Ceritasilat Novel Online

Golok Halilintar 7

Eps 7 Golok Halilintar - Khu Lung

Baca online Golok Halilintar - Khu Lung

Cersil Golok Halilintar - Khu Lung.

"Hanya saja, aku belum pernah menciumnya, Sekarang, biarlah aku menciumnya."

"Tidak boleh!"

Giok Cu melarang menjerit.

Kali ini Kun Jie berani membangkang, ia menghampiri serumpun tanaman bunga itu lalu menciumnya.

Meluap amarah Giok Cu.

Serta merta ia meloncat dari tempatnya.

sekali melesat ia menyambar tangkai bunga itu, lalu dicabutnya, setelah dilemparkan ke tanah, ia mencabut yang lain demikianlah sampai tiga-ampat kali.

"Nah, kau sekarang puas, bukan? Benar-benar puas?"

Jerit Giok Cu.

"Kau menghina aku!"

Giok Cu berteriak.

"Kenapa kau cium bungaku? Biar kucabuti saja, Biar kau dimarahi susiok -bukankah kau tahu, siapa saja aku larang melihat bungaku? Kenapa kau malahan telah menciumnya? Biar kucabuti sajal"

Tiba-tiba ia lantas menangis sambil masih mencabuti tanaman bunganya.

Hebat sepak-terjangnya, seperti tadi, ia mengamuk.

sebentar kemudian taman bunganya telah menjadi rusak.

Thio Sin Houw tak dapat mencegah.

ia seperti tergugu melihat watak Giok Cu.

Tanaman bunganya, benar-benar diKun Jie tetap gusar, akan tetapi ia tidak berkata apa-apa, Melihat kira-kira ada empatpuluh batang bunga yang tercabut berantakan, ia memutar tubuh dan berjalan dengan penasaran.

Tatkala hendak menuruni gundukan, ia menoleh dan berkata.

"Aku selalu bersikap baik terhadapmu kenapa kau perlakukan aku begini rupa? Coba kau pikir baik-baik, Kau mempunyai budi pekerti atau tidak?"

Giok Cu masih menangis, jawabnya dengan ketus.

"Siapa yang menghendaki kau bersikap baik kepadaku? Jika kau tidak senang melihatku, silahkan kau mengadu kepada paman. Biarkan aku diusir dari sini! Malam ini aku akan tetap berada disini bersama saudara Sin Houw, nah, adukanlah hal ini kepada paman. sama sekali aku tidak takut."

Kun Jie menghela napas.

ia menundukkan kepala.

Hatinya pedih bukan main.

Dengan berdiam diri, ia menuruni gundukan.

Setelah bayangan Kun Jie hilang dari pengamatan, Giok Cu kembali memasuki paseban dan duduk disamping Sin Houw.

Kedua pipinya basah dengan air mata.

"Mengapa sikapmu begitu keras kepada kakakmu sendiri?"

Tanya Sin Houw.

"Dia bukan kakak kandungku,"

Sahut Giok Cu diantara isak tangisnya.

"Dia anak pamanku yang menguasai rumah kakek, dia kakak misanku. Akh, andaikata aku mempunyai ayah, pastilah aku tidak akan tinggal di rumah ini. Dengan mempunyai rumah sendiri, tak akan aku dihina orang."

Berkata sampai disitu, tangisnya kian menjadi-jadi, Sin Houw tetap belum mengerti perangai Giok Cu yang dianggapnya aneh, jalan pikirannya sukar dimengerti. Maka terpikir oleh Sin Houw.

"Rumah ini adalah rumah kakeknya, kini dikuasai oleh pamannya. Bukankah tetap satu keluarga? Mengapa dia merasa dirinya dihina keluarga pamannya?"

Berpikir demikian, Sin Houw lalu berkata .

"Kulihat dia bersikap baik kepadamu, justru kau yang terlalu galak terhadapnya."

Giok Cu mengangkat kepalanya, dan tiba-tiba ia tertawa, Sahutnya.

"Sekiranya aku tidak bersikap galak kepadanya, pastilah dia bakal memperlakukan aku yang bukan-bukan."

Jawaban Giok Cu terasa aneh bagi Sin Houw, ia bahkan berkesimpulan Giok Cu bukan manusia lumrah, pemuda itu bisa menangis menggerung-gerung dan tertawa riang secara mendadak.

inilah tanda-tanda seorang manusia berbahaya!

Walaupun demikian, karena Giok Cu seorang yatim seperti dirinya, hatinya bersimpati juga.

"Ayahku juga binasa karena aniaya orang seperti ayahmu."

Kata Sin Houw, menghibur.

"Waktu itu, aku baru berumur tujuh atau delapan tahun, ibuku juga binasa pada hari yang sama."

"Apakah kau sudah menuntut balas...?"

Tanya Giok Cu.

"Sampai hari ini, aku belum memperoleh kesempatan untuk ..."

"Kalau begitu, catatlah namaku didalam hatimu! Bila kau hendak menuntut balas, dengan sepenuh hati aku hendak membantumu"

Giok Cu memutus perkataan Sin Houw dengan suara prihatin.

"Tak perduli musuhmu sangat lihay ilmu kepandaiannya, aku akan membantumu."

Mendengar ucapan Giok Cu, Thio Sin Houw geli bercampur haru, Tadinya ia hendak menghibur dan memberitahukan betapa sikapnya terhadap orang-orang yang telah membunuh ayah dan ibunya.

Bahwasanya walaupun hati menyimpan dendam sedalam lautan, tak boleh mengumbar adat seenaknya sendiri.

Tetapi sekarang, dia justru dihibur oleh Giok Cu, Tak terasa terucaplah kata-katanya kepada teman barunya itu.

"Saudara Giok Cu, aku sangat berterima kasih terhadapmu!"

Giok Cu memegang pergelangan tangan Sin Houw, dan Sin Houw membalas pegangannya, Giok Cu membiarkan dan berkata.

"Dalam hal ilmu silat, aku kalah beberapa puluh kali lipat dari padamu, Akan tetapi mengenai sikap hidup didalam pergaulan, rupanya kau belum berpengalaman banyak. Dikemudian hari aku perlu menyumbangkan pikiranku."

"Akh, kau baik sekali kepadaku,."

Kata Sin Houw terharu.

"Selama hidupku -belum pernah aku mempunyai seorang teman seusiamu."

"Benarkah begitu? Tetapi tabiatku sangat buruk."

Giok Cu mengakui dengan menundukkan kepalanya.

"Yang aku khawatirkan, janqan-jangan dikemudian hari aku akan berbuat kesalahan terhadapmu."

"Aku telah mengenal tabiatmu sejak pertemuan kita yang pertamar"

Sahut Sin Houw.

"Umpama kau melakukan kesalahan terhadapku, tidak akan aku masukkan ke dalam hatiku benar-benar."

Mendengar ucapan Sin Houw, Giok Cu merasa bersyukur bukan main sampai ia menghela napas lega, Tiba-tiba, di luar dugaan ia berkata.

"Tetapi justru demikian, hatiku jadi merasa tak tenang."

"Mengapa?"

Giok Cu tak segera memberikan jawaban, ia semakin menundukkan kepalanya.

Melihat sikap sahabatnya itu, Sin Houw semakin heran.

Mengapa sehabatnya kali ini begitu lembut?

Kebengisan serta kegalakannya lenyap sama sekali dari perbendaharaan hatinya.

"Saudara Giok Cu!"

Kata Sin Houw dengan suara bergetar.

"Sebenarnya ingin aku mengajakmu berbicara. Tetapi entah kau sudi mendengarkan atau tidak?"

Giok Cu menegakkan pandangnya lagi. Menjawab meyakinkan.

"Di dalam dunia ini, hanya tiga orang saja yang kudengar perkataannya, Yang pertama, ibuku. Kedua, pamanku, Cu susiok. Dan yang ketiga adalah kau!"

Hati Sin Houw semakin tergerak. Berkata.

"Terima kasih. Kau ternyata menghargai diriku terlalu tinggi. sebenarnya, perkataan siapapun asal memang pantas, harus kau dengar."

"Tidak!"

Giok Cu menolak dengan tegas.

"Dalam dunia ini, tiada suatu kewajiban yang mengatakan begitu. seorang yang berbicara terlalu pantas, biasanya banyak ulatnya. sebab katakata saja belum tentu membawa sikap dirinya. sebaliknya, seseorang yang memperlakukan diriku sangat baik dan akupun berkenan padanya, meskipun kadangkala katakatanya tidak pantas, akan tetap kudengarkan perkataannya, sebaliknya, apabila hatiku jemu terhadapnya, walaupun katakatanya pantas didengar, aku akan bersikap tuli."

Thio Sin Houw tertawa geli, Katanya.

"Cara berpikirmu masih kekanak-kanakan, Sebenarnya, berapa umurmu kini?"

"Delapan atau sembilan belas tahun. Dan kau?"

"Mungkin lebih tua tiga atau empat tahun."

Giok Cu menundukkan kepalanya lagi. wajahnya mendadak bersemu merah lalu katanya dengan suara perlahan.

"Sejak masih kanak-kanak, aku hidup sebatangkara dengan ibu, Tidak mempunyai kakak maupun adik, Bagaimana kalau kita mengangkat saudara? Maukah kau menerimaku sebagai ..."

Thio Sin Houw seorang pemuda yang cermat, lantaran digodok oleh pengalamannya yang pahit sejak masih kanakkanak, itulah sebabnya, tak dapat ia menerima Giok Cu dengan segera.

Ia belum kenal Giok Cu sedalam da1amnya.

juga ibunya maupun keluarganya, Tercetaklah dalam ingatannya siang tadi, bahwa keluar Giok Cu merupakan musuh para penduduk setempat, oleh pertimbangan itu, ia jadi ragu-ragu.

Giok Cu ternyata sangat perasa, ia seperti dapat meraba keadaan hati Sin Houw, terus saja ia berputar tubuh dan lari menuruni tanjakan, Keruan saja Sin Houw jadi terkejut, dan cepat-cepat ia memburu.

Dalam sekejap saja bayangan Giok Cu terlihat sudah mulai mendaki bukit yang berada disebelah depan.

"Dia mudah tersinggung, lantaran tabiatnya keras dan aneh. Akh, tidak boleh aku mengecewakan hatinya, Dia bisa bersakit hati, dan kalau sampai hatinya merasa kulukai, jangan-jangan..."

Pikir Sin Houw selagi mengejar.

ia khawatir, Giok Cu akan nekat bunuh diri terjun ke dalam jurang.

Menilik adatnya yang aneh dan sukar diduga, bukan mustahil ia bisa berbuat begitu, Oleh pikirannya itu, segera Sin Houw menggunakan ilmu sakti Bok-siang tojin, Dalam beberapa rintasan saja, ia sudah dapat mendahului.

Kemudian berdiri menghadang.

Benar saja dugaannya, Giok Cu berusaha mengelakkan hadangannya dengan nyelonong ke sebelah kiri, Cepat Sin Houw melompat menghadang kembali sambil berseru.

"Giok Cu Hiantee, apakah kau marah kepadaku?"

Mendengar Sin Houw memanggil adik kepadanya, Giok Cu girang bukan kepalang, serentak ia berhenti, kemudian duduk bersimpuh dan perlahan-lahan ia menegas dengan hati-hati.

"Benarkah kau sudi memanggil adik kepadaku? Bukankah diriku tidak cukup berharga untuk kau panggil demikian?"

"Sejak kapan aku tidak menghargai dirimu?"

Sahut Sin Houw terharu.

"Mari! Di tempat ini kita saling mengangkat saudara, Kau mau, bukan?"

Terus saja Giok Cu bangkit dan berdiri tegak, kemudian masing masing mengiris kulit pergelangan tangannya sampai keluar darah, setelah itu, mereka memanunggalkan darah mereka masing masing dengan memipitkan pergelangan tangan.

Dengan disaksikan oleh langit dan bumi, mereka bersumpah saling mengangkat saudara.

Lalu Sin Houw memanggil adik kepada Giok Cu dan Giok Cu memanggil kakak kepada Sin Houw, perlahan ia mengucapkan perkataannya, lantaran hatinya terharu.

Lega hati sin Houw setelah selesai upacara itu, kemudian ia mengajak pulang karena hari sudah larut malam.

Giok Cu tidak membantah, dan mereka saling berendeng berjalan pulang, sampai didepan pintu kamar, Sin Houw berpesan.

"Jangan sampai ibu terbangun. Kita tidur disini saja!"

Mendengar perkataan Sin Houw, wajah Giok Cu merah dengan mendadak. ia tertawa manis seraya menolak tangan Sin Houw, Katanya.

"Kau... kau... sampai besok pagi ! "

Dan setelah itu, ia lari keluar.

"Aneh!"

Pikir Sin Houw yang merasa tidak mengerti.

***** SEPERTI BIASANYA, pada keesokan harinya Sin Houw bangun pada pagi buta, ia bersemedi dulu agar memperoleh kesegaran dalam dirinya.

Satu jam kemudian, pelayan perempuan yang semalam datang mengantarkan air teh hangat.

Cepat-cepat Sin Houw melompat turun dari ranjangnya, dan mengucapkan terima kasih.

setelah mencuci muka, ia makan pagi yang juga telah tersedia dihadapannya, Dan selagi makan, Giok Cu muncul diambang pintu memasuki kamarnya.

"Marilah kita makan pagi bersama ..."

Sin Houw menawari. Giok Cu tertawa, Sahutnya.

"Terima kasih. Apakah Sin-ko akan melihat suatu keramaian?"

"Keramaian apakah itu?"

Tanya Sin Houw heran.

"Seorang gadis datang pada pagi hari buta tadi, untuk menagih emas, Mari kita lihat!"

Sebenarnya Sin Houw ingin minta keterangan tentang kata-kata "menagih"

Itu, Tetapi karena Giok Cu sudah mengajaknya, ia lantas mangut dan berkata.

"Baik!"

Berdua mereka memasuki sebuah gedung yang mempunyai ruangan olah raga, Di ruangan itu, mereka melihat seorang gadis sedang bertempur melawan Kun Jie, Dan dua orang lain, nampak duduk di atas kursi diluar gelanggang, Yang seorang bersenjata sebatang tongkat, dan yang lainnya bertangan kosong.

Giok Cu mendekati orang yang bersenjata tongkat, ia membisik.

Orang itu menoleh kepada Sin Houw, ternyata dia seorang yang sudah berusia lima puluhan tahun lebih.

Rambutnya, kumisnya dan jenggotnya sudah banyak ubannya, ia menatap Sin Houw beberapa saat lamanya dengan penuh perhatian, kemudian memanggut-manggut.

Thio Sin Houw hanya membalas memandang beberapa detik, kemudian mengalihkan perhatiannya kepada gadis yang sedang bertempur melawan Thio Kun Jie, ia seorang gadis berumur sembilan belas tahunan, wajahnya cantik sekali.

Gerak-geriknya gesit, pakaiannya berwarna merah.

Diam-diam Sin Houw mencoba menduga duga siapakah gadis itu, setelah pertempuran berlangsung sepuluh jurus.

Gadis berpakaian merah itu gesit gerakannya dan cantik orangnya, hati Sin Houw tercekat, ia melihat sua tu gerakan pedang yang sangat dikenalnya.

ujung pedang itu menyambar pundak Kun Jie, lalu dengan tiba-tiba berbelok sasaran menikam leher, inilah gerakan salah satu jurus ajaran gurunya, Bok Jin Ceng!

Mereka berdua memang bertempur dengan menggunakan senjata, Gadis itu memegang sebatang pedang, dan Kun Jie menggunakan sebatang golok.

Masing-masing nampak mahir sekali menggunakan senjata andalannya.

Tadi gadis itu menyambar pundak, Kun Jie segera menangkis dengan mengadu tenaga.

Kena tangkisan Kun Jie, pedang gadis itu terpental.

justru pada saat itu, mendadak pedangnya menikam leher.

Kun Jie kaget sampai melesat mundur tiga langkah, namun gadis itu tak sudi memberi waktu bernapas.

Gesit sekali, ia melesat, sebelah tangan dan kedua kakinya bekerja saling menyusul.

Menyaksikan hal ini, Thio Sin Houw ber-bimbang hati, jurus itu jelas bukan merupakan ajaran gurunya, Maka pikirnya didalam hati.

"Bagaimanapun juga, dia pasti sudah pernah menerima jurus-jurus ajaran suhu. Setidak-tidaknya, termasuk golongan suhu, Jangan-jangan dia adalah murid salah seorang saudara seperguruanku. Sekiranya dia tidak memiliki ilmu pedang itu, takkan mungkin ia bisa membuat Kun Jie benar-benar repot,"

Gerak-gerik gadis itu memang cepat dan gesit, pedangnya berkelebatan.

Namun dibandingkan dengan kepandaian Thio Kun Jie, ia masih kalah ulet, Tak perduli pedangnya garang bagaikan jari maut, namun dia bukan tanding Kun Jie.

Sin Houw melihat, dalam beberapa gebrakan lagi, gadis itu akan segera terdesak.

Dan penglihatannya ternyata tepat.

Beberapa jurus kemudian, Kun Jie yang sudah tenang kembali, mulai melancarkan serangan-serangan yang berbahaya.

Dan gadis itu mundur selangkah demi selangkah dengan berputaran.

"Hemm!"

Dengus Giok Cu.

"Dengan berbekal kepandaian begitu, dia sudah berani main labrak disini!"

Giok Cu tertawa tawar.

"Dia bukan tanding kakak misanku, bagaimana menurut pendapatmu ?"

Thio Sin Houw belum menjawab atau ia melihat berkelebatnya babatan golok Kun Jie yang berbahaya sekali.

waktu itu, gerakan lawannya mulai kendor, itulah kesempatan sebaik-baiknya bagi Kun Jie untuk memperkembangkan ilmu goloknya.

Setelah merangsak beberapa kali, goloknya bergerak melintang.

Dan gadis itu terancam pinggang serta lengannya sekaligus!

Hati Thio Sin Houw tercekat, Melihat suatu kegentingan, tanpa berpikir panjang lagi ia melompat memasuki gelanggang pertempuran.

Kedua tangannya menyekat garis tengah.

Itulah berbahaya sekali, karena kedua orang itu sedang mengayunkan senjata, Giok Cu yang menyaksikan hal itu, memekik kaget.

Dan kedua orang tua yang berada diluar gelanggang meloncat bangun, tetapi baik Giok Cu maupun kedua orang tua itu tak sempat lagi mencegah perbuatan Sin Houw.

Thio Sin Houw sudah barang tentu menyadari akan ancaman bahaya itu, Tetapi pada detik yang menentukan tangan kanannya menolak lengan Kun Jie dengan perlahan, dan tangan kirinya menangkap pergelangan tangan si gadis dengan perlahan pula.

Berbareng dengan gerakannya itu, ia mengendapkan diri, Dengan demikian, terbebaslah dirinya dari ancaman maut.

Gerakan Thio Sin Houw nampaknya sederhana saja, hanya akibatnya diluar dugaan siapapun.

Tatkala mengendapkan diri, ia menggempur tekanan tenaga mereka dengan ilmu saktinya yang lunak.

Begitu terpotong, baik pedang maupun golok, gagal mencapai sasaran.

Dalam keadaan demikian, Thio Sin Houw bisa leluasa merampas senjata mereka.

Namun ia tak berbuat begitu, karena khawatir akan menyinggung kehormatan diri Kun Jie, sebaliknya karena gerakan ilmu saktinya utuh, kudakuda mereka berdua kena digempur sampai mundur sempoyongan dua-tiga langkah.

Keruan saja mereka kaget sampai memekik tertahan.

Setelah bisa memperbaiki diri, mereka menjadi gusar dengan alasannya masing-masing.

Terlebih hati Thio Kun Jie yang memang sudah dengki terhadap Sin Houw.

Didepan adik misannya, harga dirinya runtuh.

ia malu sekali sampai tak dapat memejamkan mata satu malam suntuk, sekarangpun dirinya diperlakukan sangat ringan dihadapan adik misannya, malahan kedua orang tua yang berada di luar gelanggang pula.

Tak mengherankan hatinya menjadi panas seperti dibakar.

Sebaliknya gadis itu gusar, lantaran mengira Sin Houw membantu Kun Jie, Menurut kata hati, ingin ia menggerakkan pedangnya, Tetapi segera ia menyadari, bahwa kepandaian pemuda itu sangat tinggi.

Maka dengan terpaksa ia mengendalikan rangsangan hatinya, kemudian mundur dua langkah dan hendak mengangkat kaki.

"Kouwnio, tunggu!"

Seru Sin Houw.

"Aku ingin bicara denganmu!"

"Tak dapat aku melawanmu!"

Sahut gadis itu diantara rasa marahnya.

"Tetapi seseorang berkepandaian beberapa kali lipat tingginya dariku, akan datang mengambil emasnya kembali. Mau berbicara apa lagi?"

Thio Sin Houw mendekati, memberi hormat dan berkata lagi.

"Jangan kau menuruti kata hati saja, bersabarlah sedikit, sebenarnya siapakah namamu, dan dari mana asalmu? Bolehkah aku ..."

"Tak tahu malu!"

Gadis itu ber-sungut dan meludah dilantai, lalu sekali loncat ia sudah keluar pintu, Thio Sin Houw segera mengejarnya.

Akan tetapi, ia membiarkan gadis itu mencapai serambi depan dulu, Kemudian, dengan sekali loncat ia melesat bagaikan terbang.

Tahu-tahu ia sudah menghadang didepan gadis itu, katanya setengah membisik.

"Sst! jangan pergi dulu, Aku akan membantumu ..."

Gadis itu tercengang sampai menghentikan langkahnya, sambil menatap wajah Sin Houw, ia menegas.

"Siapakah kau?"

"Aku Sin Houw!"

Gadis itu mengerutkan dahinya, ia menatap wajah Sin Houw kian tajam, Menguji.

"Kenalkah dengan Nie susiok?"

Mendengar pertanyaan itu, Sin Houw menggigil. siapa lagi yang disebut Nie susiok, kalau bukan si paman bisu? Terus saja ia memperkenalkan nama lengkapnya.

"Aku Thio Sin Houw, bukankah kau Cie Lan?"

Mendadak saja, wajah gadis itu berseri-seri, oleh rasa girang, ia lupa diri, Terus saja disambarnya tangan Sin Houw, dan ditariknya mendekati serunya.

"Benar, aku Ci Lan! Dan kau ....? Benar-benarkah kau sin Houw koko?"

Tetapi setelah mengucap demikian, justru ia tersadar, Dengan wajah merah, ia melepaskan pegangannya. Tepat pada saat itu, terdengar Thio Kun Jie berkata.

"Akh, kukira siapa kau saudara Sin Houw, Kiranya kau adalah mata-mata dari Thio Su Seng yang merembes kemari!"

Thio Sin Houw tercengang.

ia me mang mengetahui nama Thio Su Seng sebagai pahlawan pejuang, dan gurunya bahkan merupakan pembantu utama dari pahlawan pejuang itu.

Tetapi kalau dia kini datang ke rumah keluarga Thio sebagai mata-mata dari pejuang itu, sama sekali tidak benar, Maka berkatalah ia memberikan keterangan.

"Aku memang mengagumi pahlawan pejuang bangsa itu, dan aku bahkan kenal dengan panglima Thio Hian Cong tetapi tidak benar apabila aku dikatakan sebagai mata-mata dari mereka. Mengapa kau bisa menuduh demikian? Apakah karena aku kenal gadis ini? Dialah sahabatku sejak kami masih kanak-kanak. sepuluh tahun lebih kami berdua tidak pernah bertemu pandang. sekarang bolehkah aku minta keterangan kepadamu, apa sebabnya kau bentrok dengan sahabatku ini? Bagaimana pendapatmu mana-kala aku memberanikan diri, untuk mendamaikan perselisihan kalian berdua?"

"Apabila emas yang kuminta bisa dikembalikan, barulah persoalan selesai!"

Kata Cie Lan.

"Hemm! Begitu gampang?"

Dengus Kun Jie.

"Saudara Kun Jie, mari kuperkenalkan ..."

Sin Houw mencoba meredakan ketegangan.

"Dia bernama Cie Lan, seperti kataku tadi, sejak kanak-kanak kami berdua pernah hidup dibawah satu atap, sampai pada hari ini, lebih dari sepuluh tahun lamanya kami tak pernah bertemu, Mari, aku perkenalkan ..."

Kun Jie tetap bersikap dingin. ia mengawasi Cie Lan dengan pandang tegang. Melihat hal itu, hati Sin Houw menjadi tak enak, Cepat-cepat ia mengalihkan pembicaraan. Katanya kepada Cie Lan.

"Bagaimana kau segera mengenali diriku?"

"Tanda bekas luka didahimu, sebelah kanan!"

"Tanda bekas luka?"

Thio Sin Houw meraba dahinya dengan tercengang.

"Bagaimana aku bisa melupakan kejadian dulu itu, tatkala kau dilukai, penculik yang mencoba melarikan aku, seumpama kau tidak berusaha menolong diriku dengan mati-matian, entahlah bagaimana akibatnya. Apakah peristiwa itu tak pernah terkenang lagi olehmu?"

Merah wajah muka Sin Houw, sambil menurunkan tangan dari dahinya, ia menyahut.

"Tak mungkin kulupakan. Bukankah waktu itu kita sedang bermain-main?"

Giok Cu yang selama itu mendengarkan pembicaraan mereka, tiba-tiba ikut bicara.

"Kalau masih hendak berbicara berkepanjangan lagi, masuklah ke dalam !"

Tetapi Sin Houw tidak menghiraukan, gelisah ia minta keterangan kepada Cie Lan.

"Sebenarnya, bagaimana asal mulanya, kau sampai bentrok dengan saudara Kun Jie?"

"Aku dan ciu suheng kena pegat."

Cie Lan memberikan keterangan.

"Ciu suheng? siapakah dia?"

Tanya Sin Houw.

"Dia adalah keponakan luar dari Siok-hu Thio Hian Cong."

Kata Cie Lan menerangkan.

"Kami berdua sedang mengantarkan uang mas milik Thio Su Seng untuk propinsi Ciat-kang. Dan orang busuk itu tiba-tiba merampasnya!"

Dan Cie Lan menunjuk Giok Cu.

Sekarang, barulah jelas bagi Sin Houw bahwa uang emas rampasan Giok Cu sesungguhnya milik laskar pejuang yang dipimpin oleh Thio Su Seng, Dan setelah ia mengetahui uang perbekalan itu kena dirampas, sudah seharusnya ia tidak akan tinggal diam, jangan lagi terhadap pahlawan pejuang bangsa itu, seumpama uang emas itu milik CieLan atau ibunya, dalam keadaan demikian ia akan berpihak padanya.

sekalipun terhadap Giok Cu.

Lagipula, uang emas itu pasti sangat penting artinya untuk perbekalan perjuangan bangsa.

Karena itu sudah seharuanyalah kalau ia membantu-nya!

Setelah memperoleh keputusan demikian, ia berkata kepada Giok Cu.

"Hiantee! Maukah kau mengembalikan uang emas itu kepadanya?"

"Hmm!"

Giok Cu mendengus.

"Menghadaplah sendiri kepada kedua pamanku itu. Ajaklah beliau berbicara!"

Mendengar syarat itu, Thio Sin Houw segera menghampiri.

Karena dia telah menjadi saudara angkat Giok Cu dan ternyata kedua orang tua itu adalah pamannya, maka tiada jeleknya apabila dia berlutut untuk memberi hormat kepada mereka, Demikian, setelah berhadapan maka Sin Houw bergegas hendak berlutut.

Orang tua yang memegang tongkat cepat-cepat berkata.

"Hey! Tak berani aku menerima penghormatanniu. Anak muda, kau bangunlah!"

Dimulut dia berbicara demikian manis, tetapi setelah ia menyandarkan tongkatnya, dengan tangannya ia memegang bahu Sin Houw, Kemudian diangkatnya sambil mengerahkan himpunan tenaga saktinya.

Thio Sin Houw terperanjat tatkala kena angkat orang tua itu, Apabila membiarkan diri, ia akan terlempar ke udara.

Maka iapun segera mengerahkan tenaga dalamnya agar badannya jadi seberat gunung.

Dengan menggunakan ilmu sakti itu, ia berhasil tetap berlutut dengan tubuh tak bergeming.

Didalam hati, orang tua itu menjadi sangat terkejut, Pikirnya.

"Hebat anak ini! sekian puluh tahun aku melatih menghimpun tenaga sakti , namun masih tak sanggup aku mengangkat tubuhnya,"

Ia lantas tertawa berkakakan sambil berkata.

"Selamat! selamat! pantas keponakanku memujimu sebagai seorang pemuda yang memiliki ilmu tinggi. Benarbenar tak tercela, dan aku telah membuktikannya sendiri!"

Giok Cu yang berada di belakang Sin Houw maju ke samping dan berkata memperkenalkan "lnilah pamanku yang ketiga, Sam-susiok. Dan ini adalah pamanku yang ke lima, Go-susiok ..."

Baik sang paman yang ketiga maupun yang ke lima, membungkam mulut.

Mereka seperti tak senang diperkenalkan kepada Thio Sin Houw.

Pemuda itu menjadi perasa, diam-diam ia merasa mendongkol.

Tetapi ia seorang pemuda yang pandai membawa diri, segera ia menoleh kepada Giok Cu dan berkata dengan suara tegas.

"Hiantee, aku minta dengan hormat agar emas itu segera kau kembalikan ke pada adikku!"

"Adik! Adik!"

Giok Cu jadi iri-hati.

"selalu saja kau sebut dia adik, Begitu besar perhatianmu kepadanya mengapa aku tak memperoleh perhatianmu yang layak?"

"Giok Cu Hiantee! Kita semua adalah golongan ksatrya, kalau tak mau di sebut sebagai golongan pendekar. Jangan kau bergurau keterlaluan!"

Kata Sin Houw tak memperdulikan ocehan Giok Cu.

"Emas itu kau rampas, karena kau tidak mengetahui siapa pemiliknya, Tak apalah! siapapun bisa berbuat salah. Dan hidup ini cukup lapang untuk me maafkan kesalahanmu itu. Tetapi setelah mengetahui bahwa uang emas itu adalah milik laskar perjuangan, sudah seharusnyalah kau kembalikan dengan segera, Malahan kita wajib mohon maaf yang sebesar-besarnya,"

Thio Ceng Sam yang menjadi Sam-susiok dari Giok Cu dan Thio Ceng Go sang paman kelima, jadi tak enak hati.

Tadinya mereka mengira, bahwa uang emas itu milik seorang saudagar besar yang sedang sial, Tak tahunya uang emas itu milik laskar perjuangan yang dipimpin oleh Thio Su Seng, sekarang setelah mereka mengetahui, seumpama gadis itu dapat diusir pergi, Thio Su Seng pasti akan mengirimkan laskarnya, siapa yang mampu menghadapi laskar yang besar jumlahnya?

inilah ancaman yang sangat membahayakan kesejahteraan keluarga Co-liang pay!

Memperoleh pertimbangan demikian, kembali Thio Ceng sam tertawa, lalu ia berkata kepada Giok Cu.

"Keponakanku, demi persahabatanmu dengan dia, kau kembalikanlah uang emas itu!"

Girang hati Thio Sin Houw mendengar perintah Thio Ceng Sam. inilah suatu keputusan yang bijaksana, Diluar dugaan, Giok Cu menyahut galak.

"Tidak, paman! Tak dapat aku kembalikan uang emas itu"

Thio Sin Houw tercengang. Tiba-tiba suatu ingatan menusuk benaknya, maka segera ia berkata.

"Oh, ya, Yang sebagian memang berada padaku, Biarlah aku mengembalikan dahulu kepadanya, bagaimana?"

"Jika yang sebagian kau yang menghendaki, aku akan segera menyerahkan kepadamu,"

Kata Giok Cu.

"Selamanya tak pernah aku menganggap sebungkus emas sebagai barang mustika dunia. Te-tapi kalau dia yang menghendaki aku mengembalikan uang emas yang telah aku rampas, hmm ... tak sudi aku menyerahkannya!"

Berkata demikian Giok Cu menuding Cie Lan dengan mata berapi-api. Cie Lan menjadi gusar, ia maju selangkah dan berkata bengis.

"Kau mau mengembalikan atau tidak ? Atau kau ada syarat-syarat tertentu? sebutkan!"

Giok Cu tak menghiraukan reaksi Cie Lan, masih saja ia menatap Thio Sin Houw, Menegas kepada pemuda itu.

"Sebenarnya kau berpihak dimana? Dia atau aku?"

Memperoleh pertanyaan demikian, Thio Sin Houw jadi bimbang, Hati-hati ia memberikan jawaban.

"Sebenarnya aku tidak memihak siapapun, hanya saja aku patuh kepada guruku."

"Gurumu? siapakah gurumu itu?"

"Guruku salah seorang panglima penting dalam laskar Thio Su Seng."

"Hemm!"

Dengus Giok Cu mendongkol.

"Pulang-balik, kau hanya membantu dia. Baiklah, Emas itu memang berada di sini. Tetapi kau sendiri tahu, betapa sulitnya aku mempertahankan emas itu. Malahan kalau tidak bernasib baik dan berakal jitu, pastilah jiwaku sudah melayang ditengah perjalanan. Karena aku memperoleh emas itu dengan akal dan keringat, maka kaupun harus merebutnya kembali dengan akal dan keringat pula, Aku beri waktu tiga hari, kau rebutlah emas itu. Tetapi bila dalam waktu tiga hari kau tak berhasil merebutnya, maka akupun tak akan bersegan-segan lagi terhadapmu!"

Thio Sin Houw menyambar tangan Giok Cu, dan diajaknya menyendiri. Katanya.

"Adikku, semalam kau berjanji mau mematuhi dan taat kepadaku, tetapi belum lagi setengah hari kata-katamu sudah berubah. Mengapa?"

"Jika kau perlakukan diriku dengan baik sekali, pastilah aku akan patuh pada setiap patah perkataanmu. Bukankah aku berkata begitu?"

Sahut Giok Cu cepat.

"Apakah aku bersikap tak baik kepadamu?"

Sin Houw tak mengerti.

"Benarkah aku tak dapat mengambil uang emas itu kembali?"

Kedua mata Giok Cu menjadi merah basah. Katanya.

"Baru semalam kau mengangkat diriku sebagai saudaramu, Tetapi begitu bertemu dengan sahabat lama, kau sudah tidak menaruh perhatian lagi kepadaku. seumpama aku hendak mengangkangi emas Thio Su Seng, apa yang aku andalkan? Paling-paling aku pasti mati, Ya, memang sebenarnya aku harus tahu diri, bahwa didunia ini tiada seorangpun yang menaruh belas kasih kepadaku.."

Hati Sin Houw tergetar. Tetapi jawaban Giok Cu tidak juga membuatnya puas, maka ia berkata untuk memberikan pengertian.

"Kau adakah adik angkatku, dan dia adalah puteri sahabatku, Baik dia maupun kau, kupandang sebagai bagian dari hidupku sendiri. Tiada sama sekali aku membedabedakan, mengapa kau bersikap kaku begini?"

"Sudahlah, jangan bicara berkepanjangan!"

Bentak Giok Cu.

"Kalau mempunyai akal, kau ambil saja emas itu dalam waktu tiga hari..."

Dan setalah berkata demikian, ia lari kedalam.

Thio Sin Houw menarik napas.

Hatinya masgul luar biasa.

Karena menumbuk suatu kegagalan, terpaksalah ia membawa Cie Lan keluar dari rumah keluarga Thio, dan menginap dirumah seorang keluarga petani.

Di rumah ini, Sin Houw minta keterangan asal-mula terjadinya perampasan uang emas itu kepada Cie Lan, Dan Cie Lan memberi keterangan terlalu sederhana.

ia seperti belum percaya penuh kepada Thio Sin Houw, Katanya, ia berdua Ciu suheng yang katanya menjadi keponakannya Thio Hian Cong pada suatu kali berpisah, dan pada saat itu enam kawalannya kena dirampas Giok Cu.

Karena emas itu menjadi tanggung jawabnya, ia lantas menyusul ke rumah keluarga Cio-liang pay.

"Selanjutnya, kau sendiri menyaksikan bagaimana kesudahannya,"

Cie Lan menutup ceritanya.

Melihat Cie Lan berbimbang-bimbang terhadap dirinya, Sin Houw membatalkan maksudnya yang hendak mengetahui latar belakang persoalannya, ia segera mempersiapkan diri dalam usahanya, hendak merebut uang emas itu kembali dari tangan Giok Cu.

Pada malam harinya, sekitar jam dua Sin Houw mengajak Cie Lan untuk mengintai gerak-gerik pihak Cio-liang pay.

Begitu melompat diatas genting, ia melihat gedung pertemuan terang-benderang oleh nyala api.

Thio Ceng Sam dan Thio Ceng Go duduk berhadap-hadapan dengan Giok Cu dan Kun Jie mereka makan-minum diseling pembicaraan yang menggembirakan, seolah olah sedang berpesta.

Sin Houw mencoba menguping pembicaraan mereka.

siapa tahu dengan tak sadar mereka menyinggung tentang uang emas yang disembunyikan.

selagi demikian, ia mendengar Giok Cu berkata seperti kepada dirinya sendiri.

"Bungkusan emas memang ada disini -siapa saja yang merasa diri mempunyai kepandaian, boleh ambil."

Dan setelah berkata demikian, ia tertawa melalui dadanya. Cie Lan menarik lengan Sin Houw, Bisiknya.

"Rupanya dia sudah mengetahui kita berada disini."

Thio Sin Houw mengangguk.

Meskipun demikian, pandang matanya tak beralih, ia melihat Giok Cu meletakkan dua buah bungkusan diatas meja, segera ia membukanya, dan terpantullah sinarnya yang bergemerlapan.

itulah emas yang dipertaruhkan.

Kemudian ia meletakkan pedangnya disampingnya.

Kun Jie yang duduk disampingnya, meletakkan pula goloknya diatas meja, Kemudian mereka meneguk minumannya dan menikmati penganan yang disediakan.

"Mereka sengaja memperlihat emasnya, dengan penjagaan yang rapi dan kuat, Tiada jalan lain, kecuali mengadu kekerasan. perlukah aku berbuat begitu?"

Pikir Sin Houw didalam hati, ia menoleh kepada Cie Lan untuk memperoleh pertimbangan tetapi gadis itu hanya membungkam mulut saja.

Setengah jam lamanya Sin Houw dan Cie Lan menunggu, mereka yang berada didalam gedung tetap saja duduk dikursinya masing-masing, Akhirnya terpaksa Sin Houw mengalah.

Dengan hati kesal ia mengajak Cie Lan pulang ke tempat pemondokannya.

Malam itu mereka merasa gagal merampas emasnya kembali.

Keesokan harinya sikap Cie Lan agak beda, ia tak menaruh sangsi lagi kepada Sin Houw, sekarang ia menceritakan tentang keadaan ibunya yang katanya dalam keadaan sehat dan seringkali membicarakannya.

Sin Houw lalu mengambil gelang emas kecil dari dalam sakunya, yang diperlihatkan kepada Cie Lan.

Katanya.

"lnilah gelang emas pemberian ibu mu, tatkala aku hendak berangkat mendaki gunung Hoa-san. Dahulu, pergelangan tanganku tidak sebesar sekarang, Karena itu gelang emas pemberian ibumu hanya kusimpan didalam saku, Aku selalu membawanya ke mana saja aku pergi."

Cie Lan tertawa. ia memperhatikan lengan Sin Houw dan gelang emas itu, lalu katanya mengalihkan pembicaraan mereka.

"Sepuluh tahun lebih kita tidak pernah bertemu, akupun tak pernah mendengar beritamu, Sesungguhnya, selama itu apa saja yang telah kau kerjakan?"

"Setiap hari aku hanya berlatih dan mendalami ilmu ajaran suhu."

Jawab Sin Houw sederhana.

"Pantas saja ilmu kepandaianmu hebat sekali."

Cie Lan memuji.

"Sewaktu kemarin kau menolak tubuhku, kedudukanku gempur."

"Tetapi, dari mana kau memperoleh ilmu pedang itu?"

Sin Houw minta keterangan .

"Siapakah yang memberimu pelajaran ?"

Memperoleh pertanyaan itu, tiba-tiba kelopak mata Cie Lan basah, jawabnya.

"Ciu suheng yang mengajari, Bukankah dia termasuk salah seorang murid golongan Hoa-san?"

Hati Sin Houw tercekat melihat kelopak mata Cie Lan yang menjadi basah dengan tiba-tiba. Tanyanya menebas.

"Apakah dia terluka dalam perjalanan ini?"

"Tak mungkin dia terluka ..."

"Kalau begitu, mengapa kau bersedih hati?"

"Aku dibiarkan berjalan seorang diri, dia berpisah dan meninggalkan aku tanpa pamit."

Cie Lan menundukkan kepalanya.

Thio Sin Houw tak mau mendesak.

Ia lantas mengalihkan pembicaraan tentang kemungkinan nanti malam, dalam usaha merebut kembali uang emas, Dan apabila sudah memperoleh kata sepakat, mereka lalu bersemedi menghimpun tenaga dalam masing-masing.

Larut malam, mereka mengintai lagi dari atas genting gedung pertemuan, seperti kemarin malam, Meja itu tetap terjaga oleh empat orang, Hanya saja kedudukan Thio Ceng Go ditempati oleh lain orang, Pastilah mereka itu termasuk pula anggauta keluarga Cio-liang pay.

Menurut keterangan Giok Cu, semua pamannya berjumlah lima orang.

Bila hanya dua orang memperlihatkan diri secara terang-terangan, tentunya yang tiga orang sedang bersembunyi di suatu tempat tertentu.

Thio Sin Houw seorang pemuda yang cermat, lantaran tergodok oleh pengalaman hidupnya sejak kanak-kanak.

Memperoleh dugaan demikian, segera ia mengisiki Cie Lan.

"Waspadalah! Pasti ada beberapa orang yang bersembunyi disekitar tempat ini, Kita mau mengintai mereka, jangan-jangan justru kita yang mereka intai."

Cie Lan manggut.

Sekonyong-konyong kedua alisnya berkerut, Tanpa minta pertimbangan, ia melompat turun.

Gerakan itu membuat hati Sin Houw terkesiap, segera ia mengejar dengan maksud mengawal dari belakang.

Cie Lan ternyata mengarah ke belakang gedung.

ia mencari dapur dan terus menyalakan api.

sebelum Sin Houw sempat memberi pertimbangan, dapur sudah dibakarnya, sebentar saja api menjilat tinggi sampai keatap gedung, seketika itu juga, seluruh anggauta rumah tangga menjadi kacau-balau, Gugup mereka lari berserabutan mencari air dan merobohkan ranting-ranting pohon untuk memadamkan api, Dan pada saat itu, Cie Lan lari balik keatap gedung pertemuan.

Tahulah Sin Houw akan maksud gadis itu.

ia hendak mengalihkan perhatian empat orang yang berada di dalam gedung pertemuan itu, Dan akal itu memang tepat sekali.

Tatkala mereka berdua telah berada diatas atap gedung pertemuan kembali, keempat orang tadi tiada nampak lagi.

Cie Lan girang, ia merasa dirinya cerdas dan akalnya berjalan dengan baik sekali.

Terus saja ia berseru kepada Sin Houw.

"Mereka sedang sibuk memadamkan api, mari kita bekerja!"

Dan segera ia melompat turun melalui jendela, Sin Houw mencontoh perbuatannya, tetapi ia berhenti bergelantungan di luar jendela, untuk menjaga kemungkinannya.

"lkut aku!"

Ajak Cie Lan.

Gadis itu tiba diatas lantai dan hendak segera menghampiri meja.

Sin Houw terpaksa pula mengikuti.

ia melihat bungkusan emas itu berada diatas meja tanpa penjaga.

Dan dengan bernapsu Cie Lan maju selangkah.

Tangannya menyambar.

Mendadak saja Sin Houw merasakan suatu keanehan.

Lantai yang di injaknya terasa lunak dan bergoyang, segera sadarlah dia, bahwa lantai itu merupakan lobang jebakan.

Cepat tangannya bergerak menjangkau tubuh Cie Lan, sambil melompat ke samping.

Tetapi terlambat!

sambaran tangannya gagal, pada detik itu juga, Cie Lan terjeblos kedalam lubang jebakan.

Sin Houw menjejakkan kakinya pada lantai yang menjeblak kedalam, tangannya menyambar dan berhasil mencapai tiang yang berada di sebelah meja.

Kemudian ia menurunkan kakinya pada dasar tancapan tiang itu, ia selamat, tetapi kaget dan cemas memikirkan nasib Cie Lan.

Dengan jantung bertebaran keras ia berpaling kearah jendela, Dan seseorang yang merasa terancam bahaya, biasanya menjadi peka oleh rasa naluriahnya, Apalagi Sin Houw seorang pemuda yang mempunyai pembawaan cerdas luar biasa.

Tiba-tiba saja ia menaruh curiga terhadap jendela itu, menurut dugaannya, pada jendela itulah terletak pesawat penggerak lantai jebakan.

Memperoleh dugaan demikian, terus saja ia melompat hendak menyelidiki.

Selagi badannya terapung diudara, angin tajam menyambar padanya.

Tahulah dia, seseorang menyerang dari belakang punggungnya, Cepat ia menangkis, suatu bentrokan terjadi.

Prak!

Dan orang itu terdorong mundur, Namun dia ternyata gesit, Begitu roboh diatas lantai, dia meletik bangun.

Thio Sin Houw tak sudi kena dilibat oleh perkelahian ia melompat ke atas genting, Tetapi orang itupun menyusul dengan sebat pula.

pemuda itu mendongkol juga, ia memutar pandang dan pada saat itu, bulu kuduknya menggeridik, sebab dengan tiba-tiba saja, ia telah kena kepung.

Beberapa orang yang berperawakan tak rata memandang padanya dengan bengis.

Yang langsung berhadapan dengan dia, seorang laki-laki berperawakan pendek kecil setengah cebol.

Disampingnya seorang laki-laki pula, berperawakan tinggi besar.

Orang itu nampak perkasa sekali.

Dua orang itu didampingi empat orang lagi yang bersenjata lengkap.

Dan karena mereka berdiri membelakangi cerah bulan.

Sin Houw tak dapat melihat wajahnya dengan jelas.

Sin Houw lantas memperhatikan orang yang menyusulnya, ternyata dia adalah Kun Jie, Dan begitu melihat Kun Jie, segera ia menyadari siapakah mereka.

Jelas mereka adalah sisa tiga orang pamannya Kun Jie yang belum pernah dilihatnya.

Hanya ia belum mengetahui apakah mereka benar-benar hendak mencelakai dirinya.

Memperoleh pikiran itu, ia bersikap waspada dan hati-hati.

Diantara mereka yang mengepung kecuali Kun Jie, ia mengenal tiga orang dengan segera.

Yang pertama adalah Thio Ceng Sam, kemudian Thio Ceng Go dan yang ketiga Giok Cu, Tatkala ia bermaksud hendak menegurnya, tiba-tiba orang yang berperawakan tinggi besar tertawa terbahakbahak.

Hebat perbawanya, atap yang diinjaknya bergetar dan suara tertawanya nyaring sekali.

"Kami berlima tinggal di sebuah dusun yang sunyi!"

Katanya nyaring.

"Tak pernah kami duga, bahwa pada hari ini salah seorang bawahan Thio Su Seng sudi mengunjungi rumah kami."

Thio Sin Houw maju selangkah. ia memanggut hormat seraya menyahut.

"Perkenankan aku memperkenalkan diri terhadap susiok sekalian."

"Tidak usah. Bukankah kau bernama Thio Sin Houw?"

Orang itu menukas dengan galak. Giok Cu yang berdiri di belakang mereka, maju menengahi, Katanya memperkenalkan paman-pamannya.

"inilah pamanku yang paling tua, Ceng It, Dan ini pamanku yang kedua, Ceng Jie, Dan ini yang keempat, Ceng Sie. Dan dia kakak misanku yang lain, Kun Cie, puteranya paman Ceng it ..."

Thio Sin Houw memanggut hormat, setiap kali Giok Cu menyebut nama mereka masing-masing. Didalam hati ia berpikir.

"Rupanya keluarga mereka menggunakan nama Ceng untuk golongan tertua, dan Kun untuk yang muda-muda. Entah apalagi untuk generasi berikutnya, dan entah apa pula maksud mereka,"

Diantara kelima bersaudara, Ceng Jie yang beradat berangasan.Dengan segera ia menegur.

"Hey, anak muda! usiamu belum seberapa, tetapi sudah pandai membakar rumah. Bagus! sesungguhnya kepandaian apakah yang kau andalkan?"

"ltulah perbuatan temanku yang semberono."

Sahut Sin Houw dengan sopan.

"Aku sangat menyesal atas terjadinya pembakaran itu. syukurlah, api tidak begitu besar. Biarlah esok pagi, akan kuperintahkan ia menghaturkan maaf kepada paman sekalian."

Ceng Jie melotot marah.

Memang, api telah dapat dipadamkan, akan tetapi hatinya masih saja panas.

Ceng Sie yang berperawakan tinggi jangkung dengan punggung agak melengkung, maju ke depan.

Katanya menimbrung.

"Puluhan tahun kami tinggal disini, selama itu belum pernah kami terusik oleh pekerti siapapun. Mereka yang datang kemari, hanyalah untuk menghaturkan rasa hormat mereka. sebaliknya kau yang masih begini muda, berani membuat onar disini, sebenarnya siapakah gurumu?"

"Guruku berada dalam laskar Thio pekhu."

Sahut Sin Houw dengan tenang.

"Kedatanganku kemari semata-mata untuk memohon, agar paman sekalian sudi mengembalikan emasnya Thio Pekhu. Aku berjanji hendak membujuk guruku, agar beliau sudi berkirim surat kepada paman sekalian untuk menyatakan rasa terima kasih."

Thio Ceng Sie mendengus.

sekian panjangnya pemuda mengoceh, akan tetapi nama gurunya tidak pernah disinggungnya, selagi hendak membuka mulut, kakaknya yang tertua, Ceng It, membentak nyaring kepada pemuda itu.

"Siapakah gurumu?"

Thio Sin Houw mendehem. Menyahut.

"Guruku jarang sekali berkelana atau memperkenalkan diri, Karena itu, tak berani aku menyebutkan nama beliau, lagi pula, bagi paman sekalian tiada artinya sama sekali."

"Hemm!"

Ceng Jie tak sabar lagi, Memang adatnya berangasan. lantas saja ia memutuskan.

"Jadi kau masih hendak sembunyikan nama gurumu? Apakah kau kira, kami tidak dapat mengenal gurumu? Kami mempunyai cara lain, kau berhati-hatilah!"

Dan dengan wajah merah padam ia berseru kepada Kun Cie.

"Kun Cie! Coba kau bermain main sebentar dengan anak itu!"

Seorang pemuda yang tadi diperkenalkan sebagai puteranya Ceng It, dengan gesit masuk ke gelanggang, Terus saja tangannya bergerak menampar pipi, kemudian kakinya menyusul membuat suatu tendangan.

Thio Sin Houw mengelak, dan Kun Cie melepaskan tinju kirinya.

Pikir Sin Houw didalam hati.

"Mereka berjumlah banyak.

"Kalau mereka maju satu demi satu, aku bisa celaka karena lelah, Bila aku tidak melawannya dengan cepat, sulit untukku meloloskan diri."

Oleh pikirannya itu, ia menyambut tinju kiri Kun Cie dengan berhadap-hadapan, Tangan kanannya berkelebat menyambar tinju itu, lalu dilemparkan ke belakang sambil melompat kesamping.

Kun Cie tak berkesempatan lagi untuk membebaskan dirinya yang kena disambar.

Belum lagi ia menancapkan kakinya, tubuhnya sudah tertarik ke depan, Tidak dikehendaki sendiri, ia menyelonong ke depan.

Tatkala kakinya menginjak atap, genting yang diinjaknya pecah.

Dan ia terjeblos ke bawah.

Syukurlah pada saat itu, Ceng sam masih berkesempatan menyambar dirinya.

Sekiranya tidak demikian, pastilah dia bakal terbanting kelantai, Mukanya merah padam oleh rasa malu, dengan penasaran ia menyerang lagi.

Thio Sin Houw sudah bersiaga, sama sekali ia tak bergeming tatkala lawannya menyerang dengan dahsyat.

ia agaknya hendak mengadakan perlawanan dengan berhadaphadapan, Tetapi mendadak saja, ia memutar tubuhnya berbareng menarik kaki kirinya.

Dak!

Dan Kun Cie roboh terjungkal.

Sin Houw ternyata tidak hanya mendupakkan kaki kirinya saja, iapun menggerakkan tangan kanannya selagi kaki kirinya ditarik, Dengan suara deras, tangan kanannya menyambar pantat Kun Cie, ia mencengkeram dan mengangkatnya oleh gerakannya itu, tak sampai Kun Cie mencium tanah.

ia malahan dapat berdiri kembali dengan tak kurang suatu apa.

Bukan main rasa mendongkol Kun Cie, Akan tetapi tak dapat ia berkelahi lagi, ia harus tahu diri.

Meskipun matanya masih melototi terpaksa ia mengundurkan diri.

"Hey! Anak ini benar-benar hebat!"

Seru Ceng Jie dengan hati gusar.

"Biarlah aku mencoba-coba mengadu kepandaian dengan murid seorang sakti."

Setelah berseru demikian, ia maju sambil menggerakkan kedua tangannya. Tiba-tiba Giok Cu melompat ke samping orang tua itu, dan membisik.

"Paman! Dia telah mengangkat saudara denganku. janganlah paman melukainya .."

"Setan! Minggir!"

Bentak Ceng Jie dengan sengit. Tetapi Giok Cu bahkan memegang tangannya. Katanya setengah merajuk.

"Paman tidak akan melukainya, bukan ?"

"Kau lihat saja bagaimana nanti!"

Sahut Ceng Jie sambil mengibaskan tangannya yang kena genggam, Dan oleh kibasan itu, Giok Cu terpelanting mundur beberapa langkah.

Hampir saja ia roboh terguling.

Ceng Jie tidak menghiraukan keponakannya itu, ia maju mendekati Sin Houw, Bentaknya.

"Kau majulah!"

"Akh, aku tidak berani."

Sahut Sin Houw sambil membungkuk hormat.

"Kau tak mau menyebutkan nama gurumu, maka seranglah aku tiga kali!"

Perintah Ceng Jie.

"Aku ingin melihat sendiri, apakah aku sanggup mengenal gurumu."

Panas juga hati Thio Sin Houw ketika mendengar dan melihat sikap Ceng Jie yang besar kepala, Setelah menimbang sejenak, akhirnya ia berkata dengan suara merendah.

"Kalau begitu, terpaksalah aku mengiringi kehendak paman. Tetapi kepandaianku hanya terbatas, aku mohon paman berbelas kasihan kepadaku."

"Jangan ngoceh tak keruan!"

Bentak Ceng Jie.

"Siapa sudi mengobrol denganmu? Hayo, seranglah!"

Sekali lagi Thio Sin Houw membungkuk hormat, dan tiba

KANG ZUSI WEBSITE

http.//cerita-silat.co.cc/ *** (file google dokumen published by Saiful Bahri ...situbondo seletreng )*** tiba tangannya menyambar.

serangan pendek itu membawa kesiur angin keras.

Keruan saja Ceng Jie terperanjat sama sekali tak diduganya, bahwa pemuda itu memiliki tenaga dalam begitu kuat, Buru-buru ia melintangkan tangannya dan hendak menyambar lengan baju.

Thio Sin Houw tadi menyerang dengan tangan kiri, Begitu melihat Ceng Jie membalas menyerang, gesit ia menarik tangannya kembali.

Kemudian dengan tiba-tiba pula, ia menyerang raut muka !

"Hey!"

Ceng Jie terperanjat lagi, itulah suatu serangan yang terjadi sangat cepat, Tak sempat lagi ia menangkis.

Padahal ia seorang pendekar yang sudah terlalu banyak makan garam.

Ribuan kali ia menghadapi lawan-lawan berat yang memiliki ilmu berkelahi yang berbeda-beda.

Namun serangan Sin Houw kali ini adalah yang terhebat.

Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri, hanyalah melenggakkan tubuhnya kebelakang.

Thio Sin Houw tak sudi memberi kesempatan lawan untuk dapat mengadakan serangan balasan, ia bergerak mundur dan kemudian melingkarkan tubuhnya, gerakan itu seperti memberi kesempatan kepada lawan untuk memperbaiki kedudukan dan mengira bahwa Thio Sin Houw hendak melarikan diri.

Cepat cepat Ceng Jie mengulurkan tangannya untuk memberi hajaran, tetapi sebelum tangannya sampai pada sasaran, sekonyong konyong ia merasakan suatu kesiur dari angin serangan.

Dilihatnya kedua tangan Sin Houw bergerak dengan berbareng mirip sambaran seekor ular hendak mematuk sasaran, sasaran itu mengarah kepada kedua tulang iganya.

"Ha-ha ..."

Ia tertawa di dalam hati.

"Meskipun kau berhasil menyentuh igaku, apa artinya dibandingkan dengan gempuranku?"

Cepat luar biasa ujung tangan Sin Houw tiba pada sasarannya, dan mengenai pinggang Ceng Jie dengan jitu, Dan terdengarlah suara gemeretak dua kali hampir berbareng, Dan tepat pada detik itu, Sin Houw telah melesat mundur sambil berputaran sebentar.

Kemudian berdiri tegak mengawasi lawannya.

Ceng Jie terperanjat dan mendongkol, ia kena tipu kesombongannya sendiri.

Temyata kekebalannya tak kuasa membendung pangutan ujung tangan Sin Houw yang nampaknya tak bertenaga.

Tetapi nyatanya seluruh tubuhnya merasa kesemutan.

sebaliknya, walaupun merasa diri seorang yang kenyang makan garam, namun masih tak dapat mengenal corak tata berkelahi yang terlalu percaya ke pada pagutan tenaga tangan.

Tapi dalam pada itu, Giok Cu kagum menyaksikan kegesitan Sin Houw, hampir saja ia berteriak memujinya.

sebenarnya dalam jurus tadi, Sin Houw menggunakan jurus gabungan.

Mula-mula ia bergerak dengan ilmu ajaran Bok Jin Ceng, lalu ia menggunakan ilmu kegesitan tubuh ajaran Bok-siang to-jin.

Dan yang terakhir ia memagutkan tangannya dengan ilmu sakti warisan Gin-coa Long-kun.

Maka tak mengherankan, apa sebab Ceng Jie menjadi bingung.

Tetapi yang heran dan bingung ternyata tidak hanya Ceng Jie seorang, juga Ceng It dan Ceng Sie tak kurang-kurang pula.

Mereka saling memandang dengan pandang penuh pertanyaan.

Selamanya, Ceng Jie menganggap dirinya seorang pendekar besar.

Kali ini, ia kena tertipu dalam satu gebrakan saja, Tak mengherankan kehormatan dirinya tersinggung sekaligus.

Dengan serentak ia melompat maju dan menyerang dengan mendadak.

wajahnya merah padam, alis dan kumisnya bagun seluruhnya.

Gerakan kedua tangannya lantas saja membawa kesiur angin dahsyat.

Hebat perbawa Ceng Jie.

Dibawah sinar bulan yang cemerlang, kepalanya nampak mengepulkan asap, siapapun mengerti, itulah akibat rasa amarahnya yang tak terkendalikan lagi.

Gerakan kakinya lambat, akan tetapi mantap.

Itulah suatu tanda, bahwa Ceng Jie memiliki himpunan tenaga dalam yang sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Thio Sin Houw tak berani bermain-main lagi, Menghadapi serangan Ceng Jie, ia mengendapkan diri sambil mendekat, Dua kali berturut-turut, ia dadat membebaskan diri dengan cara demikian, Pada jurus ketiga, diam-diam ia bersiaga mengadakan perlawanan dengan ilmu sakti Hok-houw ciang.

Dan pada jurus keempat, pertempuran sengit terjadilah.

Tetapi justru menghadapi perlawanan Sin Houw, serangan Ceng Jie tidaklah secepat tadi, Gerakannya kini agak kendor, namun setiap pukulannya mengandung tekanan dahsyat.

setiap kali, apabila tangannya bergerak, angin dahsyat mendahului atau mengiringi.

Menghadapi tekanan himpunan tenaga dalam demikian dahsyat, Sin Houw tercekat hatinya.

Namun sama sekali ia tak gugup.

sekonyong-konyong ia melihat cahaya merah kuning berada dalam telapak tangan Ceng Jie, ia terkejut dan sempat berpikir didalam hati.

"Apakah ia memiliki ilmu Ang-see ciang?"

Teringatlah ia kepada tutur kata gurunya tentang berbagai ilmu sakti dengan tanda-tandanya, seperti ilmu Tiat-see ciang (Tangan Pasir Besi), Cu-see ciang (Tangan Cu-se) dan Angsee ciang (Tangan Pasir Merah).

semua ilmu sakti itu adakalanya mengandung bisa racun, dan juga merupakan ilmu pukulan yang tak boleh mengenai sasaran.

Barang siapa kena gempurannya akan rontok tulang-tulangnya.

Memperoleh ingatan demikian, segera ia mengubah tata berkelahinya, Untuk mencegah pendekatan, kedua tangannya di pukulkan saling susul dengan cepat sekali.

Ceng Jie bersenyum mengejak, Tahulah dia, bahwa Sin Houw segan terhadap ilmu saktinya.

ia jadi berbesar hati, lantas saja ia mendesak selangkah demi selangkah, Mendadak saja, lengan kanannya terasa nyeri.

Kaget ia melesat mundur sambil memeriksa tangannya, ternyata lengan yang tadi terasa nyeri kelihatan merah dan bengkak.

Tahulah dia, lengannya tadi kena sentuh tanpa diketahui karena cepatnya, dan iapun segera mengerti bahwa Sin Houw bermurah hati terhadapnya, Sekiranya menghantam dengan benar-benar, tangan atau lengannya pasti sudah rusak.

Meskipun demikian, hatinya penasaran juga.

Sayang, tak dapat lagi ia melanjutkan pertempuran itu, Dalam peraturan adu kepandaian, ia sudah jatuh !

Selagi pertempuran terhenti, Ceng Sam maju mendekati Sin Houw, Katanya dengan suara tenang.

"Anak muda! Masih begini muda sekali umurmu, akan tetapi ilmu kepandaianmu hebat sekali. Marilah, ingin aku mencobamu dengan berbekal senjata."

Thio Sin Houw cepat-cepat membungkuk memberi hormat, sahutnya dengan suara merendahkan hati.

"Waktu datang kesini, tak berani aku membekal senjata. Aku datang dengan tangan kosong ..."

Ceng Sam tertawa dan memutus perkataan Sin Houw.

"Kau mengenal adat istiadat. Bagus! Memang, kulihat kau tak membawa senjata, Hal itu terjadi, karena kau terlalu yakin kepada kemampuanmu sendiri, Hatimu terlalu besar, sehingga keberanianmu sangat mengagumkan. Tidak apalah, hanya saja malam ini kau harus memperlihatkan kepandaianku kepadaku. Marilah, kita melihat-lihat gedung Lian-bu thia. (Lian-bu thia = semacam ruangan untuk berolah raga). Apa yang disebut Lian-bu thia, sebenarnya tempat anggauta Cio-liang pay berlatih, setelah berkata demikian, Ceng sam mendahului melompat turun dari atas genting, Dan rombongannya ikut turun pula. Maka tak dapat lagi, Sin Houw menolak undangan itu. Terpaksalah ia melompat turun dari atas genting, dan mengikuti mereka memasuki ruangan Lianbu thia. Tatkala hendak memasuki ambang pintu, tiba-tiba Giok Cu mendekati dan membisik dekat telinga Sin Houw.

"Didalam tongkatnya tersembunyi senjata rahasia."

Tercekat hati Sin Houw mendengar peringatan itu, seumpama tidak memperoleh pemberitahuan itu, sama sekali ia tidak menyangka.

Maka dengan hati waspada, ia menebarkan penglihatannya.

Ruangan berlatih itu berukuran lebar dan luas sekali.

Didalamnya terdapat tiga panggung persegi panjang, para anggau Cio-liang pay nampak berkumpul berkelompokkelompok.

Rupanya, mereka semua gemar akan ilmu silat.

Baik laki-laki maupun perempuan, Mereka hendak menyaksikan adu kepandaian antara Ceng Sam melawan Sin Houw, Malahan, diantara mereka terdapat beberapa kanakkanak berusia tujuh atau delapan tahun.

Setelah mereka mencari tempat duduknya masing-masing, muncullah seorang wanita setengah baya, usianya kurang lebih empatpuluhan tahun.

ia didampingi pelayan perempuan yang semalam mengantarkan makanan untuk Thio Sin Houw.

"lbu!"

Seru Giok Cu yang mendekati wanita setengah baya itu, wanita itu masih cantik wajahnya, namun mengandung rasa duka, Mendengar seruan anaknya, ia hanya mengerlingkan mata.

Sama sekali tak menyahut memperlihat wajah jernih.

pandang matanya guram tak bersinar.

"Anak muda,"

Kata Ceng Sam kepada Sin Houw.

"Disini banyak terdapat bermacam-macam senjata, Kau hendak menggunakan senjata apa, boleh pilih sendiri !"

Setelah berkata demikian, ia menunjuk sekitar ruangan, Pada dinding gedung itu terdapat deretan berbagai macam senjata tajam.

Thio Sin Houw menyadari, bahwa ia sedang menghadapi persoalan yang rumit sekali.

Tak mudah baginya untuk memperoleh penyelesaian tanpa kekerasan.

Namun, ia tak menghendaki akan terjadinya ketegangan yang bertambah hebat, Karena itu, tak boleh ia sampai melukai siapapun meskipun dirinya seumpama terdesak kepojok.

inilah pengalamannya untuk yang pertama kalinya setelah memasuki kancah penghidupan babak kedua, Dan masalah yang sedang dihadapi itu, ternyata sulit luar biasa, ia berbimbang-bimbang sejenak untuk menentukan sikapnya.

Giok Cu yang sejak tadi memperhatikan Sin Houw, melihat pemuda itu berbimbang-bimbang.

ia berserus "Pamanku yang ketiga ini paling senang terhadap seorang muda yang berkepandaian tinggi.

pastilah dia tidak akan melukaimu ..."

"Tutup mulutmu!"

Tukas ibunya dengan suara sengit, Tak usah dikatakan lagi, bahwa wanita itu tiba-tiba saja berpanas hati. Ceng sam menoleh kepada Giok Cu. Berkata.

"Kau lihat saja, bagaimana kesudahannya nanti."

Setelah berkata demikian, ia melemparkan pandang kepada Sin Houw dan berkata lagi.

"Anak muda, kau menggunakan pedang atau golok panjang?"

Thio Sin Houw terdesak.

Mau tak mau ia harus memberikan jawaban.

segera ia menebarkan penglihatannya.

Tiba-tiba ia melihat seorang kanak-kanak berusia ampat tahun berada di dekat seorang pelayan wanita, pastilah anak itu salah seorang anggauta keluarga tuan rumah.

ia hadir dengan membawa alat-alat permainannya, diantaranya terdapat sebatang pedang kayu yang di cat hitam, Melihat pedang kayu itu, Sin Houw segera mendekati anak itu dan berkata lembut.

"Adik kecil, bolehkah aku meminjam pedangmu? sebentar saja."

Anak itu ternyata pemberani. Sama sekali ia tak takut terhadap orang asing, Dengan tertawa ia mengangsurkan pedang kayunya, Dan setelah Sin Houw menerima pedangnya, ia lari ke dekapan pengasuhnya.

"Sam susiok, tak berani aku menggunakan senjata benarbenar."

Kata Sin Houw mendekati Ceng Sam.

"Bukankah kita hanya berlatih saja?"

Sebenarnya Sin Houw bermaksud merendahkan dirinya, akan tetapi bagi Ceng Sam justru dianggap menghinanya.

Hampir saja orang tua itu tak sanggup mengendalikan rasa marahnya.

Untuk menghibur dirinya sendiri, ia tertawa terbahak-bahak.

Katanya diantara suara tawanya.

"Memang akulah yang lagi sial, puluhan tahun lamanya, aku berkelana mencari lawan dan kawan. selama itu belum pernah aku bertemu dengan seorang yang berani merendahkan diriku. Hem, pernahkah kau mendengar nama tongkatku. Liongtou Koay-tung?"

Katanya.

"Baiklah! Jika benar-benar kau mempunyai kepandaian dewa, hayo kau tabaslah tongkatku kutung!"

Yang disebut tongkat Liong-tou Koay-tung terbuat dari campuran besi dan baja, siapapun percaya bahwa tongkat itu tak akan mungkin tertatas kutung oleh pedang kayu, kecuali apabila pedang kayu itu buah tangan dewa sakti dan setelah berkata demikian, dengan hati mendongkol Ceng sam menyambar tongkatnya dan dibabatkan kearah pinggangnya Sin Houw.

Hebat sambarannya, didalam ruangan itu lantas saja terdengar suatu suara berdengung.

Gidk Cu memekik cemas, menyaksikan sambaran tongkat pamannya yang hebat tak terkatakan, pada saat itu, ia melihat tubuh Sin Houw berputar seperti terseret putaran anginnya.

Akan tetapi belum sampai tubuh Sin Houw terlempar, tibatiba pedang kayu ditangannya bergerak kencang dan menikam pergelangan.

Ceng Sam mundur sambil menarik tongkatnya, sebagai gantinya, ia maju selangkah dan menusuk ke arah dada.

"Akh!"

Seru Sin Houw didalam hati.

"Kiranya tongkatnya bisa dipergunakan untuk menikam pula, aku harus berhatihati."

Cepat-cepat ia mengelak dan pedang kayunya menotok lengan.

Ceng Sam terkejut, ia tahu, meskipun hanya pedang kayu akan tetapi bila menabas lengan bisa mengutungkan.

Sebat ia melepaskan pegangannya, sehingga ujung tongkat jatuh menusuk lantai.

Tetapi tepat pada saat itu, serangannya yang tak kalah dahsyatnya telah menyusul.

Hebat gerak-geriknya.

selain cepat, mengandung ancaman mengerikan, sedikit saja Sin Houw kena tersentuh, pasti akan celaka.

Thio Sin Houw kagum melihat kegesitan dan kesehatan Ceng Sam oleh rasa kagumnya, ia berkelahi dengan hati-hati dan cermat.

ia selalu mengelak atau menghindari.

Dan kemplangan tongkat yang tidak mengenai sasaran, menghantam batu lantai hingga hancur berantakan.

Keping-kepingannya terpeleset kesana kemari bagaikan titik hujan.

Maka bisa dibayangkan betapa akibatnya, apabila sampai mengenai tubuh manusia yang terdiri dari darah dan daging.

Sin Houw tak sudi terpengaruh kedahsyatan tongkat Liongtou Koay-tung, segera ia melayani kegesitan lawan dengan ilmu kelincahan tubuh ajaran Bok-siang tojin, Tubuhnya bergerak sangat lincah, gesit dan sebat luar biasa.

Tak ubah bayangan, ia melesat ke sana kemari.

Dan setiap kali memperoleh kesempatan, pedangnya menabas dan menikam, Tak terasa, pertempuran cepat itu telah memasuki jurus duapuluh, setelah itu, Ceng Sam kelabakan sendiri.

ia sudah terlanjur membuka mulut besar.

Akan tetapi sampai sekian jurus, belum berhasil merobohkan lawannya yang masih berusia muda sekali.

sekian puluh tahun lamanya, ia malang melintang tanpa tandingan karena tongkatnya itu.

Akan tetapi pada malam itu, ia malah kena dipermainkan seorang bocah cilik.

Masakan melawan pedang kayu saja, membutuhkan waktu begitu lama?

Dan oleh pikiran itu, ia menjadi gugup, Tak dikehendaki sendiri, keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Oleh rasa gugup dan mendongkol, ia menjadi penasaran.

segera ia merubah tata-berkelahinya, Dengan gesit ia mencoba melihat Sin Houw dengan tongkat andalannya.

Gerakannya membuat semua penonton mundur beberapa langkah, karena tersapu angin yang datang bergulungan.

Ada diantaranya yang bersandar pada tembok untuk mempertahankan diri.

Setelah merubah tata berkelahinya, Sin Houw mengakui didalam hati bahwa orang tua itu merupakan lawannya yang tertangguh selama hidupnya, Tak dapat ia mendekatinya.

sedang pedang kayunya tak dapat diharapkan bisa menabas kutung tongkat Liong-tou Koay-thung bahkan apabila kurang hati-hati, pedang kayunya sendiri yang bakal patah menjadi dua tiga bagian.

"Akh, kalau begini terpaksa aku harus melawannya dengan ilmu gabungan kedua guruku ..."

Pikir Sin Houw di dalam hati, Berpikir demikian, iapun segera merubah tata berkelahinya, Gerakannya jadi lambat dan nampak perlahan.

Ceng Sam bergirang hati menyaksikan gerakan Sin Houw yang makin lama jadi makin lambat.

Itulah suatu tanda bahwa dia kehilangan tenaga.

oleh pikiran itu, tak sudi ia sia-siakan kesempatan yang bagus.

Begitu memperoleh kesempatan, dengan sebat ia menghantamkan tongkatnya.

Thio Sin Houw nampak lelah.

Dengan gerakan lambat ia menyambut serangan tongkat Ceng Sam yang dahsyat tak mengenal ampun.

Giok Cu yang berada diluar gelanggang berseru cemas.

Tiba-tiba ia melihat suatu perubahan yang mengherankan.

Pada saat ujung tongkat lewat didepan dada, cepat, luar biasa Sin Houw menggerakkan tangannya.

Tahu-tahu ujung tongkat kena ditangkapnya dengan tangan kiri, Dengan tenaga penuh, ia menghentak sambil menarik.

Kemudian pedang kayunya menyambar.

Bret!

dan bajunya Ceng Sam menjadi koyak!

Ceng Sam kaget bukan kepalang.

Pada detik itu pula, telapak tangannya panas luar biasa oleh gentakan Sin Houw.

Tak dapat lagi ia mengelakkan diri atau mencoba mempertahankan diri.

Satu-satunya jalan, hanya melepaskan genggemannya.

Artinya, tongkat andalannya kena direbut lawan.

Hal itu sebenarnya sudah merupakan karunia meskipun memalukan sekali.

coba seumpama Sin Houw tidak mengenal belas kasih, dadanya sudah kena tikam dengan telak!

Thio sin Houw tahu kegelisahan lawan.

Hatinya yang mulia tidak mengijinkan untuk ia membuat orang tua itu menanggung malu, selagi menarik pedang kayunya, ia menyodorkan tongkat yang kena dirampasnya kepada pemiliknya lagi.

Gerakan itu dilakukan dengan cepat dan semu, sehingga hanya seorang ahli saja yang bisa mengetahuinya.

Sebenarnya Ceng sam sudah merasa mati kutu, Akan tetapi hatinya panas dan mendongkol, sambil menerima tongkatnya kembali, ia berteriak tinggi sambil menyerang, itulah kejadian diluar dugaan Sin Houw, ia heran, apa sebab orang tua itu membandel?

Bukankah dia sudah terkalahkan?

Apa sebab ia masih menyerang?

Tapi tak sempat lagi ia berpikir berkepanjangan, ia harus mengelakkan serangan tibatiba itu, Dengan gesit ia melesat ke samping dengan memiringkan badannya.

Lalu melompat mundur.

Ceng sam tak mau mengerti.

Sebenarnya, kalau mau Sin Houw dapat menyerangnya dari samping, Tapi ia tak memperdulikan kemuliaan hati pemuda itu.

Dengan penasaran, ia menarik pulang tongkatnya.

Lalu menyerang, tapi kali ini dibarengi dengan suara berdesir, Dan dari ujung tongkatnya, melesatlah tiga batang paku beracun yang tipis.

sasarannya membidik atas, tengah dan bawah.

Jarak mereka sangat dekat.

Maka bisa dibayangkan, betapa berbahayanya.

Apalagi Ceng Sam membarengi dengan tusukan.

Giok Cu berseru kaget, Hampir saja ia melompat ke dalam gelanggang, kalau saja tidak kena tarik ibunya.

Thio Sin Houw sudah berjaga-jaga sejak memperoleh kisikan Giok Cu.

Tapi serangan itu sendiri, sangat keji.

Gesit luar biasa, ia menyapu ketiga paku itu dengan pedang dan ujung baju-nya, itulah jurus simpanan ilmu sakti dari golongan Hoa-san pay ajaran guru-nya, Bok Jin Ceng yang jarang sekali muncul didepan umum.

Kalau saja tidak merasa terpaksa, tidak akan Sin Houw menggunakan ilmu simpanan tersebut.

Setelah itu, dengan geram ia maju selangkah dan menekan ujung tongkat Ceng Sam dengan pedang kayunya kelantai.

Itulah suatu peristiwa diluar dugaan Ceng Sam.

ia tadi sudah merasa pasti, bahwa serangan paku beracunnya akan berhasil.

Tak mengherankan, tongkatnya tidak perlu ditariknya kembali cepat-cepat, sekarang tongkatnya kena tindih, Suatu tenaga luar biasa besarnya menekan ujung tongkatnya ke lantai.

Terus saja, ia berjuang mempertahankan tongkatnya, Akan tetapi pedang kayu Sin Houw terus menekan ke bawah sedikit demi sedikit, Dan tatkala ujung tongkat meraba lantai, kaki kirinya menggantikan kedudukan pedang, Tongkat itu diinjaknya.

Keringat dingin membanjiri seluruh tubuh Ceng Sam, ia berkutat mati-matian untuk membebaskan tongkatnya.

Selagi mengerahkan sisa tenaganya, tiba tiba Sin Houw melompat mundur, oleh perubahan itu, Ceng Sam terhentak mundur beberapa langkah dan hampir saja ia roboh terjengkang, ia berhasil mengangkat tongkatnya kembali.

Akan tetapi lantai yang terbuat dari batu pualam hijau meninggalkan lobang besar sebesar tusukan ujung tongkatnya, Dan menyaksikan hal itu, semua hadirin terperanjat dan tercengang.

Tak usah diumumkan lagi, Ceng Sam telah kalah.

ia mendongkol bukan kepalang.

Tak pernah terlintas di dalam benaknya, bahwa pada suatu kali ia bakal dikalahkan lawan yang hanya bersenjata pedang kayu, ia menggigil oleh rasa marah, kecewa dan benci.

Dengan kedua tangannya ia melemparkan tongkatnya keatas wuwungan gedung.

Brak!

Dan atap gedung itu tertembus tongkatnya dengan suara berderakan.

"Tongkatku kena kau kalahkan dengan pedang kayumu, Apa perlunya kusimpan lagi sebagai senjata mustika?"

Teriaknya dengan wajah merah padam.

Thio Sin Houw tak bergerak dari tempatnya.

ia tahu, orang tua itu sedang mengumbar rasa mendongkolnya.

sebenarnya bukan tongkatnya yang buruk, akan tetapi karena ilmu kepandaiannya kalah jauh dengan Thio Sin Houw.

Semua orang tahu akan hal itu, Dan sebenarnya tak perlu Ceng Sam menutup nutupi kekalahannya.

Diantara keluarga Cio-liang pay yang berkumpul didalam gedung itu, tinggal Ceng It, Ceng Sie dan Ceng Go yang belum melawan Sin Houw, Ceng Go adalah seorang ahli pembidik senjata rahasia.

senjata yang digunakannya adalah semacam pisau belati panjang yang tipis.

Bentuknya setengah golok setengah pisau, Tajamnya luar biasa.

selain itu mengandung racun jahat, Selama hidupnya, belum pernah ia kehilangan sasaran bidikannya, selalu tepat dan tak pernah meleset.

Senjatanya disimpan dalam sebuah kantong semacam tempat anak panah.

Masing-masing senjata mempunyai daya berat setengah kilo, Biasanya senjata bidik terlepas tanpa suara.

Tapi senjata bidik Ceng Go yang istimewa itu, meraung nyaring seperti seruling, itulah disebabkan pada ujung belati terdapat sebuah lobang sebesar biji asam.

Suara itu sendiri dimaksudkan sebagai suatu santun.

Lawan diperingatkan terlebih dahulu agar bersiaga penuh begitu mendengar suara raungan, Akan tetapi sebenarnya raungan suara itu justru mengacaukan pemusatan lawan.

salah salah bisa membuat lawan yang kecil hati jadi bingung dan gugup.

Melihat kakaknya gagal menguji ketangguhan Sin Houw, tanpa berbicara lagi ia melompat kedalam gelanggang.

"Saudara Sin Houw!"

Katanya.

"Tahun depan umurku mencapai empat puluh tahun, jadi aku masih pantas menyebut kau sebagai saudara. Kau hebat, saudara. Dengan senjata kayu kau bisa mengalahkan tongkat mustika kakakku. Bagaimana kalau sekarang aku mencoba-coba senjata bidikku?"

Dan setelah ia berkata demikian, dialihkannya kantong kulit yang berada dipunggung ke pinggang.

Sin Houw menatap gerak-gerik Ceng Go sebentar.

Rasanya tiada gunanya ia mencoba menolak.

Maka terpaksalah ia mengangguk.

sahutnya.

"Baiklah, hanya saja tak berani paman menyebut diriku dengan istilah saudara. sebab aku sudah mengangkat saudara dengan kemenakanmu, Harap saja paman sudi bermurah hati terhadapku "

Ia mengembalikan pedang kayu kepada anak yang meminjami, kemudian balik kembali memasuki gelanggang, ia tahu, kali ini bakal menghadapi pertempuran seru, apalagi ia menghadapi orang termuda dari lima dedengkot Cio-liang pay, pastilah dia lebih berangasan dari pada saudara-saudaranya yang tua tadi.

Dalam pada itu, semua penonton mundur sampai kedinding.

Mereka tahu, senjata bidik Ceng Go tak boleh di buat semberono, sekali terlepas, maka udara akan dipenuhi pisau belati yang berterbangan dengan suara meraung.

Tak mengherankan suasana gelanggang jadi tenang bercampur tegang, Sebab apabila Sin Houw terpaksa mengelak, senjata bidik akan terus meluncur menikam salah seorang penonton yang lagi bernasib sial.

Thio Sin Houw sendiri kala itu, terpaksa memeras otak, Bagaimana cara yang sebaik-baiknya untuk melawan senjata bidik Ceng Go?

Kalau hanya main tangkap, rasanya kurang kena.

Karena gerakan itu hanya memperlihatkan suatu kegesitan belaka, seumpama Ceng Go bisa dikalahkan dengan cara demikian, tentunya dia belum puas.

Kecuali apabila sanggup menanamkan rasa segan kedalam hati mereka semua, agar Cie Lan dibebaskan dengan hormat.Pikirnya.

"Dia hendak memperlihatkan kepandaiannya dalam hal membidikkan senjata kenapa aku tak menirunya?"

Dan memperoleh pikiran demikian, segera ia berkata.

"Go susiok, biarlah aku mengambil segenggam batu untuk menghadapi senjata bidik paman yang dahsyat."

Setelah berkata demikian, ia keluar gelanggang dan mengambil seraup batu-batu kerikil.

ia sudah memperoleh keputusan hendak melawan senjata bidik Ceng Go dengan ilmu ajaran Bok-siang tojin!

"Silahkan!"

Katanya setelah memasuki gelanggang kembali.

"Hati-hati!"

Ceng Go memperingatkan.

Berbareng dengan peringatannya, sebatang pisau belati menyambar dengan suara meraung, Hebat suara raungan itu, gerakan Ceng Go tangkas pula.

Maka cepat-cepat Sin Houw menyentil sebuah batu, !Takk!"

Batu membentur ujung pisau. Dan suara raungan itu terhenti, karena batu menyumbat lobang suara.

"Bagus!"

Ceng Go memuji.

"Kalau begitu, tak boleh aku bersegan segan lagi, Hati-hatilah!"

Dua pisau belati terbang menyambar dengan sekaligus, dan dua kali pula bentrokan terdengar nyaring, Yang pertama terpukul miring dan membenam pada tiang, sedang yang kedua runtuh bergelontangan dilantai, peristiwa itu benarbenar mengejutkan Ceng it yang memperhatikan adu kepandaian antara saudara-saudaranya melawan Sin Houw.

Betapa tidak?

senjata bidik Ceng Go mempunyai berat kurang lebih setengah kilo, Kena tenaga lontaran pembidiknya akan mempunyai daya berat sekian kali lipat, Akan tetapi kena di runtuhkan Sin Houw yang hanya menggunakan batu kerikil.

Tak usah dikatakan lagi, bahwa himpunan tenaga dalam Sin Houw jauh berada diatas Ceng Go.

Wajah Ceng Go nampak berubah, begitu menyaksikan runtuhnya dua pisau belatinya, Tapi pada saat itu pula, ia memberondongkan ampat pisau belatinya sekaligus.

Sin Houw sudah mempunyai dugaan demikian, ia menyongsong sambitan pisau belati Ceng Go dengan ampat butir kerikilnya, Dan ampat pisau belati itu runtuh diatas lantai saling susul seperti tadi, setelah terdengarnya suara benturan yang nyaring.

"Akh, bagus! Bagus!"

Seru Ceng Go, ia seperti menyatakan pujian dengan hati tulus, akan tetapi hatinya sesungguhnya mendongkol bukan main.

segera ia melepaskan enam pisau belatinya sekaligus, kemudian dua batang lagi menyusul beberapa detik.

Arah bidikannya memenuhi segenap penjuru akan tetapi sasarannya satu.

Teriaknya didalam hati.

"Hem! Coba, ingin kulihat apakah kau mampu meruntuhkan ke enam pisau-pisau belati, berikut dua lagi yang menyusul belakangan ..."

Terbangnya delapan benda tajam itu membawa suara meraung-raung berisik sekali, Kena pantulan sinar lampu, ke delapan senjata bidik itu membawa cahaya berkilauan, Tetapi sebentar saja, baik suara raungan maupun sinar berkilauan itu padam dengan mendadak kena benturan enambelas batu kerikil Sin Houw yang bersuing pula diudara!

"Akh, benar-benar hebat!"

Seru Ceng Go didalam hati, sekarang ia jadi penasaran.

Dengan semangat tempur yang menyala, ia melepaskan enam batang pisau belati sampai tiga kali berturut-turut saling menyusul, Tak usah dikatakan lagi, betapa berisik suara raungan diudara!

Ceng It adalah seorang pendekar berpengalaman.

Melihat gerak-gerik Sin Houw yang gesit dan tangkas luar biasa, tahulah dia bahwa pemuda itu pasti murid seorang pendekar yang berkepandaian tinggi luar biasa.

Kalau sampai pisaunya Ceng Go melukainya, akan panjang ekornya.

Maka cepatcepat ia berteriak mencegah.

"Go-tee, jangan menuruti hati panas saja, Tahan!"

Akan tetapi pencegahan itu sudah kasep, Tiga kali berturut-turut, Ceng Go melepaskan senjata bidiknya, setiap kali ia melepaskan enam batang.

Dengan demikian, delapanbelas batang senjata bidik berkilauan memenuhi udara tak ubah hujan gerimis.

Adalah tak mungkin untuk menarik kembali.

Thio Sen Houw sendiri bersikap tenang luar biasa, menghadapi hujan senjata bidik.

Mula-mula ia menebarkan duabelas batu kerikilnya untuk meruntuhkan enam batang golok.

Kemudian ia melesat kesana kemari menangkap enam pisau belati susulan.

setelah kena tergenggam ditangannya, ia menyambitkan kembali meruntuhkan enam senjata bidik yang menyambar untuk yang ketiga kalinya.

Dengan tiga gerakan itu, ke delapan belas senjata bidik Ceng Go rontok bergelontangan diatas lantai.

Dan yang kena bentur senjata kerikilnya terbang keluar gelanggang menancap pada dinding.

itulah suatu pemandangan yang benar-benar mempesonakan.

Mereka semua yang melihat, memekik tertahan oleh rasa heran dan kagum.

Pandang mata Ceng It, Ceng Jie, Ceng Sam, Ceng Sie dan Ceng Go mendadak menjadi bengis.

Dengan serentak mereka berteriak nyaring.

"Apakah kedatanganmu kemari atas perintahnya Gin-coa Long-kun?"

Sin Houw tercengang, Memang, ia tadi menggunakan jurus ilmu warisannya Gin-coa Long-kun selagi menghadapi kerumunan senjata bidiknya Ceng Go.

Tetapi bagaimana mereka berlima bisa mengenal dengan sekali melihat saja?

Thio Sin Houw tidak mengetahui bahwa pada waktu muda, Ceng It berlima pernah bertempur melawan Gin-coa Long-kun.

Ketika waktu itu Ceng Go menyerang dengan delapanbelas senjata bidiknya, cara menangkap dan mengadakan perlawanan Gin-coa Long-kun, benar-benar tak pernah terlupakan oleh mereka berlima.

Di dunia ini hanya dia seorang, Bertahun-tahun lamanya, mereka membicarakan dan merundingkan gerakan Gin-coa Long-kun yang ternyata merupakan obat pemunah sambaran pisau terbang yang ampuh, Gerakan itu tak pernah terhapus dari ingatan mereka.

Bahkan seringkali dibawanya bermimpi.

Maka itulah sebabnya, begitu melihat gerakan perlawanan Thio Sin Houw segera mereka mengenali tanpa ragu-ragu lagi.

Thio Sin Houw tidak mengetahui adanya latar belakang sejarah mereka berlima yang bersangkut-paut dengan Gin-coa Long-kun.

Melawan Ceng Jie dan Ceng Sam serta Ceng Sie, ia hanya meng gunakan jurus-jurus ajaran kedua gurunya.

Tetapi setelah merasa terpojok oleh sambaran pisau terbang Ceng Go, dengan tak dikehendakinya sendiri ia melakukan perlawanan dengan jurus warisan Gin-coa Long-kun.

Memang warisan Gin-coa Long-kun sudah meresap didalam darah dagingnya, seakan-akan miliknya sendiri.

Karena itu cara menggunakannya secara naluriah belaka.

Begitulah, tatkala mendengar pertanyaan itu segera ia hendak memberi keterangan, Tetapi pengalaman hidupnya yang pahit, menahannya.

ia menaruh curiga terhadap bunyi dan nada pertanyaan mereka.

Cara mereka bertanya, mengingatkan dirinya kepada musuh-musuh ayah bundanya yang bersikap galak dan main paksa.

Mulutnya yang sudah bergerak, segera menutup kembali, selagi demikian, terlihatlah tiga orang memasuki paseban, Yang berjalan di depan adalah Cie Lan yang terbelenggu kedua tangannya.

ia dikawal oleh dua orang yang bersenjata terhunus.

Rupanya, baru saja Cie Lan dikeluarkan dari lubang jebakan.

Melihat munculnya Cie Lan, hati Sin Houw tergetar, Terus saja ia melesat menghampiri.

Ceng It dan Ceng Ji segera memburunya dengan senjata andalan mereka.

Thio Sin Houw tak menghiraukan, ia menyusul Cie Lan, Tiba-tiba dua pengawalnya menyerang dengan berbareng, Cepat ia mengendapkan diri, dan pada detik itu terdengarlah suatu bentrokan senjata tajam, itulah bentrokan senjata antara dua pengawal Cie Lan dan Ceng lt.

"Minggir, tolol!"

Bentak Ceng It mendongkol.

Sin Houw tadi tidak mengadakan perlawanan tatkala kena serang dua orang pengawalnya Cie Lan, ia hanya mengendapkan diri, sehingga kedua pedang penyerangnya menyelonong melalui punggungnya, justru pada saat itu Ceng It dan Ceng Jie sedang menyerang pula.

Dengan demikian senjata mereka berempat jadi berbenturan.

Keruan saja, dua pengawal itu kaget setengah mati.

Mereka heran bukan kepalang, atas terjadinya benturan itu, pada waktu itu Sin Houw mempunyai kesempatan untuk mendekati Cie Lan.

Dengan sekali tabas, ia memutuskan tali pembelenggu dengan pedangnya Cie Lan yang masih tergantung di pinggangnya.

Kemudian berkata.

"lni pedangmu!"

"Sin-ko!"

Seru Cie Lan girang, Cepat ia membuang tali pembelenggunya dan terus menerima pedangnya, Dan baru saja pedangnya tergenggam, dua batang tombak pendek Ceng It melintang di depannya, ia terperanjat Tetapi pada saat itu, ia mendengar suara mengaduh.

Cepat ia menoleh dan melihat dua pengawal yang sialan tertusuk tombak Ceng It.

Untung, Ceng It masih sempat menyadarkan tikamannya sehingga hanya menusuk paha.

Kalau tidak, mereka berdua pasti akan menjadi sate mentah.

Peristiwa itu terjadi oleh kecekatan Sin Houw yang bisa mengambil keputusan diluar dugaan.

Melihat ancaman bahaya, sebat ia menyambar dua pengawal yang menyerang dari samping dan dibenturkan pada tombak majikannya dan setelah itu, ia merenggut tali pembelenggu Cie Lan untuk dijadikan alat melawan keganasan tombak Ceng It.

Ceng It pada waktu itu mendongkol bukan main, Dengan geram, ia menendang kedua pengawalnya,Kemudian mengulangi tikamannya.

Sin Houw menyambar tangan Cie Lan dan dibawanya melompat mundur.

Kemudian ia melihat ujung tombak Ceng It dengan tali pembelenggu.

Sudah barang tentu, Ceng It tidak sudi kena libat, untuk membebaskan libatan itu, ia melompat dengan menikamkan tombaknya lagi untuk yang ketiga kalinya, Sin Houw memuji kecekatannya, Tetapi otaknya yang cerdas dapat mengambil tindakan diluar dugaan.

Tadi, memang ia bermaksud menarik tombak itu setelah melihatnya.

Apabila Ceng it melompat maju sambil melepaskan tikamannya, ia malah melepaskan tali libatan, Dan dengan kecepatan luar biasa, ia melompat kesamping sambil melindungi Cie Lan.

Ceng It jadi kehilangan keseimbangan.

Tubuhnya menyelonong ke depan sampai dua langkah jauhnya.

Kemudian dengan mati-matian ia mempertahankannya dengan menjagangkan kedua kakinya.

Thio Sin Houw mempergunakan kesempatan yang baik itu, Dengan membimbing tangan Cie Lan, ia lari keserambi depan, ia membalikkan tubuhnya, berdiri tegak dan menunggu kedatangan mereka dengan sikap tenang luar biasa.

Ceng It jadi panas hati, ia merasa diri kena dipermainkan seorang pemuda seumpama bocah yang belum pandai apaapa.

Maka dengan penasaran dan penuh dengki, ia memburu.

Keempat saudara dan dua kemenakannya segera menyusulnya.

Dan sebentar saja, mereka bertujuh sudah mengambil sikap mengurung.

"Kau jawablah pertanyaanku! Di mana Lim Beng Cin kini berada?"

Bentak Ceng It dengan menudingkan tombaknya.

"Lim Beng Cin? siapakah Lim Beng Cin?"

Sahut Sin Houw heran, Kemudian meneruskan dengan suara sabar.

"Marilah kita bicarakan dengan baik-baik. susiok sekalian tidak perlu bergusar hati terhadapku."

"Apakah kau muridnya Lim Beng Cin yang terkenal dengan sebutan Gin-coa Long-kun?"

Kata Ceng It yang tidak menggubris.

"Apakah kedatanganmu ke sini, atas perintahnya?"

Belum lagi Sin Houw membuka mulutnya, Ceng Sie ikut bicara, Katanya garang.

"Anak muda! sebelum terlanjur berilah kami keterangan sejelas-jelasnya -coba jawab, dimanakah Gin-coa Long-kun kini berada?"

Sepasang alis Sin Houw terbangun.

Teringatlah dia, bahwa dahulu Kun Cu dan temannya secara samar-samar pernah menyebut Gin-coa Long-kun dengan nama Lim Beng Cin pula, Maka oleh ingatan itu, segera ia menjawab.

"Dengan sesungguhnya, selama hidupku belum pernah aku melihat wajah Gin-coa Long-kun. Bagaimana dia bisa memerintahkan aku untuk datang ke sini?"

"Apa kata-katamu ada harganya untuk kami percaya?"

Ceng sie menegas.

"Hem! Meskipun aku bukan seorang ksatria besar, tetapi selama hidupku belum pernah aku berbohong terhadap siapapun."

Sahut Sin Houw mendongkol.

"Secara kebetulan aku bertemu dengan saudara Giok Cu, kemudian bersahabat dan datang ke sini untuk mengunjungi dan menjenguk kesehatannya, Apakah hal ini ada hubungannya dengan Gincoa Long-kun?"

Mendengar perkataan Sin Houw Ceng It berlima agak menjadi tenang, Namun rasa curiga mereka belum hilang, setelah berdiam sejenak, Ceng It berkata mengancam.

"Kau bisa menyebut Gin-coa Long-kun dengan lancar, pastilah kau mengetahui dimana tempat persembunyiannya, janganlah kau mengharap bisa keluar dari dusun ini. Terus terang saja, dia adalah orang buruan kami!"

Thio Sin Houw menjadi tercengang mendengar bunyi ancaman Ceng It, ia menjadi teringat dengan nasib keluarganya yang terus-menerus dikejar-kejar musuh dari berbagai jurusan, Dan teringat hal itu, hatinya sengit, Namun masih bisa ia bersikap sabar dan tenang, setelah membungkuk hormat, ia menyahuti "Aku memang kenal namanya, tetapi aku bukan sanak atau keluarganya, Akupun belum pernah melihat dirinya dengan berhadap-hadapan, apalagi berbicara dengannya.

Hanya saja memang aku tahu, di mana dia kini berada.

Tetapi yang kukhawatirkan, barangkali tiada seorangpun yang berani menemuinya ..."

Itulah suatu penghinaan bagi Ceng It berlima, lantas saja ia menggerung hebat. Teriaknya.

"Siapa bilang kami tak berani mencarinya ? Belasan tahun sudah, kami berusaha mencari untuk menemukannya kembali. Kami berlima boleh kau antarkan seorang demi seorang, atau dengan berbareng. Sesukamulah! Biarpun dia bersembunyi di ujung langit, kami tidak akan mundur selangkah pun juga..."

Nah, antarkan kami kepadanya! Atau berilah kami keterangan di mana dia sekarang berada."

Thio Sin Houw tertawa tawar, sebagai seorang pemuda yang banyak mempunyai pengalaman berhadapan dengan musuh-musuh ayah-bundanya, lantas saja dia dapat menilai budi pekerti Ceng It dan saudara-saudaranya, sahutnya menggertak.

"Apakah benar-benar susiok hendak menemui dia?"

Dengan hati panas, Ceng It maju selangkah. Berteriak nyaring.

"Tidak salah lagi! Aku memang mau menemui dia, Di mana?"

Sin Houw mengkerutkan dahi, Ber-tanya menegas.

"Sebenarnya apa maksud susiok hendak menemuinya?"

"Hei, anak muda!"

Bentak Ceng It.

"Kau anak kemarin sore, janganlah kau mempermainkan aku yang sudah ubanan, kau katakanlah, dimana dia sekarang berada!"

Sin Houw tersenyum melihat kelakuan orang tua itu, yang masih berangasan, jawabnya.

"Kurasa susiok masih membutuhkan waktu beberapa tahun, untuk bisa menemui dia."

"Apa maksudmu?"

Potong Ceng It.

"Karena dia sudah meninggal dunia..."

Ujar Sin Houw dengan suara tenang.

Mendengar perkataan itu, mereka semua tercengang, Juga seluruh anggauta keluarga Cio-liang pay yang ikut menyusul ke serambi depan.

Tiba-tiba terdengarlah pekik suara Giok Cu.

"lbu! ibu ...!"

Thio Sin Houw menoleh.

Dan pada saat itu, ia masih berkesempatan melihat ibunya Giok Cu jatuh pingsan di atas kursi.

Cepat-cepat Giok Cu mengangkat kepala ibunya, dan diletakkan diatas pangkuannya, wajah ibunya pucat lesi, kedua matanya tertutup rapat.

"Hemm ...!"

Dengus Ceng Sie dengan bersungut, Ceng Jie berpaling kepada Giok Cu, menuding sambil berkata memerintah.

"Kau bawalah ibumu masuk kedalam, Keluarga kita tak boleh memperlihatkan kelemahannya!"

Giok Cu menangis dengan tiba-tiba, jawabnya dengan sengit.

"lbu terkejut tatkala mendengar berita ayah, kenapa harus malu? Apa yang harus disembunyikan? ibu bersengsara, ibu pedih, Hatinya kena tertikam!"

Mendengar perkataan Giok Cu Sin Houw menjadi sangat terkejut, pikirnya didalam hati.

"Jadi, Gin-coa Long-kun suami wanita itu? Jadi, Gin-coa Long-kun ayahnya Giok Cu?"

Ceng Sam menegakkan pandangnya, mendengar perkataan Giok Cu. Dengan menahan luapan marahnya, dia membentak.

"Toako! Kau sayang kepada anak itu, nyatanya dia berani melawan perintah Jie-ko. Idzinkanlah aku menghajar dia!"

Ceng It mencoba menengahi, Kata-nya sengit kepada Giok Cu.

"Kau bilang, Gin-coa Long-kun itu ayahmu? Hayo, kau bawa ibumu masuk ke dalam! Cepat!"

Giok Cu tak berani membantah perintah pamannya yang tertua.

Dengan memaksa diri, ia memapah ibunya hendak dibawanya masuk ke dalam rumah.

Tiba-tiba ibunya Giok Cu tersadar, perlahan-lahan ia berkata kepada Giok Cu.

"Katakan kepada anak Sin Houw, bahwa aku ingin berbicara esok malam, Banyak yang hendak kutanyakan kepada-nya."

Giok Cu memanggut dan segera mendekati Sin Houw. Katanya.

"Masih ada satu hari lagi. Esok malam datanglah ke sini lagi untuk mencari emasmu. ingin kutahu, kau mempunyai kemampuan atau tidak."

Setelah berkata demikian, ia mengeringkan matanya kepada Cie Lan. Pandangnya sengit, Kemudian ia memapah ibunya masuk ke dalam.

"Mari, Lan-moay. Kita pergi saja"

Ajak Sin Houw kepada Cie Lan. Dengan memanggut kecil, Cie Lan mendahului memutar tubuhnya.

"Tunggu dulu!"

Seru Ceng Go dengan menghalangkan kedua tangannya.

"Jawab pertanyaanku satu kali lagi!"

"Hari sudah larut malam, susiok."

Sahut Sin Houw dengan membungkuk hormat.

"Lain kali aku datang ke sini untuk memenuhi kehendak susiok."

"Tidak! Jawab pertanyaanku dulu! Waktu Lim Beng Cin mati, siapa yang menyaksikan? Lagipula, di mana dia mati ?"

Dengan sesungguhnya, Gin coa Long-kun bukan sanak keluarga Sin Houw, Tetapi mendengar lagak pertanyaan Ceng Go, ia jadi panas hati.

Entah apa sebabnya, Dan seketika itu juga, teringatlah dia kepada Thio Kun Cu dan temannya yang datang ke gunung Hoa-san hendak mencari warisan Gin coa Long kun, pikirnya didalam hati.

"Hm... apakah aku tak tahu maksudmu sebenarnya? Kau benci terhadap Gin-coa Long-kun, tetapi hatimu mengincar warisannya. Bagus benar hatimu. walaupun sampai mati, tidak akan aku memberi keterangan kepadamu."

Dan oleh pikiran itu, ia menjawab dengan mengulum senyum.

"Sebenarnya aku hanya mendengar berita kematian Gincoa Long-kun dari tutur-kata seorang sahabat. Kalau tak salah, menurut sahabatku itu Gin-coa Long-kun meninggal disebuah pulau di seberang sungai Tiang-kang, Nama pulau itu sendiri, katanya Beng-to."

Ceng It berlima saling pandang dengan rasa heran penuh pertanyaan. Mati di pulau Beng-to? Mengapa begitu jauh? Sementara itu Sin Houw berkata lagi.

"Nah, bila susiok sekalian ingin melihat makamnya, pergilah ke pulau Beng-to ... Sekarang, perkenankan kami berdua beristirahat dulu, karena hari sudah jauh malam. Hawa pegunungan terlalu dingin bagiku."

"Tunggu dulu!"

Cegah Ceng Jie.

Kedua tangannya dilintangkan menghadang kepergian Sin Houw, seperti perbuatan Ceng Go tadi.

Tak senang Sin Houw dihadang dengan cara demikian.

segera ia menolak lengan Ceng Jie.

Tetapi Ceng Jie tidak mau mengerti, dan ia segera menekuk lengannya lalu mencengkeram, sasarannya mengarah pergelangan tangan.

Thio Sin Houw tak sudi terlibat dalam suatu perkelahian lagi.

Begitu tangannya berbenturan, cepat-cepat ia menyambar lengan Cie Lan, Dengan suatu isyarat, ia mengajak Cie Lan melompat melalui hadangan kaki Ceng Jie.

Ternyata Cie Lan seorang gadis yang cerdas, ia mendahului melompat dan berhasil melalui hadangan Ceng Jie dengan selamat.

Ceng Jie jadi panas hati, Tangan kanannya bergerak meraba pinggangnya, Dan tiba-tiba saja ia sudah menggenggam sebatang cambuk lemas yang tadinya dipergunakan sebagai ikat pinggang.

Cambuk itu termasuk senjata andalannya .

Dibuat dari otot lembu yang kuat luar biasa, karena terlapis dengan logam, Kedahsyatannya melebihi cambuk yang dibuat dari logam penuh.

Sebab daya gunanya jauh lebih baik dari pada logam yang sifatnya kaku.

Kadang-kadang bisa kencang tak ubah sebatang tombak, kadangkala bisa melingkari semacam gaetan setajam pisau cukur.

Dan dengan satu lecutan, ia menghantam punggung Sin Houw yang telah melaluinya.

Betapa bahayanya, tak usah dikatakan lagi.

Thio-Sin Houw mendengar kesiur angin mengejar dirinya, Tanpa menoleh, ia melesat maju sambil menyambar tangan Cie Lan, Kemudian dengan mengerahkan enam bagian himpunan tenaga dalamnya, ia membawa Cie Lan melompat ke atas dinding.

Dan cambuknya Ceng Jie menghajar tempat kosong.

Ceng Jie semakin penasaran.

Belasan tahun lamanya ia telah melatih diri dengan cambuk andalannya, selama itu, tak pernah sasarannya gagal.

Tetapi anak muda itu ternyata bisa mengelakkan diri dengan mudah saja.

Maka ia mengulangi lagi serangannya, kali ini mengarah kakinya Cie Lan yang baru saja mendarat diatas tembok.

Mendongkol hati Sin Houw yang menyaksikan kelicikan Ceng Jie, Mengapa menghantam Cie Lan yang kepandaiannya kalah tinggi?

Sebat ia mengulur tangan kirinya menangkap ujung cambuk, sambil ia melindungi Cie Lan.

waktu itu, kedua kakinya telah mendarat di atas tembokmaka dengan mengerahkan tenaga, ia menghentak.

Ceng Jie kaget bukan kepalang .

Sama sekali tak diduganya, bahwa Sin Houw mampu menangkap ujung cambukny .

Ketika melecutkan cambuknya, ia melompat maju pula, Kini tiba-tiba kena bentak Sin Houw dari atas tembok.

Karena kalah tenaga, ia terangkat naik, kedua kakinya jadi bergelantungan, ia jadi kehilangan tenaga.

Tak dapat lagi ia berkutik.

Dalam detik itu juga, ia jadi menyesal atas kesemberonoannya sendiri.

Tadinya ia mengira, dengan menjatuhkan Cie Lan dari atas tembok, kedudukan keluarga Cio-liang pay jadi tidak terlalu suram.

Tak tahunya, ia kini malah kena digelantungkan diudara, tak ubah seorang persakitan lagi menjalankan hukuman gantung.

ia mendongkol, panas hati, penasaran , malu dan menyesal.

Ceng Go menyadari kakaknya dalam kesulitan, Cepatcepat ia melepaskan pisau terbangnya hendak menolong, Bidikannya mengarah pada cambuk.

sebaliknya Sin Houw mengira, dirinya akan diserang, Cepat-cepat ia melepaskan ujung cambuk yang berada dalam genggamannya sambil membawa Cie Lan melompat turun melintasi tembok.

Tepat pada saat itu, sebatang pisau terbang menyambar kearahnya.

Dengan gesit ia mendupak selagi melompat, dan pisau itu terpental balik membentur pisau kedua.

Trang!

Kedua pisau terbang itu runtuh bergelontangan diatas tanah.

Dalam pada itu, Ceng Jie yang bergelantungan diatas terbanting jatuh ketika Sin Houw melepaskan pegangannya, Tepat pada saat itu, ia melihat berkelebatnya sebatang pisauterbang yang terpental balik kena dupakan Sin Houw, Kaget ia melencutkan cambuknya.

Maksudnya, hendak menggaet sebelum mengancam dirinya, Diluar dugaan, cambuknya telah terpapas kutung.

Keruan saja hatinya tercekat, Dengan mati-matian ia merobohkan diri di atas tanah sambil bergulingan justru pada saat itu, kedua pisau yang saling berbenturan, meletik memburu dirinya, ia selamat, tetapi tak urung bajunya masih saja kena sambar sehingga menjadi koyak.

Ia bangkit tertatih-tatih, Mulutnya ternganga.

Sama sekali tak disangkanya, bahwa dalam keadaan demikian, masih Sin Houw mampu mengadakan serangan balasan dengan menggunakan pisau terbang lawan.

cambuknya sendiri terpotong menjadi dua bagian sehingga tak dapat dipergunakan lagi!

Ceng It kagum bukan main, sampai ia menggelenggelengkan kepalanya, juga adik-adiknya pun begitu juga, Kata Ceng Go.

"Umur anak itu belum melebihi duapuluh lima tahun. seumpama dia belajar ilmu sakti selagi masih di dalam kandungan ibunya, kepandaiannya pun tentunya terbatas pada masa latihannya, tetapi kenapa dia memiliki kepandaiannya jauh melebihi diriku?"

Ceng Go yang masih penasaran, tak sudi mengakui keunggulan Sin Houw, ia mencari kambing hitamnya. Teriaknya.

"Bangsat Lim Beng Cin yang berkepandaian tinggi", akhirnya roboh di tangan kita, Masakan kita kini kalah melawan anak kemarin sore? Besok malam dia datang lagi untuk mencoba mengambil emasnya kembali. Baiklah, besok malam kita mengadakan perlawanan yang sungguh-sungguh!" ***** THIO SIN HOUW dan Cie Lan sudah berada dalam rumah pemondokannya, dengan tak kurang suatu apa. Mereka menyalakan lampu penerangan. Cie Lan memuji dan mengagumi kepandaian Sin Houw tiada hentinya. Katanya.

"Sin-ko! Ciu suheng biasanya memuji-muji kepandaian gurunya, Tetapi kurasa, kepandaian gurunya tak akan bisa menandingi kepandaianmu."

"Maksudmu, temanmu yang mengawal barang perbekalan?"

Sin Houw menegas.

"Ya."

Cie Lan mengangguk, pipinya kelihatan agak bersemu merah.

"Siapa gurunya?"

"Namanya Ciu suheng adalah Ciu San Bin,"

Cie Lan menjelaskan.

"Sedangkan gurunya adalah Tong-pit Thi-suipoa Lauw Tong Seng, waktu mendengar julukannya Tong-pit atau pit kuningan dan Thi-suopoa atau alat hitung besi, aku tertawa karena merasa lucu..."

Thio Sin Houw mengangguk. pikirnya didalam hati.

"Kalau begitu gurunya San Bin itu adalah kakak seperguruanku yang tertua..."

Dan teringatlah Sin Houw dengan penuturan gurunya selagi mereka masih berkumpul, yang sempat memberitahukan nama-nama saudara-saudara seperguruannya.

Pada malam hari ketiga, Sin Houw meminta kepada Cie Lan agar gadis itu menunggu saja ditempat pemondokan.

Seharian tadi, ia memikirkan tentang kemungkinankemungkinannya.

Rasanya, lebih baik apabila ia pergi sendirian.

Dengan demikian, perhatiannya tidak terbagi.

Apabila terancam bahaya, tak usah lagi ia memikirkan keselamatan Cie Lan.

Dilain pihak, Cie Lan menyadari kepandaian diri sendiri yang belum ada artinya apabila dibandingkan dengan pihak Ciu-liang pay.

Kalau ikut pergi, malahan membuat susah Sin Houw saja.

Meskipun maksudnya hendak memberi bantuan, kenyataannya jatuh sebaliknya, maka iapun tak membantah permintaan Sin Houw agar menunggu ditempat pemondokan.

Thio Sin Houw menunggu sampai larut malam, setelah itu ia minta diri kepada Cie Lan dan berangkatlah ia seorang diri, seperti kemarin malam, ia mengambil jalan masuk lewat dinding pagar, setelah berada didalam pekarangan -ia melihat rumah tiada penerangannya sama sekali.

suasananya sunyi senyap tak ubah suatu pekuburan.

Hati-hati ia mendekati serambi depan dari samping.

Tiba-tiba terdengar suara seruling mengalun tinggi.

"Akh! itulah serulingnya Giok Cu, yang agaknya memberi isyarat agar aku datang kepadanya."

Pikir Sin Houw didalam hati.

"Keluarganya licin dan ganas, tetapi Giok Cu masih mengingat azas persahabatan."

Dengan hati riang dan penuh rasa bersyukur, Thio Sin Houw segera melompati tembok pagar mengarah datangnya suara seruling, itulah bukit dengan dengan taman bunga dan rumah pesanggrahannya, yang baru-baru ini pernah mereka singgah dan bersenandung bersama.

Segera ia mendaki tanjakan, dan nampaklah dua sosok tubuh sedang duduk diserambi pesanggrahan.

Mereka berdua adalah wanita, Sin Houw berhenti dan memperhatikan, terpaksa ia harus menunggu sampai bulan bersinar dari balik gumpalan awan, Dan begitu sinarnya memancar ke bumi, nampaklah seorang di antaranya sedang meniup seruling.

"Siapakah itu?"

Pikirnya di dalam hati, Lagu yang dikumandangkan adalah lagu kesayangan Giok Cu, juga gaya dan cara meniup seruling itu adalah gayanya Giok Cu, ia menjadi heran dan curiga, lalu secara berhati-hati ia lantas mendekati.

"Sin koko!"

Seru wanita yang meniup seruling itu dengan suara tertahan.

Thio Sin Houw menjadi terpukau, itulah suara Giok Cu!

Tetapi mengapa seorang gadis?

Apakah ia sedang menyamar setelah berdiam sejenak, barulah ia membuka mulutnya.

"Kau ... kau ... bukankah ...?"

Giok Cu memutus perkataan Sin Houw dengan tertawa geli, Katanya.

"Mari! sebenarnya aku memang seorang wanita. sekian lamanya aku telah menipu kau, Maafkanlah aku, Sin-koko, Kau tidak marah, bukan?"

Keterangan Giok Cu ini menambah keheranan Sin Houw, ia benar-benar jadi terpaku dan merasa diri seakan-akan berada dalam suatu impian aneh, Tetapi sedetik kemudian, teringatlah dia akan kelakuan dan sepak terjang Giok Cu perangai dan sifatnya memang perangai dan sifat seorang perempuan.

ia menjadi geli sendiri, dan rasa curiganya lenyap seketika!

Dengan mengenakan pakaian wanita, Giok Cu nampak cantik luar biasa.

Alisnya lentik, matanya jernih bening, pipinya penuh, bibirnya tipis.

Dan perawakan tubuhnya langsing semampai.

Melihat kesan demikian, Sin Houw tertawa geli didalam hati.

Pikirnya.

"Dasar aku tolol! sampai seorang gadis saja tidak segera kukenal."

"Mari, Sin koko, Kuperkenalkan dengan ibuku. ibu ingin bicara denganmu, kalau kau tidak keberatan."

Kata Giok Cu menyambut tangan Sin Houw, Dan Sin Houw membiarkan tangannya terbimbing, justru demikian, wajahnya terasa menjadi panas, sambil berjalan menghampiri ibunya Giok Cu, ia menarik tangannya perlahan-lahan.

Giok Cu pun agaknya tersadar.

Dengan tersipu-sipu ia melepaskan genggaman tangannya.

"Su-bbuw, perkenalkan diriku .... Thio Sin Houw,"

Kata Sin Houw dengan suara agak kaku. Thio Sin Houw membungkuk hormat, dan ibunya Giok Cu segera bangkit dari tempat duduknya. sahutnya.

"Anak, janganlah memakai adat-istiadat yang berlebihlebihan, Duduklah."

Sin Houw mengamat-amati ibunya Giok Cu.

Kedua matanya merah seperti baru menangis.

wajahnya kucal dan tidak bersemangat.

suatu tanda, bahwa wanita itu dalam keadaan dukacita yang hebat.

pikir Sin Houw didalam hati.

"Nyonya ini pada waktu mudanya telah kena diganggu iblis. Kemudian lahiriah Giok Cu, Kalau begitu, iblis itu adalah Gin-coa Long-kun. pantaslah keluarga Cio-liang pay benci luar biasa terhadap Gin-coa Long-kun, Bahkan nampaknya membenci nyonya ini pula, Tatkala Giok Cu menyebut Gin-coa Long-kun sebagai ayahnya, dia telah dibentak. Sebaliknya ketika mendengar kematian Gin-coa Long-kun, nyonya ini lantas saja jatuh pingsan. itulah suatu tanda rasa dukacita yang hebat! Kenapa diantara keluarga Cio-liang pay terjadi suatu perpecahan? pastilah ada latar belakangnya yang menarik. Mungkin pula menyangkut masalah hubungan antara Gin-coa Long-kun dan nyonya ini. Akh, biar bagaimanapun, aku harus berusaha menghibur nyonya ini."

Setelah memperoleh keputusan demikian, ia menatap wajah ibunya Giok Cu, Tetapi sekian lamanya, nyonya itu tetap mengunci mulutnya, setelah menghela napas beberapa kali, ia berkata memberanikan diri untuk meminta keterangan.

Tanyanya.

"Benarkah dia telah wafat? Anak Sin Houw, apakah kau melihatnya sendiri ?"

Sin Houw tahu siapakah yang disebut itu, itulah pasti Gincoa Long-kun, Dan ia memanggut. Nyonya itu menatapnya sejenak. pandang matanya berbimbang-bimbang lalu berkata meyakinkan.

"Anak, kau adalah sahabatnya anak Giok Cu, Karena itu, tak dapat aku bersikap seperti sekalian pamannya. percayalah, aku tidak mempunyai rasa permusuhan terhadapmu. Maka kuminta sudilah kau menceritakan wafatnya dengan sebenar-benarnya,"

Bagaimana sifat dan perangai Gin-coa Long-kun, sebenarnya masih gelap bagi Sin Houw, ia hanya mendengar tutur kata kedua gurunya belaka.

Menurut kata kedua gurunya, sepak terjang Gin-coa Long-kun sangat aneh serta luar-biasa, Dia boleh digolongkan menusia sesat dan tak sesat.

itulah perkataan yang penuh teka-teki.

sebab penilaian terhadap Gin-coa Long-kun tergantung pada manusia-manusia yang pernah mengenalnya.

Yang merasa dirugikan tentu saja akan mengutuknya sebagai manusia iblis, sebaliknya yang merasa dilindungi, memujanya sebagai juru selamat, Sin Houw pun mempunyai pendapat sendiri.

Kalau kedua gurunya yang dikenal masyarakat sebagai manusia-manusia terkenal aneh menyebut Gin-coa Long-kun berperangai luar biasa, maka sudah dapat dibayangkan betapa hebat sepak terjangnya.

Akan tetapi, lepas dari persoalan buruk dan baiknya, sesungguhnya Gin-coa Long-kun memang manusia luar biasa, hal itu dapat dinilai dari warisan ilmu kepandaiannya.

Kalau bukan manusia yang memiliki otak cerdas luar biasa, mustahil bisa menciptakan ragam ilmu kepandaian hebat bukan main, Sin Houw mengagumi dengan diam-diam.

Dan sejak mempelajari kitab warisannya, ia mengakui Gin-coa Long-kun sebagai gurunya yang ketiga didalam hati sanubarinya, itulah sebabnya ia bersakit hati tatkala keluarga Cio-liang pay menyebut dan memaki Gin-coa Long-kun sebagai bangsat.

Hanya karena belum mengetahui latar belakang persoalannya, tak dapat ia mengadakan pembelaan, Benarkah Gin-coa Long-kun seorang bajingan yang pantas dikutuk?

Kini ia mendengar suara ibunya Giok Cu yang lemah lembut, Dia bersikap lain terhadap Gin-coa Long-kun, padahal dia dikabarkan terusak masa gadisnya.

Tetapi melihat sikapnya pastilah cerita tentang dirinya adalah khabar isapan jempol belaka.

Maka ia memperoleh kesan lain terhadap Gincoa Long-kun.

Dan dengan kesan itu, ia memberikan jawaban atas pertanyaan ibu nya Giok Cu.

"Sebenarnya, belum pernah aku bertemu dengan orangnya. Meskipun demikian perhitungan kami seperti guru dan murid. Beliaulah guruku, karena ilmu kepandaianku ini kuperoleh dari beliau -lebih baik aku menutup mulut mengenai kematian beliau. sebab aku khawatir makamnya akan dirusak oleh tangan-tangan jahat."

Tiba-tiba ibunya Giok Cu roboh diatas kursinya. Giok Cu melompat dan menggoncang-goncang tubuh ibunya, serunya setengah meratap.

"lbu ... ibu! Kuatkan hatimu... bukankah ibu ingin mendengarkan keterangan tentang ayah yang sebenamya?"

Kira-kira sepuluh menit, ibunya Giok Cu roboh dan tak sadarkan diri di atas kursinya, Dan setelah memperoleh kesadarannya kembali, dia menangis sedih, Ratapnya.

"Delapanbelas tahun lamanya, aku menunggu, setiap hari, setiap malam. setiap detik, senantiasa aku berharap dan berdo'a bahwa pada suatu hari dia akan datang membawa aku dan Giok Cu pergi dari rumah terkutuk ini. akhirnya ... dia sendiri yang telah mendahului isteri dan anaknya, Dan kau .... Giok Cu, anakku. Kau belum pernah melihat wajah ayahmu, Tak bolehkah aku meratapinya?"

Sudah terlalu sering, Sin Houw melihat dan mengalami kepiluan demikian.

Tatkala ayah-ibunya dan kedua kakaknya mati dan hilang, betapa sedih hatinya tak dapat terlukiskan lagi.

Karena itu, bisa ia menerima ratap tangis ibunya Giok Cu, Tetapi adalah membahayakan, apabila membiarkannya dalam keadaan demikian.

Setidak-tidaknya kesehatannya akan terancam bahaya.

Katanya menghibur.

"Su-bouw, sudahlah, jangan diper-turutkan rasa hati, Akupun pernah merasakan kerisauan hati demikian. seumpama aku tak dapat menolong diri, pada saat ini tiada lagi Thio Sin Houw didalam dunia. suhu kini sudah tenteram dialam baka, akulah yang mengubur tulang-tulangnya."

"Kau? Kau yang mengubur tulang-tulangnya?"

Ibunya Giok Cu mengangkat kepalanya. Dan diantara tetesan air-matanya nampaklah sepercik sinar tersembul diwajahnya, Katanya lagi.

"Oh, budimu sangat besar. Entah bagaimana caraku kelak membalas budimu itu."

Setelah berkata demikian, segera ia bangkit dari kursinya.

Terus saja ia membungkuk hormat dan bahkan hendak berlutut.

Keruan saja Sin Houw kaget bukan kepalang, Cepatcepat ia mencegah.

Tetapi ibunya Giok Cu tak mau mengerti, katanya memberi perintah kepada anaknya.

"Giok Cu, hayo, Kau berlutut kepada anak Sin Houw!"

Dan sebelum Sin Houw dapat berbuat apa-apa, Giok Cu tiba-tiba saja menjatuhkan diri dan berlutut di hadapan Sin Houw, Cepat-cepat Sin Houw membangunkannya dan membalas memberi hormat.

setelah itu ia mempersilahkan ibunya Giok Cu kembali duduk di kursinya.

Beberapa saat kemudian, ibunya Giok Cu sudah dapat menguasai diri, ia nampak tenang kembali, lalu mengajukan pertanyaan.

"Apakah dia tidak menulis surat untuk kami berdua?"

Mendengar pertanyaan itu, Thio Sin Houw jadi teringat dengan bunyi pesan Gin-coa Long-kun, ia harus mencari seseorang yang bernama Shiu Shiu, dan ia diwajibkan memberikan uang emas sebanyak seratus ribu keping.

Apakah ibunya Giok Cu ini yang bernama Shiu Shiu?

Menilik bunyi nama anaknya, Sin Houw jadi menebaknebak.

jumlah uang emas itu bukan main banyaknya, siapapun akan mudah tergiur.

Apakah Gin-coa Long-kun binasa karena harta itu?

ia pernah memeriksa peta peninggalan Gin-coa Long-kun, namun tidak begitu menaruh perhatian, karena seringkali manusia mati dan tersesat oleh harta benda.

Dan sekarang pertanyaan ibunya Giok Cu seperti menggugah ingatannya.

Hati-hati ia minta ketegasan.

"Maaf, apakah su-bouw yang bernama Shiu Shiu?"

Ibunya Giok Cu terkejut sekali. Wajahnya berubah, dan sahutnya dengan suara agak menggeletar.

"Benar, itulah nama kecilku. Dari manakah kau mengetahui? siapa yang telah memberitahukan? Akh, ya. pastilah kau mengetahui dari bunyi suratnya apakah suratnya itu kini kau bawa?"

Agak tegang keadaan ibunya Giok Cu yang menunggu jawaban dari Sin Houw, pandang matanya seakan-akan tidak berkedip.

selagi ia menunggu jawaban, tiba-tiba Sin Houw lompat melesat ke luar serambi.

Tangannya menyambar kearah gerombol bunga-bunga yang berada didekat tanjakan.

Giok Cu dan ibunya menjadi terkejut dan heran.

Dengan pandang penuh pertanyaan, mereka mengikuti gerakan Sin Houw, Kenapa pemuda itu tiba-tiba melarikan diri?

Tetapi kemudian terdengarlah suara mengaduh dari balik gerombol pohon bunga, dan muncullah Sin Houw dengan menggusur seorang laki laki yang mati kutu, Dia dijatuhkan di lantai didepan Giok Cu.

"Hey, Cit-susiok!"

Seru Giok Cu heran dengan suara tertahan. Ibunya Giok Cu segera mengenalnya pula, ia menarik napas panjang, Kata-nya prihatin kepada Sin Houw.

"Bebaskan dia, anakku! Di sini tiada seorangpun yang memandang kami berdua sebagai manusia berharga, karena itu mereka dengan enak saja main selidik dan main mengintai semua gerak gerik serta pembicaraan kami berdua."

Suara ibunya Giok Cu terdengar lesu dan patah semangat.

Sin Houw segera membebaskan tawanannya dari totokannya dengan sebuah tepukan.

Dan tawanan itu yang bernama Thio Ceng Cit, memekik perlahan dan tersadar.

Dengan Ceng Cit, belum pernah Sin Houw mengadu kepandaian.

Dia adalah salah seorang anggauta keluarga Cio-liang pay yang tidak hadir pada pertempuran kemarin.

"Cit susiok!"

Tegur Giok Cu dengan bersungut.

"Kami sedang berbicara, kenapa susiok mengintai? Sama sekali Cit susiok tidak menghargai martabatmu sendiri."

Sepasang mata Ceng Cit terbelalak, ia mendongkol namun tak membuka mulutnya.

Dengan berdiam diri, ia memutar tubuhnya dan melangkah hendak meninggalkan serambi, pengalamannya tadi menyadarkan dirinya, bahwa ia bukan tandingan anak muda itu yang dapat mencekuknya dengan sekali sambar.

Namun setelah berada beberapa langkah diluar serambi, ia menoleh dan berkata dengan sengit.

"Hey! Kalian yang seharusnya malu terhadap kami, karena kau melahirkan seorang anak tanpa bapak. Huh! Kau perempuan pandai mencuri laki-laki, Sekarang anak perempuanmu kau ajari pula mencuri laki-laki."

Itu adalah suatu penghinaan besar terhadap Giok Cu berdua.

Maka dapat di mengerti, betapa tersinggung rasa kehormatan ibunya Giok Cu dan anak gadis nya, Giok Cu secara tiba-tiba bahkan telah menghunus pedangnya dan melompat keluar serambi memburu pamannya, serunya dengan suara penuh kebencian.

"Kau bilang apa? Cit susiok, mulutmu kotor sekali!"

Thio Ceng Cit memutar tubuhnya dan berdiri tegak, siap bertempur. Bentaknya.

"Apa? Kau hendak melawan kami? Aku datang ke sini atas perintah paman-pamanmu semua, tahu! Kau mau apa?"

"Jika susiok hendak berbicara dengan kami, bukankah dapat menunggu esok hari dibawah matahari terang benderang .,.?"

Giok Cu balas membentak.."Kenapa susiok main selidik dan mengintai?"

"Hemm!"

Dengus Ceng Cit, Kemudian tertawa mengejek.

"Kalian memasukkan orang hutan ke sini, sejarah lama akan kalian ulangi lagi! Delapan belas tahun sudah nama kehormatan keluarga Cio-liang pay merosot akibat perbuatan ibu mu. Kau malu, tidak?"

Giok Cu menjadi pucat mukanya. ia menoleh kepada ibunya, berkata mengadu .

"lbu, dengarkanlah perkataannya, pantaskah ucapan itu keluar dari mulut seorang laki-laki yang kusebut paman?"

Thio Ceng Cit hendak membalas dengan ucapan sengit, tetapi ibunya Giok Cu mendahului memanggil anaknya. Katanya perlahan.

"Giok Cu, jangan layani dia, Dan kau, Cit-ko, Kemarilah. Aku ingin bicara denganmu."

Ceng Cit mendengus lagi, lalu menghampiri dengan sikap tinggi hati, Shiu Shiu tidak menghiraukan. Katanya kemudian.

"Kami ibu dan anak, sudah lama hidup menderita, Meskipun demikian kami berdua wajib berterima kasih kepada kalian semua saudara-saudaraku, sebab kami berdua masih dibolehkan bertempat tinggal didalam lingkungan keluarga Cio-liang pay. Tentang Lim Beng Cin, belum pernah aku berbicara sepatah katapun kepada Giok Cu. Tetapi sekarang, setelah ayahnya itu sudah meninggal dan selagi kalian mengetahui semua peristiwanya, sudilah Cit-ko menolong aku, menuturkan semua yang Cit-ko ketahui tentang Lim Beng Cin kepada anakku Giok Cu dan Sin Houw, sudikah Cit-ko meluluskan permintaanku ini?"

"Mengapa aku yang harus menceritakan?"

Tanya Ceng Cit dengan hati men-dongkol.

"lnilah urusanmu, inilah perkaramu! Maka kau sendirilah yang sebenarnya harus menceritakan asal mulanya. Apakah karena merasa malu, sehingga kau minta pertolonganku?"

Chiu Shiu menarik napas, sejenak ia berdiam diri, kemudian berkata.

"Malu! Apa yang harus aku malukan ...? Kalau aku minta pertolonganmu semata-mata karena Cit-ko adalah salah seorang saksi yang pernah berhutang budi kepadanya. Bukankah Beng Cin pernah menolong jiwamu? Hmm, apakah didalam hatimu tiada lagi terdapat nilai-nilai budi seperti kalian anggauta keluarga Cio-liang pay?"

Mendengar perkataan Chiu Shiu wajah Ceng Cit merah padam, sahutnya dengan sengit.

"Baiklah! Memang benar, ia pernah menolong jiwaku. Tetapi kenapa dia sudi menolong jiwaku? Huh! seorang bajingan seperti Lim Beng Cin mana mau menolong orang tanpa perhitungan yang matang demi kepentingan diri sendiri ? Baiklah, biar aku ceritakan semuanya. Memang, kalau kau yang bercerita sendiri, pastilah akan kau tambahi bumbubumbu penyedap!"

Setelah berkata demikian, Ceng Cit mengambil tempat duduk. Kemudian mulailah dia berkata.

"Kau, saudara Sin Houw dan Giok Cu, dengarkanlah. Aku akan mulai menceritakan mengenai seorang bajingan yang bernama Lim Beng Cin. Biarlah aku ceritakan semuanya, agar kalian bisa menilai dan mengetahui betapa jahatnya si bajingan itu!"

"Apa? Kau bilang bajingan? Jika kau memburuk-burukkan ayah, tak sudi lagi aku mendengarkan semua perkataanmu l"

Damprat Giok Cu, dan kedua telinganya lantas ditutupnya rapat-rapat.

"Giok Cu, dengarkan saja!"

Kata ibunya.

"Ayahmu kini sudah meninggal dunia. Meskipun ayahmu belum dapat di katakan sebagai manusia baik, namun apabila dibandingkan dengan keluarga Cio-liang pay -nilai budinya beratus kali lipat lebih tinggi."

"Hemm! jangan lupa, kaupun termasuk keluarga Cio-liang pay."

Ujar "Thio Ceng Cit dengan tertawa menghina. Tetapi Shiu Shiu bersikap dingin. sama sekali ia tidak mengacuhkan ejekan kakaknya. Dan mulailah Ceng Cit bercerita.

"Peristiwa itu terjadi pada dua puluh tahun yang lalu, waktu itu aku baru berumur duapuluh satu tahun. pekerjaanku membantu susiok Thio Kan Jie mengawal barang dagangan ..."

"Huhl Dagangan!"

Gerutu Giok Cu.

"Katakan saja terusterang, barang rampokan ...! Malu?"

"Giok Cu, jangan usil!"

Tegur ibunya. Wajah Ceng Cit menjadi merah padam, akan tetapi ia berusaha menguasai diri dan meneruskan ceritanya.

"Pada suatu hari aku membantu susiok Thio Kan Jie mengawal semacam barang di Yang-ciu. Pada malam kedua, aku memperoleh kesempatan untuk bekerja diluar, tetapi aku gagal ..."

"Coba jelaskan, apakah yang susiok kerjakan pada waktu itu."

Giok Cu memutus dengan suara dingin. Ceng Cit menjadi gusar. Dengan hati mendongkol, ia berkata sengit.

"Baik! Jadi aku harus bicara terus terang? Hem ... aku bukannya kau, Aku seorang laki-laki. Kalau berani berbuat, mengapa tidak berani menjelaskan? waktu itu, aku melihat seorang gadis cantik sekali. Dialah puteri Ti-koan di Yang-ciu. untuk mengharap bisa mempersunting gadis secantik itu, adalah mustahil bagiku. Satu-satunya cara hanyalah mendekapnya ditengah malam dan memperkosanya. Demikianlah malam itu, aku memasuki kamarnya. Diluar dugaan, gadis itu menolak kehendaku dengan angkuh. Karena jengkel, ia kubunuh. Ternyata dia masih berkesempatan untuk memekik, dan pekikannya terdengar oleh para penjaga gedung Ti-koan. Aku terkepung rapat, Dan merasa tidak sanggup menghadapi orang begitu banyak -aku lantas menyerah..."

Mendengar cerita Ceng Cit, bulu kuduk Sin Houw merinding, ia heran cara Ceng Cit menceritakan perbuatannya dengan enak saja, Sama sekali tak merasa malu atau menyesal.

Mengapa seorang seperti dia bisa kehilangan budi pekertinya?

"Aku dijebloskan dalam penjara."

Ceng Cit meneruskan ceritanya.

"Tetapi aku tidak takut, paman Kan Jie adalah seorang gagah yang berkepandaian tinggi . Tak ada seorangpun didaerah kami yang bisa menandingi. Aku percaya asal susiok mendengar kegagalanku ini, pasti ia bakal datang menolong. Akan tetapi sepuluh hari sudah aku menunggu-nunggu, susiok tidak juga muncul. sementara itu, surat keputusan mengenai diriku telah datang, Aku diputuskan menjalankan hukuman mati, didalam penjara Yang-ciu itu juga. Tatkala orang penjaga penjara memberi khabar kepadaku tentang keputusan itu, barulah aku merasa takut ..."

"Hmm! Aku kira susiok tidak mengenal rasa takut!"

Ejek Giok Cu. Ceng Cit tidak menggubris ejekan keponakannya itu, ia meneruskan ceri-tanya.

"Tiga hari kemudian, kepala penjara datang menjenguk kamar tempat aku ditahan dengan membawa nampan berisi makanan dan arak, Aku tahu artinya. Esok pagi, aku harus menjalankan hukumanku, Aku tahu, semua orang pasti bakal mati, semua sama, akan tetapi cara mati itulah yang menakutkan diriku. Akupun masih sayang kepada diriku sendiri, aku masih muda dan merasa belum puas mereguk kesenangan. Namun, aku berusaha menguatkan dan mengeraskan hatiku. Makan dan minuman keras itu, aku sapu habis. Kemudian aku menidurkan diri, Tepat pada tengah malam, aku tersadar oleh tepukan perlahan pada pundakku. segera aku bangkit, dan terdengarlah bisikan ditelingaku.

"Sst! jangan bersuara. Aku akan menolong jiwamu!"

"Setelah berbisik demikian, ia menabas belenggu kaki dan tanganku dengan pedangnya. Alangkah tajam pedangnya. Dengan sekali tabas saja belenggu besi yang menelikung diriku terpapas putus. Setelah itu, ia menarik tanganku, dan aku diajak keluar penjara. sebentar saja, kami berdua telah tiba di luar kota dan berhenti disebuah surau. Selama diajak lari, aku menurut saja, Memang tak dapat aku berbuat apapun, selain menurut, Bukan main pesat larinya. Tenaganyapun besar pula, sehingga tak dapat aku melepaskan diri dari tekanan tangannya, Tetapi karena ditarik, aku tidak terlalu lelah. Sesampai di surau itu, napasku tidak memburu, ia melepaskan genggamannya, kemudian menyalakan sebuah lilin, setelah cahaya menyibakkan kegelapan malam, barulah aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Diluar dugaanku, ternyata dia seorang pemuda yang sebaya dengan usiaku, tadinya kukira seorang tua yang sudah berusia lanjut, menilik ilmu kepandaiannya yang sangat.Tinggi perawakan tubuhnya tegap, wajahnya tampan luar biasa. Dikemudian hari, ternyata ia baru berumur duapuluh tahun."

Berkata demikian, ia menyiratkan pandang kepada Shiu Shiu bergantian untuk mencari kesan. setelah itu, ia melanjutkan ceritanya lagi.

"Segera aku memberi hormat kepada pemuda itu sambil menyatakan rasa terima kasihku, Hmm. Ternyata dia seorang pemuda yang angkuh dan kepala besar, Sama sekali dia tidak membalas hormatku. Katanya dengan singkat.

"Aku bernama Lim Beng Cin, Apakah kau salah seorang keluarga Cie-liong pay?"

"Aku memanggut. Dalam pada itu, aku memperoleh kesempatan untuk memperhatikan pedangnya yang dapat menabas rantai belengguku dengan mudah. itulah sebatang pedang berwarna hitam, Anehnya, ujungnya terpecah menjadi dua semacam mulut ular."

Thio Sin Houw diam-diam bersenyum, katanya didalam hati.

"Itulah pedang Gin-coa kiam!"

Ia bersikap membungkam mulut dan membiarkan Ceng Cit melanjutkan ceritanya, Berkatalah orang itu.

"Kutanyakan tempat tinggalnya, akan tetapi ia menjawab dengan suara menggerutu. Katanya.

"Hm, Perlu apa kau ketahui. Betapapun juga, dikemudian hari kau tidak akan merasa berterima kasih kepadaku."

Mendengar ucapan itu, aku jadi sangat heran. Pikirku ia telah menolong jiwaku, untuk seumur hidup, pastilah aku akan selalu mengingat budinya, Agaknya ia mengerti jalan pikiranku, Katanya lagi.

"Aku menolong jiwamu, demi kepentingan pamanmu yang ke enam, Thio Kan Jie! Kau ikutlah aku!"

"Dengan hati menebak-nebak, aku ikuti dia, ia membawa diriku ke tepi sungai Yang-ho. Dengan menutup mulut ia melompat keatas sebuah perahu, dan aku mengikuti dibelakangnya, Dengan suara pendek ia memberi perintah kepada tukang perahu, agar berangkat mengarah ketimur. Aku jadi berlega hati, karena perjalanan itu mendekati jalan lintang yang menuju kemari. Artinya aku tak usah takut lagi kepada tentara negeri yang berusaha mengejarku. Lim Beng Cin mengeluarkan sebentuk senjata dari dalam sakunya, senjata itu mirip sebuah cempuling pendek, itulah senjata andalan Liok susiok. Dan melihat senjata andalannya itu aku jadi bertambah heran. Biasanya tak pernah Liok susiok berpisah dari senjatanya, kenapa senjatanya berada di tangan penolongku? "Semua pamanmu adalah sahabat-sahabat karibku !"

Kata Lim Beng Cin, diantara suara tawanya, ia tertawa beberapa kali lagi, Tiba-tiba pandang matanya berubah menjadi bengis. Entah apa sebabnya, aku dihinggapi perasaan kaget dan takut.

"Didalam gubuk itu, terdapat sebuah peti."

Katanya lagi.

"Aku menghendaki agar kau membawanya pulang. Kau serahkan suratku ini kepada ayahmu dan sekalian pamanmu!"

"Dengan berdiam diri, aku mengikuti arah telunjuknya, Didalam gubuk, kulihat sebuah peti besar yang tertutup rapat sekali. Kecuali dilibat dengan ikatan tali, terpaku pula.

"Kau harus membawa peti ini pulang secepatnya. jangan kau singgah di manapun juga!"

Ia berkata.

"Peti ini harus dibuka oleh tangan ayahmu sendiri !"

"Aku mengangguk, dan ia memberi pesan.

"Sebulan lagi aku akan datang ber kunjung ke rumahmu, Berilah kabar kepada ayahmu dan semua pamanmu yang kau hormati, agar menyambut kedatanganku dengan baik!"

"ltulah ucapan yang tak keruan juntrungnya, Meskipun demikian, aku tanggapi dengan hati lega. setelah ia memberi pesan demikian, sekonyong konyong ia menyambar galah penggayuh dan dengan sekali menancapkan penggayuh di atas permukaan air, ia melompat tinggi diudara dan mendarat ditebing sungai dengan selamat."

"Bagus!"

Seru Giok Cu tanpa merasa.

"Hmm!"

Dengus Kan Jie dengan mendongkol. Dan tiba-tiba ia meludahi lantai serambi.

"Bajingan itu memang gesit dan tenaganya besar luar biasa. Tetapi gerak-geriknya benarbenar sukar kuduga, Barangkali ia keturunan malaikat terkutuk."

Tak usah dikatakan lagi, ucapannya membersit dari hati yang mendongkol. Tetapi baik Shiu Shiu maupun Giok Cu, bersikap acuh tak acuh, Mereka seolah-olah tidak mengetahui keadaan hati Ceng Cit.

"Waktu itu, kupandang dia sebagai penolongku."

Ceng Cit meneruskan ceritanya .

"Melihat pandang matanya yang tajam dan bengis, rupanya dia sangat membenci aku, Meskipun demikian, aku tak mau percaya kepada penglihatanku sendiri. Mungkin sekali memang demikian perangainya. sebab biasanya, seseorang yang berkepandaian tinggi mempunyai kelakuan yang aneh. Karena itu, aku tidak terusik oleh pandang matanya yang bengis, setelah mendarat segera aku membawa peti besar itu pulang. Se-panjang jalan aku sibuk menduga-duga, tentang peti yang kupanggul di atas pundakku. Alangkah beratnya! pastilah isinya emas, atau perak, atau mungkin permata yang tak ternilai harganya . Tentunya, inilah harta benda berkat usaha Liok susiok. Aku percaya pula, bahwa semua paman dan ayahku akan menyambut kedatanganku dengan girang. Dan pastilah mereka akan memberi sebagian harta itu kepadaku sebagai hadiah, dan karena keyakinan itu, aku jadi bersemangat dan girang bukan kepalang. ternyata dugaanku tidak meleset sama sekali. Ayah dan sekalian pamanku memuji diriku setinggi langit. Kata mereka, baru pertama kali aku keluar rumah, namun sudah memperoleh hasil yang tidak tercela."

"Siapa bilang, paman tercela..?"

Potong Giok Cu dengan suara mengejek.

"setelah membunuh seorang gadis remaja -kau pulang dengan membawa sebuah peti besar. Mustahil kalau paman bukan kekasih malaikat."

"Giok Cu, diam!"

Tegur ibunya.

"Dengarkan cerita pamanmu baik-baik."

Ceng Cit sendiri tidak melayani ucapan keponakannya, ia melanjutkan ceritanya.

"Malam itu kami berkumpul di pa-seban, Ayah menyuruh kami semua menyalakan penerangan sebesar-besarnya. setelah itu, empat orang pelayan menggotong peti besar itu dan ditempatkan di tengah-tengah ruangan. Ayah duduk dengan didampingi oleh empat isterinya. Dengan satu isyarat mata, segera aku melepaskan ikatan tali yang melibat peti besar itu, setelah itu, semua pakunya kucabuti seluruhnya.

"Masih segar dalam ingatanku, ketika aku mencabuti pakupaku itu, paman tertawa geli, Katanya diantara ter-tawanya.

"Sebenarnya, gadis manakah yang memikat Kan Jie sehingga ia jadi lupa daratan? Dia hanya menyuruh seorang bocah membawa pulang petinya, Mari! Mari kita lihat mustika apakah yang dikirimkan pulang ini!"

"Segera aku membuka tutup peti, dan aku menemukan sepucuk sampul yang bunyinya begini. Dipersembahkan kepada seluruh keluarga Cio-liang pay."

Indah bentuk huruf-hurufnya. Terang sekali, bukan tulisan Liok susiok. Maka surat itu kuserahkan kepada paman tertua."

"Kau maksudkan Kan Cing susiok?"

Potong Shiu Shiu. Ceng Cit manggut membenarkan dan meneruskan ceritanya.

"Toa susiok menerima surat itu, akan tetapi ia tidak segera membukanya untuk dibaca. sebaliknya ia memberi perintah kepada isterinya Liok susiok, agar membuka bungkusan terlebih dahulu yang berada didalam peti besar. Bungkusan itu terjahit rapih, Kata Toa susiok kepada Cit subo.

"Silahkan kau menggunting semua benangnya."

Heran aku mendengar perintah Toa susiok.

Kenapa dia perlu bertindak begitu cermat?

sementara itu Cit-subo mengambil gunting.

Dan setelah menggunting benang-benang pengikat, dengan kedua tangannya ia membawa bungkusan itu kepada Toa susiok.

"Mari kita lihat apa isinya!"

Kata Toa susiok sambil menjengukkan kepalanya.

"Temyata isi peti itu adalah mayatnya Liok susiok!"

Kata Ceng Cit.

"Dengan cekatan, Liok subo membuka tutup bungkusan. Tiba-tiba menyambarlah delapan atau sembilan anak panah dari dalam bungkusan..."

Giok Cu kaget sampai memekik ketika mendengar peristiwa itu, sebaliknya Sin Houw sama sekali tidak heran.

Teringatlah dia, akan pengalamannya di dalam goa dulu, itulah kepandaian dan ciri Gin-coa Long-kun membuat jebakan.

"Syukurlah, aku tidak terburu napsu."

Kata Ceng Cit memuji diri sendiri .

"seumpama terburu napsu, dengan membuka bungkusan itu, maka akulah yang akan mati terjengkang, sebab sembilan batang anak panah itu terbagi dalam dua jurusan, yang empat batang langsung membenam di dada Liok subo, dan yang lima batang lagi menembus perut Toa susiok. Hebat racun anak panah itu -hampir berbareng, mereka berdua roboh ke lantai tanpa bersuara. Darah yang mengalir berubah menjadi hitam. Dan mereka berdua mati tiada berkutik lagi ..."

Berkata demikian, Ceng Cit menoleh kepada Giok Cu. Katanya dengan suara mengandung dendam dan ejekan.

"Itulah perbuatan ayahmu. Bagus, bukan? Hemm... dan gemparlah seluruh ruangan. Jie susiok dan Sam susiok serentak mengawasi aku. Mereka menduga buruk diriku, dan memerintahkan aku membuka bungkusan besar itu, Dengan terpaksa aku mematuhi perintah itu. Namun tak berani aku menghampiri atau mencoba meraba bungkusan besar itu, aku berdiri jauh-jauh dan membuka penutup bungkusan dengan menggunakan gala bambu. Ternyata kali ini tiada sebatang anak panahpun yang menyambar. Dan, tahukah kalian apakah isi bungkusan itu?"

"Apa isinya?"

Giok Cu balas menanya. Tiba-tiba wajah muka. Thio Ceng Cit menjadi merah padam, nampak sangat bengis. Dengan suara nyaring ia memekik.

"ltulah mayatnya Liok susiok!"

Giok Cu terkejut, Parasnya pucat. itulah berita yang sama sekali tak di duganya. Dan melihat kepucatan wajah Giok Cu, ibunya merangkulnya. Dan beberapa saat lamanya mereka berdua berdiam diri.

"Nah, kejam tidak perbuatan itu?"

Seru Ceng Cit.

"Sebenarnya, sudahlah cukup dengan membunuhnya saja, Mengapa perlu membungkus mayat Liok susiok demikian rapi untuk dikirimkan pulang kehadapan sekalian keluarga Cioliang pay? Kenapa? Coba jawab!"

"Benarkah kau tidak dapat menjawab pertanyaanmu sendiri?"

Jawab Shiu Shiu.

"Benar-benarkah kau tidak mengetahui apa sebabnya ia sampai berbuat demikian terhadap keluarga Cio-liang pay?"

Ceng Cit mendengus. Air mukanya berubah merah padam lagi, akhirnya ia berkata.

"Anggap saja aku memang tidak mengetahui. Dan kau yang maha tahu, coba jawab pertanyaanku itu!"

Shiu Shiu melemparkan pandang ke udara bebas yang penuh dengan bintang-bintang dan sinar bulan.

Hatinya nampak tertawan, dan lambat-lambat ia meruntuhkan pandangnya kepada alam sekitarnya.

Kemudian kepada Giok Cu.

sambil membelai rambut anaknya, ia berkata.

"Sekarang, biarlah aku yang meneruskan cerita pamanmu. waktu itu, umurku satu tahun lebih tua dari usiamu sekarang. Akan tetapi sifatku masih kekanak-kanakan. Aku kosong dari segala masalah hidup, seluruh keluarga memanjakan diriku. segala permintaanku pasti dikabulkan, Tetapi kutahu, seluruh anggauta keluarga Cio-liang pay adalah sekumpulan manusia-manusia jahat, semua bentuk kejahatan pernah mereka lakukan. Karena itu, aku tidak senang terhadap mereka. itulah sebabnya , sama sekali aku tidak bersedih hati tatkala melihat jenazah Liok susiok, aku hanya heran. Kukenal ilmu kepandaian Liok susiok. Dialah yang tertinggi diantara saudara-saudaranya, bagaimana dia dapat dibinasakan? Aku bersembunyi dibelakang punggung ibu, tak berani aku berbicara sepatah katapun. Ayah mengambil surat yang berada ditangan Toa susiok, beginilah bunyinya.

"Kukirimkan mayat saudaramu ke sini, terimalah dengan rasa syukur! Dia memperkosa kakak perempuanku, kemudian dibunuhnya. Dia pun membunuh ayah-bunda dan dua kakakku lagi, Jadi semuanya lima orang, yang hidup tinggal aku seorang diri, karena kebetulan dapat meloloskan diri, Dan hiduplah aku sebatang kara dari tempat ke tempat. Kini, barulah aku muncul kembali dalam pergaulan. Hutang darah harus terbayar Aku harus menuntut balas sepuluh kali lipat. Dan hatiku baru puas, Karena keluarga Cioliang pay hutang lima jiwa, maka aku harus membunuh lima puluh jiwa dan memperkosa sepuluh anggauta wanitanya, Karena itu, bersiagalah! "Peristiwa itu merupakan lembaran sejarah hidupku yang baru, sehingga bunyi surat Lim Beng Cin yang menggemparkan terukir kuat dalam ingatanku. selama hayat masih dikandung badan takkan tercicir walau sepatah katanya pun..."

Sin Houw jadi teringat nasib sendiri. Kalau begitu jalan hidup Gin-coa Long-kun sama dengan sejarah hidupnya. Diapun kehilangan ayah-bunda dan dua saudarasekandung.

"Cit-ko, benar tidak perbuatannya Liok susiok? Dia membunuh seluruh keluarga Lim Beng Cin atau tidak?"

Kata Shiu Shiu kepada Ceng Cit. Ceng Cit tidak menjawab. ia hanya memanggut. Tetapi setelah memanggut, tiba-tiba meledak.

"Kami semua hidup sebagai laki-laki, Merampas, merampok, membakar rumah atau membunuh adalah pekerjaan laki laki, Kenapa aku harus memungkiri perbuatan Liok susiok? ia melihat gadis cantik, hatinya tertambat tetapi gadis itu mungkin tak mau mengerti pastilah dia menolak ajakan Liok susiok yang bermaksud baik. Dia menyakiti hati Liok susiok, sebelum diperkosanya, Kalau Liok susiok sampai membunuhnya, itulah sudah semestinya."

"Kenapa yang lain-lain dibunuhnya pula?"

Damprat Shiu Shiu.

"Kau anak kemarin sore, tahu apa?"

Ceng Cit setengah memaki.

"ltulah justru merupakan suatu bukti, bahwa Liok susiok terlalu disakiti hatinya."

"Eh, enak saja susiok berkata begitu."

Gerutu Giok Cu.

"Sesudah memperkosa, lantas main bunuh!"

"ltulah laki-laki!"

Sahut Ceng Cit dengan suara gagah. Kemudian ia menyambung cerita Shiu Shiu.

"Setelah membaca suratnya Lim Beng Cin, ayah tertawa berkakakan, Kata ayah.

"Jadi, dia hendak datang ke sini...? Bagus! Dengan begitu, kita tidak perlu bersusah-payah mencarinya?"

Dan pada hari itu juga, ayah mulai bersiap siap.

Ayah cermat sekali.

Pada malam hari, seluruh keluarga diwajibkan berjaga dengan bergantian.

Malah pada hari berikutnya ayah perlu memanggil kedua pamanku lagi yang berada di lain tempat.

"Kedua susiok itu, yakni Cit susiok dan Pat susiok, sebenarnya mereka berdua merupakan orang-orang sakti yang tiada bandingnya di dunia ini."

Ceng Cit menyambung dengan suara bangga.

"Tetapi Lim Beng Cin benar-benar tak ubah iblis. Entah bagaimana caranya ia bisa mengetahui maksud ayah memanggil kedua pamanku itu, Tiba-tiba saja dua orang utusan ayah, disergapnya di tengah jalan dan dibunuhnya. Dan sejak itu, ia muncul seperti malaikat dan menghilang seperti iblis. Setiap malam ia masuk ke dalam rumah kami dan mula-mula mencuri lima puluh batang arit dan dengan arit itu ia membunuhi keluarga kami. Kadang-kadang satu malam sampai sepuluh orang. Mereka mati dengan dada membenam arit, Maka tahulah kami, apa sebab ia mencuri lima puluh arit itu. Rupanya ia hendak membuktikan ancamannya, bahwa ia perlu menbunuh limapuluh orang keluarga kami demi memuaskan hatinya. Dan sebelum limapuluh orang terbunuh ditangannya, ia tak akan berhenti mengancam kedamaian hidup kami."

"Jumlah seluruh keluarga Cio liang pay lebih dari seratus orang, Masakan tak dapat melawan seorang saja?"

Kata Giok Cu.

"Soalnya, dia tak pernah memperlihatkan diri."

Sahut Ceng Cit.

"Dia main sembunyi seperti iblis, gerak-geriknya tak ubah seekor kucing mengintai sarang tikus. ia menunggu dan menerkam korbannya apabila kebetulan memencil, Keruan saja, ayah gusar bukan kepalang. Dalam kesibukannya, ayah mengundang belasan pendekar pada setiap malamnya, dengan dalih sedang mengadakan pesta. Dengan begitu, setiap malam kami mengadakan pesta makan minum, Berapa banyak harta yang telah dihamburkan, sudah tak terpikirkan lagi, Ayahpun menyebarkan surat-surat pengumuman untuk menantang Lim Beng Cin bertempur dengan terang-terangan agar memperoleh keputusan. Akan tetapi Lim Beng Cin membuta dan tuli, sama sekali ia tak menggubris tantangan ayah, Karena itu satu-satunya jalan hanyalah mengundang para pendekar sebanyak banyaknya dengan melalui pesta pora, Dan agaknya Lim Beng Cin takut melihat hadirnya demikian banyak pendekar. Setengah tahun lamanya, ia tidak pernah muncul lagi, dan para pendekar undangan ayahpun mulai berpamit pulang seorang demi seorang.

"Tetapi begitu rumah kediaman kami kembali sunyi sepi, kakak kami yang tertua, dan dua orang saudara sepupu kami terdapat mati didalam kamarnya. Dan keesokan harinya, tiga kemenakan kami, mati tenggelam didalam kolam, Di tubuh mereka masing-masing membenam sebatang arit, Benarbenar bajingan itu pandai menguasai diri. ia bisa menunggu kesempatan dengan sabar sampai setengah tahun lamanya. Dan sejak itu, setiap sepuluh hari sekali pasti ada seorang diantara kami yang jadi korban balas dendam Lim Beng Cin.

"Tukang peti mati sampai kehabisan persediaan. Maka terpaksalah kami membeli peti-peti mati dari luar kota. Tentu saja, kami kabarkan bahwa di dusun kami sedang terserang penyakit menular yang dahsyat. Dan untuk mengakali penduduk, ayah perlu membuat selamatan yang maksudnya untuk mengusir setan penyakit menular itu!"

"Waktu itu, seluruh dusun gempar karena rasa takut."

Shiu Shiu ganti bercerita.

"Betapa ayah berusaha untuk menutupi kejadian yang sebenarnya namun lambat laun tersiar juga. seketika itu juga, penduduk lantas pada mengungsi kedesadesa terdekat. Dengan demikian, ayah tidak mempunyai pengharapan lagi untuk bisa memperoleh tenaga peronda. Dan terpaksalah anggauta keluarga meronda dan berjagajaga diri pada siang dan malam hari secara bergiliran seperti dahulu. Anggauta anggauta wanita dan kanak-kanak disembunyikan didalam rumah tertentu yang di jaga rapat. Kami tidak diperkenankan meninggalkan pintu rumah selangkahpun.

"Meskipun demikian, pada suatu malam dua iparku lenyap tak keruan."

Sambung Ceng Cit dengan gigi bercatrukan.

"Kami semua menduga bahwa kedua iparku itu pasti telah mati di tangan si bajingan. Eh, diluar dugaan selang satu setengah bulan, mereka berdua mengirim surat dari kota Yang-ciu. Ternyata mereka berdua telah dijual oleh si bajingan kepada tengkulak perempuan, tegasnya, mereka harus melayani tetamu laki-laki tiap malam dua puluh tetamu. Dapat dibayangkan betapa menderita kedua kakak iparku itu. Mereka disekap setiap harinya ..."

Mendengar tutur kata Ceng Cit hati Sin Houw jadi bergidik. pikirnya didalam hati.

"Hebat cara pembalasan dendam Gin-coa Long-kun, Memang, ia harus membalaskan sakit hati ayah bunda dan ketiga kakaknya. Akan tetapi penyebabnya sudah kena dibinasakan, seharusnya tak perlu lagi ia merajalela begitu mengerikan ."

Sambil menghela napas, Ceng It melanjutkan ceritanya.

"Kedua kakakku mendongkol bukan main mendengar berita itu, oleh rasa mendongkol dan sakit hati, mereka berdua sampai jatuh pingsan. Ayah tak dapat berbuat suatu apa kecuali mengirimkan uang tebusan kepada tengkulak perempuan tersebut, agar membebaskan kedua menantunya.

"Dua tahun lamanya kami dirusak kedamaian hati kami. Dan yang membuat kami mendongkol, setiap tiga bulan sekali, ia mengirimkan surat perhitungan dan peringatan seakan-akan kami mempunyai hutang yang wajib kami bayar. Dalam waktu dua tahun itu, sudah berjumlah empatpuluh tiga orang, Dengan begitu, dia masih menagih tujuh jiwa lagi .

"Kami keluarga Cio-liang pay biasanya malang melintang tanpa tandingan sejak puluhan tahun yang lalu, Baik penduduk maupun penguasa setempat tak berani mengganggu gugat sepak terjang kami. Tetapi sekarang, kami dipermainkan oleh seorang lawan saja yang benar-benar bisa membuat hati kami sedih, lelah dan gelisah. Menuruti hati, kami ingin menuntut balas pula secepat cepatnya agar memperoleh penyelesaian. Akan tetapi bangsat Lim Beng Cin adalah seorang musuh yang sangat licin dan gagah. Ayah dan beberapa paman kami, pernah bertempur seorang demi seorang. Ternyata mereka bukan tandingan Lim Beng Cin yang memang berkepandaian tinggi luar biasa.

"Kami semua jadi putus asa. Rasanya, tiada sesuatu yang dapat kami lakukan, kecuali menunggu datangnya maut, akhirnya kami bersepakat untuk membuat pembelaan diri dengan cara bergabung. Akan tetapi asal kami sudah bersiaga dan membuat penjagaan rapat, ia tak pernah muncul sampai berbulan bulan lamanya. sebaliknya, bilamana lalai sedikit saja, tiba-tiba ia muncul kembali dan membunuh jiwa kami. Demikianlah, setelah melampaui masa dua tahun, hutang jiwa kami tinggal tujuh orang. Nah, Giok Cu. cobalah jawab secara terus terang! Layakkah kita apabila kita membencinya? pantas atau tidak, kita mengusiknya sampai tujuh turunan!"

"Kemudian bagaimana?"

Tanya Giok Cu mengelakkan pertanyaan pamannya.

"Biarlah ibumu saja yang meneruskan."

Sahut Ceng Cit dengan suara lesu. Thio Sin Houw mengalihkan pandang kepada Shiu Shiu, wajah ibunya Giok Cu itu nampak berduka. seperti menahan suatu penyakit dada, ia berkata perlahan.

"Anak Sin Houw, kau telah merawat dan mengubur jenazahnya, Biarlah aku berkata terus terang saja mengenai hubungan kami. Rasanya tiada perlunya untuk menyembunyikan sesuatu hal, Hanya saja, setelah selesai aku menceritakan sejarah hubungan kami, tolong kau kabarkan sebab-sebabnya ia meninggal. Dengan begitu kami, ibu dan anak jadi mengerti keadaannya yang sebenarnya. Dengan begitu ..."

Shiu Shiu tak dapat menyelesaikan perkataannya. ia menangis sedih sekali, sehingga perkataannya tertunda beberapa saat lamanya, setelah hatinya lega, mulailah dia berkata lagi.

"Waktu itu, aku tidak mengetahui sebab-sebabnya kenapa dia demikian kejam terhadap keluarga kami. Bahkan aku tidak ingin mengetahuinya. Ayahpun juga membungkam terhadapku. Ayah hanya melarang aku keluar dari pekarangan rumah, meskipun hanya selangkah. Karena ayah tidak memberikan penjelasan, aku jadi masgul. Kenapa ayah mendadak saja menawan diriku? Meskipun ayah berusaha menemaniku dengan beberapa iparku, namun hatiku merasa tersiksa. Sebab aku hanya diperkenankan bermain-main didalam taman saja yang berukuran kecil.

"Pada bulan ketiga, tibalah musim bunga. Tamanku ini penuh dengan bau harum yang segar. Hatiku tak terkendali kan lagi karena ingin menjenguk bunga tanamanku. Tetapi karena sepak terjang Lim Beng Cin yang ganas, terpaksa aku bergulat mengatasi gejolak hatiku. Aku harus menyekap diri didalam rumah, pada suatu kali aku ingin membolos seorang diri, akan tetapi teringat betapa sungguh-sungguh ayah melarangku keluar rumah -maka aku batalkan niatku itu.

"Pada suatu hari, aku bermain-main didalam taman bunga dengan dua orang iparku yang menempati kamar ke tiga dan kelima. Pamanmu, Ceng Cit dan Ceng Pat ikut pula menemani. Jadi kami jumlah lima orang. Aku tertarik kepada permainan ayunan, sebab bila aku bisa berayun tinggi sampai melampaui pagar dinding, pastilah bisa melihat pemandangan yang berada diluar tembok. Maklumlah, aku sudah cukup lama tersekap. Kira-kira hampir dua tahun. Maka tak mengherankan, hatiku amat rindu melihat kehijauan alam dan kesegaran penglihatan.

"Demikianlah, aku bermain ayun-ayunan dengan gembira. setiap kali aku berayun, aku makin tinggi dan tinggi. pemandangan alam diluar tembok dapat kujenguk dan kureguk, Tiba-tiba saja, Fat susiokmu memekik menyayatkan hati. sebatang piao membenam didadanya, Dan ia mati seketika itu juga, Dan pada saat itu, kau, Cit-ko, lantas saja kau melarikan diri, Dan kami bertiga, tidak kau perdulikan lagi. Bukankah begitu?"

Merah wajah Ceng Cit, Cepat-cepat ia menjawab.

"Habis? seorang diri, tidak mungkin aku melawannya. Maka aku lari masuk kerumah untuk mencari bantuan. coba aku tidak cepat-cepat lari, pastilah aku akan mampus sia-sia saja,"

"Hem ..."

Giok Cu mendengus. sebaliknya ibunya bersikap dingin saja, Katanya melanjutkan ceritanya.

"Aku menyaksikan peristiwa pembunuhan itu dari papan ayunan yang masih berayun dengan cepat, Dan selagi aku kebingungan karena belum jelas tentang sebab-sebabnya terjadi pembunuhan itu,tiba-tiba kulihat berkelebatnya sesosok bayangan mengarah padaku. Bayangan itu menuruti gerakan ayunan. sewaktu aku terbawa papan ayunan menjangkau ketinggian, ia menyambar diriku dan dibawanya terbang. Aku memekik sekuat-kuatnya oleh rasa kaget dan cemas. Sebab kakiku tidak lagi menginjak papan ayunan, sedangkan diriku berada diudara hampir mencapai puncak pohon Yang-liu, Celakalah, bila sampai terbanting ditanah. Apalagi ayunan tadi, diriku dibuat terlambung seperti terlemparkan saja.

"Bayangan yang menyambar diriku, memegang tangan kiriku kuat-kuat, ia membawa aku terbang melintasi tembok. Tiba-tiba tangannya menyambar dahan pohon Yang-liu, dan dengan begitu lambungan ayunan agak tertahan. Kemudian dengan gesit, ia membawa aku mendarat di tanah.

"Aku terhindar dari mara bahaya. Tetapi kemudian, ia membawaku lari dengan memelukku erat-erat. Dalam Keadaan bingung, aku memukuli mukanya. Tatkala pundakku kena ditekan, sekonyong-konyong lenyaplah tenagaku, dan tak lama kemudian aku mendengar suara berisik dibelakangku, itulah langkah ayahku beramai yang berusaha mengejar diriku yang kena diculik.

"Dua jam lagi lenyaplah suara berisik itu. Tahulah aku, bahwa mereka sudah ketinggalan jauh, Dan aku masih saja dibawa lari makin lama makin cepat. Akhirnya, dia berhenti di sebuah goa yang berada disamping jurang curam, jarak antara goa dan seberang tebing kurang lebih duapuluh tombak.

"la menepuk pundakku seraya meletakkan aku diatas sebuah batu, Tenagaku pulih kembali, dan ia memandang diriku dengan bersenyum penuh kemenangan. Tiba-tiba teringatlah aku kepada nasib dua iparku yang pernah terculik, Apakah akupun akan dijualnya kepada tengkulak perempuan untuk melayani duapuluh orang hidung-belang setiap harinya? Daripada hidup demikian, lebih baik aku mati saja. Dan kini barulah aku menyadari kehendak baik ayahku -dengan cara menyekapku didalam rumah terpisah. Teringat hal itu, aku jadi benci kepada diriku sendiri. Terus saja aku melompat membenturkan kepalaku pada batu yang mencongak ditepi jurang."

"Dia terperanjat bukan kepalang melihat perbuatanku itu, sama sekali tak diduganya, bahwa aku hendak melakukan bunuh diri, Meskipun demikian masih bisa ia mencegah perbuatanku, dengan tangkas ia menyambar pinggangku -namun kepalaku terbentur juga pada batu itu, meskipun tidak keras. inilah bekas lukanya ..."

Shiu Shiu memperlihatkan ujung keningnya yang tertutup rambut. Nampak sekali bekas lukanya. Melihat bekas luka itu, pastilah ia dahulu menderita luka yang tidak enteng.

"Maksudnya hendak mencegah kenekatanku itu, mungkin sekali terbersit dari hati nuraninya yang baik, Tetapi andaikata ia membiarkan diriku membenturkan kepalaku pada batu, pastilah di kemudian hari tidak akan terjadi peristiwa yang berlarut-larut. Bagi dia sendiri, penggagalan itu mungkin baik akibatnya, tetapi bagiku adalah sebaliknya."

Demikian Shiu Shiu melanjutkan tutur katanya dengan menghela napas beberapa kali. Meneruskan.

"Aku pingsan karena lukaku. Tatkala memperoleh kesadaranku kembali, aku berada diatas sehelai permadani di dalam goa. penglihatan itu masih asing bagiku, oleh rasa kaget, hampir saja aku tak sadarkan diri lagi, Tetapi setelah melihat pakaianku masih dalam keadaan rapih, legalah hatiku. Ternyata dia tak memperkosaku. Mungkin sekali disebabkan oleh kenekatanku hendak bunuh diri, ia malahan tidak mengganggu aku."

"Rupanya dia dihinggapi rasa khawatir tentang diriku. Jangan-jangan aku akan nekat hendak bunuh diri lagi. Maka selama dua hari dua malam, dia menjagaku sangat cermat. Dia masak sendiri untuk makanku. sebaliknya, aku tak sudi menjamah masakannya. Aku menangis terus-menerus sampai pada hari keempat, Dan pada hari kelima, aku jadi kurus kering.

"la mencoba memasak hidangan lezat, dan dengan sabar membujukku agar mau makan masakan yang dihidangkannya, Tetapi tetap saja aku tak menghiraukan bujukannya, sekonyong-konyong ia menjambak rambutku, kepalaku di tengadahkannya, Hidungku dipencetnya rapat-rapat, mau tak mau aku harus meneguknya. Barulah hidungku dibebaskannya. Dan ia tidak menjambak lagi, Tetapi begitu terbebas, aku menyemburkan sisa makanan dan kuah ke mukanya. Dengan sengaja aku berbuat demikian, agar ia membunuhku karena marah. Dalam hatiku aku mengharapkan kematian daripada di perkosanya, pengalaman kedua iparku terlalu mengerikan bagiku.

"Diluar dugaan, ia hanya tertawa saja. Dengan sabar, ia menyusuti sisa makanan yang melekat dimukanya. ia menatap diriku beberapa saat lamanya. Kemudian menghela napas.

"Aku hendak menyanyikan sebuah lagu untukmu, kau mau mendengarkan atau tidak?"

Katanya kepadaku.

"Aku tak sudi mendengarkan!"

Dampratku. Mendadak saja ia berlompat-lompat kegirangan, dan menari-nari, katanya.

"Kusangka, kau gadis gagu, kiranya kau bisa berbicara juga."

"Itulah pernyataan diluar dugaanku. Tiba-tiba saja aku tertawa diluar kesadaran sendiri, karena perkataannya begitu lucu dan menggelikan. Jadi tadinya ia menganggap aku ini gadis bisu.

"siapa yang gagu!"

Dampratku lagi -"Aku membungkam mulut karena tak sudi berbicara dengan orang jahat!"

Dia tak melayani berbicara.

sebaliknya lantas saja merebahkan diri di mulut goa.

Kemudian menyanyi dan menyanyi dengan suara tinggi mengalun di tengah malam, sampai bulan bersinar tinggi diudara, ia masih saja menyanyi.

Senandungnya berisikan letupan asmara antara dua mudamudi yang hidup dalam masa madu, Seumurku belum pernah aku keluar rumah.

Dan mendengar senandung cinta kasih itu, hatiku tertarik.

"Hmm-"

Ceng Cit menggerendeng dan berkata lagi.

"Kau bilang tak sudi kau dengarkan, tetapi akhirnya kau dengarkan juga, bukan? siapa sudi mendengarkan ceritamu yang memuakkan ini?"

Dan setelah menggerendeng demikian, serentak ia berdiri. Kemudian meninggalkan ruangan dengan langkah lebar.

"Ibu!-Dia pasti hendak mengadu kepada paman yang lain."

Kata Giok Cu.

"Biarkan saja, aku tidak takut. Apalagi kakekmu telah meninggal dunia empat tahun yang lalu, Kedudukan sekalian pamanmu dan diriku sejajar."

Sahut Shiu Shiu.

"Kalau begitu, lanjutkan cerita ibu."

Desak Giok Cu.

"Entah sampai jam berapa dia bergadang. Tiba-tiba saja aku telah tertidur."

Shiu Shiu melanjutkan ceritanya.

"Tatkala aku terbangun dipagi hari, dia tak kelihatan. Ha, baiklah aku kabur saja, pikirku, Tetapi setelah kulihat keluar goa, aku jadi putus asa. Ternyata goa itu berada pada puncak gunung yang tinggi. sama sekali tiada jalan keluar. Hanya orang-orang berkepandaian tinggi seperti dia, baru bisa mencapai goa tempat beradaku dan sebaliknya.

"Dan malam itu, kembali lagi dia bersenandung untukku. sebenarnya, tak sudi aku mendengarkan. Akan tetapi betapa aku bisa menutup telinga terus-menerus, Sekali-kali aku dengar bunyi senandungnya juga. Dan keesokan harinya, ia menghilang kembali. Kali ini dia datang dengan membawa main-mainan. Boneka, burungburungan dan lain sebagainya, Melihat semua itu, tak sampai hati aku melemparkannya ke dalam jurang.

"la jadi mengerti tata rasaku dan sejak itu, ia membawa binatang hidup yang lembut sifatnya, seperti kucing dan lain sebagainya. Kadang kadang ia ikut bermain boneka pula, Di luar kehendakku sendiri, perasaanku terhadapnya jadi berubah. Tidak lagi aku merasa ngeri atau takut bergaul dengan dia..."

"Tetapi pada suatu hari, sekonyong-konyong sikapnya berubah. ia menatap diriku lama sekali dengan pandang bengis. Tentu saja, aku jadi ketakutan. Dan perasaan ngeri kembali lagi mencekam sanubariku. Aku lalu menangis dan ia menghela napas berulangkali. Kemudian berkata membujuk.

"Sudahlah, jangan menangis!"

"Tak berani aku menangis lebih lama, meskipun ingin rasanya menangis sampai mati. Aku takut membuatnya kesal. Jangan-jangan sikapnya yang telah menjadi lunak, bisa kembali bengis dengan tiba-tiba. Tetapi pada malam hari itu aku melihat dia menangis. Menangis seorang diri diluar pintu goa. Malam itu gelap pekat. sejak sore tadi guntur berdentuman diantara kejapan kilat, Dan beberapa saat kemudian turunlah hujan deras. ia tak memperdulikan semuanya itu. Tetap saja ia menangis sedih dalam keadaan basah-kuyup.

"Aku jadi tak sampai hati, Sekarang, akulah yang ganti membujuknya. Kataku.

"Masuklah, kau bisa masuk angin."

"Namun ia tidak menggubris bujukanku, Aku jadi tertarik, kataku minta keterangan.

"Mengapa kau menangis?"

"Diluar dugaanku, mendadak ia menyahut dengan suara bengis luar biasa. Katanya.

"Besok adalah hari peringatan tahun keempatbelas matinya ayah-ibu, kakak dan kedua saudaraku. Dalam satu hari saja, keluargaku musnah oleh tangan jahat salah seorang keluargamu, karena itu, esok hari aku harus membunuh anggauta keluargamu lagi, Setidak-tidaknya seorang! Tapi rumahmu terjaga sangat kuat dan rapi, ayahmu mengundang beberapa tokoh pendekar vang berkepandaian tinggi. seperti Bok-siang tojin, Bok Jin Ceng dan Kang-lam hiap Ong Tiong Kun, Akan tetapi aku tidak takut, biarlah, kalau aku harus mati."

"Setelah berkata demikian, ia meninggalkan goa dalam hujan deras. Dan dua hari lamanya, ia tak muncul lagi, Dan entah apa sebabnya, aku jadi selalu teringat padanya. Diamdiam aku berharap, moga-moga ia pulang dengan selamat ..."

Giok Cu mengerlingkan matanya kepada Sin Houw, untuk mencari kesan.

ia ingin membaca keadaan hati Sin Houw terhadap ibunya.

Akan tetapi Sin Houw duduk dengan sangat tenang, perhatiannya tertarik kepada tutur kata ibunya.

Diamdiam ia bersyukur didalam hati.

***** DALAM PADA ITU, Shiu Shiu meneruskan ceritanya.

"Cuaca kian menjadi gelap. itulah petanghari yang ketiga, Dua tiga kali aku melongok ke mulut goa, yang kulihat hanyalah awan gunung yang datang bergulungan, Tapi tatkala aku melongok untuk yang kelima kalinya, nampaklah empat orang berlari-lari mendaki puncak gunung. Gesit gerakan mereka, seakan-akan empat sosok bayangan. Mereka saling kejar-mengejar.

"Aku menajamkan penghilatanku syukur, petang hari belum tiba benar-benar, Masih bisa mataku mengenal dua orang diantara mereka. Orang yang lari paling depan adalah dia, yang kedua dan ketiga berdandan sebagai pendeta. Mereka bersenjata tajam, sedang yang ke empat, ayahku dengan bersenjata Hok-mo thung yang terkenal sejak puluhan tahun yang lalu.

"Dengan membawa pedang hitamnya, ia melayani serangan mereka bertiga. Nampak olehku dengan tegas, bahwa ilmu kepandaian kedua orang pendeta itu sangat tinggi. Gesit cara mereka berdua menyerang, hampir saja senjata mereka berhasil menghantam sasaran. Aku terkejut sampai memekik diluar kehendakku sendiri. Aku mencemaskan keselamatan jiwanya. Tapi dengan pedang hitamnya, ia berhasil menangkis dan memunahkan serangan mereka. Bahkan pedangnya dapat menabas kedua senjata mereka dengan berbareng.

"Rupanya ayah mendengar suara pekik teriakku, ia menengadah. Dan melihat diriku, ayah melompat keluar gelanggang lalu lari mengarah ke goa hendak menghampiri aku.

"Melihat hal itu, dia jadi sibuk sekali. Terus saja dia meninggalkan ke dua lawannya. Kemudian mengejar ayah, Tentu saja kedua lawannya mengejar pula.

"Tak lama kemudian, mereka tiba didataran ketinggian yang berada di depan tebing seberang goa, Di dataran ini, dia berhasil mengejar ayah, Dan dengan serta merta ia menyerang ayah, Baru beberapa jurus, kedua pendeta itu datang pula, dan dia lantas terkepung rapat lagi seperti tadi.

"Ayah tak sudi sia-siakan kesempatan, cepat-cepat ia melompat mundur dan kembali lagi lari mengarah ke goa-ku, Aku jadi girang sekali. Teriakku.

"Ayah, cepat! cepat!"

"Seperti kalap, dia mendesak kedua lawannya, kemudian memburu ayah lagi, Dia berhasil mengejar dan menyerang ayah dengan tikaman-tikaman dahsyat. sebentar saja ayah terdesak, dan terancam bahaya.

"Shiu Shiu! Bagaimana keadaanmu?"

Teriak ayah.

"Aku selamat tak kurang suatu apa, ayah tak usah cemas l"

Sahutku.

"Akh, syukur!"

Ayah bergembira.

"Tunggu dulu, biar kubereskan dahulu bajingan ini!"

Setelah berkata demikian, ayah menyerang dengan penuh semangat. Dari pertempuran mati-matian terjadi sangat cepat.

"Lim Beng Cin!"

Seru salah seorang imam itu.

"Baik diriku maupun golongan kami dari Siauw-lim tidak mempunyai permusuhan apapun denganmu. Aku hanya mengharap agar kau mengerti, kami dari golongan Siauw-lim ikut campur semata-mata terdorong oleh rasa keadilan dan kemanusiaan. perbuatanmu benar-benar keterlaluan. Kami berjanji tidak akan membantu pihak manapun juga, asal kau sudi menyudahi permusuhanmu dengan keluarga Cio-liang pay. Sudahi-lah rasa balas dendammu pada hari ini."

"Tunggu dulu!"

Tiba-tiba Sin Houw memutus.

"lmam itu mengaku dari golongan Siauw-lim, tahukah subo nama imam itu?"

"Dikemudian hari aku mengetahui bahwa imam itu bernama Cie-kong taysu, dan imam yang satu lagi bernama Lie-cwee tojin dari Ngo-bi pay,"

Shiu Shiu memberikan penjelasan.

"Hemm ...! "

Sin Houw bersuara di hidung, namun Shiu Shiu yang tak mengetahui apa-apa telah meneruskan bercerita.

"Hmm... enak saja kau mengumbar mulutmu!"

Dampratnya dengan mengertak gigi.

"Apakah tak boleh aku melakukan balas dendam demi menenteramkan arwah ayah-bunda dan sekalian saudaraku yang terbunuh tanpa dosa apapun?"

"Kami mengerti. Tetapi kau sudah banyak membunuh demi memuaskan hatimu sendiri. Kukira, sudah lebih dari cukup !"

Sahut Cie-kong taysu.

"Sekarang -pandanglah kami! Kupinta agar kedua belah pihak menyudahi persoalan ini!"

Tetapi dia tidak menggubris.

Tiba tiba saja ia menyerang Cie-kong taysu.

Karena itu, pertempuran sengit terjadi lagi kian menghebat.

Masing-masing tak sudi mengalah.

Tetapi dua imam itu sangat gagah, apalagi dibantu oleh ayah.

Sebentar saja dia terancam bahaya, seluruh badannya telah mandi keringat, dia terdesak dan terdesak.

Tiba-tiba dia mundur dengan sempoyongan, hampir-hampir ia roboh terguling, justru pada saat itu, senjata Lie-cwee tojin menyambar dirinya.

Dengan mati-matian ia berhasil mengelakkan, tetapi tepat pada saat itu ia dipapaki oleh Cie-kong taysu.

Kembali lagi ia mengelak dengan memutar tubuhnya, dan pada detik itu, ia melihat kesan diwajahku.

Itulah penglihatan yang menentukan baginya.

Dikemudian hari ia memberi keterangan tentang keadaan dirinya pada saat itu.

sebenarnya ia sudah kehilangan tenaga, tulang-tulangnya, seakan-akan terlolosi, Tetapi begitu melihat kesan wajahku yang menaruh perhatian kepadanya, tiba-tiba terbangunlah semangat tempurnya.

Tenaganya serasa pulih kembali.

Dengan galak, ia memutar tubuhnya dan pedangnya berkelebatan mengancam maut!

"Shiu Shiu, jangan takut!

Pasti aku dapat menjungkalkan mereka.

Kau lihatlah!"

Serunya.

Entah bagaimana cara dia menggerakkan pedangnya, Tiba-tiba saja Lie-cwee tojin memekik menyeramkan.

Dia roboh bergulingan, ternyata kepalanya terbelah dan tepat didahinya tertancap sebatang Sin-coa piao, Keruan saja ayah dan Cie-kong taysu kaget bukan kepalang.

Dan pada detik itu, dia menyerang ayah.

Saat itu digunakan sebaik-baiknya oleh Cie-kong taysu, untuk menyerang dari belakang.

Tapi dengan gesit, dia dapat mengelakkan gempuran Cie-kong taysu, ia mendahului memutar tubuhnya, dengan melompat kesamping.

Cie-kong taysu yang agaknya sudah gentar karena gugurnya Lie-cwee tojin, mendadak lari meninggalkan gelanggang pertempuran untuk menyelamatkan diri.

Dan setelah Cie-kong taysu tidak ada lagi, ia menyerang ayah kembali.

Tatkala itu, wajah ayah pucat lesi seperti tiada berdarah.

Tak usah dikatakan lagi, bahwa ayah kaget dan ketakutan begitu melihat kedua rekannya menjadi pecundang.

Ayah membela diri dengan sembarangan saya.

Karena hatinya telah gentar, tak dapat lagi ayah memainkan tongkatnya dengan sempurna.

Melihat hal itu, aku berteriak

KANG ZUSI WEBSITE

http.//cerita-silat.co.cc/ *** (file google dokumen published by Saiful Bahri ...situbondo seletreng )*** teriak.

"Tahanl Tahan!"

Mendengar teriakanku, dia berhenti menyerang, dan aku berteriak lagi.

"Bawa dia kemari! Dialah ayahku!"

Dengan pandang bengis ia menatap ayah, katanya membentak.

"Kau pergilah! Aku ampuni dirimu."

Ayah tercengang, segera ia memutar tubuh hendak meninggalkan tempat itu, Aku girang bukan kepalang melihat ayah mendapat ampun, Tetapi sudah dua hari tiga malam aku tidak makan dan minum, tubuhku terasa lemah.

Karena kaget melihat pertempuran dahsyat dan digejolakkan pula oleh rasa girang mendadak aku roboh ditanah.

Melihat aku roboh, ia melompat ke dalam goa hendak menolongku.

Ayahpun ikut pula memburu, Dengan bengis ayah memandang padanya tatkala menolongku bangun.

Aku tidak pingsan, hanya kehilangan tenaga saja.

Karena itu, dapatlah aku melihat segalanya yang terjadi dengan jelas.

selagi ia menolong membangunkan diriku, tiba-tiba ayah mengayunkan tongkatnya menepuk punggungnya -tentu sekali, serangan gelap itu tak diduganya.

perhatiannya berada padaku, penuh-penuh.

Kaget aku berseru.

"Awas!"

Oleh peringatanku, ia kaget sekali, segera ia memutar tubuhnya dan meloncat kesamping.

Meskipun gerakannya gesit, namun tongkat ayahku masih saja menghajar punggungnya.

syukur, ia tadi bergerak.

sehingga serangan itu tidak mengenai dirinya penuh-penuh.

selagi memutar tubuhnya, ia berhasil merampas tongkat ayah dan dilemparkannya ke dalam jurang.

Kemudian ia lompat dan menyerang ayah dengan kedua tangannya.

Ayah gugup bukan main, ia tertegun dan menyesal karena serangannya gagal.

Tongkat andalannya terampas pula, itulah suatu peristiwa yang tak pernah terbayangkan.

Biasanya, jangan lagi menyerang dengan cara gelap sedangkan dengan berhadapan saja tak pernah ia gagal.

Tatkala menghadapi serangan balasan, sama sekali ayah tidak berusaha mengelak atau menangkis.

ia malahan berdiam diri dengan menutup kedua matanya menunggu maut.

Dengan mendadak saja, ia membatal kan serangannya.

Dia menoleh kepadaku, lalu menghela napas.

Kemudian ia memandang ayah dan berkata bengis.

"Nah, pergilah cepat. jangan tunggu sampai pikiranku berubah. Benar-benar aku tak akan memberimu ampun lagi !"

Tanpa berkata sepatah katapun juga ayah memutar tubuhnya dan lari secepat-cepatnya.

Ia mengawasi kepergian ayah, lalu menoleh kepadaku.

Tiba-tiba saja ia melontakkan darah.

Darahnya menyembur ke bajuku.

Giok Cu memekik tertahan mendengar hal itu, Katanya setengah menggerendeng.

"Yaya benar-benar tak tahu malu! secara berhadapan ia tak berani melawan, tiba-tiba menyerang dari belakang, itulah bukan perbuatan seorang ksatria." (Ya-ya -engkong). Ibunya menghela napas, sahutnya.

"Sebenarnya, dia adalah musuh kita, Empat puluh empat anggauta keluarga kita mati dibunuhnya, Kalau sampai aku memberi peringatan, semata-mata oleh rasa kaget begitu melihat serangan gelap ayah, Mungkin inilah yang dinamakan takdir! Takdir yang meramalkan masa depan yang gelap. Karena peristiwa itu merupakan titik-tolak dan asal mula diriku dijauhkan dari ikatan keluarga."

Ia berhenti sebentar. Kemudian meneruskan ceritanya.

"Dengan sempoyongan ia masuk ke dalam goa. Mengambil ramuan obat dan diminumnya. Beberapa kali ia masih mengeluarkan darah. Aku kaget dan cemas, sehingga menangis diluar kehendakku sendiri. Dan mendengar tangisku, ia menjadi girang. Tanyanya.

"Jadi, kau menangis untukku?"

Oleh pertanyaan itu, tak dapat aku menjawab dengan segera. Aku jadi berbimbang-bimbang dalam keadaan duka cita, Katanya kemudian kepadaku.

Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 23

Baca Juga: Pendekar Pendekar Negeri Tayli 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert