Eps 1 Amanat Marga - Khu Lung
Baca online Amanat Marga - Khu Lung
Cersil Amanat Marga - Khu Lung.
Amanat Marga (Hu Hua Ling) Karya .
Khu Lung Saduran .
Gan KL Angin menderu, awan berarak mengelilingi lereng bukit Jong-liong-nia yang merupakan lereng pegunungan Hoa.
Bukit yang memanjang terjal dengan jurang yang dalam, puncaknya yang menegak dipandang dari jauh serupa sebilah pisau mengilat yang menembus awan di tengah langit.
Cahaya fajar menyimak awan, kabut pun mulai menipis.
Di puncak Jong-liong-nia itu, di bawah tugu peringatan pujangga Han-bun-kong berdiri seorang gadis rupawan dengan gayanya yang indah sedang memandang jauh ke arah jalan yang menuju ke atas bukit dengan kening bekernyit.
Tidak lama kemudian, benarlah di jalan pegunungan itu muncul beberapa sosok bayangan orang.
Wajah si nona cantik berubah berseri, lalu mendengus perlahan penuh rasa benci dan dendam.
Sekejap kemudian beberapa sosok bayangan itu sudah melayang tiba dan berhenti di depan si nona cantik.
Nona itu mengerling sekejap, lalu berucap dengan dingin.
"Ikut padaku!"
Dengan suatu gerakan indah ia melompat mundur beberapa tombak jauhnya, tanpa memandang lagi ia terus melayang ke atas menuju ke puncak selatansana .
Pendatang itu seluruhnya terdiri dari lima orang, seorang di antaranya lelaki kekar berbaju hitam, bermuka berewok, berbaju ringkas dan membawa pedang, alis tebal dan mata besar, ia berkata kepada seorang nyonya muda berbaju merah di sampingnya dengan tertawa.
"Hah, latah benar nona cilik tadi, tampaknya lebih angkuh daripada waktu engkau masih muda."
"Masa?"
Si nyonya muda berpaling dengan tersenyum.
"Sudah tentu benar,"
Seru lelaki baju hitam dengan tertawa.
"Bilamana orang memperistrikan dia, tanggung akan lebih runyam daripada aku Liong Hui. Hahaha!"
Suara tertawanya menggema angkasa, mengandung rasa kasihan atas diri sendiri dan juga penuh rasa puas.
Si nyonya muda bersuara aleman dan mendekap ke dada si berewok, rambutnya tertebaran tertiup angin dan bertaut dengan jenggot pendek si lelaki kekar.
Di tengah gelak tertawa, seorang pemuda berbaju merah dan berbadan kurus yang menyusul tiba mendadak berdehem dan berucap.
"Suhu datang!"
Seketika si berewok berhenti tertawa dan si nyonya baju merah juga berdiri tegak kembali.
Tertampaklah muncul seorang kakek berjubah satin, muka memakai kerudung kain sutera tipis wama hitam.
Di belakangnya mengikut dua lelaki kekar lain dan juga berbaju hitam mulus, berdandan ringkas dan membawa golok.
Kedua orang ini menggotong sepotong barang sepanjang satu tombak dan lebarnya antara tiga kaki, berbentuk lonjong, tapi tertutup oleh sehelai kain pancawama sehingga tidak jelas kelihatan sesungguhnya barang apa yang mereka usung ini.
Melihat si kakek, si berewok, nyonya muda baju merah dan pemuda kurus tadi sama berdiri dengan sikap hormat dan tidak berani bersuara lagi.
Sesudah berhenti, si kakek menyapu pandang sekejap dengan sinar matanya yang tajam, lalu bertanya dengan suara tertahan.
"Di mana dia?"
"Sudah naik ke atas,"
Jawab si berewok dengan hormat. Si kakek mendengus.
"Ayo berangkat!"
Segera ia mendahului menuju ke atas puncak gunung, ujung jubahnya tersingkap oleh tiupan angin sehingga kelihatan sarung pedangnya yang berwama hijau terbuat dari kulit ikan hiu.
Si nyonya muda yang tertinggal di belakang berucap perlahan.
"Ai, hari ini ayah ..."
Dia tidak meneruskan ucapannya. Si pemuda kurus tadi berpaling memandang dua orang muda-mudi sekejap, ia terkesima sejenak, lalu berkata.
"Sumoay (adik perempuan keempat) dan Gote (adik kelima), boleh kalian menunggu di bawah gunung saja."
Habis berkata ia lantas menyusul si berewok dan si nyonya muda.
Kedua muda-mudi saling pandang sekian lama dan tiada yang bicara apa pun.
Puncak selatan merupakan puncak tertinggi di Jong-liong-nia, hampir seluruhnya tertutup oleh gumpalan awan, angin meniup kencang, sejak dahulu kala jarang ada manusia berkunjung ke sini.
Namun sekarang sang surya baru terbit, puncak utama pegunungan Hoa yang terkenal ini telah banyak didatangi orang.
Tertampak empat perempuan setengah umur dengan rambut sudah mulai beruban dan berbaju hijau singsat berdiri berjajar di bawah pohon cemara tua, wajah setiap orang tampak prihatin.
Ketika si nona cantik tadi melayang tiba segera ia mendesis.
"Itu dia sudah datang!"
Baru lenyap suara, dari bawah puncak lantas berkumandang seruan orang.
"Janji sepuluh tahun yang lalu tidak pemah dilupakan Liong Po-si, mengapa Sip-tiok-li tidak menyambut kedatangan kenalan lama?"
Suaranya tidak keras, namun setiap katanya berkumandang dengan jelas.
Keempat perempuan berbaju hijau itu saling pandang sekejap, tapi tidak ada yang bergerak.
Sedangkan si nona cantik hanya mendengus saja, lalu berduduk santai di atas batu hijau di samping pohon cemara.
Baru saja suara orang tadi lenyap, di atas puncak sudah muncul bayangan si kakek yang tinggi besar dan berwibawa itu, dengan sorot mata tajam ia menyapu pandang kelima orang perempuan di bawah pohon, lalu bertanya.
"Apakah tempat ini puncak Hoa-san yang tertinggi? Apakah kalian anak murid Tan-hong?"
Dengan tak acuh si nona cantik menjawab.
"Betul!"
"Dan di manakah Tan-hongYap Jiu-pek?"
Tanya pula si kakek sambil melangkah maju. Perlahan si nona cantik berbangkit, ia mengawasi si kakek beberapa kejap dari atas ke bawah dan dari bawah kembali ke atas, lalu menjengek.
"Apakah engkau ini Put-si-sin-liong Liong Po-si?"
Put-si-sin-liong atau si naga sakti tak termatikan, Liong Po-si, yaitu si kakek berjubah satin itu tampak melenggong, mendadak ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, bagus, bagus! Tak tersangka hari ini di dunia Kangouw masih ada orang berani menyebut namaku langsung di depanku!"
Si nona cantik tertawa dingin, ucapnya dengan sikap pongah.
"Bagus, bagus! Tak terduga hari ini di dunia Kangouw ada orang berani menyebut nama guruku di hadapanku."
Melengak juga si kakek, mendadak ia mendekati keempat perempuan berbaju hijau, ia tuding si nona cantik dan bertanya.
"Apakah dia muridYap Jiu-pek?"
Keempat perempuan berbaju hijau memandangnya tanpa berkedip dan menjawab berbareng.
"Betul!"
Serentak Liong Po-si berpaling dan menegur dengan gusar.
"Sepuluh tahun yang lalu gurumu berjanji akan bertemu denganku di sini, mengapa sekarang dia tidak muncul, sebaliknya menyuruhmu bersikap kurang sopan kepada kaum Cianpwe?"
"Hm, betapa pentingnya janji pertemuan juga takkan dipenuhi lagi oleh guruku,"
Kata si nona dengan dingin.
"Memangnya kenapa?"
Bentak Liong Po-si dengan gusar.
"Guruku telah wafat tiga bulan yang lalu,"
Jawab si nona dengan perlahan.
"Sebelum meninggal beliau memberi pesan agar kuwakili pertemuan ini, tapi beliau tidak pemah memberitahukan padaku bahwa engkau ini kaum Cianpwe apa segala."
Dia bicara dengan tenang, nadanya dingin tanpa emosi, sama sekali tidak ada tanda duka seorang murid lagi menyampaikan berita tentang meninggalnya sang guru.
Kembali Liong Po-si melengak, kain sutera yang mengerudungi mukanya tampak bergetar, jenggot perak di bawah dagunya juga rada gemetar.
Keempat perempuan berbaju hijau juga saling pandang lagi sekejap, tapi tetap tidak bersuara.
Dalam pada itu si berewok, si nyonya muda dan pemuda kurus berlima juga sudah menyusul tiba.
Kedua lelaki berbaju hitam menaruh perlahan barang yang mereka usung itu, lalu menyurut mundur dengan sikap hormat.
Si berewok alias Liong Hui mendekati Liong Posi, dengan suara perlahan ia tanya.
"Bagaimana, ayah?"
Mendadak Liong Po-si menghela napas dan berkata.
"Yap Jiu-pek sudah mati!"
Dengan menyesal ia lantas membalik tubuh dan melangkah pergi. Sorot mata si nona cantik yang dingin itu memancarkan cahaya yang aneh, mendadak ia menengadah dan tertawa dingin.
"Hah, sayang, sungguh sayang! Tak tersangka tokoh paling gagah yang termasyhur di dunia Kangouw Put-si-sin-liong ternyata cuma begini saja setelah kulihat."
Serentak Liong Po-si berhenti di tempat. Alis Liong Hui juga menegak, dampratnya gusar.
"Apa katamu?"
"Apa kataku tiada sangkut pautnya denganmu,"
Jawab si nona ketus.
"Di sini tidak ada hak bicara bagimu."
Tentu saja Liong Hui tambah gusar, tapi Liong Po-si telah memutar balik dan menegur si nona.
"Kau bilang apa tadi?"
Dengan tenang si nona menjawab.
"Apa yang ditetapkan dalam perjanjian guruku denganmu sepuluh tahun uang lalu mengenai pertemuan ini?"
Liong Po-si tampak kecewa, jawabnya.
"Yang menang akan ditetapkan menjadi pemimpin dunia Kangouw selamanya, dan yang kalah .... Ai, kalauYap Jiu-pek sudah mati, biarpun orang she Liong dapat merajai dunia Kangouw ...."
"Meski guruku sudah wafat, apakah engkau pasti dapat merajai dunia Kangouw?"
Mendadak si nona memotong dengan ketus.
"Memangnya hendak kau tantang diriku untuk bertanding?"
Tanya si kakek.
"Hm, biarpun ada maksudku demikian, mungkin engkau juga tidak sudi bergebrak denganku,"
Sahut si nona.
"Memang betul,"
Ujar Liong Po-si.
"Selama berpuluh tahun kira-kira ada berapa kali engkau bertanding dengan guruku?"
Tanya si nona mendadak.
"Berapa kali, sukar dihitung lagi."
"Dan pemahkah engkau menangkan beliau setengah atau satu jurus?"
"Tapi juga tidak pemah kalah."
"Nah, kalau kalah dan menang tidak pemah terjadi dan engkau lantas ingin merajai dunia Kangouw, apakah di dunia ini ada urusan segampang ini?"
Liong Po-si melenggong.
"Yap Jiu-pek sudah mati, masakah harus kutantang orang mati untuk bertanding?"
"Hm, meski guruku sudah meninggal, tapi beliau meninggalkan satu seri ilmu pedang, bila engkau tidak mampu mengalahkan ilmu pedang ini, hendaknya segera engkau membunuh diri di puncak Hoa-san ini dan setiap anak murid Ci-hausan-ceng selanjutnya dilarang berkecimpung di dunia Kangouw."
Belum lagi Liong Po-si menjawab, mendadak si berewok Liong Hui bergelak tertawa dan berteriak.
"Dan bagaimana kalau ayahku menang?"
Sama sekali si nona tidak menghiraukannya, melirik pun tidak, ucapannya seolah-olah tidak terdengar olehnya. Liong Hui tertawa keras dan berseru pula.
"Jika ayahku kalah diharuskan segera membunuh diri, bila ayah menang, memangnyaYap Jiu-pek itu dapat mati sekali lagi? Apalagi jelas-jelas kau tahu ayahku tidak sudi bergebrak dengan kaum muda, apa gunanya biarpunYap Jiu-pek meninggalkan ilmu pedang segala?"
"Diam?"
Mendadak Liong Po-si membentak. Lalu ia mendekati si nona cantik dan berucap dengan suara tertahan.
"Selama sepuluh tahun ini, apakah dia telah menciptakan pula seri ilmu pedang baru?"
"Betul,"
Jawab si nona. Mencorong sinar mata Liong Po-si, tapi lantas menghela napas lagi dan berkata.
"Biarpun ada ilmu pedang mahasakti, kalau tidak dimainkan oleh orang yang menguasai keuletan yang cukup, memangnya dapat mengalahkanku begitu saja?"
Perlahan ia menunduk, tampaknya sangat kecewa. Dengan ketus si nona berkata pula.
"Jika ada orang yang keuletannya sebanding denganmu, lalu dengan ilmu pedang tinggalan guruku untuk bergebrak denganmu, bukankah hal itu serupa halnya guruku bertempur sendiri denganmu?"
Sorot mata Liong Po-si tambah buram, ucapnya dengan hampa.
"Sejak 17 tahun yang lalu segenap jago dunia persilatan kelas top berkumpul di Wisan, kecuali gurumu dan aku, semuanya gugur dalam pertarungan di Wi-sansana . Sekarang bila ingin mencari seorang yang mempunyai kekuatan sebanding denganku, untuk itu mungkin perlu menunggu tiga ataulima puluh tahun lagi."
"Untuk menguasai ilmu pedang dengan baik memang diperlukan kekuatan latihan yang cukup, kurang salah satu di antaranya takkan mampu menjadi jago kelas tinggi, dalil ini cukup jelas, sebab itulah setelah pertemuan Wi-san, tiada lagi jago lain yang mampu mengungguli Tan-hong dan Sin-liong. Biarpun di antara angkatan muda ada juga yang mendapatkan penemuan mukjizat dan memperoleh ilmu gaib, tapi tetap juga tiada seorang pun yang berkekuatan melebihi Tan-hong dan Sin-liong, betul tidak?"
"Ya, memang,"
Sahut si kakek.
"Sepuluh tahun yang lalu, apakah kekuatan guruku sebanding denganmu?"
"Umpama ada selisih juga tidak ada artinya."
"Tapi selama sepuluh tahun ini guruku tidak pemah melupakan janji pertarungan denganmu di sini, beliau giat berlatih siang dan malam."
"Memangnya aku tidak begitu?"
Ujar si kakek.
"Jika begitu keadaannya, bila sekarang kalian berhadapan, bukankah kekuatan kalian juga tetap tidak berbeda banyak?"
"Ya, kecuali di dalam sepuluh tahun ini gurumu (perempuan) bisa mendapatkan obat mukjizat yang dapat menambah kekuatannya dengan cepat, kalau tidak pati tidak dapat melebihiku."
Setelah menghela napas, mendadak ia berpaling dan berkata kepada si berewok.
"Nah, anak Hui, ketahuilah bahwa bertambahnya kekuatan latihan seorang serupa halnya kawanan burung membuat sarang dan manusia membangun gedung, harus setingkat demi setingkat maju secara teratur, sedikit pun tidak dapat dipaksakan, pantang tinggi hati dan ingin maju dengan cepat, fondasi harus terpupuk dengan kuat, kalau tidak, biarpun bangunan gedung sudah berdiri, jelas tidak tahan lama. Memang ada juga obat-obat mukjizat yang dapat menambah kekuatan, tapi obat ajaib demikian sukar dicari. Banyak juga orang Kangouw yang ingin menemukan obat mukjizat demikian sehingga menimbulkan macam-macam peristiwa menyedihkan."
Liong Hui menunduk dan mengiakan.
"Apalagi, pertarungan di antara jago kelas tinggi, waktu, tempat dan si pelaku sendiri adalah faktor yang menentukan,"
Kata Liong Po-si pula.
"Tapi kalau guruku berhasil menciptakan satu seri ilmu pedang tanpa ciri, bukankah dengan mudah dapat mengalahkanmu?"
Kata si nona cantik.
"Di dunia ini mutlak tidak ada Kungfu yang tanpa ciri kelemahan,"
Ujar Liong Po-si.
"Namun bila ciri di antara ilmu pedang gurumu itu tidak dapat kutemukan, atau satu jurus serangannya membuatku tak berdaya untuk mematahkannya, maka jelas aku akan kalah."
"Janji pertemuanmu dengan guruku belum terlaksana dan guruku lantas wafat, sungguh di alam baka pun beliau tak bisa tenang,"
Ucap si nona cantik.
"Hm, memangnya tidak kurasakan sebagai penyesalan selama hidupku ini?"
Jengek Liong Posi. Nona itu menengadah, katanya pula.
"Sebelum wafat guruku pemah berkata kepadaku bahwa di dalam sepuluh tahun ini engkau pasti juga akan menciptakan Kungfu baru untuk menghadapi beliau."
"Haha, memang cumaYap Jiu-pek saja benarbenar sahabat yang tahu perasaanku,"
Seru Liong Po-si dengan tertawa, namun tertawa yang pedih dan mengharukan. Tiba-tiba si nona berkata pula.
"Tapi kau pun tidak perlu risau karena Kungfu yang kau latih selama ini tidak berguna lagi. Sebelum wafat guruku sudah memikirkan satu cara bagimu bilamana engkau ingin menentukan kalah-menang dengan beliau."
Suara tertawa Liong Po-si seketika berhenti, ia pandang si nona dengan tajam. Nona cantik itu tidak menghiraukannya, katanya lagi.
"Begini caranya, jika boleh kututuk tiga Hiatto tubuhmu, yaitu Koat-bun-hiat di bagian bahu, Sin-cong-hiat di punggung dan Yang-koan-hiap di dekat pinggul, dengan begitu tertutuplah urat nadi Tok-im yang dapat mengekang sebagian tenagamu, dengan kelihaianmu tentu tertutuknya ketiga Hiatto itu takkan membahayakan jiwamu, tapi tenagamu dapatlah susut menjadi cuma tujuh bagian saja dan berarti sama kuatnya denganku, lalu akan kugunakan ilmu pedang guruku untuk bergebrak sendiri denganmu."
Dia bicara kian kemari, akhirnya yang dituju ternyata begini. Liong Po-si jadi melengak lagi. Didengarnya si nona berkata pula.
"Cara ini adalah pesan guruku sebelum wafat, bilamana tidak kau terima, tentu juga aku tak dapat memaksa."
Mendadak pemuda berewok Liong Hui berseru.
"Huh, kau bicara seperti permainan anak kecil saja, mana boleh pertandingan dilakukan secara begitu."
Si nyonya muda berbaju merah yang berdiri agak jauhsana mendadak melompat maju dan menjengek.
"Hm, jika begitu, bila kugunakan ilmu silat ayahku untuk bergebrak denganmukan juga sama saja."
Nona cantik itu mendengus dan melengos, mendadak ia menengadah dan menghela napas, katanya.
"Wahai Suhu,kansudah kukatakan dia pasti takkan terima caramu ini, tapi engkau tidak percaya, sekarang terbukti dugaan Suhu memang salah."
Lalu ia mendekati keempat perempuan berbaju hijau di bawah pohonsana dan berucap.
"Ayolah kita pergi, apa alangannya membiarkan Ci-hausan-ceng merajai dunia persilatan."
"Nanti dulu!"
Bentak Liong Po-si mendadak. Si nona menoleh dan mengejek.
"Jika engkau tidak mau menepati janji terhadap orang mati, tentu juga aku tidak menyalahkan dirimu. Anggap saja memang tidak pemah ada perjanjian sepuluh tahun yang lalu itu."
Liong Po-si menengadah dan bergelak tertawa lantang, serunya.
"Selama berpuluh tahun, entah sudah berapa kali aku menyerempet bahaya dan belum pemah kupikirkan soal mati dan hidup, lebih-lebih tidak pemah ingkar janji terhadap siapa pun. Meski Yap Jiu-pek sudah mati, namun janji tetap janji, jika dia telah meninggalkan pesan cara bertanding denganku, mana boleh kuingkar janji padanya."
Keruan Liong Hui dan si nyonya muda terkejut, cepat mereka berseru.
"Ayah! ...."
Tapi Liong Po-si terus menarik kain kerudungnya.
Sekilas pandang terkesiap juga hati si nona cantik.
Dilihatnya wajah orang penuh bekas luka silang-menyilang, biarpun dipandang di siang hari tetap juga menimbulkan rasa seram.
Dengan suara berat Liong Po-si berkata kepada Liong Hui.
"Selama hidup ayahmu sudah mengalami beratus kali pertempuran besar atau kecil dan belum pemah kalah, betapa pun tangguhnya lawan tetap dapat kutundukkan dia dengan pedangku, semua itu adalah karena dadaku lapang, tekadku yang bulat, tidak ada sesuatu yang kutakuti, tapi bila satu kali aku ingkar janji, tentu dadaku tidak lagi selapang itu, dan bisa jadi sudah lama kumati."
Sinar matanya menjadi buram, dia seperti tenggelam dalam lamunan masa lampau.
Cahaya sang surya yang baru terbit menembus kabut tipis dan menyinari wajahnya yang penuh bekas luka sehingga garis-garis bekas luka itu bersemu merah.
Perlahan ia meraba dahi sebelah kanan, di situ ada sejalur luka pedang memanjang dari dahi kanan hingga ujung mata, bila miring lagi sedikit ke kiri tentu mata kanan itu sudah lama cacat.
"Empat puluh tahun yang lalu, di benteng Gioklui-koan ...."
Dia bergumam perlahan dan scakanakan terbayang kembali adegan dahulu ketika dia berhadapan dengan Ko Siau-thian, itu tokoh utama Go-bi-pay yang berjuluk Coat-ceng-kiam atau si pedang tanpa kenal ampun, dengan sejurus "Thian-ce-keng-hong"
Atau pelangi menghias ujung langit, pedang Ko Siau-thian telah meninggalkan bekas luka pada dahinya itu, sekarang dirabanya dengan perlahan, rasanya masih dapat merasakan penderitaan waktu kulit dagingnya tersayat pedang dahulu.
Mendadak ia menengadah dan bersuit, lalu bergelak tertawa dan berteriak.
"Wahai Ko Siauthian, meski aku tidak mampu menangkis jurus seranganmu Thian-ce-keng-hong itu, tapi engkau sendiri masakah mampu lolos dari pedangku? ...."
Suara tertawanya berubah lemah, tapi waktu tangan menyentuh tiga garis bekas luka di dahi kanan, kembali terkenang olehnya kejadian lain, waktu itu dia berkelana menjelajah dunia, dia berhadapan dengan Pah-san-kiam-kek, melawan jago keluarga Pang dan juga mengunjungi Siaulim-si, di mana-mana dia menantang bertanding, setiap kali menyerempet bahaya, tapi selalu lolos dari elmaut dan akhirnya menang, semua itu mendatangkan julukan baginya sebagai Put-si-sinliong atau si naga sakti tak termatikan.
Teringat olehnya 30 tahun yang lalu orang Bu-lim mengadakan pesta di Sian-he-nia untuk mengukuhkan julukannya, di mana, berkumpul kesatria dari segenap penjuru, pesta yang meriah dan juga membanggakan, terkenang pada kejadian dulu itu, tanpa terasa tersembul senyuman pada ujung mulutnya.
Perlahan ia mengelus jenggotnya sehingga menyentuh setitik bekas luka tusukan pedang, inilah akibat serangan Sam-hoa-sin-kiam atau si pedang sakti tiga bunga, luka ini paling ringan, tapi juga paling berbahaya pada waktu itu.
"Kiu-ih-hui-eng (si elang sembilan sayap) Tik Bong-peng sungguh tokoh paling sulit dihadapi selama hidupku ...."
Demikian Liong Po-si bergumam pula perlahan.
"tapi betapa lihai ilmu pedangnya tetap tidak dapat lolos di bawah pedangku."
Lalu dia meraba lagi bekas luka di tepi mata kanan, itulah tusukan pedang jago Kun-lun-pay.
Malahan bagian iganya juga terdapat bekas luka pedang Bu-tong-pay, diam-diam ia mengakui kebaikan hati orang Bu-tong, hanya menyerang tubuh tanpa merusak wajahnya, sebab itulah Liong Po-si sendiri juga tidak membunuh lawannya, tapi siapa yang menyangka dalam pertarungan di Wisan itu, ketiga sesepuh Bu-tong-pay yang berhati welas asih itu juga tewas.
Terkenang kepada semua kejadian masa lampau itu, tanpa terasa Liong Po-si menghela napas panjang lagi.
Bahwa dalam pertarungan di Wi-san itu hampir segenap jago inti dunia persilatan telah tewas seluruhnya, sebaliknya Liong Po-si sendiri tidak mengalami cedera apa pun, memangnya apa sebabnya?
"Hal ini lantaran segala ilmu silat di dunia ini telah kuuji dan kupelajari, maka tidak ada lagi sesuatu Kungfu yang mampu melukaiku!"
Ia memandang jauh puncak di gunung seberangsana , mendadak timbul semacam perasaan kosong yang sukar dijelaskan.
Ingin menang tidak bisa adalah hal yang menyedihkan, minta kalah tidak dapat juga mengharukan.
Segala kejadian masa lampau seolah-olah awan yang mengambang di udara itu melayang lewat dalam benaknya ....
Mendadak suara elang berkumandang dari bawah gunung menyadarkan lamunan Put-si-sinliong Liang Po-si.
Suasana di atas puncak terasa sunyi senyap, sorot mata tajam si nona cantik lagi menatapnya, seperti sedang menunggu, seperti juga hormat dan kagum, tapi juga seperti meremehkan.
Sekonyong-konyong Liong Po-si tertawa lantang sambil membentangkan kedua tangannya, terdengar suara "trang-tring"
Nyaring, belasan kancing emas jubahnya sama rontok jatuh ke tanah. Terkesiap si berewok Liong Hui, serunya.
"Ayah, buat apa? ...."
"Jika tidak kulayani ilmu pedang tinggalan Yap Jiu-pek, selain dia mati tidak tenteram di alam baka, aku pun akan menyesal selama hidup,"
Kata Liong Po-si dengan tertawa. Si nona cantik mendengus, perlahan ia mengeratkan tali pinggang dan siap tempur.
"Tapi ... tapi hal ini kurang adil, Ayah ...."
Seru Liong Hui pula.
"Kau tahu apa?"
Bentak Liong Po-si. Mendadak ia tertawa lagi.
"Hahaha, selama hidupku dijuluki Put-si (tak termatikan), bilamana sudah tua harus mati di bawah pedang orang lain, rasanya juga menggembirakan bagiku."
Cepat Liong Hui menyurut mundur ketika melihat tangan sang ayah bergerak, jubah satin berwama ungu mendadak terlempar ke atas serupa segumpal awan terbang ke angkasa, lalu semampir di pucuk cemara.
"Koat-bun, Sin-cong, Yang-koan ...."
Dengan ketus si nona cantik menyebut nama ketiga Hiatto. Liong Po-si mendengus, ia lantas memutar punggungnya ke arah Liong Hui, katanya dengan tenang.
"Anak Hui, apakah masih ingat gerakan Ho-cui-keng (tenaga cocokan bangau)?"
"Masih,"
Jawab Liong Hui dengan ragu.
"Nah, gunakangaya Ho-cui-keng untuk menutuk ketiga Hiat-to yang disebutnya itu,"
Ucap Liong Posi.
"Tapi ... ayah ...."
"Cepat!"
Bentak si kakek.
Liong Hui ragu sejenak pula, akhirnya ia mengertak gigi dan memburu maju ke belakang sang ayah, tangan kanan terangkat, jari telunjuk dan jempol terangkap serupa paruh burung bangau dan perlahan menutuk Koat-bun-hiat di bagian pundak.
Si nyonya muda berbaju merah menghela napas, ia berpaling ke arah lain, sekilas terlihat barang yang tertutup oleh kain satin yang diusung kedua orang berbaju hitam tadi, serentak ia berpaling kembali dan dilihatnya si berewok Liong Hui belum lagi melancarkan tutukannya, rupanya baru terjulur sampai setengah jalan tangan Liong Hui lantas bergemetar dan tidak sanggup turun tangan lebih lanjut.
Liong Po-si melirik ke belakang dan mendamprat.
"Manusia tak ... becus!"
Cukup bengis dia memaki, tapi ketika mengucapkan "becus", suaranya berubah menjadi lunak. Liong Hui meluruskan kembali kedua tangannya dan menghela napas, ucapnya.
"Ayah, kupikir urusan ini agak ganjil ...."
Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong sesosok bayangan orang melayang tiba, kiranya si pemuda belia dan tampak lemah lembut dan selalu mengikut di belakang pemuda kurus berbaju hitam itu bersama seorang anak dara tadi.
"Untuk apa kau datang kemari, Gote?!"
Seru Liong Hui dengan kening bekernyit. Pemuda lemah itu menjawab dengan lugas.
"Jika Toako tidak sanggup turun tangan, biarlah Siaute saja menggantikan engkau."
"Apa kau gila?"
Bentak Liong Hui dengan mendelik.
Pemuda lemah itu memandang lurus ke depan dengan air muka kaku.
Put-si-sin-liong membalik tubuh dan mengawasi anak muda itu beberapa kejap, lalu berkata dengan gegetun.
"Ai, selama ini kuanggap kau terlalu lemah lembut serupa anak perempuan, tak tersangka di luar kau halus tapi keras di dalam, serupa diriku pada waktu muda, jika sekali ini aku dapat ...."
Mendadak ia terbatuk, lalu menyambung.
"Baiklah, jika kau pun paham gerakan Ho-cui-keng, boleh lekas kau turun tangan."
Liong Hui lantas melangkah mundur dengan menunduk seperti tidak ingin melihat apa yang bakal terjadi. Maka terdengarlah suara "tek-tek-tek"
Perlahan tiga kali, Liong Po-si lantas menghela napas lega, lalu menarik napas lagi dalam-dalam disusul dengan suara mendering dan cahaya pedang yang menyilaukan mata.
Dalam pada itu si nyonya muda lantas mendekati Liong Hui, dibisikinya.
"Untuk apa kau sedih, toh ayah tidak pasti kalah."
Mendadak Liong Hui mengangkat kepalanya, seperti mau bicara, tapi urung.
Terlihat si nona cantik tadi telah menerima sebatang pedang dari salah seorang perempuan berbaju hijau tadi, disentilnya batang pedang dengan dua jarinya.
"tring", terdengar suara nyaring bergema. Liong Po-si juga sedang memandang pedang sendiri yang bercahaya hijau, sampai sekian lama ia tidak bergerak, hanya jarinya saja yang merabaraba batang pedang serupa seorang ibu sedang membelai anak kesayangannya. Kemudian dia menanggalkan sarung pedang yang masih tergantung di pinggangnya, ia membalik dan menyerahkan sarung pedang itu kepada si pemuda lemah tadi. Pemuda yang berwajah putih cakap itu mendadak terkilas rasa kejut dan heran, cepat ia sambut pemberian sarung pedang itu.
"Mulai hari ini, pedang Yap-siang-jiu-loh (embun musim rontok di atas daun) ini adalah milikmu,"
Demikian kata Liong Po-si.
Dengan sinar mata mencorong pemuda itu memegang sarung pedang dan melangkah mundur, lalu dia berlutut dan menyembah tiga kali kepada Liong Po-si.
Air muka si berewok Liong Hui berubah hebat, alisnya yang tebal terkerut, dia seperti mau bicara, tapi si nyonya baju merah telah menarik ujung bajunya, keduanya saling pandang sekejap, lalu menunduk diam.
"Jangan sia-siakan pedang ini!"
Demikian pesan Liong Po-si.
Pemuda lembut itu lantas berbangkit, mendadak ia mendekati benda panjang yang tertutup oleh kain satin itu, perlahan ia menjulurkan sarung pedang untuk menyingkap kain penutup pancawama itu.
Maka tertampaklah benda itu ternyata sebuah peti mati terbuat dari kayu cendana.
Liong Po-si menatap anak muda itu tanpa berkedip, tanyanya dengan suara berat.
"Adakah yang ingin kau katakan?"
Pemuda itu kembali berlutut lagi perlahan dan menyembah tiga kali terhadap peti mati itu, mendadak ia melolos sebilah belati berbentuk naga, dengan ujung belati ia menusuk ujung jari sendiri, darah lantas mengucur keluar, ia kebaskan tangannya sehingga beberapa titik darah menetes di atas peti mati.
Air muka Liong Po-si yang kereng mendadak tersembul senyuman puas, ucapnya.
"Bagus, bagus!"
Habis itu barulah ia mendekati si nona cantik tadi.
"Anda menyiapkan peti mati dengan harapan akan kalah, Put-si-sin-liong memang tidak malu disebut sebagai jago perkasa nomor satu di dunia persilatan,"
Kata si nona dengan tersenyum.
Sampai di sini barulah nona ini memperlihatkan senyumannya, senyum yang manis bagai bunga yang mekar semarak, senyum yang memikat dan sukar untuk dilukiskan.
Pemuda lemah tadi telah menggantungkan sarung pedang kulit ikan hiu pada pinggangnya, mendadak sorot matanya memancarkan cahaya aneh menatap wajah si nona cantik, lalu selangkah demi selangkah didekatinya dengan perlahan.
Nona itu mengerling, sinar mata kedua orang kebentrok, tanpa terasa si nona terkesima, sesudah pemuda itu berada di depannya barulah ia menegur.
"Kau mau apa?"
Liong Po-si juga lantas berkata.
"Di sini sudah tidak ada lagi urusanmu, kenapa tidak mengundurkan diri saja!"
Namun anak muda itu tidak menjawab, mendadak kedua tangannya terpentang, telapak tangan kiri menghantam iga si nona, sebaliknya telapak tangan kanan memukul iga kiri Put-si-sinliong Liong Po-si.
Sungguh luar biasa kecepatan dan ketepatan kedua serangan pemuda ini, si nona cantik dan Liong Po-si sama terkesiap, mereka tidak menyangka mendadak bisa diserang.
Pada saat mereka melenggong itulah tangan si pemuda lemah sudah menyambar tiba, cepat si nona cantik menangkis dengan sebelah tangan.
"plok", kedua tangan beradu. Liong Po-si terpaksa juga menangkis, ia menggeser dan angkat sebelah tangannya, ia pun beradu tangan dengan muridnya itu. Di tengah suara adu pukulan itu, si berewok Liong Hui memburu maju sambil membentak.
"Apa kau gila, Gote?"
Tapi segera terlihat pemuda lembut itu menarik kembali tangannya dan menggeser mundur, lalu berkata dengan hormat.
"Suhu, nona ini tidak berdusta!"
"Maksudmu, kekuatanku sekarang telah scimbang dengan dia?"
Tanya Liong Po-si, mendadak ia bergelak tertawa dan berkata pula.
"Haha, bagus, bagus, baru sekarang ketemukan lawan yang sama kuat!"
Liong Hui tampak tercengang sejenak, katanya kemudian kepada pemuda lembut.
"Kiranya tujuanmu cuma untuk menguji kekuatan perempuan itu apakah sebanding dengan Suhu atau tidak?"
"Ya, begitulah,"
Sahut anak muda itu dengan menunduk.
"Jika maksudnya bukan untuk mencoba, mana dia bisa menyerang guru sendiri,kan mubazir pertanyaanmu itu,"
Ujar Liong Po-si dengan tertawa cerah.
Kakek yang gagah dan kereng ini, meski sekarang menghadapi pertempuran yang pasti sangat berbahaya, namun hatinya justru terasa sangat gembira, entah lantaran menemukan lawan yang "sama kuat"
Atau karena merasa tindakan muridnya itu sangat cocok dengan seleranya?
Liong Hui tampak kikuk dan mundur teratur sambil melirik sekejap kepada pemuda lembut itu.
Si nyonya muda berbaju merah tertawa dan berkata.
"Usia Gote masih muda belia, tak tersangka sudah mempunyai kecerdasan dan kekuatan sehebat ini."
Liong Po-si berucap dengan gegetun.
"Sesudah lama baru ketahuan hati manusia, setelah perjalanan jauh baru tahu tenaga kuda. Untuk mengetahui watak dan kecerdasan seorang juga baru kelihatan bilamana menghadapi keadaan genting."
Pemuda lembut tadi menunduk.
Sedangkan Liong Hui saling pandang sekejap dengan si nyonya muda.
Anak dara yang berdiri berdampingan dengan si pemuda lembut tadi tampak tersenyum senang dan bangga.
Baru sekarang pandangan si nona cantik berpindah dari wajah si pemuda lembut, lalu menjengek.
"Nah, sesudah dicoba, bolehkah dimulai sekarang?"
"Tentu saja,"
Kata Liong Po-si sambil mengayun pedangnya sehingga menerbitkan suara dering nyaring dan mengakibatkan rontoknya lidi cemara yang menjatuhi tubuh keempat perempuan berbaju hijau ringkas itu.
Meski tenaga dalam Liong Po-si sudah susut banyak, tapi tetap selihai ini, tanpa terasa keempat perempuan itu saling pandang dengan terkesiap.
Tapi si nona cantik anggap seperti tidak tahu, ucapnya ketus.
"Jika boleh mulai, silakan Anda ikut padaku!"
Liong Po-si jadi melenggong lagi.
"Masakah bukan di sini?"
"Ya, di sini bukan tempat yang baik untuk bertanding,"
Segera si nona cantik seperti hendak membalik kesana .
"Sebab apa?"
Tanya Liong Po-si.
"Jika kubunuh dirimu, tentu anak murid-mu akan menuntut balas padaku, padahal pengaruh Ci-hau-san-ceng di dunia persilatan sangat besar, sebaliknya guruku cuma menerima seorang murid seperti diriku saja, bila mereka menuntut balas padaku, tentu aku tidak mampu melawannya, betul tidak?"
"Dengan sendirinya engkau tidak mampu melawan!"
Bentak Liong Hui "Hm, hanya mengandalkan sedikit kepandaianmu ini kau kira dapat mengalahkan guru kami?"
Jengek si nyonya muda mendadak. Liong Po-si melirik kedua anak muridnya itu sekejap, diam-diam seperti merasa menyesal, segera ia berkata.
"Tentu maksudmu ingin merahasiakan ilmu pedangmu untuk berjaga bilamana anak muridku menuntut balas padamu setelah berhasil kau bunuh diriku, begitu?"
"Betul,"
Jawab si nona cantik.
"Pada waktu Suhu mengajarkan ilmu pedang ini padaku, kecuali menugaskanku membunuhmu, ada juga orang lain yang harus kubunuh, mana boleh kuperlihatkan ilmu pedang ini di depan umum sehingga orang sempat mempelajari ciri kelemahan ilmu pedangku ini?"
"Ya, betul juga, bilamana aku menciptakan sesuatu Kungfu baru, tentu aku pun akan merahasiakannya,"
Ujar Liong Po-si dengan mengangguk. Mendadak ia menghela napas panjang, dan menatap tajam si nona cantik, lalu bertanya sekata demi sekata.
"Menjelang wafatnya gurumu, apakah dia masih begitu benci padaku?"
"Bila benci dan dendam sudah mendalam, apa bedanya waktu hidup atau sudah mati?"
Jengek si nona.
"Haha, apa bedanya ... apa bedanya ...."
Mendadak Liong Po-si menengadah dan bersuit, lalu membentak.
"Baik, di mana tempatnya? Ayo, akan kuikuti!"
Tanpa bicara lagi si nona cantik lantas, membalik tubuh dan melangkah pergi. Mendadak si berewok Liong Hui membentak.
"Nanti dulu!"
Tapi si nona tetap melangkah ke depan seperti tidak mendengar.
Tiba-tiba terdengar kesiur angin lewat, tahu-tahu si pemuda lembut sudah mengadang di depannya.
Bekernyit juga kening si nona cantik, ia menoleh memandang Liong Po-si sekejap.
Segera Put-si-sin-liong Liong Po-si membentak.
"Kalian mau apa lagi?"
Si nyonya muda melompat maju dan berkata.
"Betapa pun kita harus berjaga segala kemungkinan, apabila mereka telah mengatur perangkap disana , bukankah Suhu akan terjebak?"
Liong Po-si menjadi sangsi, ia memandang sekejap si nona cantik. Si nona cantik batas menatapnya dengan dingin scakan-akan sedang berkata.
"Pergi atau tidak terserah padamu ...."
Sebelum Liong Po-si berkata pula, cepat si nyonya muda mendahului bicara.
"Sampai saat ini belum juga kami minta petunjuk akan nama nona yang terhormat, sungguh kurang sopan."
Dia bicara dengan lemah lembut dan tersenyum pula sehingga mau tak mau orang harus menjawab pertanyaannya. Meski air muka si nona tetap dingin, tidak urung ia menjawab singkat.
"Namaku Yap Man-jing."
"Sungguh nama yang bagus,"
Ujar si nyonya muda dengan tersenyum.
"Dan namaku Kwe Giokhe, nama kampungan, tapi ... ai, apa boleh buat."
Dalam keadaan demikian dan di tempat seperti ini dia justru bicara tetek bengek, tampaknya Liong Po-si merasa tidak sabar, tapi agaknya dia sangat sayang kepada nyonya muda itu, maka dia tidak mencegahnya.
Si berewok Liong Hui tampaknya juga sangat hormat dan juga jeri terhadap nyonya muda itu.
Hanya si pemuda lembut saja tetap kelihatan kaku tanpa emosi, tidak bicara juga tidak tertawa.
Terdengar nyonya muda itu menyambung lagi.
"Nona Yap, meski kita tidak pemah bertemu sebelum ini, namun nama gurumu sudah lama kami dengar, ditambah lagi nona Yap sendiri ternyata begini cantik dan menyenangkan, sebab itulah segala apa yang diucapkan nona Yap telah kami turuti semua."
Si nona cantik alias Yap Man-jing hanya mendengus saja tanpa menanggapi. Maka Kwe Giok-he meneruskan lagi.
"Cuma syarat yang dikemukakan nonaYap tadi betapa pun kami rasakan agak kurang baik ...."
"Kurang baik apa? Urusan ini tidak ada sangkut pautnya denganmu, mengapa engkau ikut campur?"
JengekYap Man-jing dengan ketus. Namun Kwe Giok-he tetap tersenyum cerah dan berkata.
"Jika benar nonaYap tidak menghendaki kami melihat rahasia ilmu pedang gurumu, seharusnya hal ini kau bicarakan jauh sebelumnya, mengapa mesti menunggu sampai sekarang baru dikemukakan olehmu. Sungguh aku tidak habis mengerti akan dalil ini."
Yap Man-jing memandangnya beberapa kejap, lalu menjengek.
"Hm, apa benar kau minta kukatakan terus terang?"
"Sebabnya kutanya kepada nona memang berharap engkau suka memberitahukan apa alasannya, kalau tidak untuk apa kuikut bicara?"
Ujar Kwe Giok-he dengan tersenyum. Perlahan Yap Man-jing mengerling sekejap, setiap orang yang hadir di sini seolah-olah sudah dipandangnya semua, lalu menjengek.
"Sebabnya hal ini tidak kukemukakan tadi adalah lantaran kulihat di antara kalian yang berada di sini tidak ada seorang pun yang dapat melihat ciri kelemahan ilmu pedangku,"
"Dan mengapa sekarang harus kau kemukakan?"
Tanya Kwe Giok-he. Seperti tidak sengajaYap Man-jing melirik sekejap si pemuda lembut, lalu berkata.
"Sebabnya kukemukakan syaratku ini adalah lantaran tibatiba kulihat di antara anak murid Put-si-sin-liong ternyata bukan orang goblok semua, sedikitnya ada satu di antaranya terhitung pintar."
Air muka Kwe Giok-he rada berubah, tapi segera ia tersenyum lagi dan berkata.
"Terima kasih atas pujian nonaYap . Pantas Sip-tiok-li mati begitu dini dengan hati lega, sebab dia mempunyai seorang murid baik sebagai nona."
Kata berjawab, gayung bersambut, kontan Kwe Giok-he membalas ucapan orang dengan sama tajamnya, namun tetap ramah tamah dan tersenyum manis.
Air mukaYap Man-jing tampak berubah juga, ia mendengus terus hendak melangkah pergi.
Dengan tersenyum Kwe Giok-he memandang bayangan punggung orang, agaknya dia merasa senang karena dapat mengalahkan orang dengan perang lidah.
Siapa tahu mendadak Liong Po-si menghela napas dan memandangnya dengan sorot mata buram, ucapnya.
"Alangkah baiknya bilamana anak Hui memiliki setengah kecerdasanmu."
Giok-he menunduk dengan tersenyum, tapi Liong Po-si lantas menambahkan.
"Cuma sayang engkau terlampau pintar."
Habis ini segera ia berteriak.
"Tunggu dulu, nonaYap !"
Sekali lagiYap Man-jing berhenti, katanya tanpa menoleh.
"Ikut pergi atau tidak terserah kepada keputusanmu, buat apa banyak bicara lagi."
Liong Po-si berdehem, lalu berkata pula.
"Selama hidupYap Jiu-pek terkenal jujur, kuyakin anak muridnya pasti juga bukan manusia pengecut. Selama hidupku tidak pemah gentar terhadap apa pun, andaikan disana terdapat sesuatu perangkap juga bukan soal bagiku."
Mendadak Yap Man-jing berpaling, meski tetap dingin air mukanya, tapi tampak menampilkan rasa kagum dan hormat.
"Hanya saja pedangku ini sudah mendampingiku selama beberapa puluh tahun, meski bukan senjata wasiat segala, namun juga pemah banyak mengalahkan berbagai tokoh temama dunia persilatan,"
Demikian Liong Po-si bicara lebih lanjut dengan bangga dan juga setengah terharu.
"Maka bilamana hari ini aku tidak dapat pulang dengan hidup, kuharap nona dapat menyerahkan kembali pedangku ini kepada muridku Lamkiong Peng."
Suaranya yang kereng kini telah berubah menjadi rada duka dan sedih, suara duka demikian belum pemah didengar oleh anak muridnya, sampai si pemuda lembut, Lamkiong Peng, juga tercengang.
"Dan bila aku yang tidak kembali dengan hidup, kuharap juga kau serahkan pedangku Liong-gimsin-im (ringkik naga suara malaikat) ini kepada mereka,"
Tiba-tiba si nona cantikYap Man-jing juga meninggalkan pesan sambil menunjuk keempat perempuan berbaju hijau tadi.
"Baik,"
Sahut Liong Po-si. Serentak Yap Man-jing melangkah kesana sambil berkata.
"Ayo berangkat!"
Sekilas ia lirik lagi Lamkiong Peng sekejap.
Tanpa ragu lagi Liong Po-si lantas ikut berangkat.
Tapi baru saja lewat di samping Lamkiong Peng, mendadak ia menyurut mundur lagi selangkah dan menepuk pundak anak muda itu, seperti mau bicara, tapi urung.
Ia cuma tersenyum saja, lalu menghela napas perlahan, ketika dia melangkah ke depan lagi, dalam sekejap lantas menghilang di balik gumpalan awan.
Meski bayangan sang guru sudah menghilang, Lamkiong Peng masih berdiri mematung sambil memandangi awan yang mengambang di udara itu, meski wajahnya kaku dingin, namun sorot matanya memancarkan perasaan hangat.
Terdengar Kwe Giok-he yang berdiri di belakangnya lagi bergumam.
"Yap-siang-jiu-loh ... Liong-gim-sin-im ...."
Tak tersangka antara Suhu dan Tan-hongYap Jiu-pek memang terjalin ...."
Tiba-tiba Liong Hui berdehem, katanya.
"Urusan pribadi Suhu sebaiknya jangan kita bicarakan."
Dia mendekati Lamkiong Peng dan berdiri diam sejenak sambil mengelus janggut, lalu memutar balik dan berduduk di atas batusana serta mengelamun memandangi awan yang mengapung di udara.
Kwe Giok-he juga memandang Lamkiong Peng sejenak, mendadak ia menggapai dan memanggil.
"Kemari, Sumoay!"
Anak dara yang berdiri agak jauh itu mendekat dengan menunduk, langkahnya kelihatan enteng dan gesit, jelas tidak lemah Kungfunya, tapi gerakgeriknya kelihatan malu-malu serupa gadis pingitan, sama sekali tidak ada ciri khas sebagai anak murid Ci-hau-san-ceng atau perkampungan Ci-hau yang disegani.
Dengan tangan memainkan ujung baju seperti anak gadis yang takut-takut ia menyapa.
"Adaapa, Toaso (kakak ipar)?"
Giok-he tersenyum dan berkata.
"Gote datang belakangan tapi menonjol paling atas sehingga mewarisi pusaka Yap-siang-jiu-loh dari Suhu, kau gembira atau tidak?"
Anak dara yang memang malu-malu itu tambah likat, mukanya yang putih lantas bersemu merah, kepala menunduk terlebih rendah. Pemuda kurus yang sejak tadi diam saja mendadak menimbrung.
"Bukan saja Sumoay merasa gembira, aku juga sangat senang!"
Dengan wajah berseri Kwe Giok-he memandang mereka kian kemari, lalu berkata.
"Kalian sungguh dua sejoli yang setimpal, sampai kata hati keduanya juga sama. Pantas orang Kangouw suka merangkai Ciok Tim dan So-so menjadi satu dan menyebut mereka sebagai Liong-bun-siang-kiam (sepasang pedang keluarga Liong), cuma sayang ...."
Sampai di sini ia lantas berhenti dan cuma berdehem perlahan saja sambil melirik Lamkiong Peng.
Ciok Tim, pemuda kurus itu juga memandang ke arah Lamkiong Peng, di antara mata alisnya samar-samar kelihatan menampilkan rasa iri, tapi dengan lantang ia lantas berseru.
"Tapi selanjutnya bila ditambah Gote, mungkin orang Kangouw akan menyebut kami sebagai Liong-bun-sam-kiam (tiga pedang keluarga Liong)!"
"Rupanya engkau belum tahu,"
Kata Giok-he dengan tertawa.
"meski belum lama Gote masuk perguruan kita, tapi keluarga Lamkiong dari daerah Kanglam sudah lama terkenal sebagai keluarga hartawan, maka sudah lama juga orang Bu-lim sama memberi suatu nama julukan kepada Gote sebagai Hu-kui-sin-liong (si naga sakti kaya dan jaya)!"
"Toaso memang berpengetahuan banyak dan berpengalaman luas,"
Kata Ciok Tim dengan tertawa ewa.
"Siaute sendiri jarang berkelana di dunia Kangouw, pengetahuanku kalau dibandingkan Toaso sungguh selisih terlalu jauh."
Tiba-tiba si berewok Liong Hui menimbrung.
"Memang pemah kudengar disebutnya nama Hukui-sin-liong, tapi itu cuma sanjung puji dari kalangan Piaukiok (perusahaan pengawalan) yang ada hubungan erat dengan grup keluarga Lamkiong, masa kau anggap sungguh-sungguh?"
"Baik, baik, kau lebih tahu dan aku tidak tahu,"
Gerutu Giok-he sambil melotot.
Mestinya Liong Hui hendak omong lagi, tapi demi melihat air muka sang istri yang kurang senang itu, seketika ia urung bicara.
Semua orang menjadi bungkam, hanya angin mendesir dan dedaunan gemersik, awan yang mengambang di udara melayang kian kemari serupa urusan dunia persilatan yang selalu berubah dengan suka dukanya.
Sampai sekian lamanya keempat perempuan berbaju hijau ringkas itu jaga tetap berdiri di bawah pohon cemara, hanya terkadang mereka melirik ke arah anak murid Ci-hau-san-ceng ini, agaknya dapat mereka rasakan juga di antara anak murid keluarga Liong ini terdapat pertentangan dan saling curiga, sebab itulah di antara kerlingan mereka terkadang juga menampilkan rasa menghina dan mencemoohkan.
Sudah cukup lama juga, mendadak Liong Hui berbangkit dan memandang cuaca, ucapnya dengan suara tertahan.
"Rasanya kepergian Suhu sudah ... sudah lebih setengah jam!"
Kwe Giok-he menjawab.
"Engkau selalu tidak sabaran, pantas Suhu tidak mau mewariskan Yapsiang-jiu-loh kepadamu. Coba kau lihat, sedikit pun Gote tidak kelihatan gelisah."
Mau tak mau berubah juga air muka Liong Hui, ucapnya dengan tergagap.
"Toh sesama saudara sendiri, diwariskan kepada ... kepada siapakan sama saja."
"Hm, tentu saja sama,"
Jengek Giok-he. Lamkiong Peng tampak adem ayem saja, ia tersenyum dan mendekati Kwe Giok-he, katanya dengan tersenyum.
"Toaso, apakah kau tahu sebab apa aku tidak gelisah?"
Meski dia bicara dengan tersenyum, namun ucapannya tegas dan mantap. Giok-he tersenyum dan menjawab.
"O, dari ... dari mana kutahu?"
Mendadak Liong Hui menyela.
"Masa kau tahu hati Gote tidak gelisah? Sebelum jelas kalahmenang Suhu, setiap orang pasti gelisah."
"Setiap orang memang gelisah, cuma aku saja tidak,"
Ujar Lamkiong Peng.
Seketika air muka Ciok Tim dan Liong Hui berubah, Kwe Giok-he lantas mendengus, sedangkan Ong So-so, si anak dara, juga mengernyitkan dahi dan memandang anak muda itu dengan heran.
Perlahan Lamkiong Peng menutur.
"Sebabnya aku tidak gelisah adalah karena aku lebih daripada yakin bahwa Suhu pasti takkan kalah!"
Mendadak keempat perempuan berbaju hijau di bawah pohon sama mendengus dan melengos kesana . Giok-he juga mendengus, Liong Hui lantas bertanya.
"Berdasarkan apa kau berani memastikannya? Setelah tenaga dalam Suhu susut sebanyak itu, sungguh hampir tidak ada kesempatan menang bagi beliau, apalagi genduk sheYap itu kelihatan sangat licin dan licik."
"Sebenarnya dalam hal menganalisis sesuatu urusan biasanya Gote sangat meyakinkan, tapi apa yang kau katakan tadi rasanya sukar dipercaya orang!"
Tukas Ciok Tim tiba-tiba, dia selalu bicara dengan perlahan, setiap kalimat diucapkan secara teratur scakan-akan khawatir salah omong. Dengan tersenyum Lamkiong Peng menjawab.
"Pukulanku tadi selain berhasil menguji kebenaran keterangan nona sheYap itu dan memang tidak berdusta kepada Suhu, juga dapat kuketahui gerak tubuh Suhu jauh lebih cepat daripada nona itu."
Dia berhenti sejenak, lalu menyambung dengan perlahan.
"Waktu itu kulancarkan serangan sekaligus kepada mereka berdua, nona sheYap itu berdiri di sebelah kananku, meski tangan kanannya memegang pedang, tapi tanpa bergeser dia dapat menangkis pukulanku dengan tangan kiri ...."
Dengan telapak tangan kiri ia memberi contoh, lalu menyambung.
"Tapi waktu itu Suhu berdiri di sebelah kiriku, tangan kanan beliau juga memegang pedang, waktu kupukul dengan sendirinya beliau tidak dapat menangkis dengan pedang yang dipegangnya pada tangan kanan, sebab itulah beliau baru berputar untuk menangkis seranganku dengan telapak tangan kiri."
Dia bicara dengan teratur dan jelas sehingga tanpa terasa keempat perempuan berbaju hijau itu pun berpaling dan ikut mendengarkan dengan cermat.
"Dalam keadaan begitu,"
Demikian Lamkiong Peng menyambung.
"gerak tangan Suhu jelas lebih banyak satu kali dan pada waktu menangkis pukulanku seharusnya juga lebih lambat sejenak daripada nona she Yap itu, namun pada waktu empat tangan beradu, suara yang timbul terjadi berbareng tanpa ada perbedaan mana lebih dulu, dari kejadian ini bukankah terbukti gerak tangan Suhu memang lebih cepat daripada nona Yap itu. Walaupun selisihnya tidak banyak, tapi pertarungan di antara jago kelas tinggi, selisih sedetik saja dapat menentukan kalah dan menang, apalagi Suhu sudah berpengalaman beratus kali tempur, maka kubilang beliau tidak mungkin kalah."
Uraian Lamkiong Peng ini membuat si anak dara alias Ong So-so tersenyum cerah, Ciok Tim juga mengangguk-angguk, Kwe Giok-he bertopang dagu dan termenung. Malahan Liong Hui lantas berkeplok tertawa.
"Haha, betul, memang ditimbang dari sudut mana pun, tidak nanti Suhu bisa kalah."
Dengan telapak tangannya yang lebar ia tepuk pundak Lamkiong Peng dengan keras sambil berseru.
"Gote, engkau memang hebat, sekarang Toako juga tidak perlu cemas lagi."
Mendadak keempat perempuan berbaju hijau ringkas itu sama mendengus, yang berdiri di ujung kiri lantas bertanya kepada teman di sebelahnya.
"Leng-cu, apakah kau cemas?"
Leng-cu menggeleng kepala dan ganti bertanya kepada kawan di sebelahnya lagi.
"Apakah kau cemas, Wat-cu?"
"Aku juga tidak cemas!"
Jawab Wat-cu.
"Jika begitu Ho-cu tentu juga tidak perlu cemas,"
Ujar Leng-cu.
"Aku memang tidak cemas sedikit pun,"
Kata Hocu dengan tertawa.
"Barangkali An-cu yang lagi cemas."
"Aku pun tidak cemas,"
Kata An-cu yang berdiri di ujung kanan.
"Tapi apa sebabnya aku tidak cemas tidak dapat kuberi tahukan kepada kalian."
Keempat orang lantas saling pandang, lalu sama mendekap mulut dan tertawa cekikak dan cekikik. Dengan mendongkol mendadak Liong Hui menjengek.
"Hm, kalau tidak mengingat kalian ini orang perempuan, tentu akan kuberi hajar adat!"
Serentak keempat perempuan itu berhenti tertawa, kontan An-cu balas menjengek.
"Hm, kalau tidak mengingat kau ini orang lelaki, pasti kuberi hajaran setimpal!"
Tidak kepalang gusar Liong Hui, sambil membentak mendadak ia membalik dan menghantam sepotong batu hijau di sebelahnya.
"blang", batu hancur dan kerikil munerat. Batu karang yang keras itu ternyata terpukul remuk.
"Hm, tenaga pukulan yang hebat!"
Jengek An-cu, mendadak tangannya berputar.
"creng", pedang dilolosnya. Di tengah berkelebatnya sinar pedang dia terus melompat ke depan sepotong batu lain, sekali menusuk.
"bles", tahu-tahu ujung pedangnya telah amblas lebih satu kaki ke dalam batu serupa bambu menancap di atas lumpur saja, Selagi Liong Hui terkesiap, terdengar An-cu telah berkata dengan tertawa.
"Hah, rupanya batu di sini sangat lunak!"
"Ilmu pedang hebat!"
Seru Kwe Giok-he tiba-tiba, dengan tersenyum ia mendekati An-cu dan berucap.
"Taci, bolehkah aku pun mencobanya?"
An-cu tampak melengak, sebelum dia menjawab, mendadak Kwe Giok-he turun tangan secepat kilat, jari tangannya yang putih halus itu mengebas ke iga lawan.
Karena terkejut An-cu menggeser ke samping, meski dapat menghindarkan serangan lawan, tapi pedang tidak sempat ditariknya kembali dan masih tertancap di dalam batu.
Dengan suara halus Giok-he lantas berkata.
"Terima kasih atas kemurahan hatimu, setelah kucoba segera kukembalikan!"
Perlahan ia lantas menarik pedang itu dari jepitan batu, dipandangnya pedang itu dengan cermat, tampaknya dia lagi mengamat-amati pedang yang dipegangnya, tapi sebenarnya sedang menyelami batu gunung itu.
Sejenak kemudian dia tersenyum manis lagi, perlahan ia angkat pedang ke atas, sekali berputar pedang lantas disurung ke depan, kembali terdengar suara "bles"
Perlahan, batas pedang amblas lagi ke dalam batu hampir separuh. Selagi keempat perempuan berbaju hijau itu terkesiap, dengan suara lembut Giok-he berkata pula.
"Benar juga batu di sini sangat lunak seperti tahu!"
Lalu pedang ditariknya kembali, perlahan ia mendekati An-cu dan mengembalikan pedang itu.
Air muka An-cu sebentar merah sebentar pucat, jantung pun berdetak, tanpa bicara terima kembali pedang itu dan melangkah ke tempat semula.
Dengan suara lembut Giok-he berkata pula.
"Kuharap engkau jangan kesal, meski tusukan pedangku kelihatan jauh lebih dalam, padahal ilmu pedang dan tenagaku selisih tidak terlalu banyak daripadamu."
Diam-diam ia bersyukur telah dapat mengelabui lawan dengan cara yang licik.
Kiranya pedang yang ditusukkannya itu tadi mengulangi lagi tempat yang ditusuk An-cu semula, jadi sesungguhnya dia cuma menambah dalam sebagian saja tusukannya itu, namun kelihatannya menjadi amblas jauh lebih banyak daripada tusukan An-cu.
Dengan sendirinya An-cu tidak memerhatikan hal ini, dengan gemas ia kembali ke tempatnya tadi, mendadak ia berpaling dan mendengus.
"Hm, mungkin betul Kungfumu lebih tinggi daripadaku, tapi gurumu .... Hm, kukira kalian tidak perlu lagi menunggunya."
Serentak air muka Lamkiong Peng, Liong Hui, Ciok Tim, Kwe Giok-he dan Ong So-so sama berubah.
"Apa katamu?"
Bentak Liong Hui sambil melompat maju. An-cu seperti mau bicara lagi, tapi dia keburu ditarik mundur oleh ketiga orang kawannya. Tiba--tiba Kwe Giok-he mendekati An-cu, ucapnya dengan tersenyum.
"Orang suka sembarangan mengocehkan pantas diberi hukuman, betul tidak?"
Tanpa menghiraukan lagi apa rcaksi lawan, secepat kilat jarinya menutuk Koh-cing-hiat di bahu An-cu.
Seketika An-cu melenggong, seperti menyesal akan ucapannya tadi, maka tutukan Giok-he itu seperti tidak dirasakannya.
Untunglah Wat-cu yang berada di sebelahnya lantas menangkis tutukan Giok-he, berbareng ia balas mencengkeram pergelangan tangan lawan.
"Hm, berani kalian melawan diriku?"
Ucap Giokhe dengan tersenyum, ia tarik kembali tangannya, menyusul ia menutuk lagi iga kanan Wat-cu.
Sembari mendorong ke samping An-cu yang masih berdiri melenggong, Wat-cu juga menggeser, menyusul terdengarlah suara "crang-creng"
Dua kali, sekaligus ia lolos dua pedang terus balas menusuk pinggang Giok-he. Karena didorong, An-cu tersandar, mendadak ia pun melolos pedang dan melancarkan serangan gabungan.
"Berhenti! ... Berhenti! ...."
Liong Hui berteriakteriak. Siapa tahu, bukannya berhenti, sebaliknya Lengcu dan Ho-cu juga lantas ikut menerjang maju. Liong Hui menjadi khawatir, serunya.
"Selama hidupku tidak pemah bergebrak dengan orang perempuan, mengapa kalian tidak lekas membantu Toaso?!"
Terpaksa Ong So-so melompat maju, kontan ia hantam Wat-cu sehingga pertarungan bertambah seru. Perlahan Ciok Tim melangkah maju, ucapnya dengan kening bekernyit.
"Suhu melarang kita membawa pedang ke atas gunung, agaknya beliau tidak menghendaki kita main kekerasan, bilamana nanti kita disalahkan beliau, lantas bagaimana?"
Liong Hui menjadi ragu, waktu ia pandang ke sana, terlihat sinar pedang bertaburan, Giok-he dan So-so berdua telah terkurung oleh barisan pedang keempat perempuan berbaju hijau, meski seketika tidak sampai kalah, tapi jelas sukar memperoleh kemenangan.
"Bagaimana pendapatmu, Gote?"
Tanya Liong Hui kepada Lamkiong Peng. Anak muda itu memandang sarung pedang hijau yang tergantung di pinggangnya dan menjawab.
"Terserah kepada keputusan Toako."
Alis Liong Hui bekernyit rapat dan sukar mengambil keputusan. Lamkiong Peng lantas berkata pula.
"Jika kuduk kita terancam pedang orang, apakah kita pun tidak boleh turun tangan?"
Mendadak Liong Hui berteriak.
"Betul, ayo maju, Samte dan Gote!"
Tapi belum lagi mereka bertindak, mendadak terdengar seorang menjengek di belakang mereka.
"Empat lawan dua memang tidak pantas, jikalima lawan empat, rasanya juga kurang adil! Tampaknya anak murid Tan-hong (burung Hong cantik) dan Sin-liong sama suka main kerubut?"
Cepat Lamkiong Peng berpaling, dilihatnya di samping peti mati sana entah sejak kapan telah berdiri seorang Tojin (pendeta agama To atau Tao) dengan rambut disanggul tinggi di atas kepala, dahi lebar dan pipi kempot dengan sinar mata setajam mata elang, tubuhnya yang tinggi dan sangat kurus mengenakan jubah pertapaan berwama hijau tua.
Meski jengekannya terdengar tidak keras, tapi seketika membuat Kwe Giok-he di satu pihak dan para perempuan berbaju hijau di lain pihak sama berhenti bertempur.
"Siapa kau?"
Segera Liong Hui membentak.
"Siapa aku? Em, sampai aku saja tidak kau kenal?"
Jengek Tojin sanggul tinggi itu sembari mendekati peti mati dengan perlahan.
Kedua lelaki penggotong peti sejak tadi berdiri diam saja, mendadak mereka membentak dan mengadang di depan si Tojin.
Dalam pada itu terdengar kesiur angin lewat, Lamkiong Peng juga memburu maju untuk menjaga peti.
Tojin itu mendengus dan berhenti melangkah, ia mengamat-amati Lamkiong Peng beberapa kejap, lalu menegur.
"Kau mau apa?"
"Dan kau mau apa?"
Jengek Lamkiong Peng dengan sama ketusnya.
"Haha, bagus, bagus!"
Mendadak Tojin itu terkekeh dan berputar ke depan Liong Hui, lalu bertanya.
"Janji pertemuan gurumu danYap Jiupek sepuluh tahun yang lalu apakah sudah diselesaikannya?"
Liong Hui jadi melengak, jawabnya.
"Dari ... dari mana kau tahu?"
"Hahaha, masakah urusan gurumu aku tidak tahu?"
Seru si Tojin dengan gelak tertawa, lalu ia menyapu pandang sekeliling situ dan bertanya pula.
"Ke mana perginya mereka berdua?"
"Peduli apa denganmu?"
Jawab Liong Hui dengan kurang senang.
"Hehe, bagus, bagus!"
Tojin itu terkekeh pula, lalu berputar ke depan Ciok Tim dan bertanya.
"Siapa yang kalah dan siapa yang menang?"
"Tidak tahu!"
Jawab Ciok Tim perlahan. Kembali si Tojin terkekeh dan menggeser ke depan keempat perempuan berbaju hijau, lalu bertanya.
"Apakah akhirnyaYap Jiu-pek dapat mengalahkan Put-si-sin-liong?"
Keempat perempuan itu saling pandang sekejap, tapi Kwe Giok-he lantas mengikik tawa. Serentak si Tojin membalik tubuh dan menegur.
"Apa yang kau tertawakan?"
"Kutertawa geli karena akhirnyaYap Jiu-pek telah mendahului guruku lebih cepat satu langkah!"
Sahut Giok-he dengan tersenyum.
"Mendahului apa?"
Tanya si Tojin.
"Akhirnya dia mati lebih dulu daripada guruku!"
Jawab Giok-he. Tergetar hati si Tojin, seketika ia melenggong, sejenak kemudian barulah ia berucap dengan lemas.
"Jadi ... jadiYap Jiu-pek sudah ... sudah mati?"
"Ya,"
Jawab Giok-he. Mendadak si Tojin menghela napas panjang, katanya kemudian.
"Tak tersangka ucapan Thianah Tojin sebelum ajalnya pada 20 tahun yang lalu ternyata sangat tepat."
"Ucapan apa?"
Tanya Liong Hui."
"Sin-liong pasti menangkan Tan-hong ...."
Kata si Tojin dengan menunduk. Mendadak An-cu, salah seorang perempuan berbaju hijau itu mendengus.
"Hm, meski nonaYap sudah meninggal, tapi Put-si-sin-liong juga tidak pemah menang."
Si tojin menengadah, semangatnya tampak terbangkit, serunya.
"Put-si-sin-liong tidak pemah menang! .... Memangnya mereka telah gugur bersama?!"
"Ken ... omong kosong!"
Damprat Liong Hui. Dengan tajam si Tojin menatap Liang Hui dan bertanya sekata demi sekata.
"Kau mau bilang ken ... apa?"
"Kentut!"
Teriak Liong Hui. Mendadak si Tojin melolos pedang yang tergantung di pinggangnya, tapi baru tercabut setengah lantas dilepaskan kembali, ucapnya.
"Meski engkau kurang sopan, tidak boleh aku meniru perbuatanmu."
Lalu ia bergelak tertawa.
"Hm, memang ada sementara orang tidak sudi bergebrak dengan kaum muda, akan tetapi ... saat ini Put-si-sin-liong justru sedang bertanding dengan murid nonaYap ,"
Demikian jengek An-cu.
"Kau bilang Put-si-sin-liong bertanding dengan kaum muda?"
Si Tojin menegas dengan heran.
"Betul,"
Jawab An-cu tegas. Segera Liong Hui berteriak.
"Biarpun guruku bergebrak dengan murid Yap Jiu-pek, namun lebih dulu beliau telah menutuk beberapa Hiat-to tertentu sehingga tenaganya telah susut tujuh bagian, tindakan beliau yang luhur budi dan jujur ini mungkin jarang ada di dunia ini."
Gemerdep sinar mata si Tojin, sambil mengelus jenggotnya yang sudah kelabu ia tersenyum, gumamnya.
"Dia ternyata menyusutkan tenaga sendiri untuk bergebrak dengan orang ...."
"Ya, walaupun begitu beliau tetap akan menang!"
Seru Liong Hui.
"Apa betul?"
Ucap si Tojin perlahan.
"Tentu saja ...."
Teriak Liong Hui pula dan mendadak suaranya berubah lemah.
"... betul."
Padahal dia tidak yakin akan ucapannya itu dan sesungguhnya lagi berkhawatir. Tojin itu memandangnya dua-tiga kejap, lalu melirik Lamkiong Peng yang berdiri di samping peti mati, katanya kemudian.
"Sesungguhnya siapa di antara kalian yang menjadi murid utama Put-sisin-liong?"
"Peduli apa denganmu?!"
Jawab Liong Hui dengan kurang senang.
"Ah, agaknya dirimu inilah!"
Kata si Tojin dengan tersenyum.
"Memangnya mau apa jika betul?"
Jengek Liong Hui. Mendadak Tojin itu menuding sarung pedang hijau di pinggang Lamkiong Peng dan bertanya.
"Jika benar engkau Ciangbun-tecu (murid pewaris ketua) Ci-hau-san-ceng, mengapa pedang Yapsiang-jiu-loh itu berada padanya?"
Pertanyaan si Tojin membuat Liong Hui melenggong, ia pandang Lamkiong Peng sekejap lalu berpaling kembali dan menjawab.
"Tidak perlu kau ikut campur!"
Tojin itu mendengus.
"Hm, jika hari ini gurumu kalah dan tidak kembali lagi, apakah kau tahu siapa yang akan menjadi kepala Ci-hau-san-ceng yang disegani dunia persilatan itu?"
Liong Hui berdiri tegak tanpa menjawab, sampai sekian lama mendadak ia membentak.
"Siapa bilang Suhuku takkan kembali lagi? Siapa yang mampu mengalahkan beliau? Put-si-sin-liong selamanya tak termatikan!"
Suaranya yang kereng berkumandang jauh dan menimbulkan gema yang sahut-menyahut dari empat penjuru lembah gunung. Mendadak terdengar seorang menjengek dengan suara tajam.
"Siapa bilang di dunia ini tidak ada yang mampu mengalahkan Put-si-sin-liong? Siapa bilang Put-si-sin-liong tak termatikan!"
Hati Lamkiong Peng, Liong Hui dan lain-lain sama tergetar, cepat mereka berpaling ke sana, tertampak dari balik kabut sana muncul sesosok bayangan dan akhirnya terlihat jelas ialah Yap Man-jing dengan bajunya yang berkibar tertiup angin laksana dewi kahyangan yang turun dari langit.
Pada kedua tangannya jelas memegang dua batang pedang bersinar gilap, sebatang di antaranya bercahaya hijau kemilau, segera dikenali mereka pedang hijau inilah Yap-siang-jiu-loh yang selama berpuluh tahun tak pemah berpisah dengan Put-si-sin-liong Liong Po-si itu.
Seketika Liong Hui melotot, rambut jenggotnya scakan-akan menegak, dengan beringas ia memburu ke depan Yap Man-jing dan membentak.
"Suhuku bagaimana? Di mana Suhuku?"
"Di mana gurumu saat ini tentu kau tahu sendiri, masakah perlu tanya?"
Jawab Yap Man jing ketus.
Tubuh Liong Hui terasa lemas dan hampir saja tidak sanggup berdiri tegak.
Air muka Lamkiong Peng mendadak juga berubah pucat lesi seperti mayat.
Ciok Tim juga merasa seperti dada mendadak digodam orang, sekujur badan serasa kaku, sampai Ong So-so yang berdiri di sampingnya menjerit perlahan terus jatuh kelengar juga tidak diketahuinya.
Kwe Giok-he juga terperanjat dan bergemetar.
Sedangkan keempat perempuan berbaju hijau tadi terus berlari menyongsong kedatanganYap Manjing.
Sambil meraba pedangnya si Tojin tadi pun bergumam.
"Akhirnya Put-si-sin-long mati juga! .... Ai, akhirnya dia mati juga!"
Suaranya, makin lama makin lemah, entah menyesal atau bersyukur? Entah gembira atau berduka? Dengan sorot matanya yang tajamYap Man-jing mengawasi mereka dengan tenang. Mendadak Liong Hui berteriak.
"Engkau yang membunuh guruku, bayar jiwa guruku!"
Seperti kerbau gila ia terus menerjang ke depan.
Serentak Ciok Tim dan Kwe Giok-he juga memburu maju.
Sedangkan Lamkiong Peng baru maju selangkah lantas menyurut mundur kembali ke samping peti mati sambil memandang sekejap si Tojin, tanpa terasa air matanya menitik.
Dalam pada itu Liong Hui sudah menerjang ke depanYap Man-jing, sebelah tangannya mencengkeram muka si nona, tangan yang lain terus meraih pedang hijau yang dipegangnya.
Terdengar Yap Man-jing tertawa dingin, segera Liong Hui pun merasakan pandangannya menjadi silau oleh sinar pedang, tahu-tahu keempat perempuan berbau hijau telah memutar pedang masing-masing dan mengadang di depannya dengan membentuk selapis dinding sinar pedang.
Yap Man-jing sendiri lantas menyurut mundur, ia pindahkan pedang hijau pada tangan kanan, mendadak ia membentak.
"Kim-liong-cai-thian (nama emas di atas langit)!"
Berbareng ia mengeluarkan sesuatu benda emas dan diacungkan ke atas, kiranya sebilah belati bertangkai ukiran naga terbuat dari emas.
Perlahan ia menurunkan belati naga emas itu sebatas hidung, lalu membentak lagi.
"Kawanan naga hendaknya menerima perintah!"
Melihat belati emas itu air muka Liong Hui berubah pucat lagi, ia berdiri terkesima, pikiran menjadi kacau seperti merasa bingung oleh apa yang terjadi ini.
Sinar mata si Tojin tadi tampak gemerdep, kembali ia bergumam.
"Kim-liong-bit-leng (perintah rahasia naga emas) kembali muncul lagi di dunia Kangouw .... Hehe!"
Mendadak terlihat Liong Hui melangkah mundur dua-tiga tindak, lalu bertekuk lutut dan menyembah, meski wajahnya menampilkan rasa gusar dan gemas, suatu tanda menyembahnya itu tidak sukarela melainkan terpaksa.
Yap Man-jing tertawa dingin pula, keempat perempuan baju hijau lantas menarik kembali pedangnya.
Lalu Yap Man-jing menggeser maju melewati keempat perempuan berbaju hijau, setiap langkah selalu diserta ketukan pedang yang dipegangnya sehingga menerbitkan suara "tring"
Yang nyaring memecah suasana yang mencekam ini Kwe Giok-he lantas mendekati Liong Hui, katanya dengan suara tertahan.
"Meski Kim-liongbit-leng berada padanya, tapi ...."
Pandangan Yap Man-jing beralih kepada Kwe Giok-he, mendadak ia membalik belati emas itu ke bawah dan mendengus.
"Hm, apakah kau tidak mau tunduk?"
Giok-he memandang belati yang dipegangnya, jawabnya tenang.
"Kalau tunduk bagaimana, bila tidak tunduk bagaimana pula?"
Berubah lagi air muka Liong Hui yang masih berlutut, ia menoleh memandang istrinya sekejap, lalu berucap dengan rada gemetar.
"Moaycu (adikku), mana ... mana boleh ...."
Mendadak alis Kwe Giok-he menegak, teriaknya.
"Dia telah membunuh guru kita dan mencuri benda pusaka beliau, apakah kita masih harus tunduk kepada perintahnya?"
Saat itu Ciok Tim baru saja mengangkat bangun Ong So-so yang jatuh pingsan tadi, mendadak terlihat bayangan orang berkelebat, tahu-tahu Giok-he sudah berada di depannya dan bertanya.
"Samte dan Sumoay, bagaimana dengan kalian, apakah kita harus tunduk kepada perintahnya?"
Ciok Tim melirik sekejap ke arah belati emas yang dipegangYap Man-jing, lalu menunduk diam tanpa menjawab. Giok-he lantas mendekati Lamkiong Peng, tanyanya dengan suara gemetar.
"Gote, biasanya engkau paling bisa berpikir, meski Kim-liong-bitleng merupakan pusaka tanda kebesaran Ci-hausan-ceng kita, tapi dalam keadaan demikian apakah kita masih harus tunduk kepada perintahnya?"
Dengan wajah dingin Lamkiong Peng memandang sekejapYap Man-jing. Sejak tadiYap Man-jing mengawasi Kwe Giok-he, tiba-tiba ia mendengus.
"Hm, Kim-liong-bit-leng sudah muncul dan kalian berani membangkang atas perintahnya, masakah Put-si-sin-liong baru saja mati lantas kalian melupakan sumpah yang pemah kalian ucapkan waktu mengangkat guru padanya?"
Rambut Giok-he agak kusut, butiran keringat juga menghiasi dahinya, biasanya dia banyak akalnya dan seorang periang, menghadapi urusan genting apa pun dapat diselesaikannya dalam suasana senda gurau, tapi sekarang dia kelihatan gugup dan bingung, agaknya dia telah menduga perintah yang akan diucapkan Yap Man-jing pasti sangat tidak menguntungkan dia.
Liong Hui memandang sekejap lagi kepada istrinya, lalu menghela napas panjang dan berkata.
"Jika Kim-liong-bit-leng sudah berada di tanganmu, apa pula yang dapat kukatakan."
"Hm, mendingan engkau belum lupa kepada ajaran gurumu!"
Jengek Man-jing.
"Hanya kenal pada Leng (tanda perintah) dan tidak kenal orang (yang memegang tanda perintah) ...."
Ucap Liong Hui dengan lesu, mendadak ia menengadah dan membentak.
"Tapi telah kau bunuh guruku, aku ...."
Sampai di sini suaranya menjadi tersendat dan penuh emosi, sukar lagi meneruskan ucapannya. Lamkiong Peng tetap tenang saja, katanya kemudian.
"Kutahu, biarpun Kim-liong-bit-leng berada padamu, tapi di balik urusan ini pasti ada persoalan yang belum diketahui. Kalau tidak, tanda perintah ini pasti akan dimusnahkan oleh Suhu dan tidak nanti dibiarkan jatuh ke tanganmu. Apa pun juga, boleh coba uraikan dulu apa pesan beliau yang akan kau sampaikan kepada kami?"
Yap Man-jing menghela napas panjang, katanya.
"Nyata, hanya engkau saja yang dapat menyelami jalan pikiran Put-si-sin-liong."
Mendadak Kwe Giok-he membentak.
"Tapi pesan lisan tidak ada bukti, cara bagaimana kami dapat membedakan benar dan tidaknya pesan yang akan kau sebutkan? Samte, Sumoay, perempuan ini telah membunuh Suhu, jika kita tidak menuntut balas apa terhitung manusia?"
Seketika Ciok Tim mengangkat kepala dengan mata melotot sambil mengepal erat kedua tinjunya. Tiba-tiba Yap Man-jing menjengek.
"Hm, kau bilang pesan lisan tanpa bukti ...."
Ia terus menggigit belati emas dengan mulut, lalu mengeluarkan lagi sehelai kertas yang terlipat rajin, sekali jari menyelentik, kertas itu disambitkan ke depan Liong Hui.
Segera Giok-he memburu maju sambil membentak.
"Coba kulihat."
Selagi dia hendak menjemput kertassurat itu, sekonyong-konyong bagian iga terasa kesemutan. Rupanya Yap Man-jing jaga telah bertindak, dengan ujung belati emas ia ancam iga Giok-he dan membentak.
"Kau mau apa?"
"Sebagai muridnya, masakah aku tidak dapat membacasurat wasiat guru sendiri?"
Teriak Giokhe, meski di mulut ia membantah, namun tubuh tidak berani bergerak sama sekali.
"Mundur dulu kesana !"
Bentak Man-jing.
"Kau ini apa, berani memerintah diriku?!"
Jawab Giok-he dengan gusar.
Tapi segera dirasakan setengah badan kaku kesemutan, tanpa terasa ia menyurut mundur ke belakang Liong Hui.
Karena perhatiannya terpusat kepadasurat wasiat gurunya sehingga agak lengah dan dapat diatasi olehYap Man-jing, sungguh tidak kepalang rasa gusar dan dongkol Giok-he, bibir sampai gemetar dari sukar bicara lagi.
Liong Hui sangat sayang kepada sang istri, cepat ia berbangkit dan memegang tangannya yang terasa sangat dingin itu, tanyanya dengan khawatir.
"Ba ... bagaimana, Moaycu, engkau tidak apa-apa bukan?"
Tersembul senyuman terhibur di ujung mulut Kwe Giok-he, sahutnya.
"Aku ... aku tidak apaapa!"
Mendadak ia mengisiki Liong Hui dengan suara tertahan.
"Lekas kau bacasurat wasiat itu, bila isinya tidak menguntungkan kita, sebaiknya jangan kau baca dengan suara keras!"
Liong Hui melengak, dipandangnya sang istri dengan bingung, agaknya baru sekarang ia dapat memahami jalan pikiran istrinya itu. Didengarnya Yap Man-jing lagi mengejek.
"Hm, pesan tinggalan guru tidak lekas dibaca, tapi buruburu menghibur istri yang sok aksi, huh ...."
Muka Liong Hui menjadi merah, perlahan ia membalik tubuh, segera ia hendak menjemputsurat wasiat itu.
Siapa tahu pedang Yap Man-jing lantas menyambar dari samping, dengan ujung pedang hijau Yap-siang-jiu-loh ia cungkitsurat itu.
"Apa maksudmu ini?"
Damprat Liong Hui dengan kurang senang.
"Kau kelihatan ogah membacasurat ini, biarkan orang lain saja yang membacanya,"
Jengek Manjing.
Sorot matanya lantas berputar, setiap orang dipandangnya sekejap secara bergiliran, tampaknya sedang mencari calon untuk disuruh membacasurat wasiat itu.
Tiba-tiba ia mendekati Ong So-so dan berkata.
"Ambilsurat ini dan bacalah dengan suara keras supaya didengar semua orang!"
So-so baru saja siuman dari pingsannya, mukanya masih pucat, ia coba melirik Giok-he sekejap, lalu bertanya "Kenapa kau suruh kubaca pesan tinggalan Suhu?"
Sembari bicara, tidak urung ia ambil jugasurat yang tersunduk di ujung pedang orang itu, setelah ragu sejenak lagi, dipandangnya Ciok Tim, lalu memandang pula Lamkiong Peng, akhirnya dia membentang kertassurat itu.
"Baca dengan suara keras, satu kata pun tidak boleh ketinggalan, baca selengkapnya!"
SeruYap Man-jing. Giok-he saling pandang sekejap dengan Liong Hui, dirasakan tangan sang istri sedingin es, ia menghela napas dan menghiburnya.
"Segala apa terserah kepada takdir, buat apa engkau cemas."
Giok-he memejamkan mata, dua titik air mata lantas menetes. Liong Hui menggenggam tangan istrinya dengan erat. Didengarnya So-so telah mulai membaca.
"Janji pertarunganku dengan Yap Jiu-pek sudah dilakukan sejak sepuluh tahun yang lalu, yang menang tetap hidup, yang kalah harus mati, apa pun yang terjadi takkan disesalkan pihak mana pun, juga takkan benci dan dendam, jika aku kalah dan mati, ini pun kulakukan dengan sukarela, setiap anak muridku dilarang menuntut balas terhadap anak murid Tan-hong, yang melanggar pesan ini bukanlah muridku, pemegang Kim-liong-bit-leng berhak memecatnya dari perguruan."
Mungkin karena tegang dan juga emosional, meski sedapatnya ia menenangkan diri, tidak urung suara So-so tetap agak bergemetar.
Sampai di sini ia berganti napas, setelah agak tenang barulah ia membaca lebih lanjut.
"Di antara anak muridku, anak Hui yang pertama masuk perguruan, ia juga terhitung keponakanku sendiri, jujur dan lugas, sangat kusayang, hanya pribadinya teramat lugu dan kaku, mudah menerima kisikan, inilah cacatnya sehingga sukar memegang pekerjaan besar dan tidak dapat menghasilkan sesuatu."
Sampai di sini So-so berhenti sejenak sambil melirik Liong Hui sekejap. Liong Hui tampak menunduk kikuk. Segera So-so menyambung lagi.
"Adapun pribadi anak Tim cukup kuat, tegas dan bijaksana, So-so halus budi dan lemah lembut ...."
Karena menyangkut diri sendiri, muka So-so menjadi merah, ia membetulkan rambutnya yang kusut, lalu menyambung.
"Hanya anak Peng saja berasal dari keluarga temama, sejak kecil mendapat didikan ketat, tidak ada sifat dugal atau nakal. Terlebih pembawaannya pendiam dan tidak suka menonjol, malahan bakatnya sangat tinggi, maka kuputuskan ...."
Sampai di sini mendadak terdengar Kwe Giok-he menangis sedih. Liong Hui menghela napas dan merangkulnya perlahan. Terdengar Giok-he berkeluh.
"Oo ... sudah banyak yang kukerjakan bagi Ci-hau-san-ceng, tapi ... tapi beliau sama sekali tidak menyinggung diriku di dalam pesannya ini."
"Sabarlah, Moaycu, mengapa hari ini engkau berubah menjadi begini?!"
Ucap Liong Hui dengan kening bekernyit. Giok-he mengangkat kepala, mukanya penuh air mata, katanya.
"Sungguh hatiku sangat sedih, sudah ... sudah sekian tahun kukerja keras bagi Suhu, tapi ... tapi apa yang kita peroleh? Apa yang kita peroleh? ...."
Mendadak Yap Man-jing mendengus dan melengos, seperti tidak sudi melihatnya. Namun dia tetap berjaga di samping So-so. Sesudah termangu sejenak, lalu So-so membaca lagi.
"Maka sudah kuputuskan menyerahkan Yapsiang-jiu-loh yang sudah berpuluh tahun tidak pemah berpisah denganku ini serta tugas menjaga peti wasiat kepada anak Peng, tugas ini harus dilaksanakan hingga tuntas, peti rusak orang pun binasa."
Bekernyit juga kening So-so, agaknya dia tidak paham arti kalimat terakhir itu, ia termenung sejenak dan mengulang lagi kalimat itu.
"Peti rusak orang pun binasa!"
Kemudian ia melanjutkan.
"Selama hidupku ada tiga cita-citaku yang belum terlaksana, semua ini juga harus dilaksanakan oleh anak Peng. Ketiga urusan ini sudah kuberi tahukan kepada nonaYap Man-jing ...."
Kembali So-so berhenti, sinar mata Ciok Tim tampak gemerdep. So-so lantas melanjutkan.
"Selama beberapa puluh tahun aku berkecimpung di dunia Kangouw, tidak bisa terhindar dari lumuran darah kedua tanganku, tapi bila kuraba hati dan bertanya pada diri sendiri, rasanya aku tidak pemah berbuat sesuatu yang melanggar keadilan dan kemanusiaan. Selanjutnya aku tidak mampu mengikuti kejadian duniawi lagi, Ci-hau-san-ceng yang kudirikan ini seterusnya kuserahkan kepada ...."
Mendadak So-so berhenti pula sambil menarik napas dalam-dalam, air mukanya kelihatan terheran-heran.
"Serahkan kepada siapa, lanjutkan!"
SeruYap Man-jing dengan tidak sabar. Berputar bola mata Ong So-so, tanyanya lirih.
"Memangnyasurat ini belum kau baca?"
Alis Yap Man-jing menegak, katanya lantang.
"Memangnya kau kira anak murid Tan-hong adalah manusia rendah begitu?"
So-so menghela napas hampa, katanya.
"Oo, tadinya kukirasurat ini sudah kau baca, karena menguntungkanmu tentu saja kau serahkan kepada kami, jika isinya tidak menguntungkanmu tentu takkan kau serahkan kepada kami."
Nadanya jelas penuh rasa kagum dan hormat kepada orang, juga penuh rasa kasih sayang dan lemah lembut.
Setiap gerak-gerik So-so memang timbul sewajarnya dan setulusnya sehingga siapa pun tidak tega membikin susah dia.
Tangis Giok-he mulai reda, tiba-tiba ia menengadah dan bertanya.
"Apakah betulsurat itu tulisan tangan Suhu?"
So-so mengangguk perlahan. Giok-he mengusap air matanya dan berkata pula.
"Kau kenal tulisan pribadi Suhu?"
"Akhir-akhir ini Suhu sering berlatih menulis,"
Tutur So-so dengan perlahan.
"dan akulah yang selalu meladeni beliau dengan mengasahkan tinta bak baginya."
Sampai di sini dua titik air mata lantas menetes, rupanya dia terkenang kepada sang guru yang berbudi itu.
Ketika dia hendak menyeka air matanya, tiba-tiba dirasakan pundak ditepuk orang perlahan, ternyataYap Man-jing telah menyodorkan saputangan kepadanya.
Giok-he terdiam sejenak, kemudian ia tanya.
"Lantas bagaimana, Suhu menyerahkan pengurusan Ci-hau-san-ceng kepada siapa!"
So-so mengusap air matanya, lalu mengembalikan saputangan kepada Yap Man-jing dengan tersenyum terima kasih, dibetulkannya kertassurat yang dipegangnya, lalu membaca lagi.
"Ci-hau-san-ceng seterusnya kuserahkan kepada anak Hui dan Giok-he suami-istri!"
Serentak Giok-he berdiri tegak dan memandang langit yang biru kelam itu, ia termangu-mangu sekian lama, air mukanya tampak malu dan menyesal. Liong Hui berdehem perlahan, ucapnya lirih.
"Moaycu, betapa pun Suhu ternyata tidak melupakan dirimu!"
"O, Suhu ...."
Mendadak Giok-he berseru dan menjatuhkan diri ke dalam pelukan sang suami dan menangis pula. Kembali Yap Man-jing mengejek hina lagi padanya.
"Hm, baru sekarang kau ingat kepada Suhu dan baru berduka baginya?!"
Tangis Giok-he tambah keras, sedangkan Liong Hui menunduk diam. Terdengar So-so membaca lagi.
"Ci-hau-san-ceng adalah hasil usaha selama hidupku, tanpa orang jujur dan lugas sebagai anak Hui tentu takkan mampu mengerahkan para pahlawan sedunia, tanpa kecerdasan dan kepintaran Giok-he untuk membantu kekurangan anak Hui, tentu juga Cihau-san-ceng sukar berdiri tegak abadi."
Lamkiong Peng menghela napas, agaknya dia sangat kagum dan bersyukur terhadap pembagian tugas dan kewajiban dalam pesan sang guru itu.
Waktu ia memandang kesana , dilihatnya Ong So-so lagi memandangsurat yang terpegang dengan terkesima dan tidak membaca lebih lanjut.
Ciok Tim juga memandang kesana , mendadak tertampil rasa girangnya, serunya.
"Sumoay, kenapa tidak kau lanjutkan membaca?!"
"Aku ... aku ...."
Mendadak So-so menunduk dengan muka merah, tapi air mata lantas berlinang.
"Pesan Suhu masakah tidak kau baca lebih lanjut?"
Ujar Ciok Tim, dia cuma memerhatikansurat wasiat itu, sikap So-so yang malu dan juga kecewa itu tidak dilihatnya. Perlahan So-so mengusap air mata, lalu membaca lagi.
"Kim-liong-bit-leng adalah pusaka tertinggi perguruan kita, selanjutnya kuserahkan kepada anak Tim dan ... dan So-so untuk dipegang bersama. Dengan ketulusan anak Tim dan kepolosan So-so, kuyakin mereka takkan sembarangan menyalahgunakan benda pusaka ini. Dengan Liong-bun-siang-kiam, gabungan kedua pedang ini pasti takkan membikin nama perguruan kehilangan wibawa. Segala urusan penting perkampungan sudah teratur dengan baik, untuk ini anak Peng tidak perlu resah, sesudah pulang dan berbenah seperlunya, tiga bulan kemudian boleh menemui nona Yap Man-jing di puncak Hoasan untuk bersama-sama menyelesaikan tiga citacitaku yang belum terlaksana itu, tapi juga jangan jauh meninggalkan peti sakti tinggalanku. Ingat dengan baik."
So-so membaca semakin cepat, rasa kecewa pada wajahnya juga tambah mencolok. Sementara itu tangis Giok-he sudah reda, ia menghela napas perlahan dan membisiki Liong Hui.
"Segala apa cukup diketahui oleh Suhu, hanya perasaan Sumoay saja tidak diketahuinya."
"Perasaan apa?"
Tanya Liong Hui dengan melenggong.
"Sumoay lebih suka berkelana di dunia Kangouw bersama Gote daripada bersama Samte memegang Bit-leng tanda kekuasaan perguruan kita,"
Tutur Giok-he.
"Oo, tampaknya engkau serbatahu,"
Ujar Liong Hui. Dalam pada itu So-so telah membaca lagi.
"Selama hidupku ke atas tidak bersalah kepada Thian, ke bawah tidak malu terhadap sesamanya, biarpun mati, di alam baka pun dapatlah kututup mata dengan tertawa."
Ketika mengakhiri isi surat wasiat ini, suara Soso menjadi tersendat, perlahan ia melipat surat itu, dilihatnya Yap Man-jing telah menyodorkan belati naga emas kepadanya sambil berpesan.
"Jagalah dengan baik!"
"Terima kasih,"
Jawab So-so lirih. Man-jing tersenyum. Tiba-tiba So-so menambahkan dengan perlahan.
"Hendaknya selanjutnya kau pun dapat menjaga dia dengan baik."
Dengan mata merah basah So-so lantas menyingkir.
Keruan Yap Man-jing melengak, sejenak ia berdiri termenung, lalu ia mendekati Lamkiong Peng, tanpa bicara ia tancapkan pedang Yap-siangjiu-loh di depan anak muda itu dan berucap dengan dingin.
"Pada tangkai pedang terdapat lagi sepucuk surat rahasia, boleh kau ambil dan dibaca sendiri!"
Lalu dia membalik tubuh dan tinggal pergi.
Pada sebelum So-so selesai membacasurat wasiat Put-si-sin-liong tadi, Lamkiong Peng memang sudah tenggelam dalam lamunannya.
Setelah mendengar ucapanYap Man-jing, segera ia cabut pedang dengan kening bekernyit dan tetap merasa bimbang.
Ketika bayangan Yap Man-jing sudah hampir menghilang baru mendadak ia berteriak.
"Nanti dulu, nonaYap !"
Segera pula ia melayang kesana . Man-jing berpaling dan berkata dengan ketus.
"Adaapa? Memangnya hendak kau bunuh diriku untuk membalas dendam bagi gurumu?"
Wajah Lamkiong Peng yang selalu tenang itu menjadi agak emosi, ucapnya dengan suara berat.
"Betulkah guruku belum lagi meninggal? Di mana sekarang beliau berada?"
Tubuh Yap Man-jing seperti rada tergetar, tapi cepat ia bisa menenangkan diri dan menjawab.
"Jika Put-si-sin-liong belum mati mengapa dia tidak pulang ke sini?"
"Untuk ini perlu ditanyakan padamu,"
Jengek Lamkiong Peng.
"Kenapa tidak kau tanya dulu kepada dirimu sendiri?"
Sahut Man-jing dengan lebih ketus. Tanpa menoleh lagi ia memberi tanda kepada keempat perempuan pengiringnya dan berkata.
"Berangkat!"
Hanya sekejap sajalima sosok bayangan sudah menghilang di bawahsana . Liong Hui, Giok-he, Ciok Tim dan So-so lantas mendekati Lamkiong Peng, berbareng mereka bertanya.
"Mengapa engkau bilang Suhu mungkin belum meninggal?"
Dengan kening bekernyit Lamkiong Peng berkata.
"Jika Suhu sudah meninggal, kenapa beliau meninggalkan kata-kata seperti 'bila kalah dan mati' dan 'bilamana aku mati' dan sebagainya. Apalagi kalau Suhu benar gugur dalam pertandingan tadi, dengan watak beliau yang keras, mana mungkin ditinggalkannya pesan yang ditulisnya sejelas dan selengkap ini?"
So-so segera menambahi.
"Ya, tulisan beliau juga sangat rajin dan teratur, serupa waktu beliau berlatih menulis indah biasanya."
"Nah, kan tambah jelas lagi,"
Ujar Lamkiong Peng dengan mata mencorong.
"Dalam keadaan begitu, umpama Suhu tidak langsung dicederai lawan, pasti juga tidak mungkin meninggalkan surat wasiat serapi ini, kuyakin di balik urusan ini pasti ada sesuatu yang tidak beres ...."
Ia berhenti sejenak, sorot matanya mendadak berubah guram, katanya pula dengan menyesal.
"Akan tetapi, jika beliau belum meninggal, mengapa beliau tidak kembali ke sini?"
Semua orang saling pandang dan tak bisa memberi komentar.
Kedua lelaki penggotong peti tadi juga ikut mendengarkan dengan cermat.
Si Tojin yang sejak tadi cuma menonton saja di samping rupanya tidak mendapat perhatian mereka oleh karena suasana yang tegang tadi.
Kini Lamkiong Peng agak jauh meninggalkan peti mati yang dijaganya dan asyik bicara dengan saudara seperguruannya, mendadak Tojin itu menggeser ke peti mati, secepat kilat ia menyergap selagi kedua penggotong peti ikut mendengarkan pembicaraan Lamkiong Peng, tahu-tahu bagian belakang kepala mereka terpukul.
Tanpa sempat bersuara.
"bluk-bluk", kedua orang lantas roboh kelengar. Sama sekali si Tojin tidak menghiraukan korbannya lagi, secepatnya ia angkat peti mati itu terus dibawa lari ke bawah gunung. Lamkiong Peng sendiri lagi memikirkan isi surat wasiat yang mencurigakan itu, ketika itulah terdengar suara "bluk"
Dua kali disusul dengan jeritan kaget Ong So-so.
"Hei, apa yang kau lakukan?!"
Pembawaan So-so memang polos dan pemalu, mimpi pun tak terduga olehnya ada orang akan merampas peti mati kayu cendana itu, karena kagetnya ia hanya berdiri kesima saja.
Tapi karena jeritannya, buyarlah lamunan Lamkiong Peng, cepat ia membalik tubuh dan sekilas pandang sempat melihat bayangan si Tojin yang kabur ke bawah gunung dengan mengangkat peti mati itu.
Sungguh tidak kepalang kejutnya, tanpa pikir ia lantas mengejar, hanya beberapa kali loncatan saja sudah jauh di bawahsana .
"Toako, Samko ...."
Seru So-so khawatir. Liong Hui juga berteriak.
"Lekas kejar!"
"Kejar apa?"
Kata Giok-he.
"Kejar perampok peti mati itu,"
Seru Liong Hui dengan gusar.
"Hanya sebuah peti mati saja, biarpun terbuat dari kayu cendana, memangnya berapa harganya?"
Ujar Giok-he.
"Tapi apakah boleh kita membiarkan Gote sendiri menyerempet bahaya?"
"Dan bagaimana dengan Suhu, apakah beliau tidak kita urus lagi?"
Jengek Giok-he. Serentak Liong Hui memutar balik dan menegas.
"Apa katamu?"
Giok-he menghela napas, ucapnya.
"Kukira apa yang dikatakan Gote tadi memang beralasan. Pokoknya kita tidak peduli apakah Suhu benar sudah meninggal atau belum, yang penting kita harus memeriksa ke tempat yang didatangi beliau tadi, apabila Suhu memang benar belum meninggal,kan beruntung sekali kita!"
"Akan ... akan tetapi bagaimana dengan Gote?"
Ucap Liong Hui ragu.
"Tadi telah kau lihat gerakan 'Kim-liong-coanhun' (naga emas menembus awan) Gote itu, bagaimana kalau dibandingkan kepandaianmu?"
Tanya Giok-he. Liong Hui jadi melenggong.
"Ini ...."
"Ini menandakan kepandaian Gote sesungguhnya di luar ukuran kita,"
Tukas Giok-he.
"Dengan Kungfu yang dikuasainya sekarang, bukan soal lagi baginya untuk menghadapi jago mana pun, untuk menjaga diri tentu saja terlebih mudah."
Liong Hui termenung, katanya kemudian.
"Ya, ini ... ini juga betul."
So-so tampak gelisah, selanya.
"Akan tetapi kalau Tojin itu berani main rampas peti mati, hal ini menandakan di dalam peti itu pasti ada sesuatu rahasia yang tidak kita ketahui ...."
Perlahan Giok-he menepuk pundak So-so dan berkata dengan lembut.
"Sumoay, apa pun usiamu masih terlalu muda, ada sementara urusan yang sukar kau pahami. Sebabnya Tojin itu menyerempet bahaya merampas peti mati itu, tujuannya tidak lebih hanya menggunakan kejadian ini untuk membuat namanya terkenal saja."
"Namun ... namun bila tiada sesuatu rahasia dalam peti, untuk apa Suhu menyuruh ... menyuruh dia menjaga peti itu dengan baik?"
Kata So-so. Giok-he menjadi kurang senang, katanya pula.
"Sekalipun di dalam peti mati ada rahasia, memangnya rahasia itu bisa lebih penting daripada urusan mati-hidup Suhu?"
So-so meremas-remas kedua tangan sendiri dengan bimbang, meski ia merasa ucapan sang Suci kurang benar, tapi rasanya sukar membantahnya. Segera Liong Hui menyela dengan mengangguk.
"Sumoay, ucapan Toasomu memang cukup beralasan. Kulihat kepandaian Tojin itu toh tidak terlalu tinggi, Gote pasti tidak akan mengalami kesukaran, lebih penting kita menyelidiki urusan Suhu saja."
Sejak tadi Ciok Tim hanya termenung saja, dia seperti mau ikut bicara, tapi setelah memandang So-so sekejap, lalu urung buka mulut.
Giok-he tertawa cerah, perlahan ia tepuk pundak So-so lagi sekali, katanya.
"Turutlah pada perkataan Toaso, pasti tidak salah lagi. Bila terjadi apa-apa atas diri Gote, boleh kau minta pertanggungan jawab Toasomu ini, tidak perlu khawatir."
Ciok Tim tampak berpaling ke arah lain. Giok-he lantas berkata pula.
"Samte dan Sumoay, mari kita pergi mencari Suhu!"
So-so mengangguk dan ikut melangkah kesana bersama Giok-he, namun melirik sekejap juga ke arah menghilangnya bayangan Lamkiong Peng dengan perasaan berat.
"Jika Sumoay tidak mau ikut mencari Suhu, dengan tenaga kita bertiga rasanya juga cukup,"
Kata Ciok Tim tiba-tiba.
"Ah, kenapa Samte bicara demikian."
Ujar Giokhe dengan tertawa.
"Biasanya Sumoay paling berbakti kepada Suhu, selama ini Suhu juga paling sayang pada Sumoay, mana bisa dia tidak mau mencari Suhu?"
"Ya, betul,"
Tukas Liong Hui.
Pada saat itulah terlihat seekor burung terbang tinggi menembus awan, mendadak berbunyi panjang, suaranya bergema scakan-akan lagi mengejek kebodohan Liong Hui, kecerdikan Kwe Giok-he, kecemburuan Ciok Tim dan kelemahan So-so, cuma sehabis berbunyi, mendadak burung itu pun menumbuk dinding tebing di tengah kabut tebal.
Liong Hui berjalan di depan dengan cepat, memandangi bangkai burung yang terjerumus ke bawah itu, katanya sambil menoleh.
"Burung ini sungguh amat bodoh!"
"Burung yang kehilangan pasangan tidak mau hidup sendirian, maka sengaja membunuh diri dengan menumbuk dinding tebing,"
Tutur Ciok Tim.
"Jika aku menjadi burung itu, aku lebih suka mati merana!"
Ucap So-so dengan hampa.
"Kalian keliru semua,"
Kata Giok-he dengan tersenyum.
"Burung itu tidaklah bodoh, juga tidak kesepian, dia tertumbuk mati hanya lantaran terbangnya terlalu tinggi dan karena lengahnya sendiri."
"Terbang terlalu tinggi bisa mati tabrakan, terbang terlalu rendah bisa terbidik oleh pemburu,"
Ujar Liong Hui dengan menyesal.
"Ai, tak tersangka menjadi manusia sulit, menjadi burung juga tidak sederhana,"
Tengah bicara mereka berempat sudah bergerak cukup jauh, tanah pegunungan yang kacau tadi kini tertinggal pohon cemara tua yang tetap berdiri tegak dengan desir angin kencang dan awan tebal.
Burung yang terjerumus ke jurang itu tertiup angin melayang jatuh ke bawahsana ....
Saat itu Lamkiong Peng sedang mengejar si Tojin secepat terbang, dia sudah melampaui tugu Hanbun-kong, dengan gelisah ia mengejar sepenuh tenaga.
Meski Tojin itu mengangkat sebuah peti mati, tapi gerak tubuhnya tetap sangat gesit dan cepat, Lamkiong Peng merasa bayangan di depan makin jelas kelihatan, tapi seketika tetap tak tersusulkan.
Sungguh ia tidak tahu mengapa Tojin ini sengaja menyerempet bahaya hanya untuk merampas sebuah peti mati, juga tidak dimengertinya mengapa gurunya menyuruhnya menjaga peti mati dengan baik.
Tiba-tiba teringat olehnya macam-macam dongeng kuno.
Apakah mungkin di dalam peti mati ini tersimpan sesuatu rahasia dan rahasia ini menyangkut seperti harta karun yang sudah lama diincar orang atau tersimpan semacam senjata wasiat atau se
Jilid kitab pusaka ilmu silat mahatinggi?
Pikiran demikian terkilas dalam benaknya dengan cepat, dan pada detik itulah bayangan Tojin di depan mendadak bergerak lamban.
Ketika ia menoleh, tiada tertampak seorang saudara seperguruan yang menyusul kemari, ia menjadi ragu apakah telah terjadi sesuatu disana .
Pada saat itu tidak sempat baginya untuk memikirkan hal-hal yang demikian, mendadak ia melompat terlebih cepat ke depan hanya beberapa kali naik turun, jaraknya dengan si Tojin semakin dekat.
Mendadak terasa setitik bayangan hitam menyambar tiba, menghantam lengan kanannya, terkesiap juga Lamkiong Peng oleh sambaran angin keras ini, cepat ia membaliki tangan kanan dan meraihnya, dengan tepat setitik bayangan ini kena dipegangnya, tapi lantaran itu sarung pedang hijau yang dipegangnya judi terlepas dan jatuh ke dalam jurang.
Waktu bayangan hitam itu terpegang, segera dirasakan dingin dan basah, sekilas lirik ternyata yang terpegang itu adalah bangkai burung.
Ia tersenyum mengejek pada diri sendiri, sungguh terlalu, dunia selebar ini, masakah seekor burung mati bisa begitu kebetulan menimpanya.
Betapa pun hal ini dirasakan sebagai "ada jodoh", bangkai burung dimasukkan ke dalam bajunya.
Waktu ia memandang ke depan, sudah dekat dengan ujung puncak gunung, jaraknya dengan si Tojin juga tinggal beberapa meter saja.
Biarpun Tojin itu sangat kuat, tapi dengan mengangkat sebuah peti mati dan berlari di tanah pegunungan yang curam demikian, akhirnya ia mulai lelah juga.
Ketika larinya mulai kendur, mendadak terdengar bentakan dari belakang.
"Berhenti!"
Ia sedikit melirik ke samping, tertampaklah sebatang pedang hijau kemilau menyambar dari belakang, jaraknya sudah cukup dekat, angin tajamnya sudah dapat dirasakan.
Si Tojin masih terus berlari, cuma diam-diam ia telah siap berputar.
Ketika menurut perhitungannya saatnya sudah tepat, mendadak ia membentak sambil membalik, peti mati diangkatnya terus dikeprukkan ke atas kepala Lamkiong Peng.
Peti mati buatan kayu cendana itu sangat berat, ditambah lagi si Tojin menghantam dengan sekuat tenaga, bobot peti itu menjadi beribu kati beratnya.
Cepat Lamkiong Peng bermaksud menahan langkahnya, akan tetapi sudah terlambat, tertampak segumpal bayangan hitam dengan angin dahsyat menindih dari atas.
Berada di lereng gunung yang terjal begini jelas sukar baginya untuk menghindar.
Karena kepepet, Lamkiong Peng juga membentak sambil putar pedangnya, dengan cepat ujung pedang memapak peti mati yang menindih dari atas itu.
Dalam sekejap saja ujung pedangnya menutul beberapa kali, terdengar suara "tok-tek"
Berulangulang, setiap tutulan pedangnya serentak mengurangi daya tindih peti, inilah gerakan ringan melawan berat kaum ahli, gerak tangkis demikian memerlukan perhitungan yang jitu dan berani.
Dengan wajah kelam si Tojin berusaha menekan peti mati itu sekuatnya, Lamkiong Peng juga pasang kuda-kuda dengan kuat dan menegakkan pedang untuk menyanggah daya tekan peti.
Dalam keadaan demikian, kedua orang sama tidak berani ayal, sebab mereka tahu sedikit meleng saja tentu akan terjerumus ke jurang yang tak terbayangkan dalamnya.
Panjang peti itu lebih dua meter, sedang ujung pedang cuma setitik saja.
Peti menindih dari atas, pedang harus menegak untuk menahan daya tekan yang kuat itu, betapa berbahayanya tentu dapat dibayangkan.
Lamkiong Peng merasakan daya tekan peti semakin berat, batang pedang buatan baja itu mulai melengkung.
Kain baju Lamkiong Peng mulai mengembung, rambut dan jenggot si Tojin scakan-akan menegak, kedua orang sama mengerahkan segenap tenaga dan berdiri sekukuh tonggak, namun sedikit demi sedikit kaki Lamkiong Peng mulai bergeser dengan perlahan.
Jika dia tidak geser kaki akhirnya kaki akan amblas, tapi geseran yang perlahan ini baginya sekarang boleh dikatakan mahasulit.
Yang lebih sulit lagi adalah dia harus berjaga jangan sampai ujung pedangnya menusuk masuk ke dalam peti.
Sebab kalau ujung pedang masuk peti, segera peti akan menindih ke bawah dan ini berarti maut baginya.
Angin gunung mendesir lewat di sisi telinganya, Lamkiong Peng merasakan pedang yang dipegangnya dari dingin mulai berubah menjadi panas.
Pandangannya mulai kabur, maklumlah segenap tenaganya hampir terkuras habis.
Wajah si Tojin kelihatan tambah guram, sinar matanya tambah beringas, dengan menyeringai mendadak ia membentak.
"Tidak turun ke bawah!?"
"Belum tentu bisa!"
Jawab Lamkiong Peng sambil membusungkan dada.
"Hm, usiamu masih muda belia, jika mati begini saja tanpa ada yang mengurus mayatmu, sungguh aku merasa kasihan bagimu,"
Jengek si Tojin.
"Huh, entah siapa yang akan mati!"
Kata Lamkiong Peng, diam-diam ia merasa menyesal kenapa tiada seorang pun saudara seperguruannya menyusul kemari, apakah betul akan terjadi mayatnya tak terurus?
"Mengapa mereka tidak menyusul kemari, apakah ...."
Selagi dia membatin demikian, sekonyong-konyong dirasakan daya tekan peti mati tambah kuat, ia terkejut dan cepat menenangkan diri dan bertahan lebih kuat.
Ia sadar agaknya si Tojin sengaja membuyarkan konsentrasinya dengan ucapannya.
Tiba-tiba dilihatnya di bawah bayangan peti mati dahi si Tojin berhias butiran keringat, tergerak pikirannya, agaknya lawan sendiri juga sudah payah, asalkan aku bertahan sebentar lagi tentu akan dapat mengatasi lawan.
Segera ia balas mengejek.
"Hm, memangnya kau kira aku tidak tahu keadaanmu. Biarpun Lwekangmu lebih tinggi daripadaku, tapi engkau telah berlari sejauh ini dengan mengangkat benda seberat ini, tenaga yang telah kau kuras jelas jauh lebih banyak daripadaku, biarpun keadaanku cukup payah, akan tetapi engkau justru serupa pelita yang kehabisan minyak."
Air muka si Tojin yang kelam itu kembali berubah terlebih gelap, peti mati yang dipegangnya terasa bergetar, kesempatan itu digunakan Lamkiong Peng untuk menolak dengan pedangnya sehingga terangkat lebih tinggi sedikit.
Lengan si Tojin yang putih itu mulai berubah merah dan akhirnya menjadi kebiru-biruan.
Lamkiong Peng merasa lega, perlahan ia berkata pula.
"Jika kita terus bertahan seperti ini, meski aku bisa celaka, tapi engkau pasti mampus."
Dia sengaja mempertegas kata "mampus"
Dengan suara keras, lalu menyambung pula.
"Hm, hanya karena sebuah peti mati kayu cendana saja kenapa kau bela mati-matian, jika kau mau lepas tangan sekarang juga, mengingat sesama kaum persilatan, takkan kuusut lebih lanjut perbuatanmu ini dan akan kulepaskan kau pergi."
Uraiannya meski bermaksud mengacaukan semangat tempur lawan, tapi ada sebagian kata katanya juga timbul dari lubuk hatinya yang mumi. Tak terduga si Tojin lantas tertawa dingin dan membentak.
"Hm, masakah gampang kumati begitu saja? Jika mati tentu juga bersamamu!"
Mendadak ia mengerahkan sisa tenaganya dan menekan peti mati terlebih kuat.
Selagi Lamkiong Peng terkesiap, dilihatnya si Tojin mendak ke bawah sedikit dan sebelah kakinya bahkan terus menendang.
Tenaga si Tojin dikerahkan seluruhnya pada kedua tangannya, maka tendangannya sebenarnya tidak keras, tapi tempat yang di arah justru sangat berbahaya, yaitu bagian selangkangan, bagian lemah ini cukup fatal bila terdepak dengan tepat, tidak perlu terlalu keras.
Dalam keadaan begini, jika Lamkiong Peng menghindari tendangan ini, berarti kuda-kudanya akan goyah dan peti mati akan jatuh dari atas, sebaliknya kalau tidak mengelak, pasti juga akan celaka.
Dalam gusarnya tanpa pikir ia mengayun telapak tangan kiri ke bawah, ditabasnya pergelangan kaki lawan.
Baik waktu maupun tempat yang di arah sungguh sangat tepat.
Tapi Tojin itu segera juga berganti gerakan, kedua tangan tetap memegang peti mati, tubuh terapung, kaki kanan ditarik kembali, kaki kiri terus menendang pula secepat kilat.
Lamkiong Peng juga tidak kalah cepatnya, tangan kiri berputar, kembali ia cengkeram kaki lawan.
Diam-diam ia pun terkesiap, cara si Tojin ini jelas sudah kalap, kalau perlu ingin gugur bersama dengan dia.
Sebab dengan tubuh bergantungan dan kedua kaki menendang secara bergantian, bilamana Lamkiong Peng tertendang dan jatuh ke dalam jurang, si Tojin sendiri juga pasti akan ikut terjeblos ke jurang.
Dalam sekejap itu meski Lamkiong Peng dapat menahan beberapa kali tendangan berantai si Tojin, tapi tangan kanan yang memegang pedang terasa linu pegal, peti mati terasa semakin menekan ke bawah, tangan kiri juga mulai sukar menahan tendangan kilat musuh.
Dalam keadaan kepepet kalau dia mau melepaskan pedang dan melompat mundur, jelas dia dapat menyelamatkan jiwa sendiri.
Tapi dia lantas teringat kepada pesan sang guru yang telah menyerahkan pedang pusaka Yap-siang-jiu-loh kepadanya dengan tugas membela peti sakti itu.
"peti rusak orang binasa", demikian kata terakhir amanat sang guru itu. Diam-diam ia menghela napas, sukar diselaminya sesungguhnya ada keistimewaan apa pada peti mati ini sehingga perlu dibela matimatian, tapi apa pun juga dia harus patuh kepada amanat sang guru.
"Peti rusak orang binasa", itulah amanat yang tidak boleh dilupakan, mendadak ia berteriak.
"Baiklah, biar kita gugur bersama!"
Mendadak ujung pedang menolak sekuatnya ke atas, tangan kiri terus mencengkeram ke depan, dia tidak lagi menangkis tendangan si Tojin melainkan mencengkeram dada orang.
Ia menjadi nekat dan tidak memikirkan akibatnya lagi, yang penting amanat sang guru telah dilaksanakannya.
Berubah juga air muka si Tojin melihat kekalapan anak muda itu, mendadak ia tertawa keras.
"Hahaha! Bagus, bagus, biarlah kita bertiga gugur bersama!"
Tergetar hati Lamkiong Peng.
"Bertiga?!"
Ucapnya tanpa terasa. Mendadak ia tahan serangannya dan kembali menegas dengan membentak.
"Dari mana datangnya orang ketiga?"
Meski timbul rasa curiganya dan ingin tahu sesungguhnya apa yang dimaksudkan si Tojin, tapi dalam keadaan begini, ibarat orang sudah berada di punggung harimau, ingin turun pun tidak bisa lagi.
Didengarnya si Tojin lantas membentak.
"Di sini juga ada tiga orang!"
Berbareng kedua kakinya menendang pula secara berantai.
Diam-diam Lamkiong Peng juga sudah siap untuk gugur bemama orang gila ini untuk menunaikan kewajibannya membela peti mati itu sesuai amanat sang guru.
Siapa duga, pada detik terakhir yang menentukan itu, tiba-tiba terjadi sesuatu yang mendekati keajaiban.
Dirasakan oleh Lamkiong Peng pedang yang menolak peti mati itu mendadak terasa ringan, peti mati yang semula menindih ke bawah dengan sangat kuat itu telah berubah seperti benda tak berbobot.
Begitu bobot peti mati berubah ringan, keadaan segera berubah.
Si Tojin mendadak merasakan timbul semacam tenaga gaib dari dalam peti yang menghilangkan tenaga mumi pada kedua tangannya yang berpegangan pada peti itu sehingga tubuh bagian bawah kehilangan daya gerak.
Baru saja kedua kakinya menendang, seluruh tubuhnya lantas anjlok ke bawah.
Perubahan yang terjadi secara mendadak ini sama sekali tidak memberi peluang baginya untuk berpikir, dalam kagetnya cepat ia melejit di udara sehingga hinggap ke permukaan tanah dengan setengah berjongkok, lalu cepat melompat mundur.
Lamkiong Peng juga terkejut dan menarik pedang dari peti terus melompat mundur.
Kedua orang sama melompat mundur dan tetap berdiri berhadapan, si Tojin mengepal tinju dengan muka kelam dan mata melotot memandangi peti mati itu.
Lamkiong Peng juga memandang peti mati itu dengan penuh rasa heran dan bingung.
Tertampak peti mati itu bisa berhenti sejenak di atas udara meski sudah terlepas dari dukungan kedua orang itu, habis itu baru menurun ke bawah dengan perlahan scakan-akan di bagian bawah ditopang oleh seorang yang tidak kelihatan, malahan jatuhnya ke tanah begitu enteng tanpa menimbulkan suara sama sekali.
Mau tidak mau ngeri juga Lamkiong Peng menyaksikan kejadian luar biasa ini.
Meski sudah banyak dongeng seram yang pemah didengarnya, tapi apa yang dilihatnya ini sungguh sukar untuk dipercaya.
Si Tojin juga lagi menatap peti mati itu dengan sorot mata yang kejut dan sangsi, malahan bibirnya kelihatan rada gemetar, katanya mendadak.
"Ba ... bagus sekali, ternyata benar engkau tidak ... tidak mati!"
Habis itu, serentak ia menubruk maju lagi ke arah peti mati. Kembali Lamkiong Peng terkejut, tanpa pikir ia membentak.
"Kau mau apa?"
Segera ia putar pedangnya dan menyongsong si Tojin.
Betapa pun dia lebih muda dan kuat, tenaganya dapat pulih lebih cepat.
Saat itu si Tojin sudah menerjang sampai di depan peti mati, tahu-tahu sinar hijau menyambar tiba, kalau dia tidak segera menarik diri berarti maut baginya.
"Mundur!"
Terdengar Lamkiong Peng membentak.
Benar juga, terpaksa Tojin melompat mundur kembali ke tempat semula.
Dengan pedang melintang di depan dada, Lamkiong Peng lantas mengadang di depan peti mati.
Mendadak si Tojin menghela napas, ucapnya.
"Ai, ada permusuhan apa antara dirimu denganku, mengapa engkau berbuat begini padaku?!"
Ucapan orang ini membingungkan Lamkiong Peng, sukar dirasakan ucapan menyesal mengomel atau memohon? Sesudah melenggong sejenak barulah ia menjawab.
"Selamanya kita tidak kenal, mana ada permusuhan?"
Si Tojin seperti orang linglung dan masih memandang peti mati dengan termenung, sejenak kemudian, tiba-tiba ia berkata pula.
"Asalkan kau serahkan peti ini kepadaku, seterusnya engkau adalah penolongku yang terbesar, selama hidupku takkan melupakan budi kebaikanmu ini dan pasti akan kuberi balas jasa sebesar-besarnya."
Lamkiong Peng menatapnya dengan tajam, lalu mendengus.
"Hm, setelah tidak mampu merampas dengan kekerasan, lalu hendak kau gunakan cara memohon dengan halus?"
Mendadak si Tojin membusungkan dada dan menjawab dengan angkuh.
"Selama hidupku tidak pemah memohon kepada orang."
"Hm, apa pun juga selangkah saja tidak boleh lagi kau dekati peti ini,"
Jengek Lamkiong Peng.
Sungguh si Tojin kecewa dan tak berdaya, sudah digunakannya macam-macam jalan, main rampas, main labrak dan memohon secara halus, semua itu tetap tidak dapat melunakkan tekad anak muda itu yang membela peti mati dengan teguh.
Karena kehabisan akal, akhirnya Tojin itu berkata dengan sungguh-sungguh.
"Apakah kau tahu sebabnya gurumu menyuruhmu membela peti mati ini!"
"Tidak tahu!"
Jawab Lamkiong Peng. Sorot mata si Tojin menampilkan setitik sinar harapan pula, ucapnya.
"Jika tidak tahu sebabnya, apakah berharga kau bela dengan jiwa ragamu?"
"Pokoknya itulah amanat perguruan, tiada gunanya kau putar lidah dan berusaha menghasut,"
Jengek Lamkiong Peng.
"Hehe, apakah kau kira aku benar-benar tak dapat menundukkan dirimu? Bila sebentar tenagaku pulih seluruhnya, memangnya kau mampu melawan lebih lama?"
"Belum lagi dicoba, tidak perlu membual dulu. Pokoknya mati-hidupku sudah kupertaruhkan atas peti pusaka ini."
Si Tojin memejamkan mata sejenak dan termenung, waktu ia membuka mata lagi, ia menghela napas panjang dan berucap perlahan.
"Ai, sungguh aku tidak habis mengerti mengapa kau bela peti ini mati-matian tanpa sayang akan jiwamu sendiri."
"Hm, aku pun tidak habis mengerti untuk apa peti ini hendak kau rampas dengan mati-matian,"
Jawab Lamkiong Peng dengan ketus.
Si Tojin mengepal tinjunya erat-erat sambil menggereget, mendadak ia mendesak maju selangkah dan menatap Lamkiong Peng dengan tajam, sampai sekian lamanya barulah ia berkata.
"Memangnya kau ingin kukatakan terus terang seluk-beluk urusan ini baru akan kau serahkan peti ini?"
"Biarpun kau beberkan seluk-beluk urusannya juga takkan kulepaskan,"
Jawab anak muda itu. Tojin itu menengadah memandang jauh ke langit seperti tidak mendengar ucapan Lamkiong Peng itu, perlahan ia berkata pula.
"Ada sementara orang selama hidupnya giat bekerja dan keras berusaha, selalu berbuat baik, tidak berani bertindak salah selangkah pun, tapi sekali dia salah langkah, dalam pandangan umum lantas berubah menjadi orang berdosa yang tak terampunkan. Sebaliknya ada sementara orang lagi yang selama hidupnya berbuat jahat melulu, tapi pada suatu kesempatan secara kebetulan ia telah berbuat sesuatu kebaikan sehingga orang pun sama memaafkan segala dosanya yang telah diperbuatnya ...."
Dia bicara dengan perlahan dan lirih, seperti bergumam, seperti juga lagi berkeluh kesah terhadap yang Mahakuasa. Sampai di sini mendadak ia tertawa latah dan berseru.
"Coba katakan, apakah adil Thian memperlakukan manusia sesamanya?"
Lamkiong Peng melongo bingung, ia heran Tojin bersanggul tinggi yang misterius ini mengapa dalam keadaan begini bisa bicara hal-hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian tadi.
Waktu ia memandang ke sana, dilihatnya air muka si Tojin yang menampilkan rasa sedih dan kecewa tadi mendadak berubah menjadi gusar, dengan tangannya yang kurus dan rada gemetar ia tuding Lamkiong Peng dan membentak.
"Kau bela peti mati ini senekat ini, memangnya kau tahu siapa orang yang membujur di dalam peti ini?"
Keajaiban yang timbul dari peti mati ini tadi sebenarnya sudah dirasakan Lamkiong Peng, pasti ada sesuatu misteri yang belum terungkap, lamatlamat memang juga dirasakannya peti ini sangat mungkin adalah satu orang.
Yang membuatnya tidak percaya adalah tindaktanduk gurunya selama hidup terkenal gilanggemilang, tidak ada sesuatu perbuatan sang guru yang perlu dirahasiakan, tidak ada sesuatu tindakannya yang merugikan orang.
Sebab itulah ia tetap tidak percaya kepada ucapan si Tojin, jawabnya.
"Memangnya peti ini terisi seorang?"
Tojin itu tertawa dingin, katanya.
"Di dunia persilatan terkenal 'pemberani nomor satu, Put-sisin-liong, membawa peti mati untuk mencari kalah' hal ini selama beberapa puluh tahun telah menjadi buah bibir orang Kangouw, sekarang Put-si-sinliong telah mati, apakah cerita ini akan dapat turun-temurun di tengah khalayak ramai belum lagi diketahui, namun ...."
Sampai di sini mendadak ia menengadah dan tertawa keras, lalu melanjutkan.
"Padahal duduk perkara yang benar siapa yang tahu?"
Suara tertawanya itu penuh rasa ejek dan menghina, hal ini membuat Lamkiong Peng kurang senang, dengan lantang ia tanya.
"Duduk perkara apa?"
"Hm, memangnya kau kira Put-si-sin-liong selalu membawa peti dalam perjalanan benar-benar cuma bertujuan mencari lawan untuk bertanding, supaya dia sekali tempo mengalami kekalahan dan ingin mati? Huh, peti mati ini dibawanya kian kemari tidak lain adalah karena di dalam peti mati ini tersembunyi satu orang!"
"Orang apa?"
Tanya Lamkiong Peng dengan air muka berubah.
"Orang apa? .... Hahahaha!"
Kembali si Tojin bergelak tertawa keras.
"Seorang perempuan! Ya, seorang perempuan! Seorang perempuan mahajahat, perempuan jalang, tapi juga secantik bidadari!"
Seketika hati Lamkiong Peng tergetar, dadanya serasa digodam orang dengan keras, dengan mendelik ia membentak.
"Apa katamu?"
"Apa kataku?"
Si Tojin menegas dengan tertawa latah.
"Kubilang gurumu Put-si-sin-liong Liong Posi meski mendapat nama kehormatan sebagai jago nomor satu yang membawa peti mati untuk mencari kalah, yang benar perbuatannya itu hanya karena membela seorang perempuan jalang!"
Suara tertawanya tambah keras, ucapannya juga tambah lantang, seketika kumandang suara bergema dari berbagai penjuru lembah gunung dan bergemuruh kata "perempuan jalang ... perempuan jalang."
Gema suara yang menusuk telinga itu serupa sebilah belati tajam menikam hati Lamkiong Peng.
Maklum, hal ini menyangkut orang yang paling dihormatinya.
Meski sedapatnya ia menahan perasaannya, namun darah panas yang bergejolak sukar ditahan, mukanya yang putih berubah menjadi merah padam, mendadak ia berteriak.
"Diam! Berani kau singgung lagi kehormatan guruku segera ku ...."
"Hahaha, kehormatan gurumu?"
Potong si Tojin dengan menjengek.
"Hm, apa yang kukatakan tadi justru berdasarkan fakta, semuanya kejadian nyata. Jika engkau tidak percaya, boleh coba kau buka dan periksa peti itu, segera akan kau ketahui sesungguhnya siapa yang tersembunyi di situ."
"Memangnya siapa?"
Tanya Lamkiong Peng.
"Meski usiamu masih muda, tapi sebagai orang persilatan tentu pemah kau dengar nama ...."
Si Tojin merandek, lalu sekata demi sekata menyebut.
"Kong-jiok Huicu Bwe Kim-soat!"
Seketika Lamkiong Peng merinding dan tidak bersuara. Didengarnya si Tojin berucap pula seperti orang berpantun.
"Segala makhluk di dunia ini mana yang paling berbisa, ialah Kong-jiok Huicuempedu si merak ...."
Suaranya menjadi lemah dan terputus, air mukanya juga pucat dan tampak berkerut-kerut penuh derita. Dengan suara berat Lamkiong Peng bertanya.
"Kong-jiok Huicu apakah sama orangnya dengan Leng-hiat Huicu?"
Si Tojin mendengus, tanpa memandangnya ia menyambung lagi ucapannya tadi.
"Seratus burung sama menyembah Tan-hong, cuma sang merak sendiri tetap jaya ...."
Dengan mendongkol Lamkiong Peng memotong.
"Apakah tidak kau dengar pertanyaanku?"
Namun si Tojin tetap menengadah dan berdendang pula.
"Kong-jiok Huicu darahnya sudah dingin (Leng-hiat), si cantik berdarah dingin tidak diketahui orang, saking marah naga sakti turun ke bumi, terjadilah pertempuran sengit di Hoa-san, naga sakti terkenal tak termatikan, seratus kali tempur seratus kali menang, betapa pun sayap sang ratu merak tak terbentang lagi, sejak itu hilanglah bisul dunia persilatan, naga sakti semakin tangkas tak termatikan!"
Selesai mendengarkan dendang si Tojin, Lamkiong Peng menegas.
"Jika begitu, jadi Kongjiok Huicu memang sama dengan Leng-hiat Huicu?"
Dengan sorot mata tajam si Tojin menjawab "Betul, Bwe Kim-soat memang sama dengan Bwe Leng-hiat."
Mendadak ia menengadah dan tertawa dingin pula, katanya.
"Hm, Kim-soat, Leng-hiat! Hehe, indah benar namamu! Aku Kong ... aku sungguh penasaran."
"Kong apa katamu?"
Tanya Lamkiong Peng.
"Untuk apa kau tanya, peduli apa denganmu?"
Jawab si Tojin ketus.
"Hm, jika engkau sengaja main sembunyi kepala unjuk ekor dan tidak mau memberitahukan namamu yang sebenarnya, huh, aku pun tidak sudi bertanya,"
Jengek Lamkiong Peng. Kembali si Tojin cuma mendengus dan memandang ke langit. Dengan suara bengis Lamkiong Peng berteriak.
"Tadi kau bilang seorang disembunyikan di dalam peti dan orang ini ialah Kong-jiok Huicu Bwe Kimsoat, begitu bukan?"
"Ya, ada apa?"
Jengek si Tojin.
"Lalu kau dendangkan pantun yang dahulu tersiar di dunia Kangouw, masakah engkau tidak tahu kisah yang terkandung di dalam pantun itu?"
"Masa aku tidak tahu?"
"Jika tahu, kenapa kau hina guruku dengan macam-macam perkataanmu tadi? Padahal dahulu Kong-jiok Huicu Bwe Kim-soat malang-melintang di dunia Kangouw, dengan Kungfunya yang tinggi dan kecerdasan dan kecantikannya, entah betapa banyak orang persilatan yang telah menjadi korbannya sehingga orangnya mati dan keluarga berantakan, akan tetapi toh tetap tidak sedikit orang yang terpikat oleh kecantikannya dan berlutut di bawah kakinya."
"Hm, ternyata kau pun tahu kisahnya!"
Jengek si Tojin. Lamkiong Peng melototinya sekejap, lalu menyambung.
"Meski orang persilatan sama benci padanya, tapi juga terpikat oleh kecantikannya dan jeri terhadap Kungfunya sehingga tidak ada yang berani bertindak padanya. Guruku menjadi gusar dan tampil ke muka untuk menyelesaikan urusan ini, di puncak Hoa-san terjadi pertempuran selama tiga hari, akhirnya dengan ilmu pedang yang tidak ada taranya guruku berhasil menumpasnya. Tatkala mana tidak sedikit jago persilatan sama menanti kabar di kaki gunung, ketika melihat guruku turun sendirian tanpa cedera, semua orang bersorak gembira, betapa senang mereka waktu itu sampai belasan li jauhnya dapat mendengar suara sorak-sorai mereka."
Ia berhenti sejenak, wajahnya menampilkan rasa kagum dan juga bangga, lalu menghela napas dan berkata.
"Cuma sayang waktu itu aku belum masuk ke perguruan Suhu sehingga tidak dapat ikut menyaksikan adegan berjaya itu. Namun kejadian ini cukup diketahui setiap orang persilatan, meski guruku tidak pemah bereerita, dapat juga kudengar kisah ini dari orang lain. Tapi sekarang engkau justru bilang Kong-jiok Huicu Bwe Kim-soat belum mati, malahan mengatakan dia bersembunyi di dalam peti mati ini, sesungguhnya apa maksud tujuanmu? Hm, kalau tidak kau jelaskan sekarang juga, jangan menyesal bila terpaksa aku harus bertindak."
Si Tojin mendengarkan dengan diam, wajahnya menampilkan sikap menghina. Setelah Lamkiong Peng selesai bicara barulah ia menanggapi dengan gelak tertawa.
"Hah, murid membual bagi sang guru, wahai Liong Po-si, jika kau tahu di alam baka tentu kau pun akan merasa malu."
Alis Lamkiong Peng menegak, bentuknya.
"Kau bilang apa?"
Segera ia putar pedangnya dan siap menusuk. Namun si Tojin tetap tenang saja tanpa gentar, ucapnya.
"Tampaknya engkau sedemikian kagum dan hormat kepada gurumu, biarpun kuceritakan lagi seratus kali juga tidak ada gunanya."
"Ya, engkau memang tidak perlu lagi putar lidah ...."
"Tapi meski tidak kau percayai keteranganku, mengapa tidak coba kau buka peti mati itu, lihatlah apakah yang tersembunyi di situ bukan Bwe Kim-soat, perempuan jalang yang diludahi setiap orang persilatan itu,"
Teriak pula si Tojin dengan gemas.
Mau tak mau hati Lamkiong Peng menjadi goyah, ia pikir orang bicara secara begini, apakah mungkin dia berdusta?
Tapi lantas terpikir bila orang tidak berdusta,kan hal itu berarti gurunya memang benar telah menyembunyikan Kong-jiok Huicu yang terkutuk itu di dalam peti mati untuk mengelabui mata telinga orang persilatan.
Padahal tindak tanduk sang guru selama hidup selalu gilang-gemilang, mana mungkin melakukan hal tercela begini?
Begitulah mulai timbul pertentangan batin anak muda itu.
Didengarnya si Tojin berkata pula.
"Asalkan kau mau membuka tutup peti itu, bilamana isinya bukan Leng-hiat Huicu, segera aku akan membunuh diri, mati pun aku sukarela dan takkan menyesali dirimu."
Kening Lamkiong Peng bekernyit, ia menunduk dan berpikir menahan pertentangan batin.
Jika dia membuka tutup peti berarti dia tidak lagi memercayai sang guru yang biasanya sangat dihormatinya itu.
Tapi kalau peti tidak dibuka, rasanya sukar menghilangkan rasa curiga sendiri.
Melihat air muka Lamkiong Peng yang tampak serbasusah itu, si Tojin mendengus pula.
"Jika engkau tidak berani membuka peti itu, hal ini pun menandakan engkau tidak percaya sepenuhnya terhadap pribadi gurumu."
"Tutup mulut!"
Bentak Lamkiong Peng dengan gusar. Si Tojin anggap tidak mendengar dan tetap bicara.
"Kalau peti itu kosong umpamanya, gurumukan juga tidak pemah melarang engkau membuka peti ini. Lantas apa sebabnya engkau tidak berani membukanya?"
Diam-diam Lamkiong Peng merasa ragu, dengan kereng ia berteriak pula.
"Kalau di dalam peti tidak tersembunyi orang, apakah betul engkau akan ...."
"Ya, seketika juga aku akan membunuh diri di depanmu, pasti takkan kujilat ludahku sendiri,"
Seru si Tojin tegas.
"Baik,"
Bentak Lamkiong Peng mendadak sambil membalik kesana menghadapi peti mati yang tergeletak di tanah itu. Tojin itu lantas melompat maju ke samping peti, ucapnya.
"Engkau yang membukanya atau aku?"
Lamkiong Peng ragu dan berpikir.
"Jika benar peti ini terisi orang, tentu dia telah mendengar percakapan kami, mana mungkin sejauh ini tidak memperlihatkan sesuatu gerak-gerik."
Karena pikiran ini, dia tambah yakin pada pendirian sendiri, dengan lantang ia menjawab.
"Barang tinggalan guruku mana boleh dikotori oleh tanganmu, dengan sendirinya harus aku yang membukanya."
"Jika begitu, tidak perlu banyak omong lagi, lekas buka!"
Seru si Tojin sambil memandangi peti itu tanpa berkedip, nadanya juga penuh yakin pada apa yang dikatakannya, scakan-akan begitu peti terbuka segera akan terlihat Leng-hiat Huicu membujur di dalam peti dalam keadaan hidup, padahal di dunia Kangouw perempuan jalang itu disiarkan sudah lama mati.
Perlahan Lamkiong Peng mengangkat pedang hijau untuk dimasukkan ke sarungnya, gemerdep sinar pedang mengingatkan dia sarung pedang itu telah dihilangkan olehnya, segera pula terlihat olehnya pada pangkal pedang terikat sepotong kain sutera kuning muda, maka teringat lagi olehnya ucapan Yap Man-jing tentu inilah pesan tinggalan sang guru yang khusus ditujukan kepadanya.
Maklumlah, bukan dia pelupa, soalnya kejadian seharian ini benar-benar membuat pikirannya kusut sehingga hal ini terlupakan seketika.
Maka buru-buru ia melepaskan kain kuning itu dan disimpan di dalam baju Selesai pedang dimasukkan ke dalam sarung, perlahan Lamkiong Peng memegang ujung peti mati dan diam-diam mengerahkan tenaga.
Dengan mata melotot si Tojin bergumam.
"Wahai Bwe Kim-soat, betapa pun kini dapat kulihat dirimu pula ...."
Dilihatnya Lamkiong Peng telah mengangkat tutup peti, ujung peti terangkat dua-tiga kaki ke atas, tapi tutup tidak terbuka melainkan tetap lengket dengan bagian bawah peti.
Lamkiong Peng melengak dan menaruh kembali peti itu, ucapnya perlahan.
"Peti ini sudah dipantek, sukar terbuka!"
"Hm, ini suatu bukti lagi, jika peti kosong, kenapa mesti dipantek"
Jengek si Tojin, lalu dia mengitari peti itu dengan perlahan sambil mengawasi dengan teliti. Tiba-tiba ia mengangkat telapak tangan kanan terus menabok pangkal peti mati.
"Tahan!"
Bentak Lamkiong Peng cepat, pedang dilolos terus menebas ke kuduk si Tojin, jika orang tidak menarik tangan dan menghindar, kepalanya pasti akan terpenggal.
Terpaksa si Tojin mendak ke bawah sambil menggeser ke samping, pedang menyambar lewat hampir menebas sanggulnya.
Dengan gusar ia mendamprat.
"Huh, menyerang dari belakang, terhitung kesatria macam apa?"
"Peti pusaka guruku mana boleh sembarangan dikotori oleh tanganmu!"
Jengek Lamkiong Peng. Muka si Tojin sebentar merah sebentar pucat, ia melototi Lamkiong Peng sekejap, mendadak ia melengos dan mendengus.
"Hm, kau tahu apa? Kedua biji mata naga yang terukir di pangkal peti itulah merupakan kunci untuk membuka peti!"
Walaupun tidak percaya, tidak urung Lamkiong Peng mengamat-amati juga bagian peti yang disebut itu, dilihatnya memang benar kedua biji mata naga yang terukir di atas peti itu tampak sangat mencolok, meski peti ini terbuat dari kaya cendana yang sangat mahal tapi karena kehujanan dan kepanasan sekian lama, peliturnya sudah luntur sehingga peti kelihatan tua, hanya biji mata naga ini masih mengilat, hal ini menandakan bagian ini sering dipegang dan diraba.
Diam-diam Lamkiong merasa gegetun, pengamatan sendiri memang kalah teliti dibandingkan orang lain.
Perlahan ia lantas menjulurkan tangan untuk memegang biji mata naga dan diputar.
Terdengarlah suara "kreekk", nyata bagian putaran sudah bekerja.
"Coba angkat lagi!"
Kata si Tojin. Kedua orang saling pandang dengan tegang, jantung mereka sama berdebar. Tangan Lamkiong Peng agak gemetar, mendadak ia membentak.
"Naik! ...."
Dan .... Begitu tutup peti mati terbuka, seketika kedua orang berdiri melongo seperti patung. Butiran keringat tampak berketes dari dahi si Tojin, dengan muka pucat ia bergumam.
"Ini ... ini ... dia ... dia ...."
Kiranya peti mati itu kosong melompong tiada terisi sesuatu. Muka Lamkiong Peng berubah pucat, mendadak ia membentak.
"Kau berani main gila ...."
Ia putar pedangnya terus menusuk si Tojin.
Saat itu si Tojin lagi memandangi peti kosong dengan linglung, tusukan Lamkiong Peng seolaholah tidak dilihatnya, tertampak bibirnya bergerak seperti mau bicara, tapi hanya sempat terucapkan.
"Peti ini tentu ...."
Tahu-tahu dada kiri sudah tertusuk oleh pedang Lamkiong Peng.
Dada kiri tepat di atas jantung, bagian yang mematikan, keruan darah lansas munerat membasahi jubah pertapaannya.
Tojin itu tampak melongo kaget, ia mengerang dan meraih batang pedang, tubuh bergoyang, dengan sinar mata buram ia pandang Lamkiong Peng, dengan suara terputus-putus ia berucap.
"Suatu ... suatu hari kelak kau pasti akan ... akan menyesal ...."
Suaranya serak, pedih dan penuh rasa penasaran, tapi lemah dan akhirnya roboh terkulai.
"Bluk", tutup peti juga menutup kembali terlepas dari pegangan Lamkiong Peng, ia pandang jenazah yang menggeletak tak bergerak itu, lalu memandang pedang yang dipegangnya dengan terkesima, tetes darah terakhir pada ujung pedang baru saja menitik. Karena guncangan emosinya, hampir saja ia lemparkan pedang itu ke jurang, ia berdiri termenung dan bergumam.
"Akhirnya aku ... aku membunuh orang ...."
Untuk pertama kalinya ia membunuh orang, sungguh tidak enak perasaannya.
Padahal Tojin ini baru saja bertemu dengan dia, bahkan nama masing-masing saja tidak tahu, namun jiwa orang yang tak dikenalnya ini sekarang telah melayang di bawah pedangnya.
Dengan bimbang ia angkat peti mati itu dan melangkah ke arah datangnya tadi, kembali ke puncak Jong-liong-nia, tiba-tiba teringat olehnya.
"Seyogianya kukubur mayat Tojin itu ...."
Cepat ia berlari lagi kesana .
Tapi aneh, darah masih kelihatan bereeceran di tanah, namun jenazah si Tojin yangmalang itu sudah menghilang entah ke mana.
Suasana sunyi senyap, angin meniup kencang, gumpalan awan mengambang di udara, Lamkiong Peng berdiri bingung di situ, ia memandang ke jurang yang tak terkirakan dalamnya itu, ia mengira mayat si Tojin mungkin tertiup angin ke dalam jurang, diam-diam ia berdoa semoga roh si Tojin mendapatkan tempat yang lapang di alam baka.
Entah berapa lama lagi, akhirnya ia merasakan hawa tambah dingin, ia angkat peti mati dan menuruni puncak gunung itu, setiba di pinggang gunung, angin dingin rada mereda, suasana lereng pegunungan semakin sunyi.
Pikiran Lamkiong Peng juga tambah kusut, selain rasa penyesalannya terhadap si Tojin yang terbunuh olehnya itu, dalam hati juga penuh tanda tanya yang belum terpecahkan.
Yang aneh dan membingungkannya adalah peti mati kayu cendana yang dibawanya ini sesungguhnya mengandung rahasia apa sehingga mendiang sang guru perlu memberi tugas khusus kepadanya untuk menjaga peti mati ini.
Ia mencari tempat sepi di bawah pohon yang rindang, perlahan ia menaruh peti mati itu di atas tanah rumput yang mulai layu.
Ia coba menyingkap lagi tutup peti, jelas kosong tanpa sesuatu isi apa pun.
Ia coba meneliti lagi, ia merasakan dipandang dari luar peti ini cukup besar, namun bagian dalam peti ternyata sangat dangkal dan sempit.
Pada papan peti yang berwama gelap itu seperti ada beberapa titik noda minyak, kalau tidak diperiksa dengan cermat sukar mengetahuinya.
Namun tetap tidak ditemukannya sesuatu tanda mencurigakan pada peti mati itu.
Ia duduk di bawah pohon dan mengelamun dengan bertopang dagu, sukar baginya memecahkan tanda-tanda tanya ini, ia sampai lupa mencari tahu sebab apa para saudara seperguruannya sampai saat ini belum kelihatan menyusulnya.
Ia coba mengeluarkan kain kuning tinggalan sang guru, ikut terogoh keluar bangkai burung yang mati menumbuk dinding tebing dan hampir menimpanya itu.
Kain sutera kuning itu dibentangnya, tertampaklah tulisan tangan yang sudah dikenalnya dengan baik, yaitu tulisan sang guru, ia coba membacanya.
"Selama hidupku memang tidak sedikit kubunuh orang, namun orang yang kubunuh itu adalah orang yang pantas dibunuh, sebab itulah hidupku boleh dikatakan tidak ada yang perlu disesalkan ...."
Tulisan sang guru ini mengingatkan Lamkiong Peng kepada si Tojin yang dibunuhnya itu, pikirnya.
"Apakah aku pun tidak perlu menyesal setelah membunuh Tojin itu?"
Lalu teringat juga oleh uraian si Tojin tentang pribadi gurunya, jika hidup sang guru tidak ada sesuatu yang perlu disesalkan, apa yang dikatakan si Tojin pasti tidak betul.
Maka dengan penuh keyakinan ia membaca lagi.
"Namun selama hidupku toh ada juga sesuatu yang membuatku menyesal ...."
Terkesiap Lamkiong Peng, segera ia membaca lebih lanjut.
"Belasan tahun yang lalu, di dunia persilatan tersiar berita tentang kelakuan buruk seorang, sudah cukup lama kubenci kepadanya, kebetulan seorang kawanku dicederai olehnya aku lantas mencarinya dan kubinasakan dia di bawah pedangku. Namun setelah kejadian ini barulah kutahu kesalahan sebenarnya terletak pada diri sahabatku, sebaliknya orang yang biasanya banyak melakukan kejahatan itu justru tidak bersalah, sebab itulah aku ...."
Tulisan selanjutnya mendadak sukar terbaca karena tertutup oleh darah bangkai burung.
Dengan sendirinya Lamkiong Peng mendongkol karena bagian yang penting itu tak terbaca, namun darah burung sudah kering, umpama dicuci juga tulisan itu tetap sukar dibacanya, ia coba membaca bagian bawah yang tertulis.
"Maka kuserahkan orang ini kepadamu, hendaknya kau jaga dia dengan baik ...."
Bekernyit kening Lamkiong Peng gumamnya heran.
"Dia? .... Dia siapa?"
Setelah termenung sejenak, ia membaca pula.
"Karena terburu-buru harus berangkat sehingga tidak sempat kuberi tahukan urusan ini kepadamu, namun pada suatu hari kelak pasti dapat kau ketahui duduk perkara yang sebenarnya. Selama ini tidak ada sesuatu kebaikanku terhadapmu, hal ini pun membuatku menyesal. Semoga selanjutnya engkau berusaha maju dan menjadi manusia berguna sehingga tidak mengecewakan harapanku atas dirimu."
Lamkiong Peng membaca ulang beberapa baris terakhir ini dengan terharu, air mata pun berlinang-linang.
"Apakah ... apakah benar Suhu sudah meninggal? .... Pada suatu hari kelak pasti akan tahu duduk perkara yang sebenarnya ...."
Selain duka Lamkiong Peng jadi tambah curiga. Dengan bimbang ia menggali sebuah lubang kecil, lalu bangkai burung ditanamnya, gumamnya pula.
"Betapa pun antara kita ada jodoh juga. Dunia seluas ini, mengapa engkau justru jatuh menimpa diriku? Hendaknya kau pun dapat istirahat dengan tenang di liang yang kecil ini ...."
Ia menghela napas menyesal ketika teringat pula Tojin yang terbunuh olehnya mungkin mayatnya takkan terkubur selamanya di dasar jurangsana .
Ia memejamkan mata, ia inginkan ketenangan, kelelahan pun terasa menjalari sekujur badannya.
Karena harus menghadapi pertarungan pagi tadi, setiap anak murid Ci-hau-san-ceng hampir semalam suntuk tidak tidur, apalagi Lamkiong Peng harus menempur lagi si Tojin sehingga hampir seluruh tenaganya terkuras.
Kelelahan fisik membuat ketegangan batinnya agak mengendur, lamat-lamat ia tenggelam dalam kantuknya ....
Sisa cahaya senja menyinari pucuk pepohonan, hari sudah hampir gelap.
Mendadak di tengah pepohonan rindang terdengar suara "krekk", terjadi sesuatu pada peti mati kayu cendana yang misterius itu, tutup peti mati perlahan terbuka ke atas.
Meski suara ini sangat lirih, namun di tengah pegunungan yang sunyi cukup membuat jantung Lamkiong Peng berdetak, mendadak ia membuka matanya dan kebetulan dapat melihat adegan yang mengejutkan itu.
Tutup peti mati kosong itu diangkat oleh sebuah tangan yang putih halus.
Lenyap seketika rasa kantuk Lamkiong Peng, dilihatnya makin tinggi tutup peti mati itu terangkat.
Menyusul lantas tertampak sebuah wajah yang putih pucat dengan rambut hitam panjang terurai.
Betapa tabahnya Lamkiong Peng, mengirik juga melihat kejadian luar biasa ini, dengan suara gemetar ia menegur.
"Sia ... siapa kau?"
Saat itu si cantik telah mulai menegakkan tubuhnya dari dalam peti mati, perawakan yang menggiurkan itu terbungkus oleh jubah putih bersih serupa wajahnya itu.
Perlahan si cantik melangkah keluar dari peti mati dan mendekati Lamkiong Peng, air mukanya tidak ada senyuman sedikit pun, juga tidak ada wama darah, sampai bibirnya yang mungil juga putih pucat.
Melihat dia di pegunungan sunyi ini secara mendadak, siapa pun akan menyangka dia datang dari alam halus.
Lamkiong Peng mengepal tinjunya erat-erat, tangan sendiri terasa dingin, ia coba membentak lagi.
"Siapa kau?"
Selagi Lamkiong Peng hendak melompat bangun, sekonyong-konyong si cantik dari peti mati itu tertawa dan berkata dengan lembut.
"Kau takut apa? Memangnya kau sangka aku ini ...."
Mendadak ia tidak meneruskan kecuali cuma tersenyum saja.
Suaranya begitu lembut serupa sepoi angin musim semi, senyumnya begitu menggiurkan dan dapat merontokkan perasaan seorang yang berhati baja.
Rasa seram yang dibawanya ketika keluar dari peti mati itu seketika lenyap oleh suara tertawa dan kelembutan ucapnya itu.
Lamkiong Peng melenggong, ia merasa senyum si cantik dari peti mati ini terlebih menggiurkan daripadaYap Man-jing, senyum yang lebih mendebarkan bagi siapa pun yang melihatnya.
Segera Lamkiong Peng berbangkit dan berdiri berhadapan dengan si cantik, dapat dilihatnya dengan jelas wajah orang, pulih kembali rasa percaya atas diri sendiri, kembali ia menegur.
"Siapa kau?"
Si cantik memandangnya dua kejap, mendadak tertawa geli dan berucap.
"Meski usiamu masih muda belia, tapi ada bagian tertentu memang lain daripada yang lain, pantas Liong-loyacu menyerahkan diriku di bawah perlindunganmu tanpa merasa khawatir."
Lamkiong Peng lantas teringat kepada tulisan pada kain sutera kuning yang antara berbunyi.
"Maka kuserahkan orang ini kepadamu, hendaknya kau jaga dengan baik ...."
Sekarang dapat diketahuinya bahwa "si dia"
Yang dimaksudkan itu tidak lain ialah si mahacantik berwajah pucat dan berbaju putih mulus yang berdiri di hadapannya ini.
Namun tanda tanya yang lain tetap belum terjawab, diam-diam ia merasa menyesal mengapa setiap urusan terkadang bisa begini kebetulan, mengapa bagian yang penting dari tulisan gurunya itu bisa kebetulan dikotori oleh darah burung sehingga tidak terbaca.
Dilihatnya si cantik dari peti mati ini mengulet kemalasan, lalu berduduk di sebelah Lamkiong Peng dengan gaya yang memesona, lalu menengadah memandang langit dan bergumam.
"Sang waktu sudah berlalu dengan cepat, malam sudah hampir tiba pula, padahal hidup manusia bukankah berlalu dengan cepat, sejak dahulu kala hingga kini siapa yang dapat mencegah makin meningkatnya usia."
Nada ucapannya seperti menyesali kehidupan sendiri, mestinya tidak pantas seorang perempuan muda secantik bidadari bicara demikian melainkan lebih mirip suara seorang janda atau perawan tua yang menyesali nasibnya yang terlampaui secara sia-sia.
Memandangi profil si cantik yang memesona itu, tanpa terasa Lamkiong Peng bertanya.
"Apakah nona .... O, nyonya ...."
Tiba-tiba si cantik tertawa dan menukas.
"Masakah tak dapat kau bedakan diriku ini nona atau nyonya? Sungguh aneh juga."
Lamkiong Peng tergagap.
"Tapi aku ... aku tidak kenal ...."
"Jika Liong-loyacu telah menyerahkan diriku di bawah perlindunganmu, masa beliau tidak pemah berbicara denganmu mengenai diriku?"
Kening Lamkiong Peng bekernyit pula, benaknya terbayang kembali apa yang telah dibacanya, diamdiam ia membatin.
"Mungkinkah dia ini Leng-hiat Huicu yang disebut-sebut si Tojin itu? Tapi Lenghiat Huicu alias Kong-jiok Huicu itu konon sudah terkenal pada belasan tahun yang lalu, jika begitu usianya sekarang sedikitnyakan di atas 30, mengapa dia ...."
Waktu ia berpaling, dilihatnya si cantik dari peti mati ini lagi menatapnya dengan kerlingan mata yang memikat, wajahnya putih halus, kalau ditaksir usianya paling-paling juga baru 20-an saja.
"Bagaimana, kenapa tidak kau jawab pertanyaanku?"
Kata si cantik dengan tertawa sambil membelai rambutnya yang hitam panjang terurai sebatas pinggang itu. Lalu menambahkan.
"Ah, tentu ada yang sedang kau pikirkan mengenai diriku, apalagi kau sangsi mengenai umurku?"
Muka Lamkiong Peng menjadi merah, ia menunduk dan menjawab.
"Ya, memang sedang kupikirkan usiamu."
"Tentang usiaku, lebih baik jangan kau terka saja,"
Ujar si cantik dari peti mati sambil menghela napas hampa. Selagi Lamkiong Peng tercengang, terdengar si cantik telah menyambung lagi.
"Orang scusia diriku sesungguhnya tidak ingin orang berbicara lagi mengenai umurku."
Lamkiong Peng tidak berani menatapnya lagi, dalam hati ia heran mengapa nada ucapan si cantik serupa seorang nenek saja. Tanpa terasa ia berkata pula.
"Tapi engkaukan masih muda belia, mengapa ...."
Belum lanjut ucapannya, mendadak si cantik berbangkit sambil meraba wajah sendiri dan berucap dengan heran.
"Kau bilang aku masih muda belia?"
"Masa muda adalah masa bahagia orang hidup, mengapa engkau tampak kesal dan tidak bergairah hidup, jangan-jangan dalam hatimu menanggung kesedihan sesuatu urusan yang sukar diatasi ...."
Lamkiong Peng berhenti sejenak, lalu berucap pula dengan serius.
"Jika guruku telah menugaskanku untuk menjaga nona, maka sudilah nona memberitahukan kesedihan hatimu kepadaku, mungkin akan dapat kubekerja sesuatu bagimu."
Hati Lamkiong Peng suci mumi, walaupun dia tidak mengerti sebab apa gurunya menyerahkan seorang nona muda jelita di bawah perlindungannya, tapi sekali menerima amanat sang guru yang demikian itu, biarpun dia disuruh terjun ke lautan api juga takkan ditolaknya.
Tak tersangka, mendadak si cantik berucap pula perlahan.
"Apa betul begitu? ...."
Dan segera ia membalik tubuh dan berlari pergi dengan cepat. Keruan Lamkiong Peng terkesiap, teriaknya.
"Hei, mau ke mana kau?"
Tapi si cantik seperti tidak mendengar seruannya, tanpa berpaling ia terus berlari ke depan secepat terbang, dalam sekejap orangnya sudah melayang jauh, sungguh luar biasa Ginkangnya.
Meski heran dan sangsi, terpaksa Lamkiong Peng tidak sempat memikirkannya lagi, sampai peti mati itu pun tidak dihiraukan, segera ia ikut berdiri kesana sambil berseru.
"Suhu sudah menyerahkan dirimu kepadaku, kalau ada urusan ...."
Namun cuma sekejap saja bayangan si cantik sudah menghilang, ia coba mencari lagi lebih jauh ke depan dan tetap tidak terlihat bayangan orang.
"Wah, kalau dia pergi begitu saja, lalu bagaimana aku harus bertanggung jawab terhadap pesan Suhu?"
Demikian ia membatin dengan gegetun.
Pegunungan sunyi, malam sudah hampir tiba, ke mana lagi akan dapat menemukan s nona misterius tadi?
Terpaksa Lamkiong Peng cuma berlari melintasi lereng gunung itu, nama orang saja tak diketahuinya, tentu saja ia tidak dapat bersuara memanggilnya.
Di tengah desir angin tiba-tiba didengarnya gemercik air, dia memang merasa haus, segera ia mencari dan menuju ke arah suara air, Dilihatnya sebuah sungai kecil mengalir darisana , di bawah remang cahaya bulan yang baru menongol sungai itu serupa tali perak.
Setelah menyusuri hutan, sungai itu sudah kelihatan membentang di depan.
Cepat ia memburu kesana , begitu tiba di tepi sungai, segera ia meraup air untuk diminum.
Tapi baru saja ia minum dua teguk, tiba-tiba didengarnya dari hulusana berkumandang suara ngikik tawa orang perempuan.
Terbangkit semangat Lamkiong Peng, cepat ia menyusul ke hulusana mengikuti tepi sungai, tidak jauh terlihatlah sesosok bayangan putih sedang berjongkok di tepi sungai, seperti lagi memandangi air sungai, seperti juga sedang bereermin pada air sungai.
Tanpa ragu Lamkiong Peng mendekatinya dilihatnya si cantik tadi masih berjongkok tanpa bergerak dengan tertawa, lalu bergumam.
"Hah, ternyata memang benar, ternyata memang betul! ...."
Meski Lamkiong Peng sudah berada di sampingnya si cantik masih juga belum tahu, masih tetap memandangi air sungai dengan terkesima.
Sungguh tak terpikir oleh Lamkiong Peng bahwa nona misterius ini berlari ke sini hanya untuk mengelamun memandangi air sungai, ia jadi melenggong juga, ia berdiri di samping si nona, ketika ia pun melongok permukaan air sungai, tertampaklah bayangan wajah seorang bidadari yang mahacantik serupa lukisan saja.
Bayangan dalam air sungai dari seorang berubah menjadi dua, hal ini tidak dirasakan oleh si cantik dari peti mati itu, dalam pandangannya saat ini kecuali bayangannya sendiri agaknya tidak ada barang lain yang diperhatikan olehnya.
Berulang-ulang ia meraba raut wajah sendiri dengan tangannya yang putih halus sambil bergumam.
"Ternyata sungguh, ternyata benar aku masih semuda ini ...."
Lalu dia tertawa keras, tertawa senang, serunya.
"Hah, untung memang sukar diraih danmalang sukar ditolak, siapa tahu tanpa sengaja aku telah mendapatkan ilmu awet muda yang sukar dicari dan diimpi-impikan setiap orang perempuan di dunia ini."
Mendadak ia berbangkit dan berputar-putar sambil mengebaskan lengan bajunya sehingga rambutnya yang panjang ikut bertebaran di udara, rupanya saking gembiranya ia sampai menari-nari.
"Haha, sejak kini siapa lagi yang dapat mengenali aku, siapa pula yang dapat menerka aku inilah Kong-jiok Huicu ...."
Terkesiap Lamkiong Peng, tegurnya.
"Hei, jadi engkau benar Bwe Kim-soat?"
Si cantik yang sedang menari itu mendadak menggeser dan berhenti di depan anak muda itu dan menjawab.
"Betul!"
Lamkiong Peng melenggong sejenak, katanya kemudian dengan menyesal.
"Ai, tak tersangka keterangan Tojin itu ternyata benar, aku ... sungguh aku pantas mampus!"
Melihat anak muda itu merasa menyesal dan sedih, Kong-jiok Huicu Bwe Kim-soat tersenyum, perlahan ia pegang pundak Lamkiong Peng dan bertanya dengan suara halus.
"Jadi kau kenal namaku?"
"Ya, kukenal namamu,"
Sahut Lamkiong Peng dengan pikiran kusut.
"Jika begitu, apakah kau tahu orang macam apakah aku ini?"
"Ya, kutahu,"
Lamkiong Peng mengangguk.
"Suhu telah memberi pesan agar kujaga dirimu baik-baik, dengan sendirinya akan kulaksanakan perintah beliau. Siapa yang hendak mengganggumu harus berhadapan dulu denganku. Kupercaya penuh terhadap Suhu, apa yang dikatakan dan diperbuat beliau pasti tidak salah."
Bwe Kim-soat termenung sejenak, katanya kemudian dengan menghela napas.
"Ai, Liongloyacu sungguh teramat baik kepadaku."
Tangannya yang memegangi pundak Lamkiong Peng itu dari putih tadi telah berubah agak kehijauan dan kini kembali berubah putih lagi dan ditarik kembali.
Anak muda itu tidak menyadari bahwa dalam waktu singkat itu sesungguhnya dia telah lolos dari bahaya maut.
Ia pandang orang dengan bimbang dan tidak tahu apa yang harus dibicarakan pula.
"Tampaknya engkau masih sangsi terhadap diriku,"
Kata Bwe Kim-soat dengan tersenyum.
"Apakah gurumu hanya menyerahkan peti cendana kepadamu tanpa menceritakan hubungannya denganku?"
"Tidak, hanya ini saja ...."
Lamkiong Peng mengeluarkan kain sutera kuning itu.
"Boleh kau baca sendiri."
Dengan kuning bekernyit Bwe Kim-soat menerima kain kuning itu dan dipandangnya sekejap, tiba-tiba ia tanya.
"Bekas darah siapakah ini?"
"Darah burung mati!"
Tutur Lamkiong Peng.
"Burung mati apa?"
Melengak juga Bwe Kimsoat. Lamkiong Peng menceritakan apa yang dialaminya secara ringkas.
"O, kiranya begitu, semula kusangka darah gurumu,"
Ujar si cantik dengan tertawa. Dengan agak emosi Lamkiong Peng merampas kembali kain sutera itu dan berucap dengan mendongkol.
"Aku pun ingin tanya padamu, sampai ajalnya guruku tetap memikirkan kepentingan dirimu, maka dia memberi pesan padaku agar menjaga dirimu dengan baik. Sebaliknya kau, setelah mengetahui nasibmalang guruku engkau sama sekali tidak berdukacita bagi beliau, sungguh terlalu ...."
Bwe Kim-soat memandangnya beberapa kejap seperti melihat sesuatu yang lucu, mendadak ia bergelak tertawa pula dan berkata.
"Duka? Apa artinya duka! Selama hidupku belum pemah berduka bagi apa dan siapa pun, memangnya kau minta aku berduka untuk menipu dirimu dan diriku sendiri?"
Lalu dia tertawa terkial-kial lagi.
Mata Lamkiong Peng menjadi merah, tidak kepalang rasa gemasnya, tapi segera teringat olehnya akan julukan orang.
Leng-hiat Huicu, si putri berdarah dingin!
Akhirnya Lamkiong Peng menghela napas, pikirnya.
"Ya, pantas orang Kangouw menyebutnya si putri darah dingin, kiranya dia tidak kenal apa artinya berduka segala ...."
Teringat untuk selanjutnya entah berapa lama dirinya masih harus mendampingi perempuan cantik berdarah dingin ini, ia jadi sedih. Tiba-tiba Bwe Kim-soat berkata pula.
"Jangan kau kira aku sengaja tidak menghiraukan kematian gurumu, malahan seharusnya aku gembira bagi kematiannya itu."
Gusar sekali Lamkiong Peng oleh ucapan orang yang keji itu, dampratnya.
"Kalau saja guruku tidak menyuruhku menjaga dirimu, bisa jadi akan ku ...."
"Hm, apakah kau tahu sebab apa gurumu menyuruhmu menjaga diriku?"
Jengek Bwe Kimsoat.
"Apa pun juga, yang jelas Suhu telah salah menilai orang,"
Jawab Lamkiong Peng dengan mendongkol.
"jika beliau memiara seekor kucing atau seekor anjing akan lebih baik ...."
"Hm, kau tahu apa?"
Jengek Bwe Kim-soat pula.
"Sebabnya gurumu berbuat demikian padaku adalah karena dia ingin menebus dosa, ingin membalas budi. Tapi biarpun begitu dia tetap bersalah padaku, maka dia mengharuskan muridnya ikut menebus dosanya yang belum lunas itu, untuk membalas budi yang belum sempat dilakukannya."
Lamkiong Peng jadi tercengang, mendadak ia balas mendengus.
"Hm, menebus dosa dan membalas budi apa segala? Memangnya guruku bisa ...."
Tapi lantas teringat olehnya tulisan pada kain kuning itu antara berbunyi "urusan ini memang salahku ....", seketika ia urung bicara lebih lanjut, pikirnya.
"Jangan-jangan Suhu memang berbuat sesuatu kesalahan terhadap dia."
"Hm, kenapa engkau tidak bicara lagi?"
Jengek Bwe Kim-soat.
"Agaknya kau pun dapat merasakan dosa yang diperbuat gurumu, bukan?"
Lamkiong Peng menunduk, mendadak ia mengangkat kepala pula dan berseru.
"Barang siapa bicara kasar terhadap guruku, tentu takkan kuampuni ...."
"Huh, jangankan di depanmu, sekalipun di depan Put-si-sin-liong juga aku berani bicara demikian, sebab aku berhak!"
"Hak apa?"
Teriak Lamkiong Peng saking tak tahan.
"Meski guruku menyuruhku menjaga dirimu, tapi engkau tidak berhak bicara sesukamu di depanku."
"Aku berhak bicara, sebab tanpa berdosa nama baikku telah dicemarkan olehnya dan tubuhku dilukainya. Aku berhak bicara, sebab Kungfu yang kulatih dengan susah payah telah dipunahkan olehnya dengan sekali pukul. Aku berhak bicara karena kebodohan dan kebandelannya telah mengorbankan masa remajaku, telah menyianyiakan sepuluh tahun masa hidupku yang paling indah, akibatnya setiap hari, siang dan malam, senantiasa berbaring di dalam peti mati yang terisolir dari dunia luar, hidup tersiksa melebihi orang hukuman ...."
Makin bicara makin emosi, nadanya yang semula dingin kini berubah menjadi teriakan serak.
Tanpa terasa Lamkiong Peng jadi ngeri, tubuh yang semula tegak menjadi agak lemas dan tidak berani bersikap keras lagi.
Mendadak Bwe Kim-soat menarik tangan Lamkiong Peng terus dibawa lari secepat terbang kesana .
Ilmu silat Lamkiong Peng mestinya tidak lemah, Ginkangnya juga sangat tinggi, tapi sekarang tanpa berdaya tangannya seperti terisaps oleh semacam tenaga mahakuat dan ikut lari terlebih cepat daripada Ginkang sendiri.
Selagi ia bermaksud meronta untuk melepaskan diri, dilihatnya lari orang sudah mulai mengendur, tempat yang dituju ternyata hutan tadi, di situ peti mati masih tertinggal.
Begitu tiba di depan peti mati, segera Bwe Kimsoat membuka tutup peti dan berteriak.
"Nah, di dalam peti inilah kuhidup selama sepuluh tahun. Kecuali pada malam hari gurumu mengangkatku keluar untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang perlu, boleh dikatakan tidak pemah kukeluar dari sini."
Dia berhenti sejenak, lalu menyambung.
"Nah, boleh coba kau bayangkan, kehidupan macam apakah selama sepuluh tahun ini, bagimu mungkin sepuluh hari saja tidak tahan, apa lagi sepuluh tahun ...."
Lamkiong Peng memandang ruang peti yang sempit dan gelap itu, lalu bergumam seperti mengigau.
"Sepuluh ... sepuluh tahun ...."
Tanpa terasa ia bergidik. Cahaya bintang yang redup menyinari wajah Bwe Kim-soat yang pucat, ia menarik napas panjang, lalu berucap pula dengan hampa.
"Yang kuharap selama mengeram di dalam peti adalah datangnya malam, saat kebebasanku yang tidak panjang itu, walaupun cuma sebentar saja gurumu membawaku ke ruang yang tidak berlampu, namun bagiku saat itu serupa hidup di surga."
Tergerak pikiran Lamkiong Peng.
"Pantas kamar tidur Suhu terletak pada pojok perkampungan yang paling terpencil. Pantas juga pada malam hari beliau tidak suka memasang lampu, kamarnya juga tanpa jendela. Pantaslah setiap malam Suhu membawa peti mati ini masuk kamarnya dan ditaruh di samping tempat tidurnya ...."
Ia menghela napas panjang dan tidak berani memikirnya lebih lanjut.
Sorot mata Bwe Kim-soat bergeser di antara remang cahaya bintang dan kegelapan hutan itu seperti lagi membayangkan penderitaannya dahulu, lalu bertutur pula.
"Untunglah setiap hari datang harapanku serupa itu, kalau tidak, lebih baik kumati daripada hidup tersiksa cara begini. Dan harapan dan menanti itu sendiri pun menimbulkan derita yang tak terhingga. Pemah satu hari tanpa sengaja gurumu membuka pintu kamar sehingga ada cahaya bulan menembus masuk ke kamar, sungguh girangku tak terkatakan. Tapi di bawah sinar bulan kulihat keadaan gurumu yang semakin tua, aku menjadi sedih, sang waktu terus berlalu, kupikir aku sendiri tentu juga tambah tua ...."
Suaranya berubah menjadi lembut dan rawan, tanpa terasa Lamkiong Peng juga ikut terharu kepada sifatnya yang berdarah dingin dan mulai menaruh simpati terhadap nasibnya yangmalang , ia menghela napas dan berkata.
"Yang sudah lalu biarlah lalu, jangan kau ...."
"Sudah lalu? .... mendadak Bwe Kim-soat bergelak tertawa pula.
"Put-si-sin-liong sudah mati, secara ajaib aku tetap awet muda, aku tidak perlu terkurung lagi di dalam peti mati. Malahan orang di dunia tidak ada yang tahu asal-usulku yang sebenarnya ... kecuali kau!"
"Secara ajaib engkau telah bertahan awet muda, secara ajaib pula telah pulih kehidupanmu yang bebas, untuk itu seharusnya engkau bersyukur dan berterima kasih dan bukan merasa dendam, meski aku ...."
"Aku berterima kasih apa?"
Jengek Bwe Kim-soat.
"Berterima kasih kepada Thian yang maha pengasih,"
Jawab Lamkiong Peng.
"Hmk!"
Dengus Bwe Kim-soat sambil mengebaskan lengan baju dan melangkah kesana .
Seperti orang linglung Lamkiong Peng memandangi bayangan punggung orang yang ramping dengan gayanya yang memesona itu, ketika bayangan orang hampir menghilang di kegelapansana , cepat ia memburu maju dan menegur.
"Nona Bwe, engkau hendak ke mana?"
Mendadak Bwe Kim-soat berpaling dan berkata kepadanya dengan dingin.
"Kau tahu, orang bodoh di dunia ini sangat banyak, tapi tidak ada yang lebih bodoh daripadamu."
Dengan bingung Lamkiong Peng menjawab dengan gelagapan.
"Iy ... iya ...."
Sorot mata Bwe Kim-soat yang dingin itu tibatiba timbul secercah cahaya kelembutan, namun di mulut dia tetap bicara dengan ketus.
"Jika engkau bukan orang bodoh, tadi waktu kubilang 'kecuali kau', seharusnya kau lari segera!"
"Tapi mana boleh kutinggalkan dirimu?"
Jawab Lamkiong Peng tegas.
"Suhu telah menyerahkan dirimu di bawah penjagaanku, jika kutinggal pergi, lalu cara bagaimana aku harus bertanggung jawab terhadap beliau?"
"Tanggung jawab apa? Put-si-sin-liongkan sudah mati?!"
Jengek Kim soat. Lamkiong Peng menarik muka, jawabnya tegas.
"Tidak peduli beliau sudah meninggal atau tidak tetap tidak dapat kulanggar amanat tinggalan beliau."
"Lantas cara bagaimana akan kau jaga diriku?"
Tanya Bwe Kim-soat. Bibir Lamkiong Peng bergerak, namun sukar untuk menjawab. Bwe Kim-soat membetulkan rambutnya yang terurai di depan dadanya ke belakang punggung, lalu mendengus.
"Hm, jika engkau tidak mau pergi dan tetap ingin 'menjaga' diriku, apakah selanjutnya engkau akan selalu mengikuti aku?"
"Ya, memang begitulah perintah guruku,"
Jawab Lamkiong Peng.
"Sungguh begitu?"
Bwe Kim-soat menegas dengan tertawa. Lamkiong Peng tidak berani memandang tertawa orang yang menggiurkan itu, dengan prihatin ia menjawab.
"Menurut pesan Suhu, aku diharuskan menjaga peti mati dan tidak boleh meninggalkannya, maksud beliau dengan sendirinya aku diharuskan menjaga dirimu setiap saat."
Setelah bicara demikian, diam-diam timbul juga rasa sangsinya.
"Ilmu silatnyakan jauh lebih tinggi daripadaku, mengapa Suhu menugaskanku menjaga dia? Jika Kungfunya begitu tinggi, setiap saat mestinya dia dapat membobol peti mati dan pergi sesukanya, mengapa hal ini tidak dilakukannya?"
Selagi dia merasa heran, terdengar Bwe Kim-soat berkata pula dengan tertawa.
"Jika demikian, bolehlah kau ikut diriku, ke mana pun kupergi boleh kau ikut."
Habis berkata ia lantas melangkah ke depan. Jantung Lamkiong Peng berdetak dan entah bagaimana rasanya, pikirnya.
"Apa benar harus kuikut dia ke mana pun juga?"
Tapi tidak urung kakinya ikut melangkah ke sana, katanya.
"Demi melaksanakan amanat guru, biarpun kau pergi ke ujung langit juga akan kuikuti."
"Ujung langit ...."
Perlahan Bwe Kim-soat mengulang kata itu dengan tersenyum.
Tanpa terasa muka Lamkiong Peng menjadi merah.
Perasaan kedua orang itu sungguh sukar diraba oleh siapa pun juga, hubungan mereka yang aneh juga sukar dilukiskan.
Bwe Kim-soat berjalan di depan dan Lamkiong Peng ikut di belakang, berulang Bwe Kim-soat membelai rambutnya yang panjang, agaknya dia juga banyak menanggung pikiran.
Malam tambah larut, di suatu sudut yang paling gelap di tengah hutan sana mendadak melayang keluar sesosok bayangan orang berbaju hitam tanpa suara, dia memondong seorang pula yang agaknya terluka parah.
Dalam kegelapan wajah orang itu tidak terlihat jelas, juga tidak jelas siapa orang terluka yang dibawanya itu, hanya terdengar dia membisiki telinga yang terluka.
"Apakah engkau merasa agak baikan?"
Yang luka itu menjawab lemah.
"Ya, sudah baikan, kalau bukan Anda ...."
"Sungguh aku tidak mampu membawamu turun dari Hoa-san sini,"
Potong orang berbaju hitam itu.
"dalam keadaan terluka parah engkau juga tidak dapat ditinggalkan di tengah pegunungan sunyi ini. Terpaksa engkau harus menahan sakit dan jangan bersuara, minumlah obat yang kutaruh di dalam bajumu itu menurut waktunya, dalam beberapa hari saja kesehatan tentu akan pulih, tatkala mana engkau tentu sudah berada di bawah gunung dan dapat mencari kesempatan untuk melarikan diri."
Dengan mengertak gigi orang yang luka itu merintih kesakitan, lalu berkata dengan lemah.
"Budi pertolonganmu pasti akan ...."
"Sudahlah, jangan banyak bicara lagi,"
Potong si baju hitam.
"Saat ini mereka pasti takkan membuka lagi peti mati ini, Bwe Kim-soat juga pasti tak mau masuk lagi ke dalam peti. Asalkan dapat kau tahan rasa sakit pada saat tubuh berguncang, tentu engkau dapat mencapai kaki gunung dengan aman."
Sembari bicara ia lantas membuka tutup peti cendana itu, orang luka itu dimasukkannya dengan perlahan, lalu berkata pula.
"Obatku ini selain dapat menyembuhkan luka, juga dapat membuatmu tahan lapar, maka jangan khawatir!"
Si luka yang sudah berbaring di dalam peti bertanya.
"Bila tidak keberatan, sudilah memberitahukan nama Anda ...."
"Namaku tentu akan kau ketahui kelak,"
Si baju hitam memberi tanda supaya jangan bicara lagi, perlahan tutup peti lantas dirapatkannya kembali.
Setelah menyapu pandang sekejap sekeliling situ lalu membalik tubuh dan berlari cepat ke arah Jong-liong-nia.
Saat itu Bwe Kim-soat dan Lamkiong Peng sedang melangkah tanpa tujuan serupa orang mimpi menjalan.
Setelah berjalan sekian lama, mendadak Bwe Kim-soat berkata.
"Engkau berasal dari keluarga terhormat dan perguruan temama, jika engkau berjalan bersamaku seperti ini, apakah tidak takut menimbulkan desas-desus umum yang mencemarkan namamu?"
Dia bicara tanpa berpaling sehingga tidak diketahui bagaimana air mukanya. Langkah Lamkiong Peng agak merandek, jawabnya dengan tegas.
"Asalkan hati kita tidak merasa berdosa, pula semua ini atas amanat guruku, hanya desas-desus orang iseng saja takkan menjadi soal bagiku, apalagi ...."
Ia berdehem dan tidak melanjutkan.
"Apalagi usiaku sedikitnya belasan tahun lebih tua daripadamu sehingga pada hakikatnya tidak perlu khawatir dicurigai orang, begitu bukan maksudmu?"
Tanya Bwe Kim-soat mendadak sambil berpaling. Lamkiong Peng melenggong sejenak, jawabnya kemudian dengan menunduk.
"Ya, begitulah."
"Jika demikian, harus kau terima suatu syaratku,"
Kata Kim-soat pula.
"Syarat? ...."
"Ya, yaitu tidak boleh kau katakan nama asliku terhadap siapa pun."
"Sebab apa?"
"Jika namaku diketahui orang bahwa aku masih hidup segar bugar di dunia persilatan, sekalipun gurumu sendiri tidak mampu melindungi diriku apalagi engkau?"
"Oo,"
Melengak Lamkiong Peng. Pikirnya.
"Dia pasti banyak musuh di dunia persilatan, bilamana musuhnya mengetahui dia belum mati pasti akan mencari dia dan menuntut balas padanya."
Seketika seperti terngiang pula di tepi telinganya kata-kata si Tojin.
"... Perempuan jalang, perempuan jahat ...."
Mendadak timbul pertentangan batinnya, masakah dirinya harus membela seorang perempuan semacam ini? Tapi lantas teringat lagi.
"Jika Suhu sendiri membelanya, tugas ini lalu diserahkan lagi kepadaku, kuyakin tindakan beliau pasti benar, mana boleh kulanggar amanat guru?"
Selagi terjadi pergolakan pikirannya, didengarnya Bwe Kim-soat bertanya pula.
"Kau terima syaratku?"
"Ya,"
Jawab Lamkiong Peng segera. Bwe Kim-soat memandangnya sekejap sambil tertawa lembut, katanya.
"Meski di mulut kau terima dengan baik, tapi di dalam hati enggan, betul tidak?"
Waktu Lamkiong Peng mengangkat kepalanya, di bawah malam tertampak wajah Bwe Kim-soat yang cantik laksana bidadari itu, seketika hatinya bergetar, pikirnya.
"Perempuan secantik ini mengapa bisa berbuat jahat dan jalang?"
"Betul tidak?"
Kembali Bwe Kim-soat menegas sambil mendekati anak muda itu.
"Apa yang kuucapkan sama dengan apa yang kupikirkan,"
Jawab Lamkiong Peng sambil menunduk, terendus bau harum semerbak, tahulah dia orang telah berada di sampingnya. Didengarnya Bwe Kim-soat bicara pula dengan lembut.
"Kutahu sekali kau terima syaratku, selamanya tentu akan kau pegang teguh. Akan tetapi perlu kuberi tahukan pula bahwa perangaiku sangat aneh, terkadang bisa membikinmu tidak tahan, dalam keadaan begitu lantas bagaimana tindakanmu?"
Kening Lamkiong Peng bekernyit.
"Asalkan engkau tidak berbuat sesuatu yang membikin susah orang, urusan lain aku pasti tahan."
Tiba-tiba dirasakannya bila dirinya terus mendampinginya cara begini, kecuali melaksanakan amanat sang guru dapat juga setiap saat mencegahnya berbuat sesuatu yang tidak baik.
Jangan-jangan maksud tujuan amanat sang guru yang menugaskan dia menjaganya justru demikianlah adanya?
Berpikir sampai di sini, mendadak dadanya terasa lapang, apa alangannya mengalami sedikit hinaan asalkan dapat memperbaiki watak seorang jahat menuju ke jalan yang benar?
Segera ia angkat kepala dan memandang orang dengan ikhlas.
"Sudah malam, tentu kita tidak dapat tinggal di sini,"
Kata Bwe Kim-soat dengan tersenyum lembut.
"Ya, kita turun saja ke bawah,"
Kata Lamkiong Peng. Tapi belum jauh mereka berjalan, tiba-tiba Lamkiong Peng berseru.
"Nanti dulu, nona Bwe!"
"Ada apa?"
Tanya Bwe Kim-soat sambil berpaling.
"Harap nona menunggu sebentar, ada urusan yang perlu ku ...."
Baca Juga: Anak Rajawali 5
Baca Juga: Kisah Si Rase Terbang 4