Eps 2 Anak Naga - Chin Yung
Baca online Anak Naga - Chin Yung
Cersil Anak Naga - Chin Yung.
"Ha ha ha"
Yap song Kang tertawa gelak-"Hari ini pertandingan penentuan. Engkau kalah, harus mengerahkan Giok Cu padaku Aku kalah, pergi dan selanjutnya tidak akan datang mencarimu lagi"
"Baik-"
Tan Ek seng mengangguk-"Nah Bersiap-siaplah"
Ujar yap song Kang sambil menghunus pedangnya-yap song Kang membentak keras, lalu mulai menyarang Tan Ek seng.
Tan Ek seng cepat-cepat berkelit, sekaligus menangkis serangan itu dengan Hui Liong Kiam Hoat.
"He he he"
Yap song Kang tertawa terkekeh-"Masih menggunakan Hui Liong Kiam Hoat? Tidak ada ilmu pedang lain?"
Tan Ek Seng diam saja-sementara Lim soat Hong menyaksikan pertarungan itu dengan kaning berkerut-kerut, wajahnya tampak cemas sekali-sebab, apabila suaminya kalah, tentunya ia akan kehilangan Giok Cu putrinya-Pertarungan itu semakin seru, yap song Kang terusmenerus melakukan serangan cepat, sehingga membuat Tan Ek seng terdesak hebat-Di saat itulah mendadak Tan Ek Seng bersiul panjang sambil balas menyarang Yap Song Kang dengan jurus Hong soh yap Lok (Angin Berhembus Daun-Daun pun Rontok) "Hah?"
Bukan main terkejutnya Yap Song Kang ketika melihat perubahan ilmu pedang Tan Ek Seng, ketika pedang itu mengeluarkan suara mandaru-deru-Yap Song Kang bergerak cepat meloncat ke samping, untuk mengelakkannya.
Namun dengan tak kalah cepat.
Tan Ek seng juga memburunya dengan jurus Kiam In Ap San (Bayangan Pedang Menakan gunung).
Pedang di tangan Tan Ek seng berkelebat-kelebat secepat kilat, membuat yap song Kang terkejut bukan main.
Mati-matian yap song Kang berkelit, namun Tan Ek seng terus melanjutkan serangan dengan jurus yun Tiong cay Hong (Pelangi Dalam Awan).
Trang Terdengar suara benturan pedang yang amat nyaring.
Tampak sebuah pedang terpental ke udara, yang ternyata milik yap song Kang.
"Ha a a h--"
Yap song Kang berdiri dengan tubuh menggigil gemetaran. Ternyata pedang Tan Ek seng telah menempel di lehernya.
"Ayah menang Ayah menang Ayah menang..."
Seru Tan Giok Cu kegirangan.
"Maaf"
Ucap Tan Ek Seng sambil menurunkan pedangnya.
"Terima kasih atas kemurahan hatimu mau mengalah padaku. Terimakasih -"
Mulut yap song Kang ternganga lebar dengan mata terbelalaki sepertinya tidak percaya akan apa yang dialaminya.
"Ilmu pedang itu,"
Gumam Yap Song Kang tergeragap.
"Itu bukan ilmu pedang Hui Liong Kiam Hoat,"
Ujarnya. Tan Ek Seng memberitahukan.
"Engkau bukan dikalahkan oleh ilmu pedangku."
"Aaah -"
Yap song Kang menghela nafas panjang.
"Belasan tahun aku menuntut ilmu pedang, tidak disangka, tapi... kanapa tiga hari yang lalu engkau tidak mengeluarkan ilmu pedang ini mengalahkan aku?"
Tan Ek Seng tersenyum.
"Terus terang, tiga hari yang lalu aku belum belajar ilmu pedang itu."
"Hah?"
Yap Song Kang tertegun.
"siapa yang mengajarkanmu ilmu pedang itu?"
"Anak kecil itu"
Tan Ek seng menunjuk Thio Han Liong.
"Apa?"
Terperangah Yap song Kang, menatap Thio Han Liong dengan mata terbeliak.
"Bocah Engkau... engkau yang mengajar Ek Seng ilmu pedang itu?"
Thio Han Liong mengangguk sambil tersenyum.
"Karena paman ingin membawa Giok Cu pergi, terpaksa aku mengajar paman Tan ilmu pedang itu."
"Engkau?"
Kelihatannya Yap Song Kang tidak percaya.
"Engkau masih begitu kecil, bagaimana mungkin-..."
"Kakak tampan tidak bohong, memang dia yang mengajar ayahku ilmu pedang itu,"
Timpal Tan Giok cu mendadak-"Penasaran Aku sungguh penasaran sekali"
Gerundal Yap song Kang.
"Aku ingin menantangmu, tapi... engkau masih kecil."
"Paman"
Thio Han Liong tersenyum.
"Aku memang masih kecil, memang tidak pantas bertanding dengan Paman. Tetapi. aku punya cara mengalahkan paman."
Kaning yap song Kang langsung berkerut.
"Bagaimana caranya engkau mengalahkan aku?"
"Aku akan memperlihatkan beberapa jurus ilmu pedang, paman harus perhatikan baik-baik, lalu berpikir memecahkan ilmu pedang itu"
"Baik. baik"
Yap Song Kang tertawa.
"Cepatlah, perlihatkan ilmu pedang itu"
Thio Han Liong mengangguk, Tan Ek Seng segera menyarahkan pedangnya, setelah menerima pedang itu, mulailah Thio Han Liong memperlihatkan beberapa jurus ilmu pedang, itulah jurus-jurus ilmu pedang yang dimainkan Thio Bu Ki ayahnya.
"sanggupkah paman memecahkan ilmu pedang itu?"
Tanya Thio Han Liong seusai memperlihatkan jurus-jurus ilmu pedang itu.
"Hah?"
Kaning yap song Kang berkerut-kerut.
Tan Ek seng dan Lim soat Hong saling memandang.
Kelihatannya mereka pun tidak sanggup memecahkan ilmu pedang itu.
Lain halnya dengan Tan Giok Cu, gadis kecil itu terus bersorak-sorak dalam hati kegirangan.
"Kakak tampan menang, paman yang jahat itu tidak sanggup memecahkan ilmu pedangmu. Kakak tampan menang"
"Aaaah -"
YaP song Kang menghela nafas panjang.
"Aku... aku tidak sanggup, percuma aku menuntut ilmu pedang belasan tahun, akhirnya malah terjungkal di tangan seorang anak kecil."
Gerutunya tampak kesal.
"Aku pun tidak mampu memecahkan ilmu pedang itu"
Ujar Tan Ek seng memandang Yap song Kang.
"Ya ai"
Yap song Kang menggeleng-gelengkan kepala.
"Sudahlah Kita berdua memang seperti katak dalam sumur, Saudara Tan, aku... aku minta maaf padamu. Kini aku telah sadar, cinta tidak bisa dipaksa."
"Terima kasih, saudara Yap"
Ucap Tan Ek seng sambil memberi hormat.
"Kakak Yap. -"
Lim soat Hong mandakatinya. Wanita itupun memberi hormat seraya berkata.
"Terima kasih atas kemurahan hatimu. Terima kasih -"
"Paman"
Tan Giok Cu segera mandakatinya.
"Aku pun minta maaf, karena tadi telah mengatakan Paman jahat"
"Ha ha ha"
Yap song Kang tertawa gelak-"Sesungguhnya paman tidak jahat, aku justru merasa sayang padamu-"
Tan Giok Cu tersenyum.
"Terima kasih, Paman"
"Kakak Yap,"
Ujar Lim soat Hong.
"Mari, ke dalam rumah, sudah belasan tahun kita tidak berkumpul."
"Terimakasih."
Ucap yap song Kang sambil menggelengkan kepala "Aku tidak mau mengganggu kalian, oh ya, sebetulnya siapa bocah itu?"
"Kami... kami pun belum begitu jelas mengenai dirinya,"
Sahut Tan Ek Seng sambil menggelengkan kepala
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Sudah tiga tahun dia bekerja di-sini, tapi tetap merahasiakan identitasnya"
"oh?"
Yap song Kang menatap Thio Han Liong.
"siauwhiap (Pandakar Kecil), aku kagum sekali pada mu. Bolehkah aku tahu namamu?"
"Namaku Thio Liong"
"Thio Liong...?"
Gumam yap song Kang dengan kaning berkernyit.
"siapa ke dua orangtuamu?"
"Maaf, Paman"
Sahut Thio Han Liong.
"Aku tidak bisa memberitahukan, karena punya kesulitan."
"Baiklah"
Yap song Kang manggut-manggut.
"oh ya, engkau pernah bilang, seorang pandakar harus gagah, adil, dan bijaksana."
Thio Han Liong tersenyum.
"Aku tahu maksud Paman."
"Apa maksudku, coba beritahukan"
"Karena aku mengajar Paman Tan tiga jurus ilmu pedang, maka Paman menghendaki begitu Ya, kan?"
"Bukan main"
Yap song Kang menatapnya dalam-dalam.
"Engkau sungguh cerdas sekali."
"Paman, aku akan mengajar Paman beberapa jurus ilmu pedang yang kuperlihatkan tadi-"
"oh?"
Wajah yap song Kang berseri-seri.
"Terima kasih"
Thio Hen Liong mulai mengajar yap song Kang beberapa jurus ilmu pedang itu, sekaligus menjelaskan, yap song Kang manggut-manggut, lalu mulai berlatih.
"He he he"
Yap song Kang tertawa gembira.
"Tak disangka aku akan memperoleh beberapa jurus ilmu pedang yang begitu hebat. He he he..."
"Paman"
Pesan Thio Hen Liong.
"Kelau tidak dalam keadaan behaya, janganlah mengeluarkan ilmu pedang ini. sebab, setiap jurus pasti mematikan pihak lawan"
"ya"
Yap song Kang mengangguk-"Terima kasih Thio siauwhiap-Terima kasih"
"seudara yap"
Ujar Tan Ek seng.
"Mari ke dalam, minum teh dulu."
"Terima kasih."
Yap song Kang memandang mereka, kemudian manggut-manggut seraya berkata.
"Kalian berdua memang suami isteri yang behagia, aku turut gembira. sampai jumpa"
Mendadak yap song Kang melesat pergi. Tan Ek seng dan Lim soet Hong menggeleng-gelengkan kepala.
"Paman"
Seru Tan Giok Cu, namun yap song Kang sudah tidak kelihatan. Gedis itu lalu mandakati Thio Hun Liong.
"Kakak tampan, terima kasih"
Thio Han Liong tersenyum.
"Kakak tampan, aku... aku..."
Ujar Tan Giok Cu terputusputus sambil menatapnya.
"Adik manis, mau apa?"
Tanya Thio Han Liong heran.
"Giok Cu"
Lim Soat Hong tersenyum.
"Engkau ingin belajar silat pada Thio Liong?"
Tan Giok Cu mengangguk-"Thio Liong"
Lim Soat Hong menatapnya lembut kepada anak itu.
"Bersediakah engkau mengajar Giok Cu ilmu silat?"
"Ya, Bibi"
Thio Han Liong mengangguk-"Terima kasih. Kakak tampan,"
Ucap Tan Giok Cu.
"Ayo, ajarkan aku sekarang"
"Adik manis, engkau ini kan seorang gadis yang harus lemah lembut-Aku akan mengajar engkau ilmu silat yang lemas gerakannya-Itu sangat berguna bagimu-"
Tan Giok Cu tampak gembira sekali-"Ilmu silat apa itu?"
Tanyanya-"Lihatlah baik-baik,"
Thio Han Liong tampak mulai memperlihatkan Thay Kek Kun (Ilmu Pukulan Taichi), ajaran ayahnya.
Tan Ek seng, Lim soat Hong, dan Tan Giok Cu memperhatikan dengan terkagum-kagum, setelah Thio Han Liong berhenti-Tan Giok Cu bertepuk-tepuk tangan sambil bersorak-"Kakak tampan Engkau mahir sekali menari."
"Itu ilmu silat tingkat tinggi, bukan tarian"
Ujar Tan Ek seng sungguh-sungguh-"Maka engkau harus belajar dengan giat, jangan mengecewakan Kakak tampan itu"
"ya. Ayah"
Tan Giok Cu mengangguk, kemudian bertanya pada Thio Han Liong.
"Kakak tampan, ilmu silat apa itu? Kok begitu lemas?"
"They Kek Kun"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Apa?"
Bukan main terkejutnya Tan Ek seng dan Lim soat Hong.
"Benarkah itu Thay Kek Kun ciptaan guru besar Thio sam Hong?"
"Ya"
Thio Han Liong mengangguk-"Engkau--"
Tan Ek Seng terbelalak-"Engkau punya hubungan dengan partai Bu Tong?"
Thio Han Liong mengangguk perlahan. Tan Ek seng dan Lim soat Hong saling memandang.
"Engkau"
Lim soat Hong berkata.
"Kalian berdua main di sini saja Kami mau ke dalam."
Mereka berdua masuk ke rumahi bahkan langsung ke kamar.
"Isteriku -."
Wajah Tan Ek seng tampak serius sekali.
"Mulai sekarang kita harus baik-baik memperlakukan Thio Liong itu, sebab dia punya asal-usul yang agak luar biasa."
"Aku justru masih bingung"
Ujar Lim soat Hong.
"sebetulnya dia anak siapa?"
"Aku yakin -."
Tan Ek seng tersenyum.
"Tidak lama lagi dia akan berterus terang pada kita."
"Ngmm"
Lim soat Hong manggut-manggut.
"Kelihatannya Giok Cu sangat baik padanya, mudahmudahan mereka berdua akan saling mencinta kelak-"
"ya"
Tan Ek seng mengangguk "Mudah-mudahan."
Bab 7 Rimba Persilatan Mulai Dilanda Badai Dalam tiga tahun ini sudah banyak perubahan di daratan Tionggoan.
sejak Cu Goan ciang jadi kaisar, rakyat bisa hidup makmur, sebab Cu Goan Ciang sangat memperhatikan nasib rakyat jelata, membuat pengairan dan lain sebagainya.
oleh karena itu, rakyat jelata amat mencintai sang kaisar, sejarah pun mencatat bahwa Cu cioan ciang merupakan kaisar yang baik, adil dan bijaksana.
sebaliknya, dalam rimba persilatan justru mulai timbul suatu badai.
Dalam tiga tahun ini, sudah banyak Hweeshio-hweeshio siauw Lim Pay jadi korban keganasan ilmu pukulan cing Hwee ciang.
siapa pembunuh itu?
Tiada seorang pun yang tahu oleh karena itu, ketua siauw Lim Pay, Kong Bun Hong Tin mengutus belasan Hweeshio tingkatan Goan, pergi menyalidikinya.
Akan tetapi, belasan Hweeshio itupun jadi korban.
Bayangkan, betapa gusarnya Kong Bun Hong Tio-Akhirnya ketua siauw Lim Pay mengutus Kong Ti seng Ceng adik seperguruannya pergi menyalidiki pembunuhan itu.
Berhubung tiada seorang pun kaum rimba persilatan yang tahu siapa pembunuh itu, maka diberi julukan si Pembunuh Misterius.
Belum lama ini, dalam rimba persilatan muncul empat jago yang berkepandaian tinggi sekali.
Mereka adalah Tong Koay (siluman Dari Timur) oey suBin, si Mo (iblis Dari Barat) Buyung Hok, Lam Khie (orang Aneh Dari selatan) Toan Thian Hie dan Pak Hong (si Gila Dari utara) Lim Bun Kim.
Kemunculan ke empat jago itu sangat menggemparkan rimba persilatan.
Tiada seorang pun mengetahui asal-usul mereka, bahkan Tong Koay Oey su Bin telah mengalahkan ketua Kun Lun pay dan ketua Hwa san Pay-Ini merupakan kejadian yang sangat mengejutkan rimba persilatan.
Hari ini,jie Lian ciu dan saudara-saudara seperguruannya berkumpul di ruang meditasi.
Mereka menyampaikan sesuatu yang amat penting pada Thio sam Hong guru besar itu.
"Jadi belum ada yang tahu siapa pembunuh misterius itu?"
Tanya Thio sam Hong sambil mengerutkan kaning.
"Memang belum ada yang tahu,"
Jawab jie Lian cui, ketua Bu Tong Pay.
"sudah banyak Hweeshio-hweeshio siauw Lim Pay tingkatan Goan yang jadi korban. Dan kini Kong Ti seng Ceng telah meninggalkan siauw Lim Sie untuk menyalidiki pembunuh misterius itu."
"oh?"
Thio sam Hong tampak terkejut.
"Urusan ini sudah gawat sekali. Kalau tidak, bagaimana mungkin Kong Ti seng Ceng sendiri pergi menyalidiki pembunuh misterius itu?"
"Kelihatannya memang sudah gawat sekali,"
Timpal Jie Lian ciu.
"Bahkan belum lama ini, dalam rimba persilatan telah muncul empat jago yang berkepandaian tinggi sekali."
"siapa mereka itu?"
Tanya Thio sam Hong.
"Tiada seorang pun kaum rimba persilatan yang tahu asalusul mereka."
Jawab jie Lian Ciu memberitahukan.
Mereka berempat adalah Tong Koay-Oey su Bin, si Mo-Buyung Hok, Lam Khie-Toan Thian Ngie, dan pak Hong-Lim Bun Kim.
Ke empatnya telah bertanding di puncak gunung Hwa san.
Konon mereka sama kuatnya.
Namun....
Tong Koay Oey Su-Bin dapat mengalahkan ketua Kun Lun Pay dan ketua Hwa san Pay.
"oh?"
Thio sam Hong tampak tertegun, kemudian menggeleng-gelengkan kepala.
"Ketika guru masih kecil, guru pernah dengar ada empat jago yang berkepandaian luar biasa. Mereka berempat adalah Tong sia (si sesat Dari Timur) oey yok su, si Tok (si Racun Dari Barat) ouw yang Hong, Lam Ti (Raja Dari selatan) Toan Hong ya dan Pak Kay (si Pengemis sakti Dari utara) Ang cit Kong. Kepandaian mereka seimbang dan pernah bertanding di puncak gunung Hwa San. Kini justru muncul empat jago, kelihatannya mereka berempat ingin menyamai keempat jago masa lalu itu."
"Tong Koay She Oey, mungkinkah dia punya hubungan dengan Tong si -oey yok su?"
Tanya Jie Thay Giam.
"Tidak mungkin,"
Sahut Thio sam Hong.
"sebab Tong sip-Oey yok su cuma punya seorang anak perempuan bernama oey yong yang menikah dengan Kwee Ceng, maka guru yakin Tong Koay-oey su Bin tidak punya hubungan dengan oey yok su."
"yang paling jahat dan kejam adalah si Mo-Buyung Hok, dia sering membunuh para pesilat golongan putih"
Ujar jie Lian ciu.
"oh?"
Thio sam Hong terkejut, kemudian menghela nafas panjang.
"Aaah Kelihatannya darah akan membanjiri rimba persilatan. Kini telah berdiri tujuh partai besar dalam rimba persilatan. Tentunya partai Kun Lun dan Hwa San tidak akan tinggal diam."
"Guru,"
Tanya jie Lian ciu mendadak-"Kita harus bagaimana apabila pihak Kun Lun pay dan Hwa San Pay ke mari minta bantuan?"
"Lian cu", Thio sam Hong menatapnya tajam.
"Guru sudah berada di ruang meditasi ini, aku tidak mau memusingkan urusan apa pun. Engkau adalah ketua Bu Tong Pay, berundinglah dengan saudara-saudara seperguruanmu"
"ya, Guru."Jie Lian ciu mengangguk-"Aeeahi.."
Mendadak Thio sam Hong menghela nafas panjang.
"sudah sepuluh tahun lebih tiada kabar beritanya mengenai Thio Bu Ki, dia entah berada di mana dan bagaimana keadaannya, Guru sudah tua sekali, ingin melihatnya sebelum ajal datang menjemput guru."
Wajah Jie Lian ciu berubah murung.
"Kami pun rindu sekali padanya"
"Guru"
In Lie Heng memberitahukan.
"ciu Ci Jiak pun tiada kabar beritanya, murid pernah ke Go Bi San menemui Ceng Hi suthay. Ketua Go Bi Pay itu tidak tahu mengenai Ciu Ci Jiak."
"Aaah -"
Thio sam Hong menghela nafas panjang lagi.
"Sebetulnya Bu Ki berada di mana?"
"Guru"
Ujar Jie Lian ciu.
"Kami akan berusaha mencarinya-Guru tenang saja."
"Guru berharap sebelum ajal bisa bertemu Bu Ki, guru rindu sekali padanya...."
Thio sam Hong menggeleng-gelengkan kepala dan bergumam.
"Apakah dia sudah menikah dengan Tio Beng dan sudah punya anak pula?"
"Besok murid akan pergi cari Bu Ki."
Ujar Jie Lian ciu.
"Lebih baik aku saja yang pergi cari Bu Ki."
Sela song wan Kiauw.
"Bagaimana menurut guru?"
"Baik"
Thio sam Hong manggut-manggut dan berpesan.
"Namun engkau harus berhati-hati, jangan terulang lagi kejadian masa lampau itu"
"ya, Guru"
Song Wan Kiauw mengangguk-Keesokan harinya, berangkatlah song wan Kiauw pergi mencari Thio Bu Ki, ia mengambil arah utara.
Bagaimana keadaan Thio Bu Ki dan Tio Beng yang tinggal diculau Hong Hoang to?
Ternyata muka mereka agak rusak seperti bekas terbakar.
Bahkan Iwekang Thio Bu Kipun lenyap sebagian besar, lantaran terluka parah, tergempur oleh Iweakang gabungan dari sembilan Dhalai Lhama.
"Aaaah -"
Thio Bu Ki menghela nafas panjang.
"Aku tidak sangka nasib kita akanjadi begini."
"Bu Ki Koko"
Tio Beng memandang bulan purnama yang bergantung di langit.
"sudah tiga tahun...."
"Beng Moay"
Thio Bu Ki menatapnya.
"Wajahmu...."
"Bu Ki Koko"
Ujar Tio Beng dengan air mata meleleh-"Aku tidak memikirkan wajahku, melainkan memikirkan Han Liong anak kita itu-"
"Aaathh"
Thio Bu Ki menghela nafas lagi
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Sudah tiga tahun, entah bagaimana keadaannya?"
"Mungkinkah dia masih hidup?"
Gumam Tio Beng sambil menundukkan kepala, air matanya berderai-derai.
"Han Liong...."
"Beng Moay."
Ujar Thio Bu Ki sungguh-sungguh-"Lebih baik engkau ke Tionggoan mencarinya. Aku seorang diri di pulau ini tidak apa-apa-"
Tio Beng terisak-isak "Bagaimana mungkin aku me-ninggalkanmu seorang diri di pulauini? Kepandaianmu telah musnah sebagian besar."
"Beng Moay...-"
Thio Bu Ki membelainya.
"Engkau tidak usah memikirkan diriku, lebih baik engkau ke Tionggoan mencari Han Liong. Dia -dia anak kita satusatunya."
"Tapi -."
Tio Beng menggeleng-gelengkan kepala gelisah-"Kalau mau ke Tionggoan, mari kita pergi bersama"
"Tidak bisa"
Thio Bu Ki menghela nafas panjang.
"sebab kepandaianku -"
Tio Beng terisak-isak.
"Beng Moay, sebetulnya aku rindu sekali pada Thay suhu dan paman-paman yang di gunung Bu Tong. namun keadaanku...."
Thio Bu Ki menggeleng-gelengkan kepala.
"Semua ini adalah perbuatan cu Goan ciang keparat itu,"
Ujar Tio Beng dengan mata berapi-api.
"Aku harus membunuhnya kelak"
Thio Bu Ki menggeleng-gelengkan kepala.
"Beng Moay... engkau tidak mau ke Tionggoan mencari Han Liong?"
Tio Beng menatapnya dengan air mata berlinang-linang.
"Sebetulnya aku memang ingin ke Tionggoan mencari Han Liong, tapi berat rasanya meninggalkan engkau seorang diri di sini."
"Beng Moay."
Thio Bu Ki tersenyum.
"Engkau boleh pergi ke Tionggoan mencari Han Liong, jangan memikirkan aku"
"Tidak"
Tio Beng menggelengkan kepala.
"Aku tunggu sampai keadaanmu pulih baru kita pergi bersama."
"Tapi -"
Thio Bu Ki menghela nafas panjang.
"Masih lama sekali."
"Tidak apa-apa,"
Thio Beng tersenyum menghiburnya.
"Lagipula aku yakin tidak akan terjadi suatu apa pun atas diri anak kita, tidak mungkin cu Goan ciang akan membunuhnya-"
"Kupikir memang begitu. Maka aku tidak terlalu mencemaskannya,"
Ujar Thio Bu Ki.
"Tapi...."
"kanapa?"
"yang kucemaskan adalah para Dhalai Lhama itu akan membawanya ke Tibet, sebab mereka menghendaki kitabkitab Kiu fm dan Kiu Yang cin kang."
"Bu Ki Koko,"
Ujar Thio Beng dengan kaning berkerut.
"Aku justru masih bingung, kalau para Dhalai Lhama itu menghendaki kitab-kitab tersebut, kanapa mereka tidak datang ke mari lagi?"
"Maksudmu Han Liong ditukar dengan kitab-kitab itu?"
"ya"
"Benar"
Thio Bu Ki manggut-manggut.
"Memang mengherankan, tujuan mereka menangkap Han Liong cuma dijadikan sandera, itu pasti bukan perintah dari Cu Goan ciang. Tapi, kanapa para Dhalai Lhama itu tidak mengutus orang ke mari?"
"Mungkinkah...."
Suara Thio Beng agak bergemetar.
"Han Liong telah dibunuh mereka?"
"Itu tidak mungkin"
Thio Bu Ki menggelengkan kepala.
"Aku pikir kemungkinan besar telah terjadi sesuatu di tengah jalan."
"Maksudmu Han Liong ditolong orang?"
"Kira-kira begitulah"
"Kalau Han Liong ditolong orang, kanapa dia tidak pulang?"
"Beng Moay...."
Thio Bu Ki tersenyum.
"Tentunya dia tidak tahu jalan pulang, lagipula dia pasti merahasiakan identitas dirinya."
"Ngmmm"
Thio Beng manggut-manggut.
"oh ya. Bu Ki Koko, kira-kira kapan keadaanmu bisa pulih seperti sedia kala?"
"Mungkin masih membutuhkan waktu beberapa tahun,"
Thio Bu Ki menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau aku tidak memiliki Kiu yang Sin Kang, aku pasti sudah mati."
"Bu Ki Koko"
Tanya Thio Beng mendadak.
"Apakah tiada cara menghancurkan formasi para Dhalai Lhama itu?"
"Menghancurkan formasi itu memang bisa, namun tidak gampang menghadapi tenaga dalam gabungan mereka, itu merupakan ilmu yang sangat istimewa, Harus ditanyakan pada Thay Suhu Thio Sam Hong, mungkin Thay Suhu sudah mampu memecahkannya."
Thio Beng menghela nafas panjang.
"Hingga saat ini, aku belum bisa melupakan kematian ciu Ci Jiak, Aku... aku harus menuntut balas pada para Dhalai Lhama itu"
"Beng Moay...."
Thio Bu Ki tersenyum getir.
"Menuntut balas pakai apa? Kepandaianmu...."
"Engkau tidak mau balas dendam?"
"Kita berdua tidak mampu melawan mereka,"
Thio Bu Ki menggeleng-gelengkan kepala.
"Setelah aku pulih kelak kita pergi menemui Thay Suhu untuk mohon petunjuk. Barulah kita cari para Dhalai Lhama itu."
"ya"
Thio Beng mengangguk.
Sementara itu, Kong Ti Seng Ceng masih terus melakukan perjalanan untuk menyalidiki pembunuh misterius "Paderi sakti itu telah menjelajahi beberapa daerah dan berbagai kota.
namun tetap tidak menemukan jejak pembunuh misterius tersebut.
Selama perjalanan ini, Kong Ti seng Ceng juga mandengar tentang kemunculan keempat jago dari timur, barat, selatan, dan utara itu-yang mengejutkannya ialah si Mo (iblis Dari Barat), sebab si Mo masih terus membantai kaum golongan putih.
oleh karena itu, secara tidak langsung kaum golongan hitam mengangkatnya sebagai Hek To Beng Cu (Ketua golongan Hitam), sedangkan golongan sesat mengangkat Tong Keay (siluman Dari Timur) sebagai ketua golongan sesat.
Lam Khie (orang Aneh Dari selatan) dan Pak Hong (si Gila Dari utara) tetap bergerak seorang diri.
"omitohud"
Ucap Kong Ti seng Ceng dalam hati.
"Sungguh di luar dugaan, rimba persilatan kini jadi kacau balau, bahkan dilanda banjir darah pula"
Kong Ti seng Ceng terus melanjutkan perjalanan.
Ketika memasuki sebuah lembah, mendadak terdengar suara tawa yang sangat memekakkan telinga membuat tersentak kang Ti Seng Ceng.
Berdasarkan suara tawanya yang sangat dahsyat dapat diketahui betapa tingginya Lweakang pemilik suara itu.
"Ha ha ha Ha ha ha...."
Tak lama muncullah seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh lima tahun berwajah tampan dan gagah-"Selamat bertemu Kong Ti seng Ceng, terimalah hormatku"
"omitohud"
Sahut Kong Ti seng Ceng sambil menatapnya tajam.
"Bolehkah aku tahu siapa engkau, orang gagah?"
Lelaki itu tertawa.
"Aku bukan orang gagah, melainkan adalah orang yang berhati kejam."
"omitohud"
Ucap Kong Ti Seng Ceng.
"Tahun harus berubah, lautan kesengsaraan tiada batas, cepatlah engkau bertobat"
"Aku akan bertobat setelah membunuh musuh-musuhku"
Sahut lelaki itu sambil tersenyum.
"siapa musuh-musuhmu itu?"
Tanya Kong Ti seng Ceng.
"Banyak sekali"
Jawab lelaki itu.
"Termasuk, siauw Lim Pay"
"omitohud"
Ucap Kong Ti seng ceng.
"Jadi, engkaukah pembunuh misterius itu?"
"Betul"
Lelaki itu mengangguk-"Aku yang akan membunuh para Hweeshio siauw Lim Pay tingkatan Goan."
"omitohud"
Kong Ti seng Ceng terbelalak kaget.
"kanapa engkau membunuh mereka?"
"Ha ha ha"
Lelaki itu tertawa gelak-"Tentunya aku punya dendam dengan siauw Lim Pay, bahkan aku pun ingin membunuh Tiga Tetua siauw Lim Pay pula, yaitu Touw Lan, touw ki dan touw Ciat berikut Kim Mo say ong-cia sun"
"omitohud"
Kong Ti seng Ceng semakin terkejut.
"kanapa engkau ingin membunuh Tiga Tetua kami?"
"Ha ha ha"
Lelaki itu tertawa lagi.
"Karena mereka bertiga telah melindungi cia sun, maka aku harus membunuh mereka. Namun sekarang...."
"Engkau ingin bunuh aku?"
Tanya Kong Ti seng ceng dengan kaning berkerut.
"ya"
Lelaki itu mengangguk pasti.
"omitohud Bolehkah aku tahu siapa engkau dan kanapa engkau mandandam pada siauw Lim Pay?"
"Padri tua Engkau tidak perlu tahu, bersiap-siaplah menerima pukulanku Kalau engkau mampu bertahan sampai sepuluh jurus, aku akan melepaskan engkau kembali ke siauw Lim sie."
"omitohud"
Kang Ti seng Ceng tersenyum.
"Baiklah, Tapi, kalau aku mampu bertahan sampai sepuluh jurus, engkau harus memberitahukan pada ku tentang dirimu."
"Baik."
Lelaki itu mengangguk, lalu menarik nafas dalamdalam sekaligus mengerahkan Lweakangnya.
kang Ti seng Ceng juga mulai mengerahkan Iweakangnya.
Namun mandadak padri tua itu tersentak, ternyata ia melihat sepasang telapak tangan lelaki itu mengeluarkan cehaya agak kehijau-hijauan.
Karena itu, sang padri tua pun segera menghimpun Kim kang sin kang (Tenaga sakti Arhat) untuk melindungi diri "kong Ti seng Ceng,"
Seru lelaki itu sambil menyerang, jurus pertama sepasang telapak tangan lelaki itu berkelebat-kelebat mengerah pada kong Ti seng Ceng.
Tapi padri tua itu tidak berkelit, malah menangkis dengan Kim kang Hok Mo cieng (Ilmu pukulan Arhat Penakluk iblis).
Ini adalah ilmu pukulan andalan siauw Lim Pay.
Dapat dibayangkan, betapa hebatnya ilmu pukulan tersebut, sebab ilmu pukulan itu adalah ilmu pukulan keras, sedangkan lelaki itu menggunakan cing Hwee Cieng yang bersifat lemas dan mengandung api.
suara benturan seketika terdengar dari beradunya ke dua pukulan itu.
kong Ti seng Ceng dan lelaki ilu sama-sama terdorong beberapa langkah-"He he he kong Ti seng Ceng, ilmu pukulanmu hebat juga"
Kong Ti seng Ceng diam saja-Wajahnya tampak pucat pias-Ternyata ketika ke dua pukulan itu beradu, Kong Ti seng ceng merasa ada tenaga yang amat dahsyat menghantam dadanya, sehingga membuat dadanya jadi panas seperti terbakar.
"omitohud"
Ucap Kong Tiseng ceng kemudian.
"Ilmu pukulan ceng Hwee Ciang sungguh dahsyat dan hebat. Pantas para muridku tak sanggup melawanmu."
"Ha ha ha"
Lelaki itu tertawa terbahak-bahak.
"Coba sambut seranganku lagi"
Ketika lelaki itu kembali menyerang, Kong Ti seng ceng cepat mengibaskan lengan jubahnya untuk menangkis.
Blaar...
Terdengar suara seperti ledakan menggelegar keras.
Kong Ti seng Ceng terlontar deras lima enam langkah, sedangkan lelaki itu cuma terdorong dua langkah-Yang mengejutkan adalah lengan jubah Kong Ti seng Ceng, hangus terbakar.
"Ha ha ha"
Lelaki itu terus tertawa, kemudian menyarang lagi. Kong Ti seng Ceng terus menangkis, pada jurus ke tujuh kelihatannya padri tua itu mulai tak sanggup menerima pukulan yang dilancarkan lawannya.
"Kong Ti seng Ceng"
Seru lelaki itu sambil menyerang.
"Ini adalah jurus ke delapan"
Kong Ti seng Ceng menangkis dengan salah satu jurus ilmucukulan Kim Kong Hok Mo Ciang, jurus yang paling ampuh-Glaar...
Kong Ti seng Ceng kembali terdorong ke belakang, bahkan hampir sepuluh langkah.
Kemudian terduduk bersila, sementara lawannya hanya terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkahsetelah itu dia pun tertawa terbahak-bahak "kang Tiseng Ceng, aku tidak perlu menyerang lagi, sebab engkau sudah terluka dalam, sampai jumpa Ha ha ha...."
Lelaki itu melesat pergi, sementara kang Ti seng ceng masih tetap duduk bersila-Ternyata padri tua itu menghimpun hawa murninya, agar dadanya tidak terlampau sakit.
"uaaakh -"
Mendadak kang Ti seng Ceng muntah darah segar. Namun yang sungguh mengejutkan, darah itu agak kehijau-hijauan.
"omitohud"
Usai mengucap itu, kong Ti seng Ceng terkulai pingsan, sesaat kemudian muncul seseorang setengah tua yang tidak lain song wan Kiauw yang sedang mencari Thio Bu Ki.
Betapa terkejutnya dia ketika melihat seorang Hweeshio tua terkapar di situ.
seaereleh ia mandakatinya.
"kong Ti seng ceng..."
Song Wan Kiauw bertambah terkejut melihat Hwee-shio tua itu ternyata kang Ti seng Ceng dari siauw Lim Pay.
la cepatcepat menyadarkannya dengan cara menyalurkan Lweakangnya ke dalam tubuh kang Ti seng ceng.
Tak seberapa lama kemudian, sadarlah kang Tiseng Ceng dari pingsannya dan sekaligus duduk bersila.
"omitohud"
Ucap kang Ti seng Ceng.
"Terima kasih."
"siapa yang melukai seng Ceng?"
"Aaah-"
Kang Ti seng Ceng memperlihatkan dadanya, yang terdapat bekas agak kehijau-hijauan.
"Hah?"
Bukan main terkejutnya song Wan Kiauw.
"Cing Hwee Ciang...."
"omitohud"
Kong Ti seng Ceng manggut-manggut.
"Aku telah bertarung dengan pembunuh misterius itu, namun pada jurus ke delapan aku sudah terluka."
"oh?"
Song wan Kiauw terbelalak.
"Begitu hebat ilmu pukulan ceng Hwee Ciang itu?"
"ya"
Kong Ti seng Ceng mengangguk-"Kalau dia menyerang lagi, aku pasti binasa."
"Kong Ti seng Ceng."
Song wan Kiauw agak heran.
"keenapa pembunuh misterius itu tidak menyerang lagi?"
"omitohud"
Kong Ti seng ceng menggelengkan kepala.
"Aku justru tidak habis pikir tentang itu, mungkin dia menghendakiku menyampaikan kejadian ini pada ke tiga paman guruku."
"Maksud seng Ceng, ke tiga Tetua siauw Lim Pay?"
"Betul."
Kong Ti seng Ceng mengangguk sambil menghela nafas panjang.
"Pembunuh itu memberitahukan padaku, bahwa dia akan ke siauw Lim sie membunuh ke tiga paman guruku dan Cia sun."
"Hah?"
Song wan Kiauw terbelalak mandangar penuturan itu.
"omitohud Ini merupakan bencana bagi siauw Lim Pay,"
Ujar Kong Ti seng Ceng dengan wajah murung.
"Seng Ceng tahu siapa pembunuh misterius itu?"
"Dia masih muda, sekitar tiga puluh lima tahun,"
Kong Ti seng Ceng memberitahukan.
"Namun aku sama sekali tidak tahu siapa dia dan kanapa begitu dendam pada siauw Lim Pay."
"Kong Ti seng Ceng,"
Song wan Kiauw menatapnya.
"Bagaimana luka di dada seng Ceng? Perlukah aku mengantar seng ceng culang ke siauw Lim sie?"
"Tidak usah-"
Kong Tiseng ceng tersenyum getir.
"Aku masih kuat untuk pulang ke sana oh, ya kanapa song Tayhiap berada di lembah ini?"
"Kebetulan lewat,"
Ujar Song Wan Kiauw memberitahukan.
"Aku sedang mencari Bu Ki, tapi... tiada hasilnya."
"Thio Bu Ki?"
Kang Ti seng Ceng menggeleng-gelengkan kepala.
"sudah sepuluh tahun lebih tiada kabar beritanya. Apa rencanamu sekarang?"
"Mau pulang ke Bu Tong san."
"Kalau begitu, sampaikan salamku pada gurumu Thio sam Hong"
"ya"
"omitohud Baiklah, kita berpisah di sini, aku harus segera pulang ke Siauw Lim sie-"
"selamat jalan, seng Ceng"
Ucap song wan Kiauw.
"omitohud"
Sahut kong Ti seng Ceng lalu melangkah pergi.
Song Wan Kiauw memandang punggung padri tua itu sambil menghela nafas panjang, sungguh tak disangka padri itu terluka di tangan pembunuh misterius tersebut, setelah menghela nafas panjang, song Wan Kiauw melesat pergi meninggalkan lembah itu, tujuannya kembali ke gunung Bu Tong.
(Bersambung keBagian 4)
Jilid 4 Song Wan Kiauw terus melanjutkan perjalanan menuju ke gunung Bu Tong.
Sudah sekian lama ia mencari Thio Bu Ki, namun tidak juga menemukan jejaknya.
Akhirnya ia mengambil keputusan pulang ke gunung Bu Tong.
Namun di lembah itu la bertemu Kong Ti Seng Ceng dalam, keadaan terluka.
Kini Song Wan Kiauw telah memasuki daerah ouw Lam.
Ketika sedang melewati jalan gunung yang agak sempit, mendadak melayang turun sosok bayangan di hadapannya.
Sosok bayangan itu ternyata seorang tua berusia tujuh puluhan.
"Ha ha ha"
Orang tua itu tertawa gelak.
"Selamat bertemu Song Tayhiap"
"Maaf"
Song Wan Kiauw tercengang karena ia tidak kenal orang tua itu.
"Siapa Cianpwee?"
"Song Tayhiap"
Orang tua itu menatapnya.
"Aku memang tidak pernah berkecimpung dalam rimba persilatan. Namun setelah usiaku berkepala tujuh, aku malah tertarik terhadap rimba persilatan, itu membuat diriku terjun ke dalam rimba persilatan. Engkau adalah murid guru besar Thio Sam Hong yang di dewa-dewakan, oleh karena itu, aku ingin menjajal kepandaianmu."
"Cianpvee...."
"Jangan mengatakan tidak mau bertanding dengan aku, sebab akan mempermalukan Bu Tang Pay potong orang tua itu cepat.
"Engkau harus tahu, aku adalah Tang Koay (Siluman DariTimur) oey su Bin."
"oh?"
Song wan Kiauw tersentak-"Cianpwee"
"Kita bertanding sepuluh jurus saja,"
Ujar Tong Koay-oey Su Bin bernada memaksa. Kita cuma bertanding bukan saling membunuh"
"Baiklah"
Song Wan Kiauw mengangguk-"Kita bertanding dengan tangan kosong atau bersenjata?"
"Ha ha ha"
Tong Koay Oey Su Bin tertawa.
"Cukup dengan tangan kosong saja. Aku dengar Thay Kek Kun ciptaan guru besar Thio sam Hong sangat dahsyat maka aku ingin menjajalnya."
Song Wan Kiauw mengangguk, lalu segera mengerahkan Lweekangnya. Tong Koay Oey Su Bin pun tak ingin kalah, segera melakukan hal yang sama.
"song Tayhiap, engkau boleh menyerang duluan"
"Maaf, Cianpwee"
Ucap song wan Kiauw sambil melesat menyerangnya dengan ilmu pukulan Thay Kek Kun.
"Bagus Bagus"
Puji Tong Koay-Oey su Bin.
"Lemas tapi cukup mengandung tenaga"
Tong Koay berkelit.
Kemudian ia pun mulai balas menyerang dengan gerakan yang amat aneh.
Beberapa jurus kemudian, song wan Kiauw tampak terdesak, sehingga dirinya terkejut bukan main, karena tidak menyangka orang tua itu berkepandaian begitu tinggi.
la mengempos semangat untuk melawan, lalu cepat mengeluarkan jurusr jurus yang ampuh dari ilmu Thay Kek Kun.
Pada jurus ketujuh, mendadak Tong Koay bersiul panjang sambil bergerak cepat mendadak saja muncul belasan bayangannya menyerang song wan Kiauw.
Plaaak Punggung song Wan Kiauw kena pukul, sehingga membuatnya terhuyung-huyung.
Tong Koay-oey Su Bin pun menghentikan serangan.
Dia berdiri di hadapan song Wan Kiauw sambil tertawa gelak.
"Ha ha ha ilmuku dapat mengalahkan Thay Kek Kun yang kesohor itu Ha ha ha..."
"Kepandaian cianpwee tinggi sekali. Aku -mengaku kalah"
Ujar song Wan Kiauw dengan kepala tertunduk, karena merasa malu sekali.
"Jangan merasa malu"
Ujar Tong Koay Oey Su Bin.
"Kalau aku tidak mengeluarkan ilmu simpananku, tentunya aku tidak mampu mengalahkanmu."
"Cianpwee menggunakan ilmu apa?"
"Itu adalah ilmu Buseng Uh In (Ilmu Tiada Suara Ada Bayangan)."
Tong Koay memberitahukan.
"Ha ha ha Kalau ada waktu dan kesempatan, aku pasti akan ke gunung Bu Tong menantang gurumu itu. sampai jumpa"
Tong Koay langsung melesat pergi, sedangkan song wan Kiauw masih berdiri termangu-mangu.
Dia benar-benar tidak menyangka Tong Koay berkepandaian begitu tinggi.
Hanya tujuh jurus sudah mengalahkannya.
Benar-benar memalukan.
Lama sekali dia berdiri di situ, sebelum akhirnya melesat pergi menuju ke gunung Bu Tong dengan membawa rasa malu.
-ooo00000ooo-Thio sam Hong duduk bersila di ruang meditasi, song wan Kiauw dan saudara seperguruannya duduk di hadapan sang guru besar dengan mulut membungkam.
Jadi--.."
Thio Sam Hong mulai bersuara.
"Engkau tidak berhasil menyelidiki jejak Bu Ki?"
"ya, guru"
Song Wan Kiauw mengangguk-Thio sam Hong menghela nafas panjang, kemudian bergumam-"Bu Ki, sebetulnya engkau berada di mana?"
"guru --"
Song Wan Kiauw memandang Thio sam Hong, kelihatannya ia ingin menyampaikan sesuatu, namun sulit dikeluarkannya
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Engkau ingin menyampaikan sesuatu?"
Thio sam Hong menatapnya.
"Katakanlah"
"Aku bertemu Kong Ti seng Ceng..."
Ujar song wan Kiauw.
"Apa?"
Thio sam Hong tersentak-"Engkau bertemu Kong Ti seng Ceng?"
"ya"
Song Wan Kiauw mengangguk, lalu menceritakan tentang kejadian itu. Thio Sam Hong mendengar dengan mata terbelalak, begitu pula saudara seperguruan song Wan Kiauw.
"Pembunuh misterius itu dapat mengalahkan Kong Ti seng Ceng hanya dalam sepuluh jurus?"
Tanya Thio sam Hong kurang percaya.
"Kong Tiseng Ceng yang memberitahukan. Bahkan paderi tua itu tampak terluka berat di dadanya, karena terkena pukulan cing Hwee Ciang"
Ujar song wan Kiauw. Thio sam Hong menggeleng-gelengkan kepala.
"Sungguh tak masuk akal,"
Gumamnya dengan kening berkerut.
"Kong Ti seng Ceng juga memberitahukan, bahwa pembunuh misterius itu akan membunuh tiga Tetua siauw Lim Pay dan Kim Mo say ong-cia sun"
Lanjut song Wan Kiauw memberitahukan.
"Apa?"
Sentak Thio sam Hong terkejut bukan main.
"Pembunuh misterius itu punya dendam kesumat apa dengan pihak siauw Lim Pay dan cia sun?"
"Kong Ti seng Ceng pun tidak mengetahuinya,"
Ujar song wan Kiauw.
"Katanya pembunuh misterius itu masih muda, berusia sekitar tiga puluh lima tahun."
"Heran?"
Thio sam Hong menggeleng-gelengkan kepala.
"Sebetulnya siapa dia?"
"guru...."
Mendadak song wan Kiauw menundukkan kepala.
"Murid telah mempermalukan Bu Tong Pay, harap guru menghukumku"
"Wan Kiauw"
Thio sam Hong tersenyum.
"Engkau sudah tua, bukan anak kecil lagi. Kenapa masih berkata begitu?"
"guru, murid memang telah mempermalukan Bu Tong Pay."
Song wan Kiauw menghela nafas panjang.
"Jelaskanlah"
Thio sam Hong tetap tersenyum.
"Ketika murid sampai di daerah ouw Lam, mendadak muncul seorang tua. Ternyata Tong Koay-oey su Bin."
Thio sam Hong menatapnya seraya bertanya.
"Dia menantangmu bertanding?"
"Ya"
Song Wan Kiauw mengangguk dan menceritakan tentang pertandingan itu.
"Murid telah mempermalukan Bu Tong Pay."
Thio sam Hong tersenyum, lalu manggut-manggut sambil berkata.
"Kalau begitu, kepandaian Tong Koay memang hebat sekali. Dia dapat mengalahkanmu pada jurus ketujuh, itu pertanda kepandaiannya telah mencapai tingkat kesempurnaan. oleh karena itu. kau tak perlu merasa malu-"
"Dia juga bilang, apabila sempat akan kemari bertanding dengan guru,"
Ujar song wan Kiauw memberitahukan.
"Bagus, bagus Ha ha ha...."
Thio sam Hong tertawa gembira.
"Kalau dia kemari, guru akan menyambutnya dengan baik. Ha ha ha..."
Song wan Kiauw merasa heran.
"Kenapa guru begitu gembira?"
"Tentu"
Thio sam Hong tertawa lagi.
"Karena guru akan menghadapi seorang tokoh yang berkepandaian tinggi, itu sungguh menggembirakan. Mulai sekarang, kalian semua harus memperdalam ilmu silat masingmasing, guru akan memberi petunjuk pada kalian memecahkan ilmu Bu Seng uh In (Ilmu Tiada Suara Ada Bayangan) itu."
"Terima kasih. Guru"
Sahut para murid itu serentak. sementara itu, Kong Ti seng Ceng pun sudah tiba di siauw Lim sie-Paderi tua itu langsung menemui Kong Bun Hong Tio, lalu duduk menghadap.
"omitohud"
Ucap Kong Bun Hong Tio.
"Bagaimana sutee? Engkau berhasil menyelidiki pembunuh misterius itu?"
"suheng...."
Kong Tiseng Ceng menghela nafas panjang.
"Aku sudah bertemu pembunuh misterius itu. Dia masih muda berusia sekitar tiga puluh lima tahun."
"oh?"
Kong Bun Hong Tio tercengang.
"Dia memberitahukanmu alasannya membunuh para murid kita?"
"Tidak-"
Kong Ti seng Ceng menggelengkan kepala.
"sebab kami bertanding sepuluh jurus dan pada jurus ke delapan, aku terkena pukulannya."
"omitohud"
Kong Bun Hong Tio terkejut bukan main.
"Engkau terluka parah?"
"Untung aku mengerahkan Kim Kong sin Kang guna melindungi diri Kalau tidak, mungkin aku sudah mati di lembah itu,"
Kong Ti seng ceng memberitahukan.
"Dada-ku terkena pukulan cing Hwee Ciang."
"Coba kulihat lukamu itu"
Kong Bun Hong Tio tampak cemas sekali. Kong Ti seng Ceng memperlihatkan luka di dadanya yang masih kelihatan kehijau-hijauan.
"Aku pingsan. Ketika siuman aku melihat song Wan Kiauw duduk di sisiku,"
Ujar Kong Ti seng Ceng.
"song Tayhiap yang menyadarkanku dengan Lweekangnya."
"omitohud"
Ucap Kong Bun Hong Tio-"Syukurlah engkau terhindar dari kematian"
"Suheng, kepandaian orang itu sungguh tinggi sekali, terutama ilmu pukulan cing Hwee ciangnya. Kelihatan-nya sudah mencapai tingkat kesempurnaan, sebab sepasang tangannya memancarkan cahaya kehijau-hijauan."
"omitohud"
Kong Bun Hong Tio menggeleng-gelengkan kepala.
"sebetulnya siapa orang itu, kenapa dia memusuhi kita?"
"Suheng"
Kong Ti seng Ceng memberitahukan.
"Orang itu pun ingin membunuh paman-paman guru kita dan cia sun."
Kong Bun Hong Tio mengerutkan kening.
"sudah sekian lama ke tiga paman guru kita mengasingkan diri di dalam gua di belakang kuil bersama Cia sun jadi rasanya tidak mungkin punya musuh di luar-sedangkan urusan cia sun sudah beres belasan tahun lalu. tidak mungkin punya musuh di luar."
"Tapi kenapa orang itu begitu dendam pada kita?"
"omitohud"
Kong Bun Hong Tio mengerutkan kening seraya berkata.
"Hun Goan Pek Lek Chiu-seng Kun mati di tangan cia sun, kita semua menyaksikan itu Mungkinkah orang itu punya hubungan dengan seng Kun?"
"Seng Kun?"
Kong Ti seng ceng tersentak-"orang itu, orang itu memang agak mirip seng Kun, jangan jangan dia anak dari seng Kun."
"omitohud"
Ucap Kong Bun Hong Tio-"Kalau benar, itu sungguh merupakan bencana bagi kitaomitohud"
"Suheng, perlukah kita melapor pada ke tiga paman guru kita?"
Tanya Kong Ti seng Ceng.
"Jangan"
Kong Bun Hong Tio menggelengkan kepala.
"Tidak baik kita mengganggu ke tiga paman guru."
"Bagaimana kalau orang itu kemari?"
Tanya Kong Ti seng Ceng bernada cemas.
"omitohud"jawab Kong Bun Hong Tio.
"Kita akan menghadapinya, oleh karena itu, mulai sekarang kita harus berlatih memperdalam kepandaian kita."
"Ya, suheng"
Kong Ti seng Ceng mengangguk-Bab 8 Pek Ho Bu Koan (Perguruan Bangau Pulih) sang waktu berlalu dengan cepat sekali-Tak terasa kini Thio Han Liong sudah berumur sebelas tahun, sedangkan Tan Giok Cu berumur sepuluh tahun.
Bertambah satu tahun Thio Han Liong bekerja di rumah Tan Ek seng.
Dalam setahun ini Tan Giok Cu terus berlatih Thay Kek Kun dan beberapa jurus ilmu pedang yang diajarkan Thio Han Liong, sedangkan Thio Han Liong sendiri tak pernah berhenti melatih.
Tentu saja semakin meningkat Iwee-kang gadis cilik itu.
Hubungan ke dua anak kecil berlainan jenis itu bertambah akrab.
Thio Han Liong tetap memanggil Tan Giok Cu "Adik Manis"
Gadis kecil itu pun tetap memanggilnya "
Kakak Tampan" , selama setahun ini Thio Han Liong sama sekali tidak pernah menceritakan tentang identitas dirinya.
Tan Ek seng dan Lim soat Hong pun tidak pernah bertanya tentang itu padanya.
Pagi ini, Thio Han Liong duduk termenung di bawah pohon di pekarangan.
Kelihatannya ia sedang memikirkan sesuatu.
"Kakak tampan"
Tan Giok Cu mendekatinya sambil tersenyum-senyum.
"Kok duduk melamun di situ, ada apa?"
"Adik manis, aku...."
Thio Han Liong menundukkan kepala.
"Kenapa?"
Tan Giok Cu duduk di sisinya.
"Beritahukaniah padaku agar aku bisa bantu memikul beban pikiranmu."
Rupanya Tan Giok Cu memang anak yang cerdas. Dia cukup tanggap melihat keadaan kawan barunya yang baik budi itu-"sudah empat tahun aku tinggal di sini, aku pikir kini--"
Thio Han Liong tidak melanjutkan, seperti bimbang untuk mengatakannya.
"Kakak tampan."
Tan Giok Cu menatapnya dengan wajah murung.
"Aku tahu engkau mau bilang apa."
"Adik manis...."
"Mau berpamit kan? Karena engkau sudah tidak betah tinggal di sini, engkau ingin meninggalkan aku-"
Mata gadis kecil itu mulai basah-"Kakak tampan...."
"Adik manis."
Thio Han Liong tersenyum.
"Aku -aku harus berangkat ke gunung Bu Tong, sungguh."
"Kakak tampan...."
Tan Giok Cu mulai menangis terisakisak-"Jangan tinggalkan aku"
"Jangan menangis, kita akan berjumpa lagi kelak"
Ujar Thio Han Liong.
"Aku tidak bisa tinggal terus di sini."
"Kakak tampan jahat...."
Tan Giok Cu terus menangis dengan air mata berderai-derai.
"Adik manis...."
Thio Han Liong terus menghiburnya. Di saat bersamaan, muncullah Tan Ek seng dan Lim soat Hong. Ketika melihat gadis kecil itu menangis begitu sedih, mereka berdua terheran-heran.
"Nak"
Lim soat Hong membelainya.
"Kenapa engkau menangis?"
"Kakak tampan jahat Kakak tampan jahat..."
Sahut Tan Giok Cu.
"Kenapa dia?"
Tanya Lim soat Hong lembut.
"Dia -dia ingin meninggalkan Giok Cu-"
Gadis kecil itu memberitahukan sambil terisak-isak-"Giok Cu jadi sedih sekali-"
"Eh?"
Lim soat Hong dan suaminya saling memandang, kemudian Tan Ek seng bertanya pada Thio Han Liong.
"Thio Liong, kenapa engkau ingin meninggalkan Giok Cu?"
"Paman, sudah empat tahun aku tinggal di sini. Kini... sudah waktunya aku pergi."
Jawab Thio Han Liong sungguhsungguh.
"TUh Kakak tampan ingin meninggalkan Giok Cu kan?"
Gadis kecil itu menangis lagi.
"Engkau mau ke mana?"
Tanya Tan Ek seng, heran.
"Ke... gunung Bu Tong"
Jawab Thio Han Liong.
"Thio Liong...."
Tan Ek seng menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau masih kecil. Tidak baik melakukan perjalanan begitu jauh."
"Paman"
Ujar Thio Han Liong.
"Kini usiaku sudah sebelas tahun, boleh dikatakan tidak kecil lagi"
"Mau apa engkau ke gunung Bu Tong itu?"
Tanya Tan Giok Cu tiba-tiba.
"Aku, aku harus menemui beberapa orang di sana, ini penting sekali,"
Sahut Thio Han Liong.
"Maka aku harus ke sana. Adik manis"
"Kakak tampan...."
Air mata Tan Giok Cu mulai berderai lagi.
"Engkau begitu tega meninggalkan aku?"
Ucapan itu membuat Tan Ek Seng dan isterinya terperangah, sebab seharusnya diucapkan gadis dewasa.
"Adik manis, aku bukan tega. sebab, aku memang harus pergi ke gunung Bu Tong, aku pasti kembali."
Thio Han Liong coba menjelaskan kepada Tan Giok Cu.
"Kapan engkau kembali?"
Tanya Tan Giok Cu,sambil menatapnya dengan air mata bercucuran.
"Kalau urusanku disana sudah beres, aku pasti ke mari menengokmu,"
Jawab Thio Han Liong sambil memegang tangannya.
sikap mereka yang bagaikan sepasang kekasih membuat Tan Ek seng dan isterinya terheran, namun mereka berdua bergembira dalam hati, karena justru inilah kasih sayang mereka yang polos.
"Kapan engkau akan berangkat ke gunung Bu Tong?"
Tibatiba Lim soat Hong bertanya.
"Sekarang."
Jawab Thio Han Liong sepertinya sudah mengambil keputusan.
"Kok begitu cepat?"
Tertegun Lim soat Hong.
"Kakak tampan..."
Tan Giok Cu langsung menangis lagi.
"Jangan begitu cepat pergi Besok saja."
"Adik manis...."
"Kakak tampan, besok saja berangkat."
Tan Giok Cu menatapnya dengan penuh harap. Ketika melihat tatapan itu, hati Thio Han Liong merasa tidak tega, maka ia manggut-manggut.
"Baiklah."
Malam harinya, Thio Han Liong sudah mulai berkemas ditemani Tan Giok Cu. gadis kecil itu terus memandangnya, tetap tak rela kalau Thio Han Liong pergi.
"Kakak tampan, tak disangka kita akan berpisah,"
Ujar Tan Giok Cu terisak-isak sedih.
"Berpisah sedih berkumpul gembira."
"Adik manis,"
Thio Han Liong tersenyum.
"Perpisahan kita cuma sementara, sebab aku pasti kemari berkumpul denganmu lagi."
"Dan..."
Tambah gadis itu.
"Kita tidak akan berpisah lagi selama-lamanya-Begitu, kan?"
"Ng"
Thio Han Liong mengangguk-Tan tiiok Cu mendadak bertanya dengan suara rendah-"Engkau suka aku?"
"Tentu,"
Jawab Thio Han Liong cepat
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Aku memang suka padamu-Tapi, bagaimana engkau, suka padaku?"
"Hm -makanya aku tak rela berpisah dengan dirimu-"
Ujar Tan Giok Cu sambil menatapnya.
"Kakak tampan."
"ya."
Thio Han Liong memandangnya.
"Engkau mau bilang apa?"
"Engkau... engkau tidak akan suka gadis lain lagi, kan?"
Gadis itu tertunduk malu. saat itu wajahnya memerah. Thio Han Liong tersenyum.
"Apakah aku tidak boleh suka gadis lain?"
"Kalau engkau suka gadis lain, aku... aku bagaimana?"
Tan Giok Cu mulai menangis.
"Adik manis"
Thio Han Liong memegang tangannya seraya berkata seakan berjanji.
"Jangan khawatir, aku tidak akan suka gadis lain lagi."
"Terima kasih. Kakak tampan"
Terdengar langkah Tan Ek Seng dan isterinya ke kamar Thio Han Liong. Mereka berdua tersenyum-senyum. kemudian Tan Ek seng menyerahkan sebuah bungkusan kecil kepada Thio Han Liong.
"Bungkusan ini berisi uang perak untuk bekalmu dalam perjalanan menuju ke gunung Bu Tong"
"Terima kasih, Paman. Tapi... kok begitu banyak?"
Thio Han Liong tampak ragu menerimanya.
"Terimalah"
Desak Tan Ek seng.
"Thio Liong,"
Lim soat Hong tersenyum.
"Terimalah saja, sebab kau akan membutuhkannya dalam perjalanan"
"Terima kasih"
Ucap Thio Han Liong sambil menerima bungkusan kecil itu, lalu dimasukkan kebuntalan pakaiannya.
"Thio Liong...."
Lim soat Hong menatapnya lembut seraya berkata.
"Besok pagi engkau akan berangkat, maka... bolehkah engkau memberitahukan mengenai siapa dirimu?"
"Bibi...."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku tidak bisa memberitahukan, sebab aku punya kesulitan."
"Thio Liong nama aslimu?"
Tanya Tan Ek Seng mendadak-"sebetulnya aku bernama Thio Han Liong"
Anak kecil itu berterus terang dan melanjutkan.
"Paman dan Bibi sangat baik padaku, seharusnya aku memberitahukan mengenai identitas diriku, tapi...."
"Kalau engkau punya kesulitan, tidak usah memberitahukan pada kami,"
Ujar Lim soat Hong.
"Kelak aku pasti memberitahukan,"
Ujar Thio Han Liong berjanji.
"Baik"
Lim soat Hong manggut-manggut.
Keesokan harinya, berangkatlah Thio Han Liong ke gunung Bu Tong.
Tan Giok Cu mengantar kepergiannya dengan linangan air mata.
setelah Thio Han Liong lenyap dari pandangannya, gadis kecil itu memeluk erat ibunya sambil menangis.
"Ibu. Kakak tampan pergi."
Lim soat Hong membelainya.
"Dia pasti datang lagi kelaki engkau tidak boleh menangis."
"Ibu, dia... dia akan kembali?"
"Dia pasti kembali. Bukankah dia sudah berjanji padamu?"
"ya, tapi... apakah dia akan ingkar janji?"
"Tentu tidak-"
Lim soat Hong membelainya lagi.
"Maka engkau harus sabar menunggunya"
"ya, Ibu"
Tan Giok Cu mengangguk.
Thio Han Liong memang baik hati-selama dalam perjalanan ia sering menolong orang miskin dengan uang pemberian Tan Ek seng.
Karena itu, sebelum tiba di gunung Bu Tong, uang tersebut telah habis semua.
Hari ini ia tiba di sebuah kota kecil.
Karena lapar ia terus berdiri di depan sebuah rumah makan.
"Hei"
Bentak salah seorang pelayan.
"jangan berdiri di situ, cepat pergi"
"Paman, aku... aku lapar,"
Ujarnya pelan.
"Ayoh, cepat pergi"
Pelayan itu mengusirnya.
"Kalau tidak, akan kutendang kau"
Di saat itulah seorang lelaki berusia lima puluhan menuju ke rumah makan itu. la memandang pelayan rumah makan dan Thio Han Liong.
"Anak kecil,"
Lelaki itu sambil tersenyum.
"Kenapa engkau berdiri di sini?"
"Paman, aku lapar sekali,"
Jawab Thio Han Liong memberitahukan.
"sudah dua hari aku tidak makan."
"omong kosong"
Bentak pelayan rumah makan.
"Bagaimana mungkin engkau kuat tidak makan dua hari?"
"Aku mengisi perut dengan buah-buahan di hutan"
Ujar Thio Han Liong. Lelaki itu menatapnya seraya bertanya.
"Engkau tidak punya uang?"
"Sebetulnya aku punya uang, tapi dalam perjalanan telah kuberikan pada orang miskin, bahkan pakaianku pun telah kuberikan pada anak-anak seusiaku,"
Jawab Thio Han Liong jujur.
"Ha ha"
Pelayan rumah makan tertawa.
"Kecil-kecil sudah pandai berbohong Dasar...."
"Aku tidak bohong, aku berkata sesungguhnya,"
Ujar Thio Han Liong.
"Buat apa aku bohong?"
"Dasar...."
"Diam"
Bentak lelaki itu, kelihatannya ia tidak senang akan sikap pelayan rumah makan, kemudian berkata lembut pada Thio Han Liong.
"Anak kecil, mari ke dalam, makan bersamaku"
"Terima kasih, Paman"
Ucap Thio Han Liong.
"Guru silat Lie...."
Tercengang pelayan rumah makan begitu mengetahui orang itu.
"Apa tidak boleh aku mengajak anak kecil ini makan bersama?"
Lelaki itu menatap tajam pelayan rumah makan. Ditatap tajam begitu, ciutlah nyali pelayan rumah makan itu, maka buru-buru mempersilakan mereka masuk-"Silakan masuk silakan masuk --"
"Anak kecil-"
Lelaki itu tersenyum.
"Mari kita masuk"
"ya, Paman"
Thio Han Liong mengikuti lelaki itu ke dalam rumah makan. setelah duduk, lelaki itu memesan beberapa macam hidangan dan minuman, lalu memandang Thio Han Liong.
"Namamu?"
"Thio Liong."
"Engkau dari mana?"
"Aku dari sebuah pulau."
"siapa ayahmu?"
"Ayahku bernama -Thio Ah Ki."
Thio Han Liong terpaksa berdusta demi merahasiakan identitas dirinya.
"Engkau merantau?"
"ya."
"Tadi engkau bilang punya uang dan pakaian, tapi telah diberikan pada orang miskin, betulkah itu?"
"Betul, Paman"
"Anak kecil."
Ujar lelaki itu sungguh-sungguh.
"Tidak baik berbohong, engkau mau jadi apa kelak? kini engkau masih kecil sudah bohong."
"Paman, aku tidak bohong"
"Tidak bohong?"
Lelaki itu menatapnya dalam-dalam.
"Kalau begitu, dari mana kau memperoleh uang dan pakaian itu?"
"Empat tahun aku bekerja di rumah Paman Tan di desa Hok An. Waktu itu aku berhenti kerja, Paman Tan memberikan aku uang perak dan pakaian."
Thio Han Liong memberitahukan.
"Nama Paman Tan itu?"
"Tan Ek seng kepaia desa Hok An. Paman Tan itu sangat sayang padaku, tapi aku terpaksa meninggalkan rumahnya."
"Kenapa?"
"sebab aku harus ke gunung Bu Tong."
"Apa?"
Lelaki itu tercengang.
"Mau apa engkau ke gunung Bu Tong?"
"Mau menemui beberapa orang di sana."
Lelaki itu manggut-manggut.
"Ternyata engkau ingin jadi murid Bu Tong Pay. ya kan?"
Thio Han Liong mengangguk.-"Anak kecil"
Lelaki itu tersenyum-"Dari sini ke gunung Bu Tong masih jauh sekali, bagaimana engkau bekerja di rumahku?"
Thio Han Liong tampak ragu. Lelaki itu tersenyum, lalu memperkenalkan diri-"Namaku Lie Ceng Peng guru silat di kota Keng tu ini-Kalau engkau bekerja di rumahku, aku akan mengajar engkau ilmu silat-"
"Baiklah-Terima kasih, Paman"
Ucap Thio Han Liong.
Dia menerima tawaran kerja Lie Ceng Peng, karena ingin cari uang untuk melanjutkan perjalanannya menuju ke gunung Bu Tong.
seusai makan, Lie Ceng Peng mengajak Thio Han Liong ke rumahnya.
Di atas pintu rumah yang besar itu bergantung sebuah papan bertulisan.
Pek Ho Bu Koan (Perguruan Bangau Putih).
"Inilah rumahku."
Lie Ceng Peng memberitahukan sambil melangkah ke dalam halaman, Thio Han Liong mengikutinya dari belakang, sungguh luas halamannya.
Tampak puluhan anak tanggung sedang mengangkat besi dan lain sebagainya.
"Ayah"
Seorang gadis berlari-lari menghampiri Lie Ceng Peng. Gadis itu berusia dua puluhan dan berparas cukup cantik, la adalah putri Lie Ceng Peng, bernama Lie Goat Hiang.
"Hiangjie (Anak Hiang)"
Lie Ceng Peng tersenyum-senyum.
"Ayah -"
Gadis itu tertegun ketika melihat Thio Han Liong.
"siapa anak kecil itu?"
"Namanya Thio Liong, dia akan bekerja di sini."
"oh?"
Lie Goat Hiang memandang Thio Han Liong.
"Adik Liong, berapa usiamu sekarang?"
"Sebelas tahun, kakak-"
Jawab Thio Han Liong.
"Masih kecil kok sudah mau kerja?"
Lie Goat Hiang menggeleng-gelengkan kepala-"Di mana kedua orang-tuamu?"
"Ke dua orangtuaku tinggal dipulau, aku merantau -."
"Kecil-kecil sudah merantau."
Lie Goat Hiang menggelenggelengkan kepala lagi.
"Kasihan"
Thio Han Liong diam saja. Lie Ceng Peng memandangnya seraya berkata.
"Mulai besok tugasmu menyapu halaman ini, juga harus membersihkan rumah-"
"ya, Paman"
Thio Han Liong mengangguk,-saat itu muncul seorang lelaki berusia empat puluhan menghampiri mereka sambil tersenyum-senyum, cukup tampan lelaki itu.
"suheng"
Lelaki itu memberi hormat pada Lie Cong Peng, ternyata mereka berdua adalah saudara seperguruan.
Lelaki itu bernama siang Thiam Chun adik seperguruan Lie Cong Peng.
Dia pula yang mewakili suhengnya mengajar ilmu silat pada anak-anak tanggung itu.
"sutee, anak kecil ini bernama Thio Liong, dia bekerja di sini,"
Lie Cong Peng memberitahukan.
"oooh"
Siang Thiam Chun manggut-manggut, kemudian berkata pada Thio Han Liong.
"Engkau bekerja di sini harus rajin, tidak boleh malas"
"ya, Paman"
Thio Han Liong mengangguk.
"Hiangji"
Ujar Lie Cong Peng.
"Antar dia kc kamar"
"ya. Ayah"
Lie Goat Hiang mengajak Thio Han Liong ke dalam rumah-"Akan kutunjukkan kamarmu-"
"Terima kasih. Kakak-"
Sahut Thio Han Liong mengikutinya ke dalam rumah.
"Adik Liong,"
Ujar Lie goat Hiang sambil menunjuk sebuah kamar.
"itu adalah kamarmu."
"ya"
Thio Han Liong mengangguk,-Lie Goat Hiang membuka pintu kamar itu, lalu melangkah ke dalam seraya berkata dan tersenyum-"Engkau boleh beristirahat dulu."
"ya, Kakak."
"Engkau masih kecil, kok sudah merantau?"
Thio Han Liong menundukkan kepala, dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Baiklah, aku mau pergi menemui ayahku, engkau boleh beristirahat sekarang."
Lie Goat Hiang meninggalkan kamar itu.
Thio Han Liong duduk termenung di pinggir tempat tidur, ternyata ia mulai rindu kepada orangtuanya.
sesungguhnya ia ingin sekali pulang ke pulau Hong Hoang to, namun ia tidak tahu harus ke mana menyewa kapal.
Lagipula ia tidak punya uang.
Tujuannya ke gunung Bu Tong, tidak lain ingin minta tolong pada orang disana mengantarnya pulang ke pulau Hong Hoang to-la masih ingat akan kematian ciu CiJiak, juga ingat ke dua orangtuanya terbakar oleh Liak Hwee Tan.
&ntah bagaimana keadaan ke dua orang tuanya sekarang.
Thio Han Liong semakin merasa rindu kepada orangtuanya.
"Thio Han Liong"
Suara Lie Ceng Peng, ia berdiri di depan kamar itu sambil memandang Thio Han Liong.
"Kenapa engkau melamun?"
"Tidak."
Thio Han Liong sebera bangkit berdiri.
"Bagaimana sekarang aku mulai membersihkan rumah?"
"Besok saja,"
Sahut Lie Ceng Peng sambil tersenyum.
"Mari, kita makan sekarang, mungkin engkau sudah lapar-" -ooo00000ooo-Thio Han Liong bekerja di rumah Lie Ceng Peng dengan rajin sekali. Pagi-pagi ia sudah membersihkan rumah dan menyapu halaman tempat latihan para murid Lie Cong Peng, begitu pula sore hari. Karena itu, Lie Cong Peng dan Lie Goat Hiang sangat menyayanginya. Namun, siang Thiam Chun adik seperguruan Lie Cong Peng malah memandang rendah, bahkan sering memperbudak dirinya.
"Thio Liong"
Panggil siang Thiam Chun yang duduk di halaman sambil menggoyang-goyangkan kakinya.
"ya. Paman,"
Sahut Thio Han Liong dan segera menghampirinya.
"Engkau tidak boleh panggil aku paman, harus panggil aku tuan besar"
Ujar siang Thiam Chun.
"ya. Tuan Besar."
"sekarang cepat ambilkan aku teh hangat"
"ya. Tuan Besar"
Thio Han Liong seoera berlari ke dalam rumah-Tak lama ia sudah kembali ke situ dengan membawa secangkir teh hangat-"Nih, Tuan Besar-"
"Ngmm"
Siang Thiam Chun manggut-manggut sambil menerima minuman itu, lalu menghirupnya-setelah itu diserahkannya lagi cangkir itu pada Thio Han Liong.
"Mau tambah lagi tehnya?"
Tanya Thio Han Liong sambil menerima cangkir kosong itu.
"Tidak usah-Cepat taruh kc dalam dan engkau harus cepat ke mari lagi"
Sahut siang Thiam Chun.
"Iya. Tuan Besar"
Thlo Han Liong mengangguk, ia berlarilari ke dalam, kemudian kembali ke tempat itu lagi.
"Thio Liong"
Siang Thiam Chun menatapnya.
"Ambil kipas itu"
Thio Han Liong segera mengambil kipas di atas meja, diberikan pada siang Thiam Chun.
"Goblok engkau"
Bentak siang Thiam Chun.
"Cepat kipasi aku"
"Ya, Tuan Besar"
Thio Han Liong langsung mengipasinya. siang Thiam Chun tersenyum-senyum, tidak tahu kemunculan Lie Goat Hiang. Ketika melihat Thio Han Liong mengipasi siang Thiam Chun, keningnya langsung berkerut.
"Adik Liong Kenapa engkau mengipasi Paman siang?"
Tanyanya.
""Tuan Besar yang suruh-"
Sahut Thio Han Liong.
"Tuan Besar? siapa Tuan Besar itu?"
Tanya Lie Goat Hiang heran. Thio Han Liong menunjuk siang Thiam Chun.
"Dia yang suruh aku memanggilnya Tuan Besar"
"Gila"
Lie Goat Hiang menggeleng-gelengkan kepala.
"Paman siang, kenapa dia harus memanggilmu Tuan Besar?"
"Goat Hiang"
Siang Thiam Chun tersenyum dibuat-buat, bahkan tampak seperti menggoda.
"Dia harus berlatih melemaskan tangannya, maka aku suruh dia mengipasi diriku."
"Yang kutanyakan kenapa engkau suruh dia panggil Tuan Besar padamu?Jawablah"
Desak Lie Goat Hiang. Dengan tergagap siang Thiam Chun menjawab.
"Tidak apa-apa bukan?"
"Hm"
Dengus Lie Goat Hiang, kemudian berkata pada Thio Han Liong.
"Adik kecil, engkau tidak usah panggil dia tuan muda maupun mengipasinya "Tapi-..."
Thio Han Liong tampak takut-takut sambil melirik siang Thiam Chun.
"Jangan takut"
Ujar Lie goat Hiang.
"Kalau Paman Siang berani macam-macam, beritahukan padaku"
"ya. Kakak"
Thio Han Liong mengangguk,-Lie Goat Hiang melangkah pergi, siang Thiam Chun memandang punggung gadis itu dengan aneh sekali, semua itu tidak terlepas dari mata Thio Han Liong, walau ia masih kecil, namun tahu kalau tatapan itu mengandung niat tidak baik.
"Thio Liong"
Bentak siang Thiam Chun mendadak-"ya"
Sahut Thio Han Liong cepat.
"Apakah aku harus mengambil teh hangat lagi?"
"sini"
Siang Thiam Chun menatapnya bengis. Thio Han Liong segera mendekatinya, siang Thiam Chun menjulurkan tangannya menjewer telinga Thio Han Liong.
"Aduuuh"
Jerit anak kecil itu kesakitan.
"Engkau berani mengadu pada goat Hiang, sekarang akan kujewer telinga mu sampai putus"
"Aku tidak mengadu, tapi Kakak Hiang bertanya padaku... aduuuh"
Jerit Thio Han Liong, sehingga membuatnya nyaris melawan, namun anak kecil itu masih dapat bersabar tidak mengeluarkan kepandaiannya.
Namun saat itulah muncul Lie Cong Peng.
siang Thiam Chun cepat-cepat menurunkan tangannya, bahkan juga berpesan dengan suara rendah-"Kalau berani mengadu, akan kubunuh engkau"
Thio Han Liong mengangguk dengan wajah meringis-ringis, ia masih merasa telinganya sakit sekali-"Eh?"
Lie Ceng Peng menatapnya heran.
"Kenapa engkau meringis?"
"Aku -aku sakit perut."
Thio Han Liong menarik nafas dalam-dalam.
"oh? Kalau begitu, cepatlah engkau pergi makan obat sakit perut"
Ujar Lie Ceng Peng.
"Sekarang sudah tidak sakit lagi, Paman"
"Thio Liong..."
Ujar siang Thiam Chun dengan lembut sekali.
"Mungkin engkau masuk angin, lebih baik engkau ke dalam saja."
"Ya, Paman siang."
Thio Han Liong segera masuk rumah-Namun dia berpapasan dengan Lie Goat Hiang di depan pintu.
"Adik kecil, engkau mau ke mana?"
Tanya gadis itu heran.
"Mau ke kamar. Kakak"
Sahut Thio Han Liong sambil terus berjalan ke kamarnya.
"Adik kecil -."
Lie Goat Hiang mengikutinya dari belakang.
"Kenapa wajahmu meringis?"
"Telingaku masih sakit,"
Jawab Thio Han Liong sambil duduk di pinggir tempat tidur. Lie Goat Hiang mendekatinya seraya bertanya.
"Kenapa telingamu sakit?"
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Dijewer oleh Paman siang,"
Jawabnya kemudian.
"Dia memang keterlaluan, aku harus beritahukanpada ayah-"
"Jangan"
Thio Han Liong mencegahnya-"Kalau Kakak mengadu pada Paman, dia pasti bertambah dendam padaku-"
Mendadak Lie Goat Hiang menghela nafas panjang.
"Kenapa Kakak menghela nafas?"
Tanya Thio Han Liong heran.
"Ada suatu masalah terganjal dalam hati Kakak?"
"Tidak-.-"
Lie Goat Hiang menggelengkan kepala, lalu meninggalkan kamar itu dengan kepala tertunduk-"Heran?"
Gumam Thio Han Liong sambil menggaruk-garuk kepala.
"Ada apa sih? Kenapa Kakak Hiang menghela nafas panjang? sungguh mengherankan."
Pagi ini Lie Cong Peng ke kota lain karena ada urusan, maka di rumah hanya tinggal Lie Goat Hiang, siang Thiam Chun dan beberapa pelayan, seperti biasa, siang Thiam Chun mengajar para murid ilmu silat, saat itu yang diajarkannya adalah Pek Ho Kun (ilmu silat Bangau Putih)-seusai mengajar, siang Thiam Chun lalu duduk beristirahat.
Thio Han Liong sebera menyuguhkan teh hangat.
"Ngmm"
Siang Thiam Chun manggut-manggut.
"Mau tambah lagi tehnya?"
Tanya Thio Han Liong.
"Tidak usah"
Siang Thiam Chun menggeleng-gelengkan kepala, kemudian memandangnya.
"Aku tidak sangka, goat Hiang begitu sayang padamu."
Thio Han Liong diam, sebab ia tidak tahu tujuan ucapan siang Thiam Chun itu.
"suhengku sudah ke kota lain, akan pulang beberapa hari kemudian,"
Lanjut siang Thiam Chun.
"maka mulai hari ini, engkau tidak usah kerja begitu keras."
"Maaf, Paman"
Sahut Thio Han Liong.
"Aku justru harus kerja lebih keras, itu adalah tugasku."
"Thio Liong"
Siang Thiam Chun tersenyum, sikapnya yang tidak seperti biasa, sungguh mengherankan Thio Han Liong.
"Paman, biar bagaimanapun aku harus kerja keras seperti biasa. Aku tidak mau malas mEkipun Paman Lie tidak berada di rumah--.."
Lie Goat Hiang berjalan perlahan menuju ke halaman. Begitu melihat gadis itu, wajah siang Thiam Chun langsung ceria.
"Adik kecil"
Panggil Lie Goat Hiang.
"Kakak"
Sahut Thio Han Liong. Ketika ia hendak menghampiri gadis itu, mendadak siang Thiam Chun mencegahnya.
"Biar aku yang menghampirinya"
Siang Thiam Chun segera menghampiri gadis itu.
sedangkan Thio Han Liong termangu-mangu di tempat, la tidak habis pikir tentang itu.
Karena merasa curiga, maka ia mengerahkan Iweekangnya untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Goat Hiang...."
Panggil siang Thiam Chun lembut.
"Kini kita punya kesempatan."
"Jangan bicara sembarangan"
Tegur Lie Goat Hiang dengan suara rendah.
"Goat Hiang, tidak leluasa kita bicara di sini. Malam ini kita bertemu di sini saja,"
Bisik siang Thiam Chun, lalu kembali ke tempat duduknya dengan wajah berseri.
"Aku sudah bilang pada Goat Hiang, engkau boleh beristirahat satu dua hari,"
Ujarnya kemudian kepada Thio Han Liong.
"Terima kasih. Paman"
Sahut Thio Han Liong, apa yang mereka tadi bicarakan sudah masuk ke telinganya.
"Adik kecil,"
Panggil Lie Goat Hiang.
"ya. Kakak-"
Thio Han Liong segera mendekatinya dengan sikap wajar, bahkan tampak tersenyum-senyum-"Engkau sudah makan belum?"
Tanya Lie Goat Hiang penuh perhatian.
"sudah. Kakak"
Thio Han Liong mengangguk.-"Adik kecil, mari kita membersihkan rumah"
Ujar Lie Goat Hiang menggandeng bocah itu.
"Engkau harus bantu membersihkan kamarku."
"Baik, Kakak-"
Thio Han Liong tersenyum-"Tapi apakah baik aku ke kamar Kakak?"
"Eeeh?"
Lie Goat Hiang tertawa geli
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Engkau masih kecil, tentunya boleh ke kamarku. Bukankah aku sering ke kamarmu?"
"Kakak."
Ujar Thio Han Liong sambil tertawa.
"Untung aku masih kecil, kalau aku sebesar Kakak, tentunya akan merepotkan Kakak,"
"Memangnya kenapa?"
"Kakak pasti terus memikirkan aku-"
"Idih"
Wajah Lie Goat Hiang kemerah-merahan.
"Kecil-kecil sudah genit, apalagi setelah besar nanti?"
"Kecil genit tidak apa-apa, kalau besar genit justru celaka."
Sahut Thio Han Liong dan menambahkan.
"Kecil genit tapi bersih, besar genit mengandung hawa nafsu."
Lie Goat Hiang menggeleng-gelengkan kepala.
"Mari kita membersihkan rumah-" -ooo00000ooo-Thio Han Liong sudah bersembunyi di belakang pohon, la ingin mengintip siang Thiam Chun dan Lie Goat Hiang. Ketika hari mulai gelap, Thio Han Liong sudah bersembunyi di belakang pohon yang ada dihalaman. Tampaknya ia ingin mengintip apa yang akan dilakukan siang Thiam Chun dan Lie goat Hiang. Beberapa saat kemudian, tampak sosok bayangan berkelebat ke halaman, tidak lain siang Thiam Chun. setelah itu, menyusul pula sosok bayangan langsing, ternyata Lie cioat Hiang.
"Mau bicara apa, cepatlah"
Ujar gadis itu "Goat Hiang..."
Ujar siang Thiam Chun.
"Tahukah engkau, aku... aku sungguh mencintaimu. Namun, belum lama ini, sikapmu telah berubah banyak-"
Ucapan itu bagaikan geledek menyambar telinga Thio Han Liong yang mencuri dengar pembicaraan. Dia hampir keluar mencacinya.
"Paman siang,"
Tegur Lie tfoat Hiang dingin.
"Kini aku telah sadar, engkau jangan terus merayu aku lagi-"
"Goat Hiang...."
Siang Thiam Chun memegang tangannya.
"Aku betul-betul mencintaimu."
"Lepaskan tanganmu"
Bentak Lie Goat Hiang. Jangan kurang ajar"
"Aku masih ingat, dulu engkau baik sekali terhadapku-Kenapa sekarang berubah jadi begini?"
"Dulu aku belum bisa berpikir karena termakan rayuanmu-Kini pikiranku telah terbuka, aku tersadar dari kekeliruanku"
Sahut Lie goat Hiang.
"Sudahlah, jangan mengganggu aku lagi. Kalau ayah tahu, engkau pasti celaka"
"Hmm"
Dengus Siang Thiam Chun.
"Ayahmu berani apa terhadap diriku? Goat Hiang, betulkah engkau sudah tidak mencintai aku lagi?"
"Paman siang"
Lie Goat Hiang menghela nafas panjang.
"selama ini, aku tidak pernah mencintaimu. Aku berlaku baik terhadapmu lantaran menghormatimu sebagai pamanku."
"omong kosong"
Siang Thiam Chun tampak gusar sekali.
"Dulu engkau tidak begini-"
"Sudahlah,"
Potong Lie Goat Hiang. Jangan mengganggu aku lagi, aku tidak mau celaka di tangan ayahku."
Gadis itu melesat pergi, siang Thiam Chun berdiri mematung di tempat, sepertinya memikirkan sesuatu.
"Akan kukerjai nanti malam. He he he -"
Siang Thiam Chun tertawa terkekeh-kekeh.
Tersentak Thio Han Liong mendengar ucapan itu.
Timbul dalam hatinya untuk menolong Lie Goat Hiang.
Maka ketika siang Thiam chun berkelebat pergi, anak kecil itu mengikutinya menggunakan ginkang.
Ternyata siang Thiam Chun menuju ke samping rumah yang terdapat jendela di sana.
Itu adalah jendela kamar Lie Goat Hiang.
siang Thiam Chun mengintip ke dalam melalui jendela, kemudian mengeluarkan suatu benda mirip sebuah suling kecil.
Thio Han Liong yang menguntitnya seaera memungut beberapa batu kecil, la tahu benda itu berisi semacam obat bius, karena pernah dengar dari Ciu Ci Jiak
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com Ketika siang Thiam Chun mengarahkan benda itu ke dalam jendela, mendadak ia terpekik kaget-Tangannya dirasakan nyeri sekali-Ternyata Thio Han Liong telah menyambit dengan batu kecil, dan tepat mengenai tangannya.
Bukan main terkejutnya siang Thiam Chun, ia segera menengok ke sana ke mari, namun tidak tampak siapapun.
"Heran? Kenapa tanganku berkesemutan mendadak?"
Usai bergumam, ia pun membungkukkan badannya dengan maksud memungut benda yang jatuh itu Akan tetapi, tibatiba.... Taaak Kepalanya tersambit sesuatu.
"Aduuuh"
Jeritnya kesakitan sambil mengusap kepalanya yang dirasakan benjol.
Itu sudah tentu perbuatan Thio Han Liong, setelah menyambit kepala siang Thiam Chun dengan batu kecil, ia sendiri nyaris tertawa geli-"siapa yang menyambit aku?"
Gumam siang Thiam Chun dengan tubuh agak menggigil. Di saat itulah ia mendengar suara tawa yang amat perlahan, namun sangat menusuk telinga dan menyeramkan.
"Iiih Ada setan..."
Siang Thiam Chun langsung kabur, perlahan-lahan Thio Han Liong meninggalkan tempat itu kembali ke kamarnya, dengan terus tersenyum geli-sebelum meninggalkan tempat itu, terlebih dahulu ia sempat memungut benda menyerupai suling milik siang Thiam Chun.
Keesokan harinya, siang Thiam Chun tidak mengajar para murid itu ilmu silat, la duduk di kursi dengan wajah agak pucat-"Paman siang"
Tanya Thio Han Liong.
"Tidak minum teh?"
"Tidak"
Siang Thiam Chun menggelengkan kepala, kemudian menatapnya seraya bertanya.
"Semalam engkau mendengar suara yang mencurigakan?"
"tidak, tapi...."
"Ada apa?"
"Iiih"
Thio Han Liong memperlihatkan wajahnya yang diliputi ketakutan.
"Entah melihat atau bermimpi, aku... aku melihat sosok yang menyeramkan."
"Hah?"
Wajah siang Thiam Chun bertambah pucat.
"Be -betulkah itu?"
Thio Han Liong mengangguk dan nyaris tertawa geli, sebab ia yang tertawa seram semalam dengan mengerahkan Lweekang.
"Bahkan aku mendengar suara tawa seram, suara yang mencurigakan"
"oh?"
Ketika siang Thiam Chun ingin mengatakan sesuatu, muncul Lie Goat Hiang.
"Adik kecil"
Panggilnya.
"ya"
Sahut Thio Han Liong sambil mendekatinya.
"Engkau sudah membersihkan rumah belum?"
Tanya Lie Goat Hiang. Thio Han Liong mengangguk-"Kalau begitu--"
Lie Goat Hiang memandangnya dan tersenyum.
"Mari kita makan"
Mereka berdua masuk ke rumah, sedangkan siang Thiam chun duduk tak bergerak di kursi. Lie Ceng Peng sudah pulang, la duduk beristirahat di ruang tengahi ketika Thio Han Liong menyuguhkan teh hangat.
"Silakan minum, Paman"
Lie Ceng Peng tersenyum sambil menghirup minuman itu, kemudian memandang Thio Han Liong.
"Engkau baik-baik saja selama aku ke kota lain?"
"Aku baik-baik saja, Paman"
Thio Han Liong mengangguk.
"Oh ya, aku ingin memberitahukan sesuatu. Tapi aku mohon Paman harus memaafkan Kakak Hiang, sebab kini dia telah sadar dari kekeliruannya."
"Eh?"
Lie Cong Peng tertegun.
"Memangnya ada apa?"
"Paman siang dan Kakak Hiang...."
Thio Han Liong memberitahukan tentang itu. Betapa gusarnya Lie Cong Peng mendengarnya. Wajahnya berubah merah padam, karena marah "Tenang, Paman"
Ujar Thio Han Liong.
"Kini Hiang telah sadar, maka Paman harus memaafkannya. Mengenai Paman siang. Paman pun tidak perlu menghajarnya."
"Tapi suteeku itu..."
Lie Cong Peng bangkit berdiri dan berjalan mondar-mandir.
"Biar bagaimanapun, aku harus menghajarnya"
"Kalau Paman menghajarnya, yang akan malu adalah Paman dan Kakak Hiang. sebab, semua orang akan mengetahui kejadian itu."
Bisik Thio Han Liong.
"Lebih baik Paman suruh dia pergi saja."
"Ngmm"
Lie Cong Peng manggut-manggut.
"Kalau begitu, cepatlah panggil dia"
"Ya, Paman"
Thio Han Liong segera pergi memanggil siang Thiam Chun, tak lama ia sudah datang ke ruang tengah bersama orang tersebut.
"Suheng panggil aku?"
Tanya siang Thiam Chun dengan hati kebat-kebit, karena wajah Lie Cong Peng tampak gusar sekali-Thio Han Liong seflera meninggalkan ruang tengah itu, siang Thiam Chun meliriknya dengan mata berapi-api-"sutee"
Lie Cong Peng menatapnya dingin-"Apakah aku kurang baik terhadapmu selama engkau tinggal di sini,?"
"Suheng sangat baik terhadapku-"
Siang Thiam Chun menundukkan kepala.
"Memangnya ada apa?"
"Sekarang juga engkau harus meninggalkan rumahku ini"
Bentak Lie Ceng Peng.
"Tentu, engkau mengerti"
"suheng...."
"Aku sudah tahu urusanmu dengan putriku, cepatlah engkau enyah dari sini"
"suheng,"
Tanya siang Thiam Chun.
"Thio Liong yang mengadu padamu?"
"Aku yang mengetahuinya, bukan dia yang mengadu padaku"
Sahut Lie Ceng Peng.
"Cepatlah engkau enyah dari sini, jangan sampai aku menghajarmu"
"Baik"
Siang Thiam Chun mengangguk, ia yakin Thio Han Liong yang mengadu pada Lie Ceng Peng, maka ia ingin menghajarnya sebelum meninggalkan rumah itu.sementara itu, Thio Han Liong berdiri di halaman sambil menonton anakanak tanggung berlatih Pek Ho Kun.
"Adik kecil,"
Lie Goat Hiang mendekatinya.
"Kenapa ayah memanggil Paman siang?"
"Entahlah"
Thio Han Liong menggelengkan kepala.
"Bagaimana sikap ayah ketika menyuruhmu memanggil Paman siang?"
Tanya Lie Goat Hiang lagi.
"Paman tampak gusar sekali, tapi aku tidak tahu apa sebabnya-"
Sahut Thio Han Liong.
"Ayahku...."
Ucapan Lie Goat Hiang terputus, karena melihat ayahnya berjalan keluar bersama siang Thiam Chun yang membawa sebuah buntalan.
Lie Ceng Peng menghampiri mereka berdua, sedangkan Siang Thiam Chun menghampiri anak-anak tanggung yang sedang berlatih.
"Anak-anak"
Ujar siang Thiam Chun.
"Hari ini aku akan berangkat ke kota lain, maka selanjutnya suhengku akan mengajar kalian."
"Guru mau ke mana?"
Tanya salah seorang anak-"Ke tempat yang jauh sekali,"
Sahut siang Thiam Chun sambil melirik Thio Han Liong dengan mata membara.
"Kapan guru pulang?"
Tanya salah seorang anak lagi.
"Guru tidak akan pulang"
Sahut siang Thiam Chun.
"oleh karena itu, hari ini guru akan menurunkan kalian beberapa jurus Pek Ho Kun yang paling hebat."
"Terimakasih, Guru"
"Thio Liong"
Mendadak siang Thiam Chun memanggil anak kecil itu.
"Cepat ke mari"
Thio Han Liong segera mendekatinya.
"Anak-anak"
Ujar siang Thiam Chun.
"Jurus Pek Ho Kun yang paling dahsyat adalah jurus Pek Ho Ceng Thian (Bangau Putih Menerjang ke Langit). Aku akan memberi contoh, kalian harus perhatikan baik-baik,"
Usai berkata begitu, mendadak siang Thiam Chun langsung memukul Thio Han Liong dengan jurus tersebut.
Duuuk Dada Thio Han Liong terpukul, anak kecil itu termundur-mundur dua tiga langkah, namun sama sekali tidak menjerit kesakitan.
Lie Ceng Peng dan putrinya terkejut bukan main Mereka berdua tidak menyangka siang Thiam Chun akan menurunkan tangan jahat terhadap Thio Han Liong itu.
"sutee"
Bentak Lie Cong Peng.
"Engkau...."
"suheng,"
Sahut siang Thiam Chun sambil tertawa dingin
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Apakah aku tidak boleh memberi contoh beberapa j urus ilmu silat pada murid-muridmu?"
"Tapi...."
"Paman"
Ujar Thio Han Liong pada Lie Cong Peng "hari ini aku akan menghajar orang yang tak tahu diri itu"
"Thio Liong...."
Lie Cong Peng kaget mendengar ucapan bocah kecil itu.
"Adik kecil"
Wajah Lie cioat Hiang berubah pucat mencemaskan Thio Han Liong.
"He h e h e"
Siang Thiam chun tertawa terkekeh-kekeh.
"Thio Liong, engkau ingin menghajar diriku?"
"Betul"
Thio Han Liong mengangguk-"Baik,"
Siang Thiam Chun menatapnya dengan penuh kebencian, kemudian membentak keras sambil menyerangnya dengan jurus-jurus Pek Ho Kun.
Thio Han Liong cepat-cepat berkelit ke sana ke mari, sehingga serangan-serangan siang Thiam Chun jatuh di tempat kosong.
Betapa penasarannya siang Thiam Chun mendapati serangannya tak satupun mengenai sasaran.
Lie Cong Peng dan putrinya sama sekali tidak menyangka Thio Han Liong mengerti ilmu silat.
Kini Thio Han Liong mulai bergerak lemas, bagaikan gadis kecil yang sedang menari.
Bukan main indahnya gerakannya itu, membuat Lie Cong Peng dan putrinya terperangah menyaksikannya.
siang Thiam Chun terus menyerang dengan gesit, sedangkan Thio Han Liong berkelit dengan gerakan yang lemas.
Tiba-tiba siang Thiam Chun memekik keras sambil menyerang Thio Han Liong, dengan jurus Pek Ho Tok Hu (Bangau Putih Mematuk Ikan).
Badan siang Thiam Chun mencelat ke atas, kemudian menukik ke bawah dan dengan dua jari tangan menyerang mata Thio Han Liong.
Di saat itulah Thio Han Liong menggerakkan sepasang tangannya dengan lemas sekali membentuk dua buah lingkaran, lalu didorong ke atas.
Buuuk.
Dada siang Thiam Chun terpukul, sehingga badannya terpental ke atas, kemudian terbanting keras di tanah-"Aduuuh"
Siang Thiam Chun menjerit kesakitan. Tubuhnya terkapar tak mampu bangkit berdiri "Hihihi"
Thio Han Liong tertawa geli "Paman siang, kenapa engkau terus duduk di situ? Tidak mau menghajar aku lagi?"
Siang Thiam Chun diam saja, ia memandang Thio Han Liong dengan mata terbelalak, seakan tidak percaya dirinya telah dirobohkan anak kecil berusia sebelas tahun.
sementara Lie Ceng Peng dan putrinya juga tampak tidak percaya akan apa yang disaksikan.
Bagaimana mungkin Thio Han Liong mampu merobohkan siang Thiam Chun?
Namun nyatanya memang begitu.
Kejadian itu sangat mencengangkan mereka berdua.
"Kawan-kawan"
Seru Thio Han Liong pada para murid Lie Ceng Peng.
"jurus yang diperlihatkan Paman siang itu namanya jurus 'Menjatuhkan Diri', kalian tidak boleh meniru gerakannya itu"
"Anak setan"
Bentak siang Thiam Chun gusar, mendadak ia menyerang Thio Han Liong.
"Hiaa...?"
Kali ini Thio Han Liong tidak berkelit, melainkan menyambut serangan itu sambil menggerakkan tangannya secepat kilat-Rupanya dia menggunakan jurus jurus dari Kiu Im Pek Kut Jiauw ajaran Ciu Ci Jiak.
Plaaak Tulang iga siang Thiam Chun terpukul dan patah seketika.
"Aduuuh -"
Siang Thiam Chun menjerit kesakitan dengan wajah meringis dan pucat pias. Dengan langkah tertatih-tatih, dia pun pergi. Thio Han Liong mendekati Lie Cong Peng. Dia memberi hormat.
"Maaf Paman, aku telah menghajar Paman siang itu"
"Ha ha ha"
Lie Cong Peng tertawa gelak-"Thio Liong, aku tidak sangka engkau berkepandaian begitu tinggi.
Ternyata engkau murid Bu Tong pay, sebab yang engkau perlihatkan itu pasti ilmu silat Thay Kek Kun yang sangat terkenal itu"
"Paman...."
Thio Han Liong menundukkan kepala
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Aku -aku terpaksa menghajarnya, karena Paman siang jahat sekali."
"Dia memang jahat, harus dihajar biar kapok"
Sahut Lie Cong Peng.
"Adik kecil -"
Lie goat Hiang menatapnya dengan kening berkerut-kerut.
"Hiang lie"
Lie Cong Peng menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau aku tidak memandang Thio Liong, aku pasti sudah menghajarmu"
"Ayah --"
Gadis itu tersentak-"Aku sudah tahu urusanmu dengan Thiam chun, Thio Liong yang memberitahukan padaku."
"Ayah--"
Lie Goat Hiang menundukkan kepala.
"Maafkan aku"
"sudahlah, itu telah berlalu."
Lie ceng Peng tersenyum.
"Engkau harus berterima kasih pada Thio Liong."
"Terima kasih. Adik kecil,"
Ucap Lie Goat Hiang.
"Kakak-..."
Thio Han Liong tersenyum.
"Kakak sangat baik terhadapku, maka akupun harus melindungi Kakak"
"Terima kasih..."
Lie Goat Hiang menatapnya dengan haru-Thio Han Liong mengeluarkan suatu benda dari dalam bajunya, lalu diserahkan pada Lie Ceng Peng.
"Lihatlah benda ini"
Lie Ceng Peng mengambil benda itu dan memperhatikannya, seketika itu juga air mukanya berubah hebat.
"Ini... ini adalah semacam alat yang berisi obat bius, para penjahat menggunakan alat ini. Thio Liong, dari mana engkau memperoleh alat ini?"
"Paman, malam itu..."
Tutur Thio Han Liong tentang kejadian malam itu.
"Maka aku menghajarnya"
"Haaahi-"
Wajah Lie Ceng Peng berubah pucat.
"Thio Liong, kalau engkau tidak berada di sini, Hiangjie pasti sudah celaka."
"Adik kecil...."
Lie Goat Hiang memandangnya dengan penuh rasa terima kasih.
"Engkau -engkau telah menyelamatkan diriku. Terima kasih."
"Kakak"
Thio Han Liong tersenyum.
"Kakak begitu cantik, kelak pasti ketemu pemuda tampan. Aku masih kecil sih. Kalau sudah dewasa, aku pasti memperisterl Kakak."
"Eh?"
Wajah Lie Goat Hiang kemerah-merahan.
"Engkau mulai genit, ya? Masih kecil"
"Ha ha ha"
Mendadak Lie Cong Peng tertawa gelak sambil bergurau.
"Thio Liong, kalau engkau betul-betul ingin memperisterl Hiang jie, paman pasti merestuinya."
"Ayah"
Wajah Lie Goat Hiang bertambah merah.
"Hi hi hi"
Thio Han Liong tertawa geli.
"Paman bisa bergurau juga, ya?"
"Tentu"
Lie Cong Peng manggut-manggut.
"Namun alangkah baiknya paman tidak bergurau, karena Hiang Jie memang menyukaimu."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Usiaku lebih kecil dari Kakak Hiang, bagaimana mungkin aku memperlsterlnya? Tadi itu cuma ingin menggoda Kakak Hiang."
"Adik kecil, engkau mulai nakal"
Tegur Lie Goat Hiang.
"Bukan mulai nakal, aku memang nakal"
Sahut Thio Han Liong sambil tertawa.
"Kalau tidak, bagaimana mungkin aku mencuri dengar pembicaraan paman Siang dengan Kakak?"
Gadis itu merengut menatap Thio Han Liong.
"Paman"
Ujar Thio Han Liong sungguh-sungguh.
"Kini urusan yang tak menyenangkan itu telah beres, maka aku mau mohon pamit"
"Apa?"
Lie Cong Peng dan putrinya tertegun.
"Aku harus segera berangkat ke gunung Bu Tong, aku... aku rindu sekali pada ke dua orangtuaku."
Ujar Thio Han Liong.
"Ke dua orangtuamu tinggal di gunung Bu Tong?"
Tanya Lie Cong Peng.
"tidak,"
Jawab Tiiio Han Liong memberitahukan.
"Ke dua orangtuaku tinggal di pulau yang di Pak Hai. Aku berharap pihak Bu Tong Pay bersedia mengantar aku pulang ke pulau itu"
"oooh"
Lie Cong Peng manggut-manggut.
"Kalau begitu... tunggu sebentar"
Lie Cong Peng masuk rumah, sedangkan Lie cioat Hiang terus menatap Thio Han Liong dengan mata tak berkedip-Anak kecil itu tertawa geli-"Kenapa Kakak menatapku dengan cara begitu? Naksir ya padaku?"
Lie cioat Hiang menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum-"Engkau memang nakal, tapi tidak menyebalkan."
"Kakak, aku berterima kasih sekali atas kebaikanmu,"
Ujar Thio Han Liong setulus hati.
"Kakak sangat baik padaku, aku tidak akan lupa selamalamanya."
"Akupun tidak akan lupa budi baikmu menolongku dan telah menyelamatkan diriku...."
Lie goat Hiang tersenyum.
"Tapi... kenapa engkau begitu cepat ingin pergi?"
"Kakak Aku... aku rindu sekali pada ke dua orangtuaku, aku harus cepat-cepat pulang ke pulau itu."
"Adik kecil...."
Lie Goat Hiang menghela nafas panjang.
"entah kapan kita akan bertemu lagi?"
"Aku pasti ke mari menengok Kakak kelak"
Sahut Thio Han Liong berjanji.
"Sungguh?"
Lie Goat Hiang kelihatan kurang percaya.
"Tentu"
Thio Han Liong mengangguk.
"Aku tidak akan ingkar janji."
Gadis itu tertawa gembira, bersamaan itu muncullah Lie Cong Peng dengan membawa sebuah bungkusan kecil.
"Thio Liong"
Lie Ceng Peng menyerahkan bungkusan kecil itu padanya-"Ini untuk bekalmu dalam perjalanan."
"Paman...."
"Terimalah"
"Terima kasih, Paman"
Thio Han Liong menerima pemberian Lie Ceng Peng, sebab ia memang membutuhkan uang.
"sebetulnya aku bernama Thio Han Liong."
"oooh"
Lie Ceng Peng manggut-manggut.
"Han Liong, engkau akan ke mari lagi menengok kami?"
"Pasti,"
Sahut Thio Han Liong lalu pamit.
"selamat jalan, Han Liong"
"sampai jumpa, Paman"
Thio Han Liong berjalan pergi, Lie Goat Hiang mengantarnya sampai di depan.
"Adik kecil, jangan lupa datanglah lagi kelak"
Pesan gadis itu.
"ya"
Sahut Thio Han Liong.
"sampai jumpa. Kakak"
"selamat jalan. Adik kecil"
Ucap Lie Goat Hiang. setelah Thio Han Liong tidak kelihatan, gadis itu kembali ke dalam.
"Hiang jie"
Lie Ceng Peng menghela nafas panjang.
"Kalau Han Liong tidak berada di sini, engkau pasti sudah dinodai Thiam Chun."
"Ayah Han Liong akan ke mari lagi?"
"Itu sudah pasti, namun tidak begitu cepat. Mungkin harus beberapa tahun kemudian.saat itu dia sudah dewasa."
Bab 9 Si Mo (iblis Dari Barat) Kali ini dalam perjalanan menuju gunung Bu Tong, Thio Han Liong tetap menolong fakir miskin dengan uang pemberian Lie Cong Peng.
Namun dia menyisakan untuk bekalnya sendiri, tidak dihabiskan seperti tempo hari.
Dua hari kemudian, ketika ia memasuki sebuah rimba, mendadak terdengar suara tawa yang menyeramkan.
Betapa terkejutnya Thio Han Liong.
Anak kecil itu mengira suara tawa setan atau hantu.
Cepat-cepat ia bersembunyi di belakang pohon.
Thio Han Liong mengerutkan kening dan tiba-tiba ia tersenyum geli-Ternyata ia ingat akan perbuatannya terhadap siang Thiam Chun, malam itu ia juga mengeluarkan suara tawa seram menakuti lelaki itu.
oleh karena itu, ia pun yakin suara tawa seram itu bukan suara tawa setan iblis.
Timbul dalam hati keberaniannya.
Dia berendap-endap mendekati suara tawa seram itu.
Ternyata dia melihat beberapa orang terikat di sebuah pohon, terdapat kaum wanita pula.
seorang tua berusia tujuh puluhan duduk dekat pohon itu, ia sedang menyantap paha ayam sambil mengeluarkan tawa seram.
"He he he Hik hik hik, seusai bersantap, aku akan membunuh mereka"
Gumam orangtua itu.
"Se,Mo"
Bentak salah seorang lelaki yang terikat di pohon.
"Kita tidak punya dendam apapun, kenapa engkau ingin membunuh kami?"
"He he he"
Ternyata orangtua itu adalah se Mo ketua golongan hitam.
"Aku memang senang membantai kalian kaum golongan putih He he he -"
Bukan main terkejutnya Thio Han Liong mendengar itu. Dia memperhatikan orangtua itu. Melihat wajah seram menakutkan orangtua itu Thio Han Liong menggigil ketakutan. (Bersambung ke Bagian 05)
Jilid 05 Si Mo (iblis Dari Barat) itu perlahan-lahan ia bangkit berdiri, kemudian mendekati orang-orang yang terikat di pohon sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"He he he Sebelum membunuh, aku akan menyiksa kalian dulur ujar Si Mo, mendadak ia membuka baju salah seorang wanita.
"Jangan.."
Teriak wanita itu ketakutan, namun bajunya sudah terbuka dan tampak sepasang payudaranya yang montok.
"Wuah"
Si Mo tertawa sambil memegang payudara wanita itu.
"Masih segar he he... Akan kusayat payudaramu. He he he..."
Si Mo mengeluarkan sebuah belati mengkilap. Namun ketika hendak menyayat payudara wanita itu, mendadak ia dikejutkan oleh suara bentakan yang amat nyaring.
"Berhenti"
Saat itu muncul seorang anak kecil, yang tidak lain Thio Han Liong.
"Eeeh?"
Si Mo kaget melihat ada bocah cilik di dalam, rimba itu.
"Paman tua"
Thio Han Liong melotot.
"Kenapa Paman tua begitu kejam? Sama sekali tidak punya rasa prikemanusiaan"
"He he he"
Si Mo tertawa terkekeh-kekeh.
"Anak kecil, kenapa engkau berkeliaran di sini? Kebetulan sekali, aku belum membunuh anak kecil."
"Paman tua mau membunuh aku juga?"
Tanya Thio Han Liong, tanpa merasa takut. si Mo mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ha ha ha..."
"Hm"
Dengus Thio Han Liong.
"Paman tua seorang Locianpwee, kalau membunuh aku seorang anak kecil, orang
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com orang kaum persilatan akan menertawakan hingga rontok gigi mereka"
"Mereka mau tertawa hingga rontok gigi mereka itu urusan mereka. Aku mau membunuhmu juga urusanku"
Sahut si Mo sambil tertawa.
"Ha ha ha..."
"Paman tua boleh membunuh aku, tapi aku punya syarat"
Ujar Thio Han Liong mendadak-"oh?"
Si Mo tertegun, iblis Dari Barat itu tidak menyangka Thio Han Liong begitu berani.
"Anak kecil, siapa engkau?"
"Namaku Thio Liong"
Sahut anak kecil itu.
"Paman tua, bagaimana mengenai syaratku?"
"Apa syaratmu?"
"Lepaskan mereka"
Thio Han Liong menunjuk orang-orang yang terikat di pohon.
"Dirimu ditukar dengan mereka?"
"Ya"
"Ngmm"
Si Mo manggut-manggut.
"Kelihatannya engkau memang lebih berharga daripada mereka. Baik-lahi aku terima syaratmu."
"Terima kasih, Paman tua,"
Ucap Thio Han Liong. si Mo segera memutuskan tali yang mengikat kaum rimba persilatan golongan putih itu. Begitu bebas mereka cepatcepat memberi hormat pada Thio Han Liong.
"Terima kasih. Anak kecil,"
Ucap mereka serentak-"Cepatlah kalian tinggalkan tempat ini"
Perintah Thio Han Liong.
"Kalian memang harus cepat pergi Kalau tidak, akan kubunuh kalian"
Bentak si Mo dengan mata melotot tajam. orang-orang itu pergi-sementara si Mo terus menatap Thio Han Liong dengan penuh perhatian.
"Engkau memang berbakat untuk belajar ilmu silat. Aku tidak membunuhmu, kalau engkau mau jadi muridku"
"Paman tua begitujahat, aku tidak sudi jadi muridmu,"
Sahut Thio Han Liong sambil menggelengkan kepala.
"Apa?"
Si Mo langsung melotot.
"Jadi engkau lebih suka mati daripada mengangkatku sebagai guru?"
Thio Han Liong mengangguk-"Tak sudi berguru kepada orang jahat"
"Bocah"
Bentak si Mo sambil mengangkat tangannya siap memukul anak kecil itu.
"Tunggu"
Seru Thio Han Liong.
"Engkau maujadi muridku?"
Tanya si Mo bernada girang.
"tidak,"
Sahut Thio Han Liong.
"Aku ingin bertanding denganmu, tapi cukup tiga jurus saja"
"Apa?"
Si Mo terbelalak.
"Engkau ingin bertanding dengan aku?"
"Ya"
Thio Han Liong mengangguk-"Aku pernah belajar ilmu silat. Kalau dalam tiga jurus engkau tidak mampu merobohkan diriku, maka harus membebaskan aku pergi dari sini"
"Ha ha ha"
Si Mo tertawa gelak "Baik, baik"
"Paman tua jangan ingkar janji"
Tegas Thio Han Liong.
"Jangan khawatir, bocah"
Sahut si Mo-"Aku tidak akan ingkar janji"
"Kalau begitu, silakan Paman tua menyerang aku"
Thio Han Liong mulai mengerahkan Kiu yang sin Kang. si Mo langsung menyerangnya seraya berseru.
"jurus pertama"
Thio Han Liong bergerak cepat menghindari serangan itu dan berhasil. Hal itu membuat si Mo terbelalak.
"Eh?"
Si Mo menatapnya dengan mata tak berkedip.
"Tak disangka engkau cukup berisi juga"
"Paman tua, silakan menyerang lagi"
Seru Thio Han Liong.
"jurus ke dua"
Seru si Mo sambil menyerang. Kali ini ia menggunakan j urus yang lebih hebat. Akan tetapi, Thio Han Liong tetap mampu mengelak serangannya. Itu semakin membuat si Mo penasaran sekali.
"Jurus ke tiga"
Seru si Mo dan langsung menyerangnya.
Thio Han Liong tidak keburu berkelit, maka ia terpaksa menangkis serangan itu.
Blaaam Terdengar suara benturan yang dahsyat.
Thio Han Liong terpental beberapa depa dan jatuh di tanah namun tidak luka sama sekali.
Terheran-heran si Mo memandangnya.
"Engkau tidak terluka?"
"Paman tua"
Sahut Thio Han Liong sambil bangkit berdiri "Aku tidak terluka, kini aku bebas"
"Engkau telah roboh di tanganku, maka engkau harus jadi muridku"
Ujar si mo "Kapan aku roboh di tangan Paman tua? Buktinya aku berdiri di sini"
Thio Han Liong tersenyum-senyum "Tadi engkau sudah terpental beberapa depa lalu roboh"
Si Mo melotot.
"Buktinya aku berdiri di hadapanmu,"
Ujar Thio Han Liong,"sesuai dengan syarat, aku boleh meninggalkan tempat ini.."
"Tidak bisa"
"Kenapa tidak?"
"Pokoknya engkau harus jadi muridku"
Mendadak tangan si Mo bergeraki seketika juga jalan darah Thio Han Liong tertotok, sehingga sekujur badannya tak bisa bergerak-"Paman tua curang"
Bentak Thio Han Liong.
"Aku iblis Dari Barat, sudah pasti selalu berlaku curang. He he he..."
Si Mo tertawa terkekeh-kekeh "Bocah Kalau engkau tidak mau jadi muridku, aku akan menyiksamu"
"Pokoknya aku tidak maujadi muridmu, tidak mau"
"Kalau begitu, setiap hari aku akan menyiksamu"
Ujar si Mo sungguh-sungguh.
"Kalau perlu, akan kubunuh kau"
"Dasar iblis"
Caci Thio Han Liong.
"Engkau akan disambar geledek kelak"
"He he he"
Si Mo tertawa.
"Geledek takut padaku bagaimana mungkin geledek akan menyambar aku?"
"Pokoknya aku tidak maujadi muridmu"
Tegas Thio Han Liong.
"Lebih baik bunuh aku saja"
"He he he"
Si Mo tertawa terkekeh-"Aku akan membunuh mu perlahan-lahan. Sekarang aku bertanya sekali lagi, maukah engkau jadi muridku?"
"Tidak mau"
"Kalau begitu -"
Mendadak si Mo menatapnya bengis.
"Engkau akan merasakan ilmu totokanku Ban Gin Coan sim (selaksa jarum Menembus Hati)"
Si Mo menotok jalan darah Hiok Tiong Hiat, Ci Kiong Hiat dan Tian Tong Hiat yang didada Thio Han Liong, seketika anak kecil itu menjerit jerit dengan wajah meringis-ringis.
Peluh merembes keluar dari keningnya, karena dirasakan dadanya sakit luar biasa, seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum.
"He he he"
Si Mo terus tertawa terkekeh-kekeh-"Bagaimana? Engkau maujadi muridku?"
"Ti-tidak"
"Kalau begitu..."
Ujar si Mo-"Engkau akan terus merasakan kesakitan itu-He he he-"
Pada waktu bersamaan, sayup,sayup terdengar suara kecapi dan suling yang amat halus-Begitu mendengar suara itu air muka si Mo mendadak berubah-"Hah? Wanita sialan itu--"
Si Mo segera melesat pergi-Tak seberapa lama kemudian, muncullah empat wanita berpakaian putih sambil memainkan alat-alat musik itu Kemudian datang juga wanita berbaju kuning, berusia empat puluhan dan berparas cantik sekali-Namun wajahnya tampak putih sekali seperti tidak pernah terkena sinar matahari-Dengan langkah lemah gemulai wanita itu menghampiri Thio Han Liong yang masih merintih-rintih kesakitan.
Tangannya bergerak laksana kilat ke tubuh anak kecil itu, ternyata ia membebaskan totokannya.
"Aaah -"
Thio Han Liong langsung menarik nafas lega, dadanya sudah tidak sakit dan tubuhnya pun sudah bisa bergerak-Cepat-cepat ia memberi hormat.
"Terima-kasih atas pertolongan Bibi"
"Ngmm"
Wanita itu manggut-manggut.
"Engkau agak nakal, tapi berhati baik dan berbudi luhur. Bahkan, amat keras hati pula."
"Maaf,"
Ucap Thio Han Liong menatap wanita itu.
"Bolehkan aku tahu siapa Bibi yang cantik jelita?"
"Thio Han Liong...."
Wanita itu menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.
"Engkaupun agak genit, bagaimana kalau sudahi dewasa kelak?"
"Hah?"
Thio Han Liong terperanjat.
"Bibi tahu namaku?"
"Aku juga tahu nama ayah dan ibumu"
Ujar wanita itu.
"Ayahmu bernama Thio Bu Ki, ibumu bernama Tio Beng."
"Eh?"
Makin membelalak mata Thio Han Liong.
"Bibi kenal ke dua orangtuaku?"
"Kenal"
Wanita itu manggut-manggut seraya berkata.
"Engkau harus ingat baik-baik syair yang akan kubacakan. Ayahmu pasti ingat padaku apabila mendengar syairku ini."
"oh?"
Thio Han Liong langsung pasang kuping-"Di belakang Ciong Lam san, terdapat Kuburan Mayat Hidup, Burung Rajawali dan Pasangan Pendekar, tidak muncul lagi di dunia Kang-ouw-"
Wanita itu membacakan syair tersebut dan berpesan.
"Bertemu ayahmu, bacakanlah syair ini Dia -pasli ingat siapa aku."
"ya. Bibi-"
Thio Han Liong mengangguk-"Han Liong"
Wanita itu menatapnya tajam-"
Engkau tidak boleh terlampau nakal, juga tidak boleh genit-Itu akan mencelakai dirimu-"
"ya. Bibi-"
Thio Han Liong mengangguk lagi-"
Aku pasti menuruti nasihat Bibi."
"Bagus"
Wanita itu manggut-manggut.
"Dan juga engkau tidak boleh ingkar janji-Apa yang pernah engkau janjikan, engkau harus melaksanakannya kelak-Misalnya terhadap Tan Giok Cu, gadis itu masih kecil, tapi dalam hatinya hanya terdapat engkau seorang diri"
"Bibi...."
Mulut Thio Han Liong ternganga lebar-"Kok Bibi tahu itu?"
"Engkau cuma nakal dan suka menggoda, tapi tidak kurang ajar. Kalau engkau kurang ajar, tentu sudah kuhajar,"
Ujar wanita itu tanpa menjawab pertanyaan Thio Han Liong.
"Engkau harus ingat, jangan mengingkari janjimu terhadap gadis kecil itu"
"ya."
Thio Han Liong manggut-manggut.
"oh ya, bolehkah aku tahu nama Bibi?"
"Aku she yo, engkau panggil aku Bibi yo saja,"
Sahut wanita itu dan menambahkan.
"Belum waktunya engkau berkelana dalam rimba persilatan, maka engkau harus segera pulang ke tempat tinggalmu di pulau itu."
"Bibi kok tahu tempat tinggalku?"
Thio Han Liong terheranheran.
"Bahkan aku pun tahu ayahmu terluka oleh pukulan para Dhalai Lhama itu,"
Ujar wanita itu sambil tersenyum.
"Maka engkau harus cepat-cepat pulang, setelah kepandaianmu tinggi, barulah engkau berkecimpung dalam rimba persilatan membela kebenaran dan membasmi kejahatan."
"Bibi...."
Wajah Thio Han Liong agak cemas.
"Bagaimana keadaan ayahku?"
"Tidak apa-apa. Engkau tidak usah cemas, yang penting engkau harus pulang untuk memperdalam kepandaianmu. Kelak engkau dan Giok Cu harus bersatu padu membasmi kejahatan."
"Maksud Bibi...."
Thio Han Liong girang bukan main.
"ingin menerima Giok Cu menjadi murid?"
"Betul."
Wanita itu manggut-manggut sambil tersenyum.
"Kelak dia akan menjadi gadis yang cantik sekali, kalian berdua memang cocok dan serasi."
"Bibi...."
Thio Han Liong teringat sesuatu.
"Aku memang rindu sekali kepada ke dua orangtuaku, tapi aku tidak tahu harus bagaimana pulang ke pulau itu. Lagipula aku tidak punya uang untuk menyewa perahu."
"Engkau menuju pesisir utara, sampai di sana carilah seorang lelaki bernama Kwa Kiat Lam. Beritahukaniah kepadanya siapa ayahmu, dia pasti mengantarmu pulang ke pulau itu"
"Terima kasih atas petunjuk Bibi, terima kasih."
"Uangmu tidak cukup untuk biaya ke pesisir utara, maka aku akan memberimu uang."
Wanita itu menyerahkan sebuah bungkusan kecil kepada Thio Han Liong.
"Terima kasih, Bibi,"
Ucap Thio Han Liong sambil menerima bungkusan kecil itu.
"oh ya. Bibi, kenapa si Mo begitu kejam?"
"Itu memang sifatnya, engkau harus membasminya kelak"
Sahut wanita itu, kemudian menghela nafas panjang.
"Aku telah bersumpah tidak akan membunuh, maka aku tidak membunuh si Mo-Kepandaian si Mo sangat tinggi sekali, dan dia pun sering menggunakan racun. Hati-hatilah kalau kelak engkau berhadapan dengannya"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk-"Aaaah -"
Mendadak wanita itu menghela nafas panjang.
"Tak disangka kini begitu banyak jago berhati kejam bermunculan dalam rimba persilatan Kelak engkau dan Giok Cu harus membasmi para jago berhati jahat itu"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk lagi.
"Baiklah, kita berpisah di sini. &ngkau harus langsung menuju pesisir Utara.Agar lebih cepat sampai di sana, lebih baik engkau membeli seekor kuda."
Ujar wanita itu lalu melesat pergi.
Ke empat pengiringnya juga melesat pergi sambil memainkan alat musik masing-masing.
Thio Han Liong berdiri termangu-mangu, setelah itu barulah ia meninggalkan tempat itu, langsung menuju arah utara.
-ooo00000ooo
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com Tan Giok Cu, gadis kecil itu duduk melamun di pekarangan. Tan Ek seng dan Lim soat Hong mendekatinya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Nak,"
Tanya Lim soat Hong lembut.
"Kenapa engkau duduk melamun di sini?"
"Ibu, Giok Cu sedang memikirkan Kakak tampan. entah berada di mana dia dan bagaimana"
"Dia pasti sudah sampai di gunung Bu Tong,"
Sahut Lim soat Hong.
"Dan dia pun pasti baik-baik saja."
"Ibu,"
Tanya Tan Giok Cu mendadak-"Bolehkah aku menyusulnya ke gunung Bu Tong?"
Lim soat Hong tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Tidak boleh, sebab engkau masih kecil,"
Jawabnya.
"Bagaimana kalau Ayah mengantarku ke gunung Bu Tong?"
Gadis itu memandang Tan Ek seng dengan penuh harap.
"Nak"
Tan Ek seng menggelengkan kepala-"Ayah tidak sempat, lagipula belum tentu dia berada di gunung Bu Tong. Lebih baik engkau tunggu dia di rumah saja."
"Ayah,"
Tanya Tan Giok Cu dengan mata basah-"Dia pasti ke mari menjumpaiku?"
"Dia sudah berjanji, tentunya akan ke mari menengokmu,"
Sahut Lim soat Hong "sungguh-sungguh Ibu-Kalau dia tidak ke mari, aku -."
Air mata gadis kecil itu meleleh.
"Aku tiada gairah hidup,"
Tan Ek seng dan Lim soat Hong terkejut, kemudian mereka berdua saling memandang. Di saat itulah mendadak terdengar suara kecapi dan suling, yang makin lama makin jelas.
"Heran?"
Gumam Tan Ek seng.
"Kok ada suara musik?"
Pada saat bersamaan, melayang turun empat wanita berpakaian putih-Tak lama kemudian melayang turun lagi seorang wanita berpakaian kuning, dan suara musik tadi berhenti-"Maaf"
Ucap wanita berpakaian kuning.
"Kedatangan kami telah mengganggu kalian sekeluarga."
"Tidak apa-apa"
Sahut Lim soat Hong dengan ramah.
"Bolehkah kami tahu siapa Nona?"
"Aku she yo,"
Jawab wanita itu.
"Nona Yo, ada keperluan apa Nona berkunjung ke mari?"
Tanya Tan Ek seng sopan, la tahu sedang berhadapan dengan wanita yang berkepandaian tinggi.
"Aku tertarik akan putri kalian, maka aku ke mari,"
Sahut wanita itu sambil memandang Tan Giok Cu.
"Maksud Nona?"
Lim soat Hong tidak mengerti
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Aku berniat menerimanya menjadi murid-"
Wanita itu memberitahukan.
"Tentunya kalian berdua tidak berkeberatan kan?"
Tan Ek seng dan Lim soat Hong saling memandang, kemudian Tan Ek seng bertanya.
"Nona bersedia mengajar Giok Cu di sini?"
"Kalau sudah menjadi muridku, tentunya harus ikut ke tempat tinggalku,"
Sahut wanita itu.
"Di mana tempat tinggal Nona?"
Tanya Lim soat Hong.
"Di belakang Ciong Lam san"
Sahut wanita itu.
"Haah?"
Lim soat Hong terbelalak-"Be -begitu jauh, bagaimana mungkin Giok Cu mau ikut Nona ke sana?"
"Aku tidak akan memaksa-Apabila dia tidak mau berarti tiada jodoh dengan aku,"
Ujar wanita itu sambil tersenyum-"
Namun, aku yakin dia mau ikut aku ke gunung ciong Lam san. yang penting kalian berdua tidak berkeberatan. Kalau kalian berkeberatan, itu akan menyia-nyiakan kesempatan ini."
"Tapi..-"
Lim soat Hong tampak ragu.
"Begini saja Nona"
Ujar Tan Ek seng.
"Bila Giok Cu bersedia ikut Nona ke gunung Ciong Lam San, kami pun tidak berkeberatan."
"Bagus"
Wanita itu manggut-manggut, kemudian bertanya kepada Tan Giok Cu.
"Engkau mau belajar ilmu silat tingkat tinggi?"
"Mau. Tapi -Bibi siapa?"
Gadis kecil itu menatapnya.
"Namaku yo sian sian. Engkau panggil aku Bibi sian sian saja,"
Sahut wanita bernama yo sian sian itu.
"Bibi sian sian, aku -aku tidak mau ikut ke gunung ciong Lam san, aku mau belajar di rumah saja,"
Ujar Tan Giok Cu.
"Giok Cu"
Yo sian sian tersenyum.
"Kalau engkau belajar di rumah, pasti tidak akan maju. Maka alangkah baiknya engkau ikut ke tempat tinggalku, lima tahun kemudian, engkau boleh pulang."
"Lima tahun?"
Tan Giok Cu terbelalak.
"Tidak mau ah"
"Kenapa tidak mau?"
Tanya yo sian sian lembut.
"Karena. -"
Tan Giok Cu menundukkan kepala.
"Giok Cu"
Yo sian sian tersenyum.
"Aku tahu, engkau sedang menunggu Kakak tampan bernama Thio Han Liong kan?"
"Kok Bibi tahu?"
Tan Giok Cu menatapnya heran.
"Bibi adalah familinya?"
"Kami bukan famili, tapi aku kenal ayahnya,"
Sahut yo sian sian.
"Kini Kakak tampanmu itu sedang menuju pesisir utara, dia akan berlayar pulang ke rumahnya. Dia akan belajar ilmu silat tingkat tinggi dari ayahnya, maka engkau pun harus belajar ilmu silat tingkat tinggi dariku. Kalau tidak, bagaimana mungkin engkau menjadi pasangannya kelak?"
"Bibi-..."
Tan Giok Cu berpikir sejeNak, lalu mengangguk.
"Aku mau ikut Bibi kegunung Ciong Lam san."
"Bagus, bagus"
Yo sian sian tersenyum.
"Engkau memang berjodoh menjadi muridku, pasti kuwariskan semua ilmu silatku."
"Terimakasih, Bibi,"
Ucap Tan Giok Cu-"Apakah mulai sekarang aku harus memanggil Bibi guru?"
"Giok Cu"
Yo sian sian membelainya-"terserah engkau-Engkau boleh memanggilku guru, juga boleh memanggilku bibi-"
"ya. Bibi-"
Tan Giok Cu mengangguk "
Kapan kita berangkat ke gunung ciong Lam san?"
Tanyanya.
"saat inijuga"
Sahut yo sian sian.
"Maaf"
Ucap Lim soat Hong.
"Bagaimana kalau berangkat esok saja?"
"Berangkat sekarang atau esok sama saja,"
Sahut yo sian sian sambil tersenyum.
"Lima tahun kemudian, Giok Cu pasti pulang."
"Itu."
Lim soat Hong tampak berat sekali berpisah dengan putri tercintanya.-"Ibu jangan bersedih"
Ujar Tan Giok Cu.
"Lima tahun kemudian aku pasti pulang dengan membawa kepandaian yang luar biasa."
"Nak,.."
Lim soat Hong memeluknya erat-erat.
"Nona, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
Tanya Tan Ek seng.
"Tentu boleh."
Yo sian sian mengangguk.
"Silakan"
"Sebetulnya siapa orangtua Thio Han Liong?"
Ternyata ini yang ditanyakan Tan Ek seng.
"Engkau tidak kenal dia, tapi pasti pernah mendengar nama besarnya"
Sahut yo sian sian.
"Dialah yang paling berjasa meruntuhkan Dinasti Goan."
"Dia. -"
Tan Ek seng terbelalak.
"Thio Bu Ki?"
"Betul."
Yo sian sian mengangguk.
"Bagaimana kepandaiannya, tentunya kalian tahu. oleh karena itu, sungguh beruntung Giok Cu karena aku bersedia menerimanya menjadi murid-"
"ooooh"
Tan Ek seng manggut-manggut.
"Terima kasih Nona."
"Maaf"
Ucap Lim soat Hong.
"Bolehkah kami tahu, sebetulnya siapa Nona?"
"Di belakang ciong Lam san, terdapat Kuburan Mayat Hidup, Burung Rajawali dan Pasangan Pendekar, tidak muncul lagi di dunia Kang-ouw."
Yo sian sian membaca syair tersebut, kemudian mendadak menyambar Tan Giok Cu dan melesat pergi, diikuti ke empat pengiringnya.
"Giok Cu.. Giok Cu..."
Teriak Lim soat Hong memanggil putrinya-Namun, cuma terdengar suara kecapi dan suling.
"Aaaahi-"
Seru Tan Ek seng mendadak "Aku sudah tahu siapa Nona yo itu Aku sudah tahu"
"suamiku...."
Lim soat Hong terisak-isaki "Giok Cu telah dibawa pergi."
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa,"
Sahut Tan Ek seng dengan wajah berseri.
"Sungguh beruntung putri kita, sungguh beruntung sekali"
"Suamiku...."
Lim soat Hong menatapnya dengan kening berkerut-kerut.
"Kenapa engkau tidak sedih? Giok cu-..."
"Isteriku, engkaupun harus bergembira,"
Sahut Tan Ek Seng.
"Tahukah engkau siapaNona yo itu?"
Lim soat Hong menggelengkan kepala
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "isteriku"
Tan Ek seng memberitahukan.
"Nona yo adalah turunan sin Tiauw Tayhiap yo Ke dan siauw Liong Li"
"Apa?"
Lim soat Hong tertegun.
"Benarkah itu?"
"Aku yakin benar."
Sahut Tan Ek seng.
"Syair itu menyatakan bahwa dia adalah keturunan Pasangan Pendekar. Kita... kita juga beruntung, sebab Thio Han Liong adalah anak Thio Bu Ki, yang amat terkenal itu. Ha ha ha..."
Belasan hari kemudian, yo sian sian, Tan Giok Cu dan ke empat pengiringnya telah tiba di hadapan sebuah kuburan tua yang amat besar.
Kuburan tua itu terletak di belakang gunung ciong Lam san.
Begitu melihat kuburan tua tersebut, pucatlah wajah Tan Giok Cu.
"Bibi, kuburan tua itu sungguh menyeramkan"
Ujar gadis kecil itu ketakutan.
"Giok Cu"
Yo sian sian menggeleng-gelengkan kepala-"Engkau begitu penakut, bagaimana mungkin menjadi pendekar wanita kelak? Han Liong lebih besar setahun darimu, tapi dia begitu berani."
"Aku... aku tidak takut."
Tan Giok Cu membusungkan dadanya.
"Kalaupun ada setan keluar dari kuburan tua itu, aku... aku pasti mengusirnya."
"Bagus, bagus"
Yo Sian sian tersenyum.
"Tapi di dalam kuburan tua itu tidak ada setan. Ayohi kita ke dalam"
"Ha a a h?"
Tubuh Tan Giok Cu langsung menggigil.
"Kita... kita akan masuk ke kuburan tua itu?"
"Ya. Engkau takut?"
"Aku -aku tidak takut"
Tan Giok Cu membusungkan dadanya lagi seraya bertanya.
"Kita ke dalam untuk mengusir setan?"
"Bukan."
Yo sian sian tersenyum.
"Melainkan akan tinggal di dalam kuburan tua itu"
"Itu... itu bagaimana mungkin?"
"Giok Cu"
Yo sian sian memberitahukan.
"Kuburan tua itu adalah tempat tinggalku. Engkau adalah muridku, maka harus tinggal di dalam kuburan tua itu juga."
"oooh"
Tan Giok Cu manggut-manggut.
"Engkau takut?"
Yo sian sian menatapnya.
"Bibi tidak takut, maka aku pun tidak takut,"
Sahut Tan Giok Cu sambil tertawa kecil.
"Bagus, bagus"
Yo sian sian membelainya, kemudian tangannya menekan sebuah tombol rahasia, setelah itu ia mendekati sebuah batu, lalu memutar batu itu ke kiri dan ke kanan beberapa kali.
Terdengarlah suara gemuruh-Ternyata mendadak tempat yang mereka injak itu bergeser menimbulkan suara itu, kemudian terlihatlah sebuah lubang di situ.
"Giok Cu, mari kita masuk"
Tan Giok Cu mengangguk, lalu mengikuti yo sian sian memasuki lubang itu melalui undakan tangga.
Ke empat pengiring itu pun mengikutinya.
Mendadak terdengar suara gemuruh, ternyata lubang yang di atas tadi telah tertutup kembali.
Namun sungguh mengherankan, di dalam ruangan itu tetap terang benderang.
Ternyata dinding ruangan itu dibuat dari batu yang memancarkan cahaya.
yo sian sian menekan sebuah tombol rahasia, tiba-tiba dinding itu bergeraki dan muncul sebuah pintu rahasia-yo sian sian mengajak Tan Giok Cu masuk ke dalam.
Begitu memasuki pintu itu, terbelalaklah Tan Giok Cu karena dirinya berada di sebuah ruangan yang amat indah dan besar, bahkan juga terang benderang.
"Giok Cu, mulai sekarang engkau resmi menjadi muridku,"
Ujar yo sian sian sambil menatapnya tajam.
"Guru"
Panggil Tan Giok Cu sekaligus bersujud di hadapannya.
"Terimalah hormat dari murid"
"Banguniah muridku"
Yo sian sian tersenyum lembut dan memberitahukan.
"Mereka berempat adalah pelayanku bernama siauw Cui, siauw La n, siauw Ling dan siauw Cing. Engkau boleh panggil nama mereka."
"ya."
Tan Giok Cu mengangguk "Nona Giok Cu"
Ucap mereka berempat serentak sambil memberi hormat.
"Terimalah hormat kami"
"sama-sama,"
Sahut Tan Giok Cu dan segera balas memberi hormat kepada mereka itu.
"Giok Cu,"
Ujar yo sian sian.
"Mulai besok guru akan mengajarmu Giok Li sin Kang (Tenaga sakti gadis Murni), dan engkau harus rajin-rajin belajar."
"ya, guru"Tan Giok Cu mengangguk.
"Giok Cu"
Yo sian sian menatapnya sambil tersenyum."Engkau masih ingat kepada Kakak tampan itu?"
"Ingat. Wajahnya selalu muncul di depan mata murid...."
Tan Giok Cu memberitahukan sambil menundukkan kepala-"Engkau menyukainya?"
"ya."
"Berapa usiamu sekarang?"
"Sepuluh tahun, Guru."
"Baru berusia sepuluh tahun, namun cintamu sudah mulai bersemi-sungguh luar biasa"
Yo sian sian menggelenggelengkan kepala, kemudian berpesan.
"Mulai besok di saat engkau berlatih Giok Li sin Kang, tidak boleh membayangkan wajah Han Liong."
"ya, guru."
Tan Giok Cu mengangguk-"Guru, Kakak tampan tidak akan melupakan murid, kan?"
Tanyanya mendadak.
"Kalau dia berani melupakanmu, guru pasti mencabut nyawanya"
Sahut yo sian sian sungguh-sungguh -"Guru --"
Bukan main terkejutnya gadis kecil itu-"Guru tidak boleh begitu-Kalau Guru mencabut nyawanya, bagaimana diriku?"
"Giok Cu"
Yo sian sian membelainya.
"Kalau dia tidak setia kepadamu, engkau harus membunuhnya. Tapi itu adalah urusan kelak, jangan dibicarakan sekarang"
"ya, Guru."
Tan Giok Cu mengangguk,-Keesokan harinya, mulailah yo sian sian mengajar Tan Giok Cu Giok Li sin Kang....
Bab 10 Kembali Ke Pulau Hong Hoang to Setelah menempuh perjalanan hampir sepuluh hari.
barulah Thio Han Liong tiba di pesisir utara.
Banyak sekali perahu nelayan di sana.
Thio Han Liong menuntun kudanya menghampiri seorang nelayan tua.
"Paman tua,"
Tanya anak kecil itu.
"Di mana Paman Kwa Kiat Lam?"
"Kwa Kiat Lam?"
Nelayan tua itu tampak terkejut.
"Anak kecil, mau apa engkau mencarinya?"
"Mau minta tolong kepadanya mengantarku ke sebuah pulau,"
Sahut Thio Han Liong.
"Anak kecil...."
Nelayan tua itu menggeleng-gelengkan kepala-"Percuma engkau mencarinya."
"Kenapa?"
"Dia tidak akan mengantarmu ke pulau itu, sebaliknya malah akan memukulmu."
"oh?"
Thio Han Liong tertegun.
"Paman tua, katakan dia berada di mana?"
"Anak kecil...."
Nelayan tua itu menghela nafas panjang.
"Kenapa engkau berkeras ingin menemuinya?"
"Paman tua...."
"Baiklah"
Nelayan tua itu menunjuk ke arah kiri-"Itu adalah kapalnya-Dia pasti berada di dalam kapalnya itu-"
"Terima kasih, Paman tua,"
Ucap Thio Han Liong, lalu segera menuntun kudanya ke sana. sampai di tempat itu ia berteriak-teriak "Paman Kwa Kiat Lam, aku Han Liong ingin bertemu Paman Kwa Kiat Lam..."
Thio Han Liong terus berteriak-teriak memanggil orang tersebut-Berselang sesaat. tampak sosok bayangan melesat keluar dari kapal itu, mengarah Thio Ha n Liong, lalu berdiri di hadapannya.
"Paman Kwa...."
Betapa girangnya Thio Han Liong.
"Bocah"
Bentak orang itu dengan wajah gusar, usia-nya empat puluhan bermuka hitam.
"Kenapa engkau berteriakteriak memanggil namaku? Mau cari mampus ya?"
"Paman Kwa"
Thio Han Liong seaera memberi hormat.
"Tolong antar aku ke pulau Hong Hoang to di Pak Hai"
"Apa?"
Kwa Kiat Lam melotot.
"Engkau berani menyuruhku mengantarmu ke pulau yang di Pak Hai? Hm Putra kaisar pun tidak akan kuantar ke sana, apalagi engkau"
"Paman Kwa, ayahku bernama Thio Bu Ki."
Thio Han Liong memberitahukan.
"Apa?"
Air muka Kwa Kiat Lam langsung berubah-"Bocah sungguh berani engkau mengaku sebagai anak Thio Kauwcu."
"Ayahku bukan Thio Kauwcu, melainkan Thio Bu Ki-ibuku bernama Tio Beng."
"Engkau sendiri bernama apa?"
"Thio Han Liong-"
"Bocah, betulkah engkau anak Thio Kauwcu?"
"Paman Kwa, aku anak Thio Bu Ki, bukan anak Thio Kauwcu,"
Sahut Thio Han Liong dan bertanya.
"Kenapa Paman memanggil ayahku Thio Kauwcu? Kauwcu apa ayahku?"
"Bocah"
Kwa Kiat Lam menatapnya tajam.
"Engkau punya bukti bahwa engkau adalah anak Thio Bu Ki?"
"Bukti?"
Thio Han Liong mengerutkan kening sambil berpikir.
"oh ya Ayahku pernahmengajarku Thay Kek Kun, bagaimana kalau aku memperlihatkan Thay Kek Kun itu?"
"Baik"
Kwa Kiat Lam mengangguk. Thio Han Liong segera mempertunjukkan ilmu silat tersebut, dan Kwa Kiat Lam menyaksikannya dengan mulut ternganga karena kagumnya.
"Bagaimana Paman Kwa?"
Tanya Thio Han Liong seusai mempertunjukkan ilmu silat itu.
"Sudah percayakah kalau aku anak Thio Bu Ki?"
"Han Liong"
Sahut Kwa Kiat Lam sambil memberi hormat-"Terimalah hormatku Tidak disangka aku akan bertemu anak Thio Bu Ki Ha ha ha -"
Kwa Kiat Lam memberi hormat kepada Thio Han liong, anak Thio Bu Ki-"
"Paman Kwa -"
Thio Han Liong cepat-cepat balas memberi hormat
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Han Liong,"
Tanya Kwa Kiat Lam penuh perhatian.
"Bagaimana keadaan ayah dan ibumu?"
"Ayah dan ibu -"
Thio Han Liong menutur tentang kejadian itu, kemudian menutur juga mengenai dirinya yang meloloskan diri dari tangan para Dhalai Lhama.
"sungguh jahat Cu Goan Ciang"
Ujar Kwa Kiat Lam sambil mengepal tinju dan menambahkan.
"Aku akan membunuhnya kelak"
"Cu Goan ciang? Bukankah beliau kaisar?"
Thio Han Liong tercengang.
"Kenapa Paman Kwa ingin membunuh kaisar?"
"seharusnya ayahmu yang menjadi kaisar, tapi dengan cara yang licik dia menggeser ayahmu, akhirnya dia yang menjadi kaisar-"
"Paman Kwa -"
Thio Han Liong terheran-heran.
"Aku -aku sama sekali tidak mengerti."
"Ayahmu tidak pernah menceritakan tentang dirinya?"
Kwa Kiat Lam menatapnya.
"Tidak pernah-"
"oooh"
Kwa Kiat Lam manggut-manggut.
"Engkau masih kecil, tentunya ayahmu tidak menceritakan tentang kejadian itu"
"Paman Kwa. tolong antar aku pulang ke pulau Hong Hoang to"
"Pulau Hong Hoang to? Di Pak Hai tidak ada pulau Hong Hoang to,"
Ujar Kwa Kiat Lam.
"Pulau itu adalah tempat tinggal kami-"
Thio Han Liong memberitahukan.
"oooh"
Kwa Kiat Lam manggut-manggut, kemudian menepuk bahu Thio Han Liong seraya berkata.
"Kebetulan aku memiliki kapal yang cukup besar-Kalau tidak, pasti tidak bisa mengantarmu ke pulau itu."
"Terima kasih, Paman"
Ucap Thio Han Liong.
"oh ya, kudaku?"
"Berikan saja kepada nelayan tua itu"
Sahut Kwa Kiat Lam.
"Suruh dia jual kudamu, uang itu kasihkan dia saja"
"ya."
Thio Han Liong segera menuntun kudanya ke tempat nelayan tua.
"Paman tua, aku sudah bertemu Paman Kwa."
"oh?"
Nelayan tua itu memandang ke arah Kwa Kiat Lam.
"Dia... dia tidak memukulmu?"
"Tidak."
Thio Han Liong tersenyum.
"sebaliknya malah bersedia mengantarku ke pulau yang di Pak Hai itu."
"oh? syukurlah"
Ucap nelayan tua itu.
"Paman tua"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Aku sudah mau berlayar, kuda ini kuberikan kepada Paman tua saja."
"Apa?"
Nelayan tua itu terbelalak.
"Kuda ini engkau berikan kepadaku?"
"ya."
Thio Han Liong tersenyum, lalu menyerahkan tali les kuda ilu kepada nelayan tua itu.
"Anak kecil"
Panggil nelayan tua itu.
Namun Thio Han Liong sudah berjalan pergi, kemudian bersama Kwa Kiat Lam memasuki sebuah kapal.
-ooo00000ooo-Ketika sang surya mulai condong ke barat, pemandangan di pantai pulau Hong Hoang to sungguh indah menakjubkan.
Thio Bu Ki danTio Beng duduk di dekat pantai sambil menikmati keindahan panorama.
Berselang beberapa saat, mendadak Tio Beng menghela nafas panjang.
"sudah empat tahun..."
Gumam Tio Beng sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kita sama sekali tidak tahu Han Liong masih hidup atau sudah mati."
"Beng Moay,"
Sahut Thio Bu Ki sambil memandang jauh ke depan.
"Aku yakin anak kita baik-baik saja."
"Tapi sudah empat tahun...."
"yaah"
Thio Bu Ki menghela nafas panjang.
"Keadaanku belum pulih-Aku menyuruhmu ke Tionggoan mencari Han Liong, namun engkau bilang harus pergi bersamaku."
"Bu Ki Koko"
Tio Beng memandangnya.
"Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu dalam keadaan belum pulih?"
"Beng Moay"
Thio Bu Ki menggeleng-gelengkan kepala.
"Tak disangka nasib kita jadi begini"
"Bu Ki Koko, aku sama sekali tidak menyesal bersamamu, hanya saja... kita kehilangan Han Liong."
Tio Beng mulai terisak-isak-"Beng Moay, percayalah"
Ujar Thio Bu Ki yakin-"Kita tidak akan kehilangan Han Liong."
"Tapi-..."
Tio Beng memandang jauh ke depan. Mendadak ia terbelalak.
"Ada sebuah kapal datang"
"oh?"
Thio Bu Ki langsung memandang jauh ke depan, la menarik nafas lega seraya berkata.
"Itu bukan kapal perang, melainkan kapal biasa, mungkin kapal dagang."
"Tapi-.."
Tio Beng mengerutkan kening.
"Kenapa kapal itu ke mari?"
"Ya."
Thio Bu Ki manggut-manggut.
"Memang mengherankan. Apakah mungkin kapal itu kehabisan bahan bakar, maka terpaksa berlabuh di sini?"
"Bu Ki Koko,"
Ujar Tio Beng berpesan.
"Kita harus berhatihati. Kalau yang datang itu adalah utusan cu Goan ciang...."
"Ngmmm"
Thio Bu Ki mengangguk-"Kalau begitu, mari kita bersembunyi sambil mengintip kapal itu"
"Baik,"
Sahut Tio Beng.
Mereka berdua segera bersembunyi di balik sebuah batu besar, lalu mengintip ke arah kapal yang sudah berlabuh itu.
seorang lelaki dan seorang anak kecil meloncat turun dari kapal itu.
siapa mereka?
Ternyata Kwa Kiat Lam dan Thio Han Liong.
Karena berada di tempat yang agak jauh, maka Thio Bu Ki dan Tio Beng tidak dapat melihat jelas anak kecil itu, lagipula kini Thio Han Liong bertambah agak besar, sehingga Thio Bu Ki dan Tio Beng tidak mengenali bentuk tubuhnya dari jauh.
"Heran?"
Gumam Tio Beng.
"siapa mereka? Kelihatannya anak kecil itu mengenali tempat ini."
"Beng Moay"
Seru Thio Bu Ki mendadak-"Jangan-jangan anak kecil itu Han Liong"
"oh?"
Tio Beng tampak tegang.
"Mari kita sapa mereka Mudah-mudahan anak kecil itu Han Liong"
Mereka berdua segera meloncat ke luar dari balik batu, kemudian cepat-cepat menghampiri anak kecil itu. Terdengarlah suara seruan yang sangat menggembirakan.
"Ayah Ibu..."
Itu adalah suara seruan Thio Han Liong.
"Han Liong Han Liong..."
Sahut Tio Beng dengan air mata berlinang-linang saking gembira.
"Anakku..."
"Ibu"
Thio Han Liong mendekap di dada Tio Beng. fsak tangis pun meledak di saat itu.
"Nak-..."
Tio Beng membelainya. sementara Kwa Kiat Lam terus memperhatikan Thio Bu Ki, lama sekali barulah ia memberi hormat.
"Thio Kauwcu, terimalah hormatku"
"Maaf"
Thio Bu Ki menatapnya.
"siapa Anda?"
"Thio Kauwcu, aku adalah Kwa Kiat Lam, mantan anak buah Kauwcu."
"Kwa Kiat Lam...."
Thio Bu Ki terus berpikir, kemudian terlawa gembira.
"Aku ingat sekarang. Bukankah aku pernah-.."
"Tidak salah-Kauwcu memang pernah menyelamatkan nyawaku, setelah itu aku masuk menjadi anggota Beng Kauw,"
Ujar Kwa Kiat Lam.
"saudara Kwa"
Thio Bu Ki memegang bahunya.
"Terima kasih atas kebaikanmu mengantar anakku pulang."
"Jangan berkata begitu Kauwcu"
Kwa Kiat Lam tersenyum.
"Aku gembira sekali bisa berjumpa dengan Kauwcu."
"saudara Kwa"
Thio Bu Ki tersenyum getir.
"Beng Kauw sudah bubar, maka engkau jangan memanggilku Kauwcu lagi"
"Kauwcu -."
Kwa Kiat Lam menggeleng-gelengkan kepala.
"Ayah"
Thio Han Liong mendekatinya.
"Ayah,.."
"Nak,"
Thio Bu Ki membelainya dengan penuh kasih sayang.
"Engkau bertambah besar, ayah», ayah girang sekali."
"Bu Ki Koko dan saudara Kwa"
Ujar Tio Beng.
"Mari kita bercakap-cakap di rumah saja"
"Terima kasih. Nyonya,"
Ucap Kwa Kiat Lam.
Mereka berempat berjalan menuju gubuk tempat tinggal Thio Bu Ki dan Tio Beng.
Berselang beberapa saat kemudian, sampailah mereka di gubuk itu.
Mereka berempat duduk berhadapan di dalam gubuk ilu.
Thio Han Liong terus memandang wajah ke dua orangtuanya.
"Nak,"
Ujar Thio Bu Ki sambil menghela nafas panjang.
"wajah kami telah rusak terbakar oleh Liak Hwee Tan yang beracun."
"Tidak bisa diobati lagi?"
Tanya Thio Han Liong."
"Bisa. Tapi--.."
Thio Bu Ki menggeleng-gelengkan kepala.
"sulit sekali mencari obatnya."
"obat apa?"
"soat Lian (Teratai salju)."
Thio Bu Ki memberitahukan.
"Hanya tumbuh di gunung soat sat yang amat dingin, dan setiap lima ratus tahun berbunga sekali."
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut dan berjanji dalam hati, kelak ia pasti ke gunung soat san mencari soat Lian.
"Nak"
Tio Beng tersenyum.
"Tuturkaniah pengalamanmu selama empat tahun ini, cara bagaimana engkau meloloskan diri dari para Dhalai lama dan tinggal di mana?"
"Ya-"
Thio Han Liong mengangguk, lalu menutur tentang ia meloloskan diri dari para Dhalai Lhama, kemudian bekerja di rumah Tan Ek seng dan di rumah Lie Cong Peng.
"Nak"
Tio Beng manggut-manggut bangga.
"Tak disangka engkau begitu tabahi bahkan mampu pula hidup mandiri, padahal engkau baru berusia tujuh tahun."
"Betul-betul luar biasa"
Ujar Kwa Kiat Lam.
"Aku kagum dan salut kepadanya, sungguh"
"Nak"
Thio Bu Ki tersenyum.
"Itu merupakan pengalaman yang amat berharga bagimu, jadi engkau tahu dalam rimba persilatan terdapat orang baik dan orang jahat."
"oh ya"
Mendadak Tio Beng tertawa geli-"Nak, engkau sungguh-sungguh menyukai gadis kecil bernama Tan Giok Cu itu?"
"Ya-"
Thio Han Liong mengangguk-"
Dia adalah gadis kecil yang baik hati, lagipula sangat memperhatikanku."
"ohi ya?"
Thio Bu Ki tertawa.
"Kalian berdua masih begitu kecil, tapi sudah saling menyukai. Bukan main itu"
"Ayah--"
Wajah Thio Han Liong langsung memerahi "Nak,"
Pesan Thio Bu Ki.
"Kalau gadis kecil itu begitu baik dan menaruh perhatian kepadamu, engkau pun tidak boleh mengecewakannya."
"ya. Ayah-"
Thio Han Liong mengangguki kemudian tertawa.
"Aku ingat pada siang Thiam Chun."
"Kenapa?"
Tanya Tio Beng.
"Dia pernah kukerjai."
Tutur Thio Han Liong tentang kejadian itu dan menambahkan.
"Untung aku usil. Kalau tidak, kakak Hiang pasti sudah celaka di tangan siang Thiam Chun itu"
"Itu bukan usil."
Tio Beng tersenyum.
"Melainkan perbuatan seorang pendekar."
"Betul."
Thio Bu Ki manggut-manggut.
"Nak, kelak engkau harus menjadi seorang pendekar yang gagahi berhati bajik dan berbudi luhur."
"Ya, Ayah-"
Thio Han Liong mengangguki "Oh ya, aku bertemu si Mo (iblis Dari Barat), sungguh jahat si Mo itu, dia menyiksaku karena aku tidak mau menjadi muridnya."
"Si Mo?"
Thio Bu Ki tertegun, kemudian memandang Kwa Kiat Lam seraya bertanya.
"Engkau tahu tentang si Mo itu?"
"Aku pernah dengar tentang si Mo dan lainnya,"
Jawab Kwa Kiat Lam memberitahukan.
"Belum lama ini dalam rimba persilatan telah muncul empat jago dan seorang pembunuh misterius. Ke empat jago itu adalah Tong Koay.Oey su Bin, si mo-Bu yung Hok, Lam Khie-Toan Thian Ngie dan Pak Hong-Lim Bun Kim. si mo-Buyung Hok adalah ketua golongan hitam, sedangkan Tong Koay.Oey su Bin adalah ketua golongan sesat."
"oh?"
Thio Bu Ki terbelalak-"Seratus tahun lalu juga terdapat empat jago dalam dunia persilatan.
Mereka adalah Tong sla-Oey yok su, si Tok Ouw yang Hong, Lam Ti-Toan Hong ya dan Pak Kay-Ang cit Kong.
Tong Koay-Oey suBin, apakah dia punya hubungan deng Tong sia-Oey yok su?
Lam Khie-Toan Thian Ngie, mungkinkah dia berasal dari Tayli?"
"Bu Ki Koko"
Tanya Tio Beng.
"Engkau kok tahu tentang itu?"
"Aku mendengar dari Thay suhu."
Thio Bu Ki memberitahukan, lalu bertanya lagi kepada Kwa Kiat Lam.
"Tentang si pembunuh misterius itu?"
"Dia telah membantai Hweeshio-hweeshio siauw Lim sie tingkatan Goan,"jawab Kwa Kiat Lam.
"Ha a h?"
Bukan main terkejutnya Thio Bu Ki dan Tio Beng.
"siapa pembunuh misterius itu?"
"Tiada seorang kaum rimba persilatan mengetahuinya. Bahkan belum lama ini tersiar suatu berita yang amat mengejutkan, yakni pembunuh misterius itu berhasil melukai Keng Ti seng Geng."
Ujar Kwa Kiat Lam dan menambahkan.
"saksi mata adalah--song wan Kiauw."
"Apa?"
Thio Bu Ki terbelalak-"Benarkah itu?"
"Aku yakin benar"
Sahut Kwa Kiat Lam-"Kini dalam rimba persilatan telah timbul berbagai badai-"
"Itu -"
Thio Bu Ki menggeleng-gelengkan kepala-"Sungguh di luar dugaan, pembunuh misterius itu dapat melukai Keng Ti seng Ceng, membuktikan kepandaiannya sangat tinggi sekali-"
"Kepandaian ke empat jago itu pun sangat tinggi sekali. Bahkan Tong Keay telah mengalahkan ketua Hwa san Pay dan Kun Lun Pay."
"oh?"
Thio Bu Ki mengerutkan kening, kemudian memandang Thio Han Liong seraya bertanya.
"Lalu bagaimana setelah si Mo menyiksamu?"
"Mendadak terdengar suara kecapi dan suling. Begitu mendengar suara musik itu, si Mo langsung kabur,"
Jawab Thio Han Liong memberitahukan.
"setelah itu muncul empat wanita berpakaian putih dan seorang wanita berpakaian kuning. Wanita berpakaian kuning itu sangat cantik sekali, wajahnya putih bagaikan salju, berusia empat puluhan."
"siapa wanita itu?"
Tanya Thio Bu Ki.
"Wanita itu kenal ayah"
Jawab Thio Han Liong lalu membaca sebuah syair.
"Di belakang Ciong Lam san, terdapat Kuburan Mayat Hidup, Burung Rajawali dan Pasangan Pendekar, tidak muncul lagi di dunia Kang-ouw. Wanita itu membaca syair ini, katanya ayah pasti ingat."
"Betul. Ayah sudah ingat siapa wanita itu."
Thio Bu Ki manggut-manggut.
"Dia yang menyelamatkan Kay Pang dan pernah pula menyelamatkan cia sun. Wanita itu she Yo-"
"Betul, wanita itu memang she Yo"
Ujar Thio Han Liong.
"Dia juga yang memberi petunjuk ke pesisir mencari Paman Kwa."
"oooh"
Kwa Kiat Lam manggut-manggut.
"Pantas engkau tahu namaku, tapi sebetulnya siapa wanita she Yo itu?"
"Kemungkinan besar..."
Jawab Thio Bu Ki.
"Dia adalah turunan sin Tiauw Tayhiap Yo Ko dan siauw Liong Li. sebab, siauw Liong Li berasal dari partai KouwBok Pay (Partai Kuburan Tua) yang terletak di belakang Ciong Lam san."
"Haaah-.."
Kwa Kiat Lam terbelalak.
"oh ya, kepandaian para Dhalai Lhama itu..."
"Memang tinggi sekali kepandaian mereka, karena mereka memiliki semacam ilmu istimewa, yakni mampu menggabungkan Lweekang mereka untuk memukul pihak lawan. Aku terserang oleh pukulan itu, kemudian terbakar lagi oleh Liak Hwee Tan yang mereka sambitkan itu."
Ujar Thio Bu Ki menjelaskan.
"Aku yakin tiada seorang jagopun di Tionggoan yang mampu menandingi mereka."
"Begitu tinggi kepandaian para Dhalai Lhama itu?"
Gumam Kwa Kiat Lam.
"Ya"
Thio Bu Ki mengangguk-"Mereka berjumlah sembilan, bisa membentuk suatu formasi, itulah kehebatan mereka."
"Aku tidak pernah mendengar tentang para Dhalai Lhama itu, mungkinkah mereka sudah pulang ke Tibet?"
Tanya Kwa Kiat Lam.
"Menurutku..."
Sahut Thio Bu Ki.
"Cu Goan ciang sudah mengangkat mereka jadi pengawal pribadi-"
"si keparat Cu Goan ciang itu, memang tidak tahu diri"
Caci Kwa Kiat Lam.
"Sudahlah"
Thio Bu Ki tersenyum getir.
"itu sudah takdir-Yang penting dia harus jadi kaisar yang baiki adil dan bijaksana."
Kwa Kiat Lam menghela nafas panjang.
"Aku sudah mengantar Han Liong ke mari, sekarang aku harus kembali ke Tionggoan."
"saudara Kwa."
Ujar Tio Beng.
"Bagaimana jika engkau tinggal di pulau ini? sebab kelak Han Liong masih membutuhkan bantuanmu, dia pasti akan ke Tionggoan."
"Baik"
Kwa Kiat Lam mengangguk-"Aku pun akan mengajar engkau ilmu silat tingkat tinggi."
Ujar Thio Bu Ki sungguh-sungguh "oh?"
Kwa Kiat Lam langsung memberi hormat.
"Terima kasih, Thio Kauwcu Terima kasih -"
Thio Bu Ki tersenyum, kemudian berkata pada putranya.
"Han Liong, mulai besok engkau harus giat berlatih Kiu yang sin Kang dan Thay Kek Kun, ayah juga akan mengajar engkau Kian Kun Taylo Ie"
"ya. Ayah"
Thio Han Liong mengangguk.
-ooo00000ooosementara di kuil siauw Lim sie justru terjadi sesuatu.
Malam hari ketika para Hweeshio sedang Liam Keng (Membaca Doa), mendadak terdengar suara tawa yang memekakkan telinga.
Bersamaan itu, melayang turun sosok bayangan di depan kuil siauw Lim sie itu, yang ternyata si Pembunuh Misterius.
"Keng Ti seng Ceng Keng Bun Hong Tio"
Seru si Pembunuh Misterius itu sambil mengerahkan Lweekang-nya, sehingga suara seruannya bergema ke dalam kuil.
Tak lama kemudian, muncullah dua Hweeshio tua dan belasan Hweeshio lain berusia lima puluhan.
Mereka adalah siauw Lim Cap Pwee Lo Han, masing-masing membawa sebatang toya.
Kedua Hweeshio tua itu adalah Keng Ti seng Ceng dan Keng Bun Hong Tio (Ketua siauw Lim).
"Omitohud"
Ucap Kong Ti seng Ceng.
"Engkau sudah ke mari"
"Ha ha ha"
Si Pembunuh Misterius tertawa gelak "Malam ini aku ke mari untuk minta petunjuk pada Kong Bun Hong Tio"
"omitohud"
Sahut Kong Bun Hong Tio-"Kenapa engkau membunuh para Hweeshio di sini?"
"Karena aku sangat dendam pada siauw Lim Pay"
Ujar si Pembunuh Misterius.
"Oleh karena itu, malam ini aku akan mencabut nyawa kalian"
"Omitohud"
Ucap Kong Bun Hong Tio-"Lebih baik engkau bertobat daripada terus berbuat dosa"
"Sudahlah. Jangan cuma omong kosong, malam ini juga aku akan menantang tiga Tetua siauw lim pay"
"Omitohud"
Kong Bun Hong Tio menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau begitu, aku saksa harus menghadapimu"
"Ha ha ha"
Si Pembunuh Misterius tertawa gelak "Memang harus Kita bertanding sepuluh jurus saja.
Kalau engkau sama sekali tidak terluka dalam sepuluh jurus, aku akan memberitahukan siapa diriku dan akan segera angkat kaki dari sini.
namun, apabila engkau kalah atau terluka, maka harus mengantarku menemui tiga Tetua itu"
"Baik"
Kong Bun Hong Tio manggut-manggut.
"Suheng"
Bisik Kong Ti seng Ceng, lalu mengajak belasan Hweeshio itu menyingkir.sementara si Pembunuh Misterius sudah mulai mengerahkan Iwekangnya.
Begitu pula Kong Bun Hong Tio, mereka berdua saling menatap.
Mendadak si Pembunuh Misterius membentak sambil menyerang.
"Jurus pertama"
Si Pembunuh Misterius langsung menyerangnya dengan ilmu Cing Hwee ciang.
sepasang telapak tangannya mengeluarkan cahaya kehijau-hijauan mengarah pada Keng Bun Hong Tio.
Keng Bun Hong Tio tidak berkelit, melainkan berusaha menangkis serangan itu dengan ilmu Kim Keng Hok Mo Ciang.
ilmunya itu memang telah mencapai tingkat kesempurnaan, setelah menangkis, Keng Bun Hong Tio balas menyerang.
Terjadilah pertarungan yang amat menegangkan.
Keng Bun Hong Tio berdiri diam sambil menggerakkan sepasang tangannya, sedangkan si Pembunuh Misterius berkelebat ke sana ke mari menyerang padri tua.
Tak terasa sudah lewat delapan jurus, hanya tersisa dua jurus lagi.
si Pembunuh Misterius penasaran sekali, karena belum dapat merobohkan Keng Bun Hong Tio.
Tiba-tiba ia bersiul panjang, lalu menyerang Keng Bun Hong Tio dengan jurus Cing HweeBu Ceng (Api Hijau Tiada Perasaan).
Tabuhnya berputar-putar ke atas, kemudian menukik turun sambil menggerakkan sepasang telapak tangannya menyerang ubun-ubun Keng Bun Hong Tio.
Paderi tua itu tetap berdiri di tempat, namun mendadak ia mengangkat sepasang telapak tangan ke atas menangkis serangan itu-"Ternyata Keng Bun Hong Tio mengeluarkan jurus Kim Keng Toh Ceng (Arhat Mengangkat Lonceng).
Prakk Terdengar huura benturan dahsyat.
si Pembunuh Misterius terpental ke atas, sedangkan badan Keng Bun Hong Tio berubah agak pendeki karena sepasang kakinya amblas ke dalam tanah-si Pembunuh Misterius yang terpental ke atas, mendadak saja cepat berjungkir balik dan langsung menyerang Kong Bun Hong Tio dengan jurus Cing Hwee sao Te (Api Hijau Membakar Bumi).
Kong Bun Hong Tio yang tidak bergerak menyambut serangan itu dengan jurus Kim Kong Hok Mo (Arhat Menaklukkan iblis), sepasang tangan padri tua ini mengeluarkan cahaya kekuning-kuningan menangkis sepasang telapak tangan yang bersinar kehijau-hijauan itu.
Daarrr suara ledakan dahsyat memekakkan telinga, ketika benturan terjadi.
si Pembunuh Misterius itu terpental ke atas lagi, sedangkan sepasang kaki Kong Bun Hong Tio semakin amblas ke dalam tanah.
sudah sepuluh jurus mereka berdua bertanding, si Pembunuh Misterius berjungkir balik ke bawahi lalu mendekati Kong Bun Hong Tio-Kong Bun Hong Tio tersenyum sambil meloncat ke atas.
Padri tua itu sama sekali tidak terluka.
"omitohud"
Ucap Kong Bun Hong Tio-"Kita telah bertanding sepuluh jurus, aku tidak terluka maupun roboh di tanganmu"
"Hm"
Dengus si Pembunuh Misterius dingin-"Engkau memang hebat, aku kagum padamu."
"Sesuai dengan janji, maka engkau harus memberitahukan tentang dirimu"
Ujar Kong Bun Hong Tio sambil memandangnya.
"Baik"
Si Pembunuh Misterius mengangguk "Kalian dengar, aku bernama seng Hwi Hun, Goan Pek Lek-Chiu-seng Kun adalah ayahku"
"Omitohud, ternyata engkau anaknya seng Hwi, engkau harus tahu...."
"Aku memang sudah tahu"
Potong seng Hwi.
"Kalian semua membiarkan cia sun membutakanmata ayahku, tak lama kemudian ayahku binasa. Karena itu, aku harus balas dendam Kalian dengar baik-baik, lima tahun kemudian aku akan ke mari lagi membuat perhitungan."
Seng Hwi melesat pergi, sementara Keng Bun Hong Tio masih tetap berdiri di tempat.
"suheng...."
Keng Ti seng Ceng menghampirinya.
"uaaaakh -"
Mendadak Keng Bun Hong Tio muntah darah segar.
"suheng"
Bukan main terkejutnya Keng Ti seng Ceng.
"Engkau terluka?"
Keng Bun Hong Tio mengangguk.
"Sungguh hebat ilmu pukulan cing Hwee Ciang itu, aku harus terus bertahan agar tidak muntah darah di hadapannya."
"suheng..."
Keng Ti seng Ceng segera memapahnya ke dalam kuil, belasan Hweeshio itu pun ikut ke dalam.
"Aaaa]f\..."
Keng Bun Hong Tio duduk sambil menghela nafas panjang.
"untung Kim Keng sin Kang ku telah sempurna, kalau tidak mungkin aku sudah mati di tangan seng Hwi itu"
"Bagaimana luka suheng?"
Tanya Keng Ti seng Ceng cemas.
"Tidak apa-apa. Hanya saja, aku harus beristirahat beberapa bulan agar bisa pulih."
Jawab Keng Bun Hong Tio sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Lima tahun kemudian, dia akan ke mari lagi, entah apa yang akan terjadi-"
"suheng."
Ujar Keng Ti seng ceng sambil mengerutkan kening.
"Aku yakin seng Hwi itu telah salah paham terhadap kita. Aku tahu, seng Kun sangat licik, tentunya menceritakan yang bukan-bukan pada seng Hwi"
"sutee"
Keng Bun Hong Tio menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku justru tidak habis pikir, kapan seng Kun beristeri?"
"Tentunya sebelum jadi murid Keng Kian suheng, sebab Seng Hwi kelihatan sudah berusia tiga puluhan."
Ujar Kong Ti seng Ceng.
"Tapi, dari mana dia memperoleh ilmu Cing Hwee ciang itu?"
"Memang mengherankan"
Kong Bun Hong Tio menghela nafas panjang.
"Lima tahun kemudian, kepandaiannya pasti bertambah tinggi, sedangkan kita bertambah tua. Aku kuatir siauw Lim Pay akan dihancurkannya."
"suheng, menurut aku lebih baik kita mohon petunjuk pada ke tiga paman guru."
Kong Bun Hong Tio menggelengkan kepala.
"Itu tidak baik, kecuali terpaksa"
Kong Ti seng Ceng manggut-manggut.
"Baik, kalau begitu kita tunggu saja"
"Tapi -"
Kong Bun Hong Tio menatapnya seraya berkata.
"Kita pun harus terus berlatih mempersiapkan diri untuk melawan seng Hwi lima tahun yang akan datang"
"Ya, suheng"
Kong Ti seng ceng mengangguk. -ooo00000ooo
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com Bab 11 Berangkat Ke Tionggoan Waktu terus berlalu, sementara itu Thio Han Liong terus berlatih Kiu yang sin Kang, Thay Kek Kun dan Kian Kun Taylo Ie-stapya tiba-tiba ia berlatih Kiu im Pek Kut Jiauw-Tak terasa sudah berlalu lima tahun, kini Thio Han Liong sudah berusia enam belas tahun, bertambah besar dan tampan.
"Han Liong,"
Thio Bu Ki mendekatinya.
"Hari ini ayah akan mengajar engkau semacam ilmu pedang."
"Terima kasih. Ayah"
Ucap Thio Han Liong.
Thio Bu Ki mulai mengajarnya ilmu pedang, Thio Han Liong memang berotak cerdas, cuma beberapa hari ia sudah dapat menguasai ilmu pedang itu.
Malam ini, Thio Bu Ki, Tio Beng, Kwa Kiat Lam dan Thio Han Liong duduk di dalam gubuki saat itu wajah Thio Bu Ki tampak agak serius.
"Han Liong."
Ujar Thio Bu Ki.
"Kini kepandaianmu sudah cukup tinggi, lagipula usiamu sudah enam belas tahun. Ayah harus menceritakan tentang diri ayah dan ibu kepadamu sekarang."
Thio Han Liong mendengar dengan penuh perhatian kelika Thio Bu Ki mulai menceritakan riwayat hidupnya, semakin mendengar Thio Han Liong semakin tertarik.
"setelah berhasil menguasai Kiu yang sin Kang, ayah meninggalkan lembah itu, lalu menyatukan mo Kauw yang dalam pertikaian, sejak itu berdirilah Beng Kauw, ayah diangkat sebagai Kauwcu."
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Pantas Paman Kwa memanggil Ayah Kauwcu."
"Han Liong,"
Thio Bu Ki tersenyum.
"Sesungguhnya ibumu adalah orang Mongol."
"oh?"
Thio Han Liong terbelalak mendengar hal itu.
"Benar"
Tio Beng tersenyum.
"Ibu adalah Putri Mongol, namun karena mencintai ayahmu, maka ibu ikut ayahmu."
"Beng Kauw berhasil meruntuhkan Dinasti Goan. setelah itu secara licik sekali Cu Goan ciang mengangkat dirinya sebagai kaisar"
Sela Kwa Kiat Lam.
"Padahal Cu Goan ciang adalah anak buah ayahmu, seharusnya ayahmu yang jadi kaisar"
"oh?"
Thio Han Liong memandang ayahnya.
"Han Liong...."
Thio Bu Ki menggelengkan kepala.
"Ayah sama sekali tidak berniat jadi kaisar, ayah berjuang hanya demi membebaskan penderitaan rakyat."
"Tapi -"
Sela Kwa Kiat Lam lagi.
"Cu Goan ciang itu memang jahat, dia mengutus pasukan pilihan untuk membunuh ayah dan ibumu."
"Cu Goan ciang kok begitu jahat?"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Han Liong,"
Ujar Kwa Kiat Lam.
"Engkau harus membunuh cu Goan ciang..."
"Jangan"
Potong Thio Bu Ki.
"Han Liong, kalau engkau membunuh cu Goan ciang, pasti akan terjadi peperangan lagi. Rakyatlah yang akan menderita, engkau tidak boleh membunuh Cu Goan ciang."
"Tapi Cu Goan ciang begitu jahat"
"Dia jahat karena khawatir ayah akan memberontak terhadapnya, sesungguhnya dia seorang kaisar yang baik dan sangat memperhatikan nasib rakyat"
"Tapi wajah ayah dan ibu?"
"Ini semua perbuatan para Dhalai Lhama,"
Sahut Thio Bu Ki.
"Engkau tidak mampu melawan para Dhalai Lhama itu, maka jangan coba mencari mereka"
"ya. Ayah"
Thio Han Liong mengangguk-"Tapi, aku akan ke gunung soat san mencari soat Lian itu untuk menyembuhkan wajah ayah dan ibu-"
"Itu tidak gampang."
Thio Bu Ki menggeleng-gelengkan kepala.
"Oh ya, engkau harus ke gunung Bu Tong menemui sucouw dan lainnya. Mohon petunjuk pada sucouw bagaimana mengalahkan para Dhalai Lhama itu"
"Ya, Ayah"
"Setelah itu..."
Tambah Thio Bu Ki.
"Engkaupun harus ke kuil siauw Lim Sie menemui Kakek Cia sun."
Thio Han Liong mengangguk-Dia merasa heran, kenapa ayahnya berpesan begitu padanya? Mungkinkah ayahnya akan menyuruhnya ke Tionggoan? Tanyanya dalam hati-"Han Liong,"
Thio Bu Ki menatapnya-"Engkau boleh ke Tionggoan esok bersama Paman Kwa-"
"Ayah --"
Baca Juga: Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan 5
Baca Juga: Keris Pusaka Dan Kuda Iblis Kho Ping Hoo