Ceritasilat Novel Online

Imbauan Pendekar 5

Eps 5 Imbauan Pendekar - Khu Lung

Baca online Imbauan Pendekar - Khu Lung

Cersil Imbauan Pendekar - Khu Lung.

"Lalu Tong-locianpwe menerima permintaannya?"

Tanya Yang Cu-kang lagi.

"Tidak, meski ayah adalah kepala keluarga, tapi peraturan leluhur betapapun tidak berani dilanggar oleh beliau."

"Dan kalau senjata rahasia tidak dipinjamkan kepada orang itu, maka orang yang menewaskan Tong-locianpwe juga bukan dia."

Ujar Yang Cu-kang.

"Kudengar orang itu masih terus membujuk,"

Demikian Tong Lin menyambung.

"ku kuatir ayah akan terbujuk akhirnya, maka cepat ku masuk ke situ. Sebab kuyakin bilamana ada orang ketiga ikut hadir, tentu orang itu tidak leluasa untuk bicara lagi."

"Dan dia juga melihat kedatanganmu?"

Tanya Yang Cu-kang.

"Dia bukan orang buta, masa tidak melihat kedatanganku?"

Jawab Tong Lin.

"Meski kedatanganku membuatnya agak terkejut, tapi dia ternyata tidak mengurungkan maksud tujuannya."

"O, dia kenal kau?"

Tanya Yang Cu-kang. Tong Lin mengangguk, jawabnya dengan muram.

"Justru lantaran kukenal dia, makanya aku tidak mencurigai dia. Siapa tahu pada saat aku lengah, sebiji Tok-cit-le yang kubawa telah dicuri olehnya."

Gemerdep sinar mata Yang Cu-kang, tiba-tiba ia mendengus.

"Hm, rupanya orang itupun seorang copet sakti."

"Gerak tangannya sungguh halus dan cepat, bukan saja aku tidak tahu sama sekali, bahkan ayah juga tidak mengetahuinya.

"sambung Tong Lin dengan menyesal.

"Kau datang ke kamar ayahmu, untuk apa kau bawa senjata rahasia?"

Tanya Yang Cu-kang dengan melotot.

"Anak murid keluarga Tong tidak pernah meninggalkan senjata rahasianya, pada waktu tidurpun selalu membawanya,"

Jawab Tong Lin.

"Apakah inipun peraturan leluhur kalian?"

Tanya Yang Cu-kang.

"Betul,"

Jawab Tong Lin tegas.

"Dan dengan Tok-cit-le yang dicurinya darimu itu digunakannya untuk membunuh ayahmu?"

Tanya Yang Cu-kang lagi. Tong Lin menunduk dengan muram, sambungnya lagi,"

Pada waktu ia mohon diri, ayah mengantarnya keluar, setiba di ambang pintu, mendadak dia membalik badan dan memberi hormat, tapi kesempatan itu telah digunakannya menepuk sekali di dada ayah, siapapun tidak menyangka pada telapak tangannya tersembunyi senjata rahasia, lebih-lebih tidak menyangka hanya lantaran ayah menolak meminjamkan senjata rahasia kepadanya, lalu dia turun tangan keji terhadap ayah."

Sampai di sini ceritanya, tanpa terasa semua orang percaya tujuh bagian kepadanya.

Sebab meski urusan ini tidak seluruhnya masuk akal, tapi urusan sudah terlanjur begini, betapapun Tong Lin sendiri ikut bertanggung jawab, jadi mustahil dia berdusta hal-hal yang tidak menguntungkan dia.

Yang Cu-kang menghela napas panjang, katanya,"

Jika demikian, jadi kau menyaksikan sendiri ketika orang itu membunuh Tong-locianpwe?"

"Betul,"

Jawab Tong Lin. Mendadak Yang Cu-kang membentak dengan gusar,"

Jika benar kau saksikan sendiri kejadian itu, mengapa baru kau ceritakan sekarang?"

Tong Lin menunduk, ucapnya dengan sedih.

"Sebab... sebab orang yang bertindak begitu adalah ...adalah bakal suamiku, ayah memang sudah menjodohkan diriku kepadanya."

Keterangan ini seketika menggemparkan para hadirin, ada yang terkejut, ada yang menyesalkan, ada yang kasihan, tapi terhadap apa yang diceritakan itu tidak curiga lagi.

Sebab kalau tidak terpaksa, tidak mungkin Tong Lin mau membeberkan rahasianya sendiri.

Diam-diam Pwe-giok juga merasa gegetun, sungguh dia tidak menyangka urusan bisa berbelit-belit begini.

Dengan menangis Tong Lin berkata pula.

"Waktu kulihat dia berani turun tangan keji terhadap ayah, sebenarnya saat itu juga ingin ku adu jiwa dengan dia, tapi hatiku menjadi lemah setelah dia membujuk rayu diriku."

"Hm, dasar perempuan,"

Jengek Yang Cu-kang.

"perempuan memang condong ke luar, kalau sudah punya suami, ayah ibu pun tak terpikir lagi. Kebanyakan perempuan di dunia memang begini, maka kaupun tak dapat disalahkan."

"Kuminta jangan kau omong lagi,"

Kata Tong Lin dengan air mata bercucuran.

"Akupun tahu dosaku, namun menyesalpun tidak keburu lagi, sebab apa yang terjadi ini tidak kubeberkan waktu itu, kemudian aku semakin tidak berani omong. Waktu ayah dimasukkan peti, akulah yang mengatur segala sesuatu, sebab ku kuatir luka di tubuh beliau diketahui orang lain."

"Jika demikian, urusan ini tiada sangkut-pautnya dengan saudaramu yang lain?"

Tanya Yang Cu-kang.

"Ya, hakekatnya mereka tidak tahu apapun,"

Kata Tong Lin.

"Hm, bagus, pemberani, kau memang pemberani dengan menanggung semua perbuatan ini,"

Jengek Yang Cu-kang.

"Hal ini memang kesalahanku, dengan sendirinya aku harus bertanggung jawab,"

Kata Tong Lin dengan menangis.

"Tapi siapakah bakal suamimu itu? Masa orang lain tidak tahu?"

Tanya Yang Cu-kang.

"Perjodohan kami ini diputuskan oleh ayah dan mestinya akan diresmikan pada hari ulang tahunku yang ke 18 nanti, siapa tahu...siapa tahu belum tiba hari ulang tahunku dan beliau sudah...sudah ...."

Dia menangis tersedu-sedu sehingga tidak sanggup melanjutkan.

"Apakah kau masih hendak menyembunyikan identitasnya?"

Tanya Yang Cu-kang dengan bengis.

Tong Lin menangis sambil menutup mukanya dan tidak menjawab.

Semua orang jadi murka, ada yang berteriak "Siapa anak jadah itu?

Jika tidak kau katakan, cara bagaimana akan kau hadapi ayahmu di alam baka nanti nona tong?"

Tong Lin menggreget, seperti mengambil keputusan dengan tekad yang bulat, mendadak ia mendongak, katanya sambil menuding seorang.

"Bakal suamiku itu ialah dia!"

Sungguh, siapapun tidak menduga bahwa orang yang dituding oleh Tong Lin adalah Ji Pwegiok!

Mimpipun Pwe-giok sendiri juga tidak menduga, dia malah menyangka yang dimaksudkan Tong Lin adalah seorang yang berdiri di belakangnya, ia menoleh.

Tapi segera didengarnya Tong Lin menyambung lagi.

"Iyalah orang ini, Ji Pwe-giok."

Keterangan ini tidak cuma menggemparkan para hadirin, para anak murid Tong juga serentak mengepung Pwe-giok di tengah, semuanya melototinya dengan mata merah berapi, seperti sekawanan binatang liar yang sudah kalap dan siap menerkam dan mengganyangnya.

Selama hidup Pwe-giok sudah acapkali dituduh dan difitnah, entah sudah betapa banyak dia mengalami kejadian di luar dugaan dan mengejutkan, tapi tidak ada satupun yang lebih menggetarkan hatinya seperti sekarang.

Sungguh ia tidak tahu cara bagaimana harus membantah atau memberi penjelasan, seketika ia terkesima dan tidak dapat bicara.

Di ruangan besar itu kembali gempar, ada yang berteriak murka, ada yang mencaci-maki.

Ada yang berkata.

"Sungguh tidak tersangka sudah membunuh Tong-loyacu, keparat ini masih juga berani datang ke sini, sungguh besar amat nyalinya."

"Ya, tampaknya dia ramah tamah dan sopan santun, siapa tahu dia adalah manusia yang berhati binatang,"

Sambung yang lainnya. Ada lagi yang menanggapi dengan suara tertahan.

"Jika bukan pemuda cakap seperti dia ini, mana bisa Tong-jikohnio terpikat olehnya."

Dengan sendirinya Lui-ji juga melenggong kaget, baru sekarang ia berteriak.

"Tidak, bukan dia, tidak mungkin dia, kalian keliru!"

Seperti orang kesetanan dia menerjang ke tengah kerumunan orang banyak dan menubruk ke samping Pwe-giok terus mendekapnya, dengan suara parau ia berteriak pula.

"Tidak mungkin dia melakukan hal ini. Apalagi dua hari yang lalu hakekatnya dia tidak berada di sini, tapi masih berada beratus li jauhnya di sana, mana bisa dia terbang ke sini untuk membunuh orang.?"

"Dari mana kau tahu dua hari yang lalu dia masih berada di tempat beratus li jauhnya?"

Bentak Tong Siu-hong mendadak.

"Dengan sendirinya ku tahu, sebab selama ini aku selalu berada bersama dia,"

Jawab Lui-ji.

"Memangnya kau ini apanya?"

Tanya Siu-hong.

"Akulah isterinya "

Jawab Lui-ji tegas. Tong Siu-hong menggeleng dan menghela napas, katanya.

"Ai, nona cilik, mungkin kau telah tertipu dan diperalat olehnya."

Dengan suara parau Lui-ji berteriak.

"Meng....mengapa kalian tidak percaya kepada keteranganku ? Mengapa kalian memfitnah orang baik-baik.?"

"Orang semacam ini tidak ada harganya untuk dibela, nona cilik,"

Ujar Tong Siu-hong dengan gegetun.

"Kalau dia dapat menipu orang lain, lambat atau cepat kaupun akan tertipu olehnya."

"Dia pernah menipu siapa? Coba katakan!"

Teriak Lui-ji.

"Kalau dia sudah mengikat jodoh dengan gadis keluarga Tong, tapi di luaran dia memelet pula dirimu, jahanam yang tidak berbudi pekerti seperti ini masakah masih kaubela?"

Teriak Siu-hong dengan gusar.

"Tapi hakikatnya dia tidak pernah mengikat jodoh apa segala dengan orang keluarga Tong kalian,"

Kata Lui-ji.

"Darimana kau tahu?"

Siu-jing ikut bertanya.

"Tentu saja kutahu, sebab sejak kukenal dia, selama ini kami tidak pernah berpisah,"

Jawab Lui-ji tegas. Gemerdep sinar mat Tong Siu-jing, tanyanya pula.

"Bilakah kau kenal dia?"

"Aku....aku ...."

Hanya satu kata saja Lui-ji berucap dan tidak dapat menyambung lagi.

Sebab perkenalannya dengan Ji Pwe-giok belum lagi ada sebulan lamanya, apa yang dilakukan Pwegiok lebih sebulan yang lalu, tentu saja tak diketahuinya sama sekali.

Baru sekarang ia merasakan dirinya sama sekali tidak tahu apapun mengenai diri Ji Pwe-giok, kecuali tahu namanya, urusan lain tidak pernah diberitahu oleh Pwe-giok.

Bahkan namanya asli atau palsu juga tidak diketahuinya dengan pasti.

Tong Siu-jing melihat perubahan air muka si nona, katanya dengan lembut.

"Nona cilik, urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kau, lebih baik kau menyingkir saja."

"Apa ..... apa kehendak kalian?"

Tanya Lui-ji Wajah para anak murid keluarga Tong tampak kelam dan masam, semuanya tutup mulut.

Padahal tanpa menjawabpun semua orang tahu apa yang hendak mereka lakukan.

Jika benar Ji Pwe-giok telah membunuh orang tua mereka, mana bisa mereka melepaskan dia begitu saja.

Sejak tadi mereka sudah menyiapkan senjata rahasia maut di tangan masingmasing.

Kini Pwe-giok terkepung oleh berpuluh orang.

Asal Am-gi atau senjata rahasia mereka dihamburkan, biarpun punya sayap juga sukar bagi Pwe-giok untuk menghindar.

Pwe-giok menghela napas panjang, ucapnya dengan rawan,"

Ya, persoalan ini memang tidak ada sangkut-pautnya dengan kau, maka lebih baik kau menyingkir saja."

Dia tahu mati hidupnya hanya bergantung dalam sedetik saja, maka ia tidak ingin membuat susah Lui-ji, apalagi iapun dapat melihat kini anak dara itupun curiga kepadanya dan tidak lagi percaya kepadanya seperti sebelum ini.

Lui-ji mengertak gigi dan berkata.

"Tidak, apapun juga ku tahu hal ini pasti takkan kau lakukan."

"Apa gunanya kalau tahu?"

Ujar Pwe-giok dengan tersenyum getir.

"apa yang kau katakan hakekatnya tidak dipercaya mereka, padahal selain dirimu, siapa lagi yang dapat memberi kesaksian bahwa dua hari yang lalu hakekatnya aku tidak berada di sini."

Ia menengadah dan menghela napas panjang, lalu menyambung pula dengan suara parau.

"Ya, seandainya ada orang lain yang tahu, siapakah di dunia seluas ini yang sudi menjadi saksi bagi Ji Pwe-giok."

Air mata Lui-ji sudah meleleh di pipinya. Dilihatnya Tong Lin telah menyusup ke tengah orang banyak sambil berseru.

"Ji Pwe-giok, jangan kau salahkan diriku, aku....aku terpaksa, maka kukatakan terus terang."

Pwe-giok tersenyum pedih, katanya.

"Ya, kau sangat baik, sangat baik...."

"Tapi bagaimanapun juga, bila kau mati, akupun tidak ingin hidup lagi di dunia ini...."

Ucap Tong Lin dengan menangis. Mendadak Lui-ji membentak.

"Kau perempuan jahanam, kau bikin celaka dia hingga begini, kau masih berani bicara lagi dengan dia!"

Di tengah bentakannya segera ia menubruk ke sana. Tong Lin tidak menangkis, dan juga tidak menghindar, ucapnya dengan pedih.

"Bagus, biarlah kita mati bersama-sama saja!"

Belum lenyap suaranya, tahu-tahu tangan Lui-ji sudah mencekik lehernya. Tong Siu-jing bermaksud melerai mereka, tapi dicegah oleh Tong Siu-hong.

"Tidak perlu,"

Bisik Tong Siu-hong dengan suara tertahan.

"keluarga Tong kita tidak beruntung, sehingga terjadi urusan begini, biarkan saja dia mati."

Tong Siu-jing menoleh, dilihatnya Tong Ki masih berdiri kaku di tempatnya tadi dengan wajah pucat seperti mayat, sama sekali tidak ada niatnya hendak mencegah keributan antara kedua nona itu.

Dalam pada itu para hadirin lantas berteriak-teriak.

"Ji Pwe-giok, apa lagi yang akan kau katakan.... Hayolah, anak murid keluarga Tong, lekas kalian turun tangan, kami sama menunggu hendak menggunakan hati keparat ini untuk sesaji di depan layon Tong-locengcu."

Tapi Pwe-giok berdiri berpangku tangan tanpa bicara apapun, sebab ia tahu tiada gunanya bicara terhadap orang-orang yang sudah kehilangan akal sehat ini.

Pada saat itulah mendadak terdengar seorang berseru.

"Ji Pwe-giok, wahai Ji Pwe-giok, sungguh kau bernasib sial, tanpa sebab kau difitnah sebagai pembunuh. Tampaknya lebih baik kau mati di tanganku saja daripada mati secara penasaran."

Suaranya bergema hingga lebih keras daripada suara beratus orang yang sedang berteriakteriak itu.

Tanpa terasa semua orang sama mendongak dan memandang ke atas.

Baru diketahui mereka entah sejak kapan Yang Cu-kang telah melompat lagi ke atas belandar, dengan tangan memegang poci arak dan mulut menggigit sepotong paha ayam, sedang makan dengan nikmatnya.

"Difitnah apa? Bukti sudah nyata, saksi juga ada, masa kaupun ingin membelanya ? "teriak Tong Siu-hong. Yang Cu-kang menjengek.

"Hm, bukti dan saksi ? Di mana ? Siapa pula yang menyaksikan dia membunuh Tong-locengcu ? "

"Apa yang dikatakan Ji-kohnio tadi masa tidak kau dengar? "kata Siu-hong. Yang Cu-kang menghela napas dan menggeleng, ucapnya.

"Hanya berdasarkan keterangan seorang perempuan dan kalian lantas hendak menjatuhkan vonis padanya, sungguh anggap nyawa orang bagai permainan anak kecil saja."

Tong Siu-hong menjadi gusar, teriaknya,"

Memangnya kau anggap Ji-kohnio berdusta?"

"Ya, mana mungkin Jikohnio berdusta!"

Teriak orang banyak.

"Betul, tindakannya itu selain membikin celaka orang lain, ia sendiripun susah dan ikut tersangkut, sungguh akupun tidak paham mengapa dia berdusta? Yang jelas ku tahu dia memang berdusta."

"Kau tahu? Kau tahu apa?"

Teriak Siu-hong dengan murka.

"Ku tahu dengan pasti malam kemarin dulu orang she Ji ini memang tidak berada di Tongkeh-ceng, tapi jauh berada di tempat ratusan li sana."

"Hm, hanya berdasarkan keteranganmu saja masa dapat dipercaya?"

Jengek Siu-jing. Yang Cu-kang menghela napas, katanya.

"Ya, akupun tahu keteranganku sukar dipercaya oleh kalian, sebab itulah sejak tadi aku diam saja."

Baru saja habis ucapannya, sekonyong-konyong terdengar suara "cas"

Satu kali, menyusul lantas terjadi getaran dahsyat seperti langit runtuh dan bumi ambles, belandar ruangan pendopo itu mendadak patah.

Atap pendopo itu ambruk dengan menerbitkan suara gemuruh yang menggetar sukma.

Seketika jeritan kaget dan takut terdengar di mana-mana, semua orang berebut lari keluar agar tidak tertindih oleh gedung yang ambruk itu.

Ada yang bertenaga lemah dan berilmu silat rendah, kontan roboh terinjak-injak sehingga timbul teriakan ngeri di sana-sini.

Tong Siu-hong, Tong Siu-jing dan lain-lain merasa kayu dan batu bertebaran menjatuhi mereka, terpaksa mereka harus mencari selamat lebih dulu.

Dengan tangan mereka melindungi kepala masing-masing, walaupun begitu, tidak urung merekapun tidak terhindar oleh urukan puing, sebelah kaki Tong Siu-hong malah tertindih oleh belandar patah dan merintih kesakitan.

Walaupun begitu, ia tetap berteriak memberi komando.

"Awas, jangan sampai lolos keparat she Ji itu, jaga rapat pintu keluar!"

Tapi seluruh ruangan pendopo itu sekarang sudah kacau balau, mana Ji Pwe-giok dapat ditemukan lagi.

"Mungkin dia sudah kabur pada waktu kekacauan terjadi,"

Teriak Siu-jing dengan gusar.

Di tengah teriakannya, serombongan anak murid keluarga Tong yang tidak terluka telah ikut dia menerjang ke luar.

Tapi baru sampai di ambang pintu, kembali debu pasir dan rontokan puing berhamburan dari depan, bahkan sedemikian kuat sehingga tanah pasir yang rontok ke lantai juga menerbitkan suara gemerasak.

Mendadak tampak Yang Cu-kang berdiri di depan pintu dengan tertawa, ucapnya dengan tenang.

"Apa yang kalian kejar ? Memangnya kalian tidak percaya kepada keteranganku ? Kalau tidak percaya, agaknya terpaksa harus kuruntuhkan segenap rumah Tong-keh-ceng kalian.

" ***** Pada waktu terjadi kekacauan, tiba-tiba Pwe-giok mendengar suara Yang Cu-kang berkata di sampingnya.

"Di sini dapat kulayani sendiri, lekas kalian menerjang keluar dan menyusur jalan raya, nanti kalian akan dipapak orang...."

Belum habis ucapan Yang Cu-kang, segera Pwe-giok menarik Cu Lui-ji dan sebelah tangan mengempit Tong Lin yang sudah jatuh pingsan itu, mereka terus menerjang keluar mengikuti arus manusia.

Tanpa banyak buang tenaga, dapatlah Pwe-giok menerjang keluar pintu, sebab Yang Cu-kang telah menghadang di depan sana, didengarnya di ruangan pendopo sana masih ramai dengan suara gemuruh.

Tetamu yang semula duduk makan minum di luar, karena diterjang oleh arus manusia yang membanjir keluar dari dalam, serentak merekapun lari lintang pukang, meja kursi jungkir balik, mangkok piring pecah berantakan.

Ada yang sol sepatunya agak tipis, begitu menginjak pecahan beling seketika menjerit kesakitan, tapi baru menjerit kontan mereka diterjang roboh dan terinjak-injak oleh arus manusia.

Ada sementara tamu yang hadir dengan membawa anak kecil, maksud mereka ingin hemat, daripada makan di rumah, mumpung ada pesta, nunut makan sekalian.

Siapa tahu keuntungan tidak diperoleh, sebaliknya malah tertimpa petaka.

Maka di tengah jeritan di sana sini terselip pula jerit tangis orang perempuan dan anak kecil.

Jika yang hadir cuma orang-orang kangouw saja, mungkin kekacauan itu akan lebih mudah diatasi, tapi kini di antara tamu ditambah sanak famili dan sobat andai keluarga Tong di sekitar Tong-keh-ceng, maka suasana benar-benar kacau-balau tak keruan, ada orang yang biasanya bisa bersikap tenang, dalam keadaan begitu pusing kepala juga oleh suasana hiruk pikuk ini.

Hanya Pwe-giok saja yang sudah gemblengan dan kenyang siksa derita, pada saat demikian masih tetap tenang dan kepala dingin.

Ia menyapu pandang sekejap sekelilingnya, segera ia menarik Lui-ji berlari menuju ke sebuah gang di sebelah kiri sana.

"Mengapa kita tidak menyusuri jalan raya, bukankah di sana katanya akan dipapak orang ? "

Tanya Lui-ji. Dengan suara tertahan Pwe-giok menjawab.

"Meski Yang Cu-kang menolong kita, tapi katakatanya tetap tidak boleh dipercaya, orang ini banyak tipu akalnya, tindak-tanduknya sukar diduga, dia menolong kita pasti dengan tujuan tidak baik."

"Betul, akupun tidak habis mengerti mengapa dia tidak membunuh kita, sebaliknya malah menyelamatkan kita.

"kata Lui-ji. Setelah masuk ke jalan kecil ini, orang berlalu lantas sedikit, sebab pada umumnya semakin kacau suasananya, semakin sedikit orang yang menuju ke tempat sepi, kebanyakan orang tentu berlari menuju ke tempat yang banyak orangnya dan tidak dapat membedakan arah mana yang lebih aman. Meski ada orang yang jelas-jelas tahu di depan ada jurang berapi, tapi bila melihat semua orang sama berlari ke sana, tanpa kuasa iapun akan ikut orang banyak berlari ke situ. Sebab dalam keadaan demikian umumnya orang sudah kehilangan rasio, sudah tidak mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri. Di depan kelihatan pepohonan yang jarang-jarang, ternyata suatu tempat yang sunyi, suasana kacau balau tadi tampaknya sudah ditinggalkan jauh di belakang sana.

"Tempat apakah ini ? "

Tanya Lui-ji.

"Tempat pribadi keluarga Tong."

jawab Pwe-giok. Lui-ji terkejut, serunya.

"Lari saja kuatir tersusul, kenapa kita malah menuju ke tempat mereka? Memangnya kita sengaja mengantar nyawa?"

"Hanya jalan ini paling baik bagi kita.

"ujar Pwe-giok.

"sekalipun rada berbahaya, terpaksa harus kita coba."

Lui-ji berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Kau kira segenap anggota keluarga mereka berada di depan sana, maka sengaja kau tempuh bagian yang sepi dan penjagaan longgar ini?"

Belum lagi Pwe-giok menjawab, mendadak terdengar seorang menghardik.

"Berhenti! Apakah kalian ingin lari?"

Berbareng dengan suara bentakan itu, belasan pemuda berpakaian ringkas ketat serentak melayang keluar dari balik hutan di sebelah kanan sana, yang menjadi kepala adalah orang yang terluka sebelah kakinya, darah di kaki yang cidera itu belum lagi kering, nyata dia inilah Tong-Siu-hong yang tadi tertindih oleh belandar patah itu.

Orang ini benar-benar manusia baja, meski kaki sudah patah tulang, tapi tubuh masih tegak seperti tonggak.

"Kau lagi, seru Lui-ji dengan gregetan.

"Mengapa kau terus membuntuti kami?"

Ia tidak tahu bahwa Tong Siu-hong tidaklah sengaja mengejarnya, hanya lantaran jalan mereka dirintangi Yang Cu-kang, terpaksa mereka harus memutar dari belakang, siapa tahu secara kebetulan jalan lari Pwe-giok dan Lui-ji malah benar-benar tercegat.

Nasib manusia terkadang memang sangat ajaib, seperti kata peribahasa.

"Sengaja menanam bunga, bunga tidak berkembang. Tidak sengaja menanam pohon Liu, justru pohon ini tumbuh rindang."

Seluk-beluk hal demikian mungkin hanya orang yang sudah mengalami sendiri barulah dapat memahaminya.

Baru habis Lui-ji berkata tadi, serentak anak murid keluarga Tong lantas terpencar dan mengepung mereka di tengah, cuma merekapun jelas merasa jeri, maka tidak berani sembarangan turun tangan.

Berputar biji mata Lui-ji, segera ia tahu pihak lawan merasa kuatir bila melukai Tong Lin yang berada dalam cengkeraman Pwe-giok.

Maka ia lantas berkata dengan tertawa.

"Sesungguhnya kami tidak membunuh Tong Bu-siang, selamanya kita tidak kenal mengenal dan tiada sengketa apapun, asalkan kalian melepaskan kami, segera kami kembalikan nona Tong kepada kalian."

Ia menyangka ucapannya ini sudah cukup tepat. Siapa tahu Tong Siu-hong seakan-akan tidak mendengar saja, mendadak ia membentak.

"Tok-soa ! "

"Tok-soa"

Atau pasir berbisa adalah senjata rahasia keluarga Tong yang paling lihai, meski jaraknya tak dapat mencapai jauh, tapi asal dalam lingkaran seluas kurang dari dua tombak, asalkan pasir beracun itu dihamburkan, jarang ada orang yang dapat lolos dari serangannya, dan asalkan terkena satu butir pasir saja, kalau tidak dioperasi bagian lukanya, dalam waktu singkat bagian luka itu akan membusuk dan dalam waktu tiga hari, orang itu akan mati.

Tong Siu-hong tidak malu berjuluk sebagai "Thi-bin-giam-lo", si raja akhirat bermuka besi, artinya orang yang berhati keras tanpa kenal ampun, nyata ia sudah bertekad mengambinghitamkan Tong Lin, bila perlu nona itu akan dibiarkan mati bersama Ji Pwe-giok.

Di antara anak murid keluarga tong ada juga sementara pemuda yang diam-diam menaksir Tong Lin, tapi sekali mendengar perintah Tong Siu-hong, tiada seorangpun yang ragu dan membangkang.

Dalam sekejap itu belasan tangan yang bersarung kulit menjangan sudah meraup pasir beracun yang berada di kantung masing-masing, bila tangan mereka ditarik kembali, segera akan terjadilah hujan pasir, dan dalam jarak belasan tombak di sekitar Pwegiok dan Lui-ji akan berada di bawah ancaman pasir berbisa itu.

Tapi sekarang mendadak Pwe-giok menerjang ke sebelah kiri.

Rupanya pada waktu Tong Siu-hong memberi perintah tadi, ia sempat melihat perubahan air muka dua orang pemuda di sebelah kiri, mereka memandang Tong Lin dengan sorot mata yang sedih dan tidak tega.

Maka tahulah Pwe-giok kedua pemuda ini pasti diam-diam mencintai tong Lin, serangan mereka tentu juga tidak tega, asalkan cara turun tangan mereka memperlihatkan agak ragu, tentu Pwe-giok ada harapan untuk menerjang keluar kepungan.

Walaupun cara demikian sangat berbahaya, tapi dalam keadaan kepepet, tiada pilihan lain lagi baginya.

Dia benar-benar menerjang keluar.

Tapi dia lupa terjangannya itu tetap tak dapat lolos dari jangkauan pasir beracun itu, bila anak murid keluarga Tong itu menghamburkan pasir beracun dari belakang, tentu juga akan sulit menghindarkannya.

Untunglah pada saat itu juga mendadak terdengar suara Tong Ki berteriak.

"Berhenti, semuanya berhenti!"

Di tengah suara teriakannya, muncul Tong Ki bersama Li Be-ling , di belakang mereka ikut pula tujuh atau delapan orang pelayan berpakaian singset, semuanya berlepotan debu pasir.

"Hamburkan Tok soa, jangan sampai mereka kabur!"

Bentak Siu-hong dengan bengis.

"Jangan! Tidak boleh!"

Bentak Tong-ki tidak kurang bengisnya.

"Serang!"

Teriak Siu-hong pula sambil menghentak kaki. Tong Ki juga menghentakkan kakinya ke tanah dan berteriak.

"Siu-hong apa kau tidak pikirkan lagi keselamatan Jimoay?"

Dalam pada itu para anak murid keluarga Tong sudah siap menggenggam pasir berbisa, tapi semuanya ragu dan serba salah, entah perintah siapa yang harus mereka turut.

Sementara itu Pwe-giok dan Lui-ji sudah sempat menerjang pergi beberapa puluh tombak jauhnya.

"Kohnaynay (bibi), jika kau pikirkan hubungan pribadi, keluarga Tong bisa hancur oleh tindakanmu ini.

"seru Siu-hong dengan suara parau. Tib-tiba Li Be-ling ikut bicara.

"Urusan ini tidak perlu kalian ikut campur, kujamin mereka takkan bisa kabur, turutlah kepada perkataanku dan tentu takkan salah."

Biasanya Li be-ling terkenal pendiam dan jarang bicara, maka setiap ucapannya cukup berbobot. Tong Siu-hong melotot, katanya,"

Baik, biarlah kuserahkan mereka kepada kalian."

Sembari bicara rombongan anak murid keluarga Tong itu tetap mengejar ke depan sana.

Sebaliknya Pwe-giok membawa seorang tawanan, jalanan tidak apal pula, maka sukar untuk lolos dari kejaran lawan.

tapi setelah Siu-hong memberi tanda, pengikutnya tadi lantas berhenti mengejar, hanya tinggal Li Be-ling dan Tong Ki saja yang masih terus mengejar ke depan.

Dengan ginkang Pwe-giok dan Lui-ji, mestinya mereka dapat lolos dari kejaran musuh, tapi apa yang dapat dikatakan lagi kalau di depan sudah buntu, beberapa rumah tampak menghadang di depan sana, di belakang rumah adalah dinding tebing belaka.

Yang dipikir Pwe-giok hanya selekasnya meloloskan diri, tidak ada hasratnya untuk bergebrak dengan lawan.

Dia tidak ingin mencelakai lawan, juga kuatir sukar kabur bila terlibat lagi dalam pertempuran, namun keadaan sekarang memaksanya mau-tak-mau harus menggunakan kekerasan.

Tak terduga, setiba di sini, Tong Ki dan Li Be-ling lantas berhenti jauh di sana dan tidak mendesak maju lagi.

Malahan Tong Ki memberi tanda lambaian tangan, agaknya menyuruh mereka lekas pergi.

Pwe-giok jadi melengak, seperti ingin bicara sesuatu, tapi akhirnya tidak jadi, ia tarik Lui-ji dan menerjang masuk ke dalam deretan rumah di depan.

Tampak segala sesuatu yang terdapat di dalam rumah itu teratur dengan rapi, setiap alat perabotnya serba antik dan indah.

Lui-ji menggeleng, katanya.

"Aku tidak paham mengapa yang Cu-kang menolong kita, tapi aku lebih-lebih tidak habis mengerti bahwa Tong-toakohnio inipun menolong kita, sungguh aneh dan ajaib."

"Di dunia ini memang banyak kejadian yang tak terduga,"

Ucap Pwe-giok.

"Dan bahwa Tong-jikohnio bisa membikin susah padamu, mungkin juga tidak kauduga bukan?"

Jengek Lui-ji tiba-tiba.

Pwe-giok hanya menghela napas dan tidak bicara lagi.

Saat itu Tong Lin belum lagi siuman, Pwe-giok menaruhnya di atas kursi, lalu dia mencari di seluruh ruangan.

Lui-ji tidak tahu apa yang dicari anak muda itu, ia coba tanya.

"Tempat apakah di sini?"

"Kamar pribadi Tong Bu-siang,"

Jawab Pwe-giok. Lui-ji terkesiap, ucapnya.

"Tong-toakohnio sudah menolong kita, kesempatan ini tidak kita gunakan untuk kabur, untuk apa kita berbalik lari masuk ke kamar rahasia Tong Bu-siang?"

"Untuk mencari jalan keluarnya."

"Jalan keluar? Masa di sini ada jalan keluarnya?"

Belum lagi Pwe-giok menjawab, Lui-ji sudah melihat dipan di pojok kamar itu mulai bergeser, di bawah tempat tidur itu muncul sebuah lorong di bawah tanah yang sangat gelap.

"Hah, kiranya di sini memang ada jalan keluar rahasia.

"seru Lui-ji sambil berkedip-kedip.

"pantas Tong-jikohnio ini mengatakan kau masuk ke sini melalui jalan rahasia, caranya berdusta ternyata sangat hidup dan seperti terjadi sungguhan."

Pwe-giok hanya menyengir saja tanpa menanggapi, segera ia mendekati tong Lin dan mengangkatnya. Mendadak Lui-ji mendengus.

"Hm, tampaknya kalian memang tidak mau berpisah sedikitpun, kukira lebih baik kalian berdua diikat menjadi satu saja dengan tali."

Sementara itu Pwe-giok sudah melangkah turun ke lorong di bawah tanah itu, tiba-tiba ia menoleh dan berkata.

"Saat ini bukan waktunya bicara, maukah kau tutup mulut ?"

Terkesiap Lui-ji, matanya menjadi merah.

Belum pernah Pwe-giok bicara kepadanya dengan muka masam seperti ini.

Pwe-giok berjalan di depan dengan hati-hati, setelah berjalan sekian jauhnya, ia menghela napas dan berkata,"

Nah, apa yang hendak kau katakan sekarang boleh kau katakan saja sepuasmu."

Tapi mulut Lui-ji justru tertutup rapat-rapat.

"Meski tadi tidak kau bunuh dia, tapi ku tahu dia pasti terkena racun di tubuhmu, jika sekarang kau paham maksudku, hendaklah kau punahkan dulu racun dalam tubuhnya."

Tapi Lui-ji tutup mulut semakin rapat, seakan-akan tidak mau lagi dibuka. Pwe-giok berkerut kening, katanya.

"Kenapa. Sekarang kau malah tidak mau bicara."

Lui-ji tetap tutup mulut, hanya dengan jarinya ia tuding Pwe-giok, lalu tuding pula mulutnya sendiri. Pwe-giok tersenyum, ucapnya.

"Sekarang kau sudah dewasa, masa masih suka ngambek seperti anak kecil.?"

Mendengar dirinya dianggap sudah "dewasa", Lui-ji tertawa, dengan mulut menjengkit, ia berkata.

"Kau yang suruh aku tutup mulut, aku kan selalu menuruti perintahmu saja."

"Jika begitu, lekaslah kau menolong dia.

"kata Pwe-giok. Mata Lui-ji kembali merah, ia menggigit bibir dan berkata.

"Tahumu hanya menyuruh ku tolong dia, kau hanya gelisah baginya, mengapa tidak kau tanyakan diriku, apakah juga terkena racunnya atau tidak? Anggota keluarga Tong mereka kan juga terkenal ahli racun?"

"Meski senjata rahasia berbisa keluarga Tong sangat terkenal, tapi kau sendiri kan..."

"Aku kenapa? Aku ini orang berbisa, begitu? Barang siapa bila menyentuh diriku pasti keracunan, begitu? Jika demikian, kenapa sampai sekarang kau tidak keracunan?"

Pwe-giok jadi melenggong, jawabnya.

"Soalnya ku...kulihat Gin-hoa-nio yang cuma menampar kau satu kali dan tangannya lantas keracunan, anggota Thian-can-kau itupun hanya mencolek kau sekali dan dia juga...."

"Tapi Tong-jikohnio ini kan tidak memukul dan mencolek diriku? Jika racun di tubuhku tak dapat kukuasai sendiri, mungkin sejak dulu Sacek sudah mati keracunan."

"O, jadi begitu, jadi dia tidak keracunan?"

"Memangnya kau kira aku ini orang goblok dan tidak tahu bahwa nona Tong kita ini tidak boleh dibunuh?"

Pwe-giok menghela napas, katanya.

"Ai, rupanya aku salah mengomeli kau, soalnya kulihat sampai saat ini nona Tong itu belum lagi siuman, maka kukira...."

Belum habis ucapan Pwe-giok, Lui-ji mendekati Tong Lin dan menepuk bahunya sambil mendengus.

"Tong-jikohnioku sayang, tampaknya kau tidak cuma pintar berdusta, caramu pura-pura juga sangat ahli. Akan tetapi bila kau tidak segera siuman, sekarang juga akan kubelejeti pakaianmu."

Tubuh Tong Lin tampak bergetar, benarlah dia lantas membuka mata. Lui-ji melototi Pwe-giok, katanya.

"Nah, sekarang tentunya kau paham apa yang terjadi. Lantaran kuatir ditanyai, maka dia sengaja pura-pura mampus.....Hm, tanpa membedakan hitam dan putih lantas menuduh orang yang tak bersalah, malahan menganggap dirinya sangat pintar dan cerdik , huh.!"

Terpaksa Pwe-giok menerima omelan itu dengan jujur, bahkan tunduk lahir batin. Mulut Lui-ji menjengkit, dia melengos dan mengejek pula.

"Nah, Tong-jikohnio, apakah sekarang kau masih segan untuk bangun berdiri?"

Muka Tong Lin yang pucat itu kelihatan merah, ia menggreget, jawabnya.

"Sudah jelas kau....kau tahu hiat-to kakiku tertotok, tapi kau bicara seenaknya."

"Terkadang aku memang juga bisa membikin dongkol orang,"

Ujar Lui-ji tak acuh.

"Memangnya hanya kalian saja yang boleh memfitnah diriku dan aku tidak boleh membalas.?"

Sekujur badan Tong Lin gemetar saking gemasnya, tapi tak dapat menjawab. Pwe-giok menghela napas, katanya kemudian.

"Ji-kohnio, aku tidak ada permusuhan apapun dengan kau, mengapa kau sengaja mencelakai diriku?"

Tiba-tiba Lui-ji mendengus pula.

"Kau boleh sembarangan menuduh diriku, tentu boleh juga dia sembarangan menuduh kau. Kalian berdua adalah sepasang ahli yang suka menuduh orang baik, kenapa kau salahkan dia ? "

Sungguh Pwe-giok serba susah, ia hanya menyengir saja, tapi sekarang ia tidak berani lagi menyuruh Lui-ji tutup mulut, sebab ia telah mendapatkan suatu pelajaran berharga pula, yaitu.

Jangan sekali-kali kaum lelaki menyuruh orang perempuan tutup mulut.

Sebab seketika itu mungkin si dia akan benar-benar tutup mulut, tapi seterusnya bukan mustahil dia akan cerewet selama hidup.

Kini yang tutup mulut benar-benar adalah Tong Lin, dia seperti sudah mengambil keputusan takkan bicara lagi.

Dengan suara lembut Pwe-giok membujuknya.

"Caramu bersikap demikian bisa jadi lantaran kaupun mempunyai kesulitan, sebab jelas kau bukan seorang yang suka berdusta."

"Hm, justru lantaran dia bukan seorang yang suka berdusta, maka apa yang diucapkannya tentu dipercaya orang lain,"

Jengek Lui-ji.

"Apabila dia kelihatan sebagai seorang perempuan bawel, tentu tiada orang yang mau percaya kepada ocehannya."

Setiap kali Pwe-giok tanya Tong Lin, yang ditanya tidak bersuara, tapi Lui-ji selalu mendahului menanggapi. Terpaksa Pwe-giok berlagak pilon dan bersabar, katanya pula.

"Bisa jadi ada alasanmu yang kuat sehingga terpaksa kau berdusta, asalkan kau tuturkan terus terang, pasti tidak kusalahkan kau."

"Hm, bisa jadi memang benar-benar kekasihnya yang membunuh Tong Bu-siang itu, demi untuk menyelamatkan kekasihnya, maka dia perlu mencari seorang sebagai tumbal,"

Jengek Lui-ji lagi. Sekali ini dia tidak menanggapi dengan ngawur, tapi yang dikemukakan cukup masuk akal. Terbeliak mata Pwe-giok, serunya.

"Masa benar-benar kau tahu siapa si pembunuhnya?"

"Sudah tentu dia tahu.

"Lui-ji mendahului menanggapi pula.

"Tapi caramu bertanya ini tentu juga takkan mendapatkan jawabannya."

Lalu Lui-ji mendekati Tong Lin, dengan bengis ia berkata.

"Sesungguhnya siapa yang membunuh Tong Bu-siang itu ? Jika tetap tidak kau katakan, segera ku...."

Belum habis ucapannya, mendadak seorang menanggapi dengan perlahan.

"Orang yang membunuh Tong Bu-siang itu ialah diriku ini."

Dalam kegelapan entah sejak kapan telah bertambah sesosok bayangan orang yang berwarna putih kelabu, seperti badan halus saja yang mendadak muncul di situ.

Karena tak dapat melihat jelas wajah orang, Pwe-giok dan Lui-ji berseru berbareng.

"Siapa kau ? "

Orang itu tidak menjawab, tapi lantas mengetik api.

Di bawah cahaya api, tampak seorang perempuan berkabung, geretan api yang dipegangnya berkelip seperti api setan, wajahnya pucat lesi tanpa warna darah sedikitpun.

Melihat orang ini, Pwe-giok benar sangat terperanjat, serunya tanpa terasa.

"He, kau ?!"

"Ya, betul aku!"

Sahut orang itu sambil menghela napas.

"Sungguh tak tersangka olehku yang berbuat itu adalah dirimu,"

Kata Pwe-giok dengan gegetun. Mendadak Lui-ji membentak.

"Kau berani mengaku sebagai si pembunuhnya di depan kami, apakah kau sudah bertekad akan membunuh kami untuk menghilangkan saksi?"

Orang itu mendengus.

"Huh, jika ingin kubunuh kalian, mengapa tadi ku tolong kalian?"

Orang yang mengaku sebagai "pembunuh"

Ini ternyata nona besar keluarga Tong, yaitu Tong Ki. Air mata Tong Lin sudah bercucuran, ucapnya dengan suara parau.

"Toaci, untuk apa kau datang kemari? Aku sudah jelas tak dapat hidup lagi, juga tidak ingin hidup lebih lama lagi, mengapa tidak kau biarkan ku tanggung dosa ini?"

"Ku tahu tindakanmu ini adalah demi diriku,"

Ucap Tong Ki dengan rawan.

"Kau rela mengorbankan dirimu, kau memang anak yang baik, tapi aku...."

"Akupun tahu tindakan toaci ini adalah demi mempertahankan nama baik keluarga Tong kita..."

"Bagus, bagus, kalian semuanya anak baik, apa yang kalian lakukan semuanya beralasan. Tapi Ji Pwe-giok apakah harus ikut dikorbankan ?"

Teriak Lui-ji mendadak. Tong Ki menghela napas panjang, katanya.

"Ya, ku tahu tindakan kami ini telah membikin susah Ji-kongcu, tapi di dalam persoalan ini sesungguhnya memang mengandung banyak rahasia yang tidak boleh diketahui orang luar."

"Masa sekarang kami belum juga berhak mengetahui rahasia ini?"

Tanya Lui-ji.

"Kedatanganku untuk menemui kalian ini justru sudah siap hendak kuberitahukan rahasia ini kepada kalian,"

Ucap Tong Ki. Ia berhenti sejenak dan tersenyum getir, lalu melanjutkan.

"Tentu dalam hati kalian merasa sangat heran mengapa aku membunuh ayah sendiri, bukan ? "

"Ya, aku memang sangat heran,"

Kata Lui-ji.

"Setelah ku beritahu rahasia ini, kuharap kalian jangan menyiarkannya, sebab rahasia ini sesungguhnya sangat penting."

"Masa kau tidak percaya kepada Ji Pwe-giok?"

Lui-ji mendahului bertanya.

"Justru ku tahu lantaran Ji-kongcu adalah seorang kuncu sejati, maka ku datang ke sini...", tiba-tiba Tong Ki tersenyum misterius.

"Kalian tahu, Tong Bu-siang yang kubunuh itu sebenarnya bukanlah ayahku."

Ia mengira keterangannya ini pasti akan membikin kaget Ji Pwe-giok dan Cu Lui-ji, tak terduga Lui-ji hanya mencibir saja dan berkata.

"Rahasia ini tidak luar biasa, sebelumnya kami sudah tahu."

Tong Ki berbalik terperanjat, serunya.

"Apa, kalian sudah tahu sebelumnya?"

"Ya, memang betul.

"tukas Pwe-giok. Dia sebenarnya adalah pemuda yang pendiam, apalagi berada bersama Lui-ji, kesempatannya bicara boleh dikatakan sangat sedikit, sejak tadi sampai sekarang, hanya ketiga kata itu saja sempat diucapkannya. Malahan sekarang Lui-ji terus mendahului berkata pula.

"Tidaklah heran jika hal ini diketahui oleh kami, yang ku herankan justru cara bagaimana kalianpun mengetahuinya?"

Tong Ki tersenyum getir, tuturnya.

"Sebenarnya urusan keluarga Tong ini hanya diketahui olehku sendiri, tapi sekarang kalianpun mengetahuinya, tentu saja sangat mengherankan."

"Malahan kami tahu pula bahwa Tong Bu-siang gadungan itu aslinya cuma seorang kusir,"

Kata Lui-ji pula.

"Kusir?"

Tong Ki menegas dengan tercengang.

"Betul, hanya seorang kusir,"

Kata Lui-ji.

"Dia berkasak-kusuk dengan anak buah Ji Hong-ho di Bong-hoa-lou sana, mereka tidak tahu kami mengintipnya dari balik dinding, sehingga rahasianya ketahuan."

Mendingan dia tidak bicara, sebab Tong Ki tambah bingung oleh ceritanya itu. Dengan menyesal Pwe-giok berkata.

"Urusan ini memang sangat ruwet, tapi yang paling penting haruslah diketahui oleh nona, bahwa semua tipu muslihat, semua intrik keji ini datang dari .... dari Ji Hong-ho itu, dialah yang mendalangi semua kejadian ini."

"Ji Hong-ho?"

Tong Ki menegas pula dengan melenggong.

"Kau maksudkan Ji-lo-siansing yang menjadi Bu-lim bengcu itu?"

"Betul, siapa lagi kalau bukan dia?"

Jawab Pwe-giok dengan menggreget. Tong Ki tambah tercengang, katanya.

"Dan apa sangkut-pautnya dengan urusan keluarga Tong kami ini?"

"Justru lantaran ia ingin menguasai keluarga Tong yang berpengaruh ini, maka dia telah menculik Tong-locianpwe untuk memalsukannya.

"tutur Pwe-giok.

"Tindakannya ini sebenarnya berlangsung dengan sangat rahasia, siapa tahu secara tidak sengaja dapat kami pergoki."

"Kedatangan kami ke sini justru hendak membongkar tipu muslihatnya itu,"

Timbrung Lui-ji tak tahan.

Tong Ki melengak sejenak, mendadak ia bergelak tertawa.

Pwe-giok dan Lui-ji saling pandang dengan bingung, mereka tidak tahu mengapa nona besar keluarga Tong itu tertawa sedemikian geli.

Setelah tertawa sekian lamanya, tiba-tiba Tong Ki menghela napas panjang dan bergumam.

"Agaknya inilah yang disebut manusia berencana, Thian yang menentukan. Betapapun usaha manusia takkan berhasil jika Thian tidak berkenan."

"Apa maksudmu?"

Tanya Lui-ji sambil berkerut kening.

"Terus terang, ayahku sudah wafat belasan tahun yang lalu,"

Tutur Tong Ki dengan suara tertahan. Kembali Pwe-giok terkejut, serunya.

"Belasan tahun yang lalu? Tapi jelas...jelas ku.."

"Waktu beliau wafat, saat itulah suasana di daerah Sujwan ini sedang kacau balau, keluarga Tong kami waktu itupun menghadapi sesuatu yang sangat berbahaya,"

Tutur Tong Ki.

"Berkat mendiang ayahku bertahan dengan tenang sehingga segala kesulitan dapat diatasi. Tapi beliau kuatir apabila dia meninggal, suasana bisa kacau lagi, maka beliau sengaja mencari seorang duplikat untuk menyaru sebagai dia, guna mengatasi segala kemungkinan."

Dia tertawa, lalu melanjutkan.

"Duplikat yang ditemukan ayah itu adalah seorang paman yang masih sanak keluarga kami dan bukanlah kusir segala. paman ini memang sangat mirip ayah, setelah dirias, sukarlah orang luar akan membedakannya. Apalagi seumpama ada sesuatu yang tidak betul, tentu orang akan menyangka karena ayah habis sakit, sehingga terjadi perubahan."

"Jika demikian, jadi Tong-locianpwe yang pernah kutemui itu sesungguhnya juga palsu?"

Kata Pwe-giok dengan menyesal.

Baru sekarang ia paham, mengapa Tong Bu-siang itu kelihatan takut urusan, terkadang sikapnya tidak menampilkan wibawa seorang pemimpin.

Akhirnya iapun paham sebab apa "Tong Bu-siang"

Itu mengkhianatinya.

"Paman itu memang bukan seorang bijaksana dan cekatan, maka sebelum wafat, ayah telah pesan padaku secara wanti-wanti agar paman itu hanya dijadikan sebagai boneka saja. Apabila suatu waktu timbul pikiran jahatnya hendak merebut kedudukan dan merampas kekuasaan, ayah menyuruhku agar membinasakan dia tanpa ragu,"

Setelah berhenti sejenak sambil menghela napas, lalu Tong Ki menyambung.

"Justru karena diberi tugas berat ini oleh mendiang ayahku, terpaksa ku jaga keluarga ini sepenuh tenaga, betapapun aku tak dapat menikah dan ikut suami."

Teringat kepada pengorbanan Tong Ki yang besar ini, tanpa terasa Pwe-giok ikut terharu dan bersedih baginya.

Seorang perempuan rela mengorbankan masa muda sendiri dan hidup kesepian, kehidupan demikian tidaklah mudah dilakukan setiap orang.

"Selama belasan tahun ini,"

Tutur Tong Ki pula.

"pamanku itu tampaknya juga hidup prihatin, segala persoalan akulah yang memutuskan, ia sendiri tidak berani bertindak di luar tahuku. Siapa tahu, setelah pulang sekali ini, dia kelihatan berubah, dalam waktu satu hari saja dia berani mengambil keputusan sendiri dan mengeluarkan belasan macam perintah. Demi untuk melaksanakan pesan ayah, terpaksa kubunuh dia."

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung lagi.

"Tapi akupun tidak menyangka bahwa di balik kepalsuan itu, masih ada tiruan pula. Kejadian aneh di dunia ini sungguh terkadang jauh lebih mustahil daripada dongeng."

Termangu-mangu Lui-ji mendengarkan ceritanya, baru sekarang ia tersenyum getir dan bergumam.

"Ya, memang tidaklah gampang bila suatu keluarga persilatan ternama ingin mempertahankan nama dan kehormatannya."

Tong Ki tersenyum pedih, katanya.

"Betul, umumnya orang hanya tahu kebesaran dan kejayaan keluarga Tong kami, tapi siapa yang tahu di balik kejayaan ini entah tersembunyi betapa banyak pahit getir, betapa banyak mengalirkan darah dan air mata...."

Dia seperti terkenang kepada kejadian-kejadian di masa lampau, tanpa terasa air matanya bercucuran.

Pwe-giok jadi teringat kepada nasib Tong Ki yang pernah bertunangan 2 -3 kali, tapi setiap kali bakal suaminya selalu mati mendadak, apakah orang-orang itu hanya mati secara kebetulan ?

Adakah di balik kematian itu tersembunyi suatu rahasia ?

Teringat demikian tanpa terasa Pwe-giok bergidik.

Ia tidak ingin memikirkannya lagi, juga tidak sampai hati untuk memikirkannya, apapun juga Tong Ki harus dianggap sebagai anak perempuan yang tidak beruntung dan perlu dikasihani.

Kejayaan hanya bisa diperoleh dengan macam-macam imbalan yang besar.

Sejak dahulu kala, di balik soal "kejayaan", entah telah berapa banyak menimbulkan korban, entah berapa banyak tulang-belulang yang bertumpuk dan betapa banyak darah yang mengalir.

Dan semua ini apa cukup berharga?

Lui-ji termenung sejenak, tiba-tiba ia bertanya.

"Apakah Tong Giok juga tidak tahu rahasia keluarga kalian ini?"

"Tidak, iapun tidak tahu,"

Jawab Tong Ki.

"O, pantas dia......

"mendadak Lui-ji tidak melanjutkan ucapannya, sebab ia merasa orang yang telah mati tidak perlu lagi disinggung perbuatannya yang memalukan itu. Pwe-giok memandangnya sekejap sebagai tanda memujinya. Betapapun pada dasarnya Lui-ji adalah anak perempuan yang berhati bajik, cuma seperti juga kebanyakan anak perempuan di dunia ini, terkadang dia suka banyak bicara walaupun sebenarnya bukan waktunya untuk bicara. Tong Ki lantas menutur pula.

"Kecuali diriku dan paman itu, di dunia ini jelas tiada orang lain lagi yang tahu rahasia penyamaran ini. Sebab waktu itu adik-adikku masih kecil, maka ayah menyuruhku sekalian merahasiakan urusan ini bagi mereka."

Diam-diam Pwe-giok menghela napas gegetun, ia tahu Tong Jan juga pasti tidak tahu rahasia ini, kalau tidak, mustahil ia mau membantu Tong Bu-siang gadungan itu untuk mengkhianatinya dahulu.

Rupanya setelah belasan tahun menjadi boneka, Tong Bu-siang palsu itu tidak rela dan merasa penasaran, maka dia bersekongkol dengan Ji Hong-ho untuk mempertinggi kedudukan sendiri dan memperkuat kekuasaannya.

Tapi meski dia telah mengkhianati Ji Pwe-giok, dia tidak menjual keluarga Tong, sebab itulah ketika ajalnya itu, dia tetap tidak memberitahukan rahasia kepalsuannya sendiri kepada Ji Hong-ho.

Pwe-giok menghela napas panjang, ucapnya.

"Apapun juga pamanmu itu tidak bersalah terhadap keluarga Tong kalian."

Tong Ki menghela napas, katanya.

"Demi kehormatan keluarga, terpaksa harus berkorban sendiri, inilah penderitaan kebanyakan murid ke keluarga persilatan di dunia ini, juga semangat dasar keluarga persilatan ini supaya dapat bertahan hidup di dunia persilatan."

"Tadinya akupun sangat mengagumi para murid keluarga persilatan, tapi sekarang.....

"Lui-ji berucap dengan rawan, sebab iapun mempunyai penderitaannya sendiri, menjadi puteri "Siauhun-kiongcu", betapapun bukanlah sesuatu yang enak. Selang sejenak, tiba-tiba ia bertanya pula.

"Rahasia ini mungkin tidak diketahui orang lain, tapi Ji-kohnio tentunya tahu, bukan? "

"Ia baru tahu pada kemarin malam.

"jawab Tong Ki.

"Ooh ? Baru kemarin malam ? "Lui-ji merasa heran.

"Ya, baru kemarin malam, memang betul ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan Tong...Tong Bu-siang itu, setiba di luar pintu, ia memang berhenti di sana, sebab saat itu aku sedang bicara di dalam kamar."

"O, jadi dia menyaksikan kau bunuh Tong Bu-siang itu, tentu saja dia terkejut, ketika kau tahu dia berada di luar kamar, terpaksa kau beritahukan rahasia keluargamu itu kepadanya, begitu ? "tanya Lui-ji.

"Ya, memang betul begitu.

"sahut Tong Ki.

"Aku memang lagi heran mengapa kalian tidak mau menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya."

"Soalnya waktu itu kami belum mengetahui liku-liku urusan ini, lebih-lebih tidak tahu bahwa Tong Bu-siang palsu itu telah dipalsukan pula oleh orang lain."

Lui-ji menjengek.

"Hm, kalian tidak ingin orang luar mengetahui perebutan kekuasaan di tengah keluarga sendiri, demi menjaga nama baik keluarga Tong, lantas kalian korbankan Ji Pwe-giok, begitu bukan?"

Terpaksa Tong Ki menghela napas panjang, sebab dia memang tidak dapat menjawabnya. Lui-ji melototi Tong Lin, katanya pula dengan perlahan.

"Ji-kohnio, ingin kuminta penjelasan sesuatu kepadamu."

Tong Lin menundukkan kepala, seakan-akan tak mau mendongak lagi untuk selamanya. Maka Lui-ji berkata pula.

"Jika kau perlu cari tumbal, siapapun boleh kau cari, kenapa pilihanmu jatuh pada diri Ji Pwe-giok ? Ada persoalan apa antara kau dengan dia ? "

Kepala Tong Lin tertunduk lebih rendah lagi, air matapun berderai. Mendadak Tong Ki menghela napas, katanya.

"Daripada kau minta penjelasannya, lebih baik aku saja yang berbicara baginya."

"Hm, kiranya kaupun tahu apa sebabnya, jangan-jangan hal inipun atas gagasanmu?"

Jengek Lui-ji. Tong Ki tak tahan, iapun balas menjengek.

"Hm, jika gagasanku, tentu takkan jadi begini, sebab biarpun Ji-kongcu adalah pemuda cakap yang jarang ditemukan, tapi bagiku rasanya tidak berarti apa-apa."

Dia seperti dibikin marah oleh Lui-ji sehingga cara bicaranya juga tidak sungkan-sungkan lagi. Lui-ji berbalik tertawa geli malah, ucapnya.

"Baik sekali, justru kuharapkan dia akan dipandang sebagai siluman buruk di mata wanita lain. Apabila semua perempuan di dunia ini berpandangan serupa Tong-toakohnio, maka amanlah hatiku."

Tong Ki memandangnya, rasa gusarnya perlahan-lahan lenyap, sebab ia merasa Lui-ji tidak lebih hanya seorang anak kecil yang berlagak menjadi orang tua.

Ia tertawa, lalu menghela napas panjang lagi dan berkata.

"Namun adik perempuanku ini justru...."

"Toaci!"

Seru Tong Lin mendadak sambil mendongak.

"jangan...jangan kau..."

"Mengapa jangan?"

Jawab Tong Ki lembut.

"Seorang anak gadis jatuh cinta kepada seorang pemuda kan bukan sesuatu yang memalukan ? Mengapa tidak boleh kita katakan terus terang?"

Tubuh Tong Lin tampak gemetar, mukanya bersemu merah. Lui-ji mendelik, ucapnya.

"Jadi maksudmu, lantaran dia suka kepada Pwe-giok, maka dia mencelakainya pula. Wah, kalau begitu, rasa sukanya itu rada-rada tidak enak."

"Dia memang jatuh cinta kepada Ji-kongcu,"

Sambung Tong Ki.

"ketika diketahuinya Jikongcu sudah menikah denganmu, betapa sedih hatinya, tentu dapat kau bayangkan, ditambah lagi kemalangan yang menimpa keluarga kami, derita batinnya mana bisa ditahannya ? "

Dia menatap Lui-ji lekat-lekat, lalu berkata pula dengan perlahan.

"Tentu nona juga tahu, jarak antara cinta dan benci sedemikian kecilnya. Bilamana nona yang berada dalam keadaan seperti dia ini, mungkin kaupun akan bertindak demikian."

Lui-ji terdiam sejenak, ia pandang sekejap Pwe-giok yang sedang melenggong itu, lalu berucap dengan sayu.

"Ya, bisa jadi aku akan bertindak terlebih kejam daripada dia."

"Apalagi, memang cuma Ji-kongcu saja yang dapat disebutnya, bila dia menyebut orang lain, pasti tidak ada yang mau percaya.

"kata Tong Ki.

"Sebab apa? "tanya Lui-ji.

"Sebab dia telah cukup tersiksa demi membela Ji-kongcu.

"tutur Tong Ki dengan gegetun.

"Jika bukan lantaran kejadian itu, meski kemudian tidak menimbulkan banyak persoalan, mungkin dia sudah dihukum mati menurut peraturan rumah tangga kami....."

Sampai di sini, Pwe-giok tidak tahan lagi, ucapnya dengan terharu.

"dia membawa Gin-hoanio ke tempat rahasia pembuatan Am-gi keluarga Tong, apakah tindakannya itu demi diriku ?"

"Asal kau tahu saja,"

Ujar Tong Ki dengan tersenyum getir.

"dan kalau Ji-kongcu sudah tahu, tentunya kau harus memaafkan perbuatannya tadi."

Pwe-giok pandang Tong Lin yang sedang menangis itu dan entah apa yang harus diucapkannya. Tapi Lui-ji lantas mendekati Tong Lin, ucapnya dengan suara lembut.

"Jikohnio, sebenarnya aku benci padamu, tapi sekarang aku benar-benar bersimpati padamu..."

Mendadak Tong Lin melonjak bangun, teriaknya dengan suara parau.

"Aku tidak memerlukan simpatimu, tidak perlu kasihanmu. Kubenci padamu, kubenci kau!..."

Dia terus meronta dan hendak menerjang maju, tapi lantaran hiat-to kaki tertotok, ia jatuh terjungkal pula. Lui-ji menggigit bibir dan tersenyum pedih, ucapnya,"

Tidak perlu kau benci padaku, kubilang dia suamiku, sesungguhnya hanya menipu diriku sendiri saja, sebab dalam hatinya hanya terisi oleh nona Lim Tay-ih itu.

Akupun serupa kau, sama-sama gadis yang harus dikasihani, aku...aku.....

"sampai di sini air matanyapun berderai. Tong Ki memandangi mereka, matanya juga mengembeng air mata, gumamnya.

"Cinta... O cinta..."

Mendadak ia pandang Pwe-giok, ucapnya dengan dingin.

"Ji-kongcu, tampaknya tidak sedikit kau bikin susah orang!"

Pwe-giok tampak terkesima dan bergumam.

"Tidak sedikit orang yang ku bikin susah..."

Ia mengulang kalimat tersebut beberapa kali, tapi selain itu dia memang tidak dapat bicara lain.

Apalagi, biarpun bicara apapun juga, Tong Ki takkan bersimpati padanya.

Tong Ki membangunkan Tong Lin, lalu berkata.

"Sekarang, selesailah perkataanku, bolehlah Ji-kongcu pergi!"

Dia seperti tidak mau memandang Pwe-giok lagi, sampai Lui-ji juga tidak menyangka sikapnya akan berubah menjadi sedingin itu.

Lui-ji tidak tahu bahwa seorang perawan tua biasanya paling benci terhadap lelaki yang tidak berbudi dan tidak setia, seakan-akan dia sendiri sudah beratus kali ditipu oleh kaum lelaki.

Padahal masakah dia tidak tahu bahwa Pwe-giok tidak bersalah, hanya saja ia tidak mau mengakui fakta ini, sebab yang dibencinya bukanlah Ji Pwe-giok melainkan kaum lelaki.

Melihat Tong Ki mulai melangkah pergi dengan memayang Tong Lin, Lui-ji tidak tahan, serunya.

"Nona Tong, apakah rahasia tadi akan kau siarkan ? "

"Tidak.

"jawab Tong Ki.

"Jika ... jika begitu, apa gunanya kau beritahukan rahasia ini kepada kami ? "tanya Lui-ji pula.

"Kenapa tidak ada gunanya ? "sahut Tong Ki.

"Sebab kalau orang lain tidak tahu seluk-beluk persoalan ini, bukankah Pwe-giok akan tetap dianggap sebagai pembunuh Tong-locengcu?"

"Hm, sudah jelas dia tidak setia padamu, untuk apa kau perhatikan dia?"

Jengek Tong Ki, sambil bicara, tanpa menoleh lagi ia terus tinggal pergi. Lui-ji melenggong, ia ingin menyusul ke sana, tapi Pwe-giok keburu menariknya dan berkata.

"Sudahlah, biarkan dia pergi."

"Sudahlah!?"

Teriak Lui-ji.

"Urusan ini mana boleh dianggap sudah? Masa kau lebih suka dituduh orang sebagai pembunuh?"

Pwe-giok termangu sejenak, ucapnya kemudian dengan tersenyum getir.

"Aku sendiri sudah cukup dibebani berbagai tuduhan, biarpun ditambah lagi urusan ini juga tidak menjadi soal."

"Sungguh aku merasa bingung, kau ini orang macam apa,"

Ucap Lui-ji dengan mendongkol.

"Orang lain membikin susah padamu, tapi kau tidak marah sedikitpun. Orang lain kuatir dan gelisah bagimu, kau sendiri malah adem-ayem?"

Pwe-giok tertawa, katanya.

"Jika kau anggap aku ini orang yang tak berbudi dan tak setia, untuk apa lagi kau perhatikan diriku?"

Ucapan Pwe-giok ini membuat Lui-ji melengak, mendadak ia mendekap mukanya dan menangis, dengan gemas ia berkata.

"Masa kau anggap ucapanku tadi tidak pantas? Memangnya hatimu tidak memikirkan Lim Tay-ih melulu? Apakah aku salah omong, salah menuduh padamu?"

Apapun Pwe-giok tidak dapat bicara lagi. Setelah menangis sejenak, rasanya Lui-ji sudah cukup menangis, kemudian ia bergumam.

"Mungkin akulah yang salah. Aku ini gadis cerewet, cengeng, sedikit-sedikit menangis, sering pula bicara, hingga menimbulkan kemarahanmu, mengapa tidak kau tinggalkan diriku dan pergi sendiri saja ? "

Pwe-giok tetap tidak bicara apapun, ia hanya gandeng tangan si nona dan diajaknya berangkat, maka dengan menurut Lui-ji juga ikut berangkat.

Tanpa bicara memang cara yang paling baik untuk menghadapi kaum perempuan.

***** Pwe-giok tahu lorong di bawah tanah itu menembus ke kelenteng yang letaknya terpencil itu.

Di kelenteng itulah anak buah Ji Hong-ho menculik "Tong Bu-siang"

Dan membunuh Tong Jan.

Juga di kelenteng itu untuk pertama kalinya Pwe-giok bertemu dengan Kwe Pian-sian.

Tanpa terasa ia jadi teringat kepada Ciong Cing, gadis yang merana karena cinta itu.

Ke manakah mereka sekarang?

masih hidup atau sudah mati?

Iapun teringat kepada Gin-hoa-nio, teringat kepada nasibnya yang mengerikan itu, maka wajah Kim-hoa-nio, Thi-hoa-nio, Kim-yan-cu dan lain-lain seolah-olah terbayang pula di depan matanya.

Dengan sendirinya, ia lebih-lebih tak dapat melupakan Lim Tay-ih.

Ia menghela napas panjang, pikirnya dengan rawan.

"Nasib mereka sama tidak beruntung, apakah benar akulah yang membikin susah mereka...?"

Hampir setiap anak perempuan yang dikenalnya seakan-akan tidak ada satupun yang beruntung dan bahagia.

Apakah sebabnya?

Wanita cantik biasanya dipandang orang sebagai "air bencana", lalu pemuda cakap seperti Ji Pwe-giok ini terhitung apa?

Jalan tembus pada lorong di bawah tanah itu ditutup oleh sepotong batu yang dapat diputar, sehingga tidak banyak suara yang ditimbulkannya.

Apalagi di luar sana adalah kelenteng di tanah pegunungan sunyi dan jauh dari jejak manusia, biarpun menerbitkan sedikit suara juga tidak menjadi soal.

Namun begitu Pwe-giok tetap sangat hati-hati, lebih dulu ia geser batu itu sedikit, di luar ternyata gelap gulita, biarpun ada cahaya bulan dan bintang juga tak dapat menyinari tempat ini.

Dan biasanya kegelapan selalu berkawan kesunyian, kecuali denyut jantung sendiri, hampir tak terdengar apapun oleh Pwe-giok, bahkan anginpun berhenti berdesir.

Setelah yakin benar keadaan aman, barulah Pwe-giok menarik Lui-ji naik ke atas.

Tapi pada saat itu juga dalam kegelapan mendadak timbul serentetan suara orang tertawa.

Seorang dengan tertawa berkata.

"Baru sekarang kalian muncul? Sudah lama kutunggu di sini."

Pwe-giok terkejut dan menyurut mundur, tapi segera cahaya lampu terang benderang.

"He, Yang Cu-kang!"

Seru Lui-ji kaget.

"Kau benar-benar seperti arwah yang tidak mau buyar, kenapa kaupun ikut ke sini?"

"Bisa jadi lantaran aku dan kalian memang berjodoh..."

Yang Cu-kang tersenyum, dia duduk bersila di lantai, di depannya ada sebotol arak dan beberapa bungkus makanan, ada pula sebuah lampu dan sebuah geretan api. Dengan tertawa ia berkata pula.

"Arak dan makanan ini kubawa sendiri dari tempat perjamuan keluarga Tong sana, meski arak masih hangat, namun makanannya sudah dingin, karena barang didapatkan dengan gratis, biarlah kita nikmati saja seadanya. Marilah, silahkan kalian ikut minum barang secawan."

Pwe-giok memandangnya dengan tersenyum, ucapnya kemudian.

"terima kasih!"

Dia benar-benar mendekati Yang Cu-kang dan ikut duduk di situ, cawan arak diangkatnya dan ditenggak habis.

Lui-ji ingin mendahului mencicipi arak itu, tapi sudah tidak keburu lagi.

Yang Cu-kang tertawa, katanya.

"Ji-heng, ilmu silatmu sebenarnya tidak seberapa, kecakapanmu juga tidak melebihi diriku, tapi kau memang jauh lebih sabar daripadaku. Hal ini mau-tak-mau aku harus kagum padamu. Marilah, ku suguh kau satu cawan."

Lalu dia tertawa terhadap Lui-ji dan berkata pula.

"Hendaknya nona Cu jangan kuatir, arak ini tidak beracun, untuk membunuh orang cukup banyak caraku dan tidak perlu memakai racun."

Biji mata Lui-ji berputar, ucapnya hambar.

"Tapi caraku membunuh orang cuma ada satu, yakni pakai racun. Setiap saat dan di manapun juga dapat ku taruh racun, entah sudah berapa banyak orang yang mati ku racun, tapi tiada seorangpun yang mengetahui cara bagaimana matinya."

Sampai di sini mendadak ia tertawa terhadap Yang Cu-kang dan menambahkan.

"Bukan mustahil akupun sudah menaruh racun di dalam arak yang akan kau minum ini, kau percaya tidak?"

Jika orang lain yang berkata demikian, bisa jadi Yang Cu-kang akan bergelak tertawa dan menenggak habis araknya itu, tapi sekarang kata-kata tersebut diucapkan oleh puteri tunggal Siau-hun-kiongcu, maka bobotnya menjadi lain.

Yang Cu-kang pandang arak dalam cawan yang dipegangnya itu, katanya dengan tetap tertawa.

"Bila benar arak ini sudah kau racuni, tentu takkan kau beritahukan kepadaku, bukan?"

"Kenapa tidak kau coba?"

Ucap Lui-ji dengan tersenyum. Melengak juga Yang Cu-kang, betapapun ia menjadi sangsi, seumpama tahu benar arak ini tidak beracun juga tidak sanggup diminumnya lagi.

"Kenapa? Bukankah nyalimu biasanya sangat besar?"

Tanya Lui-ji.

"Nyaliku memang sangat besar, tapi kalau dipancing orang, seketika bisa berubah menjadi kecil,"

Kata Yang Cu-kang. Dengan jarinya yang lentik, Lui-ji mengambil cawan arak yang dipegang Yang Cu-kang itu, arak dalam cawan dituangnya ke dalam cawan Pwe-giok, lalu berkata dengan terkikik.

"Sayang jika arak ini dibuang, dia tidak mau minum, biar kau saja yang menghabiskannya."

Pwe-giok tertawa, tanpa bicara ia tenggak araknya hingga habis. Dengan tertawa Lui-ji berkata pula.

"Nah, lihatlah, hakekatnya arak ini tidak beracun, kenapa tidak berani kau minum? Sungguh memalukan jika keberanian minum arak saja tidak ada."

Yang Cu-kang tidak malu juga tidak rikuh, ia malah tertawa dan menjawab,"

Apa salahnya jika bertindak hati-hati, apalagi arak kan harus disuguhkan dulu kepada tetamu."

Habis berkata ia menuangi lagi cawan sendiri dengan arak dalam poci, lalu berkata.

"Sekarang arak ini tentunya dapat kuminum tanpa kuatir."

Mata Lui-ji berkedip, katanya.

"Betul, arak baru ini tidak beracun, lekas kau minum saja."

Tapi kembali Yang Cu-kang merasa sangsi, sampai sekian lama ia pandang cawan arak yang dipegangnya itu, katanya dengan menyengir.

"Ah, kalau terlalu banyak minum arak mungkin akan mengidap kanker hati, lebih baik mengurangi minum arak."

Lui-ji tertawa senang, ucapnya.

"Coba lihat, kubilang di dalam arak beracun, kau tidak berani minum, kukatakan arakmu tidak beracun, kaupun tidak berani minum. Memangnya apa yang harus kukatakan supaya kau berani minum arak ?"

"Apapun yang kau katakan, jelas aku tidak ingin minum lagi."

Ujar Yang Cu-kang dengan tertawa. Ia menaruh cawan araknya, lalu bergumam.

"Jiwanya telah kuselamatkan, tapi secawan arak saja aku tidak boleh minum, tampaknya memang lebih baik tidak menolong siapapun."

Mendadak Lui-ji menarik muka, ucapnya.

"Siapa yang minta kau tolong kami ? Tong Giok telah kau bunuh, Kim-hoa-nio juga kau celakai, Thi-hoa-nio juga kau binasakan, kenapa kami tidak kau bunuh, sebaliknya malah menolong kami ?"

"Memangnya kau senang jika kubunuh kalian ?"

Tanya Yang Cu-kang dengan tersenyum.

"Mendingan kau tidak mengincar kami, kalau tidak, tentu susah kau !"

Jengek Lui-ji.

"Bagiku bukan soal susah atau tidak, jika aku berniat membunuh orang, yang menjadi soal adalah orang itu pantas dibunuh atau tidak."

Kata Yang Cu-kang, mendadak ia menarik muka dan menegas.

"Coba, ingin kutanya padamu, seorang demi mendapatkan isteri, dia lupa kepada sanak famili, sampai saudara sendiri juga dikhianatinya, orang demikian pantas dibunuh atau tidak ?"

"Hal ini disebabkan kalian sendiri yang memaksa dia berbuat demikian, masa kau salahkan dia malah ?"

Jawab Lui-ji.

"Jika kupaksa kau bunuh Ji Pwe-giok, kau mau ?"

Tanya Yang Cu-kang.

"Dengan sendirinya tidak mau,"

Sahut Lui-ji.

"Nah, apa bedanya."

Ujar Yang Cu-kang.

"Kupaksa kau atau tidak adalah satu hal, kau mau melakukannya atau tidak juga satu hal yang lain. Jika Tong Giok setia kepada sanak keluarganya seperti kesetiaanmu terhadap Ji Pwe-giok, lalu apa gunanya kami memaksa dia ?"

"Tapi bagaimana dengan Kim-hoa-nio ? Ken..kenapa kau...."

"Kim-hoa-nio ? Bilakah pernah kuganggu seujung rambutnya ? "

Sela Yang Cu-kang.

"Dia sendiri yang rela mati bersama kekasihnya, apa sangkut pautnya dengan diriku? Di dunia ini banyak perempuan bodoh seperti dia, entah berapa banyak yang mati setiap hari, masa aku yang kau salahkan? "

"Hm, kau tolak bersih semua kesalahanmu, jika demikian, jadi kau ini manusia baik hati malah,"

Jengek Lui-ji.

"Ah, predikat ini tak berani kuterima.

"jawab Yang Cu-kang dengan tertawa.

"cuma orang yang memang tidak harus dibunuh, biarpun orang menyembah padaku agar membunuhnya juga takkan kulakukan."

Mata Lui-ji mendelik, teriaknya dengan bengis.

"Lantas bagaimana dengan Thi-hoa-nio? Dalam hal apa dia pantas dibunuh?"

"Thi-hoa-nio? Siapa bilang kubunuh dia?"

"Aku yang bilang!"

Teriak Lui-ji.

"Kau lihat kubunuh dia? Apakah kau lihat jenazahnya? Darimana kau tahu dia sudah mati?"

"Tanpa melihatnya sendiri juga ku tahu dia mati di tanganmu,"

Jengek Lui-ji.

"Eh, coba jawab, bagaimana jika dia tidak mati?"

Tanya Yang Cu-kang tiba-tiba.

"Jika dia tidak mati, biar ku... kutelan guci arak ini,"

Kata Lui-ji.

"Wah, guci arak ini sekali-kali tidak boleh ditelan, kalau kau telan, bila ada orang melihat perutmu mendadak buncit, tentu orang akan heran, masa ada anak perawan bunting sebelum bersuami, bahkan mengandung anak kembar, kalau tidak masakah perutmu sebesar gentong?"

"Siapa bilang perutku besar? "

Teriak Lui-ji dengan gusar dan muka merah.

"Bila perut terisi dua guci, mustahil tidak menjadi besar?"

Lui-ji melengak, tanyanya.

"Dua guci? Dari mana datangnya dua guci ?"

"Kan nona sendiri sudah mempunyai guci cuka, sekarang menelan lagi guci arak, jadinya kan dua guci?"

Jawab Yang Cu-kang dengan tertawa.

Seorang anak perempuan kalau kalah berdebat dengan orang, biasanya kalau tidak menangis dan ribut, sedikitnya juga akan ngambek dan menggunakan macam-macam alasan yang tidak masuk akal, orang lain kudu dibikin keok barulah dia merasa puas.

Jilid 10________ Tapi sayang, segala macam senjata orang perempuan ternyata tidak mempan terhadap orang semacam Yang Cu-kang.

Lui-ji juga tahu bicaranya sia-sia belaka, maka akhirnya dia cuma melotot doang dengan hati gemas.

"Baiklah, anggaplah aku tak dapat mengungguli pembicaraanmu,"

Kata Lui-ji akhirnya dengan tertawa.

"Jika kau jadi perempuan, tentu kaupun seorang perempuan bawel dan barang siapa berhadapan dengan perempuan bawel, anggaplah dirinya sedang sial!"

Tiba-tiba Pwe-giok tertawa dan berkata.

"Eh, Yang-heng menunggu di sini sekian lama. Apakah tujuanmu untuk bertengkar mulut dengan dia?"

Yang Cu-kang jadi melengak dan tidak dapat menjawab untuk sekian lamanya, mendadak iapun tertawa dan berkata.

"Anjing yang menggigit orang biasanya tidak menggonggong, pameo ini ternyata benar. Tampaknya selanjutnya harus kupandang Ji-heng dengan cara lain."

Pwe-giok hanya tertawa saja tanpa menjawab. Terpaksa Yang Cu-kang berhenti tertawa dan berucap dengan sungguh-sungguh.

"Cayhe sengaja menunggu di sini berhubung ku tahu Ji-heng adalah seorang Kuncu sejati."

"Ah, tidak berani,"

Jawab Pwe-giok.

"Selama hidupku paling benci kepada Kuncu palsu, manusia munafik,"

Kata Yang Cu-kang pula.

"Tapi Kuncu sejati seperti Ji-heng ini, Cayhe tetap sangat kagum dan hormat."

"Ah, tidak berani,"

Ucap Pwe-giok pula.

"Lebih-lebih orang jujur dan berpendirian teguh seperti Ji-heng, penuh rasa tanggung jawab dan sanggup menderita..."

Lui-ji tidak tahan, ia menyela.

"Sesungguhnya apa keperluanmu, ingin bicara lekas bicara, ingin kentut lekas kentut, tiada gunanya kau menyanjung puji belaka. Sebab cara bagaimanapun kau jilat dia, jawabannya tetap kedua kata itu saja, yakni tidak berani."

Yang Cu-kang terkekeh, katanya lagi.

"Cayhe hanya ingin minta petunjuk satu hal kepada Jiheng, Kuncu sejati seperti Ji-heng tentunya takkan berdusta padaku."

Benar juga seperti apa yang dikatakan Lui-ji, dengan tersenyum Pwe-giok tetap menjawab.

"Ah, tidak berani!"

"Begini,"

Ucap Yang Cu-kang.

"Cayhe hanya ingin tanya satu hal saja, sesungguhnya siapakah yang membunuh Tong-Bu-siang itu? Apakah Tong-toakohnio yang membunuhnya? Untuk apa dia membunuhnya? Apakah karena dia sudah mengetahui ayahnya itu barang palsu? Darimana pula dia tahu akan hal ini?"

Pwe-giok termenung sejenak, tiba-tiba ia berkata.

"Soal ini bukan lagi satu hal, tapi meliputi lima hal."

Mencorong sinar mata Yang Cu-kang, katanya dengan melotot.

"Baiklah, boleh dianggap Cayhe minta petunjuk lima hal kepadamu."

Dengan perlahan Pwe-giok menjawab.

"Karena Yang-heng sudi bertanya, dengan sendirinya Cayhe tidak berani memberi keterangan bohong. Hanya saja..."

"Hanya saja apa?"

Tukas Yang Cu-kang. Mendadak Pwe-giok tutup mulut dan tidak bicara lagi. Lui-ji bertepuk tangan dan berkata dengan tertawa.

"Hihi, masakah kau tidak paham maksudnya? Dia tidak boleh membohongi kau, tapi juga boleh tutup mulut tanpa bicara. Baru sekarang ku tahu cara inilah cara yang paling baik untuk menghadapi perempuan bawel."

Mendadak Yang Cu-kang berbangkit dan bertanya dengan suara bengis.

"Jadi kau tidak mau bicara?!"

Serentak Lui-ji juga melompat bangun dan menjawab dengan mendelik.

"Memangnya mau apa jika tidak bicara?"

Kelam air muka Yang Cu-kang, Lui-ji menyangka orang pasti akan turun tangan menyerangnya, mau-tak-mau tegang juga hatinya.

Sebab ia menyadari apabila orang mulai turun tangan maka serangannya pasti maha dahsyat.

Tak terduga Yang Cu-kang lantas tertawa malah, katanya.

"Ya sudahlah! Kalau Ji-heng tidak mau bicara, anggaplah aku tidak pernah bertanya."

Lui-ji jadi melengak sendiri, tanyanya.

"He, kenapa kau jadi sungkan?"

"Sebab sesungguhnya aku ingin bersahabat dengan Ji-heng,"

Jawab Yang Cu-kang.

"Apabila Ji-heng sudi mampir ke tempat tinggalku untuk minum barang satu-dua cawan, maka hatiku akan sangat bergembira."

"Ke tempat tinggalmu? Kau punya rumah?"

Tanya Lui-ji dengan terkejut.

"Setiap orang harus punya rumah, masa aku dikecualikan?"

Jawab Yang Cu-kang dengan tertawa.

"Betul, tikus pun punya liang, apalagi kau,"

Ujar Lui-ji.

"Eh, dimanakah letak liang tikusmu?"

"Kediamanku terletak tidak jauh dari sini,"

Jawab Yang Cu-kang.

"Biniku juga dapat membuatkan dua-tiga macam santapan yang dapat sekedar untuk teman minum arak."

Kembali Lui-ji terkejut, ia menegas.

"Hah, binimu? Kaupun punya bini?"

"Jika ada tikus jantan, tentunya perlu tikus betina, kalau tidak darimana datangnya tikus anakan?"

Ujar Yang Cu-kang dengan tertawa. Lui-ji menghela nafas, katanya kemudian.

"Ai, sebenarnya permainan apa yang sedang kau lakukan? Sampai akupun merasa bingung. Tapi aku pun benar-benar ingin tahu macam apakah binimu itu, ternyata sudi diperistri oleh makhluk semacam kau ini."

"Entah Ji-heng sudi mampir atau tidak?"

Tanya Yang Cu-kang. Ji Pwe-giok tertawa, belum lagi dia bersuara, Lui-ji telah mendahului.

"Kuyakin dia juga ingin melihat binimu itu, betul tidak?"

"Haha, bagus,"

Seru Yang Cu-kang sambil bertepuk tangan.

"Bila nona sudah omong begini, mau-tak-mau Ji-heng harus pergi."

Padahal Pwe-giok memang benar ingin pergi juga, sebab kini diketahuinya Yang Cu-kang ini bukan saja misterius, bahkan ajaib, bukan saja menakutkan, tapi juga sangat menarik.

Diundang orang macam begini mungkin sukar ditolak oleh siapapun juga.

Rumah Yang Cu-kang memang betul terletak tidak jauh dari situ, setiba di sana fajar belum lagi menyingsing.

Terlihat di kaki gunung sana ada tiga atau lima buah rumah gubuk, asap dapur kelihatan sudah mengepul keluar atap rumah.

"Wah, tampaknya binimu sangat rajin,"

Ujar Lui-ji sambil berkedip-kedip.

"Sedini ini dia sudah bangun dan menanak nasi."

"Hal ini dilakukannya karena dia tahu bakal kedatangan tamu agung, maka perlu persiapan lebih dulu,"

Jawab Yang Cu-kang.

"Oo? Sebelumnya dia sudah tahu akan kedatangan kami?"

Tanya Lui-ji heran.

"Betul,"

Jawab Yang Cu-kang dengan tertawa.

"Terus terang apabila kalian tidak kubawa pulang sekarang, pintu rumah itu tidak nanti akan terbuka lagi untukku."

Lui-ji bertambah bingung, tanyanya.

"He, sebab apa dia mengharuskan kau bawa pulang kami? Memangnya dia kenal kami?"

Sekali ini Yang Cu-kang hanya tertawa saja tanpa menjawab, tampaknya urusan menjadi semakin misterius.

"He, kutanya padamu, mengapa tidak kau jawab?"

Kata Lui-ji pula.

"Sikapku ini kubelajar dari Ji-heng,"

Ujar Yang Cu-kang.

"Ini namanya kulak kontan jual tunai."

Dengan gemas Lui-ji berkata.

"Baik, sudahlah jika kau tidak mau bicara, toh sebentar juga akan kuketahui."

Pagar bambu di luar rumah gubuk itu penuh dirambati akar-akaran, pintu pagar setengah terbuka, kebun di depan rumah penuh bunga seruni yang sedang mekar sehingga menambah keindahan suasana subuh.

Yang Cu-kang menyilakan tetamunya masuk ke rumah dengan mengulum senyum, sikapnya benar-benar seorang tuan rumah yang simpatik, tapi sesungguhnya apa yang sedang dirancangnya hanyalah Thian yang tahu.

Tepat di tengah ruangan rumah ada sebuah meja sembahyang, yang dipuja adalah lukisan Tho-wan-sam-kiat-gi, atau tiga bersaudara angkat di jaman Tho, yaitu gambar Lau Pi, Kwang Kong dan Thio Hui.

Di sebelahnya adalah gambar Kwan-im-posat.

Di depan tempat pemujaan ada sebuah meja besar.

Pajangan rumah ini adalah model rumah petani asli.

Dipandang dari depan, diamati dari samping, Lui-ji merasa tidak melihat sesuatu yang luar biasa, tapi justeru karena tiada sesuatu yang luar biasa, hatinya juga semakin heran.

Apapun juga Yang Cu-kang tidak mirip petani atau orang yang mau tinggal di rumah gubuk begini.

Di atas meja besar itu benarlah sudah disiapkan beberapa mangkuk santapan, ada mangkuk besar atau mangkuk kecil, semuanya masih mengepulkan asap, jelas baru saja selesai diolah.

Di samping ada satu kuali nasi liwet dan satu guci arak.

Lui-ji tidak sungkan-sungkan lagi, tanpa disuruh ia terus berduduk dan makan.

Setelah berjuang semalam suntuk, dia memang sudah lapar.

Sambil makan sembari berkata dengan tertawa.

"Hah, seni masak binimu memang boleh juga. Sungguh besar rejekimu berhasil mendapatkan seorang bini yang pandai masak."

"Ah, beberapa macam masakan udik ini mungkin tidak cocok dengan selera kalian,"

Ujar Yang Cu-kang dengan tertawa senang.

"Dan dimanakah Enso (sebutan kepada isteri kawan)? Mengapa tidak kau undang keluar untuk bertemu?"

Tanya Pwe-giok.

"Sebentar, mungkin dia lagi sibuk di dapur,"

Ujar Yang Cu-kang.

"Sudah sebanyak ini santapan yang disediakan, apalagi Enso hendak menambahinya lagi, wah hati kami menjadi tidak enak,"

Kata Pwe-giok.

"Untuk tamu agung dengan sendirinya dia bekerja giat,"

Tukas Yang Cu-kang.

"Wah, apakah kalian ingin membikin perut kami meledak? Sudahlah, lekas mengundang Enso keluar saja!"

Pinta Pwe-giok dengan tertawa.

"Baik, baik,"

Yang Cu-kang juga tertawa.

"Jika demikian terpaksa ku turut perintah dengan hormat."

Apabila ada orang lain menyaksikan keadaan ini serta mendengar percakapan mereka, tentu akan disangka sepasang suami-isteri desa ini sedang meladeni sanak famili kaya dari kota.

Mimpi pun takkan tersangka oleh siapa pun bahwa apa yang diucapkan ketiga orang ini adalah basa-basi yang sangat umum, tapi yang terpikir oleh mereka justeru hal-hal yang sangat rumit dan misterius.

Dengan sendirinya lebih-lebih tak terpikir oleh siapapun bahwa ketiga orang yang sedang duduk makan dan omong iseng ini, yang seorang mengemban tugas berat keluarga yang mengalami musibah, putera keluarga ternama dunia persilatan yang telah banyak menimbulkan huru-hara.

Seorang lagi adalah tokoh ajaib yang tindak-tanduknya sangat aneh, sebentar baik, lain saat jahat, tapi memiliki ilmu maha sakti.

Sedangkan orang ketiga adalah puteri mendiang Siau-hun-kiongcu yang termasyhur dan disegani.

Apabila benar ada orang melihat mereka sekarang dan mengetahui asal-usul mereka yang sesungguhnya, bisa jadi siapapun akan ketakutan dan segera angkat langkah seribu, biarpun dibunuh juga tak berani lagi kembali ke sini.

Begitulah terdengar Yang Cu-kang lagi berseru dengan tertawa.

"Ya, menantu buruk rupa akhirnya toh harus menghadap mertua. Bolehlah kau keluar saja sekarang!"

Benarlah, di dapur lantas terdengar seorang perempuan menjawab dengan suara merdu.

"Setelah Pak-lay-cah (goreng jerohan) ini selesai kubuat, segera ku keluar!"

Seketika Lui-ji melengong, ucapnya.

"He, suara siapa itu? Rasanya seperti sudah apal."

"Sudah tentu apal, masa tak dapat kau kenal suaranya?"

Ujar Yang Cu-kang tertawa.

Pwe-giok juga merasa heran.

Pada saat itulah, tirai bambu tersingkap dan muncul seorang nyonya muda berbaju hijau dengan membawa satu piring Pak-lay-cah yang masih hangat.

Melihat nyonya ini, Pwe-giok dan Lui-ji benar-benar melengong.

Isteri Yang Cu-kang ternyata tak-lain tak bukan ialah Thi-hoa-nio.

Sungguh mimpi pun tak terpikir oleh siapapun.

Seumpama saat itu dari dapur mendadak muncul siluman yang berkepala tiga dan berenam tangan takkan membuat mereka lebih kaget daripada sekarang.

Mulut Lui-ji sampai melongo seakan-akan sukar terkatup kembali.

Karena terlalu lebar mulutnya melongo sehingga sepotong Ang-sio-bak yang baru saja dimasukkan ke mulut itu hampir jatuh keluar.

Dengan muka merah Thi-hoa-nio berucap.

"Masakanku kurang enak, hendaknya jangan kalian tertawai."

"Ah, janganlah... enso merasa sungkan,"

Kata Pwe-giok. Betapapun sabarnya, kini iapun harus melongo dan tergagap, sebutan "enso"

Itu harus diucapkannya dengan sepenuh tenaga. Muka Thi-hoa-nio bertambah merah, katanya.

"Pak-lay-cah ini harus dimakan selagi hangathangat, hendaknya Ji-kongcu jangan sungkan."

"Ya, ya, aku tidak sungkan,"

Kata Pwe-giok.

Sungguh ia tidak tahu apa yang dapat dikatakannya lagi, terpaksa mulutnya diisi saja dengan Pak-lay-cah.

Apapun juga Pwe-giok dapat menahan perasaannya, tapi Lui-ji tidak sanggup bertahan lagi, mendadak ia melonjak bangun dan berseru.

"Jadi kau benar-benar telah menikah dengan dia?"

Thi-hoa-nio menengadah, ucapnya dengan tersenyum.

"Seorang perempuan, lambat atau cepat kan harus menikah, bukan?"

Cu Lui-ji duduk lagi di kursinya, ia menggeleng kepada dan berkata.

"Sungguh aku tidak paham, mengapa kau bisa menikah dengan makhluk aneh ini?"

"Kau pandang diriku sebagai makhluk aneh, tapi tidak aneh bagi pandangannya,"

Ujar Yang Cu-kang dengan tertawa.

"Ini namanya lain ladang lain belalangnya, lain pandang lain kesimpulannya. Kalau tidak, setiap perempuan di dunia ini kan serupa nona Cu, hanya Ji-heng saja yang sedap dalam pandanganmu dan lelaki lain tiada satupun yang cocok. Wah, bisa runyam kaum lelaki."

Mendadak ia angkat guci arak dan bergumam.

"Eh, entah betapa rasa guci arak ini dan entah siapa yang beruntung dapat mencicipinya."

Lui-ji menarik nafas panjang.

"Tidak perlu kau pancing diriku, karena sudah kalah dengan sendirinya akan kutelan guci arak ini. Hanya menelan guci arak sekecil ini apa artinya? Bagiku rasanya lebih mudah daripada makan sayur."

"Ha, jika benar kau sanggup barulah benar-benar ku kagum padamu,"

Ujar Yang Cu-kang dengan tertawa.

"Baik, boleh kau lihat saja nanti,"

Kata Lui-ji.

Dia benar-benar mengangkat guci arak itu.

Seketika mata Yang Cu-kang terbelalak, ia tahu bahwa segala sesuatu dapat diperbuat oleh anak dara ini, bisa jadi dia benar-benar akan menelan guci arak itu, maka dia ingin tahu dengan cara bagaimana guci itu akan ditelannya.

Dilihatnya Cu Lui-ji mengangkat guci itu ke atas, lalu dipandang dari kiri dan diamati dari kanan, mendadak ia menggoyang kepala dan berucap.

"Ah, tidak, tidak benar."

"Apanya yang tidak benar?"

Tanya Yang Cu-kang.

"Guci arak yang kukatakan tadi bukanlah guci ini, hendaknya kau pergi ke kelenteng tadi dan mengambilkan guci yang berada di sana,"

Kata Lui-ji. Saking geli, akhirnya Yang Cu-kang bergelak tertawa.

"Apa yang kau tertawakan? Pergilah ambil! Sudah lama ingin kucicipi rasanya guci arak, sungguh aku tidak sabar menunggu lagi!"

Seru Lui-ji.

"Nona berkata demikian, tentunya kau kira ku malas pergi ke sana,"

Kata Yang Cu-kang dengan perlahan.

"Padahal jarak ke kelenteng itu tidak terlalu jauh dari sini, apa halangannya kalau ku pergi lagi ke sana."

Sembari bicara ia lantas berdiri sungguh-sungguh.

"Hm, kalau mau pergi lekaslah pergi, aku tidak sempat menunggu terlalu lama di sini,"

Jengek Lui-ji. Thi-hoa-nio tertawa, katanya.

"Jika benar dia pergi mengambil guci arak itu, biar kubantu kau makan setengahnya."

"Huh, jika mau makan harus kumakan satu guci bulat, kalau cuma setengah saja belum cukup kenyang bagiku,"

Ujar Lui-ji.

"Wah, apapun juga nona memang tidak mau mengaku kalah,"

Ujar Yang Cu-kang.

"Kenapa aku harus mengaku kalah?"

Jawab Lui-ji dengan ngotot. Yang Cu-kang tergelak, ucapnya.

"Tapi jangan kau kuatir, jika benar ku pergi ambil guci itu tentu akan merusak suasana gembira ini. Mana berani ku bikin marah si cantik dan mengharuskan nona menelan guci arak sungguhan."

"Nah, kau sendiri yang tidak mau pergi mengambilnya dan bukanlah aku yang tidak berani makan gucinya,"

Kata Lui-ji.

"Ya, ya, jangankan cuma sebuah guci arak, biarpun selusin juga kupercaya akan dilalap habis oleh nona,"

Seru Cu-kang dengan tertawa. Tanpa terasa Cu Lui-ji tertawa geli, ucapnya.

"Ya, memang betul. Tampaknya kau cepat belajar menjadi pintar."

Pada saat itulah, sekonyong-konyong dari kejauhan ada suara ringkik kuda.

Meski suaranya masih sangat jauh, tapi terdengar sangat jelas pada waktu subuh di daerah pegunungan yang sunyi ini.

Lui-ji berkerut kening, ucapnya.

"Jangan-jangan kalian kedatangan tamu pula."

"Ya, tampaknya memang begitu,"

Sahut Cu-kang.

"Siapakah yang datang?"

Tertarik juga Lui-ji. Yang Cu-kang tersenyum, tanyanya.

"Menurut pendapat nona, siapakah kiranya yang datang itu?"

"Tentunya tidak lain daripada begundalmu itulah,"

Jengek Lui-ji. Mendadak Yang Cu-kang menggebrak meja, serunya dengan bergelak tertawa.

"Hahaha, sedikitpun tidak salah, tampaknya nona cepat belajar menjadi pintar."

Terdengar suara derapan kaki kuda semakin dekat, benar juga arahnya menuju ke rumah gubuk ini, bahkan derap kaki kuda itu sangat kerap, agaknya yang datang ini berjumlah tidak sedikit.

Air muka Lui-ji rada pucat, berulang ia mengedipi Pwe-giok, namun anak muda itu tetap mengulum senyum saja, seolah-olah tidak mendengar apapun.

Mendadak Yang Cu-kang menggebrak meja pula dan berkata.

"Ji Pwe-giok, wahai Ji Pwegiok, sekujur badanmu sungguh nyali belaka, sampai aku mau-tak-mau harus kagum padamu."

"Ah, tidak berani,"

Sahut Pwe-giok dengan tersenyum.

"Kalau nyalimu tidak besar, mana kau berani ikut aku ke sini?"

"Pemandangan di sini sangat indah, Enso juga pandai masak, masa aku tidak ikut ke sini?"

Kata Pwe-giok. Dengan sinar mata mencorong Yang Cu-kang menatap anak muda itu, katanya.

"Masakah tidak kau kuatirkan kemungkinan ku pancing kau ke sarang harimau?"

"Ku tahu Anda bukanlah manusia licik demikian,"

Ujar Pwe-giok dengan tertawa.

"Tahu orangnya, kenal mukanya, tapi tidak tahu hatinya, janganlah Ji-heng menganggap diriku ini orang baik."

"Apabila Anda bermaksud membikin celaka diriku, tentu tidak perlu menunggu sampai sekarang, lebih-lebih tidak perlu banyak membuang tenaga percuma."

Sejenak Yang Cu-kang melototi Pwe-giok, tiba-tiba ia menengadah dan terbahak-bahak, ucapnya.

"Hahaha! Ji-heng menggunakan hati Kuncu untuk menilai perut Siaujin (orang kecil/rendah), mungkin kau akan menyesal kelak."

Terus menerus dia memaki dan menjelekkan dirinya sendiri, tapi Pwe-giok berbalik memberi penjelasan baginya.

Lui-ji menjadi serba salah dan bingung, ia tidak tahu mengapa Pwe-giok sedemikian mempercayai orang ini.

Sejak mula Lui-ji merasakan orang she Yang ini tidak dapat dipercaya, tapi seumpama sekarang mau pergi pun tidak keburu lagi, sebab ketika suara tertawa Yang Cu-kang telah berhenti, tahu-tahu suara derapan kaki kuda yang ramai tadi pun berhenti di depan gubuk.

Segera terdengar seorang berseru.

"Sepada?!"

"Jelas kau tahu di dalam sini ada orang, untuk apalagi bertanya?"

Jawab Yang Cu-kang.

"Setiba di tempat kediaman Yang-kongcu mana kami berani sembarangan masuk ke situ,"

Kata orang di luar dengan mengiring tawa.

"Kau sudah cukup sopan, lekaslah masuk kemari,"

Kata Yang Cu-kang sambil berkerut kening.

Maka terdengarlah suara langkah orang, sejenak kemudian tertampaklah tiga orang melangkah masuk ke dalam gubuk.

Dua orang diantaranya masing-masing membawa sebuah peti, ukuran peti cukup besar, tampaknya tidak ringan bobotnya.

Tapi kedua orang itu dapat mengangkatnya dengan enteng, sedikitpun tidak nampak memakan tenaga.

Orang ketiga bermuka putih, tidak jelek, malahan selalu tertawa, bajunya sangat serasi dengan potongan badannya, golok yang tergantung di pinggangnya tampaknya bukan sembarangan golok, sekujur badannya boleh dikatakan cukup sedap dipandang orang, tapi entah mengapa Yang Cu-kang justeru merasa tidak cocok dengan orang demikian.

Lui-ji merasa orang ini sudah dikenalnya, seperti pernah dilihatnya entah dimana, tapi Pwegiok lantas memberitahukan bahwa tempo hari orang inipun berada di Li-toh-tin dan menyaksikan Ji Hong-hong main catur bersama Tong Bu-siang itu.

Malahan kemudian ketika Ji Hong-ho mengunjungi Hong-samsiansing di loteng kecil itu, rasanya orang inipun ikut serta.

Begitu masuk segera orang ini memandang sekejap Ji Pwe-giok dan Cu Lui-ji, seketika sikapnya rada berubah.

Pwe-giok diam saja dan berlagak tidak mengenalnya.

"Barang yang ku hendaki apakah sudah dibawa kemari?"

Tanya Yang Cu-kang. Kedua orang yang membawa peti itu menjawab.

"Ya, berada di dalam peti ini."

"Tentunya tidak keliru, bukan?"

Cu-kang menegas.

"Barang pesanan Kongcu mana bisa keliru?"

Ujar kedua orang itu dengan tertawa sambil melirik Pwe-giok, tampaknya merekapun rada sirik padanya. Mendadak Yang Cu-kang berseru.

"He, kiranya kalian saling kenal?"

Si muka putih bergolok tadi terkejut, cepat ia berkata dengan tertawa.

"O, ti... tidak kenal."

"Jika tidak kenal, biarlah kuperkenalkan kalian,"

Kata Cu-kang dengan tertawa. Lalu ia tuding kedua orang yang menggotong peti itu dan menjelaskan.

"Kedua orang ini yang satu bernama Pi-san-to (golok pembelah gunung) Song Kang dan yang lain bernama Pah-hou-kun (jago pukul harimau) Tio Kiang. Konon mereka adalah tokoh terkemuka di sekitar utara Kangsoh."

Tio Kiang dan Song Kang tertawa dan mengucapkan kata-kata rendah hati. Yang Cu-kang lantas menyambung lagi sambil mendengus.

"Padahal, huh, golok pembelah gunungnya itu tidak lebih banyak golok pembelah kayu, dan si jago pukul harimau itu, hahaha... bukan saja harimau tak terpukul mati, bahkan kucing saja tak dapat dipukulnya mati."

Keruan muka Tio Kiang dan Song Kang sebentar merah sebentar pucat, mereka tidak berani marah, mau tertawa juga tidak bisa, jadinya cuma menyengir.

Melihat keadaan mereka yang serba salah itu, Lui-ji merasa kasihan kepada mereka.

Lalu Yang Cu-kang menuding lagi si muka putih dan berkata.

"Dan kungfu saudara ini jauh lebih tinggi daripada kedua orang tadi, dia bernama Giok-bin-sin-to (si golok sakti bermuka kemala) Co Cu-eng. Golok yang tergantung di pinggangnya itu meski tak dapat memotong besi dan merajang baja seperti memotong sayur, tapi sedikitnya berharga beberapa tahil perak untuk beli arak. Beberapa jurus permainan goloknya juga cukup menarik untuk ditonton."

Tak tertahan tersembul juga senyuman bangga Co Cu-eng, dengan tertawa ia berkata.

"Ah, Kongcu terlalu memuji."

Yang Cu-kang tidak menghiraukannya, ia menyambung pula.

"Cuma orang ini lebih tepat diberi nama "macan ketawa"

Atau "Siau-li-cong-to" (di balik senyuman tersembunyi pisau), perutnya penuh berisi air kotor, dia inilah model orang munafik yang dimulut menyebut sayang, tapi sekaligus juga menikam."

Co Cu-eng masih juga tertawa, cuma tertawa yang lebih tepat disebut menyengir.

"O, kagum,"

Demikian Pwe-giok memberi hormat.

"Kau tidak perlu sungkan terhadap mereka,"

Kata Cu-kang pula.

"Ketiga orang ini adalah begundal Ji Hong-ho, jika ada kesempatan setiap saat jiwamu diincar mereka, tidak nanti mereka sungkan padamu."

Tiba-tiba Lui-ji menyeletuk.

"Ah, kalian datang dari jauh, jangan-jangan menghendaki jiwa kami?"

Co Cu-eng tertawa terkekeh, katanya.

"Untuk ini harus melihat bagaimana kehendak Yangkongcu, sebab kamipun termasuk begundal Yang-kongcu."

Serentak Lui-ji berdiri sambil melototi Yang Cu-kang. Namun dengan tenang Yang Cu-kang berkata.

"Siapa di antara kalian yang mengincar jiwa siapa, semuanya aku tidak ambil pusing, terserah kepada kalian siapa yang lebih tangguh."

Mendadak ia berkata kepada Co Cu-eng dengan tertawa.

"Santapan sudah ku sediakan di atas meja, apakah kalian perlu menunggu ku tuangkan ke dalam mulut kalian?"

Seketika semangat Co Cu-eng terbangkit, mata Tio Kiang dan Song Kang juga terbeliak.

"Bagus, kiranya kau pancing kami ke sini dan menganggap kami sebagai santapan lezat?"

Teriak Lui-ji dengan gusar. Yang Cu-kang menghela nafas, katanya.

"Kan sudah kukatakan padamu bahwa aku ini cuma seorang Siaujin, siapa suruh dia mengukur diriku sebagai Kuncu. Dia sendiri yang mau masuk perangkap, masakah menyalahkan orang lain?"

Pwe-giok tertawa hambar, katanya.

"Cayhe tidak pernah menyalahkan orang lain."

Segera Co Cu-eng memberi isyarat kepada Tio Kiang dan Song Kang, lalu berkata.

"Jika demikian, kami akan..."

Mendadak Thi-hoa-nio berteriak.

"Aku tidak perduli apa kehendak kalian, yang pasti santapan yang kubuat dengan susah payah ini tidak boleh disia-siakan, seumpama kalian harus mengadu jiwa, sedikitnya harus tunggu dulu setelah mencicipi masakanku ini."

"Dan nona ini siapa lagi?"

Tanya Co Cu-eng dengan ketus.

"Ini bukan nona, tapi nyonya isteriku,"

Kata Cu-kang. Co Cu-eng melengak, cepat ia memuji dengan tertawa.

"Wah, pantas masakan ini enak dipandang dan sedap dimakan, kiranya adalah hasil karya nyonya."

"Belum kau makan, darimana kau tahu rasanya masakan ini?"

Ujar Thi-hoa-nio.

"Biarlah kami menyelesaikan urusan pokok dulu, habis itu barulah kami menikmati masakan enak nyonya,"

Kata Co Cu-eng dengan tertawa.

"Wah, akan terlambat nanti, sebab masakan ini harus dimakan selagi panas,"

Kata Thi-hoanio.

"Apalagi jika diantara kalian berlima ada dua yang mati, mungkin masakan ini takkan habis termakan, kan sayang?"

Yang Cu-kang menghela nafas pula, katanya.

"Masakan lezat yang sudah disiapkan oleh orang perempuan, kalau tidak ada yang makan, rasanya sakit seperti mukanya tertampar. Maka kupikir kalian perlu makan lebih dulu."

"Betul, kenyang makan barulah bertenaga, kalau mati juga tidak perlu menjadi setan kelaparan,"

Tukas Thi-hoa-nio dengan tertawa.

Dengan simpatik ia mengambilkan tiga pasang sumpit dan dibagikan kepada Co Cu-eng bertiga.

Kalau tangan sudah memegang sumpit, dengan sendirinya tak dapat lagi memegang senjata.

Padahal setelah menempuh perjalanan jauh, Song Kang dan Tio Kiang memang juga sudah lapar.

Mula-mula mereka merasa sungkan, tapi setelah menyumpit dua-tiga kali, akhirnya makan mereka jadi bernafsu, kerja sumpit mereka seperti mesin saja cepatnya.

"Cara menyerang kalian kalau bisa secepat sumpit kalian ini, maka Ji-heng pasti akan celakalah nanti,"

Kata Yang Cu-kang dengan tertawa.

"Plak,"

Mendadak Thi-hoa-nio menampar Yang Cu-kang dengan perlahan, omelnya dengan tertawa.

"Cis, coba kau lihat, sedikitpun kau tidak pantas menjadi tuan rumah, kan seharusnya kau bujuk para tamu makan lebih banyak."

"Plok,"

Yang Cu-kang juga membalas menamparnya perlahan serta menjawab dengan tertawa.

"Isteriku sayang, jangan kuatir, sebelum masakanmu ini dimakan habis, siapapun dilarang turun tangan."

Di hadapan sekian orang, kedua suami isteri ini ternyata bersenda gurau dengan mesranya.

Melihat kedua orang ini sedemikian mesra dan penuh kasih sayang, diam-diam Lui-ji merasa heran dan dongkol pula.

Semula dia mengira sebabnya Thi-hoa-nio memaksa Co Cu-eng bertiga makan dulu pastilah mempunyai maksud tujuan tertentu, bisa jadi ingin membantu dirinya dan Pwe-giok, bahkan mungkin sekali di dalam santapan itu sudah diberinya racun untuk mematikan Co Cu-eng bertiga.

Tapi sekarang tampaknya tidak demikian adanya.

Thi-hoa-nio benar-benar seperti pengantin baru yang mulai belajar masuk dapur dan buruburu ingin memperlihatkan kemahirannya memasak, di dalam makanan ternyata tiada racun sedikitpun.

Tampaknya Yang Cu-kang sudah mengambil keputusan akan menjual Ji Pwe-giok kepada Ji Hong-ho, cuma dia sendiri malas turun tangan.

Meski Lui-ji tidak gentar menghadapi Co Cueng bertiga, tapi kalau mereka tidak mampu mengatasi Pwe-giok, akhirnya Yang Cu-kang juga akan turun tangan dan Pwe-giok tetap sukar lolos dari cengkeraman mereka.

Makin dipikir makin kuatir Lui-ji, dengan sendirinya dia tidak bernafsu makan, sungguh ia ingin mendepak meja makan itu supaya jungkir balik, kalau bisa lari akan terus lari, kalau tidak bisa lari harus turun tangan lebih dulu.

Tapi Pwe-giok kelihatan makan dengan nikmatnya, bahkan ia sibuk menyumpit Pak-lay-cah yang masih hangat itu dan dikunyah dengan perlahan.

Lui-ji sangat mendongkol, ia tidak tahan, katanya.

"Apakah selama hidupmu tidak pernah makan Pak-lay?"

Lebih dulu Pwe-giok menelan makanan yang memenuhi mulutnya itu dan didorongnya dengan seceguk arak, lalu memejamkan mata dan menghela nafas lega, kemudian menjawab dengan tersenyum.

"Pak-lay-cah selezat ini, selanjutnya mungkin sulit untuk mencicipinya lagi, kesempatan terakhir ini mana boleh dilewatkan secara sia-sia?"

Hampir saja Lui-ji berteriak, tapi bila terpikir setelah mengalami perjuangan mati-matian, akhirnya Pwe-giok tetap juga akan jatuh ke dalam cengkeraman Ji Hong-ho, tanpa terasa hatinya menjadi pedih.

Pwe-giok menyumpit secuil daging itik ke mangkuk Lui-ji, katanya.

"Itik cah sayur Kay-lan ini adalah masakan terkenal daerah Sujwan, meski tidak selezat bebek panggang Peking yang termasyhur itu, tapi mempunyai cita rasa tersendiri, kau perlu mencicipinya."

Lui-ji memandang sekejap, tanpa omong apa-apa ia makan daging bebek itu. Melihat Pwe-giok dan Lui-ji juga makan dengan nikmatnya, Thi-hoa-nio berucap dengan tertawa.

"Bebek ini memang tidak selezat bebek panggang Peking, tapi cukup untuk meledakkan perut orang yang makan terlalu bernafsu."

Saat itu Tio Kiang dan Song Kang memang sudah penuh mengisi perut mereka, mendengar ucapan Thi-hoa-nio itu, mereka menjadi melengak dan curiga.

Benarlah, ketika mereka mengerahkan tenaga dalam, terasa perut seperti ditusuk jarum, sakit dan perih.

Mereka tahu gelagat jelek, segera Tio Kiang meraung.

"Keparat orang she Yang, sampai hati kau kerjai kawan sendiri dan mengkhianati perintah Bengcu?!"

Co Cu-eng lebih cerdik, sejak tadi dia belum sempat makan, demi melihat keadaan kedua rekannya itu, serentak ia mendahului angkat langkah seribu.

Akan tetapi baru saja tubuhnya melayang keluar gubuk, mendadak Yang Cu-kang membentak.

"Lari kemana!"

Berbareng kedua tangannya bekerja dengan cepat, belum lagi Tio Kiang dan Song Kang sempat melakukan perlawanan, tahu-tahu mereka tercengkeram seperti anak ayam dicengkeram elang, sekali lempar kedua orang itu disambitkan ke arah lari Co Cu-eng.

Sungguh dahsyat luar biasa daya lempar kedua sosok tubuh itu, baru saja Co Cu-eng sempat melompat keluar halaman, dua sosok tubuh kawan sendiri sudah menumbuk punggungnya, dia menjerit ngeri dan roboh terkapar.

Song Kang dan Tio Kiang juga terbanting dan tak bisa bergerak lagi.

Rupanya pada waktu mencengkeram mereka, sekaligus Yang Cu-kang telah meremas Hiat-to maut mereka sehingga binasa seketika.

Selesai membereskan ketiga orang itu, Yang Cu-kang tepuk-tepuk tangannya, lalu berduduk kembali, katanya.

"Aku ini memang orang busuk, jangan Ji Hong-ho harap akan dapat memperalat diriku."

Lui-ji tertawa, katanya.

"Kau ini sungguh orang aneh. Kalau orang lain sedapatnya ingin orang lain memujinya sebagai orang baik, hanya kau saja yang justeru lebih suka dimaki orang sebagai telur busuk, makin sering dimaki orang makin senang kau."

"Aku ini memang telur busuk, biarpun setiap orang bilang aku ini baik, memangnya aku dapat berubah menjadi telur baik?"

Ujar Yang Cu-kang. Dengan tertawa Thi-hoa-nio ikut berkata.

"Sejak kecil dia sudah biasa dimaki orang, kalau tiga hari tidak dimaki, tentu tulangnya akan terasa gatal dan pegal, lantaran inilah aku mau menjadi isterinya, sebab aku paling suka memaki orang dan sekarang setiap hari aku dapat memaki dia secara gratis."

Lui-ji tertawa.

"Wah, tampaknya kau mendapatkan suami yang tepat, dapat memaki lakimu setiap hari dan lakimu pasti tidak balas memaki, sungguh besar rejekimu dapat memperoleh laki semacam ini."

"Eh, kalau nona merasa iri, kenapa tidak menikah sekalian denganku,"

Ujar Yang Cu-kang dengan tertawa.

"Tapi sayang kau sudah berbini, kalau tidak tentu aku..."

"Tambah bini tambah rejeki, semakin banyak bini semakin baik,"

Seru Yang Cu-kang sambil terbahak.

"Akan tetapi sayang, aku ini tidak suka memaki orang,"

Kata Lui-ji.

"O, kiranya nona juga serupa diriku, lebih suka dimaki orang,"

Tanya Yang Cu-kang.

"Wah, baru saja kukatakan kau ini seorang Kuncu, sekarang penyakitmu sudah kumat lagi?"

Omel Lui-ji.

"Aku memang bukan seorang Kuncu, siapa bilang aku ini seorang Kuncu?"

Jawab Cu-kang dengan serius.

"Apabila aku ini seorang Kuncu, sekarang kuterima upah dari Ji Hong-ho, seharusnya aku setia kepada perintahnya dan bekerja baginya. Tapi aku justeru terima upah dari dia tapi bekerja bagi orang lain, apakah ini perbuatan seorang Kuncu?"

"Jika demikian, bilamana kami kau bunuh barulah kau terhitung seorang Kuncu?"

Tanya Luiji.

"Juga belum tentu,"

Ujar Yang Cu-kang.

"Cuma sedikitnya perlu ku tutuk Hiat-to kalian, ku masukkan kalian ke dalam peti, lalu ku antarkan ke tempat Ji Hong-ho."

Bicara tentang peti, tanpa terasa pandangan Lui-ji jadi tertarik kepada kedua peti yang dibawa datang oleh Tio Kiang dan Song Kang tadi.

Kedua peti itu berukuran cukup besar dan memang dapat memuat satu orang.

"Eh, apakah isi kedua peti itu?"

Tanya Lui-ji.

"Kedua peti adalah kado Ji Hong-ho yang minta ku antarkan kepada Pek-hoa-pangcu Kunhujin,"

Tutur Cu-kang.

"Kado? Kado apa?"

Tanya Lui-ji pula.

"Apa salahnya jika nona menerkanya?"

"Aku bukan Khong Beng, mana dapat kuterka isi kedua peti ini?"

"Isi peti itu sudah lama dilihat oleh nona..."

Tiba-tiba Pwe-giok menimbrung dengan tertawa.

"Eh, bagaimana kalau Cayhe ikut menebak teka-teki ini?"

"Boleh saja,"

Sahut Yang Cu-kang.

"Isi peti itu adalah manusia."

"Oo?!"

Yang Cu-kang bersuara singkat.

"Bahkan terdiri dari seorang lelaki dan seorang perempuan."

"Oo?!"

Yang Cu-kang bersuara pula.

"Mereka adalah Kwe Pian-sian dan Ciong Cing,"

Demikian Pwe-giok menambahkan. Gemerdep sinar mata Yang Cu-kang, ia tatap Pwe-giok lekat-lekat, selang sejenak barulah ia menghela nafas panjang, ucapnya.

"Pantaslah Ji Hong-ho bertekad harus melenyapkan dirimu, bilamana aku mempunyai musuh cerdik pandai semacam kau, mungkin akupun tidak enak makan dan tidak nyenyak tidur."

"O, jadi isi peti memang betul orang she Kwe itu?"

Tanya Lui-ji.

"Ya, sedikitpun tidak salah,"

Sahut Cu-kang.

"Tempo hari, ketika timbul kebakaran di Li-tohtin, akhirnya mereka jatuh pingsan di tengah lautan api, untung mereka diselamatkan lalu diisi ke dalam peti seperti babi panggang."

Sembari mendengarkan cerita Yang Cu-kang itu, segera Lui-ji mendekati peti dan bermaksud membukanya.

Tapi sekali berkelebat, tahu-tahu Yang Cu-kang sudah berduduk di atas peti, ucapnya dengan perlahan.

"Peti ini tidak boleh disentuh olehmu, kecuali Kun Hay-hong sendiri, siapapun tidak boleh membukanya."

"Siapa bilang tidak boleh?"

Teriak Lui-ji dengan mendelik.

"Janganlah nona mendelik padaku, larangan ini bukan kehendakku,"

Kata Yang Cu-kang dengan tertawa.

"Bukan kau, habis siapa?"

Tanya Lui-ji.

"Siapa lagi, tentulah Bu-lim Bengcu sekarang, Ji Hong-ho, Ji-losiansing,"

Jawab Cu-kang.

"Hah... kenapa sekarang kau tunduk lagi kepada perintahnya?"

"Ehmm!"

Yang Cu-kang hanya mengangguk. Seketika Lui-ji melonjak bangun, teriaknya.

"Yang Cu-kang, coba jawab, sesungguhnya kau ini kawan kami atau antek Ji Hong-ho?"

"Adakah faedahnya menjadi kawan kalian?"

Tanya Yang Cu-kang acuh tak acuh.

"Sudah tentu banyak faedahnya, misalnya..."

Tapi Lui-ji jadi sukar untuk menerangkan.

"Haha, jika nona tak dapat menerangkan, biarlah ku wakili dirimu sebagai juru bicara,"

Seru Yang Cu-kang dengan tertawa sambil menekuk jarinya.

"Pertama, kalian sanggup membantu aku makan minum. Faedah kedua, jika aku lagi iseng, boleh ku pergi kemanapun untuk menolong kalian. Faedah ketiga, haha... pokoknya banyak sekali faedahnya dan sukar untuk diceritakan satu per satu. Akan tetapi aku lebih suka tiada satupun mendapatkan faedah itu."

"Jadi akhirnya kau toh mengaku dirimu adalah antek Ji Hong-ho,"

Ujar Lui-ji.

"Seorang baik-baik seperti diriku menjadi bos besar saja cukup memenuhi syarat, untuk apa aku menjadi antek orang lain?"

Jawab Cu-kang dengan tertawa.

"Habis, sesungguhnya apa maksud tujuanmu?"

"Aku tetap aku, bukan kawan siapapun, juga tidak menjadi antek siapapun. Apa yang kulakukan tanggung jawabku sendiri, ingin berbuat apapun boleh kulakukan sesukaku."

"Jadi urusan apapun yang berfaedah bagimu lantas kau lakukan, begitu?"

"Tepat! Sedikitpun tidak salah, ucapan nona sungguh kena di dalam hatiku,"

Seru Yang Cukang sambil bergelak. Lui-ji tidak sanggup berucap pula saking dongkolnya. Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara roda kereta yang berkumandang dari kejauhan.

"Aha, meski aku tidak punya kawan, tapi tidak sedikit tetamuku,"

Kata Cu-kang dengan tertawa.

Sembari bicara ia terus melayang keluar, sekali mengitar hanya sekejap saja ketiga sosok mayat di luar sana telah di depak ke tempat gelap, baru lenyap suaranya dia sudah duduk kembali di tempat semula seperti tidak pernah bergerak sedikitpun.

"Yang datang ini apakah juga mengantarkan kado?"

Jengek Lui-ji, lalu sambungnya.

"Tapi sayang, seperti mak inang yang mengasuh anak, akhirnya anak itu tetap punya orang."

Dia bicara sambil berdiri di ambang pintu, kini dapat dilihatnya seorang muncul dengan mendorong sebuah gerobak beroda satu dari liku jalan pegunungan sana.

Di atas gerobak memang betul termuat dua buah peti, pendorong gerobak itu hanya berlengan satu, sebelah lengannya sudah buntung.

Akan tetapi gerobak itu dapat dikuasainya dengan stabil, bahkan cukup cepat lajunya.

Mendadak Thi-hoa-nio mengikik tawa.

"Kenapa kau tertawa gembira?"

Tanya Lui-ji dengan mendelik.

"Dia mendapatkan suami semacam diriku, kalau dia tidak gembira lantas siapa yang akan gembira?"

Ujar Yang Cu-kang.

"Hm, kukira terlalu dini dia bergembira,"

Jengek Lui-ji.

"Aku bukan gembira, melainkan merasa rasa geli,"

Kata Thi-hoa-nio.

"Apa yang menggelikan?"

Tanya Lui-ji.

"Coba lihat,"

Jawab Thi-hoa-nio sambil mencibir keluar.

"Kanglam-tayhiap Ong Uh-lau yang gagah perkasa dan terhormat kini ternyata telah menjadi tukang gerobak, apakah tidak lucu dan menggelikan?"

"Perbuatannya ini hanya sekedar menebus dosa saja,"

Ujar Yang Cu-kang.

"Menebus dosa?"

Thi-hoa-nio menegas.

"Ya, sebab dia suka membual, tapi seorang anak ingusan seperti Tong Giok saja tak dapat dijaganya, untuk kesalahannya itu mestinya akan kutabas pula sebelah tangannya,"

Kata Cukang.

Dalam pada itu gerobak dorong satu roda itu sudah masuk halaman, Ong Uh-lau juga sudah melihat jelas Cu Lui-ji dan Ji Pwe-giok yang berada di dalam rumah, seketika air mukanya berubah pucat, tapi cepat pula ia tertawa, katanya.

"Aha, tidak tersangka Ji-kongcu juga berada di sini, selamat bertemu!"

Dengan tertawa genit Thi-hoa-nio menegur.

"Masakah yang kau kenal cuma Ji-kongcu saja dan tidak kenal lagi padaku?"

Saat itu sebelah kaki Ong Uh-lau baru melangkah masuk ke dalam rumah, ia memandang sekejap kepada Thi-hoa-nio, seketika sebelah kakinya itu ditarik kembali keluar, mukanya juga berubah pucat, serunya dengan parau.

"Hah, Khing hoa-samniocu!"

"Hihi, boleh juga daya ingatmu!"

Kata Thi-hoa-nio dengan tertawa. Tanpa terasa Ong Uh-lau memandang lengan baju sendiri yang kosong melompong itu, lalu berucap sambil menyeringai.

"Kebaikan nona terhadapku, selama hidup tentunya tak dapat kulupakan, bukan?"

"Aku bukan nona lagi, tapi nyonya,"

Sahut Thi-hoa-nio.

"Oo, Ji-hujin?"

Ucap Ong Uh-lau sambil mengerling ke arah Ji Pwe-giok. Thi-hoa-nio menggeleng, dan Yang Cu-kang lantas berkata dengan tertawa.

"Bukan Ji-hujin melainkan Yang-hujin."

Terbelalak mata Ong Uh-lau, sampai sekian lama ia melenggong, mendadak ia membungkuk tubuh sebagai tanda hormat dan berkata.

"Kionghi, kionghi, selamat, selamat! Yang-Kongcu menikah, kenapa tidak mengirim kartu undangan padaku? Wah, aku harus disuguh arak bahagia kalian!"

"Arak bahagia baru saja habis terminum, yang masih tersisa adalah satu porsi Ang-sio-paykut (tulang iga saus manis), jika sudi, silahkan minum saja satu-dua cawan,"

Kata Yang Cukang, ia sendiri lantas mengambilkan sepasang sumpit dan ditaruh di depan Ong Uh-lau.

Kalau Thi-hoa-nio yang mengambilkan sumpit, mungkin matipun Ong Uh-lau tidak berani menggunakannya, tapi Yang Cu-kang sendiri yang mengambilkan sumpitnya, Ong Uh-lau tidak curiga sedikitpun, bahkan rada bangga karena dilayani tuan rumah sendiri.

Berulang kali ia mengucapkan terima kasih, katanya sambil tertawa.

"Ehm, Ang-sio-pay-kut adalah kegemaranku, satu macam makanan ini sudah cukup bagiku, terima kasih. Aku tidak sungkan lagi."

Tadinya Lui-ji kuatir orang tidak dapat dijebak, siapa tahu tanpa ragu ia terus pegang sumpit dan mulai makan, diam-diam Lui-ji merasa girang dan juga heran.

Padahal Ong Uh-lau terkenal licik dan licin, menghadapi keadaan yang lain daripada biasanya ini seharusnya dia waspada dan berjaga-jaga, tapi sekarang dia sedemikian percaya kepada Yang Cu-kang, hal ini menandakan hubungan antara Yang Cu-kang dan Ji Hong-ho pasti lain daripada yang lain, tentunya sebelumnya Ji Hong-ho telah memberi pesan padanya agar segala urusan harus tunduk kepada perintah Yang Cu-kang.

Ji Hong-ho sendiri juga sangat licin dan sangat cermat memperhitungkan segala sesuatunya, kalau dia sedemikian mempercayai Yang Cu-kang, tentu juga ada alasannya.

Akan tetapi tindak tanduk Yang Cu-kang justeru luar biasa, sebentar baik lain saat jahat sehingga sukar diraba, sekarang bahkan Ong Uh-lau juga akan dibinasakan olehnya, sesungguhnya apa maksud tujuannya dengan bertindak demikian?

Sesungguhnya ada hubungan apa antara dia dengan Ji Hong-ho?

Dan mengapa Ji Hong-ho sedemikian percaya padanya?

Sungguh makin dipikir makin bingung Cu Lui-ji.

Didengarnya Yang Cu-kang lagi tanya kepada Ong Uh-lau.

"Peti yang kau bawa kemari tentunya tidak keliru bukan?"

"Kongcu jangan kuatir, Cayhe sudah salah satu kali, masakah berani salah untuk kedua kalinya?"

Jawab Ong Uh-lau. Ia menenggak araknya lalu menyambung pula.

"Cayhe telah melaksanakan pesan Kongcu dan menemui Hay-kongcu di tempat yang ditentukan, lalu Haykongcu menyerahkan kedua peti ini kepadaku. Tanpa melihatnya terus saja Cayhe mengangkutnya kemari."

"Apakah Hay-kongcu tidak titip surat untukku?"

Tanya Yang Cu-kang.

"Kata Hay kongcu, mendadak ia melihat jejak seorang yang mencurigakan, maka harus diselidiki hingga jelas, sebab itulah dalam beberapa hari ini mungkin Kongcu tak dapat bertemu dengan beliau."

Yang Cu-kang berkerut kening dan berpikir sejenak, tiba-tiba ia tertawa dan berkata.

"Pekerjaanmu ternyata dapat kau laksanakan dengan cukup memuaskan, dan sekarang bilamana kau ingin memberi pesan terakhir apa-apa boleh kau katakan saja padaku."

Ucapan ini membuat Ong Uh-lau melengak, wajahnya yang berseri-seri tadi seketika lenyap, ia menegas dengan suara parau.

"Pesan terakhir?"

"Ya, setelah kau makan racun dari Siau-hun-kiong, masa kau kira dapat hidup lebih lama lagi?"

Sahut Yang Cu-kang dengan tak acuh. Tubuh Ong Uh-lau bergetar hebat, cawan arak yang dipegangnya hampir saja jatuh ke lantai, ucapnya dengan terputus-putus.

"Ah, jangan... janganlah Kongcu bergurau."

"Siapa bergurau dengan kau?"

Jengek Yang Cu-kang sambil menarik muka. Tubuh Ong Uh-lau menggigil dan muka pucat seperti mayat, mendadak ia mendepak meja sehingga mangkuk piring berantakan, teriaknya dengan suara parau.

"Bengcu menaruh kepercayaan penuh padamu, tapi kau... kau..."

Mendadak tenggorokannya seperti tersumbat, sekonyong-konyong tangannya menghantam ke belakang, mengincar batok kepala Cu Lui-ji.

Rupanya dia menyadari dirinya bukan tandingan Yang Cu-kang, maka Lui-ji yang diincarnya.

Serangan ini cukup nekat, tujuannya hanya untuk mencari tumbal saja daripada mati konyol.

Sejak tadi dia melotot dan menghadapi Yang Cu-kang, orang lain sama sekali tidak menyangka dia akan menyerang Cu Lui-ji, apalagi serangan cepat dan keji, dapat dibayangkan betapa bahayanya.

Pengalaman tempur Lui-ji juga masih cetek, keruan ia terkejut akan serangan itu, tampaknya dia tidak sempat berkelit.

Syukurlah pada detik terakhir Pwe-giok telah melompat maju, sebelah tangannya juga menghantam sekuatnya ke arah Ong Uh-lau.

Terdengarlah suara "blang"

Yang keras, kedua tangan beradu, tubuh Ong Uh-lau tergetar mencelat, waktu ia jatuh ke bawah, sementara itu racun dalam tubuhnya sudah bekerja, mukanya kelihatan putih seperti perak laksana orang yang mendadak berbedak.

Yang Cu-kang memandang Pwe-giok sekejap, ucapnya dengan tersenyum.

"Anda adalah seperti anak panah yang hampir jatuh, tak tersangka masih menyimpan tenaga dalam sekuat ini, tampaknya selama ini kami terlalu menilai rendah dirimu."

"Ya, jangan kau pandang Ji-kongcu ini lemah lembut, padahal tenaga saktinya jarang ada bandingannya di dunia Kangouw,"

Sambung Thi-hoa-nio dengan tertawa. Sementara itu Cu Lui-ji sudah dapat menenangkan diri, cepat ia berkata.

"Sesungguhnya apa isi peti yang diantarnya kemari itu?"

Pertanyaan ini sudah lama ditahannya di dalam hati, begitu ada kesempatan segera dilontarkannya. Yang Cu-kang tertawa, katanya.

"Peti ini kalau tidak kubuka dan diperlihatkan padamu, mungkin selamanya kau akan dendam padaku."

Sembari bicara peti pun sudah dibuka olehnya.

Ketika melihat isi peti itu, serentak Lui-ji menjerit kaget dan tidak dapat bicara lagi.

Yang terisi dalam peti ternyata Ki Leng-hong adanya.

Betapapun sabar dan tenangnya, tidak urung Pwe-giok juga terkejut.

Tertampak mata Ki Leng-hong terpejam rapat, mukanya pucat, seperti kepiting saja dia diringkus dan dimasukkan ke dalam peti, sampai saat ini dia masih dalam keadaan pingsan.

Padahal biasanya nona Ki ini berkuasa dan suka memerintah, setiap orang di dunia ini seolaholah dapat dipermainkan olehnya.

Sungguh tak tersangka oleh Pwe-giok bahwa Ki Leng-hong juga bisa jatuh habis-habisan seperti sekarang ini.

Dengan sinar mata gemerdep Yang Cu-kang bertanya.

"Apakah Ji-kongcu kenal dia?"

Pwe-giok tersenyum getir dan mengangguk, katanya.

"Ya, kenal."

Lui-ji menghela nafas gegetun dan berkata.

"Mestinya dia berjanji dengan kami akan bertemu lagi di Tong-keh-ceng, aku memang lagi heran mengapa dia tidak muncul, siapa tahu dia telah berubah menjadi begini."

"Dengan ilmu silatnya yang tinggi dan kecerdasannya, betapapun Ong Uh-lau pasti bukan tandingannya, entah mengapa dia..."

Yang Cu-kang memotong sebelum habis ucapan Pwe-giok itu.

"Tidakkah Ji-heng dengar tadi bahwa peti ini diterima oleh Ong Uh-lau dari seorang Hay-kongcu?"

Biji mata Cu Lui-ji berputar, serunya.

"He, Hay-kongcu? Maksudmu Hay Tong-jing?"

Yang Cu-kang seperti terkejut dan heran, tanyanya.

"Kaupun kenal Hay Tong-jing?"

"Dengan sendirinya kukenal dia,"

Jawab Lui-ji.

"Dan kau sendiri, cara bagaimana bisa kenal dia?"

"Sejak berumur satu sudah kukenal dia,"

Tutur Yang Cu-kang dengan tertawa. Lui-ji melengak.

"Sejak umur satu? Apakah kalian...?"

"Dia adalah Suhengku,"

Tukas Yang Cu-kang. Untuk sejenak Lui-ji melengong, katanya kemudian dengan tertawa.

"Hah, pantas sifat kalian rada-rasa sama, mata kalian seolah-olah tumbuh di atas kepala, siapapun diremehkan oleh kalian, kiranya kalian memang berasal dari satu sarang..."

Dia mengikik tawa dan urung mengucapkan "sarang anjing". Pwe-giok menghela nafas.

"Ilmu silat Hay-heng pernah kulihat, pantaslah nona Ki bukan tandingannya. Tapi ada permusuhan apa pula antara kalian dengan nona Ki ini?"

"Tidak ada permusuhan apapun,"

Jawab Yang Cu-kang.

"Hanya saja Ji Hong-ho ingin mengantar pulang dia ke Sat-jin-cengcu."

"Hm, orang semacam Hay Tong-jing itu juga sudi menjadi antek Ji Hong-ho?"

Jengek Lui-ji.

"Jika kami berasal dari satu sarang, dengan sendirinya kamipun bernafas dari satu lubang,"

Ujar Yang Cu-kang dengan tertawa.

"Bila kalian toh harus tunduk kepada perintah Ji Hong-ho, mengapa pula kau bunuh Ong Uhlau dan lain-lain ini?"

Tanya Lui-ji.

"Sebab aku senang,"

Sahut Cu-kang dengan tertawa. Baru habis ucapannya, mendadak air mukanya berubah dan membentak perlahan.

"Siapa itu?"

Setelah ucapan Yang Cu-kang itu selesai barulah Lui-ji mendengar ada suara kesiur angin dari jauh telah mendekat, hanya sekali melayang saja sudah tiba.

Selagi Lui-ji terkejut oleh ginkang orang yang maha tinggi ini.

"blang"

Tahu-tahu seorang menerjang masuk dengan membobol jendela. Siapa lagi dia kalau bukan Hay Tong-jing. Kejut dan girang Lui-ji, serunya dengan tertawa.

"Hah, baru saja dibicarakan, seketika orangnya datang, apakah kau..."

Mendadak ucapannya terhenti, sebab baru sekarang dilihatnya baju Hay Tong-jing yang hitam itu penuh berlepotan darah, sebaliknya mukanya pucat pasi.

Yang Cu-kang tidak bicara apa-apa, ia terus merobek baju orang, terlihat tubuh Hay Tongjing juga berlumuran darah, sedikitnya ada belasan tempat luka.

Padahal betapa tinggi ilmu silat Hay Tong-jing sudah sama diketahui oleh Pwe-giok dan Luiji, sekarang dia juga dilukai orang, sungguh Lui-ji hampir tidak percaya kepada matanya sendiri.

Mau-tak-mau berubah juga air muka Yang Cu-kang, dengan suara tertahan ia tanya.

"Siapasiapa saja yang melukaimu?"

Dia tidak bertanya "siapa", melainkan "siapa-siapa", sebab ia yakin kalau musuh cuma satu orang saja tidak mungkin mampu melukai Hay Tong-jing.

Kedua tinju Hay Tong-jing terkepal erat-erat, sambil mengertak gigi ia berkata.

"Ialah..."

Meski bibirnya bergerak, tapi suaranya tak terdengar.

"Siapa? Siapa dia?"

Desak Yang Cu-kang.

Bibir Hay Tong-jing tampak bergerak lagi dua tiga kali, lalu "bluk", ia jatuh terkulai.

Maklumlah lukanya sangat parah, sebenarnya sejak tadi tidak tahan lagi, hanya setitik tekadnya ingin hidup itulah, dengan sisa tenaga terakhir dapatlah ia lari ke sini.

Kini setelah bertemu dengan sanak keluarga sendiri, lega perasaannya dan badan juga tidak tahan lagi.

Cepat Thi-hoa-nio memapahnya ke atas kursi dan memeriksa lukanya.

Sedangkan Yang Cu-kang hanya berdiri terpaku di tempatnya, sampai sekian lamanya mendadak ia melotot dan berteriak.

"Tidak peduli siapa saja yang melukai dia, biarpun dia lari ke ujung langit juga akan kususul ke sana."

"Aku sudah datang, untuk apa disusul ke sana?!"

Mendadak seorang menanggapi.

Suaranya sangat dingin, tapi juga tajam melengking sehingga membuat telinga orang yang mendengarnya merasa tidak enak.

Umumnya suara orang tentu bernada entah tinggi entah rendah, entah cepat entah lambat, tapi suara orang ini kedengaran datar dan hambar saja, monoton begitulah, membuat pendengarnya merasa kesal dan bosan.

Muka orang ini tidak terlalu jelek, juga tidak terlalu buas, lebih-lebih tiada sesuatu cacat badaniah.

Tapi entah mengapa, siapapun yang melihatnya akan merasa ngeri dan menggigil.

Alisnya sangat tebal, matanya sangat besar, bahkan boleh dikatakan cukup ganteng dan cakap, malahan ujung mulutnya selalu mengulum senyum, sekilas pandang bahkan cukup menarik.

Tapi bila dipandang secara cermat, sekujur badannya terasa kaku dan dingin, tiada rasa senyuman sedikitpun.

Jadi senyuman itu seolah-olah cuma dibuat-buat belaka, seperti orang lain yang mengukir pada wajahnya.

Sebab itulah senyuman aneh itu tetap menghiasi mukanya, pada waktu marah tersenyum, pada waktu duka juga tersenyum, waktu membunuh orang tersenyum, waktu makan juga tersenyum, di dalam kakus jelas juga tersenyum, bahkan waktu tidur juga tetap tersenyum.

Jadi senyuman yang abadi, tak berubah selamanya.

Dia memakai baju hitam yang ketat, sangat pas dengan potongan tubuhnya, memakai ikat pinggang warna merah darah, pada ikat pinggangnya terselip sebilah golok melengkung, golok sabit.

Bagian gagang golok juga terhias kain sutera merah, tapi batang goloknya berwarna hitam pekat.

Meski terkejut, segera Yang Cu-kang dapat menenangkan hatinya, katanya sambil melototi pendatang itu.

"Jadi kau yang melukainya?"

"Betul, Suhengmu dibunuh oleh Lengkui (setan gaib),"

Jawab orang itu dengan tersenyum.

"Lengkui? Jadi kau inilah Lengkui?"

Tanya Yang Cu-kang menegas.

"Ya,"

Orang itu tersenyum.

"Bagus, suruh pembantumu keluar semua,"

Kata Cu-kang.

"Lengkui membunuh orang tidak perlu pembantu,"

Ucap orang itu dengan tersenyum.

"Melulu kau sendiri dapat melukainya?"

Terkesiap juga Yang Cu-kang.

"Ya, cukup Lengkui seorang saja."

Keterangan ini membikin semua orang terkejut pula, bahwa orang ini dapat melukai Hay Tong-jing yang lihay, betapa tinggi ilmu silatnya jelas sukar diukur.

Dalam keadaan demikian barulah Lui-ji membuktikan ketenangan Yang Cu-kang juga luar biasa dan sukar dibandingi siapapun.

"Siapa yang menyuruh kau ke sini?"

Tanya Cu-kang pula.

"Lengkui sendiri,"

Jawab orang itu.

"Ada permusuhan apa antara kau dengan kami?"

"Lengkui tidak ada permusuhan apapun dengan kalian."

Orang itu selalu menyebut dirinya sebagai "Lengkui"

Dan tidak pernah menggunakan istilah "aku".

"Sesungguhnya siapa kau?"

Bentak Cu-kang. Mendadak Lengkui menyebut dua bait syair kuno yang sama sekali bukan merupakan jawaban atas pertanyaan tadi, tapi setelah mendengar syair itu, air muka Yang Cu-kang berubah hebat.

"Lengkui melepaskan dia lari ke sini, tujuannya justeru hendak membunuh kau,"

Kata pula orang yang mengaku sebagai Lengkui itu.

Habis berkata, mendadak bayangan tubuhnya berkelebat, entah kapan golok yang terselip pada ikat pinggangnya sudah terhunus, dan entah cara bagaimana ujung golok juga sudah mengancam tenggorokan Yang Cu-kang.

Gerakan ini sungguh cepat luar biasa dan sukar untuk dibayangkan.

Tanpa terasa Thi-hoa-nio menjerit kaget.

"Creng,"

Terdengar suara nyaring berdenging memekak telinga.

Entah sejak kapan Yang Cukang sudah memegang dua batang pedang pendek dan tahu-tahu kedua pedang pendek itu bersilang untuk menangkis tabasan golok sabit Lengkui.

Gerak tangkisan pedangnya juga cepat luar biasa dan sukar dibayangkan.

Dalam sekejap sinar golok yang hitam itu laksana gumpalan awan terus memburu ke arah Yang Cu-kang, di tengah gumpalan awan hitam terkadang juga berkelebat cahaya kilat yang menyerang Lengkui, meski golok seperti awan hitam dan pedang laksana kilat, namun langkah kedua orang tidak bergeser, bahkan tidak terdengar lagi suara benturan senjata.

Bagi pandangan orang biasa, pertarungan kedua orang itu lebih mirip orang yang lagi menari, hakikatnya bukan lagi bertempur.

Tapi Pwe-giok tahu telah terjadi pertarungan sengit, kecuali kedua orang yang bersangkutan mungkin sukar dibayangkan orang lain betapa hebat gerakan mereka.

Kini jarak kedua orang itu tidak ada lima kaki jauhnya, dengan senjata mereka cukup untuk mencapai sasarannya dan lawan dapat tertusuk tembus, tapi anehnya serang menyerang mereka justeru tidak mengenai sasarannya.

Yang paling aneh adalah kaki kedua orang sama-sama tidak menggeser sedikitpun, dari sini terbukti bahwa setiap serangan kedua pihak sama-sama jitu dan cermatnya, asalkan ketinggalan sedetik saja segera akan banjir darah dan terkapar.

"Mengapa kedua orang ini hanya berdiri tanpa bergerak, sungguh sebal,"

Kata Lui-ji tak sabar. Tapi Pwe-giok sangat prihatin, ucapnya.

"Sebab serangan kedua orang sama-sama secepat kilat, begitu Lengkui menebas dengan goloknya, kontak Yang Cu-kang balas menusuk dengan pedangnya, terpaksa Lengkui ganti serangan untuk menyelamatkan diri, menyusul ia terus menyerang lagi dan terpaksa Yang Cu-kang juga harus bertahan. Sebab itulah meski keduanya kelihatan serang menyerang, tapi sebenarnya tak dapat melukai lawan."

Lui-ji terkesiap.

"Jika demikian, asal lengah sedikit saja gerak serangan Yang Cu-kang, tentu dia akan termakan oleh satu kali tabasan golok."

Pwe-giok memandang luka yang memenuhi tubuh Hay Tong-jing, katanya.

"Mungkin tidak cuma satu kali."

Melihat luka Hay Tong-jing itu, dapatlah Lui-ji membayangkan serang menyerang mereka pasti akan berbahaya, tanpa terasa tangannya berkeringat dingin, ia tercengang sejenak, lalu berucap pula dengan menarik nafas.

"Darimanakah datangnya makhluk aneh ini, mengapa kungfunya setinggi ini?"

"Ya, baru sekarang juga ku tahu betapa luasnya dunia kangouw dan orang kosen macam apapun ada,"

Ujar Pwe-giok dengan gegetun. Tiba-tiba Lui-ji mendesis.

"Meski sekarang ku tahu Yang Cu-kang bukan orang baik, tapi jelek2 dia pernah menolong kita. Bagaimana kalau kita juga membantunya sekarang?"

"Kaupun ingin turun tangan?"

Tanya Pwe-giok.

"Makhluk aneh ini meski berdiri di situ tanpa bergeser, dia hanya memperhatikan golok lawan di depan, kalau kita mengitar ke belakangnya dan menyerangnya, tentu dia takkan tahu dan tak berjaga,"

Bisik Lui-ji. Pwe-giok tidak bersuara, ia memutar ke belakang Lengkui, dijumputnya sebatang sumpit, dengan cara menyambitkan anak panah ia timpuk punggung Lengkui. Terdengar suara "cring"

Pula, suara nyaring mendenging.

Entah sejak kapan Lengkui dan Yang Cu-kang sudah bertukar tempat, waktu sumpit yang disambitkan Pwe-giok itu dicari, ternyata sudah terputus-putus menjadi tujuh potong dan menancap di tanah seperti paku.

Sama sekali Lui-ji tidak tahu cara bagaimana sumpit itu bisa tertabas putus.

"Nah, bagaimana?"

Tanya Pwe-giok sambil memandang Lui-ji.

Karuan Lui-ji hanya melongo saja dan tak dapat menjawab.

Di tengah sinar pedang dan cahaya golok, kelihatan air muka Yang Cu-kang semakin kelam, sebaliknya wajah si Lengkui tetap mengulum senyum serupa waktu datang tadi, sedikitpun tidak berubah.

Kini Pwe-giok dapat menilai bila pertarungan ini berlangsung terus, jelas Yang Cu-kang lebih banyak celaka daripada selamatnya.

Kalau bicara ilmu silat, kedua orang kelihatan setali tiga uang alias sama kuatnya.

Tapi bila pertarungan berlangsung lama, betapapun hati Yang Cu-kang kurang mantap.

Betapapun tenangnya Yang Cu-kang bukan orang tanpa perasaan, bila teringat olehnya Suheng sendiri terluka parah, ilmu silat isterinya rendah, kalau dirinya kalah, akibatnya sukarlah dibayangkan.

Dan kalau teringat hal-hal demikian, tentu saja pikirannya rada terganggu, dan karena ketenangannya terganggu, cara bertempurnya tentu saja terpengaruh, sedikit lambat saja gerak serangannya akibatnya tentulah fatal.

Sebaliknya Lengkui tampaknya cuma sebuah raga yang kosong, seperti cuma sesosok mayat hidup belaka, kalau dia juga punya perasaan dan bisa gelisah, rasanya tidak ada yang mau percaya.

Mungkin lantaran demikian inilah, maka Hay Tong-jing dapat dilukai oleh Lengkui.

Mendadak terdengar Yang Cu-kang menarik nafas panjang, tahu-tahu ia melayang ke atas.

Jelas iapun menyadari bilamana pertarungan ini diteruskan pasti takkan menguntungkan, maka sekarang ia hendak berganti siasat.

Siapa tahu, baru saja tubuhnya mengapung ke atas, menyusul Lengkui juga melayang ke atas sehingga kedua orang kembali saling serang beberapa kali di udara.

Setelah turun ke bawah, kedua orang tetap berhadapan dalam jarak dekat.

Yang Cu-kang ternyata tidak dapat berbuat apa-apa, maklum golok lawan terlalu cepat, terpaksa ia menangkis setiap serangan dan pada detik yang masih luang ia balas menyerang, dengan demikian barulah ia dapat mematahkan serangan musuh, jadi sama sekali tidak ada peluang lain baginya untuk bergerak.

Kini bukan hanya Yang Cu-kang sendiri, sampai Lui-ji juga berkeringat saking tegangnya.

Thi-hoa-nio juga pucat dengan badan gemetar.

Pada saat itulah mendadak Ji Pwe-giok melompat keluar rumah malah.

Meski Lui-ji yakin anak muda itu bukan seorang pengecut yang mencari selamat sendiri pada saat gawat, tapi dia lari keluar dalam keadaan demikian, sungguh Lui-ji tidak tahu apa maksudnya.

Meski pertarungan yang berlangsung di depan mata ini sangat hebat, namun hatinya sudah melayang ikut kepergian Ji Pwe-giok, biarpun pedang dan golok kedua orang yang bertempur itu dapat terbang sendiri juga tidak dihiraukannya lagi.

Syukurlah hanya sekejap kemudian Pwe-giok sudah lari masuk kembali, kini tangannya sudah bertambah dengan sebatang pohon kecil yang dicabutnya bersama akar dan berikut daunnya.

Setengah tahun yang lalu, waktu menghadapi berpuluh tokoh Kun-lun-pay dan Tiam-jong-pay yang mengubernya masuk ke Sat jin-ceng dulu, dia menggunakan tiang gardu untuk menghalau para pengeroyok itu.

Kini dilihatnya ilmu golok Lengkui yang aneh dan ajaib itu, tiba-tiba timbul pikirannya akan menggunakan akal "dengan berat mengalahkan kelincahan".

Maka ia lantas berlari keluar dan mencabut sebatang pohon yang bulatan batangnya sebesar mangkuk.

Walaupun Lui-ji sudah tahu tenaga Pwe-giok sangat besar, tapi tak terduga dalam keadaan letih begitu ia masih sanggup mencabut sebatang pohon, seketika ia menjadi melengong.

Sembari berjalan Pwe-giok terus membersihkan ranting dan daun pohon itu, mendadak ia membentak keras-keras, batang pohon terus menyerang ke punggung Lengkui.

Meski rumah ini cukup luas, tapi batang pohon yang diputar itu sedikitnya mencakup tempat seluas beberapa tombak, maka terdengarlah suara gemuruh, segala isi ruangan telah tersapu berantakan.

Dari suara angin Lengkui merasakan datangnya serangan, mendadak golok sabit berkelebat dan menebas ke belakang, gerakan serangan ini sungguh sangat cepat, tempat yang diarah juga jitu.

Cuma sayang, yang sedang menghantam punggungnya itu bukan lagi sebatang sumpit melainkan sebatang pohon.

Biarpun tenaga dalam Lengkui sangat hebat, tapi untuk menabas putus batang pohon dengan golok sabitnya yang kecil itu terasa rada sulit juga.

Maka terdengarlah suara "crat"

Satu kali, batang pohon tertabas golok, tapi golok itu terus terjepit oleh batang pohon. Hampir pada saat yang sama pedang pendek Yang Cu-kang juga sudah menusuk, terdengar suara "crat-cret"

Susul menyusul, dalam sekejap saja sekujur badan Lengkui telah tertusuk belasan kali oleh pedang Yang Cu-kang sehingga darah berhamburan. Namun wajah Lengkui masih tetap mengulum senyum, katanya.

"Tusukan hebat, serangan bagus! Cuma sayang, selamanya Lengkui tak dapat mati, siapapun tak dapat membunuh Lengkui..."

Sembari bicara golok bulan sabit yang terjepit batang pohon telah dicabutnya, mendadak goloknya membalik, ia tikam hulu hati sendiri, golok sepanjang tiga kaki lebih itu hampir amblas seluruhnya hingga sebatas gagang golok, ujung golok tampak menembus ke punggung.

Air muka Lengkui sedikitpun tidak memperlihatkan rasa sakit dan menderita, ia tetap tersenyum dan berkata.

"Jika kalian tidak lekas angkat kaki, sebentar Lengkui akan kembali lagi dan menuntut balas padamu."

Omong kosong ini jelas tak dipercaya oleh siapapun, tapi melihat Lengkui mendadak membunuh diri, kematiannya juga sedemikian aneh, mau tak mau hati semua orang merasa ngeri.

Lui-ji menghela nafas lega, ucapnya.

"Orang ini tidak cuma aneh ilmu goloknya, orangnya juga sangat aneh."

"Ilmu golok aneh ini, mungkin di dunia Kangouw sekarang tidak ada sepuluh orang yang mampu menangkis sepuluh jurus serangannya,"

Kata Yang Cu-kang.

"Tapi dia telah kau bunuh, tokoh Kangouw yang mampu menangkis sepuluh kali seranganmu pasti juga takkan lebih dari sepuluh orang,"

Ujar Lui-ji. Yang Cu-kang tersenyum, katanya.

"Ah, masa!"

Tapi Lui-ji lantas menjengek.

"Hm, betapapun tinggi ilmu pedangnya, coba kalau Pwe-giok tidak ikut turun tangan, mungkin saat ini jiwamu sudah melayang, memangnya apa yang kau banggakan?"

Yang Cu-kang tidak menjadi marah, sebaliknya ia bergelak tertawa.

"Haha, memang betul, sedikitpun tidak salah."

Lalu ia berpaling dan berkata kepada Ji Pwe-giok.

"Wahai Ji-heng, waktu pertama kali kulihat kau, kukira tidak lebih kau ini cuma seorang pemuda bangor saja. Ketika bertemu lagi untuk kedua kalinya, kesannya memang bertambah baik sedikit, tapi masih kupandang sepele akan dirimu. Pernah juga kulihat kau bertempur tiga kali, setiap kali penilaianku kepada kungfumu selalu bertambah. Tapi sesungguhnya betapa tinggi dan betapa dalam kungfumu, sekarang akupun merasa bingung."

"Ah, Yang-heng terlalu memuji,"

Jawab Pwe-giok.

"Padahal bila Cayhe bergebrak dengan Lengkui ini, mungkin akupun tidak sanggup menahan sepuluh kali serangannya."

"Apa yang kau katakan mungkin betul.

"kata Cu-kang.

"Ilmu silatmu sekarang mungkin belum luar biasa, tapi tiga tahun lagi, tanggung kepandaianmu pasti tidak di bawahku."

Lui-ji tertawa, katanya.

"Eh, kenapa kau jadi rendah hati sekarang?"

Dengan sungguh-sungguh Yang Cu-kang menjawab.

"Yang kukatakan ini sama sekali bukan basa-basi, akupun tidak perlu menjilat pantatnya. Betapa besar kungfu akan dicapai oleh seseorang sudah ditakdirkan, sudah pembawaan, biarpun berlatih giat juga tidak besar manfaatnya. Seperti halnya orang main catur atau melukis, perlu juga melihat bakat orangnya. Kalau tidak berbakat, biarpun berlatih mati-matian, hasilnya tetap terbatas dan tidak dapat mencapai titik tertinggi, hanya bentuknya saja berhasil, tapi tak dapat menjiwainya."

Tiba-tiba ia tertawa, lalu menambahkan.

"Tapi walaupun bakatmu sangat bagus, tanpa giat berlatih juga tidak akan menghasilkan apa-apa."

"Eh, kenapa bicaramu menjadi banyak, apakah kau tidak kuatir Lengkui akan datang lagi dan menuntut balas padamu?"

Kata Lui-ji dengan tertawa.

"Orangnya saja aku tidak takut, apalagi cuma Kui (setan)?"

Ujar Cu-kang.

Meski bersenda gurau, tidak urung sinar mata semua orang sama memandang ke arah Lengkui yang sudah menggeletak tak bernyawa itu, se-akan2 kuatir orang mati ini mendadak bisa melompat bangun untuk menuntut balas.

Tapi sekali pandang, wajah semua orang yang sedang tertawa dan senda gurau itu seketika berubah kejut dan melongo.

Mayat Lengkui ternyata mulai membusuk, tulang belulangnya sudah mulai berubah menjadi cairan darah.

Pwe-giok jadi teringat kepada kejadian dulu atas diri Cia Thian-pi, itu tokoh Tiam-jong-pay yang dipalsukan, mayatnya waktu itu juga membusuk di bawah hujan lebat, keadaannya serupa benar dengan mayat Lengkui sekarang, keruan ia terkejut dan curiga.

Kalau Cia Thian-pi gadungan itu adalah antek Ji Hong-ho, maka Lengkui ini tentu juga begundalnya, kalau tidak masakah mayat kedua orang bisa membusuk dengan cara yang sama?

Jelas racun yang membikin mayat membusuk itu tersembunyi di sela-sela gigi dan sudah disiapkan akan digunakan apabila keadaan kepepet, supaya rahasia penyamaran mereka tidak ketahuan.

Dan kalau Lengkui adalah begundal Ji Hong-ho, kan juga segolongan dengan Yang Cu-kang, mengapa sekarang dia datang hendak membunuh Yang Cu-kang, apakah Ji Hong-ho sudah mengetahui pengkhianatan orang she Yang ini.

Yang jelas, baik Lengkui maupun Yang Cu-kang, ilmu silat mereka jauh di atas Ji Hong-ho, mengapa mereka tidak berdiri sendiri, sebaliknya rela menjual nyawa baginya?

Begitulah dalam hati Pwe-giok penuh tanda tanya, tapi dia memang seorang sabar dan pendiam, dapat berpikir panjang, teringat olehnya tindak-tanduk Yang Cu-kang yang sukar diraba, maka iapun tidak ingin bertanya lagi, hanya terlintas sesuatu ingatan dalam benaknya, ia coba tanya Yang Cu-kang.

"Tadi mendadak orang ini menyebut dua bait syair kuno, apakah Yang-heng paham maksudnya?"

Yang Cu-kang termenung sejenak, jawabnya kemudian.

"Persoalan ini sangat besar dan luas sangkut-pautnya, bahkan..."

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong seorang menanggapi.

"Selamanya Lengkui tak bisa mati, siapapun tak dapat membunuh Lengkui, sekarang juga Lengkui sudah datang lagi untuk menuntut balas."

Suaranya datar dan hambar, tidak cepat dan tidak lambat, terasa bersahaya nadanya dan mencekam.

Berbareng dengan datangnya suara itu, tahu-tahu seorang sudah muncul di depan pintu.

Wajah orang ini kelihatan putih, alis tebal dan mata besar, ujung mulutnya selalu mengulum senyum laksana wajah ukiran, kaku dan dingin.

Baju yang dipakainya berwarna hitam dan sangat pas dengan tubuhnya, pinggangna juga ada ikat pinggang warna merah darah dan golok sabit terselip miring pada ikat pinggangnya.

Jelas orang inilah Lengkui!

Waktu mereka pandang mayat Lengkui di tanah tadi, ternyata sudah habis cair, sudah lenyap.

Apakah Lengkui benar-benar tak dapat dibinasakan?

Apakah betul sekarang dia telah hidup, kembali dan datang menuntut balas?

Biarpun Pwegiok dan Yang Cu-kang sangat tabah, berdiri juga bulu romanya demi munculnya orang ini secara mendadak.

Apalagi Thi-hoa-nio dan Cu Lui-ji, mereka sama menjerit kaget.

Yang Cu-kang tidak berucap apapun, cepat ia melompat maju, pedang berputar, langsung ia menusuk tenggorokan Lengkui.

Baru saja menusuk serentak ia menggeser dua tiga kali dan mengitar ke samping lawan.

Ia kuatir kejadian tadi berulang lagi, maka harus mendahului turun tangan, sekali menyerang segera menggunakan gerak perubahan yang cepat dan sukar diraba.

Siapa tahu, belum lagi dia berputar lebih jauh, golok sabit musuh telah berubah menjadi selapis tabir cahaya.

"sret-sret-sret", sekaligus tiga kali tabasan, si Lengkui seperti sudah memperhitungkan gerak perubahan serangan Yang Cu-kang, serentak ia tutup jalan mundurnya. Namun Yang Cu-kang tetap berdiri saja tanpa bergerak, maka tiga kali tabasan golok itupun takkan menyentuh bajunya, tapi sedikit ia bergerak, maka samalah seperti tubuhnya sengaja ditumbukkan kepada golok sabit Lengkui. Terpaksa Yang Cu-kang memutar pedangnya dan menyampuk golok lawan. Tak terduga, Lengkui seakan-akan sudah tahu bahwa dia pasti akan bertindak demikian, goloknya ditarik miring ke bawah sehingga meluncur lewat mata pedang musuh, berbareng ia menusuk bahu Yang Cu-kang. Lekas Yang Cu-kang memutar lagi pedangnya, berturut empat kali ia ganti serangan, walaupun tiba cukup untuk menghindarkan tebasan golok lawan, namun kakinya tidak mampu bergeser sedikitpun. Dia benar-benar tidak dapat berkutik dengan bebas. Setelah sepuluh jurus, tanpa terasa tangan Yang Cu-kang berkeringat dingin. Dia mulai merasakan betapapun dia memutar pedangnya, cukup lawan menyerang satu kali saja dan buntulah jalannya, setiap gerak-geriknya sudah berada dalam dugaan musuh. Dalam pertarungan tadi, sedapat-dapatnya ia mendahului menyerang, tapi sekarang Lengkui seperti sudah tahu jelas setiap gerak perubahannya. Sekalipun dia mengeluarkan segenap kemampuannya juga cuma sanggup bertahan saja sekedarnya, serangannya sama sekali tidak dapat dikembangkan, jangankan hendak mengatasi musuh. Jadi seperti dua orang bermain catur, kalau langkah kita selanjutnya sudah diketahui pihak lawan, maka setiap langkahnya seolah-olah akan masuk jaring belaka dan terjebak oleh siasat yang sudah diatur lawan. Maka belum lagi permainan catur ini selesai, kekalahan sudah ditentukan, andaikan permainan diteruskan juga tidak menarik. Sebaliknya Lengkui dapat memainkan golok sabitnya dengan bebas dan leluasa, namun senyumannya masih tetap kaku dan dingin, dengan sorot mata yang dingin tajam menembus cahaya pedang ia tatap Yang Cu-kang, ucapnya dengan tersenyum.

"Kau sendiri tentunya tahu bahwa setiap jurus serangan Lengkui dapat mencabut nyawamu, untuk apalagi kau bertahan? Lekas serahkan nyawamu saja kan lebih enak?"

Tapi Yang Cu-kang anggap tidak mendengar ucapannya, padahal setiap kata lawan itu setajam sembilu yang menikam ulu hatinya, bahkan lebih tajam daripada sembilu.

Rontakan orang dalam keadaan putus asa memang jauh lebih menderita daripada kematian.

Lengkui tersenyum dan berkata pula.

"Tentunya kau heran, mengapa Lengkui sedemikian paham jurus ilmu silatmu bukan? Padahal hal ini cukup sederhana, sebab Lengkui sudah pernah bertempur satu kali denganmu."

Tiba-tiba Yang Cu-kang merasakan hawa dingin dari lubuk hatinya dan merembes hingga ujung kaki.

Masakan Lengkui yang ini benar adalah orang yang telah dibunuhnya tadi?

Makanya orang sedemikian paham akan ilmu silatnya.

Kalau demikian, andaikan Lengkui yang ini dibunuhnya pula, bukankah Lengkui masih akan hidup kembali, dan dalam pertarungan berikutnya akan lebih paham pula pada setiap jurus serangannya?

Jadi seumpama Lengkui dapat dibunuhnya seratus kali, lambat atau cepat dirinya akan mati juga di tangan Lengkui, sebaliknya Lengkui akan tetap hidup dan tak bisa mati.

Pada waktu hal ini tidak terpikir oleh Yang Cu-kang, sekuatnya dia masih kuat bertahan, tapi demi teringat, makin dipikir makin takut sehingga pedang hampir tidak kuat lagi dipegangnya.

Waktu ia melirik kesana, dilihatnya Hay Tong-jing sudah pingsan, wajah Thi-hoa-nio pucat pasi, tampaknya setiap saat juga bisa jatuh semaput.

"Nah, matilah, lekas matilah!"

Seru Lengkui dengan tersenyum.

"Lengkui sudah pernah mati berpuluh kali, Lengkui berani menjamin bahwa kematian bukan kejadian yang menyakitkan, mati tidak menimbulkan derita, bahkan jauh lebih enak daripada tidur."

Ucapannya masih tetap datar dan dingin, namun nadanya seolah-olah membawa semacam kekuatan gaib yang membuat orang secara tidak sadar melepaskan daya perlawanannya dan tertidur lelap.

Jika Yang Cu-kang berasal dari perguruan Siau-lim-pay atau Bu-tong-pay, maka tidaklah perlu diherankan jika setiap jurus serangannya dapat diselami orang lebih dulu.

Sebab beberapa perguruan ternama ini sudah turun temurun sekian ratus tahun, setiap jurus ilmu silatnya ada aturannya, tapi setelah berjalan sekian ratus tahun, sedikit banyak jago persilatan sudah dapat memahami setiap jurus ilmu silatnya, lantaran itulah kebanyakan tokoh terkemuka dari perguruan ternama itu tidak suka mengalahkan musuh dengan jurus serangannya, tapi mengatasi lawan dengan tenaga dalamnya yang jauh lebih ulet.

Tapi sekarang ilmu silat Yang Cu-kang dipelajari dari perguruannya yang tidak dikenal umum, setiap jurus serangannya boleh dikatakan masih asing bagi jago silat lain.

Namun sekarang Lengkui ternyata dapat mengetahui sebelum Yang Cu-kang melontarkan serangannya, kalau tidak pernah bergebrak dengan dia, darimana pula lawan mengetahui rahasia serangannya.

Seumpama Yang Cu-kang tidak percaya Lengkui yang sudah mati dapat hidup lagi, tapi menghadapi kejadian demikian, mau tak mau ia menjadi percaya, ia pikir kalau musuh yang dihadapinya adalah seorang yang tak bisa mati, lalu apalagi yang dapat diperbuatnya?

Cu Lui-ji dan Thi-hoa-nio tidak tahu dimana letak kehebatan jurus serangan musuh, tapi kini pun sudah dapat melihat keadaan Yang Cu-kang yang terdesak dan berbahaya itu.

Mereka menjadi heran mengapa sekali ini Ji Pwe-giok tidak turun tangan membantunya.

Pada saat itulah mendadak terdengar Pwe-giok berseru.

"Yang diketahuinya bukanlah tipu seranganmu, melainkan kepunyaan Hay Tong-jing."

Lui-ji melengak, ia tidak paham apa maksud Pwe-giok. Tapi semangat Yang Cu-kang seketika terbangkit, matanya juga mencorong, teriaknya dengan bergelak tertawa.

"Aha, betul, pahamlah aku, pahamlah aku sekarang..."

Di tengah tertawanya itu mendadak pedangnya menusuk.

Jilid 11________ Tusukan ini langsung menuju ke dada dan tidak ada gerak perubahan lain, juga tiada gerak tersembunyi, tapi Lengkui justru terdesak oleh tusukan demikian dan tidak mampu balas menyerang.

Sinar pedang Yang Cu-kang terus memanjang.

"sret-sret-sret", berturut ia menusuk pula tiga kali, semuanya lurus ke depan tanpa gerak perubahan, tapi Lengkui lantas terdesak mundur satu langkah. Lui-ji juga dapat melihat ke empat jurus Yang Cu-kang itu sama sekali berbeda daripada gaya semula, setelah berpikir, ia tertawa cerah dan berseru.

"Aha, akupun jadi pahamlah...."

Tapi segera ia berkerut kening dan menggeleng pula, sambungnya.

"Tapi akupun tetap tidak paham"

Thi-hoa-nio menjadi heran, tanyanya.

"Kau paham apa? Dan apa pula yang membuat kau tidak paham?"

Belum lagi Lui-ji menjawab, dilihatnya Pwe-giok entah sejak kapan sudah menjemput sebilah golok, ia melangkah maju terus menabas ke pundak Lengkui.

Tebasan ini sangat lambat, seumpama dapat mengenai sasarannya juga belum pasti dapat melukainya, kelihatannya malah lebih mirip hendak menaruh golok di atas pundak Lengkui.

Dengan sendirinya Lengkui tidak pernah menghindari, tapi ketika mata golok sudah dekat dengan pundaknya, terlambatlah baginya biarpun dia ingin cepat berkelit.

Sebab gerakan yang sangat lambat ini memang sangat mudah dihindari oleh siapapun, tapi ketika Lengkui bermaksud mengelak, gerakan mata golok Pwe-giok itu mendadak juga berputar.

Terdengar suara "sret"

Satu kali, golok itu berputar satu lingkaran.

Gerakan ini sangat cepat, tapi tiada ubahnya seperti lagi main lingkaran, sama sekali tidak ada maksud hendak mencelakai orang.

Jadi Lengkui juga tidak perlu lagi mengelak.

Akan tetapi cahaya golok justeru berkelebat di depan mata, mana boleh Lengkui tinggal diam.

Semula Lui-ji merasa cara menyerang Pwe-giok itu agak membingungkan, tapi sekarang ia sudah tahu dimana letak keajaiban serangan itu.

Gerakan golok Pwe-giok itu lambat luar biasa, hakekatnya tidak bergaya jurus, sebab itulah sukar untuk diraba kemana tujuannya.

Maka Lengkui menjadi tidak tahu cara mengelak atau mematahkannya.

Tapi meski gerakan itu tanpa jurus, ada goloknya, kalau ada golok, Lengkui harus mengelak, sebab yang akan melukainya bukanlah jurusnya melainkan goloknya.

"Hah, permainan golok yang hebat!"

Seru Lengkui dengan tertawa.

Belum habis ucapannya, tahu-tahu golok Pwe-giok sudah kena bacok di atas tubuhnya.

Sebab dia tidak tahu cara bagaimana harus mengelak atau mematahkan bacokan golok Pwegiok itu, terpaksa ia harus mematahkan dulu tiga kali tusukan pedang Yang Cu-kang dari depan, setelah dia berhasil mematahkan serangan Yang Cu-kang, tidak dapat lagi baginya untuk menghindari serangan Pwe-giok.

Dan kalau serangan Pwe-giok tak dapat dihindarkan, pedang Yang Cu-kang juga akan menusuk tubuhnya.

Seketika tertampaknya sinar pedang berkelebat, darah segar pun berhamburan.

"Bagus, bagus sekali!"

Seru Lengkui tetap dengan tertawa.

"Cuma sayang Lengkui tak dapat dibunuh oleh siapapun, selamanya Lengkui tak dapat dibunuh..."

Robohlah dia bermandikan darah, namun wajahnya masih tetap membawa senyuman yang kaku itu.

Sekali ini Yang Cu-Kang tidak memandangnya sama sekali, tapi melototi Ji Pwe-giok, sampai sekian lamanya barulah ia menghela napas panjang dan berkata.

"Konon dahulu pendekar golok kilat si Li kecil terkenal sebagai golok nomor satu di dunia, menurut cerita, tidak pernah ada seorangpun mampu menahan sekali serangannya, sebab sekali goloknya bergerak, sukarlah bagi lawan untuk mengetahui cara bagaimana dia hendak menyerang sehingga orang tidak mampu untuk menghindar apalagi mematahkannya."

"Ya, cerita pendekar si golok Li kecil pernah juga kudengar,"

Ujar Pwe-giok.

"Sama halnya kelak namamu pasti juga akan banyak dikenal orang,"

Kata Yang Cu-kang dengan tertawa.

"Aku?"

Pwe-giok menegas.

"Betul, kau!"

Kata Yang Cu-kang dengan agak penasaran terhadap dirinya sendiri sambil menuding golok di tangan Pwe-giok.

"tapi bukan lantaran pribadimu ini, bukan lantaran wajahnya yang cakap, tapi karena ilmu permainan golok yang tidak pernah ada dan juga tidak bakal ada di kemudian hari."

Pwe-giok tertawa, bukan tertawa puas karena dipuji, tapi karena tiba-tiba teringat olehnya seorang cerdik pandai pernah berkata padanya.

"Seorang yang sombong, dalam keadaan terpaksa harus memuji orang lain, biasanya dia akan marah terhadap dirinya sendiri".

"Kau bilang ilmu permainan golok? Hakekatnya aku tidak paham ilmu golok apapun,"

Sahut Pwe-giok kemudian dengan tertawa.

"Justeru lantaran kau tidak paham ilmu golok, makanya menakutkan,"

Ujar Yang Cu-kang sambil tersenyum kecut.

"Ada golok tanpa jurus, kan jauh lebih menakutkan daripada ada jurus tanpa golok?"

Mendadak Lui-ji menyela dengan tertawa.

"Umumnya seorang lelaki suka bilang perempuan bawel, tapi menurut pendapatku, yang benar-benar bawel adalah kaum lelaki, perempuan hanya bawel pada waktu menganggur, tapi lelaki bisa lebih bawel di mana dan kapanpun juga, biarpun dalam keadaan tegang juga suka bicara hal-hal yang sukar untuk dimengerti. Tertawalah Yang Cu-kang, katanya.

"Ucapanmu ini memang betul, saat ini memang bukan waktunya untuk mengobrol."

Mendadak Lui-ji menarik muka dan berucap.

"Lengkui takkan mati, segera Lengkui akan muncul lagi untuk menuntut balas."

Cara bicaranya menirukan nada Lengkui dan kedengaran lucu, tapi bila teringat kepada makhluk yang tak dapat dihalau, tak dapat dibunuh mati siapa yang dapat tertawa geli?

Yang Cu-kang mengusap keringat pada tangannya, lalu berkata.

"Ji-heng, ku tahu dalam hatimu pasti banyak menaruh curiga terhadapku, tapi dapat kukatakan padamu, aku bukanlah lawan melainkan kawanmu."

Pwe-giok menjawab dengan cekak aos.

"Kupercaya!"

Yang Cu-kang menghela napas panjang, katanya pula.

"Bagus, sekarang aku hanya ingin memohon sesuatu padamu."

"Urusan apa?"

Tanya Pwe-giok.

"Di dalam rumah ini ada jalan rahasia di bawah tanah, lekas kau pergi dulu membawa yang terluka dan perempuan, juga ketiga peti ini perlu kau bawa sekalian."

"Dan kau?"

Tanya Pwe-giok.

"Paling tidak aku masih sanggup menjaga diriku sendiri, tidak perlu kau kuatirkan aku dan juga tidak perlu tinggal di sini untuk membantu diriku.

"ujar Yang Cu-kang dengan tak acuh.

"Akan tetapi kau...."

Mendadak Yang Cu-kang tidak sabar, ia mendesak.

"Sudahlah, seumpama aku tak dapat menandingi orang, sedikitnya dapat ku kabur. Tapi bila kalian tetap tinggal di sini bisa jadi aku ingin laripun sukar."

Dia memapah Hay Tong-jing, lalu berkata pula.

"Apabila dalam hati kalian ingin tahu apaapa, tanya saja kepada Suhengku bila dia sudah siuman."

"Tapi kau ...

"Lui-ji juga kuatir. Yang Cu-kang berkerut kening, katanya.

"Biniku saja sudah kupasrahkan kepada kalian, masakah kalian masih kuatir aku minggat dan tidak kembali lagi?" ***** Lorong di bawah tanah itu serupa lorong rahasia umumnya, gelap dan lembab, bahkan karena berada di bawah dapur, maka tercium bau yang memualkan. Jalan masuk lorong rahasia itu dibukakan oleh Thi-hoa-nio, tapi dia sendiri tidak tahu lorong itu menembus ke mana, lebih-lebih tidak tahu mengapa di dapur terdapat jalan rahasia ini. Lui-ji terus menerus menggerundel.

"Persetan! Kenapa kita jadi menuruti kehendaknya dan menyusup ke liang tikus ini? Jika di depan sana ada binatang buas atau makhluk berbisa atau perangkap maut, nah, baru celakalah kita!"

Thi-hoa-nio menggigit bibir, katanya.

"Apakah selamanya kau tidak percaya kepada siapapun juga?"

Jawab Lui-ji dengan ketus.

"Seumpama kupercaya kepada orang lain juga takkan kukawin dengan dia dengan begitu saja tanpa pertimbangan."

Dia melototi Thi-hoa-nio, Thi-hoa-nio juga mendelik kepadanya, kedua orang saling melotot seperti dia dua ekor ayam jago aduan yang sedang saling melotot, sampai sekian lamanya, perlahan Thi-hoa-nio menunduk, matanya tampak basah.

"Aku tidak seperti kau,"

Demikian katanya dengan hampa.

"ada yang sayang, ada yang mencintai kau pula, tapi aku sebatangkara, asalkan ada orang suka padaku sudah cukup membuatku kegirangan."

Lui-ji menjengkitkan mulut, lalu melangkah ke depan, tapi beberapa langkah mendadak ia lari balik terus merangkul Thi-hoa-nio, ucapnya.

"Aku tidak sengaja bicara demikian, kuharap jangan kau marah padaku. Aku .. akupun sebatangkara, bahkan sejak kecil tidak pernah mendapatkan pendidikan yang layak, makanya selalu menjemukan."

Thi-hoa-nio tertawa sebisanya, ucapnya dengan lembut.

"Siapa bilang kau menjemukan? Jika kau menjemukan, di dunia ini mungkin tidak ada anak perempuan yang menyenangkan."

Lui-ji menunduk, lalu melirik Pwe-giok sekejap, katanya kemudian dengan menyesal.

"Sebenarnya akupun tahu maksudmu, demi melindungi kami, demi mencari tahu seluk-beluk Yang Cu-kang, makanya kau kawin dengan dia."

"Mungkin semula memang begitu maksudku."

Ujar Thi-hoa-nio dengan gegetun.

"tapi kemudian kulihat cara bicara orang ini meskipun sangat menjengkelkan, tapi sebenarnya bukan orang jahat."

Pwe-giok tertawa, katanya.

"Menurut pendapatku, bahkan sikapnya yang menjengkelkan itupun sengaja dibuat-buat"

"Untuk apakah dia sengaja berbuat demikian?"

Tanya Lui-ji.

"Ada sementara orang yang bercita-cita tinggi dan bertugas berat, dia terpaksa harus mandah menerima hinaan dan ...."

Pada saat itulah mendadak terdengar suara "blang"

Yang keras di lorong rahasia itu. Lui-ji terkesiap, katanya.

"Lengkui yang tidak dapat dibunuh itu mungkin sudah muncul lagi."

Wajah Thi-hoa-nio berubah pucat, agaknya juga rada gemetar. Tiba-tiba Pwe-giok tertawa, katanya.

"Eh, apakah kalian pernah dengar cerita tentang Siausin-tong (si bocah ajaib) membikin Hiat-eng-jin (manusia bayangan darah) mati kecapaian."

"Ti .... tidak tahu,"

Jawab Thi-hoa-nio.

Dalam keadaan dan pada waktu demikian, Pwe-giok justeru ingin bercerita, sungguh aneh.

tapi meski heran, karena bisa mendengar cerita menarik, betapapun Lui-ji merasa senang, katanya dengan tertawa.

"Hiat-eng-jin, nama ini sungguh aneh, kukira orang ini bukan barang baik."

"Betul,"

Kata Pwe-giok.

"orang ini berhati keji dan bertangan ganas, membunuh orang seperti membunuh ayam, meski setiap orang Kangouw sama membencinya, tapi juga tidak dapat berbuat apa-apa."

"Ilmu silatnya sangat tinggi?"

Kata Lui-ji.

"Bukan saja sangat tinggi, bahkan Ginkangnya tidak ada bandingannya,"

Tutur Pwe-giok.

"beberapa kali sudah jelas dia terkepung oleh belasan tokoh kelas tinggi, tampaknya riwayatnya pasti akan tamat, tapi akhirnya dia berhasil lolos juga berkat Ginkangnya yang hebat."

"Lantas, orang macam apa pula Siau-sin-tong itu? Cara bagaimana dia membikin Hiat-eng-jin mati kecapaian?"

Tanya Lui-ji.

"Sesuai julukannya, Siau-sin-tong dengan sendirinya adalah seorang anak kecil, bahkan baru saja muncul di dunia Kangouw, tidak ada yang tahu bagaimana asal-usulnya sehingga orang pun tidak menaruh perhatian padanya. Suatu hari, ketika Siau-sin-tong mendadak berbuat sesuatu yang menggemparkan dunia persilatan sehingga setiap orang sama tertarik padanya."

"Perbuatan apa?"

Tanya Lui-ji.

"Dia memberi upah dan menyuruh orang menempel plakat di setiap kota besar, katanya dia hendak bertanding Ginkang dengan Hiat-eng-jin, bahkan menyatakan apabila Hiat-eng-jin tidak berani menerima tantangannya, maka Hiat-eng-jin bukan manusia melainkan hewan."

"Wah, meski kecil orang nya, tampaknya nyali Siau-sin-tong itu sangat besar,"

Ujar Lui-ji dengan tertawa. Kini Thi-hoa-nio juga mulai tertarik oleh cerita itu, ia tidak tahan dan bertanya.

"Lalu, Hiateng-jin terima tantangannya atau tidak?"

"Sudah biasa Hiat-eng-jin malang melintang di dunia Kangouw, siapapun tidak terpandang olehnya, mana dia tahan akan tantangan itu. Tidak sampai tiga hari dia sudah mendatangi Siau-sin-tong. Kedua orang bersepakat mengadakan pertandingan Ginkang, diputuskan pertandingan lari cepat itu dimulai dari kotaraja hingga Bu-han, jaraknya kurang lebih lima ribu li. Siapa yang tiba lebih dulu di tempat tujuan dianggap menang, dan yang kalah harus membunuh diri dengan menggorok leher sendiri tanpa syarat."

"kalau Hiat-eng-jin adalah orang ganas dan keji begitu, mengapa dia tidak membunuh saja Siau-sin-tong?"

Tanya Thi-hoa-nio.

"Sebab dia memang sombong dan anggap dirinya nomor satu di dunia, kalau Siau-sin-tong menantang lomba Ginkang dengan dia, bila ia membunuh bocah itu dengan cara lain, kan kelihatan gagah,"

Pwe-giok tertawa, lalu menyambung pula.

"Apalagi Ginkangnya memang sangat tinggi dan sukar ditandingi siapapun, sampai tokoh Kun-lun-pay, Hui-liong Cinjin yang termasyhur dengan Ginkangnya juga mengaku bukan tandingannya, apalagi cuma Siausin-tong seorang bocah berumur 13-14 tahun. Biarpun bocah ini berlatih Ginkang sejak masih berada di dalam rahim ibunya, paling-paling juga cuma berlatih selama 15 tahun saja."

"O, demikian, bukankah berarti Siau-sin-tong itu mencari susah sendiri?"

Ujar Lui-ji.

"Waktu itu setiap orang Kangouw memang menganggap Siau-sin-tong mencari mati sendiri, semua orang sama berkuatir baginya. Siapa tahu apa yang terjadi kemudian ternyata sama sekali di luar dugaan mereka."

"Hah, Siau-sin-tong menang, bukan?"

Tanya Lui-ji dengan gembira.

"Waktu fajar mereka mulai lari dari pintu gerbang timur ibukota, ketika matahari terbenam, sampailah Hiat-eng-jin di kota Titlik."

"Wah, kecepatan lari Hiat-eng-jin sungguh melebihi kuda lari,"

Ujar Thi-hoa-nio.

"Tatkala mana iapun mengira sudah jauh meninggalkan Siau-sin-tong di belakang, selagi dia bermaksud berhenti untuk mengaso, cuci muka dan mengisi perut, siapa tahu, baru saja ia melangkah masuk rumah makan, belum lagi pegang sumpit, mendadak dilihatnya Siau-sintong berkelebat lewat di depan pintu secepat terbang, kecepatannya serupa pada waktu mulai start, sedikitpun tidak ada tanda-tanda lelah."

"Haha, Siau-sin-tong memang hebat,"

Seru Lui-ji dengan tertawa cerah.

"Dengan sendirinya Hiat-eng-jin kuatir ketinggalan, tanpa sempat makan minum lagi segera ia taruh sumpit terus mengejar,"

Tutur Pwe-giok pula.

"Setelah lari lagi sehari semalam, biarpun Hiat-eng-jin tergembleng dari baja juga mulai lelah."

"Jika aku mungkin sudah lama kurebahkan diri."

Ujar Lui-ji.

"Waktu dilihatnya di tepi jalan ada penjual wedang kacang hijau yang baru buka pasaran, kelihatan masih mengepul dan berbau sedap, ia tidak tahan, ia mendekati penjual wedang kacang dan ingin minum barang satu-dua mangkuk sekedar mengisi perut."

"Siapa tahu, baru saja dia pegang mangkuk kacang hijau itu, segera dilihatnya Siau-sin-tong berkelebat lewat secepat terbang, begitu bukan?"

Sambung Lui-ji dengan tertawa.

"Betul, sedikitpun tidak salah,"

Jawab Pwe-giok dengan tertawa.

"Bocah itu masih tetap mempertahankan kecepatan larinya seperti semula, seolah-olah manusia yang tidak kenal capai. Keruan Hiat-eng-jin takut kalah, belum sempat minum wedang kacang hijau itu, seketika ia angkat kaki dan mengejar lagi."

"Apakah dia tidak salah lihat?"

Tanya Thi-hoa-nio.

"Waktu itu Hiat-eng-jin juga tergolong jago am-gi terkemuka, ketajaman matanya juga luar biasa, konon seekor lalat saja dapat dilihatnya dengan jelas dari jarak beratus tombak."

"Wah, awas benar matanya,"

Seru Lui-ji.

"Itu saja belum,"

Kata Pwe-giok dengan tertawa.

"konon lalat itu dapat pula dibedakan lalat jantan atau betina. Sebab itulah ketika Siau-sin-tong berkelebat lewat di depan pintu segera dapat dilihatnya dengan jelas."

Sampai di sini Thi-hoa-nio jadi melongo terkesima.

"Wah, orang ini benar-benar bermata maling."

Kata Lui-ji dengan tertawa.

"Ya, orang ini memang dapat dikatakan tokoh ajaib dunia persilatan yang sukar dicari bandingannya,"

Ujar Pwe-giok dengan gegetun.

"Tapi apapun juga dia kan manusia, dan manusia tentu terbatas kekuatannya, ada kalanya dia tidak sanggup bertahan lagi. Maka setiba di Bu-han, akhirnya dia roboh".

Baca Juga: Rajawali Sakti Dari Langit Selatan 8

Baca Juga: Bangau Sakti 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert