Eps 8 Golok Halilintar - Khu Lung
Baca online Golok Halilintar - Khu Lung
Cersil Golok Halilintar - Khu Lung.
"Sejak salah seorang pamanmu membinasakan seluruh keluargaku, aku hidup sebatang kara, Tiada seorang pun di dunia ini yang menaruh perhatian kepadaku, apalagi bersedih atau menangis meratapi nasibku. Akan tetapi pada hari ini, aku menyaksikan seseorang menangis untuk diriku, inilah suatu peristiwa yang b^urga tinggi bagiku. pada hari ini pula, aku telah membunuh empat puluh empat anggauta keluargamu. sebenarnya, masih kurang enam orang lagi yang harus kubunuh. Akan tetapi melihat air matamu, aku berjanji tidak akan membunuh lagi."
Aku tidak menjawab.
itulah suatu penghargaan bagiku.
Air mataku berharga enam jiwa.
Pada saat itu, aku menangis.
Hanya saja, tak tahu aku titik berat tangisku itu, Entah terdorong rasa syukur atau dukacita, Dan dalam pada itu ia berkata lagi.
"Akupun tidak akan mengganggu anggauta perempuan keluargamu, sejak hari ini, aku sudahi saja, Kau tunggulah sampai lukaku sembuh, dan aku akan mengantarkan kau pulang dengan tak kurang suatu apa."
Masih saja aku menangis.
Akan tetapi kini tahulah aku, membaca perasaanku sendiri.
Aku merasa lega hati, syukur dan berterima kasih.
Karena oleh air mataku, ia tidak akan melakukan pembunuhan dan mengganggu ipar-iparku.
Akupun ternyata tidak akan di ganggunya pula, Dan oleh rasa terima kasih, keesokan harinya aku bersedia menanak nasi baginya dan merawat lukanya.
Pada suatu hari, ia tak sadarkan diri selama satu hari, Tak tahu aku, apa yang harus aku lakukan.
Aku khawatir, ia akan kehilangan jiwanya.
Karena bingung, aku menangis dan sampai kedua mataku bendul, selagi menangis, sekonyongkonyong ia menyenakkan matanya , kemudian tertawa.
Katanya.
"Mengapa menangis ? Aku tidak akan mati."
Selang dua hari lagi, benar-benar dia pulih seperti sediakala.
Dia bisa bangun sendiri dan berjalan-jalan, pada malam harinya ia mengatakan kepadaku, bahwa akibat serangan ayah adalah hebat.
Andaikata tidak tertolong oleh ramuan obat dan ketabahan hatinya, pastilah dia akan mati.
Dan bila dia mati, akupun akan mati kelaparan pula, Sebab aku tak bisa keluar dari goa seorang diri, Sebaliknya, tiada seorangpun anggauta keluargaku yang berani menghampiri goa.
Aku percaya, ucapannya bukan suatu omong kosong belaka, Sekiranya ada salah seorang anggauta keluargaku yang berani menghampiri goa, pastilah hal itu sudah terjadi beberapa hari yang lalu.
Bukankah dia dalam keadaan luka parah?
jangan lagi bertempur, sedang menggerakkan tangannya saja dia tak mampu, Diapun sadar akan hal itu.
Andaikata aku berniat jahat, itulah kesempatan yang sebaik-baiknya untuk membunuhnya.
"lbu,"
Kata Giok Cu menyelak bicara.
"Dia sangat baik terhadap ibu, maka ibupun wajib membalas budi baiknya."
Dan setelah berkata demikian, ia menoleh kepada Sin Houw, Pemuda itu bersikap dingin, sama sekali ia tidak menghiraukan pandang mata Giok Cu.
"Dari hari ke hari, kesehatannya semakin pulih."
Shiu Shiu meneruskan ceritanya.
"Selama itu, seringkali ia mengajakku berbicara tentang masa kanak-kanaknya. Dikatakannya kepadaku, betapa besar rasa kasih sayang ayah-bundanya. Kedua kakaknya dan kakak perempuannya pun kasih kepadanya pula, pernah pada suatu kali, ia sakit demam, dan ibunya tidak tidur barang sekejap mata selama tiga hari tiga malam. Akan tetapi pada suatu malam, datanglah malapetaka itu. Terharu aku mendengarkan tutur-katanya. ia kejam dan bengis, akan tetapi bila membicarakan keadaan keluarganya, mendadak saja sikapnya menjadi lemah lembut. itulah suatu tanda, bahwa budi pekertinya sebenarnya baik dan halus. ia memperlihatkan pakaian kanak kanaknya yang tersulam indah. Katanya itulah sulaman almarhum ibunya tatkala dia hampir mencapai umur satu tahun."
Berkata demikian, Shiu Shiu menarik sehelai pakaian kanak-kanak dari bawah tempat duduknya dan diletakkannya di atas meja.
Sin Houw memperhatikan sulaman pakaian kanak-kanak itu, sulaman seorang bayi montok yang telanjang bulat, wajahnya manis, pandangnya menyenangkan.
Rangkaian warna sulaman itu sendiri, indah pula.
Tiba-tiba ia jadi terharu sendiri.
Teringatlah dia kepada masa kanak-kanaknya.
iapun kini tidak ber-ayah-bunda lagi.
"Seperti beberapa hari yang lalu, ia bersenandung lagi untukku."
Shiu Shiu melanjutkan ceritanya.
"Diwaktu senggang, ia memotong dahan kayu dan mengukir bonekaboneka untukku. Katanya, aku adalah seorang bocah yang belum mengerti sesuatu ..."
Akhirnya sembuhlah dia, Akan tetapi meskipun sudah sehat seperti biasa, tiada nampak lagi ketegaran hatinya.
Aku jadi heran.
pada suatu hari, kutanyakan sebab-sebabnya.
jawabannya mengherankan aku.
Katanya, dia tidak sampai hati meninggalkan aku.
"Kalau begitu, biarlah aku berdiam terus disini menemani kau."
Kataku tanpa berpikir.
Mendengar perkataanku, dia girang bukan kepalang.
Larilah dia mendaki puncak.
ia memanjat pohon dan mendarat dengan berjumpalitan dan iapun menari-nari, Kemudian ia mendekati aku lagi dan memperlihatkan sehelai peta yang menunjukkan harta karun terpendam.
Katanya, itulah harta benda almarhum Ciu Kong Bie yang gagal melakukan perjuangan bangsa melawan pemerintah penjajah asing.
Harta itu disimpan pada suatu tempat yang dirahasiakan"
Mendengar tutur-kata Shiu Shiu, maka Sin Houw memanggut dan berkata di dalam hati.
"Jadi itulah peta harta yang terdapat didalam kitab warisan.pantas dulu Thio Kun Cu sampai hati menikam saudaranya sendiri ..."
"Peta harta karun itu ia memperolehnya secara kebetulan saja."
Shiu Shiu meneruskan ceritanya.
"Dia berjanji, setelah berhasil membongkar harta karun itu, akan segera datang meminang diriku. sekarang aku hendak di antarkan pulang."
Shiu Shiu berhenti sebentar. wajahnya tiba-tiba berubah. Tatkala melanjutkan ceritanya, suaranya sengit, Katanya.
"Tatkala tiba dirumah, semua anggauta keluarga meludah ketanah begitu melihat diriku, Aku jadi mendongkol dan juga membenci. Akupun sebal terhadap mereka. Mereka semua tidak mempunyai kesanggupan untuk melindungi keselamatan keluarganya, Tapi melihat diriku pulang kerumah dengan tubuh putih bersih, mereka bersikap merendahkan. Kenapa mereka dahulu bisa bersikap belas kasih kepada kedua iparku yang jelas sekali sudah terusak kesuciannya? Karena itu, aku jadi muak, Dan sejak hari itu, tak sudi lagi aku berbicara dengan mereka."
"lbu! sikapmu benar sekali!"
Kata Giok Cu.
"Bukankah begitu, Sin koko?"
Thio Sin Houw tidak menyahut. ia mendengarkan kelanjutan cerita Shiu Shiu.
"Tiga bulan lamanya, aku menunggu kedatangannya. Dan pada suatu malam aku mendengar suara senandung terpencil dari dinding-dinding gunung. itulah suara dan senandung yang kukenal. segera aku membuka jendela kamarku, Dan datanglah ia. Dan pertemuan itu membuat perasaanku aneh sekali. Rasa girang, bahagia, syukur dan lain sebagainya berada dalam diriku. Itulah suatu rumun perasaan yang belum pernah ku rasakan. Dan pada malam hari itu hiduplah kami sebagai suami isteri."
"Kemudian lahirlah kau, peristiwa itu terjadi oleh keinginanku sendiri. Jadi bukan karena aku kena diperkosa, itulah sebabnya, aku tak pernah menyesal. Maka tidaklah benar, apabila terbetik khabar, bahwa aku diperkosanya, selama itu, ayahmu memperlakukan diriku dengan baik sekali. Dia bersikap begitu hormat pula terhadapku, dan kami berdua saling menyinta..."
Sin Houw terharu mendengar tutur kata Shiu Shiu, selain berani, diapun jujur pula, itulah suatu kisah cinta-kasih yang berliku-liku akan tetapi mengasyikkan, Lalu ia bertanya.
"Dan pada waktu itu, apakah subo mendapat kisikan tentang harta karun yang terpendam?"
"Benar."
Sahut Shiu Shiu.
"Dia berkata, bahwa belum ada kesempatan untuk mencarinya, akan tetapi dia sudah mengetahui dimana tempat beradanya, segera kami berdua berunding untuk melarikan diri saja dari rumah. Tatkala pada pagi harinya aku berkemas-kemas, tiba-tiba pintu terketuk, Rupanya pembicaraan kami kena dicuri dengar orang. Cepatcepat aku sembunyikan surat mohon diriku kepada ayah, Lalu aku memegang lengannya. Hatiku kecul dan takut."
"Jangan takut l"
Katanya membujuk.
"Meskipun terkepung sepasukan tentara, kita akan dapat meloloskan diri, percayalah !"
Setelah berkata demikian, dengan gagah ia membuka pintu.
Dan di depan pintu, berdirilah tiga orang yang selamanya aku takuti dan aku hormati yakni ayah, Jie supeh dan Sam supeh.
Hanya saja, mereka tidak bersenjata sama sekali, bahkan mereka mengenakan pakaian tidur.
Wajah mereka ramah pula sehingga aku tertegun keheranan.
Kata ayah.
"Kami sudah mengetahui persoalan kalian. Rupanya sudah takdir, bahwa kalian sudah jodoh yang telah ditetapkan sebelum lahir. sebenarnya hal ini merupakan masalah yang sulit, Terus terang kukatakan, bahwa perhubungan kalian merupakan peristiwa terkutuk. Tetapi karena perjodohan kalian agaknya sudah ditakdirkan, maka biarlah kami menerimamu sebagai anggauta keluarga kami. Dengan begitu, selesailah sudah permusuhan yang kini terjadi. Kita sekarang tidak perlu lagi saling mengangkat senjata."
Mendengar perkataan ayah, dia berdiam sejenak menimbang-nimbang. Kemudian menyahut.
"Apakah kalian masih khawatir aku akan melakukan pembunuhan lagi? percayalah, aku sudah berjanji kepada Shiu Shiu, tidak akan membunuh atau mengganggu lagi salah seorang anggauta keluarga Cio-liang pay!"
"Bagus!"
Seru ayah dengan gembira -"Karena itu, tak dapat kau memper-isteri anakku dengan cara melarikan diri.
Marilah kita berbicara secara baik baik, Lamarlah anakku, dan aku akan mengawinkan kalian berdua dengan suatu upacara yang layak."
Itulah suatu keputusan diluar dugaan.
Tadinya, kami mengira akan melalui kesulitan yang berlarut-larut, Tak mengherankan, ia jadi girang bukan kepalang.
Memang, sebenarnya tiada maksudnya hendak mengawini diriku dengan paksa.
Doa restu orang tua dengan segenap keluarga, adalah jalan lurus paling baik, Tetapi ...
akh!
Ternyata ia kena jebak ayahku!
"Apa?"
Sin Houw sampai berseru di luar kehendaknya sendiri.
"Jadi ayahmu sedang melakukan tipu muslihat?"
Shiu Shiu manggut dengan lesu dan melanjutkan ceritanya. Katanya.
"Ayah memberi kamar samping kepadanya, Dan secara itu, persiapan upacara pernikahan mulai dilakukan. Tetapi dia seorang yang hati-hati, cermat, dan berwaspada. Tak sudi ia menerima minuman atau makanan pemberian ayah, semuanya diperiksa dulu dan diberikan kepada anjing atau kucing sebagai percobaan, walaupun demikian, masih ia tak pernah menyentuhnya. Untuk makan minumnya, ia membelinya sendiri, di kedai makanan."
Pada suatu malam, ibu datang dengan membawa sepiring bubur kepadaku.
Berkatalah ibu kepadaku, bahwa bubur itu sengaja dimasaknya sendiri untuk calon menantunya, sudah barang tentu aku sangat bersyukur melihat sikap ibu yang sudah bersedia menerimanya sebagai menantu penuh.
Tanpa curiga, aku membawa sepiring bubur itu kepadanya.
Dia bergembira melihat aku mengantarkan sendiri barang makanan itu.
ia mengira, akulah yang memasaknya sendiri.
Karena itu, tanpa curiga dan tanpa diperiksanya lagi, ia terus menghirupnya.
Tetapi sekonyong-konyong wajahnya berubah menjadi pucat, segera ia bangkit dan berseru.
"Mengapa kau sampai hati kepadaku?"
Aku kaget sampai pucat pula, Sahutku dengan suara menggeletar.
"Aku kenapa?"
"Mengapa kau meracuni aku?"
Teriaknya.
"Racun?"
Aku berteriak pula dengan suara tertahan.
Shiu Shiu berhenti sejenak.
Napasnya memburu, dan ruangan itu mendadak saja terasa menjadi tegang dan sunyi.
Tiba-tiba terdengarlah suara berisik.
Ceng it berlima muncul dari balik gerombol pohon.
Teriaknya.
"Eh, Shiu Shiu! Kau tak malu menceritakan riwayatmu sendiri yang kotor dan busuk itu?"
Wajah Shiu Shiu yang bernasib malang itu menjadi pucat dan kemudian berubah menjadi merah padam, sahutnya dengan suara tersendat-sendat.
"Sembilan belas tahun sudah aku tidak sudi berbicara dengan kalian. akupun tak pernah berkata sepatah kata sampai aku mati, Kenapa aku takut menghadapi semuanya ini? Anakku, Sin Houw! Kau takut atau tidak, menghadapi mereka?"
Thio Sin Houw hendak membuka mulutnya, tetapi Giok Cu telah mendahu-luinya, Kata gadis itu.
"Sin-koko tak kenal takut terhadap siapapun!"
"Bagus."
Shiu Shiu berlega hati.
"Kalau begitu, tak perlu aku menghiraukan mereka. Biarlah kulanjutkan ceritaku."
Hebat kata-kata Shiu Shiu, Tadi dia nampak sangat lemah seperti orang berpenyakitan.
Dan kini dengan tiba-tiba ia bersikap gagah dan galak.
suaranya tegas dan sengaja di besarkan, Dengan nyaring ia meneruskan ceritanya.
"Aku lalu menangis, tak tahu aku apa yang harus kulakukan. Dengan sesungguhnya aku tak mengerti bahwa bubur itu beracun. siapakah yang menaruh curiga terhadap ibu kandung sendiri? Hatiku susah bukan main, karena ia menuduhku meracuni. selagi demikian, kulihat pintu kamar terbuka, dan beberapa orang bersenjata lengkap menyerbu masuk. Yang berada didepan adalah lima pamanmu itu. Pada tangan mereka masing masing memegang senjata andalan mereka -garang sikapnya, seakan-akan pahlawan tanpa tandingan. sebaliknya ayah, berdiri diluar pintu, Dia memanggilku agar keluar, dan tahulah aku, begitu aku keluar kamar, dia akan di serang berantai-ramai. Maka aku menjawab seruan ayah.
"Tidak! Aku tidak akan keluar kamar! Kalau ayah hendak membunuh dia, bunuhlah aku dahulu!"
"Tatkala itu, Beng Cin duduk di kursi dengan wajah bersungut, ia mengira aku bersekutu dengan ayah semua. Hatinya susah dan tiada niatnya hendak melawan. Tetapi begitu mendengar jawabanku, dengan mendadak ia melompat bangun, Tanyanya kepada dengan suara sabar.
"Jadi, kau tidak mengetahui kalau bubur itu beracun?"
Aku tak menjawab dengan segera, piring bubur lalu kusambar dan sisa bubumya kuhirup sebagian. Kataku meyakinkan.
"Sekiranya bubur ini mengandung racun, biarlah kita mati bersama-sama!"
Aku hendak menghirup sisanya sampai habis, akan tetapi ia menyampok mangkok itu sehingga hancur berantakan di lantai. Kemudian ia tertawa sambil berkata.
"Bagus, Mari kita mati bersama."
Dan setelah berkata demikian terhadapku , ia berpaling kepada mereka, Katanya.
"Hmm, kalian menggunakan cara yang rendah sekali dan kotor. Apakah kalian tidak malu?"
"Susiok Kuncu yang berangasan meledak.
"Siapa yang meracunmu? Kalau kau mempunyai kepandaian, hayo keluar! Kita mengadu ilmu!"
"Baik."
Sahutnya.
"Dan ia membimbingku keluar kamar. Di ruangan latihan ternyata sudah dibangun sebuah panggung yang semula dikatakan sebagai panggung tempat pertemuan mempelai. Dan diatas panggung, sekalian paman dan mereka berlima berdiri berjajar siap bertempur, Namun ia bersikap acuh tak acuh, sama sekali ia tak menghiraukan jumlah mereka yang banyak."
"Memang benar perkataan susiok Kun Cu, bahwa bubur tidak beracun. Tetapi dikemudian hari tahulah aku, bahwa bubur itu mengandung ramuan obat pulas serta pelarut tenaga. Barang siapa menelan ramuan obat itu, akan terkuras habis tenaganya sedikit demi sedikit. Kemudian akan tertidur pulas dan baru tersadar setelah melampaui empat puluh delapan jam lamanya. Dengan demikian, mereka bermaksud merobohkan Beng Cin dengan berlagak melalui pertempuran. Mula-mula aku heran, kenapa mereka memilih cara demikian. Tetapi segera aku mengetahui alasannya, ternyata didalam gedung itu hadir pula beberapa tokoh pendekar dari Siao-lim, Ngo-bi dan lain sebagainya. Di hadapan para pendekar itulah, mereka hendak menjual lagak secara ksatria. Apabila Beng Cin roboh akibat obat tidur, mereka akan segera menyiksanya."
Sampai disini, wajah Shiu Shiu berobah merah padam, perkataannya sengit mengandung luapan rasa marah yang sudah lama terpendam dan kini mempunyai kesempatan untuk dilampiaskan Tatkala ia hendak meneruskan ceritanya, Ceng Go berteriak kepada Sin Houw.
"Hey, saudara Sin Houw! Apakah kau berani melayani ilmu sakti gabungan kami yang bernama Ngo-heng tin, atau tidak?"
Dua hari yang lalu, Sin Houw bersikap segan terhadap mereka.
Karena mereka adalah pamannya Giok Cu.
Akan tetapi setelah mendengar cerita Shiu Shiu, lenyaplah rasa hormatnya, ia kini mendongkol dan muak terhadap mereka, maka dengan sengit ia menyahut.
"Hmm, kamu hanya berlima saja, walaupun aku kalian kepung sepuluh orang, tidaklah aku mundur selangkah pun ..."
Tepat pada saat itu, melesatlah sesosok bayangan memasuki serambi sambil berseru nyaring.
"Anak tak tahu adat! Enyahlah kau dari sini !"
Dalam selintasan, Sin Houw melihat perawakan tubuh bayangan itu yang tinggi dan kekar.
Rambutnya dibiarkan lepas tak beraturan dan terlilit gelang tembaga yang berkilauan.
pakaian yang dikenakannya terbuat dari kulit Kasee.
Kesan dirinya mirip dengan seorang pendeta tauw-to, tetapi sebenarnya dialah seorang bandit besar yang berkeliaran disekitar Ho-lam.
Namanya Teng Teng, ia baru saja datang untuk mengunjungi keluarga Cio-liang pay hendak mengajak untuk bekerja sama.
Ketika mengetahui keluarga itu sedang dipermainkan oleh seorang anak muda, ia jadi panas hati dan penasaran.
sekarang ia akan memamerkan kemampuannya menghajar anak muda itu.
Begitu mendarat dilantai, terus saja tangannya menyambar.
Thio Sin Houw melihat datangnya serangan mendadak.
Gesit ia mengelak, dan dengan sebat ia menerkam rambut gondrong pendeta itu, Kemudian ia bergerak memutar, sehingga tubuh pendeta itu terputar pula seperti sintir.
Tiba tiba terkamannya di lepaskan, dan Teng Teng terlempar tinggi.
Tak ampun lagi, dia terbanting jungkir balik menelungkup di gerombol pohon-pohon yang berduri, seketika itu juga, seluruh muka dan tubuhnya babak belur terkena duriduri yang tajam ia terkaing-kaing seperti seekor anjing kena pentung.
Sama sekali tak terbayangkan, bahwa dia bakal babak belur hanya dalam segebrakan saja!
Menyaksikan kejadian itu, Giok Cu tertawa merendahkan.
Tanpa menghiraukan apa yang telah terjadi, ia lantas minta ibunya meneruskan bercerita.
"Pada malam hari itu, mereka berlima mengepung Beng Cin dengan ilmu gabungan Ngo-heng tin, ilmu sakti itu belum pernah terkalahkan oleh siapapun juga. Tetapi sebenarnya, dia sanggup melayani. Hanya sayang, ia sudah mereguk obat bius pelarut tenaga. Makin lama gerakannya makin kendor. Nampak sekali kelelahannya, sulitlah ia untuk meneruskan perlawanannya lagi. Bahkan untuk bisa lolos saja tiada harapan lagi ..."
"Shiu Shiu!"
Bentak Ceng Go.
"Apakah kau hendak membuka rahasia ilmu sakti keluarga kita kepada anak itu?"
Shiu Shiu tidak menghiraukan bentakan Ceng Go. Dengan menatap wajah Sin Houw, ia meneruskan.
"Jelaslah, bahwa ia ingin merobohkan salah seorang musuhnya, agar dapat memecahkan ilmu gabungan itu. Akan tetapi kecuali tenaganya nyaris habis, ilmu gabungan itu adalah suatu persenyawaan, Masing-masing mempunyai kerja-sama yang rapi dan saling berhubungan dan saling melindungi. Demikianlah, akhirnya dia hampir roboh kecapaian, Tubuhnya sempoyongan semakin hebat, Dan aku berteriak nyaring.
"Jangan pikirkan aku! Pergilah! cepat pergi! selama hidupku, tak akan kulupakan dirimu, selamatkan dirimu dahulu!"
Hebat suara Shiu Shiu tatkala menirukan pekik teriaknya dahulu.
Giok Cu sampai bergidik, sebab pekik teriak ibunya mirip jeritan berbareng ratapan yang menyayat hati.
seperti orang membangunkan seseorang yang tidur pulas, ia lalu berteriak.
"lbu!"
Sin Houw kaget juga, Bulu kuduknya meremang, Dengan hati cemas ia memandang wajah Shiu Shiu, pandang mata Shiu Shiu nampak kabur dan kuyu, napasnya memburu.
Tahulah dia, bahwa hati Shiu Shiu penuh duka, benci, mendongkol dan penasaran.
ia lantas tergugu beberapa saat lamanya.
"Subo, sudahlah. Esok malam bisa disambung lagi, sekarang beristirahatlah dahulu, aku sendiri hendak menyelesaikan urusanku. Tapi esok malam aku berjanji akan datang lagi, untuk mendengarkan sambungan ceritanya."
Katanya.
"Tidak! Tidak!"
Seru Chiu Shiu seperti tersadar. ia menyambar lengan baju Sin Houw dan ditariknya. Katanya.
"Sembilanbelas tahun lebih aku membisu, sekarang aku mempunyai kesempatan untuk melontakkan semua isi hatiku. Anakku, Sin Houw. Kau dengarkan dahulu ceritaku sampai selesai..."
Suara itu mengandung suatu permohonan, maka terpaksa Sin Houw memanggut seraya berkata.
"Baiklah, Akan kudengarkan sampai selesai."
Lega hati Shiu shiu, perlahan lahan ia melepaskan cekalannya. Namun ujung jarinya masih menjepit lengan baju Sin Houw. Katanya meneruskan.
"Mereka sebenarnya menghendaki jiwanya. Tapi kecuali itu, yang terlebih penting lagi adalah harta karun! Harta karun itulah yang mereka kehendaki dan Beng cin sudah dapat menduga jauh-jauh sebelumnya. Kini dia sudah mempersiapkan diri.
"Demikianlah, akhirnya ia terluka dan ia roboh terkulai. Tapi di dalam keadaan setengah sadar itu, masih sempat ia mengeluh.
"Akh, petaku! Dan setelah itu, ia tak ingat sesuatu lagi.."
"Hey, bangun dahulu!"
Teriak susiok Kun Cu.
"Kau tunjukkan dulu dimana harta karun itu!"
"Susiok Kun Cu berteriak demikian sambil melompat memasuki panggung, jari tangannya menusuk tubuh Beng Cin dibagian tertentu. Dan akibat tusukan jari itu, Beng Cin jadi tersadar sebentar, sahutnya.
"Oh, rupanya kau juga menghendaki harta itu? Peta tak ada padaku. siapa yang berani, ikutlah aku ,,."
Dan setelah berkata demikian, kali ini dia benar-benar roboh tak sadarkan diri lagi.
"Mereka semua jadi gempar mendengar jawaban Beng Cin. Juga mereka semua yang ikut menyaksikan perkelahian. Bila Beng Cin disadarkan, hebat akibatnya. Betapa tidak? Kalau obat bius itu punah, mereka semua bukan tandingannya. sebaliknya, apabila dibunuhnya, peta harta karun itu akan lenyap untuk selama-lamanya.
"Mereka lalu sibuk berunding, dan akhirnya ayah mengusulkan suatu penyelesaian yang bagus sekali. Ya, bagus sekali! Lim Beng Cin hendak digeledahnya dahulu, Apabila peta itu ternyata tidak ada padanya, urat-urat kaki dan tangannya hendak diputuskan. Kemudian baru dibebaskan. Dua hari lagi, meskipun obat bius telah lenyap dari tubuhnya, Beng Cin sudah menjadi orang cacad. semua ilmu saktinya lenyap. Bukankah bagus sekali usul itu? "Mereka kemudian melaksanakan pekerjaan itu, dan aku lalu roboh tertidur karena juga terkena pengaruh obat bius itu.
"Entah berapa lama aku tertidur, setelah menyenakkan mata, dihadapanku terjadi banjir darah. Banyak kulihat mayatmayat bergelimpangan. Beng Cin tidak nampak lagi diatas panggung. Hatiku jadi berharap-harap cemas. Apakah dia berhasil melarikan diri setelah membunuh lawan-lawannya? Tetapimasih sempat aku menyaksikan, tatkala mereka berlima memutuskan urat-urat kaki dan tangannya. Aku jadi kebingungan. Tak ada yang bisa memberitahukan kepadaku. Gedung nampak sunyi senyap. Syukur, bubur yang kumakan tidak begitu banyak, sehingga aku kehilangan kesadaranku hanya selama waktu dua tiga jam saja. Akupun telah dapat berdiri dengan tegak. Dan segera aku mengadakan pemeriksaan. Mayat-mayat itu ternyata bukanlah mayat-mayat keluarga Cio-liang pay, tetapi mayat-mayat tetamunya yang tadi menyaksikan pertandingan Apa yang telah terjadi? "Tiba-tiba aku mendengar suara mengerang. segera aku menghampiri dan kulihat seorang tamu yang tertusuk kedua matanya. Tak usah kukatakan lagi, bahwa bakal buta dikemudian hari, meskipun jiwanya selamat. Segera aku menolongnya. Tatkala kena raba tanganku, dia bertanyakan siapa diriku. Mendadak saja dia berkata dengan berani.
"Apakah kau calon mempelai?"
"Benar."
Sahutku, Ternyata dia seorang pendekar yang tahan sakit. Tanpa memperdulikan keadaan dirinya, dia berkata.
"Syukurlah kau telah tersadar sekarang, sudikah kau membawaku keluar dari gedung ini? Aku bernama Wong San Cong, berasal dari Kam-leng, Aku bukan teman maupun musuh musuh keluargamu, Kedatanganku ke sini sematamata memenuhi undangan ayahmu. Katanya, ayahmu hendak mengawinkan dirimu dengan bekas musuhnya. Maka aku datang bersama pendekar Thio Kim San, dari Bu-tong pay."
Mendengar Shiu Shiu menyebut nama Thio Kim San, hati Sin Houw terperanjat seperti mendengar petir di siang hari, itulah nama ayahnya, Hampir saja ia membuka mulutnya.
Sukur Shiu Shiu telah mendahului meneruskan ceritanya.
"Dari mulutnya, aku mengetahui bahwa Beng Cin berhasil dilarikan, Tatkala pendekar Thio Kim San dan Wong San Cong tiba, mereka masih sempat menyaksikan Beng Cin sedang disiksa, itulah perlakuan yang sewenang-wenang dan sebagai pendekar yang berbudi luhur, mereka tak dapat membiarkan tindakan itu terjadi dihadapan mereka. serentak mereka bergerak hendak melakukan pertolongan. Dan tepat pada saat itu, terjadilah suatu peristiwa perebutan peta yang terdapat pada tubuh Beng Cin, mereka saling bertengkar dan akhirnya saling bunuh-membunuh.
"Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh pendekar Thio Kim San, Dengan pertolongan Wong San Cong, ia memanggul tubuh Beng Cin dan dibawanya pergi. Tetapi tidak semua yang hadir kalap oleh peta harta karun itu, itulah keluarga kami bagian wanita. Mereka berteriak-teriak menyerukan tanda bahaya, dan pendekar Thio Kim San lalu dikepung. syukur masih ada Wong San Cong yang melindungi. selain itu kebanyakan diantara tamu terpancing pada peta harta karun itu. Dengan demikian, kepergian pendekar Thio Kim San tidak mengalami rintangan terlalu sulit. Tetapi walaupun demikian, kedua matanya Wong San Cong kena tusuk senjata ayah, Dia masih bisa membalas dengan menghamburkan senjata bidiknya. Ayah bisa menyelamatkan diri, namun tak urung sebatang senjata bidik itu dapat mengenai paru-parunya juga, Ayah tidak mati, tetapi bidikan itulah yang kelak membawa mautnya beberapa tahun kemudian.
"Dalam pada itu hawa pembunuhan masih bergolak. susiok Kun Cu berhasil mempertahankan diri, Tapi ia terkejut, ketika mengetahui Beng Cin lenyap ! tepat pada saat itu, ayah roboh terkulai pula sambil menuding keluar, Dengan serentak paman Kun Cu melesat keluar mengejar pendekar Thio Kim San. Karena dialah yang membawa kabur Beng Cin, Maka sisa para tamu ikut mengejar pula, Tetapi bukannya mengejar pendekar Thio Kim San, melainkan semata-mata untuk mencoba merebut peta.
"Entah bagaimana akhirnya, akan tetapi dikemudian hari kudengar tutur kata mengenai pengejaran itu, Karena memanggul orang, gerakan pendekar Thio Kim San terhalang, Merasa diri bakal terkejar, ia menyembunyikan Beng Sin dibalik gerombol belukar yang berada ditepi tebing, kemudian ia mengadakan perlawanan dan pembelaan diri.
"Tetapi beberapa saat kemudian, corak dan tujuan pertempuran jadi berobah tak keruan. itulah disebabkan pengaruh peta harta karun. Kembali mereka saling berebut dan saling bunuh dan pendekar Thio Kim San mempunyai kesempatan untuk meninggalkan gelanggang. Agar Beng Cin selamat, sengaja ia membuat penyesatan, ia lari kearah yang bertentangan. Dan semenjak hari itu, ia tiada kabar beritanya lagi..."
"Hey! Mengapa kau mengoceh tak keruan? Awas ...!"
Ceng Go memutus dengan berteriak nyaring.
"Hmm, apakah kalian kira aku takut mati? Kalian boleh membunuhku. Bukankah kalian juga yang membunuh tamutamu undangan dengan cara keji!"
Damprat Shiu Shiu dengan pandang menyala.
"Keji bagaimana?"
"Kau pancing mereka memasuki tanah jebakan, kemudian kalian habisi jiwa mereka. Bukankah begitu?"
"Ngaco! Thio Kim San yang membunuh mereka!"
Teriak Ceng Go dan Ceng Sam dengan berbareng.
"Hmm!"
Dengus Shiu Shiu.
"Apakah kalian sangka tak ada seorangpun yang menyaksikan peristiwa itu?"
"Siapakah orang itu? siapa?"
"Aku sendiri. Tatkala membimbing pendekar Wong San Cong keluar dari dusun !"
Sahut Shiu Shiu dengan tegas.
Thio Sin Houw tertegun mendengar perkataan itu.
samarsamar ia seperti memperoleh penjelasan dan latar belakang sebab-sebabnya ayahnya dimusuhi para pendekar dari berbagai penjuru.
Rupanya ayahnya disangkut pautkan dengan peristiwa Gin-coa Long-kun dan masalah pembunuhan para pendekar undangan yang sebenarnya dilakukan oleh keluarga Cio-liang pay.
Hanya bagaimana cara keluarga Cio-liang pay menjebak dan membunuh mereka, belum jelas.
"Anakku, Sin Houw!"
Kata Shiu Shiu.
"Peta yang berada ditangan paman Kun Cu sebenarnya adalah peta yang palsu. inilah yang kukatakan tadi, bahwa jauh sebelumnya Beng Cin telah membuat persiapan yntuk mengakali mereka. Berbulanbulan lamanya mereka menggali sana-sini, uang ratusan ribu telah mereka keluarkan sebagai beaya pencarian harta karun itu, tetapi sebiji kerikil emaspun tak mereka peroleh . Ha-ha ...! Benar-benar memuaskan sekali. Dan setidak-tidaknya bisa menghibur hatiku..."
Ceng It berlima menggeram mendengar ejekan Shiu Shiu, Menuruti hati ingin mereka menerjang dengan serentak akan tetapi mereka takut terhadap Sin Houw, Maka akhirnya mereka hanya mengumpat kalang-kabut.
Shiu Shiu sendiri tidak menggubris, setelah tertegun sejenak, ia meneruskan lagi.
"Dia telah disiksa, Urat-urat kaki dan tangannya telah diputuskan. Walaupun pendekar Thio Kim San telah berhasil menyelamatkan jiwanya, pastilah ia menjadi laki-laki yang tidak berguna lagi, Aku tahu, hatinya keras dan angkuh, sekarang aku mendengar berita dari kau, bahwa kau telah merawat tulang-tulangnya, Artinya, dia benar-benar selamat pada waktu itu, Untuk muncul kembali, pastilah dia tak berdaya lagi. Kemudian mati oleh rasa hati dendam dan mendongkol."
Thio Sin Houw tak bergerak dari tempatnya, seakan-akan tersihir, otaknya yang cerdas sibuk merangkai-rangkai peristiwa itu, sekarang, latar belakang sebab~sebab terjadinya pengejaran terhadap ayahnya, seakan-akan lebih jelas lagi, itulah mengenai peristiwa pembunuhan dan peta.
Ayahnya dahulu pernah menyebut-nyebut jembatan penyeberangan di atas gunung Bu-tong san.
Apakah maksudnya bukan mengenai peta harta karun itu?
Terjadinya pengejaran terhadap ayahnya, terang sekali suatu fitnah, sebab ayahnya sama sekali tidak melakukan pembunuhan.
juga tidak ikut serta merebut peta harta karun.
Demikianlah kalau menurut cerita Shiu Shiu.
Dan rupanya, setelah mengetahui peta itu palsu, rasa mendongkol dan penasaran mereka ditimpahkan kepada ayahnya.
Maka telah terjadi pengejaran itu, Alangkah jahat dan kejinya fitnah itu!
Dengan mata menyala, ia lantas mengalihkan pandang kepada Ceng It berlima.
Dari luar halaman, Ceng It menantang.
"Hey, anak muda! Kau tadi mendengar ilmu gabungan Ngo-heng tin, itulah ilmu sakti kebanggaan keluarga kami. Bagaimana? Apakah kau berani mencobanya ...? Kalau berani, hayo keluarI"
Panas hati Shiu Shiu mendengar tantangan itu, akan tetapi ia sadar ilmu gabungan itu memang hebat. Bahkan terlalu hebat bagi Sin Houw, Maka dengan menahan diri, ia berkata kepada Sin Houw.
"Kau pulanglah! jangan layani mereka."
Sin Houw tahu maksud ibunya Giok Cu, Memang, untuk mencoba-coba ilmu gabungan Ngo-heng tin, bukanlah mudah, tetapi kalau hanya berlawanan seorang demi seorang dari mereka, ia sanggup mengalahkan.
Almarhum Lim Beng Cin sendiri sulit memecahkan rahasia ilmu sakti itu.
Terhadap dirinya, Ceng It berlima sudah bersikap memusuhi.
Kuat dugaan mereka, bahwa diri mempunyai hubungan dengan almarhum Lim Beng Cin, Karena almarhum adalah musuh besar mereka, maka dirinyapun dianggap demikian pula.
Mereka berlima adalah manusia manusia kejam, Dan tidak akan segan-segan menggunakan segala macam tipu daya.
Kemungkinan sekali , dia akan mengalami malapetaka, apabila tidak berhati-hati.
itulah sebabnya dia berbimbang hati.
"Hm! Jadi kau tidak berani, bukan ?"
Ejek Ceng Go.
"Kalau begitu, kau berlututlah dihadapan kami tiga kali! Dan kami akan mengijinkan kau pergi dengan selamat."
Itulah suatu ejekan yang menyakitkan hati, sebelum Sin Houw menyahut, berkatalah Ceng Sam menyambung perkataan saudaranya.
"Kau akan ijinkan dia pergi dengan selamat? Kukira, meskipun sekarang dia sudi berlutut, sudah kasep!"
Setelah berkata demikian, ia membentak kepada Sin Houw dengan suara nyaring.
"Anak muda, malam ini kau harus mencoba-coba kepandaian kami berlima!"
Panas hati Sin Houw mendengar kata kata mereka berdua, Tak sudi ia kalah gertak, maka menyahutlah ia dengan nyaring pula.
"Kudengar ilmu gabungan Ngo-heng tin ciptaan keluarga Cio-liang pay, hebat sekali dan tak terkalahkan. Tetapi, sebenarnya aku ingin mencobanya. sayang saat ini aku letih sekali, sudikah kalian mengijinkan diriku beristirahat selama satu jam saja?"
Thio Sin Houw mengganti sebutan paman dengan istilah kalian, Artinya, ia memandang mereka sebagai musuhnya pula, sebaliknya, mereka tak menghiraukan sama sekali.
Memang Sin Houw sudah dipandang sebagai musuh yang harus di binasakan.
Jawab Ceng Go dengan nada mengejek.
"Baik, satu jam! Tetapi meskipun kau beristirahat sampai delapan hari, mustahil dapat lolos dari ilmu gabungan kami ! "
"Hey, nanti dulu!"
Seru Ceng Sam. Jangan-jangan binatang ini sedang merencanakan suatu muslihat, Mari kita bereskan sekarang saja!"
"Jangan!"
Cegah Ceng lt.
"Kakakmu telah mengabulkan permintaannya. Biarlah dia hidup satu jam lebih lama, Hanya saja, kita harus menjaganya, jangan sampai dia kabur!"
"Kalau begitu, perintahkan dia beristirahat didalam ruangan latihan!"
Ceng Sie memberi saran.
"Disana kita mengurungnya."
"Baik."
Sahut Sin Houw, Kemudian ia bangun dari tempat duduknya.
Shiu Shiu berdua Giok Cu menjadi bingung, ingin mereka mencegah, akan tetapi sama sekali tak berdaya.
Ternyata diruang tempat latihan itu terdapat beberapa orang bersenjata lengkap, Diantara mereka, Sin Houw mengenal tiga orang, itulah si Tangan besi Wong Bun Cit, bersama Kie Song Sie dan Su Eng Nio.
Melihat Sin Houw, Wong Bun Cit berkata.
"Saudara yang baik, Kami mendengar kau diberi kesempatan beristirahat selama satu jam. Kau gunakanlah sebaik-baiknya, apabila lilin-lilin itu padam, itulah tanda waktu istirahatmu sudah habis."
Sin Houw tidak menjawab.
ia hanya memanggut.
Setelah mengambil tempat duduk Sin Houw menebarkan penglihatannya kepada Ceng It berlima yang ikut duduk dengan sikap mengurung, pada penjuru tertentu yang telah mereka perhitungkan pikirnya didalam hati.
"Memang sulit untuk memecahkan barisan mereka."
Kemudian iapun teringat bahwa Gin coa Long-kun yang berkepandaian sangat tinggi, masih tak sanggup memecahkan.rahasia ilmu Ngo-heng tin, Namun tiba-tiba iapun teringat pada beberapa halaman terakhir buku warisan ilmu sakti Gin-coa long-kun.
Mungkinkah itu sengaja dipersiapkan untuk melayani dan menghadapi serangan musuh yang tiba dari berbagai penjuru?
"Syukurlah aku telah menemukan kitab itu dan dapat memahami isinya,.."
Pikirnya lagi.
Memperoleh pikiran itu, Sin Houw jadi tenang hatinya.
Kedua matanya yang terpejam menyenak dan menyinarkan cahaya berkilat, wajahnya nampak terang.
Selama itu Giok Cu terus memperhatikan keadaan Sin Houw.
ia ikut berlega hati ketika melihat wajah pemuda itu terang-benderang.
Dan Thio Sin Houw yang telah memperoleh ketetapan hati, segera bangkit dari kursinya dan berkata memutuskan.
"Cukup! Aku sudah cukup beristirahat silahkan kalian mulai!" ***** ITULAH KEPUTUSAN yang mengejutkan -karena lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan. Akan tetapi Ceng It bersikap acuh tak acuh, Mereka segera memerintahkan anak buahnya untuk menukar lilin-lilin yang baru, Kursi-kursi pun segera disingkirkan. Kata Sin Houw.
"Marilah kita tentukan dahulu mengenai syarat-syarat menang dan kalahnya."
"Hmm, Kalau kau menang, bawalah emas yang kau kehendaki. sebaliknya kalau kau kalah, tak usah dibicarakan lagi!"
Sahut Ceng It.
"Kalau begitu, bawalah emas itu ke sini, bila aku menang segera akan ku bawa pulang."
"Hey, Giok Cu!"
Kata Ceng It dengan membusungkan dada.
"Bawalah kantong emas itu ke sini."
Didalam hati Giok Cu menyesali diri sendiri.
Kalau tahu bakal begini jadinya, pastilah dia akan mengembalikan kantong emas itu ketika Sin Houw datang meminta, sekarang pemuda itu di paksa mempertaruhkan jiwanya, itulah suatu hal yang tidak dikehendaki.
sekarang tak dapat ia berbuat lain kecuali patuh kepada perintah pamannya.
Maka dengan lesu ia mengambil kantong emas yang disimpannya, Kemudian di tempatkan diatas lantai, setelah itu, Ceng It berlima segera berseru.
"Mari kita mulai!"
Merekapun dengan serentak menghunus senjata masingmasing, Sin Houw segera bersiaga pula, Akan tetapi tatkala hendak bergerak, tiba-tiba terdengarlah suara tertawa yang disusul dengan kata-kata nyaring.
"Saudara Thio Ceng It! Aku Go Eng Cay datang berkunjung untuk mengunjuk hormati"
Belasan orang segera memasuki tempat berlatih saling susul.
Perawakannya tidak rata, ada yang tinggi besar, pendek , gemuk dan kurus.
Dan yang berjalan didepan adalah Go Eng Cay, pangcu atau ketua dari persekutuan Liong-yu pang.
Ceng It menyambut kedatangan Go Eng Cay dan mempersilahkan duduk.
Bertanya minta keterangan.
"Go hengtiang, sahabatku, Tengah malam buta kau mengunjungi pondok kami. sebenarnya apakah maksud kalian? Ha, kulihat pula rekan Buyung Hok datang pula, benarbenar suatu kehormatan besar bagi kami."
Setelah berkata demikian, Ceng It membungkuk hormat kepada seorang tetamu yang berada dibelakang Eng Cay, Orang itu pesolek, usianya kurang lebih empat puluh tahun.
Pakaiannya rapih, sehingga mirip seorang laki-laki hidung belang yang doyan perempuan.
Dengan menyertai tawa, Go Eng Cay berkata.
"Saudara Ceng It, kau berbahagia sekali. Kau mempunyai keponakan perempuan yang cerdas dan berkepandaian sangat tinggi, sehingga Wong Bun Cit dan beberapa kawannya roboh ditangannya."
Ceng It menjadi heran mendengar perkataan itu, ia memang belum menerima laporan tentang sepak terjang Giok Cu mengenai perampasan emas.
Kini ia sedang menghadapi seorang lawan tangguh, maka tak ingin ia membuat persoalan baru, sahutnya dengan sabar.
"Lauwheng, sebenarnya apakah yang telah dilakukan oleh keponakanku? Percayalah, kami tidak akan melindungi pihak yang bersalah."
Go Keng Cay tidak mengetahui latar belakang persoalan keluarga Cio-liang pay.
ia tak pernah menduga, bahwa pada saat itu Ceng it berlima sudah memandang Giok Cu sebagai musuh yang harus disingkirkan.
Tatkala melihat Sin Houw berada diantara keluarga Cio-liang pay, rasa herannya kian bertambah.
Bukankah pemuda itu yang dilaporkan sebagai seorang pendekar muda yang berkepandaian tinggi?
Karena pikirannya itu, ia lalu berkata.
"Kami dari pihak Liong-yu pang, belum pernah bentrok dengan pihak kalian. Karena itu dengan memandang pada kalian berlima, biarlah kuselesaikan persoalan Jie Cu Pang, Kuanggap kematiannya terjadi karena kepandaiannya sendiri yang masih dangkal. Hanya saja, mengenai emas itu, kami telah mengikuti dari jauh. Kami telah membuang tenaga dan beaya yang tidak sedikit, Malahan kami kehilangan jiwa pula, Demi untuk melangsungkan hidup kami, maka ..."
Mendengar perkataan itu, Ceng it menjadi lega hatinya, jadi kedatangan Go Keng Cay bukan untuk mengadakan perhitungan balas dendam, Kalau hanya soal emas, malah kebetulan Mereka bisa di kaitkan dengan Sin Houw, Maka katanya dengan suara terbuka.
"Emas yang kau inginkan berada di sini, Ambillah jika kau kehendaki. Kami tidak akan menghalangi."
Go Keng Cay segera memberi perintah kepada anak buahnya untuk memunguti emas yang bertebaran diatas lantai.
Akan tetapi baru saja tangan mereka meraba potongan emas, tiba-tiba suatu ke-siuran angin menolaknya, Mereka terdorong mundur, Dengan serentak mereka menoleh, dan dihadapan mereka berdiri Sin Houw yang berkata kepada Keng Cay dengan suara tenang.
"Go pekhu, emas ini sesungguhnya merupakan perbekalan tentara Thio Su Seng, Karena itu apabila kau rampas, akan besar akibatnya dikemudian hari."
Nama Thio Su Seng memang sangat terkenal sebagai pejuang bangsa, akan tetapi Go Keng Cay yang hidup sebagai kawanan perampok diatas permukaan air, tidak memperdulikan.
sambil tertawa melalui dada, ia menoleh kepada Buyung Hok.
Katanya.
"Ha, kau dengar? Kita digertaknya dengan nama Thio Su Seng!"
Buyung Hok membawa sebatang pipa panjang (hun-cwee).
Diisapnya per1ahan-lahan dan asapnya dikepulkan ke udara beberapa kali.
sikapnya tenang sekali dan tiada maksudnya hendak menjawab ucapan Keng Cay, Dia hanya mengerling lalu menatap wajah Sin Houw.
Thio Sin Houw membalas pandangnya, Buyung Hok yang berusia pertengahan -nampak berkesan angkuh dan agung, Entah apa sebabnya, mendadak saja timbul rasa bencinya.
Akan tetapi, masih dengan merendah ia berkata.
"Apakah supek ikut campur pula dalam persoalan ini? siapakah nama su-peh?"
Buyung Hok tidak menjawab.
ia mengepulkan asap pipanya, Dan kali ini mengarah wajah Sin Houw dengan tepat.
Dan tatkala asap pipanya keluar dari tabungnya, nampak seperti dua ekor ular yang bergerak-gerak ke udara.
setelah itu, Buyung Hok membuang sisa tembakaunya dengan mengetuk-ketukkan pipanya yang panjang, setelah itu diisikan lagi dengan tembakau yang baru, dan dinyalakannya, Kemudian kembali ia mengisap dengan nikmat.
Akan tetapi, selagi Buyung Hok menjual aksi, tiba-tiba melesatlah sesosok bayangan ke dalam ruangan sambil berseru.
"Kembalikan emasku!"
Bayangan itu mendarat diatas lantai dengan manis sekali.
Ternyata dia seorang gadis.
Hanya selisih beberapa detik, mendarat pulalah seorang pemuda yang berperangai kasar, Kemudian datang lagi seorang laki-laki berusia kurang lebih limapuluh tahun, berdandan sebagai seorang pedang.
wajah mukanya berkesan lucu.
Thio Sin Houw segera mengenali gadis itu, Cie Lan, ia girang berbareng khawatir dan kaget, ia girang karena kedatangan mereka berarti membantu dirinya, hanya saja ia belum mengetahui betapa kepandaian kedua kawan yang di bawanya, iapun khawatir memikirkan Giok Cu dan ibunya, sejak mereka berdua menentang keluarganya, pastilah Ceng it berlima tidak akan segan-segan lagi menganggap mereka sebagai musuh yang harus dibasmi.
Disamping Ceng It berlima, terdapat gerombolan Liong-yu pang, Dengan demikian, ia harus melawan dua kelompok musuh yang tangguh.
Kecuali harus membela diri, iapun perlu melindungi Giok Cu dan ibunya.
Pada waktu itu, beberapa anggauta keluarga Cio-liang pay lantas saja menghadang Cie Lan dan kedua kawannya.
Dan pemuda yang berada dibelakang Cie Lan, lantas saja berteriak.
"Hey, kembalikan emas kami !"
Pemuda itu kemudian membungkuki lantai hendak mengambil potongan emas yang bertebaran, Dan menyaksikan hal itu Sin Houw jadi prihatin. pikirnya di dalam hati.
"Akh, mengapa pemuda itu begitu walaupun semberono, pemuda itu ternyata bermata tajam dan gesit, ia melompat kesamping untuk menghindar lalu balas menyerang dengan kedua tangannya. Tentu saja Ceng Cit tidak sudi mengalah, ia menangkis sehingga tangan-tangan mereka saling bentur. Kemudian kedua-duanya terpental mundur beberapa langkah. Pemuda itu menjadi penasaran, ia maju lagi hendak mengulangi serangannya, tiba-tiba orang yang berpakaian sebagai saudagar itu mencegah.
"San Bin, tahan!"
Sekarang Sin Houw mengetahui siapa pemuda itu, Dialah Ciu San Bin yang mengawal emas bersama Cie Lan.
Kalau begitu orang yang berpakaian sebagai pedagang itu, pastilah kakak seperguruannya sendiri.
Tong-pit tie sui-poa Lauw Tong Seng!
Tanpa bersangsi lagi, Sin Houw lalu mendekati dan memberi hormat sambil berkata.
"Suheng, terimalah hormatnya adik seperguruanmu!"
Pedagang itu terbelalak. segera ia memegang kedua tangan Sin Houw, wajahnya berseri-seri, selagi ia berkata.
"Thio Sin Houw! Kau masih begini muda. Akh, benar-benar tak pernah kusangka kita akan bertemu disini!"
Cie Lan mendekati Sin Houw, berkata.
"Sin-koko, inilah Ciu suheng yang kukatakan kepadamu."
Cie Lan memperkenalkan si semberono, Sin Houw memanggut. Juga San Bin. Melihat San Bin hanya manggut Lauw Tong Seng menjadi tak senang.
"Hey, San Bin! Kau harus memberi hormat sambil berlutut. Dialah pamanmu ...! "
Ciu San Bin semakin merasa tak senang hati.
Bukankah Sin Houw lebih muda dari padanya?
Kenapa dia harus berlutut, Namun ia diperintah oleh gurunya.
Sementara itu Buyung Hok tak mau harus menjadi penonton dalam menyaksikan kejadian itu, segera ia menegur dengan tinggi hati.
"Kalian semua ini orang-orang macam apa?"
Ciu San Bin yang sedang merasa tak senang hati, menjadi marah. Dia maju selangkah seraya menyahut dengan suara sengit.
"Emas ini adalah emas kami. Kenapa kalian curi. Karena itu, terpaksa aku mengajak guruku ke sini untuk mengambil kembali!"
Buyung Hok tertawa mengejek, sambil mengepulkan asap pipanya, Keruan saja San Bin mendongkol melihat lagaknya . Katanya menegas.
"Coba katakan terus terang, sebenarnya kalian hendak kembalikan atau tidak? Kalau tidak, hayo maju semua!"
Buyung Hok tertawa dua kali, suaranya aneh pula, Kemudian menoleh kepada Go Keng Cay. Akan tetapi Ceng Cit sudah tidak sabar. ia ikut maju sambil berkata mengejek.
"Eh, enak saja kau ngoceh seperti burung, Kau hendak mengambil emasmu? Jika kau mempunyai kepandaian, kau layani aku dulu, Kalau sudah, baru kita berbicara."
Belum lagi mulutnya membungkam, tangannya sudah melayang memukul San Bin. Itulah serangan mendadak yang sama sekali tak terduga. Dan pundak San Bin terhajar telak. Buk"
Sudah tentu San Bin marah.
segera ia membalas menyerang, tepat mengenai perutnya Ceng Cit, Bluk!
Ceng Cit membungkuk karena perutnya sakit, sudah itu terdengar suara.
Blak-bluk-blak-bluk!
Mereka saling mengamuk, karena menuruti hati panas.
Mereka tidak memperdulikan pembelaan diri lagi, Mereka memukul asal memukul dan tak pernah gagal pada sasarannya, sehingga diam-diam Sin Houw jadi kesal di dalam hati.
"Mengapa muridnya Toa suheng begini bodoh? Kalau menghadapi musuh tangguh, sekali pukul pasti dia terjungkal. Apakah toa suheng tidak pernah memberi petunjuk?"
Pikirnya.
Kemudian tibalah pertempuran itu pada babak terakhir.
Dengan tinju kanan, San Bin menggempur Ceng Cit, Cepatcepat Ceng Cit mengelakkan diri kekiri, Diluar dugaan, tangan kiri San Bin bergerak dengan suatu kecepatan luar biasa.
serangan ini tak dapat dielakkan, Ceng Cit kena dihajar keras sekali.
Tubuhnya terbanting dan jatuh terkapar di atas lantai dengan tak sadarkan diri.
Kemenangan ini membuat hati San Bin besar dan girang sekali.
ia berbangga hati karena bisa merobohkan lawannya, Dengan mengharap pujian, ia menoleh kepada gurunya.
ia heran dan kaget tatkala melihat wajah gurunya merah padam menahan rasa marah.
Cie Lan menghampiri.
Melihat wajah San Bin bengap dan kuping kanannya berdarah, segera ia menyusuti dengan sapu tangannya.
Kata Cie Lan setengah berbisik.
"Mengapa kau sama sekali tidak mengelak dari pukulannya. Kenapa kau melawan keras dengan keras?"
"Untuk apa aku mengelak?"
Sahut San Bin.
"Kalau aku hanya mengelak, sudah tentu aku tak akan berhasil menghajarnya."
Tiba-tiba terdengar suara Buyung Hok yang nyaring luar biasa.
"Jangan kau terlalu cepat berbesar hati, setelah dapat merobohkan seorang lawan. Eh, apakah kau benar-benar menghendaki emas itu?"
Setelah berkata demikian, Buyung Hok lompat dan mengekangi deretan emas yang berserakan di lantai. Katanya dengan membusungkan dada.
"Tak perduli kau menggunakan tinju atau tendanganmu, asal saja kau mampu menggeserkan kakiku, emas yang berada dibawahku boleh kau ambil semua!"
Semua yang mendengar perkataan Buyung Hok menjadi tercengang, Alangkah terkebur orang itu! Tak usah dikatakan lagi, San Bin mendongkol bukan main, sahutnya dengan sengit.
"Apakah mulutmu dapat dipercaya? Benarkah, dan sudah kau pikirkan?"
Buyung Hok tertawa dengan mengangkat kepala, Berkata kepada Go Keng Cay.
"Apakah anak itu waras otaknya? Dia berkata aku bakal menyesal, lucu atau tidak?"
Go Keng Cay tidak menyahut. Dia hanya tertawa kering, Keruan saja hati San Bin mendongkol bukan main, Teriaknya.
"Baik, Akan kucoba!"
Ia menghampiri Buyung Hok dekat-dekat, Kemudian mengerahkan seluruh tenaganya dan mengayunkan kakinya menghantam kaki Buyung Hok.
Pada saat kaki San Bin hampir tiba pada sasarannya, tibatiba dengan sebat sekali Buyung Hok menggerakkan pipanya, memapak tendangan kaki yang hampir tiba pada sasarannya.
"Tak!"
Tepat sekali ujung pipanya mengenai lutut. Dan San Bin roboh dengan berlutut. Kakinya kejang tidak bertenaga lagi. Buyung Hok membungkuk seakan-akan membalas hormat sambil berkata.
"Hey, jangan berlutut dihadapanku!"
Bukan main rasa hati San Bin, Dadanya seakan-akan ingin meledak.
itulah suatu penghinaan besar baginya, Namun ia tak bertenaga lagi, Diluar kehendaknya lututnya tertekuk tak bertenaga.
Cie Lan cepat-cepat mendekati, kemudian memayangnya dan dibawanya menghadap kepada gurunya, Kata gadis itu memohon.
"Susiok! orang itu harus susiok hajar biar jera!"
Lauw Tong Seng memijat pinggang dan punggung muridnya, setelah itu memijit pahanya pula, Dan ia berkata dengan suara perlahan.
"Masih beranikah kau berlaku semberono dikemudian hari?"
San Bin membungkam mulut, sementara secara diamdiam Buyung Hok kagum terhadap sipedagang, Sama sekali tak di duganya, bahwa dengan suatu pijitan saja, San Bin dapat dipulihkan tenaganya, selagi ia keheranan, tiba-tiba Lauw Tong Seng berkata kepadanya.
"ini sudah masuk perhitungan!"
Dan setelah berkata demikian, tangan kanannya mendorong biji sui-poanya sambil melangkah mendekati. ia hendak menolong kehormatan muridnya. Dan melihat dia maju, Sin Houw berpikir didalam hati.
"Toa-suheng adalah murid tertua, dan aku adalah adiknya. sudah seharusnya akulah yang maju lebih dahulu!.
"Toa-suheng, biarlah aku maju da-hulu, Bila tak berhasil, baru Toa suheng menggantikan!"
Teriaknya.
"Biarkan, aku saja yang maju ..."
Jawab Lauw Tong Seng setelah sejenak berbimbang, ia merasa kurang yakin karena melihat adiknya masih terlalu muda, walaupun gurunya pernah memuji sang adik itu.
Akan tetapi Sin Houw tak mau mengerti, setelah mendekati ia berkata dengan perlahan.
"Suheng, pihak mereka banyak memiliki orang pandai. sedangkan barisan Ngo-heng tin keluarga Co-liang pay sangat berbahaya. Mungkin sekali sebentar akan terjadi suatu pertempuran dahsyat dan suheng seumpama seorang panglima perang yang memegang pimpinan. Maka sebelum suheng maju, biarlah adikmu mencobanya dahulu."
Lauw Tong Seng merasa kagum dengan alasan yang diberikan oleh adik seperguruan itu, Muda usianya, tetapi sangat pandai bersopan santun. oleh karena itu ia berkata.
"Baiklah, adikku, Hanya saja kau harus berhati-hati!"
Sin Houw manggut dan memutar tubuh menghadapi Buyung Hok, Berkata.
"Akupun ingin memperoleh emasku kembali. Bolehkah aku mencoba?"
Buyung Hok heran melihat Sin Houw yang maju, Baru saja San Bin yang bertubuh kekar dapat dirobohkan dalam segebrakan, Kenapa bocah ini tidak tahu diri? Maka ia menjawab.
"Baik, tetapi kau harus berjanji, tidak akan berlutut dihadapanku,"
Berkata demikian, ia menghisap pipa panjangnya dan mengepulkan asapnya yang tebal ke udara.
ia telah bersiaga penuh.
Dan seperti San Bin tadi, maka Sin Houw mendekati tiga langkah.
Kemudian mengangkat kaki kanannya hendak menyapu.
Ciu San Bin kaget, tetapi tidak berdaya memperingatkan Sin Houw, sebaliknya Ceng Cit beramai tidak mengerti apa sebab Sin Houw yang memiliki kepandaian tinggi, bertindak begitu semberono.
Mereka yang berada diluar gelanggang pertempuran, mengarahkan pandang mata mereka kepada kaki Sin Houw, Mereka ingin mengetahui, apakah kakinya Sin Houw tak mempan kena totok pipa baja Buyung Hok.
sebaliknya yang diam-diam bersiaga adalah Lauw Tong Seng, ia sudah mengambil keputusan, apabila Buyung Hok menghantamkan pipanya ke kaki Sin Houw, ia hendak menolong adik seperguruan itu.
Dalam pada itu kakinya Sin Houw sudah bergerak dengan cepat luar biasa.
Dan seperti tadi, Buyung Hok segera memapaki dengan pipanya.
Diluar dugaan gerakan kaki Sin Houw sebenarnya hanya suatu gertakan belaka, pada detik hendak kena totokan, ia menarik kembali.
sebagai gantinya, ia menyapu dengan sebelah kakinya yang lain, Buyung Hok sudah terlanjur memukulkan ujung pipanya.
Hatinya terkesiap tatkala pukulannya menumbuk udara kosong.
segera ia sadar akan ancaman bahaya.
Tetapi pada detik itu, emas didekat kakinya, sudah kena tersapu Sin Houw.
Ternyata Sin Houw tidak hanya puas memperoleh emas, gerakan kakinya terus menyambar mencari bidikan yang diarahnya, Keruan saja Buyung Hok mendongkol bukan main, Mula-mula kena ditipu, sekarang ia diserang dengan tiba-tiba.
Maka dengan hati mendongkol dan panas, ia menikam pantatnya Sin Houw!
Sin Houw merendahkan tubuhnya, sambil mengelak ke kanan.
Kembali lagi kakinya bergerak menyapu emas, Dan dengan dibarengi serangan tangan kirinya, berhasil dia merampas emas lagi, Hal itu terjadi karena tangan Buyung Hok sedang bergerak menikam, sehingga daerah pertahanannya kosong.
Lagi-lagi Sin Houw tak mau sudah.
Sekarang, kaki kirinya yang bergerak.
Gerakannya sangat cepat sehingga mendahului gerakan lawan sebelum sempat memperbaiki kedudukannya.
Dan untuk yang ketiga kalinya, ia berhasil menyapu beberapa tumpuk emas lagi.
Dalam waktu yang pendek saja, pemuda itu sudah berhasil menyapu tiga tumpuk kepingan emas, Dan yang mengherankan kepingan-kepingan emas itu lenyap dari penglihatan seperti tersulap, Tetapi sebenarnya dengan suatu kecepatan luar biasa, ia berhasil memasukkan kepingankepingan emas itu kedalam saku bajunya, setelah itu, ia berdiri dengan tenang bersiaga menghadapi segala kemungkinan.
"Biarlah kukatakan kepadamu, bahwa aku hendak mengambil semua kepingan emas yang berada dalam penjagaanmu,"
Ia berkata kepada Buyung Hok.
"Bukankah kau sudah berjanji? Barang siapa yang dapat merampas emas dari penjagaanmu, maka emas itu boleh menjadi miliknya?"
Pemuda itu tidak menunggu jawaban dari Buyung Hok, dan ia bergerak dengan suatu kesebatan yang mengherankan.
Karena untuk yang kesekian kalinya ia dapat mengantongi lagi emasnya.
wajah muka berubah merah padam, tetapi ia tetap merasa telah tertipu oleh pemuda lawannya, Hatinya yang mendongkol mengandung rasa dengki.
Lantas saja tangannya melayang dan kakinya menendang pergelangan tangan Sin Houw.
Sin Houw tak berani lantas menangkis serangan itu, ia mundur kemudian ia memperhatikan gerakan dua tangan serta dua kaki lawannya.
itulah gerakan seekor burung.
Apakah ini yang dinamakan sejenis kuntao burung Ho dari golongan Siauw-lim?
(Kuntao burung Ho atau Bangau ~ Ho-kun).
Menghadapi serangan Buyung Hok, Sin Houw tidak berani merapatkan diri.
Dia bergerak dengan berputaran.
setiap kali ia menghindar atau mengelak sambil memperhatikan gerakan lawannya, Buyung Hok menjadi kesal, ia memperhebat serangannya, justru demikian, Sin Houw dapat mengelak atau menghindarkan diri dengan cepat pula.
Ketika Lauw Tong Seng melihat cara perlawanan Sin Houw, ia menganggap Sin Houw tak berani bertempur secara berhadapan.
selalu ia menghindarkan diri dan tak berani mencoba mendekati karena agaknya ia hanya mengandalkan pada kegesitannya semata.
Buyung Hok berpendapat demikian pula, Dan memperoleh kesan itu, kesombongannya lantas membersit didalam hati, lantas ia tertawa sambil melancarkan gempuran terusmenerus, jelas sekali, bahwa ia menganggap Sin Houw sebagai lawan yang enteng sekali.
ia lupa betapa tadi Sin Houw dengan kecepatan yang mengagumkan berhasil menyapu kepingan emas yang berada didalam penjagaannya.
Beberapa saat kemudian, ia mulai menyulut tembakaunya dan menikmati pipa panjangnya, Tapi pada saat itu, Sin Houw sudah bisa memahami letak inti ilmu kepandaian lawan.
Diamdiam ia bergirang hati, karena kesombongan lawannya kerapkali membawa suatu kelengahan.
Dan kesempatan itu dipergunakan dengan sebaik-baiknya.
Cepat luar biasa, tibatiba tangan kirinya menyambar hidung.
Keruan saja Buyung Hok terkejut, Tadi lawannya yang muda itu sama sekali tak berani mendekat.
Diluar dugaan tibatiba saja berani mendekati dan menyelonongkan tangan kirinya.
inilah suatu serangan yang tidak diduganya.
Cepatcepat ia menangkis tangan kiri Sin Houw dengan pipanya, dan kakinya membarengi bergerak menyapu sasaran.
Diluar dugaan pula kali ini Sin Houw tak sudi menghindar atau mengelakkan diri, ia membiarkan kepalanya kena incaran tangkisan pipa.
Tapi dengan tiba tiba saja, tangan kanannya menyambar mencengkeram pipa itu.
Buyung Hok terkejut, ia dalam keadaan kepalang tanggung.
Pipanya sudah terlanjur ditangkiskan dengan cepat dan kuat-kuat, Maka tiada kesempatan lagi untuk menariknya.
Dan terpaksalah ia merenggutkan keatas.
Gerakan itu justru termasuk dugaan Sin Houw, selagi Buyung Hok menarik pipanya keatas, pinggang kanannya -nampak terbuka.
inilah kesempatan yang tak disia-siakan, Sebat luar biasa, tangan kirinya menotok tulang iga.
Plak!
Buyung Hok menggeliat mundur.
ia terkejut dan menyadari keteledorannya, Akan tetapi sudah kasep, Tahu-tahu tenaganya pudar dan tubuhnya bergemetar diluar kehendaknya sendiri.
Dan pada saat itu, ia mendengar suara tertawa Giok Cu, senang hati Sin Houw mendengar suara tawa Giok Cu.
Dan seperti galib-nya seorang pemuda yang mendengar tawa seorang gadis, timbullah gairah hidupnya, semangat tempurnya terbangun sekaligus.
Terus saja ia menyodorkan pipa yang kena dirampasnya, balik ke mulut pemiliknya.
Api tembakau yang sedang menyala, menyelomot bibir atas dan kumis.
Keruan saja Buyung Hok kaget berjingkrak!
"Sin Houw, jangan bergurau!"
Seru Lauw Tong Seng, Akan tetapi didalam hatinya ia kagum menyaksikan kepandaian adik seperguruannya itu.
Mendengar tegoran kakak seperguruannya, Sin Houw menarik pipanya kembali yang tadi menyelomot kumis pemiliknya, Kemudian ia meniup api tembakaunya seolah-olah hendak memadamkan.
Tapi karena tiupannya terlalu keras, api tembakau yang menyumpai lubang pipa justru jadi terbang berhamburan mengenai wajah Buyung Hok, Dan kembali lagi Buyung Hok berjingkrakakan!
Lauw Tong Seng segera lompat memasuki gelanggang.
Melihat Buyung Hok yang tadi bersikap sombong dan kini kena diselomot seorang pemuda kemarin sore, mau tak mau membuat dirinya tertawa juga.
Namun ia sadar, Buyung Hok tidak boleh dibuat gegabah.
Maka cepat cepat ia menolong membebaskan dari totokan Sin Houw.
Kemudian menyambar pipa yang masih berada digenggaman Sin Houw dan dikembalikan kepada pemiliknya.
Dengan berbuat begitu ia berharap menyudahi adu kepandaian itu agar tidak jadi ber-larut, Bukan karena takut bermusuhan dengan orang itu, akan tetapi kehadiran nya dipihak keluarga Cio-liang pay bisa menambah beban yang tidak ringan.
sebagai seorang pendekar yang berpengalaman Lauw Tong Seng perlu menarik simpati terhadap lawannya yang kemungkinan besar bisa menyeberang kepihaknya.
Buyung Hok sendiri, waktu itu masih saja terpukau oleh kejadian yang menyakitkan hatinya, Sama sekali ia tidak menghiraukan masuknya Lauw Tong Seng ke dalam gelanggang, Tahu-tahu tangan kanannya telah menggenggam pipanya kembali.
Selintasan saja ia melihat betapa ?
sekalian hadirin menertawakannya dengan nada geli dan merendahkan.
ia benar-benar jadi merasa terhina.
Terus saja ia membanting pipanya hancur berantakan --kemudian dengan langkah panjang meninggalkan gelanggang, sebentar saja, ia telah melintasi pintu keluar dan bayangan tubuhnya lenyap digelap malam.
Go Keng Cay terkejut melihat kepergian temannya.
Buruburu ia lari mengejar hendak mencegah.
Tahu-tahu ia nampak terpental balik memasuki ruang latihan, dan mati-matian ia mencoba mempertahankan diri, sekalipun demikian, tetap saja ia terhuyung mundur beberapa langkah.
Maka jelaslah, bahwa tenaga lontaran Buyung Hok sesungguhnya bukan sembarangan.
walaupun Sin Houw dapat mengalahkan dengan mudah, namun tenaga saktinya ternyata masih mampu melemparkan seorang pendekar semacam Go Keng Cay, seorang pemimpin berandal yang kenamaan sejak belasan tahun yang lalu.
Maka bisa dimengerti, apa sebab Lauw Tong Seng bersikap hati-hati terhadapnya.
Ceng it dan semua saudaranya kagum menyaksikan kepandaian Sin Houw, Akan tetapi mereka tidak terkejut, Jauh-jauh tahulah mereka, bahwa pemuda itu memiliki kepandaian tinggi.
Hanya saja caranya menjatuhkan Buyung Hok begitu cepat, benar-benar diluar dugaan.
Sebaliknya, tidaklah demikian kesan anak buahnya Go Keng Cay.
Melihat pemimpinnya kena dilontarkan Buyung Hok, mereka kaget dan panas hati, Kalau Buyung Hok yang kena dikalahkan bisa melontarkan pemimpinnya dengan mudah, apalagi pemuda itu, pemimpinnya bukanlah tandingnya yang berarti.
Apakah yang diandalkan kecuali mengadu jumlah banyak.
Maka mereka bersiaga menunggu aba-aba.
Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara Lauw Tong Seng berkata.
"Saudara Ceng lt. Tadi saudara sudah membuat semacam sayembara, Bahwa emas akan dikembalikan apabila kami mampu mengambil sendiri dari penjagaan Buyung Hok, sekarang Buyung Hok meninggalkan gelanggang, Artinya dia membiarkan emas tak terjaga lagi. Maka sebelum memunguti emas, perkenankan kami mengucapkan terima kasih."
Dan setelah berkata demikian, ia memberi perintah kepada muridnya.
"Ambil semua emas yang berceceran dilantai!. Hitung, apakah sudah cukup, Kurang sekeping, kita wajib mengadakan perhitungan sendiri."
Sebenarnya emas rampasan itu tidak kurang barang sekeping.
Lauw Tong Seng yang berpengalaman, yakin hal itu, Kalau dia berkata demikian, maksudnya semata-mata untuk menaikkan harga diri saja.
Didepan gerombolan berandal, perlu ia menunjukkan sikap garang.
Ceng It yang banyak pengalamannya ternyata tak sudi kalah gertak.
ia membiarkan Ciu San Bin memunguti emasnya dengan sikap acuh, Bahkan ia lantas memejamkan matanya, sebaliknya tidak demikian dengan Go Keng Cay.
Didalam usahanya hendak merebut emas rampasan itu, ia sudah berkorban jiwa, itulah sebabnya, ia tak rela melihat Ciu San Bin memunguti dan mengantongi emasnya kembali tanpa sanggahan, Diantara berkilaunya emas.
pandang matanya memancarkan sinar berapi-api.
Mendadak saja ia melompat menghampiri dan mendorongkan dan kena dorongan itu, Ciu San Bin mundur sempoyongan.
"Hey, apa maksudmu? Apakah kau hendak coba-coba mengukur tenaga?"
Bentak Ciu San Bin mendongkol. Lauw Tong Seng maju, Berkata kepada muridnya.
"San Bin, mundur! Dia bukan tandingmu!"
Setelah berkata demikian, Lauw Tong Seng membungkuk hormat kepada Go Keng Cay. Katanya sambil tertawa.
"Selamat bertemu, kawan, Akhir-akhir ini usahamu kudengar memperoleh kemajuan, sehingga daerahmu bertambah luar, Bagaimana kalau kita main coba-coba?"
"Hm! siapa namamu?"
Bentak Go Keng Cay.
"Aku Lauw Tong Seng, mata pencarianku berdagang. Mengapa? Apakah kau mempunyai barang dagangan yang berharga?"
Go Keng Cay mendongkol. Terus saja ia berteriak kepada bawahannya.
"Bawa kemari senjataku!"
Senjata andalan Go Keng Cay ternyata sebatang tombak panjang dan besar, begitu menerima senjata andalannya, terus saja ia menikam dengan tenaga penuh.
Tak usah diterangkan lagi, bahwa hatinya mendongkol luar biasa terhadap Lauw Tong Seng.
Lauw Tong Seng memiringkan kepalanya sambil tertawa, dan dengan gesit ia melompat menghindar, serunya girang.
"Bagus! Barang daganganmu lumayan juga. Mari kita uji, apakah benar-benar ada harganya untuk diperjual belikan."
Murid Bok Jin Ceng itu ternyata seorang pendekar yang besar nyalinya, sambil membungkuk mengelakkan setiap serangan, ia memunguti emas yang masih tercecer diatas lantai.
Dan menyaksikan hal itu, sadarlah Ceng it bahwa Lauw Tong Seng bukan sembarang orang.
Go Keng Cay ternyata bukan tandingnya.
"Kalau aku berpeluk tangan saja, emas itu benar-benar akan hilang."
Pikirnya didalam hati, segera ia memberi isyarat mata kepada Ceng Go dan Ceng Ji. Dan Ceng Go berdua Ceng Ji melesat memasuki gelanggang sambil berseru.
"Emas bukan batu kerikil yang tidak ada harganya. Kau bayarlah jiwamu dahulu!"
Menghadapi rangsakan Ceng Go dan Ceng Jie, cepatcepat Lauw Tong Seng mengendapkan diri, ia menggeserkan tubuhnya kekanan dan tangan kirinya menyerang dari samping.
itulah salah satu jurus dari ilmu Hok-how ciang.
Serangan Ceng Go berdua Ceng Jie sebenarnya merupakan jurus gabungan ilmu sakti Ngo-heng tin yang dahulu pernah merobohkan pendekar besar atau tayhiap Lim Beng Cin.
Begitu mereka berdua melepaskan salah satu jurusnya, terus saja bergerak hendak maju mendesak.
Tiba tiba mereka melihat Lauw Tong Seng menggeser ke samping sambil melontarkan serangan, Cepat-cepat mereka mundur dan tepat pada saat itu Ceng Sam dan Ceng Su menggantikan kedudukannya dengan menangkis serangan Lauw Tong Seng, Kemudian dengan kecepatan luar biasa tangan Ceng Go menyelonong menghantam pinggang Lauw Tong Seng.
Sejak Lauw Tong Seng menyelesaikan pelajarannya dan berkelana seorang diri untuk mencari pengalaman, belum pernah ia bertemu dengan lawan yang sebanding, walaupun ia gemar bergurau dan berlaku jenaka, namun tabiatnya cermat dan hati-hati.
Dengan berbekal kedua tabiatnya itu, belum pernah ia gagal selagi menghadapi lawan.
sekarang ia sadar bahwa ilmu Ngo-heng tin keluarga Cio-liang pay hebat luar biasa.
Ceng It kini ikut pula memasuki arena, Dengan demikian ia menghadapi lima orang sekaligus.
Cepat ia menggeser tubuhnya untuk menghindari serangan Ceng It.
Te-tapi tiba-tiba Ceng Su menggantikan kedudukan Ceng Jie dan dengan cepat membawa Ceng It mundur.
Dengan di barengi gerakan lainnya, mereka berlima nampak seolah-olah berubah menjadi beberapa puluh orang, Tubuh mereka berkelebatan seperti bayangan.
Menghadapi tata pertempuran demikian, mau tak mau Lauw Tong Seng menjadi terkejut, ia tak mengerti, ilmu berkelahi apa yang sedang dilancarkan pihak lawannya itu, Benar-benar serangan mereka dahsyat luar biasa.
Nampaknya kalut, akan tetapi maju dan mundurnya sangat rapi.
sekian lamanya ia mencoba menyerang, namun tiada seorangpun yang dapat disentuhnya, ia kaget, heran dan akhirnya menyadari.
Cepat-cepat ia mencoba merubah sikap.
Dengan tenang, ia menempatkan diri ditengah-tengah mereka.
Sama sekali ia tak mau menyerang.
sebaliknya, ia hanya bertahan dan menangkis apabila kena serang.
Tentu saja ia membuat dirinya kena terkurung rapat sekali.
Melihat Lauw Thong Seng hanya dapat membela diri, diam-diam Go Keng Cay bergirang hati, ia tadi bersakit hati karena kena dipermainkan pendekar itu.
sekarang timbullah niatnya hendak membalas dendam, ia menunggu saatnya yang bagus, untuk menikam Lauw Tong Seng sehebathebatnya.
Dan sekaranglah saatnya yang paling baik, selagi lawannya sibuk berjaga-jaga diri terhadap rang-sakan Ceng it berlima.
"Lauw susiok, awas!"
Cie Lan memperingatkan.
Gadis itu terkejut melihat berkelebatnya tombaknya Go Keng Cay.
Lauw Tong Seng adalah murid Bok Jin Ceng yang telah mewarisi kepandaian gurunya.
seumpama Ceng It tidak menggunakan ilmu gabungan, mereka tidak akan bisa berbuat banyak terhadapnya.
Demikian pula menghadapi serangan gelap Go Keng Cay, seorang pemimpin berandal.
Dengan sebat sekali, Lauw Tong Seng memutar tubuhnya.
Berbareng dengan itu, tangannya bergerak.
Tombak Go Keng Cay kena ditangkisnya dan kemudian di tangkapnya, itulah salah satu jurus Hok houw ciang untuk menghadapi lawan yang bersenjata.
ilmu tata berkelahi dengan tangan kosong!
Kemudian terdengar pekik teriak Go Keng Cay yang kesakitan, sedangkan tubuhnya nampak kehilangan keseimbangan dan pada saat itu Lauw Tong Seng memukul pundaknya.
Krak!
Go Keng Cay memekik tinggi, tulang pundaknya patah!
"Bagus!"
Puji Thio Sin Houw.
Beberapa orang pengawalnya Go Keng Cay segera menolong pemimpinnya sedangkan Wong Bun Cit, Kie Song Sie dan Su Eng Nio menuntut bela, serentak mereka bertiga menyerang Lauw Tong Seng, Juga kali ini Lauw Tong Seng dapat menunjukkan keahliannya, Dengan kesehatan dan kelincahannya, seorang demi seorang dibantingnya ke lantai sambil mengelakkan setiap serangan Ceng It berlima.
Menyaksikan ketangguhan murid Bok Jin Ceng itu, anak buahnya Go Keng Cay tidak berani berkutik lagi dari tempatnya.
"Nah, sekarang aku bisa melayani kalian berlima tanpa gangguan lagi."
Kata Lauw Tong Seng kepada Ceng It berlima dengan menyertai tawa.
Ceng It berlima mendongkol, terus saja mereka melancarkan serangan bertubi tubi, Bayangan mereka berkelebatan Mau tak mau Lauw Tong Seng mengimbangi dengan kecepatannya pula.
Akan tetapi ilmu gabungan Ngo-heng tin benar-benar hebat dan berbahaya.
Gerakan mereka pun nampak aneh sekali.
Adakalanya salah seorang menendang dari depan, kemudian dengan sekonyong-konyong melesat kesamping, Dan pada saat itu seorang lagi menyerang menggantikan kedudukannya.
Yang datang dari sebelah kiri mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, Lalu menyambar hendak memeluk.
Mau tak mau Lauw Tong Seng terpaksa mundur.
Diluar dugaan lawan yang berada dibelakangnya mengayun kakinya hendak menendang.
Makin lama makin hebat cara Ceng It berlima melakukan penyerangan.
Corak ragamnya makin beraneka macam, membuat Lauw Tong Seng merasa diri benar-benar sibuk.
Untuk mengurangi ancaman bencana, segera ia mengeluarkan dua senjata andalannya.
sebatang tongkat pendek dan sebuah alat seperti perisai.
Dan ia kemudian melakukan perlawanan makin gigih, setiap kali ia berusaha mencari jalan keluar membobol pengepungan lawan dengan tusukan serta tikaman tongkatnya yang berujung tajam Tak lama kemudian, maka Ceng It berlima sibuk menghadapi tikaman tongkat Lauw Tong Seng yang berbahaya, sehingga hampir-hampir mata rantai mereka bobol, Cepat-cepat Ceng It berseru dengan kata-kata sandi.
"Angin tiba! Mari kita pasang layar !"
Ceng Cit dan Kun Jie yang berada diluar gelanggang, segera berlari-lari membawa senjata.
Kemudian dilemparkan seolah-olah sedang melancarkan suatu serangan rangsakan, Tetapi dengan tiba-tiba saja, ruyung, tombak, golok, tongkat besi dan cemeti baja sudah berada dalam genggaman majikannya masing masing.
pertempuran kini makin menjadi seru dan sengit luar biasa, masing-masing terancam bahaya maut, Mereka yang menyaksikan diluar gelanggang menahan napas oleh rasa tegang dan kagum.
Ciu San Bin sibuk bukan main melihat gurunya terancam bahaya pengepungan yang sangat kuat, Terasalah didalam hatinya, bahwa ilmu kepandaiannya sangat dangkal.
Dan yang sama sekali tak berdaya untuk memberikan bantuan.
Tetapi ia tak rela gurunya terancam bahaya begitu dahsyat, Tiba-tiba saja ia melompat hendak memasuki gelanggang dengan memutar goloknya.
Diluar dugaan, baru saja ia bergerak, sekonyong-konyong berkelebatlah sesosok bayangan di depannya.
Tahu-tahu pundaknya kenatekan, ia kaget.
Dalam rasa kagetnya ia membabatkan goloknya.
Heran!
Tangannya tak dapat digerakkan.
pundaknya seperti kena tindih batu sebesar gajah!
Ciu San Bin menoleh.
Ternyata yang menekan pundaknya adalah Sin Houw.
Tadi ia menyaksikan betapa Sin Houw dengan mudah saja dapat mengalahkan Buyung Hok, Dalam hatinya, ia tidak yakin kegagahannya.
Tetapi kini barulah ia sadar, betapa dahsyat tenaga Sin Houw yang muda dan yang menjadi paman gurunya dengan sekali tekan saja, kedua tangannya seolah-olah lumpuh.
Mau tak mau ia menjadi harus patuh kepada tiap perkataannya.
"Jangan kau cemas, gurumu masih sanggup melayani mereka."
Kata Sin Houw sambil menarik pulang tangannya.
San Bin mengkerutkan dahinya.
Benarkah gurunya masih sanggup melayani kelima lawannya itu?
ia mencoba menyabarkan diri dan berusaha yakin terhadap penglihatan Sin Houw, Dengan seksama ia mengikuti jalannya pertempuran.
Dalam pada itu Sin Houw sendiri mengikuti pertempuran itu dengan penuh perhatian.
Kadang-kadang ia mendongak mengawasi arah genting dengan berdiam diri, Agaknya ia terbentur pada suatu persoalan sulit.
Cie Lan yang sejak tadi memperhatikannya, mendekati sambil berkata.
"Sin koko, kenapa kau tidak segera membantu Lauw susiok?"
Sin Houw tidak menyahut.
Dengan suatu gerakan tangan, ia mengharapkan agar Cie Lan mundur.
Dan Cie Lan benarbenar mundur dengan wajah lesu, sebaliknya Giok Cu diamdiam bersyukur hati melihat Sin Houw menolak kehadiran Cie Lan.
Dengan lapang dada, ia kini dapat mengikuti pertempuran ditengah gelanggang yang makin menjadi seram.
Lauw Tong Seng mencoba menghantam salah seorang musuhnya.
Berulang kali dan makin lama makin cepat, Namun tetap saja,musuhnya tak dapat disentuhnya bahkan senjata mereka tak pernah bentrok, Masing-masing berusaha menghindarkan suatu benturan.
Pada saat itu, tiba-tiba Sin Houw menghampiri Cie Lan.
Katanya dengan sua ra ringan.
"Lan-moay, maafkan sikapku tadi, aku sedang berusaha memecahkan suatu teka-teki, sekarang aku sudah berhasil."
"Maaf? Apakah yang harus kumaafkan?"
Sahut Cie Lan.
"Kau bantulah Lauw susiok."
Sin Houw tertawa. pandang matanya berseri-seri. sahutnya.
"Teka-teki itu sudah berhasil kupecahkan, sekarang tidak perlu cemaslagi. Sekarang, coba pinjamkan aku tusuk sanggulmu."
Dengan pandang penuh pertanyaan, Cie Lan memenuhi permintaan Sin Houw, Kata pemuda itu menjelaskan.
"Akan kulayani mereka dengan tusuk sanggul ini!"
Cie Lan menjadi terpukau, akan tetapi Sin Houw tidak menghiraukan. Dengan pandang tajam ia berteriak kepada Lauw Tong Seng.
"Toa-suheng! Sut-touw menciptakan It-bok, maka injaklah Kian-kiong dan jalan ke Kam-wie!"
Itulah istilah sandi yang hanya diketahui oleh pendekar kelas utama.
Dan mendengar seruan itu, Ceng It berlima terkejut heran.
Jelas Sin Houw telah dapat mengetahui rahasia ilmu Ngoheng tin.
siapakah yang mengkisiki?
Sebaliknya Lauw Tong Seng tidak segera mengerti akan kata-kata sandi itu, ia harus berpikir dua ka1i.
Tetapi Sin Houw tidak perdulikan apakah kakak itu mengerti atau tidak, ia terus berteriak lagi.
"Phia-boh mengalahkan Khe-kim ambillah langkah ke Cinkiong, keluar dari Lie-wie!"
Beberapa saat lamanya Lauw Tong Seng masih memikirkan kata-kata sandi itu, kemudian ia menyadari bahwa sang adik menghendaki ia mengambil langkah secara "patkwa", Dan ia segera mencobanya.
Ia menunggu saatnya yang baik.
Kemudian tiba-tiba ia melesat ke kiri melalui Cin-kong, kemudian keluar dari Lie-wie, Dan ia berhasil memperoleh lowongan!
Kemudian didengarnya lagi suara Sin Houw.
"Ambil jalan Kian-wie"
LAUW TONG SENG terkejut, Arti kata sandi itu adalah barat daya, Tetapi di bagian itu Ceng Jie dan Ceng sam menjaga dengan ketat.
ia menjadi ragu ragu sejenak, tetapi kemudian ia percaya penuh dengan petunjuk Sin Houw, Segera ia melesat ke barat daya sambil melakukan serangan,Ceng Jie dan Ceng sam mengetahui tugas mereka.
Apabila musuh datang menyerang, segera mereka memisah diri, Kedudukannya akan diganti oleh Ceng It dan Ceng Su.
itulah rahasia ilmu mata rantai Ngo-heng tin.
Tetapi baru saja mereka hendak memecah diri, tahu-tahu Lauw Tong Seng telah menerjang, Murid Bok Jin Ceng ini menghantamkan perisainya kekiri dan ke kanan untuk mencegah masuknya Ceng It dan Ceng Su.
Tongkat bajanya mengejar kedudukan Ceng Jie dan Ceng sam yang bergerak hendak memecah diri, oleh serangan diluar dugaan ini, mereka berempat terkejut.
Cepat-cepat mereka merapat hendak bergabung, tapi dengan gerakan yang cepat luar biasa, Lauw Tong Seng berhasil lolos dalam sekejab mata saja, Tahu-tahu ia sudah berdiri tegak disamping Sin Houw.
Ceng It menjadi terpukau melihat kejadian itu, inilah untuk yang pertama kalinya mereka kehilangan sasaran.
Bagaimana Lauw Tong Seng bisa lolos dari kepungan yang rapat luar biasa?
puluhan tahun mereka malang melintang menguji ketangguhan ilmu Ngo-heng tin, selama itu tak terkalahkan dan tak pernah gagal.
oleh ingatan ini mereka jadi penasaran.
Kenyataan tadi terlalu menyakitkan serentak mereka mundur dan merapikan diri, Dan berkatalah Ceng It dengan nyaring kepada Lauw Tong Seng.
"Kau bisa lolos dari mata rantai kubu-kubu ilmu Ngo-heng tin, artinya ilmu kepandaianmu bukan sembarangan. Ilmu itu mengingatkan kami kepada aliran Ngo-tay, Kau pernah apa dengan Bok Jin Ceng?"
"Beliau adalah guruku."
Sahut Lauw Tong Seng.
"Bagaimana? Apakah aku menurunkan pamor rumah perguruanku?"
Ceng It mendengus. Katanya mendongkol.
"Hm! Apakah kau kira kami tidak mengetahui aliran ilmu silatmu?"
Lauw Tong Seng mengetahui bahwa Ceng It berlima masih penasaran. Kemudian ia mengalihkan pembicaraan.
"Kita telah bertempur, Masing-masing sudah berusaha menjatuhkan lawan. Kalian telah mengepung aku berlima, dan ternyata aku tak sanggup merobohkan, Begitu juga kalian berlima. inilah yang disebut setali tiga uang, sekarang, bagaimana baiknya kita mengatur emas itu?"
Ia berhenti sejenak dan mengawasi Go Keng Cay, Katanya.
"Urusan perdagangan kita sudah selesai, bukan? Nah, kau boleh pergi!"
Hebat perkataan Lauw Tong Seng bagi Go Keng Cay, sebagai seorang pemimpin berandal, ia biasa memerintah.
sekarang ia merasa diri tak sanggup melawan lagi, dan ia diusir dihadapan orang banyak.
ia menyahut.
"Lauw Tong Seng! jangan tergesa-gesa kau menepuk dada! Pada suatu hari nanti-kau pasti akan jatuh ditanganku, aku Go Keng Cay tak dapat kau permainkan sesuka hati, Hari ini memang aku naas, tapi besok atau lusa aku bakal bangkit lagi!"
Lauw Tong Seng tertawa, tetapi Ceng Go menyelak bicara.
"Urusan emas tak perlu diributkan lagi! Kau boleh membawanya, asal bisa memenuhi dua syarat."
"Syarat apakah itu?"
Tanya Lauw Tong Seng.
"Syarat pertama, kau harus membawa barang semacam alat penebus. itulah peraturan kami yang sudah berjalan sejak aku belum lahir, Artinya, kau menghargai kami."
Ceng Go menjelaskan Lauw Tong Seng berpikir sebentar.
"Baik. Aku akan mengirimkan barang penukar yang cukup berharga. selain itu, aku akan mengadakan pesta perpisahan sebagai pernyataan rasa terima kasih, Sekarang, bagaimana syarat yang kedua ?"
"Yang kedua, kau harus tinggalkan Thio Sin Houw disini!"
Sahut Ceng Go.
Lauw Tong Seng terkejut, ia tidak mengetahui latar belakang persoalannya bahwa Sin Houw mempunyai sangkut paut dengan kepentingan keluarga Cio-liang pay, yang bertalian dengan urusan Gin-coa,Long-kun.
Katanya.
"Adik seperguruanku ini, seorang yang doyan makan. Kalau dia kalian harapkan tinggal disini, ia akan menghabiskan persediaan makanan kalian. Apakah kalian tidak akan rugi?"
Ciu San Bin kenal akan watak dan kebiasaan gurunya.
Bila dia bergurau, artinya mengandung ancaman.
pastilah pertempuran akan terulang kembali.
Maka dengan diam-diam ia bersiaga dengan senjatanya.
Ceng It yang masih memegang tombaknya berkata dengan suara tegas.
"Adik seperguruanmu tadi, pandai mengajari caramu bisa lolos dari mata rantai ilmu kami. Agaknya dia mengenal ilmu itu, maka biarlah kami mencoba-coba kepandaiannya."
Ciu San Bin mendongkol mendengar perkataan Ceng It, Terus ia melompat maju tanpa persetujuan gurunya, katanya membentak.
"Aku saja yang maju, Apakah kau kira kami gentar menghadapi kalian?"
"Kalau begitu, silahkan!"
Sahut Ceng It tertawa mengejek. Ciu San Bin benar-benar tak gentar sedikitpun, Kakinya bergerak hendak melangkah maju, tetapi tiba-tiba tangannya ditarik Sin Houw, Kata paman yang muda usia itu.
"Ciu suko, biarlah aku yang maju lebih dahulu, Apabila aku gagal, barulah kau membantunya."
Ciu San Bin manggut, sahutnya.
"Baik, Begitu membutuhkan aku, panggillah namaku saja, San Bin, Tidak perlu menyebut suko segala. Bukankah kau justru paman guruku?"
Sin Houw tersenyum, ia manggut dan Cie Lan yang tertawa geli.
"Apa yang kau tertawakan?"
Tanya San Bin setelah mendekati.
"Akh, tidak apa-apa. Aku hanya ingin tertawa."
Jawab Cie Lan bersenyum manis.
Sementara itu Sin Houw sudah melompat memasuki gelanggang, Benar-benar dia hanya bersenjatakan sebatang tusuk sanggul Cie Lan!
"Aku Thio Sin Houw!
Dengan ini aku ingin berkenalan dengan ilmu Ngo-heng tin dari keluarga Cio-liang pay!"
Seru Sin Houw.
"Keluarkan senjatamu!"
Ceng It membentak. Sin Houw bersenyum, kemudian ia memperlihatkan tusuk sanggul Cie Lan. Berkata.
"Susiok semua adalah angkatan tua, tak berani aku melawan dengan menggunakan senjata tajam, Maka biarlah aku menggunakan tusuk sanggul ini untuk menghadapi susiok semua!"
Mendengar perkataan Sin Houw baik Ceng It berlima maupun para hadirin lainnya menjadi sangat heran.
Banyak diantara mereka yang menganggap Sin Houw terlalu mengunggulkan dirinya, apa artinya sebatang tusuk konde?
Semua orang tahu, bahwa tusuk sanggul sangat mudah patah.
Betapa mungkin dapat diadu dengan senjata Ceng It berlima yang serba kuat?
Lauw Tong Seng yang tidak berkata apa-apa, diam-diam mempersiapkan kedua senjata andalannya, untuk menolong apa bila adik seperguruannya terancam bahaya.
Kepada Ciu San Bin dan Cie Lan, ia membisik.
"Musuh kita terlalu kuat, sedang jumlah kita hanya empat orang, Apabila sebentar aku memberi tanda, kalian berdua segera lompat ke atas genting dan larilah secepat-cepatnya, Aku dan Sin Houw akan melindungi kalian untuk menghadang musuh. janganlah kalian memperdulikan kami, walaupun kami terancam bahaya apapun, janganlah kalian mencoba untuk membantu. Mengerti?"
Lauw Tong Seng berpesan demikian, karena mempunyai perhitungannya sendiri, walaupun Sin Houw mempunyai kepandaian yang berarti, belum tentu dapat menandingi Ceng It berlima.
andaikata diapun membantu, juga belum berarti banyak.
Tetapi ia percaya, bahwa baik Sin Houw maupun dirinya sendiri, pasti dapat lolos dari bahaya yang mengancam mereka, sebaliknya, tidak demikian halnya dengan Ciu San Bin berdua Cie Lan.
Apabila mereka berdua kena kepung, sukar untuk mereka meloloskan diri.
itulah sebabnya, mereka harus lari lebih dahulu, Dikemudian hari, mereka berdua bisa diharapkan melapor kepada Thio Su Seng, sedangkan dia sendiri akan kembali setelah memperoleh bantuan dari sahabatsahabatnya, pastilah gurunya dan Bok-siang tojin tidak akan tinggal diam.
Dan jika mereka semua datang kembali, ilmu Ngo-heng tin dari keluarga Cio-liang pay pasti bisa dirobohkan, Dia tidak mengharapkan bantuan Sin Houw, sebab meskipun berkepandaian cukup, pastilah masih kurang masa latihannya.
Dalam pada itu, semua yang berada didalam gelanggang pertempuran sudah siap siaga.
Tetapi Sin Houw masih belum merasa puas.
Nampaknya seakan-akan melihat sesuatu yang masih kurang akhirnya ia berkata.
"Ceng It susiok, aku berterima kasih karena kalian sudi memberi pengalaman kepadaku. Hanya saja menurut tanggapanku, barisan kalian masih kurang lengkap. Kalau tidak salah, apakah ilmu Ngo-heng tin ini masih kurang lengkap pertahanannya?"
"Kurang lengkap bagaimana?"
Tanya Ceng It heran.
"Disebelah luar Ngo-heng tin, bukankah masih ada barisan pembantu yang disebut Pat-kwa tin. Kenapa Pat kwa tin tidak diatur sekalian, agar aku dapat memperoleh pengalaman lebih luas lagi? Ceng Sam yang tidak sabaran lantas membentak.
"Bagus! Kau sendirilah yang meminta, Kalau kau binasa, jangan sesali siapapun juga."
Setelah membentak demikian, ia berpaling kepada Ceng Cit dan Kun Jie. Memerintah.
"Semua maju!"
Oleh perintah itu, Ceng Cit berdua Kun Jie segera mengangkat tangan, memberi aba-aba, dan muncullah lima belas orang yang segera bergerak mengepung.
Melihat bertambahnya anggauta lawan yang bergerak diatas gelanggang.
Lauw Tong Seng tertegun.
Mulutnya bergerak hendak menegur kesemberonoannya Sin Houw, akan tetapi pada saat itu pula timbullah pikirannya bahwa tegurannya pasti tiada guna lagi.
oleh pikiran itu ia batal sendiri.
sekarang ia memperhatikan mereka semua yang sedang bergerak-gerak dan berputar-putar mengurung Sin Houw, Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan.
Gerakan mereka rapi dan cekatan.
Mau tak mau ia jadi kagum, pikirnya didalam hati.
"Belasan tahun aku berkelana untuk menambah pengalaman dan pengetahuan Tetapi baru hari ini aku melihat barisan Ngo-heng tin yang dahsyat dan rapi sekali. Mereka bergerak dan berlari-larian, Namun tak ada terdengar langkahnya sama sekali. Akh, Sin Houw benar-benar semberono, Melayani lima orang saja, sudah sulit. Apalagi menghadapi belasan orang, Bagaimana aku harus menolong menembus mereka? Mungkin sekali sudah tiada harapan lagi, Akh, Sin Houw, benar-benar kau tak tahu diri!"
Benar-benar Lauw Tong Seng menjadi tertegun dalam keraguan yang mencemaskan hatinya.
Tetapi Sin Houw sendiri nampak tenang-tenang saja, ia menjepit tusuk sanggul Cie Lan dengan jari tangan kanannya.
Tangan kirinya dilencangkan ke depan dan ditekuk sedikit, seolah-olah seekor ular hendak menerkam mangsa, Kemudian kedua kakinya mulai melebar.
sekonyong-konyong ia bergerak dan lari berputaran, setelah empat lima kali, ia berbalik merubah jurusan dengan mendadak pula.
Melihat gerakan Sin Houw, Ceng It berlima memusatkan seluruh perhatian mereka.
pandang mata mereka tak berani beralih dari gerak-gerik Sin Houw yang penuh teka-teki.
sebab sudah sekian lamanya ia berputar-putar, masih saja belum ada tanda-tanda hendak melakukan penyerangan.
Lauw Tong Seng maupun Ceng It tidak mengetahui bahwa Sin Houw sebenarnya sedang melakukan ajaran-ajaran warisan Gin-Coa Long-kun.
Dahulu ketika Gin-coa Long-kun lolos dari kepungan Ceng It berlima, ia mengeram diri didalam goanya, Terus-menerus tanpa mengenal lelah, pendekar yang mengandung dendam itu mencari-cari jalan keluar untuk dapat memecahkan rahasia ilmu Ngo-heng tin.
Pada tahun-tahun pertama, belum juga ia berhasil menemukan titik-tolak apa sebab pertahanan Pat-kwa tin dan Ngo-heng tin bergerak terus saling menyusul, sampai lawannya kena dirobohkan.
Asal yang satu bergerak, empat lainnya menyusul bergerak pula, Begitu terus-menerus, sehingga lambat-laun membuat pandang mata lawan menjadi kabur.
Benar-benar ia bingung dan tak dapat mengerti.
Pada suatu hari Gin-coa Long-kun keluar dari goanya, ia merangkak ke puncak gunung untuk mencari hawa segar.
Tiba-tiba ia melihat seekor ular bergerak melingkar begitu mendengar suara ia merangkak.
Kemudian berhenti dan menegakkan kepalanya.
itulah kodrati gerakan seekor ular apabila merasa terancam bahaya.
ia bersiaga melawan dan berbareng menyerang.
Tetapi dia tidak akan menyerang, apabila tidak didahului.
Dan melihat tata laku ular itu, timbullah sepercik ilham didalam benak Gin-coa Long-kun.
Jadi itulah cara yang praktis sekali untuk memecahkan ilmu Ngo-heng tin.
"Menunggu serangan lawan, kemudian baru bergerakgerak untuk melawan..."
Katanya berulangkali didalam hati.
Hatinya menjadi girang, sebab lambat laun ia memperoleh keyakinan.
Dan dengan keyakinannya itu, ia kembali memasuki goanya mengasah otak, satu bulan lamanya ia mencoba memahami ilmu sakti kebanggaan keluarga Cioliang pay, akhirnya diketahuilah kelemahannya.
Dengan ilmu ular itu sekarang ia sanggup memecahkan pertahanan barisak Pat-kwa tin dan Ngo-heng tin, Dan penemuannya itu segera dicatat di dalam buku warisannya.
setelah selesai timbullah pikirannya.
"Urat-uratku sendiri sudah terputus. Tak bisa aku berkelahi seperti dahulu. Adakah gunanya aku memperoleh rahasia perlawanan ilmu kebanggaan keluarga Cio-liang pay? Aku sekarang berada didalam goa ini. seratus tahun lagi, atau mungkin seribu tahun lagi,kitabku baru diketemukan orang, Tetapi pada saat itu, mereka semua sudah mati hem! Benar! Benar penasaran hatiku, tetapi baiklah, meskipun andaikata Ceng it berlima sudah mampus, ilmu kebanggaan mereka pasti ada yang mewarisinya. Kalau tidak ada daya perlawanannya , anak keturunan mereka pasti akan merajalela tanpa tandingan. Aku harap saja kitabku ini akan diketemukan orang dikemudian hari. syukurlah bila Tuhan mengabulkan bisa diketemukan oleh seseorang yang bisa mewakili diriku membalas dendam selagi Ceng It berlima masih hidup dalam keadaan segar-bugar. Bila hal ini dikabulkan, ya Tuhan ... aku rela Kau masukkan ke neraka sebagai penebusan. Di alam bakapun, Gin-coa Long-kun tidak pernah mengira bahwa pada hari itu seorang pemuda bernama Thio Sin Houw sedang melakukan perlawanan terhadap ilmu Ngo-heng tin keluarga Cio-liang pay dengan ilmu warisannya. Dia berputar-putar terus tanpa menyerang, untuk menunggu gerakan lawan. itulah dasar rahasia kitab warisannya. Dia berputar-putar terus. Dan karena ia berlari-larian, semua lawannya ikut berlarilarian pula sambil mengawasi gerak-gerik dengan cermat. Thio Sin Houw tidak menghiraukan gerakan lawan. ia terus lari berputaran sekian lamanya. Sekonyong konyong ia memperlambat diri, makin lama makin kendor, Namun sama sekali tidak nampak adanya suatu maksud untuk menyerang. Akhirnya, bahkan berhenti sama sekali. Kemudian duduk memeluk lutut. wajahnya nampak berseriseri. Tentu saja mereka semua yang melihat kelakuannya menjadi heran. seluruh keluarga Cio-liang pay tidak mengetahui, bahwa ini termasuk salah satu tipu daya untuk melalaikan penjagaan. Disamping itu untuk membuat mereka kehilangan kesabaran pula. Benar saja, Ceng Go yang berangasan segera menggerakkan kedua tangannya untuk menyerang, waktu itu ia berada dibelakang punggung Sin Houw, sehingga dapat menyerang secara gelap.
"Jangan! jangan mengacaukan jalur pembelaan!"
Ceng Jie memperingatkan.
Peringatan Ceng Jie itu menyadarkan Ceng Go, segera ia menarik serangannya kembali.
Dan mereka lantas melanjutkan berlari-lari berputaran dengan penuh siaga menerjang manakala lawannya menyerang.
Tetapi Sin Houw tetap duduk memeluk lutut.
ia tak mau membuat mereka mendongkol.
Akhirnya saling memandang meminta pertimbangan.
Ceng It sebenarnya sudah kehilangan kesabarannya pula, ia ingin memberi idzin saudara-saudaranya untuk menyerang, Tetapi hal itu bertentangan dengan dasar keharusan inti ilmu gabungan Ngo-heng tin.
Maka meskipun hatinya mendongkol bukan main, tak berani ia melanggar inti keharusannya.
Satu-satunya yang dapat dilakukannya hanyalah mempercepat larinya sambil menggertak, iapun memberi isyarat mata kepada sekalian saudaranya agar meninggikan kewaspadaan.
Thio Sin Houw tetap bersikap dingin saja, malahan tibatiba ia menguap beberapa kali, Lalu tidur berbaring.
Kedua tangannya dibuat alas kepala semacam bantal.
Matanya menatap atap sambil diselingi menguap lebar-lebar.
Bukan main mendongkolnya Ceng It berlima.
Kalau mereka harus berlari-larian terus, sedangkan lawannya enakenak bertiduran sambil menguap, bukankah napasnya lambutlaun akan habis sendiri?
Enambelas orang pimpinan Ceng Cit yang harus berlarilarian pula untuk mengaturkan penglihatan lawan, diam-diam dihinggapi kegelisahan demikian juga, Namun secara naluriah mereka seakan-akan tahu, bahwa lawannya itu lagi melakukan suatu tipu muslihat.
Karena itu, meskipun napas mereka lambat laun mengangsur, tak berani mereka lalai sedikitpun.
Tetapi mereka bukan Ceng It berlima yang sudah mempunyai masa latihan puluhan tahun lamanya.
Sejam kemudian, keringat mulai mengucur membasahi tubuh dan napas mereka mulai tersengal-sengal.
Dalam pada itu Sin Houw masih enak saja melakukan peranannya.
Berkata di dalam hati.
"Hm, kuingin tahu sampai kapan mereka bisa bersabar. Apakah mereka benar-benar memiliki napas kuda?"
Dan diamdiam ia mencuri pandang untuk melihat gerakan mereka yang tak kenal henti.
Kemudian berpura-pura merapatkan matanya seolah-oleh hendak tidur pulas.
Ciu San Bin, Cie Lan dan Giok Cu serta ibunya heran menyaksikan kelakuan Sin Houw.
Dalam hati mereka merasa lucu, akan tetapi sesungguhnya diam diam mereka cemas dan gelisah.
Bagaimana kalau tiba-tiba lawannya menyerang dengan berbareng?
Masih sanggupkah ia menolong diri?
Hanya Lauw Tong Seng seorang yang dapat menjajaki maksud Sin Houw, pastilah adik seperguruan itu sedang menguji kesabaran lawannya.
Disamping itu hendak memancing kelengahannya pula.
walaupun begitu, perbuatan adik seperguruan itu memang terlalu berani.
Bahkan suatu keberanian yang melampaui batas.
Kalau saja lawannya menyerang dengan mendadak, apakah dia sanggup terbang menjangkau atap gedung untuk menyelamatkan diri?
Pada saat itu, Ceng it benar benar tidak bersabar lagi.
Diam-diam ia bersiap hendak menyerang apabila memperoleh waktunya yang baik.
Manakala Sin Houw tenggelam dalam keasyikannya sendiri, tiba-tiba ia memberi isyarat kepada Ceng Go dengan kibasan tangan kirinya.
Empat batang golok tahu-tahu menyambar dengan mendadak.
itulah golok terbang Ceng Go yang sudah terkenal sejak belasan tahun yang lalu.
Ciu San Bin, Cie Lan, Giok Cu dan Lauw Tong Seng kaget sampai memekik tertahan.
sedangkan ibunya Giok Cu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, karena tak sampai hati menyaksikan peristiwa itu, Betapa tidak, karena ampat batang golok terbang itu membidik sasarannya dengan jitu sekali.
Sebaliknya pihak Ceng It semuanya bersorak kegirangan.
Pikir mereka, matilah pemuda itu, empat batang golok terbang Ceng Go menancap di punggung.
Beberapa orang anggauta barisan pertahanan Pat-kwa tin sampai menghentikan larinya.
Bukankah musuhnya sudah tidak berdaya?
Tetapi mereka tidak pernah menduga, bahwa tubuh Sin Houw terlindungi baju sakti pemberian Bok-siang tojin yang tidak mempan oleh senjata tajam macam apapun juga.
Tibatiba saja Sin Houw melesat bangun.
Dan empat batang golok runtuh bergelontangan di atas lantai.
Pada detik itu pula, Sin Houw berkelebat melintasi mata rantai penjagaan Ceng It berlima yang masih tertegun mengawasi akibat sambaran golok yang mengenai serangannya.
Tahu-tahu terdengarlah jerit lengking Kun Jie -ternyata ia kena tamparan Sin Houw dan melontakkan darah segar dengan segera.
selagi begitu, tubuhnya kena terangkat tinggitinggi dan terlempar keluar dari garis pertahanan Pat kwa tin.
Sin Houw tak sudi berhenti sampai disitu saja, itulah kesempatan yang sebaik-baiknya, selagi Ceng It berlima tertegun-tegun dan kelima belas orang pembantunya terpaku oleh rasa kaget, ia menghantarkan tangan dan menendangkan kedua kakinya bertubi-tubi, seorang demi seorang roboh tak berkutik.
Kemudian dilemparkan ke dalam bidang Ngo-heng tin.
Ceng Cit dan beberapa anggauta rombongannya sebenarnya memiliki ilmu kepandaian yang tidak rendah.
Akan tetapi kepandaiannya seolah-olah terenggut oleh peristiwa yang berada diluar dugaan mereka.
Baru saja mereka dilemparkan kedalam gelanggang dalam keadaan malangmelintang.
Dengan demikian, pecahlah mata rantai Pat-kwa tin dan Ngo-heng tin, karena daerah geraknya kini tertutup oleh mereka yang kena dirobohkan malang-melintang.
Tentu saja Ceng It berlima tidak tinggal diam, selama Sin Houw merobohkan anggauta-anggauta pertahanan Patkwa tin seorang demi seorang.
Mereka mencoba bergerak seirama dengan keharusan dan ketentuan gerakan Ngo-heng tin, Tapi gerakan itu terpaksa macet, karena mereka terpaksa sibuk menerima tubuh-tubuh yang dilemparkan Sin Houw kepada mereka.
itulah waktu sebaiknya, bagi Sin Houw selagi mereka sibuk dalam kerepotannya.
Terus saja ia lompat menyerang Ceng Go yang tadi begitu gegabah berani melepaskan golok terbangnya.
Waktu itu, Ceng Go baru saja menerima lembaparan tubuh salah seorang anggauta pertahanan Pat-kwa tin, Tiba-tiba ia melihat berkelebatnya Sin Houw mendekati dirinya, Hatinya kaget setengah mati, ia jadi heran dan kecut hatinya, ketika melihat keempat batang goloknya tidak mempan.
Sekarang, ia justru kena ancaman balas dendam.
Dengan tergesa-gesa ia melepaskan empat batang golok terbangnya lagi.
"Mampus, kau!"
Ia membentak untuk membesarkan hatinya sendiri.
Sin Houw tahu, dadanya terancam golok terbang.
Akan tetapi ia tidak menghiraukan, karena dadanya terlindung baju sakti.
dan keempat batang golok terbang Ceng Go yang tepat mengenai sasaran, runtuh bergelontangan.
Dan jari-jari tangan Sin Houw menerkam urat tenggorokan.
seketika itu juga, Ceng Go roboh dengan melontakkan darah berhamburan.
Bukan main kagetnya Ceng Jie melihat saudaranya terancam bahaya maut, segera ia menghantam Sin Houw dengan tongkatnya.
Bidikannya mengarah kaki kanan, Biasanya, tidak perduli siapa saja, akan roboh begitu kena terhantam tongkatnya yang disertai tenaga dahsyat .
Akan tetapi Sin Houw tertawa.
ia bergerak cepat menyambar seorang dan digunakan sebagai perisai!
Untuk kedua kalinya Ceng Jie terkejut, ia yakin, Sin Houw tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mengelak.
Diluar dugaannya, Sin Houw menyambar seseorang untuk dibuatnya perisai.
ia memaki didalam hati, Dengan mati matian ia berusaha menarik pukulannya, Karena tidak mungkin lagi, ia hanya dapat membuang tongkatnya kesamping.
"Toako, awas!"
Teriaknya bersakit hati apabila melihat tongkatnya terbang mengarah ke dada kakaknya tertua.
Ceng It melihat berkelebatnya senjata adiknya.
Dengan terpaksa ia menangkis .
Tombaknya dilintangkan Dan kedua senjata itu saling bentur sangat nyaring, Api meletik bagaikan kembang api yang kuncup padam.
Selagi mereka berdua sibuk, Sin Houw menerjang Ceng Sie dengan tusuk sanggulnya.
seperti seekor ular hendak memagut musuhnya, tusuk sanggul Cie Lan berkilauan didepan mata, membuat Ceng Sie terbang semangatnya.
Terpaksa ia mundur sambil melintangi cemeti rantainya, Dengan mati-matian ia mengadakan pembelaan, tetapi serangan Sin Houw saling susul dan merangsak terlalu cepat, Tusuk sanggul itu seakan-akan berkilauan menebarkan puluhan butir permata yang menyilaukan matanya.
Sekarang barulah ia sadar betapa hebat senjata istimewa itu.
Ke mana saja ia bergerak dan berpaling tusuk sanggul itu tiba-tiba saja sudah berada didepan kelopak mata, Bagaimana kalau tiba-tiba saja menusuk biji matanya?
Benar-benar mengerikan!
Dua kali tusuk sanggul itu menyentuh kelopak mata, untunglah, masih bisa ia menolong diri oleh kesebatannya, Tetapi semangatnya telah terbang.
Tiba-tiba saja ia dihinggapi perasaan takut luar biasa, itulah kejadian untuk yang pertama kalinya sepanjang hidupnya.
Karena kehilangan semangat, ia jadi kehilangan pengamatan diri, Gerakan pembelaan diri jadi kacau.
Dengan asal jadi saja, ia membalingkan cemeti rantainya untuk mengusir rangsakan lawan.
Akan tetapi Sin Houw seperti tidak memperdulikan daya usahanya.
sehingga dalam keadaan terdesak, akhirnya ia melepaskan cemeti rantainya kemudian cepat-cepat ia menutup kedua matanya dengan tangan.
Setelah itu dengan hati panas dingin, Ceng Sie bergulingan di lantai dengan kedua tangannya tetap menutup mata, ia memang bisa menyelamatkan matanya, akan tetapi tak dapat mengelakkan hantaman tangan Sin Houw.
Tahutahu pinggangnya terasa nyeri, dan ia roboh terjerembab tak berkutik lagi.
Ceng Sie terkenal dengan cemeti rantainya sejak puluhan tahun yang lalu, Belasan kali ia merobohkan lawan-lawannya, baik diatas panggung adu kepandaian maupun didalam perkelahian, bahkan ia pernah merobohkan duabelas orang sekaligus, dalam suatu pertandingan yang menentukan.
Hal itu terjadi, tatkala ia terlibat dalam suatu perkelahian matihidup dengan kawanan garong yang bermukim di dekat gunung Bu-tong san sebelah timur.
Dan sejak itu, namanya terkenal disegala penjuru, dihormati dan disegani orang, Tapi kali ini ia menumbuk batu, siapapun tak menduga, bahwa dia bakal roboh dengan mudah sekali ditangan seorang muda yang baru saja muncul dalam pergaulan.
Tak mengherankan seluruh keluarga Cio-liang pay yang menyaksikan peristiwa itu, heran dan kaget setengah mati, Bagaimana mungkin!
Tetapi kenyataannya memang demikian.
siapapun tak dapat mengingkari !
Lauw Tong Seng tidak terkecuali.
setelah tertegun keheranan, ia sekarang yakin akan kepandaian adik seperguruan itu.
Gerakan tangannya benar-benar aneh.
suatu gerakan tangan yang belum pernah dilihatnya.
Dari siapakah ia memperoleh kepandaian itu?
pastilah adik seperguruannya itu pernah menerima warisan sakti dari seseorang.
Tapi siapa?
siapa lagi kecuali gurunya?
Tentu saja Ciu San Bin dan Cie Lan belum dapat berpikir sejauh itu.
Mereka hanya yakin, bahwa Sin Houw berkepandaian tinggi.
Nyanya, dia bisa unggul.
Dan menyaksikan hal itu, mereka berdua girang sekali.
Begitu girang, sampai mereka bersorak tak terasa.
Giok Cu dan ibunya lain pula kesannya, Meskipun mereka ikut bersyukur didalam hati, namun tak berani menyatakan rasa syukur itu dengan terang-terangan, Mereka sudah terlalu lama kena larangan dan terkekang kemerdekaannya, sama sekali mereka tak berani memperlihatkan rasa girangnya bahkan diwajahnya pun.
Bagi Sin Houw sendiri, inilah pengalamannya untuk yang pertama kalinya berlawanan dengan tokoh-tokoh kenamaan .
itulah sebabnya, ia bertempur dengan penuh semangat.
ia bersungguh-sungguh dan sama sekali tak bersegan-segan, sebab menyadari akan mengalami bencana apabila lalai sedikit saja.
Setelah merobohkan Ceng Sie dan Ceng Go, Sin Houw beralih kepada Ceng Jie, Kembali lagi ia menggunakan kegesitannya untuk mengancam kedua mata si berangasan dengan membalingkan tusuk sanggul Cie Lan, Dan didesak secara demikian, Ceng Jie kelabakan seperti dua saudaranya tadi.
Ceng It kali ini tidak tinggal diam melihat adiknya terancam bahaya.
segera ia mendorong salah seorang muridnya yang rebah melintang didepannya keluar gelanggang.
Ceng Sam yang berada didekatnya, mengerti kehendak kakaknya yang ingin membangun lagi pertahanan Ngo-heng tin.
setelah murid muridnya yang rebah merintang tiada lagi, ia berusaha untuk mengadakan garis pembelaan, meskipun sudah kehilangan dua orang anggauta.
Tentu saja Sin Houw tidak sudi memberikan kesempatan.
Terus menerus ia menyerang Ceng Jie dengan senjatanya yang istimewa.
Dengan demikian usaha Ceng Sam untuk membangun garis pertahanan Ngo-heng tin selalu gagal.
Dan Ceng It dengan kedua saudaranya menjadi kebingungan.
Ceng Jie kemudian terhajar pundaknya.
Bukan main panas hati Ceng Sam, serentak dia menghantarkan gadanya ke arah punggung, Dan Ceng It membarengi dengan menusukkan tombaknya dari depan -Ceng Jie yang sudah kena pukulan, barusaha pula mengimbangi usaha kedua saudaranya dengan sebisabisanya.
ia tahu betapa pentingnya usaha membangun kembali pertahanan Ngo-heng tin, itulah satu-satunya cara perlawanan yang bisa diharapkan.
Sin Houw mengelakkan serangan kedua lawannya.
Dan ia tetap menyerang Ceng Jie yang sudah kena di gempurnya.
Tapi garis pertahanan ilmu Ngo heng tin memang hebat.
sekalipun anggautanya tinggal tiga orang, namun masih terasa keangkerannya.
Mau tak mau, Sin Houw terpaksa mengandalkan kecepatannya bergerak.
Tubuhnya berkelebatan bagaikan bayangan.
Dan tiba-tiba ia menyelipkan tusuk sanggul Cie Lan pada rambutnya, kemudian lompat tinggi diudara, tangannya menyambar palang atap.
Dan ia bergelantungan seperti seekor kera.
Ceng it bertiga tadi mengimbangi kecepatan lawannya dengan gerakan yang cepat pula, Tubuh mereka berputar putar dari tempat ke tempat.
seluruh perhatian mereka dipusatkan untuk memburu lawan.
Tahu-tahu lawan lenyap dari pengamatan mereka.
selagi mereka melayangkan pandang untuk mencari, tiba-tiba serangkum angin turun bergelombang.
Mereka kaget dan cepat cepat mundur.
pengalaman mereka mengkisiki bahwa itulah angin bergelombang yang mengandung serangan berbahaya.
Tahu-tahu Ceng Jie dan Ceng Sam menjerit dengan berbareng, Beberapa butir bola timah menghantam mereka berdua, dan mereka berdua roboh terkulai diatas lantai.
Gugup Ceng It melompat mendekati kedua saudaranya.
hendak memberi pertolongan, selagi membungkuk, gelombang angin terasa datang menyerang.
ia adalah orang yang tertua.
Kecuali sudah berpengalaman, kepandaiannya jauh melebihi semua saudaranya.
Maka dengan gesit ia memutar tombaknya, dan belasan butir timah kena ditangkisnya.
"Hm! jangan kau kira bisa mengumbar adat."
Bentaknya.
"Apakah kau kira aku bisa kau roboh kan dengan senjata rahasia? Hm, jangan bermimpi!"
Khawatir kalau Sin Houw terus-menerus memberondongkan senjata rahasianya, ia tetap memutarmutar tombaknya yang digunakan sebagai perisai dan alat pemukul.
Diluar dugaan, tiba-tiba tangannya bergetar.
Rombaknya serasa tersangkut pada sesuatu kaitan yang kuat, Kaget ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk merenggut.
Tapi kaitan itu sama sekali tak bergeming, Bahkan diluar dugaannya tangannya tak kuasa lagi memegang tangkai tombak.
Kembali ia terkejut, Dan pada saat itu, mendadak saja ia kehilangan pegangan, Gugup ia lompat ke samping, Kedua tangannya diangkatnya, berbareng untuk melindungi dada dan mukanya.
Kemudian ia mundur beberapa langkah untuk memperoleh penglihatan.
Dan, ternyata tombaknya kena terampas anak muda itu.
Betapa dahsyat tenaganya tak dapat diingkari lagi sehingga dapat merampas tombak yang berada dalam genggamannya.
Namun ia tak sudi menyerah.
Dengan kuatkan diri, ia berteriak menantang.
"Kau ingin menggunakan tombakku? silahkan ! Aku Ceng It belum pernah mundur walau selangkah!"
Dengan tertawa, Sin Houw turun ke lantai seraya membawa tombak rampasannya, sebentar ia menggerakkan tombak rampasannya seakan-akan hendak menusuk atau menikam. Tiba-tiba ia berseru.
"Susiok, lihat!"
Dengan sekali ayun, tombak yang berada didalam genggamannya melesat.
Ceng It kaget setengah mati, Dengan putus asa, ia menggerakkan badannya untuk mencoba mengelak.
Diluar dugaan, tombak itu bukan membidik dirinya, tetapi lewat disamping kepalanya dan lalu membenam pada tiang agung.
Hebat tenaga lontaran Sin Houw.
Tombak itu sampai membenam memasuki tiang, Tangkainya meraung bergetaran.
Gedung seakan-akan mau roboh berantakan.
Dan genting diatas rontok berhamburan.
Tak mengherankan, banyak diantara hadirin lari berserabutan karena takut kerobohan dinding.
Ceng It berdiri terpukau.
semangatnya runtuh sekaligus.
Lesu dan putus asa.
Dan pandang matanya lantas saja menjadi kuyu, Betapa tidak?
Kalau saja tombak itu diarahkan kepadanya, sanggupkah ia mengelakkan diri atau menangkisnya?
Maka tahulah dia, bahwa Sin Houw bermaksud baik kepadanya.
ia diampuni.
Alangkah menyakitkan hati!
Rasanya lebih baik mati daripada terhina demikian.
Lauw Tong Seng mengenal jurus itu dengan baik, karena merupakan ilmu kebanggaan kaum Hoa-san pay.
Gurunya menurunkan jurus itu kepada muridnya, apabila tenaga himpunannya sudah memenuhi syarat-syarat tertentu.
ia pun mewarisi jurus itu, akan tetapi tenaga dalamnya tidaklah sebesar adik seperguruannya itu, Maka terasa ia berteriak kagumi.
"Sutee! Benar-benar sempurna timpukkanmu, Mataku kini benar-benar baru terbuka ..."
Sin Houw menoleh, ia tertawa, Kemudian melemparkan pandang kepada Ceng It yang berdiri murung, Dengan rasa pahit pendekar kawakan itu terpaksa menelan kenyataan.
Empat saudaranya telah terkapar rebah didepannya, Mau apa lagi?
Murid-muridnya pun tergeletak malang-melintang pula, Tiba-tiba saja timbullah niatnya hendak membunuh diri, Akan tetapi suatu pikiran menusuk benaknya.
"Hari ini aku benar-benar runtuh habis-habisan, Akan tetapi, aku tidak boleh membiarkan kekalahan ini tak terbalas. Aku memang sudah tua, namun bukankah aku bisa mendidik murid-muridku untuk membangun keangkaran ilmu Ngo-heng tin yang tiada keduanya di dunia ini?"
Oleh pikirannya itu, ia dapat bernapas lebih lapang. Lalu berkata lantang kepada Lauw Tong Seng.
"Kau boleh membawa emasmu!"
Waktu itu Sin Houw sedang datang mendekati kakak seperguruannya, setelah melihat Ceng It termenung kehilangan semangat tempurnya, ia mencabut tusuk sanggul yang berada dirambutnya, kemudian dikembalikan kepada Cie Lan, Gadis itu menerima dengan hati girang, Dan pada saat itu ia mendengar ucapan Ceng It, Tapi karena sasaran ucapannya kepada Lauw Tong Seng, ia tidak menghiraukan.
Dengan penuh perhatian ia mengawasi gerakan tangan Cie Lan mengenakan tusuk sanggulnya.
Ciu San Bin kemudian memunguti kepingan emas yang bertebaran di atas lantai.
sementara Ceng It menghampiri Ceng Go yang terkena senjata rahasia Sin Houw, seluruh anggauta badannya lumpuh tak bergerak, kecuali sepasang biji matanya yang bergerak-gerak dengan rasa penasaran.
Ceng It mencoba menolong, Namun sekian lamanya ia berusaha, tetap ia tak berhasil membebaskan totokan Sin Houw.
Karena merasa penasaran, ia mencoba mengulangi terhadap ketiga adiknya yang lain yang juga terkena totokan Sin Houw, Namun tetap ia tidak berhasil, Akhimya ia mengakui, bahwa ilmu kepandaian Sin Houw benar-benar berada diatasnya.
Hendak ia minta tolong, tapi hatinya segan.
Kemudian ia mengawasi Giok Cu agar mau menjadi orang perantara.
Giok Cu kenal watak pamannya itu, ia berpura-pura tidak mengetahui.
Malahan membuang pandang kesamping, Keruan saja orang tua itu mendongkol setengah mati, ia mendeham, dan oleh deham itu, mau tak mau Giok Cu terpaksa menoleh.
Menegas.
"Apakah supeh memanggil aku?"
"Anak kurang ajar!"
Ceng It memaki didalam hati, Tapi demi menolong saudara-saudaranya, meskipun mendongkol terpaksa ia berkata.
"Giok Cu, coba mintakan kesediaan sahabatmu, agar menolong paman-pamanmu."
Giok Cu bangkit dari kursinya dan mencibirkan bibirnya.
"Baiklah, Akan kukatakan kepadanya. Hanya saja, jangan supeh main paksa lagi."
Setelah berkata demikian, ia mendekati Sin Houw, Berkata merendah.
"Sin koko. Supeh meminta kepadamu agar sudi menolong paman-paman yang lain, Kau mau, bukan?"
Sin Houw manggut, jawabnya.
"Tentu saja, Tiada niat dalam hatiku, hendak membunuh paman pamanmu. Kalau aku menyerang mereka, semata-mata karena terpaksa. Biarlah kutolongnya."
Berkata demikian, Sin Houw bergerak hendak menghampiri. Diluar dugaan, Lauw Tong Seng mencegahnya. Kata kakak seperguruannya itu.
"Sutee, kau benar-benar tak mengerti urusan dagang, pada waktu ini, adalah kesempatan sebagus-bagusnya untuk menaikkan harga barang. Untuk menjual tenagapun rasanya cukup berharga pula. Apakah tenagamu sama sekali tiada upahnya?"
Sin Houw tahu, Lauw Tong Seng jemu terhadap sepak terjang keluarga Cio liang pay.
Dia sendiri tak begitu mendendam, mengingat Shiu Shiu dan Giok Cu termasuk keluarga Cio-liang pay juga .
Namun, tak dapat ia mengabaikan kedudukan kakak seperguruannya.
"Suheng, aku adalah adikmu. sudah semestinya aku tunduk dan patuh kepada setiap kata-katamu."
Lauw Tong Seng tertawa puas, Katanya.
"Keluarga Cio-liang pay sudah sejak puluhan tahun membuat resah penduduk. Mereka menjadi lintah darat yang menghisap darah rakyat jelata, Mereka seakan-akan keluarga tuan tanah, yang membuat diri mereka majikan atas sekalian penduduk. Tak ada serumpun keluarga pun yang dibiarkan hidup merdeka diwilayahnya. Didalam dua hari ini, aku berkesempatan berbicara dengan penduduk. Mereka muak dan mual terhadap kelakuan keluarga Cio-liang pay, yang sewenang-wenang, Karena itu jika kau hendak menolong mereka, ingatlah akan nasib rakyat. Mintalah uang dan beras sebagai upahnya. Dan uang serta beras itu kau berikan kepada penduduk untuk meringankan beban hidup mereka. Sin Houw manggut membenarkan. ia percaya kata-kata Lauw Tong Seng tentang penderitaan rakyat, ia sendiri pernah menyaksikan pengalaman demikian -ketika mula-mula hendak mengunjungi tempat tinggal keluarga cip-liang pay. Mereka bersikap bermusuhan. Hanya saja mereka takut terhadap kekuasaan Cio-liang pay. Dengan mata kepala sendiri, ia menyaksikan betapa bengis sepak terjang Kun Jie tatkala mengusir petani yang datang untuk minta keadilan.
"Benar, Memang keluarga Cio-liang pay sudah lama menindas rakyat,"
Akhir ia berkata perlahan.
"Hanya saja apa yang harus kulakukan terhadap mereka?"
"Bukankah aku tadi sudah menyinggung tentang upah jasa dan tata tertib perdagangan?"
Sahut Lauw Tong Seng seraya mengelus janggutnya.
"Pendek kata kau harus menuntut upah jasa..."
"Upah jasa bagaimana?"
Tanya Sin Houw tidak mengerti.
"Sutee, sekarang aku telah memperoleh nilai harga yang pantas. Upah menolong tiap jiwa seharga empat ratus pikul beras putih."
Jawab Lauw Tong Seng.
"Dan mereka yang butuh pertolongan berjumlah empat orang. Artinya seribu enamratus pikul beras!"
Seru Sin Houw.
"Benar!"
Sahut Lauw Tong Seng kemudian menoleh kepada Ceng It, dan menambahkan perkataannya.
"Empat adikmu kini dalam keadaan setengah hidup, esok pagi hendaklah kau sediakan beras sebanyak seribu enam ratus pikul itu. Bila tiruangannya tepat, keampat adikmu baru kita tolong, Kalau tidak, silahkan kau rawat sendiri. Hendaklah kau ketahui, bahwa beras sebanyak itu bukan untuk kepentingan pribadi kami sendiri, tetapi hendak kubagikan kepada penduduk yang sudah lama kau isap darahnya!"
Ceng it tak berani berkutik.
ia benar-benar seperti seorang persakitan menunggu keputusan pengadilan.
Meski-pun hatinya memaki setinggi langit, ia terpaksa mengangguk menyetujui.
Tetapi ia masih mencoba.
"Tapi dalam waktu sesingkat ini, bagaimana caraku dapat mengumpulkan beras sebanyak itu? Paling banyak persediaan kami hanya ada tujuhpuluh atau delapanpuluh pikul."
"Maaf!"
Kata Lauw Tong Seng.
"Keputusanku ini sudah tak dapat dirobah lagi. Namun mengingat kau adalah paman gadis itu, biarlah kuperkenankan main cicil-cicilan."
"Cicilan bagaimana?"
Ceng It menegas dengan suara mendongkol.
"Bila esok kau bisa mengumpulkan empat ratus pikul beras putih, adikku akan menolong menyadarkan salah seorang adikmu. Bila kau mampu mengumpulkan delapan ratus pikul, adikku akan menolong menyadarkan dua orang, tapi seumpama kau baru bisa mengumpulkan sisanya dalam waktu satu bulan ... yah, kita tunda satu bulan. Kalau kau minta mundur tiga bulan atau setengah tahun atau satu tahun, boleh saja, percaya lah, adikku pasti akan datang menolong pada waktu penglunasan itu, Dia tidak bakal mempermainkan jiwa adik-adikmu, Bagaimana?"
Bukan main masgulnya hati Ceng it -katanya didalam hati.
"Keempat adikku benar-benar lumpuh. Tak dapat lagi mereka menunggu waktu setengah bulan lagi, sekarang ia menyediakan waktu pengunduran sampai setahun. Hm, bangsat benar! Bukankah kau menghendaki mampusnya keluarga Cio liang pay? Hm,.. rupanya aku benar-benar tidak diberinya kesempatan bernapas. Apa boleh buat, Biarlah, esok pagi kuusahakan untuk memenuhi. Kalau mereka sudah tersadar kembali, keluarga Cio-liang pay pasti mampu menuntut balas!"
Oleh pertimbangan itu, dengan hati berat Ceng It manggut seraya berkata.
"Baiklah, Esok hari, beras yang kau minta akan kami penuhi."
Lauw Tong Seng tertawa senang. sahutnya.
"Akh, benar-benar kau seorang tengkulak yang mengerti ilmu dagang, Bagus, sejak hari ini aku akan selalu berhubungan denganmu untuk mencari barang dagangan yang bagusI"
Ceng It tidak menghiraukan, dan Sin Houw kemudian mendekati Shiu Shiu, ia membungkuk hormat dan minta diri, ia percaya, Ceng It tidak akan mengusiknya, karena masih membutuhkan pertolongannya.
"Mari kita beristirahat dulu...!"
Kata Lauw Tong Seng mengajak.
Berempat mereka segera meninggalkan gedung itu dengan membawa emas perbekalan.
Hati mereka girang bukan main, dan bersyukur kepada kemurahan Tuhan, Dengan langkah tenang, mereka kembali ke tempat pemondokan.
itulah rumah seorang penduduk yang miskin.
***** WAKTU ITU fajar hari telah tiba.
Cie Lan masuk kedalam untuk mempersiapkan makan pagi, ia membuat air teh dan bubur ayam, Dan sambil bersantap mereka membicarakan kemenangannya.
Rasa girang dan syukur menyelimuti hati mereka masing-masing.
Setelah menikmati santapan pagi, mereka masing-masing beristirahat dan tidur.
Ketika matahari sudah condong ke barat, seseorang mengetuk pintu kamar mereka.
"Siapa?"
Tanya Lauw Tong Seng.
"Utusan keluarga Cio-liang sudah datang."
Sahut Ciu San Bin yang sudah bangun lebih dahulu. Lauw Tong Seng tersenyum. Berkata.
"Ternyata mereka pintar menemukan tempat kita bermondok."
Desa itu terletak dipinggang gunung.
Meskipun termasuk daerah makmur, akan tetapi untuk mengumpulkan beras sejumlah itu tidaklah mudah.
Ceng It tahu akan hal itu, ia menyebarkan seluruh orang-orangnya ke berbagai daerah sejak pagi-pagi sekali.
Berkat kesungguhan dan pengaruh uangnya, ia berhasil mengumpulkan jumlah beras yang diminta Lauw Tong Seng, Tapi akibatnya harga beras naik, rakyat jelata tak mampu lagi membelinya.
Kegoncangan itu berjalan sampai beberapa minggu lamanya, setelah peristiwa itu terjadi.
Demikianlah, setelah rombongan Lauw Tong Seng tiba, Ceng It mempersilahkan untuk memeriksa jumlah beras yang dikehendaki.
Tentu saja, Ceng It tak sudi membuang waktu.
ia memerintahkan agar beras itu dibagikan kepada penduduk sambil menghitung jumlahnya.
Peristiwa itu sudah tentu mengherankan dan mengejutkan seluruh penduduk.
Apa sebab keluarga Cio-liang pay yang terkenal sebagai lintah darat, mendadak berubah menjadi dermawan, Mereka tak tahu peristiwa apa yang telah terjadi didalam keluarga itu.
Kira-kira pukul tiga malam, gedung keluarga Cio-liang pay telah sunyi kembali.
penduduk pulang ke rumah masingmasing, Karena keempat saudara Ceng It sudah sembuh kembali, setelah memberikan pertolongan Sin Houw bermaksud hendak mengundurkan diri, Dengan membungkuk hormat, ia berkata kepada Ceng It.
"Susiok, hendaklah susiok sudi memaafkan diri kami, sekarang perkenankan kami kembali ke pondokan."
Sebelum Ceng it membuka mulut, Lauw Tong Seng menyambung. Katanya dengan setengah tertawa.
"saudara Ceng It berlima. Kami tahu, kalian berlima sakit hati karena terpaksa menghamburkan harta benda keluarga seribu enam ratus pikul beras, bukanlah suatu jumlah yang sedikit. Tetapi meskipun demikian, mulai saat ini nama keluarga Cio-liang pay tidak lagi seburuk dahulu. karena perbuatan kalian tadi adalah suatu perbuatan amal, pastilah semua penduduk disini memuji kebaikan kalian dihadapan Tuhan -karena itu, aku minta keikhlasan hati kalian."
Lauw Tong Seng tidak menunggu jawaban Ceng lt.
segera ia mengajak rombongannya mengundurkan diri, Tiba-tiba ia melihat Shiu Shiu dan Giok Cu berlari-lari ke serambi depan menghampiri, kata Shiu Shiu kepada Sin Houw.
"Anakku Sin Houw! Apakah kau hendak meninggalkan kami?"
Sin Houw manggut. jawabnya.
"Benar, subo. Tiada lagi yang kukerjakan disini, Maka perkenankan kami berangkat sekarang juga."
Tiba-tiba Shiu Shiu nampak bergemetaran. Katanya dengan suara tersendat-sendat.
"Sebenarnya ... di manakah makamnya ? Anakku Sin Houw, bawalah serta aku untuk menyambangi makamnya."
Belum lagi Sin Houw menjawab permintaan Shiu Shiu, mendadak saja ia mendengar angin menyambar.
ia kaget sampai berpaling kearah datangnya suara itu, segera ia melompat dan menyambar empat batang golok terbang yang mengarah Shiu Shiu, Tetapi pada saat itulah, ia mendengar Shiu Shiu memekik nyaring.
Dan tubuhnya roboh terkulai diatas lantai.
Ternyata masih ada sebatang golok yang menikamnya.
Golok yang membenam pada dirinya rupanya di sertai dengan suatu tenaga yang dahsyat luar biasa, sehingga membenam sangat dalam.
Hampir saja gagangnya ikut amblas ke dalam tubuh wanita itu.
Shiu Shiu rebah tak berkutik.
Dengan setengah kalap Giok Cu menerkam dan hendak mencabut golok yang membenam dipunggung ibunya.
Cepat-cepat Sin Houw mencegah.
Katanya.
"Jangan. Bila kau cabut, ibumu tak dapat membuka matanya kembali."
Sin Houw tahu, siapa yang melakukan serangan gelap itu, Dengan geram ia menimpukkan keampat golok terbang yang berada di kedua tangannya kepada pemiliknya.
Dialah Ceng Go.
Watak Ceng Go tidak berbeda jauh derigan Ceng Jie yang berangasan, dan bengis luar biasa.
Mendengar Shiu Shiu hendak mencari makam Gin-coa Long-kun, tak dapat lagi ia menahan diri, Terus saja ia menimpukkan golok-golok terbangnya, sebagai seorang pendekar yang berpengalaman, masih sempat ia memperhitungkan hadirnya Sin Houw.
Tapi selagi kedua tangan Sin Houw bergerak menyambar empat batang olok itu, dengan penuh napsu ia melepaskan sebatang lagi.
Kali ini, mengarah kepada Shiu Shiu -perhitungannya ternyata tepat.
Sin Houw sedang memunahkan ampat batang goloknya, maka tak sempat lagi ia menyambar sebatang golok lain yang di timpukkan hampir berbareng.
Shiu Shiu roboh tak berkutik.
Dan ia merasa puas luar biasa, Dengan menyertai senyum iblis ia mengawasi korbannya.
Mendadak ia melihat berkelebat empat batang goloknya mengarah dirinya.
inilah senjata makan tuan!
Terus saja ia bergulingan untuk menghindar.
ia berhasil membebaskan diri dari ancaman goloknya.
Tapi di luar dugaan, mendadak saja pantat dan pangkal pahanya menjadi kaku kejang, Dan ia roboh terbanting ketika mencoba berdiri.
SIN HOUW mendongkol dan benci terhadap pekerti Ceng Go.
ia kena ditipu ahli golok itu, Maka iapun hendak membalas dengan cara itu pula, sengaja ia melepaskan ampat batang olok dengan sekaligus.
ia tahu, sebagai seorang ahli golok pastilah Ceng Go dapat memunahkan atau mengelakkan diri.
Tapi Ceng Go lupa, bahwa Sin Houw mempunyai senjata bidik juga.
itulah senjata rahasia yang membuat dirinya kemarin lumpuh tak bergerak, selagi ia bergulingan belasan senjata rahasia Sin Houw menghantam pantat dan pangkal pahanya.
Ia terjungkal, dan kali ini Sin Houw tidak bersegan-segan lagi, Terdorong oleh rasa mendongkol dan benci, pemuda ini menimpuk dengan disertai tenaga dahsyat, seketika itu juga, tulang sendi Ceng Go rontok patah.
Urat-uratnya hancur.
Dan Ceng Go tewas seketika!
Dengan hati pedih, Sin Houw menoleh kearah Giok Cu.
Gadis itu memeluk tubuh ibunya erat-erat, oleh rasa sedih, gadis itu sampai tak mampu mengeluarkan suara tangis lagi.
Apa yang dapat dilakukannya hanya menciumi dan mencoba menyadarkan ibunya.
Sin Houw mendekati dengan hati remuk redam, ia jadi teringat kepada pengalamannya sendiri, tatkala memeluk dan menangisi jenazah ayah bundanya.
Dahulu ia memeluk dan menangisi jenazah ayah-bundanya didepan orang banyak, sekarang Giok Cu mengalami nasib yang sama.
ibunya terkapar dihadapan para tamu dan seluruh anggauta keluarga Cio-liang pay yang bersikap memusuhi.
Dan teringat akan hal itu, hatinya terharu bukan main, Perlahan-lahan pemuda itu meraba tubuh Shiu Shiu, Tahulah dia, bahwa wanita malang itu tak dapat tertolong lagi, Satu-satunya harapan hanyalah mencoba menyadarkan barang semenit dua menit, Maka segera ia memijit urat urat tertentu untuk mengurangi rasa sakit.
Dan benar saja, Shiu Shiu sadar tanpa menderita rasa sakit, Begitu membuka mata, ia dapat berkata tenang tenang kepada anak satu-satunya itu, Katanya penuh kasih.
"Giok Cu, kau tak perlu bersedih hati, semua orang akan kembali keasal mula, jaga dirimu, sekarang aku dapat menyusul ayahmu, Dan aku akan mendampingi dan melayani tanpa gangguan siapapun."
Shiu Shiu tersenyum puas, Dan Giok Cu mencoba bersenyum pula seolah-olah ikut bersyukur terhadap kepergian ibunya hendak menyusul ayahnya di alam baka.
Tetapi hatinya hancur luluh tak keruan.
akhirnya dengan menggigit bibirnya, tak dapat lagi ia membendung butiranbutiran air matanya yang membasahi pipinya.
Shiu Shiu sendiri tidak memperhatikan keadaan Giok Cu, ia mengalihkan pandang kepada Sin Houw.
Katanya.
"Anak Sin Houw! Hanya sebuah pertanyaan yang hendak kutanyakan kepadamu, Kupinta kepadamu, agar kau menjawab sebenarnya, Maukah kau meluluskan permintaanku ini?"
"Tentu saja, subo, Coba katakan apa yang hendak subo tanyakan kepadaku"
Sahut Sin Houw.
"Apakah dia meninggalkan surat wasiat? Apakah dia menyinggung namaku. Air mata Sin Houw bercucuran tatkala ia terpaksa menjawab.
"Susiok Lim Beng Cin menulis kitab wasiat, Dan dengan bekal itu, aku dapat menghancurkan rahasia ilmu sakti Ngoheng tin, Dengan demikian, aku berhasil mewakili dirinya menuntut balas.
"Akh! Kau belum menjawab pertanyaanku. Apakah dia tidak menulis surat kepadaku? Apakah dia sama sekali tidak meninggalkan surat wasiat bagiku?"
Tiba-tiba Sin Houw teringat, Bu-kankah Gin-coa Long-kun menulis surat peta?
Dalam tulisannya ia menyebutkan nama Shiu Shiu pula, Teringat hal itu, segera ia meraba sakunya dan memperlihatkan sehelai kertas kulit.
"Subo, lihat!"
Katanya sambil memperlihatkan surat wasiat itu di depan mata Shiu Shiu.
"Surat apa itu?"
Tanya Shiu Shiu.
"Ya, benar, itulah tulisan tangannya, Dia menulis apa? Menulis tentang apa ... ?"
Bukan main terharunya Sin Houw menyaksikan perubahan itu, Shiu Shiu nampak bergirang hati.
Rasa girang yang mendekati gejolak rasa girang kanak-kanak.
Maka segera ia mendekatkan bunyi tulisan yang tertera dipojok peta, agar Shiu Shiu dapat membacanya sendiri.
Dengan napas sesak, Shiu Shiu membaca tulisan suaminya, setelah itu ia berkata.
"Benar-benar akulah yang dimaksud dalam suratnya, Kalau begitu ia mengetahui penderitaanku Dan aku ... akh, jelas sekali aku diharapkan keluar dari kehidupan keluargaku, Agar aku dapat hidup bebas merdeka seperti layaknya seorang perempuan yang mempunyai harga diri, Akh, anak Sin Houw, Kepadamu aku menyatakan rasa terima kasih... aku tidak membutuhkan uang, Yang terpenting bagiku adalah... ternyata dia masih ingat kepadaku, Dalam penderitaannya, masih ia memikirkan keadaan diriku... sekarang biarlah aku pergi menyusulnya..."
Sin Houw tahu, bahwa tenaga hidup Shiu Shiupun nyaris pudar.
Maka ia menoleh kepada Giok Cu hendak menghiburnya, Tiba-tiba Shiu Shiu yang telah memejamkan kedua matanya menyenak kembali.
Dan berkata memohon.
"Ahak Sin Houw, dua hal lagi yang hendak kupinta kesediaanmu, Dan aku mengharapkan kau menerimanya tanpa menawar..."
"Katakan saja, subo."
Sahut Sin Houw.
"Aku selalu bersedia melakukan apa saja, asal yang aku mampu."
"Yang pertama, kuburlah aku di sampingnya. Dan yang kedua ..."
"Yang kedua ... sebutkan, subo... sebutkanlah!"
Sin Houw mendesak sambil mendekatkan telinganya.
"Yang kedua, kamu ..."
Dan ia menunjuk Giok Cu, kemudian membagi pandang kepada Sin Houw, Mulutnya bergerak hendak mengucapkan sesuatu, Tetapi tiba-tiba ia telah kehilangan tenaga.
Kepalanya runtuh kesamping, Dan ia meninggal dalam keadaan tenang.
Gugup Sin Houw meraba dadanya benar-benar napas Shiu Shiu tiada lagi, dan pada saat itu Giok Cu menerkam dan memeluk ibunya erat-erat, ia memekik dan menangis menggerung-gerung akhirnya pingsan tak sadarkan diri.
Sin Houw terkejut.
ia memeluk tubuh Giok Cu dan menggoyangnya.
"Giok Cu! Giok Cu!"
"Jangan kuatir, sutee, Dia pingsan oleh rasa duka yang luar biasa."
Lauw Tong Seng menghibur.
Setelah berkata demikian, ia memijit urat pernapasan Giok Cu.
Tidak lama kemudian, gadis itu telah memperoleh kesadarannya kembali.
Dengan pandang kosong, ia menebarkan penglihatannya.
"Giok Cu, bagaimana perasaanmu?"
Sin Houw bertanya dengan cemas.
Giok Cu tidak menyahut.
Dan kembali lagi Sin Houw menegas, Tetapi tetap saja gadis itu membungkam mulut.
Lauw Tong Seng, Cie Lan dan Ciu San Bin memperoleh kesan aneh, Mereka tidak mengetahui hubungan yang terjadi antara Sin Houw dengan Giok Cu dan Shiu Shiu, Terang sekali Shio Shio dan Giok Cu termasuk anggauta Cio-liang pay tetapi apa sebab saudara-saudaranya telah membunuhnya?
Dan apa latar belakang persoalannya sampai Shiu Shiu begitu dekat hatinya kepada Sin Houw?
Selagi mereka termenung, terdengarlah suara Sin Houw.
"Giok Cu, kau ikut kami. Tak dapat kau tinggal disini lagi."
Sin Houw berkata dengan suara hatinya.
Kedua kelopak matanya berkaca-kaca.
Namun masih saja Giok Cu membungkam mulut.
Baru setelah menarik napas dua-tiga kali, ia memanggut pendek.
Melihat Giok Cu manggut, tanpa segan-segan lagi Sin Houw menolong Giok Cu berdiri tegak.
Kemudian ia memondong tubuh Shiu Shiu, sama sekali tak dihiraukannya keadaan hati Ceng It berlima.
perlahan-lahan ia keluar halaman.
Giok Cu, Cie Lan, Lauw Tong Seng dan ciu San Bin mengikutinya dari belakang.
Memang, bukan main panas hati Ceng It bertiga.
Mereka merasa diri tidak lagi dianggap sebagai manusia.
Mereka dipaksa menyaksikan Ceng Go mati dihadapannya, sudah begitu, kini melihat betapa Sin Houw dan kawan-kawannya membawa pergi jenazah saudara perempuannya tanpa pamit.
Menurut kata hati ingin mereka melampiaskan rasa mendongkolnya.
Akan tetapi mereka insyaf, Sin Houw dan Lauw Tong Seng memiliki kepandaian tinggi.
pihaknya sendiri, sudah kehilangan seorang anggauta keluarga yang tangguh.
Karena itu dengan menahan diri, mereka membiarkan Sin Houw dan rombongannya meninggalkan rumah tak terusik.
Setelah berada ditengah jalan, Lauw Tong Seng berkata kepada Ciu San Bin.
"Aku mempunyai uang perak. Bawalah uang ini kepada pemilik rumah yang kita tumpangi. Kau berikan secukupnya kepadanya, Katakan juga, sebelum pagi hari tiba, hendaklah pindah tempat."
Lauw Tong Seng menyerahkan uang itu secukupnya kepada San Bin, Muridnya itu menegas.
"Mengapa dia harus pindah tempat begitu cepat?"
"Apa kau kira keluarga Cio-liang pay memeluk tangan saja setelah kita pergi? Mereka mendongkol terhadap kita, rasa mendongkolnya pastilah akan di alamatkan kepada pemilik rumah yang kita tempati."
Sahut Lauw Tong Seng memberi keterangan.
"Terhadap kita, mereka tak dapat berbuat apa-apa. Tetapi begitu kita pergi meninggalkan dusun ini, mereka segera turun tangan. Dan, karena petani itu memberi tempat menumpang kepada kita, Mereka pasti akan dihabisi!"
Sekarang barulah Ciu San Bin mengerti, apa sebab pemilik rumah itu harus segera pindah.
sambil menyampaikan uang pemberian gurunya, ia bergegas menemui pemilik rumah.
Dan pemilik rumah itu berterima kasih terhadap maksud baik para tamunya.
Demikianlah, setelah itu mereka meneruskan perjalanan, Disepanjang jalan baik Lauw Tong Seng maupun yang lainnya membungkam mulut, Tatkala sinar matahari mulai merekah diufuk timur, mereka berhenti di sebuah gardu penjagaan yang terletak jauh dari dusun, Gardu penjagaan itu telah keropos dindingnya, tiang-tiangnya nampak tak terpelihara, Maka jelaslah, bahwa gardu penjagaan itu sudah tak digunakan lagi, Didalam gardu penjagaan inilah mereka beristirahat.
Siu San Bin dan Cie Lan membersihkan daun-daun kering yang bertebaran diatas lantai.
Kemudian dengan hati-hati Sin Houw meletakkan jenazah Shiu Shiu.
Mereka lantas merubung jenazah itu dengan prihatin.
"Kita apakah jenazah nyonya ini?"
Lauw Tong Seng minta pertimbangan mereka.
"Apakah akan kita kubur saja disini? Atau akan kita bawa ke kota dahulu untuk dimandikan?"
Sin Houw tak kuasa menjawab. ia menyiratkan pandang kepada Giok Cu, San Bin dan Cie Lan, Mereka bertigapun membungkam mulut.
"Umpama kita membawanya pergi ke kota dahulu, rasanya tak mudah."
Kata Lauw Tong Seng lagi, Pihak pemerintah setempat tentu akan minta keterangan kita sejelas-jelasnya, Barangkali kita bisa lolos dari pertanyaannya, akan tetapi kita akan sibuk memberikan jawaban setiap kepala dusun yang kita lalui.
Lagipula, dimana kita akan memandikan jenazah nyonya ini?
Karena itu lebih baik kita makamkan saja disini."
"Tidak! ibu tak boleh dimakamkan disini!"
Bantah Giok Cu.
"Bukankah ibu menghendaki agar dimakamkan di samping ayah? syukur bisa bersama-sama didalam satu liang kubur."
"Tetapi dimanakah kuburan ayahmu..?"
Lauw Tong Seng minta penjelasan. Tak dapat Giok Cu memberi keterangan kepada Lauw Tong Seng, sesungguhnya ia tak mengetahui dimana makam ayahnya, ia lantas melemparkan pandang kepada Sin Houw.
"Ayahnya dimakamkan di puncak gunung Hoa-san kita."
Sin Houw memberikan penjelasan.
"Diatas gunung kita?"
Lauw Tong Seng berseru heran. Dan Sin Houw menambahkan keterangannya.
"Ayahnya adalah pendekar besar Gin-coa Long-kun, Dialah yang dahulu terkenal gagah perkasa dan bertabiat aneh."
Usia Lauw Tong Seng tak jauh selisihnya dengan usia Lim Beng Cin tatkala ia mulai berkelana, kegagahan Gin-coa Longkun seringkali di dengarnya.
ia menaruh hormat terhadap pendekar besar itu, walaupun tidak selalu menyetujui sepak terjangnya.
Karena itu pula hormatnya terhadap jenazah Shiu Shiu naik setingkat, Jadi dialah isteri pendekar besar itu?
pikirnya didalam hati.
Dan tiba-tiba saja timbullah semangatnya untuk membuat jasa, setelah termenung sejenak, berkatalah dia kepada Giok Cu.
"Aku ada usul, Mudah-mudahan kau bisa menerima usulku itu."
Giok Cu menatap wajah Tong Seng, Usia Tong Seng sebaya dengan paman-pamannya, maka menyahutlah dia.
"Pastilah usul susiok ada harganya untuk didengar. silahkan, susiok."
Disebut paman, Lauw Tong Seng memberi keterangan terlebih dahulu, Berkata sambil menunjuk Sin Houw.
"Usia Sin Houw sebaya denganmu, Meskipun demikian, dia adalah adik-seperguruanku, Karena kau sahabatnya, jangan kau memanggil paman kepadaku -panggil saja aku toako."
Giok Cu menyiratkan pandang kepada Sin Houw, setelah itu ia berkata.
"Baiklah, Mulai saat ini, aku akan memanggil toako, Aku berjanji pula akan patuh dan taat kepada semua saran saran toako."
Lauw Tong Seng tertawa. setelah itu berkata.
"ibumu ingin dimakamkan bersama ayahmu. Keinginan hati ibumu ini pasti akan kita laksanakan. Kau tak perlu bercemas hati, soalnya sekarang adalah tata pelaksanaannya, Kurasa alangkah sulit."
"Apa yang menyulitkan?"
Giok Cu tak sabar.
"Kita berada di tempat yang jauh terpisah dengan gunung Hoa-san, sekarangpun sedang berkecamuk suatu perjuangan rakyat yang menentukan. Maka sudah dapat dibayangkan, betapa sulit perjalanan kita apabila membawa bawa sesosok mayat. Lagipula puncak gunung yang kita maksudkan amat terjal, licin dan sempit. Mungkin sekali kau belum bisa membayangkan keadaan digunung Hoa san, karena belum pernah kesana. Apakah kau pernah melihat gunung itu?"
Giok Cu menggelengkan kepalanya, lalu minta ketegasan.
"Jadi, bagaimana baiknya?"
Lauw Tong Seng menghela napas. ia mengawasi Giok Cu berdua Sin Houw, lalu berkata.
"Bila kau setuju, aku mengusulkan agar jenazah ibumu dibakar saja, lalu kita bawa abunya untuk dimakamkan bersama ayahmu."
Giok Cu dapat diberi pengertian, ia menyetujui usul Lauw Tong Seng walaupun dengan hati pilu.
Lauw Tong Seng kemudian mengajak Ciu San Bin mencari kayu bakar, Sin Houw dan Cie Lan mencari rurnput-rumput kering, Matahari sudah sepenggalah tatkala mereka mulai menyulut api.
Dan jenazah Shiu shiu diletakkan hati-hati diatas pancaka.
***** HAMPIR mendekati petanghari, pembakaran mayat itu selesai.
Sin Houw mencari sebuah guci, Apabila api telah padam, ia mengumpulkan abu dan sisa-sisa tulang Shiu Shiu dan dimasukkan kedalam guci itu.
Kemudian menutupnya rapat-rapat, Dua kali ia berlutut sambil berkata.
"Subo, tenangkan hatimu? Pasti aku akan memenuhi harapanmu, memakamkan kau disamping atau didalam satu liang kubur suamimu."
Waktu petanghari tiba, semuanya sudah siap untuk berangkat meneruskan perjalanan. Berkatalah Lauw Tong Seng kepada Sin Houw.
"Sutee, aku hendak kemarkas Thio susiok. Mereka hendak mengadakan pukulan terakhir terhadap pemerintah penjajah, sebentar lagi gerakan penyerbuan itu bakal terjadi. Dan emas ini merupakan perbekalan yang menentukan dari itu syukur kau telah menyelamatkan, Sekiranya tidak, perjuangan kita akan kandas ditengah jalan ..."
Mendengar perkataan kakak seperguruannya, Sin Houw tahu kakak seperguruanya menghendaki dia ikut, akan tetapi segera ia memutus dan berkata.
"Suheng, kurasa lebih baik aku pergi menemui suhu dulu diperbatasan."
Lauw Tong Seng bersenyum, iapun menyadari pekerti Sin Houw yang halus dan tak mau mengingkari janji kepada guru mereka, Dari itu ia setuju, Mereka kemudian berpisah ditempat itu, dan Lauw Tong Seng meneruskan perjalanan dengan mengajak Cie Lan berdua San Bin.
"Sin koko, kau rawatlah dirimu."
Cie Lan berkata selagi berada di dekat Sin Houw. Sin Houw manggut.
"Kau berjanji?"
Cie Lan menegaskan. Kembali Sin Houw manggut, dan Cie Lan nampak puas, pandang matanya berseri. Katanya lagi.
"Kuingin melihat dirimu selalu di dalam keadaan segar."
"Akupun mengharapkan agar kau melatih dengan baik."
Sahut Sin Houw.
"Tentu, aku pasti sudah menjadi manusia lain, kalau kelak kita bertemu lagi."
Cie Lan berjanji.
"Bagus! Aku senang mendengar janjimu, sampaikan salam baktiku kepada subo, Katakan bahwa aku senantiasa teringat kepadanya."
Cie Lan tersenyum lebar. Matanya bersinar, sahutnya.
"lbupun seringkali menyebut dirimu. Akh, bila ia mengetahui bahwa kau sudah tumbuh menjadi seorang dewasa, pastilah ibu akan sangat bergirang hati . Nah, Sin koko, Kita berpisah dahu-lu."
Cie Lan kemudian memutar tubuhnya menyusul Lauw Tong Seng dan Ciu San Bin yang sudah berjalan mendahului mereka mengarah ke barat daya, Beberapa kali Cie Lan menoleh.
Dan Sin Houw membalasnya dengan lambaian tangannya.
Pada lambaian tangan yang ketujuh, bayangan mereka bertiga lenyap.
"Hemm!"
Tiba-tiba terdengar Giok Cu mendengus.
"Dari pada selalu melambaikan tangan seperti itu.
"kan lebih baik menyusul saja!"
Sin Houw tercengang, inilah ucapan Giok Cu yang tak diduganya sama sekali, sebagai seorang pemuda yang belum berpengalaman, tak dapat ia menebak keadaan hati gadis itu, sebaliknya melihat Sin Houw tergugu, Giok Cu berkata dengan suara menekankan.
"Kenapa tak kau susul saja? sebenarnya, kaupun harus pergi bersama dia. Dengan begitu, perpisahan ini tidak akan mengharukan hatimu, bukan?"
Sekarang, barulah Sin Houw tersadar, apa sebab gadis itu tiba-tiba marah padanya, Sama sekali ia tidak mendongkol atau tersinggung. Bahkan ia jadi tertawa geli, Katanya memberi keterangan.
"Kau belum tahu hubunganku dengan dia, bukan? ibunyalah yang menolongku. sejak itu, aku bergaul dan bermain-main dengan dia."
Giok Cu membuang pandang, Hatinya kian mendongkol.
Tiba-tiba saja ia memungut segenggam batu dan di lontarkan asal jadi ke segala penjuru, sebuah batu menghantam dinding tebing dan hancur, Katanya setengah berseru.
"Bagus! Jadi kalian berdua sudah bersahabat sejak kanakkanak. Jadi sudah lama bergaul, bukan?"
Sin Houw mengenal tabiat Giok Cu yang luar biasa, ia membiarkannya saja. justru demikian, Giok Cu semakin panas hatinya, Berkata sengit.
"Dengan dia kau banyak bicara. Dengan dia, kau sering tertawa, Tetapi aku, kau biarkan saja, Mengapa kau mau membuatku mendongkol selalu?"
"Kapan? Kapan aku membuatmu mendongkol? Kapan aku membiarkan dirimu."
Sin Houw tercengang.
"Dia memang gadis manis. Apalagi sejak kanak-kanak kau sudah bergaul. Sudah menjadi kawan bermain. sebaliknya aku? Aku seorang gadis sebatangkara, tiada ayah-bunda ..."
Setelah berkata demikian, Giok Cu menangis. Tentu saja hati Sin Houw jadi tidak enak melihat Giok Cu menangis. Ka-tanya mencoba membujuk.
"Janganlah kau menuruti perasaanmu belaka. Marilah kita berdamai. Bukankah kita berdua akan selalu berjalan bersama-sama?"
Mendengar ucapan Sin Houw, hati Giok Cu agak terhibur. Tangisnya berhenti dengan tiba-tiba, Dan wajahnya nampak bersemu merah. sahutnya.
"Apa yang hendak kita damaikan? Kau pergilah menyusul adikmu yang manis itu, Aku seorang anak sebatang kara, Apa perlu kau perhatikan diriku? Biarkan saja aku terombang-ambing dari ujung langit ke ujung langit, Biarkan aku seperti sebuah perahu, tergulunggulung ombak dari laut ke laut."
Bingung juga Sin Houw menghadapi gadis yang bertabiat luar biasa ini, ia kehilangan akalnya, Tak tahu lagi ia apa yang harus dilakukan.
ia jadi membungkam mulut.
Giok Cu menjadi jengkel sekali melihat Sin Houw terteguntegun kehilangan akal, Hatinya panas bukan main.
Terus saja ia menyambar guci abu ibunya.
Dan pergi dengan langkah lebar.
Tentu saja Sin Houw tersentak kaget.
serunya gugup.
"Hey, kau mau ke mana?"
"Apa perdulimu!"
Sahut Giok Cu sengit.
Mau tak mau Sin Houw terpaksa menyusul, ia mencoba mengajak berbicara, tetapi gadis itu tetap membungkam mulut, sikapnya sengit dan tak perduli, sampai mereka tiba disebuah kota kecil yang sunyi.
Karena malam hari telah tiba, Sin Houw mencari sebuah pondokan untuk menginap, Giok Cu membeli seperangkat pakaian laki-laki, ia hendak menyamar sebagai seorang pemuda seperti dahulu.
Sin Houw tahu gadis itu tak membekal uang cukup.
Dahulu, ia meninggalkan rumah asal pergi saja, Maka ia memberinya dua keping emas.
Tetapi Giok Cu menolaknya.
Katanya.
"Aku tak butuh uangmu, Kau simpan saja untuk adikmu yang manis. Kau tunggu saja disini, sebentar lagi aku akan menjadi seorang hartawan. percaya atau tidak?"
Sin Houw tak dapat menebak hati-nya.
segera ia menutup pintu kamarnya, setelah gadis itu mengundurkan diri.
Dan baru pada keesokan hatinya ia mengerti makna kata-kata Giok Cu.
Pagi hari itu, tatkala ia meneruskan perjalanannya kembali, terdengarlah percakapan orang sepanjang jalan, bahwa seorang hartawan dikota itu semalam kebobolan, Sekantong emas dan uang tunai hilang lenyap digondol maling!
Sin Houw mengerutkan kening, ia mengerling kepada Giok Cu, Gadis itu sekarang nampak segar cerah.
ia menyelipkan sebuah kantong di pinggangnya.
Dan kedua saku celananya terdengar gemercik, Katanya, ia sekarang memiliki cukup uang yang diterimanya dari sang dewa yang semalam turun dari langit.
Maka tahulah Sin Houw, bahwa kawannya berjalan itulah yang semalam menjadi maling, Diam-diam ia mengeluh di dalam hati.
Gadis itu cerdik dan gagah.
Akan tetapi tabiatnya memang luar biasa.
ia merasa diri tak dapat melayani.
ingin ia berjalan seorang diri, tetapi ia tak sampai hati untuk meninggalkan gadis itu seorang diri, Bukankah gadis itu seorang yatim piatu?
Bukankah ia sudah berjanji pula terhadap almarhum ibunya ...?
Hari itu tibalah mereka di Kim-hoa, Masih saja Giok Cu membungkam mulut, ia berjalan seenaknya sendiri.
Kadang-kadang lewat pengempangan sawah, kadang pula menyeberang sungai.
Malahan dua tiga kali memanjat pohon dan tidur beristirahat diatas dahan.
Dan Sin Houw terpaksa mengikuti serta menunggu dengan sabar hati, pikirnya dalam hati.
"Sampai kapankah dia mengumbar adatnya ini? Mudahmudahan aku dikaruniakan Tuhan usus panjang ...!"
Tatkala matahari condong ke barat -tiba-tiba terlihatlah awan hitam datang berarak-arak.
udara cepat sekali menjadi hitam kelam, Hujan deras mulai mengancam.
Angin bergulungan menghantam dinding-dinding gunung, sehingga memantulkan suara beraung.
Mereka berdua mempercepat langkah, agar dapat mencapai sebuah dusun tak jauh di depannya, tetapi baru saja berjalan lima atau enampuluh langkah, hujan telah turun dengan derasnya.
Sin Houw tadi membeli payung.
Dengan demikian ia tak perlu khawatir kehujanan, Sebaliknya, Giok Cu yang sedang mengumbar adat, terus saja berjalan cepat-cepat untuk mencari tempat meneduh, Tetapi sudah sekian lamanya tetap saja tak nampak olehnya sebuah rumah atau apa saja untuk tempat berlindung.
Tak mengherankan ia jadi basah kuyup.
Namun ia tak sudi menyerah kalah.
Masih saja ia berlari-larian ke sana ke mari seperti seekor tikus hendak membebaskan diri dari sebuah kubang air.
Sin Houw lari mendekati.
Dengan cepat ia dapat menyusulnya, bahkan melewatinya.
Kemudian ia menyerahkan payungnya sambil berkata.
"Pakailah payungku ini!"
Giok Cu membandel. Tak sudi ia menerima belas kasih siapapun. Dengan mengatupkan bibir, ia menolak payung itu kesamping.
"Giok-moay!"
Kata Sin Houw membujuk.
"Bukankah kita berdua sudah mengangkat saudara? Kita telah bersumpah hendak sehidup semati. sedang dan susah akan kita pikul bersama juga, Kenapa kau bersikap demikian terhadapku?"
Mendengar perkataan Sin Houw, kekerasan hati Giok Cu luluh, Sahut gadis itu.
"Baik, Jadi kau tidak senang apabila aku marah kepadamu? Jika begitu, kau harus berjanji kepadaku."
"Coba, sebutkan."
Kata Sin Houw.
"Kau boleh mengikat janji kepadaku dan aku akan selalu menerima dan taat kepada janji yang mengikatku."
"Benar begitu?"
Giok Cu mencibirkan bibir.
"Kalau begitu, dengarkan, Sejak hari ini kau harus berjanji tidak akan bertemu lagi dengan Cie Lan, Bila kau terima syaratku ini, segera aku akan mohon maaf kepadamu,"
Dan ia tertawa manis-manis sekali.
Sin Houw tertegun.
ia merasa diri sulit menerima perjanjian itu, ia merasa berhutang budi terhadap Cie Lan.
juga terhadap ibunya.
Kepada mereka berdua ia hendak membalas budinya, Karena itu, tak dapat ia menerima syarat Giok Cu.
"Memang sudah kuduga, bahwa kau takkan dapat mengabaikan Cie Lan yang manis luar biasa."
Giok Cu menggerutu Kemudian dengan mendadak, ia lari ke tengah hujan lebat.
"Hey, Giok Cu!"
Sin Houw gugup.
Giok Cu tidak menghiraukan.
ia lari terus.
Makin lama makin menggila, syukurlah, pada sebuah tikungan, ia melihat sebuah barak kosong, segera ia berteduh dan bermaksud bersembunyi.
Akan tetapi Sin Houw dengan tiba-tiba saja sudah berada dibelakangnya.
Gadis itu dalam keadaan basah kuyup, padahal ia mengenakan pakaian dari bahan tipis.
Maka bentuk tubuhnya yang ketat padat nampak menggiurkan.
"Kau memang senang menghina diriku."
Katanya menggerutu.
"Menghina bagaimana?"
Sin Houw heran.
"Sesudah tidak memperoleh perhatianmu, kau senang sekali aku dalam keadaan begini."
Secara wajar Sin Houw meruntuhkan pandang kepadanya.
Dan kulit Giok Cu yang hanya teraling sehelai pakaian tipis, tiba-tiba saja mendebarkan hatinya, ia jadi tahu diri, terus saja ia menanggalkan pakaian rangkapnya dan diselimutkannya.
Mendadak saja Giok Cu menangis dengan sedih.
Dan kembali lagi Sin Houw jadi tercengang, Kesalahan apa lagi yang telah diperbuatnya?
ia tak tahu bahwa dengan tiba-tiba saja Giok Cu teringat akan cinta kasih ibunya begitu Sin Houw menyelimuti tubuhnya yang basah kuyup dengan kain rangkap yang kering hangat.
Dan ibunya kini telah tersimpan rapat didalam guci yang di bawanya.
Sin Houw membiarkan gadis itu menangis sepuasnya.
Menghadapi gadis yang luar biasa itu, ia harus dapat menahan diri.
Hanya saja, sampai hujan berhenti, masih saja Giok Cu menangis sedih.
suatu kali, ia melihat gadis itu mencuri pandang kearahnya, Aneh, begitu beradu pandang, tangisnya makin menjadi-jadi.
"Baiklah,"
Pikir Sin Houw didalam hati.
"Aku ingin tahu sampai kapan kau betah menangis. Apakah air matamu melebihi lautan Atlantik? Hm, benar benar aku ingin tahu!"
Tentu saja Giok Cu tak mengetahui apa yang terpikir didalam hati pemuda itu.
ia terus menangis dan menangis sampai tiba-tiba terdengar suara langkah terantuk-antuk batu mendekati barak.
Dan lama kemudian, nampak seorang lakilaki memayang seorang perempuan.
Nampaknya perempuan itu menderita sakit, ia merintih dan mengerang.
Laki-laki itu iba kepadanya.
ia mencoba meringankan penderitaannya dengan kata-kata bujukan.
Dan oleh munculnya mereka berdua, Giok Cu berhenti menangis.
Tak sengaja, ia memperhatikan gerak-geriknya, Juga Sin Houw tak terkecuali.
Dan tiba-tiba saja timbullah suatu pikiran didalam benaknya.
Tak lama kemudian, sepasang suami isteri itu meneruskan perjalanannya dengan tertatih-tatih, sebentar Giok Cu mengikuti dengan pandang matanya.
Lalu bersiap-siap hendak meneruskan perjalanannya pula, selagi hendak meninggalkan pintu keluar, tiba-tiba ia mendengar Sin Houw memekik tertahan.
"Aduh ... aduuuuh!"
Kaget ia memutar tubuh.
Dan pada saat itu ia melihat Sin Houw meliuk-liuk menahan sakit.
Kedua tangannya menekan perut dan mengaduh terus-menerus oleh rasa kaget, Giok Cu melompat dengan membawa gucinya, Kemudian diletakkan diatas tanah sambil berseru gugup.
"Kenapa?"
Sin Houw tak menjawab. ia rebah terduduk diatas tanah, Keringan dingin membasahi seluruh tubuhnya.
"Kenapa? Sakit perut?"
Giok Cu menegas.
Tetap saja Sin Houw tak menyahut.
ia meringis kesakitan dan terus merintih .
Tetapi didalam hatinya ia berkata -"sekali bermain sandiwara, tak boleh kepalang tanggung...
memperoleh keputusan itu, ia menahan napas.
sebagai seorang pemuda berilmu tinggi ia dapat mengatur napasnya sesuka hatinya.
Dan begitu napasnya tertahan, sekujur badannya dingin dengan mendadak.
"Sebenarnya kau kenapa?"
Giok Cu gugup tak keruan.
Kali ini hatinya benar benar sibuk.
ia meraba pergelangan tangan Sin Houw, Dingin!
Dan ia lantas menangis kebingungan.
Maklumlah, selamanya belum pernah ia merawat orang sakit.
Bahkan ibunyalah yang selalu merawat dirinya bila sakit, Karena itu cepat sekali ia kehilangan akal.
Sin Houw benar-benar tak mau kepalang tanggung, Dengan tersekat-sekat ia berkata.
"Giok-moay, agaknya sakitku ini tak dapat disembuhkan lagi, Kau berangkatlah seorang diri, jangan perdulikan aku..."
"Tapi, kenapa? Kenapa kau mendadak sakit? Kenapa?"
Giok Cu setengah menjerit.
"Giok-moay, sebenarnya aku mempunyai penyakit turunan."
Sahut Sin Houw dengan suara lemah.
"Setiap kali aku menjadi sedih atau merasa mendongkol penyakit itu kambuh, sekarang hatiku pepat, sedih dan mendongkol. perutku lantas sa ... aduh!"
Benar-benar Giok Cu kebingungan.
Lupa dia kepada adat zaman itu, terus saja ia merangkul, Kemudian mengurutngurut dada dan perut Sin Houw.
Sin Houw jadi kegelian sendiri, ia malu dan kikuk kena dipeluk seorang gadis.
Apalagi kena peluk seorang gadis basah kuyup yang membuat bentuk badannya jadi jelas dan bergairah.
"Sin koko! Tak boleh kau mati ... Memang akulah yang membuat hatimu sedih, mendongkol dan..."
Giok Cu meratap.
"Memang aku seorang gadis tak tahu diri, seorang gadis sebatang kara yang berkepala batu, Koko, aku berjanji tidak akan membuatmu sedih dan mendongkol lagi."
Mau tak mau Sin Houw tertawa di dalam hati, ia berhasil dalam peranannya, Berkata didalam hati.
"Aku kini kena peluknya, Kalau sandiwaraku bubar tengah jalan, aku bakal dikecam sebagai seorang pemuda kurang sopan ..."
Dan ia terus merintih-rintih panjang dan pendek. Kemudian ia mengeluh mengambil hati.
"Tak dapat aku hidup lebih lama -Giok-moay ...kalau aku sampai mati... jangan kau bakar diriku, Aku, takut panas. Karena itu kubur saja dengan wajah tengkurup, Lalu ... carilah .. suhengku dan kabarkan tentang nasibku .. yang buruk ini aduuuuh!"
"Tidak! Tak boleh kau mati!"
Giok Cu menangis.
"Sebenarnya aku hanya berbohong dan bermain sandiwara kepadamu. Aku tidak marah kepadamu. Yang kuharapkan, agar kau menaruh perhatian kepadaku. Koko... aku sayang padamu... jika kau mati, akupun akan bunuh diri dan mati didampingmu..."
Hati Sin Houw tergetar. Gadis itu berkata dengan sungguhsunggun diantara tetesan air mata, Mustahil dia sedang bersandiwara seperti dirinya. Maka ia berpikir didalam hati.
"Akh, aku tidak sangka bahwa dia menyintai aku."
Dan aneh memperoleh pikiran demikian, mendadak saja hatinya terselimut perasaan syukur dan bahagia.
ia lantas jadi bimbang.
Apakah ia harus bersandiwara terus?
Dalam pada itu rangkulan Giok Cu terasa makin erat, Gadis itu sedih dan cemas bukan kepalang.
ia mengira Sin Houw benar-benar tak tertolong lagi.
ia mengeluh sedih.
"Koko ... jangan tinggalkan aku. Kau tak boleh mati, atau matilah bersamaku !"
Hati Sin Houw benar-benar tergoncang, Tiba-tiba saja berkelebatlah bayangan Hong Kiauw dan Cie Lan.
Kemudian ayah-bunda, kakak tertua dan saudara perempuannya, seketika itu juga teringatlah dia kepada darma yang harus dilakukan.
Oleh pikiran itu, ia jadi malu -kepada dirinya sendiri.
Terus saja ia menguraikan rangkulan Giok Cu.
Kemudian berkata.
"Giok Cu. Kau mengaku hanya bermain sandiwara terhadapku dengan berpura-pura marah, Akupun sebenarnya sedang bersandiwara pula terhadapmu. Maafkan aku."
Setelah berkata demikian ia tertawa terbahak-bahak untuk meyakinkan gadis itu.
Tentu saja, pengakuan itu membuat hati Giok Cu kaget dan malu bukan main, ia tercengang sejenak.
Tiba-tiba ia melayangkan tangannya menampar telinga Sin Houw, Kemudian melompat bangun dan lari dengan membawa guci abu.
Telinga Sin Houw terasa pengang, Tamparan itu benarbenar tak terduga olehnya, Lagipula terlalu dekat, sebagai seorang pendekar yang memiliki kepandaian tinggi, sebenarnya dapat ia mengelak atau menangkis.
Tapi ia tidak sampai hati membuat gadis itu kecewa.
Maka ia membiarkan dirinya di tampar, Hanya saja tak pernah mengira, bahwa tamparan Giok Cu terlalu keras.
itulah suatu tanda, bahwa gadis itu benar-benar marah.
"Akh, aku benar-benar semberono. Kalau kali ini ia marah benar-benar... itulah akibat kesalahanku sendiri."
Ia mengaku didalam hati, cepat ia melompat bangun dan terus mengejar, Dengan ilmu ringan tubuhnya yang sempurna, ia tak mengalami kesukaran sedikitpun untuk menyusul, sebentar saja ia sudah berada satu langkah dibelakang gadis itu.
"Giok Cu, maafkan aku!"
Katanya berulangkali.
Tetapi Giok Cu tak sudi mendengarkan.
Hatinya malu, menyesal dan...
marah.
ia merasa benar-benar dipermainkan, sebagai seorang gadis adalah tabu apabila membuka rahasia hatinya begitu jelas dihadapan seorang pemuda yang justru menjadi tambatan hatinya.
Tetapi setelah lari mengumbar adat selintasan lamanya, mendadak saja kekerasan hatinya jadi lemah dengan tak di kehendakinya sendiri, ia menoleh dan melihat pipi dan telinga Sin Houw merah akibat tamparannya, Makin ia menjadi perasa, Dan terjadilah suatu pergumulan hebat antara penyerahan dan keangkuhannya.
Akhirnya meletuslah perbendaharaan hatinya.
"Kau menjemukan sekali ..."
Girang hati Sin Houw mendengar kata-kata Giok Cu. Alangkah manis dan sedapnya, Semanis dan sesedap tetesan madu, Bukankah kata-kata itu sendiri berarti suatu uluran perdamaian, Maka sahutnya.
"Giok Cu, aku memang keterlaluan, Maafkan aku ..."
"Kalau sudah kumaafkan, lalu bagaimana?"
Giok Cu merengut.
"Aku senang!"
Giok Cu menundukkan kepalanya.
ia memperlambat larinya.
Akhirnya berjalan dengan langkah terantuk-antuk, Dan menjelang magrib mereka tiba di sebuah desa yang berada tak jauh didepannya.
Mereka berdua mencari rumah makan dan didalam rumah makan itu, barulah mereka dapat duduk berjajar dengan perasaan damai.
Dengan berdiam diri mereka saling pandang, Giok Cu masih agak basah pakaiannya, sedang Sin Houw tersenyum simpul.
"Hey, mengapa kau mengumbar mulut?"
Tegur Giok Cu.
"Apa yang kau gelikan?"
"Perutku."
Sahut Sin Houw seenaknya.
"Kenapa perutmu? sakit lagi?"
Dan gadis itu nampak sengit.
"Bukan, Lapar! Yang sakit adalah pipiku."
Giok Cu tertawa, Tawa manis sekali.
Sin Houw pun tertawa.
Akhirnya mereka tertawa berbareng, Dan pada detik itu pula, hati mereka benar-benar berdamai.
Mereka lantas bercakap-cakap sambil makan dan minum.
Malam hari itu mereka menginap di rumah seorang penduduk desa, Puas hati Giok Cu, karena Sin Houw ternyata seorang pemuda yang sopan.
Sama sekali ia tak menggoda atau mencoba membawa pembicaraan kearah tertentu.
Bahkan ketika rasa kantuk tiba, ia tidur menggeletak diluar gubuk, diatas seonggok jerami kering.
Keesakan harinya, mereka mandi disebuah sungai yang jernih airnya.
setelah ganti pakaian, berkatalah Sin Houw.
"Giok Cu. Kurasa tugas kita yang terpenting adalah mengantarkan abu ibumu mendaki gunung Hoa-san, Bagaimana pendapatmu?"
"Benar."
Giok Cu membenarkan."Tetapi bagaimana sebenarnya atau asal mulanya kau dapat menemukan makam ayah."
"Nanti kuberitahukan sambil meneruskan perjalanan."
Sahut Sin Houw.
Mereka mengisi perut dahulu.
Kemudian meneruskan mengarah ke barat dan sambil berjalan, Sin Houw menceritakan pengalamannya tatkala mula-mula menemukan goa Gin-coa Long-kun yang bersembunyi diatas puncak gunung Hoa-san.
Bagaimana ia memperoleh kitab dan peta warisan yang akhirnya dapat dipergunakan untuk menghancurkan ilmu kebanggaan keluarga Cio-liang pay.
Giok Cu girang berbareng berduka, ia girang karena ayahnya ternyata seorang "tay-hiap"
Atau pendekar besar yang pantas dikagumi.
sebaliknya ia berduka mengenangkan nasib ibunya yang malang.
Mengapa ibunya dilahirkan hanya untuk menderita?
Mengapa di dunia ini seolah-olah tiada kedamaian?
Masing masing membawa persoalannya sendiri yang penuh duka-cita.
Dan terasa sekali dalam hati manusia betapa sempit dan terlalu pendek masa damai yang dapat terteguk oleh insan yang benar-benar merindukan.
Kemudian Giok Cu berkata kepada Sin Houw.
"Sebenarnya bagaimana sih rupanya peta itu? Bolehkah aku melihatnya?"
"Kenapa tidak? ini adalah warisan ayahmu. sebenarnya harus kuserahkan kepadamu."
Sahut Sin Houw, Dan ia menyerahkan peta itu.
Giok Cu menerima dengan tangan gemetar, ia berdiam diri merenungi dan mempelajari.
Hatinya berduka berbareng girang, ia mencoba mengalihkan peta itu kedalam ingatannya, Tentu saja ia membutuhkan waktu berhari-hari lamanya dan pada suatu hari, tiba-tiba ia berkata.
"Sin koko, Lebih baik kita undur dahulu perjalanan kita mendaki gunung Hoa-san, Kurasa harta warisan ini sangat penting,"
Sin Houw heran.
"Penting bagaimana?"
Tanyanya.
"Bukankah peta ini menyebutkan tentang harta warisan? Kata ayah, barang siapa memperoleh harta ini, diwajibkan menyerahkan uang sebesar seratus ribu tail, Kalau begitu, jumlah harta warisan ini pasti luar biasa banyaknya, Barangkali kita mampu membeli sebuah pulau."
Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 4
Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 8