Ceritasilat Novel Online

Imbauan Pendekar 4

Eps 4 Imbauan Pendekar - Khu Lung

Baca online Imbauan Pendekar - Khu Lung

Cersil Imbauan Pendekar - Khu Lung.

Mendadak si adik tadi tertawa genit, suaranya nyaring merdu seperti bunyi keleningan, serunya.

"Kau bilang nona cilik itu telur busuk? Aku ini kan juga bukan orang baik?!"

"Ya, betul,"

Kata Yang Cu-kang sambil berkeplok.

"Setiap orang di dalam rumah ini memang tiada satupun orang baik."

Si adik mengerling sambil tertawa menggiurkan, ucapnya pula.

"Jika demikian, bukankah aku dan kau adalah pasangan yang paling setimpal."

Yang Cu-kang tidak menanggapi, ia hanya memandangi si adik dari kepala sampai ke kaki, lalu dari kaki kembali ke atas kepala, tampaknya dia begitu terpesona sehingga matanya menyipit, serupa orang menikmati penari perut yang telanjang bulat.

Meski dalam hati gemasnya tidak kepalang, kalau bisa ia ingin mengorek mata pemuda yang serupa mata maling itu, namun lahirnya si adik justeru tertawa semakin manis, sambil menggigit bibir ia berkata.

"Sudah cukup kau pandang? Bagaimana, cocok tidak?"

Dengan mata terpicing Yang Cu-kang tertawa dan menjawab.

"Bagus, bagus! Boleh kau jadi Ji-ngeh (bini kedua) ku, aku ini biasanya tidak suka menolak kehendak orang, makin banyak makin baik."

Si adik terkikik-kikik, katanya.

"Wah, sungguh setan cilik yang rakus, melulu diriku saja takkan habis kau ganyang, memangnya kau ingin berapa orang lagi?"

Sembari bicara sebelah tangannya yang memegang sepotong sapu tangan terus mengebas ke arah Yang Cu-kang dengan tertawa manis.

Meski tertawanya manis, tapi sorot matanya justeru sedingin es, ia melototi Yang Cu-kang dan menunggu robohnya pemuda itu, sebab entah sudah berapa banyak pemuda bangor yang pernah roboh di bawah lambaian sapu tangannya itu.

Tak terduga, bukannya roboh, sebaliknya Yang Cu-kang malah bergelak tertawa dan berkata.

"Haha, apakah kau kira hatiku dapat kau pikat hanya dengan lambaian sapu tanganmu yang kecil itu? Haha, percuma, jangan membuang tenaga percuma, sebab hatiku ini sudah lama ku buang ke Yang-cu-kang untuk umpan ikan."

Seketika ujung hidung kedua kakak beradik itu keluar butiran keringat, diam-diam sang kakak menggreget, ia menjadi nekat, sekonyong-konyong ia berputar, serentak tujuh titik sinar emas menyambar secepat kilat ke arah Yang Cu-kang.

Di luar dugaan, tangan Yang Cu-kang hanya bergerak pelahan dan ke tujuh titik emas itu kontan menyambar balik ke sana, bahkan daya luncurnya jauh lebih cepat.

Maka terdengarlah suara "crat-cret"

Beberapa kali, tujuh pisau emas sama menancap di dinding, bahkan salah sebuah pisau emas itu membawa secomot rambut sang kakak yang terkupas.

Sekarang, mau tak mau air muka Lui-ji juga berubah pucat, sungguh ia tidak tahu cara bagaimana pemuda she Yang ini melatih kungfunya.

Apalagi kedua kakak beradik itu, wajah mereka lebih-lebih pucat seperti mayat.

Yang Cu-kang tetap adem-ayem saja, malahan kedua kakinya terus diangkat dan diselonjorkan di atas meja, ucapnya dengan tertawa.

"Kungfuku ini tentunya tidak pernah kalian lihat, bukan? Apabila kalian ingin melihat pertunjukan kungfuku yang lain, silahkan kalian mengeluarkan semua besi tua dan baja karatan yang kalian bawa."

Si adik menghela napas, ucapnya.

"Kukira tidak perlu lagi, kami sudah menyerah padamu."

Mendadak si baju hijau berteriak dengan beringas.

"Kedatanganmu ini jika ingin membunuh diriku, silahkan lekas turun tangan dan jangan membikin susah mereka."

Yang Cu-kang menghela napas, ucapnya.

"Ai, kau ini benar-benar seorang pecinta sejati, pantas nona ini sudi mengikuti dirimu dengan sepenuh hati. Cuma, darimana kau tahu kedatanganku ini hendak membunuh kau? Bukan mustahil kedatanganku ini justeru hendak menyelamatkan kau!"

Lui-ji menjengek.

"Hm, tak tersangka Yang Cu-kang yang terhormat juga mahir berdusta."

"Untuk apa kudustai dia?"

Jawab Yang Cu-kang dengan tertawa kemalas-malasan.

"Bagiku, mudah sekali jika ingin kubunuh dia, tapi juga tiada kesukaran apapun jika hendak kuselamatkan dia."

"Kalau begitu, sesungguhnya hendak kau selamatkan dia atau akan kau bunuh dia?"

Tanya si adik dengan suara lembut.

"Apakah kau minta ku bicara sebenarnya?"

Tanya Yang Cu-kang dengan tersenyum.

"Ya."

Jawab si adik.

"Baik, biar kukatakan padamu, lebih dulu akan kuselamatkan dia dari cengkeraman nona cilik itu, kemudian...."

"Kemudian bagaimana?"

Tukas sang kakak tidak tahan.

"Kemudian baru kubunuh dia,"

Jawab Yang Cu-kang dengan tak acuh.

"lalu aku akan bergembira bersama kalian bertiga nona cantik ini, bilamana aku sudah bosan memainkan kalian, akan ku ringkus kalian bertiga dan kujual seluruhnya ke Bong-hoa-lau."

Semua itu diucapkannya dengan tersenyum, diuraikannya secara ringan, seperti hal hal demikian ini adalah kejadian yang biasa dan tidak perlu diherankan atau dikejutkan.

Keruan tidak kepalang kejut dan juga gusar Cu Lui-ji, si baju hijau dan kedua nona kakak beradik itu, hampir saja dada mereka meledak.

Saking gemasnya hingga seketika mereka tidak dapat bersuara malah.

Mereka merasa betapa keji hati pemuda she Yang ini, betapa tebal kulit mukanya sungguh sukar ada bandingannya.

Dengan tertawa Yang Cu-kang berkata pula.

"Mungkin kalian mengira potonganku gagah dan terpelajar, tentu takkan berbuat hal-hal demikian? Jika begitu pikiran kalian, maka salahlah kalian. Caraku bicara justeru sangat jujur dan terus terang. Apa yang kukatakan pasti kulaksanakan, tidak akan berubah sedikitpun."

Pelahan ia lantas berbangkit, ia pandang Lui-ji dengan tersenyum dan berkata.

"Nah, sekarang juga akan ku mulai menyelamatkan dia dari cengkeramanmu! hendaknya kau waspada!"

Tak tersangka mendadak Lui-ji melepaskan cengkeramannya dan berseru dengan suara tertahan.

"Lekas lari, biar kuhadapi dia!"

Walaupun ucapan Lui-ji itu dapat didengarnya, tapi Yang Cu-kang masih tetap berdiri di tempatnya dengan tersenyum tanpa bergerak sedikitpun.

Si baju hijau tertegun sejenak, mendadak ia melompat bangun terus hendak kabur keluar pintu.

Berbareng itu Cu Lui-ji juga lantas menerjang ke arah Yang Cu-kang.

Siapa tahu, baru saja tubuh Lui-ji bergerak, tahu-tahu Yang Cu-kang sudah menghilang.

Terdengar suara "blang"

Yang keras, si baju hijau telah terbanting di lantai dari udara.

Waktu semua orang memandang ke sana, Yang Cu-kang sudah berada di seberang meja dan masih berduduk di kursinya dengan kemalas-malasan, malahan kedua kakinya diselonjorkan tinggi-tinggi ke atas meja.

"Nah, kalian sudah lihat, aku tidak membual bukan?"

Demikian Yang Cu-kang berkata dengan tertawa.

"Hakekatnya aku tidak menggerakkan tanganku, aku cuma berucap satu kalimat dan dia lantas kuselamatkan dari cengkeraman nona cilik itu."

Si kakak berkata dengan suara gemetar.

"Dan sekarang kau... kau..."

"Sekarang akan kubunuh dia,"

Tukas Yang Cu-kang dengan tak acuh.

"kalian tidak perlu kuatir, ku tanggung dia takkan kesakitan."

Lalu dengan kemalas-malasan ia berbangkit dan mendekati si baju hijau.

Agaknya si baju hijau yang menggeletak di lantai itu sudah tidak mampu berkutik sama sekali.

Kedua kakak beradik mendadak menggentak kaki, agaknya mereka menjadi nekat, tiba-tiba mereka menarik baju sendiri sehingga kelihatan kutang masing-masing yang berwarna jambon, tertampak pula kulit badan mereka yang putih mulus.

Tubuh kedua kakak beradik itu sungguh sangat memikat, tapi air muka mereka telah berubah menjadi beringas menakutkan, mereka melototi Yang Cu-kang dan berkata dengan suara serak.

"Asalkan kau melangkah maju lagi satu tindak, segera kami mengadu jiwa dengan kau!"

Yang Cu-kang menghela napas, ucapnya.

"Masa kalian bermaksud gugur bersamaku?"

"Betul,"

Jawab kedua nona kakak beradik itu berbareng, tahu-tahu tangan mereka sudah memegang sebilah pisau emas sepanjang satu kaki lebih, tapi pisau emas itu tidak ditunjukkan ke arah musuh melainkan mengancam di atas dada sendiri.

Yang Cu-kang berkerut kening, ucapnya.

"Apakah ini kungfu kalian yang disebut "Hoa-hiathun-sin, Si-kay-tay-hoat" (ilmu menghancurkan tubuh dan bedah mayat)?"

Dengan bengis si kakak membentak.

"Jika kau tahu kualitas barang, tentu pula kau kenal lihaynya?"

Yang Cu-kang tersenyum, ucapnya.

"Apapun yang kalian keluarkan tetap tidak ada gunanya, sebab kalau aku tidak menghendaki kematian kalian, biarpun kalian ingin mati juga tidak dapat." -Habis berkata, mendadak ia melayang ke depan. Dengan menggreget segera kedua kakak beradik itu nekat hendak membedah dadanya sendiri dengan pisau emas yang mereka pegang itu. Lui-ji sampai kesima memandangi kedua perempuan cantik yang menggiurkan itu dengan segera akan bermandi darah. Dan bila mana setitik air darah itu menciprat di tubuh Yang Cukang maka Yang Cu-kang pun jangan harap akan hidup lagi. Siapa tahu, pada saat itu juga mendadak terdengar suara "trang-trang"

Dua kali, kedua bilah pisau emas itu jatuh di lantai, tahu-tahu kedua kakak beradik sudah berada dalam rangkulan Yang Cu-kang.

Dengan setiap tangan merangkul seorang nona itu, mata yang Cu-kang justeru melototi Cu Lui-ji, ucapnya dengan tertawa.

"Sungguh menyesal, aku hanya punya dua tangan dan semuanya terpakai, terpaksa kau harus menunggu."

Gemerdep sinar mata Lui-ji, tiba-tiba ia berkata.

"Jika tanganmu tidak sempat kau gunakan, boleh kuwakilkan kau membunuhnya saja!"

Ia tahu si baju hijau sangat enteng bagi Ji Pwe-giok, kalau orang ini mati, bisa jadi selamanya Pwe-giok takkan mampu membuktikan tulen atau palsunya Tong Bu-siang itu.

Sembari bicara serentak iapun melayang maju kedua tangan menghantam sekaligus, kedua kaki juga menendang beruntun ke arah Yang Cu-kang.

Dia mengira biarpun Yang Cu-kang mempunyai kepandaian setinggi langit, kalau sekarang kedua tangannya merangkul dua nona, mana dia dapat menghindari serangannya yang serentak ini.

Siapa tahu mendadak tubuh Yang cu-kang berputar cepat, kedua nona dalam rangkulannya itu mendadak disodorkan ke depan untuk memapak serangannya.

Lui-ji menjadi kaget, tampaknya hantaman dan tendangannya pasti akan mengenai badan kedua nona yang setengah telanjang itu, baru saja ia bermaksud menarik kembali serangannya, tak tahunya pada saat itulah terasa ada orang mengembus hawa di bagian gitoknya.

Didengarnya Yang Cu-kang lagi berucap dengan tertawa di tepi telinganya.

"Biarpun kau belajar lagi 30 tahun dengan Hong sam juga tiada gunanya. Akan lebih baik jika kau temani aku main-main beberapa hari, bila hatiku senang, bisa jadi akan kuajarkan beberapa jurus padamu dan selama hidupmu akan merasakan betapa besar manfaatnya."

Lui-ji merasa telinganya seperti dikili-kili, bahkan terasa geli.

Sungguh gemasnya tidak kepalang, ingin sekali tendang orang itu dibunuhnya, tapi sayang, badan sendiripun tak bisa berkutik lagi.

Yang Cu-kang lantas menjajarkan tiga kursi menjadi satu baris, Lui-ji didudukkannya pada kursi tengah, sedangkan kedua kakak beradik itu didudukkan pada kedua kursi kanan dan kiri.

Cahaya mata hari yang menembus masuk melalui jendela itu dapat menyinari tubuh kedua nona kakak beradik itu dengan jelas, sampai-sampai pori-pori di badan merekapun dapat terlihat jelas.

Meski sesama wanita, melihat tubuh mereka yang mulus itu, berdetak juga jantung Lui-ji, dia ingin bergerak, tapi tak dapat, ingin memaki, sukar membuka mulut.

Rupanya Yang Cu-kang tidak cuma menutuk Hiat-to kelumpuhannya, bahkan juga menutuk Hiat-to bisunya, supaya mereka tak dapat bicara satu sama lain.

Muka kedua kakak beradik itu tampak merah padam, mata mereka seolah-olah memancarkan sinar tembus, mereka lantas menangis demi melihat si baju hijau yang menggeletak tak bisa berkutik itu.

Yang Cu-kang membetulkan bajunya, lalu berkata dengan serius.

"Hari ini adalah hari besar selama hidupku, sebab itulah ku undang nona bertiga untuk menjadi peninjau, untuk ikut menyaksikan upacara aku membunuh orang. Apabila caraku membunuh orang tidak baik, diharap para nona suka memberi petunjuk seperlunya."

Dia terus membungkuk tubuh sebagai tanda hormat, lalu menyambung pula.

"Soalnya selama hidupku ini tidak pernah membunuh orang, baru sekarang untuk pertama kalinya kubuka pantanganku membunuh, sebenarnya aku tidak ingin menggunakan orang begini sebagai pembukaan, tapi tiada orang lain yang kutemukan, terpaksa seadanya."

Air mata kedua kakak beradik itu bercucuran bibir pun tergigit hingga berdarah.

Yang Cu-kang menjemput pisau emas yang terjatuh di lantai itu, di usapnya pisau itu dengan mengkilap dengan baju yang ditanggalkan kakak beradik itu, perlahan ia mendekati si baju hijau, tiba-tiba ia menoleh dan berkata pula.

"Eh, apa barangkali ketiga nona masih ada kedatangan sahabat lain? Jika masih ada, bagiku menjadi lebih baik, sebab upacara yang khidmat ini rasanya terlalu sedikit jika cuma disaksikan oleh tiga tamu undangan saja."

Sebenarnya Lui-ji berharap mudah-mudahan Ji Pwe-giok akan menyusul tiba, tapi sekarang ia berbalik berharap semoga anak muda itu jangan datang, sebab ilmu silat orang she Yan ini sungguh terlalu menakutkan.

Yang Cu-kang sedang menghela nafas, gumamnya.

"Orang lain sama bilang membunuh orang adalah suatu yang merangsang, mengapa sekarang tidak kurasakan rangsangan sedikitpun?"

Dengan kemalas-malasan pula ia berkata dengan tertawa.

"Sebentar kalau kau rasakan sakit boleh kau berkedip-kedip dan akan ku bikin kau mati lebih cepat, sebab aku tidak suka melihat orang meringis kesakitan."

Tampaknya pisau emas segera akan menghujani hulu hati si baju hijau, air mata kedua nona kakak beradik pun berderai, siapa tahu, pada saat itulah mendadak seorang berucap di jendela.

"Aku tidak suka melihat orang meringis kesakitan. Seketika air muka Yang Cu-kang berubah, ia melompat ke depan jendela, tapi mendadak menyurut mundur pula dan membentak.

"Siapa itu?"

Mendadak orang itu pun membentak "Siapa itu?"

Tambah pucat wajah Yang Cu-kang, teriaknya.

"Apa...apakah benar kau..."

Belum habis ucapannya.

"blang", ia terjang jendela yang lain hingga terpentang dan menerobos keluar secepat anak panah, di luar dia membentak pula.

"Hwe sing-diong (kutu gema suara), selama ini aku tidak bermusuhan dengan kau, jangan kalian coba-coba mengganggu diriku, ketahuilah akupun bukan orang yang mudah direcoki."

Bicara sampai kata terakhir itu, suaranya sudah berada berpuluh tombak jauhnya, lalu tidak terdengar apa-apa lagi.

Kedua kakak beradik itu sama melengak, Lui-ji terkejut dan juga bergirang, sungguh tak tersangka olehnya Hwe-sing-diong bisa datang menolong untuk menolong mereka dan dapat membuat pemuda yang misterius itu kabur ketakutan.

Dengan penuh rasa kagum dan ingin tahu ia pandang keluar jendela dengan terbelalak, diam-diam ia berharap orang maha sakti itu sudi memperlihatkan wajahnya.

"Blang", mendadak daun jendela yang sebelah sini juga di dobrak orang, seorang benar-benar menerjang ke dalam rumah. Ke empat orang yang berada di dalam sama terkejut setelah tahu siapa orang yang menerjang tiba ini, sebab orang ini bukan lain daripada Ji Pwe-giok adanya. Melihat kedua nona kakak beradik itu, wajah Pwe-giok juga memperlihatkan kejut dan heran, cepat ia membuka Hiat-to Lui ji yang tertutuk, lalu berkata dengan suara tertahan.

"Lekas buka Hiat-to mereka, lalu ikut pergi bersamaku."

Lui-ji tidak bicara lain, tapi bertanya lebih dulu.

"Kau kenal mereka?"

Dalam pada itu Pwe-giok sudah angkat si baju hijau dan menerjang keluar rumah.

Sambil menggigit bibir Lui-ji jadi termenung memandangi kedua nona kakak beradik itu.

Didengarnya Pwe-giok lagi mendesak di luar "Lekas, cepat!

Bisa jadi sebentar Yang Cu-kang akan kembali ke sini, akan kutunggu kalian di lumbung padi sana!"

Biji mata Lui-ji mengerling, lebih dulu ia jemput baju yang terlempar di lantai dan ditaruh di atas tubuh kedua kakak beradik itu, lalu ia membuka Hiat-to bisu mereka, seperti tertawa tapi bukan tertawa ia melototi mereka, katanya.

"Setelah kalian berpakaian dengan rapi baru boleh keluar, aku tidak suka suamiku melihat perempuan telanjang, tahu?"

Kedua kakak beradik itu seperti melenggong si taci tidak bicara, tapi si adik lantas bertanya "Suamimu?"

Lui-ji meliriknya sekejap, katanya.

"Memangnya kalian kenal suamiku?"

Sang Taci mengangguk, sedangkan si adik berkata pula.

"Kami memang kenal Ji-kongcu, tapi tidak tahu dia adalah suamimu?"

Mata Lui-ji melotot lebih besar, ucapnya.

"Ji-kongcu ialah suamiku, suamiku ialah Ji-kongcu. masa kalian belum lagi paham?"

"Oo, apa betul?"

Jengek si adik.

"Wah, jika begitu harus kuucapkan selamat padamu. Tadinya kukira kau adalah puterinya."

Sampai hijau muka Lui-ji saking gusarnya, ucapnya.

"Hm, sekali pandang saja segera ku tahu kau bermaksud tidak baik padanya. Tapi ingin ku peringatkan padamu, jika kau coba menggoda suamiku, tentu akan kucabut nyawamu!" ***** Lumbung padi itu tidak lembab, tapi sangat suram, sekeliling penuh tertimbun padi, hanya pada suatu sudut gudang itu saja tempat luang, waktu Pwe-giok membawa si baju hijau ke situ, Hiat-to orang itu juga telah dibukanya. Sambil melototi Pwe-giok si baju hijau berucap.

"Dengan menyerempet bahaya besar Anda menyusul kemari untuk menolong kami, tentunya hubunganmu dengan mereka kakak beradik cukup akrab bukan?"

Pwe-giok termenung sejenak, ucapnya kemudian dengan perlahan.

"Meski hubunganku dengan mereka cukup baik, tapi tidak sampai mesti menjual ayah-bunda sendiri demi membela mereka."

Tubuh si baju hijau bergetar hebat, ia menyurut mundur dua-tiga tindak, ucapnya dengan parau.

"Ap...apa katamu? Aku tidak paham!"

Pwe-giok menghela nafas, katanya.

"Tong Giok, Tong-ji-kongcu, sudah begini, apakah kau masih ingin mengelabuhi diriku?"

Si baju hijau mengepal tinjunya kencang-kencang sekujur badan bergemetaran. Pwe-giok berucap pula dengan gegetun.

"Semula sukar bagiku untuk menerka siapa dirimu, sebab apapun juga tak terpikir olehku bahwa Tong-jikongcu dapat mengkhianati ayahnya sendiri, menjual keluarga sendiri, Tapi setelah melihat kedua kakak beradik Kim-hoa-hio barulah ku paham duduk perkaranya, Lantaran ayahmu tidak menyetujui perkawinanmu dengan Kim-hoa-nio, maka kau tidak sayang melakukan perbuatan kotor ini."

Mendadak suaranya berubah bengis, sambungnya.

"Rupanya syaratmu bagi perbuatanmu yang terkutuk ini adalah setelah Tong Bu-siang gadungan itu pulang ke Tong-keh-ceng, lalu mengumumkan persetujuannya akan perkawinanmu. Tapi apakah pernah kau pikirkan bahwa perbuatanmu ini bukan saja berdosa pada ayahmu bahkan juga berdosa kepada leluhur keluarga Tong kalian yang telah bersejarah ratusan tahun?"

Tong Giok menyurut mundur selangkah demi selangkah, sampai di kaki dinding, ia mendadak berteriak dengan suara parau.

"Ayahku toh sudah mati, aku tidak membunuhnya. Perbuatanku ini kan sama seperti membuat beliau yang sudah mati itu hidup kembali, dan semua saudaraku tidak perlu lagi berduka, sebab itulah aku merasa tidak berbuat salah dan tidak berdosa."

Dengan gusar Pwe-giok berkata.

"Apakah benar-benar kau suka seorang yang tidak kau kenal menjadi ayahmu, menjadi ayah saudara-saudaramu? Benarkah kau suka saudara-saudaramu diperbudak orang yang semestinya tiada sangkut-pautnya dengan keluarga Tong kalian? Apakah tidak kau sadari setelah dia menjadi ketua keluarga Tong kalian, lalu nama baik keluarga Tong yang termasyhur selama beratus tahun itu akan hancur dengan begitu saja?"

Tubuh si baju hijau alias Tong Giok tampaknya mulai lunglai, dia mendekap mukanya dan berkata dengan suara gemetar.

"Tapi tahukah kau, apabila aku tidak bertemu dia (maksudnya Kim-hoa-nio), betapa tersiksa batinku? Biarpun aku harus masuk neraka dan takkan menitis selamanya akupun ingin bersama dia."

Ia berhenti sejenak, mendadak ia melototi Pwe-giok dan menyambung pula.

"Apakah kau tahu betapa besar dan betapa kuatnya "cinta"? Tahukah kau tidak sedikit orang yang berada di dunia ini hanya hidup demi cinta dan berapa banyak pula orang mati akibat cinta?"

Setelah tersenyum pedih, lalu lanjutnya lagi.

"Dengan sendirinya kau tidak tahu, sebab pada hakekatnya kau tidak pernah jatuh cinta benar-benar kepada seseorang, hakekatnya kau belum tahu bagaimana rasanya cinta!"

Wajah Pwe-giok tanpa terasa menampilkan perasaan berduka, ucapnya sambil menyengir.

"Kau kira aku tidak pernah mencintai seseorang? Kau kira aku tidak paham artinya cinta?"

"Jika kau paham, tentu kau tidak....tidak mencela perbuatanku ini."

Kata Tong Giok.

"Kesulitanmu mungkin aku lebih paham dari siapapun juga,"

Ujar Pwe-giok dengan gegetun.

"Sebab itulah, sekalipun kau minggat bersama Kim-hoa-nio pasti takkan kusalahkan dirimu, tapi perbuatan inilah yang tidak pantas kau lakukan, perbuatan mengkhianati ayah sendiri dan keluarga sendiri, perbuatan yang terkutuk."

Tong Giok tersenyum pedih, tukasnya.

"Minggat? Kau kira minggat adalah perbuatan yang sangat mudah?"

"Apabila benar cinta kalian sedemikian mendalam, mengapa kalian tidak dapat meninggalkan kehidupan ramai ini dan mengasingkan diri ke satu tempat yang jauh dan sunyi sana agar dapat hidup dengan tenteram selamanya. Apakah kalian masih kemaruk kepada dunia fana ini, masih sayang meninggalkan kenikmatan hidup mewah ini? Jika sedikit pengorbanan ini saja tidak sanggup kalian lakukan, hakekatnya kalian tidak sesuai untuk bicara tentang cinta segala."

"Jika orang lain, dengan sendirinya boleh berbuat seperti uraianmu itu, tapi kami...."

"Kalian kenapa?"

Pwe-giok menegas.

"Tahukan kau hukuman apa yang akan dijatuhkan terhadap putera-puteri keluarga Tong yang minggat bersama kekasihnya? Sekalipun kami kabur ke ujung langit juga mereka akan dapat menemukan kami dan menawan kami kembali, apalagi betapa kejinya Thian can kaucu juga sudah lama diketahui."

"Setahuku, Thian can kaucu tidak pernah anti perkawinan kalian,"

Kata Pwe-giok.

"Dia tidak anti, sebab dia tahu perjodohan kami pasti akan gagal,"

Tutur Tong Giok.

"sebab itulah syarat yang dikemukakannya adalah aku harus melamar secara resmi dan kawin dengan sah. Kalau tidak, dia melarang Kim-hoa-nio bertemu denganku."

"Tapi kalian kan tetap dapat minggat?"

Ujar Pwe-giok.

"Betul, kami dapat minggat, mungkin juga kami dapat lolos dari pengejaran keluarga Tong, tapi jangan harap akan dapat lolos dari kekejian Thian-can-kau,"

Kata Tong Giok, lalu ia menyambung dengan sekata demi sekata.

"Sebab kalau Kim-hoa mengkhianati Thian-cankau, dalam waktu tujuh bulan seluruh tubuhnya akan membusuk dan mati."

"Sebab apa bisa begitu?"

Tanya Pwe-giok.

"Sebab dia sudah diberi racun ulat langit oleh Thian-can-kaucu yang tidak mungkin tertolong lagi,"

Tutur Tong Giok. Mau tak mau Pwe-giok menghela napas menyesal, katanya pelahan.

"Lantaran itulah, demi kepentinganmu sendiri tidak sayang kau korbankan orang lain...."

"Sama sekali aku bukan manusia yang berhati binatang begitu,"

Kata Tong Giok.

"Apa yang kulakukan juga sudah kuperhitungkan dengan baik."

"Apa perhitunganmu?"

Tanya Pwe-giok.

"Aku dapat membantu usaha mereka hingga berhasil, tapi akupun dapat menghancurkan usaha mereka,"

Ujar Tong Giok.

"Hanya aku saja yang dapat membongkar intrik mereka, pada suatu hari tentu dapat kubongkar tipu muslihat mereka itu."

"Pada suatu hari? Memangnya akan kautunggu sampai kapan?"

Tanya Pwe-giok.

"Dengan sendirinya menunggu sampai perkawinan kami sudah terlaksana."

"Tapi pernahkah kau pikirkan, sebelum intrik mereka kaubongkar, apa yang dapat dilakukannya?"

"Hal ini....ini..."

Tong Giok menjadi gelagapan.

"Banyak yang dapat dilakukannya,"

Sambung Pwe-giok.

"Bukan saja dia dapat membongkar seluruh rahasia pembuatan am-gi (senjata gelap atau rahasia) keluarga Tong kalian, bahkan dia dapat memperalat setiap anak murid keluarga Tong untuk berbuat apa saja baginya, dapat disuruhnya membunuh banyak orang yang akan mati secara mengerikan, bahkan termasuk saudaramu dan sanak keluargamu, jadi sebelum kau sempat membongkar rahasianya, lebih dahulu dia sudah menghancurkan segenap keluargamu."

Lalu sekata demi sekata Pwe-giok menegaskan lagi.

"Apalagi pada hakekatnya kaupun takkan sempat hidup sedemikian lama."

Tong Giok berdiri terpaku, tiba-tiba air matanya berderai, ia bergumam.

"Jadi salahkah aku ini? Apakah aku benar-benar salah?"

"Sampai sekarang, apakah kau belum lagi mau mengaku salah?"

Tanya Pwe-giok.

"Tempo hari, ayahku menyuruh kita bertukar pakaian, bahkan menyuruh kau memakai topengku, meski resminya untuk mengelabui mata-telinga para pekerja bengkel senjata rahasia itu, padahal diam-diam ayahku menyuruh aku dan toako secara terpencar pergi mencari pimpinan kalian, yaitu Bu-lim-bengcu Ji Hong-ho..."

"Urusan ini sudah kuketahui,"

Kata Pwe-giok.

Tugas demikian dengan sendirinya beliau tidak dapat mempercayai orang lain, betapapun aku adalah putranya, selamanya juga sangat penurut, tapi sebelum ku berangkat beliau wantiwanti memperingatkan diriku agar segera pulang ke rumah bila tugas sudah selesai, aku dilarang bertemu dengan Kim-hoa, kalau melanggar, aku akan dihukum menurut tata tertib rumah tangga."

"Dan kau tidak menurut pada perintahnya, bukan?"

Kata Pwe-giok.

"Jika aku tidak dipikat orang lain, betapapun aku tidak berani membangkang,"

Jawab Tong Giok dengan muram.

"Tapi ketika kutemui Ji Hong-ho, dia malah memberitahukan padaku bahwa ayah dan Toakoku telah meninggal semua. Katanya, bila berita ini tersiar, bukan saja Tong-keh-ceng akan segera kacau balau, bahkan dunia persilatan juga akan mengalami pergolakan hebat, demi kepentingan umum, terpaksa dia akan mencari satu orang untuk menyamar sebagai ayahku, lebih dulu menjaga ketenangan dan perkara lain boleh diatur belakangan?"

"Sebab itulah kau lantas percaya pada ucapnya, begitu?"

"Meski apa yang dikatakannya itu kurasakan agak janggal, tapi dia menegaskan lagi bahwa tindakannya itu lebih banyak untungnya dan tiada ruginya, terutama terhadap diriku akan besar manfaatnya."

"Ya, tampaknya dia tidak hanya menyetujui perkawinanmu dengan Kim-hoa-nio, mungkin dia juga menyanggupi akan mengangkat kau sebagai pimpinan Tong-keh-ceng."

Tong Giok menunduk, katanya dengan menyesal.

"Lantaran salah pikir, seketika itu kuterima semua kehendaknya. Tapi kemudian dapat juga kupikirkan, bilamana rahasianya ketahuan, mungkin akupun akan dibunuhnya untuk membungkam mulutku."

"Terkadang kau ternyata juga seorang yang sangat prihatin dan hati-hati,"

Ujar Pwe-giok dengan gegetun.

"Tapi lebih sering kau terlalu ceroboh. Mungkin inilah yang disebut...."

Mendadak ia berhenti, kata "keblinger"

Urung diucapkannya, sebab tiba-tiba iapun merasakan anak muda ini juga pantas dikasihani, ia tidak tega lagi melukai hatinya. Tong Giok lantas bercerita pula.

"Selama ini aku dan Kim-hoa ada hubungan secara rahasia, sebab itulah setelah janji pertemuanku dengan Ji Hong-ho yang diadakan di Bong-hoa-lau itu selesai diam-diam kuminta agar Kim-hoa datang kemari untuk memapak dan membantuku bila perlu."

"Langkahmu ini ternyata tidak keliru?"

Kata Pwe-giok.

"Tapi aku sudah salah berbuat langkah yang paling penting,"

Ujar Tong Giok dengan muram.

"Kata orang, kehidupan manusia ini laksana main catur. Hidupku ini sudah melakukan suatu kesalahan yang tidak dapat ditarik kembali lagi, aku merasa malu untuk...."

Belum habis ucapannya, mendadak Kim-hoa menerjang masuk dan mendekap di atas tubuhnya, serunya sambil menangis.

"Kau tidak salah, yang salah ialah diriku, akulah...akulah yang membikin susah padamu!"

Pwe-giok memandangi mereka, memandangi dua sejoli yang saling cinta dengan teguh, meski dalam lingkungan seburuk ini, namun cinta mereka tidak tergoyahkan sedikitpun.

Seketika Pwe-giok juga tidak tahu bagaimana perasaannya, ia tidak tahu apabila dirinya yang menghadapi keadaan seperti mereka itu, apakah dia juga akan dapat tahan uji seperti mereka?

Meski ia merasa apa yang diperbuat mereka itu pantas disesali, tapi nasib mereka juga pantas mendapat simpati, bahkan keteguhan cinta mereka pantas dikagumi.

Perlahan Lui-ji juga sudah mendekati Pwe-giok, tanyanya dengan pelan.

"Tulisanku di bawah kereta itu dapat kau baca?"

Pwe-giok mengiakan.

Sebenarnya ia bermaksud menegur si nona agar selanjutnya tidak boleh sembrono dan bertindak gegabah, tapi kini setelah berhadapan, satu kata saja sukar untuk diucapkan.

Dilihatnya Lui-ji menunduk sambil memainkan ujung bajunya, seperti sedang menunggu dampratan dan seperti juga sedang menanti dipuji.

Terpaksa Pwe-giok berkata dengan suara halus.

"Kalau tidak membaca tulisanmu itu, mana bisa kususul ke sini?"

Lui-ji tersenyum, katanya.

"Kira-kira kapan kau sampai di sini? Apakah kau melihat Hwesing-diong yang suka menirukan perkataan orang itu?"

Pwe-giok tertawa, jawabnya.

"Siapa Hwe-sing-diong itu, sama sekali tidak kulihat seorangpun."

Berputar biji mata Lui-ji, tiba-tiba ia mendesis pelan.

"Jangan-jangan memang tidak ada Hwesing-diong segala, tapi kau yang telah menggertak lari Yang Cu-kang?"

Dengan tersenyum Pwe-giok mengangguk, lalu mendesis pula.

"Makanya ku kuatir Yang Cukang akan segera kembali lagi ke sini."

"Jangan kuatir,"

Ujar Lui-ji dengan tertawa.

"dia mengira Hwe-sing-diong diam-diam telah mengintil di belakangnya, tentu dia tak berani lagi bersuara. Apabila nanti dia tahu tertipu dan memburu kembali ke sini, tentu kitapun sudah pergi jauh."

Si adik dari kedua nona itu ialah Thi-hoa-nio, dia berdiri jauh di sebelah sana dan sedang melirik Lui-ji, melihat nona cilik ini bicara bisik-bisik dengan Pwe-giok dan tertawa ringan, betapapun hati Thi-hoa-nio merasa panas, sambil menggigit bibir ia melengos ke sana.

Tiba-tiba ia merasa kehadirannya di situ hanya berlebihan, tidak ada orang memperhatikannya dan juga tidak ada orang menggubrisnya.

Walaupun suara tangisan Kim-hoa-nio dan Tong Giok cukup membuatnya berduka, tapi suara tertawa Lui-ji dan Pwe-giok membuat hatinya lebih pedih dan ia ingin segera mati saja dan bereslah segalanya.

Di luar dugaan, mendadak terdengar Pwe-giok menyapanya.

"Nona Thi-hoa, beberapa bulan ini tidak bertemu, tampaknya kau agak kurus sedikit."

Mendingan tidak ditegur, kata Pwe-giok ini malah menambah pedih hatinya, tak tertahan lagi air mata Thi-hoa-nio berlinang-linang. Pikirnya dengan mendongkol.

"Jika kau tahu aku tambah kurus ini lantaran siapa. Bila kau masih juga memperhatikan diriku, mengapa kau menikah dengan orang lain?"

Sungguh ia ingin menubruk ke dalam pangkuan Pwe-giok dan menangis sepuas-puasnya, ingin pula ia menggigit muka Pwe-giok, ingin dicicipinya darah anak muda itu sesungguhnya dingin atau panas?

Seketika tidak keruan perasaannya dan entah apa yang harus diucapkannya, siapa tahu Pwe-giok tidak menunggu jawabannya, juga tidak mendekatinya, sebaliknya malah melangkah ke sebelah Tong Giok sana, perkataannya tadi seolah-olah hanya tegur sapa dengan kenalan di tengah jalan saja.

Seketika darah Thi-hoa-nio terasa dingin sampai di bawah derajat nol.

Buah hatinya rasanya juga seperti hilang dirogoh orang, urusan apapun tak dirasakan lagi.

Pwe-giok seperti tidak paham betapa besar perubahan perasaan seorang gadis pada waktu sekejap itu, hakekatnya ia tidak memperhatikan Thi-hoa-nio, ia lantas membuka Hiat-to Tong Gok dan berkata dengan menyesal.

"Akupun tidak menyalahkan engkau, hanya saja kau harus mempunyai perhitungan sendiri."

Tong Giok terdiam sejenak, mendadak ia seperti mengambil sesuatu keputusan yang pasti, ia berbangkit dan berdiri tegak, ucapnya.

"Aku pergi bersamamu!"

"Pergi ke mana?"

Tanya Pwe-giok.

"Puang ke Tong-keh-ceng dan membongkar rahasia mereka,"

Ucap Tong Giok tegas.

"Tepat, beginilah baru perbuatan seorang lelaki sejati,"

Puji Pwe-giok dengan tersenyum cerah.

"Asalkan ada tekadmu, di dunia ini tidak ada urusan sulit yang tidak dapat diatasi, lebih-lebih tidak ada urusan yang tidak dapat diselesaikan."

Lui-ji juga bergembira, pemberontakan perjuangan Ji Pwe-giok tampaknya sampai di sini baru mulai kelihatan ada hasilnya, baru sekarang mendung gelap mulai kelihatan setitik sinar terang.

Kecuali Thi-hoa-nio, semangat setiap orang sama terbangkit.

Tong Giok membersihkan hangus yang mengotori mukanya, dia seperti sudah bertekad takkan main menyamar dan memalsu secara sembunyi-sembunyi lagi, dia ingin menjadi manusia tulen menurut wajah aslinya.

Termangu-mangu Kim-hoa-nio memandangi kekasihnya itu dengan butiran air mata masih berada di kelopak matanya, namun juga kelihatan juga rasa puasnya, perasaan terhibur.

Maklumlah, tidak ada seorang perempuan yang tidak mengharapkan kekasihnya sendiri adalah seorang lelaki sejati.

"Waktu kita yang terbuang sudah cukup lama, marilah kita lekas berangkat saja,"

Kata Lui-ji dengan tertawa.

"Betul, ada persoalan apa boleh kita bicarakan lagi dalam perjalanan,"

Tukas Pwe-giok. Tak terduga, mendadak di lumbung padi itu seorang lantas menirukan suaranya.

"Betul, ada persoalan apa boleh kita bicarakan lagi dalam perjalanan."

Seketika semua orang sama berubah pucat.

Meski merekapun tahu pembicara itu pasti bukan Hwe-sing-diong yang tulen, tapi dalam pandangan mereka Yang Cu-kang dan Hwe-sing-diong sama menakutkannya.

Dengan muka pucat lui-ji lantas berteriak.

"Yang Cu-kang, tidak perlu kau main sembunyi dan berlagak seperti setan iblis, ku tahu kau telah kembali."

Kim-hoa-nio menggenggam Tong Giok erat-erat, iapun menjengek.

"Hm, tadi kau telah lari terbirit-birit seperti anjing mencawat ekor, masa kau masih punya muka untuk kembali ke sini?"

Pwe-giok juga lantas berteriak.

"Yang Cu-kang, jika kau sudah kembali lagi ke sini, masuklah kemari!"

Kalau Lui-ji bicara dengan Pwe-giok, di luar tidak ada gema suara sedikitpun, tapi baru habis ucapan Pwe-giok itu, seketika di luar ada gema suara yang serupa.

"Yang cu-kang, jika kau sudah kembali ke sini, masuklah kemari!"

Dengan gregetan lui-ji berteriak pula.

"Yang Cu-kang, orang lain takut padamu, namun Ji Pwe-giok tidak pernah jeri padamu, kalau berani ayolah masuk ke sini!"

Dengan sinar mata gemerdep kim-hoa-nio menambahkan.

"Dan kalau kau tidak berani masuk kemari berarti kau bukan manusia!"

Biar orang lain berteriak dan mencaci maki apapun juga, orang di luar itu tetap tidak memberi sesuatu reaksi, tapi bila Pwe-giok membuka mulut, segera menggema suara yang sama di luar.

mereka saling memberi isyarat, lalu serentak mereka menerjang keluar.

Di luar, cahaya sang surya gilang gemilang menerangi bumi raya ini, anjing itu masih meringkuk kantuk di pojok rumah, langit cerah kebiruan, hanya segumpal awan mengapung jauh di udara sana, tapi sekeliling situ tiada kelihatan bayangan seorangpun.

Dengan suara bengis Pwe-giok lantas berteriak.

"Jika kau merasa telah ku permainkan, mengapa sekarang tidak berhadapan denganku untuk bertempur?"

Kontan gema suara itupun berbunyi.

"Jika kau merasa telah ku permainkan, mengapa tidak berhadapan denganku untuk bertempur?"

Sekali ini gema suara itu berkumandang dari lumbung padi sana tapi ketika mereka menerjang ke dalam lumbung, tetap tiada bayangan apapun yang ditemukan.

Lui-ji mendapat akal, ia mendesis kepada Pwe-giok.

"Kau tinggal saja di sini, biar kami berempat berjaga di luar."

Pwe-giok mengangguk. Setelah mereka keluar semua, segera ia berteriak.

"yang Cu-kang, ayolah perlihatkan dirimu?"

Benarlah, suara itu bergema pula di luar lumbung.

"Yang Cu-kang, ayolah perlihatkan dirimu!"

Gema suara itu kedengaran berkumandang dari sebelah timur lumbung, segera Pwe-giok melayang keluar sana, dilihatnya Lui-ji, Tong Giok dan Kim-hoa-nio kakak beradik berjalan di empat penjuru.

Yang berjaga di sebelah timur ialah Tong Giok, saat itu dia kelihatan bingung dan cemas.

Segera Lui-ji dan lain-lain ikut berkerumun ke sebelah sini.

"Kau dengar gema suara itu berkumandang dari sebelah sini?"

Tanya Lui-ji. Pwe-giok mengangguk. Segera Kim-hoa-nio memegang lagi tangan Tong Giok dan tanya padanya.

"Apakah tidak ada yang kau lihat?"

Dengan muka pucat dan suara parau Tong Giok menjawab.

"Kudengar suara itu timbul dari belakang, ketika ku putar tubuh, suara itu tetap bergema di belakangku, seperti kitiran aku berputar beberapa kali, suara itu lantas lenyap, tapi orangnya lantas menghilang juga."

"Sekali ini kita berdiri dengan mengadu punggung, coba cara bagaimana dia akan mengelabui kita,"

Ujar Kim-hoa-nio.

"Kalau kalian berdiri di sini, masa dia tak dapat pergi ke sebelah sana?"

Kata Lui-ji. Semua orang saling pandang dengan melongo. Selang sejenak, tiba-tiba Lui-ji berkata pula.

"Kukira orang ini mungkin bukan Yang Cukang."

"Apa dasarnya?"

Tanya Tong Giok.

"Kalau Yang Cu-kang sudah tahu kau akan membongkar rahasia mereka, tentu kau takkan diberi kesempatan pulang dengan hidup, tapi orang tadi kan tidak bertindak apa-apa terhadap dirimu."

Tong giok menarik napas dingin, ucapnya.

"Habis siapa dia kalau bukan Yang Cu-kang?"

"Kalau bukan Yang Cu-kang, dengan sendirinya ialah Hwe-sing-diong tulen ..."

Ucapannya ini tidak saja membuat orang lain terkesiap, malahan Lui-ji sendiri juga terkejut dan tanpa terasa menyurut mundur ke samping Pwe-giok.

Sudah cukup lama Pwe-giok membungkam, kini mendadak ia berkata.

"Apapun juga, rencana kita tetap tidak berubah. Tak perduli siapa dia, karena dia tidak berani berhadapan denganku, maka akupun tidak perlu takut padanya. Biarkan dia menirukan suaraku, hakekatnya tidak kupikirkan hal ini."

Meski demikian ucapan Pwe-giok, tapi dalam batin seolah-olah tertindih oleh sepotong batu raksasa.

Meski dia tidak buka suara dan semuanya akan berlangsung dengan tenang tanpa terjadi apa-apa.

tapi setiap orang tahu ada seorang yang misterius dan maha sakti serta menakutkan senantiasa mengikuti jejak mereka secara diam-diam, dimana dan kapan saja, asalkan Pwe-giok bersuara, segera gema suara itu akan berkumandang pula.

Beban moril atau tekanan batin ini sungguh sangat berat dan dapat membikin orang menjadi gila.

Petangnya, sampailah mereka di suatu kota yang cukup ramai, mereka mondok pada satu hotel yang banyak tamunya, makan di restoran pada saat ramai dikunjungi tamu lain.

Pwe-giok memandang sekelilingnya, terlihat semua meja sudah penuh tamu, dengan sendirinya ia tidak menemukan Yang cu-kang.

Tapi bagaimana dengan Hwe-sing-diong?

Jangan-jangan Hwe-sing-diong itu termasuk di antara tetamu ini.

Mendadak Pwe-giok berteriak.

"Wahai, dengarkan! Sekarang aku bicara lagi, ayolah silahkan kaupun bersuara!"

Suaranya keras dan lantang, keruan membikin kaget setiap tamu yang sedang makan itu, semuanya sama menoleh dan memandangnya dengan melongo heran, malahan ada yang menyangka dia sebagai orang sinting.

Tapi Pwe-giok dan lain-lain juga memandangi setiap orang dengan melotot, sebab mereka juga ingin tahu sekarang gema suara itu akan berkumandang dari mana?

Tak tahunya, sampai sekian lama, tetap tiada sesuatu gema apapun.

Semua tamu masih memandangi mereka dengan heran dan mengira mereka rombongan orang gila.

Sesungguhnya sikap dan gerak-gerik Pwe-giok dan kawan-kawannya memang serupa orang sinting, mereka diliputi rasa heran, cemas, tapi akhirnya menjadi girang dan sama bergelak tertawa.

Dengan sendirinya tetamu lain tak dapat menerka hal apa yang membuat mereka tertawa gembira begitu.

Saking senangnya, hampir-hampir saja Lui-ji berjingkrak dan berteriak-teriak.

Sebisanya ia tahan suaranya dan berkata.

"Hwe-sing-diong sudah pergi, kalian dengar tidak?"

"Ya, betul, kami dengar,"

Jawab Kim-hoa-nio dan Tong giok serentak.

Tetamu lain tentu saja bertambah heran, sudah jelas mereka tidak mendengar apa-apa, mengapa justeru bilang dengar?

Apa namanya kalau bukan orang gila?

"Jika demikian, agaknya memang betul Hwe-sing-diong yang tulen."

Ujar Lui-ji dengan tertawa.

"Sebab kalau dia Yang Cu-kang, tentu dia takkan pergi."

Agaknya Pwe-giok masih was-was, ia coba berkata pula.

"Jika dia sudah merecoki diriku, kenapa mendadak pergi?"

Meski dia sengaja bicara dengan suara keras, namun tetap tiada gema suara apapun. Lui-ji juga sengaja menunggu sejenak, setelah keadaan tetap tenang, dengan tertawa barulah ia berkata.

"Bisa jadi dia tidak ingin mencari perkara padamu, cuma lantaran kau pernah memalsukan suaranya untuk menggertak Yang Cu-kang, maka dia sengaja menggoda dirimu supaya kau kapok."

"Betul,"

Tukas Kim-hoa-nio dengan tertawa cerah.

"mungkin sekarang dia merasa sudah cukup menggoda dirimu, maka malas bermain-main lagi denganmu."

Dengan sendirinya makan malam mereka ini berlangsung dengan sangat meriah.

Tapi Pwegiok tetap jarang bicara, hal ini bukannya dia kuatir akan direcoki Hwe-sing-diong lagi, tapi lantaran terlalu sedikit kesempatan bicara baginya.

Bayangkan, kalau tiga perempuan bersama satu meja, mana ada kesempatan bicara bagi kaum lelaki.

Yang paling pendiam diantara ketiga perempuan itu ialah Thi-hoa-nio, terus menerus dia memandang Lui-ji dan Pwe-giok, seakan-akan ingin tahu apakah mereka benar-benar telah kawin.

Dan ketika mereka habis makan, dapatlah Thi-hoa-nio menarik kesimpulan tentang hal tersebut.

Pwe-giok ternyata minta disediakan lima buah kamar, dia berkata.

"Hari ini kita harus istirahat sebaik-baiknya supaya besok kita dapat menempuh perjalanan dengan bersemangat, begitu juga supaya dapat bekerja dengan penuh bergairah. Tiba-tiba ia tertawa terhadap Kim-hoa-nio dan Tong giok, lalu berkata pula.

"Hanya kamar kalian saja yang berdempetan, malahan ada pintu tembusnya. Meski lima buah kamar yang ku pesan, tapi aku cukup tahu akan kebutuhan keadaan."

Kim-hoa-nio melirik Tong Giok sekejap wajah kedua orang menjadi merah. Betapapun mereka belum menikah secara resmi. Maka Kim-hoa-nio lantas berkata.

"Malam ini kita harus istirahat sebaik-baiknya, pintu tembus itu pasti takkan terpakai."

Mendingan dia tidak bicara, begitu dia omong maka serentak tertawalah semua orang, sampai-sampai Tong Giok juga tidak tahan dan ikut tertawa. Keruan muka Kim-hoa-nio tambah merah, omelnya.

"Jangan kau senang, sebentar akan ku kunci pintu tembus itu, coba kau akan senang lagi atau tidak?"

Sehabis bicara, ia sendiripun tertawa dan berlari masuk ke kamarnya sendiri.

Meski sekarang mereka masih dalam kesulitan, tapi pada saat yang paling kritis, paling berbahaya kini sudah terlalui, maka hati semua orang dapat bergembira.

Yang paling gembira sekarang tampaknya ialah Thi-hoa-nio.

Tiba-tiba ia tertawa terhadap Lui-ji dan berkata.

"Taciku dan Cihuku (suami taci) belum menikah, makanya mereka masih harus tidur terpisah. Tapi kalian kan sudah menikah, mengapa kalian tidak tinggal bersama di dalam satu kamar?"

Setelah melihat Pwe-giok masuk ke kamarnya dan pintu lantas ditutup, hati Lui-ji memang lagi tidak enak, sekarang ditanya Thi-hoa-nio, seketika ia bersungut dan menjawab dengan marah.

"Urusan kami suami-isteri, perlu apa kau ikut pikirkan?"

Habis berkata ia terus berlari ke kamarnya sendiri dan menutup pintu.

Thi-hoa-nio memandang pintu kamar Pwe-giok, lalu memandang pula cahaya bulan di langit, tiba-tiba ia menghela napas panjang dan berucap dengan hampa.

"Malam ini sungguh masih sangat panjang, mungkin agak terlalu panjang ..." ***** Kamar Kim-hoa-nio memang benar ada dua pintu, sebuah pintu keluar yang menembus ke serambi, pintu yang lain dengan sendirinya pintu tembus ke kamarnya Tong Giok. Tanpa membuka sepatu Kim-hoa-nio terus melemparkan tubuhnya ke tempat tidur, dia berguling kian kemari, seperti ingin cepat-cepat tidur, tapi kedua matanya justru terpentang lebar-lebar dan memandangi pintu tembus itu. Sungguh sangat mengecewakan, dibalik pintu itu ternyata tiada setitik suara apapun. Apakah Tong Giok sudah tidur? Apakah dia dapat pulas? Dengan menggigit bibir, tiba-tiba Kim-hoa-nio merangkak bangun, dengan berjinjit-jinjit ia mendekati pintu tembus itu, ia melangkah dengan berjengket-jengket, persis seperti maling takut kepergok. Padahal di dalam kamar kecuali dia sendiri seekor lalat saja tidak ada. Kim-hoa-nio pun merasa geli sendiri. Ia termangu-mangu sejenak sambil menggigit bibir, lalu menjulurkan tangan dan bermaksud mengetuk pintu, tapi tangan yang baru terjulur itu segera ditarik kembali. Sejauh itu di balik pintu sana masih tetap tiada terdengar gerak-gerik apapun. Diam-diam Kim-hoa-nio merasa mendongkol, pikirnya.

"Sialan! Kau tidak mau kemari, memangnya aku yang harus ke situ? Aku justru tidak mau mencarimu lebih dulu, ingin kulihat apa abamu?"

Sembari menggerundel, segera ia mendekat tempat tidur dan menjatuhkan dirinya lagi ke atas kasur.

Sekali ini dia bukan cuma membuka sepatu, bahkan juga melepaskan kaos kaki.

Dipandangnya kaki sendiri yang putih halus itu, entah mengapa, tanpa terasa mukanya menjadi merah.

Pantas juga hotel ini selalu penuh tetamu, servis mereka sangat memuaskan, setiap kamar teratur dengan resik dan apik, setiap hari seprai dan selimut selalu diganti, malahan seluruh kamar berbau harum.

Di dalam kamar yang berbau harum, di atas tempat tidur yang empuk, terdengar pula suara nyanyian merdu sayup-sayup dari kejauhan, lagu yang berirama sendu yang mengenang kekasih.

Busyet!

Dalam suasana demikian mana dia dapat pulas?

Perlahan Kim-hoa-nio meraba kakinya yang mulus itu, sebenarnya kakinya sudah pegal karena berjalan sejauh ini, tapi ketika ia meraba kulit kaki yang halus itu, rasanya seperti...

seperti mau....

Ia pun tidak dapat menjelaskan apa yang dirasakannya itu, yang pasti mukanya bertambah merah.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong terdengar pintu berbunyi perlahan, seperti ada orang mengetuk pintu.

Tanpa disuruh lagi Kim-hoa-nio terus melompat turun, sampai sepatu juga tidak sempat dipakainya, dengan kaki telanjang ia mendekat kesana dan hendak membuka pintu.

Tapi tangan yang baru terjulur segera mengkeret lagi.

Dengan menggigit bibir ia berkata dengan tertawa ngikik.

"Ku tahu kau pasti tidak tahan. Padahal hari-hari selanjutnya masih sangat panjang, untuk apa kita mesti terburu-buru begini? Masa barang resmi kita jadikan barang gelap?"

Tapi di balik pintu sana tiada suara apa-apa lagi. Apakah Tong Giok menjadi marah dan tidak menggubrisnya? Dengan suara halus Kim-hoa-nio berkata pula.

"Bukan maksudku melarang kau ke sini, tapi telinga mereka sangat tajam, bila terdengar mereka, bukankah akan dijadikan buah tertawaan?"

Padahal sebenarnya ia sendiripun tidak sabar lagi dan ingin cepat-cepat membuka pintu, hanya tadi Tong Giok telah membikin dia menunggu sekian lama, maka sekarang ia juga ingin membiarkan Tong Giok merasakan betapa gelisahnya orang menunggu.

Baginya, cukup Tong Giok memohon satu kali saja dan minta dia buka pintu, bahkan tidak perlu memohon, cukup bersuara saja, atau cukup mengetuk pintu lagi satu kali, maka segera daun pintu akan dibukanya.

Akan tetapi sampai sekian lama, dibalik pintu sana tetap tidak ada suara apapun.

Kim-hoa-nio tidak tahan, ia berkata pula.

"He, apakah kau marah?"

Tidak ada jawaban, ia tidak tahan dan berkata lagi "He, orang mampus! Mengapa kau tidak bicara?"

Makin keras suara Kim-hoa-nio, tapi keadaan di balik pintu sana semakin sunyi.

Mendadak ia merasakan gelagat tidak enak, tanpa pikir lagi segera ia membuka pintu dan menerjang ke dalam kamar Tong Giok...

***** Di kamar lain Thi-hoa-nio juga sedang berbaring di tempat tidurnya dengan mengulum senyum.

Kini rasa kesal, rasa sedihnya sudah lenyap seluruhnya, sebab dilihatnya Ji Pwe-giok tidak tidur sekamar dengan Cu Lui-Ji.

Meski Pwe-giok juga takkan tidur sekamar dengan dia, tapi asalkan anak muda itu tidak tidur dengan orang lain, maka cukup puas baginya, cukup menyenangkan dia.

Ia sendiripun merasakan jalan pikirannya ini sangat aneh, bahkan rada-rada lucu.

Ia tidak tahu bahwa jalan pikiran kebanyakan perempuan memang sering aneh dan lucu.

Gerundelan Kim-Hoa-nio di dalam kamarnya itu dapat didengarnya.

Maklumlah, hotel ini bukan hotel kelas wahid, segala sesuatunya tentu masih ada kekurangannya, termasuk dindingnya yang tidak terlalu tebal itu.

Didengarnya Kim-hoa-nio lagi berkata.

" .... untuk apa terburu-buru....nanti dijadikan buah tertawaan....."

Diam-diam Thi-hoa-nio tertawa geli, pikirnya "Tabiat taci memang aneh, jelas-jelas dia mengharap kedatangan orang, tapi justru pura-pura tidak mau dan membikin orang gelisah"

Ketika didengarnya Kim-hoa-nio lagi berkata.

"Eh apakah kau marah ?,,,He, kenapa kau tidak bicara ?"

Maka Thi-hoa-nio bertambah gel, diam-diam membatin.

"Tak tersangka Tong Giok juga pintar main sandiwara, dengan lagak emoh begini tentu toaci berbalik tidak tahan dan ingin menyeberang ke sana. Kemudian lantas didengarnya suara pintu dibuka. Ia tahu sang taci akhirnya tidak tahan dan mendahului masuk ke kamar Tong Giok. Meski dia tertawa geli, tapi muka sendiri juga mulai merah sebab terbayang olehnya .... Nyata terlalu banyak dan terlalu jauh yang dibayangkannya, maka mukanya menjadi merah. Tapi tak tersangka olehnya bahwa pada saat itu juga mendadak terdengar jeritan Kim-hoa-nio. Jeritan ngeri dan menakutkan, membuat bulu roma orang berdiri. Jelas itu bukan jeritan orang bersenda gurau atau teriakan orang asyik masyuk, juga bukan suara "keluhan"

Yang dibayangkan Thi-hoa-nio tadi.

Ia tidak tahan lagi dan segera melonjak bangun dan menerjang ke sana.

***** Di sebelah sana Cu Lu-ji juga berbaring di tempat tidurnya, tapi dia lagi meneteskan air mata.

Dia memang sangat sedih, hal ini bukan disebabkan Pwe-giok tidak mengajaknya sama satu kamar, tapi lantaran dia memaksa Ji-pwe-giok telah membiarkan dia diolok-olok oleh Thihoa-nio.

Bukannya dia ingin benar-benar tidur sekamar dengan Ji-Pwe-giok, cukup asalkan Pwe-giok membolehkan dia masuk ke kamarnya, sekalipun nanti dia harus tidur di lantai yang dingin juga tidak menjadi soal.

Bahkan dia bersedia merangkak keluar lagi melalui jenjela apabila sudah masuk ke kamar, pokoknya asalkan Thi-hoa-nio menyaksikan dia dan Pwe-giok masuk bersama ke kamar, maka puaslah dia.

Dia tidak mendengar suara gerundelan Kim-hoa-nio, tapi suara jeritan Kim-hoa-nio dapat didengarnya.

Iapun merasa jeritan itu sangat aneh dan sangat menakutkan, dengan terkejut iapun melompat turun dari tempat tidurnya dan berlari keluar.

Setiba di luar, dilihatnya pintu kamar Ji Pwe-giok, Kim-hoa-nio dan Thi-hoa-nio sama terbuka segera pula didengarnya suara Pwe-giok dan Thi-hoa-nio berkumandang keluar dari kamar Tong-Giok.

Menyusul lantas didengarnya suara tangisan Kim-Hoa-nio yang serak dan sangat memilukan.

Apakah yang terjadi di kamar Tong Giok?

Berpikir saja tidak sempat segera Lui-ji menerjang masuk ke sana.

Dilihatnya tubuh Tong Giok setengah bersandar di tepi tempat tidur, wajahnya yang tadinya sangat cakap itu kini telah berubah menjadi seram, menyeringai dengan kulit muka berkerut, tapi tidak terdapat noda darah pada tubuhnya, juga tidak ada bekas luka.

Hanya kedua tangannya mengepal kencang, otot hijau tampak menonjol di punggung tangannya.

Terlihat pula Kim-hoa-nio terkulai di lantai sambil menangis sesambatan.

Thi-hoa-nio berjongkok disampingnya dan perlahan membelai rambut sang taci sembari menghiburnya dengan lirih, namun air mata Thi-hoa-nio sendiri juga bercucuran.

Muka Pwe-giok tampak pucat lesi, kelihatan berduka dan terkejut tapi juga murka.

Tangannya juga terkepal kencang sehingga ruas jarinya sampai putih saking kerasnya menggenggam.

Baru saja Lui-ji menerjang ke dalam kamar seketika ia seperti terpaku di situ dan tidak dapat bergerak lagi.

Di halaman hotel juga mulai ada suara orang nyata ada tamu lain yang ikut terjaga bangun dan semuanya ingin tahu apa yang telah terjadi.

Akan tetapi tidak ada orang yang benar-benar berani menjenguknya ke sini, sebab pada umumnya orang yang berpergian biasanya berpedoman mementingkan diri sendiri daripada campur urusan orang lain yang mungkin malah akan mendatangkan berbagai kesulitan.

Dalam pada itu Pwe-giok sudah menutup pintu kamar Tong Giok, tangannya tampak gemetar sehingga hampir saja tidak kuat memalang pintu.

Lui-ji mendekati anak muda itu, tanyanya dengan suara tertahan.

"Cara bagaimana dia bisa mati?"

Pwe-giok hanya menggeleng saja tanpa menjawab, diangkatnya pelahan mayat Tong giok dan dibaringkan di atas tempat tidur.

Nyata, luka lecet saja tidak terdapat di tubuh Tong Giok.

Lalu cara bagaimana kematiannya?

Mengapa dia mati?

Pwe-giok termenung sejenak, ia berbalik tanya Lui-ji.

"Apakah dia kena racun? Racun apa?"

Lui-ji juga tidak menjawab, ia angkat cangkir teh di atas meja dan menghirupnya seceguk, lalu mengeleng-geleng, cangkir teh dijilatnya pula, lalu menggeleng lagi.

"Tidak beracun?"

Tanya Pwe-giok.

"Tidak!"

Jawab Lui-ji. Gemerdep sinar mata Pwe-giok, tiba-tiba ia bermaksud membuka tangan Tong Giok yang mengepal itu, tapi cepat Lui-ji mencegahnya sambil berkata dengan suara tertahan.

"Biarkan aku yang membukanya."

Begitu erat genggaman Tong Giok, baru saja satu jarinya dipentang oleh Lui-ji, segera darah mengucur keluar, malahan darah ini bersemu hitam.

Lui-ji mementang lagi dua jari Tong Giok, tertampaklah dalam genggamannya terdapat satu biji bunga duri terbuat dari besi, duri yang tajam itu menancap di tengah telapak tangannya.

Lui-ji menghela napas panjang, ucapnya.

"Amgi apa ini? Sungguh lihay, akupun rasanya tidak tahan."

Air muka Pwe-giok bertambah kelam dan prihatin, katanya dengan perlahan dan tegas.

"Inilah Tok-cit-le (duri berbisa) keluarga Tong, kena darah lantas menyumbat tenggorokan, hanya sekejap saja jiwa orang akan melayang."

Lui-ji tercengang, ucapnya.

"Jadi ini Tok-cit-le keluarga Tong yang termasyhur itu? Masa ... masa dia bunuh diri?"

"Tiga bulan yang lalu mungkin dia bisa bunuh diri, tapi sekarang ....."

Pwe-giok tidak melanjutkan ucapannya, hanya memandangi Kim-hoa-nio dengan rawan. Tong Giok sekarang memang tidak perlu bunuh diri.

"Dia! Pasti dia!"

Seru Lui-ji mendadak.

***** Fajar sudah menyingsing, lambat laun Kim-hoa-nio sudah bisa ditenangkan, bahkan tidak kelihatan lagi ada tanda-tanda berduka.

Hanya dikeluarkannya sejumlah uang perak dan menyuruh pegawai hotel agar menguruskan tanah kuburan, membeli peti mati, harga tidak ditawar, yang penting cepat.

Setiap urusan yang kecil-kecil juga diperiksa dan diawasi langsung oleh Kim-hoa-nio, dengan tangan sendiri pula ia mengganti baju bagi Tong Giok, betapapun orang lain menganjurkan dia mengaso dulu tetap tak digubrisnya, orang ingin membantu juga ditolaknya.

Terpaksa Pwe-giok dan lain-lain duduk mengelilinginya dan menyaksikan Kim-hoa-nio mondar-mandir.

"Biarkan saja dia bekerja,"

Ucap Lui-ji dengan perlahan.

"seorang kalau sibuk tentu dapat melupakan duka."

"Tapi kedukaannya ini mungkin tidak mudah dilupakannya,"

Ujar Pwe-giok dengan muram. Sejak tadi Thi-hoa-nio hanya duduk menunduk saja, kini mendadak iapun ikut bicara.

"Kau kira perbuatan Yang Cu-kang?"

"Siapa lagi selain dia?"

Jawab Lui-ji. Thi-hoa-nio menggigit bibir, katanya pula.

"Waktu berada di luar lumbung padi kenapa dia tidak turun tangan?"

Pwe-giok menjawab dengan menyengir.

"Bisa jadi dia menganggap kita toh tak mampu lolos dari cengkeramannya, maka dia sengaja menyiksa kita beberapa hari lagi, apalagi dia telah ku tipu, tentu dia ingin menagih utang padaku, pokok berikut rentenya."

Thi-hoa-nio termenung sejenak, gumamnya kemudian.

"Memang orang beginilah dia, hanya dia saja yang dapat berbuat demikian."

Ia menengadah dan memandang Pwe-giok lekat-lekat, kemudian menambahkan dengan sekata demi sekata, bisa jadi secara diam-diam dia masih membuntuti kita dan tidak pergi."

"Ya, memang,"

Jawab Pwe-giok.

Sorot mata Thi-hoa-nio berpindah dari wajah Pwe-giok dan memandangi pohon Yang satusatunya di halaman sana dengan perasaan hampa, pohon sebatangkara itu tampaknya harus dikasihani.

Setelah termangu-mangu sekian lama, katanya pula dengan perlahan.

"Ku tahu dia takkan puas hanya membunuh satu orang saja, dia masih akan membunuh pula, membunuh dengan pelahan satu persatu sehingga kita terbunuh semuanya."

Baru saja sorot mata Lui-ji ikut beralih ke pohon Yang itu, demi mendengar ucapan tersebut tanpa terasa ia bergidik, serupa pohon yang sebatangkara itu, iapun merasakan dinginnya angin barat yang menyayat dan sunyinya bumi raya ini.

Selang agak lama barulah Pwe-giok tertawa dan berkata.

"Rasanya tidaklah mudah jika dia ingin membunuh kita semua."

Ketika mereka teringat kepada Kim-hoa-nio, nona itu ternyata sudah tidak berada di situ lagi.

Angin barat meniup semakin kencang, sorot mata Yang Cu-kang yang dingin itu seolah-olah telah bergabung bersama angin barat itu dan sedang mengintai setiap gerak-gerik mereka di mana dan kapan pun juga.

Lui-ji merapikan leher bajunya, lalu tanya Thi-hoa-nio, dengan suara tertahan.

"Kemana perginya Tacimu? Kau kira dia akan ...."

Belum habis ucapannya, mendadak Thi-hoa-nio berlari keluar. Lui-ji menghela napas, ucapnya dengan sedih.

"Setelah Tong Giok mati, sungguh kukuatir Kim-hoa-nio juga akan ....."

Pwe-giok seperti tidak suka mendengar ucapan "bunuh diri", cepat ia memotong.

"Tampaknya dia sangat teguh imannya, kedua kakak beradik itu bukan orang yang lemah dan mudah putus asa."

"Jika dia berduka, aku malah tidak perlu kuatir,"

Kata Lui-ji.

"Tapi dia mendadak berubah menjadi tenang dan dingin, kedukaan seorang perempuan tidak nanti hilang secepat ini."

Pwe-giok termenung, tiba-tiba ia merasa selama dua hari ini, Lui-ji seolah-olah telah bertambah dewasa, mendadak berubah jauh lebih masak dan banyak hal yang dipahaminya.

Lui-ji mengerling, ia seperti dapat menerka isi hati anak muda itu, katanya dengan menunduk.

"Pada umumnya seorang anak lelaki perlu waktu sangat lama untuk bisa jadi dewasa, berbeda dengan seorang anak perempuan. Pada umumnya anak perempuan memang lebih cepat dewasa daripada seorang anak lelaki, terkadang dalam semalam saja sudah menjadi dewasa."

Pwe-giok tetap termenung dan tidak menanggapi, sebab ia tidak tahu apa yang harus diucapkannya, Dari ucapan Lui-ji itu, tiba-tiba ia mengingat kepada orang yang pernah bilang.

"Seorang anak perempuan, betapa banyak umurnya, asalkan sudah menikah, maka dalam semalam saja dapat berubah menjadi dewasa."

Ia tidak tahu beginikah maksud Cu Lui-ji itu?

Namun ia tidak berani tanya.

Sesungguhnya dia memang tidak berani merundingkan urusan ini dengan nona itu.

Untunglah pada saat itu juga Thi-hoa-nio telah kembali, Kim-hoa-nio juga tampak ikut masuk.

Kini dia sudah tukar pakaian, bukan saja baju baru bahkan warnanya sangat menyolok, malahan bersulam bunga yang semarak.

Betapapun juga baju demikian bukan waktunya untuk dipakai sekarang, Pwe-giok jadi heran, mengapa Kim-hoa-nio sengaja berganti pakaian begini, tanpa terasa ia memandang pakaiannya dengan terbelalak.

Meski mata Kim-hoa-nio masih kelihatan merah karena habis menangis, namun mukanya sudah berbedak tipis, dia duduk di depan Pwe-giok, malahan tertawa terhadap Pwe-giok dan berkata.

"Menurut kau, baju ini indah tidak?"

Siapa pun tidak menyangka dia akan bertanya demikian dalam keadaan begini. Keruan Pwegiok juga melengak, terpaksa ia menyengir dan menjawab.

"Ya, sangat bagus!"

Kim-hoa-nio tersenyum, katanya.

"Ibu pernah memberitahukan padaku, seorang kalau merasa letih dan merasa kotor, sebaiknya bergantilah baju baru dan akan merasa lebih segar."

Pwe-giok menghela napas, katanya.

"Dan sekarang benarkah kau rasakan lebih segar?"

Tapi Kim-hoa-nio seperti tidak mendengar pertanyaan ini, dia hanya meraba perlahan sulaman bunga yang halus pada bajunya itu, tiba-tiba ia tertawa dan berkata pula terhadap Pwe-giok.

"Aku sendirilah yang menyulam bunga ini, Tong Giok pun belum pernah melihat kupakai baju ini, engkaulah orang.... orang pertama, maksudku lelaki pertama yang melihat kupakai baju ini."

Meski dia bicara dengan perlahan dan lembut, Lui-ji jadi melengak mendengar ucapannya itu, pikirnya.

"Mengapa dia omong hal-hal demikian kepada Pwe-giok, masa Tong Giok baru mati dan segera ia ingin menggoda lelaki lain?"

Segera Lui-ji melotot, meski ia tahu kemungkinan demikian tidaklah besar, namun dia toh berpikir demikian dan tanpa terasa menjadi marah juga. Didengarnya Kim-hoa-nio lagi berkata pula.

"Konon koki di sini paling mahir membuat ayam goreng ham, itik panggang, Ang-sio-hi-bin dan Ko-lok-bak, maka sudah ku pesan agar disediakan santapan lezat ini, kita sudah capai sehari suntuk, kita harus makan enak dan minum barang dua-tiga cawan."

Dia baru saja kematian calon suami, tapi sekarang sudah ingin minum arak. Lui-ji tidak tahan, dengan suara keras ia bertanya.

"Masa ada seleramu untuk makan minum?"

Kim-hoa-nio tertawa, jawabnya.

"Orang mati tidak dapat hidup kembali, mengapa kita harus berduka. Tang mati sudahlah, yang hidup justeru harus menjaga kesehatan sendiri dengan lebih baik, kalau tidak, yang mati tentu tidak akan tenteram di alam baka."

Kata-kata demikian seyogyanya diucapkan orang lain untuk menghiburnya, tapi sekarang dia sendiri yang berucap untuk menghibur orang lain.

Keruan Lui-ji jadi melongo kesima.

Sementara itu santapan yang dipesan sudah diantar dan penuh satu meja, Kim-hoa-nio sendiri lantas menuangkan arak dan mendahului angkat cawannya serta berseru.

"Marilah, kita habiskan satu cawan dahulu!"

Pwe-giok menjadi sangsi, dia seperti sudah melihat sesuatu, seperti juga ingin bicara sesuatu.

Pada waktu menuang arak, senantiasa Pwe-giok memperhatikan tangan Kim-hoa-nio.

Sebaliknya Lui-ji justeru selalu mengawasi Pwe-giok, ia kira anak muda ini takkan minum arak, tapi mendadak Pwe-giok angkat cawan terus menenggaknya hingga habis.

Karena itu, kata-kata yang akan diucapkan anak muda itupun ikut terminum ke dalam perut lagi bersama arak.

Melihat Lui-ji tidak ikut minum, Kim-hoa-nio berkata.

"Nona Cu, kau ......"

"Kau berniat minum, aku tidak ingin minum."

Seru Lui-ji.

"Apapun juga, aku harus minum arak ini, nona Cu ...."

"Apapun juga aku takkan minum arak ini."

Tukas Lui-ji dengan ketus.

Kim-hoa-nio tersenyum, tetap dengan lemah-lembut, ia pandang cawan arak yang dipegangnya dan warna arak yang merah, di bawah cahaya sang surya warna arak itu seperti darah.

Senyuman Kim-hoa-nio mulai menampilkan perasaan pedih, dia bergumam pula pelahan menghapalkan dua bait syair kuno, syair berduka cita mengenang pacar yang telah meninggal, arak yang dipandangnya lekat-lekat itu sekali ini dengan cepat ditenggaknya .....

"He, Taci, kau ...."

Thi-hoa-nio kuatir melihat kelakuan kakaknya itu, cawan arak sendiri tanpa terasa terlepas dan pecah berantakan. Dengan suara lembut Kim-hoa-nio berucap.

"Aku sangat baik, aku sangat gembira, selama ini tidak pernah ku gembira seperti sekarang, sebab ku tahu selanjutnya aku akan selalu berada bersama dia dan tiada seorang pun yang dapat lagi memisahkan kami."

Baru sekarang Lui-ji terkejut, ia rampas cawan arak orang, Pwe-giok juga berdiri dengan kuatir. Kim-hoa-nio memegang tangan Lui-ji dengan lembut, ucapnya.

"Tidak perlu kau cicipi, arak ini tidak beracun."

"Tapi kau ... kau ...."

Lui-ji tidak sanggup meneruskan lagi.

"Racunnya sudah sejak tadi berada dalam perutku, pada saat pertama setelah ku tahu Giok cilik mati dan akupun ..."

Dia tidak dapat menyelesaikan ucapannya itu.

Sedikitnya, kematiannya tidaklah menderita, kalau hidup justeru akan lebih menderita.

***** Sudah dekat magrib pula.

Angin barat menderu-deru pula.

Airpun gemercik mengalir di kejauhan.

Lui-ji memandangi gundukan kuburan yang baru itu, mendadak ia menangis keras, akhirnya ia berkata berulang-ulang.

"Mengapa aku tidak minum arak itu, mengapa ..... mengapa tidak kuminum arak itu?"

Gumpalan awan mengalingi sang surya yang susah hampir terbenam, seakan-akan sengaja menyembunyikan cahayanya yang terakhir dan tidak memperbolehkan manusia memandangi kegemilangannya sebelum kegelapan tiba.

Meski tidak hujan, namun cuaca terasa lebih kelam daripada waktu hujan.

Lui-ji berkata ambil mengucurkan air mata.

"Kiranya dia sudah bertekad akan mati, mengapa sebelumnya tidak kulihat maksudnya ini, mengapa? Mengapa aku masih juga menyalahkan dia ...."

Pwe-giok hanya memandangi gundukan tanah kuning kemerah-merahan itu, terbayang olehnya kedua muda-mudi yang saling mencintai itu.

Mengapa akhir daripada muda-mudi yang saling cinta itu selalu adalah segundukan tanah belaka?

Diam-diam ia mengusap matanya yang basah dan berkata.

"Marilah pergi!"

Lui-ji mengangkat kepalanya dan berkata dengan suara parau.

"Pergi! Apakah cuma kata ini saja yang dapat kau ucapkan?"

Pwe-giok terdiam sejenak, katanya kemudian dengan muram.

"Habis, apalagi yang dapat kukatakan?"

Tiba-tiba Thi-hoa-nio berkata.

"Sedikitnya kita tidak perlu tinggal di sini dan menangis melulu."

"Mengapa?"

Tanya Lui-ji.

"Mengapa? ...."

Thi-hoa-nio memandang sekelilingnya, seperti ingin mencari angin barat yang bersembunyi dalam kegelapan senja itu. Kemudian sekata demi sekata ia menjawab.

"Sebab jika dia melihat kita sedang menangis sedih, tentu dia akan sangat gembira? Mengapa air mata kita ini tidak kita cucurkan di tempat lain saja?"

Setiap orang tentu dapat menerka siapa yang dimaksudkannya itu.

Tanpa terasa Lui-ji juga memandang sekelilingnya, apakah betul di balik kegelapan senja itu ada sepasang mata yang dingin sedang memandang dengan mengejek mereka yang lagi menangis?

Pwe-giok berkata pula.

"Ayolah pergi saja!"

Serentak Lui-ji berbangkit dan menjawab.

"Ya, mari pergi!" ***** Bintang belum lagi ada yang menghiasi angkasa, tatkala mana adalah saat yang paling guram di tengah cakrawala ini, mereka menyusuri lembah sungai dengan airnya yang mengalir tak pernah berhenti itu. Langkah Pwe-giok paling cepat, bahkan sangat berat langkahnya seakan-akan tanah pasir di bawah kakinya itu akan diinjaknya hingga hancur lebur, hendak menghancur-luluhkannya bumi raya ini. Apa daya sekarang, Akhirnya Tong Giok mati juga! Satu-satunya harapannya kembali putus. Rencana hatinya selama ini lagi-lagi mengalami kegagalan, kepada siapa pula selanjutnya dia harus mengimbau? Kini dia hampir-hampir putus asa sama sekali, hampir melepaskan segala usahanya, sebab apapun perjuangannya dan betapa dia bekerja keras, pihak lawan cukup melambaikan tangan pelahan saja dan dapat menghancurkan semua tumpuan harapannya. Lereng gunung di bawah gumpalan awan tampaknya sedemikian besar, sedemikian misterius, sedemikian kukuh tak tergoyahkan. Dan lawannya ternyata jauh lebih kukuh, lebih kuat daripada gunung raksasa itu, juga serupa gumpalan awan yang tinggi di angkasa itu, tidak dapat diraba, tak dapat diraih. Menghadapi lawan demikian, siapa pun akan menyerah dan mengaku kalah. Lui-ji menyusul ke samping Pwe-giok, tapi ia tidak berani bersuara, tidak berani mengajaknya bicara, sebab ia sangat paham betapa perasaan Pwe-giok saat ini, ia sendiri pun tidak tahu harus bicara apa? Entah sudah berapa lama lagi, mendadak Pwe-giok berseru.

"Mengapa hendak kulepaskan perjuanganku? Biarpun sekali ini ku gagal, lain kali kan masih ada kesempatan, umpama lain kali pun gagal kan masih ada lain kali lagi?"

Meski kata-kata itu diucapkannya terhadap dirinya sendiri, namun Lui-ji toh memandangnya dengan sorot mata yang lembut dan penuh perasaan memuji, katanya dengan suara halus.

"Betul, asalkan kita tidak roboh, pada suatu hari kita pasti mampu menjatuhkan mereka."

Menyongsong tiupan angin, Pwe-giok membusungkan dada dan berkata.

"Ya, pasti akan datang suatu hari demikian itu."

Sejenak kemudian ia menyambung pula.

"Kini Tong Giok sudah mati, tapi kita tetap akan pergi ke Tong-keh-ceng, tidak boleh kita membiarkan si "perawat kuda"

Itu malang melintang di sana."

Menyinggung si "perawat kuda", tanpa terasa Lui-ji tertawa cerah, katanya.

"Betul, kita harus membikin dia pulang kandang dan memberi makan lagi pada kudanya. Bukankah harus begitu nona Thi? .."

Ia menoleh hendak menyapa Thi-hoa-nio tapi ucapannya seketika terputus seolah-olah sebuah tangan yang dingin mencekik lehernya.

Thi-hoa-nio ternyata tidak berada di belakang mereka!

Thi-hoa-nio telah hilang secara mendadak!

Padahal mereka masih ingat benar ketika menyusuri tepi sungai, selalu Thi-hoa-nio mengikuti di belakang mereka, nona itu seperti tidak ingin terselip di tengah-tengah Pwe-giok dan Lui-ji, dia juga seperti kuatir menimbulkan antipati Cu Lui-ji, maka sejak semula dia selalu mempertahankan satu jarak tertentu di belakang mereka, namun jaraknya tidak terlalu jauh.

Tapi sekarang, sejauh mata memandang lui-ji tidak melihat bayangan seorangpun, yang tertampak hanya berkerlipnya api phosphor membentang hingga jauh.

Kaki dan tangan Lui-ji menjadi dingin, teriaknya.

"Nona Thi, di mana kau?"

Sayup-sayup terdengar suara yang terbawa angin dari kejauhan.

"Di mana kau?...Di mana kau..."

Tapi suara ini adalah gema suara Lui-ji sendiri.

Air muka Pwe -giok berubah juga, dengan cepat pula ia melayang balik dan menarik tangan Lui-ji terus diajak melayang pula ke arah datangnya tadi menuruti lembah sungai.

Langit yang kelam tadi entah sejak kapan sudah mulai ada cahaya bintang dan sinar bulan, air yang mengalir berkilauan tertimpa sinar bintang dan bulan, tepi sungai kecil itu tampaknya seperti jauh lebih terang daripada tempat lain.

Akan tetapi bayangan Thi-hoa-nio tetap tidak mereka lihat.

Tangan Lui-ji menjadi dingin seperti es, tapi dia merasa tangan Pwe-giok jauh lebih dingin daripada tangannya, bahkan terasa membeku.

ia pegang jari tangan anak muda itu dengan kencang, katanya.

"Kau pikir apakah... apakah dia sengaja pergi tanpa pamit?"

"Mengapa dia pergi tanpa pamit?"

Jawab Pwe-giok. Lui-ji menggigit bibir, katanya pula.

"Habis, apakah,...apakah dia telah di... digondol Yang Cu-kang?..."

Mendadak Pwe-giok berjongkok dan menjemput sebuah sepatu bersulam bunga, segera lui-ji mengenali sepatu ini milik Thi-hoa-nio, seketika tenggorokannya seperti tersumbat dan tidak dapat melanjutkan ucapannya.

Waktu Thi-hoa-nio berada di tengah mereka, Lui-ji berharap Thio-hoa-nio pergi saja, makin jauh makin baik, sebab, asalkan Thi-hoa-nio memandang Pwe-giok sekejap saja, hati Lui-ji menjadi tidak enak.

Dan sekarang Thi-hoa-nio "benar"

Telah pergi bahkan takkan kembali lagi untuk selamanya, hal ini membuat Lui-ji jadi berduka malah, dipandanginya sepatu bersulam itu dengan termangu-mangu dan air matapun bercucuran.

Dia menggali sebuah liang kecil di tepi sungai dan menanam sepatu itu, katanya tiba-tiba.

"Mungkin dia sengaja pergi sendiri dan tidak diganggu oleh Yang Cu-kang."

"Ya, mungkin begitu,"

Sahut Pwe-giok dengan menghela napas panjang.

"Jika dia benar dicelakai oleh Yang Cu-kang, mengapa kita tidak mendengar sesuatu suara apapun?"

Ujar Lui-ji.

"Sekalipun dia tidak mampu melawan, sedikitnya dia kan bisa bersuara dan berteriak."

"Ya, betul,"

Pwe-giok mengangguk dengan berat.

"Apalagi, orang mati kan harus meninggalkan mayatnya, sedangkan kita tidak menemukan jenazahnya, bahkan tidak melihat sesuatu tanda yang mencurigakan, apakah mungkin mendadak iapun ....."

Sampai di sini Lui-ji lantas mendekap mukanya dan menangis lagi, ucapnya dengan parau.

"Untuk apa aku harus menipu diriku sendiri, sudah jelas dia telah dicelakai oleh Yang Cu-kang, apa gunanya kubohongi diriku sendiri? sejak mula sudah kuketahui Yang Cu-kang takkan melepaskan dia, ku tahu dia juga pasti takkan membiarkan kita hidup sampai di Tong-keh-ceng, dia sudah bertekad akan membunuh kita satu persatu."

Sampai lama sekali Pwe-giok termenung, akhirnya ia berucap.

"Marilah berangkat!"

Serentak Lui-ji melompat bangun, serunya.

"Betul, ayo berangkat, kita harus mencari dia!"

"Kita tidak perlu mencari dia,"

Kata Pwe-giok.

"Sebab apa?"

Tanya Lui-ji.

"Kita tunggu saja, biarkan dia yang mencari kita."

Lui-ji menggigit bibirnya, katanya dengan gegetun.

"Ya, betul, kalau dia sudah pasti mencari kita, untuk apa kita bersusah payah mencari dia, akan tetapi...."

Ia menengadah dan memandangi Pwe-giok, lalu bertanya.

"Apakah kita akan menunggunya di sekitar sini?"

"Tidak,"

Jawab Pwe-giok.

"Kita tetap pergi ke Tong-keh-ceng, apapun juga kita harus pergi ke sana."

Sikapnya tegas an kokoh, siapa saja yang melihat kebulatan tekadnya itu pasti percaya tiada satupun urusan di dunia ini yang dapat menggoyahkan pendirian dan tekadnya.

Lui-ji juga terharu oleh tekad anak muda itu, seketika iapun berubah menjadi jauh lebih kuat, serunya.

"Betul! Kita harus tetap menuju ke Tong-keh-ceng, kita akan pergi ke sana dengan hidup, andaikan mati dan menjadi setan juga tetap akan pergi ke Tong-keh-ceng"

Dia sengaja berteriak, seakan-akan kuatir ucapannya tidak didengar oleh badan halus yang selalu mengintai mereka secara sembunyi itu, seperti juga sengaja mengumumkannya kepada semua orang di dunia ini agar mengetahui kebulatan tekad mereka.

Pwe-giok menepuk bahu anak dara itu sebagai tanda memuji, ia pegang tangan Lui-ji dan tidak mau melepaskannya lagi, ia kuatir bilamana tangan kecil itu dilepaskan, bisa jadi anak dara itupun akan mendadak menghilang dari muka bumi ini seperti halnya Thi-hoa-nio, sekalipun ia tahu dengan kekuatan mereka berdua juga belum tentu dapat melawan musuh yang menakutkan itu.

***** Perjalanan selanjutnya jelas akan bertambah sulit dan banyak rintangan.

Mereka tidak berani lengah sedikitpun, sebaliknya mereka menyadari, kelengahan terkecilpun mungkin akan menimbulkan akibat yang fatal.

Setiap saat, Yang Cu-kang bisa melayang keluar dari kegelapan dan menyerang mereka dengan kungfunya yang sukar dibayangkan.

Akan tetapi fajar sudah hampir menyingsing dan sebegitu jauh Yang Cu-kang belum lagi muncul.

Siangnya mereka beristirahat di suatu pedusunan, setelah isi perut sekedarnya mereka melanjutkan perjalanan pula, sampai seja tiba Yang Cu-kang tetap tidak kelihatan.

Sekarang, jaraknya dengan Tong Keh-ceng sudah sangat dekat.

Petangnya, mereka sampai di suatu kota kecil, tiba-tiba Pwe-giok berkata.

"Biarlah malam ini kita menginap di sini, besok pagi-pagi baru kita menuju ke Tong-keh-ceng"

Jilid 8________ Dengan lembut Lui-ji memandangnya, ucapnya dengan menghela napas pelahan.

"Engkau memang harus tidur sebaik-baiknya, kalau tidak, mana ada semangat untuk bekerja lagi besok?"

Hotel di kota kecil itu tidak banyak tamunya, dengan sanjung puji jongos hotel menyediakan bagi mereka dua kamar besar. Tapi setelah memandang Lui-ji sekejap, Pwe-giok berkata.

"Kami hanya perlu satu kamar saja."

Berdetak jantung Lui-ji.

Sedangkan jongos hotel kelihatan rada kecewa dan heran.

Dari sudut manapun dia memandang, kedua orang ini tidak mirip suami-isteri, mengapa mereka hanya minta satu kamar saja?

Sesudah berada dalam kamar dan pintu ditutup, jantung lui-ji berdebur semakin keras, duduk tidak tenang, berdiripun salah, sungguh ia tidak tahu dirinya harus ditaruh di mana?

Dengan hati-hati Pwe-giok memalang pintu lalu menutup jendela pula, kemudian berkatalah dia dengan tersenyum lembut.

"Tidurlah kau!"

Lui-ji menunduk, dengan menabahkan hati ia bertanya.

"Dan kau?"

"Dua kursi ini kujajarkan menjadi sebuah tempat tidur yang cukup enak,"

Ujar Pwe-giok dengan tertawa.

"Boleh kau tidur di ranjang saja, kau perlu tidur nyenyak daripadaku,"

Kata Lui-ji sambil menggigit bibir.

Memandangi tubuh yang agak kekurus-kurusan dengan rambut yang rada kusut serta mata yang besar dengan sedikit garis merah itu, tanpa terasa timbul rasa kasih sayang Pwe-giok, pikirnya.

"Bisa jadi Yang Cu-kang akan segera muncul. Dalam keadaan dan saat demikian, untuk apalagi ku taat adat kolot segala, untuk apa membuat susah dia dan tidak membiarkan dia tidur sebaik-baiknya, apakah kalau malam ini ku tidur seranjang dengan dia, lalu aku Ji Pwe-giok bukan lagi seorang Kuncu sejati?"

Dalam pada itu Lui-ji telah mengambil selimut yang agak tipis dari tempat tidur dan dibentang di atas kursi, ucapnya dengan menunduk.

"Tidur di sini juga boleh, waktu ku rawat Sacek dahulu, biarpun berdiri juga aku dapat tidur, jadi soal tidur sudah terbiasa bagiku dalam keadaan bagaimanapun, hendaknya kau sendiri tidurlah yang baik."

Tiba-tiba Pwe-giok berucap dengan lembut.

"Ranjang ini sangat besar, kita juga bukan orang gendut, mengapa tidak tidur satu tempat tidur saja."

Bantal yang baru dipegang Lui-ji jatuh lagi ke bawah, ia ingin memandang Pwe-giok sekejap, tapi tidak ada keberanian itu. Ia menunduk dan berkata.

"Kau... kau tidak... tidak takut...."

"Takut apa?"

Sela Pwe-giok.

"Dalam keadaan tidur memangnya kaupun dapat memukul orang?"

Tertawalah Lui-ji dengan muka bersemu merah, katanya.

"Memukul sih tidak, tapi suka menyepak, awas bila ku depak kau ke bawah tempat tidur." ***** Sesungguhnya tempat tidur itu tidaklah besar. Di dunia ini tidak ada sebuah hotel yang sengaja menyediakan tempat tidur yang sangat besar bagi tamunya. Sebab pada umumnya tetamu juga tidak memerlukan tempat tidur yang besar. Apabila ada dua orang tetamu lelaki-perempuan perlu tidur satu ranjang, yang mereka harapkan bukanlah tempat tidurnya yang besar, sebaliknya cukup tempat tidur yang kecil saja, makin kecil makin baik, makin sempit makin memuaskan. Pwe-giok memang sudah terlampau lelah, maka dengan cepat ia lantas terpulas. Waktu Lui-ji naik tempat tidur, ketegangannya sungguh sukar dilukiskan, jantungnya berdebur keras, dia tidak berani memandang sekejap pun kepada Pwe-giok, bahkan menyentuh selimutnya saja tidak berani. Padahal kemarin malam rencana hatinya mengharapkan dapat tidur bersama Pwe-giok, tapi sekarang, pada malam ini, mereka benar-benar sudah tidur bersama satu ranjang, tapi dia berbalik sangat ketakutan, takut setengah mati, takut kehilangan apa-apa. Dia membungkus tubuhnya kencang-kencang dengan selimut dan meringkuk di pojok tempat tidur, kepalanya dibenamkan pada bantalnya, tubuh tidak berani bergerak sedikitpun, bernapas juga tidak berani keras-keras, dalam keadaan hening demikian, yang terdengar hanya detak jantungnya yang memukul keras. Ia membayangkan, apabila mendadak tangan Pwe-giok menggerayang ke sini, lalu bagaimana? Sungguh ia tidak berani memikirkannya, seketika tubuhnya terasa panas, panas sekali. Sesungguhnya ia tidak tahan terbungkus dalam selimut, tapi tidak berani membukanya. Untunglah Pwe-giok sudah tidur, dengan alon-alon, dengan perlahan sekali Lui-ji menjulurkan kakinya keluar selimut untuk mencari angin, tapi bila Pwe-giok membalik tubuh, dengan ketakutan cepat-cepat ia tarik kembali kakinya. Namun apapun juga Ji Pwe-giok sudah berada di sampingnya, betapapun ia penuh rasa bahagia, tersembul senyuman manis, senyuman bahagia pada wajahnya, senyuman yang timbul dari lubuk hatinya yang dalam, sungguh ia ingin melompat bangun dan berteriak sekerasnya agar manusia di seluruh jagat ini mengetahui betapa bahagianya malam ini. Akan tetapi bila saat ini benar-benar ada orang datang, seketika dia akan malu dan mungkin akan sembunyi di kolong ranjang. Dan begitulah perangai seorang gadis, pikiran seorang perawan. Menjadi seorang anak gadis sesungguhnya memang bahagia. ***** Sebenarnya Pwe-giok cuma pura-pura tidur saja. Sampai sekian lamanya, didengarnya suara pernapasan Lui-ji sudah mulai tenang, mulai teratur dan rata, jelas si nona sudah tidur benarbenar, barulah dia membuka mata. Betul juga, Lui-ji memang sudah pulas, bahkan sangat nyenyak tidurnya. Ia pikir, sesungguhnya Lui-ji memang masih anak-anak, dan biasanya anak-anak memang lebih mudah tertidur daripada orang tua. Bila membayangkan gerak-gerik Lui-ji yang lucu waktu mau naik ke atas tempat tidur tadi, tanpa terasa Pwe-giok tersenyum geli. Sesungguhnya Lui-ji memang anak dara yang menyenangkan, sangat menyenangkan. Tidur satu ranjang bersama anak dara yang sedemikian menyenangkan, kalau dibilang Pwegiok sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun, maka hakekatnya dia bukan manusia. Apalagi iapun tahu anak dara itu sedemikian cinta padanya, ia tahu, asalkan dirinya "mau", tidak nanti anak dara itu menolaknya. ***** Malam nan sunyi, cahaya bintang yang redup menyinari kertas jendela dengan lembutnya. Di tengah malam yang hening dan lembut itu, akhirnya Pwe-giok tidak tahan, ia menjulurkan tangannya dan membelai rambut Lui-ji yang halus itu yang terurai di atas bantal, tiba-tiba iapun merasa sangat panas. Teringat olehnya ketika beberapa malam dia berada bersama Lim Tay-ih tempo hari juga dirasakan sangat panas, begitu panas sehingga urusan apapun tak terpikir untuk dikerjakannya, tapi rasa panas itupun mendorongnya mengerjakan urusan apapun. Terbayang olehnya tubuh Lim Tay-ih yang agak menggigil itu, bibirnya yang gemetar... gemetar yang menggetar sukma, yang sukar untuk dilupakan seumur hidup. Kelembutan Lim Tay-ih, kejudasannya waktu itu, semua itu membuatnya sukar untuk melupakannya. Waktu itu dia tidak menceritakan rahasia penyamarannya, tapi jelas Lim Tay-ih telah mengetahui siapa dia. Perempuan umumnya memang ada semacam indera yang misterius, lebih-lebih terhadap orang yang paling dekat dengan dia. Misalnya sang ibu terhadap anaknya, isteri terhadap suaminya, daya perasa mereka yang tajam dan peka itu sungguh sukar untuk dijelaskan oleh siapapun. Sebab itulah, kemudian ketika Lim Tay-ih merasa ada orang menguntit jejak mereka, maka dia lantas bertindak kasar terhadap Pwe-giok, supaya orang lain takkan mencurigai dia lagi sebagai Ji Pwe-giok yang sudah "mati"

Itu.

Ketika Lim Tay-ih menyerangnya, setiap tusukan pedangnya yang mengenai tubuh Pwe-giok hanya menimbulkan rasa bahagia, sebab ia tahu ketika pedang si nona mengenai tubuhnya, hati si nona jauh lebih sakit daripada dia sendiri.

Dan sekarang, di mana Lim Tay-ih?

Di manapun nona itu berada pasti juga sedang memikirkan dia.

Hati Pwe-giok seakan-akan sakit tertusuk pedang, serentak ia menarik kembali tangannya yang sedang membelai rambut Lui-ji itu.

***** Malam yang serba ruwet itu akhirnya berlalu juga dan Yang Cu-kang tetap tidak muncul.

Waktu Lui-ji mendusin, dilihatnya Pwe-giok belum lagi bangun, teringat dirinya telah tidur semalaman bersama seorang lelaki, timbul semacam perasaan aneh dalam hati Lui-ji, entah kejut entah girang.

Meski Pwe-giok tidak berbuat apa-apa terhadapnya, tapi Lui-ji merasakan dirinya sekarang sudah lain daripada Lui-ji kemarin.

Ia merasa dirinya bukan lagi anak-anak, tapi sudah seorang perempuan benar-benar, seorang perempuan dewasa.

Tanpa terasa tersembul juga senyuman bahagia pada wajahnya.

***** Sang surya sudah terbit tinggi di langit, Lui-ji memandangi wajah Pwe-giok yang masih lelap itu, gaya tidur Pwe-giok seperti seorang anak kecil saja, tanpa terasa Lui-ji mengangkat tangannya dari dalam selimut dan meraba pelahan hidung Pwe-giok, ucapnya dengan suara lembut.

"Alangkah baiknya jika di sini adalah rumah kita, tentu akan kubuatkan sarapan pagi yang enak bagimu, bubur buatanku paling disukai Sacek, kukira kaupun suka, sedikitnya kau akan menghabiskan lima mangkuk besar."

Mendadak Pwe-giok tertawa dan berkata.

"Lima mangkuk saja belum banyak, takaranku adalah sepuluh mangkuk!"

Keruan Lui-ji kaget dan cepat menarik kembali tangannya serta menutupi mukanya dengan selimut, omelnya.

"Oi, kukira kau ini orang baik, kiranya kaupun telur busuk! Sudah mendusin, tapi pura-pura tidur, bikin... bikin ...."

"Bikin"

Apa, tak dapat diucapkannya.

Pwe-giok memandangi rambut si nona yang terurai di luar selimut itu, tanpa terasa ia terkesima pula, iapun tidak tahu sesungguhnya dirinya ini bahagia atau celaka?

Ia tidak berani lama-lama lagi tinggal di tempat tidur, cepat ia melompat bangun dan membuka jendela, hawa udara di luar terasa segar dan sejuk, ia menarik napas dalam-dalam, lalu bergumam.

"Aneh, Yang Cu-kang belum juga muncul."

Teringat kepada Yang Cu-kang, seketika rasa hangat dalam hati Lui-ji menjadi dingin kembali, cepat iapun melompat turun dan berseru.

"Bisa jadi dia tidak berani datang lagi."

Pwe-giok tidak menanggapinya.

"Jika dia berani datang kemari, mengapa tidak kelihatan?"

Kata Lui-ji pula. Sejenak Pwe-giok termenung, katanya kemudian dengan gegetun.

"Akupun tidak tahu apa sebabnya? tapi kuyakin pasti bukan lantaran dia tidak berani."

Lui-ji tersenyum manis, katanya.

"Bisa jadi lantaran mendadak dia mati, atau mendadak matanya buta dicakar burung, atau mendadak sakit lepra. Kalau dia tidak datang, untuk apa kita memikirkannya?"

Pwe-giok juga tertawa geli, katanya.

"Yang kupikir sekarang hanya ingin makan bubur ayam."

Lui-ji berkeplok dan berkata.

"Pikiran bagus, bubur ayam dan Yucakue, nikmat!"

Karena urusan yang dipikirnya tidak sebanyak Pwe-giok, dengan sendirinya dia jauh lebih gembira daripada anak muda itu, lebih-lebih hari ini, dia merasa sinar sang surya jauh lebih cemerlang daripada biasanya, sampai bumi raya inipun terasa halus dan empuk, berjalan di atasnya juga terasa enteng dan seperti mengambang.

Menjelang lohor, sampailah mereka di wilayah yang dekat dengan Tong-keh-ceng.

"Masih perlu berapa lama lagi untuk bisa sampai di tempat tujuan?"

Tanya Lui-ji "Tidak lama lagi, paling-paling setengah jam lagi,"

Kata Pwe-giok. Lui-ji menghela napas lega, ucapnya.

"Syukur alhamdulillah! Akhirnya sampai juga."

"Tapi Tong Bu-siang gadungan itu sedikitnya sudah dua hari sampai di sini lebih dulu, dalam waktu dua hari tentu banyak pekerjaan yang dapat dilakukannya,"

Kata Pwe-giok dengan menyesal.

"Kau tidak perlu cemas,"

Ujar Lui-ji.

"biarpun dia sampai lebih dulu dua hari, setiba di rumah kan banyak urusan yang perlu diselesaikan dan tidak nanti datang terus membikin celaka orang."

"Ya, semoga demikian hendaknya, aku hanya kuatir...."

"Kuatir apa?"

Tanya Lui-ji. Dengan cemas Pwe-giok menjawab.

"Ku kuatir orang Tong-keh-ceng tidak percaya kepada keteranganku. Coba pikir, jika kau menjadi anak murid Tong Bu-siang dan tiba-tiba kau diberitahu bahwa ayahmu sekarang itu palsu, apakah kau percaya?"

Persoalan yang terbesar baginya sebelum ini adalah kekuatirannya sukar datang ke Tong-kehceng sini, tapi sekarang setiba di Tong-keh-ceng barulah teringat olehnya masih ada banyak persoalan penting yang lain, bahkan persoalan yang satu lebih sulit daripada persoalan yang lain.

Sungguh ia sendiri tidak tahu dengan cara bagaimana dia harus memberi keterangan supaya dapat dipercaya oleh anak murid keluarga Tong.

Lui-ji berkerut kening juga setelah mendengar alasan Pwe-giok itu, katanya kemudian.

"Kau kenal baik dengan anggota keluarga Tong?"

"Kenal baik apa? Hakekatnya tidak kenal,"

Jawab Pwe-giok sambil menyengir "Tidak kenal seorangpun?"

Lui-ji menegas.

"Hanya kenal seorang nona yang bernama Tong Lin,"

Sahut Pwe-giok. Mata Lui-ji berkedip-kedip, dipandangnya anak muda itu seperti tertawa dan tidak tertawa, katanya kemudian.

"Tong Lin, ehm, indah sekali nama ini, tentu orangnya juga sangat cantik."

Baru sekarang Pwe-giok merasa dirinya terlalu banyak bicara, terpaksa ia hanya menjawab singkat.

"Ehm!"

"Kau kenal akrab dengan dia?"

Tanya Lui-ji pula.

"Hanya pernah berjumpa satu kali saja."

Lui-ji mencibir.

"Cuma berjumpa satu kali saja lantas senantiasa ingat pada namanya, boleh juga kau ini."

Di dampingi oleh seorang anak perempuan yang aneh, banyak olah dan sok cemburu, jalan paling baik baginya adalah tutup mulut dan jangan banyak bicara.

Pada tepi jalan, di bawah pohon yang rindang sana berteduh seorang penjual bakmi pikulan, penjual bakmi ini adalah seorang tua, orang Oh-pak asli, selain bakmi juga menjual penganan lain sebangsa wajik dan sebagainya.

Pwe-giok tidak berhenti untuk makan bakmi, tapi hanya beli beberapa biji penganan dan jajan sekadarnya.

Sebenarnya cukup enak penganan itu, terutama bila orang sedang lapar.

Tapi Lui-ji hanya menggigit satu kali saja dan rasanya seperti sukar menelannya.

Pwe-giok tertawa dan berkata.

"Apakah kau masih marah?"

Dengan bersungut Lui-ji menjawab.

"Masa aku secemburu Ciong Cing?"

Habis bicara, ia merasa rada kikuk, ia menunduk dengan muka merah, kesempatan itu digunakannya untuk menelan makanan dalam mulutnya itu, lalu berkata pula.

"Aku tiba-tiba ingat sesuatu."

"Oo? Apa?"

Tanya Pwe-giok.

"Kupikir, mungkin sekali Yang Cu-kang sudah tiba lebih dulu di Tong-keh-ceng."

"Ya, bisa jadi,"

Sahut pwe-giok samar-samar.

"Dia tahu kita pasti akan datang ke Tong-keh-ceng, maka lebih dulu dia akan menunggu kita di sana."

"Mungkin."

Kata Pwe-giok pula.

"Bisa jadi sebelumnya dia sudah berunding dengan Tong Bu-siang gadungan, asalkan kita masuk ke Tong-keh-ceng, serentak mereka akan memperdayai kita, mungkin kesempatan bicara bagi kita saja tidak ada, lalu bagaimana kita akan mampu membongkar tipu muslihat di Tong-keh-ceng sana?"

Pwe-giok tidak bicara lagi, air mukanya tambah kelam.

Sebenarnya bukannya dia tidak berpikir sejauh itu, iapun tidak tahu bahwa kecil sekali harapan untuk berhasil pada perjalanannya ini, sebaliknya sangat besar bahayanya.

Akan tetapi ketika dilihatnya kegembiraan Lui-ji tadi, mana dia sampai hati mengutarakan rasa sedihnya kepada anak dara itu dan membuatnya ikut kuatir, bila ada kegembiraan, dia sangat suka menikmatinya bersama orang lain.

Tapi kesedihan dan penderitaan, dia lebih suka memikulnya sendiri.

"Jika kita pergi ke Tong-keh-ceng cara begini saja, hakekatnya sama saja seperti mengantar kematian,"

Kata Lui-ji.

"Hampir setiap orang di Tong-keh-ceng adalah jagoan, bila Tong Busiang gadungan itu memberi perintah, seketika kita bisa berubah menjadi pusat sasaran senjata rahasia mereka yang berbisa itu."

"Apa mau dikatakan lagi!"

Ujar Pwe-giok sambil menghela napas panjang.

"Dalam keadaan terpaksa, segala bahaya tak terpikir lagi."

"Akan tetapi engkau...."

Mendadak ucapan Lui-ji itu terputus setengah jalan, sebab pada saat itu juga dari kejauhan berkumandang suara roda kereta dan ringkik kuda disertai debu mengepul tinggi, tampaknya tidak sedikit jumlah orang yang datang ini.

"Mungkinkah orang-orang ini datang dari Tong-keh-ceng?"

Bisik Lui-ji.

"Ehm, bisa jadi,"

Sahut Pwe-giok.

"Bolehkah kita cari keterangan tentang Tong-keh-ceng kepada mereka?"

"Tidak boleh,"

Jawab Pwe-giok.

"Bukan saja tidak boleh, bahkan sedapatnya jangan kita memperlihatkan gerak-gerik yang dapat menarik perhatian dan menimbulkan curiga mereka."

"Ya, ku paham,"

Ujar Lui-ji.

Sementara itu kereta sudah semakin dekat, mereka menyingkir ke tepi jalan dan menunduk.

Namun Lui-ji tidak tahan, ia coba melirik ke sana.

Dilihatnya ada iringan belasan kereta barang kawalan, seorang pengiring mondar mandir mengawasi jalannya konvoi itu.

Dua ekor kuda yang tinggi besar di bagian depan berpenunggang dua orang lelaki kekar.

Kereta barang itu memakai tanda pengenal panji kecil segi tiga, namun panjinya tergulung.

Kedua lelaki kekar berbaju perlente itupun adem ayem dan lagi mengobrol iseng.

Belum jauh konvoi kereta barang itu lewat, Lui-ji tidak tahan dan segera bertanya kepada Pwe-giok.

"Inikah rombongan Popiau (pengawal barang)?"

"Ehm,"

Pwe-giok mengangguk.

"Selamanya tidak pernah kulihat konvoi kereta barang kawalan begini, tampaknya menarik juga,"

Kata Lui-ji dengan tertawa.

"Jika aku menjadi lelaki, bisa jadi akupun ingin mencicipi rasanya menjadi jago pengawal barang."

"Tampaknya memang menarik, tapi kalau kepergok sahabat kaum Lok-lim (rimba hijau, artinya kawanan bandit yang keluar masuk hutan) akan menjadi kurang menarik,"

Ujar Pwegiok.

"Konon waktu iring-iringan kereta Piaukiok (perusahaan ekspedisi) berjalan, seorang pengiringnya harus berteriak-teriak di depan, harus bersikap garang, bahkan harus menonjolkan nama perusahaannya. Akan tetapi sekarang kawanan pengiring kereta itu tidak berteriak-teriak minta jalan, bahkan panji pengenalnya juga di gulung, sebab apakah bisa begitu?"

"Sebab daerah sini sudah termasuk wilayah kekuasaan Tong-keh-ceng, tindakan mereka ini adalah sebagai tanda menghormati Tong-keh-ceng. Kau lihat kedua jago pengawal yang adem-ayem tadi, mereka dapat bersenda gurau tanpa kuatir apapun, justeru lantaran mereka yakin di daerah pengaruh Tong-keh-ceng tidak bakalan diganggu oleh kawanan bandit yang buta."

Lui-ji mencibir, ucapnya.

"Huh, hanya Tong-keh-ceng sekecil itu apanya yang hebat? jika bukan lagi banyak urusan, pasti akan kuganggu mereka."

Pwe-giok hanya tertawa saja.

Memang, puteri Siau-hun-kiongcu, keponakan Hong Sam, dengan sendirinya tidak pandang sebelah mata terhadap Tong-keh-ceng.

Akan tetapi di dunia Kangouw ini seluruhnya terdapat berapa orang Siau-hun-kiongcu dan berapa orang Hong-samsiansing?

Tampaknya Lui-ji ingin omong apa-apa lagi tapi mendadak muncul dua penunggang kuda berbaju hitam, kuda dilarikan secepat terbang, kedua penunggangnya yang kekar itu mahir sekali mengendalikan kudanya, dari jauh mereka lantas berteriak-teriak sambil menggapai.

"Ong-toapiauthau! Ci-toapiauthau, tunggu, berhenti dulu!"

Pengiring yang berada di belakang konvoi kereta barang tadi melihat datangnya kedua orang ini, segera iapun berseru.

"Itu dia ksatria dari Tong-keh-ceng telah menyusul kemari, harap kedua Piauthau suka berhenti dulu, mereka memanggil kalian!"

Cukup lantang suara pengiring kereta itu dan dapat didengar oleh kedua Piausu yang berjalan di depan. Segera mereka memutar kudanya dan memburu ke belakang sini sambil bertanya.

"Ada urusan apa?...."

Mendengar kedua penunggang kuda berseragam hitam yang menyusul dari belakang itu adalah orang Tong-keh-ceng, mau tak mau Pwe-giok dan Lui-ji menaruh perhatian terhadap mereka.

Pwe-giok pura-pura berjongkok untuk membetulkan sepatunya.

Kelihatan kedua orang itu sangat tergesa-gesa dengan wajah prihatin, masih jauh mereka sudah melompat turun dari kuda masing-masing.

Kedua Piausu tadi juga turun dari kuda mereka dan menyongsongnya.

Piausu yang disebut she Ci itu tampaknya gesit dan cekatan, suaranya lantang, ia memberi hormat dan menyapa.

"Karena hari masih terlalu pagi, ketika rombongan kami lalu di daerah sini, maka kami tidak berani mengganggu. Namun kartu kehormatan dan beberapa macam oleh-oleh itu adalah siaute dan Ong Tek yang mengantar sendiri ke tempat kalian."

Rupanya dia kuatir didamperat oleh pihak Tong-keh-ceng, maka sedapatnya ingin memberi penjelasan. Pwe-giok saling pandang sekejap dengan Lui-ji, diam-diam mereka terkejut, pikirnya.

"Jangan-jangan Tong Bu-siang gadungan itu bermaksud menimbulkan malapetaka dan banjir darah di daerah Sujwan ini, maka kedua orangnya dikirim ke sini untuk melakukan keganasan?"

Pwe-giok menjadi ragu apakah dirinya harus ikut campur kejadian ini atau tidak?

Dia tidak sampai hati menyaksikan kedua piausu itu mengalami nasib jelek, tapi juga tidak suka "memukul rumput mengejutkan ular."

Siapa tahu kedua orang dari Tong-keh-ceng itu tidak bertindak apa-apa, sebaliknya salah seorang di antaranya malah tertawa dan berkata.

"Justeru setelah membaca kartu nama kalian baru kami tahu ada Toapiauthau dari Wi-wan-piaukiok lalu di sini, apabila kami tidak sempat memberi sambutan apa-apa, diharap suka memberi maaf."

"Ah, tidak berani,"

Jawab Ong Tek sambil memberi hormat. Ci-toapiauthau itu bernama Ci Kian, katanya.

"Kedua Suhu memburu kemari secara tergesagesa, entah ada petunjuk apa kiranya?"

Anak murid keluarga Tong itu tampak prihatin, ucapnya.

"Soalnya ditempat kami...."

Mendadak ia tekan suaranya sehingga sangat lirih, satu kata saja tak dapat didengar lagi oleh Pwe-giok dan Lui-ji.

Untuk mendekati mereka jelas tidak mungkin, maka diam-diam Lui-ji sangat mendongkol.

Setelah bisik-bisik, air muka Ong Tek dan Ci Kian mendadak berubah, serunya.

"He, bisa terjadi begitu?"

Anak murid keluarga Tong itu mengangguk dengan prihatin.

Lalu Ong Tek dan Ci Kian tidak bicara lagi, dengan pelahan mereka memberi perintah kepada pengiring kereta tadi, habis itu mereka lantas mencemplak ke atas kuda dan pergi bersama kedua orang dari Tong-keh-ceng itu.

Sesudah jauh mereka pergi barulah Lui-ji berkata sambil berkerut kening.

"Sesungguhnya apa yang terjadi di Tong-keh-ceng, mengapa kedua orang itu kelihatan cemas dan gugup?"

Belum lagi Pwe-giok menanggapi Lui-ji sudah mendahului menjawabnya sendiri.

"Mungkin semua ini adalah tipu muslihat yang sengaja diatur oleh Tong Bu-siang gadungan itu, mereka sengaja menipu kedua orang ini ke Tong-keh-ceng, padahal di sana tidak terjadi apa-apa."

Makin omong makin dirasakan betapa cepat jalan pikirannya sendiri, maka segera ia menyambung lagi.

"Kita tidak boleh sembarangan menerjang ke Tong-keh-ceng, kita harus mencari keterangan lebih dulu, kita tunggu...."

Sudah sekian lama Pwe-giok berdiam, kini mendadak bersuara.

"Dapatkah kau terima suatu permintaanku?"

Lui-ji melengak, jawabnya.

"Maukah kau katakan lebih dulu mengenai urusan apa?"

"Katakan dulu, mau terima atau tidak?"

"Ai, tak tersangka kaupun serupa anak kecil,"

Ujar Lui-ji dengan tertawa.

"Aku tidak tahu urusan apa yang kau minta, mana dapat kukatakan menerima atau tidak. Apabila kau suruh aku makan kotoran umpamanya...."

Ia tertawa geli sehingga muka sendiri menjadi merah.

"Belum pernah kuminta apa-apa padamu, tapi urusan ini, betapapun kuharap harus kau terima,"

Kata Pwe-giok.

"Baiklah,"

Jawab Lui-ji akhirnya sambil menggigit bibir.

"Urusan apakah pasti akan kusanggupi."

Dengan suara tertahan Pwe-giok lantas bertutur.

"Begitu masuk Tong-keh-ceng, di sebelah kiri ada sebuah Ciu-lau (restoran berloteng), itulah tempat penyambutan tamu Tong-keh-ceng. Kalau sudah berada di situ, biarpun mereka tahu kedatanganmu adalah untuk mencari perkara, mereka tidak bakalan mengganggu dirimu, sebab hal ini sudah menjadi peraturan rumah tangga Tong turun temurun."

"Hah, barangkali hendak kau suruh kumakan enak di restoran itu? Apa keistimewaan masakan restoran itu, adakah bebek panggang?"

Tanya Lui-ji dengan tertawa.

"Jika ada, sekali ini pasti akan kusikat lebih dulu kulitnya."

Setelah makan bebek panggang dahulu dan diolok-olok oleh Kwe Pian-sian, sampai saat ini ia belum lagi lupa tentang kulit bebek panggang. Hati Pwe-giok menjadi terharu, ucapnya dengan lembut.

"Yang ingin kuminta padamu adalah supaya kau berjanji setiba di Tong-keh-ceng, langsung kau naik ke loteng restoran itu, apapun yang terjadi atas diriku, tidak boleh kau turun dari sana. Sampai lama Lui-ji termenung, katanya kemudian sambil tersenyum pedih.

"Jika terjadi apaapa atas dirimu, apakah kau kira aku dapat duduk tenteram dan makan bebek panggang di restoran itu?"

Ia merasa tangan Pwe-giok mendadak menjadi dingin, lebih dingin daripada es, Ia dapat memahami perasaan Pwe-giok saat itu, terpaksa ia tertawa dan berkata pula.

"Ya, apapun juga tetap kuterima permintaanmu, aku berjanji takkan meninggalkan restoran itu." ***** Ketika mereka berada di jalan raya menuju ke Tong-keh-ceng, mendadak orang yang berlalu lalang di situ bertambah banyak. Pwe-giok melihat orang-orang itu kebanyakan adalah sahabat Kangouw yang berilmu silat tinggi, ada yang mencorong sinar matanya, tampaknya sangat tinggi ilmu silatnya. Mereka pun berpaling mengamat-amati Pwe-giok dan Lui-ji, ada pemuda cakap dan gadis cantik berjalan bersama dengan bergandengan tangan, siapapun pasti akan melemparkan pandang sekejap dua kejap kepada mereka. Ini belum lagi aneh, yang aneh ialah air muka orang-orang ini semuanya kelihatan prihatin, seperti menanggung beban pikiran apa-apa. Beberapa orang di antaranya ketika melihat Ji Pwe-giok lantas menampilkan rasa terkejut, seperti kenal padanya, tapi kebanyakan orang hanya memandangnya sekejap saja, lalu menunduk dengan muram. Dalam pada itu pintu gerbang perkampungan Tong-keh-ceng sudah kelihatan dari jauh, orang-orang yang melalui jalan ini pasti akan menuju ke Tong-keh-ceng, tapi mengapa ada orang sebanyak ini yang berkunjung ke Tong-keh-ceng secara beramai-ramai begini? Apakah terjadi sesuatu peristiwa besar di Tong-keh-ceng? Lui-ji menggenggam tangan Pwe-giok erat-erat, tiba-tiba ia mendesis.

"Kau kira orang-orang ini apakah tertipu oleh Tong Bu-siang gadungan itu sehingga mereka berbondong-bondong datang ke sini? Tentunya dia sengaja mengumpulkan mereka, lalu membunuh mereka sekaligus dengan senjata rahasianya yang berbisa itu."

Bila teringat kepada keganasan Ji Hong-ho gadungan, Yang Cu-kang dan lain-lain, tanpa terasa Lui-ji merinding, ucapnya pula dengan parau.

"Dengan demikian, maka segenap jago persilatan di daerah Sujwan ini akan sekaligus terjaring seluruhnya."

"Mungkin nyalinya belum sebesar itu,"

Ujar Pwe-giok dengan tertawa.

"Toh orang lain akan memasukkan kejadian itu dalam perhitungan dengan keluarga Tong,"

Kata Lui-ji.

"Dia kan berusaha mengacau dunia, tujuannya justeru ingin mengaduk dunia Kangouw ini hingga kacau balau, apapun dapat dilakukannya."

Pwe-giok termenung, ucapnya kemudian.

"Umpama dia berani berbuat demikian, di antara anak murid keluarga Tong tentu juga ada yang cerdik dan pandai, belum tentu mereka mau menurut secara membabi buta."

Meski di mulut dia berkata demikian, dalam hati sebenarnya jauh lebih kuatir daripada Lui-ji, sebab dia tahu betapa keras tata tertib rumah tangga Tong, perintah sang ketua harus dipatuhi dan tidak mungkin berubah, sekalipun anak murid keluarga Tong ada yang tidak setuju juga tidak berani membangkang secara terang-terangan.

Maklumlah anggota keluarga Tong terdiri dari anak cucu keluarga Tong sendiri tanpa unsurunsur dari luar, tata tertib rumah tangga lebih keras daripada tata tertib perguruan, Ciangbunjin adalah pimpinan tertinggi, maka kekuasaan kepala keluarga Tong jauh lebih besar daripada ketua perguruan lain, meski Siau-lim-pay atau Bu-tong-pay sekalipun.

Lui-ji seperti ingin bicara apa-apa lagi, tapi pada saat itu juga tiba-tiba diketahui orang-orang yang berjalan di depan begitu sampai di depan pintu gerbang Tong-keh-ceng, serentak orangorang itu sama bertekuk lutut.

Bahkan di tengah kerumunan orang banyak itu sayup-sayup terdengar suara orang menangis.

Lui-ji saling pandang sekejap dengan Pwe-giok, keduanya sama-sama heran.

Dalam pada itu sekeliling tanah lapang di depan pintu gerbang Tong-keh-ceng telah berjubal penuh orang berlutut, di dalam pintu gerbang juga ada belasan orang yang berlutut dan membalas hormat kepada orang-orang di luar.

Belasan orang di dalam pintu itu tampak berpakaian berkabung dengan wajah yang berduka cita, beberapa diantaranya bahkan merah bendul matanya.

Pwe-giok kenal seorang diantaranya yang bermuka bundar dan rada gendut, yaitu murid ke tujuh dalam keluarga Tong, terkenal di dunia Kangouw dengan julukan "Jian-jiu-mi-to"

Atau si Budha gendut seribu tangan, namanya Tong Siu-jing, dia inilah yang menjabat sebagai juragan restoran yang merangkap sebagai penyambut tamu.

Seorang lagi juga dikenal Pwe-giok, yaitu yang bermuka lebar, ialah Tong Siu-hong yang berjuluk "Thi-bin-giam-lo"

Atau si raja akhirat berwajah besi, artinya selalu bertindak tegas tanpa kenal ampun dan tidak pandang bulu.

Kedua orang ini bukan saja terhitung anak murid keluarga Tong pilihan, bahkan di dunia Kangouw juga sudah lama termasyhur namanya.

Tapi kini kedua orang inipun memakai baju berkabung, menyambut tamu dalam kedudukannya sebagai Haulam atau putera orang yang wafat.

Jelaslah sekarang bahwa dalam keluarga Tong telah kematian orang, bahkan orang yang mati ini berkedudukan sangat tinggi dan terhormat.

Sungguh Pwe-giok tidak dapat menerkanya siapakah yang meninggal dunia itu?

Lui-ji tampaknya juga tercengang, bisiknya kepada Pwe-giok.

"Kita terlambat tiba di sini, entah sudah berapa banyak anggota keluarga Tong yang menjadi korban kekejiannya. Dia tidak mencelakai orang luar, tapi membunuh dulu anggota keluarganya sendiri, hal inipun sangat aneh."

Meski dia bicara dengan pelahan, tapi ada sebagian orang yang telah berpaling dan memandangnya.

Orang lain sama bertekuk lutut, hanya mereka berdua saja yang berdiri ditengah-tengah orang banyak, dengan sendirinya sangat menarik perhatian orang lain.

Pwe-giok berkerut kening, cepat ia tarik Lui-ji dan ikut berlutut.

Meski tidak rela, tapi mau tak mau anak dara itu menurut juga.

Terdengarlah seorang berseru dengan menangis.

"Sungguh langit dan awan yang tak dapat diramal, dan manusia setiap saat dapat dirundung malang atau tertimpa rejeki. Orang yang bijaksana seperti Tong-loyacu kita harapkan sedikitnya akan berumur panjang hingga seratus tahun, siapa tahu sekarang beliau telah wafat."

Lalu seorang tadi menyambung.

"Tapi orang meninggal tak dapat hidup kembali, hendaklah saudara jangan terlalu berduka. Kepergian Tong-loyacu merupakan suatu kehilangan besar bagi dunia Kangouw umumnya dan Bu-lim daerah Sujwan khususnya, maka untuk selanjutnya diperlukan kepemimpinan saudara sekalian."

Orang yang bicara ini sudah ubanan, tampaknya seorang tokoh angkatan tua dunia persilatan daerah Sujwan, sebab itulah dia hanya membahasakan pihak tuan rumah sebagai saudara karena dia anggap dirinya sendiri lebih tua.

Sebaliknya para anak murid keluarga Tong hanya mengangguk rendah-rendah dan tidak ada yang menanggapi, semuanya tampak menangis sedih.

Yang mati ternyata "Tong Bu-siang"

Adanya.

Sungguh Pwe-giok tidak berani percaya, tapi mau tak mau harus percaya.

Cu Lui-ji juga melenggong, sampai sekian lama tak dapat bicara.

Setelah orang yang berlutut itu beramai-ramai sudah bangkit, barulah dia berkata kepada Pwe-giok dengan suara tertahan.

"Tong Bu-siang gadungan tidak nanti mati, sampai Tong Giok yang merupakan orang kepercayaan keluarga Tong juga mengakui Tong Bu-siang palsu itu sukar dibedakan cirinya, tidak nanti anggota keluarga Tong yang lain dapat mengetahui kepalsuannya hanya dalam waktu sesingkat ini."

Setelah mengerling kembali ia berkata.

"Maka kukira, bisa jadi dengan jalan ini dia sengaja hendak memancing kedatangan orang banyak..."

Tapi Pwe-giok lantas menggeleng, katanya.

"Jika dia ingin memancing orang-orang ini ke sini cara lain masih cukup banyak, kukira tidak perlu pura-pura mati. Apalagi duka cita yang diperlihatkan anak murid keluarga Tong tampaknya juga tidak pura-pura."

"Jika begitu, jadi kau anggap anak murid keluarga Tong telah mengetahui kepalsuannya, lalu membunuhnya?"

Tanya Lui-ji.

"Juga tidak bisa terjadi begitu,"

Kata Pwe-giok.

"Kalau anak murid keluarga Tong mengetahui kepalsuannya dan membunuhnya, tentu mereka takkan sedemikian berdukanya dan mengadakan upacara pemakaman sebesar ini."

"Habis bagaimana, apakah dia mati karena sakit keras mendadak?"

Kata Lui-ji pula.

"Juga tidak mungkin,"

Ujar Pwe-giok.

"Ji.... orang she Ji itu cukup licin dan dapat berpikir panjang, kalau dia sudah berani mengirimnya ke sini tentu kesehatan orang ini dapat diandalkan, tidak nanti dia mati sakit. Mana mereka mau bersusah payah membuang pikiran dan tenaga serta daya atas diri yang tak dapat diandalkan."

"Betul juga,"

Kata Lui-ji.

"Jika mereka berani mengirimnya ke sini, dengan sendirinya mereka yakin Tong Bu-siang gadungan itu takkan ketahuan belangnya dan juga tidak mungkin mati sakit mendadak. Tong Bu-siang gadungan sendiri juga tidak mungkin pura-pura mati, lantas mengapa dia mati?"

Pwe-giok tak dapat menjawabnya.

Kejadian itu memang di luar dugaan dan sukar untuk dibayangkan.

***** Orang yang melayat itu kemudian membanjir masuk ke dalam Tong-keh-ceng.

Terpaksa Pwe-giok dan Lui-ji ikut arus manusia masuk ke sana.

Urusan sudah kadung begini, mereka hanya dapat maju dan tidak dapat mundur lagi.

Terlihat setiap rumah di kedua sisi jalan raya di dalam Tong-keh-ceng sama tutup pintu, semuanya ikut berkabung, wajah setiap orang tampak muram durja.

Maka Pwe-giok tambah yakin apa yang terjadi ini pasti bukan cuma pura-pura belaka.

Pada ujung jalan raya sana ada sebuah ruang pendopo yang sangat luas, di situlah biasanya anak murid keluarga Tong mengadakan rapat, tapi sekarang pendopo ini digunakan sebagai tempat semayam peti mati Tong Bu-siang.

Terdengar suara tangisan ramai di ruang besar itu, para pelayat satu persatu bergiliran masuk ke sana menyampaikan penghormatan terakhir.

Pwe-giok dan Lui-ji juga ikut di belakang dan masuk ke ruangan pendopo itu.

Wajah setiap orang tampak berduka cita, sekalipun orang yang biasanya tidak ada hubungan dengan Tong Bu-siang, kini mau tak mau juga ikut sedih oleh suasana yang memilukan ini.

Di tengah pendopo terletak peti mati Tong Bu-siang dan meja sembahyang, di belakang peti mati terpasang tabir yang panjang, suara tangisan di belakang tabir terdengar lebih berduka daripada yang lain, sebab famili perempuan keluarga Tong sama berada di situ.

Jika suara tertawa orang perempuan umumnya lebih lirih daripada suara tertawa orang lelaki, maka suara tangis orang perempuan jauh lebih keras daripada lelaki.

Di kedua sisi pendopo terdapat dua -tiga puluh meja bundar besar, hampir semua meja sudah penuh dikelilingi tetamu, agaknya para pelayat sedang menunggu akan mencicipi perjamuan berduka cita keluarga Tong.

Diam-diam Pwe-giok merasa gegetun.

Para pelayat ini entah datang untuk makan atau benarbenar hendak berbela sungkawa terhadap orang mati?

Pelayat yang datang belakangan banyak yang melongok ke sini dan memandang ke sana, kuatir tidak mendapatkan tempat di meja perjamuan.

Tapi segera ada anak murid keluarga Tong yang bertugas sebagai penyambut tamu membawa mereka keluar.

Kiranya di tanah lapang di depan pendopo juga sudah penuh terpasang berpuluh meja perjamuan.

Maka senanglah para pelayat itu, semuanya berduduk lalu perjamuan lantas dimulai, santapan lezat pun disajikan berturut-turut.

Terpaksa Pwe-giok dan Lui-ji ikut berduduk di tengah para pelayat itu.

Karena menanggung macam-macam pikiran, tidak ada napsu makan mereka, sebaliknya para pelayat yang tadi kelihatan berduka cita kini sedang makan dengan lahapnya.

Diam-diam Lui-ji menarik ujung baju Pwe-giok dan bertanya.

"Apakah kita hanya duduk makan di sini, habis makan lantas angkat kaki, begitu?"

Pwe-giok hanya menyengir saja tanpa menjawab Sambil menggigit bibir Lui-ji berkata pula.

"Mengapa tidak kau cari nona yang bernama Tong Lin itu untuk mencari keterangan tentang apa yang terjadi sebenarnya?"

Nyata nadanya masih berbau cuka alias cemburu.

Selagi Pwe-giok merasa serba salah, tiba-tiba datang seorang genduk cilik yang mendekat ke sini, yang dicari juga bukan orang lain, tapi justeru Pwe-giok.

Setiba di depan Pwe-giok, babu cilik itu memberi hormat dan bertanya dengan suara pelahan.

"Tuan ini Ji Pwe-giok, Ji-kongcu bukan?"

Tak tersangka oleh Pwe-giok bahwa babu cilik itu mengenalinya, lebih-lebih tak diketahuinya ada urusan apa mendadak dirinya ditanyakan? Terpaksa ia menjawab.

"Betul, aku memang Ji Pwe-giok."

Dengan suara bisik-bisik seperti sangat rahasia babu cilik itu berkata pula.

"Orang yang terhormat sebagai Ji-kongcu mana boleh berduduk di sini? Di dalam ada tempat bagi tamu agung, silakan Ji-kongcu berpindah ke dalam saja."

Pwe-giok menjadi bingung, mengapa dirinya bisa mendadak berubah menjadi tamu agung, ia menjawab dengan ramah.

"Di sini sudah cukup baik, nona tidak perlu repot."

"Tapi nona kami memberi pesan wanti-wanti kepada hamba agar jangan kekurangan pelayanan terhadap Ji-kongcu, jika Ji-kongcu tidak sudi pindah ke dalam, tentu hamba akan dimarahi nona."

Mendengar "nona"

Yang disebut-sebut itu, seketika air muka Lui-ji berubah kecut, segera ia berdiri dan berkata.

"Jika demikian, marilah kita pindah ke dalam saja."

Genduk cilik itu memandangi Lui-ji dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas, lalu berkata pula.

"Tapi di dalam juga sudah.... sudah penuh, tinggal satu tempat saja, maka.... maka nona...."

Namun Lui-ji tidak menghiraukannya, ia tarik Pwe-giok dan diajak masuk ke dalam. Tampaknya genduk itu menjadi serba susah, ingin merintangi juga tidak berani, terpaksa ia berkata.

"Harap nona tinggal di sini saja...."

Tiba-tiba Lui-ji menoleh dan tertawa, katanya.

"Bukan nona, tapi nyonya!"

"Nyonya?"

Genduk itu menegas dengan mulut melongo.

"Ya, nyonya Ji, Ji-hujin,"

Kata Lui-ji Genduk itu tambah tercengang.

"Ji... Ji-hujin?"

Kembali ia menegas.

"Betul, Ji-hujin,"

Lui-ji tersenyum.

"Kalau Ji-kongcu diundang ke dalam, masakah Ji-hujin mesti duduk sendirian di luar sini?"

Seketika genduk cilik itu terbelalak, sampai sekian lamanya barulah ia menunduk dan berkata.

"Baiklah, silahkan Tuan dan Nyonya."

Kembali Pwe-giok dibuat serba salah oleh olah Lui-ji itu, ia tahu pasti Tong Lin yang berada di belakang tabir itu melihatnya, maka pelayan pribadi ini disuruh mengundangnya ke dalam.

Lui-ji memandangnya dengan tertawa tak tertawa dan mendesis.

"Sudah kuduga, biarpun tidak kau cari dia, tentu dia yang akan mencari dirimu."

Setiba di meja perjamuan ruangan dalam, Pwe-giok melihat yang hadir di sini kalau bukan orang tua yang sudah ubanan tentu juga tokoh Bu-lim yang terhormat.

Iapun sungkan berbicara dengan orang, dia hanya memberi hormat sekedarnya kepada hadirin yang lain, lalu berduduk dan angkat sumpit terus mencomot santapan.

Sesungguhnya bukan lantaran mereka rakus, tujuannya asalkan mulut terisi, maka bebaslah daripada macammacam kerewelan.

Sebaliknya orang-orang itu sama mendeliki mereka, agaknya heran mengapa keluarga Tong membawa dua orang "anak kecil"

Ke tempat duduk kaum "Tokoh besar"

Sini.

Untuk menandakan mereka tidak suka akan kehadiran Pwe-giok berdua, mereka hanya saling angkat cawan arak diantara mereka sendiri dan sengaja tidak menghiraukan Pwe-giok.

Tak tahunya sikap mereka ini justeru kebetulan malah bagi Pwe-giok.

Waktu itu di balik tabir sana ada sepasang mata yang merah bendul terlalu banyak menangis sedang mengintip, setelah memandang Pwe-giok sekejap, lalu melotot ke arah Lui-ji.

Sorot matanya penuh rasa duka dan hampa, juga penuh rasa dendam dan benci.

Untung tiada seorang pun yang memperhatikan sepasang mata itu, sebab pada saat itu juga dari meja perjamuan di pojok sana tiba-tiba maju seorang lelaki jangkung.

Orang ini berwajah hitam dan berpinggang kasar, bergodek, tampangnya sangat menyolok.

Dengan langkah lebar ia mendekati layon Tong Bu-siang, lebih dulu ia memberi hormat kepada para hadirin, lalu berseru.

"Tong-loyacu mempunyai nama besar dan terhormat, beliau adalah tokoh utama dunia persilatan wilayah Sujwan sini, sekali ini beliau mendadak wafat, tidak ada seorangpun di dunia persilatan Sujwan sini yang tidak merasa kehilangan dan berduka cita."

Kata-kata demikian entah sudah berapa kali diucapkan orang, tapi orang ini masih sok aksi dan mencerocos panjang lebar, tentu saja membosankan hadirin yang lain, semua orang saling pandang dan mengira orang ini mungkin kurang waras.

Tapi lelaki hitam itu seperti tidak perduli dengan orang lain, ia menyambung lagi.

"Yang paling harus disesalkan adalah akhir-akhir ini Tong-loyacu selalu berdiam di dalam rumah dan jarang keluar. Biasanya orang-orang luar memang kurang beruntung dapat berjumpa dengan beliau, sekarang beliau berpulang ke alam baka, selanjutnya kita akan terpisah untuk selamanya dan tidak dapat menemui beliau lagi. Sebab itulah sekarang ada usulku, kita harus memberi penghormatan yang terakhir kali di hadapan wajah beliau sekedar kenangkenangan."

Haulam, yaitu putera yang ditinggal mati, atau diwakilkan muridnya, memberi hormat dan menjawab.

"Tapi peti mendiang guru kami sudah tertutup, maksud baik anda ini kami terima dengan terima kasih di dalam hati saja, di alam baka arwah guru kami pun akan merasa terhibur."

Jawaban ini sebenarnya cukup sopan dan beralasan, tapi lelaki muka hitam itu tetap ngotot pada pendiriannya, dia malah mendekati peti mati dan berteriak.

"Kalau untuk memandang terakhir kali saja tidak dapat, bukankah kita akan menyesal selama hidup?"

Haulam tadi menjawab pula.

"Peti mati yang sudah di tutup tidak boleh diganggu lagi, diharap anda maklum, untuk maksud baik anda kami mengucapkan terima kasih."

Meski jawaban mereka kelihatan tetap ramah tamah, tapi air muka mereka sudah kelihatan kurang senang, nadanya juga sudah berubah agak kasar.

Tak tahunya lelaki muka hitam itu tetap tidak tahu diri, masih terus ngotot ingin melihat wajah Tong Bu-siang yang terakhir, ia berteriak pula.

"Ku datang dari tempat beribu Li jauhnya, tentunya tidak boleh pulang dengan kecewa. Sudah lama ku kagum pada nama kebesaran Tong-loyacu, masa untuk melihatnya satu kali saja tidak dapat?"

Sambil gembar-gembor ia terus berlari mendekati peti mati.

Keruan para hadirin sama gempar, banyak yang mengira orang ini sudah gila, tapi Pwe-giok dapat melihat orang ini pasti mempunyai maksud tujuan tertentu dan sukar diraba.

Bagi Lui-ji, dia justeru berharap orang itu dapat membongkar peti mati selekasnya, ingin diketahuinya di dalam peti mati itu apakah betul Tong Bu-siang atau bukan?

Ingin dilihatnya cara bagaimana kematian Tong Bu-siang?

Para Haulam yang berlutut di depan layon menjadi panik juga, serentak mereka berdiri.

Jika dalam keadaan biasa, orang ini berani main gila di Tong-keh-ceng, tentu sejak tadi orang ini telah dibereskan.

Tapi sekarang kedudukan mereka adalah keluarga yang sedang berdukacita, mana boleh pakai kekerasan di depan layon orang tua sendiri.

Terpaksa mereka hanya menghadang saja di depan lelaki muka hitam itu dan menegur dengan menahan rasa gusar.

"Mungkin anda ini mabuk!"

"Siapa yang mabuk?"

Kata orang itu.

"Satu tetes saja aku tidak minum. Tujuanku hanya ingin melihat Tong-loyacu untuk penghabisan kalinya, masa perbuatan itu melanggar undangundang?"

Seorang lelaki kekar yang duduk dekat Pwe-giok mendadak menggebrak meja dan berdiri, bentaknya.

"Hendaknya kau tahu diri, sobat! Meski saudara dari keluarga Tong tidak leluasa turun tangan, tapi bila kau berani sembarangan main gila, aku Nyo Eng-tay yang pertamatama akan memberi hajaran padamu."

Nyo Eng-tay ini berjuluk "Kay-pi-jiu", si tangan pembelah pilar, namanya cukup gemilang di dunia persilatan daerah Sujwan.

Ucapannya ini juga cukup gagah perkasa dan beralasan, segera ada orang bersorak mendukungnya.

Tak terduga mendadak dari luar ada orang menjengek.

"Hm, Nyo Eng-tay, sebaiknya kau pun tahu diri sedikit dan lekas tutup mulut! Kalau tidak, sebentar orang pun akan membongkar perbuatanmu di Soa-peng-pah dahulu itu!"

Suara orang itu kedengaran seperti suara banci, para hadirin sama melongok ke arah suaranya, tapi tiada kelihatan bayangan seorangpun.

Namun begitu wajah Nyo Eng-tay sudah lantas merah padam, sekujur badan kelihatan gemetar, benarlah, dengan ketakutan ia lantas duduk kembali dan tidak berani bersuara pula.

Pada saat itu ada seorang tua yang mungkin cukup berkedudukan seperti ingin bicara, tapi seorang tua lain cepat menariknya dan membisikinya.

"Untuk apa Oh-heng mencari susah sendiri? Urusan keluarga Tong biar diselesaikan mereka sendiri, masa orang luar perlu ikut campur?"

Benar juga, orang itupun duduk kembali dan tutup mulut.

Pwe-giok tambah curiga, kini dapat diketahuinya bahwa maksud tujuan lelaki muka hitam itu jelas sengaja cari perkara, bahkan di belakangnya pasti ada yang mendalanginya.

Orang yang bersuara di luar tadi bisa jadi juga begundal "Ji Hong-ho"

Itu. Jika demikian, kematian "Tong Bu-siang"

Pasti juga mengandung rahasia sangat besar.

Tampaknya anak murid keluarga Tong juga merasakan gelagat tidak enak, diam-diam dari luar sudah masuk beberapa orang dan telah menjaga rapat semua jalan keluar, agaknya lelaki muka hitam itu takkan dibiarkan pergi begitu saja.

Tapi lelaki muka hitam ini hakekatnya tidak ada maksud pergi, dengan suara garang ia malah berkata pula.

"Mengapa kalian tidak mengijinkan orang luar melihat wajah Tong-loyacu yang terakhir, apakah karena kematian Tong-loyacu ada sesuatu yang tidak beres? Jika demikian, kami justeru harus melihat wajahnya."

Ucapan ini kembali membikin gempar para pelayat.

Ada sebagian hadirin diam-diam merasakan apa yang dikatakan orang ini juga cukup beralasan.

Tentu saja anak murid keluarga Tong bertambah gusar, segera ada yang membentak.

"Sahabat, kalau bicara hendaknya yang jelas dan tahu aturan."

"Masa ucapanku kurang jelas dan melanggar aturan?"

Jawab si muka hitam.

"Jika kalian sendiri tidak berbuat salah, mengapa...."

"Tutup mulut!"

Bentak seorang mendadak.

Suaranya tidak keras, tapi membawa semacam wibawa yang menundukkan orang.

Tanpa terasa lelaki bermuka hitam menyurut mundur dan tak berani bersuara lagi.

Tertampaklah dari balik tabir sana muncul beberapa orang perempuan berbaju putih berkabung.

Perempuan yang paling depan bertubuh ramping, baju berkabung yang putih mulus bersih sekali, raut wajahnya yang agak lonjong kelihatan penuh rasa berduka, namun tidak mengurangi wibawanya yang kereng dan disegani.

Inilah Tong Ki, nona pertama keluarga Tong yang memegang kekuasaan rumah tangga tertinggi.

Perempuan kedua bermuka bundar, matanya juga bundar besar, kelihatan lembut dan subur, inilah model isteri bijak dan ibu yang baik, menantu teladan.

Dia inilah isteri Tongtoakongcu, namanya Li Be-ling.

Orang ketiga bertubuh lemah kurus, matanya yang hitam rada cekung, biasanya selalu berwajah sayu, kini kelihatan lebih berduka.

Dia seperti sengaja melirik sekejap ke arah Pwe-giok, lalu menunduk, sorot matanya memancarkan setitik perasaan benci, seakan-akan menyatakan tidak ingin lagi melihat anak muda itu.

Inilah nona kedua keluarga Tong, yakni Tong Lin.

Begitu muncul dari balik tabir, ketiganya lantas memberi hormat kepada para hadirin.

Serentak para tamu membalas hormat mereka.

Sambil menyembah di lantai Tong Ki berkata.

"Atas wafatnya ayah kami dan berkat kehadiran kalian yang sudi melayat kemari, lebih dulu atas nama keluarga kuucapkan terima kasih."

Beramai-ramai para tamu menyatakan bela sungkawanya. Lalu Tong Ki berucap pula.

"Sebenarnya tidak pantas kami keluar menemui para hadirin, tapi lantaran ini...."

Pelahan dia angkat kepalanya dan menatap tajam lelaki muka hitam, lalu iapun berdiri dan bertanya.

"Bolehkah kiranya mengetahui nama anda yang mulia?"

Lelaki muka hitam berdehem dua-tiga kali, lalu berkata.

"Cayhe Gui Som-lim, tidak lebih hanya Bu-beng-siau-cut (perajurit kecil tidak bernama) dunia Kangouw, hanya saja...."

Mendadak Tong Ki menarik muka, tukasnya dengan suara bengis.

"Bagus, Gui Som-lim, coba jawab, siapa yang menyuruh kau kemari?"

Diam-diam Pwe-giok memuji.

"Nona besar keluarga Tong ini memang benar pahlawan kaum wanita, pintar dan cerdik, sama sekali dia tidak menegur kelakuan Gui Som-lim yang berteriak-teriak tadi, tapi langsung bertanya siapa yang menyuruh dia ke sini. Hanya satu pertanyaan saja sudah mengalihkan perhatian semua orang. Dengan sendirinya Gui Som-lim takkan mengaku diperintah orang lain, tapi bila dia tidak dapat memberi keterangan, tentu takkan ada orang lain lagi yang menyangsikan sebab musabab kematian Tong Bu-siang."

Tadi Gui Som-lim masih berseri-seri dan gembar-gembor, tapi sekarang air mukanya berubah pucat, ia menjawab dengan agak gelagapan.

"Cayhe datang melayat dan tidak.... tidak disuruh oleh siapa-siapa."

Tong Ki menjengek.

"Ruangan layon ini bukanlah tempat untuk membunuh, tapi kalau kau tidak bicara sejujurnya...."

Mendadak ia berhenti dan memberi tanda lambaian tangan. Seketika di luar ada bunyi gembereng satu kali. Lalu Tong Ki menyambung ucapannya.

"Nah kau dengar suara gembereng itu, bukan?"

"Ya, deng... dengar."

Jawab Gui Som-lim.

"Bila gembereng sudah berbunyi tiga kali dan belum lagi kau bicara terus terang, segera darahmu akan berhamburan di sini,"

Ancam Tong Ki.

Dia bicara dengan tenang saja, namun nadanya berwibawa dan membikin orang mau tak mau percaya akan kebenaran ancamannya itu.

Wajah Gui Som-lim tampak pucat pasi, dengan suara terputus-putus ia menjawab.

"Apa yang kukatakan tadi adalah.... adalah sejujurnya."

Tong Ki tidak menanggapi lagi, ia berdiri dengan berlipat tangan seolah-olah tidak mendengar ucapan orang.

Menyusul di luar ruangan gembereng berbunyi pula satu kali.

Mendadak Gui Som-lim membalik tubuh terus berlari pergi secepat terbang.

Nyata ia bermaksud kabur.

Akan tetapi saat itu juga Tong Siu-jing dan Tong Siu-hong segera muncul dari luar, keduanya tepat menghadang jalan pergi Gui Som-lim.

Thi-bin-giam-lo, si raja akhirat bermuka besi, sesuai julukannya, Tong Siu-hong memang tegas dan tidak kenal ampun terhadap siapapun yang bersalah.

Kini matanya tampak merah membara, napsu membunuhnya berkobar.

Gui Som-lim bergidik dan tanpa terasa menyurut mundur selangkah demi selangkah.

Mendadak gembereng berbunyi pula.

Pada saat itulah di tengah para pelayat itu mendadak terdengar suara jeritan ngeri!

Sebarisan orang yang berdiri di depan layon sana sama menampilkan perasaan takut luar biasa.

Tanpa terasa Tong Ki juga berpaling ke sana ....

Dan sekali pandang, seketika iapun terperanjat.

Kiranya peti mati Tong Bu-siang entah sejak kapan telah dibuka orang, mayat Tong Bu-siang telah berdiri tegak bersama peti matinya, di bawah cahaya yang remang-remang kelihatan mukanya yang pucat kuning, mata terpejam, meski tidak begitu menakutkan mukanya, tapi keseraman orang mati cukup membikin orang merinding.

"Di belakang peti pasti ada orang, tangkap!"

Teriak Tong Ki bengis.

Serentak Tong Siu-jing dan Tong Siu-hong menubruk maju ke sana.

Pada saat itu pula mayat Tong Bu-siang mendadak melayang keluar dengan kaku dari peti matinya.

Pwe-giok juga sudah dapat melihat di belakang peti mati pasti ada orang membikin mayat Tong Bu-siang terpental dengan Lwekang yang kuat, tapi mendadak berhadapan dengan kejadian aneh luar biasa ini, tanpa terasa tangan Pwe-giok juga berkeringat dingin.

Dilihatnya mayat Tong Bu-siang yang kaku itu langsung menerjang ke arah Tong Siu-hong dan Tong Siu-jing yang lagi menubruk ke depan.

Mestinya mereka tidak berani menggunakan tangan untuk menangkap mayat itu, tapi mau tak mau mereka harus menangkapnya.

Suara aneh yang berbunyi di luar jendela kembali bergema pula dari balik peti mati, ucapnya dengan seram.

"Tong Bu-siang sudah muncul, kenapa kalian tidak lekas menyembah padanya?"

Belum lenyap suaranya, serentak empat atau lima orang anak murid keluarga Tong telah menubruk ke sana.

Meski sedang berkabung, namun dalam baju mereka selalu membawa Am-gi atau senjata rahasia khas keluarga Tong yang termasyhur.

"Roboh, sahabat!"

Bentak salah seorang.

Berbareng dengan suara bentakan itu, senjata rahasia merekapun berhamburan, berpuluh bintik hitam menyambar ke belakang peti mati bagai hujan gerimis.

Am-gi keluarga Tong tiada bandingannya di dunia ini, bukan saja buatannya cermat dan bagus, cara menyambitkannya juga bergaya khas.

Berpuluh bintik hitam itu menyambar ke depan dengan kecepatan yang berbeda, ada yang lambat, ada yang cepat, yang cepat belum tentu sampai lebih dulu, yang lambat bisa mendadak menyambar tiba dengan kuat.

Jadi sukar diraba dan susah dijaga.

Semua orang mengira orang yang berada di belakang peti mati itu sekali ini pasti sukar terlolos dari kematian.

Siapa tahu mendadak terdengar suara tertawa panjang, berpuluh bintik senjata rahasia itu mendadak berputar haluan di udara, semuanya terbang balik dan menyambar ke arah anak murid keluarga Tong sendiri.

Sambaran membalik ini jelas lebih keras daripada sambaran ke sana tadi, tampaknya dengan segera senjata akan makan tuannya.

Keruan anak murid keluarga Tong itu terkejut, cepat mereka menutupi muka sendiri dengan tangan kanan, tangan kiri melintang di depan dada, lalu melompat ke atas dan berjumpalitan sekali, ketika jatuh ke lantai, serentak mereka menggelinding jauh ke sana.

Cara menghindar mereka sudah cepat, tapi sambaran Am-gi jauh lebih cepat.

Tanpa ampun pundak dan lengan ke empat orang masing-masing terkena beberapa bintik senjata rahasia tersebut, belum lagi mereka melompat bangun, lebih dulu mereka merogoh saku dan mengeluarkan botol kecil, obat penawar racun dalam botol terus ditelan, lalu berbaring di lantai dan tidak berani bergerak sedikitpun.

Maklumlah, senjata rahasia keluarga Tong terkenal maha lihay racunnya, sampai di mana kekejiannya tentu mereka sendiri yang paling tahu.

Jika urat nadi yang berdekatan dengan jantung terkena senjata rahasia itu, dengan cepat racun akan menyerang jantung, sekalipun ada obat penawar buatan khusus juga belum tentu dapat menyelamatkan jiwa mereka.

Bila mata yang terkena senjata rahasia itu, sekalipun dapat ditolong, namun penderitaan mengorek mata dan membedah kulit daging tentu juga dapat dibayangkan.

Sebab itulah lebih dulu mereka melindungi bagian-bagian yang fatal dengan tangan sendiri, sekarang setelah makan obat penawar toh mereka tetap kuatir racun akan menjalar, maka mereka harus berbaring diam, setelah obat penawar sudah berjalan barulah mereka berani berdiri.

Di sebelah sini ke empat orang terluka dan roboh, di sebelah sana Tong Siu-hong dan Tong Siu-jing juga sudah menurunkan mayat yang mereka pegang, lalu mereka menerjang musuh pula dari kanan dan kiri.

Pengalaman tempur dan kungfu kedua orang ini dengan sendirinya jauh lebih tinggi daripada sesama saudara seperguruannya, bahkan gerakan merekapun jauh lebih cermat.

Tak terduga, pada saat itulah.

"blang", mendadak peti mati itu pecah menjadi dua, terbelah bagian tengah, lalu menghantam ke kanan dan ke kiri, memapak serbuan Tong Siu-jing dan Tong Siu-hong. Peti mati itu terbuat dari kayu pilihan, biarpun tertanam di bawah tanah berpuluh tahun juga tetap utuh tanpa keropos, maka dapat dibayangkan betapa kuat dan kerasnya. Tapi sekarang sekali tabas dengan telapak tangannya orang itu sanggup membelahnya menjadi dua, keruan semua orang terkejut. Seketika Tong Siu-jing dan Tong Siu-hong merasa pecahan peti mati itu menindih tiba bagai gugur gunung dahsyatnya, masih berjarak cukup jauh sudah terasa daya tindihnya yang hebat sehingga napaspun terasa sesak. Dalam kejutnya kedua orang itu cepat menjatuhkan diri dan menggelinding ke samping, maka terdengarlah suara gemuruh, kedua potong peti mati yang pecah itu menghantam lantai dan mencelat pula ke sana dan menumbuk dinding, seketika batu pasir bertebaran. Sial bagi yang terciprat batu, banyak yang menjerit kesakitan. Yang tidak tertimba batu juga cepat-cepat berlari menyingkir, malahan ada yang sembunyi di kolong meja sehingga meja kursi berjungkir balik dan mangkuk piring pecah berantakan. Setelah kekacauan agak mereda, barulah semua orang melihat di samping mayat Tong Busiang telah berdiri seorang berbaju hijau dengan tersenyum simpul. Anak murid keluarga Tong serentak mengepungnya dan mengawasi musuh dengan siap serbu. Namun orang ini tetap menghadapi mereka dengan tertawa pongah seperti tiada sesuatu yang ditakutinya. Orang ini bukan saja sangat muda, tampaknya juga sopan santun, juga sangat cakap, hanya sikapnya kelihatan kemalas-malasan, mirip orang yang selalu kurang tidur. Tidak ada seorang Kangouw yang hadir ini kenal pemuda ini, siapapun tidak menyangka orang semuda ini memiliki tenaga dalam sedemikian hebat. Hanya Pwe-giok dan Lui-ji saja yang kenal orang ini, tapi mereka jauh lebih terkejut daripada orang lain, sebab mereka tidak pernah menyangka pembuat gara-gara ini ialah Yang Cu-kang. ***** Akhirnya Yang Cu-kang datang juga! Anak murid keluarga Tong sama melolos senjata dan mengepungnya di tengah, setiap saat mereka siap turun tangan. Tapi mendadak Tong Ki membentak dengan suara tertahan.

"Mundur semua!"

Tampaknya nona besar keluarga Tong ini sekarang sudah bertindak selaku Ciangbunjin, begitu dia memberi perintah, serentak anak murid keluarga Tong terpencar, sampai Tong Siuhong juga meluruskan tangan dan tunduk kepada perintahnya.

Di tengah kekalutan juga cuma Tong Ki saja yang tetap dapat mempertahankan ketenangannya, sorot matanya seperti kilat berkelebat mengusap wajah Yang Cu-kang.

Lalu jengeknya.

"Usia anda masih muda, tapi kungfumu sudah setinggi ini, tentu anda anak murid orang kosen. Tapi mengacau di ruang layon orang lain, membikin anggota keluarganya yang hidup tambah susah dan membuat yang mati merasa terhina, apakah cara inipun termasuk ajaran perguruan anda?"

Asalkan nona besar keluarga Tong sudah buka suara, setiap katanya pasti mempunyai bobot.

Kini dia tidak bertanya siapa nama dan asal usul orang, sebaliknya semua perbuatannya itu ditumplekkan atas perhitungan perguruannya, hal ini membuat lawan menjadi serba susah untuk menjawab.

Yang Cu-kang mengamat-amati Tong Ki beberapa kejap, dari atas dipandangnya ke bawah dan dari bawah diulang lagi ke atas, lalu berkata dengan tertawa.

"Pantas orang Kangouw sama bilang nona besar keluarga Tong kita lihay dan galak, seekor harimau betina, setelah berhadapan sekarang ternyata memang tidak bernama kosong, benar-benar tidak bernama kosong...."

Dia menengadah dan terbahak-bahak, mendadak ia berhenti tertawa, dengan sorot mata yang tajam dia tatap para hadirin yang memenuhi ruangan luar dan dalam itu, lalu berseru dengan lantang.

"Cayhe Yang Cu-kang adanya, meski bukan anak murid perguruan ternama segala, juga bukan keturunan keluarga terhormat, tapi juga tidak nanti melakukan hal-hal yang melanggar tata susila begini. Apa yang kulakukan sekarang ini tidak bermaksud mengganggu arwah Tong-locianpwe, sebaliknya ingin kutuntut kebenaran baginya, sebab itulah diharapkan para hadirin suka memberi keadilan."

Ia kuatir perbuatannya mengganggu mayat dan merusak peti mati itu akan menimbulkan amarah umum.

Tapi setelah uraiannya ini, pandangan semua orang lantas berubah lagi.

Semua orang telah tertarik oleh kata "menuntut kebenaran"

Tadi, semuanya lantas berpikir.

"Apakah barangkali kematian Tong-locengcu ini ada sesuatu yang tidak beres?"

Tong Ki tidak sabar lagi, segera ia menjengek.

"Kiranya orang she Gui itu adalah suruhanmu, kau suruh dia mengacau di depan layon untuk memancing perhatian orang banyak, kau sendiri lantas mengacau di belakang peti, begitu bukan?"

Yang Cu-kang menjawab dengan tak acuh.

"Demi menuntut kebenaran bagi Tong-locianpwe segala apapun dapat kulakukan."

"Jangankan ayahku wafat secara wajar, sekalipun pada masa hidup beliau ada permusuhan dengan siapa-siapa, segala persoalannya masih dapat diselesaikan oleh putera-puterinya, kukira tidak perlu kau ikut campur,"

Seru Tong Ki dengan bengis.

"Oo? Apakah betul kalian dapat menyelesaikannya?"

Tanya Yang Cu-kang.

"Tentu, kenapa tidak?"

Jawab Tong Ki.

"Bagus,"

Ucap Yang Cu-kang.

"Jika demikian, marilah kita melihat dulu siapakah kiranya yang turun tangan keji terhadap Tong-locengcu, lalu...."

Sembari bicara iapun menarik mayat Tong Bu-siang. Dengan gusar Tong Ki lantas membentak.

"Jahanam, berani lagi kau ganggu jenazah ayahku? Biarlah ku adu jiwa dengan kau!"

Dia sudah tahu kungfu Yang Cu-kang maha tinggi dan sangat mengejutkan, sebab itulah sejak tadi ia menahan rasa gusarnya dan belum turun tangan, tapi sekarang semua itu seperti tidak terpikir lagi olehnya, sekali berkelebat, tahu-tahu ia menubruk maju, kesepuluh jarinya yang lancip segera mencengkeram mata dan tenggorokan Yang Cu-kang.

Tipu serangan yang cepat dan ganas, sekali turun tangan segera mengincar bagian yang mematikan.

Tapi Pwe-giok tahu kalau melulu kepandaian Tong Ki saja masih selisih sangat jauh untuk dapat menandingi Yang Cu-kang.

Diam-diam Lui-ji juga berkuatir bagi Tong Ki.

Betapapun perempuan tetap berharap sesama perempuan akan mengalahkan kaum lelaki, akan tetapi Lui-ji juga berharap Yang Cu-kang akan membongkar rahasia kematian Tong Bu-siang.

Meski perempuan bersimpati kepada sesama perempuan, tapi perempuan juga lebih suka mencari tahu rahasia orang lain.

Dalam pada itu Tong Siu-hong dan Tong Siu-jing juga sudah menubruk maju, bersama Tong Ki mereka mengerubuti Yang Cu-kang dari tiga jurusan.

"Apakah cuma sekian saja ilmu silat keluarga Tong?"

Ejek Yang Cu-kang dengan tertawa.

Selesai dia berucap demikian, tahu-tahu jenazah Tong Bu-siang sudah diangkat olehnya.

Serangan Tong Ki bertiga juga mengenai tempat kosong seluruhnya.

Yang Cu-kang terus berputar cepat seperti gasingan, mayat Tong Bu-siang digunakan sebagai perisai di depan tubuh.

Apabila Tong Ki bertiga menyerang secara ganas, yang akan kena lebih dulu tentulah mayat Tong Bu-siang.

Dengan sendirinya mereka menjadi ragu untuk menyerang lagi.

"Lepaskan jenazah guruku dan jiwamu akan kami ampuni!"

Teriak Tong Siu-hong dengan murka.

"Haha, aku memang tidak bisa mati, tidak perlu minta ampun padamu!"

Jawab Yang Cu-kang dengan tertawa. Makin cepat dia berputar sembari membuka baju mayat yang dikenakan Tong Bu-siang itu. Air muka Tong Ki berubah pucat, ia berjingkrak dan mendamprat.

"Keparat, betapa rendah caramu merusak jenazah, harus kubinasakan kau dulu!"

Tampaknya ia menjadi nekat, tanpa menghiraukan apapun dia terus menerjang. Tiba-tiba Yang Cu-kang berteriak.

"Wahai para hadirin, lihatlah kalian, dia yang sengaja hendak merusak jenazah Tong-locianpwe atau aku? Dia lebih suka menghancurkan tubuh ayahnya yang sudah mati ini dan tidak memperbolehkan kuselidiki sebab-musabab kematiannya, coba jawab, mengapa?"

Semua orang menjadi sangsi oleh uraian Yang Cu-kang ini, sampai Tong Siu-jing dan Tong Siu-hong juga mulai ragu dan tidak main kerubut lagi bersama Tong Ki.

Malahan ada orang yang tidak tahan dan segera berteriak.

"Nona Tong, kenapa tidak dibiarkan dia memeriksa sebab musabab kematian Tong-locengcu?"

Serangan Tong Ki sangat cepat, hanya sekejap saja dia sudah menyerang dua-tiga puluh kali, tapi setiap serangannya hanya menyerempet lewat saja di samping tubuh musuh, ujung bajunya saja sukar menyenggolnya.

Kini Tong Ki baru merasakan betapa tinggi ilmu silat pemuda aneh ini.

Mendadak ia berhenti menyerang dan melompat mundur, ia menggentak-gentakkan kaki sambil mengucurkan air mata, jeritnya dengan parau.

"Para hadirin sudah bicara demikian, apabila aku tidak menurut, akan kelihatan seperti ada sesuatu kesalahanku. Akan tetapi nama baik mendiang ayahku kini harus menjadi korban perbuatan jahanam ini...."

Sampai di sini kerongkongannya terasa seperti tersumbat dan air mata berderai. Tong Lin dan Li Be-ling memburu maju dan memapah Tong Ki. Dengan suara bengis Tong Siu-hong lantas berteriak.

"Sahabat, jika kau ingin melihatnya boleh silahkan, tapi kalau tiada menemukan sesuatu, lima ratus anak murid keluarga Tong lebih suka mati seluruhnya sekarang juga daripada membiarkan kau lolos keluar dengan hidup."

"Apabila tidak kutemukan sesuatu, tanpa kalian turun tangan, aku sendiri akan mati lebih dulu di sini,"

Kata Yang Cu-kang dengan tertawa. Mendadak ia menarik muka, lalu menyambung pula dengan sekata demi sekata.

"Sebab sudah kuketahui, kematian Tong-locianpwe justeru adalah korban perbuatan anak muridnya sendiri."

Ucapan ini seketika membikin gempar setiap orang. Lebih-lebih anak murid keluarga Tong, semuanya jadi murka, beramai-ramai mereka membentak.

"Kau berani sembarangan memfitnah orang? kau ada bukti?"

"Kalian ingin bukti?"

Tanya Yang Cu-kang.

"Baik!"

Mendadak ia angkat mayat Tong Bu-siang tinggi-tinggi, lalu berteriak.

"Inilah buktinya!"

Serentak anak murid keluarga Tong membanjir maju, yang di luar ruangan juga menerjang ke dalam.

Seketika ruangan pendopo yang besar itu menjadi berjubal-jubal.

Tapi sekali lompat Yang Cu-kang telah melayang ke atas.

Meski membawa sesosok mayat, tapi gerak tubuh Yang Cu-kang masih sangat gesit, sekali lompat saja ia sudah hinggap di atas belandar pendopo, lalu berteriak dengan suara bengis.

"Tong-locianpwe mati terkena Am-gi perguruannya sendiri, bahkan mati di Tong-keh-ceng, lalu siapa pembunuhnya kalau bukan anak murid keluarga Tong sendiri?"

Kejut dan gusar semua anak murid keluarga Tong, ada yang berteriak, ada yang mencaci maki, ada yang menyiapkan senjata rahasia, tapi kuatir pula mengenai jenazah Tong Bu-siang sehingga mereka hanya bergerak saja, tapi urung menyerang.

Ada beberapa orang di antaranya ikut melayang ke atas, tapi baru saja tubuh mereka mengapung, kontan dia tergetar ke bawah lagi oleh angin pukulan yang dahsyat.

Malahan ada seorang yang jatuh menindih tubuh kawannya.

Dengan suara bengis Yang Cu-kang berteriak pula.

"Apabila kalian ingin melihat bukti, silahkan kalian memilih beberapa orang yang sekiranya terhormat untuk menjadi saksi dan orang lain dipersilahkan mundur lebih dulu."

Kini Tong Ki berbalik jauh lebih tenang daripada tadi, sinar matanya gemerdep, tiba-tiba ia berkata.

"Baik, jika demikian, diharapkan Siok-san-sin-wan (si kera sakti dari Siok-san) Wanloyacu, Kim-to Oh-toasiok, Khay-pi-jiu Nyo-toasiok dan Ji Pwe-giok, Ji-kongcu berempat untuk menjadi wasit."

Sungguh tidak pernah terpikir oleh Pwe-giok bahwa Tong Ki mendadak akan menyebut namanya, seketika ia melenggong. Tapi Lui-ji lantas menarik ujung bajunya dan berseloroh.

"Masa kau tidak tahu bahwa dirimu adalah seorang tokoh ternama di dunia Kangouw? Ayolah lekas tampil ke depan!"

Si orang tua yang berolok-olok di dekat Pwe-giok tadi cepat mendekati anak muda itu dan berkata sambil memberi hormat.

"Tak tersangka anda inilah Ji Pwe-giok, Ji-kongcu yang baru-baru ini menggemparkan dunia Kangouw, sampai tokoh sakti Lo-cinjin juga sangat memuji dirimu. Bilamana sikap kami tadi kurang menghormat, mohon sudi dimaafkan."

Berita dunia Kangouw ternyata sangat cepat tersebar, kejadian pada setengah bulan yang lalu kini sudah diketahui orang sebanyak ini, sampai Nyo Eng-tay, Kim-to Oh Gi dan lain-lain yang tadi meremehkan dia sekarang juga memandangi Pwe-giok dengan terbelalak, air muka mereka penuh rasa kejut dan heran, seperti tidak percaya seorang pemuda tampan dapat menggemparkan Kangouw hanya dalam waktu setengah tahun ini.

Pwe-giok sendiri tidak pernah membayangkan dirinya ternyata bisa menonjol dan terkenal secepat ini.

Terpaksa ia membalas hormat orang dan mengucapkan kata rendah hati.

Orang tua tadi berucap pula, .

"Cayhe Wan Kong-beng dari Siok-san, selanjutnya diharapkan Ji-kongcu suka sering-sering memberi petunjuk."

Pwe-giok membalas hormat dan tetap rendah hati. Dalam pada itu kerumunan orang banyak sudah mulai mundur, sehingga tempat layon tadi terluang cukup luas.

"Dengan ke empat saksi ini, apakah cukup?"

Tanya Tong Ki.

"Yang lain belum tentu bisa dipercaya, tapi Ji Pwe-giok ini sudah lama kudengar dia adalah Kuncu sejati, kuyakin ia takkan berdusta."

Kata Yang Cu-kang sambil menunduk ke bawah dan tertawa kepada Pwe-giok, lalu ia melayang turun.

Pwe-giok tidak tahu mengapa orang mendadak bersikap ramah padanya, diam-diam ia mempertinggi kewaspadaan.

Dilihatnya sambil mengangkat jenazah Tong Bu-siang, dengan suara lantang Yang Cu-kang berkata.

"Sekarang silahkan kalian memeriksanya, sesungguhnya bagaimana bekas luka Tong-locianpwe yang mengakibatkan kematiannya."

Pada waktu akan dimasukkan ke peti mati, mayat Tong Bu-siang sudah didandani, mukanya sudah dipoles bedak berminyak yang tebal sehingga sukar lagi melihat air mukanya yang asli.

Maklum, wajah orang mati pada umumnya hampir serupa.

Tapi sekarang setelah Yang Cukang membuka baju mayat, barulah semua orang melihat bagian dadanya hitam hangus, itulah tandanya terkena racun jahat.

Luka yang mematikannya terletak di bawah dada kiri, ada tiga lubang kecil sebesar mata jarum, di atas lubang kecil itu ada noda darah beku yang sudah hampir berubah menjadi hitam seluruhnya.

Yang Cu-kang lantas membuka telapak tangannya dan berkata pula.

"Sekarang hendaknya kalian melihat apa yang terdapat pada tanganku ini?"

Terlihatlah satu biji Am-gi yang terbuat dengan indah di atas telapak tangannya, itulah Tokcit-le , duri besi berbisa, senjata rahasia khas keluarga Tong, juga boleh dikatakan senjata rahasia yang bersejarah paling tua di dunia ini.

Setiap tokoh yang hadir ini sama kenal senjata rahasia itu, tapi merekapun tahu betapa gawatnya urusan sekarang, maka mulut setiap orang seolah-olah sudah disegel dan tiada seorangpun berani ikut bicara.

Hanya Tong Siu-hong saja yang segera membentak.

"Inilah Tok-cit-le dari keluarga Tong kami, darimana kau memperolehnya?"

Yang Cu-kang tertawa, jawabnya,"

Am-gi inilah yang tadi hendak kalian gunakan untuk membunuh diriku, seluruhnya mereka menghamburkan 28 biji, telah kubayar kembali 27 biji, yang kuterima hanya satu biji ini.

Jika kau tidak percaya boleh kau hitung dulu barangnya."

Dengan muka masam tong Siu-hong tidak bersuara lagi.

Yang Cu-kang lantas pegang Tok-cit-le itu dan perlahan dipasang di atas luka Tong Bu-siang, tiga ujung duri Tok-cit-le itu persis masuk pada tiga titik bekas luka di dada Tong Bu-siang itu.

"Nah, luka yang mematikan Tong-locianpwe ini terdiri dari senjata rahasia apa, tentunya sekarang kalian sudah dapat melihatnya bukan?"

Kata Yang Cu-kang.

Padahal sejak tadi semua orang juga sudah melihat racun yang mengenai tong Bu-siang itu serupa dengan racun senjata rahasia keluarga Tong.

Sebab racun yang berbeda, tanda-tanda bekerjanya racun juga berlainan.

Racun senjata rahasia keluarga Tong kalau menjalar, seluruh tubuh korbannya akan berubah menjadi hitam hangus seperti halnya Tong Bu-siang sekarang.

Maka Yang Cu-kang lantas mendengus.

"Jika Tong-locianpwe mati di Tong-keh-ceng, yang mematikannya juga Tok-cit-le keluarga Tong sendiri, lantas siapa pembunuhnya kalau bukan anak murid keluarga Tong sendiri ? "

Ia berhenti sejenak, lalu melototi Wan Kong-beng dan bertanya.

"Coba bagaimana menurut pendapatmu?"

Muka kakek she Wan itu tampak prihatin dan tidak berani menjawab.

"Hm, sejak mula sudah kuketahui kau ini ular tua yang licin, tidak bisa menjadi penengah yang jujur,"

Jengek Yang Cu-kang. Lalu ia tatap Oh Gi dan bertanya,"

Dan bagaimana dengan kau? Konon biasanya kau sok menjadi juru damai, apakah sekarang kaupun tidak berani bicara?"

Muka Oh Gi tampak merah padam, jawabnya dengan tergagap.

"Ini... ini mungkin orang lain yang mencuri senjata rahasia keluarga Tong, lalu digunakan menyerang Tong-locianpwe secara gelap."

"Hm, bila Tong-locianpwe benar mati di tangan orang lain, mengapa anggota keluarga Tong merahasiakannya dan tidak diumumkan secara terbuka?"

Jengek Yang Cu-kang pula.

"Dan mengapa menyatakan Tong-locianpwe mati secara wajar karena sakit tua?"

Seketika Oh Gi tak dapat menjawab lagi.

Kini setiap orang sama setuju dengan keterangan Yang Cu-kang itu, semua menganggap Tong Bu-siang pasti mati di tangan anak muridnya sendiri.

Tapi terpengaruh oleh wibawa keluarga Tong, tidak seorangpun berani bicara, namun air muka mereka jelas sama memperlihatkan rasa gusar.

Sebagian besar anak murid keluarga Tong tampaknya juga tidak tahu seluk-beluk persoalan ini.

Ada di antaranya juga memperlihatkan rasa sedih dan gusar, ada juga yang cuma melenggong dan ada lagi yang menangis.

Sinar mata Yang Cu-kang hanya berhenti sejenak pada wajah Pwe-giok, mendadak beralih ke muka Tong Siu-hong dan berkata.

"Biasanya anda terkenal adil dan tidak pandang bulu serta tidak kenal ampun, entah tindakan apa yang akan kau lakukan sekarang?"

Tong Siu-hong tampak menggreget-greget sehingga ujung mulutnya merembeskan darah, tampaknya dia juga menahan sesuatu yang sukar diuraikan, sebab itulah ia hanya mengertak gigi dan tidak mau bicara.

Mendadak Tong Siu-jing terkekeh dua kali, lalu berkata dengan suara parau.

"Keluarga Tong tidak beruntung sehingga terjadi peristiwa malang ini, atas keterangan anda yang sudi membeberkan kejadian ini sungguh segenap keluarga Tong merasa sangat berterima kasih. Hanya saja, apa yang dialami mendiang guru kami ini mengapa dapat diketahui sejelas ini oleh anda?"

Cara bicara orang ini ternyata tidak kalah lihaynya daripada Tong Ki. Tampaknya dia bertanya dengan sopan, padahal cukup keji. Di balik ucapannya itu seakanakan hendak mengatakan,"

Kalau Tong Bu-siang bukan mati sewajarnya, sedangkan orang lain tidak ada yang tahu, lalu dari mana kau mendapat keterangannya? Jangan-jangan kau sendirilah yang melakukannya?"

Biarpun kata-kata demikian tidak terang-terangan diucapkan, namun semua hadirin bukanlah orang bodoh, mustahil mereka tak dapat meraba apa maksudnya.

Karena itu, mau tak mau semua orang lantas merasa curiga juga terhadap Yang Cu-kang.

Tapi Yang Cu-kang hanya tersenyum tak acuh, katanya.

"Jika ingin orang lain tidak tahu, kecuali diri sendiri tidak berbuat. Soalnya Cayhe baru saja berpisah dengan Tong-locianpwe pada tiga hari yang lalu, kini mendadak mendengar berita kematiannya, dengan sendirinya timbul curigaku. Seorang yang sehat walafiat, tidak terluka apa-apa, mengapa baru pulang lantas tutup usia dan meninggal untuk selamanya."

Kata 'tutup usia dan meninggal selamanya' sengaja diucapkannya dengan suara tajam, berbareng sorot matanya menyapu pandang para hadirin, melihat air muka semua orang kembali berubah, barulah ia menyambung lagi.

"Meski Cayhe adalah kenalan baru Tonglocianpwe, tapi sekali bersahabat tetap bersahabat, betapapun aku tidak rela dia mati secara penasaran. Sebab itulah sengaja ku datang kemari untuk melihat keadaan yang sebenarnya. Apabila anda menjadi diriku, apakah anda takkan bertindak seperti ini?"

Jilid 9________ Ucapan ini memang benar dan masuk akal sehingga sukar dibantah. Tong Siu-jing menghela napas panjang, lalu berkata dengan muram.

"Pandangan anda sangat tajam, kami tidak cuma berterima kasih, juga sangat kagum. Hanya saja anak murid keluarga Tong yang dewasa sedikitnya ada 500 orang lebih, yang mahir menggunakan Tok-cit-le ini juga ada ratusan orang. Dalam waktu singkat mungkin sangat sukar menemukan siapa pembunuhnya. Sebab itulah diharap anda suka menyerahkan persoalan ini kepada kami untuk membereskannya. Kelak kami pasti akan memberi pertanggung jawaban kepada anda."

"Hm, orang luar semacam diriku ini memang tidak pantas ikut campur urusan dalam rumah tangga keluarga Tong,"

Jengek Yang Cu-kang.

"Hanya saja apa yang kau katakan barusan ini sukar dipercaya orang."

"Yang kukatakan adalah sejujurnya..."

"Sejujurnya?"

Yang Cu-kang menegas.

"Kalau begitu coba jawab, apakah Tong-locianpwe meninggal di kamar pribadinya yang terahasia?"

"Ini... ini...."

Tong Siu-jing gelagapan.

"Kalau dia tidak mati di kamar rahasia pribadinya, maka setelah dia terkena senjata rahasia berbisa, tentu akan segera diketahui oleh kalian, mengapa mesti menunggu sampai ikut campurnya orang luar seperti sekarang ini?"

Karena tidak ada alas an lain, terpaksa Tong Siu-jing mengaku, katanya.

"Betul, beliau memang wafat di kamar tidur pribadinya."

"Jika demikian, ingin kutanya pula, di antara ratusan anggota keluarga Tong yang mahir menggunakan Tok-cit-le, ada berapa orang di antaranya yang boleh masuk ke kamar pribadi Tong-locianpwe?"

Biarpun Tong Siu-jing juga pandai bicara, sekarang ia menjadi mati kutu dan tak dapat menjawab pertanyaan Yang Cu-kang yang tajam itu.

Baru sekarang Pwe-giok mengetahui ketajaman mulut Yang Cu-kang ternyata tidak di bawah ilmu silatnya.

Para anak murid keluarga tong, sama menunduk, tiada seorangpun berani memandang Tong Ki.

Tapi semakin mereka tidak berani memandangnya, justru sama dengan memberitahukan kepada orang lain, bahwa yang dapat memasuki kamar pribadi Tong Bu-siang itu setiap saat, hanya terdiri dari beberapa nona keluarga Tong saja.

Hanya saja mereka merasa borok rumah tangga sendiri tidaklah baik disiarkan keluar, maka tidak ada yang mau bicara.

Maka selain anak murid keluarga Tong, pandangan semua orang sama tertuju kea rah Tong Ki.

Sorot mata mereka jauh lebih merikuhkan daripada ucapan apapun.

Wajah Tong Ki tampak pucat.

Nona besar keluarga Tong yang sehari-hari terkenal pintar bicara dan cekatan dalam bertindak ini, kini harus menghadapi tuduhan membunuh orang tua sendiri.

Sekujur badannya kelihatan gemetar, ia berdiri kaku di situ dan tak dapat bicara sekatapun.

Mendadak salah seorang hadirin berseru.

"Masakah anak perempuannya juga bisa membunuhnya?"

Ucapan ini kedengarannya seperti ingin membela Tong Ki, padahal sama saja melontarkan tuduhan resmi terhadap Tong Ki.

Waktu semua orang menoleh, tidak kelihatan siapa yang bersuara itu.

Terdengar yang Cu-kang menjengek,"

Seorang kalau sudah kemaruk kepada kekuasaan dan kedudukan, segala apapun dapat diperbuatnya."

Tiba-tiba seseorang berseru pula di tengah orang banyak.

"Masakah maksudmu demi menjabat Ciangbunjin, nona besar Tong tidak sayang membunuh ayahnya sendiri, memangnya siapa yang mau percaya kepada ocehanmu ini?"

Ucapan ini tambah menyudutkan Tong Ki, meski dia bilang siapapun tidak mau percaya, yang benar mungkin sedikit sekali orang yang tidak percaya kepada ucapan ini. Yang Cu-kang mendengus,"

Apabila hati Tong-toakohnio tidak menyembunyikan sesuatu, mengapa dia melarang orang lain memeriksa sebab musabab kematian Tong-locianpwe?

Pada waktu jenazah Tong-locianpwe dibersihkan, masa dia tidak melihat tanda-tanda luka beracun pada tubuhnya?"

Seketika para pelawat menjadi heboh, semuanya yakin si pembunuhnya pastilah Tong Ki, sampai-sampai Ji Pwe-giok dan Cu Lui-ji mau-tak-mau juga percaya.

Diam-diam Pwe-giok menghela napas, ia sendiripun sedih, pikirnya,"

Jika benar Tong Ki membunuh ayahnya lantaran ingin kedudukan dan berkuasa, maka apa yang terjadi ini boleh dikatakan hukum karma, sebab "Tong Busiang"

Yang dibunuhnya ini justru adalah musuhnya yang membunuh ayahnya yang sesungguhnya."

Sorot mata Yang Cu-kang yang tajam itu menatap wajah Tong Ki, katanya dengan bengis.

"Tong-toakohnio, sekarang apa yang dapat kaukatakan lagi?"

Tong Ki balas melototinya dan menjawab sekata demi sekata.

"Benar kau minta aku menceritakan duduk perkara yang sebenarnya?"

"Hm, masa kau berani bercerita?"

Jengek Yang Cu-kang.

"Baik, kau sendiri yang memaksa ku bicara,"

Jawab Tong Ki dengan suara bengis, lalu ia menarik napas panjang-panjang. Tapi sebelum ia bicara lagi, mendadak Tong Lin berseru.

"Kejadian ini seharusnya akulah yang menjelaskannya."

Gadis yang selalu murung ini biasanya jarang bicara, sejak tadi iapun bungkam belaka, siapa tahu pada detik yang genting ini mendadak ia buka suara.

Apa yang diucapkannya bahkan sangat mengejutkan, sampai Pwe-giok juga terkesiap dan tak dapat menerka apa yang hendak diceritakan.

Tong Ki memandangnya dengan penuh rasa heran dan sangsi, tanyanya.

"Kau....."

Dengan air muka kelam Tong Lin berkata pula.

"Pada saat terakhir sebelum ayah meninggal, hanya aku saja yang berjaga di sampingnya, sebab itulah cuma aku saja yang mengetahui dengan jelas sebab musabab kematian beliau."

"O, hanya kau yang tahu?"

Yang Cu-kang menegas dengan terheran-heran.

"Ya, hanya aku,"

Jawab Tong Lin. Yang Cu-kang berkerut kening, katanya.

"Apakah kau sendiri yang membunuh Tonglocianpwe?"

Betapapun ia merasa sangat heran, sebab sesungguhnya Tong Lin tidak ada alasan untuk membunuh ayahnya sendiri. Li Be-ling menarik tangan Tong Lin dan bertanya dengan suara lembut,"

Mungkin kau terlalu berduka, sehingga pikiranmu menjadi kurang sadar?"

"Pikiranku cukup terang dan sadar,"

Jawab Tong Lin.

"sebenarnya tidak ingin kukatakan kejadian ini, akan tetapi keadaan sudah mendesak, jika tidak kubeberkan, tentu fitnah terhadap Toaci sukar lagi dicuci bersih."

Tong Ki memandang adiknya itu dengan bingung, entah kaget entah terima kasih.

"Malam itu,"

Demikian Tong Lin mulai berkisah,"

Toaci dan Toaso sudah sama tidur. Tibatiba teringat sesuatu urusan dan harus kubicarakan dengan ayah. Maka aku lantas mencari beliau untuk berunding, meski sudah larut malam."

"Kau teringat kepada urusan apa?"

Tanya Yang Cu-kang.

"Urusan rumah tangga kami apakah kaupun ingin ikut campur?"

Jengek Tong Lin. Yang Cu-kang menyengir dan tidak bicara lagi.

"Siapa tahu, belum lagi ku masuk ke kamar ayah, segera kudengar ada suara orang bicara di situ,"

Demikian Tong Lin melanjutkan ceritanya.

"Tentu saja aku sangat heran, sudah larut malam begini mengapa di kamar ayah masih ada tamu? Padahal sehari-hari ayah hidup teratur, jarang tidur jauh malam, bahkan bila kedatangan tamu tentu kamipun diberitahu, kecuali tamunya tidak melalui pintu gerbang , melainkan masuk secara sembunyi-sembunyi."

"Hm, penjagaan Tong-keh-ceng sedemikian keras dan ketat, sekalipun ada orang hendak menyelundup ke sini secara sembunyi-sembunyi kukira juga bukan pekerjaan mudah,"

Jengek Yang Cu-kang.

"Bukan saja tidak mudah, bahkan tidak mungkin terjadi,"

Tukas Tong Lin.

"Jika demikian, cara bagaimana pula tamu itu masuk ke kamar ayahmu?"

Tanya Yang Cukang.

"Di kamar ayah ada sebuah jalan rahasia yang langsung menembus ke luar perkampungan,"

Tutur Tong Lin.

"mungkin orang itu sudah ada janji dengan ayah, sebab itulah ayah sendiri yang membawanya masuk melalui jalan rahasia di bawah tanah itu."

Bahwa kejadian rahasia inipun diceritakannya, meski belum diketahui bagaimana lanjutannya, tapi sedikit banyak orang sudah mulai percaya kepada penuturannya.

"Sebenarnya aku tidak sengaja hendak mengintip rahasia ayah, tapi aku sudah terlanjur datang ke situ, selagi aku berdiri di situ dengan ragu, mendadak kudengar ayah sedang berkata.

"Kita adalah kenalan lama, tapi persoalan ini cukup penting, betapapun aku harus hati-hati. Kau tahu, senjata rahasia Tong-keh-ceng selamanya tidak pernah dipinjamkan kepada orang luar."

"O, orang itu datang untuk meminjam senjata rahasia kepada Tong-locianpwe,"

Tanya Yang Cu-kang.

"Tatkala mana, akupun merasa orang itu terlalu tidak tahu diri dan ingin memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Kudengar dia bicara banyak dengan ayah dan tampaknya tetap minta ayah meminjamkan senjata rahasia kepadanya."

"Apalagi yang dikatakannya?"

Tanya Yang Cu-kang.

"Dia bilang urusan yang akan dilaksanakannya sangat penting, jika berhasil, ayah juga akan mendapatkan manfaatnya. Dia bilang jika ayah tidak mau tampil sendiri, sedikitnya harus meminjamkan senjata rahasia kepadanya."

Baca Juga: Pendekar Pendekar Negeri Tayli 1

Baca Juga: Anak Naga 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert