Ceritasilat Novel Online

Setan Harpa 2

Eps 2 Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id

Baca online Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id

Cersil Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id.

Paras muka Bunga iblis dari neraka yang cantik jelita kini sudah diliputi oleh hawa napsu membunuh, agaknya nona itu sudah dibuat naik darah oleh ulah pemuda tersebut.

Ong Bun kim tidak memperdulikan kemarahan orang, tiba tiba ia membentak lagi.

"Cambuk pemutus nyawa, serahkan jiwa anjingmu..."

Dengan suatu gerakan cepat ia menerjang ke arah cambuk pemutus nyawa, lalu melancarkan sebuah sapuan.

Padahal pada saat itu si Cambuk pemutus nyawa masih berdiri karena kaget, nyaris tubuhnya termakan oleh sapuan dari Ong Bun kim ini, untung ilmu silat yang dimilikinya memang cukup meyakinkan, cambuk panjangnya segera digetarkan untuk mematahkan ancaman tersebut.

Tapi sebelum serangannya sempat mengenai sasaran, ancaman harpa besi dari Ong Bun kim telah menghantam kepalanya.

"Braaaak..."

Tak sempat lagi bagi Cambuk pemutus nyawa untuk menjerit kesakitan, tahu-tahu darah dan isi otak telah berhamburan di mana-mana, kepalanya pecah termakan oleh pukulan harpa besi yang maha dahsyat itu hingga mengakibatkan ia tewas dalam keadaan mengerikan.

Sekali lagi Ong Bun kim berkelebat mengitari gelanggang dengan kecepatan tinggi, suatu jerit kesakitan sekali lagi berkumandang memecahkan kesunyian....

"Blaaaaam ....!"

Sesosok tubuh manusia berbaju kuning kembali tergeletak dalam wujud mayat.

Sekarang tinggal seorang kakek berbaju kuning yang masih hidup, cuma paras mukanya telah berubah sepucat mayat, ia sedang mundur terus ke belakang dengan sempoyongan...

"Kau tak usah ketakutan!"

Bentak Ong Bun kim kemudian.

"tak nanti kubunuh dirimu, cepat enyah dari sini dan beritahukan kepada Mo kui kiam-jiu, katakan putra dari si Latah Su hay bong kek yang bernama Ong Bun kim tak lama lagi akan datang mencarinya untuk membuat perhitungan."

Kakek berbaju kuning itu masih saja berdiri kaku di tempat semula, mungkin saking takut dan ngerinya, dia sampai lupa untuk berbuat sesuatu apapun.

"Kenapa tidak lekas lekas enyah dari sini?"

Kembali Ong Bun kim membentak.

Seperti baru sadar dari impian, kakek berbaju kuning itu segera melompat naik ke atas kudanya dan mencemplak kuda itu secepat-cepatnya.

Menanti orang itu sudah lenyap dari pandangan mata.

Bunga iblis dari neraka baru maju meng-hampiri Ong Bun kim sambil tertawa dingin tiada hentinya.

Senyuman dingin yang menghiasi ujung bibirnya tampak sangat menyeramkan, membuat siapa-pun yang menyaksikan merasakan hatinya bergidik.

"Hmmm....heemmm... bagus sekali perbuatanmu"

Demikian ejeknya dengan nada ketus.

"bagaimana pula pertanggungan jawabmu terhadap pukulan yang barusan kau hadiahkan kepadaku..."

Ong Bun kim mendengus dingin.

"Hmmm....! Siapa yang suruh kau suka mencampuri urusan orang? Terus terang kukatakan kepadamu, selama hidup aku paling benci kalau melihat ada orang yang suka mencampuri urusanku!"

Tiba-tiba Bunga iblis dari neraka tertawa ringan.

"Hei, siapa namamu?"

Tegurnya.

"Aku rasa soal nama tiada kepentingan bagiku untuk memberitahukannya kepadamu!"

"Baik, kalau begitu aku ingin bertanya kepadamu, sesungguhnya kau ingin mati ataukah ingin hidup?"

"Kalau mati bagaimana? Dan kalau hidup bagaimana pula..."

"Kalau ingin bidup, gampang saja..."

Kata nona itu sambil tertawa ringan.

"berlutut di hadapanku dan sembahlah aku sambil minta maaf..."

"Kau tak usah bermimpi disiang hari bolong!"

Damprat Ong Bun kim dengan mata melotot.

"Jadi kau ingin mampus?"

"Bila kau merasa sanggup untuk membinasakanku, dengan segala senang hati aku bersedia mati di tangan nona."

Bunga iblis dari neraka tertawa riang.

"Bagus, kalau begitu jangan salahkan kalau aku tidak memberi kesempatan hidup lagi kepadamu..."

Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba tubuhnya menerjang ke muka dengan cepatnya, di antara berkelebatnya bayangan tubuh, sebuah pukulan dahsyat telah dilontarkan ke arah tubuh Ong Bun kim.

Sungguh cepat pukulan itu, membuat orang berdebar rasanya karena kaget dan tercengang.

Ong Bun-kim menangkis pukulan itu dengan tangan kirinya, kemudian ia melompat mundur sejauh lima langkah.

"Jangan lari, sambut dulu pukulanku ini lagi!"

Bentak Bunga iblis dari neraka.

Senjata Pipa bajanya kembali diayun ke depan, dengan gerakan bukit Taysan menindih kepala, dia hantam batok kepala Ong Bun-kim.

Serangan itu sungguh ganas, garang dan mematikan seandainya terkena pada sasarannya niscaya batok kepala pemuda itu akan hancur berantakan.

Ong Bun-kin cukup menyadari betapa dahsyatnya serangan musuh ketika itu, untuk menghindar tak mungkin lagi baginya, dalam keadaan terdesak ini terpaksa dia putar harpa besinya untuk menyongsong tibanya ancaman tersebut...

"Traaang...!"

Benturan nyaring tak bisa dihindari lagi, di antara percikan bunga api yang memancar ke mana mana, Ong Bun-kim merasakan telapak tangannya amat sakit seperi retak-retak, kuda kudanya tergempur, keseimbang an tubuhnya hilang dan dia mundur tujuh-delapan langkah ke belakang dengan sempoyongan.

Belum sempat anak muda itu berdiri tegak, dengan membawa desingan angin serangan yang tajam, sekali lagi Bunga iblis dari neraka melancarkan tubrukan, lalu sebuah tubrukan dahsyat dibacokan ke tubuh lawan.

Untuk kedua kalinya terpaksa Ong Bun-kim harus menghimpun tenaga dalamnya menyambut datangnya ancaman tersebut dengan lawan keras.

"Blaaang...!"

Benturan keras kembali terjadi, angin puyuh berpusing-pusing menerbangkan pasir dan debu, Ong Bun kim tak sanggup berdiri tegak lagi, ia mundur terus ke belakang dengan sempoyongan.

00OdwO00 BAB 10 BUNGA iblis dari neraka tak sudi memberi kesempatan bagi musuhnya untuk bertukar napas, begitu berhasil dengan serangannya, sekali lagi ia siap menerjang ke muka.

Mendadak ....

"Tahan !"

Suatu bentakan nyaring berkumandang memecah kesunyian.

Diantara bentakan nyaring itu tampak sesosok bayangan manusia berkelebat masuk ke dalam gelanggang.

Tanpa sadar Bunga iblis dari neraka menarik napas panjang panjang dan menahan kembali gerak majunya.

Andaikata orang itu tidak muncul secara tiba-tiba, sudah bisa dipastikan Ong Bun-kim bakal mampus dalam lima gebrakan kemudian, atau paling sedikit dia akan terluka di tangan nona itu.

Dengan perasaan kaget dan heran anak muda itu mendongakkan kepalanya, maka terlihatlah se-orang perempuan setengah umur yang memakai baju abu-abu dengan membawa sebatang seruling perak telah berdiri di hadapannya dengan wajah serius.

Sekalipun usia dari perempuan setengah umur ini sudah mencapai empat puluh tahunan, namun sisa sisa kecantikan wajahnya dikala masih muda dulu masih tertera dengan jelasnya.

Dengan sorot mata yang penuh dengan pancaran sinar membunuh, ia mengawasi wajah Ong Bun-kim tanpa berkedip, kemudian bentaknya.

"Apakah kau adalah muridnya Kui-jin suseng?""

"Benar."

"Kau pula yang telah melukai muridku, seorang nona berbaju kuning dalam benteng Tui hong po?"

"Benar!"

"Di manakah gurumu sekarang?"

"Mau apa kau?"

Paras muka perempuan berusia pertengahan itu agak berubah, lalu bentaknya lagi dengan ketus.

"Aku ingin bertanya kepadamu, sesungguhnya ia berada di mana?"

"Sebelum kau utarakan alasannya, jangan harap aku bersedia memberitahukan hal ini kepadamu!"

Betapa geramnya perempuan berusia pertengahan itu mendapat jawaban tersebut, dia harus menggigit bibir untuk menahan luapan emosi dalam hatinya.

"Jadi kau tidak bersedia untuk memberitahukan kepadaku di manakah ia berada?"

"Tepat sekali dugaanmu itu!"

"Bangsat! Agaknya kau ingin mampus..."

Sambil membentak keras, secepat kilat perempuan berusia pertengahan itu menerjang ke arah Ong Bun kim, bahkan seruling peraknya disertai desingan angin tajam langsung menyodok ke tubuhnya.

Cahaya keperak-perakan berkelebat lewat, tahu-tahu ujung senjata lawan sudah tiba di atas dada Ong Bun kim.

Dengan cekatan Ong Bun kira menggetarkan harpa besinya, lalu diapun melepaskan sebuah serangan untuk membendung datangnya ancaman tersebut...

Disaat perempuan berusia pertengahan melancarkan serangan tadi, tiba-tiba Bunga iblis dari neraka membentak pula kemudian ikut melancarkan sebuah serangan dahsyat ke tubuh perempuan berusia pertengahan itu.

Dengan gesit perempuan itu berkelit ke samping, kemudian ditatapnya Bunga iblis dari neraka dengan pandangan terperanjat.

"Hei, ke ... kenapa kau?"

Teriaknya.

"Kenapa pula dengan kau?"

"Aku... akan hendak membunuh dirinya !"

Bunga iblis dari neraka tertawa dingin.

"Heeehhh... heeehh... heeehhh... jangan lupa sobat, dia adalah orang yang hendak kubunuh lebih dahulu, sebelum mendapat persetujuanku, jangan harap kau bisa mengganggunya barang seujung rambutpun!"

Ong Bun-kim ikut tertawa dingin.

"Kalian tak perlu bertengkar sendiri"

Demikian katanya.

"kalau ingin selembar nyawaku lebih baik turun tangan saja bersama-sama, aku Ong Bun-kim tak akan memikirkan persoalan ini di dalam hati..."

Belum habis si anak muda itu menyelesaikan katakatanya, mendadak perempuan berusia per-tengahan itu berteriak kaget.

"Apa? Kau ... kau bernama Ong Bun-kim?"

Ketika mendengar jeritan kagetnya itu, Ong Bun-kim ikut merasa terkesiap, dengan cepat dia mendongakkan kepalanya.

Tampaklah perempuan berusia pertengahan itu sedang memandang ke arahnya dengan wajah kaget, tidak percaya dan aneka macam perasaan lain yang bercampur aduk.

"Benar!"

Jawab Ong Bun-kim sambil tertawa hambar.

"akulah yang bernama Ong Bun kim. .."

Belum habis ucapan dari si anak muda itu, Bunga iblis dari neraka telah membentak keras.

"Dengan kekuatanku saja sudah cukup untuk membinasakannya, buat apa musti ada dua orang yang turun tangan bersama?"

Bayangan manusia berbaju hitam kembali berkelebat, untuk kesekian kalinya dia menerkam ke muka, sementara senjata Pi pa bajanya diayun ke atas untuk melancarkan sebuah serangan kilat.

Hawa amarah yang berkobar di dalam dada Ong Bun kim saat ini sudah tak terkendali kau, sembari menangkis ancaman musuh dengan harpa besinya, sebuah pukulan balasan kembali dilontarkan.

-oo0dw0o-

Jilid 4 PERTARUNGAN sengitpun kembali berkobar, kedua belah pihak sama-sama menggunakan kecepatan yang paling tinggi untuk merobohkan lawannya.

Diantara bayangan manusia yang saling menyambar, kedua belah pihak masing-masing telah melepaskan dua buah serangan berantai, oleh desakan tersebut tubuh Ong Bun kim secara beruntun terdesak mundur sejauh tiga langkah lebih.

Tiba-tiba segulung tenaga pukulan yang sangat kuat menggulung ke arah tubuhnya.

Ong Bun kim menangkis dengan tangan kirinya, tapi serangan pi pa besi dari Bunga iblis dari neraka telah menggulung lagi dengan gencarnya.

Dalam keadaan demikian, hilanglah posisi baik bagi Ong Bun kim untuk mempertahankan diri, jangankan mendesak musuhnya, untuk menghindarkan diri pun sudah tak sempat.

Terpaksa ia harus mengertak giginya sambil melepaskan sebuah pukulan untuk menyambut ancaman itu dengan keras lawan keras.

"Traaaang . !"

Dalam benturan yang sangat keras itu, harpa besi dalam genggaman Ong Bun-kim terlepas dari cekatannya.

Tak terkira rasa kagetnya menghadapi kejadian tersebut, sebelum ingatan kedua melintas dalam benaknya, tubuh si Bunga iblis dari neraka telah menggulung datang dengan cepatnya.

Musnahlah semua kesempatan Ong Bun kim untuk menghindarkan diri dari terkaman itu, ia menjadi nekad, tiba-tiba sepasang tangannya di-rentangkan lebar-lebar lalu dipeluknya Bunga iblis dari neraka kencang-kencang.

Sudah barang tentu Bunga iblis dari neraka tak akan menyangka kalau musuhnya akan mempergunakan gaya "bebas"

Untuk menerkamnya, untuk sesaat ia menjadi tertegun dan gelagapan sendiri.

Tak ampun lagi badannya segera dipeluk Ong Bun kim erat-erat.

Kontan Bunga iblis dari neraka menjerit kaget sekeraskerasnya...

Peristiwa yang sama sekali di luar dugaan ini betul-betul membuat Bunga iblis dari neraka mati kutunya, di dalam pelukan Ong Bun kim yang begitu erat dan hangat, ia tak berani berkutik barang sedikitpun juga.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba tiba Bunga iblis dari neraka membentak keras.

"Hei, sebetulnya kau bersedia lepas tangan tidak."

Ong Bun kim tertegun.

"Kee... kenapa aku musti lepas tangan?"

Bantahnya.

"Tapi .... tapi.... tidak seharusnya kau memeluk tubuhku terus menerus."

Seru si nona dengan mendongkol.

Sesungguhnya Ong Bun kim adalah seorang pemuda terpelajar yang mengetahui akan sopan santun, diapun tahu antara pria dan wanita sebetulnya terpisah oleh batas batas tertentu.

Tapi iapun segeta berpikir lain, andaikata eadis itu dilepaskan dengan begini saja, bukankah tindakan tersebut ibaratnya melepaskan harimau pulang ke gunung?

Sebentar lagi.

pasti akan terjatuh pula dalam cengkeramannya.

Maka sesudah termangu sejenak, diapun berkata.

"Kenapa aku tak boleh memelukmu?"

"Kau ..."

Keadaan si Bunga iblis dari neraka sekarang yaa kheki yaa cemas, untuk sesaat lamanya ia tak mampu berkata apa-apa. Lama, lama kemudian barulah ia membentak.

"Kau... kau... belum juga mau melepaskan aku?"

Tiba-tiba Ong Bun kim seperti telah menyadari sesuatu, jari telunjuk tangan kanannya segera disodokkan ke muka.

Bunga iblis dari neraka hanya merasakan sekujur badannya menjadi kesemutan lalu kaku dan tak dapat berkutik lagi, ternyata Ong Bun kim telah menotok jalan darahnya.

Sesudah gadis itu tak bisa berkutik lagi, Ong Bun kim baru melepaskan pelukannya dan menghembuskan napas panjang, pelan-pelan dia maju ke depan dan memungut harpa besinya yang tergeletak di tanah.

Berbicara sebenarnya, kedudukan dari Tee ih mo hoa tadi sudah berada di atas angin, bahkan kemenangan telah berada di tangannya, siapa yang mengira kalau sebuah pelukan yang hangat dari lawannya telah membuatnya dari kedudukan yang unggul menjadi pihak yang kalah.

Sesudah jalan darahnya tertotok, nona itu betul betul tak dapat berkutik, saking jengkel dan mendongkolnya ia hanya bisa melototkan sepasang matanya bisar besar, tak sepotong kata-pun bisa diucapkan.

Sementara itu Ong Bun kim telah kembali ke tengah gelanggang, diliriknya gadis yang bernama Bunga iblis dari neraka itu sekejap, ketika terbayang kembali pelukan hangat yang baru dilakukannya, tiba-tiba timbul suatu perasaan aneh di hatinya.

Perasaan itu sangat sensitif dan aneh sekali, bahkan dia sendiripun tak dapat menerangkan perasaan yang bagaimanakah itu?

Berbicara sejujurnya, Bunga iblis dari neraka adalah seorang gadis cantik jelita yang sangat mempesonakan hati orang bahkan sekalipun Yo kui hui atau See si pada jaman dahulu lahir kembali, belum tentu kecantikan mereka bisa menandingi keayuan gadis ini.

Ketika merasakan dirinya diperhatikan, dengan gemas bercampur mendongkol Bunga iblis dari neraka berseru.

"Kenapa tidak kau bebaskan jalan darahku yang tertotok?"

"Kenapa harus kubebaskan jalan darahmu? Bukankah kau hendak membinasakan diriku?"

"Kau... kau..."

Saking mendongkolnya gadis itu tak mampu melanjutkan kata-katanya, malah ia berdiri dengan tubuh yang gemetar keras. Ong Bun kim segera tertawa.

"Nona, terus terang kuakui bahwa wajah nona diwaktu marah jauh lebih cantik dan menarik dari pada diwaktuwaktu biasa."

Godanya.

Ong Bun-kim adalah seorang pria yang sombong angkuh dan ketus, tapi dalam keadaan seperti ini ternyata ia tidak lupa untuk menggunakan ke-angkuhan serta keketusannya untuk mempermainkan seorang gadis yang sudah tak berkutik.

Bunga iblis dari neraka marah sekali dampratnya.

"Iblis keji yang tak punya perasaan, lihat saja nanti! Aku tak akan mengampuni dirimu!"

Ong Bun-kim menengadah dan tertawa seram.

"Haahhh haahhh haahhh jangan lupa bahwa kau telah terjatuh ke dalam cengkeraman-ku,"

Ejeknya.

"Kalau kau memang jagoan, kalau kau memang betulbetul bernyali dan berilmu tinggi, hayo bunuhlah aku!"

"Tidak, aku enggan membunuhmu...."

"Lantas, apa yang hendak kau lakukan?"

"Tak banyak! Aku hanya berharap agar kau bersedia memenuhi tiga buah syaratku."

"Apa syaratmu itu?"

"Pertama, kau tak boleh berkelahi lagi denganku..."

"Kedua?"

"Untuk sementara waktu syarat kedua dan ke tiga belum berhasil kutemukan, maka harus kau tunggu sampai saatnya kutagih hutang ini darimu, tentu saja bila kau tak menyanggupinya, akupun tak akan melepaskan dirimu!"

Bunga iblis dari neraka menggigit bibirnya menahan diri, akhirnya ia berkata.

"Baik, kukabulkan permintaanmu itu!"

"Tak akan menyesal?"

"Pasti tidak!"

Memang sangat hebat tindakan dari Ong Bun-kim ini, dengan dikabulkannya syarat itu oleh si Bunga iblis dari neraka, sama pula artinya dengan ia menyerah seratus persen terhadap Ong Bun-kim, selamanya jangan harap bisa membalas dendam lagi.

Sekulum senyuman penuh kemenangan ter-sungging di ujung bibir Ong Bun-kim, pelan-pelan ia menghampiri tubuh Bunga iblis dari neraka serta membebaskan totokannya.

Biru saja jalan darah itu dibebaskan...

"Plok."

Tiba-tiba sebuah tamparan yang amat nyaring telah bersarang di pipi kiri si anak muda itu, Ong Bun-kim sangat terkejut dan melompat mundur sambil memegangi pipi kirinya yang panas lagi pedas.

Ternyata dengan suatu gerakan secepat kilat Bunga iblis dari neraka telah menghadiahkan sebuah tempelengan untuk pemuda itu.

"Kau....kau...."

Anak muda itu hanya bisa mengucapkan sepatah kata saja dengan mata terbelalak, secara beruntun ia telah mundur sejauh tujuh delapan langkah dari tempat semula.

"Kenapa dengan aku?"

Ejek nona itu.

"Kenapa......kenapa kau menyesal?"

Teriak pemuda itu dengan perasaan penasaran.

"Siapa bilang aku menyesal? Aku toh setuju untuk tidak berkelahi denganmu? Kapan aku pernah berjanji kalau tak boleh menempeleng dirimu? Kapan....? Hayo jawab!"

"Ploook !"

Tempelengan kedua kembali dilancarkan.!

Ong Bun-kim dengan susah payah berusaha menghindarkan diri, sayang tempelengan itu terlalu cepat, sehingga untuk kedua kalinya ia kena ditampar pipi kanannya.

Dalam sekejap mata sepasang pipi Ong Bun-kim menjadi merah dan membengkak keras, ia menjadi kalap, tiba-tiba teriaknya.

"Rupanya kau sudah bosan hidup."

Belum habis berkata, sebuah pukulan telah dilancarkan ke arah si nona cantik itu. Cepat-cepat Bunga iblis dari neraka melejit ke tengah udara dan menghindarkan diri ke samping.

"Tahan....!"

Tiba-tiba perempuan setengah umur yang selama ini hanya membungkam membentak keras.

Ong Bun-kim menarik kembali serangannya sambil berpaling, ia saksikan nyonya setengah umur itu sedang memandang ke arahnya dengan wajah sedih dan murung.

Mimik wajah seperti itu amat mengenaskan, untuk sesaat Ong Bun-kim menjadi tertegun.

"Bee... benarkah kau bernama Ong Bun-kim?"

Tanya nyonya setengah umur itu kemudian dengan nada sedih.

"Aku rasa tiada kepentingan khusus bagiku untuk mencatut nama orang lain!"

"Bolehkah aku tahu berapa usiamu tahun ini?"

"Ada apa kau tanya-tanya umurku?"

"Aku hendak membuktikan suatu persoalan, kau bersedia bukan untuk menyebutkan usiamu?"

"Delapan belas tahun!"

"Haah....? Delapanbelas tahun?"

Nyonya setengah umur itu menjerit tertahan lalu mukanya bertambah murung, bahkan sepasang matanya menjadi merah dan air mata mulai mengembang dalam kelopak matanya.

"Apakah dalam tubuhmu terdapat sebuah Liong-bei?"

Kembali ia bertanya lebih lanjut. Ketika mendengar pertanyaan itu, Ong Bun-kim segera merasakan hatinya bergetar keras, ia seakan-akan teringat akan sesuatu, mendadak teriaknya tertahan.

"Kau..."

"Aku..."

Air mata nyonya setengah umur itu mulai bercucuran membasahi pipinya.

Ong Bun kim betul-betul merasakan hatinya bergetar keras, seperti terkena aliran listrik bertegangan tinggi, ia tertegun dan untuk sesaat lamanya tak tahu apa yang musti dilakukan.

Tak sulit baginya untuk menduga, perempuan setengah umur ini pastilah salah satu diantara Coa Siok-oh atau Siau Hui-un, yakni dua orang wanita yang kemungkinan besar adalah ibu kandungnya.

Dengan suara agak gemetar Ong Bun-kim bertanya.

"Sii....siapakah kau?"

"Aku...aku adalah ibumu..."

Sekali lagi Ong Bun-kim berdiri gemetar seperti tekanan aliran listrik bertegangan tinggi, peristiwa ini sungguh berada di luar dugaannya, dan pertemuan yang tak terduga ini seolah-olah telah merubah semua garis hidupnya.

"Ooooh... anakku sayang.... tak kusangka....tak kusangka kau masih hidup di dunia ini..."

Bisik nyonya setengah umur itu dengan suara gemetar.

Belum habis perkataan itu, ia sudah menangis terisak sejadi-jadinya....benarkah perempuan ini adalah ibunya?

Isak tangis yang begitu memedihkan hati bukankah ibarat jerit tangis dari seorang ibu yang tercinta?.

Ong Bun-kim tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, diapun ikut berteriak.

"Ibu...."

Ia lari ke depan dan menubruk ke dalam pelukan perempuan itu, bagaikan seorang pengembara yang sudah lama tak pernah berjumpa dengan sanak keluarganya.

Pemuda itu menangis, ia menangis tersedu-sedu karena gembira.

Iapun menangis karena sedih, seakan-akan ia hendak menceritakan semua suka duka yang di-alaminya selama limabelas tahun ini....

Ibu dan anak saling berpelukan sambil menangis, suasana benar-benar sangat mengharukan.

Tampaknya Bunga iblis dari neraka ikut terharu oleh adegan yang memilukan hati itu, diam-diam ia ikut mengucurkan air mata.

Lama, lama sekali, akhirnya nyonya setengah umur itu mendorong tubuh Ong Bun-kim dari pelukannya, lalu berkata.

"Biar kulihat dirimu...yaa limabelas tahun sudah lewat, aku...aku mengira kau sudah mati di tangan Kui-jin suseng....sungguh tak kusangka ibu....ibu masih bisa berjumpa lagi denganmu..."

Berbicara sampai di situ, kembali perempuan setengah umur itu menangis tersedu-sedu.

Tapi tangisannya sekarang bukan tangisan kesedihan, tapi suatu luapan rasa gembira yang tak terkendalikan.

Diam-diam Ong Bun-kim berusaha pula untuk mengendalikan perasaan pedihnya, ia memanggil.

"Ibu...."

"Ada apa anakku sayang?"

"Ibu, bolehkah aku menanyakan tentang satu persoalan kepadamu?"

Pinta Ong Bun-kim.

"Katakanlah!"

"Benarkah ayahku adalah si manusia latah dari empat samudra Ong See-liat?"

"Benar!"

"Apakah dia masih mempunyai seorang istri yang lain?"

"Benar !"

"Oooh ... ibu, bolehkah kau memberitahukan kepadaku, siapa namamu ?"

Agaknya pertanyaan tersebut mencengangkan perempuan setengah umur itu, sesudah tertegun sesaat ia berkata.

"Apakah kau tidak tahu siapa namaku?"

"Betul, oooh ibu! Bukankah kau adalah Toan kiam giok jin (manusia cantik pedang kutung) Siau Hui un ?"

"Bukan, aku adalah Coa Siok oh!"

"Apa?"

Jerit Ong Bun kim tertahan. Kejadian ini benar benar berada di luar dugaannya, dengan perasaan tercekat ia mundur tiga empat langkah ke belakang.

"Jadi... jadi kau... kau adalah putrinya Mo kui kiam jiu?"

Bisiknya dengan nada gemetar.

"Benar !"

Untuk kedua kalinya Ong Bun kim berdiri tertegun.

Mimpipun ia tak pernah menduga sampai ke situ...

yaa, kejadian ini sungguh berada di luar dugaannya, sebab ibunya tak lain adalah putri dari Mo kui kiam jiu, si jago pedang setan iblis yang merupakan musuh bebuyutan ayahnya, bukankah dia juga yang telah mencelakai selembar nyawa ayahnya ?

Dengan perasaan heran dan tidak habis mengerti Coa Siok oh.

mengawasi wajah Ong Bun kim yang berubahubah itu, lalu tanpa sadar ia menegur lirih .

"Nak, kenapa kau ?"

"Oooh ... ibu, aku tidak apa-apa, aku .. ."

Pemuda itu menjadi gelagapan dan tak sanggup melanjutkan kata katanya.

"Apakah kau beranggapan bahwa aku pembunuh ayahmu ? Bukankah kau menduga demikian karena aku adalah putri dari Mo-kui kiam jui si jago pedang setan iblis?"

"Bee ..... benar !"

"Nak, apakah kau masih belum tahu bahwa ayahmu telah tewas di tangan Kui jin suseng si sastrawan setan harpa?"

"Aku tahu, tapi akupun mengerti bahwa sebelum Kui-jin suseng melaksanakan pembunuhan tersebut, ada orang yang telah mencelakai ayahku lebih dahulu, sebab kalau tidak begitu, berdasarkan ilmu silat yang dimiliki Kui-jin suseng tak nanti bisa menandingi kelihayan dari ayahku!"

"Jadi maksudmu salah satu diantara kedua orang istrinya adalah komplotan pembunuh yang telah mencelakai ayahmu terlebih dahulu, kemudian baru mengundang kehadiran Kui-jin suseng untuk melakukan pembunuhan tersebut secara terang terangan?"

"Benar!"

"Kalau begitu pasti perbuatan dia!"

"Siapa? Siau Hui-un?"

"Benar!"

00OdwO00 BAB 11

Seandainya Coa Siok-oh adalah ibu kandung dari Ong Bun kim, maka orang yang mencelakai ayahnya dan membantu Kui jin suseng untuk membinasakan ayahnya adalah toan kiam giok jin (perempuan cantik pedang kutung) Siau Hui un.

Ong Bun kim pun berhasil pula membuktikan suatu persoalan lain, yakni kokcu dari lembah Sinli kok bukan lain adalah Siau Hui-in.

Paras mukanya kontan saja berubah hebat, dengan suara keras menahan geram, teriaknya.

"Oooh ibu, beritahu kepadaku, apakah perkawinanmu dengan ayahku lantaran mendapat perintah dari ayahmu? Bukankah tujuanmu adalah untuk membalas dendam?"

"Keadaan yang sesungguhnya pada saat itu memang begini!"

"Kemudian ?"

"Kemudian kubuktikan bahwa sesungguhnya aku telah jatuh cinta kepadanya, tentu saja aku tak tega untuk mencelakai ayahmu lagi secara diam diam."

Ong Bun kim menganggukkan kepalanya berulang kali, kembali ia bertanya.

"Bagaimanakah watak ayahku?"

"Baik sekali... justru lantaran kubuktikan bahwa dia sangat baik, maka tanpa sadar aku-pun telah mencintainya!"

"Ibu... bersediakah kau menceritakan segala sesuatu yang menyangkut tentang ayahku?"

"Aaaai... kecuali Siau Hui un dan diriku seorang, ayahmu masih mempunyai seorang kekasih..."

"Apa? Ayahku masih mempunyai seorang kekasih lagi ?"

"Benar! Hanya saja siapakah perempuan yang menjadi kekasihnya itu tak pernah ayah mu katakan, seringkali ia berkelana dalam dunia persilatan untuk menemukan jejak perempuan itu, tapi hingga menjelang ajalnya, ia masih belum tahu di manakah dia berada!"

"Ketika ayahku terbunuh, apakah kau, Siau Hui un dan aku bertiga berada di tempat?"

Ong Bun kim kembali bertanya.

"Yaa, kita semua berada di rumah! Waktu itu ayahmu baru ke luar rumah untuk bepergian, tiba tiba Tok khak cin kun dari Bu lim sam lo (tiga tua dan dunia persilatan) datang memberi kabar yang mengatakan bahwa ayahmu telah dibunuh oleh Kui jin suseng."

"Ketika aku hendak menyusul ke tempat kejadian, pada saat itulah Kui jin suseng telah tiba di depan pintu, aku dihajar sampai terluka dan selanjutnya tidak kuketahui bagai mana kejadian seterusnya, tapi sewaktu aku sadar kembali, kutemukan tubuhku sudah berbaring dalam sebuah hutan, aku tak tahu siapa yang telah menyelamatkan jiwaku, dan bagaimana kejadian selanjutnya, akupun tak tahu."

Dengan sedih Ong Bun kim manggut-manggut.

"Apakah setelah kejadian itu, kau balik kembali kerumah untuk mencariku...?"

Tanyanya.

"Benar, sayang baik jejak Siau Hui un mau pun jejakmu sudah tak ketahuan lagi, banyak tahun sudah aku berusaha melacaki jejak Kui-jin suseng, selama masa itu akupun berhasil melatih sejenis irama seruling yang dapat mematahkan daya pengaruh Pek mo ki andalannya nak, kenapa Kui jin suseng tidak membinasakan dirimu ?"

Ong Bun kim hanya menggelengkan kepalanya berulang kali, sebagai pertanda bahwa apapun tidak diketahui olehnya. Lama, lama sekali ia baru bertanya lagi.

"Ibu, benarkah Mo kui kiam jiu telah membeli Kui jin suseng untuk mencelakai ayahku?"

"Tentang soal ini....tentang soal ini., .dari-msna aku bisa tahu?"

"Ibu, lantas pada saat ini kau tinggal di mana?"

"Di bawab tebing Hu hau hong bukit Hau-tau san!"

Setelah berhenti sejenak, iapun bertanya pula.

"Kau sendiri, sekarang akan ke mana?"

Ong Bun kim tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, sesudah itu baru sahutnya.

"Aku hendak mencari musuh besar ayahku!"

"Maksudmu, kau hendak menyatroni perguruan Hau kwan?"

Coa Sik oh menegaskan.

"Benar!"

"Ooooh... jangan! Jangan nak, kau tak boleh ke sana, ilmu silat yang kau miliki masih belum cukup untuk menandingi kelihayan kakekmu..."

"Mo kui kiam jiu bukan kakekku, aku tidak mempunyai seorang kakek macam gembong iblis itu!"

Teriak anak muda itu.

"Yaaa, dia memang bukan kakekmu... ia memang tidak pantas menjadi kakekmu..."

Gumam Coa Siok oh dengan air mata bercucuran.

"tapi aku berbicara yang sesungguhnya nak, ilmu silatmu kemungkinan besar masih bukan tandingan dari Mo-koui-kiam-jiu ..."

"Ibu tak usah kuatir, aku tidak pernah memikirkan persoalan ini di dalam hati !"

Ketika dilihatnya anak muda itu tetap kukuh dengan pendiriannya, Coa Siok-oh mulai sadar bahwa pendirian anaknya tak mungkin bisa di rubah lagi, dengan sedih dan murung diapun menghela napas panjang.

"Aaaai... baiklah, jika kau tetap dengan tekadmu, akupun tak akan menghalangi, nah, aku mohon diri lebih dulu!"

"Ibu, kau hendak pulang ke rumah?"

"Benar !"

"Begitupun ada baiknya juga, bila aku ada urusan, sampai waktunya pasti akan kukunjungi rumahmu !"

Demikianlah, ibu dan anak yang baru saja berjumpa akhirnya harus berpisah kembali.

Tentu saja, suasana pada saat itu sangat-mengharukan sekali, tetapi apa boleh buat!

Perpisahan memang tak dapat dipisahkan dalam sejarah kehidupan seorang manusia.

Ong Bun-kim tetap merahasiakan tujuan kepergiannya terhadap ibunya, dia tak mau memberi tahu kepada ibunya bahwa sesungguhnya dia hendak berkunjung ke lembah Sin-Iikok untuk membuat perhitungan dengan Siau Hui-un.

Diapun tidak berharap ibunya ketimpa suatu musibah yang tidak diharapkan, sebab dalam kehidupannya selama ini, sudah terlalu banyak kesengsaraan dan penderitaan yang dialaminya, dia tak ingin menambah kesusahan bagi ibunya.

Maka ditunggunya hingga bayangan punggung dari ibunya Coa Siok oh sudah menjauh, pemuda itu baru menghela napas sedih.

Akhirnya, bayangan tubuh dari Coa Siok-oh lenyap dari pandangan mata.

Ong Bun-kim; menghela napas panjang.

"Aaaai... dia adalah seorang perempuan yang amat buruk nasibnya... ia adalah perempuan yang terlalu banyak menderita..."

Ia berduka bagi nasib ibunya yang buruk, diapun bersedih hati oleh kesengsaraan yang me-nimpa dirinya. Bunga iblis dari neraka yang berdiri di sisinya mendadak bertanya.

"Apakah dia adalah ibumu?"

Ong Bun kim memandang sekejap ke wajah Bunga iblis dari neraka, lalu dengan sedih manggut manggut.

Tiba tiba Bunga iblis dari neraka menemukan sesuatu, dari pancaran sinar mata dan perubahan mimik wajah Ong Bun kim, ia telah menemukan bahwa sesungguhnya pemuda yang berada dihadapannya sekarang adalah seorang pemuda yang patut dikasihani, betapa tidak?

Dari pancaran sinar matanya dapat diketahui betapa menderita dan sengsaranya pemuda itu sepanjang kehidupannya di dunia ini.

Kalau dilihat pula dari mimik wajahnya maka pemuda itu seakan-akan pernah mengharapkan sesuatu, tapi apa yang diharapkan tak pernah kesampaian.

Ong Bun kim kembali menghela nafas panjang.

"Aaaai...nona, kau boleh pergi dari sini!"

Katanya kemudian. Bunga iblis dari neraka ikut menghela napas.

"Yaa, aku memang harus pergi dari sini"

Katanya.

"tak pernah ada orang yang bisa berkumpul terus menerus, pada akhirnya suatu perpisahan akan memisahkan kita, aku hanya berharap pada suatu ketika kita bisa bertemu kembali."

Dengan langkah yang sangat pelan ia memutar badannya dan berlalu dari situ.

Mendadak...

pada saat Bunga iblis dari neraka hendak memutar badannya dan berlalu dari situ, serentetan suara tertawa dingin yang tak sedap didengar berkumandang memecahkan kesunyian.

Menyusul suara tertawa dingin itu, kedengaran seseorang berkata dengan suaranya yang dingin menyeramkan.

"Heehh.. .heeeehhh... heeehhh... suatu adegan perpisahan yang menawan hati, oooh...betapa asyiknya!". Mendengar suara itu, dengan terkejut Ong Bun kim memutar badannya sambil menengok, terlihatlah seorang pemuda berbaju perlente, sambil menggoyangkan kipasnya menghampiri mereka sambil tertawa dingin tiada hentinya. Pemuda berbaju perlente itu tampan sekali, cuma sayang mimik wajahnya terselip suatu sifat tengik dan cabul yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

"Haaah...kau?"

Jerit Bunga iblis dari neraka dengan paras muka berubah hebat.

"Benar, akulah yang telah datang! Apakah kau masih teringat dengan diriku? Oooh... kalau memang begitu halnya, betapa gembiranya hatiku...!"

Bunga iblis dari neraka tertawa dingin.

"Heehhh.... heeehhh... mau apa kau datang ke mari?"

Teriaknya. Pemuda berbaju perlente itu tertawa misterius, pelanpelan sinar matanya dialihkan ke atas wajah Ong Bun-kim, kemudian sambil tersenyum katanya lirih.

"Kalau dugaanku tidak keliru, tentunya saudara ini adalah ahli waris dari Kui-jin suseng yang nama besarnya telah menggetarkan seluruh dunia persilatan, bukan?"

"Benar, siapakah kau?"

Sahut Ong Bun kim ketus.

"Aku adalah Teng Kun, tapi orang lain lebih suka memanggilku sebagai Hiat hay long cu (si laki-laki hidung belang pembuat lautan darah)."

"Bolehkah aku tahu ada urusan apa kau datang mencariku?"

"Oooh... urusan penting sih tidak ada, aku hanya mendengar orang berkata bahwa saudarapun memiliki mata uang kematian?"

"Benar! Apakah saudara datang mencariku lantaran persoalan itu?"

"Tepat sekali dugaanmu itu!"

Paras muka Ong Bun ki-m berubah hebat, lalu sambil tertawa tawa katanya kembali.

"Kalau kau menginginkan mata uang kematian tersebut, ada baiknya dipersilahkan untuk mengambil sendiri!"

Hiat hay longcu Teng Kun melirik sekejap ke arah Bunga iblis dari neraka, kemudian sambil menggoyangkan kipasnya pelan-pelan dia berjalan menuju ke depan...

Bunga iblis dari neraka segera membentak nyaring.

"Hiat-hay-long cu ! Kalau kau berani turun tangan, jangan salahkan kalau kucabut selembar jiwamu !"

Hiat -hay long cu tertawa terbahak-bahak, mendadak tubuhnya melompat ke udara, kemudian bagaikan anak panah yang.

terlepas dari busurnya dia meluncur ke depan dan menerjang ke tubuh Ong Bun-kim.

Sungguh cepat dan dahsyat terjangan dari Hiat hay-longcu tersebut, begitu sampai di hadapan musuhnya, kipasnya lantas diayun ke muka menyambar wajah si anak muda.

Belum lagi serangan tersebut mengenai sasarannya, mendadak bentakan nyaring kembali berkumandang memecahkan kesunyian.

"Tahan !"

Menyusul bentakan tersebut, sesosok bayangan manusia menerjang masuk ke dalam arena dan langsung melancarkan sebuah serangan dahsyat ke tubuh Hiat hay long cu.

Sungguh cepat datangnya ancaman dari bayangan manusia tersebut, hal ini memaksa Hiat hay long cu harus menarik kembali serangannya dan buru-buru mengundurkan diri.

Kejadian ini sungguh di luar dugaan siapa-pun juga, untuk sesaat mereka semua menjadi tertegun dan berdiri melongo.

Ong Bun kim sendiri juga sudah mundur ke belakang, tapi begitu ia mendongakkan kepalanya, kontan saja sekujur badannya bergetar keras.

Ternyata manusia berkerudung hitam yang misterius itu tiba tiba muncul kembali di tempat itu, teringat bahwasanya manusia berkerudung itu kemungkinan besar adalab gurunya Kui jin suseng, untuk sesaat lamanya anak muda itu menjadi bingung dan tak tahu apa yang musti dilakukan...

Sementara, itu, Hiat-hay long cu sambil ter-senyum telah menegur.

"Saudara siapakah kau? Mengapa wajahmu kau kerudungi dengan kain hitam?"

Dengan ketus jawab manusia berkerudung hitam itu.

"Rahasia pribadiku tak perlu kau campuri, justru aku mempunyai suatu persoalan yang hendak kutanyakan kepadamu..."

"Silahkan kau katakan !"

"Benarkah Sam jiu hek hou (rase hitam berlengan tiga) telah kau perkosa lebih dulu sebelum dibunuh...?"

Paras muka Ong Bun kim berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, tapi ia tidak memberi komentar apa-apa. Sebaliknya Hiat hay long cu tetap tersenyum lebar.

"Siapa yang bilang kalau Rase hitam itu kuperkosa? Keliru besar saudara, kalau hubungan yang dilakukan atas dasar mau sama mau, itu bukan perkosaan namanya..."

Manusia berkerudung hitam itu mendengus dingin.

"Hmm...! Kau tak usah banyak bicara, pokoknya yang pasti ia telah kau bunuh, kemudian ke empat biji mata uang kematian yang berada di sakunya telah kau bawa kabur, bukankah begitu?"

"Benar, apakah kedatanganmupun lantaran ingin mendapatkan mata uang kematian?"

"Dugaanmu tepat sekali, nah sekarang cepat serahkan mata uang kematian itu kepadaku!"

"Maaf, tak bisa kupenuhi keinginanmu itu!"

"Bangsat! Rupanya kau kepingin mampus!"

Sambil membentak keras, manusia berkerudung hitam itu menerjang ke arah Hiat-hay long cu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, kemudian sebuah pukulan dilancarkan menyodok ke perutnya.

Bentakan keras itu segera menyadarkan kembali Ong Bun kim dari lamunannya, sinar matanya kontan mencorong tajam, dengan suara menggeledek mendadak bentaknya.

"Tahan!"

Bentakan itu disertai dengan nada yang mengerikan dan menggidikkan hati, hal ini membuat semua orang yang berada di sekitar arena menjadi terkesiap lantaran kaget.

Baik manusia berkerudung hitam maupun Hiat hay long cu Teng Kun yang bersiap-siap melakukan pertarungan, serentak menarik kembali pukulannya dan melompat mundur ke belakang, serta merta sinar mata merekapun di alihkan ke wajah Ong Bun kim.

Mencorong sinar tajam dari sepasang mata Ong Bun kim, ia menatap manusia berkerudung hitam itu tanpa berkedip, kemudian bentaknya.

"Siapa kau? Hayo jawab!"

Bentakan itu masih kedengaran keras dan menggidikkan hati, hal tersebut menunjukkan bahwa ia tak sanggup mengendalikan emosi dalam hatinya.

Bisa dimaklumi betapa kerasnya goncangan jiwa yang menimpa si anak muda itu, sebab apa yang tidak diinginkan akhirnya terlihat di hadapan matanya.

Ia sangat berharap manusia berkerudung ini adalah Kui jin suseng, tapi diapun sangat berharap agar dia bukan Kuijin suseng yang sedang dicari, karena seandainya terbukti dia adalah Kui jin suseng, maka banyak persoalan yang selama ini membingungkan hatinya segera akan terungkap.

Seandainya dia benar-benar adalah Kui jin suseng...

Oh, Tian!

Apa yang harus ia lakukan .....

Manusia berkerudung hitam itu tampak tertegun setelah dibentak oleh Ong Bun kim barusan, menyusul kemudian dengan suara dingin katanya.

"Apakah kau sudah lupa siapakah diriku, anak muda ?"

"Aku tidak lupa, cuma aku ingin bertanya kepadamu, benarkah lengan kirimu itu palsu?"

"Benar!"

"Sesungguhnya siapakah kau? Hayo jawab!"

"Kenapa harus kujawab?"

"Aku ingin tahu siapakah kau!"

Manusia berkerudung hitam itu kembali mendengus dingin.

"Hmm ! Aku rasa tiada suatu keharusan bagiku untuk menjawab pertanyaanmu itu?"

"Bukankah kau adalah Kui jin suseng, sastrawan setan harpa ?"

Teriak Ong Bun kim seperti setengah kalap. Manusia berkerudung hitam itu tertawa seram.

"Heeehhh .... heeehhh . , . heehhh ... dengan dasar apa kau mengatakan bahwa aku adalah Kui jin suseng?"

Ejeknya.

"Lengan kirimu kutung!"

"Hanya berdasarkan hal ini?"

"Benar!"

"Hmm...! Sayang dugaanmu keliru besar-sebab aku bukan Kui jin suseng yang kau maksudkan!"

"Sesungguhnya siapakah kau?"

"Sudah kukatakan kepadamu tadi, tiada suatu keharusan bagiku untuk menjawab pertanyaan itu!"

Ong Bung kim benar-benar naik pitam, segera bentaknya kembali.

"Kurang ajar! Jadi kau tetap ngotot tak mau mengatakan siapakah dirimu yang sesungguhnya ?"

"Betul !"

"Kau anggap aku tak bisa merobek kain kerudung yang menutupi wajahmu itu."

"Hmmm...! Seandainya kau merasa memang memiliki kepandaian untuk berbuat demikian, silahkan untuk mencopot sendiri kain kerudung yang menutupi wajahku ini!"

Ejek manusia ber-kerudung itu sambil mendengus.

Hawa nafsu membunuh yang mengerikan dan suatu perubahan perasaan yang sukar dilukiskan dengan kata kata segera menyelimuti paras muka Ong Bun kim.

Dengan suatu lompatan bagaikan harimau ganas yang menerjang anak domba, ia menerjang ke hadapan manusia berkerudung hitam itu sambil bentaknya.

"Kau benar benar hendak memaksa diriku untuk turun tangan sendiri?"

"Benar!"

"Kalau begitu, sambutlah seranganku ini!"

Dalam gusar dan kobaran emosinya, secepat sambaran petir Ong Bun kim menerjang maju ke muka, lalu dengan tangan kiri menyodok-kan sebuah pukulan dahsyat, harpa besi ditangan kanannya menyapu pinggang manusia berkerudung hitam itu.

Rupanya anak muda itu benar benar sudah diliputi amarah yang tak terkendalikan, terbukti dalam serangan tersebut, ia telah menggunakan segenap kekuatan yang dimilikinya.

Agaknya manusia berkerudung hitam itu tahu kelihayan lawan, ia tak berani menyambut pukulan tersebut secara gegabah, dengan suatu lompatan yang lincah, tubuhnya mengegos ke samping.

Ong Bun kim tak sudi membiarkan musuhnya kabur, begitu serangan yang pertama tidak mengenai sasarannya, serangan kedua yang jauh lebih dahsyat segera dilancarkan.

Disaat Ong Bun kim melepaskan pukulan untuk kedua kalinya itulah, tiba tiba Hiat hay long cu membentak keras, kipasnya direntang kan lebar lebar lalu disodokkan ke tubuh Ong Bun kim dengan kecepatan luar biasa.

Peristiwa ini benar benar diluar dugaan siapapun.

Bayangan kipas tampak berkelebat lewat dan tahu tahu sudah mampir di atas punggung si anak muda itu.

Bunga iblis dari neraka yang menyaksikan kejadian itu menjadi terkejut, segera bentaknya.

"Bangsat! Kau ingin mampus..." 00OdwO00 Bab 12 TUBUHNYA lantas melompat kedepan, senjata Pie pa baja yang berada dalam genggamannya di pergunakan untuk menyambar pinggang Hiat hay long du Teng Kun. Sekalipun serangan yang dilancarkan Bunga iblis dari neraka dilakukan dengan kecepatan luar biasa, namun tak sempat baginya untuk membendung ancaman yang dilakukan Hiat hay long cu terhadap Ong Bun kim...

"Blaaam... !"

Dalam keadaan yang tidak terduga, punggung Ong Bun kim terhajar telak oleh serangan yang maha dahsyat itu.

Anak muda itu segera terhuyung maju sejauh tujuh delapan langkah, kemudian muntah-muntah darah.

Betapa sakitnya hati Bunga iblis dari neraka menyaksikan kejadian itu, dengan geramnya ia membentak keras, lalu sambil melancarkan serangan dengan mempergunakan pie-pa bajanya dia membentak.

"Teng Kun, kubunuh dirimu!"

Cahaya berkilauan membumbung di angkasa, dengan membawa desingan angin tajam yang memekikkan telinga, Pie-pa baji itu langsung menghantam ke tubuh Hiat hay long cu.

"Bagus sekali!"

Teriak Hiat hay long cu sambil mengayunkan pula kipasnya.

"kalau kau begitu bernapsu ingin berkelahi, apa salahnya kalau kulayani beberapa jurus seranganmu?"

Kipasnya menyambar kian ke mari, secara licik dan manis dia melepaskan pula sebuah serangan balasan.

Sebagai jago tangguh yang sama-sama lihay-nya, serangan yang dilancarkan kedua orang itu sama-sama dilakukan dengan kecepatan paling tinggi, terlihatlah bayangan manusia berkelebat lewat, menyusul kemudian Hiat hay Long cu harus mundur sejauh tujuh-delapan langkah sebelum dapat berdiri tegak.

Hawa napsu membunuh yang sangat mengerikan menyelimuti seluruh wajah Bunga iblis dari neraka, sambil menggigit bibir menahan geramnya, ia membentak.

"Teng Kun, sambutlah kembali beberapa jurus seranganku ini!"

Diiringi suatu bentakan nyaring, tubuhnya seperti anak panah yang terlepas dari busurnya menerjang ke muka.

"Tunggu sebentar!"

Tiba tiba Hiat hay longcu membentak nyaring. Sambil melindungi tubuhnya dengan silangan kipas, secara beruntun ia mundur sejauh lima-enam langkah ke belakang.

"Apa lagi yang kau inginkan?"

Tegur Bunga iblis dari neraka dengan suara ketus. Hiat hay long cu tertawa tengik, katanya kemudian setelah cengar cengir sejenak.

"Bolehkah aku tahu, apa hubunganmu dengannya?"

Pertanyaan ini sungguh berada di luar dugaan orang, kontan saja Bunga iblis dari neraka tertegun dibuatnya, tapi hanya sejenak saja, sambil tertawa dingin katanya kemudian.

"Kau tidak berhak untuk menanyakan soal ini!"

"Apakah dia adalah kekasihmu?"

Desak Hiat hay long cu lebih jauh.

"Mau kekasihnya atau bukan, lebih baik kau tak usah turut campur, sebab hal ini bukan urusanmu!"

"Seandainya dia bukan kekasihmu, apa pula gunanya kau membantu orang asing yang tiada sangkut pautnya dengan dirimu?"

"Heeehhh ..hehhh ..hehhh ..aku tidak ambil perduli apa yang hendak kau katakan, pokoknya hari ini kau hendak kubunuh dan ku-cincang menjadi berkepingkeping!"

"Sudahlah nona manis, jangan melibatkan dirimu dalam cinta yang bertepuk sebelah tangan, percuma! Hal ini malah akan menyiksa dirimu sendiri..."

"Bangsat! Mulutmu kotor seperti anjing yarg gemar makan najis, terima saja kematianmu!"

Diiringi bentakan nyaring yang penuh kegusaran, Bunga iblis dari neraka menerjang maju ke muka, terlihatlah bayangan hitam berkelebat lewat dan tahu tahu senjata piepa baja itu sudah melepaskan dua buah serangan berantai.

Hiat hay long cu tak berani bertindak gegabah, diapun membentak sambil berkelit ke samping.

Tapi bunga iblis dari neraka enggan melepaskan musuhnya dengan begitu saja, bagaikan bayangan saja ia menyusul dari belakang dan secara beruntun melancarkan kembali tiga buah serangan beruntun.

Pada saat ini, hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajah Bunga iblis dari neraka, serangan demi serangan yang dilancarkannya tak sebuahpun yang bukan termasuk serangan mematikan, dalam sekejap mata ia sudah melepaskan sepuluh buah serangan berantai.

Sementara pertarungan di pihak lain sedang berlangsung, manusia berkerudung hitam itu telah menerjang ke hadapan Ong Bun kim sambil membentak nyaring.

"Hayo cepat serahkan mata uang kematian itu kepadaku!"

Dengan ujung tangannya Ong Bun kim menyeka noda darah yang membasahi ujung bibirr nya, kemudian tertawa dingin.

"Heeehhh ..heeehhh ..heeehhh ..boleh saja, asal kau lepaskan kain kerudung hitam yang menutupi wajahmu, kemudian memberitahukan siapakah kau, mata uang kematian segera kuserahkan kepadamu!"

"Kalau aku berkeberatan untuk melakukan apa yang kau harapkan?"

"Hmmm ...! Atau mungkin mumpung aku sedang menderita luka dalam yang parah, maka kau hendak turun tangan kepadaku?"

Ejek Ong Bun kim sambil tertawa sinis.

"Mungkin saja aku berbuat demikian, aku ingin bertanya kepadamu, bukankah kau hendak berkunjung ke lembah Sin li kok?"

"Betul!"

"Nah, dari pada mata uang itu kau bawa mati, lebih baik serahkan saja kepadaku!"

Berbicara sampai di situ, tangannya lantas berkelebat ke depan mencengkeram tubuh Ong Bun kim.

Hakekatnya Ong Bun kim sudah terlampau lemah sesudah isi perutnya menderita luka parah, mana mungkin baginya untuk menghindarkan diri dari cengkeraman manusia berkerudung hitam itu.

Sambil membentak keras, terpaksa ia harus menggunakan harpa besinya untuk mematahkan serangan tersebut.

Akan tetapi, sebelum serangan itu berhasil dilancarkan, tiba tiba darah dalam rongga dadanya bergolak keras, tak ampun lagi ia muntah darah segar, tubuhnya segera roboh terjengkal ke atas tanah dan jatuh tak sadarkan diri...

Entah berapa waktu sudah lewat, akhirnya pemuda itu sadar kembali dari pingsannya...

Ketika matanya pelan-pelan direntangkan, tampaklah seraut wajah yang diliputi kesedihan muncul di depan matanya Pemuda itu dapat mengenali orang itu sebagai Bunga iblis dari neraka, noda air mata masih membekas di atas wajahnya, ketika itu dengan pandangan yang sedih ia sedang mengawasi wajah Ong Bun kim, mimik wajahnya menunjukkan rasa kuatir yang tebal, tentu saja di-samping rasa cinta dan kesedihan.

Tiba-tiba Ong Bun kim menemukan tubuhnya berbaring di dalam pelukan gadis tersebut.

Tiba-tiba ia seperti teringat akan sesuatu, buru buru tangannya merogoh ke dalam saku, betul juga, kedua biji mata uang kematian itu sudah lenyap tak berbekas, sebagai gantinya ia menemukan selembar kertas yang berisi tulisan.

Surat itu buru-buru diambil ke luar dan dibaca isinya, terbacalah sebagai berikut.

"Bun kim. Mata uang kematian telah kuambil, sebab benda tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat dengan diriku, betul, aku adalah Kui jin suseng, aku pula yang telah membunuh ayahmu..."

Ketika membaca sampai di sini, Ong Bun kim segera merasakan kepalanya menjadi pening bagaikan dipukul oleh martil yang berat, sekujur badannya gemetar keras.

"Ooooh ... Thian!"

Gumamnya.

"ia benar-benar adalah Kui jiu suseng ... dia adalah pembunuh ayahku ..."

Setelah pergolakan dalam hatinya berhasil diatasi pemuda itu membaca surat tersebut lebih jauh.

" . ...aku tidak memohon pengampunan atau maaf darimu, tapi aku harus melanjutkan hidupku, sebab hal ini sama pentingnya seperti kubunuh ayahmu tapi tidak membunuh dirimu. Tentunya kau bertanya pada diri sendiri bukan.

"Kalau toh kau membunuh ayahku, mengapa tidak membunuh pula diriku?"

Terhadap pertanyaan ini suatu waktu kau pasti akan mengetahui dengan sendirinya, sekarang aku tak ingin memberitahukan hal ini kepadamu.

Hidup bagiku adalah suatu kejadian yang amat menyiksa diriku, tapi seperti yang kukatakan tadi, aku harus melanjutkan hidupku, sebab perbuatan yang kulakukan harus kuselesaikan sendiri, jangan beritahu kepada siapapun jua bahwa aku masih hidup, sebab bagikau, hal ini penting sekali artinya.

Cukup sekian suratku ini, baik-baiklah menjaga dirimu.

Tertanda .

Kui-jin suseng."

Ketika Ong Bun kim selesai membaca surat itu, ia tak bisa mengatakan bagaimana pedih dan bencinya perasaannya waktu itu, tapi yang pasti baik perasaan sedih maupun perasaan benci kedua-duanya berkecamuk di dalam hatinya.

Akhirnya apa yang dikhawatirkan, apa yang ditakutkan kini sudah menjadi kenyataan.

"Aku akan membunuhmu .... Kui jin suseng!"

Gumamnya.

"Hey, apa yang kau katakan?"

Teriak Bunga iblis dari neraka dengan terperanjat.

"siapa yang hendak kau bunuh? Kui jin Suseng?"

"Benar!"

"Kenapa? Bukankah dia adalah gurumu?"

"Yaa, dia adalah guruku, tapi dia pula yang telah membinasakan ayahku ..."

"Sesungguhnya apa yang telah terjadi? Kalau dia telah membunuh ayahmu, mengapa ia wariskan ilmu silatnya kepadamu?"

"Hingga detik ini, persoalan itu masih merupakan sebuah teka teki, dewasa ini aku tak dapat memahaminya."

Dengan sedih Bunga iblis dari neraka menganggukkan kepalanya, ia melirik sekejap Ong Bun-kim yang berbaring dalam pelukannya, kemudian menghela napas panjang.

Ong Bun-kim dapat menyaksikan kepedihan dan rasa sayang yang terpancar dari wajah Bunga iblis dari neraka, tanpa terasa ia bertanya.

"Kaukah yang telah menyelamatkan jiwaku?"

"Benar, aku yang telah menolong dirimu!"

"Aaaai ! Aku tidak mengerti apa sebabnya kau bersikap demikian baiknya kepadaku? Sepanjang hidupku, belum pernah aku merasa berterima kasih kepada orang lain... terlebih terhadap seorang perempuan!"

Kata Ong Bun-kim dengan sedih.

"Aaaai... kenapa musti berterima kasih?"

Nona itu seperti merasakan pula suatu kepedihan, ia ikut menghela napas.

"Ke mana larinya Hiat-hay-long-cu?"

Tanya Ong Bun-kim setelah termenung sejenak.

"Kabur! Setelah termakan pukulanku, dia kabur dengan membawa luka dalamnya!"

"Sesungguhnya manusia macam apakah Hiat hay long cu itu?"

"Dia adalah seorang manusia yang paling cabul di dunia, entah berapa banyak anak gadis dan istri orang yang digagahi olehnya, oleh karena orangnya terlalu licik dan banyak tipu muslihatnya, selain itu ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay, maka tak seorang manusiapun yang bisa berkutik terhadapnya!"

"Suatu hari, aku pasti akan mencarinya untuk membuat perhitungan"

Sumpah Ong Bun-kim sambil menggigit bibir.

Setelah mengucapkan kata kata tersebut, mereka mulai membungkam dalam seribu bahasa, masing masing terbuai dalam pikirannya sendiri, sementara suatu perasaan murung dan sedih mengelilingi kalbu hatinya.

Berbaring dalam pelukan Bunga iblis dari neraka, Ong Bun-kim merasakan suatu kehangatan yang belum pernah dirasakan sebelumnya, perasaan anehpun muncul menyelimuti benaknya, belum pernah ia alami keadaan seaneh ini semenjak dilahirkan di dunia.

Pada umumnya bilamana seseorang berada dalam kesepian dan sebatangkara, ia akan membutuhkan kasih sayang dan kehangatan dari orang lain, demikian pula halnya dengan Ong Bun-kim.

Ia membutuhkan kehangatan, ia lebih-lebih membutuhkan kasih sayang...

hanya saja dalam hatinya yang kesepian dan sendirian tak pernah terlintas ingatan, apa gerangan cinta itu.

Dan kini, Bunga iblis dari neraka telah memberikan apa yang dibutuhkan, tak heran kalau ia merasakan sesuatu yang belum pernah dialaminya selama ini.

Agaknya, perasaan hangat yang muncul dalam hatinya telah memberi banyak sekali harapan dan tekad baginya untuk melanjutkan hidup, sekarang ia baru mengerti bahwa kasih sayang dan perhatian adalah suatu hal yang mutlak diperlukan oleh manusia.

Sementara ia masih termenung, Bunga iblis dari neraka telah bertanya lagi.

"Kau tidak merasakan sesuatu yang tidak beres bukan?"

"Aku baik sekali !"

Sambil berkata dia lantas menegakkan tubuhnya dan menengok ke arah gadis tersebut, memandang wajahnya yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan serta kesedihan yang menyelimuti mukanya, tanpa terasa ia bertanya.

"Teringat apakah kau?"

Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan lembut.

"Tidak, aku tidak teringat apa apa, sebab aku sendiripun tak tahu perbuatan apakah yang telah kulakukan, aaai ....! Kau tidak akan mengerti, aku aku..."

Suaranya makin lama semakin parau dan tiada berkelanjutan.

"Kau menyesal karena menolongku?"

"Tidak..."

Saking sedihnya, air mata jatuh bercucuran membasahi wajahnya.

Keadaan tersebut amat mencengangkan Ong Bun-kim, ia sampai terbelalak dibuatnya.

Ia tak tahu mengapa gadis itu bersikap demikian, mengapa ia dapat menampilkan sikap semacam ini?

Dengan termangu-mangu Ong Bun-kim memandang ke arahnya.

Tiba-tiba ia menjatuhkan diri ke dalam pelukan Ong Bun-kim, lalu menangis tersedu-sedu.

"Hey, kenapa kau?"

Tegur Ong Bun-kim dengan wajah tertegun.

Tapi gadis itu cuma menangis tersedu, ia membungkam dalam seribu basa.

Dengan lembut Ong Bun-kim mendongakkan kepalanya, ketika menyaksikan butiran air mata yang membasahi pipinya, tiba-tiba pemuda itu merasakan sesuatu dorongan napsu yang aneh, tak tahan lagi ia balas memeluk gadis itu dan mencium bibirnya...

Seluruh perasaan dan kehidupannya ia curahkan dalam ciumannya yang pertama, ia telah mempersembahkan segala sesuatunya itu untuk seorang gadis yang masih asing baginya.

Ia gemetar keras, bahkan menggigil seperti orang kedinginan...

Bagi gadis itu, ciuman tersebut entah suatu keberuntungan atau suatu ketidak beruntungan, tiba-tiba diapun memeluk nya, ia membiarkan kobaran api asmara dalam hatinya berkembang dan tumbuh di hati mereka berdua ....

Cinta telah terjadi!

Bagaikan sebuah sandiwara, sebelum itu mereka tak pernah berjumpa, tak pernah saling mengenal, tapi kini bibit cinta mulai bersemi dalam hati mereka berdua, bagi mereka cinta adalah sesuatu yang aneh tapi nikmat dan menggetarkan sukma.

Ong Bun-kim telah jatuh cinta dalam pandangannya yang pertama, cinta ini merupakan pula cintanya yang pertama.

Ia telah mempersembahkan perasaannya untuk perempuan asing yang baru saja dijumpainya, cuma...

hasil apakah yang bakal ia petik dari cinta pertamanya ini?

Tiba-tiba...

gadis itu mendorongnya dan melepaskan diri dari rangkulan, kemudian teriak nya dengan terperanjat.

"Tidak .... tidak ..."

Ong Bun-kim tertegun, ditatapnya gadis itu dengan perasaan pedih, suatu penampikan dalam suasana yang amat sensitif ini telah menyinggung perasaannya, membuat ia merasa sedih dan tundukkan kepalanya dengan lemas...

"Keee ... kenapa kau ... ?"

Tegurnya kemudian agak tergagap.

"Aku ... aku ..."

Tiba-tiba gadis itu menangis makin menjadi.

"Apakah aku telah menganiaya dirimu? Apakah kau benci kepadaku? Marah kepadaku?"

"Tidak, tidak ... aku ... aku tidak pantas untukmu!"

Sekujur badan Ong Bun-kim gemetar keras, dengan terkesiap ia mendongakkan kepalanya dan mengawasinya tajam-tajam, perkataan tersebut menimbulkan perasaan seram dan ngeri dalam hati kecil pemuda itu.

"Kenapa? Kenapa kau berkata begini?"

Tanyanya dengan jantung berdebar keras.

"Aku tidak pantas mendapat kasih sayangmu, sebab kau adalah orang baik...!"

"Apakah kau bukan orang baik?"

"Aku?"

Tiba tiba ia tergelak tertawa, suara tertawanya kedengaran begitu kalap, seram dan tak sedap didengar. Sekian lama kemudian, ia melanjutkan lebih jauh .

"Bagi dirimu, aku jauh lebih jahat berkali lipat dari padamu, aku adalah orang paling jahat!"

"Jahat?"

"Benar, aku jahat, aku jauh lebih jahat dari padamu"

Pelan-pelan gadis itu bangkit berdiri, ditatapnya sekejap wajah Ong Bun kim dengan termangu, lalu katanya.

"Lupakanlah peristiwa ini!"

"Apa...? Melupakannya....? Kau minta aku melupakannya...?"

Ia mengeluh... Jeritan tersebut muncul dari lubuk hatinya, dari dasar hatinya yang paling dalam ....

"Ya, lupakanlah!"

Jawab Bunga iblis dari neraka dengan suara yang dingin dan tajam.

"Tidak, aku tidak akan melupakannya!"

"Aku minta kepadamu, lupakanlah peristiwa ini!"

"Beritahu dulu, kenapa aku harus melupakannya...?"

"Tak usah kau tanyakan hal itu, aku hanya minta kepadamu untuk melupakan peristiwa tadi!"

"Tidak, aku tak dapat melupakannya... tak dapat melupakannya...selama hidup tak akan kulupakan..."

Gumaman tersebut makin lama semakin lirih, paras mukanya makin diliputi kemurungan dan kesedihan yang makin tebal. Dalam hati kecilnya ia menjerit, mengeluh.

"Oooh...Thian! Inilah cintaku yang pertama...apakah harus seperti nasibku, mendapatkan penghancuran dan pemusnahan yang tak berperi kemanusiaan...?"

Yaa, Thian tidak seharusnya bersikap berat sebelah kepadanya, pengalaman hidupnya sudah cukup sengsara dan menderita, haruskah ia mengalami pula cinta pertamanya yang akan berakhir dengan tragis dan penuh kesedihan?

Ia bukan seorang manusia super, dia seperti pula manusia biasa pada umumnya, ia tidak berharap cinta pertamanya harus berakhir bagaikan bayangan berakhir tanpa kesan apa-apa.

"Kalau kau dapat melupakan peristiwa ini, banyak kebaikan yang akan kau terima, ingatlah perkataanku, lupakan kejadian tadi, nah selamat tinggal!"

Kata Bunga iblis dari neraka dengan sedih.

"Kau hendak pergi ke mana?"

"Jangan perhatikan diriku, tak usah kau tahu ke mana aku hendak pergi...!"

Habis berkata, ia lantas putar badan dan berlalu dari sana.

Ia mirip seorang gadis yang kejam dan tak punya perasaan, ia seperti seorang nona yang tak tahu apa artinya sayang dan cinta, ia telah pergi dengan begitu saja ...

"Tunggu sebentar!"

Tiba tiba Ong Bung kim berkata. Tanpa terasa gadis itu menghentikan langkah-nya, tapi ia tidak berpaling, tanyanya.

"Masih ada persoalan apa yang hendak kau tanyakan?"

"Beritahukan kepadaku, siapa namamu?"

"Bunga iblis dari neraka!"

Begitu selesai mengucapkan kata-kata itu, ia putar badannya dan berlalu dari situ dengan kecepatan luar biasa.

"Beritahu kepadaku, siapa namamu."

Teriak Ong Bunkim dengan suara setengah menjerit.

Tapi gadis asing yang telah dicintainya itu sudah pergi tanpa berpaling, pergi dengan begitu saja.

Ia telah pergi membawa serta kasih sayang dan cinta pertama Ong Bun-kim, ia seakan-akan pergi tanpa perasaan, dan yang tertinggal hanya kesedihan dan kepedihan bagi Ong Bun-kim.

Dia duduk di sana seperti orang yang kehilangan ingatan, sambil memandang awan di angkasa, gumamnya lirih.

"Oooh... Thian! Apa yang terjadi dengan diriku...? Apa pula yang telah kuperoleh....?"

Sekarang, ia merasakan bahwa apapun tidak berhasil ia dapatkan, bahkan ia merasa seperti kehilangan sesuatu, yang mana membuat bertambahnya duka nestapa dalam hatinya.

00OdwO00 BAB 13 KETIKA dipikir hatinya makin sedih, akhirnya tanpa disadari pemuda itu melepaskan harpa besinya dan mulai memetik senarnya membawakan sebuah lagu yang berirama sedih ....

Menggunakan permainan khim tersebut, semua perasaan cinta dan dendamnya dilampiaskan ke luar irama yang pedih dengan nada yang menggetarkan sukma segera mengalun di angkasa dan menyayat nyayat hati ....

Sesungguhnya Ong Bun kim adalah seorang pemuda yang berhati keras, tapi pada saat ini, mengikuti permainan harpa, air mata tanpa terasa jatuh bercucuran.

Sebuah lagu telah selesai dibawakan.

Walaupun irama lagu sudah hampir berakhir, tapi suara yang memilukan hati masih mengalun di angkasa ...

Pelan-pelan Ong Bun kim bangkit berdiri lalu beranjak dan melangkah maju ke depan namun baru beberapa langkah kemudian tiba-tiba ia berhenti lagi.

Kurang lebih satu kaki di hadapannya, entah sejak kapan telah duduk seorang gadis berbaju abu-abu yang berwajah pucat, berambut panjang dan bersikap sedih.

Ia masih muda, tapi bila diperhatikan lebih seksama, ia terasa seakan-akan bagaikan seorang nenek-nenek yang sudah lanjut usia, mimik wajahnya yang kesal menunjukkan betapa murung dan sedih hatinya.

Air mata masih menodai wajahnya, mungkinkah ia menangis karena sedih mendengarkan irama lagu yang dibawakan Ong Bun kim?

Sejak kapankah gadis itu berdiri di sana?

Ong Bun kim tak dapat menjawab pertanyaan itu.

Gadis itu telah mendongakkan kepalanya dan menatap tajam wajah Ong Bun kim, seakan-akan ia sedang bertanya.

"Mengapa kau bawakan lagu yang bernada sedih dan menyayat hati itu ..."

Ong Bun-kim tidak bertindak apa-apa, dia hanya bisa memandang gadis tersebut dengan wajah termangu-mangu.

Bila dilihat dari biji mata si nona berbaju abu-abu yang murung, Ong Bun kim merasa seakan-akan ia terkenang kembali dengan semua kesedihan dan ketidak beruntungan di masa masih kanak-kanak dulu.

Suatu perasaan senasib sependeritaan tiba-tiba terlintas dalam benaknya dan menyelimuti perasaannya.

Mereka berdiri saling bertatapan, seakan akan pihak lawan adalah duplikat dari pengalaman yang dialaminya.

-oo0dw0oo-

Jilid 5 AKHIRNYA, Ong Bun-kim melemparkan kerlingannya yang pelan-pelan beranjak...

keadaan seperti juga keadaan dikala meninggalkan Lan Siok lin tempo hari.

Ia tidak merasa sayang, pun tidak mengucapkan sepatah katapun !

Mereka tidak saling menyapa, tidak saling merasa sayang, pun tidak perlu suatu perpisahan, tapi dibalik sanubari masing-masing telah terselip suatu perasaan murung yang tipis.

Ia telah pergi...

pergi membawa harpa besinya, menuju ke halaman baru dari perjalanan hidupnya...

Lembah Sin Ii kok, terletak di bukit selatan Soat im san.

Di mulut lembah itu berdiri sebuah batu karang yang terbuat dari alam, batu itu amat besar dan berbentuk seperti seorang gadis, mungkin nama Sin li kok berasal dari keadaan alam di situ.

Ketika Ong Bun kim tiba di mulut lembah, hawa napsu membunuh segera berkobar dalam dadanya, ia merasa andaikata tiada Siau Hui un, tak mungkin ayahnya bakal tewas di tangan Kui jin suseng.

Ia hendak melenyapkan lembah Sin li kok dari muka bumi...

ia hendak mencincang tubuh Siau Hui un menjadi berkeping-keping.

Hawa napsu membunuh yang berkobar dalam dadanya makin lama semakin menebal, dengan sekali lompatan tubuh ia menerobos masuk ke dalam lembah Sin li kok...

Tapi, baru beberapa tombak ia berjalan, mendadak serentak pemuda itu menghentikan gerakan tubuhnya.

Secara tiba-tiba timbul goncangan keras dalam hatinya, ia merasa seakan-akan mendapat firasat jelek.

Sebelum ingatan kedua sempat melintas dalam benaknya, mendadak terdengar bentakan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, bayangan manusia segera berkelebat bagaikan sambaran petir, tahu-tahu empat orang nona berbaju merah sudah menghadang di hadapan Ong Bun kim.

Si anak muda itu segera mendongakkan kepalanya, ketika mengetahui apa yang terjadi, paras mukanya segera berubah hebat.

Seorang nona berbaju merah yang berada di paling depan, segera menegur dengan suara dingin;

"Siap kau? Berani benar menyatroni lembah Sin li kok kami?"

Ong Bun kim mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahh... lembah Sin li kok bukan neraka atau tempat terlarang yang tak boleh dikunjungi orang, kenapa aku Ong Bun kim tak boleh mendatanginya?"

Diiringi gelak tertawa yang mengerikan, tubuh Ong Bun kim secepat sambaran kilat telah menerjang ke arah keempat orang nona berbaju merah itu, harpa besinya sekuat tenaga dibacokkan ke depan.

Pada saat ini Ong Bun kim benar-benar sedang diliputi hawa napsu membunuh yang berkobar-kobar, bisa dibayangkan sendiri dalam serangan tersebut tentu disertakan juga tenaga pukulan yang mengerikan.

Seandainya pukulan itu sampai mengenai sasaran, tak dapat dibayangkan bagaimana jadinya gadis gadis itu.

Dikala Ong Bun kim sudah hampir menyarangkan pukulannya di tubuh lawan itulah, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Tahan!"

Karena bentakan tersebut, Ong Bun kim segera menarik kembali serangannya sambil melompat mundur, ketika diperhatikan orang itu, paras mukanya kembali berubah hebat, sebab orang itu bukan lain adalah Si hiat yau hoa (Siluman bunga penghisap darah).

"Aku kira siapa yang datang, tak tahunya adalah Ong sauhiap!"

Demikian Siluman bunga penghisap darah menyapa.

Sikap lembut dan halus yang diperlihatkan Siluman bunga penghisap darah ini sama sekali berada di luar dugaan Ong Bun kim, segera bentak nya dengan ketus.

"Yaa, memang aku yang datang, mau apa kau?"

Siluman bunga penghisap darah tersenyum.

"Bolehkah aku tahu, mau apa kau datang ke mari?"

Tanyanya.

"Aku hendak mencari Kokcumu!"

"Ooooh... kebetulan sekali, aku memang sedang menerima perintah dari Kokcu kami untuk mencarimu, silahkan masuk!"

Tercengang juga Ong Bun kim menghadapi sikap lembut dan penyambutan hormat dari Siluman bunga penghisap darah, sebab seingatnya mereka tak pernah bersahabat, malah sebaliknya merupakan musuh bebuyutan yang pernah diwarnai dengan pertarungan-pertarungan sengit.

Setelah tertegun beberapa saat lamanya, tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, kemudian ujarnya.

"Apakah Kokcumu juga akan mencariku?"

"Benar, silahkan!"

Seraya berkata ia lantas menyingkir ke samping dan memberi jalan lewat.

Ong Bun kim tidak tahu permainan setan apakah yang sedang dilakukan Siau Hui un, diam-diam ia tertawa dingin, lalu sambil mengangkat kepalanya maju ke depan.

Anak muda itu mempunyai perhitungan sendiri, ia merasa setelah berani datang ke situ ia tak akan memperdulikan mati hidupnya di dalam hati, ia musti meninggalkan tenaga intinya untuk menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi.

Lembah itu panjang sekali, akan tetapi sempitnya bukan kepalang.

Pepohonan tumbuh dengan suburnya di sepanjang lembah, sebuah jalan setapak menghubungkan mulut lembah itu dengan lembah bagian dalam, Siluman bunga penghisap darah berjalan mengikuti di belakang anak muda itu.

Setelah menembusi hutan yang lebat, tampaklah sebuah bangunan loteng yang indah dan megah muncul di kejauhan sana.

Setelah melewati dinding pekarangan, sampailah mereka di tengah tanah lapang di muka gedung, terlihatlah di kedua belah sisi jalan kecil yang menghubungkan pintu gerbang, masing-masing berdiri berjajar lima enampuluh orang gadis.

Paras muka setiap anak gadis itu amat keren dan serius, tak seorangpun diantara mereka yang bersikap bebas.

Tanpa sadar Ong Bun kim menghentikan langkah kakinya.

Siluman bunga penghisap darah segera ter senyum, katanya.

"Setelah Kokcu kami mengetahui akan kehadiranmu, beliau telah memimpin segenap anggotanya untuk menyambut kedatanganmu!"

"Terima kasih banyak!"

Dengus Ong Bun-kim sambil tertawa dingin tiada hentinya.

Selesai berkata ia lantas melanjutkan perjalanannya ke depan, ia tidak perduli apakah gadis-gadis itu akan turun tangan kepadanya atau tidak, ia harus berhadapan dengan maut yang berada di depan mata.

Ketika tiba di pintu gerbang, tampaklah dua buah patung malaikat perempuan yang terukir dari batu marmer berdiri di sisi kiri dan kanan pahatan tersebut sangat hidup, indah dan menawan hati.

"Silahkan masuk, Ong sauhiap!"

Kata Siluman bunga penghisap darah.

Ong Bun-kim termenung dan berpikir sebentar, kemudian sambil membusungkan dada ia masuk ke dalam.

Ruang tengah gedung itu sangat besar, lebar dan megah, tak kalah rasanya dengan keindahan istana.

Di kedua belah sisi ruang tengah masing-masing berdiri belasan orang gadis berbaju merah, diantaranya terdapat pula perempuan-perempuan yang telah berusia lanjut.

Di ruang tengah belakang meja kebesaran duduk seorang gadis berbaju merah yang berusia dua puluh satu-dua tahunan, dibelakang gadis itu masing-masing berdiri dua orang perempuan tua berbaju merah pula.

Dalam hati Ong Bun-kim lantas berpikir.

"Mungkinkah dia adalah Toan-kiam-giok-jin (perempuan cantik pedang kutung) Siau Hui-un ? Tapi mengapa semuda itu? Tidak, tidak mungkin! Seharusnya dia adalah seorang perempuan yang telah berusia empat puluh tahunan!"

Sementara ia masih berpikir, dara berbaju merah itu sudah bangkit berdiri. Ong Bun-kim lantas berpaling ke arah Siluman bunga penghisap darah sambi l tanyanya.

"Apakah dia adalah Kokcu kalian?"

"Bukan, dia adalah wakil Kokcu kami."

Belum habis Siluman bunga penghisap darah berkata, si nona berbaju merah itu sudah berkata sambil tersenyum.

"Apakah yang datang adalah Ong sauhiap?"

"Benar!"

"Harap kau bersedia memaafkan, berhubung masa latihan Kokcu kami belum berakhir, beliau tak dapat menyambut sendiri kedatanganmu, maka dari itu aku Tong Wan-tin mohon maaf yang sebesar-besarnya!"

"Tidak berani ....!"

Kata Ong Bun-kim sambil tertawa dingin.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, ia sudah tiba di depan ruangan itu, tiba-tiba ia merasakan suasana dalam ruangan tersebut penuh diliputi oleh hawa pembunuhan yang menggidikkan hati.

Ong Bun kim segera tertawa dingin, lalu katanya.

"Apakah nona adalah Hu Kokcu dari lembah Sin li kok ini?"

"Benar!"

"Aku khusus datang ke mari untuk menjumpai Kokcu kalian!"

"Bolehkah aku tahu ada urusan apa?"

"Oooh....soal ini adalah urusan pribadi antara diriku dengan dirinya, jadi lebih baik kau tak perlu tahu."

"Silahkan duduk Ong sauhiap, seusai latihan Kokcu kami pasti akan datang menjumpai diri mu!"

Mendengar perkataan tersebut, paras muka Ong Bun kim berubah hebat, segera bentaknya.

"Kau tak usah mencarikan alasan baginya, pokoknya aku ingin sekarang juga bertemu dengannya!"

"Tapi....tapi.... tentang soal ini..."

Ong Bun kim tertawa nyaring, kembali katanya.

"Jika kau tidak mengundangnya sekarang juga, jangan salahkan kalau aku Ong Bun-kim terpaksa harus menyalahi dirimu!"

"Tentang soal ini..."

Tampaknya Tong Wan-tin agak dibikin serba salah oleh tindakan pemuda itu.

"Bagaimana?"

Kata Ong Bun-kim kemudian sambil tertawa lebar.

"mau pergi atau tidak?"

"Ong sauhiap, agaknya kau suka membuat susah orang?"

Tegur Tong Wan-tia akhirnya dengan perasaan kurang senang. Ong Bun-kim lagi-lagi tertawa.

"Persoalannya bukan soal menyusahkan orang atau tidak, tapi yang pasti aku harus segera bertemu dengannya."

"Tentang soal ini..."

"Hayo pergi dan suruh dia ke luar untuk menjumpai diriku!"

"Aku rasa hal ini tak mungkin bisa terjadi!"

"Kurang ajar, rupanya kau sudah bosan hidup."

Ong Bun kim tak bisa mengendalikan perasaannya lagi, sambil membentak keras, tubuhnya secepat sambaran kilat meluncur ke hadapan Tong Wan tin dan menghantam kepalanya.

Tindakan tersebut segera menimbulkan kegemparan di kalangan gadis-gadis berbaju merah yang berada di luar ruangan, paras muka mereka rata-rata berubah hebat.

Sementara itu, serangan yang dilancarkan Ong Bun kim telah tiba di hadapan Tong Wan-tin, dalam keadaan demikian mau tak mau dia musti menggerakkan tubuhnya untuk berkelit ke samping, kemudian bentaknya dengan suara nyaring.

"Tahan !"

Ong Bun kim menarik kembali serangannya sambil melompat mundur ke belakang.

"Apakah kau telah bersedia untuk memanggilnya ke luar?"

Ia menegur dengan nada yang sinis. Kali ini paras muka Tong Wan tin yang berubah hebat.

"Ong sauhiap, ketahuilah bahwa Kokcu kami sama sekali tidak menganggap dirimu sebagai musuh besar, apakah kedatanganmu kemari adalah untuk mencari balas?"

"Benar!"

"Tapi kami mendapat perintah dari Kokcu untuk menerima Ong sauhiap dengan pelayanan sebaik-baiknya!"

"Sudahlah, kau tak usah banyak berbicara lagi,"

Tukas Ong Bun kim dengan geramnya.

"pokoknya kalau ia tidak kau panggil keluar, seluruh anggota perguruannya akan kubantai sampai ludas!"

"Ong sauhiap, kau jangan terlalu memaksa orang! "seru Tong Wan tin mulai naik darah.

"Kalau aku mau mendesak terus lantas kenapa? Lihat serangan!"

Sambil membentak nyaring, Ong Bun kim melompat maju ke depan, telapak tangannya segera diayunkan ke muka melancarkan sebuah pukulan yang dahsyat ke tubuh Tong wan tin, wakil ketua dari lembah Sin li kok.

Sebagaimana diketahui adapun kedatangan, Ong Bun kim ke tempat itu adalah untuk mencari balas, tentu saja dalam melancarkan serangannya ia telah sertakan pula segenap tenaga dalam yang dimilikinya, daya penghancur yang di-hasilkan sungguh ibaratnya gulungan ombak yang menyapu daratan."

"Kurang ajar, apakah kau menganggap aku adalah orang yang mudah dipermainkan,"

Bentak Tong Wan tin.

Berbareng dengan bentakan tersebut, dia melepaskan pula sebuah serangan balasan.

Bayangan manusia saling menyambar, secepat sambaran kilat harpa besi dari Ong Bun kim menyambar ke depan.

Agaknya Tong Wan tin tidak menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki Ong Bun kim telah mencapai tingkatan sesempurna itu, termakan oleh desakan tersebut, tak kuasa lagi ia kena terdesak sehingga harus mundur sejauh tiga, empat langkah dengan sempoyongan.

Ong Bun kim tidak melepaskan musuhnya dengan begitu saja, bagaikan bayangan saja ia menyusul ke depan, dengan harpa besinya secara beruntun ia lancarkan tiga buah serangan berantai.

Secara beruntun Tong Wan-tin didesak hingga musti mundur sejauh satu kaki lebih, karena posisinya berada di bawah angin, otomatis iapun tidak memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan balasan.

Mendadak Tong Wan-tin membentak nyaring, dalam situasi yang amat berbahaya, pergelangan tangannya diayunkan ke depan, serangan dari Ong Bun-kim segera dibendung, kemudian secara beruntun dia lancarkan pula dua buah serangan balasan.

Ternyata tenaga dalam yang dimiliki Tong Wan-tin termasuk hebat juga.

Bayangan manusia segera saling menyambar, dalam waktu singkat sepuluh gebrakan lewat tanpa terasa.

Diam-diam terkejut juga Ong Bun-kim, dia tidak menduga kalau Hu-kokcu yang masih muda itu sanggup menerima sepuluh buah pukulannya tanpa kalah, dari sini bisa diketahui bahwa kepandaian silat yang dimiliki Siau Hui-un pasti sudah mencapai puncak kesempurnaan.

-oooo0dw0ooo-BAB 14 TERBAYANG kesemuanya itu, berkobar kembali hawa napsu membunuh dalam hati Ong Bun kim, ia membentak keras, jurus jurus mematikan dilancarkan secara berantai, dalam waktu singkat dia melancarkan pula lima buah pukulan dahsyat.

"Blaaam.... !"

Akhirnya sebuah pukulan berhasil menghajar telak di tubuh Tong Wan-tin, ia muntah darah dan tubuhnya mencelat ke belakang.

Seorang gadis berbaju merah secepat kilat maju ke muka menyambar tubuh Tong Wan tin.

Ong Bun kim tidak puas berbuat sampai di situ saja, kembali ia membentak keras.

"Lepaskan orang itu ..."

Seperti banteng terluka, ia menerjang ke muka secara garang.

Akan tetapi sebelum Ong Bun-kim berhasil mendekati dara berbaju merah itu, dua sosok bayangan manusia telah menggulung ke arahnya dengan amat dahsyat.

Dua orang yang melancarkan serangan itu adalah dua orang pelindung dari wakil Kokcu yakni dua orang nenek baju merah yang membawa tongkat.

Sungguh hebat serangan gabungan dari dua orang nenek tersebut, seketika itu juga Ong Bun-kim terdesak hebat dan harus melompat mundur ke tempat semula.

"Kurang ajar, kalian pingin mampus?"

Bentak Ong Bunkim sangat marah.

"Ong sauhiap, kau jangan kelewat sombong."

Dalam pada itu belasan orang gadis berbaju merah yang berada di ruang depan telah menyerbu maju ke depan, dalam waktu singkat hawa napsu membunuh yang menggidikkan hati menyelimuti seluruh gelanggang.

Sepasang mata Ong Bun-kim melotot besar dan memancarkan sinar membunuh yang menggidikkan hati, katanya.

"Kalau Kokcu kalian tidak diundang ke luar lagi, hatihati kalau sampai kubantai kalian semua!"

"Ong sauhiap, kenapa kau tidak mencoba untuk turun tangan lebih dulu ..."

Ejek nenek baju merah yang berada di sebelah kanan.

"Jadi kalian benar benar ingin mampus?"

Bentak Ong Bun kim dengan marahnya.

"Benar, silahkan Ong sauhiap untuk turun tangan!"

Ong Bun kim tak dapat mengendalikan amarah yang menggelora dalam hatinya lagi, tiba tiba jari tangan kanannya bergetar memetikkan tiga kali sentilan senar khim ....

"Tingg... ! Tingg...! Ting...!"

Inilah petikan Kau hun ki ( irama penggaet sukma ) yang maha dahsyat tersebut.

Paras muka semua orang berubah hebat, hati mereka seperti disayat dengan pisau tajam, peluh mulai membasahi seluruh jidatnya, jelas daya pengaruh dari ketiga petikan senar khim itu mengakibatkan getaran getaran dalam jiwa semua orang.

Akan tetapi sebelum pemuda itu melanjutkan petikan mautnya, mendadak terdengar seseorang membentak keras.

"Tahan!"

Irama khim seketika terhenti, menyusul mana sesosok bayangan manusia berwarna merah melayang turun di hadapan Ong Bun kim.

Ternyata dia adalah seorang gadis berbaju merah yang berdandan sebagai seorang dayang.

"Mau apa kau datang ke mari?"

Bentak Ong Bun kim.

"Boleh aku tahu, apakah saudara adalah Ong sauhiap?"

Tanya dayang berbaju merah itu tenang.

"Benar!"

"Budak mendapat perintah dari Kokcu untuk mempersilahkan Ong sauhiap menjumpainya!"

"Sekarang dia berada di mani?"

"Ikutilah diriku!"

Berbicara sampai di situ, dayang berbaju merah itu segera berjalan menuju ke ruang belakang dengan langkah yang lemah gemulai.

Ong Bun-kim agak ragu sejenak, dahinya berkerut, tapi akhirnya sambil menggigit bibir ia ikuti juga di belakang dayang itu.

Setelah melewati ruang belakang mereka berbelok menelusuri sebuah serambi panjang, dan akhirnya tiba di depan sebuah pesanggrahan yang letaknya tersendiri, di depan pesanggrahan itu merupakan sebuah kebun bunga, pemandangan sangat indah dan menawan hati.

Dayang berbaju merah itu mengetuk pintu pesanggrahan itu, dari dalam seseorang segera menegur.

"Siapa di situ?"

"Ong Sauhiap, telah tiba!"

"Dipersilahkan masuk!"

Dayang berbaju merah itu mendorong pintu dan masuk ke dalam, Ong Bun-kim mendongakkan kepalanya memperhatikan suasana dalam ruangan, ternyata ruangan itu adalah sebuah ruang tamu yang megah dan mewah sekali.

Empat orang dayang berbaju merah berdiri berjajar dikedua belah sisi pintu ruangan.

Salah seorang gadis berbaju merah itu segera berkata sambil tersenyum.

"Ong Sauhiap, silahkan duduk!"

"Aku datang ke mari untuk mencari Kokcu kalian ..."

"Tentang soal ini aku sudah tahu, duduklah sebentar sementara kulaporkan kedatanganmu ke dalam!"

"Silahkan!". Dayang berbaju merah itupun tidak berbicara lagi, ia lantas beranjak dan menuju ke ruang belakang, sementara Ong Bun-kim duduk sambil berusaha menekan kobaran api kegusaran dan hawa napsu membunuh yang berkecamuk dalam dadanya. Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki manusia yang lirih bergema memecahkan kesunyian, sewaktu pemuda itu mendongakkan kepalanya, tampaklah dayang berbaju merah tadi telah muncul kembali mengiringi seorang nyonya cantik berusia sekitar tiga puluh tahunan. Sekulum senyuman segera menghiasi ujung bibir Ong Bun-kim... cuma senyuman tersebut penuh diliputi oleh hawa napsu membunuh.

"Jadi kaulah Kokcu dari lembah Sin li-kok...?"

Sapanya sambil tertawa lebar.

Kendatipun ia berbicara sambil tertawa lebar, akan tetapi kedengaran juga bahwa suara nya agak gemetar karena terpengaruh oleh pergolakan emosi .."Betul, aku adalah Kokcu dari lembah Sin-li-kok!"

Nyonya cantik itu membenarkan.

"Kau bernama Siau Hui-un?"

"Betul, dan kau adalah muridnya Kui-jin Suseng (sastrawan setan harpa)...?"

Nyonya cantik itu balik bertanya.

"Tepat sekali, dan aku pula putranya Sun hay bong kek (manusia latah dari empat samudra)!"

Tiba-tiba di atas wajah Siu Hui un terjadi pergolakan emosi yang amat hebat, serunya.

"Sungguh tak kusangka Kui jin suseng tidak membunuh dirimu!"

"Heeehhh... heeehhh...heeehhh...kenapa? Kau merasa hal ini di luar dugaan? Siau Hui un, kau tahu tidak apa maksud kedatanganku hari ini ke sini?"

"Tentu saja menengok aku!"

"Menengok kau? Hmmm....! Jangan bermimpi disiang hari bolong, aku datang untuk merenggut selembar jiwamu."

"Kenapa...?"

Jerit Siau Hui un tercengang.

"Mengapa kau hendak merenggut nyawaku?"

"Sebab kau telah membunuh ayahku Si manusia latah dari empat samudra Ong See liat!"

Jawab Ong Bun kim setengah membentak, hawa napsu membunuh yang mengerikan seketika menyelimuti seluruh wajahnya.

"Aaaah...!"

Sekali lagi Siau Hui un berteriak kaget, serunya dengan suara gemetar.

"siapa yang memberitahukan hal tersebut kepadamu...? Siapa? Katakan!"

"Ibuku!"

"Nak, akulah ibumu yang sesungguhnya..."

Siau Hui un segera menjerit keras.

"Apa?"

Jerit tertahan dari Ong Bun kim keras dan nyaring, tubuhnya ikut mundur lima enam langkah dengan ketakutan, ucapan tersebut hakekatnya merupakan guntur yang membelah bumi di tengah hari bolong, dengan kerasnya menghempaskan semua pikiran dan perasaan hatinya ke tanah.

Sepasang matanya dipentangkan lebar lebar, pemuda itu masih sangsi apakah ucapan tersebut betul-betul telah didengar olehnya.

"Kau... kau... apa yang kau katakan?"

Tiba tiba bisiknya dengan suara gemetar.

"Nak, aku adalah ibu kandungmu, ibumu yang sesungguhnya!"

Jawab Siau Hui un lagi sepatah demi sepatah kata.

Kali ini Ong Bun kim benar-benar berdiri terkesiap, ia berdiri seperti sebuah patung dan tak mampu bergerak.

Hakekatnya peristiwa itu merupakan suatu kejadian di luar dugaan yang membuatnya tidak habis mengerti dan bingung, mungkinkah dia mempunyai dua orang ibu?

Tidak!

Tidak!

Jelas hal ini tidak mungkin, tak nanti di dunia ini terdapat peristiwa semacam ini.

Ong Bun-kim berdiri seperti orang bodoh, kejadian yang dihadapinya secara tiba-tiba ini sungguh membuat hatinya amat kaget dan terkesiap.

"Nak, aku tidak menyangka kalau kau masih hidup di dunia ini"

Keluh Siau Hui un dengan suara yang memilukan hati.

"kau mengapa kau tidak mengakui diriku sebagai ibumu?"

Berkata sampai di situ, tidak tahan lagi dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Ong Bun kim yang menyaksikan kejadian itu semakin kebingungan lagi, ia merasa seakan-akan berada di atas awang awang, yaa ampun!

Sesungguhnya apa yang telah terjadi?

Lagi-lagi ada seorang perempuan mengaku sebagai ibu kandungnya dan perempuan itu ternyata adalah Siau Hui un, salah seorang isteri ayahnya.

Bila diperhatikan dari mimik wajahnya, tidak terlihat sikap kepura-puraannya, tapi bagaimana dengan Coa Siok eh?

Apakah dia itu cuma mengaku-ngaku saja?

Atau Siau Hui un yang mengaku-ngaku?

Pemuda itu merasa bingung dan tidak habis mengerti, ia sungguh-sungguh tidak tahu apa yang musti dilakukan.

"Nak, kenapa .... kenapa kau?"

Akhirnya Siau Hui un menegur.

"Aku... aku ..."

"Kau curiga bahwa aku bukan ibu kandungmu?"

Tanya perempuan she Siau itu tiba-tiba. Ong Bun kim segera tertawa dingin.

"Heeehhh ... heeehhh ... heeehhh ... pintar juga kau, benar, aku memang mencurigai dirimu!"

Katanya.

"Bukan cuma kau yang mencurigai diriku, aku sendiri juga curiga kepadamu..."

"Kenapa?"

Tanya Ong Bun kim malah tertegun.

"Setelah anakku dilarikan Kui jin suseng, sudah pasti Kui jin suseng tak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja..."

"Tapi Kui jin Suseng telah melepaskan diriku..."

"Apakah dalam tubuhmu terdapat sebuah Liong bei?"

Mendengar pertanyaan tersebut, Ong Bun kim merasakan hatinya bergetar keras, kini ada dua orang perempuan yang menanyakan Liong bei (lencaua naga) miliknya, hal ini membuat duduknya persoalan makin membingungkan hati.

Akhirnya ia mengambil ke luar Liong bei tersebut seraya bertanya.

"Bukankah benda ini adalah Liong bei?"

Melihat itu, tiba tiba Siau Hui un berteriak keras.

"Kau benar benar adalah ..adalah puteraku..."

Dengan begitu emosi dan pergolakan perasaan yang meluap-luap ia merentangkan sepasang tangan nya untuk memeluk Ong Bun kim..seakan-akan seorang ibu yang sudah lama merindukan putranya dan tiba-tiba menemukan kembali putra yang dicintainya itu ...

tidak tahan dia ingin memeluk dan menciumnya.

Sesungguhnya luapan perasaan seorang ibu terhadap putranya adalah suatu luapan emosi yang wajar dan seringkali bisa dijumpai dalam kehidupan masyarakat pada umumnya.

Ong Bun kim berdiri bodoh dan tak sanggup melakukan sesuatu apapun.

Ia membiarkan Siau Hui un memeluk tubuhnya, membiarkan perempuan itu menangis terisak dan membiarkan air matanya jatuh bercucuran membasahi bajunya...

sementara ia sendiri, tenggelam dalam alam kebingungan yang amat sangat.

Benar, sesungguhnya apa yang telah terjadi?

Sebetulnya siapakah yang merupakan ibu kandungnya?

Siau Hui un kah?

Atau Coa Siok oh?

Dari dulu hingga sekarang, rasanya belum pernah terjadi peristiwa semacam ini dalam dunia persilatan.

Lama lama sekali, akhirnya Siau Hui un mendorong tubuh Ong Bun kim seraya berkata.

"Nak, kau telah dewasa .... limabelas tahun sudah kita tak pernah berjumpa muka... sungguh tak kusangka kau masih hidup..."

Isak tangisnya sungguh amat memilukan hati, membuat orang yang melihatnya ikut terharu dan tercekam oleh perasaan sedih.

Ong Bun kim segera tersadar kembali dari alam kebingungannya, katanya dengan cepat.

"Kau bilang apa? Kau... kau adalah... ibu kandungku?"

"Apakah kau anggap aku sedang berbohong? Kau anggap aku hanya mengaku-ngaku saja?"

"Tapi, bagaimana dengan Coa Siok oh?"

"Dia adalah bibimu!"

"Tapi, ia mengatakan bahwa dia adalah iba kandungku, mana mungkin ada seorang bibi yang mengaku sebagai ibu?"

"Apa kau bilang? Jadi... jadi... kau telah berjumpa dengan Coa Siok oh?"

"Benar!"

"Huuuh...! Tak tahu malu, padahal ia mandul, ia tak bisa mempunyai anak, mana mungkin dia bisa menjadi ibumu? Akulah yang benar, akulah ibu kandungmu."

"Tahukah engkau, sesaat sebelum ayahku dibunuh oleh Kui jin suseng, ia telah dicelakai dulu oleh seseorang?"

"Oooh... benarkah begitu? Kalau memang demikian, sudah pasti dialah yang melakukan perbuatan terkutuk itu !"

"Kau maksudkan Coa Siok oh?"

"Benar, dia adalah putrinya Mo kui kiam jiu (jago pedang setan iblis), tentunya kau tahu bukan ketika Mo kui kiam jiu menjodohkan putrinya kepada ayahmu, peristiwa ini disertai juga dengan suatu maksud tujuan tertentu?"

"Aku tahu !"

"Kalau demikian adanya, pastilah dia kuatir dibunuh olehmu, maka diakuinya kau sebagai anaknya !"

Tentu saja ucapan tersebut bukannya tidak masuk di akal, tapi bagaimanakah duduk persoalan yang sesungguhnya, hal ini masih harus diselidiki dan dibuktikan kebenarannya lebih dahulu.

Pemuda itu hanya bisa mengambil kesimpulan ketika itu, yakni barang siapa bukan ibunya, berarti orang itulah pembunuh yang telah mencelakai jiwa ayahnya.

Maka dia bertanya kembali.

"Bagaimanakah keadaannya sewaktu ayahku terbunuh waktu itu?"

"Hari itu ayahmu pergi karena ada urusan, tak lama kemudian muncul Tay khek Cinkun yang mewartakan bahwa ayahmu terbunuh oleh Kui jin Suseng, maka aku memburu keluar. Tapi pada saat itulah Kui jin Suseng telah memburu sampai di depan pintu, ia bertarung melawanku di mana akhirnya aku terhajar hingga terluka, ketika aku sadar kembali dari pingsan dan memburu masuk, ke dalam rumah, kutemukan baik Coa Siok oh maupun dirimu telah lenyap tak berbekas !"

Ternyata apa yang dia katakan persis seperti apa yang diucapkan oleh Coa Siok oh tempo hari.

Kejadian ini semakin membingungkan Ong Bun kim, semakin mengacaukan pikiran maupun perasaan hatinya.

Sesungguhnya apa yang telah terjadi?

Lama, lama sekali, akhirnya dia bertanya lagi.

"Tahukah kau bahwa ayahku masih mempunyai seorang kekasih lagi?"

"Yaa, ia pernah memberitahukan soal itu kepada kami, tapi siapakah perempuan itu? Kami tidak tahu!"

Ong Bun kim merasakan suatu penderitaan yang tiada taranya, sebab ada dua orang perempuan yang mengaku sebagai ibunya, sedang apa yang diceritakan kedua orang perempuan itu ternyata sama dan tak ada bedanya, ini membuat sulit baginya untuk menentukan siapa yang asli dan siapa yang gadungan ....

Tentu saja tidak mungkin ia mempunyai dua orang ibu kandung.

Atau dengan perkataan lain, salah seorang diantaranya pasti cuma mengaku-ngaku belaka...

tapi ia tidak mengerti apa tujuan perempuan tersebut dengan perbuatan mengakungakunya itu?

Berpikir sampai di sini, tidak tahan lagi dia lantas membentak.

"Sebetulnya siapakah diatara kalian berdua yang benarbenar adalah ibu kandungku?"

"Nak, kau... kau... mengapa kau tidak mau percaya dengan perkataanku?"

Pekik Siau Hui un dengan suara memilukan hati.

"Bukannya aku tidak mau percaya kepadamu, tapi Coa Siok oh juga mengatakan bahwa dia adalah ibuku, aku menjadi sangsi, siapakah sesungguhnya diantara kalian berdua yang merupakan ibu kandungku?"

Ucap Ong Bun kim dengan perasaan yang amat sedih.

"Lantas saat ini dia berada di mana?"

"Mau apa kau?"

"Mencarinya untuk membuktikan suatu persoalan."

Ong Bun kim berpikir sejenak, ia merasa ada benarnya juga usul tersebut, sebab asal Coa Siok oh berhasil dijumpai, lantas kedua orang itu ditemukan satu sama lainnya, bukankah secara otomatis persoalannya akan menjadi jelas sendiri?"

Berakhir sampai di situ, tak tahan lagi dia lantas bertanya.

"Kau hendak menjumpai Coa Siok oh?"

"Benar!"

"Kau bersedia pergi menjumpainya bersama-samaku?"

"Benar!"

"Bagus sekali, kalau begitu mari kita berangkat bersama!"

Kata Ong Bun kim ketus.

"Ia tinggal di mana?"

"Soal ini lebih baik tak usah kau campuri!"

"Lantas kapan kita akan berangkat?"

"Sekarang juga!"

"Boleh saja, aku lebih suka kalau persoalan ini dapat diselesaikan secepatnya!"

"Bagus sekali, kalau begitu mari kita berangkat!"

Siau Hui un manggut-manggut, bersama Ong Bun kim ia ke luar dari ruangan dan menuju ke ruangan paling depan, setelah menyerahkan semua tugas sehari-hari tentang masalah lembah kepada wakil Kokcunya Ton Wan tin, bersama si anak muda itu berangkatlah dia meninggalkan lemah Sin likok ....

Bila ditinjau dari kesungguhan hati Siau Hui-un untuk membuktikan kebenaran dari kemelut tersebut, tampaknya ia memang tidak mirip sebagai orang yang cuma mengakungaku belaka, lantas bagaimanakah perkembangan selanjutnya mengenai peristiwa ini?

Apakah dia adalah ibunya?

Mungkin Coa Siok oh bukan ibu kandungnya, melainkan hanya mengaku ngaku belaka?

Lantas apa maksud dan tujuan dari salah seorang diantara kedua orang perempuan itu mengaku-ngaku sebagai ibu kandungnya?

Yah, persoalan ini memang cukup di luar dugaan dan membuat orang tidak habis mengerti, membuat orang tak tahu apa yang musti dilakukan untuk mengatasi kemelut tersebut.

Dengan langkah yang sangat cepat kedua orang itu berangkat menuju ke bukit Hau tau san, di tengah jalan Ong Bun kim kembali bertanya.

"Selama kau, Coa Siok oh dan ayahku bertiga tinggal dalam lembah Lip jin kok, apakah selain kalian masih ada pelayan lain?"

"Tidak ada!"

"Jadi kalau begitu hanya kalian bertiga saja yang mengetahui tentang peristiwa ini?"

"Benar!"

"Kejadian ini terasa amat sulit untuk dilakukan pemeriksaan serta penyelidikan, seandainya waktu itu mereka mempunyai pembantu rumah tangga atau dayang, maka mungkin saja kecuali tiga orang yang bersangkutan masih ada orang keempat yang mengetahui tentang persoalan itu."

Suatu hari sampailah mereka di atas bukit Hau tau san.

Bukit itu tidak terlampau tinggi, tapi bentuk nya mirip dengan sebuah kepala harimau, puncak Hu hau hong (puncak harimau mendekam) letak nya berada disebelah selatan bukit Hau tau san.

-ooo00dw00ooo-BAB 15 DALAM waktu singkat sampailah kedua orang itu di bawah puncak Hu hau hong, kepada Ong Bun kim, Siau Hui un segera bertanya.

"Apakah Coa Siok oh berdiam di sini?"

"Benar!"

"Mungkin kau dibohongi olehnya?"

"Aku rasa tidak, sebab jika ia membohongi diriku, hal ini membuktikan bahwa dia bukan ibuku."

Sesaat kemudian tibanya mereka berdua di bawah puncak bukit itu, dengan mata yang tajam mereka celingukan kesana ke mari, akhir nya di atas puncak Hu hau-hong ditemukan sebuah rumah kayu kecil.

"Benar, ia memang berdiam di sini, coba lihat! Di sana terdapat sebuah rumah kayu kecil!"

Seru Ong Bun-kim dengan perasaan bergetar keras.

Dengan gerakan cepat ia melayang ke muka dan dalam beberapa kali lompatan saja sudah tiba di depan pintu.

Menyusul kemudian Siau Hui -un juga sampai di muka pintu.

Pintu rumah kayu itu tertutup rapat, Ong Bun-kim merasakan hatinya bergolak keras, dengan perasaan berdebar ia maju dan mengetuk pintu.

Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang dari dalam ruangan, dan pintupun dibuka orang.

Ong Ban-kim segara mengalihkan pandangan matanya, ternyata orang yang membukakan pintu, adalah dara berbaju kuning yang pernah dihajarnya sampai terluka itu.

Paras muka si nona berbaju kuning itupun berubah hebat setelah bertemu dengan Ong Bun kim, serunya tertahan.

"Oooh .... rupanya kau!"

"Benar, aku yang telah datang!"

"Ada urusan apa kau datang ke mari?"

"Mencari gurumu!"

"Mau apa?"

"Soal ini tak usah kau campuri, pokoknya undang saja gurumu agar ke luar menjumpai diriku!"

"Tapi guruku sedang pergi dan belum pulang!"

Kata nona berbaju kuning itu cepat. Paras muka Ong Bun-kim berubah hebat.

"Apa? Dia tak berada di rumah?"

"Betul, sudah dua hari guruku pergi keluar, sampai sekarang beliau belum lagi pulang ke rumah"

"Hey, pengakuanmu itu sungguh-sungguh ataukah cuma berbohong?"

Tegur Ong Bun-kim lagi ketus.

"Tentu saja sungguhan, masa aku musti membohongi dirimu, dan lagi akupun tidak mempunyai keharusan untuk berbohong!"

Sekali lagi paras muka Ong Bun-kim berubah hebat, katanya dengan ketus.

"Sebelum aku masuk ke dalam rumah untuk melakukan pemeriksaan sendiri, aku masih belum dapat mempercayai perkataan dari nona!"

Seraya berkata, dia lantas maju ke muka dan bermaksud masuk ke dalam rumah.

"Hey, mau apa kau...?"

Bentak si nona berbaju kuning itu dengan paras muka berubah.

Sekali menjejakkan kakinya ke atas tanah, dengan kecepatan luar biasa tubuhnya meluncur ke depan dan menghadang di depan pintu rumahnya.

Merasakan jalan perginya terhadang dengan kening berkerut Ong Bun-kim menghentikan langkah majunya lalu melirik sekejap wajah si nona dengan tatapan dingin.

"Hmmm .... mau apalagi?"

Jengeknya sinis.

"tentu saja akan menggeledah rumahmu!"

"Kau berani?"

"Kenapa tidak berani ? Hayo cepat menyingkir!"

Paras muka si nona berbaju kuning itu berubah hebat, ia segera menggetarkan seruling peraknya sambil membentak.

"Silahkan mencoba, hmm! Jangan mimpi bisa menerobos masuk ke dalam rumah dengan begitu saja!"

"Bangsat, kau pingin mampus?"

Bentak Ong Bun kim sangat marah.

Diiringi bentakan nyaring, tubuhnya menerjang maju ke muka, tangan kirinya diayunkan dan sebuah pukulan maha dahsyat ditepiskan dalam keadaan marah menggulung ke depan.

Ketika dilihatnya Ong Bun kim melepaskan serangan, dengan gerakan cepat nona beibaju kuning itu memutar seruling peraknya, diantara kilatan cahaya yang berkilauan dia serang raut wajah Ong Bun kim.

Si anak muda itu membentak keras, harpa besi di tangan kanannya segera disodokkan ke muka, kemudian telapak tangan kirinya berputar dan secara beruntun melancarkan dua buah serangan berantai, ini menyebabkan si nona berbaju kuning itu terdesak hebat dan mundur berulang kali ke belakang.

Dalam pada itu, Ong Bun kim sudah menyerbu masuk ke dalam ruangan rumah kecil itu.

Mendadak...

pada saat Ong Bun kim sedang melancarkan serangan secara bertubi-tubi, dari luar pintu berkumandang suara bentakan nyaring.

"Sahabat dari manakah yang telah menerbitkan keonaran di bawah puncak Hu hau hong...."

Belum habis teriakan itu, si nona berbaju kuning telah berteriak kegirangan.

"Suhuku telah pulang!"

Mendengar itu, Oag Bun kim merasakan hatinya bergetar keras, dengan cepat dia berpaling, maka tampaklah sesosok bayangan manusia secepat terbang sedang melayang naik ke puncak dari bawah tebing Huhau hong tersebut.

Dalam sekejap mata, bayangan manusia itu sudah tiba di depan pintu.

Tak salah lagi, orang itu adalah Coa Siok-oh yang sedang mereka cari-cari jejaknya.

Ong Bun -kim merasakan perasaannya bergolak keras, dengan perasaan minta maaf dia lirik sekejap si nona berbaju kuning itu, kemudian putar badan dan berjalan ke luar.

Sementara itu, Coa Siok-oh merasakan hatinya bergetar keras ketika sinar matanya saling membentur dengan sorot mata Siau Hui un, paras mukanya kontan berubah, hardiknya.

"Ooooh.... rupanya kau!"

"Betul, memang aku yang telah datang ke mari!"

Coa Siok oh segera tertawa dingin.

"Hehhh... heehh... heehh... sungguh tak kusangka limabelas tahun tak bersua, kau tampak lebih muda dan lebih gagah!"

"Aku lihat kaupun bertambah muda dan gagah!"

Ejek Siau Hui un pula dengan sinis.

Dua orang istri Su-hay-bong kek (manusia latah dari empat semudra) ...

Coa Siok-oh dan Siau Hui un akhirnya bertemu lagi untuk pertama kalinya setelah lima belas tahun berpisah.

Kedua orang perempuan itu sama-sama mengaku sebagai ibu kandung Ong Bun-kim, entah bagaimana akhir dari perkembangan tragedi ini?

Tampaklah raut wajah kelua orang itu sama-sama diliputi oleh hawa napsu membunuh yang mengerikan.

Tiba-tiba Coa Siok-oh mendengar suara langkah manusia menghampirinya, dengan cepat dia berpaling, tapi begitu mengetahui kalau Ong Bun-kim juga berada di situ, paras mukanya kontan berubah, teriaknya tertahan.

"Nak, kaupun berada di sini?"

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... betul, akupun ikut datang ke mari..."

Jawab pemuda itu sambil tertawa dingin.

"Kau datang bersama Siau Hui-un?"

"Betul!"

Dalam sekejap mata, paras muka Coa Siok oh mengalami pelbagai perubahan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata...

perubahan itu yaa bimbang yaa tertegun juga kaget dan tercekat...

Ong Bun kim tertawa dingin, kembali katanya.

"Heeehhh ..heeehhh ..heeehhh ..kau bilang kau adalah ibu kandungku?"

"Nak, apakah kau tidak percaya?"

"Betul, aku tidak percaya, sebelum duduknya persoalan menjadi jelas aku tak berani mengakui dirimu sebagai ibuku..."

Sementara itu, Siau Hui un yang berada di sisinya segera mengejek dengan suara dingin.

"Coa Siok oh, apakah kau yang melahirkan Ong Bun kim?"

"Apanya yang tidak benar?"

"Huuuh... tidak tahu malu!"

"Apa..? Kau... kau bilang apa?"

"Aku bilang kau adalah perempuan yang tak tahu malu!" . Paras muka Coa Siok oh kontan berubah hebat, bentaknya.

"Kau mengatakan Ong Bun kim dilahirkan oleh siapa?"

"Aku!"

Jawab Siau Hui un ketus.

"Apa...? Kau yang melahirkan Ong Bun kim?"

"Betul!"

Gemetar keras sekujur badan Coa Siok oh karena gusar, segera bentaknya keras keras.

"Perempuan tak tahu malu!"

Kali ini paras muka Siau Hui un yang berubah hebat, segera bentaknya pula.

"Kau bilang apa?"

"Kau adalah perempuan yang tak tahu malu, akulah yang melahirkan Ong Bun kim!"

Kedua orang perempuan itu sama-sama bersikeras mengatakan bahwa Ong Bun kim mereka yang lahirkan, kalau ditinjau dari mimik wajah mereka, tampaknya mereka bersungguh-sungguh dan tidak bohong.

Sekali lagi paras muka Ong Bun kim berubah hebat.

"Sesungguhnya siapa yang telah melahirkan aku?"

Bentaknya.

"Aku!"

"Aku!"

Dua orang perempuan itu serentak menyahut dengan suara lantang. Ong Bun kim menjadi tertegun, lalu dengan penuh kegusaran bentaknya keras keras.

"Sebetulnya siapa?"

"Aku!"

Sekali lagi kedua orang perempuan itu menyahut hampir bersamaan waktunya. Belum pernah Ong Bun kim menjumpai ke jadian seaneh ini, ia benar-benar berdiri tertegun dan tak mampu berbuat apa-apa.

"Coa Siok oh!"

Dengan suara lantang Siau Hui un membentak.

"lebih baik jangan menempelkan emas di atas wajahmu sendiri, Huuuh...! Kau kawin dengan Ong See liat karena kau hendak mencelakai jiwa Ong See liat, dan sekarang kau takut dibunuh oleh Ong Bun kim, maka kau tidak berani mengakuinya, bukankah begitu?"

"Kaulah pembunuh sesungguhnya yang telah mencelakai jiwa Ong See liat...!"

Bentak Coa Siok oh.

"Wahai Coa Siok oh, setelah kau mempunyai keberanian untuk membunuh, kenapa tidak mempunyai keberanian untuk mengaku?"

"Kau...."

Tampaknya Coa Siok oh sudah tak dapat mengendalikan hawa amarah yang berkobar dalam dadanya, sambil membentak keras tiba-tiba ia menerkam ke arah Siau Hui un, seruling peraknya diputar sedemikian rupa melancarkan sebuah serangan yang maha dahsyat.

"Perempuan berhati busuk bagaikan ular berbisa, kau terlalu kejam dan jahat, kubunuh dirimu!"

Cahaya berkilauan menyambar lewat, tahu-tahu ujung seruling perak itu sudah tiba di depan dada Siau Hui un.

Karena diserang, dengan suatu lejitan cepat Siau Hui un menyingkir ke samping, kemudian sambil mengayunkan telapak tangan kanannya ia membentak keras.

"Bangsat, kau berani bermain kasar denganku? Baik, kubunuh kau perempuan rendah yang tak tahu malu."

Di tengah bentakan keras, telapak tangannya segera didorong ke muka melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Dua orang itu sama-sama melancarkan serangan dengan kecepatan yang luar biasa, lagi pula serangan itu sangat dahsyat dengan jurus-jurus pukulan yang buas dan mematikan, seakan-akan kedua belah pihak sama-sama bertekad untuk membinasakan musuhnya di ujung telapak tangan mereka sehingga rasa benci dan dendam dajam hatinya bisa terlampiaskan.

Ong Bun kim semakin sakit hatinya menyaksikan pertarungan antara kedua orang perempuan itu, betapapun jua, salah seorang di antara mereka pastilah ibu kandungnya.

Dalam dugaannya semula, ia mengira asal Coa Siok oh dan Siau Hui un bisa saling berjumpa maka urusan akan segera menjadi beres, tapi kenyataannya sekarang bukan penyelesaian yang dijumpai, sebaliknya duduknya persoalan malah semakin bertambah kalut.

Pelan-pelan dia mengalihkan sorot matanya ke tengah gelanggang, tampak olehnya bahwa pertarungan antara kedua orang perempuan itu masih berlangsung dengan serunya.

Paras muka Ong Bun kim berubah hebat, segera bentaknya.

"Tahan!"

Mengikuti suara bentakan tersebut, kedua orang perempuan itu sama-sama menarik kembali serangannya dan mundur ke belakang.

"Kalian berdua jangan berkelahi dihadapanku!"

Kata Ong Bun kim lagi dengan suara kasar.

"Nak, bunuh saja perempuan itu, dia adalah pembunuh ayahmu dialah yang telah mencelakai ayahmu!"

Bentak Siau Hui un.

"Bun kim, dia yang harus dibunuh!"

Teriak Coa Siok oh pula.

"dialah yang telah mencelakai ayahmu, perempuan berhati keji itulah yang telah membunuh ayahmu dan menyusahkan kita!"

Hampir meledak batok kepala Ong Bun kim saking bingung dan sedihnya, terutama setelah mendengar teriakan teriakan itu, hatinya semakin pedih seperti disayat-sayat dengan pisau.

Sementara itu Coa Siok oh dan Siau Hui un masih saling berhadapan bagaikan dua ekor ayam jago yang siap bertempur, mereka berdiri saling melotot dengan penuh kegusaran, tampaknya suatu pertempuran berdarah segera bakal terjadi.

Tiba-tiba Ong Bun kim tertawa dingin, kemudian katanya.

"Sudah. kalian tak perlu ribut dulu, untuk sementara waktu kuputuskan bahwa kalian berdua adalah ibuku!"

"Tidak!"

Teriak Coa Siok oh.

"akulah ibu kandungmu yang sesungguhnya, akulah yang telah melahirkan dirimu!"

"Bukan, dia bukan ibumu"

Balas Siau Hui un.

"akulah ibumu yang sebenarnya... kau jangan sampai tertipu!"

Ong Bun kim menbungkam dalam seribu basa ditatapnya kedua orang itu sekejap lalu otaknya berputar keras berusaha untuk menemukan jalan lain guna menanggulangi persoalan ini, dia harus berhasil menemukan suatu cara untuk membuktikan bahwa siapakah di antara kedua orang wanita itu adalah ibu kandungnya, dan siapa pula di antaranya yang merupakan musuh besar pembunuh ayahnya..."

Tiba-tiba Coa Siok oh bertanya dengan nada penuh emosi.

"Nak, apakah kau tidak percaya kepadaku? Apakah kau tidak percaya bahwa aku adalah ibu kandungmu?"

Ucapan tersebut amat mengharukan hati, seakan-akan hatinya menjadi remuk redam karena pemuda itu tak mau percaya dengan perkataannya.

"Tidak, untuk sementara waktu aku tak dapat mempercayai perkataanmu, akupun tak bisa mengambil keputusan!"

Jawab Ong Bun-kim dengan suara ketus.

"Kau pasti bisa memutuskannya! pekik Coa Siok-oh dengan suara amat sedih. Belum habis perkataannya itu, tiba-tiba dia mengayunkan seruling peraknya dan dihantamkan ke atas ubun-ubunnya, dengan kematian dia hendak menunjukkan bahwa dialah ibu kandung Ong Bun-kim. Betapa terperanjatnya si anak muda itu, cepat tubuhnya berkelebat ke depan, ditangkisnya ayunan seruling perak itu dengan harpa besinya...

"Trang....!"

Bacokan maut dari Coa Siok-oh itu segera terhantam ke samping oleh tangkisan itu.

"Hey, mau apa kau?"

Bentak Ong Bun kim.

"Aku.... aku ingin mati saja!"

Jerit perempuan itu seperti orang kalap, air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.

"Tapi kematian tak dapat menyelesaikan masalah yang kau hadapi!"

Bentak pemuda itu lagi. Siau Hui un yang berada di sampingnya tiba-tiba tertawa dingin, ejeknya dengan nada sinis.

"Jangan kuatir, dia tak akan mampus!"

"Kenapa?"

Tanya Ong Bun kim sambil melirik sekejap ke arah Siau Hui un dengan tatapan tajam.

"Perempuan itu pandai bersandiwara, dia ingin menggunakan cara kematian untuk membuat kau percaya, padahal ia sama sekali tidak bermaksud untuk mati, seperti juga ketika ia berjumpa untuk pertama kalinya dengan ayahmu..."

Paras muka Ong Bun kim berubah hebat, sebab perkataan itu cukup masuk di akal, kemungkinan demikian memang selalu ada.

Coa Siok-oh betul-betul marah, mendongkol bercampur penasaran, teriaknya keras-keras.

"Siau Hui un, kau..."

"Aku kenapa? Toh semua perkataanku adalah kata kata yang sejujurnya .... memangnya aku sengaja berbohong?"

Coa Siok oh membentak penuh kegusaran, sekarang ia sudah tidak tahan lagi, sambil membentak tubuhnya menerkam ke arah Siau Hui un secara ganas, seruling peraknya disertai desingan tajam melancarkan juga serangan serangan maut.

"Siau Hui un! Aku akan beradu jiwa dengan mu!"

Bentaknya.

Secepat kilat dia melancarkan tiga buah serangan berantai.

Serangan-serangan yang dilancarkan Coa Siok oh ini rata-rata ganas dan jurus serangannya keji, agaknya ia memang berniat untuk membinasakan Siau Hui un di ujung seruling peraknya.

Dengan cekatan Siau Hui un menghindarkan diri dari ketiga buah serangan maut tersebut, kemudian tubuhnya melejit dan menyerang ke depan secepat kilat, di antara ayunan pergelangan tangannya, secara beruntun diapun melancarkan tiga buah serangan balasan.

Untuk kedua kalinya dua orang perempuan itu terlibat dalam pertarungan sengit karena ingin memperebutkan anak.

"Tahan!"

Bentak Ong Bun kim.

Kali ini dia ikut menerjang ke muka, dengan jurus Feng hun ciu si (memisahkan adu keseimbangan) dia hadang di hadapan kedua orang perempuan itu, lalu sambil memancarkan sinar mata yang penuh disertai hawa napsu membunuh bentaknya.

"Jika kalian berani bertarung lagi, jangan salahkan kalau kamu berdua kubunuh semua!"

Ancaman itu diutarakan dengan penuh diliputi hawa pembunuhan yang menggidikkan hati, membuat siapapun yang mendengarnya menjadi ngeri dan bergidik.

Baik Coa Siok oh maupun Siau Hui un yang mendengar seruan tersebut sama-sama mundur tiga empat langkah dengan badan merinding.

"Baiklah!"

Kata Ong Bun kim kemudian.

"kata kan sekarang, sesungguhnya siapakah ibuku?"

"Aku!"

"Aku!"

"Omong kosong!"

Bentak Ong Bun kim kalap "jangan sampai menimbulkan kemarahanku tahu? Jangan salahkan kalau kubunuh kalian berdua bila keadaan berlarut terus menerus!"

Kali ini, si anak muda itupun sudah diliputi kegusaran yang memuncak, pancaran hawa amarah nya membuat siapapun akan bergidik.

"Coa Siok oh, benarkah kau tidak mau mengaku?"

Tiba tiba Siau Hui un mengancam dengan suara dingin.

"Mengaku apa?"

"Mengaku kau sebagai pembunuh Ong See liat? Hm... baik, kalau kau tidak mau mengaku juga tidak mengapa..."

"Mau apa kau?"

Siau Hui un tertawa dingin.

"Heeehhh.. heeehhh... heeehh... kalau memang begitu, jangan kau salahkan bila aku tidak mengingat lagi kebaikan kita di masa lalu dengan membongkar semua rahasiamu secara umum!"

"Aaaah..!"

Coa Siok oh menjerit kaget.

Sebaliknya Ong Bun kim dengan sinar mata yang diliputi hawa napsu membunuh menatap wajah Coa Siok oh tanpa berkedip...

Hakekatnya ucapan dari Siau Hui un tersebut sangat menggetarkan perasaan Ong Bun kim, sebab ia mulai berpikir, rahasia apakah yang dimiliki Coa Siok oh sehingga tidak boleh diketahui oleh orang lain?

Sinar matanya pelan-pelan dialihkan dari atas wajah Coa Siok oh ke atas wajah Siau Hui-in, kemudian katanya dengan dingin.

"Katakan ! Rahasia apakah yang dia miliki sehingga tidak boleh diketahui orang lain!"

Siau Hui-un tidak segera menjawab, sebalik nya kembali mengancam dengan ketus.

"Bagaimana Coa Siok oh? Mau bicara atau tidak?" -ooo00dw00ooo-BAB 16 PERASAAN ngeri dan takut sempat menyelinap diantara perubahan mimik wajah Coa Siok-oh, seolah termenung sejenak akhirnya ia berkata.

"Rahasia apakah yang telah kumiliki? Kenapa tidak diuarkan sekarang juga ? Hmm... aku ingin tahu permainan busuk apakah yang hendak kau perlihatkan dihadapanku."

"Oooh... jadi kalau begitu kau tak mau mengaku? Kau hendak paksa aku untuk menguarkan rahasia tersebut ?"

Ancam Siau Hui-un dengan wajah makin sinis. -oo0dw0oo-

Jilid 6

"BETUL ! Katakan saja Siau Hui-un, rahasia apa yang kupunyai,"

Siau Hui-un tertawa dingin.

"Heeehhh ..heeehhh ... heeehhh ... kau benar-benar hendak memaksa aku untuk mengatakannya?"

Penundaan yang berulang-ulang ini akhirnya membuat Ong Bun-kim habis sabarnya, dengan mendongkol bentaknya.

"Hey, katakan dengan cepat!"

Siau Hui-in tertawa dingin.

"Coa Siok-oh !"

Katanya.

"sebelum kau menikah dengan si Manusia latah dari empat samudra, bukankah kau masih mempunyai seorang kekasih yang bernama Phang Pak bun dengan julukan Mo kui seng kiam (pedang malaikat setan iblis)?"

Ketika mendengar nama orang tersebut, tiba-tiba saja paras muka Coa Siok oh berubah hebat, ia seperti kaget dan takut, untuk sesaat tak mampu berkata apa apa.

Lain halnya dengan Ong Bun kim, dengan wajah menyeringai penuh hawa napsu membunuh, ia segera membentak.

"Sungguhkah perkataan itu?"

"Benar!"

Jawab Coa Siok oh akhirnya dengan sedih.

"apa yang dikatakan memang benar, aku memang mempunyai seorang kekasih yang bernama Phang Pak bun, tapi setelah aku menikah dengan Su hay bong kek, aku hanya mencinta Su hay bong kek seorang, terlepas apakah perkawinan itu membuat aku harus mengorbankan cinta kasihku, tapi yang pasti, setelah kawin dengan Su hay bong kek aku telah menyerahkan sisa cinta kasihku hanya kepada si latah dari empat samudra seorang..."

"Hmmm ..! Setelah kawin, dengan Su hay bong kek, bukankah kau masih mengadakan hubungan dengannya?"

Kembali Siau Hui un mengejek dengan nada dingin.

"Haaah..!"

Coa Siok oh menjerit kaget. Paras muka Ong Bun kim ikut berubah hebat, segera bentaknya.

"Benarkah hubungan cintamu dengan orang itu belum putus? Benarkah setelah perkawinanmu dengan ayahku, di luar pengetahuan ayah kau me lakukan hubungan gelap dengannya?"

"Tidak... aku tidak pernah melakukan..."

Teriak Coa Siok oh terkejut, sekujur badannya gemetar keras, mukanya ikut memancarkan pula pula rasa takut dan ngeri. Ong Bun kim segera tertawa dingin.

"Hmmm..! Kalau begitu kalian tentu mengadakan pertemuan gelap untuk saling melampiaskan keluh kesah dan rasa kangen?"

"Tidak, kami tidak pernah melakukannya..."

Perempuan itu, menjerit dengan penuh kesedihan, untuk sesaat ia tak dapat mengendalikan emosi dalam hatinya lagi sambil menutup wajahnya ia menangis tersedu-sedu.

Dia mengapa menangis?

Mengapa bersedih hati?

..Mungkin hanya dia sendiri yang mengetahui jawabannya.

"Kau tak usah menangis!"

Bentak Ong Bun kim ketus.

"bila kenyataannya memang demikian maka hanya ada satu kemungkinan saja yakni turun tangan mencelakai ayahku agar orang yang tidak disukai disingkirkan, pasti kaulah yang telah membunuh ayahku, sebab setelah kematian ayahku, kau bisa melanjutkan kembali hubungan dengan Phang Pak bun..."

"Tidak .."

Jerit Coa Siok oh seperti orang kalap.

"Kau tak usah menyangkal lagi, sebab ini merupakan kenyataan..."

Bentak Ong Bun kim.

"Tidak, tidak, ini bukan kenyataan, hal ini tak pernah terjadi aku tak pernah melakukan hal itu..."

"Hmmm! Bukti sudah ada, apakah kau masih belum mau mengaku?"

Ejek Ong Bun kim semakin sinis.

"Tidak, aku tak pernah mencelakai ayahmu, aku tak pernah membunuh ayahmu...."

Paras muka Ong Bun kim berubah hebat, bentaknya.

"Kurang ajar, kau masih belum mau me-ngaku?"

"Oh Thian ...."

Jeritnya seperti orang kalap.

"Aku .... aku tidak pernah melakukan itu..."

"Kalau kau tidak mau mengaku lagi, jangan salahkan kalau kubunuh dirimu...!"

Ancaman dari Ong Bun kim itu diucapkan dengan nada bersungguh-sungguh, membuat siapapun yang mendengarnya menjadi tercekat perasaannya, apa lagi sinar matanya yang lebih tajam dari sembilu itu, menatap di atas wajah Coa Siok oh tanpa berkedip, seakan-akan hendak melalapnya hidup-hidup...

Coa Siok oh amat sedih sekali, ia tak bisa berbicara apaapa kecuali menangis tersedu-sedu.

Selangkah demi selangkah Ong Bun kim mendekati perempuan itu, lalu bentaknya lagi.

"Mau mengaku atau tidak?"

Isak tangis Coa Siok oh tiba tiba berhenti, pancaran sinar yang menggidikkan hati terlintas di wajahnya, kemudian katanya lirih.

"Kau ... kau ...bunuhlah aku ... mati di tanganmu aku merasa lebih puas dari pada mati di tangan orang lain!"

Ucapan ini membuat Oag Bun kim tercengang malah, ia termenung sejenak kemudian baru berkata dengan dingin.

"Sandiwara memang sangat bagus, kau memang seorang pemegang peranan yang amat berbakat. Baiklah, aku ingin mengajukan satu pertanyaan lagi kepadamu..."

"Tak usah banyak bicara, turun tanganlah dengan cepat!"

Ong Bun-kim tik dapat mengekang diri lagi, dia lantas membentak.

"Kalau begitu jangan salahkan kalau aku bertindak kejam."

Sambil membentak, sebuah bacokan maut yang amat dahsyat segera dilontarkan ke tubuh Coa Siok-oh.

Terhadap datangnya ancaman tersebut Coa Siok-oh sama sekali tidak bergerak, seolah-olah ia sama sekali tidak melihat akan pukulan dari Ong Bun-kim itu.

Tampaklah angin pukulan yang maha dahsyat tersebut segera akan menghantam dedaunan, tapi perempuan itu masih berdiri tak berkutik di tempat semula.

"Blaaang !"

Akhirnya pukulan maha dahsyat dari Ong Bun kim itu bersarang telak di atas dadanya, Coa Siok-oh mendengus tertahan dan muntah darah segar, tubuhnya terlempar kebelakang dan roboh terkapar di atas tanah.

Ong Bun-kim melejit ke udara dan meluncur ke depan, kemudian dicengkeramnya tubuh perempuan itu seperti burung elang menyambar anak ayam Mengenaskan sekali keadaan Coa Siok-oh waktu itu, napasnya sudah sangat lemah, jiwanya sudah berada di ambang maut.

"Hey, sebetulnya kau bersedia mengaku tidak kalau kau yang telah mencelakai ayahku?"

Teriak Ong Bun-kim dengan geramnya.

Coa Siok-oh tak mampu berkata apa-apa, hanya air matanya yang jatuh bercucuran membasahi wajahnya Ia merasa amat sedih, ia tak mampu berkata-kata lagi.

Ong Bun-kim telah mengangkat telapak tangan kanannya pelan-pelan, seandainya Coa Siok-oh tidak mau mengaku juga, kemungkinan besar ia benar-benar akan membunuhnya.

Suasana udara di sekeliling tempat itu terasa menjadi sesak dan sumpek, hanya pembunuhan yang tebal seakanakan menyelimuti setiap sudut gelanggang itu.

"Mau bicara tidak?"

Bentak Ong Bun-kim. Coa Siok-oh masih belum juga menjawab. Akhirnya Ong Bun-kim tak dapat menahan sabar lagi, bentaknya keras-keras.

"Akan kubunuh dirimu!"

Telapak tangannya segera diayunkan ke bawah melancarkan sebuah pukulan mematikan. Akan tetapi sebelum pukulan mautnya sempat mengakhiri nyawa perempuan yang malang itu mendadak...

"Tahan!"

Serentetan bentakan nyaring menggelegar memecahkan keheningan tempat itu.

Belum habis suara bentakan itu, cahaya tajam tampak berkilauan.

Ong Bun-kim segera menarik kembali serangannya sambil mengalihkan pandangan matanya ke arah depan, maka terlihatlah kurang lebih tiga kaki di hadapannya berdiri sesosok bayangan hitam yang membawa sebuah lampu lentera.

"Siapa?"

Bentak Ong Bun-kim.

"Thi-teng-kek (tamu membawa lampu)...."

"Mau apa kau?"

Thi-teng-khek tertawa ewa.

"Apakah kau adalah putranya si Latah dari empat samudra?"

Tegurnya.

"Betul!"

"Terhadap semua peristiwa yang baru saja berlangsung, aku telah mengikutinya dengan mata kepala sendiri, bukankah kau ingin membuktikan siapa yang telah melahirkan dirimu?"

"Betul!"

"Kau berani memastikan bahwa Coa Siok-oh bukan ibumu?"

"Yaa, sebab kemungkinannya bukan ibuku jauh lebih besar dari pada kemungkinan sebagai ibuku!"

"Sekalipun demikian, kau masih belum bisa memastikan kalau dia benar-benar bukan ibumu!"

Ong Bun-kim termenung sebentar, ia merasa ucapan tersebut ada benarnya juga, ia masih belum dapat memastikan kalau Coa Siok-oh bukan ibu kandungnya. Maka setelah tertegun sejenak, ia menyahut.

"Benar juga perkataanmu itu!"

"Nah, andaikata dia adalah ibu kandungmu, bagaimana dengan kau?"

"Tidak, tidak mungkin, dia bukan ibunya!"

Teriak Siau Hui-un dengan penasaran.

"Salah seorang diantara kalian berdua adalah ibu kandung saudara ini, dan kenyataan tersebut merupakan suatu kenyataan yang tak terbantahkan, tapi siapakah yang benar-benar merupakan ibu kandungnya, hal ini masih merupakan suatu persoalan yang harus dibuktikan dulu...."

"Apakah kau dapat membuktikan?"

"Aku tidak bisa, tapi aku punya cara untuk membuktikannya!"

"Apakah caramu itu?"

"Pertama, Kui-jn suseng dapat membuktikan persoalan ini sebab waktu itu setelah Kui-jin suseng membunuh ayahmu, dia telah masuk ke rumah kembali untuk menculikmu, bukankah begitu?"

"Benar!"

"Tadi kedua orang perempuan ini sama-sama mengatakan bahwa mereka memburu ke luar rumah tapi dilukai oleh Kui-jin suseng, maka salah seorang diantara mereka berdua pasti sedang berbohong!"

"Benar, Kui-jin suseng memang bisa mem-buktikan siapa yang lagi berbohong !"

Ong Bun-kim manggut-manggut.

"Kedua, ada orang lain lagi yang bisa membuktikan pula siapakah yang telah melahirkan dirimu...."

Ujar Tamu pembawa lampu lagi.

"Siapakah orang itu?"

"Dia adalah seorang jagoan aneh yang telah termashur namanya semenjak puluhan tahun berselang, orang itu bernama Hiat-hay-khi-khek (Tamu penunggang kuda dari lautan darah), konon dia adalah saudara angkat dari ayahmu, tapi sejak kematian ayahmu, tiba-tiba saja jejaknya tidak diketahui, jika kau dapat menemukan orang ini maka teka teki disekitar siapakah ibu kandungmu akan segera terpecahkan."

"Orang itu bernama Hiat-hay-khi-khek?"

Tanya Ong Bunkim.

"Benar, lengkapnya Hiat hay-khi-khek Ku Sau kang, setiap kali munculkan diri, orang itu selalu menunggang seekor kuda berbulu merah, mengenakan jubah warna merah dan kain cadar merah, maka orang persilatan menyebutnya sebagai si tamu penunggang kuda dari lautan merah!"

Ong Bun-kim manggut-manggut tanda paham. Tamu pembawa lampu kembali berkata.

"Kecuali kedua orang itu, aku rasa tak ada orang ketiga yang bisa membuktikan siapakah yang telah melahirkan dirimu, maka dari itu, kau harus menjumpai salah seorang di antara mereka berdua, sebab kalau tidak kau selidiki dahulu persoalan ini hingga jelas, siapa tahu yang kau bunuh justru adalah ibu kandungmu sendiri."

Ong Bun-kim berpikir sebentar, kemudian katanya.

"Bagus sekali, untuk sementara waktu baiklah dia kulepaskan lebih dulu."

Setelah berhenti sejenak, sinar matanya segera dialihkan kembali ke wajah Coa Siok-oh, kemudian bentaknya.

"Coa Siok-oh, kau tak usah mencari mampus, tunggu saja setelah kubuktikan kebenaran dari kejadian ini, hmm! Jika terbukti kaulah pembunuh ayahku....hemmm! Kau pasti akan kucincang!"

Selesai berkata, ia lantas membantingkan tubuh Coa Siok-oh ke atas tanah. Pada saat itulah Siau Hui-un segera berkata.

"Nak, akhirnya persoalan ini pasti akan menjadi jelas dengan sendirinya, banyak bicara juga tak berguna, lebih baik ikut aku saja pulang ke rumahku."

"Pulang ke mana?"

"Lembah Sin-li kok!"

Dengan sedih Ong Bun-kim gelengkan kepalanya.

"Tidak!"

Ia menampik.

"Kenapa?"

"Sebab aku hendak mencari Mo-kui-kiam-jiu (pedang sakti setan iblis) untuk membalas dendam!"

"Kau hendak mencari si Pedang sakti tangan blis untuk menuntut balas... ?"

Ulang SiauHui un.

"Benar !"

"Kau .... lebih baik kau. jangan pergi !"

"Tidak ! Bagaimanapun jua aku harus pergi !"

"Kemungkinan besar kau bukan tandingannya."

"Aku pasti berhasil membinasakan dirinya!"

"Jadi kau bersikeras hendak ke sana ?"

"Benar! Bagaimanapun jua aku harus ke sana!"

"Aaaai .... kalau begitu, berhati-hatilah kau....!"

Pesan perempuan itu lirih. Terhadap perhatian serta kasih sayang dari Siau Hui un, Ong Bun kim merasakan kehangatan yang sukar dilukiskan dengan kata -kata.

"Aku pasti akan berhati -hati, kau pulang-lah sendiri !"

Katanya.

"Baik, aku berangkat dulu !"

Siau Hui un menggerakkan kakinya pelan-pelan berlalu dari situ, wajahnya diliputi kesedihan. Tiba tiba ia menghentikan kembali langkah kakinya kemudian bertanya dengan lirih.

"Nak, aku hendak mengajukan satu pertanyaan kepadamu, apakah kau bersedia untuk menjawabnya?"

"Katakanlah !"

"Sudahkah kau mempunyai sahabat perempuan ?"

Pertanyaan tersebut sama sekali di luar dugaan, hal ini malah membuat Ong Bun kim tertegun, ia tidak habis mengerti kenapa Siau Hui un mengajukan pertanyaan seperti itu.

Setelah tertegun lama sekali, akhirnya ia baru menjawab.

"Ibu, aku sudah punya ..."

"Kalau begitu, sayangilah teman perempuanmu itu, sebab banyak kejadian di dunia ini yang berlangsung akibat cinta yang kurang setia."

Dengan penuh rasa terima kasih Ong Bun kim melirik sekejap ke arah Siau Hui un.

"Aku pasti akan menyayanginya!"

Sahut Ong Bun kim sambil manggut-manggut.

Siau Hui un menghela napas panjang, pelan-pelan ia beranjak dan berlalu dari situ dengan sedih, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya telah lenyap di balik puncak Hu hau hong sana.

Ong Bun kim sendiri hanya berdiri mematung di tempat, untuk beberapa saat lamanya ia tak tahu apa yang musti dilakukan.

Sementara itu si nona berbaju kuning itu sudah memayang bangun Coa Siok oh kemudian membawanya masuk ke dalam rumah, sebelum masuk dengan penuh perasaan dendam ia melotot sekejap ke arah Ong Bun kim, lalu sambil mengertak gigi katanya.

"Kau pasti akan memperoleh pembalasannya!"

Ong Bun kim memandang sekejap ke arah nona berbaju kuning itu, lalu tertawa dingin, di balik tertawa dinginnya itu penuh diliputi perasaan masgul, murung dan sedih.

Teka teki siapakah ibu kandungnya masih tetap merupakan sebuah tanda tanya besar.

Atau dengan perkataan lain, dia telah melepaskan musuh besar pembunuh ayahnya, hal ini sangat memurungkan pikirannya juga membuat sedih hatinya, akan tetapi dia harus menggunakan segala upaya yang dimilikinya untuk menahan pukulan batin tersebut.

Dia harus menjumpai salah seorang di antara Kui jin suseng dan Hiat hay khi khek, sebab kecuali mereka berdua tiada orang lain yang dapat membongkar teka teki tersebut.

Berpikir sampai di situ, tak kuasa lagi dia menghela napas panjang.

Helaan napas Ong Bun-kim itu masih tetap menunjukkan keputus asaannya terhadap nasib, kesedihan terhadap kehidupan dan kemasgulan, menghadapi setiap kegagalan yang selalu dideritanya selama ini.

Ia telah beranjak, pelan pelan berlalu dari situ.

"Hey saudara, tunggu sebentar! Mau ke mana kau?"

Tiba tiba Tamu pembawa lampu menegur.

"Ke perguruan Hau kwan!"

"Setiap perbuatan yang dilakukan berdasarkan pada luapan emosi pasti akan menjumpai kegagalan-belaka, aku harap sebelum kau lanjutkan niatmu itu, berpikirlah tiga kali sebelum bertindak ... ."

"Terima kasih banyak atas perhatianmu!"

"Saudara, memang banyak kejadian yang kau temui sekarang merupakan peristiwa-peristiwa membingungkan hati, akan tetapi tak sampai beberapa bulan lagi, suatu badai dunia persilatan yang maha dasyat segera akan berlangsung di depan mata...."

"Badai macam apakah itu?"

"Ada satu persoalan ingin kutanyakan kepadamu lebih dahulu, dulu aku pernah berjumpa beberapa kali dengan ayahmu, ilmu silatnya mungkin memang dapat dikatagorikan sebagai tiada tandingannya di kolong langit..."

"Tidak, masih ada seorang jago lihai yang disebut Si-ongmo-ci (Iblis cantik pembawa maut)..." -ooo00dw00ooo-BAB 17

"AAAH...! Perempuan yang kau maksud kan itu hanya satu dongeng belaka, benarkah mata uang kematian adalah barang peninggalannya, sampai kinipun hanya merupakan suatu dugaan belaka, meskipun demikian aku tahu bahwa sebab kematian ayahmu bukanlah dikarenakan suatu pembunuhan akibat cinta yang begitu sederhana..."

"Lantas karena apa ?"

Tanya Ong Bun-kim keheranan.

"Kemungkinan besar karena se

Jilid kitab pusaka ilmu silat yang maha sakti."

"Karena se

Jilid kitab pusaka?"

"Betul, karena se

Jilid kitab pusaka, dan kemungkinan besar kitab pusaka itu tersimpan di dalam tubuhmu!"

"Apa kau bilang? Tersimpan dalam tubuhku?"

"Benar, tersimpan dalam tubuhmu!"

"Aaah...! Hal ini tidak mungkin, aku tidak mempunyai apa apa...kecuali sebuah mainan Liong-bei....eeh, janganjangan di atas mainan Liong bei tersebut?"

"Hal ini tidak mungkin, sebab setelah perempuanperempuan itu membinasakan ayahmu, mereka mengakungaku pula sebagai ibumu, itu berarti benda itu pasti berada di salah satu bagian dari tubuhmu, kalau tidak, apa gunanya mereka harus mengaku sebagai ibumu dan berusaha mendekati dirimu? Kalau rahasia tersebut hanya berada di atas mainan Liong-bei tersebut, mereka toh bisa turun tangan untuk membunuhmu kemudian merampas benda tersebut, benar bukan?"

"Betul, tapi.... aku benar benar tidak mempunyai apa apa lagi!"

"Pasti ada, hanya sekarang kau belum menemukannya saja."

Dengan seksama Ong Bun kim mencoba untuk membayangkan setiap bagian tubuhnya, akan tetapi ia selalu tidak berhasil untuk menemukan bagian tubuh yang manakah dirasakan sangat istimewa sehingga se

Jilid kitab pusaka ilmu silat dapat di sembunyikan dalam tubuhnya, sayang semua usaha nya selalu tidak mendatangkan hasil apa-apa.

Akhirnya lamunan itu disadarkan kembali oleh perkataan si Tamu pembawa lampu.

"Tentang persoalan itu, kau tak perlu buru-buru untuk mengetahuinya, sebab masih ada satu persoalan lainnya yang terasa jauh lebih aneh lagi ..."

"Masalah apa?"

"Suhumu Kui jin suseng bukankah masih hidup segar bugar di dunia ini...?"

"Benar!"

"Kalau ia benar-benar masih hidup, kenapa ia tak berani munculkan diri untuk bertemu denganmu serta memberitahukan tentang peristiwa pembunuhan terhadap ayahmu itu kepadamu? Bukankah dibalik kejadian ini terasa banyak terdapat hal-hal yang mencurigakan hati...?"

"Benar!"

"Selain itu, kenapa ia bunuh ayahmu tapi tidak membunuh dirimu? Bukankah di balik kejadian ini terasa pula hal hal yang kurang wajar...!"

"Benar!"

"Nah, jika kita tinjau lagi kemunculannya kembali dalam dunia persilatan, bukan saja wajahnya ditutup dengan kain cadar, diapun memakai sebuah lengan palsu di tangan kirinya, jelas maksud tujuannya hanya ada satu kemungkinan."

"Kemungkinan apakah itu?"

"Mungkin ia takut kalau seseorang mengetahui jika ia masih hidup di dunia ini, di samping itu bila dilihat dari hasratnya yang begitu besar untuk mendapatkan semua mata uang kematian tersebut, agaknya benda itu penting sekali artinya bagi dia.... seakan-akan ia sedang membuktikan akan kebenaran suatu masalah atau seseorang."

"Siapakah orang itu?"

"Tentu saja aku tidak tahu! Jika kau ingin mengetahui jawaban dari persoalan persoalan itu, maka carilah Kui jin suseng, sebab hanya dia yang dapat memberi penjelasan kepadamu. Maka dari itu, bagaimanapun jua kau harus mencarinya sampai ketemu."

"Tapi, dia tak ingin bertemu lagi denganku!"

"Itu soal gampang, asal kau gunakan sedikit siasat, aku rasa dia pasti akan munculkan diri sekali lagi, asal sekali saja ia menampakkan diri, ini sudah lebih dari cukup untukmu!"

"Aku pasti dapat menemukannya kembali, aku pasti dapat menemukannya kembali!"

Seru Ong Bun kim sambil menggigit bibirnya kencang-kencang.

"Bagus, kalau begitu aku akan pergi dulu, kita jumpa lagi dilain waktu..."

Kata tamu pembawa lampu.

Begitu selesai berkata, tubuhnya lantas melayang pergi dari situ, tampak cahaya lampu berkelebat lewat, tahu tahu ia sudah berlalu dari hadapannya.

Oag Bun kimi tidak habis mengerti siapakah orang itu, iapun tidak menyangka orang itu memiliki ilmu silat yang tiada taranya, cukup dilihat dari gerakan tubuhnya yang begitu cepat, dapat diketahui bahwa tenaga dalamnya benar benar amat sempurna.

Untuk sesaat lamanya Ong Bun kim berdiri tertegun di tempat, pelbagai masalah yang mencurigakan selapis demi selapis menyelimuti benaknya, ini semua membuatnya terjerumus dalam penderitaan yang amat sangat.

Kecuali si Jago pedang setan iblis, ia mulai membenci orang kedua...

dialah Kiu jin suseng, gurunya yang telah merawat dan mewariskan ilmu silatnya selama ini kepadanya.

Sesungguhnya dia tak ingin berbicara dengan bekas gurunya itu, akan tetapi justru terdapat banyak persoalan yang hanya bisa diselesaikan olehnya saja, hanya dia seorang yang dapat membantunya untuk mengungkapkan pelbagai kecurigaan yang menyelimuti benaknya selama ini.

Maka ia bertekad hendak mencarinya sampai ketemu...

meski sekarang belum mungkin, tapi suatu ketika citacitanya ini pasti akan berhasil dengan nyata.

Berpikir sampai di situ, Ong Bun kim menarik napas panjang panjang, ia berpaling dan memandang sekejap ke arah rumah kayu itu, kemudian memutar badannya dan berlalu dari situ.

Setelah turun dari puncak Hu hau hong, berangkatlah Ong Bun kim menuju ke arah Hau kwan.

Hau kwan terletak di bukit Cing liong san, dan suatu hari sampailah si anak muda itu di bukit tersebut.

Sementara ia sedang melakukan perjalanan cepat, tibatiba terdengar suara teriakan keras bergema dari arah belakang.

"Yang sedang melakukan perjalanan di depan situ apakah Ong sauhiap?"

Mendengar sapaan tersebut, Ong Bun kim serta merta berhenti dan berpaling, terlihatlah seorang gadis berbaju hijau sedang menyusul ke arahnya dengan kecepatan tinggi.

Ternyata gadis itu tak lain adalah Lan Siong ling, si nona yang pernah menangis tersedu-sedu setelah mendengarkan petikan harpa Ong Bun kim di luar benteng Tui hong po.

Ong Bun kim tertawa getir, kemudian katanya.

"Oooh... rupanya nona Lan di situ, maaf kalau tempo hari aku Ong Bun kim pergi tanpa pamit."

"Waktu itu, kenapa kau pergi tanpa pamit?"

Tanya Lan Siok ling dengan wajah murung.

"Aku tak ingin mengganggu ketenangan nona."

"Tapi kalau ingin pergi, seharusnya kau memberitahukan dulu niatmu itu kepadaku."

Ong Bun kim cuma tertawa belaka, dia tak ingin berkenalan dengan gadis itu sebab dia tahu pertemuan selalu indah, tapi setelah berkenalan belum tentu berbahagia.

Maka sambil menarik kembali senyumannya dia bertanya.

"Entah ada urusan apa kau datang mencariku?"

Lan Siok Ling agak tertegun menghadapi pertanyaan tersebut, tapi dengan cepat jawabnya.

"Kalau tiada urusan apakah aku tak boleh datang mencarimu?"

"Tentu saja boleh, cuma kebetulan sekali aku masih ada urusan penting pada saat ini."

"Aku dengar kau hendak mencari Hou kwan Kwancu untuk membalas dendam...?"

Tanya Lan Siok ling kemudian.

"Benar !"

"Benarkah kau juga merupakan anak muridnya Kui jin Suseng, si sastrawan setan harpa?"

"Benar!"

"Aku lihat wajahmu bertambah murung dan sedih, sesungguhnya rahasia hati apakah yang sedang kau pikirkan?"

Bagaikan seorang kekasih, ia sangat menaruh perhatian terhadap keadaan Ong Bun kim, hal ini membuat si anak muda itu merasakan hatinya sangat terhibur, baginya cinta kasih adalah sesuatu hal yang sangat penting sekali artinya.

Ia tertawa getir, kemudian sahutnya.

"Aaaah...! Tidak apa apa... siapa bilang aku mempunyai rahasia hati?"

"Kau jangan bohong, beritahukanlah kepadaku secara berterus terang, dari pada aku selalu rnenguatirkan tentang dirimu."

Yaa, betapa kuatirnya ia tentang pemuda tersebut, setingkat lebih mendalam daripada rasa perhatian adalah cinta, yang benar ia telah mencintai Ong Bun-kim, mencintainya sejak pandangan pertama...

Ong Bun-kim menghela napas panjang, bisiknya kemudian.

"Sekalipun kuberitahukan semuanya itu kepadamu, lalu apa gunanya ?"

"Beritahulah kepadaku, sebab aku sangat menguatirkan keadaanmu, aku menaruh perhatian khusus kepadamu!"

Dari sikap maupun mimik wajah Lan Siok ing, Ong Bunkim telah menyadari bahwa gadis tersebut telah jatuh cinta kepadanya, sebaliknya ia sendiri justru tak pernah merasa jatuh hati atau tertarik kepadanya.

Ia tertawa getir dan katanya.

"Aku bersedia mengikuti kau menuju ke Hou kwan, seandainya terjadi sesuatu di sana, dua orang rasanya jauh akan lebih baik dari pada seorang diri."

"Tidak, silahkan kau pergi saja, urusan yang menyangkut diriku pribadi biar kuselesaikan sendiri!"

Dari balik kelopak mata Lan Siok-ling, air mata sudah mengembang dan nyaris meleleh keluar wajah nyasangat murung dan sedih, membuat siapapun yang menyaksikan keadaannya itu akan ikut beriba hati.

Ong Bun-kim melirik sekejap ke arahnya, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun memutar badan dan berlalu dari sana.

Dengan sedih Lan Siok-ling memandangnya beberapa kejap, lama sekali, tiba-tiba wajahnya menunjukkan suatu perubahan aneh,tanpa banyak berbicara diapun menutulkan kakinya ke atas permukaan tanah dan meluncur pergi dari situ.

Setelah meninggalkan Lan Siok-ling seorang diri, dengan kecepatan tinggi Ong Bun-kim melanjutkan kembali perjalanannya, tak lama kemudian sampailah si anak muda itu di luar lembah naga hijau.

Dua buah patung harimau besar yang dipahat dari batu cadas berdiri di kiri kanan mulut lembah, harimau itu sedang mementangkan cakarnya dengan wajah yang garang, bukan saja indah pahatannya lagi pula sangat hidup.

Sebuah bangunan loteng berdiri tegak dimulut lembah, dan di atas bangunan itu terpancanglah sebuah papan nama yang bertuliskan.

"HOU-KWAN". Ong Bun-kim mendesis sinis, baru saja dia hendak menggerakkan tubuhnya untuk menyusup masuk ke dalam lembah tersebut, mendadak terdengar bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul kemudian belasan sosok bayangan manusia melayang datang dari empat penjuru dan menghadang jalan perginya. Ong Bun-kim merasa agak terkejut, dengan cepat ia mendongakkan kepalanya serta memperhatikan para pendatang itu. Sebagai pemimpin dari rombongan itu adalah seorang kakek bercambang yang berusia antara limapuluh tahunan, ia membawa senjata sepasang gelang baja dan berwajah gagah. Ong Bun-kim tertawa ringan, pelan-pelan ia melanjutkan perjalanannya menuju ke depan. Kakek bercambang itu mengayunkan sepasang senjata gelangnya, lalu membentak dengan nyaring.

"Apakah saudara bernama Ong Bun-kim?"

"Benar!"

"Kau juga yang telah membinasakan hou-khi-lak-pian (enam cambuk penunggang harimau), lima orang anak buah perguruan kami?"

"Betul!"

"Kau benar-benar seorang manusia berbakat aneh yang jarang ditemui dalam dunia persilatan, yaa gagah yaa lihay, itu baru merupakan naga diantara manusia!"

"Terima kasih atas pujianmu..."

Kata Ong Bun-kim sambil tertawa dingin.

"Entah karena persoalan apakah saudara berkunjung ke mari?"

"Mencari Mo-kui-kiam-jiu si jago pedang setan iblis!"

Kakek bercambang itu tertawa sinis.

"Tidak sulit apabila ingin bertemu dengan kwancu kami, cuma kau mesti melewati penjagaan kami lebih dulu. Aku Mo-huan-jiu (elang iblis sakti) mohon beberapa petunjuk jurus silatmu!"

"Hmm......! Apa gunanya mencari kematian buat diri sendiri!"

Jengek si anak muda sinis.

"Sekalipun aku bakal mati di tanganmu, kematian itupun sangat membanggakan hatiku."

Hawa napsu membunuh segera menyelimuti seluruh wajah Ong Bun-kim, katanya sambil tertawa.

"Kalau begitu jangan salahkan kalau aku berhati kejam dan bertangan keji..."

Diiringi sebuah bentakan nyaring, tiba-tiba si anak muda itu menerjang maju ke muka, harpa besinya digetarkan lalu menyapu ke depan dengan disertai tenaga serangan yang amat dahsyat.

Waktu itu Ong Bun-kim telah diliputi oleh kobaran hawa napsu membunuh, maka dalam serangan tersebut ia sertakan juga segenap tenaga dalam yang dimilikinya, sungguh dahsyat ancaman tersebut bikin hati orang bergetar keras.

Cahaya emas berkelebat lewat, gelang baja raksasa yang berada di tangan kanan Hui-huan Sinkun tiba-tiba disodok ke muka menyongsong datangnya harpa besi dari Ong Bunkim, sementara gelang baja raksasa yang berada di tangan kirinya balik melancarkan ancaman ke dada si anak muda itu.

Sungguh dahsyat dan ganas serangan dari ilmu Mohuan-jiu tersebut, bukan perubahan jurus serangannya saja yang aneh dan sakti, bahkan keganasan serta kecepatannya cukup membuat orang menjulurkan lidahnya.

Tidak terasa Ong Bun-kim terdesak mundur selangkah, cepat-cepat harpa besinya diayun ke muka secara beruntun melancarkan tiga buah serangan berantai.

Dikala Ong Bun-kim sedang melancarkan tiga jurus serangannya, beberapa orang manusia berbaju kuning yang ada di sisi gelanggang segera maju ke muka dan mengepung anak muda itu rapat-rapat.

Tampaknya begitu Mo-huan-jiu menunjukkan gejala kalah, maka beberapa orang manusia berbaju kuning serentak akan melancarkan sergapan.

Mendadak Ong Bun-kim merasakan semangatnya berkobar kembali, dalam waktu singkat ia melancarkan lima buah serangan berantai, serangan itu jauh lebih dahsyat dari serangan pertama tadi, malah disertakan juga kekuatan yang lebih ampuh dari angin puyuh.

Mo-huan-jiu kena didesak hingga mundur tujuh delapan langkah, melihat serangannya berhasil, Ong Bun-kim memburu ke depan, dengan jurus Nu to-pak-an (gelombang besar menghantam pantai) ia melancarkan sebuah pukulan kembali.

Betapa terkejutnya Mo-huan-jiu menghadapi serangan kilat sedahsyat itu, untuk menghindar sudah tak sempat, akhirnya timbullah tekadnya untuk beradu jiwa.

Ia membentak keras, gelang bajanya secepat kilat disambit ke tubuh Ong Bun-kim sebagai senjata rahasia Tindakan tersebut sungguh di luar dugaan Ong Bun-kim, dengan jarak sedekat itu ditambah lagi ancaman gelang terbang itu muncul dengan kecepatan luar biasa, tak sempat ia berkelit ke samping terpaksa harpa besinya ditarik kembali lalu dipakai untuk menyongsong datangnya gelang baja tersebut.

"Criiing !"

Benturan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, percikan bunga api bertebaran ke empat penjuru.

Mendadak, dikala Ong Bun-kim mempergunakan harpa besinya untuk membendung gelang baja dari Mo-huan-jiu tersebut, gelang besi kedua dari Mo huan-jiu kembali dilontarkan ke arahnya.

Tindakan tersebut sungguh di luar dugaan Ong Bun-kim, rasa kagetnya sukar dilukiskan dengan kata-kata, sebab sementara harpa besinya masih tergencet oleh senjata lawan, gelang baja kedua sudah keburu menyusul tiba lagi.

Terpaksa sambil menggigit bibir, tubuhnya berputar jencang, dengan memaksakan diri ia pentalkan diri ke samping.

"Breeet...!"

Sekalipun ia menghindar cukup cepat, tak urung bajunya tersambar pula oleh gelang baja itu sehingga robek sebagian besar, saking kagetnya peluh dingin sampai bercucuran membasahi tubuhnya.

"Criiing...!"

Gelang baja itu menghantam di atas dinding batu menimbulkan percikan api, batu gunung berguguran hebat dan ini membuktikan betapa dahsyatnya tenaga serangan tersebut.

Hawa pembunuhan yang menyelimuti wajah Ong Bunkim makin menebal, jeritnya.

"Bajingan, kubunuh kau...."

Secepat kilat tubuhnya meluncur ke arah Mo-huan-jiu, sementara harpa bajanya langsung disodokkan ke atas batok kepala lawan.

Padahal waktu itu Mo-huan-jiu masih belum hilang rasa kagetnya, mana mungkin ia dapat menghindarkan diri dari serangan maut Ong Bun-kim itu?

Mendadak....

Bentakan nyaring berkumandang bagaikan guntur membelah bumi, belasan orang manusia berbaju kuning serentak menyerbu ke muka, dengan tenaga pukulan bagaikan amukan ombak di tengah samudra mereka bersama-sama melepaskan sebuah pukulan ke tubuh Ong Bun-kim...

Serangan gabungan dari belasan orang manusia berbaju kuning itu sungguh cepat bagaikan kilat, baru saja Ong Bun-kim akan melancarkan serangan balasan, beberapa gulung angin pukulan sudah keburu menyambar tiba...

ooo0dw0ooo Bab 18 ONG BUN-KIM meraung keras, tubuhnya berkelebat ke tengah udara dan melintas sejajar di angkasa, dengan suatu gerakan yang sangat aneh ia berhasil menghindarkan diri dari serangan gabungan belasan orang kakek berbaju kuning itu.

Dengan terjadinya peristiwa itu, hawa pembunuhan yang menyelimuti wajah Ong Bun-kim makin menebal, dengan alis mata berkerenyit bentaknya.

"Bangsat, rupanya semua pingin mampus?"

"Belum tentu !"

Jawab salah seorang dari manusia berbaju kuning itu dingin.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kalau begitu, hayolah dicoba dulu!"

Teriak Ong Bun-kim sambil tertawa seram.

Berbareng dengan selesainya ucapan itu, harpa besi dipegangnya dengan tangan kiri sementara jari tangan kanannya memetik tali-tali senar itu, maka berkumandanglah suara irama harpa yang serasa membetot sukma siapa saja...

"Awas! Irama pembetot sukma..."

Kedengaran seseorang berpekik dengan nada terperanjat.

Termasuk Mo-huan-jiu, seketika itu juga paras muka semua orang berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat.

Tiba-tiba berbareng dengan berkumandangnya irama pembetot sukma tersebut, secepat kilat Ong Bun-kim menerjang ke muka,belum sempat belasan orang manusia berbaju kuning itu hilang rasa kagetnya, tahu-tahu harpa besi itu sudah menyambar datang.

Jeritan-jeritan ngeri segera berkumandang memecahkan kesunyian..

darah segar muncrat keempat penjuru, suasana waktu itu betul-betul mengerikan.

Begitulah, diantara berkelebatnya harpa besi menyambar kian kemari, dalam waktu singkat belasan orang manusia berbaju kuning itu , termasuk Mo huan jiu tewas secara mengerikan.

Kecepatannya dalam melancarkan serangan dan kekejiannya dalam merenggut nyawa orang, cukup membuat bulu kuduk orang pada bangun berdiri.

Ong Bun kim menghentikan gerakan tubuhnya, memandang belasan sosok mayat yang bergelimpangan di atas tanah, ia memperdengarkan serentetan suara, tertawa dingin yang mengerikan.

Kemudian anak muda itu putar badannya dan meneruskan terobosannya masuk ke dalam lembah.

Belum jauh Ong Bun kim menggerakkan tubuhnya, mendadak terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang.

"Berhenti!"

Mendengar bentakan tersebut tanpa terasa Ong Bun-kim menghentikan langkah kakinya, tampaklah seorang perempuan cantik berbaju kuning diiringi belasan orang kakek berbaju kuning telah muncul di hadapannya.

Begitu tiba di gelanggang, dengan sorot mata yang tajam perempuan cantik berbaju kuning itu menyapu sekejap belasan sosok mayat yang bertimpangan di tanah, lalu dengan paras muka berubah serunya.

"Saudara, sungguh keji perbuatanmu!"

"Keji...?"

Jengek Ong Bun-kim sambil tertawa dingin.

"yang terhitung keji masih ada di belakang."

"Oooh... rupanya kau adalah Ong Bun-kim?"

"bentak perempuan cantik berbaju kuning lagi dengan paras muka berubah.

"Tepat sekali!"

"Kau datang ke mari untuk mencari balas?"

"Benar!"

Perempuan cantik berbaju kuning itu segera tertawa dingin.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... jadi kau datang ke mari untuk menemui Kwancu kami?"

Katanya.

"Perkataanmu sekali lagi benar, dan kau ingin menghalangi keinginanku ini?"

"Kwancu mempersilahkan kau masuk, nah! Silahkan..."

Kata perempuan itu dengan suara dalam.

Terkejut juga Ong Bun-kim setelah mendengar perkataan itu, dia tak menyangka kalau pihak lawan akan bertindak semudah ini untuk mempersilahkannya masuk, hadangan tidak dilakukan, pertarunganpun segera ditiadakan, bukankah hal ini merupakan sesuatu yang aneh?

Sepasang alis matanya berkenyit, seakan-akan ia sudah merasakan pula akan hawa pembunuhan yang menyelimuti di balik kesemuanya itu.

Memang, iapun tahu kalau perjalanannya menuju ke Hou-kwan diliputi oleh pelbagi mara bahaya yang setiap saat mengancam keselamatan jiwanya, akan tetapi kendatipun jalan itu langsung menembus ke neraka, ia tetap akan melewatinya juga.

Yaa, bagaimanapun juga, dia hendak menantang perang terhadap kematian....

"Bagaimana...? Engkau takut?", tiba tiba perempuan cantik berbaju kuning itu menyindir. Ong Bun kim segera sadar kembali dari lamunannya, dengan lirikan tajam ia memandang sekejap ke arah perempuan cantik berbaju kuning, kemudian sambil mengangkat bahu, busungkan dada dan mengangkat kepala ia meneruskan langkahnya ke depan. Perempuan cantik berbaju kuning itupun mengikuti dari belakangnya. Sepanjang perjalanan, ia saksikan banyak bayangan manusia yang bergerak-gerak di balik kegelapan, seakan-akan terdapat berpuluh-puluh manusia yang bersembunyi di sekitar tempat itu sambil mencari kesempatan untuk melancarkan sergapan ke arahnya. Ong Bun-kim mendengus dingin, sikapnya masih tetap tenang dan mantap, karena ia sudah tidak memikirkan lagi soal mati hidupnya. Dalam waktu singkat sampailah mereka di luar dinding pekarangan Hou-kwan, dua barisan manusia-manusia berbaju kuning yang jumlahnya mencapai puluhan orang berdiri berjajar di kedua belah samping pintu gerbang pekarangan tersebut, mereka berdiri dengan gagah dan berwajah keren serta serius. Ong Bun-kim segera menghentikan langkahnya.

"Silahkan masuk!"

Seru perempuan cantik berbaju kuning yang berada di belakangnya dengan cepat.

Ong Bun-kim tertawa ewa, ia segera meneruskan perjalanannya memasuki dinding pekarangan tersebut.

Setelah masuk ke dalam dinding pekarangan maka tampaklah sebuah bangunan gedung yang amat besar terbentang di depan mata, setelah melewati jalan yang beralas batu sampailah dia di depan pintu gerbang.

Pada anak tangga menuju ke pintu gerbang kembali ada belasan orang manusia berbaju kuning yang berdiri berjajar dikedua belah sisinya.

Di samping kiri dan kanan pintu berdiri lagi dua buah patung harimau batu yang sedang mendekam, ini semua menambah keangkeran suasana di sekitarnya.

Setibanya di depan anak tangga, sekali lagi Ong Bun-kim berhenti, ia mengernyitkan alis matanya seakan-akan sedang mempertimbangkan suatu masalah besar.

"Silahkan masuk!"

Kembali perempuan cantik berbaju kuning itu berseru. Ong Bun-kim tertawa dingin, dengan nada yang tidak diketahui maknanya ia mendesis.

"Silahkan?"

"Bukankah kau ingin berjumpa dengan Kwancu kami?"

"Benar!"

"Kalau memang begitu silahkan masuk!"

"Di manakah Kwancu kalian?"

"Sudah menunggu kedatanganmu semenjak tadi dalam ruangan tengah!"

"Kalau begitu suruh saja dia yang ke luar ke mari!"

Paras muka perempuan cantik berbaju kuning itu berubah hebat.

"Hey, sebetulnya kau yang ingin mencari dia? Ataukah dia yang hendak mencarimu?"

Demikian ia menegur.

"Itu bukan menjadi soal, aku hanya ingin bertanya, bukankah ia mengundangku datang ke mari?"

"Benar!"

"Kalau aku memang diundang datang, kenapa sebagai tuan rumah ia tidak menyambut sendiri kedatangan tamunya?"

Perempuan cantik berbaju kuning itu tertegun, ucapan dari Ong Bun-kim itu benar-benar membuat ia terbungkam dan tak mampu membantah lagi.

Sesungguhnya Ong Bun-kim mempunyai perhitungannya sendiri, ia tak mau masuk ke dalam ruangan karena siapa tahu kalau dalam ruangan justru telah dipasang alat perangkap yang sangat lihay?

la kuatir bila masuk ke dalam maka akan lebih banyak bahayanya dari pada keberuntungan...

Sebab itulah setelah mempertimbangkannya sejenak, akhirnya ia memutuskan lebih baik tidak masuk ke dalam.

Maka Ong Bun-kimpun tidak langsung masuk ke dalam ruangan untuk mencari Mo-kui-kiam-jiu.

Perempuan cantik berbaju kuning itu tertawa dingin.

"Hehh....heehh....heehh....kalau begitu aku akan masuk untuk memberi laporan terlebih dulu!"

Dengan langkah lebar ia lantas masuk ke dalam ruangan.

Ong Bun-kim hanya berdiri menanti di bawah undakundakan batu di luar pintu gerbang, sementara belasan orang manusia berbaju kuning itu berdiri berjajar di belakangnya, sehingga secara otomatis timbullah suatu hawa pembunuhan yang tebal menyelimuti sekeliling tempat itu.

Tak lama kemudian, dari balik pintu gerbang berkumandanglah suara gelak tertawa yang amat nyaring, seorang kakek tinggi besar dan tegap dengan memakai baju kuning dan berusia enampuluh tahunan, diiringi dua orang kakek pendek lagi bungkuk serta perempuan cantik berbaju kuning itu munculkan diri di depan mata.

Paras muka Ong Bun-kim berubah hebat.

Tak usah ditanyapun ia sudah tahu bahwa kakek yang berjalan di paling depan itu tak lain adalah Hou-kwan kwancu si jago pedang setan iblis yang dicari-cari.

Sementara itu, si jago pedang setan iblis sendiripun telah menghampiri Ong Bun-kim sambil tertawa nyaring, sikapnya sombong, tinggi hati dan tak enak dipandang.

"Kau yang bernama Ong Bun-kim?"

Tegur si jago pedang setan iblis setelah tertawa tergelak.

"Benar! Dan kau adalah si jago pedang setan iblis?"

"Tepat sekali, kau benar-benar gagah dan tampan, tak malu disebut sebagai manusia berbakat aneh dari dunia persilatan."

"Hsehh....heeehhh....heeehhh tapi aku rasa tak bisa dibandingkan dengan mendiang ayahku, bukan?"

Hebat juga perubahan wajah Mo-kui-kiam-jiu.

"Mana, mana dibandingkan dengan ayahmu. tentu saja kau kelihatan lebih gagah!"

"Kwancu terlalu memuji!"

Sementara pembicaraan antara mereka berdua berlangsung, orang tidak melihat pancaran sikap permusuhan diantara kedua orang itu, seakan-akan dua orang sahabat yang saling bertemu saja, padahal di hati kecil mereka justru terlintas segala intrik serta hawa napsu membunuh yang menyeramkan.

Cuma kedua belah pihak sama-sama mempunyai kemantapan serta semangat untuk menyimpan napsu membunuh itu dalam hati kecilnya, maka hal tersebut tidak sampai tercermin pada wajah masing-masing.

Paras muka Mo-kui-kiam-jiu berubah hebat, lalu tegurnya.

"Ada urusan apa kau datang kemari?"

"Masa Kwancu tidak tahu?"

Ong Bun-kim balik bertanya.

"Mencari aku?"

"Benar!"

"Karena apa?"

"Dendam!"

Si Jago pedang setan iblis segera tertawa dingin.

"Heehh heeehh heeehh kalau memang kedatanganmu untuk membalas dendam, kelirulah jika kau bunuhi anak buahku!"

"Tapi orang-orang itu justru diutus Kwancu untuk membunuhku, jadi terpaksa aku harus menindak mereka!"

Jawab Ong Bun-kim sambil tertawi dingin pula. Sekali lagi paras muka Mo-kui-kiam-jiu berubah.

"Karena dendam apakah kau datang mencariku?"

"Jago pedang setan iblis, kau tak usah berlagak pilon, apakah kematian ayahku bukan atas hasil karya dari kwancu seorang?"

"Perkataanmu itu sungguh membuat hati orang nenjadi bingung dan tidak habis mengerti, bukankah ayahmu tewas di tangan Kui-jin suseng? Kenapa bisa menyangkut diriku pula?"

Sekali lagi paras muka Ong Bun-kim berubah, hawa pembunuhan tak terkendalikan lagi dan segera memancar ke luar dari balik matanya, dengan suara menggelegar ia membentak.

"Jago pedang setan iblis, kau manusia rendah, bajingan terkutuk yang tak tahu malu."

"Harap dijaga sopan santunmu dalam bercakap-cakap."

"Aku ingin bertanya kepadamu, tenaga dalammu tak bisa memenangkan ayahku, bukankah kau telah mempergunakan Bi-jin-ki (siasat perempuan cantik) untuk mencelakai ayahku?"

"Hal ini memang kenyataan!"

"Cukup dengan dasar ini, aku dapat membinasakan dirimu!"

"Hmm...! Aku kuatir kau tak sanggup melakukannya!"

Ong Bun-kim tertawa dingin, dengan suara dalam kembali ia membentak.

"Aku ingin mengajukan satu persoalan lagi kepadamu !"

"Katakan!"

"Kematian ayahku bukanlah lantaran terkena siasat busukmu yang bekerja sama dengan Kui jin suseng?"

"Apa kau bilang?"

Ong Bun-kim tertawa dingin.

"Heehhh... heehhh... heeehh... oleh karena putrimu Coa Siok-oh tidak tega turun tangan membinasakan ayahku, maka kau menarik Kui-jin suseng agar berpihak kepada mu dengan bayaran tinggi, dan ayahkupun mati terbunuh olehnya?"

"Omong kosong!"

Bentak jago pedang setan iblis dengan gusar.

"Heehhh... heehhh... heeehhh... Mo-kui-kiam-jiu!"

Kembali Ong Bun kim mengejek dengan wajah diliputi hawa membunuh.

"setelah mempunyai keberanian untuk membunuh orang, mengapa kau tidak mempunyai keberanian untuk mengakuinya?"

Jago pedang setan iblis tertawa seram.

"Haahhh ... haaahhh ... haahhh ..Ong Bun-kim"

Katanya.

"kau harus mengerti selama hidup belum pernah aku berbohong, setelah mempunyai keberanian untuk membunuh orang, aku mempunyai keberanian untuk mengakuinya..."

"Kalau memang begitu, mengapa kau tidak mengakuinya?"

"Karena aku tidak pernah merasa melakukan perbuatan semacam itu...!"

Paras muka Ong Bun-kim berubah hebat, katanya kemudian sambil tertawa.

"Terserah kau bersedia mengakui atau tidak, aku tetap akan membunuh dirimu!"

Berbareng dengan selesainya ucapan tersebut, secepat sambaran kilat ia menerjang maju ke depan. Air muka Mo-kui-kiam-jiu ikut berubah, sambil tertawa dingin hardiknya keras-keras.

"Kau kepingin mampus?"

Ong Bun-kim tertawa.

"Mo-kui-kiam-jiu, setelah berani kudatangi tempat ini, tentu saja soal mati hidup sudah tidak kupikirkan lagi,.."

"Bagus sekali!"

Seru jago pedang setan iblis setelah berhenti sejenak ia berpaling sambil membentak lagi.

"siapkan senjataku!"

"Pedang Cing-kang kiam berada di sini!"

Seorang kakek bungkuk mengiakan sambil melangkah maju.

Dengan hormatnya kakek bungkuk itu mengangsurkan pedang tersebut dengan kedua belah tangannya.

Setelah menerima pedang Ging-kang-kiam tersebut, dengan paras muka sedingin es dan tatapan mata setajam sembilu Mo-kui-kiam-jiu menatap wajah Ong Bun-kim tanpa berkedip.

Satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benak Ong Bunkim, tegurnya mendadak dengan suara dingin.

"Jago pedang setan iblis, yang hendak turun tangan hanya kau seorang? Ataukah termasuk seluruh anak buahmu?"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... aku seorangpun sudah lebih dari cukup..."

"Seandainya anak buahmu turun tangan mengeroyok diriku?"

"Soal itu tak usah kau kuatirkan!"

Jawabnya, setelah berhenti sejenak, bentaknya sambil berpaling.

"Lu Hengcu!"

"Tecu siap menerima perintah!"

Perempuan cantik berbaju kuning itu mengiakan sambil tampil ke depan.

"Selama aku sedang melangsungkan pertarungan melawan Ong Bun kim, setiap anggota perguruan kita dilarang ikut campur dalam pertempuran tersebut !"

"Tecu siap melaksanakan hukuman!"

"Bagus, andaikata aku kalah di tangannya, kalianpun tak boleh menyusahkan Ong Bun kim, biarkan ia pergi dari sini tanpa diganggu!"

"Baik!"

Selesai meninggalkan pesannya, Mo kui kiam-jiu baru berpaling kepada Ong Bun kim sambil bertanya.

"Sekarang, kau bisa berlega hati, bukan?"

"Mati hiduppun tidak kupikirkan lagi, kenapa musti tidak berlega hati?"

"Mau turun tangan hayolah cepat lakukan!"

"Boleh, cuma kita tak usah bertarung di sini!"

"Lantas di mana?"

"Di puncak Liong ciok hong!"

"Puncak tanduk naga?"

Ulang Ong Bun kim tercengang.

"di manakah letak tempat itu?"

"Jangan kau tanyakan di mana letak tempat itu, katakan saja berani tidak kau menyertai diriku ke situ?"

Baca Juga: Kilas Balik Merah Salju 1

Baca Juga: Bentrok Rimba Persilatan 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert