Ceritasilat Novel Online

Bara Maharani 5

Eps 5 Bara Maharani - Khu Lung

Baca online Bara Maharani - Khu Lung

Cersil Bara Maharani - Khu Lung.

Sepasang tangannya harus bekerja keras memainkan pedang serta senjata godanya, sedang sepasang matapun dengan tajam menatap terus bayangan putih yang menerjang datang tiada hentinya itu tanpa berkedip, maka untuk mengucapkan dua patah kata yang sikap ia membutuhkan waktu yang amat lama sekali, Giok Teng Hujien tertawa dingin, ia merandek sejenak kemudian secara tiba-tiba memperdengarkan siulan nyaring yang panjang.

Begitu mendengar siulan tersebut, Soat-jie si makhluk aneh itu segera menghentikan tubrukannya dan mendekam di atas tanah tanpa bergerak barang sedikitpun jua, sepasang matanya yang berwarna merah darah menatap terus wajah si kakek kurus kering itu tanpa berkedip.

seakan-akan ia takut kalau mangsanya itu kabur.

"Traaaak....!"

Ditengah dentingan nyaring, kelima buah senjata roda itu menumpuk menjadi satu dan melayang balik ke tangan kakek tua itu.

Walaupun begitu jelas terlihat bahwa seluruh tubuh kakek kurus itu sudah basah kuyup oleh keringat, napasnya tersengal-sengal dan dapat didengar dengan amat jelas.

"Ciat Tiang Hong!"

Jengek Giok Teng Hujien dengan nada ketus.

"Bukankah kau mengatakan bahwa dibalik persoalan ini masih terselip masalah lain? Mengapa tidak kau ucapkan keluar?"

"Orang yang menyanyikan lagu itu adalah orang lain, Makhluk aneh milik hujien ini meskipun pandai bertempur tapi belum mampu untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah"

Sekalipun baru saja lolos dari bahaya maut, tapi nada ucapannya tajam dan jumawa sedikitpun tidak ada maksud untuk mengalah Tidak malu ia duduk sebagai seorang Pelindung Hukum terutama dari perkumpulan Sin-kie-pang, Giok Teng Hujien mendengus dingin sinar matanya segera dialihkan ke arah pria berbaju putih yang menggeletak di atas tanah, setelah menarik sekejap ke arahnya ia lantas menegur.

"Siapakah orang ini? apakah dia yang menyaksikan bait lagu tadi?.,.."

"Saudara ini adalah seorang sahabat dari perkumpulan Hong-im-hwie, maaf kalau loohu tidak bisa mengatakan kejelekan orang lain"

Jawab kakek kurus itu makin ketus. Terdengarlah pria berbaju putih yang menggeletak di atas tanah itu merintih dan berkata;

"Bait lagu itu bukan cayhe yang nyanyikan....."

Rupanya ilmu silat yang dimiliki orang ini agak cetek maka tubuhnya tercakar oleh Soat-Jie hingga menderita luka yang amat parah, ketika itu dia sama sekali tak sanggup untuk bangkit berdiri.

Sepasang alis Giok Teng Hujien segera berkerut kencang,serunya dengan nada yang dingin.

"Sekalipun bait lagu itu bukan kalian yang menyanyikan, tetapi seandainya kau tidak mengintip dan mengawasi diriku dari tempat kegelapan, Soat jie kau juga tak akan mencari kalian tanpa alasan. Hmm. kau tidak ingin dicurigai maka lebih baik segera menyingkir dari sini, jelas kalianlah yang tidak pandang sebelah matapun terhadap diriku. Soet Jie! terjang dia....!"

Soet Jie benar-benar amat cerdik dan mengerti akan bahasa manusia, ketika Giok Teng suruh ia berhenti bertarung ia segera berhenti, sekarang setelah diberi perintah untuk menyerang iapun segera maju menyerang.

Begitu perintah terakhir dari perempuan itu meluncur keluar dari bibirnya, Soet jie segera menjerit aneh dan menubruk kembali ke depan.

Si-kakek kurus kering itu jadi terkejut bercampur gusar.

Sreeet!

Senjata Ngo Hoen-Loen nya segera direntangkan untuk melindungi tubuhnya dari ancaman lawan, sementara pedang lemasnya dimainkan dengan rapat disekeliling tubuhnya, terlihatlah bayangan pedang menggulung dan mengelilingi seluruh badannya tanpa meninggalkan sedikit peluangpun bagi lawannya untuk menyarangkan cakarnya ke atas tubuhnya.

Untung kakek kurus itu cukup cerdik dan berdiri di sudut tembok, dalam posisi yang begini ia hanya cukup berjaga jaga terhadap serangan yang datang dari depan, Meskipun tubrukan dan terjangan Soat-jie cepat laksana kilat tapi dalam keadaan begini daya kekuatannya berkurang juga, seandainya ditanah lapang yang luas, sejak tadi mungkin kakek tua itu sudah kewalahan.

Tiba-tiba tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, si Utusan pencabut nyawa Mo Ching San meloncat masuk dari luar dinding pekarangan, setelah memberi hormat katanya.

"Hujien jangan gusar, hamba ada urusan hendak memberi laporan!"

Giok Teng Hujien bersiul memanggil kembali makhluk aneh Soat Jie untuk mundur kesisi tubuhnya, lalu sambil tertawa dingin makinya.

"Heeeh.... heeeh.... heeeeeh, bagus, kau tentu sudah lari amat .iauh bukan?"

Sekujur badan Ma Ching-san si utusan pencabut nyawa itu seketika gemetar keras buru-buru sahutnya.

"Hamba tidak berani melalaikan tugas yang telah dibebankan pada pundak hamba..."

Ia menghembuskan napas panjang dan meneruskan.

"Hamba tidak berani berdiri di tengah halaman .."

"Bicara sesingkatnya Saja!"

Tukas Giok Teng Hujien.

"Ketika hamba bertugas diluar dinding tembok mendadak kudengar ada orang sedang menyanyi di dalam halaman. karena takut nyanyian itu mengganggu ketenangan hujien maka aku siap masuk ke dalam untuk melakukan pemeriksaan, pada saat itulah secara tiba-tiba dari pintu belakang berjalan keluar seorang kakek tua dengan langkah yang seenaknya. Karena wajahnya terasa asing maka hamba segera melakukan pengejaran, siapa tahu kakek tua itu licik sekali setelah mengitari halaman ini dua lingkaran mendadak bayangan tubuhnya lenyap tak berbekas."

Dalam waktu singkat ia telah berbicara sampai disitu, mendadak selanjutnya ia jadi gelagapan dan tak sanggup meneruskan kembali kata-katanya.

Ma Ching-san tahu, ia pasti sudah jatuh kecundang di tangan maka tak berani meneruskan kembali katakatanya, ditinjau dari sikapnya yang begitu ketakutan tanpa terasa pemuda itu segera berpikir.

"Aku mengira Hujien ini cuma kukoay dan genit, ternyata semua anggota perkumpulan Tong-thian-kauw begitu ketakutan menghadapi dirinya, ia pastilah seorang yang lihay!"

Sementara itu Giok Teng Hujien telah bertanya.

"Macam apakah si kakek tua itu? apakah kau berhasil memperhatikan raut wajah serta potongan tubuhnya?"

"Dia adalah seorang kakek yang pendek dan gemuk"

Jawab Ma Ching-san dengan amat hormat.

"Wajahaya berwarna merah memancarkan sinar terang, kepalanya botak dan jenggotnya pendek. pakaian yang dikenakan terbuat dari kain kasar, sedangkan di tangannya membawa sebuah kipas bulat yang besar!"

Mendengar laporan itu Giok Teng Hujien tundukkan kepala dan berpikir sebentar, tiba-tiba ia mendongak dan melotot sekejap ke arah Hoa Thian-hong dengan pandangan gemas.

"Beeei...!Kenapa sih Hujien melotot wajahku? apa salahnya cayhe?"

Teriak Hoa Thian-hong dengan cepat.

"Huuuh! orang itu bukan anggota perkumpulan Sinkie-pang, Hong In Hwie maupun Teng Thian Kauw!"

"Lalu kenapa?"

"Itu berarti bahwa orang itu adalah manusia dari pihakmu!"

Hoa Thian-hong melengak, tapi dengan cepat ia berseru.

"Kalau memang dia adalah kawan cayhe, biarlah aku segera pergi mencari dirinya."

Sesudah menjura ia segera putar badan dan berlalu dari situ.

Giok Teng Hujien segera tertawa cekikikan, lengannya diulur ke depan tahu-tahu Soat jie sudah menyusup ke dalam gendongannya.

Tampaklah pinggangnya yang ramping bergerak dan di dalam waktu singkat ia sudah mengejar ke sisi si anak muda itu untuk berjalan berdampingan dengan dirinya sikap tersebut se-akanakan menganggap di sekitar sana tak ada seorang manusiapun.

Diam-diam Hoa Thian-hong kesal juga melihat perempuan itu membuntuti terus jejaknya, dalam hati ia berpikir.

"Waaduuuh....celaka nih! kalau sampai aku dilengketi terus olehnya, apa yang musti kulakukan?"

Otaknya dengan cepat bekerja keras untuk mencari akal guna melepaskan diri dari penguntitan perempuan itu, namun tak sepotong siasatpun yang berhasil didapatkan, Akhirnya dengan perasaan apa boleb buat katanya "Waktu sudah tidak dapat pagi2, siauwte siap akan pergi "Lari Racun"

Cici bagaimana kalau kau pulang dulu kekuil It Goan Koan? besok siauwte pasti datang berkunjung lagi."

"Iiiiirh.,..masih benar mulutmu itu,"

Ejek Giok Teng Hujien sambil tertawa cekikikan.

"Cici tak pernah menduga kalau kau sepandai itu untuk merayu perempuan!"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, kedua orang itu sudah berjalan keluar dari rumah penginapan dan menuju ke jalan raya.

Bergaul dengan perempuan seperti ini, Hoa Thianhong merasakan hatinya selalu kebat-kebit diliputi rasa takut, ia takut tindakannya yang keliru akan mengakibatkan munculnya kembali seorang musuh tangguh, waktu itu baik perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie maupun Tong-thian-kauw akan menjadi musuhnya membuat ia sama sekali tiada tempat untuk berpijak, keadaan seperti itu pastilah mengenaskan sekali.

Tiba-tiba terdengar Giok Teng Hujien tertawa dan berkata.

"Kau sudah bergadang semalam suntuk, aku pikir perutmu tentu sudah lapar, ayoh aku undang kau pergi makan pagi!"

Hoa Thian-hong tidak tahu musti menampik atau menurut saja terhadap undangan nya itu, terpaksa dengan mengikuti disisinya mereka berangkat menuju ke pusat kota.

Sepasang muda-mudi ini berjalan berdampingan ternyata amat menyolok sekali, yang lelaki adalah seorang pria tampan berbadan tegap sedang yang perempuan cantik jelita bagaikan bidadari, sepintas lagi hubungan mereka bagaikan kakak beradik tapi kalau dipandang lebih seksama hubungan itu lebih mirip dengan sepasang kekasih.

Terlihatlah orang-orang dijalan yang bertemu dengan mereka berdua.

ada yang lewat dengan kepala tunduk ada pula yang buru-buru menoleh ke arah lain pura pura tidak melihat, tak seorangpun berani menggunakan pandangan yang gamblang untuk mengawasi kedua orang itu.

Beberapa saat kemudian sampailah mereka berdua di depan sebuah rumah makan yang amat megah, Sambil menuding hurup "Cie-Eng-Loo"

Yang tergantung di depan rumah makan itu Giok Teng Hujien berkata sambil tertanya.

"Dua kali ber-turut2 ayah ibu telah mengadakan perjamuan para enghiong di atas rumah makan ini untuk menjumpai pimpinan Hong-im-hwie serta Tong-thian-kauw dan menyelesaikan beberapa masalah Bulim yang serius, rumah makan ini semula bernama "

Ka Peng-Cioe-Loo"

Tapi sekarang mereknya sudah diganti, itupun gara-gara disebabkan karena peristiwa itu!....."

Waktu itu sebenarnya Hoa Thian-hong telah melangkah masuk ke dalam pintu, mendengar cerita tadi ia segera alihkan sinar matanya yang diliputi perasaan tercengang untuk memperhatikan sejenak papan merek yang luasnya dua tombak itu, kemudian sambil tertawa paksa sahutnya.

"Pengetahuan cici benar-benar amat luas, waktu diutarakan keluar pun menarik sekali untuk didengar...."

"Idiiih....malu aah, masa memuji sambil menyindir.,.. Ogah, ogah, aku tak bicara lagi."

Di tengah gelak tertawa kedut orang itu telah naik ke atas loteng dan mencari sebuah tempat yang tenang di dekat jendela. Setelah memesan sayur dan arak, Giok Teng Hujien berkata lagi sambil tertawa.

"Maukah kau dengarkan kisah mengenai ayah ibumu dimasa yang silam?.,..,.."

"Mendengarkan saja tentu mau .."

Tiba-tiba si anak muda itu teringat kembali akan pesan ibunya sesaat sebelum ia turun gunung ia dilarang menyelidiki kisah ayah ibunya.

Sebagai seorang anak berbakti dan menuruti perkataan orang tuanya, tentu saja Hoa Thian-hong tak berani melanggar pesan ibunya itu, dengan cepat ia berseru.

"Seorang lelaki sejati tak akan membicarakan kejadian yang telah lampau, lebih baik kita tak usah membicarakan persoalan itu."

Tertegun dan melongo Giok Teng Hujien setelah mendengar ucapan itu, sambil tertawa segera tanyanya.

"Makhluk aneh cilik, lalu apa yang hendak kita bicarakan?"

"Cici pernah berkata bahwa pihak perkumpulan Sinkie-pang lebih banyak dalam prajurit sedang pihak Hong lm Hwie lebih luas dalam panglima, mengenai soal ini siauwte merasa kurang begitu jelas."

"Bukankah persoalan itu gampang sekali untuk dijawab? kenapa kau musti suruh aku kasih penjelasan?"

"Malaikat berlengan delapan Cia Kim adalah Sam Tang-kee dari perkumpulan Hong-im-hwie, aku lihat meskipun ilmu silatnya lumayan tapi belum sampai mencapai taraf yang dikatakan betul betul hebat, aku pikir yang lainnya."

"Jangan sembarangan menduga, makin menduga semakin keliru "tukas Giok Teng Hujien cepat.

"Itulah sebabnya Siauwte mohon penjelasan.."

Persoalan ini gampang sekali untuk dijelaskan, perkumpulan Sin-kie-pang adalah suatu perkumpulan dengan mengambil struktur organisasinya menyerupai sebuah pagoda.

sang Pangcu duduk jauh di paling atas sedang sisanya adalah anak buahnya semua.

"Itu memang betul,"

Hoa Thian-hong mengangguk membenarkan.

"Bila orang lain memiliki ilmu silat jauh di atas Pek Siauw-thian, tentu saja ia tak akan sudi tunduk dibawah perintah orang!"

"Sedang perkumpulan Hong-im-hwie sesuai dengan namanya adalah merupakan suatu kumpulan dari semua jago dari pelbagai lapisan masyarakat. semua anggota saling menyebut sebagai saudara. walaupun ada perbedaan dalam sebutan Loo-Toa, Loo-jie atau Loo-sam namun kedudukan serta tingkatan mereka adalah seimbang. Yang disebut sebagai Tang-kee adalah orang yang mendapat tugas untuk menyelesaikan pelbagai persoalan. mengenai hal kepandaian, ketajaman berbicara serta hak dan kewajiban tidak memiliki patokan yang khusus. pokoknya secara singkatnya saja mereka tidak membedakan tingkatan, yang ada hanya urutan dan nomor urutanpun tidak ada hubungannya dengan tinggi atau tidak ilmu silat yang mereka miliki!"

"Maksudmu para jago dalam perkumpulan Hong In Hwie, tidak sedikit yang memiliki ilmu silat yang di atas si Malaikat berlengan delapan Cia Kim? .

"Boleh dibilang banyak sekali,"

Sahut Giok Teng Hujien, ia merandek sejenak dan angkat teko untuk memenuhi cawan mereka-dengan arak, kemudian sambil tertawa sambungnya Sebetulnya ilmu silat yang dimiliki Cia-Kim tidak berada dibawah kepandaian Ciong-Lian-Khek, kekalahan yang dideritanya kemarin malam sebagian besar disebabkan karena rasa menyesal yang timbul dalam hatinya setelah teringat akan kesalahan yang pernah dibuatnya membuat ia jadi tidak tenang dan pikirannya jadi kalut.

kau janganlah menilai seorang enghiong dari menang kalahnya, berhubung ia kalah maka kau anggap ilmu silatnya hanya begitu-begitu saja Si Hweesio gede yang bernama Seng Hauw itupun bukan seorang manusia sembarangan "Aku sanggup menahan dirinya, itu berarti bahwa ia belum termasuk seorang jago yang sangat lihay"

Seru Hoa Thian-hong dengan cepat sambil tertawa geli, Sementara pembicaraan masih berlangsung tiba-tiba dari luar rumah makan berkumandang datang suara derap kaki kuda, diikuti seseorang dengan suara pembicaraan yang berat dan penuh bertenaga sedang bercakap-cakap dengan seseorang.

Giok Teng Hujien melongok sekejap keluar jendela, air mukanya mendadak berubah, serunya sambil tertawa.

"Waduuuih! Coe Goan Khek telah datang, dia adalah Jie Tang-kee dari perkumpulan Hong-im-hwie seorang jago lihay diantara jago lihay yang lain!..."

Mendengar ucapan itu buru-buru Hoa Thian-hong pun melongok keluar tampak olehnya seorang kakek tua berjenggot panjang selambung berwajah model persegi, berbahu bidang dan sepasang mata memancarkan cahaya tajam sedang melangkah masuk ke dalam rumah makan diikuti tiga orang pria lainnya.

Diantara ketiga orang pengikutnya itu, dua orang mempunyai perawakan kurus kering bagaikan dua batang tongkat bambu, Sedang orang ketiga adalah seorang pemuda tampan berbadan kekar Raut wajah pemuda itu tampan sekali, cuma sorot matanya sayu dan ke-bodoh2an, wajahnya tidak memperlihatkan perubahan perasaan dan jalannya tegak lagi lurus ke muka, keadaan itu bagaikan seseorang yang ngelindur dan berjalan di dalam impian Begitu bertatapan muka dengan orang itu sekujur badan Hoa Thian Hong segera bergetar keras, Dalam pada itu Giok Teng Hujien telah berkata lagi sambil tertawa.

"Bocah muda berdandan Boe-su yang kemarin Kau hajar sampai setengah mati itu bersama Coe Siauw Khek dia adalah putra kesayangan dart Coe Goan Khek ini...."

Mendadak ia merandek ketika dilihatnya air muka si anak muda itu berubah hebat dengan cepat ia genggam tangannya sambil menegur.

"Eeeei! kenapa kau? Tengah hari belum sampai masa racun teratai dalam tubuhmu sudah kambuh?"

Tingkah lakunya yang lembut dan romantis tanpa terasa telah menghilangkan rasa permusuhan diantara Hoa Thian Hong dengan Giok Teng Hujien, seakan-akan sedang berbicara dengan encinya saja, ia lantas menjawab.

"Pemuda gagah yang berada dipaling belakang itu adalah sahabatku, kenapa ia bisa melakukan perjalanan bersama sama Coe Goan khek?"

"Apa? dia adalah kawanmu?"

Seru Giok Teng Hujien tercengang.

"Apakah tahu dengan asal usulnya?"

"Dia bernama Chin Giok Liong, putranya Chin Pek Cuan dari kota Keng-Chiu...!"

"Ooooh...! sekarang aku ingat sudah!"

Seru Giok Teng Hujien sambil tertawa.

"Bukankah kau punya hubungan yang sangat akrab dengan encinya? dia toh adik iparmu?"

Hoa Thian-hong ulapkan tangannya dan segera berdiri menuju ke tempat luar. Giok Teng Hujien tertawa ringan, ia tarik tangan si anak muda itu sambil serunya.

"Eeei, mau apa kau? marah yaah dengan cici?"

"Cici, aku tidak marah kepadamu!"

Jawab Hoa Thianhong dengan alis berkerut.

"Harap tunggulah sebentar disini, aku mau kesana untuk bertanya kepada Toako dari keluarga Chin itu, kenapa ia melakukan perjalanan bersama-sama Coe Goan Khek?"

"Tak usah ditanyakan lagi, Chin Toako mu itu sudah dicekoki dengan sebangsa obat pemabok, kesadarannya telah punah sama sekali. Keadaannya tidak lebih bagaikan sesosok mayat hidup."

"Hoa Thian-hong jadi semakin gelisah.

"Aku harus pergi kesana dan menanyakan, persoalan ini hingga sejelas-jelasnya!"

Ia meronta dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman si perempuan itu. Tapi genggaman Giok Teng Hujien pada tangannya sedikitpun tidak mengendor, malah sambil tertawa merdu nasehatnya.

"Persengketaanmu dengan pihak perkumpulan Hongim-hwie tidak kecil, kalau memaksa juga untuk kesitu maka kemungkinan besar jiwamu akan terancam oleh bayangan maut."

Jilid 12 . Thong Thian Kauw vs Hong Im Hwie CICI, kau tidak tahu bahwa nona Chin dengan mempertaruhkan jiwanya telah menyelamatkan diriku dari mara bahaya, namun hal ini masih tidak penting...."

"Lalu apa yang paling penting?"

"Kedatangan siauwte ke dalam dunia persilatan kali ini tujuannya bukan tain adalah melaksanakan perintah dari ibuku untuk menyelamatkan jiwa keluarga Chin,"

Kata Hoa Thian-hong dengan wajah serius.

"Bila menolong orang tidak menolong sampai pada dasarnya, darimana siauwte punya maka untuk berjumpa lagi dengan ibuku?"

"Saudaraku, apa yang cici katakan kepadamu adalah perkataan yang sejujurnya!"

Seru Giok Teng Hujien sambil tertawa.

"Tenaga gabungan kita berduapun belum tentu bisa menandingi kekuatan mereka bertiga, kenapa sih kau musti mencari kerugian yang ada di depan mata?"

Dengan perasaan berterima kasih Hoa Thian-hong anggukkan kepalanya.

"Siauwte pun mengerti akan enteng beratnya persoalan, cuma peristiwa ini sudah berada di depan mata, masalah kita musti mengkeret dan takut untuk maju? Cici, harap kau duduk sejenak disini, siauwte akan pergi sebentar saja kesitu dan segera kembali."

Giok Teng Hujien tertawa mengikik.

"Manusia tolol, setelah kesitu kau takkan bisa kembali lagi!"

Ia menghela napas panjang, bangkit berdiri dan berlalu bersama-sama dirinya. Sambil tertawa ia melanjutkan.

"Aaaii.... akupun tak tahu kenapa bisa begitu menurut dengan dirimu...."

"Kenapa?"

"Kalau tidak mengerti, lebih baik jangan bertanya!"

Rumah makan Cie Eng Loo adalah rumah makan paling besar pada waktu itu, di tengah rumah makan itu terdapat sebidang tanah lapang yang diberi nama 'Yan-Boe-Peng' atau lapangan demonstrasi silat, luasnya dua puluh tombak persegi dengan alas batu hijau yang atos, sekeliling tempat itu dilapisi oleh dinding tembok terbuat dari batu granit, disitulah tempat yang biasanya digunakan untuk beradu silat.

Diluar pagar merupakan sebuah serambi yang berliukliuk, dimana biasanya para penonton menikmati jalannya pertarungan sambil minum arak.

Di samping serambi tadi terdapat pula garuda dan bangunan loteng sejumlah dua puluh buah.

Pemilik dari rumah makan inipun seorang jago silat dari kalangan Bulim, tapi tidak tergabung dalam perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie maupun Thong-thian-kauw.

Dalam rumah makan tadi terdapat satu peraturan yang unik, yaitu bilamana tidak terdesak oleh keadaan selamanya tidak memberi kesempatan bagi para jago dari ketiga perkumpulan itu untuk saling berjumpa muka di tempat itu, tindakan ini dimaksudkan agar bisa mengurangi bentrokan phisik yang tidak perlu.

Setibanya di tempat luar, Hoa Thian-hong segera celingukan kesana kemari namun bayangan tubuh Cu Goan-khek sekalian tak ditemukan juga.

Melihat tingkah laku si anak muda itu, Giok Teng Hujien segera tertawa.

Kepada pengurus yang bertugas di serambi bawah tegurnya.

"Eeei, Cu Tang-kee berada dimana?"

"Hamba segera akan membawa jalan!"

Buru-buru pengurus itu berseru sambil bongkok bongkokkan badannya.

oooOcoo DENGAN mengikuti di belakang pengurus tadi, kedua orang itu secara beruntun telah melewati beberapa lapis serambi yang berbelok kesana kemari, akhirnya sampailah di sebuah beranda tepat berhadapan dengan lapangan 'Yan-Boe-Peng'.

Tampaklah sebuah meja perjamuan telah dipersiapkan, Cu Goan-khek duduk di kursi utara sedang dua orang kurus kering yang nampaknya menyerupai sepasang saudara kembar itu duduk di kedua belah sisinya.

sedang Chin Giok-liong dengan badan kaku bagaikan patung duduk di hadapan mereka.

Tiba-tiba Cu Goan-khek angkat kepalanya, ketika ia jumpai Giok Teng Hujien mendampingi seorang pemuda berwajah tampan berjalan menghampiri dirinya, air muka orang itu seketika berubah hebat diikuti wajahnya yang berbentuk persegi segera terlapis oleh nafsu membunuh yang menyeramkan.

Hoa Thian-hong langsung berjalan masuk ke dalam ruangan, sinar matanya dengan tajam menatap Chin Giok-liong tanpa berkedip, melihat pemuda itu tetap duduk dengan wajah yang ketolol-tololan tanpa terasa diam-diam ia menghela napas panjang.

Sebetulnya pada saat itu wajah Giok Teng Hujien dihiasi dengan senyum tetapi setelah menjumpai beberapa orang itu tak seorangpun yang bangkit dari tempat duduknya, ia segera berhenti berjalan dan serunya dengan nada dingin.

"Saudaraku, kalau kau ada urusan cepatlah diselesaikan kemudian kita harus pergi minum arak."

"Sungguh mengagumkan sekali 'Nyonya' ini, berhadapan muka dengan musuh tangguhpun tak mau turunkan pamornya,"

Pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.

Otaknya dengan cepat berputar, setelah mengambil keputusan untuk mengatasi persoalan itu di ujung senjata seorang diri ia segera meneruskan langkahnya berjalan maju ke depan.

Tiba-tiba terdengar Cu Goan-khek tertawa keras, sepasang telapaknya menekan pinggiran meja dan segera bangkit dari tempat duduknya.

Tenaga lweekang yang dimiliki orang ini sungguh amat sempurna, gelak tertawa yang amat perlahan itu ternyata cukup menggetarkan telinga sehingga gendang telinganya secara 1apat-lapat terasa sakit.

Setelah Cu Goan-khek bangkit dari tempat duduknya, kedua orang lelaki kurus kering itupun bangkit berdiri, hanya Chin Giok-liong seorang tetap duduk di tempat semula tanpa berkutik, seolah olah terhadap gerak-gerik beberapa orang itu ia sama sekali tidak melihat.

Giok Teng Hujieu kuattr Cu Gotn Khek secara tiba melancarkan serangan bokongan yang mematikan, cepat iapun melangkah maju ke depan dan berdiri disisi Hoa Thian-hong, wajahnya berubah jadi sinis dan penuh dihiasi dengan ejekan.

Suasana jadi semakin tegang, rupanya sebelum pembicaraan dilangsungkan pertempuran bisa segera meledak.

Tiba-tiba Cu Goan-khek berhenti maju ke depan dan merangkap tangannya menjura, kemudian sambil tertawa katanya.

"Hujien, Harap kau suka maafkan diri loohu yang sudah bersikap kurang hormat terhadap dirimu. Maklumlah, loohu sedang diumbar oleh hawa amarah yang rasanya susah dikendalikan lagi."

Air muka Giok Teng Hujien masih tetap dihiasi senyuman sinis, sambil menyelempitkan senjata Hudtimnya ke belakang bahu ia berkata dengan nada ketus.

"Soat-jie ku tadi pagi telah melukai seorang anggota perkumpulan kalian."

"Jumlah anggota perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-imhwie serta Thong-thian-kauw amat banyak dan tak terhitung jumlahnya, sekalipun terjadi sedikit kesalahpahaman diantara kawanan sealiran, rasanya juga tak usah dipersoalkan lebih lanjut"

Tukas Cu Goankhek sambil goyangkan tangannya. Ia merandek sejenak, lalu sambil tertawa terbahakbahak sambungnya lebih lanjut.

"Loohu mempunyai peraturan loohu sendiri, dan Hujien pun mempunyai peraturan menurut selera serta cara hujien sendiri, bilamana manusia yang tak tahu diri berani bertindak kurangajar, sudah sewajarnya kalau kita beri hukuman yang setimpal."

Giok Teng Hujien segera tersenyum.

"Pantanganku yang paling berat adalah tidak akan memberi kesempatan hidup bagi seseorang yang berani mengintip rahasia pribadiku, entah bagaimana pula dengan peraturan dari Jie Tang-kee?"

"Putra kesayangan dari Jien toako telah mati dibunuh oleh seorang manusia berhati keji, Loohu pun hanya mempunyai seorang putra tunggal, aku tidak ingin kejadian serupa itu terulang kembali untuk kedua kalinya!"

Bicara sampai disitu, dengan sorot mata yang tajam menggidikkan orang she Cu itu segera alihkan sinar matanya ke atas wajah Hoa Thian-hong, tegurnya.

"Putra kesayangan Loohu apakah menderita luka di tanganmu?"

Giok Teng Hujien gerakkan bibirnya seperti mau mengucapkan sesuatu, tiba-tiba Hoa Thian-hong berpaling dan katanya sambil tertawa.

"Cici, maafkanlah daku, siauwte akan mengatasi sendiri persoalan ini!!"

Diluar ia berkata demikian, sementara di dalam hati pikirnya.

"Hidup di dalam dunia persilatan memang penuh diliputi oleh mara bahaya yang setiap saat bisa mengancam datang, bila aku tak mampu menandingi kepandaian silatnya aku masih bisa kabur, kalau tak Sanggup kabur adu bisa bertahan sampai titik darah penghabisan, minta perlindungan di bawah gaun seorang perempuan, kejadian ini apakah tidak akan dibuat sebagai bahan lelucon oleh orang lain? lagipula belum tentu ia sanggup memberikan perlindungan kepadaku."

Setelah mengambil keputusan di dalam hati sikapnya jadi semakin tenang dan kalem, kepada Cu Goan-khek ujarnya.

"Kemarin malam cayhe memang pernah saling beradu satu pukulan dengan putra kesayanganmu, waktu itu serangan yang cayhe lancarkan terlalu berat hingga mungkin sudah melukai putramu, untuk itu harap kau suka memberi maaf!"

Sepasang mata Cu Goan-khek melotot besar, sepasang sorot mata yang tajam bagaikan dua batang pisau menatap wajah si anak muda itu tanpa berkedip, lama kemudian ia baru menegur.

"Apakah kau she Hoa?"

"Cayhe Hoa Thian-hong, majikan lama dari perkampungan Liok Soat Sanceng,"

Jawab si anak muda itu sambil tertawa ewa. Cu Goan-khek mendengus dingin.

"Hmmmm! peristiwa yang sudah lampau tak usah kita ungkap kembali. Putraku tak becus dan terima kasih buat pelajaran yang telah kau berikan kepadanya mewakili diriku. Loohu sendiripun merupakan seorang manusia yang tak tahu diri, aku ingin sekali mohon petunjuk pula mengenai kehebatan ilmu silatmu!"

"Oooh, jadi inikah peraturan dari Jie Tang-kee?"

"Sedikitpun tidak salah, inilah peraturan dari Loohu! Musuh yang tak sanggup dihadapi putraku maka Loohu akan turun tangan sendiri untuk menghadapinya."

"Ooooh, pandai sekali Jie Tang-kee menyayang anak!"

Sindir Hoa Thian-hong sambil tertawa, mendadak dengan wajah serius ujarnya lebih jauh.

"Kedatangan cayhe pada saat ini bukanlah untuk mencari satori atau gara-gara dengan diri Jie Tang-kee, tapi kalau memang Jie Tangkee ada keinginan untuk minta petunjuk tentu saja cayhe akan mengiringi keinginanmu itu."

"Sebelumnya ada sedikit urusan kecil mohon Jie Tangkee suka memberi penjelasan terlebih dahulu"

Sebelum orang she-Cu itu sempat menjawab, tiba-tiba terdengar Giok Teng Hujien telah berteriak.

"Jie Tang

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com kee, kaupun merupakan seorang enghiong yang memiliki nama besar yang telah menggemparkan seluruh kolong langit. masa beginikah caramu untuk menyambut kedatangan seorang tetamu?"

"Aku dengar perempuan siluman ini lihay sekali,"

Diam-diam Cu Goan-khek berpikir di dalam hati.

"Jika ditinjau dari sikapnya yang begitu membelai bajingan cilik itu, kemungkinan besar kedua orang ini sudah berkomplot lebih dahulu. Dalam hati ia berpikir demikian, diluar segera mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam ruangan, katanya.

"Silakan kalian berdua masuk ke dalam pertama-tama loohu hendak menghormati secawan arak lebih dahulu kepada kalian kemudian baru minta petunjuk dari Hoa kongcu!"

Giok Teng hujien tersenyum, ia segera berjalan masuk lebih dibulu ke dalam ruangan. Hoa Thian-hong berjalan ke sisi Chin Giok-liong dan duduk disampingnya, ia menegur.

"Chin-heng, masih ingatkah kau dengan siauwte Hong-po Seng?"

Mendapat pertanyaan itu, sepasang mata Chin Giokliong yang pudar tak bercahaya dialihkan ke atas wajah Hoa Thian-hong, lama sekali ia duduk tertegun lalu menoleh ke arah Cu Goan-khek.

Orang she-Cu itu segera menunjukkan suatu gerakan tangan, melihat gerakan itu Chin Giok-liong tundukkan kepalanya dan tidak memberikan suatu reaksi lagi.

Diam-diam Hoa Thian-hong jadi amat gelisah, pikirnya.

"Gerakan tangannya itu sederhana dan sama sekali tidak mengandung arti, tapi dalam pandangan Chin Giok-liong yang nampaknya pudar dan tak bercahaya itu seolah-olah mengandung suatu arti yang mendalam, sebetulnya apa yang telah terjadi?"

Pelayan telah menambah cawan dan sumpit bagi tamu yang baru datang, sedang pria tinggi kurus yang duduk di kursi utama angkat poci araknya dan memenuhi cawan dari Giok Teng Hujien serta Hoa Thian-hong.

Menyaksikan kesemuanya itu, Giok Teng hujien tertawa.

sambil menuding ke arah orang itu katanya.

"Saudaraku, dia ada1ah Siang loo-toa, sedang disebelah sana Siang loo-jie, kedua orang bersaudara ini menduduki urutan kursi keenam belas dan tujuh belas di dalam perkumpulan Hong-im-hwie, ilmu cakar Thong Long-Jiauw yang diyakini kedua orang ini termasyhur sebagai ilmu silat maha sakti di dalam dunia persilatan!"

"Selamat bertemu!"

Kata Hoa Thian-hong sambil menjura, sinar matanya berkelebat menyapu sekejap jari tangan Siang loo-toa yang mencekal poci arak, ketika dilihatnya kelima jari tangan orang itu bersih tidak menyerupai seseorang yang ilmu cakar beracun, dalam bati ia merasa keheranan sedang rasa was-was pun semakin menebal.

Tampak Siang loo-toa meletakkan poci arak itu ke atas meja, lalu sambil balas memberi hormat katanya.

"Aku adalah Siang Kiat dengan adikku Siang Hauw!"

Sementara Siang Hauw dengan suara dingin menegur.

"Hoa-heng, apakah kau telah menggabung diri dengan pihak sekte agama Thong-thian-kauw?"

Walaupan Siang Kiat serta Siang Hauw adalah saudara sekandung tetapi watak Loo toa lebih mantap dan berpikir panjang sedang sang Loo-jie berangasan, tak dapat menyembunyikan perasaan sendiri.

Mendengar teguran orang tidak senonoh dan mengandung maksud tak baik, tidak menanti Giok Teng Hujien buka suara, Hoa Thian-hong segera menjawab dengan nada ketus .

"Selama aku hidup berkelana Seorang diri, belum pernah terlintas dalam benakku untuk masuk menjadi anggota perkumpulan Thong-thian-kauw!"

Giok Teng Hujien yang sedang memberi minum Soatjie makhluk anehnya dengan arak wangi segera menyambung pula sambil tertawa.

"Sekalipun antara aku dengan saudara Hoa tiada hubungan tugas, tetapi hubungan persahabatan kami sangat erat, bila Siang Loo-jie ada urusan mau cari dia atau aku juga lama saja"

Sepasang alis Siang Hauw kontan berkerut, dengan wajah berubah hebat serunya.

"Sudah lama aku Siang Loo-jie mendengar orang berkata bahwa ilmu Kie-Sat Sinkang yang dimiliki Hujien merupakan ilmu ampuh dalam dunia persilatan, bila kau tidak keberatan ingin sekali aku mohon beberapa jurus petunjuk dari Hujien."

"Hiih....Hiih....Hiiiih....bagus sekali!"

Sahut Giok Teng Hujien sambil tertawa terkekeh kekeh.

"Bila kalian dua bersaudara punya kegembiraan, aku pasti unjukkan kejelekanku buat kalian berdua."

Maksud dari ucapan itu jelas sekali, ia telah masukkan pula sang Loo-toa Siang Kiat dalam hitungan.

Cu Goan-khek yang merasakan situasi makin lama tidak menguntungkan, segera tertawa seram, ia menoleh ke arah Hoa Thian-hong sambil tegurnya hambar.

"Apa kongcu kau ada urusan apa? rasanya sekarang boleh utarakan keluar"

Hoa Thian-hong mengejek dingin, ia tuding ke arah Chin Giok-liong dan berkata.

"Karena persoalan apa Saudara Chin ini telah menyatroni diri Jie Tang-kee....? Kalau dilihat tingkah lakunya yang bodoh dan lamban, cahaya matanya yang pudar serta sikapnya yang tidak bicara tidak tertawa, rupanya kau sudah cekoki sebangsa obat pemabok kepadanya hingga ia hilang ingatan...!"

"Oooh! Rupanya kedatangan Hoa kongcu adalah disebabkan urusan ini!...."

Ia merandek sejenak, sorot matanya yang tajam kembali menatap wajah si anak muda itu dalam2.

Kesaktian ilmu silat yang dimiliki Hoa Goan-siu serta nama besarnya yang telah menggetarkan seluruh sungai telaga telah membekas sangat dalam di hati kecil setiap jago dari dunia persilatan, sekalipun Hoa Thian-hong masih muda, namun Cu Goan-khek tak berani memandang enteng dirinya sebab ia menganggap ayahnya lihay sedikit banyak anaknya pasti punya simpanan yang lumayan.

Setelah merandek sejenak, segera sambungnya kembali.

"Chin Giok-liong ini sih tidak mencari perkara dengan diriku, tetapi dia sudah menyalahi seorang Ciong Touw-cu kami hingga ia harus minum obat pemabok milik Touwcu tersebut, lalu tolong tanya Hoa kongcu ada rencana apa terhadap urusan ini?"

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa amat gusar jawabnya tegas.

"Maaf terpaksa aku orang She Hoa-kee harus bertindak kurangajar dan minta kembali orang itu dari tangan Jie Tang-kee, di samping minta pula obat penawar dari racun pemabok dari Jie Loo Tang-kee!"

"Haaaah.... haaaah..... haaaah...."

Cu Goan-khek mendongak dan tertawa terbahak bahak.

"Untuk minta kembali orang ini sih gampang, cuma untuk mendapatkan obat penawar itu rasanya terlalu susah!"

Apa kehendak Jie Tang-kee harap segera dikatakan keluar, aku orang she Hoa pasti akan berusaha memenuhinya dengan sebaik baiknya!"

Nafsu membunuh berkelebat menghiasi wajah Cu Goan-khek, ia tertawa dingin.

"Untuk memerintah dirimu sih aku berani, tetapi Hoa kongcu sebagai keturunan seorang jagoan yang tersohor namanya di kolong langit tentu memiliki ilmu silat yang sakti, asal kau sanggup memenangkan satu atau setengah jurus dariku, maka Chin Giok-liong segera akan kuserahkan kembali pada diri kongcu"

Giok Teng Hujien yang selama ini selalu membungkam, tiba-tiba menimbrung dari samping.

"Oooh...! Sungguh tak nyana Jie Tang-kee mempunyai kegembiraan sebesar itu, akupun sudah lama tak pernah bergebrak melawan orang, otot-otot di tangan serta kakiku terasa agak kaku dan linu...... bagus sekali! Beruntung kita bisa saling bertemu pada hari ini, biarlah aku yang melayani Jie Tang-kee untuk bermain sebanyak beberapa jurus!"

Habis berkata ia mengelus bulu makhluk anehnya kemudian meletakkan binatang tadi di bawah meja.

Baik Cu Goan-khek maupun dua bersaudara she-Siang sama-sama mengetahui sampai dimanakah kelihayan dari makhluk aneh itu, melihat binatang tersebut mendekam di bawah meja ketiga orang itu diam-diam jadi tegang bercampur gelisah, mereka kuatir kalau makhluk itu secara tiba-tiba menggigit kaki sendiri.

Oleh sebab itu seluruh perhatian mereka segera dipusatkan jadi satu untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan, siapapun diantara ketiga orang itu tak berani turun tangan secara gegabah Giok Teng Hujien tersenyum, ia menoleh ke arah Hoa Thian-hong dan bertanya lirih.

"Sewaktu racun dalam tubuhmu kambuh, apakah kau masih sanggup untuk turun tangan bergebrak melawan orang?"

Setiap perkataan dan setiap senyuman dari perempuan ini terhadap diri Hoa Thian-hong selalu disertai dengan nada halus, lunak dan hangat yang sukar dilukiskan dengan kata?, membuat si anak muda itu lama kelamaan takluk oleh kelembutan serta kemesraannya itu, perasaan simpatik dan senangpun makin mendekati perempuan itu.

Terutama sekali berhadapan muka dengan musuh tangguh pada saat ini bisa mendengar pertanyaan yang begitu hangat serta penuh perhatian membuat si anak muda itu jadi amat terharu.

"Terima kasih atas perhatian dari cici,"

Sahutnya.

"Siauwte sendiripun tidak tahu dikala racun teratai itu mulai kambuh, sanggupkah aku bergebrak melawan orang?"

Bicara sampai disini ia putar kepala dan memandang cuaca, setelah mengetahui bahwa saatnya hingga racun teratai itu mulai kambuh masih terpaut setengah jam, dalam hati segera pikirnya.

"Ilmu silat yang dimiliki Chin Pek-cuan ada batasnya, enci Wan-hong sendiri kendati sudah angkat Kioe-Tok Sian-Ci sebagai guru tetapi ilmu silatnya sewaktu masuk perguruan ada batas2nya pula, apalagi air yang jauh sulit menolong kebakaran di depan mata, Dalam urusan yang terjadi hari ini bila aku tidak unjukkan diri untuk bantu yang lemah, maka kesatu aku akan malu menjumpai enci Wan-hong, kedua, aku gagal menolong orang dan tak bisa memberikan pertanggungan jawab terhadap ibu ..."

Meski yang dipikir banyak tapi semua ingatan tersebut berkelebat dalam sekejap mata, sesudah mengambil keputusan di dalam hati ia segera bangkit berdiri dan turun dari beranda.

Melihat pemuda itu sudah tinggalkan tempat duduknya Che Goan Khek segera menoleh dan menatap wajah Giok Teng Hujien tajam-tajam, serunya.

"Peristiwa yang terjadi hari ini merupakan bentrokan antara sahabat ataukah perebutan antara perkumpulan Hong-im-hwie dengan Thong-thian-kauw? harap Hujien bisa memberikan ketegasan!"

"Bagiku kedua duanya sama saja!"

"Perempuan siluman"

Sumpah Cu Goan-khek di dalam hati.

"Kau tak usah jual lagak dihadapanku suatu hari loohu pasti akan suruh kau rasakan kelihayanku!"

Dalam hati ia memaki, diluar wajah tetap tenang seperti sedia kala. dan dalam sakunya dia ambil keluar sebuah medali Kim Pay dan serahkan kepada pelayan yang berdiri disisi ruangan, katanya.

"Katakan kepada pengurus, semua saudara yang tergabung dalam perkumpulan Hong-im-hwie tidak diperkenankan masuk ke dalam rumah makan ini ..."

Giok Teng Hujien tertawa terkekeh, dari sakunya diapun ambil keluar sebuah benda dan diserahkan kepada pelayan itu sambil pesannya .

"Bilamana di atas loteng terdapat anak murid dari perkumpulan Thongthian-kauw, usir mereka semua dari tempat ini"

Pelayan itu mengiyakan berulang kali, sambil membawa tanda pengenal dari kedua orang itu buruburu berlalu dari situ.

Menggunakan kesempatan dikala pelayan tadi berjalan lewat dihadapannya, Hoa Thian-hong melirik sekejap memperhatikan kedua benda itu.

Tampaklah di atas medali Kim-pay terukir sebuah lukisan angin dan mega, di bawah lambang dari perkumpulan Hong-im-hwie atau Angin dan mega itu terukir pula sebuah huruf ,.,Cu"

Yakni she dari Cu Goankhek.

Sebaliknya tanda pengenal dari Giok Teng Hujien merupakan tanda pengenal pribadi yang sama sekali tiada hubungannya dengan sekte agama Thong-thiankauw, benda itu adalah sebuah hioloo kumala yang tingginya cuma beberapa senti, Selama Soat-jie si makhluk aneh itu tetap mendekam di bawah meja Cu Goan-khek serta dua bersaudara she Siang selalu merasa hati mereka tidak tenang suatu ketika mereka bertiga saling berpandangan sekejap dan serentak bangkit berdiri Alis Giok Teng Hujien seketika berkerut tegurnya.

"Apakah kalian bertiga akan turun tangan berbareng?"

Siang Hauw melangkah ke samping sejauh enam depa dan berdiri jauh dari meja perjamuan, sambil tertawa dingin jawabnya.

"Heeeh.... heeeh.... heeeeh, saudara dari perkumpulan Hong-im-hwie belum sampai setidak becus itu."

"Sahabat Siang! Kau tak usah bersombong hati!"

Bentak Hoa Thian-hong secara mendadak dengan suara gusar.

"Akupun sudah pernah menjumpai beberapa orang Hoohan dari perkumpulan Hong-im-hwie."

Giok Teng Hujien yang menyaksikan sikap si anak muda itu secara tiba-tiba berubah Jadi berangasan hingga kegagahannya tadi sama sekali hilang tak berbekas, jadi melengak, serunya.

"Saudara Hoa, inilah yang dinamakan tata cara dunia persilatan, sebelum kirim pasukan harus melakukan upacara lebih dulu."

Terhadap manusia-manusia yang tergabung dalam perkumpulan Hong-im-hwie maupun Sin-kie-pang.

Hoa Thian-hong telah mempunyai kesan buruk yang amat mendalam, ia tahu bila tengah hari sudah tiba maka racun teratai yang mengeram di dalam tubuhnya akan kambuh, bila pertempuran tidak diselesaikan dengan cepat niscaya situasi tidak menguntungkan bagi dirinya.

Oleh sebab itu tidak menanti sampai Giok Teng Hujien menyelesaikan kata-katanya, dengan nada yang dingin dan ketus ia berseru kembali ' Setelah kita hajar yang kecil, yang tua tentu akan keluar sendiri.

Biar kubereskan dulu si Loo jie ini kemudian baru meringkus si Loo toa.

buat apa kita musti urusi segala macam tata cara Bulim yang sama sekali tak ada gunanya itu?

dari pada banyak ngebacot lebih baik kita selesaikan urusan dengan adu tenaga!".

Bicara sampai disitu ia putar badan dan menghardik dengan nada gusar.

"Cu Goan-khek! Ayoh cepat unjukkan diri di tengah kalangan!"

Dari mulutnya Cu Goan-khek jadi gusar, ia melayang turun dari beranda dan berseru.

"Ayoh! Kau beleh mulai turun tangan, asal loohu berhasil kau kalahkan kami Chin Giok-liong kau boleh bawa pergi."

"Omong kosong kau anggap tanpa menangkan dirimu aku akan membiarkan kau membawa pergi Chin-heng dari sini?"

"Sreeet!"

Telapak segera berputar dan melancarkan sebuah pukulan kilat ke depan.

Waktu berlalu dengan cepatnya, jurus 'Koeo Siu-Ca-Tauw' ini tampak terasa sudah setengah dilatihnya dengan giat, meskipun belum bisa menandingi kematangan diri kakek telaga dingin Cioe It Bong yang setiap saat sanggup menciptakan perubahan baru, tetapi jurus-jurus serangan yang berhasil dikuasainya itu sudah dilatihnya hingga matang dan amat sempurna.

Dari hebatnya serangan yang mengancam datang, seketika Cu Goan-khek menyadari akan kelihayannya si anak muda itu, ia tahu bahwa untuk merobohkan Hoa Thian-hong tak mungkin bisa dilakukannya dalam tiga jurus belaka.

Telapak kirinya segera diayun membabat pergelangan lawan, telapak kanan dengan mengeluarkan ilmu pukulan 'Mo-Im Jiu' melancarkan satu pukulan kemuka.

Dalam sekejap mata terjadilah suatu pertempuran yang amat seru antara Cu Goan-khek yang sudah tersohor didunia persilatan melawan Hoa Thian-hong yang baru saja menunjukkan diri dimuka bumi.

Sementara itu Giok Teng Hujien yang diserobot beberapa kali oleh ucapan Hoa Thian-hong yang tajam, membuat hatinya merasa amat mendongkol.

Melihat kedua orang itu sudah mulai bertempur.

ia segera geserkan langkahnya dan berdiri di atas beranda, sedang Soat-jie si makhluk aneh itu menerobos keluar dari bawah meja dan lari ke sisinya.

Dua bersaudara she-Siang pun berjalan keluar dari beranda, pelayan segera menggeserkan kursi bagi tamunya agar bisa menonton jalannya pertarungan sambil duduk.

Soat-jie si makluk aneh itu rupanya mengerti akan ilmu silat, sepasang matanya yang berwarna merah menatap tajam gerakan Hoa Thian-hong maupun Cu Goan-khek yang sedang bertarung, cahaya tajam berkilauan menyorot keluar dari matanya, mungkin binatang itu sedang bersiap diri untuk menolong Hoa Thian-hong dimana perlu.

Di tengah pertarungan, tiba-tiba terdengar Hoa Thianhong membentak keras, jurus demi jurus serangan dilancarkan makin gencar, tubuhnya pun ikut mendesak kemuka.

Ilmu pukulan tangan kirinya ini didapatkan dari sikakek telaga dingin Cioe It Bong, bagi si kakek tersebut sudah tentu jurus pukulan itu bisa dimainkan dengan pelbagai perubahan yang diluar dugaan, tetapi setelah dimainkan pemuda ini gerakannya berubah dan setiap jurus serangannyapun berubah jadi jurus pukulan yang jujur dan bersifat keras Cu Goan-khek belum begitu menguasai menghadapi serangan tangan kiri lawan yang begitu dahsyat, melihat datangnya serangan yang bertubi-tubi dan lihay itu terpaksa ia harus kerahkan segenap kemampuannya untuk memunahkan setiap ancaman yang tiba, ia terdesak untuk menggunakan posisi bertahan guna melindungi dirinya dari ancaman.

Bagaimanapun juga Cu Goan-khek adalah seorang jagoan yang telah punya nama sejak puluhan tahun berselang, pengalamannya menghadapi pertempuran sudah amat matang dan iapun sudah banyak kali menghadapi musuh tangguh, kini walaupun ia tak sanggup untuk mengalahkan si anak muda itu dengan mudah, tetapi untuk melindungi keselamatan sendiri tentu saja masih jauh lebih mampu.

Setelah melancarkan tujuh belas buah pukulan gencar tanpa berhasil mendesak mundur Cu Goan-khek dari tempatnya semula Hoa Thian-hong mulai sadar bahwa musuh yang dihadapinya saat ini merupakan musuh paling tangguh yang pernah dijumpainya selama ini, kecuali muncul keanehan disitu jelas harapannya untuk merebut kemenangan amat tipis.

Hawa murninya segera dihimpun dengan ketat diseluruh tubuh, otaknya mulai berputar kencang untuk mencari jalan guna merebut kemenangan.

Bagi jago lihay yang sedang bertempur semua gerakan berlalu laksana kilat, karena harus cabangkan pikiran untuk berpikir itulah serangan Hoa Thian-hong jadi mengendor.

Cu Goan-khek segera mendengus dingin, telapaknya berputar kencang dan ia mulai melancarkan serangan balasan dalam sekejap mata dari posisi bertahan ia berubah jadi posisi menyerang, sepasang telapaknya menari di angkasa dengan gencarnya, satu serangan lebih hebat dari serangan sebelumnya, memaksa Hoa Thian-hong harus berlarian diseluruh kalangan untuk melepaskan diri dari bahaya maut.

Beberapa saat kemudian keadaan Hoa Thian-hong jadi sangat berbahaya, maut setiap saat mengancam jiwanya, dari keadaan itu bisa terlihat bahwa tidak sampai seratus jurus lagi ia pasti akan menderita kalah di ujung telapak Cu Goan-khek.

Giok Teng Hujien menyaksikan keadaan itu, sepasang alisnya tangsung berkerut kencang.

Sepasang mata dengan tajam memperhatikan gerakan telapak orang she Cu itu, sementara kakinya perlahan-lahan bergeser maju ke depan, Soat-jie si makhluk aneh diturunkan di belakang tubuhnya.

Pertempuran sengit yang sedang berlangsung dewasa ini penuh diliputi oleh nafsu membunuh yang tebal, masing-masing pihak bernafsu besar untuk mengalahkan lawannya, hanya sayang yang satu adalah keturunan jago kenamaan sedang yang lain adalah jago lihay kelas satu, meskipun kedua orang itu sama-sama ganas tapi kecuali membentak dan mendengus tiada kedengaran suara makian atau ejekan.

Makin bertempur kedua orang itu saling bergebrak makin sengit, diam-diam Giok Teng Hujien serta dua saudara she Siang merasa tegang, tampaknya asal Cu Goan-khek melancarkan beberapa jurus serangan lagi niscaya Hoa Thian-hong akan menderita kekalahan total.

Siapa tabu pada saat itulah Hoa Thian-hong membentak keras.

telapak tangannya dengan dahsyat mengirim satu pukulan keras ke depan.

"Blaaaam......!"

Sepasang telapak saling beradu satu sama lainnya menimbulkan suara bentrokan nyaring.

Tubuh kedua orang itu sama-sama terjengkang ke belakang dan mundur beberapa langkah, Cu Goan-khek dengan pengalamannya yang lebih matang segera memanfaatkan kesempatan itu sebaik baiknya, dikala tubuhnya belum bergerak mundur ke belakang tangan kirinya dituding ke atas dan menyodok iga si anak muda itu.

Pada saat itu kekuatan tubuh kedua orang itu samasama telah mengendor, serangan bokongan yang dilancarkan Cu Goan-khek saat ini betul-betul merupakan suatu serangan yang luar biasa dan mematikan.

Hoa Thian-hong jadi tercekat hatinya dan berseru kaget, sebelum ingatan kedua berkelebat di dalam benaknya.

jari musuh telah menempel di atas tubuhnya.

Pada detik terakhir yang kritis itulah, tiba-tiba Hoa Thian-hong tarik napas dalam2 dengan ilmu 'Hoei-Si-Kang' ia alihkan jalan darahnya setengah coen lebih kesampings kemudian telapak kanannya berputar kencang menggunakan gerakan membabat ia bacok batok kepala Cu Goan-khek yang sedang menjorok kemuka, Ketika melihat totokan jarinya mengenai sasaran, Cu Goan-khek merasa sangat berbangga hati, tiba-tiba jarinya bergetar keras dan jalan darah yang diancamnya ternyata meleset dari dugaan semula.

Bagaimanapun dia adalah seorang jago kawakan, begitu merasakan sesuatu yang aneh pada ujung jarinya.

segera ia menyadari bahwa si anak muda itn memiliki kepandaian untuk memindahkan jalan darah-Sementara hatinya masih tertegun dan ingatan kedua belum muncul dalam benaknya, babatan telapak kanan dari Hoa Thian-hong telah membacok tiba.

Sreet..,!

diiringi desiran tajam bagaikan sabetan senjata tajam, babatan itu melesat ke bawah.

Cu Goan-khek merasa terkejut bercampur sangsi, ia tahu ilmu pukulan apa yang telah digunakan lawannya, dalam gugupnya sepasang kaki segera menjejak tanah dengan sekuat tenaga, tubuhnya segera menyurut mundur sejauh beberapa tombak dari tempat semula.

Dengan gebrakan mundurnya sang lawan, babatan telapak Hoa Thian-hong gagal melukai musuhnya, kendati begitu sambaran angin pukulannya yang tajam sempat menyambar ujung jubah Cu Goan-khek hingga terkupas kutung sebagian, pada ujung robekan kain jubah tadi nampak amat rata bagaikan tersobek oleh babatan pisau.

Semua kejadian ini hanya berlangsung dalam sekejap mata, setelah peristiwa itu berlalu Hoa Thian-hong berdiri menjublak dengan keringat dingin membasahi tubuhnya.

air muka Cu Goan-khek berubah jadi hijau membesi, wajah Giok Teng Hujien berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, sedangkan dua bersaudara she Siang tergetar keras hatinya, semua orang dibuat kaget dan tercekat oleh kejadian yang baru saja berlalu itu.

Totokan dari Cu Goan-khek dilancarkan secara mendadak itu melanggar kebiasaan Bulim, sekalipun Giok Teng Hujien mengawasi jalannya pertarungan dari sisi kalangan dengan siap siaga penuh, namun ia tak sempat memberikan bantuannya dikala Hoa Thian-hong terancam banyak maut.

Sebaliknya si anak muda itu sanggup menggeserkan letak jalan darahnya dari tempat semula disaat yang kritis.

tindakan itu cukup mengejutkan hati orang terutama sekali babatan telapaknya yang dahsyat lebihlebih menggetarkan hati musuhnya.

Semua orang belum pernah menyaksikan permainan ilmu pedangnya, mereka hanya tahu bahwa pemuda ini memiliki ilmu pukulan tangan kiri yang hebat, siapa tahu disaat yang paling kritis itulah dengan telapak menggantikan pedang ternyata pemuda itu berhasil membabat robek sebagian dari jubah yang dikenakan Cu Goan-khek, kejadian ini sungguh diluar dugaan siapapun juga Untuk sesaat suasana berobah jadi hening dan sunyi tak kedengaran sedikit suarapun yang memecahkan kesepian yang mencekam seluruh ruangan itu.

Beberapa saat kemudian terdengar Giok Teng Hujien tertawa dan berkata.

"Sebuah totokan ditukar dengan sebuah babatan, kedua belah pihak sama-sama kuat dan setali tiga uang. Menurut pendapatku lebih baik pertarungan yang berlangsung pada hari tni hanya dihentikan sampai disini saja, Jie Tang-kee! bagaimana kalau kau jual muka bagiku dan serahkan Chin Giok-liong agar bisa diajak pergi oleh Hoa Kongcu? Tentang obat pemunahnya biar kita lanjutkan pembicaraan ini di kemudian hari."

Cu Goan-khek adalah seorang jagoan yang tersohor namanya di dalam dunia persilatan, sedangkan Hoa Thian-hong hanya seorang pemuda yang baru saja munculkan diri di dalam Bulim, tentu saja ia tak sudi mengakui bahwa kekuatan mereka seimbang.

Pikirnya di dalam hati.

"Meskipun ilmu silat yang dimiliki perempuan siluman ini amat lihay, rasanya dengan tenaga gabungan dari Siang Loo-toa serta Siang Loo-jie untuk sementara waktu ia bisa ditahan. Ditambah pula dengan binatang aneh itu paling banter kedua belah pihak berada pada posisi seimbang biarlah aku lihat dulu bagaimanakah keadaan dari si bajingan cilik ini disaat racun teratainya sedang kambuh ...."

Karena berpikir demikian ia segera tertawa dingin. Katanya.

"Perintah dari Hujien sudah sepantasnya kalau kupenuhi, Cuma sayang bila Chin Giok-liong sampai terlepas dari tanganku maka aku jadi tak dapat mempertanggung jawabkan diri dihadapan toako nanti, maka maaf bila aku tak sanggup memenuhi keinginanmu itu."

Sepasang bahunya bergerak maju ke depan, sebuah pukulan kembali dilancarkan ke arah Hoa Thian-hong.

Dalam bentrokan kekerasan tadi jelas terlihat bahwa kekuatan tenaga lwekang yang dimiliki kedua belah pihak sama?

Kuat Cu Goan-khek hanya lebih menang dalam pengalaman, beraneka ragamnya jurus pukulan serta pengetahuan yang lebih luas.

sekalipun begitu untuk mengalahkan Hoa Thian-hong bukanlah suatu pekerjaan yang gampang baginya.

Kembali kedua orang itu melangsungkan pertarungannya.

Hoa Thian-hong yang selalu kuatir racun teratai dalam tubuhnya keburu kambuh, serangan-serangan yang dilancarkan kian lama kian bertambah gencar, dalam sekejap mata ia sudah membawa pertarungan itu berubah jadi sengit dan seru.

Giok Teng Hujien yang menonton jalannya pertarungan dan sisi kalangan.

Mengerutkan alisnya, tiba-tiba ia berseru dengan nada dingin.

"Jie Tang-kee kau terlalu tidak pandang sebelah mata kepada orang lain ..."

Sambil berseru Seat-Jie si makhluk aneh itu dilempar masuk ke dalam kalangan pertempuran.

Tampak bayangan putih berkelebat lewat, 'Soat-Jie' si makhluk aneh itu bagaikan segulung asap ringan segera meluncur ke arah kaki Cu Goan-khek yang sedang bertempur.

"Jie-ko, hati-hati!"

Teriak dua bersaudara she Siang hampir berbareng dengan suara kaget.

Cu Goan-khek terkejut bercampur gusar badannya cepat berputar kencang sambil mengirim satu tendangan kilat menyongsong datangnya tubrukan dari makhluk aneh itu.

Tampak bayangan putih kembali berkelebat, dengan kecepatan yang sukar dilakukan dengan kata-kata Soatjie berkelebat menuju ke belakang tubuh Cu Goan-khek, kecepatannya sungguh membuat hati orang tercekat.

Walaupun ilmu silat yang dimiliki Cu Goan-khek masih lebih tinggi satu tingkat jika dibandingkan dengan Hoa Thian-hong, tetapi si anak muda itu tetap merupakan seorang tandingan yang keras dan berat Kini setelah ikut campurnya si Soat-jie makhluk aneh itu ke dalam kalangan pertempuran, Cu Goan-khek kontan merasakan tekanan yang menimpa dirinya semakin berat, dalam waktu singkat gerakannya sudah mulai kacau dan kelabakan tidak karuan.

Berhadapan dengan situasi seperti ini, Hoa Thian-hong pun lantas berpikir di dalam hati.

"Menolong orang adalah masalah besar. aku tak usah memikirkan masalah gengsi atau muka lagi!"

Berpikir demikian menggunakan kesempatan dikala perhatian orang she Cu itu dipusatkan ke bawah kakinya, ia segera maju ke depan sambil melancarkan serangan bertubi tubi, bayangan telapak menumpuk laksana bukit menggulung dan menghajar ke depan tiada hentinya.

Soat-jie si makhluk aneh itu sambil mendekam di tanah khusus menyerang sepasang kaki Cu Goan-khek, gerakannya kesana kemari cepat laksanakan kilatan cahaya, bukan Saja lihay bahkan sukar diduga sebelumnya.

Ditambah pula dengan serangan gencar dari Hoa Thian-hong, sesaat kemudian Cu Goan-khek sudah terdesak hebat hingga keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh tubuhnya, ia merasa amat gelisah bercampur kuatir, sang badan sering kali meloncat ke tengah udara sambil meraung gusar.

Dua bersaudara she-Siang yang menyaksikan jalannya pertarungan disisi kalangan berusaha keras untuk menemukan cara yang baik untuk mengatasi serangan dari rase putih itu, namun setiap kali jalan pikiran mereka selalu menemui jalan buntu, kini setelah menyaksikan keadaan Cu Goan-khek amat terdesak dan jiwanya terancam bahaya mereka sadar apabila dirinya berdua tidak segera turun tangan niscaya Jie Tang-kee nya ini akan keok di tangan musuh.

Dalam keadaan begini mereka berdua tak bisa berpikir panjang lagi, setelah saling tukar pandangan sekejap serentak mereka menyerbu ke dalam kalangan pertempuran.

Terdengar Giok Teng Hujien tertawa merdu tegurnya.

"Siang Loo-jie, katanya kau tak akan berbuat sehina ini, kenapa sekarang kau tebalkan muka dan ikut terjun ke dalam gelanggang?"

Sembari berseru senjata Hud-timnya dibabat kemuka langsung menyerang tubuh Siang Kiat, Siang Hauw berdua.

Siang Hauw mendengus dingin, tangan kirinya dikebaskan ke muka melancarkan sebuah babatan dahsyat hingga menggetarkan senjata Hud-tim di tangan Giok Teng Hujien.

Sementara kelima jari tangan kanannya bagaikan kaitan tajam langsung menyambar ketubuh lawan.

Giok Teng Hujien tetap tersenyum, senjata Hud-tim nya menyerang pinggang Siang Kiat sementara ujung baju tangan kirinya dikebas menggulung pergelangan tagan Siauw Hauw.

Beberapa orang itu semuanya merupakan jago-jago lihay yang memiliki ilmu silat amat tinggi, gerak-gerik Giok Teng Hujien enteng dan indah bagaikan bidadari yang sedang menari.

Sebaliknya sepasang bersaudara she-Siang yang melatih ilmu cakar maut, dengan perawakannya yang tinggi kurus jauh lebih tinggi dua depa dari perawakan Giok Teng Hujien, di bawah serangan Thong-Long-Jiauw mereka yang lihay tampak sepuluh jari berubah jadi hitam bercahaya dan amar menusuk mata, seranganserangan yang dilancarkan kedua orang inipun luar biasa lihaynya.

Di tengah pertarungan Siang Kiat bergerak cepat melepaskan diri dari ancaman senjata Hud-tim Giok Teng Hujien, kakinya bergerak cepat dan segera menyapu ke arah Soat-jie makhluk aneh itu.

Perawakan tubuh rase putih ini cuma beberapa depa saja ditambah ekornya paling banter cuma tiga depa, sekalipun badannya kecil tetapi gerak-geriknya Cepat laksana kilat, cakarnya tajam dan giginya runcing ditambah pula tenaganya luar biasa, serangannya yang khusus mengancam kaki orang benar-benar merupakan suatu ancaman yang sangat berbahaya.

Tendangan yang dilancarkan Siang Kiat nampak segera akan mengenai sasarannya, tiba-tiba pandangan mata terasa jadi kabur dan tahu-tahu tendangannya mengenai Sasaran kosong, buru-buru ia tarik kembali serangannya sambil ganti melancarkan satu tendangan dengan kaki kiri, Dalam waktu singkat situasi di tengah kalanganpun segera berubah, Siang Kiat seorang diri bertempur melawan rase putih itu, satu manusia yang lain binasa bergebrak dalam keadaan seimbang, untuk sesaat si rase putih itu tak sanggup melukai Siang Kiat sedangkan Si Siang Kiat jago lihay yang sudah punya nama besar dalam dunia persilatan pun tak bisa berkutik melawan seekor makhluk aneh.

Giok Teng Hujien memutar senjata Hud-tim nya mengurung seluruh tubuh Siang Hauw, jelas ia tidak menggunakan Segenap kekuatan yang dimilikinya.

Sambil bertempur perhatiannya selalu dicurahkan ke arah Hoa Thian-hong serta Soat-jie makhluk anehnya itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Agaknya perempuan ini tak mau menimbulkan bentrokan langsung antara perkumpulan Thong-thiankauwnya dengan pihak perkumpulan Hong-im-hwie.

karena itu walau sudah bertempur agak lama tetapi ia tak pernah melancarkan serangan mematikan, Dipihak lain Hoa Thian-hong yang sedang bertempur melawan Cu Goan-khek lama kelamaan ia terdesak hebat dan tak sanggup menahan diri.

ditambah pula ancaman racun teratai yang setiap saat bisa kambuh dalam tubuhnya membuat pikiran pemuda ini bertambah tidak senang, dengan sendirinya daya tekanan pada seranganserangan yang dilancarkanpun bertambah merosot Cu Goan-khek berhasil menguasai keadaan dan merebut posisi di atas angin, pukulan2nya dengan gencar dan mantap meneter musuhnya habis2an, sedikitpun ia tidak beri kesempatan lagi lawannya untuk bertukar napas.

Tiba-tiba Hoa Thian-hong merasakan segulung hawa panas yang amat menyengat badan muncul dan dalam pusarnya dan menyebar ke seluruh tubuh, Sedarlah si anak muda ini bahwa tengah hari sudah tiba dan daya kerja racun teratai empedu api sudah mulai kambuh Selamanya pada saat seperti ini belum pernah ia bergebrak melawan orang, ini hari terdesak oleh keadaan membuat pemuda itu mau tak mau membendung rasa keadaan, pada pengalaman yang pertama ini ia tak kuasa membendung rasa tegang yang menguasai hatinya.

begitu hawa panas mulai muncul di dalam pusar ia jadi tercekat dan serangannya semakin mengendor.

Cu Goan-khek adalah seorang jago lihay yang pengalaman.

begitu mengetahui peluang baik kembali didapatkan olehnya, ia segera membentak keras.

serangan yang lebih dahsyatpun dilancarkan bartubi-tubi .

Serangan itu meluncur laksana sambaran kilat, tampaknya dada Hoa Thian-hong segera akan termakan oleh pukulan itu.

Mendadak terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang, disusul segulung angin pukulan yang tajam menyapu tiba.

Cepat-cepat Cu Goan-khek berpaling tampaklah sebuah telapak putih yang memacarkan cahaya merah yang membara tiba-tiba menyerang tubuhnya dari arah belakang, dengan cepat ia geserkan tubuhnya lima depa dari tempat semula untuk melepaskan diri dari ancaman tersebut.

Tetapi dengan adanya gerakan ini maka dengan sendirinya hawa pukulan yang sudah dihimpun dalam telapakpun jadi buyar, sekalipun bersarang telak di atas dada Hoa Thian-hong hingga menggetarkan tubuhnya sejauh beberapa tombak dan jatuh terjengkang.

namun tidak sampai melukai isi perutnya Cu Goan-khek jadi amat gusar, la membentak dan melancarkan serangan dahsyat ke arah Giok Teng Hujien, pertempuran sengitpun segera berlangsung dengan serunya.

dalam waktu singkat mereka telah saling bergebrak sebanyak delapan sembilan jurus.

Dalam pada itu Siang Hauw yang terlepas dari belenggu senjata Hud-tim Giok Teng Hujien segera menerjang ke arah Hoa Thian-hong, kelima jari tangannya yang hitam berkilat menyambar kian kemari mengancam batok kepala si anak muda itu Terdengar Giok Teng Hujien bersuit nyaring, rase putih yang sedang bertempur melawan Siang Kiat segera meninggalkan lawannya dan berbalik menubruk ke arah kaki dari Loo-jie Siang Hauw.

Haruslah diketahui perawakan tubuh sepasang bersaudara she-Siang ini mencapai ketinggian delapan depa lebih, mereka yang harus bertempur melawan Rase putih yang pendek kecil serta khusus menyerang kaki ini benar-benar terasa amat payah dan tidak leluasa.

Begitu merasakan datangnya ancaman dari belakang tubuh, Siang Hauw segera lepaskan Hoa Thian-hong sambil putar badan mengirim sebuah tendangan kilat, perhatiannya dipusatkan jadi satu dan sedikitpun tak berani bertindak gegabah.

Hoa Thian-hong bergelinding di atas tanah beberapa tombak jauhnya lalu meloncat bangun dan berdiri tak berkutik, sepasang matanya melotot besar memperhatikan empat orang yang sedang bertempur di tengah kalangan.

Sepasang matanya telah berubah jadi merah berapi api, sepasang giginya bergemerutuk kencang, otot dan daging di atas keningnya bergetar keras.

keringat membasahi seluruh wajahnya, keadaan Hoa Thian-hong pada saat ini benar-benar mengerikan sekali, Tiba-tiba.

terdengar Giok Teng Hujien membentak keras.

"Jie Tang-kee, harap tahan sebentar!" -Cu Goan-khek yang bertempur sengit beberapa waktu lamanya tanpa berhasil menangkan musuhnya, dalam hati merasa amat mendendam terhadap Giok Teng Hujien, apa lacur ilmu silat yang dimiliki perempuan itu terlalu lihay membuat ia kehilangan pegangan untuk merebut kemenangan begitu mendengar seruan berhenti, tanpa banyak bicara lagi ia tarik kembali serangannya dan mengundurkan diri ke belakang. Dengan cepat Giok Teng Hujien berkelebat ke sisi Hoa Thian-hong, tanyanya dengan nada penuh perhatian.

"Kenapa kau saudaraku? Aku lihat lebih baik pergilah dulu keluar kota untuk berlari racun urusan di tempat ini kita selesaikan di kemudian hari saja."

Sekujur badan Hoa Thian gemetar keras sepasang giginya saling berada gemerutukan keringat dingin mengucur keluar dengan amat deras ingin sekali pemuda itu untuk berlari kencang.

Ia gelengkan kepalanya lalu mengangguk tiba-tiba dengan langkah lebar berjalan masuk ke dalam ruangan, teriaknya lantang.

"Giok Liong heng, ayoh kita pergi dari sini"

Selama beberapa orang itu melangsungkan pertarungan sengit Chin Giok-liong seorang diri duduk di depan meja dengan membelakangi pintu, selamanya ia tak pernah berpaling atau menegok ke belakang.

Menanti dirinya dibentak keras barulah kepalanya perlahan lahan menoleh ke belakang.

Hoa Thian-hong melangkah maju ke depan.

tangan kanannya bergerak mencengkeram pergelangan tangannya lalu berseru lagi dengan suara keras.

"Saudara Giok Liong, ayoh kita pergi dari sini!"

Chin Giok-liong merasakan pergelangannya amat sakit, ia berusaha meronta untuk melepaskan diri dari cekalan lawan tetapi usahanya gagal, sementara tubuhnya sudah diseret keluar oleh Hoa Thian-hong.

Dari sikap serta perubahan wajahnya yang menahan penderitaan besar Giok Teng Hujien mengetahui bahwa pemuda itu sudah tak kuat menahan diri, ia segera maju menghampiri sambil berkata.

"Saudaraku, pergilah 'Lari racun'! persoalan di tempat ini serahkan saja kepada cici untuk menyelesaikannya."

Hoa Thian-hong gelengkan kepalanya, dengan ujung baju ia menyeka keringat yang membasahi keningnya lalu menyahut.

"Terima kasih atas bantuan yang cici berikan kepadaku, siauwte akan menyelesaikan sendiri persoalan ini hingga duduknya perkara jadi jelas"

Sambil berkata ia tarik pergelangan tangan Chin Giokliong dan berjalan menuju keluar dengan langkah lebar.

Cu Goan-khek jadi mendongkol dibuatnya, dengan sigap ia menghadang jalan pergi pemuda itu.

serunya.

"Hoa Thian-hong, kau toh tidak berhasil menahan diriku, kenapa kau ajak pergi orang itu?"

Hoa Thian-hong berhenti melangkah, wajahnya berubah jadi merah padam, hardiknya.

"Enyah kau dari sini!"

Sambil berseru telapaknya bergerak cepat melancarkan sebuah babatan ke depan.

Pukulan telapak ini dilancarkan dengan amat sederhana dan merupakan suatu pandangan hina terhadap lawannya Cu Goan-khek merasa amat gusar, telapaknya segera dia ayun menyambut datangnya serangan tadi dengan keras lawan keras.

"Blaam...,! di tengah suara bentrokan yang amat nyaring, tubuh kedua orang itu sama'2 tergetar keras dan mundur selangkah ke belakang Hoa Thian-hong merasakan tubuhnya jadi lebih nyaman Setelah terjadi bentrokan itu, daya tekanan yang mengempit tubuhnya jauh lebih berkurang. segera ia lepaskan pergelangan Chin Giok-liong dan melangkah maju ke depan, bentaknya dengan penuh kegusaran.

"Cu Goan-khek. lihat pukulan!"

Jago tua she-Cu itu sudah tentu tak mau unjukkan kelemahannya, ia ayunkan pula telapaknya untuk menyambut datangnya serangan.

"Blaaam...! Sekali lagi terjadi bentrokan keras, sepasang kaki kedua orang itu yang menginjak di atas lantai batu segera mencetak dalam2 di atas ubin meninggalkan bekas telapak yang nyata. Dalam tubuh Hoa Thian-hong merasa amat tersiksa tetapi setelah menggunakan tenaga dalamnya untuk menyerang ia merasa rasa sakitnya rada berkurang, karena kejadian ini timbullah niatnya untuk menyerang lebih gencar lagi agar rasa sakit dalam badannya lebih berkurang. Berpikir demikian ia lantas gertak gigi dan maju lagi ke depan sambil melancarkan satu pukulan. Cu Goan-khek merasa kaget bercampur gusar, telapaknya segara diayun menyambut datangnya ancaman itu.

"Braaak.....! Untuk kesekian kalinya terjadi benturan keras yang menimbulkan suara nyaring, kedua orang itu mendengus dingin Sambil tergetar mundur dua langkah ke belakang, ubin batu di atas 1antai segera hancur berantakan terinjak kaki kedua orang itu. Pada saat itu baik Giok Teng Hujien, dua bersaudara she-Siang maupun para jago yang secara diam-diam mengintip jalannya pertarungan dari tempat persembunyian sama-sama dibikin melengak oleh cara bertarung kedua orang itu, Giok Teng Hujien yang berdiri sangat dekat dengan kalangan pertempuranpun tidak berhasil menentukan siapa menang siapa kalah dalam bentrokan2 kekerasan itu, iapun tak tahu bagaimana caranya untuk mencegah terjadinya peristiwa itu. Dikala semua orang mencurahkan perhatiannya ke tengah kalangan itulah, tiba-tiba dari balik ruangan muncul seorang kakek tua, ia punya perawakan yang pendek. lagi gemuk, kepalanya botak dan bersinar tajam, pakaiannya kasar dengan sebuah kipas bulat berada dalam cekalannya. Tanpa menimbulkan sedikit suarapun ia menyusup ke dalam ruangan itu dan mendekati tubuh Chin Giok-liong. Air muka si kakek gemuk ini merah bercahaya, pipinya montok dan mulutnya lebar saat itu dengan wajah murung bersembunyi di belakang tubuh Chin Giok-liong sambil menatap tajam wajah Hoa Thian-hong, dari balik sorot matanya secara lapat memancar keluar rasa murung, kasihan serta kuatirnya yang amal mendalam. Terdengar Hoa Thian-hong yang berada di tengah kalangan membentak keras.

"Cu Goan-khek, aku orang she-Hoa ingin minta petunjuk tiga buah pukulan lagi darimu!"

Tubuhnya merangsek ke depan dan telapak nya langsung membabat tubuh lawannya.

Sementara itu Cu Goan-khek merasakan isi perutnya telah bergetar keras, darah panas dalam dadanya bergolak kencang, dalam keadaan begitu ia tak ingin bergebrak lebih lanjut.

sebab keadaannya sudah payah, tetapi mengingat nama besarnya yang dipupuk selama ini dengan susah payah, ia tak mau unjukkan kelemahannya dihadapan orang.

Ia segera membentak keras, dengan menghimpun tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian sebuah pukulan dahsyat segera dilancarkan.

"BRAAAK..! dalam bentrokan kali ini tubuh kedua orang itu sama-sama tergetar mundur dengan kuda2nya gempur. jelas kedua belah pihak telah menderita kerugian semua. Giok Teng Hujien mengerutkan alisnya ia hendak maju ke depan melerai pertarungan itu, sedang dua saudara she Siang-pun telah menemukan pula keadaan Cu Goankhek yang payah, bila sampai terjadi bentrokan lagi niscaya ia akan menderita luka parah, kedua orang itu segera saling bertukar pandangan dan siap maju ke depan. Tapi sebelum kedua belah pihak sama-sama turun tangan untuk membantu jagonya masing-masing, si kakek cebol gemuk yang berdiri di belakang Chin Giokliong itu mendadak menyambar pinggang pemuda itu lalu mengempitnya di bawah ketiak, sambil berteriak tubuhnya segera lari keluar dari ruangan tersebut ... Lima orang yang berada di dalam kalangan saat itu rata-rata merupakan jago lihay yang memiliki ilmu silat tinggi, tetapi berhubung Hoa Thian-hong yang tersiksa oleh daya kerja racun teratai harus menyerang secara ganas dan nekad, semua perhatian Giok Teng Hujien maupun dua bersaudara she-Siang harus dipusatkah ke tengah kalangan, siapapun tidak memperhatikan keadaan di belakang mereka. Menanti beberapa orang itu sadar kembali dan berpaling, tampaklah kakek cebol dan gemuk itu sudah mengepit tubuh Chin Giok-liong dan kabur jauh. Reaksi Giok Teng Hujien paling cepat diantara beberapa orang itu, sepintas memandang bayangan punggungnya ia segera kenali orang itu sebagai orang yang menggoda dirinya sewaktu ada di rumah penginapan dengan bait lagunya yang konyol, ia segera tertawa merdu dan berseru.

"Saudaraku, Chin Giok-liong telah dirampas orang. kenapa kau tidak melakukan pengejaran?"

Walaupun tubuh Hoa Thian-hong terasa amat sakit dan menderita, namun pikirannya masih terang, mendengar seruan itu iapun tinggalkan Cu Goan-khek dan mengejar ke arah kakek tua itu.

Giok Teng Hujien tak berani berayal diapun enjotkan badannya menyusul disisi pemuda itu, Soat-jie si rase putih menyusul di belakang mereka dan Cu Goan-khek serta dua bersaudara Siang berada di paling buncit.

Gerakan tubuh kakek gemuk cebol itu sangat aneh, dalam waktu singkat ia sudah berada amat jauh dari situ.

Terlihatlah ia membelok ke kiri menikung ke kanan bergerak menuju ke pintu besar rumah makan.

Walaupun di sekitar situ banyak terdapat manusia tetapi sebagian besar mereka adalah orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang yang tak sudi mencampuri urusan itu, para anggota perkumpulan Hong-im-hwie maupun Thong-thian-kauw telah dipersilahkan keluar dari rumah makan itu sebelum kedua belah pihak saling bertempur tadi dan kini berjaga jaga diluar pintu sambil menunggu berita hasil pertarungan itu.

Dengan demikian sewaktu kakek cebol itu raendadak munculkan diri diluar pintu.

tak seorangpun yang turun tangan menghalangi jalan perginya.

Dengan tangan kiri mengepit tubuh Chin Giok-liong, tangan kanan menggoyangkan kipas dalam usaha melarikan dirinya itu mendadak si kakek cebol tadi bersenandung nyaring, Arak lama habis, arak baru meluap.

Berdiri di tepi baskom sambil tertawa terbahak-bahak.

Padri gunung kakek liar saling berjumpa muka.

Ia sambang sepasang ayam, aku sumbang seekor bebek.

Ooh....

hidup di alam ini sungguh berbahagia.

Bait lagu ini sangat populer dan dikenal setiap orang, walaupun seorang pekerja kasar juga bisa membawakan lagu ini, tapi dinyanyikan oleh si kakek gemuk itu ternyata membawa suasana yang lain.

Giok Teng Hujien segera tertawa cekikikan, teriaknya nyaring.

"Hey. kakek tua, pandai amat kau menyanyi? Bagaimana kalau kau bawakan lagu Soe-Koay-Giok?"

Kakek cebol itu pura-pura tidak mendengar, badannya dengan cepat berkelebat masuk ke dalam ruang dalam, terlihatlah manusia berjubal-jubal diluar pintu hingga sulit bagi siapapun untuk berjalan keluar, disaat ia menemui jalan buntu itulah mendadak dilihatnya ada dua benda berada di atas meja pengurus rumah makan, benda itu yang satu adalah Kim Pay dari Cu Goan-khek sedang yang lain adalah hioloo kumalu dari Giok Teng Hujien.

Dengan gerakan yang cepat bagaikan hembusan angin kakek cebol gemuk itu meluncur ke arah meja tersebut, kipasnya dengan cepat bergerak menyapu kedua benda tadi.

Suasana diluar pintu kontan jadi kacau dan ribut, si kakek cebol gemuk itu tidak berhenti sampai disitu saja, kembali kipasnya bergerak melemparkan kedua macam benda itu ke tengah rumah orang.

Suasana semakin kacau tak karuan, para anggota perkumpulan Hong-im-hwie sama-sama menyambar tanda pengenai Kim Pay itu, sedang para anak buah perkumpulan Thong-thian-kauw sama-sama merampas hioloo kumala ttu, suasana jadi hiruk pikuk dan ramai.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah si kakek cebol tadi menyusup diantara gerombolan manusia dan melayang keluar dari pintu.

Sementara itu Hoa Thian-hong serta Giok Teng Hujien bersama-sama telah tiba disitu, Soat-jie si makhluk aneh segera menyusup di antara gerombolan manusia.

Suasana semakin kacau lagi, di tengah jeritan kaget dan panik para jago dari perkumpulan Hong-im-hwie maupun Thong-thian-kauw sama-sama berlompatan ke samping dan melarikan diri keempat penjuru.

Cu Goan-khek serta dua bersaudara she-Siangpun sejenak kemudian menyusul tiba disitu, terhadang oleh orang yang saling berdesak2an dihadapan mereka tanpa sadar beberapa Orang itu tergencet jadi satu dengan Hoa Thian-hong.

Pada saat itulah seorang murid perkumpulan Thongthian-kauw menyerahkan hioloo kecil yang berhasil didapatkan itu ke tangan Giok Teng, Hujien, sedang seorang anggota perkumpulan Hong-im-hwie menyerahkan Kim-Pay itu ke tangan Cu Goan-khek.

Hanya Hoa Thian-hong seorang yang pusatkan seluruh perhatiannya pada Chin Giok-liong, ditambah pula daya kerja racun teratai yang bergelora dalam tubuhnya membuat ia amat tersiksa, sepasang tangannya bekerja keras mendorong orang-orang yang menghadang dihadapannya ke samping, sekuat tenaga ia menerjang maju terus ke depan Siang Hauw yang berada disisi pemuda itu segera timbul niat jahatnya ketika melihat ketiak orang terbuka tanpa perlindungan.

Pikirnya.

"Usia keparat cilik ini. belum mencapai dua puluh tahun, tapi ia telah sanggup beradu tenaga dalam dengan Cu Jie ko, bila ia dibiarkan hidup terus di kolong langit maka sepuluh tahun kemudian bukankah akan muncul seorang Hoa Goan-siu lagi .."

Berpikir sampai disini hawa murninya segera disalurkan ke dalam tangan, kelima jarinya dipentang dan menunggu disaat Hoa Thian-hong sedang mendorong orang-orang di hadapannya hingga ketiaknya terbuka, jari tangannya itu segera mencengkeram tubuh lawan.

Tindakan orang ini betul-betul amat keji, ilmu cakar 'Thong-Long-Jiauw' yang diyakininya itu merupakan ilmu kepandaian beracun yang amat tersohor, begitu bertemu dengan, darah segera akan bekerja dan mencabut jiwa korbannya, Hoa Thian-hong berada dalam keadaan tidak siap tentu saja sulit baginya untuk menghindarkan diri.

Dalam pada itu Hoa Thian-hong.sama sekali tidak menduga dirinya bakal diserang dari belakang secara keji.

menanti ia menyadari akan datangnya ancaman tahu-tahu ketiaknya sudah kena dicengkeram oleh Jari tangan Siang Hauw.

Dalam gugupnya tanpa menunggu jari tangan lawan menusuk lebih dalam, sikutnya segera disodok ke belakang menghajar lengan musuh sementara tubuhnya berputar kencang ke belakang sambil menggerakkan tangan kanannya mencakar sepasang mata lawan.

Cengkeraman ini sama sekali tidak pakai aturan tetapi merupakan suatu ancaman yang amat ganas dan keji, dengan sebat Siang Hauw miringkan, kepalanya menghindarkan dari ancaman tersebut, siapa tahu karena terburu nafsu gerakan tangannya jadi terlambat, sodokan sikut Hoa Thian-hong segera membentuk telak di atas pergelangannya hingga Jari kelingkingnya terasa amat sakit kukunya hampir saja patah jadi dua bagian.

Giok Teng Hujien yang menyaksikan kejadian itu jadi amat gusar, ia gerakan tangannya mencengkeram pergelangan Siang Hauw.

Serunya dengan nada ketus.

"Hey orang she Siang, kau betul-betul tak tahu malu. Akan kusuruh kau rasakan siksaan yang paling hebat sebelum ajalmu tiba!"

Sambil berkata hawa sinkang 'Hiat-Sat-sinkang' nya disalurkan ke tangan kiri dan mengurung tubuhnya.

Siang Hauw yang merasa salah karena serangan bokongannya itu jadi ketakutan, buru-buru ia geserkan badannya bersembunyi di belakang tubuh Cu Goan-khek, sementara Siang Kiat serta jago she Cu itu segera menangkis serangan yang dilancarkan Giok Tang Hujien.

"Orang she-Siang?"

Bentak Giok Teng Hujien dengan suara seram. Cepat serahkan obat pemunah kepadaku, kalau tidak kau akan merasa menyesal untuk selamanya."

"Heeeh.... heeeh.....heeh.... bukankah orang she-Hoa itu masih segar bugar....?"

Seru Siang Hauw sambil memuding ke arah pemuda itu.

"Toh ia sendiri yang terburu-buru, kenapa Hujien mesti ikut prihatin karena porsoalan ini?"

Jilid 13 . Pek Kun Gie..aku benci kau GiOK TENG Hujien jadi amat gusar ia menyeringai seram.

"Rupanya kau benar-benar sudah bosan hidup!"

Teriaknya, telapaknya diayun kemuka dan perlahan-lahan didorong ke depan.

"Siang Lo-jie, cepat mundur!"

Bentak Cu Goan-khek, sepasang kakinya disilang ke depan dan menggunakan sepasang telapaknya diapun melancarkan sebuah pukulan.

Hiat-Sat Sinkang merupakan ilmu pukulan yang paling sakti dikalangan kaum sesat, begitu sepasang tenaga saling bertemu Cu Goan-khek segera merasakan telapaknya seperti dihantam oleh segulung tenaga yang berat dan aneh, dadanya jadi sesak dan hidungnya seperti mencium bau amis darah yang memuakkan,Isi perutnya goncang keras, hampir saja muntah darah segar.

Dalam pada itu Hoa Thian-hong pun telah tundukan kepala memeriksa ketiak sendiri ia lihat di atas pakaiannya telah bertambah dengan lima buah lubang kecil yang mengucurkan darah berwarna hitam, walaupun dalam hati merasa amat gusar tetapi karena teringat akan keselamatan diri Chin Giok-liong ia berusaha keras untuk menekan bawa amarahnya itu di dalam hati.

"Cici, ayo kita pergi!"

Serunya.

Di dalam tubuhnya masih bersarang racun Teratai empedu api, semua jalan darah dalam tubuhnya terasa panas, kaku dan gatal seolah olah diterobosi oleh berjuta juta ekor semut, penderitaan yang dirasakannya pada waktu itu benar-benar amat hebat.

Sehabis bicara ia segera putar kepala dan meneruskan kembali pengejarannya ke arah kakek cebol gemuk itu.

Giok Teng Hujien yang berhadapan dengan keadaan seperti ini jadi gugup dan tak tahu apa yang musti dilakukan pada saat ini, hawa pukulan Hiat-Sat sinkangnya segera ditarik kembali, sambil mengejar pemuda itu serunya cemas.

"Saudaraku, di atas ilmu cakar Thong-Long Jiauw dari Siang Loo jie mengandung racun keji."

Belum habis ia berkata, tiba-tiba dari arah belakang berkumandang suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati, cepat ia berpaling ke belakang.

terlihatlah sambil menyemburkan darah hitam dari mulutnya Siang Hauw roboh terjengkang ke atas tanah, sekujur tubuhnya mengejang beberapa saat lamanya kemudian matanya melotot besar dan mati binasa.

Hoa Thian-hong mengerutkan alisnya, ia tetap meneruskan gerakannya lari ke depan.

Giok Teng Hujien menyusul dari belakangnya sambil berseru kepada Soatjie makhluk aneh itu.

"Soat-jie, cepat kejar kakek tua tadi."

Rase putih sangat memahami perkataan manusia, mendengar perintah dari majikannya ia berteriak kegirangan, tubuhnya segera meluncur lebih dahulu ke depan dan membuka jalan bagi kedua orang itu.

Sambil berlari Giok Teng Hujien tertawa dan berkata.

"Ini hari Cu Goan-khek betul-betul keok di tangan kita!"

Hoa Thian-hong menjawab ia menoleh ke belakang ketika dilihatnya tak ada orang yang mengejar.

kakinya segera bergerak semakin cepat lagi meluncurkan ke arah depan.

Haruslah diketahui disaat racun teratainya sedang kambuh, semakin cepat pemuda itu berlari semakin berkurang penderitaan yang sedang dirasakan olehnya, cuma sayang mereka masih berada di dalam kota yang ramai hingga tenaganya tak bisa digunakan sampai pada puncaknya, sekalipun begitu Giok Teng Hujien yang harus mendampingi disisinya sudah merasa kepayahan.

Beberapa waktu kemudian mereka sudah keluar dari kota, tampaklah si kakek cebol gemuk itu sambil memanggul tubuh Chin Giok-liong di atas bahunya sedang berlari mengikuti tembok kota, Soat-jie membuntuti kurang lebih beberapa tombak dibelakangnya, manusia dan binatang itu saling kejar mengejar dengan cepatnya, dalam sekejap mata mereka sudah berada jauh sekali dari pandangan.

Hoa Thian-hong segera berpikir di dalam hati.

"Si kakek tua ini entah sahabat atau musuhku? Kalau. ditinjau dari ilmu silatnya yang begitu lihay, andaikata dia adalah musuhku maka amatlah sulit bagiku untuk menghadapinya. Sementara otak berputar, sepasang kakinya berlari semakin kencang lagi, tubuhnya meluncur ke muka makin tajam hingga badannya berada sepuluh tombak lebih ke depan dari keadaan semula. Saat ini posisi Hoa Thian-hong sudah maju lebih ke depan dari keadaan semula, dari kejauhan ia dapat saksikan si kakek gemuk cebol itu sedang berlari kencang dipaling depan, Soat-jie si makhluk aneh itu berlari di tengah sedang ia bersama Giok Teng Hujien berada dipaling belakang. Setelah berlarian beberapa saat lamanya, tanpa terasa sampailah mereka dipintu selatan kota. mendadak kakek cebol gemuk itu turunkan Chin Giok-liong ke atas tanah, lalu seorang diri ngeloyor masuk ke dalam kota dan lenyap dari pandangan. Dengan cepat Hoa Thian-hong menyusul sampai disitu, ia cekal pergelangan Chian Giok Liong sambil tegurnya.

"Giok Liong heng, masih kenalkah kau dengan diri Siauwte?"

Chian Giok Liong tetap berdiri bodoh di tempat semula, wajahnya bingung dan terasa pandangan kosong, walaupun sudah ditegur beberapa kali namun ia tetap bungkam dalam seribu bahasa Akhirnya Hoa Thian-hong menghela napas panjang, ia menoleh ke samping dan berkata.

"Cici. pengetahuan serta pengalaman amat luas, apakah kau punya cara untuk menolong sahabat Siauwte ini?"

Giok Teng Hujien tersenyum mania, dari sakunya ia ambil keluar sebuah saputangan dan menyahut.

"Aku cuma sudi mengurusi dirimu seorang urusan orang lain ogah untuk mencampurinya."

Ia merandek sejenak dan memeriksa luka pada ketiaknya, lalu menambahkan.

"Darah yang menetes keluar telah berubah jadi merah segar, apakah racun teratai yang sedang kambuh telah tenggelam kembali?"

"Kurang lebih begitulah"

Jawab Hoa Thian-hong sambil menyeka keringat yang membasahi tubuhnya.

"Setiap hari racun itu kambuh, tentu akan makan waktu setengah jam lamanya agar bisa tenggelam kembali, rasanya waktu yang dibutuhkan hari ini jauh lebih pendek."

Dari sakunya Giok Teng Hujien sambil keluar sebuah botol porselen, sambil mengeluarkan sejumlah bubuk putih untuk dipulaskan ke atas bekas cakar yang membekas di atas ketiak Hoa Thian-hong, katanya sambil tertawa.

"Bagaimana sih Siang Hauw bisa mati secara mendadak? Agaknya kau tidak mempan terhadap racun macam apapun, racun keji dari ilmu cakar Thon-Long-Jiauw dari Siang Hauw sama sekali tidak manjur terhadap dirimu.... Hoa Thian-hong termenung dan berpikir sebentar, lalu jawabnya.

"Aku menggunakan serangan sikut untuk membentur patah kuku di jari Siang Hauw, mungkin darah beracun dari tubuhku telah bercampur dengan darah segarnya hingga menyebabkan selembar jiwanya melayang."

"Ei, makhluk racun cilik!"

Tegur Giok Teng Hujien sambil tertawa.

"Seandainya aku gigit dirimu, bukankah selembar jiwaku juga akan ikut melayang?"

Hoa Thian-hong tertawa geli, ia gandeng tangan Chin Giok-liong dan perlahan-lahan masuk ke dalam kota.

ujarnya "Cici, kau suruh Soat-jie mengejar kakek tua itu, apakah ia tak akan menimbulkan keonaran?"

"Soat-jie amat jinak dan penurut"

Sahut Giok Teng Hujien sambil tertawa merdu.

"Sebelum mendapat perintahku ia tak akan melukai orang secara sembarangan, si kakek tua tadi adalah sisa dari jagoan lihai kalangan lurus yang berhasil lolos dari kematian. aku rasa tindak tanduknya pasti didasarkan oleh rencana yang matang."

"Ilmu silat yang dimiliki kakek tua itu sangat lihay, gerak-geriknya lincah dan otaknya cerdas"

Pikir Hoa Thian-hong dalam hati.

"Seandainya ia benar-benar adalah jago lihay dari kalangan lurus, kejadian ini betulbetul merupakan suatu keberuntungan bagi kami, aku harus berusaha untuk menjumpai dirinya dan ajak dia berbicara."

Tiba-tiba satu ingatan berkelebat di dalam benaknya. segera ujarnya.

"Cici sewaktu berada ditepi sungai Huang-hoo tempo dulu, kau pernah berkata bahwa dirimu memiliki sebuah Jinsom berusia seribu tahun......"

Berbicara sampai di tengah jalan mendadak ia teringat bahwa hubungan diantara mereka hanya kenalan biasa, sama sekali tiada ikatan yang mendalam, Jinsom berusia seribu tahun yang merupakan obat majsrab sekalipun dimiliki olehnya belum tentu perempuan itu rela menyerahkan padanya.

Karena itu bicara sampai di tengah jalan ia segera membungkam.

Sinar mata Giok Teng Hujien berkilat tajam dengan wajah penuh senyum ia menyahut.

"Jinsom seribu tahun sih cici memang mempunyai sebatang, cuma obat mujarab itu sukar didapat bila digunakan secara sembarangan amatlah sayang, penyakit yang diderita Chin Giok-liong tidak sampai mempengaruhi keselamatannya, lain hari bila aku bertemu dengan Jien Hian biarlah cici tegur dirinya sekalian mintakan obat pemunah bagi orang ini."

Sebenarnya Hoa Thian-hong mengungkap persoalan ini adalah mengingat luka dalam yang diderita ibunya, melihat perempuan itu telah salah artikan perkataannya iapun tersenyum dan tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

Mendadak tampaklah Soat-jie si rase putih itu lari kembali, kepalanya celingukan ke kiri ke kanan dengan pandangan tajam, kalau ditinjau dari keadaan itu jelas ia sudah kehilangan jejak dari kakek gemuk cebol itu.

Giok Teng Hujien segera ulurkan tangannya membopong rase putih itu ke dalam pelukannya, sambil tertawa ia berkata.

"Licin amat si kakek tua itu, lain kali kalau sampai berjumpa lagi dengan diriku, aku harus coba-coba dulu kelihaiannya!"

"Apakah cici kenal dengan asal usul orang ini?"-Sambil tertawa Giok Teng Hnjiec menggeleng.

"Pokoknya yang jelas dia adalah salah seorang peserta dan pertemuan Pek Beng Hwie, waktu itu usia cici masih muda dan tak sempat ikut menyaksikan keramaian tersebut, jadi akupun tak tahu siapakah nama kakek rua itu?...."

Ketika pembicaraan berlangsung sampai disitu, mereka berdua telah tiba disebuah perempatan jalan, Hoa Thian-hong segera memberi hormat sambil berkata.

"Sungguh beruntung dalam peristiwa yang terjadi pada hari ini aku telah mendapat bantuan dari cici, budi ini pasti akan siauwte ingat terus di dalam hati, dilain waktu aku pasti akan membalasnya."

"Siapa sih yang mengharapkan balas budi darimu?"

Omel Giok Teng Hujien sambil tertawa. Ia merandek sejenak lalu tambahnya.

"Permusuhanmu dengan pihak perkumpulan Hong-im-hwie kian lama kian bertambah dalam, pihak mereka pasti tak akan mengampuni dirimu, menurut nasehatku lebih baik menyingkirlah dahulu ke daerah tenggara. berpesiarlah dahulu di sekitar situ sambil menunggu hingga suasana jadi reda kembali. Hoa Thian-hong segera menggeleng.

"Siauwte masih ada urusan pribadi lain yang belum selesai, bagaimanapun juga aku tetap harus tinggal di kota Cho Chiu!"

"Apakah kau telah mengadakan janji dengan Chin Wan-hong untuk saling bertemu muka di kota Cho Chiu?"

Merah jengah selembar wajah si anak muda itu, dengan cepat ia menggeleng.

"Nona Chin telah mendapat guru baru, dalam dua tiga tahun tak mungkin ia lakukan perjalanan diluar. Siauwte sedang menanti seorang angkatan tuaku"

"Serangan secara terang-terangan gampang dihindari, serangan bokongan susah diduga, untuk sementara waktu pindahlah dulu ke dalam kuil It-goan-koan dan tinggal bersama cici."

"Terima kasih atas perhatianmu, siauwte paling takut segala macam peraturan yang membelenggu kebebasan orang, lagipula masih ada saudara Chin ini. Aku harus berusaha keras untuk menyelamatkan dirinya!"

"Hiih..... hiih.... hiih.... sungguh tak nyana kau suka jual tenaga bagi seorang sahabat."

Hoa Thian-hong mengerti bahwa dibalik ucapan Giok Teng Hujien mengartikan lain, diam-diam ia menyindir pemuda itu sebagai penolong Chin Giok-liong karena memandang di atas hubungannya dengan Chin Wanhong adiknya, segera ia tertawa hambar, sambil berpurapura tidak mengarti perkataan itu ia berpamitan dan mohon diri, Giok Teng Hujien tertawa cekikikan, setelah termenung sejenak ia putar badan dan berlalu.

tetapi baru berjalan beberapa langkah tiba-tiba ia putar badan sambil bertanya.

"Saudara Hoa tahukah kau cici she apa?"

"Cici tidak bilang siauwte tak berani banyak bertanya,"

Kata Hoa Thian-hong dengan wajah berubah jadi merah padam. Giok Teng Hujien tertawa cekikikan.

"Cici tidak punya she dan tidak bernama aku tak pernah angkat guru dan ilmu silatku adalah hasil latihan sendiri. percayakah kau?"

Diam-diam Hoa Thian-hong berpikir dalam hati.

"Lie Hoa Siancu serta Ci-wi siancu dari Biauw-Nia-Sam-Sian adalah anak buangan yang ditemukan gurunya, merekapun tak bernama. cuma ia bilang tak ada orang yang menurunkan ilmu silat kepadanya, kepandaian itu adalah hasil latihan sendiri, perkataan ini benar-benar sulit membuat orang untuk mempercayainya."

Dalam hati berpikir demikian, diluar ia menjawab.

"Siauwte tentu saja akan mempercayainya, tolong tanya siapakah nama Ciehu atau kakak iparku itu?"

"Hiiih.... Hiiih.... Hiiih.... siapa bilang kau sudah punya kakak ipar? Sebutan Nyonya (Hujien) adalah pemberianku sendiri, sampai sekarang cicimu belum pernah kawin!"

"Kurang ajar...."

Batin Hoa Thian-hong dalam hati, ia segera memberi hormat dan sambil menggandeng tangan Chin Giok-liong berlalu dari situ.

Giok Teng Hujien tertawa cekikikan iapun kembali ke tempat tinggalnya di kuil It-goan-koan.

Dalam pada itu Hoa Thian-hong setelah kembali ke dalam rumah penginapan, tiba-tiba ia temukan Ciong Lian-khek berjalan menghampiri dirinya, si anak muda itu merasa kedatangannya diluar dugaan, dengan cepat ia persilahkan tamunya masuk ke dalam.

"Cianpwee, ada urusan apa secara tiba-tiba kau berkunjung kemari?"

Sapanya.

"Aku telah pindah ke rumah penginapan ini dan sekarang berdiam di kamar sebelahmu!"

Mendengar ucapan itu Hoa Thian-hong jadi kegirangan, iapun lantas menerangkan asal usul dari Chin Giok-liong serta pertarungannya melawan Cu Goankhek serta dua bersaudara she-Siang di rumah makan Ci-Eng Loo.

Dengan tenang Ciong Lian-khek mendengarkan kisah itu, kemudian katanya.

"Dewasa ini situasimu amat kacau tak karuan, banyak penjahat yang ada maksud mencelakai jiwamu, biarlah untuk sementara waktu Chin Giok-liong berdiam bersama aku sehingga bila terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan kau tak usah cabangkan pikiran untuk memperhatikan dirinya."

Hoa Thian-hong jadi amat terharu, pikirnya.

"Bergaul dengan para ksatria sejati memang sepantasnya terus terang dan bicara blak-blakan, kalau sikapku ragu-ragu dan sangsi malahan rasanya kurang hormat."

Berpikir demikian iapun mengacapkan rasa terima kasihnya dan serahkan Chin Giok-liong ke tangan pendekar itu, sedang ia sendiri sehabis mandi dan tukar pakaian bersama mereka berdua makan siang dalam kamar.

Tiba-tiba Ciong Lian-khek bertanya.

"Ilmu pukulan tangan kirimu itu kau dapatkan dari siapa?"

"Orang itu bernama Cioe It Bong, sekarang terperangkap dalam kurungan perkumpulan Sin-kiepang."

"Lalu kepandaian silat tangan kananmu?' "

Mendiang ayahku telah meninggalkan sebilah pedang baja serta enam belas jurus ilmu pedang sederhana kepadaku, sayang aku tak becus dan kehilangan pedang baja itu sewaktu masih ada di dalam markas besar perkumpulan Sin-kie-pang "Sungguh aneh,"

Bisik Ciong Lian-khek dengan alis berkerut.

"Hoa tayhiap adalah seorang jago kosen, tidak mungkin ia cuma tinggalkan enam belas jurus ilmu pedang yang amat sederhana, menurut penilaianku ilmu pedang itu pasti tak akan sesederhana itu cuma kau belum sampai berhasil menemukan inti sari dari ilmu itu."

Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong sehabis mendengar perkataan itu katanya.

"Sayang pedang baja itu tidak berada disisiku kalau tidak aku pasti akan mainkan jurus-jurus pedang itu sambil memohon petunjuk dari cianpwee, aku percaya banyak manfaat yang bakal kutarik dari diri cianpwee."

Ciong Lian-khek adalah seorang ahli pedang yang setiap saat menggembol sebilah pedang baja di atas punggungnya, saat itu sambil bersantap katanya.

"Coba gunakanlah sumpit itu sebagai ganti pedang dan mainkan salah satu jurus serangan itu!"

Hoa Thian-hong mengangguk, ia gunakan sumpit ditangannya mainkan beberapa gerakan, kemudian sambil gelengkan kepala dan tertawa sahutnya.

"Pedang baja milikku itu besar lagi berat, sedang sumpit ini terlalu kecil. Sulit bagiku untuk memperlihatkan gerakan jurus serangan itu."

Ciong Lian-khek termenung tidak bicara, beberapa saat kemudian katanya.

"Selesai bersantap nanti gunakanlah pedangku untuk bermain beberapa jurus serangan itu."

Tapi Hoa Thian-hong segera menggeleng.

"Pedang macam apapun yang berada dalam genggamanku segera akan patah jadi dua bagian bila kugunakan, dahulu sudah begini aku rasa setelah tenaga dalamku memperoleh kemajuan pesat keadaan itu semakin bertambah payah."

Mendengar perkataan itu kembali Ciong Lian-khek termenung pikirnya sejenak, lalu katanya.

"Menurut dugaanku enam belas jurus ilmu pedang yang diwariskan Hoa tayhiap kepadamu itu. Pastilah serangkaian ilmu silat yang maha sakti dan maha dahsyat, mungkin usiamu masih terlalu muda dan pengalamanmu masih amat cetek hingga inti sari dibalik kepandaian itu belum berhasil kau pahami ..."

Mula2 Hoa Thian-hong melengak, kemudian pikirnya.

"Perkataan ini sedikitpun tidak salah, sewaktu ayah mewariskan kepandaian tersebut kepadaku, beliau pernah berpesan pedang ada manusia hidup, pedang musnah orang mati!"

Berpikir sampai disini ia merasa amat murung dan kesal, dalam hati pemuda inipun mengambil keputusan untuk berangkat ke markas besar perkumpulan Sin-kiepang guna minta kembali pedang bajanya bila saatnya telah tiba Selesai bersantap karena terlalu lelah maka sesudah bercakap2 sebentar Hoa Thian-hong naik ke atas pembaringan dan beristirahat sedangkan Ciong Lian-khek sambil membawa Chin Giok-liong kembali ke kamar sebelah, selama bercakap2 tadi meski ia tidak tunjukkan sikap yang hangat tapi jelas terlihat bahwa la amat menyayangi si anak muda itu, Tidur Hoa Thian-hong kali ini benar-benar amat nyenyak, ketika ia mendusin, hari sudah gelap.

tampaklah suasana dalam kamarnya sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, ia segera bangun dan berpakaian lalu menuju ke kamar sebelah, Di bawah sorot lampu tampaklah dalam kamar Ciong Lian-khek terdapat tiga orang tamu, kecuali Chin Giokliong dua orang tamu yang lain adalah Si utusan pencabut nyawa Ma Ching-san serta si pelindung hukum dan perkumpulan Sin-kie-pang, Tang Hiong-sim.

Ketika melihat Hoa Thian-hong melangkah masuk ke dalam kamar.

Ma Ching-san serta Tang Hiong-sim segera bangkit berdiri dan maju memberi hormat, sapa mereka sambil tertawa.

"Oooh! Kongcu telah mendusin, aku...."

Mendengar sebutan mereka berdua terhadap dirinya telah berubah. diam-diam Hoa Thian-hong menaruh curiga, cepat tukasnya.

"Aaah, aku tak tahu kalau kalian berdua akan berkunjung kemari. bilamana kalian harus menunggu lama harap suka dimaafkan."

Si utusan pencabut nyawa Ma Ching-san dari perkumpulan Thong-thian-kauw segera tertawa. katanya.

"Pertempuran yang terjadi antara Hoa kongcu melawan Cu Goan-khek dari perkumpulan Hong-im-hwie hari ini telah menggemparkan seluruh kota Cho Chiu, segenap anggota perkumpulan kami dari atas sampai bawah tak ada yang tidak merasa kagum, Untuk kehebatan kongcu sengaja Giok Teng Hujien telah menyiapkan perjamuan untuk merayakan kemenangan itu, harap Hoa kongcu sudi untuk menghadirinya."

"Ngomong terus tiada hentinya, jadi dia ada maksud mengundang aku pergi makan"

Pikir Hoa Thian-hong dalam hati. Sambil tertawa segera tukasnya.

"Harap Maheng tunggu sebentar, aku segera berangkat mengikuti dirimu!...."

Bicara sampai disini ia lantas berpaling ke samping.

"Kedatangan Tang-heng kesini apakah membawa tugas dari perkumpulan?"

Tang Hiong-sim tertawa terbahak-bahak, sekilas cahaya merah melintas di atas wajahnya, ia melangkah maju ke depan dan ambil keluar sepucuk surat dari sakunya lalu diangsurkan ke depan.

Hoa Thian-hong menerima surat itu dan membaca isinya, ternyata ditulisan tangan dari Pek Kun-gie.

terbacalah isi surat itu berbunyi demikian.

"Aku telah tiba di kota Cho-Chiu, harap datang untuk berjumpa"

Terdengar Tang Hiong-sim berkata.

"Nona kami mendengar bahwa setiap hari Hoa kongcu harus melakukan 'Lari Racun' dalam hati merasa amat kuatir. oleh sebab itu ia berharap bisa cepat-cepat berjumpa muka dengan kongcu."

Diam-diam Hoa Thian-hong tertawa dingin, pikirnya.

"Hmmm! Seandainya tempo dulu aku mati sekarat ditepi sungai Huang-hoo, masing-masing pihak tentu tidak akan saling kuatir dan saling mengagumi...."

Berpikir demikian tanpa terasa ia terkenang kembali akan Chin Wan-hong, cinta kasihnya yang suci dan murni terasa amat merasuk ke dalam hatinya, ia berharap bisa cepat-cepat berjumpa lagi dengan gadis itu.

Terkenang akan adiknya pemuda itu segera teringat pula akan kakaknya.

ia berjalan menghampiri Chin Giokliong lalu menyapa dengan suara lembut.

"Saudara Giok Liong, masih ingatkah dengan siauwte?"

Chin Giok-liong angkat kepalanya dan menatap wajah pemuda itu beberapa saat lama tapi ia tetap bimbang dan kebingungan.

jelas terhadap diri Hoa Thian-hong ia merasa tak pernah kenal.

Ciong Lian-khek yang berada disisinya segera menimbrung.

"Ia sudah dicekoki obat pemabok dari Jien Hian, kejadian yang lampau sudah terhapus sama sekali dari benaknya. untung selembar wajahnya masih bisa dipertahankan. lain kali kita bisa berusaha secara perlahan-lahan untuk menyembuhkan penyakitnya itu, aku percaya suatu saat dia akan pulih kembali seperti sedia kala."

Hoa Thian-hong menghela napas panjang, kembali ia berpaling ke arah Tang Hiong-sim dan berkata.

"Tang heng, merepotkan dirimu suka memberi kabar kepada nona Pek bahwa besok akan menyambut kedatangannya di rumah makan Kie Eng Leo!"

Mendengar perkataan itu, Tang Hiong-sim melirik sekejap ke arah Utusan pencabut nyawa Ma Ching-san kemudian mohon diri dan berlalu.

Ma Ching-san sendiri berdiri sambil tersenyum dikulum, rupanya ia merasa amat bangga dengan keputusan itu.

Sementara itu Hoa Thian-hong telah menoleh ke arah Ciong Lian-khek sambil berkata.

"Aku pikir mumpung tak ada urusan maka boanpwee ingin pergi mengunjungi kuil It Goan-Koan, aku ingin lihat manusia macam apa saja yang tergabung di dalam sekte agama Thong-thiankauw!"

"Pergi berkunjung sih tak mengapa, cuma kau musti perhatikan permainan setan yang mereka siapkan"

Ujar si jago bercambang memperingatkan. Utusan pencabut nyawa Ma Ching-san yang mendengar ucapan itu, sepasang matanya kontan melotot.

"Sahabat, kalau berbicara aku minta kau sedikitlah tahu diri....."

"Siapa yang sudi jadi sahabatmu?"

Hardik Ciong Liankhek dengan mata mendelik, Kenapa musti tahu diri terhadap dirimu?"

Air muka Utusan pencabut nyawa Ma Ching-san berubah hebat, tapi dengan cepat pulih kembali seperti sedia kala, ujarnya hambar.

"Memandang di atas wajah Hoa kongcu aku orang she-Ma tak ingin ribut-ribut dengan dirimu."

Habis berkata ia putar badan dan berlalu dari ruang kamar.

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa geli setelah berpamitan dengan jago bercambang ia keluar dari rumah penginapan, disitu tampaklah Ma Ching-san dengan menuntun dua ekor kuda jempolan sedang menunggu diluar pintu, Hoa Thian-hong sambut tali les dan berangkatlah mereka berdua menuju ke arah kuil Itgoan-koan.

Kantor cabang dari sekte agama Thong-thian-kauw ini terletak di sudut kota sebelah timur.

banyak sekali jemaah yang bersembahyang disitu, tapi bagi mereka hanya boleh mengunjungi batas ruang depan saja, ruang berikutnya merupakan daerah terlarang bagi kaum awam.

Mengikuti di belakang Ma Ching-san, secara beruntun Hoa Thian-hong melewati beberapa buah ruang besar dan tibalah di depan sebuah bangunan loteng yang tinggi.

Suasana di depan loteng sunyi senyap.

tak kedengaran sedikit suarapun, delapan orang bocah imam berbaju hijau dengan pedang pendek tersoren di punggung berjaga-jaga di depan pintu.

Sambil menggandeng tangan Hoa Thian-hong berjalan masuk ke dalam loteng itu.

Pikirnya.

"Ditinjau dari sikap Ma Ching-san rupanya ia merasa agak tegang untuk memasuki tempat ini, dari wajahnya yang serius jelas loteng ini merupakan tempat penting disini. Diam-diam ia perhatikan suasana di sekitar sana tampaklah olehnya pada setiap saat bangunan loteng itu dijaga ketat oleh para penjaga pada tingkat yang paling bawah dijaga oleh delapan orang imam kecil berbaju hijau, pada tingkat kedua dijaga oleh delapan orang toosu muda sedang pada tingkat ketiga dijaga delapan orang pria berbaju hitam, berkerudung hitam dan berbadan kekar. Menanti ia sudah tiba di loteng tingkat keempat, tampaklah di bawah cahaya lampu yang berkilauan sebuah meja perjamuan telah disiapkan, Giok Teng Hujien dengan sanggul yang tinggi dan dandanan yang agung duduk di meja utama. Soat-jie si rase salju berada dalam bokongannya. Seorang gadis berbaju ungu yang cantik jelita berdiri di belakang tubuhnya, sementara dua orang toosu tua duduk pada kursi samping, delapan orang gadis cantik dan beberapa orang imam kecil berdiri disekeli1ing sana. Begitu melihat kehadiran Hoa Thian-hong di atas loteng, Giok Teng Hujien segera bangkit dari tempat duduknya dan maju menyambut dengan senyum dikulum.

"Lama benar nih!"

Serunya.

"Aku mengira kau sangat marahnya dan minta dijemput oleh aku sendiri!"

Hoa Thian-hong tersenyum, sesudah menjura dia alihkan sorot matanya melirik sekejap ke arah dua orang toosu tua yang ikut bangkit dan tempat duduknya itu.

"Siapakah sebutan dari tootiang berdua? Cici kau harus perkenalkan dulu kepadaku!"

Serunya. Giok Teng Hujien tersenyum.

"Ayoh duduk dulu, soal itu kita bicarakan nanti saja!"

Ia tarik tangan pemuda itu dan membimbingnya menuju ke meja perjamuan. Setelah ambil tempat duduk, Giok Teng Hujien baru menoleh ke arah kedua orang toosu tua itu sambil berkata.

"Dialah Hoa kongcu! Kegemilangan serta kecemerlangan nama keluarganya tak perlu dibicarakan lagi kalian musti sudah kenal bukan? pemuda gagah semacam ini harus dihormati harap kalian berdua suka memberi hormat lebih dahulu."

Kedua orang toosu tua itu tak berani membantah, mereka segera bangkit berdiri sambil memberi hormat.

"Selamat bertemu!"

Serunya hampir berbareng, Giok Teng Hujien tuding seorang toosu tua di sudut paling muka, katanya.

"Dia adalah Ngo Ing-Cinjin, sekarang menjabat sebagai ketua dari kuil It-goan-koan "

Selamat berjumpa!"

Seru Hoa Thian-hong sambil menjura.

Dia angkat kepala dan perhatikan toosu itu, tampaklah usia dari Ngo Ing Cinjin kurang lebih lima enam puluh tahunan, jenggot putih terurai sepanjang dada, jubah kuningnya yang lebar bersulamkan sebuah lukisan Patkwa dari benang emas, sebilah pedang berbentuk aneh tersoren di atas bahunya dilihat gerak-geriknya ia nampak gagah dan menyeramkan Sementara itu Giok Teng Hujien telah menuding toosu kedua, ujarnya kembali.

"Yang itu adalah Cing-st-cu, jabatannya adalah ketua dari ruangan ini,"

Ia merandek sejenak lalu sambil tertawa terusnya.

"Perkumpulan kami semuanya dibagi jadi tiga sektor atas, tiga sektor tengah dan tiga sektor bawah, kekuasaan kesembilan sektor itu terletak pada sembilan buah kuil, yaitu Sang-goan-koan, Tiong-goan-koan serta He-goan-koan. Kuil It-goan-koan langsung dibawahi oleh ketua kami dan terlepas dari pengawasan sektor2 tersebut. Apabila kau memandang kedudukan Cing-Si-Cu seimbang dengan kedudukan ketua kantor cabang seperti pada perkumpulan lain, maka dugaanmu itu keliru besar"

"Haah.... haaah...... haaaah..... aku mana berani"

Sahut Hoa Thian-hong sambil tertawa.

"Terhadap orang yang bisa duduk sederajat dengan cici, tentu saja aku tak berani bersikap kurang ajar"

Diluaran ia berkata begitu, sementara dalam hati pikirnya.

"Entah selain sang ketua serta sembilan orang penjabat kuil apakah masih terdapat kekuasaan yang lain? Apa pula jabatan cici di dalam sekte agama Thongthian-kauw ini"

Mendadak terdengar Cing Si Cu berkata sambil tertawa.

"Dalam pertempuran yang terjadi hari ini Cu Goan-khek kehilangan pamor dan namanya jatuh, pengaruh perkumpulan Hong-im-hwie pun terpukul hebat. sejak kini pandangan sahabat kangouw dalam dunia persilatan terhadap diri Hoa Kongcu tentu akan berubah seratus delapan puluh derajat"

Ia angkat cawan araknya dan menambahkan sambil tertawa.

"Aku sebagai tuan rumah tempat ini, dengan menyender di atas kecemerlangan hujien ingin menghormati Hoa kongcu dengan secawan arak, anggap saja penghormatan ini sebagai pengutaraan rasa kagum kami terhadap dirimu!...."

Hoa Thian-hong tersenyum.

"Tengah hari tadi kebetulan saja racun keji yang bersarang dalam tubuhku sedang kumat sehingga aku bertempur dalam keadaan setengah tak sadar, seandainya kejadian itu berlangsung di saat2 biasa, aku bukan tandingan dari Cu Goan-khek"

Diapun angkat cawan araknya dan meneguk habis isinya Selama ini gadis berbaju hijau itu sambil membawa sebuah poci arak berdiam di belakang Hoa Thian-hong, melihat cawannya telah mengering buru-buru ia penuhi kembali cawan tersebut dengan arak.

Merasa hanya dia seorang yang dilayani Hoa Thianhong curiga.

ia segera angkat kepala dan memandang sekejap ke arah gadis itu.

Rupanya Giok Teng Hujien mengerti apa yang sedang dipikirkan pemuda itu, sambil tertawa segera ujarnya.

"Dia bernama Pui Che-giok seorang dayang kepercayaanku, ketika berada di tepi sungai Huang-ho malam itu, bukankah kau sudah pernah bertemu dengan dirinya!"

Hoa Thian-hong mengangguk, sementara dalam hati pikirnya.

"Perempuan yang membunuh mati Jin Bong juga mengaku bernama Pui Che-giok, entah saat ini bersembunyi dimana?"

Berpikir sampai disitu segera ujarnya.

"Kasus pembunuhan terhadap Jin Bong rupanya sudah buyar bagaikan awan di udara, apakah Jin Han telah berhasil menemukan pembunuhnya dan berhasil membunuh orang itu untuk membalas dendam atas sakit hatinya?"

"Aaaah masa urusan bisa beres dengan begitu gampang?"

Sahut Giok Teng Hujien sambil tertawa.

"Dewasa int memang keadaannya kendor diluar tegang di dalam sepintas lalu suasana terasa tenang tak berombak padahal sedari dulu Jin Hian telah meninggalkan propinsi San-Say dan melakukan penyelidikan secara diam-diam untuk membekuk gadis yang mengaku bernama Pui Che-giok itu."

"Aku lihat nasib perkumpulan Hong-im-hwie di tahun ini kurang begitu mujur"

Tiba-tiba Ngo Ing Cinjin menyela.

"Loo-toa kehilangan putra kesayangannya, Loosam terpenggal lengannya dan ini hari Siang Hauw modar secara konyol aku pikir makhluk2 ganas yang selama ini tak pernah mencampuri urusan dunia, sebentar lagi pasti akan bermunculan kembali"

Hoa Thian-hong kerutkan sepasang alisnya ketika mendengar perkataan itu pikirnya.

"Ngo Ing Cinjin adalah ketua sektor atas dari sekte agama Thong-thian-kauw, ia sebut orang-orang itu sebagai makhluk ganas, kemungkinan besar mereka memang merupakan manusia yang amat lihay!"

"Aaah....! Itu sih belum tentu benar"

Ujar Giok Teng Hujien sambil tertawa.

"aku rasa urusan yang berkembang dewasa ini masih belum sampai menyangkut pokok kekuatan dari perkumpulan Hong-imhwie seperti Yan-san It-koay, Liong-bun Siang-Sat sekalian hingga kini belum pernah munculkan diri, Tetapi, seandainya Jin Hian temui kesialan lagi maka pada saat itulah si nenek buta itu mungkin akan muncul kembali di dalam dunia persilatan"

"Aku benar-benar sangat bodoh"

Pikir Hoa Thian-hong dalam hati.

"Seandainya perkumpulan Hong-im-hwie tidak memiliki kekuatan besar yang menunjang di belakang mereka sedari dulu pihak Thong-thian-kauw serta Sin-kie-pang pasti sudah membagi wilayah utara jadi dua bagian!"

Terdengar Ngo Ing Cinjin berkata lagi.

"Selama tiga kekuasaan merajai dunia, aku pikir dunia persilatan tak akan aman dan tenteram. Terutama sekali kaum pedagang, pelancong serta rakyat jelata, beban hidup mereka kian lama kian bertambah berat. Hoa kongcu! Kau adalah seorang pendekar muda yang berjiwa besar, apa pendapatmu mengenai situasi tersebut?"

"Aaah... Kiranya pihak Thong-thian-kauw memang ada maksud meluaskan daerah kekuasaannya, entah dengan cara apa mereka hendak mewujudkan ciia-citanya itu?"

Pikir Hoa Thian-hong di dalam hati. Berpikir demikian sambil tersenyum ia lantas menjawab.

"Aku masih muda, pengetahuanku amat cetek dan ilmu silatku amat rendah. Terhadap urusan dunia persilatan yang begitu meluas, aku tak berani sembarangan memberi komentar"

Habis berkata dia alihkan sorot matanya ke arah Giok Teng Hujien. Tampak perempuan itu tertawa manis, kepada Ngo Ing Cinjin segera ujarnya.

"Saudaraku ini memang masih amat muda, pengetahuannya cetek sekali sedang ilmu silat yang dimiliki tak bisa dikatakan rendah, namun kalau dibandingkan dengan puncak kesempurnaan memang masih terpaut jauh sekali, cuma saja, ia tak doyan yang keras ataupun yang lunak, perkataan siapapun tak sudi didengar, siapa berani menyatroni dirinya maka dia akan hadapi orang itu habis-habisan"

Ngo Ing Cinjin segera tertawa lantang.

"Haaah.... Haaah.... Haaah saudara Hoa!"

Serunya.

"Sepanjang hidupnya Giok Teng Hujien selalu memandang tinggi dirinya, menurut apa yang kuketahui belum pernah ada orang yang peroleh perbatian serta kasih sayang dari dirinya"

"Cinjin, jangan kau teruskan perkataan itu,"

Tukas Giok Teng Hujien sambil goyangkan tangannya berulang kali.

"Dia tak sudi menerima kebaikanku, akupun tak mau terlalu banyak tersiksa olehnya,' "

Cici, kapan sih aku menyiksa diri cici?"

Ujar Hoa Thian-hong sambil tertawa.

"Ayoh, kau harus dihukum dengan tiga cawan arak!"

Selesai bicara dia angkat Cawan dan teguk isinya sampai ludas Mendadak ia merasakan sesuatu yang aneh, ketika arak tadi mengalir masuk lewat tenggorokannya segera timbullah rasa kaku dan pedas yang amat tak enak dirasakan, sepasang alisnya kontan berkerut.

Pikirnya.

"Kiu-tok Sianci pernah berkata kepadaku, teratai racun empedu api adalah raja dari segala macam racun, selama racun teratai masih mengeram dalam tubuhku maka aku tak akan mempan terhadap racun keji macam apapun juga seandainya bertemu dengan obat racun yang tak berwujud ataupun berwarna, dalam lidahku malah akan terasa suatu perasaan yang aneh jangan dalam arak tersebut mengandung racunnya?...."

Dalam pada itu ketika Giok Teng Hujien menyaksikan air mukanya menunjukkan suatu perubahan yang sangat aneh, sambil tertawa segera tegurnya.

"Kenapa? wajahmu tampak murung dan tidak senang hati, apakah kau salahkan perkataan cici yang kurang sedap didengar"

OooOooo Hoa Thian-hong kontan tertawa dingin.

"Ucapan cici indah didengar, siapa yang bilang kalau kau Sudan salah bicara? Cuma lambung siauwte rada tidak cocok dengan arak yang mengandung racun, harap cici suka memakluminya."

Air muka Giok Teng seketika berubah jadi pucat pias, ia rebut cawan arak itu dari hadapan Hoa Thian-hong lalu diperiksa di bawah sorot cahaya lampu, sesaat kemudian perempuan itu menoleh ke arah Pui Che-giok dan melotot bulat-bulat.

Pui Che-giok yang dipelototi jadi ketakutan setengah mati, ia segera jatuhkan diri berlutut di atas tanah sambil rengeknya.

"Budak......."

Nafsu membunuh berkelebat memenuhi biji mata Giok Teng Hujien yang indah, mendadak sambil gertak gigi dia ayun telapaknya menghajar ubun-ubun orang.

Disaat yang kritis Hoa Thian-hong ayun tangannya mencengkeram pergelangan Giok Teng Hujien, katanya sambil tertawa.

"Aduuuh.... cuma urusan kecil saja, masa cici benar-benar akan bunuh orang untuk melenyapkan bukti?"

Giok Teng Hujien jadi semakin gusar.

"Kurang ajar kau memang manusia yang tak berperasaan!"

Melihat perempuan itu mengucurkan air matanya dengan badan gemetar keras saking jengkelnya, dalam hati Hoa Thian-hong segera berpikir.

"Kalau dibilang dia ada maksud mencelakai diriku, kenapa ia menjadi mendongkol hingga menangis? Kalau dibilang tak sengaja, kejadian ini amat tak masuk diakal..."

Ngo Ing Cinjin serta Cing Si-cu saling berpandangan dengan wajah kebingungan dan tak habis mengerti, agaknya kedua orang toosu itupun tak tahu duduknya perkara.

Giok Teng Hujien meronta berusaha keras melepaskan diri dari cekalan orang, namun tak berhasil.

Tiba serunya kepada Pui Che-giok dengan nada gemas.

"Tak ada gunanya membicarakan soal ini kuampuni selembar jiwamu tapi kau harus kutungi sepasang lenganmu itu"

"Budak tahu salah, terima kasih atas kebaikan nyonya tidak membinasakan diriku,"

Sahut Pui Che-giok dengan air mata berlinang.

Ia letakkan poci arak di atas meja, lalu dari sakunya cabut keluar sebilah pisau belati yang langsung ditebaskan ke arah pergelangan tangan kirinya.

Dengan ketajaman mata Hoa Thian-hong sekilas memandang ia telah mengetahui bahwa pisau belati dalam cekalan Pui Che-giok adalah sebilah senjata mustika, bukan begitu saja bahkan senjata itu terasa sangat dikenal olehnya, seakan-akan ia pernah melihat benda itu disuatu waktu.

Satu ingatan berkelebat dengan cepat di dalam benaknya ia segera menghardik.

"Tahan!"

Laksana kilat ia ulurkan tangannya merampas pisau belati itu dari tangan orang. Oleh peristiwa ini rupanya Giok Teng Hujien merasa kheki bercampur mendongkol dengan gemas teriaknya.

"Eeei...,sebetulnya apa maumu? Apakah kau ingin melihat aku mati bunuh diri untuk membuktikan kesucianku?"

Hoa Thian-hong segera tersenyum.

"Aku tak pernah menyalahkan diri cici? Kenapa cici musti marah2?"

Sorot matanya melirik kembali ke arah pisau belati itu, mendadak ia teringat kembali akan peristiwa yang terjadi dalam perkampungan Liok Soat Sanceng, di masa itu perempuan genit yang mengaku bernama Pui Che-giok pernah menggunakan pisau semacam ini untuk membunuh Jin Bong.

Dalam hati segera pikirnya.

"Kejadian ini benar-benar aneh, Pui Che-giok yang berada di depan mata saat ini jelas bukanlah Pui Che-giok yang telah membunuh Jin Bong serta mencuri pedang emas, tetapi mengapa pisau belati tersebut bisa muncul dari sakunya?...."

Ingatan tersebut dengan cepat berkelebat di dalam benaknya, ia ada maksud menjajal kepandaian silat yang di miliki Pui Che-giok tetapi berada di hadapan orang banyak pemuda itu merasa tidak leluasa baginya untuk turun tangan.

Mendadak terdengar Pui Che-giok merengek.

"Nyonya pernah berkata bahwa kongcu-ya tidak mempan terhadap obat racun macam apapun, budak tidak percaya perkataan itu maka dalam sangsinya....."

"Mau menjajal sih tak jadi soal"

Sambung Hoa Thianhong sambil tertawa nyaring.

"Cuma rasanya berbeda jauh, kalau tidak setelah masuk ke dalam perutku bisa jadi aku akan muntah2"

Berbicara sampai disitu ia kembalikan pisau belati tadi kepadanya. lalu sambil mengambil poci arak dan membuka tutupnya ia berkata lagi sambil tertawa.

"Aku akan mohonkan ampun baginya, tentu cici suka mengabulkan bukan?...."

Agaknya Giok Teng Hujien sangat menurut terhadap pemuda ini, mendengar ucapan tersebut segera ujarnya kepada Pui Che-giok dengan suara dingin.

"Ayoh cepat ucapkan banyak terima kasih kepada Kongcu-ya, kalau sampai menggusarkan hatinya... Hmm! Jangan salahkan kalau aku bsnar2 akan membinasakan dirimu."

Buru-buru Pui Che-giok jatuhkan diri berlutut di hadapan si anak muda itu, sambil angguk2kan kepalanya ia berseru.

"Terima kasih buat kebaikan kongcu-ya!"

"Sudah...sudahlah..."

Ujar Hoa Thian-hong sambil tertawa.

Beberapa saat lamanya dia awasi cawan arak sendiri namun tiada pertanda apapun yang menunjukkan suatu keanehan.

Sementara pelayannya telah hidangkan kembali arak baru, pemuda itu segera mencicipinya, terasa arak yang diteguk wangi dan enak dirasakan, sedikitpun tiada tanda kaku arau pedas lagi.

Terdengar Giok Teng Hujien berseru manja.

"Orang bodoh, penyakitnya tidak terletak di dalam poci arak itu"

"Bagaimana sih caranya melepaskan serbuk racun tersebut? Apa aku boleh lihat?"

Merah jengah selembar wajah Pui Che-giok, ia tuang kembali arak dalam poci itu ke dalam cawan Hoa Thianhong yang awasi terus sepasang tangannya segera menemukan bahwa jari tangan kiri gadis itu mengetuk di ujung cawan, tanpa terasa pemuda itu tertawa tergelak.

"Haaah... haaah....haaah.... kiranya penyakit itu letaknya di ujung jari!"

Sehabis berkata cawan arak tadi disambar dan segera dituang ke dalam mulutnya.

Giok Teng Hujien yang melihat kejadian itu jadi kaget, ia rampas cawan itu dari tangan orang lalu ditumpah ke atas lantai, serunya.

"Andaikata aku hendak mencelakai selembar jiwamu, buat apa kugunakan obat beracun?"

"Yang budak gunakan bukan racun!"

Sola Pui Chegiok. Merah jengah selembar wajah gadis she-Pui itu, untuk sesaat ia jadi tergagap.

"Anu....anu...."

Cing Si-cu yang selama ini membungkam segera tertawa terbahak bahak.

"Haah.... haaah.... haaaah... saudara Hoa tak usah banyak curiga, hujien sangat menyayangi dirimu bagaikan menyayangi diri sendiri, masa Che-giok berani mencelakai jiwamu?"

Hoa Thian-hong segera tersenyum.

"Aaaah, kalau begitu pastilah obat pemabok yang dipakai, eemh aku memang kepingin tidur pulas....."

Ia bopong Soat-ji si rase salju itu, tambahnya sambil tertawa.

"Sungguh lihay kepandaian yang dimiliki makhluk cilik ini, jago kangouw kelas menengah belum tentu bisa menandingi kelihayannya"

"Sayang kau tak mampu untuk memelihara dirinya,"

Kata Giok Teng Hujien sambil tersenyum.

"Kalau tidak binatang tersebut pasti sudah kuhadiahkan kepadamu!"

"Seorang lelaki sejati tak akan sudi merampas barang kesenangan orang sekalipun aku mampu untuk memeliharanya juga tak mau kuterima,"

Sorot matanya dialihkan kepada Ngo Ing Cinjin, lalu tambahnya.

"Cinjin adalah ketua dari sektor atas, jauh-jauh datang ke kota Cho Ciu, pasti ada urusan yang hendak diselesaikan bukan?"

Sambil mengelus jenggot Ngo Ing Cinjin tertawa.

"Dalam kolong langit dewasa ini hanya saudara Hoa seorang yang pernah menyaksikan sendiri wajah pembunuh dari Jin Bong, setelah tempo hari Saudara Hoa dipaksa bunuh diri dengan menelan teratai racun empedu api, Jin Hian mengira saudara Hoa pasti mati dan jejaknya akan putus, sekalipun sudah melakukan penyelidikan selama banyak hari hasilnya tetap nihil. Kini setelah ia mengetahui kalau saudara Hoa berhasil lolos dari kematian ia tentu akan datang ke kota Chu Ciu serta turun tangan terhadap dirimu....."

Hoa Thian-hong mengangguk.

"Dugaan Cinjin sangat tepat dan perkataanmu masuk diakat, tetapi numpang tanya, apakah kedatangan Cinjin kemari memang ada hubungannya dengan kejadian ini?"

"Jin Hian cuma mempunyai seorang putera tunggal, kematiannya merupakan suatu kejadian yang amat iuar biasa, seandainya pembunuh Jin Bong bukan termasuk diantara anggota perkumpulan Sin-kie-pang, atau Thongthian-kauw mungkin urusannya masih mendingan, tetapi kalau termasuk sebagai anggota salah satu diantara dua perkumpulan ini maka jelaslah sudah dunia persilatan bakal dilanda badai dahsyat yang mengerikan, pertarungan total antara dua perkumpulan besar atau mungkin juga melibatkan pertarungan diantara tiga perkumpulan besar jelas sudah pasti bakal terjadi!"

"Bukan saja sekte agama Thong-thian-kauw telah menaruh perhatian terhadap kejadian ini, sekalipun perkumpulan Sin-kie-pang secara diam-diam juga pusatkan perhatiannya kemari,"

Kata Giok Teng Hujien sambil tertawa.

"Dewasa ini perhatian semua orang telah tertuju ke tubuhmu, setiap perkataan serta tindak tandukmu sangat mempengaruhi perkembangan dari peristiwa itu.

"Bicara tanpa bukti apa gunanya? Masa Jin Hian suka mempercayai setiap patah kata yang kuucapkan?"

"Tentu saja,"

Sahut Ngo Ing Cinjin.

"Meskipun hanya sepatah kata namun hal itu harus dilihat du!u bagaimana caranya menyampaikan kata-kata tadi, saudara Hoa mempunyai peluang yang amat besar untuk memutar balikkan duduk perkara yang sebenarnya"

"Kalau didengar dari ucapannya barusan, rupanya ia ingin aku putar balik dan kejadian dan menimpakan semua kesalahan pada tubuh perkumpulan Sin-kiepang...."

Pikir Hoa Thian-hong dalam hati.

"Ehmmm...Pui Che-giok gadungan itu mempunyai raut wajah yang rada mirip dengan Pek Kun-gie. kejadian ini memang sangat mencurigakan."

Sementara itu Cing Si-cu telah berkata.

"Saudara Hoa, betulkah satu jurus ilmu pukulan yang kau miliki itu adalah warisan dari Ciu It-bong?"

Sambil tertawa Hoa Thian-hong mengangguk.

"Betul, saat ini Ciu It-bong masih terkurung di tengah markas besar perkumpulan Sin-kie-pang, ilmu pukulan 'Kun-Su-Ci Tau' tersebut memang berhasil kupinjam dari dirinya"

"Pinjam? Bagaimana caranya meminjam?"

Tanya Giok Teng Hujien tercengang.

"Dia ingin aku gunakan ilmu pukulan itu membinasakan Pek Kun-gie bila urusan telah selesai maka aku harus kutungi lengan kiriku sebagai tanda mengembalikan jurus pukulan itu kepadanya. Yaaah..... memang orang itu rada aneh, dalam hati kecilnya dia ingin sekali meminjam tenagaku untuk membunuh Pek Kun-gie, tapi ingin pula menggunakan kekuatanku untuk mencari jejak pedang emas dan membantu dirinya lolos dari kurungan. aku jadi tak habis mengerti apa yang musti kukerjakan baginya"

"Heeeh,.... heeeh.... heeeeh.......sungguh gegabah dan omong kosong!"

Seru Giok Teng Hujien sambil tertawa dingin.

"membunuh Pek Kun-gie masih boleh saja dilakukan, kutungi lengan kiri sendiri untuk mengembalikan ilmu pukulannya peraturan apakah itu?"

"Aku pribadi memang ada maksud membantu usahanya untuk menemukan pedang emas itu dan membantu dirinya lolos dari kurungan, akan kuanggap perbuatan ini sebagai balas jasaku terhadap dirinya, sedangkan mengenai ilmu silat yang dimiliki Siang Tang Lay pemilik pedang emas itu aku sama sekali tak ada niat untuk mempelajarinya "

Oooh... kau sudah mengetahui cerita tentang Siang Tang Lay?"

"Itupun aku dengar dari mulut Ciu In Bong."

Ngo In Cinjin angkat cawan araknya dan berkata.

"Saudara Hoa, mari kita teguk secawan arak aku masih ada beberapa patah perkataan hendak diucapkan kepadamu."

Sejak menelan Teratat racun empedu api daya tahan Hoa Thian-hong jauh melebihi orang lain.

Terhadap makanan ataupun minuman merangsang macam apapun tiada pengaruhnya sama sekali baginya, semua makanan itu segera lenyap tak berbekas setelah masuk ke dalam lambungnya bagaikan batu tenggelam di dasar samudra, karenanya walaupun sudah bercawan2 arak ia habiskan namun pemuda itu masih tetap segar.

"Cinjin, apa yang hendak kau tanyakan?"

Tanyanya kemudian.

"Selama pengaruh Sin-kie-pang serta Hong-im-hwie masih menguasai kolong langit. anggota mereka tutap melakukan perbuatan-perbuatan bejat yang terkutuk. Mereka sering kali memeras rakyat, membegal pedagang, menodai hukum dan mencelakai orang baik, sungguh jauh berbeda dengan Thong-thian-kauw kami yang khusus melayani para jemaah yang hendak berdoa, kehidupan kami tergantung dari sokongan para penganut agama dan tak pernah melakukan kejahatan di dunia!"

"Pinter amat orang ini berbicara,"

Batin Hoa Thianhong.

"Sudah terang perkumpulan Thong-thian-kauw adalah aliran sesat tapi ia berani bicara besar dengan membanggakan diri sebagai aliran suci!"

Dalam hati berpikir demikian, diluar ia menjawab.

"Perkumpulan Sin-kie-pang serta Hong-im-hwie adalah organisasi yang amat besar dengan akar yang sudah merambat dimana-mana, untuk mengalahkan mereka mungkin saja masih bisa kita lakukan, kalau ingin membasmi mereka keakar2nya., aku pikir itu cuma suatu khayalan kosong belaka!"

"Perkataan dari saudara Hoa memang betul Ngo Ing Cinjin mengangguk tanda membenarkan.

"tetapi kita toh bisa bertindak dengan gunakan otak? Asal pemimpin2 mereka berhasil dibasmi, apa susahnya untuk membubarkan antek2 mereka?"

"Itulah yang ku-idam2kan selama ini,"

Kembali Hoa Thian-hong membatin.

"Sayang ilmu silat yang kumiliki tak bisa terlalu dipaksakan, aku harus basmi pemimpin perkumpulan itu dengan cara apa?"

Walaupun belum lama pemuda ini terjunkan diri ke dalam dunia persilatan, tapi pengalamannya sudah amat luas, pengetahuannya mengenai kehidupan manusia luas dan terlatih sekali.

Saat itu tanpa ia sadari meluncurkan kata-kata dari bibirnya.

"Perkumpulan Sin-kie-pang maupun Hong-im-hwie adalah serang naga harimau yang dipenuhi oleh jagojago lihay yang maha dahsyat, sebelum anak buah mereka berhasil dibasmi. mana mungkin kita bisa basmi para pemimpinnya?"

"Saudara Hoa bisa mengupas setiap masalah dengan gamblang dan jelas, sungguh membuat aku merasa amat kagum"

Ia merandek sejenak, lalu sambil menyapu sekejap ke sekeliling perjamuan lanjutnya.

"Bicara terus terang saja. selama di kolong langit masih terdapat perkumpulan Sin-kie-pang atau Hong-im-hwie yang pegang kekuasaan maka sekte agama Thong-thian-kauw sulit untuk merentangkan sayapnya memperluas daerah kekuasaannya di kolong langit."

"Ooo... jadi kalau begitu kekuatan yang di miliki sekte agama Thong-thian-kauw saat ini lebih kalau digunakan untuk menandingi salah satu diantara dua kekuatan itu, dan lemah bila harus menandingi kedua kedua kekuatan itu sekaligus?"

Sambil bertepuk tangan Ngo Ing Cinjin tertawa.

"Tepat sekali dugaanmu itu, asalkan diantara Sin-kiepang serta Hong-im-hwie terjadi perselisihan sehingga kekuatan mereka saling bentrok satu sama lainnya maka Thong-thian-kauw akan peroleh kesempatan untuk berkembang dan menunggu saat yang baik untuk membasmi lawan-lawannya"

"Tekebur amat ucapan itu!"

Batin, Hoa Thian-hong dalam hati.

"Jago-jago lihay yang terdapat dalam tubuh Sin-kie-pang maupun Hong-im-hwie banyak laksana awan di angkasa, berapa besar sih kekuatan dalam tubuh Thong-thian-kauw sehingga berani punya angan-angan yang begitu muluk?"

Tiba-tiba terdengar Cing Si-cu berkata.

"Saudara Hoa, mumpung usiamu masih muda dan tenagamu masih segar, inilah kesempatan bagimu untuk muncul dalam dunia persilatan dan menjagoi kolong langit. asal kau sukses dan luar biasa maka tidak sulit bagimu untuk menggantikan kedudukan Hoa tayhiap tempo du!u, namamu tersohor dimana mana dan kehebatanmu disegani setiap orang"

Hoa Thian-hong tertawa hambar ia tidak menanggapi perkataan itu sebaliknya alihkan sorot matanya ke arah Giok Teng Hujien, seolah olah ia menghadapi suatu persoalan besar yang tak bisa diputusi sendiri dan kini mohon pendapatnya, Terdengar Giok Teng Hujien tertawa ringan dan berkata.

"Sering kali aku dengar orang berkata bahwa Pek Kuan Gie berulang kali menghina serta mencerca dirimu Pek Siau-thian pun pernah menancapkan jarum beracun pengunci sukmanya di atas tubuhmu, sebagai seorang lelaki sejati, pria tulen. kalau sakit hati semacam Ini tidak dituntut balas, apa gunanya hidup lebih lanjut di kolong langit?"

Ia merendek sejenak, dengan wajah serius terusnya.

"Manusia-manusia yang tergabung di dalam perkumpulan Sin-kie-pang maupun Hong-im-hwie. bukanlah termasuk manusia baik-baik bila kau berhasil memancing perpecahan diantara mereka sehingga mengakibatkan terjadinya pertempuran diantara mereka sendiri, itu akan merupakan pahala besar bagimu Dan seandainya pihak Thong-thian-kauw hanya berpelukan tangan menyaksikan hari'mau bertarung kemudian jadi nelayan mujur yang menantikan hasil, apa pula ruginya terhadap dirimu?"

Dalam hati kembali Hoa Thian-hong berpikir.

"Mereka mengepung diriku dan selalu menasehati diriku untuk memusuhi pihak Sin-kie-pang serta Hong-im-hwie, bila aku tetap bersikeras menolak kerja sama dengan mereka, orang-orang itu pasti akan berubah sikap dan malahan membenci diriku. Waktu itu musuh akan muncul dari tiga penjuru, sulit bagiku untuk menghadapinya. Bagaimanapun menyanggupi dulu persoalan ini tak ada salahnya, asal tindakanku selanjutnya benar dan tidak keluar dari pikiran sendiri"

Setelah memutuskan demikian, ia pura-pura berlagak termenung dan berpikir sejenak kemudian sambil tertawa terbahak-bahak sahutnya.

"Haah.... haaah.... haaah.... rupanya sikap cici selama ini terhadap diriku adalah didasari tujuan ini, kalau siauwte tolak untuk bekerja sama dengan kalian maka tindakanku ini pasti akan dianggap sebagai tak tahu diri....."

Sambil tertawa panjang ia memberi hormat kepada semua orang lalu putar badan dan berlalu.

"Kau mau apa?"

Seru Giok Teng Hujien pura-pura marah.

"Malam semakin larut dan perutku sudah kenyang oleh arak dan hidangan, siauwte ingin mohon pamit"

"Huuh....tak usah mangkel dulu, persoalan pokok toh belum selesai dibicarakan"

Hoa Thian-hong tetap menggelengkan kepalanya, dengan wajah serius ia menjawab.

"Pembicaraan lebih baik diputus sampai disini dulu, toh masalah ini tidak terlalu penting dan kita tak usah pasang hio, angkat sumpah dan meneguk arak darah"

Ia menoleh dan menambahkan.

"Tootiang berdua aku mobon pamit lebih dulu"

Ngo Ing Cinjin serta Cing Si-cu segera bangkit berdiri dan coba menahan, tetapi karena melihat keputusan pemuda itu sudah bulat maka mereka pun mengantar tetamunya turun dari loteng.

Setelah keluar dari kuil It-goan-koan, Giok Teng Hujien sambil membopong Soat-ji si rase salju itu jalan bersanding disisi Hoa Thian-hong, katanya sambil tertawa.

"Bukankah kau sudah berjanji dengan Pek Kungie untuk berjumpa di rumah makan Kie Ing-Loe? dalam janjimu itu kau hendak berbicara dari hati kehati, ataukah hendak merundingkan soal penggunaau tentara?"

"Semuanya bukan, aku cuma ingin mencari tahu kabar berita mengenai seseorang"

"Siapa?"

Tanya Giok Teng Hujien cepat dengan alis berkerut.

Sebenarnya Hoa Thian-hong sangat merindukan ibunya, dia hendak selidiki jejaknya dari mulut Pek Kungie, tetapi setelah didesak lebih jauh terpaksa ia berbohong.

"Kesadaran Chin Giok-liong terganggu dan tidak waras, aku hendak mencari tahu kabar berita mengenai ayahnya Chin Pek-cuan"

Dengan sorot matanya yang tajam Giok Teng Hujien menatap sekejap wajah si anak muda itu, kemudian sambil tertawa serunya.

"Makin lama aku semakin merasa bahwa wajahmu yang jujur bukanlah watakmu yang sebenarnya, kau banyak akal dan licik sekali, mulutnya tajam dan pandai berbicara, kau seorang yang lihay"

Hoa Thian-hong tersenyum, tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya, segera ia berkata.

"Sudah lama aku tak pernah bertemu dengan Pek Kun-gie, aku mau menyelinap sejenak ke dalam kantor cabang perkumpulan Sin-kie-pang di kota Cho-Ciu. Cici, kalau tak ada urusan bagaimana kalau jagakan keselamatanku diluar?"

"Aaah, di tengah malam menyirepi kamar pribadi anak gadis orang, macam apakah perbuatanmu itu?'"

"Apa sih salahnya, aku sendiripun sudah kenyang menerima penghinaan2 darinya"

"Kalau kau sudah amat rindu kepadanya karena sudah lama tak bertemu, sehingga mau mengintip dirinya sejenak, tentu saja boleh tapi kalau suruh aku menjaga keselamatanmu diluar...... tak usah yaaah!"

Hoa Thian-hong tertawa haha hihi, setengah merayu serunya lagi.

"Baiklah, kalau begitu biar aku pergi seorang diri, seandainya jejakku ketahuan dan terbunuh, mengingat pada hubungan kita tolong cici suka balaskan dendam bagi kematianku itu."

Giok Teng Hujien tertawa cekikikan, sambil berbicara dan melanjutkan perjalanan terasa sampailah mereka di sekitar bangunan kantor cabang perkumpulan Sin-kiepang.

Hoa Thian-hong segera enjotkan badannya siap meloncat masuk ke dalam Pekarangan orang, tapi dengan cepat Giok Teng Hujien menarik tangannya sambil berseru.

"Eeei....kau benar-benar mau cari garagara?"

"Pek Kun-gie adalah gadis yang amat lihay, kalau berada di tengah siang hari bolong sulit bagiku untuk mengorek keterangan dari mulutnya, maka dari itu mumpung ia tak menduga akan kutangkap dulu dirinya, kalau suka mengaku tentu saja lebih baik, kalau ia menolak untuk menjawab.... Hmm Hmm.... sampai darah panasku naik ke otak, sekali tebas kucabut selembar jiwanya!"

"Hmm! Masa kau tega?"

"Kenapa tidak tega? diantara kami berdua toh tiada perhubungan persahabatan, malahan aku punya dendam terhadap dirinya?"

Giok Teng Hujien tertawa cekikikan.

"Baiklab aku akan tetap berjaga diluaran sedang kau boleh urusi pekerjaanmu. Tapi kau musti ingat, kalau sikapmu tidak sopan dan menangkap ikan di air keruh aku segera akan lepaskan api untuk membakar habis kantor cabang kota Cho-Ciu ini"

Tertegun Hoa Thian-hong mendengar ancaman itu, dalam keadaan terburu ia tak sempat menangkap maksud yang lebih dalam dari ucapan itu, setelah mengepos tenaga tubuhnya segera meloncat masuk ke dalam pekarangan bangunan itu.

Tenaga dalamnya sudah peroleh kemajuan yang amat pesat dengan enteng sekali dan tanpa menimbulkan sedikit suarapun tubuhnya sudah melayang turun dibalik tembok pekarangan Hoa Thian-hong sudah agak lama berdiam di kota Cho Ciu ini sekalipun dia belum pernah memasuki bangunan rumah ini tetapi garis besarnya ia sudah mengetahui.

Pemuda itu tahu bahwa Pek Kun-gie pasti beristirahat di ruangan dalam, maka sambil merambat disisi tembok tubuhnya segera menyusup ke arah belakang, Penjagaan di dalam kantor Cabang sangat ketat, di bawah setiap lampu lentera tampaklah jago-jago lihay dengan senjata terhunus bersiap siaga dimana mana.

Hoa Thian-hong bernyali besar dan berilmu tinggi, ditambah pula pengalamannya yang kian hari kian bertambah, dengan amat mudah sekali si anak muda itu berhasil masuk ke dalam ruang belakang.

Pencarian dilakukan di sekitar kamar2 yang dikelilingi kedua bunga indah.

sesudah menyelidiki dua buah kamar akhirnya dia berhasil menemukan kamar tidur dari Siau Leng si dayang cilik itu, Sesudah mengamati sejenak suasana di sekitar sana, ia tahu Pek Kun-gie pasti berdiam di dalam kamar serambi sebelah kanan, tubuhnya segara berkelebat mendekati pintu kamar disitu ia tak mendengar sedikit suarapun.

Akhirnya setelah sangsi sejenak, ia dorong pintu kamar itu lalu menyelinap masuk ke dalam dan menutup kembali pintu kamar tadi.

Di tengah kegelapan, tiba-tiba rasalah segulung desiran angin tajam meluncur datang mengancam pinggangnya.

Ditinjau dari desiran angin yang mengancam tiba, Hoa Thian-hong segera kenali sebagai.

gerakan tangan Pek Kun-gie, dalam hati ia mengagumi atas kesigapan gadis itu.

Telapak kirinya segera diputar membentuk gerakan setengah lingkaran di depan dada, kemudian mengirim satu pukulan k emuka.

"Aaah...."

Terdengar Pek Kun-gie menjerit tertahan.

Rupanya dari desiran angin pukulan itu ia berhasil membedakan serangan itu sebagai pukulan tangan kiri, daa diapun segera teringat kembali akan diri Hoa Thianhong.

Dalam gugupnya sang telapak segera diayun ke muka menyambut datangnya serangan tersebut.

"Blaaam.....!"

Pek Kun-gie menjerit tertahan tubuhnya segera terlempar hingga mencelat ke belakang.

Ketika masih berada di kota Seng-Ciu tempo dulu, sebuah pukulannya telah merompalkan tiga biji gigi Hoa Thian-hong, peristiwa itu dianggap oleh pemuda tersebut sebagai penghinaan yang paling memalukan selama hidupnya.

Karena itu walaupun dalam serangannya barusan ia tiada maksud menghabisi jiwa orang tapi tenaga murni yang digunakan telah mencapai lima bagian, rupanya ia sengaja hendak memberi pelajaran kepadanya.

Seperti layang2 yang putus tali tubuh Pek Kun-gie mencelat ke arah belakang, bagaikan bayangan Hoa Thian-hong segera menyusul dari belakangnya, sepasang lengan digerakkan seketika ia berhasil menangkap pergelangan orang.

"Bruuuk!"

Di tengah benturan nyaring tubuh Pek Kungie terbanting di atas pembaringan.

Hoa Thian-hong yang takut gadis itu melancarkan serangan balasan segera cekal sepasang lengannya erat?.

dan ikut jatuhkan diri ke atas pembaringan.

Dengan begitu tanpa sadar tubuhnya telah menindih di atas badan gadis itu.

Suara langkah kaki yang ramai segera berkumandang diluar ruangan, terdengar seseorang membentak nyaring.

"Siauw Leng!"

Hoa Thian-hong semakin tak berani lepas tangan, sambil menindih tubuh Pek Kun-gie semakin rapat bisiknya.

"Cepat usir pergi orang-orang yang berada diluar kamar, kalau tidak kupatahkan tengkukmu!"

Pek Kun-gie berbaring di atas ranjang dengan napas tersengal-sengal, ia marah bercampur mendongkol, giginya saling beradu gemerutukan, saking gemasnya ingin sekali gadis itu menggigit tubuh Hoa Thian-hong.

Mendadak....

ia tertegun....

Kiranya ia masih merupakan seorang gadis perawan, berhubung wataknya yang sombong dan tinggi hati, belum pernah ada seorang priapun yang mendapatkan perhatiannya.

karena pandangannya yang hambar terhadap hubungan antara muda-mudi inilah selama, hidupnya ia tak pernah bergesekan kulit dengan lawan jenis.

Hari ini adalah permulaan bulan enam, udara panas ditambah pula ia baru saja bangun dari tidurnya, karena itu tubuhnya hanya memakai selapis pakaian dalam yang amat tipis.

Setelah tubuh Hoa Thian-hong menindih di atas tubuhnya, segulung bau khas lelaki yang amat tebal segera menyerang ke dalam hidungnya.

hal ini membuat jantungnya berdebar keras dan pikirannya termangumangu.

Dalam pada itu diluar kamar terdengar suara Siauw Leng menyahut.

"Apakah Lie-Ngo? Suara apa barusan itu?"

"Suara itu berasal dari kamar siocia, cepat kau tengok ke dalam apa yang telah terjadi,"

Kata seorang pria dengan suara berat. Hoa Thian-hong segera mengerutkan dahinya setelah mendengar perkataan itu, bisiknya kesisi telinga Pek Kun-gie.

"Cepat usir mereka pergi dari sini, kalau tidak kujagal dirimu terlebih dulu"

Terdengar Siauw Leng berjalan mendekat pintu luar lalu menegur.

"Nona, apakah kau sudah bangun?"

"Usir semua penjaga dan sekitar tempat ini, jangan berbuat kegaduhan yang membisingkan!"

Teriak Pek Kungie gusar.

Siauw Leng mengiakan, suara langkahnya makin menjauh dan sampaikan pesan nonanya tadi kepada para peronda.

Sementara itu Pek Kun-gie tidak berbicara lagi, diapun tidak meronta seolah-olah hatinya sudah pasrah dan terserah Hoa Thian-hong mau berbuat apa saja terhadap dirinya.

Siapa sangka si anak muda itu segera menyadari akan kesilafannya setelah berhasil menenangkan hatinya tibatiba ia merasa bau harum semerbak tersiar di lubang hidungnya tubuh di bawah tindihannya terasa lunak dan halus, begitu kencang tindihannya membuat napas Pek Kun-gie tersengal, dadanya naik turun bergelombang.

suara detak jantungnya yang berdebar pun secara lapat lapat kedengaran, Sebagai seorang pemuda jujur yang berhati suci, ia segera menyadari akan perbuatannya itu, seketika cekalan pada tangan kanannya dikendorkan dan jari tanganpun berkelebat menotok jalan darah di atas bahu dara tersebut......

Tenaga lweekang yang dimiliki Pek Kun-gie jauh lebih cetek setingkat kalau dibandingkan dengan Hoa Thianhong, tetapi ilmu silatnya tidak berada di bawah pemuda itu.

Di tengah kegelapan tangannya bergerak cepat tahutahu ia malah berhasil mencengkeram pergelangan kanan si anak muda she Hoa itu.

Dengan begitu kedua belah pihakpun saling mencekal pergelangan tangan lawannya, diam-diam Hoa Thian

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com hong merasa jengah sendiri, bisiknya lirih.

"Aku ada urusan hendak ditanyakan kepadamu, biarkanlah kutotok sebuah jalan darahmu agar akupun bisa bangun dan duduk"

"Tiada perkataan lain yang akan kubicarakan dengan kau, bunuh saja diriku!"

Teriak Pek Kun-gie dengan gemas. Hoa Thian-hong tertawa dingin.

"Untuk membunuh dirimu sih gampang sekali, Hmm! Sekalipun kau Pek Kungie telah kubunuh, rasa benci dan dendam yang berkecamuk dalam dadaku juga belum bisa buyar"

Sambil menggertak gigi Pek Kun-gie membungkam dalam seribu bahasa, ia tidak mengendorkan tangannyapun tidak meronta dengan tenang tubuhnya tetap berbaring di atas pembaringan.

Lama kelamaan Hoa Thian-hong jadi serba salah sendiri, pikirnya.

"Bagaimana jadinya ini? Kalau begini terus keadaannya hingga diketahui orang lain, bukan saja Pek Kun-gie akan jadi malu dibuatnya, akupun akan dianggap orang sebagai pemuda tengik...."

Mendadak dari halaman belakang terdengar seseorang membentak keras.

"Ada pencuri... .tangkap.... tangkap! Ada orang melepaskan api!"

"Siapa? Berhenti!"

Seseorang yang lain membentak dengan suara nyaring.

Jilid 14 . Melawan Kok See Piauw lagi Hoa Thian-hong kenali suara itu sebagai suara dari Oh Sam, ia tahu pastilah Giok Teng Hujien sudah mengacau diluar, hatinya jadi amat gelisah. Pikirnya.

"Orang itu tak bisa membedakan yang mana serius yang mana tidak, seharusnya aku tidak ajak dia datang kemari"

Berpikir sampai disitu tubuhnya segera meloncat bangun dari atas pembaringan dan sekalian menyeret tubuh Pek Kun-Gie hingga terbangun pula dari atas ranjang, tangan kanannya berputar membetot kembali tangannya, sementara jari tangannya bagaikan tombak menotok ke atas tubuh lawan.

Pek Kun-gie ayunkan tangan kirinya berulang kali, di tengah kegelapan kedua orang itu laksana kilat saling menyerang sebanyak tiga jurus.

Mendadak terdengar Oh Sam lari menghampiri pintu kamar sambil teriaknya.

"Nona, apakah kau berada di dalam kamar?"

Hoa Thian-hong semakin gugup, tangan kanannya kembali kena dicengkeram oleh Pek Kun-gie keras-keras.

"Aku tidak apa-apa,"

Sahut gadis itu dengan napas tersengal.

"Jangan lari kesana kemari bikin berisik saja!"

"Nona ada musuh berhasil menyusup kedalam, orang itu melepaskan api dan membuat keonaran, hingga kini orangnya belum tertangkap."

"Aku sudah tahu!"

Oh Sam mengiakan berulang kali, lewat beberapa saat kemudian ia baru berlalu dari sana.

Jelas perubahan yang terjadi di dalam kamar telah diketahui pihak luar, hanya saja sebelum mendapat perintah dari Pek Kun-gie mereka tak berani sembarangan masuk ke dalam untuk melakukan pemeriksaan.

Sementara itu Hoa Thian-hong serta Pek Kun-gie masih berdiri saling berhadapan dengan masing-masing pihak mencekat pergelangan lawannya, kedua belah pihak dapat mendengar detak Jantung masing-masing dan saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Begini terus keadaannya bukanlah suatu tindakan yang benar"

Pikir Hoa Thian-hong dalam hati.

"Lebih baik kuajukan pertanyaanku kemudian cepat-cepat tinggalkan tempat ini."

Setelah mengambil keputusan, ia segera bertanya dengan suara mendalam.

"Dimanakah Chin Pek-cuan?"

"Kau toh tidak serahkan orang itu kepadaku, darimana aku bisa tahu?...."

"Setengah tahun terakhir apakah ada orang datang ke gunung Tay-pa-san untuk mencari diriku?"

"Ada,"

Sahut Pek Kun-Gie setelah tertegun sejenak. Hoa Thian-hong jadi terperanjat, dengan berangasan segera serunya.

"Siapa? pria atau perempuan?"

"Heeeh... heeeh... tentu saja perempuan!"

Hoa Thian semakin gelisah. kelima jarinya semakin kencang mencengkeram pergelangan orang, teriaknya dengan gusar.

"Cepat jawab! Siapa yang telah mencari aku?"

Seketika Pek Kun-Gie merasakan tulang pergelangannya jadi sakit seperti mau patah, ia menjerit tertahan dan tanpa terasa jatuh terkulai dalam pelukan si anak muda itu, jawabnya lirih.

"Chin Wan-hong...."

"Chin Wan-hong kenapa?"

Tanya Hoa Thian-hong tertegun.

"Chin Wan-hong datang ke markas mencari dirimu, ia telah kubunuh!"

"Kalau dia bilang ibuku mungkin aku masih percaya,"

Batin pemuda tersebut.

"kalau bilang cici Wan-hong, sudah terang ia cuma ngaco belo belaka!"

Segera tanyanya lebih jauh.

"Kecuali dia, apakah masih ada orang yang datang mencari diriku?"

"Masih! tiga ekor harimau dari keluarga Tiong pun sudah kubunuh!"

"Fuuh! omongan setan yang tak genah.."

Pergelangannya segera dibalik melepaskan diri dari dari cekalan orang, kemudian putar badan dan coba menerjang keluar lewat pintu.

Pek Kun-Gie jadi kebingungan dan tak tahu apa yang mesti dilakukan, tapi ia tak ingin melepaskan dirinya dengan begitu saja di tengah kegelapan tubuhnya segera menerjang ke depan menghadang di depan pintu.

"Kau mau apa?"

Tegur Hoa Thian-hong. Pek Kun-Gie agak tertegun, kemudian jawabnya.

"Aku ada perkataan hendak disampaikar, kepadamu!"

"Besok tengah hari aku nantikan kedatanganmu di rumah makan Kie Ing Loo, kalau ada urusan kita bicarakan besok saja"

Perasaan hati kaum gadis memang paling sukar diraba, Pek Kun-Gie sendiripun tak mengerti apa sebabnya ia jadi begitu, melihat Hoa Thian-hong hendak pergi ia semakin tak rela melepaskannya begitu saja, tapi gadis inipun merasa kehabisan daya untuk menahan dirinya.

Dalam keadaan apa boleh buat, segera teriaknya lantang.

"Siauw Leng, pasang lampu!"

Terdengar dayang cilik itu mengiakan dari luar ruangan, cahaya lampu segera berkilat menerobos masuk lewat celah2 pintu.

Dalam pada itu suara pencarian yang berlangsung di tempat luar belum berhenti, setelah Pek Kun-gie buka pintu Siauw Leng sambil membawa lampu lentera berjalan masuk kedalam, sinar matanya berputar menyapu sekejap sekeliling ruangan itu, ketika secara mendadak menjumpai Hoa Thian-hong berada di dalam kamar, sepasang matanya kontan berbelalak lebar, ia tatap pemuda itu tak berkedip.

Hoa Thian-hong pada saat ini bukan Hong-po Seng tempo dulu.

bukan saja wajahnya tampan dan tubuhnya keren, wajahnya tercemin cahaya yang amat gagah.

Kegagahan semacam ini paling gampang melumerkan hati kaum gadis dan paling muda membuat lawan jenisnya jatuh hati kepadanya.

Hoa Thian-hong yang diawasi terus, oleh Siauw Leng maupun Pek Kun-gie, lama kelamaan jadi jengah sendiri.

Sengaja ia kerenkan wajahnya sambil menegur.

"Apa sih yang kau lihat? Aku adalah Hong-po Seng yang tak bakal mati, diluar dugaan kalian semua bukan?"

"Aduuuh....!"

Jerit Siauw Leng sambil menepuk dada sendiri.

"Aku kira siapa yang telah bergebrak dengan nona di dalam kamar, rupanya kau...."

"Ngaco belo! Ayoh enyah dari sini!"

Bentak Pek Kungie marah.

Siauw Leng tertawa cekikikan, ia letakkan lampu lentera itu di atas meja kemudian putar badan dan mengeloyor pergi.

Oh Sam yang ikut menyelinap masuk ke dalam kamar, saat itu ikut melayang keluar pula dari ruangan tersebut.

Pek Kun-gie menutup pintu kembali, sambil bersandar di atas pintu ujarnya ketus.

"Malam2 buta kau menyusup masuk ke dalam kamar tidurku, sebenarnya apa maksudmu?"

Hoa Thian-hong tertawa dingin.

"Aku senang datang segera datang, kau mau apa?"

Pek Kun-gie mendengus dingin, bibirnya bergerak seperti mau mengatakan sesuatu tapi akhirnya dibatalkan kembali.

Hoa Thian-hong sendiripun merasa tiada perkataan lain yang bisa dibicarakan lagi, setelah berdiri saling berhadapan beberapa saat lamanya pemuda itu segera maju ke depan dengan langkah lebar, katanya.

"Aku mau pergi, bila ada urusan kita bicarakan besok pagi saja!"

"Siapa yang datang bersamamu?"

Tegur Pek Kun-Gie sambil tetap menghadang di depan pintu kamar.

"Seandainya sekali hantam kulancarkan sebuah pukulan dahsyat, rasaaya tidak sulit untuk membinasakan dirinya, Cuma,"

Pikir si anak muda itu ragu-ragu. Akhirnya ia tak tega dan menjawab dengan suara hambar.

"Seorang sahabatku menunggu diluar ia tak enak ikut masuk kesini!"

"Hrnmm! Manusia macam apapun kau gauli,"

Sindir Pek Kun-Gie sambil mencibirkan bibirnya.

"Makin hari kau semakin cabul, apakah tidak takut menjadi nama baik keluargamu!"

Hoa Thian-hong tahu yang dimaksud gadis ini pasti Giok Teng Hujien, dengan alis berkerut ia segera tertawa dingin.

"Aku lihat ada baiknya kau kurangi sindiranmu terhadap orang lain, aku orang she Hoa merasa bahwa setiap tindakanku adalah jujur dan terbuka, siapa cabul siapa tidak aku punya pandangan sendiri"

"Oooh......! jadi kau anggap aku Pek Kun-Gie adalah seorang perempuan cabul..?"

Teriak gadis itu dengan wajah berubah.

"Aku tak mau perduli perempuan apakah dirimu itu..."

Mendadak satu ingatan berkelebat pada benaknya, ia segera berpikir.

"Buat apa aku bicarakan urusan yang tak berguna dengan dirinya?... Lebih baik membungkam saja...."

Terdengar Pek Kun-gie berkata lagi dengan suara dingin.

"Jangan kau anggap pihak Thong-thian-kauw benar-benar mampu untuk melindungi keselamatanmu. jika sungguh terjadi bentrokan, siapapun akan berusaha menghabisi jiwamu"

"Haaah... haaah.... haaah.... tentang soal itu kau tak usah kuatir, nyawa toh milikku sendiri. Aku jauh lebih jelas menilai diriku sendiri daripada kau! "

Mendadak terdengar suara bentakan-bentakan keras berkumandang datang dari tempat kejauhan, sepasang biji mata Hoa Thian-hong segera berputar, katanya sambil tertawa.

"Aaaah... mereka sudah mulai bertempur! aku mau tengok kesana!"

Dengan tenaga yang besar dia getarkan lengan kirinya sehingga membuat tubuh gadis itu terpental sejauh lima depa, buru-buru pemuda itu membuka pintu kamar dan kabur keluar.

Pek Kun-gie merasa gusar bercampur mendongkol.

sambil ikut mengejar keluar teriaknya gusar.

"Biar siluman rase itu yang datang cari kemari!"

Hoa Thian-hong pura-pura tidak mendengar, iapun tak menggubris bagaimana keadaan dari Giok Teng Hujien, bagaikan bintang yang jatuh dari langit tubuhnya segera melayang keluar dari pekarangan dan selalu dari situ.

Ketika tiba di pusat kota tiba-tiba dari arah belakang ia dengar ada orang menyusul datang, dengan cepat pemuda itu menoleh.

tampak Giok Teng Hujien sambil membopong rase saljunya dengan senyum dikulum sedang menguntil di belakang tubuhnya.

Hoa Thian-hong tersenyum.

"Cici, di dalam sekte agama Thong-thian-kauw, sebenarnya apa jabatanmu?"

"Pengawas dari sepuluh sektor, tidak kecil bukan?"

"Benar! pengawas dari sepuluh ketua sektor memang suatu kedudukan yang sangat terhormat, dengan jabatanmu itu pergi mengacau kantor cabang orang, apakah kau tidak malu ditertawakan oleh sesama sahabat kangouw?"

"Fuui! bocah kurangajar, kesemuanya ini bukankah gara-gara kau yang bikin onar!"

Hoa Thian-hong tertawa nyaring, setibanya di perempatan jalan kedua orang itu berpisah, pemuda itu segera berangkat pulang ke rumah penginapannya.

Setibanya di rumah penginapan, Hoa Thian-hong membuka kamar tidur Ciong Lian-khek.

Ia lihat jago bercambang itu sedang duduk bersemedi sedang Chin Giok-liong sudah terlelap tidur, maka iapun kembali ke kamarnya sendiri untuk beristirahat.

Semalam berlalu dengan secepatnya, hari kedua pagipagi sekali Hoa Thian-hong telah bangun, sebelum ia turun dari pembaringan tiba-tiba Ciong Lian-khek berjalan masuk ke dalam kamar diikuti penerima tamu she-Sun dari perkumpulan Hong-im-hwie serta Ciau Khong ketua kantor cabang kota Cho Ciu.

Hoa Thian-hong tahu bahwa urusan pasti luar biasa, buru-buru ia turun dari pembaringan dan menyapa kedua orang itu.

Selesai memberi hormat dari sakunya Ciau Khong ambil keluar sebuah kartu undangan merah yang besar dan diangsurkan ke tangan pemuda itu.

Di atas kartu merah tadi tercantumlah beberapa huruf yang berbunyi demikian.

"Hormat kami. Jin Hian ketua dari perkumpulan Hong-im-hwie"

Terdengar Ciau Khong berkata.

"Sebetulnya ketua kami akan berkunjung sendiri kemari, tetapi berhubung masih banyak urusan yang harus diselesaikan maka sulit bagi beliau untuk berkunjung sendiri, karena itu aku sengaja diutus datang kemari untuk menyampaikan rasa kagum kami terhadap dirimu"

"Jin Hian adalah pemimpin dari suatu perkumpulan besar"

Pikir Hoa Thian-hong dalam hati."

Soal undangan walaupun enteng tapi gengsinya luar biasa, belum lama aku terjun ke dalam dunia persilatan.

Kalau berbicara menurut peraturan dunia persilatan, sepantasnya kalau akulah yang melakukan kunjungan kepadanya"

Berpikir sampai disitu dia segera menjura dan berkata.

"Aku tiada berbudi dan berkemampuan, tidak berani kuharapkan kunjungan dari Jien Tang-kee, harap Ciauheng suka menyampaikan kepada ketua kalian, katakan saja besok sore aku pasti akan datang berkunjung ke kantor cabangmu untuk mengucapkan terima kasih kepada Jien Tang-kee!"

Ciau Khong mengiakan beralang kali, setelah memberi hormat diapun mohon pamit dan berlalu.

Dari sikap maupun nada ucapannya yang begitu menghormat seakan-akan memperlihatkan bahwa dalam semalaman saja nilai Hoa Thian-hong sudah meningkat berlipat li pat ganda.

Selesai sampan pagi, seorang pelayan muncul menyampaikan sebilah pedang baja.

Ciong Lian-khek terima pedang itu sambil ujarnya.

"Pedang ini sengaja kusuruh orang untuk membuatnya semalam, mumpung sekarang tak ada urusan, mari kita berlatih diluar kota. Hoa Thian-hong merasa amat berterima kasih atas perhatian orang, sambil membawa serta Chin Giok-liong mereka tinggalkan rumah penginapan dan menuju keluar kota. Di suatu tempat yang sunyi, Hoa Thian-hong terima pedang baja itu dan menimang2nya sebentar, lalu berkata.

"Pedang baja milikku itu terbuat dari baja yang dilapisi besi murni, berat keseluruhannya mencapai enam puluh dua kati, aku rasa pedang ini jauh lebih kecil, beratnya hanya mencapai tiga puluh tiga kati dan merupakan separuh dari senjataku itu, entah cocok tidak bila kugunakan nanti?"

"Baja Hian-tiat adalah benda yang tak ternilai harganya, sekalipun ada uang juga belum tentu bisa dibeli. Senjata tajam keluaran dari kota Cho-Ciu sudah tersohor di seluruh kolong langit, bila kau mengatakan kurang bagus, yaah. apa boleh buat, tak mungkin mereka sanggup membuatkan yang lebih baik lagi."

Ia berpikir sebentar, lalu tambahnya.

"Sekarang coba kau mainkan dulu ilmu pedangmu, aku pingin tahu sampai dimanakah kehebatannya."

Hoa Thian-hong tertawa, sambil memegang pedang baja itu dia maju ke tengah kalangan, setelah hening sejenak kaki kirinya melangkah maju setindak ke muka, pedang di tangan kiri mengayun ke atas dan laksana kilat lancarkan sebuah babatan maut.

"Sreeeet....!"

Desiran angin pedang bergema memekik telinga, suara dengungan akibat getaran di tubuh pedang itu berbunyi nyaring dan tajam, seolah-olah pedang tersebut akan terpatah jadi beberapa bagian.

"Usahakan sekuat tenaga untuk mengatur hawa murnimu!"

Seru Ciong Lian-khek dengan suara dalam.

Hoa Thian-hong menyadari bahwa pedang baja itu tak kuat menahan getaran hawa murninya, sekuat tenaga ia berusaha membendung penggunaan hawa murninya yang hebat dengan sangat hati-hati setiap babatan dilancarkan.

Jumlah jurus dalam ilmu pedangnya itu hanya enam gerakan belaka, walaupun Hoa Thian-hong mainkan dengan gerakan lambat namun dalam sekejap seluruh gerakan itu telah selesai dimainkan.

Hoa Thian-hong pun tarik kembali pedangnya sambil berdiri keren, ujarnya.

"Cianpwe adalah seorang ahli pedang kenamaan......"

"Kau tak usah sangka-sangka terhadap diriku!"

Tukas Ciong Lian-khek sambil goyangkan tangannya.

"Aku adalah Seorang manusia yang sudah mati separuh, selama kau ada niat untuk mengatur dunia persilatan maka aku akan menjadikan diri untuk membantu usahamu dalam dunia kangouw, tak ada perbedaan tingkat kaum enghiong tak ada perbedaan usia, kita tak usah gubris apakah itu cianpwee atau boanpwee, selama kau berani meneriakkan keadilan dalam dunia persilatan aku akan selalu mendukung cita-citamu tiap orang berusaha dan berjuang menurut kemampuan masingmasing, siapapun tidak mengurusi satu sama lainnya, bukankah begitu jauh lebih bagus?"

Hoa Thian-hong merasa sangat terharu sehingga tanpa terasa air mala jatuh bercucuran membasahi pipinya, buru-buru ia berseru.

"Baiklah, akan kulatih kembali degan seksama, mungkin karena sudah lama, ilmu itu tersia-sia kesaktiannya serta kemujijatan gerakan jurus ilmu pedang itu sendiri, asal kau suka berlatih giat hingga pedang yang enteng itu dapat kau gunakan untuk melawan musuh tanpa berhasil dipatahkan lawan, maka tenaga dalammu berarti telah memperoleh kemajuan satu tingkat"

Mendengar perkataan Hoa Thian-hong jadi tertegun.

"Selama ini belum pernah aku memikirkan soal itu, sedikitpun tidak salah! Seandainya sekarang aku berlatih dengan memakai pedang ini, kemudian ganti memakai pedang biasa, bukanlah selanjutnya aku berlatih dengan memakai pedang bambu atau pedang kayu? dasar belajar silat rupanya satu sama lain adalah sama dan tidak jauh bedanya"

"Ucapan tepat sekali!"

Jago pertambangan sangat membenarkan.

Tempo dulu Hoa Thian-hong sendiripun pernah merasakan, dengan hanya andalkan sebuah jurus pukulan 'Kun-siu-ci-tauw' saja tidak cukup baginya untuk menghadapi para jago lihay dengan ilmu silat yang beraneka ragam, tapi berhubung pedang bajanya telah ditahan oleh Ciu It-bong dan ia tidak berhasil menemukan senjata tajam yang cocok banyaknya, maka persoalan itu untuk sementara waktu terbengkalai.

Sekarang setelah disadarkan kembali oleh Ciong Liankhek, ia baru sadar bahwa senjata tajam bukanlah masalah yang penting, asal dia melatih diri dengan giat maka akhirnya menggunakan senjata tajam macam apapun tak ada bedanya satu sama lain.

Tanpa terasa semangat segera berkobar, niat untuk melatih diri pun semakin menebal.

Sekali lagi ia pasang kuda2 dan mengulangi kembali permainan ilmu pedangnya, tapi berhubung penggunaan hawa murni yang tidak sesuai bisa mengakibatkan patahnya pedang baja itu' maka meskipun gerakannya dilakukan sangat lambat' pemuda itu justeru merasa semakin payah.

baru berlatih beberapa saat sekujur badannya telah basah kuyup oleh keringat.

Selama ini Chin Giok-liong hanya duduk disisi kalangan dengan pandangan mendelong dan bodoh, sedangkan Ciong Lian-khek pusatkan seluruh perhatiannya menyaksikan permainan pedang pemuda itu, sesaat kemudian tiba-tiba ia angkat kepala dan berpaling ke arah tembok kota.

Kiranya diantara lekukan tembok kota duduklah seorang kakek tua yang gemuk pendek dan berwajah merah bercahaya sedang mengawasi Hoa Thian-hong berlatih pedang, tatkala Ciong Lian-khek menoleh ke arahnya, kakek gemuk itu segera menggerakkan bibirnya membisikkan sesuatu dengan ilmu menyampaikan suara, kemudian perhatiannya dicurahkan kembali ke arah permainan pedang si anak muda itu.

Setelah berlatih kurang lebih satu jam kemudian, sekujur badan Hoa Thian-hong telah basah kuyup oleh air keringat, napasnya tersengkal2 bagaikan kerbau Ketika itulah mendadak kakek gemuk di atas tembok kota itu menyentilkan sebutir batu kerikil menghantam ujung pedang baja di tangan Hoa Thian-hong.

Sementara itu seluruh perhatian yang dimiliki si anak muda itu sedang dicurahkan dalam permainan jurus pedangnya, begitu merasakan datangnya ancaman dari luar, hawa murninya segera disalurkan semakin hebat menelusuri tubuh pedang itu.

"Criiing...!"

Diiringi suara dentingan nyaring, pedang baja yang besar dan kasar itu seketika putus jadi empat lima puluh potongan kecil dan berceceran di seluruh angkasa Hoa Thian-hong yang sedang pusatkan seluruh perbatiannya berlatih ilmu pedang hingga berada dalam keadaan lupa diri, sewaktu melihat pedang bajanya secara tiba-tiba tergetar patah jadi amat terperanjat, tubuhnya dengan tangkas berkelit ke samping meloloskan diri dari sambitan kutungan pedang itu, sedang matanya dengan tajam menyapu sekeliling tempat itu mencari asal datangnya serangan bokongan itu.

Rupanya si kakek gemuk yang berada di atas tembok kota itu tiada maksud berjumpa dengan pemuda itu, badannya dengan cepat menyusup ke bawah dan menyembunyikan diri dibalik tembok kota.

Dalam pada itu Ciong Lian-khek telah maju menghampiri dirinya sambil berkata.

"Nanti aku akan suruh ahli besi buatkan sebilah pedang lagi untukmu, kini sudah mendekati tengah hari, bagaimana dengan racun teratai yang mengeram di dalam tubuhmu?"

Sesudah bergaul agak lama dengan jago buntung isi, lama kelamaan Hoa Thian-hong sudah lupa dengan kebiasaannya, melihat wajahnya murung dan menguatirkan persoalan itu, buru-buru ia tertawa paksa.

Racun teratai sudah akan mulai kambuh, biar kulatih dulu serangkaian ilmu pukulan tangan kosong"

Sambil maju beberapa langkah ke depan, ia segera rentangkan telapaknya dan mulai berlatih Tiba-tiba Ciong Lian-khek meloloskan pedangnya yang tersoren d ipunggung, ia berseru.

"Mari aku temani dirimu bermain beberapa gebrakan!"

Pedang digetarkan dan segera terpisah mengancam beberapa bagian tubuh pemuda itu.Hoa Thian-hong melengos ke samping, telapaknya langsung ditadok kemuka....

suatu pertarungan serupun segera terjadi diantara dua orang jago lihay itu.

Ilmu pedang yang dimiliki Ciong Lian-khek ganas, tajam dan telengas, setiap gerakannya cepat laksana sambaran kilat.

Dengan susah payah Hoa Thian-hong masih sanggup mempertahankan diri, kurang lebih setelah lewat seratus gebrakan, mendadak racun teratai yang mengeram dalam tubuhnya mulai kambuh, sekujur tubuhnya terasa linu dan amat sakit.

Dengan kambuhnya racun teratai, hawa murni yang bergolak dalam tubuhnya semakin berlipat ganas, cuma sayang pikirannya tak tenang.

Menghadapi ilmu pedang Ciong Lian-khek yang cepat dan ganas benar-benar tidak sesuai Beberapa saat kemudian, sebuah tabasan pedang jago bercabang itu berhasil mampir di atas bahu Hoa Thianhong, ia segera melompat mundur ke belakang sambil berseru.

"Cepatlah pergi lari racun, pertarungan ini kita lanjutkan besok pagi saja!"

Dalam peristiwa yang terjadi kemarin siang, secara kebetulan saja aku berhasil lolos dari tangan Cu Goankhek"

Pikir Hoa Thian-hong di dalam hati."

Kejadian semacam ini setiap saat bisa jadi terulang kembali, mumpung sekarang ada kesempatan aku musti berusaha keras untuk menahan siksaan dan berlatih giat, dari pada sampai menghadapi keadaan seperti ini aku jadi bingung dan gelagapan"

Berpikir sampai disitu ia segera ambil keputusan dengan menahan rasa sakit berlatih terus.

"Ayoh kita lanjutkan bergebrak!"

Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 5

Baca Juga: Bangau Sakti 29

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert