Ceritasilat Novel Online

Imbauan Pendekar 8

Eps 8 Imbauan Pendekar - Khu Lung

Baca online Imbauan Pendekar - Khu Lung

Cersil Imbauan Pendekar - Khu Lung.

Tangkwik-siansing melengak, sorot matanya yang tajam menatap wajah Ki Pi-ceng. Segera Ki Pi-ceng menyambung.

"Biarlah kita buka kartu saja secara terus terang, supaya urusan bisa lekas diselesaikan. Memangnya kau kira kami tidak tahu Ji-kongcu bersembunyi di belakang air terjun sana?"

Kembali Tangkwik-siansing melengak, mau tak-mau ia merasa kagum terhadap ketajaman mata lawan.

"Tangkwik-siansing,"

Kata Ki Pi-ceng pula.

"Sekarang kuberi lagi suatu kesempatan padamu, bermusuhan dengan setiap tokoh Bu-lim bukanlah sesuatu yang menguntungkan."

Waktu Tangkwik-siansing menoleh, dilihatnya Hong-sam dan Tangkwik-ko sudah berjaga di samping air terjun itu, maka hatinya tambah tabah.

Dengan tiga orang harus menghadapi tokoh Bu-lim sebanyak ini, jelas kekuatan mereka terasa sangat tipis, tapi keadaan sudah kadung begini, tiada pilihan lain baginya.

Tangkwik-siansing menjadi nekat, teriaknya.

"Ayolah maju! Boleh kalian bertiga maju sekaligus! Tapi ingin kuperingatkan lebih dulu, jangan lupa julukanku yang sebuah karung dapat mengisi seluruh jagat ini, jika cuma kalian bertiga saja tentu belum dapat memenuhi karungku."

Jangan dikira kata-kata Tangkwik-siansing ini seperti banyolan belaka, secara tidak kelihatan justru menimbulkan pengaruh psikologis terhadap kawanan tokoh Bu-im itu.

Seperti diketahui, dalam perjamuan ulang tahun Hu-patya tempo hari, ketika mendengar munculnya "si tuan karung", seketika semua orang lari terbirit-birit, apalagi sekarang berhadapan langsung dengan orangnya.

Walaupun keadaan sekarang belum sampai terjadi seperti tempo hari, tapi sudah ada sebagian hadirin itu merasa ngeri dan diam-diam sudah ambil keputusan akan putar haluan apabila keadaan berbahaya.

Sampai di sini, pertempuran tidak mungkin bisa dihindarkan lagi.

Mendadak Ji Tok-ho berteriak.

"Lo-cinjin, bawalah beberapa kawan dan menghadapi Tangkwik-ko."

Kini Ji Tok-ho telah memperlihatkan wibawanya selaku Bu-lim-bengcu, ketua perserikatan dunia persilatan yang berkuasa.

Lo-cinjin mengiakan, segera ia berlari pergi membawa beberapa orang temannya.

Lalu Ji Tok-ho berpaling dan berteriak pula.

"Hi Soan!"

"Siap!"

Seru Hi-soan.

"Bawalah beberapa kawan dan hadapi Hong Sam, Ji Pwe-giok harus ditawan hidup-hidup untuk diadili atas segala perbuatannya selama ini,"

Kata Ji Tok-ho.

Hi Soan juga mengiakan dan berlari pergi dengan beberapa kawannya.

Sekarang di tengah kalangan hanya tersisa dua setengan orang, kecuali Ki Pi-ceng dan Ji Tokho, Ki Go-ceng sudah terluka, maka dia hanya dapat dihitung setengah orang.

Dengan sorot mata membara Ji Tok-ho melototi Tangkwik-siansing, katanya.

"Asalkan karungmu cukup longgar, malam ini kurela terisap ke dalam karungmu, pendek kata, antara kita harus ada penyelesaian yang tuntas."

Belum lenyap suaranya, serentak ia mengapung ke atas terus menubruk maju.

"Brak-brekbrak"

Kontan dia menghantam tiga kali.

Tapi dia sangat licin, waktu Tangkwik-siansing balas menyerangnya, cepat ia melompat mundur lagi.

Jelas kelihatan ia sangat jeri terhadap kelihaian Bu-siang-sin-kang, sebab itulah dia tidak berani menangkisnya dengan keras lawan keras.

Pukulan Tangkwik-siansing memang sangat mengejutkan, angin mendampar sekeliling kalangan, debu pasir beterbangan, seketika di sekitar orang tua ini seakan-akan terbentuk selapis dinding hawa yang sukar ditembus.

Diam-diam Ki Pi-ceng terkejut, mau tak-mau ia harus mengakui kelihaian setan tua tangkwiksiansing, jelas orang sudah nekat dan siap mengadu jiwa.

Di tengah deru angin yang keras.

"brek-brek", terjadi beberap kali gebrakan, tapi Ji Tok-ho tidak mampu menangkis, untung dia mengutamakan berkelit dan menghindar, kalau tidak tentu dia sudah roboh terluka oleh Bu-siang-sin-kang. Pada saat itulah, tiba-tiba sesosok bayangan orang menerjang ke tengah medan pertempuran. Itulah Bak-giok hujin Ki Pi-ceng. Begitu kedua tangannya ditarik ke depan dada, menyusul lantas ditolak ke depan.

"Blang", terdengar suara benturan keras, terjadi kontak langsung antara kedua tokoh utama itu. Ki Pi-ceng telah mengeluarkan kungfu andalannya "Sian-thian-ceng-gi"

Beradu dengan Busiang-sin-kang.

Dua bayangan segera terpencar lagi, berturut-turut Ki Pi-ceng menyurut mundur, sedangkan Tangkwik-siansing juga bergeliat, jenggotnya yang panjang bergoyang terdampar angin pukulan sehingga mirip boneka si kakek di toko mainan anak-anak.

Dengan pandangan tercengang Ki Pi-ceng menatap orang tua itu.

Sebaliknya Tangkwik-siansing juga sedang melotot dengan matanya yang kecil itu.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong serangkum angin pukulan dahsyat menyambar tiba dari belakang Tangkwik-siansing.

Tapi mendadak orang tua itu membentak.

"Huh, terhitung Bu-lim-bengcu macam ini? Pandainya cuma main sergap dari belakang?!"

Berbareng dengan ucapannya itu, serentak ia berputar, Bu-siang-sin-kang bekerja cepat, suatu pukulan dahsyat dilontarkan ke belakang.

"Brak", berjangkit suara orang jatuh. Rupanya Ji Tok-ho tidak sempat menarik kembali serangannya sehingga tepat kena ditolak oleh Bu-siang-sin-kang, kontan ia terpental dan jatuh tersungkur. Untung baginya, hanya terluka ringan saja dan tidak sampai mati. Selagi Tangkwik-siansing hendak menambah sekali pukulan lagi, pukulan Sian-thian-ceng-gi Ki Pi-ceng keburu menyambar tiba pula. Dan begitulah, dengan satu lawan dua, Tangkwik-siansing menghadapi kerubutan Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho tanpa gentar. Sembari bertempur, Ki Pi-ceng sembat memberi pesan kepada Ji Tok-ho.

"Ji-bengcu, tempur dia dengan gerak cepat, sedapatnya menguras tenaganya."

Sungguh celaka!

Justru inilah yang dikuatirkan Tangkwik-siansing.

Maklumlah, Bu-siang-sin-kang paling banyak makan tenaga, sedangkan lawannya adalah tokoh besar kelas wahid, tanpa menggunakan Bu-siang-sin-kang jeas tidak mampu menandinginya.

Pada suatu kesempatan Tangkwik siansing coba mamandang ke sana......

Ternyata di samping kanan-kiri air terjun sana juga mulai terjadi pertempuran.

Tangkwik-ko dan Hong Sam masing-masing menghadapi kerubutan beberapa tokoh bu-lim, berbareng itu mereka harus menjaga Ji Pwe-giok yang asyik berlatih Bu-siang-sin-kang, tentu saja mereka agak kerepotan dan berulang-ulang terancam bahaya.

Biji mata Tangkwik-siansing berputar, sedapatnya ia mencari akal.

Mendadak ia menghimpun tenaga murni pada kedua tangannya, sekonyong-konyong ia mendorong pada gundukan tanah yang terletak tidak jauh di sebelahnya.

"Blang", terjadi guncangan keras seperti gempa bumi. Karena getaran keras itu, mendadak gundukan tanah itu muncrat ke udara sehingga berubah menjadi segulung kabut tebal, mirip angin badai yang berjangkit di gurun pasir. Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho sama terkejut. Kesempatan itu segera digunakan oleh Tangkwik-siansing untuk lolos dari kabut tanah itu, secepat terbang ia memburu ke arah air terjun. Selagi orangnya melayang tiba, segera terdengar suara bentakannya yang menggelegar.

"Ini dia Po-te Siansing, yang takut mati lekas lari, yang tidak takut mati boleh pergi menghadapi Giam-lo-ong!"

Baru lenyap suaranya; segera orangnyapun tiba di tempat itu, seperti burung elang menyambar anak ayam, lebih dulu ia menerjang Hi Soan.

Saat itu Hong Sam sedang menghadapi keroyokan rombongan Hi Soan, karena bentakan Tangkwik-siansing yang keras itu, ia menjadi bingung malah.

Bentakan Tangkwik-siansing itu tiada ubahnya sengaja memeberitahukan kepada musuh agar lekas lari.

Padahal memang inilah maksud tujuan Tangkwik-siansing.

Nama "Po-te Siansing"

Yang gilang gemilang dan dapat membikin gentar atau merontokkan nyali setiap jago persilatan, sudah tentu tidak kecil efeknya bilaman nama itu ditonjolkan.

Padahal rombongan Hi Soan yang mengerubuti Hong Sam itu cukup kuat, tampaknya mereka sudah berada di atas angin.

Tapi karena bentakan Tangkwik-siansing itu, seketika kuncup nyali mereka seperti tikus ketemu kucing, sekali berteriak, kontan mereka lari tunggang langgang.

Malahan tidak terbatas pada rombongan Hong Sam saja, bahkan rombongan Lo-cinjin juga terpengaruh dan sama lari ketakutan.

Hanya Lo-cinjin dan Hi Soan yang masih tertinggal disitu.

Sebagai kepala rombongan, dengan nama mereka yang menonjol, kalau merekapun lari terbirit-birit oleh gertakan Tang Kwik-sian sing itu, kan bisa ditertawakan orang.

Dalam pada itu, seperti burung saja Tang Kwik-sian sing telah menubruk dari udara, belum lagi orangnya turun, lebih dulu tenaga Bu-siang-sin-kang sudah mendampar tiba.

Hi Soan yang menghadapi terjangan Tang Kwik-sian sing itu, terpaksa mengerahkan tenaga untuk menyambut pukulan lawan.

"Bluk,"

Terjadi benturan keras tenaga pukulan kedua orang itu, Hi Soan terpental dan jatuh terguling beberapa tombak jauhnya dan tidak dapat bangun lagi.

Dengan demikian tekanan terhadap Hong Sam menjadi longgar.

Sedangkan di pihak Tang Kwik Ko sana, karena yang dihadapapinya sekarang juga tinggal Lo-cinjin saja, ia pun merasa ringan.

"Lihat pukulan, setan tua Tang Kwik!"

Mendadak bergema suara bentakan dari atas.

Suaranya berasal dari satu orang, tapi yang melayang tiba ada dua orang.

Yang sebelah kiri adalah Ki Pi-ceng dan yang kanan Ji Hong-ho gadungan alias Ji Tok-ho.

Dengan sepenuh tenaga kedua orang menghantam, apalagi dari atas menghantam ke bawah, tentu saja luar biasa dasyatnya.

Agaknya mereka pun sudah mempertaruhkan segalanya, hidup atau mati bergantung pada serangan ini.

Tang Kwik-sian sing prihatin, iapun mengerahkan segenap tenaganya dan memapak serangan lawan.

Waktu tenaga pukulan kedua pihat kebentur lagi, kembali terbit suara keras dan damparan hawa yang dahsyat laksana badai mengamuk di tengah debu pasir yang berhamburan kelihatan bayangan orang berseliweran.

Sungguh luar biasa!

Tang Kwik-sian sing tergetar mundur tiga empat tindak, setelah berdiri tegak, darah terasa bergolak dalam rongga dada, air muka pun sebentar merah dan sebentar pucat.

Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho menyerang dari atas, jelas posisi mereka lebih menguntungkan, walaupun begitu, menghadapi Bu-siang-sin-kang yang maha sakti itu merekapun tidak banyak menarik keuntungan, merekapun tergetar mundur beberapa tindak.

Sementara Hi Soan belum lagi merangkak bangun, ia berduduk di tanah dengan wajah pucat seperti mayat, jelas terluka parah.

Dengan murka Ji Tok-ho hendak menubruk maju lagi, tapi mendadak Ki Pi-ceng berteriak mencegahnya.

Dengan sorot mata tajam ia tatap Tangkwik-siansing, katanya.

"Selama 40 tahun ini belum pernah ada orang berani main gila padaku"

"Dan orang tua ini harus dikecualikan bukan?"

Ujar Tangkwik-siansing.

"Permusuhan kita jelas sudah terikat erat", kata Ki Pi-ceng.

"Tapi tidak ingin kubereskan sekarang ini"

Tangkwik-siansing tertawa lebar, ucapnya.

"Haha, kukira bukannya tak ingin, soalnya hasrat besar tenaga kurang, kenapa tidak kau katakan terus terang bahwa keadaanmu malam ini sudah tamat segalanya?"

"Terserah cara bagaimana akan kau katakan"

Kata Ki Pi-Ceng.

"Hanya kau katakan kepada Jikongcu agar dalam waktu tiga hari dia datang ke tempatku untuk membereskan segala urusannya"

"Kalau dia tidak memenuhi waktu yang kau tentukan, lalu bagaimana?"

Tanya si kakek.

"Jika dia tidak datang menurut waktu yang kutentukan, terpaksa kami yang akan mencarinya lagi, dan untuk itu mungkin dia harus mengorbankan suatu nyawa lain yang perlu disayangkan"

Kata Ki Pi-ceng. Tangkwik-siansing melengak, tanyanya.

"Apa artinya ucapanmu ini?"

"Harus kau pikirkan sebaik-baiknya bahwa saat ini Lui-ji berada dalam cengkeramanku"

Jawab Ki Pi-ceng.

"He, telah kau apakan anak dara itu?"

Teriak Hong Sam dengan kuatir.

"Jangan cemas"

Ujar Ki Pi-ceng dengan tak acuh.

"Sekarang dia berada dalam pengawasan Lengkui, dalam waktu tiga hari dia tidak akan diganggu, selewatnya tiga hari tentu tidak kujamin lagi keselamatannya"

Berkata sampai di sini, ia lantas memberi tanda kepada Ji Tok-ho.

Segera Ji Tok-ho memanggul Hi Soan dan dibawa pergi dengan cepat.

Selagi Ki Pi-ceng hendak pergi juga, sekonyong-konyong angin pukulan dahsyat menyambar tiba.

Tanpa pikir tenaga Sian-thian-ceng-gi lantas dikeluarkan untuk menangkis, kontan Hong-sam yang menyerang itu tergetar mundur dus-tiga tindak.

"Hm, kau juga ingin bergebrak denganku?"

Jengek Ki Pi-ceng. Hong Sam mendelik.

"Pendek kata, kalau Lui-ji tidak kau serahkan, jangan harap bisa meninggalkan tempat ini."

"Huh, memangnya kau mampu menahanku disini?"

Jengek Ki Pi-ceng.

"Sudah tentu, jika kau minta bantuan Tangkwik-siansing tentu adalah soal lain. Cuma perlu kuperingatkan kau lebih dulu sebelum kau bertindak sesuatu."

"Peringatan pa?"

Tanya Hong Sam.

"Jangan lupa, Lengkui adalah ciptaanku, aku lah yangmengemudkikan dia, antara dia dan aku ada kontak batin (semacam telepati), asalkan timbul sesuatu pikiran ku, seketika Leng-kui akan membinasakan Cu Lui-ji."

"Kau berani?!"

Teriak Hong sam dengan murka.

"Memangnya aku tidak berani?"

Jengek Ki Pi-ceng.

"Berani atau tidak, jika perlu boleh kau coba serang lagi diriku."

Serentak Hong Sam angkat tangannya dan siap menyerang pula.

Tapi pada saat terakhir, mendadak ia urungkan maksudnya, sorot matanya yang membara itu seakan-akan ingin membakar musuhnya, ia pandang Ki Pi-ceng dengan murka.

Ki Pi-ceng tertawa senang, tertawa kemengangan, ia tahu lawan benar-benar mati kutu oleh ancamannya.

Dengan mengejek Ki Pi-ceng berkata pula.

"Wah, sungguh bijaksana dan harus dipuji bawa Hong-siansing dapat mengendalikan diri pada detik terakhir menghadapi maut. Baiklah, hendaknya jangan kau lupa menyampaikan pesanku kepada Ji-kongcu tentang batas waktu tiga hari, pada saatnya nanti akan kusambut dengan hormat kedatangannya."

Habis berkata, dengan gemulai ia memutar tubuh dan menghilang dalam kegelapan.

Dalam pada itu Lo-cinjin dan Tangkwik Ko masih saling labrak dengan sengit.

Tidak kepalang dahsyat pukulan Lo-cinjin, berbareng mulutnya juga berteriak dan membentak terus-menerus.

Sekonyong-konyong dilihatnya di belakang terlah bertambah dua orang, mereka ialah Hong Sam dan Tangkwik-siansing.

Lo-cinjin terkejut dan berhenti menyerang sambil melompat mundur.

"He, hidung kerbau, apakah benar-benar hendak kau jual nyawa bagi Ki Pi-ceng?"

Tanya Tangkwik-siansing dengan tertawa.

"Siapa bilang kubela dia? Aku kan tidak menaksir dia,"

Jawab Lo-cinjin dengan mendelik.

"Jika begitu, jadi kau berjuang membela Bilim-bengcu?"

Tanya pula si kakek. Tambah besar mata Lo-cinjin mendelik, ucapnya.

"Huh, lelbih-lebih tidak bisa jadi, memangnya kau kira Lo-cinjin orang yang suka menjilat dan mengekor?"

"Jika demikian, aku menjadi bingung, memangnya untuk apa kau tinggal disini dan mengadu jiwa ?"

"Hm, kenapa kau perlu bertanya lagi?"

Jengek Lo-cinjin.

"Soalnya, mengapa bocah she Ji itu membeberkan urusanku yang memalukan di masa lampau, itu yang tercatat dalam buku Giam-ong-ceh?"

Biji mata Tangkwik-siansing yang kecil itu berputar, katanya.

"Oya, rasanya aku juga membaca catatan mengenai dirimu di dalam Giam-ong-ceh itu, kalau tidak salah, konon kau pernah berlutut di hadapan Siau-hun-kiongcu, bukan kau minta ampun padanya, tapi kau ingin melamarnya sebagai isterimu."

"Betul,"

Kata Lo-cinjin.

"Huh, masakah untuk persoalan sekecil ini pantas bagimu untuk mengadu jiwa?"

Jengek Tangkwik-siansing.

"Bagiku, kejadian itu adalah noda besar dan memalukan,"

Kata Lo-cinjin.

"Kau tahu, nama atau kehormatan adalah jiwaku yang kedua."

"Kukira urusan ini tidak perlu dipersoalkan lebih lanjut."

Kata Tangkwik-siansing.

"Kau tahu, aku pun pernah jatuh cinta kepada seorang nikoh jelita, lelaki cinta kepada perempuan, ialah kodrat, kenapa mesti malu."

"Sungguh tidak kusangka kau bisa bicara blak-blakan begini,"

Ujar Lo-cinjin dengan heran.

"Biarlah kukatakan lagi terus terang, sesungguhnya akulah yang mewakili Ji-kongcu menyiarkan catatan dalam buku Giam-ong-ceh itu,"

Tutur Tangkwik-siansing.

"Jika betul demikian, aku menjadi lebih tidak mengerti apa maksud tujuanmu?"

Tanya Locinjin.

"Masakah kaupun tidak segan-segan menyiarkan perbuatanmu sendiri yang kurang terpuji itu?"

"Hal ini sangat sederhana jika kujelaskan."

Kata Tangkwik-siansing.

"Segala sesuatu ini adalah demi pembaharuan Bu-lim secara tuntas."

"Demi pembaharuan dunia persilatan masakah termasuk urusan tetek bengek yang brengsek ini? "

Kata Lo-cinjin.

"Betul, untuk pembaharuan seluruh Bu-lim secara tuntas harus dimulai dengan memperbaiki karakter, moral dan tindak-tanduk setiap orang Bu-lim.

"tutur Tangkwik-siansing.

"Dengan menyebar-luaskan isi Giam-ong-ceh itu, diharapkan selanjutnya akan memaksa para anggota Bu-lim supaya mengoreksi tindak-tanduk sendiri di masa lampau.

Dengan demikian tentu akan besar efeknya bagi ketentraman dunia persilatan.

Tidak terlalu lama lagi seluruh dunia persilatan pasti akan lebih segar dan teratur dengan baik, selamanya takkan terjadi lagi bunuhmembunuh tanpa bermoral."

"Akan tetapi kerugian nama baikku..."

Lo-cinjin masih juga kurang mantap.

"Apa artinya kejadian itu?"

Ujar Tangkwik-siansing.

"Pada waktu muda, siapa yang tidak pernah berfoya-foya?"

Lo-cinjin menunduk, ia bergumam.

"Ehm, kedengarannya perkataanmu cukup beralasan."

"Tapi pembaharuan Bu-lim secara tuntas sekali ini, sudah barang tentu ada sementara orang yang tidak terlepas dari pembersihan, dosa mereka tidak dapat diampuni sehingga mereka harus mendapat ganjaran yang setimpal,"

Demikian Tangkwik-siansing menambahkan.

"Siapa-siapa saja yang kau maksudkan?"

Tanya Lo-cinjin.

"Apakah kau tahu persoalan Bu-lim bengcu sekarang, si Ji Hong-ho?"

Tanya Tangkwiksiansing.

"Tentu saja tahu, kan cukup jelas catatan dalam Giam-ong-ceh yang sudah tersiar itu?"

Jawab Lo-cinjin.

"Bagus, tapi sekarang kuharap dengan mulutmu sendiri dapat kau sebutkan bagaimana duduk perkaranya mengenai orang she Ji itu?"

"Aslinya dia adalah bandit gurun pasir yang berjuluk It-koh-yan, nama aslinya Ji Tok-ho, sudah banyak perbuatan terkutuk yang dilakukannya, lebih-lebih setelah dipermak oleh Ki Piceng, sehingga wajahnya telah berubah dan dipalsu menjadi Ji Hong-ho, dia rela menjadi boneka Ki Pi-ceng."

"Bagus, jika kau tahu semua ini, urusan tentu akan lebih mudah diselesaikan,"

Ujar Tangkwiksiansing.

"Orang semacam Ki Pi-ceng dan Ki Go-ceng yang serba aneh dengan jiwa yang tidak normal, bilamana mereka berhasil menguasai dunia persilatan ini, coba , dapatkah kau bayangkan bagaimana akibatnya nanti?"

Lo-cinjin menggeleng kepala, katanya.

"Ya, memang sangat menakutkan dan mengerikan."

"Sebab itulah penyiaran catatan dalam Giam-ong-ceh itu, sasaran yang sesungguhnya adalah sekelompok manusia abnormal seperti mereka itu,"

Kata Tangkwik-siansing.

"Sedangkan kau, hanya disebabkan sedikit urusan tetek-bengek yang tidak berarti, tanpa sadar kau ikut terlibat oleh persoalan ini dan tanpa sadar telah diperalat oleh mereka. Coba pikirkan, apakah kau tidak merasa malu diri?"

Seketika Lo-cinjin tak dapat bersuara, ia menunduk kikuk. Tangkwik-siansing lantas berkata pula.

"Persoalannya sudah kubeberkan dengan gamblang, bagaimana sikap dan pendirianmu selanjutnya, boleh terserah kepada keputusanmu sendiri. Yang pasti, malam ini takkan ku persulit dirimu, biarlah kita berjumpa lagi kelak."

Muka Lo-cinjin merah jengah, cepat ia berputar tubuh dan berlari pergi.

Begitulah kegemparan tadi telah dapat diselesaikan, tapi lantaran Cu Lui-ji berada dalam cengkeraman Ki Pi-ceng, hati Hong Sam merasa tidak tenteram.

"Sementara ini tidak perlu kau kuatir,"

Kata Tangkwik-siansing.

"Dalam waktu tiga hari ini jelas anak dara itu takkan berbahaya, kuberani menjamin dengan jiwaku yang sudah lapuk ini."

"Tapi jangan lupa, dia berada dalam cengkeraman Leng-kui, setelah lewat tiga hari, dengan cara bagaimana akan kita hadapi makhluk yang tidak dapat dibunuh mati itu?"

Jawab Hong Sam.

"Alam menciptakan berjuta jenis makhluk, satu dan lain saling anti dan saling mengatasi, jika ada Leng-kui, tentu ada cara menghancurkan dia, biarlah perlahan kita mencari jalan untuk menghadapinya,"

Sela Tangkwik Ko tiba-tiba.

"Tapi jangan lupa, dia bukan manusia, juga bukan makhluk, tapi Leng-kui, setan, hantu yang tidak pernah ada sebelum ini,"

Tukas Hong Sam.

"Itupun tidak terkecuali,"

Ujar Tangkwik Ko.

"Jangankan dia cuma semacam makhluk aneh yang dikendalikan oleh Ki Pi-ceng, sekalipun setan sungguhan juga ada cara untuk menghadapinya."

"Ucapan adik memang tepat,"

Kata Tangkwik-siansing.

"Biarlah urusan ini sementara kita kesampingkan dulu, yang paling penting tidak boleh kita abaikan keadaan di sini, harus kita jaga ketat, hati-hati terhadap kemungkinan serbuan Ki Pi-ceng secara pengecut."

Hong Sam dan Tangkwik Ko setuju atas jalan pikiran Tangkwik-siansing, maka mereka bertiga tetap berjaga di situ, tiada seorangpun berani meninggalkan air terjun.

Semalam berlalu dengan aman, fajar sudah menyingsing, cahaya sang surya yang keemasan menyinari bumi raya yang luas ini.

Baru tiga hari Ji Pwe-giok bersemedi mendalami Bu-siang-sin-kang.

Menurut perkiraan Tangkwik-siansing, perlu tujuh hari barulah Pwe-giok mampu menguasai Bu-siang-sin-kang dengan baik, kini baru tiga hari, jadi masih perlu empat hari lagi.

Sedangkan batas waktu tiga hari yang diberikan Ki Pi-ceng kini sudah lewat satu hari, jadi masih ada waktu dua hari saja.

Jika menurut perhitungan tersebut, jelas Pwe-giok tidak keburu memenuhi batas waktu Ki Piceng, bila dia harus pula menamatkan pelajarannya, sebab itulah semua orang sangat prihatin terhadap soal ini.

Sudah barang tentu, yang paling gelisah ialah Hong Sam.

Sebab Ji Pwe-giok bukan saja saudara angkatnya, dapat tidak anak muda itu memenuhi batas waktu yang diberikan Ki Piceng itu juga menyangkut mati-hidup Cu Lui-ji.

Dengan air muka prihatin, ia pandang Tangkwik-siansing, katanya.

"Bagaimana, menurut pandanganmu, dapatkah Pwe-giok menyelesaikan pelajaran Bu-siang-sin-kang lebih cepat daripada perkiraan semula? Mungkinkah?"

"Sulit, sangat sulit,"

Jawab Tangkwik-siansing.

"Ya, kecuali terjadi keajaiban."

"Apa yang kau maksudkan dengan "keajaiban"

Dan cara bagaimana mendapatkannya?"

Tanya Hong Sam. Tangkwik-siansing jadi melenggong, jawabnya.

"Wah, pertanyaanmu ini membikin bungkam lagi padaku. Soalnya keajaiban hanya dapat dialami secara kebetulan dan tidak mungkin dicari."

Keterangan ini membuat perasaan Hong Sam tambah tertekan.

Betapapun ia sangat menguatirkan keselamatan Lui-ji.

Tak lama, mereka coba mengitari air terjun dan menuju ke depan panggung alam itu.

Tampak Pwe-giok masih asyik duduk bersila di atas sana, sikapnya tenang seperti orang yang sudah melupakan segalanya, alam dianggapnya kosong belaka.

Keadaan anak muda itu hanya ada setitik perbedaan yang menyolok dibandingkan kemarin, yaitu air mukanya yang bercahaya, bersemu merah mengkilap.

"Aha, aneh... ajaib...."

Teriak Tangkwik-siansing mendadak.

"He, ada apa, kenapa terkejut dan gembar-gembor?"

Tanya Hong Sam cepat. Mendadak Tangkwik-siansing menarik lengan baju Hong Sam dan mendesis.

"Ssst, jangan kita ganggu dia, marilah kita pergi, bicaralah di luar sana."

Segera ia mengajak kedua rekannya kembali ke tempat tadi, yaitu di tengah onggokan batu karang yang berserakan di luar air terjun sana.

Setelah masing-masing mengambil tempat duduk di atas batu, berkatalah Tangkwik Ko.

"Tadi toako menyebut aneh dan ajaib, apakah karena engkau melihat perubahan cahaya muka Jikongcu yang berbeda dengan kemarin itu?"

Tangkwik-siansing mengangguk, jawabnya.

"Betul, inilah tanda yang luar biasa dan tak terduga."

"Tanda baik atau buruk?"

Cepat Hong Sam ikut bertanya.

"Dengan sendirinya baik,"

Tutur Tangkwik-siansing.

"Itulah pertanda pelajaran Bu-siang-sinkang hampir diselesaikan, nyata dia dapat menyelesaikan pelajarannya tiga hari lebih cepat daripada perkiraanku semula."

"Hah, tiga hari lebih cepat katamu?"

Seru Hong Sam kejut dan girang.

"jika begitu, artinya hari ini juga ilmu sakti itu dapat diselesaikan olehnya?"

"Betul,"

Kata Tangkwik-siansing.

"Sekarang sudah mendapatkan jawabannya, dan inilah keajaiban yang kukatakan itu. Cuma seketika akupun tidak tahu sebab musabab terjadinya keajaiban ini."

"Ku tahu,"

Tukas Tangkwik Ko.

"Pasti disebabkan Ji-kongcu sudah memiliki ilmu sakti keluarganya, yaitu Lwekang bu-khek-bun yang hebat, maka untuk meyakinkan lagi Bu-siangsin-kang menajdi lebih mudah daripada orang lain dan lebih pesat kemajuan yang dicapainya."

"Aha, ucapan Jite memang betul,"

Seru Tangkwik-siansing dengan gembira.

"Sungguh aku malah tidak pernah berpikir sampai ke situ."

Lalu ia berpaling dan berkata kepada Hong Sam.

"Sekarang tentu kau tidak perlu kuatir lagi, paling tidak, kita dapat maju satu hari untuk memenuhi janji pertemuan dengan Ki Pi-ceng."

Seketika air muka Hong Sam yang muram itu tersapu bersih, katanya.

"Agaknya jiwa Lui-ji ditakdirkan belum tiba ajalnya, akan tetapi ......"

"Akan tetapi entah cara bagaimana harus menghadapi Leng-kui pula, begitu maksudmu bukan?"

Tukas Tangkwik Ko.

"Ya,"

Hong Sam mengangguk.

"Jangan kuatir."

Kata Tangkwik Ko dengan penuh keyakinan.

"Sekarang sudah kutemukan cara bagus untuk menghadapi Leng-kui, kuyakin segalanya takkan menjadi soal dan tidak perlu diragukan lagi."

"Bagaimana caranya? Coba lekas katakan,"

Pinta Hong Sam dengan cemas-cemas girang.

"Untuk menghadapi Leng-kui, kuncinya terletak pada Ki Pi-ceng,"

Tutur Tangkwik Ko.

"Coba kau pikir, segala sesuatu Leng-kui itu berada di bawah kemudi Ki Pi-ceng, atau dengan kata lain, jiwa Ki Pi-ceng seolah-olah melengket pada tubuh Leng-kui dan dapat melakukan segela kehendak hatinya. Maka sekarang asalkan kita dapat menaklukan Ki Pi-ceng, dengan sendirinya pula Leng-kui akan kehilangan daya gunanya, akan kehilangan kemampuannya."

"Tepat!"

Seru Tangkwik-siansing sambil berkeplok.

"ya, pasti begitulah halnya. Agar Lui-ji tidak mengalami sesuatu cedera, kita harus menundukkan Ki Pi-ceng lebih dulu."

"Jika betul demikian, aku ingin pergi dulu dari sini,"

Kata Hong sam tiba-tiba.

"Hendak kemana kau?"

Tanya Tangkwik-siansing dengan heran.

"Harus kuawasi gerak-gerik Ki Pi-ceng, perlu dijaga kemungkinan dia akan kabur,"

Tutur hong sam.

"Hanya perlu menunggu satu hari lagi, masakah tidak dapat kau tunggu disini?"

Ujar Tangkwik-siansing.

"Sebelum magrib latihan nanti, latihan Bu-sian-sin-kang bocah itu tentu dapat selesai, kenapa kita tidak menunggu, lalu pergi bersama, bukanlah jauh lebih kuat."

"Akan tetapi, dalam satu hari segala kemungkinan dapat terjadi."

Hong Sam.

"Bukan mustahil akan terjadi perubahan besar di sana, sebab itulah aku sangat gelisah, betapapun aku harus berangkat lebih dulu."

"Baiklah,"

Kata Tangkwik Ko.

"boleh kau berangkat lebih dulu, cuma harus hati-hati, tidak obleh kau berindak sendiri-sendiri. Jika secara gegabah kau bertindak, bisa jadi takkan mendatangkan manfaat bagi pekerjaan kita, sebaliknya akan membahayakan keselamatan Luiji."

"Ya, kutahu, akan kutunggu kalian disana,"

Kata Hong Sam.

Selesai berkata segera ia melayang ke sana, hanya beberapa kali naik turun saja bayangannya lantas menghilang di balik lereng sana.

***** Sehari berlalu dengan cepat, selama sehari ini, dirasakan jauh lebih panjang daripada biasanya oleh kedua saudara Tangkwik itu.

Begitu panjang sehingga rasanya seperti setahun lamanya.

Syukurlah sehari itu tidak terjadi ganguan apa pun, hal ini membuktikan bahwa sebelum lewat batas waktu yang diberikan, Ki Pi-ceng tidak lagi merencanakan penyergapan dan sebagainya.

Tangkwik-siansing berduduk di tepi sumber air sana, sambil menikmati pemandangan alam menjelang senja itu, mereka pun mengobrol ke barat dan ke timur.

Kalau menuruti apa yang terlihat pagi tadi, latihan Bu-siang-sin-kang paling lambat besok pagi pasti dapat diselesaikan oleh Pwe-giok, bahkan ada kemungkinan akan lebih cepat daripada perkiraan itu.

Oleh karena itu, kedua kakek tidak berani meninggalkan tempat ini untuk menjaga segala kemungkinan atau kejadian yang tak terduga.

Mendadak terdengar suara "bar ..

ber..bar..ber"

Suara gemuruh yang aneh.

Tentu saja kedua kakek ini terkejut, mereka coba mendengarkan dengan lebih cermat, suara gemuruh air terjun.

Tentu saja kedua Tangkwik bersaudara terkejut dan heran, mereka memandang ke arah datangnya suara.

Busyet!

Sungguh luar biasa!

Air terjun yang dituangkan dari ketinggian ribuan tombak itu kini terputus di bagian tengah, bagian yang bawah bahkan terus muncrat balik ke atas sehingga berbentuk tiang air yang menjulang tinggi ke langit.

Sungguh pemandangan yang ajaib, pemandangan yang indah dan megah!

Saking kegirangan Tangkwik-siansing sampai berjingkrak, teriaknya.

"Aha! Sungguh luar biasa. Sungguh hebat! Inilah hasil permainan anak itu!"

Segera Tangkwik Ko juga paham duduknya perkara, iapun tertawa gembira.

Kiranya apa yang terjadi itu adalah pertanda Bu-siang-sin-kang yang diyakinkan Ji Pwe-giok sudah selesai, air terjun yang mucrat balik ke atas itu adalah akibat tolakan tenaga dalam Pwegiok, dimana air terjun itu dijadikannya sebagai sasaran percobaan ilmu saktinya.

Air terjun itu mengguyur dari ketinggian ribuan tombak, sahsyatnya dapat dibayang kan.

Tapi tenaga pukulan Pwe-giok ternyata mampu menolak guyuran air terjun itu hingga muncrat balik ke atas, maka kekuatannya sungguh sangat mengejutkan.

Mendadak terdengar suara siulan nyaring terseling di tengah gemuruh air terjun, begitu nyaring suara itu laksana guntur menggelegar.

Menyusul sesosok bayangan putih mengapung ke udara.

Sungguh indah sekali gaya melayang itu, cepatnya juga luar biasa.

Pada ketinggian tertentu, bayangan itu lantas berjumpalitan terus menukik ke bawah laksana orang mendadak terjerumus ke dalam jurang, seperti batu meteor jatuh, tahu-tahu bayangan orang itu hinggap di depan kedua kakaek.

Siapa lagi dia kalau bukan Ji Pwe-giok!

Dengan enteng ia turun di permukaan tanah, tenang dan ringan, seperti gerakan mengapung tadi, sedikitpun tidak memakan tenaga.

Tidak kepalang senang Tangkwik-siansing, ia tertawa lebar sehingga hampir saja mulutnya tidak dapat terkatup kembali.

Jenggotnya yang panjang itu ikut tergoyang-goyang dan berucap.

"Terima kasih atas bantuan Cianpwe yang tak ternilai ini."

Tangkwik-siansing menariknya bangun, lenyap tertawanya, sebaliknya berkata dengan kereng.

"Eh, sejak kapan kau belajar menyembah begini?"

Dengan tulus Pwe-giok berkata.

"Cianpwe telah mengajarkan Bu-siang-sin-kang padaku, sepantasnya Wanpwe memberi sembah hormat ini"

Dengan muka kecut Tangkwik-siansing berkata pula.

"Eh, tidak perlu kau bicara tentang terima kasih segala padaku, kuajarkan Bu-siang-sin-kang padamu karena kau pegang Po-inpay, jadi Bu-siang-sin-kang kutukarkan dengan Po-in-pay, selanjutnya lunas, kedua belah pihak tidak ada yang utang, hakikatnya tidak perlu kau terima kasih padaku"

"Meskipun demikian, namun....."

"Namun apa? Sudahlah, tidak perlu banyak cingcong, kau asyik belajar ilmu sakti selama empat hari, apakah kau tahu selama empat hari ini telah terjadi peristiwa yang mengejutkan?"

Pwe-giok garuk-garuk kepala, jawabnya.

"Ya, wanpwe memang tidak tahu"

"Nah, jika kukatakan, tentu akan kau sangka aku sengaja menonjolkan jasaku, biarlah kau tanyakan kepada saudaraku saja"

Kata Tangkwik-siansing.

Tanpa menunggu perintah lagi atau diminta oleh Pwe-giok, segera Tangkwik Ko menguraikan apa yang terjadi selama beberapa hari ini.

Tentu saja Pwe-giok merasa sangat berterimakasih, selain itu dia sangat menguatirkan keselamatan Lui-ji yang berada dalam cengkeraman Ki Pi-ceng dan dijadikan sandera itu.

Apalagi anak dara itu diawasi oleh Leng-kui, sungguh sukar dibayangkan keadaannya sekarang.

"Biar sekarang juga kupergi membikin perhitungan dengan Ki Pi-ceng"

Teriak Pwe-giok dengan tak sabar.

"Untuk apa tergesa-gesa?"

Ujar Tangkwik-siansing.

"Berangkat saja besok dan tepat menurut waktu yang dijanjikan Ki Pi-ceng. Sekarang Bu-kang-siang-sin-kang baru saja selesai kau latih, kukira paling tidak kau perlu istirahat satu hari"

Pwe-giok berkerut kening dan merasa serba susah, ucapnya.

"Akan tetapi...."

"Yang pasti, sebelum lewat batas waktu yang diberikan Ki Pi-ceng, Lui-ji pasti takkan mengalami gangguan apapun"

Sela Tangkwik Ko.

"Ucapan toako memang betul, setelah digembleng lahir batin selama beberapa hari, kau perlu istirahat dulu"

Meski dalam hati seperti dibakar dan tidak sabar lagi, terpaksa Pwe-giok harus menurut nasihat kedua kakek itu.

"Meong", mendadak sesosok bayangan hitam melayang ke pangkuan Tangkwik Ko. Kiranya si kucing hitam yang memancing Lui-ji ke arah air terjun itu. Pelahan Tangkwik Ko membelai bulu kucing yang hitam mulus itu. Ucapnya dengan tersenyum "Kucingku sayang, kemana kau sembunyi semalam?"

"Meong, meong!"

Kucing itu bersuara pula beberapa kali sambil memandang sang majikan dengan matanya yang kecil gilap, seperti anak yang manja dan mendekap dalam pangkuan sang ibu.

***** Awan mendung memenuhi angkasa, malam kelam, angin kencang.

Lereng gunung yang memang sunyi itu bertambah suram oleh gumpalan awan tebal yang menyelimuti seluruh lereng gunung, di tengah kesuraman tersebar pula semacam suasana yang seram.

Angin menderu-deru dengan keras menambah ngerinya suasana yang mencekam.

Di pinggang gunung sana ada sepotong batu besar yang rata permukaannya, di bawah batu itu adalah sebuah liang di bawah tanah, mulut liang itu tertutup rapat oleh batu besar itu sehingga tidak kelihatan apapun dari luar.

Di dalam gua bawah tanah itu menyala lampu minyak yang hijau suram.

Sungguh aneh sekali, mungkin di dunia ini hanya lampu minyak ini saja yang mengeluarkan sinarnya yang kehijau-hijauan.

Pada ujung dinding gua sana ada sebuah dipan batu, di bawah cahaya lampu yang suram itu kelihatan seorang anak dara terlentang di situ.

Siapa lagi dia kalau bukan Cu Lui-ji.

Sejak kemarin malam Lui-ji sudah dikurung di dalam gua ini.

Hanya satu hari yang singkat saja, keadaan Lui-ji sudah banyak lebih kurus, pukulan batin yang dirasakannya paling berat ialah dia merasa dirinya terjatuh dalam cengkeraman Lengkui, makhluk aneh yang tak dapat dibinasakan itu.

Bila Lui-ji terkenang kepada wajah yang senantiasa mengulum senyum kaku itu, segera pula anak dara itu akan merinding, berdiri bulu romanya.

Mendingan, sejak Leng-kui mengurungnya di dalam gua ini, lalu Leng-kui sendiri tinggal pergi.

Hal ini jauh mengurangi rasa seram yang mencekam hati Lui-ji.

Pernah juga anak dara itu memikirkan agar melarikan diri dari gua ini, tapi sampai sekarang belum lagi ditemukan peluang itu, maklumlah, tipis sekali kemungkinan itu.

Oleh karenanya, tiba-tiba timbul keinginannya untuk mati.

Manusia yang menghadapi keputus-asaan dan tidak tahan menghadapi pukulan batin yang dahsyat, seringkali mencari pelepasan melalui jalan ini.

Lebih-lebih keadaan Cu Lui-ji sekarang, selagi pikirannya merasa kusut dengan penyesalan yang tak terperikan, sebab ia merasa tindak-tanduk sendiri terlalu gegabah, kurang hati-hati, sepanjang jalan di ikuti Ki Pi-ceng ternyata tidak tahu sama sekali, ini sama artinya dia yang memberi petunjuk jalan bagi musuh untuk membikin celaka Ji Pwe-giok.

Lantas bagaimanakah keadaan Ji pwe-giok sekarang?

Inilah tanda tanya besar yang ingin diketahuinya, dia menduga keadaan Pwe-giok besar kemungkinan lebih banyak celaka daripada selamatnya.

Maklumlah, lawannya adalah tokoh-tokoh besar seperti Ki Pi-ceng, Ki Go-ceng, Ji Tok-ho dan sebagainya, semuanya maha sakti dan sukar diukur kepandaiannya, apalagi ditambah tokoh Bu-lim kosen yang lain seperti Thian-sip-sing dan sebagainya.

Bila terpikir semua ini, Lui-ji lantas merasa sedih, hati serasa disayat-sayat, ia menyesal dan merasa berdosa, sebab ia tidak sempat membantu apapun bagi Pwe-giok, sebaliknya malah mendatangkan petaka baginya.

Lui-ji sangat menyesal karena kecerobohannya, sehingga akibatnya terjadi keadaan yang celaka ini.

Akan tetapi apa gunanya kalau cuma menyesal saja?

Banyak persoalan di dunia ini mestinya dapat dicegah atau dihindarkan sebelum terjadi.

Kalau menyesal setelah terjadi, jelas takkan menyelesaikan persoalan apapun dan juga takkan menarik kembali apa yang sudah kadung terjadi.

"Mati! Kau harus segera mati! Sekalipun nanti Ji Pwe-giok ternyata selamat tanpa kurang sesuatu apapun rasanya kaupun malu untuk bertemu lagi dengan dia."

Beginilah Lui-ji terus berpikir dan menyesali dirinya sendiri, bahkan keberanian untuk hidup lebih lama lagipun tidak sanggup.

Makin dipikir makin sedih, makin sakit hatinya.

Ia berbaring sendirian di dipan batu ini dan mulai menangis, dan tentu saja, melulu menangis pun takkan memecahkan persoalan.

Selang sejenak, mendadak ia berhenti menangis dan melompat bangun.

Sinar matanya tampak buram, mukanya kurus pucat, dia seperti habis jatuh sakit keras.

Akhirnya dia mengambil keputusan, ia bertekad akan mati.

Mendadak ia menundukkan kepala dan menyeruduk dinding gua sekuatnya.

Dinding gua itu tidak mengalami perataan oleh tenaga manusia sehingga menonjol dan mendekuk tidak rata, yang menonjol jelas sangat tajam mirip gigi binatang.

Jika diseruduk secara keras seperti Lui-ji sekarang, jelas kepalanya pasti akan pecah dan jiwa melayang.

Di luar dugaan, terjadilah keajaiban!

"Bluk!"

Dengan tepat kepala Lui-ji menumbuk dinding, tapi bukan dinding batu melainkan dinding sesuatu yang terasa halus dingin, juga tidak terlalu keras, rasanya seperti menumbuk lapisan es yang tipis.

Tentu saja Lui-ji terkejut, pelahan ia angkat kepalanya.

Sialan!

Kembali ia melihat lagi seraut wajah kaku pucat dan senyuman abadi itu.

Nyata tadi serudukannya ini tepat menyeruduk pada perut Leng-kui.

Leng-kui masih tetap dengan dandanannya yang khas itu, baju hitam ketat, ikat pinggang merah darah, golok melengkung terselip pada ikat pinggangnya, sekujur badan seolah-olah memancarkan semacam hawa seram, di bawah cahaya lampu yang hijau redup tampaknya menjadi lebih mengerikan.

Jilid 16________ Sekilas melihat Lengkui, sukma Cu Lui-ji seakan-akan terbang meninggalkan raganya, ia menjerit ngeri dan takut, cepat ia memutar balik dan menjatuhkan diri di atas dipan batu.

Ia mendekap mukanya dan tidak berani memandang lagi, tapi suasana di dalam gua sunyi senyap, tiada suara apa pun.

Lama-lama ia merasa heran, perlahan ia merenggangkan jarinya dan coba mengintip ke sana melalui sela-sela jari...ia merasa pandangannya tidak terhalang oleh barang apapun, apalagi makhluk aneh yang menakutkan itu.

Mau tak mau ia menjadi ragu dan menyaksikan apa yang dilihatnya tadi hanya khayalan belaka.

Padahal ia sudah bertekad akan mati untuk menebus kesalahannya.

Maka untuk kedua kalinya ia berbangkit, dengan nekat ia menerjang lagi ke dinding sana.

Akan tetapi, sama juga seperti tadi, yang tertumbuk olehnya tetap benda dingin serupa es tipis itu, waktu ia menengadah, kembali dilihatnya wajah seram Lengkui sedang menyeringai padanya.

Bedanya sekali ini adalah Lengkui itu telah buka suara.

"Lengkui paling takut mati, sebab itulah iapun tidak menghendaki orang lain mati, lebih-lebih anak perempuan cantik semacam kau ini."

Sedapatnya Lui-ji menabahkan hati, ia mendongak dan berkata.

"Tadi jelas-jelas kau tidak berada dalam goa, mengapa sekarang kau berada di sini? Darimana kau muncul secara mendadak begini?"

Lengkui tertawa, katanya.

"Rupanya kau lupa siapa diriku, aku ini Lengkui, setan ajaib, kalau mau datang segera bisa datang, jika mau pergi seketika dapat pergi. Kalau tidak percaya, boleh coba kau lihat lagi, sekarang."

Habis berkata, benarlah, mendadak ia menghilang tanpa bekas, seperti telah berubah menjadi kabut asap yang sukar diraba dan dilihat.

Tapi hanya sekejap kemudian, tahu-tahu Lengkui sudah muncul kembali di bawah remang cahaya lampu yang seram itu, berdiri di situ dengan tertawanya yang mengerikan itu.

"Jangan tertawa, jangan tertawa"

Jerit Lui-ji terkejut.

"Aku paling takut melihat tertawamu itu."

"Tapi Lengkui hanya bisa tertawa, kalau menangis tambah menakutkan,"

Kata Lengkui tetap dengan menyeringai.

"Jika begitu, lekas pergi kau, lekas enyah!"

Teriak Lui-ji sambil mengucurkan airmata.

"Ku jemu melihat mukamu, muak melihat cecongormu!".

"Apakah kau tetap ingin mati?"

Tanya Lengkui.

"Itu urusanku, perduli apa dengan kau? Lekas enyah!"

Teriak Lui-ji.

"Tapi Lengkui harus perduli, kalau tidak bila kepalamu hancur menumbuk dinding, kan segalanya bisa runyam?"

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara "grat-gret"

Di atas gua, suara batu besar digeser.

"Siapa itu di luar?"

Bentak Lengkui sambil mendongak.

Akan tetapi suasana lantas sunyi senyap, tiada suara jawaban apapun.

Lengkui berpaling dan memandang Lui-ji sekejap, dilihatnya anak dara itu juga lagi pasang telinga dan mendengarkan dengan cermat, tampaknya juga heran dan terkejut.

Cepat Lengkui melompat keluar gua untuk memeriksa apa yang terjadi.

Tapi secara cerdik mendadak ia mendongak dan menjengek.

"Aha, sahabat jangan kau main licik, kau kira dengan akalmu memancing harimau meninggalkan sarangnya, lalu dengan leluasa akan kau tolong anak dara ini dan dibawa lari. Tapi nyatalah salah besar perhitunganmu, kaupun salah sasaran, sebab selamanya Lengkui tidak dapat ditipu."

"Bagus, jika begitu, biarlah ku turun ke situ dan coba-coba menempur kau,"

Mendadak seseorang menanggapi dengan suara ketus dibagian atas sana.

Tidak kepalang girang Lui-ji, sebab segera dikenalnya suara itu, jelas itu suara Hong Sam, Hong saceknya.

Pada saat itulah sekonyong-konyong menyambar tiba angin kencang, pelita minyak yang guram itu hampir saja padam, lalu terang lagi.

Habis itu didalam gua tahu-tahu sudah bertambah satu orang lagi.

Memang betul, Hong Sam telah muncul di situ.

"Sacek!....."

Teriak Lui-ji dengan kegirangan meski air mata pun bercucuran. Segera ia bermaksud menubruk ke pelukan Hong Sam, akan tetapi Lengkui telah merintanginya sambil menyeringai.

"Creng", Hong Sam melolos pedangnya.

"Lekas kau lepaskan dia dan akan kubawa pergi dia, kalau tidak, kau yang akan kubinasakan."

Bentak Hong Sam sambil menuding Lengkui.

"Hahaha, rupanya kau hendak menipu diri sendiri,"

Jengek Lengkui, bukankah kau tahu dengan jelas, Lengkui tidak mungkin mati, selamanya Lengkui tak dapat dibunuh mati."

Lui-ji sangat cemas dan gelisah, iapun lupa akan rasa takut.

"bret", mendadak ia merangkul Lengkui dari belakang sambil berteriak.

"Lekas, Sacek, lekas turun tangan, tabas kepalanya."

Tanpa ayal Hong Sam angkat pedangnya dan menabas.

"Crat!"

Pedang Hong Sam bekerja secepat kilat, dan kepala Lengkui lantas menggelinding ke tanah di bawah berkelebatnya sinar pedang.

Tapi aneh benar, meski kepala sudah jatuh di tanah, senyuman pada wajahnya itu tetap tidak berubah, masih menyeringai terhadap Cu Lui-ji.

Tidak kepalang takut Lui-ji, ia menjerit dan menubruk ke dalam rangkulan Hong Sam.

Sambil menepuk bahu anak dara itu, Hong Sam berkata.

"Lekas, kita harus cepat meninggalkan tempat ini."

Lui-ji mengangguk dengan rada gemetar, nyata rasa takutnya belum lagi hilang.

Segera Hong Sam menarik Lui-ji dan melompat keluar gua, di luar dugaan, mendadak sesosok bayangan hitam sudah menghadang lagi dimulut gua.

Kaget mereka tidak terperikan ketika bentuk penghadang jalan itu dapat dilihat jelas oleh mereka.

Bajunya yang ringkas ketat berwarna hitam dengan ikat pinggang berwarna merah darah, terutama wajahnya yang seram dan selalu menyeringai itu.

Siapa lagi dia kalau bukan Lengkui?

Padahal jelas-jelas kepala Lengkui tadi sudah tertabas putus.

Hong Sam menyurut mundur dua-tiga tindak, ia tuding Lengkui dan membentak.

"Kepalamu tadi....."

"Kepalaku berada di sini!"

Jawab Lengkui sambil menuding kepala sendiri dan menyeringai sehingga kelihatan baris giginya yang putih.

"Kepala Lengkui selalu tumbuh di atas lehernya, memangnya kau kira kepala Lengkui mudah dipenggal? Haha, apa yang kau lihat tadi tidak lebih hanya khayalan belaka."

Mau-tak-mau Hong Sam jadi melengak, menghadapi makhluk yang tak dapat dibunuh mati selama ini, sungguh ia kehabisan akal dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya lagi.

Hong Sam coba membawa lari Lui-ji dengan Gingkangnya yang tinggi, tapi usahanya tetap gagal, Lengkui tetap masih membayanginya dari belakang, tetap sukar melepaskan diri dari kejarannya.

Dalam keadaan demikian, meski menyadari ilmu pedangnya juga tiada gunanya menghadapi makhluk yang serba aneh ini, terpaksa Hong Sam melakukan segala apa yang dapat dilakukannya dengan harapan akan timbul keajaiban dan akhirnya dapat melepaskan diri dari penguntitan lawan.

Ilmu pedang Hong Sam sekarang sudah mencapai tingkatan yang paling sempurna, tertampaklah sinar pedang gemerlapan berkelebat ke sana sini, hanya sekejap saja Lengkui sudah terkurung rapat di bawah sinar pedangnya.

Akan tetapi Lengkui tetap melayani ilmu pedangnya dengan cekatan, iapun memutar goloknya dengan sama kencangnya.

Bahkan jika kewalahan, iapun tidak segan-segan menerima tusukan dan tebasan pedang Hong Sam.

Melihat pertarungan yang berlangsung dengan sengit itu, Lui-ji juga cukup cerdik, pada waktu Lengkui harus melayani serangan Hong Sam, diam-diam ia menggeser ke samping, lalu kabur ke bawah gunung secepat terbang.

Tapi meski sedang bertempur sengit, Lengkui tetap sempat berkata.

"Hah, kau ingin lari di depan hidung Lengkui? Hm, sungguh kau terlalu meremehkan Lengkui."

Baru habis ucapannya, seketika bayangan Lengkui lantas lenyap di bawah kurungan sinar pedang Hong Sam, tahu-tahu Lengkui sudah menghadang pula di depan Lui-ji.

Dalam keadaan demikian, ngeri juga Hong Sam, makin lama bertempur makin seram rasanya.

Sekarang timbul semacam pikirannya yang melemahkan semangat, jelas Lengkui tidak dapat ditumpas, dalam hal ini berarti pula selamanya Lui-ji tak bisa ditolong, biarpun Tangkwiksiansing datang sendiri juga tak berdaya.

Lalu dengan cara bagaimana agar Lengkui dapat dibasmi?

Apakah tidak ada jalan lain lagi?

Betapapun Hong Sam juga tahu untuk menumpas Lengkui, yang utama harus menundukkan dulu Ki Pi-ceng yang mengendalikan Lengkui ini.

Akan tetapi ia menyadari kekuatan sendiri hanya dengan ilmu pedangnya jelas bukan tandingan Ki Pi-ceng alias Bak-giok Hujin.

Mendadak didengarnya Lui-ji menjerit.

"Tolong... Sa ... Sacek ... tolong!..."

Kiranya waktu itu Lui-ji lagi berusaha lari, tapi telah kena dibekuk oleh Lengkui dengan cara seperti elang mencengkeram anak ayam.

Bahkan dengan kecepatan luar biasa anak dara itu terus dibawa lari ke atas gunung.

Keruan Hong Sam terkejut, sekuatnya ia mengerahkan Ginkangnya dan menguber kesana.

Akan tetapi sayang Hong Sam memang cepat.

Lengkui ternyata terlebih cepat, seperti angin puyuh saja, hanya dalam sekejap bayangannya sudah hilang tanpa bekas.

Kembali Hong Sam melengak.

Sayup-sayup ia mendengar suara tangisan Lui-ji dari kejauhan suaranya sangat kecil, baru terdengar segera hilang pula terbawa angin sehingga sukar baginya untuk menemukan arahnya yang pasti.

Dengan cemas Hong Sam memandang sekelilingnya sambil berlari.

Angin meniup kencang, malam tambah kelam tiada terlihat sesuatu yang mencurigakan, juga tidak mendengar sesuatu suara apa pun.

Semakin gelisah hati Hong Sam, perasaannya tertekan dan mirip terjerumus ke dalam jurang yang tak terhitung dalamnya.

Pada saat itulah, ditengah tiupan angin terdengar suara Ki Pi-ceng.

"Hong-sam siansing, apakah tidak kau rasakan agak kurang sopan main seruduk dan terjang tanpa aturan di tempatku ini?"

Hanya terdengar suaranya, tapi tidak kelihatan orangnya.

"Ki-hujin,"

Seru Hong Sam dengan suara lantang.

"Kuharap kau perlihatkan dirimu dan bicara berhadapan denganku."

"Hm, apakah kau kira hal ini perlu?"

Jawab Ki Pi-ceng sambil mendengus.

"Sudah tentu perlu,"

Kata Hong Sam.

"Kuharap kau mau menjelaskan apa alasanmu menahan Lui-ji?".

"Alasannya sangat sederhana,"

Kata Ki-Pi-ceng.

"Karena ku kuatir Ji-kongcu tidak menepati janji menurut waktu yang telah ditentukan"

Hong Sam menjengek.

"Hm, dengan nama kebesaran Ki-hujin di dunia persilatan sekarang, tapi perlu menahan seorang anak perempuan sebagai sandera, apakah tindakanmu ini takkan ditertawakan orang Kangouw?"

"Inipun perlu melihat keadaan dan persoalannya,"

Jawab Ki Pi-ceng.

"Sekarang kuperlakukan Cu Lui-ji sebagai tamu, sama sekali tidak kuperlakukan dia dengan kasar dan juga tidak mengganggu seujung rambutnya, kenapa mesti takut ditertawakan orang lain? Apalagi ...."

"Apalagi segala perbuatanmu yang busuk sudah diketahui umum,"

Tukas Hong Sam.

"Apa artinya jika sekarang kau lakukan lagi beberapa perbuatan busuk lainnya. Begitu bukan?"

Ki Pi-ceng tertawa, katanya.

"Baiklah, anggaplah kau benar. Dan kalau kau tahu persoalannya, sekarang lekas kau pergi saja. Asalkan Ji-kongcu sudah menepati janji, tentu anak dara itu takkan kuganggu."

"Baiklah,"

Teriak Hong Sam dengan gemas, semoga ucapanmu dapat dipercaya, kuberani menjamin Ji Pwe-giok pasti akan menepati janji pada waktunya nanti."

Habis berkata, sekali melayang pergi, maka sekejap saja sudah menghilang.

***** Tepat lohor, sang surya memancarkan cahayanya yang panas.

Di atas puncak gunung muncul sesosok bayangan putih melayang kian kemari melintasi lereng dan menyusuri selat, setelah melayang sekian lamanya, akhirnya bayangan putih itu hinggap di sebuah tanah yang datar dipinggang gunung.

Itulah seorang pemuda berbaju putih, siapa lagi kalau bukan Ji Pwe-giok.

Dia berdiri tegak di tanah datar itu dan memandang sekelilingnya dengan sinar mata yang tajam.

Sunyi senyap suasana di sekitarnya.

Pegunungan ini tandus, gundul, tiada tetumbuhan apapun, yang terlihat hanya batu padas belaka, di sana sini di kaki bukit sana berserakan gundukan pekuburan.

Sampai sekian lama Ji Pwe-giok memandang sekitarnya dengan cermat, tapi tiada menemukan sesuatu yang mencurigakan, musuh ternyata tidak memasang perangkap apapun.

Hal ini rada di luar dugaan Pwe-giok, bahwa Ki Pi-ceng telah berjanji padanya akan menyelesaikan segala persoalan pada lohor ini, adalah aneh kalau tidak melakukan persiapan dan penjagaan seperlunya.

Pada saat Ji Pwe-giok merasa sangsi itulah, dari kaki gunung kembali muncul tiga sosok bayangan kelabu, semuanya menggunakan Ginkang yang tinggi, secepat terbang mereka berlari, hanya sekejap saja mereka sudah mendekati Ji Pwe-giok dan berdiri tegak disampingnya.

Ketiga orang ini adalah kedua Tangkwik bersaudara dan Hong-samsiansing.

Tangkwik Ko tidak lupa membawa kucing hitam kesayangannya, binatang itu dipondongnya dan dibelai bulunya.

"Anak muda,"

Tegur Tangkwik-siansing kepada Pwe-giok.

"Apakah kau periksa dengan teliti keadaan di sekeliling sini?"

"Sudah, sudah ku periksa,"

Jawab Pwe-giok.

"tapi tidak kutemukan sesuatu yang mencurigakan"

Tangkwik siansing berkerut kening, katanya.

"Wah, kalau begitu kita harus tambah hati-hati, bisa jadi mereka bertiga sedang main gila dan mengatur sesuatu."

Pwe-giok mengangguk, lalu ia berseru dengan suara lantang ke atas puncak.

"Ji Pwe-giok telah datang menurut waktunya, silahkan kalian keluar saja."

Baru senyap suaranya, segera sesosok bayangan orang muncul di puncak gunung, itulah dia Ji Hong-ho gadungan alias Ji Tok-ho.

Menyusul dari balik batu karang sana melayang keluar pula Ki Go-ceng dan Ki Pi-ceng, keduanya melayang secepat terbang menuju ke sini.

Dengan suara tertahan Tangkwik-siansing mendesis.

"Kau tahu, di atas gunung ini tidak sedikit liang tikus, dari liang tikus itulah mereka muncul."

Tidak lama, Ki Go-ceng dan Ku Pi-ceng telah melayang tiba di hadapan mereka. Dengan sorot mata tajam Ki Pi-ceng memandang Ji Pwe-giok, ucapnya.

"Apakah masih ingat apa yang kukatakan padamu, di lorong bawah tanah sana ?"

"Maksudmu tentang perintahmu agar kubunuh Tangkwik-siansing?"

Tanya Pwe-giok.

"Ya, kecuali itukan masih ada urusan lain lagi,"

Kata Ki Pi-Ceng.

"Tentu saja kuingat dengan baik,"

Ujar Pwe-giok.

"kalau saja permainan sandiwara suamimu yang pura-pura sudah mati itu tidak terbongkar dan juga catatan dalam buku Giam-ong ceh yang cukup terang dan gamblang itu, mungkin sampai saat ini aku tetap tidak dapat membedakan siapa kawan dan siapa lawan.

"Hm,"

Dengus Ki Pi-ceng.

"kau masih muda belia, apakah urusan Giam ong ceh itu tidak kau rasakan sebagai tindakan yang keterlaluan?"

"Tapi kalau dibandingkan dengan cara kalian mengerjai ayahku yang kini sudah almarhum, kukira masih selisih sangat jauh,"

Jawab Pwe-giok dengan ketus.

"Juga tidak kau pikirkan bahwa perbuatanmu itu akan menimbulkan rasa gusar setiap orang bulim yang bersangkutan?"

Jengek pula Ki Pi-ceng.

"Sudah barang tentu telah kupikirkan,"

Kata Pwe-giok.

"demi kebenaran dan keadilan, hakekatnya tidak pernah kupikirkan apa akibatnya."

"Ya, apapun juga, lebih dulu harus kukagumi kegagahanmu dan keberanianmu,"

Kata Ki Piceng.

"Tapi, sekarang dosamu sudah tak terampunkan, hari ini juga tidak dapat kau lolos dari peradilan umum."

"Justru kuharap akan mendapatkan peradilan umum,"

Ujar Pwe-giok dengan tersenyum.

"cuma, segala urusan kalau sudah ada prasangka, tentu juga perlu dipikirkan kemungkinan yang paling buruk. Untuk itu kukira Ki-hujin sudah memahami maksudku."

"Maksudmu, apa bila hari ini kami tidak dapat mengalahkan kau, lalu apa yang harus kami lakukan, begitu?"

Tanya Ki Pi-ceng.

"Betul,"

Jawab Pwe-giok. Ki Pi-ceng mendengus.

"Hm, itu kan urusan kami dan tidak perlu kau kuatir."

Sampai di sini ia lantas berpaling ke arah Tangkwik siansing dan berkata padanya.

"Pokoknya urusan hari ini adalah perkara yang harus diselesaikan secara tuntas, betul tidak, Tangkwiksiansing?"

"Tentu saja,"

Jawab Tangkwik-siansing.

"memangnya kau kira aku sudah pikun sehingga tidak dapat melihat keadaan?"

"Sebab itulah pada saat terakhir masih ingin ku peringatkan padamu, mudah-mudahan kau tidak terlibat dalam perkara yang tidak enak ini, hendaklah camkan dengan baik,"

Kata Ki Piceng.

"Aku tidak perlu pikir, juga tidak perlu mencamkan apa pun,"

Jawab Tangkwik-siansing.

"pendek kata, urusan ini sudah pasti aku akan ikut campur."

"Baiklah jika begitu,"

Kata Ki Pi-ceng.

"Yang pasti hari ini tiada satupun diantara kalian yang dapat lolos."

Tangkwik-siansing tertawa lebar, katanya "Orang tua semacam diriku ini masakan dapat digertak, kau kira ucapan Ki-hujin barusan ini agak terlalu berlebihan."

Ki-Pi-ceng mendengus dan tidak menghiraukannya lagi.

Ia berpaling dan memberi isyarat tangan kepada Ji Hong-ho gadungan yang berdiri diatas puncak sana.

Seketika Ji Hong-ho gadungan alias Ji Tok-ho mengibarkan sebuah panji dan diayun tekanan dan ke kiri.

Itulah panji kebesaran Bu lim-bengcu, ketua perserikatan dunia persilatan, panji kebesaran hanya digunakan pada waktu perlu memberi perintah kepada para jago dunia persilatan.

Panji ini mewakili kekuasaan Bu-lim-bengcu, pada waktu panji itu berkibar dan digoyangkan, setiap jago silat harus tunduk dan menurut perintah, disuruh matipun tidak boleh menolak.

Dalam sekejap itu, berbareng dengan berkibarnya panji kebesaran itu, serentak terompetpun berbunyi sahut menyahut di sana sini, suasana pegunungan yang tadinya sunyi serentak bergemuruh dengan munculnya jago silat yang tak terhitung banyaknya, mereka muncul secara aneh seperti badan halus saja, entah muncul dari mana, jumlahnya tampaknya tidak kurang daripada tiga-empat ratus orang.

Jago silat yang muncul ini sangat lengkap, meliputi para ketua dari ke-13 aliran besar dunia persilatan yang dahulu ikut hadir dalam pertemuan besar Wi-ti-tayhwe, inilah adegan paling ramai semenjak pertemuan Wi-ti dahulu.

Air muka Ki-Pi-ceng menampilkan perasaan senang dan bangga, katanya.

"Nah sudah kau lihat sendiri bukan, Tangkwik-siansing? Dalam keadaan demikian, bagaimana akibatnya nanti tentu dapat kalian bayangkan sendiri."

Tangkwik-siansing mengelus jenggotnya yang lebat itu, katanya seperti berguman.

"Wah, tampaknya pengaruh kalian masih cukup besar juga, sungguh sangat mengejutkan."

"Bisa jadi kau akan menyesal nanti,"

Ujar Ki Pi-ceng.

"tapi akupun merasa menyesal bagimu, sebab sekarang pun sudah terlambat"

Habis berkata, panji kebesaran Bu-lim tadi diayun pula berapa kali.

Inilah tanda memberi perintah agar para jago Bu-lim siap bergerak, atau dengan perkataan lain perintah melancarkan serangan, hanya boleh maju dan tidak boleh mundur.

Diam-diam pihak Ji Pwe-giok sendiri sama terkejut.

Apabila kawanan jago Bu-lim itu bergerak serentak dan membanjir tiba, sungguh sukar dibayangkan entah betapa akan terjadi banjir darah.

Akan tetapi, kejadian di luar dugaan telah timbul.

Jago silat yang muncul membanjiri lereng pegunungan itu ternyata tidak memperdulikan tanda kibaran panji kebesaran itu, semuanya anggap sepi saja, seperti kedatangan mereka hanya untuk menonton keramaian saja dan tiada sangkut paut apapun dengan keadaan ini, Dengan kuat Ji Tok-ho telah mengayun panjinya lagi dengan lebih keras sehingga menimbulkan suara menderu.

Akan tetapi, biarpun Ji Tok-ho telah mengerahkan segenap tenaga dalamnya sehingga panji itu hampir saja tergetar patah, namun para jago silat yang muncul itu tetap tidak menggubrisnya.

Mendadak Ji Tok-ho menggulung panjinya dan meraung gusar.

"Kurang ajar! Kalian berani membangkang terhadap perintah Bu-lim-bengcu dan meremehkan panji kebesaran ini?"

Keras suaranya dan mendengung-dengung sampai sekian lama diangkasa pegunungan, tentu saja dapat didengar oleh setiap orang.

Namun semua orang tetap tidak menghiraukan teriakan Ji Tok-ho itu, sejenak kemudian bahkan seorang menanggapi dengan suara lantang ditengah orang banyak itu.

"Tapi sayang, kau bukan Hong-ho Lojin yang tulen melainkan Ji Tok-ho, adiknya yang sudah diusir dan terkenal sebagai bandit It-ko-yan di gurun pasir, malahan kau rela menjadi boneka Ki Go-ceng dan Ki Pi-ceng suami-istri. Setelah kami tahu duduknya perkara dan dapat membongkar rahasia dirimu yang sebenarnya, memangnya kau kira kami masih dapat kau perintah dan kau peralat sesukamu?"

Seketika Ji Tok-ho melenggong dan tidak sanggup bersuara.

Ki Pi-ceng dan Ki Go-ceng juga melengak dengan air muka pucat, entah kejut entah gusar, yang jelas tubuh mereka agak gemetar.

Semua ini menandakan bahwa segala urusan Kangouw yang misterius dan serba rahasia, namun kebenaran dan keadilan selalu hidup dengan abadi, pada detik yang paling gawat kebenaran dan keadilan pasti akan muncul.

Tidak kepalang terharu Ji Pwe-giok, emosinya bergolak, air matanya bercucuran, sudah cukup lama ia menderita, sudah kenyang ia tersiksa lahir dan batin, dan baru sekarang semua siksa derita itu mendapatkan keadilan.

Tangkwik-siansing mengelus jenggotnya, sambil bergelak tertawa, katanya.

"Nah, Ki-hujin, perubahan yang luar biasa ini bukan saja bagiku, bahkan juga sangat diluar dugaanmu bukan?"

Ki Pi-ceng mendengus, katanya "Hm, kaupun tidak perlu bergembira dulu, kecuali darah Bakgiok Hujin berhamburan di sini, berapapun utang-piutang ini tetap harus ku tuntut dan perlu diselesaikan secara tuntas."

Mendadak Ki Go-ceng meraung murka, ia menubruk maju terus menghantam Tangkwiksiansing sepenuh tenaga.

Tangkwik-siansing tidak menangkis juga tidak balas menyerang, ia melayang mundur cukup jauh, matanya yang kecil bulat itu mendelik, ejeknya "Eh, anak kecil, utang piutang ada yang bertanggung jawab, kalau sekarang anak muda ini sudah tampil sendiri, mengapa diriku yang kau jadikan sebagai sasarannya?"

Ucapan Tangkwik-siansing ini membikin Ki Go-ceng melengak dan serba salah. Pwe-giok lantas melangkah maju dan berkata.

"Ucapan Tangkwik-locianpwe memang betul, yang bertanggung-jawab dalam urusan ini ialah diriku, silahkan kau serang saja padaku."

Ki Go-ceng menyeringai, ucapnya.

"Baik, tidak nanti kumampuskan kau sekarang juga, pasti akan kubawa kau kembali ke gua dan akan ku kerjai kau di sana, tempo hari aku telah satu kali kehilangan kesempatan, sekali ini tidak nanti kusia-siakan lagi."

Habis berkata, mendadak kedua tangannya menolak ke depan, begitu keras tenaga pukulannya sehingga menimbulkan deru angin yang dahsyat, kontan ia hantam lawan tanpa kenal ampun lagi.

Akan tetapi Pwe-giok sudah siap, segera ia sambut pukulan orang, kedua telapak tangannya juga mendorong ke depan.

"Blang!"

Dua tenaga tak kelihatan beradu dan menimbulkan getaran dahsyat......

Apa yang itu hanya berlangsung dalam sekejap saja, terdengar jerit ngeri Ki Go-ceng seperti layangan yang putus benangnya, tubuhnya mencelat ke sana dan jatuh terjungkal beberapa meter jauhnya dengan tumpah darah dan binasa.

Pada waktu putus napasnya dia masih juga mendelik, seakan-akan merasa penasaran mati terkena pukulan Ji Pwe-giok itu.

Seketika Ki Pi-ceng berdiri melenggong, terkesima seperti mendengar bunyi geledek disiang bolong.

Meski resminya dia dan Ki Go-ceng adalah saudara sekandung, tapi juga ada hubungan erat sebagai suami-istri, tentunya pedih hatinya menyaksikan kematian Ki Go-ceng yang mengerikan itu.

Tapi ketenangannya sungguh luar biasa dan mengherankan, kecuali kelihatan pundaknya gemetar sejenak, sama sekali tidak ada pergolakan perasaan lagi.

Dia pandang Ji Pwe-giok dengan penuh rasa benci dan dendam, ucapnya.

"Baru berpisah beberapa hari, ternyata kau sudah lain daripada dulu agaknya Bu-siang-sin-kang sudah berhasil kau kuasai."

Betul, semua ini berkat bantuan Tangkwik-lociapwe,"

Jawab Pwe-giok.

"Wah, anak muda,"

Teriak Tangkwik-siansing "masa sengaja kau alihkan urusanmu kepadaku, kalau dia marah padaku dan mendadak melancarkan serangan dengan ilmu kebanggaannya Sian-thian-ceng-gi, sekali pukul aku bisa dibuatnya mencelat."

Pwe-giok dapat menangkap maksud ucapan si kakek, yaitu sama dengan memperingatkan dia agar waspada terhadap serangan mendadak Ki Pi-ceng.

Benar juga, seperti apa yang diduga Tangkwik-siansing, pada saat itu Ki Pi-ceng telah mengerahkan tenaga dalam Sian-thian-ceng-gi, dengan dahsyat ia hantam Pwe-giok.

Akan tetapi karena lebih dulu sudah diperingatkan oleh Tangkwik-siansing, diam-diam Pwegiok sudah siap, segera ia sambut serangan lawan.

"Blang", terjadi benturan keras antara dua tenaga yang maha dahsyat, suara yang menggelegar memekak telinga. Adu kekuatan ini jelas tidak sama dengan serangan Ki Go-ceng tadi. Sian-thian-ceng-gi dan Bu-siang-sin-kang adalah tenaga dalam yang sama-sama maha dahsyat, kekuatan benturan itu sungguh luar biasa seakan-akan menggoncang bumi, getaran yang timbul juga sangat hebat dengan arusnya yang menyerupai angin lesus, debu pasir bertebaran meliputi belasan meter di sekitar situ. Perlahan kabut debu mulai buyar, di tengah kabut yang mulai menipis itu kelihatan dua sosok bayangan yang sama bergoyang-goyang berdiri Pwe-giok tampak kurang mantap, sebaliknya Ki Pi-ceng merasa darah dalam rongga dadanya bergolak dan seakan-akan menumpah keluar. Tangkwik-siansing menyaksikan itu dengan tertawa lebar. Meski sedapatnya Ki Pi-ceng bersikap tenang dan berlagak seperti tidak terjadi apapun, tapi tidak urung sorot matanya menampilkan juga rasa kejut luar biasa. Sungguh sukar untuk dipercaya bahwa yang dihadapinya adalah Ji Pwe-giok yang dilihatnya beberapa hari yang lalu. Tidaklah mengherankan jika dalam waktu yang sesingkat ini Pwegiok berhasil meyakinkan Bu-siang-sin-kang, yang sukar dimengerti adalah dalam waktu sesingkat ini dia sudah memiliki kekuatan sehebat ini, bagi orang lain hal ini tidak mungkin terjadi tanpa melalui latihan selama berpuluh tahun lamanya. Sian-thian-ceng-gi, ilmu kebanggaan Ki Pi-ceng sebelum ini boleh dikatakan jarang ada tandingannya di dunia persilatan kecuali seorang dua orang saja diantaranya Tangkwiksiansing yang dapat melawannya, tapi sekarang dia benar-benar ketemu lagi seorang lawan. Pada saat itulah, sekonyong-konyong terdengar suara orang membentak murka dari kejauhan, sesosok bayangan kelabu melayang tiba dari puncak gunung, hanya sekejap saja bayangan itu sudah hinggap di depan Ki Pi-ceng. Nyata pendatang ini bukan lain daripada Ji Tok-ho adanya. Dia telah kehilangan wibawa sebagai Bu-lim-bengcu, perintahnya tidak diturut lagi oleh jago persilatan, tentu saja ia menjadi kalap, matanya merah membara, dengan sorot mata beringas ia mendelik Ji Pwe-giok.

"Eh, tidak perlu kau bersikap sebuas itu,"

Ejek Tangkwik-siansing dengan tertawa.

"Jelekjelek anak muda itu sudah banyak membantu padamu, selayaknya kau berterima kasih padanya."

Mendadak Ji Tok-ho berpaling dan mendamprat.

"Tua bangka, apa maksud ucapanmu ini?"

Tangkwik-siansing menuding mayat Ki Go-ceng, lalu berkata pula.

"Anak muda itu telah membinasakan sainganmu, selanjutnya kau dapat menggantikannya sebagai anggota keluarga Ki, hubunganmu dengan Ki-hujin tidak perlu lagi dilakukan secara gelap-gelapan."

Rupanya perkataan Tangkwik-siansing itu terlalu menyinggung perasaan, Ki Pi-ceng tidak tahan lagi dia lantas menyerang. Karena Tangkwik-siansing dan Ki Pi-ceng telah bergebrak.

"creng", segera Ji Tok-ho juga melolos pedangnya.

"Sret-sret-sret", kontan pedangnya berputar dan melancarkan beberapa kali tebasan ke arah Pwe-giok. Sekarang dia telah kembali lagi kepada kebuasannya sebagai bandit "It-ko-yan"

Digurun pasir, dia menyerang dengan kalap seakan-akan Ji Pwe-giok hendak diganyangnya mentah-mentah kalau bisa.

Sampai belasan kali Pwe-giok harus berkelit kesana dan mengegos ke sini, lalu sempat meloloskan pedangnya.

Serentak ia putar pedangnya, dengan jurus "Boan-thian-sing-tau"

Atau bintang bertaburan memenuhi langit, tertampak cahaya pedang gemerlapan memburu ke arah musuh.

Seketika bergemuruhlah suara sorakan orang banyak.

Beratus pasang mata sama tertarik oleh pertarungan sengit yang mendebarkan hati ini, semuanya mengikuti pertempuran maut itu dengan menahan napas, suasana sunyi senyap sehingga deru angin yang ditimbulkan oleh sambaran pedang terdengar dengan jelas.

"Sret-sret, sret-sret-sret"

Sinar pedang sambar-menyambar.

Lambat-laun dua gulung cahaya pedang seolah-olah terbaur menjadi satu dan terbentuk sinar tirai pedang yang tebal.

Ditengah tirai sinar pedang itu samar-samar hanya kelihatan dua sosok bayangan yang bergeser kian kemari dan sukar lagi dibedakan mana bayangan Ji Tokho dan Ji Pwe-giok.

Sekonyong-konyong ditengah tabir sinar pedang itu terdengar suara nyaring.

Suaranya melengking seperti bunyi ular naga, tertampak sejalur sinar putih menjulang tinggi ke angkasa, bayangan orang dibalik tabir cahaya pedang lantas terpencar.

Pedang yang dipegang Ji Tok-ho ternyata sudah terkutung, hanya tinggal tangkainya saja yang terpegang, ia berdiri melenggong dengan mandi keringat.

Rupanya dalam sekejab tadi Ji Pwe-giok telah menggunakan tenaga sakti Bu-siang-sin-kang, kalau tidak, sukar untuk menggetar patah pedang Ji Tok-ho yang juga tidak kurang lihainya itu.

Agaknya tenaga dalam antara Siau-thian-ceng-gi Ki Pi-ceng dan Bu-siang-sin-kang Tangkwik-siansing sukar ditentukan unggul dan asor, maka pertarungan kedua orang itu sudah berhenti dan sedang mengawasi hasil pertarungan sebelah sini.

Saat itu tiada seorangpun yang bersuara, semuanya terkesima sehingga suasana sunyi senyap.

"Tangkap pedang ini,"

Tiba-tiba Pwe-giok melemparkan pedangnya ke depan Ji Tok-ho. Lalu dengan penuh rasa pedih dan gemas anak muda itu berkata pula.

"Kutahu engkau adalah pamanku, tapi tindak-tandukmu, perbuatanmu, telah merusak nama baik keluarga Ji yang sudah turun temurun."

Kedua mata Ji Tok-ho tampak merah, seperti orang kalap, ia hanya mendelik dan tidak bersuara. Pwe-giok lantas berkata pula.

"Mengingat leluhur keluarga Ji, baik atau jelek kau adalah keturunan orang she Ji dan masih terhitung pamanku, maka aku tidak dapat turun tangan membunuhmu, sekarang kuberikan pedangku, dan boleh kau bereskan dirimu sendiri."

Air muka Ji Tok-ho tampak berubah, sebentar merah, sebentar pucat dan saat lain menjadi hijau, siapapun tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya dan apa yang hendak dilakukannya.

Suasana menjadi hening, tiada seorangpun bersuara, semuanya menahan napas dan ingin tahu apa kelanjutan daripada pertunjukan ini dan bagaimana pula akhirnya.

Akhirnya Ji Tok-ho menjemput pedang di depannya dengan perlahan.

Sekonyong-konyong pada saat Ji Pwe-giok tidak berjaga-jaga, mendadak ia menubruk maju, secepat kilat pedangnya menusuk.

Serentak bergema teriakan kaget orang banyak, suasana rada gempar.

Serangan yang dilakukan Ji Tok-ho sangat cepat, yang digunakan juga jurus maut yang sukar diduga.

Ji Pwe-giok sendiri tidak siap siaga, maka banyak yang menduga anak muda itu pasti akan termakan tusukan Ji Tok-ho, semuanya berkuatir baginya.

Di bawah berkelebatnya sinar pedang, terdengar Pwe-giok mendengus tertahan.

Berbareng itu semua orang merasakan serangkum angin maha dahsyat menumbuk ke bahu kanan Ji Tok-ho, apa yang terjadi ini hanya berlangsung dalam sekejap saja, sedetik kemudian lantas berakhir.

Rupanya ada orang yang ikut turun tangan, ialah Tangkwik-siansing.

Ia merasa Ji Pwe-giok takkan sempat menghindarkan serangan licik Ji Tok-ho itu, mau tak mau ia harus turun tangan menolongnya, maka cepat ia melancarkan pukulan Bu-siang-sinkang.

Tenaga Bu-siang-sin-kang tak terperikan hebatnya, Ji Tok-ho tergetar hingga terhuyunghuyung ke belakang, dan karena itu pula Ji Pwe-giok hanya terluka ringan oleh sergapan Ji Tok-ho itu, hanya lengannya luka tertusuk.

Mata Tangkwik-siansing yang kecil bulat itu melototi Ji Tok-ho dengan sorot mata tajam, bentaknya.

"Ji Tok-ho, sungguh bagus seranganmu ini, jika kau berani mengaku sebagai seorang ksatria, maka selayaknya lekas kau bunuh diri sekarang juga"

Kedua mata Ji Tok-ho merah seakan-akan menyemburkan api, katanya sambil menyeringai.

"Hmm, kau kira aku akan mati begitu saja menurut kehendakmu? Andaikan mati, perlu juga kucari dua orang pengganjal punggungku, dan orang pertama yang ku penujui ialah dirimu ini."

"Haha, bagus, bagus sekali!"

Seru Tangkwik-siansing sambil bergerak.

"memangnya akupun ingin memberi bantuan kepada anak muda ini, sekarang kau yang minta aku turun tangan, biarlah kuwakilkan dia memberantas manusia tidak tahu malu dan sampah dunia kangouw macam kau ini"

Ji Tok-ho tertawa latah, teriaknya.

"Hehe, baik juga, akan kukabulkan kehendakmu supaya lekas kau naik surga"

Baru habis ucapannya, kembali ia berputar, sekaligus pedangnya ikut bekerja terus menabas ke atas kepala Tangkwik-siansing.

Kakek kecil itu melayani musuh dengan bertangan kosong, tapi sedikitpun dia tidak berani gegabah.

"Sret-sret-sret", Ji Tok-ho melancarkan beberapa kali serangan maut, ia tahu pertarungan ini menentukan mati dan hidupnya, sebab itulah segenap kepandaiannya telah dikeluarkannya. Dalam sekejap itu sinar pedang berhamburan, angin pukulan menderu, kedua orang samasama melancarkan serangan mematikan. Terdengar pula gemuruh orang menjerit kaget.

"Ciatt", ....

"Blang"

Dan "Bluk"

Seketika terdengar pula suara ramai di sana sini, suara yang berbeda.

Inilah hasil serangan maut kedua orang yang dilontarkan, akibatnya jubah kelabu Tangkwiksiansing tertabas robek lengan bajunya, tapi tidak terluka, sebaliknya Ji Tok-ho dengan telak terkena pukulan si kakek, tenaga pukulan Bu-siang-sin-kang yang dahsyat itu telah membikin Ji Tok-ho mencelat jauh ke sana, darah segar tersembur dari mulutnya, belum lagi terbanting jatuh ke tanah sudah mati lebih dulu dengan isi perut hancur lebur.

Serentak terdengar suara sorak-sorai gemuruh di lereng pegunungan itu.

Ji Pwe-giok berdiri tegak dengan melenggong, tak keruan perasaannya dan sukar untuk dijelaskan.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong Ki Pi-ceng melayang pergi, dengan gerakan It-ho ciongthian atau burung bangau terbang ke langit, ia melayang tinggi ke depan sana untuk kemudian terus meluncur ke bawah gunung.

Cepat Tangkwik-siansing berteriak dengan kuatir.

"Jite, hendaklah kau temani anak muda ini pergi mencari Lengkui, anak dara she Cu itu masih berada dalam cengkeramannya dan mungkin jiwanya terancam bahaya"

Ji Pwe-giok dan Tangkwik Ko mengiakan bersama, segera mereka berlari pergi ke arah gua di bawah tanah sana.

Sedangkan Tangkwik-siansing dan Hong Sam juga lantas melayang secepat terbang ke sana, mereka mengejar ke arah larinya Ki Pi-ceng.

Betapapun mereka tidak dapat membiarkan Ki Pi-ceng lolos begitu saja.

Para jago Bu-lim yang ikut menyaksikan pertarungan sengit itu kini secara otomatis telah terpecah menjadi dua kelompok, yang satu kelompok ikut pergi bersama Ji Pwe-giok, sedangkan kelompok lain ikut Tangkwik-siansing, semuanya ingin menyaksikan pula bagaimana akhir dari permainan yang belum tamat ini.

***** Batu besar yang menutup mulut gua di bawah tanah itu sangat menyolok sehingga dengan mudah dapat ditemukan oleh Ji Pwe-giok.

Disekitar mulut gua itu berserakan batu padas yang aneh ragamnya, suasana sepi dan sunyi.

Pwe-giok sangat menguatirkan keselamatan Cu Lui-ji, ia tak sabar lagi, tanpa pikir ia hantam sekuatnya.

"Blang", suara gemuruh menggetar lembah gunung, batu padas yang menutup mulut gua itu hancur berkeping dan berserakan. Di dalam gua sangat gelap, meski mereka coba mengamati dengan segenap ketajaman mata mereka tetap tidak melihat keadaan didalam. Sekonyong-konyong dari dalam gua berkumandang suara seorang yang dingin dan kaku.

"Siapa itu yang berada di luar, berani kau datang cari perkara kepada Lengkui?"

"Lekas lepaskan Cu Lui-ji, kalau tidak, gua setan ini akan kuruntuhkan,"

Ancam Pwe-giok dengan gemas.

"Hah, memangnya kau kira Lengkui dapat kau gertak?"

Jengek Lengkui di dalam gua.

"Jika kau tidak takut anak dara yang cantik ini akan ikut terkubur hidup-hidup disini, boleh saja kau coba runtuhkan gua ini, tapi apapun juga sebentar tetap aku akan keluar untuk belajar kenal denganmu."

"Sicek..."

Terdengar teriakan Lui-ji dengan suara tersendat, mungkin menangis saking girangnya.

Mendadak dari dalam gua mengepulkan asap hijau tebal, cepat Pwe-giok melompat mundur.

Sejenak kemudian setelah asap hijau itu buyar, tahu-tahu Lengkui sudah berdiri di depan Pwe-giok.

Cu Lui-ji tampak berada di samping Lengkui, tapi urat nadi pergelangannya terpencet olehnya sehingga tak dapat berkutik.

Di bawah terik matahari Lengkui tetap kelihatan seram menakutkan, lebih-lebih mukanya yang pucat seperti mayat itu, tetap menampilkan senyuman yang kaku atau lebih tepat dikatakan menyeringai.

"Lepaskan dia!"

Bentak Pwe-giok sambil menuding lawan.

"Haha, lepaskan dia, kau kira harus ku turut perintahmu?"

Ejek Lengkui.

"Apakah kau tahu bahwa semalam Hong Sam telah datang dan pulang dengan tangan hampa, sekarang kaupun coba-coba datang kemari?"

"Pendek kata, sekarang juga harus kau lepaskan dia atau kubinasakan kau!"

Ancam pula Pwegiok dengan beringas.

"Hmm. boleh saja kau coba,"

Jawab Lengkui, untuk membebaskan anak dara ini lebih dulu harus kau bunuh Lengkui, tapi hendaklah kau ketahui, selamanya Lengkui tak dapat mati terbunuh."

Betapapun Pwe-giok menyadari sukar menghadapi makhluk yang serba aneh ini, akan tetapi apa pun juga dia ingin mencoba Bu-siang-sin-kang terhadap makhluk aneh yang tidak takut terhadap senjata tajam ini, Namun karena Lengkui memegangi Lui-ji dengan erat, iapun kuatir kalau-kalau Bu-siang-sin-kang akan mencelakai anak dara itu.

Lui-ji sendiri kelihatan kuatir dan takut, tampak sangat kasihan, nyata, baru berpisah beberapa hari, anak dara itu sudah jauh lebih kurus.

Dalam keadaan demikian Pwe-giok benar-benar mati kutu dan tak berdaya, sebab itulah iapun sengaja main ulur waktu untuk mencari kesempatan.

Pada saat itulah, tiba-tiba kucing hitam yang selalu dibawa Tangkwik Ko itu bersuara "meong-meong"

Beberapa kali terhadap Cu Lui-ji, agaknya binatang kecil ini sudah kenal baik dengan anak dara itu.

Mendengar suara kucing hitam itu, Lengkui kelihatan melengak.

Pwe-giok merasa ada kesempatan baik, tanpa ayal lagi segera ia turun tangan.

Tenaga pukulannya menggoncang bumi, sinar pedangnya mengejutkan setan.

Walaupun menyadari pedangnya mungkin tak dapat melukai Lengkui, tapi dia tetap menggunakan pukulan dan senjata sekaligus, sebab selain ini dia tidak mempunyai akal lain lagi.

Serangan hebat dan cepat ini menimbulkan ancaman besar juga terhadap Lengkui, mau tak mau membuatnya rada kelabakan.

Tapi Lengkui tetap Lengkui, dengan gerakannya yang lincah dan cepat, terkadang menghilang dan lain saat muncul, kalau terpaksa tidak dapat menghindar lagi, dengan tabah ia biarkan dirinya dilukai oleh pedang Pwe-giok, bahkan ia terima serangan lawan dengan tertawa.

Sungguh ngeri Pwe-giok menghadapi lawan yang tidak kenal mati ini, sedangkan Cu Lui-ji ketakutan hingga menjerit-jerit.

Dalam sekejap saja ratusan jurus sudah berlangsung dan Ji Pwe-giok tetap tidak dapat mengalahkan lawan.

Sungguh celaka, kalau keadaan demikian berlangsung terus, biarpun seribu jurus juga tetap begini, biarpun sehari semalam juga tiada gunanya, sebaliknya tenaga Pwe-giok pasti akan terkuras habis.

Wajah Lui-ji menampilkan rasa putus asa, ia berteriak.

"Sudahlah, lekas kau lari saja dan jangan... jangan menghiraukan diriku lagi... kalian... kalian bisa kehabisan tenaga dan roboh sendiri jika harus bertempur cara demikian."

Tangkwik Ko tampaknya sangat prihatin, kucing hitam dalam pangkuannya tampak gelisah juga dan berulang bersuara "meong-meong"

Terhadap Cu Lui-ji bahkan berlagak seperti hendak menubruk ke arah Lengkui.

"Jangan kuatir, Lui-ji!"

Seru Pwe-giok sambil bertempur.

"tenanglah kau, apa pun juga pasti akan kuselamatkan kau dari cengkeraman siluman ini."

"Oo...!"

Tidak kepalang terharu Lui-ji, air matanya bercucuran seperti hujan.

Tangkwik Ko masih berdiri termenung di tempat semula, melihat gelagatnya, agaknya dia juga memikirkan akal agar dapat melayani Lengkui dengan tepat.

Sekonyong-konyong terjadi sesuatu yang tidak terduga...

Lengkui kelihatan berdiri diam di tempatnya, mulutnya tampak komat-kamit, entah lagi bicara dengan siapa, sebaliknya tidak menghiraukan terhadap ancaman pedang Ji Pwe-giok.

Tentu saja Ji Pwe-giok jadi melengak malah, segera iapun berhenti menyerang dan ingin tahu permainan apa yang hendak dilakukan lawan.

Selang sejenak, setelah berkomat-kamit pula dan termenung sejenak, lalu pandangan Lengkui perlahan beralih ke arah Ji Pwe-giok, katanya.

"Ji-kongcu, ingin kuberitahukan sesuatu kabar buruk padamu."

"Kabar buruk apa?"

Tanya Pwe-giok.

"Persetan dengan kabar burukmu?!"

"Tadi Lengkui sedang mendengarkan perintah dari Ki-hujin"

Tutur Lengkui.

"Apakah kau tahu perintah apa yang diberikannya kepadaku?"

"Huh, omongan setan yang hanya dapat kau pahami sendiri, siapa perduli?"

Damprat Pwegiok Lengkui menuding Lui-ji yang masih dipegangnya dan berkata.

"Ki-hujin bilang anak dara ini sudah kehilangan daya gunanya, maka tidak perlu dipikirkan lagi, Lengkui diperintahkan segera membunuhnya"

Pwe-giok terkejut sehingga menyurut mundur, ancamnya.

"Kau berani?!"

"Hah, kenapa aku tidak berani, memangnya ku takut padamu?"

Ucap Lengkui dengan tertawa.

"yang benar, aku rada tidak tega, tidak sampai hati membunuh seorang nona secantik ini, sungguh kasihan."

Sembari bicara ia terus melolos golok melengkung yang terselip pada ikat pinggangnya sehingga menimbulkan cahaya gemerlapan.

"Tapi apa dayaku?"

Ucap Lengkui pula sembari mengacungkan goloknya.

"Lengkui harus melaksanakan tugas, harus taat kepada perintah sang majikan"

Cara bicara makhluk aneh ini masih tetap dingin dan kaku, di tengah bicara inilah, mendadak goloknya membacok ke kuduk Cu Lui-ji.

Untunglah, pada detik berbahaya itu, setitik sinar perak mendadak menyambar tiba secepat kilat.

Itulah pedang Ji Pwe-giok, dengan kecepatan luar biasa, tepat pada waktunya ia tangkis golok melengkung Lengkui.

"Creng", terjadi benturan dan menimbulkan suara nyaring. Seketika tangan Lengkui bergetar kesemutan, dia tergetar oleh tenaga dalam Ji Pwe-giok yang tersalur ke batang pedang dan mundur terhuyung-huyung. Kejadian ini memberi kesempatan kepada Cu Lui-ji untuk meloloskan diri. Pada saat Lengkui lagi sempoyongan, sekonyong-konyong ia meronta sekuatnya dan melepaskan diri dari pegangan Lengkui, segera ia membalik tubuh dan berlari ke arah Pwe-giok. Tapi dengan segera Lengkui sudah berdiri tegak lagi. Ia mendengus.

"Hm, masakah ingin lari? Tidak ada orang yang mampu lolos dari cengkeraman Lengkui!"

Berbareng itu, dengan gerakan enteng dan cepat, seperti badan halus saja dia lantas melayang ke depan, selagi Cu Lui-ji masih berjarak sekian jauhnya dengan Ji Pwe-giok, tahu-tahu Lengkui sudah menyusul tiba.

Di tengah berkibarnya ikat pinggang yang merah itu, sinar perak juga lantas berkelebat dan menyambar.

Sungguh cepatnya sukar dilukiskan, sampai-sampai Pwe-giok juga tidak berdaya dan tidak sempat menolongnya.

Syukurlah, pada detik yang gawat itu, pada saat golok melengkung Lengkui menyambar tiba dan Lui-ji akan tertabas....

"Siut", mendadak sesosok bayangan hitam kecil menubruk ke arah Lengkui secepat anak panah. Hah, kiranya si kucing hitam yang selalu berada dalam pondongan Tangkwik Ko itu. Saat itu golok Lengkui sedang menabas ke bawah, tapi kucing hitam itupun tepat menubruk tiba, kontak kedua belah pihak itu terjadi dalam sedetik saja.

"Crat, meong!"

Kucing hitam bersuara ngeri dan jatuh terbanting!

Sungguh luar biasa, di tengah berhamburnya darah, kepala kucing itu terbelah dan cakarnya juga putus tertabas, dalam keadaan tidak terduga-duga, seluruh wajah Lengkui penuh berlepotan darah kucing hitam yang muncrat itu.

Lui-ji sempat merangkul badan binatang kecil itu, tapi binatang itu sudah tidak bergerak lagi.

Tak terduga, dalam sekejap itu telah terjadi keajaiban.

Mendadak Lengkui menjerit ngeri dan jatuh terguling-guling di tanah, tampaknya sangat tersiksa.

Kejadian ini membikin Lui-ji dan Pwe-giok heran.

Ketika mereka memandang Tangkwik Ko, orang tua itu kelihatan berdiri tenang di sana dengan mengulum senyum dan berucap.

"Omitohud! Siancai...siancai...."

Hanya dalam sekejap itu, di tengah kalangan telah terjadi pula perubahan yang lebih besar dan sama sekali tak terduga.

Mendadak Lengkui menghilang, telah luluh menjadi darah kental di atas tanah.

Pwe-giok memandang kian kemari, ia coba periksa sekitarnya.

Maklumlah, menghilangnya Lengkui itu adalah permainan yang biasa dilakukannya.

Setelah menghilang mendadak, tahu-tahu muncul lagi di tempat lain dalam waktu singkat.

Dalam pada itu Tangkwik Ko telah mendekati Pwe-giok dan berkata padanya.

"Jangan kuatir lagi, Ji-kongcu, selamanya Lengkui akan hilang dan takkan muncul kembali."

Pwe-giok dan Lui-ji sama melenggong, mereka memandang orang tua itu dengan bingung. Sambil membelai badan kucing hitam, Tangkwik Ko berkata.

"Apa yang terjadi ini sungguh tak terduga oleh siapapun. Lengkui ternyata musnah oleh kucing hitam ini, darah kucing hitam inilah yang memusnahkan Lengkui secara tuntas"

Rupanya kepala kucing hitam yang terluka itu tidak sampai pecah melainkan cuma kulit kepalanya yang terkelupas, lukanya yang cukup parah adalah cakarnya yang tertabas buntung.

"Konon darah anjing hitam dapat melawan ilmu hitam, apakah darah kucing hitam juga dapat memunahkan ilmu sihir?"

Tanya Pwe-giok dengan heran.

"Tentu saja dapat, apa yang terjadi barusan bukankah suatu bukti nyata?"

Ujar Tangkwik Ko. Dalam pada itu kelihatan Lui-ji lagi menggendong si kucing hitam dan berulang menciumnya dengan penuh kasih sayang, gumamnya.

"O, kucing sayang, demi membela diriku, akhirnya kau menjadi korban dan cacat selama hidup"

"Meong, meong!"

Kucing itu bersuara jinak seperti mengerti ada orang sedang menyatakan kasih sayang padanya.

Pwe-giok memandang keadaan sekeliling, lalu bersama Tangkwik Ko dan Cu Lui-ji berlari ke puncak gunung.

Sembari berlari Lui-ji mengeluarkan obat luka untuk mengobati cakar kucing hitam yang buntung itu.

Setiba di atas gunung, cakar si kucing sudah dibalut dengan baik.

Dari kejauhan Pwe-giok dapat melihat bayangan Tangkwik-siansing dan Hong Sam sedang berputar di lereng gunung sana dengan ginkang mereka yang tinggi.

Segera Pwe-giok bertiga memburu ke sana.

Sesudah berhadapan, kejut dan girang Hong Sam tak terkatakan demi melihat Lui-ji telah tertolong tanpa kurang suatu apapun.

Setelah diberitahu kejadian musnahnya Lengkui secara ajaib, mau tak mau Hong Sam dan Tangkwik-siansing sama melongo heran.

"Di manakah Ki Pi-ceng sekarang?"

Tanya Pwe-giok kemudian.

"Waktu kami menyusul sampai di sini, mendadak kehilangan jejaknya, bayangannya lenyap di sekitar sini, dapat dipastikan dia telah sembunyi lagi ke dalam liangnya"

Tutur Tangkwiksiansing.

"Ayolah lekas kita mencarinya, supaya tidak ada tempat yang terlampaui, marilah kita membagi diri menjadi beberapa arah untuk mencarinya, kalau terlambat mungkin akan terjadi hal lain yang tak terduga"

Kata Tangkwik Ko.

Serentak semua orang menyatakan setuju dan segera mereka terpencar sendiri-sendiri untuk mencari jejak Ki Pi-ceng, hanya Lui-ji saja yang mendampingi Pwe-giok.

***** Di tepi puncak gunung itu adalah jurang yang tak terkirakan dalamnya, sangat curam dengan macam-macam batu karang yang aneh.

Melihat keadaan setempat, dapat dipastikan puncak gunung ini hampir tidak pernah didatangi manusia, juga bersih dari jejak burung dan binatang buas.

Dengan susah payah mereka terus mencari, menyusur semak belukar....

Sekonyong-konyong terdengar suara teriakan kaget Tangkwik-siansing.

"Hai, lekas kalian kemari, Ki Pi-ceng ternyata bersembunyi di sini"

Mendengar suara itu, cepat semua orang memburu ke arahnya. Setelah berkumpul di situ, tertampaklah ada sebuah gua yang tertutup oleh semak rumput yang lebat, betapa dalamnya gua itu sukar diduga.

"Ya, apa yang dikatakan Tangkwik-locianpwe memang tidak salah, melihat semak rumput yang acak-acakan ini, jelas di sini pernah dilalui orang"

Kata Pwe-giok.

"Kalau sudah tahu, ayolah ikut kakek masuk ke sana untuk mencari pengalaman"

Ujar Tangkwik-siansing dengan tertawa.

Dengan hati-hati dan sambil menahan napas, semua orang ikut Tangkwik-siansing menerobos ke dalam gua.

Gua itu sangat gelap, seram lagi, tercium bau lembab yang menusuk hidung.

Mereka menyalakan obor, setelah membelok suatu tikungan di dalam goa, tiba-tiba tertampak Bak giok hujin alias Ki Pi-ceng yang mereka cari.

Memang benar, nyonya cantik dan juga keji ini memang bersembunyi di sini.

Anehnya Ki Pi-ceng tidak menghiraukan kedatangan mereka, ia duduk bersila di atas sepotong batu hijau, mata terpejam dan tanpa bergerak, sikapnya itu mengingatkan orang kepada kaum paderi yang sedang meditasi atau semedi.

Semua orang merasa curiga, merekapun siap siaga terhadap segala kemungkinan.

Jarak mereka dengan tempat duduk Bak giok hujin semakin dekat, dan nyonya cantik itu tetap diam saja tanpa memberi reaksi apa pun.

Setelah melenggong sejenak, tiba-tiba Tangkwik-sianseng menghela napas panjang, katanya dengan menyesal sambil menggeleng kepala.

"Ai, tak tersangka dia telah membunuh diri."

Semua orang sama melengak, cepat mereka memburu maju dan memeriksanya dengan teliti.

Benarlah, Ki Pi-ceng atau Bak-giok hujin sudah kaku walaupun masih tetap kelihatan sangat cantik, anggun, serupa pada waktu masih hidup.

Semua orang sama menghela napas menyesal, tak terduga perempuan cantik dan juga berhati keji itu mengakhiri hidupnya dengan jalan pendek demikian.

Dengan berbagai macam perasaan mereka lantas meninggalkan gua itu.

Setiba di mulut gua, tertampak kawanan jago persilatan beramai-ramai muncul pula memenuhi lereng gunung sana.

Waktu mereka sampai di atas puncak gunung, serentak terdengar gemuruh sorak-sorai orang banyak, sorak gembira yang gegap gempita.

"Hidup Ji Pwe-giok, Ji-kongcu!"

"Selamat Ji-kongcu!"

"Diharap Ji kongcu tampil sebagai Bu-lim bengcu yang baru! Kami siap tunduk di bawah perintahnya!"

"Hidup Bu-lim Bengcu baru!"

"Ji-kongcu harus meneruskan cita-cita Hong-ho Lojin dan menuntun dunia persilatan ke tertib baru!"

"Kami bersatu padu mendukungnya demi mengembangkan semangat dunia persilatan yang baru!"

"Hidup Bu-lim-bengcu!"

Demikian sorak sorai dan teriakan dukungan orang banyak itu terhadap Ji Pwe-giok terus berlangsung hingga sekian lamanya.

Tangkwik-siansing tersenyum gembira sambil mengelus jenggotnya yang panjang.

Akhirnya berlalu juga badai dunia persilatan yang cukup banyak menimbulkan korban itu.

Lalu bagaimana dengan dunia persilatan yang akan datang?

Siapapun tidak dapat memberi jawaban, manusia berusaha, Tuhan yang menentukan.

Hati manusia sukar diduga dan dapat berubah setiap saat, segala sesuatu bergantung pada kondisi dan keadaan.

Kini sakit hati kematian ayah Ji Pwe-giok sudah terbalas, biang keladi dari petaka ini sudah menerima ganjarannya yang setimpal.

Legalah hati Pwe-giok di samping timbul pula berbagai macam perasaan.

Teringat olehnya akan Lim Tay-ih.

Teringat pula masa depan dunia persilatan yang masih harus dibinanya.

Juga teringat olehnya tugasnya yang berat selanjutnya.

Dia terus melangkah ke depan, tidak jauh di belakangnya mengikut seorang nona dengan menggendong seekor kucing hitam, dia Cu Lui-ji yang baru saja lolos dari renggutan elmaut.

Entah bagaimana perasaan nona itu sekarang, akan tetapi satu hal yang pasti, yaitu, kemana pun Ji Pwe-giok pergi, kesana pula dia akan ikut, biarlah laut akan kering dan gunung akan runtuh, biarlah langit bertambah tua dan bumi bertambah gersang, biarlah segala apa di dunia ini akan berubah, akan tetapi hati Lui-ji, cintanya terhadap Ji Pwe-giok akan tetap abadi, takkan berubah selamanya.

T A M A T Epilog_______________ Ketika Ji Pwe-giok berjalan dia melihat 2 orang lari ke arahnya.

Mereka adalah dua orang wanita muda cantik yang menatap Ji Pwe-giok dengan kebahagiaan, kegembiraan tetapi juga kesedihan, mereka adalah.

Lim Tay-ih dan Kim Yan-cu.

Ji Pwe-giok terkejut, gembira dan juga sedih melihat keduanya terutama Lim Tay-ih, dia kelihatan pucat dan lebih lemah dibandingkan dengan saat terakhir dia melihatnya.

Ada air mata kebahagiaan dan kesedihan di matanya, Ji Pwe-giok tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Dalam sekejap kedua gadis itu telah berdiri di hadapan Ji Pwe-giok.

Lim Tay-ih berkata dengan lembut.

"Kau...."

Pada saat yang sama Ji Pwe-giok juga berkata.

"Kau...."

Keduanya berhenti dan saling memandang dengan kikuk, sampai kemudian Kim Yan-cu yang memecahkan keheningan dan berkata.

"Ini tentu adalah Cu siocia yang terkenal itu, Lim cici dan aku telah sering mendengar banyak hal mengenai dirinya. Ji kongcu, Lim cici dan aku sekarang telah menjadi saudara angkat"

Lim Tay-ih diam-diam melihat ke arah gadis yang berdiri di belakang Ji Pwe-giok dan terpesona terhadap kecantikannya, Cu Lui-ji juga mengamati Lim Tay-ih dengan cermat dan memujinya dalam hati.

Cu Lui-ji berkata dengan lembut.

"Aku....aku akan pergi dengan sa-cek (paman ketiga) sekarang", matanya terlihat merah dan dia kelihatan sedih sekali. Ji Pwe-giok berkata terbata-bata.

"Lui-ji, aku....."

Dia tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya, untung Kim Yan-cu kemudian menarik tangan Cu Lui-ji dan berkata.

"Siau-moay (adik kecil), mari kita berikan waktu untuk Ji kongcu dan Lim siocia untuk berbincang-bincang, sementara itu aku juga ingin mengenalmu lebih jauh."

Selang beberapa lama, Ji Pwe-giok berkata.

"Emmm.... maaf sekali, seharusnya aku harus lebih memperhatikan dirimu..."

Lim Tay-ih menjawab dengan air mata berlinang.

"Tidak, engkau tidak perlu minta maaf. Aku mengerti engkau tidak bermaksud membiarkanku dalam bahaya. Tapi...tapi..., apakah kau tahu bahwa aku akan mati bila terjadi sesuatu padamu?"

Ji Pwe-giok mengeluh.

"Aku juga tidak sanggup hidup lagi bila sesuatu terjadi padamu"

Lim Tay-ih melihat ke arah mata Ji Pwe-giok dalam-dalam dan berpikir.

"Tidak percuma semua penderitaan yang telah ku alami, hanya dengan mendengar perkataannya ini semua yang telah kulalui tidak sia-sia". Lim Tay-ih kemudian memeluk Ji Pwe-giok dan seketika semua kekuatiran dan kesedihannya hilang musnah, yang tertinggal hanyalah cinta dan kasih sayang. Ji Pwe-giok bukan laki-laki yang pandai mengutarakan perasaannya, dia menatap mata Lim Tay-ih dan mencium bibirnya. Itulah caranya mengutarakan perasaannya, tidak dengan katakata namun dengan tindakan. Seketika suasana dipenuhi dengan rasa cinta. Ji Pwe-giok duduk di atas batu sambil memegang tangan Lim Tay-ih, mereka baru saja menikmati kebersamaan mereka. Tetapi Ji Pwe-giok tetap sedikit bingung dan bertanya.

"Bagaimana kau bisa sampai di sini? Dan mengapa ke 13 pangcu tiba-tiba berbalik arah?"

Lim Tay-ih tersenyum.

"Ketika Hayhong-hujin menerima perintah dari Ji Tok-ho untuk memimpin Pek-hoa-pang untuk melawanmu, aku sangat terkejut. Kim Yan-cu dan aku berpikir bahwa kami harus menemukan sesuatu cara untuk mencegah semua ini terjadi. Pada beberapa bulan terakhir ini Kim Yan-cu dan aku telah menyelidiki orang yang memalsukan ayahku dan juga pemalsu-pemalsu lainnya. Setelah membuntuti mereka selama beberapa waktu, pada akhirnya kita berhasil menemukan kantor pusat dari Ji Tok-ho"

Ji Pwe-giok berkata.

"Dimanakah kantor pusat mereka?"

Lim Tay-ih berkata.

"Mereka sangat licin. Mereka membeli sebuah gedung besar di kota Chengdu dan membohongi orang-orang di sekitarnya seolah-olah gedung itu adalah tempat tinggal seorang pensiunan pejabat pemerintah. Setelah kami menemukan tempat itu, kami memberitahu Ang-lian pangcu dari Kay-pang untuk mengintai gedung tersebut. Beberapa hari yang lalu, beberapa murid Kay-pang melaporkan ada kegiatan-kegiatan misterius di sekitar gedung itu, pelayan-pelayan di gedung itu kelihatan tegang dan ketakutan. Kami juga mendengar bahwa rahasia isi buku Giam-oh-ceng telah dibeberkan dan Ji Tok-ho telah memerintahkan pengiriman pasukan untuk membunuhmu. Hayhong hujin sama sekali tidak mempunyai niat untuk membantu mereka, tapi mereka tidak bisa apa-apa karena dia harus mematuhi perintah Bulim Bengcu, kecuali ada bukti nyata bahwa dia bukan Ji Hong-ho yang sebenarnya. Hayhong hujin mengatakan kalau ada seseorang yang dapat memberikan bukti nyata, segala sesuatu akan menjadi berubah. Dari perkataannya kami mengambil kesimpulan bahwa dia menawarkan bantuannya untuk mencari bukti-bukti itu. Kami menarik kesimpulan bahwa kantor pusat Ji Tok-ho tidak akan dijaga ketat saat ini dan Kim Yan-cu berpikir adalah baik untuk juga menghubungi Anglian pangcu mengenai hal ini. Singkat kata, dengan gabungan kekuatan Pek-hoa-pang dan Kay-pang kamu menyerbu kantor pusat Ji Tok-ho dan menawan beberapa pimpinan organisasi Ji Tok-ho seperti Sebun Hong, tapi Lim..... Lim gadungan itu berhasil lolos. Dengan Sebun Hong dan yang lainnya sebagai saksi kami membujuk aliran-aliran lain untuk menghentikan permusuhan mereka terhadapmu"

Ji Pwe-giok mulai mengerti dan sangat tersentuh atas usaha Lim Tay-ih, Kim yan-cu, Ang Lian-hoa dan Hayhong hujin. Ji Pwe-giok tiba-tiba bertanya.

"Bagaimana ceritanya pertama kali kau bertemu Kim Yancu?"

Lim Tay-ih menjawab.

"Ang-lian pangcu menulis surat kepada Hayhong hujin meminta kami untuk melindungi Kim Yan-cu, dia terlibat dalam perkara kejadian di perkampungan Tong beberapa bulan yang lalu. Meskipun dia luput dari tuduhan, Anglian pangcu kuatir beberapa murid keluarga Tong akan mencari gara-gara kepadanya, maka Anglian pangcu meminta pertolongan kepada kami untuk melindungi Kim Yan-cu"

Ji Pwe-giok tahu bahwa kejadian itu disebabkan oleh ulah Gin Hoa-nio yang menyusup ke Tong-keh-ceng demi ambisinya sendiri.

Mengingat Gin Hoa-nio dia mengeluh dalam hati.

Memikirkan Gin Hoa-nio membuat Ji Pwe-giok teringat pada Cu Lui-ji, apa yang harus dilakukannya pada Lui-ji?

Beberapa bulan terakhir ini dia makin sayang kepada Lui-ji, dan tanpa disadarinya benih-benih cinta telah bersemi dihatinya pula.

Hatinya menjadi pedih dan dia tidak tahu bagaimana caranya untuk menjelaskan hal ini kepada Lim Tay-ih, dia menjadi bingung dan putus asa.

Dia menyalahkan dirinya sendiri mengapa sampai terjebak dalam situasi yang sangat tidak mengenakkan ini.

Dia merasa harus mengatakan kepada Lim Tay-ih apa yang telah terjadi, dan dia mulai berkata.

"Tay-ih, aku....aku.... Ada sesuatu hal yang sangat penting yang harus kubicarakan denganmu... aku tidak....."

Lim Tay-ih tersenyum manis.

"Ini mengenai Cu siocia bukan?"

Ji Pwe-giok tersipu-sipu. Lim Tay-ih berkata dengan lembut.

"Aku telah mendengar apa yang terjadi antara kau dan dirinya..... Dia adalah seorang gadis yang harus dikasihani juga. Aku iri terhadap dirinya karena dialah yang mendampingi dan menunjangmu selama beberapa bulan terakhir ini. Dan aku juga telah melihat di matamu bahwa engkau juga mempunyai perasaan mendalam terhadapnya juga. Cu siocia, Kim moay dan aku semuanya mempunyai perasaan mendalam terhadapmu, kami semua tidak dapat menanggung beban berpisah denganmu lagi. Aku ingin kau tahu bahwa aku tidak cemburu dan aku akan belajar menyayangi pula Cu siocia seperti halnya aku menjadi saudara angkat dengan Kim Yan-cu"

Ji Pwe-giok tersipu-sipu dan berkata dengan lembut.

"Aku....aku sangat malu... aku tak tahu harus berkata apa, tetapi terima kasih banyak atas pengertianmu"

Lim Tay-ih tersenyum nakal sekarang.

"Sebenarnya, aku juga tahu teman-teman perempuanmu yang lain seperti Tong Lin dan Gin Hoa-nio dan Thi Hoa-nio bersaudara..."

Ji Pwe-giok menjadi semakin malu dan cepat-cepat berkata.

"Aku.... tidak ada apa-apa di antara aku dan nona Tong... Jujur!.... Aku harus menjelaskan hal ini kepada anak murid keluarga Tong.... Dan Thi-hoa-nio sekarang telah menjadi istri Yang Cu-kang.... aku....."

Lim Tay-ih menyelanya dengan tersenyum.

"Aku hanya bergurau."

Dengan mengeluh ia menambahkan.

"Apakah kau tahu kalau nona Tong sekarang telah menjadi nikou?"

Ji Pwe-giok berseru dengan terkejut.

"Apa?"

Lim Tay-ih mengeluh.

"Aku dengar setelah engkau menghilang dari perkampungan keluarga Tong, Tong Lin jadi tidak disukai dan dijauhi oleh keluarganya. Pada suatu malam dia menyelinap keluar dari perkampungan keluarga Tong dan bermaksud bunuh diri. Untung dia akhirnya diselamatkan oleh Ji-sim suthay, pemimpin Gobi-pay. Nona Tong memohon kepada Ji-sim suthay untuk menerimanya menjadi murid. Melihat keteguhan hatinya, Jisim suthay menyetujuinya. Sebelum orang-orang dari ke tiga-belas aliran pergi ke sini, Thian-in taysu dari Siau lim-pay mengadakan pertemuan untuk membahas apa yang harus dilakukan"

Ji Pwe-giok mengernyitkan muka dan mendengarkan dengan seksama. Lim Tay-ih melanjutkan.

"Ketiga belas aliran terbelah menjadi dua, satu kelompok tidak ingin turut campur dalam urusan ini dan kelompok yang lain ingin menangkapmu. Orang-orang Kun-lun-pay dan Tiam-jong-pay ingin menangkapmu karena mereka berpendapat bahwa engkau bertanggung jawab atas kematian pemimpin mereka"

Ji Pwe-giok menjadi sedih mengenang bagaimana gurunya, Thian-kang totiang, mati dengan mengenaskan dalam rencana keji Ki Go-ceng, Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho.

Lim Tay-ih tahu Ji Pwe-giok bersedih atas kehilangan gurunya.

Lim Tay-ih memegang tangan Ji Pwe-giok erat-erat untuk menguatkan hatinya.

Dia menambahkan.

"Pemimpin Kun-lun-pay, Shi-kang Totiang dan Bwe Jing-hoa dari Tiamjong-pay menghendaki menuntut balas kepadamu atas kematian Thian-kang totiang dan Cia Thian-pi. Shi-kang totiang adalah sute dari gurumu sedangkan Bwe Jing-hoa adalah paman guru dari Cia-thian-pi. Anglian pangcu berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan mereka agar bersabar menunggu sampai hal-hal ini dapat diselidiki dengan jelas, tetapi keluarga Tong juga ingin memburumu atas kematian Tong Bu-siang"

Ji Pwe-giok menghela napas dalam-dalam ketika mendengar hal ini dan berkata dengan sedih.

"Kau tidak bisa menyalahkan mereka, akupun mungkin akan berlaku sama kalau berada dalam posisi mereka"

Lim Tay-ih juga menghela napas tapi dia juga bahagia melihat Ji Pwe-giok sebijaksana itu. Dia berkata.

"Para pemimpin dari 13 aliran berdebat dengan sengit, Ji-sim suthay sangat mendukung pendapat Anglian Pangcu. Aku pikir, nona Tong pasti mempunyai peran dalam hal ini. Untungnya, kebanyakan pemimpin bersikap netral seperti. Jut Tun totiang dari Butong dan Thian-in taysu dari Siau-lim, akan tetapi di tengah-tengah perdebatan seorang murid Siau-lim dan seorang murid Bu-tong menghampiri ketua mereka masing-masing dan membisikkan sesuatu di telinga ketua mereka. Setelah itu, Thian-in taysu dan Jut Tun totiang meninggalkan pembicaraan dan ketika dua jam kemudian mereka kembali mereka berkata bahwa mereka tidak akan ambil bagian dalam rencana menghukummu"

Ji Pwe-giok sangat terkejut dan berkata.

"Mengapa kedua locianpwe ini tiba-tiba bersikap tegas?"

Lim Tay-ih menggelengkan kepalanya dan berkata.

"Aku juga tidak tahu, tetapi mendengar bahwa ketua dari dua aliran terbesar tidak mematuhi perintah Bulim Bengcu lagi, pihak-pihak yang lain juga menolak untuk mengikuti perintah Ji Tok-ho. Hanya Tiam-jong, Kunlun dan pihak keluarga Tong yang berkukuh pada pendapat mereka untuk menangkapmu. Untung akhirnya Lo Cinjin tiba, dia dengan marah mengomeli dan memaki Shikang, Bwe Jing-hoa dan yang lain untuk tidak ikut-ikut dalam hal ini"

Ji Pwe-giok tersenyum ketika mendengar hal ini dan Lim Tay-ih juga tertawa geli mengingat bagaimana Lo Cinjin mengkuliahi orang-orang itu. Lim Tay-ih menambahkan dengan tersenyum.

"Begitulah, akhirnya para pemimpin sepakat untuk tidak mengikuti perintah Ji Tok-ho lagi. Semua begundal Ji Tok-ho ditahan untuk diinterogasi nantinya. Sekarang mereka ditahan oleh murid-murid Kay-pang dan Bwe Subong cianpwe diberi tugas untuk menjaga mereka"

Ji Pwe-giok bangun dan menghela napas dalam-dalam, kini semua pertanyaannya telah terjawab. Dia memandang ke depan dan melihat Kim Yan-cu dan Cu Lui-ji sedang berbicara, Lim Tayih berkata.

"Mari kita kesana"

Ketika dia berjalan menghampiri, Cu Lui-ji tersipu-sipu dan tidak tahu mau berkata apa, dia hanya mengelus-elus kucingnya dan menghindari matanya bentrok dengan mata Ji Pwe-giok.

Kim yan-cu tentunya telah mengatakan kepadanya bahwa Lim Tay-ih tidak keberatan terhadap dirinya dan mengerti posisinya.

Kim Yan-cu tertawa terhadap Ji Pwe-giok.

"Jangan kau lupakan aku! Ingat kau telah mengatakan di gua pada waktu itu bahwa engkau juga menyukaiku, aku akan lengket terhadapmu seperti lem"

Tiba-tiba sebuah suara memanggil.

"Ji kongcu... Ji kongcu...", ternyata itu adalah Tangkwik Ko yang memanggilnya, Lim Tay-ih berkata.

"Pergilah, aku mau bercakap-cakap dengan nona Cu di sini"

Ji Pwe-giok tersentuh hatinya dan berkata.

"Terima kasih"

Dia berjalan ke arah Tangkwik Ko dan terkejut melihat Hai Tong-jin, Yang Cu-kang dan Thi Hoa-nio berdiri saling berdampingan. Ji Pwe-giok sangat terkejut dan bertanya.

"Saudara Yang, apakah engkau baik-baik?"

Yang Cu-kiang tertawa.

"Ah, cuma sedikit setan-setan tidak akan membahayakan diriku, biarpun aku tidak bisa mengalahkan mereka aku masih bisa lolos dari mereka. Aku masih belum ingin mati, aku belum punya anak sekarang"

Thi Hoa-nio menjadi tersipu malu mendengarnya. Yang Cu-kiang berkata dengan serius.

"Mempunyai anak adalah hal yang normal, mengapa harus malu?"

Ji Pwe-giok berkata.

"Hai-heng dan Yang-heng, guru kalian Bak-giok-hujin adalah...."

Hai Tong-jin menghela napas dalam-dalam.

"Ya, kami tahu. Tangkwik siansing telah memberitahu kami..... meskipun dia adalah....., betapapun dia telah membesarkan kami dan mengajari kami ilmu silat dan jika kau tidak keberatan, kami ingin menguburkan jenasahnya dengan selayaknya"

Setelah mengatakan hal ini, air matanya bercucuran, bahkan Yang Cu-kangpun kelihatan sedih. Betapapun juga, Ki Pi-ceng adalah guru dan orang tua mereka. Ji Pwe-giok berkata.

"Tentu saja, tapi apa yang hendak kalian berdua lakukan sesudahnya?"

Yang Cu-kiang berkata.

"Tentu saja mempunyai anak! Omong-omong kakak Hai dan aku telah menjelaskan bahwa kematian Tong Bu-siang tidak ada hubungannya dengan dirimu. Tong Ki siocia juga telah menjelaskan posisimu. Dia berkata bahwa dia dan Tong Lin tahu bahwa Tong Bu-siang yang itu adalah gadungan dan itulah sebabnya dia dan nona Tong Lin membunuhnya. Karena dia ingin menyelidiki siapa dalang di balik semua ini dia harus menyalahkan seseorang. Selain itu, Hong Sam cianpwe, Tangkwik siansing juga berkata bahwa engkau tidak terlibat dalam hal ini."

Para anak murid keluarga Tong merasa malu.

Ji Pwe-giok berpikir bahwa sampai saat ini Tong-Ki masih merahasiakan bahwa sebenarnya ayahnya telah meninggal lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

Hai Tong-jin berkata.

"Aku punya banyak waktu sekarang, aku pikir aku akan berkelana dan menikmati hidup"

Ji Pwe-giok tersenyum.

"Aku harap kita tetap menjadi sahabat baik"

Yang Cu-kang dan Hai Tong-jing tersenyum dengan tulus.

"Tentu!"

Yang Cu-kang tiba-tiba berkata sambil tersenyum nakal.

"Baiklah.., aku harus pergi sekarang. Aku masih harus menemui ayah mertua nih"

Thi-hoa-nio mencibir dan berkata dengan geregetan.

"Kau ini memang....."

Ji Pwe-giok dan Hai Tong-jin tertawa. Tangkwik siansing, Hong Sam, Tangkwik Ko sedang berbicara dengan Thian-in taysu dan Jut Tun Totiang, Tangkwik siansing melambaikan tangannya.

"Anak muda, kemarilah...."

Ji Pwe-giok berjalan menghampiri mereka. Thian-in taysu kemudian berkata.

"Ji kongcu, terima kasih telah membeberkan rahasia kitab Giam-ong-ceh, karena dengan ini Siau-lim berhasil menemukan seorang pengkhianat yang telah kami cari lebih dari 40 tahun lamanya. Siau-lim-si berhutang budi pada kongcu"

Ji Pwe-giok berkata merendah.

"Thian in taysu, anda terlalu sungkan"

Thian-in taysu menghela napas.

"Hu Pat-ya itu sebenarnya adalah suhengku. Dia sangat berbakat dalam ilmu silat tapi sayang hatinya tidak setia kepada ajaran Budha. Setelah guruku wafat, dia melarikan diri keluar dari Siau-lim sambil membawa kitab jurus 100 langkah tinju sakti"

Hong sam berkata.

"Pendeta, dalam pohon yang baikpun pasti ada beberapa buah apel yang busuk. Anda tidak perlu terlalu memikirkan hal ini"

Thian-in taysu menghela napas.

"Betapapun juga dia menggunakan ilmu Siau-lim untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap banyak tokoh Bu-lim"

Ji Pwe-giok tidak dapat menahan rasa ingin tahunya dan bertanya.

"Bolehkah saya bertanya, apa....."

Jut Tun totiang memotong dengan tersenyum.

"Ji kongcu, aku tahu apa yang ingin kau tanyakan. Kau ingin tahu apa yang membuat kami berubah pikiran?"

Ji Pwe-giok berkata dengan hormat.

"Benar, totiang"

Tangkwik siansing mengelus-elus jenggot panjangnya dan tertawa.

"Itu semua adalah garagara seorang teman lamaku..... engkau juga kenal padanya, Pwe-giok"

Ji Pwe-giok kebingungan. Tangkwik Ko tersenyum.

"Meskipun engkau pernah bertemu dengannya, tapi engkau belum pernah melihatnya"

Ji Pwe-giok tiba-tiba teringat pada seseorang dan berkata.

"Hwe sing-diong!"

Tangkwik siansing tertawa.

"Ya, si tua itu telah pindah ke sebuah lembah dan menamai lembah itu sebagai lembah gema. Sedikitnya sudah 20 tahun terakhir aku bertemu dengannya. Ji Pwe-giok berkata.

"Aku ingin berterima kasih kepada cianpwe itu atas bantuanbantuannya"

Tangkwik siansing berkata.

"Si tua bangka itu selalu berpergian semaunya sendiri dan tidak ada seorangpun yang tahu dimana letak lembah gema. Kalau dia ingin bertemu denganmu, dia akan pergi mencari dirimu. Dia itu seorang tua bangka yang aneh, tapi bagaimanapun juga dia adalah seorang yang berhati lurus."

Jut-tun totiang berkata.

"Beberapa tahun yang lalu cianpwe ini memberi pertolongan kepada kami ketika Siau-lim dan Bu-tong menghadapi suatu masalah yang sulit. Maka ketika cianpwe ini meminta kami untuk tidak turut campur pada urusan ini, Thian-in taysu dan pinto mematuhinya". Setelah itu Jisim suthay berjalan menghampiri dan memberi salam kepada tokoh-tokoh yang hadir sebelum menoleh kepada Ji Pwe-giok.

"Omitohud, Ji siauhiap, muridku Konghuan mendoakan keselamatanmu dan berharap engkau dapat menegakkan kebenaran dan keadilan di Bu-lim. Nama lama dari Konghuan adalah Tong Lin. Omitohud, pin-ni harus pergi sekarang. Semoga kalian semua diberkati. Sampai jumpa lagi"

Jisim suthay adalah seorang nikou yang berumur lebih dari 60 tahun, wajahnya nampak agung, dia adalah seorang locianpwe yang sangat dihormati di dunia persilatan.

Ji Pwe-giok tidak tahu harus memikir apa ketika dia mendengar bahwa Tong Lin telah menjadi seorang nikou.

Ang Lian-hoa menghampiri Ji Pwe-giok dan tersenyum.

"Saudara Ji, sudah lama sekali"

Ji Pwe-giok merasa terakhir kali dia berbicara dengan Ang Lian-hoa seolah-olah pada kehidupannya yang lain. Ang Lian-hoa menepuk bahunya dan berkata.

"Aku selalu percaya engkau akan dapat menghadapi semua masalah. Engkau benar-benar seorang yang mengagumkan!"

Ji Pwe-giok bercucuran air mata kegembiraan.

"Saudara Ang Lian-hoa, aku.... jika bukan karena bantuanmu aku tidak mungkin dapat berada di sini saat ini"

Ang Lian-hoa berkata.

"Mimpi buruk akhirnya telah berlalu, tapi kewajiban baru sekarang ada di tanganmu"

Pada saat ini, semua tokoh Bu-lim telah berkumpul, Lim Tay-ih, Cu Lui-ji dan Kim Yan-cu berdiri dekat Ji Pwe-giok sebagai tanda dukungan mereka terhadap Ji Pwe-giok. Thian-in taysu berkata.

"Ang-lian pangcu benar, aku merasa Ji Tayhiap harus memimpin Bulim sekarang"

Bwe Ceng-hoa dari Tiam-jong berkata dengan dingin.

"Baik, mungkin semua pendekar menerima Ji kongcu, tapi... Tiam-jong tidak setuju. Ji kongcu, bagaimana engkau menjelaskan kematian ketua kami Cia Thian-pi?"

Yang Cu-kiang bertanya kepada Hai Tong-jin.

"Kakak Hai, sejak kapan Ji kongcu menjadi murid Tiam-jong?"

Hai Tong-jin menyahut.

"Sepengetahuanku Ji kongcu tidak mempunyai hubungan apapun dengan Tiam-jong-pay"

Yang Cu-kiang berkata.

"Oh... Bwe siansing, kalau begitu mengapa Ji kongcu harus membantumu menyelidiki kematian ketuamu? Apakah Ji kongcu seorang polisi?"

Bwe Ceng-hoa berkata dengan marah.

"Yang Cu-kiang dan Hai Tong-jin, kalian berdua adalah murid Ki Pi-ceng! Jangan-jangan kalian sedang merencanakan sesuatu rencana busuk? Tiam-jong-pai tidak takut pada bajingan-bajingan seperti kalian"

Yang Cu-kiang berkata.

"Baik, mari kita lihat kehebatan Tiam-jong-pai...."

Ji Pwe-giok tahu bahwa Bwe Ceng-hoa bukan tandingan Yang Cu-kiang dan cepat-cepat menengahi.

"Bwe siansing, saya benar-benar tidak bertanggung jawab atas kematian Cia pangcu. Saya berani bersumpah mengenai hal ini...."

Ang Lian-hoa berkata.

"Saudara Cia tidak dibunuh Ji kongcu"

Shikang totiang berkata dengan keras.

"Bagaimana dengan kakak seperguruanku? Ji Pwegiok, engkau adalah seorang murid Kun-lun! Katakan padaku apa yang telah terjadi"

Shikang totiang mengemukakan fakta bahwa dia dapat memerintah Ji Pwe-giok karena tidak saja dia adalah susiok dari Ji Pwe-giok tapi dia juga saat ini adalah ketua Kun-lun-pai.

Tiba-tiba sebuah suara jernih terdengar .

"Berhenti bertengkar!"

Suara itu terdengar jernih, mendayu-dayu tetapi dingin.

Yang berbicara adalah seorang gadis muda, Ji Pwe-giok mengenalinya.

Dia adalah saudara sepupunya Ki Leng-yan.

Dua orang lelaki tampak berjalan mengikuti di belakangnya.

Tiba-tiba Bwe Ceng-hoa berkata dengan terkejut.

"Thian-pi, engkaukah itu?"

Salah seorang dari dua lelaki itu memang adalah Cia Thian-pi, dia nampak sangat kurus, pucat dan sakit. Tapi ketika dia melihat Bwe Ceng-hoa dia kelihatan gembira dan berkata.

"Bwe susiok, ya ini aku. Ji kongcu telah membunuh orang yang memalsu sebagai diriku.... kita tidak boleh salah menuduhnya"

Bwe Ceng-hoa tampak bingung dan tidak tahu mana yang harus dipercaya. Ki Leng-yan berkata dengan dingin.

"Aku tahu, Cia Thian-pi seorang tidak cukup untuk meyakinkanmu, tapi ada seseorang lagi yang dapat bersaksi bahwa Ji Pwe-giok tidak berdosa"

Dia menunjuk ke lelaki yang lain, semua orang ini melihat bahwa orang ini adalah Lim Sohkoan atau lebih tepatnya Lim Soh-koan palsu, Lim Tay-ih sangat marah dan sedih.

Ki Leng-yan berkata dengan dingin.

"Aku menahan orang ini ketika dia berusaha meloloskan diri keluar propinsi. Katakan kepada semua orang, siapa engkau sebenarnya!"

Lim Soh-kuan berkata.

"Namaku yang sebenarnya adalah Siahou Kosing"

Tiba-tiba beberapa orang berseru dengan terkejut.

"Si pedang seribu ular!"

Si Pedang Seribu Ular Siahou Kosing adalah seorang tokoh jahat yang berkeliaran di daerah utara dan kabarnya merupakan seorang teman karib dari Ji Tok-ho.

Kadang-kadang mereka melakukan kejahatan dan pembunuhan bersama-sama, merampok rombongan piaukiok.

Berkat ilmu silatnya yang tinggi dia dapat lolos dari kejaran musuh-musuhnya, tapi sepuluh tahun yang lalu tiba-tiba tidak terdengar kabar apapun mengenai dia.

Orang-orang menganggapnya telah mati, padahal kenyataannya dia bersekongkol dengan Ki Pi-ceng, Ki Go-ceng dan Ji Tok-ho.

Siahou Ko-sing berkata.

"Ya, aku memang si Pedang seribu ular. Kakak Ji memerintahkan Cia Thian-pi palsu untuk membokong pendeta Thiankang dari Kun-lun-pai, sesudah itu Cia Thian-pi palsu itu turut menghilang. Kami beranggapan bahwa dia telah dibunuh Ji Pwe-giok dan Ang Lian-hoa. Rencana kami untuk menguasai dunia persilatan sudah gagal, tidak ada satu katapun yang dapat kukatakan sekarang. Jika kalian mau, bunuh saja aku, aku tidak keberatan, toh aku sudah hidup cukup lama"

Dia memandang Lim Tay-ih dan tertawa dingin.

"Sebenarnya, aku membunuh ayahmu, aku memimpin kelompok yang membantai keluargamu!"

Lim Tay-ih menjerit.

"Engkau bajingan!"

Dia menghunus pedangnya dan menikam jantung Siahou Kosing. Semua orang bersorak.

"Bagus, nona Lim!"

Dia lalu menangis terisak-isak, akhirnya dia berhasil membalaskan dendam ayahnya. Ji Pwegiok meraih tangannya dengan lembut, Kim Yan-cu dan Cu Lui-ji berdua berkata.

"Jangan sedih, kakak Tay-ih"

Bwe Ceng-hoa dan Shikang totiang menghampiri dan membungkuk ke hadapan Ji Pwe-giok.

"Mohon maafkan kami orang tua yang keras kepala dan tolol ini"

Cia Thian-pi menambahkan.

"Tiam-jong-pai tidak mempunyai keberatan sama sekali terhadap Ji Kongcu sebagai Bulim-bengcu yang baru"

Ji Pwe-giok berkata dengan sopan.

"Bwe locianpwe, tidak usah dipikirkan. Dan terima kasih kepada Cia pangcu tapi aku takut aku tidak mempunyai kemampuan untuk menjadi Bengcu"

Shikang Totiang berkata.

"Ji kongcu, mohon maafkan ketidaksopanan pinto. Tapi pinto rasa engkau harus menjadi Bulim Bengcu yang baru. Sebagai susiokmu, aku merasa engkau sesuai untuk memimpin dunia persilatan ke era baru. Engkau bukan saja akan mengembalikan nama baik keluargamu tapi juga almarhum gurumu. Suheng Thian-kang tentu juga akan ikut berbahagia"

Ji Pwe-giok berkata dengan hormat.

"Susiok Shikang, aku...."

Ji Siok-cin dari Hoa-san juga berkata.

"Aku setuju dengan Shikang totiang"

Thian-in taysu berkata.

"Jut Tun totiang dan pinceng mendukung usulan Ji tayhiap untuk menjadi Bulim Bengcu yang baru"

Ji Pwe-giok berkata terbata-bata.

"Tapi....tapi.... banyak orang lain yang lebih cocok daripadaku... Tangkwik siansing dan....."

Tangkwik siansing memotong.

"Jangan engkau paksa aku, aku tidak punya cukup kesabaran untuk memerintah dunia persilatan.... bocah, jangan kau limpahkan permasalahanmu pada diriku"

Ji Pwe-giok menatap pada Hong Sam dan Tangkwik Ko. Hong Sam berkata.

"Adik, aku sudah tua, di samping itu aku sudah lama ingin mengembara di lautan lepas. Akhirnya, kini aku punya waktu untuk mewujudkannya"

Tangkwik Ko berkata.

"Ji kongcu, kau pasti sanggup. Aku sudah tua dan tidak ingin terseret urusan dunia persilatan lagi". Ji Pwe-giok berkata.

"Baiklah, karena seluruh cianpwe begitu mempercayaiku, aku bersedia menjadi Bengcu sampai aku menemukan orang lain yang lebih cocok untuk menggantikanku. Dan aku juga punya satu syarat.... Aku ingin saudara Ang-lian-hoa untuk menjadi penasehatku"

Setiap orang setuju dengan usulan ini, Ang-lian-hoa adalah seorang yang pandai dan cerdas dan mempunyai watak yang baik.

Dia pasti bisa membantu Ji Pwe-giok dalam melaksanakan tugasnya.

Aliran-aliran lain seperti Kong-tong-pay dan Thian-lam-pai tidak keberatan, terutama disebabkan dengan tarap kemampuan ilmu silat Jue Qinzi dan Hi Soan mereka sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk menjadi Bengcu.

Di samping itu, Hi Soan menyadari bahwa Ji Pwe-giok adalah seorang yang pandai dan mempunyai ilmu silat yang tinggi, dia benar-benar menghargai Ji Pwe-giok dan sangat mendukung usulan itu.

Maka Bulim bengcu baru telah dinobatkan.

Ji Pwe-giok.

Musim semi tiba dan musim semi berlalu, musim dingin tiba dan musim dingin berlalu.

Waktu berlalu dengan cepat.

Banyak hal terjadi di dunia persilatan setelah Ji Pwe-giok menjadi bengcu, pertama-tama semua orang munafik dan orang-orang busuk di kitab Giam-ong-ceh diadili dan dihukum.

Sebagai contoh.

Hu Pat-ya dan Hu Pat-naynay dibawa kembali ke biara Siau-lim, ilmu silat mereka dimusnahkan dan mereka ditawan di dalam sebuah gua di gunung Siong-san.

Ji Pwe-giok juga memohonkan ampun untuk Ciong Cing dan Kwe Pian-sian kepada Hayhong hujin, Ang Lian-hoa dan Ji Siok-cin.

Rupanya Ki Leng-yan melepaskan mereka setelah dia lolos dari ruangan batu.

Ang Lian-hoa, Ji Siok-cin dan Hay-hong hujin setuju untuk mengampuni Kwe Pian Sian dan Ciong-cing sepanjang mereka bertobat dan tidak membuat masalah baru di dunia persilatan, kalau tidak mereka tidak akan lolos dari hukuman.

Ji Pwegiok setuju dengan syarat-syarat ini.

Sedangkan mengenai Ki Leng-hong, setelah usahanya untuk menguasai dunia persilatan gagal, dia tidak mempunyai ambisi lagi untuk menguasai dunia persilatan.

Dia mengurus adiknya yang mempunyai kelainan jiwa dan ibunya yang sakit-sakitan.

Mereka meninggalkan Sat-jin-keh dan tinggal di tempat terpencil.

Rupanya ketika Ki Song-hoa mendengar bahwa ayah dan ibunya, Ki Go-ceng dan Ki Pi-ceng mati, Ki Song-hoa menjadi gila dan berlari ke komplek pekuburan keluarga mereka dan membakarnya, dia sendiri mati terbakar.

Tangkwik Siansing memberi hadiah sekarung penuh harta yang diambil dari perkampungan Hu.

Hadiah itu digeletakkan di depan pintu rumah Ji Pwe-giok bersama sebuah surat yang menyatakan hadiah itu adalah hadiah perkawinan.

Dia sendiri akan mencari tempat baru untuk bertapa karena tempat yang lama sudah diketahui orang banyak.

Hong Sam membeli sebuah kapal dan berpetualang dengan kapalnya.

Dia tidak lagi mempunyai beban.

Cu Lui-ji sudha selamat dan bahagia.

Akhirnya dia dapat melakukan apa yang telah diinginkannya sejak lama.

Hai Tong-jin menemaninya dalam berpetualang.

Tangkwik Ko pindah ke sebuah rumah dekat Ki Leng-hong, dia menjadi gurunya dan mulai mengajarinya ilmu silat.

Dia lebih bahagia sekarang dan kadang-kadang sambil bergurau mengatakan bahwa sedikit banyak cita-citanya telah tercapai karena sepupunya menjadi Bulim Bengcu.

Thian-can-kau hidup damai berdampingan dengan ke tiga belas aliran.

Yang Cu-kiang dan Thi-hoa-nio mengundurkan diri dari dunia persilatan.

Kadang-kadang orang mendengar kabar tentang seorang aneh yang lucu melakukan perbuatan-perbuatan baik tapi tidak pernah mengatakan namanya.

Seorang wanita cantik selalu berada di sisinya sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.

Setahun kemudian, rumah Ji Pwe-giok kosong.

Bendera Bengcu diletakkan di sebuah kotak di atas meja, Jut Tun totiang dan Thian-in taysu kedua-duanya menerima surat dari Ji Pwe-giok.

Dalam surat itu, dia menyatakan bahwa Ang Lian-hoa adalah orang yang lebih cocok untuk menjadi Bengcu, Ang Lian-hoa juga menerima sepucuk surat dari Ji Pwe-giok yang mengatakan Ji Pwe-giok tidak mempunyai cukup kemampuan untuk memimpin dunia persilatan dan lebih baik menghabiskan waktunya bersama istri-istrinya.

Maka Ang Lian-hoa menjadi Bengcu yang baru dan Cia Thian-pi menjadi penasehatnya.

Kedua-duanya adalah orang-orang muda yang pandai dan bijaksana.

Dengan mereka sebagai pemimpin, dunia persilatan menjadi aman.

Beberapa tahun kemudian, dunia persilatan menjadi damai.

Orang-orang yang tinggal di kota Kunming sering melihat seorang muda yang tampan dengan tiga orang wanita cantik berjalanjalan sambil tersenyum di sepanjang danau Thian-ci.

Seorang lelaki mempunyai tiga orang istri cantik sungguh sangat luar biasa, tidak banyak orang yang beruntung sekalipun hanya untuk mendapatkan seorang istri cantik.

Tapi orangorang juga menyadari betapa banyak air mata, keringat dan darah yang mengalir sebelum impian indah itu terwujud.

Tetapi, sesuatu yang lebih indah bahkan terjadi, yaitu masing-masing istri menggendong bayi yang lucu dan saling bergurau dengan gembira.

Tentu saja mereka adalah Ji Pwe-giok, Lim Tay-ih, Kim Yan-cu dan Cu Lui-ji.

S E L E S A I....................

Baca Juga: Manusia Aneh Dialas Pegunungan 2

Baca Juga: Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert