Eps 7 Imbauan Pendekar - Khu Lung
Baca online Imbauan Pendekar - Khu Lung
Cersil Imbauan Pendekar - Khu Lung.
Selang cukup lama, ia merasa sinar pedang Pwe-giok sudah mulai guram, sebaliknya angin pukulan It Kun bertambah dahsyat.
Di bawah ketiak It Kun masih mengempit kotak besi tadi, namun tidak menghalangi gerakgeriknya, dari sini terbukti bahwa sesungguhnya belum sepenuh tenaga dia melayani Ji Pwegiok.
Sungguh Hi Soan tidak habis mengerti untuk apakah anak muda itu sengaja cari garagara, bukan mustahil cari mampus malah.
Dilihatnya It Kun sudah hampir dapat mengalahkan Pwe-giok, siapa tahu, pada saat itulah anak muda itu seperti membisikkan sesuatu pada It Kun, Hi Soan tidak tahu apa yang dikatakannya, hanya dilihatnya It Kun terus berjumpalitan ke belakang, lalu dipandangnya Pwe-giok dengan mata terbelalak dan muka pucat, bahkan badan raga gemetar.
Lagi-lagi Hi Soan tercengang.
Sungguh aneh, mengapa tokoh bungkuk ini mendadak bisa berubah menjadi begini?
Selang sejenak, dengan suara gemetar It Kun berkata.
"Se...sesungguhnya siapa kau? Dari....darimana kau tahu urusan ini?"
Pwe-giok hanya memandangnya dengan diam, apapun tidak diucapkannya.
Tertampak butiran keringat sebesar kedelai menghiasi dahi It Kun.
Sampai sekian lama lagi barulah dia menghela nafas panjang, lalu berkata.
"Sudah 29 tahun, lewat 17 hari lagi genaplah 29 tahun. Sungguh tak tersangka masih ada orang ingat akan peristiwa ini, masih ada orang tahu..."
"Masakah kau sendiri sudah melupakan peristiwa ini?"
Tanya Pwe-giok tiba-tiba.
"Sangat kuharapkan dapat melupakannya, cuma sayang, selamanya sukar melupakannya,"
Kata It Kun.
"Kalau kau sendiri tidak dapat melupakannya, mana bisa orang lain melupakannya?"
"Akan...akan tetapi urusan ini tidak diketahui oleh siapa-siapa."
"Bila tidak ingin diketahui orang lain, kecuali diri sendiri jangan berbuat, dan bukankah aku telah mengetahuinya?"
Ujar Pwe-giok.
"Jangan-jangan kau dan urusan ini ada....ada hubungannya?"
Tanya It Kun.
"Setiap orang di dunia ini, asalkan berperasaan tentu dia ada hubungannya dengan urusan ini,"
Jawab Pwe-giok dengan hambar. Mendadak It Kun menengadah dan bergumam "Ya, akupun tahu utang ini cepat atau lambat harus kulunasi."
Mendadak ia menghentakkan kakinya ke tanah dan berteriak dengan parau.
"Tak perduli siapa kau aku hanya minta diketahui olehmu bahwa aku It Kun bukanlah manusia yang tidak mau bayar hutang."
"Kedatanganku juga bukan untuk menagih utang, aku cuma menghendaki keinsafanmu dan memperbaiki kesalahanmu,"
Kata Pwe-giok. IT Kun bergelak pula, ucapnya.
"Jika aku tidak menyesali kesalahanku, begitu kau berani menyinggung peristiwa itu, tentu sejak tadi sudah kubunuh kau."
Perlahan ia menaruh kotak besi yang dikempitnya itu ke tanah, lalu menghela nafas pula dan berkata.
"Sekali salah langka, menyesal selama hidup....."
Sampai di sini, mendadak tangannya menghantam kepala sendiri dan robohlah dia.
"Sekali salah langkah, menyesal selama hidup,"
Pwe-giok bergumam mengulang kata-kata itu, mendadak hatinya merasa pedih dan tertekan.
Perbuatan salah yang dilakukan seorang dalam sekejap harus ditebus dengan jiwa selama berpuluh tahun ini, bukankah hal ini rada kurang adil dan rada kejam?
Jika It Kun tidak punya perasaan menyesal, di memang tidak perlu menebus dosanya dengan membunuh diri.
Kalau dia sudah mau menyesal, kenapa kesalahannya tidak dapat diampuni?
Pwe-giok berdiri dengan menunduk kepala, gumamnya.
"Apakah salah tindakanku?...Salahkah tindakanku?...."
Hi Soan terkesima menyaksikan apa yang terjadi itu baru sekarang ia bertanya.
"Sesungguhnya apa yang pernah diperbuatnya?"
Mendadak Pwe-giok mengangkat kepalanya dan menjawab dengan bangis.
"Kenapa kau tidak tanya pada dirimu sendiri telah berbuat salah apa?"
"Aku?"
Hi Soan melenggong.
"Demi beberapa potong patung mainan yang tak berarti ini lantas kau bunuh orang, inilah perbuatanmu yang salah,"
Seru Pwe-giok.
"Kalau tidak kubunuh dia, tentu aku yang akan dibunuhnya, sebab itulah terpaksa kubunuh dia, yang kuat hidup, yang lemah mati, inilah hukum dunia persilatan,"
Kata Hi Soan.
"Sebagai orang Kangouw, soal mati hidup tidak pernah ku risaukan. Jika kaupun sudah berkecimpung di dunia Kangouw, pada suatu hari tentu kaupun akan membunuh orang, kenapa kau pandang mati hidup segawat ini?"
Pwe-giok termenung agak lama, setelah menghela nafas panjang, kemudian berkata.
"Mungkin ucapanmu memang benar, sebagai orang Kangouw, mati atau hidup seharusnya tidak perlu dipikir lagi, akan tetapi...jika kau tidak takut mati, kenapa kau takut kepada Hupatya tersebut?"
Muka Hi Soan menjadi merah, ucapnya.
"Orang yang tidak takut mati, bisa juga....bisa juga takut pada setan."
"Masakah dia itu setan?"
Tanya Pwe-giok.
"Menurut pandanganku, dia lebih menakutkan daripada setan,"
Kata Hi Soan dengan gegetun. Lalu sambungnya.
"Orang ini she Hu (kaya), maka di belakangnya orang Kangouw suka bilang dia "kaya tapi tidak mulia", tapi dihadapannya tidak seorang pun berani menyebutkan poyokannya ini. Pernah satu kali seorang salah omong, baru keluar dari pintu rumah Hupatya, kontan dia tumpah darah dan roboh binasa...."
"He, dia mempunyai seorang isteri yang dipanggil sebagai Hu-pat-naynay (nyonya besar Hu) bukan?"
Tanya Pwe-giok tiba-tiba.
"Betul, konon Hu-patnaynay ini seorang nyonya yang baik hati dan bijaksana, hidup prihatin dan bersujud kepada Buddha, selamanya tidak suka kepada bunuh membunuh, sebab itulah orang yang dibinasakan Hu-patya selalu terjadi setelah meninggalkan pintu rumahnya."
Gemerdep sinar mata Pwe-giok, gumamnya.
"Ah, ingatlah aku... akhirnya kuingat juga."
"Kau ingat apa?"
Tanya Hi Soan. Pwe-giok tidak menjawabnya, ia hanya tertawa dan berkata.
"Orang ini cukup menarik, akupun ingin berkunjung padanya."
"Menarik?....."
Seru Hi Soan.
"O, masakah kau bilang orang ini cukup menarik?.... Nanti kalau sudah berhadapan dengan dia barulah kau tahu dia tidak menarik."
Ketika matanya mengerling kotak besi tadi air mukanya lantas berubah, katanya pula.
"Tapi disini hanya tersedia kado ini, jika...jika kaupun ingin berkunjung kesana...."
"Boleh kau antarkan kadomu dan aku akan pergi menurut keinginanku sendiri,"
Kata Pwegiok.
"Tapi...tapi seorang yang tidak membawa kado, cara....cara bagaimana dapat masuk ke rumahnya?"
Ujar Hi Soan. Kembali Pwe-giok tertawa, katanya.
"Aku tidak perlu membawa kado, sebab aku hanya pengiringmu, seorang Ciangbunjin dengan kado berharga ini, kan pantas jika membawa seorang pengiring?" ***** Tempat tinggal Hu patya itu bernama "Ge-sik-wan"
Atau taman asyik. Di dunia ini, hartawan yang rakus dan pelit justeru sok menganggap diri sendiri paling hebat, hidupnya paling senang, maka kediaman "Ge-sik-wan"
Inipun dibangun serupa kompleks perumahan orang kaya umumnya, bangunannya sangat kukuh, sangat luas, seperti hendak didiami oleh beberapa ratus tahun lamanya, ia lupa bahwa hidupnya paling-paling cuma beberapa puluh tahun, sesudah mati harus ditanam, tanah yang diperlukan paling-paling juga cuma tujuh kaki.
Tapi semua itu tidak ada sesuatu yang istimewa, yang aneh adalah penghuni perumahan ini.
Begitu masuk pintu halaman, segera kelihatan banyak centeng, tempat kediaman kaum hartawan tentu saja banyak centengnya, hal inipun tidak perlu heran.
Yang aneh adalah centeng ini meski semuanya lelaki dan juga berilmu silat, tapi gaya jalannya kelihatan berlenggak-lenggok, mirip anak perempuan.
Kedatangan Hi Soan dan Pwe-giok telah disambut oleh dua orang, yang satu tinggi dan yang lain pendek, yang pendek ini bermuka putih dan berjerawat, yang terus menerus dipandang justeru Ji Pwe-giok, pandangannya itu lebih mirip anak gadis yang sedang mata dengan kekasihnya.
Memang sudah sering Pwe-giok mendapat main mata dari anak perempuan, tapi lelaki main mata padanya baru pertama kali ini terjadi.
Sungguh tidak kepalang gemas Pwe-giok, ingin sekali dia mencolok biji mata si pendek ini.
Sedangkan si jangkung berdiri dengan bertolak pinggang dan seperti sedang menegur Hi Soan.
"Siapakah kau ya? Ada keperluan apa ya? Suaranya kecil dan setengah melengking, waktu bicara pinggangnya juga berlenggaklenggok, kalau mukanya tidak ada akar janggut, mungkin sukar orang membedakan dia ini lelaki atau perempuan. Hi Soan berdehem, lalu menjawab.
"Cayhe Hi Soan dari laut selatan, khusus datang untuk menyampaikan selamat ulang tahun kepada Hu patya."
Dengan lagak genit si jangkung berseru.
"Oo! Kiranya Hi-tayciangbun ya. dan kadonya sudah kau bawa belum ya?"
"Kado sudah tersedia, mohon Koankeh (pengurus rumah tangga) sudi melaporkannya,"
Ucap Hi Soan. Tiba-tiba si jangkung melirik Pwe-giok dan berkata pula.
"Dan siapakah yang ini ya? Untuk apa pula kemari ya?"
Setiap kalimat ucapannya selalu disertai dengan kata "ya", suaranya ditarik panjang sehingga membikin tidak enak telinga yang mendengarkannya, sungguh Pwe-giok ingin sekali jotos merontokkan giginya.
Anehnya Hi Soan yang berwatak berangasan itu setiba di sini mendadak berubah menjadi sabar, sedikitpun tidak berani memperlihatkan rasa kurang senang, dengan tertawa ia menjawab.
"Dia bernama Hi Ji, pengiringku, berharap Koankeh suka banyak memberi petunjuk padanya."
"Kiranya Hi-jiko ya?"
Kata si jangkung dengan tertawa genit.
"Ai, cakap ya? Entah sudah beristri belum ya?"
Mendadak si pendek mendekat dan memegang tangan Pwe-giok, ucapnya dengan terkikik.
"Silahkan Tay-ciangbun masuk dan memberi selamat kepada Patya, Hi-jiko ini boleh tinggal di sini untuk mengobrol dengan kami."
Tangan si pendek ini terasa basah dan lengket, Pwe-giok merasa seperti disentuh benda cair seperti riak kental. Hampir saja ia muntah. Syukurlah pada saat itu juga muncul lagi satu orang yang berseru.
"Patya dengar Hitayciangbun datang, silahkan masuk bersama kado yang dibawa."
Cepat Hi soan menukas.
"Baik, baik, segera Cayhe menghadap beliau!"
Segera ia mendahului melangkah ke dalam, setelah naik ke undak-undakan baru menoleh dan berseru.
"Eh, Hi Ji, kenapa tidak lekas bawa kemari kado kita itu."
Maka legalah Pwe-giok akhirnya Hi Soan telah membebaskan dia dari kerumunan si jangkung dan si pendek. Tampaknya si pendek merasa berat melepaskan tangan Pwe-giok, dia titip pesan pula.
"Sebentar jangan lupa keluar dan mencari diriku ya, namaku si genit!"
Tidak kepalang dongkol Pwe-giok, kalau bisa dia ingin menempelengnya beberapa kali, lalu didepaknya pula.
Tanpa menghiraukan segera ia ikut Hi Soan ke ruangan besar sana.
Di tengah pendopo itu sudah berduduk beberapa orang, semuanya kelihatan angker, pakaian merekapun mentereng, jelas semuanya berkedudukan dan terhormat.
Tapi di sini jelas kelihatan mereka serba salah, duduk tidak tenang, berdiripun tidak enak.
Tepat ditengah ruangan besar itu sudah dipajang tempat duduk kehormatan yang empunya hajat, dan yang duduk di situ dengan sendirinya ialah Hu-patya dan Hu-pat-naynay.
Tuan rumah yang termasyhur ini ternyata seorang kakek yang berbentuk aneh.
Sebenarnya dia juga punya hidung, punya mata, tidak bungkuk, tidak pincang, telinganya juga satu di kanan dan satu di kiri, hidungnya juga tidak pesek dan tidak mancung.
Cuma, entah mengapa rasanya tidak sedap dipandang.
Hu-patnaynay, si nyonya rumah, jelas kelihatan seorang nyonya yang anggun, hanya mukanya terlalu banyak dipoles pupur.
Semakin tua usia seorang perempuan, semakin banyak pula pupur yang diperlukan, ini soal biasa dan jamak, jika muka perempuan di dunia ini tidak berkeriput dan tidak hitam, maka pembuat pupur di dunia ini mungkin sudah bangkrut semua.
Setiba di ruangan tengah, meski Hi Soan ingin berlagak sebagai seorang pemimpin, seorang ketua suatu perguruan, tapi tubuhnya justeru sukar ditegakkan, terpaksa ia membungkuk tubuh dan menyampaikan hormat kepada tuan rumah, katanya.
"Wanpwe Hi Soan dari Lamhay khusus datang menyampaikan selamat ulang tahun kepada Pat-ya, semoga Pat-ya panjang umur, banyak rejeki, tambah Hokkhi."
Hu-patya tampak acuh tak acuh, ucapnya.
"Wah, bikin repot juga padamu datang dari jauh, duduk, silahkan duduk."
Ketika Hi Soan menyodorkan kotak besi yang dibawanya, segera wajah Hu-patya bertambah cerah, apa lagi setelah kotak itu dibuka, senyuman lantas menghias wajahnya.
Dia memegang sebuah patung orang-orangan sepanjang satu kaki lebih, dipandangnya dengan cermat patung itu, lalu diraba-raba, setelah senyuman bertambah lebar, matapun hampir terpejam, berturutturut ia mengucapkan belasan kali "bagus, bagus".
Lalu ia tepuk pundak Hi Soan dan berkata.
"Bagus bagus sekali. Silahkan duduk, silahkan duduk ditempat utama. Syukurlah kau dapat menemukan kado sebaik ini untukku, tempat duduk utama dalam perjamuan ini pastilah bagianmu."
Ucapan ini tidak cuma membuat Hi Soan seakan-akan anak yang mendadak mendapat pujian, bahkan tetamu lain sama merasa heran dan juga penasaran.
Maklumlah, setiap orang yang menyampaikan selamat ulang tahun kepada Hu-patya tidak dibedakan tinggi rendahnya kedudukan, juga tidak ditentukan oleh tua mudanya umur, barang siapa mengantar kado paling berharga, dia yang akan menduduki tempat paling terhormat.
Inilah peraturan yang tidak tertulis, tapi diketahui setiap orang.
Meski tempat duduk utama itu tidak akan memberi imbalan apa-apa yang lebih berarti, tapi orang persilatan paling suka pada kehormatan, asalkan mendapat muka, urusan lain tak terpikir lagi.
Apalagi orang yang bisa menerima kartu undangan Hu-patya pasti bukan orang miskin, yang hadir ini kalau bukan ketua sesuatu aliran dan golongan terkemuka tentu juga pemimpin sesuatu perusahaan pengawalan besar dan gembong bandit terkenal, semuanya mencari kado dengan susah payah, yang diharapkan adalah menggirangkan hati Hu-patya, sekaligus juga menonjolkan muka sendiri di depan orang banyak.
Jadi kado yang diantar para tetamu ini tiada satupun yang tidak bernilai, semuanya sangat berharga dan sukar dicari, satu diantaranya mengantar kado 18 biji Ya-beng-cu, mutiara sebesar gundu yang bercahaya di waktu malam.
Seorang lagi mengantar sebuah Kiu-liong-pwe, cangkir kemala berukir sembilan naga.
Pada waktu mendung, cangkir ini akan berubah menjadi kelam, jika hari cerah, warna cangkir inipun gemilang.
Air yang tertuang ke dalam cangkir akan berubah menjadi arak.
Kedua benda mestika ini sekalipun didalam istana raja juga tidak dapat ditemukan, tapi sekarang mereka telah digunakan sebagai kado ulang tahun Hu-patya, walaupun terasa berat, tapi juga bergembira, sebab mereka mengira kado sendiri pasti akan mengalahkan kado orang lain, bila tersiar, tentu namanya akan semakin menonjol.
Siapa tahu, sekarang Hi Soan hanya memberikan kado beberapa patung orang-orangan dan benda mestika mereka lantas terkalahkan, padahal mereka tidak tahu dimana letak kebagusan patung-patung kecil itu.
Begitulah semua orang bertanya-tanya di dalam hati, sementara itu perut merekapun bertambah lapar.
Kiranya sudah lama tiba waktunya makan, padahal mereka jauh-jauh datang kemari, minum saja belum disuguhi, dan kini perut pun sudah lapar, mereka berharap selekasnya tuan rumah akan menjamunya.
Siapa tahu tiada sedikitpun tanda Hu-patya akan membuka perjamuan, sebaliknya ia malah memejamkan mata, seperti tertidur.
padahal perut semua orang sudah berkeroncongan, tapi siapakah yang berani ribut?
Untung Hu-patnaynay sedikit banyak masih punya perasaan, diam-diam ia memanggil seorang pesuruh dan berpesan padanya.
"Waktu makan Loyacu belum tiba, sedangkan para tetamu yang datang dari jauh ini tentu sudah lapar, coba tanya ke dapur, adakah makanan kecil yang enak, boleh keluarkan dulu sekedar untuk ganjal perut para tetamu."
Mendengar ini, hati semua merasa lega, seketika mereka merasa Hu-patnaynay ini dua puluh tahun lebih muda, makin dipandang makin manis.
Selang tak lama benarlah ada dua orang membawa senampan makanan yang masih panas.
Dipandang dari jauh bentuknya sangat menarik, tapi sesudah dekat baru diketahui bahwa isi kedua nampan ini adalah ketela rebus.
Kalau ketela rebus digolongkan "makanan kecil yang enak", maka segala macam ubi di dunia ini tentu juga terhitung makanan lezat.
Tampaknya Hu-patnaynay juga merasa rikuh, terpaksa ia berucap.
"Meski makanan kecil ini tidak begitu baik, kuharap kalian sudilah makan seadanya, sebab tidur Patya ini entah berlangsung hingga kapan, kalau kalian terlambat mengisi perut, bisa masuk angin."
Sudah tentu para tokoh persilatan ini tidak pernah makan ketela rebus, tapi mengingat waktu perjamuan masih belum ada kepastiannya, maka mau tak mau mereka harus isi perut seadanya.
Diam-diam Pwe-giok merasa geli dan juga mendongkol.
Dilihatnya Hu-patnaynay sedang tertawa, ia menjadi kuatir kalau-kalau labur pada wajah nyonya rumah akan rontok semua.
Kalau labur pada mukanya rontok, entah bagaimana bentuknya, sesungguhnya ia tidak berani membayangkannya.
Untung pupur Hu-patnaynay itu dilabur dengan lapisan lebar itu tidak sampai terkelupas.
Waktu ia pandang para tokoh dunia persilatan itu, biasanya mereka sudah bosan makan ikan dan daging, tapi sekarang ketela rebus itupun disikatnya dengan lahap.
Sehabis makan ketela, semua orang merasa haus dan terpaksa minum air sebanyaknya, mendingan tidak minum air, sekali minum air satu-dua mangkuk, seketika perut mereka sama kembung dan sesak nafas.
Banyak orang diantaranya yang cukup encer otaknya dapat memahami maksud tujuan Hupatya, mereka sengaja dijejali ketela rebus, sebentar kalau santapan lezat disuguhkan, tentu perut mereka sudah tidak ada tempat luang lagi dan terpaksa harus melotot memandangi tuan rumah makan sendirian.
Karena itulah, beberapa orang yang lebih cerdik itu segera berhenti makan setelah melalap satu dua biji ketela rebus itu, mereka lebih suka menahan lapar sebentar lagi.
Dugaan mereka ternyata tidak keliru, setelah perut tetamunya kembung, segera Hu-patya mendusin dan berulang mendesak.
"Ayo, siapkan perjamuan! Para tetamu tentu sudah lapar, kenapa tidak lekas dimulai, tunggu apa lagi?"
Diam-diam beberapa orang yang lebih cerdik tadi merasa geli, mereka menganggap orang yang terlanjur makan ketela itu orang tolol, sebentar bila perjamuan dimulai, terpaksa orangorang yang kenyang ketela itu hanya akan menyaksikan orang lain makan minum belaka.
Beberapa orang cerdik ini bertambah gembira ketika diketahui hidangan pertama yang diantarkan adalah Hay-hong-hi-sit (kepet ikan masak telur kepiting).
Betapa sedapnya masakan ini, tidak perlu makan, cukup memandang warnanya saja sudah bisa membikin mereka mengiler.
Maka orang yang sudah kenyang ketela tadi menjadi menyesal, yang belum banyak makan ketela mulai mengedip mata, mereka hanya menunggu komando tuan rumah saja, sekali diberi aba-aba, kontan Hay-hong-hi-sit itu akan segera diserbu.
Bukan cuma hidangannya yang tergolong kelas satu, malah arak yang segera disuguhkan juga arak simpanan berpuluh tahun.
Begitu poci arak ditaruh di atas meja, serentak bau arak yang merangsang tercium oleh para tetamu.
Maka orang-orang yang terlanjur kenyang ketela tadi merasa gembira pula, mereka pikir meski tuan rumah yang pelit ini telah menjejal perut mereka dengan ketela, tapi arak enak tentu dapat minum beberapa cawan lagi.
Terlihat Hu-patya mengangkat poci arak, dan dia mengendus dulu isi poci itu, mendadak ia berkata dengan serius.
"Wah, arak adalah cairan tajam yang dapat merantas usus, minum arak lebih banyak celaka daripada faedahnya, sedangkan para hadirin adalah tamu undanganku, jauh-jauh kalian mengantar kado padaku, mana boleh ku bikin susah kalian malah? Tidak bisa....jelas tidak bisa........"
Segera ia memberi tanda dan berseru.
"Ayo, lekas isi cangkir para tetamu dengan sirup, juga jangan terlalu banyak sirupnya, kalau terlalu banyak makan gula, gigi cepat rusak."
Semua orang saling pandang dengan melongo.
Orang yang gemar minum arak tadi sudah tergelitik ingin membasahi kerongkongannya dengan arak sedap itu, tapi sekarang hampir saja mereka tumpah darah saking gemasnya.
Sebaliknya Hu-patya lantas menuang cawan sendiri, yang dituangnya adalah arak, lebih dulu ia mencium bau arak itu, lalu bergumam.
"Ehm, alangkah sedapnya arak simpananku ini. Aku sudah tua, sudah bosan hidup, seumpama mati keracunan arak juga tidak menjadi soal...Eh, marilah mari, ku suguh dulu satu cawan kepada kalian...Ayo, minum lagi satu cawan!"
Orang yang suka minum arak hanya dapat menyaksikan orang lain minum arak enak, sedangkan yang diminumnya adalah air sirup, bagaimana rasa dongkolnya tentu dapat dibayangkan.
Setelah beberapa cawan arak masuk perut, wajah Hu-patya tampak cerah, ia tertawa dan berkata.
"Sirup tentu saja jauh lebih enak daripada arak...., Hahaha, mari-mari, silahkan makan!"
Sejak tadi beberapa orang yang lebih cerdik itu memang lagi menunggu "komando"
Tuan rumah, maka belum lenyap Hu-patya menarik muka dan membentak.
"He, siapa yang mengantarkan makanan ini? Apakah sengaja bikin celaka orang."
Hati beberapa orang cerdik itu seketika mencelos lagi demi mendengar ucapan yang tidak beres itu. Seseorang merasa tidak tahan, dengan tersenyum ia tanya.
"Memangnya dimana ketidak beresan hidangan ini?"
"Masa kalian tidak tahu?"
Ujar Hu-patya.
"Makanan berminyak kurang baik bagi kesehatan, bikin gemuk dan menyumbat pembuluh darah, lebih-lebih kaum persilatan kita, bila terlalu banyak makan barang berminyak, umpama tidak bikin perut mules, akibatnya akan membikin gemuk badan. Dan bila badan sudah gemuk, gerak-gerik tentu tidak leluasa..."
Ia merandek, lalu menyambung pula.
"kalau gerakImbauan Pendekar > karya Gulong/Khulung > diceritakan oleh Gan K.L. > buyankaba.com 389 gerik kurang leluasa, jika bergebrak dengan orang, sedikit banyak kungfunya pasti akan berkurang pula. Sedangkan kalian datang dari jauh untuk mengucapkan selamat padaku, bila terjadi apa-apa setelah makan hidanganku, kan aku yang berdosa kepada kalian."
Dia bicara seperti beralasan, bahkan jujur dan terus terang, malahan seperti sangat bersimpati terhadap orang lain, meski para tamunya sangat mendongkol, tapi juga tidak dapat membantah.
Karena itulah, Hu-patya lantas mengangkat satu porsi besar Hay-hong-hi-sit itu ke depan sendiri, katanya dengan menyesal.
"Jika yang makan kakek semacam diriku tentu tidak menjadi soal, sebab aku kan sudah bosan hidup dan hampir masuk liang kubur, apa yang perlu kutakuti?"
Begitulah sambil minum arak dan makan Hi-sit, berulang-ulang ia menyatakan rasa penyesalannya.
"Ai, kalau aku tidak masuk neraka, siapa yang mau masuk neraka, Demi para sahabatku, biarpun aku memikul dosa bagi mereka juga pantas. Eh, silahkan kalian minum sirup, boleh tambah lagi jika kurang."
Semua orang saling pandang dengan melongo dan terbelalak, meski di mulut tidak berani bicara, tapi didalam hati semua orang hampir mati kaku saking gemas terhadap orang pelit ini.
Baru sekarang Pwe-giok tahu artinya istilah "orang kaya tidak mulia"
Itu.
Sudah banyak juga dilihatnya orang serakah, iapun tahu orang yang tamak harta tentu pula pelit, tapi orang kaya pelit semacam Hu-patya ini sungguh ia tidak tahu cara bagaimana lahirnya.
Pada saat itulah, sekonyong-konyong seorang menanggapi dengan tertawa.
"Sahabat baik harus ada rejeki dinikmati bersama, ada kesulitan ditanggung bersama, dosa yang kau tanggung sudah terlalu banyak, biarlah akupun ikut memikulnya sebagian."
Apa yang diucapkan orang ini sama juga apa yang dipikirkan oleh orang banyak, kini orang ini telah mewakilkan mereka menyatakan isi hatinya, tentu saja mereka merasa senang.
Tapi diam-diam merekapun berkuatir bagi orang ini, bahwa ada orang berani bicara demikian di hadapan Hu-patya, barang kali orang ini sudah bosan hidup.
Air muka Hu-patya tampak berubah.
"brak mendadak ia gabrukkan sumpitnya ke meja dan mendengus.
"Selama hidupku tidak punya sahabat, semua sahabatku sudah lama mati. Memangnya siapa kau?"
Terdengar orang itu menjawab dengan tertawa "Siaute sengaja datang buat mengucapkan selamat hari jadinya Hu-patko, belum lagi bertemu muka kenapa Patko sudah menyumpahi diriku?"
Waktu pertama kali dia bicara orang lain merasakan orangnya sudah berada di sekitar situ, tapi belum kelihatan mukanya, dan sekarang waktu bicara untuk kedua kalinya, semua orang berbalik merasa dia berada di tempat jauh.
Tapi begitu kata terakhir terucapkan, tahu-tahu di depan pintu sudah muncul sesosok bayangan orang.
Perawakan orang ini sangat tinggi dan kurus, pakaiannya berwarna ungu bukan, hijau bukan, kelabu pun tidak, ikat pinggangnya berwarna kuning jingga dan terselip sebatang pedang berbentuk antik.
Kepalanya memakai sebuah caping, begitu lebar caping ini sehingga mirip sebuah baskom yang menutupi hampir seluruh mukanya, orang lain tidak dapat melihat bagaimana bentuk wajahnya, tapi dia dapat melihat orang lain dengan jelas.
Agaknya Hu-patya sudah dapat mengenali pendatang ini, sampai sikap Hu-patnaynay juga rada berubah, untung mukanya berpupur tebal sehingga perubahan air mukanya sukar dilihat orang lain.
Si jubah hijau berpedang antik ini mendekati Hu-patya dengan langkah berlenggang, katanya dengan tertawa.
"Eh, kenalan lama datang dari jauh, masakah Patko tidak menyilahkan duduk?"
Air muka Hu-patya berubah kelam seperti telapak sepatu, ucapnya.
"Ya, duduk, silahkan duduk."
Entah beberapa banyak kata "duduk"
Yang diucapkannya tapi badannya tidak bergerak sedikitpun.
"Ah, pahamlah aku,"
Kata pula si jubah hijau.
"menurut peraturan Patko, untuk mendapatkan tempat duduk harus memberi kado dulu, orang yang tidak membawa kado bukan saja tidak disediakan tempat duduk, sebaliknya pantatnya mungkin akan di depak hingga luluh. Dia tepuk-tepuk bajunya, lalu berkata pula.
"Celakanya Siaute justeru lupa membawa kado, wah, bagaimana baiknya?...Aha, betul, seperti kata orang, sekedar angpau sebagai tanda hormat, meski kecil nilainya, tapi besar artinya. Betul tidak?"
Ia terus merogoh saku, tapi digagap-gagap, sampai sekian lamanya, akhirnya dikeluarkannya secarik kertas kumal, entah kertas bekas apa, tapi kertas kumal itu terus disodorkan kepada Hu-patya, katanya dengan tertawa.
"Eh, entah kadoku ini cukup berbobot atau tidak?"
Kini air muka Hi Soan juga berubah kelam, orang mengantar bunga karang sebagai kado saja akibatnya pulang sampai dirumah terus mati tumpah darah, sekarang orang ini memberikan secarik kertas kumal dan katanya juga kado, mustahil kalau kepala orang ini tidak dihancurkan oleh Hu-patya.
Tapi keanehan segera terjadi.
Hu-patya justeru manggut-manggut dan berkata.
Ya, cukup, sudah cukup...."
"Jika Patko bilang cukup, kan Siaute pantas diberi tempat duduk untuk ikut memikul dosa bagimu,"
Kata si jubah hijau. Habis berkata, mendadak sebelah tangannya terjulur, kuduk salah seorang tamu seketika dicengkeramnya. Padahal tamu itu berjuluk "Poan-cat-san"
Atau setengah gunduk gunung, dari nama julukannya dapat dibayangkan betapa besar tubuhnya dan betapa kuat tenaganya, tapi sekarang kena dicengkeram begitu saja oleh si jubah hijau, mirip elang mencengkeram anak ayam, menyusul terus dilemparkan ke luar pintu tanpa bisa melawan sedikitpun.
Lalu si jubah hijau terus menempati tempat duduk yang luang itu, dalam sekejap saja sisa Hay-hong-hi-sit yang baru dimakan sedikit oleh Hu-patya itu telah disikatnya hingga bersih.
Kemudian ia angkat poci arak, seperti ikan paus mengirup air, arak yang mancur dari poci itu terisap seluruhnya ke dalam perut si jubah hijau.
Apa yang diperbuat si jubah hijau telah disaksikan oleh Hu-patya dengan diam saja tanpa bergerak sedikitpun.
Setelah makan dan minum, si jubah hijau mengusap mulut dan menghela napas lega.
"Patko, sudah lama Siaute tidak menanggung dosa sebagus ini, apa bila Patko masih ada dosa lain, biarlah kuwakilkan sekalian."
Katanya dengan tertawa. Maka Hu-patya tampak sebentar pucat sebentar hijau, mendadak ia menggebrak meja dan berkata.
"Hm, percuma kalian mengaku sebagai tokoh dunia Kangouw, masakah melihat kedatangan Dian toaya kalian tetap duduk saja ditempat tanpa memberi hormat dan mengucap selamat?!"
Semula semua orang mengira sasaran kemarahan Hu-patya itu pastilah si jubah hijau, siapa tahu justeru orang lain yang dijadikan alat pelampias dongkolnya.
Hanya Pwe-giok saja yang diam-diam merasa geli, ia tahu "si pelit"
Kembali menggunakan akal licik untuk melepaskan diri dari "kewajiban, sebab sekali ia sudah marah-marah berarti telah dihematnya perjamuan selanjutnya.
Sejak semula Hi Soan sudah memperhatikan pedang antik yang dibawa si jubah hijau, sekarang ia lantas berbangkit dan memberi hormat, seraya berkata "Anda she Dian, entah adakah hubungan dengan Dian-toaya yang berjuluk Sin-liong-kiam-khek (pendekar pedang naga sakti) yang termasyhur dari Thian san itu."
Si jubah hijau tidak menjawabnya, tapi perlahan ia menanggalkan capingnya sehingga kelihatan wajahnya yang kurus pucat, wajah ini kalau dipandang dari jauh akan kelihatan cakap, tapi bekas luka pedang atau golok pada mukanya yang menakutkan itu.
Serentak Hi Soan menyurut mundur dua langkah demi nampak wajah luar biasa ini.
Para tamu juga sama tergetar dan berbangkit meninggalkan tempat duduknya.
"Ah, kiranya memang betul Dian-locianpwe sendiri,"
Ucap Hi Soan sambil memberi hormat lagi.
"Tidak berani, Cayhe memang betul Dian Liong-cu adanya,"
Kata si jubah hijau dengan tertawa.
Karena tertawa, kulit mukanya yang penuh codet itu bergerak sehingga menambah keseraman dan misteriusnya dan membikin orang tidak berani lebih lama memandang padanya.
Pwe-giok sudah lama mendengar orang ini adalah salah seorang tokoh terkemuka yang sederajat dengan Lo-cinjin dan lain-lain, jejaknya sukar dicari dan cara turun tangannya paling ganas, Pwe-giok sendiri sudah pernah belajar kenal dengan kepandaian muridnya yang bernama Dian Ce-hun, maka sekarang iapun mencoba mengamati orang beberapa kejap.
Sinar mata Dian Liong-cu menyapu pandang sekeliling ruangan itu, ketika sampai pada wajah Pwe-giok, ia melototinya dengan senyum tak senyum, tanyanya.
"Siapakah nama sahabat muda ini?"
Cepat Hi Soan mendahului menjawab.
"Dia bernama Hi Ji pengiringku."
"Oo?!"
Dian Liong-cu bersuara heran.
"tidak nyana pemuda bertampang segagah ini adalah pengiring dan anak buah Hi-tayciangbun."
Ia pandang Pwe-giok pula beberapa kejap, lalu sinar matanya beralih ke wajah Hi Soan dan bertanya.
"Konon Bu-lim-pat-bi (delapan cantik dunia persilatan) telah jatuh di tanganmu entah betul tidak?"
Hi Soan menunduk, ucapnya dengan tergagap sambil melirik Hu-patya.
"O, tentang ....tentang ini...."
"Ah, tahulah aku,"
Tukas Dian Liong cu sambil tertawa.
"Pantas Hu-patko meladeni Anda sebagai tamu utama, kiranya Anda telah menggunakan Bu-lim-pat-bi sebagai kado."
Semua orang merasa heran, masakah patung orang-orangan tadi disebut "Bu-lim-pat-bi"
Segala. Terdengar Dian Liong-cu berkata pula.
"Patko, jika kumakan minum di sini tentu akan membuat Patko seperti disayat-sayat, kalau sekarang aku cuma minta pinjam lihat Bu-lim-patbi, tentunya kau tidak keberatan bukan?"
Hu-patya hanya diam saja dengan muka kelam. Mendadak Dian Liong cu menarik muka, katanya.
"Aku hanya pinjam lihat saja, toh takkan membikin si cantik kehilangan secuil daging apapun?"
Muka Hu-patya sebentar pucat sebentar merah, mendadak ia menggebrak meja dan berseru.
"Dian Liong-cu, jangan kau kira aku benar-benar takut padamu, Pek-poh-sin-kun belum tentu bisa dikalahkan oleh Yu-liong-ciang andalanmu!"
"Dan juga belum tentu bisa menang, begitu bukan?"
Tukas Dian Liong cu dengan tak acuh.
"Hmk!"
Hu patya mendengus. Dian Liong-cu manggut-manggut dengan tertawa, katanya.
"Ya, sudah lama kutahu, kalau tidak yakin pasti menang, tidak nanti Patko mau berkelahi. Sebab itulah akan lebih baik Patko perlihatkan saja Bu-lim-pat-bi, aku berjanji takkan mengusiknya."
Hu-patya mengertak gigi, tampaknya masih ragu. Hu-patnaynay lantas menyela dengan tertawa.
"Dian toaya selama bisa pegang janji, apa halangannya kalau kau perlihatkan kepadanya. Apa lagi para tamu yang hadir tentu juga ingin tahu dimana letak kebagusan Bu-lim-pat-bi yang termasyhur ini."
Sampai sekian lama pula Hu-patya berpikir, akhirnya ia memberi tanda dan berseru.
"Baik, ambilkan Cui-ci-boan (baskom kristal) dan isi dengan air jernih."
Kembali semua orang merasa heran, untuk menonton patung kecil yang disebut Bu-lim-pat-bi itu, untuk apa disediakan air jernih segala?
Namanya Cui-ci boan atau baskom kristal, dengan sendirinya baskom itu tembus pandang, besarnya baskom, kira-kira dua kaki, tampak gemerlapan di bawah cahaya lampu sehingga air didalam baskom juga berkilauan.
Hampir setiap orang yang hadir ini adalah ahli barang antik, begitu melihat baskom kristal ini, semua lantas tahu inilah sebuah benda antik yang jarang ada bandingannya.
Tapi tiada seorangpun tahu hendak diapakan baskom antik ini oleh tuan rumahnya.
Hu-patya menyuruh baskom itu di taruh di atas meja, lalu berkata dengan perlahan.
"selama 30 tahun ini, tidak sedikit muncul tokoh dunia Kangouw yang baru, tidak sedikit pula pahlawan yang ternama, tapi perempuan maha cantik yang diakui secara resmi oleh dunia Kangouw, selama 30 tahun ini hanya ada delapan orang. Meski usia dan kedudukan mereka tidak sama, tapi sejauh ini ke delapan perempuan cantik ini memang benar sangat mempesona dan membikin orang tergila-gila."
Dia angkat baskom kristal itu, lalu menyambung.
"Nah, kado yang diantar Hi-tocu ini adalah patung daripada ke delapan perempuan cantik tersebut."
Mendengar sampai di sini, semua orang merasa sangat kecewa.
Sebab, sekalipun patung perempuan paling cantik di dunia juga takkan menarik bagi mereka.
Patung tetap patung, sungguh mereka tidak habis mengerti apanya yang menarik hanya sebuah patung benda mati.
Terdengar Hu-patya berkata pula.
"Patung-patung ini meski tetap patung belaka, tapi berbeda daripada patung biasa. Kalau patung lain adalah benda mati, maka patung-patung ini adalah patung hidup."
Sungguh aneh dan sukar dipercaya, masakah ada patung hidup di dunia ini? Dalam pada itu Hu-patya telah mengeluarkan sebuah patung dan ditaruh di atas meja, lalu bertanya.
"Adakah para hadirin kenal siapa dia?"
Tertampak patung ini memang terukir dengan sangat halus dan indah serupa orang hidup, sampai rambut dan alisnya juga begitu jelas seolah-olah dapat dihitung, wajahnya terlebih hidup ukirannya, cantiknya seperti bidadari, pakaiannya justeru berdandan sebagai gadis suku bangsa Mongol sehingga tampaknya mempunyai gaya tersendiri.
"Apakah nona ini yang terkenal sebagai Say-siang-ki-hoa (bunga aneh di luar perbatasan) si Ang-boh-tan (si peoni merah)"
"Betul, luas juga pengetahuanmu,"
Jengek Hu-patya. Dian Liong-cu tersenyum, katanya.
"Ang-boh-tan ini adalah isteri kesayangan tokoh utama Lama besar sekte Mi yang bergelar Ang-hun Lama, konon tidak saja lahiriahnya cantik molek, juga pembawaannya memiliki daya tarik yang menggiurkan setiap orang yang memandangnya. Cuma sayang, Ang-hun Lama adalah seorang pencemburu, isterinya ini disimpan rapat-rapat, orang luar dilarang memandangnya sekejap pun."
Air muka Hu-patya tampak senang, katanya "Dan sekarang kita justeru boleh memandangnya dengan jelas."
Sampai akhirnya hanya tertampak tubuhnya yang mulus, si cantik yang telanjang bulat itu timbul tenggelam didalam air, di bawah cahaya lampu yang berkilauan si cantik seolah-olah sedang menari.
Saking gembiranya Hi-patya berkeplok tertawa, katanya.
"Ang-hun menyimpannya sebagai perempuan pingitan, barang siapa memandangnya sekejap saja akan dilabraknya, tapi sekarang kita tidak cuma memandangnya sekenyangnya, bahkan boleh mempermainkan dia sesukanya."
Kebanyakan tamu yang hadir sama kesima memandangi si cantik dalam air itu, semua melongo dan ada yang hampir saja mengiler.
Hanya satu dua orang saja yang dapat berpikir dengan sehat, mereka merasa jiwa Hu-patya pasti kurang beres, tapi kelainan jiwa demikian rasanya juga menghinggapi kebanyakan lelaki di dunia ini.
Ada pepatah yang mengatakan "hwa-pia-jong-ki"
Atau menggambar pia (panganan) untuk menelan lapar, yaitu cerita orang yang kelaparan dan sukar mendapatkan makanan, terpaksa melukis barang panganan sekedar mengurangi rasa laparnya dengan membayangkan betapa lezatnya sedang menikmati panganan tersebut.
Dalam hal patung dan lukisan perempuan cantik, hal ini memang banyak mendapat peminat kaum lelaki tertentu, terutama tidak "mampu".
Meski tahu apa yang dilihatnya itu cuma benda mati, tapi jauh lebih baik aripaa sama sekali tidak ada dan cuma berkhayal belaka.
Begitulah terdengar Dian Liongcu berkata dengan tertawa.
"Daripada menari sendirian, kan lebih menarik jika menari berduaan, kenapa patko tidak mencarikan partner baginya?"
"Eh, usul bagus,"
Ujar Hu-patya. Ia memandang ke dalam kotak, lalu berkata.
"Usia Ang-bohtan sudah tidak sedikit, biarlah kucari seorang muda untuk menari bersama dia."
Lalu mengeluarkan lagi sebuah patung dan dimasukkan ke dalam baskom, katanya dengan tertawa.
"Apakah para hadirin tahu siapakah si cantik nomor satu di daerah Kanglam? Nah, sekarang juga akan kuhadapkan si cantik nomor satu daerah Kanglam dan si cantik nomor satu dari daerah perbatasan untuk menari bersama. Kecuali berada ditempatku ini, selama hidup kalian mungkin tidak ada harapan dapat menyaksikan tontonan menarik ini."
Belum habis ucapannya, air muka Pwe-giok berubah hebat. Ternyata patung kedua yang dimasukkan ke dalam air itu bukan lain daripada Lim-Tay-ih. Melihat "Lim-Tay-ih"
Sedang menari-nari didalam air, mata alisnya seperti orang hidup, sambil tersenyum dan mengerling seolang-olah sedang menuturkan penderitaannya selama ini.
Pwe-giok tidak tahan lagi, mendadak ia menerjang maju, meja itu terus didepaknya hingga terjungkir balik.
Keruan semua orang terkejut dan juga gusar, beramai-ramai mereka berlari menyingkir, mereka mengira anak muda ini mungkin sudah gila, makanya mencari kematian sendiri.
Air muka Hi Soan juga pucat seperti mayat, kalau Pwe-giok berbuat sesuatu yang membikin marah tuan rumah, dia sendiri pasti ikut bertanggung jawab.
Hu-patya tampak terkejut juga, sungguh tak tersangka olehnya bocah ini berani main gila di hadapannya hanya Dian Liong-cu saja tetap tersenyum-senyum menghadapi Pwe-giok yang mengamuk itu, agaknya dia sudah dapat mengetahui asal-usul anak muda ini.
Setelah melenggong sejenak, bukannya gusar, berbalik Hu-patya lantas tertawa, katanya sambil mengangguk.
"Bagus, bagus sekali! Jika kau sudah bosan hidup, kenapa tidak kupenuhi kehendakmu?"
Segera ia mendorong minggir meja yang terbalik itu dan membersihkan arak yang muncrat di atas tubuhnya, lalu selangkah demi selangkah mendekati Pwe-giok.
Mengingat betapa hebatnya Pek-poh-sin-kun tuan rumah itu, sekarang dalam keadaan murka, betapa dahsyat pukulannya sungguh sukar dibayangkan.
Maka semua orang sama menyingkir agak jauh, mereka kuatir ikut terkena getahnya apa bila berdiri terlalu dekat dengan Pwe-giok.
Hanya Hi Soan saja yang masih punya rasa setia kawan, tampaknya dia ingin membantu Pwegiok tapi juga ragu-ragu, Dian Liong-cu sempat pula menariknya ke samping.
Orang yang paling tenang adalah Ji Pwe-giok sendiri, Meski rasa gusarnya belum reda, tapi orang lain tak dapat melihat perasaannya itu.
Waktu Hu-patya mendekatinya, ia tidak memapak maju dan tak menyurut mundur, dia hanya berucap dengan tak acuh.
"Kau bukan tandinganku, akan lebih baik suruh istrimu saja yang maju."
Ucapan ini membikin heran pula semua orang.
Padahal Pek-poh-sin-kun tuan rumah termasyhur di seluruh dunia, justeru tidak pernah terdengar bahwa kungfu Hu-patnaynay terlebih tinggi daripada suaminya.
Tapi air muka Hu-patya lantas berubah, seperti mendadak pantatnya di depak orang, dia berseru kaget.
"Apa...apa maksudmu?"
"Apa maksudku masakah belum jelas bagimu? Perlu kukatakan lagi?"
Jawab Pwe-giok dengan ketus.
Hu-patya yang tadinya berlagak seperti paling kuasa di dunia ini sekarang ternyata berdiri terkesima seperti patung tanpa bisa menjawab.
Juga Hu-patnaynay kelihatan serba salah, meski tidak kelihatan bagaimana perubahan air mukanya, tapi pupur pada mukanya sudah mulai rontok, seperti labur dinding yang terkelupas karena gempa bumi.
Pwe-giok tertawa, katanya.
"Padahal kalian kan tidak benar-benar ingin mendapatkan patung cantik ini, minat kalian juga tidak terletak pada perempuan, soalnya karena barang ini sudah diantar kemari, terpaksa kalian menerimanya."
Air muka Hu-patya pucat seperti mayat, ia menyurut mundur setindak, ucapnya dengan suara serak.
"Dari....darimana kau tahu?"
Belum lagi Pwe-giok menjawab, mendadak Hu-patnaynay menyerobot maju terus menjotos, belum lagi kepalannya mengenai sasarannya, angin pukulannya terlebih dulu sudah menyambar ke dada Pwe-giok.
Siapapun tidak menyangka nyonya rumah yang ramah tamah dan anggun itu memiliki daya pukulan sedahsyat ini, tampak Pwe-giok berputar dengan cepat sehingga daya pukulan maut itu terhindar, namun sekali sudah mendahului, segera Hu-patnaynay melancarkan pukulan lain lagi susul menyusul.
Demikian gencar pukulan lawan sehingga ganti napas saja Pwe-giok tidak sempat, terpaksa ia main mundur untuk menyelamatkan diri.
Pada saat itulah sekonyong-konyong sinar pedang berkelebat, tahu-tahu Hu-patnaynay menjerit terus melompat mundur, beberapa orang yang berpandangan tajam sempat melihat dada baju nyonya rumah itu telah tertabas robek hingga kelihatan dadanya.
Anehnya nyonya rumah itu mempunyai dada yang lapang, bahkan bersimbar dada, penuh tumbuh bulu panjang dan lebat.
"Hahahaha"
Dian Liong-cu bergelak tertawa dengan pedang terhunus.
"Dugaanku ternyata tidak keliru, Hu-patnaynay memang benar seorang lelaki."
Baru sekarang para hadirin melenggong.
Tertampak Hu-patya meringkuk di pojok sana dengan malu, sedangkan Hu-patnaynay berusaha menutupi dadanya dengan baju yang sudah robek itu, keadaannya yang runyam itu sungguh menggelikan dan juga pantas dikasihani.
Padahal dengan kungfu Hu-patya "suami-isteri"
Cukup kuat untuk menandingi Dian Liong-cu, tapi sekarang mereka seolah-olah ayam jago yang sudah keok, bersuara saja tidak berani.
Maklum, bila perbuatan seseorang yang memalukan terbongkar di depan umum, betapapun hatinya pasti malu dan gugup.
Apalagi rahasia mereka ini sudah berjalan selama berpuluh tahun, yang mengetahui rahasia mereka mestinya ada seorang lagi, cuma sayang orang ini sudah lama mati, sekarang rahasia mereka terbongkar begini saja oleh seorang anak muda ingusan, sungguh mereka merasa heran dan bingung entah cara bagaimana anak muda ini mendapat tahu rahasia mereka, karena tidak mengerti tentu juga semakin takut.
Kalau mereka sudah takut, dengan sendirinya orang lain tidak takut lagi kepada mereka, malahan ada diantaranya segera tertawa mengejek.
Dian Liong-cu juga tertawa dan menyindir.
"Haha, pantas di tempatmu ini penuh dipelihara makhluk-makhluk aneh, semuanya lelaki bukan perempuan tidak, kiranya kalian sendiri inilah biangnya kawanan siluman ini. Hehe, kalau lelaki berniat memperistri lelaki, hal ini benarbenar berita aneh yang jarang terdengar di dunia."
Mendadak seorang menanggapi.
"Kalau dia suka memperistri seorang lelaki, ini kan urusan pribadinya. Seumpama dia suka memperistri seekor monyet, hal ini pun haknya, asalkan dia sudah memaksamu menjadi isterinya, kan sudah, berdasarkan apa kau ikut campur urusannya?!"
Berbareng dengan ucapan itu, seorang telah masuk ke ruangan besar itu dengan langkah berlenggang.
Orang ini berbicara dengan suara lemah, seperti orang yang sudah beberapa hari tidak makan nasi, tapi cara berjalannya justeru seperti tuan besar.
Cuma sayang mukanya kelihatan kurus kering, kulit badannya kendur semua, mirip balon yang gembos, Bahan bajunya berkualitas tinggi, yang longgar, cukup untuk mengisi tiga sosok tubuhnya.
Orang pakai baju selonggar ini mustahil takkan dituduh sebagai baju hasil mencuri.
Orang yang berani bicara kasar dengan sin-liong-kiam-khek Dian Liong cu boleh dikatakan sangat sedikit di dunia ini, semula orang mengira pendatang ini pasti seorang tokoh besar yang hebat, karena itu semuanya ikut kebat-kebit dan berdebar-debar.
Siapa tahu yang muncul adalah seorang berbaju kedodoran, kulit badannya juga kedodoran, tampaknya sekali pukul saja pasti akan mencelat.
Tentu saja Dian Liong-cu mendongkol dan juga geli, tapi dia tidak berani mengumbar rasa marahnya, sebaliknya ia menyapa dengan tertawa.
"Wah, tampaknya Anda ini juga beristerikan seorang lelaki, sebab kalau melihat tampang Anda, mungkin tiada perempuan di dunia ini yang sudi menjadi istrimu."
Ucapan ini membikin para hadirin tertawa geli.
Tapi makhluk aneh ini sama sekali tidak memperlihatkan reaksi apa-apa, maklumlah, kulit mukanya terlalu kendur, seumpama kulit dagingnya bergerak, kulit yang kedodoran itu tentu takkan ikut bergerak.
Terdengar dia bergelak tertawa lalu berseru.
"Seumpama aku beristerikan seorang lelaki kan juga tiada sangkut-pautnya dengan kau, bukan?"
Kalau orang lain tertawa di kulit, maka dia tertawa di daging dan kulitnya tidak tertawa, meski keras suara tertawanya, tapi wajahnya tetap lesu dan lemas, seakan-akan orang yang tertawa itu bukan dia, suara tertawanya seperti timbul dari suatu tempat yang lucu dan aneh.
Semula semua orang merasa orang ini sangat lucu, tapi sekarang berbalik terasa rada menakutkan.
Dian Liong-cu berdehem beberapa kali, lalu berkata.
"Kalau lelaki beristerikan lelaki, lalu harus dikemanakan orang perempuan? Jadi urusan ini aku kudu campur?"
"O, jadi kau pasti akan ikut campur,"
Tanya orang itu.
"Betul, aku pasti ikut campur."
Jawab Dian Liong-cu. Tapi baru saja kata "campur terucapkan.
"plak-plok", mendadak terdengar suara gamparan keras dan nyaring. Tahu-tahu pipi kanan kiri Dian Liong-cu telah bertambah lima jalur merah bekas jari seperti sengaja digores dengan pensil, sampai ia sendiri tidak tahu cara bagaimana kena digampar. Yang dirasakan ketika pipi kanan berbunyi "plak", segera tubuhnya mendoyong ke kiri, tapi segera pipi kiri ditampar dan "plok", lalu tubuhnya menegak kembali seperti semula. Waktu dipandang si orang aneh itu, dia masih tetap berdiri di depan dan sedang memandang padanya dengan gayanya yang khas itu, kalau dikatakan kedua kali gamparan itu dilakukan olehnya mungkin tidak ada orang yang mau percaya. Dian Liong-cu merasa seperti bermimpi saja, mendingan mukanya tidak merasa sakit. Anehnya semua orang sama memandang mukanya dengan sorot mata yang kaget dan kuatir, seperti orang yang melihat setan di siang bolong. Tanpa terasa Diong Liong-cu meraba mukanya sendiri, baru sekarang diketahuinya bagian mukanya telah membengkak lima jalur bekas jari, rasanya kaku dan panas dan sukar bergerak. Saking kagetnya tanpa terasa ia menjerit perlahan, dan baru diketahuinya bahwa kulit muka sendiripun kaku, makanya tidak terasa sakit.
"Hehehe, coba katakan lagi, kau pasti ikut campur urusan ini bukan?"
Dengan tertawa orang aneh itu bertanya pula. Kerongkongan Dian Liong-cu berbunyi "krak-krok", tapi sukar berbicara. Orang aneh itu tepuk-tepuk pundak Hu-patya, lalu berkata.
"Nah, sudah ku lampiaskan rasa gemasmu tadi, sekarang apa imbalannya sebagai tanda terima kasihmu padaku?"
"Ini...Cianpwe..."
Rupanya Hu-patya jadi bingung juga oleh kungfu si orang aneh yang maha sakti ini, tepukan orang pada pundaknya membuatnya hampir berjongkok kebawah, mana sempat lagi bicara.
"Jika kau tidak tahu cara bagaimana harus berterima kasih padaku, biarlah kukatakan saja padamu."
Kata orang itu lalu ia pungut patung yang berantakan bersama kotaknya tadi dan menyambung pula.
"Nah, cukup kau berikan saja mainan ini padaku."
Hu-patnaynay menabahkan hati dan berseru.
"Siapakah nama Cianpwe yang terhormat, bolehkah kami diberi tahu?"
"Masa kau tidak kenal siapa diriku?"
Tanya orang aneh itu. Dia menggeleng kepala dan menyambung dengan gegetun.
"Jika orang lain tidak tahu siapa diriku masih dapat dimaklumi, tapi kalau kalian juga tidak kenal siapa diriku, wah sungguh aku sangat sedih, sanagat berduka...."
Bicara sampai di sini, mendadak dari dalam bajunya yang kedodoran itu dirogohnya keluar sepotong paha ayam goreng.
Memandangi paha ayam ini, sorot matanya menampilkan rasa rakusnya, akan tetapi paha ayam itu hanya dipandang, lalu diendusnya beberapa kali, kemudian ia menghela nafas panjang dan menyimpan kembali paha ayam itu kedalam bajunya.
Melihat kelakuan orang itu, kulit muka Hu-patnaynay seketika berkerut-kerut, ucapnya dengan suara gemetar.
"Oo....Thian....Thian....."
Sekaligus ia berucap belasan kata "Thian", tapi sukar melanjutkannya. Tergerak pikiran Pwe-giok, tiba-tiba teringat satu orang olehnya serunya.
"He, bukankah Cian-pwe ini Thian-sip-sing?"
"Hahahaha! Memang betul,"
Seru orang aneh itu sambil tergelak.
"Tak tersangka bocah ini malah kenal diriku, sungguh tidak gampang."
Baru sekarang Pwe-giok tahu apa sebabnya kulit muka orang begitu kendur dan mengapa bajunya begitu longgar tidak sesuai dengan tubuhnya, karena sebagaimana sudah diketahui.
Thian-sip-sing ini tadinya adalah seorang gemuk, bahkan maha gemuk.
Kalau orang gemuk mendadak menjadi kurus, tentu saja akan berubah seperti balon gembos.
Mengapa Thian-sip-sing yang gemuk seperti gajah bengkak itu dalam waktu tidak sampai tiga bulan telan berubah menjadi sekurus ini?
Padahal orang gemuk kalau ingin kurus bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.
"Meng...,mengapa Cianpwe ber....berubah menjadi sekurus ini?"
Tanya Hu-patnaynay dengan tergagap. Thian-sip-ping menghela nafas, ucapnya.
"Masakah tidak kau lihat? Sekarang barang apapun tidak berani kumakan, jika kumakan, segera perut terasa mules. Nah, kalau orang tidak makan, kan mustahil jika tidak cepat kurus?"
Ia berhenti sejenak, lalu menghela nafas gegetun dan berkata pula.
"O, agaknya aku harus ganti nama menjadi Thian-go-sing (si binatang kelaparan)."
Padahal Thian-sip-sing biasanya suka menganggap perutnya sebagai mesin pabrik, apapun dimakannya segala dilalap, apapun dicerna, mungkin hanya mayat dan lalat saja yang tidak pernah dimakannya.
Dan seorang pelahap begitu masakah sekarang tidak berani makan paha ayam, sungguh sukar untuk dimengerti dan mengherankan.
Tapi tiada seseorang pun berani bertanya.
Hanya Pwe-giok saja yang lantas berkata "Cianpwe sudah digoda sekian lamanya oleh Hwesing-diong, selama itu tentu sangat kapiran bukan?"
Mata Thian-sip-sing terbelalak lebar, tanyanya dengan heran.
"He, kaupun tahu kejadian itu?"
"Ya, tahu sekedarnya,"
Jawab Pwe-giok.
"Wah, tidaklah sedikit pengetahuan anak muda ini,"
Gumam Thian-sip-sing dengan melotot. Pwe-giok tertawa, katanya.
"Barang siapa kalau sudah digoda oleh Hwe-sing-diong, maka hidupnya pasti konyol, makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, kalau digoda hingga dua-tiga bulan lamanya, betapapun gemuk juga akan berubah menjadi kurus."
Thian-sip-sing menghela napas, ucapnya.
"Memang betul, sedikitpun tidak salah. Selama duatiga bulan ini sungguh aku ingin mati saja lebih baik, untunglah setelah aku digoda hingga lebih dua bulan, mendadak mereka menghilang tanpa bekas. Tapi selera makanku juga sudah kadung rusak, apapun tidak menarik lagi bagiku, biarpun santapan yang paling lezat ditaruh di depan hidungku juga tidak akan menimbulkan nafsu makanku."
Bicara dan bicara, begitu sedih hingga hampir saja ia meneteskan air mata.
Maklumlah, seorang pelahap kalau sekarang tidak dapat makan enak lagi, maka dapat dibayangkan betapa tersiksa lahir batinnya.
Pwe-giok melototi patung yang dipegang Thian sip-sing, katanya kemudian.
"Makan enak dan main perempuan adalah watak pembawaan manusia, sekarang Cianpwe tidak doyan makan lagi makanya kau lantas berganti kesenangan."
Thian-sip-sing tertawa, katanya, Aha, dalam hal ini salahlah kau. Maksudku mencari patung ini adalah karena aku ingin mencari satu orang."
"Mencari satu orang?"
Pwe-giok menegas sambil berkerut kening.
"Apapun juga dia juga salah seorang Bu-lim-pat-bi, patungnya pasti juga terdapat di antara patung-patung indah ini,"
Kata Thian-sip-sing.
"Karena aku tidak dapat melihat orangnya, juga tidak berani melihatnya bila berhadapan, kan lumayan jika dapat kulihat patungnya."
"Memang siapa dia?"
Tanya Pwe-giok.
Jilid 14________ Thian-sip-sing berkedip-kedip, dia tidak berkata apa-apa melainkan cuma memberi isyarat dengan tangan. Melihat isyarat tangan itu, seketika berubah air muka Pwe-giok, serunya.
"He, apakah... apakah isyarat tangan yang diberikan kepada Cianpwe oleh Ji-bengcu tempo hari itu juga isyarat ini?"
"Hah, kaupun tahu kejadian itu?.... Aneh, sungguh aneh?!"
Kata Thian-sip-sing dengan tercengang.
"Setahuku, isyarat tangan ini kan dimaksudkan sebagai Tangkwik-siansing?"
Kata Pwe-giok.
"Tangkwik-siansing? Siapa bilang isyarat tangan ini menandakan Tangkwik-siansing? Hah, masakah Tangkwik-siansing telah berubah menjadi wanita maha cantik?"
Ujar Thian-sip-sing. Pwe-giok melonjak kaget, serunya.
"He, kalau bukan Tangkwik-siansing, habis siapa yang dimaksudkan dengan isyarat tangan ini?"
Sorot mata Thian-sip-sing menampilkan rasa kejut dan takut, katanya dengan suara parau.
"Jika kau tidak tahu, darimana pula ku tahu...."
Baru omong sampai di sini, mendadak ucapannya terputus, sebab entah kapan dan darimana datangnya, tahu-tahu mulutnya telah dijejal dengan sebuah jeruk, dengan tepat mulutnya tersumbat.
Padahal orang yang hadir di sini tidaklah sedikit, kalau Thian-sip-sing sendiri tidak tahu darimana datangnya jeruk itu, apalagi orang lain.
Menyusul lantas terdengar seorang berkata dengan menyesal.
"Ai, jaman ini memang serba susah, ingin mencari suatu tempat untuk tidur senyenyaknya saja tidak gampang."
Suaranya ternyata berkumandang dari langit-langit rumah.
Serentak semua orang sama mendongak ke atas, maka tertampaklah di belandar tengah entah sejak kapan bergelantungan sebuah karung besar, suara orang itu timbul dari dalam karung besar itu.
Sungguh aneh, masakah di dalam karung itu ada orangnya?
Kalau di dalam karung terisi orang mengapa pula karung itu bisa tergantung di atas belandar?
Tanpa sebab mengapa orang itu mengurung dirinya di dalam karung?
Selagi Pwe-giok merasa heran, mendadak orang banyak sama berteriak kaget.
"Hah! Tay-tekian-kun-it-te-ceng (bumi dan langit masuk satu karung)... Itulah dia Poh-te Siansing (Tuan karung)!"
Di tengah jerit kaget dan takut itu, berpuluh orang yang hadir di situ lantas berlari sipat kuping, semuanya kabur pontang-panting, hanya sekejap saja sudah bersih, seorang pun tak ketinggalan, kecuali Ji Pwe-giok.
Malahan Thian-sip-sing tidak sempat mengeluarkan dulu jeruk yang menyumbat mulutnya itu, hanya kotak berisi patung itu yang ditinggalkan, sebab ia tahu untuk lari akan lebih leluasa bertangan kosong daripada membawa barang.
Seorang kalau kepergok Poh-te Siansing, tentu saja lebih baik lari secepatnya.
Suasana di ruangan besar itu menjadi sunyi, hanya Ji Pwe-giok saja yang masih berada di situ.
Setelah terjadi serentetan hal-hal yang aneh dan misterius itu, lalu seorang berdiri di tengah ruangan sebesar itu dalam keadaan sunyi senyap, di atas kepala malahan bergelantung sebuah karung besar yang tampak bergontai kian kemari, keadaan ini sungguh membuat orang merasa ngeri.
Hampir saja Pwe-giok juga ingin angkat kaki saja.
Tapi pada saat itulah dari dalam karung lantas timbul pula suara orang.
"He, anak muda, jika kau tidak pergi, mengapa tidak lekas kau turunkan aku si orang tua?"
Seketika Pwe-giok hanya melenggong, sebab iapun tidak tahu apa yang harus dilakukannya? Segera orang di dalam karung berseru pula.
"He, cepatlah sedikit, memangnya kau lebih suka menyaksikan orang tua mati sesak napas terkurung di dalam karung ini?"
Pwe-giok berpikir sejenak, katanya kemudian.
"Jika kau dapat masuk sendiri ke situ, mengapa kau tidak dapat keluar sendiri pula?"
Orang tua di dalam karung itu tidak bicara lagi, tapi terus mengeluh seperti orang yang benarbenar hendak mati sesak napas.
Sampai akhirnya suara keluhan pun tidak terdengar lagi.
Setelah menunggu lagi sekian lamanya, akhirnya Pwe-giok tidak tahan, segera ia meloncat ke atas.
Siapa tahu baru saja tubuhnya mengapung, mendadak "bluk", karung besar itu terus jatuh ke bawah.
Cepat Pwe-giok melayang turun pula dan membuka karung itu, tapi....
mana ada orangnya?
Yang terdapat di dalam karung hanya beberapa
Jilid buku saja.
Pwe-giok jadi melongo, hampir saja ia tidak percaya kepada matanya sendiri.
Padahal jelas-jelas suara orang tua itu tadi timbul dari dalam karung, mengapa di dalam karung ini tidak terdapat orang?
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar orang tertawa di atas belandar.
Keruan Pwe-giok terkejut.
Cepat ia menengadah, maka tertampaklah dua kaki dan segumpal jenggot panjang bergontai kian kemari di atas.
Kedua kaki itu sangat kecil, sebaliknya jenggot itu sangat panjang dan subur.
Cahaya lampu tak dapat mencapai langit-langit rumah, maka sukar terlihat bagaimana bentuk orangnya kecuali kedua kaki dan jenggotnya yang panjang itu.
Pwe-giok menarik napas panjang.
Kalau orang lain mungkin akan lari terbirit-birit ketakutan karena menyangka telah ketemu hantu atau siluman.
Tapi Pwe-giok tahu orang tua ini pasti menerobos keluar dari karungnya pada saat dia melayang ke atas tadi, lalu pada waktu karung itu jatuh ke bawah dan selagi perhatian Pwe-giok tertarik kepada karung yang jatuh itu, segera orang tua itu melayang lagi ke atas belandar.
Sudah barang tentu semua ini dilakukan dengan sangat cepat.
Apa yang terjadi ini kalau sudah dijelaskan tentu tidak perlu dibuat heran, hanya saja kalau Ginkang orang tua itu tidak maha tinggi, mana bisa mata-telinga Pwe-giok dikelabui?
Begitulah Pwe-giok tetap menahan perasaannya, ia tertawa, ucapnya dengan hambar.
"Sungguh tak tersangka Lo-siansing masih suka main kucing-kucingan seperti anak kecil. Tapi Cayhe tidak berminat main sembunyi-sembunyi denganmu, maaf, aku mau pergi saja."
"He, kau mau pergi? Apakah kau tidak ingin melihat barang ini?"
Tiba-tiba si kakek berseru.
Belum lagi Pwe-giok bersuara pula, mendadak sesuatu barang jatuh dari atas belandar.
Ia tidak berani menangkapnya dengan tangan, sedikit mengegos, dengan lengan bajunya ia tadah barang itu.
Di bawah cahaya lampu terlihat benda ini kemilauan, nyata barang ini pun sebuah patung ukir batu kemala, patung wanita cantik.
Waktu ia pandang ke sana, kotak besi dan patung yang ditinggalkan Thian-sip-sing di atas meja tadi seluruhnya sudah hilang.
Nyata, pada saat Pwe-giok sibuk membuka karung tadi, sekejap itu telah digunakan oleh si kakek untuk melayang turun dan mengambil kotak besi dan patung di atas meja, semua itu hanya dilakukan dalam sekejap saja, maka dapat dibayangkan betapa hebat ginkangnya.
Betapapun tabahnya Pwe-giok, sekarang ia merasa ngeri juga.
Didengarnya si kakek lagi berkata dengan tertawa.
"Eh, anak muda. si cantik dalam pelukanmu, kenapa tidak kau pandang dengan cermat? Kan sayang jika kesempatan baik ini kau sia-siakan?"
Kalau patung batu pada umumnya hanya kelihatan warna aslinya, tapi pakaian pada patung kemala ini ialah selapis warna hitam dari bahan poles yang aneh, sebab itulah meski warna bajunya hitam, tapi lamat-lamat kelihatan badan patung si cantik yang putih bersih.
Kecantikan wajah patung kemala inipun bak bidadari dari kahyangan, hanya di antara mata alisnya membawa semacam sifat dingin yang sukar di jelaskan sehingga membuat orang segan mendekatinya.
"Apakah kau kenal dia?"
Terdengar si kakek bertanya.
"Tidak,"
Jawab Pwe-giok. Kakek itu menghela nafas, ucapnya.
"Ya, kau lahir terlalu lambat, makanya tidak kenal dia. Tapi pada 30-40 tahun yang lalu, apa bila orang Kangouw menyebut Bak-giok Hujin, sedikitnya berlaksa lelaki akan sukarela mati baginya."
"Kurasa wanita ini sangat sulit didekati,"
Kata Pwe-giok dengan tak acuh.
"Ya, justeru lantaran sikapnya terhadap orang lain selalu dingin seperti es, maka orang lain pun semakin tertarik dan ingin berdekatan dengan dia", tutur si kakek dengan tertawa.
"sembilan diantara sepuluh orang lelaki umumnya berwatak rendah masakah kau tidak paham akan hal ini?"
Pwe-giok tertawa, katanya.
"Biarpun wanita ini maha cantik, akhirnya juga masuk liang kubur dan menjadi tanah kembali. Apa sangkut-pautnya wanita cantik 40 tahun yang lalu dengan diriku?"
"Kalau tidak ada sangkut-pautnya tentu tidak ku suruh kau pandang dia,"
Ujar si kakek.
"Oo?"
Pwe giok bersuara heran.
"Yang di maksudkan oleh isyarat tangan Thian sip-sing tadi ialah si dia ini,"
Kata kakek. Jantung Pwe-giok berdetak, sedapatnya ia menahan perasaan dan menjawab.
"Tapi aku memang tidak kenal dia."
"Coba ingat-ingat lagi, apakah kau benar-benar tidak kenal dia?"
Ujar si kakek.
"Setahuku sedikitnya kau pernah bertemu satu kali dengan dia."
Kembali jantung Pwe-giok berdebar keras, tiba-tiba teringat olehnya guru Hay Tong-jing dan Yang cu-kang, wanita bercadar sutera hitam yang maha cantik dan anggun itu.
Serentak juga teringat olehnya sepotong bambu kecil itu, pada bambu kecil itu terukir sebuah karung atau kantung.
Sampai di sini, Pwe-giok tidak tahan lagi, mendadak ia tanya.
"Jangan-jangan engkau inilah Tangkwik-siansing?"
"Tangkwik-siansing", nama ini seakan-akan mempunyai semacam kekuatan gaib, setelah menyebut nama ini, Pwe-giok sendiripun terkejut. Sungguh sama sekali tak terpikir olehnya bahwa dirinya bisa mendadak bertemu dengan Tangkwik-siansing. Kakek itu tertawa, ucapnya.
"Padahal kita sebenarnya juga sahabat lama, seharusnya kau kenal padaku."
Di tengah gelak tertawanya, dengan enteng ia melayang ke bawah.
Begitu ringan seolah-olah segumpal kapas, seperti sehelai daun jatuh, jenggotnya yang panjang bertebaran seperti titik-titik air hujan mencurah dari langit.
Perawakan pendek kecil dan kurus sehingga seluruh tubuh seakan-akan terbungkus oleh jenggotnya yang lebat dan panjang itu.
"He, kiranya kau!"
Seru Pwe-giok dengan melenggong.
***** Pwe-giok memang betul pernah bertemu dengan kakek ini, bahkan tidak cuma satu kali saja melainkan dua kali.
Pertama bertemu pada waktu dia tertimpa musibah, ayahnya terbunuh dan rumah hancur, untung dia dapat menyelamatkan diri, namun dia menjadi putus asa dan tiada keberanian untuk hidup lagi.
Pada saat demikian itulah dia bertemu dengan si kakek.
Waktu itu dipergokinya si kakek hendak menggantung diri.
Pwe-giok telah menyelamatkan jiwa orang lain tiba-tiba timbul juga semangatnya untuk mencari hidup.
Pertemuan yang kedua adalah pada waktu dia kehilangan kepercayaan atas ilmu silatnya sendiri, dalam keadaan pikiran kusut itulah dia bertemu pula dengan si kakek.
Tatkala mana si kakek sedang melukis, yang hendak dilukisnya adalah gunung, tapi yang muncul pada kanvasnya ternyata bukan gunung.
Dia masih ingat ucapan si kakek itu.
"Jelas-jelas gunung yang kulukis, tapi lukisanku justeru tidak mirip gunung, jelas tidak mirip gunung, tapi setelah kau pandang dengan cermat ternyata memang gunung yang kulukis. Hal ini karena apa yang kulukis ini meski belum tampak berbentuk gunung, tapi intinya, jiwa daripada obyek yang kulukis sudah kutonjolkan dengan jelas. Mungkin orang lain tidak paham melihat lukisanku ini, tapi perduli amat, asalkan yang kulukis adalah gunung, asalkan dalam pandanganku dan perasaanku lukisanku ini adalah gunung, kan cukup dan terlaksanalah tujuanku? Jika aku sendiri dapat menangkap intisari dari lukisan ini dan orang lain justeru tidak paham, hal ini kan terlebih baik?"
Begitulah, justeru ucapan si kakek yang berfalsafah itulah sehingga ilmu silat Pwe-giok dapat melangkah lebih tinggi lagi (tentang pertemuan Pwe-giok dan Tangkwik siansing hendaklah baca "Renjana pendekar".) Maklumlah, kungfu aliran Bu-kek-bun keluarga Ji justeru cocok dengan uraian si kakek itu bermakna tapi tak berbentuk, terlepas dari bentuk yang terbatas dan masuk ke alam yang tak berkutub, (Bu-kek artinya tak berkutub).
Sejak itulah kungfu Bu-kek-bun benar-benar dikuasai Pwe-giok dengan baik, meski belum mencapai tingkatan yang sempurna, tapi sudah dekatlah dengan tingkatan tersebut.
Makin dipikir makin terasa oleh Pwe-giok bahwa si kakek ini sama sekali tiada bermaksud jahat padanya, bahkan si kakek selalu muncul pada saat dia menghadapi bahaya sehingga dia terlepas dari kesukaran.
Jika si kakek dikatakan sebagai iblis yang diam-diam hendak membikin celaka padanya seperti apa yang diceritakan "Bak-giok Hujin", sungguh sukar untuk dipercaya, tapi apa yang dikatakan Bak-giok Hujin itu rasanya juga sulit untuk tidak dipercaya.
Waktu ia angkat kepalanya, dilihatnya si kakek alias Tangkwik-siansing sedang memandangnya dengan tersenyum.
"Sekarang sudah kau kenal diriku bukan?"
Tanya si kakek. Dengan hormat Pwe-giok menjawab.
"Ya, berulang-ulang Tecu menerima petunjuk dan petuah Cianpwe, sungguh Tecu sangat berterima kasih."
Dengan jarinya Tangkwik-siansing menjentik patung Bak-giok Hujin dan berkata.
"Dengan sendirinya kaupun pernah melihatnya bukan?"
Pwe-giok membenarkan.
"Aneh juga bahwa dia ternyata tidak membunuh kau."
Gumam Tangkwik-siansing.
"Kenapa dia perlu membunuh diriku?"
"Sebab, bisa jadi kau adalah satu-satunya orang di dunia ini yang dapat membongkar rahasia pribadinya."
"Rahasia pribadi bagaimana?"
Tanya Pwe-giok.
"Apakah kau tahu siapa namanya?"
Tiba-tiba Tangkwik siansing balas bertanya. Tanpa menunggu jawaban Pwe-giok segera ia menyambung.
"Ya, dengan sendirinya kau tidak tahu siapa namanya, sebab di dunia ini hakekatnya cuma beberapa orang saja yang tahu namanya, Namanya sendiri juga merupakan rahasia besar."
"Masakah namanya saja mengandung rahasia besar?"
Pwe-giok menegas dengan heran.
"Ya, sebab namanya Ki Pi-ceng!"
"Ki Pi-ceng? Masakah dia ada sesuatu hubungan dengan Ki Go-Ceng?"
"Tentu saja ada hubungannya, bahkan sangat erat hubungan antara mereka,"
Tutur Tangkwik siansing.
"Sebab dia bukan saja saudara Ki Go-ceng adik perempuannya, bahkan juga isterinya."
Seketika Pwe-giok melenggong dan tidak sanggup bersuara. Tangkwik siansing menghela nafas, katanya "Kualat..... memang begitulah mereka kena itulah,"
Ia tersenyum getir, lalu menyambung.
"sebab keluarga Ki mempunyai pikiran yang gila, yaitu selalu menganggap di dunia ini hanya keturunan keluarga Ki saja yang maha pintar, maha cerdik, superior yang teratas, yang paling unggul, orang dari keluarga lain tak dapat menimpali mereka."
"Jadi demikian, jadi....jadi telah berlangsung perkawinan antar anggota keluarga mereka sendiri?"
Tanya Pwe-giok dengan melengak.
"Betul"
Jawab Tangkwik-siansing.
"justeru lantaran jalan pikiran mereka yang gila itu, karena menganggap hanya anggota keluarga mereka sendiri saja bibit unggul, maka turun temurun terjadi perkawinan antara kakak dan adik sendiri dan putera-puterinya yang dilahirkan kalau tidak gila tentulah linglung, seperti Ki Pi-ceng, meski lahiriah kelihatan secantik bidadari, padahal dia juga tidak terkecuali juga seorang gila."
Pwe-giok memandang sekejap patung cantik itu, tanpa terasa tangannya berkeringat dingin.
"Tapi dia adalah seorang gila yang angkuh,"
Sambung Tangkwik siansing.
"Ketika mengetahui Ki Cong-hoa yang dilahirkan itu ternyata abnormal, berbentuk kerdil dan berotak miring, ia sangat kecewa, tanpa pikir ia tinggalkan rumah dan putus cinta dengan Ki Go-ceng, makanya sampai dengan tingkatan Ki Cong-hoa hanya terdapat dia saja putera satu-satunya dan terpaksa pula kawin dengan perempuan dari keluarga luar. Walaupun demikian, sejak awal hingga akhir Ki Cong-hoa tetap tidak mau meniduri isterinya."
Baru sekarang Pwe-giok tahu duduknya perkara mengapa Ki Leng-hong sejauh itu tidak mau mengakui Ki Cong hoa sebagai ayahnya, baru diketahuinya pula betapa penderitaan Ki-Hujin, isteri Ki Cong hoa.
Tapi kalau Ki Cong-hoa bukan ayah Ki Leng hong, lantas siapa ayahnya?
Mungkinkah "orang she Ji"
Yang bersembunyi di lorong bawah tanah itu? Jangan-jangan "orang she Ji"
Itu ialah......
Makin dipikir makin ngeri Pwe-giok, sungguh ia tidak berani berpikir lagi.
Cuma ada beberapa hal di antaranya yang mau tak mau harus dipikirnya.
Antara lain tentang Bak-giok Hujin, apabila benar wanita cantik ini adalah istri Ki Go-ceng kenapa dia membunuh Ki Go-ceng?
Kejadian ini disaksikannya dengan mata kepala sendiri, tidak bisa tidak dia harus percaya apa yang terjadi itu.
Didengarnya Tangkwik-siansing berkata pula.
"Sejak itu Ki Go-ceng berubah semakin gila. Waktu itu di dunia Kangouw mendadak terjadi beberapa peristiwa kejahatan yang menggemparkan dan tidak diketahui pula siapa pelakunya. Ada harta benda partai besar yang dirampok secara misterius. Beberapa tokoh ternama secara misterius pula terbunuh. Pelakunya diketahui sangat tinggi kungfunya, setiap peristiwa dilakukan dengan cermat tanpa meninggalkan jejak apapun. Siapapun tidak menyangka bahwa penjahat itu bukan lain ialah Ki Go-ceng. Ceritera ini sudah pernah didengar Pwe-giok dari si kakek Ko di lorong bawah tanah di Satjin-ceng dahulu, maka terbuktilah bahwa cerita Tangkwik-siansing ini bukan karangan belaka. Terdengar Tangkwik-siansing menyambung lagi.
"Waktu itu meski dunia persilatan telah dibikin heboh dan mengerahkan berpuluh-puluh tokoh terkemuka untuk mencari si penjahat, tapi tetap tidak dapat menemukan jejaknya, hanya seorang saja yang mengetahui bahwa pelakunya ialah Ki Go-ceng, tapi sayang, pikirannya ternyata tidak dipercaya oleh orang lain".
"Apakah Cianpwe kenal orang ini?"
Tanya Pwe-giok tiba-tiba. Tangkwik Sian-sing tertawa, jawabnya.
"Dengan sendirinya kukenal dia, sebab dia adalah adikku Ban-li-hui-eng Tangkwik Ko"
Sejak mula Pwe-giok memang sudah membayangkan "Kakek Ko"
Yang misterius itu pasti mempunyai sejarah yang gemilang pada masa lampau, tapi tak pernah terpikir olehnya bahwa kakek Ko itu adalah saudara Tangkwik-siansing yang berjuluk Ban-li-hui-eng atau si Elang terbang berlaksa li.
Dengan tajam Tangkwik-siansing memandang Pwe-giok, tanyanya kemudian dengan tertawa.
"Ku tahu, pasti kau kenal dia bukan?"
"Wanpwe menerima budi kebaikan yang amat besar dari Locianpwe itu, sungguh jiwa Tecu boleh dikatakan atas berkahnya sehingga dapat hidup sampai sekarang"
Tutur Pwe-giok dengan gegetun.
"Adikku itu bukan saja Ginkangnya sangat tinggi sesuai nama julukannya, juga pandang kejahatan sebagai musuhnya, ilmu pertabibannya juga sangat tinggi dan hampir tiada bandingannya di dunia ini. Sekalipun Hoa To (seorang tabib terkemuka di jaman Sam Kok) lahir lagi juga belum tentu dapat melebihi dia, terutama dalam hal ilmu bedah."
Pwe-giok jadi teringat kepada muka sendiri yang pernah dipermak oleh kekek Ko itu, tanpa terasa ia meraba pipi sendiri dan timbul rasa terima kasih dan hormatnya.
Tangkwik-siansing bercerita pula, karena diuber dan dicari terus oleh saudaraku itu, Ki Goceng kehabisan akal, terpaksa ia pura-pura mati dan meninggalkan Sat jin-ceng dan mengasingkan diri di pegunungan terpencil, dicarinya isterinya Bak-giok Hujin Ki Pi ceng."
"Waktu itu Ki Pi ceng juga jauh berada di luar perbatasan?"
Tanya Pwe-giok.
"Betul. Setelah suami-isteri ini berkumpul kembali di Kwan-gwa (di luar tembok besar yang merupakan perbatasan antar negara), namun ambisi mereka masih tetap besar, senantiasa mereka bersiap-siap untuk muncul kembali dan merajai dunia persilatan. Tapi mereka tetap jeri terhadap kami bersaudara, sebegitu jauh mereka tidak berani menampakkan diri di depan umum, terpaksa mereka harus menggunakan tipu muslihat, mereka memakai seorang yang ternama dan disegani di dunia persilatan sebagai boneka."
Kulit muka Pwe-giok berkerut-kerut, ucapnya dengan parau.
"Yang dimaksudkan Cianpwe tentunya orang.... orang she Ji itu?!"
Sorot mata Tangkwik-siansing menampilkan perasaan kasihan dan simpatik, ucapnya dengan suara halus.
"Hong-ho Lojin adalah ksatria pilihan yang jarang ada di dunia persilatan, mana dia mau membantu kejahatan mereka. Dengan sendirinya merekapun cukup tahu bagaimana pribadi Hong-ho Lojin, maka mereka harus menggunakan muslihat keji untuk melenyapkan Hong-ho Lojin dari pergaulan ramai ini, lalu dicarinya seorang yang menyamar sebagai Hong-ho Lojin, mereka bertekad akan memperalat nama baik Ji Hong-ho, dengan sendirinya tindakan mereka tidak kenal cara, yang penting tercapainya cita-cita mereka."
Mendengar sampai di sini, hati Pwe-giok menjadi pedih, gemas dan juga terharu.
Yang membuatnya pedih dan gemas karena teringat kepada berantakannya keluarga serta kematian ayahnya.
Dia terharu karena untuk pertama kalinya sekarang ada orang membela kemalangannya ini, untuk pertama kalinya ada orang menyatakan simpati kepada nasib mereka ayah dan anak, untuk pertama kalinya ada orang mau bicara baginya.
Tangkwik-siansing menepuk pundak anak muda itu, katanya pula dengan suara lembut.
"Jaring langit cukup ketat, setiap perbuatan berdosa tidak nanti lolos begitu saja. Meski sekarang kau kenyang merasakan kegetiran orang hidup, pada suatu hari kelak segala sesuatu pasti dapat dibikin jelas, pada waktu itulah bolehlah kau kembangkan kemahiranmu dan berbuat kebaikan bagi sesamanya."
Hati Pwe-giok merasa terbakar oleh hawa panas, air mata hampir saja bercucuran, ia berlutut di depan kakek dan berkata.
"Jangan-jangan Cianpwe sudah tahu asal-usul Tecu?"
Tangkwik-siansing membangunkan anak muda itu, katanya.
"Ya, dengan sendirinya sudah ku ketahuinya sejak dulu. Masih ingatkah kau, pada hari pertama kau tertimpa musibah itulah kita bertemu tatkala mana sudah kuketahui kau mempunyai keberanian menanggung penderitaan dan menahan hinaan."
Pwe-giok menghela napas panjang agar perasaan menjadi lapang dan tenang, lalu berkata dengan muram.
"Hanya masih ada suatu hal yang sampai saat ini tetap tidak kuketahui."
"Hal apa?"
Tanya si kakek. Dengan gregetan Pwe-giok berkata.
"Sesungguhnya siapakah bangsat yang menyaru sebagai ayahku itu? Mengapa dia juga mahir kungfu Bu-kek-bun? Bahkan dapat menirukan suara dan gerak-gerik ayahku dengan begitu persis?"
Tangkwik-siansing termenung sejenak, lalu menghela nafas panjang, katanya.
"Naga melahirkan sembilan anak dan semua tidak ada yang sama, Hong-ho Lojin terkenal berbudi luhur dan berhati mulia, tapi saudaranya, Ji Tok-ho, justeru seorang terkutuk, binatang yang maha jahat dan tak terampunkan."
Pwe-giok jadi teringat kepada catatan di dalam buku harian tinggalan Siau-hun-kiongcu itu, tanpa terasa tubuhnya menggigil, kaki dan tangan menjadi dingin juga, ucapnya dengan gemetar.
"Apakah....apakah bangsat itu ialah... ialah pamanku sendiri?"
Tangkwik-siansing tidak segera menjawab, ia menghela nafas, lalu berkata.
"Ada beberapa hal rasanya tidak enak kukatakan padamu secara terus terang, cuma harus kau maklumi, meski pamanmu itu dikabarkan minggat dari rumah karena terpaksa, padahal ayahmu tidak pernah bertindak sesuatu yang tidak baik padanya."
Pwe-giok menunduk dengan berduka dan hanya mengangguk saja.
"Setelah Ji Tok-ho berpisah dengan ayahmu, seperti harimau lepas dari kurungan, dia berbuat sesukanya, segala kejahatan dilakukannya, tangannya berlumuran darah, juga mengikat musuh yang tidak sedikit. Cuma ilmu silatnya sangat tinggi, jejaknya sukar dicari, meski orang membencinya dan ingin mencincangnya kalau bisa, tapi sayang sukar menemukan jejaknya."
Kakek itu berhenti sejenak, lalu menyambung pula dengan perlahan.
"Sampai akhirnya tiba suatu hari yang naas baginya, yaitu pada hari Tahun baru, dia sedang makan dan minum di rumah pelacur terkenal langganannya, di kota Lok-yang, tanpa terasa dan juga tidak curiga ia minum hingga mabuk, ia tidak menduga bahwa perempuan langganannya yang sudah berlangsung sekian tahun itu telah membelot, telah diperalat pihak musuh."
"Tahun baru?....."
Pwe-giok bergumam, teringat olehnya apa yang didengarnya di lorong bawah tanah di Sat jin-ceng dahulu, yaitu "Waktu orang she Ji itu datang ke Sat jin-ceng adalah hari ketiga sesudah tahun baru...
Didengarnya Tangkwik siansing lagi menyambung ceritanya.
"Tapi Ji Tok-ho memang seorang jagoan lihay yang jarang ada di dunia persilatan, meski dikerubuti belasan tokoh Bulim terkemuka dalam keadaan mabuk, dia tetap mampu membobol kepungan dan lari masuk ke Sat-jin-ceng...."
Dia menghela nafas, lalu menyambung.
"Ia tahu dalam perkampungan pembunuh itu pasti ada yang akan melindunginya, apa lagi dia juga sudah biasa masuk keluar kampung itu, jelas orang lain tidak sanggup menemukan dia."
"Apakah kejadian itu bukan untuk pertama kalinya dia lari masuk ke Sat-jin-ceng?"
Tanya Pwe-giok.
"Sudah tentu bukan,"
Jawab Tangkwik-siansing.
"Sudah lama dia mempunyai hubungan gelap dengan isteri Ki Cong-hoa, kau tahu Ki Leng-hong dan Ki Leng-yan kakak beradik itu justeru adalah anaknya dari hasil berhubungan gelap dengan Ki-hujin."
Sekujur badan Pwe-giok terasa dingin.
Segera teringat olehnya lorong di bawah tanah yang ditemukannya di Sat-jin-ceng dahulu, disanalah dia menemukan sepotong batu Giok waktu itu ia merasa sangat heran, sebab batu jade atau kemala itu dikenalnya sebagai benda pusaka Bu-kek-bun, perguruan keluarga Ji sendiri, mengapa bisa muncul di Sat-jin-ceng?
Selain itu ditemukan sebuah dompet bersulam dan potret sulaman serta dua bait tulisan yang berbunyi.
"Senantiasa mendampingi Anda, semoga jangan ditinggalkan". Cuma waktu itu sama sekali tak terpikir olehnya bahwa kekasih Ki-hujin yang dimaksudkan ia adalah pamannya. Lalu teringat pula olehnya kakak beradik Ki Leng-hong dan Ki Leng-yan, kedua nona itu selalu menaruh perhatian padanya secara misterius. Kiranya didalam tubuh mereka memang mengalir darah keluarga Ji, sebab antara Pwe-giok dan mereka adalah saudara sepupu. Didengarnya Tangkwik-siansing telah berkata "Ki-hujin telah menyembunyikan Ji Tok-ho di lorong bawah tanah, ia mengira perbuatan mereka pasti tidak diketahui oleh siapapun. Tak tersangka setelah pura-pura mati dan menghilang dari pergaulan umum, Ki Go-ceng juga sembunyi ke dalam lorong bawah tanah itu dan kebetulan memergoki Ji-Tok-ho."
"Jika begitu, meng...mengapa dia tidak...tidak......."
Tangkwik siansing tahu apa yang hendak ditanyakan anak muda itu, maka sebelum orang mengejutkan ia telah menyambung dengan menghela nafas.
"Sebenarnya Ki Go-ceng hendak membunuh "Ji Tok-ho untuk menutup mulutnya agar rahasia pura-pura matinya tidak ketahuan orang. Tapi kemudian terpikir olehnya bahwa orang ini cukup berharga untuk diperalat bagi muslihatnya, mungkin juga dia menganggap Ji Tok-ho sehaluan dan sepaham dengan dia, maka dia hanya menculik dan membawanya pergi dan tidak membunuhnya."
Hal ini sudah lama terfikir oleh J Pwe-giok, sebab kalau Ji Tok-ho tidak dibawa pergi orang secara mendadak dan tergesa-gesa, tentu dia takkan meninggalkan dompet bersulam dan batu Giok itu di lorong bawah tanah di Sat-jin-ceng sana.
Terdengar Tangkwik-siansing berkata pula.
"Namun tampaknya langkah Ki Go-ceng itu tidaklah percuma, sebab Ji Tok-ho dan Hong-ho Lojin adalah saudara, dengan sendirinya lahiriah mereka hampir sama, cukup dipermak lagi sedikit sana sini, tentu sukar lagi untuk dibedakan tulen dan palsunya. Apalagi sejak kecil kedua bersaudara itu selalu berkumpul, dengan sendirinya setiap gerak-gerik dan tutur kata Hong-ho lojin cukup dikuasai oleh Ji Tokho, maka selain wajahnya telah dibedah dan dipermak, iapun dapat menirukan suara dan gerak-geriknya dengan persis"
Dia menghela napas lalu melanjutkan.
"Sebab itulah, semua persoalan ini bukanlah karena terjadi secara kebetulan, tapi setiap langkah boleh dikatakan sudah mengalami pertimbangan dan pengaturan yang cermat. Kalau tidak kebetulan diketemukan Ji Tok-ho, bisa jadi mereka takkan memilih Hong-ho lojin sebagai sasaran utama. Lama juga Pwe-giok termenung, tanyanya kemudian.
"Apakah Ki Go-ceng juga mahir ilmu bedah?"
"Bukan dia, tapi istrinya, Bak-giok Hujin"
Jawab Tangkwik-siansing.
"Konon ilmu bedahnya dipelajarinya dari seorang Persi dari wilayah barat, meski kepandaiannya tidak sama dengan ilmu bedah Tangkwik Ko, tapi keduanya mempunyai hasil kerja yang hampir sama"
"Apakah Cianpwe juga tahu kedua murid Bak-giok hujin?"
Tanya Pwe-giok.
"Maksudmu Yang Cu-kang dan Hay Tong-jing berdua?"
Sahut si kakek.
"Betul"
Kata Pwe-giok Tangkwik-siansing menghela napas menyesal, ucapnya.
"Pada dasarnya jiwa kedua anak muda itu sebenarnya tidak jelek, cuma sayang, tanpa sadar mereka telah diperalat oleh gurunya. Menurut pendapatku, mungkin sekali kedua orang itupun tidak tahu rahasia sang guru, terutama mengenai asal-usulnya dan rencana kejinya"
"Betul, sampai-sampai akupun percaya penuh kepada ocehan perempuan itu, apalagi kedua muridnya, tentu mereka percaya kepada sang guru"
Kata Pwe-giok.
"Cuma.... jika demikian halnya, lalu atas perintah siapakah tokoh yang disebut sebagai Lengkui itu?"
"Dengan sendirinya juga atas perintah Ki Pi-ceng"
Kata si kakek.
"Sungguh aneh"
Pwe-giok merasa heran.
"Jika begitu, mengapa Ki Pi-ceng sengaja menyuruh Lengkui membunuh Yang Cu-kang dan Hay Tong-jing, mereka kan muridnya?"
"Ya, bisa jadi disebabkan Bak-giok Hujin juga mulai ragu terhadap kesetiaan murid sendiri, sebab lambat laun Yang Cu-kang dan Hay Tong-jing mulai banyak mengetahui rahasianya,"
Tutur Tangkwik-siansing.
"Menjadi anak murid orang gila seperti Bak-giok Hujin, jika terlalu banyak urusan yang diketahuinya, bukannya beruntung sebaliknya malah akan buntung dan mendatangkan petaka baginya. Mungkin juga Bak-giok Hujin merasa usahanya kini sudah mencapai sukses besar, sebentar lagi dia akan menjadi tokoh utama yang paling berkuasa di dunia persilatan, maka dia merasa Yang Cu-kang dan Hay Tong-jing sudah tidak diperlukan lagi."
Dia berhenti sejenak dan menghela napas, lalu menyambung.
"Apapun juga, kan sejak awal sudah kukatakan bahwa mereka kakak beradik adalah orang gila semua, tindak tanduk mereka tidak dapat diukur dengan akal sehat ."
"Kecuali Lengkui yang asli, bukankah ia masih mempunyai beberapa duplikat Lengkui yang lain?"
Tanya Pwe-giok. Tangkwik-siansing tertawa, ucapnya.
"Ah, semua itu adalah permainan belaka, dia sengaja membesar-besarkan hal itu untuk menakuti orang lain. Membuat orang menjadi setan bukanlah pekerjaan yang mudah."
Pwe-giok termenung sejenak, gumamnya kemudian.
"Wah, jika demikian, jadi selama ini Yang Cu-kang dan Hay Tong-jing juga selalu dikelabui oleh gurunya sendiri. Bahwa aku disuruh bersembunyi ke gua di bawah tanah di pinggang gunung itu bukankah karena dia sengaja hendak mencelakai aku. Apa yang dikatakannya kepadaku itupun dipercaya penuh oleh mereka sendiri."
Berpikir sampai di sini, tanpa terasa ia merasa ngeri bila membayangkan apa yang dialaminya itu, telapak tangannya kembali berkeringat dingin.
Sebab faktanya memang begitu, sekarang bukan saja Yang Cu-kang dan Hay Tong-jing dalam keadaan bahaya, bahkan Cu Lui-ji dan Thi-hoa-nio juga sudah masuk ke mulut harimau dan sukar dibayangkan bagaimana nasib mereka saat ini.
Seumpama sekarang juga Pwe-giok pergi menolong mereka, tetap tiada gunanya, sebab pada hakekatnya dia tidak tahu mereka telah dibawa ke mana oleh Bak-giok Hujin?
Lalu, apa yang diuraikan Tangkwik-siansing apakah seluruhnya benar?
Didengarnya kakek itu berkata pula.
"Meski berbagai kejadian rahasia ini adalah hasil penyelidikanku selama bertahun-tahun dan tentu saja telah banyak memakan tenaga dan pikiranku, tapi ada juga sebagian adalah hasil perkiraanku berdasarkan semua fakta yang telah terjadi, boleh dikatakan tak dapat kubuktikan, tentu juga tidak seluruhnya dapat membuat orang percaya, umpama saja...kalau sekarang kukatakan Ji Hong-ho adalah samaran Ji Tokho, coba, siapakah yang mau percaya?"
Pwe-giok menghela napas, diam-diam ia membatin.
"Memang betul. Kalau aku saja tidak percaya penuh terhadap keteranganmu, apalagi orang lain?"
Tangkwik-siansing memandang anak muda itu dengan lekat-lekat, katanya kemudian dengan tenang.
"Ku tahu, dalam hati tentu juga kau sangsi terhadap apa yang ku uraikan ini, sebab itulah..... sekarang juga akan kubawa kau menemui satu orang."
"Menemui siapa?"
Tanya Pwe-giok heran. Tangkwik-siansing tertawa, jawabnya.
"Setelah bertemu nanti, tentu kau akan tahu sendiri."
Begitulah mereka lantas meninggalkan gedung itu, meninggalkan jalan raya dan menyusur jalan gili-gili sawah, di depan kelihatan sebuah sungai kecil.
Ada sebuah jembatan kecil dengan embun yang belum kering, di seberang jembatan tampak pagar bambu mengelilingi tiga buah rumah gubuk beratap rumput alang-alang kering.
Terdengar suara ayam dan anjing berisik di balik gubuk sana.
Cerobong asap di atas rumah tampak sedang mengepulkan asap dan buyar terbawa angin.
Dari jauh Pwe-giok sudah mencium bau harum obat yang sedang dimasak.
Kalau ada orang menyeduh obat, tentu di dalam rumah gubuk ada orang sakit.
Dan siapakah yang sakit?
Siapa pula yang sedang masak obat?
Pintu pagar tampak setengah tertutup, di bawah pagar tampak terletak sebuah anglo kecil dengan pot kecil tempat masak obat, agaknya air obat sudah mulai mendidih dan menyebarkan bau obat yang keras.
Seekor kucing hitam mendekam di samping anglo dengan setengah mengantuk.
Di sekeliling situ tak tampak seorangpun.
Di manakah orang yang memasak obat?
Untuk apakah Tangkwik-siansing membawa Pwe-giok ke tempat ini?
"Meong", mendadak kucing itu berbunyi sambil meloncat ke atas, ke dalam pangkuan Tangkwik-siansing.
Perlahan Tangkwik-siansing membelai bulu kucing hitam yang halus bagai sutera itu, ucapnya dengan tertawa.
"Haha, si Hitam sayang, jangan mencakar jenggot kakek!"
Pwe-giok tidak berminat terhadap anjing atau kucing, maka ia tidak tertarik kepada kucing hitam kesayangan Tangkwik-siansing. Selagi ia merasa kesepian, tiba-tiba terdengar seorang menegur.
"Apa kabar, Ji-kongcu? Baikbaikkah selama ini?"
Suara itu timbul dari belakangnya.
Keruan Pwe-giok terkejut, cepat ia berpaling, maka terlihatlah seraut wajah yang sudah dikenalnya.
Wajah yang sudah tua, penuh keriput dan bekas-bekas penderitaan kehidupan yang panjang, namun sinar matanya yang menampilkan senyuman simpatik tampak jernih bagai air telaga yang bening.
Kejut dan girang Pwe-giok demi mengenal siapa gerangan si kakek, serunya.
"He, kiranya engkau berada di sini ? "
Di sini dan dalam keadaan demikian ia dapat bertemu lagi dengan "si kakek Ko", sungguh rasanya seperti mimpi atau sudah pada penjelmaan hidup baru.
Kakek itu memang betul si kakek Ko alias Tangkwik Ko yang sudah dikenalnya dan pernah menyelamatkan jiwanya di Sat-jin-ceng dahulu.
Tangkwik Ko sedang menjinjing sebuah ember kayu yang penuh terisi air.
Meski dengan membawa ember sebesar itu dengan air penuh, ternyata Pwe-giok sama sekali tidak tahu akan munculnya orang tua itu, dan tahu-tahu sudah berada di belakangnya.
Melihat codet pada muka Pwe-giok itu, seketika air muka Tangkwik Ko berubah, ia memandangnya lagi beberapa kejap, segera sorot matanya memancarkan senyuman pula, gumamnya.
"Tampaknya segala sesuatu di dunia ini tidak boleh terlalu sempurna, akan lebih baik jika ada sedikit cacat atau sesuatu kekurangannya."
Pwe-giok merasa kerongkongannya tersumbat, ingin bicara, tapi sukar bersuara. Seketika ia hanya melenggong saja. Tangkwik Ko menepuk-nepuk bahunya, ucapnya dengan tertawa cerah.
"Kutahu apa yang hendak kau katakan. Lebih baik tidak kau katakan saja. Di dalam rumah masih ada satu orang yang senantiasa memikirkan dirimu, lekas kau masuk menjenguknya."
Siapakah orang di dalam rumah yang dimaksudkan Tangkwik Ko?
Siapakah yang sakit dan perlu dimasakkan obat?
Jangan-jangan Ki Leng-yan?
Atau Cia Thian-pi?
Atau Lim Tay-ih?
Tangan Pwe-giok terasa agak gemetar, tidak urung ia mendorong pintu dan masuk ke dalam rumah gubuk itu.
Dilihatnya seorang berbaju putih berbaring miring di atas tempat tidur, mukanya pucat kekuning-kuningan dan agak kurus, matanya setengah terbuka dan setengah terpejam, namun sinar matanya tampak gemerlapan.
Begitu melihat orang ini, tak terkatakan rasa girang Pwe-giok, mendadak ia berteriak sambil menubruk maju.
"Hong-samko! Mengapa engkaupun berada di sini, Hong-samko?"
Yang berbaring di situ, orang sakit yang perlu minum obat, ternyata Hoang Sam adanya.
Demi melihat Hong Sam dan Tangkwik Ko berada bersama di sini, seketika kepercayaan Ji Pwe-giok terhadap Tangkwik-siansing bertambah kuat, walaupun masih ada beberapa hal dirasakannya masih sukar mendapat penjelasan.
Lebih-lebih tentang kejadian di gua bawah tanah itu, di mana disaksikannya dengan jelas Bak-giok Hujin Ki Pi-ceng telah membinasakan Ki Go-ceng, peristiwa ini dilihatnya dengan mata kepala sendiri dan bukan kabar berita.
Begitulah, secara ringkas ia ceritakan kepada Hong Sam pengalamannya selama berpisah ini.
Waktu menuturkan cara bagaimana Cu Lui-ji tertipu dan dibawa pegi oleh Ki Pi-ceng, sungguh tidak kepalang rasa sedih Pwe-giok dan juga merasa malu karena dirinya gagal melindungi anak dara itu.
Tapi Hong Sam lantas menghiburnya malah, katanya.
"Ki Pi-ceng pasti tidak akan membikin susah Lui-ji, sebabnya dia membawa pergi Lui-ji hanya digunakan sebagai sandera saja agar kau tunduk kepada segala perintahnya, supaya kau tidak berbuat hal-hal yang bertentangan dengan kehendaknya, supaya kau tidak memusuhi dia."
"Ya, seharusnya sejak semula kupikirkan hal ini, mengapa kubiarkan Lui-ji dibawa pergi olehnya?"
Kata Pwe-giok dengan menunduk.
"Padahal kaupun tidak perlu berkuatir bagi Lui-ji,"
Ujar Hong Sam dengan tertawa.
"Anak dara ini cukup cerdik dan licin, kuyakin Ki Pi-ceng belum tentu dapat mengatasi dia."
Pwe-giok pikir urusan sudah kadung begitu, biarpun kuatir juga tiada gunanya.
Terpaksa untuk sementara dia harus melapangkan dada dan kesampingkan dulu urusan Cu Lui-ji.
Segera ia mengeluarkan buku harian dan potongan bambu itu, katanya kepada Hong Sam.
"Barang-barang inilah yang kutemukan di bawah loteng kecil di Li-toh-tin itu..."
"Sungguh aneh, mengapa buku kecil catatan begini sedemikian mendapat perhatian Siau-hunkiongcu dan disimpan secara rahasia ? "kata Hong Sam sambil berkerut kening. Dengan serius Pwe-giok berkata.
"Sebab buku ini adalah buku hutang-piutang yang disebut Giam-ong-ceh ( piutang raja akherat). Di sini tercatat segala perbuatan jahat setiap tokoh dunia persilatan. Dengan memiliki buku ini, sama halnya Siau-hun kiongcu memegang semacam jimat, sebab siapapun pasti kuatir rahasia buruknya akan dibongkar dan disiarkan olehnya, mau-tak-mau mereka merasa jeri dan segan padanya."
Hong Sam mengangguk, tapi lantas menggeleng-geleng pula, katanya.
"Tidak, alasan ini memang betul juga, tapi masih ada juga segi kebalikannya, maksudku, buku Giam-ong-ceh ini justru merupakan sumber bencana."
Pwe-giok termenung sejenak, katanya kemudian.
"Ya, ku paham maksud Samko. Setiap tokoh Kangouw yang perbuatan buruknya tercatat di dalam Giam-ong-ceh, tentu dengan segala upaya ingin memiliki buku catatan ini, sebab kalau buku ini sudah dipegangnya, di samping perbuatan buruk sendiri dapat ditutupi atau dihapus, sekaligus dapat digunakan sebagai alat pemeras kepada orang lain. Betul tidak ?"
Hong Sam mengangguk, katanya "Betul, sebab itulah jika dari buku Giam-ong-ceh ini sudah sekian banyak rahasia orang lain yang kau ketahui, maka sekarang tidak perlu lagi kau pertahankan buku ini, supaya tidak mendatangkan kesukaran yang tidak kau harapkan."
Pwe-giok tersenyum, jawabnya.
"Dalam hal ini jalan pikiranku justru berlawanan dengan pendapat Samko. Sebab bila orang lain mengetahui buku Giam-ong-ceh ini berada padaku, biarpun buku ini kumusnahkan juga tetap sukar menghindari gangguan serta kesukaran yang akan timbul."
"Memangnya kenapa ?"
Tanya Hong Sam dengan heran.
"Sebab pasti tidak ada orang mau percaya buku ini telah kumusnahkan dengan begitu saja,"
Jawab Pwe-giok.
"Jadi kesukaran yang akan timbul tetap sukar dihindari, malahan aku sendiri berharap semoga gelombang perkara ini bisa lekas timbul."
Tangkwik-siansing menyabetkan jenggotnya yang panjang itu dan menyela.
"He, anak muda, dari nada ucapanmu ini agaknya kau sangat menghendaki kekacauan di dunia ini , begitu bukan?"
Pwe-giok mengangguk, jawabnya.
"Betul, karena itulah besok juga ku siarkan berita tentang Giam-ong-ceh, tentang macam-macam perbuatan jahat tokoh-tokoh kangouw itu. Tujuan daripada tindakanku ini bukan saja hendak menuntut balas bagi kematian ayahku, bahkan lebih dari itu, ingin kubersihkan dunia kangouw, hendak ku perbaharui dunia persilatan, tata tertib dunia kangouw harus dipulihkan, tidak boleh lagi dikotori oleh sekelompok manusia munafik yang bermantelkan bulu domba, tapi berhati serigala, setiap perbuatan yang mengelabui mata umum dan merugikan harus disikat bersih secara tuntas."
Ucapan Pwe-giok ini membuat semua orang yang berada di dalam ruangan ini sama terbelalak dan juga merasa kagum dan memuji.
Tangkwik-siansing mengelus jenggotnya yang panjang itu sambil terus menerus mengangguk, akhirnya iapun berkata dengan air muka kereng.
"Anak muda, sungguh besar cita-citamu, sungguh gagah pendirianmu. Tapi tekadmu yang terpuji itu perlu juga disertai tindakan yang berencana. Jika sekarang juga secara gegabah kau bongkar apa yang tercatat dalam buku Giam-ong-ceh itu, maka dapat kuberikan suatu tamsil padamu......"
"Tamsil bagaimana ?"
Tanya Pwe-giok dengan mengulum senyum.
"Dapat ditamsilkan seperti orang tidak sakit tapi minum obat, mencari penyakit sendiri, barangkali sudah bosan hidup,"
Ujar si kakek.
"Oo, apakah maksud Cianpwe hendak bilang kungfuku sekarang ini belum cukup mampu untuk menghadapi tokoh-tokoh Kangouw, belum kuat dikerubut oleh gembong-gembong dunia persilatan. Begitu?"
Jawab Pwe-giok.
"Betul,"
Tangkwik-siansing mengangguk.
"Pintar juga kau, memang tepat tebakanmu."
"Site, hal ini memang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan,"
Sela Hong sam.
"Meski citacitamu setinggi langit, segala sesuatu juga harus dilakukan sesuai kemampuanmu. Jangan sampai terjadi napsu besar tapi tenaga kurang."
Dengan tertawa Pwe-giok menjawab.
"Ya, ucapan Samko memang betul, dengan sendirinya ada keyakinanku, ada sesuatu peganganku, makanya berani kukemukakan jalan pikiran yang latah ini, dan bukan omong kosong belaka."
Semua orang menjadi saling pandang dengan melongo, mereka tidak percaya anak muda itu mempunyai sesuatu andalan yang bisa membantunya melaksanakan cita-citanya itu.
Dengan terbelalak Hong Sam lantas bertanya.
"Memangnya apa peganganmu? Memangnya berdasarkan apa kau berani bicara sebesar itu? Coba jelaskan, supaya kamipun mengetahuinya."
Segera Pwe-giok mengeluarkan potongan bambu kecil itu dan diacungkan ke atas, katanya.
"Inilah Po-in-pay (tanda balas budi) Tangkwik-siansing, dengan pegangan benda ini, tidak perlu lagi kukuatirkan apapun."
Tangkwik-siansing melonjak kaget, serunya .
"He, anak muda, kenapa Po-in-pay itu juga berada padamu. Keji amat kau, masakah kakek hendak kau seret ke medan jurang yang mungkin akan banjir darah itu?"
"Janganlah Lo-cian-pwe salah paham,"
Kata Pwe-giok dengan khidmat.
"Bukan maksudku dengan menonjolkan Po-in-pay untuk memaksa Locianpwe tampil ke depan untuk mengadu jiwa dengan mereka, tapi tujuanku hanya memohon agar Cianpwe suka mengajarkan Busiang-sin-kang padaku agar dengan ilmu sakti ini dapat kubersihkan kaum munafik dan menegakkan orde baru di dunia persilatan."
Kembali Tangkwik-siansing melengak, tanyanya.
"Darimana kau tahu aku memilik ilmu sakti Bu-siang-sin-kang?"
"Bak-giok Hujin Ki Pi-ceng sendiri yang memberitahukan hal ini kepadaku,"
Jawab Pwegiok.
"Menurut keterangannya, hanya Bu-siang-sin-kang inilah ilmu sakti yang dapat mengatasi kungfu andalannya, yaitu Sian-thian-ceng-gi."
"Makanya akulah yang menjadi sasaranmu, dengan Po-in-pay hendak kau peras diriku?"
Kata Tangkwik-siansing. Dengan hormat Pwe-giok mengangsurkan Po-in-pay dengan kedua tangannya, ucapnya.
"Harap Cianpwe jangan marah, sungguh Wanpwe tidak ada niat hendak memeras orang dengan barang yang ku pegang ini. Yang kuharapkan adalah sudilah cianpwe mengingat keselamatan dunia Kangouw umumnya di kemudian hari dan bantulah terlaksananya cita-cita Wanpwe ini."
Tangkwik-siansing mendengus, mendadak ia merampas Po-in-pau itu, menyusul sebelah tangannya terus menyodok ke dada Pwe-giok.
Keruan Hong sam dan Tangkwik Ko berseru kaget.
Tapi sayang, sudah terlambat, ketika mereka mengetahui yang digunakan Tangkwik-siansing adalah tenaga Bu-siang-sin-kang, terdengar Pwe-giok telah menjerit ngeri, tubuhnya terus mencelat dan melayang jauh ke sana seperti layangan yang putus benangnya, seperti dibawa angin lesus tubuh Pwe-giok menerobos rumah gubuk dan melayang ke tepi sungai.
Hong Sam melenggong, teriaknya kuatir.
"Tangkwik-siansing tua bangka, kenapa kau turun tangan sekeji itu kepadanya?"
Tapi kakek itu tertawa sehingga matanya menyipit, ucapnya.
"Haha, jangan-jangan karena kau terlalu lama berbaring di tempat tidur sehingga matamu sudah rabun!"
Hanya mengucapkan kata-kata yang tidak keruan juntrungannya itu, lalu dia melayang pergi secepat terbang.
Waktu Hong Sam memburu keluar, dilihatnya Tangkwik-siansing dan Pwe-giok sudah lenyap dari pandangan, hanya di kejauhan kelihatan sesosok bayangan kelabu berlari ke depan secepat terbang, hanya sekejap saja lantas menghilang.
Tentu saja Hong Sam kelabakan, segera ia bermaksud memburu kesana.
Pada saat itulah terdengar suara Tangkwik Ko bicara di belakangnya.
"Jangan kau kuatir dan tidak perlu mengejarnya, dengan kecepatan lari kita jelas tidak dapat menyusulnya. Ku tahu tempat sembunyinya, nanti kalau kesehatanmu sudah pulih seluruhnya, akan kubawa kau kesana."
Mendadak Hong Sam membalik tubuh dan menegas.
"Harus menunggu sampai kesehatanku pulih sama sekali ... tatkala mana Site sudah ...."
"Jangan kuatir,"
Cepat Tangkwik Ko memberi tanda agar Hong Sam tidak melanjutkan ucapannya.
"Kukira tidak perlu kau cemas baginya, Ji Pwe-giok bukanlah anak muda yang berpotongan cekak umur, dia takkan mati."
Tapi Hong Sam masih tetap sangsi, ia pandang kawannya dengan perasaan bimbang ...
Sang surya sudah mulai terbit, cahayanya yang gemilang menyinari sawah ladang sehingga alam ini kelihatan kuning emas.
Di bawah cahaya subuh itulah Hong Sam seperti menyadari sesuatu, air mukanya berubah cerah.
***** Pada suatu tempat lain saat itu keadaannya hanya kegelapan belaka, kegelapan yang sunyi dengan angin dingin menyeramkan dan bau apek yang menusuk hidung.
Jalan lorong di bawah tanah yang panjang itu masih tetap sama seperti waktu datangnya, tetap sangat panjang seolah-olah tidak berujung.
Tiga sosok bayangan sedang merayap ke depan di dalam lorong panjang dan gelap itu.
Mereka ialah Cu Lui-ji, Thi-hoa-nio dan Hay Tong-jing.
Sesuai perintah gurunya, yaitu yang kini telah diketahui sebagai Bak-giok Hujin alias Ki Piceng, adik perempuan merangkap isteri Ki go-ceng, Hay tong-jing hendak membawa Cu Luiji dan Thi-hoa-nio pulang ke gunung.
Ketiga orang itu terus merayap ke depan dalam kegelapan tanpa bicara Cu Lui-ji memegang Hay Tong-jing, dengan beriring-iring demikianlah mereka terus menggeremet ke depan, hati mereka terasa berat, seperti tertekan oleh batu yang berat.
Kini ketiga orang itu sama merasakan seolah-olah baru hidup kembali dari malapetaka, ketika di dalam gua tadi, pada detik terakhir yang berbahaya itu, kalau Bak-giok Hujin alias Ki Piceng tidak muncul tepat pada waktunya, tentu mereka bertiga sekarang sudah mati tersiram lilin panas dan telah dijadikan patung penghias kamar batu yang penuh patung lilin itu.
Keadaan mereka sekarang tidak banyak berbeda daripada waktu masuknya tadi, tapi lantaran kekurangan seorang, yaitu Ji Pwe-giok, hal ini jelas lebih menekan perasaan Cu Lui-ji, baginya, kehilangan Ji Pwe-giok sama halnya kehilangan pelita, membuatnya merasa lorong di bawah tanah itu lebih gelap daripada semula, juga membuatnya bingung dan waswas.
Jarak mereka sekarang dengan ke-39 buah lentera itu masih sangat jauh.
Agaknya Hay Tong-jing tidak mau kesepian, dia yang membuka mulut terlebih dulu dan bertanya.
"Kalau tidak salah ingat, pernah ada orang bilang.
"tidak bicara lebih susah daripada mati". Tapi pada saat diperlukan orang bicara seperti sekarang, ternyata tenggorokannya seperti keluar bisul dan tidak mau bersuara. Coba aneh tidak?"
Mendadak Lui-ji berhenti berjalan, katanya.
"Ucapanmu ini kau tujukan kepadaku, bukan?"
"Tertuju siapa ucapanku ini kukira kita sama-sama tahu, masa perlu kujelaskan lagi?"
Jawab Hay Tong-jing.
"Hatiku lagi kesal, cara bicaramu hendaknya jangan berduri dan menusuk perasaan."
Kata Lui-ji.
"Hatimu kesal? Memangnya kenapa merasa kesal?"
Tanya Hay Tong-jing dengan melenggong. Karena pertanyaan ini, seketika Lui-ji juga melengak dan tak dapat menjawab. Thi-hoa-nio lantas menimbrung.
"Masakah perlu kau tanya lagi? Lantaran harus berpisah dengan Ji Pwe-giok, tentu hati nona Cu merasa kesal dan seperti kehilangan sukma, perasaan demikian tentu saja sukar dipahami oleh kaum lelaki seperti dirimu ini."
Muka Lui-ji menjadi merah karena isi hatinya dengan tepat dibongkar oleh Thi-hoa-nio, untung di tengah lorong bawah tanah itu gelap gulita sehingga rasa likatnya itu tidak dilihat orang.
"Betapapun kesalnya kan juga tidak perlu murung begini,"
Ujar Hay Tong-jing.
"perpisahan ini kan cuma untuk sementara waktu saja, bahkan guruku ada maksud menerima nona Cu sebagai murid, ini kan rejeki besar dan menggembirakan, kalau aku tentu sudah berjingkrak kegirangan sejak tadi."
"Itukan jalan pikiranmu, tentu berlainan dengan jalan pikiran nona Cu,"
Kata Thi-hoa-nio.
"Memangnya kau tahu apa yang sedang dipikirkan dia?"
Hay Tong-jing menjadi bungkam dan tak dapat menjawabnya.
Mereka terus merambat ke depan dengan diam, sungguh mereka ingin cepat-cepat meninggalkan tempat yang serupa neraka ini.
engah berjalan, mendadak Lui-ji berhenti, desisnya dengan perasaan tegang.
"Ssst, coba dengarkan .... suara apakah ini?"
Di lorong bawah tanah ini tidak cuma gelap gulita, bahkan juga sunyi senyap dan menyesakkan napas. Tapi di tengah keheningan yang amat luar biasa itu, sayup-sayup terdengar suara "srak-srek"
Yang berkumandang dari kejauhan.
Suara ini dapat diketahui sebagai suara berkibarnya kain baju ketika orang melompat tinggi atau melayang jauh, atau bisa jadi suara langkah orang yang sedang berjalan, tapi lantaran daya kumandang di lorong ini terlalu keras sehingga sukar dibedakan dengan jelas.
Suara "srak-srek"
Itu sangat lirih, seperti terjadi di tempat yang sangat jauh, yang didengar mereka adalah gema suaranya saja, kalau tidak, tentu merekapun takkan mengetahui apa-apa.
Cuma ada satu hal dapat dipastikan, yakni di lorong bawah tanah ini telah muncul orang lain lagi, dan orang ini sedang melayang ke arah sini.
Cu Lui-ji terlebih cermat daripada orang lain, cepat ia menarik Thi-hoa-nio dan Hay Tongjing agar berjongkok di kaki dinding, mereka mendengarkan dengan menahan napas untuk menunggu kejadian selanjutnya.
Benarlah, pada saat lain, sesosok bayangan hitam secepat terbang melayang tiba.
Sungguh cepat luar biasa, seperti angin lalu saja cepatnya.
Cuma sayang, mereka bertiga tidak ada yang dapat membedakan potongan tubuh bayangan itu, bayangan itu seperti seekor burung raksasa dan juga seperti seekor kelelawar besar.
Setelah bayangan itu berkelebat dan menghilang, mereka bertiga masih terus berjongkok di situ hingga sekian lama lagi.
Selang sejenak pula, mendadak Lui-ji berucap dengan suara tertahan.
"Aneh! Sungguh aneh!?"
Pelahan Thi-hoa-nio menarik lengan baju si nona dan bertanya, urusan apa yang membikin kau terheran-heran? Jangan-jangan ada kau temukan lagi sesuatu yang mencurigakan?"
"Aku tidak menemukan apa-apa yang mencurigakan,"
Jawab Lui-ji.
"aku cuma merasakan bayangan yang lewat tadi seperti Ji Hong-ho, Bu-lim-bengcu sekarang. Mungkin inilah yang dikatakan orang sebagai perasaan ke enam."
"Ji Hong-ho katamu? Memangnya untuk apa dia datang ke sini?"
Ujar Thi hoa-nio.
"Sudah tentu tidak ada yang tahu, kecuali sekarang juga kita putar balik kesana dan mengintai secara diam-diam,"
Kata Lui-ji.
"Aku tidak berminat untuk merayap kian kemari di dalam lorong yang gelap dan pengap ini"
Ujar Thi hoa-nio.
"Tapi aku mendukung usul nona Cu ini,"
Tukas Hay Tong-jing.
"Bukankah makhluk aneh yang suka menyiram manusia hidup dengan lilin panas itu sudah dibinasakan oleh ilmu sakti guruku, di sana tentu takkan timbul lagi adegan yang menakutkan seperti tadi, apalagi yang perlu kita takuti?"
Lui-ji juga berkeras pada sarannya, ucapnya.
"Jika secara diam-diam Ji Hong-ho menyusup ke sini, bisa jadi sangat besar sangkut-pautnya dengan urusan Ji Pwe-giok, apapun juga aku harus kembali kesana untuk mengintipnya, inilah kesempatan baik yang sukar dicari."
Karena dua suara melawan satu suara, terpaksa Thi hoa-nio tunduk kepada suara yang lebih banyak, akhirnya iapun setuju dan ikut putar balik ke arah datangnya tadi.
***** Di dinding ruangan gua sana menyala beberapa pelita minyak, di bawah cahaya yang redup, ada sebuah kursi batu kelihatan berduduk seorang perempuan berbaju hitam mulus, dan dia inilah Bak-giok Hujin Ki Pi-ceng.
Di ruangan gua batu itu sunyi senyap, tiada terdengar suara apapun.
Ki Pi-ceng juga duduk tepekur di situ seperti menanggung tekanan batin yang amat berat.
Watak Bak-giok Hujin suka unggul, berkukuh kepada pendiriannya sendiri.
Tapi setelah diberitahu dan diingatkan oleh Ki Go-ceng, akhirnya ia merasa caranya terhadap Ji Pwe-giok memang rada-rada kurang aman.
Namun sesuai wataknya yang kepala batu, ia suka meneruskan kesalahannya itu daripada mengaku salah di depan orang lain.
Dinding batu ruangan itu sangat dingin, tapi raut muka Bak-giok Hujin tampak lebih dingin, lantaran dalam hati merasa tidak aman, tanpa terasa tercetus pada mulutnya.
"Masakah aku salah?... Masakah aku keliru....? Ia menyangka di dalam gua rahasia ini, bahkan di seluruh lorong bawah tanah itu tiada terdapat orang lagi, biarpun dia berteriak mengutarakan segenap isi hatinya juga takkan dilihat dan didengar orang. Tapi pikirannya ternyata keliru! Justru pada saat suara ucapannya hampir lenyap, tiba-tiba dari luar pintu ruangan itu berkumandang suara seorang.
"Kau memang keliru, bahkan keliru besar, tidak kepalang tanggung kesalahanmu!"
"Siapa?"
Bentak Ki Pi-ceng terkejut.
"Masakah suaraku saja tidak kau kenal lagi?"
Ucap suara di luar pintu itu.
"Wah, tampaknya pikiranmu saat ini benar-benar sangat kusut."
Berbareng dengan lenyapnya suara itu, serentak melayang tiba sesosok bayangan orang, kiranya Ki Go-ceng adanya. Ki Pi-ceng memandang dengan dingin, lalu bertanya.
"Kenapa kau kembali secepat ini?"
Air muka Ki Go-ceng kelihatan juga masam, jawabnya.
"Pertanyaanmu ini salah alamat, seharusnya kau tanya kepada bocah itu kenapa dia mengambil keputusan secepat itu."
"Kau maksudkan Ji Pwe-giok?"
Tanya Ki Pi-ceng dengan heran.
"Siapa lagi kalau bukan dia? Bocah ini benar-benar sukar dilawan."
"Memangnya keputusan apa yang telah diambilnya?"
Tanya Ki Go-ceng tak sabar.
"Urusah yang paling kita takuti,"
Tutur Ki Go-ceng.
"Ia telah menyiarkan secara terbuka ke dunia Kangouw segenap apa yang tercatat dalam Giam-ong-ceh."
Tergetar hebat hati Ki Pi-ceng, serentak ia melonjak bangun dan berteriak.
"Apa katamu? Coba ulangi lagi sekali?"
Ki Go-ceng menyengir, ucapnya.
"Ulangi lagi sekali atau seratus kali juga tetap begitu. Diantara catatan Giam-ong-ceh itu tidak cuma meliputi rahasia hubungan kita, bahkan juga mengenai hubungan gelap orang kita dan Ji Tok-ho."
Tubuh Ki Pi-ceng tampak rada gemetar, gumannya.
"Harus kubunuh dia... Akan kubinasakan dia secara mengerikan..."
"Baru sekarang teringat olehmu harus membinasakan dia, kukira sudah agak terlambat,"
Ucap Ki Go-ceng.
"Sebab berita dalam Giam-ong-ceh sudah terlanjur tersiar, siapapun tak dapat menariknya kembali dan menghapusnya."
"Dan kalau urusan sudah kadung begini, masakah kau malah menyesali diriku?"
Teriak Ki Piceng dengan gusar. Ki Go-ceng menggeleng, ucapnya dengan menghela napas.
"Bukannya aku menyesali dirimu, tapi kenyataannya memang demikian. Malahan bocah she Ji itu sangat licik dan licin, saat ini dia telah menghilang, entah sembunyi dimana, sudah beberapa tempat kucari dan tetap tak dapat menemukan dia."
"Ah, itu hanya soal waktu saja,"
Ujar Ki Pi-ceng dengan suara gemas.
"Aku pasti akan membinasakan dia dengan tanganku sendiri, bahkan harus kubunuh dia dengan cara yang paling kejam dan paling mengerikan."
"Tapi berbareng itu kita masih perlu juga membinasakan seorang lagi,"
Tukas Ki Go-ceng.
"Sebab orang ini jauh lebih menggemaskan daripada bocah itu."
"Memangnya siapa yang kau maksudkan?"
Tanya Ki Pi-ceng dengan melengak.
"Ialah musuh bebuyutan kita, si tua bangka Tangkwik-siansing,"
Tutur Ki Go-ceng.
"Hah, dia? Masakah urusan inipun ada sangkut-pautnya dengan dia?"
Tanya Ki Pi-ceng dengan heran. Sinar mata Ki Go-ceng seperti mengeluarkan api, katanya dengan gregetan.
"Justru setan tua itulah yang menjadi tulang punggung anak muda itu sehingga dia berani menantang kita. Ku tahu maksud tujuanmu semula adalah hendak memperalat Po-in-pay yang berada pada bocah itu untuk memeras dan mengancam setan tua Tangkwik itu, siapa tahu sekarang malah senjata makan tuan, kita yang menerima akibatnya. Siapa pun tidak menyangka urusan ini akan berubah menjadi begini buruk."
"Kembali kau menyesali diriku lagi?"
Tanya Ki Pi-ceng dengan melotot.
"Apa gunanya sekarang kita bicara tentang kesalahan siapa, toh tak dapat menyelesaikan persoalan pokoknya,"
Ujar Ki Go-ceng.
"Yang penting sekarang harus kita pikirkan akal yang baik untuk menghadapi mereka."
"Kuyakin persoalan Ji Pwe-giok mudah dibereskan, yang sulit ialah si setan tua Tangkwik itu,"
Kata Ki Pi-ceng.
"Jika begitu, terpaksa kita harus membuka kartu terakhir,"
Kata Ki Go-ceng sambil menyengir.
"Terpaksa kita tonjolkan Ji Hong-ho gadungan hasil karya bedah kita. Biarkan dia melaksanakan tugasnya selaku Bu-lim-bengcu yang berkuasa, biarkan dia mengumumkan kedua orang, yang satu tua dan yang lain muda itu sebagai musuh bersama dunia persilatan. Dengan begitu kita lantas tidak perlu kuatir lagi dan juga tidak perlu turun tangan sendiri."
Ki Pi-ceng mendengus, katanya.
"Tapi jangan kau lupa bahwa aslinya dia adalah bandit di daerah gurun yang terkenal dengan julukan It-koh-yan. Pada saat yang belum cukup masak, masakah dia mau diperalat oleh kita semudah itu?"
"Kukira tidak ada soal.
"ujar Ki Go-ceng.
"Sebab jelek-jelek dia kan sudah berbau anggota keluarga kita, Kalau bicara tentang untung rugi pribadinya, tentu juga dia tak bisa tinggal diam, sebab di dalam Giam-ong-ceh itu juga tidak terlepas dari hutangnya yang masih wajib dibayar."
Ki Pi-ceng tidak bersuara, dia seperti sedang merenungkan gagasan Ki Go-ceng itu.
Pada saat itulah, mendadak sinar mata Ki Go-ceng memancar tajam seperti sinar kilat yang menyorot ke arah pintu, dengan suara bengis ia menegur.
"Siapa itu yang berada di luar?!"
Segera di luar pintu berkumandang suara ketus seseorang.
"Kawan atau lawan, selanjutnya terserah kepada pilihanmu!"
Suara itu sudah sangat dikenal oleh Ki Go-ceng maupun Ki Pi-ceng, segera pula pembicara itu menyelinap masuk.
Siapa lagi dia kalau bukan Ji Hong-ho tiruan, Bu-lim-bengcu gadungan, Ji Tok-ho tulen.
Melihat kedatangan Ji Tok-ho, kedua orang she Ki itu menjadi rada kikuk malah.
Sikap Ji Tok-ho ternyata sekarang tidak sungkan-sungkan lagi terhadap mereka, ia hanya melirik sekejap kepada mereka, lalu berkata.
"Hah, lakon sandiwara yang kalian sutradarai selama ini sungguh amat bagus dan menarik, baru sekarang ku tahu jelas wajah asli kalian."
Ki Go-ceng mendelik, ucapnya.
"Jika demikian, jadi maksudmu kau telah dirugikan, begitu?"
"Antara kita sebenarnya tidak perlu bicara tentang untung dan rugi.
"jengek Ji Tok-ho.
"Sebab kalau mau menyusun neraca, biarpun seratus tahun juga sukar dihitung."
"Jika begitu, baik neraca untung maupun rugi boleh kita kesampingkan,"
Kata Ki Go-ceng.
"Cuma, sudah sekian tahun keluarga Ki kami telah kau nodai, masakah kau malah menyesal kepada kami?"
"Kentut anjing! Hal-hal ini masakah pantas kau kemukakan?"
Damprat Ji Tok-ho dengan gusar.
"Keluarga Ki sekarang sudah tercemar dan berantakan, untuk apalagi ku tinggal di sini!"
Teriak Ki Go-ceng dengan gusar, mendadak ia melayang keluar dengan cepat. Setelah terdiam sejenak, kemudian Ki Pi-ceng berkata.
"Sepantasnya tidak boleh kau datang ke sini, sehingga membikin urusan tambah runyam."
"Pergolakan sudah timbul di dunia kangouw, dan itu memerlukan tindakanku, masa aku tidak perlu berunding dengan kau?"
Kata Ji Tok-ho.
"Apakah kau maksudkan pergolakan yang timbul akibat tersiarnya Giam-ong-ceh?"
Tanya Ki Pi-ceng.
"Betul,"
Ji Tok-ho mengangguk.
"Tak terduga berita yang kau terima ternyata tidak lebih lambat daripadaku. Sekarang urusan lain tidak perlu kita persoalkan, marilah kita mendahului turun tangan, mungkin segala sesuatu masih dapat kita pertahankan."
"Kukira sukar untuk dipertahankan, hanya setan tua dan bocah keparat itu harus kita tumpas untuk melampiaskan dendam kita."
"Kukira masih belum terlambat, asalkan kita turun tangan selekasnya, bisa jadi segala sesuatu masih dapat berubah,"
Ujar Ji Tok-ho.
"Kan Giam-ong-ceh sudah disebar-luaskan di dunia Kangouw, masakah pamor kita masih dapat dipertahankan?"
Tanya Ki Pi-ceng dengan heran.
"Betul, sebab sampai saat ini, berita yang tersiar itu hanya terbatas pada percakapan orang di tepi jalan saja dan belum ada orang yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri catatan dalam buku Giam-ong-ceh itu, jadi pada umumnya orang Kangouw masih diliputi kesangsian, setengah percaya setengah ragu."
"Jika menurut penuturanmu, jadi masih ada setitik harapan.
"kata Ki Pi-ceng.
"Apa maksudmu hendak mengajak aku berangkat bersama sekarang juga?"
"Betul.
"jawab Ji Tok-ho.
"Ku tahu tempat sembunyi si tua bangka Tangkwik Ko, bila beruntung, bisa jadi kita akan menemukan mereka di sana."
Biji mata Ki Pi-ceng berputar, katanya tiba-tiba.
"Tidak, aku perlu pulang dulu ke gunung"
"Pulang ke gunung?"
Ji Tok-ho menegas dengan heran.
"Ada urusan apa yang bisa lebih penting daripada pergolakan yang ditimbulkan oleh berita Giam-ong-ceh itu?"
"Akan ku kurung dulu Cu Lui-ji di sana, sebab anak dara itu telah dibawa pulang ke gunung oleh Hay Tong-jing atas perintahku"
Tutur Ki Pi-ceng.
"Jika anak dara itu tetap dalam genggaman kita, tentu akan besar manfaatnya untuk kita gunakan sebagai alat pemeras terhadap Ji Pwe-giok"
"Jika demikian boleh kutemani kau pulang ke gunung dulu, habis itu barulah kita bersatu untuk membikin perhitungan dengan mereka"
Kata Ji Tok-ho.
Ki Pi-ceng mengangguk setuju, segera mereka meninggalkan gua di bawah tanah itu.
***** Mungkin disebabkan pikiran yang sedang resah dan hati gelisah, maka ketika Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho meninggalkan ruangan gua itu dan masuk ke lorong, mereka ternyata tidak memergoki Cu Lui-ji bertiga yang bersembunyi di sekitar situ.
Lui-ji bertiga segera menyusul ke situ setelah Ji Tok-ho masuk ke lorong itu tidak lama kemudian, sebab itulah semua percakapan antara Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho dapat didengar oleh mereka, mereka mendekam di tempat sembunyinya dan tidak berani bergerak sedikitpun, bahkan bernapas tidak berani keras-keras.
Sekarang, setelah bayangan Ji Tok-ho dan Ki Pi-ceng menghilang di ujung lorong sana, demi menjaga segala kemungkinan, mereka bertiga masih terus mendekam sekian lamanya di tempat sembunyi itu, setelah semuanya terasa aman barulah pelahan mereka berdiri.
Hay Tong-jin menghentakkan kaki ke tanah dan berucap dengan menyesal.
"Sungguh aku menyesal! Aku menyesal mengapa aku mempunyai guru sekotor ini? Aku menyesal mengapa tidak sejak dulu kuketahui rahasia mereka"
"Kita boleh dikatakan sangat mujur"
Kata Lui-ji.
"Untung mendadak timbul semacam firasatku dan tidak langsung ikut kau ke gunung, tapi memutar balik ke sini. Kalau tidak, tentu sampai saat ini kita masih tidak tahu apa-apa, jelas akupun akan dijadikan sandera oleh mereka"
"Sudahlah, sekarang bukan waktunya untuk mengobrol, kita harus lekas-lekas meninggalkan lorong ini,"
Kata Thi-hoa-nio.
"Apapun juga kita harus berdaya untuk mengadakan kontak dengan Ji-kongcu."
"Tapi siapakah yang tahu dimana jejak mereka sekarang?"
Ujar Lui-ji dengan sedih, hampir saja mengucurkan air mata.
"Bukankah tadi Ji Hong-ho gadungan itu mengatakan Ji-kongcu sangat besar kemungkinan berada di tempat kakek Ko?"
Tukas Thi-hoa-nio.
"Maka bolehlah kita mengusut dan mencarinya melalui garis petunjuk ini."
"Tapi siapa pula yang tahu letak tempat kediaman kakek Ko?"
Sela Hay Tong-jing.
"Mencari sesuatu yang tidak jelas kan sama saja seperti omong kosong?"
Seketika semangat Lui ji terbangkit, katanya.
"Mari, kita keluar dulu dari lorong pengap ini, apapun juga kita harus berusaha mendahului menemukan Toako, kalau tidak, tentu dia akan terjebak oleh kelicikan musuh."
Segera mereka mempercepat langkah menuju ke lubang keluar lorong itu.
Mereka sudah tidak menghiraukan lagi bahaya apa yang mungkin timbul.
***** Kabut telah menyelimuti lereng-lereng gunung yang terjal dan berderet-deret.
Indah sekali pemandangan alam ini.
Tidak lama kemudian kabut pagi itupun buyar, sang surya sudah terbit, di bawah cahayanya yang gilang gemilang tertampak puncak gunung menjulang tinggi menghijau segar, pepohonan lebat masih basah oleh embun dilingkupi awan tipis laksana kepulan asap...
Sungguh pemandangan permai seperti tempat kediaman malaikat dewata dalam dongeng.
Terdengar suara gemuruh air terjun, di pinggang gunung sana yang berkumandang hingga jauh, selain itu lereng gunung ini boleh dikatakan sunyi senyap.
Pada saat itulah, di tengah semak pepohonan yang rindang di kaki gunung sana muncul dua sosok bayangan kelabu, kedua orang itu sama memiliki Ginkang kelas satu, mereka terus berlari, dengan cepat sepanjang jalan melayang dan meloncat dengan enteng sekali, melintasi gunung dan memanjat puncak, menyeberangi sungai dan menyusuri kali, hanya sebentar saja mereka sudah melayang tiba di tempat air terjun yang gemerojok dengan kerasnya!.
Pemandangan di sekitar air terjun terlebih permai, batu karang yang beraneka ragamnya, tebing yang curam dengan dinding yang berlumut dan air pun berhamburan dari atas sana.
Kedua sosok bayangan orang itupun turun dari puncak sana dan berhenti tidak jauh di depan air terjun.
Kedua orang ini bukan lain daripada Tangkwik Ko dan Hong Sam.
Setelah memandang sekitarnya sejenak, lalu Tangkwik Ko berkata.
"Ya, betul, inilah tempatnya. Pasti di sini, tidak nanti dia bersembunyi di tempat lain."
Hong Sam kelihatan sangat kagum, katanya.
"Sungguh suatu tempat yang indah, bilakah dia menemukan tempat tirakat sebagus ini?"
"Belum lama berselang, tanpa sengaja dia bercerita tentang tempat baik ini,"
Tutur kakek Ko dengan tertawa "Kecuali diriku, di dunia ini mungkin tidak ada orang lain lagi yang tahu akan tempat ini."
Hong Sam lantas memandang sekitarnya dengan cermat, katanya kemudian.
"Lantas dimanakah dia? Mengapa tidak kelihatan?"
Pada saat itulah, ditengah gemuruh suara air terjun itu mendadak berkumandang suara orang tua berteriak.
"Hai, mengapa kalian seperti setan gentayangan saja, kemana pun ku pergi selalu kalian kuntit. Tempat sembunyiku yang terpencil ini akhirnya dapat kalian temukan juga."
Suara itu timbul dari balik gerombol pohon cemara yang lebat sana.
Dari suaranya segera Hong Sam berdua dapat mengenalinya sebagai suara Tangkwiksiansing.
segera mereka berlari kesana mengikuti arah suara itu.
Setiba di tempat, hanya sekilas pandang saja mereka lantas melihat Tangkwik-siansing lagi bersantai di atas pohon.
Cara bersantai kakek kurus kecil itu sangat istimewa, kedua kakinya yang kecil itu menggantol pada dahan pohon, kepalanya menjungkir ke bawah sehingga wajahnya tertutup seluruhnya oleh jenggotnya yang panjang, apabila orang melihatnya secara mendadak, mustahil kalau tidak menyangka ketemu siluman.
"Eh, semangat kau orang tua benar-benar harus dipuji, tampaknya dari tua telah kembali muda sehingga berhasrat main ayun-ayunan di tempat tersembunyi ini,"
Dengan tertawa Hong Sam berseloroh.
"Kalau berminat, boleh juga kaupun naik kemari untuk mencobanya,"
Jawab Tangkwiksiansing.
"Aku berani menjamin, inilah cara bersantai yang paling menyenangkan apabila kau habis berlatih kungfu."
Sungguh Hong Sam ingin tertawa, sedangkan kakek Ko hanya berdiri disamping sambil menggeleng-geleng kepala.
Mendadak Tangkwik-siansing mengayun tubuhnya, sekali melejit, seperti putaran roda saja, belum lagi orang sempat melihatnya bagian mana kepalanya dan bagaimana kakinya, tahutahu ia sudah melayang turun dan berdiri tegak di depan Hong Sam.
"He, dimanakah saudaraku?"
Seru Hong Sam dengan tak sabar lagi.
"Untuk apa kau tegang begini? ujar Tangkwik-sian-sing.
"Memangnya kalian kuatir kubunuh dia dan kurampas harta bendanya?"
"Sekalipun kami berpendapat begitu juga tidak keterlaluan,"
Ujar Hong Sam.
"Coba jawab apa maksudmu merampas Po-in-pay, lalu menghantam bocah itu hingga mencelat, memangnya semua itu bermaksud baik? Dapatkah kau sangkal semua fakta ini?"
"Justru itulah peraturanku yang khas dan sudah berlaku sejak dulu,"
Teriak Tangkwiksiansing.
"Barang siapa ingin belajar kungfuku, maka dia harus kucoba dengan Bu-siang-sikang, supaya ku tahu sampai dimana tingkat kekuatannya menahan pukulanku?"
"Busyet!"
Seru Hong Sam.
"Masakah pakai dicoba dengan pukulan segala?... Sungguh aneh dan ajaib, di dunia ini ternyata ada cara menerima murid dengan syarat selucu ini."
"Apanya yang aneh? Apanya yang lucu? Kau sendiri yang sedikit pengalaman dan dangkal pengetahuan, maka segalanya kau rasa aneh,"
Omel Tangkwik-siansing dengan mencibir.
"Padahal waktu kucoba dia hanya kugunakan tiga bagian tenaga ku saja, apabila dia tidak cukup memenuhi syarat, tentu kontan dia akan mati ku pukul. Tapi bocah itu memang lain daripada yang lain, sekumur darah saja tidak tumpah."
"Sudahlah, tidak perlu banyak membual lagi,"
Si kakek Ko menyeletuk.
"Yang penting sekarang, Ji-kongcu berada di mana?"
Tangkwik-siansing menuding ke arah air terjun dan berkata.
"Di balik air terjun itu ada sebuah panggung batu alam, di sanalah dia berduduk untuk berlatih"
Hong Sam merasa heran, tanyanya.
"Air terjun sekeras itu dengan suara gemuruh terus menerus tanpa berhenti, suaranya memekak telinga, masakah kau biarkan dia berduduk dan berlatih di sana"
"Tampaknya kau memang dangkal pengetahuan, makanya segala apa membuat kau heran"
Kata Tangkwik-siansing.
"Ketahuilah, di sinilah terletak perbedaan Bu-siang-sing-kang dengan kungfu lain"
"Baiklah, anggaplah memang dangkal pengetahuanku, maka sekarang kuminta penjelasanmu supaya ku tahu rahasia apa di balik cara berlatih yang luar biasa ini?"
Kata Hong Sam. Tangkwik-siansing mengelus jenggotnya yang panjang, tuturnya kemudian.
"Bu-siang-sinkang dapat diyakinkan atau tidak bergantung kepada kekuatan batin dan kecerdasan otaknya. Apabila kekuatan batinnya sudah terpupuk dengan baik, biarpun gunung ambruk di hadapannya juga takkan membuatnya terkejut, apalagi cuma air terjun dan suaranya yang gemuruh. Jika yang berlatih tidak tahan oleh suara gemuruh yang berlangsung terus menerus, maka hal ini berarti kekuatan batinnya belum cukup, kalau kekuatan batin tidak kuat, berarti sukar membangkitkan kecerdasannya, ini berarti tidak memenuhi syarat untuk berlatih Busiang-sin-kang, sebab itulah bocah itu harus lulus dulu dari ujianku ini, habis itu baru dapat ku tentukan dia dapat berlatih Bu-siang-sing-kang atau tidak"
"Dan sekarang apakah dia sudah memberi reaksi akan kekuatan batinnya atau belum?"
Tanya Hong Sam.
"Dia memang hebat"
Kata Tangkwik-siansing dengan tertawa.
"Bahkan sama sekali di luar dugaanku. Kuberani bertaruh dengan siapapun, sebelum lewat tujuh hari dia pasti akan berhasil meyakinkan Bu-siang-sin-kangku"
"Masa begitu pesat kemajuannya?"
Hong Sam menegas dengan melongo.
"Ya, kalau orang lain, tidak mungkin berhasil secepat ini"
Ujar Tangkwik-siansing.
"Pembawaan bocah ini memang lain daripada yang lain, ditambah lagi kegiatan berlatih secara pondasi yang telah dimilikinya sebelum ini, maka dia memang pemuda yang sukar dicari bandingannya. Cuma dalam waktu tujuh hari, siapa pun tidak boleh mengejutkan dia, kalau tidak, bukan saja Bu-siang-sin-kang akan gagal dilatihnya, akibatnya akan membuatnya mengalami kelumpuhan dan tamatlah segalanya."
"Masa kami memandangnya dari jauh juga tidak boleh?"
Tanya Hong Sam. Untuk sejenak Tangkwik-siansing melenggong, katanya kemudian.
"Baiklah, kalau tidak kululuskan permintaanmu, bisa jadi kau masih mencurigai diriku telah membunuh dan merampas harta bendanya."
Jilid 15________ Di belakang air terjun yang airnya berhamburan dengan derasnya itu memang ada sebuah tebing miring, di situ mencuat sepotong batu karang yang rata sehingga mirip sebuah panggung alam terapung.
Batu itu seluas meja, karena teraling-aling oleh air terjun, maka tidak kelihatan bila dipandang dari depan.
Untuk bisa melihat dengan jelas orang harus mengitar dari sisi kanan atau kiri air terjun.
Hong Sam dan Tangkwik Ko ikut di belakang Tangkwik-siansing, di bawah hamburan air terjun, akhirnya mereka dapat menerobos ke sisi kiri dan menemukan panggung alam yang mencuat di dinding tebing secara aneh itu.
Itulah dia, Ji Pwe-giok lagi duduk bersila di atas panggung.
Gaya duduknya adalah semedi agama Buddha, sikapnya khidmat, wajahnya tenang, kelopak matanya setengah tertutup, keadaannya seperti sudah melupakan segalanya.
Kalau tidak mengalami sendiri memang sulit dibayangkan.
Tokoh yang bertenaga dalam kuat seperti Hong Sam dan kakek Ko saja merasakan hati berdebar menghadapi suara gemuruh air terjun laksana gelegar guntur itu.
Tapi Ji Pwe-giok sedikitpun tidak terpengaruh, bahkan tetap bersemedi dengan tenangnya, sungguh suatu keajaiban.
Ketiga orang itu berdiri di situ sampai sekian lamanya tanpa bersuara, lalu Tangkwik-siansing mengajak mereka mundur kembali ke bawah pohon raksasa tadi.
Tiba-tiba Hong Sam ingat sesuatu, katanya.
"Setelah kau lukai dia dengan Bu-siang-sin-kang, lantas kau bawa dia langsung ke sini?"
"Ya, memangnya ku gendong dia pelesir kemana-mana, kemudian datang ke sini?"
Sahut Tangkwik-siansing.
"Di tengah jalan dia terus berada dalam keadaan tidak sadar dan tidak pernah kontak dengan siapa pun?"
Tanya pula Hong Sam.
"Apa maksudmu tanya hal-hal ini?"
Tangkwik-siansing merasa heran. Tiba-tiba Tangkwik Ko menimbrung.
"Waktu kami memburu ke sini, kami mendengar Giamong-ceh sudah tersiar luas di dunia Kangouw, entah betul tidak hal ini?"
Tangkwik-siansing tertawa lebar, katanya.
"Masa tidak betul, meski bocah ini dalam keadaan tak sadar, apakah tidak dapat ku bekerja bakti baginya?"
"Wah, celaka!"
Seru Hong Sam dengan gegetun.
"Tindakanmu ini hakekatnya ingin berjangkitnya kekacauan dunia."
"Memangnya ada kejadian apa sehingga membikin tegang padamu?"
Tanya Tangkwiksiansing.
"Sedikitnya tujuh hari lagi barulah ilmu sakti Pwe-giok berhasil diyakinkan, tapi dalam duatiga hari ini dunia kangouw pasti akan bergolak, mengapa buru-buru kau siarkan Giam-ongceh kepada umum?"
Melengak juga Tangkwik-siansing.
"Ah, rupanya karena terdorong oleh hasratku akan membikin gempar sehingga tidak kupikirkan hal-hal ini. Wah, kan bisa celaka!"
Dengan prihatin kakek Ko ikut bicara.
"Harapan kita sekarang, mudah-mudahan tempat ini tidak diketahui orang."
"Biasanya tempat rahasia begini tentu sukar ditemukan orang,"
Kata Hong Sam.
"Tapi setelah suasana bergolak akibat tersiarnya Giam-ong-ceh keadaan tentu saja berubah, tentu tokohtokoh yang merasa dirugikan oleh berita Giam-ong-ceh itu akan mencari kemana pun, dan tiada yang berani menjamin bahwa tempat ini takkan ditemukan oleh mereka."
Tangkwik-siansing sampai garuk-garuk kepala saking kelabakan, katanya.
"Apa mau dikatakan lagi, Giam-ong-ceh sudah terlanjur tersiar dan sukar ditarik kembali, kukira boleh kau...."
Sampai di sini mendadak ia merandek sambil melirik air muka kedua rekannya.
"Katakan terus.
"Ujar Hong Sam.
"Yang penting kita harus menjaga keselamatan Pwe-giok agar tidak terganggu, untuk ini sekalipun jiwaku harus melayang juga takkan kusesalkan."
"Bagus!"
Tangkwik-siansing berkeplok gembira.
"memangnya sedang kutunggu ucapanmu ini. Sekarang kita tidak perlu banyak omong. pokoknya beberapa kerat tulang rapuh kita bertiga sudah siap berserakan di sini."
"Berserakan di sini tidak menjadi soal, tapi perlu juga kita memperkirakan kemungkinan apa yang akan terjadi,"
Sela kakek Ko.
"Coba pikirkan, siapa-siapa di antara orang-orang itu yang mungkin akan mengadu jiwa ke sini?"
"Wah, tentu saja banyak,"
Kata Tangkwik-siansing.
"Kecuali Ji Hong-ho gadungan itu, tentu masih ada Ki Go-ceng dan Ki Pi-ceng, lalu si Hu-patya yang celaka itu, Lo-cinjin dan... pendek kata, setiap orang kangouw yang menonjol pasti tersangkut, bahkan kau Hong Sam sendiri juga tidak terkecuali."
"Aku?"
Teriak Hong Sam dengan kaget sambil menuding hidung sendiri.
"Masakah dalam Giam-ong-ceh itu juga menyebut diriku? Memangnya perbuatanku mana yang memalukan?"
"Kalau tidak ditunjukkan, mungkin kau sendiri sudah lupa,"
Ujar Tangkwik-siansing.
"Tapi dalam Giam-ong-ceh tercatat dengan gamblang, aku sendiri sudah membacanya, tidak mungkin keliru."
"Coba kulihat,"
Pinta Hong Sam sambil mengulurkan tangannya.
"kalau tidak ada bukti, akan kutangkap kau sengaja memfitnah."
"Buku itu sudah ku masukkan lagi ke saku bocah itu,"
Kata Tangkwik-siansing.
"Jika kau ingin tahu, bolehkah kukatakan terus terang?"
"Baik, coba katakan."
Hong Sam memandangnya dengan terbelalak. Tangkwik-siansing tertawa lebar, katanya.
"Ingat tidak sepuluh tahun yang lalu kau tergilagila pada seorang pesinden, namanya si Mirah, akhirnya dompetmu kempes dan didepak orang, betul tidak?"
"Omong kosong, masakah aku didepak orang."
Cepat Hong Sam membantah.
"Soalnya aku sudah bosan dan kutinggalkan dia."
"Pokoknya pernah terjadi hal begitu, soal didepak orang adalah sengaja kubumbui untuk memancing pengakuanmu,"
Kata Tangkwik-siansing dengan tertawa. Seketika muka Hong Sam menjadi merah. Cepat Tangkwik-siansing menyambung lagi.
"Tidak perlu malu, urusan begituan adalah jamak bagi kaum lelaki. Malahan namaku sendiri pun tercatat di dalam Giam-ong-ceh, kalau kuceritakan persoalannya tidak banyak berbeda dengan perbuatanmu."
"Masa waktu muda kaupun suka main perempuan,"
Tanya Hong Sam. Tangkwik-siansing menggeleng kepala, jawabnya.
"Aku tidak sembarangan main perempuan, soalnya secara diam-diam kucintai seorang nikoh jelita, tapi sayang, aku hanya bertepuk sebelah tangan, cintaku tidak mendapat sambutan yang memuaskan, akhirnya aku hampir saja membunuh diri."
Hong Sam dan Tangkwik Ko saling pandang sekejap, lalu ketiga orang sama bergelak tertawa.....
***** Sang surya sudah hampir tenggelam di ufuk barat, di bawah cahaya senja yang keemasan itu sesosok bayangan orang tampak berjalan di antara pematang sawah menuju ke sebuah sungai kecil di depan sana.
Bayangan kecil itu adalah Cu Lui-ji, setelah keluar dari lorong bawah tanah itu ia lantas berpisah dengan Thi-hoa-nio dan Hay Tong-jing, tujuannya mencari Pwe-giok.
Akan tetapi dunia seluas ini, kemanakah perginya Ji Pwe-giok?
Namun Lui-ji tidak perduli, setiap tempat yang mungkin disinggahi Pwe-giok pasti berusaha dicarinya.
Demi Pwe-giok dia tidak menghiraukan capek lelah segala.
Bicara sesungguhnya, selama dua hari ini dia benar-benar susah payah dan kehabisan tenaga, namun jejak Pwe-giok tetap tidak diketahui.
Bahkan gerak-geriknya sekarang perlu hati-hati, dia sudah tahu Ki Pi-ceng bermaksud menawannya untuk dijadikan sandera.
Sekarang rahasia keluarga abnormal itu sudah terbongkar, sepanjang jalan ia harus waspada agar tidak tersusul oleh Ki Pi-ceng.
Selama dua hari ini iapun mendengar berita Giam-ong-ceh yang ramai dibicarakan orang kang-ouw itu, ini membuktikan bahwa percakapan antara "Ji Hong-ho"
Dan Ki Pi-ceng di gua bawah tanah itu memang tidak salah, iapun tahu dunia kang-ouw sudah mulai bergolak sehingga dia tambah kuatir akan keselamatan Pwe-giok.
Terutama pada siang hari ini, dilihatnya berturut-turut rombongan orang Kang-ouw yang berlalu-lalang di jalan raya, dari suara yang didengarnya tanpa sengaja, diketahuinya bahwa tujuan orang-orang itu adalah hendak mencari Ji Pwe-giok.
Dari kenyataan ini, dia tidak berani lagi berspekulasi, ia harus berusaha menemukan Pwe-giok selekasnya untuk menyampaikan segala rahasia yang didengarnya di gua rahasia itu serta kejadian yang dilihatnya sepanjang jalan.
Semua ini jelas ada hubungan erat dengan Ji Pwe-giok, kalau tidak disingkapnya, tentu Pwegiok akan mudah tersesat ke arah yang tidak tepat.
Padahal persoalan yang paling penting adalah kematian Ki Go-ceng yang palsu itu, kalau hal ini tidak dibongkar, tentu Pwe-giok sukar membedakan "Bak-giok Hujin"
Ki Pi-ceng itu sesungguhnya kawan atau lawan.
Pada saat Lui-ji sudah putus asa untuk menemukan Pwe-giok itulah, tiba-tiba teringat olehnya cerita Hong Sam yang pernah menyebut tempat tinggal kakek Ko, kalau tidak salah rasanya seperti terletak di sekitar tempat ini, hanya letaknya yang persis belum diketahui.
Sebab itulah terpaksa ia mencari sedapatnya secara untung-untungan.
Sekarang Lui-ji benar-benar sangat payah, terasa punggung pegal dan kaki linu, kalau tidak mendapatkan makanan dan istirahat yang cukup, sungguh dia tidak tahan lagi.
Ditengah remang senja itulah dia masih terus mencari ke depan...
Dengan langkah lemah ia masuk ke pintu pagar bambu itu dan berseru.
"Sepada?"
Namun tidak terdengar jawaban, suasana sunyi senyap. Sampai beberapa kali Lui ji berteriak dan tetap tiada suara lain. Sialan, rupanya rumah ini kosong.
"Perduli amat, masuk saja, syukur bila dapat menemukan sedikit makanan, makan kenyang dulu dan perkara urusan belakangan,"
Karena pikiran inilah Lui-ji mendorong pintu rumah itu. Pintu terbuka.
"Ngeongng", mendadak sesosok bayangan meloncat ke pangkuannya. Lui-ji terkejut. Akan tetapi rasa kaget itu segera lenyap dalam sekejap. sebab diketahuinya yang melompat ke pangkuannya itu seekor kucing hitam. Pelahan Lui-ji membelai bulu kucing yang halus itu dan berucap.
"O, kucing sayang, dimanakah majikanmu?"
"Meong, meong!"
Kucing hitam itu memandang si nona dengan matanya yang mengkilap. Lui-ji seperti lupa bahwa kucing itu tak dapat bicara, seperti menimang anak kecil ia berkata pula.
"Ah, tentunya kau lapar, kucarikan sedikit makanan bagimu."
Segera ia mengetik api dan menyalakan lentera minyak di atas meja.
Mendadak perhatian Lui-ji tertarik oleh sepotong baju di amben sana, itulah baju yang dijahit untuk Hong Sam, jelas, tidak mungkin keliru.
jangan-jangan disinilah tempat kediaman kakek Ko?
Sungguh sangat kebetulan!
Tapi kemana perginya Hong-sacek dan kakek Ko?
Saking girangnya sampai Lui-ji lupa lapar dan lelah.
pada saat itulah kucing hitam dalam pangkuannya itu mendadak melompat keluar dan berlari ke arah sawah sana.
Kepergian kucing itu seperti mengandung maksud tujuan tertentu, Lui-ji menjadi curiga, segera ia membuntuti kucing itu.
Sementara itu kelam malam sudah meliputi bumi, di ujung langit timur sana mulai menongol sang dewi malam.
Kucing hitam tadi masih terus berlari ke depan, terkadang menoleh dan memandang Lui-ji seakan-akan kuatir Lui-ji tidak dapat menyusulnya, maka sengaja menunggunya.
Heran sekali Lui-ji, dia lebih-lebih yakin bahwa lari si kucing hitam ini pasti mempunyai tempat tujuan.
Seketika semangatnya terbangkit, cepat ia mengejar dengan kencang, ia ingin tahu selekasnya ke mana kucing hitam itu hendak membawanya.
Di bawah sinar bulan yang mulai terang, dapatlah Lui-ji mengikuti kucing itu melintas sungai kecil dan menyusuri hutan, mendaki lereng bukit, dan kucing hitam itu masih terus berlari ke depan.
Sekonyong-konyong Cu Lui-ji merasa ada sesuatu di belakangnya, waktu ia berpaling, ternyata tiada sesuatu yang dilihatnya.
Ia tidak menaruh perhatian dan tetap berlari ke depan agar tidak kehilangan jejak si kucing hitam.
Setelah berlangsung dua-tiga jam, tertampaklah lereng gunung terjal menghadang di depan.
Kucing itu menoleh dan bersuara "meong-meong"
Dua kali, habis itu mendadak mempercepat larinya ke atas gunung.
Lui-ji sendiri sudah kepayahan, sesungguhnya ia tidak sanggup lagi mengejar kucing itu, tapi sekuatnya ia tetap memanjat ke atas.
Tapi sebelum tiba di pinggang gunung, hanya sekejap saja kucing hitam itu sudah menghilang entah kemana, lalu didengarnya suara gemuruh air terjun.
Ditengah gunung seluas ini dan suara gemuruh air terjun yang menggelegar menimbulkan kumandang suara yang tiada hentinya itu, Lui-ji menjadi bingung dan tak dapat membedakan arah letak air terjun.
Dalam keadaan demikian, Lui-ji merasakan dirinya benar-benar sangat kecil di alam ini, memanggil langit tidak terjawab, menyebut bumi tidak digubris.
Tapi dia tidak menyesal sedikitpun.
Baginya, asalkan dia sudah dekat dengan Ji Pwe-giok yang dicarinya itu, sedikit capek lelah ini sama sekali tidak ada artinya.
Begitulah ia membangkitkan semangat dan bertekad terus mendaki ke atas, paling tidak kucing hitam tadi harus ditemukan.
Pada saat itulah baru saja dia hendak melangkah pula, tiba-tiba dari belakang terjulur tiba sebuah tangan yang indah, seketika pergelangan tangan Lui-ji terpegang.
Ditengah malam sunyi, di pegunungan sepi, kejadian ini sungguh sangat mengejutkan.
Tentu saja Lui-ji merinding, tanpa kuasa tubuhnya terus ditarik memutar balik oleh tangan yang indah itu.
Sekilas pikir Lui-ji mengira dirinya bertemu dengan hantu.
Tapi baru saja pikiran demikian terlintas dalam benaknya, apa yang dilihatnya segera ternyata seorang perempuan yang amat cantik dengan gayanya yang anggun.
"Haya!"
Lui-ji berteriak kaget.
Sungguh tak terduga, setelah melihat jelas orang yang memegang tangannya adalah seorang perempuan cantik berbaju hitam, sungguh kagetnya melebihi melihat setan iblis, saking kagetnya, dan juga lantaran lelahnya, ia jatuh terduduk.
"kau..."
Terbelalak mata Lui-ji dan tidak sanggup bersuara lagi.
"Betul, aku. Tak kau duga bukan?!"
Kata perempuan cantik itu, siapa lagi dia kalau bukan Ki Pi-ceng. Lui-ji gelagapan dan tidak tahu apa yang harus diucapkan. Ki Pi-ceng lantas berkata pula.
"Pernah ku puji kau ini anak perempuan yang baik, mengapa mendadak kau tidak penurut lagi?"
Setelah berhenti sejenak, lalu ia menyambung.
"Tadinya kukira kau ikut Hay Tong jing pulang ke gunung, siapa tahu kau kabur ditengah jalan sehingga aku kecelik."
Mendadak Lui-ji meronta bangun dan berteriak.
"Mengapa aku harus tunduk kepada kehendakmu?"
Suara cukup keras dan sikapnya tegas, mendadak ia menjadi tabah.
"Sebab orang yang tunduk kepadaku tentu takkan susah, tapi kau ternyata tidak mau menurut."
Kata Ki pi-ceng. Lui-ji tambah berani, ia bertolak pinggang dan mendengus.
"Hm, sekarang juga aku tidak merasa susah, bahkan pasti tidak akan tunduk kepada perintahmu, selamanya jua aku tidak pernah susah."
"Itu kan belum kau rasakan,"
Ujar Ki Pi-ceng dengan tertawa.
"Apabila kau mulai merasa susah, tentu kau akan menyesal."
Lui-ji melengak, katanya.
"Aku tidak mengerti apa arti ucapanmu ini?"
"Masa perlu kujelaskan?"
Kata Ki Pi-ceng.
"Baiklah, biar kau tambah pengalaman."
Mendadak Lui-ji merinding, lamat-lamat ia merasakan gelagat tidak enak. Terdengar Ki Pi-ceng menyambung lagi.
"Petang tadi jejakmu sudah ku ikuti, bahkan mengikut pula banyak kawanku"
"Apa? kawanmu? Siapa? Di mana?"
Teriak Lui-ji dengan gugup. Ki Pi-ceng tertawa, katanya.
"Wah, banyak sekali jumlah mereka. ada diantaranya Ji Hongho, Ki Go-ceng, Lo-cinjin, Hu-patya dan lain-lain lagi, sukar dihitung satu persatu. Mereka sudah menuju ke air terjun sana. Tahukah kau untuk apa mereka pergi ke sana?"
Lui-ji tidak menjawab, tapi mukanya menjadi pucat. Ki Pi-ceng berkata pula.
"Kepergian mereka ke sana adalah untuk menjenguk seorang tamu terhormat, sedangkan tamu terhormat itu adalah orang yang sedang kau cari dengan segala daya upaya, tanpa petunjukmu tentu sukar bagi kami untuk menemukan dia. Coba bayangkan, bukankah yang rugi dan bakal susah ialah dirimu?"
Seketika kepala Lui-ji seperti dikemplang satu kali, ia berdiri mematung dan tak sanggup bersuara.
"Nah, ucapanku tidak salah bukan?"
Kata Ki Pi-ceng pula.
"Anak perempuan yang tidak menurut tentu akan susah sendiri, semoga kejadian seperti ini jangan terulang pula."
Lui-ji tidak menghiraukan ejekan orang, mendadak ia berpaling ke sana dan berteriak sekeraskerasnya.
"Ji-Kongcu, akulah yang membikin susah padamu!"
Menyusul ia terus melompat ke sana.
Tapi peristiwa aneh segera terjadi.
Baru saja ia berlari dua-tiga langkah, dari belakang tiba-tiba timbul semacam daya isap yang sangat kuat, kontan dia tertarik balik mentah-mentah.
Jelas itulah perbuatan Ki Pi ceng.
Air mata Lui-ji bercucuran, ucapnya.
"Cianpwe, akulah yang menyiarkan Giam-ong-ceh, jika mau membunuh boleh bunuhlah diriku, tapi jangan membikin susah Ji-kongcu."
Ki Pi-ceng menggeleng, katanya.
"Tampaknya kekuatan cinta memang maha besar, bahkan orang rela mati baginya."
"Memang, ku rela mati asalkan tidak membikin susah dia,"
Seru Lui-ji dengan menangis.
"Biarlah aku mati seratus kali... seribu kali... ku rela..."
Mendadak nada ucapan Ki Pi-ceng berubah menjadi ketus "Hm, urusan di dunia ini memang serba aneh, orang yang pantas mati biarpun ingin lari juga tidak bisa lolos, orang yang tidak harus mati, ingin matipun sukar."
Lui-ji melengak pula, tanyanya.
"Cianpwe, kau bilang siapa tidak pantas mati?"
"Kau anak perempuan yang pintar, tentunya dapat kau bedakan,"
Kata Ki Pi-ceng. Seketika Lui-ji seperti terperosot ke jurang, ia menyadari tiada gunanya memohon belas kasihan orang, ia menangis keras-keras, mendadak ia berlari pula ke pinggang gunung.
"Blang", tahu-tahu ia menyeruduk sesuatu, kontan ia terpental balik. Rupanya dia terlalu gugup dan tergesa-gesa, yang dipikir hanya lari secepat-cepatnya sehingga entah apa yang ditubruknya, tapi begitu ia menengadah dan melihat jelas, seketika ia menjerit tertahan. Hah, Leng-kui adanya! Betul, inilah Leng-kui yang ajaib dan tidak pernah mati itu, senyumannya yang seram, pakaian hitam yang ketat, ikat pinggangnya yang merah dan sebilah golok melengkung terselip di ikat pinggangnya... Saking kagetnya Lui-ji mendekap mukanya dan tidak berani memandang pula.
"Bawalah dia pulang ke gunung,"
Demikian pesan Ki Pi-ceng kepada Leng-kui.
Baru lenyap suaranya, serentak Ki Pi-ceng melayang ke atas, gerakannya jauh lebih cepat dari pada Leng-kui, dalam sekejap saja sudah menghilang.
Segera Leng-kui mencengkeram Lui-ji.
Kalau Leng-kui ibaratnya elang, maka Lui-ji tepat seperti anak ayam.
Mendingan jatuh dalam cengkeraman orang lain, tapi Lui-ji jatuh dalam cengkeraman makhluk aneh ini, keruan ia ketakutan setengah mati.
Leng-kui menyeringai sehingga kelihatan barisan giginya yang putih, katanya.
"Anak perempuan harus menurut, marilah kita pulang ke gunung."
Saking seramnya, pikiran Lui-ji menjadi jernih malah, ia sempat melolos belati terus menikam tubuh Leng-kui.
"Crat", darah muncrat, dada Leng-kui berlubang. Akan tetapi Leng-kui tetap menyeringai seram, ucapnya.
"Eh, kenapa kau lupa lagi, selamanya Leng-kui takkan mati."
Hampir saja Lui-ji semaput saking ngerinya. Pada saat itulah, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara orang berteriak.
"Lui-ji! Lui-ji!..."
Lamat-lamat Lui-ji merasa suara itu seperti suara Hong-saceknya, hati tergetar, serentak ia siuman kembali. Cepat iapun berteriak.
"Sacek... Sacek..."
Baru berteriak dua-tiga kali, tahu-tahu ia merasa dirinya sudah berubah seperti sehelai kertas yang tertiup angin dan melayang di udara.
Iapun melihat sesosok bayangan kelabu secepat terbang lagi melayang ke arah sini, lamatlamat dapat dikenalnya pendatang ini ialah Hong-saceknya.
Dengan Ginkang secepat terbang memang betul Hong Sam sedang memburu ke sini, tapi dia hanya sempat melihat Lui-ji dipanggul oleh sesosok bayangan hitam, lalu seperti asap buyar tertiup angin, dalam sekejap saja sudah menghilang.
Keruan Hong Sam terkesiap, sungguh ia tidak tahu Ginkang apakah bisa secepat itu?
Tak terpikir oleh Hong Sam bahwa yang membawa lari Lui-ji itu ialah Leng-kui, tapi ia merasa bingung untuk mengejarnya.
Pada saat itulah, terdengar angin berkesiur, beberapa bayangan orang melayang keluar dari kaki gunung dang menuju ke air terjun.
Hong Sam tahu gelagat tidak enak, tidak sempat lagi memikirkan Lui-ji, sekali lompat, secepat terbang ia menuju ke tempat Pwe-giok berlatih kungfu itu.
Sesudah dekat, dilihatnya beberapa tombak di luar air terjun sana berdiri tiga orang, Ki Piceng berdiri ditengah diapit oleh Ki Go-ceng dan Ji Hong-ho.
Dengan tiga pasang mata yang jelalatan mereka sedang mencari orang yang membentak agar mereka jangan maju lebih jauh lagi.
Sedetik, dua detik, tiga detik...
Sungguh aneh, dengan ketajaman mata mereka, jangankan malam ini di cakrawala dihiasi sang dewi malam, sekalipun tanpa sinar bulan, seekor tikus ditengah semak pohon saja dapat mereka temukan dengan cepat.
Tapi sekarang sinar mata mereka telah menjelajahi segenap pelosok air terjun itu dan tetap tidak melihat sesuatu.
Ki Go-ceng tidak tahan, dengan gusar ia berteriaknya.
"Siapa itu yang bicara tadi? kalau tidak perlihatkan dirimu segera akan kumaki kau!"
Mendadak seorang dengan suara melengking berteriak.
"Orang tua berada tidak jauh di depan kalian, apakah mata kalian sudah buta semua, masakah tiada seorangpun melihat diriku?"
Sekali ini ketiga orang itu dapat mendengar dengan jelas, suara itu bergema dari onggokan batu yang terletak beberapa tombak di depan mereka sana.
Dengan pandangan setajamnya mereka mencari pula, tapi tetap tidak menemukan orang bersembunyi didalam onggokan batu itu, hanya tertampak sepotong batu raksasa seperti sedang bergerak-gerak.
"Huh, kiranya dia!"
Jengek Ki Pi-ceng.
"Siapa?"
Tanya Ki Go-ceng dengan heran.
"Coba kau perhatikan batu yang bergerak itu, apakah betul-betul batu?"
Ujar Ki Pi-ceng. Waktu Ki Go-ceng memandang secermatnya, lalu berkata.
"Ya, batu itu lebih mirip sebuah karung warna kelabu."
"Betul, warnanya serupa batu, kalau tidak bergerak, hakekatnya tak ketahuan bahwa benda itu adalah sebuah karung yang ada isinya,"
Kata Ki Pi-ceng.
"Kecuali orang goblok yang melebihi babi, kalau tidak tentu dapat kau pikirkan siapa yang kita hadapi ini."
Setelah termenung sejenak, akhirnya Ki Go-ceng menepuk dahi sendiri dan berteriak.
"Ah, betul, rupanya kita sedang berhadapan dengan Po-te Siansing."
"Hahaha, kawan kerdil, hanya separuh tepat terkaanmu!"
Mendadak seorang bergelak tertawa di sana.
"Awas, tangkap!"
Baru lenyap suaranya, isi karung itu menggelinding keluar dengan cepat luar biasa, secara tepat benda itu lantas berhenti setelah menggelinding sampai di depan ketiga orang.
Hah, karung itu terikat erat mulutnya, isinya pasti manusia, hal ini terbukti karena dapat bergerak-gerak.
Ki Go-ceng yakin isi karung itu pasti si tua bangka Tangkwik, memang cara beginilah biasanya Tangkwik-siansing main sembunyi dan menggoda orang.
Tanpa pikir segera ia hantam karung itu.
"blang-blang", kontan terdengar suara jeritan di dalam karung. Mulut karung yang terikat juga pecah dan meluncur keluar satu orang dengan mulut tumpah darah. Seketika air muka Ki Go-ceng berubah, sikapnya menjadi serba susah seperti kera makan terasi. Ki Pi-ceng dan Ji Hong-ho terkejut. Isi karung itu memang benar-benar sangat mengejutkan dan di luar dugaan siapapun. Yang menggelinding keluar ini bukanlah Po-te Siansing alias Tangkwik-siansing melainkan Thiansip-sing, si tukang gegares, yang kini terluka parah karena pukulan Ki Go-ceng. Ki Pi-ceng bertiga bukan cuma terkejut saja, bahkan melongo tak mengerti. Sebab Thian-sipsing adalah komplotan mereka yang datang bersama untuk membikin perhitungan dengan Ji Pwe-giok, beberapa saat yang lalu bahkan masih bersembunyi bersama kawan yang lain, siapa tahu sekarang telah ditawan oleh Tangkwik-siansing dan dimasukkan ke dalam karung, malahan dengan meminjam tangan Ki Go-ceng si tukang gegares ini dihantamnya hingga terluka parah. Maka terdengar gelak tertawa pula dibalik onggokan batu, waktu semua orang memandang kesana, tertampaklah Tangkwik-siansing lagi nongkrong di atas batu dan sedang tertawa terkial-kial. Ukuran jenggot Tangkwik-siansing yang luar biasa memang tidak sebanding dengan tubuhnya yang kecil, sekarang menongkrong di atas batu dan terkial-kial sehingga kelihatannya menjadi sangat lucu. Tapi ketiga orang di hadapannya ini tiada satupun dapat tertawa, sebaliknya mereka melotot gusar ke arah Tangkwik-siansing. Tapi dengan santai Tangkwik-siansing lagi membetulkan jenggotnya yang panjang itu, katanya.
"Eh, tumben kalian bertiga pesiar bersama, mengapa kalian suami istri bertiga tidak mengeram di dalam kamar, tapi jauh-jauh datang ke pegunungan sepi ini untuk mencari diriku? Memangnya kalian ingin cari lawan berkelahi?"
Sindiran Tangkwik-siansing itu benar-benar sangat menusuk perasaan Ki Pi-ceng.
Muka Ki Go-ceng dan Ji Hong-ho juga merasa panas, sungguh kalau bisa mereka ingin membinasakan Tangkwik-siansing dengan sekali hantam.
Sejenak kemudian, setelah menenangkan diri, Ki Pi-ceng berkata.
"Tangkwik-siansing adalah tokoh terkemuka dan terhormat, apabila kutanya sesuatu padamu, tentunya engkau akan bicara terus terang dan takkan berdusta"
"Hah, betapapun Bak-giok Hujin memang lihay, dengan satu kata saja aku lantas terikat untuk tidak berdusta"
Ujar Tangkwik-siansing.
"Sekarang ingin kutanya, apakah Ji Kongcu berada di tempatmu ini?"
"Jika kalian mencari ke sini, apakah aku dapat menyangkal lagi?"
"Bagus jika kau sudah mengaku"
Kata Ki Pi-ceng.
"Sekarang ingin ku bicara beberapa kata langsung dengan dia"
Tangkwik-siansing tampak melengak, katanya.
"Eh, jangan-jangan kau suruh dia membunuhku lagi?"
Ki Pi-ceng tampak kikuk, katanya kemudian.
"Hal ini adalah kesalahan siasatku, seharusnya kubunuh dia, dengan memegang Giam-ong-ceh dan Po-in-pai, maka seluruh dunia persilatan akan berada dalam genggamanku"
"Wah, sungguh aku sangat beruntung, untuk pertama kalinya selama hidupmu kau mau mengaku salah di depan orang"
Ki Pi-ceng tersenyum kecut, ucapnya.
"Tapi sudah terlambat, segalanya sudah terlambat. Hanya ada sesuatu persoalan yang belum lagi terlambat."
"Oo, persoalan apa?"
Tanya Tangkwik-siansing.
"Bunuh dia!"
Ucap Ki Pi-ceng dengan penuh dendam. Keras dan tegas ucapannya ini, jelas tidak kepalang bencinya terhadap Ji Pwe-giok.
"Jika demikian, tentu kau akan menyesal satu kali lagi,"
Kata Tangkwik-siansing.
"Memangnya kenapa?"
Tanya Ki Pi-ceng.
"Sebabnya akulah yang menyiarkan Gian-ong-cek ke dunia Kangouw."
"Apakah betul?"
Ki Pi-Ceng menegas dengan melengak.
"Tindakan ini kan tidak mendatangkan hadiah, untuk apa kau mencari muka?"
Jawab Tangkwik-siansing.
"Jika demikian, paling-paling kaupun cuma perantara saja, yang ingin kucari adalah biang keladinya."
"Jadi sudah pasti kau tuduh bocah itu?"
"Ya, tidak ada kekuatan apa pun di dunia ini yang dapat mengubah penderitaanku."
"Jika kupaksakan diri memikul tanggung jawab ini?"
Tanya Tangkwik-siansing. Semoga ucapan ini karena Tangkwik-siansing salah omong atau aku salah dengar, kalau tidak, silahkan kau tarik kembali ucapanmu."
"Maaf kalau boleh kusitir ucapanmu, tidak ada kekuatan apa pun di dunia ini dapat mengubah penderitaanku."
Kata Tangkwik-siansing.
"Jika demikian, urusan menjadi rada ruwet,"
Kata Ki Pi-ceng dengan menyesal.
"Persoalan ini juga tidak sederhana,"
Ujar Tangkwik-siansing.
"Sekalipun kau mau menyudahi urusan ini juga tidak dapat lagi."
Ki Pi-ceng melengak, tanya.
"Agaknya ada maksud tertentu ucapanmu ini, dapatkah kau bicara dengan lebih jelas?"
"Kukira ada baiknya kau linglung untuk sementara, selekasnya tentu kau paham persoalannya."
Jika tidak mau kau lakukan, aku pun tidak perlu mendesak lagi. Mengingat sesama orang persilatan, biarlah kugariskan dua jalan bagimu dan silahkan Tangkwik-siansing memilihnya."
"Coba katakan,"
Jawab Tangkwik-siansing. Mendadak suara Ki Pi-ceng berubah kereng, katanya.
"Pertama, serahkan Ji-kongcu dengan segera, persoalannya akan diputuskan oleh sidang umum dunia persilatan."
"Bandit besar dari gurun utara It-koh-yan, dengar tidak kau?"
Teriak Tangkwik-siansing mendadak. Ji Hong-ho kelihatan melengak, tanyanya, Siapa yang kau maksudkan?"
"Yang kumaksudkan ialah Ji Hong-ho gadungan alias Ji Tok-ho, Anda sendiri!"
Seru Tangkwik-siansing.
"Hm, tampaknya Anda sudah linglung sehingga tidak kenal orang lagi?"
Jengek Ji Tok-ho.
"Ji Tok-ho,"
Kata Tangkwik-siansing.
"di dalam Giam-ong-ceh, seluk beluk dirimu tercatat dengan jelas, kukira tidak perlu lagi kau berlagak pilon, kalau terus berlagak lagi bisa segera kujadikan kau asap buyar benar-benar."
Air muka Ji Tok-ho tampak merah padam dan tidak dapat bersuara lagi.
"Apa yang dikatakan Ki-hujin tadi sudah kaudengar tidak?"
Tanya Tangkwik-siansing.
"Tentu, itulah usul yang tepat dan pantas,"
Kata Ji Tok-ho.
"Tapi usulnya dapat kuberi tamsil mengadukan perampok di sarang bandit,"
Kata Tangkwiksiansing.
"Maka jalan ini tidak kutempuh, coba saja jalan kedua?"
"Nah, Ki-hujin, sekarang boleh kau sebutkan jalan kedua,"
Ujar Ji Tok-ho.
"Mati!"
Hanya satu kata saja diucapkan Ki Pi-ceng. Tangkwik-siansing bergelak tertawa sambil mengelus jenggotnya yang panjang, ucapnya.
"Usul ini lebih lebih tidak dapat kuterima. Setua ini belum pernah kunikah, kalau harus mati sekarang, cara bagaimana aku akan bertanggung jawab terhadap Giam-lo-ong? Kedua jalan yang digariskan Ki-hujin jelas tak dapat kuterima. Bagaimana kalau kita bicara saja tentang jalan ketiga."
"Jalan ketiga apa?"
Ki Pi-ceng melengak.
"Setiap suka duka, setiap dendam dan benci orang Kangouw memang perlu diselesaikan secara tuntas,"
Kata Tangkwik-siansing.
"Maka berikan waktu tujuh hari padaku, sesudah itu, andaikan kalian tidak mencari bocah itu, tentu juga dia akan mencari kalian, tatkala mana segalanya tentu dapat dibereskan seluruhnya."
Mendadak Ki Go-ceng meraung.
"Setan tua Tangkwik, jangan kau main siasat ulur waktu?"
"Eh, yang bicara apakah sahabat kerdil? Kenapa baru sekarang kau bicara?"
Ejek Tangkwiksiansing.
Mendadak sesosok bayangan menubruk tiba, menerjang Tangkwik-siansing.
Siapa lagi dia kalau bukan Ki Go-ceng yang murka itu.
Daya tubruknya sungguh sangat dahsyat, tertampak Tangkwik-siansing mengebutkan jenggotnya yang panjang, menyusul tubuhnya lantas mengapung ke atas.
"Blang"
Ia sambut pukulan lawan dengan tepat.
Angin keras berjangkit, adu pukulan itu dilakukan kedua orang dengan sama terapung di udara, seketika timbul damparan angin keras, waktu turun ke bawah tubuh Tangkwik-siansing terhuyung mundur dua tiga tindak, sebaliknya Ki Go-ceng tergulung oleh angin dahsyat itu dan berputar-putar beberapa kali di udara dan "brak", ia terbanting jatuh di tempat semula.
Wajah Ki Go-ceng pucat seperti mayat, ujung mulut juga berdarah, seketika tidak sanggup merangkak bangun.
"Hm, hebat benar Bu-siang-sin-kang Tangkwik-siansing kita,"
Jengek Ki Pi-ceng.
"Tapi perlu kuperingatkan padamu, malam ini selain hadir kami bertiga, di sekitar sini sedikitnya bersembunyi belasan tokoh kelas tinggi, mungkin tidak mudah kau bereskan sebagaimana kau duga."
Sinar mata Tangkwik-siansing gemerdep dan menyapu pandang sekelilingnya.
Memang betul, bayangan orang bergerak di sana-sini, belasan tokoh Bu-lim serentak muncul dari tempat gelap seperti badan halus saja.
"Masih ada tidak? Biarlah kubereskan saja sekalian supaya anak itu tidak perlu repot lagi,"
Kata Tangkwik-siansing.
"Jika demikian, tampaknya kalau belum sampai di tepi jurang, Tangkwik-siansing belum juga putus asa?"
Ujar Ki Pi-ceng.
"Anggaplah kau bicara bagiku, sebelum tahu bagaimana lihainya Bu-siang-sin-kang, agaknya kalian pun tidak mau pergi,"
Jawab Tangkwik-siansing dengan sama tajamnya.
Dalam pada itu belasan bayangan orang ini sudah semakin dekat, semuanya berdiri di belakang Ki Pi-ceng.
Sungguh luar biasa, hampir segenap tokoh ternama telah hadir.
Ki Pi-ceng tertawa, katanya.
"Tangkwik-siansing tampaknya yakin benar akan kelihaian sendiri, mungkin kau kira kami tak dapat menemukan Ji-kongcu, jika demikian halnya, maka salahlah kau."
Baca Juga: Maling Romantis 5
Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 16