Wanita Gagah Perkasa 5

Eps 5 Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen

Baca online Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen

Cersil Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen.

"dia bukan saja bisa menjadi kiamkek, diapun bisa menjadi pendeta suci. Aku hanya kuatirkan dia nanti terlibat asmara..." (Kiamkek --ahli pedang). Mendengar ini, lega hatinya Cun Seng. Karena yang ia kuatirkan adalah kehormatannya Siauwlim sie. Benar seperti katanya Keng Beng Siansu. selang dua hari. Beng Kie telah sembuh dari bisanya tangan jahat dari Kim Tok Ek. hingga selanjutnya ia membutuhkan hanya sedikit waktu lagi untuk memulihkah tenaganya kembali seperti sediakala. Tepat di hari ketiga pagi-pagi. Keng Beng Siansu serahkan pada Beng Kie salinan kitabnya ilmu pedang, yaitu "LiongCoan Pcklian Koat"

Sambil pemuda itu dipesan untuk belajar sungguh-sungguh dengan kuat dan bertetap hati.

supaya dia dapat selalu mengatasi diri.

Pemuda itu mengucap terima kasih, ia memberi hormat untuk pamitan.

Ketika ia sampai di luar Siauwlim sie, di muka pintu, sambil bersenyum San Ho asyik menantikan padanya.

Tiba-tiba ia teringat yang ia telah digendong si nona, ia menjadi jengah sendirinya.

"Mau apa kau datang kemari?"

Ia tanya.

"Untuk memapak kau,"

Sahut San Ho.

"Aku juga hendak haturkan terima kasihku kepadamu."

"Aku justeru hendak mengucapkan terima kasih padamu,"

Beng Kie kata.

"Kau hendak pergi ke mana sekarang?"

"Dan kau?"

Si nona balik menanya.

"Aku hendak pergi ke Pakkhia."

"Aku juga hendak pergi ke Pakkhia!"

Si nona tertawa. Beng Kie melengak.

"Kau pun hendak pergi ke Pakkhia?"

Dia tegaskan.

"Benar. Maka kita boleh jalan sama-sama!"

Tidak ada alasan untuk Beng Kie menolak, terpaksa ia terima nona itu.

Maka berdua berangkatlah mereka menuju ke kota raja.

San Ho berlaku polos dan ramah tamah, terhadap Beng Kie dia berlaku sebagai saudara kandung kakak beradik, maka itu, lambat laun lenyaplah kelikatan mereka.

Karena polosnya si nona omong dari hal apa saja yang ia dapat pikir, kecuali ia tak ingin omong tentang ayahnya, hingga karenanya, Beng Kie heran sekali.

Sifat kekanak-kanakannya Tiat San Ho belum lenyap seanteronya, akan tetapi sejak kecil ia telah kenyang ikuti ayahnya merantau, karena itu, ia kenal banyak dan ketahui segala hal ikhwalnya kaum kangouw.

maka karena itu pula, perjalanan mereka menjadi lancar sekali.

Di samping itu, sering San Ho kenali orang-orang kangouw yang menuju ke utara juga.

Demikian pada suatu hari, sesampainya mereka di Hamtan, sebuah kota besar di Hoopak, selagi jalan di dekat sebuah rumah makan, ia menunjuk ke rumah makan itu sambil berkata pada kawan seperjalanannya.

"Lihat di dalam restoran, di antara tetamu-tetamunya itu, ada satu kepala dari kaum Hitam!"

"Kita baik jangan usil,"

Sahut Beng Kie.

"Kau temani aku, mari kita melihatnya,"

San Ho minta.

"Dia adalah dari derajat yang tinggi. Selama dua hari ini, semua orang kangouw yang kita ketemukan mungkin harus memandang dia sebagai tertua..."

"Eh, bagaimana kau ketahui itu?"

Beng Kie tertarik juga hatinya.

"Kau lihat di sana, di pojok tembok,"

Kata San Ho.

"Lihat itu setangkai bunga bwee yang dilukiskan di situ. Coba kau hitung jumlah tangkainya."

"Ya ada dua belas,"

Jawab Beng Kie, setelah ia bertindak mendekati.

"Nah, itu dianya! Itulah bunga bwee yang menjadi tanda rali.isiu yang jumlah tangkainya menandak.ui tinggi rendahnya derajat orang yanp bersangkutan. Biasanya, jumlah tangkai adalah tiga belas yang paling banyak, sekarang bunga ini bertangkai dua belas, inilah hal yang ganjil."

"Baiklah kalau begitu,"

Kata Beng Kie.

"Mari kita masuk dan melihatnya. Tapi ingat, kau jangan sembarang terbitkan onar."

Keduanya lantas mampir di rumah makan itu, mereka pilih meja dari mana mereka bisa leluasa memandang ke sekitarnya.

Beng Kie melihat ke sekitar ruangan, ia tampak di sebelah timurnya, dekat pada jendela, duduk dua orang yang mengenakan kopiahnya rendah sekali, sehingga menutupi mata dan hidungnya, akan tetapi walaupun demikian, dengan matanya yang taj am Beng Kie merasa seperti pernah melihatnya, dan iapun lantas ingat suatu apa, maka sekonyong-konyong ia bangun berdiri, terus ia bertindak maju.

San Ho heran.

"Eh, toako, kau mau berbuat apa?"

Tanya nona ini. Beng Kie tidak segera menjawab, dia hanya menggapai.

"Jongos, tolong seduhkan dulu satu tehkoan teh LiongCeng!"

Katanya kepada jongos. Tetapi gerakan tangannya itu ada demikian rupa, hingga ia kena singkap kopiahnya orang yang ia curigai itu, sampai kopiah itu terangkat, menyusul mana, dia lompat menyambar.

"He, Eng Siu Yang, bangsat tua, kau kenali aku atau tidak?"

Tegurnya pemuda ini membarengi gerakannya menyekal orang. Orang itu dengan sebat sekali menangkis dengan kebutannya, hudtim, untuk sekalian lilit lengan penyerangnya itu. San Ho heran bukan main.

"Dia larang aku terbitkan onar. sekarang dia yang mulai..."

Katanya dalam hati.

Ia sama sekali tak tahu bahwa kedua orang itu adalah penghianat yang berkongkol sama pihak Boan, yang di puncak bukit Kunsan sudah kepung Giok Lo Sat.

Walaupun Eng Siu Yang liehay.

menghadapi Beng Kie ia berkecil hati, apapula setelah gagal ia menangkis dan melilit tangan si anak muda, sementara di pihak lain.

sambaran pemuda itu telah diulangi.

Bahna berkuatir dan hendak bela diri.

ia berseru seraya angkat meja untuk menangkis, hingga karenanya, piring mangkok, atau lebih benar pelbagai sayur, terbang ke arah pemuda itu.

Beng Kie lompat berkelit.

Justeru inilah yang dikehendaki Eng Siu Yang, yang gunakan ketika baik itu untuk lompat keluar jendela.

Sahabatnya penghianat bangsa itu tidak kenal bahaya, dia maju merintangi Beng Kie mengejar kawannya, akan tetapi Beng Kie dalam sengitnya berbalik menyambar padanya, yang kena dicekal dan dilemparkan terbanting ke jalan besar di luar jendela.

Eng Siu Yang baru mau lari terus atau pengejarnya sudah dapat candak padanya, yang segera diserang dengan pedang Yuliong kiam, hingga terpaksa, dia gunakan kebutannya akan melakukan perlawanan.

Kebutannya itu memang dapat digunakan sebagai pedang atau alat penotok jalan darah di samping senjata penyabet atau pelibat.

Hanya meski dia sangat liehay, sekarang dia menghadapi ilmu pedang Thiansan kiamhoat dengan pedang mustika pula.

kebutannya nampaknya tiada berguna.

Pertempuran itu membikin takut orang-orang yang berlalu lintas, mereka semua lantas jauhkan diri dan sembunyi, sedang toko-toko yang berdekatan, repot menutup pintu.

Beng Kie mendesak terus-terusan, membikin Siu Yang repot menangkis.

Pertempuran tengah berlangsung, tiba-tiba terdengar suara gembleng pembuka jalan dan muncul delapan penunggang kuda.

yang di belakangnya tampak pula delapan thaykam.

orang kebiri, yang mengiring sebuah kereta keraton.

"Lekas tangkap penjahat!"

Eng Siu Yang berteriak ketika ia lihat rombongan kereta itu.

Delapan penunggang kuda itu adalah siewie-siewie atau pahlawan-pahlawan istana, mereka sudah lantas lompat turun dari kudanya dan maju menyerang Beng Kie.

Beng Kie jadi mendongkol.

Ia tidak takut dikepung tapi ia tidak dapat melayani barisan pengawal istana itu, karena ia sendiri adalah utusannya Him Kengliak...

Untuk mencegah keonaran, ia lantas lompat mundur dan lari menyingkir.

Eng Siu Yang beramai hendak mengejar, tapi mereka terlambat.

Beng Kie lari melintasi duajalanan panjang, ketika tiba-tiba dari pojok di muka tikungan jalan yang kedua itu muncul San Ho yang menyambutnya sambil tertawa berseri-seri.

"Bagaimana, eh?"

Nona ini menegur.

"Kenapa justeru kau yang terbitkan onar?"

Beng Kie tertawa.

"Kau cerdik sekali, kau telah nantikan aku di sini!"

Katanya.

"Aku telah menduga pasti, kau tidak akan sanggup layani mereka terus-terusan, maka itu, aku mendahului kau menyingkir kemari!"

Sahut nona yang cerdik itu.

"Bukannya aku tidak sanggup, aku..."

"Sudahlah, aku tahu!"

Si nona memotong, sambil ia tertawa pula.

"Aku tahu kau bukannya tidak sanggup melawan mereka, kau hanya tidak sudi melayani rombongan siewie itu. Aku bicara main-main saja! Tahukah siapa yang duduk dalam kereta itu?"

"Siapa dia sebenarnya?"

Beng Kie balik tanya.

"Dia adalah satu budak besar!"

"Ah, kau jangan ngaco belo!"

Beng Kie tegur.

"Eh, siapa yang mau omong main-main?"

Kata si nona.

"Orang yang naik kereta itu adalah gadisnya babu susu dari Hongthaysun, buyutnya raja! Babu susu itu adalah Keksie Hujin, yaitu Nyonya Kek, yang sangat disayangi oleh raja yang baru, maka begitu lekas habis penobatan raja ini dia lantas kirim orang ke kampungnya untuk menyambut kedatangan gadisnya ini."

Beng Kie heran.

"Apa kau bilang?"

Tanyanya.

"Kau sebut-sebut raja yang baru?"

"Benar! Raja yang tua sudah wafat, sekarang putera mahkota yang menggantikan kedudukannya!"

Si nona menerangkan. Memang, ketika Beng Kie berlalu dari kota raja, kaisar sedang sakit berat, ia hanya tidak sangka telah wafat demikian cepat. Maka ia lantas menghela napas.

"Kenapa, eh?"

Tanya San Ho.

"Raja punya kebaikan apa terhadapmu? Kenapa kau bersusah hati?"

"Aku terharu bukan untuk raja itu,"

Beng Kie jawab.

"Ah, inilah urusan besar dari negara... Baik kita jangan bicarakan itu..."

"Hm!"

Gerutunya nona itu.

"Apakah kau anggap aku sebagai bocah cilik, hingga tak tepat untuk aku mengetahui urusan negara? Hm!"

"Bukan begitu, nona..."

Beng Kie berhenti bicara dengan tiba-tiba, karena ia lihat di lain ujung jalan itu muncul sepasukan serdadu.

Ia segera sambar tangannya si nona untuk diajak menyingkir.

Baru sesudah berada di luar kota, kedua anak muda ini berhenti berlari.

"Kita telah terbitkan onar, sekarang kita harus sembunyi dulu,"

Kata Beng Kie. Kemudian ia menambahkan.

"Aku anggap putera mahkota bijaksana, setelah naik tahta, dia bakal membuat perubahan, akan tetapi tak disangka begini saja kelakuannya, sampaipun segala babu susu ia berikan kepercayaan yang berlebih-lebihan. Dia benar-benar merusak tata tertib dalam istana. Lebih celaka lagi segala penghianat dia biarkan mundar-mandir di dalam istana. Melihat begini, sia-sialah capai lelahnya Him Kengliak dan To Suheng."

Memang, setelah diketahui ada penghianat di dalam istana.

It Hang telah minta Beng Kie memberitahukannya kepada Him Teng Pek, supaya pembesar di perbatasan itu kasih kisikan lebih jauh kepada raja.

In Yan Peng dan Kim Cian Giam adalah "pemburor."

Dari istana, dan Eng Siu Yang, dia belum menjadi siewie akan tetapi namanya sudah sampai di kuping raja, maka heran sekarang, penghianat ini muncul dengan berterang dan bisa bersekongkol dengan kawanan siewie.

Oleh karena onar di atas.

Beng Kie dan San Ho berlaku waspada.

Mereka berhasil melintasi Cio keeCung dan Pooteng, lalu dengan diam-diam mereka nelusup masuk ke dalam kota raja.

Pakkhia.

Berdua mereka pergi ke gedung sahabatnya Him Kengliak.

yaitu Yo Lian yang berpangkat Pengko Kiesu tiong, pembesar penilik dalam kementerian peperangan.

Di sini Beng Kie mendapat keterangan jelas bahwa Kaisar Sin Cong telah wafat sejak sebulan lebih, bahwa putera mahkota, yaitu ThayCu Siang Lok, telah naik menjadi gantinya dengan pakai nama raja Kong Cong.

"Sekarang di dalam kota raja ada dua kabar terbaru,"

Berkata Yo Lian.

"Yang pertama yaitu, setelah naik menjadi raja. Kaisar Kong Cong mendapat semacam penyakit aneh. Tabib istana kata kaisar dapat sakit mejen, akan tetapi setelah diberi obat untuk penyakit itu, ia tetap tidak bisa sembuh. Sudah satu bulan lebih kaisar masih belum dapat duduk di singgasana."

"Putera mahkota pernah belajar silat, tubuhnya sehat dan kuat. kenapa dia bisa dapat penyakit luar biasa itu?"

Tanya Beng Kie.

"Dan apa itu kabar yang kedua?"

"Selama ini di dalam kota raja ini sering terdengar lenyapnya anak-anak muda, di antaranya juga terdapat anakanak orang berpangkat,"

Yo Lian terangkan pula.

"Kiubun Teetok sudah berikan titah-titah keras untuk menyelidiki serta menjaganya, akan tetapi buah hasilnya hampa belaka. Coba pikir, tidakkah itu aneh?"

"Kalau yang lenyap adalah nona-nona, pasti itu ada perbuatannya penjahat-penjahat pemetik bunga,"

Kata Beng Kie.

"Sekarang yang lenyap adalah anak-anak muda, memang ini aneh."

Sampai di situ, pembicaraan beralih kepada soal lain.

"Bagaimana dengan perkaranya Him Kengliak?"

Beng Kie tanya "Baru-baru ini setelah kau meninggalkan kota raja,"

Sahut Yo Kiesutiong.

"lantas ada beberapa giesu yang mengajukan surat mendakwa Him Kengliak yang menjadi biang keladi adalah Pengpou Cusu Lauw Kok Cin dan Giesu Yauw Cong Bun. Orang yang karang surat dakwaan adalah Giesu Phang Sam Goan."

Beng Kie tertawa tawar.

"Tidak heran jikalau Lauw Kok Cin mendendam sakit hati,"

Kata dia.

"Dia pernah menjadi pembesar militer di bawah penguasaannya Him Kengliak di Liauwtong, karena temahanya dia telah main gila dalam urusan keuangan, hal itu telah diadukan Him Kengliak kepada Si i Baginda dan lantas dia ditarik pulang Dan Yauw Tiong Bun ada terlebih buruk lagi. Dia berani peras linu Kengliak, yang dimintai tiga lembar kulit Cietiauw, kulit musang yang mulus warnanya. Kengliak adalah seorang pembesar putih bersih, sudah tentu dia tidak sanggup beli tiga lembar kulit yang mahal itu. Tapi dia masih suka berlaku baik, dia telah serahkan kulit musangnya yang dia dapatkan dari hadiah. Atas itu, Yauw Cong Bun mengatakan Kengliak tidak memandang mata padanya. Tentang Phang Sam Goan, aku tidak ketahui jelas, tapi apa yang aku dengar adalah dia menjadi musuh dari partai Tonglim tong yang lurus, maka dia tentu juga bukan orang baik-baik."

"Akan tetapi tulisannya liehay sekali,"

Kata Yo Lian.

"Dalam surat pengaduannya itu dia majukan sebelas macam dakwaan, delapan fatsal menuduh Kengliak bodoh dan karenanya sudah mencelakai negara, dan yang tiga fatsal lagi menuduh Kengliak sudah menghina Sri Baginda"

Mendengar dakwaan itu, Beng Kie tertawa besar.

"Sungguh aneh!"

Seru pemuda ini.

"Jikalau Kengliak bodoh hingga mencelakai negara, tapi kenapa angkatan perang Boan dapat ditangkis di Hinkeng? Jasa siapakah itu? Setiap tindakannya, dengan tentu Kengliak ada kasihkan laporan ke kota raja. Dia pegang kekuasaan atas tentara, dia juga memegang pedang Sianghong Pookiam, namun tidak pernah dia berani berlaku lancang, makabagaimanadia bisa dituduh telah menghina Sri Baginda?"

"Tadi aku telah katakan, itulah disebabkan pitnya Phang Sam Goan liehay sekali, dia dapat putar balik duduknya hal,"

Yo Lian jelaskan.

"Aku mengaku, bahwa aku sendiri tidak nanti sanggup menulis dakwaan semacam itu!"

Ia berhenti sebentar, lalu ia berkata pula.

"Meski demikian, tak usah kau berkuatir. Sudah sebulan lebih sejak sakitnya Sri Baginda, dakwaan itu masih tertunda saja. Di dalam istana benar banyak kaum tersesat akan tetapi pihak yang benar pun tidak kurang."

Malam itu Beng Kie hiburkan diri dengan tenggak arak, ia sangat mendongkol dan penasaran mengingat sepak terjangnya dorna-dorna, ia menenggak arak sampai mabuk, la baru sadar keesokannya setelah terang tanah waktu ia rasakan ada angin 'dingin meniup batang lehernya, ia membalikkan tubuhnya dan membuka mata ia tampak San Ho berada di dampingnya, nyata nona inilah yang jaili padanya.

"Jangan nakal, hei!"

Ia menegur sambil tertawa.

"Orang yang mempelajarkan ilmu silat bisa mabokmabokan begini macam, sungguh tidak bagus!"

Kata si nona sambil tertawa juga.

"Kau tidur nyenyak sekali sampai kau tak tahu ada orang dekati padamu! Syukur adalah aku, kalau seandainya penjahat tukang petik bunga yang satroni kau, tidakkah itu akan hebat kesudahannya?"

"Kau ngaco!"

Beng Kie menegur pula.

"Ngaco?"

Mengulangi si nona.

"Tidakkah dengan kupingmu sendiri kau telah dengar apa katanya Yo Tayjin, bahwa di dalam kota raja selama ini telah lenyap banyak anak-anak muda?"

"Ah, anak perempuan omong seenaknya saja!"

Tegurnya pula Beng Kie.

"Kalau kau masih ngaco terus, aku nanti hajar padamu!..."

Nona Tiat leletkan lidahnya.

"Baiklah!"

Katanya kemudian.

"Walaupun di sini tidak ada penjahat wanita yang suka petik bunga, di waktu begini kau sudah seharusnya bangun tidur!"

Beng Kie tertawa ia bangun dari pembaringannya.

"Hari ini aku ingin tengok saudara To,"

Katanya.

"Aku rasa dia sudah sampai di kota raja Kau berdiam di kamar ini menantikan kembaliku. Kau harus mengerti. Pek Sek Toojin tidak punya kesan baik terhadap kau dan ayahmu."

"Tidak apa aku dilarang turut kau."

Kata si nona.

"Tapi, turut penglihatanku. To It Hang itu bukannya sahabat sejati..."

Beng Kie heran, hingga ia mengawasi sambil mendelong.

"Apakah sebabnya?"

Tanya dia.

"Jikalau aku beritahukan, kepadamu, pasti kau tidak senang,"

Jawabnya si nona, sambil tertawa.

"Jikalau dia sahabatmu, kenapa itu malam di dalam Siauwlim sie dia tidak bantu padamu?"

"Dia toh turut mengejar, cuma dia tidak dapat menyandak,"

Beng Kie kata.

"Kalau toh dia tidak dapat menyandak, seharusnya dia teruskan penguberannya?"

Kata San Ho.

"Di mataku dia sebenarnya tidak bersungguh-sungguh membantu kepada seorang sahabat."

Beng Kie menjadi tidak senang.

"Aku larang kau ngoceh sembarangan!"

Dia menegur. San Ho menjebi.

"Baiklah, aku tidak bicara pula,"

Katanya.

Beng Kie lantas dandan dan dahar, lalu seorang diri ia pergi keluar.

Ia pergi ke Tayhongkee Hootong, ke rumah perkumpulan Siamsay Hweekoan untuk dengar-dengar halnya It Hang.

Selagi ia baru sampai dijalan Tiangan Timur, ia tampak sebuah kereta mendatangi dari arah depannya.

Kereta itu indah sekali, tendanya tenda sulam.

Di muka kereta ada duduk dua orang dengan baju kuning.

Cepat sekali kereta lewat di sampingnya, di waktu mana ia dengar suara dari dalam kereta itu.

"Ha, satu pemuda cakap!"

Tapi ia tidak memperhatikannya, ia menuju langsung ke Siamsay Hweekoan, rumah perkumpulan orang asal propinsi Siamsay.

Nyata benar dugaannya pemuda ini, dari pengurus Hweekoan ia dapat keterangan bahwa It Hang sudah datang sejak dua hari yang lampau, dan sekarang tinggal di rumahnya Liepou Siangsie Yo Kun, yang menjadi sahabat almarhum ayahnya dahulu.

Tanpa ayal lagi Beng Kie pergi ke rumahnya Yo Kun di mana ia temui kuasa rumah Keluarga Yo, kuasa itu menerangkan padanya dengan berkata.

"Selama dua hari ini To Siauwya repot sekali, kemarin dia pergi ke istana, dia tidak berhasil menghadap Sri Baginda, maka hari ini dia telah keluar pula."

"Kapan kiranya siauwya akan kembali?"

"Itulah tak dapat dipastikan. Baik sebentar sore saja tuan datang lagi."

Beng Kie berlalu dengan pikiran ruwet.

Gedungnya Yo Kun bertetangga dengan Liulie Ciang, pusat seni tulis dan seni lukis dari kota Pakkhia, di situ dapat dibeli pelbagai pigura tulisan-tulisan indah dan gambar-gambar lukisan yang permai, banyak dikunjungi sasterawansasterawan serta pemuda-pemuda terpelajar yang hendak turut ujian, demikian juga kaum muda pelajar kota raja sendiri.

Beng Kie mewujudkan langkahnya ke sana.

di situ ia tampak kereta indah yang ia ketemukan tadi di tengah jalan, sedang berhenti di luar pasar.

Hari itu cuaca baik akan tetapi pengunjung tidak banyak.

Beng Kie masuk kc sebuah toko untuk melihat-lihat gambar lukisan, di antaranya ia jemput lukisan bunga dan burung dari Bun Tin Beng.

Ketika ia sedang memandang lukisan itu.

di sampingnya ada seorang yang berkata-kata seorang diri.

"Gambar ini tidak berharga untuk dipandang..."

Lantas ia berpaling. Maka ia kenali satu di antara dua orang yang mengenakan pakaian kuning tadi, yang naik kereta indah itu. Orang itu berada bersama kawannya.

"Lukisannya Bun Tin Beng tidak terlalu buruk,"

Beng Kie berkata.

"Bun Tin Beng adalah satu di antara empat sasterawan pada permulaan kerajaan kita,"

Kata pula si baju kuning itu.

"memang lukisannya tidak terlalu jelek, akan tetapi gambar ini bukan lukisan yang jempol. Jikalau saudara gemar akan seni lukis, mari saudara turut aku, aku ada punya lukisannya Bun Tin Beng yang dibuatnya bersama Cia Sie Sin."

Orang itu menyebutkan gambar "Pesiar di Cekpek."

Salah satu lukisan kesohor dari Bun Tin Beng. Beng Kie heran atas undangan itu. sebab ia tidak kenal mereka. Orang berbaju kuning itu kata pula.

"Ada orang-orang yang menyimpan gambar-gambar indah, yang demikian disayangnya sampai mereka tak suka pertontonkan kepada lain orang, tidak demikian dengan aku. Adalah tidak menggembirakan apabila gambar-gambar indah tidak dipandang beramai-ramai. Beng Kie tertarik. Ia memang sedang senggang, iapun tidak takut.

"Kau baik sekali, saudara. Baiklah, suka aku turut kau. Terima kasih."

Di situ mereka belajar kenal. Dua orang itu perkenalkan diri masing-masing sebagai orang she Ong dan she Lim.

"Mari kita sama-sama naik kereta."

Kata si Ong. Beng Kie menurut. Di dalam kereta si orang she Lim keluarkan sebuah pieyanhu yang ia sodorkan pada kenalannya yang baru.

"Inilah alat penyedot hawa buatan Barat, baunya menyegarkan,"

Kata dia itu.

"Terima kasih, aku tidak biasa mencium pieyanhu."

Beng Kie menampiknya. Si orang she Ong lantas keluarkan sebatang hunCwee.

"Akupun tidak gemar isap hunCwee dan minum arak."

Beng Kie menampik pula.

meski sebenarnya ia doyan arak.

Di depan sahabat-sahabat baru.

ia ingin berhati-hati.

Orang she Ong itu lalu menghisap sendiri, asapnya hunCwee ia kepul-kepulkan.

Beng Kie rasakan bau tembakau yang tak sedap, iapun tidak puas atas kelakuannya kenalan ini.

Orang she Ong itu menyedot pula, kali ini tiba-tiba ia kepulkan asapnya ke mukanya Beng Kie, sampai pemuda kita kena sedot asap itu, hingga ia rasakan kepalanya pusing, tubuhnya seperti melayang-layang.

"Tikus, kau tipu aku!"

Dia berseru sambil menyerang juga dengan sebelah tangannya.

Tetapi orang she Ong dan kawannya itu sudah mendahului lompat turun dari kereta, maka serangan Beng Kie gagal.

Menyusul serangan itu, ia pun roboh tak sadar diri lagi.

Berselang sekian lama Beng Kie siuman.

Ia segera mencium bau yang harum sekali, maka lantas ia buka matanya.

Untuk keheranannya, ia dapatkan dirinya sedang rebah di atas kasur yang empuk dengan di sisinya ada sebuah meja kecil di atas mana ada pedupaan yang asapnya bergulung-gulung mengeluarkan bau yang harum.

Kamar itupun terpajang indah sekali, tirainya terbuat dari wol dengan kaca buatan KianCiang, dan di tembok ada tergantung gambar-gambar lukisan antara mana terdapat sebuah sansui yang hidup nampaknya.

Dan dengan matanya yangjeli, Beng Kie kenali itulah buah pekerjaannya Bun Tin Beng bersama Cia Sie Sin, ialah lukisan "Cekpek Seng Yu" --"Pesiar di Cekpek".

"Heran,"

Pikir Beng Kie, yang tampaknya seperti melamun.

Tiba-tiba ia ingat kata-katanya Tiat San Ho tentang si "pemetik bunga wanita".

Adakah itu benar dan sekarang ia sendiri mengalaminya?

Sejenak kemudian, ia tertawa sendirinya.

Ia tidak percaya bahwa satu pemetik bunga wanita ada mempunyai kamar yang demikian mentereng.

Lantas Beng Kie mencoba untuk bangkit berdiri untuk kekagetannya, ia rasakan semua tenaganya habis, seluruh tubuhnya menjadi lemas.

"Adakah ini disebabkan liehaynya asap hunCwee itu?"

Ia menduga-duga. Benarkah ia yang demikian gagah telah roboh oleh asap itu."

Dalam percobaannya lebih jauh, Beng Kie dapat juga berdaya untuk duduk, setelah mana, ia bersemedhi untuk empos semangatnya.

Percobaannya ini memberikan hasil juga.

Sebab sesaat kemudian, darahnya seperti sudah mulai berjalan, iapun rasakan tubuhnya sedikit lebih segar.

Sementara itu Pek Sek Toojin dan gadisnya bersama It Hang telah sampai di kota raja untuk mendapat keleluasaan.

It Hang menumpang di gedungnya Pengpou Siangsie Yo Kun.

Pek Sek berdua gadisnya di tempatkan di rumahnya Busu Liu See Beng.

Pek Sek memesan keponakan muridnya itu, katanya.

"Begitu lekas kau selesai, kau mesti lantas pulang ke gunung. Jangan kau kesudian memangku pangkat!"

"Itulah pasti,"

It Hang berikan janjinya.

Akan tetapi kenyataannya It Hang tidak dapat bekerja lancar.

Di luar dugaannya, Kaisar Kong Cong telah mendapat sakit, hingga di hari pertama ia gagal menghadap junjungannya itu, sedang pada hari kedua, bersama Yo Kun, ia harus menantikan lama di luar pintu istana Thayhoo mui.

Untuk menghadap raja, ia telah daftarkan nama, lalu ia menantikan panggilan.

Setengah hari lamanya orang menantikan.

Bersama It Hang pun ada banyak menteri lainnya, yang memenuhi ruang Thayhoo thian.

Kemudian ketika muncul thaykam yang membawa warta, orang yang dipanggil menghadap melainkan Honglou siesin Lie Ko Ciak seorang.

Semua menteri atau pembesar lainnya menjadi heran sekali.

Kenapa justeru Lie Ho Ciak yang dipanggil menghadap.

Orang she Lie ini hanya seorang pemimpin upacara atau kepala tata tertib belaka, dan kelasnyapun kelas dua!

Semua orang bubaran dengan hati masih merasa heran, malah It Hang heran dan masgul.

"Demikian sukar menemui raja, agaknya perjalananku ini akan tidak memberikan hasil..."

Akan tetapi pada waktu mendekati sore ada datang warta yang memberi harapan. Istana telah mengutus Iweekham, seorang kebiri dari keraton, yang menyampaikan warta pada Yo Pengpou, katanya.

"Hari ini kesehatan Sri Baginda agak bertambah, ketika Sri Baginda dengar hal datangnya cucunya To Congtok, dia dipesannya supaya besok pagi datang menghadap di istana Yangsim thian."

Bukan main girangnya It Hang mendengar warta itu.

"Tabib manakah yang obatnya demikian mujarab."

Yo Kun tanya.

"Sia-sia saja Paduka menduga-duganya."

Sahut Iweekham itu.

"Penyakit itu bukannya disembuhkan oleh tabib."

Benar-benar Yo Kun menjadi heran sekali.

Adalah biasanya, jikalau raja mendapat sakit, ia dirawat oleh Thayie, yaitu tabib istana.

Jikalau sesudah thayie tidak berdaya menolongnya, barulah terpaksa didayakan mengundang tabib-tabib kesohor dari pelbagai tempat.

Siang Lok, yaitu Kaisar Kong Cong, sakit sudah satu bulan lebih, tabib istana sudah hilang daya, maka beruntun datanglah tabib-tabib preman dari banyak tempat.

Tapi juga tabib-tabib ini tidak dapat menolong.

Itulah sebabnya kenapa tadi orang kebiri itu mengatakan bahwa sembuhnya kaisar bukan dari pertolongan tabib.

Yo Pengpou, dalam herannya, menanya lebih jauh kepada Iweekham.

"Aku tak tahu bagaimana untungnya Lie Ko Ciak, ia telah peroleh jasa besar!"

Kata orang kebiri itu.

"Apa? Jasa apakah yang ia dirikan?"

Yo Peng-pou tanya.

"Dialah yang telah menyembuhkan Sri Baginda!"

Ujarnya Iweekham. itu.

"Benarkah Lie Ko Ciak mengerti ilmu ketabiban?"

Tanya menteri perang itu.

"Sri Baginda berani makan obatnya dia itu?"

"Lie Ko Ciak telah dipujikan oleh Caysiang Pui Ciong Tiat, yang berani berikan tanggungan jawabnya,"

Menerangkan si orang kebiri.

"Perdana Menteri mengutarakannya bahwa Lie Ko Ciak mempunyai pil merah yang sanggup menyembuhkan seratus rupa penyakit. Lie Soansie juga telah menganjurkannya Sri Baginda untuk mencoba obat itu."

Lie Soansie itu adalah salah satu selir kesayangan raja. Yo Kun mengkerutkan dahi.

"Kenapa Sri Baginda gampang mempercayai mulut perempuan dengan berani mencobanya pil merah itu?..."

Katanya. Akan tetapi Iweekham itu tertawa.

"Justeru yang manjur adalah pil merah dari Lie Ko Ciak itu!"

Kata dia.

"Setelah makan obat itu, selang satu jam, Sri baginda lantas merasakan tubuhnya banyak ringan, napsu daharnya lantas datang, hingga berulang-ulang Sri Baginda memuji Lie Ko Ciak yang dikatakan-nya menteri setia!"

Mendengar begitu, Yo Kun lantas.

tutup mulut.

Keesokan paginya, It Hang bersama Yo Kun berangkat ke istana menuju ke ruang Thaytoo thian untuk menanti panggilan.

Di Ngomui mereka lihat Lie Ko Ciak, yang romannya sangat bangga, tapi yang membikin It Hang heran adalah dua pengiringnya pembesar Honglou siesin itu, yang It Hang dapat kenali mereka adalah Ouw May dan Beng Hui, dua orang yang mengacau di kuil Siauwlim sie, yang menantang berkelahi tapi kena dihajar, sampai mereka mengemis obat!

Ketika itu, sambil berdiri dengan kedua tangannya diturunkan dengan lurus, Ouw May berkala pada majikannya.

"Tayjin telah dapal sembuhkan sakitnya Sri Baginda, pastilah tinggal tunggu harinya yang Tayjin bakal peroleh kenaikan pangkat!"

"Jasaku itupun karena bantuanmu berdua,"

Kata Lie Ko Ciak.

"Pasti kalian akan dapat bagian dariku."

"Terima kasih, tayjin,"

Mengucap Beng Hui.

"Kalian jangan pergi dari sini,"

Kemudian pesan Ko Ciak dengan perlahan.

"Sebentar sehabis Sri Baginda makan obat, jikalau ada perubahan atas dirinya, nanti aku titahkan lweekham mengundang kalian."

"Obat Siauwhoan tan itu, asal dimakan, penyakit bakal segera terbasmi!"

Kata Beng Hui.

"Tayjin tidak usah kuatirkan apa juga!"

Lantas Lie Ko Ciak menuju ke pintu Ngomui.

To It Hang berjalan di belakangnya pembesar pemimpin upacara itu.

Ouw May lihat anak muda ini, mukanya menjadi merah sendirinya, lekas-lekas ia berpaling ke samping, pura-pura tidak melihat.

Hari ini menteri-menteri dan pembesar yang menanti di ruang Thayhu thian ada jauh lebih banyak daripada kemarinnya, semuanya ingin sangat menanyakan kesehatannya raja.

Tidak lama antaranya muncullah lweekham dengan panggilannya pertama untuk Honglouw siesin Lie Ko Ciak.

lalu Pengpou Siangsie Yo Kun.

diturut oleh Leepou Siangsie Sun Cin Hang dan Giesu Ong An Sun dan lainnya, berjumlah belasan menteri.

Mereka diwajibkan menanti di ruang Teejin kok.

Yang paling belakang dipanggil adalah To It Hang.

Menteri dan pembesar lainnj-a kagum apabila mereka dengar It Hang turut dipanggil, sebab mereka tahu bahwa pemuda ini tidak memangku pangkat, cuma ada beberapa saja yang tahu It Hang adalah cucunya bekas Congtok To Tiong Liam dari Inlam atau putera dari almarhum To Kee Hian.

Kaisar Siang Lok tetirah di Yangsim thian.

di samping keraton ini adalah ruang Teejin kok.

di dalam ruang ini It Hang turut sekalian menteri duduk menantikan panggilan lebih jauh.

Beberapa menteri sudah lantas memberi selamat pada Lie Ko Ciak.

Dengan kegirangan, pembesar pengurus upacara itu berkata.

"Boleh dibilang inilah rejeki yang besar sekali dari Sri Baginda, sebab obat pilku yang merah itu baru kira-kira sebulan aku dapat rampungkan pembuatannya!"

"Pil merah itu sebagai juga obat dewa,"

Puji Leepou Siangsie Sun Cin Hang.

"Entah bagaimana cara membuatnya obat itu? Jikalau kau bersedia menjelaskan di antara orang banyak, sungguh bukan main besar kebaikannya!"

Tapi Lie Ko Ciak tertawa dingin.

"Apakah kau kira gampang membuat pil itu?"

Katanya.

"Untuk itu dibutuhkan campuran obat Hosiuow yang umurnya seribu tahun, teratai Soatlian dari Thiansan. Jinsom pilihan dari Tiangpek san, serta sepasang jangkrik yang sedang berpasangan di waktu tengah hari tepat harian Toanngo! Untuk dapat mengumpulkan semua bahan obat itu, aku telah membutuhkan waktu beberapa puluh tahun!"

Mendengar ini.

beberapa menteri meleletkan lidah.

Cuma It Hang seoranglah yang tertawa di dalam hati, karena ia tahu orang sedang mengebul dan tahu benar asal usul didapatkannya pil Siauwhoan tan itu.

Tidak lama antaranya, muncullah seorang kebiri, yang mengundang Lie Ko Ciak.

Berbareng dengan itu, It Hang jadi bergelisah.

Ia ingat, ketika Ouw May dan Beng Hui dapat menipu dua butir pil, satu di antaranya sudah masuk ke dalam tenggorokannya Ouw May.

Raja tentunya telah makan satu butir, ialah butir sisa yang tulen itu.

maka sekarang apabila raja makan obat pula, pasti itulah obat yang palsu atau tiruan.

Yo Kun lihat roman gelisah dari si anak muda.

"Kenapa?"

Tanyanya.

"Aku kuatir Lie Ko Ciak berikan Sri Baginda obat sembarangan,"

Sahut It Hang.

Atas kata-katanya pemuda ini, satu pembesar di sampingnya menoleh dan melirik padanya dengan mata yang tajam.

Yo Kun tahu, pembesar itu adalah salah satu pengikut setia dari Perdana Menteri Pui Ciong Tiat.

Maka lekas-lekas ia kata.

"Apa yang dipujikan Pui Tayjin tidak akan salah."

Tidak antara lama Lie Ko Ciak telah muncul pula dengan wajah berseri-seri. Sejumlah pembesar menghampiri dan menanyakan.

"Pil merahku itu hebat bukan main!"

Sahut orang she Lie ini dengan bangga.

"Sebenarnya sebutir pil pun sudah cukup, apa pula sampai dua butir! Begitu Sri Baginda memakannya, dia menjadi segar bukan kepalang, pasti besok Sri Baginda bisa duduk di singgasana."

"Bagus!"

Memuji sekalian pembesar itu, yang pun memberi selamat.

It Hang ragu-ragu, ia separuh percaya separuh tidak, karena ia tahu, walaupun Siauwhoan tan yang tulen, khasiatnya pasti tidak sedemikian cepat.

Justeru itu muCul pula seorang lweekham dengan wartanya.

"Sri Baginda memanggil To ItHang datangmenghadap!"

Mendengar itu, Yo Kun segera pesan pemuda itu.

"Sieheng, harap berhati-hati di waktu bicara."

"Terima kasih, tayjin."

It Hang mengucap.

Lalu ia ikut orang kebiri itu masuk ke dalam melalui lorong yang panjang, akan sampai di istana Yangsim thian.

Raja sedang duduk menyender di pembaringan, wajahnya berseri.

It Hang maju berlutut untuk berikan hormatnya.

"Tak usah menjalankan kehormatan,"

Raja bersabda.

"Berilah tempat duduk!"

Kata yang belakangan itu adalah titah untuk lweekham, yang segera bawakan Tt Hang sebuah kursi.

Pemuda itu mengucap terima kasih, lalu ia duduk di samping raja.

Sekarang ia dapat pandang muka raja dengan nyata, wajah yang merah, sedikit pun tiada tanda dari orang baru sembuh dari sakit.

Maka ia jadi sangat heran.

Kaisar Tay Ciang (yang pun disebut Kaisar Kong Cong berhubung nama tahun kerajaannya adalah Kong Cong), sudah lama mendapat sakit, andaikan benar dia mendapatkan obat yang mujarab, tidak dapat begitu makan obat dia segera sembuh dan sehat seperti sediakala.

Tapi sekarang, baru dia makan sebutir obat, dia telah bercahaya merah dan segar wajahnya, inilah luar biasa.

Atau obat itu terlalu kuat.

hingga khasiatnya berbukti dalam sekejap.

Kalau dugaan yang belakang ini benar.

It Hang merasa itulah berbahaya.

Tapi ia tetap bungkam, ia tidak berani mengatakan sesuatu, sebab ia sendiri tidak mempunyai kepastian.

"Sejak kemarin aku tahu kau telah datang,"

Berkata raja.

"akan tetapi karena aku sedang sakit, tidak dapat aku segera panggil kau menghadap. Syukur aku dapatkan dua butir pil dari Lie Ko Ciak. Benar-benar obat itu mustajab, begitu obat dimakan. penyakitku hilang! Jikalau tidak, juga hari ini tentulah tak dapat aku menemukan kau. Kau lihat sendiri bagaimana wajahku?"

Raja bicara dengan perasaannya sangat puas.

"Itulah karena rejeki Sri Baginda yang besar!"

Sahut It Hang, yang tetap tidak berani beber isi hatinya.

"Wajah Sri Baginda segar sekali. Akan tetapi karena Sri Baginda sakit sudah lama, baiklah Sri Baginda terus menjaga diri baik-baik."

"Tentang urusanmu, Cio Ho sudah menuturkannya kepadaku,"

Berkata pula raja.

"Kedua kimCee Lie dan Ciu telah kembali dengan selamat ke kota raja. mereka sangat berterima kasih padamu."

"Melainkan tentang orang yang menganiaya kedua kimCee itu,"

Kata It Hang.

"rupanya ada orang-orang yang menunjang mereka di belakang tiraL.."

Mendengar ini. thaykam yang mendampingi raja melirik kepada pemuda kita.

"Sri Baginda baru sembuh, tak selayaknya aku mengucap begini,"

Menambahkan It Hang.

"kata-kata yang demikian itu bisa membuat Sri Baginda pusing..."

Raja tidak lantas mengatakan apa-apa. hanya dengan roman sungguh-sungguh ia titahkan orang kebirinya itu.

"Pergi kau ke keraton Cuihoa kiong panggil Lie Soansie datang kemari."

Thaykam itu turunkan kedua tangannya, lantas ia undurkan diri. Raja tertawa seperginya pelayannya itu.

"To Sianseng, kau dapat memandang jauh, kau mengerti banyak,"

Katanya.

"Tim justeru mengharapkan bantuanmu."

Hatinya It Hang tergerak mendengar perkataan raja ini.

"Bukankah kau curigai Gui Tiong Hian?"

Raja tanya, menambahkan.

"Hamba adalah satu rakyat jelata, tidak berani hamba sembarang omong tentang pemerintahan,"

Sahut It Hang.

"Akan tetapi mengenai orang-orang kebiri, dengan sesungguhnya hamba merasa bahwa mereka tak dapat tidak dijaga baik-baik."

Siang Lok manggut.

"Sebenarnya,"

Katanya.

"telah tim memikir untuk urus perkara fitnahan atas dirimu itu, sayang sejak tim naik atas singgasana, kesehatanku terus terganggu."

"Urusan fitnah pribadiku sendiri adalah tidak berarti,"

It Hang terangkan.

"Yang paling penting adalah urusan negara."

"Justeru itu tim telah undang padamu,"

Kata raja.

"Gui Tiong Hian tidak setia dan tidak jujur, inilah bukannya tim tidak ketahui, tetapi sebab dia berkuasa atas TongCiang dan semua pahlawan di dalam istana taat kepada titah-titahnya, tim tidak bertindak sembrono. Baik kau tunggu samp&kjm sudah sembuh benar dan sudah dapat hadiri sidang istana, perkara ini nanti kita bicarakan pula."

Atas sabda raja itu, It Hang bungkam. Tiba-tiba raja tanya.

"To Sianseng, sudikah kau berdiam di istana?"

"Hamba sedang berkabung, tak berani hamba mendampingi Sri Baginda,"

It Hang berikan jawabannya. Siang Lok tertawa.

"Bukannya kehendakku untuk kau memangku pangkat!"

Dia kata.

"Keinginanku adalah supaya kau berdiam di istana untuk mendidik putera mahkota dalam ilmu silat. Bagaimana pikirmu? Sekarang Yu Kauw telah berumur tujuh belas tahun akan tetapi dia tetap bandel dan tak tahu apa-apa."

Dengan tiba-tiba It Hang ingat pesan engkongnya, yang melarang ia bekerja di kota raja, akan tetapi di saat ia hendak menampik, raja sudah mengangkat pit di atas meja kecil di samping pembaringan.

Raja ini telah lantas menulis firmannya yang dicapnya dengan cap kerajaan.

Tidak dapat It Hang mencegah pula, ia jadi gelisah.

Raja angkat surat keangkatannya itu, disodorkan pada pemuda kita.

"Besok pergilah kau ke Lweebu hu untuk mendaftarkan diri,"

Katanya.

"Kau minta supaya mereka sediakan tempat untukmu."

It Hang sambuti firman itu, iapun berlutut menghaturkan terima kasih.

"Dengan sebenarnya sin masih belum berani terima firman ini,"

Kata dia. Siang Lok tercengang.

"Apakah masih ada kesukaranmu?"

Tanya raja. Tapi sekonyong-konyong dia menjerit.

"Aduh!"

Mendengar jeritan raja itu. dari luar ruangan itu nerobos masuk sejumlah pahlawan.

"Inilah bukan mengenai dia!"

Kata raja, seperti merintih.

"Panggil Lie Ko Ciak!"

Baru mengucap demikian, dari keningnya raja tampak timbul urat-urat merah, menyusul mana raja pun segera roboh di atas pembaringannya itu.

Tidak salah dugaan atau kecurigaannya It Hang.

Memang, pil yang pertama raja makan adalah Siauwhoan tan tulen dari Siauwlim sie, tetapi yang kedua adalah pil palsu.

Ouw May dan Beng Hui itu 'adalah bunkek, yaitu tetamutetamu tumpangan yang bersedia memberikan bantuannya dan bersedia juga menerima segala titah dari Lie Ko Ciak.

Ouw May mengerti juga sedikit ilmu silat, Beng Hui adalah satu penipu yang pandai membuat obat-obatan palsu.

Begitulah setelah bersepakat, mereka berdua pergi ke Siauwlim sie untuk menipu pil Siauwhoan tan dengan akalnya mengacau, hingga mereka-dapatkan dua butir, yang sebutir Ouw May masukkan ke dalam mulutnya tapi ia tidak telan terus.

Pil itulah yang pertama raja memakannya.

Adakah pil yang kedua diserahkan pada Beng Hui, untuk si penipu bikin hancur dan memeriksainya, sesudah mana, dia membuat yang palsu, beberapa butir.

Itulah obat-obat yang Lie Ko Ciak sangat andalkan.

Dan raja mempercayainya, karena waktu ia makan pil yang pertama, ia rasakan tubuhnya sehat.

Pil-pil inilah yang di jaman kerajaan Beng itu disebut Peristiwa Pil Merah.

Bukan main kagetnya It Hang, ia jadi sangat gelisah.

Rebah di atas pembaringannya, raja meringis menahan sakit, keringatnya turun menetes sebesar kacang kedele.

Selagi ia tidak tahu apa harus diperbuat, di luar kamar itu terdengar suara berisik, sesudah mana muncul pahlawan kepala sambil berseru.

"Siapa berani ganggu Sri Baginda?"

Adalah di waktu itu Gak Beng Kie, di dalam kamar yang indah telah sadar dari pingsannya, ia bersemedhi untuk dapat pulihkan tenaganya.

Menghadapi kaca rasa.

ia tampak ia telah mengenakan pakaian tidur.

Segera ia pun ingat, ia ada bekal pedang, akan tetapi sekarang pedang itu tidak ada padanya bersama pakaiannya sendiri.

Pasti sekali ia jadi kaget dan gelisah.

Pedangnya itu adalah pedang pusaka pemberian gurunya.

Maka ia niat mencarinya.

Tapi justeru ia baru turun dari pembaringan, tiba-tiba ia tampak kaca besar di depannya itu bergerak dan berkisar, dan di antara gulungan asap, terlihatlah sebuah pintu rahasia, dari pintu mana bertindak keluar seorang perempuan yang romannya cantik.

"Oh, kau telah mendusin?"

Kata wanita itu sambil tertawa geli.

"Kau siapa?"

Tegur Beng Kie dalam keheranan.

"Kenapa kau curi pedangku?"

Itulah pertanyaan pertama, yang ia ingat waktu itu.

"Pedang?"

Wanita itu tertawa pula.

"Pedang apakah? Kau jangan bingung dan gelisah! Aku ada punya banyak mustika di sini! Berapa banyak yang kau kehendaki?"

Si cantik itu menghampiri lemari dan tarik lacinya, maka dari situ segera terlihat cahaya berkilauan dari banyak permata.

Pikirnya, tentu si anak muda akan menjadi sangat kagum.

Akan tetapi ternyata kecele.

"Semua benda ini, walaupun ada sepuluh lipat lebih banyak, masih tak sebanding dengan pedangku itu!"

Kata Beng Kie. Nampaknya si cantik heran, tapi lantas dia tertawa. Agaknya dia memandang rendah.

"Apakah khasiatnya pedangmu itu?"

Katanya.

"Jikalau kau gemar akan pedang, di sini akupun ada mempunyainya! Pendeknya asal kau suka turut segala kata-kataku, apa juga .yang kau kehendaki kau akan dapatkan!"

"Siapa kau sebenarnya?"

Beng Kie tanya. Si cantik tidak segera menjawab, hanya lagi-lagi dia tertawa.

"Coba tengok, miripkah tempat ini dengan dunia manusia?"

Tanya dia. Diam-diam Beng Kie gigit lidahnya, hingga ia merasakan sakit. Jadinya ia bukannya sedang mimpi.

"Mungkinkah tempatmu ini taman firdaus?"

Dia tanya.

"Mirip dengan itu!"

Tertawa si cantik manis itu.

Lalu dia bertindak akan dekati si anak muda, dari tubuhnya tersiar bau harum yang tebal sekali...

VIII Goncanglah hatinya Beng Kie.

Ia merasakan bau harum yang luar biasa sekali.

Ia mencium hawa wangi yang seperti masuk meresap ke tulang-tulangnya.

Dengan perlahan-lahan wajahnya berubah merah, darahnyapun seperti mengalir deras.

"Adakah aku menghadapi pengaruh gaib yang sedang mencoba aku?"

Ia berpikir.

Maka ia lantas duduk bersila untuk bersemedhi pula, kedua matanya dimeramkan.

Si cantik menghampiri sampai dekat, dengan tangannya ia mencoba membuka selaput matanya pemuda itu agar terbuka melek.

Beng Kie tahu itu.

ia tidak memperdulikannya.

Lagi-lagi sicantik tertawa.

"Kau bukannya hweeshio, untuk apa kau bersemedhi?"

Tanyanya. Tetap Beng Kie membungkam. Si cantik tertawa pula dan berkata.

"Aku tahu hal pendeta suci yang matanya tak tersilaukan lima warna, kupingnya tak terganggu lima suara! Kau sebaliknya tidak berani buka matamu, bisakah kau menjadi pendeta yang berilmu?"

Mendengar ini, Beng Kie makin percaya bahwa ia sedang menghadapi ilmu sesat. Di dalam hatinya ia kata.

"Aku belum mengerti tentang agama, akan tetapi Keng Beng Siansu pernah mengatakan bahwa aku berbakat baik. Siansu juga pernah ajarkan aku mantera, untuk menenangkan hati dan menemui sifat sejati, baiklah sekarang aku mencobanya, untuk membikin tetap hatiku. Setelah berpikir demikian, pemuda ini segera buka kedua matanya, tetapi ia tidak memandang ke sekitarnya, hanya ia melihat lurus ke bawah, ke arah hidungnya, pikirannya, dipusatkan, sedang semangatnya ia empos Agaknya si cantik heran menampak orang tidak bergeming hatinya, maka ia lantas tempelkan tubuhnya ke tubuh si anak muda. iapun meniupkan hawa harum dari mulutnya. Beng Kie mengerti ilmu "Ciamie Sippat Tiat"

Atau "Mengenai baju, terguling delapan belas kali". Ia segera empos semangatnya mengerahkan tenaga dalamnya, untuk gunai ilmunya yang istimewa itu. Mendadak saja si cantik menjerit "Aduh!"

Disusul oleh robohnya tubuhnya dari atas pembaringan di mana tadi ia duduk mendampingi si anak muda.

"Setan!"

Dia berseru.

"Kau gunai ilmu iblis apa?"

Tidak kepalang kaget dan herannya si manis ini. Menyaksikan orang roboh, mengertilah Beng Kie bahwa si cantik tidak mengerti ilmu silat, karenanya, tanpa berpikir lagi ia buka mulutnya.

"Oh, kiranya kau bukannya siluman!"

Demikian suaranya.

"Kaulah yang siluman!"

Dentaknya si manis, yang menjadi gusar. Tetapi, dengan sekonyong-konyong saja. ia tertawa lagi. Iapun lantas tanya.

"Apakah kau datang ke kota raja untuk turut ujian bukiejin?"

Beng Kie segera ingat sesuatu.

"Kau tadi kata kau mempunyai banyak pedang, apakah aku boleh pinjam lihat?"

Ia balik tanya dengan tidak jawab pertanyaan orang. Si cantik berdiam sebentar, rupanya ia sangsi.

"Tidak nanti dia berani bunuh aku!"

Pikirnya. Maka kembali ia tertawa.

"Mari, aku akan buka pandangan matamu!"

Ia ulur tangannya menekan tembok, terbukalah suatu pintu rahasia, pintu lemari yang menyerupai tembok, di dalam mana ada tergantung belasan pedang. Tapi di situ tidak ada Yuliong kiam.

"Semua pedang ini, yang mana pun mesti ada lebih bagus daripada pedangmu!"

Kata si cantik sambil bersenyum.

"Kau percaya sudah, bukan?"

Dengan sekonyong-konyong Beng Kie lompat ke depan lemari menyambar sebatang pedang, yang ia terus hunus, hingga terlihat sinarnya yang berkilauan. Si cantik tidak jeri.

"Apa kataku?"

Katanya.

"Tidakkah pedang ini ada terlebih bagus, daripada pedangmu? Nah, gantunglah pula di tempatnya semula!"

Beng Kie heran memandang pedang itu, yang bentuknya luar biasa, dan gagangnya, yang terbuat dari kuningan, berterotolan.

Ia percaya pedang ini adalah pedang tua yang sudah berumur seribu tahun.

Maka ia awasi terus, sampai ia lihat ukiran huruf-huruf "LiongCoan"

Di gagangnya. Maka ingatlah ia kepada penuturan gurunya di saat guru itu bercerita tentang pedang.

"Yuliong kiam dan Toangiok kiam memang terbuat dari bahan-bahan logam yang terpilih,"

Demikian penuturan gurunya dahulu.

"akan tetapi apabila dipadu dengan pedang^ pedang tua seperti KanCiang, Bokshia, Gietiang, LiongCoan, Thianhong, Kiekoat, Sunkin dan Khamlouw, kedua pedang itu masih kalah jauh."

Mendengar itu, Beng Kie tanya gurunya tentang di mana adanya semua pedang tua itu, atas mana gurunya menjawab.

"Kabarnya ketiga pedang LiongCoan, Kiekoat dan Khamlouw, sejak ahala Tong sudah masuk ke dalam istana. Entah yang lima lainnya lagi."

Sekarang Beng Kie lihat LiongCoan kiam, ia jadi heran.

Mungkinkah ia berada di dalam keraton, karena adanya pedang di kamar tidak dikenal itu?

Mungkinkah terulang pula cerita tentang seorang puteri dari jaman Tong, yang gemar menculik pemuda-pemuda cakap ke dalam keraton?

Selagi ia berpikir karena herannya itu.

Ia dengar ketokan tiga kali pada tembok, ketokan yang gencar.

"Lekas gantung pedang itu di tempatnya!"

Si cantik menitah. Sebaliknya daripada menurut, Beng Kie justeru tuding si elok dengan pedang itu.

"Kau siapa?"

Ia tanya dengan bengis.

"Lekas kau memberitahukannya."

Kaget juga sicantik, wajahnya sampai berubah menjadi pucat.

Tapi ia masih sempat menekan tembok, hingga pintu rahasia segera tertutup pula.

Setelah itu, ia bertindak mundur.

Beng Kie maju mendekati.

Begitu lekas tubuhnya si cantik menempel kepada tembok, tangannya kembali menekan kepada tembok itu, di mana ada alat rahasianya, atas itu terbukalah sebuah pintu rahasia, dari mana lompat keluar dua orang.

Dan menggunai ketika yang baik itu, si cantik sendiri masuk menghilang dari pintu rahasia itu.

Dua orang yang muncul dari pintu rahasia itu masingmasing menyekal pedang, tetapi yang membuat Beng Kie gusar adalah ketika ia kenali, satu di antaranya adalah si orang berbaju kuning, yang di dalam kereta telah kepulkan asap hunCvvee ke mukanya, hingga ia lupa akan dirinya dan kena tertawan tanpa merasa.

Dalam murkanya, ia segera menyerang orang itu.

Si baju kuning tidak tunggu sampai serangan datang, ia mendahului mengayunkan sebelah tangannya, melemparkan tiga biji peluru, peluru "yang hebat sekali, karena dengan sendirinya ketiga peluru itu meledak dan mengeluarkan asap tebal!

Beng Kie terkejut, akan tetapi ia sudah siap waspada.

Ketika asap bergulung-gulung ia tahan napasnya, tubuhnyapun telah berkelit dari serangan yang dahsyat itu untuk terus lompat maju menyerang, atau mendadak ia ingat orang itu tentunya pahlawan istana, maka kembali dia merandek.

Justeru itu si baju kuning membarengi menyerang ia.

Ia berlaku sebat, ia menangkis guna merampas senjata musuh, menyusul mana, ia lompat ke pintu yang ia dupak untuk nerobos keluar.

Dua orang itu tidak menyangka, karena pemuda itu baru sadar, tapi dia sudah dapat pulang ketangkasannya, terpaksa mereka menepuk-nepuk tangan, untuk memberi tanda rahasia meminta bantuan.

Begitu lekas Beng Kie sudah berada di luar kamar, ia sudah lantas disambut oleh delapan pahlawan yang menghalau dan menyerang kepadanya.

Ia melawan tetapi tidak mau ia melukai orang, melainkan membela diri.

la menyabet berulang-ulang ke empat penjuru.

Tidak dapat dicegah lagi.

senjata mereka beradu satu pada lain, terdengarlah suara bentrokan pelbagai alat senjata, keras tapi sejenak saja, karena semua senjatanya pahlawanpahlawan itu telah terbabat kutung oleh pedangnya si anak muda.

Kejadian itu telah membuktikan tajamnya LiongCoan kiam sebagai pedang mustika.

Pahlawan-pahlawan itu terkejut.

"Hai, bocah, kau curi pedang istana!"

Demikian teriak satu pahlawan.

"Meskipun kau dapat lolos dari sini, kau tetap berdosa dan bagianmu adalah hukuman mati. mari lemparkan pedangmu itu. nanti kami berikan kau ketika untuk meloloskan diri!"

Beng Kie sendiri segera dapat pikiran. Di dalam hatinya, ia kata.

"Baiklah sekarang juga aku menghadap Sri Baginda sambil membawa pedang ini! Mati atau hidup, mesti aku ketahui duduknya hal ini!"

Karena ini.

ia menyerang semua pahlawan sehingga mereka terdesak mundur dua tombak lebih, menggunakan ketika itu.

ia segera menyingkirkan diri dengan lompat naik ke atas genteng.

Genteng atau wuwungan istana terbuat dari genteng beling warna kuning yang licin, sulit untuk orang berjalan di atasnya, akan tetapi, melihat macamnya genteng ini, besar hatinya Beng Kie.

Karena genteng itu membuktikan bahwa ia benarbenar berada di istana, hingga lenyaplah kesangsiannya.

Tapi pelbagai perasaan mengaduk otaknya.

Ia tidak duga di dalam keraton ada keburukan semacam ini, hingga bisalah dibilang, sia-sialah ia dan Him Kengliak berperang mati-matian di tapal batas untuk keutuhan negara, karena adanya kebusukan di dalam istana itu.

Beberapa pahlawan yang mengepung itu, karena tahu orang liehay, tidak berani datang dekat kepada Beng Kie, mereka hanya berseru-seru dari jauh dan mengikuti dari sebelah bawah.

Beng Kie dapat ketika akan perhatikan mana ruang yang paling indah, meski genteng licin, ia toh dapat berlari-lari di atas itu, karena ia mengandal kepada keentengan tubuhnya.

Istana ada luas, ruangannya banyak, maka itu sulit untuk Beng Kie dapat cari keraton raja.

Baru ia lewati beberapa wuwungan, mendadak ia dengar bentakan dari bawah dan lompat naiknya satu orang, yang Beng Kie kenali sebagai Eng Siu Yang.

"Benar-benar hebat,"

Berpikir anak muda ini.

"Dengan Eng Siu Yang bisa berada di dalam istana, negara sungguh terancam sekali..."

"Ada penjahat!"

Eng Siu Yang berteriak. Bukan kepalang gusarnya Beng Kie.

"Bagus, penghianat!"

Dia berseru.

"Aku nanti bekuk padamu untuk dihadapkan kepada Sri Baginda!"

Pemuda ini lantas menyerang.

Eng Siu Yang melawan dengan gunai kebutannya yang liehay, akan tetapi lacur baginya, bukan ia dapat libat pedang musuh, sebaliknya ujung kebutannya yang kena terbabat putus, hingga ia jadi terperanjat.

Syukur ia sebat, jikalau tidak, lengannya pasti akan turut tertabas kutung.

Beng Kie terus mendesak keras hingga membikin musuhnya sangat repot.

Memang Siu Yang bukannya lawan yang setimpal, setelah didesak, beberapa kali hampir dia kena tertikam atau tertabas.

Selagi penghianat ini terancam, beberapa pahlawan muncul.

Mereka datang sesudah dengar kabar ada bahaya.

Dalam murkanya.

Beng Kie kata.

"Tunggu sampai kau sudah mampus, babaru kita bicara pula!"

Segera ia ulangi desakannya yang terlebih hebat.

Eng Siu Yang unjukkan kegesitannya.

ia berkelit ke sana kemari, sampai mendadak ia terperanjat karena ia rasakan sambaran angin di atasan kepalanya, ternyata separuh rambutnya telah terbabat kutung.

Tak ayal lagi ia lompat menyingkirkan diri.

"Kau masih memikir meloloskan diri?"

Bentak Beng Kie.

yang bertambah murka.

Lantas ia enjot tubuhnya, untuk lompat menyusul.

Dalam, hal ilmu enteng tubuh, ia memang jauh lebih mahir, la dapat berlompat melewati kepala musuh, sambil berbuat demikian, pedangnya ditusukkan.

Eng Siu Yang sedang lari.

ia kaget bukan main, tetapi di saat jiwanya terancam, satu bayangan putih nampak berkelebat, pedangnya Beng Kie terserang hingga menyeleweng dari tujuannya, cuma tangan bajunya si penghianat yang kena terbacok tapi dia bisa lolos.

Beng Kie terperanjat atas datangnya bayangan putih itu.

Ia menduga pada satu pahlawan tetapi ia tidak menyangka akan kegagahan orang itu.

Ketika ia mengawasi, ia tampak seorang yang mukanya tertutup topeng dengan wajah bengis dan menyeramkan.

Orang itupun sudah lantas menyambar lengannya.

Ia berkelit untuk segera membarengi tikamannya.

Pahlawan tidak dikenal itu tarik pulang tangannya, untuk dengan tangan yang lainnya dia balas menyerang, hingga Beng Kie pun mesti terus menyerang tangan yang belakangan ini.

Benar-benar pahlawan ini liehay.

walaupun ia melayani berkelahi dengan bertangan kosong, ia tidak jatuh di bawah angin.

Beng Kie menjadi heran dan kagum, justeru itu.

hampir saja ia kena dihajar.

Ketika itu, kawanan pahlawan sudah mulai mendekati.

"Orang jahat di sini!"

Teriak Eng Siu Yang.

Karena datangnya penolong bertopeng itu.

penghianat ini tidak menyingkir terus.

Sebaliknya penolong itu.

apabila ia lihat datangnya banyak orang, ia lalu lompat turun dan lari menghilang ke dalam pohon-pohon bunga yang lebal.

Beng Kie heran atas sikapnya orang bertopeng itu.

Tidak ada alasan orang itu lari menyingkir, karena kepandaiannya tidak ada di bawah kepandaiannya Kim Tok Ek, mungkin dia tak dapat rebut kemenangan, akan tetapi buat segera kalah pun tidak ada kemungkinannya.

Kalau dia ada salah satu pahlawan, kenapa dia angkat kaki?

Kalau bukan, siapa dia sebenarnya?

Tetapi Beng Kie tidak sempat menduga-duga terus, musuh sudah mulai naik ke atas genteng untuk mengepung kepadanya!

terpaksa ia mundur.

Ia masih disusul meskipun ia sudah sampai di luar istana.

Adalah di saat itu, Eng Siu Yang menoblos pergi.

Justeru waktu itu, karena dengar suara berisik, It Hang melongok di jendela.

Ia terperanjat akan tengok Beng Kie sedang dikejar sejumlah pahlawan istana.

Tidak ayal lagi ia lompat keluar jendela, untuk papaki sahabat she Gak itu.

Pahlawan kepala dari raja menjadi heran, mulanya ia hendak hunus pedangnya, untuk cegah berlalunya It Hang, akan tetapi ia telah terlambat.

Di pihak lain, dalam sejenak saja It Harg telah kembali pula bersama Beng Kie, yang tangannya ia tarik buat diajak bersama-sama tekuk lutut di hadapan raja.

Siang Lok terkejut, sampai ia keluarkan keringat dingin.

"Kau... kau bawa pedang, untuk apa?"

Dia tanya sambil menunjuk pemuda she Gak itu. It Hang segera berikan jawabannya.

"Sri Baginda, dia adalah pesuruhnya Him Kengliak! Dengan jiwaku, ingin hamba melindungi dia!"

Beng Kie pun sudah lantas masukkan pedangnya ke dalam sarungnya.

"Sri Baginda,"

Ia pun berkata.

"di dalam istana sudah muncul siluman cabul, maka itu harap Baginda ijinkan hambamu menuturkannya."

Kembali Siang Lok keluarkan keringat dingin.

Dengan perlahan pikirannya menjadi sadar.

Ia memang tahu, Kengliak Him Teng Pek adalah seorang menteri yang jujur dan setia.

Maka ia lantas angkat tangannya.

"Seng Kun, pergi titahkan semua budak itu undurkan diri!"

Ia menitahkan.

Seng Kun adalah kepala pahlawan rajayangjujur, diapuntahu tentang adanya golongan-golongan di dalam istana, maka dia tahu juga apa artinya pihak TongCiang.

Dia telah berlega hati setelah mengetahui bahwa orang yang disangka penjahat itu adalah wakilnya Him Kengliak.

"Baik, Baginda,"

Sahutnya sambil memberi hormat dan lantas mengundurkan diri sampai di ambang pinta di mana dengan golok di tangan, ia suruh pergi semua pahlawan yang mengejar Beng Kie tadi.

Segera juga pemuda she Gak itu angsurkan LiongCoan kiam kepada raja.

"Sri Baginda, sudilah Sri Baginda lihat, pedang ini ada miliknya istana atau bukan,"

Ia berkata. Raja menyambut pedang itu.

"Bagaimana caranya kau dapatkan ini?"

Dia tanya. Sambil tetap berlutut Beng Kie tuturkan pengalamannya mulai ia diperdayai, bagaimana orang bokong ia di atas kereta, bagaimana ia ketemui si cantik di dalam kamar yang indah.

"Bukankah dia yang bergelung pasangan Poanliongkie dan mukanya bundar?"

Raja tegaskan. (Poanliongkie = konde model naga melingkar).

"Benar,"

Beng Kie jawab.

"Celaka!"

Menjerit raja dengan keluhannya dan terus ia roboh pingsan di atas pembaringannya.

It Hang lantas hampiri raja itu untuk ditolong dengan diurut tubuhnya agar menjadi sadar kembali.

Seng Kun pun menghampiri untuk melihat junjungannya itu.

Dengan cepat Siang Lok telah siuman pula.

"Kalian semua mundur dulu,"

Ia lantas menitah.

"Ingat, jangan kalian bicara sembarangan."

Lantas ia titahkan Seng Kun.

"Seng Kun, pergi kau panggil Pui Ciong Tiat dan Lie Soansie."

It Hang dan Beng Kie undurkan diri dengan hati kebatkebit.

Mereka lihat sebaris dayang, akan tetapi kedua pemuda itu menuju terus ke Teejin kok di mana puluhan mata dari menteri-menteri yang sedang menanti panggilan raja, dalam keheranan ditujukan ke arah mereka.

Menteri-menteri itu heran melihat Beng Kie keluar bersama si pemuda she To.

"Bagaimana dengan Sri Baginda?"

Yo Kun tanya It Hang, suaranya perlahan.

Pemuda itu tidak berani menjawab, ia melainkan menggeleng kepala.

Tidak lama antaranya, dari dalam keraton sayup-sayup terdengar tangisan, lalu muncul satu orang kebiri, yang menyampaikan titah.

"Kalian semua boleh bubaran, hari ini Sri Baginda tak dapat menemui kalian!"

Semua menteri lantas undurkan diri.

"Aku kuatirkan keselamatan raja,"

Kata Beng Kie sesampainya mereka di luar Ngomui "Nasibnya Kerajaan Beng yang besar baiklah diserahkan kepada Thian saja,"

Sahut It Hang dengan masgul.

"Sri Baginda memang tidak bijaksana tetapi dia cukup sadar."

Beng Kie berkata pula.

"Kalau nanti putera mahkota naik di atas tahta, inilah hebat. Putera mahkota masih kanakkanak yang belum tahu apa-apa, sedangkan di luar ada menteri-menteri dorna. di dalam ada kebiri busuk, dan di keraton pun terdapat wanita cabul, dugaku mungkin, sebelum datang menyerbunya bangsa Boan. negara akan sudah musnah sendirinya..."

Heran Yo Kun mendengar kedua pemuda itu bicara demikian rupa tanpa ragu-ragu dan tanpa kuatir orang lain mendengarnya, lekas-lekas ia menyelak untuk mengalihkan pembicaraan.

Beng Kie lantas tanya alamatnya It Hang dan meneruskannya.

"Besok aku nanti pergi tengok kau."

Segera keduanya berpisahan.

Keesokannya segera tersiar berita dari istana, tentang wafatnya Kaisar Kong Cong, bahwa sebagai gantinya, ThayCu Yu Kauw naik sebagai raja dengan pakai tahun kerajaan Thian Kee.

Tentu saja pemerintah menjadi repot dengan urusan perkabungan dan penobatan.

Akan tetapi Lie Ko Ciak, yang telah mengobati raja dengan pil merahnya hingga raja menemui ajalnya, tidak saja dia tidak dihukum, malah sebaliknya Perdana Menteri Pui Ciong Tiat mengatakannya bahwa dalam pesan terakhirnya raja mengatakan Lie Ko Ciak setia dan diberikan hadiah uang.

Pasti sekali kejadian itu sangat menggemparkan.

Beberapa menteri setia yang nyalinya besar, tidak mau mengerti.

Begitulah Leepou Siangsie Sun Cin Hang, Giesu Ong An Sun dan Keesutiong Hui Sie Yang, setelah mereka bermupakatan, sudah majukan surat dakwaan, menuduh Pui Ciong Tiat adalah yang membinasakan raja.

Tetapi dakwaan ini kelak tidak memberi kesudahan yang memuaskan, dakwaan telah dipendam, karena Pui Ciong Tiat kemudian telah peroleh perlindungan Gui Tiong Hian.

Beng Kie hari itu sekembalinya ke gedungnya Yo Lian sudah lantas tuturkan pada San Ho tentang pengalamannya.

Sehabis bercerita, ia menghela napas berulang-ulang.

Mendengar itu.

Nona Tiat justeru tertawa.

"Melainkan orang tolol sebangsamu yang anggap urusan negara ada sebagai urusan dirimu pribadi!"

Katanya.

"Kalian telah tunjang satu raja yang melempem! Bukankah kita lebih baik hidup merdeka sebagai burung hoo liar, yang dapat berterbangan atas jagat yang luas, untuk berbuat jasa di dalam kalangan Sungai Telaga?"

Beng Kie kerutkan keningnya.

"Apakah kau sangka aku hanya melindungi Keluarga Cu?"

Dia tanya. (Keluarga Cu ialah keluarga pendiri Kerajaan Beng). Masih San Ho tertawa.

"Aku tahu kau hendak menangkis serbuannya bangsa asing, karenanya kau perlu lindungi raja,"

Katanya.

"Bukankah demikian maksudmu? Tapi. untuk melawan bangsa asing, kenapa kita mesti membutuhkan raja?"

Beng Kie terkejut. Inilah pengutaraan yang ia tidak pernah sangka.

"Aku tadinya sangka wanita ini tidak tahu segala urusan negara, ternyata dia luas pengetahuannya!"

Pikirnya. Melihat orang berdiam San Ho berkata.

"Aku tidak ingin ketemui To It Hang, jangan kau beritahukan padanya bahwa aku berada di sini."

"Kenapa begitu?"

Merah wajahnya si nona.

"Tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin melihat padanya."

Sebenarnya Nona Tiat cuma likat untuk menemui It Hang karena ia sangka pemuda ini tentu ketahui urusan perjodohannya dengan Ong Ciauw Hie, It Hang toh sahabat kekalnya pemuda she Ong itu, Di hari kedua, seperti yang telah dijanjikan, Beng Kie pergi ke gedungnya Yo Kun untuk menemui It Hang.

Ia dapat bertemu dengan It Hang sendiri, karena Yo Kun sedang berunding sama kawan-kawannya untuk mendakwa Pui Ciong Tiat.

"Tidak disangka, Kaisar Tay Ciang telah wafat demikian cepat,"

Kata Beng Kie.

"Karena ini, tidak ada lagi orang yang akan mengurus keburukan di dalam keraton..."

It Hang berduka, hingga ia tidak dapat mengucapkan sepatah kata.

"Kembali ke kota raja ini, aku telah menyaksikan banyak, hatiku menjadi tawar,"

Beng Kie tambahkan.

"Setelah penobatan, selanjutnya pemerintahan pasti bakal terjatuh ke dalam tangannya rombongan Gui Tiong Hian dan Pui Ciong Tiat. Mereka itu tentulah akan memusuhi Him Kengliak. Kalau aku tidak berati Kengliak, sungguh ingin aku sucikan diri saja..."

"Baik kita berdiam di sini untuk beberapa hari lagi, guna tengok perkembangan terlebihjauh."

It Hang nyatakan.

"Aku tidak mau perdulikan pula urusan pemerintahan,"

Kata Beng Kie.

"Tapi malam ini aku hendak memasuki keraton..."

"Untuk apa kau hendak menempuh bahaya?"

It Hang tanya.

"Pedangku Yuliong kiam lenyap di dalam keraton, perlu aku mencarinya,"

Beng Kie jawab. Tiba-tiba It Hang ingat suatu apa.

"Mari kita pergi bersama,"

Ia menyatakan.

Beng Kie tidak setuju.

Ia tahu bahwa walaupun liehay, It Hang masih belum mencapai kemahirannya, ia kuatir kalaukalau ada ancaman bahaya hebat, sahabat itu tak akan sanggup meloloskan diri.

"Untuk mendatangi keraton di waktu malam, ada kurang leluasa untuk kita pergi dengan berkawan,"

Ia memberi alasan.

"maka itu, saudara, aku berterima kasih untuk kebaikan hatimu ini."

It Hang berdiam, agaknya ada apa-apa yang ia pikirkan.

"Bagaimana jikalau kita pergi menemui paman guruku?"

Tanya ia kemudian.

"Tootiang manakah itu?"

Beng Kie menegaskan.

"Pek Sek Toojin. pamanku yang ke empat."

"Sudah lama aku dengar namanya Butong Ngoloo,"

Kata Beng Kie.

"Karena dia adalah paman gurumu, sudah selayaknya aku temui padanya."

It Hang girang.

Ia lantas ajak sahabatnya itu pergi ke rumah keluarga Busu Liu See Beng, yang hanya terpisah sepuluh lie lebih dari gedungnya Yo Kun.

Lekas juga mereka telah sampai dan It Hang segera mengetok pintu.

Pintu dibuka selang sedikit lama, tetapi yang membukakannya bukan orangnya keluarga Liu hanya Ho Lok Hoa.

It Hang tercengang saking heran, dalam hatinya ia menanya, ke mana perginya keluarga Liu itu maka lain orang yang membukakan pintu.

Lok Hoa pun agaknya heran, dengan ternganga, ia mengawasi It Hang.

ia seperti hendak bicara tetapi tidak bisa.

It Hang juga sudah lantas tunduk.

Menampak demikian.

Beng Kie tertawa di dalam hati.

Lok Hoa ajak kedua tetamu ke sebuah kamar barat, yang pintunya ia segera ketok sambil memberitahukan.

"Ayah. To Suheng dan sahabatnya datang."

Pek Sek Toojin adalah yang buka pintu, ia heran melihat Beng Kie.

"Kiraku siapa, tak tahunya Gak Enghiong!"

Katanya. Beng Kie pun heran, ia tak tahu kenapa imam itu kenal padanya. It Hang tahu keheranannya sahabat ini, ia tertawa dan berkata.

"Saudara, ketika kau itu malam menerjang dengan lintasi lima pintu kota dari Siauwlim sie, paman guruku ini berada di dalam kuil itu."

"Ya, ilmu pedangmu bagus sekali!"

Pek Sek memuji.

"Justeru ilmu pedang Butong pay yang paling terkenal di kolong langit,"

Kata Beng Kie.

"Aku ingin sekali minta tootiang suka mengajarkannya padaku."

"Kau terlalu merendahkan diri, Gak Enghiong!"

Pek Sek tertawa tawar.

"Gelombang belakangan dari sungai Tiangkang mendorong gelombang yang terdepan, karenanya, ilmu silat pedang Butong pay telah ketinggalan jauh di sebelah belakang!"

Pek Sek Toojin cupat pandangan, maka itu ketika Kong Beng Siansu puji Thiaiwin Kiamhoat, ilmu pedang Thiansan pay, nampaknya ia tidak senang.

Meski demikian, It Hang tidak sangka paman guru ini bawa sikapnya itu, hingga dia membuat Beng Kie menjadi jengah.

"Gak Eng-hiong, silakan duduk,"

Pek Sek lantas mengundang.

"Ada urusan kecil yang aku hendak bicarakan kepada keponakan muridku ini, sebentar saja."

Tanpa tunggu jawaban, Pek Sek tarik tangannya It Hang untuk diajak ke dalam. Beng Kie masih sempat mengucap.

"Silakan tootiang."

Ia duduk sendirian dengan hilang kegembiraan, ia benar-benar tidak mengerti akan sikapnya Pek Sek Toojin yang demikian rupa terhadapnya.

It Hang pun sama tak mengertinya seperti sahabatnya itu, tapi ia turut paman gurunya masuk ke dalam.

"Gak Beng Kie itu adalah orang gagah dari jaman kita ini,"

Berkata It Hang yang menyatakan ketidak puasannya.

"dan iapun ada baik sekali terhadapku, kenapa susiok perlakukan dia demikian tawar?"

"Justeru dia orang gagah dari jaman ini, pasti dia tidak akan terlalu rewelkan tentang adat sopan santun,"

Berkata Pek Sek.

"Ada urusan penting yang aku hendak bicarakan denganmu, biarlah suruh dia menantikan sebentar. Toh tidak ada halangannya bukan?"

Itulah kata-kata yang berupa paksaan bagi It Hang, akan tetapi mengingat tingkatnya lebih bawah, It Hang tidak mau menentangnya.

"Apakah yang,Susiok hendak katakan?"

Dia tanya dengan hormat. Imam itu berdiam sekian lama.

"Sekarang Kaisar C iang Tay telah wafat, maka urusanmu di sini selesailah sudah,"

Kata dia kemudian, dengan perlahan.

"Sekarang kau harus turut aku pulang ke gunung."

It Hang ragu-ragu.

"Kepada Gak Toako aku telah membuat perjanjian."

Katanya.

"Pedangnya dia itu telah hilang di dalam keraton. Nampaknya urusan agak luar biasa!"

It Hang lalu berikan keterangannya sebagai penjelasannya. Pek Sek Toojin mengerutkan kening.

"Ada kejadian semacam itu?"

Katanya.

"Jikalau satu negara ditakdirkan runtuh, di dalamnya mesti muncul siluman,"

It Hang kata.

"Akan tetapi aku telah terima budi negara, sekarang aku hadapi kejadian yang serupa ini, tidak dapat rasanya aku melewatkan dengan begitu saja."

"Jadinya kau berniat membantui Gak Beng Kie memasuki keraton untuk menyelidiki duduknya hal yang benar?"

Tanya sang paman guru.

"Ya,"

It Hang manggut. Tiba-tiba saja paman guru itu berkata.

"Urusan diri sendiri masih belum beres, kau sudah mau urus-urus perkara lain orang!"

Lalu dia buka bajunya di betulan dadanya.

"Kau lihat!"

Dia tambahkan. It Hang lihat pada dadanya paman guru itu ada tapak tangan merah muda, ia terkejut.

"Susiok. orang telah serang padamu?"

Tanyanya. Pek Sek Toojin manggut.

"Benar,"

Sahutnya.

"Maka itu aku ingin berdamai dengan kau, kita lantas pulang ke gunung atau berdiam dahulu di sini..."

"Apakah susiok bentrok kepada Imhong Toksee Ciang Kim Laokoay?"

It Hang tanya.

"Inilah tapak tangannya ahli Pasir Beracun itu!"

"Jikalau itu benar ada tangannya Kim Laokoay sendiri, aku rasa sekarang ini. aku sudah tidak dapat bertemu kau pula dengan masih bernapas,"

Jawab paman guru itu.

"Penyerangku itu, latihannya masih kalah jauh daripada Kim Tok Ek."

Imam ini menepuk kedua tangannya.

"Kemarin sore seorang diri aku pergi ke Thiankio."

Ia beri keterangan.

"di sana aku nonton satu tukang dangsu yang sedang mempertunjukkan kepandaian jalan di atas kawat dan menunggang kuda. Kelihatannya dia punyakan kepandaian yang cukup berarti. Selagi aku menonton, kemudian datang seorang yang romannya sebagai cabang atas, alisnya gompiok dan matanya gede. Dia merampas uang saweran. Tukang dangsu itu memberi hormat, dengan rnenjura berulang-ulang. Kelihatannya dia harus sangat dikasihani. Dia memohon, katanya.

"Hari ini aku tidak peroleh uang, aku minta tuan beri ketika padaku...' Cabang atas itu tidak mau memberikan kelonggaran, dia membentak memaki-maki. Aku tidak dapat berpeluk tangan menonton kejadian yang tidak pantas itu, aku lantas masuk ke gelanggang tukang dangsu itu untuk mencegah perbuatannya cabang atas itu. Tapi dia menyerang aku. ketika aku gerakkan tanganku, dia lantas roboh jumpalitan, kemudian bagaikan seekor anjing yang goyangkan ekornya, dia ngeloyor pergi. Atas pertolonganku, tukang dangsu yang tua itu menghaturkan terima kasih padaku. Ketika itu sudah magrib, karena onar itu, penonton telah bubar, si tukang dangsu undang aku ke kemahnya, katanya untuk minum arak bersama. Aku tidak menyangka jelek, aku terima baik undangan itu. Orang tua itu mengerti ilmu pukulan Imyang Toksee Ciang, selagi ia angsurkan cawan terisi arak padaku, diam-diam dia menyerang dadaku..."

"Aha!"

Seru It Hang.

"Tapi diapun tidak dapat bergirang terus!"

Pek Sek tertawa.

"Aku telah rasakan satu tangannya tetapi aku telah bayar dengan dua jari tanganku dengan apa aku tutup jalan darahnya, yaitu jiekhie hiat. Maka biarpun dia sangat liehay ilmu silatnya, dia mesti hidup bercacad!"

"Kalau begitu, Kim Laokoay pasti berada di kota raja."

It Hang utarakan dugaannya.

"Setelah seranganku itu, tukang dangsu tua itu kabur dari kemahnya,"

Pek Sek tambahkah keterangannya.

"sambil lari, dia pentang bacotnya, katanya jikalau dalam tempo tiga hari aku tidak pulang, nanti ada orang yang akan menghormati aku dengan sebelah tangan! Aku kuatir dia banyak kawannya, aku lantas pulang ke rumahnya Liu Busu. Di luar dugaanku, rumahnya Liu Busu juga kalang kabutan!..."

It Hang kembali heran.

"Pantas, pantas!"

Katanya.

"Pantas ketika aku datang, bukannya orangnya Liu Busu yang membukakan aku pintu."

"Liu Busu telah pergi untuk mengundang bala bantuan."

Pek Sek kasih tahu.

"Liu Busu itu sangat terkenal di kota raja ini karena keramah-tamahannya,"

Berkata It Hang.

"apa mungkin ada orang yang satrukan dia?"

Pek Sek goyang kepala.

"Selagi aku mendapat pengalaman itu, ada beberapa tetamu tidak diundang yang datang di rumah Liu Busu ini,"

Ia jelaskan.

"Mereka dengan galaknya, melarang Liu Busu kasih aku menumpang di dalam rumahnya. Mereka itu tidak bermusuh terhadap Liu Busu sendiri, mereka hanya menyatrukan aku!"

"Benar-benar heran!"

It Hang mengatakan.

"Kita dengan Kim Laokoay adalah seumpama air sumur tidak bercampur dengan air kali, dan namanya Butong Ngoloo terkenal di kolong langit ini, kenapa mereka justeru memusuhi susiok?"

"Aku juga tidak mengerti maksud mereka itu,"

Pek Sek akui.

"Maka sekarang aku ingin berdamai dengan kau untuk ambil keputusan. Kita lebih baik pulang saja atau kita terus berdiam di sini untuk sambut mereka?"

"Sepantasnya, apabila kita tidak niat menyusahkan Liu Busu, kita mesti pulang,"

It Hang utarakan pikirannya.

"akan tetapi Liu Busu telah pergi mengundang bala bantuan, sekarang kita harus tunggui dia, tidak dapat kita tinggalkan dia pergi."

"Akur!"

Seru Pek Sek Toojin.

"Demikianpun pendapatku! Selama tiga hari ini kau jangan pulang ke rumah Keluarga Yo itu, kau berdiam di sini saja. kita nanti lihat sepak terjangnya mereka itu."

"Gak Toako liehay ilmu pedangnya, liehayjuga ilmu silatnya, kenapa kita tidak mau bergabung kepadanya?"

It Hang nyatakan.

"Lebih dahulu kita bantu dia. setelah itu. kita undang dia untuk membantui kita..."

Parasnya Pek Sek Toojin mendadak berubah muram dan keren.

"It Hang."

Katanya dengan bengis.

"kau adalah bakal Ciangbunjin kita, benarkah kau tidak ketahui aturan partai kita?"

Keponakan murid itu terkejut.

"Aturan mana dari partai kita yang teeCu langgar?"

Dia tanya. Pek Sek berdiam sejenak, lalu ia tertawa.

"Sebenarnya kau tak dapat dipersalahkan."

Katanya.

"Kau lulus dari perguruan belum ada dua tahun, dan gurumu juga tidak terlalu kukuhi aturan itu, maka mungkin sekali dia belum pernah memberitahukannya kepadamu..."

Heran It Hang.

"Sebenarnya aturan apakah itu. susiok?"

"Aturan ini tidak termaktub dalam warisan leluhur kita,"

Pek Sek kata. Sekarang tidak lagi ia keren sebagai tadi.

"Meski demikian, aturan itu telah ditaati selama dua puluh tahun hingga kini. Kau tahu, selama dua tiga puluh tahun yang silam, partai kita sedang makmurnya, sesama kaum kita telah tersebar di mana-mana. Selama waktu itu, apabila orang dari partai kita bentrok dengan pihak lain, selamanya belum pernah kita mohon bantuan lain orang, dan seterusnya, sikap kita itu telah menjadi kebiasaan, hingga akhirnya dengan sendirinya kebiasaan itu telah menjadi semacam aturan tak tertulis."

"Habis, bagaimana mengenai Liu Busu?"

It Hang tanya.

"Liu Busu sedang cari bala bantuan. Apakah susiok tidak sudi bantuannya Liu Busu itu?"

Pek Sek Toojin tertawa.

"Dalam hal ini, itulah lain."

Ia berkata.

"Liu Busu bukan orang Butong pay, walaupun dia memohon bantuan dan urusannya ada bersangkut paut dengan pihak kita, pihak yang membantu itu bukan kita yang minta, mereka tidak langsung membantu kita, tapi mereka datang untuk Liu Busu. Jadi kita tak usah menerima kebaikan budi mereka, pihak pembantu itu."

"Inilah benar aneh,"

It Hang berpikir.

"Jikalau nanti aku telah resmi menjadi ketua Butong pay. Inilah kebiasaan yang merupakan aturan tak tertulis yang paling dahulu aku mesti hapuskan. Di dalam kalangan Rimba Persilatan, kehormatan dan saling membantu adalah yang paling diutamakan, sikap terlalu mengandalkan diri sendiri dan angkuh itu bukanlah sikap yang layak! Kaum Rimba Persilatan justeru paling perlu saling bantu, bahu membahu!"

"Dalam partai kita,"

Pek Sek melanjutkan.

"apabila kita bentrok dengan pihak lain. tidak pernah kita mohon bantuan lain orang, tapi kalau ada sahabat yang mengetahui bentrokan itu dan dia dengan sukanya sendiri datang membantu, kita tidak menampiknya. Tegasnya, pihak kita sendiri yang tidak pernah minta bantuan orang!"

"Jikalau demikian adanya, tidak baik untuk aku membicarakannya kepada Gak Toako,"

Kata It Hang.

"Memang,"

Membenarkan Pek Sek.

"Ini juga sebabnya kenapa aku tak ingin bicara di depan dia. Aku sudah titahkan belasan orang dari partai kita untuk dengan beruntun datang ke sekitar rumahnya Liu Busu untuk menjaga sambil sembunyi."

Gak Beng Kie mesti menantikan sekian lama, baru ia tampak It Hang keluar bersama Pek Sek Toojin, ia merasa tidak puas, maka juga sambil menjura ia lantas berkata.

"Maaf, aku telah menggerecok."

"It Hang. pergi kau temani saudara Gak duduk bicara,"

Kata si imam dengan tawar.

Beng Kie menjadi tidak senang.

Itulah kata-kata yang bermaksudkan untuk mempersilakan tetamu pergi.

Maka ia lantas berbangkit.

Pek Sek Toojin masih berkata, sekarang barulah kepada Beng Kie.

"Turut katanya It Hang, saudara Gak tinggal pada keluarga Yo. baiklah, lain hari pintoo nanti ajak It Hang pergi mengunjunginya."

"Aku yang muda tidak berani membikin berabe kepada siansu,"

Kata Beng Kie sambil menjura. Lantas ia membalikkan tubuh bertindak keluar. It Hang mengantarkan sampai di luar pintu.

"Berselang lagi tiga hari, kalau saudara masih belum meninggalkan kota raja ini. aku minta sukalah kau datang pula kemari."

Ia minta, suaranya perlahan sekali. Beng Kie mengawasi dengan melengak.

"Untuk berjanji membuat pertemuan saja. mengapa dia memesannya dengan suara demikian perlahan."

Pikirnya dengan heran. Ia hendak minta keterangan tetapi It Hang sudah lantas menjura kepadanya sambil berkata.

"Maaf. Aku tidak dapat mengantarkan lebih jauh..."

Belum sempat Beng Kie buka mulutnya, ia sudah tampak sahabat itu menutup pintu, maka terpaksa ia pulang dengan masgul.

Ia sampai di rumah keluarga Yo untuk terus tidur tengah hari.

untuk dapat beristirahat.

Sehabis bersantap malam, ia berdiam terus di dalam kamarnya, sampai kemudian ia dengar kentongan dipalu dua kali, segera ia dandan.

"Kau berdiam di dalam rumah,"

Ia pesan Tiat San Ho.

"tetapi kau harus waspada dan sedikit getap. Aku mau pergi dan akan kembali di pagi hari. Apabila setelah terang tanah aku masih belum kembali, pergilah kau ke rumah Liu Busu di kota utara, untuk mewartakan kepada It Hang."

Dipesan begitu. Nona Tiat tertawa geli.

"Sifatmu semakin lama semakin seperti wanita saja!"

Kata dia.

"Aku bukannya kanak-kanak mengapa kau memesannya demikian melit? Aku tidak setolol kau, seorang yang sudah tua bangka masih kena diculik bangsat wanita tukang petik bunga!..."

"Kau ngaco!"

Tegur Beng Kie, yang tapinya tertawa.

"Nah. aku pergi sekarang!"

Lantas pemuda ini keluar dari rumah Keluarga Yo.

untuk menuju langsung ke Ciekim shia.

Kota Terlarang.

Malam itu, malam musim rontok, angin sangat dingin, langitpun hitam.

Itulah saat paling cocok untuk orang yang suka keluar malam.

Maka Beng Kie bisa lintasi tembok kota tanpa rintangan walaupun terdapat penjaga-penjaga dari rombongan pengawal.

Ia masuk terus sampai di taman.

Karena sangat luasnya keraton, ia mesti meneliti sekian lama untuk dapat mengenali bagian keraton di mana kemarin ini ia lewat.

Ia memasang mata sambil mendekam.

Tiba-tiba ia dengar tindakan kaki di sampingnya, lalu ia tampak dua pengawal berjalan lewat.

Di malam yang sunyi, dan mereka berada dekat satu pada lain, ia dapat dengar nyata pembicaraannya kedua pengawal itu.

"Malam-malam Gui CongCu memanggil aku, entah ada urusan apa?"

Kata yang seorang. Mereka ini mengenakan seragam hitam.

"Kau toh sahabatnya Seng Kun,"

Berkata kawannya.

"Kabarnya Seng Kun telah ditangkap Gui CongCu. mungkin kau dipanggil berhubung dengan urusan itu..."

"Hm! Binatang Seng Kun itu tidak tahu diri. aku tidak bisa tolong padanya!"

Kata yang pertama. Beng Kie duga Gui CongCu itu tentulah Thaykam Gui Tiong Hian, si orang kebiri yang berpengaruh. Sedang Seng Kun, ia tahu adalah kepala pahlawan dari marhum Kaisar Siang Lok.

"Meskipun Seng Kun menjadi siewie, tetapi dia dapat terhitung seorang yang jujur,"

Pemuda ini berpikir.

"maka kenapa sekarang Gui Tiong Hian demikian usilan dengan menawan bekas hambanya kaisar? Justeru sekarang maksudku hendak cari Gui Tiong Hian, kenapa aku tidak mau kuntit saja dua pengawal ini?"

Dengan entengkan tubuhnya.

Beng Kie lantas menguntit dua orang itu, yang sambil berjalan masih bicara terus, hingga teranglah mereka ada orang-orang kepercayaannya Gui Tiong Hian.

Malah mereka bicarakan juga tentang SeeCiang, yang sekarang sudah jatuh ke dalam pengaruhnya orang kebiri she Gui itu.

Cuma tinggal Kimiewie, barisan pengawal berseragam sulaman, masih tetap berada ditangannya Lweekeng Kauwut Liong Seng Giap, kepala Kimiewie.

Beng Kie terus menguntit di belakangnya dua orang itu, yang melalui jalanan panjang dan banyak tikungannya, sampailah mereka, di sebuah ruang model payung.

Selagi mereka masuk ke dalam, Beng Kie menunda diri di payon rumah dari mana ia bisa mengintai ke dalam.

Ia tampak seorang kebiri yang gemuk dan mukanya putih sedang bercokol sambil di dampingi empat pengawal di kiri kanannya.

Ia sudah lantas merogoh kantong piauw, karena ia percaya betul bahwa orang kebiri itu tentulah Tiong Hian adanya.

Akan tetapi sedetik kemudian ia ingat, kalau ia singkirkan jiwanya Tiong Hian, pasti Kengliak akan tegur padanya.

Maka ia menahan sabar.

Kedua pahlawan tadi mengetok pintu, lalu mereka masuk ke dalam dan memberi hormat pada orang kebiri itu.

"Ong Seng, Tang Hong,"

Berkata thaykam berpengaruh itu.

"tahukah kalian bahwa Seng Kun telah berada di sini?"

"Ya."

Jawabnya kedua pengawal itu.

"Tang Hong,"

Berkata pula Gui Tiong Hian.

"bukankah kau pembantunya Seng Kun, dan jabatanmu adalah pembantu kepala dari pasukan pahlawan raja?"

"Memang benar hambamu adalah pembantunya Seng Kun akan tetapi sekian lama, hambamu tidak cocok dengan dia,"

Sahut Tang Hong.

"Pernahkah kau bentrok satu pada lain?"

"Tidak,"

Jawab Tang Hong setelah sejenak bersangsi.

"Hambamu cuma tidak cocok di dalam hati..."

Gui Tiong Hian perdengarkan suara "Hm,"

Lalu ia tanya pahlawan yang satunya.

"Ong Seng, kau masuki istana menjadi pahlawan bersama Seng Kun, dan di dalam kalanganmu, bukankah kau yang paling akur kepada Seng Kun?"

Dengan tergesa-gesa, pahlawan yang bernama Ong Seng itu tekuk lutut di depan orang kebiri itu, ia manggut-manggut, akan terus berkata.

"Hambamu cuma tahu ada Gui CongCu!"

Gui Tiong Hian tertawa.

"Bagus!"

Katanya dengan girang.

Lantas ia pesan kedua pahlawan ini.

terus ia ajak empat pengiringnya masuk ke pintu samping, yang pintunya tertutup pula, akan tetapi sesaat kemudian pintu itu terbuka pula, dari mana muncul tiga orang tanpa orang kebiri yang berpengaruh itu.

Tiga orang itu adalah dua pahlawan yang mengiringi Seng Kun.

Di matanya Beng Kie, baru dua hari berselang, Seng Kun sekarang sudah berubah keadaannya tidak keruan dan kaki tangannyapun terbelenggu rantai.

"Sahabatmu telah tanggungi kau!"

Kata kedua pahlawan pengantar kepada orang tawanan itu. Mereka berkata sambil tertawa.

"Sekarang pergilah kau!"

Tanpa membukakan belengguan orang lagi, kedua pahlawan itu lantas pergi pula. Ong Seng sambut seatasannya sambil tertawa.

"Silakan duduk!"

Katanya sambil memimpin.

"Apakah kau tidak menderita?"

Seng Kun tertawa dingin, ia tidak berikan penyahutan.

"Toako,"

Berkata Tang Hong, sang pembantu.

"bukankah kau mengerti kata-katanya orang dulu, bahwa siapa kenal gelagat, dialah seorang gagah? Maka itu. kenapa kau tentangi Gui CongCu?"

"Siapakah yang menentangi padanya?"

Tanya Seng Kun dengan mendongkol.

"Aku justeru tidak mengerti kenapa dia tidak mau lepaskan aku!"

"Toako,"

Berkata Ong Seng.

"kami berdua telah serahkan jiwa dan rumah tangga kami untuk menanggungkan kau. maka itu kami minta sukalah kau ucapkan sepatah kata saja..."

"Itulah budi untuk mana aku sangat bersyukur,"

Seng Kun jawab.

"Apakah itu yang saudara ingin aku mengatakannya?"

"Ketika Sri Baginda wafat, kau berada di dampingnya di Yangsim thian. kau yang merawati junjungan itu,"

Berkata Ong Seng.

"Itu waktu Sri Baginda telah panggil menghadap cucunya To Tiong Liam. Tahukah kau apa yang mereka bicarakan?"

"Aku mendengarnya tidak jelas,"

Seng Kun jawab.

"Namanya Gui CongCu ada di sebut-sebut atau tidak?"

"Aku berada di luar, aku tidak dengar apa-apa."

"Sehabis itu, ketika si orang jahat kabur, mengapa Sri Baginda, membiarkan padanya?"

Ong Seng tanya pula.

"Hal itu lebih-lebih aku tidak mengerti."

"Bukankah sakitnya Sri Baginda menjadi hebat setelah sedikit lama sehabisnya dia makan pil merah?"

Tang Hong tanya.

"Kau pasti ketahui hal itu. bukan?"

"Di hari pertama, sehabis Sri Baginda makan pil merah itu. sakitnya baikan banyak,"

Sahut Seng Kun.

"Di hari kedua, setelah makan pil merah lagi belum lama, panasnya telah naik. tanpa dapat ditolong lagi ia lantas meninggal. Tentang itu aku telah beritahukan Gui CongCu."

Wajahnya Ong Seng menjadi berubah.

"Toako,"

Katanya, agaknya ia bergelisah.

"kita berdua telah memasuki istana bersama-sama, selama itu, dua puluh tahun kita telah bersahabat, kau ketahui baik tentang diriku. Kali ini. aku menanggungkan kau dengan jiwaku sekeluarga, maka, jikalau kau tidak omong terus terang, bukan hanya kau sendiri yang tidak usah mengharap bisa keluar dari istana ini dengan masih hidup, tetapi jiwa kami berdua saudara Tang Hong inipun tak dapat diselamatkan lagi..."

"Segala apa yang aku tahu, aku telah menyebutkannya,"

Seng Kun kata.

"Tentang yang aku tidak tahu, bagaimana aku harus mengatakannya?"

"Toako, bukannya Gui CongCu sangat curigai kau,"

Kata pula Tang Hong.

"yang benar adalah ia ingin ketahui segala apa dengan pasti. Gui CongCu menunjang raja yang muda, ia baru saja pegang kekuasaan besar, di antara menteri-menteri bun dan bu, mesti ada mereka yang tidak cocok dengannya. Walaupun Baginda almarhum sendiri, semasa hidupnya, dia segan terhadap Gui CongCu. To It Hang itu bersahabat kekal dengan Pengpou Siangsie Yo Kun, dan di masa hidupnya Sri Baginda pun telah mengenal dia, maka itu tidak mustahil kalau-kalau Sri Baginda ada meninggalkan sesuatu pesan kepadanya."

"Yo Pengpou adalah seorang menteri setia, jikalau Gui CongCu bersungguh-sungguh menunjang raja yang muda, pastilah Yo Pengpou tidak akan satrukan padanya,"

Seng Kun berkata.

"Kalau begitu kau jadinya maksudkan Sri Baginda almarhum benar meninggalkan suatu pesan kepada To It Hang?"

Ong Seng desak.

"Aku tidak maksudkan demikian,"

Seng Kun membantah.

"Baiklah, hal ini kita tunda dahulu,"

Kata pula Ong Seng.

"Sekarang halnya si orang jahat, si calon pembunuh raja, dia adalah penting sekali. Apakah benar-benar kau tidak pernah dengar dia mengatakan sesuatu kepada Sri Baginda almarhum?"

"Sesungguhnya tidak."

"Apakah kau pun tak tahu she dan nama serta asal-usulnya penjahat itu?"

Seng Kun menjadi heran.

"Saudara, kenapa kau begini mendesak padaku?"

Dia tanya. Ia tahu bahwa Gak Beng Kie adalah utusannya Him Kengliak, jikalau ia menyebutkannya, mungkin Gui Tiong Hian akan bertindak tidak baik terhadap Him Teng Pek.

"Bukannya aku desak kau, toako,"

Ong Seng kata.

"Sebenarnya Gui CongCu ingin sekali bekuk penjahat itu, sesudah itu barulah dia puas. Kau tahu halnya penjahat itu tapi kau tidak hendak menyebutkannya, apakah benar-benar kau inginkan jiwa kami berdua habis bersama kau?"

Mendengar sampai di situ, Beng Kie duga wanita cantik itu mestinya puteri raja atau selir dan dia itu mungkin berkonco sama Gui Tiong Hian, karena untuk dia itu, orang kebiri ini jadi begini repot.

Seng Kun pun heran akan dapat tahu Ong Seng sudah pertaruhkan keluarga dan jiwanya sendiri untuk mempertanggungkan padanya, hingga karenanya sahabat ini telah desak ia sedemikian rupa.

Maka ia lantas menanya.

"Kenapa kau tahu orang itu satu pembunuh? Jikalau benar dia pembunuh, mengapa setelah bertemu Sri Baginda, dia tidak lantas bunuh junjungan kita itu?"

"Kau baik jangan perdulikan hal itu,"

Ong Seng memotong.

"Kau cuma harus kasih tahu saja she dan nama serta asalusulnya pembunuh itu. Begitu kau menyebutkannya, Gui CongCu akan segera merdekakan kau. Atau mungkin sekali jabatan kepala dari Kimiewie akan diserahkan padamu..."

Seng Kun menjadi gusar.

"Aku tidak harapkan jabatan itu!"

Katanya dengan sengit.

"Lagi pula aku memang tidak tahu suatu apa! Ketika dia masuk ke dalam Yangsim thian. Sri Baginda lantas suruh aku keluar untuk menitahkan semua pahlawan yang mengejar orang itu undurkan diri."

Ong Seng dan Tang Hong saling mengawasi.

"Heran, apapun kau kata tidak mengetahuinya,"

Kata Tang Hong kemudian.

"Sekarang ada satu pekerjaan untuk mana asal kau gerakkan sekali saja tanganmu. Maukah kau lakukan itu?"

"Aku hendak lihat dahulu halnya,"

Jawab Seng Kun.

"Begini."

Ong Seng kata.

"Sekarang di luar istana ada beberapa menteri yang menuduh keras bahwa wafatnya Sri Baginda almarhum karena diracuni dengan pil merahnya Lie Ko Ciak, sehingga Paduka Perdana Menteri sendiri turut terembet-rembet. Berhubung dengan itu. Gui CongCu ingin kau menjadi saksi, supaya kau kasih keterangan bahwa meninggalnya Sri Baginda kemarin malam bukannya di ruang Yangsim thian dan bahwa wafatnya bukan tidak lama sehabisnya makan pil merah..."

Kaget Seng Kun mendengar kata-kata itu. hingga lantas saja ia berkata dengan nyaring.

"Sebenarnya, aku tidak curiga suatu apa. tetapi sekarang setelah mendengar katamu ini. timbullah kecurigaanku. Mungkin wafatnya Sri Baginda disebabkan dianiaya oleh Pui Ciong Tiat dan Lie Ko Ciak berdua!"

Ong Seng pun jadi gelisah.

"Kau harus ingat, asal kau angkat tanganmu, segera kau akan merdeka!"

Dia bilang. Dia maksudkan, asal ajaran itu diterima baik dan diturut, sahabat ini bakal dibebaskan.

"Seumurku, tidak biasanya aku berdusta,"

Seng Kun kata.

"Keluargaku bertanggung jawab atas dirimu,"

Ong Seng masih mengatakan.

"maka jikalau kau menampik, mereka semua akan tidak hidup lebih lama..."

Seng Kun menjadi gusar, hingga ia berteriak.

"Ong Seng, baru sekarang aku ketahui kau adalah seorang siauwjin! Mempertanggungkan aku dengan jiwanya keluargamu? Hm! Cuma iblis yang dapat percaya padamu!"

Parasnya Ong Seng menjadi biru putih.

"Inilah yang dikatakan, anjing menggigit Lu Tong Pin, dia tak tahu kebaikan hati manusia!"

Tang Hong membentak, berbareng dengan itu, sebelah tangannya diulur, dipakai menotok jalan darahnya Seng Kun.

Pasti sekali, dengan terbelenggu kaki dan tangan, pahlawan raja itu tak dapat bela dirinya.

Maka dengan gampang Ong Seng terus masukkan Seng Kun ke dalam sebuah kantung besar tanpa dibukakan belengguannya lagi.

Sambil berbuat demikian, sahabat palsu ini tertawa dan kata.

"Gui rjongCu ragu-ragu bereskan dia secara terangterangan, dia kuatir akan timbul tak ketenangannya kawankawannya dia ini. maka cobalah kau pikirkan daya bagaimana kita dapat selesaikan dia secara diam-diam, untuk tidak mendatangkan kecurigaan?"

"Inilah agak sukar,"

Tang Hong jawab.

"Nanti aku memikirkan dayanya..."

Sejenak kemudian, dia tambahkan.

"Coba singkirkan dulu belengguannya..."

"Eh, untuk apakah?"

Ong Seng tanya, ia heran.

"Aku telah totok dia, walau belengguannya disingkirkan, tidak nanti dia bisa meloloskan diri,"

Tang Hong kata.

"Baiklah secara diam-diam kita bawa dia ke bukit Bweesan, kita gantung dia di atas pohon, untuk mengabui matanya orang banyak, bahwa dia telah menggantung diri sendiri. Tidakkah ini bagus? Dengan begitu, dia mampus sebagai satu tiongsin, hamba yang setia!"

"Bagus!"

Seru Ong Seng sambil tepuk tangan. Terus dia buka kantung itu untuk keluarkan Seng Kun dan loloskan belengguannya.

"Cukup, bukan?"

Dia tanya kawannya.

"Cukup!"

Sahut Tang Hong, yang berbareng, dan sekonyong-konyong menyerang sahabatnya itu, hingga Ong Seng tanpa berdaya lagi roboh dengan pingsan.

Tang Hong kembali hendak menotok Seng Kun, sekarang untuk membebaskan.

Akan tetapi belum sempat kedua jari tangannya mengenai tubuhnya pahlawan kepala itu, tiba-tiba ia sendiri yang roboh terguling.

Karena tepat di sampingnya, daun pintu samping terbuka dengan tiba-tiba dan munculnya satu pahlawan yang mendahului membokong padanya.

"Benar-benar Gui CongCu pandai menduga!"

Kata pahlawan ini sambil tertawa dingin.

Memang Tang Hong dan Seng Kun tidak cocok satu pada lain, namun walaupun demikian, Tang Hong ada terlebih jujur daripada Ong Seng maka menampak si orang she Ong hendak binasakan Seng Kun, tak tegalah hatinya.

Iapun lantas membayangkan, kejadian terhadap Seng Kun ini mungkin juga terjadi atas dirinya maka dalam tempo sedetik itu dia telah berubah pikiran, lalu timbul niatnya untuk menolongi Seng Kun, untuk sama-sama buron dari kota raja.

Ia hanya tidak menduga, Gui Tiong Hian, yang senantiasa bercuriga, ada licin sekali, orangkebiri ini siang-siang sudah pasang satu pahlawan lain, untuk mengintai.

Maka dengan senjata rahasia, Tang Hong telah kena dihajar roboh.

Beng Kie saksikan kejadian itu, ia terperanjat.

Sekarang tambahlah pengalamannya untuk kelicikannya kaum kangouw.

yang tak segan makan kawan karena pengaruh harta atau pangkat.

Setelah itu, pahlawan pembokong itu lantas sadarkan Ong Seng.

"Kaulah yang setia!"

Dia puji orang she Ong ini. Ong Seng jengah berbareng mendongkol. Lantas ia bantui kawan itu akan memasukkan pula Seng Kun ke dalam karung.

"Tang Hong pantas dibunuh tetapi akalnya bagus."

Kata si pahlawan yang baru itu.

"Mari kita bikin Seng Kun menggantung diri sendiri!"

Ia lantas angkat dan tenteng kantong yang berisikan orang itu untuk berlalu bersama Ong Seng.

Keduanya mesti jalan di dalam taman yang gelap dan sunyi.

Ketika itu sudah jam tiga, angin bertambah dingin.

Selagi mereka menikung di-gunung-gunungan palsu, mendadak ada berkesiur angin yang dingin sekali mengenai mereka, sampai Ong Seng bergidik dan menggigil.

"Ah, toako, aku rada takut..."

Ia mengaku.

"Takut apa?"

Kata sipahlawan.

"Orang pun belum mampus! Sekalipun setan penasaran, belum tentu dia datang mengganggu padamu!"

Baru si pahlawan tutup mulutnya, atau iapun merasa ada angin meniup kebebokongnya, menyusul mana. kupingnya dengar.

"Setan akan cari padamu!"

Pahlawan ini kaget dan hendak memutar tubuh, tapi sebelum ia dapat berpaling, jalan darahnya telah kena ditotok, hingga ia merasakan sakit tak kepalang, sampai ia tak dapat bersuara lagi.

juga Ong Seng, tanpa berdaya telah dibikin lumpuh seperti kawannya.

Setelah itu, orang yang tak dikenal itu tertawa dan berkata seorang diri.

"Kalian hendak bikin celaka orang, sekarang Giam Lo Ong menghendaki kalian yang lebih dahulu mendaftarkan diri!" (Giam Lo Ong = Raja Akherat). Lalu, dengan masing-masing sebelah tangannya orang ini angkat Ong Seng dan pahlawan itu untuk dijebluskan ke dalam gua dari gunung-gunungan batu. Selang sesaat Seng Kun. di dalam kantung yang mulutnya telah dibuka, sadar dengan heran, karena apabila ia buka matanya, ia kenali penolongnya adalah si "calon pembunuh"

Yang kemarin ini.

"Kau telah bebas dari totokan jalan darah, pergi kau menyingkir dari keraton ini!"

Kata si penolong sambil tertawa.

"Paling baik kau tidak temahai lagi segala pangkat GieCian siewie!"

"Kenapa kau bernyali begini besar berani masuk pula kemari dan melakukan perbuatan ini?"

Seng Kun tanya dengan keheranannya Tiba-tiba mereka lihat cahaya api di kejauhan.

"Gak Toako, pergi kau tukar pakaianmu dengan pakaian seragamnya Ong Seng!"

Ia segera menambahkan.

"Aku akan antar kau keluar dari sini..."

Gak Beng Kie, demikian penolong itu, lompat ke dalam gua selang tidak lama, ia muncul pula dengan sudah mengenakan pakaiannya Ong Seng.

"Mari kita keluar dari pintu Seehoa mui,"

SengKun mengajak.

"Di sana ada orang-orang Kimiewie yang menjaga, di antaranya ada yang aku kenal baik."

"Aku tidak mau pergi dulu dari sini,"

Beng Kie beritahukan.

"Ah! Untuk apa kau datang pula kemari?"

Seng Kun heran bukan main. Beng Kie ingat suatu hal.

"Aku ingin minta suatu keterangan darimu,"

Katanya.

"Apakah itu?"

Seng Kun tanya. Beng Kie segera tuturkan apa yang ia ingin ketahui itu. Di akhirnya, ia tanya.

"Saudara Seng, tahukah kau siapa wanita cantik itu?"

Mendengar pertanyaan ini, kepala palawan raja itu menghela napas.

"Jikalau negara bakal runtuh, selalu muncul segala siluman!..."

Katanya dengan masgul.

"Aku tidak sangka perempuan itu berani berbuat yang melanggar kesusilaan, seperti sudah tidak ada undang-undang negara dan Thian lagi!..."

"Apakah dia bukannya puteri raja atau selir?"

Tanya Beng Kie.

"Sekarang dia malah lebih berkuasa daripada ibu suri!"

Jawab Seng Kun.

"Dia adalah Keksie Hujin. babu susu dari kaisar yang sekarang."

Beng Kie benar-benar merasa aneh sekali.

"Babu susu?"

Tanyanya, menegasi.

"Bagaimana seorang babu susu dapat berkuasa demikian besar?"

"Kaisar yang sekarang diasuh olehnya semenjak kecil sehingga besar."

Seng Kun beri keterangan.

"Adalah aneh, sejak masih kecil kaisar tidak dapat berpisah daripadanya. Diapun cantik sekali, walaupun sudah berusia empat puluh lebih, dia mirip dengan seorang yang umurnya belum tiga puluh tahun. Mungkin ini sebabnya kenapa kaisar sangat sayang padanya."

Dari keterangan ini, Beng Kie mendapat kesan bahwa di keraton tentu pula telah terjadi keburukan lainnya, yang lebih hebat. Maka ia menghela napas.

"Kalau demikian tidaklah heran..."

Katanya.

"Gui Tiong Hian juga sangat mengandalkan padanya, yang ia tempel,"

Seng Kun beri keterangan lebih jauh.

"maka itu dengan perlahan-lahan ia jadi dapat pengaruh. Gui Tiong Hian sejak dirikan TongCiang tahun yang lampau, ia telah kirim beberapa pahlawan kepercayaannya ke dalam keraton untuk dijadikan pesuruhnya babu susu itu. hingga sejak itu Keksie Hujin pun sendirinya mempunyai pahlawan pribadi."

Sekarang barulah Beng Kie insyaf, bahwa dua orang berbaju kuning yang robohkan ia dengan asap hunCweenya itu adalah pahlawan-pahlawannya perempuan genit dan cabul itu.

Mereka berdualah yang disuruh menculik anak-anak muda.

untuk disekap di dalam keraton.

"Apakah kau atau kawan-kawanmu ketahui hal penculikan anak-anak muda?"

Ia tanya pula Seng Kun.

"Sampai sebegitu jauh. belum berani kami menduganya,"

Sahut Seng Kun.

"Pahlawan-pahlawannya babu susu itu merupakan rombongan sendiri-sendiri, pihak kami tidak berani pergi mencari tahu hal ikhwal mereka."

Beng Kie lantas minta keterangan keletakan keratonnya babu susu itu dan jalan yang mana harus diambil untuk pergi menyatroninya. lalu ia tambahkan.

"Kau tunggui aku di sini, aku akan segera kembali."

Pemuda ini lantas pergi dengan menuruti petunjuknya Seng Kun.

Ia berhasil menyampaikan Lengnio hu, demikian namanya keraton babu susu itu.

Baru ia sampai di bagian luar, ia sudah tampak mundar-mandirnya beberapa pengawal.

Ia jemput dua potong batu kecil yang ia lontarkan ke atas hingga jatuhnya menerbitkan suara, tapi justeru beberapa peronda itu tertarik perhatiannya, dengan gesit ia menyeplos masuk.

Samar-samar pemuda ini masih ingat jalanan yang ia pernah lalui untuk menyingkir dari istana itu, maka di lain waktu, ia sudah sampai di kamar di mana ia pernah dikeram.

Tetapi selagi melangkah mendekati, dari sampingnya ia dengar teguran pelahan.

"Siauw Sam di sana? Sri Baginda ada di dalam, pergi kau meronda di luar saja!"

Beng Kie tahu bahwa orang telah keliru mengenali padanya, karena ia mengenakan seragamnya pahlawan TongCiang.

la tidak mau menjawab, ia kuatir suaranya nanti dikenali.

Ia hanya tunggu sampai penegur itu sudah menghampiri dekat padanya, tiba-tiba ia menotok, hingga tanpa ampun lagi pahlawan itu roboh tak berdaya.

Tubuhnya pahlawan itu Beng Kie sembunyikan di bawah tambur batu.

Dari situ barulah pemuda kita loncat naik ke atas genteng.

Mengintai dari atas, Beng Kie pertama-tama lihat asap dupa mengepul-ngepul bergulung naik.

Cahaya lilin terang sekali.

"Mirip sebagai kamar pengantin,"

Pikir pemuda kita, yang tampak kamar itu telah salin rupa, tidak lagi teratur dan terperabot seperti waktu ia rebah di situ sebagai orang tangkapan.

Dekat pada jendela ada sebuah meja marmer panjang di atas mana bertumpuk banyak surat-surat.

Seorang muda yang berumur tujuh belas tahun kira-kira asyik periksa surat-surat itu, satu demi satu.

Agaknya dia tak senang atas banyaknya surat-surat itu.

"Benar gila!"

Beng Kie pikir.

"Raja sudah bukan kanakkanak lagi, kenapa tak dapat dia berpisah dari babu susunya? Bukankah sangat gila, surat-surat urusan negara "yang seharusnya diurus di dalam istana, dibawa ke dalam keraton ke kamarnya satu babu susu?"

Raja membalik-balik beberapa lembar surat, lalu ia mengulet.

"Sungguh menyebalkan!"

Keluhnya. Keksie si babu susu duduk di damping kaisar, ia lantas menyuguhkan semangkok godokan somthung.

"Seorang yang menjadi raja bagaimana dia tidak mau mengurus surat-surat?"

Katanya.

"Ada beberapa huruf yang aku tak tahu artinya,"

Raja akui.

"Biar besok saja aku tanyakan pada Thayhu."

"Ah, anak Yu!"

Bersenyum Keksie.

"Kata-katamu ini mungkin menyebabkan orang mentertawainya! Coba kasih aku lihat surat itu, barangkali aku tahu artinya..."

Seperti diketahui kaisar ini bernama Yu Kauw.

sudah biasanya babu susunya memanggil ia dengan namanya saja, mengambil nama Yu itu ditambah "anak".

Raja yang muda itu jemput selembar laporan, ialah laporannya sunbu dari propinsi Siamsay tentang huru-hara gerombolan, untuk mana, sunbu itu mohon bantuan tentara.

"Turut laporan Ong Sunbu, karena tahun ini di propinsi Siamsay timbul bahaya kelaparan, di propinsi itu telah muncul tiga puluh rombongan berandal, maka itu dia mohon bantuan tentara,"

Kata Keksie sehabisnya membaca. Raja ini nampaknya gelisah.

"Berapa jauh jaraknya Siamsay dari sini?"

Tanyanya.

"Jauh, jauh sekali,"

Keksiejawab.

"Jangan kuatir, anak."

"Pembesar negeri sangat banyaknya, aku tidak ingat namanamanya mereka,"

Berkata raja itu.

"Besok nanti aku tanyakan kepada Menteri Perang dan titahkan dia angkat satu panglima untuk pergi menindas huru-hara itu."

"Tak dapat kau bertindak demikian, anak."

Berkata Keksie.

"untuk mengirim panglima tentara, itu memang kewajibanmu sebagai raja. Tapi dalam hal ini, kau mesti dengar dahulu pikirannya menteri perbatasan, jangan kita bertindak sembarangan."

Kembali raja itu mengulet.

"Benar-benar aku tak dapat memikirnya,"

Ia kata.

"Begini sukarnya untuk orang yang menjadi raja, sungguh tak ingin aku mengurusnya lebih jauh. Menurut kau. babu, bagaimana, aku harus bertindak?"

Inilah pertanyaan yang diharap-harapkan Keksie.

"Kabarnya Pengko Kiesu tiong Lauw Teng Goan cakap bekerja,"

Ia jawab.

"Kenapa kau tidak hendak tugaskan dia saja membawa angkatan perang?"

"Baiklah, Lauw Teng Goan ya Lauw Teng Goan!"

Kata raja. Dan ia angkat pitnya dan mencoret di atas laporan itu. Lalu sambil tertawa, ia tambahkan.

"Babu, selanjutnya baiklah kau yang wakilkan aku meniliki pelbagai laporan, apa yang kau katakan aku turut saja!"

Keksie girang bukan buatan.

Memang ia sengaja desak raja cilik ini memeriksa pelbagai laporan supaya menjadi sebal, dengan demikian ia dapat ketika untuk rebut kekuasaan.

Sekarang ternyata ia berhasil dengan tipu dayanya itu.

Walaupun demikian, ia tidak unjuk kegirangannya, bahkan ia berlagak mengkerutkan keningnya.

"Anak, sungguh tak sanggup aku terima tugas ini,"

Katanya dengan pura-pura.

"Umpama aku terima itu dan lalu satu kali aku membuat kesalahan, maka pastilah rombongan Lim Tong bakal tidak lepaskan aku."

"Kau jangan kuatir aku toh tidak akan menyebutkan namamu."

Kata raja. Baru sekarang si babu susu tertawa.

"Kalau begitu, baiklah, sekarang pergilah kau tidur!"

Kata dia.

"Biar aku yang periksa semua laporan ini."

"Tetapi Him Teng Pek adalah seorang menteri setia!"

Tibatiba raja ini berkata.

Lantas ia angkat pitnya, untuk mencoretcoret pula.

Ia menulis huruf-huruf tidak keruan macam akan tetapi sesuatu hurufnya besar-besar, hingga Beng Kie dari atas genteng masih dapat membacanya.

Tulisnya raja.

"Him Teng Pek adalah satu menteri sangat setia." (Menteri sangat setia ---taytiongsin). Keksie Hujin tercengang.

"Bagaimana kau ketahui Him Teng Pek itu menteri yang sangat setia?"

Tanya dia.

"Di masa hidupnya Sri Baginda ayah sendiri yang omong kepadaku,"

Sahut raja dengan terus terang.

"Katanya jikalau bukan Him Teng Pek yang membelai tapal batas, pasti sudah sejak siang-siang bangsa TatCu datang menyerbu. Maka ketika Sri Baginda ayah sakit, dia telah memanggilnya Him Teng Pek untuk pulang ke kota raja. Laporan Him Kengliak itu ditulisnya setengah bulan yang lampau, katanya dia sudah mulai berangkat, mungkin pada tanggal dua puluh delapan yang akan datang dia akan sudah tiba di sini ialah nusa. Bagaimana pendapatmu perlu atau tidak aku keluar dari istana untuk menyambutnya?"

Beng Kie terkejut berbareng girang.

Ia terkejut karena Him Kengliak akan datang tepat selagi pemerintahan kusut, disebabkan aksinya kedua doma Pui Ciong Tiat dan Gui Tiong Hian.

yang berkomplot satu pada lain, malah mereka bersekongkol dengan pihak asing, sedang raja sendiri dipengaruhi Keksie Hujin, karenanya, ia kuatir sepnya menghadapi ancaman bahaya.

Dan ia bergirang, karena segera Him Kengliak akan datang hingga ia dapat segera menghadap sep itu.

Selagi berpikir.

Beng Kie juga ingat janjinya To It Hang lagi tiga hari.

Tidaklah itu sangat kebetulan dengan akan datangnya Him Teng Pek?

Pemuda ini tidak sempat berpikir lebih jauh.

Ketika itu, sehabis menyuguhkan somthung.

Keksie telah layani raja bicara.

Sambil tertawa, dengan kedua matanya melirik, babu susu ini kata.

"Lihat baru kau mengatakan tak mau pusingkan urusan negara, sekarang kembali kau sibuki kedatangannya menteri! Sri Baginda almarhum wafat belum lama, sampai nanti tanggal dua puluh delapan, belum lagi lewat tujuh hari, dari itu, kau tidak boleh keluar dari istana. Baiklah kau titahkan saja dia datang menghadap! Anak yang baik, kau sudah letih, nah pergilah kau tidur."

Yu Kauw memang niat tidur, tetapi urusannya Him Teng Pek membuat ia berpikir. Ia kata.

"Tadi aku lihat pelbagai laporan, delapan atau sembilan bagian ada menuduh Him Teng Pek. Karena Him Teng Pek seorang menteri setia, mungkin menteri-menteri yang menuduh itu adalah penghianat! Kalau besok aku duduk di singgana satu demi satu, nanti aku tegur dan hukum mereka, maka itu. kau gantikan aku mencatat nama-nama mereka. Bukankah kau suka menolonginya?"

"Ah, raja cilik ini masih mengerti juga urusan..."

Pikir Beng Kie. Keksie Hujin terkejut dalam hati mendengar kata-kata raja ini. Maka lekas-lekas ia berkata.

"Aku berdiam di dalam keraton, aku tak tahu urusan di luar,"

Katanya.

"Meskipun Sri Baginda, almarhum mengatakan Him Teng Pek satu menteri sangat setia, tidak dapat dipastikan bahwa di luaran dia tidak melakukan sesuatu yang melewati batas kekuasaannya. Sekarang ada demikian banyak orang yang menuduh kepadanya, pasti dia mempunyai kesalahan..."

"Habis, apakah kau hendak hukum Him Teng Pek?"

Raja tanya. Kembali Beng Kie bergelisah hati. Tapi Keksie Hujin menjawab raja.

"Sekarang baiklah kita jangan layani keduadua pihak. Andaikata kau hukum semua menteri yang menuduh itu. dalam tempo begini pendek ke mana kau hendak cari menteri-menteri penggantinya akan bantu kau memerintah?"

Raja berdiam untuk berpikir.

"Baiklah!"

Katanya kemudian.

"Semua laporan itu boleh dimuatkan ke dalam sebuah keranjang besar, semuanya serahkan pada Teng Pek!"

"Baik. baik."

Jawabnya Keksie.

"Sekarang pergilah kau tidur!"

Raja gulung surat tulisannya, ia lempar itu ke kolong meja.

Keksie kumpulkan pelbagai laporan, lalu ia tuntun junjungan cilik ini ke pembaringannya untuk tidur.

Dengan tiba-tiba raja perlihatkan wajah yang beda dari biasanya, ia kata.

"Kau tahu, Lie Soansie ingin menolongi aku mengangkat satu permaisuri!"

Lie Soansie itu adalah selir yang paling disayang dari almarhum Kaisar Kong Cong (Siang Lok), karena ibunya Yu Kauw telah wafat, raja ini jadi pandang Lie Soansie sebagai ibunya sendiri.

Keksie Hujin tertawa.

"Selamat, Sri Baginda!"

Pujinya.

"Nyatalah anakku Yu telah jadi dewasa!"

"Aku tidak menghendaki permaisuri!"

Raja ini kata.

"Aku ingin babu susu yang menjadi permaisuriku! Babu. kau sangat cantik! Gadismu juga romannya seperti adikmu saja tetapi jikalau dia dibandingkan dengan kau. dia masih kalah cantik dari padamu!"

"Ah, omongan ngaco belo..."

Kata Keksie.

"Mari!"

Ia membuka sebuah pintu, ialah pintu kamar tidur, ke dalam mana ia masuk bersama-sama raja, yang ia tuntun tangannya.

Begitu kamar kosong, Beng Kie segera lompat turun untuk masuk ke dalam kamar itu, paling dahulu ia jemput gumpalan kertas tadi yang dilempar ke kolong meja.

Menyusul itu.

ia dengar suara pintu ditolak dari luar.

maka sebat sekali ia mencelat naik ke atas penglari untuk umpetkan diri.

Orang yang datang itu adalah satu nona elok.

"Sungguh besar nyalinya nona ini!"

Beng Kie pikir.

"Kenapa dia berani masuk ke kamar raja tanpa mengetok pintu lagi?"

Ketika itu terdengar suaranya Keksie Hujin.

"Apakah anak Teng di sana?"

"Ya ibu,"

Jawabnya nona ini. Maka tahulah Beng Kie, siapa nona itu. Tidak lama kemudian Keksie muncul. Dia rapatkan daun pintu dengan perlahan.

"Jangan berisik,"

Dia memperingatkan.

"Raja baru saja tidur..."

Si nona kata.

"Gui Kongkong kata bahwa Sri Baginda berada pada ibu di sini, maka itu aku lantas menyusul kemari."

Nona itu ternyata gadisnya Keksie Hujin, namanya Kek Peng Teng.

"Peng Teng"

Itu berarti "cantik molek."

Dia memang kenal baik Tiong Hian karena ibunya.

Keksie, sebelumnya masuk ke dalam keraton sudah bersahabat dengan Tiong Hian.

yang ketika itupun masih belum menjadi orang kebiri.

Persahabatan mereka ada demikian rupa sehingga mereka berhubungan sebagai suami isteri dengan buah terlahirlah nona ini.

Ini juga sebabnya tidak lama setelah wafatnya Kaisar Sin Cong, setelah memegang kekuasaan, Gui Tiong Hian lantas tolong Keksie menyambut gadisnya itu untuk tinggal bersama di dalam keraton.

Hanya, sampai waktu itu Peng Teng masih belum tahu bahwa thaykam she Gui itu adalah ayahnya sendiri.

Keksie tarik tangan puterinya supaya puteri itu duduk di dampingnya.

"Budak tolol, untuk apa kau datang kemari?"

Tanyanya sambil tertawa.

"Kau memikir untuk menjadi permaisuri? Sayang kau tidak punyakan rejeki itu. Walaupun raja turuti kata-kataku, tetapi permaisuri itu harus keturunan dari keluarga agung. Sayang leluhurmu tidak pernah menjadi orang berpangkat besar. Sebaliknya, untuk kau menjadi selir aku tidak setuj u! Anak yang baik kau bersabarlah, sudah tentu aku akan carikan kau suami yang setimpal..."

Mukanya si nona menjadi merah.

"Kau ngaco belo, ibu!"

Ia menegur, tetapi ia tidak gusar.

"Aku hendak omong hal yang sebenarnya. Kau telah bicara atau belum dengan Sri Baginda? Sukong kata, tidak tepat dia tinggal di dalam keraton secara sembunyi-sembunyi. Dia memikir untuk sedikitnya menjadi kepala dari barisan Kimiewie..."

"Aku belum peroleh kesempatan membicarakan itu,"

Keksiejawab.

"Sukong telah ajarkan aku ilmu silat pedang,"

Kata pula si nona.

"maka itu, jikalau kau tidak segera bicarakan hal itu kepada raja sungguh tidak enak rasanya bagiku."

Sang ibu tertawa.

"Ini toh bukannya urusan yang sangat besar?"

Katanya.

"Anak yang baik, mengapa kau demikian kesusu? Baiklah, besok aku bicarakan itu, tentu akan beres."

Beng Kie heran hingga ia berpikir keras.

"Bocah ini omong tentang sukong? Dan ia diajarkan juga ilmu silat pedang? Siapa sukong itu? Siapa gurunya?"

Demikian ia menanya-nanya dalam hatinya, (Sukong ---kakek guru). Si nona tidak mendesak lebih jauh.

"Ya, ibu,"

Katanya kemudian.

"coba kau kasih aku pinjam lihat Yuliongkiam..."

"Jangan sebut-sebut tentang pedang itu, anak!"

Keksie berkata.

"Pedang itu hampir saja menerbitkan onar besar!"

Anak itu merasa heran, tapi ia berkata pula.

"Untuk melihat saja toh tiada halangan?"

"Tetapi ingat, pedang itu tak dapat kau ambil untuk dipakai sendiri!"

"Tidak, ibu. Turut katanya sukong dan BouwyongCongkoan, meskipun di dalam keraton ada banyak pedang mustika, tetapi pedang-pedang itu tak ada yang bisa lawan pedang Yuliong kiam yang Gui Kongkong baru dapatkan itu."

Keksie terperanjat, sampai ia berkata seorang diri tanpa ia merasa.

"Ah, pantaslah bocah itu sangat sayang pedangnya itu..."

Beng Kie pun tertarik perhatiannya.

Orang toh sedang bicarakan pedang mustikanya.

Keksie Hujin ulur tangannya ke tembok, di mana ada lemari rahasianya untuk membuka pintunya.

Beng Kie sedang mengawasi dengan penuh perhatian ketika tiba-tiba ada cahaya berkeredep menyambar kepadanya.

Ia menjadi kaget tetapi ia lantas menyampok dengan tangan bajunya, hingga beberapa potong jarum Bweehoa Ciam lantas meluruk jatuh, menyusul mana, ia lompat turun dari tempat sembunyinya.

Kek Peng Teng segera berseru.

"Ada pembunuh!"

Keksie segera kenalkan Beng Kie, ia tercengang.

"Jangan takut, ibu!"

Seru pula Peng Teng.

"Aku nanti bekuk pembunuh itu!"

Keksie tidak menyahut, ia hanya menekan kepada alat rahasia yang membikin terbukanya pintu dari kamar rahasianya ke dalam mana ia nyeplos masuk.

Peng Teng segera hunus sebatang pedang panjang dengan apa ia terus tikam pemuda itu.

Beng Kie terkejut bukan karena tusukan hebat dari si nona, tetapi disebabkan gerakan tangannya nona itu yang mirip dengan dasar ilmu silatnya Giok Lo Sat ---itu ilmu pedang istimewa dari si Raksasi Kumala.

Ia segera dapat mengenali ilmu silat pedang itu setelah si nona menikam tiga kali beruntun kepadanya.

Pada waktu itu pun segera terdengar suara berisik di luar kamar.

Mengetahui akan terancam dikepung musuh Beng Kie tidak lagi main kelit untuk serangannya nona itu, lantas dari samping dengan tangan kanannya ia merampas lengan si nona, berbareng dua jari tangan kirinya, mengancam sepasang matanya nona itu.

Peng Teng kelihatannya mengerti ilmu silat dengan baik, tapi rupanya dia kurang pengalaman.

Dia kaget atas ancaman kepada matanya, dan ketika dia mencoba bela diri, tahu-tahu pedangnya telah terampas musuh.

Bahna kagetnya, dia lompat mundur, tapi justeru itu, sebuah kitab jatuh dari badannya.

Beng Kie tidak mengejar, ia hanya lompat kepada kitab itu.

yang ia segera ambil.

Itulah kitab ilmu silat pedangnya Giok Lo Sat yang sedang dicarinya.

Adalah waktu itu.

dari pintu terlihat nerobosnya dua pahlawan.

Pedang panjang itu bukannya LiongCoan kiam tetapi pedang yang tajam cocok sekali untuk Beng Kie.

Begitu ia tangkis goloknya satu pahlawan, golok musuh itu segera tertabas kutung, sedang dengan sebelah kakinya ia dupak seorang pahlawan lainnya sehingga terpelanting keluar.

Ia menggunakan ketika itu untuk melesat keluar pintu terus lompat naik ke atas payon, dari mana ia lari naik ke wuwungan untuk kabur terus melewati beberapa undakan istana.

Pada waktu itulah dari empat penjuru terdengar seruanseruan.

"Tangkap pembunuh! Tangkap pembunuh!"

Menggunai ketika sebelum musuh memergokinya, Beng Kie lompat turun akan menyelusup masuk di antara pohon-pohon bunga lebat di dalam taman, dari situ ia tampak puluhan pahlawan istana lari mendatangi tapi bukan ke jurusannya, juga bukan ke keraton tempatnya si babu susu, hingga iajadi heran sekali.

Maka ia panjat sebuah pohon, untuk dari atas pohon itu ia dapat mengintai mereka Jauh di sana, satu bayangan tertampak sedang berlari-lari sangat cepatnya.

Bayangan itu agaknya lari keluar dari pendalaman keraton dan menuju ke arah ketiga ruang istana Poohoo thian, Tionghoo thian dan Thayhoo thian di mana dia lantas lenyap.

Kegesitannya bayangan itu, dalam seumurnya belum pernah Beng Kie lihat lain orang mempunyainya.

Itulah ilmu enteng tubuh yang tiada lebih bawah daripada Beng Kie, maka ia tak kepalang herannya.

Ia lantas menduga-duga, siapa orang itu dan kenapa dia justeru memasuki istana bersamaan waktunya dengan dia.

Sekian lama kawanan pahlawan mencari bayangan tadi, mereka tidak peroleh hasil, maka itu mereka mulai bubar.

Beng Kie lihat dua pahlawan mendatangi ke arah tempat persembunyiannya.

Tiba-tiba timbul pikirannya untuk membekuk mereka itu, untuk korek keterangan dari mulut mereka.

Lantas ia bersiap menantikan.

Segerajuga kedua pahlawan datang dekat.

Dengan sekonyong-konyong pemuda kita lompat keluar dari persembunyiannya sambil terus menotok pahlawan yang di kiri, hingga pahlawan itu roboh tanpa ketahui suatu apa.

Pahlawan yang satunya, yang di kanan, kaget, ia membalik tubuh sambil menyambar dengan tangannya.

Ia berhasil mencangkol tangannya pemuda kita yang ia segera tarik.

Beng Kie sengaja supaya ia terbetot, tetapi sebaliknya ia kena tertolak, hingga ia terperanjat.

Terus ia hunus pedangnya dengan apa ia menikam.

Pahlawan itu bersikap tenang, sama sekali tak dia mau buka mulutnya.

Atas datangnya tikaman, dia berkelit, lalu dia lompat maju, kedua tangannya menyambar ke muka kirinya Beng Kie.

Beng Kie pun berkelit, berbareng dengan mana, ujung pedangnya menikam ke perut lawan itu.

"Hm!"

Pahlawan itu perdengarkan suara.

Kembali dia berkelit, sambil berbuat begitu, kedua tangannya diulur untuk menjepit pedang lawannya.

Inipun ada perlawanan istimewa, yang Beng Kie belum pernah alami sebelumnya.

Tapi bukan Beng Kie sendiri yang heran.

Lawannya pun tidak kurang terkejutnya, melihat caranya ia berkelahi itu.

Lawannya itu adalah Congkauwtauw guru silat dari rombongan pahlawan dari TongCiang yang.

bernama Bouwyong Ciong, orang kosen nomor satu untuk keraton sebab dia pandai kedua-dua ilmu silat lweekang dan gwakang, dan untuk beberapa puluh tahun, belum pernah dia menemui tandingan.

Malam itu, dengan saling susul, dua kali Bouwyong Ciong terima laporan ada orang jahat (calon pembunuh) yang memasuki istana, satu di antaranya, penjahat yang kepergok di depan keraton Sinbu kiong, liehay luar biasa ilmu enteng tubuhnya, sampai dia tidak sanggup mengejarnya.

Dan kali ini, menghadapi penjahat yang kedua, dia heran bukan main karena liehaynya lawan sehingga hampir-hampir dia kena tertikam.

Dia juga heran menampak orang mengenakan seragam dari TongCiang.

Dia anggap itulah bukti bahwa mesti ada salah satu pahlawan yang sudah roboh di tangan penyerang ini.

Maka dia jadi mendongkol.

Dia anggap malu baginya untuk menemui rekannya apabila dia tak dapat bekuk orang ini.

Demikian, dia membalas menyerang.

Beng Kie melayaninya sampai kira-kira dua puluh jurus.

Ia heran yang orangterus membungkam, iajadi curiga.

Akhirnya, dengan perlahan ia tanya.

"Eh, kau sahabat dari golongan mana? Apakah kaupun pahlawan di dalam keraton ini? Jangan kau keliru kenali orang!"

Pemuda kita menanya demikian, karena ia kuatir orang pun ada seperti ia, yang nelusup masuk secara diam-diam dan sudah sengajapakai seragam pahlawan istana.

Sama sekali ia tidak menyangka pada Congkauwtauw dari TongCiang, yang biasa agungi kepandaian sendiri, yang berkeinginan keras hendak membekuk padanya, supaya tidak ada rekannya yang merampas jasa.

Inilah sebabnya kenapa Bouwyong Ciong tutup mulut.

Selagi menanya demikian.

Beng Kie sedikit lengah.

Ketika ini digunai Congkauwtauw itu, yang segera menyerang dengan hebat.

Dia telah berhasil, dia telah hajar pundaknya pemuda kita.

Beng Kie terhuyung, ia merasa sakit dan menjadi gusar, segera ia balas menyerang.

Dengan begitu, mereka jadi bertempur pula dengan sengitnya.

Bouwyong Ciong menjadi dapat hati, ia mendesak hebat, hingga Beng Kie menjadi repot, karena rasa sakit pada pundaknya belum lenyap.

Ketika itu, dari pelbagai jurusan, terdengar berlari-larinya suara kaki yang mendatangi.

Bouwyong Ciong ingin sekali peroleh pahala, selagi mendesak ia coba membangkol dengan tangan kiri, tangan kanannya menyerang dengan pukulan yang dinamakan BianCiang, Tangan Kapas.

Beng Kie berkelit dengan melenggak, berbareng dengan itu, pedangnya ditusukkan.

Ia lolos dari serangan Congkauwtauw itu, siapa sebaliknya mesti berlompat untuk luputkan diri dari ujung pedang.

Meski demikian, tidak urung ujung tangan bajunya terkena pedang hingga berlubang.

Berbareng dengan itu, Bouwyong Ciong keluarkan seruan keras, ia apungkan tubuhnya untuk menyingkir.

Di lain pihak, Beng Kie ditarik tangannya oleh seorang yang muncul dari samping gunung-gunungan batu, ke mana dia diajak menyingkir.

Orang itu adalah Seng Kun, kepala dari barisan pahlawan raja.

Dia sembunyi di gunung batu itu, pikirannya kusut, ketika dia tidak dengar suara apa-apa, dia bertindak keluar dengan diam-diam, tetapi kebetulan dia tampak Bouwyong Ciong.

Dalam kagetnya, dia ngelepot pula.

Adalah sedang dia sembunyi, dia saksikan sepak terjangnya Beng Kie yang bentrok dengan Congkauwtauw itu.

Dia masih sembunyi terus sambil melatih napasnya.

Dia masih menderita bekas siksaan.

Dia segera lihat Beng Kie kena tertoyor hingga terdesak.

Untuk menolongi Beng Kie, lekas-lekas dia patahkan beberapa potong cabang bambu, di saat kedua orang itu saling serang, dia bokong Bouwyong Ciong dengan batang bambu itu, yang dia gunai sebagai senjata rahasia.

Itulah ilmu senjata rahasia "Tekyap huihoa, siangjin lipsu"

Atau.

"Memetik daun menerbangkan bunga, siapa terluka dia terbinasa". Bouwyong Ciong tahu ia ada sebanding dengan Gak Beng Kie. sekarang ada orang Iiehay yang bokong padanya, maka guna lindungkan kehormatannya, sebelum rekan-rekannya pergoki kekalahannya itu ia lantas menyingkirkan diri. Seng Kun pun ajak Beng Kie menyingkir terus.

"Mari turut aku!"

Katanya.

Beng Kie mengikuti, mereka sampai di belakang gunung batu itu.

Kepala pahlawan itu mengangkat sebuah batu besar, terlihatlah di depannya sebuah lubang gua.

Ke dalam situ mereka bertindak masuk.

Baru setelah sampai di dalam, Seng Kun menghela napas lega.

Beng Kie pun tidak terkecuali.

Mereka masih dengar suara berisik di luar.

"Dari sini kita bisa sampai ke sungai di luar istana."

Seng Kun beritahukan. Dengan begini tidak usah kita serbu bahaya dari pintu Seehoa mui."

"Apakah tidak ada orang yang ketahui terowongan rahasia ini?"

Beng Kie tanya.

"Terowongan ini dibuat oleh Sri Baginda almarhum, semasa dia masih bertempat di Tangkiong,"

Seng Kun jawab.

"Sama sekali cuma lima pahlawan berikut aku yang ketahui terowongan rahasia ini. Sekarang Sri Baginda telah wafat, dengan sendirinya rombongan pahlawan kami telah lenyap pengaruhnya, aku percaya mereka itu tidak nanti sudi jual tenaganya untuk Gui Tiong Hian. Aku percaya juga bahwa mereka itu tidak akan berani datang menggeledah kemari."

Beng Kie percaya keterangannya pemimpin pahlawan ini.

Mereka jalan terus.

Benar-benar mereka tidak menghadapi rintangan, di depan tidak ada yang mencegat, di belakang tidak ada yang mengejarnya.

Tidak lama, mereka dapat dengar berisiknya suara air di arah depan.

Seng Kun buka pintu rahasia, atas mana, air menyerbu masuk.

Beng Kie mau segera lompat keluar.

"Tahan!"

Seng Kun mencegah.

Dia pun segera ulur tangannya ke tembok di sebelah kanan dan menekannya.

Sekarang Beng Kie bisa saksikan, di sebelah luar itu ada rintangan roda besi yang bisa berputar.

Pada roda itupun dipasangkan golok-golok tajam.

Roda rahasia itu berputaran sekian lama, lalu menjadi perlahan dan akhirnya berhenti.

Seng Kun tutup kembali pintu rahasia itu, ia ajak Beng Kie nyeplos di antara jari-jari roda rahasia itu, hingga di lain saat, sampailah mereka di-gili-gili sungai istana itu.

"Segera akan terang tanah,"

Kata Seng Kun. setelah ia dongak memandang langit.

"Pakaian kita basah kuyup, tidak dapat kita lantas berlalu dari sini. Letak rumahnya Tang Hong tidak jauh dari sini, mari kita pergi ke rumahnya untuk salin pakaian. Ada kata-kata yang aku hendak bicarakan kepada enso Tang."

Beng Kie menurut, ia ikuti pemimpin pahlawan itu.

Tang Hong adalah pembantunya Seng Kun, isterinya pun ada dari kalangan Rimba Persilatan, maka Nyonya Tang ketahui bahwa suaminya tidak terlalu cocok dengan Seng Kun.

Pagi itu Nyonya Tang sendiri yang membukakan pintu.

Ia terperanjat akan lihat Seng Kun datang bersama satu pahlawan lain, dengan pakaian kedua-duanya basah.

"Enso, kunci pula pintu, ada urusan penting yang aku hendak bicarakan padamu,"

Seng Kun lantas berkata.

Nyonya Tang menurut, la kunci pintu, ia ajak kedua tetamunya ke dalam.

Seng Kun lantas menceritakan bagaimana Tang Hong hendak menolongi padanya tetapi gagal sebab keganasannya Gui Tiong Hian.

Nyonya Tang kaget, segera saja ia menjerit dan menangis.

"Memang sudah sejak lama aku anjurkan padanya jangan menjadi siewie, tetapi dia tidak mau meladeninya,"

Kata isteri ini.

"Sebenarnya lebih merdeka mengikuti ayahku menjadi piauwsu. Sekarang benar-benar terbit onar..."

"Jangan menangis, enso,"

Seng Kun menghibur.

"Memang benar suamimu dan aku tidak terlalu cocok satu dan lain, akan tetapi sekarang dia telah tolong aku, aku ada sangat berterima kasih padanya, maka itu, akupun hendak tolong suamimu itu. Kau percayalah padaku!"

Nyonya Tang mencobanya untuk tidak menangis, ia buka kedua matanya mengawasi sep suaminya itu, agaknya ia bersyukur tetapipun bersangsi. Di dalam hatinya ia mengatakan.

"Jiwamu sendiri hampir tidak dapat tertolong, bagaimana kau bisa menolongi suamiku?"

"Mari ambil kertas."

Seng Kun minta.

"Aku nanti menulis sepucuk surat. Sebentar terang tanah, kau bawalah kepada Ciehui Cio Ho dari Kimiewie, kau minta pertolongannya untuk disampaikan pada Gui Tiong Hian. Percayalah, tidak perduli bagaimana besar nyalinya Gui Tiong Hian, tidak nanti dia berani bunuh suamimu itu."

Beng Kie segera mengerti, tanpa merasa dia berseru.

"Benar! Selama Seng Toako masih hidup, pasti Gui Tiong Hian tidak akan berani bunuh Tang Toako!"

Enso Tang pun lantas saja mengerti.

Tentulah Seng Kun ketahui banyak rahasianya orang kebiri yang berpengaruh itu, dan di dalam barisan Kimiewie, orang she Seng itu masih banyak kawannya, oleh sebab-sebab itu niscaya Seng Kun dapat pengaruhi Tiong Hian.

Enso Tang lantas sediakan perabot tulis.

Selagi Seng Kun tulis suratnya, ia siapkan dua perangkat pakaian untuk kedua siewie itu kepada siapa kemudian ia kata.

"Di sini ada dua perangkat pakaian untuk jiewie (kedua tuan), harap jiewie pakai seadanya."

Seng Kun serahkan suratnya, ia terima pakaian sambil mengucap terima kasih.

Enso Tang juga haturkan terima kasihnya.

Seng Kun berdua Beng Kie pergi ke ruang telamu yang pintunya mereka kunci, untuk mereka salin pakaian.

Dari dalam saku pakaiannya yang basah.

Seng Kun keluarkan, sepasang sarung tangan.

Ia pandang itu dengan dibalik-balik, terus ia letakan di atas meja agaknya ia sangat menyayanginya.

Beng Kie juga keluarkan gumpalan kertas, yang ia dapat ambil dari kolong meja.

Surat yang dilempar kaisar itu.

Syukur surat itu cuma basah demak.

maka ia bawa ke api untuk dikeringkan.

Sehabis dandan, Seng Kun kata pada kawannya.

"Gak Toako, ilmu silatmu liehay sekali, tak dapat aku menandinginya. Kaupun telah menolong jiwaku, selama hidupku mungkin aku tidak bisa balas budimu. Maka itu, haraplah kau terima sepasang sarung tangan ini."

"Ah, Seng Toako, mengapa kau mengucap demikian..."

Kata Beng Kie.

Ia hendak menampik, tapi Seng Kun demikian mendesak, maka ia terima juga tanda mata itu.

Iapun pikir, tidak seberapa harganya sepasang sarung tangan...

Seng Kun tunggu sampai Beng Kie sudah terima sarung tangan itu, ia lantas berkata pula.

"Gak Toako, sarung tangan ini dahulu aku terima sebagai hadiah dari Sri Baginda almarhum. Kabarnya sarung tangan ini terbuat dari bulu lutung Kimsie wan dan benang kulit asal dari Hekliong kang. Sarung ini tidak saja tidak mempan terbacok dan tertombak, racun pun tidak dapat menembusinya. Maka jikalau sarung ini dipakai untuk dengan tangan kosong melawan musuh yang bersenjata, bukan main berharganya."

Beng Kie terperanjat.

"Mengapa kau tidak mengatakannya sedari siang-siang, toako?"

Ia sesalkan.

"Inilah benda sangat berharga, tidak berani aku menerimanya."

Pemuda ini keluarkan pula sarung tangan itu, yang ia sudah simpan dalam sakunya, untuk dikembalikan. Seng Kun tertawa, ia menolak.

"Kata-kata satu kunCu tidak dapat dikejar seekor kudajempolan!"

Berkata pemimpin pahlawan ini.

"Kau telah terima tanda peringatan dari aku, cara bagaimana kau bisa kembalikan itu padaku?"

Beng Kie kalah desak, maka lagi sekali ia haturkan terima kasihnya yang hangat.

Ia ingat benar kebaikan ini, sedang sarung tangan itu ia simpan pula.

Sebentar kemudian, matahari sudah mulai muncul.

Enso Tang lantas cari kereta sewaan untuk Seng Kun dan Beng Kie berlalu secara diam-diam, ia sendiri juga terus menuju ke Ciekimshia.

Beng Kie suruh tukang kereta menuju ke rumah Pengko Kiesutiong Yo Lian.

"Oh, kau tinggal di sana, saudara Gak?"

Tanya Seng Kun.

"Yo Lian adalah seorang menteri setia, maka aku percaya, tidak nanti orang berani berlaku terlalu kurang ajar terhadapnya..."

"Kenapa kau kata demikian. Seng Toako?"

Beng Kie menegaskan.

"Apakah ada orang tahu kau tinggal pada Keluarga Yo?"

Seng Kun masih tanya.

"Tidak banyak orang yang ketahui,"

Beng Kie jawab.

"Ketika aku datang ke kota raja, aku tak menyangkanya akan terbit kejadian serupa ini, maka itu, aku tidak sembunyikan tempat kediamanku."

Seng Kun menghela napas, lalu ia berbisik.

"Aku kuatir mereka sudah ketahui tempat kediamanmu ini..."

"Bagaimana kau ketahui itu, toako?"

"Sebab sebelumnya aku ditangkap Gui Tiong Hian, aku telah dengar pembicaraan di antara pahlawan-pahlawan dari TongCiang, katanya gedung Keluarga Yo harus diawasi. Sebenarnya aku tidak tahu apa maksudnya mereka, tidak disangka kau justeru menumpang di sana."

Beng Kie nampaknya gelisah.

Sesampainya mereka di depan rumah Yo Lian, hari sudah terang.

Seng Kun mengintai dari dalam tenda kereta, ia dapatkan gedung itu sunyi, tidak ada orang yang ia kenali.

Bersama Beng Kie ia turun dari kereta.

Tiba-tiba pintu pekarangan dipentang, dari dalam terdengar suara nyaring.

"Tuan Gak pulang!"

Beng Kie bertindak masuk, ia ajak Seng Kun bersama. Sesampainya mereka di tiongtong, ruang tengah, di situ mereka lihat Yo Lian sedang duduk menantikan. Tuan rumah itu segera saja berseru.

"Dunia terbalik!"

Beng Kie terkejut, ia jadi sangat heran.

"Apakah sudah terjadi?"

Ia tanya.

"Aku adalah Menteri Perang, siapa nyana, ada orang jahat berani permainkan aku!"

Sahut tuan rumah itu.

"Rombongan penjahat telah mengacau di sini!"

Beng Kie heran tak kepalang.

"Barang-barang apa yang hilang?"

Dia tanya pula.

"Tidak banyak, orang hanya ambil beberapa barang kuno,"

Sahut Yo Lian.

"Tapi nona kawanmu itu telah d i bawa pergi."

Beng Kie kaget sampai semangatnya seperti terbang pergi.

Ia tidak terlalu cocok dengan Tiat San Ho, tetapi mereka telah berada bersama sekian lama, mereka telah seperti kakak beradik, sekarang kawan itu lenyap dibawa lari penjahat, bagaimana ia tidak jadi kaget dan berkuatir.

"Berapa banyak jumlahnya penjahat itu?"

Dia tanya pula kemudian.

"Jumlah mereka tujuh atau delapan orang,"

Yo Lian kasih keterangan.

"Muka mereka semua memakai topeng. Kawanmu itu telah melakukan perlawanan, tetapi dia kewalahan karena dikepung, akhirnya dia dibikin tidak berdaya dan dibawa pergi."

Beng Kie lantas berpikir. Ia segera menduga pada orangorangnya Gui Tiong Hian. Ia tidak berani utarakan sangkaannya itu kepada Yo Lian, supaya tuan rumah ini tidak menjadi masgul.

"Nanti aku minta bantuannya sahabat-sahabat dari Rimba Persilatan, untuk cari tahu penjahat-penjahat itu,"

Kata ia, untuk menghibur.

"Sebenarnya di dalam kota raja ini belum pernah terjadi perampokan semacam ini,"

Kata Yo Lian.

"Sekarang aku hendak pergi ke kantor Pengpou, untuk mereka beritahukan Kiubun Teetok, guna tanya apa saja yang mereka itu kerjakan. Kebetulan kau sudah pulang, tolonglah kau jagakan rumahku."

Setelah memesan pula kepada hamba-hambanya akan periksa semua pintu, pembesar ini lantas berlalu, agaknya ia masih sangat mendongkol. Beng Kie ajak Seng Kun ke kamar tetamu, yang menjadi kamarnya.

"Tidak usah dicurigakan lagi. ini pasti ada perbuatannya orang-orang dari TongCiang."

Seng Kun utarakan dugaannya.

"Siapa sahabat itu, dan apa she dan namanya? Aku nanti tolong kau untuk mencari keterangan."

"Lebih baik aku satroni keraton untuk mengacau mereka!"

Beng Kie kata.

"Tidak dapat kau lakukan itu!"

Seng Kun mencegah dengan menggelengkan kepala.

"Dua kali kau telah datang mengacau, pasti mereka akan bikin penjagaan lebih kuat. Di dalam keraton itu, kecuali Bouwyong Ciong, aku dengar kabar telah datang dua orang pandai lainnya yang aku belum tahu namanya. Aku duga saja mereka mesti ada tetua-tetua dari kaum kangouw. Jikalau kau berlaku sembrono, saudara Gak. dikuatirkan kau sama juga seperti antarkan diri ke dalam jaring. Aku ada punya beberapa sahabat kekal di dalam istana, tunggulah satu atau dua hari lagi setelah keadaan agak mereda, aku akan pergi mencari keterangan."

Beng Kie pikir sarannya sahabat ini benar juga. maka ia menurut.

"Tapi coba kau duga. Seng Toako, mereka itu berani atau tidak datang pula kemari?"

Dia tanya "Aku kuatir, jikalau kita tidak pergi cari mereka, mereka sendiri yang akan datang menyatroni kita..."

"Dalam siasat ilmu perang ada disebut bahwa yang kosong mungkin berisi, dan yang berisi adalah kosong,"

Kata Seng Kun.

"maka itu aku duga mereka tentunya menyangka kau tidak berani tinggal lebih lama pula di gedung Keluarga Yo ini. Justeru itu, baiklah kita tetap tinggal di sini. Mereka pun tidak bermusuh dengan Yo Lian, dugaku tidak nanti mereka datang pula. Umpama kata mereka toh datang lagi. dengan kepandaian kita berdua, aku percaya kita akan bisa bekuk satu atau dua di antaranya. Dari mulut mereka itu kita bisa korek keterangan. Setelah duduknya perkara menjadi terang, tidak ada halangannya kita maklumkan perang kepada mereka itu!"

Beng Kie setujui pikiran sahabat ini.

"Bagus!"

Katanya.

"Baiklah, kita bersikap begini saja!"

Sesudah sore barulah kelihatan Yo Lian pulang.

"Kiubun Teetok telah keluarkan titah-titah penangkapan,"

Ia beri tahu Beng Kie.

"Aku telah beri tempo sepuluh hari!"

Beng Kie tertawa di dalam hati.

"Jikalau perkara ini diserahkan pada Kiubun Teetok, sampai sepuluh tahun pun perkara akan tetap terpendam."

Pikirnya. Yo Lian berdiam sekian lama, lalu ia menghela napas.

"Kejadian ini sangat membikin aku mendongkol,"

Katanya.

"Tapi di samping itu juga satu kabar baik untuk disampaikan padamu."

"Apakah itu?"

Beng Kie tanya.

"Tadi di dalam kantor Pengpou aku terima surat kilat dari Him Kengliak."

Menteri itu jawab.

"surat itu memberitahukan, bahwa nusa dia bakal sampai di kota raja. Di dalam surat itupun dijelaskan, dia akan menumpang di rumahku ini. Sungguh ini suatu kabar sangat menggirangkan. Suasana dalam istana ada demikian kusut, biarlah dia pulang untuk meredakannya."

Beng Kie sudah tahu Him Teng Pek bakal datang, hanya wartanya Yo Lian ini telah menguatkan itu. Tentu saja ia menjadi girang sekali. Tapi ia kata.

"Memang benar Him Kengliak berkuasa atas angkatan perang, tetapi dia adalah menteri luar, aku kuatirdia tidak dapat mengurus kekusutan di dalam istana..."

"Bicara dari hal derajat, kedudukannya memang tidak terlalu tinggi,"

Yo Lian kata.

"Akan tetapi dia seorang yang sangat jujur, diapun mempunyai pedang kekuasaan Sianghong Pookiam, maka sekalipun Pui Ciong Tiat dan Gui Tiong Hian, mereka harus jeri terhadapnya."

Demikian pembicaraan berakhir.

Di harian Him Teng Pek tiba di kota raja, beberapa sahabat kekalnya, seperti Liepou Siangsie Ciu Kee Bok, Leepou Siangsie Sun Cin Hang dan Touwgiesu Cee Goan Piauw, telah datang ke rumahnya Yo Lian, untuk menyambut dan menemuinya.

Cuma Pengpou Siangsie Yo Kun tidak dapat hadir, karena dia sedang repot mengurus pengiriman tentara ke Siamsay.

Orang telah menantikan dari siang, akan tetapi sampai lewat tengah hari, mereka tidak dengar suara gembreng, tanda pembuka jalan untuk kedatangannya satu pembesar yang tinggi pangkatnya.

Hal ini membikin mereka heran.

"Mungkinkah dia ubah harinya?"

Sun Cin Hang tanya.

"Him Kengliak bukannya seorang yang suka mengingkari janji,"

Kata Yo Lian.

Tengah mereka bicara itu, koankee, yaitu penguasa gedungnya Yo Lian, muncul untuk mewartakan kedatangannya dua orang yang tubuhnya besar, yang mohon ketemu kepada tuan rumah.

Katanya koankee itu.

ketika dia menanyakan nama mereka, mereka itu cuma menyebutkan shenya.

ialah she Him.

"Ah!"

Yo Lian berseru apabila ia dengar laporan yang agak luar biasa itu. Ia segera berbangkit.

"Lekas undang mereka masuk, itulah tentu si Him Tua sendiri! Aku tahu tabiatnya ini!"

Penguasa gedung itu segera undurkan diri, selang sesaat, seorang bertindak di Iorak tangga, orang mana bertubuh besar, tindakannya lebar, kepalanya bagaikan "kepala harimau"

Dan matanya seperti "mata garuda". Mukanya orang itupun penuh debu dengan di belakangnya mengikut satu pengiring dengan buntalan di bebokongnya. Yo Lian semua segera berbangkit.

"Oh, Him Kengliak. mengapa kau tidak mengabarkan lebih dahulu?"

Tanya Yo Lian dan yang lainnya selagi mereka menyambut.

Adalah di luar dugaan, satu kepala perang yang besar kekuasaannya atas tentara, yang kesohor, telah tiba hanya diikuti satu pengiring!

Sedang dia datangnya dari tapal batas!

Tetamu itu lantas saja tertawa.

"Bukankah kemarin aku telah kirim orang membawa surat?"

Katanya dengan gembira.

"Mengapa kalian mengatakannya aku tidak memberi warta lagi?"

Semua penyambut itu turut tertawa.

"Dengan cara datangnya kau ini,"

Kata mereka.

"kau mirip dengan satu serdadu pembesar yang baru saja mundur dari medan perang!"

"Memang akupun asalnya satu serdadu!"

Kata perwira tinggi itu. Sampai di situ, Beng Kie maju untuk beri hormatnya.

"Oh, kau juga ada di sini?"

Kata sep itu.

"Bagus! Sebentar malam kita pasang omong!"

Sekarang Kengliak ini perkenalkan pengiringnya, yang bernama Ong Can, murid terpandai dari Jitgoat lun Khu Tay Hie, seorang Rimba Persilatan yang kenamaan. Ong Can sudah kenal kepada Beng Kie.

"Apakah kau tidak ketemu halangan apa-apa diperjalanan?"

Beng Kie tanya.

"Di dua tiga tempat kami bertemu tukang-tukang cegat jalanan!"

Sahut Ong Can sambil tertawa.

"Mereka lihat buntalan kami yang tidak berarti ini, mereka lalu kasih kami lewat dengan begitu saja."

Beng Kie pun tertawa.

"Itulah ada keberuntungan mereka!"

Ia kata.

Selagi dua sahabat ini bercakap-cakap, Yo Lian serta kawan-kawannya juga lantas tuturkan pada Him Teng Pek tentang suasana buruk dalam istana.

Panglima dari perbatasan itu diam saja, hanya berulang kali ia menggeleng kepala.

Mereka masih bicara terus tatkala dan luarterdengarsatu suara nyaring, ialah pemberitahuan dari si penguasa rumah.

"Ada kimCee tayjin!"

Yo Kun dan lain-lainnya segera undurkan diri untuk menyingkir, dan Him Teng Pek bersama Beng Kie dan Ong Can pun pergi ke ruang samping.

Hanya Yo Lian seorang yang berdiri di ruang tengah, untuk menantikan kimCee tayjin ---utusan raja.

Segera setelah pintu tengah dipentang, satu pembesar dengan jubah bersulamkan ular naga dan ikat .

pinggang tertabur kumala, bertindak masuk sambil diiringi beberapa puluh kauwwie.

Sesampainya di ruang tengah utusan ini lantas disambut Yo Lian sambil berlutut.

"Ini bukan urusanmu. Suruh Him Teng Pek keluar!"

Berkata kimCee itu dengan kaku. Him Kengliak di kamar samping dapat mendengarnya, sambil tertawa ia kata pada Gak Beng Kie.

"Hai, baru kaki depanku sampai, kaki belakang mereka telah menyandak! Walaupun Sri Baginda masih sangat muda beliau toh pandai dan bijaksana tepat beliau menduga waktunya kedatanganku!"

Lalu panglima dari perbatasan ini rapikan pakaiannya, terus ia bertindak keluar, ke ruang tengah itu. Dengan segera kimCee tayjin berseru.

"Him Teng Pek, berlututlah kau. untuk sambut firman!"

Him Teng Pek menurut, ia tekuk lututnya. Segera kimCee itu bacakan firman.

"Menteri yang berdosa, Him Teng Pek, sudah lancang menggunakan kekuasaannya dan dengan sembarangan dia berikan putusan-putusan, dan dia juga telah umbar tentaranya mengganggu rakyat jelata. Selama memangku jabatan di tapal batas, sedikit kemajuanpun tidak diperoleh sebaliknya sekarang dengan lancang dia meninggalkan jabatannya, dengan diam-diam dia Dulang ke kota raja. Dengan perbuatannya itu, dia sudah melanggar undang-undang negara, pasti sekali dia kandung maksud untuk memberontak. Maka dengan ini dia diperintah menyerahkan kembali pedang Sianghong Pookiam dengan dia sendiri mesti diserahkan kepada pengadilan Tayliehu untuk diperiksa perkaranya!"

Baru habis membacakan firman, utusan itu sudah lantas membentak dengan titahnya.

"Tangkap dia!"

Him Teng Pek gusar hingga alis dan kumisnya berdiri bangun.

"Aku pulang atas panggilan Sri Baginda almarhum, apakah dosaku?"

Dia tanya dengan nyaring.

"Sri Baginda telah keluarkan firmannya cara bagaimana kau berani omong keras?"

KimCee itu menegur.

"Ini saja sudah merupakan satu dosamu!"

"Sri Baginda masih sangat muda usianya, maka pemerintahan dapat dipermainkan segala dorna!"

Seru pula Him Teng Pek.

"Habis, habis sudah!..."

Dan iamanda kasih dirinya untuk dibelenggu.

Tidak perduli bagaimana murkanya, hamba yang setia ini tidak berani lawan firman.

Yo Lian berdiri menjublek, ia kaget dan heran.

Beberapa kauwwie lantas maju menghampiri Him Kengliak untuk dibelenggunya, akan tetapi belum sempat mereka turun tangan.

Beng Kie sudah lompat keluar dari kamar samping.

"Tahan dulu!"

Dia berteriak bagaikan suaranya guntur.

"Siapa kau?"

KimCee menegur. Beng Kie tidak lantas menyahut, hanya dengan pentang kedua tangannya ia bikin terpental empat kauwwie yang sudah mendekati sepnya, hingga mereka itu terguling roboh.

"Di waktu matahari terang benderang sebagai ini, kau berani berontak?"

Si kimCee masih menegur. Teng Pek sesak napasnya karena sangat mendongkol tanpa ia bisa lampiaskan itu. Iapun berkuatir untuk sikapnya sebawahannya itu.

"Beng Kie, apakah kau hendak celakai aku?"

Dia tegur orangnya itu. Matanya Beng Kie terbuka lebar, ia gusar, tetapi ia menangis.

"Taysu, inilah firman palsu!"

Ia berteriak. Teng Pek kaget bahna heran.

"Palsu?"

Dia mengulangi kata-kata itu.

"Ngaco!"

Teriak sang utusan.

"Tangkap!"

Him Kengliak hunus pedang kekuasaannya.

"Tunggu dulu!"

Dia membentak.

"Aku harus dapat penjelasan dulu, baru aku turut padamu!"

Semua kauwwie berdiam.

Mereka tahu akan kegagahannya panglima itu, dan sikapnyapun sangat berpengaruh.

Beng Kie segera rogoh sakunya, akan keluarkan segumpal kertas, yang ia terus beber di tangannya.

Iapun hadapi Yo Lian, untuk berkata dengan nyaring.

"Yo Tayjin, tolong lihat ini! Bukankah ini ada tulisan tangan dari Sri Baginda sendiri?"

Memang setiap penobatan kaisar baru.

kaisar ada mengirim firman hiburan untuk menteri-menterinya, hingga setiap menteri dapat mengenali tulisan tangan junjungannya.

Yo Lian tidak kecuali.

Menteri ini lihat tulisan yang berbunyi.

"Him Teng Pek adalah seorang menteri yang sangat setia."

Walaupun hurufhuruf itu ditulisnya tidak keruan, ia kenali tulisan rajanya. Seketika itu ia menjadi dapat hati, hingga tak sempat iamenanyakan. dari mana Beng Kie dapatkan itu.

"Him Tayjin, ini memang tulisan tangannya Sri Baginda!"

Kata Yo Lian. KimCee tayjin itu menjadi bingung. Dia memang ada konconya Gui Tiong Hian yang bernama Cui Ceng Siu. Tapi sebisa-bisanya ia mencoba untuk menenangkan diri.

"Tak mungkin firman ini palsu!"

Dia berteriak.

Dia segera beber firman itu, untuk diperlihatkan cap kebesarannya.

Him Teng Pek lihat, meskipun surat itu tidak sama tetapi capnya tulen cap kerajaan.

Beng Kie kuatir sep itu terpengaruh.

"Sekarang petualang-petualang sedang permainkan pemerintahan, cap kerajaan itu, mungkin telah mereka curi untuk dipakainya!"

Ia kata dengan nyaring.

"Taysu baiklah menghadap sendiri kepada Sri Baginda untuk urus perkara ini!"

Him Kengliak tetapkan hatinya. Ia tertawa dingin.

"Cui Ceng Siu,"

Katanya.

"mari kita sama-sama menghadap Sri Baginda!"

"Kamipun suka turut bersama!"

Menimbrung semua menteri lainnya, yang datang munculkan diri.

"Him Teng Pek,"

Kata Ceng Siu dengan berani.

"secara begini kau menghina pemerintah, kau telah lawan firman kaisar, maka bagianmu adalah kemusnahan rumah tanggamu!"

"Sudah, jangan banyak bicara!"

Him Kengliak membentak.

"Aku boleh dihukum picis tapi sekarang mari kita menghadap dahulu kepada Sri Baginda!"

Ceng Siu kena didesak, tapi ia cerdik. Ia kata.

"Sekarang Sri Baginda sedang berkabung dalam keratonnya, jikalau kau hendak menghadap, besok saja kau pergi!"

Lalu ia teruskan gertakannya.

"Yo Lian, aku serahkan Him Teng Pek di bawah penjagaanmu! Jikalau besok dia kabur, kaulah yang bertanggung jawab!"

Lalu dengan ajak pengiring-pengiringnya, kimCee tayjin ini lantas undurkan diri.

Him Kengliak tidak ambil tindakan lebih jauh terhadap kimCee palsu itu.

Biar bagaimana, ia adalah menteri di luar istana, tidak dapat ia tahan kimCee itu.

Maka ia titahkan Beng Kie untuk membiarkan kimCee itu berlalu.

Tentu saja kejadian ini membikin mendongkol semua menteri yang hadir di situ.

Him Kengliak lantas jatuhkan diri di atas kursi dengan sikap lesu, berulang-ulang ia menghela napas dan menggelenggelengkan kepala.

"Tidak perduli firman itu palsu, tapi sekarang petualangpetualang demikian sangat kurang ajar, negara sungguh sangat terancam..."

Ia kata dengan masgul.

"Him Toako,"

Berkata Yo Lian.

"kau baru pulang, kau lantas dibikin lenyap kegembiraanmu oleh segala dorna. marilah kita minum arak!"

Tuan rumah itu baru berkata sampai di situ atau mereka segera dengar suara yang sangat berisik di luar gedung, daun pintu digedor keras. Tentu saja Yo Lian menjadi sangat gusar.

"Mungkinkah binatang Cui Ceng Siu itu berani datang pula?"

Katanya.

Belum berhenti suaranya tuan rumah itu atau pintu telah terdobrak, lalu kelihatan serombongan orang nerobos masuk.

Mereka itu semuanya mengenakan topeng, hanya tampak mata mereka yang bercilak-cilak.

Orang yang menjadi kepala pun lantas berteriak.

"Kabarnya Him Taysu baru pulang, kami hendak pinjam sejumlah uang!"

Him Kengliak kaget tetapi ia tidak takut.

"Aku seorang pembesar miskin, aku tidak punya banyak uang!"

Kata ia sambil tertawa dingin. Yo Lian sebaliknya telah berteriak-teriak.

"Di waktu siang hari kalian berani datang merampok, oh, sungguh, dunia terbalik, dunia terbalik!"

"Mereka ini bukan perampok-perampok sewajarnya!"

Beng Kie berseru.

Kawanan orang-orang bertopeng itu benar-benar berani, mereka maju terus.

Jumlah mereka ada beberapa puluh orang.

Him Kengliak tolak Yo Lian supaya tuan rumah ini masuk ke dalam kamar.

Si kepala rampok tidak mau mengerti, ia ulur tangannya hendak menjambak tuan rumah itu.

Teng Pek jadi sangat gusar, sambil berseru ia menabas dengan pedangnya.

Kepala rampok itu berkelit dengan gesit, lantas dia balas menyerang.

Menampak kegesitan dan serangan yang berbahaya dari kepala rampok itu.

Him Teng Pek berseru.

"Orang dengan kepandaian sebagai kau ini menjadi rampok, sungguh sayang!"

Beng Kie tidak perdulikan kata-kata sepnya itu. dari samping ia maju, akan menyelak di sama tengah.

"Hai, Bouwyong Ciong, kau sayang kepada jiwamu atau tidak?"

Bentak Beng Kie kepada kepala rampok itu. Kaget kepala rampok ini.

"Beng Kie, kau kenal padanya?"

Teng Pek tanya sebawahannya.

"Bereskan mereka semua!"

Teriak kepala rampok itu, yang menjadi mogok, karena rahasianya telah terbuka.

Beberapa puluh pahlawan dari TongCiang itu segera rangsefc Teng Pek dan Beng Kie hingga terdesak mundur ke tembok.

Firman palsu dan peristiwa rampok ini kesemuanya adalah rencananya Gui Tiong Hian dan Keksie Hujin, maksud mereka adalah untuk mengabui raja untuk singkirkan Him Kengliak secara diam-diam.

Di waktu keadaan yang sangat terancam itu, Ong Can muncul dengan senjatanya yang mirip roda, yaitu Ngoheng lun, tapi segera ia dirintangi satu pahlawan yang bersenjatakan cambuk.

Dalam mendongkolnya.

Ong Can sampok cambuk itu hingga putus dua dan terlepas dari cekalan.

Di antara pahlawan-pahlawan itu, majulah seorang yang usianya lanjut.

Ia tidak jeri terhadap Ngoheng lun, ia ulur kedua tangannya untuk menggempur.

Ia telah berhasil membikin senjatanya Ong Can tersampok miring.

Beng Kie dapat ketika, ia tikam orang tua itu, atas mana, si orang tua geser kakinya, tapi tangan kirinya menghajar pedang, dari atas ke bawah, itulah pukulan "Geledek menyambar ubun-ubun".

Di waktu siang seperti itu, kelihatan tegas tangannya si orang tua merah seperti sepuhan.

Menampak demikian, Beng Kie terperanjat.

"Kim Laokoay, kaupun datang kemari!"

Dia berseru. Si orang tua tertawa terbahak-bahak, dengan berani dia copotkan topengnya.

"Gak Beng Kie!"

Katanya.

"hari ini akan kubalas kau satu tikaman!"

Beng Kie tidak gubris ancaman itu, ia hanya peringatkan sepnya, katanya.

"Taysu, bangsat tua ini mengerti Toksee Ciang. jangan kasih tanganmu kena dibentur olehnya!"

Sambil berkata demikian, pemuda ini maju ke depan sepnya untuk gantikan sepnya itu membuat perlawanan, maka sebentar saja ia sudah dikepung Bouvvyong Ciong dan Kim Tok Ek, dua cabang atas yang liehay, hingga segera ia terancam bahaya.

"Kawanan tikus, sungguh berani kalian!"

Berteriak Him Kengliak, yang jadi sangat gusar.

Dan ia maju, ia dapat jambret satu pahlawan, tubuh siapa ia angkat dan dilemparkan keluar pintu.

Semua pahlawan lainnya terkejut menampak kegagahannya Him, Kengliak itu.

"Jangan takut!"

Teriak Bouwyong Ciong.

yang saksikan orang-orangnya kena terpengaruhi.

Ia lantas maju, dengan tipu silat KimnaCiu ia coba rampas pedangnya Kengliak itu.

Meskipun ia gagah, Him Kengliak tidak mengerti Kimna Ciu.

hampir saja Sianghong Pookiam di tangannya terampas musuh.

Syukur Ong Can maju membantui.

Tapi karena ini.

hamba yang setia itu jadi menggantikan menghadapi bahaya.

Dalam suasana yang sangat menguatirkan itu, seorang lompat keluar dari kamar.

"Saudara-saudara, dengar aku!"

Berteriak orang ini, ialah Seng Kun, kepala dari sekalian pahlawan dari TongCiang.

Separuh dari pahlawan-pahlawan itu mengenali orang ini, mereka lantas berhenti berkelahi.

Seng Kun lantas berkata terus.

"Him Kengliak adalah tiang negara, kenapa kalian demikian gila hendak mencelakai padanya? Memang sekarang orang kebiri she Gui sedang dapat pengaruh, akan tetapi di belakang hari, dia akan celaka juga, maka saudara-saudara, hayolah bubar!"

Beberapa pahlawan lantas saja ambil putusan, mereka lantas lempar senjatanya dan lompat mundur untuk berlalu. Bouwyong Ciong jadi sangat murka.

"Seng Kun juga satu pemberontak!"

Ia berteriak.

"Siapa lari, dia bakal mati!"

Kata-kata inipun ada pengaruhnya, maka di samping pahlawan-pahlawan yang melemparkan senjata dan kabur, ada sembilan belas sisanya yang maju menyerang pula, melanjutkan pengurungan.

Baca Juga: Amarah Pedang Bunga Iblis 1

Baca Juga: Elang Pemburu 2

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger