Ceritasilat Novel Online

Pendekar Pemanah Rajawali 4

Eps 4 Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong

Baca online Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong

Cersil Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong.

Atau "Burung hong bangkit dan ular naga mencelat". Musuh kaget dan berlompat berkelit, tidak urung tangan bajunya yang kiri telah kena tersontek robek.

"Lihat kepandaiannya toasuko!"

Berseru saudaranya yang memegang tombka itu sambil tertawa.

Itu waktu Temuchin telah dilindungi dengan dikurung oleh Jebe dan lainnya yang belum terluka, sikap garang mereka membuat dua musuh lainnya yang memegang ruyung besi dan dan sepasang kampak pendek, tidak berani sembarang merangsak.

Mereka ini pun telah dengar suaranya jiesuko mereka, saudara yang kedua, maka mereka anggap baiklah mereka menonton kakak mereka yang kesatu.

Mereka mau percaya musuh tidak bakal lolos lagi.

Mereka hampirkan jiesuko itu, untuk berdiri berendeng bertiga, akan menonton pertempuran sang kakak tertua.

Sebelum berkelahi terus, si pemegang golok itu lompat keluar kalangan.

"Kau muridnya siapa?!"

Ia tegur Kwee Ceng.

"Kenapa kau datang kemari untuk antarkan jiwamu?!"

Kwee Ceng lintangi pedangnya, ia bersikap tenang.

"Teecu adalah muridnya Kanglam Cit Koay,"

Ia menjawab dengan terus terang.

"Teecu mohon tanya suwie empunya she dan nama yang besar?"

Ia terus berbalik menanya empat orang itu.

"Suwie"

Ialah "keempat tuan". Orang itu menoleh kepada ketiga saudaranya. Lalu ia berpaling pula, katanya.

"Tentang nama kami berempat, taruh kami mengatakannya, kau satu anak kecil tentulah tak dapat mengetahuinya. Lihat golokku!"

Ia lantas menyerang.

Kwee Ceng sudah tempur orang, ia merasa orang ada terlebih terlatih daripadanya, akan tetapi ia adalah muridnya tujuh guru, telah banyak pengetahuannya, dan ilmun pedangnya pun sudah dapat mendesak musuh ini, maka itu ia melawan dengan berani, bukan ia mundur, ia mencoba mendesak terus.

Sebentar saja, tigapuluh jurus telah dikasih lewat.

Puluhan ribu serdadu musuh, juga Temuchin semua, berdiam menyaksikan pertempuran itu.

Tidak terkecuali adik seperguruannya si toasuko.

Ia ini cemas juga setelah banyak jurus, ia masih belum bisaberbuat suatu apa.

Diakhirnya, ia menjadi seperti nekat.

Demikian satu kali, dengan bengis ia membacok melintang.

Kwee Ceng lihat pinggangnya terancam tebasan, ia mendahulukan menikam ke arah lengannya musuhnya.

Musuh itu menjadi girang melihat lawan tidak berkelit hanya membalas menyerang.

Di dalam hatinya ia berkata.

"Belum lagi pedangmu tiba, golokku sudah mengenai tubuhmu."

Ia menebas terus tanpa membuat perubahan.

Tenang adanya sikap Kwee Ceng, jeli matanya, sebat tangannya.

Ia tunggu sampai ujung golok hampir mampir di pedangnya, mendadak ia mengegos sedikit, sedang tangan kanannya menikam terus ke dada lawannya itu!

Bukan main kagetnya si toasuko.

Sambil berteriak, ia lepas dan lemparkan pedangnya, sebagai gantinya, dengan tangan kosong ia sampok pedang si anak muda.

Keras sampokan ini, pedang Kwee Ceng terlepas dan jatuh ke tanah.

Ia tertolong jiwanya tetapi pedangnya toh mampir juga di tangannya, maka tangan itu bercucuran darahnya!

"Sayang!"

Kata Kwee Ceng di dalam hati.

Cuma karena kurang pengalaman, ia gagal, sedang sebenarnya, dengan sedikit lebih sebat saja, ia akan dapat tancapkam pedangnya di dada lawannya itu.

Selagi musuh lompat undur, ia jumput golok musuh yang jatuh di dekatnya.

Hampir pada itu waktu ada angin menyambar di belakangnya.

"Awas!"

Jebe teriaki muridnya.

Kwee Ceng dengar pemberian peringatan itu, tanpa membalik tubuh lagi, sambil mendak sedikit, ia mendupak ke belakang.

Tepat dupakannya ini, ia membuatnya tombaknya musuh terpental, habis mana, sambil memutar tubuh, ia membacok ke arah lengannya musuh.

Kali ini ia gunai bacokan ajarannya Lam Hie Jin, yaitu jurus "Burung walet masuk ke sarangnya"

Dari tipu silat "Lam Sam Too-hoat" – ilmu pedang Lam San.

"Bagus!"

Seru lawan yang bersenjatakan tombak itu, yang membokong.

Setelah berkelit dari bacokan, ia menikam ke dada pula.

Kembali Kwee Ceng bebaskan diri dengan kelitan "Dalam mabuk meloloskan sepatu" , untuk membarengi membalas menyerang, ialah sambil melayangkan kaki kanannya ke bahu musuh.

Penyerang bertombak ini menggunai ketikanya yang baik.

Ia lihat Kwee Ceng lihay dengan ilmu pedangnya, setelah pedang orang terlepas, ia membokong.

Ia tidak sangka si anak muda luas pengetahuannya dan gesit, tikamannya itu dapat dihalau dan ia ditendang, terpaksa ia menarik pulang serangannya.

Tapi ia penasaran, terus ia maju pula, hingga ia melayani musuh muda ini.

Ia penasaran sebab ia tahu, dengan tombaknya itu ia sudah punyakan pengalaman dua puluh tahun………… Kwee Ceng berkelahi sambil matanya melitah dan otaknya bekerja.

ia tahu musuh ingin menerbangkan goloknya, bahwa musuh itu ingin memperlekas kemenangannya.

Maka ia melawannya dengan sabar dan hati-hati.

Tapi ini bukan berarti ia berlaku kendor.

Ia tetap berlaku cepta dan keras, seperti tadi melawan si toasuko, ia mencoba mendesak, guna mempengaruhi musuh.

Karena ini ia tampaknya jadi semakin lihay, sehingga ia membuatnya si toasuko heran.

Si toasuko ini tadinya menyangka orang hanya lihay dengan pedangnya, tak tahunya, goloknya sama aja.

Lagi beberapa lama, Kwee Ceng dapatkan musuh mulai ayal gerakannya.

ia lantas menantikan satu tikaman.

Turut kebiasaan, ia mestinya menyampok tombak seraya membarengi membacok.

Tiba-tiba ia merasa tenaga musuh berkurang, maka itu, ia batal membacok, ia terus memapas ke sepanjang batang tombak, ke arah jari tangan musuh itu.

Celaka kalau musuh itu tidak lepaskan cekalannya.

Musuh itu terkejut, ia lantas mendahului lompat mundur.

Menghadapi lawan yang menggunai tombak ini, Kwee Ceng ada punya satu keuntungan.

ia telah dipertaruhkan akan bertempur sama anaknya Yo Tiat Sim, karena Tiat Sim adalah keturunan kaum keluarga Yo yang terkenal untuk ilmu tombaknya keluarga Yo, yaitu Yo Kee Chio-hoat, maka Lam Hie Jin sengaja ajarkan muridnya ini tipu golok melawan tombak.

Kebetulan sekali, sekarang ini Kwee Ceng ada kesempatan akan pakai ilmu goloknya yang istimewa itu dan ia berhasil.

Apa yang tidak disangka, ilmu ini bukan digunai di Kee-hi hanya di sini.

Setelah dapat merampas tombak musuh, Kwee Ceng lempar goloknya ke bawah gunung.

Ia lantas berdiri diam mengawasi keempat musuhnya itu.

Musuh yang keempat, yang paling muda, tidak tahan sabaran, dengan putar kampaknya, ia maju menyerang, mulutnya pun perdengarkan seruan.

ia agaknya penasaran yang mereka kalah dari satu bocah.

Siapa menggunai senjata pendek, ia mesti berkelahi rapat, baru ia bisa mengenai musuh, demikian ia ini, dia mencoba merapatkan Kwee Ceng.

Tapi pemuda kita, dengan tombaknya, membuatnya orang kewalahan, sia-sia saja dia itu mencoba berulang-ulang.

Sesudah lewat beberapa jurus, Kwee Ceng menggunai tipu.

Dengan cara biasa, tidak dapat ia rubuhkan atau lukai musuhnya ini.

Ia berhasil.

Musuh tidak menduga jelek, ia mendesak, sambil membentak, ia lompat menubruk, sepasang kampaknya turun dengan berbareng.

Kwee Ceng angkat tombaknya untuk menangkis.

Hebat kampaknya itu, gagang tombak kalah dan kena terkampak patah hingga menjadi tiga potong.

Disaat kemenangannya itu, musuh hendak mengulangi kampakannya.

Diluar dugaannya, baru ia kerahkan tenaganya, tiba-tiba perutnya dirasainya sakit.

Tanpa ia ketahui, sebelah kaki Kwee Ceng telah melayang ke perutnya, malah ia terdumpak mental.

Berbareng ia mental, tangan kirinya terbalik, mengampak ke arah kepalanya sendiri.

Melihat bahaya itu, si saudara yang ketiga melompat dengan ruyung besinya, akan hajar kampak di tangan kiri itu, maka di antara satu suara nyaring, kampak itu terlepas dan terpental, si pemiliknya sendiri jatuh numprah.

Syukur untuknya, ia tertolong dari bahaya maut.

Tapi ia bertabiat keras, ia gusar dan penasaran, ia lompat bangun untuk merangsak pula, mulutnya berteriakan tak henti-hentinya.

Kwee Ceng tidak punya senjata, ia melawan dengan ilmu silat tangan kosong melawan senjata.

Segera ia dikepung oleh musuhnya yang ketiga, yang bersenjatakan ruyung besi itu.

Melihat orang main keroyok, tentara Mongolia di kaki gunung menjadi tidak senang, mereka membaut ribut dengan mencaci maki dua pengeroyok itu.

Bangsa Mongolia adalah bangsa yang polos dan memuju orang gagah, maka itu tidak puas mereka menyaksikan empat orang mengepung bergantian kepada satu musuh, apapula satu musuh itu bertangan kosong.

Sampai disitu, Boroul dan Jebe maju untuk membantu Kwee Ceng.

Karena majunya mereka berdua, dua musuh lainnya turut maju juga.

Berat untuk Jebe berdua, mereka adalah orang-orang peperangan biasa, mereka bukan orang kaum Rimba Persilatan, repot mereka menghadapi musuh-musuhnya yang lihay itu.

Lekas juga senjata mereka dirampas musuh.

Kwee Ceng lihat Boroul terancam bahaya, ia lompat kepada toasuheng yang bersenjatakan golok sebatang, untuk menghajar punggungnya, ketika si orang Hwee menebas tangannya, ia segera tarik pulang tangannya itu untuk terus dipakai menyikut si jiesuheng, hingga dengan begitu ia pun dapat menolongi Jebe.

Orang itu rupanya bersatu pikiran, mereka lantas meluruk kepada anak muda she Kwee ini, mereka tidak menghiraukan lagi Jebe berdua.

Segera juga Kwee Ceng terancam bahaya, karena tidak mempunya senjata, terpaksa ia melawan dengan menunjuki kelincahannya, ialah main berkelit dengan mengegos tubuh atau berlompatan.

"Ini golok!"

Teriak Borchu seraya ia melemparkan goloknya.

Disaat Kwee Ceng hendak sambuti golok itu, ia diserang oleh musuhnya yang menggenggam ruyung besi hingga goloknya Borchu kena disampok mental, sedang musuh yang memegang sepasang kampak memberangi mengampak juga.

Dia ini bersakit hati bekas kena didupak tadi.

Kwee Ceng berkelit dengan berlompat, atau sebatang golok melayang ke arahnya.

Ia masih sempat berkelit pula seraya ia angkat kakinya yang kiri untuk menendang musuh yang memegang kampak yang berada paling dekat dengannya.

Hanya ketika itu, ia dibarengi musuh yang mencekal ruyung besri tadi, maka tidak ampun lagi, paha kanannya kena dihajar.

ia merasakan sangat sakit, matanya pun kabur, hampir ia rubuh pingsan.

Syukur untuknya, tulang pahanya itu tidak patah, tetapi gerakannya menjadi lambat, ia lantas kena ditubruk musuh yang bersenjatakan kampak, yang telah melepaskan kampaknya itu.

Karena ini, ia roboh bersama-sama musuh itu, yang tak sudi melepaskan pelukannya.

Kwee Ceng insyaf ia berada dalam bahaya, sekejab itu ia ingat ibunya, tujuh gurunya, Tuli dan Gochin, lalu semangatnya bangun, maka ia jambak dada musuh, denagn kerahkan semua tenaganya, ia angkat tubuh orang ke atasan tubuhnya snediri, denagn begitu ia pakai musuh sebagai tameng.

Benar saja ketiga musuh lainnya berhenti menyerang karena mereka khawatir nanti mencelakai kawan sendiri.

Kwee Ceng tetap bertahan secara demikian, hanya sekarang ia ubah caranya mencekal.

denagn sebelah tangan ia memencat nadi musuh, untuk membikin dia itu tak dapat bergerak, denagn tangan yang lainnya, ia mencekik tenggorokan.

Ia tidak pedulikan orang menendangi pundak atau kakinya.

ia telah pikir.

"Biar aku mati, asal aku pun telah membunuh seorang musuh!"

Jebe berdua yang tadi telah terpukul mundur, maju pula untuk membantu kawannya.

"Kamu pegat mereka ,nanti aku bunuh ini bocah haram!"

Kata si suheng yang memegang golok sebatang kepada dua saudaranya, habis mana ia terus bekerja.

Kwee Ceng kaget, ia merasakan sakit pada pundaknya, terpaksa ia menggulingkan tubuh sekitar dua tombak, habis mana ia lompat bangun, untuk berdiri.

Musuhnya yang ia cekik, telah rebah diam karena pingsan.

Baharu ia berdiri dengan berniat melawan musuh, atau kaki kanannya dirasakan sangat sakit, sekali lagi ia roboh.

Musuh sudah lantas tiba.

Dlam keadaan sangat berbahaya itu, Kwee Ceng ingat ia ada punya joan-pian atau cambuk lemas pembela dirinya, lekas-lekas ia lepaskan itu dari pinggangnya, lalu dengan menggulingkan tubuh, ia menangkis, kemudian selanjutnya, ia melakukan perlawanan dengan terus main bergulingan dengan ilmu silatnya "Kim Liong Pian-hoat"

Atau "Ilmu cambuk lemas naga emas"

Musuh yang pingsan telah lantas sadar, ia ingin membalas sakit hatinya, ia lompat bangun, untuk membantu saudaranya.

Tak lama, mereka pun dibantu oleh dua saudara yang lain, yang telah berhasil memukul mundur Jebe berdua.

denagn begini Kwee Ceng kembali kena dikepung berempat.

Selagi Kwee Ceng terancam bahaya, di bawah bukit, pasukan tentara kacau sendirinya, lalu tertampak enam orang bergerak dengan lincah mengacau barisan itu, terus mereka berenam lari naik ke atas gunung.

Matanya Jebe sangat tajam, ia lantas kenali enam orang itu.

"Kwee Ceng, gurumu datang!" , ia berseru. Kwee Ceng sudah letih betul, kedua matanya pun sudah mulai kabur, kapan ia dengar itu teriakan, semangatnya terbangun, terus ia melawan dengan hebat. Cu Cong dan Coan Kim Hoat lari di paling depan, mereka segera tampak murid mereka dalam bahaya. Kim Hoat lompat maju, dengan dacinnya ia rabu empat batang senjata musuh.

"Tidak tahu malu!"

Ia membentak.

Empat musuh itu sudah lantas lompat mundur, tangan mereka kesemutan bekas rabuhan senjata aneh dari orang yang baru datang ini.

Mereka merasa bahwa dalam tenaga dalam, mereka kalah jauh.

Cu Cong lompat maju, akan kasih muridnya bangun.

Itu waktu, Tin Ok bersama yang lain pun telah tiba.

"Bandit-bandit tidak tahu malu, pergi kamu!"

Kim Hoat mengusir. Si toasuheng yang bersenjatakan golok sebatang menebali muka. Ia tahu pihaknya tak berdaya tetapi mereka malu untuk lari turun gunung, mereka malu bertemu sama pangeran yang keenam.

"Liok-wie, adakah kamu Kanglam Liok Koay?"

Ia tanya enam orang itu.

"Tidak salah!"

Sahut Cu Cong tertawa.

"Siapakah tuan berempat?"

"Kami adalah empat muridnya Kwie-bun Liong Ong,"

Sahut si toasuheng.

Kwa Tin OK dan Cu Cong mulanya menyangka orang adalah orang-orang yang tak bernama, sebab mereka itu main keroyok, maka terkejutlah mereka mengetahui empat orang itu adalah murid-,muridnya Kwie-bun Liong Ong.

"Pasti kamu berdusta!"

Bentak Tin Ok.

"Kwie-bun Liong Ong bernama besar, mana bisa murid-muridnya ada bangsa tak berguna seperti kamu!"

"Siapa berdusta!"

Berseru orang ynag dicekik Kwee Ceng tadi, yang masih merasakan sakit pada tenggorokannya.

"Inilah toasuheng kami, Toan-hun-to Sim Ceng Kong! Ini jiesuheng Tiwi-beng-chiop Gouw Ceng Liat! Ini samsuheng Toat-pek-pian Ma Ceng Hiong! Dan aku sendiri, aku Song-bun-hu Cian Ceng Kian!"

"Kedengarannya kamu tidak berdusta,"

Berkata Tin Ok pula.

"Benarlah kau adalah Hong Ho Su Koay! Kamu cukup ternama, kenapa kamu merendahkan diri begini rupa, emapt orang bersaudara mengepung satu musuh, seorang bocah! Dialah muridku!"

Gouw Ceng Liat membelar.

"Siapa bilang kami berempat mengepung satu orang?!"

Katanya.

"Bukankah di sini ada banyak orang Mongolia yang membantu padanya?"

Cian Ceng Kong pun tanya Ma Ceng Hiong.

"Samsuheng, ini buta dan pengkor sangat berlagak, siapakah dia?"

Ceng Kong menanya perlahan sekali, tetapi Kwa Tin Ok dapat mendengarnya, ia menjadi mendongkol.

Tiba-tiba ia menekan denagn tongkatnya, tubuhnya terus mencelat, sebelah tangannya menyambar, maka tidak ampun lagi, punggung Ceng Kong kena dijambak, terus dilemparkan ke bawah gunung!

Tiga pengepung lainnya menjadi kaget, mereka maju untuk menolongi, tetapi mereka tidak berdaya, malah sebaliknya, cepat luar biasa, satu demi satu, mereka juga kena dilempar-lemparkan si Kelelawar Terbangkan Langit!

Tentara Mongolia di atas bukit bersorak-sorai menyaksikan keempat saudara itu, yaitu Hong Ho Su Koay, merayap bangun dengan muka penuh debu dan seluruh badan dan pinggangnya sakit bekas jatuh terbanting dan bergeluntungan.

Syukur mereka tidak patah tangan dan kaki atau singkal batang lehernya.

Itu waktu terlihat debu mengulah naik, tanda dari datangnya beberapa ribu serdadu, maka itu, menampak demikian, tentaranya Sangum menjadi kecil hatinya.

Temuchin menampak datangnya bala bantuan, mengetahui Jamukha lihay dan Sangum hanya mengandal kepintaran ayahnya, ia menunjuk ke kiri ke pasukannya Sangum itu seraya berseru.

"Mari menerjang ke sini!"

Jebe berempat dengan Borchu, Juji dan Jagatai sudah lantas mendahulukan menerjang ke bawah, darimana pun terdengar seruannya bala bantuan.

Mukhali kaburkan kudanya denan ia peluki Tusaga, batang leher siapa ia tandalkan goloknya, sembari turut menerjang, ia berteriak-teriak.

"Lekas buka jalan! Lekas buka jalan!"

Sangum menyaksikan musuh menerobos turun, hendak ia memegat, atau ia lantas tampak putranya berada di bawah ancama maut, putra itu tak dapat berkutik, ia menjadi tergugu, hingga tak tahu ia harus mengambil tindakan apa.

Sementara itu rombongannya Temuchin sudah sampai di bawah bukit, malah Jebe sudah lantas saja turun tangan, dengan mengincar Sangum, ia memanah.

Sangum terperanjat, ia berkelit ke kiri, tidak urung pipi kanannya kena tertancap anak panah, maka tak ampun lagi, ia rubuh terjungkal dari kudanya.

Tentu saja, karenanya, tentaranya menjadi kaget dan kalut sendirinya.

Temuchin ajak rombongannya kabur terus.

Ada beberapa ratus musuh yang mengejar, akan tetapi mereka dirintangi panahnya Jebe dan Borchu beramai, yang sembari menyingkir telah menoleh ke belekang dan saban-saban menyerang denagn panah mereka.

Kanglam Liok Koay turut mundur dengan Lam Hie Jin yang memondong Kwee Ceng.

Sesudah melalui beberapa lie, rombongan ini bertemu sama bala bantuan, ialah barisannya Tuli, putra keempat Temuchin, maka itu mereka lantas menggabungkan diri.

Tuli masih muda, walaupun ia adalah satu pangeran, kepala-kepala suku dan panglima-panglima Temuchin tidak suka dengar titahnya, dari itu, ia datang dengan cuma bersama itu beberapa ribu serdadu anak-anak muda, hanya ia telah didulukan Kanglam Liok Koay.

Tapi ia cerdik, ia tahu jumlah musuh terlebih besar, ia perintahkan semua serdadu mengikat cabang pohon diekor masing-masing kuda mereka, dari itu debu menjadi mengulak besar dan musuh menyangkanya bala bantuan lawan ada berjumlah besar sekali.

Di tengah jalan pulang, Temuchin bertemu bersama Gochin, yang pun datang bersama sejumlah serdadu.

Putri ini girang bukan main melihat ayahnya semua tidak kurang satu apa pun.

Malam itu Temuchin membuat pesta dengan semua panglima dan tentaranya diberi hadiah.

Hanya untuk herannya semua orang, yang hatinya mendongkol, mereka itu lihat Tusaga diundang duduk bersama di meja pesta, dan diperlakukan sebagai tamu agung.

Temuchin hanturkan tiga cawan arak kepada putra Sangum itu.

"Aku tidak bermusuh dengan ayah Wang Khan dan saudaraku Sangum,"

Ia berkata kepada putranya Sangum itu.

"Maka itu aku persilahkan kau pulang untuk menyampaikan maafku. Aku pun akan mengantar bingkisan kepada ayah dan saudara angkatku itu, yang aku minta supaya tidak menjadi berkecil hati."

Tusaga girang bukan main.

Bukankah ia telah tidak dibunuh?

Maka ia berjanji akan meyampaikan permohonan maaf dari Temuchin itu.

Semua orang menjadi bertambah heran dan mendongkol menyaksikan Khan mereka yang besar menjadi demikian lemah dan jeri terhadap Wang Khan, tetapi terpaksa mereka berdiam saja.

Besok harinya Temuchin kirim sepuluh serdadunya mengiringi Tusaga pulang, berbareng dengan itu ia mengirimkan dua buah kereta yang berisikan emas dan kulit tiauw.

Tiga hari sepulangnya Tusaga itu, Temuchin kumpulkan orang-orang peperangannya.

Dengan mendadak ia perintahkan mereka itu kumpulkan tentara mereka.

"Sekarang juga kita menyerang Wang Khan!"

Demikian titahnya. Heran semua panglima itu, mereka melongo.

"Wang Khan banyak tentaranya, serdadu kita sedikit, tak dapat kita melawan dia dengan terang.terangan,"

Menjelaskan Temuchin.

"Kita mesti membokong padanya! Aku merdekana Tusaga dan mengirim bingkisan, itulah untuk membuatnya tidak bersiaga."

Baharu semua panglima itu sadar, mereka jadi sangat mengagumi Khan mereka itu.

Segera mereka bertindak maju dalam tiga pasukan.

Wang Khan dan Sangum dilain pihak girang melihat Tusaga pulang dengan selamat dan Temuchin pun mengirim bingkisan, mereka menyangka Temuchin jeri, mereka tidak bercuriga, maka di dalam tendanya, mereka jamu Wanyen Lieh dan Jamukha, yang mereka layani dengan hormat.

Adalah tengah mereka berpesta malam ketika mendadak datang serangannya Temuchin.

Mereka menjadi kaxau, tanpa berdaya mereka pada melarikan diri.

Wang Khan bersama Sangum kabur ke barat.

Di sana mereka kemudian terbinasa di tangan bangsa Naiman dan Liauw Barat.

Tusaga terbinasa terinjak-injak kuda tentara.

Hong Ho Su Koay, Empat Siluman dari sungai Hong Ho, yang bisa menerobos kepunganm telah lindungi Wanyen Lieh kabur pulang ke Tiongtouw (Pakkhia).

Jamukha kehilangan tentaranya, dia lari ke gunung Tannu, di sana selagi ia dahar daging kambing, dia ditawan oleh tentara pengiringnya, terus ia dibawa kepad Temuchin.

Temuchin terima orang tawanan itu, tetapi ia gusar, ia berseru.

"Serdadu pengiring pemberontak dan berkhianat kepada majikan! Apakah gunanya akan mengasih hidup kepada orang-orang tak berbudi begini?"

Di depan Jamukha sendiri, ia perintahkan hukum mati pada kelima pengiring itu. Kepada Jamukha, yang ia awasi, ia kata.

"Apakah tetap kita menjadi sahabt-sahabat kekal?"

Jemukha mengucurkan air mata.

"Meskipun saudara suka memberi ampun padaku, aku sendiri tidak mempunyai muka akan hidup lebih lama pula di dalam dunia ini,"

Ia menyahuti.

"Saudara, aku minta sudilah kau memberi kematian tak mengucurkan darah padaku, supaya rohku tidak mengikuti darahku dan meninggalkan tubuh ragaku…."

Temuchin berdiam sekian lama.

"Baiklah,"

Berkata ia kemudian.

"Akan aku menghadiahkan kau kematian tak mengalirkan darah, nanti aku kubur kau di tempat di mana dahulu hari, semasa kecil, kita bermain bersama…"

Emukha memberi hormat sambil berlutut, habis itu ia putar tubuhnya untuk bertindak keluar kemah.

Besoknya Temuchin mengadakan rapat besar di datar sungai Onon.

Ketika itu namanya telah naik tinggi sekali, maka rakyat dan orang peperangan dari pelbagai suku tak ada yang tak tunduk kepadanya, semuanya menyunjungnya.

Maka di dalam rapat besar itu ia telah diangkat menjadi Kha Khan, atau Khan terbesar dari Mongolia, dengan gelaran Jenghiz Khan, artinya Khan yang besar dan gagah bagaikan pengaruhnya lautan besar.

Di sini Jenghiz Khan membagi hadiah besar.

Empat pahlawannya yakni Mukhali, Borchu, Boroul dan Chiluan serta Jebe, Jelmi dan Subotai, diangkat menjadi cian-hu-thio, semacam kapten dari seribu serdadu.

Kwee Ceng yang dianggap jasanya paling istimewa, dijadikan cian-hu-thio juga.

Maka anehlah satu bocah umur belasan tahun, pangkatnya sama dengan satu pahlawan panglima yang berjasa.

Dalam pesta itu Jenghiz Khan minum banyak arak hadiah dari pelbagai panglimanya, dalam keadaan seperti itu, ia kata kepada Kwee Ceng.

"Anak yang baik, aku akan menghadiahkan pula kepadamu sesuatu yang aku paling hargakan!"

Kwee Ceng sudah lantas berlutut untuk menghanturkan terima kasihnya.

"Aku serahkan Putri Gochin kepadamu!"

Berkata Jenghiz Khan.

"Mulai besaok kau adalah Kim-to Hu-ma!" . Semua panglima bersorak, lalu mereka memberi selamat kepada Kwee Ceng. Mereka juga berseru-seru.

"Kim-to Hu-ma! Kim-to Hu-ma! Bagus! Bagus!"

"Kim-to Hu-ma"

Itu berarti menantu raja golok emas.

Tuli sangat kegirangan sehingga ia merangkul Kwee Ceng erat-erat, tak mau ia lekas-lekas melepaskannya.

Si anak muda sebaliknya berdiam diam, tubuhnya terpaku, mulutnya bungkam.

Ia menyukai Gochin, tetapi sebagai adik, bukan sebagai kekasih.

Ia lagi mengutamakan ilmu silat, tak ia pikirkan lainnya soal apa pula soal jodoh, soal asmara.

Maka keget iamendengar hadiah Khan yang maha besar itu.

Selagi ia tercengang, semua orang tertawa padanya, menggodainya.

Setelah pesta bubar, Kwee Ceng lantas cari ibunya, akan tuturkan hadiah dari Jenghiz Khan itu.

Liep Peng terdiam, ia pun bingung.

"Coba undung gurumu semua!"

Titahnya kemudian.

Kanglam Liok Koay lantas datang.

Apabila mereka mendengar hal pertunangan itu, mereka girang, mereka lantas memberi selamat kepada nyonya Kwee itu.

Bukankah murid mereka sangat dihargai oleh Khan dan peruntungannya bagus sekali?

Lie Peng berdiam sebentar, lalu tiba-tiba ia berlutut di depan enam manusia aneh itu, sehingga mereka itu menjadi heran.

"Ada apa, enso?"

Mereka tanya.

"Kenapa enso menjalankan kehormatan besar ini? Harap enso lekas bangun!"

"Aku ada sangat bersyukur yang suhu beramai sudah didik anakku ini sehingga ia menjadi seorang yang berharga,"

Berkata nyonya ini.

"Budi ini tak dapat aku balas walaupun tubuhku hancur lebur. Hanya sekarang ada satu hal sulit untuk mana aku mohon pertimbangan dan keputusan suhu beramai."

Lie Peng tuturkan keputusan suaminya almarhum dengan Yo Tiat Sim, yang tunangkan anak-anak mereka sebelum anak-anak itu lahir.

"Maka itu, kendati kedudukan anakku mulia sekali, mana dapat ia menjadi hu-ma?"

Kata si nyonya kemudian.

"Kalau aku menyangkal janji ini, aku malu sekali. Bagaimana nanti suamiku dan aku menemui paman Yo dan istrinya itu di dunia baka?"

Mengdengar keterangan, Kanglam Liok Koay tertawa. Lie Peng heran, ia mengawasi mereka itu.

"Orang she Yo itu benar telah memperoleh keturunan tetapi bukannya perempuan, melainkan pria,"

Cu Cong kasih keterangan.

"Bagaimana suhu ketahui itu?"

Menanya Lie Peng kaget.

"Seoarng sahabat di Tionggoan mengabarkan kami dengan sepucuk surat,"

Menerangkan Cu Cong lebih jauh.

"Sahabat itu pun mengharap kami mengajak anak Ceng ke sana untuk menemui putranya orang she Yo itu, untuk mereka menguji kepandaian silat mereka."

Mendengar itu, Lie Peng sangat girang.

Ia setuju anaknya itu diajak pergi.

Ia harap, sekalian anaknya itu mencari Toan Thian Thek, guna menuntut balas.

Sepulangnya dari perjalanan itu, baharu Kwee Ceng nanti menikah dengan Gochin.

Setelah mendapat keputusan, Kwee Ceng menghadap Jenghiz Khan, untuk memberitahukan tentang niat perjalanannya itu.

"Bagus, kau pergilah!"

Khan itu setuju.

"Sekalian kau pulang nanti bawalah juga kepalanya Wanyen Lieh, putra keenam raja Kim! Untuk melakukan pekerjaan besar itu, berepa banyak pengiring yang kau butuhkan?"

Bab 15. Oey Yong "Anak akan pergi bersama keenam guruku, tak usah anak membawa pengiring,"

Sahut Kwee Ceng.

Ia anggap dengan pergi bersama guru-gurunya, ia tentu bakal berhasil, sedang membawa pengiring-pengiring, yang tidak mengerti ilmu enteng tubuh, melainkan menambah berabe saja.

Ia senang sekali dengan easn Khan ini, untuk membinasakan Wanyen Lieh.

Memang semenjak kecil ia telah diempos ibunya, yang sangat membenci bangsa Kimn itu.

Jenhiz Khan menerima baik, ia pesan pula.

"Sekarang ini kuda kita belum terpelihara gemuk dan tentara kita belum terlatih sempurna, kita belum dapat menandingi negara Kim, maka itu kau harus bekerja baik-baik supaya kau tidak meninggalkan bekas-bekas!"

Kwee Ceng memberikan janjinya.

Jenghis Khan lantas hadiahkan baba mantu itu uang emas tigapuluh tael, untuk ongkos di jalan, sedang Kanglam Liok Koay dipersen barang-barang emas dan berharga bekas rampasan dari Wang Khan.

Di hari ketiga, setelah pamitan dati ibunya dengan keduanya mengucurkan air mata, Kwee Ceng berangkat bersama guru-gurunya.

Lebih dahulu mereka sambangi kuburannya Thio A Seng, untuk ambil selamat berpisah dari rohnya guru almarhum itu.

Lalu tujuan mereka adalah selatan.

Baharu mereka jalan sepuluh lie lebih, di atasan kepala mereka terlihat dua ekor burung rajawali kepala putih terbang berputaran, lalu terlihat Tuli datang bersama Gochin dengan dua saudara itu merendengi kuda mereka.

Tuli memberi bingkisan sepotong baju bulu tiauw yang mahal, yang pun adalah barang rampasan dari Wang Khan.

Gochin datang menemui bakal suaminya itu, akan tetapi ia tidak dapat berbicara, cuma kulit mukanya menjadi bersmu merah.

"Adikku, kau bicaralah dengannya, aku tak akan mendengarinya!"

Berkata Tuli sambil tertawa, terus ia larikan kudanya, untuk menjauhkan diri. Gochin menoleh, ia masih belum dapat bicara. Selang beberapa lama, barulah ia pesan.

"Kau mesti lekasan pulang….."

Kwee Ceng mengangguk.

"Ada pesan lagi?"

Ia menanya.

Gochin menggelengkan kepalanya.

Kwee Ceng dekati itu putri, ia pondong tubuhnya, terus ia bawa kepada Tuli.

Lalu ia pun saling rangkul dengan Tuli itu, habis mana ia larikan kudanya guna menyusul keenam gurunya, yang sudah berjalan jauh juga.

Gochin melongo, hatinya menjadi tawar.

Ia dapatkan sikap Kwee Ceng sama seperti biasa, bukan sebagai satu tunangan.

Saking masgul, ia hajar kudanya hingga binatang itu lari berjimpratan.

Kwee Ceng sendiri berjalan terus, keenam gurunya ajak dia menuju ke timur selatan, siang jalan, malam singgah.

Segera juga mereka melintasi tanah datar gurun pasir.

Pada suatu hari hampir tiba di Hek Sui Ho, tak jauh lagi dari Kalgan, Kwee Ceng lantas merasakan suasana bertukar.

Belum pernah ia melintas dari gurun, sekarang ia mulai tiba di Tionggoan, ia dapatkan pemandangan mata yang lain.

Tanpa merasa, ia gencet perut kudanya, membikin kudanya itu lari pesat.

Maka lekas sekali tibalah ia di Hek Sui o, disebuah rumah makan di tepi jalanan.

Kwee Ceng merasa kasihan melihat kudanya yang kecil itu lari demikian keras hingga bermandikan keringat, ia ambil sabuk dengan apa ia menyusuti.

Tiba-tiba saja ia menjadi kaget.

Sabuk itu menjadi merah seluruhnya.

Tempo ia meraba kudanya dengan tangannya, tangannya itu juga menjadi merah, penuh dengan darah.

Hampir ia mengucurkan air mata saking menyesal sudah menyiksa kudanya itu.

Tidakkah kuda itu bercelaka diluar keinginannya?

Maka ia rangkul leher kuda itu, untuk menghibur.

Kuda itu sebaliknya nampak segar bugar, tidak ada tanda-tandanya terluka.

Kwee Ceng menoleh, akan mengawasi ke jalan besar darimana tadi ia datang.

Ia mengharap-harap segera tibanya gurunya yang ketiga, Han Po Kie, supaya guru itu suka tolong mengobati kudanya itu.

Ia tidak melihat guru-gurunya, yang ketinggalan jauh, maka berulangkali ia menoleh dan menoleh pula.

Masih enam guru itu tak nampak, sebaliknya, kupingnya bocah ini mendengar mengalunnya kelenengan unta.

Apabila ia mengawasi, ia lihat mendatanginya empat ekor unta bulu putih, yang penunggangnya pun berpakaian serba putih putih .

Mereka itu pria semua.

Belum pernah Kwee ceng melihat unta-unta yang begitu bagus, ia menjadi mengawasi.

Ia pun menjadi tertarik dan heran akan mendapatkan keempat penunggangnya semua masih muda-muda, mungkin baru berumur duapuluh dua atau duapuluh tiga tahun, dan semuanya pun beroman tampan.

Setibanya di depan restauran, keempat penunggang unta itu lompat turun dari punggung masing-masing untanya, terus mereka bertindak ke dalam rumah makan itu.

Dari gerak-geriknya mereka itu, terang mereka itu mengerti silmu silat.

Disamping pakaian mereka yang putih, di leher mereka itu terlihat bulu rase.

Satu pemuda melihat Kwee Ceng mengawasi padanya, ia menjadi likat, wajahnya pun bersemua dadu, lekas-lekas ia tunduk.

Adalah satu kawannya menjadi tidak senang.

"Eh, bocah kau awasi apa?"

Ia menegur.

Kwee Ceng terperanjat, lekas-lekas ia melengos.

Ia lantas dengar mereka itu berbicara satu pada lain, entah apa yang mereka bicarakan itu, habis itu mereka tertawa riuh.

Ia malu sendirinya.

tentu orang tengah menertawainya.

Ia sempat berpikir untuk menukar tempat singgahnya.

Syukur unttuknya, ia dapatkan tibanya Han Po Kie.

Ia lari kepada gurunya itu, untuk terus beritahukan hal kudanya mengeluarkan keringat darah.

"Begitu?"

Tanya guru itu heran.

Ia dekati kuda Kwee Ceng, ia raba punduknya kuda itu, setelah mana, ia bawa tangannya yang berlepotan darah itu ke arah matahari.

Ia mengawasi sekian lama, lalu tiba-tiba ia tertawa lebar.

"Ini bukannya darah, inilah keringat!"

Serunya. Kwee Ceng tercengang.

"Keringat?"

Ia menanya.

"Ada keringat merah?"

Po Kie tidak sahuti muridnya itu, hanya dengan bersemangat ia kata;

"Anak Ceng, kau telah dapatkan han-hiat po-ma, yang untuk seribu tahun sukar didapatkan!"

Kwee Ceng heran dan girang. Ia bergirang sebab kudanya tidak terluka. Ia heran akan mendengar halnya han-hiat po-ma, ialah kuda istimewa dengan keringat seperti darah.

"Suhu, kenapa dia mengeluarkan keringat bagaikan darah?"

Ia menegasi.

"Dulu pernah aku dengar keterangannya guruku, almarhum,"

Sahut Po Kie.

"Turut katanya guruku itu, di tanah barat, yaitu di daerah Ferghana, ada kedapatan sebangsa kuda liar biasa, yang disebut kuda langit, punduk kuda itu mengeluarkan keringat merah seperti darah, bahwa kuda itu keras larinya, satu hari dapat menempuh jarak seribu lie. Tentu itu baru cerita saja, belum pernah ada yang melihat buktinya."

Selagi guru dan murid ini berbicara, rombongannya Tin Ok tiba. Mereka lantas beritahukan tentang kuda berkeringat merah itu. Cu Cong adalah seorang sastrawan, ia luas pengetahuannya.

"Tentang itu ada ditulis jelas dalam Kitab Hikayat dan Kitab Jaman Han,"

Berkata Cu Cong.

"Ketika dahulu hari itu bangsawan Pok-bong-houw Thio Kian diutus ke Tanah Barat, di Ferghana dia telah melihat seekor kuda han-hiat po-ma itu, sekembalinya ke negerinya, ia memberitahukannya kepada rajanya, Kaisar Han Bu Tee. Kaisar menjadi kagum, ingin ia mempunyai kuda itu, terus ia kirim utusan membawa emas seribu kati serta seekor kuda-kudaan emas, sebesar kuda biasa, ke Barat itu, untuk dipakai menukar dengan kuda istimewa itu. Raja Ferghana menolak permintaan itu, dia mengatakannya. ‘Kuda itu adalah kuda pusaka negara Ferghana, jadi kuda itu tidak dapat dihadiahkan kepada bangsa Han.’ Utusan Han itu menjadi gusar, mengumbar tabiatnya, ia hajar rusak kuda emas itu, terus ia pulang. Raja Ferghan pun gusar, dia perintah menawan utusan itu, terus dibunuh, emas dan kuda emas itu dirampas."

Kwee Ceng berseru heran. Cu Cong menghirup air tehnya.

"Kemudian bagaimana?"

Tanya murid itu. Dipihak lain, keempat pemuda serba putih itu juga memperhatikan cerita itu.

"Shatee,"

Tanya Cu Cong sehabis ia minum pula tehnya.

"Kau ahli pemelihara kuda, takukha kau darimana asalnya po-ma?"

"Menurut keterangan guruku, po-ma terlahir dari perkawinan kuda rumahan dengan kuda liar!"

Sahut Po Kie.

"Benar!"

Berkata Cu Cong.

"Menurut kitab, di negara Ferghana itu ada sebuah gunung di dalam mana kedapatan sebangsa kuda liar, yang dapat lari seperti terbang, hingga orang liar tidak dapat mengejarnya. Tapi orang Ferghana telah mendapat satu akal bagus.Pada suatu malam hari musim semi, mereka lepas satu ekor kuda betina yang berwarna lima di kaki gunung. Kuda liar itu kena terpincuk, dia kawin dengan kuda pancingan itu, ketika kemudian kuda biang itu mendapat anak, anak kuda itu ialah po-ma tersebut. Anak Ceng, mungkin sekali kudamu itu adalah keturunan dari kuda Ferghana itu.

"Bagaimana dengan Kaisar Han Bu Tee itu, apa dia mau sudah saja?"

Menanya Han Siauw Eng, yang tertarik denagn cerita kakak angkatnya itu.

"Mana mau dia sudah begitu saja,"

Kata Cu Cong.

"Dia lantas perintah Jenderal Lie Kong mengepalai beberapa laksa serdadu pergi ke Ferghana untk mendapatkan kuda itu. Untuk itu, Lie Kong diangkat menjadi jenderal istimewa. Tapi Ferghana adalah negera gurun pasir, tak ada rangsum dan air disana, selama perjalanan banyak tentara terbinasa, sebelum mencapai tempat tujuan, pasukan tentara itu tinggal hanya tiga bahagian. Lie Kong kalah oerang, ia terpaksa mundur ke Tun-hong, darisana ia meminta rajanya mengirim pula bala bantuan. Raja gusar, ia kirim utusan membawa pedang, ke kota Gak-bun-kwan, untuk menjaga. Utusan itu diberi tugas dan kekuasaan. Panglima atau serdadu mana saja yang pergi berperang benani memasuki kota Gak-bun-kwan itu, dia mesti dihukum mati! Lie Kong menjadi serba salah, terpaksa ia menunda di Tun-hong itu."

Ketika itu terdengar pula kelenengan unta, lalu tertampak datangnya lagi empat penunggang unta seperti empat yang pertama itu.

Melihat mereka itu, yang masuk ke dalam restauran, Kwee Ceng heran.

Mereka itu muda dan tampan dan pakaiannya serba putih seprti rombongan yang pertama.

Dan mereka dua rombongan lantas duduk bersama-sama.

Cu Cong melanjuti ceritanya.

"Kaisar Han Bu Tee tidak puas, ia merasa malu. Dengan kalah perang, ia khawatir bangsa lain memendang enteng bangsa Han. Maka ia mengerahkan pula lebih daripada duapuluh laksa serdadu, ia siapkan serbau, kuda dan rangsum tak terhingga banyaknya. Masih ia khawatir tentaranya itu belum cukup, ia menambah dengan semua orang hukuman, pamong praja rendah, baba-baba mantu dan kaum pedagang, yang dijadikan serdadu, hingga negera menjadi gempar. Pula dua ahli kuda diberi pangkat tinggi, ialah satu menjadi Kie-ma Kawm-oet, yang lainnya menjadi Cit-ma Kauw-oet, tugasnya ialah nanti sesudah Ferghana dipukul pecah mereka mesti memilih kuda jempolan. Lioktee, kerajaan Han itu mengutamakan tani dan sebaliknya memandang enteng bangsa saudagar, kalau kau hidup di jaman Kaisar Han Bu Tee, apeslah kau, sebaliknya dengan shatee, dia bisa memangku pangkat! Ha ha ha!"

"Dan baba-baba mantu itu, apakah salahnya mereka?"

Siauw Eng menanya.

"Siapa miskin dan tak punya sanderan, siapa kesudian dipungut mantu?"

Cu Cong menjawab.

"Kali ini Lie Kong memimpin angkatan perang yang besar itu. Untuk lebih daripada empatpuluh hari, ia kurung dan serang kota musuh. Banyak panglima musuh terbinasa. Akhirnya kaum ningrat Ferghana menjadi ketakutkan, mereka berontak, rajanya dibunuh, kepala raja diserahkan. Mereka mohon menakluk. Mereka pun serahkan kuda yang diperebuti itu. Lie Kong pulang dengan kemenangan besar, raja sangat girang, dia di anugrahkan menjadi bangsawan Hay-see-houw. Orang-orang peperangan yang lainnya pun turut kenaikan pangkat. untuk seekor kuda po-ma itu, entah berapa banyak jiwa sudha melayang, setahu berapa banyak uang sudah dikorbankan. Kaisar mengadakan satu pesta besart, ia perintah mengarang syair untuk memuji kuda langit itu, yang dianggap melainkan naga yang pantas menjadi kawannya…."

Mendengar cerita itu, delapan pemuda itu mengawasi kudanya Kwee Ceng, agaknya mereka sangat tertarik. Cu Cong berkata pula.

"Kuda langit menjadi kuda jempolan sebab perkawinannya dengan kuda liar, Kaisar Bu Han Tee sudah kerahkan kekuatan seluruh negeri untuk mendapatkan beberapa ekor kuda itu tapi kemudian ia tidak mendapatkan kuda liar, maka selang beberapa turunan, semua kuda itu tak lagi menjadi po-ma dan keringatnya pun tidak merah…"

Habis Cu Cong bercerita, mereka melanjuti memasang omong sambil dahar mie.

Delapan pemuda itu duduk jauh-jauh, mereka kasak-kusuk tetapi kupingnya Kwa Tin Ok lihay, ia dapat mendengar jelas pembicaraan mereka.

"Kalau kita hendak rampas kuda itu, cukup dengan satu kali turun tangan,"

Berakta satu pemuda.

"Satu kali kita sudah naik atas punggung kuda itu, siapa dapat mengubarnya?"

"Tapi disini ada banyak orang lain dan ia pun ada kawan-kawannya…"

Kata seorang yang lain.

"Jikalau kawannya berani membantui, kita bunuh saja semua!"

Kata seorang lagi. Hu Thian Pian-hk Kwa Tin Ok menjadi heran sekali.

"Mereka berdelapan wanita semuanya, mengapa mereka jadi begini galak dann telengas?"

Tanya ia dalam hatinya. Ia berdiam saja, ia sengaja berpaling ke luar rumah makan. dengan begitu delapan pemuda itu menjdai tidak bercuriga.

"Setelah mendapatkan kuda jempolan ini, kita menghadiahkannya kepada San-cu,"

Berkata seorang pula.

"Dengan menungggang kuda ini, San-cu pergi ke kota raja,tentunya dia menjadi semakin terang mukanya! Pasti seklai Som Sian lao Koay dari Tiang Pek San dan Leng Tie Sianjin jago Bit Cong Pay dari Tibet tak dapat menangkan keagungannya…!"

Tin Ok berpikir. Ia pernah dengar namanya Leng Tie siangkin, seorang paderi kenamaan dari Tibet itu, tetapi tak tahu ia perihal Som Sian Lao Koay. Ia terus memasang kupingnya.

"Dalam beberapa hari ini di tengah jalan kita menemui tak sedikit sahabat dari Jalan Hitam,"

Berkata seorang muda yang lainnya lagi.

"Katanya mereka adalah bawahannya Cian-ciu jin-touw Peng Lian Houw. Merek aitu tentu hendak berkumpul juga di kota raja, maka kalau mereka dapat lihat kuda ini, mana kita dapat kebagian?"

Tentang Peng Lian Houw ini Tin Ok ketahui dengan baik. Dialah kepala penjahat paling berpengaruh untuk wilayah Hopak dan Shoasay, yang pun sangat kejam, maka juga dia dapat gelarannya itu.

"Pembunuh Ribuan Jiwa". Maka ia berpikir.

"Orang lihay itu pergi ke kota raja, mereka hendak bikin apa di sana? Delapan wanita ini, siapakah mereka?"

Mendengar terlebih jauh, Tin Ok mendapat kepastian mereka itu hendak merampas kudanya Kwee Ceng.

Merek ahendak pergi lebih dulu, guna memegat di tengah jalan.

Habis mengambil keputusan, delapan pemuda itu, yang Tin Ok mengatakannya pemudi-pemudi, lalu berkasak-kusuk tentang asmara, mereka pun bergurau.

Ada yang kata "San-cu paling sukai kamu!"

Ada yang membilang.

"Diwaktu begini tentulah San-cu lagi menantikanmu!"

Maka ia menjadi mengerutkan keningnya, ia menajdi sebal….

"Kalau kita menghadiahkan kuda ini kepada San-cu, coba kau terka, San-vu bakal menghadiahkan apa kepada kita?"

Berkata satu orang, yang kembali ke urusan kuda. Yang seorang tertawa dan berkata.

"Pasti San-cu menghendaki kau menemani ia tidur untuk beberapa malam…! "Kurang ajar!"

Membentak kawan yang digoda itu dan hendak mencubit. Yang lain-lain lantas tertawa geli.

"Kira-kira, hati-hatilah!"

Seorang memperingati.

"Jangan kita membocorkan rahasia sendiri…!"

"Wanita itu membawa pedang, dia tentu mengerti ilmu silat,"

Kata satu orang.

"Dia juga cnatik sekali, coba dia lebih muda sepuluh tahun, baharulah heran anadikata San-cu melihat dia dan tidak menjadi kerindu-rinduan…"

Tin Ok tahu Siauw Eng yang menjadi bulan-bulanan, ia mendongkol. ia percaya orang yang dipanggil "San-cu"

Itu atau "majikan gunung"

Mestilah bukan orang baik-baik.

"Awas, jangan kau mencari muka dari San-cu dan hendak mati-matian mencarikan nona manis untuknya…!"

Memperingati satu kawan. Orang itu tertawa, ia tidak menyahuti.

"Kita harus berhati-hati,"

Berkata pula seorang yang lain.

"Kali ini kita datang ke Tionggoan untuk mengangkat nama, guna menakluki orang kosen, supaya orang-orang kosen di kolong langit ini ketahui kegagahan kita dari Pek To San, maka itu haruslah kita waspada, jangan seperti Hong Ho Su Koay yang sial dankalan itu, yang menyebabkan orang tertawa hingga giginya copot!"

Tin Ok tidak tahu Pek To San itu, yang berarti Gunung Unta Putih, ada dari partai mana, akan tetapi mendengar disebutnya Hong Ho Su Koay – Empat Siluman dari sungai Hong Ho, ia teringat kepada mereka yang mengeroyok Kwee Ceng.

Seorang berkata pula.

"Menurut katanya San-cu, Hong Ho Su Koay adalah murid-murid paling disayangi oleh Kwie-bun Liong Ong, untuk di Liongsee dan Tiong-ciu, namanya sangat kesohor, maka itu adalah sangat aneh yang mereka kabarnya roboh ditangannya satu bocah umur belasan tahun…"

Satu kawannya menyahuti.

"Ada orang bilang bocah itu pandai ilmu silat Kiu-im Pek-kut Jiauw, karena tubuhnya Hong Ho Su Koay itu masing-masing meninggalkan beberapa bekas cengkeraman…"

"Maka hati-hatilah kau!"

Tertawa satu kawannya.

"Supaya kau jangan sampai kena dijambak bocah itu!"

"Cis!"

Sang kawan berludah. Maka lagi sekali, mereka itu tertawa. Mendengar pembicaraan itu, Tin Ok mendongkol berbareng merasa lucu.

"Sungguh pesat sekali tersiarnya kabaran dalam dunia kangouw!"

Katanya.

"Hanyalah tidak tepat untuk menyiarkan berita anak ceng mengerti Kiu-im Pek-kut Jiauw. Ilmu itu mana dapat dikuasai tanpa penyakinan belasan tahun? Anak umur belasan tahun mana mempunyakan semacam ilmu silat itu?"

Diam-diam Tin Ok puas yang murid mereka dapat mengalahkan Hong Ho Su Koay, maka tidaklah kecewa didikan mereka selama sepuluh tahun lebih ini.

Habis dahar mie, delapan pemuda itu berlalu dengan cepat bersama untanya.

Tin Ok tunggu sampai orang sudah pergi jauh, ia tanya adiknya yang kedua.

"Jietee, bagaimana kau lihat kepandaiannya delapan wanita itu?"

"Wanita?"

Cu Cong mengulangi dengan heran sebelum ia menjawab.

"Habis?"

Sang kakak membalasi.

"Oh, mereka menyamar demikian sempurna!"

Berkata Cu Cong.

"Nampaknya mereka luar biasa, mirip mengerti ilmu silat, rupanya seperi tidak mengerti…"

"Apakah pernah kau dengar tentang Pek To San?"

Tin Ok tanya pula.

"Tidak,"

Sahut Cu Cong setelah berpikir sejenak. Tin Ok lantas tuturkan apa yang ia dengar barusan. Cu Cong semua tertawa. Besar nyali mereka berani berniat menggempur gunung Tay San….

"Perkara kecil niat mereka merampas kuda ana Ceng,"

Tin Ok berkata pula.

"Yang penting ialah pembilangan bahwa ada banyak orang gagah hendak berkumpul di kota raja. Mungkin ada gerakan rahasia apa-apa. Aku pikir tak dapat kita membiarkannya saja, perlu kita mencari tahu."

"Tetapi janji pibu di Kee-hin bakal tiba harinya, tidak dapat kita main ayal-ayalan,"

Coan Kim Hoat memperingati. Mereka itu berdiam, mereka itu merasa sulit juga.

"Kalau begitu, biarlah anak Ceng berangkat lebih dahulu!"

Lam Hie Jin menyarankan.

"Apakah sieko maksudkan biar anak Ceng pergi seorang diri ke Kee-hin? Kita menyusul dia sesudah kita menyelidiki warta perihal orang-orang gagah yang berkumpul di kota raja?"

Siauw Eng menegaskan. Lam Hie Jin mengangguk.

"Benar,"

Cu Cong menyatakan setuju.

"Biar anak Ceng berjalan seorang diri, untuk mencari pengalaman."

Mendengar itu Kwee Ceng merasa puas. Tidak menggembirakan untuk ia berjalan seorang diri. Ia utarakan perasaannya itu.

"Orang begini besar masih bersifat kebocahan!"

Tin Ok menegur. Siauw Eng lantas membujuki.

"Kau pergi lebih dahulu di sana menunggui kita. Tak sampai satu bulan, kami akan menyusul. Umpama di harian pibu kita tidak dapat kumpul semua berenam, satu atau dua tentulah dapat tiba untuk mengurus kamu. Jangan kau khawatir."

Dengan terpaksa Kwee Ceng memberikan persetujuannya.

"Delapan wanita itu hendak merampas kudamu,"

Tin Ok pesan.

"Pergi kau ambil jalan kecil, untuk mendahului mareka. Kudamu keras larinya, tidak nanti dapat mereka menyusul. Kau mempunyai urusan penting, jagalah supaya kau jangan terganggu urusan sampingan."

"Umpama benar mereka main gila, Kanglam Cit Koay tidak nanti lepaskan mereka!"

Berkata Han Po Kie.

Dia tetap menyebut diri Cit Koay meskipun sudah belasan tahun semenjak meninggalnya Thio A Seng, hingga sekarang mereka tinggal berenam (Liok Koay).

Itulah tandanya ia tidak bisa melupakan saudara angkatnya itu.

Habis bersantap, Kwee Ceng lantas memberi hormat kepada keenam gurunya, untuk mengucapak selamat jalan.

Liok Koay berlega melepaskan muridnya ini, yang kelihatan sudah dapat diandalkan menyaksikan perlawanannya terhadap Hong Ho Su Koay.

Memang perlu murid ini membuat perjalanan sendiri, sebab pengalaman tak dapat diajari, itu mesti diperoleh sendiri.

Mereka itu pada memesan, paling belakang pesan Hie Jin singkat saja.

"Jikalau tidak ungkulan, menyingkir!"

Pesan ini diberikan sebab ia melihat, melayani Empat Siluman dari Hong Ho, muridnya ini ngotot hingga ia membahayakan diri sendiri.

"Memang,"

Berkata Coan Kim Hoat.

"Ilmu silat tidak ada batasnya, di luar gunung ada gunung lainnya lebih tinggi, di sebelah orang ada lagi lain orang yang terlebih pandai, biarpun kau sangat lihay, tidak dapat kau menjagoi sendiri di kolong langit. Maka ingatlah pesa gurumu yang keempat ini."

Kwee Ceng mengangguk.

Ia payku kepada enam gurunya itu, lantas ia menuju ke selatan.

Belum ada dua lie, ia sudah menghadapi jalan cabang dua.

Ia turuti pesan Tin Ok, ia lantas ambil jalan kecil.

Jalanan ini lebih jauh, sebab kecil dan berliku-liku, di sini sangat sedikit orang berlalu lintas.

Jalanan pun sukar, banyak kolar dan pasirnya, ada pepehonan kecil yang liar.

Untungnya untuk dia, ia menunggang kuda dan kudanya pun dapat lari pesat.

Sekira tujuh atau delapan lie, Kwee Ceng tiba di jalanan pegunungan yang sulit dan berbahaya, jalanan sempit dan banyakl batu besarnya.

mau tidak mau, ia berlaku hati-hati.

I apun meraba ganggang pedangnya.

"Kalau sam-suhu melihat sikapku nini, dia pasti akan damprat aku…"

Pikirnya.

Selagi jalan terus, di sebuah tikungan, Kwee Ceng terkejut.

Di depan ada tiga nona dengan pakaian serba putih, ketiganya bercokol di atas punggung unta.

Mereka itu melintag di tengah jalan.

Dari jauh-jauh, ia tahan kudanya, hatinya pun tercekat.

"Numpag jalan!"

Ia lantas berkata, suaranya nyaring. Ketiga nona itu tertawa tergelak.

"Adik kecil, takut apa?"

Kata satu diantaranya.

"Lewat saja! Kami pun tidak nanti gegares padamu!"

Kwee Ceng jengah, mukanya dirasai panas. Ia bersangsi. Bicara dulu atau menerjang saja? "Kudamu bagus, mari kasih aku lihat!"

Kata satu nona lain.

Ia mengasih dengar nada lagi bicara sama anak kecil.

Tentu saja tak puas Kwee Ceng diperlakukan demikian.

Ia mengawasi jalanan yang sempit itu.

Di tempat begitu, tak dapat ia tempur mereka itu.

Maka ia lantas ambil keputusan.

Ia tarik les kudanya, kedua kakinya menjepit.

Dengan ini cara, ia kasih kudanya kaget, untuk lari dengan tiba-tiba.

ia seperti hendak menerjang ketiga orang itu.

"Awas! Buka jalan!"

Ia berseru seraya ia hunus pedangnya.

Pesat lari kudanya, sebentar saja ia sudah datang dekat.

Satu nona lompat turun dari untanya, iamaju seraya ulur tangannya, maksudnya hendak menyambar les kuda, untuk tahan kuda itu.

Tapi Kwee Ceng membentak, kudanya berbenger, terus berlompat tinggi, lompat lewati tiga nona itu!

Ketiga nona itu terkejut, Kwee Ceng sendiri tidak tak terkecuali, saking heran atas lihaynya kuda itu, untuk pengalamannya ini yang luar biasa.

Belum sempat ia menoleh ke belakang, ia sudah dengar bentakan ketiga nona itu, tepat waktu ia menoleh, ia lihat menyambarnya dua rupa barang berkilauan.

Ia mau berlaku hati-hati, ia khawatir senjata rahasia itu ada racunnya, ia menyambuti dengan kopiahnya, yang ia lekas cabut.

"Bagus!"

Memuji dua nona. Kwee Ceng periksa kopiahnya. Nyata dua senjata rahasia itu adalah gin-so atau torak terbuat dari perak yang indah, ujungnya tajam, tajam juga kedua pinggirannya.

"Kamu telengas hendak mengambil jiwaku,"

Pikir si anak muda denagn mendongkol.

"Bukankah kita tidak kenal satu sama lain dan tidak bermusuhan?"

Tapi ia tidak mau membalas, tak sudi iamelayani, gin-so itu ia masuki dalam sakunya.

Ia hanya dapat lihat, gin-so bertabur emas yang merupakan unta-unta kecil.

Sampai disitu, pemuda ini larikan pula kudanya.

Ia tidak menaruh perhatian ketika ia dengar dua ekor burung dara terbang lewat di atas kepalanya, dari utara ke selatan.

Ia hanya khawatir nanti ada yang memegat pula.

Tidak sampai satu jam, ia sudah melalui seratus lie lebih.

Ia singgah sebentar, terus ia jalan pula.

belum sore, ia sudah tiba di Kalgan.

ia percaya ketiga nona tadi tidak bakal dapat candak dia, sebab ia duga jarak mereka kedua pihak ada jarak seperjalanan tiga hari…….

Kalgan adalah kota hidup untuk perhubungan antara selatan dan utara, penduduknya padat, perdagangannya ramai.

Di situ terutama terdapat banyak kulit dan bulu binatang, yang datangnya dari tempat lain tempat.

Di sini Kwee Ceng turun dari kudanya, ia berjalan seraya menuntun binatang ini, matanya menoleh ke kiri dan ke kanan.

Belum pernah ia melihat kota seramai ini.

Kebetulan tiba di depan restoran, ia merasa lapar, maka ia tambat kudanya di luar, ia masuk ke dalam, akan pilih tempat duduk.

Ia minta sepring daging kerbau dan dua kati mie.

Seorang diri ia dahar dengan bernafsu.

Ia hanya tidak pakai sumpit, ia turut kebiasaan orang Mongolia, memakai tangannya.

Tengha bersantap, ia dengar suara kerisik di luar rumah makan.

Ia lantas ingat kepada kudanya, ia lompat bangun, untuk melongok keluar.

Ia dapatkan kudanya sedang makan rumput dengan tenang.

Yang membikin banyak berisik adalah dua jongos terhadap satu pemuda ynag tubuhnya kurus dan pakaiannya butut.

Pemuda itu berumur lima atau enambelas tahun, kepalanya ditutup dengan kopiah kulit yang sudah pecah dan hitam dekil, mukanya pun hitam mehongan, hingga tidak terlihat tegas wajahnya.

Di utara, sekalipun di musim semi, hawa udara dingin, dan pemuda ini tidak memakai sepatu.

Teranglah ia seorang melarat.

Di tangannya ia mencekal sepotong bakpauw.

Ia mengawasi kedua jongos dengan tertawa, hingga terlihat dua baris giginya yang putih, rata, hingga gigi bagus itu tak sembabat sama dandannya yang compang-camping itu.

"Mau apa lagi?!"

Menegur satu jongos.

"Kenapa kau tidak mau lantas pergi?!"

"Baiklah, pergi ya pergi…"

Kata pemuda itu seraya ia putar tubuhnya.

"Eh, lepas bakpauw itu!"

Menitah jongos yang satunya.

Pemuda itu letaki bakpauw itu yang tapinya sekarang tertanda tapak tangan, hitam dan kotor.

Tentu saja kue itu tak laku dijual.

Jongos itu menjadi gusar.

Ser!

kepalannya melayang.

pemuda itu mendak, kepalan lewat diatasan kepalanya.

Kwee Ceng menjadi kasihan.

ia tahu orang tentu sudah lapar.

"Jangan!"

Ia cegah si jongos.

"Aku yang membayar uangnya."

Ia jumput bakpauw itu, ia sodorkan kepada si pemuda. Pemuda itu menyambuti.

"Makhluk yang harus dikasihani, ini aku bagi kau!"

Berkata ia. Dan ia lemparkan itu kepada seekor anjing buduk di depan pintu. Anjing itu, seekor anjing kecil, menubruk dengan kegirangan, terus ia gegares bakpauw itu.

"Sayang…sayang…"

Kata satu jongos.

"Bakpauw yang lezat dikasihi ke anjing…."

Kwee Ceng pun heran, tetapi ia diam saja, ia balik ke mejanya untuk melanjuti bersantap. Pemuda itu mengikuti ke dalam, ia mengawasi ana muda kita Kwee Ceng lihat kelakuan orang, ia menjadi malu hati.

"Mari dahar bersama!"

Ia mengundang.

"Baik!"

Tertawa pula pemuda itu.

"Aku sendirian tidak gembira, aku memang lagi mencari kawan."

Ia bicara dengan lidah Selatan.

Kwee Ceng mengerti omongan orang.

Bukankah ibunya berasal dari Lim-an, Cit-kang, dan ia biasa dengar ibunya bicara?

Ia malah girang mendengar lagu suara orang sekampung.

Pemuda itu menghampiri, untuk duduk bersama.

Kwee ceng teriaki jongos, meminta tambahan makanan.

Jongos itu melayani dengan ogah-ogahan, sebab ia lihat pakaian orang yang butut dan kotor itu.

"Apakah kau sangka aku melarat dan jadinya tak pantas aku dahar barang makananmu?"

Si pemuda tegur jongos itu, yang ia lihat lagak lagunya.

"Aku khawatir, meski kau menyuguhkan makananmu yang paing jempol, bagiku itu rasanya masih kurang cocok."

Lanjutnya lagi.

"Apa?!"

Sahut jongos itu tawar.

"Coba lojinkee menyebutkannya, pasti kami dapat membuatnya! Hanya aku khawatir, habis kau dahar, kau tidak punya uang untuk membayarnya!"

Dengan sengaja ia menyebut "lojinkee"

Atau orang tua yang dihormati, untuk menyindir. Pemuda itu mengawasi Kwee Ceng.

"Tidak peduli aku dahar berapa banyak, maukah kau yang mentraktir?"

Tanyanya.

"Pasti!"

Sahut Kwee Ceng tanpa berpikir lagi. Ia menoleh kepada si jongos, akan memerintahkan.

"Potongi aku sekati daging kerbau serta setengah kati hati daging kambing!"

Ia telah hidup terlalu lama di Mongolia hingga tahunya, makanan yang paling lezat di kolong langit ini adalah daging kerbau dan kambing. Ia menoleh pula kepada si anak muda.

"Kita minum arak atau tidak?"

Ia tanya.

"Kita jangan repoti mendahar daging, baik kita makan bebuahan dulu!"

Menyahuti si anak muda. Ia lantas kata pada jongos.

"Eh, kawan, lebih dulu kau sediakan empat rupa buah kering dan empat rupa buah segar, dua yang asam manis, dua yang manis bermadu."

Jongos itu heran hingga ia terperanjat. Ia tidak menyangka orang omong demikian takabur.

"Toaya menghendaki buah apa yang segar bermadu?"

Tanyanya, suaranya tawar.

"Rumah makanmu ini rumah makan kecil dan tempatmu ini tempat melarat, pasti tidak dapat kamu menyediakan barang bagus,"

Berkata si anak muda.

"Sekarang begini saja! Empat rupa buah kering itu ialah leeci, lengkeng, co dan ginheng. Buah yang segar yaitu kau cari yang baharu dipetik, yang asam aku ingin uah ento harum, dan kiang-sie-bwee. Entah disini ada yang jual atau tidak? Yang manis bermadu? Ialah jeruk tiauw-hoa-kim-kie, anggur hiangyoh, buah tho-tong-songtiauw dan buah lay-hauwlongkun…."

Mendengar itu, jongos itu menjadi melongo. Sekarang ia tak berani lagi memandang enteng kepada anak muda ini. Si anak muda berkata pula;

"Untuk teman arak, di sini tidak ada ikan dan udang segar, maka kau sajikan saja delapan rupa barang hidangan yang biasa!"

Jongos itu mengawasi.

"Sebenarnya tuan-tuan ingin dahar masakan apa?"

Ia tanya.

"Ah, tidak dijelaskan, tidak beres!"

Berkata si anak muda itu.

"Delapan rupa masakan itu ialah puyuh asap, ceker bebek goreng, lidah ayam cah, soto manjangan keekangyauw, soto burung wanyoh, bakso kelinci, paha mencak dan kaki babi hong."

Mendengari itu mulutnya si jongos ternganga.

"Delapan masakan itu mahal harganya,"

Kata kemudian.

"Untuk ceker bebek dan lidah ayam saja kita membutuhkan beberapapuluh ekor ayam…. Si anak muda menunjuki Kwee Ceng.

"Tuan ini yang mentraktir, apakah kau kira dia tidak kuat membayaranya?"

Tanya ia. Jongos mengawasi pemuda kita, yang dandannya indah dan malah mengenakan bulu tiauw, ia duga bukan sembarang orang.

"Baiklah,"

Sahutnya kemudian.

"Apakah sudah cukup semua ini?"

"Habis itu, kau sajikan lagi duabelas rupa untuk teman nasi,"

Berkata pula si anak muda.

"Lainnya ialah delapan rupa tiamsim. Nah, sebegitu dulu!"

Jongos itu berlalu dengan cepat, ia khawatir orang nanti minta pula makanan lainnya.

Setelah pesan koki, baharu ia keluar pula.

Sekarang ia tanya tetamunya, hendak minum arak apa.

Ia kata, ia ada punya arak Pek-hun-ciu simpanan sepuluh tahun, apa boleh ia menyediakan dulu dua poci?

"Baiklah!"

Sahut si anak muda yang mengenai arak tak banyak cerewet.

Tidak terlalu lama, semua buah yang diminta telah disajikan saling susul-menyusul.

Kwee ceng cobai itu semua, satu demi satu, dan ia merasakan kelezatan yang dulu-dulunya ia belum pernah cicipi.

Sembari dahar bebuahan, si anak muda bercerita banyak, tentang segala apa di Kanglam.

Kwee ceng tertarik hatinya.

Orang bicara rapi, enak didengarinya.

Rupanya orang luas pengetahuannya.

Ia sampai mau percaya, anak muda itu ada lebih pintar daripada gurunya yang kedua.

"Aku menyangka ia cuma miskin, tak tahunya dia terpelajar tinggi,"

Katanya dalam hatinya.

Selang kira setengah jam, datanglah barang hidangan, yang mesti disajikan atas dua meja disambung menjadi satu.

Anak muda itu minum sedikit sekali.

Barang hidangan, yang ia pilih, ia pun Cuma dahar beberapa sumpitan.

Sembari berdahar, ia sekarang banyak bertanya kepada Kwee Ceng, yang mengaku datang dari padang pasir.

Kwee Ceng ingat pesan gurunya, ia tidak berani bicara terlalu banyak, ia jadi Cuma bicara tentang memburu binatang liar, memanah burung rajawali, menunggang kuda dan menggembala kambing.

tapi si anak muda sangat tertarik hatinya, hingga ia tertawa dan bertepuk tangan.

Kwee Ceng sendiri sangat gembira berkumpul bersama ini kawan baru.

Di gurun pasir ia bergaul erat sekali dengan Tuli dan Gochin, toh masih ada perbedaannya, ialah Tuli sering mendampingi ayahnya.

Gochin benar baik tetapi putri itu kadang-kadang manja sekali dan ia tidak sudi mengalah, maka sering mereka bertengkar.

Maka itu, bicara lebih jauh, ia pun suka omong lebih banyak, kecuali hal ia mengerti silat dan mempunyai hubungan erat dengan Temuchin.

Satu kali, saking gembira, ia cekal tangan si anak muda, untuk dipegang keras-keras.

Hanya aneh, tangan itu ia rasai halus sekali.

Si anak muda pun tersenyum dan menunduk.

Pernah Kwee Ceng menatap muka si anak muda, walaupun mehongan, kult muka itu agakanya halus dan bersemu putih, tetapi tentang ini, ia tidak memperhatikannya.

"Sudah terlalu lama kita bicara, barang hidangan keburu dingin,"

Kata si anak muda seraya tarik tangannya.

"Nasi pun sudah dingin…"

"Benar,"

Sahut Kwee ceng, sadar.

"Baik suruh panasi lagi…"

"Tidak usahlah, terlalu panas pun tidak dapat didahar,"

Berkata si anak muda, yang tapinya memanggil jongos, menyuruh menukar hidangan yang terlalu dingin dengan yang baru!

Jongos dan kuasa brumah menjadi heran.

Seumurnya, baru kalin ini mereka mendapatkan tetamu seaneh ini.

Tapi mereka iringi kehendak itu.

Kwee Ceng pun berdiam saja, ia tidak pikirkan harganya barang makanan itu.

Sesudah barang makanan siap semua, anak muda itu dahar lagi sedikit saja, lalu ia mengatakannya sudah cukup.

Menyaksikan itu, si jongos katakan Kwee ceng dalam hatinya.

"Dasar kau, bocah tolol! Bocah hina ini permainkan padamu!"

Kapan kuasa restoran sudah berhitungan, harganya semua buah dan makanan itu berjumlah tigaratus sembilan tail, tujuh chie empat hun.

Untuk membayar itu, Kwee Ceng mengeluarkan dua potong emas, untuk ditukar dengan limaratus tael perak.

Sehabis membayar, Kwee ceng pun kasih persen sepuluh tael hingga kuasa restoran dan jongos itu menjadi girang, dengan kelakuan sangat menghormat, mereka mengantar keluar kedua tetamunya itu.

Di luar salju memenuhi jalan besar.

"Aku telah mengganggu kamu, ijinkan aku pamitan,"

Si anak muda meminta diri seraya memberi hormat. Kwee Ceng berhati mulia, melihat pakaian orang yang tipis dan pecah, ia loloskan baju kulit tiauwnya, ia kerobongi itu di tubuh si anak muda. Ia kata.

"Saudara, kita baharu ketemu tetapi kita sudah seperti sahabat-sahabat kekal, maka aku minta sukalah kau pakai baju ini!"

Tidak Cuma baju, ia pun memberikan uang.

Ia masih punya sisa empat potong emas, yang tiga ia sisipkan ke dalam saku baju tiauw itu.

Si anak muda tidak mengucap terima kasih, ia pakai baju itu, terus ia negeloyor pergi.

Adalah setelah jalan beberapa tindak, ia baru menoleh ke belakang, hingga ia tampak Kwee Ceng lagi berdiri bengong dengan tangan memegangi les kuda merahnya, seperti juga pemuda itu kehilangan sesuatu.

ia lantas saja angkat tangannya, untuk menggapaikan.

Kwee Ceng lihat itu panggilan, ia menghampirkan dengan cepat.

"Saudaraku, apakah kau masih kekurangan apa-apa?"

Ia menanya. Ia sebenarnya memanggil adik (hiantee). Anak muda itu tersenyum.

"Aku masih belum belajar kenal she dan nama kakak yang mulia,"

Ia menyahuti. Kwee ceng pun tertawa.

"Benar, benar!"

Katanya.

"aku pun sampai lupa! Aku she Kwee, namaku Ceng. Kau sendiri hiantee?"

"Aku she Oey, namaku pun satu, Yong,"

Jawab anak muda itu.

"Sekarang hiantee hendak pergi kemana?"

Kwee ceng tanya.

"Umpama kata hiantee hendak kembali ke Kanglam, bagaimana apabila kita berjalan bersama?"

Oey Yong menggeleng kepala.

"Aku tidak niat pulang ke Selatan,"

Sahutnya.

"Tapi toako, aku merasa lapar pula…"

Ia menambahkan.

"Baiklah,mari aku temani lagi kau bersantap,"

Jawab Kwee ceng, yang tidak merasa aneh atau mendongkol.

Kali ini Oey Yong yang mengajak kawannya itu.

Ia pilih rumah makan yang paling besar dan kenamaan untuk kota Kalgan, yaitu Restoran Tiang Keng Lauw, yang bangunannya juga mencontoh model restoran besar dari Pian Liang, ibukota dahulu.

Hanya kali nini ia tidak meminta banyak macam makanan, cuma empat rupa serta sepoci the Liong-ceng.

Di sini kembali mereka pasang omong.

Kapan Oey Yong dengar Kwee ceng omong perihal dua ekor burung rajawali putih, ia menjadi tertarik hatinya.

"Justru sekarang tidak tahu aku mesti pergi ke mana, baik besok aku pergi saja ke Mongolia,"

Ia kata.

"Di sana aku cari dan tangkap dua anak burung itu untuk aku buat main."

"Hanya sukar untuk mencari anaknya,"

Kwee ceng beritahu.

"Tapi kau toh dapat menemuinya,"

Berkata si anak muda. Kwee Ceng tidak dapat menjawab, ia pun menemuinya burung itu secara kebetulan.

"Eh, hiantee, rumahmu di mana?"

Ia tanya.

"Kenapa kau tidak mau pulang saja?"

Tiba-tiba saja mata Oey Yong menjadi merah.

"Ayahku tidak menginginkan aku…"

Ia menyahut.

"Kenapa begitu?"

Kwee Ceng tanya.

"Ayahku larang aku pergi pesiar, aku justru mau pergi,"

Sahut Oey Yong.

"Ayah damprat aku. Karena itu malam-malam aku minggat…."

"Sekarang pasti ayahmu tengah memikirkan kau,"

Kwee ceng berkata pula.

"Dan ibumu?"

"Ibuku sudah meninggal dunia. Aku tidak punya ibu sejak masih kecil…"

"Kalau begitu, habis pesiar, kau mesti pulang."

Kata Kwee ceng lagi. Oey Yong menangis.

"Ayahku tidak menginginkan aku lagi…"

Katanya.

"Ah, tak bisa jadi,"

Kwee Ceng bilang.

"Jikalau begitu, kenapa ayah tidak cari aku?"

Kata si anak muda lagi.

"Mungkin ia mencari, Cuma tidak ketmu…"

Kwee ceng mencoba menghibur. Oey Yong tertawa.

"Kalau begitu, baiklah, habis pesiar aku pulang!"

Katanya.

"Cuma aku mesti dapati dulu dua ekor anak rajawali putih…"

Selagi kedua pemuda ini bicara dengan asyik, di tangga lauwteng terdengar suara tindakan kaki, lalu tertampak munculnya tiga orang, ialah dua kacung yang mengiringi satu pemuda denagn baju sulam yang indah.

pemuda itu tampan sekali, wajahnya terang, usianya barangkali baru delapan atau sembilanbelas tahun.

Ia memandang Kwee Ceng dan Oey Yong.

Melihat pakaian orang yang kotor, ia mengerutkan kening, lantas ia menunjuk meja yang terpisah jauh.

Atas itu kedua kacung menghampirkan meja yang ditunjuk itu, untuk mengatur mangkok dan sepasang sumpit, yang ia bawa dari rumah.

Mangkok dan sumpit yang mana disimpan dalam sebuah kotak.

Jongos juga segera repot melayani tetamu baru ini.

Kwee Ceng mengawasi sebentar, lantas ia tidak pedulikan lagi tetamu itu.

Ia kembali mengobrol bersama sahabat barunya itu.

Belum lama, di bawah lauwteng terdengar suara kuda meringkik, disusul mana beberapa kali bentakan dari beberapa orang.

Ia ingat akan kudanya, maka ia lari ke jendela untuk melongok ke bawah.

Ia dapatkan beberapa orang dengan pakaian serba putih tengah mengurung kudanya itu, yang hendak ditangkap, tetapi kuda itu berjinkrakan, hingga ia tak dapat didekatkan.

Ia menjadi gusar sekali, terutama sebab ia lantas kenali, orang-orang itu adalah delapan penunggang unta yang memang berniat merampas kudanya itu.

Ia hanya heran kenapa orang dapat menyusul ia demikian lekas.

Lantas ia berseru.

"Di siang bolong kamu berani merampas kudaku?"

Lantas ia lari turun dari lauwteng.

Setibanya ia di depan rumah makan, di sana ia dapatkan delapan orang berpakaian putih itu sedang rebah tanpa berkutik.

Ia menjadi heran sekali, sehingga ie berdiri menjublak.

Bab 16.

Gara-Gara Sepatu Sulam Dan Jubah Salut Emas Tiba-tiba Kwee Ceng sadar.

Ia merasakan ada tangan yang lemas yang memegang tangannya.

Ketika ia menoleh, dengan lantas ia lihat Oey Yong, yang setahu kapan telah turun dari lauwteng.

"Jangan pedulikan dengan mereka, mari kita naik pula ke lauwteng!"

Berkata ini sahabat baru.

"Mereka ini hendak merampas kudaku,"

Kata Kwee Ceng.

"Setahu kenapa, mereka pada rubuh sendirinya…."

Meski ia mengucap demikian, Kwee ceng menurut, ia memutar tubuhnya.

Demikian juga si anak muda itu.

Justru mereka memutar tubuh, si pemuda tampan dan berpakaian mewah itu juga telah berada di depan, malah ia sudah lantas membungkuk kana melihat delapan pemudi yang menyamar sebagai pemuda-pemuda itu, kemudian ia mengawasi kedua anak muda itu, sinar matanya menandakan ia sangat heran.

Oey Yong tarik tangannya Kwee ceng, untuk naik di tangga, kemudian sembari tertawa manis, ia tuangi air the di cawannya pemuda itu.

"Toako, kudamu itu bagus sekali!"

Katanya memuji.

Kwee Ceng hendak sahuti sahabatnya ketika ini tatkala ia dengar ramai suara kelengan unta di depan rumah makan itu, ia pergi ke jendela diikuti Oey Yong, apabila mereka melongok ke bawah, mereka lihat delapan nona serba putih itu berlalu dengan unta mereka.

salah satu nona menoleh ke belakang, ia memandang Kwee Ceng, maka Kwee Ceng dapat melihat sinar matanya yang tajam, tanda dari kemurkaan, sepasang alisnya pun terbangun.

Tiba-tiba saja ia ayun tangannya yang kanan, atas mana dua potong ginso menyambar ke loteng, ke arah pemuda ini.

Cepat-cepat Kwee Ceng cabuti kopiahnya, dengan niat menyambuti torak perak itu.

Akan tetapi si pemuda tampan dan berpakaian mewah itu telah dului ia, dengan menyentil dua kali, ia melayangkan dua batang senjata rahasia yang bersinar emas berkilauan, lalu di antara dua kali suara tintong, ginso itu jatuh sendirinya, jatuh bareng bersama senjata penyerangnya.

kedua kacung lantas pungut empat senjata rahasia itu, diserahkan kepada si pemuda, yang menyambuti seraya terus dikasih masuk ke dalam sakunya.

Habis itu, ia lantasbertindak naik di tangga lauwteng, dia terus menghampirkan Kwee Ceng, di depan siapa ia berhenti, untuk terus segera memberi hormat sambil berjura.

"Aku mohon tanya she dan nama mulia dari toako,"

Ia minta. Kwee ceng cepat-cepat membalas hormat.

"Siauwtw she Kwee, bernama ceng,"

Ia menyahuti.

"Kongcu ada pengajaran apakah?"

Lanjutnya.

"Apakah saudara Kwee datang dari pulau Tho Hoa To dari Tang-hay? pemuda itu menaya.

"Aku mohon tanya, ada urusan apakah saudara datang ke mari?"

Ditanya begitu, Kwee melengak.

"Siauwtee datang dari gurun pasir utara,"

Ia menyahut.

"Belum pernah siauwtee pergi ke pulau Tho Hoa To itu. Barusan kongcu membnatu aku, aku sangat berterima kasih."

Kongcu itu berkata.

"Saudara Kwee tak hendak mengenalkan diri, nah di sini saja kita berpisahan, sampai nanti kita bertemu pula!"

Lalu ia menjura dalam sekali.

Kwee ceng lekas-lekas membalasi, di waktu mana ia merasakan sambaran angin.

Kongcu itu telah mengibaskan tangannya, ujung tangan bajunya menjurus ke matanya.

Inilah Kwee ceng tidak sangka.

Sembari memberi hormat orang menyerang ia secara hebat sekali.

Celaka kalau ia kena tersampok.

Maka dengan ia lantas tunduk, untuk masuki kepalanya ke selangkangannya, guna terus lompat berjumpalitan.

Meski begitu, pundaknya kena tersambar juga, hingga terbit satu suara nyaring dan ia merasakan sakit ngilu pada pundaknya itu.

Karena ini, diwaktu ia sudah taruh kakinya, ia kaget dan gusar dengan berbareng.

"Kau…kau…."

Tapi si kongcu pegat ia, sembari tertawa, ia kata. Aku cuma mencoba ilmu kepandaianmu, saudara Kwee. Ilmu totok kau lihay sekali, ilmu silatmu tangan kosong tapi biasa saja. Maaf…!"

Kembali ia menjura.

Kwee ceng khawatir orang nanti bokong pula padanya, ia mundur setindak.

Oey Yong agaknya kaget, tubuhnya bergeser, tangannya menjatuhkan sebatang sumpit ke kaki kongcu, disaat kongcu itu mengangkat tubuhnya habis menjura, Oey Yong pun telah dapat menjumput sumpitnya itu.

Si kongcu rupanya jijik untuk pakaian kotor anak muda ini, ia mundur satu tindak, kepada Kwee Ceng ia tersenyum, terus ia putar tubuhnya untuk bertindak ke tangga lauwteng.

"Ini untuk kau…"

Kata Oey Yong dengan perlahan, tangannya disodorkan.

Kwee Ceng melihat telapak tangan anak muda ini, ia tercengang.

Di tangan kawan ini terlihat dua potong tusuk konde emas serta dua potong ginso, yang bergemerlapan kuning dan putih.

Itulah ginso yang tadi si kongcu simpan dalam sakunya.

Entah kapan sahabat ini mengambilnya.

Ia tercengang sebentar lantas ia ingat, ia mengerti.

Ia sambuti tusuk konde emas dan ginso itu.

"Kongcu, kau lupakan barangmu ini!"

Ia panggil si pemuda yang seperti anak bangsawan itu.

Kongcu itu menghentikan tindakannya, ia berpaling.

Kwee Ceng angsurkan kedua barang emas dan perak itu.

Menampak barangnya itu, kongcu terkejut sehingga air mukanya berubah, cepat luar biasa tangannya menyambar ke arah Kwee ceng, lima jarinya yang kuat seperti kuku garuda menyambar ke tangan Kwee Ceng itu.

Kwee Ceng kaget tidak terkira.

Dari gerakannya saja, ia sudah dapat menduga orang bergerak dengan ilmu silat Kiu-im Pek-kut Jiauw seperti keenam gurunya sering menuturkan kepadanya.

Maka ia menduga, adakah kongcu ini sekaum dengan Tiat Sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi?

Ia menginsyafi hebatnya cengkeraman Tulang Putih itu, sebab masih ada bekas cengkeramannya Bwee Tiauw Hong dulu hari pada lengannya, cuma ia dapat membedakannya, sambaran kongcu ini kalah jauhnya sebatnya dengan sambarannya si Mayat Besi.

Tidak berani ia menangkis atau menyambuti cengkeraman itu, belum ia terjambak, empat senjata di tangannya sudah lantas mencelat.

cepat luar biasa ia telah kerahkan tenaganya.

Kongcu itu terkejut.

Ia dapatkan, belum lagi serangannya mengenai, empat senjata itu sudah mendahulukan menyambar ke arahnya.

ia juga dapat lihat anak muda itu berdiri tegar ditempatnya.

Dengan terpaksa ia sambuti empat potong benda itu.

Setelah menatap, ia memutar tubuhnya untuk terus turun di tangga lauwteng.

Kapan Kwee Ceng kembali ke kursinya, ia dapatkan Oey Yong mengawasi ia sambil sahabat itu tertawa geli.

"Kenapa barang itu berada di tanganmu?"

Ia menanya, heran.

"Dia membikinnya jatuh selagi dia menjura kepadamu, lantas aku jumput!"

Sahut Oey Yong masih tertawa. Kwee Ceng jujur, ia tidak menduga orang mendusta.

"Toako, kenapa rombongan wanita itu mencoba merampas kudamu?"

Kemudian Oey Yong menanya.

"Sebab kudaku adalah han-hiat-po-ma,"

Jawab Kwee Ceng, yang terus tuturkan perihal kuda itu sampai ia bertemu rombongan si wanita itu, yang menyamar sebagai pemuda-pemuda dan menunggang unta. Kemudian ia melanjuti.

"Setahu siapa yang membnatu aku secara diam-diam dengan merobohkan mereka itu. Kalau tidak tentulah mesti terjadi pertempuran hebat…"

Oey Yong masih tersenyum.

"Kudaku itu lari cepat sekali, sebenarnya aku telah lombai mereka seperjalanan tiga hari, entah kenapa, mereka dapat menyusul padaku…"

Kwee Ceng kemudian mengutarakan keheranannya.

"Sungguh memusingkan kepala.."

"Aku lihat di antara mereka ada satu yang mencekal sepasang burung dara,"

Kata Oey Yong. Tiba-tiba Kwee ceng menepuk meja.

"Ya, aku ingat sekarang!"

Ia kata pula separuh berseru.

"Itu waktu memang aku lihat terbangnya dua ekor burung di atasan kepalaku. Rupanya tiga wanita itu melepaskan burung itu untuk memberi kabar kepada lima kawannya, untuk mereka memegat atau mengawasi aku, dari itu, mereka gampang saja mencari padaku."

Setelah itu, Oey Yong tanya tentang tenaga larinya kuda merah itu dan Kwee ceng menuturkannya dengan jelas. Ia kelihatannya menjadi kagum sekali. Ia keringkan secawan teh, lalu ia tertawa.

"Toako,"katanya.

"Hendak aku meminta sesuatu yang berharga darimu, apa kau sudi mengabulkannya?"

Dia bertanya.

"Kenapa tidak?"

Kwee Ceng menjawab.

"Sebenarnya aku suka sekali dengan kudamu itu,"

Menerangkan Oey Yong.

"Baik, hiantee, aku hadiahkan itu padamu!"

Kata Kwee Ceng tanpa bersangsi.

Oey Yong terperanjat.

Sebenarnya ia main-main saja.

Bukankah mereka baru pertama bertemu?

Ia malah mengharap jawaban si pemuda adalah penolakan.

Ia lantas mendekam di meja, terus terdengar tangisannya sesegukan.

Sekarang adalah giliran Kwee Ceng yang menjadi heran.

"Hiantee, kau kenapakah?"

Ia menanya cpat.

"Apakah kau kurang sehat?"

Oey Yong angkat kepalanya, ia mengawasi si pemuda.

Mukanya penuh air mata.

Tapi sekarang ia tidak menangis, sebaliknya ia tertawa.

Air matanya itu yang mengalir di kedua belah pipinya itu, menyebabkan mehongan luntur, hingga tampak dua baris kulitnya yang putih mulus.

"Toako, marilah kita pergi!"

Ia mengajak. Kwee Ceng menurut. Bersama-sama mereka turun dari lauwteng. Lebih dulu ia membayar uang makan, baru ia tuntun kudanya. Ia pesan kepada kudanya.

"Aku haurkan kau kepada sahabatku yang baik, maka baik-baiklah kau mendengar katanya, jangan kau bawa adatmu."

Kemudian sembari menoleh kepada si anak muda, ia mepersilakan.

"Hiantee, kau naiklah!"

Sebenarnya kuda itu tak dapat ditunggangi orang lain, akan tetapi ia sekarang tidak membangkang.

Oey Yong naik kuda itu.

Kwee Ceng menyerahkan les kuda itu, ia terus tepuk kempolan kudanya itu.

Dengan lantas kuda itu berlari pergi.

Pemuda itu menanti sampai orang tidak terlihat lagi, baru ia melihat langit.

Ia mendapatkan sang malam bakal lekas tiba.

Karena ini, ia lantas pergi mencari rumah penginapan.

Ketika disaat ia hendak memadamkan api, untuk rebahkan diri, tiba-tiba ia dengar ketokan pada pintu.

"Siapa?"

Ia tanya heran.

"Satu sahabat,"

Sahut suara di luar, suaranya parau.

Kwee Ceng turun dari pembaringan, ia membuka pintu.

Di antara cahaya lilin, ia tampak lima orang berdiri di depannya.

Setelah ia mengenali orang, ia terkejut bukan main.

Empat di antaranya ada membawa golok dan ruyung.

Mereka itulah Hong Ho Su Koay.

Dua orang yang ke lima, yang usianya kurang lebih lima puluh tahun, tubuhnya kurus, mukanya lonjong, di jidatnya ada tiga kutil besar, romannya sangat tidak mengasih untuk diawasi.

Si kurus sudah lantas tertawa tawar, tanpa bilang suatu apa, ia membuka tindakan lebar akan memasuki kamar orang, akan terus mencokol di atas pembaringan, sambil melirik, ia awasi tuan rumah.

Kwee Ceng pun mengawasi, hingga ia melihat tegas, muka orang ada tanda bekas luka-luka senjata tajam, hingga dia itutak dapat melihat lepas ke depan.

Toan-hu-to Sim Ceng Kong si Golok Memutus Roh, dengan dingin, lantas berkata.

"Inilah paman guru kami, Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay yang sangat ternama besar! Lekas kau berlutut dan mengangguk-angguk kepalanya!"

Kwee Ceng mengerti bahwa ia telah terkurung, bahwa Hong Ho Su Koay saja sudah bukan tandingannya, apapula mereka dibantu oleh paman gurunya itu, yang julukannya pun berarti si Ular Naga Kepala Tiga.

"Tuan-tuan ada punya urusan apa?"

Ia tanya sambil menjura.

"Mana guru-guru kamu?"

Hauw Thong hay menanya.

"Guruku tidak ada di sini,"

Sahut Kwee Ceng.

"Ah! Kalau begitu hendak aku memberi ketika padamu untuk hidup lagi setengah harian!"

Kata Ular Naga Kepala Tiga itu.

"Sekarang hendak kau memberi pengajaran kepadamu, agar orang tidak nanti mengatakan Sam-tauw-kauw menghina anak kecil. Besok tengah hari aku menantikan di rimba Hek-siong-lim di luar kota, kau datang ke sana dengan minta gurumu semua temani padamu!"

Habis berkata, ia berbangkit, tanpa menanti penyahutannya Kwee Ceng, ia sudah ngeloyor keluar.

Sesampai di luar, ia suruh Twie-beng-chio Gouw Ceng Liat si Tombak Mengejar Jiwa menutup pintu, hingga terdengar suara membeletok.

Kwee Ceng memadamkan api, terus ia duduk numprah di atas pembaringannya.

Kapan ia memandang ke jendela, ia tampak bayangan orang mondar-mandir.

Rupanya orang telah menjaga ia di luar kamar.

Ia masih berdiam saja.

Selang tidak lama, ia dapat dengar apa-apa di atas genting.

Itulah suara ketokan beberapa kali, disusul sama bentakan.

"Bocah, jangan kau memikir untuk kabur, engkongmu menunggui kau disini!"

Jadi terang dia telah dikurung keras.

Dia lantas rebahkan dirinya, niatnya untuk tidur tanpa menghiraukan segala apa.

Tapi ia tidak dapat pulas, ia mesti gulak-galik saja.

Besok pagi, jongos muncul dengan air cuci muka dan tiamsim, untuk sarapan.

Di belakang jongos itu terlihat Cian Ceng Kian dengan sepasang kampaknya.

"Suhu semua berada di tempat jauh, tidak nanti mereka dapat menolongi aku,"

Kwee Ceng berpikir.

"Sudah terang aku tidak bakal dapat lolos, baiklah aku mati bertempur!"

Oleh karena berpikir begini, hatinya menjadi mantap.

Ia lantas saja bercokol di atas pembaringan, untuk bersemadhi menuruti ajarannya Ma Giok.

Ia bersemadhi hingga tengah hari, baru ia berbangkit turun.

"Mari kita pergi!"

Ia kata kepada Cian Ceng Kian.

Mereka jalan berendeng, menuju ke arah barat, sampai sepuluh lie lebih.

Di sana ada sebuah rimba besar, yang menutupi matahari.

Seram suasana di situ.

Di sini Ceng Kian tinggalkan si pemuda, untuk dengan cepat bertindak ke sebelah dalam rimba.

Kwee ceng loloskan joan-pian, cambuk lemasnya.

Ia berlaku tenang, setindak demi setindak, ia maju.

Ia menjaga diri dari bokongan di kiri atau kanannya.

Satu lie sudah ia berjalan, ia tidak bertemu dengan musuhnya.

Tiba-tiba ia dapat ingatan, ialah pesan gurunya yang keempat.

"Jikalau tidak ungkulan, lari!"

Maka ia berpikir.

"Sekarang tidak ada orang mengawasi aku, rimba pun lebat, kenapa aku tidak hendak sembunyikan diri?"

Maka hendak ia segera mewujudkan pikirannya ini. Tapi tiba-tiba.

"Bocah haram! Anak campuran! Anak jadah!"

Demikian ia dengar makian hebat.

Sambil berlompat, Kwee Ceng putar cambuknya, untuk melindungi diri.

Akan tetapi tidak ada serangan terhadapnya.

Sambil berdiri diam, ia angkat kepalanya, memandang ke arah dari mana cacian itu datang.

Lantas ia berdiri menjublak!

Di atas empat pohon di dekatnya itu, ia tampak Hong Ho Su Koay tergantung masing-masing di sebuah cabang besar, kaki dan tangan mereka terbelenggu, tubuh mereka bergelantungan, sia-sia saja mereka mencoba meronta-ronta, melainkan mulut mereka yang dapat di pentang lebar-lebar.

Mereka mencaci kalang-kabutan begitu lekas mereka tampak si pemuda musuhnya itu.

Kwee Ceng heran bukan kepalang, akan tetapi ia tertawa.

"Apakah kau tengah main ayunan di sini?"

Dia bertanya.

"Sungguh menggembirkan, bukan?"

Nah sampai bertemu pula! Sampai bertemu pula! Maaf, tidak dapat aku menemani kalian lama-lama…!"

Sim Ceng Kong berempat mencaci maki pula, semakin hebat.

Mereka malu untuk minta tolong.

Di samping itu mereka heran sekali kenapa paman guru mereka itu yaitu Hauw Thong Hay, tidak lekas kembali.

Selagi Kwee ceng bertindak, hampir ia lenyap dari pandangan mata, tiba-tiba Toat-pek-pian, Ma Ceng Hiong si Cambuk Perampas Roh, berubah pikirannya.

Ia takut mati, maka ia lupa akan malunya.

"Kwee Enghiong, kami menyerah kalah!"

Dia berteriak.

"Aku mohon sukalah kau memerdekakan kami!"

Kwee Ceng sudah lantas berpikir.

"Sebenarnya aku tidak bermusuh dengan mereka, adalah mereka yang memusuhi aku, maka itu apa perlunya aku membiarkan mereka mati bersengsara di sini?"

Dengan cepat ia mengambil keputusan, terus ia kembali dengan berlompatan, ia kasih turun mereka itu satu per satu.

Pantas Hong Ho Su Koay tidak sanggup berontak melepaskan diri, alat menggantungnya itu adalah tambang kulit yang kuat.

Ia pun mengutanginya itu dengan golok emasnya.

Sesudah empat Siluman itu direbahkan di tanah, pemuda itu totok mereka bergantian, maka mereka itu lantas saja tidak dapat geraki kaki dan tangan mereka, habis mana barulah ia putuskan belengguan mereka itu.

Sambil tertawa, ia berkata.

"Lagi dua belas jam baru kamu dapat pulang tenaga dalam dan merdeka. Sebetulnya, siapakah yang menggantung kamu di sini?"

"Kau masih berpura-pura!"

Membentak Cian Ceng Kian mendongkol.

"Kalau bukannya kau, siapa lagi?"

Kwee Ceng heran.

Ia lantas saja mengangkat kaki, akan meninggalkan mereka itu.

Ia heran orang menuduh padanya, tetapi ia mengerti, mesti ada orang yang sudah tolongi ianya.

Di mana di situ tidak ada Hauw Thong Hay, ia khawatir paman guru mereka itu nanti keburu kembali, maka ia pikir, mesti ia lekas menyingkir.

Ia lari keluar rimba, terus ia balik ke kota, malah di sini ia segera membeli seekor kuda untuk dengan itu ia lantas melanjuti perjalannya ke selatan.

"Siapakah itu orang secara diam-diam menolongi aku?"

Ia berpikir di sepanjang jalan. Keanehan itu tak dapat ia melupainya.

"Hong Ho Su Koay lihay tetapi mereka dapat digantung, teranglah lawannya itu mesti jauh terlebih lihay daripada mereka. Yang hebat mereka sampai tidak melihat padanya, hingga mereka menyangka aku. Herannya, ke mana perginya Hauw Thong Hay si Ular Naga itu? dia tidak tertampak sekalipun bayangannya?"

Kwee Ceng terus melakukan perjalannya itu.

Pada suatu hari, tibalah ia di Tiongtouw, kota raja Tay Kim Kok, negara Kim (Kin) yang besar, yang paling ramai dan indah, sampai tidak dapat dilawan oleh Pian-liang, kota raja yang lama dari kerajaan Song, atau Lim-an, kota raja yang baru.

Ia menjadi besar di gurun pasir, belum pernah ia menyaksikan suasana kota besar itu, yang indah lauwteng dan rangonnya, yang permai sero-seronya, sedang kereta-kereta bagus dengan semua kuda pilihannya mondar-mandir di jalan-jalan besar.

Di pelbagai rumah minum ia pun dengar suara tertawa, merdunya bunyi tetabuan.

Semua itu ia saksikan diwaktu siang berderang.

Untuk bersantap, ia sampai tidak berani memilih erstoran yang mentereng, ia cari sebuah restoran yang kecil.

habis berdahar, ia berjalan-jalan, ia baru berhenti ketika di sebelah depannya ia dengar sorak-sorai yang ramai, di sana ada berkumpul sejumlah orang.

Ia mendekati.

Ia menyelak di antara banyak orang itu, untuk melihat ke sebelah dalam.

Orang banyak itu mengurung sebuah tanah lapang, di situ ada dipancar bendera suram, dasarnya putih, ada sulaman empat huruf besar.

"Pi Bu Ciauw Cin" . Artinya. mencari jodoh denagn jalan pibu atau mengadu kepandaian. Di bawah bendera itu ada satu nona dengan baju merah tengah bertempur sama seorang pria, yang tubuhnya jangkung dan besar, bertempur dengan seru sekali. Heran Kwee Ceng apabila ia saksikan ilmu silat si nona itu. Ia berpikir.

"Dia lihay, kenapa dia munculkan diri di tempat umum seperti ini?"

Selang lagi beberapa jurus, nona itu menggunai akal.

Si pria dapat melihat lowongan, ia menjadi kegirangan, ia lantas menyerang dengan kedua tangannya, ke arah dada.

Nona itu tidak mengambil sikap menangkis, atau berkelit.

Pria itu tidak sampai hati, ia batal meninju, hanya mengubah kepalannya menjadi tangan terbuka, ia menolak ke arah pundak.

Luar biasa gesitnya nona itu, ia berkelit dengan mendak, kedua kakinya bergerak saling susul-menyusul, membawa tubuhnya melejit ke samping ke belakang penyerangnya itu, kapan tangan kirinya diayunkan.

"Buk!"

Punggung si pria kena terhajar, sampai terjerunuk ke depan, roboh ke tanah, hanya syukur, setelah memegang tanah, dia dapat menahan diri dan mengerahkan tenaga, untuk berlompat bangun.

Mukanya pemuda itu menjadi merah, dengan kemalu-maluan ia menyelinap di antara orang banyak.

Syukur untuknya, ia tadi berkasihan terhadap si nona, maka sekarang si nona tidaj menghajar hebat kepadanya.

Para penonton lantas saja bertampik sorak.

Nona itu singkap naik rambut yang turun ke dahinya, lalu iamundur ke bawah bendera.

Kwee Ceng pandang nona itu, yang cantik sekali, umurnya mungkin baru tujuh atau delapanbelas tahun, sikapnya pun berpengaruh.

Mendadak ia ingat apa-apa, hingga ia berpikir.

"Kenapa aku seperti kenal dia? seperti aku pernah bertemu dengannya, entah dimana…?"

Kemudian ia tersenyum sendiri, ia ingat.

"Baharu saat ini kau tiba di Tionggoan, kapan aku pernah bertemu orang lain? Aku tadinya menyangka, nona-nona serba putih dan menunggang unta itu sudah elok semua, aku pikir kenapa ada demikian banyak wanita cantik, siapa tahu nona ini melebihkan mereka itu…. Dasar aku kurang berpengalaman! Rupanya di Tionggoan ini dimana-mana wanitanya cantik semuanya, maka tak usahlah aku menjadi heran…"

Pemuda ini polos, hatinya masih terbuka, maka itu, walaupun ia telah melihat wajah-wajah yang cantik manis, hatinya tidaj tergiur.

Maka itu ia lantas memandang ke kiri dan kanannya.

Si nona lantas bicara perlahan sama seorang yang berdiri di dekatnya, pria itu mengangguk, terus ia mengangguk keempat penjuru seraya terus berkata.

"Aku yang rendah bernama Bok Ek, aku lewat di tempat tuan-tuan tidak dengan maksud mencari nama atau mencari uang, hanya guna anakku ini. Anakku sudah dewasa usianya, ia masih belum ketemu jodohnya, maka itu sekarang aku lagi mencarikan jodohnya itu. Adalah keinginanku, pasangan anakku tidak usah berharta, cukup asal ia satu pria sejati yang mengerti ilmu silat. Karena ini dengan beranikan diri, aku mancarikan jadohnya dengan jalan pibu ini. Siapa yang usianya di bawah tiga puluh tahun dan belum menikah, asal ia bisa menyerang anakku dengan satu kepalannya atau kakinya, akan aku rangkap jodoh anakku ini dengan jodohnya. Kami berdua, ayah dan anak, sudah membuat perjalanan dari selatan hingga di utara, sudah melintas tiga belas propinsi, akan tetapi kami masih belum menemui jodoh yang dicari itu, sebabnya rupanya, mereka yang gagah sudah pada menikah atau mereka yang muda sungkan hatinya?"

Ia berhenti sebentar, lagi ia menjura kepada orang banyak, baharu ia menambahkan.

"Kota Pakhia ini adalah tempat rebahnya harimau atau tempat sembunyi naga, disini mesti banyak orang berilmu dan gagah, oleh karena itu, aku harap tuan-tuan memaafkannya kalau ada kata-kataku yang tidak tepat. Tuan-tuan, perkenankanlah kami undurkan diri, untuk pulang ke rumah penginapan guna beristirahat, nanti besok kami datang pula ke mari untuk melayani tuan-tuan."

Habis mengucap, lagi sekali orang itu mengangguk, lalu ia cabut benderanya, itu bendera Pi Bu Ciauw Cin. Tiba-tiba saja.

"Tunggu dulu!"

Itulah suara berbareng, yang datangnya dari sebelah kiri dan kanan, dari mana lantas terlihat dua orang berlompat ke dalam kalangan.

Orang bnayak lantas mengawasi, akhirnya mereka semua tertawa geli.

Yang muncul dari sebelah timur itu adalah seorang tua dengan tubuh terokmok, mukanya penuh berewokan, kumisnya sudah ubanan separuh lebih, dan umurnya juga sudah lewat lebih dari setengah abad.

Yang datang dari barat itu lebih lucu pula.

Dialah satu paderi yang kepalanya licin lanang!

"Eh, kamu tertawakan apa?"

Tanya si tua itu kepada orang banyak, yang ia awasi.

"Bukankah dia mau adu kepandaian untuk mencari suami? Nah, aku masih belum menikah! Mustahilkah aku tidak cocok?"

Si paderi itu awasi si tua, ia tertawa.

"Oh, kakek-kakek!"

Katanya.

"Taruh kata kau menang, apakah kau tidak kasihan terhadap si nona yang masih demikan remaja bagaikan sekuntum bunga? Apakah setelah kau menikah kau hendak membuatnya ia menjadi janda?"

Orang tua itu menjadi gusar.

"Habis kau, apakah kau mau dengan datang kemari?"

Ia menegur. Paderi itu tersenyum.

"Setelah aku mendapatkan istri begini cantik, aku akan segera pulang asal menjadi orang biasa lagi!"

Sahutnya.

Mendengar itu, kembali riuhlah tertawa orang banyak.

Si nona menjadi mendongkol.

Ia merasa bagaimana orang hendak mempermainkan padanya, maka juga, wajahnya menjadi merah, sepasang alisnya terbangun, matanya bersorot tajam.

Ia lantas loloskan mantelnya, berniat ia menghajar kedua manusia ceriwis itu.

Bok Ek tarik tangan gadisnya.

"Tenang, nanti aku yang melayani mereka,"

Ia membujuk.

Si empe dan paderi masih adu omong terus, mereka jadi sengit sekali.

Disamping mereka, para penonton juga tak henti-hentinya tertawa.

Tidakkah pemandangan itu sangat lucu?

"Saudara-saudara, nah kamu pibulah terlebih dulu!"

Satu penonton yang membuka mulut.

"Nanti, siapa yang menang, ia yang maju melawan si nonan manis!"

"Bagus!"

Berseru si paderi, yang agaknya tidak menghiraukan ejekan orang banyak itu.

"Aki-aki, mari kita berdua main-main…!"

Paderi ini menantang, tetapi, belum lagi ia peroleh jawaban, sebelah tangannya sudah melayang.

Si empe-empe berkelit, segera ia balas menyerang.

Maka dengan itu, keduanya menjadi bertempur.

Kwee Ceng menonton.

Ia dapatkan si paderi bersilat dengan jurus-jurus Lo Han Kun dari ilmu silat Siauw Lim Pay, sedang si empe menggunai ilmu silat Ngo Heng Kun.

Jadi keduanya ada dari golongan Gawkang, ilmu Bagian Luar.

Si paderi dapat berlompat danmendekam dengan cepat, lincah gerakannya.

Si empek sebaliknya tenang tegar, jangan pandang usianya yang tua, tenaganya sebenarnya masih besar.

Satu kali si paderi dapat meraptakan diri, kepalannya menghajar tiga kali beruntun, ke arah pinggang lawannya.

Si empek kuat sekali, ia terima serangan tanpa berkelit atau menangkis, tapi berbareng dengan itu, ia angkat tinggi tangan kanannya, untuk dikasih turun ke arah kepala lawannya, bagaikan martil, kepalannya menumbuk kepala licin mengkilap dari si paderi.

Tak tahan paderi itu, segera ia jatuh duduk, numprah di tanah.

Ia berdiam tidak lama, mendadak ia tarik keluar sebatang golok kayto dari dalam jubahnya, dengan itu ia membabat kakinya si tua!

"Celaka!"

Berteriak orang banyak.

Si tua dapat menolong diri dengan berlompat berkelit, berbareng dengan mana, tangannya meraba ke pinggangnya, untuk mengasih keluar sepotong thiephie atau ruyung besi.

Kiranya mereka sama-sama membekal senjata.

Maka itu sekarang mereka melansungkan pertandingan itu dengan golok dan ruyungnya masing-masing.

"Bagus! Bagus!"

Teriak orang banyak berulangkali.

Hanya sambil berseru-seru, mereka pada mengundurkan diri setindak demi setindak.

Hebat menyambar-nyambarnya golok kayto dan ruyung besi, takut mereka nanti kena terserempet….

"Tuan-tuan, tahan!"

Bok Ek berseru seraya ia menghampirkan.

"Di sini adalah kota raja, tidak dapat kita sembarang menggunai senjata tajam!"

Dua orang itu lagi bertempur seru sekali, mereka tidak memperdulikan seruan itu.

Melihat ia tidak dihiraukan, tiba-tiba Bok Ek menyerbu.

Dengan satu dupakan, ia membuat golok kayto terpental tinggi dan dengan sambaran tangan ia rampas ruyungnya si empek-empek, kemudian selagi golok turun, ia hajar itu dengan ruyung sehingga golok itu patah dua!

Para penonton kagum, mereka bersorak.

Tapi itu belum semua, dalam sengitnya, Bok Ek cekal kedua ujung ruyung, ia lantas menekuk, maka ruyung itu menjadi bengkok melengkung, hingga sudah tentu saja selanjutnya tak dapat digunai lagi!

Si tua dan si paderi tercengang, mereka menjadi kuncup hatinya, tanpa membilang suatu apa lagi, keduanya nyelusup antara orang banyak, untuk angkat kaki!

Kwee Ceng mengawasi Bok Ek, yang tubuhnya sedikit bongkok tetapi badannya lebar dan kekar, tanda dari tenaganya yang besar, Cuma rambut dekat kedua samping kupingnyas udah berwarna kelabu dan kulit mukanya berkerenyut dan itu waktu, wajahnya guram.

Dilihat dari roman, ia mungkin telah berusia enam puluh hampir.

"Besok kita pulang ke selatan…"

Berkata dia dengan masgul. Dia pun menghela napas.

"Ya,"

Menyahut si nona, yang diajak bicara.

Sampai disitu, penonton hendak bubaran.

Bukankah pibu telah berakhir?

Tapi justru itu, mereka dengar suara kelenengan kuda, hingga mereka pada menoleh, Kwee Ceng pun tak terkecuali.

Ke situ datang satu kongcu atau pemuda sambil diiringi beberapa puluh pengikut.

Suara kelenengan itu datang dari rombongan itu.

Kapan Kwee Ceng telah melihat si koncu, lekas-lekas ia sembunyikan diri di antara orang banyak itu.

Ia kenali si kongcu yang ia telah ketemukan di rumah makan di Kalgan.

Kongcu itu melihat bendera Pi Bu Ciauw Cin, ia lantas awasi si nona baju merah, terus ia loncat dari kudanya, sembari tersenyum, ia masuk ke dalam kalangan.

"Apakah nona ynag mengadakan pibu untuk mencari jodoh?"

Ia menanya sambil ia memberi hormat. Nona itu dengan wajah bersemu merah, melengos, ia tidak menyahuti. Adalah Bok Ek, yang menghampirkan pemuda itu, untuk memberi hormat.

"Aku yang rendah she Bok. Kongcu ada keperluan apa apakah?"

Ia menanya.

"Bagaimana aturan atau syarat-syaratnya pibu perjodohan ini?"

Menanya si pemuda. Bok Ek memberikan keterangannya.

"Kalau begitu, hendak aku mencoba-coba,"

Kata si pemuda.

"Ah, kongcu bergurau!"

Berkata Bok Ek tertawa. Lagi-lagi ia memberi hormat.

"Kenapa begitu?"

Si pemuda menegaskan.

"Kami adalah orang kangouw, mana berani kami beradu tangan sama kongcu?"

Menyahut Bok Ek.

"Laginya ini bukannya cuma soal menang atau kalah, ini mengenai hari kemudian dari anakku. Aku minta kongcu sudi memaafkan aku."

Pemuda itu mengawasi si nona.

"Sudah berapa lama sejak kamu mengadakan pibu ini?"

Ia tanya pula.

"Sampai sebegitu jauh sudah satu tahun lebih dan kami telah menjelajahi tiga belas propinsi,"

Menjawab Bok Ek dengan sebenarnya. Pemuda itu tampaknya heran.

"Apakah mungkin belum pernah ada orang yang dapat menangkan dia?"

Ia menegaskan.

"Ah, aku tidak percaya!"

Ia tunjuki si nona. Bok Ek tersenyum.

"Sebabnya mungkin, orang yang pandai silat itu sudah menikah atau ia sungkan beradu tangan dengan anakku,"

Ia menerangkan.

"Kalau begitu, mari, mari!"

Berkata si pemuda, menantang.

Ia bertindak ke tengah kalangan.

Diam-diam girang hatinya Bok Ek.

Ia dapatkan orang, muda dan tampan.

Si nona agaknya kagumi pemuda itu.

Ia tahu, di dalam tiga belas propinsi, belum pernah ia bertemu pemuda semacam ini.

Maka itu ia loloskan mantelnya, ia hampirkan si pemuda untuk memberi hormat.

Pemuda itu membalas hormat, ia tersenyum.

"Silakan mulai, nona!"

Ia kata.

"Silakan kongcu membuka dulu bajumu,"

Berkata nona itu.

"Tidak usah,"

Menyahuti si kongcu. Para penonton pada berkata dalam hatinya.

"Si nona lihay sekali, sebentar kau nanti merasai…"

Tapi ada juga yang berpikir.

"Bok Ek ayah dan anak adalah orang kangouw, masa mereka berani bikin malu satu kongcu? Tentu si kongcu bakal dibikin mundur teratur, supaya ia tidak hilang mukanya…"

"Silahkan, kongcu!"

Berkata si nona.

Kali ini kongcu itu sudah tidak sungkan lagi.

Tiba-tiba ia memutar ke kanan, hingga bajunya yang panjang dan tangan bajunya juga, turut bergerak, lalu tangan kirinya menyambar ke pundak si nona.

Terkejut si nona itu apabila ia menyaksikan gerakn orang yang luar biasa itu.

Sambil mendak, ia nyelusup di bawah ujung bajunya pemuda itu.

Di luar dugaannya, orang ada sangat gesit.

Sekarang ujung baju dari tangan kanan si pemuda yang menyusul menyambar.

Sukar untuk menyingkir dari serangan susulan itu, maka si nona menjejak tanah untuk mencelat mundur.

"Bagus!"

Berseru si kongcu.

Ia lantas merangsak, tidak menunggu kedua kaki si nona keburu menginjak tanah, ia mengebut pula.

Nona itu bukan melainkan berlompat mundur, ia hanya berjumpalitan, maka itu ketika si kongcu datang dekat, sebelah kakinya menjejak ke arah hidung si kongcu.

Untuk membebaskan diri, kongcu itu lompat ke kanan.

maka barenglah mereka diwaktu mereka menurunkan tubuh.

Penonton semua kagum, untuk lihaynya si kongcu dan untuk kelincahan si nona.

Mereka itu sama-sama lincah.

Si nona dengan wajah merah, mulai membalas menyerang.

Sekarang si koncu yang main berkelit.

Maka ada menarik akan menyaksikan baju indah si kongcu bagaikan bercahaya, dan baju si nona seperti mega bermain.

Kwee Ceng pun kagum.

Pemuda-pemudi itu berimbang usianya, mereka tampan dan elok, mereka pun pandai silat, sungguh cocok apabila mereka menjadi pasangan hidup, menjadi suami-istri.

Karena ini tidak lagi ia benci si kongcu untuk kelakuannya di rumah makan baru-baru ini, sekarang ia mengharap-harap akan kemenangan si kongcu.

Pertandingan itu berjalan terus dengan seru, sampai tiba-tiba orang dengar suara "bret!"

Robek.

Nyata si nona dapat menjambret ujung baju si kongcu dan ia menariknya, sebab si kongcu juga membetot, ujung baju itu putus dengan menerbitkan suara nyaring itu.

Si nona lantas lompat mundur jauh-jauh, tangannya mengibaskan baju rampasannya itu!

"Tunggu dulu!"

Bok Ek segera kasih dengar suaranya.

"Kongcu, silakan kau loloskan bajumu, untuk kamu menentukan kemenangan terakhir!"

Kongcu itu bermuram wajahnya, kedua tangannya bergerak, maka robeklah bajunya, kancing-kancingnya jatuh di tanah.

Ia bukan membuka dengan baik, ia hanya menyobeknya!

Satu pengiring lari menghampirkan guna membantui meloloskan baju itu.

Sekarang terlihat kongcu ini dengan pakaian dalamnya dari sutera hijau muda yang indah, yang pinggangnya dilibat dengan sabuk hijau.

Ia nampak semakin tampan.

Bercahaya wajahnya yang putih dan bibirnya yang merah.

Tanpa berkata apa-apa, kongcu ini mulai menyerang.

Ia menggunai tangan kirinya, anginnya menyambar keras.

Melihat itu si nona, Bok Ek dan Kwee Ceng terperanjat.

Mereka tidak sangka, satu kongcu demikian lihay.

Setelah menyaksikan lagi sekian lama, Kwee Ceng jadi berpikir.

"Ilmu silatnya dia ini mirip betul sama ilmu silatnya In Cie Peng, si imam muda, yang itu malam menempur aku. Apakah boleh jadi mereka berasal dari satu perguruan?"

Sekarang si kongcu tidak mau mengalah lagi, karena itu sukar untuk si nona membalas mendesak, malah untuk merapatkan saja sulit.

"Kongcu ini lebih lihay daripada In Cie Peng, si nona bukan tandingannya,"

Berpikir Kwee Ceng setelah ia menyaksikan terlebih jauh.

"Pasti jodoh mereka bakal terangkap…"

Bok Ek pun girang melihat jalannya pertempuran ini, malah ia lantas berseru.

"Anak Liam, sudah tak usah kau melawan lebih lama lagi, kongcu menang jauh daripadamu…!"

Tapi orang lagi bertempur hebat sekali, sedang si kongcu kata di dalam hatinya,.

"Kalau sekarang aku hendak robohkan kau, gampang sekali, Cuma aku tidak tega…"

Benar saja, ketika tangan kirinya menyambar, tangan kiri si nona kena dicekal.

Ia tahu si nona bakal mengibas keluar, selagi si nona mengerahkan tenaganya, ia sekalian menolak seraya cekalannya itu dilepaskan.

Maka tidak ampun lagi, nona itu rubuh terjengkang.

Hanya, belum lagi tubuh orang mengnai tanah, tangan kanan si kongcu sudah menyambar, merangkul, hingga si nona manis lantas berada di dalam pelukannya.

Orang banyak bertempik bersorak, tapi ada juga yang menggerutu.

Si nona menjadi sangat malu.

"Lekas lepaskan aku!"

Ia minta, suaranya perlahan. Si kongcu tertawa.

"Kau panggil engko padaku, nanti aku lepas kau!"

Sahutnya. Nona itu mendongkol. Itulah permintaann ceriwis. Ia lantas berontak. Tapi sia-sia saja, ia malah terpeluk semakin keras. Bok Ek lantas maju.

"Kongcu sudah menang, tolong kau lepaskan anakku,"

Ia minta.

Pemuda itu tertawa lebar, ia masih belum mau melepaskan pelukannya.

Dalam sengitnya, si nona menjejak.

Kongcu itu melepaskan tangannya yang kanan, tangan itu dipakai menangkis dan menangkap kaki orang, dengan begitu, tetap ia memegang tubuh di nona.

Nona ini penasaran, ia berontak sekuat tenaganya, tempo akhirnya ia bebas, ia jatuh terduduk di tanah.

Ia menjadi malu sekali, ia tunduk, sembari tunduk, ia raba kaos kakinya yang putih.

Sebab sepatunya telah terlepas.

Kongcu itu berdiri sambil tertawa haha-hihi, tangannya mencekali sepatu orang, yang ia bawa ke hidungnya!

Melihat itu, beberapa penonton bangsa bergajul, lantas saja berseru-seru.

"Harum! Harum!"

"Kau she apa kongcu?"

Bok Ek menanya. Ia tertawa, ia tidak menghiraukan sikap ceriwis si pemuda. Kongcu itu pun tertawa.

"Tidak usah bicara lagi!"

Katanya, seraya ia putar tubuhnya untuk minta jubah sulamnya dari pengiringnya. tapi ia menoleh kepada si nona yang ia awasi, sepatu siapa ia masuki ke dalam sakunya.

"Kami tinggal di Hotel Ko Seng di jalan utama kota barat,"

Berkata Bok Ek.

"Mari kita pergi sama-sama ke sana untuk berbicara."

"Aku tidak sempat,"

Berkata si anak muda.

"Apakah yang hendak dibicarakan?"

Tanya kemudian. Bok Ek heran, air mukanya sampai berubah.

"Kau toh telah mengalahkan anakku!"

Ia kata.

"Aku telah melepas kata, maka itu tentu saja aku hendak jodohkan anakku ini denganmu. Ini ada urusan seumur hidupnya manusia, mana bisa kita memandangnya enteng?"

Kongcu itu melengak, ia tertawa besar.

"Bukankah kita main-main dengan ilmu silat?"

Katanya.

"Tidakkah itu sangat menarik hati? Tentang perjodohan, terima kasih banyak!"

Mukanya Bok Ek menjadi pucat, ia sampai berdiam saja.

"Kau…! Kau…!"

Katanya kemudian seraya menuding. Pengiringnya si kongcu tertawa dingin dan menyela.

"Kau kira kongcu kami ini bangsa apa? Kongcu kami bersanak dengan kamu orang kangouw tukang jual silat dari kelas tiga rendah empat bawah? Hm! Pergilah kau tidur dengan mimpimu di siang bolong!"

Bukan main gusarnya Bok Ek, tangannya melayang, maka pengiring itu berkoak kesakitan, mulutnya mengeluarkan darah, beberapa giginya rontok, seketika ia roboh di tanah, terus pingsan!

Kongcu itu tidak ambil peduli kejadian itu, ia suruh lain pengiringnya tolongi pengiring yang terluka itu, ia sendiri menghampirkan kudanya, untuk menaikinya.

"Jadi kau sengaja mengganggu kami?!"

Berteriak Bok Ek. Kongcu itu tetap tidak mengambil mumat, ia injak sanggurdi denagn sebelah kakinya. Bok Ek habis sabar, dengan tangan kirinya ia cekal lengan kiri pemuda itu.

"Baik!"

Serunya.

"Anakku pun tidak nanti nikah dengan kau, manusia hina dina! Bayar pulang sepatu anakku itu!"

Kongcu itu mengawasi, ia tertawa.

"Sepatu ini toh anakmu yang dengan suka sendiri menghanturkannya kepadaku,"

Ia menyahuti.

"Ada apa sangkut pautnya denganmu?"

Ia terus geraki tangan kirinya itu dan terlepaslah cekalannya Bok Ek.

"Akan aku adu jiwa!"

Berteriak ayah yang dipermainkan itu seraya ia lompat berjingkrak, kedua tangannya digeraki berbareng, untuk menyerang kedua pelipis orang. Itulah jurus "Ciong kouw cie beng"

Atau "Gembreng dan tambur ditabuh berbareng."

Kongcu ini berkelit sambil menjajak sanggurdinya, maka itu tubuhnya lantas mencelat ke tengah kalangan.

"Jikalau aku telag hajar roboh padamu, orang tua, kau tentunya tidak bakal memaksa aku nikahi anakmu, bukan?"

Kata ia sambil tertawa, untuk mengejek.

Kecuali bangsa bergajul, semua penonton menjadi panas hatinya, dari berkesan baik mereka menjadi jemu dan membenci.

Kongcu ini terang selain ceriwis pun kurang ajar dan keterlaluan.

Cumalah mereka bisa mendelu saja, tidak ada yang berani membuka mulut.

Bok Ek sudah lantas lompat untuk menerjang pemuda itu.

Kongcu itu mengetahui orang seperti kalap, bahwa serangannya itu sangat berbahaya, maka dengan sebat ia berkelit, sesudah mana dari samping, tangan kirinya membalas menyerang perut dengan jurusnya "Tok coa sim hiat"

Yaitu "Ular berbisa mencari lubang."

Bok Ek berkelit ke kanan, dari situ ia menyerang pula, dua jari tangannya mencari pundak bagian yang kosong. Itulah salah satu jurus "Eng Jiauw Kun"

Atau "Kuku Garuda"

Dari ilmu silat Utara.

Kongcu itu lihay, agaknya dengan gampang saja ia mendak sedikit, lalu ia lolos dari bahaya, menyusul itu, tidak kelihatan ia menarik pulang tangan kirinya atau tangan kanannya sudah melakukan penyerangan pembalasan.

Tangan kirinya itu telah diangkat ke depan mukanya, dalam sikap "Touw in hoat jit"

Atau "Nyelusup ke mega menukar matahari", guna melindungi mukanya.

Bok Ek tarik lengan kirinya, dilain pihak, ia menyerang dengan tangan kanannya.

Untuk membalas serangan dengan serangan, dengan tidak kalah sebatnya.

Ketika lawan itu berkelit, ia mendesak, lagi ia menyerang, kali ini dengan kedua tangannya, ke arah kedua belah pipi.

Inilah pukulan "Wie Hok Hong cu"

Atau "Malaikat Wie Hok mempersembahkan toya".

Kongcu itu tidak memandang enteng kepada musuh ini, ia hanya tidak menyangka semua serangan lawan sedemikian berbahayanya, maka ia tidak mau main acuh tak acuh lagi, ia membalas dengan sama hebatnya.

mendadak saja kedua tangannya bergerak, menyambar kedua tangannya Bok Ek itu, pada bagian belakang telapakan tangan, menyusul mana ia menarik tubuhnya, mencelat mundur, sepuluh jarinya berubah menjadi merah semuanya.

Para penonton berseru kaget.

Sebab belakang telapakan tangan dari Bok Ek telah berlumuran darah!

Si nona menjadi kaget berbareng gusar, ai memburu kepada ayahnya itu, untuk menolongi.

Ia robek ujung baju si ayah, guna robekannya dipakai membalut lukanya.

Bok Ek tolak mundur anaknya.

"Kau minggir!"

Katanya sengit.

"Hari ini saku mesti mengadu jiwa dengannya, atau aku tidak hendak berhenti!"

Wajahnya si nona guram, ia memandang tajam kepada si pemuda.

Tiba-tiba tangannya merogoh ke sakunya, akan mengasih keluar sebuah pisau belati dengan apa ia terus tublas dadanya sendiri.

Bok Ek kaget bukan main, lupa kepada tangannya yang sakit, ia tangkis tublasan itu, maka sekarang ia terlukai anaknya itu, sebab si nona tidak keburu membatalkan tikamannya.

Para penonton menjadi mendongkol berberang berduka.

Inilah mereka tidak sangka.

Mereka pun tidak berani mencampur tangan.

Adalah Kwee Ceng yang tidak dapat melihat terlebih jauh.

Selagi si kongcu hendak menaiki pula kudanya, ia bertindak ke dalam kalangan, ia berseru.

"Halo, sahabat! Perbuatanmu ini tidak tepat!"

Kongcu itu berpaling, kapan ia lihat anak muda kita, ia tercengang. Tapi cuma sebentar saja, terus ia tertawa.

"Habis kau mau apa!"

Ia menantang.

"Bagaimana baru tepat?"

Semua pengiring si kongcu tertawa ramai.

Mereka lihat roman orang yang ketolol-tololan, dan lagu suaranya pun beda dari lagu suara mereka, sikap dan lagu suara itu telah diajoki kongcu mereka.

Tentu saja mereka menganggap itu lucu.

Kwee Ceng melongo sebentar.

Ia tidak lantas menginsyafi orang lagi permainkan padanya.

"Kau harus menikah dengan baik-baik dengan nona ini!"

Ia menjawab kongcu itu. Si kongcu miringkan kepalanya, ia tertawa haha-hihi.

"Jikalau aku tidak sudi nikahi dia?"

Dia tanya.

"Jikalau kau tidak sudi menikah dengannya, apa perlunya kau maju dalam pertandingan?"

Kwee Ceng tanya.

"Apakah kau tidak lihat itu merek bendera yang menjelaskan pibu untuk pernikahan?"

Kongcu itu tidak menjawab, ia hanya mengawasi dengan tajam.

"Sebenarnya kau hendak main gila denganku atau bagaimana? dia tanya tegas kemudian. Kwee ceng tidak menjawab, hanya ia pun balik menanya.

"Nona ini cantik dan ilmu silatnya pun sempurna, kenapa kau tidak sudi menikah dengannya? Jikalau kau tidak hendak menikah sama nona macam vegini, di belakang hari ke mana lagi kau hendak mencarinya?"

"Eh, kau tidak mengerti urusan, bicara denganmu sia-sia saja!"

Kata si kongcu.

"Kau sebenarnya murid siapa? Kau memanggil apa kepada Oey Yok Su dari pulau Tho Hoa To?"

Kwee Ceng menggoyangi kepalanya.

"Siapa guruku, tak dapat aku beritahu padamu!"

Ia jawab.

"Aku tidak tahu Oey Yok Su itu orang macam apa."

"Habis, siapa yang ajarkan kau ilmu menotok istimewa dari pulau Tho Hoa To it?"

Si kongcu masih menanya.

"Ilmu menotok jalan darahku itu adalah guruku yang kedua yang mengajarkannya,"

Menjawab Kwee Ceng.

"Siapa itu gurumu yang kedua?"

Tanya kongcu itu kemudian.

"Aku tidak mau memberitahu"

Jawab Kwee Ceng pula.

"Baiklah, masa bodoh!"

Berkata itu pemuda yang lantas memutar tubuhnya. Kwee Ceng ulur tangannya untuk mencegah.

"Eh, kenapa kau hendak pergi pula?"

Ia menanya.

"Habis kenapa?"

Kata si kongcu lagi.

"Bukankah aku telah beri nasehat kepadamu untuk kau nikahi nona ini?"

Kata Kwee Ceng.

Kongcu itu tertawa dingin, dia buka tindakannya yang lebar, untuk berjalan pergi.

Sampai di situ, Bok Ek hampairkan ini anak muda.

Sajak tadi ia mendengari orang pasang omong, disamping ia mendongkol terhadap si kongcu, tahu ia bahwa anak muda ini baik hatinya dan berpihak padanya.

Ia Cuma merasa orang masih terlalu muda dan belum mengenal dunia.

"Saudara kecil, jangan kau ladeni dia!"

Dia berkata.

"Asal nyawaku masih ada, sakit hati ini tidak dapat tidak dilampiaskan!"

Terus ia kata dengan suara nyaring.

"Anak muda, kau tinggalkan she dan namamu!"

Kongcu itu berpaling, ia tertawa.

"Aku sudah bilang, tidak dapat aku memanggil mertua kepadamu, maka kenapa kau begini melit hendak mengetahui she dan namaku?"

Ia bertanya. Kwee Ceng menjadi habis sabar, ia lompat kepada pemuda itu.

"Kalau begitu, kau bayar pulang sepatunya si nona!"

Ia membentak. Kongcu itu menatap.

"Kau gemar campur urusan bukan urusanmu!"

Ia berkata.

"Bukankah kau menaruh hati kepada nona itu?"

"Bukan!"

Jawab Kwee Ceng, yang menggeleng kepalanya.

"Sebenarnya kau hendak membayar pulang sepatu itu atau tidak?"

Dengan mendadak saja anak muda ini menggeraki kedua tangannya, mencekal kedua nadi si kongcu.

Ia telah gunai salah satu tipu dari ilmu silat Kim-na-ciu, yang semuanya terdiri dari tujuh puluh dua jurus.

Ilmu silat itu adalah untuk menangkap tangan lawan.

Kongcu itu terkejut berbareng gusar.

Ia berontak tetapi tidak berdaya.

"Kau mau mampus?!"

Tanyanya, sebelah kakinya menendang ke bawahan perut si anak muda.

Kwee Ceng tidak menangkis atau berkelit, dengan sebat ia tarik tangannya kongcu itu, hingga orang terlempar tubuhnya, dengan begitu, ia bebsa dari tendangan orang itu.

Kongcu itu enteng sekali tubuhnya, walaupun ia telah terlempar, ia Cuma terpelanting, tidak sampai ia mencium tanah.

Hanya dengan begitu, ia telah kalah satu babak.

Ia menjadi gusar sekali.

"Kau sudah bosan hidup, bocah?"

Ia berseru. Kwee Ceng mengawasi, ia menggeleng kepala.

"Buat apakah aku bertempur denganmu?"

Ia berkata.

"Kau tidak mau nikahi dia, sudah saja, kau bayar pulang sepatunya itu!"

Orang banyak menyangka pemuda ini hendak membelai keadilan, mereka tidak ayana, akhirnya cuma sebegitu saja sikapnya.

Mereka yang gemar menonton menjadi kecele.

Kongcu ini jeri juga terhadap Kwee Ceng, bahwa orang tidak ingin berkelahi, itu cocok dengan keinginannya, akan tetapi ia dipaksa menyerahkan sepatu si nona, mana dapat ia mengalah.

Tidakkah ia berada di hadapan orang banyak?

Maka itu seraya menyingkap jubahnya, ia memutar tubuh, mulutnya mengasih dengar tertawa dingin.

"Apakah kau hendak pergi?"

Menegur Kwee Ceng seraya menyambar jubah orang itu.

Si kongcu lantas menggunai ketikanya.

Ia berkelit, jubahnya itu dilayangkan sekali, dipakai menungkrap kepala orang.

Kwee Ceng gelagapan.

Justru itu dua kali iganya kena dihajar, sebab si kongcu sudah tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu.

Bab 17.

Pangeran Wanyen Kang Kena dihajar secara demikian, pemuda kita merasa kegelapan mata.

Tidak sempat ia mengempos semangatnya.

Bagus untuknya, selama dua tahun ia telah peroleh latihan tenaga dalam dari Tang Yang Cu Ma Giok, walaupun ia terhajar hebat, ia tidak terluka, tidak patah tulang-tulang rusuknya, ia cuma merasakan sangat sakit.

Dalam pada itu, ia sadar akan dirinya, maka tidak membuat tempo lagi, ia melakukan pembalasan, dengan tendangan beruntun Wanyoh Lian-hoan-twie, maka dalam sekejap saja, ia dapat menendang terus-terusan sembilan kali, semuanya cepat dan hebat.

Inilah pelajaran yang ia wariskan dari Ma Ong Sin Han Po Kie di Malaikat Raja Kuda, dengan ilmu mana Han Po Kie pernah robohkan beberapa jago dari Selatan dan Utara.

Hanya sampai sebegitu jauh, Kwee Ceng belum mendapatkan kesempurnaannya.

Kongcu itu menjadi repot, ia berklit dan berlompatan tiada hentinya.

Tujuh tendangan ia bisa kasih lolos, tetapi yang kedelapan dan kesembilan, telah mengenakan kempolannya kiri dan kanan.

Syukur untuknya, karena berberang ia berkelit, ia tak sampai tertendang roboh, ia cuma terjerunuk.

Karena ini keduanya menjadi terpisah.

Kwee Ceng lantas aja singkirkan jubah sulam yang menungkrup kepalanya itu.

Ia menjadi kaget dan mendongkol.

Pertempuran itu merupakan satu pengalaman luar biasa untuknya.

Mulanya di Mongolia ia menghadapi orang-orang jujur, lalu perlahan-lahan ia melihat perubahan.

Ia merasa asing untuk kelakuan curang.

Kongcu itu kena tertendang, ia menjadi gusar sekali, maka dia segera maju seraya tangan kirinya dipakai menyerang ke pundaknya si pemuda.

Kwee Ceng menangkis, atau ia menjadi kaget.

Tiba-tiba saja ia merasakan sakit pada dadanya.

Karena ini ketika ia didesak, ia kewalahan, maka tempo kakinya disambar, dengan mengasih dengar suara "Bruk!"

Ia roboh memegang tanah! Semua pengiringnya si kongcu lantas bertepuk tangan dan tertawa. Kongcu itu tepuki kempolannya yang penuh debu, ia tertawa tawar.

"Dengan kepandaian begini kau hendak mencari balas untuk orang lain?"

Ia mengejek.

"Hm, baik kau pulang dulu untuk belajar lagi sama gurumu sedikitnya buat duapuluh tahun!"

Kwee Ceng tidak menyahuti, ia hanya menjalankan napasnya, hingga ia merasakan sakit di dadanya itu berkurang. Ia berlompat bangun kapan ia lihat orang kembali hendak ngeloyor pergi.

"Lihat kepalan!"

Ia berseru sambil menyerang.

Dengan mendak, kongcu itu berkelit.

Kwee Ceng tidak berhenti sampai disitu, tangan kirinya menyambar ke muka orang.

Si kongcu menangkis.

Kedua tangan lantas bentrok, mereka saling menolak.

Kelihatan nyata, tenaga dalam Kwee Ceng terlatih besar tetapi si kongcu menang latihan ilmu silatnya.

Maka itu mereka menjadi berimbang.

Kwee Ceng menyedot napas, ia hendak mengerahkan tenaganya, selagi begitu ia masih tetap menolak.

Tiba-tiba ia rasai tenaga lawan lenyap, tak sempat ia menahan dirinya, tubuhnya terhuyung ke depan.

Ketika ia bisa menahan dirinya, dari belakangnya datang serangan.

Ia sudah terjerunuk melewati lawannya, dalam keadaan sulit itu, ia menangkis dari belakang, tubuhnya sekalian diputar.

"Kau pergi!"

Berseru si kongcu, yang tangannya menolak keras.

Tidak dapat Kwee Ceng bertahan, ia rubuh ngusruk, tetapi sikutnya mengenai tanah, dengan cepat ia mencelat bangun, kakinya dibarengi dipakai menendang dada lawannya.

Ia berlaku sangat sebat, ia ingin membalas, untuk mencari kemenangan.

Kongcu itu dapat berkelit, hanya setelah itu, ia didesak oleh si pemuda yang bersilat dengan "Hun-kin Co-kut Ciu"

Yaitu ilmu silat untuk memisah otot-otot dan tulang.

Kongcu ini pernah juga menyakinkan Hun-kin Co-ku Ciu hanya pelajarannya beda daripada pelajaran Kwee Ceng yang didapat dari Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong, maka itu, ia membela diri dengan berlaku hati-hati.

Habis itu, keduanya bertempur terus.

Selama tujuhpuluh jurus, mereka berimbang dengan ketangguhannya.

Menampak demikian si kongcu menggunai akal.

Kwee Ceng tidak tahu lawannya lagi memancing, ia lantas menyerang.

Ia hendak menotok jalan darah hian-kie-hiat.

Tiba-tiba ia ingat bahwa ia tidak bermusuhan sama si kongcu, ia lantas geser incarannya ke sisi sasanan semula.

Maka adalah diluar dugaannya ketika si kongcu, yang menangkis dengan tangan kiri, sudah membarengi menyerang dengan tangan kanan kanan ke arah pinggang, malah tinjuan itu dilakukan saling susul hingga tiga kali.

Kwee Ceng berkelit, dengan menggeser pinggangnya, lalu ia membalas.

Ketika ini digunai si kongcu, untuk memegang tangan orang yang kanan itu, buat terus ditarik dengan kaget sambil berbareng kakinya dipakai menjejak paha si pemuda.

Maka tidak ampun lagi, pemuda itu terguling jatuh.

Bok Ek menonton dari bawah benderanya.

Lukanya telah dibalut rapi oleh putrinya.

mendapatkan tiga kali Kwee Ceng roboh, ia lantas maju, untuk mengasih bangun.

Ia tahu sekarang, pemuda itu bukan lawan si kongcu, yang menang seurat.

Ia pun kata.

"Lao-tee, mati kita pergi, jangan kita layani segala manusia hina!"

Kwee Ceng roboh dengan mata kabur dan kepala pusing, ia menjadi gusar sekali, maka setelah dikasih bangun, ia lepaskan diri dari tangan Bok Ek, ia maju pula, untuk menyerang.

"Eh, kau masih belum takluk?"

Berkata si kongcu, seraya mundur. Kwee Ceng tidak menyahuti, hanya ia merangsak.

"Jikalau kau tetap ganggu aku, jangan salahkan aku berlaku kejam!"

Kongcu itu mengancam.

"Kau pulangi sepatu orang!"

Bentak Kwee Ceng.

"Kalau tidak, aku tidak mau mengerti!"

Kongcu itu tertawa melihat orang berkukuh, romannya ketolol-tololan.

"Bukankah nona itu bukan adikmu?"

Ia bertanya.

"Kenapa kau seperti hendak mengadu jiwa memaksa aku menjadi toakomu!"

"Kurang ajar!"

Mencaci Kwee Ceng.

"Aku tidak kenal dia, siapa bilang dia adikku!"

Ia gusar sebab kongcu itu ejek dia sebagai toaku, ipar.

Itulah cacian di antara orang Pakhia, tetapi ia tidak tahu, ia cuma mendongkol.

Karena dicaci begitu, ia ditertawai sekalian pengikut si kongcu.

Si kongcu sendiri merasa lucu berbareng mendeluh.

"Tolol, awas!"

Ia berseru seraya menyerang.

Kwee Ceng melawan, dari itu, mereka menjadi bergumul pula.

Kali ini pemuda ini berlaku waspada, tidak lagi ia kena dipancing.

ia kalah pandai tapi ia bersemangat, maka kewalahan juga si kongcu.

Pertempuran seru itu ditonton semakin banyak orang.

Bok Ek jadi merasa tidak enak hati.

Ia tahu, kalau datang polisi, ia bisa dapat susah, sedikitnya ia bakal diseret ke kantor pembesar setempat.

Ia juga berkhawatir untuk banyaknya orang, i antara siapa ia tampak beberapa yang matanya tajam dan air mukanya luar biasa, ada juga yang membekal senjata.

Di sebelah mereka, yang bicarakan silat kedua anak muda itu, ada yang bertaruh untuk siapa yang bakal menang.

Dengan perlahan-lahan Bok Ek menggeser ke tempat pengiring-pengiringnya si kongcu, segera ia lihat, diantara mereka itu ada tiga orang yang menarik perhatiannya.

Yang satu adalah satu pendeta bangsa Tibet, tubuhnya besar, kopiahnya disalut emas, jubahnya merah dan gerombongan.

Dia berdiri tegar hingga ia melebihkan tingginya semua orang.

Orang yang kedua sudah lanjut usianya, sebab rambutnya sudah putih semua, tubuhnya sedang saja, hanya mukanya bercahaya segar, dan tidak keriputan.

Dia pun bermata tajam.

Karena romannya yang luar biasa itu, tak bisa diduga usianya yang tepat.

Orang yang ketiga bertubuh kate dan kecil, nampaknya sangat gesit, mukanya pun bersinar merah, matanya mencorong tajam.

Maka juga, mengawasi mereka, tukang jual silat ini terkejut hatinya.

"Leng Tie Siangjin,"

Berkata satu pengiring.

"Baik kau maju dan hajar bocah itu, kalau mereka bertempur terus dan siauw-ongya salah tangan hingga ia terluka, hilanglah jiwa kami semua…"

Itulah se pendeta Tibet yang ditegur. Dia tersenyum, dia tidak menjawab. Adalah si rambut ubanan yang berkata sambil tertawa.

"Paling juga kakimu dikemplang patah! Mustahil ongya hendak mengehndaki jiwamu?"

Bok Ek terperanjat.

Orang disebutnya siauw-ongya dan ongya, pangeran muda dan pangeran.

Kalau begitu, benar juga, bencana akan datang kalau sampai siauw-ongya itu terluka.

Tidakkah di antara pengiring-pengiringnya si siauw-ongya adalah orang-orang yag gagah dan lihay?"

"Jangan takut!"

Berkata si orang kate dan kecil.

"Siauw-ongya lebih lihay daripada lawannya itu!"

Orang ini kate dan kecil akan tetapi suaranya mengejutkan.

Suara itu nyaring, hingga beberapa orang disampingnya menjadi terkejut, semua pada berpaling memandang dia, yang matanya bersinar, hingga mereka lekas-lekas melengos.

Si rambut putih tertawa, dia pun berkata.

"Siauw-ongya telah belajar ilmu silat belasan tahun, kecewa kalau itu tidak dipertontonkan di muka orang banyak. Dia tentu tidak senang ada orang yang membantu padanya…"

"Eh, saudara Nio, coba bilang,"

Berkata si kate kecil.

"Ilmu silat siauw-ongya itu ada dari partai mana?"

Kali ini ia berbicara dengan perlahan. Si rambut putih tertawa.

"Haouw Laotee, kau lagi uji mataku, bukan?"

Ia berkata.

"Kalau mataku tidak salah, itulah ilmu silatnya kaum agama Coan Cin Kauw."

"Sungguh begitu, sungguh aneh!"

Kata si kate kecil itu.

"Bukankah kaum Coan Cin Kauw itu bangsa aneh? Kenapa mereka justru mewariskan kepandaiannya pada siauw-ongya…?"

"Ongya pandai bergaul, siapa saja tak dapat ia undang?"

Kata pula si rambut ubanan itu.

"Umpama kau sendiri, Haouw Laotee. Kau biasa menjagoi di dua propinsi Shoatang dan Shoasay, kenapa kau juga berada di istana ongya?"

Si kate kecil itu mengangguk.

Si ubanan sudah lantas mengawasi kedua anak muda yang lagi bertempur itu.

Ia dapatkan Kwee Ceng berubah silatnya, ialah gerakannya jadi ayal tapi tubuhnya terjaga rapat, sia-sia saja beberapa kali siauw-ongya menyerang padanya.

"Haouw Laotee, coba lihat, dari partai mana asalnya ilmu silat si bocah itu?"

Ia tanya.

"Kelihatannya kepandaiannya itu kacau, dia tentu bukan satu gurunya,"

Sahut si kate kecil itu kemudian.

"Pheng Ceecu benar,"

Berkata seorang di pinggiran.

"Bocah ini adalah muridnya Kanglam Cit Koay."

Bok Ek pandang ornag itu, yang mukanya kurus dan sinarnya biru, di jidatnya ada tiga tahi lalatnya. Ia kata di dalam hatinya.

"Dia memanggil Pheng Ceecu, mungkinkah si kate kecil ini adalah kepala berandal? Nama Kanglam Cit Koay sudah lama tidak terdengar, apa benar mereka masih hidup?"

Selagi Bok Ek berpikir, si muka biru dan kurus itu sudah berlompat maju ke tengah kalangan seraya ia berseru.

"Hai bocah, kau ke sini!"

Dia pun menarik keluar sebatang kongce atau cagak dari dalam sakunya.

Orang banyak terkejut, ada yang berteriak.

Bok Ek pun tidak kurang kagetnya, tapi ia segera bersiap, untuk membantu Kwee Ceng.

Tentu saja ia tidak kenal si orang ini, ialah Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay, paman gurunya Hong Ho Su Koay.

Hauw Thong Hay bukan menyerang Kwee Ceng, dia hanya maju ke antara orang banyak, di antara siapa ada satu anak muda yang tubuhnya kurus lemah, yang pakaiannya compang-camping, kapan anak itu dapat lihat dia, dia menjerit "Ayo!"

Seraya terus memutar tubuh, untuk angkat langkah panjang.

Thong Hay mengejar terus, ia diikuti empat orang lainnya yang bukan lain daripada Hong Ho Su Koay.

Kwee Ceng sedang bertempur, ia heran atas itu suara bentakan, kapan ia lihat siapa yang dikejar Thong Hay, ai terkejut.

Pemuda dengan pakaian tidak karuan itu adalah Oey Yong, sahabat barunya.

Karena ini, ia sudah lantas kena ditendang si kongcu.

"Tahan dulu!"

Ia berseru seraya lompat keluar kalangan.

"Aku hendak pergi sebentar, segera aku kembali!"

"Lebih baik kau mengaku kalah!"

Mengejek si kongcu.

Kwee Ceng tidak berniat berkelahi terus, pikirannya lagi kusut, ia khawatirkan keselamatannya Oey Yong, tetapi justru ia hendak melompat lari, tiba-tiba ia tampak sahabatnya itu lari mendatangi, sepatu kulitnya diseret hingga berisik kedengarannya.

Dia pun terus tertawa.

Di belakangnya tampak Thong Hay tengah mengajar tengah mengejar, mulutnya mencaci kalang kabutan, setelah datang dekat, berulang-ulang ia tikam bebokong orang yang ia kejar itu!

Oey Yong sangat lincah, selalu dapat ia kelit tubuhnya.

Kongce itu ada cagak tiga, semuanya tajam, di bawah cahaya matahari, sinarnya berkilauan, sinar itu ditimpali tiga gelangnya yang bergerak dan berbunyi nyaring setiap kali digeraki.

tapi senjata itu tidak dihiraukan Oey Yong.

Ia nyelusup sana dan nyelusup sini di antara orang banyak.

Segera juga orang banyak tertawa riuh.

Mukanya Hauw Thong Hay, pada pipinya yang kiri dan kanan, tambah tanda tapak lima jari tangan, tanda arang hitam.

Terang sudah dia telah kena ditampar oleh lawannya yang licin itu.

"Mari! Mari!"

Oey Yong menantang, setiap kali ia dapat pisahkan diri jauh-jauh dari lawannya, yang ia tinggalkan lalu ia berdiri diam, menoleh dan mengejek, tangannya menggapai berulang-ulang.

"Jikalau aku tidak berhasil menggeset kulitmu dan mematahkan tulang-tulangmu, aku Sam-tauw-kauw tidak sudi menjadi manusia!"

Thong Hay sesumbar.

Ia berteriakan, ia mengejar.

Oey Yong menanti sampai orang sudah datang dekat, kembali ia lari.

Kelakuannya ini, ditimpali sama kalapnya Thong Hay, membuatnya orang banyak saban-saban tertawa riuh.

Dalam saat itu, terlihatlah datang memburunya tiga orang yang napasnya tersengal-sengal.

Merekalah tiga Siluman dari Hong Ho.

Song-bun-hu Cian Ceng Kian, Siluman yang keempat, tidak tampak.

Itu waktu barulah Kwee Ceng menginsyafi bahwa sebenarnya Oey Yong itu lihay ilmu silatnya, bahwa ialah yang selama di hutan cemara Hek-siong-lim di Kalgan sudah menggantung Hong Ho Su Koay di atas pohon dan memancing kepada Hauw Thong Hay.

"Bagus perbuatannya,"

Ia pikir.

Kelakuan Hauw Thong Hay itu, yang dipermainkan Oey Yong, menyebabkan rombongannya Leng Tie Siangjin memperbincangkannya.

Leng Tie itu adalah paderi dari Tibet, dari partai Cong Gee, keistimewaannya ialah ilmu Tay-ciu-in, Tapak Tangan yang lihay, kawannya yang ubanan tapi mukanya tampak segar bagai muka anak kecil, adalah Nio Cu Ong, ketua dari partai Tiang Pek Pay dari Gunung Tiang Pek San.

Ia tetap awet muda sebab sejak masih kecil ia doyan makan jinsom serta lainnya pohon obat, hingga ia dijuluki Som Sian Lao Koay, Dewa Jinsom-Siluman Tua.

Julukan ini harus dipecah dua.

Siapa yang menghormati dia, memanggilnya Som Sian, Dewa Jinsom, dan siapa bukan orang-orang partainya, dibelakangnya, menyebut ia Lao Koay, si Siluman Tua.

Dan orang ynag matanya tajam bagaikan kilat itu adalah orang ynag sangat terkenal di Tionggoan, namanya Pheng Lian Houw, julukannya Cian-ciu Jin Touw, Pembunuh Sribu Tangan.

Di selatan www.kangzusi.com dan utara Sungai Besar, sekalipun wanita umumnya kenal namanya itu, dan anak-anak yang lagi nangis, kalu ditakut-takuti;

"Peng Lian Houw datang!"

Tentulah berhenti tangisnya. Berkatalah Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong.

"Selama aku di Kwan-gwa, telah aku dengar nama besar dari Kwie Bun Liong Ong, bahwa ia lihay sekali, kenapa adik seperguruannya ini begini tidak punya guna, sampai satu bocah pun dia tidak sanggup layani?"

Pheng Lian Houw mengkerutkan keningnya, dia bungkam.

Dia bersahabat erat dengan Kwie-bun Liong Ong See Thong Thian si Raja Naga Pintu Iblis, sering mereka "bekerja tanpa modal" , dan ia tahu baik Houw Thong Hay lihay, maka kenapa hari ini orang she Hauw itu jadi demikian tidak berdaya?

Selagi Oey Yong permainkan Hauw Thong Hay, pertempuran di antara Kwee Ceng dan si siauw-ongya, pangeran muda, telah berhenti.

Siauw-ongya telah robohkan Kwee Ceng lima-enam kali, dia sangat letih, tangan dan kakinya dirasakan ngilu, dia pun berdahaga dan lapar, dengan sapu tangannya, ia susuti peluhnya.

Dipihak lain, Bok Ek telah kasih turun bendera Pie-bu Ciauw-cin, ia hampirkan Kwee Ceng untuk dihiburkan, untuk diajak pulang ke penginapannya, untuk beristirahat.

Tapi, belum kebeuru mereka berangkat, mereka sudah dengar ramainya tindakan kaki serta berisiknya gelang konce, lalu terlihat Oey Yong berlari-lari kembali dengan tetap dikejar oleh Hauw Thong Hay.

Tangannya Oey Yong sambil mengibar-ibarkan dua potong kain.

Hauw Thong Hay sebaliknya, pakiaannya menjadi tidak karuan macam.

Baju di dadanya robek putus, hingga kelihatan baju dalamnya yang putih.

Jauh di belakang mereka terlihat Gouw Ceng Liat serta Ma Ceng Hiong, yang satu bersenjatakan tombak, yang lainnya ruyung, lari mendatangi dengan napas memburu.

Ketika mereka ini datang dekat, Oey Yong dan Hauw Thong Hay saudh lenyap pula.

Semua orang banyak, yang menjadi penonton, heran berberang merasa lucu, mereka menjadi tertarik untuk menonton terus.

Justru itu, mereka lantas dengar bentakan-bentakan riuh yang datang dari arah barat, lalu mereka tampak belasan orang polisi serta pengiring, dengan cambuk di tangan, lagi menyerang kalang-kabutan ke kira dan ke kanan, kepada orang banyak, yang mereka usir pergi.

Maka itu, orang banyak itu lantas saja mundur ke kedua pinggir jalan.

Menyausul rombongan hamba-hamba galak itu, terlihatlah enam orang menggotong sebuah joli besar yang indah.

"Ong-hui datang! Ong-hui datang!"

Pengikut-pengikutnya si siauw-ongya berseru berulang-ulang setelag mereka melihat joli itu. Siauw-ongya lantas mengerutkan keningnya.

"Rewel!"

Ia menggerutu.

"Siapakah telah pergi membawa berita kepada ong-hui!?"

Tidak ada berani ynag menjawab.

Segara juga joli telah sampai di lapangan pibu, semua pengikut maju untuk memberi hormat.

Dari dalam joli, yang tertutup rapat, lantas terdengar suaranya seorang wanita, suara yang halus.

"Kenapa berkelahi? Baju luar pun tidak dipakai! Nanti masuk angin!"

Bok Ek dapat mendengar tegas sekali suara itu, hatinya tercekat. Suara itu seperti mengaung di kupingnya, ia menjadi diam sambil berpikir keras.

"Kenapa suara ini sama suaranya orangku ini?"

Katanya di dalam hatinya. Tiba-tiba ia tertawa sendirinya. Ia berpikir pula.

"Orang ini adalah onghui dari negeri Kim, aku memikir kepada istriku, apakah aku sudah pikun? Sungguh gila untuk memikir yang tidak-tidak…"

Tidak dapat ia lantas melenyapkan pikirannya itu, maka ia bertindak, untuk mendekati joli indah itu.

Kebetulan itu waktu, dari dalam joli diulur keluar sebelah tangan yang putih dan halus, yang memegang sapu tangan putih, dengan apa mukanya si siauw-ongya disusuti, untuk singkirkan peluh dan debunya, sembari berbuat begitu, si wanita masih mengucapkan beberapa kata-kata, yang halus dan perlahan, hingga si penjual silat ini tak dapat mendengarnya dengan tegas.

Mungkin si saiuw-ongya ditegur dan dihiburi oleh onghui ini, onghui ialah selir seorang pangeran atau raja.

"Ibu, aku senang bermain-main,"

Terdengar suaranya pangeran muda itu.

"Tidak apa-apa…"

"Lekas pakai bajumu, mari kita pulang bersama!"

Kata si onghui kembali. Kembali si Bok Ek terperanjat.

"Benarkah di kolong langit ini ada dua orang yang suaranya sangat mirip satu dengan lainnya?"

Ia menanya dalam hatinya, yang terus berdebaran. Satu pengiring menjumput jubah sulam dari siauw-ongya, sembari berbuat begitu, ia pandang Kwee Ceng dengan bengis dan memdamprat.

"Binatang cilik! Lihat, kau telah bikin kotor jubah ini!"

Satu pengiring lain, yang tangannya mencekal cambuk, terus saja menghajar ke arah kepala si anak muda, atas mana, Kwee Ceng berkelit, sebelah tangannya diangkat, untuk menangkap lengan orang, berbareng dengan mana, satu kakinya menyapu.

Tidak ampun lagi, pengiring itu roboh terguling.

Tapi Kwee Ceng tidak berhenti sampai disitu, ia rampas cambuk orang itu, guna dipakai menyabet hingga tiga kali.

"Siapa suruh kau menganiaya rakyat jelata!"

Ia menegur.

Orang senang melihat kejadian itu.

Belasan serdadu maju, untuk menolongi kawannya itu, tetapi tempo mereka mulai menyerang Kwee Ceng, satu demi satu, mereka ditangkap si anak muda, lalu dilemparkan saling susul.

Siauw-ongya menjadi gusar.

"Kau masih berani main gila?!"

Tegurnya.

Ia terus lompat, untuk tolongi dua serdadu yang dilemparkan paling belakang, habis mana, ia tendang itu anka muda.

Kwee Ceng berkelit, lalu ia menyerang.

Dengan begitu, keduanya jadi bertempur lagi.

"Jangan! Jangan berkelahi!"

Onghui berseru mencegah. Terhadap ibunya, siauw-ongya itu agaknya tidak takut, malah ia seperti termanjakan. Ia berkelahi terus, sembari berkelahi, ia menyahuti.

"Tidak, ibu , tidak dapat tidak, ini hari aku mesti labrak dia ini!"

Setelah belasan jurus, siauw-ongya itu berkelahi dengan hebat sekali, rupanya ia hendak banggakan kegagahannya di depan ibunya.

Kwee Ceng lantas terdesak lagi, dua kali ia kena dibikin memegang tanah.

Selama itu, Bok Ek tidak pedulikan segala apa disekitarnya, sepasang matanya terus diarahkan kepada joli indah itu.

Maka tempo tenda tersingkap, ia dapat melihat satu wajah dengan sepasang mata jeli dan rambut yang bagus, sinar mata itu ayu sekali, mengawasi kedua anak muda yang lagi bertarung itu.

Mengawasi mata orang itu, Bok Ek berdiri menjublak bagaikan patung.

Kwee Ceng dirobohkan dua kali, dia bukan menyerah kalah, ia menjadi lebih kosen, maka kali ini, ia tidak dapat dirobohkan pula.

Ia bertubuh kuat, ia dapat melayani pukulan berulang-ulang kepada tubuhnya itu.

Ia pun menang ‘kang-lat’ atau tenaga latihan, ia menjadi ulet sekali.

Itu waktu, Oey Yong dan Thong Hay telah berlari-lari balik, sekarang di rambutnya Sam-tauw-kauw, Ular Naga Kepala Tiga itu, ada ditancapkan cauw-piauw atau tanda barang hendak dijual, dengan begitu berarti, Thong Hay hendak menjual kepalanya itu!

Ia hanya tidak tahu bahwa ia telah dipermainkan oleh Oey Yong, lawannya yang lincah dan licik itu.

Di belakang mereka tidak tertampak dua Siluman, mungkin mereka telah kena dirobohkan pemuda itu.

Nio Cu Ong bertiga menjadi heran, hingga mereka menduga-duga, Oey Yong itu sebenarnya orang macam apa.

Selagi bertempur, lengan Kwee Ceng kena dihajar satu kali, lalu ia membalas memukul paha siauw-ongya.

Mereka jadi semakin sengit berkelahinya.

Kwee Ceng berkelahi dengan ilmu silat Hun-kin Co-ku-hoat, untuk merabu otot dan tulang musuh, siauw-ongya sebaliknya dengan Kim-na-ciu, ilmu menangkap yang terdiri ari tujuh puluh dua jurus.

Maka itu, kedua-duanya saling terancam hilang jiwa atau terluka parah.

Karena ini Leng Tie Siangjin dan Nio Cu Ong lantas menyiapkan senjata rahasia mereka, untuk menolong apabila siauw-ongya benar-benar terancam jiwanya.

Mereka adalah orang-orang tua yang kosen, sungkan mereka mengepung Kwee Ceng, sebaliknya mereka merasa, kapan perlu, bisa mereka mencegah Kwee Ceng menurunkan tangan jahat terhadap si pangeran muda.

Makin lama Kwee Ceng makin gagah.

Inilah tidak heran sebab ia hidup di tanah gurun.

Sebaliknya siauw-ongya biasa hidup di istana, ia termanja, ia kalah ulet, maka ia lantas terdesak.

Satu kali Kwee Ceng menyambar ke muka siauw-ongya itu.

Siauw-ongya berkelit, terus ia membalas meninju.

Atas itu, Kwee Ceng mendahulukan, dengan tangan kanannya, ia membentur sikut kanan si pemuda agung, berbareng dengan itu, ia maju, tangan kirinya membangkol tangan lawan itu, lalu tangan kanannya diteruskan untuk memegang leher lawan.

Siauw-ongya terkejut, ia membalas membangkol dan memegang leher lawannya itu.

Maka keduanya menjadi berkutat, yang satu hendak mematahkan tangan, yang lain hendak mencekik.

Semua orang kaget, onghui sampai berparas pucat, separuh mukanya keluar dari tenda.

Putrinya Bok Ek, ynag tadinya numprah di tanah, berlompat bangun, parasnya pun pucat.

Disaat itu terdengar suara menggelepok.

Nyata muka Kwee Ceng kena digaplok, sebab siauw-ongya merubah siasat.

Keras pukulan itu, Kwee Ceng merasakan matanya berkunang-kunang dan kepalanya pusing.

Tapi ia masih sadar, sambil berseru, ia sambar bajunya siuaw-ongya, terus ia kerahkan tenaganya, ia angkat tubuh siauw-ongya, untuk dilemparkan.

Ia nyata telah menggunai ilmu silat bangsa Mongolia, yang ia peroleh dari Jebe.

Siauw-ongya dilemparkannya, tapi sebelum tubuhnya dilepas, ia sudah berdaya, dengan cepat ia ayun tubuhnya itu, Kedua tangannya menyambar tanah, dengan begitu, ia tidak terbanting.

Habis itu sama sebatnya, ia menyambar kedua kaki lawannya itu, ia menarik keras, maka Kwee Ceng kena ditarik roboh hingga saling tindih, hanya siauw-ongya berada disebelah atas.

Dia ini sebat, dia lompat, tangannya menyambar tombak di tangan seorang serdadu yang berada dekat dengannya, dengan tombak itu, segera ia menikam Kwee Ceng.

Dengan menggulingkan tubuh, Kwee Ceng menghindarkan diri, tapi ia didesak, ia dikam terus, lagi dua kali, terpaksa ia kembali bergulingan, hingga sukar untuk ia melompat bangun, terpaksa sambil bergulingan, ia layani tombak musuhnya itu.

Karena didesak tak hentinya, ia berguling hingga ke dekat tiang bendera Pibu Tiauw-cin.

Di sini ia gunai kesempatannya, ia sambar tiang itu, terus ia pakai menangkis, sesudah mana ia berlompat bangun, untuk melakukan penyerangan membalas.

Maka sekarang mereka bertempur dengan bersenjata, meskipun Kwee Ceng hanya bergenggaman tiang bendera.

Tiang bendera itu terlalu panjang, kurang tepat untuk Kwee Ceng, ynag bersilat denagn tipu Hang Mo Thung-hoat, pengajaran dari gurunya yang pertama, Hek Pian-hok Kwa Tin Ok si Kelelawar Hitam, akan tetapi, ia dapat mainkan itu dengan baik.

Siauw-ongya tidak kenal permainan silat lawannya itu, ia lantas saja kena didesak hingga ia mesti selalu membela diri.

Bok Ek tetap perhatikan ilmu silat tombak dari siauw-ongya, makin lama ia menjadi makin heran.

Itulah terang Yo Kee Ciang-hoat, yaitu ilmu tombak Keluarga Yo, ilmu mana diturunkan hanya kepada anak laki-laki, tidak kepada anak perempuan.

Yang menegrti ilmu itu, untuk bagian Selatan Tionggoan saja sudah jarang, maka heran kenapa di negara Kim ada yang dapat memainkannya itu?

Ia terus mengawasi, sampai akhirnya ia merasa sedih sendirinya, tidak dapat ia mencegah mengucurnya air matanya.

Nona Bok pun memperhatikan jalannya pertempuran, ia juga agaknya berpikir keras.

Diakhirnya terdengar teriakannya onghui.

"Berhenti! Berhenti! Jangan berkelahi lagi!"

Karena nyonya agung itu mendapatkan putranya telah bermandikan keringat.

Mendengar suaranya onghui, Peng Lian Houw bertindak ke dalam kalangan.

ia segera geraki tangan kirinya, untuk menyampok tiang bendera.

Atas itu, Kwee Ceng merasakan telapak tangannya sakit, tiang bendera lantas terlepas dari cekalannya, mental ke udara, hingga benderanya berkibar-kibar bagus.

Anak muda itu terkejut.

Seumurnya kecuali Bwee Tiauw Hong, belum pernah ia menemui tandingan selihay ini.

Belum sempat ia memandang orang, atau satu pukulan telah menjurus ke mukanya.

Ia berkelit dengan cepat, tetapi tidak urung, lengannya kena terhajar.

Tidak ampun lagi, ia terguling roboh.

Setelah merobohkan bocah itu, Pheng Lian Houw berpaling kepada si pangeran muda dan berkata sambil tertawa.

"Siauw-ongya, akan aku bereskan dia ini, supaya dia jangan mengganggu terlebih jauh…"

Sembari berkata, ia maju ke Kwee Ceng, ia ulur tangan kanannya ke arah kepala orang, justru si anak muda lagi merayap bangun.

Kwee Ceng kaget, lebih-lebih ia tahu, kedua tangannya sakit.

Untuk tolongi dirinya, ia memaksa menangkis juga.

Disaat anak muda ini terancam bahaya maut, sekonyong-konyong datang teriakan dari antara orang banyak.

"Perlahan!"

Lalu terlihat melesetnya satu bayangan abu-abu perak disusul serangan semacam senjata, yang terus saja melibat tangannya si orang she Pheng itu, hingga serangan itu batal.

Tetapi Lian Houw tidak diam saja, ia segera menarik pulang tanagnnya, begitu keras, hingga senjata yang melibatnya ia terputus.

Orang yang baru datang itu agaknya terperanjat, hingga ia tercengang, tetapi lekas juga ia sambar Kwee Ceng, yang pinggangnya ia peluk, setelah mana, ia lompat mundur.

Sekarang orang bisa lihat, dia adalah satu tojin atau imam usia pertengahan, jubahnya warna abu-abu, tangannya mencekal sebatang hudtim atau kebutan, hanya kebutan itu tinggal sepotong, sepotong yang lain masih melibat ditangannya Lian Houw.

Ia terus mengawasi pada Lian Houw, yang kemudian berkata.

"Tuan, adakah kau Pheng Cecu yang namanya sangat tersohor? Hari ini aku dapat bertemu denganmu, sungguh aku merasa sangat girang!"

"Tidak berani aku menerima yang namaku yang rendah dijunjung sedemikian tinggi olehmu,"

Sahut Lian Houw.

"Aku mohon ketahui gelaran suci dari totiang."

Semua orang lantas mengawasi kepada imam itu, yang romannya toapan, yang kumis dan janggutnya terbelah tiga.

Kaos kakinya yang putih serta sepatunya yang abu-abu bersih sekali.

Ia tidak menjawab, hanya Ia ulur kakinya, untuk dimajukan satu tindak, lalu ia menarik pulang, tetapi karena injakan atau tindakannya itu, di tanah lalu tertapak dalam.

Sedang di tanah utara ini, tanah kering dan keras.

Melihat tapak sepatu itu, Peng Lian Houw terperanjat.

"Jadinya totiang adalah Thie Kak Sian Giok Yang Cu Ong Cinjin?"

Ia menanya. Imam itu menjura.

"Teecu terlalu memuji kepadaku,"

Ia menyahut.

"Memang benar, pinto adalah Ong Cie It. Tidak berani pinto menerima itu sebutan cinjin."

Peng Lian Houw, begitu juga Som Sian Lao Koay, Nio Cu Ong dan Leng Tie Siangjin mengawasi imam itu, yang mereka tahu namanya tidak kalah daripada Tiang Cun Cu Khu Cie Kee.

Sudah lama mereka ketahui hal imam ini, baru sekarang mereka menemui sendiri orangnya.

Mereka dapatkan orang sungguh alim dan agung.

Coba tadi mereka tidak telah menyaksikan gerakan yang gesit dan melihat itu tapak kaki, tidak nanti mereka mau percaya dia adalah Thie Kak Sian Giok Yang Cu si Dewa Kaki Besi yang pernah menakluki jago-jago di Utara.

Ong Cie It tersenyum, terus ia menunjuk pada Kwee Ceng dan berkata.

"Pinto tidak kenal anak ini, hanya karena kemuliaan hatinya dan kegagahannya berusan, hatiku menjadi sangat tertarik, maka itu dengan besarkan nyali, pinto mohon Pheng Ceecu memberi ampun kepada jiwanya."

Melihat sikap orang yang demikian hormat, sedang orang pun dari Coan Cin Kauw, Peng Lian Houw suka berbuat baik, maka itu sambil membalas hormat, ia memberikan persetujuannya.

Ong Cie It menjura pula seraya menghanturkan terima kasih, ketika ia memutar tubuh, ia menghadapi si siauw-ongya dengan wajahnya keren sekali.

"Siapakah namamu?"

Ia menanya bengis.

"Siapakah gurumu?!"

Siauw-ongya itu telah merasa kurang enak hati. Sebenarnya ia sudah memikir untuk berlalu, tetapi ia terlambat. Ia berdiri diam dan menyahuti.

"Namaku Wanyen Kang. Nama guruku tidak dapat aku beritahukan padamu."

"Bukankah gurumu ada tanda tahi lalat merah pada pipinya yang kiri? Ong Cit It tanya pula. Wanyen Kang tertawa hihi-hihi, hendak ia menjawab secara jenaka, atau mendadak matanya si imam bersinar tajam bagaikan kilat, maka hatinya terkesiap, batal ia untuk main gila. Ia lantas mengangguk.

"Memang telah aku duga, kau adalah muridnya Khu Suhengku itu,"

Berkata Ong Cinjin.

"Hm, bagus benar perbuatanmu ya? Pada mula kali gurumu hendak mengajarkan silat padamu, apakah ia telah bilang padamu? Apakah pesannya?"

Wanyen Kang perlihatkan roman cemas. Ia dapat lihat suasana buruk.

"Anak, lekas pulang!"

Demikain terdengar suara ibunya dari dalam joli.

Anak ini dapat dengar panggilan itu, justru berbareng dengan itu, ia mendapat satu pikiran.

Ia insyaf, kalau gurunya ketahui perbuatannya, inilah hebat.

Maka itu, lekas ia ubah sikapnya.

Dengan sabar, ia berkata.

"Totiang kenal guruku itu, terang totiang adalah satu cianpwee, oleh karena itu boanpwe mohon sukalah totiang datang ke rumahku, untuk boanpwe anti mendengar segala pengajaranmu."

Dengan lantas siauw-ongya ini membahasakan diri "boanpwe" , orang dari tingkat lebih rendah, karena ia tahu ia lagi berhadapan dengan satu cianpwee, orang yang tingkat derajatnya terlebih tua.

"Hm!"

Ong Cie It perdengarkan suaranya. Wanyen Kang benar-benar cerdik, tanpa tunggu orang buka mulut lagi, ia sudah lantas menjura kepada Kwee Ceng, sembari tersenyum, ia berkata.

"Saudara Kwee, kalau kita tidak bertempur, pasti kita tidak kenal satu sama lain. Ilmu silat kau saudara, aku sangat mengaguminya. Maka itu, aku pun minta suka kau bersama totiang berkunjung ke rumahku. Sukalah kau kalau kita mengikat persahabatan?"

Kwee Ceng tidak menjawab, ia hanya menunjuk kepada Bok Ek dan gadisnya serta bertanya.

"Bagaimana urusan jodohmu dengan nona itu?"

Wanyen Kang menjadi likat.

"Hal itu kita perlahan-lahan saja kita bicarakan pula,"

Katanya. Mendengar itu, Bok Ek tarik tangannya Kwee Ceng.

"Engko Kwee kecil, mari kita pulang!"

Berkata ia.

"Buat apa kau layani pula manusia hina dina ini?"

Wanyen Kang dengar suara orang menghina itu, ia tidak menjadi gusar, ia hanya menjura pula kepada Ong Cie It seraya berkata.

"Totiang, bownpwe menantikan segala kehormatan atas kedatangan totiang ke rumahku. Totiang tanyakan saja istananya Chao Wang."

Habis berkata begitu, ia sambar les dari seekor kuda pilihan yang satu pengiringnya bawa kepadanya, terus ia lompat naik ke atas kuda itu, yang pun ia kasih lari ke antara orang banyak, hingga mereka itu berlari-lari untuk menyingkir dari bahaya kena diterjang kuda.

Ong Cie It mendongkol untuk sikap keagung-agungan itu.

Tapinya ia berkata kepada Kwee ceng.

"Engko kecil, kau turut aku,"

"Aku hendak menantikan dulu sahabatku…"

Kwee ceng menjawab. Belum berhenti suaranya bocah ini, Oey Yong muncul dari antara orang banyak, lantas saja ia berkata sambil tertawa.

"Aku tidak kenapa-kenapa! Sebentar aku pergi mencari padamu…!"

Baru ia mengucap, kemudian ia menyelinap di antara orang banyak itu.

Ia memang bertubuh kecil dan lincah.

Di lain pihak, lantas terlihat Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay lari mendatangi.

Melihat si Ular Naga Kepala Tiga ini, Kwee Ceng tertawa di dalam hati.

Tapi ia pun cerdik, ia lantas menjatuhkan diri di depan Ong Cinjin.

"Totiang, banyak-banyak terima kasih,"

Ia berkata.

Ong Cie It tidak bilang suatu apa, ia cekal tangan si bocah, untuk diajak pergi, hingga dilain saat mereka sudah tinggalkan orang banyak itu dan tengah menuju keluar kota.

Cepat tindakannya si imam, sebentar saja mereka sudah berada diluar kota.

Selang lagi beberapa lie, tibalah mereka di belakang sebuah puncak buklit.

Di sini si imam berjalan semakin cepat.

Memang ia hendak menguji enteng tubuhnya si bocah.

Sampai sebegitu jauh, Kwee Ceng dapat mengikuti denagn baik kepada si imam itu.

Ia sudah belajar lari keras, tubuhnya enteng, dan dibawah pimpinan Tan Yang Cu Ma Giok, ia dapat manjat puncak, maka itu, ia bisa berlari-lari tanpa napasnya memburu atau hatinya berdenyutan.

Ong Cie It cekala tangan orang, ia lari terus-terusan, tiba-tiba ia melepaskannya.

Ia terperanjat dan mengawasi bocah itu.

"Dasarmu tidak jelek!"

Ia berkata dalam herannya itu.

"Kenapa kau tidak dapat mengalahkan dia itu?"

Kwee Ceng tidak tahu bagaimana harus menjawab, ia cuma tertawa saja.

"Siapakah gurumu?"

Ong Cinjin menanya lagi.

Kwee Cneg tahu di antara adik seperguruan dari ma Giok ada yang bernama Ong Cie It, ialah ini imam, dari itu, tidak mau ia mendusta.

Ia menyebutkan Kanglam Cit Koay dan Ma Giok.

Mendengar itu Ong Cie It menjadi girang sekali.

"Toasuko telah ajarkan kau ilmu silat, bagus!"

Katanya.

"Sekarang aku tidak usah mengkhawatirkan apa-apa lagi!"

Kwee Ceng heran, ia mengawasi imam itu.

"Orang dengan siapa tadi kau bertempur, yang dipanggil setahu apa siauw-ongya Wanyen Kang itu adalah muridnya suhengku Tiang Cun Cu, kau tahu atau tidak? bertanya si imam. Bocah itu tercengang.

"Apa?"

Dia menanya.

"Aku tidak tahu…"

Ma Giok mengajarkan Kwee Ceng tanpa penjelasan, bocah ini menjadi tidak tahu tentang ilmu silat kaum Coan Cin Kauw, sekarang setelah mendengar pertanyaannya Ong Cie It, ia menjadi ingat kepada pertempurannya sama In Cie Peng hingga ia ingat juga, ilmu silat Wanyen Kang sama dengan ilmu silatnya In Cie Peng itu.

Ia lantas menunduki kepala.

"Teecu tidak tahu siauw-ongya itu adalah muridnya Khu Totiang, teecu telah berlaku kurang ajar, teecu mohon totiang suka memberi maaf,"

Ia memohon. Ong Cie It tertawa bergelak.

"Hatimu mulia, aku suka sekali! Mustahil aku nanti persalahkan kau!"

Ia berkata. Kemudian ia meneruskan dengan sikapnya sungguh-sungguh .

"Kami kaum Coan Cin Kauw ada punya aturan yang keras, kalau ada murid yang bersalah, dia dapat dihukum berat, tetapi tidak nanti dilindungi atau dieloni. Siauw-ongya itu sombong dan ceriwis, nanti aku suka minta toasuko menghukum padanya!"

"Asal ia suka menikah dengan nona Bok, baiklah totiang memberi ampun padanya,"

Berkata Kwee Ceng, yang tidak mendendam, hatinya masih ingin merekoki jodohnya nona Bok.

Ong Cie It menggeleng kepala, ia tidak bilang suatu apa, di dalam hatinya tapinya ia suka bocah ini yang jujur dan hatinya pemurah.

kemudian setelah berpikir, ia berkata-kata seorang diri.

"Toasuko biasanya benci kejahatan sebagai musuh besarnya, dia lebih-lebih membenci bangsa Kim, maka itu kenapa dia bolehnya mengajari silat kepada satu pangeran Kim? Sungguh membikin pusing kepala…"

Terus ia mengawasi Kwee Ceng dan berkata pula.

"Khu Toasuko telah menjanjikan aku bertemu di Yan-khia, dalam beberapa hari ini tentulah ia bakal tiba, maka setelah bertemu dengannya, aku akan menanya jelas segala apa. Toasuka telah menerima satu murid she Yo, dia kata hendak ajak muridnya itu pergi ke Kee-hin untuk dicoba pibu denganmu. Entah bagaimana kepandaiannya murdi she Yo itu, nanti kau jangan khawatir. Di sini ada aku, tidak nanti aku bikin kau memdapat susah…."

Kwee Ceng telah terima titah gurunya untuk sebelum tanggal duapuluh empat bulan tiga sampai di Kee-hin, Ciat-kang untuk apa ia dimestikan pergi ke Kee.hin itu, gurunya tidak memberikan keterangan apa-apa, maka itu ia heran atas kata-katanya imam ini.

"Totiang, pibu apakah itu?"

Ia bertanya. Ong Cie It dapat menduga, ia menghela napas.

"Gurumu belum membilang suatu apa kepadamu, tak baik aku mewakilkan mereka memberi keterangan,"

Ia menjawab.

Ong Cie It ketahui maksudnya Kanglam Cit Koay.

Dia telah mendengar lelakonnya kedua keluarga Yo dan Kwee itu, bahwa dalam pibu, Kanglam Cit Koay pasti menghendaki kemenangan, maka itu tidak heran Tujuh Manusia Aneh dari Kanglam itu tidak mau menjelaskan sesuatu kepada Kwee Ceng, maksudnya pasti untuk mencegah Kwee Ceng menjadi bersusah hati hingga pernyakinan ilmu silatnya menjadi terganggu.

Atau mungkin disebabkan musuh adalah turunan sahabat ayahnya, Kwee Ceng itu nanti berkelahi tidak dengan sungguh-sungguh dan karenanya menjadi tidak memperoleh kemenangan.

Kwee Ceng juga tidak berani menanya apa-apa lagi, dia cuma manggut-manggut.

"Sekarang masri kita lihat itu orang she Bok dan gadisnya,"

Berkata Ong Cie It kemudian.

"Nonan itu bertabiat keras, aku khawatir dia nanti menerbitkan bencana jiwa…"

Kwee Ceng terkejut.

ia menjadi ingat kepada nona itu.

Maka keduanya lantas berjalan dengan cepat ke kota barat, terus ke rumah penginapan Kho Seng di jalan besar utama.

Baharu mereka sampai di depan pintu, dari dalam hotel sudah muncul beberapa pengiring dengan pakaian seragam bersulamnya, semua lantas memberi hormat kepada Ong Cinjin seraya berkata.

"Kami diperintahkan siauw-ongya mengundang totiang serta Tuan Kwee menghadiri pesat di gedung kami."

Mereka lantas menyerahkan sehelai kartu nama di atas mana ada tertera.

"Hormat dari teecu Wanyen Kang."

"Sebentar kita datang,"

Berkata Ong Cie It.

"Dan ini kue-kue dan bebuahan, siauw-ongya minta totiang dan Tuan Kwee sudi menerimanya,"

Berkata pula si pengiring.

"Dimana totiang dan Tuan Kwee tinggal? Nanti kami pergi mengantarkan ke sana."

Beberapa pengiring lainnya lantas maju untuk mengsih lihat barang antaran mereka, yang terdiri dari duabelas, isinya semua adalah makanan dan bebuahan yang istimewa.

"Oey Yong suka dahar makanan semacam ini, baik aku tinggalkan untuk dia,"

Kwee Ceng berpikir.

Ia polos, ia bersedia menerima antaran itu.

Ong Cie It tak berkesan baik terhadap Wanyen Kang, hendak ia menampik, akan tetapi kapan ia melihat sikap Kwee Ceng, ia lantas terima itu.

Ia tersenyum, di dalam hatinya ia berkata.

"Dasar bocah! Dia tidak harus dipersalahkan."

Bab 18.

Mengadu Kepandaian Habis menerima antaran itu, Ong Cie It menanyakan keterangan kamarnya Bok Ek, lalu ia terus masuk ke dalam kamar orang, hingga ia dapatkan orang she Bok itu sedang rebah dengan muka pucat dan di tepi pembaringan, gadisnya duduk smabil menangis.

Kapan mereka lihat tetamu, si nona berbangkit berdiri, Bok Ek sendiri berbangkit untuk berduduk di atas pembaringan.

Ong Cinjin periksa lukanya Bok Ek, yang setiap belakang telapakan tangannya bertanda lima lobang jari tangan, hingga nampak tulang-tulangnya dan kedua lengannya bengkak besar.

Luka itu telah ditorehkan obat, tetapi mungkin dikhawatir menjadi nowa, sudah tidak dibalut.

"Aneh,"

Pikir Ong Cie It.

"Ilmu silat Wanyen Kang terang adalah ajarannya toasuko, maka darimana dia dapatkan ilmu pukulan jahat ini? Pada ini mesti ada rahasianya…?"

Lantas ia pandang si nona dan menanya.

"Nona, siapakah namamu?"

Nona itu menunduki kepalanya.

"Namaku Bok Liam Cu,"

Ia menyahut perlahan.

"Luka ayahmu ini tak enteng, dia perlu dirawat baik-baik,"

Kata Cie It, yang terus merogoh sakunya, untuk mengeluarkan uang perak dua potong, yang mana ia letaki di atas meja, seraya menambahkan.

"Besok aku akan datang untuk menjenguk pula padamu."

Lalu menanti jawaban si nona, ia tarik tangan Kwee Ceng buat meninggalkan hotel itu.

Di luar hotel, mereka dipapaki empat pengiring, setelah mereka itu memberi hormat, yang satunya memberitahukan bahwa siauw-ongya mereka lagi menentikan di gedung dan imam serta bocah itu diundang ke sana.

Ong Cie It mengangguk.

"Totiang, kau tunggu sebentar,"

Berkata Kwee Ceng, yang terus lari masuk pula ke dalam hotel, ke dalam kamar di mana ada bingkisan kue dan buah dari Wanyen Kang.

Ia pilih empat rupa kue, ia bungkus itu dengan sapu tangan, sesudah masuki itu ke dalam sakunya, ia lari pula ke luar, untuk bersama si imam pergi mengikuti keempat pengiring itu pergi ke onghu, gedungnya Wanyen Kang.

Tiba di muka gedung, atau lebih tepat istana, Kwee Ceng paling dulu lihat dua lembar bendera berkibar di tiang yang tinggi, di kiri dan di kanan pintu ada nongkrong masing-masing seekor cio-say, atau singa batu, yang rimannya bengis.

Undakan tangga dari batu putih semua, batu mana dipasang terus sampai di thia depan.

Di pintu besar ada dituliskan tiga huruf besar air emas, bunyinya.

"Chao Wang Hu"

Atau istana pangeran Chao Wang. Kwee Ceng tahu, Chao Wang itu adalah Wanyen Lieh, putra keenam dari raja Kim. Maka itu tanpa merasa, hatinya tercekat.

"Mungkinkah si pangeran muda itu adalah putranya Wanyen Lieh?"

Ia kata di dalam hatinya.

"Wanyen Lieh mengenali aku, kalau di sini aku bertemu dengannya, inilah cade…."

Selagi si bocah terbenam dalam keragu-raguan, lantas ia dengar ramainya suara tetabuhan, yang rupanya diperdengarkan untuk menyambut ia dan Ong Cie It, menyusul mana ia tampak si siauw-ongya keluar menyambut, pakaiannya jubah merah dengan gioktay atau ikat pinggang kumala, sedang kepalanya ditutupi kopiah emas.

Melihat dandanan pangeran itu, Ong Cie It mengkerutkan keningnya.

ia diam saja, ia turut dipimpin ke dalam thia, dimana ia lantas dipersilakan duduk di kursi atas.

"Totiang bersama saudara Kwee sudi datang kemari, sungguh aku merasa sangat beruntung!"

Berkata tuan rumah yang muda ini. Ong Cie It tidak puas, bahkan ia mendongkol. Pangeran itu tidak berlutut didepannya dan tidak juga memanggil susiok atau paman guru kepadanya.

"Sudah berapa lama kau ikuti gurumu belajar silat?"

Ia tanya.

"Mana boanpwe mengerti ilmu silat?"

Sahut Wanyen Kang sambil tertawa.

"Aku ikuti suhu buat dua tahun lamanya, selama itu aku main-main kucing kaki tiga hingga aku membikinnya totiang dan saudara Kwee menertawai aku."

"Hm!"

Ong Cie It kasih dengar suaranya.

"Walaupun ilmu silat Coan Cin kauw tidak tinggi tetapi ilmu itu bukannya ilmu kucing kaki tiga! Gurumu bakal tiba di sini, kau tahu tidak?"

"Guruku ada di sini, apakah totiang ingin bertemu dengannya?"

Wanyen Kang balas menanya. Ong Cie It menjadi heran sekali.

"Ada di mana ia sekarang?"

Ia tanya. Wanyen Kang menepuk tangan dua kali.

"Siapakan meja santapan!"

Ia memberi perintah kepada pengiringnya.

Pengiring itu berlalu untuk menyampaikan titah lebih jauh.

Wanyen Kang sudah lantas ajak kedua tetamunya pergi ke hoa-thia, untuk mana mereka melintasi sebuah lorong, mengitari lauwteng yang indah, hingga mereka mesti jalan sekian lama.

Selama itu, Kwee Ceng dapak menyaksikan keindahannya istana, sampai ia merasakan matanya berkunang-kunang.

Hatinya pun tidak tentram, tidak tahu ia mesti bersikap bagaimana andaikata ia bertemu dengan Wanyen Lieh.

Setibanya di hoa-thia, di sana sudah menantikan enam-tujuh orang, yang tubuhnya jangkung dan kate tidak rata, di antara siapa yang kepalanya benjut tiga, yaitu Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay.

Dia itu mengawasi anak muda kita ini dengan sorot mata bengis!

Biar bagaimana, Kwee Ceng terkejut juga hingga ia pernahkan dirinya dekat sekali dengan si imam.

Wanyen Kang bergirang ketika ia kata pada Ong Cie It.

"Totiang, beberapa tuan ini sudah lama mengagumi kau dan semuanya merasa sangat ingin bertemu denganmu!"

Ia lantas menunjuk Peng Lian Houw dan kata.

"Inilah Pheng Cecu, kedua pihak sudah saling mengenal."

Kedua orang itu saling memberi hormat.

"Dan ini adalah Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong, locianpwe dari Tiang Pek San,"

Wanyen Kang memperkenalkan pula orang yang rambutnya putih tapi mukanya segar sebagai muka seorang bocah. Ong Cie It heran hingga ia berpikir.

"Kenapa Siluman Tua ada disini juga?"

Io Cu Ong sudah lantas memberi hormat dan berkata.

"Di sini lohu dapat bertemu sama Thie Kak Sian Ong Cinjin, maka tidaklah kecewa yang lohu sudah datang ke Tionggoan ini."

Dan lantas ia perkenalkan paderi di sampingnya, katanya.

"Ini adalah Leng Tie Siangjin, ahli Tay-ciu-in dari partai Bit Cong dari Tibet. Kami berdua, satu dari timur utara, satu lagi dari barat selatan, dari empat ribu lie, maka pertemuan ini benar-benar satu jodoh!"

Ong Cie It memberi hormat kepada paderi dari Tibet itu dengan menjura dan si paderi membalasnya seraya menakopi kedua tangannya. Justru itu seorang yang suaranya serak terdengar berkata nyaring.

"Kiranya Kanglam Cit Koay didukung dari belakang oleh Coan Cin Pay, maka juga mereka menjadi begini malang melintang."

Ong Cie It awasi orang yang pentang bacot itu, kepala siapa lanang, tidak ada selembar rambutnya, matanya merah, biji matanya menonjol keluar.

Dengan melihat roman orang saja, ia sudah lantas mengenalinya.

"Bukankah tuan adalah Kwie-bun Liong Ong See Locianpwee?"

Ia bertanya.

"Benar!"

Sahut orang itu, suaranya menandakan kemarahannya.

"Kiranya kau masih kenal aku!"

Cie It heran, hingga kata dalam hati kecilnya.

"Kita ada bagaikan air kali dan air sungai yang tidak saling menerjang, kapan dan di dalam hal apa aku pernah berbuat salah terhadapnya?"

Ia menunjuki sikap sabar, ia kata.

"Nama besar dari See Locianpwee memang telah lama aku pangeni."

Orang she See ini tidak ambil mumat sikap orang yang halus itu, ia tengah diliputi kemarahan besar.

Memangnya dia bertabiat keras.

Dia bernama Thong Thian dan gelarannya, Kwie-bun Liong Ong ialah Raja Naga dari Pintu Iblis.

Dia banyak lebih lihay daripada Hauw Thong Hay, adik seperguruannya.

Sebab tabiatnya itu, di waktu mengajari silat, ia tetap berangasan dan galak.

Inilah sebabnya kenapa murid-muridnya tidak dapat wariskan tiga bagian saja dari sepuluh ilmu kepandaiannya, tidak heran kalau Hong Ho Su Koay gagal mengepung Kwee Ceng.

Thong Thian gusar bukan main waktu ia dengar kekalahan empat muridnya itu, ia hajar mereka, dia mendamprat habis-habisan.

Sesudah itu ia kirim Hauw Thong Hay untuk menuntu balas, supaya Kwee Ceng dibekuk.

Celakanya Thong Hay telah kena dipermainkan oleh Oey Yong, hingga adik seperguruan ini juga gagal.

Karena ini, tak terkira gusarnya Thong Thian, maka juga, sekalipun di depan orang banyak, tak dapat ia mengatasi diri, tak peduli ia bahwa perbuatannya melanggar adat sopan santun.

Demikian ia ulur sebelah tangannya, akan jambak Kwee Ceng.

Bocah itu mundur, sedang Ong Cie It segera maju, untuk menghalang di depannya.

"Bagus! benar-benar kau melindungi binatang cilik ini!"

Ia berseru, tangannya terus menyambar si imam.

Melihat orang demikian galak, Ong Cie It tidak dapat mundur, maka ia pun angkat tangannya, untuk menangkis.

Disaat kedua tangan hampir bentrok, dari samping mereka tiba-tiba muncul satu orang, tangan kirinya menyambar lengan See Thong Thian, tangan kanannya menyambar lengan Ong Cinjin, terus ia mengibas keluar, maka dengan berbareng, dua orang itu dapat dipisahkan, diundurkan satu dari yang lain.

Dua-dua See Thong Thian dan Ong Cie It terperanjat.

Mereka bukan sembarang orang, maka mereka heran ada seorang yang dapat pisahkan mereka secara demikian gampang.

Tanpa merasa keduanya lantas mengawasi si pemisah itu, ialah seoarng dengan jubah putih, sikapnya tenang sekali, umurnya ditaksir tigapuluh lima atau tipuluh enam tahun, alisnya panjang hingga ujungnya mengenai rambut di pelipisnya, romannya tampan, hingga ia mirip dengan satu sastrawan, siucay.

Dandanannya, seumumnya, seperti dandanan seorang bangsawan.

Segera juga Wanyen Kang menghampirkan, sembari tertawa ia berkata.

"Tuan ini adalah Auwyang Kongcu, sancu dari Pek To San dari pegunungan Kun Lun San di Tibet. Dia belum pernah datang ke Tionggoan, maka itu ini adalah pertama kalinya ia bertemu sama tuan-tuan!"

Bukan melainkan Ong Cie It dan Kwee Ceng yang belum pernah melihat sancu-pemilik bukit – dari Pek To San itu, juga Nio Cu Ong dan Peng Lian Houw serta lainnya hadiran di situ.

Dan semua mereka kagum akan caranya sancu ini datang menengah.

Mereka belum pernah mendengar nama Pek To San – Bukit Unta Putih itu.

Auwyang Kongcu ini sudah lantas rankap kedua tangannya, terus ia berkata.

"Sebenarnya aku telah mesti siang-siang tiba di kota Yankhia ini, sayang di tengah jalan aku mendapatkan satu urusan penting dan karenanya menjadi terlambat beberapa hari. Untuk itu aku mohon tuan-tuan suka memaafkannya."

Kwee Ceng tidak kenal sancu ini, tetapi mendengar nama bukit Pek To San itu, ia lantas ingat kepada si nonan-nona serba putih yang di tengah jalan sudah mencoba merampas kudanya.

Ia menjadi menduga-duga.

"Mungkinkah enam guruku sudah bertempur dengan dia ini?"

Ong Cie It pandai berpikir, ia tidak hunjuk kemurkaan. Ia mengerti, semua hadirin di situ itu ada bangsa lihay, percuma kalau ia melayani mereka itu. Maka ia lantas pandang tuan rumah.

"Mana gurumu?"

Ia tanya.

"Kenapa tidak kau minta ia keluar?"

"Ya,"

Sahut Wanyen Kang denagn sederhana. Lantas ia berpaling kepada pengiringnya dan memrintah dengan singkat.

"Undang suhu!"

Pengiring itu sudah lantas mengundurkan diri. Cie It merasakan hatinya lega. Ia telah berpikir.

"Dengan adanya Khu Suheng disini, musuh boleh tambah lagi, masih dapat kami membela diri…"

Tidak lama lantas terdengar tindakan sepatu, lalu di depan pintu thia terlihat seseorang bertubuh gemuk yang mengenakan seragam baju sulam, suatu tanda ia adalah seorang opsir.

Dia berjanggut lebat, usianya empat puluh lebih, romannya sangat keren.

"Suhu!"

Wanyen Kang lantas memanggil.

"Totiang ini hendak bertemu sama suhu, malah ia sudah menanyakan beberapa kali…"

Melihat orang itu dan mendengar perkataan si pangeran, hatinya Ong Cie It menjadi panas sekali. Ia telah berpikir.

"Bocah binatang ini, kau permainkan aku..!"

Tapi ia mencoba untuk mengendalikan diri.

"Untuk urusan apakah kau hendak bertemu sama aku, imam?"

Si opsir menanya, sikapnya jumawa.

"Adalah sudah biasa bagi aku, aku paling tidak senang terhadap segala paderi, imam atau paderi perempuan!"

Dengan paksakan diri, Ong Cinjin tertawa.

"Tayjin hendak memohon derma,"

Ia berkata.

"Ingin aku minta buat banyaknya seribu tail perak!"

Heran opsir itu atas permintaan derma tersebut.

Ia bernama Thung Couw Tek, kepala barisan pengiring dari Wanyen Lieh di masa Wanyen Kang masih muda sekali, pernah ia ajarkan ilmu silat kepada pangeran itu, karenanya ia dipanggil guru.

Yang lain-lain pun turut memanggil guru padanya.

"Itulah selayaknya,"

Berkata Wanyen Kang, yang mendahului gurunya itu. Ia lantas kata pada pengiringnya.

"Lekas kau siapkan uang itu, sebentar kau antarkan ke hotelnya totiang."

Thung Couw Tek celangap, ia mengawasi imam itu, dari kepala ke kaki, dari kaki ke kepala. Tidak dapat ia menduga, imam ini orang macam apa.

"Tuan-tuan, silakan duduk!"

Wanyen Kang mengundang.

"Totiang baharu pertama ini tiba disini, silakan duduk di kursi kepala."

Ong Cie It merendahkan diri tetapi ia didesak terus, akhirnya ia duduk juga di kursi pertama itu. Setelah tiga edaran arak, ia berkata.

"Sekarang ini telah hadir banyak cianpwee kaum Rimba Persilatan, maka bolehlah kita bicara dari hal keadilan. Tentang si orang she Bok yah dan anak itu, bagaimana urusannya itu harus diatur?"

Mendengar pertanyaan itu, semua mata diarahkan kepada Wanyen Kang. Pangeran itu mengisikan sebuah cangkir, ia berbangkit untuk bawa itu kepada Ong Cie It seraya terus berkata.

"Silahkan totiang keringkan dahulu cawan ini. Tentang itu, bagaimana juga hendak diaturnya, boanpwe selalu bersedia untuk menuruti."

Cie It heran hingga ia tercengang. ia tidak sangka pangeran ini dapat bersikap demikian. Ia lantas hirup arak itu. Ia berkata kemudian.

"Bagus! Sekarang baik si orang she Bok itu diundang kemari, untuk kita membicarakan urusannya."

"Bagus begitu,"

Menyahut Wanyen Kang.

"Aku minta saudara Kwee saja yang pergi mengundang tuan Bok itu."

Ong Cie It menagngguk dan Kwee Ceng segera berbangkit, untuk pergi ke hotel dimana Bok Ek dan gadisnya menumpang.

Tiba di sana, ia menjadi heran.

Ayah dan anak dara itu tidak ada di kamarnya, barang-barangnya pun telah dibawa pergi.

Ketika jongos ditanya, jawabannya adalah Bok Ek dan gadisnya itu ada yang undang sudah pergi entah ke mana, uang sewa kamar pun sudah dibayar lunas.

Kwee Ceng heran.

Ia tanya jongos, siapa itu yang mengundang.

Jongos itu tidak dapat memberikan keterangan.

Maka terpaksa pemuda ini pulang ke onghu dengan tangan hampa.

Sambil tertawa, Wanyen Kang sambut tetamunya.

"Banyak cape, tuan Kwee!"

Katanya.

"Mana tuan Bok itu?"

"Ia telah pergi, entah kemana,"

Sahut Kwee Ceng, yang treus tuturkan kepergiannya Bok Ek serta anaknya itu.

"Oh, aku menyesal…"

Berkata Wanyen Kang cepat. Terus ia menoleh pada pengiringnya, untuk memerintah.

"Kau lekas ajak orang pergi mencari tuan Bok dan putrinya itu, dia mesti dapat diundang datang kemari!"

Pengiring itu menyahuti, terus ia undurkan diri. Ong Cie It menjadi membungkam, tetapi ia bercuriga. Akhirnya, ia berkata.

"Tidak peduli orang bermain sandiwara apa, urusan toh akan ketahuan akhirnya!"

"Totiang benar,"

Berkata Wanyen Kang sembari tertawa.

Sementara itu Thung Couw Tek heran dan mendongkol.

Tidak karu-karuan cukongnya kehilangan uang seribu tail perak.

ia penasaran sekali, selagi si pangeran berlaku manis, si imam bersikap seperti tidak tahu aturan.

Akhirnya ia menegur.

"Eh, tosu, kau asal kuil mana? Kenapa kau datang kemari untuk main gila?!"

Ong Cie It tidak menyahuti, ia hanya balik bertanya.

"Jenderal, kau ada asal negara mana? Kau mengandal apa maka kau datang kemari dan menjadi pembesar negeri?"

Couw Tek gusar sekali.

Bukankha ia orang Han yang bekerja pada bangsa Kim?

Kenapa ia mesti ditanya lagi kalau bukan orang hendak menghina padanya?

Ia justru paling tidak senang orang menyebut-nyebut kebangsaannya.

Ia memang tidak puas dengan kedudukannya.

Ia anggap dirinya gagah, ia sudah bekerja mati-matian untuk negara Kim, tetapi pemerintah Kim tidak pernah mengijinkan ia memimpin pasukan tentara sendiri.

Sudah duapuluh tahun ia bekerja, pangkatnya bukan kecil tetapi ia tetap ditempatkan di onghu.

Maka juga perkataannya Ong Cie It membikin ia merasa tersinggung.

Lantas ia lompat bangun, walaupun di depannya ada Nio Cu Ong dan Auwyang Kongcu, ia ulur tangannya meninju mukanya Ong Cinjin!

Cie It tertawa.

"Kau tidak hendak memberitahu pun tidak apa, ciangkun,"

Ia berkata.

"Maka perlu apa kau bergusar dan menggunakan kekerasan?"

Ia angkat sumpitnya untuk menjempit kepalan orang. Kepalan Couw Tek kena tertahan, tak dapat ia meneruskan meninju.

"Imam siluman, kau menggunai ilmumu!"

Ia membentak, kaget dan gusar menjadi satu. Dia terus menarik pulang tangannya itu, tetapi dia tidak berhasil. Maka mukanya menjadi merah, dia jengah sekali.

"Jangan gusar, ciangkun,"

Berkata Nio Cu Ong, yang berada di sampingnya.

"Baiklah ciangkun duduk dan keringkan arakmu!"

Ia ulur tangannya, akan tekan pundak si jenderal.

Thie Kak Sian Giok Yang Cu tahu, sumpitnya dapat mempengaruhi Couw Tek tetapi tidak si orang she Nio ini, maka selagi orang menekan pundak si jenderal itu, cepat luar biasa, ia melepaskan jepitannya, sumpitnya itu terus ia pakai menyambar sepotong paha ayam, yang segera dibawa masuk ke dalam mulutnya orang she Thung itu, untuk disuapi dengan paksa!

Couw Tel menjadi gelagapan, selagi mulutnya tersumpel, tubuhnya jatuh terduduk di kursinya akibat tekanannya Nio Cu Ong.

Ia malu bukan main, ia sangat mendongkol, maka ketika ia berbangkit pula, terus ia lari ke dalam.

Menyaksikan kejadian itu, semua hadirin tertawa.

"Coan Cin Pay berpengaruh di Selatan dan Utara, sungguh namanya bukan kosong belaka!"

Berkata See Thong Thian.

"Aku hendak memohon sesuatu kepada totiang, sudikah totiang meluluskannya?"

"Tidak berani aku menerima pujianmu, See Locianpwe,"

Berkata Giok Yang Cu.

"Silakan locianpwe mengatakannya."

"Pihak kami tidak ada sangkutannya sama Coan Cin Pay,"

Berkata Kwie-bun Liong Ong.

"Maka itu aku mohon keterangan, kenapa pihakmu berdiri sepenuhnya dibelakang Kanglam Cit Koay dan dengan begitu menyusahkan pihakku? Walaupun Coan Cin Pay banyak anggotanya dan sangat berpengaruh, aku yang bodoh tidak merasa takut."

"See Locianpwe, pada ini terang ada salah mengerti,"

Berkata Giok Yang Cu.

"Pinto tahu tentang Kanglam Cit Koay, tetapi dengan mereka itu, tidak satu pun yang pinto kenal, hanya salah satu suhengku ada punya sangkutan dengan mereka. Maka itu sama sekali tidak ada soal pihakku membantu Kanglam Cit Koay menghadapi Hong Ho Su Koay."

"Bagus, kalau begitu!"

Berseru See Thong Thian.

"Sekarang kau serahkan ini bocah kepadaku!"

Ia lantas berbangkit, akan ulur sebelah tangannya, guna menjambak batang lehernya Kwee Ceng.

Ong Cie It mengerti, bocah itu tidak bakal lolos dari jambakan itu, sedikitnya ia tentu terluka enteng, maka itu, ia lekas berbangkit, untuk menghalang, lengan kirinya berbareng dipakai membentur bocah itu, hingga tubuhnya Kwee Ceng tertolak mental.

Menyusul itu jambakannya si orang she See itu mengenai kursi yang diduduki Kwee Ceng, hingga kursi itu tercengkeram rusak seraya menerbitkan suara keras.

Jambakan itu adalah jambakan dari Gwa-kang, ilmu Bahagian Luar, hebatnya tak sama dengan Kiu-im Pek-ku Jiauw dari Hek Hong Siang Sat akan tetapi toh tidak kalah.

"Hau, kau lindungi bocah ini?"

Menegur Thong Thian karena kegagalannya itu.

"Sabar, locianpwe,"

Berkata Cie It tenang.

"Anak ini pinto yang bawa datang ke istana ini, maka itu sudah selayaknya kalau nanti pinto membawanya keluar secara baik-baik. Kalau benar saudara tidak sudi melepaskan padanya, tidak dapatkah kau mencari ia dilain hari?"

Auwyang Kongcu lantas campur bicara.

"Bagaimana caranya bocah ini mendapat salah dari saudara See?"

Dia tanya.

"Coba jelaskan duduknya hal, supaya kita dapat menimbangnya."

Sebelum menjawab, See Thong Thian telah berpikir.

"Imam ini lihay tak ada di bawahanku, kalau ia mengotot, bocah ini pasti tidak bisa dibiarkan tinggal tetap di sini. Untuk melayani dia, aku mesti dapat satu pembantu yang lihay…"

Maka itu, ia lantas duduk pula, cawannya ia hirup kering. Kemudian ia berkata.

"Sebenarnya aku tidak bermusuh langsung dengan anak she Kwee ini. Aku ada punya empat murid tolol, mereka turut Yang Mulia Chao Wang pergi ke Mongolia untuk suatu urusan, selagi mereka berkerja dan nampaknya bakal berhasil, tiba-tiba mereka diganggu oleh bocah ini. Yang Mulia Chao Wang menjadi sangat gusar karenanya. Coba tuan-tuan pikir, kalau satu bocah begini tidak dapat dibereskan, cara bagaimana kami bisa lakukan usaha yang besar?"

Kata-kata itu berpengaruh untuk para hadirin itu.

Kecuali Cie It dan Kwee Ceng, mereka dalah orang-orang undangan Wanyen Lieh, yang diundang dengan kehormatan dan bingkisan berarti.

Dengan lantas mereka itu memikir untuk menahan si bocah, guna diserahkan pada Chao Wang.

Diam-diam Cie It bingung juga mendapatkan semua mata diarahkan kepada Kwee Ceng.

Ia lantas memikirkan daya untuk meloloskan diri bocah itu.

Ia bingung sebab musuh tangguh semuanya.

Sejak turun gunung, ia pernah menghadapi pelbagai pertempuran tetapi tidak seperti ini kali, bahkan ia berbareng mesti melindungi satu bocah.

Ia lihat, jalan yang terbuka ialah memperlambat tempo sambil mencoba mencari tahu sikap sebenarnya dari para hadirin masing-masing.

"Nama besar dari tuan-tuan telah lama pinto buat pangenan,"

Ia berkata.

"Hari ini pinto berjodoh bertemu sama tuan-tuan, itulah hal yang sangat menggembirakan pinto. Tentang bocah ini,"

Ia menambahkan, seraya menunjuk Kwee Ceng.

"Ia muda dan tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, ia mendapat salah dari Yang Mulia Chao Wang, pinto tidak dapat bilang suatu apa. Tuan-tuan berniat menahan dia, ini juga pinto tidak dapat menentangi. Cuma lebih dulu daripada itu, dengan membesarkan nyali, pinto minta tuan-tuan mempertunjuki dulu ilmu kepandaian kamu, supaya bocah ini dapat melihatnya, supaya nanti ia jangan mengatakan pinto todak sudi melindungi padanya, sedang sebenarnya pinto tidak sanggup berbuat demikian…."

Hauw Thong Hay sudah menahan sabar sekian lama, mendengar perkatannya Giok Yang Cu, ia mendahului berbangkit, untuk singsatkan bajunya.

"Biarlah aku yang belajar kenal lebih dulu denganmu,"

Ia berkata, menentang si imam.

"Kebiasaanku tidak berarti, mana berani pinto mengadu kepandaian dengan tuan-tuan,"

Ong Cie It berkata pula.

"Maka itu saudara Hauw, aku minta sukalah kau mempertunjuki sesuatu agar pinto dapat pentang mataku, sekalian untuk memberi pengajaran kepada bocah ini, supaya ia insyaf bahwa di luar langit ada langit lainnya, di atas orang pandai ada pula yang terlebih pandai lagi, supaya selanjutnya dibelakang hari, dia jangan berani pula banyak tingkah!"

Hauw Thong Hay mendongkol sekali. Ia tahu orang mengejek padanya tetapi tidak tahu ia bagaimana harus memberikan jawaban. Perkataan orang diatur dengan halus. See Thong Thian juga berpikir.

"Imam-imam dari Coan Cin Pay tidak dapat dibuat permainan, memang lebih baik tidak usah bertempur dengannya."

Maka ia lantas awasi Thong Hay dan berkata kepadanya.

"Sutee, coba kau perlihatkan Soat-lie May Jin, untuk minta Ong Cinjin memberi pengajaran padamu!"

"Itulah aku tidak berani,"

Cie It membilang keras.

Ketika itu hujan salju masih belum berhenti, Hauw Thong Hay sudah lantas pergi ke lataran dimana dengan kedua tangannya ia menumpuk salju sampai tingginya tiga kaki, untuk membikin padat, ia menginjak-injak, habis itu, ia mundur tiga tindak, lalu mendadak ia lompat maju, kepala di bawah kaki di atas, kepala itu nuncap melesak ke dalam tumpukan salju itu, sampai sebatas dada.

Kwee Ceng heran.

ia tidak tahu ilmu silat apa itu, meski ia tahu namanya seperti telah disebutkan See Thong Thian, yaitu "Soat-lie May Jin"

Atau "Mengubur orang di dalam salju"

See Thong Thian lantas berkata pada pengiring-pengiringnya Wanyen Kang.

"Tolong tuan-tuan membikin padat dan keras salju disekitarnya Tuan Huaw!"

Kawanan pengiring itu girang sekali, dengan bergembira mereka luluskan permintaan itu.

Sebenarnya See Thong Thian bersama-sama Hauw Thong Hay telah menjagoi di sungai Hong Ho, mereka pandai berenang dan tahan selulup lama, karena ini Thong Hay dapat nyelusup ke dalam salju, untuk mana ia mesti menahan napas.

Orang semua heran dan akgum, tetapi mereka terus minum arak mereka.

Selang sekian lama.

barulah dua tangan Thong Hay bergerak, tubuhnya ikut, lalu sejenak saja, ia sudah keluar dari salju dan berdiri tegak.

Saking kagum, Kwee Ceng yang polos memuji sambil bertepuk tangan.

Thong Hay melirik pada bocah itu, lalu ia kembali ke kursinya.

"Kasar kepandaiannya suteeku ini, ia hanya mendatangkan tertawaan…"

Berkata See Thong Thian, yang sembari bicara mengulurkan tangannya ke piring kwaci, untuk menjumput, setelah mana jari tangannya yang tengah disentilkan tak hentinya, maka biji kwaci itu meluncur ke tembok putih di hoa-thia itu, nancap di tembok merupakan satu huruf "Yauw".

Jarak ke tembok ada kira-kira tiga tembok, biji kwaci enteng, tetapi biji kwaci itu dapat disentilkan demikian rupa, itulah bukti dari tenaga dalam yang terlatih sempurna.

Kata Ong Cie It dalam hatinya.

"Tidak heran Kwie-bun Liong Ong menjagoi sungai Hong Ho, dia memang lihya sekali."

Di tembok sekarang terlihat lagi dua huruf.

"Bu"

Dan "Yang", maka itu dapat diduga See Thong Thian hendak menuliskan empat huruf "yauw bu yang wie"

Yang artinya menentang pengaruh atau menjagoi. Menyaksikan itu Peng Lian Houw manjadi bertangan gatal. Ia berkata.

"See toako, kepandaianmu ini membuatnya aku takluk sekali! Kita biasa berkerjasama, maka setelah totiang ini hendak menguji kepandaian kita, aku pun dengan meminjam pengaruhmu, ingin mempertunjuki sesuatu…"

Ia lantas saja lompat ke tengah ruangan itu. Ketika itu See Thong Thian benar-benar telah membuat huruf "Wie"

Yang terakhir, akan tetapi baru huruf selesai separuhnya, Peng Lian Houw sudah memegat meluncurnya biji-biji kwaci itu, mulanya ia merintangi , lalu semua biji beruntun dikasih masuk ke dalam mulutnya, atas mana, mulutnya itu sudah lantas kermak-kermik, seperti burung menyisit, kwaci itu ia makan isinya dan kulitnya dilepehkan!

"Bagus!"

Orang banyak berseru memuji.

"Ah, aku tidak sanggup memakan lebih jauh!"

Berseru Peng Lian Houw, yang terus aja lompat balik ke kursinya. Setelah itu barulah See Thong Thian rampungkan huruf "Wie"

Itu.

Gangguannya Peng Lian Houw itu tidak membuat Thong Thian kecil hati, dia malah tersenyum.

Persahabatan mereka adalah dari persahabatan dua tigapuluh tahun, mereka telah mengenal baik satu dengan lain.

kemudian Thong Thian menoleh kepada Auwyang Kongcu, untuk mengatakan.

"Auwyang Kongcu hendak mempertunjukan apa untuk kami dapat membuka mata kami?"

Kongcu itu dengar suara orang ada mengandung nada menyindir, dia berdiam saja.

Ia tunggu sampai pelayan membawa datang tambahan barang makanan dan semua sumpit bekas ditukar dengan yang baru, sumpit bekas itu ia ambil dari tangannya si pelayan.

Segera setalah memegang, ia ayun tangannya, lantas semua sumpit – dua puluh pasang – terlempar ke salju dan nancap.

Apa yang luar biasa, semua sumpit nancap rapi merupakan empat tangkai bunga bwee!

Kwee ceng dan Wanyen Kang kurang mengerti ilmu kepandaian itu, tidak demikian dengan Ong Cie It, See Thong Thian dan lainnya yang lihay, maka mereka ini diam-diam terkejut sendirinya.

Malah Ong Cie It segera berpikir.

"Kenapa orang-orang lihay ini dapat berkumpul di sini? Biasanya, untuk menemui satu saja sudah sukar! Apakah tak boleh jadi bahwa mereka ada mengandung sesuatu maksud?"

Selagi si imam berpikir, Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong berbangkit sambil tertawa, haha-hihi, ia pergi ke samping tambur batu di depan hoa-thia itu, untuk ulur tangannya yang kanan ke pinggangnya batu, begitu ia kerahkan tenaganya, batu itu kena terangkat, sedang beratnya batu ada tujuh atau delapan puluh kati.

Batu itu segera diapungkan, terlepas dari tangan dan mencelat naik dua tombak tingginya.

Sebelum batu itu turun, lagi dua batu diangkat dan diapungi seperti yang pertama itu.

Dan ketika batu yang pertama turun, ia tanggapi dengan dahi, maka batu itu lantas diam di dahinya itu.

Lalu menyusul batu yang kedua dan yang ketiga, ketiganya menjadi saling susul.

Dengan rangkapi kedua tangannya, memberi hormat kepada orang banyak, Cu Ong jalan perlahan-lahan ke tengah latar.

Dengan satu lompatan, ia tiba diatasnya pelatok-pelatok sumpit Auwyang Kongcu tadi, berdiri di atas itu ia lantas bersilat, memainkan ilmu silat "Yan Ceng Kun."

Ia menjunjung tiga buah batu yang beratnya rua ratus kati lebih, tapi barang berat itu tidak mengurangi kegesitannya, dan setiap tindakan kakinya tidak pernah meleset dari ujung sumpit.

Baru setelah habis semua jurus itu, ia lompat turun dari pelatok sumpit, dan setelah turunkan ketiga batu itu, ia kembali ke kursinya.

Ia mengasih lihat senyuman, tidak ada tanda bahwa ia merasa letih.

Adalah biasa untuk tukang-tukang dangsu mempertunjukan permainan batu seperti Nio Cu Ong ini, hanya yang istimewa, ini dimainkan di atas pelatok sumpit dan sumpitnya tidak ada yang patah atau miring karena ketindihan tubuh dan batu yang berat itu.

Kwee Ceng kagum bukan main, ia memuji tak henti-hentinya.

Kelihatannya pesta bakal ditutup sampai disitu.

Pelayan-pelayan telah datang dengan baskom yang terisi air hangat, untuk semua tetamu membersihkan tangan mereka.

"Cuma Leng Siangjin yang belum mengasih lihat kepandaiannya,"

Cie It berpikir.

"Mungkin sehabis dia, mereka ini bakal turun tangan…"

Maka itu si imam segera melirik paderi dari Tibetb itu.

Leng Tie Siangjin mencuci tangan seperti yang lain-lain, sikapnya wajar saja, hanya selagi yang lain-lain sudah selesai, ia masih merendam kedua tangannya di dalam baskom.

Hal ini dapat dilihat semua orang, mereka menjadi heran.

Mereka justru menantikan tanda dari paderi itu untuk bergerak.

Selang lagi sesaat, Ong Cie It dan Auwyang Kongcu adalah yang paling dulu menampak perubahan.

Baskomnya si paderi lantas saja menghembuskan hawa napas sebagai uap.

Yang lain-lain baru dapat melihat setelah uap itu nampak semakin nyata, mirip asap, akan kemudian terdengar suara perlahan dari air bergolak.

Selagi semua orang heran dan kagum, Ong Cie It terperanjat.

"Hebat tenaga dalamnya paderi ini,"

Katanya dalam hati.

"Aku tidak boleh berlambat lagi, aku mesti mendahului turun tangan terhadap dia…"

Tengah semua mata diarahkan kepada Leng Tie Siangjin, Ong Cie It cenderungkan tubuhnya, melewati dua orang, tangannya menyambar kepada Wanyen Kang, yang duduk berselang daripadanya, ia menangkap nadinya siauw-ongya itu, tubuh siapa ia terus angkat, untuk digeser ke depannya.

Orang lantas melihat kejadian ini, mereka heran.

Kemudian, untuk kagetnya mereka, mereka lihat pangeran itu ditotok hingga ia menjadi tak berdaya lagi.

Kemudian lagi si imam taruh tangan kirinya di punggung pangeran itu.

See Thong Thian semua kaget berbareng gusar tetapi mereka tak segera dapat berdaya.

Dengan tangan kanannya, Ong Cinjin angkat poci arak, terus ia berkata.

"Barusan aku saksikan kepandaian mengagumkan dari tuan-tuan, maka dengan ini aku hendak menghormati kamu dengan secawan arak."

Ia tidak berbangkit tapi ia dapat menuangi arak ke dalam cawannya semua orang.

Asal tangannya digeraki, arak meluncur keluar dari mulut poci, turun ke dalam cawan, mengisi hingga penuh, tidak ada arak yang berceceran.

Leng Tie Siangjin beramai menginsyafi tenaga dalam yang terlatih baik dari imam ini, maka itu, asal tangan kirinya digeraki, celakalah Wanyen Kang.

Mereka insyaf juga, Ong Cinjin berbuat begini tentulah disebabkan dia bersendirian saja.

Paling akhir Ong Cie It isikan cawannya Kwee Ceng serta cawannya sendiri, kemudian ia letaki poci arak, untuk angkat cawannya yang ia hirup kering.

Habis itu ia berbicara.

"Pinto tidak berselisih, tidak bermusuhan dengan tuan-tuan,"

Katanya.

"Pinto juga tidak bersanak tidak bersahabat dengan anak ini, cuma pinto merasa suka kepadanya karena dia berhati polos dan pemurah, ia bersemangat. Maka itu denagn memandang kepada mukaku, pinto minta sukalah tuan-tuan melepaskan dia hari ini."

Semua orang berdiam. Mereka berdiam sejak Wanyen Kang dicekuk.

"Jikalau tuan-tuan memberi ampun kepada anak ini,"

Berkata pula Ong Cie It, yang menanti jawaban.

"Maka pinto juga akan bebaskan ini siauw-ongya. Siauw-ongya adalah seumpama cabang emas daun kumala, ini anak sebaliknya adalah satu anak rakyat jelata, dari itu jikalau mereka ditukar guling, tidakkah siauw-ongya rugi? Bagaimana?"

"Ong Totiang, kau baik sekali!"

Berkata Nio Cu Ong tertawa.

"Baiklah, beginilah kita mengambil keputusan."

Tanpa bersangsi sedikit juga, dengan sikutnya Ong Cie It bentur pinggangnya Wanyen Kang, maka pangeran itu bebas dari totokan, terus ia dikembalikan ke kursinya.

Ia percaya semua jago itu, tidak peduli mereka licin atau licik.

Habis itu ia mengangguk kepada semua orang, lalu ia tarik tangannya Kwee Ceng untuk diajak pergi.

Masih ia mengucapkannya.

"Ijinkanlah kami mengundurkan diri. Sampai bertemu pula!"

Semua orang mengawasi denagn air muka guram.

Bukankah ikan telah masuk ke dalam jala tetapi dapat lolos pula?

Tidakkah itu sayang?

Wanyen Kang telah lantas dapat menenangkan hatinya.

Sambil tersenyum, ia kata kepada Ong Cinjin.

"Totiang, apabila ada tempo yang luang, silakan sembarang waktu datang untuk pasang omong di sini, supaya aku yang lebih muda dapat banyak pengajaran."

Ia lantas berbangkit, dengan sikapnya yang menghormat, ia mengantarkan keluar.

"Hm!"

Bersuara si imam, yang terus bilang.

"Urusan kita telah selesai, maka itu mesti ada harinya yang kita nanti bertemu pula!"

Setibanya mereka di pintu hoa-thia, tiba-tiba Leng Tie Siangjin berbicara.

"Totiang sangat lihay, yang kau membuatnya orang sangat kagum!"

Demikian katanya. Ia merangkapkan kedua tangannya, untuk memberi hormat, akan tetapi ketika ia buka kedua tangannya itu, siuran angin hebat menyambar ke arah si imam! "Celaka!"

Ong Cie It berseru di dalam hatinya dengan ia lekas-lekas angkat kedua tangannya untuk membalas hormat.

Ia kerahkan tenaga latihannya dari beberapa puluh tahun untuk memcahkan serangan hebat itu.

Sebat luar biasa, Leng Tie Siangjin mengubah tenaga dalamnya menjadi tenaga luar, tangan kanannya diulur, untuk menyambar lengannya Ong Cie It.

tetapi si imam pun tidak diam saja, ia menyambuti dengan sama kerasnya, karena ia telah lantas dapat melihat sambaran itu, ia pun berbalik menyambar lengan lawan.

Cuma hanya sekali bentrok, kedua tangan sama-sama ditarik pulang.

"Sungguh aku takluk, aku takluk!"

Berkata Leng Tie Siangjin yang air mukanya berubah, seraya melompat mundur. Ong Cie It tersenyum, ia bertanya.

"Nama Taysu bersemarak dalam dunia kangouw, mengapa kata-katanya tidak masuk hitungan?"

Leng Tie menjadi gusar.

"Aku bukan hendak menahan ini bocah she Kwee, aku hanya hendak menahan kau…"

Katanya, tapi belum dapat ia meneruskan, lantas saja ia muntah darah.

Sebab bentrokan itu membuat ia terluka.

Coba ia berlaku tenang dan mainkan napasnya, darahnya itu tidak nanti menyemprot keluar, tetapi ia diejek si imam, ia tidak dapat mengendalikan diri.

Ong Cie It segera tarik tangan Kwee Ceng, buat diajak berlalu dengan cepat-cepat dari istana itu.

See Thong Thian beramai tidak berani mencegah, bukan saja memang mereka seudah berjanji, contoh dalam dirinya Leng Tie Siangjin juga membikin hati mereka gentar.

Imam ini benar-benar tidak dapat dibuat permainan, tidak berani mereka merintangi.

Sesudah belasan tombak keluar dari pintu istana, setelah melintasi sebuah tikungan dan melihat di belakangnya tidak ada orang yang menyusul mereka, dengan perlahan Giok Yang Cu berkata kepada bocah yang ia tuntun itu.

"Kau gendong aku sampai di rumah penginapan…"

Kwee Ceng kaget sekali. Ia dengar suara orang sangat lemah, seperti ynag kehabisan napas. Ia juga lantas dapat melihat roman pucat dari si imam.

"Adakah totiang terluka?"

Ia tanya heran.

Ong Cie It mengangguk, lalu tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung.

Kwee Ceng mengerti, maka lantas saja ia membungkuk di depan si imam itu, untuk menggendong dia, untuk dibawa pergi denagn cepat.

Ia mau mampir di sebuah hotel yang pertama diketemukan, tetapi Cie It bilang dengan perlahan.

"Cari…cari tempat yang sepi dan hotel kecil…"

Kwee Ceng menurut, ia maju terus, sambil berlari-lari.

Ia tahu imam ini khawatir nanti disusul musuh, yang ia terluka dan ia sendiri tidak punya guna, mereka bisa terancam bahaya.

Ia tidak tahu jalanan, ia pilih yang sepi saja.

Sementara itu ia merasai napasnya si imam semakin mendesak.

Syukur ia lantas dapat cari sebuah hotel yang kecil dan jorok, tetapi tanpa pedulikan itu, ia memasukinya.

Setibanya di dalam, ia segera turunkan imam itu di atas pembaringan.

"Lekas…lekas cari sebuah jambangan besar…"

Berkata Ong Cie It.

"Kau isikan penuh air bersih…"

"Untuk apakah itu, totiang?"

Kwee Ceng tanya.

Cie It tidak menyahuti, ia hanya memberi tanda dengan tangannya, supaya bocah itu lekas pergi.

Kwee Ceng menurut.

Ia cari orang hotel, ia letaki sepotong perak di atas meja seraya minta lekas disediakan jambangan.

Ia juga memberi persen kepada si jongos.

Maka itu jongos kegirangan, cepat-cepat ia sediakan barang yang diminta itu, yang diletaki di cimche, terus diisikan air dingin.

Kwee Ceng lari ke dalam kamar untuk memberi kabar.

"Bagus, anak yang baik!"

Berkata Ong Cie It.

"Sekarang pondong aku, kau letaki aku di dalam jambangan itu. Kau larang orang lain datang dekat padaku…"

Kwee Ceng tidak mengerti tetapi ia pondong si imam itu, ia masuki tubuh orang ke dalam jambangan hingga sebatas leher, sedang jongos ia pesan untuk melarang siapa saja masuk ke cimche itu.

Ong Cie It merendam di dalam jambangan seraya memeramkan kedua matanya, dengan tenang ia mainkan napasnya.

Kira semakanan nasi lamanya, air jambangan yang bersih bening itu berubah menjadi hitam.

Di pihak lain, kulit muka si imam dari pucat pasi berubah menjadi bersemu dadu.

"Coba bantui aku bangun, air ini tukar dengan yang bersih,"

Ia minta kepada Kwee Ceng.

Permintaan itu diturut, maka sebentar kemudian, Cie It sudah berendam pula di dalam air yang baru.

Sekarang barulah Kwee Ceng ketahui orang tengah mengerahkan tenaga dalamnya, untuk menyembuhkan diri dari luka di dalam akibat pertempuran dahsyat dengan Leng Tie Siangjin.

Imam ini umpama kata cuma menang seurat.

Kwee Ceng melayani terus sampai ia tukar air tujuh kali, baru air itu tak lagi berubah hitam, atas mana Giok Yang Cu lantas saja tertawa dan berkata.

"Sudah tidak ada bahaya lagi!"

Dengan pegangi pinggiran jambangan, ia dapat merayap keluar. Tapi ia menghela napas ketika ia berkata pula.

"Paderi dari Tibet itu sangat berbahaya!"

Kwee Ceng berlega hati, ia girang sekali.

"Apakah tangannya paderi Tibet itu ada racunnya?"

Ia tanya.

"Benar,"

Sahut Cie It.

"Itulah racun dari Cu-see-ciang. Ilmu semacam itu, Tangn Pasir Merah sering aku menemukan tetapi tidak ada yang lihay seperti ini. Hari ini hampir aku kehilangan jiwa…"

"Totiang ingin dahar apa? Nanti aku pergi belikan,"

Kwee Ceng tanya kemudian. Cie It pinjam perabot tulis pada tuan rumah, ia menulis sehelai surat obat.

"Aku telah bebas dari bahaya jiwa,"

Berkata si imam itu.

"Tetapi hawa racun di dalam tubuh belum bersih betul, jikalau dalam duabelas jam itu tak disingkirkan, akibatnya akan menyebabkan cacad seumur hidup. Sekarang kau tolongi aku lekas membeli obat."

Kwee Ceng mengerti, ia pergi sambil terus berlari. Di jalan perapatan ia lihat rumah obat yang pertama, ia segera mampir dan serahkan resepnya itu.

"Sayang tuan,"

Kata pelayan setelah ia membaca surat obat itu.

"Kebetulan saja obat hiat-kat, gu-cit, bek-yo dan hitam baru habis."

Tanpa minta penjelasan, Kwee Ceng samber resepnya, untuk lari ke rumah obat yang lain.

Di sini ia diberi tahu, empat rupa obat itu tidak ada.

Makanya ia mesti pergi ke lain toko obat lagi.

Untuk herannya, tujuh atau delapan rumah obat semua kehabisan empat rupa bahan obat itu.

Ia menjadi bingung dan mendongkol.

Malah didua tiga rumah obat yang terbesar, obat-obatan itu masih tidak kedapatan, katanya baru saja ada orang yang borong.

"Akun mengerti sekarang,"

Kata bocah ini kemudian.

"Tentulah orang dari istana Chao Wang yang memborong semua obat itu, sebab mereka ketahui Ong Cinjin pasti membutuhkannya. Sungguh jahat!"

Dengan masgul, bocah ini lari pulang ke hotel, kepada Ong Cie It ia tuturkan kegagalannya.

Imam itu menghela napas, wajahnya menjadi guram.

Kwee Ceng sangat jujur dan hatinya lemah, ia lantas taruh kepalanya di atas meja dan menangis megerung-gerung.

Ia putus asa.

Ong Cie It tertawa.

"Jiwa manusia sudah ditakdirkan,"

Ia berkata.

"Kematian pun tidak harus disayangkan. Laginya belum tentu aku bakal mati, maka itu kenapa kau menangis?"

Lalu dengan suara halus ia bernyanyi.

Kwee Ceng heran, ia mengawasi.

Cit It tertawa pula, terus ia duduk bersemadhi di atas pembaringan.

Bocah ini tidak berani mengganggu, diam-diam ia keluar dari kamar.

"Kenapa aku tidak mau pergi ke tempat yang berdekatan,"

Pikirnya kemudian.

"Di sana belum tentu obat itu telah orang beli juga…"

Ingat begini, hatinya lega.

Maka ia mau tanya jongos, di dekat-dekat dimana ada toko obat.

Justru ia mau cari jongos, jongos datang dengan cepat, menyerahkan sepucuk surat kepadanya.

Surat itu dialamatkan kepadanya.

Surat itu bagus tulisannya dan kertanya berbau harum.

Ia heran.

"Siapa yang mengirim surat ini?"

Ia menanya dalam hatinya. Ia terus robek sambpul surat, untuk dibaca isinya. Surat itu berbunyi singkat saja.

"Aku menunggu kau di telaga di luar kota barat, jauhnya kira-kira sepuluh lie. Ada urusan penting yang hendak aku damaikan. Lekas datang!"

Baca Juga: Ilmu Golok Keramat 8

Baca Juga: Pedang Berkarat Pena Beraksara Tjan Id

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert