Ceritasilat Novel Online

Seruling Perak Sepasang Walet 10

Eps 10 Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung

Baca online Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung

Cersil Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung.

Mendadak Ciok Giok Yin merasa heran akan sebutan 'Sian Kun' terhadap dirinya. Maka dia segera berkata.

"Mengapa lo cianpwee selalu memanggilku Siau Kun? Bolehkah lo cianpwee menjelaskannya?"

"Tidak lama lagi kau akan mengetahuinya."

"Masih membutuhkan waktu berapa lama?"

"Tidak lama lagi."

Si Bongkok Arak menatap Ciok Giok Yin.

"Siau Kun, bagaimana mengenai rahasia potongan kain itu?"

Wajah Ciok Giok Yin langsung barubah menjadi murung.

"Telah dicuri orang,"

Sahutnya.

"Dicuri?"

"Ya."

"Siapa pencurinya?"

Ciok Giok Yin segera menutur tentang hilangnya potongan kain itu. Si Bongkok Arak dan Te Hang Kay berkata serentak.

"Siau Kun, kita harus segera menyelidikinya. Biar bagaimana pun potongan kain itu tidak boleh hilang, karena menyangkut jejak Seruling Perak."

Air muka mereka berdua tampak tegang sekali.

"Harus cari ke mana?"

Memang dia sama sekali tidak melihat orang yang mencuri potongan kain tersebut, lalu harus ke mana mencarinya? "Sekarang kita harus berpencar mencari, ayo!"

Kata si Bongkok Arak.

Dia memberi isyarat pada Te Hang Kay, lalu bersama-sama melesat pergi.

Di saat melesat Ciok Giok Yin teringat kembali akan cerita si Bongkok Arak dan Te Hang Kay.

Setelah berpikir secara cermat, Ciok Giok Yin berkesimpulan bahwa mereka berdua menyimpan suatu rahasia.

Sebab setiap kali berkata hingga pada pokoknya, mereka berdua pasti bilang tidak tahu.

Bukankah itu amat mengherankan sekali?

Lagi pula mengapa mereka berdua menuturkan cerita itu padanya?

Apakah Sin Kiong Te Kun Su Tek Thay Cu-Siangkoan Hua punya hubungan dengan dirinya?

Mendadak sebutan 'Siau Kun'?

Tidak meragukan lagi mereka berdua itu pasti orang Istana Dewa yang berhasil meloloskan diri, kini sedang mencari Chiu Tiong Thau penjahat itu.

Ketika teringat akan penuturan tentang Ciok Khie Goan suami isteri, Ciok Giok Yin menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Setelah itu dia berpikir lagi.

Ciok Khie Goan suami isteri yang merawat anak itu.

Seharusnya anak tersebut berada di sisi mereka.

Namun Te Hang Kay justru mengatakan tidak melihatnya.

Dulu ketika Tiong Ciu Sin Ie menyelamatkan Ciok Giok Yin, juga di sebuah lembah di gunung Muh San.

Mungkinkah Ciok Khie Goan suami isteri menyembunyikan dirinya di lembah itu?

Kalau begitu dirinya adalah keturunan Siangkoan Hua?

Seandainya demikian, Chiu Tiong Thau memang merupakan musuh besar perguruan juga adalah musuh besar keluarganya.

Betapa dalamnya dendam itu!

Berpikir sampai di situ, sepasang mata Ciok Giok Yin tampak berapi-api.

Rasanya ingin sekali cepat-cepat membunuh Chiu Tiong Thau, barulah bisa reda dendamnya itu.

Mendadak terdengar suara bentakan gusar dan menyusul suara 'Plak'.

Ciok Giok Yin segera melesat ke arah suara itu, lalu bersembunyi di balik sebuah batu besar.

Tampak seorang wanita berusia pertengahan, parasnya masih tampak cantik, membuktikan ketika masih muda, dia pasti cantik sekali.

Di hadapannya berdiri seorang aneh.

Begitu melihat orang aneh itu, hawa amarah Ciok Giok Yin langsung memuncak.

Ternyata orang aneh itu yang memberinya obat Cin Kang Ten.

Tak disangka kini dia berada di sini menghadang wanita berusia pertengahan tersebut.

Ciok Giok Yin sudah mau menyerang orang aneh itu, namun mendadak dibatalkannya.

Dia berkata dalam hati, 'Mengapa aku tidak melihat dulu apa yang akan dilakukannya?' Oleh karena itu, Ciok Giok Yin tetap bersembunyi di balik batu, tanpa bergerak sedikit pun.

Sepasang matanya terus menatap ke sana tanpa berkedip.

Tampak nafas wanita berusia pertengahan itu agak memburu, pertanda mereka telah bergebrak tadi.

Sedangkan orang aneh itu kelihatan amat tenang seperti tidak pernah terjadi sesuatu.

Sekonyong-konyong orang aneh itu tertawa terkekeh-kekeh, kemudian berkata.

"Pek Koan Im, lohu menunggumu dua puluh tahun lebih apakah hari ini kau masih ingin meloloskan diri?"

Ciok Giok Yin sama sekali tidak tahu, bahwa wanita berusia pertengahan itu adalah Pek Koan Im, orang yang dicari oleh orang aneh itu, seketika Pek Koan Im melotot sambil membentak.

"Pek Hoa Tiap (Kupu-kupu Seratus Bunga)! Kau telah mencelakai adikku! Kalau aku tidak mencungkil keluar jantungmu, aku bersumpah tidak mau jadi orang!"

Perkataan itu membuktikan bahwa Pek Hoa Tiap itu adalah seorang penjahat cabul. Namun Pek Hoa Tiap malah tertawa terkekeh, setelah itu baru menyahut.

"Omong kosong! Apabila kau mengabulkan permintaanku, aku akan mencungkil keluar jantungku untuk dipersembahkan padamu!"

"Kentut!"

"Kau jangan berpura-pura jadi wanita alim! Orang yang kau rindukan itu sudah jadi tulang belulang, mengapa kau masih merindukannya?"

Wajah Pek Koan Im tampak kehijau-hijauan dan sekujur badannya gemetar saking gusarnya. Terdengar Pek Hoa Tiap berkata lagi.

"Pek Koan Im, aku......"

"Jaga mulutmu, jangan omong sembarangan!"

Bentak Pek Koan Im. Akan tetapi Pek Hoa Tiap tetap melanjutkan ucapannya.

"Aku ingin tahu informasi tentang suatu urusan, boleh kan?"

"Tentang urusan apa?"

"Aku dengan Hek Koan Im adikmu itu melahirkan seorang anak perempuan, benarkah itu?"

"Tidak salah!"

"Itu adalah putriku!"

"Kau adalah penjahat cabul, aku tidak akan mengampunimu!"

Pek Koan Im langsung melancarkan serangan, kelihatannya sudah amat gusar sekali.

Akan tetapi tampak badan Pek Hoa Tiap berkelebat, dia telah berhasil mengelak serangan itu.

Pek Hoa Tiap menggoyang-goyangkan sepasang tangannya sambil berseru.

"Tunggu! Tunggu dulu!"

Namun Pek Koan Im tidak berhenti, terus menyerangnya sengit dan bertubi-tubi.

Pek Koan Im tahu bahwa kepandaian Pek Hoa Tiap amat tinggi, biar bagaimana pun dia bukan lawannya.

Oleh karena itu dia mencelat mundur dua depa.

"Kau mau bicara apa, bicaralah cepat!"

Bentaknya.

Sembari membentak, Pek Koan Im pun melirik ke sana ke mari, bagaimana cara meloloskan diri.

Namun gerak-geriknya itu tidak terlepas dari mata Pek Hoa Tiap.

Maka Pek Hoa Tiap tertawa terkekeh-kekeh lalu berkata.

"Kau tidak bisa meloloskan diri! Kalau tidak percaya, kau boleh berjalan pergi sejauh sepuluh depa, coba lihat apakah dapat lobos dari tanganku?"

Wajah Pek Koan Im kemerah-merahan karena Pek Hoa Tiap tahu akan apa yang dipikirkannya.

"Penjahat cabul, hari ini aku tidak akan mengampunimu!"

Bentaknya.

Pek Koan Im tahu jelas bahwa kalau hari ini tidak terjadi suatu kemujizatan pada dirinya, jangan harap bisa meloloskan diri dari hadapan Pek Hoa Tiap.

Di saat bersamaan Pek Koan Im pun teringat akan satu urusan, yaitu dia dan adiknya sama-sama jatuh hati pada Siangkoang Hua, bahkan rela menjadi budaknya.

Namun Siangkoan Hua tidak tergerak hatinya sama sekali.

Pada suatu hari, tanpa sengaja Pek Koan Im dan adiknya berjumpa dengan Siangkoan Hua.

Akan tetapi di malam harinya Siangkoan Hua justru menotok jalan darah mereka lalu pergi.

Kebetulan Pek Hoa Tiap melihat hal itu, dia juga kenal Pek Koan Im dan adiknya, bahkan sudah lama ingin menodai Pek Koan Im, namun tidak pernah berhasil.

Kali ini merupakan kesempatan baginya bagaimana mungkin dia akan menyia-nyiakan kesempatan itu?

Setelah melihat Siangkoan Hua meninggalkan penginapan, Pek Hoa Tiap ingin segera menodai Pek Koan Im.

Tapi sesudah berpikir sejenak, dia menjadi ragu karena amat takut terhadap Bu Tek Thau Cu-Siangkoan Hua.

Seandainya dia kembali lagi, bukankah nyawa Pek Hoa Tiap akan melayang?

Oleh karena itu Pek Hoa Tiap terus menunggu dengan sabar.

Berselang beberapa saat kemudian, tetap tidak tampak Siangkoan Hua kembali ke penginapan, barulah Pek Hoa Tiap berlega hati.

Perlahan-lahan dia mendorong pintu kamar, lalu masuk ke dalam.

Namun tak disangka, begitu dia melangkah ke dalam langsung tadi dipeluk dan dicium orang dengan mesra.

Dapat dibayangkan betapa girangnya Pek Hoa Tiap.

Dia langsung melepaskan pakaiannya, kemudian terjadilah hubungan intim dengan gadis yang memeluknya.

Ternyata Siangkoan Hua menggunakan ilmu menotok dari kitab Thay Ek Khie Su, maka berselang beberapa saat, totokan itu akan terbuka dengan sendirinya.

Begitu totokan terbuka, Hek Koan Im amat membenci Siangkoan Hua, karena menganggapnya tak berperasaan sama sekali.

Di saat hatinya amat kesal, telinganya mendengar suara pintu kamar terdorong perlahan-lahan.

Dia amat girang karena mengira Siangkoan Hua sudah kembali ke situ.

Maka dia bergegas meloncat turun dari ranjang lalu bersembunyi di balik daun pintu.

Oleh karena itu, begitu penjahat cabul tersebut melangkah ke dalam, dia langsung memeluknya erat-erat sekaligus menciumnya dengan mesra.

Saat itu Pek Koan Im berada di dalam kamar sebelah.

Dia mendengar suara itu, diam-diam mencaci adiknya yang mendahuluinya.

Tak disangka ketika dia amat kesal terhadap adiknya, mendadak terdengar suara bentakan sengit.

"Penjahat cabul, ternyata kau!"

Menyusul terdengar suara jeritan yang makin lama makin jauh.

Pek Koan Im tahu bahwa dirinya telah keliru menyalahkan adiknya.

Dia segera ke kamar itu.

Dilihatnya noda darah dan separuh kulit muka di atas ranjang, yang tidak lain adalah kulit muka penjahat cabul.

Ternyata Hek Koan Im yang menyabut muka penjahat cabul tersebut.

Kalau penjahat cabul itu tidak segera melarikan diri, pasti tewas di bawah belati Hek Koan Im.

Sementara Hek Koan Im menangis sedih di pinggir ranjang.

Diapaun ingin bunuh diri, namun Pek Koan Im sudah berjanji akan membunuh penjahat cabul itu dengan tangannya sendiri.

Sedangkan Hek Koan Im yang telah berhubungan intim dengan Pek Hoa Tiap justru membuatnya hamil, akhirnya melahirkan seorang anak perempuan.

Ketika bayi perempuan itu lahir, Hek Koan Im ingin membunuhnya.

Namun seorang ibu pasti memiliki perasaan sayang terhadap anak kandung sendiri, maka membuatnya tidak tega turun tangan.

Akan tetapi seorang gadis yang belum menikah, bagaimana mungkin menjadi seorang ibu?

Oleh karena itu Hek Koan Im menulis sepucuk surat, lalu diselipkan di pakaian bayinya, setelah itu secara diam-diam dia membawa bayinya ke rumah keluarga Tong.

Bayi perempuan itu tidak lain adalah Bwee Han Ping.

Sesudah itu Hek Koan Im pun kehilangan jejaknya, tiada seorang pun tahu tentang kabar beritanya.

Sedangkan Pek Koan Im terus mencari adiknya itu sampai di luar perbatasan, namun tiada hasilnya sama sekali.

Karena tidak berhasil mencari adiknya, maka Pek Koan Im teringat akan Bu Tek Thay Cu-Siangkoan Hua.

Dia ingin bertemu untuk terakhir kalinya dengan orang tersebut.

Tetapi dia sama sekali tidak tahu tentang Istana Dewa......

Semua kejadian lampau itu terlintas dalam benak Pek Koan Im.

Mendadak terdengar Pek Hoa Tiap tertawa terkekeh-kekeh lalu berkata.

"Dia taruh ke mana putriku itu?"

"Tidak tahu."

"Kau kira aku tidak tahu? Kau keliru!"

"Penjahat cabul, kau tahu?"

"Tidak salah!"

"Di mana?"

"Di perkampungan Tong!"

"Di perkampungan Tong?"

"Kuberitahukan, bocah jadah perkampungan Tong itu berniat jahat terhadap putriku. Untung muncul seorang anak kecil menggagalkan niat jahatnya itu! Tapi anak kecil itu malah tertendang oleh bocah jadah keluarga Tong, kemudian entah menghilang ke mana. Di saat itu pula putriku pun kehilangan jejak. Itu membangkitkan kegusaranku, maka kumusnahkan perkampungan Tong. Bahkan majikan perkampungan itu pun tidak terlepas dari tanganku! Ha ha ha.....!"

Ciok Giok Yin yang bersembunyi di balik batu besar mendengar jelas semua pembicaraan Pek Hoa Tiap.

Dia sama sekali tidak menduga bahwa Bwee Han Ping adalah putri Hek Koan Im.

Lebih-lebih tak menduga bahwa yang memusnahkan perkampungan keluarga Tong justru Pek Hoa Tiap penjahat cabul itu.

Di saat Pek Hoa Tiap usai berbicara, mendadak terdengar suara tangis yang memilukan bergema menembus angkasa.

Itu membuat Pek Hoa Tiap tertegun.

Kesempatan itu tidak disia-siakan.

Pek Koan Im.

Gadis itu langsung melesat pergi laksana kilat, dan dalam sekejap sudah menghilang di sebuah tikungan.

Ciok Giok Yin yang bersembunyi di balik batu besar juga mendengar suara tangis yang memilukan itu dan dia mengenalinya.

Dalam benaknya langsung muncul sosok bayangan, yang tidak lain adalah Bwee Han ping.

Saat ini Ciok Giok Yin sudah tidak menghiraukan Pek Hoa Tiap.

Dia segera melesat ke luar seraya berseru-seru.

"Kakak Ping! Kakak Ping! Kakak Ping!"

Dia terus berseru-seru, tetapi tidak mendengar sahutan.

Oleh karena itu Ciok Giok Yin segera mengerahkan ginkang, melesat laksana kilat pergi mengejar gadis itu.

Namun walau sudah melesat beberapa mil, tetap tidak berhasil menemukannya.

Jangan-jangan Bwee Han Ping bersembunyi di suatu tempat.

Dia juga mendengar pembicaraan Pek Hoa Tiap, maka membenci dirinya sendiri punya ayah seperti itu.

Hatinya pun menjadi hancur, sebab merasa dirinya sebagai anak haram.

Sedangkan Ciok Giok Yin dan Bwee Han Ping adalah teman sejak kecil.

Ciok Giok Yin tidak berpikir begitu.

Dia berharap dapat menyusul Bwee Han Ping, agar bisa berkumpul kembali dengan gadis itu.

Sementara hari sudah mulai gelap.

Tapi Ciok Giok Yin sama sekali tidak berhenti terus melesat mengejar Bwee Han Ping.

Mendadak sayup-sayup terdengar suara jeritan yang memilukan.

Ciok Giok Yin tersentak, lalu berseru dalam hati, 'Celaka!' Dia khawatir Bwee Han Ping bertemu penjahat.

Karena itu dia mempercepat langkahnya.

Setelah melesat beberapa mil, mendadak dia melihat sosok bayangan tergeletak di tanah.

Ciok Giok Yin langsung berhenti, sepasang matanya diarahkan pada bayangan itu.

Seketika hatinya berdebar-debar tegang.

Sebab sosok yang tergeletak di tanah itu ternyata adalah seorang gadis, namun wajahnya telah hancur dan kelihatannya telah binasa.

Ciok Giok Yin membungkukkan badannya memegang tangan gadis itu.

Ternyata tangan gadis itu sudah dingin.

Perbuatan siapa itu?

Begitu tega turun tangan terhadap seorang gadis?

Ciok Giok Yin berdiri termangu-mangu.

Di saat itu terdengar suara jeritan lagi, kegusaran Ciok Giok Yin langsung memuncak.

Dia harus menemukan orang yang berhati keji itu dan membunuhnya demi membalas dendam gadis yang telah binasa itu.

Oleh karena itu dia segera melesat ke arah suara jeritan itu.

Di sebuah rimba terlihat lagi seorang gadis binasa secara mengenaskan.

Wajahnya hancur berlumuran darah.

Ciok Giok Yin cepat-cepat memeriksa gadis itu.

Ternyata telapak tangan gadis itu masih terasa sedikit hangat.

Karena itu Ciok Giok Yin segera menyalurkan hawa murninya ke dalam tubuh gadis tersebut.

Ternyata dia ingin tahu siapa penjahat itu melalui mulut gadis tersebut.

Berselang beberapa saat kemudian dada gadis itu mulai turun naik, ternyata sudah bernafas.

Gadis itu mengeluarkan suara rintihan.

Ciok Giok Yin tahu bahwa gadis itu tidak bisa bertahan lama, maka segera berkata dengan suara ringan.

"Nona, siapa yang turun tangan jahat terhadapmu? Katakanlah agar aku dapat menuntut balas dendammu!"

Wajah gadis itu telah rusak sehingga tampak amat menyeramkan. Akan tetapi gadis itu diam saja, tidak menyahut. Beberapa saat kemudian barulah gadis itu mengeluarkan suara lemah dan terputus-putus.

"Wanita berkerudung muka...."

Ucapannya terhenti, karena nafasnya telah putus. Ciok Giok Yin berkertak gigi, kemudian berkata sengit.

"Aku bersumpah akan membalas dendam!"

Wanita berkerudung muka begitu tega membunuh kedua gadis itu sekaligus merusak wajah mereka.

Tentunya dia adalah seorang wanita iblis yang harus dibunuh!

Ciok Giok Yin baru mau melesat pergi, namun sekonyong-konyong bergerak cepat membalikkan badannya.

Tampak sebuah tandu meluncur ke arahnya.

Di sisi tandu terlihat sosok bayangan hijau.

Tentunya adalah Thian Thay Sian Ceng bersama Lok Ceh.

"Lok.....!"

Seru Ciok Giok Yin tak tertahan. Belum juga dia menyebut Ceh, tandu itu sudah melayang turun. Terdengar suara dingin dari dalam tandu.

"Bocah, kau sungguh berjodoh denganku! Tak disangka kita berjumpa di sini!"

Ciok Giok Yin sama sekali tidak tahu apa sebabnya Thian Thay Sian Ceng selalu ingin turun tangan terhadap dirinya.

"Bagaimana?"

Bentaknya.

Kening Lok Ceh tampak berkerut.

Kelihatannya perasaannya tegang dan wajahnya telah berubah menjadi murung.

Gadis itu tidak tahu harus bagaimana mengatakan situasi di depan matanya.

Terdengar sahutan dari dalam tandu.

"Membunuhmu!"

Ciok Giok Yin mendengus dingin.

"Hmm! Berdasarkan apa?"

"Cuma tidak menghendakimu hidup!"

Mendadak terdengar suara Lok Ceh yang bergematar.

"Suhu!"

"Ada apa?"

"Suhu ampunilah dia!"

"Mengapa?"

"Dia... dia...."

"Kenapa diam?"

Bentak Thian Thay Sian Ceng yang berada di dalam tandu. Wajah Lok Ceh bertambah murung, sekujur badannya menggigil seperti kedinginan, tak mampu menyahut sama sekali.

"Nona Lok, kau tidak usah turut campur. Aku ingin lihat dia bisa berbuat apa terhadap diriku."

Di saat bersamaan terdengar suara jeritan yang menyayat hati.

Tampak badan Lok Ceh terpental tiga depa lalu jatuh gedebuk di tanah dengan mulutnya menyemburkan darah segar.

Pada saat itu juga terdengar suara Thian Thay Sian Ceng.

"Bocah perempuan! Tak kusangka kau berani membantu orang luar!"

"Cepat bawa dia ke mari!"

Salah seorang wanita penggotong tandu segera melesat ke arah Lok Ceh.

Saat ini kegusaran Ciok Giok Yin telah memuncak.

Maka tanpa sadar dia menggunakan ilmu Hui Keng Pou melesat ke arah wanita penggotong tandu itu.

Namun wanita penggotong tandu itu langsung menggeram seraya melancarkan serangan.

Seketika terdengar suara yang menderu-deru.

Sedangkan Ciok Giok Yin telah mengerahkan Kan Yen Sin Keng sepenuhnya, kemudian mengeluarkan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang jurus ketiga.

Ternyata Ciok Giok Yin tidak mau membuang waktu.

Dia ingin menghabisi nyawa wanita penggotong tandu itu dengan satu pukulan.

Seketika terdengar jeritan menyayat hati dan darah segar mucrat ke mana-mana.

Tampak sosok tubuh terpental ke atas dalam keadan tidak utuh.

Sebelah kaki terbang ke atas lalu jatuh di tanah.

Blam!

Sungguh kebetulan, sebelah kaki itu justru jatuh di atas tandu.

Thian Thay Sian Ceng yang berada di dalam tandu, langsung membentak gusar.

"Bocah! Kalau malam ini aku tidak bisa membeset kulitmu lebih baik, tidak jadi orang!"

Mendadak tandu itu melambung ke atas.

Sedangkan salah satu wanita penggotong tandu, begitu melihat kawannya telah mati di tangan Ciok Giok Yin, dia langsung menerjang ke arah Ciok Giok Yin.

Kini Ciok Giok Yin diserang dari atas dan bawah.

Betapa dahsyatnya kedua serangan itu!

Terdengar suara menderu-deru.

Ternyata tandu yang berada di angkasa itu meluncur laksana kilat ke arah Ciok Giok Yin.

Sedangkan wanita penggotong tandu menerjang dengan sepenuh tenaga.

Sesungguhnya Ciok Giok Yin ingin menyelamatkan Lok Ceh.

Namun dalam keadaan seperti itu, tidak mungkin dapat menyelamatkannya.

Sepasang matanya melotot dia siap menyambut kedua serangan itu.

Perlu diketahui, setelah berhasil menguasai ilmu Kan Yen Sin Kang dari Liok Bun, diapun berhasil menyatukan sari Ginseng Daging dengan hawa mujizat Pil Api Ribuan Tahun.

Sudah barang tentu membuat lwee kangnya menjadi bertambah tinggi.

Mendadak Ciok Giok Yin berkertak gigi, lalu bersiul panjang.

Setelah itu barulah dia mengerahkan ilmu Hui Keng Pou.

Tampak badannya mencelat ke atas, tiga depa lebih tinggi dari tandu yang sedang meluncur ke arahnya.

Begitu badannya berada di angkasa, Ciok Giok Yin berjungkir balik sekaligus meluncur ke arahnya.

Begitu badannya berada di angkasa, Ciok Giok Yin berjungkir balik sekaligus melancarkan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Terdengar suara jeritan yang menyayat hati, disusul oleh suara 'Bum'.

Wanita penggotong tandu itu terpental.

Tubuhnya sudah tak berbentuk lagi.

Dia binasa secara mengenaskan.

Sedangkan tandu itu telah hancur berantakan berserakan di tanah.

Begitu kakinya menginjak tanah, Ciok Giok Yin langsung memandang ke arah tandu.

"Sungguh wanita yang tak tahu malu!"

Serunya tak tertahan.

Ternyata Thian Thay Sian Ceng merupakan wanita yang amat cantik, kelihatan seperti gadis berusia dua puluhan.

Akan tetapi dia justru tidak mengenakan pakaian, alias telanjang bulat.

Keindahan bentuk tubuhnya amat menggiurkan dan memukau.

Terutama sepasang payudaranya, menonjol seperti payudara gadis berusia tujuh belasan.

Otomatis membuat orang yang menyaksikannya, menjadi memikirkan yang bukanbukan.

Thian Thay Sian Ceng tersenyum-senyum, berdiri sejauh dua depa di hadapan Ciok Giok Yin.

Benarkah wanita itu adalah Thian Thay Sian Ceng?

Ternyata seorang wanita cantik yang tak berpakaian sama sekali.

"Siluman! Malam ini aku akan membeset kulit mu!"

Di saat Ciok Giok Yin baru mau melancarkan serangan, mendadak Thian Thay Sian Ceng tertawa cekikikan lalu berseru.

"Tunggu!"

Ciok Giok Yin batal melancarkan serangan.

"Kau ingin meninggalkan pesan?"

Tanyanya gusar.

"Kau telah membunuh kedua muridku!"

Katanya beberapa saat kemudian.

"Aku pun ingin membunuhmu!"

"Ciok Giok Yin, kau suka aku? Lihatlah!"

Usai berkata, Thian Thay Sian Ceng lalu mengangkat sebelah kakinya.

Melihat itu pikiran Ciok Giok Yin langsung menerawang.

Mendadak Thian Thay Sian Ceng tertawa cekikikan.

Di saat bersamaan tubuhnya bergerak, tahu-tahu kepalanya menyentuh tanah, sedangkan kedua belah kakinya berada di atas.

Setelah itu sepasang kakinya dibuka perlahanlahan.

Entah apa sebabnya, seketika Ciok Giok Yin berdiri seperti linglung di tempat.

Sepasang matanya terus menatap Thian Thay Sian Ceng, terutama di bagian selangkangan itu.

Perlahan-lahan kesadarannya di pelupuk matanya muncul beberapa sosok bayangan orang yang amat dikenalnya, yaitu Seh Yong Yong, Ho Siu Kouw, Heng Thian Ceng, Bwee Han Ping dan Tong Wen Wen.

Semua bayangan itu hilang dan muncul kembali di pelupuk matanya.

Mengapa gadis-gadis itu begitu tak tahu malu, satu persatu bertelanjang bulat di depan matanya?

Bukankah merupakan hal yang amat aneh sekali?

Entah sejak kapan Thian Thay Sian Ceng sudah berdiri tegak kembali seperti biasa.

Sepasang kakinya dirapatkan, kemudian pinggul dan tubuhnya bergoyang-goyang dan meliukliuk.

Ternyata gerakan itu yang menciptakan khayalan di depan mata Ciok Giok Yin, sehingga membuat pikirannya menjadi kacau balau dan kesadarannyapun mulai kabur.

Dia telah melupakan dirinya berada di mana.

Namun mulutnya terus bergumam perlahan.

"Kakak! Kakak! Ke marilah!"

Terdengar suara tawa di empat penjuru, bahkan terdengar pula suara seruan.

"Adik! Adik!"

Perlahan-lahan Ciok Giok Yin mengayunkan kakinya ke depan. Mendadak terdengar suara bentakan yang memekakkan telinga.

"Bocah... !"

Jilid 23 Dengan sepasang mata membara Ciok Giok Yin tetap melangkah maju selangkah demi selangkah. Sekonyongkonyong terdengar lagi suara bentakan mengguntur.

"Bocah, ilmu Thut Goan Kang (llmu Menghilangkan Kesadaran), cepat pejamkan mata bersemedi!"

Suara bentakan itu membuat Ciok Giok Yin tersentak sadar.

Dia tidak tahu siapa yang membentak, juga tidak tahu bagaimana lihaynya ilmu Thut Goan Kang.

Dia segera duduk bersila di tanah sambil memejamkan matanya lalu menghimpun hawa murninya untuk melawan ilmu tersebut.

Perlahan-perlahan pikiran menjadi jernih, hatinya tenang dan kesadarannya pun mulai pulih.

Di saat bersamaan terdengar suara memecahkan keheningan.

"Thian Thay Sian Ceng, lebih baik kau ikut pergi, kau pasti akan merasa senang dan puas......"

Thian Thay Sian Ceng yang telah gagal menaklukkan Ciok Giok Yin, memang sudah amat gusar. Kini mendengar perkataan itu tentunya seperti api tersiram bensin.

"Penjahat cabul, kau memang ingin cari mampus! Biar aku menyempurnakanmu!"

Bentaknya sengit.

Mendadak dia menyerang orang yang baru muncul itu dengan dahsyat.

Siapa orang yang baru muncul itu?

Ternyata adalah Pek Hoa Tiap!

Begitu melihat serangan yang dilancarkan Thian Thay Sian Ceng, dia sudah tahu bahwa itu merupakan ilmu pukulan yang mengandung tenaga lunak, tidak boleh dilawan dengan tenaga keras.

Oleh karena itu Pek Hoa Tiap langsung berkelit, bahkan sekaligus balas menyerang.

Angin pukulannya menderu-deru, menerjang ke arah bagian yang mematikan di badan Thian Thay Sian Ceng.

Thian Thay Sian Ceng mengelak serangan itu, kemudian balas menyerang lagi sehingga terjadilah pertarungan yang amat seru dan sengit.

Sementara kesadaran Ciok Giok Yin telah pulih.

Dia memang tidak terkesan baik terhadap Pek Hoa Tiap maupun Thian Thay Sian Ceng, maka ingin menunggu mereka berdua kelelahan, baru turun tangan menghabisi kedua orang tersebut.

Namun mendadak dia teringat satu hal yang amat penting, yaitu potongan kain yang telah hilang membuat hatinya tersentak.

Karena itu dia langsung melesat pergi, kemudian berseru.

"Siluman Thian Thay, aku masih punya urusan lain, mohon pamit dulu!"

Kini Ciok Giok Yin terus memikirkan potongan kain yang hilang itu, maka ketika melesat, dia pun memperhatikan tempat-tempat yang dilaluinya.

Mendadak dia melihat sosok bayangan berkelebat di depan, kemudian menghilang.

Hati Ciok Giok Yin tergerak dan membatin 'Bentuk bayangan itu, rasanya kukenal.

Apakah......' Ciok Giok Yin segera mengerahkan ginkang melesat laksana kilat ke depan.

Akan tetapi setibanya di depan sana dia tidak melihat bayangan apa pun.

Ciok Giok Yin melesat lagi ke depan, namun tetap tiada hasilnya, tidak tampak lagi bayangan tadi.

Dia berhenti di tempat tinggi lalu memandang ke sana kemari sambil termenung.

Ternyata dia mencurigai bayangan orang itu adalah orang yang mencuri potongan kainnya.

Kalau orang itu kabur, entah harus ke mana mencarinya?

Di saat dia sedang termenung mendadak terdengar suara 'Plak Plak' membuat hatinya tersentak kaget.

Suara itu kedengarannya dari belakang puncak.

Ciok Giok Yin segera membalikkan badannya lalu melesat ke arah suara.

Setibanya di tempat itu, dia melihat sebuah rimba dan tampak dua orang sedang bertarung sengit.

Kedua orang itu adalah Heng Thiang Ceng dan orang berpakaian abu-abu memakai kain penutup muka.

Berdasarkan kepandaian Heng Thian Ceng, bertarung seimbang dengan orang itu, dapat dibayangkan betapa tingginya kepandaian orang tersebut.

Ciok Giok Yin bersiul panjang, lalu menggunakan jurus Tiang Hong Mek Te (Pelangi Panjang Merosot ke Bumi) melesat ke arah pertarungan.

Kemudian dengan jurus Cun Yun Cut Yu (Awan terbang di Angkasa) dia menotok jalan Thian Coan Hiat di bagian belakang orang berpakaian abu-abu.

Orang berpakaian abu-abu itu sedang melayani Heng Thian Ceng, maka keadaannya telah lelah sekali.

Kini dia melihat Ciok Giok Yin campur tangan menyerangnya, maka membuat hatinya menjadi gugup.

Justru karena itulah dia menjadi nekad.

"Lohu akan mengadu nyawa denganmu!"

Bentaknya gusar.

Sepasang tangannya bergerak cepat bagaikan sepasang sayap burung rajawali, menyerang Heng Thian Ceng dan Ciok Giok Yin.

Serangannya memang amat lihay dan dahsyat, namun sudah tidak begitu mengandung tenaga.

Itu tidak terlepas dari mata Heng Thian Ceng, maka dia segera berseru pada Ciok Giok Yin.

"Adik, cepat bunuh dia!"

Kemudian dia menatap orang berpakaian abu-abu.

"Tok Ling Siu (Si Naga Beracun), kalau kau tahu diri, cepat kembalikan barang yang kau curi itu! Kalau tidak......"

Bentaknya. Ucapan Heng Thiang Ceng belum selesai, Tok Liong Siu sudah menghardik sengit.

"Wanita siluman, kalaupun hari ini aku binasa, kalian berdua tetap akan mati secara mengenaskan pula!"

Setelah menghardik, mendadak dia melesat pergi.

Akan tetapi Heng Thiang Ceng dan Ciok Giok Yin sudah menduga akan hal tersebut, maka mereka berdua mendengus dingin, kemudian melancarkan pukulan serentak ke arah Tok Liong Siu yang berusaha kabur.

Bum!

Bum!

Tampak batu-batu kecil di tempat itu beterbangan tersambar angin pukulan yang dilancarkan Heng Thian Ceng dan Ciok Giok Yin.

Di saat bersamaan terdengar pula suara jeritan.

Aaaaakh...

Tok Liong Siu terpental tiga depa dengan mulut menyemburkan darah segar kemudian roboh dan nyawanya melayang seketika.

"Adik, cepat geledah!"

Kata Heng Tian Ceng. Ciok Giok Yin langsung melesat ke arah mayat itu, lalu menggeledahnya. Dia berhasil menemukan potongan kain di dalam saku baju Tok Liong Siu.

"Kakak, aku amat berterimakasih padamu. Tak diduga di tempat ini aku berjumpa denganmu."

Katanya terharu.

"Adik, kini bukan saatnya kau berterimakasih pada kakak. Cepat ikut kakak ke sana!"

Heng Thiang Ceng melesat ke dalam rimba.

Ciok Giok Yin segera mengikutinya dari belakang.

Mereka berdua terus melesat, tak lama sampailah di sebuah lembah.

Heng Thian Ceng berhenti lain menghela nafas panjang.

"Adik, untung dalam waktu singkat kau berhasil menemukan kembali barang yang hilang itu. Kalau jatuh ke tangan perkumpulan Sang Yen Hween, akibatnya sungguh tak dapat dibayangkan!"

Dia menengok ke sana ke mari.

"Tempat ini amat sepi dan tidak ada orang. Alangkah baiknya kau keluarkan potongan kain itu, agar kakak dapat membantumu mengungkap rahasianya itu."

Ciok Giok Yin segera mengeluarkan potongan kain itu.

Kemudian mereka berdua duduk di atas sebuah batu besar sambil memperhatikan potongan kain tersebut.

Ternyata pada potongan kain itu telah muncul sebuah gambar pemandangan, yang terdapat puncak gunung, lembah dan air terjun meluncur ke sebuah sungai.

Setelah melihat gambar pemandangan itu, Heng Thian Ceng dan Ciok Giok Yin terus berpikir dengan kening berkerut-kerut.

Berselang beberapa saat tampak sepasang mata Ciok Giok Yin berbinar-binar.

"Kakak, aku pikir Seruling Perak disembunyikan di tempat itu. Namun aku tidak tahu di mana letak gunung itu. Pengetahuan Kakak lebih luas, mungkin mengenali gunung itu."

Heng Thian Ceng menengadahkan kepalanya. Kelihatannya dia sedang berpikir keras. Beberapa saat kemudian dia bergumam.

"Apakah..... Hah? Jangan-jangan Liong Kang (Sungai Naga)?"

Ciok Giok Yin tidak paham akan gumaman Heng Thiang Ceng.

"Kakak, di mana pemandangan itu? Cepat beritahukanku!"

Heng Thiang Ceng tersenyum.

"Pemandangan itu sepertinya berada di tebing Cing Ling, tapi saat ini kakak belum berani memastikannya, harus ke sana menyelidikinya."

Ciok Giok Yin yang ingin segera memperoleh Seruling Perak, agar dapat belajar ilmu silat tertinggi, demi membasmi para iblis dan siluman.

Maka dia langsung mengajak Heng Thian Ceng ke tebing Cing Li ng.

Heng Thian Ceng menurut.

Kemudian mereka berdua segera berangkat.

Di tengah jalan mereka membeli dua ekor kuda, setelah itu barulah melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda.

Petang hari ini mereka berdua sudah tiba di kaki gunung.

Di kaki gunung tersebut terdapat sebuah kota kecil.

Walau cuma terdiri dari ratusan rumah, tapi kota kecil itu amat ramai.

Heng Thian Ceng dan Ciok Giok Yin singgah di kota kecil itu untuk membeli sedikit makanan kering, lalu melanjutkan perjalanan memasuki gunung itu.

Bukan main indahnya panorama di tempat itu!

Namun mereka berdua sama sekali tidak menikmatinya.

Berselang beberapa saat mereka berdua berhenti di atas sebuah tebing, kemudian memperhatikan pemandangan di sekitar tebing itu.

Mendadak mata mereka terbelalak, ternyata melihat pemandangan yang persis seperti gambar pemandangan dalam potongan kain itu.

Dapat dibayangkan betapa girangnya hati Ciok Giok Yin.

Dia langsung bersiul panjang sekaligus meluncur ke bawah menggunakan jurus Han Ouh Uak Sui (Burung Gagak Melintas Air).

Sungguh indah gerakannya!

Heng Thian Ceng yang sudah berpengalaman khawatir di tempat Seruling Perak itu terdapat binatang beracun.

Karena itu dia pun ikut meluncur ke bawah.

Mendadak rimba bambu di depannya tampak bergoyang-goyang dan terdengar suara hembusan angin yang menderu-deru.

Menyaksikan itu, Heng Thian Ceng segera berseru.

"Adik, hati-hati!"

Di saat bersamaan terlihat seekor kelabang meluncur ke luar dari dalam rimba bambu.

Mulut binatang berbisa itu menyemburkan bisa, sehingga menimbulkan suara mendesisdesis.

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin?

Dia bergerak cepat mencelat ke belakang, kemudian melayang turun di samping Heng Thian Ceng.

Setelah itu barulah dia memandang ke arah binatang berbisa itu dan seketika terbelalak.

Ternyata kelabang beracun itu panjangnya hampir satu depa.

Sepasang matanya memerah, sedangkan ekornya menghempas ke sana ke mari, membuat batu di sekitarnya menjadi hancur berhamburan ke mana-mana.

Di saat bersamaan timbul, suatu pikiran dalam benak Ciok Giok Yin.

Dia segera memungut sebuah batu kecil, lalu disambit ke arah mata kiri kelabang berbisa itu.

Sambitan Ciok Giok Yin jitu mengenai sasaran sehingga mata kiri kelabang berbisa itu terluka.

Sudah barang tentu binatang berbisa tersebut mengamuk hebat.

Namun Ciok Giok Yin bergerak cepat, menyambit lagi dengan sebuah batu kecil ke arah mata kanan kelabang berbisa itu.

Cessss!

Tepat mengenai sasaran.

Kini sepasang mata kelabang berbisa itu telah buta.

Hal itu justru membuat binatang berbisa itu mengamuk lebih hebat.

Ekornya terus menghempas ke sana ke mari menghancurkan batu di sekitarnya, bahkan mulutnya terus menyemburkan uap amat berbisa.

Bersamaan itu Heng Thian Ceng cepat-cepat menarik Ciok Giok Yin untuk menyingkir ke sebuah batu besar.

Berselang beberapa saat barulah kelabang berbisa itu diam tak bergerak lagi.

Saat ini hari pun sudah mulai gelap.

Heng Thiang Ceng menarik Ciok Giok Yin keluar dari balik batu besar itu, lalu duduk di atas sebuah batu hijau.

Mereka berdua mulai menyantap makanan kering, sambil memperhatikan tempat tersebut.

"Kakak, pemandangan di sini memang tidak berbeda dengan pemandangan yang ada di potongan kain. Tapi berada di mana Seruling Perak itu, tiada penjelasan dalam gambar itu. Kita harus mencari ke mama?"

Ciok Giok Yin terus menatap Heng Thian Ceng, kelihatannya sangat mengharapkan jawaban positif dari wanita itu. Heng Thian Ceng balas menatapnya, lalu tersenyum seraya berkata.

"Adik, kau cerdas selamanya, tapi tidak cermat sesaat. Coba lihat, sekarang waktunya kakak memberitahukan padamu sabarlah!"

Jawaban Heng Thian Ceng itu sungguh membingungkan Ciok Giok Yin.

Dia sama sekali tidak paham akan ucapan wanita itu.

Akan tetapi berselang sesaat dia telah memahami suatu hal maka seketika dia tertawa gelak, kemudian berkata.

"Kakak sungguh hebat! Setiap perkataan Kakak mengandung misteri. Kalau adikmu yang bodoh ini tidak memiliki sedikit kecerdasan, pasti terkecoh oleh ucapan Kakak."

Mereka berdua tertawa-tawa. Tak terasa sang rembulan sudah bergantung di langit, memancarkan cahayanya yang cukup terang. Mendadak Heng Thian Ceng menunjuk ke seberang, ke arah sebuah batu besar.

"Adik, lihat apa itu?"

Katanya.

Ciok Giok Yin segera memandang ke arah yang ditunjuk Heng Thian Ceng.

Tampak dinding tebing di sana gemerlapan tertimpa Cahaya rembulan.

Bukan main girangnya hati Ciok Giok Yin!

Tanpa mengucapkan apa pun dia langsung menarik Heng Thian Ceng.

Mereka berdua melesat ke arah seberang dan tak lama tiba di tempat tersebut.

Dinding tebing yang gemerlapan itu tingginya hampir lima depa.

Ciok Giok Yin terus menatap dinding tebing itu, namun tidak melihat sesuatu yang mencurigakan.

Maka dia segera menoleh ke belakang seraya berkata pada Heng Thian Ceng.

"Kakak melindungiku dari bawah, aku seorang diri akan memeriksa ke atas!"

Heng Thian Ceng berpikir sejenak. Apa yang dikatakan Ciok Giok Yin memang masuk akal, maka dia manggut-manggut seraya berpesan.

"Adik harus hati-hati, jangan bertindak ceroboh!"

Ciok Giok Yin mengangguk, kemudian mencelat ke atas.

Kebetulan di dinding tebing itu terdapat batu yang agak menonjol ke luar, pas untuk Ciok Giok Yin menaruh sepasang kakinya.

Dia mulai memeriksa dinding tebing itu, namun tidak menemukan keganjilan apa pun.

Tentunya membuat Ciok Giok Yin amat penasaran, lalu tangannya mengetuk dinding tebing itu beberapa kali.

Mendadak wajah Ciok Giok Yin tampak berseri dan dia segera mengerahkan lwee kangnya meneka dinding tebing itu.

Kreeek!

Tampak dinding tebing itu terbuka sedikit.

Dengan hati berdebar-debar tegang Ciok Giok Yin menjulurkan tangannya ke dalam lubang itu.

Ujung jarinya meraba sebuah kotak.

Ciok Giok Yin cepat-cepat mengerahkan tenaga untuk menarik kotak itu.

Setelah kotak itu tertarik ke luar, lubang itu tertutup kembali seperti semula.

Ciok Giok Yin meloncat turun dengan wajah cerah ceria.

Begitu sampai di bawah, Heng Thian Ceng menyambutnya dengan penuh kegirangan.

Mereka berdua memperhatikan kotak panjang itu, kemudian Ciok Giok Yin membukanya, koktak itu berisi Seruling Perak yang mamancarkan cahaya menyilaukan mata.

Setelah melihat Seruling Perak tersebut Heng Thian Ceng berkata.

"Adik, kini Seruling Perak sudah berada di tanganmu. Kita jangan lama-lama di sini, harus segera berangkat ke Jurang Maut menemui wanita aneh, kemudian menyatukan kitab Cu Cian dengan Seruling Perak agar adik dapat belajar ilmu silat tertinggi."

"Apa yang Kakak katakan memang benar. Tapi jurang itu amat dalam, kakak tidak bisa turun ke bawah. Lagi pula wanita aneh di dalam jurang itu tidak menghendaki kehadiran orang ketiga di tempatnya."

Heng Thian Ceng tersenyum seraya berkata.

"Adik bodoh, kakak cuma mengantarmu sampai di situ, tidak bilang mau ikut turun ke bawah kan?"

Wajah Ciok Giok Yin kemerah-merahan.

"Kakak, mari kita berangkat!"

Ajaknya.

Heng Thian Ceng mengangguk, kemudian mereka berdua meninggalkan tempat itu menuju Jurang Maut.

Belasan hari kemudian, di suatu tempat yang amat sepi dekat Jurang Maut terlihat dua orang duduk berdampingan.

Siapa kedua orang itu?

Tidak lain adalah Ciok Giok Yin dan Heng Thian Ceng.

Mereka berdua saling menatap dengan mesra, bahkan kelihatan enggan berpisah.

Di saat bersamaan mendadak terdengar suara pertarungan dan cacian didalam sebuah lembah.

Suara itu makin lama makin dekat, tentunya membuat hati mereka berdua tersentak.

Mereka berdua cepat-cepat bangkit berdiri.

Sementara suara pertarungan dan bentakan itu semakin mendekat.

"Celaka!"

Seru Ciok Giok Yin.

Mendadak dia melesat ke dalam lembah itu.

Heng Thian Ceng tertegun namun kemudian melesat mengikuti Ciok Giok Yin.

Tak lama kemudian mereka berdua sudah memasuki lembah itu.

Di sebidang tanah kosong tampak belasan bayangan orang berdiri.

Setelah menegasi belasan orang itu, seketika wajah Ciok Giok Yin tersirat hawa membunuh dan darahnya terasa bergolak-golak.

Ternyata belasan orang itu adalah para anggota perkumpulan Seng Yen Hwee yang berkepandaian tinggi.

Mereka mengepung si Bongkok Arak dan pengemis tua Te Hang Kay.

Di antara para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu terdapat dua orang tua memakai kain penutup muka.

Telapak tangan mereka menempel pada punggung dua anak gadis, yang tidak lain adalah Seh Yong Yong dan Ie Ling Ling.

Terdengar Siau Bin Sanjin tertawa terkekeh-kekeh lalu berkata.

"Pengemis tua, kalau kau tahu diri, cepat ikut lohu ke markas! Aku jamin sehelai rambutmu pun tidak akan terganggu! Tapi kalau kau tidak mau tidak mau, pasti akan merasakan siksaan! Lagi pula di sini ada dua orang gadis. Asal lohu turunkan perintah, mereka berdua pasti tidak bisa hidup lagi!"

Usai berkata, Siau Bin Sanjin tertawa puas samba mengarahkan jari telunjuknya pada kedua gadis itu.

Te Heng Kay dan si Bongkok Arak berkepandaian amat tinggi, namun dalam keadaan seperti itu mereka berdua sama sekali tidak berani berani bertindak ceroboh, boleh dikatakan tidak bisa berbuat apa-apa.

Saking gusarnya sepasang mata si Bongkok Arak memancarkan cahaya berapi-api, menuding Siau Bin Sanjin seraya membentak.

"Maling tua! Jabatanmu sebagai Pelindung Utama di perkumpulan Sang Yen Hwee, tapi cara yang kau gunakan justru amat rendah! Apakah masih terhitung seorang gagah? Kalau kau bernyali, mari kita bertarung, jangan menyandera kedua gadis itu!"

Meskipun si Bongkok Arak berkata demikian, tapi hatinya tetap berdebar-debar tegang.

"Hei! Setan Arak, jangan bermulut besar! Lebih baik kalian berdua ikut kami ke markas agar tidak menderita di sini!"

Kedua tokoh dunia persilatan itu sama sekali tidak menduga kalau hari ini akan dikendalikan orang.

Sudah barang tentu membuat gusar sekali!

Namun mereka berdua justru tidak dapat berbuat apa-apa.

Mendadak tampak dua sosok bayangan melesat ke tempat itu laksana kilat, ternyata Ciok Giok Yin dan Heng Thian Ceng.

Seketika itu juga terdengar suara jeritan yang menyayat hati dua kali dan tampak dua anggota perkumpulan Sang Yen Hwee telah roboh binasa.

Sedangkan kedua gadis itu telah pindah ke tangan Heng Thian Ceng dan jalan darah mereka yang tertotok langsung dibebaskan.

Kejadian yang mendadak itu sungguh diluar dugaan kedua pihak tersebut!

Kini Siau Bin Sanjin sudah tidak bisa tertawa lagi.

Sepasang matanya melotot bengis menatap Ciok Giok Yin.

"Bocah haram! Lohu akan mengadu nyawa denganmu!"

Bentaknya sengit.

Dia langsung menyerang Ciok Giok Yin dengan jurus Liat Pik Hwa San (Tenaga Membelah Gunung Hwa San).

Sementara kegusaran si Bongkok Arak yang tidak terlampiaskan, setelah melihat kedua gadis itu bebas, dia langsung bergerak cepat melancarkan sebuah pukulan ke arah Siau Bin Sanjin.

Bum!

Terdengar suara benturan dahsyat.

Setelah itu terjadilah pertarungan yang amat sengit dan seru antara si Bongkok Arak dengan Siau Bin Sanjin.

Sedangkan Heng Thian Ceng dan pengemis tua Te Hang Kay juga tidak tinggal diam.

Mereka berdua segera menyerang para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee tersebut tanpa memberi ampun.

Terdengar suara jeritan di sana sini yang menyayat hati.

Berselang beberapa saat sudah tampak mayat-mayat para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee bergelimpangan di tempat itu.

Melihat keadaan yang tak menguntungkan itu, Siau Bin Sanjin berniat mengambil langkah seribu.

Oleh karena itu dia menyerang si Bongkok Arak bertubi-tubi, sehingga membuat si Bongkok Arak terpaksa mundur beberapa langkah.

Kesempatan itu tidak disia-siakannya.

Dia segera bersiul panjang sambil melesat pergi.

Para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang tersisa itu pun langsung kabur terbiritbirit.

Ciok Giok Yin dan Heng Thian Ceng yang amat mendendam terhadap perkumpulan Sang Yen Hwee ingin mengejar mereka.

Akan tetapi si Bongkok Arak cepat-cepat mencegahnya.

"Siau Kun, tidak usah mengejar mereka, biarlah mereka pergi! Perkumpulan Sang Yen Hwee telah banyak melakukan kejahatan, kelak mereka pasti memperoleh ganjarannya!"

"Aku pasti membasmi mereka semua!"

Sahut Ciok Giok Yin.

Pertarungan itu telah berakhir.

Terlihat begitu banyak anggota perkumpulan Sang Yen Hwee telah menjadi mayat.

Mereka memandang mayat-mayat itu sejenak, lalu meninggalkan tempat itu dan kemudian duduk di atas sebuah batu besar.

Nona Seh dan Nona Ie duduk berhadapan dengan Ciok Giok Yin.

Sebenarnya kedua gadis itu ingin mengatakan isi hati kepada Ciok Giok Yin.

Namun di hadapan begitu banyak orang, akhirnya mereka berdua hanya bisa menatap pemuda itu dengan mesra.

Ciok Giok Yin tahu itu, tapi tidak berani memperlihatkan rasa cintanya terhadap kedua tunangannya itu.

Berselang beberapa saat Ciok Giok Yin bertanya pada si Bongkok Arak.

"Lo cianpwee, di mana kalian berjumpa dengan para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu? Dan bagaimana Adik Yong serta Adik Ling terjatuh ke tangan mereka?"

Si Bongkok Arak meneguk araknya setelah itu menutur tentang kejadian tersebut.

Ternyata si Bongkok Arak dan pengemis tua Te Hang Kay berpisah dengan Ciok Giok Yin.

Mereka terus menyelidiki orang yang mencuri potongan kain itu.

Kemarin ketika bersantap di sebuah rumah makan, justru tanpa sengaja memperoleh suatu informasi.

Perkumpulan Sang Yen Hwee mengerahkan belasan orang berkepandaian tinggi untuk menangkap seorang musuh bermarga Ciok, bahkan telah menangkap dua gadis yang punya hubungan dengan orang bermarga Ciok itu.

Maka si Bongkok Arak dan pengemis tua Te Hang Kay mengejar sampai di tempat itu.

Setelah mendengar penuturan tersebut, Ciok Giok Yin segera menutur tentang keberhasilannya menemukan kembali potongan kain yang hilang.

Semua orang segera memberi selamat padanya dan berjanji tiga bulan kemudian berkumpul kembali di tempat Siong Su Pou.

Ciok Giok Yin menunggu mereka meninggalkan tempat itu, barulah melesat ke arah Jurang Maut.

Setibanya di Jurang Maut dia menengok ke sana ke mari.

Setelah jelas tiada seorang pun menguntitnya, barulah dia mengerahkan ilmu Hui Keng Pou meluncur ke bawah jurang itu.

Begitu sepasang kakinya menginjak dasar jurang, mendadak tampak sosok bayangan melesat ke luar dari balik batu besar, bukan main cepatnya.

Tentunya amat mengejutkan Ciok Giok Yin.

Dia tidak menyangka bahwa masih ada musuh mengejarnya sampai ke dasar jurang itu.

Seketika dia mengerahkan lwee kangnya, siap menghadapi segala kemungkinan.

"Siapa?"

Bentaknya. Sosok bayangan itu berhenti di hadapan Ciok Giok Yin.

"Siauhiap, aku!"

Sahutnya. Ciok Giok Yin segera memandang ke depan. Ternyata orang itu adalah Suya atau Penasihat dari perkumpulan Sang Yen Hwee.

"Siauhiap, kita tidak leluasa bicara di sini, mari ke tempat lain!"

Kata Penasihat perkumpulan Sang Yen Hwee. Ciok Giok Yin mengangguk, kemudian bersama orang itu melesat ke balik sebuah batu besar.

"Entah ada petunjuk apa cianpwee memunculkan diri di sini?"

Tanya Ciok Giok Yin.

"Siauhiap, pertarungan hari ini telah menyebabkan perkumpulan Sang Yen Hwee menurunkan perintah rahasia untuk mengerahkan segenap kekuatan guna menghadapi siauhiap, harap siauhiap waspada!"

"Terimakasih atas kebaikan cianpwee memberitahukan tentang itu. Lagi pula cianpwee pernah menolongku, aku berterimakasih sekali. Namun aku punya dendam yang amat dalam terhadap pihak perkumpulan Sang Yen Hwee, tentunya aku akan membasmi mereka semua. Mohon cianpwee segera mengundurkan diri dari perkumpulan itu agar tidak terseret ke dalam. Apakah cianpwee sudi mendengar nasihatku?"

Penasihat perkumpulan Sang Yen Hwee yang bernama Ouw Cih menatap Ciok Giok Yin dengan mata berbinar-binar.

"Tidak meleset dugaan lohu, tidak salah adalah keturunan kawan baikku! Oh ya, apakah di dada siauhiap terdapat sebuah tahi lalat merah? Harap memberitahukan pada lohu!"

Selama ini Ciok Giok Yin belum tahu jelas tentang asalusulnya. Maka begitu Ouw Cih bertanya tentang itu, dia langsung mengangguk. Ketika Ciok Giok Yin menanyakan asal-usulnya, Ouw Cih menyahut.

"Ciok siauhiap, sekarang bukan saatnya menceritakan asalusulmu. Lohu tidak bisa lama-lama di sini. Kita akan berjumpa lagi kelak, sampai jumpa!"

Tampak badan Ouw Cih bergerak, dalam sekejap sudah tidak kelihatan bayangannya.

Ciok Giok Yin tertegun, sebab Ouw Cih menanyakan tentang tahi lalat merah di dadanya.

Kalau begitu dia pasti tahu asal-usulnya namun seperti yang lain, dia tidak mau memberitahukannya.

Ciok Giok Yin menggelenggelengkan kepala sambil bergumam perlahan.

"Air surut batu akan tampak, awan buyar terlihat sinar rembulan. Suatu hari nanti pasti akan jelas mengapa harus merisaukan?"

Kemudian dia menengok ke sana ke mari.

Setelah yakin tidak ada orang, barulah dia mengerahkan ilmu Hui Keng Pou meluncur ke dalam lubang yang mirip sebuah sumur besar.

Ketika sepasang kakinya menginjak dasar tempat itu, terdengar suara yang dikenalnya.

"Nak, akhirnya kau kembali juga."

Ciok Giok Yin menoleh. Tampak bayangan wanita tua kehijauhijauan berdiri di mulut goa. Dia segera maju seraya memberi hormat.

"Boanpwee menghadap cianpwee!"

Bayangan wanita tua kehijau-hijauan itu mengibaskan tangannya.

"Tidak usah banyak peradatan, mari ikut aku!"

Tak lama kemudian mereka berdua sudah sampai di dalam ruang batu, tempat Ciok Giok Yin pernah merawat lukanya.

"Nak, kau sudah memperoleh Seruling Perak itu?"

Tanya bayangan wanita tua kehijau-hijauan.

"Boanpwee sungguh beruntung telah memperoleh Seruling Perak itu!"

Ciok Giok Yin segera melepaskan ikatan pada punggungnya, lalu menyerahkan sebuah kotak panjang kepada bayangan wanita tua kehijau-hijauan seraya berkata.

"Cianpwee, Seruling Perak berada di dalam kotak panjang ini, mohon Cianpwee membukanya!"

Wanita tua kehijau-hijuan menerima kotak panjang tersebut, kemudian menghela nafas.

"Nak, kau memang beruntung. Semoga setelah kau berhasil menguasai ilmu silat tertinggi itu, dapat membuat tenang dan damai dalam rimba persilatan."

"Boanpwee pasti menuruti nasihat cianpwee."

"Kau boleh beristirahat di ruang lain. Setelah aku berhasil mengungkap rahasia Seruling Perak ini, barulah akan memberi petunjuk padamu untuk melihat ilmu silat tertinggi itu."

"Ya, cianpwee!"

Ciok Giok Yin segera pergi ke ruang batu yang lain.

Sedangkan wanita tua kehijau-hijauan terus memperhatikan Seruling Perak tersebut.

Ternyata di dalam lubang Seruling Perak itu terdapat sebuah kitab tipis.

Wanita tua kehijauhijauan mengerahkan lwee kangnya mengeluarkan kitab tipis tersebut.

Isi kitab tipis itu menjelaskan bagaimana caranya menggunakan kitab Cu Cian.

Setelah itu wanita tua kehijauhijauan pergi menemui Ciok Giok Yin dan memberitahukan cara menggunakan kitab Cu Cian.

Ciok Giok Yin sudah tahu cara menggunakan kitab Cu Cian.

Dia segera membawa kitab itu ke kolam Air Susu Baru yang ada di belakang goa, kemudian direndam ke dalam kolam itu.

Walau sudah lewat beberapa saat, tapi tiada perubahan apa pun.

Ciok Giok Yin terus menunggu.

Dua jam telah berlalu, tapi tetap tiada perubahan apa-apa, sehingga membuat hati Ciok Giok Yin mulai gugup.

Dia terus menunggu dengan hati berdebar-debar tegang.

Tiga jam kemudian Air Susu Batu di dalam kolam itu mulai mengepulkan uap putih.

Ciok Giok Yin menatap perubahan itu dengan mata tak berkedip.

Setelah uap putih itu sirna, kitab Cu Cian pun mulai tampak huruf-hurufnya.

Tentunya membuat hati Ciok Giok Yin amat girang.

Di saat bersamaan wanita tua kehijau-hijauan muncul.

"Nak, kitab Cu Cian sudah memperlihatkan huruf-hurufnya. Kau boleh mulai belajar! Aku tiada jodoh dengan kitab itu, maka tidak boleh melihat."

"Terimakasih atas kebaikan cianpwee yang telah dilimpahkan pada boanpwee,"

Ucap Ciok Giok Yin dengan rasa haru.

"Nak, kau boleh mulai belajar di dalam ruang batu itu."

"Terimakasih, cianpwee!"

Wanita tua kehijau-hijauan berkelebat pergi, sedangkan Ciok Giok Yin cepat-cepat membawa kitab Cu Cian ke dalam ruang batu.

Ditaruhnya kitab itu di atas meja batu, kemudian dia mulai membaca.

Di bagian muka kitab itu tertera huruf-huruf 'Cu Cian Sin Kang'.

Cu Cian Sin Kang terdiri dari dua bagian.

Bagian pertama adalah Gin Tie Sin Kang (Tenaga Sakti Seruling Perak), terdiri dari tiga jurus.

Jurus kesatu Khay Thian Loan Te (Membuka Langit Mengacau Bumi).

Jurus kedua Gin Tie Yu Hou (Seruling Perak Menaklukkan Harimau).

Jurus ketiga Tou Seng Cai Goat (Mencari Bintang Memetik Bulan).

Bagian kedua adalah Hian Thian Tie Pou (Irama Suara Langit).

Ketiga jurus itu amat lihay, dahsyat dan aneh.

Ciok Giok Yin mulai belajar mengikuti gambar dan petunjuk yang ada di dalam kitab Cu Cian.

Walau dia amat cerdas, namun membutuhkan waktu satu bulan barulah berhasil menguasai ketiga jurus tersebut.

Kini Ciok Giok Yin mulai belajar Hian Thian Tie Pou, namun harus diawali dengan menghimpun hawa murni.

Ketika Ciok Giok Yin baru mulai belajar ilmu tersebut, hawa murninya belum bisa berputar menuruti kehendak hatinya.

Sebulan kemudian, terasa ada perubahan, karena hawa murni Ciok Giok Yin berputar-putar bagaikan gelombang laut.

Ciok Giok Yin tahu bahwa dirinya telah berhasil melatih Hui Kang (Himpunan Tenaga Dalam), maka girangnya bukan kepalang.

Tie Pou terdiri dari tiga bagian.

Bagian kesatu Ih Loan Ceng Mi (Hati Kacau Terpikat Cinta).

Bagian kedua Hong Yun Pian Sek (Angin Awan Berubah Warna).

Bagian ketiga Lok Hun Keng Hun (Mengejutkan Sukma).

Tak terasa sama sekali, kini sudah genap tiga bulan Ciok Giok Yin berada di dalam ruang batu itu.

Dalam waktu tiga bulan dia telah berhasil menguasai ilmu Gin Tie Sin Kang dan ilmu Hian Thian Tie Pou.

Ketika hari mulai pagi, mendadak wanita tua kehijau-hijauan itu muncul di hadapan Ciok Giok Yin.

"Selamat Nak! Kini kau telah berhasil menguasai ilmu yang tertinggi di kolong langit ini,"

Katanya dengan lembut. Ciok Giok Yin segera memberi hormat.

"Semua itu adalah atas kebaikan cianpwee, boanpwee takkan lupa selama-lamanya."

"Nak, kini malapetaka mulai melanda dunia persilatan. Beberapa bulan ini perkumpulan Sang Yen Hwee mengundang tokoh-tokoh golongan hitam yang telah lama menyendiri. Sekarang kau memikul tugas yang amat berat, tapi jangan terlampau banyak membunuh, ampunilah orang yang mau bertobat!"

Wanita tua kehijau-hijauan itu diam sejenak.

"Seruling Perak boleh kau bawa, namun kitab Cu Cian tetap disimpan di sini agar tidak jatuh ke tangan orang jahat."

"Boanpwee menuruti perintah cianpwee."

Ciok Giok Yin menyerahkan kitab Cu Cian kepada wanita tua kehijau-hijauan.

Namun justru membuatnya terbelalak, karena kitab Cu Cian telah berubah putih tidak terdapat sebuah huruf pun.

Sungguh amat menakjubkan!

Ciok Giok Yin bersujud di hadapan wanita tua kehijau-hijauan, lalu meninggalkan ruang batu.

Setelah itu dia mengerahkan ilmu Hui Keng Pou melesat ke atas, tak lama sudah berada di atas Jurang Maut.

Dia bersiul panjang kemudian melesat pergi laksana kilat.

Pada malam harinya Ciok Giok Yin bermalam di penginapan Siong Su Pou.

Usai makan malam, dia mulai duduk bersamadi di atas ranjang.

Ketika lewat tengah malam barulah usai samedinya.

Mendadak Ciok Giok Yin mendengar desiran angin yang amat lirih di atap penginapan.

Dia tahu bahwa suara itu adalah suara desiran pakaian orang yang melakukan perjalanan malam.

Berdasarkan suara desiran itu, dapat dipastikan bahwa ginkang orang itu amat tinggi.

Seketika Ciok Giok Yin berpikir, pertemuan antara dia dengan si Bongkok Arak dan lainnya memang sudah dekat, lagi pula harus keluar kota.

Seandainya orang itu adalah musuh, lebih baik mengikutinya.

Setelah mengambil keputusan tersebut, Ciok Giok Yin segera melesat ke luar melalui jendela.

Tampak bulan sabit dan bintang-bintang memancarkan cahaya di langit.

Di bawah sinar yang agak remang-remang, terlihat sosok bayangan melesat ke arah utara.

Ciok Giok Yin segera mengerahkan ginkangnya, terus mengikuti bayangan tersebut.

Makin lama makin dekat, bahkan kini jarak mereka hanya kira-kira lima depa.

Mendadak terdengar suara benturan pukulan di dalam sebuah kuil, sedangkan bayangan itu melesat ke dalam kuil tersebut.

Ciok Giok Yin tidak berlaku ceroboh.

Dia tidak mengikuti bayangan itu masuk ke dalam kuil, melainkan melesat ke rumput alang-alang di pinggir jalan.

Walau sudah lewat beberapa saat, namun tidak tampak sesuatu yang mencurigakan di dalam kuil itu.

Berdasarkan pakaiannya, kemungkinan besar bayangan tadi adalah anggota perkumpulan Sang Yen Hwee.

Oleh karena itu Ciok Giok Yin segera melesat ke pinggir atap kuil, kemudian bergantung di situ sambil memandang ke dalam.

Tampak empat orang duduk menghadap meja di ruang besar.

Orang yang duduk di kursi besar berwajah seperti kuda.

Jenggotnya sudah mulai memutih dan sepasang matanya berkilat-kilat, pertanda memiliki lwee kang yang amat tinggi.

Usianya kira-kira enam puluh tahun.

Orang yang duduk di sebelah kiri berwajah kekuning-kuningan, penuh bewok dan badannya kekar.

Kelihatannya orang itu ahli gwa kang (Tenaga Luar).

Orang yang duduk di sebelah kanan berwajah lonjong dan tampak amat bengis.

Sebatang golok bergantung di punggungnya.

Sedangkan orang yang duduk menghadap ke dalam, badannya tinggi besar, mirip Mok Pak Tiau Sih Ceng hweeshio.

Orang tua yang duduk di kursi besar bertanya pada orang yang berwajah lonjong.

"Ouw Yang Tongcu, bagaimana penyelidikanmu akhir-akhir ini? Setan Arak dan lainnya berada di mana?"

Orang berwajah lonjong menyahut.

"Lapor pada Sun Cak (Pengawas), semalam di rumah Liu, aku melihat pengemis tua bersama Ngo Ceng Cu dari Butong Pay dan Kak Hui Huisu melakukan perjalanan menuju penginapan Toat Lay Tiam. Mereka mengadakan pembicaraan rahasia di sana. Tapi karena suara mereka amat lirih, maka aku tidak mendengar pembicaraan mereka."

Sepasang mata orang tua itu memancarkan sinar aneh. Kemudian dia menatap ketiga orang itu sambil berkata dengan dingin.

"Kelihatannya apa yang dilaporkan Sam Hu Hoat memang bukan laporan kosong. Maling tua itu justru berani secara terang-terangan mengundang kaum persilatan tangguh untuk menentang Sang Yen Hwee. Sedangkan markas pusat sudah melacak jejak bocah marga Ciok itu, namun dalam beberapa bulan ini sama sekali tidak ada kabar beritanya. Kalau bocah marga Ciok itu tidak dibasmi, Sang Yen Hwee tidak akan bisa tenang."

Mendadak terdengar suara gemuruh, pecahan atap kuil berhamburan ke mana-mana.

Ternyata Ciok Giok Yin amat gusar ketika mendengar pembicaraan itu.

Dia langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah atap kuil.

Setelah itu terdengar pula suara siulan nyaring, Ciok Giok Yin melayang turun di ruang besar itu.

Keempat orang itu segera bangkit berdiri.

Walau air muka mereka berubah, namun tidak tampak tegang maupun gugup.

Mereka berempat bergerak cepat, dalam sekejap sudah mengurung Ciok Giok Yin.

Meskipun telah terkurung, Ciok Giok Yin kelihatannya amat tenang.

Dia berdiri tegak dan sepasang tangannya ditaruh ke belakang.

Sikapnya yang gagah itu sungguh mengejutkan pihak lawan.

Keempat orang itu tampak bengis, namun tidak membuat hati Ciok Giok Yin gentar.

Orang tua berkedudukan Pengawas adalah Tong Hai Kui Mo (Setan Iblis Laut Timur) Ang Hui Bu, yang belum lama ini diundang Sang Yen Hwee.

Sudah lama Tong Hai Kui Mo making melintang di dunia persilatan, dan amat ditakuti oleh golongan putih maupun golongan hitam.

Namun malam ini Ciok Giok Yin menghantam atap kuil itu, membuat wajahnya berubah kelabu lantaran kehilangan muka.

Saking gusarnya membuat sepasang matanya melotot bengis, kemudian membentak bagaikan guntur.

"Anjing Kecil! Sungguh besar nyalimu berani cari gara-gara di hadapanku! Kalau kau memang berani, ayo sebutkan namamu!"

Sikap dan ucapan Tong Hai Kui Mo amat angkuh, seakan tidak memandang sebelah mata terhadap Ciok Giok Yin.

Sedangkan Ciok Giok Yin masih tetap berdiri tenang, tapi diam-diam sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Sepasang alisnya yang berbentuk golok terangkat ke atas, dia menyahut dingin dan sengit.

"Setan tua! Kau memang tak punya mata! Tuan mudamu ini justru adalah Ciok Giok Yin! Aku muak melihat kelakuan kalian!"

Dia menengok ke sana ke mari.

"Ternyata Mok Pak Tiau Sih Ceng Heng Thian Ceng juga ada di sini! Hmmm! Kalian mau maju satu persatu atau serentak, agar aku tidak membuang waktu di sini?"

Orang itu memang benar Sih Ceng Hweeshio. Begitu mendengar ucapan Ciok Giok Yin menghina dirinya, kegusarannya memuncak hingga wajahnya berubah hijau.

"Cong Sun Cak (Pengawas Utama), biar aku yang memberesi bocah ini!"

Katanya lantang. Tong Hai Kui Mo mengangguk.

"Taysu, alangkah baiknya tangkap dia hidup-hidup!"

Diam-diam Ciok Giok Yin berlega hati.

Seandainya mereka berempat maju serentak, tentunya dia akan kewalahan.

Ciok Giok Yin juga yakin, meskipun mereka berempat merupakan tokoh golongan hitam, tapi tidak akan melakukan pengeroyokan, sebab mereka pasti menjaga nama baik masing-masing.

Sih Ceng Hweesio memang berhati licik.

Dia sudah tahu jelas kepandaian Ciok Giok Yin, maka mengira dirinya mampu menghadapinya.

Dia segera melangkah maju sambil membentak sengit.

"Bocah! Lebih baik kau menyerah daripada Hud Ya harus turun tangan! Kalau kau tidak mendengar nasihatku, jangan menyalahkan Hud Ya bertindak kejam terhadapmu!"

"Keledai gundul! Kau berani omong besar? Apabila kau mampu melewati tiga jurus seranganku, aku akan bunuh diri di hadapanmu!"

Bentak Ciok Giok Yin gusar. Kemudian dia menatap Sih Ceng Hweesio itu dingin.

"Tapi apabila kau tidak mampu menyambut tiga jurus seranganku, jangan menyalahkan aku bertindak kejam terhadapmu!"

Mendengar itu, Sih Ceng Hweeshio tertegun.

Berdasarkan latihannya puluhan tahun, bagaimana mungkin tidak dapat menyambut tiga jurus serangannya?

Lagi pula dia sudah pernah menghadapi Ciok Giok Yin, maka tahu jelas bagaimana kepandaiannya.

Tidak mungkin dalam waktu sedemikian singkat kepandaian Ciok Giok Yin akan bertambah maju pesat.

Setelah berpikir demikian Sih Ceng Hweeshio tidak banyak bicara lagi, langsung melancarkan serangan dengan jurus Ceng Kou Cih Meng (Lonceng Dan Genta Berbunyi Serentak) menyerang dengan sepenuh tenaga.

Ciok Giok Yin sudah mengambil keputusan akan memperlihatkan kepandaiannya untuk menekan tiga iblis lain itu.

Maka dia tidak akan membiarkan Sih Ceng Hweeshio melancarkan serangan kedua.

Mendadak tampak badan Ciok Giok Yin berkelebat, setelah itu terdengar suara jeritan.

Badan Sih Ceng Hweeshio terpental bagaikan layangan putus tali bahkan mulutnya menyemburkan darah segar, lalu roboh dan tak bernyawa lagi.

Tong Hai Kui Mo dan kedua tongcu itu terperangah menyaksikan kejadian itu, sebab mimpi pun mereka bertiga tidak menyangka bahwa Sih Ceng Hweeshio yang cukup terkenal itu justru tidak mampu menyambut satu jurus serangan Ciok Giok Yin yang masih muda.

Dan juga mereka bertiga pun tidak melihat jelas, bagaimana cara Sih Ceng Hweeshio itu terkena pukulan yang dilancarkan Ciok Giok Yin.

Sedangkan Ciok Giok Yin berdiri tegak di tempat, menatap mereka bertiga dengan dingin sekali.

Tanpa sadar ketiga orang itu merasa merinding dan sekujur badan mereka mengeluarkan hawa dingin.

Mendadak Tong Hai Kui Mo menunjuk ke dua Tongcu itu, pertanda dia perintahkan kedua orang itu maju serentak melawan Ciok Giok Yin.

Kedua Tongcu perkumpulan Sang Yen Hwee adalah Kui Ciu Kim Kong dan Se Ma Ting Cing.

Wajah mereka berdua berubah menjadi kelabu seketika, karena tahu bahwa hari ini Malaikat Elmaut sudah menggapaikan tangannya ke arah mereka berdua.

Apabila mereka berdua tidak maju, tentunya akan dihukum mati.

Dari pada dihukum mati, lebih baik bertarung hingga mati.

Mereka berdua saling memandang, lalu menerjang ke arah Ciok Giok Yin.

Sedangkan Kui Ciu Kim Kong sudah mengeluarkan senjatanya berupa golok berkepala tengkorak.

Ciok Giok Yin adalah pemuda yang berkepandaian tinggi, sedangkan yang dua merupakan pesilat tinggi golongan hitam.

Maka tidak heran terjadi pertarungan yang amat seru dan sengit.

Karena kedua orang itu bukan musuh Coat Ceng Hujin, maka Ciok Giok Yin tidak mengeluarkan ilmu pukulan Coat Ceng Ciang untuk membunuh mereka berdua.

Setelah pertarungan melewati enam puluh jurus, mendadak Ciok Giok Yin merubah jurus serangannya.

Ternyata dia mengeluarkan Gin Tie Sam Ciang (Tiga Jurus Pukulan Seruling Perak).

Namun dia tidak menggunakan Seruling Perak, melainkan Cuma menggunakan sepasang telapak tangannya.

Tampak sepasang telapak tangannya berkelebat, menimbulkan suara yang menderuderu.

Plak!

Plak!

Tampak badan Kui Ciu Kim Kong dan Se Ma Ting Cing terpental tiga depa, lalu roboh dengan mulut menyembur darah segar, pertanda luka dalam yang amat parah.

Setelah berhasil melukai kedua orang itu, Ciok Giok Yin lalu menatap Tong Hai Kui Mo dengan dingin sekali, sekaligus melangkah perlahan ke arahnya.

Sesungguhnya Tong Hai Kui Mo ingin menyaksikan ilmu pukulan yang dilancarkan Ciok Giok Yin agar dapat memecahkannya.

Akan tetapi dia tetap tidak dapat melihatnya.

Ketika melihat Ciok Giok Yin melangkah ke arahnya, Tong Hai Kui Mo langsung gusar sekali.

"Bocah, lohu akan mengadu nyawa denganmu!"

Bentaknya.

Dia langsung menyerang dengan sepenuh tenaga.

Namun Ciok Giok Yin segera berkelit lalu balas menyerang dengan ilmu pukulan Coat Ceng Ciong.

Meskipun Tong Kui Mo berkepandaian amat tinggi, tapi tidak dapat lolos dari ilmu pukulan tersebut.

Dia menjerit sambil terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah.

Mulutnya menyemburkan darah segar, pertanda luka dalam yang amat parah.

Kelihatannya dia tak akan dapat hidup lagi.

Ciok Giok Yin menarik nafas lega, karena telah berhasil membunuh salah seorang musuh besar Coat Ceng Hujian.

Setelah itu dia berkata lantang.

"Aku tidak akan membunuh orang yang telah terluka parah! Sampaikan pesanku pada ketua kalian, bahwa tidak lama lagi aku akan berkunjung ke markas Sang Yen Hwee untuk memusnahkan markas itu! Suruh ketua kalian bunuh diri, jangan sampai aku yang turun tangan sebab dia akan mati secara mengenaskan!"

Dia menatap tiga anggota Sang Yen Hwee yang tergeletak di lantai.

"Apabila kalian bertiga mau bertobat, cepatlah pergi hidup menyendiri! Kalau tidak, kelak berjumpa, aku tidak akan mengampuni kalian!"

Usai berkata, Ciok Giok Yin langsung melesat pergi dan dalam sekejap sudah tidak tampak bayangannya.

Sejak Ciok Giok Yin memasuki Jurang Maut untuk belajar ilmu tertinggi di kolong langit, pengemis tua Te Hang Kay dan si Bongkok Arak berpencar pergi mengunjungi beberapa ketua partai besar untuk mengungkap rahasia tentang perkumpulan Sang Yen Hwee ingin menguasai dunia persilatan, bahkan berniat pula memusnahkan semua partai besar dunia persilatan.

Mendengar itu betapa terkejutnya para ketua partai, sehingga mereka mengadakan pertemuan kilat bersifat rahasia.

Pertemuan itu menghasilkan tiga keputusan, yaitu.

Satu, setiap partai besar wajib memilih para murid handal untuk menghancurkan kekuatan markas cabang perkumpulan Sang Yen Hwee.

Dua, si Bongkok Arak dan Te Hang Kay bersama Ciok Giok Yin serta para pendekar muda harus memusnahkan markas pusat perkumpulan Sang Yen Hwee.

Tiga, mereka semua harus bergerak di malam hari awal bulan sembilan.

Ini menyangkut mati hidupnya golongan putih di dunia persilatan.

Oleh karena itu, semua partai besar harus bersiapsiap.

Badai yang tak tampak itu akan melanda seluruh dunia persilatan, sebab akan terjadi pertarungan besar-besaran antara golongan putih dengan golongan hitam.

Kira-kira lima mil dari Siong Su Pou, terdapat sebuah Kuil Bu Seng Bio.

Tampak beberapa batang lilin menyala dan kira-kira sepuluh orang duduk di dalam kuil tersebut.

Mereka adalah si Bongkok Arak, Te Hang Kay, Heng Thian Ceng, Ciok Giok Yin, Seh Yong Yong.

Ie Ling Ling, Cou Ing Ing dan Soat Cak.

Ternyata mereka sedang merundingkan sesuatu dengan serius, bagaimana cara mengadakan peryerangan terhadap perkumpulan Sang Yen Hwee.

Mereka menganggap tidak perlu menyerang secara terangterangan terhadap perkumpulan Sang Yen Hwee.

Yang penting harus menghimpun kekuatan, kemudian melakukan penyerangan mendadak.

Akan tetapi Ciok Giok Yin telah merasakan kelihayan formasi di markas pusat perkumpulan Sang Yen Hwee.

Kalau tidak dapat memecahkan formasi tersebut, walau berkepandaian tinggi pun tidak akan dapat meloloskan diri.

Mereka semua tiada seorang pun yang mahir dalam hal formasi.

Oleh karena itu mereka tidak menemukan suatu cara untuk memcahkan formasi tersebut.

Mendadak Ciok Giok Yin berseru ringan.

"Mau lari ke mana?"

Dia langsung melesat ke luar.

Di bawah sinar rembulan yang remang-remang, tampak cahaya putih meluncur laksana kilat ke arahnya.

Ciok Giok Yin segera menjulurkan tangannya menyambut benda itu ternyata adalah segumpal kertas.

Tahu ada sesuatu keganjilan, maka dia cepat-cepat melesat kembali ke dalam kuil.

Di bawah cahaya lilin, Ciok Giok Yin membuka gumpalan kertas tersebut.

Ternyata di dalamnya terdapat tulisan 'Tabas Tiang Bambu, pecahkan formasi, hati-hati serangan api!' Semua orang tercengang, karena tidak tahu siapa yang memberi peringatan tersebut.

Sedangkan Ciok Giok Yin terus berpikir, kemudian berkata perlahan-lahan.

"Apakah tiang-tiang bendera yang di mulut lembah, berhubungan dengan formasi itu?"

Semua orang tidak paham.

Ciok Giok Yin segera menutur mengenai apa yang dialaminya tempo hari.

Mengenai orang yang memberi petunjuk itu, Ciok Giok Yin sudah menduga dalam hatinya.

Di malam awal bulan sembilan, di tempat markas pusat perkumpulan Sang Yen Hwee, yaitu di Mang Hun Kok (Lembah Pelenyap Sukma), tampak bayangan orang berkelebatan dan kadang-kadang terdengar pula suara jeritan memecahkan kesunyian.

Di mulut Lembah Pelenyap Sukma, bendera besar yang berkibar-kibar terhembus angin bertulisan 'Menyatukan Rimba Persilatan' dalam sekejap telah ditebas habis, bahkan enam penjaga di situ pun telah tergeletak menjadi mayat.

Sedangkan formasi Pelenyap Sukma telah hilang kelihayannya, karena semua bendera di mulut lembah telah ditebas habis.

Terlihat sekelompok pesilat tinggi rimba persilatan menyeberang sungai dan maju terus.

Mendadak terdengar suara terompet di dalam lembah, di saat bersamaan tempak pula bayangan orang berkelebatan, suasana di situ menjadi tegang.

Memang perkumpulan Sang Yen Hwee yang misterius mengalami situasi yang amat buruk.

Perkumpulan yang menjagoi rimba persilatan itu sama sekali tidak menduga akan diserang secara mendadak, sehingga banyak anggotanya yang mati.

Akan tetapi dalam perkumpulan tersebut banyak terdapat pesilat tinggi, yang semuanya berasal dari golongan hilam.

Oleh karena itu si Bongkok Arak, Te Hang Kay, Ciok Giok Yin dan lainnya terhalang di tengah jalan.

Ternyata yang menjaga di situ adalah Hoan Thian Ciu (Si Tangan Pembalik Langit) Lu Kun Khie bersama belasan pesilat tinggi golongan hitam.

Mendadak Ciok Giok Yin membentak bagaikan guntur.

"Dengar baik-baik! Aku ke mari untuk memusnahkan markas ini! Tentunya kalian punya orang tua dan anak istri, mengapa harus menjual nyawa di sini? Cepatlah kalian kabur, aku bersedia mengampuni kalian!"

Hoan Thian Ciu-Lu Kun Khie amat licik. Dia khawatir yang lain akan terpengaruh oleh ucapan Ciok Giok Yin, maka segera menyahut.

"Bocah, kau jangan mimpi! Malam ini kalian semua akan mampus tanpa kuburan, tapi masih berani bermulut besar! Kalau kalian bernyali, ayo kita mengadu kepandaian?"

Ciok Giok Yin tahu bahwa mereka tidak apat ditundukkan dengan perkataan, maka tidak mau banyak bicara lagi.

Badannya berkelebat, langsung melakukan serangan menggunakan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Sedangkan Hoan Thian Ciu-Lu Kun Khie juga mengeluarkan ilmu andalannya.

Tampak sepasang telapak tangannya berkelebatan.

Sementara para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang berkepandaian tinggi juga tidak tinggal diam.

Begitu melihat Hoan Thian Ciu-Li Kun Khie mulai bertarung dengan Ciok Giok Yin, mereka semua pun langsung menyerang si Bongkok Arak dan Te Hang Kay, dan terjadilah pertarungan yang amat sengit.

Sementara itu rombongan Heng Thian Ceng juga terhalang oleh musuh tangguh, sehingga terjadi pertarungan mati-matian.

Suara bentakan, suara benturan senjata dan lain sebagainya membaur menjadi satu.

Walau para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee berjumlah lebih besar, namun mereka tetap tidak dapat menahan arus serangan itu.

Berselang beberapa saat sudah banyak anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang gugur dalam pertarungan itu.

Sedangkan Hoan Thian Ciu-Lu Kun Khie tak sanggup menangkis ilmu pukulan Hoan Lui Sam Ciang.

Dia terpental beberapa depa lalu roboh dan binasa seketika.

Setelah Hoan Thian Ciu-Lu Kun khie binasa, yang lain langsung melarikan diri ke dalam lembah.

Pertarungan tidak berhenti sampai di situ, bahkan bertambah hebat.

Karena pos kedua dijaga Mou San It Koay-Tam Su Lak, Coan Si Hek Sat-Ma Kian Cu, Tiga Setan dan belasan orang lainnya.

Mereka tidak berbasa-basi lagi, langsung saling menyerang dengan dahsyat.

Si Bongkok Arak dan Te Hang Kay melawan Mou San It Koay serta Coan Si Hek Sat.

Heng Thian Ceng, Cou Ing Ing dan Soat Cak menghadapi Tiga Setan.

Sedangkan Ciok Giok Yin, Seh Yong Yong dan Ie Ling Ling menghadapi belasan anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang berkepandaian tinggi.

Ciok Giok Yin tidak mau membuang waktu langsung melancarkan ilmu pukulan Hoan Thian Ciu-Lu dan ilmu pukulan Soan Hong Ciang.

Seketika terdengar suara jeritan di sana-sini.

Tak seberapa lama para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu telah habis dibinasakan.

Tiga Setan juga mengalmi nasib yang sama.

Mereka bertiga binasa di tangan Heng Thian Ceng, Cou Ing Ing dan Soat Cak.

Begitu pula Mou San It Koay dan Coan Si Hek Sat.

Kedua tokoh tua golongan hitam itu juga binasa di tangan si Bongkok Arak dan pengemis tua Te Hang Kay.

Mereka terus maju.

Ketika sampai di pos ketiga, justru tidak tampak seorang pun di situ.

Keadaan di pos itu amat sunyi.

Tentunya membuat mereka tertegun, sebab seharusnya pos ketiga itu dijaga lebih ketat, tapi saat ini justru tiada seorang penjanga pun di situ.

Mereka tidak habis pikir, sesungguhnya apa yang terjadi di tempat itu?

Oleh karena itu mereka segera mundur ke suatu tempat, lalu berunding bersama.

Setelah berunding, akhirnya mereka mengambil satu keputusan, yaitu menyerang dari tiga jurusan.

Sedangkan Heng Thian Ceng dan Cou Ing Ing sebagai perintis.

Apabila berhasil, mereka berdua harus memberi isyarat.

Si Bongkok Arak dan Seh Yong Yong menyerang dari jurusan tengah.

Pengemis tua Te Hang Kay dan Ie Ling Ling menyerang dari jurusan kiri.

Setelah mengatur siasat, mereka lalu maju.

Perlu diketahui, pos ketiga itu merupakan sebuah benteng yang amat tinggi.

Begitu mendekat, Heng Thian Ceng dan Cou Ing Ing langsung mencelat ke atas dengan jurus Sin Liong Seng Thian (Naga Sakti Meluncur Ke Langit).

Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara luncuran anak panah.

Ser!

Ser!

Ser...!

Tampak puluhan anak panah bagaikan hujan meluncur ke arah Heng Thian Ceng dan Cou ing Ing.

Apa boleh buat!

Mereka berdua terpaksa harus meluncur ke bawah.

Ketika sampai di bawah, mereka berdua saling memberi isyarat.

Kemudian menggunakan ilmu Pik Hou Yu Piak (Harimau Merangkak Di Tembok), merayap ke atas dinding benteng.

Akan tetapi disaat bersamaan terdengar lagi suara luncuran anak panah.

Ser!

Ser!

Ser...!

Ternyata mereka berdua diserang hujan panah lagi.

Namun mereka berdua berkepandaian amat tinggi, maka berhasil mengelak hujan panah itu, lalu memutar badan mencelat ke dalam.

Seketika terdengar suara jeritan di dalam benteng dan terdengar pula suara bentakan yang susul-menyusul.

Itu pertanda para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang berada di dalam benteng mulai menyerang Heng Thian Ceng dan Cou Ing Ing.

Sementara yang menunggu di bawah merasa khawatir Heng Thian Ceng dan Cou Ing Ing akan mengalami kejadian di luar dugaaan.

Maka dengan serentak mereka memberi isyarat, kemudian dengan serentak pula maju dari tiga jurusan.

Namun dari atas meluncur panah dan senjata rahasia beracun lainnya.

Sudah barang tentu mereka harus mundur lagi, dan bertambah cemas, karena Heng Thian Ceng dan Cou Ing Ing berada di dalam benteng.

Di saat bersamaan Soat Cak mengeluarkan dua benda bulat sebesar kepalan dari dalam saku bajunya seraya berkata pada Ciok Giok Yin.

"Kakak Yin, ketika aku mau pergi nenek menghadiahkan kedua benda ini padaku."

"Apa kedua benda itu?"

Tanya Ciok Giok Yin.

"Kedua benda ini adalah Pik Lik Tan (Bom Peledak). Kekuatannya amat dahsyat. Entah bisa dipergunakan tidak?"

Mendengar itu semua orang tampak girang.

Sedangkan Ciok Giok Yin segera mengeluarkan Seruling Perak dan mengambil kedua Pik Lik Tan, lalu mencelat ke atas menggunakan ilmu Hui Keng Pon.

Para penjaga di atas benteng melihat sosok bayangan hitam berkelebat, setelah itu terdengar suara ledakan dahsyat.

Bum!

Tampak tubuh orang beterbangan ke mana-mana, bahkan tembok benteng itu pun runtuh seketika dan menimbulkan suara gemuruh.

Setelah suara ledakan itu reda, si Bongkok Arak dan lainnya melesat ke dalam benteng.

Sedangkan Ciok Giok Yin menyebarkan pandangannya, terlihat Heng Thian Ceng dan Cou Ing Ing dikeroyok belasan anggota perkumpulan Sang Yen Hwee.

Ciok Giok Yin menggeram, lalu menerjang ke tempat pertarungan menggunakan Seruling Perak dan telapak tangan.

Terdengar suara jeritan yang menyayat hati dan tampak pula si Bongkok Arak dan lainnya mulai bertarung dengan anggota perkumpulan Sang Yen Hwee.

Mendadak terdengar suara bentakan, menyusul telihat beberapa sosok bayangan orang melayang turun di tempat itu, ternyata Siau Bin Sanjin dan empat Pelindung lainnya.

Begitu sepasang kaki menginjak tanah, Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai segera menjura pada mereka seraya berkata.

"Atas perintah ketua, aku mengundang kalian semua ke markas pusat."

Kemudian dia memandang para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee.

"Mundur! Semua harus berkumpul di markas pusat!"

Bentaknya.

Markas pusat perkumpulan Sang Yen Hwee berada di dalam Lembah Pelenyap Sukma, di tengah-tengah pegunungan.

Ketika Ciok Giok Yin dan lainnya sampai di sana, di pelataran yang luas telah berkumpul entah berapa banyak anggota perkumpulan Sang Yen Hwee.

Namun suasana di tempat itu amat hening.

Di tengah-tengah pelataran berdiri belasan orang, di antaranya tampak seorang misterius memakai kain hitam penutup muka, kelihatannya adalah ketua perkumpulan Sang Yen Hwee.

Ciok Giok Yin dan lainnya sama sekali tidak tampak tegang maupun merasa takut.

Mereka telah berhasil menerobos tiga pos penjagaan, sudah barang tentu membuat mereka tambah bersemangat.

Orang misterius yang berdiri di tengah-tengah itu, berkata dengan suara dalam.

"Kalian semua adalah tokoh-tokoh rimba persilatan, mengapa di tengah malam menyerbu markas kami? Harap berikan keadilan padaku!"

"Sungguh aneh bin ajaib kaum iblis membicarakan keadilan! Kau bertanya mengenai keadilan, coba bertanya pada dirimu sendiri! Dua puluh tahun lalu memusnahkan Istana Dewa, mencelakai saudara seperguruan dan dengan darah mencuci puncak gunung Giok Li Hong, bahkan kini ingin membasmi partai-partai besar di rimba persilatan agar dapat menguasai rimba persilatan, apakah itu termasuk keadilan? Kuberitahukan, Chiu Tiong Thau! Kau kira memakai kain hitam menutupi mukamu, dapat mengelabui mata dan telinga kaum rimba persilatan? Sebab dan akibat merupakan hukum karma bagimu! Maka malam ini perkumpulan Sang Yen Hweemu akan musnah, begitu pula nyawamu.....!"

Belum juga usai si Bongkok Arak bicara, orang misterius itu sudah membentak sengit.

"Tua Bangka, ternyata kau adalah ikan yang lobos dua puluh tahun lalu! Malam ini kau kembali ke dalam jaring, kau pasti mampus'!"

Suara orang misterius itu gemetar, pertanda dia amat gusar.

Sedangkan para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang berada di pelataran itu saling memandang dan mulai berkasakkusuk.

Semua orang yang berada di situ, kecuali pengemis tua Te Hang Kay, sama sekali tidak menyangka bahwa ketua utama perkumpulan Sang Yen Hwee adalah Chiu Tiong Thau yang menghilang belasan tahun lalu.

Di saat bersamaan pengemis tua Te Hang Kay maju ke depan, kemudian menuding Chiu Tiong Than seraya berkata.

"Chiu Tiong Thau, hutang darah bayar darah! Kau sudah tidak bisa omong apa-apa lagi kan?"

Kemudian dia menoleh memandang Ciok Giok Yin.

"Siau Kun (Tuan Muda), sekarang saatnya membalas dendam. Mau tunggu apa lagi?"

Selama ini Ciok Giok Yin tidak begitu jelas mengenai asalusulnya.

Kini setelah mendengar perkataan Te Hang Kay, barulah dia menyadari akan asal-usulnya.

Seketika sepasang matanya memancarkan sinar yang berapi-api dan wajahnya berubah menjadi bengis.

Dia berjalan selangkah demi selangkah ke hadapan Chiu Tiong Thau, lalu berkata penuh emosi.

"Maling tua! Kau mau bunuh diri atau aku harus turun tangan?"

Saking gusarnya Chiu Tiong Thau malah tertawa gelak, suara tawanya bergema ke mana-mana.

"Bocah, lebih baik kau menyerah! Kalau tidak, begitu aku melancarkan satu pukulan, kau akan berubah jadi debu!"

Ciok Giok Yin maju dua langkah sambil berkertak gigi.

"Justru kau yang harus menyerah!"

Bentaknya.

Mendadak tampak cahaya putih berkelebat dan terdengar pula suara ngung-ngungan yang aneh, namun amat menggoncangkan hati.

Ternyata Ciok Giok Yin telah menyerang Chiu Tiong Thau menggunakan jurus Khay Thian Loan Te (Membuka Langit Mengacau Bumi).

Beberapa orang yang berdiri di belakang Chui Tiong Thau segera maju seraya berkata.

"Kami menunggu perintah!"

Akan tetapi Chiu Tiong Thau mengibaskan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya melancarkan sebuah pukulan.

Bukan main dahsyatnya pukulan itu, menimbulkan angin menderu-deru menerjang ke arah Ciok Giok Yin.

Itu adalah ilmu pukulan Soan Hong Ciang yang telah mencapai tingkat tertinggi.

Ciok Giok Yin tidak berkelit, melainkan melancarkan sebuah pukulan dengan tangan kirinya.

Bum!

Terdengar suara benturan dahsyat.

Masing-masing mundur tiga langkah.

Seraya beradu pukulan, hati Ciok Giok Yin bertambah yakin, maka dia segera melancarkan serangan bertubi-tubi menggunakan tangan kiri dan Seruling Perak.

Sedangkan Chiu Tiong Thau tidak habis pikir, bagaimana mungkin dalam waktu beberapa bulan kepandaian maupun lwee kang Ciok Giok Yin bertambah begitu tinggi?

Namun dia juga berkepandaian amat tinggi, maka tidak gugup menghadapi serangan-serangan yang dilancarkan Ciok Giok Yin.

Dia mengerahkan ilmu pukulan Soan Hoang Ciang hingga ke puncak, maka terasa hawa yang amat panas.

Kini Ciok Giok Yin dan Chiu Tiong Than curna merupakan bayangan yang berkelebatan.

Si Bongkok Arak dan lainnya segera melangkah mundur, begitu pula para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee, karena tidak tahan akan hawa panas itu.

Itu merupakan pertarungan yang paling dahsyat dalam rimba persilatan, membuat hati semua orang tercekam.

Berselang beberapa saat terdengar suara benturan dan tampak kedua bayangan itu terpisah.

Wajah Ciok Giok Yin kehijau-hijauan, sedangkan dada Chiu Tiong Than turun naik, pertanda pertarungan tadi berlangsung seimbang.

Di saat bersamaan, seseorang berjubah padri yang berdiri di belakang Chiu Tiong Thau berjalan ke depan lalu berkata padanya.

"Ketua utama beristirahat dulu, biar aku yang menghadapinya!"

Kebetulan pertarungan tadi telah membuat sekujur badan Chiu Tiong Than menjadi dingin. Saat ini dia memang berharap ada orang mewakilinya menghadapi Ciok Giok Yin. Oleh karena itu dia segera menyahut.

"Taysu harus hati-hati!"

"Omitohud! Kepandaian sicu amat luar biasa! Aku hweeshio tua ingin mohon petunjuk."

"Tidak berani, mohon tanya gelar Taysu yang mulia!"

"Aku hweeshio tua bergelar Pak Lui....."

"Apakah Taysu kenal Coat Ceng Hujin? Sungguh beruntung berjumpa di sini malam ini, jadi aku tidak usah berkunjung ke tempat Taysu."

"Apa? Coat Ceng Hujin? Dia..... dia belum mati?"

"Hmm! Kalau dia sudah mati, bukankah aku bertemu hantu? Sekarang bicara singkat saja! Taysu mau bunuh diri atau aku yang turun tangan?"

Bukan main dinginnya nada suara Ciok Giok Yin, bahkan sepasang matanya juga berapi-api menatap hweeshio itu.

"Omitohud, sicu yang cari mati, jangan menyalahkan aku hweeshio tua!"

Usai berkata, hweeshio tua itu menyerang Ciok Giok Yin dengan sengit.

Dia menggunakan ilmu Pek Pou Sin Ciang (Ilmu Pukulan Sakti Seratus Langkah), merupakan ilmu handal Siauw Lim Pay.

Ciok Giok Yin segera berkelit sambil menyimpan Seruling Perak, lalu menggerakkan lengan kanannya balas menyerang, menggunakan ilmu pukulan Coat Ceng Ciang.

Terdengar suara jeritan dan tampak hweeshio tua itu terpental dengan mulut menyemburkan darah segar, kemudian roboh tak bangun lagi.

Mungkin nyawanya sudah melayang ke alam baka.

Bukan main terkejutnya semua orang yang berada di tempat itu, karena mereka tidak melihat jelas bagaimana cara Ciok Giok Yin turun tangan, tahu-tahu hweeshio tua itu sudah terpental.

Begitu pula Chiu Tiong Than.

Hatinya tergetar hebat.

Kelihatannya malam ini sulit meloloskan diri.

Kalau bukannya sudah ada persiapan, pasti tidak bisa meloloskan diri.

Mendadak sepasang matanya menyorot bengis.

Kemudian dia merentangkan sepasang lengannya sekaligus memutar badannya melesat pergi.

Seketika para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang berada di situ juga cepat-cepat melarikan diri.

Di saat bersamaan tampak meluncur ke atas cahaya yang mirip kembang api, amat terang menyilaukan mata.

Begitu melihat cahaya itu si Bongkok Arak dan pengemis tua Te Hang Kay segera berseru serentak.

"Celaka! Cepat mundur!"

Si Bongkok Arak dan Te Hang Kay mengajak Ciok Giok Yin dan lainnya meninggalkan pelataran itu.

Sekonyong-konyong terdengar suara jeritan di bawah gunung.

Mereka tahu bahwa ada pesilat tinggi muncul membantu.

Bersamaan itu terdengar suara ledakan dahsyat, lalu tampak api membubung tinggi.

Ternyata pelataran itu telah hancur, bahkan batu-batu besarpun beterbangan ke mana-mana.

Si Bongkok Arak dan lainnya menjadi panik.

Justru mendadak tampak sosok bayangan hitam berkelebat.

"Mari ikut aku!"

Serunya ringan.

Semua orang langsung mengikutinya tanpa ragu.

Setelah melewati dua tikungan, terdengar lagi suara ledakan dahsyat.

Gunung Tong Pek San menjulang tinggi.

Di gunung tersebut terdapat sebuah lembah, yaitu Pek Yun Kok (Lembah Awan Putih).

Bukan main indahnya panorama di lembah itu!

Di dalam Lembah Awan Putih, terdapat tiga rumah gubuk.

Salah satu rumah gubuk itu tampak jendelanya terbuka sedikit.

Terlihat pula seorang wanita berusia pertengahan berdiri di situ, sedang memandang ke arah rembulan dengan air mata berlinang-Iinang.

Kemudian dia menghela nafas panjang dan bergumam.

"Aaaah! Sudah lima belas tahun! Kapan dendam dalam hati akan sirna?"

Di saat bersamaan seorang gadis berpakaian hijau berjalan masuk kemudian berkata dengan suara ringan.

"Nyonya, malam ini amat dingin, lebih baik Nyonya beristirahat saja!"

Wanita berusia pertengahan itu menoleh.

"Sebulan yang lalu mereka meninggalkan lembah ini, berjanji akan kembali malam ini, namun mengapa......"

Sebelum usai wanita berusia pertengahan itu berkata, terdengar suara desiran di luar gubuk, lalu tampak tiga gadis berpakaian hijau berdiri di situ.

"Nyonya, kami kembali untuk melaporkan suatu informasi penting,"

Kata mereka dengan suara rendah.

"Apakah perkumpulan Sang Yen Hwee mulai unjuk gigi?"

Gadis yang berusia paling muda menyahut.

"Lapor pada Nyonya, perkumpulan Sang Yen Hwee memang sudah mulai beraksi. Tapi informasi yang paling penting, ialah si Bongkok Arak dan Te Hang Kay telah berhasil membujuk para ketua partai besar, berjanji di malam awal bulan sembilan akan menyerbu markas pusat perkumpulan Sang Yen Hwee. Sedangkan Ciok siauhiap dalam beberapa bulan ini tidak pernah muncul di dunia persilatan. Perkumpulan Sang Yen Hwee berusaha mencarinya, tapi tiada hasilnya."

Sesungguhnya siapa wanita berusia lima belas tahun lalu di puncak Gunung Giok Li-Hong. Mendengar laporan gadis itu, wajah nyonya Ciok berubah menjadi muram.

"Penjahat Chiu itu berkepandaian amat tinggi, kita harus berangkat ke sana lebih awal!"

Katanya.

Di bawah sinar rembulan tampak lima sosok bayangan hitam melesat laksana kilat meninggalkan Lembah Awan Putih.

Kelima sosok bayangan hitam itu melesat menuju Lembah Pelenyap Sukma, markas pusat perkumpulan Sang Yen Hwee.

Di tengah jalan mereka bertemu Tek Cang Sin Kay (Pengemis Sakti Bertongkat Hijau).

Ternyata pengemis itu pun ingin ke Lembah Awan Putih untuk melaporkan semua informasi yang diperolehnya, kebetulan bertemu di sini.

Mereka berdua lalu berunding, setelah itu bersepakat membantu secara diam-diam, bahkan juga akan menyerbu secara mendadak dari belakang gunung.

Ciok Hujin berenam segera berangkat ke Lembah Pelenyap Sukma.

Ketika hari mulai senja, mereka berenam tiba di lembah tersebut, kemudian bersembunyi di suatu tempat.

Setelah hari mulai malam, barulah Tek Cang Sin Kay dan beberapa gadis berpakaian hijau bergerak melalui belakang gunung.

Ketika hampir tiba di markas perkumpulan Sang Yen Hwee, mendadak terdengar suara bentakan.

"Siapa berani datang di markas perkumpulan Sang Yen Hwee?"

Tampak dua sosok bayangan meluncur turun dari atas benteng, bahkan sekaligus melancarkan pukulan.

Bukan main dahsyatnya pukulan itu!

Tek Cang Sin Kay dan seorang gadis berpakaian hijau yang berada di paling depan, langsung menangkis dengan jurus Heng Tui Pak Tau (Mendorong Dengan Tenaga Ribuan Kati) dan jurus Pak Cau Sui Coa (Membabat Rumput Mencari Ular).

Plak!

Plak!

Terdengar suara benturan, dan tampak masing-masing terpental ke belakang tiga langkah.

Ternyata yang menjaga benteng di belakang gunung adalah Mok Pak Sang Eng (Sepasang Burung Elang Gurun Utara).

Kepandaian mereka berdua amat tinggi, namun terpikat oleh kemewahan, maka mereka berdua bergabung dengan perkumpulan Sang Yen Hwee.

Pertarungan mati-matian tak terelak lagi, antara Tek Cang Sin Kay dan gadis berpakaian hijau ingin mengejar, mendadak muncul Ciok Hujin, yang langsung berseru.

"Cepat mundur!"

Tek Cang Sin Kay dan gadis berpakaian hijau itu segera mundur.

Di saat bersamaan tampak anak panah meluncur bagaikan hujan ke arah mereka.

Ciok Hujin bersiul panjang, sekaligus mengibaskan lengan bajunya untuk menangkis anak panah itu, lalu mencelat ke atas benteng.

Seketika terdengar suara jeritan yang menyayat hati.

Tek Cang Sin Kay dan beberapa gadis berpakaian hijau segera mencelat ke atas.

Dalam waktu sekejap para penjaga di situ telah habis dibinasakan.

Justru di saat bersamaan terdengar suara ledakan dahsyat dan tampak api membubung tinggi.

"Mari kita cepat pergi, jangan sampai penjahat itu lobos!"

Kata Ciok Hujin.

Mereka berempat melesat ke arah suara ledakan itu.

Ketika sampai di sebuah lembah, terlihat begitu banyak bayangan orang melesat keluar, seakan sedang melarikan diri.

Tek Cang Sin Kay mengenali salah seorang dari mereka tidak lain adalah orang misterius yang memakai kain hitam penutup muka, ternyata ketua utama perkumpulan Sang Yen Hwee.

Tek Cang Sin Kay segera memberi isyarat kepada Ciok Hujin, kemudian bersama wanita itu dia cepat-cepat bersembunyi.

Mendadak terdengar suara seruan lantang.

"Cepat kembali! Jalan ini jalan buntu!"

Bersamaan itu tampak batu beterbangan ke arah Chiu Tiong Thau dan para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee.

Chiu Tiong Thau sama sekali tidak menyangka bahwa di belakang gunung juga terdapat musuh tangguh.

Sejak mendirikan perkumpulan Sang Yen Hwee, dia belum pernah mengalami serangan gelap seperti malam itu.

Semua cita-citanya menjadi kandas, sudah barang tentu membuat amarahnya memuncak.

"Siapa yang begitu tak tahu malu melakukan serangan gelap? Kalau kalian punya nyali cepat perlihatkan diri menyambut tiga pukulanku!"

Bentaknya sengit.

"Dasar penjahat, ajal sudah tiba masih berani bermulut besar!"

Beberapa sosok bayangan melayang turun, ternyata adalah Ciok Hujin bersama empat pelayannya berpakaian hijau. Sepasang mata Chiu Tiong Thau bersinar aneh, kemudian tertawa terkekeh.

"Ternyata kau! Tak kusangka kau masih hidup! Bagus, malam ini kau mengantar diri biar aku dapat membunuhmu!"

Chiu Tiong Thau langsung melancarkan serangan menggunakan ilmu pukulan Soan Hong Clang.

Terdengar suara menderu-deru dan mengandung hawa panas.

Ciok Hujin mengerutkan kening dan cepat-cepat mengibaskan lengannya.

Seketika meluncur tenaga yang amat dingin ke arah Chiu Tiong Thau.

Blam!

Terdengar suara benturan dahsyat, dan masing-masing terdorong ke belakang satu langkah.

Kelihatannya lwee kang mereka seimbang.

Siau Bin Sanjin segera memberi isyarat kepada Si Peng Khek, kemudian mereka berlima turun tangan mengeroyok Ciok Hujin.

Akan tetapi mereka dihadang keempat pelayan Ciok Hujin.

Di saat bersamaan tampak sosok bayangan orang melayang ke tempat itu.

"Dasar tak tahu malu, cuma berani main keroyok!"

Bentaknya.

Orang itu ternyata Tek Cang Sin Kay.

Pengemis berusia lanjut itu langsung menyerang Siau Bin Sanjin.

Terjadilah pertarungan yang mati-matian......

Sementara Ciok Giok Yin dan lainnya terus mengikuti bayangan hitam, tak seberapa lama mereka tiba di tempat pertarungan itu.

Seketika mata si Bongkok Arak terbelalak, ternyata dia melihat Ciok Hujin sedang bertarung dengan Chiu Tiong Thau.

"Ciok Hujin, kepala Chiu Tiong Thau telah dijual kepada Siau Kun! Ciok Hujin tidak boleh merebut jual beli itu!"

Serunya.

Nyali Tiong Thau semakin lama semakin ciut, karena tidak menyangka kepandaian Ciok Hujin begitu tinggi.

Ketika melihat kemunculan si Bongkok Arak dan lainnya, dia semakin terkejut.

Dia cepat-cepat melancarkan serangan bertubi-tubi, mendesak Ciok Hujin, kemudian melesat ke arah si Bongkok Arak seraya membentak.

"Setan Arak, aku akan menghabisi nyawamu dulu!"

Chiu Tiong Thau langsung menyerang si Bongkok Arak dengan ilmu pukulan Soan Hong Ciang.

Si Bongkok Arak tahu akan kelihayan pukulan itu, maka cepat-cepat berkelit.

Di saat bersamaan tampak sosok bayangan melesat ke arah mereka, ternyata Ciok Giok Yin.

Tanpa banyak bicara lagi dia langsung menyerang Chiu Tiong Thau.

Maka terjadilah pertarungan hidup mati di antara mereka berdua.

Begitu pula Siau Bin Sanjin dan Tek Cang Sin Kay.

Mereka berdua juga bertarung mati-matian.

Tek Cang Sin Kay mengeluarkan Tah Kauw Cang Hoat (Ilmu Tongkat Penggebuk Anjing), yaitu ilmu tongkat andalan Kay Pang.

Sementara empat gadis berpakaian hijau yang bertarung melawan Si Peng Khek kelihatan mulai terdesak.

Mendadak melayang turun beberapa orang, yaitu Heng Thian Ceng, Cou Ing Ing dan Ie Ling Ling.

Mereka langsung membantu keempat gadis berpakaian hijau, sehingga pertarungan itu bertambah seru.

Tak seberapa lama Si Peng Khek binasa di tangan Heng Thian Ceng, Con Ing Ing, Ie Ling Ling dan keempat gadis berpakaian hijau.

Setelah Si Peng Khek binasa, mereka mulai menyerang para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee lainnya.

Hanya dalam waktu sekejap, para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu terbunuh semua.

Chiu Tiong Thau yang sedang bertarung dengan Ciok Giok Yin juga melihat kejadian itu, sehingga membuat nyalinya pecah seketika.

Di saat bersamaan Ciok Giok Yin pun menyerangnya dengan jurus Gin Tie Yu Hon (Seruling Perak Menaklukkan Harimau).

Tampak cahaya berkelebat, dan mendadak terlihat sebuah benda bulat terpental, ternyata kepala Chiu Tiong Thau.

Dia binasa tanpa sempat menjerit.

Tubuhnya tanpa kepala roboh di tanah tak bergerak lagi.

Sedangkan Siau Bin Sanjin semakin lama semakin terdesak, akhirnya dia pun binasa di ujung tongkat Tek Cang Sin Kay.

Kini pertarungan telah usai.

Sekonyong-konyong terdengar isak tangis yang memilukan.

Semua orang menoleh ke sana, ternyata yang menangis adalah Ciok Giok Yin.

Si Bongkok Arak dan Te Hang Kay saling memandang, kemudian air mata mereka meleleh.

Begitu pula Ciok Giok Yin, dia pun menangis terisak-isak.

Berselang beberapa saat, barulah si Bongkok Arak menghampiri Ciok Hujin.

"Ciok Hujin, kini Siau Kun telah membunuh Chiu Tiong Thau. Majikan tua dan Ciok toako pasti tersenyum di alam baka!"

Kemudian dia menoleh memandang Ciok Giok Yin.

"Siau Kun, cepat beri hormat pada ibu angkatmu!"

Ciok Giok Yin segera memandang ke arah Ciok Hujin.

Seketika matanya terbelalak, ternyata Ciok Hujin adalah wanita anggun berpakaian mewah yang sering menyelamatkan dirinya.

Ciok Giok Yin segera mendekatinya, kemudian berlutut di hadapan Ciok Hujin seraya berkata terisak-isak.

"Ibu...."

"Nak! Tak disangka kita akan berkumpul kembali. Kau jangan berduka karena kau masih harus membangun Istana Dewa."

"Ya, Ibu!"

"Bangunlah, Nak!"

Ciok Giok Yin segera bangun, kemudian menatap Ciok Hujin dengan mata tak berkedip. Ciok Hujin tersenyum, tahu akan apa yang dipikirkan Ciok Giok Yin.

"Nak, jangan bingung! Ibu adalah Pek Hoat Hujin. Belasan tahun yang lalu Ibu diselamatkan Pek Hoat Hujin, maka Ibu kadang-kadang menyamar sebagai dirinya."

"Ooooh!"

Mendadak Tek Cang Sin Kay berseru.

"Aku harus pergi menemui para ketua partai besar, memberitahukan pada mereka bahwa markas pusat perkumpulan Sang Yen Hwee telah musnah!"

"Aku pun harus pergi, karena ingin tahu bagaimana keadaan markas cabang perkumpulan Sang Yen Hwee, sampai jumpa!"

Sambung Te Hang Kay.

Dia langsung melesat bersama Tek Cang Sin Kay.

Setelah kedua pengemis tua itu pergi, yang lain segera mengumpulkan semua harta benda perkumpulan Sang Yen Hwee, guna membangun kembali Istana Dewa......

Setengah tahun kemudian, Istana Dewa telah dibangun.

Ciok Hujin pun mengatur perkawinan Ciok Giok Yin dengan Seh Yong Yong, Ie Ling Ling dan Soat Cak.

Namun tidak tampak Heng Thian Ceng dan Cou Ing Ing, itu amat mencengangkan Ciok Giok Yin.

"Heng Thian Ceng sudah tahu diri, dia pergi ke suatu tempat untuk hidup menyendiri di sana. Sedangkan Cou Ing Ing sudah masuk biara menjadi biarawati,"

Kata si Bongkok Arak.

Mendengar itu Ciok Giok Yin menghela nafas panjang.

Ciok Hujin menyelenggarakan pesta besar-besaram.

Pesta itu dihadiri oleh para ketua partai besar dan kaum rimba persilatan, berjumlah hampir lima ratus orang, termasuk Te Hang Kay dan Tek Cang Sin Kay.

Ciok Giok Yin cepat-cepat memberi hormat pada mereka.

Te Hang Kay mendekatinya, lalu berbisik.

"Siau Kun, Bwee Han Ping sudah bertemu Tong Wen Wen. Kedua gadis itu masuk biara menjadi biarawati. Mungkin mereka berdua tidak hadir."

Ciok Giok Yin menghela nafas panjang.

Mendadak tampak sosok bayangan melesat ke dalam pesta bagaikan roh halus, kemudian berdiri di hadapan Ciok Giok Yin.

Begitu melihat orang tersebut, seketika Ciok Giok Yin berseru tak tertahan.

"Kau..... Bok Tiong Jin!"

"Tidak salah, aku memang Bok Tiong Jin! Aku ke mari menagih janjimu! Tentunya kau tidak lupakan?"

Wajah Ciok Giok Yin berubah seketika. Dia menarik nafas panjang lalu berkata.

"Aku memang tidak lupa....."

"Bagus! Kalau begitu, sekarang juga kau harus berikan padaku!"

Ketika Ciok Giok Yin baru mau menyahut, muncul Ciok Hujin mendekati mereka.

"Siapa kau?"

Tanyanya kepada Bok Tiong Jin.

"Dia adalah Bok Tiong Jin,"

Sahut Ciok Giok Yin. Ciok Hujin tercengang.

"Orang Dalam Kuburan?"

"Betul."

Ciok Hujin segera bertanya pada Bok Tiong Jin.

"Bok Tiong Jin, mau apa kau kemari?"

"Menagih Janji."

Ciok Hujin segera menatap Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin menggeleng-gelengkan kepala, lalu menutur semua kejadian itu. Setelah mendengar penuturan itu, Ciok Hujin malah tertawa.

"Aku tahu kau tidak bersungguh-sungguh ingin mengambil hatinya. Maksudmu tidak lain adalah menghendaki Ciok Giok Yin memperistrimu. Ya, kan?"

Katanya kata Bok Tiong Jin. Wajah Bok Tiong Jin tidak memperlihatkan reaksi apa pun. Beberapa saat kemudian dia manggut-manggut.

"Sebetulnya siapa kau?"

Tanya Ciok Hujin. Bok Tiong Jin segera membalikkan badannya, setelah itu memutar badannya lagi. Seketika Ciok Giok Yin berseru tak tertahan.

"Bu Tok Sianseng!"

"Tidak salah, aku adalah Bu Tok Sianseng!"

Mendadak dia mengusap wajahnya sendiri dan seketika muncul wajah yang amat cantik. Ciok Giok Yin terbelalak.

"Kau..... kau adalah Ho Siu Kouw?"

Gadis itu tersenyum malu-malu, kemudian mengangguk.

"Betul!"

Ternyata Bok Tiong Jin atau Bu Tok Sianseng adalah Ho Siu Kouw, gadis yang tinggal di dalam Goa Toan Teng Tong.

Oleh karena itu, atas persetujuan Ciok Hujin, hari itu juga gadis tersebut menikah dengan Ciok Giok Yin.

Sudah barang tentu Ciok Giok Yin mempunyai empat istri, dan keempat istrinya itu harus pula mempelajari kitab Im Yang Cin Koy untuk melayaninya.

TAMAT

Baca Juga: Legenda Bunga Persik 1

Baca Juga: Golok Halilintar 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert