanya Lui-ji.

"Sebab rahasia ini sudah bukan rahasia lagi."

Kata Hay Tong-jing dengan gegetun.

"Bukan rahasia lagi ? Padahal jelas-jelas masih tetap rahasia,"

Tukas Lui-ji.

"Di dunia ini tidak ada sesuatu yang mutlak rahasia, bergantung persoalannya terhadap siapa ? Umpama terhadap kau ...."

"Baik, baik,"

Sela Lui-ji.

"tak ku perduli apakah keteranganmu ini benar rahasia atau bukan, aku cuma ingin tanya padamu, sesungguhnya siapa kalian? Apa artinya kedua bait syair yang diucapkan Yang Cu-kang itu ?"

Hay Tong-jing termenung sejenak, katanya kemudian dengan pelahan.

"Aku dan Yang Cukang sebenarnya sama-sama anak piatu, guru kami sama seperti juga ayah kami ..."

"Ku tahu kalian adalah anak yatim piatu, aku hanya ingin tahu siapa guru kalian?"

Tanya Luiji. Mendadak Hay Tong-jing menarik muka, jengeknya.

"Peristiwa ini terlalu panjang untuk diceritakan, jika kau ingin tahu, hendaklah kau sabar."

Lui-ji mendongkol, ia mencibir dan menjawab.

"Baik, tidak perlu kau ceritakan, memangnya apa yang menarik ?"

"Sekarang biarpun kau tidak mau mendengarkan tetap akan kuceritakan,"

Kata Hay Tong-jing. Tertawalah Lui-ji, katanya.

"Hihi, ini nama sifat keledai Soasay, kalau di halau tidak mau jalan, di tarik dia malah mundur. Dasarnya memang hina."

Hay Tong-jing tidak menghiraukannya, tapi berkata kepada Pwe-giok.

"Sesungguhnya rahasia ini sejak dahulu harus kuceritakan, sebab urusan ini mungkin besar sangkut pautnya dengan Ji-heng."

Air muka Pwe-giok berubah, belum lagi ia bersuara, Hay Tong-jing sudah menyambung.

"Sudah lama guruku mengasingkan diri, umpama ku sebut nama beliau juga belum tentu dikenal kalian, meski aku tidak ingin menjunjung tinggi beliau, tapi sesungguhnya beliau memang seorang kosen dunia persilatan, pada 50 tahun yang lalu beliau sudah tidak ada tandingannya di dunia."

"Bisa jadi lantaran dia tidak pernah bertemu dengan tokoh semacam Hong-samsiansing dan sebagainya,"

Ujar Lui-ji. Tapi Hay Tong-jing tetap tidak menghiraukan, katanya pula.

"Selama hidup beliau hanya ada seorang musuh, konon orang inipun tokoh yang sukar dicari bandingannya di dunia persilatan, bukan saja ilmu silatnya maha tinggi, bahkan mahir segala macam ilmu pengetahuan, cuma hatinya keji dan tangan ganas, dahulu tokoh ini terpaksa kabur sejauh-jauhnya karena terdesak oleh guruku dan seorang jago tua lain, bahkan orang itu dipaksa bersumpah, selama guruku dan jago tua itu masih hidup, selama itu pula dia tidak pulang ke daerah Tionggoan."

"Siapakah orang ini ?"

Tanya Pwe-giok terkesiap.

"Guruku tidak pernah menyebut namanya hanya di katakan dia berjuluk Tangkwik-siansing..."

"Tangkwik-siansing? ..."

Pwe-giok mengulang nama itu sambil berkerut kening.

"Dengan sendirinya Ji-heng tidak kenal namanya, sebab sudah hampir 30 tahun orang ini mengasingkan diri di daerah terpencil, bahkan tetap taat kepada sumpahnya, selama ini tidak pernah selangkah pun menginjak daerah Tionggoan."

Pwe-giok menghela napas gegetun, katanya.

"Betapapun jahatnya, tokoh kalangan hitam di masa lampau masih menjaga harga diri dan sayang pada namanya sendiri, tapi sekarang, agaknya satu angkatan semakin surut daripada angkatan yang tua."

"Meski orang ini hidup jauh terpencil, tapi tidak benar-benar tirakat dan mawas diri,"

Tutur Hay Tong-jing pula.

"Hanya untuk sementara saja dia tidak berani melakukan kejahatan secara terang-terangan"

Dia menghela napas, lalu menyambung.

"Setahu guruku, selama 30 tahun ini terus menerus ia merancang tipu muslihat secara diam-diam dan bermaksud timbul kembali, bahkan sekaligus akan menyapu jagat. Kini guruku sudah lama mengundurkan diri, jago tua seangkatannya juga sudah lama wafat, maka Tangkwik-siansing merasa sudah tiba saatnya, dia lantas...lantas...."

Sampai di sini agaknya dia sudah lemah, berdiri saja tidak kuat lagi.

Cepat Thi-hoa-nio menurunkan peti dan memapahnya berduduk.

Hay Tong-jing adalah kakak seperguruan Yang Cu-kang, dengan sendirinya ia wajib menjaga dan memperhatikan keselamatannya.

Tapi Lui-ji buru-buru ingin tahu, ia tanya pula.

"Maksudmu iblis Tangkwik-siansing itu tidak rela hidup terpencil, akhirnya merancang sesuatu intrik untuk bergerak secara besar-besaran?"

Hay Tong-jing menghela napas, katanya.

"Meski guruku sudah mengundurkan diri, tapi beliau cukup kenal betapa jahatnya orang ini, sebab itulah diam-diam guruku tetap mengawasi dia. Cuma gerak-gerik orang ini memang sangat misterius, tindak-tanduknya juga rapi, selama ini guruku tetap tidak berhasil mendapatkan sesuatu bukti. Sampai akhir-akhir ini guruku keluar rumah selama lebih tiga bulan, sepulangnya kami lantas ditugaskan melakukan sesuatu."

"O, sesuatu tugas apa?"

Tanya Lui-ji.

"Kami ditugaskan mengawasi tindak-tanduk Ji Hong-ho, Bu-lim-bengcu sekarang."

Air muka Pwe-giok berubah kelam, ucapnya.

"Jika demikian, jadi.... orang she Ji ini adalah boneka Tangkwik-siansing yang dipergunakan untuk memegang kekuasaan tertinggi di dunia persilatan. Memang sudah lama kuperkirakan dia pasti mempunyai sandaran kuat di belakangnya"

"Tindakan guruku biasanya tidak suka banyak penjelasan, tapi menurut perkiraan kami, keadaannya pasti demikian adanya"

Ujar Hay Tong-jing.

"Kalau Tangkwik-siansing tidak tampil ke muka, terpaksa ia menggunakan boneka yang mempunyai nama dan kedudukan di dunia persilatan, dan Ji Hong-ho biasanya memang suka meninggikan nama untuk mencari keuntungan pribadi, dialah pilihan yang paling tepat"

Air muka Pwe-giok berubah pula, ingin bicara tapi ditahan lagi. Gemerdep sinar mata Lui-ji, katanya kemudian.

"Pantas tempo hari dia hanya memberi suatu tanda, lalu si gendut Thian-sip-sing itu tidak berani mengganggunya. Tentunya Thian-sip-sing itupun kenal kelihaian Tangkwik-siansing"

"Pada jaman ini, kecuali guruku, mungkin tiada seorangpun yang sanggup menahan sekali pukulan Tangkwik-siansing itu, biarpun Hong Sam...hehe!"

Hay Tong-jing hanya tertawa dingin saja dan tidak melanjutkan, namun sudah cukup jelas apa maksudnya.

Tapi sekali ini, Lui-ji tidak lagi balas mengejek, sebab ia pikir kungfu Thian-sip-sing itu memang betul tidak di bawah paman Hong, kalau Thian-sip-sing saja takut kepada Tangkwik-Siansing, maka betapa tinggi kungfu Tangkwik-siansing itu dapatlah dibayangkan.

Begitu terpaksa Lui-ji menahan rasa dongkolnya, lalu tanya pula.

"Dan apa artinya kedua bait syair yang disebut-sebut kalian itu?"

"Soalnya Tangkwik-siansing sendiri tidak dapat masuk ke daerah Tionggoan untuk mengadakan kontak langsung dengan Ji Hong-ho, maka dia mengutus dua orang untuk menyampaikan perintahnya. Tapi kedua orang ini telah dicegat guruku di tengah jalan, dan sandi yang hendak mereka gunakan untuk mengadakan hubungan dengan Ji Hong-ho adalah dengan kedua bait syair itu"

"Mengapa kedua orang itu mau memberitahukan rahasia ini kepada gurumu?"

Tanya Lui-ji.

"Di depan guruku, mungkin tidak ada orang di dunia yang berani berdusta"

"Makanya gurumu lantas menyuruh kau dan Yang Cu-kang menyamar sebagai kedua orang yang dibekuk gurumu itu untuk bekerja sama dengan Ji Hong-ho?"

"Ya"

Jawab Hay Tong-jing. Lui-ji menghela napas gegetun, ucapnya.

"Pantaslah Ji Hong-ho sedemikian mempercayai kalian"

"Tapi kalau Tangkwik Siansing mau menyerahkan pekerjaan besar itu kepada Ji Hong-ho, suatu tanda orang ini pasti tidak boleh diremehkan. Setelah kami bertemu dengan dia, kamipun dapat merasakan orang ini memang licik dan licin, cerdik dan pandai. Sebab itulah tidak boleh tidak kami harus bekerja sedikit baginya agar tidak menimbulkan curiganya"

"O, makanya kalian gunakan orang lain sebagai oleh-oleh"

Kata Lui-ji "Demi kebaikan urusan keseluruhannya, terpaksa kami bertindak demikian.

Apalagi, orang yang kami korbankan juga pantas mampus, kalau tidak, mengapa kami tidak turun tangan terhadap Ji-heng?"

Lui-ji tertawa, katanya.

"Ya, hitung-hitung kalian dapat membedakan antara baik dan buruk, kalau tidak, mungkin kaupun takkan hidup sampai sekarang."

Meski sekarang dia sudah tahu asal-usul Yang Cu-kang dan Hay Tong-jing, tapi cara bicaranya masih tetap tajam dan tidak mau kalah sedikitpun. Hay Tong-jing berlagak tidak tahu, katanya pula.

"Gerakan kami boleh dikatakan sangat rapi, tapi tidak kami duga bahwa Tangkwik-siansing telah mengirim pula beberapa orang untuk berhubungan dengan Ji Hong-ho, setelah mereka saling bertemu, dengan sendirinya identitas kami lantas terbongkar. Maka Ji Hong-ho lantas mengirim mereka untuk membunuh kami."

"Kawanan Lengkui itulah yang kau maksudkan?"

Tanya Lui-ji.

"Betul, guruku juga pernah dengar Tangkwik-siansing mempunyai anak buah Ngo-kui (lima setan), bahkan setiap kui mempunyai beberapa duplikat lagi. Sebabnya karena Tangkwik siansing tidak cuma mahir ilmu rias, ilmu pertabibannya juga sangat tinggi, maka dapat dibayangkan duplikat kelima Kui itu pastilah hasil karya pisau operasinya yang mahir itu."

Wajah Pwe-giok bertambah pucat, tapi sinar matanya tambah mencorong, sebab bermacam persoalan yang aneh dan misterius itu kini sudah dapat diketahui hal ikhwalnya. Tapi Lui-ji lantas tanya lagi.

"Kalau gurumu sudah tahu Ngo Kui masih mempunyai banyak duplikat, mengapa tadi Yang Cu-kang masih ketakutan menghadapi mereka?"

"Rahasia ini baru diketahui guruku akhir-akhir ini,"

Tutur Hay Tong-jing.

"Belum lama pernah ku pulang untuk menemui guruku, tapi Yang Cu-kang tetap berada di tempat Ji Hong-ho, baru malam tadi kami berjumpa lagi."

"O, makanya demi mendengar Lengkui menyebutkan syair itu, air mukanya lantas berubah hebat, sebab ia menyadari rahasia dirinya sudah diketahui,"

Kata Lui-ji. Tiba-tiba Thi-hoa-nio berkata.

"Jika duplikat Lengkui itu ada lima-enam orang, wah, dapatkah dia me... melayani mereka?"

"Jika seorang Lengkui ada enam duplikat, satu Kui berarti ada tujuh Kui, cuma sebelumnya sudah kutumpas dua,"

Kata Hay Tong-jing.

"Jika begitu masih ada tiga, apa... apakah..."

Thi-hoa-nio tetap kuatir.

"Jangan cemas,"

Kata Lui-ji dengan suara lembut.

"orang macam Yang Cu-kang, jangankan cuma tiga Kui, biarpun tiga ratus setan juga tak berdaya terhadapnya."

Thi-hoa-nio tersenyum sebisanya, namun tetap tidak mengurangi rasa kuatirnya. Hay Tong-jing berkata pula.

"Apabila ketiga Kui itu turun tangan berbareng, bisa jadi Yang Cu-kang akan repot melayani mereka. Cuma, meski ilmu silat mereka sangat aneh, namun pikiran sehat mereka sudah terpengaruh oleh obat sehingga gerak-gerik mereka jauh lebih lambat daripada orang biasa. Sebab itulah meski aku terluka, tetap dapat lolos dari cengkeraman mereka. Kupikir, umpama Cu-kang tak dapat menandingi mereka, sedikitnya dia dapat kabur dengan selamat."

"Tapi bagaimana dengan kita?"

Tanya Lui-ji.

"Menembus kemanakah lorong hantu ini? Siapakah yang membuat jalan di bawah tanah ini? Sebab apakah dia membuat lorong ini?"

"Urusan ini tidak perlu kita tanya, cukup asal kita tahu setiap jalan di bawah tanah di dunia ini pasti ada lubang keluarnya,"

Ujar Hay Tong-jing dengan tak acuh.

"Tapi sesungguhnya kau tahu tidak jalan keluar lorong ini? Kalau jalan buntu, lantas bagaimana?"

Hay Tong-jing berkerut kening, katanya.

"Apapun juga, jalan ini pasti tidak menuju ke gerbang akhirat."

"Ah, juga belum tentu,"

Ujar Lui-ji.

"Bisa jadi lorong ini adalah jalan masuk menuju neraka..."

Entah mengapa, belum habis ucapannya, tiba-tiba ia merasa hawa dingin dan seram berkesiur di samping kakinya sehingga tanpa terasa ia merinding. Didengarnya Pwe-giok lagi berkata.

"Hay-heng, aku ingin... ingin mohon sesuatu padamu."

Gemerdep sinar mata Hay Tong-jing, katanya.

"Kau minta kubawa kau menemui guruku, begitu bukan?"

"Betul,"

Sahut Pwe-giok. Hay Tong-jing menggeleng, ucapnya.

"Urusan ini mungkin tidak mudah..."

"Tapi aku harus menemui beliau,"

Kata Pwe-giok.

"Untuk apa?"

Tanya Hay Tong-jing.

"Ada suatu rahasia besar harus kuberitahukan kepada beliau."

Air mukanya memperlihatkan penderitaan yang sukar dikatakan, dengan rawan ia menjawab kemudian.

"Mungkin di dunia ini hanya gurumu saja yang dapat menyelesaikan persoalanku ini, kuyakin beliau pasti mau menerima diriku."

Hay Tong-jing berpikir sejenak, katanya.

"Apakah rahasia ini juga ada sangkut pautnya dengan Tangkwik-siansing itu?"

"Bukan saja ada sangkut pautnya, bahkan sangat besar sangkut pautnya,"

Jawab Pwe-giok.

"Dapatkah kau katakan dulu kepadaku?"

Pwe-giok menghela nafas panjang, ucapnya.

"Bukanlah aku tidak mempercayai Hay-heng, soalnya urusan ini... urusan ini..."

Mendadak bibirnya gemetar dan tidak sanggup melanjutkan. Melihat penderitaan batin anak muda itu, tanpa terasa Hay Tong-jing juga menghela nafas, katanya.

"Bukannya aku tidak mau membantu permintaanmu, soalnya sudah lebih 20 tahun guruku tidak pernah memperlihatkan wajah aslinya kepada orang lain, bahkan kami dilarang keras membocorkan jejak beliau. Perintah guru tak boleh dilanggar, kuharap engkau dapat memaklumi kesukaranku."

Pwe-giok tersenyum getir dan mengangguk.

"Ya, ku paham,"

Ucapnya dengan lesu.

"Tapi bisa jadi setiap saat beliau akan menemui kau, bahkan bukan mustahil kalian sudah pernah berjumpa,"

Tutur Hay Tong-jing pula.

"Tindak tanduk beliau selamanya memang sukar diraba, siapapun tidak dapat menduganya."

Pwe-giok mengangguk, tiba-tiba ia seperti teringat kepada sesuatu kejadian, dibayangkan lagi peristiwa dahulu itu sehingga melamun. Hay Tong-jing lantas berdiri, katanya.

"Lorong ini entah berapa panjangnya, marilah kita mencari dulu jalan keluarnya."

"Dan bagaimana dengan ketiga peti ini?"

Tanya Lui-ji.

"Untuk apa kita menggendongnya? Kan lebih baik kita lepaskan orang yang tersekap di dalamnya?"

"Untuk sementara orang di dalam peti tidak dapat siuman, kau lepaskan mereka juga percuma, lebih baik kau gendong lagi sebentar,"

Kata Hay Tong-jing.

"Sialan!"

Omel Lui-ji sambil menghentakkan kaki.

***** Jalan di bawah tanah itu memang rahasia dan berliku-liku, bahkan sangat dalam dan panjang, untung setiap belokan selalu diterangi sebuah pelita yang terselip di sela dinding.

Cahaya pelita guram sehingga mirip api setan.

Mendadak Lui-ji bertanya.

"Eh, tahukah kau sudah berapa buah pelita yang kita lalui?"

Pwe-giok tahu anak dara ini tidak dapat diam.

Lewat sekian lama tentu akan timbul sesuatu pertanyaan baru, bahkan setiap pertanyaannya selalu aneh-aneh.

Siapapun tidak tahu untuk apa dia bertanya begitu, maka tidak ada yang menjawab.

"Sampai saat ini, sudah 39 buah pelita yang kita lalui, coba, aneh tidak?"

Kata Lui-ji pula.

"Apanya yang aneh?"

Hay Tong-jing tidak tahan dan menanggapi.

"Tidak kau rasakan aneh, karena kau tidak suka banyak melihat dan tidak mau banyak berpikir,"

Omel Lui-ji.

"Soalnya urusan yang harus kupikirkan jauh lebih penting daripada urusan lampu,"

Jengek Hay Tong-jing.

Sekali ini Lui-ji ternyata tidak menanggapi, ia hanya memandangi pelita perunggu itu dengan termangu-mangu.

Tanpa terasa Hay Tong-jing ikut berhenti, tapi setelah dipandang sekian lama tetap tidak terlihat sesuatu keanehan pada lampu itu, akhirnya ia tidak tahan pula dan berucap.

"Tiada sesuatu keanehan pada lampu ini."

"Oo? Begitukah?"

Kata Lui-ji.

"Memangnya ada kau lihat sesuatu?"

Tanya Hay Tong-jing.

"Betul, makin kulihat makin mengherankan, makin kupikir juga makin aneh, sungguh aneh sekali."

"Dimana letak keanehannya?"

Lui-ji mencibir, jawabnya.

"Jika kau anggap urusan ini tidak penting, untuk apa bertanya?"

Mendongkol juga Hay Tong-jing, tapi terpaksa tak dapat bicara lagi.

Meski Thi-hoa-nio sendiri lagi memikirkan keselamatan Yang Cu-kang, kini iapun merasa geli.

Ia merasa kepandaian Lui-ji yang terbesar adalah memancing kemarahan orang, jauh lebih pandai daripada caranya menaruh racun.

Berhadapan dengan anak perempuan semacam ini, kaum lelaki sebaiknya sedikit bicara, bahkan lebih baik jangan bicara.

Tapi Lui-ji juga ketemu batunya, yaitu terhadap Pwe-giok, di depan pemuda itu mau tak mau dia harus pendiam, sebab waktu tidak perlu bicara pasti juga Pwe-giok takkan bicara.

Dengan berseri seri Lui-ji lantas berkata pula.

"Di lorong ini ada 39 buah lampu, tapi belum juga sampai di lubang keluarnya, dari sini dapat diketahui lorong ini pasti sangat panjang. Dan lorong sepanjang ini kan tidak banyak?"

"Ya, memang jarang ada,"

Ujar Pwe-giok.

"Di dalam lorong bawah tanah ini ada 39 buah lampu, sedikitnya ada empat lima hal yang pantas diherankan, apabila kau mau menirukan diriku, mau banyak memeras otak, bisa jadi akan dapat kaupikirkan."

"Anak perempuan umumnya memang jauh lebih cermat daripada lelaki, meski sejak tadi kuperas otak, tetap tak dapat memikirkan apapun,"

Kata Pwe-giok dengan tersenyum. Lui-ji tambah gembira, katanya pula.

"Orang ini membuat lorong bawah tanah sepanjang ini, dapat diperkirakan pasti ada maksud tujuan yang khusus, sebab kalau tujuannya hanya untuk jalan lari saja, kan dimanapun dapat dibuatnya sebuah lubang keluar. Untuk apa mesti banyak membuang tenaga dan membangun jalan sepanjang ini."

Sikap Pwe-giok mulai prihatin, katanya.

"Ya, betul juga."

Untuk membuat lorong sepanjang ini sedikitnya diperlukan waktu tiga atau lima tahun, padahal Yang Cu-kang belum lama muncul di Kangouw, jelas lorong ini bukan hasil kerjanya."

"Mungkinkah gurunya?..."

Kata Thi-hoa-nio. Lui-ji memandang Hay Tong-jing sekejap, jawabnya.

"Pasti tidak, buktinya orang inipun tidak tahu."

Thi-hoa-nio mengangguk-angguk. Lalu Lui-ji berkata pula.

"Jika dia sengaja membuang tenaga dan pikiran sebanyak ini untuk membangun jalan di bawah tanah ini, tentu dia mempunyai tujuan tertentu, kalau ada tujuan, pasti gerak-geriknya sangat rahasia, lalu bagaimana Yang Cu-kang dapat mengetahui rahasianya?"

"Bisa jadi lorong ini sudah lama sekali dibangun dan baru akhir-akhir ini ditemukan Cu-kang secara tidak sengaja, mungkin orang yang membangun lorong ini sudah lama mati,"

Kata Thihoa-nio.

"Tidak betul,"

Ucap Lui-ji tegas.

"Sebab apa?"

Tanya Thi-hoa-nio.

"Rumah gubuk di luar sana pasti dibangun bersama dengan lorong di bawah tanah ini, tentunya dapat kau lihat gubuk itu tidak terlalu tua, umurnya pasti tidak lebih daripada sepuluh tahun."

"Tapi rumah gubuk begitu kan setiap waktu dapat diperbaiki..."

"Gubuk itu hanya untuk menutupi jalan di bawah tanah ini dan bukan untuk tempat tinggal, makanya tidak perlu diperbaiki segala, apalagi semua inipun bukan masalah pokok yang penting."

"Habis apa masalah utamanya?"

Tanya Thi-hoa-nio.

"Lampu-lampu ini,"

Jawab Lui-ji.

"Lampu?"

Thi-hoa-nio melongo.

"Ya, lampu,"

Kata Lui-ji.

"Coba jawab, lampu semacam ini semacam ini, kalau tidak ditambah minyak, umumnya dapat menyala berapa lama?"

"Lampu umumnya kalau tidak tambah minyak, satu malam saja akan kehabisan minyak dan padam sendiri,"

Jawab Thi-hoa-nio.

"Meski lampu ini lebih besar sedikit daripada lampu biasa, paling-paling juga tahan menyala sehari semalam saja."

Mendadak Lui-ji berkeplok dan berkata.

"Tepat. Sedangkan lampu-lampu ini terus menyala tanpa membedakan siang atau malam dan tidak pernah padam, ini membuktikan bahwa setiap hari pasti ada orang datang ke sini untuk menambahkan minyak lampu."

Dengan sinar mata yang gemerdep ia menyambung pula.

"Tapi akhir-akhir ini Yang Cu-kang jelas tidak berada di sini, suatu tanda orang yang menambahi minyak lampu bukanlah dia."

"Jika begitu, lantas siapa?"

Tanya Thi-hoa-nio.

"Bisa jadi orang yang membangun lorong bawah tanah ini, mungkin juga budaknya,"

Ujar Lui-ji.

"Tapi apapun juga di lorong ini pasti ada orangnya, meski kita tidak melihat dia, bukan mustahil secara diam-diam dia sedang mengintai kita."

Di tengah kelip cahaya pelita minyak itu, suasana di lorong itu seolah-olah mendadak berubah dingin.

Thi-hoa-nio memandang sekelilingnya, ia menjadi was-was, jangan-jangan di tempat kegelapan yang tak sampai oleh cahaya lampu itu benar tersembunyi orang yang sedang mengintai mereka sambil menyeringai?

Tanpa terasa ia bergidik, ucapnya sambil menyengir.

"Aneh, nyaliku terasa makin kecil sekarang."

"Anak perempuan yang kawin biasanya akan bertambah kecil nyalinya,"

Kata Lui-ji.

"Seumpama di sini benar ada orangnya, kukira juga tak bermaksud jahat terhadap kita, buktinya Yang Cu-kang menyuruh kita masuk ke sini tanpa kuatir,"

Kata Hay Tong-jing.

"Ah, juga belum tentu,"

Jengek Lui-ji. Tanpa memberi kesempatan bicara kepada orang, ia menyambung pula.

"bisa jadi ia sendiripun tidak tahu apakah di lorong bawah tanah ini ada orang atau tidak, bisa jadi dia menemukan rumah gubuk itu secara tidak sengaja dan di dalam rumah juga kebetulan tidak ada penghuninya..."

"Betul,"

Tukas Thi-hoa-nio.

"waktu aku dibawanya ke sini, semula rumah itu penuh debu, tungkunya juga kotor dan dingin, jelas sudah lama tidak ditinggali orang."

"Tapi dia pasti sudah lama menemukan tempat ini, kalau tidak masakah dia berjanji dengan Ong Uh-lau dan lain-lain untuk bertemu di sini?"

Setelah memandang Hay Tong-jing sekejap, lalu Lui-ji bertanya.

"Tentunya kaupun sudah lama mengetahui akan tempat ini, kalau tidak tentu kaupun takkan lari ke sini, betul tidak?"

"Tempat ini justeru ku dapat tahu dari Ong Uh-lau, sebelum ini aku tidak pernah ke sini,"

Jawab Hay Tong-jing. Setelah merandek sejenak, segera ia melanjutkan pula.

"Tapi apapun juga di lorong sini pasti ada orang lain, kalau kita sudah sampai di sini, mau tak mau harus kita temukan orangnya, apa gunanya kita hanya sembarangan menerka tanpa bukti?"

Tiba-tiba Pwe-giok menyela dengan tertawa.

"Sebenarnya tanpa kita mencari dia, pasti juga dia akan mencari kita."

Segera Thi-hoa-nio memandang lagi sekeliling, katanya.

"Perduli dia orang macam apa, kuharap selekasnya dia mau muncul, makin cepat makin baik."

"Siapapun orangnya tidak kutakuti, jika yang muncul bukan orang, itulah yang repot,"

Kata Lui-ji. Kembali Thi-hoa-nio merinding, tanpa terasa ia mendekatkan tubuhnya ke samping Pwe-giok. Lui-ji mengikik tawa, ucapnya.

"Hihi, kukira kau tidak takut sungguh-sungguh, tapi mencari kesempatan..."

Belum habis ucapan Lui-ji, mendadak pelita minyak sama padam, kegelapan seakan-akan mendatangkan hawa dingin yang membuat bungkam mulut anak dara itu.

Akan tetapi cahaya lampu segera terlihat di balik belokan sana, tanpa disuruh semua orang lantas memburu ke sana.

Siapa tahu, setiba di bawah lampu itu, sekonyong-konyong lampu inipun padam.

Seketika suasana tenggelam dalam kegelapan yang membuat orang putus asa, meski tempat dimana mereka berada sangat sempit, namun kegelapan justeru tak terhingga luasnya.

Setiap orang seakan-akan beku oleh kegelapan, siapapun tidak dapat bicara lagi.

Sampai agak lama barulah Lui-ji menghela nafas dan berkata.

"Apabila sekarang dapat ku beli minyak lampu, kuberani bayar satu tahil minyak dengan satu kati perak."

"Jangan kuatir, aku membawa geretan api,"

Kata Hay Tong-jing.

"Geretan api dapat menyala berapa lama?"

Tanya Pwe-giok.

"Sudah terpakai dua kali, sisanya mungkin masih tahan setanakan nasi,"

Tutur Hay Tong-jing.

"Lekas keluarkan, setanakan nasi lamanya mungkin dapat kita temukan jalan keluarnya,"

Seru Lui-ji.

"Dan kalau tidak menemukannya?"

Tanya Pwe-giok.

"Betapapun harus kita coba, kan?"

"Tidak dapat dicoba! Sebab geretan api ini adalah kesempatan kita yang terakhir, jika geretan api ini terpakai habis, tanpa orang turun tangan terhadap kita, jelas kita akan mati terkurung di sini."

"Tapi kita kan dapat mundur kembali ke sana?"

Ujar Lui-ji.

"Tidak bisa mundur lagi,"

Kata Pwe-giok.

"Sebab apa?"

Tanya Lui-ji.

"Lorong ini tampaknya seperti cuma satu, yang melingkar dan berliku-liku, jika kita merayap di dalam kegelapan, bisa jadi kita akan terus putar kayun di tempat semula."

"Jika demikian, jangan-jangan lampu ini sengaja dipadamkan orang?"

Seru Thi-hoa-nio dengan suara serak.

"Adakah kau lihat seseorang?"

Tanya Lui-ji.

"Tidak, akan tetapi..."

"Memangnya hendak kau katakan orang itu bisa ilmu menghilang?"

Ujar Lui-ji dengan tertawa. Meski sambil tertawa, tanpa terasa ia memegang lengan Pwe-giok erat-erat.

"Apapun juga kita tak dapat berdiri di sini,"

Kata Hay Tong-jing.

"Betul, jika di luar tentunya kita dapat menunggu hingga terang tanah,"

Tukas Lui-ji.

"Tapi berada di tempat setan ini, selamanya takkan pernah terang tanah."

"Maka sekarang juga kita harus merambat ke depan, kalau perlu barulah kita menyalakan geretan api,"

Kata Pwe-giok.

"Tapi bilakah baru akan dianggap perlu?"

Tanya Lui-ji.

"Untuk ini..."

Pwe-giok menjadi ragu.

"Sekali ini kukira ucapan nona Cu tidak... tidak betul,"

Sela Hay Tong-jing.

"Kalau sekarang juga kita menyalakan api terus menerjang ke depan, mungkin sebelum geretan api menyala habis sudah dapat kita temukan jalan keluar."

"Betul, meski ini merupakan pertaruhan terakhir, betapapun boleh kita coba daripada tinggal diam,"

Tukas Thi-hoa-nio.

"Agar gerakan kita bisa lebih leluasa, biarlah kita tinggalkan dulu di sini ketiga peti ini, nanti kalau kita sudah keluar baru berusaha lagi menolong mereka,"

Kata Hay Tong-jing.

"Jika kita tidak dapat menemukan..."

Pwe-giok tetap ragu.

"Jika tidak menemukan jalan keluar, toh kita tetap akan mati terkurung di sini,"

Ujar Hay Tong-jing. Pwe-giok termenung sejenak, kemudian menghela nafas panjang, katanya.

"Akupun tidak tahu tindakan kalian ini tepat atau tidak, cuma kupikir... pendapat tiga orang tentunya lebih baik daripada pendapat seorang..." ***** Meski cahaya geretan api yang dinyalakan itu tak dapat mencapai jauh, tapi dalam kegelapan asalkan ada setitik sinar tentu akan membangkitkan semangat orang. Maklumlah, siapapun juga bila berada dalam kegelapan tentu akan merasa putus asa dan kehilangan keberanian. Pwe-giok memegang obor kecil itu dan mendahului jalan di depan, sangat cepat jalan mereka. Meski Hay Tong-jing terluka, tapi dia dipegang oleh Pwe-giok sehingga tidak sampai ketinggalan. Akan tetapi jalan di bawah tanah ini memang panjang luar biasa, seolah-olah tidak berujung. Sejak awal Hay Tong-jing terus memperhatikan obor yang dipegang Pwe-giok, tiba-tiba ia menghela nafas dan berkata.

"Mungkin api sudah hampir padam."

Benarlah, api obor itu sudah mulai guram. Dengan gemas Lui-ji berkata, sungguh aku benci mengapa manusia tidak membuat baju dari bahan kertas, kalau tidak, tentu dapat kita nyalakan."

Mendadak Pwe-giok ingat dalam bajunya masih tersimpan satu

Jilid "buku catatan".

Meski buku ini adalah benda yang diharap-harapkan oleh Ji Hong-ho dan begundalnya dan dicari dengan segala daya upaya, tapi bagi Pwe-giok buku ini justeru tidak ada sesuatu yang istimewa dan menarik.

Ia tahu ada sementara buku yang sengaja ditulis secara rahasia dan sukar terbaca, tapi kalau kertas buku dibasahi dengan air, tulisan itu akan timbul dan terbaca dengan jelas.

Akan tetapi ia sudah pernah mencobanya dengan merendam buku itu di dalam air dan tetap tiada kelihatan satu huruf pun.

Cuma Pwe-giok tetap merasa buku kosong ini pasti besar artinya bagi Ji Hong-ho, kalau tidak masakah ia mengerahkan begundalnya dan membumi-hanguskan sebuah kota.

Dan sekarang ia merasa buku ini ada gunanya.

Pwe-giok lantas mengeluarkan buku itu, meski buku yang cuma belasan halaman inipun takkan tahan lama dibuat obor, tapi kan lebih baik ada daripada tidak ada, sebab soal sedetik saja terkadang justeru menentukan antara mati dan hidup.

Sama sekali tak terpikir oleh Pwe-giok bahwa buku ini ternyata tidak dapat dibakar.

Di bawah gemerdepnya cahaya obor yang guram, tiba-tiba dilihatnya buku kosong yang tidak dapat menyala ini timbul beberapa huruf, yang ditulis seperti nama beberapa orang.

Pada saat lain, api obor itupun padam.

Hampir saja Lui-ji berteriak, omelnya.

"He... masakah menyalakan kertas saja tidak bisa ?"

Sedapatnya Pwe-giok menahan gejolak hatinya yang bergembira, jawabnya tenang.

"Sebab kertas buku ini basah."

"Basah?"

Thi-hoa-nio pun tidak tahan dan berseru.

"kenapa bisa basah?"

"Kena keringat badanku,"

Jawab Pwe-giok. Lui-ji melengong sejenak, katanya kemudian.

"Ya, betul, jika ada orang yang tidak berkeringat dalam keadaan demikian, tentu dia itu orang-orangan terbuat dari kayu."

"Dan sekarang lelatu api saja tidak ada, lantas bagaimana baiknya?"

Tanya Thi-hoa-nio.

"Bagaimana baiknya? Kau malah tanya? Kan kalian tadi yang menganjurkan menyalakan api?"

Kata Lui-ji.

"Tapi... tapi semula itu kan usulmu?"

Ujar Thi-hoa-nio.

"Siapa suruh kalian menurut kepadaku?"

Seru Lui-ji.

"Mengapa kalian tidak turut kepada anjuran Pwe-giok? Kalian memang pantas mampus terkurung di sini."

Thi-hoa-nio jadi melenggong, selang sejenak didengarnya dalam kegelapan ada orang menangis perlahan, kiranya Lui-ji tidak tahan dan telah menangis.

"Sayang, air mata tak dapat dijadikan minyak lampu, kalau tidak, tentu akan banyak manfaatnya jika kita menangis semua,"

Ejek Hay Tong-jin. Lui-ji melonjak bangun dan berteriak.

"Siapa menangis ? Kau sendiri yang menangis, untuk apa aku menangis ? Meski kedua mataku tidak dapat melihat apa-apa, tapi kedua kakiku tidak buntung, tetap dapat keluar."

"Betul, akan kupapah Hay-heng, dan kalian memegangi tangannya, kita jangan sampai terpencar,"

Kata Pwe-giok.

"Aku lebih suka memegang kaki anjing daripada pegang tangannya,"

Ucap Lui-ji.

"Biar kupegang dia dan kau pegang tanganku, boleh?"

Kata Thi-hoa-nio.

Lui-ji hanya mendengus saja.

Dia lantas menjulurkan tangannya ke arah Thi-hoa-nio dan memegang satu tangan, dalam kegelapan ia merasa tangan ini tidak terlalu besar, juga tidak kasar, ia pikir tangan ini pasti tangan Thi-hoa-nio.

Siapa tahu mendadak terdengar Hay Tong-jing berucap dengan tertawa.

"Inilah kaki anjing."

Keruan Lui-ji terkejut, baru saja ia hendak lepas tangan, tapi urung, bahkan ia tertawa dan berkata.

"Karena kau mengaku ini kaki anjing, ya sudahlah."

Orang yang baru saja menangis dengan sedih, kini telah tertawa.

Coba, siapa yang dapat marah terhadap anak perempuan demikian?

Begitulah Pwe-giok terus merambat ke depan, dirasakan meski dinding terasa licin, padahal yang benar sangat kasar, agaknya lorong ini dibuat dengan tergesa-gesa asal jadi.

Sangat lama mereka berjalan, semula mereka berusaha bicara ini dan itu, sebab mereka tahu dalam kegelapan bila tidak terdengar suara, suasana akan tambah mencekam.

Akan tetapi lama-lama mereka merasa sudah kehabisan bahan bicara, sampai Lui-ji juga tidak menyangka dirinya akan kehabisan bahan cerita.

Namun sekarang biarpun perasaan semua orang terasa tertekan, semuanya tetap mempunyai harapan, yaitu lubang keluar lorong itu setiap saat muncul di depan mereka.

Tanpa harapan ini, mungkin satu langkah saja tidak ada yang sanggup berjalan.

Entah sudah berjalan berapa lama lagi, mendadak Lui-ji dengar di depan sana ada suara 'trang' yang keras, seperti suara tambur ditabuh.

Seketika Hay Tong-jing yang berjalan di depannya menerjang beberapa langkah ke depan dengan sempoyongan.

Baru saja Lui-ji terkejut, tahu-tahu kaki sendiripun kesandung sesuatu dan menimbulkan bunyi 'trang' yang keras.

"He, barang apa ini?"

Seru Thi-hoa-nio. Sudah sekian lama dia berucap, tapi tiada seorangpun menjawab. Seketika hati Thi-hoa-nio merasa ngeri, katanya dengan suara gemetar.

"He, ke... kenapa kalian tidak bicara?"

Padahal saat itu setiap orang juga sedang berpikir barang apakah yang kesandung kaki mereka, hanya tiada seorangpun berani bersuara.

Sampai lama sekali barulah terdengar Pwe-giok berucap dengan menyesal.

"Inilah peti."

"Peti?"

Thi-hoa-nio menegas.

"Masa... masakah peti yang... yang kita tinggalkan tadi?"

Sekuatnya dia mengucapkan kata-kata itu dan kedua kaki sendiripun terasa lemas. Selang sekian lama pula, Pwe-giok berkata lagi dengan perlahan.

"Betul, ketiga peti tadi."

Thi-hoa-nio menjerit kaget dan jatuh tersungkur, ia tidak sanggup berdiri lagi.

Kalau tidak salah mereka sudah berjalan hampir seharian, siapa tahu berjalan kesana kemari, ternyata kembali lagi ke tempat semula.

Lui-ji juga merasakan kedua kakinya jauh lebih berat daripada diganduli sepotong besi, dengan lemas iapun roboh bersandarkan dinding batu, nyata harapannya yang terakhir juga lenyap, di dunia ini tidak ada lagi tenaga yang dapat mendorongnya berjalan pula.

Entah sudah lewat berapa lama, mendadak terdengar Pwe-giok berkata.

"Bukan mustahil pada tubuh Kwe Pian-sian dan Ki Leng-hong membawa geretan api."

Seketika Lui-ji melonjak bangun, serunya.

"He, betul, kenapa kita tidak ingat tadi..."

Sembari bicara ia terus meraba ke sana dan menemukan sebuah peti.

Baru saja Thi-hoa-nio hendak menyusul ke sana, mendadak terdengar lagi jeritan kaget, suara Lui-ji dan Pwe-giok yang menjerit bergema.

Bahwa Ji Pwe-giok sampai menjerit kaget, maka keadaannya pasti luar biasa.

Seketika Thi-hoa-nio merasa telapak tangannya berkeringat dingin, ia coba berseru.

"He, ada... ada apakah?"

"Peti... peti sudah kosong...!"

Kata Lui-ji. Thi-hoa-nio baru saja berdiri, segera dia jatuh terduduk lagi, ucapnya dengan tergegap.

"Kosong?... masakah mereka sudah siuman dan... dan sudah pergi ?"

"Bukan,"

Jawab Lui-ji.

"Gembok pada peti ini dipuntir patah orang."

"Mungkinkah salah seorang di antara mereka siuman lebih dulu, lalu memutuskan gembok pada kedua peti yang lain ?"

Tanya Thi-hoa-nio.

"Tidak, gembok ketiga peti ini sama-sama dipatahkan orang dari luar,"

Tutur Lui-ji.

"Apalagi, kalau cuma kekuatan Kwe Pian-sian bertiga tidak nanti mampu memuntir patah gembok ini."

Meski sedapatnya dia menahan perasaannya, tidak urung suaranya kedengaran rada gemetar.

Walaupun sejak tadi semua orang sudah menduga di lorong bawah tanah ini ada orang lain, tapi semula mereka berharap dugaan mereka tidaklah benar, tapi sekarang harapan inipun meleset.

Jadi tidak perlu disangsikan lagi bahwa di dalam lorong ini memang ada orang, bahkan selama ini selalu mengintai setiap gerak gerik mereka, hanya saja orang itu tidak pernah unjuk muka.

"Sungguh aku tidak paham apa maksud mereka? Mengapa main sembunyi dan tidak berani menemui orang?"

Ujar Lui-ji dengan menyesal.

"Masa kau tidak paham ?"

Tanya Hay Tong-jin.

"Tidak,"

Jawab Lui-ji.

"Sebab orang itu ingin mengurung mati kita di sini, hakekatnya dia tidak perlu memperlihatkan dirinya,"

Tutur Hay Tong-jing.

"Siapakah dia? Ada permusuhan apa pula dengan kita?"

Tanya Thi-hoa-nio dengan parau.

"Dia tidak perlu bermusuhan dengan kita, yang jelas kita sudah melanggar tempat rahasianya, tidak boleh tidak kita harus dibunuhnya."

Keterangan ini membikin semua orang tidak dapat bersuara lagi.

Pada saat itulah, mendadak dalam kegelapan bergema serentetan suara yang aneh, seperti orang menghela nafas menyesal, seperti suara orang menangis dan seperti juga orang mengejek.

Dalam keadaan dan di tempat demikian, suara ini sungguh membikin orang mengkirik.

Thi-hoa-nio berkata sambil tertawa getir.

"Kami sudah cukup tersiksa, untuk apa pula kau menakut-nakuti kami lagi?"

"Ada sementara orang sedikitpun tidak dapat diam,"

Kata Hay Tong-jing.

"Siapa yang kau maksudkan?"

Tanya Lui-ji. Hay Tong-jing tertawa, jawabnya.

"Aku cuma heran, entah bagaimana caramu mengeluarkan suara semacam ini?"

"Huh, ada sementara orang suka kentut, tapi selalu menyangkal, bahkan suka menuduh orang lain yang kentut,"

Jengek Lui-ji.

"Makanya kau tuduh diriku?"

Tanya Hay Tong-jing.

"Suara ini jelas suara orang lelaki, kalau bukan kau lantas siapa?"

Kata Lui-ji dengan gusar. Mendadak Hay Tong-jing diam saja, selang sejenak barulah berucap pula.

"suara itu masa bukan suaramu?"

"Sudah tentu bukan,"

Teriak Lui-ji.

"Siapa yang bohong, anggaplah dia bukan manusia."

"Tapi juga bukan suaraku,"

Kata Hay Tong-jing. Tiba-tiba Thi-hoa-nio menyela dengan suara parau.

"Jika kalian sama-sama tidak bersuara, habis si... siapa?"

"Jangan-jangan kau?"

Tanya Lui-ji mendadak.

"Dengan sendirinya bukan diriku,"

Cepat Thi-hoa-nio membantah.

"Sejak tadi aku ketakutan setengah mati, memikirkan diri sendiri saja tidak sempat, masa menakut-nakuti orang lain?"

Mereka sama sekali tidak tanya Ji Pwe-giok, sebab siapapun tahu anak muda itu pasti tidak mau berbuat hal-hal begini.

Seketika semua orang sama melenggong.

Dari suara tadi, jelas dalam kegelapan ada lima orang.

Tapi siapapun tidak dapat melihat kelima orang itu, juga tidak diketahui mereka sembunyi di mana.

Mendadak Lui-ji berteriak.

"Aku sudah melihat kau, kau hendak sembunyi kemana lagi?"

Thi-hoa-nio terkejut, tapi segera ia tahu ucapan Lui-ji itu cuma gertak sambal saja, segera iapun berteriak.

"Ya, jika kau sudah datang kemari, apakah ingin lari lagi ?"

Meski mereka berkaok-kaok sampai sekian lamanya, namun dalam kegelapan tetap tidak ada suara jawaban dan reaksi apapun.

Mereka sama merasa keringat dingin membasahi tangan sendiri, orang itu tidak dapat digertak, sebaliknya diri sendiri yang tambah ketakutan.

Tiba-tiba Pwe-giok berucap.

"Kalian salah dengar semua, hakekatnya tidak ada suara apapun tadi"

"Tapi... tapi jelas kudengar,"

Kata Lui-ji.

"Mengapa aku tidak mendengarnya ?"

Ujar Pwe-giok. Lui-ji bermaksud bicara lagi, tapi mendadak dirasakan Pwe-giok memegang tangannya sambil berbisik.

"Marilah kita bergandengan tangan dan menerjang ke depan, coba saja dia akan lari ke mana ?"

Segera tangan kanan Lui-ji memegang tangan kiri Thi-hoa-nio, tangan Thi-hoa-nio lantas menarik tangan Hay Tong-jing, ke empat orang sama menempel dinding dan maju ke depan dengan perlahan dengan maksud mengepung orang itu.

Tak terduga, meski sudah belasan langkah jauhnya, tiada sesuatu apapun yang mereka sentuh.

Tiba-tiba Lui-ji berseru terkejut.

"He, kenapa tempat ini mendadak menjadi longgar."

Lorong di sini luasnya tidak ada tujuh kaki, tapi sekarang mereka sudah melangkah belasan kaki dan tidak membentur dinding batu bagian depan.

Hal ini membuat mereka terkejut.

Selang sejenak, terdengar Thi-hoa-nio berkata.

"Jangan... janganlah kau meremas tanganku."

"Persetan, menyentuh tanganmu saja tidak,"

Jawab Lui-ji.

"Aku juga tidak, aku berada di sebelah sini,"

Hay Tong-jing menambahkan.

"Betul kau di sisi kananku,"

Ucap Thi-hoa-nio dengan suara rada gemetar.

"Tapi tangan kiriku..."

Belum habis ucapannya, dapatlah dirasakan tangan yang menariknya itu bukan Cu Lui-ji.

sedangkan Lui-ji juga merasakan tangan yang dipegangnya itu kaku lagi dingin, jelas bukan tangan Thi-hoa-nio.

Sungguh tidak kepalang rasa kaget kedua orang itu, serentak mereka melepaskan tangannya dan menyurut mundur, serunya dengan suara parau.

"Siapa kau?"

Dalam kegelapan tiba-tiba ada suara orang mengekeh tawa.

Suara tertawa itu timbul di tengah-tengah mereka, tapi hanya sekejap saja sudah menjauh, agaknya terus masuk ke balik dinding batu antara kedua sisi lorong.

Membayangkan tangan yang dipegangnya itu entah tangan siapa, seketika setengah badan Lui-ji terasa lemas.

Bahwa orang itu dapat memegang tangan mereka tanpa disadarinya, maka kalau orang hendak membunuh mereka bukankah segampang mengambil barang di saku sendiri?

Betapapun besar tabahnya hati Lui-ji, mau tak mau kedua kakinya terasa lemas juga dan hampir tidak sanggup berdiri.

Thi-hoa-nio juga tidak berani bergerak sama sekali.

Terdengar Pwe-giok berkata.

"Tempat ini bukan lorong yang pernah kita lalui tadi."

"Tapi ketiga peti ini..."

Lui-ji merasa bingung.

"Justeru lantaran ketiga peti ini telah dipindahkan orang ke sini, makanya kita mengira tempat ini adalah tempat semula."

"Lantas, sesungguhnya kita sudah berada di tempat apa ?"

Tanya Lui-ji.

Dalam kegelapan tempat manapun akan berubah sama, sebab tempat ini baik besar atau kecil, luas atau sempit, semuanya tak dapat dirasakan.

Selagi Pwe-giok termenung, tiba-tiba seorang mengikik tawa dan berkata.

"Inilah rumahku, tidak jelek tempatnya, di atas meja ada arak, di kotak sana ada buah. Kalian sudah datang ke sini, silahkan minumlah barang secawan."

Suara orang ini kecil lagi melengking, kedengarannya seperti suara anak kecil yang sedang bertembang.

Bila hari-hari biasa tentu Lui-ji akan merasa suka, tapi sekarang dalam keadaan begini, suara orang dirasakannya seperti jeritan setan.

Pada saat itulah sekonyong-konyong setitik sinar lilin telah dinyalakan.

Baru sekarang mereka mengetahui sudah berada di dalam sebuah ruangan yang sangat luas, cahaya lilin itu terasa sangat kecil, tapi karena sudah terlalu lama berada dalam kegelapan, cahaya yang suram ini jadi cocok bagi mereka, sebab kalau cahaya lampu terlalu terang, bisa jadi mereka akan silau dan sukar membuka mata.

Terlihat di ruangan besar ini berduduk belasan orang, ada yang tinggi, ada yang pendek, ada yang kurus, ada yang gemuk, ada yang sedang main catur, ada yang lagi membaca, ada pula yang sedang memandang lukisan, juga ada yang lagi memetik kecapi.

Sikap orang-orang ini kelihatan sangat santai, apa yang dikerjakan merekapun sangat bernilai seni adanya.

Tapi pakaian mereka justeru terdiri dari kain kasar, malahan baju lengan cekak, bahkan sepertinya telanjang kaki, paling-paling hanya pakai sandal, sekilas pandang mereka lebih mirip kuli yang baru pulang dari tempat kerja, sama sekali tidak sesuai dengan apa yang sedang dikerjakan mereka.

Ditengah-tengah ruangan besar ini terdapat sebuah meja perjamuan, beberapa lelaki kekar dan berwajah kasar sedang minum arak.

Dilihat dari dandanan mereka sepantasnya mereka makan minum dengan lahapnya, tapi tampaknya semuanya justru duduk dengan sangat sopan.

Satu cawan arak terpegang ditangan, tapi sampai sekian lama belum lagi diminum, agaknya melulu bau harum arak saja yang dinikmatinya, meski jelas tahu kedatangan rombongan Pwe-giok, tapi tiada seorangpun yang berpaling.

Betapapun Lui-ji tidak menyangka akan mendadak melihat orang sebanyak ini, tentu saja ia terkejut.

Meski orang-orang ini tidak mirip tokoh Bu-lim, tapi muncul ditempat misterius begini tentu membuat orang sukar meraba orang macam apakah mereka ini.

Lui-ji juga tidak berani meremehkan mereka.

Terdengar suara mengikik tawa tadi bergema pula, kata seorang.

"Kalau tuan rumah tidak pelit, kenapa tetamunya rikuh? Silahkan, silahkan minum barang secawan." -Jelas suara tertawa ini berkumandang dari meja makan sana. Perawakan orang yang bicara itu tidak tinggi meski duduk di dalam rumah yang seram ini, namun kepalanya justru memakai caping bambu yang biasa digunakan kaum petani, sehingga wajahnya hampir tertutup dan tidak kelihatan. Pwe-giok berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Jika demikian, terpaksa kami harus mengganggu kawan."

Pelahan mereka lantas menuju ke tengah ruangan, orang-orang itu masih asyik main catur dan membaca, tiada seorangpun menghiraukan mereka, seperti tidak menghargai sang tetamu sama sekali.

Sungguh lagak orang ini teramat sombong.

Meski mendongkol, tapi berada ditempat demikian, Lui-ji tidak berani sembarangan bertindak.

Pada meja bundar itu hanya diduduki enam-tujuh orang, kebetulan masih ada lima-enam tempat duduk luang.

Maklumlah, meja perjamuan umumnya disediakan untuk 12 orang.

Pwe-giok mendahului maju dan berduduk tanyanya dengan tersenyum.

"Siapakah she Tuan rumah yang mulia?"

Orang yang memakai caping itu tertawa dan menjawab.

"Kalian adalah tetamu yang tidak diundang, untuk apa bertanya nama tuan rumah segala?"

Lilin yang menyala itu kebetulan terletak di sebelahnya, ditambah lagi dia memakai caping bertepi lebar, meski Pwe-giok duduk di depannya, tetap tidak dapat melihat jelas wajahnya.

Ia coba memandang orang-orang yang duduk di sebelahnya, semuanya memakai topi yang ditarik rendah ke depan, tampaknya orang-orang ini sudah berniat tidak mau menegur, bahkan memandang mereka sekejap saja tidak mau.

Air muka orang-orang ini sama dingin dan seram, yang dipakai adalah baju dari kain kasar dan sudah rombeng, namun topi yang dipakai mereka tampak masih baru, juga dari kwalitas tinggi.

Malahan ada sebagian diberi hiasan batu permata sehingga tidak serasi dengan baju mereka, seperti habis membeli topi, lalu tidak punya uang lagi untuk membeli baju.

Berputar biji mata Cu Lui-ji, ia mengejek.

"Tampaknya kalian merasa berat untuk membeli baju dan sepatu, tapi berani membeli topi dengan royal, sungguh aneh bin heran."

Dia sengaja membikin marah orang-orang itu, siapa tahu mereka tetap diam saja seperti tidak mendengar ocehannya, bahkan bergerak sedikit saja tidak.

Hanya orang yang bercaping besar itu lantas berkata dengan tertawa.

"Manusia adalah makhluk yang paling cerdik di jagat raya ini, soalnya karena manusia mempunyai otak yang jauh lebih besar daripada makhluk lain. Maka layaklah kalau otak harus lebih diperhatikan dan dijaga, harus dilindungi lebih dari yang lain."

Kepala orang ini memakai sebuah caping batu, tapi tubuhnya memakai baju dari bahan yang sangat bagus, jadi sangat berbeda dengan orang lain. Biji mata Lui-ji berputar pula, jengeknya.

"Jika demikian, mengapa kau keberatan membeli sebuah topi? Memangnya buah kepalamu tidak lebih berharga daripada kepala orang lain?"

Orang itu bergelak tertawa, ucapnya.

"Tajam benar mulut nona, cuma mulut harus digunakan untuk makan nasi dan bukan untuk bicara."

"Ah, belum tentu, lihat keadaan,"

Ujar Lui-ji.

"Tidak makan nasi bisa mati, tidak bicara apakah juga bisa mati?"

Tanya orang itu dengan tertawa.

"Suruh aku tidak bicara rasanya terlebih tidak enak daripada mati,"

Kata Lui-ji.

Apa yang dikatakannya ini memang sejujurnya, hampir saja Hay Tong-jin dan Thi-hoa-nio tertawa geli, cuma dalam keadaan demikian tak dapatlah mereka tertawa.

Orang bercaping batu itu tertawa, katanya pula.

"tepat juga ucapan nona cilik, bolehlah kau tidak bicara dan tidak makan nasi, tapi santapan yang ku sediakan ini tidak beracun, silahkan kalian makan saja dan jangan kuatir."

"Jika beracun, kau kira aku tidak berani makan?"

Jengek Lui-ji.

Hidangan yang tersedia di atas meja itu ada satu porsi Ang-sio-hi, ikan gurami masak saus manis, maka sumpit Lui-ji langsung menuju kepada Ang-sio-hi ini.

Siapa tahu beberapa kali ia menyumpit, ikan itu tetap tidak bergerak.

Ketika ia menjepit sekuatnya, ikan itu lantas hancur.

Kiranya santapan yang tersedia di atas meja ini semuanya adalah model yang terbuat dari lilin, hanya dapat dilihat, tapi tak dapat dimakan.

Dongkol dan geli pula Lui-ji, baru saja dia hendak memaki, tiba-tiba dilihatnya air muka Pwegiok berubah hebat, tanyanya sambil memandang seorang yang bertopi yang berduduk di sebelahnya.

"Siapa nama Anda?"

Kedua tangan orang ini tampak kasar dan besar, otot hijau timbul di punggung tangannya, sebuah cawan arak terpegang di tangannya dan menempel bibir sejak tadi, tapi arak tidak lagi diminum, tampaknya cukup baginya melulu mengendus bau sedap arak saja dan merasa sayang untuk diminum.

Pertanyaan Pwe-giok juga sama sekali tidak digubrisnya.

Watak Lui-ji memang pemarah, maka ia lantas mendamprat.

"He, apakah kau ini tuli?" -Sembari bicara, sumpit yang dipegangnya itu terus menutuk ke Hiat-to siku orang itu, tujuannya hendak membikin orang melepaskan cawan araknya sehingga berantakan dan membuatnya malu. Siapa tahu sumpitnya langsung ambles ke dalam daging tangan orang itu, yang aneh orang itu seolah-olah tidak merasakan sesuatu. Karuan Lui-ji terkejut, baru sekarang diketahuinya orang inipun terbuat dari lilin. Semua orang yang duduk bersanding meja ini ternyata terbuat dari lilin seluruhnya. Lui-ji benar-benar melenggong, sampai sekian lamanya barulah ia mendengus.

"Hm, paling sedikit di sini kan ada seorang hidup."

Tapi baru habis ucapannya, diketahuinya satu-satunya orang hidup tadi kinipun sudah menghilang entah kemana, hanya caping bambunya yang besar dan bobrok itu masih tertinggal di atas meja.

Lui-ji menarik napas dingin, dengusnya.

"Pantas orang-orang ini sama mengenakan baju rombengan, tapi memakai topi baru."

Sekarang ia sudah paham semua ini adalah permainan orang tadi, patung-patung lilin ini sengaja diberi pakaian dan topi agar tulen atau palsunya sukar untuk diketahui dengan cepat.

Saking gemasnya, Lui-ji terus mencopoti semua topi yang dipakai orang-orangan ini, tertampak semua patung lilin itu berwajah cerah, jenggot dan alisnya juga asli, sungguh mirip sekali dengan manusia tulen.

Lui-ji menghela napas, katanya dengan tersenyum getir.

"Apapun juga, karya seni orang ini memang harus dipuji."

"Ya, sampai si ahli pembuat patung lilin dari kota raja si patung Thio mungkin juga tidak lebih pandai daripada dia,"

Tukas Hay Tong jing.

Jilid 12________ "Dan ginkangnya juga tidak rendah, buktinya kita sama tidak tahu kapan dan kemanakah perginya?"

Sambung Pwe-giok.

"Masa.....masa orang-orang ini seluruhnya patung lilin?"

Tanya Thi-hoa-nio. Berpuluh orang itu masih tetap berduduk di tempatnya tanpa bergerak, tampaknya seperti manusia hidup benar-benar.

"Untuk apakah orang itu memasang patung-patung sebanyak ini di sini?"

Tanya Thi-hoa-nio pula.

"Mungkin dia kesepian tinggal sendirian di sini, maka membuat orang-orangan ini untuk mengawaninya", ujar Lui-ji, mendadak ia tertawa dan menambahkan.

"Apapun juga patung lilin kan jauh lebih baik daripada manusia tulen."

"Masa? Apa alasanmu?"

Tanya Thi-hoa-nio.

"Paling sedikit patung lilin kan tidak dapat menyerang kita?"

Jawab Lui-ji Meski merasa tempat ini sangat menyeramkan, tapi lega juga hati Thi-hoa-nio, sebab ia merasa ucapan Lui-ji memang tidak salah.

Berada bersama orang-orangan lilin tentunya tidak akan berbahaya.

Hanya Pwe-giok saja yang kelihatan prihatin, tiba-tiba dia seperti teringat sesuatu, ucapnya kemudian dengan suara tertahan.

"Kita tidak boleh tinggal di sini, lekas kita pergi."

"Kenapa? Orang hidup sudah lari, masakah kita takut kepada kawanan patung lilin ini?"

Ujar Lui-ji. Dia terus mendekat ke sana dan menambahkan.

"Coba kau lihat, ku pukul mereka juga tidak ada yang berani membalas."

Sembari bicara ia terus menampar muka salah satu patung lilin itu. Patung lilin itu tadinya duduk bersandar kursi dan sedang "membaca". Karena ditampar Lui-ji robohlah patung itu.

"brak", patung itu pecah berantakan.

"Maaf, maaf, apakah kau sakit? Biar kubangunkan kau!"

Kata Lui-ji dengan tertawa. Betapapun dia masih seorang anak dara, sejak lahir belum pernah bermain boneka, sekarang mendadak melihat "boneka raksasa"

Sebanyak ini, dengan sendirinya ia sangat tertarik.

Begitulah seperti anak kecil yang sedang momong boneka, Lui-ji membangunkan patung yang jatuh dan perlahan memijati bagian punggungnya sambil berucap.

"O, sayang, tentunya kau kesakitan, biar kupijat..."

Selagi Thi-hoa-nio merasa geli melihat kelakuan Lui-ji itu, mendadak anak dara itu menjerit kaget sambil melompat mundur.

Kontan patung lilin itu terguling dari kursinya dan hancur.

Cepat Pwe-giok melompat maju dan bertanya.

"Ada apa?"

Lui-ji menjatuhkan diri pada pelukan anak muda itu, katanya sambil menuding patung lilin yang sudah hancur itu.

"Di tubuh lilin itu ada... ada tulangnya."

"Tulang?"

Thi-hoa-nio menukas dengan kaget.

"Patung lilin masa bertulang?"

Belum habis ucapannya, dilihatnya dalam patung lilin yang hancur itu memang betul ada seonggok tulang putih, bahkan dapat dipastikan bukan tulang buatan.

Nyata, tulang di dalam patung lilin itu adalah tulang orang mati asli.

Pwe-giok coba menjemput beberapa cuil lilin remukan patung itu dan diperiksanya dengan teliti, seketika air mukanya berubah hebat, tampaknya seperti mual dan hendak tumpah.

"He, ken... kenapakah kau?"

Tanya Lui-ji. Pwe-giok menghela nafas panjang, ucapnya.

"Ini bukanlah orang-orangan buatan dari lilin, tapi mayat manusia tulen, lorong di bawah tanah ini adalah hasil kerja mereka."

"Apa katamu?"

Seru Lui-ji.

"Tentunya begini kisahnya,"

Tutur Pwe-giok.

"Lantaran kuatir orang-orang ini akan membocorkan rahasia lorong di bawah tanah ini, maka orang yang menyuruh pembuatan lorong ini telah membunuh seluruh pekerja ini tatkala lorong ini sudah selesai dibuat, lalu tubuh mereka disiram dengan vaselin sehingga jadilah mereka patung lilin."

Merinding Lui-ji oleh cerita ngeri ini, katanya.

"Pantas, makanya mereka kelihatan seperti orang hidup."

Dengan gegetun Hay Tong-jing ikut berkata.

"Begitu masuk kemari memang sudah kurasakan keadaan di sini rada-rada janggal, orang-orang kasar ini kenapa bisa berubah seperti seniman. Waktu itu jika kuperiksa dengan teliti mungkin sudah dapat ku bongkar rahasia mereka."

"Tapi waktu itu mana dapat kita bayangkan di dunia ini ternyata ada orang gila sekejam ini?"

Ucap Lui-ji dengan gregetan. Mendadak seorang tertawa terkekeh-kekeh dan menanggapi.

"Hehe, kau salah, nona cilik, aku sama sekali tidak kejam, juga tidak gila, sebaliknya aku ini manusia yang paling welas asih, seorang yang paling tahu aturan, orang yang paling punya hati nurani."

Meski semua orang dapat mendengar suaranya, tapi bagaimana bentuk orang ini tidaklah kelihatan. Lui-ji lantas menjawab.

"Seumpama kau punya hati nurani juga sudah lama hatimu itu dimakan anjing."

"Justeru lantaran mengingat mereka terlalu lelah menggali lorong di bawah tanah ini, makanya kuundang mereka istirahat di sini, supaya mereka selanjutnya tidak perlu berkeringat dan kerja keras lagi,"

Kata orang itu dengan tertawa.

"Coba kalau tidak ada aku, mana bisa mereka menikmati kebahagiaan begini. Dan kalau begini baik kuperlakukan mereka, kenapa kau maki diriku sebagai orang gila dan orang busuk?"

"Hm, kau bukan saja orang busuk, bahkan bukan orang. Tapi setan, iblis, iblis yang gila!"

Maki Lui-ji pula.

Dia ingin memancing keluar orang itu.

Siapa tahu meski dia mencaci maki sekian lama, orang itu tetap tidak memberi reaksi apa-apa.

Bahkan satu kata saja tidak bicara pula, keadaan menjadi sunyi senyap.

Dengan gemas Lui-ji mengusulkan.

"Tempat ini toh tidak terlalu luas, marilah kita ketemukan dia."

Thi-hoa-nio menghela nafas, katanya.

"Kalau dia tidak mencari kita kan sudah untung, masakah kau malah ingin cari dia?"

Mendadak Pwe-giok berkata kepada Hay Tong-jing dengan tertawa.

"Dalam keadaan demikian, masakah kau belum mau membongkar teka-teki ini?"

"Teka-teki? Teka-teki apa?"

Hay Tong-jing jadi melengak malah.

"Sungguh aku tidak mengerti untuk apa kalian berdua sengaja memancing kami kesini?"

Tanya Pwe-giok.

"Ap... apa katamu?"

Hay Tong-jing menegas dengan bingung.

"Mengapa kami memancing kalian ke sini? Hakekatnya aku tidak pernah kenal tempat ini, lebih-lebih tidak kenal si gila ini."

"Bisa jadi Hay-heng memang belum pernah datang ke tempat ini, tapi Lo-siansing ini justeru sudah dikenal Hay-heng,"

Kata Pwe-giok.

"Mana bisa kukenal dia?"

Sahut Hay Tong-jing dengan gugup.

"Untuk.. untuk apa ku tipu kau?"

Pwe-giok menghela nafas, ucapnya.

"Akupun tidak tahu untuk apa Hay-heng menipuku? Tapi berita yang dituturkan Hay-heng di lorong tadi... cerita tentang Tangkwik-siansing itu, tadinya kupercaya penuh setiap kata ceritamu, tapi sekarang mau tak mau harus kusangsikan."

"Sebab apa?"

Tanya Hay Tong-jing.

"Demi membuat lorong bawah tanah ini, dia tidak sayang membunuh semua pekerja ini untuk menutup mulut mereka selamanya. Dengan sendirinya lorong di bawah tanah ini menyangkut sesuatu rahasia maha besar, betul tidak?"

"Ya, betul,"

Jawab Hay Tong-jing.

"Jika demikian, mengapa dia perlu membangun rumah gubuk pada ujung jalan keluar tadi? Jika di atas gunung yang paling sepi ini ada sebuah rumah kosong, bukankah hal ini akan sangat menarik perhatian orang?"

Kembali Hay Tong-jing melengak, katanya.

"Bisa jadi... bisa jadi rumah itu bukan rumah kosong."

"Betul, rumah itu pasti tidak kosong, tapi dimana orangnya?"

"Mungkin telah dibunuh oleh Yang Cu-kang?"

Pwe-giok tertawa, katanya.

"Apakah mungkin demi merampas sebuah rumah Yang-heng perlu membunuh orang tak berdosa sebanyak itu?"

"Ini ... ini ..."

Hay Tong-jing tak dapat menjawab.

"Apalagi, jika dia menyuruh orang-orang itu berjaga di dalam rumah, tentu mereka ada kontak satu sama lain, setelah mereka dibunuh Yang-heng, mustahil dia tidak tahu? Dan kalau dia tahu, masakah Yang-heng dibiarkan tinggal di sana?"

"Jadi maksud Ji-heng ...."

"Maksudku hanya ingin menyatakan antara Yang-heng dan Lo-siansing ini pasti sudah ada hubungan, dia menyuruh kita masuk ke lorong ini juga sebelumnya telah direncanakan."

Berubah air muka Hay tong-jing, katanya.

"Untuk apa dia berbuat begini? Kenapa aku tidak diberitahu?"

"Hay-heng benar-benar tidak tahu?"

Pwe-giok menegas dengan melotot.

"Ya, sedikitpun tidak tahu,"

Jawab Hay Tong-jing tegas.

"Jika demikian, mengapa Hay-heng mengantar nona Ki Leng-hong ke sini?"

"He, apa pula artinya ucapanmu ini?"

"Aku memang lagi heran, sebab apakah Hay-heng menangkap Ki Leng-hong? Padahal ku tahu kalian hendak menyerahkan Kwe Pian-san dan Ciong Cing kepada Pek-hoa-bun untuk mengambil hati Hay-hong-hujin, tapi sejauh itu aku tidak mengerti Ki Leng-hong hendak kalian serahkan kepada siapa? Dan baru sekarang ku tahu jelas duduknya perkara."

"Tahu jelas duduknya perkara? Perkara apa?"

Tanya Hay Tong-jing dengan bingung.

"Tujuan Hay-heng menangkap Ki Leng-hong adalah untuk diserahkan kepada Lo-siansing ini."

"Untuk apa diserahkan kepadanya? Untuk apa pula dia menghendaki Ki Leng-hong?"

Tanya Hay Tong-jing. Pwe-giok tertawa, katanya.

"Bisa jadi untuk dijadikan patung lilin, mungkin juga ada keperluan lain. Kukira Hay-heng tentu jauh lebih jelas dari padaku."

Hay tong-jing menghela napas panjang, katanya.

"Meski aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, tapi kuyakin jalan pikiranmu pasti keliru, hakekatnya aku tidak ada sangkutpautnya dengan urusan ini, jika Ji-heng tidak percaya, terpaksa aku ....."

Mendadak terdengar suara jeritan, suara jeritan Lui-ji dan Thi-hoa-nio.

Pwe-giok terkejut dan berpaling, terlihatlah kedua orang itu telah berada dalam pelukan dua patung lilin.

Muka Lui-ji tampak pucat, serunya dengan suara parau.

"Patung lilin ini bukan mayat, tapi orang hidup."

Thi-hoa-nio tampak gemetar dan hampir saja jatuh kelengar. Terdengar orang lilin itu berkata.

"Jika kalian menghendaki mereka tetap hidup, maka berdirilah di situ dan jangan bergerak."

Sembari bicara, lapisan lilin yang tipis pada mukanya lantas terkelupas sepotong demi sepotong. Terpaksa Pwe-giok berdiri di tempatnya dan tidak bicara apapun. Hay Tong-jing tidak tahan, ucapnya.

"apa kehendak kalian?"

Padahal pertanyaannya ini terlalu berlebihan dan menggelikan.

Tapi setiap orang bila sudah kepepet memang sering mengucapkan kata-kata yang lucu.

Pada saat itulah tertampak dua patung lilin yang sedang main catur di kejauhan sana mendadak juga bergerak, tubuh mereka hanya berkelebat dan tahu-tahu sudah menubruk tiba.

Tapi patung lilin yang memeluk Cu Lui-ji itu lantas berseru.

"Berhenti, barang siapa di antara kalian bergerak sedikit saja, jiwa kedua perempuan ini segera melayang."

"Jangan urus diriku, mereka tidak berani membunuhku!"

Teriak Lui-ji.

Pwe-giok menghela napas, tahu-tahu ia merasakan dua tangan yang kuat telah merangkul tubuhnya, menyusul beberapa tempat Hiat-to penting juga tertutuk.

Kembali Lui-ji menjerit kuatir, teriaknya parau.

"He, apa ... apa kehendak kalian? ..."

Belum habis ucapannya, berderailah air matanya. Terdengar seorang tertawa terkekeh-kekeh, ucapnya.

"Nona cilik, tentunya sekarang kau tahu orang-orang lilin tidaklah lebih baik daripada manusia tulen. Padahal terkadang merekapun jauh lebih berbahaya daripada orang asli."

Ditengah suara tertawa yang melengking itu, si kakek berjubah hitam tadi telah muncul pula, cuma sekarang topinya bukan lagi caping bambu melainkan sebuah topi tinggi dan berbentuk aneh.

Potongan badan kakek ini sangat pendek, sekarang memakai topi setinggi ini, sekilas pandang, topinya seakan-akan lebih tinggi daripada orangnya, bentuknya kelihatan lucu dan mentertawakan.

Tapi dalam keadaan demikian siapa pula yang dapat tertawa?

Segera Lui-ji memaki.

"Kau tua bangka, siluman ..."

Segala kata makian yang paling keji telah dihamburkan seluruhnya, tapi si kakek mendengarkan saja seperti sangat tertarik.

Setelah Lui-ji kehabisan kata-kata makian barulah kakek itu berkata dengan tersenyum.

"Nona cilik, kau sangat pintar menangis, juga pandai memaki orang, aku justeru sangat suka kepada nona cilik semacam kau ini. Sebentar tentu akan kujadikan kau patung lilin yang cantik, secantik boneka."

"Kau ... kau ..."

Lui-ji sampai kehabisan suara. Ia ingin memaki lagi, tapi ngeri, bibirpun kering. Topi tinggi di atas kepala si kakek tampak bergoyang-goyang, ia mendekati Pwe-giok dan berkata.

"He, anak muda, namamu Ji Pwe-giok bukan?"

"Betul."

Jawab Pwe-giok. Si kakek mengekeh tawa, ucapnya.

"Meski belum pernah kulihat kau, tapi sekali pandang saja lantas kukenali kau."

Mendadak Pwe-giok juga tertawa, katanya.

"Meski aku tidak pernah melihat kau, tapi akupun kenal kau."

"Oo?!"

Si kakek melengak, lalu bergelak tertawa, katanya.

"Wah, jika benar kau kenal diriku, sungguh tidak kecil kepandaianmu."

"Kau bukan manusia,"

Kata Pwe-giok. Si kakek menyeringai.

"Kau pun serupa nona cilik itu, pintar memaki orang. Aku bukan manusia, memangnya siluman?"

"Kaupun bukan siluman, cuma sesosok mayat,"

Ujar Pwe-giok.

"Sebab sudah lama kau mati."

"Kau bilang aku ini mayat?"

Seru si kakek dengan terbahak.

"Betul, meski belum pernah kau lihat diriku, tapi aku sudah pernah melihat kau."

"Pernah kau lihat diriku? Dimana?"

Tanya si kakek.

"Di dalam sebuah kuburan."

Jawab Pwe-giok.

Seketika Lui-ji melenggong, ia merasa bingung oleh ucapan Pwe-giok itu, bahkan anak muda ini hampir disangkanya rada kurang waras.

Sebab seorang yang sehat, seorang yang normal, tentu takkan menuduh seorang hidup sebagai sesosok mayat, lebih-lebih takkan menyatakan dirinya pernah pesiar ke dalam sebuah kuburan.

Semua ini hakekatnya bukan ucapan Ji Pwe-giok yang sebenarnya.

Siapa tahu, setelah mendengar kata-kata demikian, air muka si kakek mendadak berubah, dia melototi Pwe-giok hingga sekian lamanya, lalu menegas.

"Kau pernah datang di kuburan itu?"

"Betul, malahan cukup lama ku tinggal di sana."

"Dan cara bagaimana kau keluar lagi?"

Pwe-giok tertawa, jawabnya.

"Keluar melalui pantatmu."

Sampai di sini, bukan cuma Lui-ji saja yang menganggap anak muda itu kurang waras, bahkan Thi-hoa-nio dan Hay Tong-jing juga mengira Pwe-giok mendadak sinting, sebab apa yang diucapkannya sama sekali bukan kata-kata manusia normal.

Tapi air muka si kakek lantas berubah menjadi lebih menakutkan, mendadak ia berseru.

"Cucu perempuanku sayang, marilah keluar!"

Ketika cucu perempuannya sudah keluar, kecuali Pwe-giok, yang lain-lain sama terperanjat pula.

Sebab siapapun tidak menyangka cucu perempuannya adalah Ki Leng-hong.

Tapi sejak tadi Pwe-giok sudah tahu kakek ini adalah Ki go-ceng yang menghilang dengan berlagak mati itu.

Kepandaiannya membikin patung lilin memang bagus (bacalah

Jilid ke-4 Renjana Pendekar). Terdengar si kakek alias Ki Go-ceng lagi bertanya kepada cucu perempuannya.

"Apakah betul perkataan bocah ini?"

"Entah, aku tidak tahu,"

Jawab Ki Leng-hong. Nona ini kelihatan sangat kurus dan lesu, sangat lemah, tapi jawabannya cukup tegas.

"Dia pernah datang ke Sat-jin-ceng bukan?"

Tanya pula Ki Go-ceng.

"Jika dia belum pernah ke Sat-jin-ceng, cara bagaimana dapat kukenal dia? Tapi banyak juga orang yang pernah mengunjungi sat-jin-ceng, tidak cuma dia saja."

Ki Go-ceng tertawa, ia tepuk-tepuk pelahan muka Ki Leng-hong yang bulat telur itu, ucapnya dengan tertawa.

"Ai, cucu perempuanku sayang, bicara terhadap kakek mana boleh sekasar ini."

Ki Leng-hong moncongkan mulutnya dan berucap manja.

"Orang pening kepala, ingin tidur."

Begitu habis ucapannya, segera ia melangkah pergi, sama sekali tidak memandang lagi terhadap Ji Pwe-giok.

Ki Go-ceng geleng-geleng kepala, gumamnya ***** "Ai, bocah ini jadi rusak karena terlalu dimanjakan ibunya"

Mendadak ia melototi Pwe-giok pula dan bertanya.

"Eh, kabarnya putra Ji Hong-ho itupun bernama Ji Pwe-giok, apa betul?"

"Begitulah kalau tidak salah", jawab Pwe-giok.

"Konon dia sudah mati di Sat jin-ceng"

"Agaknya juga betul"

Mendadak mencorong sinar mata Ki Go-ceng, ucapnya dengan pelahan.

"Bisa jadi tidak mati, mungkin dia telah pesiar sejenak ke kuburan, lalu hidup kembali, bahkan bertemu dengan seseorang yang telah mengubah bentuk wajahnya"

Mendadak ia jambret leher baju Pwe-giok dan berteriak.

"Dan mungkin kau inilah dia, kau inilah putra Ji Hong-ho itu"

Sebenarnya Pwe-giok tidak mengerti apa sebabnya Ki Leng-hong berdusta, dan sekarang ia tahu duduknya perkara.

Meski lahirnya dia tetap tenang saja, tapi telapak tangan sudah merembeskan keringat dingin.

Bukan mustahil Ki Go-ceng adalah sekelompotan dengan "Ji Hong-ho"

Itu, Pwe-giok sengaja dipancing ke sini untuk diselidiki apakah dia dan Pwe-giok yang tersiar sudah mati itu sama atau tidak.

Maklumlah, tentang perubahan wajah Pwe-giok hanya diketahui oleh Ki Leng-hong saja, tapi nona itu ternyata tidak menyingkap rahasianya, meski tidak tahu mengapa orang menutupi rahasianya, namun Pwe-giok sangat berterima kasih padanya.

Ki Go-ceng masih terus melototi Pwe-giok, tanyanya pula.

"Sesungguhnya kau anak Ji Hongho atau bukan?"

Pwe-giok tertawa, jawabnya.

"Aku ini anak siapa, ada persoalan apa dengan kau?"

"Sekalipun kau mengaku sebagai anak Ji Hong-ho kan juga tidak menjadi soal?"

Ujar Ki Goceng.

"Kenapa kau sendiri tidak mau mengaku sebagai anaknya?"

Jawab Pwe-giok. Ki Go-ceng menarik muka, mendadak ia tertawa pula.

"Bagus, anak muda, anggaplah mulutmu memang keras, jika kau tidak suka bicara terus terang, biarlah sekalian kubikin kau tak dapat bicara untuk selamanya"

Gua batu ini jauh lebih terang daripada ruangan gua sebelah luar sana, juga jauh lebih hangat, sebab api pada sebuah tungku besar telah dinyalakan, di atas tungku ada sebuah wajan besar.

Lilin di dalam wajan sudah mulai cair.

Dengan sebuah gayung besar, pelahan Ki Go-ceng mengaduk cairan lilin itu, ketika api tungku sudah mulai menghijau, menguaplah hawa panas dari wajan besar.

Di bawah gemerdep cahaya api dan uap lilin, wajah Ki Ko-ceng kelihatan seperti sebuah topeng setan.

Sinar matanya juga gemerdep memancarkan cahaya kebuasan dan kegilaan, terdengar dia berucap "

Bukanlah pekerjaan mudah membuat patung lilin dengan manusia berdarah daging, pertama harus memperhatikan waktu masak lilin, selain lilin harus cair seluruhnya dan tidak boleh terlalu mendidih, pada saat lilin baru mulai bergelembung segera cairan lili dituang pada tubuh manusia."

Dia tertawa, lalu menyambung.

"Jadi seperti koki memasak Ang-sio-hi, setelah gorengan irisan ikan diangkat dari wajan, pada saat yang tepat disiram dengan saus asam manis. Cuma disini gerakan tangan harus cepat, siraman lilin harus rata, apabila lapisan lilin pertama sudah beku seluruhnya barulah mulai siram lapiran kedua, sedikit salah siram, semua usaha akan gagal total."

Dia bicara dengan adem ayem, seperti halnya seorang ahli masak yang sedang memberi ceramah di depan sekawanan penggemar makanan enak.

Cuma sayang, yang mendengarkan ceramahnya sekarang bukanlah penggemar makanan melainkan "ikan"

Yang sedang menanti giliran untuk dijadikan Ang-sio-hi.

Hati Lui-ji saat ini diliputi rasa gusar dan juga takut, sungguh kalau bila ia ingin menggigit mampus orang gila ini.

Sebaliknya Thi-hoa-nio seperti tidak dapat mengekang diri lagi saking takutnya, ia berteriak dengan histeris.

"Lekas kau bunuh kami saja, lekas, kenapa tidak lekas turun tangan ?"

Ki Go-ceng tertawa, katanya.

"Aku ingin membuat patung lilin yang indah, untuk ini masih harus diperhatikan sesuatu, yaitu tidak boleh membunuh mati model yang akan ku gunakan,. Dengan demikian , hasil patung yang kubuat barulah akan kelihatan hidup dan bergairah. Apabila modelnya dibunuh mati mati dulu baru kemudian disiram lilin, maka patung yang dihasilkan juga akan kelihatan mati dan kaku."

"Kau ... kau ..."

Thi-hoa-nio tidak sanggup bersuara lagi. Bibirnya gemetar, mulut seperti tersumbat. Mendadak Ki Go-ceng tertawa padanya dan berkata.

"Tapi Yang-hujin juga tidak perlu khawatir, aku pasti takkan membikin susah padamu, sebab kuyakin Yang Cu-kang pasti tidak suka tidur bersama patung lilin."

Air muka Hay Tong-jing berubah, tanyanya.

"Apakah benar Yang Cu-kang ada persengkongkolan dengan kau ?"

Ki Go-ceng tertawa, jawabnya.

"Betul, dia terlebih cerdik daripadamu, juga lenih pintar memilih kawan. Jika dia memilih si koki sebagai kawannya, sebaliknya kau pilih kawan pada ikannya."

Sampai sekian lama Hay Tong-jing termangu-mangu, katanya dengan suara gemetar.

"Yang Cu-kang, wahai Yang Cu-kang, tidak jelek suhu terhadapmu, kenapa kau melakukan perbuatan khianat begini, memangnya sudah kaulupakan semua ajaran dan peraturan perguruan ?"

Sembari bicara, matanya mendelik dengan menahan rasa murka. Dengan lemas Lui-ji juga berkata.

"Pantas dia tidak takut di bunuh Lengkui, kiranya dia tahu setelah kita pergi, maka dapatlah dia bicara dengan Leng-kui bahwa antara mereka sesungguhnya adalah kawan. Hah, bangsat ini telah berbuat khianat, tapi justru bicara seperti seorang baik hati."

Belum habis ucapannya, menangislah Thi-hoa-nio tergerung-gerung. Lui-ji menjengek.

"Yang-hujin, apakah yang kau tangisi ? Bisa kaudapatkan suami sebaik itu, masakah kamu tidak senang ?"

"Aku ... Aku ..."

"Eh, siapa di antara kalian yang mau tolong singkirkan nyonya Yang ini dari sebelahku, sungguh aku tidak tahan lagi bau busuk pada tubuhnya,"

Ejek Lui-ji pula. Dengan tertawa Ki Go-ceng berucap.

"wah. hampir saja kulupa jika tidak kau singgung sejak tadi-tadi seharusnya ku undang nyonya Yang berduduk di tempat yang terhormat."

Tapi Thi-hoa-nio lantas berteriak-berteriak pula dengan histeris.

"Jangan kalian menyentuh diriku, aku bukan istri Yang Cu-kang, aku lebih suka mati bersama mereka."

Dengan tak acuh Ki Go-ceng berkata.

"Siapapun kalau sudah berada disini, mati atau hidupnya tidak bebas lagi baginya."

Hay Tong-jing memandang Pwe-giok, ucapnya dengan rawan.

"Ji-heng, aku telah salah menilai Yang Cu-kang, maaf, aku ... aku menyesal."

"Ini bukan salahnya dan bukan salahmu, untuk bisa (jangan) Hay-heng merasa sedih."

Ujar Pwe-giok. Hay Tong-jing menghela napas, ucapnya.

"Betapapun dia adalah saudaraku, aku ..."

Mendadak Ki Go-ceng berseru.

"Cepat lekas buka pintu tungku dan kerek wajan agak tinggi sedikit, saat itulah cairan lilin sudah dapat digunakan!"

Lalu ia mulau menceduk cairan lilin dengan gayungnya, mengepul uap lili panas itu. Dengan tertawa Ki Go-ceng berkata.

"Pertama kali disiram lilin memang akan terasa sakit, maka hendaknya Ji-kongcu dapat bertahan sedikit, nanti kalau sudah tersiram tiga empat gayung, perlahan tidak lagi merasa sakit."

Lebih dulu ia menyiram lilin pada gayungnya pada sepotong papan, melihat cairan lilin yang membeku di atas papan, Ki Go-ceng bergumam.

"Ya, memang saat yang paling tepat untuk disiram ... Nah, lekas kau buka baju, Ji-kongcu!"

Mendadak Lui-ji berteriak.

"Kenapa tidak kau mulai dari diriku!..."

"Sabar, sabar! Sebentar lagi akan datang giliranmu, kenapa terburu-buru ?"

Ujar Ki Go-ceng dengan tertawa.

"Kumohon dengan sangat, mulailah atas diriku, matipun aku berterima kasih padamu."

Teriak Lui-ji dengan parau.

"Apakah kau tidak tega menyaksikan Ji Pwe-giok tersiksa dan ingin tutup mata lebih dulu ?"

Tanya Ki Go-ceng. Lui-ji hanya menggigit bibir, ia mengangguk sambil menangis.

"Tapi apakah kau suka telanjang di hadapan mereka ?"

Tanya Ki Go-ceng dengan tertawa. Lui-ji jadi melengak, segera ia menangis lagi tergerung-gerung. Dengan suara parau Thi-hoa-nio berteriak.

"Silakan kau turun tangan dulu padaku, aku tidak ... tidak takut ..."

Ki Go-ceng mengawasi dia sekejap, lalu berucap.

"Potongan tubuhmu tidak jelek, kukira merekapun jika kuturun tangan padamu dulu, sebelum mati dapat menyaksikan perempuan cantik telanjang bulat seperti dirimu ini, tentu kematian merekapun cukup berharga,"

Dia menghela napas, lalu menyambung.

"Cuma sayang, kau ini bini Yang Cu-kang, sayang, sungguh sayang..."

"Kau tua bangka, kau binatang, hewan, sungguh kau bukan manusia ..."

Mendadak Hay Tong-jing mencaci maki.

"Apakah sengaja kau bikin marah diriku agar turun tangan dulu padamu ?"

Kata Ki Goceng tertawa. Hay Tong-jing berteriak gusar.

"Memangnya kau berani turun tangan padaku?"

"Haha, bagus, bagus!"

Ki Go-ceng terbahak.

"Kalian memang sangat setia kawan, sungguh ksatria sejati, semuanya berebut mati lebih dulu. Jika demikian, biarlah kupenuhi kehendak kalian sekaligus."

Ia menyeringai, lalu menyambung.

"Akan kubelejti kalian bertiga hingga telanjang bulat, akan kuikat kalian menjadi satu dalam keadaan saling rangkul, akan kubikin kalian menjadi sebuah patung yang istimewa, agar sekali pandang saja siapapun tahu kalian adalah sahabat karib yang tak dapat dipisahkan."

Hay Tong-jing dan Cu Lui-ji berteriak-teriak, meski sudah banyak siksa derita yang dialaminya tapi baru sekarang Lui-ji benar-benar kenal apa artinya takut.

Meski Pwe-giok hanya diam saja sejak tadi, tapi di dalam hati jauh lebih murka dan berduka.

Ia tidak tahu mengapa Thian memberi nasib seburuk ini kepadanya.

Tahu begini, lebih baik dulu mati saja di tangan Siang Cap-long.

Walaupun Siang Cap-long juga sangat kejam, tapi jauh lebih baik daripada Ki Go-ceng, betapapun dia tidak sampai melakukan hal-hal yang gila dan kotor begini.

Pada saat gawat itulah, sekonyong-konyong seorang terbang masuk dari luar dengan kaki dan tangan menari-nari di udara, serupa boneka yang dikerek dan terapung di udara, melayang tibanya orang ini sungguh cepat luar biasa.

"Siapa?!"

Bentak Ki Go-ceng.

Baru lenyap suaranya, dengan tepat orang itu jatuh di dalam wajan yang penuh cairan lilin panas itu, maka terdengarlah suara jeritan ngeri yang menyayat hati.

Cairan lilin di dalam wajan muncrat kemana-mana, ada setitik cairan yang menciprat ke tubuh Lui-ji, meski cuma setitik, namun rasa sakitnya sudah tak terkatakan.

Pada saat lain, dari luar melayang masuk lagi orang, juga menari-nari di udara dan "plung", dengan tepat kembali nyemplung di dalam wajan disertai jeritan yang sama ngerinya.

Seketika wajan itu terguling, cairan lilin tumpah memenuhi lantai.

Serentak Ki Go-ceng mengapung ke atas, dengan gusar ia membentak.

"Siapa itu?"

Di tengah suara bentakannya, orang ketiga melayang tiba pula, sekali ini menerjang ke arah Ki Go-ceng.

Cepat tubuhnya menggeliat di udara sehingga terhindar.

Tapi segera orang ke empat dan kelima melayang pula dan menumbuk Ki Go-ceng.

Betapapun tinggi ginkangnya juga sukar untuk mengelak lagi.

"Blang", dalam keadaan mengapung di udara Ki Go-ceng menghantam, kontan kedua orang yang menerjang ke arahnya itu digenjot hingga tergetar balik, tapi ia sendiripun tergetar jatuh ke bawah dan hampir saja menumbuk dinding. Kejut dan girang Lui-ji, baru sekarang dapat dilihatnya dengan jelas bahwa kelima orang yang melayang dari luar itu semuanya adalah "patung lilin palsu"

Anak buah Ki Go-ceng. Tadi dia telah dikerjai "patung lilin"

Ini, meski disergap, tapi jelas ilmu silat orang-orang ini juga tidak lemah, bahkan sangat cepat dan cekatan cara turun tangannya.

Tapi sekarang hanya dalam sekejap saja mereka telah dilempar masuk seperti lempar bola, jelas sedikitpun tidak mampu melawan.

Maka betapa tinggi kungfu pendatang ini tentu dapat dibayangkan.

Air muka Ki Go-ceng tampak pucat hijau, ia melototi Pwe-giok dan berkata.

"Tak tersangka masih ada juga bala bantuanmu, tampaknya tidaklah sedikit kawanmu."

Tapi seorang lantas menanggapi.

"Aku tidak kenal anak muda itu, sebaliknya aku dan kau adalah sahabat lama."

Suara ini sangat halus dan lembut, empuk dan enak didengar.

Lui-ji dan Thi-hoa-nio sama-sama anak perempuan cantik pembawaan, yang satu adalah puteri Siau-hun-kiongcu yang terkenal pembetot sukma setiap lelaki, yang lain adalah "Khing-hoa-samniocu"

Yang genit dan pemikat lawan jenisnya, keduanya tahu suara yang enak didengar adalah senjata yang paling ampuh kaum wanita untuk menghadapi kaum lelaki.

Suara mereka sendiri sangat merdu dan enak didengar, tapi kalau dibandingkan suara perempuan pendatang ini, mau tak mau mereka harus tutup mulut dan tidak berani bersaing.

Selain enak didengar suaranya, bahkan apa yang dikatakannya seperti air dingin yang menyiram kepala Cu Lui-ji, sebab pendatang ini ternyata mengaku sebagai sahabat lama Ki Go-ceng.

Hanya Hay Tong-jing saja yang segera memperlihatkan rasa kegirangan, desisnya perlahan.

"Inilah guruku, tertolonglah kita."

Lui-ji melengong, tanyanya kemudian.

"Gurumu seorang perempuan?"

Hay Tong-jing tidak menjawabnya dan memang juga tidak perlu menjawab, sebab waktu itu seorang perempuan berbaju hitam sudah muncul.

Mukanya juga memakai cadar sutera hitam, meski Lui-ji tidak dapat melihat jelas wajahnya, tapi entah mengapa, ia merasa perempuan ini pasti cantik tiada bandingannya.

Lui-ji tidak pernah melihat wanita bergaya secantik dan seluwes ini.

Jalan perempuan berbaju hitam itu seperti sangat lambat, tapi tahu-tahu sudah berada di dalam, siapapun tidak tahu persis cara bagaimana dia menggeser kakinya dan cara bagaimana masuk ke situ.

Dia memakai jubah panjang warna hitam, panjangnya sampai menyentuh tanah, hanya ujung sepatu saja yang masih kelihatan, pada tangannya juga mengenakan sarung tangan warna hitam.

Meski melihat orang, tapi rasanya sama seperti tidak tahu, yang dilihat Lui-ji hanya pakaiannya saja, namun dalam hati sudah timbul perasaan enak, perasaan aman.

Ki Go-ceng juga seperti kesima memandang perempuan berbaju hitam itu, sampai sekian lama barulah ia menghela nafas dan berkata.

"Kiranya kau!"

"Tak kau duga bukan?"

Ujar perempuan berbaju hitam. Kembali Ki Go-ceng menghela nafas, lalu berucap pula sambil tersenyum getir.

"Kukira sudah lama kau mati."

Perempuan berbaju hitam itu seperti tersenyum, lalu mendekati Ki Go-ceng dengan perlahan.

Di dalam gua ini suasana dingin dan seram, di atas tanah juga penuh cairan lilin dan mayat.

Namun gaya berjalan perempuan itu seperti sedang berada di tengah istana.

Yang dihadapinya juga seorang gila dan kejam, tapi gaya perempuan itu seperti seorang permaisuri yang hendak menghadap Sri Baginda.

Siapapun tidak mengira perempuan lemah gemulai ini adalah tokoh persilatan yang lihay, lebih-lebih tidak ada yang percaya bahwa dalam sekejap tadi dia sudah membunuh lima orang.

Dahi Ki Go-ceng tampak berkeringat, ia menyengir dan berucap.

"Belasan tahun tidak bertemu, masakah baru bertemu lantas hendak berkelahi denganku?"

"Aku tidak bermaksud demikian,"

Jawab si perempuan baju hitam. Ki Go-ceng seperti merasa lega, ucapnya.

"Jika begitu, hendaklah kau berdiri agak jauh. Bila kau mendekat, hatiku lantas berdetak."

"Kau memang tidak punya hati, mana bisa hatimu berdetak ?"

Ujar perempuan itu. Dia berjalan dengan lambat, tapi tidak berhenti. Bibir Ki Go-ceng seperti mengering, ucapnya dengan suara serak.

"Sesungguhnya apa kehendakmu?"

Perempuan itu tidak menjawabnya, tapi bertanya malah.

"Tahun ini usiamu sudah ada 72 bukan?"

"Ingat juga kau..."

Perempuan itu berucap pula.

"Siapapun kalau sudah hidup 72 tahun, tentunya sudah cukup bukan?"

"Apa maksudmu ini?"

Tanya Ki Go-ceng sambil mengusap keringatnya.

"Apa maksudku masakah belum jelas bagimu?"

"Selama berpuluh tahun ini, siapa pula yang pernah tahu jelas maksudmu?"

Perempuan itu menghela nafas perlahan, lalu berkata.

"Ai, kuharap janganlah kau paksa ku turun tangan padamu."

Air muka Ki Go-ceng berubah hebat, mendadak ia menengadah dan terbahak-bahak.

"Hahaha... memangnya baru bertemu kau menghendaki aku segera bunuh diri?"

Meski tertawa, tapi suara tertawanya jauh lebih tidak enak didengar daripada suara menangis.

Pada saat itu juga, mendadak tubuh Ki Go-ceng mengapung ke atas, perawakannya yang kurus itu seperti bukan tubuh manusia melainkan seekor elang yang buas dan lapar.

Namun si perempuan baju hitam tetap berdiri tenang di tempatnya, jika Ki Go-ceng ibaratnya seekor elang, maka dia sama seperti seekor domba.

Tapi ketika Ki Go-ceng menubruk tiba, lengan bajunya lantas mengebut perlahan.

Siapapun tidak menyangka kebutan lengan bajunya yang perlahan ini dapat menahan serangan Ki Go-ceng.

Maka terdengarlah suara jeritan, bukan perempuan itu yang menjerit melainkan Ki Go-ceng, tubuhnya mendadak mencelat beberapa tombak jauhnya dan menumbuk dinding.

"blang", lalu tubuhnya memberosot ke kaki dinding dan jatuh terduduk, matanya melotot ke arah perempuan baju hitam, ucapnya dengan serak.

"Inilah Cing... Cinggi..."

Belum habis ucapannya, darah segar lantas menyembur dari mulutnya. Dengan tak acuh, perempuan baju hitam berkata.

"Betul, inilah Sian-thian-cing-gi, tajam juga pandanganmu!"

Mendadak Ki Go-ceng bergelak seperti orang gila, teriaknya.

"Bagus, haha, bagus! Sianthian-cing-gi, tiada tandingannya di dunia, matipun aku tidak penasaran."

Sambil tertawa kaki dan tangannya juga bergerak-gerak, keadaannya benar-benar mirip orang gila.

Percikan darah tampak berhamburan mengikuti suara tertawanya, waktu habis ucapannya darahpun kering, suara tertawa juga berhenti, tinggal kerongkongannya mengeluarkan suara "krok-krok"

Seperti kodok ngorok. Meski benci terhadap orang ini, tanpa terasa Lui-ji memejamkan mata juga dan tidak tega memandangnya. Pwe-giok sendiri pernah mendengar nama "Sian-thian-cing-gi"

Atau tenaga sakti asli, selama ini ia menyangka ilmu itu hanya dongeng Kangouw seperti halnya orang bilang "pedang dapat dikendalikan dengan hawa"

Serta "mengirimkan gelombang suara"

Segala.

Ilmu sakti ini mungkin terjadi di jaman dahulu, tapi sekarang tentunya sudah lenyap dan tiada orang yang mampu melatihnya lagi.

Sama sekali tak terpikir olehnya bahwa sekarang dirinya justeru dapat menyaksikan ilmu sakti tersebut.

Dilihatnya Ki Go-ceng telah terkulai di tengah genangan darah, semula masih terus ngorok seperti suara kodok, selang sejenak mendadak tubuhnya melonjak ke atas, lalu jatuh dan tidak bergerak lagi.

Baru sekarang si perempuan baju hitam berpaling dan memandang Pwe-giok.

Sinar matanya masih tetap tenang dan lembut, tapi seakan-akan dapat menembus cadar sutera dan menembus darah daging, terus menembus ke lubuk hati Pwe-giok.

Tanpa terasa anak muda itu menunduk.

"Kau inikah Ji Pwe-giok, Ji-kongcu ?"

Tanya si perempuan baju hitam.

Bahwa dia ternyata kenal nama Pwe-giok, bahkan bersikap seramah ini padanya, kalau orang lain tentu akan merasa senang seperti mendapat rejeki di luar dugaan.

Tapi Pwe-giok justeru merasa rada takut.

Ia tidak mengerti dirinya ternyata sedemikian terkenal.

Ia tahu terkenal bukan sesuatu yang menyenangkan.

"Terkenal"

Dapat diibaratkan sepotong baju yang mewah, meskipun dapat membuat orang kelihatan cemerlang, tapi harganya terkadang juga sangat menakutkan.

Melihat anak muda itu termenung, Hay Tong-jing lantas menyela.

"Ji-heng, guruku sedang bicara denganmu."

"O, ya, cayhe memang betul Ji Pwe-giok,"

Cepat Pwe-giok menenangkan diri.

"Baik, coba kau ikut padaku,"

Kata perempuan itu sambil mengebaskan lengan bajunya perlahan.

Ji Pwe-giok, Hay Tong-jing dan Cu Lui-ji bertiga segera seperti diembus angin sejuk, seketika hiat-to mereka yang tertutuk tadi telah terbebas semua.

Cepat Hay Tong-jing menyembah.

"Tecu..."

"Urusanmu dengan Yang Cu-kang sudah kuketahui dan tidak perlu bicara lagi,"

Kata si perempuan baju hitam, sedikit bergeser, tahu-tahu sudah sampai di luar pintu. Mendadak Lui-ji menarik tangan Pwe-giok erat, tanyanya dengan suara tertahan.

"Hendak kau ikut pergi bersama dia?"

Pwe-giok merasa tangan anak dara itu rada gemetar, tanpa terasa timbul perasaan kasihannya, jawabnya dengan lembut.

"Sudah tentu kaupun ikut bersamaku."

Terbeliak mata Lui-ji, makin kencang ia pegang tangan anak muda itu, katanya.

"Kemanapun pasti akan kau bawa serta diriku?"

Pwe-giok terharu, jawabnya.

"Ya, kemanapun aku akan tetap berada bersamamu."

Tapi mendadak si perempuan baju hitam menyeletuk.

"Tapi sekali ini dia tidak dapat membawa kau."

Tubuh Lui-ji tergetar dan melepaskan tangan Pwe-giok, tanyanya dengan parau.

"Sebab apa?"

"Sebab aku yang omong,"

Sahut perempuan itu. Lui-ji melonjak dan berteriak.

"Berdasarkan apa hendak kau pisahkan kami? Meski kau telah menyelamatkan kami, tapi kalau bukan muridmu yang membikin susah kami, tidak nanti kami datang ke sini..."

Suaranya seperti tersumbat, air matanya bercucuran pula, lalu ia menghentakkan kaki dan berteriak lagi.

"Jadi adalah pantas jika kau selamatkan kami, berdasar apa lantas bersikap garang dan main kuasa?"

Air muka Hay Tong-jing berubah, ia menyembah di tanah dan memohon.

"Dia masih anak kecil, mohon Suhu jangan marah padanya."

Lui-ji mendongak, ia tahan air matanya dan berseru.

"Tidak perlu kau mohonkan ampun bagiku. Aku tidak takut, biarpun dia membunuhku juga aku tidak takut. Matipun aku ingin berada bersama Ji Pwe-giok."

Ia pegang lagi tangan Pwe-giok dan berkata.

"Kau sendiri yang bilang, kemanapun akan kau bawa serta diriku, masa... masa akan kau tarik kembali janjimu?"

Pwe-giok terdiam, dengan lembut ia mengusapkan air mata di pipi anak dara itu, mendadak ia berpaling menghadapi si perempuan berbaju hitam dan berkata.

"Sudah ku janji padanya, juga sudah berjanji pada Saceknya, betapapun tidak boleh kutinggalkan dia."

"Masa hubungan mesra ini saja tidak dapat kau tinggalkan, lalu pekerjaan besar apa yang dapat kau hasilkan?"

Jengek si perempuan baju hitam. Dengan sekata demi sekata Pwe-giok menjawab.

"Jika aku tidak dapat menepati janji, lalu dapatkah aku dikatakan manusia?"

Perempuan baju hitam memandangnya lekat-lekat, perlahan sinar matanya menampilkan secercah senyuman, ucapnya.

"Bagus, bagus, kau memang anak yang baik..."

Ia melayang ke depan Lui-ji dan perlahan mengangkat tangannya.

Nafas Pwe-giok dan Hay Tong-jing serasa berhenti, sebab mereka tahu, asalkan tangan itu jatuh ke bawah, seketika kepala Lui-ji bisa hancur luluh.

Terdengar perempuan itu bertanya kepada Lui-ji.

"Jadi kau merasa berat untuk berpisah dengan dia?"

Dengan menggertak gigi Lui-ji memandangnya dan menjawab.

"Siapapun jika ingin memisahkan aku dan dia, lebih dulu dia harus melangkahi mayatku."

Memandangi tangan si perempuan berbaju hitam, jantung Pwe-giok serasa mau berhenti berdetak.

Tapi tangan perempuan itu perlahan diturunkan lagi, dengan perlahan dia membelai rambut Lui-ji, katanya dengan suara halus.

"Kaupun anak yang baik, tapi kalau benar-benar kau suka padanya, selayaknya tidak boleh menjadi bebannya, harus membiarkan dia pergi sendiri untuk melakukan tugas berat."

Lui-ji melengak, mendadak ia mendekap mukanya dan menangis.

"Bukan maksudku hendak menyuruh dia meninggalkan kau,"

Kata pula si perempuan baju hitam.

"aku hanya menghendaki kalian berpisah untuk sementara, toh kalian masih sangat muda, kesempatan bertemu di kemudian hari kan masih panjang."

Lui-ji mendelik, ucapnya dengan suara parau.

"Baik, tidak perlu kau katakan lagi. Aku akan pergi, pergi seorang diri..."

Dia mendekap mukanya dan berlari pergi. Tapi Pwe-giok sempat menariknya dan bertanya.

"Hen... hendak kemana kau?"

Sambil menggigit bibir Lui-ji menjawab.

"Kaupun tidak perlu urus diriku, dengan sendirinya ada tempat yang ku tuju."

Meski dia menahan perasaan sedapatnya, tidak urung air mata masih terus berderai.

Meski dunia ini tidak cuma seluas daun kelor, tapi kemanakah dia harus pergi?

Tiba-tiba perempuan berbaju hitam menghela nafas perlahan, ucapnya.

"Tong-jing, boleh kau bawa dia pulang ke gunung, tentu akan kusuruh Ji-kongcu kesana untuk mencarinya, tahu tidak?"

Dengan girang dan kejut Hay Tong-jing mengiakan, tanyanya.

"Apakah Suhu hendak mengambilnya sebagai murid perempuan?"

Tersenyum juga perempuan baju hitam, jawabnya dengan perlahan.

"Dia memang anak perempuan yang baik." ***** Cuaca cerah dan hawa sejuk, sang surya memancarkan sinarnya dengan gemilang, meski sudah di buntut musim rontok, namun hawa udara seperti musim semi. Untuk pertama kalinya Pwe-giok merasakan betapa menyenangkan sinar matahari setelah sekian lama dirundung malang. Sekarang segalanya sudah mulai ada titik balik, Lui-ji juga mempunyai harapan hari depan yang baik. Berdiri di bawah sinar sang surya yang hangat ini, saking tak tahan hampir saja dia bersenandung sekerasnya. Satu-satunya urusan yang disesalkannya adalah ia tidak menemukan Kwe Pian-sian dan Ciong Cing, juga tidak menemukan Ki Leng-hong, bisa jadi Ki Leng-hong telah membawa pergi Kwe Pian-sian dan Ciong Cing secara diam-diam. Tapi kalau dibandingkan dengan hal-hal yang menyenangkan itu, apa artinya sedikit penyesalan. Didengarnya si perempuan berbaju hitam lagi berkata.

"Meski Yang Cu-kang adalah murid khianat, tapi ada sementara urusan dia tidak berdusta, tatkala mana Hay Tong-jing berada di sampingnya, tentunya dia tidak berani berdusta."

"Apakah Ki Go-ceng adalah Tangkwik-sianseng?"

Tanya Pwe-giok.

"Bukan,"

Jawab perempuan baju hitam.

"Ki Go-ceng tidak lebih juga cuma salah seorang boneka Tangkwik-sianseng, baik ilmu silat maupun tipu akal dan keganasannya bukan apaapa kalau dibandingkan dengan Tangkwik-sianseng."

"Dan Cianpwe sendiri..."

"Terus terang,"

Tukas perempuan baju hitam sambil menghela nafas.

"aku sendiripun bukan tandingan iblis jahat itu."

"Tapi Sian-thian-cing-gi Cianpwe kan tiada tandingannya di dunia?"

Ujar Pwe-giok.

"Meski Sian-thian-cing-gi maha sakti, tapi sang pencipta alam ini sangat adil, setiap makhluk setiap barang, selalu diciptakan secara saling anti menganti. Meski kelabang adalah serangga berbisa, tapi ayam jago adalah musuhnya. Biarpun Sian-thian-cing-gi sangat hebat, tetap belum terhitung tiada tandingannya di dunia."

Setelah menghela nafas, lalu ia melanjutkan.

"Demi menghadapi diriku, selama belasan tahun ini Tangkwik-siansing telah berhasil meyakinkan semacam kungfu yang khusus ditujukan untuk melawan Sian-thian-cing-gi. Kalau tidak, mana dia berani muncul lagi di dunia Kangouw?"

"Wah, kungfu apakah itu?"

Tanya Pwe-giok.

"Bu-siang-sin-kang (ilmu sakti tak berwujud)!"

"Bu-siang-sin-kang?"

Pwe-giok menegas.

"Wah, setelah berhasil meyakinkan Bu-siang-sinkang, lantas orang ini boleh malang melintang di dunia Kangouw tanpa takut kepada siapa pun?"

"Di dunia ini sekarang memang tiada seorang pun dapat menandingi dia, orang yang dapat menumpasnya di dunia ini mungkin hanya ada seorang saja,"

Tutur si perempuan baju hitam.

"Oo, siapa?"

Tanya Pwe-giok.

"Kau!"

Jawab perempuan itu tegas.

"Ak... aku?!"

Pwe-giok jadi melenggong.

"Tapi... aku..."

"Bicara tentang ilmu silat, dengan sendirinya kau bukan tandingannya, tapi kau seorang yang dapat berpikir panjang, berhati tabah, tenang, banyak segi baikmu yang tidak terdapat pada orang lain."

"Akan tetapi..."

"Apakah kau tahu kisah Heng Ko membunuh raja Cin di jaman Ciankok dahulu?"

Sela si perempuan baju hitam.

"O, maksudmu aku... akupun harus membunuh Tangkwik-siansing secara gelap?"

"Membunuh secara licik sebenarnya bukan tindakan seorang ksatria sejati,"

Ujar si perempuan baju hitam.

"Tapi keadaan mendesak, urusan sudah terlanjur begini, terhadap iblis jahat seperti dia itu tidak perlu lagi bicara tentang tindakan terang atau gelap."

"Tapi orang kosen semacam Tangkwik-siansing, cara... cara bagaimana dapat kudekati dia?"

"Banyak sekali kesempatanmu untuk mendekati dia."

"Caranya?"

Tanya Pwe-giok.

"Sudah tentu jalan yang paling mudah adalah berusaha mendapat kepercayaan dan kaupun dapat mendekati dia dengan leluasa."

"Tapi berdasarkan apa Tecu akan mendapatkan kepercayaannya?"

"Tentu saja kau memiliki barang yang bisa mendapatkan kepercayaan Tangkwik-siansing, hanya saja kau sendiripun tidak mengetahuinya."

"Oo? Sudikah Cianpwe memberi penjelasan?"

"Coba katakan dulu, benda mestika simpanan Siau-hun-kiongcu sudah kau dapatkan bukan?"

Pwe-giok tidak berani berdusta, tanpa pikir dia membenarkan. Mencorong sinar mata si perempuan baju hitam, katanya.

"Dan di antara barang-barang tinggalan Siau-hun-kiongcu itu terdapat sepotong Tik-pai (plat bambu) bukan?"

Orang kosen ini ternyata mempunyai kekuatan yang luar biasa dan pengetahuan yang luas, rasanya sukar sekali bagi orang yang ingin berdusta padanya. Maka Pwe-giok mengiakan pula.

"Dan Tik-pai itu apakah masih berada padamu?"

Tanya perempuan baju hitam.

"Syukurlah sampai sekarang masih kusimpan,"

Jawab Pwe-giok.

"Sebenarnya barang itu cuma sepotong belahan bambu yang sangat umum, tapi dalam pandangan orang lain justeru merupakan benda yang tak ternilai harganya, dan apakah kau tahu dimana letak nilainya yang tinggi itu?"

"Justeru hal inilah yang tidak kuketahui,"

Jawab Pwe-giok.

"Sebab Tik-pai itu adalah benda kepercayaan Tangkwik-siansing."

"Benda tanda kepercayaan?"

"Ya, barang siapa memegang pelat bambu itu, seketika jadilah dia tuan penolong Tangkwiksiansing, apapun yang harus dilakukan Tangkwik-siansing atas permintaan orang yang memegang benda itu pasti takkan ditolaknya."

"O, sebab apa?"

Tanya Pwe-giok.

"Orang ini meski sangat kejam, tapi berwatak angkuh, tinggi hati, sama sekali dia tidak mau hutang budi, betapapun dia tidak suka ditolong orang. Tak tersangka, 30 tahun yang lalu ia justeru telah utang budi kepada seseorang, dan orang ini justeru tidak mengharapkan balas jasa apapun dari dia. Karena itu, terpaksa dia mengukir sepotong bambu dan diberikan kepada penolongnya itu sebagai tanda kepercayaannya. Pada potongan bambu itu terukir huruf yang mengatakan "melihat Tik-pai sama dengan ketemu orangnya", jadi Tik-pai itu mewakili Tangkwik-siansing..."

"Ya, ku paham maksudnya,"

Kata Pwe-giok.

"Dan siapakah orang yang memegang Tik-pai itu?"

"Siapapun orang ini tidaklah penting bagi kita, sebab dia sudah mati, yang utama sekarang adalah Tik-pai tersebut sekarang berada padamu,"

Kata si perempuan baju hitam.

"Jika Tangkwik-siansing sudah menyatakan Tik-pai itu sama dengan dia pribadi, maka sekarang kau juga sama sebagai tuan penolongnya. Apapun yang kau minta, pasti dilakukannya tanpa ditolak. Kan sudah kukatakan, watak orang ini sangat tinggi hati, apa yang sudah diucapkannya tidak nanti dijilat kembali."

"Jadi maksud Cianpwe agar kubawa Tik-pai untuk menemui Tangkwik-siansing dan menyuruh dia memenggal kepalanya sendiri?"

Tanya Pwe-giok setelah berpikir. Perempuan baju hitam tertawa, katanya.

"Biarpun dia tidak bakalan menjilat kembali apa yang diucapkannya, kala kau minta dia memenggal kepalanya sendiri, betapapun tidak nanti dilakukannya. Jika 30 tahun yang lalu permintaanmu mungkin akan terpenuhi, tapi sekarang, usia seorang kalau sudah tambah lanjut, semakin dekat akhir hayatnya, biasanya orang akan semakin merasakan betapa berharganya jiwa sendiri."

"Jika demikian, jadi maksud Cianpwe..."

"Boleh kau temui dia dengan membawa Tik-pai dan minta dia mengajarkan Bu-siang-sinkang padamu."

"Kemudian?"

"Untuk belajar Bu-siang-sin-kang, tentu saja tidak dapat diselesaikan dalam waktu tiga atau lima hari. Selama kau belajar kungfu padanya, tentu banyak kesempatanmu untuk berdekatan dengan dia."

"Ya, betul,"

Kata Pwe-giok.

"Tidak dapat membalas budi, inilah yang dianggapnya penyesalan selama hidup. Sekarang kau datang padanya dengan membawa Tik-pai serta memohon sesuatu padanya, hal ini boleh dikatakan telah melunasi cita-citanya selama ini. Dia pasti akan sangat girang dan takkan tanya asal usulmu, juga pasti tidak berprasangka buruk padamu, pepatah bilang "harimau pun ada kalanya berkedip". Nah, karena kau dapat mendekati dia setiap saat, tentu banyak kesempatan bagimu untuk turun tangan."

"Akan tetapi..."

Perempuan baju hitam tidak membiarkan anak muda itu bicara, dengan suara tegas ia menyela.

"Setelah kau tahu kejahatan dan rencana kejinya, apa pula yang kau ragukan lagi? Masakah kau tidak ingin menumpas kejahatan bagi dunia Kangouw umumnya, masakah kau tidak ingin membalas dengan bagi dirimu sendiri?"

"Jadi asal usul diriku sudah diketahui Cianpwe?"

Tergerak hati Pwe-giok. Perempuan itu tersenyum, katanya.

"Tahukah kau siapa yang mengubah bentuk wajahmu ini?"

"Sungguh menyesal, Tecu menerima budi pertolongan beliau, tapi siapa nama beliau yang mulia sejauh ini belum kuketahui,"

Jawab Pwe-giok dengan sedih.

"Pribadinya juga menanggung penderitaan yang sangat mendalam, sebab itulah sudah lama dia mengasingkan diri dan melupakan nama, tapi dapat kuberitahukan kepadamu, dia adalah sahabatku yang paling karib."

Mau tak mau Pwe-giok merasa kagum.

"Sudah lama sekali Tangkwik-siansing tidak berani bergerak,"

Demikian perempuan baju hitam menyambung lagi.

"sebabnya adalah karena dia jeri terhadap kami berdua, sebab meski Bu-siang-sin-kang telah berhasil dilatihnya dengan baik, tapi kalau menghadapi gabungan kami berdua, tetap kami sanggup mematikan dia... cuma... cuma sayang..."

Suaranya semakin lemah dan berubah menjadi helaan nafas.

"Cuma sayang apa?"

Tanya Pwe-giok.

"Masakah beliau sudah..."

Sampai cukup lama si perempuan baju hitam terdiam, habis itu kelihatan terangsang pula, dadanya naik-turun, ia menghela nafas panjang sekali lalu berucap dengan sedih.

"Mungkin... mungkin ia sudah terkena tangan keji Tangkwik-siansing..."

Tapi dengan cepat ia menyambung pula.

"Namun urusan ini belum dapat kubuktikan, jika Tangkwik tidak mengetahui jelas dia sudah meninggal, mana dia berani muncul lagi di dunia Kangouw? Justeru lantaran dia sudah mati, maka Tangkwik menjadi berani."

Pwe-giok mengertak gigi dan berkata.

"Apa pesan Cianpwe pasti akan kukerjakan, cuma, kalau gerak-gerik Tangkwik-siansing ini sedemikian misterius, kemana harus kucari dia?"

"Dengan sendirinya sukar bagimu untuk mencarinya, tapi dapat diusahakan agar dia yang mencari kau,"

Kata perempuan baju hitam.

"O, maksud Cianpwe agar Tecu menyiarkan berita bahwa Tik-pai itu berada pada tanganku?"

"Betul, jika mendengar berita Po-in-pai (pening balas budi) sudah jatuh di tanganmu, tentu dia akan mencari kau betapapun jauhnya."

"Melihat Tik-pai itu sama melihat orangnya, artinya hanya kenal pada Tik-pai itu dan tidak pula kenal orangnya, tapi sebelum kuserahkan Tik-pai itu padanya, kan setiap orang juga dapat merampas Tik-pai itu dari tanganku?"

"Tapi siapakah yang mampu merebut Tik-pai itu dari tanganmu?"

Ujar si perempuan baju hitam. Pwe-giok tersenyum getir, ucapnya.

"Bukannya Tecu tidak dapat menilai dirinya sendiri, tapi sesungguhnya orang kosen di dunia Kangouw ini masih sangat banyak."

"Betul juga ucapanmu,"

Kata perempuan itu.

"dengan ilmu silatmu sekarang, di dunia ini sedikitnya masih ada 13 tokoh yang mampu mengalahkanmu, bisa jadi lebih. Tapi orangorang ini kebanyakan sudah mengasingkan diri, jika mendengar berita hangat ini, mungkin sekali merekapun akan tertarik, andaikan tidak sampai main rebut secara terang-terangan, bukan mustahil akan mengincarnya secara diam-diam."

Tanpa memberi kesempatan bicara kepada Pwe-giok, dengan tertawa ia menambahkan pula.

"Tapi kau juga sudah memegang Giam-ong ceh (piutang raja akhiran), kenapa mesti takut lagi kepada orang-orang ini?"

"Giam-ong-ceh?"

Pwe-giok menegas dengan heran.

"Ya, jika kau pegang Po-sin-pai, masa tidak pegang Giam-ong-ceh?"

Ujar si perempuan baju hitam.

"Yang Cianpwe maksudkan apakah buku catatan itu?"

Tanya Pwe-giok.

"Betul,"

Jawab perempuan itu, lalu dengan perlahan ia berucap.

"Manusia bukan nabi, siapa yang tidak pernah berbuat salah? Orang hidup selama berapa puluh tahun, sedikit banyak pasti pernah berbuat salah dan merugikan orang lain, lebih-lebih orang yang sudah terkenal itu, orang hanya melihat sebelah yang gemilang, tapi lupa pada sisi yang lain. Siapapun tidak tahu dengan batu loncatan apa mereka berhasil merangkak ke atas?"

Pwe-giok menghela nafas panjang, iapun tahu jalan menuju sukses memang tidak mudah, untuk bisa mencapai titik final entah perlu melangkahi berapa banyak mayat orang.

"Misalnya,"

Demikian perempuan baju hitam menyambung lagi.

"sebabnya Ang Seng-ki dapat menjadi ketua Hong-bwe-pang, justeru lebih dulu dia membunuh Suhengnya, lalu meracun mati gurunya. Rahasia ini akhirnya toh terbongkar. Tapi sebelum tersingkap, setiap orang Kangouw sama mengakui Ang Seng-ki adalah seorang ksatria sejati, seorang pahlawan besar."

Pwe-giok menghela nafas dan diam saja. Perempuan itu melanjutkan.

"Setelah rahasianya terbongkar, maka orang hanya menganggap nasib Ang Seng-ki lagi malang, sebab entah berapa banyak peristiwa serupa yang terjadi di dunia Kangouw, hanya saja tidak diketahui orang luar."

"Jika ingin orang lain tidak tahu, hanya diri sendiri jangan berbuat,"

Ucap Pwe-giok menyitir pepatah.

"Seorang kalau berbuat dosa, lambat atau cepat pasti akan ketahuan."

"Betul, rahasia apapun juga akhirnya pasti akan terbongkar, dan diseluruh dunia ini, orang yang paling banyak mengetahui rahasia ini ialah Siau-hun-kiongcu."

"Oo ?!"

Pwe-giok bersuara heran.

"Kau tahu Siau-hun-kiongcu cantik molek dan tidak sedikit lelaki yang terpikat, dan saat yang paling sukar untuk menyimpan rahasia kaum lelaki adalah pada waktu berbaring di tempat tidur, di samping si molek."

Ucapan perempuan baju hitam ini hanya samar-samar, tapi apa maksudnya cukup gamblang bagi pendengarnya.

Artinya, bilamana seorang perempuan cantik tidur bersama kau di suatu tempat tidur, sebuah mulut mungil berbisik-bisik di tepi telingamu, sepasang mata jeli memandangi kau di samping bantal.

Dalam keadaan demikian, jika kau dapat tutup rahasia, maka tergolong kuat imanmu dan harus diberi tanda pujian.

Sebab kalau seorang dapat menjaga rahasia bagi orang lain, maka hakikatnya kau adalah seorang nabi.

Dan betapapun nabi di dunia ini tidaklah banyak.

"Dari sekian orang yang dikenalnya, Siau-hun-kiongcu telah memperoleh macam-macam rahasia yang tidak diketahui umum,"

Demikian perempuan baju hitam itu melanjutkan.

"Semua rahasia yang didengarnya itu lantas ditulisnya dalam buku catatan itu. Dia memang seorang pintar, dia cukup tahu betapa nilainya sesuatu urusan, ia dapat menunggu naiknya harga pasar. Ditunggunya bilamana harga urusan itu sudah mencapai titik tertinggi barulah dijualnya. Sebab itulah buku catatan itu selalu disimpannya dengan baik dan tidak pernah dibawanya dalam baju, sebab dia yakin pada suatu hari kelak buku catatan itu pasti banyak gunanya."

"Tapi sejauh itu toh tidak pernah digunakannya,"

Kata Pwe-giok dengan menyesal.

"Hal ini disebabkan mendadak ia berubah menjadi bodoh,"

Kata perempuan baju hitam.

"Bodoh?"

Pwe-giok menegas.

"Ya, bodoh,"

Perlahan perempuan baju hitam bertutur.

"Di dunia ini ada dua macam orang yang paling bodoh. Yang pertama adalah kakek yang mencintai anak gadis. Kakek semacam ini mungkin saja cerdas, juga kenyang asam garam kehidupan, tapi sering-sering kelabakan dan pusing kepala karena dipermainkan oleh seorang anak dara yang masih berbau pupuk jeringau. Orang semacam ini meski kasihan, tapi tidak ada orang yang bersimpatik padanya, sebab perbuatannya itu adalah akibat tingkah polah sendiri."

Pwe-giok hanya tersenyum getir saja, ia tahu orang yang tergila-gila kepada anak gadis memang bukan kejadian yang menggembirakan, tapi sering2 malah dramatis, bahkan terkadang juga komedi.

"Dan orang bodoh macam kedua adalah anak gadis yang edan kasmaran,"

Tutur si perempuan baju hitam lebih lanjut.

"Betapapun biasanya anak gadis sangat pintar dan cerdik, sekali dia gila cinta, seketika akan berubah menjadi bodoh dan buta. Sudah jelas orang yang dicintainya itu adalah seorang penjahat, seorang pengeretan, tapi dalam pandangannya lelaki itu adalah orang yang paling jujur di dunia ini, lelaki yang paling menarik. Biarpun lelaki itu bilang padanya bahwa salju itu hitam dan bak (tinta Cina) itu putih, maka iapun akan percaya penuh."

Pwe-giok jadi teringat kepada Ciong Cing yang tergila-gila kepada Kwe Pian-sian yang sudah berumur itu, tanpa terasa ia menghela nafas menyesal pula.

"Tapi Siau-hun-kiongcu kemudian justeru berubah menjadi orang yang jauh lebih bodoh daripada kedua macam orang tadi, dia bukan saja jatuh cinta secara membuta, bahkan orang yang dicintainya itu adalah binatang kecil yang umurnya lebih muda beberapa puluh tahun daripada dia."

Kembali Pwe-giok menghela nafas, katanya.

"Lantaran orang iniliah, Cu-kiongcu tidak sayang mengorbankan segalanya, dengan sendirinya pula dia tidak mau menggunakan rahasia pribadi untuk mengancam orang tua kekasihnya. Kemudian ketika diketahuinya bahwa mereka semua itu adalah manusia berhati binatang, namun segalanya sudah kasip, sudah terlambat."

"Betul, memang begitu,"

Kata perempuan itu.

"Tapi dengan kecerdasanmu, apabila buku catatan ini dapat kaupergunakan dengan baik, tentu banyak hal-hal yang mengejutkan dapat kau lakukan, lebih lebih tidak perlu takut orang lain akan mengusik dirimu."

"Akan tetapi..."

"Tidak perlu kau katakan, kutahu maksudmu,"

Potong perempuan itu sebelum lanjut ucapan Pwe-giok.

"Tapi air memang dapat melajukan kapal dan juga dapat menenggelamkan kapal. Pada dasarnya sesuatu benda itu tidak jahat, bergantung pada hati orang yang menggunakannya, hal ini perlu kau ketahui."

Pwe-giok mengiakan. Maka tertawalah perempuan itu, katanya.

"Bagus sekali, sudah habis ucapanku, pergilah kau! Pada hari suksesmu, hari itu pula kita akan bertemu. Tatkala mana, segala angan-anganmu akan dapat kubantu kau menunaikannya." ***** Ketika bayangan tubuh Pwe-giok menghilang di kejauhan, perempuan baju hitam itu masih tetap berdiri di situ. Sang surya belum terbenam, remang senja sudah mulai meliputi bumi. Dalam keremangan senja itu perempuan baju hitam itu mendadak berubah menjadi sangat misterius, sangat menyeramkan. Dia seperti mempunyai dua macam peran, pada siang hari dia adalah manusia. Tapi bila malam tiba, dia lantas berubah menjadi badan halus dalam kegelapan. Kini dalam kegelapan telah muncul pula sesosok badan halus yang lain. Badan halus ini adalah Ki Go-ceng. Bajunya masih berlepotan darah, tapi mukanya sudah tercuci bersih, kedua matanya yang mencorong itu menampilkan senyuman yang misterius, katanya dengan terkekeh.

"Wah, hari ini tidaklah sedikit pembicaraanmu."

"Untuk mengurangi sedikit kesulitan di kemudian hari, apa alangannya bicara lebih banyak?"

Ujar si perempuan berbaju hitam.

"Bunuh saja dia agar tidak mendatangkan kesulitan?"

Kata Ki Go-ceng. Perempuan baju hitam menggeleng.

"Kau tidak paham..."

"Aku memang tidak paham mengapa kau suruh aku pura-pura mati dan mengapa melepaskan dia?"

"Sebab hanya dengan jalan ini dapatlah memancing dia menceritakan berbagai urusan ini."

"Sudah diceritakannya?"

Tanya Ki Go-ceng.

"Ya, dia sudah mengaku memang dialah anaknya Ji Hong-ho, bahkan dugaanku juga tidak keliru, memang betul si anjing tua itu yang mengubah bentuk wajahnya, dua hal inilah yang selama ini tidak dapat kupastikan..."

"Setelah sekarang sudah diketahui dengan pasti, mengapa kaulepaskan dia?"

Kembali perempuan itu menggeleng.

"Kau tidak paham, tapi selekasnya kau akan tahu..."

"Kuharap semoga kau tidak berbuat salah."

"Bilakah aku pernah melakukan sesuatu kesalahan?"

Jengek perempuan baju hitam. Mendadak ia menyurut mundur dua langkah dan berkata.

"Tubuhmu itu berdarah, kenapa tidak ganti pakaian dulu?"

"Haha, kaupun mengira ini darah sungguhan, tampaknya makin lama makin hebat kepandaianku,"

Kata Ki Go-ceng dengan tertawa. Perempuan itu tertawa, ucapnya.

"Kepandaianmu memang tidak kecil."

"Eh, dimanakah muridmu itu?"

"Maksudmu Hay Tong-jing?"

Ki Go-ceng mengiakan.

"Dia sudah pulang dengan membawa Cu Lui-ji dan Thi-hoa-nio."

"Apakah dia tahu urusan kita ini?"

Dengan sekata demi sekata si perempuan baju hitam menjawab.

"Untuk suksesnya urusan besar, makin sedikit orang yang mengetahui seluk beluknya akan makin baik."

"Dan bagaimana dengan Yang Cu-kang?"

Tanya pula Ki Go-ceng.

"Demi suksesnya usaha kita, kanperlu mencari beberapa orang untuk dijadikan kambing hitam?"

Jawab perempuan berbaju hitam dengan perlahan.

***** Tanpa terasa musim rontok sudah lalu, makin dinginlah angin yang bertiup.

Selama beberapa hari terakhir ini boleh dikatakan selalu dilalui oleh Pwe-giok dalam keadaan tegang.

Setiap hari selalu terjadi hal-hal yang tidak terduga, satu persatu susul menyusul, yang satu lebih berbahaya daripada yang lain sehingga menimbulkan pikirannya bahwa hari ini mungkin adalah hari kehidupannya yang terakhir.

Dan baru sekarang dia benar-benar dapat menghela nafas lega.

Sekarang baru diketahuinya keadaan sendiri yang nelangsa, baju yang dipakainya sangat tipis dan kotor, harus ganti dan perlu mandi sebersihnya.

Jika tidak mati, maka dia harus hidup sebaik-baiknya.

Dia ingin mencari suatu tempat yang santai, lebih dulu mandi dan bersihkan muka, lalu ganti pakaian bersih.

Terbayang betapa nikmatnya berendam dalam air panas, sekujur badan seketika terasa gatal.

Cuma sayang, dalam saku Pwe-giok sekarang tertinggal beberapa mata uang saja.

Seorang kalau keselamatan jiwa selalu terancam, dalam keadaan demikian barulah dia melupakan uang.

Petang itu dia sampai di suatu kota kecil, dengan dua duit dia membeli sekotak geretan dan membeli mi pangsit dengan empat duit.

Waktu dia meninggalkan kota kecil itu, sakunya sudah kosong melompong.

Namun hati terasa sangat senang, terutama rahasia orang-orang ternama adalah hal yang paling menarik bagi siapapun.

Sifat suka menyelidiki rahasia orang lain memang merupakan sifat buruk manusia.

Begitulah di luar kota Pwe-giok mendapatkan sebuah tempat yang teraling dari tiupan angin, di situ ia membuat api unggun, setelah dipanggang dengan api, timbullah huruf-huruf yang tertulis pada buku catatan tinggalan Siau-hun-kiongcu.

Nama-nama yang tercatat di dalam buku harian itu memang seluruhnya terdiri dari tokohtokoh terkenal, kebanyakan sudah pernah didengar Pwe-giok, diantaranya termasuk kesepuluh tokoh top seperti Tonghong Tay-beng, Li Thian-ong, Oh-lolo cinjin, dan sebagainya, juga nama ketua ke-13 orang besar yang ikut dalam pertemuan Wi-ti semuanya tercatat di situ.

Yang paling menyolok dan mendebarkan bagi Pwe-giok adalah nama ketiga orang ini, Ki Goceng, Hong Sam, dan Ji Hong-ho.

Ia hampir tidak percaya kepada matanya sendiri.

Selama hidupnya ayahnya terkenal jujur dan lurus, tidak kemaruk harta, tidak cari nama.

Lalu ada perbuatan apa yang juga dianggap berdosa?

Meski dia tidak percaya, tapi juga tidak berani tidak percaya.

Ketika membaca nama Hong Sam, halaman itulah dilewatkan.

Hong Sam adalah saudaranya, sahabatnya, biarpun pernah berbuat sesuatu kesalahan juga dapat dimaklumi, maka iapun tidak ingin tahu.

Tapi dia tidak melampaui catatan mengenai Ki Go-ceng.

Dilihatnya di bawah nama Ki Goceng tercatat keterangan.

Berzinah antar kakak dan adik.

Jantung Pwe-giok seakan-akan berhenti berdenyut.

Sungguh sukar dipercaya di dunia ini ternyata ada manusia yang tidak tahu malu dan kotor begini.

Tapi mau tidak mau ia harus percaya, sebab lantas teringat olehnya putera Ki Go-ceng, yaitu Ki Cong-hoa, kalau bukan hasil perzinahan antara kakak dan adik, manabisa melahirkan orang yang gila itu?

Tapi anehnya Ki Leng-hong dan Ki Leng-yan tidak mendapatkan bibit jahat keturunan mereka.

Padahal umumnya putera-puteri orang kerdil juga jarang yang normal.

Apakah mereka memang bukan puteri sedarah Ki Cong-hoa?

Pwe-giok jadi teringat pada lorong di bawah tanah di Sat-jin-ceng atau perkampungan pembunuh orang itu.

Di lorong rahasia itu ditemukannya sepotong batu giok, lalu teringat pula kekasih Ki-hujin yang misterius itu.

Tidak perlu disangsikan lagi orang itu jelas adalah anggota keluarga Ji (mengenai Sat-jin-ceng dan keluarga Ki, hendaknya baca Renjana Pendekar).

Apakah semua itulah rahasia pribadi "Ji Hong-ho"

Gadungan itu?

Pwe-giok tidak berani memikirkannya lagi, tapi ia tahu bila urusan ini tidak dibikin terang, kelak setiap saat toh masih tetap akan teringat olehnya.

Tanpa terasa ia membalik halaman yang tercatat nama "Ji Hong-ho".

Tangannya terasa gemetaran dan jantung berdetak keras.

Dilihatnya di bawah nama "Ji Hong-ho"

Itu tertulis keterangan.

kakak beradik tidak akur, adik diusir sehingga menjadi bandit.

Wajahnya kelihatan alim, tapi perbuatannya rendah.

Di samping terdapat pula sebaris huruf kecil yang menjelaskan "Bandit di padang pasir utara It-koh-yan (satu gulung asap) ialah adik Ji Hong-ho, diusir sang kakak sejak kecil, akhirnya menjadi penjahat.

Sang kakak terkenal sebagai orang suci, adiknya tersohor sebagai bandit.

Sungguh lucu."

Seketika tangan Pwe-giok berkeringat dingin.

Teringat olehnya waktu kecil pernah didengarnya mempunyai seorang Jicek atau paman kedua, tatkala mana ibunya belum meninggal dunia, apabila dirinya bertanya mengenai paman itu, sang ibu lantas marah dan menjawab.

"Jicek sudah mati, sudah lama mati."

Bahkan disuruhnya selanjutnya jangan bertanya pula.

Dan baru sekarang diketahuinya sang paman tidak mati, jika demikian apakah kekasih gelap Ki-hujin itu memang betul pamannya?

Jangan-jangan Ki Leng-hong dan Ki Leng-yan adalah puteri pamannya, hasil hubungan gelap antara sang paman dengan Ki-hujin?

Selama ini Ki Leng-hong terus berusaha melindungi dirinya, apakah lantaran di antara mereka memang ada semacam hubungan darah dan kontak perasaan yang aneh?

Selagi Pwe-giok termenung-menung sendiri, tiba-tiba didengarnya bunyi gemertak roda kereta.

Seorang yang memakai mantel ijuk dan bertopi caping dengan mendorong sebuah gerobak roda satu tampak muncul dari arah timur.

Dalam kegelapan tidak kelihatan barang apa yang termuat di atas gerobak itu, tapi dari jauh sudah tercium bau obat-obatan, jadi muatan gerobak itu kebanyakan adalah bahan obatobatan.

Jalanan di daerah Sujwan memang tidak datar, tapi banyak liku jalan pegunungan yang sukar dilalui kereta dan kuda.

Hanya gerobak roda satu beginilah yang paling leluasa didorong kian kemari.

Di daerah pegunungan Sujwan juga banyak menghasilkan bahan obat-obatan, maka pedagang obat di berbagai daerah kebanyakan adalah orang Sujwan.

Orang dengan gerobak roda satu ini tidak ada sesuatu yang istimewa, jika orang lain tentu takkan menaruh perhatian.

Tapi Pwe-giok justeru merasa orang ini dan gerobaknya perlu dicurigai.

Dari suara roda kereta dapat diketahuinya barang muatan gerobak itu cukup berat, padahal umumnya bobot bahan obat-obatan sangat ringan.

Curah hujan di daerah Sujwan sangat sedikit, tapi orang ini justeru memakai mantel ijuk yang biasanya cuma dipakai kalau hari hujan, meski mendorong kereta seberat ini, namun langkahnya sangat cepat dan enteng, tidak kelihatan makan tenaga.

Saudagar obat-obatan biasanya juga suka berkelompok, tapi orang ini menempuh perjalanan seorang diri, bahkan kini sudah jauh malam dan dia masih meneruskan perjalanannya.

Semua ini cukup menimbulkan curiga.

Hanya saja saat ini Pwe-giok tidak sempat memikirkan orang lain.

Sedangkan tukang gerobak itupun sedang mendorong dengan kepala tertunduk dan tidak memperhatikan anak muda itu.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong dari kejauhan bergema pula derap kaki kuda lari yang riuh, hanya sekejap saja, suara itu sudah mendekat, nyata kuda ini berlari dengan sangat cepat.

Pwe-giok terkejut oleh suara derap kaki kuda yang cepat itu, dalam kegelapan malam yang sunyi, suara kaki kuda ini kedengarannya sangat menusuk telinga.

Namun si tukang gerobak tadi ternyata tidak angkat kepala dan juga tidak berpaling, seperti orang yang tidak mendengar apa-apa.

Tampak seekor kuda membedal dengan cepat, kira-kira masih tiga tombak jauhnya serentak si penunggang kuda melayang dari pelana kuda dan sekali berjumpalitan di udara, seperti burung seriti menerobos hutan, dengan tepat ia hinggap di depan si tukang gerobak.

Kuda yang ditinggalkannya itu meringkik nyaring dan berhenti seketika.

Diam-diam Pwe-giok memuji.

"Orangnya cekatan, kudanya tangkas!"

Tapi si tukang gerobak seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi, ia masih terus mendorong gerobaknya ke depan dengan tunduk kepala.

Padahal si penunggang kuda tepat menghadang di tengah jalan, tampaknya gerobak itu segera akan menumbuknya, namun dia tetap tidak bergerak sedikitpun, sungguh tenang dan tabah luar biasa.

Sekarang dapat dilihat Pwe-giok potongan badan penunggang kuda itu pendek lagi gemuk, sehingga mirip sebuah bola.

Pada punggungnya justru menyandang sebatang pedang yang amat panjang, bentuknya menjadi rada lucu.

Namun sikapnya ternyata luar biasa, dia hanya berdiri di situ, seketika timbul semacam wibawa yang membikin orang jeri dan tidak berani menghinanya.

Meski tidak dapat melihat jelas mukanya, tapi diam-diam Pwe-giok sudah dapat menduga siapakah orang buntak ini.

Ketika gerobak yang didorongnya itu persis hampir menyentuh tubuh orang, barulah mendadak dihentikan, begitu cepat berhentinya seperti halnya rem pakem pada kendaraan bermesin jaman kini.

Padahal muatan gerobak itu sangat berat, tapi baginya ternyata tidak ada artinya, sekali mau berhenti segera berhenti.

Baru sekarang si penunggang kuda menengadah dan bergelak tertawa, serunya.

"Hahaha, mengapa Auyang-pangcu telah berganti usaha menjadi saudagar obat-obatan ? Wah, inilah baru berita !"

Kiranya si tukang gerobak adalah Auyang Liong, pemimpin besar ke 72 kelompok bajak di perairan Tiangkang.

Orang ini sudah pernah dilihat Pwe-giok sewaktu rapat di Hong-ti, cuma sekarang pentolan bajak ini memakai topi dan jas hujan, sehingga wajah aslinya tertutup, tadi Pwe-giok juga merasa orang seperti sudah pernah dikenalnya, cuma tidak ingat siapa dia.

Begitulah terdengar Auyang Liong sedang menjawab dengan tertawa.

"Tajam benar pandangan Hi-tocu, kagum, kagum !"

Dia mendorong capingnya ke atas, lalu menyambung pula.

"Hi-tocu sendiri tidak memancing ikan saja di lautan selatan, tapi jauh-jauh lari ke sini, memangnya ada pekerjaan apa? Memangnya jabatan pemimpin besar lautan selatan juga sudah ditinggalkan Hi-tocu dan sekarang telah berganti jenis usaha?"

Benar juga, Pwe-giok tidak salah lihat, si buntak ini memang betul gembong bajak laut di daerah selatan, terkenal sebagai Hui-hi-kiam-khek atau si pendekar pedang ikan terbang, namanya Hi Soan.

Kedua orang ini sama-sama bajak, yang satu bajak laut, yang lain perompak sungai, tapi sekarang keduanya bertemu di daratan sini.

Jelas ini tidak terjadi secara kebetulan, diam-diam Pwe-giok merasa heran.

Barang apakah muatan gerobak Auyang Liong itu?

Sesungguhnya ada usaha apakah di antara mereka?

Pwe-giok memang bersembunyi di balik batu yang teraling dari tiupan angin, sebab itulah meski dia menyalakan api unggun juga tidak diketahui oleh kedua orang itu, apalagi sekarang api unggun itu sudah mulai padam.

Terdengar Hi Soan berkata lagi.

"Kedatanganku dari jauh ini, masakah Pangcu tidak tahu apa sebabnya?"

"Memang tidak tahu, mohon penjelasan.

"jawab Auyang Liong.

"Pangcu sendiri datang untuk apa, untuk urusan yang samalah ku datang, kenapa Pangcu berlagak pilon?"

Kata Hi Soan dengan tertawa. Auyang Liong berdiam sejenak, mendadak ia mengeluarkan semacam barang dan berkata.

"Apakah Hi-tocu juga menerima barang ini ? "

Yang terpegang di tangan Auyang Liong hanya sehelai kartu undangan saja, dengan kedudukan mereka, biarpun setiap hari menerima kartu undangan juga tidak mengherankan, tapi anehnya tangan Auyang Liong yang memegang kartu undangan itu justru rada gemetar seperti orang ketakutan.

Setelah melihat kartu undangan itu, tertawa Hi Soan seketika pun lenyap, jawabnya sambil menghela napas.

"Betul, tahun ini akupun tertimpa sial."

"Hahaha!"

Auyang Liong tertawa.

"Tahun ini Hu-patya berusia 70 tahun, jauh-jauh beliau mengirim undangan ke laut selatan, hal ini kan suatu kehormatan besar bagi Hi-heng, kenapa malah kau katakan sial?"

Hal ini juga yang membuat Pwe-giok heran.

Bahwa orang mengirim kartu undangan padanya, hal ini menunjukkan orang yang diundang itu cukup luas bergaul, biarpun perjalanan terlalu jauh dan tidak dapat hadir sendiri, kan dapat mengutus orang dengan membawa kado sekedar tanda hormat.

Padahal gembong kang-ouw seperti mereka ini masakah perlu hemat sedikit kado?

Tapi dari suara tertawa Auyang Liong yang penuh rasa bersyukur itu, rasanya seperti orang yang dekat ajalnya mendadak menemukan seorang pengiring yang akan masuk kubur bersama.

Hal ini benar-benar membikin Pwe-giok tidak habis mengerti.

Terdengar Hi Soan tertawa ngekek, katanya.

"Betul juga ucapan Pangcu, undangan Hu-patya memang harus kuterima sebagai suatu kehormatan, hanya saja, sudah dua bulan ini kucari kian kemari dan belum menemukan suatu kado yang sekiranya cocok. Coba, bagaimana baiknya kalau menurut pendapat Pangcu?"

Pwe-giok bertambah heran.

Mengirim kado adalah tanda persahabatan, asalkan kirim, bagaimanapun bentuk kado itu, tentunya takkan ditolak oleh si penerima.

Apalagi emas perak, batu permata, benda antik, bahan baju dan makanan, semuanya juga dapat dijadikan sebagai kado.

Masakah Hui-hi-kiam-khek yang terkenal kaya raya sampai mengalami kesukaran mencari kado, hal ini sukar untuk dipercaya bagi siapapun yang mendengarnya.

Auyang Liong lantas mendengus.

"Hi-tocu dikenal setiap orang kangouw sebagai hartawan dan tokoh berpengaruh, kalau mengaku sukar mendapatkan kado, alasan ini apakah tidak lucu?"

Hi Soan termenung sejenak, mendadak ia tanya.

"Pernahkah Pangcu mendengar orang yang bernama The Hian?"

"Maksudmu apakah The-tocu dari Ci-sah-to sahabat karib Hi-tocu sendiri?"

Tanya Auyang Liong.

"Meski pengetahuan Cayhe kurang luas, tapi kalau nama The-tocu saja pernah kudengar."

"Dan tahukah kau cara bagaimana kematiannya?"

Tanya Hi Soan pula. Auyang Liong melengak, sahutnya.

"Apakah The-tocu meninggal sakit?"

Jilid 13________ "Dia cukup sehat, sepanjang tahun tidak pernah sakit, masuk angin saja tidak pernah, mana bisa sakit?"

"Kalau bukan meninggal sakit, habis..... apakah....apakah terbunuh orang?"

Tanya Auyang liong dengan ragu.

"Betul, dia mati terbunuh,"

Jawab Hi Soan.

"Padahal senjata The-tocu, sepasang Ji-goat lun (gada bulan dan matahari) konon adalah ajaran langsung mendiang Tonghong-sengcu, selama berpuluh tahun tidak pernah ketemu tandingan, siapa ada yang mampu membunuhnya?"

"Siapa lagi kalau bukan Hu-patya!"

Sahut Hi Soan. Seketika air muka Auyang Liong berubah pucat dan tidak bersuara lagi. Hi soan berucap pula.

"Tahun yang lalu waktu Hu patya merayakan ulang tahun, kartu undangannya tersebar ke Ci-sah-to, karena itu The Hian lantas bekerja giat, dia menyelam ke dasar laut selama tiga hari dan barulah didapatkan setangkai bunga karang setinggi tiga kaki, Diam-diam ia bergirang ia anggap kadonya ini umpama tidak dapat melebihi orang lain, sedikitnya akan dapat memuaskan Hu-patya."

"Oo!"

Auyang Liong terkesiap.

"Seterima kado itu, Hu-patya tidak memberi komentar apapun, ia hanya membawa The Hian ke sebuah kamar, didalam kamar itu tidak ada barang lain, isinya melulu bunga karang, setiap bunga karang sedikitnya lima kaki tingginya,"

Hi Soan menghela nafas, lalu menyambung.

"Melihat itu, hati The Hian terasa dingin, benarlah, setetes arak saja Hu-patya tidak memberinya minum, tapi langsung mengantar dia angkat kaki, malahan beliau sendiri yang mengantar The Hian hingga jauh ke luar kota.

"O, dan kemudian bagaimana?"

Tanya Auyang Liong.

"Kemudian The hian langsung pulang ke rumah. tapi begitu sampai dirumah dia lantas tumpah darah dan roboh, sampai dia sendiripun tidak tahu mengapa bisa terluka. Ia hanya ingat waktu Hu-patya hendak berpisah setelah memberi soja (hormat dengan kedua kepalan di depan dada) dan saat itu juga dia merasa dadanya rada panas."

"Berapa hari dia hari sampai....sampai dirumah?"

Tanya Auyang Liong.

"Tujuh hari, daerah yang ditumpahkannya hampir sebaskom penuh dan malam itu juga dia meninggal."

Auyang Liong berdiam sejenak dengan wajah kelam, gumamnya kemudian.

"Lihay benar Pek-poh-sin-kun (pukulan sakti seratus langkah), bukan saja dapat mencelakai orang tanpa kelihatan dan baru kambuh lukanya setelah lewat tujuh hari. Tampaknya nama kebesaran Hupatya memang bukan omong kosong belaka."

"Setiap orang Kangouw sama tahu ilmu pukulan sakti Hu-patya tiada tandingannya,"

Kata Hi Soan dengan gegetun.

"siapapun tahu bila ada yang mengirim kado tidak cocok dengan seleranya, maka sukarlah terhindar dari suatu pukulannya, apa yang tersiar ini tidak omong kosong."

Seketika Auyang Liong memandang, menatap di atas gerobaknya dan tidak dapat bersuara lagi.

"Karena sudah ada contoh yang terjadi di atas diri The Hian, maka kado yang harus ku sediakan tahun ini tidak dapat sembarangan kukirimkan kata Hi Soan pula.

"Begitu menerima kartu undangannya, segera ku mulai mencari dan sampai saat ini belum lagi mendapatkan kado yang sekiranya dapat memuaskan hati Hu-patya. Padahal hari ulang tahun Hu-patya sudah dekat, coba bagaimana baiknya kalau menurut pendapat Pangcu?"

Baru sekarang Pwe-giok paham duduknya perkara, diam-diam iapun merasa serba runyam, di dunia ini memang tidak sedikit orang mencari keuntungan pada saat-saat tertentu, seperti ulang tahun, perkawinan dan hajat lain, tapi cara Hu-patya yang bertindak sewenang-wenang ini sungguh jarang terdengar, caranya ini jelas jauh lebih ganas dan kejam daripada kaum perampok dan pembegal di tengah jalan.

Iapun tahu Pek-poh-sin-kun adalah ilmu pukulan Siau-lim-pay yang tidak diajarkan kepada orang lain, jadi Hu-patya ini mungkinkah murid Siau-lim-si dari keluarga orang preman?

Hi Soan dan Auyang Liong adalah tokoh kelas satu di dunia Kangouw, kalau merekapun sedemikian ketakutan, dengan sendirinya Hu-patya yang dimaksudkan itu bukanlah tokoh sembarangan, Tapi seketika Pwe-giok tidak ingat siapakah gerangan Hu-patya ini?

Dilihatnya Auyang Liong terdiam sekian lamanya, katanya kemudian dengan perlahan.

"Betapa tertekan perasaan Tosu saat ini dapat juga kurasakan, cuma saja, menjaga diri sendiri saja sukar, terpaksa aku tidak dapat memberi bantuan apa-apa kepada Tocu."

Gemerdep sinar mata Hi Soan, iapun sedang mengawasi barang muatan di atas pedati, jengeknya.

"Jika demikian jadi Pangcu juga belum berhasil mendapatkan kado yang sesuai?"

Auyang Liong menyengir, ucapnya.

"Kado sih sudah ku sediakan, cuma tidak diketahui apakah memenuhi selera Hu-patya atau tidak."

"Ah, janganlah Pangcu berkelakar,"

Ujar Hi Soan dengan tertawa. Mendadak ia berhenti tertawa, lalu melototi Auyang Liong, katanya pula.

"Di depan kaum ahli tidak perlu omong kosong. Kalau saja kado Pangcu tidak dapat memenuhi selera Hu-patya, lalu kado siapakah yang dapat memuaskan beliau?"

Seketika air muka Auyang Liong berubah, katanya.

"Memangnya kau sudah tahu kado apa yang hendak kupersembahkan kepada Hu-patya?"

"Ya, tahu sekedarnya,"

Ucap Hi Soan dengan tenang.

"Jadi sepanjang jalan kau selalu mengintai di belakangku?"

Bentak Auyang Liong.

"Sepanjang jalan telah dilalui Pangcu dengan aman dan tenteram, sampai di sini satu maling kecil saja tidak ku pergoki, barangkali inilah kemahiran Pangcu menyembunyikan dan mengelabuhi mata orang,"

Kata Hi Soan. Dia menengadah dan tergelak, lalu sambungnya.

"Padahal, biarpun seorang maling kecil yang masih hijau juga dapat melihat barang muatan pedatimu pasti bukan bahan obat-obatan segala....Haha, di dunia ini mana ada bahan obatobatan seberat ini?"

Mendadak Auyang Liong mendengus.

"Hmmm.. seumpama ada sementara maling kecil yang lamur dan bermaksud mengincar barang muatan pedati ini, rasanya juga aku tidak perlu takut padanya.

"Eh, tahulah Pangcu bahwa sepanjang jalan orang she Hi telah banyak membantu mengawasi Pangcu ke sini, entah berapa banyak penjahat yang sedikitnya juga sudah berkeringat...."

Dia tertawa lalu melanjutkan.

"makanya kedatanganku ini adalah ingin minta sekedar persen pada Pangcu, tentunya takkan Pangcu tolak bukan?"

Sekalipun Auyang Liong ini seorang tolol juga sekarang dapat menangkap apa maksud ucapan Hi Soan itu. Sekarang dia lantas bersabar malah, jawabnya kemudian.

"O, jangan-jangan yang dikehendaki Tocu adalah gerobak ini?"

Hi Soan menghela nafas, katanya.

"Kalau kukatakan memang rikuh, soalnya memang terpaksa."

"Baik, akan kuberikan kepadamu,"

Kata Auyang Liong, mendadak ia mendorong gerobaknya ke depan, langsung menumbuk Hi Soan.

Namun sebelumnya Hi Soan sudah berjaga akan kemungkinan ini, sebelum tertumbuk dia sudah melompat ke atas lebih dulu.

"creng", pedang segera dilolosnya. Di tengah gemerdepnya sinar pedang, segera ia menusuk Auyang Liong. Hui hi kiam khek, si pedang ikan terbang, sudah lama terkenal sebagai jago pedang paling cepat di lautan selatan, serangan ini sungguh cepat luar biasa, reaksinya cepat, caranya meloloskan pedang juga cepat, serangan yang dilancarkan terlebih-lebih cepat. Tapi Auyang Liong sempat mendak ke bawah, sekali tangan menarik, mantel ijuk yang dipakainya terus menyambar ke depan untuk menangkis tusukan pedang Hi Soan. Kiranya mantel ijuk yang dipakaiannya ini bukanlah ijuk sungguh-sungguh melainkan terbuat dari benang emas hitam dan tidak mempan ditembus senjata, inilah senjata andalannya yang sudah terkenal, untuk menyerang senjatanya ini mungkin agak lamban, tapi untuk berjaga boleh dikatakan sangat efektif. Maka terdengarlah suara "creng-cring"

Beberapa kali, lelatu api meletik ketika ujung pedang bersentuhan dengan mantelnya.

Waktu Auyang Liong memutar mantelnya, dengan dahsyat ia sabet ke arah Hi Soan, serentak di bawah mantel itupun memancar berpuluh bintik cahaya, langsung menyerang dada lawan, dibalik mantelnya tersembunyi pula senjata rahasia sungguh serangan yang keji dan sangat lihay, sejak Auyang Liong terkenal, belum pernah ada lawan yang sanggup menghindarkan serangan ini.

Siapa tahu, mendadak bayangan orang berkelebat, kembali Hi Soan mengapung lagi ke atas sinar pedang melingkar di udara, tahu-tahu ia sudah berada di belakang Auyang Liong.

Inilah gerakan "ikan terbang"

Andalan Hi Soan.

Dalam keadaan demikian, sudah terlambat bagi Auyang Liong untuk membalik tubuh, sinar pedang sudah terbenam dipunggungnya, tokoh perairan ini memang tidak seharusnya meninggalkan air, kalau ikan meninggalkan air jelas akan mati di daratan.

Sungguh Pwe-giok tidak nyana, tidak sampai tiga jurus Auyang Liong sudah tewas di bawah pedang Hi Soan, padahal ia sendiri belum lagi mengambil keputusan apakah mesti ikut campur urusan ini atau tidak dan tahu-tahu Auyang Liong sudah mati.

Dilihatnya Hi Soan lagi mencabut pedangnya sambil menghela nafas panjang, gumamnya.

"Auyang pangcu, sebenarnya dia tidak ingin kubunuh kau, tapi kalau tidak kubunuh kau berarti aku sendiri yang harus mati. Jadi janganlah kau sesalkan diriku, yang harus disesalkan ialah Hu-patya...."

Sembari bergumam ia terus siap mendorong gerobak roda satu tadi. Pada saat itulah mendadak seorang berseru.

"Kawan satu haluan asal melihat mendapat bagian, Mayat bagianmu, gerobak serahkan padaku!"

Suaranya lantang, kedengarannya masih jauh, tapi begitu kata terakhir terucapkan, tahu-tahu orangnya sudah berada di depan Hi Soan, sampai Hi Soan sendiri tidak tahu cara bagaimana orang muncul di situ.

Hanya terdengar suara "tring-tring"

Dua kali, suara nyaring seperti bunyi keleningan dan orang itupun sudah berada di depannya seakan tumbuh dari bawah tanah.

Pwe-giok tidak dapat melihat air muka Hi Soan hanya diketahuinya bahwa melihat orang ini, seketika tubuh Hi Soan seolah-olah lantas mengkeret sebagian, menegakkan leher saja tidak berani, apalagi membusungkan dada.

Gerak tubuh orang ini sangat cepat, tapi perawakannya tinggi besar, cuma bagian punggung membonggol, ternyata dia seorang bungkuk.

Melihat sikap Hi Soan yang ketakutan itu serta melihat bentuk tubuh orang bungkuk ini, mendadak Pwe-giok ingat pada semboyan yang pernah didengarnya.

"Apabila keleningan unta berbunyi, jiwa akan melayang seketika". Jangan-jangan orang ini adalah "Hui-toh" (unta terbang) It Kun, seorang tokoh yang sederajat dengan Lo-cinjin, Oh-lolo dan lain-lain. Dilihatnya Hi Soan tetap menyapa dengan mengiring senyum.

"Sudah belasan tahun It-cinjin tidak pernah muncul di daerah Tionggoan, beruntung hari ini dapat berjumpa, sungguh beruntung....."

Tapi It Kun sama sekali tidak menggubrisnya sorot matanya yang tajam terus mengincar muatan di atas gerobak roda satu itu.

Hi Soan berusaha mengalingi gerobak itu, kalau bisa gerobak itu akan disulapnya menjadi kecil dan disembunyikannya.

Mendadak It Kun melayang ke dekat gerobak, sekali tangannya bekerja, barang muatan di atas gerobak diobrak-abriknya sehingga kelihatanlah sebuah kotak besi.

Mata Hi Soan seakan-akan menyemburkan api, tapi dia tidak berani merintangi perbuatan orang.

Terlihat It Kun telah mengangkat kotak besi itu dan dibuka, dipandangnya sekejap isi kotak, lalu menengadah dan terbahak-bahak, katanya.

"Hahahaha! Bagus, bagus...."

"Hehe, tidak bagus, tidak bagus!..."

Hi Soan menukas.

"Isinya cuma beberapa potong patung batu saja, dimana kebagusannya belum lagi kau ketemukan, masa It-cinjin tertarik oleh beberapa potong batu ini?"

"Jika kau bilang tidak bagus, boleh kau berikan padaku saja,"

Ujar It Kun dengan tertawa. Hi Soan jadi melengak, ia tidak dapat mengelak lagi, tapi berkata dengan gelagapan.

"Barangbarang ini tidak berharga, apabila...apabila It Cinjin suka, biarlah lain hari ku pesankan beberapa pasang patung perempuan cantik ukiran ahli pahat terkenal di kota raja, kujamin pasti jauh lebih indah dan bernilai daripada beberapa potong orang-orangan batu ini."

"Tidak, aku tidak suka barang lain, hanya menyukai beberapa patung ini,"

Kata It Kun dengan tertawa. Hi Soan mengusap keringat, katanya.

"Akan...akan tetapi..."

Mendadak It Kun mendelik, bentaknya.

"Hampir tidak pernah kubuka mulut minta sesuatu kepada siapapun, kau berani bicara keras kepadaku, memangnya kau hanya takut pada Pekboh-sin-kun Hu Lopat dan tidak gentar kepada Tui-hong-ciangku?"

Hi Soan tampak mandi keringat, sudah diusap masih terus mengucur, ia menunduk dan memandangi pedang sendiri, seperti ingin melabrak orang tapi ragu-ragu. It Kun mendengus.

"Konon pedangmu sangat cepat, bahwa kau dapat menjadi pemimpin lautan selatan, tentu sedikit banyak kau mempunyai kemampuan. Marilah mari, boleh cobacoba kau tusuk aku satu-dua kali, takkan kusalahkan perbuatanmu."

Hi Soan menggreget, katanya.

"Jika demikian terpaksa ku turut saja kehendak It-cinjin."

Sembari bicara pedang lantas menusuk, menghadapi saat gawat yang menyangkut mati hidupnya dengan sendirinya ia menyerang sepenuh tenaga, terlihat sinar pedang berkelebat, tahu-tahu ujung pedang itu menyambar ke tenggorokan It Kun.

Tapi It Kun tetap berdiri di tempatnya dengan tegak seakan-akan menganggap serangan lawan seperti permainan anak kecil saja.

Diam-diam Hi Soan bergirang, ia pikir bila pedang sudah dekat, jangan harap akan dapat kau hindarkan.

Siapa tahu, pada saat terakhir itu, sekonyong-konyong It Kun mengangkat tangannya, secepat kilat jarinya menjepit.

Betapa cepat gerakan pedang Hi Soan, gerak tangan It Kun ternyata lebih cepat, hanya dengan dua jari saja batang pedang Hi Soan sudah terjepit.

Keruan Hi Soan terkejut, ia putar mata pedangnya dan bermaksud melukai jari lawan, siapa tahu jepitan It Kun itu ternyata lebih kuat daripada tanggam, meski Hi Soan sudah mengerahkan segenap tenaganya pedang tetap tidak dapat bergerak.

Mendadak terdengar It Kun tertawa panjang, tangannya menyendal pelahan dan pedang itu sudah berpindah ke tangan It Kun, bahkan patah menjadi dua.

"Hahaha!"

It Kun bergelak tertawa.

"Besok lusa barulah tiba hari ulang tahun Hu-lopat, sedangkan esok pagi sudah tiba hari ulang tahunku kini akupun ketularan penyakit Hu-lopat, barang siapa tidak mengirim kado padaku akan kubunuh dia. Nah, kado ini akan kau berikan padaku tidak, katakanlah, terserah kepada keputusanmu!"

Muka Hi Soan tampak pucat seperti mayat, satu kata saja tidak mampu bersuara. Mendadak seorang menanggapi dengan tertawa.

"Esok baru tiba hari ulang tahun Anda, padahal hari ini juga sudah tiba hari lahirku, kukira lebih dulu kado ini kudu diberikan padaku."

Di tengah gelak tertawanya seorang muncul dari balik batu karang sana dengan tenang, pakaiannya kotor, tapi tidak kelihatan miskin dan jelek.

Terkejut juga It Kun, selama berpuluh tahun belum pernah ada orang berani bicara demikian dihadapannya.

Sinar matanya menyapu pandang sekejap pada pendatang ini, lalu mendengus dengan gusar.

"Diberikan padamu? Hm, memangnya kau ini orang macam apa?"

"Cayhe Ji Pwe-giok, berjuluk pendekar pedang paling gagah di dunia...."

Belum habis ucapannya, tertawalah it Kun, katanya "Hahahaha, pendekar pedang paling gagah?

Haha, selama hidupku banyak juga melihat orang yang bermuka tebal, tapi belum ada seorang pun yang melebihi kau."

Hi Soan juga merasa kaget dan geli, cuma tak dapat tertawa.

Sesudah berhadapan baru dirasakan Pwe-giok bahwa perawakan It Kun memang sangat tegap, meski bungkuk, tetap lebih tinggi satu kepala daripada Pwe-giok, dandanannya juga nyentrik, bukan pertapa, bukan preman, panjang jubahnya yang mirip jubah kaum Tosu juga kepalang tanggung, hanya sebatas lutut.

Suara tertawanya lantang seperti bunyi genta, nyaring memekak telinga, jelas tenaga dalamnya juga luar biasa, pantas Hui hi kiam khek yang malang melintang di lautan selatan juga ketakutan padanya.

Tapi Pwe-giok seperti tidak pandang sebelah mata kepada orang ini, dengan tersenyum ia berkata.

"Serupa Anda, akupun akan marah barang siapa tidak memberi kado padaku."

Suara tertawa It Kun seketika berhenti, dengan mata terbelalak ia pandang Pwe-giok, seperti selama hidup tidak pernah melihat makhluk seaneh ini.

Pandang sejenak barulah ia bergelak tertawa dan berkata pula.

"Hahaha! Bagus, boleh coba kau marah padaku, ingin ku tahu cara bagaimana kau marah.

"Baik,"

Kata Pwe-giok. Begitu kata "baik"

Terucapkan, mendadak ujung kakinya mencungkit, pedang patah di tanah telah diungkitnya ke atas dan disambarnya.

"Sret.. serentak ia menusuk ke arah It Kun. Sama sekali Hi Soan tidak menyangka anak muda ini benar-benar berani menyerang It Kun, dilihatnya tusukan pedang patah itu sangat enteng tak bertenaga, gerakannya juga tidak cepat. Ia yakin dengan mudah saja It Kun pasti dapat membikin pedang kutung itu terpental. Siapa tahu, bukannya menangkis, tapi sebaliknya It Kun terdesak mundur dua tiga langkah oleh tusukan itu, bahkan berkaok-kaok.

"Aha, tak tersangka kau anak busuk ini memang mempunyai sedikit kepandaian."

Hi Soan jadi melengak.

masa permainan pedang yang lamban mendapatkan pujian dari It Kun.

Tertampak sinar pedang terus menyambar, meski tidak terlalu cepat, tapi terus menerus dan tidak terputus, sudah belasan kali Pwe-giok menusuk It Kun tidak melakukan serangan balasan.

Walaupun Hi Soan juga seorang ahli pedang tapi sudah sekian lama ia mengikuti pertarungan ia merasa tidak melihat sesuatu daya serangan yang lihai pada ilmu pedang Pwe-giok itu, bahkan jurus apa yang digunakannya juga tidak dikenalnya.

Tapi didengar It Kun memuji terus menerus.

"Baik, bagus, anak muda, seperti kau inilah baru dapat dianggap pemain pedang yang sesungguhnya. Kalau ada manusia lain yang tidak becus, hanya putar pedang seperti anak kecil juga menandakan dirinya ahli pedang dan menjadi pimpinan suatu aliran, maka julukanmu sebagai pendekar pedang paling gagah di dunia memang tidak terlalu berlebihan."

Meski dia tidak tunjuk hidung dan menyebut namanya, tapi siapa yang disindirnya cukup jelas bagi Hi Soan.

Meski dia tidak berani membantah, tapi dalam hati penuh rasa penasaran, maka berulang ia mendengus.

Ia menyangka dengusannya itu takkan didengar oleh It Kun, tak tahunya mata telinga It-Kun benar-benar tajam dan luar biasa, sekali lompat mendadak ia mendekat Hi Soan dan bertanya.

"Apa yang kau denguskan? Memangnya kau kira ilmu pedangmu terlebih tinggi daripadanya?"

Hi Soan tidak tahan, ia menjawab.

"Cayhe memang tidak tahu dimana letak kehebatan ilmu pedangnya."

"Hm, jika kau dapat melihat dimana letak kebagusan ilmu pedangnya, maka berarti ilmu pedangnya tidak bagus lagi. Sama halnya seorang pemusik mahir, kalau pendengarnya bukan seorang peminat seni musik, tentu juga takkan tahu dimana kebagusannya."

Tidak kepalang dongkol Hi Soan, mendadak ia melompat maju, dia jadi lupa bahwa Pwe-giok berdiri satu garis dengan dia, tapi segera ia melancarkan dua kali pukulan terhadap anak muda itu.

Pwe-giok juga tidak menyangka orang ini berwatak sedongol ini, melihat pukulan yang cukup dahsyat ini, terpaksa ia putar pedangnya melabrak ke belakang.

Dia menebaskan pedangnya sekenanya, akan tetapi bagi Hi Soan terasa sukar ditahan hawa pedang yang tajam itu sekujur badannya seketika seperti terkurung ditengah hawa pedang, sukar ditembus dan sulit pula menarik diri.

Beberapa kali dia berganti serangan dan akhirnya dapatlah dia lolos dari kurungan hawa pedang lawan, tapi tidak urung pundaknya keserempet juga oleh ujung pedang, meski tidak terluka, namun baju sudah robek.

It Kun bergelak tertawa, katanya.

"Nah, sekarang apakah kau tahu dimana letak kebagusan ilmu pedangnya?"

Muka Hi Soan sebentar merah sebentar pucat, mendadak ia memberi hormat kepada Pwe-giok dan berucap.

"Ilmu pedang Anda memang jauh lebih hebat dari padaku, sungguh aku menyerah kalah"

"Hah, boleh juga kau ini, sedikitnya kau masih mau mengaku salah dan menyerah kalah.

"Kata It Kun.

"Sebenarnya sudah lama kudengar di dunia Kangouw muncul seorang anak muda yang bernama sama dengan putera Ji-bengcu, selama tiga bulan saja telah banyak melakukan halhal yang menggemparkan,"

Kata Hi Soan. Pwe-giok tersenyum, ucapnya.

"Berita dunia Kangouw ternyata cepat juga tersiar."

"Konon ilmu silat Ji-kongcu ini tidak lemah, juga ramah tamah, rendah hati dan prihatin,"

Kata Hi Soan pula. It Kun bergelak tertawa, katanya.

"Haha, menurut pendapatku, ramah tamah dan prihatin memang cocok bagi orang lain, tapi tidak sesuai bagimu."

"Oo, maksudmu?"

Tanya Pwe-giok.

"Habis, seorang kalau berani mengaku sebagai pendekar pedang paling gagah di dunia, apakah orang ini ramah tamah dan rendah hati?"

"Ya, memang tidak cocok,"

Kata Pwe-giok.

"Nah, meski ilmu pedangmu tidaklah rendah, tapi sekarang masih bukan tandinganku,"

Kata It Kun pula.

"Betul, dalam 300 jurus, meski aku tidak sampai kalah, tapi juga sukar untuk menang,"

Ujar Pwe-giok.

"Tidak bisa menang berarti kalah,"

Kata It Kun.

"Selewatnya 30-0 jurus jelas kau pasti kalah, tapi tampaknya kau ingin bergebrak denganku, apakah orang demikian terhitung prihatin segala?"

"Setiap orang tentu bisa berubah,"

Ujar Pwe-giok dengan tertawa.

"Dan diriku sekarang sudah bukan diriku yang kemarin."

"Kau kan baik-baik saja, kenapa bisa berubah?"

Tanya It Kun. Pwe giok berdiam sejenak, jawabnya kemudian dengan perlahan.

"Sebab sekarang aku mendadak menjadi sangat terkenal."

"Manusia takut ternama, babi takut gemuk masakah kau lupa pada kiasan ini? Semakin besar namamu, semakin banyak orang yang akan mencari perkara padamu dan semakin cepat pula kematianmu, apa gunanya terkenal?"

Kembali Pwe-giok tertawa, katanya.

"Justeru kuharap dicari orang."

It Kun menggeleng kepala.

"Turutlah pada nasehatku, lebih baik kau pulang saja dan hidup aman tenteram dirumah, tidaklah jelek kupandang dirimu, maka tidak ingin ku celakai kau."

"Asalkan kau serahkan kotak besi ini padaku, segera aku akan angkat kaki,"

Kata Pwe-giok. Gemerdep sinar mata It Kun, tanyanya.

"Apakah kau tahu apa isi kotak ini?"

"Tidak tahu,"

Jawab Pwe-giok.

"Habis untuk apa kau minta kotak ini?"

"Tidak untuk apa-apa."

It Kun menjadi melenggong.

"Kalau tidak untuk apa-apa, perlu apa pula kau minta?"

"Karena kalian sama menghendakinya, kenapa aku tidak boleh memintanya?"

Kata Pwe-giok. Seketika It Kun menarik muka.

"Kiranya kau sengaja mencari perkara padaku."

Belum lenyap suaranya, kembali kedua orang saling gebrak lagi.

Sampai di sini, bahkan Hi Soan juga menganggap Pwe-giok tidak waras, malah cukup parah penyakitnya.

Maka ia berharap pertarungan kedua orang akan berakhir dengan sama menggeletak, maka kotak besi itu dapat dimilikinya lagi.

Dengan sabar ia menonton di samping.

Baca Juga: Rajawali Sakti Dari Langit Selatan 9

Baca Juga: Pedang Berkarat Pena Beraksara Tjan Id

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert