Ceritasilat Novel Online

Misteri Kapal Layar Pancawarna 13

Eps 13 Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long

Baca online Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long

Cersil Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long.

"Karena siluman itu sudah memperhitungkan, aku takkan rela bila pit-kip itu dihancurkan, sebelum aku lihat dan membaca meski cuma selintas pandang saja pit-kip itu, sampai mati pun aku akan penasaran."

"Betul, sampai mati pun ingin kau lihat pit-kip itu dan inilah kelemahanmu, setelah menggenggam kelemahanmu, dia tidak perlu takut terhadapmu, dan kamu akan selalu tunduk padanya."

"Siluman keparat ..."

Ka-sing Tai-su mendesis geram. Ban-lo-hu-jin tertawa lebar.

"Tapi siluman keparat itu juga punya kelemahan, kalau kau dapat merengut kelemahannya di tanganmu, justru dapat kau paksa dia tunduk padamu."

Terbeliak mata Ka-sing Tai-su.

"Dia ...dia punya kelemahan apa?"

Tanyanya gugup. Dengan santai Ban-lo-hu-jin duduk di pasir.

"Saat ini dia sedang menanak nasi dan memasak sayur boleh kau pergi ke sana dan membekuknya ...."

Ka-sing Tai-su gusar.

"Akal bagus apa, lebih busuk dari pada kentut anjing. Kalau aku membunuhnya, Oh-Put-jiu akan segera menyobek dan merusak kitab itu ...Umpama aku dapat membunuhnya tanpa menimbulkan suara, bila dalam waktu tertentu keparat Oh-Put-jiu itu tidak melihat bayangannya, dia juga akan menyobek dan merusak kitab ...Yang aku tuntut bukan jiwa mereka, tapi kitab pelajaran kungfu itu. Kalau pit-kip nya dirusak dan hancur, umpama aku makan daging mereka juga tiada gunanya lagi?"

Ban-lo-hu-jin meleroknya sekali, lalu mengomel "Siapa suruh kau bunuh dia?"

"Buk ...bukankah tadi kau bilang ...."

"Aku hanya menyuruhmu membekuknya!"

Teriak Ban-lo-hu-jin.

"Kalau kau bunuh dia, Oh-Put-jiu memang bisa menghancurkan pit-kip, ini kan sama bila Oh-Put-jiu menghancurkan kitab dan segera kau bunuh Cui-Thian-ki."

Lalu dengan senyum penuh arti ia menyambung.

"Tapi kalau kau bekuk dia dan memberi tahu Oh-Put-jiu, bila dia berani merobek selembar buku itu, segera kau bunuh Cui-Thian-ki. Coba kau pikir apa dia berani menyobek?"

Ka-sing Tai-su keplok sekali.

"Ya, dia pasti tidak berani, hal ini kan sama seperti aku tidak membunuh Cui-Thian-ki ....Aku takkan membiarkan pit-kip itu dihancurkan, dia juga takkan membiarkan aku membunuh Cui-Thian-ki."

"Betul, akhirnya kau paham juga. Pit-kip itu adalah titik kelemahanmu, Cui-Thian-ki adalah titik kelemahan Oh-Put-jiu. Kini kalian sama-sama memegang kartu kelemahan masing-masing, kenapa masih takut terhadap mereka?"

"Satu hal masih harus dipertimbangkan, apakah perhatian Oh-Put-jiu terhadap Cui-Thian-ki sebesar perhatianku terhadap pit-kip itu, kalau tidak bukankah ...."

"Perhatian Oh-Put-jiu terhadap Cui-Thian-ki pasti tidak kalah dibandingkan perhatianmu atas pit-kip itu."

"Berdasar apa kamu berani memastikan?"

"Hati muda mudi yang sedang menjalin cinta, sudah tentu tak dapat diselami oleh orang yang menjadi hwesio sepertimu. Nenek ini sudah ahli dalam bidang asmara, hubungan mereka yang intim mana dapat mengelabui sepasang mata tuaku."

Apa yang diucapkan Ban-lo-hu-jin ibarat tusukan sembilu yang tepat kena sasaran.

Maklum, sejak kecil Ka-sing menjadi hwesio, tentang seluk-beluk hubungan cinta muda-mudi tentu saja amat asing baginya dan tidak tahu sama sekali.

Kalau Hwesio ini tahu betapa hangat hubungan cinta muda-mudi dan rela berkorban demi segalanya, Taraf pengorbanannya tidak kalah dibandingkan kegilaannya untuk memperoleh Bu-kang-pit-kip itu, tentu Ka-sing Tai-su tidak akan menunggu selama tujuh tahun lamanya.

"Maksudmu ...antara Oh-Put-jiu dengan Cui-Thian-ki yang keparat itu sudah menjalin hubungan cinta? ....Padahal mereka tidak pernah bertemu ..."

"kau tahu apa? Makin tidak bertemu, hubungan cinta mereka makin panas, makin terangsang. Sebaliknya kalau setiap hari beradu pandang, adu hidung, malah tidak menarik."

"Aku tidak mengerti, aku tidak paham ...."

"Kalau hwesio juga paham tentang cinta, maka hwesio itu tentu hwesio sontoloyo."

Ka-sing Tai-su bergelak tawa.

"Sekarang aku sudah paham ...sesuatu benda yang susah didapatkan tentu lebih berharga nilainya, demikian besar harapanku terhadap pit-kip itu, demikian pula hubungan cinta antara laki-perempuan."

"Kamu memang murid yang pandai, sekali diterangkan lantas paham."

Mendadak Ka-sing berhenti tertawa, lalu berkata dengan berkerut kening.

"Tapi meski dapat aku bekuk Cui-Thian-ki, sementara pit-kip tergenggam di tangan Oh-Put-jiu, walau aku tahu dia tidak berani menghancurkan pit-kip, dia juga tahu aku tidak berani membunuh Cui-Thian-ki, bila aku tidak melepaskan Cui-Thian-ki, jelas ia pun takkan menyerahkan pit-kip itu, bukankah urusan tetap akan berkepanjangan?"

"Betul, tapi jangan lupa, Oh-Put-jiu sekarang terkurung dan tak mungkin beraksi, sebaliknya kau dapat berbuat sesuka hatimu ..."

"Memangnya aku dapat berbuat apa terhadapnya?"

"Asal dia tidak menghancurkan buku itu, apa tidak bisa kau paksa dia keluar dengan membakarnya? Bila dia berada di luar, apa tidak mampu kau kalahkan dia?"

"Betul ... betul!"

Teriak Ka-sing Tai-su kegirangan.

"urusan semudah ini, sejak dulu seharusnya sudah aku pikirkan,"

"Persoalan apa saja, bila duduk persoalannya menjadi jelas, sudah tentu urusan menjadi mudah ....Di jaman Sam Kok terjadi Cu-kat-Liang membakar kapal musuh dengan perahu berumput yang menyala, bukankah caranya mudah dan gampang dilakukan, tapi sebelum dia melakukan akalnya itu, siapa pernah melakukannya? Soalnya, untuk melakukan sesuatu memang mudah, untuk menyelami makna yang murni dari persoalan itulah memerlukan pengetahuan yang luas."

"Betul, betul ...."

Ka-sing Tai-su manggut-manggut.

"Setelah tugas ini kau selesaikan dengan baik, cukup kita perbaiki ala kadarnya, kapal yang aku naiki itu akan dapat membawa kita anak dan ibu pulang ke Tiong-toh."

Senang Ka-sing Tai-su bukan main.

"Ya, pada waktu itu, seluruh kaum Bu-lim di Tiong-toh, siapa yang mampu menandingi aku?"

"Kukira ada seorang,"

Ujar Ban-lo-hu-jin.

"Siapa lagi?"

Ka-sing Berjingkrak gusar.

"Pui-Po-giok ....semoga saat ini dia sudah mampus,"

Demikian desis Ban-lo-hu-jin.

****** Pusaran air mulai hilang dan permukaan air danau kembali tenang dan bening bagai kaca, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Tapi Siau-kong-cu tidak pernah muncul dan tidak kelihatan lagi.

Mengawasi permukaan danau yang tenang bak kaca, Pui-Po-giok termangu kaku seperti beku.

Entah berapa lama kemudian, wajah Po-giok baru memperlihatkan perubahan perasaan, tapi kelihatannya begitu ruwet, sukar orang menebak soal apa yang sedang dipikirkannya.

Di tengah kebeningan yang mencekam itu.

"Byuuurrr!"

Mendadak Po-giok juga terjun ke dalam air.

Air danau bergelombang.

Lama kelamaan gelombang itu pun sirna, air danau kembali tenang bagai kaca, seperti tidak pernah terjadi apa-apa, tapi Pui-Po-giok juga tidak kelihatan, lenyap tanpa bekas.

****** Sinar surya yang cemerlang menerangi layar pancawarna, menyinari gubuk kecil yang mungil dan artistik itu.

Dari dalam gubuk berkumandang nyanyian merdu, nyanyian yang riang gembira, memuja sang surya dengan cahayanya yang cemerlang, memuja kehidupan ini yang indah dan kebahagiaan yang didambakan.

Cui-Thian~ki bekerja dengan riang, hari ini merupakan lembaran baru dalam hidupnya selama tujuh tahun tinggal di pulau kosong ini.

Dalam sehari ini, tumbuh makna yang baru, harapan baru pula.

Sekerat dendeng ia iris menjadi empat potong, lalu dipanggang di atas tungku.

Potongan dendeng itu tidak merata, yang paling besar akan dia berikan kepada Oh-Put-jiu, yang paling kecil untuk dirinya sendiri.

Matahari belum setinggi genter, cahayanya menyorot miring ke dalam rumah, menyinari rambutnya yang panjang terurai, potongan tubuhnya yang ramping montok bergerak secara lincah, matanya tampak bercahaya, demikian pula pahanya yang mulus tampak lebih putih dan halus.

Dalam suasana bahagia, manusia selain tampak lebih cantik, lebih elok dari keadaan biasanya.

Mendadak didengarnya di belakang ada suara orang, tanpa berpaling Cui-Thian-ki bertanya.

"Apakah Ka-sing Tai-su?"

"Ya,"

Sahut Ka-sing Tai-su.

"Belum tiba saatnya makan, kenapa datang terburu-buru?"

Belum habis ia bicara, tiba-tiba dilihatnya sebuah tangan bagai cakar burung menjulur tiba empat kerat dendeng yang baru saja dipanggang disambernya. Cui-Thian-ki gusar.

"Kurang ajar, kau berani melanggar peraturan?"

Dengan lahap Ka-sing Tai-su makan dendeng rampasan itu, hanya beberapa kali kunyah, dendeng itu sudah tertelan ke dalam perut. Cui-Thian-ki membanting kaki.

"He, sudah gila kau ? Jangan lupa apa yang pernah kau janjikan padaku?"

Ka-sing Tai-su tidak hiraukan peringatannya, dendeng kedua mulai dijejalkan ke mulut.

Ketika dendeng kedua ini juga ditelannya, sikap Cui-Thian-ki ternyata menjadi tenang malah, wajahnya juga tersenyum manis.

Dengan mulut tersumbat makanan Ka-sing Tai-su bergumam dengan suara kurang jelas.

"Rasanya enak ...."

Cui-Thian-ki tertawa lebar.

"Kalau benar enak rasanya, tuh masih ada, boleh aku panggang lagi untukmu."

Terbeliak mata Ka-sing Tai-su, katanya heran "Hah, kau berubah?"

"Melihat caramu makan, aku jadi kasihan apa salahnya kuberi lagi."

Ka-sing Tai-su lupa mengunyah, berhenti makan, matanya terbeliak.

"Apa benar?"

"Daging ini terlalu asin, aku ambilkan air dulu untuk mencucinya."

Dengan kalem ia mengambil segayung air, lalu dengan kerlingan tajam ia menghampiri Ka-sing Tai-su. Mendadak suara Ban-lo-hu-jin berkumandang di luar pintu.

"Awas jangan tertipu oleh budak itu."

Pada saat itulah mendadak Cui-Thian-ki menerjang keluar seraya menyambitkan segulung cahaya perak langsung menyerang Ka-sing Tai-su.

Secepat kilat Ka-sing Tai-su juga menubruk maju dan mengejar.

Belum setombak tubuh Cui-Thian-ki meluncur terasa angin dingin menerjang tiba di belakang kepalanya, tanpa menoleh tangannya terayun ke belakang.

Jurus Pa-ong-sik-ka merupakan gerakan yang membuka lebar pertahanan sendiri, gayanya kaku keras tapi dahsyat, walau gerakannya lucu, tapi serangan itu sendiri amat lihai dan aneh.

Kini jurus kaku ini dilancarkan oleh gadis ayu gemulai, nilainya berubah sama sekali.

Maklum kalau perempuan cantik mencopot pakaian, siapa yang tidak akan terpengaruh hatinya, terutama gerak perubahan serangan ini cukup licik dan sukar diraba sebelumnya.

Menyaksikan dari kejauhan, diam-diam tergetar hati Ban-lo-hu-jin.

"Kungfu budak ini ternyata maju sepesat ini."

Belum habis pikir, kedua tangan Cui-Thian-ki tahu-tahu sudah terpegang oleh Ka-sing Tai-su.

Betapa aneh, lihai dan dahsyat serangannya, bagi Ka-sing Tai-su ternyata dilayani dengan sepele saja.

Sekali puntir dan lempar, Cui-Thian-ki kontan terbanting jatuh di tanah.

Bukan merengek kesakitan Cui-Thian-ki justru tersenyum genit.

"Tega benar engkau ini, begitu baik aku terhadapmu, engkau tega membantingku sedemikian rupa."

Ka-sing Tai-su bergelak tawa.

"Untung Lo-heng sudah lanjut usia, kalau masih muda tentu kepincut dan akan berlutut di bawah lututmu."

"Kukira kamu keblinger, setelah menunggu sekian tahun, sebentar lagi pit-kip itu akan bisa kudapatkan, tapi sekarang ...ai, harapanmu akan sirna."

"Kenapa sirna seluruhnya?"

Ka-sing Tai-su menegas.

"Kalau tanganku tidak kau lepaskan, akan kusuruh Oh-Put-jiu ...."

"Boleh kamu berteriak padanya,"

Jengek Ka-sing Tai-su. Melirik sekejap mendadak Cui-Thian-ki berteriak keras.

"Oh-Put-jiu ...Oh-Put-jiu, kau dengar suaraku?"

Segera berkumandang sahutan Oh-Put-jiu dari dalam kabin.

"Dengar, ada apa?"

Suaranya tidak keras, nadanya tidak tinggi namun jelas dan terang, sepatah demi sepatah berkumandang sampai jauh, jelas orang yang bicara memiliki lwe-kang yang tangguh.

"Mulailah sobek buku itu ..."

Berubah kaget dan prihatin suara Oh-put-jiu "Apa ...apa kau ...."

"Benar, hwesio tua ini mulai beraksi."

Cui-Thian-ki yang cerdik segera memotong perkataan Oh-Put-jiu karena ia tidak ingin suara orang yang gugup dan gemetar itu diketahui Ka-sing Tai-su.

Betapapun Oh-Put-jiu adalah manusia biasa, menghadapi kejadian di luar dugaan, tentu saja suaranya akan berubah maka ia pun berkata dengan ketus dan dingin.

"Baik, isi buku ini aku sudah apal di luar kepala, dihancurkan juga tidak menjadi soal."

Cui-Thian-ki tertawa.

"Sudah kau dengar Ka-sing Tai-su?"

"Oh-Put-jiu!"

Mendadak Ka-sing berteriak.

"Selembar saja berani kau robek buku itu Cui-Thian-ki segera kubunuh di sini. kau dengar tidak?"

Suasana mendadak menjadi hening, tiada suara apa-apa dari dalam kabin, mungkin Oh-Put-jiu tertegun kaget.

Seri tawa yang menghias wajah Cui-Thian-ki juga seketika lenyap, perlahan ia menoleh ke arah Ban-lo-hu-jin.

"Bagus ya kau ! Bagus sekali."

Ban-lo-hu-jin terkekeh-kekeh.

"Kejadian ini tiada sangkut-paut dengan aku."

"Kalau Ka-sing Tai-su bisa menggunakan akal busuk ini, masa baru hari ini dia praktekkan?"

"kau memang pandai,"

Ban-lo-hu-jin memuji.

"Dan kau amat senang bukan? Asal ada untung, anak kandung sendiri juga rela kau jual, benar tidak? Sungguh sukar aku bayangkan kematian cara apa yang akan menimpamu kelak?"

"Mati adalah mati, peduli amat, enak atau mati sengsara, kan sama-sama mati."

Cui-Thian-ki menatapnya lekat, lama kelamaan wajahnya menampilkan senyum manis juga.

"Terlalu pagi kalau sekarang kamu merasa senang."

"kau kira Oh-Put-jiu tidak berani menghancurkan kitab dan Ka-sing Tai-su juga tak berani mengusikmu?"

"Memangnya hwesio ini berani berbuat apa terhadapku?"

"Kurasa tidak demikian, umpama Ka-sing Tai-su tidak mengusikmu, masih banyak cara dapat memaksa bocah kepala besar itu keluar. Otakmu juga cerdik, kukira kau pun sudah tahu cara apa yang harus digunakan."

"Dengan api ...dengan api memanggang si kepala besar ....Hahaha!"

Ka-sing Tai-su bergelak keras. Bahwa Ka-sing Tai-su tertawa senang, di luar dugaan Oh-Put-jiu yang berada dalam kabin mendadak juga tertawa besar.

"Ken ...tertawa? Dalam keadaan seperti ini, kamu masih dapat bicara, sungguh aku kagum padamu."

"Kalau kau bakar kapal ini, terpaksa aku harus keluar dan dengan kedua tangan aku persembahkan pit-kip kepadamu ....Hahaha, itulah rencana kalian yang muluk bukan?"

"Memangnya apa yang bisa kau lakukan?"

Jengek Ka-sing Tai-su. Bengis suara Oh-Put-jiu.

"Berani kau bakar kapal ini, maka selama hidupmu jangan harap dapat memperoleh pit-kip ini meski hanya selembar saja."

"kau ...berani?"

Ka-sing Tai-su bingung dan kuatir.

"Memangnya tidak kau pikirkan jiwa Cui-Thian-ki?"

"Betul, aku tidak tega melihat nona Cui mati di tanganmu, perhitunganmu dalam hal ini memang tepat. Tapi kalau aku menyerahkan Pit-kip, bukan saja jiwa nona Cui tidak dapat diselamatkan, jiwaku sendiri juga pasti takkan bisa dipertahankan, hal ini sudah aku perhitungkan juga. Sama-sama gugur kan lebih baik gugur bersama hancurnya semua Pit-kip di sini."

Berubah air muka Ka-sing, dasar berotak tumpul, sekian lama ia berdiri diam tanpa bicara.

Oh-Put-jiu sudah membaca dan apal di luar kepala semua Pit-kip yang tersimpan di kapal itu, jelas orang ini tidak boleh dibiarkan hidup, dalam hal ini sedikitpun ia tidak mampu berdebat.

Cui-Thian-ki cekikik geli, katanya menyindir "Nah, sekarang kalian tahu cerdik tidak si kepala besar itu?

Ketahuilah, selama aku hidup dan berkecimpung di kang-ouw, hanya dia laki-laki paling pintar yang pernah aku temukan, jangan harap kalian bisa menjebaknya."

Ban-lo-hu-jin menghela napas.

"Anak bodoh, akal masih dapat dipikirkan, waktu juga masih cukup panjang, kenapa gelisah tak keruan."

Satu demi satu jari jemari Ka-sing Tai-su yang mencengkeram Cui-Thian-ki terlepas.

"Tapi ...sekarang dia ...."

"Sekarang boleh kau tiru cara aku orang tua bekerja,"

Ujar Ban-lo-hu-jin dengan kalem.

perlahan ia menghampiri Cui-Thian-ki.

Mendadak tangannya terulur, sekali jambret jubah anyaman bulu burung itu ditariknya robek separo, maka dada yang putih montok tampak bergetar ditiup angin.

Ternyata Cui-Thian-ki tetap berdiri tegak, bergerak pun tidak, juga tidak berusaha menutup dadanya yang terbuka.

Gadis ini sudah sejalan pikirannya dengan Oh-Put-jiu, tidak mau melakukan sesuatu yang tidak berguna.

"Oh-Put-jiu!"

Teriak Ban-lo-hu-jin.

"sudah kau saksikan bukan ...Nih, lihat betapa montok payudara nona Cui, halus lagi kenyal, begitu indah dan mempesona di bawah sinar matahari, sebening kaca dan tembus cahaya. Sukar aku percaya tiada laki-laki di dunia ini yang tidak tertarik dan ingin menjamahnya ...Ai, sayang sekali kamu tidak dapat menikmatinya."

Tiada suara dari dalam kabin, suara sedikit pun tak terdengar.

Dengan tertawa sinis Ban-lo-hu-jin melanjutkan "Oh-Put-jiu, kalau aku menjadi dirimu hatiku tidak rela gadis secantik ini jatuh dalam pelukan laki-laki lain, boleh kau pejamkan mata dan membayangkan, kalau tangan laki-laki lain menjamah tubuhnya, kalau laki-laki lain menindih tubuhnya ....bagaimana perasaanmu?"

Mendadak Cui-Thian-ki tertawa, serunya mengejek.

"Sayang sekali di sini tiada lelaki."

"Oo? ...tidak ada laki-laki lain? ...Ka-sing Tai-su, kamu laki-laki atau perempuan?"

"Yang benar dia seorang hwesio ..."

Tukas Cui-Thian-ki. Mendadak Ka-sing Tai-su bergelak.

"Memangnya hwesio bukan laki-laki?"

"Anak bagus,"

Sorak Ban-lo-hu-jin.

"Tepat sekali jawabanmu."

"Walau usiaku sudah lanjut, kondisiku tanggung tidak kalah dibanding anak muda, kalau tidak percaya marilah dicoba. Terutama gaya dan permainan negeri Thian-tiok tanggung tidak kalah dan jauh berbeda dengan negeri lain."

Lebih keras Ban-lo-hu-jin berkeplok dan bersorak.

"Bagus, bagus, makin bicara kamu makin pintar."

Ka-sing Tai-su berkata pula.

"Selama hidup belum pernah aku terpengaruh oleh perempuan, tapi hari ini melihat tubuh semulus dan semontok ini, wah ...."

Sikap Cui-Thian-ki tidak berubah.

"Kamu hanya membual saja, memangnya kau mampu?"

"Hah? Dia tidak mampu?"

Teriak Ban-lo-hu-jin.

"Hei, kau mampu tidak?"

Ka-sing Tai-su terloroh-loroh.

"Kenapa aku tidak mampu? Demi pit-kip itu, apa pun dapat kulakukan."

"Mungkin kamu belum berpengalaman, tapi aku bisa memberi petunjuk, setua ini usiaku pengalamanku takkan habis aku jelaskan padamu untuk dipraktekkan di sini....Nah, sekarang mulai pertama ulur tanganmu dan pegang dadanya."

"Baik ..."

Seru Ka-sing Tai-su dengan tertawa iblis.

Melihat telapak tangan orang yang kurus kering lagi hitam mirip cakar burung itu bergerak mendekat ke dadanya, Cui-Thian-ki menjerit kuatir, betapapun tabah dan berani, betapapun dia seorang gadis suci.

"Oh-Put-jiu,"

Teriak Ban-lo-hu-jin tertawa "sudah kau saksikan bukan?

Sekarang tubuh nona Cui mulai gemetar ...setiap jengkal dagingnya mulai mengkeret, wah, begini indah dan menarik ..Ai, sayang aku bukan laki-laki, terpaksa aku hanya menonton dan memberi petunjuk dari samping saja ...."

"Blang,"

Mendadak berkumandang suara keras, pintu besi kabin kapal itu terbuka. Cui-Thian-ki menjerit kaget.

"Oh-Put-jiu, lekas masuk kembali!"

Tapi Oh-Put-jiu sudah melangkah keluar.

Cahaya matahari menyinari tubuh Oh-Put-jiu.

Pakaiannya sudah membusuk, begitu kena sinar matahari dan ditiup angin, lantas beterbangan seperti kupu-kupu.

Dahulu badannya hitam lagi kekar berotot, kini berubah menjadi putih lagi kurus, ditambah rambut yang panjang awut-awutan sehingga kepalanya yang gede tampak lebih besar, sebaliknya tubuhnya kelihatan tambah kecil.

Tapi keadaan dan bentuk tubuhnya sedikitpun tidak menjadi lucu dan menggelikan, sikap dan wibawanya masih kelihatan juga bahwa dia seorang laki-laki.

Terutama wajahnya yang merah, sikapnya yang mantap tenang, sinar matanya setajam gunting.

Siapa bentrok dengan pandangannya meski ingin tertawa geli juga akan menyengir kikuk.

Tujuh tahun, genap tujuh tahun dia hidup dalam kabin yang tidak pernah kena sinar matahari, kini mendadak tertimpa cahaya matahari, kedua matanya tentu merasa sakit seperti tertusuk jarum.

Tapi matanya ternyata tidak berkedip, lurus menatap ke arah Ka-sing Tai-su dan Ban-lo-hu-jin.

Ban-lo-hu-jin ingin tertawa riang, tapi ditatap sorot mata setajam itu, tanpa sadar ia menyurut mundur beberapa langkah.

Oh-Put-jiu yang dahulu supel dan pandai bergaul, kini berubah menjadi orang yang kelihatan garang, sifat garangnya ini membawa wibawa yang luar biasa, sehingga orang merasakan kegarangannya itu menciutkan nyali dan semangatnya.

Tangan Ka-sing Tai-su yang meraba dada Cui-Thian-ki juga terhenti setengah jalan, senyum iblisnya menjadi beku di wajahnya, sikapnya sungguh lucu, tapi juga menakutkan.

Demikian juga Cui-Thian-ki pun melengong.

Selangkah demi selangkah Oh-Put-jiu menghampiri, meski lambat tapi pasti dan mantap, tanpa berhenti.

"Bagus,"

Desis Ka-sing Tai-su sepatah demi sepatah.

"menunggu tujuh tahun, akhirnya kau keluar juga."

"kau senang ya?,"

Jengek Oh-Put-jiu."Aku ...aku ...."

Mendadak Ka-sing Tai-su mendongak sambil cekakakan. Baru sekarang ia bisa tertawa lepas.

"Selama tujuh tahun ini, nona Cui, engkau ..."

Sekilas Oh-Put-jiu melirik ke arah Cui-Thian-ki, lalu menunduk.

Meski hanya lirikan sekilas yang tidak sengaja, tak terduga Cui-Thian-ki yang biasanya tidak takut langit ambruk dan bumi ambles ternyata merah jengah mukanya, tanpa sadar ia angkat tangan dan menutup dadanya.

Dengan menunduk ia pun berkata rawan.

"Ken ...kenapa kau keluar?"

"Kalau memang harus keluar, apa bedanya keluar sekarang atau besok?"

Bergetar tubuh Cui-Thian-ki, walau sudah menduga akan jawaban Oh-Put-jiu, namun tak pernah terpikir olehnya bahwa Oh-Put-jiu bakal menjawab secara gamblang dan tegas.

Dengan kepala tetap menunduk ia berkata pula.

"Kenapa sekarang juga kau katakan, bila kau jelaskan nanti, bukankah lebih menguntungkan"

"Akhirnya toh harus kukatakan, dikatakan lebih dulu juga tidak menjadi soal,"

Jawab Oh-put-jiu tetap tegas.

"Betul juga,"

Ucap Cui-Thian-ki mengangguk.

"Kalau terlambat sedikit mungkin tiada kesempatan lagi untuk bicara."

Mendadak Ban-lo-hu-jin tertawa besar.

"Kematian sudah diambang mata, kalau mau bicara sudah tentu harus lekas dibicarakan. Boleh kalian bicara, tidak perlu terburu-buru ...Sudah tujuh tahun Ka-sing menunggu, menunggu beberapa kejap lagi juga tidak menjadi soal."

"Tapi aku sudah tidak sabar lagi menunggu,"

Sela Ka-sing Tai-su uring-uringan.

"Aku pun tiada yang perlu dibicarakan lagi,"

Oh-Put-jiu menegaskan.

Cahaya mentari masih benderang, hangat lagi semarak, namun alam semesta ini seperti diliputi hawa dingin.

Karena Oh-Put-jiu dan Ka-sing Tai-su kini sudah berdiri berhadapan.

Hawa dingin seperti merembes keluar dari badan kedua orang yang berhadapan ini.

Kalau kejadian berlangsung tujuh tahun yang lalu jangankan berhadapan melawan Ka-sing Taisu, untuk berdiri sejajar dengan Ka-sing Tai-su saja tidak setimpal.

Tapi sekarang pemuda ini berhadapan dengan Ka-sing Tai-su, baik wibawa, keberanian, sikap dan kegagahannya jelas tidak kalah dibanding padri asing yang terkenal di kang-ouw, padri agung yang menjadi calon ketua agama suatu aliran yang disegani ini.

Wajah Ka-sing Tai-su yang tadi tersenyum puas dan tamak kini sudah tidak kelihatan lagi.

Dengan pengalaman puluhan tahun lamat-lamat Ka-sing Tai-su meresapi adanya hawa tajam yang timbul dari tubuh pemuda di hadapannya ini, setelah berhadapan baru dia sadar dan merasakan langsung adanya ancaman serius dari pemuda kepala gede ini."

Oh-Put-jiu yang baru keluar dari dalam kamar gelap sejak tujuh tahun yang lalu, mirip sebatang pedang yang mendadak dilolos dari sarungnya.

Meski cahaya kemilaunya tidak menyilaukan mata, namun hawa pedangnya terasakan menyentuh kulit.

Menghadapi pemuda ini, entah kenapa Ka-sing Tai-su tidak berani turun tangan.

Cui-Thian-ki mengawasi dengan cemas, walau senyum tidak menghias bibirnya, namun kini hatinya merasa lega dan terhibur.

Tidak sia-sia ia menunggu tujuh tahun.

Orang yang didambakan, perjaka yang dirindukan akhirnya keluar dengan segar-bugar, lulus dengan hasil yang memuaskan.

Siapa pun yang akan kalah atau menang dalam duel ini, yang pasti Oh-Put-jiu berjuang demi mempertahankan kesucian dirinya.

Ban-lo-hu-jin juga tepekur, mulutnya bergumam.

"Sungguh tak nyana untuk berduel juga memerlukan waktu selama ini, mungkin setelah mentari terbenam belum juga ada ketentuan siapa bakal menang dan kalah."

Kungfu Ban-lo-hu-jin memang belum dapat dikategorikan kelas wahid, namun betapa luas pengalamannya, duel antara tokoh-tokoh silat yang pernah ia saksikan tentu lebih banyak dibandingkan orang lain.

Kini ia lihat adanya titik kelemahan kenapa Ka-sing Tai-su sejauh ini belum juga berani turun tangan.

Yaitu kegarangan dan wibawa pemuda yang menjadi lawannya menjadikan padri ini merasa jeri dan bimbang.

Dalam benaknya hanya terpikir, cara bagaimana dirinya harus mengalahkan pemuda ini hanya dalam satu gebrak saja.

Bahwa Ka-sing Tai-su tidak berani segera turun tangan, memang merupakan siasatnya yang tepat.

Ban-lo-hu-jin manggut-manggut setelah memahami siasat Ka-sing Tai-su, mulut pun bergumam.

"Ka-sing memang seorang jago lihai. Oh-Put-jiu, cepat atau lambat akhirnya kamu akan tamat ...."

Paling sedikit dalam satu gebrak itu, dirinya harus memperoleh kesempatan dan menempati posisi yang unggul, tujuannya untuk mematahkan wibawa dan kegarangan pemuda ini, 642 memaksa pemuda ini mengembangkan dan mengerahkan seluruh kekuatannya yang terpendam.

Kalau hal ini gagal maka duel hari ini akan merupakan pertandingan sengit yang berkepanjangan.

Ternyata nenek ini juga memperhitungkan bila Ka-sing Tai-su tidak turun tangan, Oh-Put-jiu tentu juga tidak akan turun tangan lebih dulu.

Ternyata perhitungan Ban-lo-hu-jin kali ini keliru, salah sama sekali.

Tampak sorot mata Oh-Put-jiu mendadak mencorong, berbareng kedua tangannya bergerak secepat kilat.

Kelihatannya jurus ini dilancarkan secara sederhana, tidak aneh juga biasa saja, tapi makna dan gerak tangannya ternyata amat luas dan mendalam, seolah-olah segala keanehan, keajaiban yang ada di dunia ini terkandung dalam gerakan kedua telapak tangannya itu.

Ka-sing Tai-su tidak menduga bahwa Oh-Put-jiu berani turun tangan, berani menyerang, apalagi dengan jurus yang begitu sederhana.

Hatinya hanya memperhitungkan cara bagaimana harus menyerang lawan, tapi tidak pernah berpikir bagaimana harus bertahan atau membela diri.

"Bagus!"

Cui-Thian-ki berteriak memuji.

Berhasil atau tidak serangannya itu, orang memang patut memberi pujian.

Akan tetapi Ka-sing Tai-su memang tidak malu sebagai cikal-bakal suatu aliran kungfu di negerinya, betapa cepat reaksinya sungguh sukar dibayangkan.

Dalam kecepatan hanya sekejap itu ia mampu mengerahkan seluruh tenaga murninya ke telapak tangan untuk menyambut pukulan keras Oh-Put-jiu.

Ada pukulan yang bakal menentukan kalah dan menang!

Duel yang akan menentukan mati dan hidup!

Sekuat-kuat Oh-Put-jiu usianya baru dua puluhan, mana mungkin menandingi lwe-kang Ka-sing Tai-su yang sudah diyakinkan sejak enam puluh tahun yang lalu?

Ada berapa banyak tokoh silat di dunia ini yang mampu melawan lwe-kang Ka-sing Tai-su?

Hanya satu harapan Cui-Thian ki, dengan bekal kungfu yang berhasil dipelajari Oh-Put-jiu dan pit-kip peninggalan Ci-ih-hou, cepat ia ganti posisi dan gerakan tangannya, dengan cara begitu kemungkinan masih ada harapan dapat mengalahkan Ka-sing Tai-su.

Di luar dugaan, Oh-Put-jiu tetap mendorong kedua telapak tangannya lurus ke depan.

"Blang!"

Telapak tangan mereka beradu. Cui-Thian-ki memejamkan mata, hatinya mengeluh sedih.

"Salah ...tamatlah sudah ..."

Tapi yang salah justru bukan Oh-Put-jiu.

Dalam usia dua puluhan tahun, lwe-kang Oh-Put-jiu memang belum setangguh lawannya, tapi selama berada dalam kabin kapal betapa gerah, pepat, gugup, menderita dan kesepian ....

Selama tujuh tahun kekuatannya sama sekali tidak pernah terlampias, tidak pernah dicoba, kesabarannya sudah mencapai batas-batas tertentu, batas yang tidak bisa dibatasi lagi.

Kini segala penderitaan, siksa lahir dan batin selama di dalam kabin, seluruhnya dilimpahkan ke dua telapak tangannya.

Tujuh tahun, umpama tetesan air juga akan berubah menjadi aliran sungai.

Kekuatan yang terbenam selama tujuh tahun bila meledak dahsyat dan hebatnya.

Kekuatan pukulannya susah dibayangkan oleh siapa pun.

"Blang,"

Begitu telapak tangan beradu.

Duel ini bukan merupakan adu tenaga dalam atau lwe-kang.

Tapi kekuatan lahir batin seorang pemuda yang sedang tumbuh dan mekar, melawan kekuatan terpendam orang tua yang terpupuk secara mendasar.

Begitu telapak tangan berada, tubuh Ka-sing Tai-su ternyata terpental.

Ban-lo-hu-jin menjerit kaget dan ngeri.

Cui-Thian-ki bersorak kegirangan.

Oh-Put-jiu masih berdiri tegak di tempatnya tanpa bergerak.

Cahaya sang surya menyinari tubuhnya yang agak pendek, dalam pandangan Ban-lo-hu-jin tubuh kecil dengan kepala besar ini mendadak berubah menjadi raksasa.

Pakaian compang-camping yang melekat di tubuh si pemuda kelihatan mirip pakaian perang seorang jendral yang mengkilat, rambut yang awut-awutan itu berubah menjadi mahkota kebesaran seorang raja yang disanjung puji rakyatnya.

Ka-sing Tai-su meronta bangun, tapi jatuh lagi.

Darah merembes di ujung bibirnya, walau badan tak kuat merangkak berdiri, mendadak ia bergelak tawa.

"Bagus, bagus, tidak sia-sia aku tunggu selama ini ...Bu-kang-Pit-kip peninggalan Ci-ih-hou memang tiada tandingan di dunia, bocah ingusan yang masih bau pupuk juga mampu mengalahkan, diriku ..."

"Hanya sayang kamu takkan bisa melihat Pit-kip itu,"

Demikian tukas Oh-Put-jiu dingin. Ka-sing Tai-su bergelak tawa.

"Yang pasti kungfu yang tiada taranya itu sudah memperoleh ahli warisnya. Lalu apa ruginya biarpun aku tidak bisa melihatnya?"

Mengawasi padri asing yang bergelak tawa seperti orang kesurupan setan, timbul rasa kagum dalam benak Oh-Put-jiu.

Kini hanya ada satu cita-cita hidupnya, yaitu melangkah maju untuk mencapai puncak tertinggi ajaran silat yang paling top di dunia.

Peduli berhasil tidak cita-citanya, yang terang dia sudah berjerih payah, berusaha dengan segala kemampuan.

Mendadak Oh-Put-jiu menarik napas panjang bergegas ia memburu maju dan memapah Ka-sing Tai-su yang meronta-ronta hendak berdiri.

Mendadak Cui-Thian-ki berteriak.

"He, siluman tua, mau lari ke mana!"

Waktu Oh-Put-jiu menoleh, dilihatnya Cui-Thian~ki sudah mencengkeram dan menjinjing Ban-lo-hu-jin.

Begitu Ka-sing Tai-su terpukul roboh, diam-diam Ban-lo-hu-jin hendak ngacir, tapi baru tiga langkah, Cui-Thian-ki sudah membekuknya, saking takut badannya menjadi lemas, katanya dengan muka pucat.

"Nona Cui buat ...buat apa bikin susah orang tua seperti aku."

Cui-Thian-ki tertawa.

"Bikin susah apa sebetulnya begitu melihatmu langsung kubunuhmu saja."

Gemetar suara Ban-lo-hu-jin.

"Selama ini nenek tidak pernah berdosa terhadap nona Cui ..."

"Tidak pernah berdosa terhadapku? ...."

Cui-Thian-ki cekikikan.

"Begitu datang kuanggap kamu sebagai sahabat karib, aku limpahkan isi hatiku padamu, tapi dengan tipu daya hendak kau celakai jiwaku, apa perbuatanmu ini tidak terhitung dosa?"

"Ya, meski aku berdosa, tapi aku ...aku pernah berjasa juga."

Makin manis tawa Cui-Thian-ki, makin ciut nyali Ban-lo-hu-jin, saking takut rasanya lidahnya mengkeret lebih pendek.

Ban-lo-hu-jin, tahu watak nona ini, kalau Cui-Thian-ki membunuh orang, wajahnya selalu dihias senyum manis, senyum yang menggiurkan.

Senyum Cui-Thian-ki memang mempesona, suaranya juga lembut.

"kau pun berjasa? ...Oo, kau 644 punya jasa apa, coba jelaskan."

"Kalau bukan karena ulah nenek bangkotan ini, Oh-Put ....Oh-tai-hiap kini tentu masih berada dalam kabin, mungkin tidak akan keluar, dan bagaimana mungkin dia bisa mengalahkan Kasing Tai-su!"

Cui-Thian-ki cekikikan.

"Mulutmu memang pandai bicara, orang mati juga bisa kau hidupkan lagi. Tapi aku tidak akan tertipu lagi olehmu, apa pun yang kau katakan, aku tetap akan ...."

"Ampunilah dia,"

Mendadak Oh-put-jiu berkata. Cui-Thian-ki berpaling, katanya dengan tertawa "Kenapa harus diampuni? Apa belum cukup siluman tua ini berbuat dosa terhadap sesama manusia?"

Oh-Put-jiu menghela napas.

"Tapi apa yang diucapkan juga benar, kalau bukan desakannya, entah sampai kapan aku harus menyekap diri dalam kabin itu, entah kapan baru aku akan keluar. Dalam kabin itu, aku sudah kehilangan kepercayaan pada diri sendiri ...."

Lalu dengan tertawa hambar Oh-Put-jiu melanjutkan.

"Kalau bukan karena desakannya, mungkin aku takkan berani keluar dari kabin itu."

Cui-Thian-ki menatapnya nanar, sampai sekian lama kemudian mendadak ia tertawa manis pula, katanya halus.

"Baiklah, kau bilang mengampuninya, maka aku akan mengampuninya."

Kalau nona secantik dia bertindak kejam terhadap seseorang, maka kekejamannya tentu melebihi orang lain.

Tapi kalau dia bersikap lembut dan welas asih, maka perbuatannya pasti lebih baik, lebih bijaksana dibanding orang lain.

"Terima kasih,"

Oh-Put-jiu tertawa lega.

Tujuh tahun hidup dalam kegelapan, menderita dan kesepian, telah mengubah senyum lebar yang dahulu selalu terkulum di ujung bibirnya menjadi kaku dan tawar, namun dalam pandangan seorang mana yang dirundung kasmaran justru kelihatan menarik, punya daya tarik yang merangsang.

Cui-Thian-ki menatapnya pula sekian lama suaranya perlahan.

"Seharusnya aku yang berterima kasih padamu."

Mendadak ia melompat maju dan mencium sekali di pipi Oh-Put-jiu, lalu selincah burung walet ia lari ke dalam gubuknya.

Bila Cui-Thian-ki keluar lagi dari gubuknya yang mungil itu, Oh-Put-jiu sudah mencuci bersih badannya yang kotor, membersihkan dekil yang melekat ditubuhnya sejak tujuh tahun yang lalu.

Kalau seorang tidak punya tekad, kemantapan hati, dekil yang melekat di badan selama tujuh tahun, siapa pun takkan kuat menahannya.

Bila layar pancawarna diturunkan, tangan Cui-Thian-ki sudah menjinjing sebuah buntalan.

Kini sudah tiba saatnya mereka meninggalkan pulau ini.

Oh-Put-jiu berkata.

"Kapal yang dibawa Ban-lo-hu-jin itu entah masih bisa digunakan berlayar?"

"Masih bisa digunakan,"

Lekas Ban-lo-hu-jin menjawab. Cui-Thian-ki tertawa.

"Asal kapal itu tidak tenggelam, aku punya akal untuk mempergunakan berlayar kembali."

Bab 30. Misteri Kapal Layar Pancawarna "Apakah di atas kapal masih ada orang?"

Tanya Oh-Put-jiu.

"Ada,"

Sahut Ban-lo-hu-jin.

"tapi sudah dibunuh Ka-sing Tai-su."

Oh-Put-jiu menghela napas panjang, bila ia menoleh ke sana, dilihatnya Ka-sing Tai-su sudah bersimpuh dan semadi setenang batu.

Jiwanya masih hidup, tapi hatinya sudah mati.

Kini ia sadar bahwa dirinya takkan mungkin mencapai taraf paling top sebagai jago silat kelas wahid.

Oh-Put-jiu menghela napas pula.

"Ban-lo-hu-jin, tolong kau memapahnya."

"Memapahnya?"

Pekik Ban-lo-hu-jin.

"kau akan membawanya pulang?"

"Apa pun yang sudah ia lakukan, jelek-jelek dia seorang ahli silat yang kenamaan, mana boleh kita meninggalkan dia seorang diri di sini."

Cui-Thian-ki tertawa.

"Kalau setiap orang pantas dibunuh, mana ada belas kasihan di dunia ini."

"Ya, benar."

Ucap Oh-Put-jiu tertawa.

Ka-sing Tai-su seperti orang linglung, beku perasaan, begitu Ban-lo-hu-jin memapahnya, dia berdiri, Ban-lo-hu-jin menyeretnya, kakinya pun melangkah perlahan.

Dari dalam kabin Oh-Put-jiu mengeluarkan belasan

Jilid buku yang bersampul sutera kuning dengan layar pancawarna ia membungkusnya dengan rapi dan teliti, sikapnya dan gerak geriknya tampak hikmat dan hormat.

Cui-Thian-ki juga kelihatan hormat dan segan terhadap buku-buku itu.

Itulah buah karya Ci-ih-hou selama hidupnya intisari segenap kungfu yang ada di jagat raya ini, pusaka yang tiada taranya dunia.

Walau tidak berani memandang atau melirik sekali pun, dasar manusia tamak Ban-lo-hu-jin melirik juga setiap kali memperoleh kesempatan.

Hanya Ka-sing Tai-su yang sudah pikun, menoleh atau melirik pun tidak.

Agaknya dia tahu dirinya sudah tiada harapan memiliki buku-buku itu, umpama melihatnya juga hanya menambah derita batin belaka.

Begitu Oh-Put-jiu memanggul buntalannya, Ban-lo-hu-jin segera membuka jalan.

Cui-Thian-ki berputar memandang keadaan sekelilingnya, suaranya rawan.

"Tujuh tahun tidak pernah meninggalkan tempat ini, hari ini kita harus tinggal pergi, hatiku merasa berat dan terkesan sekali ..."

Lalu dengan tertawa manis ia menambahkan.

"Sampai sekarang baru aku sadar, tempat ini ternyata begini indah, bila pada suatu hari dapat aku tinggalkan segala keramaian dan bertempat tinggal di sini, kurasa hidupku akan tentram penuh bahagia."

Oh-Put-jiu menatapnya lekat, senyumannya lembut.

"Kalau engkau memang ingin demikian, aku yakin kelak engkau pasti akan datang kemari."

"Apa...apa benar?"

Tanya Cui-Thian-ki.

"Pasti benar!"

Sahut Oh-Put-jiu tegas.

Mereka berpandangan lekat, hati merasa lega dan manis mesra.

Buntalan besar dan berat menindih pundak Oh-Put-jiu, tapi dipanggulnya dengan enteng seperti mengangkat kapas, langkahnya lebar dan mantap.

Ban-lo-hu-jin ingin lekas pulang, maka langkahnya pun tidak lambat.

Hanya beberapa kejap saja mereka sudah tiba di pantai.

Mentari memancarkan cahayanya yang benderang, hangat dan damai, selepas mata memandang, cuaca cerah, langit membiru dan menjadi satu garis dengan laut.

Terasa oleh Oh-Put-jiu dada lapang, hati longgar, rasa pengap, sebal dan kesepian selama tujuh tahun sirna ditiup angin laut menguap oleh sinar matahari.

Tapi di mana ada kapal?

Ombak laut berdebur membuih putih di pantai suasana lengang, tiada bayangan kapal di pantai.

"Mana kapalnya?"

Tanya Oh-Put-jiu berpaling ke arah Ban-lo-hu-jin. Wajah Ban-lo-hu-jin tampak pucat pias, kaki tangan dingin gemetar, suaranya juga serak gemetar.

"Jelas ... tadinya ada di ... di sini ..."

"Kalau benar ada di sini, kenapa tidak kelihatan?"

Tanya Cui-Thian-ki.

"Aneh ... aneh ...."

Beruntun ia mengucap aneh belasan kali, kepalanya juga bergeleng-geleng mirip orang ling-lung.

"Mungkin hanyut dibawa ombak,"

Ujar Oh-Put-jiu.

"Tidak mungkin, tidak mungkin, jelas ... kapal itu sudah ..."

Ban-lo-hu-jin gelagapan.

"Kalau bukan hanyut dibawa gelombang, tentu berlayar dibawa orang,"

Demikian tukas Cui-Thian-ki.

"Tidak mungkin, tidak mungkin!"

Ucap Ban-lo-hu-jin pula.

"Jelas Kong-sun-Ang dan Bwe-Kiam sudah mati."

Cui-Thian-ki membanting kaki dengan gugup.

"Ini tidak mungkin, itu juga tidak mungkin. Tapi kapal itu hilang, lalu apa yang terjadi? Memangnya kapal itu dibawa setan?"

Mengucur keringat dingin Ban-lo-hu-jin mulutnya bergumam.

"Aneh ...sungguh aneh ..."

"Kedua orang itu tidak mati!"

Mendadak Ka-sing Tai-su yang dianggap ling-lung berseru.

"Dari mana kau tahu?"

Tanya Cui-Thian-ki.

"Aku yang merobohkan mereka, kenapa aku tak tahu?"

Dingin suara Ka-sing Tai-su.

"Tapi jelas aku lihat "

Ban-lo-hu-jin masih membantah.

"Kalau aku turun tangan, memangnya tidak pakai perhitungan,"

Jengek Ka-sing Tai-su.

Tiada orang mendebatnya lagi.

Seorang kalau meyakinkan kungfu setaraf Ka-sing Tai-su, setiap gerak kaki tangannya tentu diperhitungkan secara cermat.

Mendadak Ban-lo-hu-jin mendeprok di pasir, teriaknya dengan mendekap muka.

"Celaka, habislah harapan kita ....Tentu kedua orang itulah yang mencuri kapal itu."

Ka-sing Tai-su mendongak sambil tergelak.

"Bagus, bagus! Kebetulan malah kalau kapal itu dibawa mereka. Kita tidak usah pulang, hahaha! Oh-Put-jiu, wahai Oh-Put-jiu, derita dan gemblenganmu selama tujuh tahun ini, akhirnya sia-sia belaka."

Latihan tujuh tahun ibarat air mengalir dan tidak pernah kembali lagi.

Bayangan hidup bahagia juga tinggal kenangan harapan belaka, pukulan yang berat ini siapa pun sukar menelannya begitu saja.

Tapi Oh-Put-jiu dan Cui-Thian-ki hanya saling pandang sekejap, lalu sama-sama tertawa.

"Di pulau ini tidak kekurangan kayu, bukan?"

Ucap Cui-Thian-ki.

"Untuk membuat seratus kapal juga tidak kekurangan,"

Oh-Put-jiu tertawa.

"Dengan kayu yang ada di sini, kita akan bisa kembali dengan selamat." ****** Dengan kain layar yang dianyam dengan kulit pohon dicampur sejenis getah pohon yang ada di pulau itu, mereka membuat tambang yang amat kuat. Dengan kekuatan Oh-Put-jiu yang mengerahkan setaker tenaganya juga tidak mampu menariknya putus. Pepohonan yang tumbuh di pulau itu ternyata besar lagi tinggi. Dengan tambang besar-besar dan kuat itu, dengan dahan pohon besar mereka membuat rakit 647 raksasa. Rakit tidak segesit dan sekencang kapal, namun rakit yang mereka buat pasti kuat menahan gelombang laut yang paling dahsyat sekali pun. Apa lagi empat orang yang mengendalikan rakit besar ini adalah tokoh silat yang berkepandaian tinggi siapa pun tak takut dan gentar menghadap ombak besar. Dua puluh tiga hari kemudian, rakit besar itu telah rampung mereka kerjakan. Dengan riang Cui-Thian-ki menegakkan cagak panjang lalu mengerek layar pancawarna di tengah rakit. Layar pancawarna akhirnya berkembang pula di tengah laut. Mereka berlayar dengan leluasa angin kebetulan bertiup ke arah barat daya. Satu jam kemudian bayangan pulau itu sudah tidak kelihatan. Siang hari mereka dapat melihat hembusan angin dan menentukan arah. Malamnya mereka melihat bintang-bintang yang bertebaran di langit. Tanpa terasa fajar menyingsing lagi. Cui-Thian-ki yang tidur pulas semalam suntuk, tampak segar dan cantik. Oh-Put-jiu berkata perlahan.

"Kalau tiada hujan badai, tiga hari lagi kita akan dapat mencapai daratan."

"Berdoalah supaya tiada hujan badai, sudah tujuh tahun Yang Maha Kuasa menyiksa kita di pulau itu, kini tiba saatnya kita diberi berkah dan taufiknya."

Dengan tertawa Ban-lo-hu-jin menimbrung "Betul, dari pengalamanku selama ini, beberapa hari ini takkan ada hujan, apalagi badai, semua ini adalah rejeki besar buat nona Cui dan Oh-taihiap.

"Pandai juga kamu mengumpak,"

Ujar Cui-Thian-ki dengan tertawa. Oh-Put-jiu memandang jauh ke ufuk langit, suaranya kelam.

"Tujuh tahun ...entah bagaimana keadaan mereka?"

"Buat apa banyak pikir, tidak lama lagi bakal bertemu mereka."

Oh-Put-jiu tertawa lebar.

"Aku sudah menunggu tujuh tahun, entah kenapa, beberapa hari ini rasanya tidak sabar lagi menunggu, entah bagaimana dengan Bok-toa-ko, Kim-ji-ko ...Ai, kurasa sekarang mereka sudah kenamaan."

Cui-Thian-ki tertawa.

"Dengan bekal kepandaian mereka, tidak sukar mengangkat nama."

"Ya, memang demikian ..."

Ucap Oh-Put-Jiu, Ban-lo-hu-jin, bagaimana kabar mereka belakangan ini?"

"Aku ...aku kurang jelas,"

Sahut Ban-lo-hu-jin gelagapan.

"Entah berapa kali kau tanyakan hal ini. Berapa kali pula dia memberi jawaban yang sama. Sekarang apa pula yang ingin kau tanyakan?"

Cui-Thian-ki tertawa geli.

"Aku merasa kuatir ... juga tidak percaya. Dalam kalangan kang-ouw Ban-lo-hu-jin banyak kenalan, serba tahu lagi, mana mungkin tidak jelas kabar tentang mereka?"

"Meski serba tahu juga ada yang tidak diketahuinya,"

Demikian debat Cui-Thian-ki.

"Ya, ya, memang demikian,"

Timbrung Ban-lo-hu-jin dengan menyengir.

Sesaat kemudian Oh-Put-jiu berkata pula "Entah bagaimana Po-ji, bocah itu tentu sudah dewasa, bocah itu pintar lagi cerdik, aku yakin dia juga sudah terkenal, hanya sukar aku bayangkan bagaimana keadaan sekarang?"

"Hal ini juga sudah kau tanya ..."

"Aku tahu entah berapa kali aku tanyakan hal ini, tapi setiap kali aku terbayang kenakalan 648 kebinalannya, selalu timbul keinginan bertanya lagi."

Cui-Thian-ki diam sejenak, lalu berkata "Engkau terkenang pada mereka, entah mereka mengenangkan dirimu tidak."

"Tentu mengenangku ...umpama tidak, apa salahnya aku mengenang mereka."

"Tapi kalau orang tidak memikirkan diri aku pun tidak akan memikirkan mereka."

"Nah, di sinilah letak perbedaanmu denganku kau ...."

Ka-sing Tai-su yang sejak mendarat hanya tepekur seperti orang linglung mendadak bergelak tawa, tertawa panjang mirip orang kesurupan, suaranya aneh dan menakutkan.

"He, kenapa kau tertawa?"

Tegur Cui-Thian-ki.

"Mendengar kalian mengigau, aku menjadi geli."

"Omong kosong, memangnya kamu sudah gila ..."

"Kalian tak usah mengharapkan bertemu dengan sanak kadang lagi, jangan harap kalian bisa kembali ke daratan."

"Apa ...apa katamu?"

Hardik Ban-lo-hu-jin panik.

"Rakit ini akan segera tenggelam,"

Ka-sing Tai-su menyeringai. Cui-Thian-ki berjingkrak gusar.

"kau ...kentut apa?"

Ka-sing Tai-su menyeringai pula.

"Tali-tali yang mengikat rakit ini akan putus semuanya."

Tanpa berjanji Cui-Thian-ki, Oh-Put-jiu dan Ban-lo-hu-jin semua memeriksa tali tambang yang mengikat balok-balok raksasa itu, kenyataan memang tambang ikatannya sebagian besar sudah banyak yang putus, bahwa rakit itu masih utuh dan terapung karena ombak laut cukup tenang, namun siapa pun maklum sisa ikatan tambang yang masih ada takkan kuat menahan, damparan ombak lebih lama lagi, dalam jangka setengah jam, rakit itu pasti berantakan.

Betapapun tenang sikap Oh-Put-jiu, kini menunjuk rasa gugup juga, bentaknya dengan bengis.

"Kenapa jadi begini?"

Melotot mata Ka-sing Tai-su.

"Kenapa jadi begini? Sudah tentu aku penyebabnya!"

"Gila kau !"

Bentak Cui-Thian-ki sambil menjambretnya.

"memangnya kamu tidak ingin hidup."

"Ya, aku memang tidak ingin hidup."

Ban-lo-hu-jin gugup.

"Apa kau takut aku tidak memberi racun padamu, aku hanya menipumu, manisan itu tidak beracun,"

Demikian teriak Ban-lo-hu-jin panik.

"Beracun atau tidak, sekarang tidak menjadi soal,"

Jengek Ka-sing Tai-su.

"Lha, kenapa ...kenapa kamu berbuat demikian?"

Desak Ban-lo-hu-jin. Mencorong bola mata Ka-sing Tai-su, tanpa berkedip ia mengawasi buntalan besar berisi buku-buku peninggalan Ci-ih-hou, dengan tegas ia berkata.

"Aku tidak berhasil mendapatkan buku itu, biarlah buku-buku itu menemaniku tenggelam di dasar laut."

"kau ...sudah gila ..."

Gemetar suara dan tubuh Ban-lo-hu-jin.

"Kalian tidak usah gugup,"

Demikian bentak Oh-Put-jiu.

"tenang dulu dan cari akal ..."

Ka-sing terbahak.

"Oh-Put-jiu, wahai Oh-Put-jiu, apa gunanya tenang? Apa pula manfaatnya kungfu yang berhasil kau pelajari dari Pit-kip peninggalan Ci-ih-hou? Lebih tepat kau ikut ke dasar laut saja."

Mendadak ia melompat dan menubruk ke arah Oh-Put-jiu.

Sebat sekali tangan Oh-Put-jiu menampar, sementara tangan yang lain memapak kedua sikutnya.

Tapi kedua tangan Ka-sing Tai-su tahu-tahu melingkar hendak memeluk pinggang Oh-Put-jiu.

Secepat kilat Oh-Put-jiu ganti serangan, jarinya menggores miring ke urat nadi tangan Ka-sing Tai-su.

Hanya sekejap kedua orang ini sudah serang menyerang delapan jurus, setiap jurus dilancarkan secepat kilat, setiap jurus lihai, ganas lagi mematikan permainan mereka merupakan pertandingan tingkat tinggi.

Berdebar-debar jantung Cui-Thian-ki dan Ban-lo-hu-jin menyaksikan pertarungan sengit ini seolah-olah mereka lupa bahwa nasib sendiri tergantung dari kalah menang pertarungan kedua orang ini.

Kenyataan Oh-Put-jiu tidak mampu melukai atau menundukkan Ka-sing Tai-su, Ka-sing Tai-su juga tidak mampu merobohkan Oh-Put-jiu.

Sekonyong-konyong gelombang besar mendampar tiba, di tengah suara gemuruh rakit besar itu pecah berantakan.

"Oh-Put-jiu ..."

Pekik Cui-Thian-ki. Tapi belum habis ia bicara, tubuhnya sudah ditelan ombak. Sayup-sayup telinganya masih menangkap teriakan keras.

"Cui-Thian-ki"

Tapi teriakan mereka ditelan suara ombak yang gemuruh, berpadu dengan gelak tawa Ka-sing Tai-su yang puas dan menggila.

Cui-Thian-ki meronta dan berenang ke arah datangnya suara, namun sukar menentukan dari arah mana suara tadi datangnya.

Untung dia mahir berenang, setelah didampar tiga kali gelombang berantai, dengan menarik napas ia terapung ke permukaan air.

Tampak kayu terapung, tali dan layar serta makanan yang mereka bawa, namun tidak kelihatan bayangan orang.

Entah kenapa mendadak Cui-Thian-ki merasa sedih, air mata pun berlinang.

Bukan Ka-sing Tai-su atau Ban-lo-hu-jin yang ia perhatikan, ia boleh tidak peduli mati-hidup kedua orang ini, demikian pula keselamatan awak sendiri tidak terpikir olehnya, ia hanya menguatirkan keselamatan Oh-Put-jiu.

Dalam kesukaran orang baru sadar bahwa diri nya lebih memperhatikan orang lain dibanding menguatirkan diri sendiri, hal ini belum pernah terpikir dan tidak pernah dialaminya, dulu ia tidak percaya, tapi sekarang ia maklum.

Kebetulan tak jauh di sampingnya terapung sebatang balok, lekas ia meraihnya, lalu berteriak.

"Oh-Put-jiu ...Oh-Put-jiu ...di mana kau ...."

Suaranya bergema di tengah deburan ombak, ombak seperti mengiringi isak tangisnya.

Pandangannya makin buram, entah karena air atau air mata yang berkaca-kaca di pelupuk matanya.

Cui-Thian-ki terus berteriak-teriak hingga suara serak dan lemah, akhirnya ia tidak melihat apa-apa lagi.

Dalam keadaan sadar tidak sadar, Cui-Thian-ki terombang-ambing dimainkan ombak, entah berapa lama kemudian, mendadak terasa ada jari-jari tangan yang mengelus rambutnya, suara rendah berkata lembut di tepi telinganya.

"Sadar ....bangun ...aku ada di sini ...."

Cui-Thian-ki tersentak sadar dari pingsannya Oh-Put-jiu memang berada di sampingnya.

Sukar melukiskan bagaimana gejolak perasaannya waktu itu, tak peduli segalanya ia berjingkrak serta memeluk Oh-Put-jiu dengan erat, mulutnya mengigau.

"Jangan kau tinggalkan aku ...selama hidup ini jangan kau tinggalkan diriku ..."

Oh-Put jiu merasa air meleleh ke dalam mulutnya, air asin, entah air mata atau air laut?

Dia tidak bicara, tidak perlu bicara lagi.

Cinta memang indah, asmara adalah manis kenyataan itu justru pahit dan getir, namun buahnya pasti manis.

Mereka melupakan tangan yang makin linu, tidak sadar bahwa tubuh telah mengejang dan kaku, mereka masih berada di tengah amukan gelombang.

Untuk sementara mereka dapat mempertahankan hidup dengan memeluk sebatang balok, namun berapa lama mereka kuat bertahan?

Sinar mata hari yang semula indah, kini berubah menjadi ganas, saking panas kepala terasa pening, mata silau dan mulut kering, bibir pun pecah.

"Bagaimana Ban-lo-hu-jin?"

Tanya Cui-Thian-ki.

"Entahlah,"

Sahut Oh-Put-jiu.

"Ka-sing?..."

Oh-Put-jiu geleng kepala.

"Mungkin hanya kita yang masih hidup."

"Ya, berkat lindungan Thian."

"Sehari kita masih hidup, kita harus berusaha pulang."

"Ya, kita pasti dapat pulang."

"Tidak lama lagi engkau akan bertemu dengan orang-orang yang kau rindukan, seperti Bok-put-kut, Kim Put-wi, Kong-sun put-ti dan Pui-Po-giok betul tidak?"

"Demikian pula guruku dan ibumu ..."

Tidak lama lagi kita akan minum air jernih, air manis, air yang lebih manis dibandingkan laut yang asin getir ...tidur di ranjang ya empuk dan nyaman, makan buah-buahan ya segar ....benar tidak?"

"kau ingin makan apa, dengan mudah dapat kau peroleh."

Cui-Thian-ki tertawa manis.

"Aku ingin makan anggur, nanas dan semangka, semangka yang besar dan manis ...."

Sampai di sini mendadak ia sesengukan malah, menangis dengan sedih.

"Kenapa aku harus menipu diri sendiri, kau tahu aku juga tahu terapung di tengah lautan, dengan hanya memeluk sebatang kayu, mana mungkin bisa pulang, siapa pun tak mungkin kita jumpai,"

Oh-Put-jiu juga merasa rawan, dengan pilu ia mengelus rambutnya, mulutnya mendesis perlahan "Jangan menangis ... jangan menangis ..."

Kecuali menghibur dengan dua patah kata itu, Oh-Put-jiu tak bisa bicara lebih banyak lagi.

Dia maklum dalam keadaan seperti ini, hanya keajaiban yang bisa menolong mereka, lalu berapa lama mereka bisa bertahan?

Entah berapa lama Cui-Thian-ki sesengukan, air mata juga sudah kering.

"Tahukah kau , sejak aku dilahirkan hingga sebesar ini, aku selalu tertawa belum pernah menangis, aku sering melihat orang menangis, aku tidak tahu bagaimana rasanya menangis, tapi hari ini, aku ...sudah dua kali menangis."

"kau ...aku ..."

Kering tenggorokan Oh-Put-jiu.

"Sebetulnya aku tidak boleh menangis, pantasnya aku tertawa ...engkau ada di sampingku, apa pula yang harus aku sesalkan? Apa pula yang aku dambakan? ..."

Dia benar-benar tertawa, tapi tawanya jauh lebih menyedihkan dari pada menangis. Dengan serak Oh-Put-jiu berteriak.

"Tak nyana ... terhadapku kau bisa ..."

"Aku sendiri juga heran, kenapa aku jatuh hati terhadapmu ...apa memang jodoh? Benar tidak? Kalau bukan karena mengalami musibah mana mungkin aku berada di sampingmu?"

"Derita dan musibah? ...berbagai kesukaran itu ...lalu aku harus berterima kasih atau membencinya?"

"Aku harus berterima kasih, kalau tidak demikian, mungkin selama hidup aku takkan tahu bahwa aku juga punya perasaan, punya cinta murni, mati pun aku puas dan rela."

Betulkah ia rela mati?

****** Bila mentari terbenam, bintang-bintang pun bertaburan di langit.

Setelah bintang-bintang lenyap dari pandangan, fajar pun menyingsing.

Pagi lalu malam pun tiba, mereka tidak tahu sudah berapa lama terombang ambing dimainkan ombak.

Namun mereka sadar semangat mereka pun makin luluh, ketahanan fisik mereka makin lemah, mulut kering bibir pecah, lidah kelu tak bisa bicara lagi.

Tapi dalam keadaan seperti itu, mereka memang tidak perlu banyak bicara.

Hati mereka telah bersatu padu, perasaan mereka sudah manunggal.

Dengan tenang mereka menanti ajal, mati tanpa menyesal.

Umpama menyesal, namun apa yang dapat mereka lakukan?

Apa boleh buat.

Entah berapa lama lagi, Cui-Thian-ki membuka mata dan menatap Oh-Put-jiu, katanya lirih.

"Kekasihku ...selamat tinggal!"

"Apa katamu?"

Teriak Oh-Put-jiu kaget.

"Aku tak tahan lagi ...aku ...aku akan, berangkat dulu."

"kau ...jangan ...tidak boleh ...."

"Bertahan lebih lama juga hanya menambah derita ...biarlah aku berangkat lebih dulu, apa kau rela aku menderita lebih lama?"

"Tapi kau ...aku ..."

Mulut Oh-Put-jiu tidak bisa bicara, tapi kedua tangannya masih memegangnya erat-erat. Rawan suara Cui-Thian-ki.

"Biarlah aku berangkat, aku mohon padamu, lepaskan aku ...."

Oh-Put-jiu menggigit bibir.

"Kalau ingin berangkat, marilah kita berangkat bersama."

"Tidak boleh, jangan ... engkau masih ada kesempatan."

"Kalau kau pergi, masih ada kesempatan apa pula bagiku? Apa engkau tidak tahu, selama beberapa tahun ini berlandaskan apa aku bertahan. Kalau bisa mati bersamamu, aku sudah merasa puas, kau ..."

Mendadak ia terbelalak dan berteriak.

"Hei engkau tidak perlu mati, aku pun tidak akan mati! Coba lihat, apa itu?"

Di bawah mega, di tengah laut yang biru tampak bayangan sebuah layar.

Bisa mati bersama orang yang dicintai memang kejadian yang membahagiakan, tapi dapat bertahan hidup dengan orang yang dicintai jelas lebih baik dari pada mati bersama.

Dengan sisa tenaga yang ada Oh-Put-jiu dan Cui-Thian-ki berlomba menggerakkan sebelah tangannya, balok besar itu bergerak lambat ke arah yang dituju, entah dari mana datangnya tenaga, namun usaha mereka tidak sia-sia, kapal itu makin dekat.

Oh-Put-jiu segera tarik suara.

"He, kalian yang ada di atas kapal, arahkan kapal ke sini tolonglah jiwa kami."

Tiada reaksi dari atas kapal. Oh-Put-jiu berteriak lagi.

"He, kalian yang ada di atas perahu, dengar suaraku tidak?"

Kapal itu seperti terombang-ambing di laut diam di tempatnya, tidak mendekat juga tidak menjauh, walau layarnya berkembang, tapi tidak kelihatan bayangan kelasi yang memegang kemudi.

"Kelihatannya kapal itu tidak ada orangnya?"

Demikian desis Cui-Thian-ki.

"Aneh, betul-betul aneh."

Gumam Oh-Put-jiu.

"Mungkin kapal itu telah disapu habis oleh kawanan perompak, penghuni kapal juga dibunuh semua."

"Apa pun yang terjadi, kita harus berusaha naik ke kapal itu."

Dalam keadaan biasa, naik ke atas kapal bukan kerja yang sukar bagi mereka, tapi betapa susah Cui-Thian-ki dan Oh-Put-jiu berusaha, setelah menghabiskan sisa tenaga baru mereka berhasil naik ke atas kapal, napas pun sudah ngos-ngosan.

Berada di atas kapal, mereka tidak perlu kuatir menghadapi kematian makin jauh dari bayangan mereka.

Namun mereka belum merasa senang, belum lega.

"Memang tidak ada orang di kapal ini."

"Ehm, kalau ada orang, tentu sudah keluar sejak tadi."

"Umpama benar kapal ini sudah disikat habis oleh kawanan perompak, semoga mereka masih menaruh belas kasihan."

"Benar, rangsum yang ada di kapal ini tidak disikat seluruhnya."

"Duduklah di sini, aku ..."

"Biar aku temani kamu memeriksa keadaan."

Mereka adalah orang orang yang cerdas cukup sepatah kata diucapkan, satu sama lain sudah maklum.

Mereka berpandangan sambil tertawa lalu bergandeng tangan dan berdiri.

Sambil berpelukan dan saling rangkul mereka masuk ke kabin, baru beberapa langkah, mereka lantas berhenti dan menjerit kaget.

Tak jauh di depan mereka, dalam kabin yang setengah gelap ini menggeletak sesosok mayat manusia.

Mayat ini menggeletak tak jauh dari mulut kabin, pakaian yang melekat di tubuhnya sudah compang camping, demikian pula rambut awut-awutan dan kotor, jelas kelihatan waktu hidupnya telah bergelut sekian lama di lautan.

Tidak kelihatan luka di tubuh mayat ini, hanya di tengah alis terdapat sebuah luka berdarah.

Bergetar tubuh Cui-Thian-ki melihat luka di tengah alis mayat ini.

"Perhatikan ...luka penyebab kematiannya ..."

Air muka Oh-Put-jiu juga berubah "Pek-ih-jin ..."

"Ya, pasti...dia, kecuali Pek-ih-jin, sukar ku bayangkan tokoh silat mana yang dapat membunuh orang secara bersih dan sederhana, lalu siapakah korbannya ini?"

"Pek-ih-jin takkan turun tangan terhadap kaum keroco. Orang ini tentu amat terkenal."

"Coba aku bersihkan noda darah di wajahnya."

"Tidak usah kau bersihkan,"

Kata Oh-Put-jiu setelah memperhatikan sesaat.

"aku sudah tahu siapa dia."

Cui-Thian-ki berpaling kebetulan dilihatnya sebilah senjata aneh melengkung panjang menggeletak tak jauh di belakang pintu, senjata berbentuk aneh ini berkilauan.

Golok yang satu ini berbeda dengan golok umumnya yang ada di Tiong-goan.

"Thian-to Bwe-Kiam?"

Desis Cui-Thian-ki sambil menutup mulut dengan jari-jari tangannya.

"Aku tidak pernah melihat Bwe-Kiam, juga tidak pernah melihat gegamannya itu, tapi dapat ku pastikan bahwa orang ini memang benar Thian-to Bwe-Kiam adanya."

"Mereka memang tidak mati seperti yang dikatakan Ka-sing Tai-su, jadi kapal ini adalah kapal yang digunakan Ban-lo-hu-jin dan terdampar di pulau kita itu. Setelah mereka siuman diam diam berlayar lagi ke lautan, dan secara kebetulan bertemu dengan Pek-ih-jin."

"Kalau Bwe-Kiam ada di sini, Kong-sun Ang tentu juga di sini."

"Kong-sun Ang pasti juga menjadi korban."

"Dalam peristiwa ini ada sesuatu yang aneh."

"Ya, memang agak aneh ...umpama betul mereka bertemu Pek-ih-jin tahu mereka berada di kapal ini, bagaimana mungkin meluruk ke kapal ini dan menamatkan jiwa mereka?"

Melintasi mayat Bwe-Kiam, mereka masuk lebih jauh ke bagian dalam, di sana mereka memang menemukan sesosok mayat orang lagi.

Mayat itu tengkurap, mukanya mencium papan geladak, kedua tangannya terulur ke depan, jari-jari tangan bagai cakar seperti hendak mencengkeram papan geladak.

Sebelum ajal kelihatannya dia meronta dan merangkak ke depan.

"Kong-sun Ang memang ada di sini."

"Dia pun terhitung ..."

Belum habis Cui-Thian-ki bicara, mayat itu mendadak bergerak dan mengeluarkan rintihan. Cui-Thian-ki dan Oh-Put-jiu berjingkat mundur, lain terdengar mayat itu mengigau dengan suara kurang jelas.

"Aku ...bukan ... Kong-sun Ang ..."

Cui-Thian-ki memeluk kencang lengan Oh-Put-jiu.

"Siapa kau ?"

Mayat itu tidak bisa menjawab, sambil merintih dia megap-megap.

"Air ...air ...air ..."

Mendengar kata 'air', Oh-Put-jiu dan Cui-Thian-ki juga lantas merasa tenggorokan sendiri kering dan tak mampu bersuara lagi.

"Air ..."

Serak suara Cui-Thian-ki.

"di mana ada air?"

Jari mayat itu bergerak perlahan menuding ke bawah papan. Tanpa berjanji Cui-Thian-ki dan Oh-Put-jiu memburu ke tempat yang ditunjuk.

"Blang"

Papan dipukulnya pecah, bergegas mereka menyingkirkan selembar papan, di bagian bawah memang terdapat beberapa gentong air dan beberapa poci yang terbuat dari tembaga.

Dua tangan terulur masuk bersama, masing-masing menjinjing sebuah poci.

Oh-Put-jiu angkat poci ke mulut Cui-Thian-ki, Cui-Thian-ki juga angkat poci di tangannya ke mulut Oh-Put jiu.

Tapi sekilas mereka melirik mayat itu, lalu menyerahkan poci itu padanya.

Air merupakan sumber hidup.

Begitu air masuk mulut, mayat yang sudah sekarat, sudah empas-empis menunggu ajal itu mendadak memperoleh tunjangan hidup, dengan kencang ia pegang poci, seperti tidak mau melepaskan lagi.

Air itu pula membuat bola mata Cui-Thian-ki kembali menjadi bening dan jeli, mirip sekuntum bunga yang hampir layu, begitu memperoleh siraman air lantas pulih kembali kesegarannya.

Mayat itu kini sudah membalik badan dan roboh telentang, menghamburkan napasnya yang berat dengan rasa puas, bagian tengah alisnya juga bolong oleh tusukan senjata tajam, mungkin lukanya tidak dalam sehingga jiwanya masih berkepanjangan meski keadaannya sudah sekarat.

Oh-Put-jiu menghabiskan isi air dalam poci itu hingga tetes terakhir, dengan menghela napas panjang ia bertanya.

"Siapakah engkau sebenarnya?"

Mayat itu membuka mulut.

"Aku ...aku Thian-to Bwe-Kiam."

"Hah ...jadi yang mati itu Kong-sun Ang?"

"Em ...siapa kalian?"

Tanya Bwe-Kiam.

"Cai-he Oh-Put-jiu,"

Oh-Put-jiu mendahului bicara.

"Cai-he adalah ..."

Belum habis ia bicara, mendadak Bwe-Kiam membuka mata teriaknya terbelalak.

"Oh-Put-jiu? Jadi engkau ini Su-siok Pui-Po-giok?"

Oh-Put-jiu tertawa lebar.

"Agaknya nama Po-ji sudah terkenal."

Dilihatnya Bwe-Kiam menutup lagi matanya dan bergumam.

"Syukur ...syukur ...sebelum ajal aku bisa bertemu denganmu ..."

Oh-Put-jiu heran.

"Ada urusan apa yang ingin aku sampaikan padaku?"

"Ada ....ada banyak ...."

"Bicaralah perlahan, jangan tergesa-gesa, waktu masih panjang ..."

"Waktuku sudah tidak banyak lagi. Setelah minum air, nyawanya takkan lama lagi, paling hanya ..."

"Wah, kenapa aku lupakan hal ini,"

Seru Oh-Put-jiu sambil membanting kaki.

"orang yang terluka parah dilarang minum air dingin. kau tahu pantangan ini, kenapa ...ingin ...ingin minum ..."

Bwe-Kiam tertawa getir, tertawa yang kaku.

"Dapat minum seteguk air, mati pun legalah."

Cui-Thian-ki tertawa pedih, suara pun rawan.

"Aku dapat membayangkan perasaanmu, ada kalanya setetes air memang jauh lebih berharga dari nyawa orang engkau ....lekaslah bicara."

"kau kenal Pek Sam-khong? ..."

Bahwa Bwe-Kiam yang sekarat mendadak menyinggung nama "Pek Sam-khong", sudah tentu Oh-Put-jiu berjingkrak kaget.

"Sudah tentu kenal seorang murid masa tidak kenal gurunya."

"Bagus, bagus ...gurumu belum mati..."

Lemah suara Bwe-Kiam.

"Aku tahu."

"kaum persilatan yang tahu bahwa beliau masih hidup, semua menyangka beliau mengasingkan diri di taman keluarga Kim dan tidak mau menerima tamu, di luar tahu orang banyak bahwa dia sudah keluar dari tempat itu dengan menyamar, di kalangan kang-ouw tidak sedikit pekerjaan yang telah beliau bereskan. Yang membongkar tempat penyimpanan bahan peledak yang disembunyikan Hwe-mo-sin dalam pertemuan besar di puncak Thian-san tempo hari bukan lain adalah beliau."

Kejut-kejut girang hati Oh-Put jiu.

"Pertemuan besar di Thian-san apa? Bahan peledak apa pula?"

"Setelah pulang ke Tiong-toh, tidak sukar kau cari tahu tentang peristiwa itu."

"Agaknya kau pernah bertemu dengan beliau?"

"Kalau aku tidak pernah bertemu dengan beliau, saat ini diriku takkan berada di sini."

"Lho, kenapa?"

"Dalam usia setengah baya baru aku hijrah ke Tang-ing dan belajar kungfu. Sebelum aku ke Tang-ing, dahulu aku adalah sahabat karibnya, maka pertemuan yang tak terduga itu merupakan kesempatan yang tak boleh di sia-sia kan. Beliau membocorkan rahasia penting kepadaku."

Oh-Put-jiu heran, tanyanya gugup.

"Rahasia apa?"

"Rahasia Pek-ih-jin."

"Apa yang beliau katakan?"

"Sejak kekalahannya di bawah pedang Pek-ih-jin, dan satu-satunya tokoh persilatan Tiong-goan yang selamat di bawah pedang musuh, beliau lalu mendalami dan berusaha memecahkan asal mula atau sumber permainan pedang Pek-ih-jin. Agaknya Tuhan mengabulkan jerih payahnya, selama beberapa tahun ini, akhirnya dia berhasil menciptakan kungfu yang khas untuk mematahkan permainan ilmu pedang Pek-ih-jin. Akan tetapi beliau merasa hutang budi karena Pek-ih-jin tidak membunuhnya, maka beliau tidak mau membocorkan ilmu ciptaannya itu kepada orang kedua."

"Tapi ....kenapa beliau menceritakan hal ini kepadamu?"

"Karena waktu aku bertemu dengan beliau kebetulan beliau akan berangkat menunaikan suatu tugas, tepatnya menempuh mara bahaya, kepergiannya itu entah selamat atau bakal mati, dia sendiri tidak dapat meramalkannya. Dan demi cucu satu-satunya, yaitu Pui-Po-giok, dia mau menceritakan tentang rahasia itu kepadaku."

"Demi Po-ji? ..."

"Karena sekarang Pui-Po-giok sudah diakui secara aklamasi oleh seluruh lapisan kaum persilatan sebagai lawan yang akan menandingi Pek ih-jin.

"Kalau demikian, kenapa beliau justru bicara dengan Cian-pwe ..."

Setelah menarik napas Bwe-Kiam menukas.

"Kalau dia menyampaikan rahasia ini langsung kepada Pui-Po-giok, bukankah berarti dia mengingkari budi kebaikan Pek-ih-jin yang tidak membunuhnya? Tapi aku ...dengan Pek-ih-jin, aku juga kenalan lama, sahabat baik, dia membicarakan rahasia ini kepadaku dengan maksud supaya aku menuju ke Tang-ing, membujuk dan mencegah Pek-ih-jin. Kalau Pek-ih-jin tahu ada seseorang tokoh Bu-lim di Tiong-toh yang dapat mematahkan kungfunya, mungkin dia akan membatalkan niatnya untuk meluruk kembali ke Tiong-toh, dengan demikian bukan saja jiwa Po-giok dapat diselamatkan, kaum persilatan juga terhindar dari bencana besar."

"Tapi ...Cian-pwe, engkau ...."

"Setelah mengemban pesannya, aku bergegas menuju ke timur dan naik kapal, tak nyana di kapal ini orang salah paham terhadapku, hal itu jelas tak mungkin aku bicarakan dengan orang lain terpaksa aku ...terpaksa ..."

"Demi menunaikan tugas, mati secara ksatria Cian-pwe adalah seorang eng-hiong (ksatria)."

"Eng-hiong?"

Bwe-Kiam tertawa getir.

"Berapa harganya eng-hiong? Memangnya kenapa kalau eng-hiong? Pada saat bertempur dengan sengit, hujan badai pun melanda, lalu bertemu dengan makhluk aneh yang mirip binatang liar itu."

Oh-Put-jiu menyengir getir.

"Makhluk adalah Ka-sing Tai-su."

"O, Ka-sing Tai-su? ..."

Ucap Bwe Ki perlahan."Walau aku jatuh semaput oleh pukulannya, tapi tidak terluka apa-apa, begitu siuman bersama Kong-sun Ang kami berlayar lagi menuju ke Tang-ing."

"Lalu Kong-sun Ang ..."

"Supaya dia tidak merintangi usahaku ke Tang-ing, apa boleh buat, secara samar-samar aku jelaskan sedikit duduk persoalannya padanya di luar dugaan dia malah mendukung gagasanku dan membantu aku sekuat tenaga. Di luar perhitungan kami, sebelum sampai di Tang-ing, di tengah laut kami bertemu dengan Pek-ih-jin"

"Dari mana Cian-pwe tahu orang di atas kapal itu adalah Pek-ih-jin?"

"Yang berani naik sampan melawan hujan badai di tengah laut, kecuali Pek-ih-jin tiada orang kedua di dunia ini."

"Ya, benar,"

Ucap Oh-Put-jiu menghela napas.

"Aku undang dia ke atas kapal lalu dengan ramah dan sopan aku jelaskan kepadanya bahwa telah tercipta kungfu untuk mematahkan ilmu pedangnya di Tiong-goan, aku minta dia langsung pulang ke Tang-ing."

"Dan ...apa yang dia katakan?"

"Sepatah kata pun dia tidak bicara, hanya menyeringai padaku."

"Dapat aku bayangkan betapa sikap dinginnya."

Keringat membasahi selebar muka Bwe-Kiam, dengan napas sedikit memburu ia meneruskan.

"Sikap dinginnya itu memaksa aku menyerang dia sebetulnya aku tidak perlu takut, siapa tahu ... meski Pek-Sam-khong berhasil menciptakan kungfu untuk mematahkan permainan pedangnya, tapi selama beberapa tahun ini, Pek-ih-jin juga sudah memperdalam ilmu pedangnya, titik kelemahan ilmu pedangnya sudah disempurnakan. Ai betapa hebat dan lihai permainan ilmu pedang orang ini, sampai detik ini betul-betul tiada bandingan, permainan ilmu pedangnya rapat dan ketat sudah tiada titik kelemahan lagi."

Oh-Put-jiu menunduk kepala, diam sejenak lalu bergumam.

"Setelah Cian-pwe dikalahkan, sudah tentu Kong-sun Ang juga tidak diberi ampun."

"Kematianku tidak perlu dibuat sayang, hanya sayang kaum Bu-lim di Tiong-goan ..."

"Apa betul tiada tokoh silat di Tiong-goan yang mampu menandinginya?"

"Sampai detik ini, sukar aku temukan orang yang dapat menandinginya?"

"Bagaimana dengan Pui ...Pui ...."

Bwe-Kiam menghela napas "Kungfu Pui-po-giok memang sudah mencapai Taraf yang sempurna, namun sayang latihannya kurang matang, sempurna tapi tidak mantap, jelas tak mungkin dibandingkan dengan ilmu pedang Pek-ih-jin yang sudah tergembleng."

Sampai di sini, setiap kali mengucap sepatah kata, keadaan Bwe-Kiam seperti menguras tenaga, setiap kata dibarengi getaran keras sekujur badan nya.

Cui-Thian-ki bergidik gemetar, mulut pun bungkam.

Suara Pek-ih-jin yang dingin kaku itu seperti mendengung di telinganya.

"Tujuh tahun lagi aku akan datang pula ...dengan darah akan kucuci kekalahanku hari ini."

Terbayang dalam benaknya mayat yang bergelimpangan, tidak sedikit tokoh Bu-lim yang gugur demi membela nama baik kaum Bu-lim di Tiong-goan, darah mengalir bagai air sungai.

Dada Bwe-Kiam turun naik, napasnya makin berat.

Setelah bicara panjang lebar, kekuatan hidupnya sudah tersisa tidak banyak lagi.

Oh-Put-jiu bergumam sendiri.

"Tapi kungfu ciptaan suhu itu betapapun masih berguna, kenyataan Cian-pwe tidak seketika mati oleh tusukan pedangnya yang lihai."

"Ya ...memang demikian."

"Sudikah Cian-pwe menjelaskan cara mematahkan ilmu pedang Pek-ih-jin itu?"

"Sudah tentu boleh ... hanya saja ...aku ..."

Betapa luas makna ilmu silat ciptaan Pek-Sam-khong yang khas untuk mematahkan ilmu pedang Pek-ih-jin, tak mungkin dijelaskan hanya dengan beberapa patah kata saja, apalagi keadaan Bwe-Kiam sekarang meski mengerahkan seluruh sisa tenaganya juga tidak mampu menjelaskan secara tuntas.

Sudah tentu Oh-Put-jiu juga tahu tentang kelemahan orang, setelah diam sejenak, ia berkata hambar.

"Coba Cian-pwe jelaskan saja ke mana tujuan Suhu, soal kungfu ciptaannya kelak akan aku tanya langsung kepada beliau."

"Semoga dia juga ...juga belum mati, dia ... dia pergi ke ...Pek-cui-kiong!"

"Ke Pek-cui-kiong?"

Teriak Oh-Put-jiu. Berubah juga air muka Cui-Thian-ki, suaranya gemetar.

"Kenapa ...beliau pergi ke Pek-cui-kiong?"

"Karena ...hanya karena ..."

Karena apa Bwe-Kiam tidak dapat menjelaskan lagi.

Tabir malam menyelimuti lautan luas.

Tiada lampu, Cui-Thian-ki dan Oh-Put-jiu duduk diam di tengah kegelapan, kapal didiamkan terombang-ambing dimainkan ombak.

Entah sudah berapa lama mereka duduk.

Mendadak Oh-Put-jiu bergumam sendiri.

"Karena apa? Apakah Bwe-Kiam ingin bilang 'karena cucunya'? Bukan mustahil Po-ji juga sudah pergi ke Pek-Cui-kiong? Malah terkurung dan menghadapi bahaya di sana, maka beliau menyusul ke sana untuk menolongnya."

Cui-Thian-ki bungkam, tidak bicara. Apa pula yang bisa dia katakan? Oh-Put jiu bergumam pula.

"Semoga dia belum mati ...Bwe-Kiam bilang 'semoga', itu berarti bahwa beliau mengalami banyak mara bahaya, kalau demikian ...bukankah Po-ji lebih ...."

"Jangan kau katakan lagi,"

Tiba-tiba Cui-Thian-ki menukas dengan serak.

"Baik, aku tidak bicara lagi."

"Ada kalanya tanpa kau bicarakan, aku pun tahu apa maksud hatimu."

"kau ...kau katakan isi hatiku?"

Oh-put-jiu tertawa getir.

Dalam kegelapan susah Put-jiu melihat mimik wajahnya, yang terlihat hanya sepasang bola mata yang berkelap-kelip, sepasang mata yang berkaca-kaca dengan air mata.

Cui-Thian-ki berkata pula.

"jangan kuatir, walau aku ...aku baik terhadapmu, tapi kalau gurumu mengalami sesuatu di Pek-Cui-kiong, tentu kau tak mau melihatku lagi selamanya dan aku ....aku pun tidak akan menyalahkanmu."

Oh-Put-jiu tertunduk, lama sekali baru bersuara sedih.

"Terima kasih."

Ia menunduk karena tidak ingin Cui-Thian-ki melihat air mata menetes dari kedua matanya, namun betapa pilu nada terima kasih yang diucapkan itu, siapa pun yang mendengar akan dapat meresapinya.

Terima kasih atas pengertian dan maaf mu, demi diriku kau ikut menderita dan harus menahan diri, walau hatiku juga hancur lebur.

Begitulah mereka duduk dalam kapal yang gelap.

Entah beberapa kejap kemudian, mendadak Oh-Put-jiu lompat berdiri, memburu ke sana, memegang kemudi.

Di langit tiada bintang, tiada rembulan.

Arah angin di siang hari tidak menentu, malam ini bintang juga tidak kelihatan.

Kapal laju tanpa tujuan, mereka kehilangan arah tersesat.

Sehari, dua hari ...kapal itu berlayar tanpa arah tertentu, bergerak mengikuti gelombang.

Di atas kapal masih tersedia sisa air minum, tapi tidak ada makanan.

Rangsum sudah dibongkar seluruhnya ke darat oleh Ka-sing Tai-su, rangsum yang sebenarnya dipersembahkan untuk mereka.

Kini pada saat mereka memerlukan rangsum mereka tak bisa makan lagi.

Nasib terkadang juga mempermainkan umat manusia, nasib itu memang aneh, kadang kala tidak kenal kasihan, dan kejam.

Lambat-laun mereka merasakan bahwa kelaparan adalah penderitaan yang paling menakutkan.

Mereka belum kering karena dahaga, walau kelaparan dapat merengut nyawa manusia, tapi dahaga dapat membuat orang gila.

Mereka juga sadar betapa luas lautan itu, luasnya jauh di luar dugaan, di luar kenyataan yang pernah mereka bayangkan.

Selama beberapa hari ini, bukan saja mereka tidak melihat daratan, sebuah kapal atau perahu pun tidak terlihat.

Agaknya kapal ini sudah terbawa arus ke lautan bebas jauh meninggalkan jalur pelayaran.

Entah sejak kapan, mereka duduk saling berpelukan, walau kematian itu menakutkan, tapi ada satu manfaatnya, yaitu dapat memperpendek jarak antara manusia dengan manusia.

Sering terjadi lantaran "asing"

Manusia menjadi renggang, hubungan satu dengan yang lain makin jauh, tapi mati justru memperdekat hubungan mereka.

Tapi mereka hanya dapat saling berpelukan, sudah tak punya tenaga untuk bicara.

Lambat laun "kelaparan"

Itu memusnahkan lagi makna "hidup"

Mereka, kini bukan hanya kondisi fisik mereka makin lemah, otak pun sudah tidak bekerja normal.

Tekad untuk berjuang mempertahankan hidup sudah padam, keberanian untuk meronta melawan elmaut juga tiada lagi.

Ketika mentari bercahaya dengan hembusan angin yang kencang, sebetulnya mereka sudah dapat menentukan arah pelayaran, tapi Oh-Put-jiu sudah tidak mampu berdiri, apalagi memegang kemudi, umpama ada keinginan berdiri tenaga tiada lagi.

Mereka ingin tidur.

Mereka tahu begitu tertidur, mereka tidak akan bisa bangun lagi.

Tapi dalam kondisi mereka siapa pun tak kuasa menahan rasa kantuk, keinginan tidur tak bisa ditahan lagi, mereka pun tidak ingin melawan rasa kantuk.

Dengan lemah Oh-Put-jiu menggenggam tangan Cui-Thian-ki.

"kau tidak perlu kuatir ..."

"Ya ... tiada orang di dunia ini dapat memisahkan kita."

"Tiada orang ... tiada persoalan apa pun ..."

Cui-Thian-ki rebah dalam pelukan Oh-Put-jiu, dengan lirih dan lemah ia mendendangkan lagu nina bobo. Di tengah lagu nan lirih itu mereka menunggu ajal. Sekonyong-konyong.

"ser, ser, ser,"

Berkumandang tiga kali suara lirih. Tiga batang panah besi meluncur ke dalam kabin dan "crap"

Menancap di dinding papan.

Bidikan panah ini keras lagi kuat, batang panah yang hitam dihiasi bulu burung yang merah.

Waktu melesat di udara mengeluarkan suara lengking tajam, suara yang mengerikan, seperti ingin mencabik sukma.

Tapi Oh-Put-jiu hanya membuka sedikit matanya.

"Kawanan perompak datang ..."

"Apa perompak?"

Desis Cui-Thian-ki lemah. Mendadak mereka bergelak tawa geli.

"Bila naik ke kapal ini, mereka pasti kecewa."

Walau bergelak tawa, tapi suara tawa mereka amat lemah lirih seperti suara bisik-bisik. Mendadak berkumandang teriakan lantang di di luar kabin.

"Malang melintang di lautan, tiada tandingan di seluruh jagat!"

Seorang lagi juga membentak.

"Yang menyerah hidup, yang melawan mampus!"

Di tengah bentakan gaduh dan ramai, menyusul suara kelotekan besi dan jangkar yang bertali panjang dilemparkan ke kapal ini dari kapal sebelah.

Kapal perompak itu tidak begitu besar, hanya satu setengah kali lebih besar dibanding kapal ini membentang layar hitam gelap.

Kawanan perompak mengenakan pakaian serba baru dengan corak dan warna yang berbeda beda tapi menyolok.

Kaos selempang yang terbuat dari kulit ikan hiu, kebanyakan telanjang dada memperlihatkan benjolan daging berotot yang mengkilap di bawah sinar mentari perawakan mereka yang gede, kekar dan keras, bentuknya mirip robot besi.

Sambil berteriak-teriak mereka mengacung dan mengobat-abitkan berbagai macam senjata yang panjang melengkung dengan bentuk aneka ragam, menerjang masuk seperti gerombolan binatang liar yang kelaparan.

Tapi Oh-Put-jiu dan Cui-Thian-ki anggap tidak mendengar, tidak melihat, mata pun malas dibuka untuk melihat mereka.

Mendapatkan kapal kosong yang sudah bobrok, dengan keadaan yang porak poranda, menemukan sepasang laki perempuan yang sekarat dan empas-empis menunggu ajal.

Keruan kawanan perampok itu berdiri melongo.

Beberapa di antaranya menggerutu dan mengumpat, ada juga yang belum putus-asa, geledah sana periksa sini, mencari barang-barang yang dianggap masih berharga untuk dimiliki.

Dua orang menghampiri Oh-Put-jiu dan Cui-Thian-ki, berjongkok dan memeriksa dengan seksama.

Seorang berkata dengan menyengir "Ajaib, kedua orang ini belum mati."

"Entah dari mana kedua orang ini,"

Kata seorang lain.

"Coba periksa, pakaian yang melekat di badan mereka hampir mirip pakaian orang-orang yang datang dari negeri asing."

Orang ketiga mendekat sambil cengar-cengir.

"Tapi cewek ini kelihatan yahut, asal diberi makan dua-tiga hari lalu didandani, aku tanggung dia akan segar-bugar lagi menjadi cewek yang ayu jelita, hihi ...."

Di tengah gelak tawanya, orang banyak pun merubung maju.

Mereka tidak tahu bila nona jelita ini diberi makan dan minum, dua-tiga hari lagi, maka jiwa mereka yang bakal terancam bahaya.

Sudah tentu Oh-Put-jiu dan Cui-Thian-ki mandeh ditonton dan dicemoohkan, mereka malas membuka mata dan bicara, apalagi bergerak.

Mendadak seorang berbicara dengan nada tinggi dari kapal perompak.

"Hehe, anak-anakku yang bagus, kenapa tidak lekas bawa kemari apa yang kalian temukan? Barang-barang bagus harus kalian serahkan dulu kepadaku untuk diperiksa."

Suara itu berkumandang dari kejauhan, namun suaranya jernih lagi nyaring, Oh-Put-jiu dan Cui-Thian-ki yang setengah sadar seperti kenal suara itu, namun mereka malas mencari tahu siapa sebenarnya orang yang bersuara itu.

Kawanan perompak itu menggerundel itu tidak sedikit yang meludah dan mengumpat, seorang yang dekat Oh-Put-jiu memaki perlahan.

"Tua bangka ini ternyata sok bertingkah dan main perintah."

"Salah kita kenapa tidak mampu melawan dan mengusirnya,"

Seorang menanggapi.

"Ya, tahu begini biar dia tenggelam saja di laut, kenapa kita menolongnya malah,"

Orang ketiga menggerutu.

Sambil mengumpat beberapa orang itu mulai mengangkat tubuh Oh-Put-jiu dan Cui-Thian-ki.

Keadaan Oh-Put-jiu dan Cui-Thian-ki memang lemah lagi lunglai, waktu diangkat keadaan mereka mirip setumpuk daging yang tidak bertulang.

Dalam keadaan setengah sadar mereka diangkat ke kapal perampok, seketika hidung mereka mengendus bau tembakau , bau arak dan keringat laki-laki yang busuk.

"Hanya"

Suara nyaring melengking tadi mendadak menjerit kaget dan senang.

"kiranya kalian ...Hehe, dunia rasanya sebesar daun kelor, di mana saja kita selalu bertemu lagi."

Akhirnya Oh-Put-jiu dan Cui-Thian-ki membuka segaris matanya.

Mereka melihat Ban-lo-hu-jin berdiri di depannya, pantas mereka merasa kenal suaranya.

Di atas kapal perampok ini, berbagai macam barang yang aneh-aneh bertumpuk dan berserakan daging panggang, arak berguci-guci, berbagai jenis pakaian, tumpukan emas perak dan perhiasan mutu manikam, semua ditaruh sembarangan tanpa diatur atau disusun dengan baik, kapal perampok ini mirip toko kelontong yang tidak keruan keadaannya.

Di tengah ruang terdapat sebuah meja, di atas meja berserakan mangkuk piring yang berisi berbagai jenis makanan, berbagai jenis arak, mirip restoran yang berantakan.

Ban-lo-hu-jin berdiri di belakang meja yang mirip restoran berantakan ini, kedua tangannya berlepotan minyak, demikian pula mulutnya, agaknya sejak berada di kapal perampok ini, dia terus makan dan makan tanpa berhenti.

Oh-Put-jiu menyengir kecut.

"Ternyata ...ternyata kamu berada di sini."

"Tidak kau duga bukan? Nenek ini memang berejeki besar, panjang umur, betul tidak?"

Kawanan perompak itu berpandangan.

"Hei ternyata mereka sudah kenal". Diam-diam mereka mengeluh, melayani nenek yang satu ini saja sudah kewalahan dan bertobat, kini ditambah dua orang lagi, harapan untuk mengusir nenek keparat ini jelas sia-sia belaka, maka beramai-ramai mereka sama mengundurkan diri. Pada saat kawanan perompak itu mundur satu per satu, Cui-Thian-ki merapatkan tubuhnya dalam pelukan Oh-Put-jiu, dengan pilu ia berkata lirih.

"Kali ini nasib kita akan lebih celaka ...."

"Ya, segalanya akan berakhir di sini ..."

"Nenek keparat itu pasti tidak akan memberi kelonggaran padamu."

"Ya, mungkin."

Dengan erat mereka berpegangan, mereka maklum untuk terakhir kali ini mereka dapat saling genggam.

Mereka lebih rela jatuh ke sarang serigala dan dimangsa oleh binatang liar dan buas daripada jatuh di tangan Ban-lo-hu-jin.

Kawanan perompak itu sudah hampir pergi seluruhnya, di luar dugaan Ban-lo-hu-jin mendadak tertawa besar, serunya melengking.

"He, kenapa kalian menyingkir malah?"

Kalian tidak mau memanfaatkan hasil buruan ini?"

Kawanan perompak itu kaget dan bingung.

"Tapi ...mereka ..."

Ban-lo-hu-jin terkial-kial.

"Mereka memang temanku, tapi nenek ini kenal budi dan tahu cara membalasnya, kalian sudah menerima diriku di kapal ini, adalah pantas kalau aku ikut memikirkan kepentingan kalian. Nah, begini saja, yang lelaki jelas tidak berguna bagi kalian, taruh saja di sini akan aku bereskan dia, sedang yang perempuan, aku tidak membutuhkannya."

Kawanan perompak itu terbelalak girang dan saling pandang. Ban-lo-hu-jin tambah geli.

"Anak-anak bodoh tunggu apa lagi, ayolah gotong ikan duyung ini ... He, kalian harus tahu dan waspada, cewek ayu ini juga seekor macan betina, perlu aku peringatkan kepada kalian, jangan memberi makan apa pun padanya, kalau dia makan kenyang dan tenaganya pulih, maka kalian jangan harap bisa selamat di tangannya, ... haha, meski keadaannya lemas lunglai, kalian kan bisa mengajaknya tidur"

Serasa beku sekujur badan Oh-Put-jiu hujan marah juga tidak bisa lagi, terpaksa ia hanya mengawasi saja dengan cemas kawanan perompak itu menggotong Cui-Thian-ki pergi.

Cui-Thian-ki lemas lunglai, tidak bisa berbuat apa-apa jangankan meronta, menjerit atau memaki juga tidak bisa.

Maka ia hanya mengawasi Oh-Put-jiu saja.

Mereka saling tatap, berpandang-pandangan, mereka tahu inilah pandangan terakhir, pandangan perpisahan.

Ban-lo-hu-jin menutup rapat daun pintu, katanya tertawa.

"Kawanan kura-kura itu tentu mengira aku ini tua-tua keladi sudah tua masih naksir anak muda ..."

Sembari bicara tangannya mencomot sebuah paha ayam sengaja dipamerkan sambil melirik ke arah Oh-Put-jiu, hidungnya mengendus-endus, tertawa yang dibuat-buat tampak mirip badut.

"Sebaiknya apa yang harus kau lakukan menurut seleraku? Coba terka?"

Oh-Put-jiu memejamkan mata, tidak memedulikan ocehannya.

"Kenapa pejam mata? Takut melihat hidangan sedap ini? Padahal apa sih salahnya melihatnya? Hidangan ini semua akan kuberikan padamu."

Oh-Put-jiu mengertak gigi, meronta-ronta, bertahan sabar, tapi tak kuat menahan keinginan, matanya akhirnya terbuka, paha ayam itu ternyata berada di depan hidungnya.

Bau lezat menusuk hidung Oh-Put-jiu, saking tak tahan badannya sampai gemetar.

"Coba cium, apakah paha ayam ini harum?"

Bibir Oh-Put-jiu bergetar, gigi berkeretukan, sekuat tenaga ia mengertak gigi, namun perutnya sudah tak kuat menahan lapar, dengan gemetar tangannya terangkat hendak meraih paha ayam itu, tapi Ban-lo-hu-jin mendadak menarik tangannya.

"Ingin makan ya?"

Goda Ban-lo-hu-jin dengan tertawa lebar.

"mudah saja, asal kamu berjanji dan melulusi psrmintaanku, paha ayam ini segera kuberikan padamu."

"Soal ...soal apa?"

Tanya Oh-Put-jiu sambil mengerahkan tenaga.

"Aku hanya minta kau beber rahasia pit-kip peninggalan Ci-ih-hou padaku."

"Tidak ...tidak akan kukatakan."

Teriak Oh-Put-jiu. Tapi pikirannya tenggelam dalam tenggorokan.

"Tidak mau bicara? aku tidak akan memaksamu, tapi paha ayam ini, ehm ...betapa lezatnya paha ayam ini ...."

Tangan yang memegang paha ayam bergerak pergi datang di depan mata Oh-Put-jiu. Oh-Put -jiu bergulingan di lantai, sekuat sisa tenaganya ia memukul dada sendiri.

"Anak bodoh, buat apa menyiksa diri sendiri hanya bicara ...ai, sedap benar paha ayam ini, kalau tidak percaya, boleh coba mencicipinya."

Lalu disobeknya secomot daging ayam dan dilempar ke lantai.

Tubuh Oh-Put-jiu sudah meringkel dan masih gemetar.

Rasa benci merasuk hatinya, benci terhadap diri sendiri, kenapa dalam keadaan seperti ini, dirinya menjadi begini lemah.

Tapi benci tinggal benci, dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Oh-Put-jiu cukup sadar sebagai manusia biasa, dirinya tak kuat menahan lapar, lapar merupakan iblis yang paling menakutkan di dunia ini.

Dia terus meronta, bertahan dan berjuang menanggulangi kelaparan, berusaha melupakan dan tidak melihat atau mencium bau daging ayam itu.

Orang yang tidak pernah gila karena kelaparan takkan bisa membayangkan betapa gigih perjuangan seorang yang memerangi rasa kelaparan.

Mukanya basah oleh keringat dingin, bibirnya juga berdarah karena tergigit pecah.

"Anak bagus, makanlah tidak usah sungkan!"

Seperti anjing kelaparan akhirnya Oh-Put-jiu menggelinding ke sana, dengan rakus ia melalap daging ayam di lantai itu.

Mendingan dia tidak menelan daging ayam itu, begitu daging ayam itu masuk mulut, betapa lezat dan sedap rasanya, menjadikan rangsangan yang tidak bisa dibendung lagi, kini bukan hanya badan saja yang bergetar, sukma juga seperti akan terbang ke awang-awang.

"Karena lapar dia tersiksa, api iblis seperti menyayat tubuhnya, penderitaan ini bukan lagi penderitaan fisik, penderitaan ini sudah merasuk sukma dan jiwanya.

"Nah, anak bagus, katakan saja,"

Demikian ragu Ban-lo-hu-jin dengan lembut.

"isi buku itu sudah apal di luar kepalamu, betapa mudah membacanya, kan lebih enak daripada kelaparan begini ..."

Oh-Put-jiu meringkel lagi, kepala terbenam di tengah kedua lututnya. Tapi rayuan Ban-lo-hu-jin seperti mengandung hipnotis, meski menutup kuping suaranya masih terdengar jelas.

"Kamu hanya membacanya di luar kepala, paha ayam ini akan menjadi milikmu, demikian pula daging sapi, panggang babi dan sate kambing ini semua kuberikan padamu. Hah, bakpao ini besar lagi masih hangat ..."

"Tutup bacotmu! ....Kumohon tutup mulutmu!"

Pekik suara Oh-Put-jiu yang mengerikan mirip raungan binatang buas yang terluka dan kehabisan tenaga, siapa pun yang mendengar suaranya akan hancur hatinya, tapi Ban-lo-hu-jin masih tenang dan berseri tawa, seperti tidak mendengar juga tidak melihat.

Dengan kalem ia malah berkata.

"Nah, daging babi ini dipanggang dengan saos, rasanya empuk dan wangi sate kambing ini kalau dimakan bersama bakpao, tanggung lidahmu akan menari ...."

"Baiklah ....akan ...akan aku bacakan,"

Oh-Put-jiu tidak tahan lagi, suaranya serak. Ban-lo-hu-jin terbeliak senang "Benar kau mau membacakan?"

Oh-Put-jiu memukul dada dan membenturkan kepala di lantai, dengan serak ia meratap.

"Ya, akan aku bacakan ....aku bukan manusia ....akan aku bacakan ..."

Dalam pada itu kawanan perompak itu telah menggotong Cui-Thian-ki ke buritan, lalu membaringkannya di tempat yang teraling oleh hembusan angin, gelak tawa kasar orang banyak seperti gemuruh ombak.

Tampil seorang laki-laki bermuka burik, dengan sebuah anting-anting gelang menghias kuping kirinya, golok pendek melengkung terselip di pinggang, sikapnya kelihatan rakus dan liar, sambil menyeringai lebar ia berkata.

"Siapa duga nenek reyot itu masih berselera besar, yang ditaksir adalah anak muda yang lemah, untuk apa dia menyekap diri dalam kabin kalau tidak main cinta."

Seorang lagi berperawakan gede luar biasa, namun kepalanya justru kecil sekali.

Badan yang gede bak raksasa itu dibungkus pakaian ketat yang menyolok warnanya, sementara kepalanya yang kecil dibungkus ikat kepala warna merah, suaranya serak dan rendah.

"Justru tua bangka itu sudah lamur matanya, bukan pilih satu di antara kita, dia justru pilih kera berkepala besar yang kurus lagi kering, mana kuat bocah itu dipermainkan olehnya."

Seorang lagi bergelak tawa.

"Nah, dalam hal ini agaknya kamu bukan ahli. Justru karena usianya sudah lanjut, maka dia tidak berani mengajak kita main, bila main denganmu umpamanya, mungkin tulang belulangnya akan terlepas semua."

Kepala kecil itu menjengek.

"kau tahu apa, kau tahu kentut perempuan makin tua makin berpengalaman dan lebih ...."

Kawanan tertawa geli.

"Kalau benar demikian kenapa tidak kamu saja yang mengajaknya main?"

"Cuh,"

Kepala kecil meludah.

"Ikan cucut macamku ini, umpama delapan tahun tidak menyentuh wanita juga tidak akan pilih perempuan reyot seperti itu, coba bayangkan tubuhnya 663 yang kate gembrot ...cuh jijik!"

Tiba-tiba bola matanya mengerling lalu bergelak tawa.

"Apalagi di sini ada cewek secantik ini, kalau kalian mengaku saudara baikku, berilah kesempatan, biar ikan cucut mencicipinya lebih dulu, bagaimana?"

"Wah, mana bisa, cewek ini tidak kuat,"

Seru si muka burik.

"Betul, berikan saja padaku, aku paling kecil juga paling sopan,"

Seorang lain menyeletuk. Tiba-tiba seorang membentak dingin.

"Kalian minggir semua."

Orang ini berpakaian serba hitam, sepatu kulit hitam ikat kepala hitam, celana hitam, sabuk hitam, mukanya yang benjol-benjol penuh daging juga hitam, legam, mata kanannya tertutup kain hitam, kiranya si mata tunggal.

Meski hanya mata tunggal, tapi mata kirinya bercahaya, lebih terang dari dua biji mata orang lain, lebih buas, garang dan menakutkan.

Melihat kedatangannya, kawanan perompak itu mundur semua.

Ikan cucut segera tampil ke depan sambil unjuk tawa mengumpak.

"Kalau Liong-lo-toa ada selera, sudah tentu Liong lo-toa diberi prioritas."

"Tidak mau,"

Bentak Tok-gan-liong (si naga mata tunggal). Ikan cucut menyengir "Kalau Liong-lo-toa tidak mau, biar aku ...."

"Pergilah ke dapur, ambil nasi dan lauk-pauknya,"

Bentak Tok-gan-liong kasar. Ikan cucut melengong.

"Tapi ....kita tidak boleh memberinya makan."

"Siapa bilang tidak boleh?"

Bentak Tok-gan-liong beringas.

"Nenek ....nenek tua ...."

"kau tunduk padaku atau mendengar perintah?"

Ikan cucut bungkam, sekilas ia melirik ke arah Cui-Thian-ki, setelah menelan air liur ia berkata lagi dengan mengeraskan kepala.

"Tapi ....kalau cewek ini punya tenaga, kita mungkin tak mampu mengusiknya lagi."

"Memangnya siapa bilang kita akan mengusiknya?"

Damprat Tok-gan-liong.

Keruan kawanan perompak kaget mendengar pernyataan Tok-gan-liong.

Cui-Thian-ki yang lunglai dan hampir pingsan pun tersentak kaget dan terbuka matanya.

Tampak kawanan perompak itu terbeliak bingung dan saling pandang, mimik mereka mirip kera makan terasi, penasaran juga kecewa.

Ikan cucut agaknya paling berani di antara mereka.

"Tapi ...Liong-lo-toa, daging empuk yang sudah di depan mulut, kenapa tidak kita ..."

"Maksudmu kau ingin mencicipi kemontokan tubuhnya?"

Tukas Tok-gan-liong mendelik. Ikan cucut menyengir malu.

"Lo-toa, kasihanilah saudara-saudaramu, sudah tujuh delapan bulan kita berlayar, tidak pernah mendarat, selama itu kapan kita melihat perempuan, apalagi mengajaknya tidur, aku yakin kau sendiri juga ketagihan ..."

Belum habis ikan cucut bicara Tok-gan-liong sudah melayangkan telapak tangannya, ikan cucut tergampar mencelat beberapa meter jauhnya.

Dengan mata tunggalnya yang garang Tok-gan-liong menyapu pandang anak buahnya.

"Siapa lagi yang ingin bicara?"

Kawanan perompak yang liar lagi buas dan berotot itu, ternyata mirip tikus berhadapan dengan kucing di depan Tok-gan-liong, mereka tunduk dan bungkam, tiada satu pun berani bercuit lagi.

"Siapa di antara kalian yang mau ke dapur mengambilkan makanan?"

Kata Tok-gan-liong pula.

Seperti berlomba, beberapa di antara anak buahnya berlari ke dapur, hanya sekejap mereka sudah kembali membawa nasi, ikan, daging, semangkuk kuah dan dua buah bakpao.

Tok-gan-liong tertawa dingin.

"Lahirnya kalian kelihatan tunduk dan patuh padaku, tapi kutahu hati kalian masih penasaran dan bertanya Liong-lo-toa bukan sanak kadang cewek ini, kenapa menampilkan diri menolongnya?"

Dalam hati kawanan perompak itu mengiakan tapi mulut mereka bilang tidak.

"Benar tidak?"

Bentak Tok-gan-liong gusar. Terpaksa anak buahnya mengiakan bersama dengan menunduk.

"Kalau kalian anggap Liong-lo-toa tidak tahu aturan, sok kuasa dan setenang-benang, maka kalian salah. Bahwa aku menolong nona ini, sudah tentu ada sebab dan alasannya."

Sebelum orang bertanya ia sudah melanjutkan "Ingin aku tanya kalian, nenek keparat itu menggemaskan."

"Kalau kita bawa nenek keparat itu pulang ke daratan, apa ada muka kita menghadap atasan? Umpama pemimpin kita tidak menyalahkan dan tidak menghukum kita tapi kejadian yang memalukan ini, kalau sampai tersiar luar apakah kapal kita masih dapat berlayar di lautan?"

Pidato Tok-gan-liong seperti mengorek isi hati mereka, semua mendesis geram dan mengertak gigi penuh kebencian.

"Ya, tua bangka itu ..."

"Kecuali memaki di belakangnya, apa yang bisa kalian lakukan?"

Jengek Tok-gan-liong. Kawanan perompak saling pandang, semua lesu "Berkelahi kita buka tandingannya, adu mulut juga kalah."

"Makanya, kalau kita kewalahan menghadapinya, kan pantas kalau kita cari bantuan orang,"

Seru Tok-gan-liong berapi-api.

"Mencari bantuan? Mencari siapa? Di tengah laut begini siapa dapat kita mintai bantuan?"

Kawanan perompak itu kehabisan akal. Tok-gan-liong menuding Cui-Thian-ki, suaranya tegas.

"Kita minta bantuan nona ini."

"Dia? ...Minta bantuannya? ..."

Gempar kawanan perampok itu.

Bab 31.

Misteri Kapal Layar Pancawarna "Kalian memang sekawanan binatang liar yang bodoh, memangnya kalian tidak melihat sikap nenek itu amat takut dan segan terhadap nona ini?

Kalau nona ini tidak kelaparan dan lemas lunglai, memangnya nenek siluman itu tidak berlutut minta ampun padanya."

Sekilas kawanan perampok itu adu pandang pula, lalu pecah gelak tawa mereka.

"Betul,"

Seru mereka berkeplok dan berjingkrak.

"memang demikian ...Liong-lo-toa memang lebih pintar dari kita."

"Kalian sudah tahu akalku amat bagus, kenapa tidak lekas serahkan kuah hangat itu."

Perlahan Cui-Thian-ki minum kuah yang diangsurkan ke depan mulutnya, selain menghabiskan satu bakpao dan sekerat daging, matanya juga sudah terbuka lebar, hanya beberapa kejap kemudian, bola matanya kembali bercahaya, bening lagi jeli.

Kini Cui-Thian-ki sudah dapat duduk, tawanya masih manis.

"Terima kasih, kalian ...!"

Mendengar Cui-Thian-ki tertawa, kawanan perompak itu sama terpesona dan melongo, tertegun seperti orang pikun mimpi pun mereka tidak pernah membayangkan ada gadis ayu dan menggiurkan seperti Cui-Thian-ki.

Melihat keadaan orang-orang itu, senyum Cui-Thian-ki tambah manis, lirikan matanya juga 665 lebih tajam, katanya lirih.

"Sebetulnya aku sudah menerima kematian, tapi kalian menolong aku malah, juga menolongnya, aku ...aku tidak tahu cara bagaimana harus berterima kasih pada kalian."

Perlahan ia berdiri dengan gemulai ia maju dan satu per satu mencipuk pipi orang-orang itu.

Memangnya kawanan perampok itu sudah linglung, setelah dicipuk mereka menjadi kaku mirip tonggak kayu.

Umpama ada orang membacok mereka dengan golok juga tidak akan dirasakan sakit.

Tok-gan-liong juga gelagapan.

"Nona, kau ...."

Tadi betapa girang dan gagah laki-iaki ini di hadapan anak buahnya, namun menghadapi Cui-Thian-ki, dia berubah mirip anak kecil, bicara juga gelagapan.

"Jangan kuatir."

Ucap Cui-Thian-ki tertawa.

"serahkan urusan ini padaku, tanggung beres."

"Tapi nenek siluman itu ...."

"Kali ini dia tidak akan bisa lari."

Melihat senyum manis Cui-Thian-ki, suaranya yang lembut, akhirnya timbul keberanian Tok-gan-liong.

"Tapi ...orang seperti nona, apa dapat membunuh orang? Apakah nona pernah membunuh orang?"

Tadi dia amat yakin dan penuh kepercayaan namun setelah melihat keadaan Cui-Thian ki, bicara lembut, gerak gerik sendiri.

"Satu pun aku tidak pernah membunuh,"

Ujar Cui-Thian-ki tertawa.

"Wah, kalau begitu ...."

Tok-gan-liong menghela napas.

"Aku tidak membunuh satu orang,"

Demikian tukas Cui-Thian-ki.

"aku hanya membunuh lima ribu lebih."

Tok-gan-liong tercengang, matanya terbeliak, demikian pula anak buahnya, semua berdiri linglung.

Sambil menggeliat dan meluruskan kaki tangan nya, perlahan Cui-Thian-ki malah merebahkan diri.

Angin laut meniup buyar rambutnya, meniup pakaiannya yang sudah tidak keruan, pahanya yang jenjang mulus terpampang di depan orang banyak.

Selama beberapa hari ini, keadaannya tidak terurus, badannya kotor, demikian pula pahanya berlepotan hangus, jadi tidak seputih dan semulus biasanya, namun potongan tubuhnya dengan lekuk-lekuknya yang nyata, laki-laki mana yang tidak terangsang melihatnya.

Cui-Thian-ki tidak peduli.

Dia berbaring seenaknya, seolah-olah orang-orang itu tidak dianggap manusia.

Sudah tentu orang-orang itu sama serba salah, biji leher mereka turun naik dan menelan air liur, banyak yang melengos ke arah lain, namun tidak jarang mereka menoleh dan melirik.

Akhirnya Tok-gan-liong tidak sabar lagi.

"No ...nona, tidak sekarang engkau bertindak?"

"Sebelum tenagaku pulih, kalau sampai berkelahi bagaimana?"

Demikian jawab Cui-Thian-ki ia kuatir kalau Ban-lo-hu-jin nekat dan melabraknya, urusan bisa runyam.

"O, ya ...."

Tok-gan-liong menunduk. Tapi beberapa kejap kemudian ia tak tahan lagi.

"Laki-laki yang berada di atas kapal dengan nona itu...."

"Dia bernama Oh-Put-jiu, dia ..."

Cui-Thian-ki tertawa lebar.

"Bagaimana tentang dia?"

Tawa yang genit dan malu-malu secara tidak langsung menjelaskan tentang hubungannya dengan Oh-Put-jiu.

"Baik, bagus sekali, hanya saja ...mungkin ...agak lemah sedikit."

"Dia lemah? ...Ah, kalau bukan lantaran kelaparan belasan hari, terhadap orang-orang seperti kalian, seorang diri pun dia mampu melawan empat atau lima puluh orang."

"O, ya ....ya, tapi sekarang, keadaannya justru amat berbahaya."

"Berbahaya?"

Tanya Cui-Thian-ki.

"kalau benar dia menghadapi bahaya, memangnya aku enak-enak tidur di sini? Kalau benar dia mengalami bahaya, jangankan aku sudah bisa berdiri dan berjalan merangkak pun akan kususul ke sana."

"Tapi ...tapi nenek siluman itu ...""

"Jangan kuatir, nenek siluman itu takkan membunuhnya, umpama ditempeleng dan diludahi mukanya, nenek itu juga tidak akan marah, tidak berani mengusiknya."

"Oo, kenapa demikian?"

Tanya Tok-gan liong bingung.

"Karena nenek siluman itu ingin memperoleh sesuatu dari dia."

Terbelalak heran Tok-gan-liong.

"Maksudmu nenek itu memohon sesuatu padanya?"

"Ehm, kamu tidak percaya?"

"Padahal nona tidak melihat mereka dari mana tahu?"

"Tanpa melihat mereka pun aku dapat menebaknya, dia ..."

Belum habis Cui-Thian-ki bicara, mendadak berkumandang lengking jeritan yang menyayat hati. Jeritan itu ternyata suara Ban-lo-hu-jin.

"Hah, nenek siluman itu ...wah ...apa yang terjadi."

Kejut-kejut girang Cui-Thian-ki dibuatnya.

"Lekas papah aku berdiri."

Bergegas Tok-gan-liong memapah Cui-Thian-ki, waktu jari tangannya menyentuh kulit badannya, mendadak ia gemetar dan merinding, hampir saja napasnya menjadi sesak.

"Papah aku ke sana."

Pinta Cui-Thian-ki. Tok-gan-liong menarik napas.

"Ya, tapi ... tapi ....."

"Tapi apa lagi, lekas!"

"Untuk berjalan saja nona tidak bertenaga, mana bisa ..."

"Siapa bilang aku tidak bertenaga, untuk jalan, aku hanya ingin menghemat tenaga, tenaga yang sudah pulih sebagian ini akan kugunakan untuk menghadapi nenek itu, tahu tidak?"

"O, ya ...ya,"

Tok-gan-liong menghela napas panjang.

Dengan kekuatannya, menjinjing tubuh orang seberat Cui-Thian-ki, sepuluh orang juga dapat diangkatnya bersama.

Tapi entah kenapa, tubuh Cui-Thian-ki yang halus, selembut sutera, harum lagi hangat, begitu menggelendot di badannya, seketika ia merasa berat sekali boleh dikatakan tenaga untuk menarik napas pun terasa berat, malah hampir tidak kuat menggerakkan kaki.

Untung Tok-gan-liong masih mampu membawa Cui-thian-ki ke depan pintu kabin.

Keadaan dalam kabin sudah tenang dan sepi, namun daun pintu masih tertutup rapat.

"Terjang pintu itu,"

Cui-Thian-ki memberi aba-aba.

Kepandaian untuk berkelahi kawanan perampok itu memang terlalu rendah, tapi tenaga untuk menjebol pintu cukup berlebihan, tiga orang beradu pundak lalu menerjang serempak.

"blang"

Daun pintu pecah dan jebol berhamburan.

Tampak tangan kiri Ban-lo-hu-jin mendekap muka sebelah kanan, mukanya berlepotan darah.

Sementara Oh-Put-jiu duduk lemas di atas kursi mulutnya juga berlepotan darah.

Jari-jari tangan kanan Ban-lo-hu-jin sedang mencekik leher Oh-Put-jiu, begitu daun pintu jebol diterjang dari luar, segera dia lepas tangan sambil mundur tiga langkah.

"Siapa ..."

Belum habis bicara, ia lihat Cui-Thian-ki berdiri diambang pintu.

Kini sikapnya mirip dicekik lehernya, bibirnya bergetar, sepatah kata pun tak mampu bicara.

Begitu daun pintu jebol, Cui-Thian-ki lantas berdiri sendiri, berdiri tegak dan pasang aksi lagi.

Wajahnya dihias senyum cerah yang menggiurkan, wajah nan jelita tampak bersemu merah dan bercahaya, siapa pun takkan percaya bahwa barusan nona ini masih empas-empis dan lemas kelaparan.

Dengan mengulum senyum ia menyapa.

"Hai, Ban-lo-hu-jin, baik-baik saja engkau ?"

Ban-lo-hu-jin berdiri kaku seperti kayu, tapi kulit daging wajahnya kelihatan kedutan, walau mulut terpentang lebar, tapi suaranya serak dan tenggelam dalam tenggorokan.

Setelah menelan ludah beberapa kali, akhirnya ia tergagap.

"kau ...bagaimana bisa ...."

"Mengherankan bukan? Sebetulnya aku sendiri agak heran, tapi sekarang aku sudah tahu, lapar memang penyakit yang menakutkan, namun penyakit ini pun cepat sembuh."

Sambil tersenyum ia melangkah maju, sebaliknya setapak demi setapak Ban-lo-hu-jin menyurut mundur. Ketika Cui-Thian-ki tiba di samping Oh-Put-jiu, Ban-lo-hu-jin sudah mundur mepet dinding.

"Ban-lo-hu-jin, apa yang kau takuti?"

Ucap Cui-Thian-ki lembut.

"paling banter aku hanya membunuhmu sekali, atau mengiris dan menyayat kulit dagingmu saja, bila aku malas dan cari gampangnya, mungkin kamu aku dorong ke dalam laut untuk umpan ikan, lalu apa yang harus kau takuti?"

"Nona ...nona Cui, aku ...aku tidak ...tidak bersalah terhadap kalian, coba periksa, telingaku sudah protol digigit Oh-siau-hiap."

Sembari bicara ia turunkan tangannya, telinga kanannya memang tidak kelihatan, pipinya berlepotan darah.

Cui-Thian-ki cekikikan "Lho, apa yang terjadi?

...O, ya, aku tahu sekarang.

Mungkin Oh-siauhiap bicara terlalu lirih, maka kamu mendekatkan kupingmu ke depan mulutnya, siapa tahu tahu Oh-Put-jiu kelaparan, saking tak tahan telingamu digigit dan ditelannya, ai ...

seleranya ternyata cukup besar."

Kawanan perompak itu geli dan ingin tertawa di samping kaget mereka pun heran.

"Siapa menduga laki-laki yang sekarat karena kelaparan itu masih dapat menipu dan menggigit telinga nenek keparat itu."

Ban-lo-hu-jin memang tertipu oleh Oh-Put-jiu dengan muka cemberut ia berkata.

"Ucapan nona Cui memang benar, seperti menyaksikaa sendiri saja."

"Terima kasih atas pujianmu,"

Ucap Cui-Thian-ki tertawa.

"Tapi soal apa yang dibicarakan Oh-Put-jiu terhadapmu? Ban-lo-hu-jin ternyata begitu besar hasratnya untuk mendengarkan bisikannya?"

"Dia ...ini ...."

"Ah, tahulah aku sekarang. Yang akan dia bisikan tentu rahasia kungfu warisan Ci-ih-hou, betul tidak?"

Ban-lo-hu-jin menunduk lesu.

"Persoalan apa pun agaknya tidak bisa mengelabui dirimu."

"Setelah mendengar rahasia kungfu peninggalan Ci-ih-hou tentu kungfumu memperoleh 668 kemajuan pesat, mungkin ... aku bukan tandinganmu lagi."

"Ah, mana ... mana bisa begitu cepat?"

"Ya, untung tidak secepat itu, kalau tidak memangnya aku bisa hidup sampai sekarang?"

"Ya ...bukan ...ya!"

Kalau aku ingin bertahan hidup, maka jangan kau pertahankan diri."

"Nona Cui...."

Pekik Ban-lo-hu-jin setengah meratap.

"kumohon ampun padamu."

Makin lembut suara Cui-Thian-ki.

"Kalau aku turun tangan, mungkin kamu bisa mati dengan cara yang paling enak, sebaliknya ...aih."

Ban-lo-hu-jin menjatuhkan diri dan menyembah, ratapnya.

"Ampun nona Cui, pandanglah muka anakku, ampunilah jiwaku."

"Putramu? Siapa putramu? Ada sangkut paut apa dia dengan aku?"

"Nona Cui, bila engkau mengampuniku, akan aku beberkan sebuah rahasia, rahasia besar dan penting."

Berputar bola mata Cui-Thian-ki.

"Nah, sekarang tutuk dulu hiat-to Jian-kin dan Khi-hiat, pada urat nadi kedua sendi tulang kanan kiri lututmu mungkin akan kuberi kelonggaran untuk mendengar omonganmu.

"Ya, ya, Ban-lo-hu-jin mengiakan sambil angkat tangan, dengan keras ia menutuk keempat hiat-to yang ditusuk Cui-Thian-ki, tutukannya memang keras tanpa kenal kasihan, Maklum, di hadapan Cui-Thian-ki tak berani ia main licik, sedikit pura-pura tentu diketahui olehnya.

"Aneh bin heran,"

Ujar Cui-Thian-ki dengan tertawa geli.

"kenapa kamu tidak berani melabrakku? Padahal tenagaku belum pulih, kalau kamu melabrakku, jelas aku bukan tandinganmu."

Tubuh Ban-Lo-hu-jin berjingkat seperti dicambuk seketika ia melengong di tempatnya, wajahnya merah padam, lalu berubah pucat dan hijau, desisnya perlahan.

"Aku ... kau ..."

"Sering aku dengar kaum persilatan mengatakan Ban-lo-hu-jin rela berlutut dan menyembah daripada bertempur kalau tidak yakin bisa menang, maka sampai sekarang dia masih bertahan hidup. Tapi kalau ini kamu tertipu olehku."

Pucat seperti kapur wajah Ban-lo-hu-jin.

"Aku sudah kalah ...sudah kalah, nona Cui memang lihai, aku nenek tua mengaku kalah lahir batin kalah dengan patuh dan tunduk."

"Baiklah, sekarang boleh kau bicara tentang rahasia itu."

Walau belum bergebrak secara nyata, namun ia sudah menang satu babak, betapa sengit tegang dan mendebarkan adu urat yang dilakukan barusan, jauh lebih seru dibanding bertempur secara kasar.

Walau Cui-Thian-ki masih tersenyum, namun keringat bertetes-tetes di jidatnya.

Padahal keadaannya belum pulih, tenaga untuk berkelahi jelas tidak mungkin dikerahkan, tenaga yang dimiliki hanya cukup untuk berdiri saja, bila berdiri kurang tegak atau terhuyung dan menggeliat, tentu Ban-lo-hu-jin akan menyergapnya dengan serangan kilat.

Cui-Thian-ki maklum dirinya ibarat berdiri di pinggir jurang kematian.

Ban-lo-hu-jin mengawasinya dengan mendelong sesaat kemudian baru berkata.

"Baiklah, akan aku ceritakan, rahasia itu mengenai hubungan Cui-nio-nio dengan Pui-Po-giok ...

" ****** Air danau itu dingin tapi bening. Dengan gaya Jian-kin-tui Pui-Po-giok memberatkan tubuhnya sehingga dia terus melorot turun ke dasar air. Dia berpendapat danau yang satu ini pasti berbeda dengan danau kebanyakan yang ada di dunia ini, dia yakin dan percaya, bahwa analisanya tentu tidak salah. Kali ini Po-giok mempertaruhkan jiwa raganya untuk membuktikan keyakinannya. Analisanya memang tidak keliru. Danau ini memang besar dan luas, tapi airnya tidak dalam, lebih tepat dikatakan dangkal, dan kedangkalan air danau ini sangat di luar dugaannya. Begitu terjun ke dalam air, tidak lama kemudian kakinya sudah menyentuh dasar danau. Sudah tentu tekanan air juga terasa tidak begitu besar, sambil menahan napas Po-giok bergerak maju ke depan. Ketika dia membuka lebar matanya, air sangat jernih dan bening. Pemandangan dalam air segera menarik perhatiannya, sesaat ia berdiri tertegun. Begitu membuka mata, pandangan pertama yang dilihat Pui-Po-giok bukan lain adalah ....seorang perempuan. Seperti ikan duyung saja gadis ini sedang berenang dalam air, berenang di hadapannya, potongan tubuhnya yang indah, boleh dikata hampir telanjang bulat. Rambutnya yang hitam panjang mirip rumput laut yang berkembang, sepasang bola matanya gemerdep mirip mutiara. Sambil mengulum senyum gadis ini mendekatinya, lalu berenang ke dalam pelukan Po-giok, dadanya yang kenyal dan padat, pahanya yang jenjang dan mulus meliuk gemulai mirip belut melingkar di tubuh Po-giok. Po-giok berdiri diam tak bergerak, juga tidak menyingkir. Gadis jelita di dasar danau ini mengangkat sebelah tangan Po-giok serta mengangguk kepadanya. Maksudnya mari ikut padaku. Tanpa sangsi sedikit pun Po-giok bergerak mengikuti orang. Tak lama kemudian ia lihat sebuah pintu gerbang yang besar, mirip pintu gerbang istana naga laut, batu-batu laut dengan bentuknya yang beraneka ragam dengan warnanya yang berbeda-beda berkilauan begitu indah dan mempesona. Semua benda yang ada di sini, dapat membuat pandangan orang kabur membuat orang yang melihatnya silau. Apalagi di antara sekian banyak batu-batu gunung dengan pemandangan yang indah itu, terdapat seorang gadis jelita yang bertubuh hampir telanjang berada di sampingnya. Kalau tidak menyaksikan sendiri, mana Po-giok mau percaya bahwa pengalamannya adalah kenyataan? Gadis telanjang itu menariknya masuk ke sebuah lubang yang terletak di celah-celah himpitan batu karang. Air dalam lorong gua ini terasa lebih dingin lebih bening tapi tenang. Maju lagi ke depan, Po-giok melihat beberapa huruf yang dirangkai dengan butir-butir mutiara yang gemerlapan, huruf itu berbunyi "Pintu Istana Air". Begitu Po-giok melihat dan memperhatikan huruf-huruf itu, gadis telanjang itu segera menariknya ke atas. Dengan cepat kepalanya sudah menonjol keluar permukaan air. Sesaat ia terpesona pula oleh pemandangan semarak dan megah, lalu didengarnya pula suara merdu disertai suara tawa nyaring.

"Apakah Pui-siau-hiap sudah datang? Sudah lama Nio-nio menunggu kedatangannya."

Sekilas Po-giok celingukan, ia dapatkan dirinya berada dalam sebuah empang yang tidak begitu besar empang ini terbuat dari batu kemala dengan segala macam ukirannya yang indah.

Air empang ini mengalir keluar ke danau yang ada di bagian luar, permukaan air empang sejajar dengan permukaan air danau, maka empang buatan ini merupakan satu-satunya pintu keluar masuk istana air yang tembus ke danau di luar itu.

Betapa aneh bentuk bangunannya, betapa pintar orang memanfaatkan denahnya, apalagi betapa indah, molek dan aneh bentuk dan keadaan istana bawah air ini, sungguh membuat orang kagum pesona dan tidak habis heran.

Empang itu ternyata terletak di tengah gua besar, berbagai bentuk stalakmit dengan corak dan aneka warnanya yang aneh-aneh, jarang terlihat di dunia ramai, pemandangan di sini berbentuk suatu gambaran yang membuat orang tenggelam dalam dunia khayal.

Entah dari mana datangnya penerangan dalam gua besar ini, jelas bukan dari cahaya matahari, tapi pemandangan setiap pelosok gua besar ini dapat terlihat jelas.

Di tepi empang berdiri seorang gadis semampai dengan rambutnya yang panjang terurai, perawakan yang tinggi dengan tubuh yang ramping, hanya rambut panjang itu yang menutup dadanya, keelokannya cukup membuat laki-laki terangsang berahinya.

Meski berdiri polos di depan laki-laki, sikap gadis ini sedikit pun tidak kikuk, tidak merasa malu atau jengah, ia berdiri wajar tenang dengan mengulum senyum manis.

Berdiri lurus seperti sengaja memamerkan keelokan tubuhnya yang ramping padat kepada Pui-Po-giok, sedikit pun tidak merasa malu, malah sikapnya itu kelihatan bangga dan angkuh.

Perawakan dan potongannya yang elok memang patut dibuat bangga, namun Po-giok tidak kuat menahan gejolak hati, meski sudah keluar dari air, namun matanya tidak berani melihat ke atas.

Didengarnya gadis itu cekikikan.

"Apakah tubuhku jelek?"

Po-giok melengong.

"Ah, tidak ..."

Sahutnya dengan menyengir.

"Kalau tubuhku tidak jelek, kenapa Pui-siau-hiap tidak berani mengawasiku?"

Po-giok tertegun.

"Wah, ini ..."

"Apa karena aku tidak berpakaian, maka Pui-siau-hiap tidak berani melihatku?"

Tanpa menunggu jawaban Po-giok, dengan tertawa geli ia menyambung.

"Tapi apakah Pui-siauhiap tahu, kenapa manusia harus berpakaian?"

Po-giok melengak.

"Karena ...manusia memang harus berpakaian."

"Tapi apa sebabnya harus berpakaian?"

"Karena ...untuk menahan dingin."

"Di sini tidak dingin."

"Kalau begitu, karena manusia tahu malu."

"Kenapa harus malu? Setiap orang dilahirkan suci bersih, keluar dari rahim ibunya dalam keadaan polos, kenapa setelah besar tidak boleh diperlihatkan pada orang? ...Itu karena manusia sebetulnya berdosa, hanya orang yang berdosa merasa malu, betul tidak?"

Po-giok batuk-batuk.

"Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa orang berpakaian hanya untuk menutupi dosa benar tidak?"

Po-giok batuk-batuk lagi.

"Tolong nona, membawaku menemui Kiong-cu saja."

"Tidak, aku ingin tanya padamu, betul tidak omonganku tadi?"

Po-giok menyengir getir.

"Kedengarannya memang demikian."

"Kalau benar, aku persilakan Pui-siau-hiap menanggalkan pakaian."

Po-giok adalah pemuda yang tidak tahu artinya takut, namun perkataan gadis belia ini benar-benar membuatnya kaget, tanpa sadar ia mundur dua langkah dan "byuurr", kembali ia jatuh ke dalam air.

Bila Po-giok dapat berdiri lagi dan angkat kepalanya, entah sejak kapan, di pinggir empang sudah berjajar belasan pasang kaki orang, setiap paha yang jenjang mulus lagi putih itu semua tampak sehat, segar dan kuat.

Sudah tentu Po-giok tidak berani angkat kepala.

Didengarnya gadis tadi cekikikan.

"Apakah badan Pui-siau-hiap ada sesuatu yang memalukan bila dilihat orang? Kalau tidak kenapa hanya mencopot pakaian saja tampaknya ketakutan?"

Para gadis itu tertawa bingar, paduan tawa yang merdu dan mengasyikan.

Sebelum masuk ke istana air, Po-giok sudah mempersiapkan diri, mempertebal mental dan kepercayaan, sudah berpikir matang dan meneguhkan iman, bahaya apa pun yang akan dihadapinya, dia yakin punya cara dan keberanian untuk menghadapi dan mengatasinya.

Tapi pengalaman yang dihadapi sekarang, sungguh mimpi pun tidak pernah terbayang sebelumnya, bukan mara bahaya yang dihadapi, tapi malahan belasan gadis cantik jelita yang semuanya telanjang bulat.

Keberanian, akal sehat dan kungfunya tidak berguna untuk menghadapi masalah di depan mata ini.

Pada saat Po-giok tertegun, didengarnya suara "byaar-byuur", di tengah gelak tawa gadis-gadis itu terjun ke dalam air, sambil menghamburkan air dengan telapak tangan mereka dari berbagai arah, gadis-gadis ini merubung ke arah Po-giok.

Saking gugup Po-giok membentak.

"Berani kalian mendekat segera aku kembali ke arah datangku tadi."

Gertakan Po-giok ini hanya spontan saja karena kehabisan akal ia tahu belum tentu gertakannya akan berhasil.

Setiap orang dalam keadaan kepepet dan gugup sering kali mengucapkan gertakan seperti yang dilakukan Po-giok, dan lawannya jarang yang berhasil digertak mundur.

Di luar dugaan, gertakan yang biasa tidak manjur, kali ini justru amat berguna.

Walau gadis-gadis itu tidak tergertak mundur, tapi mereka tidak berani mendesak maju lagi.

Berputar biji mata Po-giok dengan tertawa ia berkata.

"Aku tahu bukan hanya aku ingin lekas bertemu dengan Kiong-cu kalian, Kiong-cu kalian juga berhasrat bertemu denganku. Kalau aku kembali ke arah datang tadi kalian tentu akan memikul akibatnya, betul tidak?"

Sembari bicara Po-giok mundur beberapa langkah lalu berenang ke tengah.

Ternyata gadis-gadis itu sama memberi jalan dengan cemas mengawasinya naik ke atas, setelah membetulkan pakaian lalu maju ke sana.

Baru beberapa langkah Po-giok berjalan, gadis berambut panjang itu mendadak membentak.

"Berhenti! Masih ada yang harus kutanya padamu."

Walau tidak menoleh, tapi Po-giok berhenti.

"Tanya soal apa?"

"Apa kau tahu di mana Kiong-cu sekarang?"

"Setelah berada di Cui-kiong (istana air), memangnya aku kuatir tidak dapat bertemu dengan Kiong-cu kalian?"

"Istana air besar lagi luas, jalannya berliku dan menyesatkan, di mana-mana dipasang alat perangkap yang mematikan. Entah berapa banyak orang yang orang yang sudah masuk ke istana air dan tidak dapat bertemu dengan Cui-Nio-nio, kebanyakan terkurung dalam alat perangkap yang mematikan, masih banyak lagi yang ...hm, untuk bertemu dengan Cui-Nio-nio, 672 memangnya semudah yang kau bayangkan?"

"Ya, engkau memang agak berbeda dengan orang-orang itu, tapi belum tentu ..."

"Biar belum tentu, aku akan mencobanya. Mendadak gadis itu cekikikan.

"Asal kau mau membuka pakaian, aku akan membawamu langsung ke hadapan Cui-Nio-nio, kalau tidak ..hm bukan saja engkau akan mengalami banyak penderitaan, mungkin selama hidup takkan bisa menemukannya."

"Tidak jadi soal,"

Ucap Po-giok tertawa, tanpa menoleh ia meneruskan ke depan. Gadis itu menggigit bibir, mengentak "kau ...jangan menyesal!"

"Sebetulnya tidak jadi soal mencopot pakaian tapi melihat sikapmu yang gugup, dengan berbagai cara sengaja memancingku untuk menanggalkan pakaian, aku menjadi curiga, dalam persoalan ini tentu ada udang di balik batu, oleh karena itu ...."

Sampai di sini ia tertawa lebar.

"Oleh karena itu, lebih baik aku menyesal daripada mencopot pakaian,"

Gadis-sadis itu mengawasinya dengan melongo, tidak bisa berbuat apa-apa, tidak dapat bersuara, juga tidak bisa tertawa lagi ....

Setelah beberapa jauh Po-giok berjalan ke dalam, Po-giok membuktikan keajaiban alam yang aneh megah dan semarak, bentuk dan besarnya memang mirip istana, pemandangan yang menakjubkan sukar dibayangkan kalau tidak menyaksikan sendiri.

Ribuan stalakmit menghiasi langit-langit gua, satu dengan lain tidak ada yang sama bentuknya, satu dengan yang lain berbeda warnanya, tidak pernah ada pemandangan segaib ini di dunia ramai.

Lebih mempesona lagi karena stalakmit itu dihiasi lagi mutiara-mutiara yang gemerlapan, ditata dan dihias sedemikian rupa, ada yang berbentuk huruf, ada pula yang tercipta menjadi lukisan.

Po-giok tidak peduli dan tidak memperhatikan tulisan dan gambar yang dibentuk dari butir-butir mutiara itu.

Bukan tidak ingin melihat, tapi tidak berani melihat, karena ia kuatir sekali melihat tulisan atau lukisan itu, pendiriannya bisa goyah, imannya bisa runtuh, pikiran kacau dan ruwet.

Kakinya beranjak di tengah pancaran tujuh macam sinar kemilau, seolah-olah tubuhnya juga berhias tata warna yang indah, hingga Po-giok sendiri merasakan dirinya seolah-olah bukan berada dalam gua besar, lebih tepat berada dalam istana dewa yang terletak di dasar air.

Setelah satu lingkar ia bergerak, didapati oleh Po-giok, istana besar ini ternyata tidak berpintu.

Waktu ia menoleh, bayangan gadis-gadis telanjang itu sudah tidak kelihatan.

Dalam gua yang besar itu cuma dia dan stalakmit-stalakmit itu seperti menyambut kedatangannya, seperti juga menggoda dan mengedip mata padanya.

Tanpa terasa Po-giok menarik suara lalu membentak.

"Pek-cui Kiong-cu, di mana engkau ? Pui-Po-giok mohon bertemu!"

Gema suaranya memantul balik dari dinding gua, suaranya mirip gemuruh ombak samudra laksana guntur menggelegar, begitu kerasnya sehingga telinga Po-giok sendiri terasa pekak.

Kecuali pantulan gema suara sendiri.

Po-giok tidak mendengar suara orang lain.

Dalam gua besar ini tentu ada pintu rahasia yang tersembunyi, tapi di mana letak rahasianya?

Cahaya yang kemilau dengan paduan warna yang menyolok, menyilaukan mata dan memusingkan kepala, tidak mudah orang menemukan tombol atau kunci rahasianya?

Po-giok menenangkan pikiran, menahan gejolak hati perlahan ia berjalan lagi satu lingkar.

Kali ini po-giok memeriksa lebih teliti, setiap jengkal dinding dan lantai diperiksa dengan seksama.

Jerih payah Po-giok ternyata tidak sia-sia di antara sekian banyak stalakmit yang beraneka ragam coraknya itu, dia menemukan satu di antaranya berbeda dengan keadaan yang lain, bukan saja lebih mengkilap dan halus, bentuknya juga lebih aneh lebih menyolok.

Tanpa sangsi Po-giok menghampiri dan memeriksa dari dekat, kalau stalakmit yang ada dalam 673 gua besar itu berlumut dan berdebu, stalakmit yang satu ini justru mengkilap dan bening seperti kaca, itu pertanda bahwa stalakmit yang satu ini sering dipegang oleh manusia.

perlahan Po-giok ulur tangan memegang ujung-stalakmit ini, ternyata bisa bergerak dan bisa diputar, setelah po-giok memutar dua kali, maka terdengarlah suara gemuruh, dinding gua pun bergerak dan muncul sebuah lubang, dari balik lubang sana terdengar suara orang tertawa.

"Pui-Po-giok, kamu memang luar biasa, pandai juga kau temukan pintu rahasia ini, tapi apa kau berani masuk kemari? Ketahuilah, bila sudah masuk pintu ini, tiada harapan bisa keluar lagi dengan hidup."

Semula suara itu dekat di balik pintu, namun lama kelamaan makin jauh dan lirih, kalau tidak puluhan tombak, mungkin ada ratusan tombak jauhnya jelas di balik sana merupakan lubang yang dalam sekali.

Tapi dengan tersenyum Po-giok melangkah tegap.

Baru saja Po-giok melangkah masuk, celah-celah dinding itu segera menutup kembali.

Pancaran cahaya warna-warni, pemandangan semarak yang menyilaukan itu semuanya lenyap, kini Po-giok berada di tempat yang gelap gulita, lima jari sendiri saja tidak kelihatan.

Perubahan ini sedemikian, drastis, Po-giok merasakan dirinya seperti jatuh ke neraka dari surga.

Tapi dirinya sudah telanjur masuk ke sini maju ka depan adalah satu-satunya jalan yang dapat ditempuh, tidak mungkin mundur lagi.

Sambil meraba-raba dinding di kanan-kirinya Po-giok menggeremet maju, makin ke depan terasa olehnya dinding gunung yang semula basah, lembab dan dingin semakin kering dan panas, puluhan langkah kemudian dinding yang di jamah tangan Po-giok panasnya seperti besi dibakar.

Sebagai manusia biasa sudah tentu Po-giok tidak berani memegang dinding panas itu.

Tapi Po-giok keras kepala, dia nekat maju lagi beberapa langkah "Co", waktu Po-giok berdiri agak mepet dinding, pakaiannya yang basah terbakar hangus waktu menyentuh dinding.

Umpama Po-giok memiliki kepandaian setinggi langit juga tidak berani beranjak maju lagi.

Hawa dalam gua itu mulai panas, sebetulnya Po-giok kuat bertahan dan melawan, ia yakin dengan kekuatan lwe-kang dan ketenangannya, biarpun dirinya berpakaian tebal juga tidak akan berkeringat dan kegerahan.

Tapi lama kelamaan hawa dalam gua ini memang panas sekali, sepanas dalam tungku, Po-giok seperti di panggang, namun keringat yang bercucuran juga cepat menguap, beberapa kejap lagi Po-giok merasakan tubuhnya seperti mau hangus.

Entah mengapa gua ini seperti berubah menjadi tungku raksasa.

Dalam keadaan seperti yang dialami Po-giok, manusia mana pun takkan tahan lebih lama.

Kepala Po-giok mulai pusing, pandangan juga berkunang-kunang.

Sekonyong-konyong didengarnya seorang berkata dengan tawa cekikik.

"Hawa sepanas ini? Kenapa tidak lekas copot pakaianmu?"

Dalam kegelapan yang pekat itu, entah dari mana datangnya suara itu. Po-giok mengertak gigi, bertahan dan bungkam. Suara itu berkumandang lagi.

"Tempat ini begini gelap, umpama kau copot pakaianmu juga tidak ada orang melihat keadaanmu, lalu apa lagi yang membuatmu malu? ...Eh, kenapa belum juga buka pakaian?"

"Kenapa kau paksa aku copot pakaian?"

Teriak Po-giok. Diam sesaat, akhirnya suara itu berkata dengan tertawa.

"Karena kamu tidak mau mencopot pakaian, maka aku paksa supaya kau copot pakaian."

"Tahukah kenapa aku tidak mau buka pakaian?"

Tanya Po-giok kalem.

"Ya, ingin aku dengar alasanmu, kenapa kamu keras kepala."

"Seorang laki-laki, apalagi laki-laki muda normal dan berdarah panas, kalau dia harus telanjang di tengah kerumunan gadis-gadis cantik, yang juga telanjang, meski ia punya ketenangan dan iman yang teguh juga akhirnya akan tekuk lutut di depan kawanan cewek itu, peduli harga diri atau keyakinan segala, dalam sekejap itu tentu tak terpikir lagi olehnya. Dalam keadaan seperti itu, apa pula yang bisa ia lakukan selain memuaskan rangsangan nafsu. Kuyakin kau pun tahu akibat dari semua itu, betul tidak?"

Keadaan tetap gelap pekat tiada suara sahutan.

"Oleh karena itu."

Kata Po-giok lebih lanjut.

"dengan siasat inilah kalian memerangi jiwa dan iman manusia, entah betapa banyak laki-laki yang jatuh dalam perangkap kalian. Tapi mereka bukan aku, Pui-Po-giok adalah ...."

Belum habis ia bicara, tertawa bingar berkumandang di tengah kegelapan.

"Bagus, Pui-Po-giok, anggaplah kamu memang pintar ...."

Tawa bingar semerdu kelintingan itu makin jauh dan akhirnya tidak terdengar lagi.

Mendadak Po-giok menanggalkan pakaiannya malah, dengan baju luarnya ia membalut tangannya, dengan tangan yang terbalut ini ia meraba-raba dinding terus merambat ke arah datangnya suara, di sana pula suara itu akhirnya lenyap.

Walau telapak tangannya sudah dibalut tebal, tapi masih terasa oleh Po-giok betapa panas tangannya.

Sambil mengertak gigi Po-giok terus maju ke depan, dengan tekadnya yang besar, ia berhasil mengatasi penderitaan, memusatkan semangat dan mengkonsentrasikan pikiran, selangkah demi selangkah menggeremet maju.

Sudah tentu perjalanan kali ini ditempuh dengan cara yang jauh lebih sukar, lebih menyiksa.

Kecuali Pui-Po-giok, mungkin tidak ada orang yang kuat melangkah belasan tindak.

Tapi Po-giok sudah melangkah ratusan tindak, seribu langkah dan terus maju ke depan, Badannya hampir kering, mirip daging yang dipanggang.

Keadaannya sudah hampir lumpuh dan hangus terbakar.

Pada detik-detik yang menentukan ini, tawa bingar yang merdu tadi berkumandang lagi.

"Bagus sekali, kamu mampu menempuh perjalanan sejauh ini, memang tidak malu Pui-Po-giok diagulkan sebagai ksatria sejati tapi ...Pui-Po-giok, tahukah di mana sekarang kamu berada?"

"Aku sudah berada di depanmu!"

Tegas suara Po-giok, tapi serak dan kering. Suara itu masih tertawa.

"Baiklah, boleh kau lihat...."

Di tengah suara tawa merdu orang, setitik sinar melayang jatuh di tanah, namun hanya sekejap lantas padam.

Nyala api yang sekejap itu cukup bagi Po-giok untuk melihat keadaan sekitarnya.

Jelas terlihat oleh Po-giok dirinya kini berada di tempat semula, di mana pertama kali dirinya masuk dari celah-celah dinding tadi.

Sebelum celah dinding tertutup tadi, sempat ia perhatikan keadaan sekelilingnya.

Dengan ketahanan yang luar biasa Po-giok menempuh perjalanan, betapa susah dan menderita, ternyata perjalanan yang sia-sia, akhirnya putar kayun dan kembali ke tempat semula.

Luluh semangat dan tenaga Po-giok, hampir saja ia ambruk dan pingsan.

Suara itu berkumandang pula.

"Sejak mula sudah aku peringatkan, lorong gua di sini amat ruwet dan menyesatkan, banyak perangkap dan perubahannya. Nah, apakah kamu masih anggap dirimu pintar? Lekaslah copot pakaianmu."

"Tidak!"

Desis Po-giok geram. Berubah lembut dan prihatin suara itu.

"Begitu kau copot pakaian, segera kau dapat bertemu dengan Nio-nio, kamu dapat berendam di air yang hangat dan segar, berapa lama ingin berendam dalam air boleh terserah padamu, berapa poci kau ingin minum teh atau arak boleh 675 sesuka hatimu. Kenapa masih kukuh pendapat, keras kepala bukan cara yang paling baik, kalau masih juga bandel, bila kamu mampus kekeringan, siapa akan memujimu."

"Jangan kuatir, penderitaan begini belum akan membuatku mampus."

Diam sesaat lamanya, suara itu akhirnya tertawa dingin.

"Baiklah, berapa lama kamu akan bertahan lagi."

Tokoh besar mana pun setelah mengalami siksa derita seberat itu, pasti roboh dan tak kuat bangkit lagi.

Tapi Po-giok hanya memejamkan mata "menggeremet maju ke depan, sembilan di antara sepuluh orang pasti menggunakan tangan kiri, karena tangan kanan harus selalu siaga bila di tengah kegelapan dirinya disergap atau diserang secara mendadak.

Demikian pula yang dilakukan oleh Pui-Po-giok.

Tadi dia menggeremet maju dengan tangan kiri meraba dinding sebelah kiri, kenyataan dia kembali ke tempat semula.

Kini ia menanggalkan pakaiannya yang sudah hangus untuk membalut tangan kiri tadi, menyobeknya beberapa potong lalu menyambungnya lebih panjang untuk membalut tangan kanan.

Kini ia menggeremet maju lagi ke depan dengan meraba dinding sebelah kanan.

Jalan yang ditempuhnya kali ini sudah tentu lebih sukar, lebih menyiksa, seluruh tenaga dan semangat seperti menguap oleh suhu panas yang luar biasa.

Kedua kakinya seperti mendadak berubah berat ribuan kati, pandangan matanya mulai berkunang-kunang, kesadarannya juga mulai pudar ....Air, air jernih lagi dingin!

Saking tak tahan ingin rasanya dia memekik dan berteriak, menerima segala syarat yang mereka ajukan, cukup dengan imbalan air untuk dia minum, air yang dingin lagi segar.

Tapi Po-giok hanya mendengus, mengertak gigi dan meneruskan ke depan Mendadak tubuhnya menjadi lemas dan kehilangan keseimbangan, lalu robohlah dia.

Di tengah pingsannya, seolah-olah Po-giok kembali pada masa kecilnya dulu.

Di pekarangan belakang, di bawah rumput bunga yang rimbun, dia tengah duduk tegak belajar membaca.

Cuaca amat panas, gerah sekali hingga sesak bernapas, pakaian luar ia tanggalkan, dalam hati ia mengharap turun hujan, dan hujan ternyata benar turun, air hujan bertetesan dari dahan pohon.

Tetesan air hujan nan dingin menyejukkan, sungguh nyaman dan segar.

Mendadak seorang berteriak-teriak di pekarangan depan.

"Po-giok ... Po-giok ...

"Siapa itu?

Ah, kiranya paman berkepala besar?

Begitu Po-giok membuka mata, mimpi pun sirna.

Kenyataan adalah kejam, namun mukanya masih basah oleh air.

Apa benar air hujan?

Terdengar seorang menghela napas di atas.

"Pui-Po-giok, akhirnya kau sadar"

Waktu Po-giok-angkat kepala, tampak olehnya di ujung dinding gua yang gelap dan keras itu, di tengah himpitan dua dinding terjal, entah sejak kapan terbuka sebuah lubang.

Gadis berambut panjang itu tengah melongok di atas lubang dengan tawa genit ia berkata.

"Pui-Po-giok, kini kamu sudah sadar bukan bahwa kamu ini manusia biasa, bukan robot, datang juga saatnya ambruk dan tak mampu berjalan lagi. Nah sekarang, kau mau menyerah?"

Po-giok merintih.

"Air ...air ..."

Gadis ayu itu mengangkat tangan, tangannya memegang sebuah cangkir emas suaranya lembut menarik.

"Dalam cangkir ini berisi air embun kembang mawar, tadi aku meneteskan tiga tetes di mukamu, hanya tiga tetes, kau sadar dari pingsan sudah kau rasakannya. Nah asal mau menyerah, air lembut bunga mawar ini boleh kau minum sampai habis."

"Air embun? ... Bunga mawar ..."

Po-giok bergumam. Seolah-olah mengigau dalam pingsannya, tampak betapa lemah kondisinya, keadaannya yang payah sudah tidak bisa 676 dilukiskan lagi. Gadis ayu itu cekikikan.

"Tetesan air yang dingin segar, biar kau rasakan sekali lagi ...

"Dia angkat cangkir emas itu lalu dimiringkan sedikit hingga airnya menetes satu tetes, tepat menetes di wajah Po-giok. Mendadak Po-giok memekik sambil meronta "Tidak ... tidak mau menyerah ..."

Gadis itu geleng kepala katanya setelah menghela napas gegetun.

"Dasar bandel seperti kerbau. Baiklah, kau sendiri ingin menderita, jangan salahkan aku."

Air dalam cangkir emas di tangannya itu mendadak ia buang ke dinding gua.

"Cess,"

Begitu air menyentuh dinding gua, asap pun mengepul, air itu seketika kering dan menguap menjadi asap tipis.

Wajah gadis jelita itu pun lenyap di tengah mengepulnya asap, suasana kembali menjadi gelap dan hening.

Mendadak Po-giok melompat bangun.

Bukan karena beberapa tetes air bunga mawar tadi yang memulihkan kekuatannya, yang benar tadi Po-giok hanya pura-pura semaput, pura-pura payah dan ambruk tak sadarkan diri.

Sekali lompat dengan enteng ia mencapai puncak dinding, sekilas pandang ketika lubang tadi masih terbuka, dapatlah Po-giok meneliti keadaan sekitarnya, maka dengan cepat ia merayap ke atas.

Jari jari tangannya terbungkus kain, kakinya juga terbungkus sepatu, tapi kaki tangannya panas terbakar, bila tidak kuat bertahan, tubuhnya akan terjungkal dan segala usahanya akan gagal total.

Dinding karang yang puluhan tombak tingginya itu, bagi keadaan Po-giok sekarang rasanya menjadi ratusan tombak, namun ia kertak gigi, mengerahkan seluruh kekuatan dan kemampuannya.

Syukur akhirnya dia berhasil mencapai puncak dinding.

Waktu ia angkat tangan, hatinya seperti bergantung di udara.

Demikian pula jiwanya seperti terapung di awang-awang.

Kalau batu gunung di sebelah atas dapat bergerak, itu berarti segala penderitaannya ini akan memperoleh imbalan setimpal, kalau tidak ...kalau tidak bagaimana?

Po-giok tidak berani membayangkan.

Terima kasih pada bumi dan langit!

Batu yang menutup lubang di sebelah atas ternyata dapat bergerak.

Rasa girang Po-giok seperti mendapat rejeki nomplok, perlahan ia mendorongnya ke samping lalu melompat keluar dan menggelinding ke samping.

Batu gunung di luar lubang ternyata dingin segar, sedingin air danau.

Mendekam di tanah Pui-Po-giok terengah-engah, sekelilingnya sepi lengang.

Segala penderitaan mara-bahaya seolah-olah sudah berlalu.

Telapak tangannya menempel batu gunung yang dingin, demikian pula pipinya juga melekat di batu gunung, setebal napas teratur dan tenaga pulih, perlahan baru ia angkat kepala dan memandang ke depan.

Mendadak ia lihat sepasang kaki.

Sepasang kaki orang laki-laki.

Sepasang kaki ini berada di depan matanya.

Kaki orang laki-laki ini mengenakan sepatu yang indah dan mewah, sepatu mahal yang dibuat dari sutera dengan sulaman benang emas, mahalnya sepatu sekaligus menandakan kedudukan pemakainya yang agung.

Tapi bila sepasang kaki ini sedikit saja diangkat, menendang dengan 677 ringan .....Maka Pui-Po-giok akan menggelinding jatuh ke dalam lubang pula.

Begitu melihat kaki di depan matanya, napas Po-giok seperti berhenti darah juga seperti beku.

Bila sepasang kaki ini menendang, jelas dia tidak mampu melawan atau menyingkir.

Tapi sepasang kaki ini tetap berdiri diam, tidak menendang juga tidak bergerak.

Po-giok merapatkan badan ke tanah, tidak berani bergeming, mengangkat kepala menengok muka orang pun tidak berani, padahal besar hasratnya ingin mengetahui siapa orang yang berdiri di depannya ini.

Dia hanya tahu orang ini berpakaian.

Orang pertama yang ia lihat berpakaian sejak dirinya berada dalam istana air ini, juga orang laki-laki yang ia lihat pertama kali di sini.

Bukankah asal-usul dan kedudukan orang ini membuatnya tertarik heran.

Didengarnya suatu suara rendah berat berkata perlahan.

"Ternyata kau mampu datang ke tempat ini, jerih payahmu sungguh harus dipuji. Tapi perlu kau tahu, tempat ini sudah dekat dengan pusat istana, perjalanan yang masih harus kau lalui justru lebih sukar, lebih berat, kau harus lebih waspada menghadapi ujian ini."

Po-giok melengak keheranan, karena dari nada bicara orang ini, bukan saja tidak mengandung maksud jahat malah prihatin dan penuh kasih sayang, seperti nasihat seorang tua terhadap anak atau muridnya.

Kenapa hal ini terjadi?

Siapa pula orang ini?

Ingin Po-giok bertanya, tapi suaranya tidak keluar, bukan tidak berani bertanya, ia maklum umpama dirinya bertanya juga takkan memperoleh jawaban, orang ini tidak akan memberi penjelasan.

Lebih lanjut orang itu berkata pula.

"Usiamu masih muda tapi tekadmu yang besar dan teguh sungguh harus dihargai. Asal imanmu tetap teguh tekadmu tetap besar penderitaanmu tidak akan sia-sia."

Bukan saja merupakan nasihat juga merupakan anjuran, memberi dorongan. Makin tebal rasa kaget dan curiga Po-giok, namun mulutnya hanya bisa mengucap.

"Terima kasih."

Setelah diam sejenak suara itu berkata pula.

"Sekarang kamu masih mampu berdiri? "Bisa,"

Sahut Po-giok pendek.

"Kalau bisa berdiri, kenapa masih rebah di tanah?"

Po-giok mengiakan.

Kini ia yakin orang tidak bermaksud jahat terhadapnya, segera ia membalik tubuh terus melompat berdiri.

Tertampak orang sudah berputar membelakangi dirinya serta berjalan lambat ke sana.

Langkah orang lambat tapi mantap kian berat kedua tangannya seperti bersidekap di dada.

Saking tak tahan Po-giok bertanya.

"Kenapa tuan tidak memberi kesempatan agar aku lihat wajahmu?"

"Tidak perlu kau lihat wajahku, lebih penting kau lihat pedangku."

Di saat mengucap "ku", kata yang terakhir, pundaknya mendadak bergerak sedikit.

Gerakan yang sedikit ini tidak mungkin diikuti oleh pandangan mata, siapa pun takkan mengambil perhatian gerakan pundak seseorang.

Tapi begitu melihat pundak orang bergerak Po-giok justru berjingkat kaget.

"Cu-coan-kian-kun-sat-jiu-kiam!"

Begitu pundak bergerak, sinar pedang pun meluncur seperti seutas rantai perak.

Itulah serangan mematikan yang pernah dilancarkan Bu-ceng Kong-cu Ciang-Jio-bin dari Lam-hai-pai Cu-coan-kian-kun-sat-jiu-kiam.

Serangan kali ini jauh lebih cepat dibanding serangan Ciang-Jio-bin dulu, sasarannya lebih telak dan ganas, posisinya juga lebih kuat dan mantap dibanding serangan yang dilakukan Ciang-Jio-bin dulu.

Kalau dahulu Po-giok belum pernah mengalami serangan jurus pedang yang mematikan ini, bila sebelumnya tidak waspada waktu melihat pundak orang bergerak, umpama jiwanya tidak melayang di bawah tusukan pedang orang, selanjutnya jangan harap dapat meneruskan usahanya untuk bertemu dengan Cui-Nio-nio.

Baru saja sinar pedang menyambar keluar dari bawah ketiak orang ini, tubuh Po-giok sudah melompat mundur.

Po-giok sudah menggunakan setaker tenaganya, juga sudah dia perhitungkan, tusukan pedang ini paling banter hanya bisa mencapai pakaiannya, dan pasti takkan mampu melukai tubuhnya.

Di luar tahunya pedang itu mendadak berhenti beberapa kaki di depan dadanya.

Walau serangan pedang ini lebih cepat dari tusukan pedang Ciang-Jio-bin, lebih ganas, lebih telak, tapi tusukan orang ini ternyata tidak sungguh-sungguh dilancarkan, jelas orang ini menaruh belas kasihan, ini dirasakan secara langsung oleh Pui-Po-giok.

Setelah menarik napas panjang, Po-giok berkata haru.

"Terima kasih!"

Pedang orang itu perlahan melorot turun, suaranya kalem.

"Apakah kau pernah melihat jurus serangan ini?"

"Ya,"

Pendek jawaban Po-giok. Berubah dingin suara orang itu.

"Kalau belum pernah melihat jurus pedang ini, saat ini mungkin kamu sudah terluka oleh tusukan pedangku. Dengan jurus pedang yang ganas aku hendak merengut nyawamu, kenapa kamu berbalik berterima kasih padaku?"

"Bahwa pedangmu tadi menaruh belas kasihan, memangnya Po-giok tidak merasakan?"

"Umpama benar menaruh belas kasihan, tapi tusukanku tadi bisa menamatkan jiwamu."

Po-giok tertawa malah.

"Tapi kenyataan sekarang aku masih hidup, masih segar bugar."

Diam sejenak akhirnya orang itu berkata.

"Betul sekarang kamu masih hidup, sudah dua kali kau saksikan jurus serangan pedang ini, ternyata kamu masih segar bugar, maka ilmu pedang yang bisa melukaimu mungkin tidak banyak lagi di dunia ini."

"Tidak banyak?"

Po-giok melengong.

"kukira juga tidak sedikit?"

Mendadak orang itu menghentikan gelak tawanya.

"Em, memang tidak sedikit, paling sedikit masih ada tiga macam."

"Kenapa tidak memberi kesempatan padaku untuk belajar kenal?"

"Buat apa terburu-buru?"

Mendadak pedang dibuang ke belakang, tanpa terasa Po-giok ulur tangan menangkapnya.

Begitu sinar pedang berkelebat, waktu Po-giok memandang ke depan, bayangan orang itu pun sudah lenyap.

Di depan masih merupakan lorong gua yang gelap panjang ini rasanya berada di perut gunung, kalau ada hanya cahaya lampu tidak pernah ada sinar matahari.

Tidak pernah terpikir oleh Po-giok meski dalam mimpi, bahwa ada orang di dunia ini dapat membangun istana dalam perut gunung dengan sebesar, seluas dan semegah itu.

Istana yang penuh misteri dan gaib.

Setelah berdiri mematung sekian saat, po-giok bergumam sendiri.

"Apa kedudukan orang ini dalam Pek-cui-kiong? Tutur katanya begitu prihatin dan menaruh belas kasihan terhadapku, namun kenapa dia melancarkan serangan mematikan padaku? Kalau serangan mematikan itu dilancarkan, kenapa pula dia menaruh belas kasihan? Kalau rela memberi pengampunan dan menaruh belas kasihan, kenapa harus menyiapkan tiga macam serangan mematikan, kenapa pedang ini diberikan padaku? ...."

Pedang di tangannya itu lencir panjang tajam, lagi sempit tipis, begitu sempurna bentuk pedang ini, dari ujung sampai ke gagangnya, seperti diciptakan oleh seorang ahli.

Begitu menggenggam gagang pedang panjang ini, timbul perasaan hangat, nyaman dan penuh keyakinan dalam benak Po-giok rasa lapar dan dahaga sudah terlupakan sama sekali, badan tidak merasa letih lagi.

Cukup lama Po-giok berdiri diam di tempatnya, memusatkan pikiran dan semangat sehingga lama kelamaan, antara jiwa dan hawa pedang di tangannya jadi manunggal.

Segala kerisauan sudah terbenam dalam relung hatinya, demikian pula siksa derita yang dialami selama ini sudah terbuang dari ujung pedang.

Setelah jiwa raga manunggal dengan pedang baru Po-giok berani maju ke depan.

Segala keajaiban pemandangan dalam gua itu sudah tidak menarik perhatiannya.

Dalam pandangannya kini hanya ada ujung pedang.

Dalam hatinya hanya ada pedang.

Mendadak alam sekitarnya berubah sepi dan tengang seperti kuburan yang gelap.

Tapi langkah Po-giok tidak pernah berhenti, mantap lagi tegap, tangannya juga tidak perlu meraba-raba.

Karena mata hatinya sudah terpanoar di ujung pedangnya dan menimbulkan perasaan yang peka pada dirinya.

Kini pedang di tangannya dapat menggantikan mata.

Keheningan yang mencekam, kegelapan yang menegangkan.

Sekonyong-konyong dalam kegelapan itu terasa berkembangnya hawa membunuh.

Tiba-tiba Po-giok merinding, bulu romanya berdiri.

Padahal dirinya berada di tempat gelap dan hening, rasanya tiada sesuatu perubahan, tapi hawa membunuh ini melanda datang seperti ombak pasang yang menerpa secara bergelombang.

Hawa membunuh itu tidak berbentuk dan tiada wujudnya, tapi secara nyata dan benar Po-giok merasakan adanya tekanan mendadak dari hawa membunuh di tempat gelap itu.

Lama kelamaan hawa membunuh itu membuatnya sesak napas.

perlahan pedang terangkat, langkahnya juga menjadi lamban, lalu hampir berhenti.

Di tengah kegelapan, benar-benar berkelebat sinar pedang yang kemilau, tapi hanya sekali berkelebat lalu berhenti.

Kelima jari sendiri tidak terlihat, sudah tentu siapa pemegang pedang itu juga tidak terlihat oleh Po-giok, dia hanya melihat sebatang pedang, seperti ditenung saja pedang itu berhenti dan terapung di udara, terapung lurus ke depan menghadang jalannya.

Pedang ini tidak menakutkan, yang menakutkan adalah hawa membunuh dari pedang itu.

Sudah jelas dan tidak perlu dipermasalahkan lagi, bahwa pedang yang satu ini akan memainkan satu jurus ilmu pedang yang hebat lagi dahsyat, sejurus ilmu pedang yang dapat mengejutkan langit dan menggetar bumi.

Jurus pedang yang satu ini sudah tentu merupakan salah satu dari tiga jurus yang akan melukai Pui-Po-giok.

Pedang di tangan Po-giok juga terhenti di udara.

Gelap gulita, tiada sesuatu benda yang terlihat kecuali pedang yang gemerdep tiada suara dengus napas juga amat perlahan, yang ada hanya dua pedang yang berhadapan, dua pedang yang siap berduel.

Dua pedang yang sama-sama memiliki hawa membunuh.

Belum pernah Po-giok menghadapi hawa membunuh setebal pedang yang satu ini.

Tapi terasa olehnya adanya sesuatu yang ganjil karena orang yang memegang pedang di depannya ini, tubuhnya ternyata terlepas di luar lingkup hawa membunuh dari pedang yang dipegangnya.

Kejadian ini sungguh luar biasa dan belum pernah ada dalam dunia persilatan.

Orang yang memegang pedang ternyata terbagi menjadi dua bentuk yang berbeda dengan hawa membunuh dari pedang itu, kenyataan yang ganjil dan keadaan yang luar biasa ini sebetulnya tidak mungkin terjadi.

Hanya ada satu kemungkinan, dalam keadaan tertentu keadaan luar biasa ini bisa terjadi.

Yaitu meski tebal hawa membunuh dari pedang itu namun pemegang pedang itu pada dasarnya tidak ada hasrat melukai atau membunuh musuh yang akan dilawannya.

Oleh karena itu, meski ganas dan keras hawa membunuh dari pedang itu, tapi pemegang pedangnya merupakan unsur pelaksana yang lemah, dan hawa manusia yang lemah ini jelas tidak mungkin manunggal dengan hawa membunuh itu, dan sekaligus menjadikan hawa membunuh yang ganas dan berkobar itu menjadi tawar dan akan sirna kalau bertahan cukup lama.

Dengan tajam Po-giok mengawasi pedang itu mendadak ia teringat akan golok milik Thi-kim-to itu.

Hawa membunuh pedang ini kira-kira setanding dan golok Thi-kim-to tempo hari.

Tapi hawa membunuh pedang ini jelas tidak seganas dan sepanas hawa membunuh golok Thi-kim-to waktu berhadapan dengan dirinya.

Ini dapat disimpulkan bahwa hawa membunuh dari pedang di depannya ini mengandung makna "kebaikan", hawa membunuh pedang ini mengandung cinta kasih.

Kenapa pula hal ini bisa terjadi?

Hening lelap, seorang-olah tiada kehidupan dalam mayapada ini.

Tapi di tengah keheningan itu seolah-olah Po-giok mendengar sebuah irama yang fiktif, sejenis alunan musik yang mengasyikan.

Mendadak pedang itu bergerak msnggaris sebuah lingkaran.

Gerak lingkar yang membundar itu juga kelihatan indah dan gaib, bergerak mengikuti alunan musik yang gaib pula, hingga menimbulkan gerak tarian yang paling indah dari segala tarian yang pernah ada dalam ilmu pedang.

Po-giok terbeliak kaget.

Gerak pedang yang melingkar bundar ini, bukankah mirip gerak golok yang pernah dilancarkan Pek-ih-jin itu.

Begitu pedang bergerak melingkar, cahayanya berubah menjadi tabir kemilau, laksana kilat menyerang ke arah Pui-Po-giok.

Deru angin pedang yang melingkar itu, laksana pekik binatang buas.

Di tengah kegelapan hanya tampak sinar pedang berkelebat sekali pedang di tangan Po-giok dan pedang itu saling berpindah tempat dengan posisi yang berbeda.

Tapi, dua orang yang saling gebrak ini tidak ada yang roboh.

Kalau keadaan tadi hening lelap, sepi dan lengang.

Kini di tengah gelap mulai terdengar dengus napas yang agak berat.

Waktu sekejap itu meski pendek, namun dalam sekejap itu mereka sudah melewati garis pemisah antara mati dan hidup.

Kejadian itu merupakan suatu kejutan luar biasa yang sukar dibayangkan, siapa pun di dunia ini setelah mengalami kejutan yang luar biasa dan menegangkan ini, dengus napas siapa yang tidak akan memburu?

Kedua orang berdiri tegak tak bergerak.

Entah berapa lama kemudian mendadak berkumandang suara serak seorang tua.

"Jurus ini pernah kau saksikan?"

Pertanyaannya mengandung nada kaget dan heran, tapi bukan kaget atau heran karena Po-giok berhasil menyelamatkan diri dari serangan pedangnya, tapi kaget dan heran karena Po-giok pernah menyaksikan jurus pedang yang baru saja dia lancarkan.

"Ya,"

Po-giok menjawab pendek.

"Siapa yang melancarkan jurus serangan pedang ini padamu?"

Tanya suara itu.

"Thi-kim-to."

Sahut Po-giok lantang.

"Thi-kim-to?"

Teriak suara itu nadanya kaget "Dia ..."

"Jurus itu dilancarkan Thi-kim-to, namun tidak berarti dia,"

Demikian tukas Po-giok.

"Kenapa tidak berarti dia?"

"Karena Thi-Kim-to hanya pelaksana, dia mendapat perintah orang lain."

"Pek-ih-jin maksudmu?"

"Benar ..."

Suara itu diam sebentar, lalu berkata kalem "Apakah jurus yang dilancarkan Thi-kim-to persis dengan yang aku lancarkan barusan?"

"Sembilan puluh persen sama tapi perbedaan yang sepuluh persen justru amat besar."

"Coba jelaskan?"

"Titik paling tebal dari hawa membunuh jurus serangan yang dilancarkan Thi-kim-to juga adalah titik kelemahannya. Suhu badannya merembes lewat titik kelemahannya, maka aku menyerempet bahaya menyerang titik kelemahannya itu ternyata berhasil."

Lebih lama suara itu diam setelah menghela napas, akhirnya memuji.

"Bagus!"

"Berbeda dengan caramu turun tangan, sebelumnya tidak menghimpun tenaga, hati juga tidak tegang, oleh karena itu suhu badanmu normal, dari sini dapat disimpulkan, meski pedangmu mengandung hawa membunuh, tapi hatimu sedikit pun tiada nafsu membunuh ....hawa membunuh pada pedangmu berkembang karena jurus ilmu pedang itu sendiri."

"O, demikian?"

Pendek suara itu.

"Karena tuan tidak bernafsu membunuh, maka waktu melancarkan jurus serangan itu, hati dan pedang tidak manunggal, dengan sendirinya hasrat membunuh yang tertuang dalam hawa membunuh yang tuan lancarkan itu tidak sederas seganas hawa membunuh yang dilancarkan Thi-kim-to."

"Oo, kenapa demikian?"

Tanya suara itu.

"Sekali jurus pedang itu dilancarkan, harus dicuci dengan darah, maka aku dipaksa untuk merengut jiwanya. Maklum dalam keadaan segenting itu, tiada waktu untuk memilih atau mempertimbangkannya. Sebaliknya jurus pedang yang tuan lancarkan tadi, pada hakikatnya aku dipaksa untuk membela diri dan tak mampu melancarkan serangan mematikan."

"Betul,"

Puji suara itu dengan menghela napas.

"kalau pedang itu tiada maksud melukai musuh, maka jurus pedang itu takkan mungkin membangkitkan hawa membunuh. Dan itulah pengertian paling sempurna dari ajaran ilmu pedang tingkat tinggi."

"Tapi ... tuan tidak bermaksud melukai aku, kenapa melancarkan jurus ganas dan mematikan untuk menghadapiku? Bukankah kejadian ini amat bertentangan? sungguh aku tidak habis mengerti."

"Tidak mengerti ya sudah, lebih baik tidak mengerti,"

Ucap suara itu.

"Masih ada pertanyaanku. Jurus itu adalah ciptaan Pek-ih-jin yang tidak diturunkan kepada siapa pun, di kolong langit ini tiada orang tahu intisari dan rahasia jurus pedang itu. Lalu dari mana tuan mempelajarinya? Hal ini pun membuatku bingung."

"Tidak lama lagi kamu akan tahu,"

Suara itu berbicara kalem.

"Tidak lama lagi?"

Po-giok menegas.

"Ya. tidak lama lagi ...."

Hanya empat kata diucapkan, namun pada kata terakhir, suaranya sudah jauh dan lirih, sedikitnya ada belasan tombak jauhnya.

Kini tinggal dua jurus lagi ilmu pedang yang ada di dunia ini dapat mengalahkan atau melukai Po-giok.

Berbagai persoalan justru bertumpuk dan menyelimuti sanubari Po-giok.

Dalam waktu beberapa kejap tadi, sudah dua kali ia menghadapi serangan mematikan.

Tapi orang yang dua kali melancarkan serangan mematikan terhadapnya itu tidak bermusuhan, tidak menaruh dendam, tidak bermaksud jahat terhadapnya.

Inilah persoalan pertama yang mengherankan.

Kedua, kedua jurus serangan mematikan itu sebelum ini pernah dia alami, pernah menghadapi serangan yang ganas itu.

Tapi sukar Po-giok menemukan jawabannya, apa hubungan atau sangkut paut kedua orang yang dahulu menyerang dia dengan kedua orang yang hari ini menyerangnya ini.

Bu-ceng Kong-cu Ciang-Jio-bin masih mungkin punya hubungan dengan Pek-cui-kiong, adalah logis kalau jurus ilmu pedang warisan Lam-hai-pai yang dirahasiakan itu juga dipelajari orang-orang Pek-cui-kiong.

Tapi dari mana orang-orang Pek-cui-kiong memperoleh dan mampu melancarkan jurus khas ciptaan Pek-ih-jin dari Tang-ing?

Jika Pek-cui-kiong jelas tiada sangkut paut dengan Pek-ih-jin, umpama air sumur dengan air laut, berbeda satu dengan yang lain, mana mungkin ada hubungan?

Makin dipikir, makin bingung, makin dipikir makin sukar dipecahkan.

Pusing kepala Po-giok.

Masih ada dua jurus serangan mematikan akan dia hadapi.

Dua jurus yang telah dihadapinya tadi sudah begitu mengejutkan, lalu betapa hebat dan dahsyat kedua jurus yang akan dihadapinya nanti?"

Mau tidak mau Po-giok merasa was-was, kuatir.

Apalagi Po-giok merasakan sendiri tenaganya sudah banyak terkuras, apakah dirinya mampu melayani kedua jurus serangan mematikan lagi!

Po-giok tidak berani membayangkannya.

Pikir punya pikir, tanpa disadari keadaan sekelilingnya ternyata sudah terang benderang, cahaya mutiara yang kemilau membuat keadaan sekelilingnya terlihat cukup jelas oleh Po-giok.

Mutiara-mutiara yang memancarkan cahaya itu tersembunyi di antara celah-celah dinding batu di pojok sana, sehingga bayangan tubuh Po-giok samar-samar memanjang rebah di tanah menjorok ke depan.

Mengawasi bayangan tubuh sendiri, mendadak Po-giok melihat di tanah terdapat belas tapak kaki manusia.

Tapak kaki orang yang berbaris memanjang setiap tapak kaki itu melesak ke dalam tanah, datang dari arah gua yang dalam sana, lurus datang dan berhenti di depannya.

Mungkinkah tapak kaki ini peninggalan orang yang barusan menjajal dirinya?

Mungkinkah dia datang dari sentral istana air yang serba misteri ini?

Orang sengaja meninggalkan tapak kakinya, bukankah bermaksud memberi petunjuk pada Po-giok untuk menempuh perjalanan ke depan menuruti tapak kakinya?

Setelah berpikir sebentar, Po-giok ambil keputusan, dia beranjak ke depan mengikuti barisan tapak kaki itu.

Langkah Po-giok perlahan, sambil jalan ia berusaha menghimpun semangat dan memulihkan tenaga.

Matanya tidak ingin melihat sesuatu meski yang paling menyolok sekali pun, tapi akhirnya pandangannya bentrok dengan sebaris huruf yang aneh.

Huruf-huruf yang diukir di dinding batu, huruf-huruf itu sudah berlumut, mungkin karena sudah lama terukir di sana.

Tapi huruf-huruf itu diukir dengan gaya yang mantap dan puitis.

"Jin Hong San Ceng, Sing Sing Siau Lau."

Po-giok terperanjat melihat delapan huruf itu, Jin-hong-san-ceng, Sing-sing-siau-lau.

Bukankah itu alamat yang tertera pada sampul surat peninggalan Ciang-Jio-bin?

Surat peninggalan Ciang-Jio-bin itu ditujukan dan harus diserahkan kepada orang yang tinggal di Sing-sing-siau-lau itu.

Bahwa Ciang-Jio-bin meninggalkan suratnya untuk orang yang tinggal di Pondok Bintang Kecil dalam Perkampungan Selendang Merah, ini menandakan bahwa Ciang-Jio-bin ada hubungan tertentu dengan Pek-cui-kiong.

Tidak heran dalam surat peninggalan Ciang-Jio-bin tidak dijelaskan di mana letak Pondok Bintang Kecil itu.

Sebab ia tahu tanpa dijelaskan pun Po-giok akan dapat menemukannya di Pek-cui-kiong.

Po-giok meraba sampul surat peninggalan Ciang-Jio-bin yang ia simpan dalam saku bajunya.

Ciang-Jio-bin berkorban, mati untuk memenuhi janjinya, mana boleh ia melupakan dan mengabaikan janji dan pengorbanannya?

Namun untuk menunaikan janji, melaksanakan tugas itu, hampir saja Po-giok harus mempertaruhkan jiwa raga sendiri.

Jalan yang menembus ke arah Pondok Bintang Kecil berada di sebelah kiri.

Bab 32.

Misteri Kapal Layar Pancawarna Tapi arah yang dituju oleh tapak kaki itu justru menjurus ke sebelah kanan.

Kalau sekarang Po-giok harus mampir ke pondok bintang kecil, lalu bertolak balik menuju ke jalan sebelah kanan, sukarnya mungkin seperti memanjat ke langit, apalagi Ciang-Jio-bin sudah mati di tangannya, siapa tahu kalau di balik surat peninggalan ini ada rencana jahat, perangkap yang akan membahayakan jiwanya?

Siapa berani menjamin bahwa di Pondok Bintang Kecil tiada perangkap?

Baca Juga: Si Pisau Terbang Pulang 2

Baca Juga: Legenda Bunga Persik Gu Long

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert