Ceritasilat Novel Online

Bentrok Rimba Persilatan 2

Eps 2 Bentrok Rimba Persilatan - Khu Lung

Baca online Bentrok Rimba Persilatan - Khu Lung

Cersil Bentrok Rimba Persilatan - Khu Lung.

"Wanita baju merah dengan putranya tadi itu entah berasal dari mana, sepertinya ada dendam terhadap suhuku, sedangkan suhu sudah lama sekali tidak menginjakkan kakinya di Tionggoan lagi, urusan beliau seharusnyalah kalau aku yang mewakili beliau untuk membereskannya ."

Sejak kecil gadis itu selalu disayang dan dimanjakan oleh ayahnya dan kini Boen ching tidak memperhatikan padanya, bagaimana ia dapat tahan terhadap hal ini, berpikir sampai di situ tak tertahan lagi hatinya menjadi sedih, sambil menangis terisak dia berkata.

"Jika engkau pergi dan meninggalkan aku seorang diri di sini, nanti kalau aku bertemu dengan mereka lagi, apa yang harus ku perbuat? Habis berkata hatinya semakin bertambah sedih, tak tertahan lagi air matanya jatuh berlinang. Boen ching yang nampak hal ini segera mengerutkan alisnya, sejak kecil dia selalu berada disamping Ie Bok tocu, sehingga dia diberi pelajaran untuk tahan segala ujian, tetapi demi melihat air mata ia menjadi bingung, sekalipun menurut anggapannya gadis itu tak tahu aturan, tapi hatinya menjadi lunak juga katanya.

"Kalau begitu lalu, aku harus berbuat apa?"

Gadis itu melihat sikap Boen ching berubah hatinya menjadi gembira pikirnya.

"Aku tak percaya kalau kau tak menurut aku"

Sambil mendengus dia berkata.

"Kalau kau tak mau tinggal di sini, pergilah aku tak membutuhkanmu."

Boen ching mana tahu kalau gadis itu sedang berpura-pura, mendengar perkataan itu dalam hatinya segera berpikir.

"Kalau aku tinggal di sini terus tentu dia tak kan senang, apa lagi ayahnya mencari aku untuk dibunuh."

Berpikir sampai di sini lalu katanya.

"Kalau begitu aku lebih baik pergi saja."

"Pergi kau, pergi kau dari sini, aku selamanya takkan mau bertemu dengan kau lagi."

Boen ching melihat gadis itu menangis saja jadi bingung sekali, dengan cepat ia berkata.

"Nona, engkau mau aku berbuat bagaimana?"

Gadis itu melihat Boen ching menjadi bingung tak dapat tertahan lagi tertawalah ia, dengan tertawanya ini maka ia tak dapat meneruskan untuk berpura-pura lagi maka dengan pura2 gusar ia berkata.

"Kau harus mengantarkan aku ke rumah ayahku."

Boen ching dengan kaget berteriak.

"Nona ayahmu akan membunuh aku."

Gadis itu tertawa cekikikan, kemudian katanya.

"Kalau mengenai hal itu, aku tak mau mengurus."

Boen ching menjadi melongo, ia tak mengetahui mengapa gadis itu sebentar menangis sebentar kemudian tertawa lagi, biasanya ia adalah seorang yang cerdas, entah mengapa ini hari dapat menjadi demikian bodohnya.

Gadis itu telah mengetahui kalau ayahnya akan membunuh dia tapi dia malah menyuruh dia mengantar dirinya pulang ke rumah, entah ia akan berbuat apa lagi ?

Gadis itu melihat Boen ching jadi kebingungan dibuatnya tak tertahan tertawalah dia sambil berkata.

"Apakah ayahku tak boleh melihat kau ?"

Boen ching tanpa sadar menggelengkan kepalanya, ia juga tak tahu ia sekarang ini sedang memikirkan apa, dia hanya merasa gadis itu sangat menarik hatinya, tetapi juga kadang-kadang sangat nakal sehingga menjengkelkan hatinya.

---oooo0dw0ooo---ILMU SEMBILAN JURUS JUNGKIR BALIK GADIS itu berkata lagi.

"Aku bernama Pek Hian Liang, sebenarnya aku sangat benci padamu. Telah dua kali engkau menendang terbang pedangku, tetapi sekarang engkau telah menolong aku. Kini aku tidak akan membenci padamu lagi."

Sambil tersenyum Boen ching berkata.

"Mari cepat kita pergi dari sini, kalau wanita berbaju merah itu datang lagi, kita bisa runyam."

Hati Pek Hian Ling sebenarnya juga sedikit merasa khawatir, tetapi pada mulutnya dia berkata.

"Bukankah ilmu silatmu sangat tinggi? Mengapa kita harus takut kepada mereka ?"

Sambil berkata, dua orang itupun turun gunung. Setelah melakukan perjalanan kira-kira satujam, Boen ching bertanya kepada Pek Hian ling.

"Ayahmu sekarang berada dimana ?"

Pek Hian Ling sejak tadi berdiri berdempetan dan berhadap-hadapan di celah yang sempit itu, dalam hatinya

segera timbul suatu perasaan yang aneh terhadap Boen ching yang dia sendiri tak tahu bagaimana rasanya, pikirnya.

"Aku harus mengetahui rahasia yang sebenarnya terkandung pada Boen ching ini."

Sambil tersenyum dengan cepat dia berkata.

"Aku sendiri juga tidak mengetahui kini ia berada dimana."

Boen ching menjadi tertegun, dia menghentikan langkahnya sambil berkata.

"Nona, aku sendiri masih mempunyai banyak urusan"

Pek Hian Ling tahu kalau hati Boen ching kini sangat lunak. dalam hatinya ia ingin tertawa tetapi pada wabahnya dia menampilkan sikap yang minta dikasihani, katanya.

"Aku telah terpencar dengan ayahku, engkau tentu tak tega bukan, kalau aku sampai tertangkap lagi oleh wanita berbaju merah itu"

Boen ching tak dapat berbuat apa-apa, dia hanya menganggukkan kepalanya kemudian katanya.

"Kalau begitu aku akan mengantarkan kau turun gunung, setelah keluar dari gunung itu, wanita berbaju merah itu tentu tak dapat menangkapmu lagi"

Pada saat itu, diam2 dalam hati Pek Hian Ling telah mengatur siasat, kini mendengar perkataan Boen ching dengan cepat ia menganggukkan kepalanya.

Setelah keluar dari gunung Yi San Pek Hian Ling berkata lagi.

"Aku sudah lama tak makan dan kini perutku mulai merasa lapar, mari kita makan dulu, maukah kau?"

Dalam hati Boen ching diam-diam berpikir.

"Peristiwa sepuluh tahun yang lalu di puncak Hwee Ing, jika aku ceritakan kepada Pek Hong siang sudah tentu mereka tak mau percaya. lebih baik aku ceritakan saja pada Pek Hian

Ling, agar dia yang menyampaikan hal ini kepada Pek Hong Siang."

Setelah berpikir sampai di sini, lalu ia berkata.

"Akupun sudah merasa lapar, setelah makan kenyang aku akan kembali ke atas gunung, aku kira usulmu itupun sangat baik."

Pek Hian Ling berkata.

"Engkau bersembunyipun tak ada gunanya, semua orang mau membunuhmu."

Boen ching tertawa tawar, pikirnya.

"Mana aku mau bersembunyi, aku kembali ke atas gunung hanya ingin mengetahui orang aneh dan wanita berbaju merah serta putra nya itu mempunyai hubungan apa dengan suhuku, lagipula ada perjanjian dipuncak Pak Sek tiga hari lagi, lima orang jago Liong Hwee atau perkumpulan lima naga itu kelihatannya bukan orang-orang jahat, aku ingin pergi lihat yang disebut , Tok Thian coen"

Atau Si raja racun itu sebenarnya orang macam apa sehingga menyebabkan banyak orang jeri terhadapnya."

Pek Hian Liang melihat Boen ching tidak menjawab, lalu tambahnya.

"Hei, bolehkah engkau beritahu padaku siapa kau sebenarnya suhumu itu?"

Sambil tersenyum Boen ching berkata .

"Suhuku telah berpesan tak memperkenankan aku memberitahukan nama beliau kepada siapa saja, sebab setelah tahu akan namanya maka akan mendatangkan banyak kesulitan bagiku, kau telah mengetahui kalau suhuku itu adalah seorang wanita, itu sudahlah cukup,"

Pek Hian Ling telah berpikir sejenak lalu katanya.

"Tetapi kepandaian begitu tingginya, kalau begitu aku kira kepandaian suhumu tentu jauh lebih tinggi dari kau, aku tak dapat menerka siapakah dia, engkau beri tahu saja padaku tentu aku tak akan memberitahukan kepada orang lain,

maukah?"

Boen ching memandang Pek Hian Ling sejenak pikirnya.

"Anak perempuan ini mengapa demikian senang mengurusi urusan orang lain?"

Kemudian sambil tersenyum ia berkata.

"Hal itu tak berguna bagimu, akan kuberitahukan padamu suatu rahasia yang amat besar, maukah engkau untuk mendengarkan nya?"

Pek Hian Ling mencibirkan bibirnya yang kecil mungil itu, kemudian katanya dengan nada tidak senang.

"Kau tidak mau memberitahukan padaku juga tidak mengapa, siapa yang sudi mendengarkan segala macaw rahasia, sedikit pun aku tidak menginginkan untuk mendengar kan"

Boen ching tak dapat berbuat apa-apa lagi, nampak di depan jalan itu ada sebuah rumah makan, segera ia berkata.

"Mari kita masuk kesana"

Pek Hian Ling sebenarnya tak mau masuk. ketika dia dongakkan kepalanya nampak di atas loteng dekat di jendela itu duduk dua orang Tosu tua, hatinya menjadi tergerak, lalu katanya.

"Mari kita ke loteng saja"

Sesampainya di atas loteng. Pek Hian Ling segera lari ke arah dua orang Tosu tua itu sambil berteriak.

"Paman Boe Loei ci, paman Boe cing ci, mengapa kau dua orang dapat berada di sini?"

Dua orang Tosu tua itu nampak yang berteriak adalah Pek Hian Ling, sambil tertawa dia berkata.

"Kau? apakah ayahmu baik-baik saja?"

Pek Hian Ling tidak menjawab, ia menarik tangan Boen ching dan berkata padanya.

"Dua orang ini adalah Sutenya ciangbunjin dari Khong Tong Pay, teman baik ayahku, Paman Ben Loei ci dan Paman Bu cing ci"

"Aku mau lihat engkau sekarang akan berbuat apa?. Boen ching memandang sekejap pada dua orang Tosu tua itu, kepada Pek Hian Ling ia berkata.

"Kini kau telah bertemu dengan kedua pamanmu, kau suruh mereka saja yang mengantarkan kau pulang ke tempat ayahmu."

Habis berkata ia membalikkan tubuhnya dan pergi.

Ben Loei ci menjadi gusar, segera dia mendengus mereka sungguh tak nyana kalau Boen ching memberi hormat kepada mereka pun tidak.

lalu tinggal pergi kalau menurut wataknya, ia akan memberi hajaran kepada Boen ching, tetapi melihat ia datang bersama dengan Pek Hian Ling pikirnya tentu ia masih ada hubungannya dengan Thian San Pay terpaksa dia hanya mendengus saja.

Kepada Bu cing ci ia berkata..

"Kawanan tikus ini sungguh tidak tahu aturan"

Pek Hian Ling nampak Boen ching akan pergi, hatinya menjadi marah.

Sebenarnya dia mau menyuruh Boen ching pura-pura menjadi kawan karibnya dan menemui dua orang pamannya itu dan pada waktu Boen ching telah berhadapan dengan Ben loei ci dan Bu cing ci, dia akan menyuruh dua orang pamannya itu mengeroyok Boen ching seorang.

Siapa tahu sikapnya yang lemah lembut waktu di atas gunung, setelah turun gunung menjadi demikian ketusnya, dia teringat kembali waktu Boen ching dua kali menendang terbang pedangnya, hingga kini ia masih belum minta maaf kepadanya.

Kepada Ben Loei ci, Bu cing ci segera ia berteriak.

"Dia adalah Boen ching"

Ben Loei ci dan Bu cing ci sebenarnya akan pergi ke gunung Thay San, ditengah jalan mereka sudah mendengar berita tentang Boen ching dan kini mendengar Pek Hian Ling

berteriak bahwa pemuda itu adalah Boen ching. Mereka bersama-sama menjadi kaget, dan tanyanya.

"Apa?"

Ternyata Boen ching dapat datang bersama-sama dengan Pek Hian Ling, mana mungkin bisa terjadi? Pek Hian Ling ingin melihat keramaian, sambil tertawa ia berkata.

"Dia adalah Boen ching."

Pada waktu itu Boen ching telah sampai di tangga loteng.

Kini dia telah berkenalan dengan Pek Hian Ling, sudah tentu dia tak mau mencari banyak urusan dengan mereka lagi.

Bu cing ci mendengar perkataan Pek Hian Ling tadi segera membentak.

"orang she Boen tunggu sebentar"

Begitu ia membentak.

membuat tamu-tamu yang sedang berada di atas loteng itu menjadi terperanjat dan lari ketakutan, sedang dua orang segera bangun berdiri.

Boen ching melihat dirinya tak mau mencari urusan, ternyata ada juga orang yang mencari gara-gara padanya, sambil tersenyum ia membalikkan tubuhnya memandang dua orang itu.

Pek Hian Ling nampak Boen Ching membalikkan tubuhnya, ia tahu bakal ada tontonan yang sangat menarik untuk dilihat terhadap Boen ching sambil tersenyum dia berkata.

"Ilmu barisan "im Yang Liang Ie Tin"

Atau barisan Im dan Yang dari dua paman ku ini tanpa tandingan di dunia ini,"

Habis berkata dia tertawa dan duduk disamping. Bu ching ci dengan dingin mendengus, kepada Boen chin ia berkata.

"Apakah dua orang murid keponakanku itu dikalahkan di tanganmu?"

Pikir Boen ching.

"Aku kini membalikkan tubuhku, akan kulihat kepandaian dari Khong Tong Pay itu macam apa ?"

Berpikir sampai di sini, sambil tertawa dia berkata.

"Mereka berdua tak dapat menahan satu pukulanku, dan kini kau dua orang, aku kira sama."

Boen Loei ci tertawa dingin, pada saat ini dua orang itu belum mendengar kalau ketua Thian Shan pay pun juga dikalahkan ditangan pemuda ini bahkan bersama-sama si elang emas dari gurun pasir, Kong Sun Sek mengeroyoknyapun tak ada gunanya, mereka hanya mendengar kalau Boen ching adalah murid dari Thian Jan Shu sehingga mereka tak berani berayal lagi.

Dua orang Tosu tua itu bersama-sama mencabut pedangnya, mata Boen ching menyapu dua orang Toosu tua itu pikirnya.

"Tidak leluasa kalau bergebrak dengan dua orang tosu tua itu di atas loteng ini". Dua tangannya segera mengangkat sebuah kursi dan dilemparkannya ke arah dua orang tosu tua itu. Bu cing ci dan Ben Loei ci segera menghindar.

"Bruk....."

Kursi itu telah jatuh di sebuah meja yang menyebabkan cangkir dan mangkok yang berada di atas meja itu menjadi hancur berantakan, dua orang tosu tua itu segera mengangkat senjata bersama pedangnya dan mengejar ke arah Boen ching sambil membentak.

"Bangsat, jangan mencoba untuk mengangkat kaki dari sini."

Pek Hian Ling mengerti kalau Boen ching ingin pergi dari loteng itu, ia tidak ingin kalau Boen ching meninggalkan tempat ini sebab kalau bertempur di atas loteng itu kesempatan baginya untuk menonton masih ada, ia segera melemparkan dua buah kursi untuk menghalangi jalan mundur Boen ching.

Boen ching sebenarnya ingin turun dari loteng, tapi jalan mundurnya kini tertutup hal ini membuatnya mengerutkan alisnya.

Pada saat itu Ben Loie cie dan Bu cing cle telah datang menubruk ke arahnya, segera tangannya menyambar sebuah meja dan dilemparkan ke arah Boen ching.

Kedua orang Tosu tua itu dengan cepat mengangkat pedangnya untuk menangkis datang nya meja itu, tubuh Boen ching segera berkelebat ke arah luar loteng sambil mulutnya berkata.

"Mari kita bertempur di luar saja". Pek Hian Ling nampak Boen ching ingin meninggalkan tempat itu, hatinya mendongkol, pikirnya.

"Aku tak percaya kalau aku tak dapat menahannya". Tangannya segera menyambar sebuah mangkok yang ada di atas meja dan di lemparkan ke arah Boen ching. Boen ching tidak mengira kalau Pek Hian Ling dapat turun tangan untuk mencegah dirinya keluar dari loteng, badannya yang masih ditengah udara itu segera melayang turun, baru saja ia akan menggerakkan tubuhnya lagi pedang kedua tosu tua itu telah datang menyambar, nampak Boen ching tak berhasil keluar dari loteng itu, Pek Hian Ling menjadi amat gembira katanya.

"jangan lepaskan dia, nanti dilemparkan saja dari atas loteng ini". Boen ching nampak serangan kedua tosu itu datangnya sangat ganas dan mengancam ke sembilan hiat to, di tubuhnya ia tak berani memandang rendah, kakinya mundur ke belakang satu tindak sedang kaki dan tangannya melancarkan satu rangkaian serangan untuk menangkis datangnya serangan pedang itu, jurus yang baru digunakan itu adalah salah satu jurus dari ilmu pukulan "Sie Liu Eng Hong"

Atau pohon Liu menahan, angin Ben Loei ci dan Bu cing ci segera memisahkan diri, mereka tahu bahwa hari ini mereka telah bertemu dengan lawan tangguh sehingga membuat mereka tak berani berayal lagi, segera mereka mengeluarkan

ilmu barisan yang paling diandalkan yakni.

"im Yang Liang to Tin atau barisan Im dan Yang untuk mengurung Boen ching. Berturut-turut Boen ching mematahkan beberapa jurus, dengan tersenyum mengejek ia bertanya.

"Apakah ini yang disebut barisan im Yang Lian to Tin?"

Dua orang tosu tua itu sangat terkejut melihat gerakan Boen ching yang demikian anehnya, sekalipun mereka telah melancarkan jurus-jurus mereka yang paling lihay tetapi tetap tak dapat memaksa Boen ching untuk mundur ke belakang setindakpun.

Tiba2 Boen ching tertawa panjang, badannya melayang ke tengah udara dengan indahnya membuat kedua tosu tua itu menjadi kagum dan ter-heran2, Yang ditangan Boen ching telah memegang sebilah pedang yang memancarkan sinar yang kehijau-hijauan sehingga menyilaukan mata.

Begitu kakinya menginjak tanah sambil tersenyum mengejek Boen ching melancarkan suatu serangan kilat dengan menggunakan jurus "cang Siang ThianSuat,"

Atau pohon Siong menutul salju, terlihat suatu sinar yang menyilaukan mata berkelebat mengurung tubuh dua orang tosu tua itu, yang menyebabkan kedua orang tosu tua itu terhuyung-huyung mundur ke belakang dengan wajah pucat.

Pedang yang berada ditangan Boen ching itu adalah Ie Bok Kiam milik suhunya, kali ini adalah untuk pertama kali keluar dari sarungnya sejak suhunya mengundurkan diri dari dunia kangouw, begitu melihat pedang Ie Bok Kiam, ia teringat kembali waktu suhunya malang melintang di dunia kangouw, tanpa terasa semangatnya menjadi berkobar-kobar.

Ben Loei ci dan Bu cing ci yang dipaksa mundur oleh serangan kilat dari Boen ching, hatinya menjadi sangat terperanjat dan saling memandang, mereka sebagai seorang jagoan silat yang telah lama berkelana di dunia kangouw, selamanya belum pernah melihat jurus yang aneh ini, mereka

tidak mengetahui kalau jurus yang digunakan Boen ching baru ini adalah salah satu jurus dari "ieBok Kiam Hoat"

Yang telah lama hilang dari Bu Lim.

Belum habis heran mereka, tubuh Boen ching telah berkelebat dan melancarkan serangannya ke arah dua orang tosu itu.

Hati Ben Loei ci dan Bu cing ci sebenarnya sudah jeri, kini nampak dirinya diserang, segera mengangkat pedang mereka untuk menangkis, Boen ching menggunakan ginkangnya "Hui lie Ya Seh"

Atau terbang melayang mengitari selat untuk mengimbangi permainan Ie Bok Kiam Hoatnya.

Kedua orang tua tosu itu segera menangkis tetapi tetap meleset, Boen ching memutarkan pedang ie Bok Kiamnya sedemikian rupa sehingga sekeliling tempat itu terasa amat dingin sedang kedua kakinya melancarkan tendangan berantai sebanyak tujuh kali yang menyebabkan dua tosu tua itu terhuyung mundur.

Tahu2 nampak Boen ching dengan pedangnya telah berdiri di atas meja sambil tertawa mengejek memandang pada mereka.

Pek Hian Ling yang berdiri disamping tak dapat menahan gelinya, kiranya baju yang dipakai kedua tosu tua itu telah robek berkeping keping terkena sambaran pedang Boen ching.

Mereka merasa sangat malu dan gusar tetapi tak dapat berbuat apa2, baru Boen ching akan memberi hajaran lagi pada dua orang tosu itu tiba-tiba berkelebat suatu bayangan merah di atas loteng itu.

Hati Boen ching menjadi sangat terkejut, kiranya bayangan merah itu adalah wanita berbaju merah yang datang bersama dengan pemuda berbaju putih.

Begitu sampai di loteng, pemuda berpakaian putih itu segera menunjuk padaboen ching sambil berkata "Itu ---dia orangnya"

Boen ching memperhatikan wanita berbaju merah itu, nampak dia mempunyai alis dan mata yang mirip sekali dengan milik suhunya, dalam hati segera timbul suatu rasa yang aneh.

Begitu nampak pemuda berpakaian putih itu Pek Hian Ling menjadi sangat terkejut, saking takutnya hingga tubuhnya gemetar.

Wanita berbaju merah itu memperhatikan Boen ching dari kepala hingga ujung kakinya dengan dingin ia mendengus dan berkata.

"Dimana perempuan hina itu?"

Boen ching mendengar wanita berbaju merah memaki suhunya, hatinya menjadi sangat gusar, ia pura2 tidak mendengar apa yang dikatakan oleh wanita berbaju merah itu dengan per-lahan2 dia memasukkan pedang ke dalam sarungnya dan balikkan tubuh untuk bersiap-siap meninggalkan loteng itu.

Wanita berbaju merah itu nampak pertanyaannya tidak digubris oleh Boen ching menjadi sangat gusar.

Tiba-tiba Boen ching merasa berdesirnya angin disamping tubuhnya, ia mengetahui bahwa wanita berbaju merah itu telah mendekatinya.

Baru saja ia akan membalikkan tubuhnya tangan wanita itu telah datang menyambar dan mencengkeram pergelangan tangan kanannya.

Boen ching menjadi sangat terkejut, sungguh tak disangka gerakan dari wanita berbaju merah itu demikian gesit Kedua kakinya segera melancarkan tendangannya dengan ilmu "ching Po chiet Yau"

Atau Ikan paus meloncat tujuh kali yang semuanya mengancam hiat-to terpenting di tubuh wanita berbaju merah itu.

Wanita itu terdesak mundur sedang tangannya dikibaskan ke belakang sehingga tubuh Boen ching terbawa maju sebanyak dua langkah, tetapi cekalannyapun menjadi terlepas.

Boen ching merasa bekas cengkeraman tadi sangat nyeri, ketika ia memandang tangannya itu, nampakpada tempat itu tertera bekas telapak tangan yang berwarna ke-abu2-an.

Boen ching menjadi sangat terkejut, pikirnya.

Sungguh kejam wanita berbaju merah itu.

Wanita berbaju merah itu nampak Boen ching telah terkena racunnya, dia tidak melanjutkan serangannya dan mundur ke belakang, dengan dingin ia memandang pada Boen ching, kemudian katanya.

"Tanganmu telah terkena racunku, sekarang aku mau lihat engkau mau bicara atau tidak!!"

Tangan kanan Boen ching terasa mulai kaku, telapak tangan tadi telah berubah menjadi hitam dan menimbulkan rasa yang amat sakit.

Sejak naik ke atas loteng, kedua mata pemuda berpakaian putih itu terus mencari Pek Hian Ling, meskipun Pek Hian Ling telah membalikkan tubuhnya, tetapi mana dapat lolos dari matanya.

Begitu dia nampak Pek Hian Ling, sambil tertawa Cengar Cengir dia berkata.

"ibu, gadis itu juga berada di sini"

Wanita berbaju merah tidak menjawab, dengan dingin ia memandang Boen ching.

Pek Hian Ling mendengar pemuda berpakaian putih itu berkata demikian menjadi sangat terkejut, segera ia mencabut pedangnya.

Kepada Ben Loei ci dan Bu cing ci ia berteriak.

"Paman, lekas datang kemari, orang ini akan mempermainkan aku"

Bu cing ci dan Ben Loei Ci telah mengenal siapakah sebenarnya wanita berbaju merah itu, kini mana mereka berani maju tetapi Pek Hian Ling telah membuka mulut meminta bantuan.

Mau tak mau mereka terpaksa maju, kepada wanita berbaju merah itu mereka berkata.

"Gadis itu adalah putri kesayangan dari Ketua Thian San Pay, cianpwe adalah seorang jagoan yang berkepandaian tinggi, kami harap cianpwe mau melepaskan dia pergi dari sini". Wanita berbaju merah itu dengan dingin mendengus, sama sekali dia tidak ambil perduli pada dua orang itu. Pek Hian ling nampak Bu cing ci ternyata memohon pada wanita berbaju merah itu, dalam hatinya menjadi tak senang, katanya.

"Siapakah dia ????"

Pemuda berpakaian putih itu maju setindak.

dengusnya.."Sekarang ibuku berada di sini, kalau engkau mau mendengarkan perkataanku tentu tak akan terjadi apa2, tetapi kalau tidak ?

Hmm -ibuku tentu takkan mengampuni kau".

Pada waktu itu tangan kanan Boen ching telah mulai membengkak, sungguh tak diduga kalau tangan wanita berbaju merah yang sangat berbisa, dengan melihat tingkah lakunya Boen ching telah mengetahui kalau wanita itu sangat sombong.

Sambil tertawa besar, dia berkata.

"Jika kau ingin mencari kemenangan dengan menggunakan cara ini tak ada gunanya". Wanita berbaju merah itu mengerutkan alisnya, sambil tertawa dingin ia berkata.

"Engkau ingin mencari mati ????"

Jawab Boen ching.

"diwaktu aku tak berjaga-jaga, engkau telah menggunakan racun untuk menyerang aku, ini dapat dihitung merupakan kepandaian apa ? Beranikah engkau menghilangkan racun di tanganku ini terlebih dahulu kemudian kita baru bertempur sebanyak lima ratus jurus". Dengan tertawa panjang wanita berbaju merah itu berkata.

"Aku ingin melihat, selama sepuluh tahun ini perempuan hina itu telah mendidik murid yang bagaimana ?"

Sambil berkata tangan kanannya melemparkan pil ke arah Boen ching. Boen ching mendengar wanita berbaju merah itu memaki suhunya sebagai perempuan hina, wajahnya segera berubah, pikirnya.

"Kini tubuhnya telah terkena racunnya, lebih baik telan dahulu obat penawar ini baru berbicara". segera dia menerima obat penawar itu dan segera ditelannya. Ben Loei ci dan Bu cin ci mundur ke samping, mereka sungguh tak menyangka kalau Boen ching berani bertempur dengan wanita berbaju merah itu, sungguh nyalinya sangat besar. Pemuda berpakaian putih itupun ingin melihat ibunya bertempur melawan Boen ching, dalam hati Pek Hian Ling pun masih mengharapkan Boen ching yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi itu jangan sampai kalah. Setelah Boen ching menelan obat penawar itu, tak lama kemudian cap yang tertera di telapak tangannya itupun mulai menghilang, dalam hatinya ia berpikir.

"Kepandaian wanita berbaju merah ini lebih tinggi daripada kepandaianku, agaknya tidak di bawah suhuku Ie Bok Tocu, jika sampai bentrok dengan dia, sudah tentu aku bukan tandingannya, lebih baik mencari siasat untuk meloloskan diri."

Wanita berbaju merah itu tertawa dingin, katanya.

"Sudah siapkah kau?"

Boen ching menyapu keadaan di sekitar nya, kemudian tertawa terbahak-bahak.

Kedua kakinya melancarkan tendangan, sebuah meja beserta mangkok yang ada di atas meja itu melayang ke arah wanita berbaju merah itu dengan sangat keras, kemudian badannya berkelebat dengan menggunakan ginkangnya "Hui Sie Yu Seh"

Atau terbang melayang bermain serat dia melayang turun ke bawah loteng.

Wanita berbaju merah itu bersuit nyaring, sedang kedua tangannya melancarkan satu kali pukulan untuk memukul jatuh meja yang sedang melayang ke arahnya itu, sedang badannya segera berkelebat turun ke bawah loteng untuk mengejar Boen ching.

Tetapi sesampainya di bawah loteng, ternyata dia tak mendapatkan, buronannya di sana, dengan dingin dia mendengus, pikirnya.

"Boen ching tentu bersembunyi disekitar sini"

Waktu dia sedang mencari Boen ching disekitar tempat itu, tiba-tiba di atas loteng terdengar suara jeritan, dia menjadi terkejut.

Ternyata ketika Boen ching turun ke bawah loteng, dia tahu kalau tempat itu tidak aman segera dia kembali naik ke atas loteng.

Pemuda berpakaian putih itu masih berada di sana, begitu Boen ching naik ke atas lagi dia menjadi teringat kembali jurus aneh yang digunakan Boen ching untuk membanting nya waktu di gunung Yi San tanpa merasa dia menjerit.

Boen ching maju ke depan, dengan menggunakan jurus aneh yang ia dapatkan di gunung Yi San dari orang aneh itu segera ia menotok jalan darah pemuda berpakaian putih itu dan kemudian dicengkeramnya.

Wanita berbaju merah itu segera melompat naik ke atas loteng, begitu nampak pemuda berpakaian putih telah tertawan oleh Boen ching, mukanya berubah menjadi merah padam saking gusarnya.

Boen ching segera mencabut pedangnya dan dipalangkan ke leher pemuda itu, sambil berkata.

"Engkau jangan terlalu mendesak. jika engkau berani bergerak sedikitpun, akan kuhabisi jiwanya ."

Wanita berbaju merah itu tertawa dingin ia tidak memperdulikan ancaman Boen ching malah memajukan tubuhnya dan menubruk ke arah Pek Hian Ling dan mencengkeramnya, kemudian dengan dingin memandang Boen ching.

Boen ching menjadi terkejut, mana berani ia turun tangan-Dua orang itu berdiri berhadapan tanpa mengeluarkan sepatah kata, sehingga untuk sesaat loteng itu menjadi sunyi senyap.

Wanita berbaju merah itu tahu kalau Boen ching tak berani bergerak.

matanya memancarkan sinar yang tajam, tiba-tiba tangan kanannya bergerak dan mendorong Pek Hian Ling ke arah Boen ching.

Karena pengalaman Boen ching masih sangat rendah, ia tertipu.

Ketika tadi ia terkejut, tangan kirinya yang mencengkeram pemuda itu menjadi kendur, sehingga pemuda berpakaian putih itu berhasil direbut kembali oleh wanita berbaju merah itu.

Boen ching menjadi berdiri ter-mangu2 dengan cepat memegang tangan Pek Hian Ling, sedang wanita berbaju merah itupun segera membebaskan totokan pemuda berpakaian putih itu, kemudian dengan dingin memandang pada Boen ching.

Setelah totokannya dibebaskan oleh wanita berbaju merah itu, Pemuda berpakaian putih itu berkata.

"lbu, hati-hati bangsat ini dapat menggunakan ilmu hitam". Boen ching memandang pada Pek Hian Ling sejenak. kemudian pikirnya.

"Kelihatannya kali ini agak sedikit merepotkan, ternyata wanita berbaju merah itu telah

menggunakan siasat yang amat licin untuk menipu aku, agaknya dia mempunyai dendam yang sangat mendalam kepada suhu ku, sudah tentu dia tak mau melepaskan aku dalam keadaan hidup,hidup,."

Terdengar wanita berbaju merah itu dengan dingin, berkata lagi.

"Apakah suhumu hanya mengajar kau untuk berbuat demikian?"

"sekarang boleh coba sekali lagi untuk meloloskan diri ". Habis berkata tubuhnya melayang menubruk ke tubuh Boen ching. Tangan kanan Boen ching segera membuat setengah lingkaran ditengah udara dan melancarkan serangan memotong ke arah lambung wanita berbaju merah itu dengan menggunakan ilmu Ie Bok Kiam Hoat, sedang tangan kirinya melancarkan pukulan lurus untuk mencegah tubrukan dari wanita itu.. Tetapi bertempur dengan wanita berbaju merah itu yang telah memiliki kepandaian yang sangat tinggi kepandaiannya bukan merupakan apa2 di matanya, apalagi agaknya wanita berbaju merah itu telah hapal benar dengan jurus ilmu pedangnya, tangan kanannya dengan secepat kilat di ulurkan ke depan dan menyambar ke dada Boen ching, sedang tangan kirinya merebut pedang IeBok Kiam. Boen ching menjadi sangat terkejut, jurus pedangnya yang dikerahkan itu belum dilancarkan sampai setengah jalan, telah dipaksa untuk berganti dengan jurus yang lain, ditambah lagi dalam hatinya telah diliputi oleh rasa takut terhadap kedua tangan wanita itu yang beracun, ia didesak mundur selangkah demi selangkah. Wanita berbaju merah itu tiba2 memperdengarkan suara tertawanya yang tak enak didengar, badannya berkelebat bagaikan kilat, tangan kanannya yang sedang menyambar ke dada Boen-ching segera ditarik kembali dan mengancam ke

pelipisnya, sedang tangan kirinya dengan tetap mencengkeram tubuh IeBok Kiam ditangan Boen ching.

Boen ching yang nampak pedangnya dicengkeram menjadi terperanjat, ia tak berani beradu dengan tangan wanita berbaju merah yang beracun itu, mau tak mau terpaksa dia melepaskan pedangnya dan mundur ke belakang, Wanita berbaju merah melihat dalam beberapa jurus saja telah berhasil merebut pedang Boen ching, tak mau berhenti sampai di situ saja, segera ia mengerahkan lwekang nya kedua belah telapaknya bagaikan angin puyuh menyambar ke tubuh Boen ching.

Pemuda itu kini benar-benar terdesak.

kelihatannya dia akan terkena serangan telapak tangan wanita berbaju merah itu.

Tiba-tiba dia teringat kembali sembilan jurus aneh yang diwariskan oleh orang aneh itu kepadanya, secepat kilat dia mengulurkan kaki tangannya ke depan dengan gaya orang mabuk dan balas melancarkan serangan-Wanita berbaju merah itu tidak berjaga-jaga, ia tidak menyangka kalau dengan tiba-tiba Boen ching dapat menggunakan jurus aneh itu untuk menyerang tangan kirinya yang melancarkan serangan itu belum sampai menyentuh tubuh Boen ching tahu-tahu dia telah dilontarkan oleh Boen ching sejauh tiga kaki lebih dan terjungkir balik di tanah sebanyak sembilan kali.

Sambil menahan sakit dengan cepat ia bangun berdiri, dengan gusar ia membentak..

"Bangsat, ternyata engkau dapat menggunakan ilmu "Thay Then Kloe Sih"

Atau Sembilan jurus jungkir balik"

BOEN CHING MENJADI TERTEGUN, dia hingga kini masih belum mengetahui apakah nama dari jurus2 aneh itu, kini mendengar wanita berbaju merah itu berkata demikian, dia baru mengetahui, ternyata jurus-jurus aneh itu bernama

"Thay Thien Kioe shia"

Atau sembilau jurus jungkir balik, entah wanita berbaju merah itu mengapa dapat mengenainya.

Pek Hian Ling nampak Boen ching dapat membuat wanita berbaju merah itu berjungkir balik di tanah sebanyak sembilan kali, hatinya menjadi kaget dan gembira.

Terdengar wanita berbaju merah itu mendengus berulang kali, matanya berputar dan memandang atap loteng, agaknya ia sedang memikirkan sesuatu hal yang sangat rumit.

Tiba2......

wanita berbaju merah itu mengeluarkan suara bentakan dan sepasang bayangan berpencar dan jatuh kebawah.

Seorang kakek tua yang sangat gemuk dan pendek muncul diatas loteng itu, sedang pada tangannya memegang pedang Ie Bok Kiam milik Boen ching, sedang pada bibirnya tersungging senyuman mengejek.

Sambil memandang pada pedang itu mulutnya tak henti-hentinya memuji ketajaman pedang itu katanya.

"Sungguh tidak mudah dapat kurebut pedang dari tangan Ang He ci atau Si Kelabang merah, itu membuktikan kalau aku si orang tua masih mempunyai rejeki dan panjang umur kalau tidak. jika tersengat oleh Kelabang merah itu, Wah -----bisa runyam". Wanita berbaju merah yang disebut Ang He ci atau Si Kelabang merah itu dengan gusar berkata.

"Tua bangka She Tong Hong, ternyata ini hari engkau mau mencari setori dengan aku. Jauh-jauh kau datang dari daerah utara kemari ini apakah khusus untuk ikut campur urusanku?". si Kakek cebol itu membuka tutup matanya memandang pada Boen ching, terhadap perkataan yang diucapkan wanita berbaju merah itu seolah-olah tidak mendengar, agaknya terhadap wanita berbaju merah itu dia mempunyai sedikit ganjalan, wanita berbaju merah itu rupa rupanya jeri terhadap

sikakek cebol itu, ia tak berani maju ataupun menegor, walaupun perkataannya tak digubris.

Boen ching menjadi berdiri termangu-mangu disana, dia sendiri juga tidak mengetahui siapakah si Kakek cebol itu, dalam hatinya diam2 merasa heran, mengapa ini hari dia dapat bertemu dengan orang-orang aneh yang berkepandaian tinggi demikian banyaknya.

si Kakek cebol itu setelah memperhatikan Boen ching dari kepala hingga ujung kaki, dengan lambat-lambat dia membuka mulut.

"Pedang ini masih sangat tajam, aku si orang tua akan membawanya pergi Hey, Ang He ci, lain hari saja aku akan mengucapkan terima kasihnya kepadamu". Wanita berbaju merah itu dengan gusar berkata.

"Tua bangka She Tong Hong, engkau mendesak aku keterlaluan, aku Shie chiau nlo bukannya dapat kau permainkan seenaknya". si Kakek cebol itu masih tidak mengambil peduli, sambli mengangkat kepalanya dan tersenyum kepada Boen ching, kemudian berjalan menuruni loteng itu. si Kelabang merah itu sudah biasa melakukan pekerjaan dari kalangan hek-to, kalau hanya mengenai sebilah pedang saja memang urusan kecil, tetapi mukanya harus dibuang kemana? Ia menjadi amat gusar, segera badannya melayang dan menerkam ketubuh sikakek cebol itu dan mengancam ubun2 nya. si kakek cebol itu menancapkan pedang itu ke atas lantai kemudian miringkan kepalanya untuk menghindari serangan yang ditujukan ke ubun2 nya itu sedang telunjuk tangannya balas menyerang mengancam teng gorokan si Kelabang merah.

Melihat serangannya gagal, sikelabang mengerahkan ginkangnya untuk mumbul keatas lagi kemudian menjulurkan telapak tangannya dan melancarkan satu pukulan yang hebat.

Dua orang itu makin bertempur makin menjadi sengit, dan makin bertambah cepat Boen ching yang berdiri disamping matanya menjadi berkunang-kunang, sedang dalam hatinya diam-diam memuji kepandaian dua orang itu.

Tiba-tiba dua orang itu berpisah dan masing-masing terhuyung mundur sebanyak tiga tindak.

bibir kakek cebol itu masih tersungging senyuman dan seolah-olah tak menjadi apa-apa, sebaliknya wajah si kelabang merah itu berubah menjadi pucat pasi, kedua matanya melotot ke luar, dengan gusarnya dia memandang si kakek cebol itu.

Kiranya tadi mereka telah terjadi saling adu tenaga dalam, tetapi karena Lweekang dari sikelabang merah itu masih kalah setingkat dari kakek cebol itu sehingga kini dia terluka dalam.

Terdengar si kakek cebol itu sambil tertawa berkata.

"Sudah belasan tahun kita tak bertemu, ternyata si kelabang merah makin lama makin beracun, untung aku si orang tua masih ada sedikit ilmu simpanan, kalau tidak bukankah tulangku akan kau hancurkan semuanya?"

Mendengar perkataan itu si kelabang merah mendengus, katanya.

"Tua bangka She Tong Hong, engkau tak usah banyak bicara, pada suatu hari tentu aku akan merasakan kelihayanku."

Kakek cebol tertawa terbahak-bahak belum habis tertawanya, berkelebat suatu bayangan di atas loteng itu dan bertambahlah dengan seorang yang rambutnya tak karuan, sambil bernyanyi berjalan memasuki loteng itu.

Melihat orang yang baru saja datang itu, hati Boen ching menjadi sangat terkejut, kiranya orang itu adalah orang aneh yang menurunkan jurus-jurus aneh kepadanya.

Diam-diam dalam hatinya mengharapkan orang aneh itu mau membantunya untuk mengusir si Kelabang merah itu.

Kakek cebol itu begitu nampak munculnya orang aneh itu, wajahnya segera berubah kemudian sambil tertawa besar ia berkata.

"Sungguh heran mengapa kamu dua orang tidak muncul bersama-sama? Belasan tahun tidak bertemu engkau Kongcu Ya ternyata telah berubah menjadi sedemikian rupa"

Habis berkata ia tertawa dingin, tampaknya ia tidak memandang sebelah matapun kepadanya.

orang aneh itu berjungkir balik berkali-kali dilantai loteng itu, terhadap perkataan yang diucapkau sikakek cebol itu sepertinya tidak mendengar, setelah berdiri tegak tertawalah dia terbahak-bahak.

Dalam hati diam2 sikakek cebol itu merasa heran, selama belasan tahun tak bertemu dengan nya, mengapa kini telah berubah menjadi gila.

Dalam hati Boen ching merasa sangsi kalau didengar dari perkataan si kakek cebol itu agaknya orang aneh itu dengan wanita berbaju merah itu berasal dari satu jalan, mengapa sikap dua orang itu terhadapnya sangat berbeda?

jika dilihat dari sikap orang aneh itu waktu digunung Yi San, kelihatannya dia sangat hafal terhadap ilmu silatnya, mengapa suhunya belum pernah menyinggung tentang orang ini?

sungguh sangat aneh Wanita berbaju merah itu nampak orang aneh itu berbuat demikian, dengan gusar ia mendengus dan berkata.

"Engkau jangan berpura-pura gila atau jual lagak lagi, anak dan isteri sendiri dipermainkan orang, engkau juga tak mau mengurus nya."

Orang aneh itu menjadi tertegun, senyuman

di bibirnya segera hilang, ia berdiri mematung disana dan memandang seluruh orang yang berada diatas loteng itu dengan sikap keheran-heranan-si kakek cebol itu dengan dingin mendengus katanya.

"Anak Isteri"

Wanita berbaju merah atau sikelabang merah itu bertanya lagi kepada si orang aneh.

"HHmm-----"Thay Thien Kiem Sih"

Bocah ini apakah kau yang ajarkan?"

Boen ching sekarang baru sadar, pikirnya.

Jadi orang aneh itu ternyata adalah suami dari si kelabang merah Shie chiau Nio itu.

Hatinya jadi mendesir, keinginan semula untuk minta bantuan dari orang aneh itu untuk mengusir Shie chiau nio telah lenyap tanpa bekas.

Kelihatannya otak orang aneh itu mulai jadi terang kembali, ia berkemak kemik.

"Thay Thie Kioe Sih? Aku selamanya tak pernah memberi pelajaran ilmu silat kepada siapapun juga, aku telah mengajar Thay Thien Kioe Sih itu kepada siapa?"

Dalam hati sikelabang marah, Shie chiau Nio diam-diam menjadi gusar, tapi kemudian pikirnya.

"Selamanya dia belum pernah berbohong di hadapan putra sendiri, mungkin kali inipun tidak berbohong,". Tetapi hatinya masih setengah percaya setengah tidak. terbukti Boen ching dapat menggunakan Thay Thie Kioe Sih itu, hal ini tak dapat diragu-ragukan lagi. orang aneh itu setelah memandang si kakek cebol itu sejenak. sambil tertawa dia berkata.

"Agaknya kita pernah kenal bukan?"

Sikakek cebol itu menjadi tertegun pikirnya.

orang ini telah sungguh-sungguh telah menjadi gila ataukah hanya berpura-pura gila?"

Ia tertawa terbahak-bahak.

kemudian balikkan tubuh dan turun dari loteng itu.

Si kelabang merah, Shie chiao Nio nampak orang aneh itu telah mulai menjadi sadar, hatinya menjadi bertambah berani, bentaknya.

"Tua bangka Sha Tong hong, engkau jangan pikir untuk meloloskan dari sini, ini hari engkau tidak mengembalikan pedang itu dan berturut-turut mengangguk-anggukkan kepala kepadaku sebanyak tiga kali dan jangan harap keluar dari loteng ini"

Sikakek cebol itu tertawa besar, ia tidak mau ambil perduli.

Pada saat itu tubuh sikelabang merah itu melayang dan turun tepat dihadapan kakek cebol itu, sekali lagi dua orang itu mengadu kepandaianya, nampak dua bayangan berkelebat kesana kemari, telapak tangan menyambar kesana kemari membuat kursi dan meja yang ada diatas loteng itu hancur berantakan, sedang dua orang itu masih ngotot adu kekuatan-Sejenak kemudian kekek cebol itu membentak.

"Engkau mencari mati"

Dua bayangan segera berpisah, sikakek cebol itu tanpa menoleh lagi terus turun kebawah loteng, sedang sikelabang merah, Shi chiau Nio tangannya memegangi kepalanya, wajahnya menjadi pucat pasi.

orang aneh itu memandang sikelabang merah itu sejenak, kemudian bersuit nyaring dan lari turun dari loteng dan mengejar kearah kakek cebol itu menghilang.

Sikelabang merah, Shie chiau Nio tertawa dingin, kepada pemuda yang berpakaian putih itu ia berkata.

"Kita juga harus pergi"

Habis berkata dia tidak perduli lagi kepada Boen ching dan orang-orang yang ada diloteng itu, segera terus lari mengejar suaminya.

Boen ching yang nampak pedangnya dibawa pergi oleh sikakek cebol itu, mana dia mau terima, badannya berkelebat ikut lari mengejar.

Pek Hian Ling sebenarnya juga ingin pergi menonton keramaian, sebab ia belum pernah menonton jago-jago yang memiliki ilmu yang tinggi itu bertempur teriaknya.

"Hei tunggu aku, jangan kau pergi seorang diri, kau masih belum mengantarkan aku pulang kerumah ayahku"

Pada saat ini Boen ching mana ada niat untuk mengurus dia, ia terus lari mengejar, dikejauhan ia hanya nampak sikelabang meah Shie chiau Nio mengepit pemuda berpakaian putih itu dan lari menuju kedepan mengejar suaminya.

Kepandaian dari Ie Bok To adalah mengutamakan dalam hal ginkang,jika dibandingkan ginkang Boen ching sekarang ini tidak dibawah tiga orang itu, dan tidak lama kemudian ia telah dapat mengejar si kelabang merah shie chiau Nio dan terus lari mengejar kearah orang aneh dan kakek cebol itu.

Setelah mengejar sejenak.

dari kejauhan ia nampak dua orang itu telah berhenti berlari, orang aneh itu segera membuka serangan menyarang kakek cebol itu.

Ketika Boen ching sampai disana, orang aneh itu dan si kakek cebol itu telah mulai bertempur, pertempuran kali ini jika dibandingkan dengan pertempuran antara sikakek cebol dengan si kelabang merah di loteng rumah makan lebih hebat.

Kedua orang itu telah mengerahkan seluruh kepandaiannya, nampak batu dan pasir berhamburan, sedangkan bayangan dua orang itu sukar dikenal yang mana orang aneh itu dan yang mana sikakek cebol itu karena saking cepatnya mereka bergerak.

Tak sampai sepeminum teh, sikelabang merah dengan putranyapun telah tiba ditempat itu, kelihatannya si kelabang merah pada waktu itu tak ada niat untuk mencari gara-gara terhadap Boen ching, ia hanya melototkan matanya kearah Boen ching yang membuat hatinya menjadi berdebar pikirnya.

Jika dua orang itu mengakhiri pertempuran mereka, dan ternyata orang aneh itu berada di atas angin, si kelabang merah itu tentu tak akan mau dengan mudah melepaskan aku.

Tak lama berselang dua orang itu memisahkan diri, nampak si kakek cebol itu bersalto di tengah udara dan turun ketanah dengan indahnya, mukanya nampak sangat pucat sedang orang aneh itu wajahnya berubah menjadi merah padam, pertempuran kali ini masih belum dapat menentukan siapa yang kalah, kelihatannya kepandaian dua orang itu seimbang.

Sikelabang merah, Shie chiau Nio tertawa dingin ia tahu pada pertempuran kali ini dua orang itu telah mengadu tenaga dalam sehingga banyak hawa murni yang telah hilang, keduanya kelihatan sangat payah sekali.

Dengan kalemnya ia berjalan mendekati si kakek cebol itu sambil berkata.

"Kini engkau boleh coba-coba merasakan kelihayan dari Si kelabang merah."

Si kakek cebol itu dengan gusar mendengus, ia cepat balikkan tubuh dan tinggal pergi dari tempat itu.

Si kelabang merah, Shie chiau Nio memandang pada si kakek cebol itu sejenak.

ia tahu kalau dia tak akan dapat mengejarnya, diam-diam merasa terkejut, pikirnya.

"Situa bangka She Tong Hong ini, sudah belasan tahun tak bertemu ternyata kepandaiannya makin lama semakin sempurna, sungguh tak disangka setelah beradu tenaga dalam, dia masih dapat mengerahkan ginkang nya. orang ini sangat berbahaya, lain hari aku tentu akan mencarinya untuk dibasmi."

Boen ching melihat sikakek cebol itu telah pergi, mana dia mau melepaskannya, teriaknya.

"cianpwee harap menunggu sejenak "

Sambil berteriak ia lari mengejar kearah si kakek cebol itu.

Sikelabang merah, Shie chiau Nio melihat orang aneh itu sedang bersemadi untuk memulihkan kembali tenaga dalamnya, ia mendengus seorang diri dia lari mengejar Boen ching.

Boen ching yang sedang mengejar sikakek cebol itu semula masih dapat menjaga suatu jarak yang tertentu, tetapi makin mengejar makin tertinggal jauh dibelakang, sejenak keaaudian dia telah kehilangan jejak dari kakek cebol itu.

Sedang suitan nyaring dibelakang tubuhnya belum berhenti, ia tahu kalau si kelabang merah itu masih selalu mengikutinya .

Boen ching segera mengerahkan ginkang dari Ie Bok To yang paling lihay yakni "Shen Au Ban Lie"

Atau suara meraung selaksa lie, badannya melayang bagaikan elang raksasa, ia tahu si kelabang merah telah menderita luka dalam yang cukup berat, tentu dia tak akan mengejar terus, maka segera menghentikan langkahnya.

Bunyi suitan itu berhenti Boen ching pun memperlambat langkahnya, setelah melihat keadaan sekelilingnya sejenak.

dalam hatinya timbul perasaan yang tak enak.

pedang yang dihadiahkan suhunya kepada dia ternyata telah lenyap.

tanpa terasa dia menghela napas.

--ooo0dw0ooo-PENDEKAR SUAN MING DAN PENDEKAR HAN ING BOEN CHING yang kehilangan pedangnya dalam hatinya merasa tidak gembira, ia juga tidak mengetahui kini dirinya

telah berada di mana, tanpa berpikir lagi dia terus jalan maju ke depan-Entah sudah berjalan berapa waktu, tiba2 dihadapannya berdiri sikakek cebol tadi, dengan wajah yang ber-seri2 dia memperhatikan dirinya.

Boen ching yang nampak munculnya sikakek cebol itu, hatinya menjadi sangat gembira, dengan cepat dia maju kedepan memberi hormat dan berkata.

"cianpwee baik2 sajakah engkau? Pedang itu adalah pemberian suhuku, mohon cianpwee suka mengembalikan kepadaku."

Sikakek cebol itu sambil tertawa berkata.

"Tetapi pedang ini aku dapatkan dengan jalan merebut dari tangan sikelabang merah itu, bahkan kurang sedikit jiwaku melayang, bagai mana dapat diberikan kepadamu dengan begitu mudah ?"

Boen ching menjadi tertegun, semula dia pikir orang tua ini tentu akan mengembalikan pedang itu kepadanya, siapa tahu sikakek cebol ini pun mempersulit dirinya, sambil tersenyum dipaksa ia membuka mulut dan berkata.

"Cianpwee mungkin mempunyai syarat-syarat, boanpwe tentu akan mengerjakannya."

Si kakek cebol itu memandang sejenak padanya, kemudian tanyanya.

"Engkau sungguh2 tak mengenal aku orang tua?"

Boen ching jadi melongo dibuatnya pikirnya.

"Aku belum pernah bertemu dengan kakek cebol ini, mengapa dia dapat berbicara demikian?, bagaikan dirinya seharusnya sudah mengenal padanya."

Ia memandang pada kakek cebol itu dan menggeleng-gelengkan kepala. si kakek cebol itu bertanya lagi.

"Apakah selamanya suhumu belum pernah memberitahukan kepadamu?"

Boen ching sekali lagi menggelengkan kepalanya, katanya.

"Apakah cianpwee mengenal suhuku?"

Si kakek, cebol itu menghela napas katanya.

"Suhumu adalah seorang yang sangat baik, hanya sayang dia terlalu mengalah pada mereka?"

Sambil berkata, dia mengembalikan pedang nya itu kepada Boen ching. Boen ching menghormati suhunya bagai kan menghormati orang tuanya sendiri, mendengar perkataan itu segera ia berkata.

"Si kelabang merah, Shie chiau Nio itu ada hubungannya apa dengan suhuku? mengapa dia selalu memaki suhuku sebagai perempuan hina?"

Si kakek cebol itu dengan dingin mendengus jawabnya.

"Jika aku menjadi suhumu, sejak dulu aku telah membunuh semua orang itu,"

Dia berhenti sejenak kemudian terusnya.

"Karena suhumu tak memberitahukan kepadamu, aku juga tak enak untuk memberitahukan hal ini kepadamu, hanya akan kuberitahukan kepadamu siapakah sikelabang merah, Shie chiau Nio itu, dia adalah adik kandung suhumu sendiri"

Boen ching menjadi sangat terkejut setelah tenangkan pikirannya baru berkata..

"Adik kandung suhuku???"

Wajah sikelabang merah Shie chiau Nio segera terbayang kembali, memang alis dan mukanya seperti milik suhunya, tetapi jika si kelabang merah Shie chiau Nio itu adalah adik kandung sendiri, mengapa dia selalu memaki suhuku dengan perkataan yang demikian rendahnya?

ini tak mungkin bisa terjadi.

Bagaimana juga dia berpikir tetap tak dapat mendapat jawaban yang tepat.

Si kakek yang cebol itu nampak Boen ching menjadi termangu-mangu, sambil tersenyum dia berkata.

"siapapun tidak percaya adik kandung semacam ini kalau tidak ada malah kebetulan,"

Ia menghela napas, kemudian lanjutnya.

"hanya kasihan suhumu telah banyak menderita oleh karena mereka itu."

Boen ching setelah termenung sejenak. kemudian tanyanya.

"Tolong tanya siapa nama dari cianpwee?"

Kakek cebol itu tersenyum, katanya.

"Aku mempunyai hubungan yang sangat erat dengan suhumu, dikatakan kepadamu juga tidak mengapa, aku adalah pendekar Suan Ming, Tong Hong Hek, seorang gila itu adalah Pendekar Han Ing sheh Tu Hoa"

Boen ching setelah berpikir sejenak, tanyanya.

"Apakah dia mengenal suhu?"

Tong Hong hek tertawa, dia tak menjawab pertanyaan Boen ching ini, setelah berdiam sejenak ia balik bertanya.

"Benarkah dia telah menurunkan jurus2 aneh dari ilmu "Thay Thien Kioe Sih"

Itu kepadamu?"

Jawab Boen ching dengan cepat.

"Dia bilang mau bertanding ilmu silat dengan aku, tetapi nyatanya dia telah mewariskan jurus-jurus aneh itu kepadaku"

Tong Hong Hek menganggukkan kepalanya, tanyanya.

"Jika dibandingkan dengan belasan tahun yang lalu, kini dia telah banyak berubah, dia telah mewariskan ilmu yang aneh itu kepadamu, boleh di hitung masih ada belas kasih kepadamu, jurus2 ini meskipun kelihatannya sangat sederhana, tetapi jika digunakan kehebatannya tanpa tandingan, ternyata engkau mempunyai jodoh unttuk

mempelajarinya, sering2lah kau berlatih ilmu itu, kalau tidak maka akan terbuang sia-sia."

Boen ching menundukkan kepala tidak menjawag, Boleh masih dihitung masih ada belas kasih?

perkataan ini dia tidak mengerti apakah artinya, tetapi pikirnya tentu ada hubungan dengan urusan mereka yang lalu sehingga dia tudak berani banyak bertanya.

Tong Hong Hek bertanya lagi.

"Apakah suhumu pernah berpesan padamu untuk mengerjakan suatu pekerjaan?"

Boen ching setelah berpikir sejenakan, katanya.

"Sebelum aku berpisah dengan suhuku, beliau pernah berpesan padaku untuk mencari berita tentang seorang gadis yang katanya adalah puteri suhuku yang telah lama menghilang."

Tong Hong Hek sambil tersenyum berkata.

"Aku tahu kalau mengenai urusan ini suhumu tentu tak dapat melupakannya, beberapa tahun ini aku telah mendapatkan sedikit berita tentang hal ini, kalau tidak aku juga tak akan jauh jauh dari daerah utara datang kemari"

Mendengar parkataan itu Boon ching segera bertanya.

"Apakah putri sahuku itu berada didalam gunung Yi San ini?"

Tong Hong Hek menggelengkan kepalanya, katanya.

"Apakah berada digunung Yi San, aku juga tidak dapat memastikannya, tetapi orang yang membawanya pergi mulai pada waktu itu, sekarang berada digunung Yi San ini, hal ini tidak dapat diragukan lagi."

Dalam hati Boen ching diam2 merasa sangat gembira, jika dilihat dari ucapan2 Ie Bok Tocu tiap harinya, dapat dipastikan kalau Ie Bok Tocu sangat sayang kepada puterinya itu, pada sepuluh tahun yang lalu dia naik kepuncak Hwee Ing pUn juga karena ingin mencari berita tentang puterinya itu, tetapi sungguh tak dinyana Thian Jan Shu telah binasa, kini Tong

Hong Hek ternyata ada berita tentang putri suhunya itu, hal mana tidak membuatnya menjadi sangat gembira.

Dengan sangat gembira, Boen ching bertanya.

"Siapakah orang itu ?-?"

Tong Hong Hek mendengus, tidak menjawab sejenak kemudian dia berkata.

"Orang itu kepandaiannya sangat tinggi akupun belum tentu dapat menandinginya walaupun engkau mengetahuinyapun juga tak ada gunanya, aku hanya akan pergi kesana untuk menanyakan berita diri gadis itu saja, aku kira diapun tak akan membuat susah kepadaku, sekalipun untuk menangkan dia aku tidak mempunyai kemampuan tetapi untuk mengalahkan akupun tidak begitu mudah."

Dalam hati Boen ching berpikiri "Mengapa hanya digunung Yi San ini saja dapat bertemu dengan begitu banyak jago2 silat yang berilmu tinggi?

tentu didalamnya banyak terkandung apa2-nya".

Terdengar Tonga Hong Hek berkata lagi.

"Hanya tadi aku telah mengadu tenaga dalam dengan tiga orang itu, kemudian harus mengerahkan seluruh tenaga untuk berlari lagi, kini telah menderita luka dalam yang cukup parah, untuk menyembuhkannya harus ada seseorang yang menjaga, dapatkah engkau membatu aku untuk menjaga kalau ada orang yang datang menganggu ketika aku sedang menyembuhkan lukaku?"

Boen ching menganggukkan kepalanya, sedang dalam hatinya dia memikir.

"Soal ini sudah tentu harus aku lakukan". Tong Hong Hek menjadi sangat gembira, ia tertawa terbahak-bahak dan katanya.

"Hanya satu hari satu malam saja. Dua belas jam kemudian luka dalamku akan sembuh kembali. tempat inipun merupakan pedalaman dari gunung Yi San, jarang sekali ada orang yang sampai disini, engkau menjaga disampingku saja untuk mencegah segala kemungkinan yang akan terjadi".

Habis berkata, dua orang itu mencari suata gua yang bersih dan Tong Hong Hek mulai duduk bersemedi untuk menyembuhkan luka dalamnya itu.

Boen ching segera berjalan keluar dan menjaga diluar gua, tak lama haripun mulai menjadi gelap.

selama ini tidak pernah terjadi apa-apa, ternyata Tong Hong Hek telah menyediakan rangsum secukupnya dan air didalam gua itu untuk dirinya, sehingga dia tak perlu meninggalkan gua itu untuk mencari makan-Malam itu udara sangat bersih, bulan yang bulat memancarkan sinarnya.

Boen ching yang duduk sendirian dipintu gua itu menjadi terbayang kembali kejadian-kejadian yang telah lalu.

Tiba-tiba terdengar suara tindakan kaki yang datang mendekat Boen ching menjadi tertegun, pikirnya.

"Waktu ini entah masih ada siapa lagi yang ternyata berada dipedalaman gunung Yi San ini, lebih baik aku bersembunyi dahulu"

Berpikir sampai disini, dengan cepat ia bersembunyi didalam gua itu.

Dengan meminjam sinar bulan yang sedang memancarkan sinarnya itu Boen ching nampak Tong Hong Hek sedang duduk bersemedi untuk menyembuhkan lukanya.

Tindakan kaki itu makin lama makin mendekat, mendengar dari suara tindakan itu agaknya yang datang tidak hanya satu orang saja.

Terdengar suara seorang berkata.

"Toako pemamdangan malam ini sungguh sangat indahnya". Habis berkata dan berdiam sejenak. tiba2 ia mengeluarkan suara tertahan katanya dengan keras.

"Disitu masih ada suatu gua, mari kita masuk kedalam untuk beristirahat lebih dahulu baru melanjutkan perjalanan kita".

Mendengar hal itu Boen ching menjadi sangat terkejut, kalau mendengar dari suara orang itu agaknya mereka itu sedang mencari dirinya jika sampai sungguh masuk kedalam gua itu, bukankah akan membahayakan jiwa Tong Hong cianpwee yang sedang bersemedi itu?

Terdengar salah satu dari mereka itu dengan suara heran ia berkata.

"Hati2lah sedikit mungkin didalam gua itu ada binatangnya."

Orang yang semula berbicara itu sekarang tertawa besar katanya.

"Mana kita dapat takut terhadap kucing hutan segala". Kemudian terdengarlah suara tindakan kaki yang sangat ramai mendekati gua itu, jumlah mereka tidak sedikit kurang lebih lima enam banyaknya. Boen ching melihat mereka berjalan makin mendekat, badannya segera melesat keluar dari gua dan berdiri dimuka gua dengan angkernya. Baru saja ia akan membuka mulut untuk menegur mereka ia dibuat tertegun oleh dandanan mereka itu. Yang datang ternyata berjumlah delapan orang, semuanya memakai pakaian ringkas berwarna hitam, sedang pada punggung mereka masing-masing menggembol senjata tajam, kalau hanya itu saja masih tak mengherankan, yang mengherankan hatinya adalah tiap-tiap orang memakai kain kerudung yang menutupi seluruh wajahnya. orang-orang itu nampak dari dalam gua muncul satu orang menjadi terkajut dan menghentikan langkahnya. Satu diantara mereka itu mengeluarkan suara tertahan, katanya.

"Sungguh cepat sekali, bukankah orang ini adalah Boen ching. Kita telah mencarinya setengah harian, ternyata dapat bertemu disini."

Boen ching jadi terkejut, ternyata orang-orang ini sedang mencarinya, kalau dilihat orang-orang itu bukanlah berasal dari tujuh partai besar manapun entah karena urusan apa datang mencari-cari dirinya.

Boen ching maju ke depan dan bertanya.

"Saudara-saudara mencari cayhe entah karena urusan apa?"

Pemimpin dari orang-orang itu tertawa terbahak-bahak sambil membalas hormat pada Boen ching ia berkata.

"Boen Siauw hiap. beberapa hari ini nama Siauw hiap telah menggetarkan dunia Kangouw, cayhe beberapa orang mendapat perintah dari majikan kami untuk mengundang saudara."

Boen ching tertawa besar, katanya.

"cayhe tak mengenal siapakah majikanmu itu, selamanya tak saling mengenal apa lagi saudara-saudara menggunakan kain mengerudungi wajah asli saudara, mengapa tidak saja datang dengan wajah aslimu? maaf kalau aku Boen ching tak dapat menurut perintah."

Orang itu dengan berkata.

"Boen Siauw hiap jangan salah paham, kami delapan bersaudara menutupi wajah asli kami karena mempunyai kesulitan kami sendiri dan kini datang kemari dengan maksud baik, harap Boen Siauw hiap jangan banyak curiga dan sudi bertemu dengan majikan kami."

Boen ching yang mendengar perkataan itu, kelihatannya lunak.

tetapi sebenarnya mengandung sifat memaksa bagaikan dirinya harus pergi untuk menemui majikannya, selama hidupnya dia paling benci kalau diundang secara paksa.

kini mendengar hal itu ia mendengus, katanya.."Kalau aku tidak mau pergi, apakah saudara hendak menggunakan kekerasan?"

orang itu menoleh kebelakang dan memandang pada kawan2 nya kemudian tertawa terbahak-bahak katanya.

"Jangan kau katakan menggunakan kekerasan, majikan kami sungguh2 sangat menghormati Boen Siauw hiap tetap tak mau pergi bukan aaja kami delapan saudara tak dapat memenuhi kewajiban kami juga akan membuat majikap kami menjadi sedih karena itu". Boen ching setelah mendengar semuanya itu, tetapi masih tetap hendak menggunakan kekerasan, ia memandang beberapa orang itu dengan tajamnya, tak dapat diraba mereka itu berasal dari aliran mana, sambil tertawa ia berkata.

"cayhe kira mengenai urusan ini aku Boen ching tak dapat menuruti perintah"

Orang itu tertawa besar lagi, katanya.

"Boen Siaw hiap masih muda dan gagah, kalau tidak mau menurut perintah, terpaksa kami delapan saudara akan minta pengajaran dari Boen siauw hiap yang memiliki kepandaian tinggi itu"

Boen ching tertawa dingin, dengan memegang kencang pedangnya ia berdiri didepan pintu gua dengan gagahnya, sedang matanya memandang kedelapan orang itu tanpa berkedip.

Pemimpin dari delapan orang itu nampak Boen ching bersikap demikian, dalam hatinya memuji pemuda ini mempunyai nyali yang besar.

Segera ia memberi isyarat pada kawan-kawannya, delapan bilah pedang bersama-sama ke luar dari sarungnya dan membentuk barisan setengah lingkaran mengepung Boen ching.

Boen ching diam-diam terkejut, jika ia kini seorang diri tidaklah mengapa, tetapi didalam gua masih ada Tong Hong Hek yang sedang bersemedi untuk menyembuhkan luka dalam nya.

Ternyata dugaan Boen ching dan Tong Hong Hek

meleset, mereka tidak menyangka kalau di sini masih ada orang mencari setori padanya.

Terdengar pemimpin dari delapan orang itu tertawa besar sambil berkata.

"Boen Siauw hiap. sekali lagi kami harap engkau mau turut kami untuk menghadap pada majikan kami."

Boen ching nampak pemimpin dari delapan bersaudara itu sudah mengambil kepastian yang tak dapat dirubah lagi, dengan dingin ia berkata.

"Itu harus dilihat kamu berdelapan dapat mengundang aku pergi atau tidak"

Pemimpin dari delapan orang itu tertawa panjang tangannya memberi isyarat, delapan bilah pedang itu bersama-sama menusuk kearah Boen ching.

Boen ching nampak delapan orang itu telah turun tangan dia telah mengetahui dengan kekuatannya sendiri sudah pasti tidak dapat melawan orang-orang itu yang maju bersama-sama, bahkan dilihat dari gerakan delapan bilah pedang itu nampaknya mereka itu telah mendapatkan latihan yang cukup lama serta mempunyai pengalaman yang lama dalam bertempur bersama.

Pikirannya segera bergerak.

karena terus berada ditempat ini bukan merupakan suatu cara yang baik, lebih baik tinggalkan tempat ini mereka tentu tidak tahu kalau didalam gua itu masih ada beberapa orang, seorang ialah Tong Hong Hek yang sedang besemedi untuk menyembuhkan luka dalamnya, jika dapat memancing mereka pergi dari tempat ini bukankah Tong Hong Hek tak ada yang datang mengganggunya lagi?

Pikiran ini segera terlintas didalam benaknya, segera ia bersiul panjang, kedua kakinya melancarkan ilmu tendangan "cing Po ciet Yau"

Atau ikan paus melompat tujuh kali. sedang di tangan kanannya melancarkan serangan mematikan-

Delapan orang itu sungguh tidak mengira kalau mereka dapat diserang ber-sama2 meskipun Boen ching karena harus menyerang delapan orang itu ber-sama2 tenaganya menjadi terganggu, tetapi hal ini adalah merupakan kejadian yang sebelumnya belum pernah mereka alami, sehingga membuat mereka menjadi terkejut.

Boen ching setelah mendesak mundur delapan orang itu, badannya segera berkelebat dengan menggunakan ilmu ginkang nya "Shen Au Ban-lie atau suara meraung laksa lie ia melayang pergi dari tempat itu.

Sebenarnya dia dapat meloloskan dirinya tetapi kalau dia pergi delapan orang itu tentu akan masuk kedalam gua sehingga semedi Tong Hong hek yang dilakukan selama setengah harian itupun akan berantakan-Segera setelah ia meloncat keluar dari gelanggang dan tidak melarikan diri bahkan berdiri disana menanti datangnya delapan orang itu.

Pemimpin dari delapan orang mendengus, katanya.

"Bagus kepandaian Boen Siauw hiap ternyata tidak mengecewakan."

Habis berkata delapan orang itu mengurungnya ditengah lagi. Boen ching memusatkan pikiran menanti serangan musuh yang datang, pikirnya.

"Aku harus memancing pergi delapan orang itu selangkah demi selangkah sehingga tidak mengganggu Tong Hong Hek. jika ke delapan orang itu mendesak mendekati, aku akan mundur kebelakang". Delapan orang itu nampak Boen ching mundur terus, badan mereka segera berkelebat dan mengambil kedudukan pat Kwa untuk mengurung Boen ching. Boen ching nampak begitu pikirannya sedikit bercabang, segera terkurung oleh mereka ditengah gelanggang diam2 hatinya memuji cara delapan orang itu merebut tempat kedudukan

jika bertempur secara demikian terus menerus, dirinya tenta akanjatuh dibawah angin, tiba2 dia teringat pada langkah Kloe Khong Pat Kwa, tidak menunggu sampai delapan orang itu berdiri tegak dengan cepat ia membalikkan pedang nya dan mendesak orang yang berdiri dibelakang tubuhnya dengan beberapa kawan sisanya tujuh orang segera turun tangan bersama-sama, Boen ching tidak menggubris, badannya segera mundur kebelakang dengan sikutnya ia menyikut pinggang orang itu sedang kaki kanannya mundur setindak lagi dengan demikian dia telah menduduki tempat "Kan"

Dengan direbutnya tempat kedudukan itu, maka hanya pedang dari kanan dan kirinya saja yang dapat menyerang padanya, sedangkan lima pedang lainnya tidak dapat mencapai kesempatannya, karena terhalang oleh tubuh kawannya sendiri.

Ketika itu pedang dari kanan dan kirinya itu datang menyerang ke tubuhnya, pedang Boen ching dengan cepat menangkis kemudian ia balik membalas menyerang dengan gencarnya, seketika itu juga barisan pedang itu menjadi kacau balau, sedang ke delapan orang itu terperosok dalam keadaan saling berhadapan-Pemimpin dari delapan saudara itu menjadi terkejut, sungguh tak disangka Boen ching ternyata demikian hafalnya terhadap barisan Pat Kwa, pedang ditangan kanannya segera di sabetkan, delapan orang itu segera mundur kebelakang dan berganti dengan barisan pedang yang lain, mereka hanya mengurung Boen ching saja dan berdiam diri tak bergerak.

Boen ching nampak delapan orang itu membagi dirinya menjadi lima di depan dan tiga di belakang, baik diatas maupun dibawah tampaknya tak karuan tak dapat dilihat keistimewaan dari barisan itu terletak dimana.

Ia ingin memancing delapan orang itu lebih jauh lagi sedikit dari tempat itu, cepat ia balikkan tubuhnya dan melancarkan

serangan dengan menusuk salah satu orang dari mereka, siapa tahu delapan orang itu telah menggunakan senjata "Pat Sian Kiam Tin"

Atau barisan pedang delapan dewa, begitu Boen ching balikkan badannya melancarkan serangannya itu, dia telah melakukan suatu kesalahan yang besar, sebenarnya kunci dari barisan ini adalah kamu tidak bergerak kamipun tak bergerak.

tetapi begitu engkau bergerak maka akan terkurung di dalam barisan itu.

Tampak delapan orang itu segera bergerak.

dengan demikian barisan "Pat Sian Kiam Tin"

Itu telah mulai memperlihatkan kelihayan nya, delapan pedang itu bagaikan kilat bergilir melancarkan serangannya mereka bagaikan telah menjadi satu sehingga kekuatan mereka kini delapan kali lebih hebat dari tadi sedangkan gerakkan pedangnyapun delapan kali lebih cepat.

Serangan pedang Boen ching belum saja di gunakan habis delapan orang itu telah bersama-sama maju menyerang kearahnya.

ia merasakan gerakan delapan bilah pedang itu cepat bagaikan dia sedang bertempur dengan seorang saja, berturut-turut ia menangkis beberapa kali sambaran pedang, sebentar menangkis ke atas dan sebentar lagi menangkis kebawah tak henti-hentinya, dalam hatinya diam-diam merasa terkejut, sekarang ia terdesak, dua kakinya ber-turut2 melancarkan beberapa kali serangan untuk mendesak musuh, dan merubah kedudukan dari pihak menyerang menjadi pihak bertahan.

Delapan orang itu saling bergantian melancarkan serangan pedang mereka, serangan pertama lebih cepat dari serangan berikutnya dan lebih hebat pula dari serangan selanjutnya.

Boen ching makin bertempur makin terkejut hatinya, barisan delapan orang itu sungguh-sungguh sangat hebat sekali sehingga tidak ada lubang kelemahan sedikit pun juga, sungguh tak disangka setelah delapan orang itu bergerak.

dirinya ternyata tak mempunyai kekuatan untuk membalas sekalipun-Delapan orang itu dengan ganasnya melancarkan jurus-jurus mereka, nampak Boen ching masih juga dapat menerimanya, hatinyapun menjadi sangat terperanjat, barisan delapan orang kini mulai bergerak dan memaksa Boen ching setindak demi setindak bergeser kesebelah kiri.

Boen ching waktu itu hanya dapat dengan sekuat tenaga menjaga diri, kini nampak delapan orang itu memaksa dirinya bergeser kesamping kiri, dia juga tak mau banyak berpikir lagi karena apa, dalam hatinya ia hanya memikirkan dengan cara bagaimana dapat memecahkan barisan pedang itu.

Baru saja dia berpikir sampai disitu, nampak delapan orang itu telah bergerak maju lagi bergantian untuk menyerangnya, segera terpikir olehnya untuk menggunakan ilmu "Si Liu Eng Hong" -Pohon Liu menahan angin balas menyerang musuh.

Baru saja ia akan bergerak maju untuk membalas menyerang, nampak delapan orang itu telah membubarkan barisannya dan bersembunyi dibelakang batu besar, hatinya menjadi sangat heran, dan berdiri tertegun disana..

Tiba-tiba diatas kepalanya berhembus angin yang sangat perlahan, dengan cepatnya ia menggunakan pedangnya menyambut datang yasambaran itu ujung pedangnya menyentuh benda itu, dalam hatinya merasa ketidak beresan, dia segera berusaha untuk meloloskan diri, tetapi delapan orang telah mendesak dengan pedangnya, sebuah jala yang sangat halus telah jatuh dan menjala badannya dengan kencang, jala halus itu entah dibuat dari bahan apa, ditarik juga tak dapat putus.

seketika itu juga dia telah tertawan hidup, hidup, Pemimpin dari delapan orang itu tertawa besar, dia berjalan mendekat sambil memasukkan kembali pedang Boen ching kedalam sarungnya dan berkata.

"Sungguh, maaf saudara,aku jika tak menggunakan cara ini, Boen sauw hiap tentu tak mau pergi"

Begitu tubuh Boen ching sedikit bergerak.

jala itu merapat lebih kencang lagi, dalam hatinya dia tahu banyak bergerakpun tak ada gunanya, diam2 dia menghela napas.

Delapan orang itu memasukkan kembali pedangnya kedalam sarungnya, salah satu dari mereka itu segera mengangkat tubuh Boen ching dan bersama-sama lari kearah barat.

Boen ching kini baru tahu, ternyata delapan orang itu sejak tadi telah memasang jala aneh itu menunggu dirinya terpancing, kemudian menangkapnya, tiba tiba terpikir olehnya.

"Entah jala dilontarkan dengan alat atau oleh orang, jika dilakukan oleh orang, maka luka dalam Tong Hong Hek sudah pasti sukar disembuhkan-"

Setelah berlari setengah harian, sampailah mereka disuatu lembah itu baru saja mereka memasuki lembah itu, pada mulut lembah itu tiba2 muncul seorang yang bertopeng, orang itu berkata pada delapan orang itu, katanya.

"Majikan tak ada didalam lembah, serahkan saja Boen ching itu kepadaku."

Delapan orang itu menjadi tertegun, pikir mereka.

"Siapakah orang ini? majikan telah memerintahkan kami untuk mengundang Boen ching datang kedalam lembah, mengapa kini bisa pergi?"

Badan orang bertopeng itu segera berkelebat dan telah berhasil menotok jalan darah tiga orang dari delapan orang itu, sekali sambar tubuh Boen ching telah dapat direbutnya dan dibawa lari keluar lembah.

Sisanya lima orang itu segera membentak dan ber-sama2 lari mengejar^

Meskipun orang bertopeng itu sambil me-ngempit Boen ching, tetapi geraknya ternyata masih secepat kilat, tak lama kemudian lima orang itu telah tertinggal jauh sekali.

Pada waktu itu hati Boen china sangat terkejut dan merasa heran meskipun kaki dan tangannya tidak dapat bergerak.

tetapi telinga dan matanya masih normal.

Pikirnya.

"Siapa lagi orang ini? orang2 ini memperebutkan aku entah dengan tujuan apa?"

Setelah berlari setengah harian, fajarpun hampir menyingsing, orang bertopeng itu segera meletakkan tubuh Boen ching keatas tanah, kemudian membuka topengnya, sambil tersenyum ia berkata.

"Sungguh beruntung aku dapat menolong kau keluar."

Boen ching nampat orang itu membuka topengnya menjadi ter-mangu2, orang itu ternyata adalah seorang gadis yang sangat cantik, lebih2 jika dia sedang tertawa.

Gadis itu nampak Boen ching memperhatikan dirinya, sambil tertawa ia berkata.

"Sungguh sangat beruntung dapat bertemu dengan kau, kalau tidak engkau tentu akan disiksa oleh mereka". Boen ching tidak tahu gadis itu berkata demikian itu apa artinya, pikirnya tentu majikan dari delapan orang itu sangat kejam sehingga gadis itu berkata demikian, berpikir sampai disitu lalu katanya.

"Terima kasih atas budi nona yang telah menolong aku lolos dari cengkeraman delapan orang itu, dapatkah nona membantu aku membukakan jala ini ?"

"Gadis itu tersenyum, ia menggelengkan kepalanya kemudian berkata.

"Jala ini dapat aku membukanya, tetapi itu tak dapat aku lakukan karena begitu jala itu kubuka, jika engkau mau pergi aku tidak bisa mencegah engkau"

Boen ching tertegun, entah karena apa ia berbuat demikian, ia tertawa pahit, dan berkata.

"Nona jika ada urusan harap berbicaralah terus terang, mengapa harus berbuat demikian, apalagi aku berhutang budi pada nona"

Perkataanya belum selesai, gadis itu telah menggoyangkan tangannya dan berkata.

"Sudah......sudahlah, jangan berbicara sembarangan, engkau telah berhutang budi padaku, jika aku menanyaimu sesuatu hal maukah kau berterus terang menjawabnya?"

Boen ching ragu-ragu berkata.

"Nona coba katakan dahulu, aku lihat itu urusan hal mengenai apa?"

Jawab Boen ching dengan perlahan-lahan-"Kecuali jika kau mau berterus terang memberitahukan kepadaku, kalau tidak aku tak akan membuka mulut, agar jangan sampai setelah aku membuka mulut engkau tak mau menjawabnya bukankah hal itu akan sia-sia belaka?"

Diam-diam Boen ching berpikir.

"Ada beberapa soal aku telah berjanji dengan suhu untuk tidak menjawab, memang benar perkataan nona itu walaupun engkau bertanyapun akan sia-sia belaka"

Setelah menghela napas, kemudian katanya.

"cayhe Boen ching sebenarnya tak dapat berbuat apa-apa, nona lebih baik tak usah bertanya."

Gadis itu mengira setelah Boen ching berada ditangannya tentu dia akan menyanggupi untuk menjawabnya, siapa tahu dia tetap tak mau menjawab, membuatnya dengan diam-diam menjadi gusar katanya.

"Kalau engkau tak mau menyanggupi untuk menjawab pertanyaanku, akupun tak akan membukakan jala ini."

Boen ching nampak gadis itu mengancam padanya, membuat dia menjadi mengerutkan alisnya, pikirnya.

"Aku tidak mau bicara aku lihat engkau dapat berbuat apa-apa."

Habis berpikir segera ia menutup matanya tak berbicara lagi Gadis itu nampak Boen ching menutup mulut tak menjawab, dia mendengus sedang hatinya menjadi mangkel.

Sesaat dua orang itu tak berkata apa-apa, gadis itu tak sabar lagi, katanya pada Boen ching.

"Engkau ini bagaimana, mengapa tidak berkata sepatah katapun? jika bukannya aku telah menolongmu, sejak tadi engkau telah jatuh ketangan orang-orang itu, mereka sudah tentu tak sesabar aku"

Boen ching dengan perlahan menghela napas, katanya.

"Nona, hari ini telah menolong aku, lain hari tentu akan kubalas budi ini"

Gadis itu mendengus, katanya.

"Lain hari ? Aku kira kita berdua tidak akan bertema muka lagi, engkau bilang lain hari, aku tak tahu itu kapan akan terjadinya". Boen ching mendengar perkataan itu, diam-diam berpikir.

"Gadis ini entah menginginkan persoalan apa dariku, dia bilang lain hari selamanya tak akan bertemu denganku lagi, bukankah setelah mendapatkan keterangan dariku dia akan membunuh aku untuk menutup mulut ?"

Dia sebenarnya seorang yang sangat pintar, kini otaknya segera bekerja supaya dapat menebak nona itu akan bertanya tentang apa, segera ia tertawa dan berkata.

"Nona tak mau berbicara akupun sudah tahu nona ingin bertanya tentang apa, tetapi persoalan ini selamanya nona tak

akan mendapatkannya dari mulutku ". Gadis itu termangu-mangu, katanya.

"Engkau sudah tahu tentang urusan ini, itulah lebih baik, aku kira orang2 aneh dari seluruh persoalan akan datang kemari, pokoknya tak bisa meloloskan diri, aku kini telah menolong satu kali, lebilh baik kau beritahu aku saja". Boen ching tertawa tawar, pikirnya.

"Perkataan tadi agaknya mencurigakan sekali". Segera ia membuka mulutnya dan berkata pada gadis itu.

"Aku kira kali ini engkau akan sia-sia". Gadis itu tertawa, ia tak dapat menangkap arti dari perkataan Boen ching itu, kemudian katanya.

"Aku sungguh menyesal telah menolongmu tadi"

Habis berkata ia memandang tajampada Boen ching, melihat perubahan apa yang akan terjadi pada diri Boen ching. Boen ching dengan tertawa berkata.

"Delapan orang yang memakai kain kerudung itu apakah anak buahmu ?"

Gadis itu tertegun, sungguh dia tak mengira bila Boen ching ternyata dapat menebak bahwa dia yang menolong Boen ching adalah berpura-pura saja, padahal gerak-gerik orang itu sangat rapat dan rahasia sekali.

Mana mungkin pada saat2 terpenting dapat ditolong olehnya dan kini gadis itu dengan tenangnya duduk disana tidak takut ada orang datang kemari untuk mencarinya, sudah tentu hal ini membuat hati Boen ching menjadi curiga.

Gadis itu menjadi ter-mangu2, katanya.

"Sungguh tak terkira semuanya capat kau pecahkan". Boen ching tersenyun dan tidak menjawab, seolah-olah memang tidak seharusnya dia menjawab pertanyaan itu. Gadis itu berkata pula.

"Lebih baik engkau katakan sekarang saja, aku tak dapat memaksamu untuk membuka mulut, tetapi kalau ayahku

datang, aku kira engkau tentu akan mengalami banyak penderitaan".

otak Boen ching segera bekerja, suhunya telah berpesan kepadnya untuk tidak memberitahukan persoalan ini kepada siapapun juga.

entah siapakah ayah dari gadis itu.

Baru saja ia berpikir sampai disitu, dari dalam hutan terdengar dengusan yang sangat berat, seorang tua yang berbadan tinggi besar berjalan keluar dari hutan-Begitu nampak orang tua itu, gadis itu segera bangun berdiri, panggilnya.

"Ayah mengapa engkau juga datang kemari ?"

Orang tua itu memandang pada dua orang itu sejenak, kemudian berkata dengan suara perlahan-"Aku telah tiba sejak tadi "

Boen ching diam2 membatin.

"siapakah orang tua ini ?"

Kalau dilihat dari gerak-geriknya seperti pernah aku ketahui entah dimana tetapi saat ini aku tak dapat mengingatnya kembali.

orang tua itu memperhatikan Boen ching sejenak lalu berkata pada gadis itu.

"Anak Hwie, lepaskan dia ."

Gadis itu tertegun dan bertanya.

"Lepaskan dia ???"

Orang tua itu menganggukkan kepalanya, dalam hati gadis itu menjadi bingung, ia berjalan mendekati Boen ching kemudian menarik seutas tali yang ada pada jala tersebut, dengan demikian maka terbukalah jala itu.

Boen ching segera bangun berdiri dan memberi hormat pada orang tua itu, katanya.

"Kiranya cianpwe adalah ciangbunjin dari Tiang Pek Pay, cing Siauw Hong cianpwee". Begitu melihat cara membuka jala itu, dia segera teringat kalau Tiang Pek Pay mempunyai senjata tunggal yang disebut "Loe Ie Wang"

Yang persis seperti ini.

can Siauw Hong menganggukkan kepala nya dan berkata.

"Kiranya engkau masih ingat padaku"

Boen ching tahu kalau orang tua itu banyak akalnya, sudah tentu dia tidak akan melepaskan dirinya dengan demikian mudahnya, dan telah membuang banyak tenaga untuk menangkap dirinya, kini dengan melepaskan dirinya itu sudah tentu mempunyai tujuan lain-can Siauw Hong memperhatikan Boen ching sejenak.

kemudian berkata.

Sepuluh tahun yang lalu delapan partai besar telah mengerubuti jago nomor wahid, Thian Jan Shu sehingga akhirnya Thian San ciet Kiam tewas semuanya, kabarnya waktu itu Thian Jan Shu meninggalkan ilmu silatnya dan hanya engkau seorang yang mengetahuinya, selama sepuluh tahun ini ciangbunjin dari tujuh partai besar partai besar terus mencarimu juga karena ilmu silat peninggalan Thian Jan Shu itu.

Entah urusan ini benar atau tidak ?"

Pikir Boen ching.

"Sungguh aku tak salah menduga ternyata adalah karena urusan tujuh hioloo kuno itu, tentu karena tujuh partai besar ingin mencari aku maka baru urusan ini dikatakan". Pikir Boen ching lagi, Ie Bok Tocu pernah berpesan.

"jangan sekali-sekali menyebut tentang tujuh buah Hioloo pusaka itu sebab jika berita itu sampai tersiar luas, maka dalam bulim tentu akan terjadi banjir darah, anak murid tujuh partai besar tersebar diseluruh pelosok, kekuatannya tak boleh dipandang ringan, ditambah lagi dengan tokoh-tokoh aneh didunia kangouw, aku harus berusaha merahasiakan urusan ini. Sambil tertawa ia berkata kepada can Siauw Hong.

"Aku kira cianpwee tak usah mengetahui urusan ini."

Cang Siauw Hong tertawa besar, ujarnya.

"Kalau begitu urusan ini memang benar-benar ada dan berita-berita-berita yang disiarkan didunia kangouwpun tak salah bukan ?"

Boen ching tahu kalau can Siauw Hong sangat hati-hati waktu bicara, lagipula sangat licik tidak mudah dihadapi, segera ia tertawa terbahak-bahak ujarnya.

"Urusan ini sungguh atau tidak, engkau tak perlu mengetahui jika memang cianpwee ingin mengetahuinya, harap mengadakan penyelidikan sendiri, boanpwee sendiri tak dapat mengantakan."

Gadis yang berdiri disamping segera serunya.

"Kami kalau tak bertanya kepada kau lantas disuruh tanya siapa lagi.?"

Sambil tertawa Boen ching berkata.

"Jika jadi cianpwee melepaskan aku dengan tujuan agar aku memberitahukan urusan itu, lebih baik jangan dilepaskan saja aku dari kurungan jala itu."

Cang Siauw Hok dengan seenaknya berkata.

"Aku melepaskan kau? Kapan? delapan orang itu sekarang masih menanti disamping mu, setiap saat masih sanggup untuk menangkap kau lagi "

Kelihatannya tentang hal ini tak membuat dia jadi bingung.

Baru saja selesai berbicara terlihat berkelebatnya bayangan satu demi satu melayang setengah kalangan, ternyata mereka itu adalah delapan orang yang berkerudung itu.

Nampak hal ini can Siauw Hong menjadi sangat terkejut ternyata delapan orang itu tanpa menimbulkan suara sedikitpun telah di bunuh mati oleh orang, dapat dibayangkan betapa tingginya kepandaian orang itu.

Boen ching menjadi tertegun pikirnya.

"Kalau yang datang adalah Tong Hong Hek itu sangat bagus sekali"

Terlihat sebuah bayangan merah berkelebat dan berdiri ditengah kalangan, yang datang ternyata adalah si Kelabang merah Shie chiau Nio.

Begitu muncul dengan dinginnya ia menyapu orang-orang itu, kepada Boen ching ia berkata.

"Kini kau telah dapat kucari tidak saja akan memperhitungkan hutang2 diantara kita ternyata engkaupun mengtahui ilmu silat peninggalan Thian Jan Shu."

Habis berkata dia mendengus Boen ching segera memandang sekelilingnya saja, ia menggerakkan kepalanya, terdengar Shie chiau Nio telah membentak dengan bengisnya.

"Engkau jangan mencoba melarikan diri lagi"

Cang Siauw Hong begitu nampak munculnya si Kelabang merah, Shie chiau Nio menjadi berdiri termangu-mangu dia sudah tahu kalau tindakan si Kelabang merah itu sangat kejam dan beracun sehingga dapat menandingi kekejaman "Tok Thian coen"

Atau si Raja racun yang terkenal itu kini ternyata dia muncul ditempat ini boleh dikata lebih banyak bahaya dari pada selamat Shie chiau Nio berjalan mendekati Boen ching dengan dingin ia berkata.

"Kepandaianmu yang tidak seberapa itu aku sudah tahu jelas semuanya, waktu itu karena aku sedang menderita luka dalam, sehingga kau dapat meloloskan diri dari tanganku kalau tidak....... Hai tanggung tak dapat hidup lebih lama lagi"

Boen ching juga tahu meskipun ginkang nya mendapat bimbingan langsung dari Ie Bok tocu tetapi karena Lweekangnya masih sangat rendah maka masih lebih rendah setingkat dari kepandaian sikelabang merah itu, niatnya untuk meloloskan diri telah diketahui olehnya, kiranya keinginan itu tak mungkin dapat dilaksanakan-Shie chiau Nio tertawa dingin, kepada Boen ching ujarnya.

"Ilmu silat peninggalan Thian Jan

Shu itu sekarang berada dimana?"

Diam-diam dalam hati Boen ching membatin. Tentu tadi si kelabang merah ini telah mencuri dengar tentang hal itu, kali ini agaknya susah untuk menghindari.? Terpikir sampai disini, lalu katanya.

"Bagaimana engkau bisa tahu kalau Thian Jan Shu meninggalkan ilmu silatnya??"

Jawab shie ciau Nio dengannya.

"Aku tidak takut engkau tak mau bicara terus terang."

Tubuhnya segera berkelebat, sedangkan tangannya melancarkan lima kali serangan kearah Boen ching. Boen ching segera menyingkir kesamping dengan menggunakan ilmu "Shie Liu Eng Hong"

Ia menangkis serangan dari si kelabang merah itu, Shie chiau Gic tertawa dingin, kedua tangannya tak henti-hentinya melancarkan serangan, Boen ching nampakjurus-jurus nya yang digunakan Shle chiau Nio itu sangat aneh sekali, bahkan setiap pukulannya bagaikan merupakan lawan dari pukulannya, hatinya menjadi sangat terkejut.

Tidak sampai lima jurus, Shie chiau Nio telah berhasil mencengkeram pergelangan tangannya, dengan cepat ia mundur ke belakang untuk menghindar dari cengkeraman tersebut, tetapi terlambat, pergelangan tangannya telah terkena cengkeraman itu dan segera berubah menjadi hijau kehitam-hitaman, hatinya menjadi terkejut tak terhingga.

Shie chiau Nio tertawa dingin, ujarnya.

"Bagaimana? kau mau bicara atau tidak? racun yang aku gunakan itu hanya aku seorang yang dapat mengobati, orang lain tak akan dapat melakukannya, jika engkau tak mau berbicara secara terus terang dua belas jam kemudian engkau harus binasa oleh racunku itu."

Jawab Shie chiau Nio sambil tertawa-tawa.

"Jika Thian Jan Shu memang meninggal kan ilmu silatnya, bukankah pada sepuluh tahun yang lalu telah diambil oleh tujuh partai besar, buat apa harus menunggu hingga kini."

Perkataannya baru saja selesai diucapkan, si kelabang merah dengan dingin mendengus, badannya dengan cepat membalik, tahu-tahu nampak Tong Hong Hek muncul disana, dua orang itu segera saling menyerang sebanyak sepuluh kali, setiap serangan itu disertai dengan tenaga yang sangat besar agaknya mereka sedang mengadakan pertempuran mati-matian-Tiba-tiba terdengar si kelabang merah itu membentak.

"Berhenti"

Sedang badannya segera melayang mundur kebelakang.

Ketika Tong Hong hek sedang bersemedi, ia merasa luka dalamnya tidak seberat yang semula diduga, sehingga lukanya dapat disembuhkan tiga jam lebih pagi, waktu ia bersemedi itu ia tak tahu kalau Boen ching dan pedangnya berada ditempat itu hanya tinggal buntalannya saja, ia segera tahu setelah terjadi sesuatu hal pada diri Boen ching dengan ter-buru2 ia pergi mencari.

Begitu shie chiau Nio berteriak.

Tong Hong Hek segera berhenti menyerang dan bertanya.

"Engkau masih ada perkataan apa yang akan kau katakan?"

Shie chiau Nio dengan dingin mendengus, ujarnya.

"Itu yarg bernama Boen ching telah terkena racun pukulanku, selain aku sendiri yang turun tangan menolongnya, h mm .. ia akan binasa tanpa tertolong lagi, kalau kau tidak percaya coba tengoklah "

Tong Hong Hek tertawa tawar, katanya.

"Kira nya inilah yang hendak kau sampaikan"

Si kelabang merah Shie chiau Nlo, nampak Tong Hong Hek mengandung maksud tak baik, tidak menunggu sampai dia

habis berkata, segera ujarnya dengan nada keras.

"Dia akan segera datang, engkau berani berbuat apa terhadapku?"

Sudah tentu Tong Hong Hek tahu siapa yang dikatakan dia oleh Shie chiau Nio itu, tentulah dia adalah seorang gila atau Pendekar Han Ing She TU Hoa.

ia sudah tahu selamanya Shie chiau Nio selalu mempunyai akal yang licik dan kejam, ia tertawa dingin, tubuhnya segera menubruk kearah Shia chiau Nio.

Shie chiau Nio menjadi terkejut, dia tahu kalau dirinya bukan tandingan dari Tong Hong Hek, kini hanya melawannya dengan mati2an.

Sekali lagi kedua orang itu saling menyerang dengan serunya.

Pukulan Tong Hong Hek bagaikan air bah yang datang menerjang terus menerus tanpa henti2nya, sedang pukulan si kelabang merah, panas dan mengandung hawa Yang sangat dingin dapat dibayangkan jika diantara dua orang itu terkena pukulan pihak lawan, apa yang akan terjadi pada dirinya tak akan dapat dibayangkan.

Shie chiau Nio yang menanti datangnya she TU Hoa, dengan sekuat tenaga ia menjaga setiap serangan yang ditujukan kepadanya, sehingga untuk sesaat tak dapat menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Dalam hati Tong Hong Hek juga merasa kuatir kalau She Tu Hoa datang, pukulannya dikerahkan bagaikan datangnya air bah, tak henti-hentinya melancarkan serangan-Sekejap mata saja ratusan jurus telah berlalu, tiba-tiba serangan Tong Hong IHek berubah, ia mengeluarkan ilmu simpanannya yang paling ampuh Jiet Goei hu ceng"

Atau bayangan matahari baru terbit, serangan tangannya lurus kedepan dan mengancam bagian bawah tubuh lawan, kemudian secepai kilat berubah mengancam kebagian tubuh atasnya.

Jurus yang baru saja digunakan itu selamanya belum pernah ia keluarkan, Baru saja Shie chiau Nio akan membuka serangan untuk menghalau datangnya serangan dari Tong Hong Hek, ia menjadi terkejut, ternyata serangan dari Tong Hong Hek itu hampir-hampir mengenai tubuhnya, kalau ia tidak dengan cepat melompat ke samping.

Tong Hong Hek tertawa dingin, ia menarik napas panjang-panjang, kedua telapak tangan segera beradu, tetapi ternyata tak mengeluarkan suara sedikitpun.

Kedua telapak tangan Shie chiau Nio telah berhasil ditempel oleh Tong Hong Hek dengan rumus yang "Melekat"

Kini baiknya kedua orang itu menjadi adu tenaga dalam.

Dalam hati Shie chian Nio menjadi terkejut, dengan lweekang yang dimilikinya sekarang ini jika dibandingkan dengan lweekang milik Tong Hong Hek.

ia masih kalah setingkat, tetapi kini dia bagaikan telah menunggangi punggung macan, kecuali jika ia dapat mementalkan tubuh Tong Hong Hek, kalau tidak entah bagaimana akhirnya dia sendiri juga tidak dapat membayangkan-Dua orang itu saling mengadu tenaga dalam, Shie chiau Nio merasa tenaga dalam lawan makin lama makin hebat, ia sudah merasa tak kuat lagi, keringat didahinya telah berubah menjadi asap putih dan mengepul keatas, sedang kedua kakinya melesak masuk kedalam tanah sedalam tiga dim.

Tong Hong Hek dengan sekuat tenaga menekan Shie chiau Nio, iapun mulai sangat berat, dalam hati diam-diam merasa terkejut.

Belasan tahun ini kemajuan ilmu silat Shie chiau Nio jika dibandingkan dengan belasan tahun yang lalu sungguh sangat besar perbedaannya, jika lagi beberapa tahun, bukankah dia akan lebih hebat dari pada dirinya?

Pada saat itu racun dari pukulan beracun Shie chiau Nio yang terdapat ditangannya, bukannya membantu dan malah

ada kemungkinan racun itu malah menyerang ketubuhnya sendiri.

Kini Tong Hong Hek benar-benar mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya untuk menekan Shie chiau Nio, sehingga ia tak kuat untuk menahannya lagi.

Pada saat yang kritis itu tiba-tiba muncul Pendekar Han Ing, She TU Hoa ditempat itu, matanya memancarkan sinar yang kaget memandang pada tengah kalangan, hal ini sangat aneh dan mengherankan baginya.

Boen ching nampak Pendekar Han Ing Seh Tu Hoa muncul pada saat-saat untuk mengakhiri pertempuran itu, hatinya diam-diam merasa terkejut, pikirnya.

"Seh Tu Hoa ini agaknya tidak akur dengan Tong Hong hek. lagipula ia adalah suami Shie chiau Nio, kini ia telah muncun di tempat ini, agaknya urusan hari ini sulit untuk diselesaikan-"

Pada waktu itum sebetulnya Shie chiau Nio telah mulai merasa bahwa racun ditelapak tangannya mulai naik ke atas dan balik menyerang tubuhnya, tetapi begitu nampak munculnya She Tu Hoa, semangat nya menjadi terbangun, sebaliknya Tong Hong Hek menjadi terkejut, kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Shie chiau Nio dengan sekuat tenaga dia balik menyerang sehingga dua orang itu bertempur dalam keadaan seimbang.

seh Tu Hoa selangkah demi selangkah jalan mendekati Tong Hong Hek.

nampak hal ini Boen ching menjadi terperanjat, teriaknya.

"Loocianpwee, tunggu sebentar"

Seh Tu Hoa yang nampak Boan ching juga berada ditempat itu, tiba2 tertawa terbahak2.

Tetapi begitu mendengar suara tertawanya berhenti ia bagaikan belum kenal pada Boen ching dan melanjutkan langkahnya menuju ke tubuh Tong Hong Hek.

Boen ching mana memperbolehkan, Seh Tu-Hoa masih menghampiri Tong Hong Hek.

ia tidak mengurus lagi tangannya yang telah mulai membengkak kerena terkena racun, badannya berkelebat dan berdiri tepat dihadapan Seh-Tu Hoa, ujarnya.

"cianpwee tidak dapat melukai Tong Hong-Hek cianpwee"

Seh Tu Hoa seperti tertegun mendengar perkataan Boen ching itu setelah termenung sejenak tangannnya secepat kilat mendorong Boen ching kesamping sedang tangan kanannya mencengkeram kearah punggung Tong Hong Pek.

Boen ching menjadi sangat terkejut, tangan kanannya telah terluka sehingga tak dapat digunakan lagi terpaksa dengan tangan kirinya ia mencabut pedang dan ditusukkan kearah Seh Tu Hoa.

Seh Tu Hoa segera balikkan tangannya mementalkan pedang Boen ching sedangkan tangan kanannya melakukan gerakkan memotong ke arah tubuh Boen ching, tetapi baru saja tangannya diangkat, ia seperti termenung sejenak gerakannya segera dirubah ia mengulurkan kakinya ke muka, tahu-tahu Boen ching telah dilemparkan sejauh tiga kaki lebih.

Begitu tubuhnya, terbanting diatas tanah, Boen ching segera sadar bahwa ilmu yang baru saja digunakan itu adalah ilmu "Thay Thien Kice Sih"

Atau ilmu Sembilan jurus jungkir balik, ilmu ini sungguh sangat hebat jika digunakan ditangan Seh Thu Hoa sendiri.

Tangan Seh Tu Hoa melanjutkan mencengkeram punggung "Tok Hong Hek, begitu punggungnya terkena cengkeraman Tong Hong Hek meraung kesakitan, kedua tangan nya ditarik kembali dan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk mengadu jiwa dengan Shie chiau Nio.

Snle chiau Nio begitu nampak seh Tu Hoa turun tangan membantunya, hatinya menjadi sangat gembira, tiba-tiba terasa suatu tenaga yang maha dahsyat menyerang ketubuhnya, ia tidak sempat mengerahkan tenaganya lagi, terasa dadanya sangat mual dan dari mulutnya muntah darah segar.

Baru saja dia menghantam setengah jalan, terasa punggungnya telah dicengkeram oleh Seh Tu Hoa sehingga badannya terasa menjadi kaku, sedang tenaga yang dikerahkan itupun balik menghantam dirinya sendiri, dadanya menjadi sangat panas, tak tertahan lagi iapun muntah darah segar.

Tangan Seh Tu Hoa segera melemparkan tubuh Tong Hong Hek ke tengah udara dan terbanting jatuh kira-kira dua kaki dari tempatnya tadi.

Pada saat ini wajah kedua orang itu menjadi pucat pasi, kiranya mereka berdua telah menderita luka dalam yang cukup parah.

Baru saja Seh Tu Hoa akan menarik pergi Shie chian Nio, dengan gusar ia menggelengkan kepala, ia tak berani buka mulutnya sebab luka dalamnya parah, setelah berhenti sejenak.

Seh Tu Hoa menariknya lagi untuk diajak pergi.

Tong Hong Hek melihat dua orang itu akan pergi menjadi kaget, tanpa hiraukan lukanya lagi segera ia berteriak.

"Tinggalkan obat penawarnya lebih dahulu baru pergi "

Habis berkata tak tahan ia muntahkan darah segar lagi.

Seh Tu Hoa memandangnya sekejap.

tetapi ia tidak ambil perduli tangannya menarik Shie chiau Nio lagi untuk diajak pergi.

Shie chiau Nio menarik napas panjang, dengan perlahan ia berkata pada Seh Tu Hoa.

"Bunuh mati Tong Hong Hek Itu yang bernama Boen ching mengetahui rahasia ilmu silat peninggalan Thian Jan Shu, bawa dia pergi"

Seh Tu Hoa menyapu pada Tong Hong Hek dan Boen ching, ia bagaikan tak mau berbuat pekerjaan itu, Shie chiau Nio melototkan matanya dan membentak.

Seh Tu Hoa bagaikan sangat jeri terhadap shie chiau Nio, tetapi pekerjaan ini sungguh-sungguh tak dapat mengerjakan, ia hanya menundukkan kepalanya tak berkata.

Shie chiau Nio membentak lagi.

"Engkau sudah dengar, belum ?"

Seh Tu Hoa per-lahan2 dongakkan kepalanya ia menyapu dua orang itu, dengan sangat perlahan dia berjalan mendekati Tong Hong Hek.

Meskipun jarak Tong Hong Hek dengan dua orang itujauh, tetapi semua perkataannya dapat ditangkap olehnya dengan sangat jelas, ia tertawa dingin, dengan pandangan yang menghina ia memandang Seh Tu Hoa.

Belasan tahun telah lewat ternyata Seh Tu Hoa masih tetap tidak menyesal, tetapi kini badannya telah menderita luka dalam yang cukup parah, apalagi dendam Seh Tu Hoa padanya adalah paling mendalam, dapat diduga hari ini tentu dia tidak akan dapat meloloskan diri dari maut.

-ooo0dw0ooo-PERJANJIAN DIPUNCAK PAK SEK BOEN CHING nampak Seh Tu Hoa mendesak Tong Hong Hek.

hatinya menjadi bingung, ia sendiri juga tidak mempunyai akal untuk menolongnya.

Pada saat itu, dari dalam hutan tiba-tiba terdengar suara bentakan yang sangat halus.

"Tahan "

Seh Tu Hoa tertegun dan menghentikan tindakannya, dalam hati Boen ching sangat terkejut dan gembira, segera ia menoleh memandang yang datang ternyata adalah suhunya yang telah melepaskan budi padanya, Ie Bok Tocu.

Ie Bok Tocu tetap memakai jubah panjang berwarna hijau, dengan wajah yang keren dia berdiri disana.

Boen ching dengan cepat berlari dan menghampirinya sambil memanggil.

"Suhu "

Selama sepuluh tahun ini Ie Bok Tocu sangat sayang pada Boan ching, ia tidak sampai hati melepaskan Boen ching merantau seorang diri didunia kangouw, maka setelah pemuda itu pergi, iapun lantas menyusulnya.

Sambil memegang pundak Boen ching dia memperhatikannya sejenak.

pada wajahnya timbul perasaan yang sangat gembira.

Tong Hong Hek nampak Ie Bok Tocu muncul dengan tiba-tiba, dalam hatinya juga gembira meskipun wajah Ie Bok Tocu agak kurusan, karena terlalu banyak merasakan penderitaan, tetapi masih tetap nampak kecantikannya.

Dia ter-mangu2 sajenak kemudian ujarnya.

"Sumoay. anak ini telah terkena racun."

Wajah Ie Bok Tocu segera berubah, matanya memandang tangan kanan Boen ching kemudian memegangnya, secepat kilat tangan kanannya mencabut pedang yang tergantung dipinggang Boen ching, kepada Shie chiau Nio bentaknya.

"Serahkan obat penawar itu"

Ketika berbicara wajahnya berubah menjadi sangat dingin, pada sinar matanya terpancar suatu pengaruh yang tak dapat dilawan-Seh Tu Hoa yang berdiri dipinggir termangu-mangu memandang Ie Bok Tocu, ia tak bergerak sedikitpun.

Boen ching pun berdiri ter-mangu2, kiranya Tong Hong Hek dengan suhunya adalah Suheng-moay.

Si kelabang merah, Shie chiau Nio meskipun sangat kejam tetapi dia tahu bahwa selamanya kakaknya itu sangat lemah lembut, belum pernah ia membentak-bentak dihadapan orang lain-Kini mendengar kakaknya membentak dirinya dengan suara keras.

hatinya tergetar, hampir saja ia menurut perintah yang diucapkan kakaknya itu dan mengeluarkan obat penawar tersebut, tetapi mana mau dia berbuat demikian, pandangannya segera menoleh memandang Seh Tu Hoa.

Seh Tu Hoa berdiri mematung disana, terhadap pandangan Shie chiau Nio seolah-olah tak melihatnya sama sekali.

Pandangan Shie chiau Nio berhenti sejenak ditubuh Seh Tu Hoa, ia mengetahui kalau dia kini sudah mempunyai rasa menyesal, dan kini sedang mengenang kembali masa2 yang telah lalu, sudah tentu ia tak dapat membantunya dan dirinya kini sedang menderita luka dalam, dengan perlahan ia merogoh sakunya dan mengeluarkan obat penawar, dengan dingin ia berkata.

"Kakak, sudah belasan tahun kita tidak bertemu, kini aku sedang terluka parah, kalau tidak ......"

Dia dongakkan kepalanya memandang Ie Bok Tocu tampak matanya memancarkan sinar ya sangat tajam sedang memandang kearahnya.

Hatinya menjadi jeri, perkataan selanjut nya ia tak berani melanjutkan, kemudian mengambil obat penawar itu dan dilemparkan kearah Ie Bok Tocu, segera Ie Bok Tocu menerima bungkusan obat itu dan palingkan kepalanya dengan lembut berkata.

"Anak ching, lekas telan obat itu". Hati Boen ching saking terharunya sampai meneteskan air matanya, ie look Tocu yang menampak sikap Boen ching yang

demikian itu ia tahu apa yang sedang dipikirkan olehnya, dengan tersenyum ia berkata.

"Anak ching, engkau sekarang sudah besar jangan menangis lagi."

Boen ching terasa singat terharu dengan menundukkan kepalanya ia menelan obat penawar tersebut.

Tong Hong Hek nampak sikap Ie Bok Tocu yang demikian lemah lembut terhadap Boen ching, wajahnya pada belasan tahun yang lalu terbayang lagi dihadapannya, dia menundukkan kepala membayangkan kembali peristiwa yang telah lalu.

Shie chiau Nio berjalan mendekati Seh Tu Hoa dan menariknya pergi tapi Seh Tu Hoa bagaikan orang gila ia melepaskan tangannya dari cekalan Shie chiau Nio kemudian tertawa terbahak-bahak dan lari masuk kedalam hutan, Shie chiau Nio termangu-mangu sejenak kemudian lari mengejar suaminya.

Ie Bok Tocu memandang dua orang itu sejenak kemudian kepada Tong Hong Hek ia berkata.

"Anak ching telah mendapat bantuan dari Suheng, aku kini akan membawanya pergi, lain waktu kalau ada jodoh kita dapat bertemu lagi."

Tong Hong Hek nampak Ie Bok Tocu akan pergi menjadi terkejut, dengan cepat katanya.

"Sumoay, tunggu aku sebentar."

Sebenarnya Ie Bok Tocu tak menginginkan Boen ching terlalu lama bergaul dengan suhengnya, ia tahu Tong Hong Hekpun jika turun tangan sangat ganas dan tak senang kalau Boen chingpun demikian, tetapi Tong Hong Hek telah membuka mulut memanggil nya, terpaksa ia berhenti bertindak.

Ujar Tong Hong Hek.

"Sumoay, anak Yun sudah ada kabarnya."

Ie Bok tocu termangu-mangu sejenak. kemudian dengan gembiranya ia bertanya.

"Kini ia berada dimana??"

Tong Hong Hek dengan tertawa menjawab.

"Aku juga karena urusan ini datang ke gunung Yi san ini. orang yang membawa pergi anak Yun waktu itu, sekarang berada di gunung Yi san ini."

Ie Bok tocu mengeluarkan suara tertahan, kemudian menundukkan kepalanya berpikir sejenak sambil mendongakkan kepalanya dia berkata pada Tong Hong hek.

"Aku sekarang masih ada urusan untuk diselesaikan, dapatkah suheng setengah hari lagi bertemu ditempat ini?"

Sambil tertawa ujar Tong Hong hek.

"Kalau begitu sampai jumpa lagi." , Ia tahu tentu Ie Bok tocu ada urusanpenting yang hendak disampaikan kepada Boen ching, habis berkata ia meninggaikan tempat itu. Sejenak kemudian ujar Ie Bok tocu.

"Anak ching, mari ikut aku"

Kedua orang itupun meninggalkan tempat itu.

cang Siauw Hong dengan puterinya nampak tokoh-tokoh Bulim yang telah lama mengasingkan diri ternyata muncul kembali dalam dunia kangouw, diam-diam menghela napas, delapan orang pembantunya ternyata telah dibunuh mati Shie chiau Nio dengan kejamnya, hati mereka menjadi putus asa, merekapun berangkat meninggaikan tempat itu.

Boen ching mengikuti Ie bok tocu berjalan menuju kearah timur, setelah mencari sesuatu tempat yang bersih dan rindang duduklah mereka diatas tanah.

Ie bok tocu memandang kesekeliling tempat itu dan ujarnya.

"Anak ching, banyak urusan aku tidak ingin engkau tahu, juga tidak ingin kau bertemu dengan mereka, maka aku tidak memberitahukan kepadamu, tapi sungguh tak disangka akhirnya engkaupun bertemu dengan mereka, sehingga membuat kau sangat bingung, kini aku akan menceritakan hal yang sebenarnya kepadamu."

"Dua puluh tahun yang lalu didalam Bu lim selain Thian Jan Shu yang memiliki ilmu silat yang paling tinggi sehingga mendapat julukan jagoan nomor wahid. Didaerah Sie Pak masih ada orang yang bernama "Tan coe coen"

Shie so Pak yaitu ayah dari Shie chiau Nio dan ie bok tocu, shie Yun Ku.

Ilmu kepandaiannya sangat tinggi orang aneh itu dari timur dan barat itu akhirnya bertemu juga dua orang itu siapapun tak mau mengalah kepada pihak lawannya mulai terjadi suatu Pibu ( Pertandingan persahabatan ) yang sangat dahsyat, Tan coe coen pada jurus yang keseribu telah melepaskan pedangnya mengaku kalah, Thian Jan Shu pun tertawa besar, ia menganggap Tan coe coen sebagai lawannya yang paling tangguh, kepandaian Tan coe coen sebenarnya hanya sedikit dibawah kepandaian Thian Jan Shu, ia berjanji akan mendidik beberapa anak muridnya untuk mengalahkan Thian Jan Shu, diapun menerima tantangan ini, dengan demikian dua orang itu lalu berpisah.

Tan coe coen tahu bahwa dengan kepandaian seorang saja sukar untuk mengalahkan Thian Jan Shu, tetapi ia tak mau begitu saja menyerah, pikirnya segera bekerja mencari akal.

Pada waktu itu Shie chiau Nio masih sangat kecil, berturut-turut ia menerima empat orang murid ditambah dengan Shie Yun Ku atau Ie Bok Tocu menjadi lima orang, kepada lima orang masing2 dilatih semacam ilmu silat, kemudian lima orang itu digabungkan menjadi satu dan membentuk barisan "Ngo Hong", sehingga kepandaian dari lima orang itu masing2 mempunyai keistimewaan sendiri, tetapi merupakan lawan pula dari ilmu silat yang lain.

Dia meskipun berpikir demikian, tapi kenyataan tak sama dengan apa yang diharapkannya, selama hidupnya ia paling sayang Shie Yun Ku, ia menyuruh ia memegang kedudukan "Ie Bok"

Atau kayu, tetapi "Sie Kiem"

Emas merupakan lawan dari kedudukan "Ie Bok"

Tersebut, ia berusaha keras agar muridnya yang keempat Pendekar Han Ing, Seh Tu Hoa menduga tempat kedudukan "She Kiem"

Itu, Seh Tu Hoa adalah seorang pemuda yang sangat tampan, jika dapat dengan Yun Ku melangsungkan pernikahan menjadi suami isteri hidupnya pasti akan bahagia, demikian pikir Tan coe coen-Seh Tu Hoa sejak kecil dibesarkan oleh Tan coe coen, dalam hatinya juga suka kepada Yun Ku, pada saat menjelang kematian Tan coe coen ia memerintahkan dua orang itu menikah.

Setelah kawin dua orang itu hidupnya sangat bahagia, karena pesan dari Tan coe coen sebelun meninggal, lima orang itu bersama-sama akan mencari Thian Jan Shu untuk menggunakan barisan "Ngo Heng Tin-mengalahkan nya.

Tetapi pada saat itu Shie Yun Ku sedang mengandung, sehingga niatnya gagal.

Pada waktu itupun Seh Tu Hoa mengalami pengalaman yang aneh sehingga berhasil mempelajari ilmu silat yang telah lama lenyap dari bu-lim yaitu "Thay Thien Kiee Sih", sedang tahun itu pula adik Yun Ku, Shia chiau Nio menginjak kedewasaannya, tetapi sifatnya sangat berbeda dengan sifat adik Yun Ku, Tan coe coen sewaktu masih hidup pun telah mengetahui akan hal ini, sehingga tidak mewariskan ilmu silat kepadanya.

setelah ayahnya meninggal, ia melihat Seh Tu Hoa sangat tampan apa lagi setelah mendapatkan ilmu "Thay Thien Kice Sih", kepandaiannya melampaui kapandaian tiga orang suhengnya, ia menjadi sangat iri kepada Yun Ku karena ia sangat disayang oleh ayahnya, sehingga ia selalu mencari urusan untuk bentrok dengan kakaknya itu.

Seh Tu Hoa setelah mendapatkan ilmu "Thay Thien Kice Sih"

Kepandaiannya menjadi sangat lihay, bukan saja tiga orang suhengnya bahkan semua orang Kangouw tak ada yang di pandang sebelah mata olehnya, darah mudanya selalu bergolak.

sehingga sering menimbulkan urusan-Ketika Ie Bok Tocu melahirkan ternyata adalah seorang puteri, Seh Tu Hoa menjadi kecewa, kemudian ia kawin lagi dengan adiknya Yun Ku, Shia chiau Nio, tiga orang suhengnya mengetahui hal ini menjadi sangat gusar, apalagi Tong Hong Hek.

sejak dahulu dia telah menaruh cinta pada Yun Ku, tetapi Tan coe coen telah menjodokan Yun Ku dengan she Tu Hoa sehingga ia tak dapat berbuat apa-apa.

Kini mendengar hal ini mana dia dapat menahan marahnya, tetapi niatnya dapat dicegah oleh Yun Ku.

Seh Tu Hoa menjadi lebih sombong, ia kira tiga orang suhengnya tak bisa berbuat apa2 terhadap dirinya, setahun kemudian, Shie chiau Nio melahirkan seorang putera yaitu pemuda berpakaian putih itu, sedang puteri Yun Ku telah lenyap.

Seh Tu Hoa menjadi lebih gusar, ia menyiksa Yun Ku setengah mati.

Tiga orang suhengnya menjadi tidak tahan dan keluar mencegah, tapi Seh Tu Hoa tak mengambil perduli Tong Hong Hek tak dapat menahan amarahnya yang telah lama disimpannya terus itu, segera ia turun tangan, tetapi dapat dikalahkan Seh Tu Hoa dengan menggunakan ilmu "Thay Thien Kice Sih"

Sehingga dia lebih tidak memandang sebelah mata kepada tiga orang suhengnya itu.

Akhirnya hal ini menggusarkan Toa suheng nya "Wu Sincoen-, cu chek ci Yun, tiga orang turun tangan ber-sama2 dan berhasil mengalahkan Seh Tu Hoa, sebenarnya dia akan membunuh mati, tetapi karena Yun Ku mohonkan maaf maka ia dilepaskan kembali.

Wu fu Sin cun dan Jie Suhengnya Lie Huc Yu Tu setelah menghela napas lalu tinggal pergi, sedangkan Tong Hong Hok

dengan gusar menusuk sekali pada tubuh Seh Tu Hoa baru pergi.

Shie Yun Ku pun pergi, karena akan mencari puterinya yang lenyap itu ia merantau kedaratan Tionggoa n dengan menggunakan nama Ie Bok Sincoen dan menggetarkan dunia Kangouw, tetapi tak ada hasilnya, kemudian dia dengar bahwa lenyapnya puterinya itu ada hubungan dengan Thian Jan Shu, sehingga dia naik kepuncak Hwee Ing untuk menemui Thian Jan Shu, tetapi ia datang terlambat, Thian Jan Shu telah binasa bersama-sama Thian San ciet Kiam, dan hanya tinggal Boen ching seorang.

Boen ching mendengar ceritera suhunya itu diam2 merasa gusar, kiranya adalah demikian, itu Seh Tu Hoa juga sangat keterlaluan, tetapi dia telah mewarisi dirinya ilmu "Thay Thien Kice Sih"

Itu, berpikir sampai disini hatinya agak menyesal. Ie Bok Tocu setelah bercerita, sambil tertawa katanya.

"Peristiwa ini sudah lewat lama sekali, engkau cukup untuk mengetahuinya saja dan tidak perlu banyak pikir."

Ia berhenti dan berpikir sejenak. kemudian lanjutnya.

"Seh Tu Hoa menduduki tempat kedudukan "Sie Kiem",jurus2 yang dipelajarinya semuanya adalah lawan dari Ie Bok Kiam Hoat, tetapi sewaktu ayahku masih hidup, ia pernah berkata bahwa "Kiem"

Meskipun menjadi lawan dari "Bok."

Dulu aku tidak mengira kalau kau sampai bertemu dengan mereka, sehingga tidak mewariskan padamu ilmu"

Huan ie Bok Kiam Hoat"

Ini hari aku akan mewariskan ilmu itu padamu."

Boen ching menjadi terperanjat, segera ia pusatkan pikirannya memandang Ie Bok Tocu, pedang ditangan Ie Bok Tocu sedikit bergerak dan ia memainkan "Huan ie bok Kiam Hoat,"

Jurus demi jurus dihadapan Boen ching.

Boen ching melihat bahwa "Huan Ie Bok Kiam Hoat"

Ini jika dibandingkan dengan "Ie Bok Kiam Hoat"

Jauh lebih aneh lagi, setiap gerakan dari tiap jurusnya berlawanan dengan Ie Bok Kiam Hoat, karena dia telah mempunyai dasar yang kuat dalam ilmu "Ie Bok Kiam Hoat"

Maka kini mempelajari "Huan Ie Bok Kiam Hoat"

Sekali lihat saja ia telah paham, setelah dua kali dimainkan oleh Ie Bok Tocu maka iapun telah memahami seluruhnya.

Ie Bok Tocu menyerahkan pedang itu kepada Boan ching, ia segera menirukan satu kali, ternyata tak ada salahnya, melihat hal itu.

Ie Bok Tocu menjadi sangat gembira tangannya sanbil memegang pundak Boen ching ia berkata.

"Jika engkau latih ilmu pedang ini hingga masak, tentu kau tak akan mengalami kesukaran lagi."

Sambil berkata ia memeluk Boen ching didalam rangkulannya sambil berkata.

"Anak ching, aku akan pergi, engkau harus selalu berhati-hati, jangan membuat suhumu tak tenteram"

Habis berkata ia melepaskan rangkulannya dan melayang pergi. Saking terharunya Boen ching hampir2 meneteskan air matanya. Tiba2 ia teringat perkataan Ie Bok Tocu yang mengatakan dan telah pesan.

"jangan menangis lagi,"

Ia mengedip-ngedipkan mata nya dan tertawa. Ditempat ini pula ia giat berlatih "Huan Ie Bok Kiam Hoat."

Dua hari telah berlalu Boen ching karena teringat janjinya kepada Hoa Suan dan saudara2nya dipuncak Pak Sek.

selama dua hari ini ia bersembunyi digunung Yi San untuk berlatih ilmu pedangnya.

Hari baru saja gelap.

dilangit sebelah Timur tampak bulan memancarkan sinarnya dan berjuta2 bintang yang berkelap-

kelip di angkasa.

Setelah membetulkan letak pedang nya lalu berangkatlah dia menuju kepuncak Pek sek.

Ia seorang diri dengan diam-diam menaiki pucak Pak Sek.

nampak diatas puncak itu penuh dengan batu karang yang sangat tajam, pikirnya.

"Giok liong, Hoa Goat Ku tidak menginginkan aku muncul, kalau aku paksa untuk munculpun malah menjadi tak enak, lebih baik menanti saat yang bagus baru bergerak, entah Tok Thian coen itu orang yang macam bagaimana, aku tentu akan tambah pengalaman dengan bertempur bersama dia."

Berpikir sampai disini, dia segera bersembunyi dibelakang suatu batu yang sangat besar.

Dua jam kemudian, bulanpun telah berada diatas kepalanya nampak dari kejauhan Ngo liong menaiki puncak itu ber-sama2, dia lihat wajah lima orang itu diliputi suasana yang tegang setelah memperhatikan keadaan batu-batu liar disekitar tempat itu, masing2 memeriksa senjatanya sendiri-sendiri Senjata yang digunakan lima orang itu berbeda-beda.

"chin Liong Su"

Atau Sitangan penyambar naga, ong Kong adalah seorang yang melatih ilmu pukulan, sehingga senjatanya adalah kedua belah telapak tangannya.

"Lu Yun Liong"

Atau sinaga menembus mega, cie chen menggunakan dua bilah golok lengkung yang satu panjang dan yang satu lagi pendek.

"Thiat Liong"

Atau si naga besi oei Pauw karena tubuhnya tinggi besar ia menggunakan sebilah pedang panjang sedang Siauw Hek Liong atau sinaga hitam, Hoa Suan menggunakan sebuah senjata cakar terbang.

Lima orang itu setelah memeriksa senjata masing2, kemudian memandang sekeliling tempat itu.

Angin gunung sepoi2 dan membawa suara siutan yang sangat tinggi dan tajam, wajah lima orang itu segera berubah.

Sebuah bayangan melayang naik kepuncak terdengar secepat kilat, begitu suitan berhenti di bawah sinar bulan yang redup2 Boen ching melihat orang itu memakai pakaian kasar dari kain blacu, rambutnya digulung seperti seorang toosu sedang wajahnya sangat pucat, dingin menyeramkan membuat orang yang melihatnya menjadi merasa ngeri dan takut.

chin Liong Su atau si tangan penyambar naga.

Ong Kang maju kedepan selangkah sambil memberi hormat ia berkata.

"Tok Thian coen cianpwee, kami lima orang bersaudara kini telah berada disini. Kalau hanya karena cianpwee menghisap darah manusia hingga terlihat oleh kami lima orang bersaudara, maka kalau disuruh mati kan itu namanya keterlaluan-"

Dengan dingin orang itu berkata^ "Tok Thian coen adalah suhuku, kalian masih belum mempunyai hak untuk menemuinya, kini ternyata kalian telah mengetahui rahasiaku, minta aku tak membunuh kalian juga bisa, tapi aku minta kalian bunuh diri dihadapanku sekarang juga"

"chin Liong Su"

Atau si tangan penyambar naga Ong Kang mendengar perkataannya menjadi tertawa besar, menyuruh mereka bunuh diri?

meskipun Tok Thian coen yang datang sendiripun mereka tak akan mau berbuat demikian, apalagi yang datang hanya muridnya saja, rasa takut yang tadi mencekam hatinya kini telah hilang sebagian, habis tertawa ujarnya.

"Jika menginginkan kami, lima orang bersaudara bersumpah untuk tidak membicarakan hal ini kita masih dapat menerimanya, tetapi menginginkan kami lima orang bersaudara bunuh diri, aku kira itu tak dapat kami lakukan"

Orang aneh itu wajahnya pucat bagaikan mayat dengan sangat dingin dia berkata.

"Kamu sudah pernah mendengarkan tidak nama "Thian Peh Tok ciu"

Atau sipunggung baja cakar beracun Mo cing? aku kira kalian akan mati lebih mengerikan jika tak mau menuruti perintahku"

Sitangan penyambar naga ong Kang mendengus yang datang ternyata adalab muridnya Tok Thian coen kepandaiannya tentu lebih rendah dari Tok Thian coen sehingga rasa jeri lima orang itupun makin berkurang mana bisa mengurus dia bernama siapa.

Tubuh lima orang segera bergerak dan mengurung Mo cing ditengah kalangan.

"Thiat Peh To cau"

Mo cing meskipun murid dari Si raja racun"

Tetapi kekejamannya jika dibandingkan kekejaman siraja beracun bagaikan tiap pohon lainnya buahnya, kini nampak lima orang itu tidak mau menurut perintahnya, tangan kirinya segera diangkat, dengan menggunakan kukunya yang panjang ia menyerang kearah ong Kang.

ong Kang nampak lima jari kuku Mo cing itu berwarna hijau ke hitam2an, hatinya menjadi jeri ia tahu tentu mengandung bisa yang sangat lihay, ia tak berani menerima, segera mengundurkan diri sinaga hitam Hoa Suan mengeluarkan suara bentakan, senjata cakar terbang yang ada ditangannya dilempar kan keluar mengarah jalan darah cie Tang To"

Dipunggung Mo cing.

Mo cing selain darah terpenting dipunggungnya karena racun yang dilatihnya balik menyerang dibadannnya maka mem-buat kulitnya makin kebal terbadap senjata tajam macam apapun, dengan dingin ia tertawa.

badannya sedikit miring tangan kanannya mencakar ke ubun2 Ong Kang.

Kedua kapak oie Pauw disertai dengan kain yang keras membabat kearah punggung Mo cing.

Senjata cakar terbang Hoa Suan mengenai punggung Mo cing tetapi dia tak merasakan apa2, Ong Kang yang diserang ubun2nya dengan sekuat tenaga melompat kesamping tetapi

bajunya sebelah kiri bagian atas telah sobek terkena cakaran Mo cing itu.

Kapak oie Pauw dengan tepat mengenai Mo cing, dia hanya mendengus, badannya tak bergerak sedikitpunjua, dia tetap mengejar kearah ong Kang.

Ho Goat Ku terkejut, membentak pedang di tangan kanannya dengan disertai angin sambaran yang tajam mengancam jalan darah "

Liang Tai To"

Dipunggung Mo ching.

Serangan pedang ini memaksa Mo cing untuk balikkan tubuh menangkis serangan pedang itu, sepasang golok cie chen bersama-sama menyerang, yang satu mengancam mata Mo cing sedang yang lain mengancam bawah tubuhnya memaksa dia untuk menarik kembali serangan dengan menggunakan cakarnya itu.

ong Kang segera berteriak.

"lblis ini tak takut terhadap senjata tajam, serang jalan darahnya"

Hanya dalam segebrakan ini, lima orang bersama-sama menjadi terkejut, si punggung baja cakar beracun ini ternyata kepandaian nya sangat tinggi, sehingga tak mempan terhadap segala senjata tajam.

Boen ching yang menonton disamping juga merasa terkejut, kegesitan dari Mo cing itu bukanlah tandingan dari lima orang itu, ini hari ternyata lima orang itu telah menemui batunya.

Mo cing menjerit melengking sambil tertawa dingin, dia karena racun yang dilatihnya membalik menyerang tubuhnya membuatnya tak mempan terhadap segala macam senjata, tetapi waktu racun itu menyerang tubuhnya, dia harus menghisap darah manusia untuk menahan penderitaan itu, persoalan ini se-kali2 tak boleh sampai tersiar didunia kangouw, karena kalau tidak meskipun kepandaiannya tinggi sekalipun, tentu tak dapat menahan kerubutan dari jago2 aliran murni, maka dia harus membunuh mati lima orang itu.

Sepasang cakarnya bagaikan angin kencang menyerang kearah lima orang itu, lima orang itupun segera membentuk barisan "Ngo Liong Tin"

Atau barisan lima naga sedangkan seluruh jurus serangannya yang dilancarkan semuanya mengancam kejalan darah penting ketubuh Mo cing.

badan Mo cing bergerak secepat kilat bergilir menyerang kearah kelima orang itu sehingga Hoa Suan yang didesak Mo cing menjadi sangat gusar, dengan gusar ia membentak tangannya berturut-turut melepaskan lima buah plat baja dengan jurus "Han Po SheeJiet"

Atau ombak dingin melawan matahari, dari bawah terus mengancam atas tubuh Mo cing Mo cing tertawa dingin dengan kepandaian yang dimilikinya sekarang ini mana ia takut terhadap beberapa plat baja itu.

Tetapi dalam hati ong Kang dan kawan-kawan nya menjadi gembira, empat orang bersama-sama maju menyerang Mo cing, pikirnya kali ini meskipun tak dapat melukaimu paling sedikit juga dapat memaksa engkau berada di bawah angin.

Mo cing segera balikkan tubuh dengan pungungnya ia menerima lima buah plat baja itu, meskipun seluruh plat itu mengenai tubuhnya tetapi dia tak merasa apa-apa, sepasang Cakarmya melancarkan serangan mencakar pedang ditangan Hoa Goat Ku, sedang cakarnya yang lain memaksa mundur tiga orang lainnya, Hoa Sua n terkejut senjatanya melancarkan serangan mengan-camjalan darah dipunggung Mo cing.

Mo cing membalikkan tangannya merebut pedang Hoa Goat Ku kemudian dilemparkan kearah Hoa suan, sedang cakarnya menyerang lagi dan mencengkeram tangan Hoa Goat Ku.

Hati Hoa Suan menjadi kaget, serangan pedang ini dilakukan dengan sangat cepat dan kencang, dia mau tak mau harus menghindar dengan cepat ia miringkan tubuhnya dan menghindari serangan pedang itu.

ong Kang tampak Hoa Goat Ku dalam keadaan bahaya, hatinya menjadi terpera n-j at, tanpa perduli akibatnya lagi, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Mo cing.

Wajah Hoa Goat Ku menjadi sangat pucat dengan sempoyongan ia menghindari cakaran ini tetapi meskipun karena serangan ong Kang itu.

Mo cing dipaksa mundur selangkah kebelakang, tetapi cakarnya yang menyarang dirinya tak sempat ia menghindarinya, apalagi waktu itu tiap orang sedang menolong dirinya sendiri-sendiri hingga tak dapat turun tangan menolongnya, tangan kanannya segera terkena cakaran Mo cing hingga robek.

darah mengalir keluar membasahi bajunya sedang tempat luka itu segera berubah menjadi hijau kehitam-kehitaman.

Mo cing sekali lagi mencakar empat orang lainnya tak sempat menolong membuat mereka sangat terkejut kelihatannya kali ini ong Kang akan binasa ditangan Mo cing yang melihat hal itu menjadi tak tega ia bersuit panjang, pedangnya bagaikan kilat menyerang Mo cing dan mengancam jalan darah "Nan Hu To"

Dibelakang batok kepalanya.

Mo cing merasa ada musuh tangguh yang menyerang dirinya dengan terburu-buru balikkan badan dan melakukan serangan pedang Boen cing berputar diudara kemudian di tarik kembali, sedang badannya pun melayang turun ke tanah.

Wajah ong Kang mundur dengan sempoyongan, ia mundur kebelakang Hoa Goat Ku memungut pedangnya kembali dan berdiri berjaga-jaga, lima orang itu melihat oug Kang mundur dengan sempoyongan tetapi tak seorangoun yang berani memayang nya, musuh tangguh didepan mata, mana dapat memecahkan perhatiannya.

Boen cing nampak kepandaian Mo cing tidak dibawah Shie chiau Nio, ia mana berani memandang ringan segera memusatkan perhatiannya menghadapi musuh.

Hoa Goat Ku nampak Boen ching muncul pada saat yang kritis dan menolong jiwa ong Kang dalam hatinya menjadi terkejut.

Kepandaian Mo cing yang sangat tinggi itu sebelumnya belum pernah ia lihat dan kini Boen ching tiba-tiba muncul disana belum tentu ia dapat membereskan urusan ini malah mungkin jiwanyapun akan melayang.

Mo cing sejak tadi menerima serangan pedang dari Boen ching, ia sudah mengetahui bahwa kepandaian Boen ching jauh lebih tinggi dari lima orang bersaudara itu, dia tertawa dingin, dengan cakar beracunnya itu ia menerjang Boen ching.

Kaki kiri Boen ching mundur selangkah kebelakang, pedang ditangannya diputar dan ditusuk kearah dua mata Mo cing, empat naga lainnya juga bersama-sama melancarkan serangan dengan demikian lima orang itu kembali mengerubuti Mo cing lagi.

Mo cing melancarkan serangan bagaikan kilat, tangannya mencengkeram pedang ditangan Boen ching.

Diserang secara demikian Boen ching menjadi terkejut, kedua kakinya melancarkan serangan berantai mengancam tujuh buah jalan darah terpenting dibadan Mo cing, pada saat itu serangan empat nagapun telah sampai, karena terdesak Mo cing menjadi gusar, badannya berkelebat menghindari serangan gabungan dari lima orang itu, setelah badannya mencapai tanah dengan sekuat tenaga ia menerjang kearah lima orang itu.

Ketika mata Boen ching melirik ke samping, nampak ong Kang sedang duduk semedi, hatinya menjadi lega, segera maju kedepan dan mengerubuti Mo cing.

Mo cing nampak jurus pedang yang digunakan Boen ching sangat aneh, lagi pula sangat hebat, membuatnya diam2 sangat terkejut dan gusar, tangan kanannya merogoh kedalam pinggangnya, terdengar suara nyaring, sebuah

bayangan hitam melompat keluar memaksa lima orang itu mundur kebelakang sampai lima meter jauhnya.

Ketika mata lima orang itu memperhatikan, hatinya menjadi terkejut, ditangan Mo cing terdapat sebuah pedang lemas berwarna hitam gelap yang panjangnya kira-kira lima meter.

Tangan kanan Mo cing sedikit bergetar, pedang hitam itu menjadi lurus dan menyapu ke arah lima orang itu.

Suatu angin yang sangat keras dan tajam menyambar datang, lima orang itu, satupun tak ada yang berani menangkis dengan keras, dengan demikian bagaikan kilat Mo cing segera mengincar Ho Goat ku yang kepandaiannya paling rendah pedangnya mengancam kearah tubuh Hoa Goat ku.

Boen ching nampak Mo cing telah mengeluarkan pedang anehnya itu, pikirnya tentu hari ini tak dapat terhindar dari suatu pertempuran yang amat seru, kini nampak Hoa Goat ku dalam keadaan berbahaya, empat orang segera maju untuk menolong.

Mo cing melancarkan serangan pedangnya mendesak majunya empat orang itu, sedangkan tangannya yang satu mencengkeram pedang ditangan Hoa Goat ku.

ong Kang yang duduk bersemedi dipinggir, merasa darahnya yang mengandung racun itu tak dapat ditahan lagi, sungguh racun dari cakar beracun bukanlah nama yang kosong, dia tahu kalau dirinya tak ada harapan untuk ditolong lagi, mati sekarang lebih baik daripada mati nanti badannya melayang dan menubruk kearah Mo cing ini sebenarnya akan ditujukan pada Hoa Goat ku, tapi nampak ong Kang menubruk ke arahnya, cakar kirinya segera melancarkan serangan, lima jari tangannya dengan cepat menancap keperut ong Kang.

ong Kong meraung kesakitan, kedua matanya melotot keluar sedang kedua tangannya melancarkan serangan terakhir ke dada Mo cing.

Tangan Mo cing segera ditarik keluar dan menarik seluruh isi perut ong Kang, tetapi

diapuntak dapat menghindari serangan terakhir dari ong Kang itu, serangan itu menggetarkan seluruh tubuhnya dan memaksa dia mundur sempoyongan sebanyak dua tindak.

segera ia melemparkan mayat ong Kang sejauh dua kaki lebih.

Lima orang lainnya menjadi terkejut, kesemuanya itu hanya berlangsung dalam sekejap mata saja, seorangpun tak ada yang dapat turun tangan memberi bantuan-Si naga besi oei Pauw biasanya adalah paling baik hubungannya dengan ong Kang nampak toakonya mati dengan sangat mengenaskan, kedua matanya menjadi merah, dengan gusar ia meraung, kedua kapaknya diangkat dan menubruk ke arah Mo cing untuk mengadu jiwa dengannya.

Dua telapak tangan cakar beracun Mo cing begitu bertemu dengan darah panas membuat seluruh tubuhnya menjadi panas sekali, keinginan untuk menghisap darah membayangi lagi dalam hatinya, meskipun pukulan ong Kang tepat mengenainya, tapi luka tidak begitu parah, nampak oei Pauw menubruk padanya, ia segera bersuit keras dan menggoyangkan pedangnya keatas tanah, sedang tubuhnyapun turut menubruk maju memapaki tubuh Oei Pauw..

Sisanya empat orang nampak Oei Pauw menubruk maju kearah Mo cing, mereka juga mengikuti maju kedepan-Mo cing merendahkan sedikit tubuhnya, kedua kapak Oei Pauw dengan tepat mengenai punggungnya, kedua tangannya segera menyambar dan mencengkeram kedua tangan oei Pauw, sedang mulut mereka menggigit leher Oei Pauw kemudian mulai menghisap darahnya.

chie chen dengan goloknya menyambar ketubuh Mo ching, tetapi Mo ching telah memutarkan tubuhnya sehingga sepasang goloknya malah menancap ditubuh Oei Pauw seluruhnya.

Hoa Suan kakak beradik meskipun pukulannya tetap mengenai tubuh Mo ching, tetapi semuanya bukan merupakan tempat yang penting, Boen ching melayangkan tubuhnya, dengan pedangnya dia mengancam sepasang mata Mo cing, melihat dirinya diserang oleh Boen ching, dalam hatinya merasa agak jeri, satu tangannya segera melepaskan tubuh Oei Pauw dan menangkis tusukan pedang Boen ching itu.

Boen ching segera menarik kembali pedangnya, sepasang kakinya melancarkan tendangan berantai, baru saja Mo ching akan menghindari tetapi sungguh tak disangka oei Pauw yang dicengkeramnya itu masih belum putus napasnya, ia mempunyai badan yang tinggi kekar, gigitan Mo ching dileheroya hanya mengenai nadinya saja dan belum sampai memutuskan jalan pernapasannya, ia meronta sekuat tenaga dan membacok kearah Mo ching yang tepat mengenai tangan kirinya, Mo ching yang terkena bacokan, giginya segera dirapatkan sehingga membuat Oei Pauw tergigit mati, tetapi serangan tendangan berantai Boen ching telah tiba, tiga kali serangan tendangan berantai Boen ching dengan tepat mengenai tubuh Mo ching sehingga membuatnya mundur sempoyongan sebanyak tiga tindak dan membuang ma oei Pauw ketanah.

cie chen, Hoa Goat Ku dan Aoa San nampak 0ei Pauw mati demikian mengerikan, hatinya menjadi sedih bercampur gusar, mereka semua bersama-sama menubruk kearah Mo ching.

Mo ching yang luka parahpun menjadi kalap.

ia memungut kembali pedang hitamnya dari tanah, dan disabetkan kearah empat orang tersebut.

Tubuh Boen ching melayang bagaikan elang raksasa menyambar kearah Mo ching, sedang cie chen Hoa Goat Ku dan Hoa Suan bagaikan macan yang terluka menubruk maju.

Pedang Boen ching segera disabetkan melintang ketubuh Mo cing sedang cie chen melompat menubruk kedepan, golok lengkung diatas tangan kanannya

yang mengenai tubuh Mo cing segera terpental balik, cepat2 ia menghindar, tapi tangan kanannya tetap mengenai bacokan pedang pihak lawan, luka pedang itu dalam sekali hingga mengenai tulangnya, ia merasa tangan kanannya menjadi kaku dan gatal-2 mukanya menjadi berubah, ia tahu pedang Mo cingpun dipolesi racun, ia tak banyak berpikir tiada gunanya, tangan kirinya segera diputar, golok lengkung itu bagaikan kitiran membacok kearah Mo cing.

SETELAH pedang Mo cing berhasil membacok dan melukai tangan kanan cie chen, sungguh tak terkira olehnya kalau serangan Boen ching datangnya sangat hebat, ia tak dapat membacok Boen ching cepat menarik pedangnya dan mundur kebelakang.

Boen ching segera mengerahkan ginkangnya "Hai Sie Yu Soh"

Atau terbang melayang bermain serat mendekati tubuh Mo cing dan melancarkan serangan jarak dekat.

Mo cing yang nampak gerakan Boen cing ini menjadi terkejut pikirnya, orang ini dapat menggunakan ginkang semacam ini, sudah tentu mempunyai hubungan yang sangat erat denkan Tan coe coen, orang tua itu buka nian merupakan makanan yang empuk.

ia tak tahu kalau Tan coe coen sudah lama meninggal.

Segera tangan kirinya menyambar dan mencengkeram pedang Boen ching.

Si naga menembus mega, cie chen segera mengangkat goloknya, badannya melayang dan menubruk kearah Mo cing.

Hoa Suan dan Hoa Goat Ku karena melihat Mo cing menarik kembali pedangnya tapi tak mengalami luka parah, pula melihat Boen ching mendesak mendekat, dua orang itupun menubruk maju.

Dengan gusar Mo cing bersuit dan pedang ditangan kanannya segera ditusukkan keluar sehingga mementalkan golok lengkung cie chen-

jurus ini ternyata sangat hebat dengan sekali tusukkan pedang saja telah membuat tubuh cie chen tertancap padasebuah batu besar dan binasa seketika itu juga.

Sedang tamgan kanan Mo cing diteruskan menyambar kearah Hoa Goat Ku kakak beradik.

Melihat hal ini Boen ching menjadi terperanjat pikirnya.

Jika terus menerus begini, kita berenam pasti akan terbunuh ditempat ini."

Pedangnya segera diputar dan melancar kan serangan untuk menyambut cakaran tangan Mo cing yang telah tiba dan mengancam dirinya, sedang tubuhnya mendesak mendekati lawan dan tangan kirinva menotok jalan darah.

"cie hun To"dibawah dada Mo cing. Hoa Suan juga tak tinggal diam, sambil membentak ia menggerakkan tangan kanannya untuk menyambar sepasang mata Mo cing. Tangan kiri Mo cing mencengkeram kearah pedang Hoa Goat Ku dan mendorongnya ke arah Hoa Suan sambil melepaskan pedang itu tangannya berganti menyambar pundak Hoa Goat Ku. Melihat datangnya serangan, Mo cing segera menggeser badannya kesamping sedang tangan kanannya digerakkan untuk merampas pedang ditangan Boen ching. Tetapi meskipun tangannya berhasil merampas pedang itu, tetapi jalan darah "cie hoen to"

Nya juga telah terkena totokan Boen ching.

jalan darah itu sekalipun bukan jalan darah yang penting, tetapi totokan itu cukup membuat badan Mo ching gemetar saking sakitnya.

Dengan sekuat tenaga Hoa Goat ku menghindar, tetapi pundaknya urung saja terkena pula serangan tangan Mo cing sehingga pedang ditangannya berganti arah dan melukai tangan kiri Hoa Suan-Tanpa menghiraukan tangan kiri yang terluka Hoa Suan meneruskan serangannya dan melukai wajah Mo cing.

Melihat pedang ditangan dapat dirampas oleh Mo cing dengan mudah, Boen ching menjadi terkejut bercampur gusar, segera ia menggerakan tangan dan kakinya dengan menggunakan satu jurus dari ilmu "Thay Thien Kioe Sih"

Ternyata dengan satu jurus saja ia dapat membuat Mo cing terlempar sejauh satu kaki lebih dan pedang yang baru dirampasnya itu terlempar jatuh.

Boen ching tidak berani berlaku lambat, kesempatan ini tidak dibuangnya dengan percuma ia segera mengejar dan melancarkan tujuh kali tendangan-Pada waktu melancar kan tendangannya itu, ia hanya tahu kalau Mo cing sudah terluka parah, dalam hatinya ia masih diliputi oleh perasaan gugup danjeri, sehingga diantara tujuh tendangan yang dilancarkan itu hanya lima tendangan saja yang berhasil mengenai sasaran dengan tepat.

Lima kali tendangan dari Boen ching membuat darah Mo cing bergolak, luka yang sudah parah makin bertambah para h.Jika ia tidak memiliki Lweekang yang tinggi sudah dapat dibayangkan ia tak akan lolos dari kematian.

Melihat serangannya mendapat hasil Boen ching jadi berbesar hati ia melancarkan serangan nya sekali lagi, Mo ching menjadi gusar sambil meraung dia melancarkan serangan dengan dua belah tangan nya, Boen ching tahu kalau lawannya itu telah terluka parah sehingga dengan tidak ragu-ragu lagi ia mengangkat kedua tangan nya untuk menyambut serangan itu.

Empat buah telapak tangan bertemu, terdengar suara yang menulikan telinga nampak dua orang itu masing-masing mundur sebanyak dua tindak.

Mo cing sadar kalau ini hari ia tak berdaya untuk mendapat kemenangan, terpaksa ia memungut kembali pedangnya dan melarikan diri kebawah gunung.

Sebenainya Boen ching masih kalah setingkat jika dibandingkan dengan Mo cing tadi telah membuat dia tergetar sehingga pusing kepalanya dan tak mampu untuk mengadakan pengejaran, terpaksa ia hanya melihat Mo cing melarikan dirinya dengan bebas.

Dengan perlahan Boen cing pertindak menghampiri Hoa Goat Ku kakak beradik yang berdiri dengan muka yang sangat pucat dan penuh air mata, matanya memandang sekeliling tempat itu, teringat olehnya pertempuran yang baru saja dilakukannya itu, dengan diam-diam ia menghela napas, air matanya menetes keluar, sejak meninggalkan leBokTo belum pernah ia mengalami pertempuran yang demikian mengerikan itu.

Sekonyong-konyong tubuh Hoa Goat Ku menjadi limbung dan jatuh keatas tanah, nampak hal ini dengan cepat Hoa Suan memeluk tubuh kakaknya itu dan membaringkannya keatas tanah, kiranya Hoa Goat Ku telah terkena racun yang sangat hebat, racun dari Si raja racun itu bukan saja cepat bekerjanya, bahkan tak ada obat untuk memunahkannya selain obat penawar dari Siraja racun itu sendiri, untung Hoa Suan hanya terluka pundaknya saja, sehingga tidak membahayakan jiwanya.

Melihat wajah Hoa Goat Ku yang diliputi oleh warna hitam, Boen cing tahu kalau dia telah terkena racun yang sangat lihay, membuat hatinya menjadi sangat berduka, sebenarnya dia memiliki sikap yang jantan dan tak mudah mengeluarkan air mata, tetapi kini demi nampak nasib Ngo Liong yang telah binasa tiga orang satu terkena racun dan yang satunya lagi terluka parah, mau tak mau membuat dirinya menjadi sangat berduka dan mengucurkan air mata.

Ia mendekati tubuh Hoa Goat Ku dan berjongkok disampingnya katanya.

"Nona Hoa, hari ini aku tak berhasil menyelamatkan kalian berlima, hingga membuat kamu sekalian mengalami nasib

yang demikian menyedihkan"

Dengan tersenyum jawab Hoa Goat Ku.

"Boen Siauw hiap janganlah kau bersedih hati, hari ini kau telah sudi membantu kami membuat kami merasa sangat berterima kasih.Jika bukannya ada Boen Siauw hiap disini, mungkin kami berlima telah binasa semuanya. Ini hari adikku dapat lolos dari kematian bahkan hanya terluka ringan saja, hal itu membuat aku sangat bersyukur"

Ia berhenti untuk memandang sekejap pada Hoa Suan, kemudian lanjutnya.

"Adikku sifatnya masih ke kanak2an, sebelum aku mati aku sangat mengharap Boen siauwhiap mau menerimanya dan menjaga dirinya"

Mendengar perkataan kakaknya itu, Hoa Suan menjadi sedih dan menangis tersedu-sedu hingga wajahnya penuh dengan air mata, sedang pada mulutnya tak dapat mengucapkan sepatah katapun-Melihat Hoa Goat Ku sebelum meninggal telah menitipkan adiknya kepada dirinya, hati Boen ching menjadi terharu dan menerima baik pesan terakhirnya itu.

Mendengar Boen ching telah menerima permintaan itu, Hoa Goat Ku menjadi sangat girang, sambil tertawa ujarnya.

"Didalam dunia kangouw saat ini tak ada seorangpun yang dapat menyamai kebaikan hati Boen Siauwhiap. meskipun dalam hidupku sekarang ini tak dapat membalas budimu, pada penitisan yang akan datang pasti akan kubalas."

Sambil menahan air matanya Boen ching menyahut.

"Aku dan saudara Hoa pasti akan berusaha untuk membalaskan dendam kalian berempat."

Hoa Goat Ku tertawa lagi, kepada Hoa Suan ia berpesan .

"Adik, untuk selanjutnya kau harus mendengar kata-kata dari Boen Siauwhiap.

aku telah menitipkan dirimu kepadanya, jadi kau harus menganggap Boen Siauwhiap seperti aku pula."

Hoa Sun hanya dapat menganggukkan kepalanya, sambil mendekap tubuh Hoa Goat Ku ia menangis sedih.

Sambil menghela napas dengan perlahan Boen ching berdiri dari memandang disekitar tempat itu, tampak mayat ong Kang cie chen dan oei Pauw menggeletak dipinggiran, sedang darah berceceran disekeliling tempat itu, belum lagi mengering.

Di antara ketiga orang itu kematian oei Pauwlah yang paling mengerikan karena tulang lehernya tergigit putus, sedang yang lain terkena racun-Racun dari Mo cing itujika dibandingkan dengan racunnya Si kelabang merah, Shie chiau Nio masih jauh lebih lihay beberapa kali lipat.

Pikirnya.

"Jika tadi aku tidak menggunakan jurus Thay Thien Kioe Sih, mungkin akupun mengalami nasib seperti mereka itu."

Sesaat Boen ching sedang membayangkan kejadian yang mengerikan itu.

Hoa Goat Ku telah menghembuskan napasnya yang terakhir.

Wajahnya telah berubah menjadi hijau kehitam-hitaman seperti halnya dengan ketiga naga yang lain-Melihat kakaknya telah meninggal, Hoa Suan segera menangis menggerung-gerung, Boen ching pun tak dapat menahan air matanya.

Tak lama fajarpun telah mulai menyingsing ternyata keenam orang itu telah bertempur melawan Mo cing selama setengah malaman-selesai mengubur jenazah keempat kawannya itu Boen ching dan Hoa Suan mulai mencari jejak Mo cing disekitar gunung Yi San itu.

Dua hari telah lewat akan tetapi mereka tetap tidak dapat menemukan jejaknya.

Karena takut jago2 dari tujuh partai besar datang untuk menangkapnya, Boen ching menyuruh Hoa Suan untuk turun gunung seorang diri terlebih dahulu, tetapi Hoa Suan menolaknya dan ingin tetap bersamanya, terpaksa Boen ching mengajaknya ber sama2 turun dari gunung Yi San dan melanjutkan perjalanannya menuju ke daerah Tionggoan.

-oo0dw0oo-IBLIS WANITA BERWAJAH CANTIK SETELAH keluar dari gunung Yi San, ternyata Boen ching dan Hoa Suan tidak menemui orang-orang Thian San Pay maupun orang-orang dari tujuh partai besar, sebelumnya Boen ching memang telah menyusun suatu rencana, dahulu yang memukulnya pertama kali adalah Bu Kie chie, Ciangbunjin dari Khong tong pay, dan kini untuk pertama kalinya pula dia akan naik ke gunung Khong-tong untuk mengacau disana.

ia berbuat demikian agar Bu Kie chie tahu rasa, sekalipun dia memiliki ilmu silat yang lihay.

Karena rencananya itu perjalanannyapun berubah menuju kearah barat.

Sementara itu, Hoa Suan telah membubarkan perkumpulan Ngo Liong Hweenya karena ia tak dapat memimpinnya seorang diri dan kemudian pergi mengikuti Boen ching kemana saja untuk melaksanakan pesan terakhir dari kakaknya itu.

Melihat hal itu, Boen ching juga tidak berbuat apa2, ia membiarkan saja Hoa Sun pergi mengikutinya.

setelah berjalan selama satu hari, tak tampak seorangpun yang menghalangi perjalanan kedua orang itu.

Pada hari kedua mereka telah sampai dikota Thay An, secara tak disengaja mereka telah bertemu lagi dengan Kong Sun Sek dan Pek Hian Ling.

Kedua orang itu pun merasa heran dapat bertemu dengan Boen ching ditempat itu, Pek Hian Ling yang nampak Boen ching segera menegurnya.

"Hei, ternyata kau juga berani datang kemari."

Melihat dua orang itu tidak bermaksud jahat, Boen ching menjawab sambil tertawa.

"Memangnya aku akan pergi ke Khong tong mengapa tak berani datang kemari."

Sementara itu Hoa Suan telah bersiap-siap untuk turun tangan apabila terjadi sesuatu. sembari tertawa Kong Sun Sek berkata.

"Sungguh besar nyalimu, aku siorang tua sangat kagum atas keberanianmu itu. Tetapi engkau harus tahu, orang-orang tujuh partai besar telah tahu bahwa engkau telah muncul didunia kangouw dan memiliki kepandaian yang sangat tinggi, kini mereka sedang mengatur sebuah rencana untuk menjebak mu."

Boen ching tertawa tawar, ujarnya "Dahulu sewaktu aku masih belum memiliki sesuatu kepandaian, mereka tujuh orang Ciangbunjin dari tujuh partai besar telah mengerubuti dan berusaha untuk membinasakan diriku karena mereka takut kalau-kalau aku membocorkan rahasia mereka"

"ooh, kiranya demikian, semula aku juga merasa heran, meskipun engkau adalah murid dari Thian Jan Shu, tetapi mereka adalah ketua dari partai aliran murni, perlu apa harus memcabut rumput sampai keakar-akarnya, tak tahunya engkau mengetahui rahasia ilmu silat peninggalan Thiau Jan Shu tapi itu bukanlah salahmu"

Boen ching mengerutkan alisnya dan berpikir.

"Ternyata orang-orang dunia kangouw semuanya telah mengetahui urusan ini, kini aku harus mengganti siasat, sekalipun suhu mengetahuinya kiranya juga tak akan menyalahkan diriku."

Kemudian sambil mendengus katanya.

"Ilmu silat peninggalan Thian Jan Shu terdapat pada tujuh buah Hioloo kuno itu dan ketujuh Hioloo kuno itu semuanya kini sudah di bagi rata oleh tujuh orang ketua partai besar."

Mendengar pernyataan Boen ching itu. Kong Sun Sek menjadi terkejut segera tanya nya.

"Engkau tadi bilang apa?"

Sehabis berkata tadi sebenarnya dalam hati Boen ching juga meraga agak menyesal karena telah berkata demikian, kini ditanya oleh Kong Sun sek. ia tidak menjawab, hanya sambil tertawa ia menambahkan.

"Terima kasih atas kebaikan locianpwe yang sudah tidak membikin susah diriku, jika ada jodoh dilain kesempatan kita, akan bertemu lagi."

Sehabis berkata demikian kedua kakinya mengempit perut kudanya dan melarikannya kedalam kota dengan diikuti oleh Hoa Suan.

Kong sun Sek masih berdiri ter bayang2 disana dan berkemak kemik seorang diri.

"Apakah semua perkataannya itu benar?"

Ia tidak mengetahui urusan itu sungguh2 terjadi atau tidak.

Kalau dikatakan sungguh terjadi, ia tidak percaya kalau ketua tujuh partai besar begitu tidak mengindahkan peraturan dunia kangouw, tetapi jika dikatakan tidak terjadi sungguh2, ia juga masih merasa sangsi karena kelihatannya Boen ching itu bukanlah seorang pembohong, karenanya ia lalu mengambil keputusan untuk bertanya sendiri kepada salah satu partai mengenai urusan tujuh buah Hioloo itu mungkin dari sana ia akan dapat mengetahui hal yang sebenarnya.

Kalau hal itu memang benar terjadi, dapat diramalkan kalau tujuh partai besar akan sukar untuk menghindarkan diri dari pertumpahan darah.

Kepandaian Thian Jan Shu pada masa ini di anggap sebagai yang nomor wahid tak ada seorangpun diantara orang2 Bulim dewasa ini yang dapat melebihi sepersepuluh dari kepandaiannya.

Dan kini jika dia telah meninggaikan kepandaiannya pada tujuh buah Hioloo kuno itu dunia kangouw pasti akan menjadi kacau balau karena tiap-tiap orang tentu akan berusaha untuk mendapatkan

peninggalan dari Thian Jan Shu itu,Jikalau jago2 dari Tionggoan dengan diikuti oleh orang-orang aneh dari luar lautan mengadakan serbuan untuk mendapatkan ketujuh buah Hioloo kuno itu dapatkah ketujuh partai besar menahan serangan gabungan mereka itu.

Pek Hian Ling yang melihat Boen ching telah pergi meninggaikan tempat itu menjadi teringat pada waktu ditinggal pergi seorang diri, olehnya kini sebenarnya ia berniat untuk memberi teguran tetapi dihadapan orang banyak dia merasa malu untuk mengungkit kembali kejadian itu.

Begitu masuk kedalam kota Boen ching dan Hoa Suan segera mencari rumah makan dan sesampainya pada suatu kedai makan mereka segera turun dari kuda mereka itu dan masuk kedalam, baru saja mereka mau bertindak kedalam rumah, pemilik kedai itu dengan terburu-buru lari keluar sambil berkata.

"Maaf tuan-tuan muda, tadi telah ada orang yang datang kemari untuk melarang kami menerima kalian, kedai kami sungguh2 tak berani menerima kalian berdua". Boen cing mengerutkan alisnya, sedang Hoa Suan sambil bertolak pinggang telah membentak pemilik kedai itu "Siapa yang berani melarang kedai ini menerima kami berdua?"

Pemilik kedai itu dengan wajah yang masam menjawab.

"Jika tuan muda masuk kedalam kedai kami. maka kedai kamipun tidak mempunyai harapan lagi untuk dapat dibuka terus"

Boen cing mendengus dengan perlahan.

"kiranya tujuh partai besar telah mengirimkan orang-orangnya keluar dan sebagian mestinya berada didalam kota Tai An ini, entah partai mana diantara tujuh partai besar yang telah mengajukan usul yang semacam ini, ternyata dengan kejam mereka telah menguasai dua kedai kecil, tetapi apakah

mereka juga menguasai sebuah rumah yang besar."

Kemudian kepada Hoa Suan ia berkata.

"Sudahlah adik Suan, Tak usah kau ribut2 dengan mereka, mari kita cari kedai yang lain"

Dalam hatinya sebenarnya Hoa Suan tidak mau, tetapi mengingat pesan terakhir kakaknya yang minta agar dia mau mendengar perkataan Boen ching terpaksa dia menurut dan naik keatas kudanya, kemudian katanya.

"Jika terus menerus begini, aku kira hari ini kita tak akan dapat bersantap"

Melihat kedua orang ini mau menurut dan berlalu, pemilik kedai itu segera mengucapkan beribu-ribu terima kasih.

Tak lama kemudian sampailah mereka disebuah rumah makan yang besar dan memakai merk "Lay Hong Lo"

Boen ching dan Hoa Suan segera turun dari kudanya dan bertindak masuk kedalam rumah makan itu, mereka segera disambut oleh seorang pelayan yang dengan hati2 melayani mereka dan mengantarkannya langsung keatas loteng.

Roen ching tidak merasa sesuatu yang aneh dalam rumah makan itu?

lain halnya dengan Hoa Suan yang sejak berusia lima belas tahun telah mengikuti kakaknya mengembara didunia kangouw, dalam hati nya ia merasa ada sesuatu yang tidak beres tingkah laku pelayan itu sangat mencurigakan dan agaknya tidak mempunyai maksud baik, setelah termenung sejenak ia berkata kepada Boen ching.

"ching toako, aku merasakan sesuatu yang agak tidak beres, apakah mungkin tujuh partai besar telah mengadakan persiapan untuk bertempur dengan kita?"

Jawab Boen ching sambil tertawa.

"Jika hal itu memang benar juga tidak mungkin akan terjadi disini. jika bertempur disini dan setelah itu mereka menggunakan orang banyak untuk mengerubuti kita, bukan

kali hal ini akan membuat nama mereka jatuh?

Mengapa mereka tidak mau mengundang kita ketempat lain yang lebih sepi?"

Hoa Suan merasa perkataan Boen ching itu benar juga, kemudian katanya.

"Tetapi aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres"

Mata Boen ching menyapu kesekeliling tempat itu dan berkata.

"Memang agaknya sedikit tidak beres. Diloteng yang demikian besarnya juga disiang hari, mengapa tidak terdapat lain-lain tamu selain kita berdua, semua ini memang agak aneh"

Hoa Suan juga memperhatikan keadaan yang tidak sewajarnya itu, setelah melihat kekanan dan kekiri ia berkata.

"Sungguh sangat aneh"

Sesaat kemudian pelayan itu datang kembali untuk menyajikan beberapa macam sayur-sayuran-Ketika pelayan itu hendak turun, Hoa Suan segera ia menahannya, dia berkata .

"Mengapa ditempatmu ini demikian sepinya dan tak ada tamu lain?"

Setelah ragu-ragu sejenak. pelayan itu menjawab.

"Tentang ini hamba tidak mengetahui dengan jelas bila tidak ada tamu yang datang kemari, kita juga tidak dapat berbuat apa-apa"

Mendengar jawaban itu, Hoa Suan menjadi heran dan kembali bertanya.

"Apakah biasanya juga demikian?"

Jawab pelayan dengan ragu-ragu.

"Kadang-kadang ... ."

Habis berkata begini ia turun dari loteng dengan buru-buru.

Hoa Soan masih merasa tidak puas dengan keterangan pelayan itu, melihat hal ini sambil tersenyum Boen ching berkata.

"Adik suan, marilah kita cepat-cepat bersantap dan sehabis itu kita juga harus pergi meninggalkan tempat ini. Tak perlu kita ikut campur dengan urusan orang lain"

Hoa Suan menyetujui pendapat itu, memang benar, jika lekas dapat meninggal kan tempat itu dengan terlebih cepat adalah lebih baik.

Baru saja mereka bersantap.

tiba-tiba bermunculan tiga orang gadis ditempat itu.

Kedatangannya yang sangat tiba-tiba itu sungguh mengejutkan kedua orang pemuda itu.

Kepandaian orang yang baru datang itu dapat dihitung tidaklah rendah, tetapi ada orang yang datang mereka ternyata tak merasa, membuat kedua orang pemuda itu terkejut bukan main-Gadis yang satu berjalan didepan dan dua gadis yang lain yang badannya menyerupai pelayan berjalan dibelakangnya.

Salah seorang dari pelayan itu tertegun sejenak demi nampak diatas loteng itu ternyata ada orangnya, tetapi dengan cepat kemudian berjalan mengikuti yang lainnya.

Wajah ketiga gadis itu sangat cantik, tetapi sesuatu hal yang membikin Boen ching merasa sangat heran adalah gadis yang pertama itu, jika dipandang dari samping wajahnya mirip dengan wajah suhunya, Ie Bok Tocu..

Gadis itu duduk dengan tenang dan tidak menghiraukan kedua orang lainnya yang berada di atas loteng itu.

Boen ching memandang wajah gadis itu dengan terpesona, semakin dilihat adalah semakin mirip dengan wajah gurunya, hal itu membuatnya duduk termangu-mangu.

Melihat keadaan Boen ching yang seperti orang kehilangan semangat itu, Hoa Suan menjadi bingung.

Gadis itu jika dilihat caranya naik keatas loteng itu, dapatlah dilihat kepandaiannya yang tinggi dan sukar diukur, ia menjadi kuatir, karena sikap Boen ching itu bukankah berarti mencari penyakit sendiri?

Baru saja ia membuka mulut untuk menyadarkan Boen ching, gadis itu mendahuluinya dan berkata kepada kedua pelayan-"Bunuh kedua orang itu"

Mendengar perintah sigadis disitu, saking terkejutnya Boen ching menjadi tersadar dengan sendirinya.

Hoa Suan juga tak kurang terkejutnya, gadis itu ternyata memiliki sifat-sifat yang kejam, baru saja membuka mulut sudah akan membunuh orang, entah siapakah gadis itu, Tiba-tiba ia menjadi bingung dan teringat sesuatu, jangan-jangan gadis ini adalah yang didunia kangouw terkenal dengan nama ^en Bian Lo Sat atau iblis wanita yang berwajah cantik.

Dia juga pernah mendengar berita dunia kangouw yang katanya telah muncul seorang gadis yang cantik, kepandaiannya tak ada yang melawannya, sedang kekejamannya juga belum ada yang menandinginya.

Mengingat hal itu, ia menjadi sadar dan tiba-tiba, kiranya tujuh partai besar tahu kalau iblis wanita cantik ini akan singgah disini, lalu menggunakan siasat meminjam tangan orang lain untuk membunuh orang.

Setelah menerima perintah dua orang pelayan itu bangun berdiri, kemudian bersama-sama melancarkan serangan kearah dua orang itu.

Boen ching jadi mengerutkan alisnya, mana dia mengetahui kalau seorang gadis itu berjulukan iblis wanita berwajah cantik, dia hanya berpikir mengapa orang ini demikian tak tahu aturan, hanya memandang wajahnya saja lantas akan dibunuhnya.

Sementara itu salah seorang dari pelayan itu telah melayangkan tubuhnya dan melancarkan serangan kearah nya.

Melihat gerakan dari pelayan itu, Boen ching segera tahu kalau kepandaiannya tak rendah, badannya segera bergerak.

bersama-sama kursinya yang didudukinya itu, ia menghindar kesamping hingga serangan itu tak mengenai sasarannya.

Hoa Suan juga sudah bangun berdiri dan menghindari serangan yang ditujukan kepadanya oleh pelayannya yang satunya lagi.

Melihat serangannya tak mencapai sasaran, kedua pelayan itu berniat untuk melancarkan serangan yang berikutnya.

Tapi baru saja mereka mengerahkan tenaganya, gadis itu tiba-tiba membentak dengan nada keras.

"Kembali"

Kedua pelayan itu segera meluruskan tangannya kebawah dan mundur kebelakang.

Kini Hoa Suan telah dapat memastikan, kalau gadis itu adalah yang disebut oleh orang2 kangow sebagai iblis wanita berwajah cantik.

Diam2 ia merasa khawatir meskipun Boen ching memiliki kepandaian yang tinggi, tapi mungkin masih belum dapat menandingi iblis wanita cantik itu.

Nampak si iblis wanita berwajah cantik itu berdiri dengan perlahan2.

Kini telah tahu kepandaian dua orang pemuda itu dan ia juga tahu kalau kepandaian Boen ching tidaklah rendah.

Kedua orang pelayannya pastilah bukan merupakan tandingannya, maka dari itu ia membuka mulut untuk mencegah kedua orang pelayan itu melanjutkan serangannya.

Si iblis wanita berwajah cantik itu membalikkan tubuhnya dan memandandang Boen ching dengan dingin.

Boen ching yang melihat dia membalikkan tubuh menjadi berdebar-debar jantungnya, seolah-olah mau melompat keluar.

Wajah gadis itu ternyata seperti pinang di belah dua dengan Ie Bok Tocu, jika bukannya gadis itu masih berusia

belasan tahun, tentu ia akan salah menganggapnya sebagai Ie bok Tocu.

Apakah gadis itu adalah puteri Ie bok Tocu yang telah lenyap pada tahun yang berselang?

Si iblis wanita berwajah cantik yang dipandang sedemikian rupa oleh Boen ching, menjadi ragu-ragu untuk turun tangan, dalam hatinyapun ia merasa sedikit tegang.

"Dapatkah nona memberitahukan nama nona kepadaku? cayhe sedang mencari seorang yang wajahnya sangat mirip dengan wajah nona sehingga terpaksa aku mengajukan pertanyaan ini."

Iblis wanita berwajah cantik itu malah balik bertanya kepada Boen ching.

"Aku tanya siapa namamu ?"

Suaranya sangat dingin sehingga membuat hati Boen ching menjadi berdesir bagaikan berada didalam sebuah gudang es. Boen ching menjadi berdiri ter-mangu2, pikirnya.

"Suhuku Ie Bok Tocu selamanya lemah lembut, tetapi sipatnya gadis ini ternyata sangat berlawanan sekali dengan sipat suhuku, dalam hatinya ia mulai merasa sedikit kecewa."

Kedua orang pelayan itu juga merasa heran biasanya kalau ada jago Bulim ditempat yang disinggahi nonanya, hanya dengan bangun kan tubuhnya lawannya pasti akan segera mati di tangannya.

tetapi kini ternyata nonanya telah melanggar kebiasaannya, malah menanyakan nama pihak lawannya itu.

Rasanya kalau iblis wanita berwajah cantik itu sudah bangun berdiri, lawannya tentu akan menjadi pucat pasi wajahnya karena ketakutan, mana ada orang yang seperti Boen ching berani memandangnya dengan cara demikian, apalagi sepasang mata Boen ching memancarkan sinar yang penuh dengan kegembiraan-Dia yang belum pernah dipandang orang sampai sedemikian rupa, tanpa merasa telah

membiarkan Boen ching untuk hidup sebentar lagi dan memandang nya hingga puas.

Hoa Suan yang berdiri disisi Boen ching berbisik dengan perlahan-"

Ching toako, dia adalah iblis wanita ayo kita cepat-cepat lari"

"iblis wanita berwajah cantik?"

Boen ching belum pernah mendengar nama semacam itu.

Hoa Suan menyuruh dia lari tentunya kepandaian gadis itu sangat tinggi, tetapi ia masih ingin memastikan gadis itu benar-benar putri Ie Bok Tocu yang telah lenyap pada dua puluh tahun berselang atau bukan-Kemudian sambil tertawa ia menjawab pertanyaan gadis itu.

"cayhe adalah Boen ching"

Dengan dingin gadis itu menyapu wajah kedua orang itu, sebenarnya dia juga tidak mempunyai keinginan untuk menanyakan nama Boen ching.

Kini dia sudah tidak mempunyai bahan percakapan lagi dan jalan satu-satunya baginya hanyalah membunuh Boen ching.

Tubuhnya segera bekelebat, sedang kedua tangannya melancarkan serangan ke arah Boen ching.

Boen ching mengira setelah mendengar namanya gadis itu tentu akan menyebutkan namanya juga, sungguh tak terkira dia malah melancarkan serangan kearahnya.

Melihat pukulan yang diarahkan kepadanya itu, Boen ching sudah dapat mengetahui kalau kepandaian gadis itu berada diatasnya, bahkan masih lebih tinggi beberapa kali lipat.

Dia juga tak berani ber laku ayal-ayalan, pedangnya segera dicabut keluar dari sarungnya, sambil menarik tangan Hoa Suan ia balas mendesak gadis itu.

Melihat jurus ilmu pedang Boen ching yang sangat aneh itu, iblis wanita berwajah cantik itu segera mendorongkan tangan kanannya dengan mendatar kearah

pedang Boen ching sedang tangan kirinya menotok jalan darah "cie chieh To"

Di dadanya.

Begitu iblis wanita berwajah cantik datang mendekat, sepasang mata Boen ching segera dapaC melihat sebuah tahi lalat yang terdapat pada dahinya.

Dia adalah orang yang harus diperhatikan olehnya, demikian pesan Ie Bok tocu dan ia tidak meragukan lagi kalau gadis dihadapannya itu adalah putri dari suhunya Ie bok Tocu.

Boen ching menjadi sangat gembira, sambil bergerak mundur ia berseru.

"Tahan"

Melihat dua kali pukulannya tidak mengenai sasaran dan melihat pula ginkang Boen ching yang sangat lihay, iblis wanita berwajah cantik itu mendengus dan melanjutkan serangannya tanpa memperdulikan seruan Boen ching, sambil menghindar serangan itu Boen ching berkata kepada Hoa Suan-"Adik Suan, jalanlah terlebih dahulu"

Mana mau Hoa Suan pergi dengan begitu saja, tangannya segera merogoh kedalam sakunya untuk mengambil panah terbangnya dan dengan berturut-turut melakukan serangan sebanyak tujuh kali dengan senjata rahasia itu.

Seketika itu juga diatas rumah makan "Lay Hong Lo"

Penuh dengan senjata yang beterbangan.

Melihat dirinya diserang dengan senjata rahasia, iblis wanita berwajah cantik itu menjadi gusar, kemudian tubuhnya berkelebat secepat kilat untuk mendesak kedekat Boen ching dan dengan tangan kosong ia mencengkeram pedang ditangan Boen ching.

Boen ching menjadi terkejut, kini ia telah tahu kalau gadis itu adalah putri dari suhunya, Ie bok Tocu, tentu ia tak dapat melawannya dengan menggunakan kekerasan, segera ia menggeserkan pedangnya kesamping untuk memghindari

cengkeraman itu, tetapi terlambat pedangnya telah berhasil dicengkeram oleh iblis berwajah cantik itu.

Sebenarnya iblis berwajah cantik itu juga sudah tahu kalau kepandaian Boen ching tidak rendah, maka ia tidak berani menggunakan kekerasan untuk merebut pedang lawannya, Tetapi kini setelah dibikin marah oleh kelakuan Hoa Suan, ia segera mengerahkan tenaganya dan dengan mudah dapat merebut pedang Boen ching.

Nampak keadaan yang tidak menguntungkan itu, sebenarnya Hoa Suan akan menghamburkan senjata rahasianya dengan jurus "Ha n Po Shie Jiet"

Atau ombak dingin melanda matahari, tetapi kini setelah melihat Boen ching dan iblis wanita berwajah cantik itu bertempur dalam jarak yang dekat, ia membatalkan niatnya itu karena takut kalau2 senjata rahasianya nanti mengenai sasaran yang salah.

Kelima jari tangan iblis berwajah cantik itu mencengkeram pedang Boen ching dengan kencangnya, sambil mengerahkan tenaga ia mencoba untuk merebut pedang itu, tetapi usahanya itu tidak berhasil sementara itu kedua kaki Boen ching telah melancarkan tendangan-tendangan cepat, tetapi dengan sedikit miringkan tubuhnya iblis berwajah cantik itu berhasil menghindari serangan itu kemudian dengan datar tangannya disabet kan kedada Boen ching.

Melihat jurus yang sangat berbahaya dan ganas itu, dengan terpaksa Boen ching membuang pedangnya dan meloncat kebelakang.

iblis wanita berwajah cantik itu tidak berhenti sampai disitu, sambil membentak ia menubruk kearah Boen ching, tangannya melontarkan pedang yang baru saja direbutnya itu kearah Hoa Suan, Boen ching jadi sangat terkejut, pedang yang dilontarkan kearah Hoa suan itu sedemikian cepatnya, belum pasti Hoa suan dapat menghindarinya, tangan kirinya segera memukul miring pedang itu, tetapi serangan iblis

wanita berwajah cantik itupun sudah tiba, maka ia terpaksa menggunakan tangan kanannya untuk menangkis.

Diluar dugaannya, serangan iblis wanita berwajah cantik itu dilakukan sangat cepat sekali sehingga matanya menjadi kabur dan tahu2 tangan kanannya telah kena dicengkeram olehnya.

Sambil mengerahkan tanganya dengan tangan kiri Boen ching melancarkan serangan ke arah iblis wanita berwajah cantik itu.

Tetapi bila ia melihat wajahnya yang sangat mirip dengan suhunya, Ie Bok Tocu, hatinya menjadi lunak kembali dan serangan itupun dirubah arahnya, sehingga hanya mengancam pergelangan tangannya saja.

Melihat Boen ching ragu2 untuk melancarkan serangan, dalam hati gadis itu merasa heran dan ragu2, segera tangannya disentakkan hingga Boen ching tersertak maju dua tiga langkah kedepan-Hoa Suan yang melihat Boen ching dengan mudah dikuasai lawan karena harus memusatkan perhatiannya untuk menyelamatkan dirinya, segera majukan badannya uutuk melancarkan serangan kearah punggung iblis wanita itu.

Gadis itu tidak menjadi gugup, tangannya segera menarik Boen ching untuk menahan serangan Hoa Suan itu.

Ketika tubuhnya ditarik menahan serangan itu, dengan secepat kilat Boen ching melancar kan tujuh kali tendangan-iblis wanita berwajah cantik itu yang kini menghadapi dua oraug lawan segera menggerakkan tangan kanannya untuk melemparkan tubuh Boen ching sehingga terlempar kesebuah tiang yang berada didekatnya.

Tubuh Boen ching segera melengkung dan kemudian menegak untuk menghindarkan dirinya dari tubrukan dengan tiang itu, sementara itu iblis wanita berwajah cantik itu juga sudah mengundurkan diri kebelakang.

Hoa Suan yang melihat Boen ching selamat dan tidak kurang suatu apapun, menjadi lega dan tidak berani maju mengejar iblis wanita itu lagi.

iblis wanita berwajah cantik itu heran, mengapa Boen ching tidak berani melancar kan serangan dengan sungguh2, padahal jika dilihat dari tingkat kepandaiannya, meskipun belum dapat menandingi dirinya, tetapi dengan dua orang maju bersama juga belum tentu dirinya dapat mengalahkan mereka dalam waktu singkat.

Tetapi kenyataannya dia telah berhasil menawan Boen ching hanya dalam tiga gerakan saja.

Setelah berhasil berdiri tegak.

Boen ching merasa pergelangan tangan kanannya sangat kaku dan linu, ketika ia menundukkan kepalanya untuk melihai tampaklah pergelangan tangannya terdapat bekas lima jari tangan yang berwarna merah, ia merasa bersyukur karena tangan si-iblis wanita berwajah cantik itu tidak mengandung racun.

Sambil tersenyum manis iblis wanita berwajah cantik itu melancarkan serangan lagi kearah Boen ching, kaki kiri Boen ching segera mundur kebelakang selangkah dan sambil melancarkan ilmu pukulan "Sie Liu Eng Hong"

Atau pohon liu menahan angin untuk menahan serangan lawan, ia berseru kepada Hoa Suan-"Adik suan lekas pergi"

Sambil tertawa dingin iblis wanita berwajah cantik itu membentak.

"Hm...jangan kamu kira dapat meninggalkan tempat ini dengan mudah"

Tubuhnya bergerak maju dan mendesak ke arah Hoa Suan, sedangkan angin pukulannya mengancam sekeliling dua orang pemuda itu.

sehingga tidak memberikan kesempatan sedikit pun kepada Hoa Suan untuk melarikan diri.

Walaupun dua orang pemuda itu telah bersama-sama mengerubuti iblis wanita berwajah cantik itu, tetapi mereka tetap dipaksa untuk berada dibawah angin.

Selama ini Boen ching tidak pernah memikirkan dengan cara bagaimana ia harus berusaha untuk mendapatkan kemenangan, matanya dengan tajam memperhatikan setiap

pukulan yang dilancarkan iblis wanita berwajah cantik itu, sedang dalam hatinya ia berpikir, dengan cara bagaimana ia berusaha agar gadis itu mengerti akan asal usul yang sebenarnya.

Dalam sekejap mata ratusan jurus telah berlalu, iblis wanita berwajah cantik itu nampak jurus yang dilancarkan Boen ching itu sangat aneh, untuk sejenak ia tak dapat memunahkannya, tanpa terasa tubuhnya mundur maksudnya akan berganti dengan ilmu pukulan Boen ching yang nampak ia mundur ke belakang, hatinya menjadi bergerak dengan keras teriaknya.

"Siauw Ing."

Mendengar teriakan itu iblis wanita berwajah cantik itu jadi termangu-mangu dan berdiri mematung disana, selamanya tak seorangpun yang tahu akan namanya, tak terduga ini hari pemuda aneh itu yang belum pernah ia jumpai sebelumnya, ternyata dapat mengetahui dan memanggil namanya.

Boen ching nampak ibis wanita berwajah cantik itu bersikap demikian, dalam hatinya ia tahu bahwa kali ini dia tak salah terka, sambil tersenyum ujarnya.

"Nona Siauw Ing, ibumu sedang mencari mu"

Hoa Suan nampak dua orang itu berbuat demikian jadi terperanjat, pikirnya, kiranya Boen toako telah mengetahui nama sebenar nya dari iblis wanita berwajah cantik ini bahkan agaknya punya hubungan sesuatu yang luar biasa.

Biasanya ditempat mana saja, setiap orang yang bertemu dengan iblis berwajah cantik ini tak seorangpun yang wajahnya tak diliputi oleh rasa takut dan terkejut, kini ternyata pemuda aneh itu malah tersenyum terhadapnya, teringat olehnya ketika tadi Boen ching memandangnya dengan sinar mata yang aneh, hatinya menjadi berdebar, waktu bertempur tadipun Boen ching agaknya bertempur sungguh-sungguh tetapi hanya memandang kedua tangannya yang putih mulus itu sambil melamun, semua sikapnya ini sebelumnya tak

pernah ia rasakan, bahkan ia sendiripun merasa agak heran mengapa segala gerak gerik Boen ching itu ternyata tertera diotaknya sedemikian jelasnya.

Dia menjadi termangu-mangu berdiri disana sesaat kemudian tiba-tiba ia teringat akan perkataan yang diucapkan Boen ching "lbumu mencari kau?"

Dalam hatinya diam-diam merasa heran, hal ini mana mungkin bisa terjadi tapi pada mulutnya ia tetap bertanda.

"Dimana ?"

Boen ching yang melihat ia bertanya demikian, hatinya menjadi gembira, dengan tertawa sahutnya.

"Suhuku telah berusaha mencari kau selama belasan tahun lamanya, sekarang kalau tak salah masih berada digunung Yi San, tentulah berada disekitar tempat ini."

Iblis wanita berwajah cantik itu memandang wajah kedua orang pemuda itu sekejap. pada saat ini se-akan2 ia sudah tak dapat menurunkan tangan jahat lagi terhadap Boen ching, dengan tawar ujarnya.

Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 8

Baca Juga: Rase Emas Chin Yung

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert