Wanita Gagah Perkasa 6

Eps 6 Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen

Baca online Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen

Cersil Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen.

Mereka ini adalah hamba-hambanya Gui Tiong Hian.

Beng Kie dan Ong Ciang berdiri di depan Him Teng Pek, mereka berkelahi mati-matian untuk belai sepnya itu.

Untung bagi mereka sejumlah pahlawan yang tidak lari, tidak mendesak seperti kawan mereka yang sembilan belas itu mereka hanya mengurung.

Yang hebat adalah desakannya Bouwyong Ciong dan Kim Tok Ek.

Sebentar kemudian Seng Kun, yang turut ceburkan diri dalam pertempuran, telah kena dihajar pundaknya, sedang Him Kengliak terbacok bahunya yang kiri.

Kedua matanya Beng Kie menjadi merah, sangat gusar dan mendongkol, karena perlawanannya sia-sia saja untuk mundurkan musuh yang banyak dan liehay itu.

Ia berkelahi mati-matian!

Selagi pertempuran dahsyat berlangsung, tiba-tiba beberapa pahlawan keluarkan jeritan dari kesakitan yang hebat, di antara jeritan itu segera terdengar seman nyaring.

"Kim Laokoay! Akhir-akhirnya dapat juga aku cari padamu!"

Kim Tok Ek kaget tetapi dia berteriak.

"Cek Hiantee, kau sambut dia untuk sepuluh jurus!"

Belum lagi orang yang dipanggil "Cek Hiantee"

Atau "adik Cek"

Itu menyahuti, di antara suara berisik itu terdengar suara ketawa nyaring tetapi halus dan terang sekali, disusul pula kata-kata.

"Masih ada aku di sini! Kim Laokoay. inilah pertemuan kita yang pertama kali, kau suka atau tidak memberi muka padaku dengan menghadiahkan pukulanmu kepadaku?"

Kata-kata itu lantas disusul dengan berkelebatnya sinar pedang yang menyilaukan mata dan munculnya orang yang tertawa itu, ialah Giok Lo Sat.

yang dengan pedangnya sudah melabrak sana-sini, hingga dalam sejenak itu, ia telah dapat lukai tujuh atau delapan pahlawan, maka cepat juga ia sampai di pusat pertempuran itu.

Bouwyong Thiong jadi sangat murka, mendadak ia serang si nona!

Giok Lo Sat tidak menyangka untuk serangan ini, hampir saja ia menjadi korban.

Syukur ia gesit, berbareng dengan kelitannya iapun balas menikam.

Maka berbalik pahlawan itu yang menjadi kaget, karena hampir saja dia kena tertikam.

Giok Lo Sat yang tabah itu tertawa walaupun ia lihat keadaan pihaknya yang terkurung.

"Tidaklah bagus akan bertempur secara begini!"

Katanya. Dengan satu gerakan, kembali Giok Lo Sat lukai satu pahlawan, kemudian, setelah berkelit dari serangan Bouwyong Ciong, ia lompat kepada Beng Kie. Pemuda she Gak itu girang bukan kepalang.

"Lian Liehiap lekas kau lindungi Taysu!"

Dia berseru. Tapi si nona sambut ia dengan tertawa dingin.

"Aku tidak perdulikan taysumu itu, aku datang hanya untuk urusan kitab ilmu pedangku!"

Menjawabnya.

Dan ia tutup kata-katanya dengan satu lompatan diberikuti tikaman terhadap Kim Laokoay.

Kim Tok Ek sambut serangan dengan satu pukulan angin, sampai si nona tertolak mundur.

Tapi nona itu kembali maju menyerang sambil berjaga diri.

"Ha, kau benar liehay!"

Kata nona ini sambil tertawa.

"Tapi tidak cocok untuk kau mempunyai kitab ilmu pedangku!"

Giok Lo Sat tutup perkataannya dengan serangannya dua kali beruntun, hingga memaksakan si orang she Kim itu mundur. Beng Kie mengerti maksudnya si nona.

"Lian Liehiap, kitabmu ada padaku!"

Ia serukan.

"Hari ini kau telah bantu aku, terimalah ucapan terima kasihku!"

Masih si nona menjawabnya dengan dingin.

"Aku tidak terima kebaikanmu, aku juga tidak keluarkan tenaga untukmu!"

Demikian katanya.

Meski ia mengucap demikian, namun desakannya kepada Tok Ek hebat sekali.

Selagi berkelahi, Beng Kie masih dapat kesempatan akan memasang mata.

Maka heranlah ia ketika ia lihat pedangnya si nona, pedang yang mirip Yuliong kiam.

kepunyaannya.

Dalam pertempuran dahsyat itu, dari kelompok sebelah luar ada terdengar seruan nyaring.

"Kim Toako, inilah satu yang keras!"

Atas itu. Kim Tok Ek segera menyahutinya.

"Aku tahu! Kau pecah tenaga untuk kurung dia!"

Giok Lo Sat pun turut perdengarkan tertawanya, kemudian ia serukan ayahnya.

"Ayah, kau boleh menerjang kemari! Kim Laokoay ada di sini!"

Satu suara orang tua tetapi nyaring terdengar memberi jawaban.

"Baik, anakku Giok!"

Tiba-tiba kelihatan tubuhnya beberapa pahlawan terlempar melayang di atasan kepala mereka yang asyik bertempur matimatian itu, hingga orang jadi kaget.

Itulah hasil serangannya si orang tua, yang menjambret dan melemparkan sesuatu penghalang di depannya.

Maka di lain saat, tubuhnya orang tua itu sudah tertampak menyerbu ke dalam kalangan.

Beng Kie heran, karena ia belum kenal orang tua itu, ialah Tiat Hui Liong, jago kenamaan.

Iapun heran dan kagum, si Raksasi Kumala mempunyai ayah yang demikian tangguh.

Dengan datangnya dua tenaga baru itu, bukan main Beng Kie peroleh bantuan, tetapi serangannya pihak musuhpun jadi bertambah.

sebab kehebatan dari Giok Lo Sat dan Hui Liong membuat semua pahlawan, yang tadi berkelahi separuh hati.

menjadi gusar dan sengit, sekarang mereka membantui kawannya dengan sungguh-sungguh.

Luar biasa adalah korban-korban ujung pedangnya Giok Lo Sat.

Sesuatu pahlawan yang kena dirobohkan tidak lantas lenyap jiwanya, mereka hanya roboh dan bergulingan di lantai sambil menjerit kesakitan.

Sebab si nona telah tusuk jalan darah mereka, hingga mereka mati tidak, hiduppun tersiksa!

Lain nasib adalah korban-korbannya Tiat Hui Liong.

Karena dilempar-lemparkan, satu kali mereka jatuh, mereka terbanting keras, kepala mereka pecah.

Maka itu, semua pahlawan mengepung hebat kepada si nona dan ayahnya itu, dengan demikian kepungan kepada Him Kengliak jadi sedikit kendor.

Giok Lo Sat liehay ilmu pedangnya dan enteng tubuhnya, tetapi berkelahi secara rapat seperti itu, di antara banyak musuh, ia tidak leluasa mempertunjukkan kepandaiannya itu.

Syukur ia ada bersama ayah angkatnya, yang tenaganya besar, dengan begitu ia jadi tidak terlalu repot.

Beng Kie lihat pihaknya sudah mulai memperoleh keunggulan, akan tetapi ia masih belum bertetap hati.

Inilah sebabnya ia kuatir nanti datang bala bantuan dari pihak TongCiang.

Maka ia masih bergelisah juga.

Giok Lo Sat berkelahi dengan hebat tapi gembira.

Lagi sekali ia tusuk satu pahlawan yang ada dekat padanya.

Lalu sehabis itu.

ia godai Beng Kie.

"Eh, Gak Beng Kie, mana sahabat kekalmu?"

Tapi justeru mendapat pertanyaan itu dengan mendadak Beng Kie ingat sesuatu.

"Dia akan segera datang!"

Ia jawab. Lantas tangan kirinya merogoh kantong, untuk tarik keluar sarung tangan pemberiannya Seng Kun, yang terus dipakainya, setelah mana, ia ambil kesempatan untuk lompat keluar kurungan.

"Ke mana kau hendak kabur?"

Bentak Kim Tok Ek sambil lompat menyerang.

Beng Kie ulurkan tangan kirinya menyambut serangan Tangan Pasir Beracun dari jago tua she Kim itu.

di lain pihak pedangnyapun membarengi menikam kepada betis musuh.

Tapi itu belum semua, dengan sambuti serangan tangan musuh, ia justeru pinjam tenaga musuh itu.

hingga ia bisa melesat lebih pesat keluar kalangan!

Kim Tok Ek heran melihat orang berani sambuti serangan tangannya yang liehay itu, sama sekali ia tidak tahu bahwa Beng Kie telah mengenakan sarung tangan mustika pemberiannya Seng Kun.

Him Kengliak heran menampak orangnya kabur justeru ketika mereka terkurung musuh, malah Ong Can sampai berkata sambil menghela napas.

"Dalam waktu kesukaran terlihatlah hati manusia, kata pepatah, dan sekarang terbukti kebenarannya pepatah itu."

"Mungkin Beng Kie ada punya maksud lain,"

Teng Pek masih bersangsi.

"Jangan kau menduga yang tidak-tidak..."

Lantas kepala perang ini layani Kim Tok Ek.

Setelah Tok Ek kena dilukai Beng Kie, dia tidak lagi galak seperti semula.

Juga Bouwyong Ciong tidak mampu lagi berbuat banyak, sebab Seng Kun dan Ong Can layani dia secara sungguhsungguh, sedang sejumlah pahlawan tidak mau menyerang sungguh-sungguh kepada Seng Kun.

Maka pertempuran tidaklah sehebat seperti semula tadi.

Pada waktu itu di lain pihak, Pek Sek Toojin telah bersiap sedia.

Ia sangat gusar menerima ancaman, maka ia telah kumpulkan belasan orang Butong pay yang berada di kota raja.

Bersama ia pun ada belasan orang lain, ialah orangorang undangannya Boosu Liu See Beng.

Maka itu mereka berjumlah besar.

Setiap saat mereka nantikan datangnya musuh.

Akan tetapi dua hari telah dinantikan tidak juga ada musuh yang muncul.

Sekarang sampailah pada hari ketiga, mereka menantikan dari pagi sampai lewat tengah hari, tetap musuh tidak tampak datang.

Akhir-akhirnya Liu See Beng tertawa, ia kata.

"Butong pay ada sangat kesohor, maka siapakah yang berani tarik-tarik kumis harimau?"

Pek Sek Toojin sangat puas mendengar puj ian itu, ia pun tertawa.

"Selewatnya hari ini, tak dapat aku menunggu pula!"

Katanya. Justeru waktu itu, satu suara terdengar dari luar.

"Ada orang datang!"

"Berapa jumlahnya?"

See Beng tanya.

"Cuma seorang,"

Sahut orang di luar itu yakni tukang pasang mata.

"Begitu besar nyalinya?"

Kata See Beng yang menjadi heran.

"Buka pintu! Kasih dia masuk!"

Sesaat kemudian, kelihatan seorang bertindak masuk, tindakannya pesat, orangnya bermandikan keringat. Semua orang telah siap untuk sambut musuh. Tapi It Hang heran.

"Oh, Gak Toako!"

Serunya. Pek Sek Toojin menghela napas lega. Tapi ia duga orang tentu telah dengar kabar perihal musuh dan sekarang datang untuk membantu padanya, maka dengan tawar ia lantas berkata.

"Gak Enghiong. tak usah kau capaikandiri lagi!"

Beng Kie tertawa, ia dekati It Hang yang ia jabat tangannya, tapi tibatiba iapun menotok pinggangnya hingga dalam sekejap It Hang menjadi lemas.

Lalu, sebelum yang lain-lainnya ambil tindakan Beng Kie segera panggul sahabatnya itu untuk dibawa lari!

Pek Sek semua terkejut.

IX "Kurang ajar!"

Imam itu berteriak.

"Binatang, kiranya kau datang untuk satrukan pihakku! Mari kejar padanya!"

Pek Sek yang memulai menghunus pedangnya, lantas lari mengejar. Maka kawan-kawannya pun turut mengejar juga.

"Jangan kesusu, tooheng!"

Liu See Beng mencegah, karena guru silat ini tahu betul siapa pemuda she Gak itu.

Tapi Pek Sek semua sudah lari terus, dengan terpaksa guru silat ini ajak kawan-kawannya pergi menyusul.

Walaupun Beng Kie memanggul orang ia bisa lari sangat cepat, ia bikin Pek Sek ketinggalan dua tiga tumbak di belakangnya meski imam dari Butong san ini sudah berlari-lari keras dengan ilmu lari Patpou Kansiam.

Pek Sek sangat penasaran dan mendongkol, iapun tidak dapat menyerang dengan senjata rahasia, hingga terpaksa ia mesti mengejar saja.

Beng Kie lari balik ke gedung Keluarga Yo, ia telah sampai dengan cepat, setelah turunkan It Hang dari panggulannya, ia menotok pula, kali ini untuk sadarkan sahabatnya itu.

It Hang sadar dengan heran, tapi yang lebih mengherankan padanya ialah ia dengar berisiknya suara beradunya senjatasenjata di dalam gedung, tanda dari pertempuran hebat.

"Saudara To, mari bantu aku!"

Beng Kie berbisik, selagi sahabatnya ini masih bingung.

"Mari kitatolongi Kengliak!"

Giok Lo Sat dan Tiat Hui Liong sedang berkelahi hebat, ketika mereka lihat datangnya Beng Kie bersama It Hang. lantas saja semangatnya terbangun. Dengan satu gerakan "Lie Kong siaCio"

Atau "Lie Kong memanah batu", si Raksasi Kumala menikam tenggorokannya Kim Tok Ek, tapi, jago yang tangannya liehay ini dapat mengelakannya sambil sebelah tangannya menyambar dari samping, untuk menangkap tangannya nona itu.

Justeru itu kepalan Tiat Hui Liong menghajar tangannya, bahna kerasnya pukulan itu sehingga ia mundur dua tindak.

Karena ini, si nona sempat untuk lompat menerjang kawanan pahlawan TongCiang, hingga kembali ia bisa lukai empat--di antaranya, sesudah mana, ia nerobos ke depan untuk mendekati It Hang.

It Hang heran berbareng girang melihat Tiat Hui Liong dan Giok Lo Sat berada di dalam gedung itu, akan tetapi ia tetap masih belum mengerti.

"Apakah artinya ini?"

Dia tanya "Pergilah kau bersama Liehiap melayani kawanan berandal ini!"

Kata Beng Kie kepada sahabatnya itu.

"Aku hendak menolongi Taysu!"

Dengan memutarkan pedangnya pemuda she Gak itu segera buka jalan darah.

It Hang berpaling ke arah tempat Beng Kie menyerbu, di situ ia tampak seorang dengan tubuh besar dan gagah, yang wajahnya bagaikan malaikat.

Ia menduga kepada Kengliak Him Teng Pek, panglima yang ia hargai.

Karena ini, lantas ia mengerti maksudnya Beng Kie sudah culik ia sampai di gedung ini.

Karena ini juga, terhadap Giok Lo Sat iapun mendapat kesan baik.

Dengan tidak berayal lagi ia segera putar pedangnya, untuk maju menyerang, ia bisa lantas robohkan beberapa pahlawan, hingga tergempurlah kurungan musuh, maka lekas juga ia dapat bergabung dengan si Raksasi Kumala.

"EnCie Lian. sungguh kau setia dengan datang menolongi Kengliak!"

Ia serukan si nona, hatinya riang. Giok Lo Sat tidak sempat menjawabnya, ia melainkan tertawa. Terus ia berkelahi, hingga lagi-lagi ia berhasil menabas kutung lengannya dua pahlawan.

"Anak tolol, mari kita lebih dahulu habiskan mereka ini!"

Katanya.

"Tidak usah kau kuatirkan keselamatannya Him Kengliak, dia ada sahabat baikmu yang melindunginya!"

Masih dia menyerang hebat, hingga beberapa pahlawan dapat dirobohkan lagi, sampai mereka itu bergulingan sambil merintih kesakitan.

Itu waktu Pek Sek Toojin pun sudah sampai di ambang pintu.

Dengan hati sangat mendongkol ia saksikan Gak Beng Kie bawa It Hang ke gedungnya Yo Lian, di situ It Hang disadarkan, lalu kedua anak muda itu menyerbu ke dalam.

Ia juga heran akan dengar suara berisik dari pertempuran di dalam gedung menteri itu.

Maka sekalian ingin mendapat tahu, ia maju sampai di muka pintu, hingga ia lihat pertempuran hebat itu, dalam mana It Hang bertempur bahumembahu bersama satu nona kosen.

Ia juga saksikan si nona yang gagah dan cantik, alisnya panjang dan lentik, wajahnya bersujen, rambutnya dijepit gelang emas, pakaiannya mentereng.

"Pasti dia siluman wanita yang orang gelarkan Giok Lo Sat,"

Ia lantas menduga-duga.

Ia berniat keras merangkapkan jodoh gadisnya dengan pemuda she To itu, karenanya dengan sendirinya ia pandang nona ini sebagai perintang atau saingan puterinya, dan sekarang dengan tak disangkanya ia saksikan justeru pemuda pemudi itu bertempur samasama, tanpa merasa ia jadi jelus dan mendeluh.

It Hang dapat lihat paman guru itu.

"Susiok, lekas!"

Dia menyerukan "Him Kengliak di sini!"

Pek Sek Toojin dengar seman itu, ia memandang ke sekitarnya dengan pedang dilintangkan di depan dadanya, tapi ia masih belum majukan diri.

Di waktu itu Giok Lo Sat telah serang satu pahlawan, pahlawan itu mengelakkan kepalanya, tetapi ujung pedang menyambar juga kedoknya sampai pecah dan terlepas jatuh ke lantai, hingga si imam dapat mengenali mukanya.

Dengan tiba-tiba Pek Sek menjadi gusar.

"Hai, kiranya kau di sini?"

Pek Sek berteriak dengan tegurannya "Kebetulan hari ini telah sampai batas tempo tiga hari, maka sekarang aku ingin lihat kau ada mempunyai kepandaian apa untuk usir aku dari kota raja!"

Berkelebatlah pedangnya imam ini, yang sudah lantas lompat maju menyerang pahlawan yang locot topengnya itu.

Pek Sek menjadi sangat gusar karena ia kenali pahlawan itu adalah penjual silat yang kemarin ini di Thiankio telah permainkan padanya.

Pahlawan itu bernama Cek Kiam Ciang, murid kepala dari Imhong Toksee Ciang Kim Tok Ek.

ketika itu hari ia permainkan Pek Sek Toojin, ia sebenarnya sedang mainkan peranan menurut rencananya Eng Siu Yang.

Sengaja Liu See Beng telah diancam, untuk dalam tempo tiga hari mengusir imam ini keluar dari Pakkhia.

Sudah diketahui bahwa Eng Siu Yang itu adalah orang kepercayaannya thaykam Gui Tiong Hian, setelah wafatnya Kaisar Kong Cong, dengan diam-diam dia menyelundup masuk ke kota raja, setelah itu, ia buka jalan untuk Kim Tok Ek juga bisa datang ke Pakkhia.

Tetapi namanya Kim Tok Ek sangat terkenal, maka ia di tempatkan di dalam istana secara rahasia.

Oleh karena liehaynya pihak TongCiang, hal ikhwalnya Gak Beng Kie dan To It Hang lantas saja dapat mereka ketahui, dan terhadap kedua pemuda ini hendak diambil tindakan.

Mengetahui bahwa Beng Kie adalah orang kepercayaannya Him Kengliak, Eng Siu Yang terkejut juga.

la terus menghaturkan tipu kepada Gui Tiong Hian.

Katanya.

"Him Kengliak akan tiba tanggal dua puluh delapan, harus CongCu berdaya untuk singkirkan padanya. Untuk itu, penting bahwa kaki tangannya dihalau terlebih dahulu!"

"Aku baru saja pegang kekuasaan,"

Berkata dorna orang kebiri itu.

"Di dalam istana, dari semua menteri bun dan bu, separuh pasti adalah kawan-kawannya Him Teng Pek, bagaimana aku harus bertindak untuk dapat menyingkirkan padanya?"

Eng Siu Yang tertawa.

"Aku bukannya maksudkan kawan-kawannya Him Teng Pek di istana,"

Ia kata dengan berani terhadap orang kebiri itu.

"yang aku maksudkan ialah pembantu-pembantunya dari kalangan kangouw. CongCu telah ketahui bahwa rencana kita sejak semula bukanlah merobohkan Him Teng Pek di muka istana, tetapi kita ingin singkirkan dia secara diam-diam. Maka itu, jikalau dia tetap mempunyai pembantu-pembantu yang liehay, rencana kita bisa gagal."

"Aku kenal baik tabiatnya Him Teng Pek,"

Gui Tiong Hian beritahu.

"Dengan pulang dari Liauwtong, dia tidak akan mengajak banyak pengiring. Kalau sekarang cuma Beng Kie seorang, walaupun kepandaiannya setinggi langit, tidak sanggup dia terus-terusan melindungi Him BanCu!"

"Kalau Gak Beng Kie sendirian saja memang bagi kita tidak sukar."

Eng Siu Yang kata.

"Tapi To It Hang itu adalah sahabat kekalnya."

"Bagaimana kepandaiannya To It Hang itu?"

Tiong Hian menegasi.

"Kepandaiannya To It Hang tidak dapat dibandingkan dengan kepandaiannya Gak Beng Kie."

Eng Siu Yang terangkan.

"akan tetapi dia adalah Ciangbunjin dari Butong pay. Aku telah selidiki, kali ini It Hang datang ke kota raja bersama paman gurunya. Di dalam kota raja ini ada belasan orang-orang Butong pay itu."

"Kalau begitu, bereskan mereka semua!"

Kata Gui Tiong Hian.

"Itulah tak dapat dilakukan CongCu,"

Eng Siu Yang berikan pengertian.

"Sekarang ini dalam kalangan kangouw. partai Butong pay adalah yang paling kenamaan. Syukur mereka tidak tahu menahu urusan pemerintahan. Terhadap mereka itu, kita mesti ambil sikap seperti air sumur tidak mengganggu air kali, itu artinya kita aman dan selamat. Kalau sekarang kita singkirkan salah satu ketuanya serta ahli warisnya, apa itu bukan berarti kita cari musuh tanpa ada perlunya?"

"Tentang kaum kangouw, aku tidak tahu jelas,"

Gui Tiong Hian kata.

"Dengan turut katamu, kita harus perbuat bagaimana sekarang?"

"Baiklah kita kirim orang untuk mengganggu imam itu,"

Eng Siu Yang mengaturkan tipu dayanya.

"Kita mesti bikin dia tahu rasa! Sehabis itu baru kita gertak padanya dan juga orang yang rumahnya dia tumpangi itu, supaya dalam tempo tiga hari dia mesti angkat kaki dari sini. Kita gertak padanya, selama tempo tiga hari kita akan menyatroni untuk terbitkan gara-gara. Aku tahu imam itu kepala batu, pasti dia tidak sudi angkat kaki dari kota raja. malah sebaliknya dalam tempo tiga hari itu dia mungkin kumpulkan kaumnya yang berada di kota raja ini untuk menantikan kita. Tentu saja bukanlah maksud kita untuk bentrok dengan mereka, melainkan dengan gertakan itu kita hendak cegah dia bergabung kepada Gak Beng Kie, sebab kerja sama mereka itu berarti sulit untuk kita turun tangan terhadap Him Kengliak."

"Bagus!"

Gui Tiong Hian puji akal muslihat itu.

"Inilah tipu yang dinamakan "Bersuara di Timur, menyerang di Barat'. Baiklah, kau boleh gunakan akal ini."

Tentu saja Pek Sek Toojin tidak dapat menerka akal muslihat itu.

sia-sia saja ia menantikan di rumah Liu See Beng.

Memang Pek Sek Toojin pun tidak berniat membantui Gak Beng Kie.

Justeru hal itu sangat kebetulan bagi Eng Siu Yang.

Tapi di luar dugaan mereka itu, Beng Kie sendiri mendapat perasaan curiga.

Malah pemuda yang cerdik ini segera dapat akal.

Demikian di saat pertempuran sangat gentingnya dia lari pada Pek Sek Toojin menculik It Hang, hingga kesudahannya Pek Sek Toojin datang ke gedung Yo Lian bersama semua murid Butong pay yang berada di kota raja.

Begitulah Kim Tok Ek menghadapi bala bantuan musuh.

Begitu melihat Pek Sek Toojin, Tok Ek menduga pihak Butong pay tentu datang dalam jumlah besar, maka tanpa bersangsi lagi dia berteriak.

"Angin hebat! Minggir!"

Bahna kuatirnya, sehabis berteriak itu Tok Ek segera mendahului lompat membuka jalan, untuk mendahului angkat kaki.

Hui Liong maju menghalau sambil menyerang.

Bouwyong Ciong saksikan aksinya Hui Liong, ia lompat dari samping untuk hajar lengan yang dipakai menyerang Tok Ek itu.

Ia berhasil dengan dayanya ini, Pek Sek Toojin telah lantas tarik pulang tangannya.

Di saat Bouwyong Ciong hendak menyerukan kawankawannya kabur, di waktu itupun muncul Liu See Beng bersama murid-murid Butong pay.

"Cegat mereka!"

Pek Sek serukan.

Ia belum tahu bahwa musuh-musuhnya itu adalah orang-orang dari TongCiang.

Jumlahnya murid-murid Butong pay yang tergabung di pihaknya Liu Busu itu mencapai jumlah kira-kira tiga puluh orang, karena itu, satu kali mereka ceburkan diri dalam kalangan pertempuran, keadaan segera berbal ik rupa.

Dari pihak penyerang, rombongan TongCiang lantas menjadi pihak yang diserang dan terdesak.

Kim Tok Ek bersama Bouwyong Ciong ambil kedudukan berendeng, akan bersama-sama memecahkan kurungan untuk menoblos pergi, akan tetapi mereka telah dibikin terpencar oleh Pek Sek Toojin dan Liu Busu.

Giok Lo Sat perdengarkan tertawanya yang panjang dengan sinar pedangnya berkilau-kilau ia menghampiri Kim Tok Ek, atas mana, orang she Kim itu terpaksa mesti melayani berkelahi.

Dasarnya jago, Tok Ek bisa melayani selama beberapa jurus.

Justeru itu Gak Beng Kie pun datang menyerang.

Dengan tangannya yang liehay.

Tok Ek sambuti Beng Kie, tapi Beng Kie dengan tangan kiri menangkisnya dengan berani, sambil pedang di tangan kanannya dikasih melayang.

"Bret!"

Demikian satu suara, yang ternyata bajunya si orang she Kim robek ditegur ujung pedang.

Selagi begitu, Giok Lo Sat pun maju dengan totokannya ke arah jantungnya Tok Ek.

Inilah serangan "Liuseng kiesu" --"Bintang melesat."

Tok Ek dengan sebat berkelit dari serangan itu, tapi justeru itu ia dengar bentakannya Giok Lo Sat.

"Kena!"

Tahu-tahu ujung pedang sudah mampir ke dadanya jago she Kim ini.

tiada ketika lagi ia dapat menangkisnya lantas saja darah menyembur keluar dari dadanya yang dilukai dengan guratan pedangnya si nona.

Bicara tentang ilmu silat, kepandaiannya Kim Tok Ek tiada di sebelah bawah Giok Lo Sat atau Gak Beng Kie, Akan tetapi menghadapi pemuda she Gak itu, ia kewalahan karena Beng Kie memakai sarung tangan yang liehay, yang tidak jeri untuk tangan berbahaya dari orang she Kim ini.

Di samping pemuda ini juga ada Giok Lo Sat yang sangat benci kejahatan dan bertempur secara hebat sekali, mau tidak mau Kim Tok Ek menjadi tidak bisa berbuat banyak, terlalu berat untuk ia hadapi sepasang pemuda pemudi itu.

Masih syukur ia dapat berkelit dengan cepat, kalau tidak, bukan melainkan kulitnya yang terluka, perutnya pun akan terdodet pedang dan binasa.

Dengan berhasilnya serangan-nya itu, Giok Lo Sat lalu mendesak terus.

Bouwyong Ciong saksikan bahaya yang mengancam, ia berkelahi dengan keras, ia telah dapat pukul roboh tiga murid Butong pay.

Gak Beng Kie lihat orang mengganas, ia percaya Giok Lo Sat seorang diri sanggup melayani Kim Tok Ek.

ia lantas memecah diri, dengan pedangnya ia lompat kepada orang she Bouwyong itu, yang ia serang dan merintangi jalannya untuk molos.

Giok Lo Sat benar-benar perhebat desakannya sehingga Kim Tok Ek terdesak mundur.

"Eh, Kim Laokoay, apakah kau tetap tidak mau kembalikan kitab ilmu pedangku?"

Dia tanya, sambil tertawa. Orang she Kim itu tidak menyahut, dia kertak gigi, dia seperti menahan napas, guna pertahankan diri dari rangsekan si nona ini. Giok Lo Sat tetap menggoda.

"Jikalau kau benar-benar tidak sudi menyerahkannya, terpaksa aku akan berlaku bengis terhadapmu!"

Dia mengancam.

Seperti sudah umum perangainya nona ini, meskipun ancamannya belum peroleh jawaban, ia sudah lantas buktikan ancamannya itu, pedangnya menyambar-nyambar bagaikan "topan dan hujan lebat", hingga Kim Tok Ek seperti terkurung sinar pedang.

Selagi pertempuran berlangsung hebat, sekonyongkonyong terdengar suara berisik dari tindakan kuda di luar gedung, lalu tampak nerobos masuknya sejumlah serdadu, dan satu di antaranya, yang menjadi pemimpin, sudah lantas berseru.

"Him Kengliak, maaf pieCit telah terlambat datang!"

Kemudian dia membentak.

"Kawanan berandal yang bernyali besar, bagaimana di waktu siang terang benderang kalian berani merampok satu keluarga pembesar negeri! Lekas kalian menyerah!"

Orang yang datang ini adalah Kiubun Teetok Thian Jie Keng, serdadu-serdadunya sudah lantas maju menyerang.

"Pihak kita semua mundurlah!"

HimKengliak menyerukan.

Kim Tok Ek sedang didesak Giok Lo Sat, datangnya serdadu-serdadu itu membuat ia dapat ketika untuk merat.

Hal ini membuat si Raksasi Kumala menjadi gusar, hingga dia labrak tentara negeri itu.

Banyak golok dan tombak serdaduserdadu itu dibikin terpental atau tertabas kutung.

"Berandal wanita yang liehay!"

Berseru beberapa serdadu, yang menyangka nona itu berandal. Giok Lo Sat jadi semakin mendongkol. Tiat Hui Liong tahu puteri angkatnya itu gusar dia kuatir Giok Lo Sat menjadi kalap.

"Jangan!"

Dia berteriak mencegahnya. Malah dia terus tarik tangannya anak itu. Gak Beng Kie juga lantas maju ke depannya Kiubun Teetok Thian Jie Keng itu.

"Jangan ganggu nona ini dia adalah pelindungnya Him Tayjin!"

Katanya.

Dalam sekejap pertempuran yang seru itu lantas berakhir.

Pelbagai pahlawan dari TongCiang yang terluka dan roboh, semua lantas "menjadi orang tawanan barisan negeri, tetapi Kim Tok Ek dan Bouwyong Ciong bersama lain-lain kawannya lolos kabur.

Thian Jie Keng segera datang menghampiri Him Kengliak, untuk memberi hormat sambil menjura.

"Harap Tayjin memaafkan atas kelambatanku ini,"

Ia mohon.

"PieCit menyesal yang tayjin sampai mendapat kaget."

Sebelum Kengliak itu berkata apaapa, Pengko Keesu tiong Yo Lian muncul dari perdalaman, ia perdengarkan suara "Hm"' berulang-ulang, setelah mana ia lalu berkata dengan dingin.

"Sungguh sempurna sekali pendengarannya Thian Tayjin!"

Mukanya Kiubun Teetok itu menjadi merah.

"Memang pieCit bersalah karena sudah dua kali gedung Tayjin diganggu orang-orang jahat dengan pieCit tidak dapat ambil tindakan,"

Ia akui kesalahannya. Kembali ia menghaturkan maaf.

"Di dalam kota raja terdapat kawanan berandal semacam itu, mereka tentunya bukan sembarang berandal,"

Kata Yo Lian.

"Nanti pieCit bawa mereka ke kantorku untuk diperiksa,"

Kata Jie Keng.

"Pemeriksaan akan segera dilakukan."

Matanya Gak Beng Kie memain, ia campur bicara.

"Mereka ini bukan sembarang berandal, dikuatirkan Tayjin tidak merdeka memeriksa mereka!"

Kata Beng Kie yang agak menyindir. Terus ia hadapi sepnya, dan menambahkan.

"Beng Kie membesarkan nyali memohon supaya Kengliak Tayjin sendiri yang memeriksa mereka itu."

Thian Jie Keng agak gelisah dalam hatinya.

"Inilah tugasku, tidak berani pieCit membikin berabe pada Tayjin,"

Ia lekas berkata. Kedua matanya Him Kengliak memain dengan tajam, ia lirik teetok itu. komandan utama dari pasukan pelindung sembilan pintu kota dari kota raja.

"Baiklah, kau boleh bawa pergi mereka itu,"

Kata ia kemudian. Iapun memberi isyarat dengan tangannya. Thian Jie Keng segera atur barisannya buat diajak berlalu sambil angkut semua orang tawanan.

"Tayjin, tidakkah Tayjin seperti melepaskan harimau pulang ke gunungnya?"

Kata Beng Kie pada sepnya, seberlalunya teetok itu. Yo Lian pun kata.

"Akupun tidak percaya pada Thian Jie Keng..."

Him Teng Pek menghela napas, ia kata.

"Mustahil aku tidak tahu siapa sebenarnya kawanan berandal itu? Aku hanya berkuasa atas bala tentera di perbatasan, tidak di kota raja, di sini dialah yang berhak mengurus kesejahteraan. Sesuatu pembesar mempunyai hak kekuasaannya masing-masing yang telah ditentukan, jikalau aku berkukuh, mungkin nanti ada menteri yang mengatakan aku gunai kekuasaan sewenangwenang."

Yo Lian mengerti itu. ia tutup mulut.

"Beng Kie,"

Kata Him Kengliak kemudian.

"pergi kau undang semua giesu, aku hendak menghaturkan terima kasih kepada mereka."

Giesu yang dimaksudkan kengliak itu ialah semua orang yang membantui padanya.

Giok Lo Sat dan Tiat Hui Liong yang mendengar perkataannya panglima dari perbatasan itu, segera menghampiri, untuk memberi hormat dengan menjura dalamdalam.

"Kami datang kemari secara kebetulan saja. kami tidak berani menerima ucapan terima kasih,"

Kata mereka. Teng Pek heran, hingga ia awasi kedua orang itu.

"Him Tayjin setia kepada negara, hamba sangat mengaguminya,"

Kata pula Hui Liong.

"akan tetapi kami ayah dan anak. adalah orang-orang gunung, biasanya kami tidak berani dekat dengan pembesar negeri. Pertemuan kita hari ini adalah kejadian yang tidak disangka-sangka, maka hal ini tidak dapat dikatakan sebagai jasa. Harap kengliak memaafkannya, kami mohon pamitan."

Meski demikian, panglima itu toh memberi hormat sambil menghaturkan terima kasih juga.

"Beng Kie, pergi kau antar kedua tetamuku ini,"

Kata ia kepada Gak Beng Kie.

Ketika itu Giok Lo Sat masih belum masukkan pedangnya ke dalam sarungnya, Beng Kie lihat senjatanya nona itu.

ia heran.

Itulah pedang Yuliong kiam kepunyaannya, yang telah lenyap di dalam keraton!

Tiba-tiba ia ingat kepada bayangan orang yang sama-sama ia memasuki keraton pada malam itu.

Sekarang ia menduganya bayangan itu Giok Lo Sat adanya.

Sampai waktu itu barulah si Raksasi Kumala masukkan pedangnya ke dalam sarungnya, ia berbuat demikian sambil bersenyum puas...

Beng Kie tidak mengucapkan apa-apa, ia mengantarkan sampai di tangga lorak.

"Lian Liehiap. ada serupa barang yang aku hendak kembalikan kepadamu."

Kata ia kepada si nona. ta rogoh keluar kitab ilmu pedang dari sakunya, sambil angsurkan itu ia tambahkan.

"Silakan liehiap periksa, benar atau tidak ini barangmu yang tulen."

Dengan tertawa. Giok Lo Sat sambuti kitabnya itu. Beda daripada puterinya itu, Hui Liong sebaliknya merasa heran sekali.

"Untuk kitab ini. kami ayah dan anak telah melakukan perjalanan ribuan lie,"

Dia mengatakan.

"Dari "manakah kau dapatkannya ini9"

Selagi Beng Kie hendak berikan keterangannya, si nona memotongnya.

"Aku juga ada punya serupa barang untuk dikembalikan padamu!"

Kata ia. Nona ini loloskan Yuliong kiam dari pinggangnya.

"Barang masing-masing telah dikembalikan, maka itu kita pun tidak usah saling terima budi..."

Kata dia. Hui Liong melengak, dalam hatinya ia kata.

"Dasar anak kepala besar!"

Giok Lo Sat bertindak turun di tangga. Tiba-tiba ia berpaling dan tangannya menggapai.

"To It Hang, kemari kau!"

Ia memanggil.

It Hang campurkan diri di antara orang banyak, ia dengar panggilan itu, mau tidak mau ia bertindak menghampirkan.

Pek Sek Toojin saksikan semua itu, ia lirik It Hang dengan maksud mencegah, tapi pemuda itu seperti tidak melihatnya dia bertindak terus ke tangga lorak.

"Kau baik?"

Giok Lo Sat tanya kepadanya.

"Kenapa tidak?"

Menyelak Pek Sek Toojin, yang diam-diam telah mengikuti di belakangnya It Hang. Kedua matanya si nona bersinar.

"Inilah paman guruku yang ke empat,"

It Hang memperkenalkan. Si Raksasi Kumala tertawa tawar.

"Seumurku, aku paling tidak suka orang banyak mulut!"

Katanya dengan dingin.

"Eh, To It Hang, aku menanya kau!"

Bukan main mendongkolnya Pek Sek Toojin, sampai ia raba gagang pedangnya.

"Aku ada baik."

It Hang lekas menjawab si nona "Kau bersama Tial LooCianpwee tinggal di mana? Lain hari aku nanti mengunjungi kalian..."

"It Hang,"

Pek Sek memotong.

"urusan di sini sudah selesai, besok kau turut aku pulang ke gunung!"

Imam ini mencoba akan sabarkan diri. Giok Lo Sat kembali tertawa dingin.

"Benarkah orang ini paman gurumu?"

Dia menegasi It Hang.

"Apa artinya kata-katamu ini?"

Pek Sek menegur dengan gusar. Giok Lo Sat tertawa.

"Sebab aku lihat kau mirip sebagai ayahnya!"

Ia jawab.

"Biasanya sekalipun seorang ayah, tidak nanti dia perlakukan anaknya demikian keras!"

"Hm!"

Pek Sek perdengarkan suara di hidung. Lalu ia pandang keponakan muridnya akan berkata.

"Kami kaum Butong pay mempunyai aturan yang melarang percampur gaulan dengan orang jahat!"

Sekonyong-konyong Giok Lo Sat menghunus pedangnya.

"Pek Sek Toojin!"

Dia kata dengan mengejek.

"Orang-orang dari kaummu tidak sedikit yang aku telah mengenalnya, akan tetap aku berani kata, kecuali Cie Yang Toojin, belum pernah ada di antaranya yang terdengar pantas disebut satu giesu! Aku hendak tanya kau. usaha apa kau pernah perbuat yang mendatangkan kekaguman khalayak ramai? Kau berani memandang tak mata kepada orang-orang gagah kaum Rimba Hijau? Hm! Aku adalah yang di matanya kaummu dianggap sebagai orang-orang jahat! Nah, mari kita mencoba-coba!"

Mukanya imam dari Butong pay itu menjadi merah padam.

Ia tidak sangka nona ini dapat keluarkan kata demikian tajam.

Maka dengan perdengarkan suara "Sret", ia segera cabut pedangnya.

It Hang jadi gelagapan.

"Di depan Him Kengliak jangan orang berbuat tak kenal aturan!"

Dia kata bahna bingungnya. Pek Sek rupanya sadar, ia terus kata.

"Besok tengah hari, aku nantikan kau di lembah Pitmo gay untuk terima pengajaranmu!"

"Susiok!"

It Hang memotong.

"Bukankah tadi Susiok kata bahwa kita akan pulang ke gunung besok?"

Napasnya imam itu seperti sesak.

"Kau tak usah perdulikan itu!"

Dia membentak keponakan muridnya. Giok Lo Sat tertawa riang.

"Aku bersedia akan turut titahmu!"

Dia terima tantangan.

Selagi Giok Lo Sat adu mulut dengan Pek Sek Toojin, Tiat Hui Liong tarik Gak Beng Kie ke samping, untuk tanya ini dan itu kepada pemuda itu.

Ia menanyakan she dan namanya Beng Kie, lalu keluarganya, lantas gurunya.

Gak Beng Kie tidak tahu orang tua ini adalah ayahnya nona Tiat San Ho.

ia heran atas pelbagai pertanyaan itu, di dalam hatinya ia kata.

"Tadi aku saksikan dia berkelahi sangat gagah, maka heran sekarang kenapa dia bicara begini melit bagaikan seorang nenek?"

Iapun berniat tanya she dan namanya orang tua ini, tapi tidak dapat ia potong rentetan pertanyaan yang diajukan kepadanya itu.

Maka syukur, pertengkaran mulut di antara Pek Sek dan Giok Lo Sat telah sampai di akhirnya dan si nona hampirkan orang tua itu.

"Ayah. mari kita pergi!"

Si anak-angkat mengajaknya. Kepada Beng Kie masih Tiat Hui Liong memesan.

"Saudara Gak. biar bagaimana, sebentar malam aku undang kau mesti datang ke kuil Lengkong sie dibukit Seesan untuk kita pasang omong!"

Itu waktu It Hang datang kepada mereka.

"Tiat LooCianpwee. apakah kau ada baik?"

Dia tanya si orang tua. Beng Kie terperanjat, bahna heran.

"LooCianpwee toh yang menggetarkan Barat utara..."

Katanya.

"Ya, aku si orang tua Tiat Hui Liong yang dimaksudkan!"

Jago tua itu memotong. Beng Kie masih heran.

"Nona San... Nona San Ho..."

"San Ho adalah anak perempuanku."

Hui Liong meneruskannya.

Beng Kie hendak beritahukan orang tua ini tentang lenyapnya San Ho akan tetapi Giok Lo Sat sudah tuntun tangan ayah angkatnya itu untuk diajak pergi.

It Hang segera juga keluarkan helaan napas lega.

Tapi Pek Sek Toojin masih saja mendeluh hatinya, dengan terpaksa ia kembali ke dalam, untuk pamitan dari Him Kengliak.

Teng Pek tahu imam ini adalah salah satu ketua dari Butong pay, ia menghormatinya, ia mengantar sendiri imam itu sampai di tangga lorak.

Dengan perginya Pek Sek Toojin, semua murid Butong pay ikut berlalu juga.

Kemudian Busu Liu See Beng pun ajak kawan-kawannya pamitan dari Him Kengliak.

"Sudah lama aku dengar nama besar dari Liu Giesu di kota raja ini,"

Berkata panglima dari tapal batas itu.

"aku merasa beruntung dengan pertemuan kita hari ini. Kenapa Giesu tidak duduk dulu sebentar?"

"Terima kasih, tayjin,"

Sahut See Beng.

"Kawanan berandal ini terang datang tidak untuk harta benda, maka jikalau tayjin sudi dengar, haraplah tayjin berlaku waspada."

"Terima kasih,"

Teng Pek mengucap.

"Pernah aku berperang beratus kali, beberapa puluh kali aku mengalami bencana yang hampir merampas jiwaku, maka itu aku anggap kematian adalah takdir, aku pasrah kepada nasib."

Liu See Beng kagum untuk nyalinya panglima ini.

"Keluargaku turun temurun menjadi guru silat di kota raja ini,"

Berkata Liu Busu pula.

"maka itu, murid-murid dan sahabat-sahabatku tidak sedikit jumlahnya, bersama-sama mereka aku bersedia untuk menunaikan kewajibanku terhadap tayjin. Aku tidak akan kasih ketika orangjahat main gila di sini! Sekarang ijinkan kami pulang dahulu."

Beng Kie girang, ia mengucapkan terima kasih pada guru silat ini. Seberlalunya guru silat serta kawan-kawannya itu, Beng Kie kata kepada sepnya.

"Guru silat ini luas pergaulannya di kota raja, dia bersahabat kepada kedua golongan Jalan Hitam dan Jalan Putih, dengan adanya mereka yang suka bantu kita, bolehlah kita legakan hati."

Him Kengliak menghela napas.

"Melihat suasana sekarang, hatiku tawar,"

Kata ia.

"Jika besok kita menghadap di istana."

Kata Yo Lian.

"paling dulu kita tanyakan halnya kimCee palsu Cui Ceng Siu itu, kemudian barulah kita minta orang dari Kiubun Teetok."

"Cui Ceng Siu adalah orangnya Gui Tiong Hian."

Kata Touwgiesu Cee Goan Piauw.

"sudah kepalang tanggung baik kita sekalian dakwa juga Gui Tiong Hian!"

Mendengar ini. Leepou Siangsie Sun Cin Hang usulkan.

"Kenapa kita tidak undang saj a semua menteri yang setia untuk bersama-sama mohon Sri Baginda urus perkara ini seluruhnya?"

"Akur!"

Kata Liepou Siangsie Ciu Kee Bok.

"Dengan bekerja sama. jumlah kita menjadi besar, dengan begitu, kawanan dorna pasti tidak akan berani memandang enteng terhadap kita."

Usul itu telah dapat kesetujuan.

Maka orang lantas membagi tugas.

Selekasnya semua pembesar bubaran.

Beng Kie merasa tidak aman.

Him Kengliak tidak tahu pikirannya orang sebawahan itu, ia puji padanya.

"Baiknya tadi kau bisa lihat gelagat dengan pergi mengundang bala bantuan."

Ong Can pun sekarang insyaf bahwa tadi ia menduga jelek kepada pemuda itu, ia berbalik mengaguminya.

"Saudara Gak, kau sungguh pandai!"

Kata ia.

"Dalam waktu pendek kau telah datangkan demikian banyak orang kosen."

"Duduknya hal sebenarnya sederhana saja,"

Sahut Beng Kie. Ia tuturkan halnya Pek Sek semua.

"Tapi Tiat Hui Liong telah janjikan aku untuk sebentar malam datang padanya."

"Sudah adajanji, tidak dapat kita mengingkari janji itu,"

Kata Him Kengliak.

"Tapi aku tidak niat meninggalkan taysu,"

Beng Kie kata.

"Lagi pula aku belum terima baik undangannya itu."

"Tapipun kau tidak menolaknya?"

"Tidak sempat aku menampik, dia sudah keburu pergi."

"Jikalau demikian duduknya, harus kau pergi,"

Katanya sep itu.

"Ratusan ribu musuh aku tidak takuti, kenapa aku mesti jeri terhadap rombongan penjahat kecil ini? Lagipun kita dilindungi Liu Giesu, bukan? Maka itu kau pergilah dengan tenang! Orang tua itu, walaupun nampaknya jumawa, aku lihat dia adalah seorang jujur, sudah selayaknya jikalau kau ikat persahabatan dengan orang tua itu."

Mendengar demikian, lega juga hatinya Beng Kie.

Pada malam harinya sehabis bersantap, ia lantas dandan, terus ia minta perkenan dari sepnya untuk pergi memenuhi janji terhadap Tiat Hui Liong.

Kepada Ong Can ia tinggalkan pesan.

Hatinya bertambah lega ketika ia saksikan di luar gedung, Liu See Beng benar-benar ada memasang orang di sekelilingnya.

Karenanya, dengan hati tenteram ia menuju keluar kota.

Kuil Lengkong sie berada di atas Seesan, Bukit Barat.

Di waktu Beng Kie mendaki bukit itu, rembulan sudah berada di atasan kepala, ialah sudah hampir jam tiga.

"Tiat Hui Liong seorang yang aneh."

Pikir pemuda ini. Dia tinggal begini jauh dari kota, dia toh minta orang kunjungi padanya... Entah urusan penting apa yang hendak dibicarakannya?"

Tengah pemuda ini berpikir sambil jalan, tiba-tiba ia dengar suara tertawa yang panjang, yang keluar dari tempat pohonpohon lebat di sampingnya, ketika suara itu berhenti, sebagai gantinya muncul satu nona dengan pakaian serba putih.

Itulah Giok Lo Sat dengan senyumnya yang berseri-seri.

Saking heran, orang she Gak ini melengak.

"Mana Tiat LooCianpwee?"

Dia tanya selang sesaat. Tiba-tiba Giok Lo Sat perlihatkan roman sungguh-sungguh. Ia kata.

"Hari ini kau adalah tetamu terhormat dari ayahku, maka itu walaupun di antara kita ada sedikit perselisihan, suka aku menghabiskannya."

"Ah, siapa yang berselisih denganmu?"

Pikir Beng Kie.

"Ketika dulu kita bertemu di puncak gunung Hoasan, kau sendirilah yang dengan tak ada sebab dan alasan sudah menantang aku mengadu pedang! Itu toh bukannya urusanku?"

Tetapi pemuda ini ketahui baik perangainya nona itu, ia tidak mau melayaninya.

"Apakah Tiat LooCianpwee minta kau papak aku?"

Dia tanya.

"Bukan hanya memapak, akupun hendak periksa kau!"

Sahut si nona.

"Ah, janganlah kau bergurau, Lian Liehiap!"

Kata Beng Kie. Ia merasa tidak enak hati, tetapi iapun sedikit mendongkol.

"Siapa bergurau kepadamu?"

Giok Lo Sat baliki.

"Aku tanya kau! Kau tahu tidak bahwa Tiat San Ho itu gadisnya ayah angkatku?"

"Aku tahu."

"Dan tahukah kau bahwa gadisnya itu berlalu dari rumah karena mengambul?"

"Hal itu aku tidak ketahui."

"Kau datang bersama-sama dia ke kota raja ini dan samasama tinggal di gedungnya Yo Lian, bukankah?"

"Benar! Tapi baru beberapa hari yang lalu dia telah diculik orang. Mengenai ini aku justeru berniat temui Tiat LooCianpwee untuk menghaturkan maaf."

Mendengar ini, mendadak Giok Lo Sat tertawa, tak hentinya. Benar-benar Beng Kie heran, ia tercengang.

"Orang nampak bahaya tetapi kau tertawa, kau sungguh luar biasa..."

Ia pikir bahna herannya. Masih Giok Lo Sat tertawa.

"Jangan kuatir, ayahku bukan hendak minta orang dan padamu1"

Ia kata.

"Dia malah niat haturkan gadisnya itu kepadamu!"

Beng Kie terperanjat.

"Apa yang kau maksudkan?"

Tanyanya.

"Apa yang kumaksudkan?"

Mengulangi si nona.

"Apa benar kau begini tolol? Aku akan jadi comblangmu, kau mengertikah?"

"Adakah orang mencomblangi seperti caramu ini?"

Beng Kie tanya. Si nona perlihatkan roman sungguh-sungguh.

"Aku lihat kau bukannya orang yang tidak berbudi,"

Ia berkata.

"Mengapa kau bersikap begini?"

Beng Kie heran berbareng mendongkol.

"Jadi kau maksudkan aku orang yang tidak berbudi?"

Katanya.

"Yang satu lelaki bujangan dan yang lain wanita tunggal!"

Kata si nona.

"Kalian jalan bersama laksaan lie, sampai di kota raja ini! Memang benar San ho menyamar sebagai orang lelaki, tetapi kau dan dia tinggal sama-sama di rumah Keluarga Yo! Mungkinkah di antara kalian sedikitpun tidak mempunyai perasaan saling menyinta?"

Nona Lian demikian polos, hingga ia keluarkan katakatanya tanpa rem lagi dan malu-malu, hingga mukanya Beng Kie menjadi merah sampai ke kuping-kupingnya.

"Aku Gak Beng Kie adalah satu laki-laki sejati!"

Dia berteriak. Tapi dia tidak dapat meneruskannya, meskipun sebenarnya dia hendak menambahkan.

"Mustahil aku berbuat yang tidak kepantasan?"

Karena Giok Lo Sat sudah lantas memotongnya.

"Adalah umum jikalau pria dan wanita saling mengagumi!"

Demikian katanya.

"Aku sendiri seandainya sukai satu orang, tak takut aku mengatakannya terhadap siapa juga! Siapa main sembunyi-sembunyi, dia bukannya seorang gagah!"

Beng Kie bergelisah. ia menggoyang-goyangkan tangannya.

"Cukup, Lian Liehiap!"

Katanya.

"Terhadap San Ho aku anggap sebagai adikku. Aku harap kau tidak keliru mengerti!"

Nona itu lantas kerutkan kening, hingga wajahnya tak dapat diterka, dia tertawa atau bukan.

"Sekarang tak usah kita bicarakan lagi soal cinta atau tidak,"

Ia kata.

"Sekarang aku tanya padamu, kau suka padanya atau tidak?"

"Tadi toh aku telah beritahu kepadamu..."

Sahut Beng Kie. Tapi ucapan selanjutnya dicegat pula oleh nona di depannya itu. Wajahnya si Raksasi Kumala nampak menjadi sungguhsungguh.

"Kau jawab dengan ringkas!"

Katanya.

"Aku paling sebal apabila orang memutar-mutar pembicaraan. Ringkasnya saja, kau suka dia atau tidak?"

"Aku suka!"

Jawabnya Beng Kie, yang terpengaruh kepolosannya si nona. Giok Lo Sal perlihatkan wajah keren.

"Kalau begitu, inginkah kau menikah dengan dia?"

"Suka adalah satu urusan, menikah ada lain soal lagi,"

Beng Kie jawab.

"Ah, kau jangan omong saja!"

Kata pula si nona.

"Hayo jawab, kau suka menikah dengan dia atau tidak?"

Melihat orang mendesak demikian rupa, Beng Kie kepeskan tangannya.

"Jikalau sudah tidak ada urusan lainnya, tolonglah sampaikan kepada Tiat LooCianpwee bahwa aku telah datang kemari,"

Kata dia. Ia membalik tubuh untuk bertindak pergi. Nona Lian perdengarkan tertawa panjang, tubuhnya lompat mencelat, akan menghalang di depan pemuda itu. Pedangnyapun segera terhunus di tangannya.

"Apakah artinya ini?"

Beng Kie tanya.

"Aku larang kau pergi!"

Sahut si nona.

"Katakanlah, kau sebenarnya suka menikah dengan dia atau tidak?"

Beng Kie menjadi gusar.

"Tidak!"

Dia berteriak. Giok Lo Sat tertawa dingin.

"Hm! kau benar-benar bukannya satu manusia!"

Dengan mendadak juga nona ini segera menikam dengan pedangnya.

Beng Kie terkejut tetapi ia dapat mengelakkan diri.

Si Raksasi Kumala tidak berhenti dengan satu tikamannya itu, ia lantas menyerang pula, berulang-ulang dengan sangat ganasnya, saban-saban ia cari sasaran pada bagian-bagian yang berbahaya.

Setelah terus-terusan berkelit tanpa balas menyerang, habislah kesabarannya Beng Kie.

"Sret!"

Dia hunus Yuliong kiam.

"Jikalau kau mempunyai kepandaian, hayo kau bunuh comblangmu ini!"

Teriak Giok Lo Sat, namun ia tetap menyerangnya. Panas hatinya pemuda she Gak itu, ia menangkis berulangulang menghindarkan ancaman bencana.

"Di kolong langit ini, belum pernah aku ketemu orang yang tidak tahu aturan semacam kau ini!"

Dia berteriak.

"Di mana ada aturan memaksa orang menikah?"

Pemuda ini tidak tahu bahwa pandangannya Giok Lo Sat lain daripada pandangannya sendiri.

Nona ini anggap, dia telah lakukan perjalanan demikian jauh bersama Tiat San Ho, mereka juga tinggal sama-sama, malah Tiat San Ho sendiri suka menikah kepadanya, maka itu Giok Lo Sat anggap Beng Kie harus nikah nona Tiat itu!

Beng Kie benar-benar murka karena terlalu didesak, ia keluarkan ilmu pedang Thiansan kiamhoat untuk melayaninya, hingga Giok Lo Sat tidak berani terlalu merangsek pula.

Kemudian, sambil berkelahi, si Raksasi Kumala berseru.

"Adik San Ho, baiklah kau jangan nikah kepada orang yang tidak mempunyai perasaan ini! Aku nanti wakilkan kau membunuh dia!"

Seruan itu membuat Beng Kie heran, hingga ia melihat ke sekitarnya.

Justeru itu, Giok Lo Sat serang ia di kiri kanan membikin ia repot, setelah mana, si nona tusukkan ujung pedangnya ke arah tenggorokannya.

Bukan kepalang kagetnya pemuda ini, tetapi masih sempat ia mengegoskan kepalanya, hingga ujung pedang lewat di tempat yang kosong.

Ia lantas keluarkan keringat dingin.

Tentu sekali ia jadi sangat gusar karenanya.

Maka ia balas menyerang dengan sengit.

Dengan satu tangkisan "Kiehwee liauwthian", atau "Mengangkat obor membakar langit", ia sampok terpental pedang si nona.

"Biar bagaimana, tak sudi aku nikah dia!"

Ia kata dengan nyaring. Giok Lo Sat tidak gubris pernyataan itu. Dia hanya berseru pula.

"Adik San Ho!"

Beng Kie mendongkol tidak kepalang.

"Tiada gunanya kau panggil dia!"

Ia kata.

"Biar bagaimana, tidak nanti aku nikah dia!..."

Baru Beng Kie keluarkan kata-katanya yang terakhir itu, atau dari dalam pohon-pohon lebat terdengar seruan bagaikan guntur, disusul dengan menyambarnya suatu bayangan hitam.

Ia kaget tetapi ia lantas jatuhkan diri untuk terus bergulingan di tanah.

"Binatang, kau berani menghina anakku!"

Demikian satu bentakan.

"Kau rasai kepalanku ini!"

Ancaman itu segera dibuktikan dengan serangan. Beng Kie menangkis dengan pedangnya.

"Tiat LooCianpwee, maaf..."

Kata dia Hui Liong tidak memperdulikan, ia mengulangkan serangannya "Nie Siang berlaku baik menjodohkan kau dengan anakku, kau menolaknya, akupun tidak dapat memaksanya, tetapi mengapa kau perhina anakku?"

Teriak orang tua itu. Beng Kie menikam ke arah pundak kiri. dengan begitu, ia buyarkan serangannya jago dari Barat utara itu.

"LooCianpwee. jangan kau salah mengerti..."

Ia berkata. Hui Liong mengelakkan pundak kirinya, kepalan kanannya balas menyerang, lalu disusul pula dengan kepalan kiri.

"Aku telah dengar semua, kau masih hendak menyangkal?"

Teriaknya, la masih sengit, ia menyerang dengan hebat.

Ia memang liehay ilmu silatnya dan tenaganyapun besar.

Beng Kie jadi gelisah dan bingung sekali, la tidak berani membalas menyerang orang tua itu.

Dalam repotnya itu, pundaknya kena terpukul, hingga ia merasakan sakit bukan main.

lapun terpukul terpelanting sampai kira-kira satu tumbak.

Giok Lo Sat berlompat selagi orang terhuyung-huyung.

"Apakah kau masih berniat lari?"

Dia mengejek sambil tertawa, pedangnya menikam ke arah ulu hati.

Beng Kie dapat tangkis serangan itu.

setelah mana, ia lompat mundur.

Tapi justeru itu Tiat Hui Liong lompat mencegat sambil mementangkan tangan dengan jari-jarinya yang kuat bagaikan gaetan besi.

Melihat bahaya yang mengancam itu, Beng Kie lempar pedangnya sambil keluarkan helaan napas.

"Baik kau bunuh saja aku!"

Katanya. Hui Liong tidak menyangka akan kenekatan orang, ia heran dan kaget, hingga tangannya seperti berhenti di tengah jalan.

"Ayah, jangan!"

Demikian jeritan seorang perempuan, yang pun segera muncul dari arah pohon.

"Anakmu hendak bicara!"

Kembali Hui Liong tercengang. Beng Kie kenali suara itu, ia kaget berbareng girang.

"San Ho!"

Ia berseru.

Tapi ia tidak dapat mengucap lebih lanjut, lantas ia bungkam.

Hui Liong dan Giok Lo Sat pernah merantau sampai di tapal batas untuk mencari kitab ilmu pedang, di mana mereka satroni sarangnya Kim Tok Ek, ketika mereka dengar kabar, bahwa orang she Kim itu menyelusup ke kota raja, mereka lantas menyusul.

Kebetulan sekali, sesampainya mereka di kota raja, mereka lihat San Ho yang menyamar sebagai seorang pemuda dan bersama Gak Beng Kie menumpang tinggal di gedungnya Keluarga Yo.

Ketika dulu Hui Liong usir puterinya, itulah disebabkan amarahnya seketika, yang kemudian ia merasa menyesal.

Giok Lo Sat dapat terka hatinya ayah angkat itu.

"Kenapa ayah tidak mau tengok mereka?"

Kata anak angkat ini.

"Aku kenal orang she Gak itu. Bila ayah setuju, aku akan berdaya untuk ikat perjodohan mereka."

Sementara itu Hui Liong dan Nona Lian dapat ketahui bahwa Kim Tbk Ek sedang bersembunyi di dalam istana, hingga Giok Lo Sat sudah merencanakan akan menyerbu ke keraton untuk cari orang she Kim itu.

Jago tua itu setuju.

"Baiklah, mari kita pergi dahulu ke rumah Keluarga Yo,"

Kata orang tua ini.

"Dari sana baru kita pergi ke istana akan cari siluman tua (dimaksudkan Kim Tok Ek) itu?"

Tapi Hui Liong dapat jawaban di luar sangkaannya.

"Aku tidak ingin temui orang she Gak itu,"

Kata Giok Lo Sat.

"Baiklah kita bekerja dengan berpisahan. Ayah boleh tengok San Ho, aku akan pergi ke istana mencari si orang she Kim."

"Bagaimana, apakah orang she Gak itu bukan orang baikbaik?"

Hui Liong tanya.

"Aku tidak maksudkan dia jahat, hanya ada perselisihan di antara dia dan aku, kecuali bila dia telah menikah dengan adik San Ho, tidak nanti aku mau akur pula dengan dia."

Hui Liong dan Giok Lo Sat masing-masing mempunyai tabiat yang aneh, maka tanpa banyak omong lagi, malam itu mereka pergi dengan berlainan tujuan.

Justeru malam itu keduanya mendapatkan hal yang luar biasa Malam itu untuk kedua kalinya, Gak Beng Kie telah memasuki keraton.

Kali ini Giok Lo Sat pun justeru datang menyatroni istana.

Kebetulan bagi si nona, dia sampai di tempatnya Gui Tiong Hian selagi orang kebiri itu berkumpul bersama pahlawan-pahlawannya tengah mengagumi pedang Yuliong kiam, kepunyaan Beng Kie.

Giok Lo Sat tidak kenal yang mana satu adalah Gui Tiong Hian, sebaliknya, ia kenali pedang mustika itu.

Ia ada demikian berani, dengan-tiba-tiba ia lompat di antara orang kebiri itu dan hamba-hambanya, tahu-tahu pedang itu telah berpindah ke tangannya hingga istana menjadi kacau.

Di luar tahunya, aksinya ini telah membantu Beng Kie, hingga pemuda she Gak ini berhasil menolongi Seng Kun.

Beng Kie tidak tahu aksinya nona itu.

Tiat Hui Liong di lain pihak pergi ke gedungnya Yo Lian, untuk tengok gadisnya, belum ia memasuki gedung itu, ia telah berpapasan dengan beberapa pahlawan dari TongCiang yang menculik San Ho.

Jago tua ini jadi gusar, dengan hebat ia serang pahlawan-lawan itu, ia dapat binasakan tujuh orang.

Dengan begitu, ia berhasil menolongi gadisnya.

Tapi karena ini juga, Hui Liong duga mungkin sekali Kim Tok Ek akan datangi pula gedung Yo Lian itu, maka iapun datang bersama Giok Lo Sat dengan kesudahannya mereka dapat membantu Him Kengliak.

Setelah dapat menolongi puterinya banyak yang Hui Liong tanyakan kepada puterinya, dari jawaban dan lagu suaranya ia tahu puteri ini kagumi Gak Beng Kie, hingga ia menduga di antara San Ho dan Beng Kie telah ada janji untuk hidup bersama.

Justeru dugaan inilah yang telah menerbitkan lelakon yang membawa keonaran itu.

Giok Lo Sat desak si anak muda, dan Hui Liong unjuk kemurkaannya.

Sesudah menduga hati anaknya, Hui Liong berdamai kepada Giok Lo Sat.

Dengan tangkas nona Lian menyediakan diri untuk jadi orang perantaraan.

Ketika Giok Lo Sat bujuki Gak Beng Kie, sampai ia memaksanya, Hui Liong dan San Ho sembunyi di dalam pohon-pohon lebat, hingga mereka dengar semua pembicaraan.

Selagi Giok Lo Sat habis sabar, Hui Liong pun gusar, hingga ia turun tangan membantui anak pungutnya mengepung anak muda itu.

San Ho sendirinya berduka mendengar Beng Kie tidak cinta padanya.

Pernah mereka berjalan sama-sama, selama itu tidak pernah mereka omong tentang cinta, akan tetapi dengan diam-diam, nona ini menaruh hati terhadap si anak muda.

Ia tidak sangka pemuda itu tidak cinta padanya.

Ia berduka berbareng mendongkol, hingga pikirannya jadi kalut tidak keruan rasa.

Ia mau menangis tetapi air matanya tidak mau keluar.

Meski demikian, menampak Beng Kie putus asa dan menyerah, menghadapi kebinasaan di tangan Giok Lo Sat dan ayahnya, hatinya tidak tega.

Maka itu, ia perdengarkan suaranya dan muncul dari tempat sembunyinya.

Anak ini segera pegangi tangan ayahnya yang hendak diturunkan menghajar Beng Kie.

"Ayah, jangan binasakan padanya,"

Katanya kemudian, suaranya perlahan tapi tajam. Kemudian ia putar tubuh, akan hadapi Beng Kie. Ia kata.

"Gak Toako, aku berterima kasih yang sebegitu jauh kau telah perhatikan aku. Adikmu yang menyebalkan ini, selanj utnya tidak akan memusingkan pula padamu. Aku telah terima budimu, aku belum dapat membalasnya, sebaliknya aku telah membikin kau gusar, karena aku tidak bisa menebus dosa, sekarang sukalah kau terima hormatku..."

Benar-benar San Ho memberi hormat sambil menjura kepada pemuda kita.

Beng Kie tertegun.

Dengan tidak disengaja ia telah singgung kehormatannya nona ini, ia menjadi menyesal sekali.

Ia tidak dapat mengucapkan sepatah kata, pun ia tidak berani angsurkan tangannya untuk membanguni nona itu.

Ia dapat lihat, setelah bangkit berdiri mukanya si nona sangat pucat di kedua pipinya mengalir sedikit air mata, suatu tanda nona itu sangat berduka.

Benar-benar ia jadi merasa sangat tidak enak.

Selagi pemuda ini mencoba untuk bicara, San Ho sudah mendahuluinya.

"Mulai hari ini, baiklah kita satu pada lain jangan saling membahasakan kakak dan adik lagi. Aku... ya. kitapun tidak usah saling bertemu lagi..."

Lantas si nona membalik tubuh dan lari ke arah kuil.

"Aku keliru!..."

Kata Beng Kie dengan sesalnya, ia niat menyusul. Baru ia hendak angkat kakinya, tapi Giok Lo Sat yang berada di dampingnya sudah membentak padanya.

"Untuk apa berkasihan palsu?"

Perkataan ini disusul dengan tikaman pedang! Tapi Tiat Hui Liong ulur tangannya. untuk menahan serangannya anak angkatnya itu, sedang di lain pihak, dia bentak Beng Kie.

"Orang she Gak, kau pergilah! Jikalau kau berayal-ayal, pasti akupun tidak akan beri ampun padamu!"

Beng Kie segera pungut pedangnya. dengan mulut membungkam ia ngeloyor turun gunung. Ia membiarkan saja walaupun ia dengar berulang-ulang suara dingin dari Giok Lo Sat.

"Hm! hm!..."

Ia hanya merasakan suara itu sangat tidak enak. bagaikan anak panah menikam ulu hatinya...

"Ayah, mari kita pulang!"

Giok Lo Sat mengajak. Ayah angkat itu berdiam, pun tidak menyahutinya.

"Betapa dukanya adik San Ho, mari kita lihat,"

Si Raksasi Kumala mengajak pula. Baru sekarang Hui Liong angkat kepalanya, kelihatan ia ada sangat gusar.

"Apakah kecelaannya anakku itu maka bocah she Gak itu berlaku sangat kurang ajar?"

Katanya dengan mendongkol.

"Itulah disebabkan dia yang tidak punya rejeki,"

Giok Lo Sat menghibur.

"Di belakang hari, andaikata dia jalan setindak demi setindak untuk memohon tangannya adik San Ho, pasti kita tidak akan ambil perduli!"

Mendengar kata-katanya anak angkatnya yang agak lucu ini, Hui Liong tertawa juga.

"Nah, mari kita pulang!"

Anak itu mengajak pula.

"Mari kita lihat adik San Ho. Jikalau dia menangis, tidak ada orang yang menghiburkannya, dia akan lebih berduka..."

"Ngaco! Jikalau dia menangis, dia bukannya anakku!"

Hui Liong tahu baik akan sifat puterinya itu.

Walau dalam keadaan bagaimanapun, tidak nanti San Ho mau unjuk kelemahannya, apapula untuk mohon bantuan lain orang.

Tapi Hui Liong merasa kurang tenteram juga, ia bertindak cepatcepat.

Lengkong sie adalah sebuah kuil tua dan tidak terawat, debunya penuh di sana-sini.

Setelah memasuki pintu pekarangan, Hui Liong lihat tapak kaki kusut di undakan pintu.

"San Ho! San Ho!"

Ia memanggil berulang-ulang. Hatinya benar-benar menjadi tidak tenteram. Kuil itu tetap sunyi, tidak ada jawaban dari San Ho. Giok Lo Sat pun menjadi heran.

"Mungkinkah ada orang bersembunyi di sini?"

Tanya dia.

"Coba kau pergi lihat ke depan sana."

Hui Liong menitah.

"Jikalau kau lihat apa-apa yang mencurigakan, segera kau beri tanda padaku."

Sebagai seorang yang telah banyak pengalaman, tindakannya Hui Liong ini adalah persiapan kalau-kalau ada orang jahat, untuk menjaga supaya mereka bisa saling tolong berbareng mencegah dicelakai musuh semuanya.

Giok Lo Sat menurut, ia pergi keluar.

Dengan siap waspada Hui Liong masuk ke dalam.

Lebih dahulu ia meneliti sekitar luar kamar, baru ia mendekati kamar barat yang di tempatkan gadisnya.

Segera ia dengar suara tarikan napas.

"Apakah benar-benar dia menangis?"

Berpikir ayah ini. Terus ia menolak pintu dengan perlahan-lahan.

"San Ho!"

Ia memanggil. Di atas pembaringan tertampak seorang wanita dengan rambut kusut, dia itu menyahuti dengan perlahan.

"San Ho sudah pergi..."

Hui Liong terkejut. Ia kenali wanita itu adalah Bok Kiu Nio, gundiknya. Inilah di luar sangkanya. Ia lantas menjadi gusar.

"Manusia rendah, perlu apa kau datang kemari?"

Ia menegur.

"Kaukah yang membujuk San Ho pergi?"

Bok Kiu Nio tidak beri penyahutan, ia hanya perlihatkan telapakan tangannya yang menggenggam tiga butir mutiara merah bagaikan darah. Melihat ini, Hui Liong kaget.

"Hai, kau bergabung dengan hantu wanita itu?"

Teriaknya. Gundik itu tertawa sedih.

"Looya. kau masih tetap bawa tabiatmu seperti dulu,"

Katanya.

"Begitu kau buka mulut, lantas kau mencaci orang..."

Jago tua itu melengak.

"Ah! Apakah kau hendak pinjam pengaruhnya hantu wanita itu untuk satrukan aku?"

Dia tanya.

Bok Kiu Nio diusir suaminya berhubung dengan pencurian kitab ilmu pedang kepunyaan Giok Lo Sat.

karenanya.

Hui Liong curigai gundik ini berdendam kepadanya dan hendak menuntut balas.

Gundik itu perlihatkan roman tak wajar, lalu mendadak ia menghela napas.

"Looya, kau telah jadi banyak tua..."

Katanya.

"Apakah hantu wanita itu datang bersama kau?"

Sebaliknya Hui Liong mengajukan pertanyaan pula.

"Aku tidak perduli! Di mana San Ho sekarang berada?"

"Ketika aku sampai di sini, San Ho sudah turun gunung dengan ambil jalan di belakang kuil ini,"

Kiu Nio kasih tahu.

"Tadinya aku sangka kau mendapat kabar penting dan telah titahkan si San pergi untuk minta bantuan, adalah setelah masuk ke sini, baru aku tahu hal kepergiannya itu. Itulah suratnya di atas meja yang dia tinggalkan untukmu."

Hui Liong tampak sehelai kertas di atas meja, yang tertulis dengan arang, bunyinya.

"Aku pulang lebih dahulu. Ayah tak usah cari aku."

Hui Liong kaget.

Tetapi ia kenal baik tabiat anaknya, yang pasti sudah pergi jauh, maka akan sia-sia saja ia menyusulnya.

Ia berpaling pada gundiknya, di telapak tangan siapa masih terlihat tiga butir mutiara merah bagaikan darah tadi yang di antara sinar pelita, mengeluarkan cahaya merah bergemerlapan.

Meskipun ia satu jago yang tidak kenal takut, namun menampak tiga butir mutiara itu, hatinya Hui Liong gentar juga.

"Looya, baiklah kau lekas menyingkir!"

Kiu Nio berkata. Tapi suami itu murka.

"Untuk banyak tahun kau telah ikut aku, pernahkah kau lihat aku menyingkir dari satruku?"

Dia membentak. Tapi sejenak saja, ia menjadi lebih sabar.

"Apakah kedatanganmu ini hanya untuk memberi kisikan padaku?"

Tanyanya dengan suara perlahan.

"Masihkah kau menetapi kepada kata dahulu?"

Kiu Nio tanya.

"Apa yang aku katakan, aku tidak akan mengubahnya,"

Hui Liong jawab.

"Kau ikut kepada siapapun aku tak perduli!"

"Terima kasih, looya,"

Berkata bekas gundik itu. Dengan sepasang matanya, Hui Liong memandang keluar jendela. Lalu ia kata.

"Juga tidak terkecuali kalau kau suka kembali pula padaku, maka aku tak akan menanyakan jelas padamu."

Hui Liong merasa kesepian dalam usianya yang telah lanjut itu. Gundik itu tertawa. Telah belasan tahun aku ikut looya, yang lainnya tak dapat aku telad, perangaimu dapat juga aku mencontohnya,"

Katanya.

"Karena aku telah dianggap bersalah, biarlah aku salah terus-terusan sampai di akhirnya."

Hui Liong rasakan mukanya panas.

"Kalau begitu, apa perlunya kau datang memberi kisikan?"

Dia tanya.

"Itulah karena looya telah rela merdekakan aku, sehingga aku tidak lebih lama pula menjadi budak,"

Sahut si nyonya.

"Aku ingat budi looya ini, maka aku tak ingin melihat kau binasa secara kecewa."

Hui Liong kerutkan keningnya "Kau ngaco belo!"

Bentaknya.

"Apakah kau anggap aku sudah tua hingga aku menjadi tidak berguna lagi?"

"Looya liehay, inilah aku tahu,"

Kata pula Kiu Nio.

"Akan tetapi mertuaku telah berhasil meyakini ilmu silat memukul batu sehingga hancur bagaikan tepung, dan tangannyapun telah direndam dengan bisa beracun. Maka itu, lebih baik looya menyingkir saja!"

Kedua matanya Hui Liong terbuka lebar.

"Apa? Mertuamu?"

Dia menegasinya.

"Benar,"

Sahut bekas gundik itu.

"Sekarang aku telah menjadi nyonya mantunya Anghoa Kuibo Kongsun Toanio si Biang Hantu Bunga Merah."

Hui Liong melengak.

"Baik, baik!"

Katanya kemudian.

"Nah, sekarang kau pergilah!"

Masih Bok Kiu Nio berkata pula.

"Kongsun Toanio telah ketahui kau berada di sini. Besok malam dia hendak datang untuk membuat perhitungan! Dia sekarang telah akur pula dengan Kim Lookoay..."

"Biarlah!"

Kata Hui Liong pula.

"Dan kau ---kau pun menjadi satruku?"

"Tidak berani aku menjadi musuh looya."

Kata Kiu Nio, yang tetap masih berbahasa "looya"

Kepada bekas suami itu.

"Mereka pun tidak inginkan aku turut ambil bagian. Hanya hendak aku terangkan, mertuaku itu, walaupun perangainya mirip seperti perangai looya, dia tidak dapat dikatakan seorang yang buruk. Maka itu, aku tidak ingin dia membunuh looya. Juga looya tidak bunuh dia. Oleh karenanya, looya baiklah kau menyingkir saja daripadanya..."

Itu waktu di luar terdengar satu suara nyaring.

"Giok Lo Sat akan segera datang, nah, kau lekaslah pergi!"

Hui Liong kata. Bok Kiu Nio terkejut, lantas ia berpaling kepada bekas suaminya untuk beri hormat.

"Looya, harap kaujaga diri baik-baik,"

Katanya, lantas ia lompat keluar jendela. Sebentar kemudian, Giok Lo Sat masuk.

"Apakah ada yang mencurigai?"

Hui Liong tanya anak pungutnya.

"Tidak,"

Sahut Giok Lo Sat.

"Cuma di arah Pitmo gay sana seperti ada sinar api. Apakah perlu kita tengok?"

"Tidak usah, aku sudah ketahui itu,"

Jawabnya Hui Liong. Giok Lo Sat memandang ke lantai.

"Siapa yang telah datang kemari?"

Dia tanya.

"Apakah adik San Ho...?"

"San Ho sudah pergi. Tadi Bok Kiu Nio datang cari aku."

"Bok Kiu Nio?"

"Ya, dia. Apakah kau pernah dengar namanya Anghoa Kuibo Kongsun Toanio?"

"Belum pernah aku mendengarnya. Nama itu aneh bagiku. Gelaranku saja-Giok Lo Sat-sudah membuat orang kaget, tak kusangka ada lain orang yang namanya lebih hebat lagi! Ingin aku menemui Kuibo itu..."

Hui Liong tertawa mendengar kata-kata Jenaka dari anak pungutnya itu. Tapi sedetik kemudian, ia segera perlihatkan wajah sungguh-sungguh.

"Julukannya Biang Hantu tersohor jauh terlebih siang daripada julukanmu itu,"

Berkata dia.

"Sejak empat puluh tahun yang lampau, orang sudah gelarkan Anghoa Kuibo padanya."

"Dia sebenarnya orang macam apa?"

Si Raksasi Kumala menegasinya.

"Meskipun usiaku masih muda sekali, bukan sedikit orang kangouw aku telah jumpai, mengapa aku belum pernah dengar nama Anghoa Kuibo itu?"

Hui Liong mengurut-urut kumisnya dan matanya dibuka lebar-lebar. Pada sinar mata itu tertampak roman dari ketakutan. Menampak sinar mata ayah angkatnya itu. Giok Lo Sat heran, agaknya terkejut.

"Ayah, mungkinkah kau takut terhadap Anghoa Kuibo itu?"

Dia tanya. Tiat Hui Liong kerutkan kening.

"Aku tidak takut terhadap siapa juga,"

Ia kata dengan tawar.

"akan tetapi Anghoa Kuibo itu benar-benar satu lawan yang tangguh sekali. Anak Lian, mari duduk, akan kututurkan kau suatu cerita."

Giok Lo Sat duduk di tepi pembaringan, dengan mendelong ia awasi ayah angkat itu. Hui Liong hirup secangkir teh tua, ia batuk-batuk.

"Kau telah ketahui,"

Katanya, memulai.

"pada beberapa puluh tahun yang lampau, untuk di Barat utara, namaku dan Kim Laokoay sama terkenal. Akan tetapi, tahukah kau siapa yang mengajarkan ilmu silatnya Kim Laokoay itu?"

Si Raksasi Kumala menggelengkan kepala.

"Kalian adalah orang-orang yang telah berusia di atas enam puluh tahun lebih, yang terhitung dua tingkat lebih tua daripada aku, sudah tentu aku tidak ketahui tentang kalian di waktu mudanya."

"Ilmu silatnya Kim Laokoay itu adalah isterinya yang mengajarkannya."

Hui Liong beritahukan.

"Isterinya itu ialah Anghoa Kuibo Kongsun Toanio adanya."

Si nona tertawa.

"Isteri menjadi guru suaminya, sungguh bagus!"

Kata dia. Tapi di dalam hatinya ia berpikir.

"Andaikata aku berjodoh dan menikah dengan To It Hang, mungkin akupun akan ajarkan It Hang ilmu silat lebih jauh..."

Karena ini, ia jadi ingat suatu hal, maka ia tanya.

"Jikalau satu nona telah menikah, dia biasanya pakai she dan nama suaminya. Kenapa Anghoa Kuibo itu bukan pakai nama Kim Toanio, tapi disebutnya Kongsun Toanio?"

"Baiklah aku tuturkan halnya Anghoa Kuibo itu,"

Sahut Hui Liong.

"Pada empat puluh tahun yang lampau, di Barat utara ada seorang luar biasa yang disebut Kongsun It Yang. Ilmu silatnya sangat liehay tak terjajakkan, diapun gemar sekali memelihara binatang-binatang yang berbisa, maka itu orang jeri kepadanya. Dia mempunyai banyak murid tetapi tidak ada satu yang dapat mewarisi kepandaiannya dengan sempurna. Guruku adalah sahabat karibnya Kongsun It Yang itu. Menurut kata guruku. Kongsun It Yang pernah mengatakan kepadanya bahwa ilmu silatnya sangat berbahaya, apabila ilmu itu diwariskan kepada murid jahat dan kejam, bahayanya bukan main hebatnya, maka ia cuma ajarkan murid-muridnya pelbagai ilmu silat yang kasar dan mudah diajarkannya saja. Kongsun It Yang berlaku demikian hati-hati tapi kemudian ia toh nampak kegagalan. Satu kali pernah datang satu pemuda, yang menjadi muridnya, di luar dugaannya, murid ini telah tempel gadisnya, hingga kesudahannya mereka berdua berhasil mencuri kitab ilmu silatnya Kongsun It Yang yang dirahasiakan itu. Nona itu adalah anak satu-satunya dari Kongsun It Yang, dimanjakan bagaikan mustika saja, sebagaimana aku terhadap San Ho. Walaupun Kongsun It Yang kemudian ketahui perbuatan anaknya itu, dia hanya bergusar tetapi tidak bisa berbuat suatu apa terhadap anaknya. Akhirnya dia mati mereras bahna jengkelnya."

"Pemuda itu pastilah yang kemudian dikenal sebagai Kim Laokoay,"

Si Raksasi Kumala menduga.

"Kiranya dia sudah biasa mencuri, tidak heran kalau dia telah curi kitab ilmu pedang kepunyaan guruku dan kemudian mencobajuga curi kitab ilmu silat Siauwlim pay!"

"Demikianlah kalau orang sudah menjadi kebiasaan,"

Kata Hui Liong.

"Di masa mudanya, hatinya Kim Laokoay sudah demikian buruk, sudah dapat dipastikan, makin dia tua. hatinya makin buruk lagi. Sesudah dia dapat bujuki isterinya curi kitab rahasia mertuanya itu, lalu bersama-sama mereka pergi menyembunyikan diri di gunung Thiansan bagian Utara, di mana diam-diam mereka meyakini ilmu dari kitab rahasia itu. Di kala itu, ilmu silatnya Kim Laokoay barulah apa yang dinamakan mulai memasuki pintu, sedang ilmu silat isterinya sudah mempunyai dasar kuat, dengan demikian menjadi nyata bahwa Kim Laokoay dapat pelajaran di bawah pimpinan isterinya itu. Selang belasan tahun, ilmu silatnya kedua suami isteri itu telah menjadi sempurna. Setelah itu, Kim Tok Ek mulai berbuat hal-hal yang tidak bagus, dengan kesudahannya dia membangkitkan amarahnya kaum Rimba Hijau, hingga tiga belas jago dari Barat utara telah berserikat mengepung dia. Sebenarnya akupun telah diundang untuk bekerja sama, tetapi karena terhalang urusanku, tidak dapat aku turut serta. Tiga belas jago itu berhasil mengurung Kim Tok Ek, yang tak mungkin dapat meloloskan diri lagi, akan tetapi di saat jiwanya sedang terancam maut, muncullah isterinya yang telah datang menolongi. Pertempuran jadi sangat dahsyat, tiga belas jago itu kena dikalahkan. Kim Tok Ek telah dapat luka yang berbahaya tapi kemudian jiwanya tertolong juga. Kongsun Toanio itu suka menancapkan bunga merah di rambut di samping kupingnya, sehabisnya pertempuran mati-matian itu, dia lantas dapatkan julukan Anghoa Kuibo si Biang Hantu Bunga Merah."

"Liehay ilmu silatnya Anghoa Kuibo,"

Berkata Giok Lo Sat.

"akan tetapi dia telah menangi suaminya, itulah harus disayangkan."

"Ya,"

Kata Hui Liong.

"Buat omong secara jujur, walaupun julukan Anghoa Kuibo sangat menakuti, akan tetapi hatinya tidak seburuk suaminya itu, seringkali dia beri nasehat pada suaminya, tapi semua itu tak didengar oleh suaminya itu. Inipun sebabnya waktu Kim Laokoay dikepung tiga belas jago. dia baru datang menolongi di saat suaminya dalam keadaan yang sangat terancam. Maksudnya Anghoa Kuibo berbuat demikian adalah untuk beri ajaran pada sang suami agar tahu takut dan meru bah tabiatnya, akan tetapi justeru karena mengandalkan kegagahan isterinya itu, Kim Laokoay jadi semakin binal, setelah sembuh dari luka-lukanya, dia telah melakukan lebih banyak kejahatan, hingga kesudahannya, bahna jengkel dan putus asa, Anghoa Kuibo pisahkan diri dari suaminya itu. Sejak itu, selama tiga puluh tahun tidak ada orang yang ketahui di mana nyonya kosen itu menempatkan dirinya."

Giok Lo Sat menghela napas.

"Kalau begitu, Anghoa Kuibo itu tak dapat dikatakan terlalu buruk,"

Katanya.

"Sejak meninggalkan suaminya itu, Anghoa Kuibo tidak sudi pakai nama suaminya,"

Tiat Hui Liong menjelaskan lebih jauh.

"ia memakai nama Kongsun Toanio, dengan ambil she ayahnya. Pada sepuluh tahun pertama ia sembunyikan diri. pernah dua tiga kali Kongsun Toanio munculkan diri, barulah setelah itu ia tidak pernah muncul pula, hingga banyak orang yang anggap dia telah menutup mata. Tidak disangka dia sebenarnya masih berada dalam dunia dan sekarang muncul untuk menyatrukan aku. Dan lebih tidak disangka dia telah peroleh satu anak laki-laki dan anaknya itu telah ambil Bok Kiu Nio sebagai isteri! Sungguh dunia bagaikan sandiwara, yang membuat orang tak habis pikir!..."

Sama sekali Tiat Hui Liong tidak tahu.

setelah Bok Kiu Nio meninggalkan padanya, gundik itu sudah dikepung-kepung Kim Cian Giam, sampai di Siangyang, Ouwpak, di mana Kiu Nio ketemu Anghoa Kuibo.

Kim Cian Giam takut terhadap bibinya itu, yang berikan teguran padanya, dia ngiprit pergi.

Tapi justeru dari Kim Cian Giam, sang keponakan, Anghoa Kuibo 'dengar halnya Kim Tok Ek, suaminya itu, ia lantas teringat kepada hubungan suami isteri, maka, setelah mendapat tahu suaminya hendak pergi ke kota raja.

ia mendahului pergi ke Pakkhia untuk menantikan suaminya itu.

Mengenai Anghoa Kuibo pribadi, dia masih mempunyai kisah sendiri.

Pada waktu meninggalkan suaminya, Anghoa Kuibo sedang mengandung, dan melahirkan satu bayi lelaki yang diberi nama Kongsun Lui.

Sengaja dia tidak mau pakai she dari suaminya kepada anaknya itu.

Di luar dugaanya Anghoa Kuibo, Kongsun Lui telah mewarisi sifat ayahnya.

Sejak masih kecil dia sudah bandel, beberapa kali dia telah menerbitkan onar.

Sang ibu ambil tindakan keras untuk mengendalikan anak ini dengan melarangnya keluar dari rumah.

Oleh karena mempunyai anak bandel, hatinya Kongsun Toanio menjadi tawar, karena ini ia terima satu murid ialah seorang murid perempuan.

Inilah murid yang mempunyai asal-usul tak sembarangan.

Murid ini ialah anak perempuannya Keksie Hujin, babu susunya kaisar.

Di waktu Anghoa Kuibo ambil murid itu, Keksie Hujin masih belum berpengaruh sebagai sekarang ini.

Tatkala Bok Kiu Nio diterima menumpang oleh Anghoa Kuibo, dia telah tarik perhatiannya Kongsun Lui.

Karena sangat dikekang ibunya, Kongsun Lui belum pernah lihat wanita secantik Kiu Nio.

Ia tertarik hatinya tambahan pula Kiu Nio pun memberi hati kepadanya, hingga kesudahannya mereka bikin perhubungan rahasia.

Ketika Anghoa Kuibo ketahui perbuatan anaknya itu, ia tidak berdaya, karena menganggapnya nasi sudah menjadi bubur.

Sebenarnya ia tidak cocok Bok Kiu Nio menjadi nona mantu, sebab Kiu Nio adalah bekas gundiknya Tiat Hui Liong.

Belum lama setelah Kongsun Lui dan Bok Kiu Nio menikah, Kaisar Sin Cong wafat dan digantikan oleh Kaisar Kong Cong, lantas setelah itu.

Keksie Hujin peroleh pengaruhnya, karena mana, dia sambut anaknya untuk pulang.

Inilah ketika yang baik bagi Kongsun Toanio untuk turut serta dengan muridnya pergi ke kota raja, akan berdiam di dalam keraton.

Sampai kemudian Kaisar Kong Cong wafat dan Yu Kauw naik di tahta, waktu itulah Keksie Hujin berpengaruh benar-benar sebab Yu Kauw, kaisar yang sekarang ini, adalah bekas bocah asuhannya.

Kongsun Toanio segera dapat ketahui adanya perhubungan yang tidak sehat di antara Keksie Hujin dan Gui Tiong Hian, yang mempermainkan pemerintahan, dia memikir hendak berlalu dari kota raja Akan tetapi sebelum ia berangkat, justeru datang Kim Tok Ek, yang ia memang niat cari.

Maka keduanya lantas membuat pertemuan rahasia.

Anghoa Kuibo menasihatkan pula suami itu untuk pulang, tetapi di lain pihak, Kim Tok Ek beritahu isterinya itu bahwa ia sedang dikejarkejar Tiat Hui Liong dan Giok Lo Sat yang membuat ia jeri.

Pada mulanya Anghoa Kuibo tidak mau ambil pusing urusan suami ini.

adalah kemudian, sesudah pertempuran di rumah Keluarga Yo, di mana Kim Tok Ek kalah dan terluka hebat, pikirannya Anghoa Kuibo telah berubah.

Sebabnya ialah Kim Tok Ek mengadu kepadanya sambil menangis dan mengatakannya, kecuali sakit hatinya ini dapat dibalaskan, tidak sudi ia ikut pulang.

Iapun menjelek-jeleki Tiat Hui Liong dan Giok Lo Sat, yang dikatakan sangat kejam.

Ia kata, jikalau kedua satru itu tidak disingkirkan, ia tidak akan hidup senang dan tenteram...

Hatinya Kongsun Toanio menjadi lemah.

"Baiklah, aku nanti bantu kau,"

Katanya.

"Tapi ini adalah untuk yang penghabisan kali. Satu hal hendak aku terangkan, oleh karena Tiat Hui Liong itu gagah, aku tidak dapat memastikan bahwa aku dapat menangkan padanya."

"Asal kau sudi membantu aku, akupun hendak minta bantuan lain orang lagi,"

Kim Tok Ek membujuki terus isterinya itu. Tapi mendengar ini, berubahlah wajahnya Anghoa Kuibo.

"Belum pernah aku mengandalkan jumlah yang banyak untuk merebut kemenangan!"

Katanya dengan sengit.

"Jikalau kau minta bantuan lain orang lagi, aku tidak mau pergi!"

"Baik, baik,"

Tok Ek mengalah.

Tapi diam-diam ia mengatur lain di luar tahu isterinya.

Demikian hal ikhwal Kongsun Toanio, yang dituturkan Tiat Hui Liong kepada anak pungutnya.

Hui Liong menghela napas setelah penuturannya itu.

"Sudah aku katakan, hatinya Kongsun Toanio tidak buruk."

Berkata dia.

"apa yang aku kuatirkan ialah dia tidak sanggup pertahankan diri dari bujukan suaminya. Apabila itu benar terjadi, sukar diramalkan, apa yang akan terjadi kelak. Sekali terbujuk, dia akan menjadi bengis tanpa tandingan. Kalau bukan demikian, cara bagaimana dia bisa dapatkan gelarannya itu?"

Mendengar kata-kata ayah angkat itu, Giok Lo Sat tertawa gelak-gelak.

"Anak Lian, kenapa kau tertawa?"

Sang ayah tanya.

"Bukankah Raksasi ketemu Biang Hantu?"

Tertawa anak itu.

"Maka lihat saja nanti, siapa lebih tangguh dan siapa lebih bangpak! Ayah. aku menyesal tidak sekarang juga aku dapat tempur dia!"

"Bukankah besok tengah hari ada janjimu dengan Pek Sek Toojin? Nah, sehabis melayani imam itu, tak mungkin sorenya kau dapat bertempur pula!"

"Bukankah ayah telah kata bahwa mereka bertempat di Pitmo gay dari mana mereka pasang mata terhadap kita? Besok kita tempur Pek Sek Toojin. sehabis itu terus kita tempur Anghoa Kuibo. Dua urusan dapat dilakukan sekali pukul, tidakkah itu sangat menyenangkan hati? Sedari aku tempur kau, tempo hari, sampai sekarang ini sudah lama. belum pernah aku merasakan bertempur pula secara memuaskan, sekarang tanganku gatal!"

Hui Liong kerutkan kening.

"Ah, anak, kau tahunya cuma bertempur saja!..."

Ujarmja, agaknya ia menyesali. Ia menegur, tapipun ia menyayangi anak pungut ini yang Jenaka dan manis.

"Besok, ayah, besok kau biarkan aku yang turun tangan lebih dahulu!"

Kata anak itu tanpa perdulikan tegurannya sang ayah. Hui Liong tidak layani lagi anak ini bicara, hanya ia pergi ke jendela untuk memandang keluar.

"Cepat sekali akan sampai jam empat, masih keburu!"

Katanya seorang diri, kata-katanya seperti orang yang menggerutu.

"Apa katamu, ayah?"

Si anak tanya. Ia mendengarnya samar-samar.

"Asalkan aku dengar ada tandingan dengan siapa dapat aku bertempur, segera kegembiraanku terbangun! Sekalipun mesti tidak tidur tiga hari tiga malam, dapat aku melayani terus!"

Mau atau tidak Hui Liong tertawa juga.

"Kau benar mirip dengan adatku di waktu muda!"

Dia berkata. Lalu mendadak ia perlihatkan roman sungguhsungguh dan menambahkannya.

"Aku bukannya kuatirkan kau tidak punyakan kegembiraan, aku hanya ingin kau menyiapkan obat..."

Si Raksasi Kumala menjadi heran.

"Menyiapkan obat?"

Tanyanya.

"Obat apakah itu? Pertempuran masih belum dilakukan, apa perlunya obat sudah harus disiapkan sekarang?"

"Ah, anak, kau mana tahu liehaynya Anghoa Kuibo?"

Berkata sang ayah.

"Ilmunya Toksee Ciang, yakni tangan beracun, ada lebih liehay daripada Kim Laokoay, dengan digabungnya ilmu BianCiang, Tangan Kapas, dia bisa meremukkan batu menjadi seperti pupur. Maka apabila kita tidak siap sedia dari siang-siang, sulitlah untuk kita dapat melayaninya."

"Dengan cara bagaimana kita bersiap sedia?"

"Sekarang lekas kau pergi ke kota kepada piauwsu Liong Tat Sam dari Tiangan Piauwkiok, untuk pinjam dua perangkat kaca tembaga Hoksim keng daripadanya. Liong Piauwsu itu adalah sahabat kekalku, dengan membawa suratku, pasti dia akan kasih pinjam kacanya untuk melindungi dadaku. Setelah itu, di waktu terang tanah, kau harus menyiapkan obat."

Ayah angkat ini bicara dengan terus bekerja, tapi di situ tidak ada kertas dan alat tulis, maka ia robek ujung bajunya dibikin jadi dua potong, dan ia ambil sebatang arang sebagai pitnya.

Lebih dahulu ia tulis surat untuk Liong Piauwsu, lalu ia tulis surat obatnya.

"Demikian banyak obatnya?"

Kata Giok Lo Sat, yang lihat ayah itu mencatat nama-nama obat hampir dua puluh macam.

"Bagaimana jikalau obat ini tidak lengkap?"

"Dari obat-obat ini, kecuali satu dua, semua yang lainnya adalah bahan obat biasa saja,"

Hui Liong terangkan.

"Apabila kau tidak dapat beli semuanya, kau pergi minta bantuannya Liong Piauwsu. Inipun masih belum semua,"

Ayah ini menambahkan, dan ia tulis pula tujuh rupa nama obat lainnya.

"Sudah lengkapkah?"

Tanya sang anak dengan keningnya dikerutkan.

"Sudah cukup."

Ayah itu jawab.

"kecuali kau tambahkan dua potong Hionghong. Setelah dapat beli semuanya, kau tumbuk di dalam piauwkiok untuk dibikinkan menjadi obat pulung yang kecil-kecil. Kalau besok kita bertempur. Mesti kita mendapat luka, obat ini berguna untuk melenyapkan rasa sakit, khasiatnya teristimewa guna melindungi peparu. Nah, pergilah lekas!"

Begitu sungguh-sungguh ayah ini.

hingga Giok Lo Sat tidak bersangsi-sangsi lagi untuk bekerja menuruti apa yang diperintahkannya.

Kalau Hui Liong ada demikian sibuk, pihak Pek Sek Toojin tak kurang tegangnya, terutama anak perempuannya, Ho Gok Hoa.

Nona ini berkuatir sekali mendengar ayahnya bentrok kepada Giok Lo Sat.

Pek Sek Toojin bawa sikap tenang, inilah di luar saja, di dalam hatinya diapun sama berkuatir sebagai gadisnya.

Di hari kedua, pagi-pagi Pek Sek Toojin sudah bangun dari tidurnya, murid-murid Butong pay pada datang menemui dia.

Di antara mereka ini tampak nyata ketegangan hatinya, pun banyak yang mengutarakan kekuatirannya karena mereka ketahui Ang In Tooj in.

salah satu tetua mereka, pernah dikalahkan si Raksasi Kumala.

"Susiok, baik kami semua turut kau,"

Berkata Lie Hong Siu, murid kepala untuk di kota raja.

"Aku telah tantang Giok Lo Sat bertempur satu sama satu, buat apa kalian ikut aku?"

Si imam berkata.

"Kami ikut hanya untuk turut menyaksikan. buat tambah pengaruh,"

Hong Siu jawab. Pek Sek tahu maksud hati yang sebenarnya dari muridmurid itu, ia menggelengkan kepala.

"Tidak boleh,"

Sahutnya.

"Tidak seorangpun dari kalian aku ijinkan turut serta."

Imam ini bersikap demikian karena ia berpendapat bahwa meski benar Giok Lo Sat tangguh tetapi turut katanya Ang In, dia cuma mahir dalam ilmu silat pedang, dalam hal ilmu silat tangan kosong dan tenaga, dia masih di bawahnya Uy Yap Toojin, suheng mereka yang kedua, atau seimbang dengan kepandaiannya sendiri.

Dalam hal ilmu pedang, di antara saudara-saudaranya, dialah yang paling liehay, maka dia percaya mungkin dia dapat menandingi si nona.

Jikalau dia ajak semua murid itu.

mungkin disebabkan rasa cinta dan bersatu padunya mereka ini, di saat yang genting mereka akan turun tangan membantui padanya.

Kalau ini kejadian, pasti nama Butong pay akan tercemar karenanya "Mustahil untuk menonton saja tidak boleh?"

Hong Siu masih membandel. Pek Sek menjadi tidak senang.

"Siapa lancang menonton, dia akan dihukum!"

Katanya dengan bengis. Lie Hong Siu semua bungkam.

"Ayah, aku mau turut."

Gok Hoa berkata. Ayah itu menghela napas.

"Anak yang baik, jangan kau turut aku,"

Sahutnya.

"Giok Lo Sat itu sangat ganas, turut kepergianmu cuma-cuma akan menambahkan berabesaja!"

Anak ini tidak puas.

Sudah sepuluh tahun ia belajar silat, meski ia dengar Giok Lo Sat liehay namun ia ingin mencobacobanya, ia tidak sangka bahwa iapun ditolak ayahnya.

Terpaksa ia tutup mulut.

Pek Sek Toojin sudah lantas rapikan pakaiannya, lalu semua murid mengantar ia keluar, sesampainya di luar agaknya ia ragu-ragu.

tapi akhirnya, ia gapaikan It Hang.

"Kau boleh turut aku,"

Katanya.

"Kau kenal Giok Lo Sat, kaupun ketua kami, pantas untuk kau hadir bersama."

Sama sekali It Hang tidak inginkan paman guru itu bertempur dengan Giok Lo Sat, sikapnya paman guru ini membikin ia bingung.

Iapun sangsi untuk membuka mulut, supaya ia diajak turut serta.

Ia sebenarnya ingin sekali batalkan pertempuran itu.

Maka giranglah ia ketika mendengar paman guru itu akhirnya mengajak juga padanya.

Malam itu Giok Lo Sat telah pergi ke dalam kota.

Dalam ilmu enteng tubuh ia lebih atas daripada Tiat Hui Liong, inilab sebabnya kenapa Hui Liong suruh ia yang pergi ke kota.

Ia berangkat dari Lengkong sie kira-kira jam empat, ketika ia sampai di dalam kota di Tiangan Piauwkiok belum lagi terang tanah.

Congpiauwtauw Liong Tat Sam, pemimpin dari Tiangan Piauwkiok.

adalah sahabat karibnya Tiat Hui Liong.

Hubungan persahabatan itu telah berjalan dua puluh tahun sehingga kini.

Pada waktu itu, Liong Tat Sam antar piauw ke Barat utara, di tengah jalan ia dicegat dan dikurung gerombolan, sampai sukar untuk ia meloloskan diri.

Kebetulan sekali, Hui Liong dengar kabar perihal pembegalan itu, dia segera datang.

Dengan mengandalkan nama besarnya, Hui Liong bisa bubarkan pengurungan dengan kesudahan, tidak saja piauwnya Liong Tat Sam terhindar dari pembegalan, nama baiknya pun turut terlindung juga.

Karena itulah.

Liong Piauwsu jadi sangat berterima kasih kepada jago dari Barat utara itu, selama dua puluh tahun dia ingat benar akan budinya Hui Liong, dia menyesal selama itu tidak ada ketikanya untuk dia membalas budi itu.

Juga Liong Tat Sam mempunyai persahabatan yang kekal dengan Busu Liu See Beng, kemarin ini dia seoranglah yang Liu See Beng mohon bantuannya, untuk secara diam-diam bantu melindungi Him Kengliak.

Di sana secara kebetulan ia dengar halnya Tiat Hui Liong, yang berada sama satu nona cantik ia menjadi girang sekali.

Maka lantas saja ia tanya Liu Busu tempat pemondokannya jago dari Barat utara itu.

"Orang tua itu sangat aneh,"

Berkata Liu See Beng.

"Di dalam pertempuran, dia bersama si nonalah yang keluarkan tenaga paling banyak, namun sedikitpun dia tidak menginginkan pahala, setelah pertempuran selesai, mereka lantas ngeloyor pergi sampai mereka tidak sempat bicara kepada kita. Belakangan setelah aku tanya Pek Sek Toojin, baru aku dapat tahu, bahwa dia adalah Tiat Hui Liong. Menurut pendengaranku, nona yang cantik itu katanya adalah bandit wanita bernama Giok Lo Sat yang baru hari hari paling belakang ini muncul di wilayah Barat daya."

"Oh, Giok Lo Sat!"

Seru Liong Tat Sam.

"Pada waktu belakangan ini aku dengar namanya disebut-sebut orang! Kabarnya dia sangat ganas, hingga orang julukkan iblis wanita yang membunuh orang tanpa berpejam mata. Tiat Hui Liong memang aneh tabiatnya, akan tetapi dia termasuk orang yang jujur, aku merasa heran dia bisa berada bersama nona itu?"

Liong Tat Sam cuma ketahui kekejamannya Giok Lo Sat, ia tidak tahu bahwa si nona membunuh bukan sembarang bunuh, bahwa Giok Lo Sat mempunyai banyak satru di kalangan kangouw, yang menyiarkan cerita burung menjeleki dirinya si nona yang dikatakannya sangat kejam.

Baru saja namanya Giok Lo Sat tersohor sebagai hantu wanita yang jahat dan kejam...

Dalam pembicaraan dengan Liu See Beng mengenai Giok Lo Sat, Tat Sam yang terpengaruh cerita di luaran.

"masih menganggapnya si nona benar jahat dan kejam, ia tidak puas mengetahui Tiat Hui Liong bergaul sama nona itu. Dalam hal ini, See Beng tidak kata apa-apa. tetapi mengenai Pek Sek Toojin, dia tertawa.

"Kalau dibicarakan, sungguh lucu!"

Katanya guru silat ini.

"Pek Sek Toojin sudah berusia lanjut tetapi dia tetap masih suka menang sendiri, tentulah dia ingin adu silat pedang dengan Giok Lo Sat."

Guru silat ini tidak ketahui jelas peristiwa antara Giok Lo Sat dan Butong pay, karenanya ia anggap, imam itu memang masih dipengaruhi tabiat suka menang sendiri, tabiat suka berkelahi...

"Pek Sek Toojin adalah salah satu dari Butong Ngoloo,"

Berkata Liong Tat Sam.

"ilmu silat pedangnya, yakni Citcapjie Ciu Lianhoan Toatbeng kiam, kesohor di empat lautan, hantu wanita benar-benar cari mampusnya sendiri..."

"Maka itu aku tidak ingin campur tahu urusan mereka itu,"

See Beng berkata.

"Pek Sek Toojin tampaknya sangat sungguh-sungguh menumplakkan semua perhatiannya dalam urusan piebu pedang itu, sampai urusan menjaga aksi penghianat dan melindungi Him Kengliak. dia ke sampingkan. Inipun sebabnya mengapa aku minta bantuanmu."

"Him Kengliak itu seorang yang berhati baik."

Tat Sam kata.

"Pada tahun yang lalu Him Kengliak urus pengiriman rangsum, dia hargai aku, dia suruh aku bantu melindunginya. Selama aku menjadi piauwsu, hanya sekali itulah, aku melindungi angkutan paling gembira, meski aku hanya jadi pembantu tapi aku merasakan sebagai juga aku adalah piauwsu utama. Kesemuanya itu disebabkan sikapnya Kengliak yang baik budi itu!"

Liu Busu menjadi kagum.

"Secara demikian, kau dapat dikatakan salah seorang sahabatnya Him Kengliak!"

Liu Busu berikan pujiannya.

"Itulah pujian yang aku tidak berani menerimanya. Seumurku aku hanya kagumi dua orang, seandainya mereka itu memerintahkan aku. walau mesti tempuh api yang berkobar sekalipun, tidak nanti aku menolaknya!"

Liu See Beng tertawa.

"Dua orang itu,"

Katanya sambil tertawa.

"tentulah seorang tua Tiat Hui Liong dan Kengliak Tayjin! Benar tidak? Lucu adalah aku, kita berdua telah bersahabat untuk banyak tahun tetapi aku tidak ketahui bahwa terhadap Him Kengliak kau sedemikian mengaguminya! Ketika tadi aku kunjungi kau, aku merasa ragu-ragu dan kuatir. berhubung kerepotan di dalam piauwkiok, kau akan terganggu karenanya."

Liong Tat Sam juga tertawa.

"Dalam hal itu akulah yang bersalah,"

Ia akui.

"Ketika tahun itu Him Kengliak minta bantuanku mengantar angkutan rangsum tentara, aku tidak memberitahukannya kepada sahabat-sahabatku."

"Tetapi dengan begitu kau berbuat benar,"

Berkata Liu Busu.

"Angkutan rangsum itu sangat penting, hal itu memang tidak dapat diberitahukan kepada sembarang orang."

"Karena hari ini kau ajak aku, aku pun baru menceritakannya. Kau jangan kuatir, toako, seandainya benar Gui Tiong Hian hendak tutup piauwkiokku atau dia hendak menghukum picis padaku, tetap aku akan membantu Him Kengliak!"

Benarlah itu malam, meski ia menjadi Congpiauwtauw, pemimpin sebuah piauwkiok, Liong Tat Sam tidak merasa rendah untuk menyelusup ke dekat-dekat gedungnya Keluarga Yo, guna melindungi Him Teng Pek secara sembunyi, sampai kira-kira jam empat, baru ia bergilir dan pulang ke rumahnya.

Tentang rumah atau kantornya sendiri Tat Sam tidak kuatirkan, baik siang maupun malam ada orangnya yang menjaga.

Malam itu belum lama Tat Sam pulang, lantas ada orangnya yang membanguni padanya memberitahukan kedatangannya satu nona yang mengetok pintu mencari dia.

"Heran!"

Katanya.

"Kenapa satu nona malam-malam mencari aku? Tak dapatkah dia menanti sesudah terang tanah?"

Ia lantas mengenakan pakaian, ia keluar untuk menemui nona itu, yang usianya kurang lebih baru dua puluh tahun, alisnya panjang dan lentik, romannya cantik, matanya bercahaya tajam hingga membikin orang yang bentrok mata dengan cahaya matanya nona itu, merasa jeri sendirinya.

Mau tidak mau ia terkejut.

"Kau... kau... kau toh Giok Lo Sat?"

Dia tanya dengan gugup.

Segera ia merasa hatinyapun tidak tenteram.

'Giok Lo Sat' adalah nama julukan, cara bagaimana ia lancang menyebutkan julukan itu?

Tapi si nona agaknya tidak memperhatikannya.

Dia malah tertawa.

"Tidak keliru dugaanmu, aku benar Giok Lo Sat,"

Ia menjawabnya dengan sabar.

"Kau... kau... Liehiap. kau datang piauwsu ini tanya, ia masih tetap gugup. Kekuatirannya pun datang mendadak. musuhkah yang kifim Giok Lo Sat untuk menyatrukan padanya? la baru merasa lega ketika ia ingat, nona itu ada bersama Tiat Hui Liong, tidak bisa jadi kedatangannya untuk memusuhi padanya. Giok Lo Sat tertawa pula.

"Inilah surat ayahku untukmu!"

Ia kata sambil mengeluarkan kepingan ujung baju yang ada tulisannya, yang terus ia serahkan pada piauwsu itu.

Liong Tat Sam sambuti robekan baju itu, apabila ia sudah beber dan lihat, giranglah hatinya.

Di situ dilukiskan seekor naga yang sedang mementangkan cengkeramannya.

Kemudian ia jadi lebih girang lagi setelah baca bunyinya surat, hingga iapun ketahui, nona ini adalah anak pungutnya jago dari Barat utara itu, bahwa dengan surat itu Tiat Hui Liong mohon bantuannya.

Menampak surat dari robekan baju dan tintanya bukan bak tapi arang, Liong Tat Sam mengerti bahwa .

urusan ada sangat penting.

Dan datangnya si nona pun di waktu tengah malam.

"Titahnya Tiat Loo tidak akan kutampik,"

Dia lantas kata.

"Sebenarnya liehiap hendak menitahkan apa padaku?"

Orang berbudi ini segera sediakan dirinya.

"Aku hendak berkelahi !"

Sahut Giok lo sat, sambil tertawa. Masih sempat dia berjenaka. Tat Sam melengak.

"Inilah sulit..."

Pikirnya.

"Bagaimana aku harus bersikap? Tiat Hui Liong adalah penolongku, aku berhutang budi kepadanya, sedang Pek Sek Toojin sahabatku juga, malah dia sekarang menumpang di rumahnya Liu See Beng. Sekarang Giok Lo Sat hendak adu pedang dengan Pek Sek Toojin, rupanya Tiat Hui Liong kuatir anak pungutnya kalah, maka dia suruh Giok Lo Sat datang padaku untuk minta bantuan tenagaku. Hanya belum tahu, Tiat Hui Liong hendak minta aku bantu pihaknya atau untuk mengakurkan mereka, kalau hanya untuk mengakurkan, aku dapat mengajukan diri, tapi kalau diminta membantui pihaknya, di manakah aku mesti taruh mukaku?"

Giok Lo Sat lihat orang berdiri diam saja. iapun heran.

"Kenapa orang ini begini tolol?"

Pikirnya.

"Baru saja dengar aku hendak berkelahi, ia sudah bingung tidak keruan! Orang begini bisa jadi satu piauwsu kepala?"

Tat Sam mencoba menenangkan hatinya.

"Liehiap, mengapa kau bermusuh dengan Butong pay?"

Dia tanya, suaranya tidak lancar. Bangun alisnya si nona karena pertanyaan itu.

"Lain orang taku tkepada Butong pay, yang banyak orangnya dan besar pengaruhnya, aku sendiri tidak!"

Ia kata dengan nyaring.

"Aku tahu liehiap tidak takut,"

Kata Tat Sam, yang masih bingung.

"akan tetapi aku berpendapat bahwa permusuhan haruslah dibikin habis dan bukannya diperbesar. Bagaimana jikalau aku datang sama tengah, untuk minta liehiap serta Pek Sek Toojin memberi muka kepadaku dengan hadiri sebuah perjamuan untuk mengadakan perdamaian?"

Nona itu tertawa.

"Adu pedang di antara aku dan Pek Sek Toojin sudah ditetapkan,"

Katanya, suaranya tetap.

"Ilmu silatnya Pek Sek Toojin sudah mahir, meski demikian, bolehlah dia menjadi tandinganku. Bila kau tidak menghendaki aku adu pedang dengan Pek Sek Toojin, itu baru bisa terjadi kalau kau dapat carikan seorang lain sebagai gantinya untuk menjadi tandinganku itu. Di kolong langit ini, urusan yang paling menyenangkan adalah mengadu silat! Kau hendak cegah aku adu silat, tak mungkin kau dapat menghalanginya."

Tat Sam mengeluh, ia perlihatkan wajah dari kemenyesalan, tak dapat ia buka mulutnya lagi.

"Bagaimana, dapat tidak kau bantu aku?"

Giok Lo Sat menegasi.

"Cuaca akan segera menjadi terang dan aku mesti cepat-cepat kembali!"

Piauwsu itu jadi sangat terdesak. ayahmu, sekarang dia menitahkan aku, sudah tentu aku turut,"

Katanya dengan sangat terpaksa.

"Hanya terlebih dulu ingin aku temui ayahmu itu, satu kali saja. Ilmu silat pedangnya Pek Sek Tooj in tergolong nomor satu di kolong langit ini, apabila aku tempur dia, sudah pasti aku bakal mati, karena itu hendak aku mohon kepada ayahmu supaya sukalah dia tengok-tengok anakku..."

Tat Sam menyangka pasti Giok Lo Sat hendak minta ia membantui berkelahi, dari itu ia ingin bertemu dulu kepada Tiat Hui Liong guna tuturkan kesulitannya.

Giok Lo Sat tertawa terpingkal-pingkal, sampai air matanya keluar.

Tat Sam lihat itu, ia heran bukan main, tapi di dalam hatinya ia amat mendongkol.

Masih si Raksasi Kumala tertawa.

"Sudah setengah harian kita bicara, kiranya kau anggap aku cari kau untuk mohon bantuanmu guna hantui aku berkelahi,"

Katanya, sekarang dengan sabar.

"Pek Sek itu orang macam apa? Untuk layani dia, tidak perlu aku minta bantuan orang lain! Walau menghadapi musuh yang jauh terlebih liehay daripada Pek Sek pun aku dan ayahku tidak takut sama sekali!"

Baru sekarang lega hatinya Tat Sam, meskipun ia masih belum tahu apa maksud si nona sebenarnya. Urusan tetap membingungkan dia.

"Habis, nona hendak menitahkan apa?"

Tanya dia akhirnya.

"Aku cari kau bukan buat melayani Pek Sek Toojin,"

Si nona mulai berikan keterangannya.

"Lawan yang aku akan hadapi adalah Anghoa Kuibo."

Keterangan ini membuat Tat Sam kaget pula.

"Apakah Anghoa Kuibo Kongsun Toanio masih hidup?"

Dia kaget tetapi tidaklah sehebat tadi. Sekarang dia kaget karena herannya. Giok Lo Sat tertawa pula.

"Apakah kau tidak berani lawan padanya?"

Ia tanya. Sekarang baru Tat Sam bisa tertawa, malah tertawa besar.

"Jikalau aku takut mati, tidak nanti aku buka piauwkiok!"

Jawabnya.

"Kau hendak lawan Anghoa Kuibo, baiklah, aku suka bantu kau! Untuk itu aku bersedia binasa!"

Sekarang adalah gilirannya Giok Lo Sat yang menjadi tidak mengerti.

Bukankah Anghoa Kuibo jauh lebih liehay daripada Pek Sek Toojin?

Kenapa piauwsu ini tidak berani lawan si imam tetapi berani terhadap Anghoa Kuibo?

Apakah sebabnya?

Tapi karena Tat Sam mengutarakan keberaniannya itu secara cepat, dengan sendirinya berubahlah pandangan Giok Lo Sat terhadap piauwsu ini.

"Apakah kita pergi sekarang?"

Tat Sam tanya pula selagi si nona masih berdiam. Ia jadi menantang... Mau tidak mau si Raksasi Kumala tertawa pula.

"Aku bukan hendak minta bantuan tenagamu untuk berkelahi,"

Ia menjelaskan. Tat Sam heran, tetapi sekarang hilanglah kekuatirannya. Giok Lo Sat tidak ayal lagi akan menuturkan maksud kedatangannya yang sebenarnya.

"Hoksim khia memang aku ada punya,"

Kata Tat Sam.

"Tapi obat yang demikian banyak macamnya itu membuat aku raguragu... Bisakah itu didapatkan lengkap semuanya? Tapi, baikkah, silakan kau menanti sebentar di sini, aku mau perintah orang segera mencarinya!"

Giok Lo Sat suka menantikan.

Tapi ia tidak sabaran.

Ia sudah duduk hingga cuaca mulai menjadi terang, sampai sinar matahari mulai menyorot masuk ke dalam jendela, orangnya piauwsu itu masih belum kembali.

"Kenapa dia masih belum kembali?"

Dia tanya Tat Sam.

"Obat ada berpuluh macam, pasti sukar dicarinya,"

Jawabnya Tat Sam. Terpaksa nona ini sabarkan diri, sampai kira-kira waktu makan nasi, kali ini barulah pegawai piauwkiok itu kembali.

"Bagus, belum terlambat,"

Dia kata, hatinya lega. Pegawai itu segera beri laporannya.

"Dari dua puluh lima macam obat, kecuali Himtha, semuanya telah didapat,"

Katanya.

"Kurang serupa tidak apa,"

Kata Giok Lo Sat. Tetapi Liong Tat Sam kerutkan kening.

"Himtha itu justeru obat utama,"

Katanya "Itulah obat yang tak dapat dikurangkan. Himtha memang berharga tetapi bukanlah barang yang sukar didapatkannya, di pasar bisa kehabisan?"

Himtha adalah nyali biruang, karenanya, piauwsu ini heran.

"Kabarnya."

Berkata si pegawai.

"selama dua hari ini, thaykam dari istana telah cari himtha dalam jumlah yang besar, semua obat itu dari rumah-rumah obat di sini telah dibeli habis."

Giok Lo Sat jadi mendongkol.

"Kalau bukannya sekarang juga aku membutuhkan obat itu, pasti aku akan pergi menyatroni istana untuk mencurinya!"

Dia kata dengan sengit, Tat Sam berpikir, tiba-tiba ia berjingkrak bagaikan orang dipagut ular.

"Ada satu tempat di mana mungkin Himtha itu bisa didapatkan!"

Katanya selang sedetik.

"Di mana letaknya?"

Tanya Giok Lo Sat.

"Sekarang juga aku mau pergi ke sana!"

"Himtha berasal dari tapal batas, panglima perbatasan pasti punyakan barang itu,"

Kata Liong Piauwsu.

"Tentulah Kengliak mempunyai barang itu,"

Kata si nona "Benar,"

Sahut Tat Sam.

"Kengliak, seorang pembesar jujur, untuk barang-barang bingkisan, ia tidak mampu menyediakan segala bulu binatang yang mahal-mahal, sebaliknya himtha, meski di sini harganya mahal, di tapal batas tentunya murah, mesti Kengliak ada bawa itu untuk dihadiahkan kepada sahabat-sahabat dan sanaknya Nah, mari kita pergi bersama"

Giok Lo Sat ingat pertempuran malam itu, iajadi bersangsi. Beng Kie tentu ada di sana. Tapi segara ia pikir.

"Umpama Beng Kie cegah Kengliak memberikan obat itu padaku, dia benar-benar tidak dapat dihargai!..."

Tat Sam dengar perkataan si nona tetapi ia tidak mengerti, ia heran.

"Apa kata liehiap?"

Demikian ia menanya Si nona mendadak tertawa.

"Ah, tidak!"

Sahutnya.

"Sebenarnya aku kurang cocok dengan salah satu perwira sebawahannya Kengliak..."

"Itulah soal kecil,"

Kata Tat Sam.

"Mari kita pergi sekarang!" ***** Dua kali Him Teng Pek telah alami "onar", seharusnya dia gusar, akan tetapi dia dapat mengatasi diri, dia bisa berlaku tenang. Keesokannya pun dia terus menungkulkan diri seperti kemarinnya. Itu hari menteri-menteri telah majukan kepada kaisar rencana mereka akan tetapi kaisar tidak datang hadir di singgasana. Biasanya surat-surat penting diterimakan kepada pembesar istana yang berpangkat tiongkun, yang akan menyampaikannya lebih jauh kepada thaykam atau orang kebiri yang bertugas untuk itu, baru oleh si thaykam dihaturkan kepada raja. Pun biasanya, apabila ada urusan sangat .penting, kaisar harus segera memeriksa dan mengurusnya. Tapi kali ini, semua menteri menantikan sampai matahari naik tinggi, belum ada gerakan apa juga dari dalam keraton, malah tidak ada pesuruh kaisar yang memanggil menteri atau menteri yang bersangkutan. Maka itu, akhirnya semua menteri bubaran dari istana Him Teng Pek jalan mundar-mandirdi dalam kamarnya, teranglah ia sedang kusut pikirannya Beng Kie tahu kebiasaannya sep ini, ia tidak mau menggerecok. Karena tiaptiap menghadapi soal besar atau sulit, beginilah kelakuannya sep itu. Kira-kira mendekati tengah hari, barulah raja kirim dua Iweekam, orang kebiri dari keraton, membawa sebuah keranjang surat-surat untuk menteri dari perbatasan itu. Kedua orang kebiri ini dapat pesan bahwa surat-surat itu harus Him Kengliak periksa semuanya. Seberlalunya kedua Iweekam, Teng Pak lantas periksa surat-surat itu. Ia lantasjadi masgul, mendongkol dan putus asa. Surat-surat yang memenuhi keranjang itu semuanya mendakwa padanya. Semua dakwaan, atau tuduhan itu datangnya dari menteri-menteri dorna.

"Habis, habislah!..."

Panglima ini mengeluh, ia menghela napas.

"Legakan hatimu, Kengliak Tayjin,"

Yo Lian menghibur.

"Semua surat-surat ini Sri Baginda kirimkan pada tayjin tanpa dibuka dahulu, itu menandakan kepercayaan Sri Baginda atas diri tayjin."

"Duduknya hal tidak demikian, Yo Tayjin,"

Kata Teng Pek.

"Jikalau semua surat ini diserahkan padaku sebelum surat dakwaan kita dimajukan, itulah memang pantas, tetapi ini di kirimkan sesudah kita ajukan surat dakwaan, maka dengan ini teranglah Sri Baginda hendak mengatakan. Kau dakwa lain orang, lain orang juga mendakwa padamu. Nyata Sri Baginda tidak membeda-bedakan lagi menteri setia dan dorna, keduaduanya beliau pandang sama saja!"

"Mungkin tidak demikian,"

Kata pula Yo Lian. Him Kengliak gendong kedua tangannya, kembali ia jalan bulak-balik. Menampak demikian, Yo Lian bungkam. Selang tidak lama mendadak kengliak itu berkata.

"Ambil kertas dan pit!"

"ApaKah tayjin hendak ajukan dakwaan pula?"

Yo Lian tanya.

"Tidak. Aku hendak ajukan permohonan meletakkan jabatan."

Menteri she Yo itu terkejut.

"Jangan, jangan,"

Dia mencegahnya.

"Janganlah karena kegusaran satu waktu, Tayjin melupakan negara!"

"Saudara Yo, kau tidak tahu,"

Kata kengliak itu.

"Karena sekarang kawanan dorna dapat menguasai istana, sekalipun aku bisa kembali ke tapal batas, aku tentu terus dalam pengendalian mereka, tidak bisa aku gunai tentara untuk melakukan perlawanan. Maka itu, lebih baik aku undurkan diri saja. Dengan ini, akupun sekalian bisa uji hati Sri Baginda. Menurut ilmu perang, inilah siasat yang dinamakan. didudukkan di tempat kematian tetapi bisa hidup pula. Umpamanya Sri Baginda benar tidak terlalu tolol, beliau pasti akan panggil aku menghadap di dalam keraton untuk ditanyakan duduknya hal dengan jelas."

Sebenarnya, walaupun Yu Kauw masih sangat muda, ia tidak terlalu tolol, ia malah ketahui baik, bahwa Him Teng Pek adalah seorang tiongsin, menteri yang setia.

Tapi ia telah dipengaruhi Gui Tiong Hian dan Keksie Hujin yang berkongkol satu pada lain.

Mereka ini cegah kaisar mengetahui segala urusan di luar keraton, setindak demi setindak raja dijejal dengan pelesiran, yang selalu siap sedia di dalam keratonnya, hingga kaisar lupa segala urusan lainnya.

Maka itu, pelbagai suratnya menteri-menteri semuanya tidak sampai ke tangan kaisar, semua surat-surat itu dibekap oleh babu susunya Pernah kaisar mengatakan, keranjang surat-surat hendak di kirimkan pada Him Kengliak.

Keksie Hujin dan Gui Tiong Hian ketahui itu, maka keduanya bermupakatan, lantas mereka anjurkan kaisar dengan kata.

"Him Kengliak sudah pulang, sekarang Sri Baginda boleh kirimkan semua surat-surat kepadanya!"

"Jikalau dia sudah pulang, lebih baik panggil dia menghadap ke istana, untuk surat-surat itu diserahkan di tangannya sendiri,"

Kata kaisar.

"Tidakkah itu ada terlebih baik?"

Gui Tiong Hian tertawa dengan tertawa kansin (dorna)nya.

"Eh, kenapa kau tertawa?"

Tegur Yu Kauw. Dorna kebiri itu menyahutinya dengan perlahan sekali.

"Harap Sri Baginda ketahui, Him Teng Pek itu baik dalam semua hal, kecuali satu..."

"Apakah itu yang tidak baik?"

Tanya raja yang menjadi heran.

"Dia mempunyai adat yang kukoay!"

Sahut orang kebiri itu.

"Jikalau dia lihat Sri Baginda gemar pelesiran, dia tentunya akan mengoceh tidak putusnya!..."

Yu Kauw ini sejak wafatnya ayahnya, tidak ada yang kendalikan, dia jadi sangat merdeka, malah berandalan.

Begitulah di dalam keraton, dia gemar sekali dengan permainan adu ayam jago, adu anjing lari, main bola atau main sandiwara.

Tegasnya setiap hari dia memain saja Maka, mendengar adat aneh dari Teng Pek, ia kuatir juga.

"Bagaimana kalau dia dipanggil tetapi jangan kasih dia lihat tiga pendopo?"

Kata raja ini.

"Bisakah?"

Raja maksudkan pendopo tempatnya dia pelesiran, pendopo itu ada tiga buah.

"Tidak bisa, Sri Baginda,"

Gui Tiong Hian dustai rajanya.

"Satu kali dia sudah datang, mesti ada orang yang telah beritahukan kepadanya, kalau nanti dia menghadap Sri Baginda, pasti sekali dia akan mengoceh tidak keruan."

Lalu dorna ini menambahkan.

"Selama beberapa hari ini, bungabunga bwee dan seruni sedang mekar seperti saling bersaingan, sekarang adalah saatnya untuk membuat pesta bunga seruni dan bwee itu. Baiklah dayang-dayang diperintahkan menyamar jadi bidadari-bidadari bunga bwee dan seruni, biarlah mereka itupun saling adu keelokan mereka. Maka, kalau sebaliknya Sri Baginda tengok wajahnya menteri she Him yang tua itu, apakah kegembiraan Sri Baginda tidak akan tersapu habis?"

Yu Kauw kena dibujuk. Tapi, masih ia mengatakan.

"Biar bagaimana, aku toh mesti temui dia?"

"Ah, anak tolol!"

KeksieHujin tertawa di damping kaisar muda ini. Sedari tadi babu susu ini diam saja, menunggu gilirannya membuka mulut untuk timpali Gui Tiong Hian, rekannya itu.

"Toh boleh ditunggu sampai nanti dia hendak kembali ke perbatasan, baru Sri Baginda menjumpai padanya sekalian mengantar dia pergi."

Dasar masih terlalu muda, Yu Kauw kena dibujuk kedua orang itu.

Kasihan Teng Pek, walaupun ia ketahui kaisar dipengaruhi Keksie Hujin dan Gui Tiong Hian.

tetapi ia tidak tahu bahwa pengaruhnya kedua orang itu ada demikian rupa.

Ia tetap jalan mundar-mandir, ia menduga-duga apa maksud sebenarnya dari rajanya untuk perlihatkan padanya surat-surat itu.

"Saudara Him,"

Berkata Yo Lian.

"kalau kau hendak mengajukan surat permohonan untuk meletakkan jabatan guna menguji Sri Baginda, aku tidak akan menentanginya, tetapi tak usahlah kau menulisnya sekarang juga. Sekarang ini Pengpou Siangsie Yo Kun sedang desak Kiubun Teetok untuk menanyakan orang-orang yang dibekuk kemarin, untuk mengetahui sampai di mana Teetok itu telah periksa komplotan yang menyamar sebagai berandal itu. Baik kita tunggu sampai dia sudah peroleh jawaban, baru kita bermupakatan pula. Bagaimana pikiranmu?"

"Baiklah,"

Sahut Teng Pek akhirnya. Tapi masih ia mundarmandir memutari ruangan. Yo Lian kuatir panglima ini nanti jatuh sakit.

"Lao Him, mari kita main catur --maukah kau?"

Dia mengajak.

"Boleh juga."

Sahut Teng Pek dengan singkat.

Mereka lantas memulai dengan mengatur dan menjalankan biji-biji caturnya.

Justeru itu Ong Can masuk mengabarkan bahwa Piauwsu Liong Tat Sam yang pernah bantu mengantar rangsum serta nona yang kemarin ini membantui bertempur datang mohon bertemu.

"Kali ini anggap saja aku yang kalah,"

Kata panglima itu. sambil ia tolak papan catur ke samping, dan ia teruskan berkata kepada perwiranya.

"Undang mereka masuk!"

Beng Kie heran.

Ia menduga Giok Lo Sat datang untuk gerecoki pula padanya.

Tentu sekali, urusan mereka itu tak dapat diberitahukan kepada Him Kengliak.

Teng Pek lihat wajah yang tak wajar dari perwiranya itu.

"Kau memikirkan apa?"

Dia tanya.

"Wanita itu berandalan, aku kuatir dia nanti berlaku yang tak kenal kepantasan,"

Beng Kie menjawab dengan menyimpang. Tapi Him Kengliak tertawa terbahak-bahak. Beng Kie heran. Teng Pek tertawa pula, lalu ia kata.

"Selama dua hari ini aku telah lihat binatang-binatang bersayap dan berkaki empat yang berpakaian sebagai manusia, maka aku ingin tengok juga manusia berandalan bagaikan orang hutan..."

Lega juga hati Yo Lian menampak Kengliak ini bisa bergurau.

"Wanita itu tinggi ilmu pedangnya,"

Berkata dia.

"Ketika pertempuran kemarin, aku telah mengintai dari balik pintu, aku lihat hebat serangan-serangannya, aku kagum sekali."

Mendengar begitu, Beng Kie tidak mencegah lebih jauh.

Ia berdiri tetap di damping sepnya Sebentar kemudian Ong Can telah kembali bersama Liong Tat Sam dan Giok Lo Sat.

Piauwsu itu memberi hormat sambil berlutut.

Tapi Giok Lo Sat yang dandan sebagai pria memberi hormat hanya dengan menjura, sedang terhadap Beng Kie, ia menoleh pun tidak.

Him Teng Pek tidak pedulikan sikap sebawahannya itu.

"Kemarin dengan suka rela kau telah menolong aku, belum sempat aku tanyakan namamu yang harum,"

Dia kata. Sekonyong-konyong Giok Lo Sat tertawa geli.

"Apa sih nama harum dan tidak harum,"

Katanya.

"Namaku Lian Nie Siang, akan tetapi kaum kangouw menyebut aku Giok Lo Sat, hingga namaku yang benar orang tidak sebut-sebut lagi. Kalau kau senang, kau boleh panggil aku Lian Nie Siang, kalau kau lebih suka menyebut Giok Lo Sat, itupun boleh!"

Him Kengliak bersenyum.

"NonaLian, kau sungguh polos!"

Katanya. Ong Can menyuguhkan dua cangkir teh wangi. Giok Lo Sat sambuti secangkir yang ia terus minumnya.

"Cangkir ini terlalu kecil!"

Katanya.

"Bagus!"

Seru Him Kengliak.

"Tukar dengan yang lebih besar! Eh, Nona Lian, kau suka minum arak atau tidak? Buat aku, kalau aku minum arak, selamanya aku pakai cawan yang besar."

"Mengapa tidak?"

Jawabnya si nona.

"Akan tetapi sebaliknya, kalau aku minum arak, aku pakai cawan yang kecil. Sayang, hari ini aku pantang minum arak, jadi kau tak usah menyediakannya. Teh ini harum, aku boleh minum lebih banyak!"

Teng Pek sedang pepat pikiran, kata-katanya nona yang polos ini dapat juga membikin hatinya lega. Ia tertawa.

"Bagus!"

Katanya.

"Mari duduk, kita pasang omong!"

Giok Lo Sat sikut Tat Sam.

"Maaf, kita tidak dapat duduk pasang omong,"

Jawabnya Liong piauwsu itu. Kelakuan kedua tetamunya itu membingungkan Teng Pek. Tetapi ia tertawa.

"Apakah ada urusan penting untuk mana kalian datang menemui aku?"

Kata panglima ini.

"Tat Sam, hayo kau bicara!"

Piauwsu itu anggukkan kepala.

"Kengliak Tayjin telah bekerja untuk negara, sekarang tayjin telah kembali dari tempat ribuan lie, selagi hambamu tidak punya apa-apa untuk dihadiahkan, sebaliknya..."

Terhenti dengan tiba-tiba. Sebab Giok Lo Sat memotong omongannya. Nona itu kata.

"Hai, kenapa kau bicara begini rupa, tidak segera menjelaskan kepada pokoknya?..."

Teng Pek tidak gusar, sebaliknya, ia tertawa gelak-gelak.

"Nona ini benar!"

Katanya, ia tampaknya gembira.

"Liong Loosam, kau harus didenda satu cawan! Lekaslah omong, urusan apa kau punyai yang mungkin aku dapat membantunya?"

Mukanya Liong Piauwsu menjadi merah, dia jengah.

"Apakah tayjin membawa pulang himtha?"

Demikian dia menanya, suaranya tidak lancar.

"Aku memikir untuk mohon tayjin menghadiahkannya sedikit kepadaku..."

Kembali Kengliak itu tertawa.

"Ini toh urusan sangat kecil!"

Katanya.

"Benar, himtha itu berguna untuk menghentikan darah dan membuyarkan darah yang beku. obat itu memang dibutuhkan piauwkiok. Ong Can, pergi kau paruhkan himtha yang aku bawa pulang itu untuk sahabatku ini!"

Lantas dia menambahkan.

"Memang aku telah sediakan itu untuk dibagikan kepadamu, sayang dalam dua hari ini aku mempunyai sangat banyak urusan hingga aku menjadi lupa!"

Sepasang matanya Giok Lo Sat berputar mendengar katakatanya panglima ini, lalu tiba-tiba saja ia tertawa dan kata.

"Kau adalah seorang pembesar yang tidak dapat dicela! Tabiatmu hampir tiada bedanya dengan kami orang-orang gagah kaum Rimba Hijau!"

Mendengar itu Yo Lian kaget sampai pucat wajahnya. Teng Pek sebaliknya tertawa terbahak-bahak.

"Kau jadinya ada satu nona gagah kaum Rimba Hijau?"

"Tidak berani aku mengatakan itu."

Sahut si Raksasi Kumal a.

"Aku sendiripun tak tahu aku seorang gagah atau bukan..."

Lagi-lagi panglima perbatasan itu tertawa. Tapi ketika ia bicara pula, kali ini ia menunjukkan roman sungguh-sungguh.

"Tidak apalah menjadi orang gagah kaum Rimba Hijau yang bekerja seperti mewakilkan Thian menjalankan keadilan,"

Demikian katanya "Tetapi sekarang ini bangsa TatCu dari BoanCiu segera bakal datang menyerbu negara kita, sudah selayaknya j ikalau orang-orang gagah kaum Rimba Hijau menerima panggilan negara untuk menjadi serdadu guna sama-sama menangkis penghinaan dari luar!"

"Jikalau pembesar yang memanggilnya sebangsa kau, mungkin ada orang-orang gagah yang suka mendengar katakatamu."

Kata Giok Lo Sat.

"Kalau lain-lain pembesar, aku kualirkan tidak ada yang sudi terima panggilan itu! Tapi menurut aku, tidak usah kita bicara lagi siapa yang memanggil dan siapa yang dipanggil, asal bangsa BoanCiu itu datang menyerbu, segera kita sama-sama menghajar padanya!"

Teng Pek bungkam ternganga mendengar pengutaraan itu.

Nona itu telah bicara demikian polos dan dengan sebenarnya tepat sekali.

Him Kengliak ketahui baik keburukannya pihak pemerintah, kalau tadi ia menyebutkannya "memanggil orang gagah kaum Rimba Hijau", itu adalah cita-citanya sendiri, karena ia memang telah memikir memanggil mereka itu, guna memperkuat kedudukannya.

Juga benar katanya Giok Lo Sat bahwa lain pembesar tidak akan dibantunya Si nona lihat orang mengawasi saja padanya.

"Apakah kataku tadi salah?"

Dia tanya.

"Kau tidak keliru,"

Teng Pek menj awabnya segera.

Yo Lian tercengang mendengar pembicaraannya kedua orang itu.

Ia adalah menteri perang, baru dua hari yang lalu ia terima titah kaisar (atau lebih benar titah tak langsung dari Keksie Hujin) untuk menugaskan perwira yang bernama Lauw Teng Goan pergi membasmi kawanan penyamun di Siamsay.

Ia ingat bahwa dalam surat cepat permohonan bala bantuan dari Siamsay ada disebutkan bahwa pemimpin penyamun itu bernama Giok Lo Sat.

Ia telah perhatikan nama penyamun itu, karena penyamun itu adalah seorang wanita, maka sama sekali ia tidak sangka bahwa Giok Lo Sat itu adalah nona cantik bagaikan bidadari di depannya ini.

Maka dengan sendirinya ia menjadi bingung.

Him Kengliak lihat romannya menteri itu, Ia bisa duga orang bersangsi.

Maka ia tertawa.

"Saudara Yo, nona ini sekarang telah datang menghadap aku,"

Katanya separuh menggoda "maka dia adalah sahabatku!"

"Tentu saja, tayjin,"

Sahut Yo Lian, suaranya tidak wajar.

Ia merasa aneh sekali akan sifatnya kengliak ini, hingga ia anggap orang benar-benar aneh.

Kenapa kengliak ini bicara kepada satu kepala penyamun demikian merdeka, seperti benar-benar sahabat kekal satu pada lain?

Namun, di akhirnya menteri ini legajuga hatinya.

Sementara itu Ong Can sudah kembali bersama satu bungkus besar himtha.

"Oh, terlalu banyak!"

Kata Liong Tat Sam dengan kaget.

"Kantormu membutuhkan banyak, ambillah semua!"

Kengliak kata.

Terpaksa piauwsu itu menerimanya, ia mengucap terima kasih.

Selagi ia hendak pamitan, ia dengar pembesar itu bicara kepada Giok Lo Sat, ia tahan langkahnya.

Teng Pek sangat suka kepada Nona Lian, hingga ia menyesal sangat yang ia tidak punya anak perempuan sebagai nona ini.

Ia dapat lihat pedangnya si nona, lantas sambil tertawa ia tanya.

"Nona Lian, siapakah yang ajarkan kau ilmu silat pedang?"

"Untuk apa kau tanyakan hal ini?"

Giok Lo Sat balik tanya Saking polos, ia berani bicara secara demikian merdeka.

"Sebab ilmu pedangmu sangat mahir!"

Sahut panglima itu.

"Aku tidak pandai ilmu silat pedang tetapi aku paling senang menyaksikan orang adu pedang!"

"Sayang kau seorang pembesar berpangkat tinggi, kalau tidak, pasti hari ini aku akan ajak kau pergi menyaksikan orang adu pedang!"

Kata nona kita Teng Pek tidak menjawab si nona, hanya tiba-tiba ia tunjuk Beng Kie seraya terus berkata.

"Nona Lian, inilah perwira sebawahanku pangkat CamCan nama Gak Beng Kie..."

"Aku tahu!"

Si nona memotong. Teng Pek tidak mempedulikannya. Ia berkata pula.

"Dalam pasukan tentaraku, ilmu silat pedangnya sebawahanku ini adalah nomor satu, maka sudikah kau mencoba-coba adu pedang dengan dia? Tentu saja syaratnya ialah saling sentuh saja, aku larang saling melukai!"

Mendengar itu, sekonyong-konyong Giok Lo Sat tertawa.

"Ha, Gak Beng Kie, kiranya kau masih belum puas!"

Katanya.

"Baik, marilah kita mencoba-coba pula!"

Dan tanpa tunggu jawaban lagi.

"Sret!"

Nona ini menghunus pedangnya. Yo Lian kaget hingga ia menyingkir ke belakang kursi. Teng Pek sebaliknya menjadi heran. Kata-katanya si nona mesti ada sebabnya "Tunggu dulu!"

Ia mencegah.

"Beng Kie, apakah sebelum ini pernah kau adu pedang dengan nona ini?"

"Bukan hanya baru satu kali!"

Kata si nona, yang kembali memotong pembicaraannya panglima itu. Lalu ia berseru.

"Ha, sudah siang! ---Jikalau kau belum mau kembali ke perbatasan, baik lain kali saja aku memberitahukannya padamu! --Dan kau, Beng Kie, adu pedang ini kau boleh catat saja!"

Teng Pek jadi semakin heran, ia juga berat untuk segera berpisah dari nona ini.

Ia pun tidak berkecil hati atau merasa tersinggung untuk sifat yang berandalan dari si nona itu.

Sebaliknya, ia jadi semakin ketarik hati.

Iapun lantas lihat cuaca.

"Hampir tengah hari,"

Katanya.

"Mengapa kau kata sudah siang?"

Giok Lo Sat kuatir kengliak ini akan menahan terus kepadanya, untuk layani dulu Beng Kie adu pedang, maka segera ia omong terus terang.

"Aku sebenarnya hendak adu pedang dengan AnghoaKuibo, kau tahu tidak?"

Katanya.

"Siapa itu Anghoa Kuibo?"

Tanyanya Teng Pek.

"Nama itu aneh sekali kedengarannya!..."

Sebaliknya dari sep itu, Beng Kie kaget bukan main.

Gurunya, Hok Thian Touw, adalah satu tertua dalam kalangan Rimba Persilatan, yang banyak penglihatannya dan pendengarannya, semasa Beng Kie masih berada di atas gunung Thiansan -pernah ia dengar gurunya omong tentang Anghoa Kuibo, maka tahulah ia, siapa Biang Hantu itu.

Ia lantas tarik tangan sepnya "Mari, taysu aku hendak bicara..."

Katanya. Giok Lo Sat tidak tahu apa yang Beng Kie hendak katakan kepada sepnya itu, tapi ia sudah lantas beri peringatan.

"Jangan kau paksa aku berdiam di sini untuk adu pedang!"

"Nona jangan kuatir,"

Teng Pek berkata.

"Kau mempunyai urusan penting, adu pedang ini boleh dibicarakan belakangan. Harap kau tunggu sebentar saja."

Lalu ia berkata kepada sebawahannya.

"Nah, Beng Kie, kau hendak bicara apa? lekas katakan!"

Beng Kie tuntun sepnya sampai di belakang pintu angin.

Liong Tat Sam lihat orang pergi sampai sekian lama masih belum kembali juga, ia jadi bingung, hatinya lantas memukul.

Ia kuatir Gak Beng Kie tidak ingin lepaskan Giok Lo Sat.

Di dalam hatinya iapun berkata.

"Ha, iblis wanita ini sungguh besar nyalinya, di depan Kengliak dia berani beber hal dirinya sendiri...

"Kalau aku tahu akan terjadi begini, tidak nanti aku ajak dia kemari --biar bagaimana, tidak! Him Teng Pek adalah seorang panglima perang dan di depannya berdiri satu kepala penyamun, bagaimana bisa dia tidak menawannya? Kali ini Giok Lo Sat tidak bakal dapat meloloskan diri lagi..."

Sebaliknya Giok Lo Sat tampak tenang-tenang saja.

Ia percaya betul kepada Kengliak yang sifatnya agung itu, yang jujur katanya.

Ia diakui sebagai sahabatnya, tentulah Kengliak artikan itu dengan sebenar-benarnya.

Maka ia tidak sependapat dengan Tat Sam, yang bahna bingungnya, tidak bisa memikir jauh.

Sedetik kemudian, barulah terlihat Teng Pek dan Beng Kie keluar bersama, dan Kengliak itu lantas saja tertawa.

"NonaLian, mari!"

Ia memanggil. Dengan sikap wajar, Giok Lo Sat menghampiri.

"Sebenarnya aku telah memikir untuk menghadiahkan sesuatu kepadamu,"

Kata panglima itu.

"sayang di tempat asing bagiku ini, aku tidak punya barang apa-apa yang berharga..."

"Ah!"

Bersenyum si nona.

"Sangkaku kau hendak omong suatu hal penting dengan aku, tidak tahunya kau hendak berlaku sungkan! Untuk ikat persahabatan tidak usah orang main hadiah menghadiahkan. Dan seumurku, aku melainkan terima hadiah dari kepala berandal, sebaliknya barangnya sahabat-sahabat aku tidak kehendaki."

Teng Pek tidak hiraukan penampikannya nona itu, ia kata.

"Meski aku tidak punya barang berharga untuk dihadiahkan kepadamu, namun aku hendak juga meminjamkan kau serupa barang, setelah nanti kau selesai memakainya, kau harus kembalikan padaku."

Nona itu agaknya heran.

"Ha, kau hendak pinjamkan barang padaku?"

Katanya.

"Inilah soal baru bagiku! Barang apakah ttu?"

Him Teng Pek keluarkan sepasang sarung tangan.

"Nona Lian, sudikah kau pandang aku sebagai sahabat?"

Tanyanya sambil tertawa. Si nona bersenyum.

"Jikalau aku tidak memandang kau sebagai sahahatku, mustahil aku kesudian pasang omong demikian lama dengan kau seorang pembesar agung?"

Sahutnya Baru sekarang Teng Pek perlihatkan roman sungguhsungguh.

"Kalau begitu ingin aku meminta sesuatu kepadamu, sudikah kau mengabulkannya?"

Agaknya si nona jadi sangat gembira "Ah, kau hendak mohon sesuatu kepadaku?"

Katanya.

"Haha! Aku suka, suka sekali! Walau aku mesti terjun ke dalam air berdidih atau terjang api, pasti tidak aku tampik!"

"Bagus!"

Berkata panglima dari perbatasan itu.

"Permintaanku adalah. Jikalau sebentar kau tempur lawanmu yang namanya entah apa Anghoa Kuibo, aku minta dengan sangat kau harus memakai sarung tangan ini, nanti sesudah pertandingan itu selesai, kau mesti antarkan kembali padaku."

Giok Lo Sat pandang sarung tangan itu, yang bersinarkan kuning emas yang indah, tampaknya bukan terbuat dari sutera biasa, ia menjadi suka dan hatinya girang.

"Baiklah, aku suka turut katamu!"

Ia beri jawabannya. Teng Pek serahkan sarung tangan itu, yang pun lantas diterimanya oleh nona itu.

"Sekarang bolehlah kau pergi."

Kata Kengliak kemudian, malah dia mengantar sampai di ambang pintu di mana mereka berpisahan.

Bersama Liong Tat Sam, Giok Lo Sat cepat-cepat berangkat pulang ke piauwkiok.

Pegawai piauwkiok sudah tumbuk semua obat, sudah diaduk juga, hanya tinggal tunggui, himtha saja, untuk terus dicampurkan diaduk lebih jauh, untuk segera dipulung menjadi pil.

Tat Sam terus masuk ke dalam, untuk ambil Hoksimkhia, kaca semacam tameng pelindung dada, yang ia lantas serahkan kepada si nona dengan diberikuti dua bungkus belirang.

"Sekarang ini sudah siang,"

Kata piauwsu-'itu,"

"tidak dapat kau berjalan dengan mengguna; ilmu enteng tubuh, maka baiklah kau tunggang kudaku yang bisa lari cepat. Setelah sampai di kaki gunung, baru kau tinggalkan kuda itu untuk kau mendaki dengan berjalan kaki."

Giok Lo Sat terima baik usul itu.

"Terima kasih!"

Ia mengucap.

Kuda sudah lantas disediakan, nona ini lompat naik atas bebokong binatang itu, yang segera ia kaburkan.

Ia Ingin memburu tempo.

Ketika ia keluar dari pintu kota, matahari baru saja lintasi garis tengah hari.

"Cade, inilah yang pertama kali aku salah janji!"

Ia mengeluh seorang diri. Maka ia bedal kudanya lebih hebat. Sementara itu Pek Sek Toojin, sekeluarnya dari rumah Busu Liu See Beng. telah menuju keluar kota sebelah barat.

"Susiok, kenapa kau menjanjikan dia piebu di Pitmo gay?"

It Hang tanya paman gurunya di tengah jalan.

"Kau tidak tahu tentang lembah Pitmo gay itu,"

Sahut sang paman guru.

"Di dalam Pitmo gay ada sebuah rumah batu. Menurut cerita, di jaman Ahala Tong di sana hidup satu pendeta bernama Louw Su --Guru Louw --pendiri dari kaum persilatan Kunlouw Kiampay, dia tinggal di rumah batu itu. Ilmu silat dari golongan itu sudah lama hilang, apa yang dinamakan ilmu silat Kunlouw Kiam sekarang ini melainkan kulit atau bulunya saja. Kabarnya di dalam rumah batu itu masih ada tanda-tanda peninggalannya pendeta itu, maka setiap penggemar silat, satu kali dia sampai di rumah batu itu, katanya lantas lupa pulang. Kau adalah bakal ketua partai kita, sudah selayaknya kaupun belajar kenal dengan rumah batu yang berhikayat itu. Pitmo gay juga tersohor sebagai suatu lembah yang berbahaya. Di pinggiran kota Pakkhia ini, sukar dicari tempat adu pedang yang terlebih baik daripada Pitmo gay itu."

Mendengar itu. It Hang berpikir.

"Kau hendak adu pedang dengan Giok Lo Sat. mana dapat kau membikin aku menontonnya dengan gembira?"

Maka berbareng dengan itu, ia asah otaknya mencari jalan pemecahan untuk membatalkan pertandingan itu.

Tanpa merasa, sampailah mereka di Seesan, Gunung Barat itu.

Pek Sek segera menjadi tidak puas, karena ia tampak keponakan muridnya itu tidak gembira seperti hilang semangatnya.

Keponakan murid ini seperti tidak punya perasaan apa juga...

Menjadi tawarlah hatinya paman guru ini.

Ia sengaja ajak It Hang berjalan sama-sama puterinya, dan sampai sebegitu jauh ia lihat pemuda itu suka juga bicara kepada Gok Hoa, kadang-kadang mereka tertawa, akan tetapi ia dapatkan, orang bicara dan tertawa dipaksakan.

Pek Sek Toojin angkat kepalanya dan dongak.

"Kita datang terlalu pagi,"

Katanya.

"Masih belum tengah hari!"

"Kita boleh pergi lebih dahulu ke Pitmo gay, untuk tunggui dia di sana,"

It Hang kata.

"Tunggu dia? Dia begitu agung? Hm!"

Kata paman guru ini. It Hang tidak kata apa-apa lagi. Tapi dalam hatinya ia berkata.

"Kenapa susiok selama ini jadi makin cupat pikirannya? Selama dalam perjalanan, kenapa susiok seperti memaksa aku supaya senantiasa berdampingan dengan putrinya? Dan mungkinkah perselisihannya dengan Giok Lo Sat itu ada hubungannya dengan sikapnya mengenai puterinya ini? Tapi ia tidak dapat jawaban atau pemecahannya, ia jadi masgul sendirinya.

"Eh. apa yang kau pikirkan?"

Tegur Pek Sek, yang lihat orang termangu saja "Tidak apa-apa,"

It Hang jawab.

"Susiok, aku berpendapat baiklah piebu ini disudahi saja..."

Ia tambahkan.

"Ngaco!"

Bentak paman guru itu.

"Orang Butong pay tidak pernah merasajeri!"

Di mulut imam ini mengatakan demikian, tetapi di dalam hatinya, ia berpikir.

"Baik aku lihat dulu Pitmo gay, untuk periksa keletakannya. Pasti ini akan ada faedahnya bagiku..."

Ia lantas mendaki gunung sambil berlari-lari.

Tidak lama kemudian ia sudah menghadapi sebuah lembah, yang seperti ditawungi suatu batu besar yang dari atas bukit melonjor di tepian lamping jurang.

Di lembah itu ada sebuah tanah kosong, yang merupakan wujud seperti singa pentang mulut.

"Itu dia Pitmo gay,"

Kata Pek Sek.

"Mari!"

It Hang menurut. Keduanyamenggunai ilmu enteng tubuh akan lari mendaki. Begitu ia sampai di atas, si imam perdengarkan seman dari keheranan.

"Ai!"

Di tanah yang datar kedapatan tumpukan-tumpukan batu, romannya mirip dengan tintouw, barisan rahasia (tin).

"Entah Giok Lo Sat gunai akal apa?"

Katanya.

Ia lantas ajak It Hang jalan di antara tumpukan-tumpukan batu itu.

Ia seperti merasa memasuki ratusan ribu pintu yang terpasang kusut.

Benar-benar tempat itu mirip dengan barisan rahasia yang berdasarkan ngoheng dan patkwa.

Tentang barisan rahasia itu, Ngoheng Patkwa Tin, dalam Butong Pitkip ---Kitab rahasia Butong pay ---ada dimuat cuma Pek Sek Toojin sendiri belum sempat memahaminya sampai sempurna, maka itu sekarang, setelah jalan mundarmandir sekian lama, ia tidak juga menemui jalan keluar.

"Kurang ajar!"

Dia menjadi gusar.

"Tidak peduli iblis itu atur apa di sini, aku hendak sapu habis dulu tumpukan-tumpukan batunya ini!"

Dalam murkanya itu, imam ini menyapu dengan kakinya, hingga satu tumpukan batu buyar berantakan, ada yang membentur tumpukan batu lainnya, hingga batu itu terpentalnya lebih jauh lagi.

Menampak itu, puas hatinya Pek Sek, maka ia tertawa berkakakan.

Tapi, belum habis suara tertawanya itu, iapun dengar suara tertawa lain, yang dingin, yang ditambahkan dengan teguran.

"Bocah dari mana sudah begitu bernyali besar berani mengacau tumpukan batuku untuk berlatih?"

Suara itu tajam didengarnya, hingga Pek Sek Toojin terperanjat. Ia segera menoleh kesekitarnya. Di empat penjuru, ia tidak lihat satu jua bayangan manusia.

"Kau setan apa?"

Dia tanya akhirnya.

Dia telah dengar nyata suara itu, dia merasa pasti mesti ada orangnya, saking sengitnya, dia bersikap kasar.

Sekonyong-konyong satu bayangan berkelebat dari belakang suatu batu besar dari sebelah bawah.

Itulah seorang perempuan tua yang kurus kering dan kuning wajahnya, rambutnya ubanan, kulitnya telah kerut, sebelah tangannya menyekal sebatang tongkat.

Pada rambut di ujung kupingnya tampak setangkai bunga merah.

Pakaiannyapun tidak keruan macam.

Maka dipandang seluruhnya nenek ini bagaikan hantu gunung yang baru menjelma.

Dia juga perlihatkan wajah seperti orang sedang murka berbareng tertawa...

Walau nyalinya besar, menampak romannya nenek yang luar biasa itu, Pek Sek menggigil juga.

Dengan tindakan tetap, nenek itu maju ke dalam tin batunya.

"Hai, dua orang golongan muda, siapa namamu?"

Dia menegur.

"Dan siapa guru kamu? Untuk apa kalian datang kemari? Lekas kalian kasih keterangan yang sebenarbenarnya!"

Pek Sek ada salah satu dari ButongNgoloo, iajugatelah berusia lima puluh satu tahun, ia tidak muda lagi seperti It Hang.

Ia juga belum pernah orang hinakan.

Ia menjadi gusar dikatakannya sebagai golongan muda.

"Namanya Butong Ngoloo, pernah kau dengar atau tidak?"

Dia balik menegur. Nenek itu membelalakkan matanya.

"Apa itu Butong Ngoloo? Aku belum pernah mendengarnya!"

Katanya, seperti mengejek.

Nama kesohor dari Butong Ngoloo didapat baru belasan tahun yang silam, sebaliknya nenek ini hidup menyendiri sudah tiga puluh tahun.

Maka pada tiga puluh tahun yang lalu itu, Pek Sek baru berumur kira-kira dua puluh tahun.

Di kala itu nama Butong Ngoloo belum ada, tidak heran kalau nenek ini tidak mengetahuinya.

Jadi nyatalah nenek ini telah bicara dengan sebenarnya.

Pek Sek sementara itu anggap nama Butong Ngoloo, untuk di kolong langit ini tidak ada orang yang tidak mengetahuinya.

Oleh karenanya, ia jadi sangat gusar.

Ia menganggapnya nenek ini sudah menghina Butong pay.

Beda daripada paman gurunya, It Hang tidak menjadi kurang senang atau gusar, ia malah segera memberi hormat sambil menjura dalam-dalam.

"Harap dimaafkan, aku ingin ketahui nama besar Cianpwee,"

Kata ia dengan merendah. Wanita tua itu buka mulutnya dan tertawa.

"Ah, anak, kau mengerti juga adat istiadat,"

Katanya. Dia lantas tunjukkan bunga merah di samping kupingnya.

"Kau sanggup mendaki Pitmo gay, kau boleh dibilang mempunyai kepandaian juga, kau tentunya dapat pelajaran dari orang berilmu. Apakah tetuamu tidak pernah omong tentang halnya bungaku ini? Tahukah kau riwayatnya bunga merah ini?"

It Hang menggeleng kepala, agaknya ia bingung. Baru sekarang Pek Sek Toojin ingat namanya Anghoa Kuibo, dengan sendirinya ia menjadi kaget, tapi berbareng iapun gusar.

"Ha, perempuan siluman, kau kiranya masih hidup!"

Dia membentak. Anghoa Kuibo pun gusar, dia segera angkat tongkatnya.

"Imam bangsat, rasai tongkatku ini!"

Dia berteriak.

Anghoa Kuibo, telah berumur enam puluh lebih, dibanding dengan almarhum Cie Yang Toojin, dia cuma lebih muda beberapa tahun saja Tentang Anghoa Kuibo itu, Pek Sek pernah dengar penuturan suheng-nya akan keliehayannya nyonya tua ini, bahwa dulu tiga belas jago dari Barat utara telah dikalahkan.

Tapi ia menganggapnya tiga belas jago itu bukannya jagojago kelas satu, jadi kekalahan mereka itu tidaklah mengherankan.

Maka ia anggap, kegagahan nenek ini adalah omong besar belaka.

Ini pula sebabnya, sekarang ia tidak merasa jeri.

Ia hendak berlaku sabar, meskipun ia dicaci dan dituding, ia tidak mau segera menggerakkan tangan.

"Orang rendah, kau masih tidak mau maju?"

Nenek itu menantang.

"Perempuan siluman, kau pun tidak hendak mulai menyerang?"

Imam ini balas menantang.

Anghoa Kuibo memukul kepada tumpukan batu, yang menjadi hancur berhamburan.

Ada batu-batu yang terpental ke arah Pek Sek Toojin tetapi dengan berkelit imam ini menghindarkan diri, cuma abu batu yang mengotori jubanya.

Hal ini barulah membuat si imam gusar, dengan sebat ia hunus pedangnya, pedang Cengkong kiam, dengan apa ia segera menikam dengan gerakan "KimCiam touwsian"

Atau "Jarum emas ditembusi benang".

Ujung pedangnya menyambar ke tenggorokan sinenek.

Dengan hanya menggerakkan tangannya satu kali, dari atas Anghoa Kuibo menindih dengan tongkatnya, dengan begitu ia memunahkan serangannya imam itu, yang mesti berkelit dengan lompat ke samping, pedangnya lekas ditarik pulang.

Karena tindihan itu yang berbareng pun merupakan penyerangan, telah membikin tubuhnya Pek Sek terhuyung beberapa tindak.

Tapi yang menjadikan dia kaget berbareng mendongkol adalah telapak tangannya, yang menyekal pedang, dirasakan panas dan sakit akibat tindihan tongkat nenek itu, tenaga siapa nyata ada besar luar biasa.

Dalam murkanya, Pek Sek Toojin segera menyerang, untuk mana ia lantas bersilat dengan ilmu pedangnya.

C itcapj ie C iu Lianhoan Toatbeng kiam --ialah ilmu pedang berantai untuk "merampas jiwa"

Yang semuanya terdiri dari tujuh puluh dua jurus.

Ia bergerak dengan sangat cepat dan tegas ketika ia menyerang beruntun dua kali.

Kedua-dua kalinya, Anghoa Kuibo gempur serangan pedang dengan gerakan toya sekali pukul, dan dia kata dengan jumawa.

"Kau dapat lolos dari ujung tongkatku, kau boleh jugalah!"

Pek Sek terus berada dalam kemurkaan, maka ia ulangi serangannya terus-terusan sampai tujuh jurus.

Tapi masih saja si nenek dapat memecahkannya satu demi satu seranganserangan itu.

Kembali nenek ini kata.

"Eh, ilmu pedangmu ini rasanya pernah aku lihat, entah di mana... Di jaman ini orang yang bisa bersilat dengan pedang begini rupa, dia termasuk juga golongan kelas utama!"

Nenek ini bicara sambil tertawa tetapi dengan terus melakukan serangan balasan, hingga Pek Sek terdesak mundur, untuk mana dia sampai lewati beberapa tumpuk batu.

Dengan demikian, dia mulai terdesak ke dalam tin istimewa dari Anghoa Kuibo.

Imam ini lantas insyaf bahwa sulit untuk ia meloloskan diri, karenanya, ia memasang mata ke delapan penjuru, pedangnnya diputar cepat hingga umpama kata tubuhnya tak kena tersampok angin atau terserang hujan.

Secara demikian dapat juga ia pertahankan diri.

Akan tetapi, sesudah didesak selama lima puluh jurus lebih, ia lantas bermandikan keringat.

Dengan hati mantap dan tenaganya yang ulet, tidak pernah ia memberi lowongan kepada musuhnya yang liehay itu.

Sesudah menyerang hebat sekian lama, tiba-tiba Anghoa Kuibo memperlunak serangannya.

"Cie Yang Toojin itu apamu?"

Mendadak dia tanya.

Pek Sek malu berbareng mendongkol, tidak lagi dia hendak menyebut-nyebut Butong Ngoloo, maka dia terus membungkam, bahkan selagi orang berlaku kendor, dia berbalik menyerang secara hebat dengan dua serangannya "Burung garuda menerjang ke udara!"

Dan "Sang ikan menyelusup ke dasar air". Ujung pedangnya mencari sasaran yang berupajalan darah. Anghoa Kuibo menjadi sangat gusar.

"Bocah, kau tidak tahu diri!"

Serunya sambil ia angkat tongkatnya menangkis yang berbareng memunahkan dua serangan musuh.

Menyusul itu, ia ulur tangan kirinya guna balas menyerang dengan totokan.

sesudah mana, juga kembali tongkatnya menyambar menyerang terlebih jauh.

Dalam murkanya itu tampak sikapnya menjadi bengis.

Pek Sek sanggup tangkis semua serangannya si nyonya, akan tetapi segera juga ternyata ia telah kena didesak, ia repot menghindarkan diri dari serangan tangan kiri dan tongkatnya Anghoa Kuibo.

Sekarang barulah ia insyaf liehaynya si nyonya Bahna hebatnya desakan, permainan pedangnya dengan cepat mulai menjadi kalut.

It Hang berkuatir menampak keadaannya paman guru itu, dengan tidak menghiraukan lagi kepada tumpukan-tumpukan batu yang merupakan barisan rahasia itu, ia pun hunuskan pedangnya dan lompat membantui paman gurunya itu.

"Hai, kau juga turut ambil bagian?"

Seru si nyonya, yang pun terus menyerang pemuda itu, untuk dikurungnya bersama Pek Sek, untuk bikin mereka tidak bisa keluar dari dalam tin batu.

Sekali It Hang tangkis tongkat musuh, ia segera ketahui tenaga besar dari nyonya tua itu, ia merasakan tangannya bergetar, maka untuk dapat melayani terus, ia lantas gunai kelincahannya supaya tak usah adu tenaga lagi.

Anghoa Kuibo nampaknya memperhatikan pemuda ini.

Setelah beberapa jurus, tidak lagi ia menyerang dengan bengis, bahkan setiap serangannya It Hang ia menangkisnya secara ringan.

Ilmu silatnya It Hang, di dalam kalangannya sendiri, yaitu generasi kedua, adalah yang paling mahir, malah bila dibandingkan dengan Pek Sek Toojin, ia cuma~kalah satu tingkat.

Karena ini, dengan bantuannya itu, si nyonya seperti tidak ingin melukai padanya, Pek Sek Toojin menjadi peroleh keringanan, juga ia jadi dapat ketika untuk melakukan penyerangan.

Banyak jurus telah dilalui dalam pertempuran dua lawan satu ini, tiba-tiba Anghoa Kuibo perdengarkan suaranya yang bengis.

"Ketika dahulu aku layani tiga belas jago yang berserikat dan mengepung aku, aku telah merobohkannya tak lebih daripada lima ratus jurus, sekarang sesudah tiga ratus jurus maka tidak bisa lagi aku beri kelonggaran!"

Nyonya dengan bunga merah di kuping ini buktikan ancamannya itu dengan memperkeras serangannya hingga tongkatnya bertambah berbahaya.

Dengan lantas It Hang menjadi gelisah, apapula ketika ia tampak ujung tongkat menyambar ke dada paman gurunya, dengan melupakan bahaya, ia lantas serang si nyonya, menyerang iga kirinya, walaupun ia tahu ia tidak akan peroleh hasil, tetapi sedikitnya ia harap paman gurunya dapat tertolong.___ "Pergi!"

Bentaknya si nyonya, yang keluarkan tangan kirinya menyampok belakang pedang, atas mana, tubuhnya It Hang terlempar dan terpelanting jatuh keluar tin.

Akan tetapi ketika ia merayap bangun ia dapatkan dirinya tidak terluka sama sekali, hingga ia menjadi heran sendirinya.

Ia tidak mengerti kenapa ia dapat disampok demikian dahsyat.

Belum sempat It Hang maju pula, atau segera ia dengar jeritan dari kekagetan atau kesakitan, lantas ia tampak tubuhnya Pek Sek Toojin terlempar keluar tin seperti dia tadi.

Dalam kagetnya itu ia lompat kepada paman gurunya, yang ia tampak baju di depan dadanya robek dan darah mengucur keluar dari dua guratan pedang.

Mukanya paman guru itu pucat pasi, napasnya seperti berhenti jalan.

Ia menangis tanpa merasa, lalu dengan gesit ia lompat ke arah nyonya itu, dengan nekat ia hendak menyerangnya.

"Perempuan siluman!"

Bentaknya.

"kau telah lukai paman guruku, aku hendak adu jiwa denganmu!"

"Hai, kau juga memanggil aku perempuan siluman?"

Si nyonya berseru. Ia agaknya tidak senang, akan tetapi ia tidak bersikap bengis seperti terhadap Pek Sek Toojin. Sekonyong-konyong terdengar suara orang memanggil namanya.

"It Hang! ItHang!"

Itulah suara panggilan dari arah belakang It Hang, mendengar mana, ia segera berhentikan tindakannya dan berpaling.

"EnCie Lian, lekas!"

Ia berseru. Karena ia segera kenali orang yang memanggil namanya itu.

"Man lekas bantui aku membunuh perempuan siluman ini!"

Dalam tempo yang pendek Giok Lo Sat telah sampai di kalangan pertempuran bersama Tiat Hui Liong. Anghoa Kuibo lihat orang itu, ia tertawa dingin berulang kali.

"Kongsun Toanio, kali ini kelirulah sikapmu!"

Hui Liong berkata. Si bungamerah mencilak matanya.

"Keliru bagaimana?"

Dia tanya.

"Kim Tok Ek telah terlalu sering berbuat yang tiada kepantasan dan sekarang ia justeru turut titahnya segala dorna kebiri untuk mencelakai menteri setia! Kenapa kau belai padanya?"

Sahutnya Hui Liong. Nyonya kosen itu tertawa dingin.

"Meski benar iblis tua itu berbuat keliru, itulah bukan urusanmu untuk turut campur!"

Kata dia. Hui Liong jadi mendongkol.

"Dengan demikian aku telah bikin renggang pada kau suami isteri!"

Katanya dengan sengit.

"Kongsun Toanio, oh, Kongsun Toanio!"

Ia tambahkan.

"sungguh mentertawakan, kau seorang dari satu keluarga kenamaan telah berbuat begini sembrono, kau tidak bisa bedakan pri keadilan!"

Kongsun Toanio angkat tongkatnya.

"Tiat Hui Liong, jangan kau banyak omong!"

Dia membentak.

"Hari ini aku datang tidak lain justeru dengan maksud belajar kenal dengan ilmu silatmu Luiteng PatkwaCiang!"

Hui Liong tertawa besar, terus ia lompat masuk ke dalam tin batu.

"Bagus!"

Serunya.

"Kiranya kau sengaja datang untuk mencoba-coba aku si Tiat tua!"

Dengan lompatannya itu, jago tua ini menempatkan kaki, di belakangnya satu tumpukan batu. Wanita tua itu lepaskan tongkatnya.

"Dengan sikapmu ini kau hendak gunai tin batu ini untuk uji tenaga tangan?"

"Benar!"

Sahut Hui Liong, yang segera mengibaskan kedua tangannya.

Maka batu di hadapannya itu tersampok dan terbang berhamburan...

Anghoa Kuibo pun menggerakkan sebelah tangannya, ia bikin gempur satu tumpuk batu hingga berhamburan juga.

Keduanya saling menggempur, setiap kali batu menyambar ke arah mereka, mereka masing-masing berkelit untuk mengelakkan diri dari sambaran batu.

Hui Liong menaruh kaki menurut keletakan patkwa, sehabis menggempur ia lompat.

"Bangsat tua she Tiat, kau licik!"

Mendamprat Anghoa Kuibo.

Dampratan ini disusul dengan gerakan kedua tangannya menggempur dua tumpuk batu lainnya, la menggempur dari kiri dan kanan, dengan begitu Tiat Hui Liong terserang dari kiri kanan juga.

Hui Liong lompat berkelit, dari apa yang dinamakan pintu "Kammui"

Ke pintu "tweemui", lalu dengan cepat ia balas menyerang dengan sebelah tangannya, hingga sinyonya juga mesti singkirkan diri, dari pintu "kianmui"

Ke pintu "kunmui".

Demikian mereka serang menyerang dengan cepat, sama cepatnya dengan elakan diri masing-masing untuk menghindarkan bahaya.

Karena hebatnya serangan mereka kepada tumpukan-tumpukan batu, batupun berhamburan kalang kabutan.

Tapi keduanya gesit dan awas matanya, tidak ada batu yang mengenai tubuh mereka.

Giok Lo Sat yang tonton pertempuran yang luar biasa itu, hatinya sangat tertarik, ingin ia ambil bagian.

Tiat Hui Liong berkelahi dengan ilmu silat Luiteng Patkwa Ciang, yang benar-benar berdasarkan delapan penjuru patkwa.

Ia sengaja berkelahi dengan cara ini, karena ia tahu, Anghoa Kuibo sangat liehay, tepat ia pilih tin batu itu untuk melayaninya.

Mengenai tin ini, atau barisan patkwa, ia lebih berpengalaman, maka ia bisa bergerak dengan sebat sekali.

Karena ini juga, sampai sekian lama mereka masih sama tangguhnya.

Anghoa Kuibo jadi murka sekali, karena sudah demikian lama ia tidak peroleh keputusan.

Ia telah lihat dengan tegas, dalam hal ilmu silat Hui Liong keteter daripadanya, tetapi di dalam tin ia tak sanggup atasi kegesitannya Hui Liong.

Hui Liong cerdik dan berpengalaman, dari wajahnya ia bisa duga nyonya tua itu sedang murka besar atau sangat mendongkol, lalu sengaja ia menggunai akal.

Begitulah dengan tiba-tiba ia menyerang, menyusul itu, ia tertawa hahahaha mengejek musuhnya.

Amarahmja Anghoa Kuibo meluap-luap, ia balas menyerang dengan kedua tangannya saling susul, dengan cara yang paling hebat, hingga ia bikin batu-batu berterbangan.

Akan tetapi, sambil unjuk kegesitannya Hui Liong perdengarkan pula tertawanya.

"Berhenti!"

Mendadak Giok Lo Sat berseru, selagi ayah angkatnya masih terus tertawa. Hui Liong dengar suara anaknya, tanpa bersangsi lagi ia lompat keluar dari kalangan.

"He, apakah artinya ini?"

Teriak Anghoa Kuibo. Giok Lo Sat awasi nyonya tua itu. ia tertawa tawar.

"Apa?"

Mengulangi Giok Lo Sat.

"Tin batumu sudah gempur semua, dengan sendirinya pertempuranpun harus diberhentikan!"

Anghoa Kuibo segera pandang barisannya yang istimewa itu.

Benarlah barisan batunya telah tidak lagi menjadi barisan batu, karena semua tumpukan sudah gempur, malah ada batu-batu yang masih bergelindingan turun ke kaki gunung...

Ia sedang gusar, maka menampak itu ia tambah mendongkol.

Ia jemput tongkatnya, dengan itu ia mengemplang batu.

hingga terdengarlah satu suara nyaring.

"Bangsat she Tiat, anggaplah pertandingan ini seri!"

Dia berkata dengan sengit.

"Mari kita bertempur pula dengan lain cara!"

Tidak tunggu lagi ayahnya terima tantangan itu, Giok Lo Sat tertawa pula. Sengaja ia mendahului.

"Anghoa Kuibo, kau berlaku tidak adil!"

Dia berkata.

"Kenapa tidak adil?"

Bentak si nyonya, dalam murkanya.

"Karena kau memegang senjata dan ayahku tidak!"

Jawabnya si nona.

"Itulah tidak menjadikan halangan!"

Kata nyonya itu.

"Kita boleh bertempur pula dengan tangan kosong!"

"Tadi toh kalian telah bertanding seri, untuk apa bertempur pula?"

Giok Lo Sat mengejek.

Anghoa Kuibo mendeluh juga Memang benar apa yang si nona katakan.

Tadi walaupun mereka bertempur di dalam tin batu, namun sebenarnya mereka sedang adu kepandaian silat tangan kosong.

Selain daripada itu, tin adalah kepunyaannya yang ia atur sendiri, seharusnya ia menang di atas angin.

Bahwa nyonya ini hendak tantang Hui Liong lebih jauh.

itulah pantas.

Ia pandai silat dengan tangan kosong atau bersenjata.

Dan Hui Liong biasa bersilat dengan tangan kosong selalu, karena peryakinannya ilmu silat Luiteng Patkwa Ciang itu.

Tidak pernah jago tua ini gunai gegaman.

Akan tetapi, apa yang dikatakan Giok Lo Sat pun tidak keliru.

Memang tidaklah seimbang-kalau dua orang bertanding, yang satu memakai senjata dan yang lainnya tidak.

"Biar bagaimana, hari ini aku tidak puas, tetap aku hendak lanjutkan pertandingan!"

Kata si nyonya tua, yang menjadi ngotot.

Dia telah dipengaruhi sangat oleh penasarannya.

Walau demikian, dia tidak dapat segera menyebutkan dengan cara apa dia hendak bertanding pula.

Giok Lo Sat berlaku tenang.

Ia girang melihat orang dipengaruhi nafsu amarah.

Dengan sabar, ia loloskan beberapa lembar benang merah dari kepalanya, ia pakai itu untuk melibat ujung bajunya.

"Anghoa Kuibo, jangan kau gusar,"

Katanya dengan sabar.

"Kau hendak bertempur itulah gampang sekali. Ada orang yang bersedia akan iringi kehendakmu!"

Nyonya tua itu tercengang.

"Apakah kau, bocah, yang hendak melayani aku?"

Giok Lo Sat tertawa, sepasang alisnya yang bagus memain.

"Ha, kau menerka jitu!"

Katanya, dan ia tertawa pula.

Selama beberapa tahun yang paling belakang, namanya Giok Lo Sat sangat terkenal, akan tetapi Anghoa Kuibo tidak dengar itu, disebabkan ia sedang hidup menyendiri dan barulah sekarang ia muncul pula benar ketika di kota raja dari suaminya, Kim Tok Ek, ia pernah dengar tentang si Raksasi Kumal a.

tapi ia tidak menyangka sama sekali bahwa si Raksasi Kumala adalah nona muda dan cantik di depannya ini.

Tentu saja ia jadi heran, Tapi ia besar kepala dan pula ia tidak memandang mata.

Ia tidak ingin melayani anak muda.

"Baiklah kau belajar silat dahulu lagi sepuluh tahun!"

Ia mengejek sambil menuding dengan tongkatnya. Giok Lo Sat pun segera hunus pedangnya, kembali ia tertawa.

"Eh, Anghoa Kuibo, apakah dengan kata-kata ini kau hendak artikan kau ada jauh terlebih gagah daripada aku?"

Nyonya itu melirik, tidak mau ia menjawab. Giok Lo Sat tertawa pula.

"Sungguh sayang, kau tak lebih daripada satu buntalan besar!"

Katanya. Bukan main murkanya nyonya tua itu.

"Kau ngoceh tak keruan!"

Bentaknya.

"Jikalau kau bukan satu buntalan besar,"

Sahut si nona.

"kenapa kau tidak mengerti tentang pepatah. 'Belajar itu tak ada yang lebih dahulu atau lebih belakang, siapa yang berhasil dialah yang jadi guru? Benarkah kau tidak ketahui ini?"

Si Raksasi Kumala tidak belajar surat akan tetapi kata-kata itu baru saja ia dengar dari It Hang, maka kebetulan sekali, menghadapi Anghoa Kuibo yang jumawa dan kepala besar, ia gunai kata itu untuk mengejek, guna membangkitkan amarah orang.

Dan ia berhasil.

Dalam murkanya yang meluap-luap, nyonya tua itu menuding dengan tongkatnya.

"Apabila kau sanggup menangkan aku, aku nanti angkat kau jadi guruku!"

Ia berseru.

"Itulah tak berani aku menerimanya!"

Tertawa si nona.

"Baiklah kita atur begini saja. Jikalau kau dapat memenangkan aku, kami berdua ayah dan anak akan menyerah, kau boleh perbuat sesuka hatimu atas diri kami. Sebaliknya kalau akulah yang menang, maka kau mesti serahkan suamimu si setan bangkotan yang busuk itu kepadaku! Aku hendak bunuh dia atau menghukum picis, kau tidak dapat membantu lagi kepadanya!"

Bukan main mendongkolnya Anghoa Kuibo.

"Asalkan kau mampu lawan aku sampai seri, aku akan pergi sembunyikan diri lagi tiga puluh tahun!"

Ia berikan janjinya. Giok Lo Sat tertawa.

"Bagus!"

Serunya.

"Sekarang kau boleh mulai!"

"Selamanya jikalau aku tempur orang satu sama satu, belum pernah aku turun tangan lebih dahulu!"

Kata nyonya tua itu.

Giok Lo Sat mainkan alisnya, ia tertawa.

Ia ulur pedangnya ke mukanya nyonya tua itu.

gerakannya sangat perlahan, lalu ia putarkan pedangnya di muka si nybnya sekali, bagaikan orang menggurat.

"Hai, kau mainkan apa ini?"

Bentak nyonya itu.

"Kau sebenarnya hendak bertempur atau tidak?"

Belum sampai Anghoa Kuibo tutup mulutnya, tiba-tiba ujung pedang si nona telah sampai di mukanya sekali.

Demikian sebat gerakan nona itu, sampai lawannya yang liehay itu tidak menyangkanya.

Si Raksasi Kumala sangat cerdik, ia sudah lihat ilmu silatnya nyonya tua itu mahir sekali, maka itu ia menggunai akal untuk membangkitkan amarahnya, guna mengacaukan ketenangan hatinya, setelah itu, sengaja ia mainkan pedangnya di muka orang, ia bergerak demikian ayal, guna membuat orang alpa dengan penjagaannya, lalu dengan sebat luar biasa ia menikam!

Dalam kagetnya, Anghoa Kuibo menangkis dengan tongkatnya, tapi begitu lekas tongkatnya terangkat, atau ujung pedang si nona sudah ditarik pulang, untuk diteruskan ditikamkan kepada tenggorokannya.

Maka lagi sekali ia menjadi kaget.

Untuk selamatkan diri, ia pengkeratkan pundak dan kepalanya, berbareng tangan kirinya menyambar untuk merampas pedang lawannya.

Giok Lo Sat ada sangat awas dan cerdik, ia telah tujukan ujung pedangnya ke arah tenggorokan.

namun setelah orang berkelit, pedangnya ia miringkan dipakai menyerang ke samping, ke arah mana nyonya itu berkelit.

Bahna terperanjatnya, Anghoa Kuibo mencelatkan diri lompat menyingkir, tetapi selagi ia lompat, ia rasakan hawa dingin menyambar di samping kupingnya, menyusul mana tahu-tahu bunganya yang merah dan besar itu telah jatuh tertabas pedang.

"Ha-ha-ha-ha!"

Nona itu tertawa. Nona ini berhasil menindih kesombongan lawannya.

"Hm!"

Bersuara si nyonya tua.

"Ilmu pedangmu ini benar bagus tetapi bukanlah ilmu yang sejati!"

Meski demikian, benar-benar Anghoa Kuibo gentar juga. Lagi-lagi nona manis itu tertawa.

"Baik!"

Katanya.

"Baik, nanti aku perlihatkan padamu ilmu silat pedang yang sejati!"

Baca Juga: Kereta Berdarah 9

Baca Juga: Setan Harpa 8

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger