Ceritasilat Novel Online

Setan Harpa 1

Eps 1 Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id

Baca online Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id

Cersil Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id.

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com. Setan Harpa Karya . Khu Lung Saduran . Tjan ID

Jilid 1 BAB SALJU, membuat seluruh permukaan bumi berubah menjadi dunia yang berwarna putih keperak-perakan, membuat yang jauh dari keramaian manusia ini semakin terpisah dari keramaian, Tiada manusia berlalu lalang disana, tiada binatang buas hilir mudik mencari mangsa, tiada pula burung-burung yang terbang mencari makan.

Keheningan dan kesepian yang mencekam sekeliling bukit membuat tempat tersebut lebih mirip dengan sebuah neraka.

Sebuah rumah gubuk diatas tebing Kui-ong-gay dilapisi pula oleh salju yang tebal.....

Irama harpa itu memperdengarkan permainan musik yang penuh kepedihan kesedihan dan kesengsaraan.

Seolah-olah seorang yang patah hati sedang mengkumandangkan jeritan hatinya, seperti juga ada orang ingin melampiaskan seluruh kemurungan dan kedukaannya lewat permainan harpa tersebut.

Sinar rembulan yang kelabu menyinari rumah gubuk itu dan menembusi jendela, seorang pemuda tampan yang berwajah sedih sedang duduk ditepi jendela sambil memandang salju diluar sana, tangannya menari-nari diantara senar harpa dan memainkan lagu yang perih....

Bunga salju melayang-layang di udara, seakan-akan tetesan air mata karena kesedihan yang meluap.

Siapakah dia?

Mengapa berdiam di tebing Kui ong gay yang tiada tanda kehidupan ini?

Akhirnya irama harpa itu berhenti, menyusul berhentinya permainan musik itu, suasana disekeliling sana kembali tercekam dalam keheningan yang mencekam.

Ia menghela napas berat, dengan pandangan mata yang termangu-mangu ditatapnya lapisan salju putih di depan rumah.

"Lima belas tahun sudah lewat.... oh. betapa panjangnya hari-hari penuh kesepian ini."

Ia berguman.

Yaa, lima belas tahun memang suatu jangka waktu yang panjang, apalagi hidup dalam kesepian dan keheningan, ia harus melewatkan jangka waktu lima belas tahun dalam suasana penuh kedukan kecuali menghela napas dan berkeluh kesah, sepanjang hidupnya belum pernah secercah senyuman pernah menghiasi bibirnya.

Kadangkala, bahkan ia mencurigai kehidupannya di dunia ini, ia sering kali merasa apa arti kehidupan baginya selama ini, yaa, ia hidup hanya dengan sesosok kerangka tubuh yang kosong, sebuah roh, sebuah sukma yang penuh sayatan luka!

Ia merasa seakan-akan hubungannya dengan dunia kehidupan ini sudah terpisah, tiada suatu keinginan yang terserap dalam benaknya, tiada sesuatu benda yang diinginkan dari dunia ini.

Semenjak ia tahu urusan, sepanjang masa kehidupannya dilewatkan bersama gurunya, dalam suasana begini apa lagi yang dapat diinginkan?

Kembali ia menghela napas berat, lalu berdiri.

Tapi ia tidak beranjak dari tempat semula, ia masih berdiri tercenung disitu, berdiri sambil melamun...

Dari sisi telinganya seakan-akan ia mendengar kembali suara bisikan dari gurunya.

"muridku, seandainya lima tahun kemudian aku belum juga kembali kau boleh tinggalkan tempat ini, robek sampul surat yang kutinggalkan dan bacalah isinya."

Kini lima tahun sudah lewat, tapi gurunya yang berlengan tunggal itu tak pernah menampakkan kembali batang hidungnya.

Ia sangat menguatirkan keselamatan serta mati hidup gurunya, sebab lima tahun berselang ia berlalu dengan wajah yang murung dan hati yang sedih, sepanjang waktu selama lima tahun ini, hampir tiada khabar tentang dirinya.

Suhu menitahkannya pergi, tapi kemanakah dia harus pergi?

Tempat manakah yang seharusnya ia kunjungi?

Yaa, kecuali gurunya hampir boleh dibilang ia tiada sanak tiada keluarga lagi.

Sepucuk surat diambil keluar sakunya, inilah surat yang ditinggalkan gurunya sebelum berangkat dengan tangan yang gemetar ia memegang sampul tersebut, seakan-akan dalam surat inilah ia bakal menjumpai suatu tragedi yang memikul hati.

Akhirnya surat itu telah dirobek, din terbacalah isi surat itu berbunyi begini.

"Murid kesayanganku Si-liat. Dikala kau membaca surat ini, mungkin aku masih hidup mungkin juga aku telah mati, kau boleh turun gunung dan berangkatlah ke benteng Tui-hong po dibukit Wu-liong san dan temuilah pocunya Tui-hong-kian! Tertanda gurumu"

Ketika selesai membaca surat tadi, Ong Si-liat-pemuda bermuka tampan itu berdiri termenung di situ, ia tidak mengerti apa maksud dari surat tersebut?

Mungkinkah gurunya telah tiada?

"Tidak....

tidak....

ia tak mungkin mati"

Demikian pekiknya dalam hati, ia tak akan mati, aku harus mencarinya "

Sekalipun suara hatinya sedang berpekik, wajahnya tetap dingin tanpa emosi, seakan-akan antara batin dan wajahnya sama sekali tiada berhubungan.

Siapakah pocu dari benteng Tui-hong-po itu?

Mengapa ia disuruh menjumpainya?

Mungkinkah gurunya telah tewas ditangan Tui-hong-kian (Si maut pengejar angin)?

Ketika ingatan tersebut melintas datam benaknya, tibatiba bawa napsu membunuh memancar diwajab Ong Si liat, disambarnya khim besi itu dan ia bersumpah dihati.

"Tui-hong-kiam. harus kutemukan.... Tui-hong-kiam harus kutemukan...."

Ia tidak mempedulikan lagi apakah bunga salju masih melayang di angkasa, iapun tidak ambil perduli apakah udara dingin serasa mencekam tulang belulangnya, ia melangkah keluar dari rumah gubuk itu dan bertekad ingin menemukan kembali gurunya.

Salju turun dengan derasnya, beberapa langkah kemudian ia berhenti sejenak dan berpaling, ketika memandang rumah gubuk reot tersebut, mukanya tampak lebih murung, lebih kesal dan pedih.

Yaa, sebelum meninggalkan tempat ini, ia tak dapat menghilangkan rasa sayang dan rasa berat hatinya untuk meninggalkan rumah gubuk yang telah dihuninya selama lima belas tahun.

Akhirnya dia menggertak gigi lalu putar badan dan berlalu dari sana dengan langkah cepat...

Bayangan tubuhnya makin lama makin mengecil, makin lama semakin terbungkus oleh derasnya salju yang menyapu seluruh jagat...

akhirnya ia lenyap dari pandangan mata...

Ong Si-liat telah meninggalkan tebing Kui-ong-gay, tebing raja setan yang telah dihuninya selama lima belas tahun.

Dikala ia tiba dibawah bukit Ong-wusan, fajar telah menyingsing.

Tiba-tiba dari kejauhan sana berkumandang suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati, jeritan itu berasal dari atas sebuah tebing tak jauh letaknya dan sana.

Begitu mengerikannya jeritan tersebut membuat bulu kuduk siapapun yang mendengar menjadi berdiri semua.

Ong Si-liat tercekat, tanpa sadar ia hentikan langkah kakinya dia memasang telinga untuk memperhatikan dari manakah asal suara tersebut.

Selama ini, anak mada tersebut hidup di sebuah puncak bukit yaug jauh dari kehidupan manusia, kapankah ia pernah dengar suara jeritan menyayatkan hati seperti ini?

Sementara ia masih termenung, suara jeritan ngeri kembali berkumandang datang lalu menyusul pula suara tertawa dingin yang mengerikan hati mendesis diudara.

Agaknya Ong Si-liat telah dibuat terperanjat oleh suarasuara tersebut, untuk sesaat ia termenung dan berdiri bodoh disana.

"Aduuuh ! Aduuuh ! Aduuuh !"

Secara beruntun empat jeritan lagi mengelegar memecahkan keheningan.

Ong Si liat merinding, hatinya sungguh bergidik mendengar suara-suara seram semacam itu, suara perasaan mual tiba-tiba saja tersirap dalam benaknya.

Cepat dia menutulkan ujung kakinya ditanah, lalu meluncur ke arah puncak tebing dengan kecepatan tinggi.

Lincah dan gesit gerakan tubuhnya, dalam satu lompatan ia berhasil melampaui jarak sejauh beberapa tombak.

Ditinjau dari gerakan tubuhnya, dapat diketahui bahwa ilmu silat yang dimilikinya sudah mencapai taraf kesempurnaan.

Dikala tubuhnya sedang melayang ke atas dengan kecepatan tinggi itulah, dari atas tebing kebetulan melayang pula sesosok bayangan manusia dengan kecepatan yang tak kalah cepatnya, nyaris mereka!

saling bertumbukan ditengah jalan.

Dengan gerakan yang sama-sama gesitnya, baik Ong Siliat maupun orang itu cepat berkelit ke samping.

Dengan jantung yang berdebar pemuda she Ong mendongakkan kepala, tapi hatinya kembali dibuat terkejut, sebab seorang manusia berbaju serba hitam telah berdiri kurang lebih tiga kaki dihadapannya.

Sekali lagi Ong Si-liat bergidik.

Mereka tidak saling menyapa pun tidak saling, menegur setelah saling berpandangan sekejap bayangan hitam itu kembali melesat ke udara dan ibaratnya sesosok sukma gentayangan, dalam waktu singkat ia sudah lenyap dari pandangan mata.

Untuk sekian kalinya Ong Si-liat mengkirik karena ngeri bulu kuduknya kembali pada bangun berdiri.

Karena lama sekali ia berdiri termangu disitu, akhirnya baru menggerakkan badan melompat naik ke puncak tebing.

Puncak tebing itu merupakan sebuah tanah lapang kecil pada sebuah batu cadas yang amat besar terpancang tiga huruf yang amat besar tulisan itu berbunyi.

"JIT GWAT-HONG" (Puncak matahari dan rembulan). Sebuah gardu kecil berdiri angker dipuncak itu pada papan nama yang terpancang dimuka gardu tersebut pula tiga huruf besar yang terbuat dari emas murni.

"JIT-GWAT-TENG" (Gardu matahari dan rembulan). Memandang sekejap sekeliling tempat itu, tiba-tiba Ong-Si-liat berpekik kaget.

"Aduh mak....!"

Apa yang ditemuinya?

Enam sosok mayat terkapar dimuka gardu kecil itu, mereka terdiri dari golongan pendeta, golongan imam dan golongan preman, tapi usianya rata-rata berada diatas lima puluh tahunan.

Mayat-mayat itu tewas dengan wajah menampilkan perasaan terkejut dan ketakutan seakan-akan sesaat menjelang kematiannya telah mengalami sesuatu peristiwa yang sungguh menakutkan.

Ong Si-liat kembali merinding menyaksikan adegan brutal didepan matanya, memang sejak kapankah ia pernah menyaksikan peristiwa pembunuhan sekejam ini?

Mana enam orang lagi terkapar bersama dalam keadaan menggidikkan hati.

Tapi sikapnya mereka Kenapa terbunuh?

Sudah pasti alasannya bukan alasan yang sederhana....tapi mungkinkah bayangan hitam yarig dijumpainya barusan adalah pembunuh dari orang-orang ini?

Ketika terbayang sampai kesitu, timbul kecurigaan dalam hati Ong Si-liat, ia tak menyangka dalam perjalanan turun gunungnya untuk pertama kali, harus bertemu dengan peristiwa menggidikkan hati yang penuhi diliputi tanda tanya semacam ini.

Lama...

lama sekali...

tiba-tiba salah satu diantara keenam orang itu, seorang kakek berbaju emas menggerakkan tubuhnya sambil merintih kesakitan.

Ong Si liat merasa jantungnya berdebar keras, rintihan tersebut membuktikan kalau satu di-antara keenam orang tersebut masih berada dalam keadaan hidup...

Dengan suatu gerakan yang cepat ia memburu kehadapan kakek berbaju emas itu, noda darah masih mengotori ujung bibir dan pakaiannya.

Dengan jantung yang berdetak keras pemuda itu menggerakkan tangan kanannya untuk menotok jalan darah orang itu, diiringi dengusan lirih berbaringlah kakek tadi dengan keadaan yang jauh lebih tenangan.

Ong Si-liat tklak berhenti sampai disitu saja, hawa murni yang dimilikinya pelan-pelan disalurkan kedalam telapak tangan, lalu melalui jalan darah di tubuh kakek tadi segulung hawa murni yang beraliran panas disalurkan menembusi kebekuan yang sudah mencekam separuh dada orang itu.

Tak lama kemudian, kakek berbaju emas itu siuman kembali dari pingsannya.

Dengan lemas tak bertenaga sikakek berbaju emas itu, menggerakkan kelopak matanya dan memandang Ong Si liat sekejap bibirnya terpentang seperti ingin mengucapkan sesuatu namun tak sepotong katapun yang sanggup diutarakan keluar.

"Kee..kenapa..kalian?... Sii... siapa yang melakukan pembunuhan kejam ini.....?"

Tanya ong Si-liat dengan perasaan cemas.

"Eng engkoh cilik, si siapakah kau?"

Tanya kakek baju emas itu kepayahan.

"Aku berama Ong Si-liat, sia.... siapakah kalian? Sia siapa yang melakukan pembunuhan ini?"

"Kami kami adalah Kiam Kiam-hay-lak yu (enam serangkai dari lautan pedang) "

Ia berhenti sebentar untuk berganti napas, lalu terus-nya.

"engkoh cilik berse bersediakah kau untuk mem membantu aku?"

"Katakanlah, bantuan apa yaag kau butuh kan?"

"Tolong pergi pergilah ke rumahku beri... beritahu kepada putri putriku bahwa aku telah mati... mau bukan bukan?"

"Tentu saja mau, tapi siapa siapakah kau? Dimana rumahmu? Kau harus menerangkan dulu kepadaku!"

"Aku aku adalah Lui-tian jiu (tangan sakti kilat geledek)...aku-tinggal di perkampungan Thian-lui-teng diluar kota Kay-tiong asal... asal kau bertanya ke... kepada sekitar penduduk sana... mereka,... mereka tentu akan menunjukkan kepadamu..."

"Tak usah kuatir, aku pasti akan melaksanakan pesanmu itu dengan sebaik-baiknya...."

Lui-tian-jiu mengulur tangannya yang lemas tak bertenaga itu seperti hendak melakukan sesuatu, mayang ada keraauan tiada tenaga, sampai di tengah jalan tangan itu terkulai kembali ke tanah.

"Apa yang kau kehendaki?"

Tanya Ong Si-liat cepat.

"Tolong,.... tolong lee..., lepaskan sepatu...... sepatu sebelah kiriku...?"

Ong Si-liat tertegun, ia tidak mengerti kenapa orang itu menghendaki sepatu kirinya dilepas, padahal keadaannya sudah separah itu.

Tapi pemuda Itu tidak membantah, dilepasnya sepatu sebelah kiri itu kemudian diangsurkan kehadapan kakek itu.

Sepatunya sudah berada disini katanya kemudian.

Lui-tian-jiu menerima sepatunya dan membalik ke bawah .....

"Trangg..!"

Tiba-tiba dari dalam sepatu itu terjatuh sebuah benda.

Ong Si-liat coba memperhatikan benda apakah itu ternyata hanya sebuah mata uang yang terbuat dari emas murni.

Tentu saja anak muda itu keheranan, ia tidak habis mengerti kenapa mata uang emas itu disimpan didalam sepatu kirinya oleh Liu-tian-jiu tersebut mungkinkah ada sesuatu rahasia dibalik mata uang itu?"

Dengan lemah dan tak bertenaga Lui-tian-jiu kembali berkata.

"Sudah sudah kau saksikan mata uang emas-ini?"

"Sudah!"

"Kami...kami mati karena uang emas ini...."

"Karena mati karena uang emas itu.... ?"

Ong Si-liat mengulangi perkataan itu dengan tubuh bergidik.

"Benar....sebab....sebab itu simpankah benda ini baikbaik ..."

"Sesungguhnya siapa yang telah membinasakan kalian ?"

Tanya Ong Si-liat cemas.

"Dia ....dia adalah-Sam..."

Sam apa?

Kakek berbaju emas itu tak sempat melanjutkan kata-katanya, mendadak kepalanya terkulai dan tubuhnya mengejang keras menyusul suatu jejakan kaki yang keras melayanglah jiwanya kembali ke alam baka...

"Sam apa ? Sam apa ?"

Teriak Ong Si-liat penuh kecemasan dan gelisah.

Tapi selembar nyawa Lui-tian jiu sudah keburu berpulang ke alam baka, selamanya ia tak sanggup lagi untuk meneruskan perkataannya yaag terhenti ditengah jalan.

"Sam"

Atau tiga melambangkan apa?

Tiga orangkah?

Atau tiga perguruankah?

Atau mungkin Sam....

julukan seorang jago?

Ong Si-liat memungut mata uang emas itu dan bangkit berdiri, sekarang sorot matanya tertuju pada mata uang emas tersebut.

Mata uang emas itu lebarnya satu inci dan di buat sangat indah, pada permukaan sebelah terukir raut wajah seseorang, sedangkan pada permukaan yang lain terukir sebuah huruf "Hong" (Kaisar).

Sudah barang tentu Ong Si-liat tak akan mengetahui huruf "Hong"

Tersebut melambangkan apa, karenanya mata uang itu disimpan ke dalam saku.

Kemudian setelah memperhatikan lagi mayat Lui tian jiu serta kelima sosok mayat lainnya akhirnya ia menutulkan kakinya ke atas permukaan tanah dan melayang turun dari puncak Jit-gwathong.

Ketika sampai di tengah jalan, tiba-tiba Ong Si-liat menyaksikan sesosok bayangan manusia sedang meluncur naik keatas bukit dalam waktu singkat orang itu sudah berada dihadapannya.

Pendatang itu adalah seorang kakek yang mengenakan topi lebar terbuat dari anyaman bambu dengan membawa sebuah alat pengail, ia memang ke arah Ong Si-liat sekejap kemudian melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke puncak Jit-gwat hong.

Ong Si-liat tertegun memandang kepergian orang itu, namun ia tidak menegur apapun mengucapkan sesuatu, setelah terhenti sejenak kembali perjalanan dilanjutkan untuk menuruni bukti itu.

Sekian lama ia melakukan perjalanan tanpa berhenti, entah berapa saat kemudian Ong Si liat baru menghentikan perjalanannya sambil bergumam kebingungan.

Haruskah aku berangkat ke perkampungan Thian luiceng lebih dulu?

Ataukah mengunjungi benteng Tui-hongpo?

Ah....lebih baik aku berangkat dulu ke benteng Tuihong-po untuk menyelidiki jejak suhuku!"

Setelah mengambil keputusan, berangkatlah pemuda itu menuju ke arah bukit Wu-liong san.

Ia cukup mengerti kepergian gurunya mencari Tui-hong pocu bukannya tanpa sebab-sebab tertentu benarkah Tuihong pocu yang telah membinasakan gurunya?

Mengapa sampai terjadi peristiwa itu?

Tentu saja mati hidup gurunya mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Tui-hong pocu seperti yang dicantumkan dalam surat peninggalannya.

Hari itu Ong Si-liat telah tiba di bukit Wu-liong-san, ia menyaksikan berkelompok-kelompok manusia persilatan berdatangan ke perkampungan Tui-hong-po, suasana yang begitu ramai dan meriah ini sangat mencengangkan hati Ong Si liat.

Sementara ia masih kebingungan sambil menyaksikan keramaian itu, tiba-tiba dari arah belakang berkumandang suara teguran.

"Hei ! Saudara, jangan pergi dulu!"

Tanpa terasa Ong Si-liat menghentikan perjalanannya sambil berpaling, dengan cepat mencorong sinar terang dari matanya, seorang nona cantik yang masih muda belia dan mengenakan baju berwarna hijau berdiri tepat di belakangnya.

Ong Si liat tercenung, ia merasa tak pernah kenal dengan gadis cantik yang masih muda belia itu.

Sementara ia masih melamun, nona itu sudah menyapa sambil tersenyum manis.

"Kalau kulihat dari harpa besi yang kau gembol, tampaknya saudara adalah seniman yang pandai menikmati suasana?"

"Aaah nona terlaiu memuji"

Kata Ong Si-liat sambil tertawa ewa.

"aku bukan seniman, aku membawa harpa tersebut hanya karena kesenangan belaka."

"Apakah kau juga datang untuk ikut serta dalam perayaan dua puluh sejak berdirinya benteng Tui-hong-po?"

Setelah mendengar perkataan itu, Ong Si-liat baru tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahun yang kedua puluh dari benteng Tui-hong-po tak heran kalau begitu banyak jago yang berdatangan kesana, ini mustinya menunjukkan kalau benteng Tui hong po mempunyai kedudukan yang cukup tinggi dalam kancah dunia persilatan.

Maka diapun menganggukkan kepalanya.

Nona berbaju hijau itu tertawa ewa, kembali ia bertanya.

"Boleh aku tanya saudara berasal dari perguruan mana?"

"Aku tidak tahu!"

"Kenapa?"

"Boleh aku tabu ada urusan apa nona mengajukan pertanyaan semacam ini....?"

"Oooh tidak, tidak... aku cuma bertanya lantaran keheranan dan ingin tahu!"

Ong Si-liat tertawa, sekarang ia balik bertanya--"Ada suatu urusan ingin kutanyakan kepada nona.."

"Urusan apakah itu?"

"Bagaimanakah watak serta perangai Tui-hong poocu ini?"

"Masa kau tidak tahu?"

Tanya nona berbaju hijau itu sambil tertawa hambar.

"Kalau aku sudah tahu buat apa mengajukan pertanyaan itu kepadamu?"

"Kau ingin mengetahui soal itu? Boleh saja, tapi ada syaratnya!"

"Apa syaratnya?"

Nona berbaju hijau itu tersenyum.

"Bila kebetulan kau ada waktu luang, petikkan sebuah lagu untukku, mau bukan?"

"Apakah nona beranggapan bahwa aku pandai memetik khim?"

Ong Si-liat balik bertanya sambil tertawa ewa.

"Apa? Jadi kau tidak pandai memetik khim?"

Tampaknya ucapan tersebut mendatangkan perasaan tertegun dihati nona berbaju hijau itu.

"Aku tak pernah mengatakan kalau tak bisa bermain khim, aku hanya ingin tahu dari mana kau bisa tahu bila aku dapat memetik khim?"

"Bukankah kau mengakui bahwa memetik khim merupakan suatu kesenangan belaka."

"Benar!"

"Itu berarti kau pandai memetik khim!"

Sambung si nona baju hijau itu sambil tertawa. Ong Si-liat ikat tertawa katanya kemudian.

"Bila kau tidak keberatan, mengapa aku tak sudi untuk memetikkan sebuah lagu untukmu?"

Nona berbaju hijau itu tertawa.

"Kalau memang begitu, akupun tak keberatan untuk memberitahukan kepadamu, Si pocu dari Tui hong-po adalah seorang kakek yang murah dan baik hati, ia merupakan seorang cianpwe dunia persilatan yang dihormati setiap orang. Dengan sepasang senjata girnya ia sudah malang melintang dalam dunia persilatan, setiap ada perselisihan bila ia sudah ikut campur maka urusan akan menjadi beres. bukan saja mendatangkan berkah untuk umat persilatan, setiap orang pun menaruh hormat dan kagum kepadanya!"

Mendengar penjelasan tersebut, Ong Si-liat berkerut kening, untuk sesaat ia hanya membungkam diri.

Demikianlah sambil bercakap-cakap sambil melanjutkan perjalanan, tanpa terasa ia bersama nona berbaju hijau itu sudah tiba didepan pintu gerbang benteng.

Seorang kakek berpakaian ringkas yang terdiri dimuka pintu segera memberi hormat sambil tersenyum, sapanya.

"Apakah kalian berdua datang untuk menghadiri perayaan dalam benteng kami..."

"Benar, kami datang untuk ikut menghadiri perayaan ulang tahun kedua puluh dari benteng Tui hong po!"

Sahut nona berbaju hijau itu.

"Tolong tanya siapa nama nona..."

"Aku bernama Lan Siok-ling."

"Ayah nona adalah Thian-lam kiam kek (jago pedang dari langit selatan) ...?"

"Benar!"

Sorot mata kakek berpakaian ringkas itu segera beralih ke wajah Ong Si-liat, lalu tegurnya.

"Saudara adalah...."

"Aku bernama Ong Si liat!"

Boleh aku tahu saudara berasal dari perguruan mana?"

"Soal ini..."

Untuk sesaat pertanyaan tersebut membuatnya tertegun. Dia adalah kakak misanku!"

Dengan cepat Lan Siok-ling menerangkan. Kakek berpakaian ringkas itu tertegun, kemudian sambil manggut-manggut katanya.

"Kalau begitu silahkan kalian masuk ke dalam!"

Ooo0dw0ooo BAB ENAM SERANGKAI DAKI KIAMHAY LAN SIOK LING memandang Ong Si-liat sekejap kemudian masuk lebih dulu, serta meria Ong Si-liat beranjak pula mengikuti dibelakangnya.

Ditengah jalan katanya kepada nona tersebut.

"Terima kasih banyak nona atas bantuanmu, terimalah rasa terima kasih dari aku orang she Ong!"

"Hei, buat apa kau musti menirukan cara tengik dari pelajar-pelajar rudin"

Kata Lan Siok-ling sam bil menutupi mulutnya tertawa cekikikan.

"Jika tak enak hati, lain kali mainkan saja sebuah lagu lagi untukku, setuju bukan?"

Ong Si-liat tertawa jengah "Bila nona tidak beranggapan bahwa permainanku terlalu jelek dan tak sedap didengar, tentu akan kumainkan satu lagu lagi untukmu!"

"Bagus sekali! Jangan lupa dengan janjimu lho. Pandai bersilat kau?"

"Cuma mengerti kulit dan bulu luarnya saja!"

Tiba tiba Lan Siok-ling seperti teringat akan sesuatu, sepasang alis matanya segera berkenyit lalu bertanya.

"Ada urusan apa kau menanyakan karakter dari Tui hong pocu? Ada yang tidak beres!"

"Ooh tidak, aku hanya mengajakan pertanyaan sekenanya saja, silahkan nona pergi!"

"Kenapa kau?"

Antara laki laki dan perempuan ada batas-batasnya, mana kita boleh melakukan perjalanan bersama? Lebih baik nona Lan berangkat dulu!"

Selintas perasaan berat hati menghiasi air muka Lan Siok-ling sedang dalam hati kecilnya diam-diam ia menyumpah.

"Pelajar rudin kutu buku goblok."

Apa boleh buat?

Tentu saja sebagai seorang nona Lan Siok ling tak bisa bersikeras untuk menentang pendapat rekannya maka setelah melotot sekejap ke arah pemuda itu, pergilah si nona dengan perasaan mendongkol...

Ong Si-liat sendiri merasakan pula sesuatu yang tak enak, tanpa terasa ia menghela napas panjang, seakan-akan ada sesuatu yang diharapkan, tapi agaknya ia teringat pula persoalan lain.

Sekilas pandangan, dia mirip dengan seorang sastrawan yang lembut dan ramah, padahal sesungguhnya ia adalah seorang pemuda yang kesepian, ia tidak membutuhkan apaapa, diapun tak pernah mengharapkan untuk mendapatkan apa-apa.

Kesepian dan ketersendirian yang dialaminya selama banyak tahun, telah menciptakan watak suka menyendiri dalam hatinya.

Pelan-pelan ia beranjak masuk ke dalam benteng melalui pintu gerbang, didepan benteng berdiri dua orang laki laki berpakaian ringkas, ketika Ong Si liat menghampiri mereka, salah seorang diantaranya segera menegur.

"Harap melapor nama anda agar dapat diberi pelayanan!"

"Aku bernama Ong Si liat!"

Kata pemuda itu.

"Silahkan mengikuti kami!"

Mengikuti dibelakang laki-laki berpakaian ringkas itu Ong Si-liat masuk ke dalam benteng, sedang otaknya berputar terus memikirkan bagaimana caranya mengajukan pertanyaan kepada Tui-hong pocu untuk menanyakan persoalan tentang gurunya.

Pikir punya pikir akhirnya ia memutuskan untuk mengambil tindakan menurut keadaan setelah bertemu dengan Tui-hong poocu nanti.

"Ong sauhiap!"

Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara panggilan nyaring.

Ong Si-liat menengadah, ia saksikan ruangan itu penuh dengan lautan manusia, semua perhatian orang ketika itu sedang tertuju ke arahnya.

Seorang kakek berambut perak duduk di ruang tengah, empat orang laki laki berbaju hijau ber diri dibelakangnya.

Ketika pemuda itu berpaling, kakek tadi sudah bangkit berdiri sambil memberi hormat kepada Ong Si-liat, katanya.

"Jauh-jauh Ong sauhiap datang kemari, maaf jika aku orang she Si tak bisa menyambut kedatangan anda sejak di depan!"

Dalam sekilas pandangan, Ong Si-liat telah dapat melihat bahwa Tui hong kian memang seorang kakek yang berwajah ramah, ia segera balas memberi hormat sambil berkata.

"Kuucapkan semoga Si pocu sehat walafiat dan segala usaha dalam benteng dapat berjalan dengan lancar!"

"Terima kasih, silahkan duduk!"

Ong Si liat manggut-manggut dan ambil tempat duduk di ruang depan sedangkan otaknya masih berputar terus mencari akal bagaimana caranya uutuk menanyakan kabar tentang gurunya.

Di saat Ong Si liat memutar badan tadi, sinar mata Tui hong-kiam Si Tiok gi terbentur dengan khim besi yang menggembol dipunggung pemuda itu, paras mukanya kontan berubah hebat, hampir saja ia menjerit kaget.

Tapi untung dia adalah seorang jago tua yang pandai membawa diri, rasa kaget dan tercekatnya hanya melintas sekejap diatas wajahnya, menyusul kemudian senyuman cerah kembali menghiasi ujung bibirnya.

Sekalipun perubahan itu hanya berlangsung dalam waktu sekejap, toh diketahui juga oleh sekalian jago persiIatan cuma mereka tak habis mengerti kenapa Bu-lim cianpwe itu menunjukan perubahan semacam ini Semua kejadian tersebut hanya berlangsung dalam waktu singkat, pada saat itulah kembali berkumandang suara bentakan amat nyaring.

"Ngo-ou-tiau kek (si pengail sakti dari lima telaga) tiba!"

Ketika nama Ngo Ou-tiau-kek disinggung paras muka sebagaian besar jago yang hadir disitu mengalami perubahan hebat, sebab orang ini mempunyai nama yang cukup besar dan jejak yang sukar ditapaki dalam dunia persilatan hanya terdapat namanya tapi jarang menjumpai orang tersebut, tak heran kalau kemunculannya disana sangat diluar dugaan semua orang...

Ong Si liat ikut mengalihkan perhatiannya ke depan, tapi begitu mengetahui siapa yang datang, hatinya seketika bergetar keras sebab jago yang di namakan Si pengail sakti dari lima telaga itu tak lain adalah kakek bertopi lebar yang pernah dijumpai dibawah tebing Jit gwat hong tempo hari.

"Dibelakang kakek pengail itu mengikuti pula seorang gadis berbaju perlente yang berwajah murung. Ketika pengait sakti dari lima telaga melangkah masuk ke dalam ruangan, serta merta Tui-hong pocu bangkit berdiri seraya memberi hormat, sapanya dengan penuh rasa hormat.

"Boanpwe tidak tahu kalau cianpwe akan ber-kunjung kemari, maafkan diriku bila tidak menyambut selayaknya!"

"Kunjunganku yang secara mendadak ini harap tak sampai membuat Si pocu tak senang hati, disamping itu kuucapkan pula semoga benteng anda selalu lancar dan sukses!"

"Silahkan duduk cianpwe !"

Si pengail sakti dari lima telaga tidak langsung duduk, melainkan dengan sorot mata sedingin es ia menatap sekejap wajah Ong Si-liat.

"locianpwe, dimana orang itu?"

Kedengaran si nona berbaju indah itu bertanya dengan sedih. Pengail sakti dari lima telaga tidak menjawab. Sementara ini Tui-hong pocu Si Tiok-gi telah bertanya pula.

"Bolehkah aku tahu siapa nona ini?"

"Dia adalah putri kesayangan Lui tian jiu, ia bernama Kang Peng!"

Ketika mendengar nama itu, paras muka Ong Si-liat berubah hebat, mimpipun tidak disangka olehnya kalau nona itu bukan lain adalah putri Lui tian-jiu yang harus dijumpainya.

"Oooh kiranya nona Kang, apakah ayahmu juga akan datang kemari? kedengaran Tui-hong po cu bertanya lagi.

"Mungkin selama hidup dia tak akan datang lagi!"

Sela si pengail sakti dengan suara ketus.

"Kenapa?"

Sorot, mata pengail sakti dari lima telaga kembali dialihkan ke atas wajah Ong Si-liat, ia temukan pemuda tersebut masih duduk disita dengan sikap tersebut dan wajah agak terkejut.

Tui hong pocu bukan anak kemaren sore, sudah barang tentu diapun merasakan ketidak beresan dari sikap pengail sakti tersebut, maka buru-buru dia bertanya.

"Apakah kedatangan cianpwe lantaran ada suatu urusan?"

"Benar !"

"Dapatkah diterangkan dengan lebih jelas lagi?"

"Aku datang demi kematiandari Kiam hay-lak-yu!"

"Apa?"

Hampir setengah jago lihay dalam ruangan menjerit tertahan...

tentu saja termasuk juga Tui-hong poocu sendiri.

Sebab peristiwa ini sungguh merupakan suatu kejadian yang mengejutkan hati setiap orang.

Enam serangkai dari lautan pidang merupakan enam jago lihay dalam dunia persilatan dewasa ini, kematian mereka secara tiba-tiba tentu saja merupakan peristiwa yang cukup menggetarkan seluruh dunia, tak heran kalau kawanan jago itu ikut menjerit tertahan.

Paras muka Tui-hong poocu berubin hebat, dengan suara agak gemetar bisiknya.

"Kau kau bilang Kiam hay lak-yu telah telah tewas semua?"

"Benar!"

"Kenapa bisa mati?"

"Heeehhh... heeeh.... heeehh.... hal ini musti ditanyakan kepada seseorang!"

Jawab Pengail sakti dari lima telaga sambil tertawa dingin.

"Siapa?"

Sebelum pengait sakti sempat menjawab, Kang Peng dengan sedih bercampur gelisah telah menyela pula.

"Locianpwe, sebenarnya dia berada dimana?"

"Siapa yang kau maksudkan?"

Tanya Tui-hong poocu dengan perasaan gelisah pula.

"Pembunuh ayahku!"

"Orang itu berada didalam benteng ini?"

"Mungkin..."

Betapa terperanjatnya Ong Si-liat sesudah mendengar perkataan itu, cuma perasaan kaget itu tak sampai diperlihatkan diatas wajahnya, sebab waktu menyendiri yang telah terpelihara sejak kecil membuat pemuda itu tak gampang memperlihatkan rasa sedih, gembira kaget atau marahnya.

Ia masih berdiri tenang disana, seakan-akan sedang mempertimbangkan suatu persoalan yang maha penting.

Tiba-tiba pengail sakti dari lima tenaga memutar badannya lalu menerjang ke hadapan Ong Si-liat, sebaliknya si anak muda itu masih tetap duduk di tempat semula tanpa emosi.

Dalam waktu singkat hawa pembunuhan menyelimuti seluruh ruangan itu, segenap perhatian jago yang berada disana sama-sama ditujukan ke wajah Pengail Sakti tersebut.

Sementara itu, pengail sakti dari lima telaga telah tiba dihadapan Ong Si-liat, setelah tertawa ewa ia menyapa.

"Selamat bertemu saudara!"

Ong Si-liat mendongakkan kepalanya, memandang pengail sakti itu sekejap, paras mukanya masih tetap dingin dan hambar, tak seorangpun dapat menebak apa gerangan yang sedang dipikirkan olehnya.

"Ada urusan apa?"

Ia bertanya sesudah menarik napas pajang.

"Masih kenal dengan aku?"

Ong Si liat mengangguk. Kang Peng yang bersama pengail sakti itu segera menerjang maju ke depan bentaknya nyaring.

"Locianpwe, diakah orangnya?"

Pengail sakti dari lima telaga tidak menjawab dia hanya mengernyitkan alis matanya yang telah memutih, sedangkan Ong Si liat tanpa disadari telah bangkit berdiri.

Sorot mata pengail sakti dari lima telaga telah berhasil melihat ke arah khim baja di punggung Ong Si Hat paras mukanya mendadak berubah, rasa kaget dan tercekat sempat melintas diatas wajahnya meski sekejap kemudian telah lenyap kembali tak berbekas.

"Bolehkah aku meminjam sebentar khim baja yang kau gembol itu..?"

Katanya kemudian.

"Untuk apa?"

"Oooh.... aku cuma ingin tahu"

Ong Si-liat tidak menjawab, khim besi itu dilepaskan dari punggungnya lalu diangsurkan kehadapan Pengail sakti.

Dengan seksama pengail sakti diri lima telaga memeriksa sekejap khim besi tersebut, kemudian teriaknya tanpa sadar.

"Aaaah harpa setan..."

"Apa?"

Separuh jumlah jago persilatan yang hadir dalam ruangan menjerit penuh rasa kaget. Ong Si liat ikut terperanjat, ditatapnya pengail sakti dari lima telaga dengan wajah tercenung.

"Saudara, apakah engkau adalah ahli waris dari Kui jin suseng (sastrawan setan harpa) ?"

Tegur Pengail sakti dan lima telaga kemudian dengan wajah yang jauh lebih lembut. Nama "Kui jin suseng"

Masih terlalu asing bagi pendengaran Ong Si-liat, dengan wajah termangu ia gelengkan kepalanya.

"Bukan?"

Kata pengail sakti keheranan.

"Tidak tahu!"

"Masak kau tidak tahu apakah gurumu adalah Kui-jin suseng atau tidak..?"

Dengan sinis Ong Si-liat mengangguk. Pengail sakti dari lima telaga segera tertawa dingin.

"Heeehh.... heeehh... heeehhh.... nama besar Setan harpa sudah menggetarkan seluruh dunia, sungguh tak disangka dua puluh tahun kemudian bisa muncul kembali disini, kau memang cukup kejam dan brutal."

"Hei, apa maksud dengan perkataan semacam itu?"

Tegur Ong Si liat dingin.. Kang peng tak bisa mengendalikan diri lagi, segera bentaknya.

"Pernahkah kau berkunjung kebukit Jit gwat-hong?"

"Pernah !"

"Kalau begitu kaulah yang telah membunuh Kiam hay-Iak-yu karena ingin mendapatkan enam biji mata uang Kematian?"

Ong Si liat segera tertawa dingin akhirnya ia baru mengerti kenapa si pengail sakti dari lima telaga dan Kang peng datang dengan sikap yang begitu garang ternyata ia telah dituduh sebagai pembunuh Kiam hay-lak-yu.

"Nona keliru besar."

Kata Ong Si liat sambil tertawa hambar.

"Kiam hay-lak-yu bukan mati ditanganku. Justru setelah pembunuhan tersebut aku baru datang di puncak Jit gwat hong, aku menjumpai pula ayahmu yang hampir mati, ia minta aku memberi kabar kepadamu kalau ia sudah mati..."

"Omong kosong!"

"Omong kosong? Dalam ha! mana aku sedang berbohong?"

"Selelah mereka kaubunuh, kini kau tak berani mengakuinya?"

Ong Si liat masih tetap bersikap tenang, ia tidak dibikin marah oleh sikap lawannya.

"Aku sama sekali tidak membinasakan mereka..."

Katanya hambar.

Kang Peng membentak gusar, sambil menggeram penuh kebencian ia lancarkan sebuah pukulan dahsyat ke tubuh anak muda itu.

Padahal selisih jarak kedua orang itu dekat sekali, ditambah pula Kang Peng melancarkan serangan dalam keadaan marah, pukulan boleh di bilang menyambar lewat secepat sambaran kilat.

Tapi Ong Si liat masih tetap berdiri tak berkutik di situ, seakan-akan ia tak tahu kalau ada sebuah pukulan mematikan sedang tertuju ke tubuhnya.

Disaat yang kritis, tiba-tiba berkelebat lewat sesosok bayangan hijau, seketika itu juga tenaga pukulan yang dilancarkan Kang Peng terhadap Ong Si-liat terpental balik, bahkan saking kerasnya pukulan tersebut Kang Peng tak bisa berdiri tegak, dan tergetar mundur sejauh tiga empat tangkah.

Tahu-tahu nona berbaju hijau atau Lan Siok ting telah berdiri tetap dihadapan mereka.

Paras muka Kang peng Siok-ling ikut berubah katanya ketus.

"Siapa kau? Sudah bosan hidup?"

"Kau tak usah tahu siapakah aku, ada satu persoalan aku ingin bertanya kepadamu dan aku minta kau bersedia menjawab sejujurnya"

"Apa yang hendak kau tanyakan?"

"Kalian menuduh dia sebagai pembunuh enam serangkai dari Kiam hay, apakah tuduhan tersebut berdasarkan dari cerita orang ataukan kalian menyaksikan dengan mata kepala sendiri?"

Kang peng tertegun, untuk sesaat menjadi kebingungan, tapi sejenak kemudian jawabannya dengan dingin.

"Pengail sakti dari lima telaga loo-cianpwe yabg melihatnya!"

Lan Siok-ling segera berpaling ke arah pengail Sakti, tanyanya.

"Apakah kau melihat sendiri?"

"Tidak..."

"Kalau tidak, dengan dasar apa kau menuduhnya sebagai pembunuh dari Kiam-hay lak yu?"

Pertanyaan tersebut dengan cepat membuat ke dua orang itu tertegun, sedang Ong Si-liat memandang sekejap kearah mereka dengan pandangan jengkel, seakan-akan kejadian tersebut hakikatnya tak dipandang sebelah mata olehnya.

"Kembalikan khim itu kepadaku!"

Bentaknya ketus.

Tanpa sadar Pengail sakti dari lima telaga mengembalikan khim itu ketangannya, entah mengapa tibatiba saja timbul suatu perasaan seram yang menggidikan hati terhadap pemuda pemurung yang suka menyendiri itu.

"Cianpwe, sesungguhnya apa yang telah terjadi?"

Tibatiba Tui hong pocu bertanya.

"Kau tahu tentang mata uang kematian?"

Tanya Pengail sakti dari lima telaga.

"Boanpwe pernah mendengar secara sepintas lalu! Konon mata uang kematian merupakan petunjuk dari tempat terpendamnya se

Jilid kitab pusaka, benarkah berita tersebut belum ada yang membuktikan kebenarannya karena hal itu hanya merupakan kabar angin belaka tapi yang pasti keenam buah mata uang yang terbuat dari emas murni itu telah menjadi benda berebutan dari umat persilatan selama dua puluh tahun terakhir ini."

"Tiga tahun berselang ke enam biji mata uang emas itu didapatkan oleh Kiam-hay-lak yu, untuk menyelidiki apa kegunaan serta sampai dimanakah teka teki yang menyelimuti keenam biji mata uang itu, enam serangkai dari Kim hay telah berjanji untuk mengadakan sesuatu pertemuan dipuncak Jit-gwat-hong pada bulan dua tanggal dua."

"Dan kemudian mereka ditemukan telah terbunuh?"

Sambung Tui-hong-pocu dari samping.

"Benar, bahkan bersama tewasnya keenam orang itu, keenam biji mata uang kematian itupun ikut lenyap tak berbekas!"

"Jadi locianpwe telah menangkap basah saudara ini berada diatas puncak Jit-gwat-hong?"

"Tidak, ketika aku hendak naik kepuncak Jit-gwat-hong secara kebetulan kujumpai saudara ini sedang turun dari puncak Jit-gwat-hong tersebut..."

"Atas dasar itu, kau lantas menuduh aku yang membunuh Kiam hay lak yu?"

Ejek Ong Si liat ketus.

"Sekalipun aku tidak berani memastikan secara 100 %, tapi kau tak dapat melepaskan diri dari kecurigaan!"

Kata pengail sakti itu. Setelah berhenti sejenak kembali katanya dengan dingin.

"Aku mempunyai suatu cara untuk membuktikan apakah Kiam hay-lak-yu mati ditanganmu atau bukan ?"

"Apa caramu itu?"

"Akan kucoba sampai dimana taraf ilmu silat yang kau miliki!"

Kembali Ong Si-liat tertawa dingin tiada hentinya.

"Untuk sekian kalinya aku hendak berkata bahwa Kiamhay lak-yu bukan mati ditanganku, tapi kuakui sebelum ajalnya Lui tin jiu telah menyerahkan sebiji mata uang kematiannya kepadaku!"

"Dimana sekarang benda itu?"

Seru pangail sakti dari lima telaga dengan paras berubah.

"Dalam sakuku!"

"Bawa kemari!"

OoooOdwOoooo BAB PENGAlL SAKTI DARI LIMA TELAGA Hmm.... dengan dasar apa benda itu harus kuserahkan kepadamu ?"

Ejek Ong Si-liat.

"Benda itu milik Lui-tian-jiu!"

"Tapi sayang ia telah menghadiahkan kepadaku!"

Kontan saja Pengail sakti dari lima telaga tertawa dingin.

"Heeeh... heeehh heehhh... kau memang tak malu menjadi ahli warisnya Sastrawan setan harpa, keadaan dan sikapmu tak berbeda jauh dari keadaan gurumu"

Setelah berhenti sejenak, kembali sambungnya;

"Sekarang aku hendak membuktikan apakah Kiam-hay-lakyu mati ditanganmu atau bukan!"

"Kau bersikeras memaksa aku untuk turun tangan?"

"Benar !"

Tampaknya Ong Si-liat telah dibuat marah oleh desakan pengail sakti dari lima telaga, dengan paras muka hebat pelan pelan ia maju ketengah gelanggang.

Sampai dimanakah taraf ilmu silat yang dimiliki Ong Si liat sendiri tak pernah tahu, hakekatnya ia tak terlalu tertarik untuk mempelajari ilmu silat, yaa ia tak suka untuk bunuh membunuh, seandainya ia tidak dipaksa oleh gurunya untuk berlatih ilnu silat kemungkinan besar ia tak akan pandai bersilat.

Kecuali kemurungan dan kesedihan sukar untuk menemukan perasaan lain dari wajahnya, dikala tubuhnya maju ke tengah arena serta merta orang yang berada disekitarnya sama sama menyingkir kesamping.

Dalam waktu, singkat ketegangan dan keheningan mencekam seluruh gelanggang, ini membuat semua orang yang berada disekitarnya merasakan jantungnya berdetak keras.

Pengail sakti dari lima telaga tampil pula kedepan, mereka saling berhadapan pada jarak lima depa Dengan pandangan tajam Ong Si liat mengamati musuhnya, lalu sambil tertawa dingin ia berkata.

"Pengail sakti lima telaga, aku tak ingin menyaksikan kau mati dalam keadaan mengerikan, baik yang mampus aku atau kau, aku ingin mengusulkan satu cara lain."

"Cara apa?"

"Sebelum pertarungan dilaksanakan, silahkan kau nikmati dahulu sebuah lagu kematianku!"

Paras muka pengail sakti dari lima telaga berubah hebat, Yu Ci-toan bisa dijuluki sebagai Kui-jin suseng lantaran sudah cukup banyak jago yang mampus oleh irama harpanya, apakah ia sanggup mendengarkan permainan khimnya sampai selesai hal itu masih merupakan suatu tanda tanya besar baginya.

Lagipula, andaikata tantangan tersebut ia terima dan Ong Si-liat benar-benar memainkan "irama kematian"

Nya, sekalipun ia tak terpengaruh toh paling sedikit ada separuh bagian-jago persilatan yang hadir dalam ruangan itu bakal mati atau terluka parah.

Membayangkan kesemuanya itu, tanpa terasa tubuhnya bergidik, cepat katanya.

"Aku pikir tidak perlu, aku hanya ingin mencoba taraf ilmu silatmu belaka!"

Jadi kau bersikeras ingin menantang aku untuk berkelahi?"

Bentak Ong Si-liat gusar.

"Benar!"

Ong Si-liat segera menggertak giginya menahan emosi, katanya dengan dingin;

"Kalau begitu, silahkan turun tangan!"

"Sambutlah seranganku ini!"

Bentak Pengail sakti dari lima telaga.

Berbareng dengan bentakan itu, alat pengailnya yang panjang segera menyapu ke muka dengan sebuah jurus Hesan sau-cian-kun (menyapu rata seribu prajurit), yang diarah adalah pinggang si pemuda.

Jangan dilihat serangannya begitu sederhana dan tiada suatu perubahan yang menarik, padahal justru dibalik kesederhanaannya terselip perubahan yang tak terhitung banyaknya.

Ong Si-liat tidak bertindak gegabah, khim besinya diputar ke atas untuk menangkis datangnya ancaman itu.

Bayangan manusia berputar kencang, dengan suatu gerakan cepat karena kaget pengail sakti dari lima telaga menyurut mundur sejauh belasan langkah, tapi wajahnya sudah memucat, ia cuma berdiri termangu seperti orang bodoh.

Kejadian ini mencengangkan bati semua orang, siapapun tak sempat menyaksikan siapa gerangan yang berhasil memenangkan pertarungan itu.

Walau begitu, dengan jelas Pengail sakti dari lima telaga mengetahui bahwa dalam tiga gebrakan tadi ia sudah kalah ditangan Ong Si liat, coba kalau pemuda itu tidak sengaja mengampuni jiwarya kalau tidak mampus paling sedikit ia subah terluka parah sekarang.

Kata Ong Si liat kemudian dengan suara dingin.

"Sekarang, apakah kau telah membuktikan bahwa Kiamhay-lak-yu memang mati ditanganku?"

"Haaahhh..,. haaahh.... haaaah aku sudah membuktikannya."

Kata Pengail sakti dari lima telaga sambil tertawa seram.

"Apa yang kau buktikan?"

"Telah kubuktikan kalau mereka memang mati ditanganmu!"

"Apa..?"

Jerit kaget seruan tercengang berkumandang dari segala penjuru ruangan itu.

"Kau kau..... apa kau bilang?"

Bentak Ong Si-liat marah.

"Telah kubuktikan kalau mereka memang mati ditanganmu, dan akupun telah membuktikan pula bahwa Kui-jin suseng adalah gurumu "

"Ngaco belo?"

Protes Ong Si-liat. Pengail sakti dari lima telaga tertawa dingin.

"Saudara kau tak perlu menyangka lagi dalam ti ga gebrakan yang barusan berlangsung, kau telah menggunakan ilmu pukulan Humocian dari partai Siau-lim, ilmu pedang Tay-ik-kiam-si dari Bu-tong pay dan ilmu pukulan Kiam-kong-ciang dari Go-bi-pay, dan justru Kiamhay lak yu tewas oleh keenam macam ilmu pukulan itu!"

Sewaktu gurunya mewariskan jurus pukulan itu kepadanya, belum pernah ia menerangkan nama dan julukan dari gerakan-gerakannya sungguh tak dinyana sekarang ia telah dituduh orang sebagai pembunuh Kiamhay-lak yu.

Pengail sakti dari lima telaga kembali tertawa dingin, katanya lebih jauh.

"Kecuali Kuy jin suseng yang pandai menggunakan keenam macam ilmu pukulan dari enam partai ini, sulit rasanya untuk menemukan orang kedua. Apa lagi pada puluhan berselang enam partai besar telah kecurian enam

Jilid kitab pusakanya, dan orang yang mencuri kitab itu bukan lain adalah Kiu jin suseng..."

Dengan penuh perasaan terkejut Ong Si-liat berdiri tertegun ditempat, peristiwa ini sungguh membuat hatinya amat terperanjat, sebab bila kenyataan berbicara demikian maka sulitlah dibayangkan bagaimanakah akibatnya...

Dengan paras muka berubah katanya dingin.

"Aku tidak tahu siapakah guruku, tapi aku berani bersumpah bahwa Kiam hay lak yu bukan mati di tanganku!"

Belum habis ia berkata Kang peng sudah membentak keras.

"Iblis berhati keji, kembalikan nyawa ayahku!"

Seperti harimau terluka ia menerkam ketubuh Ong Si liat sebuah pukulan yang disertai tenaga dahsyat segera dilontarkan ke atas dada anak muda itu.

"Tahan!"

Bentak Ong Si liat.

Tapi keadaan Kang peng pada saat ini sudah hampir mirip dengan orang kesurupan, bentakan Ong Si liat bukan saja tidak digubrisnya malah secara beruntun ia lancarkan tiga buah pukulan berantai yang luar biasa cepatnya.

"Kau ingin mampus?"

Bentak Ong Si liat.

"Yaa, kalau kau punya kepandaian bunuhlah aku!"

Ong Si-liat membentak keras, dengan suatu gerakan yang tak kalah cepatnya ia melancarkan sebuah pukulan dengan tangan kirinya.

Sedemikian dahsyat tenaga pukulan yang disertakan dalam serangan itu, sehingga Kang peng seketika terdesak mundur sejauh tujuh-delapan langkah lebih.

Hawa amarah telah menghiasi wajah Ong Si-liat, teriaknya penuh kemarahan.

"Nona, bila kan masih juga tak tahu diri, mungkin aku benar-benar akan membinasakan dirimu!"

"Kalau mampu, hayo bunuhlah diriku!"

Tantang Kang Peng seperti orang histeris. Nona ini betul-betul setengah gila, bukan saja kalap, kesadarannya juga pun terpengaruh, begitu bentakan dilontarkan, ia ikut menerjang lagi ke depan.

"Cari mati!"

Bentak Ong Si liat. Sebuah pukulan yang disertai tenaga dahsyat segera dilontarkan ketubuh lawan.

"Blaaang !"

Tak sempat lagi buat Kang Peng untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut, pukulan Ong Siliat bersarang telak diatas tubuhnya.

Tak ampun darah segar muntah keluar dari bibirnya yang kecil, tiba-tiba tubuhnya sempoyongan lalu terkapar di tanah.

Pengail sakti dari lima telaga cepat memburu ke depan dan memayang bangun tubuh Kang Peng.

"Bawa dia pergi dari sini!"

Bentak Ong Si-liat ketus. Pengail sakti dari lima telaga tertawa dingin.

"Heeehh... heeehhh... heeehhh.. .. bagus sekali"

Katanya.

"meskipun ilmu silatmu terhitung li-hay dan menggetarkan hati orang, tapi camkanlah, enam partai besar tak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja."

"Kau tak usih kuatir, aku masih belum pikirkan persoalan itu didalam hati!"

"Bagus, aku akan mohon diri lebih dulu!"

Sambil membimbing tubuh Kan Peng yang terluka ia putar badan dan pelan-pelan berlalu dari sana.

"Berhenti!"

Tiba-tiba Ong-Si-liat membentak keras.

"Ada apa?"

"Ada satu persoalan hendak kutanyakan kepada mu!"

"katakan!"

"Apakah dalam dunia persilatan dewasa ini ada seseorang yang menggunakan julukan dengan huruf "Sam"

Sebagai huruf pertamanya?"

Mula mula Pengail sakti dari lima telaga agak tegun, menyusul kemudian sahutnya ketus.

"Tidak ada !"

"Tidak ada?"

"Yaa, tidak ada! Akupun ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu, bolehkah aku tahu siapa namamu?"

"Soal ini tak perlu kau tanyakan, tapi aku akan memberi jaminan kepadamu pembunuh Kiam-hay lak-yu yang sebenarnya pasti akan berhasil kutemukan."

Pengail sakti dari telaga cuma tertawa dingin tanpa mengucapkan sekata patah katapun ia putar badan dan berlalu dari sana.

Sepeninggal pengail sakti berdua, dengan wajah berubah Ong Si liat berjalan menghampiri ke hadapan Tui-hong pocu, langkahnya lambat sekali tapi menggetarkan perasaan setiap orang.

Sorot mata semua orang hampir terkejut ke atas tubuhnya seakan akau mereka saksikan seorang pembunuh kejam muncul secara tiba-tiba dihadapan mereka.

Empat orang pelindung hukum yang berada di belakang Tui-hong pocu serentak maju ke depan dan menghalangi jalan perginya.

"Mau apa kau?"

Bentak mereka hampir berbareng.

"Siapa kalian berempat?"

Sebelum ke empat orang itu memberikan jawabannya, tiba-tiba Tui hong pocu Si Tiok-gi bangkit berdiri seraya membentak.

"Mundur!"

Rupanya bentakan tersebut mencengangkan keempat orang pelindung hukum itu tapi mereka tak berani membantah, pelan-pelan mereka mengundurkan diri ke belakang.

Sesudah ke empat orang pelindungnya mundur Tui-hong pocu Si Tiok gi baru lenyap sambil tertawa.

"Ada urusan apa engkau kemari?"

"Mencari kau!"

Tui hong pocu Si Tiok gi tertawa paksa kembali tanyanya.

"Bolehkah aku tahu ada urusan apakah mencari aku?."

"Untuk menanyakan kabar tentang berita guruku."

"Kabar berita tentang gurumu Kui jin suseng? Aku mana tahu kalau dia berada dimana?"

Ong Si liat tertawa dingin, kembali katanya.

"Tapi guruku meninggalkan pesan agar aku da tang ke benteng Tui-hong po untuk mencarimu!"

"Omong kosong !"

Bentak Tui-hong dengan paras muka berubah hebat.

"Tidak, sedikitpun tidak omong kosong, guru ku memang suruh aku datang mencarimu!"

"Kau beranggapan bahwa akulah yang telah mencelakai gurumu?"

"Sebelum duduknya persoalan dapat kuketahui dengan jelas, tak bisa tidak aku akan mencurigaimu."

Dengan mendongkol Tui hong pocu tertawa tergelakgelak, katanya.

"Kendatipun benteng Tui hong po cuma sebuah perguruan kecil yang tak ada artinya tapi belum pernah kami dicemooh atau dihina orang dengan cara seperti ini, baiklah kalau toh kau tak pandang sebelah matapun terhadap benteng kami terpaksa harus kuterima petunjuk ilmu silatmu. Nah, sebut kan dulu namamu!"

"Aku bernama Ong Si liat!"

"Apa Ong Si liat?"

Teriak Tui-hong pocu dengan perasaan terperanjat, kau....kau bernama Ong Si liat?"

"Benar !"

"Bedebah! Latah, amat kau..."

Tiba-tiba Tui hong poocu membentak penuh kemarahan.

"Apa? Kau,... kau bilang apa?"

"Engkau tahu, siapakah Ong Si-liat itu?"

"Siapa?"

"Su hay-bong-kek (si latah dari empat samudra)!"

"Siapa siapakah dia?"

"Seorang tokoh sakti dari dunia persilatan!"

"Kecuali dia, apakah aku tak boleh menggunakan nama Ong Si-liat yang sama?"

Sekalipun anak muda itu berkata demikian, toh timbul juga perasaan curiga dan tidak habis mengerti dalam hati kecilnya, sebab kejadian ini memang cukup mencengangkan hati.

Sebaliknya Tui-hong poocu sendiripun dibuat tertegun oleh pertanyaan balik dari Ong Si-liat.

Tiba-tiba Tui-hong pocu seperti teringat akan sesuatu, kembali ditatapnya Ong Si-liat lekat-lekat, sementara pelbagai perubahan menyelimuti wajahnya, perubahan tersebut meliputi rasa kaget, tercengang, sedih dan ngeri.

Sesaat kemudian, semua perubahan tersebut dapat dikendalikan, kepada kawanan jago lihay yang berada dalam ruangan, katanya dengan lantang.

"Saudara-saudara sekalian, terima kasih banyak kuucapkan atas kesediaan saudara sekalian jauh-jauh berkunjung kemari untuk ikut menghadiri perayaan lima belas tahun berdirinya benteng kami, Meja perjamuan telah disiapkan diruangan timur, silahkan saudara semua masuk ke ruangan perjamuan..."

Sesudah berhenti, sebentar, ia membentak.

"Ji-te?"

"Siap!"

Seorang kakek berbaju kuning melompat keluar dari belakang tubuhnya.

"Ajaklah kawan-kawan semua menuju ke ruangan perjamuan!"

Demikianlah, dipimpin oleh kakek berbaju kuning itu berlalulah sekalian jago persilatan itu dari ruangan, sesaat kemudian ruang tengah yang lebar kembali tercekam dalam keheningan, ia termenung tidak berbicara, seakan akan sedang mempertimbangkan suatu masalah yang amat penting ...

Ong Si liat sendiripun masih berdiri ditempas semula dia ingin tahu permainan setan apakah yang hendak dipertunjukan Tui hong pocu itu dihadapannya.

Lama, lama sekali tiba tika Tui-hong pocu Si-Tiok-gi bertanya.

"Boleh aku tahu siapa nama ayah ibumu?"

OoooOdwOoooo BAB PERISTIWA BERDARAH 20 TH BERSELANG "SUHU bilang aku adalah seorang anak yatim piatu"

Sahut anak muda itu dingin.

"Kenapa gurumu bisa lenyap tak ada kabar beritanya?"

"Lima tahun berselang ia pergi meninggalkan diriku, sejak itu tiada kabar beritanya lagi tentang dia, sebelum pergi ia meninggalkan sepucuk surat kepadaku, katanya jika lima tahun kemudian ia belum pulang juga, surat itu diminta untuk dibaca."

"Maka kau membuka surat itu dan ia minta kau datang mencariku?"

Sela Tui-hong pocu.

"Benar!"

"Peristiwa ini memang bukan suatu peristiwa yang sederhana!"

"Kenapa?"

Tanya Ong Si liat dengan jantung berdebar keras.

Tui-hong pocu tidak menjawab, ia hanya termenung dengan kening berkerut kencang.

Sikap semacam ini makin membingungkan Ong Si-liat, sekali lagi ia bertanya.

"Persoalan apakah yang bukan peristiwa sederhana?"

"Tentu saja bukan persoalan yang sederhana"

Kata Tuihong pocu dengan suara berat.

"sebab Kui-jin suseng justru adalah pembunuh dari Su-bong kiamkek Ong Si-liat!"

"Aaah..."

Ong Si-liat berteriak kaget.

Kejadian ini memang benar-benar suatu peristiwa yang aneh, suatu kejadian yang membingungkan pikirannya.

Si latah dari empat samudra terbukti mati di tangan Kui jin suseng, sedang dirinya ternyata mempunyai nama yang sama dengan si Latah dari empat samudra.

Ditengah keheningan yang mencekam seluruh raungan, tiba-tiba Tui-hong pocu Si Tiok gi tertawa lebar, katanya.

"Haaahh haaahh... haaahh.... mengerti aku sekarang! Yaa, mengerti sudah aku sekarang!"

"Persoalan apa yang kau mengerti?"

"Bukankah tahun ini kau berusia delapan belas tahun?"

"Benar, kau... darimana kau bisa tahu?"

Tui hong pocu segera tertawa dingin tiada henti nya.

"Heeehhh heeehhh hesehhh.... tidak salah, tidak salah lagi, suhu Kui-jin suseng memang pantas suruh kau datang mencariku, karena ia tak berani memberitahukan suatu peristiwa pembunuhan yang brutal kepadamu!".

"Peristiwa pembunuhan yang brutal?"

"Siapa yang memberitahukan kepadamu kalau kau bernama Ong Si-liat?"

Bentak Tui-hong pocu kemudian.

"Guruku!"

"Sekarang tidak bakal salah lagi, nah jawablah sejujurnya, bukankah ditubuhmu mengembol sebuah Liongbe (mainan yang berukir naga)?"

"Betul, darimana darimana kau bisa tahu?"

Teriak Ong Si liat dengan wajah berubah.

Sekarang, anak muda itu ikut merasa bahwa kejadian tersebut memang bukan kejadian umum, sebab bukan saja Tui-hong pocu mengetahui usianya tahun ini, bahkan diapun tahu kalau ia mengenakan sebuah liong-bei dialas dada nya.

"Pinjamkan Liong-bei tersebut kepadaku, berilah kesempatan bagiku untuk memahami satu persoalan!"

Bentak Tui hong pocu lagi dengan suara dingin.

Tanpa disadari Ong Si liat melepaskan kalung Liong-bei yang dikenakan di dadanya itu.

Tui hong pocu segera menerima benda tersebut dan diperiksa dengan teliti, maka tampaklah lapisan atas dari Liong bei itu, terukir seekor naga terbang yang sedang mementangkan cakarnya, ukiran itu hidup dan indah.

Tiba-tiba sepasang tangan Tui hong pocu gemetar keras, bisiknya dengan suara yang bergetar.

"Yaa.... tak salah lagi, inilah benda yang dimiliki In-jin (tuan penolong)."

Ketika mendengar perkataan itu, secara tiba-tiba saja Ong Si liat merasa seakan-akan mendapat firasat jelek, seakan-akan suatu peristiwa yang mengerikan segera akan menimpa dirinya, tapi ia berdiri tak berkutik ia berdiri membungkam sambil mengawasi gerak-gerik Tui hong pocu tanpa berkelip.

Lama, lama sekali...

akhirnya Tui-hong pocu berkata juga.

"Kau bukan seorang anak yang yatim piatu, kau adalah putra dari Si Latah Su-hay-beng-kek..."

"Apa?"

Ketika mendengar pertanyaan tersebut, Ong Si-liat merasa dadanya seolah-olah dihantam dengan martil berat, dadanya seketika menjadi sesak dan pandangan matanya menjadi gelap, nyaris ia jatuh tak sadarkan diri....

Yaa, ucapan dari Tui-hong pocu itu sangat melukai perasaannya, sangat menggetarkan hatinya, ia merasa seperti mendapat pukulan batin yang amat berat.

"Kau adalah putranya Si Latah dari empat samudara"

Kembali Tui-hong pocu menerangkan.

"kau tidak bernama Ong Si-liat, namamu yang sebenarnya adalah Ong Bunkim, dan ayahmu telah tewas ditangan gurumu."

"Sebenarnya apa yang telah terjadi?"

"Apa yang ingin kau ketahui sekarang, tidak lain adalah maksud yang sebenarnya dari Kui-jin suseng memerintahkan kau kemari, ia suruh kau kesini tak lebih untuk menerangkan kepadamu asal-usulmu yang sesungguhnya, Aaaai.. sungguh tak ku sangka kalau Kui-jin Suseng adalah seorang yang mempunyai maksud yang mendalam, sengaja ia memberi nama Ong Si liat kepadamu agar aku segera mengetahui siapa gerangan kau yang sesungguhnya..."

"Beritahu kepadaku, sesungguhnya apa yang telah terjadi?"

Pinta Ong Bun kim kemudian.

"Yaa. bagaimanapun juga aku harus memberitahukan persoalan ini kepadamu, karena sudah delapan belas tahun peristiwa ini kupendam dalam hatiku, bila In-jin tahu kalau kau belum mati, sukmanya di alam baka tentu bisa tersenyum lega"

Ia menghela napas sedih, lalu pelan-pelan bercerita.

Untuk mengetahui kejadian yang sesungguhnya, kita harus bercerita kembali kejadian empat puluh tahun berselang.

Ayahmu Ong Si-liat merupakan putra tunggal dari Ong Yong-liong, Buncu (ketua) dari perguruan Liong-bun.

Ketika ini perguruan Liong bun (naga) dan Hau kwan (harimau) merupakan dua perguruan yang paling besar dalam dunia persilatan.

Tapi justru Liong-bun dan Hau-kwan merupakan musuh bebuyutan yang sudah berlangsung turun temurun, konon kakekmu Ong Yong-liong tewas ditangan kwancu dari Haukwan, sedang ayahmu setelah berhasil lolos dari mulut harimau, jejaknya tak diketahui orang.

Enam-tujuh tahun kemudian, akhirnya ayahmu muncul kembali dalam dunia persilatan, ilmu silat yang dimilikinya waktu itu sangat menggetarkan seluruh dunia.

Ketika itulah ayahmu telah menyelamatkan jiwaku dari mara bahaya, dari dialah baru kuketahui kalau ayahmu hendak mencari Hau-kwan kwancu untuk membalas dendam.

Tapi kemudian aku dengar Hau kwan kwancu sudah mati, sedang ayahmu telah jatuh cinta kepada putri Kwancu tersebut yang bernama Coa Siok-ah...

"Yaa ampun, bukankah peristiwa itu merupakan suatu tragedi yang amat tragis?"

Sela Ong Bun-kim.

"Tentu saja, kejadian ini memang merupakan suatu kejadian yang tragis...."

Sahut Tui-hong pocu.

"semenjak itulah, ayahmu membawa Coa Siok-oh menghilang dari keramaian dunia persilatan.."

"Kemana ia telah pergi?"

"Setelah ayahmu menghilang dari keramaian dunia persilatan, timbul pelbagai penafsiran dalam dunia persilatan ada orang mengatakan ayahmu telah tewas ditangan Coa Siok-oh karena Kwancu dari perguruan Haukwan telah menipuan dengan siasat Bi-jin-ki (siasat perempuan cantik) kata orang ia telah mempergunakan tubuh putrinya sebagai siasat kejinya untuk mencelakai jiwa ayahmu,tapi nyatanya kabar berita itu cuma isapan jempol belaka."

"Kurang lebih dua tahun kemudian, aku telah berjumpa kembali dengan ayahmu, dia bilang kecuali Coa Si-ih masih mempunyai seorang istri lagi yang bernama Toan kiam giok jiu (manusia cantik pedang buntung) Siau Hui-un, mereka bertiga tinggal dibukit Ku liong-san lembah Lip jin kok bahkan telah mempunyai seorang putra yang bernama Ong-Bun-kim.

"Pada saat itulah tiba-tiba tersiar kabar dalam dunia persilatan bahwa kitab pusaka dari enam partai besar telah dicuri oleh Kat-jin suseng (Sastrawan setan harpa). -oo0dw0oo-

Jilid 2 SASTRAWAN setan harpa merupakan seorang tokoh persilatan yang memecahkan nyali siapapun yang menjumpainya, bukan saja ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay, terutama Pek-mo ki (irama selaksa iblis) yang merupakan senjata utamanya, entah sudah berapa banyak orang yang tewas oleh irama khim mautnya itu.

"Suasana dalam dunia persilatan waktu itu sangat kalut, jago-jago lihay dari enam partai tersebar dimana-mana untuk menyelidiki jejak dari Kui jin suseng, tapi sastrawan setan harpa yang dicari-cari ini ternyata lenyap begitu saja dari keramaian dunia persilatan."

"Tahun itu, tiba-tiba datang seseoraag yang menyampaikan kabar bahwa Si Latah dari empat samudera Ong Si liat terbunuh ditangan Kui jin su seng, diketahui tewas sewaktu terjadi pertarungan melawan setan harpa mungkin karena lukanya yang terlampau parah, akhirnya ia tewas dalam keadaan mengerikan."

Kendatipun demikian, sebuah lengan Kui jin suseng berhasil pula dikutungi oleh Su-hay bong kek, menanti aku menyusul ke lembah Lip jit kok, kedua orang bininya sudah lenyap tak berbekas..."

"Yaa, tidak salah lengan guruku tidak bakal salah lagi...."

"Lantas siapakah yang menyampaikan berita buruk itu kepadamu?"

"Pihak sana hanya mengakui sebagai Ya Pian-kok ataukah Siau Hui un ?"

Tanya Ong Bun kim lagi.

"Lantas ibuku sesungguhnya aku juga tak tahu!"

"Ayahmu belum pernah menyinggung tentang soal ini, kecuali Siau Hui un dan Coa Siok oh sendiri mungkin tak ada orang ketiga dalam dunia persilatan yang mengetahui tentang persoalan ini. Sebab ketika ayahmu memberi kabar kalau dia punya anak aku sudah lupa menanyakan perempuan manakah yang telah melahirkan kau. Si Kelawar malam pun sempat memberi kabar, katanya Ong Bun kim putra Su-hay bong kek telah dibawa telah dibawa oleh Sastrawan setan harpa."

"Mengapa sastrawan setan harpa membinasakan ayahku? Kenapa aku tidak sekalian ia bunuh?"

Pekik Ong Bun-kim sambil menggertak gigi menahan emosi.

"Disinilah letak keanehan yang membuat orang tidak habis mengerti, tapi peristiwa aneh justru telab terjadi setelah Su-hay-bong-kek mati terbunuh."

"Peristiwa aneh apa yang telah terjadi?"

"Ternyata Kwancu dari perguruan Hau-kwan tidak mati...."

"Apa? la belum mati?"

Ong Bun kim berpekik nyaring, ia sunguh dibuat tercengang oleh kenyataan tersebut.

"Yaa, Kwancu dari Hau-kwan tersebut tidak mati bahkan masih hidup segar bugar dalam dunia ini. Setelah Su-hay-bong-kek mati, ia muncul kembali di dalam dunia persilatan, bahkan semenjak itu nama besar Hau-kwan makin lama semakin tersohor di dunia..."

"Jadi kalau begitu, memang Kwancu dari Hau-kwan yang telah mencelakai ayahku dengan siasat Bi-jin-ki (siasat perempuan cantik)?"

"Benar, kemungkinan besar memang selalu ada, karena berbicara menurut ilmu silat yang dimiliki Si Latah dari empat samudra, bila ia tidak dicelakai lebih dulu secara diam-diam meninjau dari ilmu silat yang dimiliki Kui jin suseng tak mungkin ia bisa menandingi kelihayannya si Latah."

"Apakah orang yang mencelakai ayahku lebih dulu secara diam diam adalah Coa Siok-ih?"

"Kemungkinan besar memang dia?"

"Menurut dugaanmu, siapa yang telah melahirkan aku?"

"Bila ditinjau dari keadaan pada umumnya, bila Coa Siok oh yang melahirkan kau, tidak mungkin ia akan mencelakai ayahmu."

"Yaa benar! Jadi kalau begitu kemungkinan besar aku dilahirkan oleh Siau Hui un."

"Jika kita kumpulkan semua data yang ada, kemudian diambil suatu kesimpulan maka akan ditemukan lagi suatu kemungkinan lain yakni Kui jin suseng pasti adalah sahabat atau anggota perguruan dari Hau-kwan, kalau tidak mustahil ia akan membinasakan ayahmu!"

Ong Bun kim menggertak gigi menahan emosi yang meluap-luap, hawa napsu membunuh memancar keluar dari balik matanya ia berkata.

"Aku akan pergi membunuh Hau-kwan kwancu, akan kutemukan juga jejak dari Kui-jin su-seng."

Kemudian dengan pancaran hawa napsu membunuh yang menyala-nyala ia menatap wajah Tui-hong poocu tanpa berkedip, lalu bentaknya.

"Hau kwan berada dimana?"

"Kau hendak mengunjungi perguruan Hau-kwan?"

Tanya Tui-hongpocu dengan paras berubah.

"Benar!"

"Aku harap kau suka berpikir tiga kali sebelum berbuat, sebab jago lihay yang barkumpul di dalam Hau-kwan beribu-ribu orang banyaknya..."

"Kau tak usah menguatirkan tentang persoalan ini, aku yakin masih mempunyai kemampuan untuk mengatasinya!"

"Baiklah! Kalau engkau berkeyakinan demikian, akupun tidak akan bersikeras untuk merahasiakan tempat itu cuma masih ada satu persoalan yang lebih penting hendak kuberi tahukan dulu kepadamu."

"Persoalan apakah itu?"

"Sejak tujuh-delapan tahun berselang, diatas bukit Soatim-san telah muncul suatu perguruan yang misterius dan mengerikan hati, banyak jago persilatan yang tewas ditangan pemimpin perguruan itu, ada orang menduga orang tersebut adalah salah seorang dari kedua bini ayahmu..."

"Sungguhkah perkataan ini?"

Bisik Ong Bun-kim lagi dengan perasaan bergetar ksras.

"Sungguh!"

"Aku pasti akan berkunjung ke situ untuk menyelidiki keadaan yang sesungguhnya, sekarang beritahu kepadaku Hau-kwan terletak dimana?"

"Di bukit Cing-liong-san (bukit naga hijau)"

"Kalau begitu, aku hendak mohon diri lebih dahulu!"

"Sekarang juga Ong sauhiap hendak berangkat?"

"Benar!"

"Benarkah Kiam-hay-Iak-yu mati ditanganmu?"

"Tidak benar!"

Sambil berkata ia lantas beranjak dan menuju ke pintu luar...

Kini bukan saja kemurungan dan kesedihan menyelimuti wajahnya, suatu kekesalan dan rasa bingung memenuhi pula beban pikirannya.

Yaa, kalau dulu ia tidak mengejar apa-apa tapi sekarang banyak persoalan yang dia kejar yakni menuntut kebenaran serta pembalasan dendam atas kematian orang tuanya.

Ia harus membalas dendam dia akan mencari Kui jin Suseng sampai ketemu, dia pun hendak mencari Kwancu dari Hau-kwan untuk menuntup balas.

Kalau di masa masa dahulu ia masih meragukan kegunaannya hidup didunia ini, maka sekarang ia mulai menyadari betapa pentingnya suatu kehidupan baginya.

Ia merasa dirinya harus melakukan suatu perjuangan, menciptakan suatu usaha besar yang menggetarkan seluruh dunia seperti apa yang pernah dilakukan ayahnya, apa yang ingin diperoleh umat manusia dia ingin mendapatkannya juga termasuk nama besar, kedudukan serta cinta kasih.

Diantara kemurungan dan kesedihan yang menyelimuti wajahnya kini tampil pula suatu perubahaa yang aneh, itulah keangkuhan keketusan serta ambisi yang membara.

Ketika tubuhnya sudah keluar dari benteng Tui-hong-po, tiba-tiba seseorang menegur dari belakang dengan suara merdu.

"Ong sauhiap!"

Serta merta Ong Bun-kim menghentikan langkahnya seraya berpaling, ia saksikan Lan Siok-ling sedang menghampirinya dengan senyuman menghiasi ujung bibir.

Akan tetapi dikala sorot mata Lan Siok-ling membentur diatas wajah Ong Bun-kim, tiba-tiba paras mukanya agak berubah.

"Kau kau tidak apa-apa bukan? Tiada sesuatu yang tak beres?"

Tegurnya penuh perhatian. Ong Bun-kim tertawa ewa.

"Terima kasih banyak atas perhatian nona, aku tidak apa-apa, boleh aku tahu ada urusan apa nona menemuiku?"

"Bukankah kau masih berhutang dua bait permainan khim kepadaku? Aku ingin menuntut janji!"

"Oooh kiranya tentang soal itu, bila kita berjumpa bagi dikemudian hati, pasti akan kupersembahkan sebuah permainan lagu yang indah untuk nona"

"Apa salahnya kalau sekarang saja?"

"Sekarang?"

"Yaa, benar, sekarang?"

Ong Bun kim tertawa getir.

"Sekalipun aku berhutang satu lagu kepada nona"

"Kau keliru"

Tukas Lan Siok-ling.

"bukan cuma satu tapi dua satu karena kau hutang dan yang lain setelah hadiahmu kepadaku"

Ong Bun-kim amat suka dengan kepolosan serta kelincahan Lan Siok ling, perkataan itu membuatnya tertawa lebar.

"Baik, baik jangan merecoki aku terus mari berangkat, kumainkan dua lagu untukmu?"

Ong Bun kim dan Lan Siok-liang melanjutkan perjalanan keluar dari benteng Tui hong po, tak lama kemudian mereka sudah tiba disuatu tempat yang sepi,.

"Bagaimana kalau disini saja?"

Kata Lan Siok-liang kemudian sambil tertawa.

Ong Bun kim tertawa ewa, ia manggut-manggut.

Ketika memandang daun kering yang berguguran dalam hutan, timbul rasa sedih dalam hati kecilnya.

Setelah duduk bersila, ia meletakkan khim besi itu dalam pangkuannya Lan Siok liang ikut duduk, diawasinya anak muda itu dengan sebuah senyuman dikulum....

Ong-Bun-kim mencoba dulu senar khimnya, lalu memetikkan sebuah lagu sedih yang menyayat hati.

Dentingan tali senar seolah-olah berubah menjadi linangan air mata kekasih...

seperti seorang gadis yang menangis karena ditinggalkan pergi oleh kekasihnya seperti pula seorang istri yang ditinggal mati suaminya...

irama yang begitu memedihkan hati membuat orang berduka dan ingin menangis.

Memang lagu ini amat memedihkan hati, dahulu ia selalu memetikkan lagu tersebut untuk diri sendiri, kini sekalipun ia mainkan lagu untuk membayar hutangnya kepada Lan Siok-liang hakekatnya lagu itu dipetik demi melampiaskan rasa sedih yang menyelimuti hatinya.

Dibalik permainan musik itu tertera semua kesedihan dan kepedihan yang dialaminya tempo dulu, lagu itu kedengaran lebih meresap dihati, membuat orang makin berduka.

Belum habis sebuah Iagu dimainkan Lan Siok-liang telah menutup mukanya sambil menangis tersedu-sedu, pekiknya.

"Jangan kau teruskan... jangan kau teruskan..."

Permainan khim telah berhenti.

Suasana pulih kembali dalam keheningan yang mencekam.

Lan Siok-ling telah dibuat sedih oleh permainan lagu itu, ia sedang menangis tersedu-sedu.

oooo0OdwO0ooo Bab IRAMA PEMBETOT SUKMA DIBALIK kelopak mata Ong Bun-kim terhias pula tetesan air mata, ditatapnya Lan Siok ling sekejap dengan pandangan berkaca-kaca, lalu diambilnya khim besi itu dan pelan-pelan berlalu dari sana.

Ia tidak berpamitan dengan Lan Siok-ling, sebab ia tak ingin mendapatkan kasih sayang dan hiburan dari umat manusia di dunia ini, yang dibutuhkan olehnya sekarang adalah ketenangan untuk sementara waktu serta kenangan dimasa lalu.

Pelan-pelan ia berjalan ke depan, pergi tanpa tujuan, tiada pikiran yang melintas dalam benaknya, iapun tak tahu ke arah mana ia harus pergi.

Malam telah kelam, kesunyian mencekam seluruh permukaan jagad.

Dari balik hutan sebelah sana, lamat-lamat masih kedengaran suara teriakan dari Lan Siok liang.

"Ong sauhiap.... Ong sauhiap..."

Teriaknya penuh kedukaan mempunyai daya pikat sekali demi sekali berkumandang masuk ke dalam telinganya, kesemuanya itu membuat ia makin bergolak, perasaan sedihnya makin menebal..

Ia tidak menjawab langkahnya masih dilanjutkan meneruskan jalan setapak menuju ke muka tanpa tujuan.

Tiba tiba suara tertawa dingin yang menyeramkan menyadarkan Ong Bun kim dari kesedihan ia mendongakkan kepalanya dengan kaget.

Sesosok bayangan hitam entah sendiri kapan telah berdiri kurang lebih lima depa dihadapannya.

Tak terkirakan rasa kage Ong Bum kim atas kemunculan bayangan tersebut, ditunggunya sekian lama tanpa bersuara, namun bayangan hitam itu belum juga menggerakkan tubuhnya.

"Siapa kau?"

Akhirnya Ong Bun-kim membentak.

"Kaulah yang memainkan irama laga yang bernada sedih itu?"

Tegur orang tadi dengan suara yang dingin menyeramkan.

"Benar!"

"Sungguh tak kusangka kalau seni bermain khim yang kau miliki sudah mencapai taraf yang luar biasa, hal ini sungguh berada diluar dugaan orang."

"Engkau terlalu memuji!"

"Apakah kau muridnya Kui-jin Su-seng?"

"Betul!"

"Waah."...kalau begitu repot. Berbareng dengan selesainya perkataan si bayangan hitam itu, tiba-tiba terdengar suara pekikan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, dengan suatu gerakan yang amat cepat, beberapa sosok bayangan meluncur masuk ke dalam gelanggang dan menghadang jalan pergi si anak muda itu. Ong Bun-kim menengadah dan memperhatikan pendatang pendatang itu, ternyata mereka adalah lima orang pendeta tua. Menyusul kemudian berkelebat kembali bayanganbayangan manusia, puluhan sosok manusia bermunculan dari empat penjuru dan segera mengepung Ong Bun-kim. Mereka terdiri dari golongan paderi, golongan iman serta golongan preman jumlahnya mencapai tiga puluhan orang lebih. Kembali Ong Bun-kim memperhatikan orang-orang itu, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih keras, sebab dari dandanan orang-orang itu dapat di ketahui bahwa mereka terdiri dari kawanan jago lihay yang tergabung dalam enam partai besar. Tak pernah disangka olehnya kalau berita tentang terbunuhnya Kui-jin suseng sedemikian cepat nya sudah tersiar luas dalam dunia persilatan, itu berati kedatangan dari orang-orang itu jelas mengandung maksud tak baik. Sedikitpun tak salah, adapun kedatangan dari kawanan jngo yang tergabung dalam enam partai besar itu memang untuk menyelidiki kasus kematian yang menimpa Kiamhay-lak-yu, sebab menurut keterangan yang diperoleh, kematian keempat serangkai itu justru terkena oleh enam macam ilmu pukulan. Seorang pendeta tua yang rupanya sebagai pemimpin rombongan dengan sombong memandang Ong Bu-kim sekejap, lalu setelah maju tiga langkah ke depan dan memberi hormat katanya.

"Selamat berjumpa sicu, ditengah jalan tadi kami dengar dari Ngo-ou tiau-kek (pengait sakti dari lima telaga) yang mengatakan bahwa sicu kemungkinan besar adalah ahli waris dari Kui-jin suseng?"

"Benar!"

"Tolong tanya gurumu sekarang berada dimana?"

"Tidak tahu!"

Jawaban ini membuat para jago dari enam partai besar tertegun. Pendeta tua itu kembili berkata dengan dingin.

"Apakah sicu tahu kalau antara gurumu dengan enam partai bssar mempunyai sedikit persoalan?"

"Aku pernah mendengar tentang soal ini, boleh aku tahu apa kehendak kalian?"

Seorang imam yang menggembol pedang segera tampil ke depan katanya dingin.

"Puluhan tahun berselang gurumu telah mencuri enam

Jilid kitab pusaka dari enam partai persilatan, kau tahu buku-buku-itu telah disembunyikan dimana?"

"Sayang Kui jin Suseng tak pernah membicarakan persoalan itu denganku !"

Sahut Ong Bun-kim dengan hati berkerut.

"Aaah ...... tak mungkin? Masa persoalan yang dilakukan gurunya tak pernah dikatakan kepada muridnya?"

"Mau percaya boleh, tak mau percaya juga tidak mengapa, terserah pada kalian sendiri!"

"Anak muda, ketahuilah! Apabila kau tidak mengatakan dimanakah gurumu berada, hari ini jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dengan begitu saja"

"Hmm... Apa yang hendak kalian lakukan?"

Ejek Ong Bun-kim sambil tertawa sinis. Imam segera tertawa dingin.

"Heeehhh..,. heeehnhh,.., heeehh... Bila kau kami bekuk, masa gurumu tak akan munculkan diri untuk menolong jiwamu?"

Ejeknya.

Ong Bun-kim tertawa tergelak, gelak tertawanya begitu angkuh dan tinggi hati, sama sekali tak dipandang sebelah matapun orang-orang yang berada dihadapannya...

jelas perbuatan imam tersebut telah membangkitkah hawa napsu membunuhnya.

Senyuman yang semula menghiasi wajahnya, kini lenyap tak berbekas, sebagai gantinya sambil menyengir sinis katanya.

"Aku anjurkan kepada kalian, janganlah sekali-kali mencari gara-gara denganku, sebab sampai waktunya aku bisa berbuat tidak sungkan-sungkan kepada kamu semua. Hmm, aku tak ingin setelah terjadi sesuatu kalian baru menegur aku karena kelewat kejam!"

"Bajingan keparat, kau terlalu latah, lihat pedangku?"

Bentak imam tersebut penuh kegusaran.

"Criiing...!"

Cahaya tajam yang menyilaukan mata memancar ke angkasa, tahu-tahu ia sudah meloloskan pedangnya dan menyerang Ong Bun kim dengan serangan kilat.

Dahsyat dan tajam ancaman tersebut, ini menunjukkan kalau imam itu pun merupakan seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi, Ong Ban-kim tidak gentar, ancaman tersebut masih belum cukup untuk melukai tubuhnya, hanya sedikit mengelit ke samping tahu-tahu ancaman tersebut sudah dihindari.

"Hei. tua bangka hidung kerbau, kau sungguh kepingin mampus?"

Bentaknya dengan marah.

Bentakan itu bukan saja penuh keramahan bahkan disertai pula dengan hawa napsu membunuh yang menyalanyala, kesemuanya itu membuat setiap pendengarnya merasa bergidik hatinya.

Imam yang melakukan serangan itu ikut terkejut paras mukanya berubah hebat, setelah memandang sekejap wajah Ong Bun-kim dengan perasaan terkesiap, ia berkata.

"Betul, bila kau tidak mengatakan jelek gurumu serta memberitahukan dimanakah ke enam

Jilid kitab pusaka itu disembunyikan, hari ini kalau bukan kau yang kami tawan, darah kamilah yang akan berceceran diatas tanah perbukitan ini!"

Paras muka Ong Bun-kim berubah hebat, ia membentak keras.

"Apa yang ingin kukatakan telah kuutarakan, bila kalian masih ngotot ingin mampus, kenapa tidak maju kemari untuk mencobanya?"

Seraya berkata khim besi itu disiapkan lalu di tatapnya sekeliling tempat itu dengan pandangan mata yang mengerikan, hawa napsu membunuh dengan cepat menyelimuti seluruh gelanggang.

Rupanya imam tadi sudah tak dapat mengendalikan emosinya lagi, kembali ia menerjang ke muka dengan garang.

Sambil membentak keras, cahaya pedang berkilauan, dengan suatu ancaman yang cepat menggetarkan hati ia menusuk dada Ong Bun kim.

Bersama waktunya ketika imam tersebut melancarkan serangan, bentakan nyaring berkumandang, memecahkan kesunyian lima sosok bayangan manusia termasuk jago-jago dari golongan paderi, imam dan preman secara beruntun melepaskan serangan kilat.

Enam orang jago lihay dari enam perguruan besar melancarkan serangan dengan kecepatan yang luar biasa, bisa dibayangkan sampai dimanakah kehebatannya.

Tapi merekapun cukup mengerti, sebagai ahli waris dari Kui jin Suseng sudah dapat dipastikan Ong Bun-kim mempunyai dasar kepandaian silat yang cukup tangguh.

Apalagi dalam ganggamannya sekarang masih siap sebuah Khim besi, mereka harus bekerja sama untuk membereskan musuhnya secepat mungkin, dengan begitu Ong Bun-kim tiada kesempatan untuk melancarkan serangan dengan Irama Selaksa iblisnya.

Enam sosok bayangan manusia berkelebat kesana kemari, masing-masing melancarkaan sebuah serangan dengan gencar.

Ong Bun-kim tidak mandah diserang dengan begitu saja, sambil membentak nyaring Ong Bun-kim mengayunkan tangan kirinya, sementara Khim besi di tangan kanannya melancarkan pula sebuah serangan dahsyat.

Serangan ini dilaocirkart dengan kecepatan yang luar biasa, tampak bayangan manusia berputar ke sana kemari lalu jerit kesakitan menggelegar di-angkasa seorang imam terkena serangan dan roboh tewas.

Dengan jatuhnya korban, jago-jago lihay dari enam perguruan lainnya menjadi amat terperanjat.

"Ketahuilah hei manusia-manusia tekebur!"

Bentak Ong Bun-kim, bila kalian ngotot untuk melancarkan serangan terus, yang mampus bukan hanya seorang saja."

Paras muka jago-jago dari enam partai besar berubah hebat, napsu membunuh berkobar dalam dada mereka belasan sosok bayangan manusia disertai suara bentakan yang memekikkan telinga serentak menyerbu ke arah Ong Bun-kim.

Bayangan manusia berlapis-lapis bagaikan jaring labalaba, bayangan telapak tangan, cahaya pedang membiaskan sinar tajam yang menyilaukan mata.

Dengan rasa geram Ong Bun-kim membentak.

"Baik, jika kalian memang ingin mampus jangan salahkan kalau aku akan melakukan pembunuhan secara besar-besaran!"

Bayangan khim, pukulan telapak tangan serentak memenuhi angkasa.

Jerit-jerit kesakitan kembali berkumandang memenuhi angkasa, puluhan orang jago dari enam partai besar yang sedang maju menyerang, seketika terdesak mundur sejauh tujuh delapan langkah oleh pukulan yang tak terwujud dari anak muda itu.

Tiba-tiba.

dikala kawanan jago enam perguruan samasama terpukul ke belakang, tiga kali suara dentingan khim berkumandang memecahkan kesunyian, ketika dentingan suara khim tersebut ibaratnya pedang pedang tajam yang menembusi ulu hati mereka.

Ong Bun kim rupanya sudah dibuat marah, dengan tangan kiri membopong khim, tangan kanan nya memetik senar-senar alat musik itu,maka terdengarlah suara irama musik yang tinggi melengking dan membetot sukma.

Pucat pias paras muka jago jago dari enam partai, mendadak terdengar seorang diantaranya berteriak.

"Hati-hati itulah irama pembetot nyawa."

Sedikitpun tidak salah, irama musik yang dipetik Ong Bun-kim waktu itu memang irama pembetot nyawa, salah satu diantara irama maut yang tercantum dalam Pek-mo-ki (irama setaksa iblis).

Ong Bun-kim sudah tak dapat menahan amarahnya hawa pembunuh yang menggidikkan hati telah menyelimuti wajah anak muda itu, sambil menyeringai seram, ia memetik irama pembetot nyawa itu.

Sekarang tak ada yang bergerak lagi, puluhan orang jago dari enam partai besar itu telah berdiri sekaku patung, mereka sedang memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengerahkan tenaga murni irama pembetot nyawa hanya bisa dilawan dengan kekuatan Iwekang saja.

Irama khim masih mengalun bagaikan sayatan pisau, sayatan yang membelah hati mereka...

"Aduuh........aduuh."

Jeritan demi jeritan berkumandang memecahkan kesunyian, sudah ada lima orang yang muntah darah dan roboh terjengkang ditanah.

Akan tetapi pembotot sukma dari Ong Bun kim masih berlangsung terus tanpa adanya tanda-tanda berhenti, bila permainan khimnya sampai dilanjutkan hingga selesai, sudah dapat dipastikan belasan orang jago dari enam partai besar itu mungkin akan tewas semui secara mengerikan.

Jeritan-jeritan yang menyayat hati kembali berkumandang memecahkan kesunyian, ada delapan orang yang roboh kembali sesudah muntah muntah darah segar.

Pembunuhan brutal yaa, pembunuhan ini memang suatu pembunuhan yang brutal, untuk melampiaskan semua rasa dendam dan bencinya, pemuda yang sedang dicekam perasaan kebencian ini tak segan-segan menciptakan suatu badai pembunuhan yang kejam.

Tampaknya sebentar lagi semua jago dari enam perguruan besar akan tewas dalam mengerikan.

Di saat-saat yang amat kritis itulah, tiba-tiba berkumandang suara tiupan seruling yang merdu merayu bagaikan irama dewa.

Begitu irama seruling tadi berkumandang, seketika itu juga daya pengaruh dari Khim pembetot sukma lenyap tak berbekas.

Kawanan jago dari enam partai besar yang sedang mengerahkan tenaga dalam untuk melakukan perlawanan itu segera terbebas dari tekanan, bagaikan memperoleh pengampunan, mereka menghembuskan napas lega.

Dengan demikian, Ong Bun-kim menghentikan pula permainan Khim mautnya.

Ia mendongakkan kepalanya dan tertawa serta tiba-tiba ia menerjang ke arah mana berasalnya irama seruling tadi.

Tapi sebelum anak muda itu sempat berlalu dari situ, sesosok bayangan manusia telah menerjang lebih dulu ke hadapan Ong Bun-kim.

Terpaksa pemuda Ong menarik kembali gerakan tubuhnya sambil menyurut mundur, seorang kakek kurus yang bertubuh pendek tahu-tahu sudah muncul di hadapan dengan wajah menyeringai seram.

"Kembalikan nyawa kakakku..."

Demikian ia membentak.

Berbareng dengan suara bentakan itu, dia melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke dada Ong Bun-kim.

Sungguh cepat serangan yang dilancarkan kakek kurus pendek itu, dalam keadaan tidak bersiap siaga nyaris Ong Bun kim tersapu oleh pukulan tersebut.

Sesungguhnya Ong Bun-kim sedang marah dan mendendam lantaran permainan irama Khimnya di kacau oleh irama seruling orang, dan kini kakek pendek tersebut menyergapnya secara gencar tanpa mengucapkah sepatah katapun, keadaan ini ibarat nya minyak bertemu api, kontan saja semakin membangkitkan.kemarahan di hatinya.

"Bangsat! Mau apa kau?"

Hardiknya dengan napsu membunuh meluap.

"Mau apa? Bajingan cilik... tentu saja menggorok lehermu."

"Kenapa?"

"Yang-ciang (pukulan hawa pinas) salah seorang diantara Kiam hay lak yu yang kau bunuh adalah kakakku, sekarang serahkan nyawa anjingmu."

Sambil membentak ia menerjang lagi ke depan segulung angin pukulan yang amat dingin cepat menerpa ke depan.

"Cari mampus."

Teriak Ong Bun-kim semakin marah.

Telapak tangan kanannya segera diayun melepaskan sebuah pukulan maut.

Dengan cepat ancaman diri Im-ciang (pukulan hawa dingin) terbendung, tapi sebelum anak muda itu sempat berbuat sesuatu, bentakan dingin tiba-tiba berkumandang lagi dari empat penjuru, menyusul kemudian puluhan titik cahaya berkilauan mengancam tubuh Ong Bun kim dari mana-mana.

Serangan dahsyat dari taburan senjata rahasia itu membuat Ong Bun kim hampir saja tak dapat menghindarkan diri, cepat dia menyurut mundur ke belakang.

Tapi pada saat itulah kembali ada puluhan titik cahaya tajam yang menerjang tiba dari mana-mana.

Karena terlalu gegabah menghadapi ancaman lawan untuk kesekian kalinya Ong Bun-kim terdesak lagi sejauh tujuh delapan langkah ke belakang Tiba-tiba suara hentakan nyaring menggelegar di udara, menyusul kemudian sesosok bayangan hitam menerjang kearan Im ciang.

Dengusan tertahan berkumandang diudara, menyusul tubuh si pukulan hawa dingin roboh terjengkang ketanah.

Semua adegan yang berlangsung dihadapannya ini segera membuat Ong Bun kim tertegun.

Ia mencoba untuk memperhatikan sekeliling tempat itu, maka tampaklah bayangan itu sudah berdiri tiga kaki dihadapannya orang itu adalah seorang manusia berkerudung hitam, dalam genggamannya menenteng seseorang dia adalah Im ciang.

Betapa cepatnya gerakan tubuh orang itu bisa terlihat dari semua tindakan yang ia lakukan, Ong-Bun-kim menjadi amat terperanjat.

Sementara itu, si bayangan berkerundung mengempit tubuh Im-ciang dengan tangan tangan kirinya, sedang tangan kanannya digunakan untuk menepuk bebas jalan darah ditubuhnya.

Pelan-pelan si pukulan hawa dingin siuman kembali dari pingsannya.

Manusia berkerudung hitam itu tertawa dingin, lalubentaknya.

"Pukulan hawa panas dari Kiam-hay-lak-yu apakah merupakan kakakmu...?"

"Benar, tapi si... siapa kau?"

"Kau tidak berhak untuk mengetahui siapakah aku, tapi yang jelas mata uang kematian yang dimiliki kakakmu tidak dibawa serta ke bukit Jin-gwat-hong, apakah disembunyikan di tempatmu?"

Ketika Ong Bun-kim mendengar ucapan tersebut, jantungnya berdetak lebih keras, napsu membunuh pun seketika menyelimuti seluruh wajahnya..

Kalau didengar dari pembicaraan yang berlangsung, bisa disimpulkan bahwa manusia berkrudung itu adalah pembunuh sesungguhnya yang telah membinasakan Kiamhay-lak-yu, tak heran kalau napsu membunuh seketika menyelimuti wajah pemuda itu.

"Mau apa kau?"

Kedengaran si pukulan berhawa dingin bertanya dengan suara dingin.

"Aku menghendaki mata uang kematian itu!"

"Jangan bermimpi disiang hari bolong!"

"Oooh jadi kau ingin mampus?"

"Kalau benar kenapa kau tidak cepat turun tangan?"

Manusia berbaju hitam itu tertawa dingin, suara tertawanya mengerikan sekali, tiba-tiba tangan kanannya melancarkan suatu sodokan kedepan dan tahu-tahu jalan darahnya sudah tertotok.

Termakan oleh totokan tersebut, orang itu terlongo kesakitan, mukanya mengejang keras, otot-otot hijaunya pada moncol keluar keadaannya sungguh amat tersiksa.

Ong Bum-kim selama ini hanya berdiri tak berkutik ditempat, rupanya ia sedang menikmati cara si manusia berkerudung menyiksa musuhnya...

"Mau menjawab tidak?"

Ejek manusia berkerudung itu dengan suara dingin.

"Aku... aku..."

"Jika kau tak mau berbicara lagi, jangan salahkan kalau sebelum ajalmu tiba akan mengalami suatu penyiksaan yang luar biasa hebatnya..."

"Baik... baik aku berbicara!"

Manusia berkerudung hitam itu tertawa bangga ia membebaskan orang itu dari pengaruh totokan. lalu bentaknya.

"Cepat jawab! Kau simpan dimana benda tersebut?"

Si pukulan berhawa dingin menarik napas berulang kali untuk melegakan dadanya, setelah itu baru merogoh sakunya dan nengeluarkan sebuah mata uang yang perak seperti apa yang pernah di peroleh Ong Bun kim.

Manusia berkerundung hitam tertawa dingin, setelah mendapat mata uang kematian itu katanya.

"Kau sangat jujur, baiklah! Kuampuni selembar jiwamu!"

Tubuh si pukulan berhawa dingin dilemparkan ke muka dan..."Bruuk!

sambil muntah darah segera ia terbanting ke tanah, mungkin lantaran isi perutnya mengalami kegoncangan, orang tersebut jatuh tidak sadarkan diri Manusia berkerudung hitam itu tertawa seram tanpa menggubris lagi keadaan musuhnya dia melompat pergi dari situ.

"Berhenti!"

Ong Bun-kim segera membentaknya.

Dengan suatu gerakan kilat ia melompat kemuka dan menerjang kehadapan manusia berkerudung hitam itu.

Karena bentakan tadi, serta merta manusia berkerudung itu menghentikan gerakan tubuhnya, saat itulah dengan suatu lompatan kilat Ong Bun-kim telah menghadang jalan perginya.

"Mau apa kau?"

Tegur manusia berkerudung itu sambil tertawa dingin.

"Mau apa? Heee heeehhh heeehh... aku ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu!"

Kata Ong Bunkim sambil tertawa dingin tiada hentinya.

"Kalau ingin berkentut. kenapa tidak cepat kau lepaskan bau busukmu itu ?"

"Aku pikir Kiam hay-lak-yu yang ditemukan tewas diatas puncak Jit-gwat-hong tentu telah mati ditanganmu bukan?"

"Ada apa?"

"Jika benar demikian, maka ada sesuatu bagian dari perbuatan saudara yang membuat seorang tak senang!" -oooOdwOooo-BAB SILUMAN BUNGA PENGHISAP DARAH "MEMBUAT orang tidak senang?"

Tanya orang itu keheranan.

"Yaa, bila kau bunuh orang mustinya cantumkan dulu namamu, jadi perhitungannya tidak sampai ditagihkan kepada orang lain. Coba bayangkan, kalau sampai terjadi begini orang akan bersenang hati tidak?"

"Apakah orang-orang pada mencarimu?"

"Tentu saja, bahkan ada satu persoalan hendak kusampaikan padamu..."

Sesudah berhenti sebentar, ia bertanya lagi.

"Apakah kau pandai juga menggunakan ilmu pukulan dari enam partai besar?"

"Kalau benar kenapa?"

"Sebetulnya siapa kau?"

"Aku rasa tak ada kepentingan untuk memberitahukan hal ini kepadamu."

Paras muka Ong Bun kim masih tetap tenang bahkan sekulum senyuman masih mengatasi ujung bibir nya, siapapun tidak akan tahu kalau hawa pembunuhan telah berkobar dalam dadanya.

Kembali pemuda itu tertawa, katanya.

"Saudara, kenapa kau tak berani menyebutkan namamu?"

"Sebab apa aku harus mengatakannya kepadamu?"

"Lepaskan kain kerudungmu itu, akan kulihat siapa gerangan manusia pengecut macam kau !"

"Hmm... kau masih belum pantas untuk mengetahuinya!"

"Lantas siapa yang pantas?".

"Tidak tentu...."

Ong Bun kim tertawa seram, kembali katanya.

"Jadi kedatangamu untuk mendapatkan mata uang kematian tersebut...?"

"Tepat sekali !"

"Akupun mempunyai sebuah."

"Apa?"

Mungkin lantaran kaget, manusia berkerudung hitam itu menjerit tertahan. Kembali Ong Bun-kim tertawa hambar.

"Kenapa? Kau tidak percaya?"

"Dimana kau simpan benda tersebut?"

Ong Bun-kim segera merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan mata uang kematian, sambil di letakkan pada telapak tandannya ia berkata.

"Benda ini bukan yang kaucari?"

Sorot mata manusia berkerudung yang tajam itu menatap mata uang kematian dalam telapak tangan Ong Bun-kim tanpa berkedip, kemudian tertawa seram.

"Heeehhh... heeehhh.... heeehhh.,.. betul, mata uang kematian yang berada di tanganmu memang benda yang asli!"

"Tentu saja asli, memangnya aku sengaja membohongi kau?."

"Bawa kemari!"

Bentak manusia berkerudung hitam itu dengan suara sedingin es.

"Kau menginginkannya?"

"Benar, hayo bawa kemari!"

"Seperti yang kau lihat, benda ini berada dalam telapak tanganku, kenapa tidak kau ambil sendiri?"

"Baik..."

Diiringi bentakan tersebut manusia berkerudung biiam itu menerjang ke hadapan Ong Bun-kim dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, tangannya langsung menyambar mata uang tadi.

Cengkeraman yang dilancarkan manusia berkerudung hitam itu terhitung cepat sekali bagaikan sambaran kilat, dimana ujung jarinya berkelebat lewat ia sudah mencoba mata uang tersebut.

Disaat ujung jari manusia berkerudung hitam itu hampir menempel diujung mata uang tersebut tiba-tiba Ong Bunkim membentak nyaring, khim besi yang telah disiapkan ditangan kirinya langsung menyodok ke muka.

Kedua belah pihak sama-sama melancarkan serangan dengan kecepatan yang luar biasa.

Bayangan manusia kembali berkelebat, dari serangan manusia berkerubung hitam itu merubahnya menjadi serangan membacok, kendatipun ancaman dari Ong Bunkim dihindari, tak urung peluh dingin membasahi juga tubuhnya lantaran kaget.

Ong Bun-kim tak kalah kegetnya oleh keadaan tersebut.

Selisih jarak antara kedua belah pihak amat pendek, biasanya bila ia serang musuh dengan jurus Hong-kian-jianim (gulungan angin membuyarkan sisa awan), pukulan tersebut pasti akan bersarang telak.

Tapi kenyataannya musuh dapat menghindarkan diri, ini menunjukkan kalau ilmu silat yang dimiliki lawan tidak berada dibawah kepandaian sendiri.

Manusia berkerudung itu menengadah dan tertawa seram, katanya.

"Bocah keparat, hampir saja aku tertipu oleh siasatmu!"

"Betul !"

Kata Ong Bun-kim pula sambil tertawa panjang.

"seandainya kau tak dapat menghindarkan diri dari seranganku ini, nyaris nyawamu lenyap oleh khim bajaku."

"Untung aku cukup cekatan dan pandai menghindarkan diri dengan seranganmu, kalau tidak bukankah aku bakal celaka?"

"Betul, kalau engkau pandai mempergunakan ilmu pukulan dari enam partai besar, sudah tentu kenal dengan guruku bukan?"

"Betul..."

"Sekarang dia berada dimana?"

"Darimana aku tahu?"

"Kau segan mengatakannya?"

"Tidak sulit kalau kau ingin mengetahui dimanakah ia berada, cuma ada syaratnya."

"Apa syaratnya?"

Tanya Ong Bun-kim dengan perasaan hati bergetar keras.

"Serahkan mata uang kematian itu kepadaku!"

Paras muka Ong Bun-kim berubah hebat, untuk sesaat ia menjadi tertegun dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Seandainya syarat lain yang diajukan, mungkin ia akan menyutujuinya dengan segera tapi hanya soal ini tak bisa dia penuhi.

Terpaksa dari apa kegunaan mata uang kematian tersebut benda itu merupakan benda yang diberikan Lui-tin jiu menjelang kematiannya, tentu saja ia tak dapat menyerahkannya kembali kepada orang lain.

"Bagaimana? Merasa keberatan?"

Ejek manusia berkerudung hitam itu sambil tertawa dingin. Ong Bun-kim mengerutkan dahinya, lalu menjawab dengan ketus.

"Benar, aku tak bisa memenuhi keinginanmu itu, tapi kaupun harus tahu bila tidak kau katakan dimanakah ia berada, maka jangan harap kau bisa tinggalkan tempat ini!"

Manusia berkerudung hitam itu tak mau kalah dengan cepat ia berkata pula.

"Bila kaupun tidak menyerahkan mata uang kematian kepadaku, jangan harap bisa tinggalkan pula tempat ini dengan selamat!"

"Kalau begitu, rupanya kita harus berkelahi dulu untuk menentukan siapa lebih unggul dari kita?"

"Memang begitu seharusnya!"

"Kenapa tidak dicoba sekarang juga?"

Ong Bun-kim masukkan "mata uang kematian"

Itu kedalam sakunya, lalu memegang khim baja tersebut dengan tangan kanannya, sinar pembunuhan ymg menggidikkan hati memancar keluar dari balik matanya, selangkah demi selangkah ia maju mendekati musuhnya.

Manusia berkerudung hitam itu ikut maju pula ke depan.

Suasana menjadi tegang, setiap saat pertarungan dapat berkobar...

Ditengah keheningan, tiba-tiba manusia berkerudung itu berteriak keras, bagaikan sosok sukma gentayangan ia menerjang maju ke depan dan menghantam batok kepala Ong Bun-kim dengan gaya bukit tay-san menindih kepala.

Bukan saja serangan itu dilakukan amat cepat, tenaga pukulan yang disertakan pun amat berat.

Ong Bun-kim berkelit kesamping, begitu terhindar dari serangan maut manusia berkerudung itu, Khim bajanya seperti sambaran kilat menyerang kemuka dengan jurus Liok-hoa-tiu-su (bunga berguguran air mengalir)...

Kedua belah pihak sama-sama melancarkan serangan dengan kecepatan tinggi, bayangan manusia saling menyambar dan masing-masing pihak sudah melepaskan tiga buah serangan berantai.

Walaupun hanya tiga jurus yang singkat, namun sudah cukup bagi kedua belah pihak untuk menilai sampai dimanakah taraf kepandaian yang dimiliki musuhnya, mereka sadar bahwa kekuatan mereka seimbang, berarti bukan pekerjaan yang gampang bagi mereka untuk merobohkan lawannya.

Tiba-tiba Ong Bum-kim membentak keras, dengan menggunakan tangan kirinya ia melancarkan sebuah serangan memakai jurus Sin-liong kian-jiao (naga sakti unjuk cakar).

Manusia berkerudung hitam itu memutar tangan kanannya satu lingkaran, lolos dari serobotan Ong Bua-kim, ia mencoba untuk melakukan balasan tapi dalam sekejap itulah Ong Bun-kim telah menyapu tubuh lawan dengan senjata kim bajanya.

Manusia berkerudung hitam itu jadi gugup, dalam keadaan yang terdesak, ia tangkis ancaman itu dengan tangan kirinya.

"Cari mampus."

Bentak Ong Bun-kim. Tenaga serangannya tiga kali lipat diperhebat dan pukulan itu bersarang telak diatas lengan kiri nya.

"Traaak."

Diiringi benturan nyaring, manusia berkerudung hitam itu tergetar mundur sejauh tujuh delapan langkah dengan sempoyongan Ong Bun-kim menengadah dan memperhatikan keadaan lawannya, tapi dengan perasaan kaget ia segera menjerit.

Menurut perkiraannya semula, sampai dimana pun sempurnanya tenaga dalam yaag dimilikinya lawan, setelah termakan oleh pukulan tersebut niscaya akan kutung, siapa tahu kenyataannya lengan itu masih utuh dan sehat seperti sedia kala.

Tidaklah heran kalau kejadian itu membuat Ong Bun kim merasa amat terperanjat.

Manusia berkerudung hitam itu tertawa hambar katanya.

"Bocah keparat, kau memang tidak malu menjadi ahli warisnya Kui-jin-su seng tapi menurut pendapatku, rupanya ilmu silatmu sudah mencapai tingkatan yang lebih tinggi dari Kui-jin suseng sendiri....

"Engkau terlampau memuji!"

"Eeeh bocah muda, bagaimana kalau kau sambut kembali sebuah seranganku ini?"

Sambil membentak nyaring sekali lagi manusia berkerudung hitam itu menerjang ke depan, telapak tangan kanannya diayunkan kemuka melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

"Kurangajar!"

Pemuda itu berpekik nyaring.

"sebelum salah seorang diantara kita mampus, hari ini kita tak boleh berhenti!"

Dengan mempergunakan senjata khim bajanya ia melepaskan juga sebuah serangan yang gencar.

"Tahan!"

Tiba tiba bentakan keras berkumandang dari luar gelanggang, bentakan tersebut nyaring dan penuh kekuatan.

Menyusul suara bentakan itu muncul beberapa sosok bayangan manusia dari empat penjuru.

Karena kehadiran manusia-manusia yang tak di-undang itu, terpaksa manusia berkerudung itu mau pun Ong Bunkim menarik kembali serangannya dan mengundurkan diri ke belakang.

Sorot mata mereka sama-sama dialihkan ke arah mana berasalnya suara bentakan tadi, tampak seorang perempuan gemuk berbaju metab menyala diiringi empat orang gadis berbaju merah pula muncul ditepi gelanggang...

Dengan senyuman dikulum perempuan gemuk berbaju merah itu menyapu sekejap sekeliling gelanggang, lalu sinar matanya berhenti diatas wajah Ong Bun-kim.

"Heeeh heeeh.... hehh. Jadi kau yang menjadi ahli warisnya Kui-jin Suseng?"

Ia menegur sambil tertawa dingin.

"Kalau benar kenapa?"

"Kau pernah berkunjung ke bukit Jit-gwat-hong?"

"Benar!"

"Apa yang kau temukan diatas puncak Jin-gwat-hong tersebut?"

"Mayat dari Kiam-hay lak-yu!"

"Dan kau pula orang yang telah membinasakan Samjie hekhou (rase hitam berlengan tiga)?"

Perempuan itu kembali bertanya. Mendengar nama -orang itu Ong Bun-kim merasakan hatinya bergetar keras, karena nama "Sam-Jinhek-hou"

Baru pertama kali di dengarnya, meski demikian nama orang itu amat menggetarkan perasannya, sebab sebelum ajalnya Luitian jiu telah mengatakan bahwa pembunuh mereka adalah seseorang yang menggunakan huruf, Sam"

Sebagai permukaan namanya. Maka ia tertawa dingin, dengan sengaja tak sengaja diliriknya manusia berkerudung itu sekejap, lalu ejeknya.

"Sam-jiu-hek-hou?"

"Benar!"

Sepasang alis mata Ong Bun-kim berkerut kencang, suatu perubahan mimik wajah yang sukar di lukiskan dengan kata kata melintas diatas wajah nya, setelah termenung sebentar dengan kecerdasan serta kemampuannya, ia dapat menduga perempuan macam apakah manusia yang bernama Sam-jiu-hek-hou tersebut.

Ia tersenyum lebar, kemudian tanyanya.

"Kau maksudkan perempuan berbaju hitam yang membinasakan Kiam-hay-lak yu itu? "Benar! Memang dialah yang kumaksudkan, itu berarti kau benar-benar telah berjumpa dengannya, apakah ia sudah tewas ditanganmu?"

Setelah Ong Bun-kim berhasil membuktikan persoalan ini dia mulai merasa bingung oleh masalah lain, tak bisa disangsikan lagi kalau Kiam hay-lak yu memang tewas ditangan Sam jiu-hek hou, tapi siapa pula yang telah membinasakan Rase hitam berlengan tiga itu?

Siapa pula manusia berkerudung hitam yang sesungguhnya?

Pelbagai tanda tanya dan kecurigaan menyelimuti seluruh benak Ong Bun-kim, hingga kini jangankan memahaminya, untuk mengetahui apa gerangan yaag telah terjadipun ia tak bisa.

Kendatipun demikian, anak muda itu tertawa seram juga dengan suara yang amat sinis..

"Kenapa kau menuduh aku yang telah membinasakannya?"

"Yaa, sebab kau ingin mendapatkan mata uang kematian tersebut?"

Ong Bun-kim tertawa lebar, pelan-pelan sinar matanya dialihkan ke wajah manusia berkerudung Hitam itu.

sekarang ia dapat menduga bahwa Sam jiu-hek-hou kemungkinan besar telah tewas ditangan manusia berkerudung hitam yang berada di hadapannya sekarang.

Maka ia tertawa lebar, katanya.

"Sayang seribu kali Sayang tuduhanmu itu tak beralasan, sebab aku tak pernah membinasakan Sam jiu-hek-hou tersebut!"

"Lantas ia telah binasa ditangan siapa?"

"Aku tak berani menuduh seenaknya sendiri, karena aku tidak menyaksikan peristiwa pembunuhan itu dengan mata kepala sendiri"

"Bukankah engkau mempunyai mata uang kematian?"

"Betul! Dan memang begitu kenyataannya"

"Kalau begitu, cepat serahkan kepadaku!"

Sambil membentak perempuan gemuk berbaju merah itu memburu ke depan dan langsung menerjang ke arab si anak muda itu dengan hawa napsu membunuh menyelimuti wajahnya dan sorot mata seperti salju, ditatapnya wajah Ong Bun-kim tanpa berkedip "Bila aku keberatan untuk menyerahkannya kepadanya?"

Ejek Ong Bun-kim sambil tertawa sinis.

"Keberatan untuk menyerahkannya kepadaku? Hmm kalau engkau berani berbuat demikian, darah dari tubuhmu akan segera berceceran dihadapanmu!"

Manusia berkerudung hitam yang selama ini hanya membungkam terus, tiba-tiba tertawa dingin lalu katanya.

"Bukankah kau adalah Sip hiat-yau-hoa (Siluman bunga penghisap darah), anak buah dari Sin-li kokcu?"

Mendengar disebutkannya nama itu, paras muka perempuan gemuk berbaju merah itu berubah hebat.

"Benar, akulah orang yang kau maksudkan, siapa kau?"

Tegurnya.

"Siapakah aku lebih baik tak usah kau tanyakan, yang perlu kau ketahui adalah akupun mempunyai sebiji mata uang kematian"

"Apa? Kaupun memiliki satu biji mata uang kematian? Hal ini mana mungkin terjadi!"

"Mau percaya atau tidak terserah kepadamu, pokoknya aku memang memiliki juga sebiji mata uang kematian!"

Kontan saja Siluman bunga penghisap darah tertawa dingin.

"Bagus sekali, jikalau kaupun memeliki sebiji mata uang kematian, maka sebelum kau serahkan pula kepadaku hari ini, jangan harap bisa tinggal kan tempat ini dalam keadaan selamat"

"Kalau memang begitu, apa salahnya kalau kita saling mencoba sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang kau miliki?"

Siluman bunga penghisap darah tidak banyak berbicara, ketika manusia berkerudung hitam itu menyelesaikan katakatanya, dengan sekali lompat tahu-tahu perempuan gemuk itu sudah berada dihadapan musuhnya.

Jangan dilihat badannya yang segede gentong, ternyata kelincahan tubuhnya tidak kalah dengan perawan.

"Siapakah diantara kalian berdua yang hendak maju lebih dahulu."

Bentaknya. Manusia berkerudung hitam itu tertawa dingin, baru saja dia akan menjawab, Ong Bun-kim telah keburu tertawa dingin.

"Aku!"

Jawabnya singkat.

"Bagus sekali, kalau memang begitu cobalah dahulu sebuah pukulanku ini !"

Ditengah bentakan keras, secepat kilat tubuhnya menerjang ke hadapan Ong Bun-kim, lalu dengan suatu gerakan yang aneh dia hantam wajah anak muda itu.

Sungguh cepat dan dahsyat serangan yang dilepaskan oleh Siluman bunga penghisap darah.

Ong Bun-kim sama sekali tidak gentar, sambil tertawa dingin telapak tangan kirinya diayun pula ke depan melepaskan sebuah serangan balasan yang tak kalah hebatnya.

Kedua belah pihak sama-sama melancarkan serangan dengan kecepatan paling tinggi, baru saja serangan dari Ong Bun-kim dilancarkan.

Siluman bunga pengisap darah telah merubah gerakan serangannya, dari suatu serangan membacok tiba-tiba ia menyodok jalan darah Ciang tay-hiat ditubuh lawan.

Ketepatan dalam serangan, kedahsyatan dalam penggunaan tenaga sungguh membuat orang merasa kagum.

Ong Bun-kim tak sudi menunjukkan kelemahannya dihadapan orang, sambil membentak keras khim besi ditangannya diayunkan pula ke depan langsung menyambar dada Siluman bunga pengisap darah.

Agak terperanjat perempuan gemuk berbaju merah itu menghadapi serangan kilat lawan, tanpa sadar dia menyurut mundur tiga langkah.

Tapi Ong Bun-kim tak mau memberi kesempatan bagi musuhnya untuk berganti napas, menggunakan kesempatan tersebut, sekali lagi dia melancarkan tiga buah serangan berantai.

Kali ini, si anak muda menyerang dengan gerakan yang lebih garang, lebih keji dan telengas.

Siluman bunga pengisap darah membentak nyaring dengan gaya beradu jiwa ia menerjang kemuka.

Ong Bun-kim membentak pula keras-keras, dengan khim bajanya ia melancarkan sebuah serangan balasan.

Dalam waktu singkat lima jurus sudah lewat tanpa terasa.

Mendadak Ong Bun-kim membentak keras.

"Roboh kau !"

"Blaaang !"

Sebuah pukulan dengan khim bajanya bersarang telak ditubuh perempuan gemuk berbaju merah itu, tak ampun ia mencelat ke belakang dan roboh terkapar darah kental muncrat keluar membasahi sekeliling bibirnya.

Apa yang terjadi sekarang hanya berlangsung dalam sekejap mata, tak sampai sepuluh gerakan Ong Bun-kim telah berhasil melukai siluman bunga penghisap darah yang lihay ini menunjukkan bahwa ilmu silat yang dimilikinya benar-benar sudah mencapai taraf yang amat tinggi.

Disaat Siluman bunga penghisap darah roboh terkapar sambil membentak Ong Bun-kim menerjang ke muka tapi empat orang gadis berbaju meraa yang berada dibelakang serentak membentak, lalu sambil menerjang ke depan mereka hadang jalan pergi anak muda itu.

0000OdwO0000 BAB KELELAWAR MALAM "CARI mampus."

Bentak Ong Bun kim marah.

Sambil membentak keras, serentak kedua belah tangannya diayunkan untuk melancarkan serangan tangan kiri menyerang dengan menggunakan senjata khim baja.

Manusia berkerudung yang misterius tadi hanya berdiri disamping gelanggang sambil berpeluk tangan, ia tidak bergerak ataupun mengucapkan sesua tu seakan-akan ia kelewat senang menikmati cara Ong Bun kim membunuh orang secara keji..Betul juga, jerit kesakitan menyayatkan hati seketika berkumandang memenuhi angkasa.

Dua orang gadis berbaju merah yang menghadang jalan pergi Ong Bun kim tadi sudah terhajar sampai jatuh terjengkang diatas tanah.

Ketika dua orang rekannya menyaksikan adegan seram itu, dengan ketakutan cepat-cepat mereka mundur kebelakang.

Ong Bun-kim menatap mereka dengan pandangan tajam yang menggidikkan hati, kembali bentaknya.

"Siapa lagi yang sudah bosan hidup ? Hayo cepat laporkan dulu siapa namanya!"

Dengan ketakutan kembali dua orang perempuan berbaju merah itu mundur selangkah ke belakang.

Kekejaman dan kebrutalan menghiasi wajah Ong Bunkim yang dingin, selangkah demi selangkah ia maju ke muka menghampiri Siluman bunga penghisap darah yang masih tergeletak ditanah itu.

Bayangan manusia berkelebat lewat, dan tahu-tahu perempuan gemuk berbaju merah itu sudah di cengkeramnya.

Begitu korban berhasil ditangkap, sambil menyengir seram ia menyapu sekejap sekeliling tempat itu.

Disaat itulah Siluman bunga penghisap darah sadar kembali dari pingsannya ketika ia mengetahui kalau tubuhnya sudah terjatuh dalam cengkeraman Ong Bun-kim, kontan saja paras mukanya berubah menjadi pucat keabuabuan.

"Heehh...heeeh heeehhh... tolong tanya sekarang, siapakah yang akan mampus dengan darah berceceran?"

Ejek Ong Bun-kim sambit tertawa dingin tiada hentinya.

"Mau.... mau apa kau?"

Ong Bun-kim tertawa congkak, sekulum yang sukar diraba artinya menghiasi ujung bibirnya.

"Sulit untuk dikatakan apa yang bakal kulakukan"

Demikian ia menjawab dengan sinis.

"kemungkinan kau akan kubunuh, kemungkinan juga kau akan kulepas, itu semua tergantung apakah kau bersedia menjawab sebuah pertanyaan yang akan kuajukan kepadamu!"

"Pertanyaan apa yang hendak kau ajukan kepadaku?"

"Apakah kau adalah anak buah dari Sin-li-kok (lembah gadis suci)?"

Ong Bun kim mulai bertanya.

"Tepat sekali pertanyaanmu itu!"

"Lembah Sin-li-kok terletak dimana?"

"Sayang aku tak mau menjawab!"

"Wahai Siluman bunga penghisap darah! teriak "anak muda itu dengan penuh kemarahan, jika kau tidak menjawab pertanyaanku ini pertama-tama akan kurusak lebih dulu raut wajahmu, kemudian....heeebhh heeehhh heeeh akan kusuruh kau merasakan lagi suatu penyiksaan yang terkeji sebelum akhirnya jiwamu kurenggut."

Cukup hebat ancaman tersebut, seketika itu juga sekujur badan Siluman bunga penghisap darah gemetar keras.

"Jangan,....jangan kau lakukan itu......baiklah kujawab dengan sejujurnya. Lembah Sin li kok terletak diatas bukit Soat im san."

"Apa.....? Lembah Sin li kok berada diatas bukit Soat im san ?"

Saking kagetnya Ong Bun kim sampai menjerit tertahan.

Secara tiba-tiba saja ia teringat akan perkataan yang pernah disampaikan Tui hong pocu kepadanya menurut kakek itu, diatas bukit Soat-im-san telah muncul sebuah perguruan yang amat misterius, dan kokcu dari lembah tersebut kemungkinan besar adalah salah satu diantara Siau Hiu un dan Coa Siok oh.

"Betul, letaknya berada diatas bukit Soat im-san!"

Siluman bunga penghisap darah kembali membenarkan.

Dalam waktu yang amat singkat itu pelbagai perubahan berlangsung diatas wajah Ong Bun kim kejadian yang hakikatnya berada diluar dugaan ini membuat anak muda itu merasa kaget bercampur tercengang, untuk sesaat ia cuma dapat berdiri tertegun dengan wajah kebingungan.

Lama.....lama sekali paras muka Ong Bun kim baru berubah kembali menjadi tenang, kembali ia bertanya.

"Siapakah nama kokcu kalian?"

"Kui kok sin li (Gadis suci lembah setan)!"

"Aku menanyakan siapa nama sebenarnya?"

Bentak anak muda itu.

"Aku tidak tahu!"

"Apa? Tidak tahu? Omong kosong... masa kalian tidak tahu siapa namanya yang sesungguhnya."

"Tapi aku sungguh tidak tahu!"

Paras muka Ong Bun kim berubah hebat.

"Jadi kau sengaja tak mengakuinya?"

Ia berteriak.

"Tidak, aku tidak berkepentingan untuk membohongi kau, kami benar-benar tak tahu siapa nama aslinya, sebab kami semua hanya menyebutnya sebagai Kui kok sin li!"

Jawab siluman bunga penghisap darah dengan nada yang panik.

Ong Bun kim termenung sebentar, ia merasa tidak mungkin memang kalau Siluman penghisap darah sengaja membohonginya, tapi harusnya orang itu dibunuh?

Atau diampuni saja selembar jiwanya?

Lama, lama sekali, akhirnya ia tertawa dingin.

"Sesungguhnya kau ingin mati ataukah ingin hidup?"

Ia menegur.

"Kalau ingin mati bagaimana? Dan kalau ingin hidup bagaimana pula."

"Kalau ingin hidup pergi beritahu kepada kokcu kalian bahwa dalam tiga hari mendatang, putra Su-hay-pong-kek Ong Si liat akan datang menyambanginya!"

"Tentang soal ini, aku bisa melaksanakannya untukmu!"

Ong Bun kim tidak berbicara lagi, dengan suatu gerakan yang sangat cepat secara beruntun ia menotok empat buah jalan darah kematian diatas tubuh Siluman bunga penghisap darah, kemudian katanya.

"Jalan darah kematian ditubuhmu sudah kutotok semua bila kokcu kalian tak sanggup untuk membebaskan pengaruh totokan itu, maka jiwamu tak bisa melewati empat hari lagi, nah sekarang kau boleh enyah dari hadapanku..."

Sembari berkata, tubuh siluman bunga penghisap darah yang gemuk besar itu dilemparkan ke arah seorang gadis berbaju merah yang berada dihadapannya.

Dengan cepat gadis berbaju merah itu menyambut tubuh siluman bunga penghisap darah, tapi untuk sesaat lamanya ia cuma berdiri tertegun disitu rupanya ia tak tahu apa yang musti dilakukan.

Menyaksikan sikap musuhnya, Oug Bun kim segera membentak keras.

"Hei, apa lagi yang kalian tunggu? Kalau enggan enyah dari sini, mari akan kuhantar kalian untuk pulang ke alam baka!"

Sesudah ditegur, dua orang gadis berbaju merah itu baru tersentak dari lamunannya, tanpa berbicara lagi mereka putar badan dan mengambil langkah seribu.

Sepeninggal perempuan-perempuan dari Sin li kok manusia berkerudung hitam itu baru mengejek sambil tertawa dingin.

"Caramu bersikap maupun tindakan yang kau ambil tak berbeda jauh dengan kelakuan gurumu dimasa lampau, itulah dinamakan begitu gurunya begitu juga muridnya, kagum kagum aku benar-benar merasa kagum!"

Ong Bun-kim tertawa dingin pula.

"Heeehhh heehh heeehh bukankah telah kau akui bahwa Kiam hay-lak-yu telah tewas semua ditanganmu?"

"Masa kau percaya? Aku hanya membohongimu!"

"Kenapa?"

"Sebab kau telah menuduh akulah yang melakukan perbuatan itu. Padahal aku mengidap suatu penyakit aneh yakni apa yang telah dituduhkan kepadaku selalu kuakui dengan begitu saja!"

"Lantas apakah Sam jiu-hek-hou juga tewas di tanganmu?"

Tanya Ong Bun-kim lagi.

"Ooooh rupanya sekarang aku harus menyangkalnya!"

Ong Bun-kim tertegun, ia tak menyangka kalau manusia berkerudung hitam itu menyangkal sebagai pembunuh dari perempuan yang bernama Rase hitam berlengan tiga, sebab dengan begini maka berarti bahwa persoalan dibalik kesemuanya itu bukan persoalan yang gampang.

Kembali ia termenung sejenak, lalu tanyanya.

"Berapa biji mata uang kematian yang berhasil kau miliki?"

"Hanya satu biji?"

"Betul, bila ditambah milikmu maka aku akan memiliki dua biji!"

Ong Bun-kim segera tertawa lebar.

"Oooh...... tampaknya kau begitu bernapsu uniuk mendapatkan pula mata uang kematian yang berada disakuku ini?"

"Betul!"

"Kau ingin berkelahi sekali lagi?"

"Tidak, aku tak ingin berkelahi... aku menghendaki suatu penyelesaian secara damai"

"Penyelesaian secara danai bagaimana maksudmu."

"Tak ada salahnya jika kita bertaruh, akan kuletakkan mata uang kematian yang kumiliki ini dalam genggamanku, lalu kau boleh menebak adakah atau tidak mata uang tersebut dalam genggaman yang kusodorkan ke hadapanmu, jika kau berhasil menebaknya secara jitu, maka mata uang kematianku ini akan kuberikan kepadamu."

"Kalau aku tak berhasil untuk menebaknya?!"

"Tentu saja kau harus serahkan mata uang kematian milikmu itu kepadaku."

"Bagus sekali, aku setuju!"

Manusia berkerudung hitam itu masukkan tangan kanannya ke dalam saku, tak lama kemudian tangan itu dicabut keluar, dengan mengepalnya kencang kencang, tangan kanan tadi diangsurkan ke hadapan Ong Bun-kim.

"Hayo coba kau tebak!."

Katanya.

Ong Bun-kin rada gentar, jantungnya serasa berdetak lebih kencang, ia tak tahu bagaimana jadinya bila ia kalah dalam pertaruhan tersebut ?

Mendadak ia seperti menemukan sesuatu, sambil tertawa lebar segera katanya.

"Ada! Hayo cepat buka."

Dalam bentakan Ong Bun-kim yang sangat nyaring itu, Manusia berkerudung hitam tersebut benar-benar membentang tangannya.

Tak salah lagi, dalam genggamannya memang terdapat sebiji mata uang kematian.

Kontan saja manusia berkerudung hitam itu tertawa dingin.

"Heeehhh heeehhh......heeeh... rupanya tebakanmu tepat sekali, nah ambillah pergi!"

Sinar emas tampak berkilauan, tahu-tahu mata uang kematian itu sudah dilemparkan ke arah Ong Bun kim.

Tertegun juga sianak muda itu setelah menerima mata uang kematian tersebut, karena ia tak mengira kalau manusia berkerudung hitam itu akan bertindak sejujur itu.

Manusia berkerudung hitam itu kembali tertawa dingin.

"Aku telah kalah bertaruh dan mata uang kematian sudah kau dapatkan, apa lagi yang harus kutunggu disini? Selamat tinggal!"

Katanya. Selesai berkata, ia putar badan dan siap meninggalkan tempat itu.

"Hei, tunggulah sebentar!"

Tiba-tiba Ong Bun-kim membentak keras. Manusia berkerudung hitam itu menghentikan kembali langkah kakinya, ia bertanya.

"Hei anak muda, apa lagi yang hendak kau tanyakan kepadaku."

"Ada sesuatu urusan yang hendak kurundingkan denganmu"

Kata Ong Bun kim, jika mata uang kematian ini kembalikan kepadamu..."

"Aku diminta untuk memberitahukan dimana gurumu berada?"

Sambung manusia berkerudung hitam itu segera.

"Benar!"

Kembali Manusia berkerudung hitam itu tertawa dingin.

"Heehhh heeehh heeehh sayang aku enggan untuk bertukar syarat denganmu!"

Jawaban dari manusia berkerudung hitam itu sungguh berada diluar dugaan Ong Bun-kim, tanpa sadar ia menjerit.

"Kenapa?"

"Sebab nilai untuk memberitahukan jejak gurumu tak bisa dibayar hanya dengan sebiji mata uang kematian saja, dan lagi beberapa hari kemudian kedua biji mata uang kematian itu bakal terjatuh kembali ketanganku."

Berbicara sampai disana tanpa menanti lebih lama lagi ia putar badan dan berlalu dari sana.

Tindakan lawannya ini tentu saja membuat Ong Bun kim tertegun, untuk sesaat dia tak tahu ada yang musti dilakukan.

-oo0dw0oo

Jilid PERASAAN murung, kesal dan sedih kembali menghiasi raut wajahnya, meskipun dia belum tahu di manakah gurunya Kui-jin suseng berada, namun dari pembicaraannya dengan manusia berkerudung hitam itu, dapat dibuktikan olehnya bahwa gurunya Kui-jin suseng masih hidup segar bugar di dunia ini.

Mengapa Kui-jin suseng membinasakan ayahnya?

Kenapa pula dia mewariskan ilmu silatnya kepadaku ?

Ini merupakan sebuah teka-teki yang membingungkan perasaannya.

Tiba-tiba ia merasakan sesuatu, ia merasa untuk mengetahui jejak gurunya maka ia harus berkunjung ke suatu tempat...

mungkin hanya di Hau-kwan lah dia menemukan apa yang diharapkan itu.

Dan sekarang, dia harus secepatnya menyelidiki persoalan ini hingga menjadi jelas.

Teringat sampai di sini, Ong Bun-kim segera memasukkan mata uang kematian yang dimenangkan dari taruhan itu ke dalam sakunya, tapi sebelum meninggalkan tempat itu tiba-tiba ia teringat kembali dengan irama pembetot sukma yang telah mengalutkan permainan khimnya tadi.

Paras mukanya seketika berubah hebat, dia putar badan dan meneruskan kembali perjalanan menuju ke arah mana berasalnya suara permainan seruling tadi.

Beberapa langkah ia baru berjalan, gelak tertawa telah berkumandang dari arah belakang, menyusul kemudian seseorang menegur.

"Hai anak muda, jangan pergi dulu!"

Mendengar suara teguran itu, Ong Bun kim memutar badannya dengan wajah terkejut, tapi di belakang tubuhnya tidak dijumpai sesosok bayangan manusiapun, kenyataan tersebut membuat wajahnya tertegun.

Hei anak muda, kenapa keheranan?"

Suara tadi kembali berkumandang lagi.

"dongakkan kepalamu, aku berada di atas pohon!"

Ong Bun kim mendongakkan kepalanya, betul juga, kurang lebih tiga tombak dihadapannya terdapat sebuah pohon yang amat besar, sesosok bayangan hitam bergelantungan di atas dahan pohon itu, sepintas lalu gaya orang itu mirip sekali dengan seekor kelelawar yang sedang bergelantungan...

Kaget juga Ong Bun kim menjumpai adegan tersebut, meski demikian perasaan kagetnya hanya disimpan di dalam hati.

"Tidakkah kau merasa kesulitan untuk bergelantungan di atas pohon?"

Tegurnya kemudian dengan suara dingin.

"Aaah ... kebiasaan lama lama menjadikan hal itu suatu kejadian yang lumrah!"

"Siapakah kau?"

"Kelelawar malam!"

"Aaah...! Kau adalah kelelawar malam?"

Ong Bun kim berteriak kaget.

Tiba-tiba saja ia teringat dengan perkataan dari Tui hong poocu, menurutnya Kelelawar malamlah yang membawa kabar kalau Si Latah dari empat samudra telah tewas dibunuh Sastrawan Setan harpa ...

Sementara itu kelelawar malam telah menegur sambil tertawa tawa.

"Wahai bocah muda, kenapa kau berkaok-kaok macam tikus kejepret?"

"Jadi... jadi kau yang bernama Kelelawar malam?"

"Ada apa anak muda? Kau curiga aku mencatut nama orang lain?"

"Jadi kau yang memberitahukan kepada Tui hong pocu bahwa ayahku telah mati dibunuh orang?"

"Benar!"

"Kau benar-benar menyaksikan ayahku tewas ditangan Kui-jin suseng ... ?"

Desak Ong Bun kim lagi.

"Benar!"

"Beritahu kepadaku keadaan yang sebenarnya pada saat itu!"

"Boleh saja, tapi ada satu syarat yaitu kau mesti menjawab dulu beberapa buah pertanyaan secara jujur, setelah itu aku baru memberitahukan kepadamu keadaan ketika itu."

"Boleh, tanyalah sekarang juga!"

Kelelawar malam termenung sebentar, lalu bertanya.

"Apakah semua ilmu silat yang kau miliki berasal dari gurumu Kui-jin suseng?"

"Benar."

"Aku rasa hal ini tak mungkin ..."

"Kenapa tidak mungkin?"

"Pertama, ilmu silat yang kau miliki jauh lebih tinggi daripada ilmu silat gurumu, kedua tenaga dalammu berada di atas kepandaian gurumu, hal ini mana mungkin bisa terjadi?"

Ong Bun kim tertegun sesudah mendengar perkataan itu.

"Tapi demikianlah keadaan yang sesungguh nya!"

Dia berkata.

"Apakah dia telah menyalurkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya ke dalam tubuhmu?"

"Tidak!"

"Kalau tidak demikian, kenapa tenaga dalam yang kau miliki bisa jauh melebihi kepandaian yang dimiliki gurumu Kui jin suseng?"

"Apakah kau yakin kalau tenaga dalamku jauh lebih sempurna daripada kepandaiannya?"

Ong Bun kim berseru dengan nada terperanjat dan tidak percaya.

"Seratus persen tidak bakal salah!"

Dengan adanya pernyataan tersebut. Ong Bun kim ikut menjadi bingung dan tak habis mengerti.

"Tapi.... hal ini tak mungkin terjadi, mana mungkin ilmu silatku bisa lebih hebat dari pada kepandaian guruku?"

"Aku dapat membuktikan bahwa ilmu silatmu jauh lebih hebat dari pada kepandaiannya!"

"Kenapa?"

"Sialan benar kamu ini!"

Damprat orang itu.

"seandainya aku tahu mengapa, buat apa aku bertanya lagi kepadamu?"

Ong Bun-kim menjadi tertegun, tiba-tiba ia seperti teringat akan sesuatu, segera katanya.

"Mungkinkah dikarenakan..."

"Dikarenakan apa?"

"Setiap bulan guruku selalu memberi tiga tetes cairan putih seperti susu kepadaku untuk diminum, selama sepuluh tahun hal ini berlangsung tanpa berhenti..."

"Benar, benar ! Bukankah setiap kali cairan putih itu diminum maka kau akan merasakan sekujur badanmu menjadi nyaman ?"

Kata kelelawar malam dengan cepat.

"Yaa, betul"

"Tak heran kalau tenaga dalammu bisa melampaui kemampuan gurumu, ternyata kau telah minum Cian-niansak-ji (susu batu berusia seribu tahun) yang amat langka dan diidam-idamkan oleh setiap umat persilatan. Cairan mustika itu bukan saja berkhasiat untuk mencuci tulang dan berganti otot, dapat pula menambah kesempurnaan tenaga dalam seseorang, tapi yang mengherankan lagi, kenapa Kui -jin suseng bersikap sedemikian baiknya kepadamu? Hal ini sungguh merupakan suatu tanda tanya besar!"

Ong Bun-kim sendiripun kebingungan dan tidak habis mengerti. 00OdwO00 BAB BENARKAH GURUNYA ADALAH PEMBUNUH ? KELELAWAR malam bertanya lagi.

"Selama limabelas tahun mengikuti gurumu, apa saja yang ia pernah ia bicarakan denganmu?"

"Tak ada yang dibicarakan, selama lima belas tahun aku hidup bersamanya. Setiap hari paling banyak ia mengucapkan tiga patah kata saja yakni "Bangun".

"Pelajari jurus ini"

Serta "Istirahat", kecuali itu tak ada perkataan lain lagi yang diucapkan!"

"Apakah ia seringkah pergi meninggalkanmu?"

"Benar, dalam tiga sampai lima hari dia tentu pergi satu kali, setiap kali pergi pasti akan pulang setelah satu-dua hari, kecuali pada lima tahun berselang, sejak kepergiannya waktu itu ia tak pernah kembali lagi !"

Lama sekali Kelelawar malam tak bersuara, ia seperti lagi memikirkan sesuatu, setelah lewat waktu yang cukup lama ia baru bertanya lagi.

"Apakah di dalam suratnya ia menyuruhmu pergi mencari Tui-hong pocu setelah lewat lima tahun?"

"Benar!"

"Apakah Tui-hong pocu telah menceritakan kejadian yang sesungguhnya kepadamu?"

"Sudah!"

"Bagus sekali, nah sekarang berganti kau yang mengajukan pertanyaan kepadaku."

Setelah berpikir sejenak, Ong Bun-kim bertanya.

"Ketika ayahku dibunuh Kui-jin suseng, apakah kau hadir dalam gelanggang...?"

"Aku mengetahuinya setelah peristiwa itu terjadi !"

"Beritahukanlah kepadaku kejadian pada waktu itu!"

"Kejadian pada waktu itu sulit rasanya untuk diterangkan, sebab sebelum membicarakan persoalan ini, mau tak mau kita harus memperbincangkan lebih dulu kepandaian silat yang dimiliki gurumu serta ayahmu!"

Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan.

"Ayahmu bisa jatuh cinta kepada Coa Siok oh sesungguhnya merupakan perbuatannya yang paling keliru selama hidupnya, sekalipun keadaan yang sebenarnya tidak begitu kuketahui, tapi yang pasti kematian Mo-kui kiam-jiu (jago pedang setan iblis), itu kwancu dari perguruan Haukwan adalah kematian pura-pura."

"Ilmu silat yang dimiliki ayahmu ketika itu hakekatnya mencapai tingkatan yang luar biasa, ia sudah tiada tandingannya lagi dalam dunia persilatan. Tentang perbuatan Hau-kwan menggunakan siasat Bi-jin-ki untuk mencelakai ayahmu, hal ini memang merupakan kejadian yang mencurigakan, sebab kalau tidak, kenapa Mo kuikiam-jiu telah muncul kembali di dalam dunia persilatan setelah kematian ayahmu?"

"Kecuali beristrikan Coa Siok-oh, ayahmu masih mempunyai seorang istri lagi yang bernama Siau Hui-un, mereka bertiga tinggal di lembah Lip-jin kok, bagaimana keadaan yang sebenarnya, walaupun bisa kita duga tapi menurut dugaanku Coa Siok-oh tidak segera melaksanakan niatnya untuk membinasakan ayahmu, maka kesempatan yang sangat baikpun akhirnya ditemukan, yakni setelah enam

Jilid kitab pusaka dari enam partai besar dicuri orang..."

Ketika mendengar sampai di situ, Ong Bun kim tak dapat menahan diri lagi, ia segera bertanya.

"Sesungguhnya apa yang telah terjadi?"

"Sesudah kepopuleran ayahmu, dalam dunia persilatan telah muncul lagi seorang jago lihay yang bernama Kui-jin suseng, kelihayan ilmu silatnya dikagumi setiap orang, namun kekejian serta kebuasannya cukup membuat orang meniadi jeri dan ngeri kepadanya. Maka Hau-kwan kwancu yaitu Mo-kui-kiam-jiu segera menarik Kui-jin suseng ke pihaknya serta berusaha untuk melenyapkan ayahmu."

"Kui-jin suseng adalah seorang jago yang hebat, bila dugaanku tidak salah, Kwancu dari perguruan Hau-kwan si jago pedang setan iblis pasti telah membayar tinggi untuk mengundangnya, kalau tidak tak mungkin dia akan setuju."

"Masuk di akal !"

Ong Bun-kim kembali manggutmanggut menyatakan persetujuannya.

"Begitulah, setelah Kui jin suseng bergabung dengan Mo kui kiam jiu, mereka berusaha kembali membunuh ayahmu, sayang ilmu silat serta irama selaksa iblis dari Kui jin suseng masih belum sanggup untuk menyingkirkan ayahmu. Dalam keadaan demikian, ia menjadi nekad dan secara diam-diam melarikan enam

Jilid kitab pusaka dari keenam perguruan besar."

"Kui-jin suseng memang tak malu disebut orang manusia berbakat dalam dunia persilatan, dengan bakat serta kecerdasannya ternyata dalam dua tahun ia berhasil menguasai semua ilmu silat yang tercantum dalam keenam

Jilid kitab pusaka itu."

"Dan diapun berangkat ke lembah Lip-jin kok untuk membunuh ayahku?"

Sambung Ong Bun -kim.

"Tidak, kau keliru!"

"Aaaah .... keliru?!"

"Kau tak usah kaget, sekalipun kita tak tahu bagaimanakah keadaannya ketika itu, tapi aku yakin Kui -jin suseng masih belum mempunyai keyakinan untuk membunuh ayahmu, maka secara diam-diam dicarinya pembantu, mungkin ia telah mencari dukungan dari Coa Siok -oh atau Siau Hui -un untuk mencelakai ayahmu terlebih dulu, kemudian baru turun tangan membunuh ayahmu, sebab aku dapat menduga sampai di sini karena sesaat menjelang ajalnya, ayahmu telah memberitahukan kepadaku bahwa ia keracunan lebih dulu."

"Memang masuk di akal cerita ini..."

Ong Bun-kim mengangguk dengan hati yang pedih.

"cuma anehnya, kalau toh Kui-jiu suseng telah membinasakan ayahku, kenapa akupun tidak dibunuh?"

"Memang, kejadian ini bertolak belakang dengan keadaan pada umumnya, kecuali Kui-jin suseng sendiri mungkin tak ada orang kedua yang bisa memecahkan teka teki ini. Tapi ada satu hal mungkin bisa kita duga..."

"Soal apakah itu?"

"Oleh karena sewaktu ayahmu menemui ajalnya secara kebetulan aku berada di sana, maka setelah ayahmu mengucapkan kata-katanya yang terakhir dan menghembuskan napas penghabisan, kukebumikan jenajahnya setelah itu aku memburu ke dalam rumah dengan maksud mencarimu."

"Apakah ayahku yang menyuruh kau untuk menolongku?"

"Yaa, ayahmu yang minta kepadaku untuk menolongmu, namun ketika aku sampai, kau telah diculik oleh Kui-jin suseng, sedang kedua orang istrinya juga telah pergi semua."

"Lantas apa sebabnya Kui-jin suseng tidak membunuh diriku?"

"Kejadian itu masih merupakan sebuah tanda tanya besar, sampai kini tak mungkin bisa dipecahkan oleh siapapun, tapi ada satu hal yang bisa kita duga, yakni disaat Kui-jin suseng tidak membinasakan dirimu, dia pasti telah bertekad pula untuk menjadikan dirimu seorang tokoh silat yang luar biasa, selain itu tindakannya tetap mempertahankan ilmu silatnya yang asli tanpa diwariskan kepadamu, rupa-rupanya mengandung pula suatu tujuan tertentu."

Ong Bun-kim termenung sebentar, ia merasa perkataan itu memang ada benar-nya, kecuali ilmu silat dari aliran enam partai besar, Kui-jin suseng memang tidak mewariskan ilmu silat alirannya sendiri kepadanya.

Tentu saja ia mempunyai suatu maksud tertentu, tapi apakah tujuannya?

Sekalipun ia telah berpikir sampai pusing, jawabannya tetap nihil.

Akhirnya sambil berkerut kening dia berkata.

"Kalau begitu, sebetulnya aku ini dilahirkan oleh Siau Hui-un ataukah oleh Coa Siok-oh?"

"Tentang masalah ini, aku lupa menanyakannya kepada ayahmu waktu itu, padahal hal ini merupakan suatu masalah yang amat penting, tapi aku yakin orang yang melahirkan kau sudah pasti bukan orang yang membunuh ayahmu !"

"Menurut dugaanmu, siapakah yang lebih besar kemungkinannya sebagai ibuku?"

"Sulit untuk dikatakan, aku tak berani memastikan secara gegabah karena masalahnya menyangkut suatu kejadian yang kompleks sekali."

"Tahukah kau siapa yang menjadi Kui-kok Sin-li (perempuan suci dari lembah setan)?"

"Yang pasti salah seorang di antara Siau Hui-un atau Coa Siok-oh !"

"Darimana kau bisa berkata demikian?"

"Sebab perempuan suci dari lembah setan pernah menginstruksikan anak buahnya untuk mencari jejak Kuijin suseng!"

"Oooh kiranya begitu!"

Ong Bun-kim berseru tertahan, menyusul kemudian ia bertanya lagi.

"apakah kau juga tahu persoalan yang ada hubungannya dengan mata uang kematian?"

"Berbicara tentang mata uang kematian, aku menjadi tercengang dan merasa keheranan atas semua peristiwa yang telah terjadi antara kau dengan manusia berkerudung itu, aku sungguh tidak habis mengerti."

Tiba-tiba kelelawar malam berkata.

"Dalam hal yang bagaimana kau merasa keheranan?"

"Aku ingin bertanya kepadamu, bagaimanakah ilmu silat yang dimiliki manusia berkerudung hitam itu jika dibandingkan dengan kepandaianmu ?"

"Aku rasa setali tiga uang, tiada yang lebih hebat dan tiada pula yang lebih lemah!"

"Nah, itulah dia! Kalau memang kepandaian kalian seimbang, lagi pula kedatangan orang itupun lantaran mata uang kematian, kenapa secara sukarela ia serahkan mata uang kematian yang didapatkannya secara susah payah itu kepadamu?"

"Kau bilang mata uang itu diserahkan secara sukarela?"

"Tentu saja! Ketika berlangsung taruhan tadi, aku sempat mengikuti semua kejadian itu dengan amat jelasnya, ketika manusia berkerudung itu menggenggam mata uang tersebut, ia bukan meng-genggamnya secara mendatar sebaliknya malah menggenggam lurus ke atas, dengan sendirinya genggaman itu tak akan kencang, dan dalam sekilas pandangan saja kau tentu akan mengetahui dalam genggaman yang manakah mata uang kematian tersebut...!"

"Betul, kejadian ini memang merupakan suatu kejadian yang sangat aneh."

"Bahkan ada yang lebih aneh lagi..."

"Apa yang, lebih aneh lagi?"

Cepat-cepat Ong Bun-kim bertanya dengan gelisah.

"Tentang persoalan itu aku tak ingin melakukan dugaandugaan yang sembrono pada saat ini, cuma ada satu hal yang pantas dicurigai, yakni selama manusia berkerudung hitam itu melangsungkan pertarungan melawanmu, ia tak pernah mempergunakan tangan kirinya!"

Ong Bun-kim membayangkan kembali kejadian yang telah dialaminya, benar juga, sejak pertarungan dimulai orang itu memang tak pernah menyerang dengan menggunakan tangan kirinya, bahkan setiap kali bila jiwanya terancam bahaya, dia selalu menangkis harpa besinya dengan tangan kiri, mungkinkah tangan kirinya adalah palsu?

Kalau diurutkan kembali semua peristiwa yang telah dialaminya selama ini, memang kemungkinan besar dugaannya tak salah, sebab kalau tidak begitu, sekalipun ilmu silat orang itu lebih lihaypun belum tentu bisa menahan serangan mautnya.

Atau dengan perkataan lain, apabila dugaannya tidak salah, semestinya orang itu adalah seorang manusia bertangan tunggal.

Manusia bertangan tunggal?

Manusia bertangan tunggal?

Ketika berpikir sampai di situ, tiba-tiba paras muka Ong Bun-kim berubah hebat, tanpa sadar ia lantas berseru.

"Kau maksudkan....kau maksudkan orang itu adalah guruku, Kui-jin suseng?"

"Ya, hal ini besar kemungkinannya adalah benar!"

Kejadian yang munculnya secara tiba-tiba ini sangat menggetarkan perasaan Ong Bun-kim, seakan-akan hal itu tak mungkin bisa terjadi, tapi semua kecurigaan dan semua bukti yang berhasil dikumpulkan membuktikan bahwa manusia ber-kerudung hitam itu besar kemungkinannya adalah Kui-jin suseng!

Untuk sesaat lamanya ia berdiri tertegun di sana.

Ia membenci kepada dirinya sendiri, ia membenci mengapa tidak semenjak dulu berpikir sampai ke situ, kalau ia dapat menduga kalau orang itu berlengan tunggal, maka diapun bisa menduga kalau orang itu kemungkinan besar adalah Kui-jin suseng.

Di tengah keheningan yang mencekam, kelelawar malam kembali berkata.

"Mengenai persoalan ini, lebih baik kau tak usah terlalu kaget atau bingung, suatu ketika kalian pasti akan saling bertemu lagi, sekalipun kau tak akan menemukan dirinya, ia bisa datang untuk mencari dirimu!"

Ong Bun-kim menggigit bibirnya menahan emosi.

"Ya, aku pasti akan mencarinya,"

Ia berkata.

"aku pasti akan membuktikan benarkah dia adalah Kui-jin suseng!"

Sinar matanya memancarkan cahaya yang tajam menggidikkan, terusnya.

"Mungkin ia dapat membantuku menjawab banyak persoalan yang kini masih menjadi beban dalam benakku!"

"Benar, memang hanya dia yang bisa memberi jawaban atas banyak persoalan yang sedang kau hadapi!"

Kembali Ong Bun-kim termenung beberapa saat sebelum akhirnya berkata lagi.

"Sesungguhnya apakah manfaat dari mata uang kematian itu? Apakah di atas mata uang itu tercantum tempat tersimpannya se

Jilid kitab pusaka yang amat hebat?"

"Bukan!"

"Kalau bukan, lantas apa gunanya benda itu? Kenapa begitu banyak jago persilatan yang saling memperebutkan benda itu?"

"Konon pada duapuluh tahun berselang, dalam dunia persilatan terdapat seorang perempuan yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan... siapakah nama perempuan itu tak seorang-pun yang tahu, tapi kehebatan ilmu silatnya boleh dibilang tiada taranya di dunia dewasa ini, konon tiada seorang manusiapun yang sanggup menahan tiga jurus serangannya, kebanyakan jago yang berani mengusiknya tentu akan kedapatan mampus secara mengerikan..."

"Sedemikian dahsyat dan hebatnya perempuan itu, sehingga akhirnya orang orang persilatan memberi julukan Si ong mo ci (iblis cantik pembawa maut) kepadanya."

"Tapi suatu ketika, ternyata ada orang yang sanggup menahan tiga jurus pukulannya tanpa menderita kekalahan..."

"Siapakah orang itu?"

Sela Om Bun kim.

"Ayahmu, Si latah dari empat samudra!"

"Apa? Ayahku sanggup menahan tiga jurus pukulannya tanpa menderita kekalahan?"

"Bagaimana kenyataannya aku tak berani memastikan, sebab itu semua hanya menurut berita yang tersiar di dunia, walaupun begitu, semenjak saat itulah tiba-tiba ia lenyap dari keramaian dunia persilatan, sampai dua tahun kemudian baru ada orang yang berhasil menjumpai dirinya lagi..."

"Siapakah orang itu?"

"Orang itu adalah ketua dari perkumpulan Hui yan pang, tapi sekembalinya di dalam perkumpulannya, tiba-tiba ia kedapatan mati di bunuh orang!"

"Siapa yang telah membunuhnya?"

"Peristiwa ini menjadi peristiwa misterius yang tak terpecahkan hingga kini, yang lebih aneh lagi, ternyata istrinya ikut lenyap tak berbekas, konon mata uang kematian itu adalah benda yang berhasil didapatkan dari tangan isterinya itu."

Sejak peristiwa itulah, mata uang kematian telah muncul dalam dunia persilatan, cuma setiap orang yang berhasil mendapatkan mata uang kematian tersebut, cepat atau lambat mereka telah pulang ke alam baka..."

"Tiga tahun berselang, keenam biji mata uang kematian itu berhasil didapatkan oleh Kim-hay lak yu, untuk memecahkan rahasia yang menyelimuti mata uang kematian tersebut. Enam serangkai dari lautan pedang ini berjanji akan bertemu di atas puncak Jit gwat hong..."

"Dan kemudian, mereka tewas terbunuh oleh Sam jiu hek hou (Rase hitam berlengan tiga)?"

Sela Ong Bun kim.

"Tidak! Bagaimanapun lihaynya ilmu silat si Rase hitam berlengan tiga, tak nanti ia sanggup membunuh habis Kiam hay lak yu, mungkin di balik kejadian ini masih ada alasan yang lain. Lagi pula apakah Si Rase hitam berlengan tiga bisa mempergunakan jurus serangan dari enam perguruan atau tidak, hingga kini masih merupakan suatu tanda tanya besar."

"Tapi yang pasti, si Rase hitam berlengan tiga memang berhasil mendapatkan empat biji mata uang kematian dari saku Kiam hay lak yu, sayang sang walang mengincar tonggeret, si burung nuri mengancam dari belakangnya, maka diapun kembali kena dibunuh orang lain! Sudah barang tentu orang itu bukanlah si manusia berkerudung hitam itu."

"Lantas apa sebenarnya yang diinginkan si iblis cantik pembawa maut dengan meninggalkan mata uang kematiannya itu?"

"Aku tidak tahu!"

Ong Bun kim termenung, ia tak tahu apa yang harus diperbuat saat ini. Tiba tiba Kelelawar malam bertanya lagi.

"Kau hendak menuju ke lembah gadis suci?"

"Benar."

"Aku perlu memperingatkan kepadamu, seandainya kokcu dari lembah itu bukan ibumu, maka akibatnya sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata..."

Tercekat perasaan Ong Bun kim mendengar perkataan itu, sebab apa yang diucapkan Kelelawar malam memang benar, andaikata Kokcu dari lembah Sin li kok bukan ibunya, itu berarti dia adalah pembunuh yang telah menghabisi nyawa ayahnya.

Bila ia ke sana seorang diri, bukankah keadaan tersebut hakekatnya seperti sang domba yang menghantarkan diri ke depan mulut sang harimau?

Walaupun begitu, dalam keadaan seperti ini ia tak sempat untuk memikir, lalu katanya.

"Walaupun apa yang akan terjadi, aku harus ke sana!"

"Mau pergi atau tidak itu merupakan urusan-mu, tapi ada satu hal lagi yang perlu kutanyakan kepadamu, apakah kaupun mempunyai rencana untuk berkunjung ke perguruan Hau kwan?"

"Benar!"

"Dalam rencanamu ini kau harus mempunyai perhitungan yang masak, sekalipun ilmu silatmu hebat, tapi menurut dugaanku, kemungkinan besar kau masih bukan tandingan dari Mo kui kiam jiu!"

"Tentang soal ini, aku tak pernah memikirkannya di dalam hati!"

"Han kwan mempunyai mata-mata yang sangat banyak dan tersebar di mana-mana, rencana kunjunganmu ke Hau kwan untuk mencari balas sudah tentu telah diketahui pula oleh pihak lawan, aku harap segala tindakanmu selanjutnya harus lebih berhati hati lagi!"

"Terima kasih banyak atas perhatian dari locianpwe!"

Berbicara sampai di situ, tiba tiba Kelelawar malam melayang ke tengah udara, dalam beberapa kali kelebatan saja tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Untuk sesaat lamanya Ong Bun kim hanya berdiri tertegun di sana.

Sekarang ia sudah mengetahui banyak persoalan, dan persoalan persoalan itu sudah mulai melingkari tubuhnya, ia tak tahu dengan cara apa kah semua kejadian itu harus dihadapi?

Sekalipun ia mempunyai kepercayaan pada diri sendiri, memiliki pula tekad yang luar biasa namun ia menemukan bahwa dirinya terlampau kesepian, terlalu terisolir dan berdiri seorang diri.

Ketika teringat sampai di situ, tak kuasa lagi Ong Bun kim menghela napas panjang.

Tiba-tiba terdengar suara langkah manusia berkumandang memecahkan kesunyian, langkah kaki itu dengan cepat menyadarkan kembali Ong Bun kim dari kemurungan dan lamunannya.

Ketika ia mendongakkan kepalanya, apa yang kemudian terlihat seketika membuat pemuda itu tertegun.

Seorang nona berbaju kuning telah muncul di hadapannya, ia mempunyai raut wajah ber-bentuk bulat telur, sepasang biji matanya bening dan jeli kelihatan sangat menawan hati, pipinya merah dan gerak-geriknya polos, sungguh menawan hati siapapun yang memandangnya...

Nona itu memandang pula ke arah Ong Bun kim dengan wajah termangu-mangu...

seakan-akan tampang ganteng dari pemuda itu telah mendebarkan hatinya.

Tiba-tiba ...

sorot mata Ong Bun kim terhenti di atas sebuah seruling perak yang berada di tangan nona itu, paras mukanya kontan saja berubah hebat.

"Aaaah ... rupanya kau ..."

Hardiknya.

"Kenapa dengan aku?"

Tanya si nona berbaju kuning itu dengan wajah tertegun. Ong Bun kim tertawa lebar.

"Bukankah nona adalah orang yang telah mematahkan pengaruh irama penggaet sukmaku?"

Ia menegur.

Tentu saja si nona berbaju kuning itu tak mengetahui bahwa senyuman Ong Bun-kim yang begini menarik, begini mempesonakan hati sesungguhnya terkandung hawa pembunuhan yang amat tebal.

Paras muka nona itu berubah juga, katanya.

"Jadi belasan orang hwesio dan toosu itu tewas oleh permainan irama harpamu?"

"Benar!"

"Dan kau kau adalah ahli waris dari Kui-jin suseng yang termashur akan kekejamannya itu?"

Kembali nona berbaju kuning itu bertanya dengan nada kaget! "Betul!"

Hawa napsu membunuh segera menyelimuti wajah si nona itu, tiba-tiba bentaknya "Aku hendak membunuh kau!" 000OdwO000 Bab ENAM CAMBUK PENUNGGANG HARIMAU SAMBIL membentak nyaring, serentetan cahaya perak berkilauan memenuhi angkasa, dengan seruling peraknya secepat kilat si nona berbaju kuning melejit ke depan dan menerjang ke arah Ong Bun-kim.

Sesungguhnya semenjak Ong Bun-kim tahu bahwa si nona berbaju kuning inilah yang telah mematahkan daya pengaruh dari irama Kou-hun-ki nya, hawa membunuhnya telah berkobar dalam dadanya, maka dikala nona berbaju kuning itu melancarkan sebuah serangan, dia sendiripun melepaskan pula sebuah serangan kilat.

Kedua belah pihak sama-sama melepaskan serangannya dengan kecepatan tinggi, diantara getaran seruling peraknya tiba-tiba nona berbaju kuning itu merubah gerak jurus serangannya, secara beruntun ia melepaskan tiga buah serangan berantai.

Semua serangan tersebut bukan saja dilepaskan dengan kecepatan yang luar biasa, jurus-jurus ancamanpun semuanya keji, buas dan sama sekali tak ada rasa kasihan.

Ong Bun-kim membentak nyaring, harpa besinya disodok ke luar, dengan garang dan buasnya ia melancarkan pula dua buah serangan berantai.

Bayangan manusia saling berputar dan saling menyambar, dalam waktu singkat, kedua belah pihak masing-masing telah melepaskan lima buah serangan gencar.

Rupanya Ong Bun-kim tidak menyangka kalau musuhnya memiliki ilmu silat selihay itu, ia segera membentak nyaring, harpa besinya dengan suatu gerakan yang paling cepat bagaikan sambaran geledek secara beruntun melepaskan tiga buah serangan kilat.

Ketiga jurus serangan itu semuanya dilancarkan Ong Bun-kim dengan disertai tenaga dalam yang paling sempurna, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya daya penghancur dari pukulan itu.

Dengan bersusah payah si nona berbaju kuning itu berusaha meloloskan diri dari ketiga buah ancaman itu, sayang sebuah sodokan tangan kiri dari Ong Bun-kim tibatiba nyelonong masuk.

"Blaaang"..!"

Suatu benturan keras tak dapat dihindarkan lagi.

Dengan sempoyongan si nona berbaju kuning mundur beberapa langkah, ia merintih kesakitan dan darah kental menyembur ke luar dari bibirnya yang kecil.

Ong Bun-kim tidak berdiam diri belaka, sekali melompat ke depan, bagaikan burung elang menyambar anak ayam, tahu-tahu gadis itu sudah dicengkeram olehnya.

Sesudah terjatuh ke tangan musuh, nona berbaju kuning itu baru merasa takut dan ngeri, ditatapnya wajah Ong Bunkim dengan seribu pertanyaan.

Ong Bun-kim tertawa seram, suaranya dingin mengerikan dan buas, membuat siapa juga yang mendengar suara tersebut menjadi bergidik bulu kuduknya.

"Heehh heehh sekarang kau boleh menjawab, kau yang hendak membunuhku? Ataukah aku yang hendak membunuhmu?"

Ejeknya sinis.

"Apa maumu?"

Tanya nona berbaju kuning itu makin ketakutan. Ong Bun-kim memperlihatkan sekulum senyumannya yang aneh dan misterius, lalu katanya.

"Susah untuk kukatakan sekarang! Tapi sebelum kita bicarakan yang lain, jawab dulu sejujurnya, kenapa kau patahkan daya pengaruh dari permainan harpaku?"

"Tidak tahu!"

"Setelah kau tahu bahwa aku adalah ahli warisnya Kuijin suseng, mengapa secara tiba-tiba kau melancarkan serangan mematikan kepadaku?"

"Gurumu adalah seorang gembong iblis yang kejam dan tidak berperi kemanusiaan, tentu saja kaupun tidak terkecuali, sebab kalau tidak begitu, mengapa kau bantai secara brutal jago-jago yang tergabung dalam enam partai besar?"

"Heeehhh...heeehhh... heeehh... berapa usiamu tahun ini?"

Tanya Ong Bun-kim lagi sambil tertawa dingin.

Pertanyaan yang diajukan si anak muda itu cukup brutal, tidak sopan dan mendatangkan perasaan aneh bagi yang mendengarkan.

Kontan saja paras muka nona berbaju kuning itu berubah hebat.

"Apa yang hendak kau lakukan?"

Teriaknya gelisah dan cemas. Ong Bun-kim tidak menjawab pertanyaan itu, cuma katanya lagi dengan suara dingin.

"Sudah lebih dari tujuh belas tahun, bukan?"

"Benar!"

"Aku lihat nona mempunyai potongan badan yang padat berisi dan menggiurkan hati orang, mempunyai paras muka cantik jelita bagai bidadari dari kahyangan, rasanya terlampau kasar jika kubunuh dirimu dengan begitu saja, apalagi menghancurkan bunga indah yang baru mekar seperti kau...."

Pucat pias wajah si nona berbaju kuning itu, bahkan saking takutnya ia sampai gemetar keras, ia kuatir kalau dirinya diperkosa secara brutal oleh lawannya.

"See...see. .sebetulnya apa yanghendak kau...kau lakukan.. ?"

Ia bertanya dengan suara tergagap.

"Melepaskan kau!"

"Aaaah. ..!"

Jawaban tersebut sungguh di luar dugaan, saking heran dan tidak percayanya nona ber-baju kuning itu sampai menjerit sekerasnya.

Peristiwa ini benar-benar berada di luar dugaan-nya, untuk sesaat ia tak tahu apa yang harus dilakukan, hanya ditatapnya wajah pemuda itu dengan cemas dan takut.

Kembali Ong Bun-kim tertawa dingin.

"Heeehhh heeehhh...heeehhh.... aku tidak bohong, apa yang kukatakan adalah perkataan yang sesungguhnya!"

Berbicara sampai di situ, ia benar -benar menurunkan nona berbaju kuning itu dari cengkeramannya, lalu dengan suara yang dingin menyeramkan ia melanjutkan.

"Cuma, kalau lain kali kau masih berani memusuhi aku lagi, Hmm ! Jangan salahkan kalau aku Ong Bun-kim akan menggunakan cara yang paling kejam dan brutal untuk menghadapimu!"

Begitu selesai berkata, tanpa banyak cincong dia lantas putar badan dan berlalu dari sana.

Kini tinggal si nona berbaju kuning itu seorang diri, ia berdiri termangu-mangu dengan perasaan aneh, ditatapnya bayangan punggung Ong Bun-kim yang tinggi besar dan mendatangkan perasaan kesal itu pelan-pelan lenyap dari pandangan mata.

Agaknya ia sudah merasakan bahwa dia adalah seorang pemuda yang dingin, kaku dan aneh sekali Tanpa terasa ia menghela napas panjang, kemudian pelan-pelan berlalu pula meninggalkan tempat itu Dalam pada itu, Ong Bun-kim setelah melepaskan cengkeramannya pada si nona berbaju kuning, dengan kecepatan yang luar biasa ia berlalu meninggalkan tempat itu.

Sedemikian cepatnya dia kabur, seolah-olah dengan menggunakan kecepatan larinya ini dia ingin melampiaskan semua kemarahan, kemendongkolan serta kemurungan yang mencekam perasaannya selama ini....

Dalam waktu singkat beberapa li sudah di-lewatkan dengan cepat, akhirnya ia berhenti, memandang kegelapan malam yang menyelimuti angkasa, ia hanya berdiri termangu-mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun jua.

Pikirnya.

"Aku harus ke mana dulu? Lembah Sin-li-kok? Ataukah ke Hau-kwan lebih dahulu...."

Akhirnya ia memutuskan untuk menuju lembah Sin-likok lebih dahulu guna menyingkap teka teki yang menyelimuti ibu kandungnya, sesudah itu ia baru mendatangi perguruan Hau-kwan untuk menuntut balas terhadap Mo-kui-kiam jiu.

Begitulah, setelah mengambil keputusan maka berangkatlah dia menuju lembab Sin-li-kok.

Suatu hari, sampai Ong Bun-Kim di suatu tempat beberapa li dari bukit Soat im san, sementara ia sedang melanjutkan perjalanannya dengan cepat, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda yang ramai berkumandang datang dari belakangnya.

Dengan cepat ia mendongakkan kepalanya, tampaklah enam ekor kuda jempolan dengan cepatnya menuju kehadapannya, debu dan pasir beterbangan memenuhi angkasa.

Dalam waktu singkat, rombongan itu telah tiba dihadapannya, mendadak mereka menarik tali les kudanya dan berhenti tepat menghadang jalan pergi anak muda itu.

Keenam penunggang kuda jempolan itu adalah laki-laki berbaju kuning, sebagai pemimpinnya adalah seorang kakek jangkung yang bertubuh ceking, usianya diantara limapuluh tahunan.

Merasakan jalan perginya terhalang, paras muka Ong Bun kim segera berubah hebat.

Kakek kurus itu mengawasi wajah Ong Bun kim sekejap, lalu sambil tertawa dingin katanya.

"Kalau dilihat dari harpa besi yang kau gembol, rupanya kau adalah ahli waris dari Kui jin suseng?"

Ong Bun kim tertawa hambar, dari balik tertawanya tersingkap rasa angkuh dan sinisnya terhadap orang orang itu.

"Benar!"

Jawabnya dengan suara dalam.

Setelah pengakuan diberikan, paras muka dari lima orang laki laki berbaju kuning lainnya segera berubah hebat, Ong Bun kim segera menyadari bahwa kedatangan keenam orang itu adalah untuk mencari urusan dengan pihaknya.

Kakek jangkung kurus yang menjadi pemimpin rombongan itu segera mengayunkan cambuk kudanya yang panjang, lalu tertawa seram.

"Rupanya kau juga yang telah mengalahkan Sip hiat yau hoa siluman bunga penghisap darah?"

Tegurnya lagi.

"Betul!"

"Orang yang membinasakan belasan jago lihay dari enam perguruan besar dengan"

Irama Kou hun ki juga kau ?"

"Tak salah lagi dugaanmu itu."

"Hmm ..tampaknya kegagahanmu sekarang tidak kalah dengan keperkasaan gurumu dimasa lalu!"

Ong Bun kim mengerutkan dahinya rapat-rapat, lalu bertanya dengan ketus.

"Siapakah kalian berenam?"

Kakek berbaju kuning itu tidak menjawab pertanyaan tersebut, sebaliknya dengan ketus berkata lagi.

"Konon kau pernah sesumbar akan berkunjung ke Hau kwan untuk mencari balas?"

"Benar, sesungguhnya siapa kalian berenam?"

Seru Ong Bun kim.

"Hau ki lak pian, enam cambuk penunggang harimau dari perguruan Hau kwan..!"

Begitu mengetahui siapakah orang-orang yang sedang di hadapinya sekarang, air muka Ong Bun kim berubah hebat, ia tak menyangka kalau Mo kui kiam jiu (jago pedang setan iblis) telah mengutus jago-jago perguruannya untuk menghadang serta membinasakan dirinya sebelum ia berkunjung ke Hau kwan untuk membuat perhitungan.

Hawa napsu membunuh segera menyelimuti wajah Ong Bun kim, kontan saja ia tertawa dingin.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh kalau begitu, kedatangan kalian berenam adalah untuk mencari urusan denganku?"

"Tepat sekali, bukankah kau pernah sesumbar akan mencari balas terhadap Kwancu kami? Sebab itulah, sebelum kau bersusah payah mencari kami, kwancu kami telah menurunkan perintah agar menyambut lebih dulu kedatanganmu!"

Mendengar perkataan tersebut, Ong Bun-kim segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.

"Haaahh... haaahhh... haaahhh tidak kusangka kalau Kwancu kalian ketika memandang tinggi diriku!"

Pelan-pelan ia melepaskan harpa besi yang digembol di atas punggungnya itu.

Keenam orang dari Hau kwanpun tidak berdiam diri saja, dengan cepat mereka menyebarkan diri dan mengurung Ong Bun kim di tengah.

Kakek berjubah kuning yang menjadi pemimpin rombongan itu segera tertawa dingin sambil mengayunkan cambuknya, ia membentak.

"Apabila kau tidak ingin menemui ajal secara mengerikan di tempat ini, lebih baik serah kan dirimu untuk kami belenggu..."

"Haaahhh ... haaahhh , ..haaahhh... tak usah tekebur, aku kuatir kaulah yang bakal mampus!"

Ejek Ong Bun kim sambil tertawa tergelak dengan seramnya.

"Bagus sekali!"

Teriak kakek itu dengan marah.

"kalau begitu, sambutlah dulu serangan Toan hun pian (cambuk pemutus nyawa)ku ini!"

Diiringi bentakan nyaring, bayangan cambuk berkelebat menari di angkasa, dengan gerakan secepat sambaran kilat cambuk itu meluncur ke depan dan menggulung ke tubuh pemuda tersebut.

Cambuk kuda itu panjangnya mencapai satu kaki lebih, ditambah lagi serangan tersebut di lakukan dengan kecepatan luar biasa, dalam keadaan demikian Ong Bun kim tak berani menyambut datangnya ancaman tersebut secara gegabah, dengan cekatan dia berkelit ke samping kemudian melepaskan sebuah pukulan ke depan.

Ketika serangan cambuk pemutus nyawanya mencapai sasaran yang kosong, kakek berjubah kuning itu bertindak cepat, dikala serangan dari Oag Bun kim dilepaskan, serangan cambuknya yang kedua telah menyambar pula dengan kecepatan tinggi, bahkan serangannya kali ini jauh lebih dahsyat dari serangan yang pertama kali.

Dikala si cambuk pemutus nyawa melancarkan serangannya itu, tiga sosok bayangan cambuk lainnya secepat sambaran petir menyergap pula ke tubuh Ong Bun kim dari tiga arah yang berbeda.

"Bangsat, rupanya sudah bosan hidup."

Bentak Ong Bun kim dengan geramnya.

Dengan cekatan ia berputar ke samping, harpa besinya disodokkan kedepan dengan dahsyat, sementara tubuhnya melompat ke muka dan menyerang seorang laki laki berbaju kuning yang berada di hadapannya.

Jeritan ngeri yang menyanyatkan hati segera berkumandang memecahkan kesunyian.

Percikan darah berhamburan di mana mana seorang lelaki berbaju kuning kena dihajar sehingga terguling dari atas punggung kudanya.

Begitu musuhnya roboh, Ong Bun-kim melompat ke luar dari pusat lingkaran, tapi bayangan manusia berkelebatan di hadapan mukanya, lima orang laki laki berbaju kuning lain nya serentak melompat turun dari kudanya dan menerkam ke arah pemuda itu.

"Bajingan keparat!"

Bentak si cambuk pe mutus nyawa.

"kembalikan nyawa suteku!"

Lima gulung bayangan cambuk, ibaratnya gulungan ombak di tengah amukan taufan menghajar ke atas tubuh Ong Bun kim.

Kendatipun Ong Bun-kim memiliki ilmu silat yang amat dahsyat, akan tetapi cambuk kuda itu terlalu panjang, lagi pula musuh-musuhnya menyerang secara bersamaan, hal ini membuat dia sedikit kerepotan untuk menghadapinya.

Harpa besinya diputar kencang, tiba-tiba ia melepaskan serangan balasan dengan jurus "Bong hong po hi"

Atau Angin puyuh hujan badai...

sungguh hebat ancaman tersebut.

Berada dalam keadaan seperti ini Ong Bun kim telah bertekad untuk mengadu jiwa, bukan saja harpa besinya melancarkan ancaman, bahkan telapak tangan kirinya melepaskan pula sebuah pukulan dengan ilmu Ciang mo sin kang (ilmu sakti penakluk iblis) aliran Siau lim pay.

Dalam sekejap mata, Ong Bun kim telah bertarung sebanyak lima enam jurus dengan musuh-musuhnya.

Tiba-tiba ..terdengar satu bentakan nyaring diikuti dua jeritan ngeri memecahkan kesunyian, menyusul terlemparnya bayangan manusia berbaju kuning, sesosok bayangan hitam menerobos masuk ke dalam arena pertarungan.

Kini, dari enam cambuk penunggang harimau yang hidup tinggal tiga orang saja, mereka sangat terkejut menghadapi kejadian yang berlangsung sangat tiba tiba ini, demikian pula halnya dengan Ong Bun kim sendiri, kejadian itu membuatnya berdiri tertegun.

Ketika sinar matanya dialihkan kembali ke tengah arena, tampaklah seorang gadis berbaju hitam yang membawa alat musik Pi-pa dalam genggamannya telah berdiri tepat di hadapannya.

Gadis itu sedang berpaling dan melemparkan senyuman ke arah pemuda itu, senyuman tersebut sangat indah bagaikan bunga yang sedang mekar, membuat Ong Bun kim merasakan jantungnya berdebar keras, untuk sesaat lamanya dia hanya berdiam tertegun.

Gadis berbaju hitam itu tertawa dingin, lalu katanya.

"Kalian benar benar tak punya malu, bukan saja main sergap, bahkan mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah yang banyak. Hmmm ...! Tidak takutkah kalian bila kejadian ini akan ditertawakan oleh orang orang persilatan?"

Si Cambuk pemutus nyawa menatap gadis berbaju hitam itu sekejap, mendadak ia berseru tertahan.

"Buu ... bukankah kau ... kau adalah Tee ih yao hoa (bunga iblis dari neraka)?"

"Benar !"

Kontan saja paras muka si Cambuk pemutus nyawa itu berubah menjadi pucat bagaikan mayat. Tiba tiba Ong Bun kim membentak keras.

"Hei, urusanku siapa yang suruh kau mencampurinya?"

Dalam gusarnya tiba-tiba ia melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke tubuh Bunga iblis dari neraka.

Tentu saja Bunga iblis dari neraka tidak menyangka kalau Ong Bun kim bakal melancarkan serangan ke arahnya setelah pemuda itu ditolong melepaskan diri dari ancaman, cepat ia berusaha untuk menghindarkan diri...

Sayang keadaan sudah terlambat...

"Blaang!"

Pukulan dahsyat yang dilepaskan Ong Bun kim itu dengan telak bersarang di atas punggung si Bunga iblis dari neraka.

Dengan sempoyongan gadis itu mundur sejauh tujuhdelapan langkah, wajahnya berubah menjadi pucat pias, untung tak sampai menimbulkan tumpahan darah.

Ong Bun kim sendiripun sangat terperanjat atas hasil dari serangannya itu, dia cukup menyadari bahwa tenaga pukulannya barusan paling sedikit mencapai seribu kati, akan tetapi kenyataannya Bunga iblis dari neraka sedikitpun tak terluka.

Kenyataan ini sungguh membuat hatinya bergetar keras lantaran kagetnya.

Ong Bun kim paling benci kalau ada orang mencampuri urusannya, karena itu di dalam marahnya tadi, tanpa berpikir panjang sebuah pukulan segera dilancarkan.

Baca Juga: Dendam Sejagad Legenda Kematian Khu Lung

Baca Juga: Pendekar Pendekar Negeri Tayli 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert