Eps 7 Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen
Baca online Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen
Cersil Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen.
Dan kata-katanya ini ia akhiri dengan serangannya, beruntun beberapa kali, semua dengan gerakan sangat gesit, tetapi di antaranya ada yang gertakan belaka.
Anghoa Kuibo tidak pernah menduga, untuk penyerangan semacam ini, iapun merasa aneh atas gerakan-gerakannya ilmu pedang itu, tanpa merasa ia kena didesak mundur.
Untung dia mempunyai kepandaian yang liehay, kalau lain orang yang menghadapi nona itu, mungkin telah menjadi.korbannya.
To It Hang yang saksikan pertempuran itu diam-diam hatinya girang, hingga ia 1upa kepada paman gurunya, Pek Sek Toojin, yang telah mendapat luka parah.
Tiat Hui Liong sebaliknya merasa kuatir menampak jalannya pertempuran itu.
"EnCie Lian menang cerdas, perempuan tua siluman itu bukanlah tandingannya,"
It Hang kata.
"Masih terlalu siang pendapatmu!"
Berkata Hui Liong.
It Hang terus memandang kepada pertempuran, tetapi segera ia menjadi kuatir, karena cepat sekali ia tampak perubahan.
Dari terdesak dan repot menangkis, sekarang Anghoa Kuibo sudah mulai membalas menyerang, berbalik dia merangsek.
Hebat adalah tangan kirinya, yang saban-saban menyambar lowongan selagi tongkatnya melayani pedang si nona.
Dari pihak penyerang, Giok Lo Sat sekarang berbalik menjadi pihak pembela diri, pedangnya seperti tak dapat digunakan lagi untuk menyerang.
Malah sekarang sinar tongkatlah yang berkelebatan tak hentinya, seperti mengurung si nona.
Dalam keadaan seperti itu Giok Lo Sat mesti lakukan perlawanan sungguh-sungguh.
Karena ini juga, keduanya bergerak sangat cepatnya.
It Hang menggigil sendirinya menyaksikan kehebatan itu.
Akan tetapi sebaliknya Tiat Hui Liong, dari merasa kuatir, sekarang dia nampaknya berlega hati.
Malah jago tua ini segera berkata.
"Walaupun ilmu silatnya perempuan siluman itu sangat mahir, kini dia tidak dapat berbuat sesuatu terhadap Giok Lo Sat..."
Giok Lo Sat gesit, tadi ia menang di atas angin karena kecerdikannya, tapi lawannya pun memang benar-benaV liehay.
Nyonya tua ini ada lebih gagah daripada Tiat Hui Liong.
Di mana Giok Lo Sat cuma sedikit lebih atas daripada ayah angkatnya itu, iapun kalah daripada si nyonya.
Tambahan pula nyonya inipun sangat berpengalaman.
Tadi dia didesak karena terbangkit hawa amarahnya yang menjadikan dia mendongkol, setelah kena didesak, segera dia insyaf.
Maka lantas dia dapat tenangkan diri, lalu dia berkelahi dengan tenang dan sungguh-sungguh.
Setelah tiga puluh jurus, dapat dia perteguhkan kedudukannya, cepat dia berubah menjadi pihak penyerang, karena dengan tangan kirinya yang liehay -tangan Toksee Ciang yang beracun --membantu banyak tongkatnya yang tak kurang liehaynya itu.
Maka lawannya lantas seperti kena terkurung tongkat dan tangan kirinya itu.
Suasana yang berbalik itu membikin tetap hatinya Anghoa Kuibo, hingga pikirnya segera ia akan dapat rebut kemenangan.
Akan tetapi Giok Lo Sat sangat mantap hatinya dan cerdas otaknya, walaupun dia telah terangsek, dia tidak menjadi gugup dan kalut pikirannya, sama sekali dia tidak menjadi takut.
Dengan kelincahannya dia menghindarkan diri dari setiap saat berbahaya.
"Hebat..."
Akhirnya Anghoa Kuibo mesti akui kegagahan lawannya itu.
Karena ini, dalam penasaran, ia perhebat serangannya.
Tibalah saat yang sangat berbahaya bagi Giok Lo Sat, setelah didesak secara demikian, satu kali ujung tongkat menyambar kepadanya.
Tidak ada ketika untuk menangkis, juga berbahaya untuk ia lompat berkelit.
Tapi nona ini tidak gempur hatinya, ia tetap tabah.
Di dalam keadaan bahaya itu, ia sambuti ujung tongkat dengan ujung pedangnya.
Agaknya ia membela diri dengan menahan senjata lawan.
Tapi ia bukan cuma pertahankan diri, ia mempunyai maksud lain.
Dengan mengamprokkan kedua ujung senjata, ia justeru hendak pinjam tenaga lawan.
Selagi kedua senjata bentrok, mendadak ia menjejak tanah untuk mengapungkan diri.
Dan ia berhasil meminjam tenaga lawannya.
Tapi ia tidak berhenti sampai kepada pembelaan diri saja justeru sedang tubuhnya mencelat maka pedangnya, yang ia telah tarik pulang dengan sebat, ia teruskan menyerang musuh dari atas selagi tubuhnya mengapung!
Anghoa Kuibo terperanjat untuk liehaynya nona ini, ia mundur sambil menangkis.
Dengan begitu, si nona dapat menaruh kaki dengan tidak kurang suatu apa, hingga ia dapat bersiap sedia untuk mulai dengan pertandingannya lebih jauh, yang telah berlangsung pula banyak jurus.
Setelah hatinya Hui Liong lega, ingatlah ia kepada Pek Sek Toojin.
"Coba tengok paman gurumu,"
Ia kata kepada It Hang.
Pemuda itu seperti baru sadar, tidak membuang tempo lagi ia bertindak dengan cepat kepada paman gurunya itu.
Pek Sek Toojin duduk termangu, kedua matanya dimeramkan.
Ia sedang bersemedhi.
Ketika ia dengar suaranya Hui Liong, ia buka kedua matanya, wajahnya nampaknya gusar.
Tiat Hui Liong juga menghampirkan.
"Inilah obat manjur untuk melawan racun/' kata dia yang keluarkan dua butir obat pulung. Imam itu menggeleng kepala, ia tidak mengucap apa-apa. Ia sudah makan obat buatannya sendiri, obat Butong pay, maka tak sudi ia makan lain obat lagi, apapula obatnya pihak musuh. Ia telah anggap Hui Liong dan Giok Lo Sat sebagai musuh-musuh. Hui Liong mendongkol berbareng geli di hati. Ia segera dekati kupingnya imam itu katanya.
"Aku tidak suka menghadapi seorang kenamaan terbinasa secara demikian kecewa. Obatmu itu cuma dapat menahan untuk sementara waktu, tetapi obatku adalah obat yang tepat. Kalau toh kau tidak puas, tidak apa kau makan dulu obatku ini, nanti setelah kau sembuh, kau boleh tetapkan hari untuk kita bertanding."
Pek Sek berdiam, ia tutup rapat kedua matanya.
TiatHui Liong jadi mendongkol sekali, tiba-tiba ia ulur sebelah tangannya ke muka imam dari Butong pay itu yang ia pencet.
Pek Sek Toojin terkejut, ia buka mulut tanpa ia kehendaki.
Tapi, baru saja ia buka mulutnya atau dua butir obat telah diceploskan oleh Hui Liong ke dalam mulutnya itu, malah obat itu segera ia kena telan!
Benar mujarab obatnya orang she Tiat itu, begitu obat masuk ke dalam perut, si imam lantas merasakan sedikit hawa panas; tapi untuk sebentar saja rasa panas itu telah hilang, lalu ia merasakan tubuhnya lebih enak.
Hingga terpaksa ia bungkam terus, tidak lagi ia umbar kemarahannya Hui Liong mengawasi, ia tertawa sendirinya.
"Pamanmu ini berkepala batu tanpa alasan!"
Kata ia pada It Hang. Sambil berkata demikian, ia tarik pemuda itu mendekati padanya, lalu sambil buka kancing bajunya sendiri, ia kata kepada pemuda ini.
"Kau lihat ini!"
It Hang terkejut.
Ia dapatkan kaca pelindung di depan dadanya orang tua itu telah pecah remuk, apabila tidak ada kawat-kawat pegangannya, semua pecahan kaca tentulah telah jatuh belarakan.
Hui Liong mengancing pula bajunya, ia tertawa.
"Tanpa kaca pelindung ini, pasti akupun terluka hebat,"
Dia kasih keterangan.
"Paman gurumu ini telah terhajar Anghoa Kuibo yang kuat sekali tenaga dalamnya, maka itu, walaupun sekarang dia dapat ditolong dari bahaya maut, untuk ia dapat pulih kembali, kurasa ia membutuhkan tempo sedikitnya satu bulan..."
It Hang terperanjat, ia berkuatir, tapi di samping itu ia berlega hati karena ia sendiri tidak terluka Inilah disebabkan nyonya tua itu merasa kasihan kepadanya.
Karena ini, ia sedikitpun tidak benci nyonya tua itu.
Tetapi ketika ia ingat kepada Giok Lo Sat, timbullah kekuatirannya bahaya yang dihadapi nona itu.
Bukankah si nona sedang adu jiwa dengan nenek liehay itu?
Bagaimana andaikata si nona terluka seperti pamannya ini?
Segera It Hang berpaling ke arah pertempuran.
Sekarang pertandingan itu telah memperlihatkan perubahan pula.
Tongkatnya Anghoa Kuibo telah bergerak ke barat dan ke timur, sesuatu serangannya nampaknya sangat berat, tetapi sekarang, gerak-gerakannya banyak lebih kendor daripada tadi.
Tetapi gerakannya Giok Lo Sat juga turut berubah, dia tampaknya tidak hanya tidak dapat menyerang, bahkan tak dapat meloloskan diri.
Maka itu, dengan cara berkelahi ini, kedua tubuh mereka, setiap gerakannya, jadi tertampak tegas, hingga mereka nampaknya bukan sedang berkelahi, tapi sedang berlatih...
Toh wajah mereka sama bersungguhsungguh, malah si nona yang biasanya tertawa, sekarang bersenyum pun tidak, kedua matanya terus ditujukan kepada gerak tongkat lawannya itu.
Ternyata Anghoa Kuibo, setelah melayani demikian banyak jurus dengan sia-sia, menjadi gelisah sendirinya.
Insyaflah ia sekarang akan liehaynya si nona, yang tadinya ia tidak pandang mata.
Terpaksa, untuk rebut kemenangan atau untuk membela muka, ia keluarkan ilmu silatnya yang istimewa, ialah "Thayit Hiankong".
Dengan gunai ilmu silat ini, ia telah pindahkan tenaganya kepada genggamannya.
Giok Lo Sat menjadi heran begitu lekas si nyonya tua menukar siasat.
Ia merasa sulit untuk datang terlalu dekat kepada lawan yang tua ini.
Begitu lekas pedangnya bentrok dengan tongkat si nenek, ia merasa pedangnya itu seperti terbetot besi berani, dan makin keras bentroknya, makin kuat juga tenaga membetot itu.
Oleh karena ini, meskipun ia mahir mainkan pedang, sekarang ia repot juga.
Tongkatnya si nyonya tua, walaupun gerakannya tampaknya pelahan, tetapi ujungnya senantiasa mencari jalan darah.
Inilah yang membuat si nona gelisah, sedikit saja ia berlaku alpa dan ayal.
ia bisa celaka Terpaksa ia mesti utamakan pembelaan diri.
Ia mesti main mundur, karena untuk maju ketikanya sudah tidak ada.
Benarbenar ia telah terkurung secara istimewa itu.
Sesudah mengawasi dengan seksama, It Hang kata pada Hui Liong.
"Baik suruh dia angkat kaki!"
Pikirnya, walaupun jago tua ini tidak bisa lawan si nenek, namun untuk bantu i Giok Lo Sat meloloskan diri, tentulah dia sanggup. Tiat Hui Liong menghela napas, kepalanya digoyanggoyangkan.
"Tadi masih bisa, sekarang sudah terlambat,"
Ia jawab.
"Sekarang ini kecuali Cie Yang Toojin hidup pula atau Thian Touw Kiesu yang datang kemari, sudah tidak ada orang yang ketiga yang sanggup memisahkan kedua orang ini..."
It Hang kaget bukan main.
Ia segera menoleh pula ke arah kedua orang yang sedang adu jiwa itu.
Kembali ia menjadi kaget.
Justeru ia lihat tongkat si nenek menyambar ke kepalanya Giok Lo Sat selagi pedang si nona terangkat di samping hingga satu lowongan telah terbuka.
Hampir ia menjerit, syukur Hui Liong keburu membekap mulutnya.
"Jangan bersuara, nanti kau bikin anakku kaget dan pecah pemusatan pikirannya,"
Jago tua ini berbisik.
It Hang berdiam, matanya terus mengawasi.
Ia dapat kenyataan tongkat si nenek, selagi mendekati kepalanya si nona, mendadak miring sendirinya, entah apa sebabnya, hingga ia jadi heran.
"Ilmu pedangnyaNie Siang benar-benar luar biasa!"
Hui Liong kata sambil tertawa perlahan.
"Bagus sekali tangkisannya barusan, hingga ia dapat meloloskan diri. Inilah tidak aku sangka!..."
Orang tua ini angkat tangan bajunya, untuk dipakai menyeka peluh di dahinya yang mengucur keluar dengan tibatiba.
Maka tahulah It Hang, bahwa tadi si orang tua tak kalah berkuatirnya daripada ia sendiri.
Memang berbahaya ancaman kemplangan Anghoa Kuibo tadi, akan tetapi Giok Lo Sat dengan menempuh bahaya, cepat-cepat menikam iga lawan kepada jalan darah Ciangbun hiat.
Kalau si nenek tidak tolong diri, dia bakal bercelaka bersama si nona.
Maka itu, karena dia sayang jiwa, dia tolong diri dengan egoskan tubuhnya hingga dengan sendirinya sasaran tongkatnyapun turut gagal.
"Ilmu dalamnya (lweekang) bocah ini kalah mahir daripadaku, maka untuk apa aku layani dia sama-sama menempuh mala petaka? Baiklah aku kurung padanya, supaya dia lelah sendirinya..."
Maka, lantas ia bersilat dengan Thayit Hiankong itu, hingga si nona benar-benar tidak bisa menyerang juga tidak bisa mundur.
Sebagai ahli, Hui Liong dapat lihat perubahan suasana itu, ia mulai berkuatir pula untuk anak angkatnya.
"Satu kali Anghoa Kuibo peroleh ketenangannya, itulah berbahaya bagi Nie Siang,"
Pikir orang tua ini.
"Walau Nie Siang liehay, tidak dapat ia bertahan terlalu lama..."
Gelisahnya orang tua ini karena ia sendiri tidak mampu maju untuk mencegah.
It Hang tidak mengerti tapi, melihat si orang tua keluarkan keringat pula, ia turut menjadi gelisah dan berkuatir.
Iapun lihat roman yang bersungguh-sungguh dari Giok Lo Sat.
Ia jadi sangat menyesal karena ia juga tidak bisa berbuat lain daripada menyaksikan saja...
Hui Liong tapinya berpikir keras.
Mendadak ia ingat sesuatu hingga tanpa merasa ia adu kedua telapak tangannya, sampai perdengarkan tepukan yang nyaring.
It Hang lihat tingkah laku orang, ia heran.
"Mungkinkah orang tua ini terganggu urat syarafnya?"
Ia menduga-duga.
Tidak hanya orang yang menonton gelisah hatinya, juga mereka yang sedang adu kepandaian itu.
Anghoa Kuibo semula menduga, dalam lima puluh jurus ia akan sudah dapat robohkan lawannya, tapi ternyata sekarang, sesudah berlangsung seratus jurus lebih, ia cuma menang di atas angin tapi nona itu belum dapat dikalahkan, si nona tetap dapat bertahan diri dengan ulet.
Sebaliknya ia dengan gunakan ilmu silatnya itu, telah memakai tenaga yang istimewa, maka kalau pertandingan berlanjut terus, seandainya menangpun akhimnya ia akan dapat sakit.
Giok Lo Sat sendiri gelisah karena ia sudah bertempur sekian lama, ia cuma menjadi pihak pembela diri.
Ia menginsyafi bahwa keadaan ini berbahaya baginya.
Dengan tidak bisa balas menyerang atau mundur, tidakkah ia seperti sedang tunggui kematiannya?
Adalah sedangnya ia berpikir keras, ia dengar tepukan tangan.
Tiba-tiba saja ia sadar!
Lian Nie Siang ketahui baik, dalam lweekang --ilmu dalam --kalah dari nenek itu, karena itu, tidak berani ia adu keras dengan keras, akan tetapi untuk menyingkir dari bahaya mampus tanpa berdaya, ia harus berani menempuh bahaya juga.
Maka diam-diam ia kertek gigi, kumpulkan tenaga dalamnya, untuk bersiap sedia di saat yang paling berbahaya.
Saat berbahaya itu tak usah ditunggu lama.
Karena Anghoa Kuibo senantiasa mencarinya.
Saat itu digunakan dengan penyerangannya yang dahsyat.
Giok Lo Sat berlaku nekat, ia lintangkan pedangnya untuk menangkisnya.
Dengan tidak dapat dicegah lagi, tongkat dan pedang bentrok dengan keras, sampai lelatu apinya meletik ke empat penjuru.
Giok Lo Sat terpental mundur sampai tiga tindak, syukur ia tidak roboh terguling.
Anghoa Kuibo tidak terpental mundur, tetapi ia tidak dapat pertahankan kuda-kudanya, tubuhnya terhuyung dua kali, hingga menjadikan dia kaget bukan main.
Segera setelah bentrokan ini hatinya Giok Lo Sat menjadi besar.
Kiranya masih dapat ia bertahan diri dari lweekangnya nyonya tua itu.
Timbulah keberaniannya.
Maka dengan tak kuatir bentroknya pula senjata-senjata mereka, ia maju pula untuk menyerang dengan bengis.
Anghoa Kuibo heran dan kagum untuk tenaga dalam nona ini.
Dengan itu telah ternyata babwa lweekang mereka tidak beda banyak terpautnya.
Sedang sebenarnya tenaganya itu berkurang sebab tadi ia telah layani lama pada Pek Sek Toojin dan kemudian juga Tiat Hui Liong, hingga mau tidak mau tenaganya telah berkurang dengan sendirinya.
Amarah dan kemendongkolannyapun telah mengurangi tenaga dalamnya itu karena ia kehilangan ketenangan diri.
Apabila tidak demikian, dengan Thayit Hiankong, sebelum seratus jurus, seharusnya ia sudah dapat robohkan nona lawannya itu.
Hui Liong terus memasang mata, kembali ia bernapas lega, diam-diam ia tertawa dalam hatinya, karena siasatnya tadi telah berhasil.
Memang ia sengaja waktu ia bangkitkan amarahnya Anghoa Kuibo, sampai ia tempur nyonya itu dan akhirnya ia adu orang dengan anak angkatnya, supaya anak angkat yang lincah dan cerdik ini dapat gunai kecerdasannya.
Giok Lo Sat tidak kenal patkwa tapi gerak tubuhnya sangat enteng dan gesit, maka itu, dapat ia berkelahi di dalam tin batu itu, yang lebih dahulu sudah rusak diubrak-abrik Hui Liong.
Kembali pertempuran berjalan seru, sebab walaupun Giok Lo Sat menyerang hebat tapi si nenek masih tetap gigih.
Si nenek hanya heran, dia merasakan dirinya demikian kesohor dan kosen, sekarang dia harus bertempur dengan satu bocah yang sama tandingan.
Tentu sekali dia jadi sangat penasaran.
Kembali sekian lama, lalu mendadak Anghoa Kuibo menyerang dengan tangan kirinya yang liehay.
Giok Lo Sat lihat serangan itu, ia berkelit.
Tapi justeru ia egos tubuhnya, lawan yang tua itu seret tongkatnya dan lompat keluar kalangan.
Inilah satu gerakan luar biasa.
Menampak demikian.
Giok Lo Sat tertawa.
Tanpa berayal lagi, iapun enjot tubuhnya lompat menyusul, lalu dengan tubuh masih di atas, ia menyerang.
"Waspada, anak Siang!"
Hui Liong berseru memperingatkan.
Berbareng dengan itu Anghoa Kuibo mengayunkan sebelah tangannya, lantas melesatlah tiga sinar merah mencorong, menyambar ke arah musuhnya.
Giok Lo Sat lihat senjata rahasia itu, ia rupanya telah siap sedia, ia dapat mengelakkan diri dan lolos dari serangan mendadak itu.
"Hai, kau mainkan peran apa?"
Tegurnya sambil tertawa.
Sedangnya nona ini pentang mulutnya, satu sinar merah seperti tadi menyambar pula padanya, kali ini tepat masuk ke dalam mulutnya itu, menyusul mana, si nenek liehay maju menyerang dengan tongkatnya.
Serangan tongkat ini hebat sekali.
Giok Lo Sat tidak dapat berkelit lagi, tetapi ia tidak kurang daya ia menyambut dengan ujung pedangnya, lalu dengan kerahkan tenaganya meminjam tenaga tongkat ia mencelat mundur sampai setombak lebih, ketika iajatuh di tanah dengan kedua kaki berdiri, ia cuma terhuyung sedikit!
To It Hang kaget bukan main, tetapi Tiat Hui Liong bersenyum.
Anghoa Kuibo merasa sangat puas, berulang kali ia perdengarkan seruan aneh.
lantas ia lompat maju lagi, tongkatnya ditusukkan ke arah dada nona itu.
"Hai, bocah cilik, apakah kau masih tak hendak lemparkan pedangmu untuk menyerah?"
Tegurnya.
"Apakah kau hendak tunggui kematianmu?"
Giok Lo Sat tidak menjawab, dia hanya berkelit ke samping, hingga tusukan tongkat mengenai tempat kosong. Si nenek maju pula, ia membentak lagi.
"Kau telah terkena mutiaraku yang beracun, jiwamu tidak akan hidup lebih lama daripada satu jam tiga perempat, lekas kau menyerah supaya dapat aku obati padamu!"
Giok Lo Sat mundur pula, ia tak gubris peringatan itu.
"Ha, sungguh kau kepala batu, bocah!"
Pikir si nenek, yang sekarang maju dengan ulur tangannya untuk menjambak.
Kali ini si nona tidak lagi mundur, justeru ia dijambak, ia mementang mulutnya menyemburkan atau memuntahkan satu sinar merah darah yang menyambar kepada si nenek, berbareng dengan itu, pedangnyapun menyambar kepada tangan nenek itu.
Bukan kepalang terkejutnya Anghoa Kuibo.
Ia sudah menyangka si nona telah terluka, tidak tahunya, orang masih bisa melakukan perlawanan.
Dalam keadaan mogok seperti itu, ia tidak berdaya kecuali lompat mundur sambil mendahulukan tarik pulang tangannya yang dipakai menjambak itu.
Ia dapat selamatkan diri tetapi ujung bajunya telah terbabat kutung!
Giok Lo Sat tertawa gelak-gelak.
"Hai, perempuan tua siluman, masihkah kau tidak mau menyerah kalah?"
Tanyanya dengan ejekannya.
"Apakah kau hendak tunggui kematianmu?"
Nenek itu jadi sangat malu dan mendongkol. Apa yang ia namakan mutiara mustika adalah "Ciatok Cu"
Atau "mutiara merah beracun".
Itu adalah senjata rahasianya yang istimewa.
Biasanya, tidak pernah ia sembarang gunakan senjata rahasia itu.
Senjata itu terbuat dari mutiara yang direndam dalam bisa ular, sampai warna putih berubah menjadi merah tua, maka bisalah dimengerti hebatnya racun itu.
Syukur bagi Tiat Hui Liong, Bok Kiu Nio telah perlihatkan padanya tiga biji mutiara mustika itu dengan diterangkan juga tentang liehaynya, maka siang-siang ia telah bikin persediaan untuk menjaga diri, yaitu dibuatnya macam-macam obat itu, yang dibuatnya menjadi pil dan dimasukkan ke dalam mulut untuk dikemuh, guna lawan senjata rahasia beracun itu.
Untung Giok Lo Sat telah mempunyai kepandaian istimewa akan sambuti senjata rahasia dengan mulutnya tanpa terluka, karena mana, ia dapat balas menyerang lawan dengan senjata rahasia itu juga sambil dibarengi tabasan pedangnya.
Dalam murkanya, Anghoa Kuibo lompat menyerang Giok Lo Sat, pedang siapa ia sampok sehingga terpental, syukur tidak terlepas dari cekalan.
Menampak demikian, Tiat Hui Liong berteriak.
"Anghoa Kuibo, apakah benar kau tidak mempunyai muka?"
Wanita tua itu tetap bungkam, ia hanya mengulangi serangannya. Giok Lo Sat tertawa dingin.
"Perempuan siluman tua, apa lagi kepandaianmu?"
Dia sengaja menantang sambil terus melayani lawan yang sudah kalap itu.
Hingga lagi sekali mereka bertempur seru.
Setelah satu serangan, Anghoa Kuibo mundur dua tindak, sekonyong-konyong ia berlompat tinggi menyerang dari atas ke bawah.
Giok Lo Sat lihat caranya orang menyerang, dengan tangan kiri menekan belakang pedang, ia menangkis dengan pedangnya itu, hingga ketika kedua senjata beradu, terdengarlah satu suara nyaring dan panjang.
Tapi karena bentrokan itu, tongkat si nenek terpental ke samping, dari ujung tongkat mendadak muncul sebilah pisau tajam yang panjangnya kira-kira satu kaki.
Setelah ini, kembali dengan kesehatannya nenek itu menyerang pula dengan tongkatnya, dengan tambahan pisau itu menuju langsung ke ulu hati!
Dalam keadaan seperti itu, terutama disebabkan kesehatannya Anghoa Kuibo, Giok Lo Sat tidak sempat berdaya, menampak demikian Hui Liongjadi sangat gusar, karena teringatlah ia kepada lukanya Pek Sek Toojin tadi.
Ia mencelat ke dalam kalangan sambil berteriak.
"Anghoa Kuibo, kau gunai tangan jahat melayani satu anak muda, apakah kau tidak malu?"
Nyonya tua itu terkejut, rupanya ia insyaf atas teguran itu, tetapi ia sudah turun tangan, tidak dapat ia membatalkannya.
Di saat tubuh Hui Liong sampai di kalangan, ia dengar satu jeritan dari kesakitan, apabila ia telah menaruh kakinya di tanah, ia tampak Giok Lo Sat dan lawannya itu telah pisahkan diri satu dari lain, si nona sendiri beroman tabah, malah dengan tertawa dingin dia menantang.
"Mari, mari! Mari kita bertempur pula lagi tiga ratus jurus!"
Bukan main herannya ayah-angkat itu, tidak pernah ia sangka anaknya mempunyai kepandaian demikian luar biasa sampai dia bisa lolos dari ancaman bahaya maut.
Sebenarnya berhasilnya Giok Lo Sat bukan melulu karena kepandaiannya, di sebelah ketabahannya, iapun mengandalkan sarung tangannya Gak Beng Kie, yang dipinjamkan kepadanya secara tidak langsung dengan perantaraan Him Kengliak.
Selagi pisau tajam istimewa dari Anghoa Kuibo mengancam ke ulu hatinya, dengan kesehatan luar biasa Nona Lian angkat tangan kirinya yang memakai sarung ke depan dadanya, tepat di waktu menyambarnya pisau, maka telapak tangannyalah yang tertikam.
Benar hebat sarung tangan itu, yang tak dapat ditembusi pisau, bahkan pisau itulah yang melengkung sendirinya.
Justeru selagi si nyonya tua kaget bahna herannya, kembali dengan kesehatannya yang luar biasa, nona ini menikam tulang pundaknya wanita tua jagoan itu.
Anghoa Kuibo tidak keburu mengelakkan diri, ia menjerit, tapi sambil meringis ia tertawa dan berkata.
"Bagus!"
Serunya.
"Inilah yang disebut gelombang Tiangkang terbelakang mendorong gelombang terdahulu! Ya, sejak sekarang hingga selanjutnya, di dalam dunia kangouw tidak lagi ada orang yang bergelar Anghoa Kuibo!..."
Dengan gerakan tubuhnya yang gesit, sambil bawa tongkatnya, nyonya tua itu angkat kaki hingga tak tampak lagi sekalipun bayangannya! Giok Lo Sat tertawa.
"Sarung tangan ini benar-benar mustika!"
Pujinya.
Ketika ia buka kancing bajunya, kaca pelindung dadanya dengan mengeluarkan suara telah meluruk jatuh.
Karena kaca itu telah pecah remuk, la kaget.
Dengan lekas ia telan dua butir pil yang ia bekal, sambil mengempos semangatnya.
"Syukur aku tidak terluka dalam tubuhku!"
Katanya sambil tertawa. It Hang kaget tak kepalang.
"EnCie Lian!"
Ia memanggil. Giok Lo Sat manggut.
"Dengan pihak Butong pay mu aku masih punya sangkutan,"
Kata dia seraya terus bertindak menghampiri Pek Sek Toojin.
Setelah makan obatnya Tiat Hui Liong, imam dari Butongsan itu jadi segar banyak, sekarang ia dapat berdiri.
Di depan imam ini Giok Lo Sat ayunkan pedangnya.
"Eh, apa kau hendak bikin?"
Seru It Hang dengan kaget. Pek Sek Toojin segera raba gagang pedangnya. Si nona tidak menyerang, dia hanya kata.
"Pek Sek Toojin, kau telah terluka parah, maka perhitungan kita baik dicatat saja sampai lain waktu!"
"Ah, mengapa mesti adu silat juga?' kata It Hang. Ia masgul.
"Baik,"
Menjawab si imam.
"Di dalam tempo tiga tahun kemudian aku nanti tunggui kau di Butong san!"
Giok Lo Sat tertawa dingin.
"Tidak nanti aku membikin kau kecele!"
Katanya.
Baru saja si nona tutup mulutnya atau Hui Liong telah dengar suara berisik yang datangnya dari bawah Pitmo gay.
Ia segera lompat ke atas sebuah batu besar untuk melongok ke bawah.
Untuk herannya, ia tampak serombongan pahlawan TongCiang sedang kepung seorang yang bertubuh besar, sementara satu nona muda kedapatan teringkus di atas kuda.
Adalah nona itu yang menjerit berulang-ulang.
Pek Sek Toojin pun segera dengar jeritan itu, ia kaget.
"It Hang, dengar!"
Serunya "Bukankah itu suaranya Gok Hoa yang memanggil-manggil aku?"
"Aku tidak mendengar nyata!"
Jawab It Hang. Tapi suara itu yang terbawa angin, mendatangi makin dekat.
"Tidak salah, itulah Gok Hoa!"
Pek Sek berseru pula. Tanpa berpikir lagi ia lompat ke atas batu. Hui Liong terkejut.
"Kau cari mampus?"
Tegurnya.
Inilah disebabkan lukanya yang belum sembuh, tidak membolehkan Pek Sek menggunai tenaga terlalu besar, maka ketika dia sampai di batu, tubuhnya limbung, hampir dia jatuh terguling.
Kalau dia jatuh, pasti dia akan tergelincir ke bawah.
"It Hang, pergi kau gendong paman gurumu pulang!"
Hui Liong teriaki pemuda itu.
Ketika itu ada belasan pahlawan, yang mencoba mendaki Pitmo gay, di antaranya, ada yang melapai naik dengan bantuan rotan.
Dengan tidak banyak pikir lagi, Hui Liong jemput beberapa butir batu, lalu ditimpukkannya kepada pahlawan-pahlawan itu.
hingga mereka itu kaget, antaranya ada yang menjerit, lekas-lekas mereka merayap turun pula.
"Lekas pergi!"
Hui Liong teriaki It Hang sambil memberi tanda dengan tangannya.
It Hang menurut, ia terus gendong paman gurunya, yang ia bawa lari ke lain arah.
ke mana Giok Lo Sat telah mendahului membuka jalan.
Hui Liong menyusul, sambil berlari ia kata.
"Kim Laokoay bukan manusia! Dia bujuk isterinya yang busuk menjanjikan kita bertanding, tapi dia sendiri diam-diam ajak rombongan pahlawan TongCiang pergi menawan orang!"
Giok Lo Sat kata dengan sengit.
"Isterinya yang busuk itu tentu tidak lagi mau membantu padanya, apabila dia bentrok denganku, aku tanggung dia tak akan dapat lolos lagi!"
Bertiga mereka lari keras, kira-kira magrib mereka sudah sampai di dalam kota.
"Tiat LooCianpwe,"
It Hang minta.
"silakan kau turut kami ke rumahnya Busu Liu See Beng."
Giok Lo Sat tertawa, ia wakilkan ayah angkatnya menjawab.
"Menolong orang harus dari permula hingga di akhir. Paman gurumu terluka parah, sudah selayaknya kami antarkan mereka hingga tiba di rumah dengan selamat."
Matanya Pek Sek Toojin mencilak bahna gusar tetapi ia tidak bisa bilang suatu apa.
Sesampainya di rumah Liu Busu, See Beng menyambutnya dengan kaget, sebab ia tampak imam itu terluka parah, dan berbareng, Tiat Hui Liong dan Giok Lo Sat pun datang bersama.
Orang-orang Butong pay pun kaget dan heran, mereka semua lantas mengepal-ngepal tinjunya, untuk bersiap menyerang si nona.
Mereka berbangkit serentak.
Giok Lo Sat lihat aksi mereka, ia tertawa.
"Inilah bukan urusanku!"
Kata dia. Hui Liong lantas menuturkan tentang lukanya Pek Sek Toojin itu.
"Syukur aku telah siang-siang siapkan obat yang mustajab,"
Ia tambahkan.
"Dengan paksa aku telah kasih dia makan obatku itu, dia juga punyakan latihan Iweekang yang baik, maka setelah beristirahat tiga hari. dia akan bisa bergerak seperti biasa, atau lagi satu bulan, dia akan sembuh betul."
Orang-orang Butong pay itu percaya akan keterangannya jago tua ini, mereka batal menyerang si nona, mereka lantas menghaturkan terima kasih kepada Hui Liong.
"It Hang, mari turut aku masuk ke dalam,"
Kata Pek Sek dengan wajah likat. Dua murid Butong segera kata kepada ketua itu.
"Sumoay dan Lie Suheng pergi menyaksikan pertandingan, apakah mereka tidak bertemu susiok?"
Imam itu ulapkan tangannya.
"Semuanya masuk, bicara di dalam!"
Katanya. Lalu ia menoleh pada Hui Liong dan berkata.
"Bukanlah aku yang ingin makan obatmu!"
Hui Liong bersenyum mendengar kata-kata itu.
"Tapi aku telah terima kebaikanmu itu,"
Pek Sek tambahkan.
"Kami dari Butong pay dapat membedakan budi dan dendaman, maka budimu yang besar itu mesti aku membalasnya."
Hui Liong tetap bersenyum. Tapi Giok Lo Sat tertawa dan berkata pada imam yang besar kepala dan kukuh itu.
"Aku sendiri tidak mempunyai budi terhadapmu, maka kalau nanti kau telah sembuh betul, sembarang waktu kau boleh tantang aku untuk kita adu pedang!"
It Hang segera ajak paman gurunya itu masuk ke dalam, bersama ia turut semua orang Butong pay. Liu Busu tertawa.
"Imam ini sangat jumawa,"
Katanya.
"biar bagaimana, dia tidak mau kalah bicara! Beda jauh daripada Cie Yang Toojin yang sangat ramah tamah dan manis budi."
Hui Liong tetap bersenyum tetapi tidak kata apa-apa.
"Halnya Anghoa Kuibo datang ke kota raja, aku telah mendengarnya sejak dua hari yang lalu,"
Berkata pula Liu Busu.
"Semula aku tidak tahu untuk apa dia datang kemari, tak tahunya dia mencari onar terhadap kalian."
Mulutnya Hui Liong bergerak, akan tetapi ia batal untuk bicara.
See Beng lihat sikap orang itu, ia tidak berani menanyakannya, sebab meski mereka kenal satu pada lain, mereka bukanlah sahabat-sahabat karib.
It Hang muncul tak lama kemudian.
"Tidak leluasa untuk paman guruku keluar, ia titahkan aku mewakilkannya mengantar tetamu-tetamunya,"
Ia kata. Hui Liong tertawa besar.
"Tanpa diantarpun aku memang sudah hendak pergi!"
Katanya.
Baru sekarang ia buka mulutnya.
Liu See Beng menjadi tak senang, la justeru tengah memikir untuk ikat tali persahabatan kepada Tiat Hui Liong, ia tak sangka bahwa Pek Sek Toojin telah lancang merampas haknya, akan "usir"
Tetamu.
Tapi karena masih ingat kepada Butong pay dan persahabatannya dengan imam ini, sedapat mungkin ia tahan kemendongkolannya.
Maka terpaksa ja angkat kedua tangannya, untuk memberi hormat pada Hui Liong dan Giok Lo Sat.
It Hang mengantar sampai di luar.
"Paman guruku tidak kenal budi, aku minta sukalah Tiat LooCianpwee memaafkannya,"
Ia mohon.
"Tidak apa, tidak apa,"
Berkata Hui Liong.
"Apakah paman gurumu itu ada omong lainnya lagi?"
Mukanya pemuda itu menjadi merah.
Memang Pek Sek telah mengatakan pada semua orang Butong bahwa Hui Liong ada melepas budi terhadapnya tetapi Giok Lo Sat adalah musuh partai mereka, dia larang semua murid Butong itu bergaul kepada Giok Lo Sat.
It Hang mengerti, meski pesan larangan itu diucapkannya kepada semua saudara seperguruannya tapi maksudnya yang utama adalah ditujukan kepada dirinya.
Dan dengan menyuruh calon ketua ini yang antar tetamu, sang paman kandung maksud supaya keponakan murid ini putus perhubungannya dengan nona itu.
Karena ini, It Hang menjadi jengah sendirinya.
Giok Lo Sat tertawa.
"Walaupun kau tidak menyebutkannya, sudah aku ketahui!"
Kata ia.
"Singkatnya ialah dia larang kau bergaul dengan aku! Apakah kau takut untuk tetap bergaul denganku?"
Tambah merah mukanya It Hang, sampai ke kupingkupingnya. Hui Liong lihat itu, ia tertawa.
"Anak Siang, mulutmu tidak ada remnya!"
Kata dia.
"Kau bikin orang malu."
Masih saja It Hang jengah, iapun ragu-ragu, tapi sejenak kemudian ia kata kepada si nona.
"EnCie Lian, aku ingin bicara kepadamu..."
Mendengar itu, Hui Liong lantas angkat kakinya.
"Kau bicaralah!"
Giok Lo Sat menyuruhnya.
"Paman guruku mempunyai satu anak perempuan,"
Kata It Hang, suaranya masih tak tenang.
"anak itu diculik rombongan pahlawan dari TongCiang... Pamanku sedang terluka parah, di kota raja ini tidak dapat dicari lain orang yang dapat menolongnya..."
Si nona tertawa.
"Jadi maksudmu meminta kami yang mendayakannya?..."
Tanyanya "Benar,"
It Hang jawab dengan memberanikan diri.
"Jikalau pihakmu bisa tolong nona itu, mungkin perselisihanmu kedua pihak akan habis sendirinya..."
"Beberapa ketuamu dari kaum Butong pay memang tidak punya salah apa-apa,"
Kata si Raksasi Kumala.
"akan tetapi lagak mereka sangat menjemukan, karena mereka tidak senang terhadapku, aku justeru ingin menjadi musuh mereka itu!"
It Hang tercengang.
"Anaknya paman gurumu itu cantik atau tidak?"
Tiba-tiba si nona tanya.
"Pasti dia tak dapat dibandingkan denganmu, enCie Lian,"
It Hang jawab. Giok Lo Sat tertawa.
"Toh bukannya tak manis dipandangnya, bukankah?"
"Digolongkan kepada umumnya dia terhitung cantik juga"
It Hang akui. Si Raksasi Kumala seperti memikir sebentar, lalu dengan wajah sungguhsungguh ia pandang orang di hadapannya.
"Kau bicara terus terang!"
Katanya tiba-tiba.
"Bukankah benar paman gurumu itu berniat menjodohkan gadisnya kepadamu?"
"Dia tidak mengatakan demikian,"
Sahut It Hang, suaranya perlahan.
"Kau toh bukannya boneka?"
Kata pula si nona.
"Mustahil kau tidak dapat lihat maksud yang dikandung paman gurumu itu?"
"Aku lihat... mungkin benar dia kandung maksud demikian..."
Nona itu tertawa dingin.
"Walau bagaimana, aku tak dapat lupakan kau, enCie..."
It Hang kata dengan perlahan sekali. Berdenyut hatinya si nona. Inilah pengutaraan yang pertama dari pemuda itu terhadap dirinya. It Hang menambahkan.
"Akan tetapi aturan kaum Butong pay ada sangat keras..."
Sepasang alisnya si nona bangun dengan mendadak.
"Apa? Jadinya kau takut?"
Tanyanya.
"Seandainya kita tak dapat tinggal bersama,"
Kata It Hang dengan menyimpang.
"walau di ujung laut atau pangkal dunia, aku toh tidak nanti lupakan kau... Aku... untuk seumur hidupku tak akan menikah..."
Kata-kata itu diucapkan demikian perlahan sampai sukar didengarnya. Si Raksasi Kumala jadi putus asa.
"Sungguh tolol!"
Katanya dalam hatinya.
"Menjadi ketua begini penakut, tidak berani berterus terang..."
It Hang lihat wajah orang berubah, ia menghela napas.
"Aku mengerti bahwa apa yang aku minta memang tidak selayaknya,"
Ia kata.
"Paman guruku bersalah terhadap kau tetapi aku mohon kau menolongi gadisnya..."
Giok Lo Sat memandang ke udara, pikirannya bekerja keras.
Ia sengit untuk kelemahannya It Hang, tapi di samping itu, ia tahu bahwa orang menyintai padanya...
Hatinya sedikit terhibur juga...
It Hang lirik nona itu, yang alisnya ia tampak bergerakgerak.
"Percuma saja perkenalan kita ini..."
Tiba-tiba si nona berkata. Pemuda itu terkejut, hatinya memukul.
"Cade!"
Pikirnya.
"Ah, kau seperti sedikitpun tak kenal aku..."
Kata si nona kemudian. It Hang bingung, tak dapat ia bicara.
"Aku jelaskan padamu, aku bukannya hendak cari muka kepada Pek Sek Toojin,"
Berkata pula si nona.
"Tapi aku berjanji aku akan berdaya menolongi adik seperguruanmu itu."
Mendengar ini. It Hang jadi sangat girang.
"Terima kasih!"
Katanya. Tapi mendadak dia memesan.
"Jikalau nanti kau berhasil menolongi dia, aku minta jangan kau menyebutkannya bahwa akulah yang telah minta tolong kepadamu. Paman guruku itu..."
"Aku tahu!"
Jawab Giok Lo Sat dengan mendongkol.
"Orang-orang Butong pay memang tak pernah mohon bantuan orang dan kau takut langgar aturan kaummu itu! Baiklah, sekarang kau boleh pulang!"
It Hang tidak kata apa-apa lagi, ia undurkan diri. Begitu bayangan orang lenyap di balik pintu, Giok Lo Sat menyesal sendirinya sudah bicara keras terhadap pemuda itu.
"Apakah yang dia katakan?"
Hui Liong menghampirkan.
"Tidak apa-apa,"
Sahut Giok Lo Sat dengan tawar. Keduanya lantas pulang ke Seesan, di sepanjang jalan Giok Lo Sat bungkam terus. Barulah setelah mereka sampai di Lengkong sie, anak angkat itu buka mulutnya.
"Ayah, aku hendak minta sesuatu padamu..."
Katanya.
"Kau sebutkanlah!"
Sahut ayah angkat itu. Ia menjawab dengan cepat.
"Aku minta ayah bersama aku pergi menolongi gadisnya Pek Sek Toojin,"
Giok Lo Sat berttahukan Hui Liong heran hingga alisnya mengkerut "Bersama Gak Beng Kie kau telah mengacau istana sampai seperti langit roboh dan bumi amblas."
Katanya.
"bagaimana sekarang kau masih memikir untuk antarkan diri ke dalam jaring?"
"Tapi aku telah berikan janjiku, ayah..."
Hui Liong berpikir, ia berduduk Sampai sekian lama baru ia berbangkit dengan cepat.
"Ada jalannya!"
Katanya.
"Tak usah kita memasuki istana untuk menolongnya."
Giok Lo Sat girang.
"Benarkah ayah mempunyai daya?"
Dia menegasi.
"Dalam hal itu aku belum dapat memastikan akan hasilnya,"
Hui Liong jawab anaknya.
"Kita coba saja. Besok kita cari Liong Tat Sam."
Anak-angkat itu setuju.
X Ho Gok Hoa tidak puas ketika ayahnya menolak padanya ikut pergi, maka seberlalunya ayah itu, ia cari Lie Hong dan ajak saudara seperguruan itu pergi menyusul ke Pitmo gay.
Lie Hong adalah murid kepala untuk kaum Butong pay di kota raja, ia berkedudukan sebagai Ciangbunjin.
lapun sebenarnya ingin turut ke Pitmo gay tapi karena ia tidak berani tentangi Pek Sek, terpaksa ia tutup mulut, sekarang Gok Hoa ajak padanya, ia girang sekali.
"Mari!"
Ia berikan persetujuannya. Dengan diam-diam dua orang ini keluar dari kota. setelah berjalan kira-kira setengah jam. mereka sudah mendekati Seesan, Bukit Barat.
"Rupanya dua orang di belakang kita sedang menguntit kita,"
Kata Lie Hong pada kawannya selagi mereka jalan terus.
Dengan lagak acuh tak acuh Gok Hoa berpaling ke belakang.
Ia lihat dua orang, yang satu berumur kurang lebih empat puluh tahun, yang lainnya masih muda, kurang lebih dua puluh tahun usianya dan cakap romannya, malah si nona rasa pernah melihatnya, entah di mana.
Dua orang itu berjalan sambil omong-omong dan tertawatawa.
"Apakah kau kenal baik jalanan di sini?"
Tiba-tiba Gok Hoa tanya Lie Hong.
"Aku hidup di Pakkhia, mustahil aku tidak tahu!"
Jawab Lie Hong yang tertawa.
"Mari kita jalan mutar untuk menyingkir dari mereka."
Si nona usulkan.
Lie Hong manggut.
Tidak lama tibalah mereka di Seesan, yang mempunyai tiga buah puncak yang permai, yakni Cuibie san.
Louwsay san dan Pengpo san.
Untuk pergi ke Pitmo gay, harus melalui gua PoCu tong dari puncak Pengpo san.
terus belok ke utara, tetapi Lie Hong sengaja ambil jalan dari kaki puncak Cuibie san.
Mereka berjalan cepat, mereka lintasi pohon-pohon lebat dan selokan, maka di lain saat, kedua orang di sebelah belakang itu sudah tidak tertampak.
"Mungkin aku terlalu bercuriga,"
Kata Lie Hong kemudian.
"Mereka itu tidak terus menguntit kita"
Karena ini, mereka pertahankan tindakan mereka.
Tiba-tiba mereka dengar suara bicara sambil tertawa yang datangnya dari arah belakang mereka, waktu Gok Hoa menoleh, ia lihat dua orang tadi sedang mendaki bukit.
"Sumoay, benar-benar mereka menguntit kita,"
Kata Lie Hong, yang terus raba gagang pedangnya.
"Sabar, kita lihat dulu,"
Gok Hoa peringatkan.
Mereka berjalan terus di jalanan kecil.
Dua orang itu masih terus membayangi, jalannya kadangkadang cepat dan kadang-kadang perlahan.
Mereka sudah melalui tiga atau empat lie, masih dua orang tidak dikenal itu mengikuti bagaikan hayangan mereka.
"Baiklah kita kasih rasa pada mereka!"
Kata Lie Hong, yang menjadi gusar.
Ia segera hentikan tindakannya.
Nyata dua penguntit itu gerakannya sangat gesit.
Ketika Lie Hong berhenti jalan, tahu-tahu mereka telah sampai di sisinya pemuda ini dan melewatinya dalam sejenak, hingga di lain saat mereka sudah berada di sebelah depan di mana, orarrg'yang setengah tua itu lantas membalik tubuh.
"Hai, kalian hendak pergi ke mana?"
Demikian tegurnya. Lie Hong menjadi gusar.
"Kau kuntit kami, apakah kehendakmu?"
Orang itu tertawa.
"Ini adalah jalan umum, kau boleh melewatinya, mustahil aku tidak?"
Jawabnya secara menantang.
"Ah, anak muda kenapa adatnya begini keras?"
Ia maju setindak, sebelah tangannya diulur untuk menjambret pundak.
"Pergi!"
Bentak Lie Hong, yang angkat kedua tangannya hendak menolaknya.
Tapi sebelum tangannya mengenai tubuh orang itu, tangannya itu seperti tertolak tenaga membalik.
Tentu saja ia jadi sangat gusar, hingga ia hunus pedangnya "Jangan!"
Teriak Ho Gok Hoa, untuk mencegah. Lalu ia bertanya kepada kedua orang itu.
"Jiewie ke mana kalian hendak pergi?"
"Kami justeru hendak menanyakan itu kepadamu!"
Membaliki orang itu. XI Lie Hong mendongkol bukan main, ia mengawasi dengan tajam, pedangnyapun telah siap sedia.
"Kami hendak pergi ke Pitmo gay,"
Sahut Gok Hoa dengan terus terang.
"Dan kalian?"
Selagi mereka bicara, pemuda kawannya orang itu mengawasi si nona dengan tajam, sampai mendadak dia perdengarkan suara heran.
"Kau toh adik Gok Hoa?"
Tanyanya. Gok Hoa balik mengawasi, ia segera ingat, ia menjadi girang.
"Kau toh kakak Sien Sie?"
Dia menegaskan. Pemuda itu berlompat saking girangnya, bagaikan orang lupa daratan ia sambar tangannya nona Ho.
"Tidak kusangka kau telah jadi begini besar!"
Katanya.
"Ah, kaupun demikian juga,"
Kata Gok Hoa.
"Dulu kau sama tingginya dengan aku tetapi sekarang kau jauh terlebih tinggi hingga melewati kepalaku!"
Si orang usia pertengahan tertawa terbahak-bahak. Pemuda itu terkejut bagaikan orang yang baru sadar, maka buru-buru ia lepaskan cekalannya. Ia harus ingat bahwa sekarang ia adalah satu "tayjin"
"pembesar tinggi"... Lie Hong masukkan pedangnya ke dalam serangkanya.
"Kiranya kau kenal satu pada lain,"
Katanya.
"Kami bukan cuma kenal,"
Gok Hoa terangkan.
"Kami biasa bermalam sama-sama sejak masih kecil sampai besar. Ia adalah kakak keponakanku."
Pemuda itu adalah Lie Sien Sie anaknya Ho Kie Hee, yang setelah menjadi pendeta perempuan telah ganti nama, Cu Hui.
Anak ini didapat dari pernikahannya Kie Hee dengan Lie Thian Yang.
Orang she Lie itu terpincuk harta dan pangkat, dia ceraikan Ho Kie Hee dan menikah pula dengan lain nona.
Karenanya Kie Hee sucikan diri di Thaysit san.
Pek Sek Toojin titipkan dua anak perempuannya kepada Kie Hee, untuk adik itu yang merawatnya Lie Sien Sie dan Ho Gok Hoa bersamaan umur, semenjak kecil sudah biasa mereka hidup bersama, karenanya, mereka kenal baik satu pada lain, apapula merekapun bersanak satu pada lain.
Cu Hui Suthay telah mengalami kegetiran dalam penikahannya, ia sangat sayang puteranya itu, dan sangat dimanjakan.
Sedari masih kecil, ia sudah ajarkan putera itu ilmu silat bersama Gok Hoa Kemudian Cu Hui dapat kenyataan, putera ini tidak peroleh kemajuan, ketinggalan dari Gok Hoa, maka ingatlah ia akan kata-kata orang tua tentang penukaran juru pendidik.
Demikian, dalam usianya dua belas tahun Lie Sien Sie di kirim ibunya kepada sahabatnya.
Liong Siauw In, untuk belajar di bawah pimpinannya sahabat itu.
Liong Siauw In adalah murid yang pandai dari Ngobie pay.
pada dua puluh tahun dulu, bersama Lie Thian Yang pernah dia bersaing untuk dapati Ho Kie Hee, akan tetapi ia gagal, maka dia pergi merantau jauh ke lain tempat, ketika kemudian Ho Kie Hee menjadi niekouw, baru dia datang mencari bekas kekasih itu, hingga kebetulan sekali Kie Hee lantas titipkan puteranya itu dan memesannya.
"Kalau nanti anakku itu sudah selesaikan pelajarannya, baru kau ajak dia pulang menemui aku."
Liong Siauw In terima permintaan itu, ia ajak Sien Sie ke Ngobie san.
Selama tujuh tahun ia didik bocah itu.
Selama tempo itu pernah ia minta pertolongan orang akan dengardengar hal Kie Hee, tapi selama itu belum pernah ia bertemu muka pula dengan niekouw itu.
Cu Hui Suthay penujui Gok Hoa, maka pernah ia kandung niat akan bicara kepada kakaknya, Pek Sek Toojin, untuk mempersoalkan jodoh anak-anak mereka itu.
Akan tetapi Pek Sek mempunyai pikiran lain.
Imam ini lihat pelajarannya Sien Sie perlahan majunya, ia anggap tidak cerdas otaknya, di samping itu ia tertarik kepada It Hang yang berbakat, murid Butong pay terjempol dalam tingkat kedua, turunan keluarga terhormat, orangnyapun cakap dan berbudi pekerti halus, selain ilmu silat juga pandai ilmu surat.
Cie Yang Toojin pun telah menunjuk It Hang sebagai calon ketua Butong pay, yang dalam kalangan persilatan diakui umum sebagai pemimpin partai.
Karena ini, tanpa pedulikan kedua anak muda itu berlainan sifatnya, imam ini memaksanya hendak menjodohkan Gok Hoa dengan It Hang, hingga karenanya, terbitlah gara-gara...
Bukan main gembiranya Gok Hoa dan Sien Sie yang dapat bertemu satu pada lain dengan cara kebetulan itu.
Tapi lekas juga si nona ingat orang setengah tua, lantas ia tanya Sien Sie.
"Siapakah looCianpwee ini? Aku belum tahu namanya..."
Orang setengah tua itu tertawa mendengar pertanyaan tersebut.
"Inilah guruku,"
Sien Sie perkenalkan. Orang itu memang Liong Siauw In adanya.
"Oh, LiongPehu!"
Kata Gok Hoa "Aku lupa, maaf."
"Ketika tujuh tahun yang lampau aku lihat kau, nona, kau masih sangat kecil,"
Kata orang she Liong itu.
"tidak heran kalau kau lupa."
Ingat pada Gok Hoa ini, wajahnya Siauw In menjadi suram.
"Bibi sering menyebut-nyebut kalian,"
Gok Hoa kata kemudian.
"Apakah bibimu baik?"
Tanya Siauw In.
"Ia ada baik, terima kasih,"
Sahut -Gok Hoa.
"Liong Pehu berdua hendak pergi ke mana?"
Tanyanya untuk simpangkan pembicaraan, karena ia tampak perubahan wajah dari orang setengah tua itu.
"Seperti kalian, ke Pitmo gay,"
Sien Sie jawab.
"Kami dengar ayahmu hendak adu silat dengan Giok Lo Sat, maka kami sudah lantas menyusul kemari,"
Siauw In jelaskan.
"Kami sampai di sini dua hari yang lalu,"
Sien Sie menjelaskan lebih jauh.
"Kami telah merancangkan, sehabis pesiar beberapa hari. baru kami ingin tengok kalian di Thaysit san. Kemarin Liong Pehu bertemu seorang sahabatnya, piauwsu dari Tiangan Piauwkiok. Piauwsu itu omong halnya ayahmu dan kau telah pergi ke'kota raja, katanya juga bersama seorang yang bernama To It Hang. Dikatakannya bahwa ayahmu sudah tantang iblis wanita Giok Lo Sat untuk tengah hari ini bertempur di sini. Aku duga pasti kaupun akan datang, benar saja kita bertemu di sini. Apakah saudara ini yang bernama To It Hang itu?"
Waktu menyebut nama It Hang, mukanya Sien Sie berubah, agaknya ia jengah atau menyesal, suaranya pun kurang lancar. Ho Gok Hoa tertawa.
"Inilah suheng Lie Hong,"
Ia perkenalkan.
"Murid kepala Butong pay di Pakkhia."
Mendengar ini, baru hatinya Sien Sie tenteram. Sekarang mereka berjalan berempat, mereka bercakapcakap sambil tertawa-tawa. Dari Cuibie san, mereka mulai jalan menurun.
"Selewatnya ini adalah puncak Louwsay san,"
Lie Hong beritahu.
"Pitmo gay letaknya di atas puncak itu."
Liong Siauw In dongak melihat matahari, yang sudah berada di atasan kepala mereka.
"Mungkin mereka kini sudah mulai bertanding,"
Ia kata.
"Giok Lo Sat itu orang macam apa?"
Lie Sien Sie tanya.
"Mungkinkah ilmu pedangnya dapat menandingi engkuku itu?"
"Kabarnya dia seorang wanita yang umurnya kurang lebih baru dua puluh tahun, yang liehay ilmu silatnya, aku belum pernah bertemu muka dengan dia,"
Sahut Siauw In.
"To Suheng kenal baik kepada Giok Lo Sat,"
Kata Gok Hoa sambil tertawa.
"maka itu ayah larang aku ikut menyaksikan, sebaliknya dia paksa To Suheng turut padanya!"
Segera mereka tiba di sebuah puncak yang bentuknya seperti harimau atau singa (say), mereka berjalan ke lembah.
"Itulah dia Pitmo gay,"
Lie Hong menunjuk ke atas.
"Lihat itu lembah atau tanah datar di kaki puncak, yang mirip dengan mulut singa Tentulah mereka adu silat di sana."
Baru Lie Hong berhenti bicara, atau di depan mereka, dari antara batu-batu besar, lompat keluar empat orang, di antaranya ada yang menegur.
"Siapa yang hendak pergi ke Pitmo gay?"
Gok Hoa kaget hingga ia keluarkan seruan tertahan.
Di antara empat orang itu, yang menjadi kepala adalah seorang berumur kira-kira empat puluh tahun, romannya gagah.
Gok Hoa kenali orang itu yang pada tahun yang lalu mendaki Thaysit san mencari bibinya, dan belakangan ia ketahui bahwa dia sebenarnya adalah bekas suami bibi itu, ialah pahlawan Kimiewie dari kota raja, Lie Thian Yang namanya.
Thian Yang tercengang mendengar suara si nona.
Liong Siauw In juga segera kenali orang itu.
"Lie Tayjin, sebagai seorang mulia sungguh kau banyak urusanmu!"
Katanya dengan tawar.
"Sampai halnya kami hendak pergi ke Pitmo gay juga kau hendak mengurusnya."
"Ha, saudara Liong!"
Sahut Lie Thian Yang.
"Sudah dua puluh tahun kita berpisah, selama itu berulang kali aku cari tahu tentang kau, senantiasa aku gagal. Sungguh aku kangen."
Liong Siauw In tertawa gelak-gelak sehingga tubuhnya melenggak.
"Satu orang hutan demikian dipikirkan tayjin, sungguh aku berdosa dan harus mati!"
Katanya.
Waktu itu dari kedua tepi gunung kelihatan muncul pula sejumlah pahlawan dari TongCiang dan SeeCiang.
Nyatalah Lie Thian Yang sudah mengatur barisan tersembunyi.
Atau lebih benar dialah salah satu pemimpin dari orang-orang tersembunyi itu, yang bekerja menuruti rencananya Kim Tok Ek dan Bouwyong Ciong.
Kim Tok Ek benar licik.
Setelah ia baik kembali dengan isterinya, yaitu AnghoaKuibo, ia bujuk dan anjurkan isteri ini tantang Tiat Hui Liong dan Giok Lo Sat.
Menurut niatnya, ia ingin ajak kawan-kawan pergi ke tempat pertandingan untuk membantui isteri itu, akan tetapi ia kenal habis perangainya sang isteri, niat itu ia tidak wujudkan.
Ia kuatir kalau isteri itu ketahui orang bantu padanya, dia bisa gusar dan lantas mundur sendiri.
Maka tak berani ia pergi ke Pitmo gay.
Sebenarnya, Kim Tok Ek masih ragu-ragu.
Di satu pihak ia percaya kepandaian isterinya ada di atasan Tiat Hui Liong dan Giok Lo Sat, di lain pihak ia kuatir isterinya tak sanggup dikerubuti Hui Liong dan si Raksasi Kumala, atau Anghoa Kuibo nanti bikin lolos kedua musuh itu.
Maka di akhirnya, ia mengadakan permupakatan dengan Bouwyong Ciong.
Bouwyong Ciong menjabat Congkoan, penguasa dari rombongan pahlawan dari TongCiang, konco sehidup semati dari Gui Tiong Hian, sudah tentu ia suka membantu Kim Tok Ek, dari itu, ketika ia telah dengar kesulitannya Kim Laokoay, ia berpikir sambil kerutkan keningnya.
"Memang bagus sekali isterimu suka membantu,"
Kata orang she Bouwyong ini.
"Hanya harus saudara ketahui bahwa Giok Lo Sat dan Tiat Hui Liong itu adalah komplotannya Him Teng Pek. Lupakah saudara ketika hari itu kita alami kerugian di dalam pertempuran di gedungnya Yo Lian?"
"Mereka semua adalah orang-orang kenamaan dari kalangan Rimba Persilatan,"
Kata Tok Ek.
"mereka sudah berjanji akan bertempur satu sama satu, mereka larang campur tangannya orang ketiga, maka itu mungkinkah Him BanCu sebagai satu kepala perang akan membantui Giok Lo Sat dan ayah angkatnya?"
Bouwyong Ciong tertawa mengejek.
"Tidak kusangka kau sedemikian jujur!"
Katanya.
"Pasti sekali Him Teng Pek pribadi tak akan datang! Akan tetapi Tiat Hui Liong dan Giok Lo Sat adalah konco-konconya Him Teng Pek, mereka itu mempunyai banyak kawan, maka siapa berani pastikan Tiat Hui Liong dengan diam-diam tidak minta bantuan kawan-kawannya?"
"Habis, bagaimana kau hendak bertindak?"
Kim Tok Ek tanya.
"Isteriku itu aneh perangainya, kalau dia dapat tahu kita membantuinya, dia bisa mengambek dan pergi, dia nanti lepas tangan!..."
"Di antara orang-orangnya Him Teng Pek, Tiat Hui Liong dan Giok Lo Sat adalah yang paling liehay,"
Menyatakan Bouwyong Ciong.
"dengan adanya isterimu itu, sudah cukup untuk melayani mereka, yang lain-lainnya mudah dibereskannya. Aku memikir hendak mengajak sejumlah kawan yang liehay, kita atur barisan tersembunyi di dekatdekat Pitmo gay. Aku percaya Tiat Hui Liong dan Giok Lo Sat bukannya lawan dari isterimu, tapi jikalau mereka dua lawan satu, walaupun mereka tidak bisa menang, mereka masih punyakan kesempatan untuk angkat kaki. Baik kita tunggu sampai mereka sedang kabur, kita cegat dan serang mereka untuk ringkus hidup-hidup! Mereka baru habis berkelahi matimatian, pasti mereka sangat letih, andaikan isterimu tidak senang dan lepas tangan, pasti kita sanggup lawan mereka Ini yang kesatu ..."
Kim Tok Ek tertawa, terus ia kata.
"Jikalau ada kawankawan mereka yang datang membantu, dengan kita punyakan barisan sembunyi, kita bisa sekalian bekuk mereka semua. Inilah yang kedua, bukankah?"
Kim Tok Ek merasa pasti, Tiat Hui Liong yang bersikap jantan, tak mungkin mengundang kawan, akan tetapi dengan berkata demikian, maksudnya hanya mengimbangi orang she Bouwyong itu.
Ia juga setujui pikirannya sahabat ini.
karena ia sangat benci Tiat Hui Liong dan Giok Lo Sat dan ingin sangat melampiaskan dendam terhadap mereka.
Demikian pun Bouwyong Ciong, ia ingin sangat singkirkan Tiat Hui Liong dan Giok Lo Sat, di satu pihak untuk kepentingannya Gui Tiong Hian, di lain pihak untuk melampiaskan dendamnya kepada kekalahannya di gedungnya keluarga Yo.
Kim Tok Ek masih memikir panjang.
"Bagaimana jikalau di antara mereka ada tersangkut juga pihak Butong pay?"
Dia tanya Bouwyong Ciong.
"Dalam pertempuran di gedung Yo Lian, kita sebenarnya yang akan menang, kekalahan kita itu disebabkan Tiat Hui Liong dan Giok Lo Sat dapat bantuan yang datangnya mendadak,"
Sahut Bouwyong Ciong.
"Bantuan itu adalah dari rombongan Pek Sek Toojin dan murid-muridnya. Butong pay satu partai besar dan luas pergaulannya, meski demikian, apabila mereka tidak rnenimbang-nimbang lagi dan hendak membantui lawan kita, maka kita pun tak usah memandangmandang lagi, sekalian saja kita lawan dan bekuk mereka satu demi satu!"
Lantas Bouwyong Ciong usulkan orang-orang yang harus dimintai bantuannya ialah Ciehui Lie Thian Yang, pemimpin dari Kimiewie, dan Cio Ho, serta Congkoan Nie Seng Pek, penguasa dari SeeCiang, dan lain-lainnya.
Selama kerajaan Beng, tiga badan rahasianya adalah TongCiang, SeeCiang dan Kimiewie, dan di tahun-tahun terakhir dari Kaisar Sin Cong, karena Gui Tiong Hian yang berkuasa atas TongCiang, maka TongCiang-lah yang paling besar pengaruhnya.
Bouwyong Ciong usulkan Lie Thian Yang dan lain-lainnya adalah untuk dapat ambil hatinya Gui Tiong Hian.
Dan Kim Tok Ek, tanpa ragu-ragu, terima usul ini.
Demikianlah sudah terjadi, di Pitmo gay telah bersembunyi orang-orangnya Kim Tok Ek dan Bouwyong Ciong.
Selagi Lie Thian Yang berhadapan dengan Liong Siauw In, di pihak Bouwyong Ciong dan Kim Tok Ek pun telah pimpin maju rombongannya, dan orang she Bouwyong itu maju sambil berteriak.
"Tidak peduli siapa yang datang ke Pitmo gay, tangkap padanya!"
Lie Thian Yang lupa segala apa karena ia sangat inginkan pangkat, dan sekarang, selagi raja baru naik di tahta, ia anggap inilah saatnya yang paling baik.
Ia mengharap sangat tunjangannya Gui Tiong Hian.
Maka ia berkata kepada Siauw In.
"Saudara Liong, maafkan aku, sukalah kau turut kami ke pusat Kimiewie!"
Katanya tapi wajahnya berubah. Liong Siauw In jadi sangat murka.
"Budak tak tahu malu!"
Dia mendamprat.
"Sungguh Kie Hee sudah salah pilih suami!"
Lie Thian Yang pun murka.
Ia tertawa dingin, lalu maju, menikam.
Tapi Siauw In menangkisnya dengan keras, hingga kedua senjata bentrok hebat, sampai Lie Thian Yang merasakan tangannya sakit dan panas.
Bertahun-tahun Liong Siauw In berlatih di gunung Ngobie san, ia peroleh kemajuan pesat, kalau pada dua puluh tahun yang lampau Lie Thian Yang ada lebih liehay daripadanya, sekarang kepandaian mereka bertukar sifat.
Lie Thian Yang ketinggalan.
Cio Ho maju hendak membantui kawannya, akan tetapi ia dirintangi oleh Lie Sien Sie.
Lie Thian Yang ragu-ragu setelah ia pandang romannya Sien Sie itu.
yang ia rasa pernah melihatnya, entah di mana, ia lupa.
Ia merasa sangat tertarik perhatiannya, hingga timbul keinginannya untuk menanyakan keterangan.
Tapi justeru pada waktu itu muncul Tok Ek bersama Bouwyong Ciong.
Ia berkelit ketika Siauw I n serang padanya, terus ia menyingkir, supaya Bouwyong Ciong bisa gantikan padanya.
Ho Gok Hoa pun sudah turun tangan, melayani pihak pahlawan istana.
Ia berkelahi berendeng bersama Lie Sien Sie.
Di dalam hatinya.
Lie Thian Yang berpikir.
"Nona ini adalah anaknya Pek Sek Toojin. tidak dapat dia dibiarkan menemui ajalnya di sini... Dengan Pek Sek aku bersanak, hal ini pun tak dapat diberitahukan pada Bouwyong-Ciong..."
Ho Gok Hoa telah berlaku cepat, dengan desakan senjata pedangnya, ia telah dapat lukai satu pahlawan. Lie Thian Yang lihat itu, ia lantas berteriak.
"Kasih aku yang bekuk dia!"
Dan lantas ia maju menyerang si nona Gok Hoa tidak tahu maksud orang, ia memang benci orang ini, yang telah persakiti hati bibinya, menjadikan ia tidak sudi memandang-mandang lagi, ia lantas menyerang dengan tidak kurang sengitnya.
Mula-mula ia mengarahkan tikamannya kepada kening lawannya tapi segera ia ubah tujuannya menabas lengan.
Lie Thian Yang kaget, hampir ia menjadi korban.
Ia tidak sangka nona itu berlaku demikian bengis.
Akan tetapi ia ada terlebih gagah daripada Nona Ho, begitu lekas ia mainkan pedangnya, ia bikin pedang si nona tertahan, terus ia menolaknya hingga nona itu mundur terhuyung.
Belum lagi Gok Hoa sempat perbaiki diri, Thian Yang lompat menyambar, begitu jari tangannya mengenai sasaran, Gok Hoa lantas tidak berdaya dan kena ditawan karena dia telah tertotok jalan darahnya.
Lie Sien Sie terkejut, ia tinggalkan pahlawan musuhnya untuk lompat menolongi nona itu.
Ketika Lie Thian Yang ceraikan isterinya dan terus menikah pula, Sien Sie belum berumur tiga tahun.
Ho Kie Hee tidak ingin anaknya nanti dipersakiti ibu tiri, dua tahun sejak perceraiannya, ia minta kakaknya bawa pergi anaknya itu ke Siongsan.
Lima belas tahun telah berselang sejak itu, lima belas tahun ayah dan anak tidak bertemu, tidak heran kalau sekarang mereka tidak dapat mengenali satu pada lain.
Ketika tadi Lie Thian Yang dan Liong Siauw In bicara satu sama lain, Sien Sie dengar samar-samar gurunya menyebutnyebut nama "Kie Hee".
Ia heran.
Ia memikirkan kenapa gurunya itu sebut-sebut nama ibunya di hadapan musuh.
Sekarang, setelah menghadapi musuh itu, roman siapa ia dapatkan mirip dengan romannya sendiri, hatinya bercekat, sampai lengannya pun menjadi lemas sendirinya.
Justeru itu satu pahlawan hajar pedangnya, lantas saja pedangnya itu terlepas dari cekalannya dan jatuh ke tanah.
Di waktu itulah, Lie Thian Yang unjuk kesehatannya.
Ia lompat pada Sien Sie yang ia totok dengan segera.
Maka di lain saat, Sien Sie pun telah kena dibekuk seperti Gok Hoa.
Lie Thian Yang belum tahu pemuda ini ialah puteranya, tetapi melihat orang datang bersama Liong Siauw In dan Ho Gok Hoa, ia timbul kecurigaannya.
Juga ketika ia gerakkan tangannya, ia terpengaruh suatu perasaan luar biasa, hingga ia tak ingin mencelakai pemuda itu.
Ia benar-benar heran sendirinya.
Dari itu, selekasnya dapat bekuk pemuda itu, iamenyerahkannyapadaCio Ho, supaya pemuda itu segera dibawa pulang ke pusat Kimiewie, untuk nanti ia yang memeriksanya.
Liong Siauw In telah tempur Bouwyong Ciong.
Tiga kali ia menikam hebat, tapi ketiga-tiga kalinya lawannya dapat berkelit.
Ia jadi heran.
Keheranan ini berubah menjadi kaget ketika berbareng dengan itu, saban-saban ia rasakan dorongan angin yang datangnya dari pihak lawan, hingga ia mengerti bahwa pahlawan itu seorang yang liehay.
Iapun heran mengetahui di dalam istana ada pahlawan yang seliehay lawan ini.
Bouwyong Ciong juga berlaku hati-hati setelah ketahui kegagalan lawannya ini, ia lantas berkelahi dengan ilmu Kimna hoat, untuk dapat menawan lawan ini.
Liong Siauw In menyerang pula beberapa kali dengan siasia, lantas ia dapat pikiran untuk tidak berkelahi terus.
Begitulah, setelah satu kelitan, ia lompat ke samping.
Tapi di sini ia dipapaki satu pahlawan TongCiang, yang dengan sepasang gaetannya menyambar pedangnya.
Ia tidak menjadi kaget atau keder, malah dengan sebat ia mendahului, hingga lima jari tangan pahlawan itu terbabat kutung!
"Minggir!"
Teriaknya dengan bengis, sambil ia lompat keluar kalangan.
Bouwyong Ciong liehay, tetapi menghadapi kegesitan lawannya itu, sedang di situ ada banyak orang yang menjadi rintangan baginya, ia tidak dapat menyusul untuk mengejarnya.
Kim Tok Ek berada di sebelah belakang, ia pegang pimpinan mengatur pahlawan-pahlawan mencegat musuh, kapan ia saksikan kelincahannya Liong Siauw In, hatinya menjadi panas.
Ia lompat maju merintangi.
Liong Siauw In tampak musuh yang romannya bengis, ia tidak maju terus hanya lari ke samping, ke arah barat.
Meski demikian, Kim Tok Ek toh lompat menyambar kepadanya, sehingga dua pahlawan yang mengadang di depannya tertolak keras.
Melihat orang hendak menjambak bebokongnya, Siauw In mengelak sambil terus berbalik, pedangnya menabas lengan penyerang yang liehay itu.
Atas ini, Kim Tok Ek tarik pulang tangannya itu.
Tapi justeru itu, Bouwyong Ciong telah berhasil menyandak.
Segera Siauw In dikepung kedua musuh yang semuanya liehay.
Ia menjadi repot, ia berkelahi sambil mundur.
Tapi ia tidak dapat bertahan lama, selagi Kim Tok Ek mendesak padanya, tangannya Bouwyong Ciong mampir tanpa dapat dielakkan lagi, tubuhnya roboh, hingga dalam sekejap ia telah jadi orang tawanan.
Di waktu itulah Tiat Hui Liong dan Giok Lo Sat menyaksikan aksinya kawanan pahlawan itu, dan Hui Liong gunai sejumlah batu menyerang dan melukai beberapa pahlawan itu.
Bouwyong Ciong titahkan membelenggu Liong Siauw In, lalu ia kata pada Lie Thian Yang.
"Kaujaga orang-orang tangkapan ini, untuk cegah kalau-kalau ada kawan-kawannya yang merampasnya, aku hendak naik ke atas!"
Dan ia menyerbu naik bersama Kim Tok Ek.
Mereka sampai di atas di mana mereka dapatkan tumpukan batu telah menjadi rata, dan ia tampak bercecerannya darah segar.
Hui Liong dan Giok Lo Sat sudah tidak tertampak, malah Anghoa Kuibo pun tak ada di situ!
Kim Tok Ek heran berbareng berkuatir.
Ia memanggilmanggil beberapa kali, isterinya tidak juga muncul, hingga ia jadi semakin heran dan kekuatirannya bertambah.
"Mungkinkah dia terluka oleh musuh?"
Tanya Bouwyong Ciong, yang turut bersangsi.
"Tak mungkin!"
Sahut Kim Tok Ek, yang masih tetap berkepercayaan.
Terus ia naik ke tempat tinggi, hingga ia tampak jauh belakang badannya Giok Lo Sat beramai yang sedang lari turun gunung, hingga tidak mungkin ia dan Bouwyong Ciong dapat menyandaknya.
Yang sangat mengherankan padanya ialah Anghoa Kuibo tidak tertampak di antara mereka itu.
"Mari kita turun!"
Mengajak Kim Laokoay.
Mereka ini bukan saja tidak ungkulan mengejar Giok Lo Sat, bahkan mereka pun jeri.
Tanpa Anghoa Kuibo yang mereka sangat andalkan, mereka kalah semangat.
Maka setelah mencari pula sebentaran, mereka lantas turun.
Itu waktu.
dalam satu pertempuran kalut, Lie Hong juga telah kena ditawan kawanan pahlawan istana.
Lie Thian Yang, sambil menjagai orang-orang tangkapannya, menantikan baliknya Kim Tok Ek dan Bouwyong Ciong, ketika ia tampak mereka balik dengan tangan kosong, ia sudah dapat duga kawannya itu tidak berhasil, apapula wajah mereka menunjukkan kelesuan.
"Apakah Lie Tayjin sudah periksa mereka ini?"
Bouwyong Ciong tanya.
"Adakah mereka orang-orang undangannya Giok Lo Sat dan itu tua bangka bangsat she Tiat?"
"Siapa kata kami orang-orang undangannya Giok Lo Sat?"
Ho Gok Hoa bersuara tanpa diminta. Ia mendongkol dan gusar.
"Ayahku adu silat dengan Giok Lo Sat. kami datang untuk membantui ayahku. Kenapa kalian demikian kurang ajar menangkap orang secara sembrono?"
Sambil membentak demikian, si nona pun pelototi Lie Thian Yang.
"Ah, buat apa kau mencomel lagi?"
Kata Liong Siauw In pada nona itu.
"Jikalau mereka kenal aturan, tidak nanti mereka jadi hamba negeri!"
Bouwyong Ciong gusar, hingga matanya mencilak.
"Siapa ayahmu itu?"
Tegurnya. Gok Hoa tunjukkan kejumawaannya.
"Ayahku adalah Pek Sek toojin, salah satu dari Butong Ngoloo!"
Sahutnya.
"Meski kau belum pernah bertemu, namun sedikitnya kau pernah mendengar namanya!"
Bouwyong Ciong tertawa.
"Kiranya kau gadisnya Pek Sek Toojin!"
Dia kata dengan kejumawaannya tak berkurang.
"Jikalau begitu, kita tidak menangkap salah! Siapa suruh ayahmu memusuhi kami?"
"Ngaco, ngaco!"
Kim Tok Ek turut bicara dan tertawa dingin.
"Bagaimana bisa Pek Sek Toojin bertempur dengan Giok Lo Sat? Kau ngoceh tidak keruan, pasti kau mendustai"
Gok Hoa jadi gusar.
"Di kolong langit di mana ada orang yang akui ayah palsu?"
Teriaknya. Justeru itu Lie Sien Sie, dengan matanya terbuka lebar, mengawasi Lie Thian Yang, hingga sinar mata mereka bentrok satu pada lain. Tanpa merasa, Thian Yang menggigil sendirinya.
"Tidak perduli dia benar atau bukan anaknya Pek Sek Toojin, paling benar bawa dahulu padanya untuk diperiksa lebih jauh!"
Orang she Lie ini turut bicara.
"Dapatkah itu dilakukan?"
Tanya Bouwyong Ciong.
"Memang tak leluasa untuk bawa mereka ke keraton,"
Lie Thian Yang jelaskan.
"Baik mereka diserahkan padaku untuk dibawa ke pusat Kimiewie."
TongCiang dan SeeCiang diadakan di dalam keraton, kekuasaannya di tangan thaykam, orang kebiri, tugasnya ada bagian dalam.
Kimiewie sebaliknya mengurus bagian luar keraton dan penguasanya adalah pembesar militer dengan tugas menangkap dan memeriksa.
Bouwyong Ciong ketahui perbedaan tugas itu, maka justeru ia anggap empat tawanan itu bukannya orang-orang yang penting, ia suka mengalah untuk memberi muka kepada Lie Tayjin ini.
"Baiklah,"
Demikian katanya.
Di dalam hatinya, orang she Bouwyong ini pun merasa kecele.
Ia sudah kerahkan pasukan pahlawan, namun Tiat Hui Liorlg semua masih lolos juga.
Kim Tok Ek pun menyesal sekali, malah ia kehilangan isterinyajuga.
Semua mereka pulang dengan hilang kegembiraan.
Di dalam kota, Thian Yang pamitan untuk berpisahan dengan membawa empat orang tawanan.
Sementara itu Anghoa Kuibo, yang nampaknya telah kalah sudah lantas lari pulang, untuk segera beritahu anak dan mantunya supaya mereka bersiap-siap untuk besok mereka pulang bersama ke Ouwpak.
"Ibu, apakah kau telah bertemu dengan Giok Lo Sat?"
Kongsun Lui tanya.
"Jangan kau banyak rewel!"
Bentak ibu itu.
"Kali ini, sepulangnya kita ke rumah, aku larang kau muncul pula di dalam dunia kangouw, aku larang kau omong pula segala hal kaum Rimba Persilatan! Kau mesti dengar kata untuk berdiam di rumah dengan tenteram! Jikalau kau berani membantah, nanti aku kemplang patah kedua kakimu!"
Anak itu menjadi heran sekali.
"Ibu,"
Katanya perlahan.
"kenapa ibu tidak mau menetap di dalam keraton yang indah permai ini dengan hidup manis serumah tangga? Lagi pula kita berkumpul dengan ayah belum ada satu bulan."
Ibu itu awasi anaknya dengan kedua matanya dibuka lebarlebar.
Orang tua ini berbeda pendapat dengan puteranya ini.
Ketika itu hari Anghoa Kuibo antar Kek Peng Teng ke keraton, untuk diserahkan pada Keksie Hujin, yang menjadi ibunya yang sejati, ia diajak Keksie berdiam di dalam keraton.
Segera ternyata, tidak biasa ia dengan cara hidup di dalam istana, apapula kemudian ia mulai dengar hal tingkah laku yang tak bagus dari Keksie Hujin itu.
Ia memang bukannya seorang yang buruk batinnya.
Karena itu, ia jadi tidak suka tinggal di dalam keraton.
Benar ia tidak segera pulang ke kampung halamannya tetapi ia sengaja sewa sebuah rumah di luar istana.
Di sini ia beri tempat pada Kongsun Lui dan Bok Kiu Nio, yang ia larang tinggal di keraton.
Mendongkol nyonya kosen itu mendapatkan anaknya kemaruk penghidupan mewah.
"Bagus, kau pintar ya!"
Bentaknya.
"Kau hendak menelad ayahmu! Sudah, jangan kau pulang pula padaku di sini!"
Kongsun Lui tidak berani buka mulut lagi, bersama Kiu Nio, ia mulai bebenah.
Masih saja Anghoa Kuibo mendongkol disebabkan penasaran dan kemasgulannya saling susun, dengan cekal tongkatnya ia jalan mundar-mandir di pekarangan dalam, beberapa kali ia mengetok lantai hingga menerbitkan suara berisik.
Kongsun Lui jeri kepada ibunya itu, ia terus sekap diri di dalam kamar, ia sampai tak berani untuk menghibur ibunya sekalipun.
Sampai tengah malam, masih Anghoa Kuibo mundarmandir saja.
Ia terbenam dalam keragu-raguan.
Satu ketika ia memikir hendak melatih diri lebih jauh untuk kelak tempur pula Giok Lo Sat, atau di lain saat ia memikir keram diri di dalam rumah, untuk simpan tongkatnya untuk selama-lamanya dengan tidak mau campur lagi urusan apa juga...
Akhir-akhirnya, nenek ini tertawa sendirinya.
"Usiaku telah lanjut, untuk apa aku turuti adatku yang keras berbentrok dengan lain orang?"
Demikian pikirnya.
"Kenapa untuk satu suami buruk aku mesti terbitkan onar? Sungguh tak selayaknya..."
Karena ini, hatinya mulai menjadi adem. Sekonyong-konyong pintu ada yang ketok dari luar.
"Siapa?"
Tanya Kongsun Toanio. Di luar terdengar suaranya Kim Tok Ek.
"Aku, isteriku!"
Demikian jawabnya. Anghoa Kuibo buka pintu pekarangan.
"Kau mau apa datang kemari?"
Tanyanya dengan dingin.
"Ah, kau tidak kurang suatu apa?"
Kata suami itu.
"Aku kuatir setengah mati..."
"Kau jadinya telah pergi ke Pitmo gay?"
Menegaskan isteri itu.
"Mustahil aku berani langgar pesanmu?"
Tok Ek jawab.
"Karena kau pergi demikian lama, aku terpaksa pergi juga ke sana untuk melihat keadaan."
Suami ini cerdik, ia mendusta dengan akalnya itu.
"Sekarang tidak usah kau mencari tahu lebih jauh halku!"
Kata Anghoa Kuibo dengan getas.
"Aku tidak dapat membantu lagi padamu!"
Kim Tok Ek perlihatkan wajah heran.
"Isteriku,"
Katanya kemudian.
"kitatelah menjadi suami isteri untuk banyak tahun, tegakah kau akan tidak mempedulikan lagi aku mati atau hidup?..."
Isteri itu tidak segera menjawabnya, ia hanya mengunci pintu. Ia bertindak menuju ke dalam thia, suaminya itu mengikuti.
"Sekalipun aku, aku bukan lagi tandingan orang, maka tiada gunanya lagi aku membantu padamu,"
Katanya sambil berjalan terus. Kim Laokoay kaget bukan main.
"Apa?"
Serunya.
"Kau telah dikalahkan oleh mereka berdua?"
"Ya, aku telah dikalahkan Giok Lo Sat, itu bocah..."
Sahut sang isteri. Kim Tok Ek menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku tidak percaya!"
Katanya. Di dalam hatinya Kim Laokoay berpikir.
"Meskipun ilmu pedang Giok Lo Sat sangat mahir, tapi kalau dia tempur aku satu sama satu masih seimbang kepandaiannya, dan isteriku yang busuk ini jauh lebih liehay daripada aku. cara bagaimana ia tak dapat menandinginya?"
Anghoa Kuibo menyobek baju di pundaknya.
"Jikalau kau tidak percaya, kau lihatlah ini!"
Katanya. Dan dia tunjukkan pundaknya. Kim Tok Ek mendekati, ia lihat satu luka bekas ujung pedang, sampai tulangnya pun kelihatan. Ia jadi sangat kaget.
"Mari aku obati!"
Katanya kemudian.
"Jangan kau berpura-pura baik hati!"
Sang isteri menjengeki.
"Mustahil aku tidak sanggup menahan derita luka semacam ini?"
"Mari kita suami isteri berserikat untuk lawan pula mereka!"
Kata Tok Ek, yang simpangkan jengekan isterinya itu. Sang isteri tapinya tertawa dingin.
"Aku peringatkan padamu, baiklah kau kurangi membuat onar!"
Katanya. Tapi lantas ia menghela napas, lalu ia tertawatawa sedih. Kim Tok Ek bungkam, tidak berani ia lantas bicara pula.
"Kau telah membuat ayahku mati karena mendongkol,"
Kata Anghoa Kuibo kemudian, setelah berkurang kesedihannya.
"Dan sudah banyak tahun kau menerbitkan pelbagai keonaran di luaran, sekarang usiamu telah lanjut, apakah kau masih tidak insyaf?"
Masih Tok Ek bungkam.
"Sebenarnya perhubungan kita suami isteri sudah putus,"
Kata pula si nyonya tua itu.
"Bahwa kali ini aku telah bantu padamu, ini adalah bantuan yang terakhir. Sekarang aku tidak dapat membantu lebih jauh, besok aku hendak pulang."
Kim Tok Ek berjingkrak saking kagetnya.
"Kau hendak pulang"
Serunya.
"Benar,"
Sahut sang isteri dengan tenang. Kim Tok Ek menjadi hilang sabar karena bingungnya. Hampir-hampir ia umbar kemendongkolannya kalau ia tidak tampak isterinya itu menghela napas.
"Jikalau kau ingin lindungi jiwamu,"
Berkata isteri ini, yang dengan mendadak telah ubah sikapnya.
"lebih selamat kau baik-baik turut aku pulang. Jangan kau mengacau pula di sini."
"Siapayang mengacau?"
Kata sang suami yang menyangkal.
"Kita tinggal di dalam istana dengan segala kemewahan. Tidakkah itu jauh lebih menang daripada kita hidup terasing dan sengsara di hutan?"
Mendadak kambuhlah tabiatnya si nyonya tua. Ia angkat tongkatnya.."
Kau tidak berniat pulang?"
Tanya dia.
"Walau bagaimana akan terjadi atas diriku, aku tetap tidak pulang!"
Sahut suami itu yang pun keras hatinya.
"Baik!"
Seru Anghoa Kuibo.
"Selanjutnya, kau mati atau hidup, aku tidak mau pedulikan lagi!"
Baru nyonya ini tutup mulutnya, tiba-tiba ia lihat di luar, di para-para pohon semangka, berkelebatnya bayangan orang. Kim Tok Ek tidak lihat bayangan itu.
"Turun kau!"
Bentaknya nyonya itu, suaranya sangat nyaring dan bengis.
Sebagai jawaban, dari para-para pohon itu terdengar suara tertawa, yang disusul dengan berlompat datangnya dua orang.
Giok Lo Sat adalah yang jalan di muka.
"Aku datang menyambangi kau!"
Kata nona ini sambil memberi hormat dengan diberikuti tertawanya yang manis.
"Aku percaya, loojinkee, kau tidak lupa akan janji kita sewaktu kita adu silat..."
Dengan membahasakan "loojinkee"
Atau "kau orang yang tua"
Si nona telah unjuk penghormatannya. Inipun cocok dengan sikapnya yang sabar dan ramah tamah itu.
"Kongsun Toanio senantiasa taat kepada janjinya!"
Turut bicara Tiat Hui Liong, ialah orang yang bertindak di belakang si Raksasi Kumala.
"Apakah kau tak dengar barusan? Kenapa kau banyak omong lagi?"
Giok Lo Sat berkeras hendak menolongi puterinya Pek Sek Toojin, ia telah damaikan itu bersama ayah angkatnya.
Tiat Hui Liong berpikir, sampai ia dapat satu jalan.
Maka itu, ia pergi cari Liong Tat Sam, untuk mohon bantuan.
Dari piauwsu she Liong ia ketahui alamatnya Anghoa Kuibo.
Ia duga pasti Kim Tok Ek akan cari isterinya, maka ia ajak Giok Lo Sat tengah malam itu juga pergi ke rumahnya nyonya tua itu.
Kebetulan sekali mereka tiba justeru Kim Tok Ek pun sampai, hingga mereka dengar pembicaraannya suami isteri itu.
Setelah mendengar cukup, ayah dan anak itu keluar dari tempat sembunyinya, hingga bayangan mereka terlihat nyonya rumah.
Kim Tok Ek tidak tahu isterinya telah bikin perjanjian apa dengan musuh-musuhnya itu.
Sebenarnya ia merasajeri menghadapi kedua musuh itu, tetapi karena ia berada di damping isterinya, ia tidak takut.
"Kalian datang untuk menghina kami?"
Ia membentak. Memang ia gusar. Anghoa Kuibo jatuhkan diri di sebuah kursi, romannya sangat lesu.
"Kami tidak berani, tidak biasa kami menghina orang!..."
Sahut Giok Lo Sat sambil tertawa.
"Tadi siang dalam jumlah besar kalian pergi cari aku di Pitmo gay, sayang aku tidak dapat diketemukan, pasti kalian jadi putus asa karenanya. Maka sekarang sengaja kami datang padamu untuk mohon kau beri pengajaran padaku!"
"Dengan jalan apa kau hendak perbuat? Sebutkanlah,"
Tok Ek menantang. Belum Raksasi Kumala beri jawaban, Tiat Hui Liong yang tetap berdiri di sisinya telah mendahului buka suara.
"Kami hendak pinjam tubuhmu!"
Kata jago dari Barat utara ini.
Iapun tertawa.
Kim Tok Ek naik darah seketika dan sebelah tangannya tiba-tiba melayang menyambar Giok Lo Sat.
Si Raksasi Kumala lompat mundur untuk menghunus pedangnya, tanpa buka suara lagi ia segera balas menyerang, hingga di situ di hadapan Anghoa Kuibo-mereka jadi bertarung.
Kongsun Lui dan Bok Kiu Nio dengar suara berisik, mereka nerobos keluar, mereka menjadi heran.
Kongsun Lui segera hunus goloknya.
"Kau berani majulah!"
Bentak Tiat Hui Liong sambil mempelototkan matanya Bok Kiu Nio menjadi jengah, ia lekas-lekas tarik suaminya "Kau berani perhina anakku?"
Tegur si nenek dengan murka. Tiat Hui Liong perdengarkan tertawa dingin. Ia jawab dengan tenang.
"Anak perempuanku sedang lawan suamimu satu sama satu, jikalau ada lain orang yang membantu suamimu itu, pasti aku tidak dapat diam berpeluk tangan untuk menonton saja!"
Anghoa Kuibo menjerit keras sekali karena kemendongkolannya tak dapat ia lampiaskan. Lalu ia menggedrukkan tongkatnya.
"Anak Lui, mari kita pergi sekarang juga!"
Ia berseru.
"Kita pulang malam-malam!"
Nyonya ini telah berjanji dengan Giok Lo Sat, ia hendak taati janjinya itu.
Tentu sekali tidak dapat ia membantu suaminya, tetapi di samping itu iapun juga tak dapat tonton suaminya dibinasakan orang.
Maka terpaksa, angkat kaki dari situ adalah jalan paling tepat baginya.
Akan tetapi Kongsun Lui tidak suka berlalu.
Ia tidak mau berpisah daripada ayahnya itu.
Karena itu, ia jadi "berkutet"
Dengan ibunya.
Yang satu mengajak dengan mendesak dan memaksa, yang lain bertahan...
Sementara itu, pertempuran di antara Giok Lo Sat dan Kim Tok Ek berjalan terus dengan seru sampai dengan tiba-tiba terdengar jeritan "Aduh!"
Dari Kim Laokoay.
"Ibu!"
Seru Kongsun Lui dengan murka.
"Apakah ibu tidak mau tolong ayah dari bencana kematiannya? Kalau kita puttiong dan puthauw, untuk apa kita jadi manusia?" (Puttiong --tidak setia/menyinta, Puthauw --tidak berbakti.) Biar bagaimana, Anghoa Kuibo ingat perhubungannya sebagai suami isteri apapula mereka baru saja akur kembali. Maka ia lantas membalik tubuh, ia angkat tongkatnya. Tiat Hui Liong lantas menghalau.
"Lupakah kau kepada janjimu?"
Jago tua ini menegor.
"Tapi kalian berbuat jahat di rumahku, aku tidak ijinkan perbuatanmu ini!"
Sahut sinyonya.
Lalu dengan tongkatnya ia serang Hui Liong.
Ketika itu di tangga rumah, Kim Tok Ek telah dihajar roboh Giok Lo Sat.
Dalam ilmu silat, Kim Laokoay tidak lebih bawah daripada si Raksasi Kumala, tapi kali ini dia kalah disebabkan baru saja dia sembuh dari luka-luka yang didapatnya beberapa hari yang lalu, kesehatannya belum pulih seanteronya.
Di samping itu, ia tidak dapat gunakan Toksee Ciang "tangan pasir beracun"
Dengan sempurna karena Giok Lo Sat memakai sarung tangannya Gak Beng Kie yang tidak mempan senjata, hingga ia tidak dapat berbuat suatu apa.
Sebaliknya si nona dengan hati besar, menyerang musuh ini.
Kerugian ketiga bagi Kim Tok Ek adalah hatinya yang mendongkol, yang seperti lumer, karena isterinya tidak hendak membantu padanya, bahkan isteri itu hendak ajak anak mantunya mengangkat kaki malam itu juga di kala ia sedang berkelahi mati hidup.
Maka dengan hebatnya desakan Giok Lo Sat, tidak lagi ia mampu tolong dirinya.
Giok Lo Sat tidak berhenti dengan robohnya musuhnya itu, selagi Kim Tok Ek terguling, ia lompat menyusul dengan tendangan kakinya yang memakai sepatu berujung lancip, denganjitu ia telah tendang patah dua potong tulang iga musuhnya disusul pula dengan totokannya, hingga Kim Tok Ek mati daya.
Di lain pihak Tiat Hui Liong melayani dengan seru jago wanita yang berkelahi sangat bernapsu itu, tetapi setelah dapatkan desakannya si nyonya agak berkurang, ia berkata.
"Kami tidak niat bunuh suamimu, mengapa kau bergelisah tak keruan?"
Selagi sang ibu belum berikan penyahutan, Kongsun Lui telah lari kepada ayahnya yang ia niat tolongi, akan tetapi dia segera disambut oleh Giok Lo Sat, yang tabas kutung goloknya, dibarengi tubuhnya disampok hingga terpelanting.
Anghoa Kuibo saksikan itu, mendadak saja ia berhenti berkelahi.
"Sebenarnya apa yang kalian kehendaki?"
Dia tanya.
"Seperti tadi aku telah katakan, kami hanya hendak pinjam suamimu!"
Jawabnya Tiat Hui Liong. Giok Lo Sat sudah lantas masukkan pedangnya ke dalam serangkanya. Dengan langkah tenang ia menghampiri nyonya tua itu, terus ia menjura dengan dalam.
"Kamipun hendak mohon bantuanmu,"
Katanya sambil tertawa. Anghoa Kuibo heran, tetapi ia tetap mendongkol.
"Ah, bocah, kau masih terus hendak mengganggu aku?"
Katanya.
"Jikalau kau tidak menimbang-nimbang, jangan sesalkan aku apabila aku nanti tidak pegang janjiku!"
"Akan tetapi benar-benar aku tidak main-main,"
Si nona kata.
"Dengan sesungguhnya aku hendak mohon bantuanmu. Kau telah pandang lelaki busuk itu sebagai mustikamu, tentu sekali kami suka pulangkan dia kepadamu, asal selanjutnya kau tilik dia dengan keras."
Nyonya tua itu turunkan tongkatnya yang sudah diangkat tadi.
"Baik, kau bicaralah!"
Katanya, yang menjadi sabar pula. Iapun ingin sekali ketahui, apa yang orang hendak minta daripadanya.
"anak perempuan-nya Pek Sek Toojin telah ditawan Bouwyong Ciong,"
Berkata Giok Lo Sat.
"maka sekarang aku ingin supaya kau mengatakan kepada orang she Bouwyong itu, supaya dia merdekakan nona itu!"
"Ha!"
Seru sinyonya tua.
"Jadinya kau hendak gencet aku, kau hendak memaksa aku menukar suamiku dengan gadisnya Pek Sek!"
"Inilah bukannya gencetan,"
Hui Liong campur bicara.
"Suamimu adalah seorang kenamaan, gadisnya Pek Sek adalah satu budak perempuan, jikalau dilakukan penukaran, pihakmu pastilah tidak rugi. Andaikan Bouwyong Ciong tidak pandang lagi padamu, apabila dia ketahui kejadian di sini, pasti dia akan segera datang sendiri untuk menukarnya. Binatang Bouwyong Ciong itu sangat sukar diketemuinya, dari itu kami hendak minta pertolongan supaya kaulah yang pergi ketemui padanya"
Anghoa Kuibo buka matanya lebar-lebar, alisnya berdiri.
"Baik, beginilah kita membuat perjanjian!"
Katanya.
"Besok malam, kira-kira jam tiga, kita nanti saling tukar orang di Pitmo gay. Kalian harus berjanji bahwa kau tidak akan aniaya suamiku!"
"Pasti!"
Sahut Hui Liong.
"Kali ini aku larang kalian dengan diam-diam sembunyikan orang,"
Giok Lo Sat omong terus terang.
"Awas, atau nanti pedangku tak kenal muka lagi!"
Hui Liong segera menyelak sama tengah.
"Kongsun Tbanio adalah satu Cianpwee dari Rimba Persilatan, mustahil dia tidak kenal aturan umum ini di kalangan Jalan Hitam!"
Katanya.
"Besok malam kita datang berdua, maka di pihak sana. kecuali Kongsun Toanio sendiri, yang lainnya tentulah cuma Bouwyong Ciong seorang!"
Secara cerdik, jago dari Barat utara ini mencegat Anghoa Kuibo. Giok Lo Sat pun tertawa.
"Masih ada dua orang tawanan yang harus ditukar!"
Katanya pula Anghoa Kuibo jadi gusar pula.
"Sudah, kau jangan banyak omong lagi!"
Ia lampiaskan hatinya.
"Begini kita mengatur! Jikalau Bouwyong Ciong membawa banyak orang, lebih dahulu aku akan adu jiwaku dengan dia!"
Tiat Hui Liong tertawa.
Ia rangkapkan kedua tangannya memberi hormat sambil menjura, setelah mana ia memutar tubuh menyambar tubuhnya Kim Tok Ek, dibawa lompat naik ke atas genteng dan berlalu bersama anak angkatnya...
Si nyonya tua dan anak mantunya mengawasi dengan ternganga.
Sementara malam itu, ketika Lie Thian Yang pulang ke kantornya dengan bawa empat orang tawanan, ia jadi berpikir keras, hingga ia tak dapat lantas masuk untuk tidur karena hatinya tak tenteram.
Maka pada tengah malam, ia suruh orang bawa Liong Siauw In menghadap padanya.
Ia kunci pintu.
Dengan tangan sendiri ia bukakan borgolannya orang she Liong itu.
"Silakan duduk!"
Iapun mengundang. Liong Siauw In tertawa dingin.
"Secara begini hormat Lie Tayjin perlakukan seorang tawanan, apakah tayjin tak kuatir usahamu nanti gagal untuk manjat di tangga kepangkatan dan keagungan?"
Tanyanya dengan mengejek. Merah mukanya Thian Yang.
"Pada kejadian dahulu itu akulah yang keliru,"
Ia kata.
"Memang aku telah perlakukan Kie Hee tak selayaknya. Sekarang walau aku menyesalpun sudah kasep..."
"Apa faedahnya sekarang kau bicara begini padaku?"
Siauw In tanya. Ia mengejek pula.
"Pada waktu dahulu kita bertiga adalah sahabat-sahabat karib..."
Kata Thian Yang pula. Tapi ucapannya itu dicegat Siauw In, yang perdengarkan hinaan.
"Hm!"
"Kalau toh kau tidak sudi memandang aku sebagai sahabat, sedikitnya kau harus pandang muka Kie Hee..."
Thian Yang menyambungkan. Ia tidak gubris hinaan bekas sahabat itu.
"Ah, benar-benar aneh!"
Seru Siauw In.
"Tadi siang, bengis bagaikan harimau, kau telah tawan aku, kenapa sekarang kau bersikap begini baik kepadaku, seorang tawanan yang jiwanya berada dalam genggamanmu? Kenapa keadaan jadi terbalik? Kau hendak minta apa dari aku?"
Thian Yang tertawa meringis. Benar-benar ia tidak pusingkan ejekan orang itu.
"Saudara Liong,"
Katanya.
"kau tahu yang aku telah berusia hampir setengah abad, bahwa aku punyakan hanya satu anak lelaki, kau tentu mengerti bagaimana hebat aku memikiri anakku itu..."
Siauw In tidak menjawab, ia cuma perdengarkan suara.
"Hm!"
"Saudara Liong,"
Tanya pula Thian Yang.
"selama tahuntahun ini, pernahkah kau bertemu dengan isteriku?"
"Pernah sekali aku temui Kie Hee tetapi tidak isterimu."
Sahut Siauw In dengan sengaja. v Thian Yang gusar sekali. Ia merasa sangat tersinggung. Tapi sedapat-dapat ia atasi dirinya.
"Aku tahu pergaulanmu dengan Kie Hee adalah baik,"
Katanya, dengan paksakan menahan kemendongkolannya.
"Itupun sebabnya mengapa sampai sekarang ini kau belum juga menikah..."
Sekarang adalah Siauw In yang menjadi gusar.
"Aku menikah atau tidak, ada apa sangkutannya dengan kau?"
Katanya.
"Jangan kau sembarang menggoyang lidahmu!"
Thian Yang paksakan diri untuk tertawa.
"Bagaimana pikiranmu, saudara Liong?"
Tanyanya.
"Harap kau maafkan, aku yang tidak pandai omong. Oleh karena aku sangat memikiri anakku, saudara, maka aku telah menanyakan kepadamu. Saudara ketahui atau tidak tentang anakku si Sien?"
"Aku sangsikan anakmu ketahui bahwa ayahnya adalah semacam kau!"
Jawab Siauw In. Habislah sabarnya Lie Thian Yang.
"Kau pernah apakah dengan anakku si Sien itu?"
Dia berteriak.
"Hak apa kau punyai untuk membikin anak itu tidak kenal ayahnya? Beranikah kau membikin renggang darah daging kami ayah dan anak?"
Liong Siauw In tertawa dingin.
"Apa perlunya aku untuk bikin renggang kau ayah dan anak?"
Dia membalik!.
Terus dia tutup mulut, tak peduli orang caci padanya.
Lie Thian Yang gusar bukan main, ia umbar itu dengan dampratannya, akan tetapi karena Siauw In tidak meladeninya, ia borgol pula bekas kawan itu dan terus ia suruh orang bawa ke kamar tahanan.
Masih sekian lama Thian Yang berpikir setelah Siauw In dibawa pergi, lantas iatitahkan Ho Gok Hoa dihadapkan kepadanya.
Kembali ia menutup pintu.
"Tahukah kau bahwa aku adalah kohthio-mu?"
Tanya dia dengan sabar kepada nona she Ho itu. (Kohthio = suami dari bibi). Gok Hoa rapatkan kedua bibirnya.
"Pernah kudengar bibi kata bahwa dia mempunyai suami semacam kau,"
Iajawab. Thian Yang mendongkol berbareng geli di hati.
"Apakah kau kenal Sien Sie?"
Dia tanya pula "Kami hidup sama-sama dari kecil, kenapa aku tidak kenal dia?"
Menjawab pula si nona. Thian Yang girang mendengar penyahutan ini.
"Pernahkah Sien Sie tanyakan ayahnya?"
Tanya dia.
"Bibiku pernah kata pada si Sien bahwa ayahnya seorang busuk, bahwa dia sejak masih bayi sudah disia-siakan, maka itu sama sekali belum pernah dia tanyakan hal ayahnya!"
Sahut Gok Hoa. Thian Yang bungkam. Ia tersinggung dan sangat masgul. Ia berdiam sampai sekian lama "Bagus,"
Katanya.
"Mari masuk ke kamarku dan duduk sebentar."
Ia loloskan borgolan si nona dan mengajaknya ke dalam. Ia tuangkan nona ini secangkir teh LiongCeng dan berikan juga sebungkus angCoh.
"Kau duduk dulu, aku hendak pergi sebentar, nanti aku kembali,"
Ia kata.
"Kamar ini lebih enak daripada kamar tahanan,"
Kata si nona, agaknya ia polos sekali.
Thian Yang tertawa menyengir.
Ia bertindak keluar, pintu kamar ia tutup.
Selang tak lama, tayjin ini kembali bersama Lie Sien Sie.
Ia suruh anak muda ini duduk, lalu ia pandang.
Makin lama ia mengawasi, ia dapatkan pemuda itu makin mirip dengan dirinya.
Ia menyesal dan penasaran dengan berbareng.
Akhirnya ia loloskan borgolannya Sien Sie dan usap-usap pundaknya.
"Ah, kau terluka..."
Katanya Lie Sien Sie mendapat luka enteng di kulit, tetapi menampak itu. Lie Thian Yang merasa pedih hatinya.
"Jikalau dia benar Sien Sie, mungkin dia benci aku..."
Pikirnya.
Pemuda itu sendiri bingung, matanya jelilatan ke empat penjuru.
Ia agaknya sedang berpikir keras, entah apa yang dipikirkan.
Kamar sunyi sekian lama, karena Lie Thian Yang tetap belum buka mulutnya.
Tiba-tiba kesunyian terpecahkan oleh suaranya Sien Sie.
"Apakah salahku? Kenapa kau mempenjarakan aku?"
Demikian tanya Sien Sie.
"Itulah sebab orang curigai kau ada konconya Him Teng Pek,"
Sahut Thian Yang.
"Him Teng Pek adalah satu pendekar pembela negara yang telah melawan musuh,"
Kata Sien Sie.
"meskipun aku masih muda, aku pernah dengar dia dipuji orang di mana-mana! Maka itu, jangankan kami bukan konconya, meski benar konconyapun, kami tidak bersalah!"
Lie Thian Yang tertawa menyeringai.
"Kalian yang masih muda, belum tahu apa-apa,"
Katanya. Lie Sien Sie angkat kepalanya, sikapnya agung.
"Pendapatku, tayjinlah yang tidak tahu apa-apa!"
Ia kata. Menggetar hatinya Lie Thian Yang, sampai ia tunduk. Sejenak kemudian baru ia angkat pula kepalanya, terus ia awasi pemuda itu.
"Kau pernah apa dengan nona Ho Gok Hoa ini?"
Tiba-tiba ia tanya.
"Dia adalah adik misanku,"
Sahut Sien Sie.
"Apa perlunya kau menanyakan ini?"
Thian Yang jengah berbareng girang. Ia sudah duduk atau mendadak ia berjingkrak bangun. Ia jemput sebuah kaca muka, lalu diserahkannya kepada pemuda itu.
"Cobalah kau kacakan dirimu!"
Katanya. Sien Sie heran.
"Apakah maksudmu!"
Dia tanya.
"Kacakan wajahmu dan lihat, sama atau tidak dengan romanku."
Thian Yang mendesak. Sien Sie banting kaca itu ke lantai hingga hancur, terus saja ia menangis. Thian Yang menjadi bingung. Ia tidak gusar.
"Kau... kau kenapa?"
Tanyanya. Ia maju, akan rangkul anak muda itu. Ia berbisik.
"Sien Sie, anakku, aku ini adalah ayahmu..."
Sien Sie berontak dari rangkulan.
"Kenapa kau tidak mau kenal ayahmu?"
Lie Thian Yang tanya.
"Ibuku kata ayahku sudah mati!"
Sahut pemuda itu.
"Mustahil, ada ayah yang lancang akui anaknya?"
Kata Thian Yang.
"Apakah kau tidak percaya bahwa aku ini ayahmu?"
"Ayahku pasti bukannya satu manusia yang tak dapat membedakan seorang menteri setia daripada seorang dorna, yang tak mengerti kebaikan dan kejahatan!"
Kata Sien Sie.
"Dan diapun pasti tidak akan menyuruh orang untuk menangkap dan melukai anaknya!"
Thian Yang merasa sangat malu dan hatinya sakit. Sekarang ia telah insyaf. Maka ia sambar tangannya Sien Sie dan ditariknya.
"Sien, ayahmu benar-benar telah mati!"
Katanya. Sien Sie tercengang, dengan ternganga ia awasi tayjin itu.
"Pernahkah kau mendengar kata-kata peribahasa. 'Macammacam yang telah lampau adalah seperti yang telah mati kemarin, macam-macam yang sekarang adalah seperti yang terlahir hari ini'?"
Tanya Lie Thian Yang sambil mengawasi muka anaknya itu. Lie Sien Sie ketahui peribahasa itu, ia anggukkan kepala.
"Maka itu ayahmu yang telah mati itu telah hidup pula,"
Kata Thian Yang.
"Besok pagi ayahmu akan antar kau pulang ke gunung Siongsan untuk menemui ibumu, untuk selanjutnya tidak akan memangku pangkat pula, tidak peduli pangkat apapun juga."
Lie Sien Sie girang mendengar pengutaraan ayahnya ini, ia seka air matanya.
"Benarkah itu?"
Ia menegasinya. Lie Thian Yang mengucurkan air mata.
"Masihkah kau tidak percaya, Sien?"
Tanyanya Lantas saja anak itu memanggilnya dengan perlahan.
"Ayah..."
Baru sekarang Lie Thian Yang bisa tertawa.
"Selama sekian tahun kau berada di mana saja?"
Ayah ini tanya kemudian.
"Aku berdiam di Ngobie san bersama guruku,"
Jawab sang anak.
"Siapakah gurumu itu?"
Tanya Thian Yang.
"Itulah Liong Pehu yang tadi siang kau tawan di Pitmo gay."
"Oh, kiranya dia!"
Seru Thian Yang.
"Apakah kau kenal satu pada lain?"
"Ya, malah lebih daripada itu, dia adalah sahabat karibku!"
Lantas tayjin ini jalan mundar-mandir.
"Bagus kalau begitu,"
Kata Sien Sie.
"Liong Pehu perlakukan aku baik sekali. Sekarang aku minta supaya kau merdekakan adik Gok Hoa dan saudara Lie Hong sekalian."
"Baik, aku luluskan permintaanmu!"
Sahut Thian Yang.
Ia terus buka pintu dan memanggil orangnya, untuk bawa datang Liong Siauw In, Lie Hong dan Ho Gok Hoa.
Di saat ayah itu membalik tubuh habis menutup pintu, Sien Sie bangun merangkul padanya.
"Kalau sebentar kita pulang menemui ibu, selanjutnya kita serumah tangga tidak bakal berpisah pula!"
Katanya dengan kegirangan.
Thian Yang pun girang, keduanya bersama tertawa dan saling pandang dengan sinar mata dari kegirangan.
***** Sebagaimana telah dijanjikan di malam kedua.
Giok Lo Sal dan Tiat Hui Liong telah pergi ke Pitmo gay.
Mereka bawa Kim Tok Ek si orang tawanan.
Di sana mereka menantikan Anghoa Kuibo.
"Sebenarnya aku benci sangat kepada Pek Sek Toojin,"
Kata si nona pada ayah angkatnya.
"Kalau sebentar anak perempuannya telah dapat ditolong baik ayah saja seorang diri yang antarkan anaknya itu!"
"Tapi lebih baik kaulah yang mengantarkannya,"
Kata ayah angkat itu. Sambil bicara mereka menantikan, sampai sang Puteri Malam mulai naik, di waktu yang demikian itu, mereka tak tampak manusia lainnya, lembah dan jurangpun telah menjadi sunyi.
"Kenapa Anghoa Kuibo masih belum datang juga?"
Kata si Raksasi Kumala. Ia lantas tertawa.
"Mungkinkah Bouwyong Ciong tidak sudi serahkan orang tawanannya?"
"Tak mungkin Anghoa Kuibo melanggar janji,"
Sahut Tiat Hui Liong.
"Bouwyong Ciong pun tak mungkin karena sayangi satu budak perempuan dia bersedia mengorbankan sebelah tangannya"
Giok Lo Sat tertawa pula.
"Memang, apabila mereka melanggar janji, kita harus beset si manusia tanggungan!"
Katanya.
Kim Tok Ek kejam hatinya, tapi mendengar perkataan si nona itu ia berkuatir bukan main, karenanya, ia telah ulur lehernya untuk mengharap-harap datangnya isterinya.
Selang tak lama kemudian, beberapa orang nampak mendatangi.
Giok Lo Sat lompat ketempat tinggi untuk dapat melihat jelas.
"Berapa jumlah mereka?"
Tanya Hui Liong.
"Dua orang."
Sunyi sejenak. Lalu mendadak.
"Ah!"
Seru si nona.
"Anghoa Kuibo tidak bawa orang di bebokongnya!"
Terus ia lompat turun akan hampiri Kim Tok Ek, bebokong siapa ia jambak.
Kim Laokoay masih belum dapat bergerak, karena totokan pada tubuhnya belum dipunahkan, maka dengan gampang ia kena dijambak.
Giok Lo Sat cabut pedangnya, ujungnya ia tempelkan di bebokongnya jago tua yang bertangan pasir beracun itu.
"Ayah, aku mulai hendak merobek dia ini!"
Kata si nona sambil tertawa. Tok Ek takut bukan kepalang, rohnya sampai seperti telah terbang pergi.
"Sabar, anak Siang,"
Kata Tiat Hui Liong.
"Tunggu dulu hingga tibanya Anghoa Kuibo."
Mereka tidak usah menantikan lama, si Biang Hantu Bunga telah muncul bersama Bouwyong Ciong.
Anghoa Kuibo benarbenar tidak membawa orang, mukanya pucat sekali, hingga wajahnya nampak jadi terlebih bengis.
"Mana orang yang kumaksudkan?"
Tegur Giok Lo Sat dengan tertawa dinginnya.
"Hm!"
Ada jawabannya Bouwyong Ciong.
"Kau telah berkongkol dengan Lie Thian Yang, dia telah merdekakan orang-orang tawanannya tetapi kau masih hendak minta orang dari aku!"
Si Raksasi Kumala heran dan gusar. Ia tertawa dingin pula.
"Siapa Lie Thian Yang itu? Aku tidak kenal padanya? Apakah kalian berniat menyangkal? Tidak dapat, sahabat!"
"Aku tidak peduli kau kenal atau tidak, tetapi dengan sebenarnya orang semua sudah kabur!"
Kata Bouwyong Ciong.
"Karena itu, kaupun harus merdekakan orang pihak kami!"
"Siapa sudi percaya obrolan iblismu!"
Bentaknya Giok Lo Sat. Ujung pedangnya lantas dikasih berkenalan kepada kulitnya Kim Tok Ek, hingga jago ini menjerit bagaikan babi yang hendak disembelih. Anghoa Kuibo jadi gusar.
"Kali ini Bouwyong Ciong tidak mendusta!"
Ia kata dengan sengit.
"Aku telah pergi dan menyaksikannya sendiri di pusat Kimiewie! Jikalau kau tidak percaya, tunggulah besok untuk saksikan pengumuman penangkapan kepada Lie Thian Yang serta empat orang tawanannya itu."
Si Raksasi Kumala tetap tertawa dingin.
"Ada orang, boleh tukar!"
Katanya.
"Tidak ada orang, robek orang tanggungan!"
Anghoa Kuibo ada sedemikian gusarnya hingga ia angkat tongkatnya hendak menyerang si nona, untuk pertaruhkan jiwanya.
"Anak Siang, serahkan Kim Laokoay padanya,"
Menyuruh Hui Liong kepada anak angkatnya itu. Giok Lo Sat perdengarkan suaranya yang nyaring dan panjang.
"Baik,"
Katanya.
"Tapi orang ini mesti diberi tanda mata!..."
Dan ujung pedangnya disontekkan kepada pundaknya Kim Tok Ek yang sudah tak berdaya itu, hingga putus sebatang tulang pipa dari jago tua itu!
Kim Tok Ek menjerit bahna sakitnya.
Bagi mereka yang mengerti ilmu silat, tulang pipa adalah yang paling penting.
Satu kali tulang itu patah, habislah tenaganya, percuma dia mempunyai kepandaian tinggi.
Tulang pipa bukan seperti tulang-tulang lainnya, yang kalau patah dapat disambung pula dan diobati hingga sembuh seperti sediakala dalam tempo yang pendek.
Untuk mengobati tulang pipa sedikitnya dibutuhkan waktu tiga sampai lima tahun, itupun kalau obatnya tepat dan pandai merawatnya.
Maka itu, sebelum lima tahun, pasti Kim Tok Ek tak dapat mengganas pula andaikata dia tak dapat ubah cara hidupnya.
Setelah dilukai tubuhnya orang she Kim itu oleh Giok Lo Sat dilemparkan kepada Anghoa Kuibo.
Anghoa Kuibo menyambuti dengan kedua' tangannya, matanya merah karena gusar.
Barulah setelah melihat luka suaminya cuma di tulang pipa, kemurkaannya itu reda sendirinya Karena ia mengerti tentang luka itu.
Iapun beranggapan.
"Biarlah bangsat ini merasakan hukumannya."
Maka ia lantas panggul tubuh suaminya itu.
"Giok Lo Sat, aku terima budimu ini!"
Katanya.
"Tentang budi dan dendam kita, dengan ini habislah sudah!"
Kata-katanya ini ditutup dengan lompatannya yang jauh, hingga dalam sekejap saja Biang Hantu Bunga itu telah lenyap bersama suaminya itu.
Bouwyong Ciong terkejut menyaksikan sikapnya kawan itu, yang tinggalkan padanya sendirian di jurang itu.
Dengan tertawa haha-hihi Giok Lo Sat sudah lantas berdiri di hadapan pemimpin pahlawan ini.
"Bouwyong Ciong!"
Katanya.
"kini adalah pertemuan kita yang kedua kali!"
"Kalau aku tahu akan terjadi begini, tentu aku tak ikut tua bangka itu datang sendirian kemari..."
Mcnyclak Bouwyong Ciong dalam hatinya.
Tadinya ia pikir bersama Anghoa Kuibo berdua pasti ia akan sanggup layani Giok Lo Sat dan Tiat Hui Liong.
Akan tetapi sekarang?
"Ketika pertama kali kita bertemu, itulah di rumahnya Yo Lian,"
Kata pula Si Raksasi Kumala, yang masih saja tertawa.
"Ketika itu kalian hendak celakai Him Kengliak dan kami hendak bekuk Kim Laokoay. Meski benar waktu itu kita telah bertempur hebat tetapi kita masih belum punya sangkutan satu dengan lain. Tapi sekarang pertemuan kita ini adalah lain!"
"Habis apa kau hendak perbuat?"
Tanya Bouwyong Ciong, yang mencoba tetapkan hatinya.
"Him Kengliak itu adalah sahabatku, kau hendak celakai padanya, aku tidak dapat diam berpeluk tangan!"
Sahut si nona.
"Sekarang tidak dapat aku lepaskan kau!"
Biar bagaimana, Bouwyong Ciong adalah pahlawan nomor satu, tidak peduli menghadapi dua lawan tangguh, tak suka ia tunjukkan kelemahannya.
"Inilah urusan pemerintah, kau tidak berhak mencampurinya!"
Katanya dengan galak. Sepasang alisnya si nona bergerak.
"Aku justeru hendak mencampurinya!"
Dia berteriak, lalu pedangnya dipakai menikam. Bouwyong Ciong berkelit. Giok Lo Sat ulangkan serangannya hingga Bouwyong Ciong terpaksa melakukan perlawanan.
"Anak Siang!"
Berkata Hui Liong.
"buat apa kau layani padanya?"
Seruan ayah angkatnya ini membuat lambat gerakannya Giok Lo Sat, maka ketika itu digunai Bouwyong Ciong untuk lompat melesat ke samping, terus ia lari turun gunung! "Kenapa ayah mencegahnya?"
Tanya anak angkat itu.
"Sudah dua hari kau bertempur luar biasa seru,"
Menerangkan ayah angkat itu.
"kalau sekarang kau bertempur pula setengah mateman, taruh kata kau menang, kau akan dapat luka dalam tubuhmu."
Si nona berdiam.
Benarlah katanya ayah angkat ini, memang untuk dapat mengalahkan Bouwyong Ciong seorang musuh tangguh, sedang untuk ia dihantui ayahnya, inilah ia tak sudi.
Ayah dan anak ini segera pulang untuk tidur, hingga malam itu mereka dapat beristirahat.
Keesoknya pagi mereka bangun dengan rasakan tubuhnya lebih segar dan sehat.
"Mari kita pergi kepada Him Kengliak,"
Giok Lo Sat mengajak.
"Dia telah kasih pinjam sarung tangan yang sungguh suatu benda mustika. Kemenangan kita justeru mengandal kepada sarung tangan itu!"
"Mari,"
Menyambut Hui Liong.
"Akupun ingin temui padanya untuk menghaturkan terima kasihku."
Maka pergilah mereka ke kota, ke rumahnya YoLian. Ketika tuan rumah dilaporkan kedatangan kedua orang itu dia sendiri segera keluar menyambutnya. Sampai di thia, Giok Lo Sat tidak lihat Him Kengliak.
"Mana Kengliak tayjin?"
Tanyanya.
"Him Tayjin telah meletakkan jabatan dan pulang ke kampung halamannya,"
Sahut Yo Lian.
"Dia pesan aku beritahukan kalian, umpama di belakang hari kalian lewat di Kanghee, Ouwpak, dia harap kalian sekalian mampir kepadanya untuk kembalikan sarung tangannya. Tapi dia menegaskannya, tak usah kalian datang melulu hanya untuk keperluan mengembalikan sarung tangan itu."
"Oh, Him Tayjin tinggal di Kanghee?"
Tanya Hui Liong.
"Benar,"
Menetapkan Yo Lian.
"Raja bocah itu sungguh tidak mengerti apa-apa!"
Seru Giok Lo Sat.
"Kenapa dia luluskan Him Tayjin meletakkan jabatan?"
Yo Lian tertawa meringis.
"Kau tidak mengerti urusan pemerintahan,"
Ia kata.
Kata-kata ini tidak beda dengan kata-katanya Bouwyong Ciong.
Sebenarnya Giok Lo Sat mendongkol.
Tapi Yo Lian bukannya orang she Bouwyong itu, maka dapat ia sabarkan diri.
Tindakannya Kengliak Him Teng Pek adalah apa yang dinamakan guyon menjadi benar.
Ia majukan permohonan meletakkan jabatan untuk mencoba kaisar.
Tapi rekest paling dulu sampai di tangan Keksie Hujin.
Inilah rekest yang memang sangat diharapkan nyonya yang agung itu.
"Him Teng Pek banyak pernik, biarkan dia pergi!"
Berkata Keksie kepada Yu Kauw ketika ia serahkan rekestnya Teng Pek pada junjungannya "Tetapi ayahanda raja pernah mengatakan bahwa Him Teng Pek adalah tiang negara,"
Kata kaisar yang muda itu.
"Bagaimana dia bisa dibiarkan meletakkan jabatannya?"
Keksie tertawa "Ah, Yu Kauw!"
Katanya.
"Kau cuma tahu akan kata-kata ayahmu marhum itu, kau tidak menginsyafi akan jaman, lain dahulu lain sekarang. Sekarang ini telah siap orangnya yang dapat menjadi kepala perang besar. Lagi pula kurang baik untuk biarkan seorang memegang kekuasaan terlalu lama, kekukuhan semacam itu bukan menguntungkan negara bahkan merugikan."
"Menteri setia dari jaman Sri Baginda almarhum tidak dapat disia-siakan,"
Kata pula Yu Kauw.
"maka itu, tak dapat dia diberhentikan dari jabatannya dalam ketentaraan."
"Tapi, dia sendirilah yang hendak meletakkan jabatan, ada sangkut paut apakah dengan kau?"
Kata Keksie Hujin yang tajam lidahnya "Kau juga tentu tidak tahu apa katanya Him Teng Pek di luaran.
Dia kata di perbatasan, Kerajaan Beng mengandal sangat kepada tenaganya!
Dapatkah kau terima kejumawaan itu?
Dia pun anggap dirinya seorang menteri setia, maka jikalau kemudian dia ketahui sifatmu yang berandalan, sudah tentu dia akan datang menggerecok!
Bila itu sampai terjadi, kau sebagai kaisar akan tidak bisa hidup merdeka..."
Hati kaisar ini tergerak dengan hasutan itu.
"Siapakah yang dapat gantikan Teng Pek sebagai kengliak di tapal batas?"
Dia tanya "Turut katanya Gui Tiong Hian, Wan Eng Tay mempunyai kepandaian untuk jadi panglima perang,"
Sahut Keksie.
Yu Kauw segera ingat, Wan Eng Tay itu pernah persembahkan kepadanya sepuluh ekor burung hoabie.
beliau berkesan baik terhadap orang yang dipujikan Gui Tiong Hian itu.
Maka lantas saja beliau menulis "Diluluskan"
Di atas surat permohonannya Him Teng Pek.
Kasihan Him Kengliak, sampaipun menghadap raja ia tidak bisa, maka bahna mendongkolnya, di hari kedua terus saja ia berangkat pulang dengan ajak Gak Beng Kie dan Ong Can.
Giok Lo Sat menjadi putus asa atas kepergiannya kengliak itu.
"Apakah Gak Beng Kie turut bersama?"
Hui Liong tanya Yo Lian. la selalu ingat pemuda itu. yang telah menampik lamarannya.
"Semua sudah pergi!"
Sahut Yo Lian.
"Bukan melainkan Gak Beng Kie dan Ong Can. malah To KongCu dan semua orang Butong pay telah sama pergi juga!"
Giok Lo Sat terperanjat.
"Habis, bagaimana dengan Pek Sek Toojin?"
Tanyanya.
"Siapa itu Pek Sek Toojin?"
Tanya Yo Lian.
"Oh, kau maksudkan imam yang kemarin datang kemari itu? Diapun turut pergi bersama gadisnya."
Mendengar ini. tahulah Giok Lo Sat bahwa Anghoa Kuibo benar tidak dusta. Maka itu, ia lantas pamitan dari tuan rumahnya.
"Apakah nona hendak pulang ke Siamsay Utara?"
Yo Lian tanya.
"Aku hendak beritahukan kau suatu hal. Sekarang ini pemerintah sedang menyiapkan pasukan tentara untuk di kirim ke Siamsay Utara guna menindas gerombolan, maka jikalau nona kenal orang-orang Rimba Hijau di sana, baiklah nona anjurkan mereka supaya terima Ciauwan. (Ciauwan = dipanggil dengan baik untuk menyerah dan bekerja kepada pemerintah). Giok Lo Sat perdengarkan suara -Hm!"
Tapi belum sempat ia buka suara lebih jauh.
Tiat Hui Liong sudah tarik padanya untuk diajak pergi.
Dengan sesungguhnya Pek Sek Toojin sangat gelisah berhubung dengan lenyapnya puterinya yang terculik orang terutama ia berkuatir karena ia tidak berdaya disebabkan ia sedang terluka parah.
Syukur baginya, ia tidak usah bergelisah terlalu lama.
Di malam kedua, puterinya itu pulang sendiri bersama pula Lie Thian Yang ayah dan anak serta Liong Siauw In dan Lie Hong.
Tidak terkira lega dan girang hatinya imam ini.
Tatkala Lie Thian Yang memberi penjelasan, ia kata.
"Jangan kuatir, moayhu. Jikalau nanti kita pulang, aku akan membicarakannya kepada adikku supaya perselisihan di antara kalian dapat dihabiskan, supaya hidup rukun pula seperti biasa." (Moayhu = suami dari adik perempuan).
"Kita telah menyingkir dengan cara luar biasa ini, pemerintah tentu tidak mau mengerti dan akan keluarkan titah penangkapan,"
Kemudian Lie Thian Yang menjelaskan lebih jauh.
"Malah menurut suaranya Bouwyong Ciong, dia juga tidak puas terhadap kau. Oleh karena ini besok pagi-pagi kita mesti segera berlalu dari kota raja ini."
"Segala apa di sini telah beres, kita bisa segera berangkat!"
Kata si imam. Oleh karena ini juga, It Hang lantas pamitan dari Beng Kie. Kepada Him Kengliak, yang ia tahu hendak berangkat pulang, ia kata.
"Kawanan dorna di dalam istana ada sangat berdengki terhadap kengliak, walaupun kengliak telah meletakkan jabatan, aku kuatir mereka masih mendendam dan berniat melampiaskannya, dari itu marilah kita berangkat bersama!"
Beng Kie juga berkuatir, baik selama mereka masih berada di kota raja maupun di tengah perjalanan, maka ia setujui pikirannya It Hang itu.
"Memang inilah paling baik!"
Katanya, tertawa.
"Kalian hendak pulang ke Butong san, mari kita berangkat bersama. Hanya paman gurumu itu tak menyenangkan untuk ditemani..."
It Hang tidak dapat berkata apa-apa, ia hanya bersenyum.
Setelah pembicaraan, Him Kengliak dan Pek Sek Toojin setuju untuk mereka berangkat bersama-sama.
Tetapi dalam perjalanan mereka terpisah menjadi dua rombongan, karena Beng Kie dan Pek Sek tidak cocok satu pada lain.
namun apabila ada perlunya, mereka dapat saling tolong.
Sebaliknya di waktu malam, mereka singgah di satu tempat penginapan.
Yang jalan terdahulu adalah rombongannya Him Kengliak.
Sekeluarnya rombongan ini dari perbatasan propinsi Hoopak, mereka sudah lantas dipapak Ang In dan Ceng Soo, kedua sutee atau adik seperguruannya dari Pek Sek, yang dititahkan oleh Uy Yap Toojin.
Karena pihak Butong san cepat sekali peroleh kabar tentang peristiwa di kota raja, hal pengalamannya Pek Sek dan It Hang beramai, maka kedua sutee itu segera ditugaskan pergi menyambut.
Kepada kedua sutee-nya Pek Sek omong banyak halnya adu pedang, bahwa Giok Lo Sat sudah menantangnya dengan sangat tidak memandang mata terhadap Butong san.
It Hang yang mendengar semua itu diam saja.
Ang In Toojin pernah mendapat malu dari Giok Lo Sat, ia merasa tidak puas.
"Tidak dapat tidak, hantu wanita itu mesti diajar adat!"
Katanya dengan sengit. Meski orang mengucap demikian, It Hang tetap bungkam. Pek Sek melirik kepada pemuda itu dan berkata.
"Jikalau kita kaum Butong san beragam satu hati, orang di kolong langit tak mungkin ada yang berani memandang enteng kepada kita!"
Setelah mengucap demikian, imam ini tertawa gelak-gelak, karena maksudnya hanya untuk menyindir It Hang.
Perjalanan dilanjutkan terus ke selatan.
Mereka tidak menghadapi arah perintang.
Mereka adalah orang-orang tangguh, umpama Gui Tiong Hian mengutus pahlawanpahlawannya untuk mengejarnyapun, belum tentu pahlawanpahlawan itu berani dengan lancang turun tangan terhadap mereka.
Lewat beberapa hari, tibalah mereka di gunung Siongsan.
LieThian Yang ingin sangat menjumpai isterinya selekas mungkin, isteri yang ia telah sia-siakan itu.
Pek Sek menyatakan suka menyertainya.
Juga Beng Kie suka turut bersama, karena ia ingin gunakan ketika sebaik ini untuk temui Keng Beng Tiangioo, ketua dari Siauwlim sie.
Maka itu mereka mendaki gunung dalam satu rombongan.
Kala itu adalah di saat dari berlalunya musim dingin atau mendatangnya musim semi, maka di sepanjang jalan, sampai di atas gunung, rombongan ini bagaikan disambut kicauannya burung-burung cilik dan bunga-bunga yang memekar dengan harum baunya.
Mereka sama-sama mendaki gunung tetapi pikirannya Lie Thian Yang dan Pek Sek Toojin berlainan.
Tapi umumnya mereka sama bergirang.
Thian Yang bisa berkata sambil tertawa.
"Hari ini barulah aku ketahui bahwa tinggal di pegunungan ada jauh lebih menang daripada berdiam di dalam istana."
"Eh!"
Seru Ang In yang tiba-tiba menyelak.
"Siapakah itu yang gerakannya demikian gesit?"
Imam ini lantas menunjuk ke bawah.
Semua orang berpaling, hingga merekapun tampak satu orang sedang berlari-lari naik, cepat bagaikan terbang, hingga di lain saat orang itu telah datang mendekati mereka.
Lie Thian Yang bersama puteranya dan It Hang, segera ambil sikap melindungi Pek Sek Toojin, mereka jalan di depan, sedang Ang In bersama Ceng Soo, dengan pedang terhunus, jalan di sebelah belakang.
Dalam tempo sekejap orang itu sudah berada di hadapan mereka, hingga Ang In tak saggup kendalikan diri lagi, segera saja ia maju menyerang dengan pedangnya.
Karena orang itu tidak lain daripada Giok Lo Sat.
"Giok Lo Sat, kau terlalu menghina kami pihak Butong pay!"
Berseru Ang In.
"Pek Sek Suheng belum dapat melayani kau piebu, maka sekarang baik aku saja yang melayaninya!"
Giok Lo Sat lompat menyingkir.
Ia sangat gusar.
Kedatangannya itu bukan untuk menyusul Pek Sek Toojin, hanya bersama ayahnya ia menyusul Him Kengliak dan Gak Beng Kie, karena hebatnya ilmu berlari cepatnya, ia telah tinggalkan ayah angkatnya di belakang.
Ia tidak sangka bahwa ia disambut secara demikian itu.
"Ang In Toojin!"
Katanya.
"kau adalah pecundangku, untuk apa kita adu pedang pula?"
Ejekannya nona itu membikin imam ini semakin gusar, ia segera menyerang pula.
Ia telah gunai jurus-jurus yang liehay dari ilmu pedang kaumnya yaitu Citcapjie Ciu Lianhoan Toatbeng kiam.
It Hang bergelisah sendirinya.
Ia sedang memapah paman gurunya, ia tidak dapat maju untuk cegah pertempuran walaupun ia kehendaki itu.
Ia mengawasi dengan pikiran tak keruan rasa.
Si Raksasi Kumala lihat Ang In menyerang ia secara kalap, ia melayaninya dengan kegesitannya.
Ialah ia menyingkir dari setiap serangan, ia menangkis dan mengancam dengan serangan pembalasan sambil tertawa haha-hihi mempermainkan imam itu.
Karena kemahirannya si nona, Ang In ada bagaikan terkurung sinar pedang.
Ceng Soo Toojin menyaksikan sekian lama, lantas ia dapat kenyataan, saudara seperguruannya bukanlah tandingan si nona.
Beberapa kali pedangnya Ang In telah disampok terpental hampir terlepas.
Maka untuk menolong saudara itu, ia lupa bahwa ia adalah salah satu dari Butong Ngoloo, ia lantas maju mengerubuti si nona.
Giok Lo Sat tidak keder walaupun dikepung kedua cabang atas dari Butong san itu, ia tetap perlihatkan kegesitan tubuhnya, ia berloncatan sekitar kedua lawan itu sambil kadang-kadang menggertak dengan pelbagai serangannya.
Maka itu, meski Butong Ngoloo ada berdua, mereka cuma dapat melayani dengan setanding.
Lie Thian Yang dan Liong Siauw In yang sedari tadi menonton saja, menjadi sangat heran.
"Ah, benar-benar ilmu silat pedangnya nona ini sungguh liehay!"
Kata Siauw In.
"Memang hebat,"
Sahut Thian Yang. Pek Sek dengar pembicaraan itu, wajahnya menjadi muram. Ia merasa jengah.
"It Hang, tak perlu aku dipapah pula!"
Serunya.
"Pergilah kau bantui kedua susiokmu itu! Kali ini, kalau siluman perempuan itu dibiarkan lolos, amblaslah nama harumnya kaum Butong pay!"
It Hang juga sama menduga bahwa Giok Lo Sat datang untuk mengejar Pek Sek, maka ia anggap perbuatan si nona sangat keterlaluan, akan tetapi di samping itu ia beranggapan, mungkin si nona hendak susul ia tapi telah disambut dengan serangannya Ang In, maka terjadilah pertarungan terpaksa.
Karena ini, ia menjadi bingung, hatinya tak tenteram.
"It Hang, kau masih diam saja?"
Tegur Pek Sek.
"Siluman perempuan ini adalah musuh kita, kau jangan pikir-pikir lagi kepada aturan kaum kangouw!"
Liong Siauw In tidak puas mendengar perkataannya jago Butong pay itu. Sambil bersenyum ia berkata seorang diri.
"Nona ini sanggup melayani dua dari Butong Ngoloo, dalam ilmu silat, ia adalah jago nomor satu dari jaman ini, sayang kalau ia dibinasakan..."
It Hang yang mendengar itu menjadi semakin ragu-ragu, hingga masih ia berdiri menjublek bagaikan patung saja.
"Kau tidak hendak maju?"
Pek Sek menegur pula dalam kemurkaannya yang hebat.
Sampai di situ, dengan terpaksa It Hang hunus pedangnya.
Giok Lo Sat sedang permainkan Ang In dan Ceng Soo apabila ia tampak majunya si anak muda.
Ia tertawa.
"It Hang, kau juga hendak maju?"
Tanyanya.
"Ah, hari ini benar-benar aku bakal menghadapi semua jago Butong!"
Dan ia lantas tertawa besar. It Hang yang baru maju mendekati dua tindak, merandek pula. Ia malu akan bertiga mengepung nona itu, apapula ia kenal baik orang yang akan dikepungnya itu.
"Mari! Mari maju!"
Giok Lo Sat menantang sambil terus melayani kedua lawan yang ia coba desak. Ia tertawa pula. Belum lagi It Hang mengambil sikap, tiba-tiba terdengar seruan.
"Lian Liehiap. tahan!"
Demikian seruan itu, yang orang kenali sebagai teriakannya Gak Beng Kie.
"Tahan! Tahan!"
Semua orang menoleh, maka tampaklah pemuda she Gak itu berlari-lari mendatangi bersama satu pendeta tua. Menggunai saat orang belum sampai, Giok Lo Sat mendesak dengan serangannya "Soatkian Congsan"
Atau "Salju menggulung gunung", dengan begitu ia paksa kedua lawannya, Ang In dan Ceng Soo, mundur dua tiga tindak.
"Gak Beng Kie, kau mengundang bala bantuan?"
Tertawa si nona.
"Bagus! Marilah kita bertarung sampai puas!"
Justeru itu Beng Kie dan si pendeta telah sampai, si nona papaki mereka dengan serangan "Hunhoa hutliu"
Atau "Memecah bunga, mengebut cabang yangliu".
Dengan begitu, ke kiri ia menikam Beng Kie, ke kanan ia menusuk si pendeta tua.
Ia kerahkan tenaga sepenuhnya.
Tapi begitu ia serang si pendeta, begitu juga ia rasakan tolakan yang keras sekali yang dibarengi pujian.
"Omietoohud!"
Dengan sendirinya, tangannya yang menyekal pedang itu tertolak mundur sampai ke dadanya. Ia sangat terperanjat. Si pendeta sambil tertawa, terus berkata.
"Omietoohud! Gunung yang suci ini tidak senang mendengar beradunya senjata-senjata, maka itu, liepousat, sudilah kau simpan pedangmu."
Giok Lo Sat awasi pendeta itu.
"Kau siapa?"
Tanyanya.
Diam-diam ia kerahkan tenaganya untuk mencoba, lagi satu kali.
Tapi belum sempat ia wujudkan niatnya itu, ia segera dengar satu teriakan keras dan panjang, yang segera muncul orangnya juga, ialah Tiat Hui Liong.
"Anak Lian, jangan tak tahu adat!"
Demikian suaranya ayah angkat itu, yang sampai dengan segera. Giok Lo Sat tercengang, ia urungkan serangannya. Pendeta itu menoleh pada Hui Liong dan manggut.
"Tiat Kiesu, sejak perpisahan kita, adakah kau banyak baik?"
Tanyanya. Hui Liong cepat-cepat membalas hormat.
"Keng Beng Siansu, harap maafkan anakku ini,"
Ia mohon.
Mendengar perkataan ayah angkat itu, tahulah Giok Lo Sat bahwa pendeta di hadapannya ini adalah ketua dari Siauwlim pay atau pendeta kepala dari Siauwlim sie, yang namanya dapat merendengi C ie Yang Tootiang dari Butong pay.
"Kalau begitu, pendeta ini bukan namanya saja yang kesohor,"
Pikir nona ini kemudian.
"Dia benar jauh lebih gagah daripada Butong Ngoloo."
Keng Beng Siansu berkata pula pada Hui Liong.
"Sesudahnya Cie Yang Tootiang dan Thian Touw Kiesu, baru sekarang pinCeng dapat lihat pula ilmu silat yang cemerlang. Inilah yang dinamakan jodoh. Tiat Kiesu, pinCeng undang kau bersama puterimu datang ke kuilku yang kecil untuk kita pasang omong. Sudikah kau?"
Diam-diam si Raksasi Kumala girang karena pendeta ini memuji-muji padanya. Sementara itu Tiat Hui Liong lihat Beng Kie, ia perdengarkan suara "Hm!"
Ia menjadi tidak senang kalau ia ingat bahwa dahulu gadisnya kabur karena pemuda ini.
"LooCianpwee..."
Kata Beng Kie dengan hormat. Hui Liong perlihatkan wajah muram, ia tidak sahuti Beng Kie, hingga pemuda she Gak ini menjadi jengah. Keng Beng Siansu tidak tahu ada "ganjalan"
Di antara kedua orang itu, ia kata pada Tiat Hui Liong.
"SieCu muda ini adalah orang kepercayaannya Him Kengliakjuga ahli waris satu-satunya dari Thian Touw Kiesu, ilmu pedangnya dapat direndengi dengan puterimu."
Mendengar itu, Giok Lo Sat tertawa dan campur bicara.
"Memang ilmu pedangnya tak dapat dicela, tapi tidak demikian dengan perilakunya..."
Keng Beng Siansu heran, sedang Beng Kie menjadi merah mukanya. Menampak demikian, tahulah pendeta ini apa artinya kata-kata si nona. Lantas ia tertawa.
"Him Kengliak ada di dalam kuilku,"
Katanya dengan simpangkan pembicaraan.
"Tadi Kengliak ada sebut-sebut juga tentang kau ayah dan anak..."
"Bagus!"
Kata si nona.
"Aku memang hendak kembalikan sarung tangannya!"
Lantas ia tarik tangan ayahnya, iapun ajak si pendeta berlalu.
Memang benar katanya Keng Beng Siansu hal Him Kengliak berada di kuilnya.
Di sana Kengliak itu mampir bersama Beng Kie.
Hanya, belum mereka duduk lama, Beng Kie lantas dengar suara senjata beradu.
Ia menduga pada aksinya Giok Lo Sat, maka itu ia ajak si pendeta pergi untuk melihat, ia sendiri mendahului berseru.
Dan dengan mempertunjukkan kekosenannya, Keng Beng Siansu dapat memisahkan pertempuran.
Keng Beng tidak lantas undurkan diri, lebih dahulu ia beri hormat pada Pek Sek Toojin, Ang In dan Ceng Soo bertiga, yang ia sekalian undang ke kuilnya.
Tentu sekali Pek Sek tidak sudi terima undangan itu, ia menolaknya dengan manis.
Katanya "Ada urusan penting untuk mana pintoo ingin ketemui adik perempuanku."
"Jikalau begitu, sebentar aku minta sukalah tootiang datang bersama-sama Cu Hui Suthay,"
Kata Keng Beng Siansu yang manis budi.
Kedua pihak lalu berpisahan.
Pek Sek Toojin bersama rombongannya terus mendaki Thaysit san.
Keng Beng Siansu balik ke kuilnya dengan ajak tamutamunya masuk ke ruang Kayheng Cengsia, di situ Cun Seng Siansu sedang duduk menemani Him Kengliak.
Giok Lo Sat segera menghampiri bekas panglima itu untuk mengembalikan sarung tangan mustika.
Him Teng Pek tertawa.
"Nona Lian, kau telah lakukan perjalanan seribu lie untuk menyusul aku untuk hanya mengembalikan benda tak berharga ini, sungguh kau seorang yang telah menelad contoh orang dahulu!"
Kata dia.
"Benda tak berharga? Ini justeYu benda mustika!"
Berkata si nona.
"Adalah dengan mengandalkan sarung tangan aku dapat mengalahkan Anghoa Kuibo. Dengan mengandalkan kepandaianku sendiri, aku bukanlah tandingannya siluman wanita tua itu!"
Giok Lo Sat bicara demikian polos, hingga Him Teng Pek tertawa bergelak-gelak.
"Lian Liehiap,"
Kata bekas panglima ini.
"apabila benar kau hendak menghaturkan terima kasih, jangan kau mengucapkannya itu terhadap aku, seharusnya terhadap dia..."
Dan ia sambuti sarung tangan itu untuk terus diserahkan kepada Beng Kie. Inilah di luar dugaan si Raksasi Kumala, hingga ia diam dengan bengong.
"Inilah urusan kecil yang tiada artinya,"
Kata Beng Kie dengan tenang.
"Budi besar tak ingin dibalas, tapi kebaikan dan penasaran harus dibedakan, demikian kebiasaan kaum kangouw,"
Mengatakan Tiat Hui Liong.
"Anakku Lian, urusan telah selesai, mari kita berangkat!"
Cun Seng Siansu heran.
"Tiat Kiesu,"
Katanya.
"kau baru sampai, bagaimana kau hendak lantas berangkat pula?"
"Persahabatan sejati tetap tinggal di hati kenapa mesti dinyatakan dengan omong sebentar atau omong lama?"
Sahut Hui Liong, yang telah rangkap kedua tangannya untuk memberi hormat pada Keng Beng Siansu semua, sesudah mana, ia berlalu bersama anak pungutnya. Him Teng Pek susul si nona.
"Nona Lian, tunggu sebentar!"
Memanggil bekas kengliak ini.
"Aku hendak bicara sedikit kepadamu."
Giok Lo Sat berpaling.
"Silakan,"
Sahutnya.
"Angkatan perang pemerintah akan sampai di Siamsay lagi beberapa hari,"
Berkata Teng Pek.
"maka itu, andaikata nona tak sudi terima Ciauwan, baiklah kau tak usah pulang."
Lian Nie Siang tertawa.
"Kengliak Tayjin, bagaimana kau pimpin tentara dahulu?"
Dia tanya. Him Teng Pek ketahui maksud orang.
"Suasana berlainan, hal itu tak dapat disamakan,"
Jawabnya sambil tertawa. Si nona masih berkata.
"Satu kepala perang tidak nanti mendahului tentaranya mengangkat kaki karena hanya menghadapi kesulitan, hingga tak dapat dia menderita bersama-sama tentaranya itu! Dahulu kau pimpin satu angkatan perang dari seratus laksa jiwa, akan tetapi yang aku kepalai adalah cuma beberapa ratus berandal wanita yang kau tidak pandang sebelah mata! Keadaan memang berlainan, akan tetapi semua itu di mataku sama saja."
Mendengar itu, Teng Pek menghela napas.
Tahulah ia bahwa tak dapat ia menasihati nona ini untuk tinggalkan penghidupan yang penuh bahaya dalam kalangan Rimba Hijau, maka tak ingin ia membujuk lebih jauh.
Seberlalunya ayah dan anak itu, Keng Beng Siansu pandang Beng Kie.
"Turut lagu bicaranya orang tua she Tiat itu, dia tak puas terhadap dirimu, apakah sebabnya itu?"
Tanya pendeta ini. Beng Kie tidak berani mendusta, terpaksa ia tuturkan lelakonnya yang mengenai urusan jodohnya Tiat San Ho.
"Kalau memang tak diniat-niat, nanti juga urusan akan beres sendirinya,"
Berkata pendeta itu.
"Kenapa kau tidak siang-siang beritahukan hal itu padaku?"
Tanya Teng Pek.
"Jikalau aku yang bicarakan kepada orang tua itu, mungkin dia memaafkan, setelah itu bolehlah aku yang nanti mengamprokkan jodohmu berdua..."
Beng Kie tidak menjawab, ia masgul sekali.
Selagi di kuil Siauwlim sie terjadi pertemuan seperti di atas.
Pek Sek Toojin bersama Lie Thian Yang beramai sudah jalan memutari gunung Selatan untuk mendaki puncak gunung Thaysit san di mana mereka sampai justeru Ho Lok Hoa, gadisnya imam itu, sedang bermain seorang diri di atas puncak.
Ketika si nona lihat ayahnya datang ia tertawa dan memanggil-manggil.
"Lekas ajak bibimu keluar!"
Bek Sek menyuruh. Lie Than Yang dengan hati tidak tenteram, berjalan paling belakang sekali, tidak lama kemudian muncul Cu Hui Suthay. Lie Sien Sie lari kepada ibunya "Mama!"
Dia memanggil. Pendeta wanita-itu girang sekali hingga air matanya meleleh keluar.
"Anakku!"
Katanya.
Tapi ia masih ingat akan segera haturkan terima kasih pada Liong Siauw In.
Lie Thian Yang mengawasi dengan diam saja la terharu bukan main akan menyaksikan pertemuan di antara ibu dan anak itu.
Ia lebih terharu lagi ketika memandang isterinya yang telah menjadi niekouw itu.
, Cu Hui tidak tanya suaminya itu, ia lebih repoti undangannya kepada Ang In beramai untuk masuk ke dalam kuil, ia jalan sambil menuntun tangan anaknya Sesudah tiba di dalam kuil, baru Sien Sie melihat ke sekitarnya.
"Ah! Mana ayah?"
Tanyanya. Siauw In pun segera berpaling. Benar-benar ia tidak tampak Thian Yang, yang rupanya diam-diam telah berlalu pergi.
"Buat apa ayah semacam itu!"
Berkata Cu Hui.
"Bagaimana dan di mana kau ketemu dia?"
Air matanya Sien Sie berlinang-linang.
"Ibu, kini ayah telah insyaf akan kekeliruan-kekeliruannya yang lampau, jangan ibu tolak padanya."
Anak ini lantas tuturkan lelakon pertemuannya dengan ayahnya itu, belum ia menutur habis, ibunya pun telah berlinangkan air mata.
Thian Yang menyingkir dengan tindakan perlahan, rupanya ia niat berlalu dari gunung, belum sampai ia di tengah gunung, sekonyong-konyong ia dengar panggilan.
"Thian Yang!"
Ia terkejut, lalu ia berpaling dengan perlahan. Segera ia tampak isterinya berlari-lari ke arahnya dengan kedua belah pipinya bermandikan air mata.
"Cu Hui Suthay, aku beri selamat kepada kau ibu dan anak, yang telah bertemu kembali satu sama lain,"
Kata dia dengan sabar.
"Aku sendiri tidak ada muka untuk berdiam lebih lama pula di sini. Semoga kau baik-baik pelihara dirimu dan merawat si Sien."
Cu Hui seka air matanya Tiba-tiba ia tertawa.
"Pada dua puluh tahun yang lalu kau tega meninggalkan kami,"
Katanya "apakah sekarang kau pun tega meninggalkan kami pula?"
"Kejadian yang lampau itu membuat aku sangat malu,"
Kata Thian Yang yang akui kekeliruannya "Baiklah kau anggap saja bahwa aku telah meninggal dunia..."
Isteri itu mengawasi suaminya "Macam-macam yang telah lampau adalah seperti yang telah mati kemarin, dan macammacam yang sekarang adalah seperti yang terlahir hari ini,"
Kata Cu Hui dengan perlahan.
Inilah kata-katanya Lie Thian Yang sendiri ketika ia kenali puteranya.
Maka, mendengar ucapan isteri itu, mengertilah ia bahwa Sien Sie tentu telah menuturkan segalanya kepada ibunya itu.
Thian Yang balik mengawasi isterinya itu.
Cu Hui bersenyum.
"Dan mulai hari ini, aku tidak lagi dipanggil Cu Hui,"
Ia tambahkan.
"Kie Hee,"
Kata Thian Yang, dengan befnapsu.
"apakah kau hendak kembali kepada penghidupan yang umum pula?"
Jawab pendeta wanita itu.
"Karena kau tidak sudi pangku pangkat lagi, akupun tak ingin terus menjadi niekouw. Tidakkah ini bagus?"
Air mata di kedua pipinya nyonya itu telah menjadi kering sendirinya, cahaya matanyapun j adi bersinar.
Thian Yang girang bukan kepalang.
Adalah di luar dugaannya bahwa isterinya ini dengan cepat dapat mengubah hatinya.
Hingga sekarang mereka bagaikan kaca pecah yang menjadi utuh pula Maka dengan berpegangan tangan, keduanya lantas mendaki gunung akan kembali ke kuil.
Pek Sek Toojin beramai bergelisah menampak Cu Hui tibatiba berlalu, untuk cari suaminya, maka ketika melihat orang kembali dengan telah akur kembali, mereka berlega hati bahkan menjadi sangat girang.
Mereka semua lantas menghaturkan selamat.
Selagi orang tertawa riuh, Pek Sek Toojin tampak Gok Hoa berdiri berendeng dengan Lie Sien Sie, nampaknya pemuda dan pemudi itu erat sekali perhubungannya satu dengan lain.
"Engko, aku juga hendak memberi selamat kepadamu!"
Tiba-tiba Kie Hee kata pada kakaknya itu. Pek Sek heran.
"Beri selamat untuk soal apa?"
Tanyanya.
"Mari masuk ke dalam,"
Kie Hee meminta.
"Aku hendak bicara dengan kau."
Pek Sek berdiam dan mengawasi adiknya itu. Tapi kemudian ia turut adiknya masuk ke dalam.
"Engko, bagaimana penglihatanmu atas diri Sien Sie?"
Adik itu tanya.
"Dalam hal ilmu silat dan perilakunya, dia tiada kecela,"
Sahut kakak itu.
"Setelah pelbagai pengalaman,"
Kata Kie Hee.
"sekarang tahulah aku bahwa urusan pernikahan tak dapat dipaksakan. Gok Hoa dan Sien Sie hidup bersama sedari masih kecil, kelihatannya mereka rukun sekali satu pada lain, maka engko, bagaimana pikiranmu andaikata persanakan kita ditambah persanakan pula?"
Pek Sek Tooj in berdiam.
Ia tidak dapat lantas berikan jawabannya.
Ia sudah lakukan perjalanan ribuan lie .mengikuti To It Hang, ia dapat kenyataan pemuda itu bukanlah pasangan puterinya.
lapun telah saksikan sendiri kisah percintaan dari adiknya ini.
Maka ia jengah ketika mendengar perkataan Kie Hee bahwa "urusan pernikahan tak dapat dipaksakan", la sampai merasakan mukanya panas sendirinya.
"Katakanlah terus terang engko,"
Kie Hee mendesak. Ia tak tahu apa yang dipikirkan kakak itu.
"Apakah kau cela Sien Sie tak sembabat untuk menjadi pasangannya Gok Hoa?"
Pek Sek tertawa, dengan terpaksa.
"Jangan mengatakan demikian, adikku,"
Sahutnya.
"Asal keduanya setuju satu sama lain, kita yang menjadi orang tua tak usah pusingkan kepala lagi."
Kie Hee bersenyum. Ia lantas panggil Sien Sie dan Gok Hoa. Kepada mereka Kie Hee beritahu tentang perjodohan mereka.
"Engku..."
Memanggil Sien Sie kepada pamannya, dengan selagu-lagunya "Anak tolol!"
Kie Hee tegur puteranya.
"sampaipun membahasakan mertua kau tak tahu!..."
Sien Sie likat tapi ia lantas memanggil "gakhu"
Pada bakal mertuanya itu dan terus paykui memberi hormat sambil berlutut dan manggut.
Gok Hoa bersenyum, ia nampaknya sangat girang.
Menampak demikian, walaupun hatinya tidak cocok, Pek Sek Tooj in pun bersenyum, ia terima usulnya Kie Hee itu.
Tapi ia lantas kata pada keponakan atau bakal baba mantunya itu.
"Sien, ilmu silatmu masih jauh daripada sempurna, kau masih harus berlatih pula dengan sungguh-sungguh. Baiklah kau turut aku ke Butong san, di sana aku nanti mohonkan Suheng Uy Yap Toojin terima kau sebagai muridnya. Selama sepuluh tahun ini, bukankah kau baru meyakinkan ilmu pedang Ngobie pay? Ilmu pedang dari Liong Siauw ln cukup baik, hanya..."
Imam ini tidak meneruskannya, ia menggeleng kepala. Kie Hee tidak puas.
"Kau maksudkan ilmu pedang Ngobie pay tak dapat menandingi ilmu pedang kaum Butong pay?"
"Aku bukan maksudkan demikian, aku hanya ingin si Sien peroleh kemajuan,"
Jawabnya engko itu yang menyimpang.
"Jikalau tidak ada Liong Siauw In, yang mengajarkannya, bagaimana dia dapat jadi seperti sekarang?"
Kata pula Kie Hee, yang menyatakan tak puasnya terhadap sikap kakaknya itu. Justeru itu dari luar, terdengar suara memanggil.
"Sien Sie! Sien Sie!"
Itulah suaranya Liong Siauw In. Mendengar panggilan itu, Sien Sie lantas kata pada bakal mertuanya.
"Terima kasih atas kebaikan hati gakhu. Tapi untuk belajar silat lebih jauh dengan menukar guru dan kaum, perlu aku memberitahukan lebih dahulu kepada guruku."
Lantas pemuda ini pergi menghampiri gurunya, kemudian dia kembali bersama guru itu.
Sien Sie segera beritahukan gurunya tentang usulnya Pek Sek Toojin, mendengar mana, Siauw In dengan segala senang hati berikan perkenannya Semua orang girang mendengar perjodohan itu mereka beri selamat pada Kie Hee dan Pek Sek, terutama kepada sepasang calon pengantin itu.
It Hang pun tidak terkecuali, ia jabat tangannya Sien Sie sambil mendoakan kebahagiaan.
Ia nampaknya j adi bebas sekali, hingga baik terhadap Pek Sek Toojin maupun terhadap Kie Hee, ia bisa bicara dengan leluasa, tak likat-likat lagi.
Di dalam hatinya Sien Sie kata.
"Kiranya It Hang seorang yang baik, nyata aku telah menganggap keliru kepadanya"
Melainkan Pek Sek Toojin, walaupun jodoh puterinya sudah ada ketetapannya, hatinya masih belum senang benar, karena ia tidak dapat capai maksud hatinya semula.
Di hari kedua, perjalanan dilanjutkan pula, menuju ke selatan.
Kedua rombongan masih tetap jalan bersama.
Setengah bulan kemudian, sesampainya di wilayah Ouwpak, baru mereka berpisah rombongan.
Yakni Him Teng Pek bersama Gak Beng Kie dan Ong Can pulang ke kampung halamannya di Kanghee, Liong Siauw In kembali ke Ngobie san, dan rombongan Pek Sek Toojin pulang ke Butong san.
Begitu lekas melihat It Hang, Uy Yap Toojin lalu timbulkan soal ahli waris Butong pay untuk It Hang segera menerimanya sebagai ketua.
"Sekarang ini teeCu masih berkabung, teeCu ingin pulang dahulu ke kampung halamanku untuk mengurus pemakaman jenazah engkongku,"
Berkata It Hang.
"Nanti, sesudah tiga tahun teeCu suka mengenakan kopiah kuning pulang ke gunung untuk menerima segala titah susiok."
"Kau menjadi Ciangbunjin, tak usah menjadi imam!"
Berkata Uy Yap Toojin sambil tertawa.
"Dalam keluargamu selama tiga turunan, kau adalah turunan yang tunggal, maka itu tak dapat kau menjadi imam seperti kami."
"TeeCu telah menginsyafi penghidupan dalam dunia, hatiku telah jadi tawar,"
Menyatakan It Hang. Uy Yap Toojin bersenyum, ia melirik kepada Pek Sek Toojin. Wajahnya Pek Sek menjadi kemerah-merahan. Ia kata kepada si anak muda.
"Tunggu sampai kau nanti menikah dan peroleh anak untuk menjadi imam temponya belum terlambat. Kami pandang kau sebagai putera sendiri, pasti kami akan carikan kau satu nona yang sempurna. Giok Lo Sat itu perempuan liar, sukar dididiknya, dia juga menjadi musuh umum dari kita pihak Butong pay. Janganlah kau bergaul dengan dia!"
Uy Yap belum diberitahu halnya Gok Hoa telah ditunangkan kepada lain orang, mendengar sutee-nya ini, ia melengak.
Adalah kemudian, setelah tiba sang sore, ketika Pek Sek Toojin omong hal Sien Sie yang dia minta suheng ini suka terima sebagai murid, baru ia ketahui itu.
It Hang berdiam setengah bulan di Butong san, sehabisnya bersembahyang di kuburan gurunya, baru ia turun gunung pulang ke kampungnya.
Sebenarnya Uy Yap Toojin ingin minta Pek Sek mengiringi bakal ketua ini, akan tetapi It Hang sendiri menolaknya dengan getas.
Di lain pihak, Pek Sek tidak lagi menyayangi keponakan murid ini sebagai dulu-dulu, mendengar penolakannya pemuda ini, iapun tidak kata apa-apa.
Ketika itu pasukan perang kerajaan Beng, yang berada di bawah pimpinan Pengko Kiesu tiong Lauw Yan Goan sebagai kepala perang, sedang asyiknya menumpas kawanan berandal di wilayah Siamsay.
Maka itu dalam perjalanan It Hang seringsering mendapat pemeriksaan keras.
Syukur baginya, baik ayah maupun engkongnya pernah memangku pangkat tinggi, dan Panglima Lauw Yan Goan itu pernah menjadi orang scbawahan engkongnya, maka setelah ia berikan keterangan, ia dapat lewat dengan leluasa.
Tapi kemudian, untuk menyingkirkan kepusingan, ia sengaja berangkat dengan ikuti tentara negeri itu.
Selang beberapa hari, tibalah It Hang di gunung Tengkun san di Coantong, SuCoan Timur.
Itulah gunung di mana Giok Lo Sat telah dirikan pesanggrahannya.
Sekarang ia tampak pesanggrahan itu sudah runtuh dibakar menjadi abu, masih ada sisa asapnya yang mengepul keluar.
Tentu saja ia kaget menampak musnahnya gunung itu.
"Inilah pertempuran dalam mana kita tak turut ambil bagian,"
Berkata satu punggawa, yang ditanyakan It Hang.
"Kabarnya pertempuran di sini sangathebat dan tercampurjuga kisah asmara di dalamnya..."
"Bagaimana duduknya hal?"
It Hang menanya pula.
"Menurut cerita, gunung ini diduduki oleh pasukan berandal wanita seluruhnya,"
Menerangkan punggawa itu.
"Katanya semua berandal cantik elok, akan tetapi di waktu bertempur, mereka sangat gagah dan galak sekali. Jumlah mereka cuma beberapa ratus jiwa, jumlah tentara ada tiga ribu serdadu berkuda, tetapi untuk memecahkan gunung ini, telah menggunai tempo mengurung dan menyerang sampai setengah bulan lamanya. Separuh dari jumlah tentara kita telah roboh sebagai korban, dan beberapa berandal wanita dapat meloloskan diri. Ada belasan berandal wanita itu yang tertawan, mereka lantas dirampas oleh perwira-perwira atasan. Tiga perwira ingin lantas menikah, tetapi pada malam harinya mereka dibunuh mati oleh nona-nona berandal itu. Hal ini membikin keder perwira-perwira lainnya. Baru setelah kejadian itu, semua berandal itu lantas dihukum mati. Syukur pasukan yang akan turut tidak menyertai dalam serbuan itu, kalau tidak, mungkin akupun turut menjadi hantu asmara..."
Lalu punggawa yang bercerita ini tertawa. It Hang berubah wajahnya.
"Bagaimana dengan Giok Lo Sal si kepala berandal itu?"
Dia tanya.
"Giok Lo Sat?"
Mengulangkan punggawa itu.
"Kau kenal Giok Lo Sat?"
"Pernah aku dengar dari pembicaraannya kaum Rimba Persilatan."
Punggawa itu berdiam, lalu ia tertawa.
"Ya, aku lupa, bahwa kau murid terpandai dari Butong pay!"
Katanya.
"Memang tidak aneh kalau ada sahabatsahabat kaum Rimha Persilatan yang bicara padamu tentang Giok Lo Sat itu. Dia sangat kesohor, kabarnya dia galak tiada bandingan, dia adalah ratu iblis tukang sembelih manusia dengan mata tak berkesip. Tapi syukur, waktu gunung diserang, GiokLo Sat kebetulan tidak ada di tempat, kalau tidak, mungkin sulit untuk peroleh kemenangan."
Lega juga hatinya It Hang.
Pasukan itu menuju ke Yanan, inilah kebetulan, sebab kampung halamannya Keluarga To adalah dalam daerah kota itu, maka It Hang diantar sampai di rumahnya sendiri.
Oleh karena duduknya perkara sudah jelas, rumah keluarga To tidak disegel terus, semua pegawainya sudah pada kembali.
Mereka girang melihat majikannya yang muda ini pulang dengan tidak kurang suatu apa.
It Hang dapat berdiam dengan tenteram di rumahnya, ia berlatih terus ilmu silat dan ilmu suratnya.
Sekarang marilah kita tengok Giok Lo Sat, yang berangkat bersama-sama ayah angkatnya, Tiat Hui Liong, luga mereka ini tidak dapat terus berada bersama.
Giok Lo Sat tahu, bahwa pasukan negara telah diberangkatkan ke propinsi Siamsay, ia ingin segera kembali ke gunungnya untuk tengok barisannya, yang telah lama ia tinggalkan.
Tiat Hui Liong sebaliknya ingin cari San Ho, puterinya.
Karena tujuan yang berlainan inilah mereka terpaksa berpisahan.
Ketika si Raksasi Kumala sampai di Tengkun san, di gunungnya itu, ia telah terlambat tiga hari.
Pada tiga hari sebelumnya ia tiba, tentara negeri telah menghancur leburkan gunungnya itu, sisa laskarnya banyak yang lolos, tentara negeri pun telah maju lebih jauh ke lain arah.
Bukan main menyesal dan murkanya nona kita.
Pasukannya adalah pasukan yang terlatih, yang ia sayangi.
Ia menyangka pasukannya itu telah termusnah semua Maka ia hunus pedangnya dan membacok batu, ia angkat sumpah akan menuntut balas untuk anak buahnya itu!
Lalu, dengan menyamar sebagai satu pemuda, Giok Lo Sat menuju ke Siamsay Utara.
Ia niat bergabung dengan Ong Kee In untuk bersama-sama beri hajaran pada tentara negeri.
Di sepanjang jalan ini, ada saja tentara negeri, tetapi Giok Lo Sat yang tidak hendak memusingkan diri senantiasa menyingkir dari mereka itu.
Ia berangkat cepat siang dan malam.
Tidak sampai empat hari, ia sudah sampai di Kongkoan dari mana untuk menuju ke Yanan, perjalanan tinggal lagi satu hari.
Maka dengan lekas ia akan dapat lewati kota Yanan itu, dan dengan terus berjalan dengan cepat, tidak sampai tiga hari lagi tibalah ia di BieCie, pusat kawanan berandal dari Siamsay Utara.
Begitulah, walaupun sudah magrib, Giok Lo Sat telah lanjutkan perjalanannya.
Di tengah jalan ia berpapasan dengan beberapa penunggang kuda, yang telah larikan binatang tunggangannya keras sekali.
Selagi penunggang-penunggang kuda datang semakin dekat, Giok Lo Sat telah pasang matanya dengan tajam, ia merasa seperti mengenali salah seorang di antara mereka itu.
Tapi, selagi berpapasan, ia lewat dengan cepat sekali sehingga mengejutkan mereka itu.
Seorang di antaranya menyabet dengan cambuknya Bahna gesitnya nona kita lolos dari cambukan itu.
"Ai!"
Orang itu berseru.
"Dia manusia atau hantu?"
Di waktu magrib seperti itu, sulit untuk orang dapat melihat tegas. Salah seorang lain tertawa dingin.
"Di Siamsay Utara ini ada banyak orang berilmu, sayang kita telah kasih dia lewat..."
Kata seorang lainnya lagi.
Giok Lo Sat sementara itu, dalam sepintas lalu telah dapat lihat nyata wajahnya beberapa orang itu.
Jumlah mereka berenam, yang tiga bertubuh tegap dan kekar, hidung bengkung dan mulutnya lebar, mereka tidak mirip dengan orang-orang Han (Tionghoa asli).
Dan yang tiga lainnya yang satu muda dan cakap ganteng, dua lainnya dandanannya seperti pembesar militer.
Adalah satu dari dua perwira ini yang menyambuk Giok Lo Sat.
Dilihat dari gerakan tangannya, dia mestinya bukan orang sembarang.
Yang paling menarik perhatiannya Giok Lo Sat adalah pemuda yang berjalan paling belakang itu, yang wajahnya mirip dengan Tiat San Ho dalam penyamaran.
"Heran, kenapa dia berada sama mereka itu?"
Nona kita berpikir.
"Ayah sedang cari padanya, ayah tentu bingung sekali, aku tak sangka di sini aku dapat ketemukan padanya. Malam ini aku harus tunda dahulu perjalanan, aku hendak kuntit nona ini untuk ketahui, ke mana dia hendak pergi dan apa maksudnya..."
Rombongan itu ternyata menuju ke kantor tiekoan kota Kongkoan dan masuk ke dalamnya.
Giok Lo Sat lantas cari rumah penginapan untuk beristirahat.
Kira-kira jam tiga dengan diam-diam ia keluar dari kamarnya menuju ke kantor tiekoan tadi Dengan berani ia menyelundup masuk ke pekarangan dalam.
Ia tidak takut pada orang ronda, malah ia totok tubuh seorang jaga malam, untuk korek keterangan dari mulutnya enam orang tadi.
Orang ronda itu tidak dapat memberi jawaban, dia bukannya opas.
"Apakah kau tahu di mana kamarnya camat?"
Giok Lo Sat tanya. Mengenai kamarnya camat (tiekoan), orang ronda itu ketahui, maka ia berikan keterangannya "Maaf, kau tunggulah sebentar..."
Kata nona ini, yang terus merobek bajunya peronda itu, untuk dipakai menyumbat mulutnya, lalu orangnya dicancang di suatu pojok pada sebuah singa-singaan batu.
Kemudian, sebagai juga wakilnya peronda itu, ia jemput kentongan untuk dipalu beberapa kali, kemudian ia bertindak menurut arah yang ditunjuk peronda itu.
Dari dalam kamar masih terlihat cahaya api yang menandakan bahwa tiekoan masih belum tidur.
Maka Giok Lo Sat lantas menghampiri jendela di mana ia mendekam memasang kuping.
"Beberapa tetamu itu harus dilayani baik-baik,"
Demikian terdengar satu suara-terang suaranya tiekoan.
"Baik kau suruh budak antarkan yanoh yang telah dimasak matang itu."
"Yanoh memang sudah tersedia,"
Sahut satu suara wanita, mungkin nyonya tiekoan.
"Hanya dipesannya supaya dua mangkok di antaranya jangan diganggu..."
"Ah!..."
Tiekoan itu bersuara pula.
"Baiklah kalau begitu, besok saja suguhkan kepada mereka."
"Orang asing itu sebenarnya siapa?"
Sang nyonya tanya.
"Kenapa pemerintah sampai tugaskan dua pemimpin dari barisan Gielimkun untuk mengantar mereka?"
Tiekoan itu tertawa perlahan.
"Pemuda asing itu,"
Katanya.
"kabarnya adalah puteranya raja dari satu negara kecil di Barat."
"Pantaslah kedua tongnia Gielimkun itu kelihatannya sangat menghormati kepadanya,"
Berkata pula si nyonya.
"Itulah sudah selayaknya,"
Kata tiekoan.
"Putera raja itu berkedudukan sebagai utusan negaranya, apabila ada terjadi sesuatu atas dirinya, bukan hanya si tongnia pengantarnya yang bakal dihukum tapi juga pembesar-pembesar setempat yang wilayahnya telah dilewati."
"Ah, itulah hebat!..."
Seru si nyonya.
"Sekarang jaman sedang kalut, di mana-mana ada pemberontak atau berandal, bagaimana apabila terjadi sesuatu dalam daerah kita?..."
"Jangan kuatir, hujin,"
Menghibur si tiekoan.
"Dua tongnia itu adalah orang-orang liehay dan di dalam wilayah kita juga ada beberapa ribu serdadu berkuda, aku percaya orang jahat tidak akan berani sembarang bergerak."
Di mulutnya tiekoan itu mengucap demikian, akan tetapi hatinya sebenarnya tidak tenteram, sebab tanggung jawabnya ada besar sekali.
"Sekarang sudah jam tiga lewat,"
Kata tiekoan itu kemudian seorang diri.
"maka sebentar lagi, hari akan sudah terang tanah. Asal malam ini lewat dengan selamat, besok pagi mereka sudah akan berangkat pergi, tanpa setengah harian mereka akan sudah lintasi perbatasan kita. Di waktu siang benderang, dan banyak tentara di jalan-jalan, aku percaya mereka bisa lakukan perjalanan dengan tak kurang suatu apa."
Tiekoan ini asalnya orang peperangan, hatinya tabah juga.
"Supaya hatimu tetap, nanti aku keluar sebentar,"
Kata lagi ia pada isterinya, selang sesaat.
Lalu dengan bawa golok, dia keluar dari kamar.
Dengan diam-diam si Raksasi Kumala kuntit camat ini.
Tiekoan dari Kongkoan ini menuju ke ujung barat, di sana ada sebuah loteng yang di bagian bawahnya dijaga beberapa orang polisi.
Mereka itu memberi hormat melihat sep ini datang meronda.
"Semua pembesar sudah tidur,"
Kata satu orang polisi.
"Tayjin jangan kuatir."
Sep itu melihat ke sekitarnya.
"Baiklah,"
Jawabnya.
"Kalian harus berhati-hati."
Giok Lo Sat yang umpetkan diri di atas sebuah pohon, tertawa di dalam hatinya.
Ia tunggu sampai tiekoan sudah pergi, lantas ia mencari jalan untuk naik ke loteng.
Ia dapat bergerak dengan merdeka karena sinar bulan terhalangkan cabang-cabang pohon yang daunnya lebat.
Untuk sementara ia mendekam di pojokan.
Tidak antara lama terdengarlah tindakan kaki perlahan di tangga loteng.
Untuk selamatkan diri nona kita mendahului lompat naik ke atas penglari dengan terus mendekam, ia kuatir orang dapat lihat padanya.
Orang yang baru datang itu mengetok pintu sebuah kamar di sebelah timur, dia mengetok tiga kali, atas mana di dalam terlihat sinar api yang baru dinyalakan.
Dari terangnya sinar api itu.
Giok Lo Sat segera kenali orang yang datang ini, ialah In Yan Peng dengan siapa ia pernah bertempur di Yanan.
"Dia adalah pahlawan dari istana, malam-malam dia datang kemari, apa dia mau?"
Pikir nona kita.
"Mungkinkah pemerintah kuatir kedua tongnia masih belum cukup hingga In Yang Peng harus bantu melindunginya?"
Sebegitu lekas pintu dipentang, In Yan Peng segera bertindak masuk, lalu pintu itu ditutup pula. Setelah itu dari dalam terdengar suara orang tertawa dan bicara katanya.
"Selamat, In Tayjin! Kau telah ditugaskan memimpin tentara di bagian luar, jauh lebih bagus daripada berdiam saja di dalam istana!"
Pasti itulah suaranya perwira dari kamar itu.
"Tidakkah kedua-duanya sama' saja?"
Kata In Yan Peng.
"Biar bagaimana, di luar lebih menyenangkan!"
Kata siperwira. Lalu terdengar pula suaranya In Yan Peng, suara tertawa yang seperti mengandung rahasia. Giok Lo Sat heran.
"Dia telah jadi perwira yang mengendalikan pasukan perang, kenapa dia muncul di sini bagaikan pencuri"
Ia berpikir. Masih terdengar tertawanya In Yan Peng, lalu dia berkata.
"Di depan kita sekarang ada sejumlah besar minyak dan air, yang dapat kita sendok, mengenai itu aku ingin berdamai dengan kalian kedua saudara."
"Begitu? Silakan bicara!"
Kata kedua perwira di dalam kamar loteng itu.
"Kemarin aku terima surat dari Lauw Taysu,"
Berkata In Yan Peng.
"Surat itu mengatakan halnya satu utusan negara asing bakal lewat dalam wilayah kita, aku diminta bantu melindungi utusan itu. Aku tidak sangka kalianlah yang ditugaskan mengantar utusan itu. Inilah kebetulan!"
Segera caranya mereka bicara jadi bertukar sifat.
Inilah disebabkan kedua pembesar yang bernama Ong Teng Hok dan Ong Teng Lok, adalah pahlawan-pahlawan Gielimkun yang dahulu bersahabat kekal dengan In Yan Peng ini.
"Saudara In,"
Berkata Ong Teng Hok kemudian, kami juga tidak menduga bahwa kau berada di sini bersama pastikan tentaramu.
Aku percaya, begitu lekas kita sudah melalui wilayah ini, kau dapat bergerak dengan merdeka dan dengan kami sudah tidak ada sangkutannya pula."
"Sebaliknya, dalam hal itu aku hendak minta bantuanmu kedua saudara,"
Kata In Yan Peng.
"Aku mengandalkan sangat tenagamu."
"Apakah In Tayjin main-main?"
Teng Lok tanya. Tapi Teng Hok telah dapat duga maksud orang.
"Minyak dan air itu tak dapat disendok,"
Ia menjelaskan sambil tertawa.
"Sebab apa?"
Yan Peng tanya.
"Kami adalah petugas yang melindungi orang asing itu,"
Teng Hok terangkan dengan perlahan.
"jikalau kami sendiri yang begal dia, dosa kami harus ditambah tiga tingkat. Apakah kau tak takut nanti dihukum mati sampai pada sekeluargamu?"
Sambil berkata pahlawan ini kedua tangannya melukiskan bagaimana golok algojo menabas batang leher.
Kata-kata itu diucapkan demikian perlahan, sampai Giok Lo Sat cuma dengar beberapa perkataan saja, namun sebagai seorang ulung dalam dunia Rimba Hijau, dapat ia menduga maksud orang.
Pangeran asing itu datang berkunjung secara resmi, pasti raja telah menghadiahkan emas, perak dan mutiara kepadanya, jumlah itu cukup besar buat jadi sasarannya kaum Jalan Hitam, tapi tak mungkin ada orang Jalan Hitam yang berani lancang turun tangan.
Siapa tahu In Yan Peng, seorang panglima, justeru dia yang mendapat ingatan berani itu!
Dengan sabar si Raksasi Kumala terus pasang kupingnya.
"Aku telah memikir pasti, saudaraku,"
In Yan Peng kata pula.
"Kalian berdua boleh tetapkan hatimu, aku tanggung tidak akan ada bahayanya."
"Kami percaya akan pengutaraanmu, tayjin,"
Berkata Ong Teng Hok. Ia telah dapat menduga maksudnya In Yan Peng, tapi ia masih berpura-pura.
"Sekarang jaman sedang kalut, di mana-mana banyak muncul orang-orang jahat,"
Menerangkan In Yan Peng.
"maka itu, andaikata kita kerjakan orang-orang asing itu, janganlah kalian kuatir kena kerembet-rembet. Sehabisnya membinasakan mereka, akupun nanti lukai juga kalian..."
"Untuk apakah itu?"
Teng Lok memotong.
"Manusia tolol!"
Teng Hok tertawa.
"Kenapa kau taidak dapat terka maksudnya akal itu? Kita nanti biarkan In Tayjin melukai kita, tentu saja di bagian anggauta tubuh yang tidak berbahaya. Ini sebagai pelabi belaka. Diumpamakan kita dibegal, kita melakukan perlawanan, lalu kita terluka, meski benar perlawanan kita gagal, tapi kita toh terluka, kesalahan kita menjadi enteng, hukumannya paling juga kita bakal dipecat..."
"Kita mempunyai Gui Kongkong sebagai tulang punggung, mungkin sekali dipecat pun tidak,"
In Yan Peng tambahkan.
"Hanya saudara, dapatkah kalian terangkan macam bentuknya barang-barang berharga itu?"
"Jelasnya aku tidak tahu,"
Sahutnya Ong Teng Hok.
"Menurut keterangannya Gui Kongkong, raja cilik girang bukan kepalang menerima kunjungannya seorang pangeran dari negara lain. Bukankah ia baru saja duduk atas tahta? Maka itu, karena kegirangannya, tanpa pikir-pikir lagi, secara sembarangan saja ia memberi hadiah selaku tanda peringatan. Katanya, di antaranya ada sepotong kumala seharga sejuta lebih. Ketika Gui Kongkong menyebutkannya permata itu, dia sendiri sangat mengilerkannya..."
"Apakah beberapa anjing asing itu mengerti ilmu silat?"
Menanyakan In Yan Peng lebih jauh.
"Dilihat dari sikapnya, mungkin mereka mengerti juga,"
Sahut Teng Hok.
"Dan tampaknya bukan ahli."
"Adalah si bocah, yang menjemukan,"
Baca Juga: Misteri Kapal Layar Pancawarna 14
Baca Juga: Kilas Balik Merah Salju 6