Eps 4 Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen
Baca online Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen
Cersil Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen.
Atau "Ular perak menari di atas gunung".
Ini ada salah satu dari tujuh puluh dua jurus ilmu silat pedang Lianhoan Toatbeng kiam ---Berantai Merampas Jiwa ---dari Butong pay.
Inipun salah satu tipu untuk memunahkan serangan langsung dari depan.
"Bagus!"
Uy Yap memuji di dalam hatinya.
Ia dapat kenyataan, ilmu pedang adik seperguruan ini telah maju pesat sekali.
Biasanya, dengan tangkisan yang dibarengkan serangan semacam ini, senjata musuh mesti kena dibetot terlepas dari cekalan.
Juga Ang In Toojin beranggapan sebagai suheng-nya itu, dia merasa pasti sembilan dalam sepuluh bagian serangannya akan berhasil, tapi kesudahannya membuat ia heran, pedang si nona tetap masih berada di tangannya.
Malah sebaliknya ia menjadi kaget tak terkira.
Menurut dugaannya, si nona akan menikamnya dengan "TokCoatouwsin" --"Ular berbisa muntahkan bisanya", akan tetapi entah bagaimana jalannya, tanpa ia lihat lagi, ujung pedang nona itu sudah menyambar ke bahunya.
Dalam kagetnya, bersama-sama pedangnya Ang In berkelit sambil memutar tubuh, dengan begitu, baru ia dapat menghindarkan diri dari tikaman ulangannya si nona.
Akan tetapi Giok Lo Sat tidak berhenti sampai di situ.
Selagi lawannya memutar diri, ia juga menyusul dengan desakannya, pedangnya bergerak sangat cepatnya.
Ang In Toojin t^ahu orang mengancam pula padanya, ia angkat pedangnya menangkis, akan tetapi musuh membatalkan serangannya setengah jalan, untuk ditukar dengan lain macam serangan yang silih ganti, kelihatannya ancaman menjurus ke atas.
tapi tahu-tahu arah bawahlah yang diserangnya, demikian pula serangan ke kiri tetapi kananlah yang menjadi sasaran.
Maka akhirnya, dalam tempo yang sependek itu, Ang In Toojin telah dibikin bingung dan repot melakukan perlawanan.
Ilmu pedang Butong pay bukan sembarangan.
Demikian dengan Ang In Toojin.
Setelah terdesak beherapa jurus, imam ini mulai mengerti cara bersilatnya si nona.
Ia lantas dapat perbaiki diri, ia bisa melayani dengan tenang tapi waspada.
Ia ambil putusan akan melayani terus dengan tujuh puluh dua jurusnya dengan hanya menjaga diri tanpa menyerang dulu.
Ia menjaga rapat dirinya, umpama kata.
"angin dan hujan tak dapat menembusinya". Dengan kepandaian liehay inilah yang membuat Butong pay dijulukkan "Thianhee teeit" ---"Nomor satu di kolong langit". Giok Lo Sat telah pertunjukkan kepandaian dan kelincahannya, ia berhasil mengurung imam lawannya, akan tetapi pembelaan lawannya sangat rapat, ia tak dapat berbuat banyak. Ia hanya bisa mengurung, lebih tidak. Selama pertandingan itu, Uy Yap Toojin kuatirkan sangat sutee-nya itu, dikuatirkan melakukan sesuatu kekeliruan gerakan, akan tetapi sekarang ia dapat bernapas lega. Ang In tidak dapat terka Giok Lo Sat menggunakan ilmu silat macam apa. Sudah lima puluh tujuh jurus ia melayaninya, masih tetap nona itu berada di atas angin. Hal ini membuat Uy Yap mulai berkuatir pula. Suheng ini menjadi gelisah, karena ia telah berjanji dengan Tiat Hui Liong tidak boleh membantui sutee itu, karena ia sudah membuat perjanjian. It Hang duduk di sebelahnya Uy Yap Toojin paman guru ini diam-diam tarik tangannya keponakan murid itu.
"Kau tunggu sebentar saja, lantas kau gantikan paman gurumu itu,"
Ia kata seperti berbisik.
Di dalam tingkat kedua, It Hang adalah yang kepandaian silatnya paling tinggi, dibandingkan dengan Ang In, ia hanya kalah satu tingkat, akan tetapi ia masih muda, dalam hal tenaga ia jauh lebih menang dari sang paman.
Maka Uy Yap ingin keponakan ini layani Giok Lo Sat, sedikitnya untuk lima puluh jurus.
Iapun anggap It Hang ada dari tingkat muda, walau kalah pun dia^ tidak mendatangkan malu.
Ia pikir, baik ambil tempo dulu sekedarnya setelah itu, baru ia akan pikir pula lebih jauh.
Akan tetapi It Hang bengong memandang gelanggang pertempuran, kaki tangannya dingin.
Tangan yang dingin seperti es itu membuat kaget paman gurunya hingga paman ini mengawasi muka orang.
"Ah, kau sakit?"
Tanyanya, It Hang tidak menjawab, ia melainkan anggukkan kepalanya bagaikan orang yang kurang sadar akan dirinya.
Uy Yap Toojin jadi heran dan masgul.
Pertempuran berjalan terus dengan tak kurang hebatnya.
Dahinya Ang In Toojin telah bermandikan peluh...
Dalam keadaan sehebat itu mendadak terdengar tertawa panjang dari Giok Lo Sat, lalu tampak pedangnya menjurus kepada bahunya imam itu.
Ang In gunakan pedangnya untuk menangkis serangan itu.
Giok Lo Sat tarik memendekkan tangannya, lalu ia angkat naik untuk dari atas menyerang ke bawah.
Nyata sekali ia hendak tikam lutut lawannya.
Terang itulah ilmu pukulan Butong pay "KimCiam touwhoa"
Atau "Jarum emas ditoblos benang".
Tentu sekali, Ang In Toojin heran karenanya.
Sesudah bertempur demikian jauh, seratus junis lebih, imam dari Butong san ini mulai melihat tegas, ilmu silat lawannya itu benar-benar luar biasa, sesuatu serangannya atau gerakannya, adalah bertentangan dengan cara-cara yang umum, ia jadi bingung, hingga ia tidak tahu dengan cara apa ia harus memecahkan kurungan untuk balas menyerang.
Maka sedapat mungkin ia berlaku sabar, senantiasa berjaga-jaga.
terutama untuk menjaga jangan sampai ia kena diakali.
Tapi sekarang ia tampak orang serang ia dengan tipu silat partainya sendiri, maka lupalah ia kepada sikapnya mengawasi serangan berbalik dari lawan itu.
Begitulah ia "membuka pintu", untuk putar pedangnya dua libatan, guna menangkis.
Inilah tipu silat "SamCoan hoatlun" --"Tiga kali roda berputar", yang biasa dipakai memecahkan "KimCian touwshoa"
Itu.
Benar-benar aneh cara bersilatnya Giok Lo Sat.
Sudah jelas dia menggunakan tipu silat Butong pay, pedangnya menjurus ke bawah, tetapi belum mengenai pada sasarannya, mendadak dia merubahnya, pedangnya menyambar ke atas membentur pedangnya Ang In, hingga bentrokan itu membuat pedangnya imam itu terpukul keras dan terpental, hampir terlepas dari cekalan, sampai Ang In kaget tak kepalang.
VI Keng Ciauw Lam saksikan bahaya yang mengancam gurunya itu, tanpa merasa ia keluarkan seruan, hingga ia hendak betot Gie Sin Seng supaya suheng ini maju menolongi.
Tapi Ang In lolos dari bahaya, ia sempat mundur dua tindak.
Ini membuktikan bahwa ia adalah salah satu jago Butong pay.
Giok Lo Sat lantas tertawa pula dengan manis, walau ia baru saja habis berkelahi lama dan seru, sedang lawannya telah bermandikan peluh.
"Kita sudah bertempur sampai seratus jurus,"
Kata dia, dengan sikap gembira seperti biasa, tetapi tetap tidak ada yang menang dan kalah, maka menurut pendapatku, baiklah hutang ini dibikin habis saja, tidak perlu kita berkelahi terus!"
Nona itu mengucap demikian karena ia memandang kepada It Hang, dengan demikian ia mau memberi muka pada Angin Toojin.
Akan tetapi Ang In memikir lain.
Dia telah bertempur lama sampai dia rasakan kepalanya pusing, sekarang di depan murid-muridnya dia tidak sanggup robohkan satu anak muda, dia merasa malu sendirinya.
Malah mendengar kata-kata si nona, bagaikan api ditambah minyak, dia menjadi bertambah gusar, mukanya merah padam, giginya berkerot.
Tanpa kata lagi dia maju dan menikam Giok Lo Sat!
'Nona itu menangkis, alisnya bangkit berdiri.
Ia tertawa dingin.
"Ha! kau masih hendak berkelahi terus?"
Tanya dia. Dan dengan ujung pedangnya dia terus menikam iga kanan lawannya itu. Kali inipun Giok Lo Sat menggunakan tipu silat Butong pay, yakni "Pekho tokhie"
Atau "Bangau putih mematok ikan".
Baru saja Ang In peroleh pelajaran, seharusnya ia ingat itu.
Akan tetapi ia telah belajar ilmu pedangnya untuk puluhan tahun, pedang itu seperti sudah menjadi satu dengan hatinya, ia terpengaruh oleh kebiasaannya, maka melihat si nona menyerang dengan "Pekho tokhie", tanpa menginsafinya lagilagi ia membuka lowong penjagaan dirinya dengan menangkis pedang lawan dengan "Hengkang kiattauw"-"Lintangkan sungai memotong tebing".
Adalah keinginannya untuk menggempur pedangnya nona itu.
Giok Lo Sat telah kembali memancing, nyata ia berhasil.
Maka ketika"
Pedangnya hendak digempur, ia membalik tangan seperti tadi dan berbalik ia yang mendahului menggempur pedang lawannya, yang disampok terputar dengan keras dan terpental lepas dari cekalannya Ang In.
Dalam kagetnya Uy Yap Toojin tolak tubuhnya It Hang.
"Kau masih belum hendak keluar membantunya?"
Serunya pada murid keponakan.
Tapi waktu itu Gie Sin Seng bersama saudara-saudaranya sudah lompat menyerang Giok Lo Sat untuk menolongi paman gurunya, karena mereka kuatir paman gurunya diserang terus hingga terluka.
It Hang kaget sampai seperti semangatnya terbang, dengan tergesa-gesa ia hunus pedangnya.
Tetapi pertempuran telah menjadi sangat kalut, suara beradunya senjata-senjata berisik sekali, karena Sin Seng dan saudara-saudaranya sudah menyerang dan mengepung Giok Lo Sat sangat serunya, hingga tampak si nona yang putih bagaikan berterbangan, karena ia mesti perlihatkan kelincahannya dengan selalu menyingkir dari setiap rangsakan.
Lima murid Butong pay lupa maksud mereka semula ialah untuk menolongi paman mereka terus kepung si nona dengan hebat.
Akan tetapi pengepungan mereka tidak berlangsung lama, karena segerajuga pedang mereka masing-masing telah dibikin terbang terpental, lepas dari cekalan mereka.
Keng Ciauw Lam juga lompat maju, tetapi begitu lekas ia dipelototi oleh si nona, lantas ia menjadi kuncup kembali, bukan saja ia tidak berani menerjang terus, malah ia lempar diri ke lantai, untuk bergulingan sampai di sudut tembok!
Menampak murid-muridnya dipermainkan secara demikian, matanya Ang In Toojin menjadi merah bahna gusarnya, ia lompat kepada pedangnya yang ia jemput, terus ia maju akan menerjang pula musuhnya.
Ia lupa dan telah mengingkari janji untuk tidak mengerubuti si nona.
Giok Lo Sat mundur, ia tertawa dengan dingin.
"Lebih baik kau tunggu muridmu memungut pedang mereka dahulu. masih belum terlambat!"
Demikian ia mengejek.
Ang In tidak perdulikan ejekan itu.
ia menusuk dan menusuk lagi.
hingga tiga kali saling susul, selama itu Giok Lo Sat main mundur sambil berjaga diri.
Adalah pada tikaman yang ketiga kalinya barulah si nona gerakkan pedangnya.
Justeru itu It Hang telah datang dekat kepada si nona.
kaki dan tangannya lemas seperti tidak bertenaga, akan tetapi dia paksakan diri akan serang si nona, karena dia lihat paman gurunya sedang terancam.."Ah!"
Si nona berseru, menyusul mana, pedangnya terlepas dan jatuh ke lantai, tubuhnya sendiri mencelat mundur sampai kira-kira satu tombak, dari lengannya, mengalir darah yang menembus keluar dari bajunya sehingga lengan baju itu berubah warnanya menjadi merah.
Giok Lo Sat adalah seorang yang biasa suka menang sendiri, semula di waktu layani Ang In ia masih sadar, ia masih memandang It Hang, tidak mau ia melayaninya secara sungguh-sungguh akan tetapi imam itu terlalu turuti amarahnya, dia telah terlalu mendesak sehingga membangkitkan kemendongkolannya nona itu, si nona, menggempur pedangnya sampai terpental dan terlepas.
Adalah sesudah bikin terbang pedangnya semua murid Butong pay, barulah nona itu sadar, ia menyesal atas kesudahan yang demikian hebat itu.
Maka kebetulan sekali It Hang lompat menikam padanya, sambil di satu pihak ia tangkis pedangnya Ang In Toojin, di lain pihak ia sengaja perayal gerakan tangannya, membiarkan lengannya ditikam pedangnya pemuda she To.
lalu ia menjerit dan lompat mundur.
It Hang kaget, ia terhuyung karena lemas dan kelesuannya.
Ang In pun kaget, karena ia terlolos dari bahaya, tetapi berbareng iapun heran karena si nona tertikam oleh It Hang dan lompat mundur, hingga ia seperti merasa sedang bermimpi.
Karena ini, walaupun ia masih menyekal pedangnya, ia tidak berani kejar nona itu.
Sementara itu Uy Yap Toojin tonton pertempuran itu dengan hati gelisah, pikirannya kusut.
Ia kaget akan lihat romannya It Hang, hingga lupa ia pada janjinya kepada Tiat Hui Liong.
Dengan tiba-tiba ia mencelat bangun sambil mementangkan kedua tangannya, setelah mana, ia lompat maju!
Menyusul mencelatnya Uy Yap itu, Tiat Hui Liong juga bergerak bagaikan terbang untuk segera merintangi imam itu.
hingga tubuh mereka berbenturan sampai menerbitkan suara keras, keduanya sama-sama terpental mundur.
"Uy Yap Toojin, janganlah kau merendahkan derajat dengan mengingkari janjimu!"
Berteriak Hui Liong sekuatnya bagaikan geramnya harimau. Uy Yap berkuatir sangat untuk keponakan muridnya, sampai ia tak gubris Hui Liong.
"It Hang, kau roboh?"
Dia tanya keponakan muridnya. Dia menyangka murid itu terluka. It Hang tidak lantas dapat menjawab paman gurunya itu, ia bingung sekali.
"Suheng, mari kita pergi!"
Ang In Toojin ajak kakak seperguruannya itu. Hui Liong masih gusar, ia hendak menyerang Uy Yap ketika ia dengar suara anak pungutnya.
"Ayah, anakmu bertempur seri dengan mereka itu, sudahlah, bikin habis saja perhitungan ini!..."
Kata Giok Lo Sat sambil melendotkan tubuhnya pada meja kayu wangi.
"Apa yang kau hendak artikan?"
Hui Liong tanya, karena ia tidak mengerti.
"Aku berterima kasih kepada Ang In Tootiang yang telah sudi mengalah terhadap aku."
Sahut anak pungut itu.
"akan tetapi setelah majunya murid mereka dari tingkat kedua, aku telah dikalahkan. Maka aku anggap kita seri, tidak ada yang kalah, tidak ada yang menang..."
"Jikalau begitu, perkara boleh dibikin habis,"
Kata sang ayah angkat kemudian.
"Uy Yap Tootiang, kalian mempunyai urusan penting sekali, aku tidak dapat menahan kalian lebih lama pula!"
Jago tua ini segera kembali ke kursinya, untuk jatuhkan diri berduduk.
"Mari minum teh!"
Ia mengundang.
Tapi itu adalah cara menyilahkan orang pulang...
Ang In Toojin tertawa tidak bisa, menangispun tak dapat.
Ia diam saja.
Uy Yap anggap tiada faedahnya untuk melanjutkan pertempuran, ia memaksakan bersenyum.
Ia lantas rangkap kedua tangannya pada tuan rumah untuk pamitan.
"Di depan arwah Cie Yang Tootiang, tolong haturkan maafku,"
Tiat Hui Liong mohon.
"Pasti aku tak akan lupakan itu!"
Sahutnya Uy Yap Toojin.
It Hang pun menuruti sikap gurunya, ia memberi hormat untuk pamitan.
Ia lihat Giok Lo Sat mengawasi padanya dengan wajah berseri dan tertawa, ia jengah untuk balas mengawasi, buru-buru ia memalingkan muka untuk segera berlalu.
Selagi meninggalkan Tiat keeCung, wajahnya Ang In Toojin bermuram durja dengan terus membungkam mulut.
Terang ia sangat malu dan mendongkol.
Uy Yap Toojin jalan berendeng bersama It Hang, ia sengaja jalan ketinggalan berdua It Hang di belakang adik seperguruannya itu.
"Ilmu silat pedangnya Giok Lo Sat itu benar-benar luar biasa. namanya yang tersohor bukannya kosong belaka,"
Dia kata dengan perlahan pada muridnya.
"tetapi kenapa dia dengan mudah dapat ditikam lengannya olehmu?"
"Itulah karena aku mengandal bantuannya samsusiok."
Jawabnya, lt Hang. Paman guru itu tertawa.
"Walaupun aku sendiri masih belum tentu dapat mengalahkan padanya."
Dia kata. It Hang tahu, bahwa paman gurunya tidak percaya kepadanya, mukanya menjadi merah.
"Aku lihat dia sebenarnya mengasihi kau..."
Kata pula paman guru itu.
Melihat paman gurunya tetap tidak mempercayainya, terpaksa It Hang berkata terus terang tentang perkenalannya kepada nona yang kosen itu, sedikitpun tidak ada bagian yang ia umpetkan.
Mengetahui si nona tempur enam "iblis"
Di atas gunung Hoasan, diam-diam Uy Yap Toojin mengaguminya. Dan mengenai asal-usulnya nona itu, ia menjadi heran. Lama ia diam berpikir, baru ia manggut-manggut.
"Kalau begitu, nyatalah dia bukannya berandal biasa,"
Pikir imam ini.
"Dia tersesat tetapi perbuatannya tidak terlalu dapat dicela."
Lalu ia berkata.
"Kiranya dia disusui biang srigala, pantas tabiatnya berandalan. Tetapi kau seorang keturunan sasterawan, tidak selayaknya kau bergaul rapat kepadanya."
"Harap susiok ketahui, dengan dia sebenarnya aku tidak punya perhubungan pribadi,"
It Hang jelaskan pada paman guru itu.
"Mudah-mudahan demikian adanya."
Uy Yap tertawa.
"Kau kini telah diangkat sebagai Ciangbunjin, apabila kau membawa kisah, kau bisa ditertawai saudara-saudara seperguruanmu."
Mendengar itu, It Hang pikir.
"Baik aku tidak mau jadi Ciangbunjin!"
Perjalanan dilanjutkan di sepanjang sungai Honghoo, melewati Tongkwan, masuk ke propinsi Hoolam, lalu dari Lamyang memasuki propinsi Ouwpak.
Di sepanjang jalan mereka tidak kesepian.
It Hang tidak merasa lega hati.
Ia dapat kesan bahwa Ang In Toojin bersama Gie Sin Seng dan lain-lainnya bersikap bermusuhan terhadap Giok Lo Sat, kecuali Uy Yap Toojin.
Tetapi Uy Yap Toojin memandangnya Giok Lo Sat sebagai golongan sesat.
"Sayang,"
It Hang mengeluh.
Ia telah peroleh pengalaman bagaimana sukarnya untuk dapat melenyapkan salah mengerti.
Dua puluh hari lebih telah berselang, mereka telah lewati pelabuhan Lauwhookauw.
Dari situ mereka sudah lantas bisa lihat gunung Butong san di mana sudah berkumpul muridmurid Butong pay-murid-imam dan muridbiasa.
Mereka itu menyambut dengan gembira.
Di antara merekapun turut serta Pek Sek Toojin dan Ceng Soo Toojin.
Sehabisnya menjalankan kehormatan, ItHang diantar Pek Sek Toojin menengoki jenazah gurunya.
Dua bulan lebih sejak wafatnya imam ini, untuk menantikan pulangnya It Hang, mayatnya belum dikubur.
Karena ini, mayat itu telah dipakaikan obat pembalsem agar tubuhnya tidak menjadi rusak.
Melihat roman gurunya, It Hang menangis sampai roboh pingsan, ketika ia sadar kemudian, ia dapatkan semua paman gurunya serta saudara-saudara seperguruannya dari tingkat kedua, yaitu dua belas murid kepala dari cabang-cabang Butong pay Selatan dan Utara, sudah berdiri berbaris mendampingi padanya, berdiri diam dengan roman sungguhsungguh.
Segeralah terdengar suaranya Uy Yap Toojin.
"It Hang! Di masa hidupnya, gurumu sangat sayang kepadamu, semua kepandaiannya dia telah wariskan kepadamu, hingga kau selanjutnya tinggal membutuhkan latihan dan pengalaman saja Dengan perbuatannya itu, sudah tentu gurumu mengharap supaya kau dapat mewarisi juga usahanya, guna memancarkan sinarnya Butong pay kita. Tahukah kau keinginan gurumu itu?"
It Hang mengangguk.
"Meskipun tubuh teeCu akan hancur lebur, itu masih tidak cukup untuk membalas budinya suhu,"
Ia nyatakan. Ia lalu berlutut. Uy Yap Toojin memimpin bangun.
"Sebentar sore kau mesti berkeramas membersihkan diri dan pantang juga,"
Paman guru itu kata.
"Besok kita akan jalankan upacara besar, supaya selanjutnya kau dapat pegang pimpinan. Mengenai pelbagai cabang kita, di mana yang kau kurang jelas, sekarang kau boleh tanyakan keterangannya."
Akan tetapi It Hang berkata.
"Dengan sesungguhnya teeCu tidak sanggup untuk menjadi Ciangbunjin, tidak berani teeCu menerimanya."
"Kenapa begitu?"
Uy Yap Toojin tanya, ia heran.
"TeeCu masih sangat muda dan pengetahuanku cetek sekali, bagaimana teeCu sanggup memimpin semua saudara seperguruanku?"
It Hang menjawabnya.
"Untuk memancarkan dan meluaskan kaum kita, kita justeru membutuhkan kaum muda,"
Berkata Uy Yap.
"Adakah kau mempunyai semangat untuk bertanggung jawab. Ataukah kau hendak timpakan itu kepada kami beberapa tua bangka?"
It Hang berpaling kepada Gie Sin Seng, siapa sebaliknya sudah lantas ajak empat murid kepala dari pelbagai cabang menghampiri padanya, untuk memberi hormat dan dia berkata.
"To Hiantee, jangan kau menolak lagi. Siapa berani menentangi pesan ketua almarhum? Kau harus ingat, di sini ada empat susiok yang bisa membantu padamu."
Sin Seng duga lt Hang kuatir lain-lain saudara seperguruan tidak puas akan pengangkatan itu, maka ia mengucap demikian, akan tetapi nyata dugaannya itu keliru.
"It Hang, kau harus ingat pengharapannya gurumu almarhum,"
Pek Sek Toojin pun bantu membujuki.
It Hang mengawasi ke kedua belas saudara seperguruannya, ia dapat kenyataan di antara mereka memang tidak ada yang cocok, maka kalau ia pujikan satu di antaranya, pasti akan ditolak.
"Gurumu tidak dapat lebih lama pula menantikan kau!"
Uy Yap Toojin mendesak karena ia lihat orang masih tetap raguragu.
"Jikalau kau tidak mau terima pengangkatan, gurumu pasti belunvdapat dikubur. Puaskah hatimu apabila sampai terjadi demikian macam?"
It Hang lantas saja menangis.
"Semua susiok dan saudara-saudara..."
Katanya.
"teeCu telah terima budinya kaum kita, apapula sekarang ada pesan dari suhu, sudah selayaknya teeCu terima pengangkatan ini. Akan tetapi teeCu mempunyai kesulitan sendiri. Umpama teeCu harus menerimanya juga, itu mesti ditunda sesudah tiga tahun."
Uy Yap Toojin heran.
"Kenapa begitu?"
Ia tanya.
"Itulah disebabkan karena difitnah, aku sekarang menjadi pemburon pemerintah."
It Hang terangkan.
"Sebelum fitnahan itu dapat dibikin terang, bagaimana teeCu dapat menjadi ketua?"
Uy Yap terkejut.
"Mari!"
Ia mengajak. Maka mereka pergi ke lain ruang di mana si imam tanya jelas keterangan lebih jauh dari keponakan murid ini. Selama dalam perjalanan pulang, di mana ada banyak saudaranya, It"
Hang tidak berani sembarang omong.
Ia tahu, bahwa bencana sedang mengancam pemerintah.
Tapi di sini dengan hanya berada berdua saja.
ia berikan keterangannya.
Ia beber rahasia niatnya bangsa Boan melakukan penyerbuan, untuk mana mereka itu sekarang lagi beli-belikan penghianat untuk mewujudkan maksud jahatnya itu.
Mendengar itu, Uy Yap Toojin terperanjat, hingga ia berdiam sekian lama.
"Habis, apakah Giok Lo Sat ketahui hal itu?"
Tanya dia.
"Ya, dia ketahui itu,"
It Hang jawab.
"Dalam pertempuran di atas Hoasan, dua di antara enam iblis itu adalah penghianat yang menjadi perkakasnya bangsa Boan."
"Giok Lo Sat adalah seorang penjahat besar dari Rimba Hijau,"
Kata pula Uy Yap.
"Dan yang lainnya adalah penghianat yang hendak merobohkan negara, bukankah mereka itu orang-orang sekaum?"
"Sebaliknya, susiok,"
Kata It Hang.
"Giok Lo Sat justeru sangat benci rombongan penghianat itu --membencinya sampai ke tulang-tulangnya! Bukan melainkan Giok Lo Sat, juga Ong Ciauw Hie benci kawanan manusia hina dina itu! Di matanya kaum Rimba Hijau, raja boleh dirobohkan untuk digantinya, akan tetapi negara tak dapat dibiarkan termusnah di tangan bangsa lain."
Kembali Uy Yap berdiam.
"Sebenarnya kita dari kaum Butong pay tidak biasanya mencampuri urusan pemerintahan,"
Kata ia kemudian.
"akan tetapi urusan ada mengenai keutuhan negara, kau sendiripun sedang terfitnah, maka urusan ini kau harus membereskannya Apakah kau niat berangkat ke kota raja begitu lekas gurumu dimakamkan?"
It Hang manggut.
"Benar,"
Jawabnya.
"TeeCu ingin menghadap putera mahkota. Kawanan penjahat itu sudah mencelakai utusan-utusan raja, kejahatannya itu mereka timpahkan kepadaku, maka perlu aku menjelaskannya."
"Hal ini tidak perlu kau beritahukan saudara-saudara seperguruanmu, kecuali paman guru-gurumu,"
Uy Yap kata.
"TeeCu juga memikir demikian,"
Berkata It Hang.
"Sama sekali bukannya teeCu tidak mempercayai saudara-saudara seperguruan sendiri tetapi teeCu anggap ada bahaya rahasia bocor apabila orang yang mengetahuinya terlalu banyak."
"Aku mengerti, tidak usah kau menjelaskannya lagi."
Uy Yap kata.
"Sekarang kau tunggu di kamar semedhi, nanti aku panggil ketiga susiokmu itu."
It Hang menurut, ia pergi ke kamar semedhi untuk menunggunya.
Uy Yap muncul tidak lama bersama Ang In, Pek Sek dan Ceng So, ketiga imam adik seperguruannya itu.
It Hang segera berikan keterangannya, sesudah mana, mereka itu lantas mengadakan perundingan.
"Kalau demikian duduknya hal,"
Menyatakan Pek Sek Toojin.
"baiklah It Hang tunda dahulu pengangkatannya sebagai ketua, kami angkat suheng selaku pemangku jabatan itu untuk tiga tahun."
"Usiaku sudah lanjut, kesehatanku makin hari makin berkurang, bagaimana aku dapat menjalankan tugas itu?"
Menyatakan Uy Yap.
"Hanya untuk selama tiga tahun, suheng."
Pek Sek mendesak.
"Jikalau bukan suheng, siapa lagi yang dapat melakukannya?"
Ang In dan Ceng So juga setujui Pek Sek, mereka bantu membujuki.
"Baiklah,"
Kata Uy Yap Toojin setelah didesak.
Sampai di situ, empat tetua itu pergi keluar untuk menemui dua belas murid kepala dari pelbagai cabang itu, untuk menjelaskan mereka halnya It Hang terfitnah, perlulah ketua muda itu diberi ketika untuk membersihkan diri, karenanya, upacara pengangkatan ketua terpaksa harus ditunda dahulu.
Semua murid kepala itu dapat penjelasan, malah mereka bersimpati kepada bakal ketuanya itu.
Dengan tidak sangsisangsi mereka segera berikan kesetujuannya.
Setelah persoalan ketua beres, mereka lalu repot membuat persediaan untuk pemakaman jenazah Cie Yang Toojin, yang dilakukannya selang beberapa hari kemudian, maka setelah tfu, pelbagai murid lantas bubaran pulang.
Cuma It Hang seorang yang tidak segera berangkat Pada suatu malam.
Uy Yap Toojin panggil keponakan muridnya ke dalam kamarnya.
"Semasa ayahmu di kota raja, apakah kau telah ditunangkan?"
Tanyanya tiba-tiba paman guru ini.
"Tidak,"
Menjawab It Hang dengan sebenarnya. Tapi dalam hatinya ia heran, kenapa paman guru ini menanya demikian.
"Usiamu tidak muda lagi, seharusnya kau sudah bertunangan."
Kata pula paman guru itu.
"Sekarang teeCu sedang berkabung, tidak pantas teeCu membicarakan soal perjodohan?"
Sahut keponakan murid ini. Uy Yap Toojin tertawa.
"Aku bukannya orang turunan berpangkat, sedikitnya aku tahu juga tentang adat kesopanan."
Berkata dia.
"Memang, siapa sedang berkabung, dia mesti menanti tiga tahun, baru dia dapat menikah, akan tetapi membicarakan hal perjodohan tidak menjadi halangan"
It Hang terkejut.
"Sekarang sedikitpun teeCu tidak memikirkan hal perjodohan."
Kata dia dengan lekas Uy Yap berdiam sebentar, lantas ia tertawa.
"Orang semacam kau seharusnya mempunyai pasangan yang cantik dan bijaksana,"
Katanya pula.
"Giok Lo Sat liCay ilmu silatnya, sayang tak dapat dia lenyapkan sifat banditnya, maka aku hendak menasihatkan kau supaya tidak jatuh hati kepadanya."
"Soal itupun belum pernah teeCu pikir."
It Hang kata.
"Berulang kali susiok sebut-sebut hal ini, mungkinkah susiok tidak mempercayai teeCu?"
"Kau adalah orang kami yang dibuat andalan, orang yang bertanggung jawab, maka aku sangat kuatir kau nanti salah jalan!"
Sang paman guru omong terus terang.
"Harap susiok tetapkan hati,"
Kata It Hang.
"Syukur!"
Sahut paman guru itu.
"Meski demikian, apabila ada satu nona yang cocok, aku nasihatkan kau mengikat jodoh, supaya hatimu tidak lagi terpengaruh."
Makin lama It Hang makin heran mengenai sikapnya paman guru ini.
tanpa merasa, hatinya bercekat.
Memang belum pernah ia pikir untuk nikah Giok Lo Sat.
akan tetapi entah kenapa, setelah lihat nona itu, hatinya bagaikan terikat...
adatnya Giok Lo Sat yang keras ada kalanya membuat ia jeri.
malah pun terkadang ia sebal, akan tetapi wajahnya si nona seperti sudah tercetak dalam hatinya.
Sekarang, mendengar kata-kata paman gurunya ini.
ia mendapat kesan paman guru itu telah menjadi comblang bagi dirinya untuk dijodohkan dengan lain orang.
Maka iajadi gelisah sendirinya.
"Benar-benar teeCu tidak memikir untuk menikah semuda ini!"
Katanya sambil menggoyang-goyangkan tangan.
Uy Yap pandang keponakan murid itu.
ia tertawa dalam hatinya tetapipun ia merasa kuatir.
Ia tidak percaya penuh akan kata-katanya pemuda ini bahwa dia tidak pernah memikiri Giok Lo Sat.
"Tetapi baiklah aku tidak desak terus padanya"
Pikirnya kemudian.
"Baik aku tunggu sampai sudah ada nona yang tepat, nanti aku amprokkan mereka, supaya mereka lama bergaul rapat, mustahil hatinya takkan berubah..."
Lalu ia bersenyum sendirinya. Dan ia tidak bicara lebih jauh pula. It Hang lihat perubahan sikap paman gurunya itu, baru ia merasa hatinya lega.
"Apakah susiok ada pesan lainnya lagi?"
Tanya It Hang sambil berbangkit, sikapnya tetap menghormat.
"TeeCu niat berangkat besok."
Niat semula dari pemuda ini adalah untuk tunggu sampai harian "samCit" (dua puluh satu hari), akan tetapi mendengar kata-kata paman gurunya itu, ia lantas ubah waktu keberangkatannya itu.
Ia anggap, lebih cepat berangkat lebih baik.
"Kau duduklah dahulu!"
Paman guru itu berkata sambil tertawa. Mau tidak mau keponakan murid ini terpaksa duduk pula.
"Kau adalah murid yang bakal jadi Ciangbunjin kita. sebenarnya hatiku tidak tenteram membiarkan kau berangkat seorang diri ke kota raja."
Kata Uy Yap dengan perlahan. It Hang ingat desakannya I n Yan Peng dan Kim Cian Giam. ia anggap kekuatirannya paman guru ini beralasan. Maka ia diam saja. Uy Yap Toojin pun berkata pula.
"Maka itu aku pikir hendak minta sususiokmu menemani kau." (Sususiok = paman guru yang ke-4). Sususiok itu adalah Pek Sek Toojin, karena di dalam Butong Ngoloo --Lima Tetua dari Butong pay --dia adalah anggota yang ke empat, usianyapun paling muda, baru berumur lima puluh. Dia menjadi toosu -imam --baru pada sepuluh tahun yang silam. It Hang tahu paman guru yang ke empat ini asal orang she Ho, dia menjadi imam karena isterinya meninggal dunia dia pilih Butong san sebagai tempat sucikan dirinya.
"Sejak dia piebu dengan Tiat Hui Liong,"
Kata Uy Yap mengenai adik seperguruannya itu, dia rajin sekali melatih diri, hingga dia sekarang beda jauh daripada dulu, maka dengan bergaul rapat kepadanya, kau pasti akan peroleh banyak kebaikan."
"Dengan ada sususiok sebagai kawan seperjalanan, itulah bagus,"
Kata It Hang.
"Hanya dengan demikian aku akan memberabekan sususiok..."
"Mengenai paman gurumu, kau tak usah berlaku sungkan."
Kata Uy Yap sambil tertawa. Terus ia berbangkit.
"Sekarang pergilah kau beristirahat,"
Dia menambahkan.
It Hang menurut.
Ia girang mendapatkan Pek Sek Toojin sebagai kawan seperjalanan.
Memang biasanya ia dan Pek Sek Toojin bergaul lebih rapat daripada lain-lain paman gurunya.
Keesokan harinya It Hang lantas pamitan dari ketiga paman gurunya.
Sebelumnya ia lebih dahulu sambangi kuburan gurunya untuk pamitan.
Kemudian barulah bersama-sama Pek Sek Toojin ia turun gunung.
Setelah jalan sepuluh hari lebih keponakan murid dan paman guru ini sudah memasuki wilayah propinsi Hoolam bagian Timur.
"It Hang, bagaimana kalau kita pergi ke gunung Siongsan?"
Tiba-tiba Pek Sek Toojin tanya keponakan muridnya itu selagi mereka berjalan. It Hang bertujuan ke Pakkhia, ia heran untuk kegembiraannya paman guru ini.
"Ada keperluan apakah maka susiok niat pesiar ke gunung Siongsan?"
Tanyanya.
"Siongsan adalah salah satu dari lima gunung terbesar,"
Sahut paman guru itu sambil tertawa.
"Gunung yang demikian besar dan kenamaan, akan sayanglah kita lewatkan begitu saja!"
"TeeCu anggap masih belum terlambat apabila kita mengunjunginya lain waktu setelah selesai tugasku,"
Kata keponakan murid itu.
"Terlambat datang di kota raja beberapa hari tidak ada artinya"
Kata Pek Sek.
"Aku tidak hanya hendak pesiar, aku sekalian ingin mengunjungi satu orang..."
"Jikalau demikian, teeCu suka mengiringinya,"
Kata It Hang, tapi dalam hatinya ia menggerutu bahwa paman guru ini tidak mau menjelaskannya.
Siongsan adalah nama lengkap untuk kedua gunung Thaysit san dan Siauwsit san digabung satu.
Kedua gunung itu berdiri berhadapan, jarak di tengah-tengahnya ada kira-kira sepuluh lie lebih.
Di utaranya Siauwsit san, di bawah puncak Ngoleng hong, adalah tempat keletakannya kuil Siauwlim sie yang kesohor, pusatnya ilmu silat cabang Siauwlim pay.
"Apakah susiok hendak bikin kunjungan kehormatan ke Siauwlim sie?"
It Hang tanya paman gurunya.
"Kita kaum imam beda daripada pendeta, untuk apa aku unjuk kehormatan?"
Sahut sang paman guru sambil tertawa.
"Aku pun tidak bersahabat kepada ketuanya Siauwlim sie. Kita pesiar ke Thaysit san saja, kalau masih ada tempo, baru kita pergi juga ke Siauwsit san."
Jawaban ini membuat heran pemuda kita.
Kaum persilatan yang manapun, apabila mengunjungi gunung Siongsan, tidak ada yang tidak lebih dahulu pergi ke Siauwsit san.
Mungkin paman guru ini hendak tengok sahabatnya yang tidak mengerti ilmu silat.
Untuk mendaki gunung, paman guru dan keponakan murid ini bangun dan berangkat pagi-pagi.
matahari baru mulai muncul, kabut memenuhi seluruh gunung, hingga pemandangan sangat indah tampaknya.
Sesampainya mereka di tengah gunung, barulah halimun mulai tipis, Batara Surya tampak semakin nyata.
Terdengar suara bercicanya burungburung, harum semerbaknya bunga-bunga menyambar hidung.
"Sungguh indah pemandangan alam di sini!"
It Hang memuji.
Mereka berhenti sebentar, untuk makan rangsum kering, air selokan gunung yang jernih sebagai air minumnya, sehabis itu, mereka melanjutkan mendaki.
Di Siongsan ini terdapat banyak pohon pek yang tua-tua.
Pek Sek dan It Hangjalan di antara pohon-pohon pek itu, sampai mereka lihat sebuah yang sangat besar dan tinggi, besarnya kira-kira dua pelukan orang.
It Hang menjadi kagum sekali.
"Orang-orang yang mengunjungi Thaysit san memang sangat tertarik kepada pohon ini,"
Pek Sek terangkan.
"Katanya ketika kaisar Han Bu Tee mengunjungi Siongsan. dia telah menganugerahinya sebagai Tay Ciangkun, maka selanjutnya pengunjung-pengunjung lainnya menamakan pohon pek ini menjadi Ciangkun Pek. Andaikata cerita dahulu itu benar, maka usianya pohon pek ini tentunya sudah dua ribu tahun..." (Tay Ciangkun=Jenderal Besar. Ciangkun Pek = Pohon Pek Jenderal). It Hang pandang pohon pek istimewa itu, yang cabangnya banyak dan lebat daunnya, tanpa merasa ia tertawa sendirinya. Ia kata.
"Manusia hidup tak lebih daripada seratus tahun, dibanding dengan pohon ini, manusia adalah bayi belaka! Maka itu, kenapa manusia mesti perebuti harta dan nama besar sehingga mempersukar diri sendiri?..."
Selagi It Hang mengucap begitu. Pek Sek tarik tangannya.
"Kau dengar!"
Kata paman guru ini dengan perlahan.
"Seperti ada orang sedang jalan mendaki..."
It Hang dan paman guru itu segera bersembunyi di belakang pohon pek, dari situ keduanya memasang mata ke arah bawah, dari mana terlihat tiga orang asyik mendatangi dengan berpakaian seragam pembesar negeri, malah satu di antaranya, pemuda kita segera kenali sebagai Kimiewie Ciehui Cio Ho, itu komandan dari pasukan pahlawan (pengawal) Kimiewie.
Ia jadi heran.
"Kenapa diapun ada punya kegembiraan akan pesiar ke sini?"
It Hang menduga-duga.
Tapi ia tak dapat menerka lama-lama, karena ia rasakan tangannya sang paman guru menyekal tangannya untuk ditarik, dan ia rasakan tangan pamannya itu sedikit gemetar.
Ketika itu angin halus menghembus ke arah mereka, maka mereka dapat dengar pembicaraan orang-orang yang mendatangi itu.
"Lie Tayjin,"
Kata Cio Ho.
"kimCee telah diantar ke kantor tokbu, dengan begitu tanggungjawab kita telah jadi enteng bukan main."
Orang yang disebut Lie Tayjin itu menyahut.
"Putera mahkota segera bakal naik atas tahta kerajaan, aku percaya In Yang Peng dan kavvan-kawannya tidak akan berani mengganggu kimCee pula."
It Hang segera duga, orang sedang asyik membicarakan halnya dua kimCee atau utusan raja.
kedua kimCee she Ciu dan Lie.
Rupanya kedua kimCee itu sudah lolos dari ancaman bencana.
Lalu terdengar orang yang ketiga berkata.
"Lie Tayjin, malam ini pasti kami bakal tenggak arak kegirangan!"
Lie Tayjin bersenyum tetapi ia tidak kata apa-apa.
It Hang menoleh kepada paman gurunya, ia terperanjat.
Wajah paman ini tiba-tiba berubah.
Tadinya ia hendak bertanya tapi sang paman guru berikan tanda dengan goyangan tangan untuk ia berdiam.
Sementara itu ketiga orang itu sudah mendekati pohon pek besar.
"Sukar dicari pohon pek demikian tua tapi masih tetap segar,"
Kata Cio Ho.
"Mari kita singgah di bawah pohon."
Lie Tayjin itu menghela napas.
"Wanita cantik sejak dahulu diumpamakan panglima kenamaan, orang inginkan dia untuk selamanya tidak menjadi tua dan ubanan,"
Katanya.
"tidak demikian dengan pohon ini yang dinamakan Thay Ciangkun. usianya sudah dua ribu tahun, namun ia tetap tidak berubah, sungguh aku kagum..."
"Hai, orang ini paham ilmu sastera."
Pikir It Hang.
Selagi tiga orang itu mulai datang dekat, Pek Sek hendak lompat keluar dari tempat sembunyinya, akan tetapi ia baru berpikir, ia segera dengar suara tertawa bercampur omongan, yang terbawa angin, datangnya dari bawah gunung.
Itulah suaranya orang perempuan.
Maka ia urungkan niatnya.
Tiga orang itupun segera berhenti bicara.
Suara tertawa dan bicara itu datangnya dari satu nona umur tujuh atau delapan belas tahun, yang mendatangi sambil menuntun satu nona kecil yang umurnya kira-kira sepuluh tahun lebih, yang jalannya sambil berjingkrak-jingkrak.
"Lihat, enCie, ada orang!"
Bocah itu kata. ketika ia tampak Cio Ho serta dua kawannya.
"Suruhlah mereka menyingkir, supaya kita bisa main petak di sini!"
Ketika itu. tangannya Pek Sek Tojin kembali bergemetar. Orang yang disebut Lie Tayjin itu berumur empat puluh lebih, romannya gagah. Dia bertindak memapaki kedua nona itu, terutama si nona cilik.
"Eh, nona kecil, apa namamu?"
Demikian dia tanya.
"Mana ibumu?"
"Kau tidak perlu tahu!"
Sahut bocah itu, tapi ia terus menambahkan.
"Aku tidak punya ibu, ada juga bibiku."
Si nona pandang Lie Tayjin ini, lalu ia kata pada kawannya.
"Adik Hoa, jangan ladeni mereka! Mari kita pulang!"
"EnCie, apakah mereka itu orang-orang berpangkat?"
Tanya si nona cilik.
"Bibi kata kepadaku bahwa semua pembesar bukannya orang baik-baik! Baiklah, enCie, mari kita pulang, jangan kita ladeni mereka!"
Nona itu benar-benar tuntun kawannya untuk berlalu. Lie Tayjin itu nampaknya kesusu.
"Eh, kami bukan orang-orang jahat!"
Serunya "Ajaklah aku pergi menemui bibimu itu!"
"Bibiku tak dapat menemukan kalian!"
Jawabnya nona cilik itu.
Orang yang ketiga seperti hendak bermuka-muka kepada Lie Tayjin ini, mendadak dia lompat ke kedua nona itu dan menghalau di depan mereka, terus dia tertawa dan berkata dengan ceriwis.
"Nona kecil yang manis, mengapa kau tidak mau perdulikan kami? Kami bisa ajak kau pesiar di dalam kota, di sana kau dapat bermain dengan gembira!"
Ia lantas ulurkan tangannya hendak meraba mukanya nona cilik itu.
"Hai, Ouw, jangan main-main!"
Si Lie Tayjin menyerukan. Kata-kata itu belum habis dikeluarkan, tangannya si nona sudah melayang sebab tangan itu telah mampir di kupingnya orang ceriwis itu dengan perdengarkan suara "plok!"
Hampir It Hang tertawa bahna lucunya penglihatan itu.
"Tentulah opsir ini sudah biasa berbuat ceriwis terhadap orang perempuan,"
Ia berpikir.
"Sekarang dia dapat bagian dari nona ini, itulah pantas!"
Opsir itu gusar karena dapat persenan tabokan itu!
Dia benar orang she Ouw dan namanya Kok Cu.
Pangkatnya lebih rendah daripada Lie Tayjin itu, tetapi mereka sama bekerja dalam barisan Kimiewie.
Dia memang gemar minum susu macan dan main perempuan.
Ketika tadi dia ditegur seatasannya, dia tidak puas, dalam hatinya dia menggerutu.
"Hm, kau berpura-pura alim!"
Gaplokan kepada klipingnya itu mendatangkan rasa sakit.
Dia segera gerakan kedua tangannya dan melompat ke depan menubruk nona cilik itu.
Si nona tarik minggir nona cilik itu, terus dia siap menyambuti sambaran tangan opsir ceriwis itu.
Dia pasang tangannya satu tengkurap dan lainnya celentang.
Kok Cu gagal, kedua tangannya membentur tangan si nona sampai ia terdorong mundur tiga tindak ke belakang.
"He. apakah kau berniat berkelahi?"
Tegurnya si nona.
Kok Cu bertambah gusar.
Dia adalah huCiehui ---komandan muda ---dari Kimiewie, murid Kunlun pay, namanya terkenal juga dalam dunia Rimba Persilatan, tapi sekarang dia tak dapat lolos dari gaplokan satu nona, juga kena ditolak hampir roboh, dia bukan main malunya.
"Ha, kau hendak melayani aku berkelahi?"
Dia membentak. Dia malu akan hilang muka.
"Bukannya aku yang hendak tempur kau, tetapi kau yang hendak serang aku!"
Si nona baliki.
"Aku tidak perduli siapa!"
Kok Cu membentak pula.
"Sekarang aku tidak dapat menyudahkannya begitu saja!"
Tadinya Lie Tayjin niat mencegah, tapi segera ia ingin menyaksikan kepandaiannya si nona untuk ketahui nona itu muridnya orang yang ia maksudkan atau bukan. Maka ia terus berkata.
"Kalau kalian mau berkelahi, mari di sinilah! Di sini tempatnya lapang!"
Si nona nampaknya tidak senang.
"Walaupun kalian bertiga maju semuanya, aku tidak takut!"
Katanya dengan jumawa. Ia terus bawa si nona cilik ke sebuah batu besar tidak jauh dari situ.
"Kau duduk di sini menonton! Jangan kau pergi ke mana-mana!"
Nona cilik itu tertawa, ia tepuk-tepuk tangan dengan riang gembira.
"Bagus! Aku diam menonton saja!"
Serunya.
"EnCie. kau harus dapat robohkan mereka!"
Si nona tidak menjawab, dia hanya lompat mencelat ke depan pohon pek Tay Ciangkun itu di mana terdapat sebidang tempat yang agak besar juga "Hayo, kau kemari!"
Ia memanggil seraya melambaikan tangannya.
Mukanya Ouw Kok Cu menjadi merah karena sangat murkanya, tanpa mengucap sepatah kata ia terima tantangan itu.
Dengan satu lompatan pesat ia hampiri si nona.
Nyata ilmu enteng tubuhnya dia kalah daripada si nona.
Cio Ho segera memperingatkan.
"Saudara Ouw. jangan sembrono! Nona itu adalah seorang ahli!"
Tapi Kok Cu tidak memperdulikannya.
"Sambutlah!"
Serunya, begitu lekas ia datang dekat kepada si nona tangan kanannya membarengi menyambar muka orang. Nona itu mundur sedikit, tapi berbareng dan sebat ia membabat lengan orang.
"Bagus!"
Seru Kok Cu sambil menangkis dengan tangan kirinya sedang tangan kanannya, sesudah ditarik pulang sedikit diteruskan untuk menjambak muka si nona. Itulah pukulan "Kimliongtamjiauw"
Atau "Naga emas ulur cengkeramannya", salah satu jurus dari Liongheng Sippat sie" (Delapan belas jurus jalan naga) dari Kunlun pay.
Tapi jambakan ini mengenai sasaran kosong.
Nona itu sudah berkelit sambil menangkis, akan dengan tangan kanannya balas menyerang iga kiri orang ceriwis itu Kok Cu mengelak dengan meringkas tubuh, ia dapat tolong diri.
Selagi lawan berkelit, tangan kirinya si nona sudah menyambar pula ke dada.
Orang she Ouw itu terkejut, ia berdongko untuk terus lompat mundur, tapi dia kalah sebat, pundaknya kena tersambar juga hingga bersuara, dia terhuyung mundur dua tindak.
"Sungguh berbahaya..."
Keluhnya di dalam hati.
Ia bersyukur hanya terhajar pundaknya kalau dadanya, hebat bukan main.
Karena ini, ketika ia maju pula, tidak berani lagi ia memandang enteng nona itu.
Ia melanjutkan bersilat dengan Liongheng Sippat sie itu, yang kemudian diubah menjadi Hekhauw kun --silat Harimau Hitam.
Ia menjaga diri berbareng menyerang, ia bisa mendesak.
Maka kemudian, walaupun si nona mahir ilmu enteng tubuhnya, ia jadi seimbang kepandaiannya.
Sampai di situ, si nona juga mengubah caranya bertempur.
Sekarang ia berloncat-loncat dan berputaran di sekitar dirinya Ouw Kok Cu, sewaktu-waktu ada lowongan, baru ia menyerang.
Repot juga pahlawan itu, yang kalah gesit ia tidak lagi sempat menyerang, bahkan untuk menjaga diripun ia sudah sibuk sekali.
Tidak heran, beruntun dua kali, ia rasakan pula tangannya si nona.
Untung baginya kedua-duanya serangan itu tidak berbahaya.
Hanya sekarang seluruh tubuhnya telah bermandikan peluh.
Si LieTayjin saksikan kawannya yang telah kewalahan itu.
"Saudara Cio, pergi kau gantikan saudara Ouw,"
Katanya.
"Tapi jangan kau lukai nona itu."
Cio Ho sudah lantas maju.
Dengan satu lompatan, ia sudah lantas berada di tengah-tengah di antara dua orang yang sedang bertempur itu, lalu ia gerakkan kedua tangannya ke kiri dan kanan, dengan tipu silat "Tayma kwieCo" --"Membawa kuda pulang ke kandang".
Tangan kirinya menarik Kok Cu ke damping, tangan kanannya menolak mundur si nona.
Jikalau mereka bertempur satu sama satu, mungkin Cio Ho tidak sanggup lawan si nona, tetapi ia mempunyai latihan lweekang yang baik, maka kedua tangannya sangat kuat.
Kuda-kudanya pun kuat sekali, ia menginjak lantai sampai bisa meninggalkan tapak kaki.
Nona itu tertolak mundur, tetapi ia berani dan adatnya keras pula.
"Bagus!"
Dia menantang.
"Hayo, maju kalian semua!"
"Sudahlah, nona!"
Si Lie Tayjin berkata.
"Kita ada orangorang sendiri. Bukankah gurumu seorang she Ho?"
Nona itu heran hingga ia mengawasi dengan ternganga. Si Lie Tayjin itu bersenyum.
"Sekarang marilah antarkan aku menemui bibimu!"
Kata pula si tayjin ini sambil bersenyum. Suara itu baru saja berhenti, dari atas gunung kelihatan seorang berlari-lari turun sambil berseru dengan bengis.
"Kau masih datang pula kemari! Apa kau mau?"
Nyata orang itu adalah satu niekouvv, pendeta perempuan, dari usia kira-kira empat puluh. Melihat pendeta itu, Lie Tayjin lari menghampirinya.
"Ah, mengapa kau cukur rambutmu menjadi niekouw?"
Tanyanya. Niekouw itu tidak menjawab, ia hanya ulurkan tangan kiri dan kanan kepada si nona dan nona cilik.
"Di dunia ini ada banyak orang busuk, mari kita pulang!"
Katanya. Sedikitpun ia tidak perdulikan tayjin itu. Si LieTayjin maju lagi beberapa tindak.
"Eh, apa kau tidak bisa dengar beberapa patah kata dari aku?"
Dia tanya. Niekouw itu ragu-ragu.
"Kau bicaralah!"
Katanya kemudian. Tayjin itu tertawa.
"Bicara banyakan toh boleh?"
Katanya. Niekouw itu mengawasi, mukanya keren. Lie Tayjin itu lantas berkata.
"Adik Hee, dulu aku salah, maka sekarang aku datang untuk sambut kau pulang!"
"Hm!"
Mengejek si niekouw.
"Ada sangkutan apa lagi di antara kau dan aku? Kau pangku pangkatmu, aku tetap menjadi pendeta! Jangan kau gerecoki aku!"
"Tahukah kair, bahwa putera mahkota akan segera menjadi kaisar?"
Kata si Lie Tayjin itu.
"Itupun tidak ada hubungannya dengan aku!"
"Kau tahu aku adalah orang kepercayaannya putera mahkota. Asal aku minta jabatan di luar kota raja, segera aku akan jadi satu Congpeng, atau mungkin satu jenderal! Itu waktu kau jadi nyonya berpangkat tinggi!" (Congpeng = brigadir jenderal). Mukanya niekouw itu merah padam dan pucat bergantian.
"Kau toh sudah punyakan nyonya besarmu sendiri!"
Dia menegur.
"Jikalau kau banyak omong lagi, jangan katakan aku tidak memandang-mandang lagi!"
Lie Tayjin itu masih tertawa.
"Tidak heran kau gusar, katanya dengan tertawa-pula.
"Kau tidak tahu bahwa Ouwsie sudah menutup mata dengan belum meninggalkan seorang anakpun. Rumahku tetap rumahmu..."
Niekouw itu tertawa dingin dan menunjukkan roman bengis.
"Pergi!"
Dia mengusir.
"Pada empat belas tahun yang lalu, karena kau temahai uang dan pangkat, kau telah sia-siakan aku!..."
"Itulah kehendak -ibuku..."
Berkata Lie Tayjin.
"Aku tidak bersangkut paut."
"Tetapi aku bukannya manusia rendah! Kau harus bertanggung jawab!"
"Meski demikian, umpama kau tidak mau ingat lagi sebagai suami isteri, kau harus ingat kepada si Sin, anak kita..."
Kata Lie Tayjin itu. Tubuhnya niekouw itu bergemetar. Ia sudah memutar tubuh tapi ia balik kembali.
"Bagaimana dengan anak Sin itu?"
Tanyanya.
"Dia sedang tunggui ibunya pulang..."
Niekouw itu tertawa dingin, ia mengejek pula.
"Apakah kau sangka aku tidak tahu keadaan dalam rumahmu?"
Katanya dengan bengis.
"Si Sin tidak tahan terhadap kebengisan ibu tirinya, dia sudah minggat! Apakah kau ingin aku beritahukan di mana adanya si Sin sekarang?"
Mukanya si Lie Tayjin menjadi pucat.
"Bagus!"
Serunya, yang tiba-tiba lompat berjingkrak.
"Benar-benar kaulah yang telah sambut dia!"
"Nah, kau lihatlah!"
Niekouw itu mengejek dengan tertawa dinginnya.
"Satu kali saja aku mencoba, aku telah berhasil! Kau telah diuji! Sebetulnya kau datang untuk anakmu itu! Hm, segala pangkat nyonya besar? Fui! Lekas pergi!"
Akan tetapi si Lie Tayjin justeru maju merangsek.
"Aku ingin kau semua, ibu dan anak pulang bersama!"
Serunya. Niekouw itu berdiri tegak, sikapnya sangat dingin.
"Si Sin tidak ada di sini!"
Katanya, setelah tayjin itu datang mendekati.
"Habis, di mana adanya dia?"
Tanya Lie Tayjin itu. Niekouw itu tidak ambil pusing, ia diam saja.
"Kalau begitu, mari kau ikut aku pulang!"
Lie Tayjin berteriak. Masih niekouw itu diam saja.
"Bagus!"
Kata tayjin itu.
"Aku tahu kau masih tetap menyintai binatang she Liong itu! Tapi dia tidak cinta padamu!"
"Ngaco belo!"
Membentak si niekouw, dan tangannya segera melayang. Satu tabokan mampir di pipinya si tayjin, sama seperti Kok Cu tadi.
"Hai, perempuan galak!"
Bentaknya Lie Tayjin, ia ulurkan tangannya hendak menjambak.
Niekouw itu berkelit dengan memutar tubuh, lalu ia balas menyerang.
Lie Tayjin mengempeskan perutnya untuk menghindarkan diri dari serangan.
"Aku sudah mengalah,"
Katanya.
"tetapi kau tetap tidak insyaf!"
Benar-benar dia menyerang dua kali beruntun, dengan tangan kiri dan kanan. Serangan itu hebat, tetapi si niekouw dapat mengelakkan dirinya.
"Kau mau berlalu atau tidak?"
Bentaknya pendeta wanita itu, sambil menyambuti serangan untuk digaet. Lie Tayjin itu membebaskan tangannya.
"Suami isteri berkelahi, kita ditertawai orang!"
Kata dia.
Tapi si niekouw sedang murka, ia menyerang berulangulang, hingga si Lie Tayjin mesti mundur terus.
Cio Ho tidak berani maju membantui.
Segera juga Lie Tayjin telah mundur sampai di pohon pek yang besar itu!
Kembali si niekouw menyerang secara hebat, hingga Lie Tayjin mesti berkelit mundur ke belakang pohon, tapi berbareng dengan itu, Pek Sek Toojin lompat keluar dari tempat sembunyinya sambii dengan tangan kirinya menekan pundak si tayjin ini hingga tertolak ke samping.
Ketika niekouw itu tampak imam ini, dia kaget berbareng girang.
"Koko!"
Serunya. Nyata iapun heran.
"Kapan kau datang?"
"Baru saja,"
Sahut Pek Sek Toojin.
Memang, niekouw itu adalah adiknya imam dari Butong san ini.
Dia adalah orang she Ho namanya Kie Hee.
Pada dua puluh tahun yang lalu, semasa masih gadis, duakeluarga meminang Kie Hee.
Kedua keluarga itu sama tersohor dalam kalangan Rimba Persilatan.
Keluarga yang pertama adalah Liong Siauw In dari Ngobie pay.
Dan keluarga yang kedua adalah Lie Tayjin ini, yang sebenarnya bernama Lie Thian Yang.
Kedua keluarga itupun bersahabat kekal dengan keluarga Ho, hingga ayahnya Kie Hee tidak dapat memilihnya, akhirnya dia serahkan pemilihan kepadaputerinya sendiri.
Waktu itu Nona Ho baru berumur tujuh belas tahun.
Ia lihat Lie Thian Yang lebih cakap dan gagah romannya, ia pilih pemuda she Lie itu.
Segera ternyata Thian Yang berambekan keras untuk peroleh pangkat.
Maka setelah menikah, ia berangkat ke kota raja.
Ia mengerti ilmu silat dengan baik, juga pandai surat, di kota raja ia dipenujui satu jenderal pangkat Kiekie Ciangkun, yang hendak ambil ia sebagai mantu.
Thian Yang masih ingat kehormatan dirinya, ia tidak lantas terima "lamaran"
Itu, ia kasih alasan hendak pulang dulu untuk dapatkan perkenan dari orang tuanya.
Sepulangnya ia telah lantas ambil ketetapan.
Yaitu ia anjurkan ibunya untuk ceraikan isterinya itu.
Suami isteri itu sudah dikaruniai satu anak lelaki umur tiga tahun.
Pek SekToojin masih belum jadi imam, dia telah pergi pada keluarga Lie untuk cegah perceraian itu.
Ia memperingatkan bahwa mereka sudah menikah banyak tahun, sudah punya anak juga, janganlah mereka sampai bercerai.
Pihak Lie berkeras hendak bercerai juga, maka dalam gusarnya Pek Sek lantas bikin putus perhubungan persanakan dengan keluarga Lie itu.
Empat belas tahun telah berselang.
Lie Thian Yang di dalam kalangan Kimiewie telah menjadi Ciehui, komandan.
Di lain pihak, tentang Liong Siauw In tidak ada kabar ceritanya.
Kie Hee, setelah diceraikan, lalu pergi ke Thaysit san akan ikut gurunya.
Pada tujuh tahun yang lalu, gurunya itu meninggal dunia.
Karena berduka dan tawar hatinya, sedang iapun sudah biasa dengan penghidupan tenteram di atas gunung, Kie Hee lantas menggundulkan rambutnya menjadi pendeta.
Sampai terjadinya pertemuan hebat seperti di atas.
Lie Thian Yang terkejut melihat adanya Pek Sek Toojin, ia ternganga sampai sekian lama, barulah sesaat kemudian ia sadar akan dirinya.
"Toaku, kebetulan!"
Dia berseru.
"Tolong kau bujuki Kie Hee..."
Imam itu nampaknya mendeluh.
"Inilah urusan kau berdua, aku tidak perlu membujuki isterimu,"
Dia jawab.
"Pada empat belas tahun yang lalu, aku toTTsudah beri nasihat padamu!"
Lie Thian Yang malu sampai ia diam bengong bagaikan patung. Sampai di situ, To It Hang juga lompat keluar. Melihat anak muda ini, Cio Ho maju memberi hormat.
"To KongCu!"
Ia memanggil. Terus saja ia cekal tangannya pemuda kita untuk diajak pergi dari depan suami isteri dan ipar yang sedang bercidera urusan rumah tangga itu, yang membuat ia likat.
"Cio Ciehui,"
Kata It Hang.
"sekarang aku adalah seorang pemburon, apa kau hendak tangkap aku untuk dibawa ke kota raja?"
Cio Ho tertawa.
"Putera mahkota justeru sedang pikirkan kau!"
Katanya.
"Sekarang kau bukan lagi pemburon! Sekarang Sri Baginda sedang sakit, keadaannya berat, maka sejak dua bulan yang lalu, putera mahkota sudah mewakilkan pegang kendali pemerintahan. Juga Lie KimCee dan Ciu KirnCee telah lolos dari bahaya, sekaburnya mereka dari rumahmu, mereka menuju ke propinsi Hoolam di mana mereka menumpang tinggal di rumahnya pembesar yang urus penjagaan gili-gili sungai. Dari sana mereka kirim kabar rahasia kepada putera mahkota, memberitahukan bahaya yang telah mengancam mereka Putera mahkota sudah memegang pemerintahan, dia lantas memberi perintah mengurus perkara itu, maka giesu yang menyamar jadi kimCee itu sudah lantas ditangkap dan dipecat. Pahlawan In Yan Peng juga telah ditangkap, hingga perkara merembet kepada Thaykam Gui Tiong Hian. Tapi Gui Tiong Hian yang mengepalai TongCiang, pengaruhnya besar, putera mahkota tidak ingin bentrok dengan dia selagi ia belum naik secara resmi atas tahta, maka urusan itu ia simpan tunda dahulu. Sekarang putera mahkota sedang mengumpulkan orang-orang gagah dan pintar, terutama ia sangat pikirkan kau. Ketika aku bersama Lie Ciehui diutus melindungi kedua kimCee pulang, aku dipesan untuk sekalian dengar-dengar kabar perihal kau."
"Aku memang hendak pergi ke kota raja untuk menghadap putera mahkota,"
It Hang memberitahukan.
"Karena kalian sedang melindungi kimCee, aku tidak mau jalan sama-sama kalian."
"Kalau nanti kita bertemu di kota raja, pun sama saja,"
Cio Ho kata. Justeru itu mereka dengar bentakannya si niekouw.
"Hayo pergi!"
Rupanya tidak ada perdamaian di antara suami isteri itu, malah suami yang hendak rujuk itu telah membuat bekas isterinya jadi gusar pula.
Ketika It Hang menoleh, ia lihat Lie Thian Yang sedang meringis dan berkata dengan penasaran.
"Baiklah, sampai nanti kita bertemu pula!..."
"Kita telah putus perhubungan untuk selamanya, jangan kita saling bertemu pula!"
Ho Kie Hee membentak. Lie Thian Yang menghela napas.
"lantas ia gapaikan Cio Ho dan kawannya, untuk diajak pergi. Seberlalunya ketiga orang itu, It Hang menghampiri si niekouw, untuk belajar kenal. Si nona pun telah menghampiri niekouw itu, di samping siapa ia berdiri, sedang si nona cilik duduk di pangkuannya Pek Sek Toojin.
"Kau panggil dia engko To!"
Kata si imam pada bocah itu seraya tunjuk It Hang, kepada siapa terus ia tambahkan.
"Kau belum pernah lihat anak perempuanku, bukan?"
Ia tunjuk si nona.
"Dia adalah Gok Hoa. Dan ini,"
Ia empo si nona cilik untuk diangkat.
"adalah Lok Hoa."
Ho Lok Hoa, dengan kegembiraannya satu bocah jelita, lantas saja memanggil.
"Engko To!"
Gok Hoa sebaliknya merasa likat, ia memanggil dengan perlahan dan sambil tunduk juga.
Menampak itu, Pek Sek Toojin tertawa tergelak-gelak.
Imam ini, yang asalnya she Ho.
telah punya dua anak, keduanya perempuan, ialah Gok Hoa yang sudah berumur delapan belas tahun, dan Lok Hoa baru sepuluh tahun.
Belum lama Lok Hoa dilahirkan, ibunya menutup mata, maka Pek Sek titipkan kedua puterinya itu kepada adik perempuannya, niekouw, yakni bekas isteri yang disia-sia oleh Lie Tayjin Lie Thian Yang itu.
Penitipan itu sehingga kini telah berjalan kirakira sepuluh tahun.
Selama itu, setiap satu atau dua tahun tentu-tentu Pek Sek Toojin menyambangi kedua puterinya itu di Thaysit san.
Inipun sebabnya kenapa kali ini si imam ajak It Hang mendaki gunung itu.
It Hang belum pernah diberi keterangan, tidak heran ia tidak mendapat tahu, hingga ia menduga-duga siapa yang paman guru ini niat kunjungi.
Di samping mengunjungi anaknya itu, Pek Sek Toojin masih punya satu maksud lain.
Ia sebenarnya sangat penuju kepada It Hang, yang selain murid berbakat dari tingkat kedua, pemuda itu pun cakap dan pintar, hingga ia bercita-cita merangkapkan jodohnya dengan Gok Hoa, puteri pertama itu.
Uy Yap Toojin ketahui niat adik seperguruannya itu, maka di waktu bicara kepada It Hang tentang Giok Lo Sat, dia sebenarnya hendak cari tahu hatinya keponakan murid itu perihal cita-cita hidupnya.
"Gok Hoa,"
Kata Pek Sek sambil tertawa, setelah ia perkenalkan kedua anaknya pada It Hang.
"suheng-mu ini bukannya orang luar, tak usahlah kau berpegang teguh kepada adat istiadat. Suheng-mu ini mengerti baik ilmu silat dan surat, segala apa yang kau belum tahu, kau boleh dengan merdeka menanyakan kepadanya."
Gok Hoa masih likat, ia diam saja "Sekarang mari kita pergi ke kuil,"
Mengajak Pek Sek kemudian.
Kie Hee, yang sekarang pakai nama suci Cu Hui, lantas ajak kakaknya itu serta It Hang pergi ke kuilnya, karena sejak sucikan diri, ia telah dirikan sebuah kuil sendiri.
Sesampainya di kuil, Cu Hui silakan It Hang duduk.
Tapi Pek Sek lantas berkata.
"Biarlah mereka yang sesama tingkat main-main sendiri!"
Gok Hoa lantas ajak It Hang pergi melihat-lihat seluruh kuil bibinya itu, kemudian mereka duduk beristirahat di bawah sebuah pohon pek tua.
Mereka duduk berhadapan.
Sekarang si nona tidak lagi likat dan malu-malu seperti semula.
Mereka bisa bicara dengan leluasa.
Si nona lantas tuturkan nasib Kie Hee, sang bibi, yang jodohnya sangat buruk itu.
"Begitulah nasib buruk seorang wanita..."
Kata nona ini kemudian sambil menghela napas.
"Kenapa kau berpendapat demikian?"
It Hang tanya, ia bersenyum.
"Bukankah itu karena kebetulan saja Cu Hui Suthay telah dapatkan suami yang tidak bijaksana?"
"Justeru itulah!"
Kata si nona.
"Sejak dahulu umumnya wanita mengandal kepada pria. Siapa dapatkan suami yang baik. untunglah dia apabila sebaliknya, celakalah dia seumur hidupnya. Bibi seorang yang cantik dan ilmu silatnyapun mahir, akan tetapi sekarang dia cuma menjadi temannya pelita dan Buddha, seumurnya dia akan hidup menyendiri di pegunungan ini..."
"Sebenarnya tak usah suthay terlalu berduka karena suaminya yang buruk itu,"
It Hang berkata pula.
"Benarlah! Meskipun suami isteri yang tadinya menyinta satu pada lain, bukannya tak mungkin jodohnya bisa berubah juga."
Gok Hoa kata.
"Kita dapat sebutkan Suma Siang Jie dan To Bun Kun sebagai contoh. Tidakkah mereka itu yang satu cantik dan yang lainnya cakap serta saling menyinta satu pada lain? Akan tetapi setelah To Bun Kun lanjut usianya, Suma Siang Jie telah berubah juga hatinya. Syukur To Bun Kun telah membuat syair 'Pek Tauw Gim" (syair nyanyian "Kepala Putih" = usia tua), yang membikin hatinya Suma Siang Jie berubah pula. Dan Suma Siang Jie pun membikin syair pula, ialah "Tiang Bun Hu' sehingga mereka menginsyafi kesengsaraan hati yang satu terhadap yang lainnya."
Mendengar ini, It Hang tiba-tiba ingat kepada Giok Lo Sat. Ia percaya, dari mulutnya Giok Lo Sat tidak nanti keluar katakata "kesengsaraan wanita"
Itu.
Ho Gok Hoa halus budi pekertinya, kata-katanya teratur, sikapnya toapan.
ilmu silat dan ilmu suratnya pun cukup, akan tetapi entah bagaimana, di matanya It Hang, Gok Hoa masih banyak kekurangannya.
Tidak demikian si Raksasi Kumala, walau nona Lian itu kadang-kadang berlaku telengas...
Pek Sek Toojin pasti tidak dapat bade atau ketahui apa yang terkandung dalam hatinya It Hang, maka ketika ia habis omong-omong dengan adiknya dan ia keluar, bukan main girang hatinya menampak pemuda itu serta puterinya duduk berduaan berhadapan tengah mengobrol dengan asyik sekali.
Kita sudah ketahui bahwa Pek Sek Toojin tidak memikir untuk membuat kunjungan ke gunung Siauwsit san.
akan tetapi keesoknya pagi, Cu Hui Suthay telah terima dua surat undangan dari Cun Seng Siansu.
yang menjadi Khamsie, pengurus kepala, dari kuil Siauwlim sie dari Siauwsit san.
Itulah ada undangan untuk si niekouw serta Pek Sek Toojin.
Cu Hui tertawa dan kata.
"Hebat pendengarannya Siauwlim Khamsie! Baru satu hari koko datang, dia sudah mendengarnya!"
Cu Hui, yang tinggal di puncak Thaysit san, yang berdampingan dengan Siauwsit san, memang bersahabat dan kenal baik pendeta-pendeta dari Siauwlim sie walaupun mereka berlainan jenis kelaminnya.
"Ketika ketuaku wafat, pihak Siauwlim sie juga mengirim utusan menyatakan bela sungkawa,"
Kata Pek Sek.
"maka sudah selayaknya saja, hormat dibalas hormat juga. Marilah kita pergi memenuhi undangan itu."
Lalu ia kata pada It Hang.
"Kau adalah bakal ketua Butong pay, baiklah kau gunai ketika yang baik ini untuk belajar kenal kepada tetua dari Siauwlim sie."
It Hang suka ikut paman gurunya ini.
Jarak di antara Thaysit san dan Siauwsit san hanya sepuluh lie lebih, maka baru jalan kira-kira setengah jam, Cu Hui Suthay bertiga sudah lantas sampai di Siauwlim sie, yang terletak di kaki puncak Ngoleng hong, di utaranya Siauwsit san, di mana terdapat banyak pagoda batu, hingga kuil Siauwlim sie itu bagaikan terkurung hutan pagoda "Kita harus ketemui dahulu tiekekCeng untuk memberitahukan kedatangan kita,"
Kata Pek Sek pada dua kawannya.
(TiekekCeng = pendeta tukang melayani tetamu).
It Hang manggut.
Begitu lekas ketiganya sampai di muka kuil, mereka lantas dengar suara berisik.
Pintu kuil tertutup rapat, rupanya dikunci.
Suara berisik datangnya dari dua orang tua, yang duduk di atas batu di muka pintu.
Mereka ini sedang mencaci kalang kabutan.
"Hai, Keng Beng. tua bangka kepala gundul, jangan kau banyak lagak?"
Demikian masih terdengar suaranya seorang tua.
"Kau memang kepala suatu partai akan tetapi kau harus ketahui, bahwa kamipun bukannya orang yang tidak mempunyai asal-usul!"
"Aku lihat kau kaum Siauwlim pay, cuma besar namanya saja, nama kosong belaka!"
Kata orang tua yang lainnya.
"Jikalau kau benar-benar mempunyai kepandaian tinggi, kenapa kau tidak sudi adu kepandaian dengan kami?"
It Hang heran sekali.
Kenapa orang ada demikian berani, malah sangat kurang ajar dengan menantang berkelahi?
Harus diketahui, Siauwlim pay dan Butong pay adalah kedua partai terbesar di jamannya itu, bahkan di dalam hikayat, Siauwlim pay jauh terlebih tua.
Butong pay hanya menang lebih banyak anggautanya.
sedang dalam halnya murid-murid yang pandai, pihak Siauwlim pay lebih banyak.
Maka siapakah dua orang tua ini, yang nyalinya demikian besar?
Kedua orang tua itu lihat ada orang-orang mendatangi, mereka lompat bangun dari tempatnya bercokol dan menghampiri, wajah mereka ramai dengan senyuman.
Cu Hui nampaknya acuh tak acuh terhadap kedua orang itu.
Menampak sikap adiknya, Pek Sek juga ikut tidak mau ladeni kedua orang itu, yang ia anggap sangat tak tahu adat.
Dua orang tua itu agaknya kecele, tetapi mereka masih maju terus, kali ini mereka menghampiri It Hang.
"Engko kecil,"
Tegur mereka.
"apakah kau datang berkunjung kepada Siauwlim sie?"
It Hang menjawab dengan anggukan kepalanya. Satu antaranya perdengarkan suara menghina dari hidungnya.
"Sebenarnya kau tidak perlu berkunjung kemari!"
Kata dia.
"Di. dalam Siauwlim sie, kecuali Keng Beng Tiangloo seorang, yang dapat diajak bertanding, yang lain-lainnya semuanya tidak ada artinya! Untuk keperluan apakah dari tempat jauhjauh kau datang kemari?"
It Hang heran bukan main.
"Aku mohon tanya she dan nama besar dari looCianpwee?"
Ia tanya. Ia ingin ketahui siapa adanya orang-orang yang bernyali besar ini. Orang tua itu perdengarkan pulahinaannya.
"Hra!"
"Namaku?"
Katanya.
"Sekalipun aku menyebutkannya, kau pasti tidak ketahui! Di jaman ini, mereka dari golongan muda hanya tahu namanya Siauwlim pay dan Butong pay, sedang sebenarnya mereka melainkan dengar nama belaka! Tentang kami orang-orang tua, yang tidak sempat mendirikan partai, tentu mereka tidak tahu atau mengenalnya. Terus terang aku katakan, andaikan Butong Ngoloo ada di sini, mungkin mereka akan mengaku dirinya adalah yang termuda terhadap aku..."
It Hang benar-benar tidak mengerti akan obrolannya ocehan orang itu.
"Dan apakah imam itu gurumu?"
Orang tua itu menanya sambil tangannya menunjuk Pek Sek Toojin. It Hang heran bukan kepalang.
"Menurut katanya, dia ada terlebih tua dan terlebih terhormat daripada Butong Ngoloo, tetuaku, tetapi mengapa dia tidak kenal Pek Sek Susiok?"
Namun ia menjawab juga.
"Itulah paman guruku."
Lantas ia mengulangi menanyakan she dan namanya kedua orang tua itu. Orang tua itu segera perlihatkan roman yang sangat bangga.
"Kau sebenarnya dari partai mana?"
Dia balik menanya.
"Apakah tetuamu tidak pernah beritahukan kau tentang Lioksiangsian Ouw Mai si Dewa Dunia, dan SinCiu Beng Hui si Tangan Sakti? Aku adalah Lioksiangsian Ouw Mai itu! Pada dua puluh tahun yang lalu, dengan bertempat di atas gunung Butong san, pernah aku mengadu pedang dan silat dengan Cie Yang Tootiang. Di dalam ilmu silat bertangan kosong dia suka mengalah satu jurus kepadaku. Dan dalam hal ilmu pedang kedua pihak ada sama tangguhnya. Tapi karena dalam ilmu silat tangan kosong aku telah menang daripadanya, maka dalam ilmu pedang, tidak dapat tidak aku harus memberi muka padanya, aku tetap mengalah!..."
It Hang heran ditambah heran.
Gurunya adalah seorang paling jujur dan biasa merendah, kalau benar pernah terjadi adu ilmu silat itu, mengapa gurunya tak pernah memberitahukannya?
"Itulah kejadian pada dua puluh tahun yang telah lampau!"
SinCiu Beng Hui nyeletuk.
"Pada waktu itu ilmu pedang dari C ie Yang Tootiang masih berimbang dengan kepandaiannya saudara Ouw ini. Kalau adu kepandaian itu dilakukan sekarang, aku berani pastikan, belum sampai lima puluh jurus, Cie Yang Tootiang akan sudah kalah! Dalam halnya Siauwlim pay, meskipun disohori untuk ilmu silatnya tangan kosong, sebenarnya banyak sekali bagian-bagiannya yang lemah, maka itu Keng Beng pun bukanlah tandinganku!"
Sehabisnya berkata demikian, dari dalam sakunya si Tangan Sakti keluarkan se
Jilid buku, pada halaman kulitnya bertulisan.
"Sepuluh cacat dari ilmu silat Siauwlim pay."
Lantas ia kata pula.
"Guna singkirkan anggapan keliru dari khalayak ramai, sengaja aku telah tulis buku ini, untuk beber pelbagai kelemahan dari ilmu silat Siauwlim pay!"
"Apakah kau bermaksud hendak menyerahkan bukumu ini kepada Keng Beng Tiangloo?"
It Hang tanya Pemuda ini tetap tak berkurang herannya.
"Sayang Keng Beng kepala gundul bangkotan itu namanya saja besar, tapi yang sebenarnya kosong belaka!"
Jawab Beng Hui.
"Diapun cupat sekali pandangannya! Dia telah tutup pintu, dia tidak berani keluar menemui kami!"
It Hang niat pinjam buku itu untuk dilihat isinya, tetapi bersamaan dengan itu pintu Siauwlim sie tampak terpentang, di ambang pintu segera muncul keluarnya pendeta. Segera juga Ouw Mai berseru.
"Bagus! Akhirnya toh kita bertemu juga! Hai, Keng Beng, kau berani atau tidak melayani aku dalam sepuluh jurus?"
"Omitoohud!"
Pujinya* pendeta yang jalan di sebelah kiri, seorang yang usianya lanjut dan wajahnya sangat sabar.
"PinCeng, sudah tua dan lemah, sudah lama pinCeng tidak punya kegembiraan untuk main silat..."
Hweeshio yang di sebelah kanannya hweeshio tua dan sabar ini, berkata sambil tertawa dingin.
"Katanya kalian dalam beberapa hari ini setiap hari datang mencari ketua kami untuk ditantang adu silat, apakah kalian tidak tahu aturan kami dari pihak Siauwlim pay? Bukankah tiekekCeng kami telah memberitahukan aturan piebu kami kepadamu? Orang siapa yang datang untuk mencoba-coba lebih dahulu dia mesti main-main dengan murid kami dari tingkat ke lima, artinya kau harus menjatuhkan lebih dahulu tingkat demi tingkat, barulah aku sendiri yang melayani kalian. Kalian tidak suka turut aturan kami ini, dan datang membuat ribut saja, apa maksud kalian yang sebenarnya?"
Lantas pendeta ini menggapai ke arah dalam kuilnya, dan memanggilnya nyaring.
"Gouw Ceng, cobalah kau main-main kepada kedua tetamu ini!"
Dari dalam kuil segera terdengar suara penyahutan dan lompat keluarnya satu seebie atau kacung hweeshio umur empat atau lima belas tahun. Melihat hweeshio cilik itu, Ouw Mai jadi sangat gusar.
"Cun Seng, kepala gundul bangkotan, kau sangat memandang rendah kepada kami!"
Dia berteriak.
"Aku tahu kau sebagai Khamsie, akan tetapi kamipun adalah orangorang yang berderajat, apakah kau anggap kami sembabat untuk main-main denganmu?"
Pendeta yang disebut Cun Seng itu, tidak memberikan penyahutannya. Sebaliknya siauwseebie, si hweeshio cilik, segera perdengarkan suaranya.
"Cukup! Kalian adalah tetamu tetamu kami yang datang dari tempat jauh, suka aku mengalah untuk kau menyerang terlebih dahulu sampai tiga jurus!"
"Hai, keledai gundul cilik!"
Menjerit Ouw Mai.
"tahukah kau siapa aku ini?"
Si cilik itu angkat jari-jari tangannya ke mukanya, ia mengejek.
"Aku tahu kau siapa!"
Sahutnya.
"Kau adalah si buaya darat yang hanya pandai pentang bacot!"
Mendengar itu, It Hang tertawa tanpa ia terasa. Hweeshio cilik itu menyebutkannya "buaya darat"
Yaitu "bu lay". Suara "bu lay"
Ini, apabila diucapkannya dengan dialek Hoolam, sama suaranya dengan "ouw mai"
Ialah sama seperti namanya Ouw Mai sendiri. Gunung Siauwsit san atau Thaysit san itu memang berada dalam propinsi Hoolam. Dan si cilik ini justeru berdialek Hoolam.
"Hai, Keng Beng!"
Teriaknya pula Ouw Mai.
"Butong dan Siauwlim adalah sebagai pemimpin-pemimpin kaum Rimba Persilatan, maka kenapa kau kaum Siauwlim pay tidak telad Cie Yang Tootiang yang demikian sopan santun? Ketika dulu aku datangi Butong san, Cie Yang sendiri yang keluar menyambut aku, dan di waktu adu silat, dia telah kalah dari aku. Dan ketika aku pulang, dia bersama-sama empat muridnya mengantarkan juga kepadaku! Dengan perbuatannya itu, barulah dia dapat disebut sebagai seorang pemimpin Rimba Persilatan!..."
Orang congkak ini belum tutup rapat mulutnya, ketika satu tabokan nyaring mampir ke kupingnya.
Itulah tangannya Pek Sek Toojin yang sudah melayang menyambar ke kupingnya itu, menyusul mana, tubuhnya pun terpelanting jatuh kira-kira tiga tumbak jauhnya, sambil bergulingan dia menjerit teraduhaduh.
"Hai, orang-orang Siauwlim pay, apakah kau tidak mengindahkan undang-undang negara?"
Berteriak Beng Hui.
"Cara bagaimana di waktu siang hari sebagai ini kau berani aniaya orang?"
Ouw Mai masih saja bergulingan kesakitan, suaranya serak dan perlahan, seperti hendak tarik napasnya yang penghabisan. Menampak demikian, Keng Beng Siansu kerutkan dahi.
"Kasihlah dia makan sebutir pel,"
Pendeta kepala dari Siauwlim sie ini berkata pada khamsie, wakilnya Dari sakunya Cun Seng rogoh keluar satu pot kecil terbuat dari perak, dari dalam mana dia tuang keluar sebutir angwan, obat pulung warna merah, yang ia berikan pada si hweeshio muda.
"Ketua kami pemurah hatinya, dia hadiahkan kau obat mustajab,"
Cun Seng kata pada orang tua mulut kotor itu.
Beng Hui sambuti obat dari tangannya hweeshio kecil itu, dan terus ia masukkan ke dalam mulut kawannya.
Setelah dapat telan obat itu, tidak lama Ouw Mai lantas bisa bersuara pula.
"Saudara tuaku ini kau telah bokong hingga mendapat luka di dalam,"
Berkata Beng Hui.
"Obat tadi telah menolong jiwanya tetapi itu belum cukup, mari bagi aku dua butir lagi!"
Cun Seng Siansu gusar.
"Apakah kau hendak memeras padaku?"
Bentaknya.
"Tidak jadi apa, berikan padanya sebutir lagi."
Kata Keng Beng.
Pendeta kepala yang murah hati ini kuatir Ouw Mai benarbenar terluka parah.
Dengan terpaksa Cun Seng memberikan pula sebutir.
Beng Hui jadi sangat girang.
Ia sambuti obat itu yang terus disimpannya dalam sakunya, lalu ia angkat tubuhnya Ouw Mai untuk dipanggul dan dengan tindakan pesat ia berlalu dari gunung Siauwsit san.
"Apakah kau kenal aku?"
Pek Sek Toojin yang masih gusar itu mencegatnya.
"Aku justeru hendak mohon berkenalan,"
Sahut Beng Hui. Ia hentikan tindakannya dan menoleh.
"Aku adalah adik seperguruan Cie Yang Tootiang yang ke empat,"
Pek Sek perkenalkan dirinya.
"Akulah yang dijulukkan Touwliong Kiamkek Pek Sek Toojin. Bukankah buaya ini tadi mengatakan bahwa aku adalah salah seorang yang pernah mengantar padanya turun dari Butong san? Mengapa dia tidak mengenali aku?"
Mendengar itu si hweeshio kecil, yang sekarang telah berkumpul bersama beberapa kawannya, tertawa ramai. Ouw Mai, yang ngelehek di pundaknya Beng Hui, angkat kepalanya dengan tiba-tiba.
"Oh, kiranya kau adalah salah satu dari Butong Ngoloo!..."
Katanya.
"Pantas kau liehay... Dasar aku sudah tua, tenagaku sudah habis... Baiklah, lagi tiga tahun aku nanti perintahkan muridku pergi cari kau untuk menuntut balas!"
Sekarang ini, meski suaranya tidak keras, toh dia tidak serak lagi.
"Tikus, lekas pergi!"
Pek Sek membentak. Ia mendongkol berbareng merasa geli untuk kelakuannya kedua orang yang rendah martabatnya itu. Beng Hui benar-benar lantas saja lari.
"Pek Sek Tooheng, kau telah berlaku keliru dengan memberitahukan namamu!"
Kata Cun Seng sambil tertawa.
"Kenapa siansu?"
Pek Sek tanya karena herannya.
"Sebabnya ialah dengan mengetahui namamu itu mereka bisa perpanjang perkara itu!"
Menjelaskannya pendeta itu.
"Kalau nanti mereka mampus, di atas batu kuburannya pasti mereka akan tambah ukiran huruf-huruf yang berbunyi. 'Pernah aku bertempur kepada Butong Ngoloo!'"
"Kalau itu sampai terjadi mereka sungguh kurang ajar!"
Meski ia mengucap demikian, imam ini toh tertawa.
"Tooheng, bukannya pinCeng bicara main-main belaka,"
Cun Seng Siansu berkata pula.
"Di dalam kalangan Rimba Persilatan memang banyak terdapat manusia-manusia sebangsa mereka itu. Dua buaya itu sudah menduga, pasti ketua kami tidak bakal melayani mereka bertanding, dan orang-orang Siauwlim sie tidak akan rampas jiwa mereka, dari itu mereka sengaja mengeluarkan kata-kata yang kotor itu. Adalah pengharapan mereka, jikalau nanti mereka dilayani, nama mereka jadi banyak dibuat sebutan."
"Ya, cuma orang-orang Siauwlim sie saja yang ada demikian sabar dan pemurah hatinya,"
Pek Sek kata.
"Jikalau mereka berani berbuat seperti tadi di Butong san, sedikitnya mereka akan dikasih tanda mata dengan kedua kakinya dibikin tidak dapat digunakan untuk berjalan lagi!"
Cun Seng Siansu tertawa.
"Itupun sebabnya kenapa mereka tidak berani main gila terhadap Butong pay,"
Katanya.
"Tentu mereka tadi tak menyangkanya bahwa di gunung Siongsan ini, dengan menyebut-nyebut Butong pay, mereka akan ketemu bintang celakanya!"
Pek Sek Toojin pun tertawa, sampai ia tepuk-tepuk tangannya.
"Tetapi, tooheng,"
Kata Cun Seng kemudian.
"ketika tadi kau menyerang buaya darat itu, nampaknya kau gunakan tenaga sepuluh bagian penuh, akan tetapi setelah mengenai sasaran, kau hanya mengerahkan tiga bagian saja. Benarkah itu?"
Pek Sek menjadi sangat kagum.
"Benar-benar taysu sangat jeli matanya!"
Dia memuji.
"Aku sebal melihat tingkahnya buaya itu, maka aku telah kerahkan tenagaku sepenuhnya, akan tetapi setelah melihat dia tidak punya guna, mendadak aku merasa tidak tega, karenanya aku hanya gunakan tenaga tiga bagian."
Pendeta itu lantas menghela napas.
"Maka itu kita telah kena dipedayai buaya itu..."
Kata dia.
"Dipedayai bagaimana siansu?"
"Mereka telah dapat menipu lebih sebutir pel,"
Sahut Cun Seng.
"Sutee, janganlah kau terlalu kikir,"
Keng Beng Siansu turut bicara.
"Walau mereka dapat tambahan satu butir, itulah tiada artinya bagi kita. Obat itu cuma bisa dipakai untuk menolong orang, tidak untuk mencelakai. Maka kita tidak usah merasa kuatir."
Khamsie dari Siauwlim sie menggeleng kepala, ia tidak kata apa-apa lagi.
Ia bisa memikir jauh, nyata kelak dikemudian hari kekuatirannya khamsie ini terbuktikan.
Sebab obat pulung merah itu di belakang hari telah menerbitkan perkara "gaib"
Terbesar yang kedua dalam jamannya kerajaan Beng, yang dinamakan perkara "Pil Merah".
Kelebihannya sebutir pel itulah yang menyebabkan hilangnyajiwa dari satu raja...
Sampai di situ, Pek Sek Toojin dan Keng Beng Siansu lantas saling unjuk hormat.
Pek Sek perkenalkan It Hang kepada pendeta utama dari Siauwlim sie itu.
ketua dari Siauwlim pay.
Keng Beng memuji apabila ia lihat tampangnya pemuda she To itu.
Malam itu bertempat dalam ruang sucinya yang diberi nama "Kay Heng Ceng Sia"
Atau "kamar untuk mengubah kelakuan", Keng Beng Siansu menjamu tetamunya.
Selama bersantap, Pek Sek omong tentang wafatnya C ie Yang Tootiang, mendengar mana, Keng Beng menghela napas mengutarakan sayangnya.
It Hang turut menjadi terharu.
Ia membayangkan, setelah suhu-nya wafat, Butong pay tidak punya kepala lagi, ke empat susioknya walaupun kepandaian silatnya sempurna, mereka semua tidak mempunyai bakat untuk jadi pemimpin.
Ia merasa bahwa kedudukan utama dari kaum persilatan pastilah akan berpindah kepada kaum Siauwlim pay...
Cuaca malam itu bagus, tiga puluh enam pendopo dan lima puluh empat menara dari Siauwlim sie tertampak tegas sekali, ketika Keng Beng Siansu sehabis hirup tehnya dan memandang bulan yang indah, tiba-tiba ia tertawa.
"Tooheng, malam yang seindah ini cocok atau tidak bagi pekerjaannya yahengjin?"
Dia tanya imam dari Butong san itu. (yahengjin=tukang keluar malam). Ditanyakan tentang Yahengjin itu Pek Sek Toojin menjadi heran.
"Apakah maksudmu ini loosiansu?"
Tanyanya.
"Mungkinkah ada yahengjin yang berani satroni Siauwlim sie? Tadi kedua buaya itu sangat mengganggu, akan tetapi pintoo berani pastikan, mereka tidak punyakan kepandaian untuk masuk kemari."
Pendeta tuan rumah itu tertawa.
"Orang yang akan datang malam ini bukan sebangsa kurcaci,"
Dia menjawab.
"Dia adalah utusan istimewa dari Him Kengliak. Malah diapun adalah orang yang pinCeng undang secara istimewa juga."
Imam dari Butong pay itu menjadi terlebih heran.
"Him Kengliak yang mana itu?"
Dia tanya dengan penegasannya.
"Apakah dia TayCiangkun Him Teng Pek yang menjadi kengliak di jasirat Liauwtong?"
"Di kolong langit ini mungkinkah ada dua Him Kengliak?"
Keng Beng bersenyum.
"Him Kengliak adalah seorang panglima pandai dari jaman kita ini, dia pun jujur, mustahil dia hendak mengganggu Siauwlim sie?"
Pek Sek tanya dalam keheranannya yang telah memuncak itu.
"Pasti sekali itu bukan maksudnya!"
Keng Siansu tertawa pula. Pek Sek mengawasi, sedang si pendeta berdiam. Selang sesaat kemudian berkata pulalah tuan rumah.
"Ada satu orang bernama Gak Beng Kie. Pernahkah tootiang dengar nama itu?"
Pek Sek Toojin berdiam, tetapi It Hang terperanjat.
"Aku tahu orang itu!"
Sahut anak muda ini.
"Nah. dialah yang akan datang malam ini,"
Keng Beng beritahukan. It Hang kaget.
"Untuk keperluan apakah?"
Dia tanya.
"Dia datang atas titah Him Kengliak."
Tentu sekali jawaban itu membuat It Hang tidak mengerti, sama tidak mengertinya Pek Sek sang paman guru.
Ketika Kengliak Him Teng Pek terima pangkatnya dengan tugas di Liauwtong, selagi terima cap kebesarannya, ia berbareng menerima juga Sianghong Pookiam, yakni pedang kekuasaan yang dihadiahkannya kaisar kepadanya.
Dengan punyakan pedang ini, apabila ia menghadapi perkara besar, hingga orang mesti dihukum mati, Him Kenghak bisa lebih dahulu jalankan hukuman itu, baru kemudian ia melaporkannya kepada junjungannya.
Kekuasaannya besar luar biasa.
Dengan dapatkan kekuasaan semacam ini akan dapat diketahui, kengliak itu berlaku bijaksana dan cakap atau tidak.
Kekuasaannya seorang kengliak adalah mengurus pasukan tentara berikut rakyat dalam wilayah kekuasaannya itu, kedudukannya lebih penting dan lebih tinggi daripada satu gubernur jenderal.
Seterima jabatannya itu.
Him Kengliak berangkat ke Liauwtong dengan melakukan perjalanan cepat.
Ia telah bawa bersama pasukan pribadinya karena ia segera niat bekerja mengurus wilayah tapal batas yang dipercayakan kepadanya.
Dalam menjalankan tugasnya di Liauwtong, paling dulu tiga pembesar rakus yang berpangkat Ciangkun (jenderal), yang kejahatannya dapat dibuktikan, ia hukum mati.
Ketiga perwira tinggi itu adalah Lauw Gie Ciat, Ong Ciat dan Ong Bun Teng.
Kepala mereka itu dibawa ke pelbagai tangsi untuk dipertontonkan kepada semua opsir dan serdadu, hingga hati tentara jadi gentar.
Karenanya, maka selanjutnya semua orang peperangan taat kepada aturan ketentaraan.
Selanjutnya Him Kengliak mulai dengan usahanya memperbaiki semua pasukan, pakaian dan peralatannya, terutama pendidikannya.
Untuk pembelaan, ia telah membuat kereta-kereta perang dan meriam, kotanya juga diperkuat dengan antaranya menggali kali pelindung kota.
Sama sekali ada delapan belas laksa serdadu di Liauwtong, tadinya semua tentara itu tidak keruan, setelah dipimpin Him Kengliak, mereka merupakan satu angkatan perang yang baik, mereka di tempatkan di Busun untuk menghadapi tentara Boan.
Hingga raja Boan, yang dengar kecakapannya kengliak itu, tidak berani gerakkan tentaranya untuk mengganggu perbatasan Tionggoan.
Bahkan pasukan itu ditarik pulang ke Hinkeng.
Dengan lenyapnya ancaman bahaya perang, Him Kengliak berlega hati.
Gak Beng Kie di dalam pasukannya Him Kengliak menjabat CamCan, penasihat atau penulis, pangkat itu tidak tinggi tetapi sangat dipercaya.
Maka ketika Him Kengliak dapat pikiran membuat sebatang pedang istimewa, dia bebankan tanggung jawab itu kepada Beng Kie.
Gak Beng Kie terima tugas tersebut, untuk itu ia hendak pergi ke Kwangwa buat cari ahli pembuat pedang, akan tetapi di lain pihak ia dengar selentingan bahwa di kota raja ada komplotan yang memusuhi Him Kengliak, komplotan yang terdiri dari Perdana Menteri Pui CiongTiatdan Menteri Perang Lauw Kok Cin.
Komplotan ini iri hati akan kekuasaan kengliak yang besar itu dan berikhtiar untuk menjatuhkannya, antaranya menteri penasihat yaitu giesu, dianjurkan mendakwa Him Kengliak.
Karena ini, dengan seijin Him Kengliak, Beng Kie pergi ke kota raja melakukan penyelidikan, untuk merintangi komplotan itu.
Sesampainya di kota raja.
Beng Kie berhasil memperoleh keterangan bahwa di sampingnya komplotan itu terdapat juga serombongan menteri setia, seperti Yo Lian dan Lauw It Keng.
yang membelai Him Kengliak, hingga untuk sementara panglima di tapal batas itu tidak akan menghadapi bahaya.
Karena ini.
ia ambil kesempatan untuk pergi mencari ahli pembuat pedang.
Tapi ia nampak kesulitan.
Ahli-ahli itu banyak yang sudah meninggal, dan yang masih hidup sudah lanjut usianya, mereka sungkan pergi ke Liauwtong.
Beng Kie sendiripun ahli pedang tapi dia tidak pandai membuatnya sendiri.
Setelah memikir-mikir akhirnya Beng Kie ingat bahwa di dalam kalangan persilatan, cuma Siauwlim paylah yang punyakan kitab pembuatan pedang, yakni "Liong Coan Pek Lian Kiat", maka ia berkeputusan pergi ke Siauwlim sie untuk minta salinan rahasianya pembikinan pedang itu.
Ia kandung niatan, kecuali membuat pedang untuk Him Kengliak.
iapun hendak membuat golok dan pedang untuk tentaranya.
Begitulah selagi keadaan di perbatasan aman, Beng Kie sudah lantas pergi ke Siongsan.
Ia kunjungi Keng Beng Siansu.
kepada siapa ia utarakan keinginannya Him Kengliak untuk meminjam salinan kitab rahasia pembuatan pedang itu.
Demikian halnya Beng Kie, yang dituturkan Keng Beng Siansu kepada Pek Sek Toojin.
"Hal itu memang baik sekali,"
Kata pendeta ini.
"apalagi untuk Him Kengliak sendiri. Hanya sangat disayangkan bahwa Siauwlim pay mempunyai aturan sendiri yang mesti dihormati, yaitu kitab-kitabnya dilarang diwariskan kepada pihak luar, tak terkecuali Him Kengliak sekalipun. Maka setelah aku pikir pergi datang, aku memutuskan suruh dia datang untuk mencurinya saja!"
Sehabisnya berkata demikian, Keng Beng tertawa terbahakbahak. Pek Sek pun anggap kcputusan itu lucu, dia turut tertawa. Cun Seng Siansu ingat sesuatu, lalu ia tanya It Hang.
"Tahukah kau bagaimana ilmu silatnya Gak Beng Kie itu?"
"Dibandingkan dengan teeCu, dia menang berlipat kali,"
Sahutnya pemuda ini. Pek Sek Toojin terkejut hingga berubah roman mukanya. Ia nampaknya tidak senang.
"Kau terlalu merendahkan diri, lauvvtee!"
Ujar Cun Seng sambil tertawa.
"Menurut dugaanku, mungkin ilmu silatnya itu dia perolehnya dari suatu cabang tertentu. Aku bersama ketuaku harapkan dia berhasil dengan pencuriannya ini, akan tetapi tak dapat kami tanggung mengenai sikapnya muridmurid kami. Kami telah memikirnya, apabila ilmu silatnya tidak berarti, kami tidak hendak menugaskan murid-murid yang ada kepandaiannya untuk melakukan penjagaan."
"Menurut pintoo."
Pek Sek Toojin campur bicara.
"mengingat namanya Siauwlim pay, walaupun kau niat memberi kelonggaran pada orang she Gak itu, sudah seharusnya hasil kerjanya itu dia dapatkan bukannya dengan secara gampang."
Cun Seng tertawa.
"Itulah sudah selayaknya!"
Kata ia.
"Dan kalau tooheng ada punya kegembiraan, silakan kau turut menontonnya."
Sampai di situ orang lalu bicara lain-lain hal, sampai mendatangnya sang malam, pada waktu itulah orang telah bersiap sedia.
Gak Beng Kie di lain pihak gembira sekali, oleh karena sikapnya Keng Beng Siansu mendatangkan > kekagumannya.
Ia telah mengenakan pakaian malam warna hijau.
Ketika ia telah sampai di luar kuil Siauwlim sie, di muka pintu kuil ia memberi hormat dengan menjura tiga kali, sesudah mana baru ia apungkan tubuhnya, untuk lompat naik ke atas genteng.
Segera juga ia masuk ke dalam kuil.
Tapi berbareng dengan itu, ia lihat satu bayangan orang sangat gesitnya melesat di sampingnya, menuju ke arah timur utara.
Mahir ilmu enteng tubuhnya.
Bayangan itu pastilah bukan dari sembarang orang.
Tentu saja ia terkejut, hingga ia menduga mungkin Keng Beng Siansu telah berubah sikap dengan menugaskan orang pandai untuk merintangi padanya.
Selagi "pencuri"
Ini berdiri diam sambil berpikir dari ruang Lohan tong keluar dengan tiba-tiba satu seebie cilik, yang umurnya baru lima atau enam belas tahun.
Pesat lompatnya si cilik ini, yang tanpa sepatah katapun lantas menyerang dengan tipu silat "Imyang Siangtong Ciang."
"Hai, orang lancang, kau berani masuk kemari?"
Demikian bentaknya kacung pendeta itu.
Beng Kie ingat pengunjukannya ketua Siauwlim sie.
ia layani bocah ini separuh memain.
Begitulah ia melayani dengan senantiasa berkelit, sambil memikirkan jalan untuk nerobos masuk lebih dalam.
Di luar dugaan, seebie itu beradat tinggi, sesudah berulang kali dia gagal dengan penyerangannya, lantas dia membuat perubahan, ialah selanjutnya dia berkelahi dengan menggunakan ilmu silat "BianCiang"
Tangan Lemas.
Sabansaban ia beraksi menotok atau menonjok, gerakan tubuhnya sangat lincahnya.
It Hang bersama paman gurunya, mengintai dari atas sebuah menara, dikawani satu pendeta dari ruang Tat Mo Ih dari Siauwlim sie.
Mereka kenali seebie itu.
ialah hweeshio cilik yang tadi siang tantang Ouw Mai, maka mereka merasa lucu sendirinya.
"Suhu cilik ini gesit sekali gerak-gerakannya,"
It Hang kata.
"Kalau tadi siang kejadian dia turun tangan, pasti sekali buaya darat itu akan dapat luka parah."
Di lain pihak Beng Kie terus layani sicilik itu, sampai ia rasa sudah cukup lama, lantas ia sengaja membuka satu lowongan, hingga tangannya si seebie yang tidak sempat ditarik pulang telah mengenai jalan darahnya kiebun hiat di bawah tetek kiri, menyusul mana, ia mencelat naik ke tembok sambil berseru.
"Suhu kecil, liehay sekali tanganmu! Aku menyerah kalah!..."
Seebie itu sebaliknya menjadi heran.
Ia memang telah berhasil dengan serangannya, akan tetapi baru saja tangannya menempel kulit badan lawannya, ia rasakan daging orang seperti melesak, hingga tak dapat ia menekannya, jangankan untuk ditotoknya.
Maka ia heran kenapa orang telah mengaku kalah...
Meski demikian, dasarnya bocah, ia anggap ilmu silatnya sendiri sudah liehay.
Yang mengherankan padanya yaitu, lawannya walaupun mengaku kalah, tapi dia lari ke arah dalam!
Selagi seebie ini diam memikirkan lawannya itu, satu orang lompat turun dari ruang CeeCouw am.
"Anak tolol!"
Demikian orang yang baru datang ini, ialah Cun Seng Siansu.
"Orang telah mengalah padamu, kau masih tidak tahu! Kenapa kau tidak lekas menghaturkan terima kasih? BianCiangmu masih beda sangat jauh!"
Merah mukanya kacung itu. Tapi ia segera rangkap kedua tangannya.
"Terima kasih untuk kebaikanmu, tetamu yang mulia,"
Kata dia.
Beng Kie terkejut.
Ia kagumi Cun Seng Siansu.
ia betulbetul tidak ketahui di mana sembunyinya tetua dari Siauwlim sie itu.
Iajuga kagum akan keliehayan dari matanya pendeta ini.
Segera Beng Kie lewati Lohan tong.
untuk memasuki ruang Kayheng Cengsia, yaitu tempat di mana tadi siang Keng Bcng Siansu sambut Pek Sek Toojin.
Ia baru lompat masuk, segera ia dengar suara angin yang menyambar mukanya, maka dengan gunakan ilmu enteng tubuhnya yang istimewa, ia terus lompat naik ke pcnglari.
"Tetamuku, jangan kaget,"
Terdengar satu suara sambil tertawa.
"Silakan turun! Mari kita mengadu senjata rahasia!"
Beng Kie pandang orang yang bicara itu, satu pendeta di tangan siapa ada sebuah benda panjang persegi.
Itulah senjata yang tadi menyambar dia, yang anehnya telah segera kembali ke tangan pemiliknya.
Pendeta itu adalah Hian Thong, muridnya Cun Seng Siansu.
Ia gunakan senjata rahasianya, tapi untuk kekagumannya, ia dapatkan Beng Kie mempunyai kelincahan yang di luar dugaannya.
Pemuda itu dapat loloskan diri, dengan lompat ke penglari, yang dalam sejenak bagaikan lenyap dari hadapannya.
Karenanya, ia jadi menantang untuk adu kepandaian senjata rahasia, karena bangkit tabiatnya yang suka menang itu.
Sambil tertawa Beng Kie terus lompat turun, akan memberi hormat.
"Harap taysu menaruh rasa kasihan kepadaku,"
Dia memintanya.
"Jangan mengucap demikian,"
Hian Thong kata.
"Kau menggunakan senjata apa?"
Tidak biasanya Beng Kie menggunai senjata rahasia, ia jadi berpikir. Kebetulan di luar ruang, di latar dalam, ada sebuah pohon lengkeng, terus saja ia kata sambil tertawa.
"Aku berdahaga sangat, sudilah kiranya berikan aku ketika akan petik beberapa biji buah lengkeng untuk melenyapkan dahaga..."
Hian Thong heran, ia tidak dapat terka maksud orang.
"Silakan!"
Katanya kemudian. Beng Kie naik ke pohon lengkeng, ia petik buahnya dan dahar itu, sampai kira-kira tiga puluh biji, semua bijinya ia kumpulkan, dan digenggam dalam tangannya.
"Cukup!"
Katanya kemudian.
"Sekarang aku telah siap dengan senjata rahasiaku, taysu, silakan kau beri ajaran padaku!". Mengetahui orang hendak gunakan biji lengkeng sebagai senjata rahasia, Hian Thong menjadi tidak senang, dalam kemendongkolannya itu, tanpa kata apa-apa lagi, ia mulai dengan penyerangannya, dengan lima biji Tiatpouwtee. Beng Kie menangkis dengan biji lengkengnya, setiap tiatpouwtee terbentur biji lengkeng dan menerbitkan suara, jatuh ke lantai. Senjata rahasia si pendeta itu gagal menemui sasarannya. Baru sekarang Hian Thong heran sekali, tapi ia penasaran, ia ayunkan sepasang tangannya, untuk menyerang dengan senjata rahasianya yang dinamakan "wanyho Cim", senjata rahasia mirip bantal tetapi di dalamnya disembunyikan senjata tajam yang bisa dipakai menyerang dan bisa ditarik pulang... Diserang senjata rahasia yang luar biasa sebagai boomerang itu. Beng Kie menyambutnya dengan empat butir biji lengkengnya; ia telah kerahkan tenaga besar, hingga Wanyho Cim kena terhajar miring dan menjurus ke lain arah. Menampak demikian, Hian Thong segera tarik pulang senjatanya itu. Matanya Beng Kie tajam sekali. Segera ia dapatkan, senjata rahasia itu terikat dengan selembar kawat halus, yang ujung lainnya seperti terlibat di bebokongnya si pendeta. Ia gunakan kegesitannya lompat menyambar, untuk putuskan kawat itu. Maka waktu Hian Thong mengulangi serangannya, dengan sendirinya senjatanya itu melesat keluar, senjata tajamnya nancap di batang pohon lengkeng! "Terima kasih!"
Mengucap Beng Kie, yang terus lompat lagi akan lewati "pintu kota"
Yang kedua ini, untuk nerobos ke Congkeng kok, loteng tempat simpan kitab.
Dengan katakatanya itu, ia seperti mengatakan bahwa, si pendeta sudah sengaja mengalah terhadapnya...
Baru beberapa tindak, Beng Kie telah dicegat pula oleh satu pendeta lain, yang muncul dari ruang Tat Mo Ih dengan bersenjatakan Hongpian san, senjata semacam alat sekop, yang gagangnya panjang.
"SieCu, harap berhenti!"
Demikian si pendeta berseru. Beng Kie tahu pendeta ini tentu seorang yang liehay, sebab sudah biasanya murid atau murid-murid yang liehaylah baru dapat di tempatkan di dalam Tat Mo Ih.
"Maaf, suhu!"
Ia memberi hormatnya, sambil ia tanya nama orang. Hweeshio itu perkenalkan diri sebagai Thian Goan, murid kepala dari Keng Beng Siansu. Dia melintangkan senjatanya tetapi sambil bersenyum.
"Silakan keluarkan senjatamu, Gak SieCu!"
Dia mengundang.
"Maaf!"
Jawab Beng Kie, yang segera hunus pedangnya yang memancarkan cahaya bergemerlapan --pedang Yuliong kiam, atau pedang "Naga Memain."
Gurunya Beng Kie, yaitu Thian Touw Kiesu, sudah cari bahan baja dan besi di gunung Thiansan, ia membawanya pada Auwyang Tie Cu, ahli pembuat pedang yang tajam, untuk dibuatkan dua bilah pedang, satu panjang dan satu pendek.
Yang panjang adalah Yuliong kiam ini, dan yang pendek diberi nama Toangiok kiam, pedang "Memutuskan kumala".
Yuliong kiam inilah yang dijadikan pedang pusaka Thiansan pay.
Bercekat juga hatinya Thian Goan melihat pedangnya pemuda itu, akan tetapi mengingat senjatanya sendiri ada "senjata berat", ia tidak takut.
Setelah memberi hormat, Beng Kie bersiap dengan pedangnya diangkat rata di depan dadanya.
Thian Goan sudah lantas menyerang, dengan sebat sekali.
Beng Kie pun tidak kurang gesitnya berkelit ke samping, dari mana ia kirim tusukan ke lengannya lawan itu.
"Sungguh sebat!"
Seru Thian Goan yang memuj inya.
Ia segera tarik pulang senjatanya untuk menyerang pula.
Beng Kie batalkan serangannya, setelah menarik pulang sambil berkelit, kembali ia menyerang.
Kali ini pedangnya kena bentur senjatanya Thian Goan, kedua senjata bentrok keras, dengan kesudahan Beng Kie rasakan tangannya kesemutan menjadi seperti kaku, hingga ia kaget sekali.
Tapi lekasjuga ia dapatkan tenaganya kembali maka ia mendahului menyerang dan mendesak, tiga kali beruntun.
Atas desakan itu, Thian Goan bela diri sambil putar gegamannya, hingga tubuhnya seperti terkurung.
"Bagus!"
Memuji Beng Kie.
Tapi, sambil berikan pujiannya itu pemuda ini terus mendesaknya.
Akhir-akhirnya kaget juga pendeta itu.
Di dalam Tat Mo Ih ia adalah salah satu pendeta terliehay, sedang dalam Siauwiim sie ia menduduki kursi yang ketiga.
Di dalam pengalaman persilatan, ia ketahui baik pelbagai macam ilmu silat golongan selatan dan utara.
Akan tetapi sekarang ia saksikan Gak Beng Kie bersilat dalam keistimewaannya segala macam cabang persilatan.
Hingga sampai kira-kira lima puluh jurus, ia masih belum dapat terka orang sebenarnya ada dari golongan mana.
Masih Beng Kie mendesak, beberapa kali senjata mereka beradu hingga menerbitkan suara nyaring.
Pertandingan tengah berlangsung, tiba-tiba terdengar suara kata-kata yang datangnya seperti dari tengah udara.
Itulah suara Keng Beng Siansu di atas menara.
Katanya.
"Thian Goan! Kau sudah kalah, kenapa kau tidak lantas undurkan diri!"
Thian Goan agaknya heran, tapi ia lantas berhenti bersilat.
Barulah sekarang ia dapat kenyataan, bahwa kedua pinggir sekopnya pada bagian tajamnya, telah sempoak bekas terpapas pedang.
Tapi ia masih penasaran, maka di dalam hatinya ia kata.
"Senjataku kalah karena pedangmu pedang mustika, tetapi di dalam hal ilmu silat aku belum kalah..."
Gak Beng Kie menjura ke arah pagoda, dan ia hendak menghampirinya dengan jalan melalui Congkeng kok, tapi Thian Goan mendahuluinya di tangga menara.
"Suhu, teeCu masih belum kalah, mengapa suhu menitahkan teeCu undurkan diri?"
Tanyanya.
"Kalau toh suhu niat membiarkan dia lewat, sedikitnya dia harus merasakan kesulitannya. Dengan cara suhu ini, apakah dia tidak akan memandang.enteng kepada Hongpian san dari Siauwiim pay?"
Tidaklah heran kalau pendeta ini mengatakan demikian, karena pada jaman itu, ilmu silat Hokmo Hongpian san dari Siauwiim pay sangat terkenal. Keng Beng Tiangloo bersenyum.
"Untuk banyak tahun kau telah ikuti aku, di dalam Tat Mo Ih pun kedudukanmu tinggi, mengapa sekarang masih belum insyaf kekalahanmu?"
Tanya guru ini.
"Coba periksa jubahmu bagian dadamu!"
Thian Goan segera tunduk untuk melihatnya.
Maka di situ ia tampak tiga lubang kecil bekas ujung pedang.
Baru sekarang ia insyaf bagaimana murah hatinya Beng Kie Melihat muridnya berdiam, Keng Siansu rangkap kedua tangannya.
"Inilah dia pemuda harapan!"
Pendeta ini memuji.
"Tidak kusangka, dalam usiaku yang telah lanjut ini, dapat aku saksikan ini cahaya terang dalam dunia Rimba Persilatan!"
"Sebenarnya ilmu silatnya Gak Beng Kie ini dari kaum mana, suhu?"
Thian Goan tanya kemudian.
"Dan apa sebabnya suhu sampai menghargainya demikian macam?"
"Ilmu pedangnya itu adalah ciptaan sendiri, hasil petikan dari keistimewaannya semua cabang il mu silat lainnya,"
Sang guru menerangkan.
"Aku telah dengar bahwa Thian Touw Kiesu hidup menyendiri di gunung Thiansan untuk meyakinkan ilmu silat, dugaku pemuda ini mungkin murid kesayangannya Thian Touw Kiesu itu."
Thiansan terpisah selaksa lie dari Siongsan, maka tidaklah heran sedikit sekali orang Siauwiim pay yang ketahui Thian Touw Kiesu asyik meyakinkan ilmu pedang.
Demikianlah Thian Goan meski kedudukannya tinggi, ia belum pernah dengar namanya Thian Touw Kiesu.
Maka dengan perasaan ingin tahu, ia awasi gurunya.
"Pemuda ini, kecuali latihan semangatnya yang dia belum dapat sempurnakan benar,"
Mengatakan pula Keng Beng siansu.
"Walaupun Cie Yang Tiangloo menjelma pula, masih belum tentu dia dapat memenangkannya. Demikianlah ilmu silat, setiap hari bertambah baru, setiap bulan berubah ---jikalau tidak mundur, niscaya maju ---maka ingatlah kau baikbaik!"
Thian Goan dapatkan paling banyak pelajaran daripada saudara-saudara seperguruannya, hingga ia merasa bangga, akan tetapi sekarang insyaflah ia akan kekurangannya.
Ia tidak runtuh semangat, bahkan ia belajar lebih jauh dengan rajin dan ulet, hingga di belakang hari ia peroleh hasil karena ambekannyayang besar itu.
Gak Beng Kie sudah lintasi Tat Mo Ih, ia sampai di depan CeeCouw am.
Congkeng kok tertampaklah sudah di hadapannya.
Kuil CeeCouw am itu dibangun untuk memperingati Tat Mo Couwsu.
"Cee Couw"
Itupun berarti "Leluhur mula pertama". Karena itu, menghadapi kuil itu Beng Kie lantas memberi-hormat sambil menjura. Puas Cun Seng Siansu menampak orang sangat tahu aturan.
"Gak SieCu, silakan bangun!"
Ia berkata.
"Silakan masuk dan duduk di sini."
Beng Kie bertindak masuk ke dalam kuil. Ia memberi hormat sedalam-dalamnya, sambil mengucapkan.
"TeeCu datang untuk menghadap, tidak berani teeCu mengadu kepandaian."
Cun Seng ini sama tingkatannya dengan Keng Beng Siansu, sebenarnya dia tak sudi menjaga "kota"
Ini.
akan tetapi setelah saksikan kegagahannya Gak Beng Kie, hatinyajadi tertarik, hingga dalam kegembiraannya itu, suka ia akan mencoba-coba pemuda itu.
Demikian ia turun dari pagoda, ia pergi ke CeeCouw am akan layani main-main pemuda itu.."Jangan kau terlalu merendah,"
Kata Cun Seng Siansu sambil tertawa.
"Duduklah! Dalam hal ilmu silat tidak dapat dikatakan siapa belajar lebih dahulu dan siapa belakangan. Yang benar adalah, orang yang memperoleh buah peryakinan, dialah yang menjadi guru. Dalam hal ilmu silat kalau orang saling belajar mempelajari, bagi kedua pihak ada faedahnya."
"Maaf,"
Mengucap Beng Kie.
Ia tetap berlaku hormat.
Barulah setelah itu, ia ambil tempat duduk di sebelah barat menghadapi si pendeta tua, yang duduk di sebelah timur.
Jarak di antara mereka sekira tiga tombak jauhnya.
"Tak usah kita mengadu kepandaian dengan beradu tangan,"
Berkata Cun Seng Siansu.
"cukup jikalau kita masingmasing duduk diam dengan hanya kepalan kita yang dihadapi satu pada lain. Ini namanya adu kepalan..."
Beng Kie heran dengan caranya "adu kepalan"
Yang demikian itu.
"Kita duduk sejarak tiga tombak, anginnya kepalan kita akan sampai satu kepada yang lain,"
Berkata pula pendeta tua itu.
Dengan sama-sama tetap duduk, kita menyerang satu pada lain.
Siapa yang terserang hingga roboh dari tempat duduknya dialah yang kalah.
Diumpamakan kita duduk sama tangguhnya, nanti kita gunakan kelenengan untuk menghitung siapa di antara kita yang terlebih ulet bertahannya."
"Bagaimana caranya, siansu?"
Beng Kie minta ketegasan. Cun Seng Siansu jemput sebuah kelenengan, ia lemparkan itu kepada si anak muda.
"Taruh kelenengan itu di dalam baju di depan dadamu,"
Cun Seng Siansu menyuruhnya. Beng Kie ikuti petunjuknya Cun Seng Siansu. Cun Seng Siansu duduk dengan benar, ia pun letakan sebuah kelenengan di dadanya itu.
"Kau boleh menyerang ke arahku dengan cara sesukamu,"
Katanya kemudian.
"demikian juga aku. Kita akan sulut sebatang hio untuk dijadikan batas waktu. Jikalau kita keduanya sama dapat bertahan, nanti kita hitung bunyinya kelenengan siapa di antara kita yang bersuara paling banyak."
Beng Kie anggap perjanjian itu sangat baru baginya.
"Silakan mulai!"
Cun Seng memberi isyarat setelah ia duduk rapi. Beng Kie menurut, ia lantas menyerang.
"Bagus!"
Seru Cun Seng sambil menangkis dan menyerangjuga.
Beng Kie kalah tenaga, ia rasakan sambarannya angin ke arah mukanya.
Ia bersyukur bahwa kelenengannya tidak sampai perdengarkan suara.
Lantas Cun Seng balas menyerang, dan Beng Kie menangkis.
Saling serang ini berlaku terus, selama itu, Beng Kie rasakan angin menyambar mukanya semakin lama semakin keras, ia terperanjat.
"Benar-benar liehay ilmu silatnya Siauwlim pay,"
Pikirnya.
Ia insyaf, apabila terus ia melayaninya keras sama keras, ia tidak akan dapat bertahan.
Maka ia lantas memikirkan akal.
Cun Seng Siansu menyerang pula.
Beng Kie tidak membalas, ia hanya perberat tubuhnya untuk dapat duduk tetap.
Ia tak kena dibikin bergerak oleh angin lawan, tetapi kelenengannya berbunyi!
"Satu, dua..."
Cun Seng menghitung. Selagi lawan menghitung, mendadak Beng Kie pun menyerang. Belum sempat Cun Seng menangkis, atau kelenengannya juga berbunyi.
"Satu, dua..."
Beng Kie turut menghitung. Nyata kelenengan mereka masing-masing berbunyi tiga kali. Cun Seng Siansu lantas tertawa.
"Kau cerdik!"
Pujinya.
Ia menyerang pula.
Beng Kie tetap pakai caranya yang baru itu.
Ia menunggu sesudah diserang, segera ia membalas.
Tapi Cun Seng juga menggunakan akal.
Dia telah menyerang dengan ancaman belaka, dan ketika dia diserang, dia lantas gunakan tenaganya.
Maka anginnya Beng Kie kena tertolak.
Atas itu, Beng Kie cepat-cepat tarik pulang tangannya.
Tapi ia kalah cepat kelenengan telah terserang berbunyi!
Hingga kesudahannya ia kalah dua karena ini, segera ia berlaku waspada.
Lagi beberapa gebrak, kelenengan kedua pihak berbunyi bergantian, akan tetapi walau demikian, sampai sebegitu jauh Beng Kie masih kalah lima.
Tentu saja ia menjadi gelisah sendirinya.
"Aku mesti mengalah,"
Pikir Cun Seng. Benar-benar ia tidak melawan ketika ia diserang dua kali hingga ia kalah empat tapi jumlahnya Beng Kie masih kalah satu. Hal ini membuat si anak muda tertawa tanpa merasa.
"Biaraku hajar dia sekali lagi..."
Pikir Cun Seng, yang perhatikan wajah lawannya.
Beng Kie lantas diserang, tapi dia berikan perlawanan dengan bersemangat.
Kelenengan kedua pihak masing-masing berbunyi, tapi jumlahnya tetap Beng Kie kalah tiga.
Ketika itu.
hio hampir terbakar habis.
Beng Kie bingung.
Ia tidak dapat duga maksud apa sebenarnya yang rjun Seng Siansu kandung terhadap dirinya.
Dalam bingungnya itu, ia peroleh akal.
Begitu diserang pula, ia kerahkan tenaga dalamnya, sampai kelenengannya tertolak ke depan, memapaki serangannya pendeta itu.
Berbareng dengan itu iapun membalas menyerang, hingga kelenengan itu terserang dari depan dan belakang, lantas saja pecah belarakan.
"Celaka, kelenenganku pecah!"
Beng Kie sengaja berseru.
"Bagaimana menghitungnya sekarang?"
Cun Seng tercengang, ia hendak bangun, tetapi justeru ia bergerak, Beng Kie serang padanya, sampai kelenengannya berbunyi, tepat tiga kali!
Dan berbareng dengan itu, api hio pun padam!
Cun Seng Siansu lantas tertawa gelak-gelak.
"Kau cerdik sekali, laotee!"
Katanya dengan pujiannya.
"Kita bertanding seri tetapi dapat dikatakan kau telah dapat tobloskan pintu kota ini."
Beng Kie lompat turun untuk lantas menjura memberi hormat "Maaf!"
Katanya. Berbareng dengan itu, sekarang ia rasakan kedua lengannya sakit.
"Kau masih begini muda, tapi kau tangguh sekali, kau dapat lewati tempat ini!"
Kata pula Cun Seng Siansu.
Sekeluarnya dari Ceefjouw am.
Beng Kie dapatkan rembulan bersinar suram dan bintang-bintangpun sangat jarang.
Tiba-tiba ia ingat kepada bayangan yang ia lihat tadi ketika ia mulai memasuki pekarangan Siauwlim sie.
Ia jadi berpikir.
Ia sudah lewati empat "pintu"
Dan haripun telah larut malam-sudah jam tiga.
Ke mana perginya bayangan itu?
Kalau bayangan itu ditugaskan untuk mengamat-amati padanya, kenapa sampai itu waktu masih belum muncul juga?
Dengan pikiran terus bekerja, Beng Kie menuju ke Congkeng kok.
Ia sampai seperti tanpa merasa.
Tidak ayal lagi ia tekuk kedua lututnya, untuk memberi hormat sambil manggut tiga kali.
Tiba-tiba, ia dengar satu suara terang.
"Anak yang baik, mari masuk!"
Beng Kie bangun dan bertindak ke pintu yang ia tolak terbuka. Di dalam ia tampak Keng Beng Siansu tengah berduduk semedhi. Dengan bergegas-gegas ia rapikan pakaiannya, untuk segera berlutut.
"Apakah kau muridnya Thian Touw Kiesu?"
Itulah pertanyaan pertama yang diajukan ketua Siauwlim pay.
"Ya,"
Jawab Beng Kie dengan sebenarnya.
"Pada tiga puluh tahun yang lalu, ketika pinCeng pesiar ke Ngobie san. pinCeng peroleh jodoh bertemu gurumu itu,"
Keng Beng kata pula.
"Di kala itu gurumu sedang kumpulkan pelbagai macam kitab ilmu silat pedang, yang ia pelajari, dan memahaminya dengan sungguh-sungguh, kemudian ia hidup menyendiri di Thiansan. sampai tidak ada kabar cerita lagi. Kau muncul sekarang, maka teranglah sudah, ia telah dapat sempurnakan peryakinannya itu. Sungguh harus pinCeng beri selamat kepada sahabatku itu!"
Gak Beng Kie turunkan kedua tangannya.
"Ilmu silat Thiansan kiamhoat masih baru, teeCu mengharap sukalah Taysu berikan petunjuk lebih jauh,"
Kata ia dengan merendah. Keng Beng tertawa.
"Dalam halnya ilmu silat pedang, apa yang pinCeng pelajari jauh ketinggalan daripada gurumu."
Keng Beng nyatakan.
"Malam ini kebetulan sekali kau telah datang, ingin sekali pinCeng mencoba-coba lweekangmu."
Beng Kie terkejut. Ia bingung. Ia sudah merasa pasti akan kalah, sedang untuk menggunakan kecerdikanpun ia tidak sanggup.
"Pergilah kau duduk di sana,"
Kata Keng Beng, selagi pemuda itu masih dalam kesangsian. Ia menunjuk tempat duduk yang diperuntukkan bersemedhi. Beng Kie menduga orang hendak adu kepandaian seperti caranya Cun Seng Siansu tadi.
"Dengan sebenar-benarnya teeCu tidak berani sambuti kepalan loosiansu,"
Ia berkata, hatinya bertambah gelisah.
"Aku tidak berniat adu kepalan denganmu,"
Kata Keng Beng sambil bersenyum.
"Kau duduk saja."
Beng Kie insyaf bahwa ia salah omong.
Bahna bingungnya, ia sampai tidak dapat berpikir dengan sadar.
Satu kepala partai, apalagi dari Siauwlim pay.
tidak nanti ia sudi melayani adu kepalan.
Maka dengan muka berubah merah, ia pergi duduk bersila.
Keng Beng Siansu tarik satu tempat duduk lain yang ia letakkan di depannya si anak muda di atas mana iapun bersila.
Ia pun keluarkan sepotong benang, satu ujungnya ia angsurkan pada pemuda itu.
"Kita masing-masing memegang satu ujung,"
Kata pendeta itu.
"Dan kau duduk dengan tetap dan tenang seperti biasa orang bersemedhi, supaya dengan begitu aku bisa periksa berapa dalam adanya Iweekangmu."
Gak Beng Kie heran, ia separuh percaya separuh tidak.
"Mungkinkah dengan cara itu dia bisa ketahui tinggi rendahnya lweekangku?"
Pikirnya.
Tapi ia duduk dengan tegak dan tenang, ia mulai bersemedhi, akan empos semangatnya.
Berselang sekian lama, anak muda ini merasakan tubuhnya menjadi keras, jalan napasnya pun turun naik dan masuk keluar dengan seksama.
Itulah tanda telah sempurnanya pemusatan semangatnya.
Memang sejak masih kecil ia ikuti gurunya bersemedhi, ia telah wariskan kepandaian gurunya.
Ia hanya kalah waktu peryakinan daripada gurunya itu.
Tidak lama kemudian, ia mulai merasa tubuhnya sedikit panas.
Sendirinya Beng Kie girang bukan main karena hebatnya Iweekangnya itu.
Maka diam-diam ia buka sedikit kulit matanya untuk intai pendeta di depannya itu.
Keng Beng duduk bersila dengan mata meram dan tenang, tetapi wajahnya tersungging senyuman.
Menampak demikian, Beng Kie menduga-duga apa mungkin Iweekangnya telah dapat dijajaki oleh pendeta itu.
Pikiran ini membuat pemusatannya sedikit goncang.
Keng Beng Siansu terus duduk diam dengan semedhinya.
Beng Kie juga bercokol terus, akan tetapi, dengan lewatnya sang waktu, karena ia pikirkan pendeta tua itu, rupa-rupa perasaan timbul dalam otaknya.
Ia pun teringat kepada Him Kengliak di perbatasan, entah bagaimana keadaan tentaranya.
Karena ini, pemusatan semangatnya agak goncang.
"SianCay! SianCay!"
Mendadak Keng Beng Siansu mengucap sendirinya.
Pujian yang mendadak itu membuat Beng Kie terperanjat.
Masih Keng Beng Siansu mengucap, tentang nasihat melenyapkan pikiran melamun, perihal kebebasan pikiran, pokok dasar untuk mencapai semedhi sejati.
Dasarnya cerdas, Beng Kie segera insyaf, maka dengan cepat sekali ia dapat empos pula semangatnya, ia bisa pusatkan pula pikirannya, dapatlah ia bersemedhi terus dengan sabar dan tenang.
"Cukup!"
Berkata Keng Beng Siansu kemudian sambil ia tarik benangnya.
"Dengan caranya kau bersemedhi ini, lweekangmu bakal berhasil sendirinya!"
Beng Kie lantas berbangkit, ia memberi hormat sambil menghaturkan terima kasih.
Tapi ia masih tidak mengerti, bagaimana caranya pendeta itu ketahui tentang Iweekangnya itu, hingga ia niat mengajukan pertanyaan.
"Untuk yakinkan lweekang, hati orang mesti jangan terkena debu biar bagaimana sedikitpun juga,"
Berkata pendeta itu.
"Jikalau hati tidak tetap, seluruh anggauta tubuh turut tidak tetap juga. Satu kali orang diserang pikiran campuran, segera akan tertera pada wajahnya. Ketika kau pertama, duduk, benang bergerak sedikit, kemudian lantas tetap tenang, membuktikan Iweekangmu telah sempurna. Tapi selang sedikit lama, pikiranmu tergerak, itu adalah bukti hatimu belum bersih. Tergeraknya pikiranmu itu menyebabkan benangpun bergerak, itulah tandanya, kau telah kemasukan pikiran yang tak keruan."
Baru sekarang Beng Kie insyaf.
"Terima kasih, taysu,"
Katanya. Sampai di situ, ia ingat untuk ambil kitab yang dijanjikannya. Tiba-tiba wajahnya Keng Beng berubah.
"Apakah kau datang berkawan?"
Pendeta ini tanya. Beng Kie terkejut. Ia bingung.
"Tidak!"
Sahutnya.
"Kalau begitu, telah ada orang mendaki Congkeng kok!"
Kata Keng Beng Siansu.
"Lekas, kau wakilkan aku menawan orang itu!"
Baru pendeta ini tutup mulutnya, segera terdengar seruannya Cun Seng Siansu.
"Semua pendeta dari Tat Mo Ih cepat menuju ke Congkeng kok!"
Tanpa berayal dan sangsi lagi, Gak Beng Kie hunus pedangnya, ia lompat naik ke loteng.
Baru ia sampai atau ia dengar satu suara aneh, ialah suara angin yang datangnya dari satu serangan kepalan.
Maka segera ia melakukan penangkisan.
Benturan ini menandakan bahwa, penyerang yang tidak dikenal itu adalah seorang liehay.
Tapi ia tak takut, ia segera menikam ke arah dari mana, serangan datang.
Kesudahannya serangan ini membikin ia kaget.
Serangannya itu tidak mengenai sasaran, orang yang diserang itu dengan kegesitannya sudah mencelat ke kanan.
Ia dapat lihat bayangan yang hitam.
"Siapa kau?"
Teriaknya anak muda ini, yang segera putar Yuliong kiam, yang bercahaya terang berkilauan, hingga ia tampak bayangan tadi adalah seorang tua yang bermuka merah, yang berdiri dengan wajah tersungging senyuman menyengir.
Orang tidak dikenal itu tidak menjawab, atas mana Beng Kie maju merangsak sambil menikam kepada jalan darah hoakay hiat dari orang itu.
Orang tua muka merah itu berkelit sambil lompat.
Beng Kie lompat mencegat depan orang itu, pedangnya menyambar.
Di luar dugaan, orang tua itu gesit sekali.
Sambil lompat ke samping, sebelah tangannya menyambar lengan Beng Kie yang menyekal pedang untuk digempurnya.
Beng Kie tidak menyangka, akan tetapi ia masih mempunyai kesehatan untuk menyelamatkan diri sambil mendek diri dengan tarik pulang pedangnya, yang ujungnya ia pakai menyontek ke atas, kepada nadi lawannya.
Orang tua itu benar-benar liehay.
Dia buang lengannya sambil memutar tubuh, hingga dalam sekejap itu ia sudah hadapi pula si anak muda, tangannya pun terus menyambar selagi musuhnya menyontek nadinya itu.
Inilah Beng Kie tidak sangka, ia terkejut.
Ia mencoba tarik pulang tangannya, tapi tidak urung tangannya terbentur juga, sehingga ia merasakan sakit bukan main.
Karenanya, ia jadi sangat gusar, terus saja ia menikam.
Orang tua itu egoskan pundaknya terus dia mundur.
Tapi justeru dia mundur, ujung pedangnya si anak mudajuga diteruskan ke arah di mana dia mundur.
Sekarang dialah yang menjadi kaget.
"Sret!"
Demikianlah terdengar suara robeknya baju yang terbabat pedang.
Dengan tidak memberikan ketika sedikitpun Beng Kie terus mendesaknya.
Orang tua itupun murka agaknya, sambil berseru ia lompat menyamping, tapi pun sambil berlompat, tangannya melayang sangat cepat hingga kena menyampok pedang, sampai pedang itu menyeleweng.
Berbareng dengan itu, dengan satu lompatan pesat, orang tua itu mencelat ke wuwungan!
Beng Kie tidak puas, ia hendak mengejar.
Tapi waktu itu dari atas wuwungan segera terdengar bentakannya Cun Seng Siansu.
"Menggelindinglah kau!"
Suara keras terdengar dari robohnya tubuh.
Cun Seng lompat turun menyusul robohnya orang tua itu.
Ia segera nyalakan api.
Maka terlihatlah si orang tua yang tempatkan diri di antara para-para kitab, wajahnya pucat pasi.
"Siapa kau?"
Tegur Cun Seng.
"Apakah kau masih belum mau menyerah?"
Si muka merah menyengir.
"Jikalau kau berani maju pula setindak saja, aku nanti ubrak-abrik Congkeng kok ini!"
Dia mengancam.
"Kau telah rasakan bagaimana sambutanku tadi atas tanganmu, apakah kau kira aku sudah tidak mempunyai tenaga untuk gempur lotengmu ini?"
Wajahnya Cun Seng Siansu merah padam.
Memang ia telah rasakan, ketika tadi ia menyerang, si muka merah ini telah menangkis dengan hebat, suara bentrokannyapun hebat sekali.
Selagi kedua pihak nampaknya tegang, terdengar puji Keng Beng Siansu, lalu orangnya sendiri tertampak muncul.
"Keng Beng Siansu!"
Si muka merah itu menegur.
"jikalau kalian kaum Siauwlim pay hendak rampas kemenangan dengan andalkan jumlahmu yang besar, aku berkeputusan untuk tidak keluar pula dari sini!"
"Omietoohud!"
Keng Beng memuji pula, seraya menakapkan kedua tangannya.
"Apakah kehendak sieCu datang kemari?"
Dia tanya.
"Sudikah kau menj elaskanny a?"
Sikapnya pendeta ini sabar sekali.
"Aku datang hendak meminjam kitab LiongCoan Peklian Koat dan Ie Kin Keng,"
Sahut orang tua itu, suaranya tetap.
"Kitab LiongCoan Peklian Koat itu aku telah janjikan meminjamkannya kepada lain orang, maka itu menyesal tak dapat aku berikan kepadamu,"
Jawab pendeta kepala dari Siauwlim sie itu.
"Tentang Ie Kin Keng, dapat aku jelaskan, itu adalah kitab pusaka dari Couwsu kami. maka menyesal sangat kitab itupun tak dapat dipinjamkan."
Belum sempat orang itu kata apa-apa, Cun Seng Siansu terdengar tertawa.
"Kau pun telah terkena pukulanku dari ilmu silat Sinkun,"
Berkata pendeta ini.
"bukannya kau lekas-lekas pergi untuk beristirahat akan mengobatinya, kenapa kau masih berani hendak memeras kami?"
Selagi orang tua muka merah itu berdiam, Keng Beng Siansu jalan memutari para-para kitab, setelah mana ia berkata.
"Kau pergilah sekarang! Kami tidak hendak tegur kau! Kitab-kitab kami di sini, andaikan kau berniat bawa pergi, itu tak dapat kau lakukan!"
Cepat juga orang tua itu menjadi insyaf.
Memang mungkin Keng Beng sendiri tidak akan merintanginya, tetapi pendetapendeta lainnya, yang banyak jumlahnya, mungkinkah mereka tidak akan turun tangan?
"Kau suruh aku pergi, aku percaya,"
Katanya.
"Bagaimana dengan pendeta-pendeta lainnya?"
"Aku nanti titahkan khamsie antar kau keluar,"
Sahut Keng Beng Siansu.
"Dia nanti umumkan pemberitahuanku supaya mereka jangan merintanginya."
Si muka merah pandang Cun Seng Siansu, ia sendiri masih pegangi para-para.
"Kaum agama Buddha tidak biasa berdusta, kau masih sangsikan?"
Keng Beng Siansu tanya, apabila ia saksikan keragu-raguannya orang itu.
"Baik!"
Sahut si muka merah, dengan masih jumawa.
"Silakan kau berikan aku sebutir pil Siauwhoan tan!"
"Hm!"
Cun Seng perdengaran geramnya. Tetapi Keng Beng Siansu bersikap lain.
"Berikan ia sebutir,"
Kata pendeta kepala ini.
Cun Seng menurut dengan terpaksa ia rogoh keluar satu botol kecil yang berisikan obat-obat pulung warna merah, ia buka tutupnya akan tuang keluar sebutir pil yang ia angsurkan kepada si muka merah itu.
Orang tua ini menyambuti, lalu dengan lantas ia telan pil itu.
"Nah, mari turut aku keluar!"
Cun Seng kata kemudian.
Lalu sambil berlompat ia mendahului.
Orang tua muka merah itu memutar tubuh, ia hadapi Keng Beng Siansu untuk memberi hormat sambil menjura, baru setelah itu ia lompat menyusul Cun Seng.
Gak Beng Kie lihat sepasang mata tajam dari orang itu, yang tidak mau diam.
ia kuatir orang kandung maksud tidak baik.
dengan cekal pedangnya ia mengikuti di belakang mereka.
Ketika itu.
di wuwungan dan di atas genteng, telah berkumpul banyak pendeta-pendeta tuan rumah, di antaranya ialah delapan pendeta dari Tat Mo lh.
Di situpun terdapat Pek Sek Toojin serta To It Hang.
Beng Kie heran apabila ia lihat pemuda she To itu.
"Hongthio menitahkannya supaya dia dibiarkan pergi!"
Cun Seng lantas memberikan pengumuman. Pendeta itu berdiri di sampingnya It Hang. It Hang yang matanya tajam dapat lihat tangannya pendeta itu bertanda belang merah seluruhnya. Ia terkejut.
"Siansu, apakah tadi kau telah berbcntrok tangan dengan penjahat ini?"
Tanyanya It Hang.
"Kenapa?"
Cun Seng balik tanya karena herannya.
"Dia adalah Imhong Toksee Ciang Kim Laokoay."
ItHang beritahukan.
Cun Seng kaget.
Memang tadi.
sehabisnya beradu tangan, ia merasakan apa-apa yang beda pada tangannya, ia hanya tidak menduga jelek, terutama tidak menduga sama sekali kepada Imhong Toksee Ciang.
si "Tangan Pasir Beracun".
"Hai!"
Dia berteriak.
Ketika dia hendak lompat menyusul, mendadak dia rasai kedua lututnya lemas.
Si muka merah sendiri, ialah Kim Tok Ek, sudah berlalu dengan cepat, melewati dua wuwungan, tetapi dia masih dengar seruannya Cun Seng itu.
maka dia menoleh sambil berkata.
"Apakah ucapannya orang-orang Siauwlim sie dapat dipercaya?"
"Jangan kejar padanya!"
Keng Beng Siansu mencegah.
"Tapi aku bukannya orang Siauwlim sie!"
Teriak To It Hang. Rupanya mendadak ia ingat sesuatu. Maka ia berseru.
"Gak Toako. mari kita kejar! Dia telah curi kitab ilmu pedang kepunyaan gurumu!"
Mendengar itu, Beng Kie berseru seraya lompat melesat, dengan beberapa kali lompat ia sudah sampai di bagian belakang CeeCouw am.
It Hang pun telah menyusul dengan cepat.
Maka bersamasama mereka mengejar jago yang bertangan liehay itu.
Kejadian ini ada di luar dugaannya Pek Sek Toojin.
Di dalam hatinya ia sesalkan It Hang yang dikatakan usilan, suka campur tahu urusan lain orang.
Imam ini tidak tahu bahwa It Hang senantiasa pikirkan Giok Lo Sat.
Maka sekarang, setelah mengetahui penjahat ini justeru orang yang curi kitab ilmu pedangnya si Raksasi Kumala, sudah tentu dia tidak bisa tinggal diam.
Dalam pengejarannya itu, It Hang lantas ketinggalan dari Beng Kie.
Mulanya saja ia masih lihat bebokongnya orang she Gak itu, lalu sebentar kemudian ia cuma lihat bayangan saja, yang dalam sekejap telah lenyap di antara gelapnya sang malam.
Ia liehay ilmu enteng tubuhnya, tetapi dibanding dengan Beng Kie dan Kim Tok Ek, ia masih kalah.
Begitulah, walaupun ia mengejar terus, akhirnya ia tak lihat lagi bayangan orang-orang yang disusulnya itu, hingga ia jadi ragu-ragu.
Justeru itu Pek Sek Toojin telah menyusul padanya.
"Mereka itu berada di arah barat utara sana,"
Kata It Hang.
"Kita susul terus atau jangan?"
"Kau adalah bakal ketua partai kita,"
Kata Pek Sek dengan jawabannya.
"maka mengenai urusan kaum kangouw, harus kau mengerti dan menginsafinya. Kita toh datang ke Siauwlim sie sebagai tetamu! Maka mari kita kembali dulu. Khamsie dari Siauwlim sie terkena tangan jahat, mari kita tolong padanya, sehabis itu, baru kita susul orang jahat itu. Kim Laokoay pun sudah terkena pukulan Siauwlim Sinkun, dia pasti bukan tandingannya orang she Gak itu, tidak perlu kita membantunya."
It Hang anggap Pek Sek benar, maka ia lantas saja turut kembali ke Siauwlim sie.
Di lain pihak Gak Beng Kie sudah susul terus pada Kim Tok Ek.
Selang setengah jam, ia telah mengejar dari Siauwsit san sampai di Thaysit san.
Ia masih mengejar terus ketika sekonyong-konyong ia rasakan hatinya tidak tenteram dan mulutnya kering haus.
Tanpa merasa tindakannya jadi perlahan, sedang Kim Tok Ek di depan sudah lenyap dari pandangan matanya!
Dengan perlahan Beng Kie menyalurkan jalan napasnya.
Ia sekarang merasakan gatal pada lengannya.
Maka ia gulung tangan bajunya akan lihat lengannya itu.
Ia terkejut.
Ia tampak lengan itu, terus, ke bawah, menjadi hitam dan bengkak, di lain pihak, segaris merah bagaikan benang, merayap naik ke atas, seperti mengalirnya bisa ular.
Kim Tok Ek telah lama terkenal, dia pasti ada sepuluh lipat lebih liehay daripada Kim Cian Giam, keponakannya.
Beng Kie telah tersampok lengannya, dengan lantas bisanya tangan jahat orang itu bekerja.
Maka dalam kagetnya, anak muda ini berhenti mengejar, segera ia cari tempat untuk duduk bersemedhi.
guna melancarkan jalan napasnya.
Dengan cara ini, ia hendak tolak bekerjanya racun.
Berselang kira-kira setengah jam.
Bcng Kie dapat kenyataan garis merah di lengannya itu telah menjadi kurangan, sudah turun mendekati nadi, maka fa pikir, di waktu terang tanah ia akan sudah bisa kembali ke Siauwlim sie.
Hatinya telah menjadi lega.
Hampir berbareng dengan itu, Beng Kie dengar suara seruling, yang datangnya dari tempat tidak jauh.
Suara itu halus tetapi tedas.
Maka ia ulur lehernya untuk memandang.
Lalu ia tampak satu anak muda yang duduk di atas sebuah batu besar, sedang meniup seruling itu.
"Aneh!"
Pikirnya, karena di waktu seperti itu, sekira jam empat, bukan waktunya meniup seruling.
Tidak lama kemudian suara seruling berhenti.
Itulah disebabkan kedatangannya beberapa bayangan sambil berlarilari.
Pemuda itu segera lompat bangun.
"Oh, kalian baru sampai?"
Demikian pertanyaannya.
"Kalian terlambat!"
Orang-orang yang baru sampai itu belasan jumlahnya, di kepalai oleh seorang tua umur kurang lebih lima puluh tahun, yang tubuhnya kurus kering. Segera orang tua itu tertawa terbahak-bahak.
"Aku percaya kau toh tidak berani lancang berlalu dari sini!"
Katanya.
"Hai, bocah, siapa sebenarnya namamu?"
Pemuda itu angkat alisnya. Ia tertawa.
"Tidak perlu aku memberitahukan namaku!"
Katanya.
"Kau adalah pitik yang baru muncul!"
Kata si orang tua.
"tahukah kau undang-undang kaum Rimba Hijau? Kau sudah ulur tanganmu, kau telah bekerja, mengapa kau tidak datang menjumpai kepala naga di sini?" (Kepala naga -liongtauw --jago setempat).
"Kau toh bukannya kepala naga di sini?"
Berkata si pemuda.
"Pandai kau mencari keterangan!"
Kata orang tua itu.
"Coba. ingin aku ketahui, siapakah si kepala naga yang jadi toako di sini? Kau tahu aturan, tetapi kau sengaja langgar itu. itu artinya kesalahanmu telah bertambah!" (Toako --saudara tua).
"Apa sih main toako-toako-an! Kalian boleh melakukan pencurian, akupun boleh!"
Dari sampingnya si orang tua maju seorang yang tubuhnya tegap, dia lantas saja menuding.
"Hai, bangsat cilik!"
Dampratnya dengan bengis.
"Bagaimana kau berani bekerja hitam dan memakan hitam? Lekas kau keluarkan batu permata itu!"
Mendengar sampai di situ, tahulah Beng Kie bahwa dua pihak orang itu adalah sama-sama bandit, cuma ia merasa heran atas si anak muda, yang romannya demikian sopan santun tetapi dia toh menjadi penjahat ---bekerja hitam dan memakan hitam...
Pemuda itu tertawa.
"Jadinya kaulah si toako kepala naga di sini?"
Dia tegaskan.
"Maka itu kenallah kau pada Moa HekCu!"
Bentak orang itu dengan jumawa.
"Kau hendak serahkan kumala itu atau tidak?"
"Menyesal sekali,"
Sahut si anak muda.
"Aku telah tukarkan itu dengan uang!"
Orang yang perkenalkan diri sebagai Moa HekCu itu menjadi sangat gusar. Ia lonjorkan sepasang tangannya perlihatkan tali bandringnya(huijiauw). Segera ia menyerang.
"Jangan lukai dia!"
Seru si orang tua kurus kering.
Anak muda itu gerakkan serulingnya menangkis serangan sepasang huijiauw itu.
Selagi menangkis, iapun majukan diri mendekati musuh, tangannya yang kiri diulur.
Maka tidak ampun lagi Moa HekCu kena ditotok, roboh seketika dengan tubuhnya terbanting keras!
Mukanya si orang tua kurus kering jadi berubah pucat.
"Kau pernah apa dengan Tiat Hui Liong?"
Dia tanya.
Orang tua ini nyata liehay, dia dapat menduga.
Memang pemuda itu adalah Tiat San Ho, gadisnya Tiat Hui Liong.
Setelah diusir ayahnya, nona ini berlalu dengan menyamar sebagai pria.
Ia merantau dengan merdeka.
Jikalau putus uang belanjanya, dengan gampang ia satroni rumah seorang hartawan untuk curi uangnya.
Baru beberapa hari yang lampau ia sampai di kota Kayhong, di suatu jalan ia ketemu rombongannya Kim Tok Ek dan Kim Cian Giam.
Ia tak ingin dapat dilihat, cepat-cepat ia menjauhkan diri.
Tadinya ia hendak berlalu dari Kayhong, tapi sekarang ia ubah niatnya itu.
Dengan munculnya Kim Tok Ek, ada kemungkinan ayahnya bersama Giok Lo Sat akan datang menyusul.
Tiada sedetikpun San Ho dapat lupakan ayahnya.
Ia tahu, bahwa ayahnya, dengan dibantu Giok Lo Sat (atau sebaliknya), tentu akan cari Kim Tok Ek, untuk minta kembali kitab ilmu pedang, ia ingin dapat membantu ayahnya itu.
Ia insyaf, bahwa ia tidak akan sanggup melawan Kim Tok Ek, akan tetapi ia dapat membantu ayahnya dengan mengintai gerak-geriknya orang she Kini yang liehay itu.
Demikian ia bertindak.
Sesampainya di Kayhong, San Ho keputusan bekal, dari itu pada suatu malam ia satroni seorang hartawan besar.
Justeru rumah itu lebih dahulu didatangi Hek MoaCu, yang telah berhasil mencuri uang dalam satu bungkusan besar, dalam mana terisi juga sebatang kumala gioksanho yang indah, sudah kepalang, ia sambar bungkusan itu dari tangannya Hek Moarju.
Sama sekali San Ho tidak pikirkan kumala itu, sampai keesokannya tiba-tiba ia terima "surat undangan"
Yang menentukan waktu dan tempat untuk pertemuan.
Waku itu adalah jam tiga, dan tempatnya adalah tempat di mana tadi ia tiup serulingnya, tanjakan Ngopek Siepo di gunung Thaysit san itu.
Berbareng dengan itu, ia pun segera dapat tahu bahwa dirinya terus ada yang intai.
Ia insyaf, apabila ia bentrok kepada pengintai itu di tempat mondoknya, ia kuatir Kim Tok Ek nanti pergoki padanya, maka ia anggap lebih baik ia terima undangan tanpa banyak berisik.
Ia percaya bahwa pengundangnya bukan lawannya yang setimpal.
Sekarang kenyataan di luar dugaannya, maling yang ia malingi itu adalah kawannya Kim Tok Ek paman dan keponakan, sebagaimana Kim Cian Giam telah datang bersama si maling itu.
Sebelumnya Kim Cian Giam sudah kenal San Ho, tapi karena orang menyamar sebagai pemuda dan waktu itu bulanpun suram dan bintang sedikit, tidak dapat ia segera mengenalinya, hanya setelah pertempuran, baru ia menduga kepada Tiat Hui Liong yang ilmu silatnya ia kenal baik.
Gak Beng Kie terperanjat mendengar tegurannya orang she Kim ini.
Ia tahu Tiat Hui Liong dan Kim Tok Ek keduanya sama kesohor di barat utara.
Kenapa dua orang itu bisa berada berbareng di wilayah selatan ini?
Atas teguran orang itu.
Tiat San Ho tertawa.
lapun lintangkan serulingnya.
"Orang tua she Kim!"
Katanya separuh mengejek.
"Giok Lo Sat hendak rampas jiwamu, cara bagaimana kau masih berani banyak tingkah di sini?"
Kim Cian Giam terkejut, hingga segera ia celingukan ke sekitarnya.
"Kau toh San Ho?"
Katanya ragu-ragu.
"Benarkah ayahmu dan Giok Lo Sat telah datang kemari?"
San Ho tidak lantas menjawab, ia hanya tiup serulingnya.
"Pasti mereka dapat dengar suara serulingku ini!"
Jawabnya sambil tertawa.
Nona ini jeri, sengaja ia bawa aksinya itu untuk menbikin pusing kepalanya si orang Kim, yang sebaliknyajeri terhadap Giok Lo Sat.
Benar-benar Kim Cian Giam berkuatir sampai wajahnya pucat.
"Paman pergi ke Siauwlim sie untuk mencuri kitab, kenapa ia masih belum balik?"
Demikian ia berpikir. Ia takut kalau benar-benar Tiat Hui Liong dan Giok Lo Sat muncul di hadapannya itu. San Ho kembali perdengarkan tertawanya yang dingin.
"Oh nona. aku tidak tahu bahwa kau nona San Ho, harap kau tidak kecil hati,"
Akhirnya kata Cian Giam sambil memberi hormat dengan lagak yang sibuk, terus ia sambar tangan kawan-kawannya untuk berlalu, ia sendiri sudah lantas memutar tubuhnya.
Itu waktu Hek MoaCu telah bisa merayap untuk berbangkit.
"Kim Toako, jangan kau percaya ocehannya!"
Kata pencuri ini dengan tertawa dingin.
"Aku tahu benar, di dalam beberapa hari ini kecuali dia, di wilayah Kayhong ini tidak ada lain kambratnya lagi!"
Hek MoaCu ini, untuk di propinsi Hoolam, selain menjadi kepala dari rombongan Hoolam pang juga seorang cabang atas untuk wilayah Tenghong.
Ilmu silatnya tidak mahir akan tetapi ia banyak konconya, pandai sekali ia memperoleh kabar kaum kangouw.
Kim Cian Giam tahu pengaruh dan liehaynya sahabat ini, maka ketika mendengar kata-katanya itu, hatinya mulai tenangan.
"Bagus, bocah, kau hci.iui permainkan aku!"
Katanya dengan mengejek.
"Ah, kiranya dia seorang perempuan?"
Kata Hek MoaCu dengan kegirangan.
"Kasihlah dia padaku!"
Tiat San Ho mendongkol bukan kepalang, tahu-tahu ujung serulingnya telah menyambar, hingga Hek MoaCu roboh terguling pula untuk kedua kalinya.
Kali ini dia tertotok lebih hebat, sampai tidak bisa menggerakkan tubuh untuk bangun pula.
Kim Cian Giam tertawa haha-hihi.
"Kau ganas, budak cilik!"
Tegurnya, sambil tangannya menjambret ke muka orang. Sebat sekali ia ulur sebelah tangannya itu. San Ho gesit, ia dapat kelit diri.
"EnCie Lian!"dia menjerit.
"Lekas, enCie!"
Cian Giam kaget, hingga ia celingukan pula, ketika mana digunai si nona dalam penyamaran untuk lompat mundur.
"Kurang ajar!"
Bentak Cian Giam. yang menjadi gusar. Ia sadar bahwa ia kembali kena dipermainkan nona itu. Menuruti kemurkaannya ia lompat maju, untuk berdiri di hadapan si nona.
"Kau berani pakai nama Giok Lo Sat untuk menakut-nakuti aku?"
Katanya dengan tertawa dingin.
Lalu tangannya menjambret pula.
Lagi-lagi San Ho mundur untuk menghindarkan diri.
Dalam gusarnya itu, Cian Giam menyerang pula.
Dengan terpaksa San Ho totok tangan musuhnya itu.
Tapi Cian Giam sangat Iiehay.
dia tidak berkelit, dia justeru menyambar dan merampas seruling musuh dengan tangan kanannya yang terus ia lempar ke tanah, dan tangan kirinya berbareng menyambar juga.
San Ho kaget untuk gerakan musuh yang sangat sebat itu, sampai tak dapat ia mundur lagi.
Sekonyong-konyong Cian Giam tertawa, tangannyapun tidak diteruskan menyerang.
"Aku tidak tega lukai kau dengan menggunakan Tiatsee Ciang!"
Katanya.
"Tapi kau jawablah aku secara baik-baik dan terus terang! Awas jikalau kau sembunyikan sepatah katajua. walaupun aku tidak mau bunuh kau mati, sedikitnya aku akan bikin kau tersiksa seumur hidupmu! Mana. ayahmu dan Giok Lo Sat? ke mana perginya mereka?"
"Apakah benar-benar kau hendak temui mereka?"
Si nona balik tanya. Ia tetap bandel dan besar kepala.
"Siapa main-main denganmu?"
Bentak Cian Giam. Ia ulur tangannya menyambar si nona untuk dicekuknya. Sekarang ini San Ho dapat egoskan tubuhnya.
"EnCie Lian!"
Ia berteriak pula. memanggil Giok Lo Sat. Tak sudi Cian Giam "dijual"
Pula, tanpa perdulikan jeritan itu ia maju, tangannya diulur, hingga jari-jari tangannya mengenai baju si nona. Tapi berbareng dengan itu dia menjerit keras.
"Aduh!"
Sambil tangannya segera ditarik pulang.
San Ho heran menampak kejadian itu.
Gak Beng Kie dari tempat persembunyiannya di belakang batu dapat dengar nyata pembicaraan orang, mulanya ia menyangka kepada bentrokan di antara kawan sendiri, ia tidak mau turun tangan untuk membantui salah satu pihak.
Akan tetapi ia dengar si nona menyebut-nyebut orang tua itu she Kim dan si orang tua sendiri perkenalkan dirinya sebagai ImhongToksee Ciang, ia jadi berpikir lain.
"Ah, tak disangka di sini aku dapat menemui mereka."
Pikirnya pula.
"Kim Laokoay tidak dapat dicandak, baik aku bekuk saja keponakannya ini!..."
Maka diam-diam ia jemput tanah dan dipulungnya bagaikan pil.
dengan, apa ia timpuk Cian Giam di saat orang she Kim ini hendak sambar pemuda tetiron itu.
Dan terkenalah Cian Giam kepada nadinya.
Timpukan itu tidak keras tapi telah membikin semangatnya orang she Kim seperti terbang buyar, karena dia menduga kepada si Raksasi Kumala yang datang menyerang padanya, maka tanpa berayal lagi ia segera membalik tubuh mengangkat langkah panjang.
Hek MoaCu telah dipayang bangun oleh kawan-kawannya, ia heran menyaksikan lagaknya orang she Kim itu, hingga ia berteriak.
"Di sini tidak ada lain orang kecuali bangsat cilik ini!"
Cian Giam segera menoleh, ia tampak si nona sedang tertawa menyengir, di situ tidak ada Giok Lo Sat.
Ia tetap sangsi dan jeri, maka ia tak mau lantas kembali.
Ia hanya melihat ke sana-sini.
tanpa ia tampak sesuatu perubahan.
Orang-orangnya Hek MoaCu tidak menjadi takut walaupun kepalanya telah orang robohkan, mereka maju mengurung pemuda palsu itu.
Tetapi mereka tidak berani segera turun tangan, rupanya mereka masih ragu-ragu.
Cian Giam mencoba menenangkan diri.
Ia pikir, kalau penyerangnya tadi benar Giok Lo Sat, tidak nanti si Raksasi Kumala mengumpet terus dan tidak mengejar padanya.
Ia tahu nona itu sangat ganas.
Dan pikirnya pula.
kalau benar Giok Lo Sat ada di situ, walaupun ia hendak kaburpun akan cuma-cuma belaka, pasti ia akan dapat dicandak.
Maka akhirnya ia ambil putusan, daripada mesti mati, lebih baik ia kembali.
"Jikalau dia bukannya Giok Lo Sat, pasti aku ditertawai Hek MoaCu,"
Ia berbalik pikir. Demikian akhirnya, ia putar tubuhnya. Tiat San Ho lihat orang batal kabur, ia jadi bingung.
"EnCie Lian!"
Dia berteriak pula.
sekeras-kerasnya.
Walaupun dia sudah ambil ketetapan, dasar bekas burung kaget.
Cian Giam tetap ragu-ragu, maka sambil bertindak menghampirkan, matanya melirik ke kiri dan kanan.
Begitulah ia dengar ketika ada angin menyambar.
"Tikus, jangan menggunakan senjata gelap!"
Dia mendamprat sambil menangkis dengan sebelah tangannya. Menyusul itu, orang she Kim ini menjerit keras.
"Aduh!"
Lalu tubuhnya terguling roboh di tanah.
Beng Kie pun lompat keluar dari tempatnya sembunyi!
Mulanya, dengan tanah pulung yang pertama Beng Kie ingin robohkan orang she Kim itu, tapi Cian Giam ternyata, walaupun nadinya telah tertimpuk, dia masih dapat pertahankan diri.
Beng Kie tidak niat mengejar orang she Kim itu.
disebabkan ia baru saja beristirahat, ia tidak boleh menggunakan tenaganya untuk berlari-lari keras.
Ia tidak sangka, karena malu hati kepada Hek MoaCu.
Cian Giam telah balik kembali.
Cian Giam melainkan malui Giok Lo Sat, dia tidak menduganya di situ ada si orang she Gak yang terlebih liehay daripada si Raksasi Kumala.
Selagi Cian Giam kembali, Beng Kie sudah pulung pula tiga butir peluru tanah itu, berbareng dengan itu pemuda ini jemput dua batang kayu kering, lalu dia serang Cian Giam yang hendak menyerang si nona.
Maka tidak ampun lagi.
mata kanannya Cian Giam kena tertusuk satu cabang kayu yang menyerupai anak panah itu, hingga dia roboh dengan matanya mengucurkan darah deras!
Hek MoaCu semua menjadi kaget, semuanya lantas menyerang.
Beng Kie hunus pedangnya yang ia putar untuk dipakai menangkis, ketika pelbagai senjata bentrok, dengan menerbitkan suara berisik, banyak golok dan pedang telah terbabat kutung!
Hingga semua orangnya Hek MoaCu kaget dan lompat mundur.
Hek MoaCu sendiri, melupakan sakitnya, sudah gulingkan tubuh untuk lari sambil bergelindingan.
Juga Kim Cian Giam, dengan menahan sakit, telah lompat bangun dengan niatan angkat kaki.
akan tetapi Beng Kie sudah lompat kepadanya dengan ujung pedang Yuliong kiam ditandalkan ke tenggorokannya!
"Kim Tok Ek itu apamu?"
Pemuda she Gak itu tanya.
"Dia adalah pamanku,"
Jawabnya Cian Giam. Meski Tok Ek dan Cian Giam mereka bersanak sebagai paman dan keponakan, tapi usia mereka bedanya tidak ada sepuluh tahun.
"Bagus!"
Kata Beng Kie.
"Sekarang suruhlah pamanmu itu tebus kau dengan kitab ilmu pedang?"
"Kitab ilmu pedang apa itu?"
Cian Giam tanya.
"Kau masih berpura-pura?"
Bentak Beng Kie.
"Kitab ilmu pedang kepunyaannya Giok Lo Sat!"
"Ah..."
Bersuara Cian Giam.
"Apakah sangkut-pautnya kitab Giok Lo Sat dengan kau?"
Beng Kie tidak menjawab, ia hanya gerakkan tangannya, tapi belum sampai ujung pedang menyontek tenggorokan si orang she Kim, dari satu tikungan ia lihat munculnya satu orang yang berlari-lari sambil berteriak berulang-ulang.
"Lepaskan dia! Aku nanti serahkan kitab itu!"
Dengan tangan kirinya, Beng Kie tolak tubuh Cian Giam sampai orang roboh, lantas ia bersiap, akan menantikan orang yang sedang mendatangi itu.
ialah Kim Tok Ek.
Jago Tiatsee Ciang itu tertawa menyeringai, dia datang bukan untuk serahkan kitab seperti apa yang dia katakan tadi.
hanya secara mengejek dia kata.
"Hm! Neraka tidak ada pintunya, kau toh memasukinya juga. Mari. mari! Kitab ilmu pedang ada di sini! Jikalau kau mempunyai kepandaian, nah ambillah ini!"
Kalau tadi dikejar Beng Kie dia kabur, kenapa Kim Tok Ek sekarang justeru berani menantang?
Tidak lain, itulah disebabkan tadi ia terluka bekas hajarannya Cun Seng Siansu, hingga iapun perlu beristirahat dulu seperti Beng Kie tadi.
Ia duduk bersemedhi sekian lama sampai ia rasakan darahnya berjalan pula seperti biasa, maka segera ia lari ke tempat ini di mana ia sudah janji dengan keponakannya, untuk bertemu.
Kebetulan sekali dia sampai di saat Cian Giam terancam.
"Bagus!"
Menyambut Beng Kie.
"Aku memang ingin tempur pula padamu! Jikalau kau satu laki-laki sejati, jangan lari!"
Beng Kie tutup kata-katanya dengan serangannya.
Kim Tok Ek berkelit akan terus balas menyerang.
Ia berkelahi dengan tangan kosong, karena ia andalkan Toksee Ciang yang jahat.
Beng Kie menyerang berulang-ulang, tapi ia waspada, karena ia tahu liehaynya lawan ini, yang dengan kegesitannya dia seperti nyeplos pergi datang antara sambaran-sambaran pedang yang cahayanya berkilauan.
Tiat San Ho saksikan pertempuran yang kipa itu, tetapi sangat dahsyat, ia menjadi kagum.
Kagum untuk liehaynya pedang si anak muda dan kegesitaunya si orang she Kim.
Beng Kie berkelahi dengan "Twiehong Kiamhoat", ilmu pedang "Mengejar angin", salah satu ilmu dari ilmu pedang Thiansan pay, m bergerak dengan sangat cepat.
Inipun yang pertama kali ia pakai ilmu itu, akan layani jago Tangan Pasir Besi itu.
Dengan jalan ini ia bisa desak mundur pada lawan yang tangguh itu, yang mesti mundur setindak demi setindak.
"Lekas serahkan kitab itu!"
Beng Kie membentak sambil terus mendesak. Sebagai jawabannya Kim Tok Ek perdengarkan tertawanya yang seram. Jago ini kemudian kata dengan dingin.
"Jikalau aku tidak perlihatkan keliehayanku kepadamu, kau tentunya menyangka aku si orang tua jeri padamu!"
Benar-benar Tok Ek menyerang dengan hebat sekali, sesuatu serangannya mendatangkan siuran angin.
Yang hebat ialah, beberapa kali pedangnya Beng Kie kena disampok terpental, hingga pemuda ini menjadi heran.
Beberapa gebrak telah berlanjut, mendadak Beng Kie kaget dan bingung karena tiba-tiba ia merasa dahaga, mulutnya kering.
Nyatalah ia telah keluarkan terlalu banyak tenaga, sedang waktujtu ia baru saja sembuh.
"Celaka..."
Ia mengeluh.
Tapi pemuda ini tidak tahu bahwa Tok Ek pun merasa lebih bercelaka daripada dia.
Sebab Tok Ek juga tergempur tenaga dalamnya oleh Cun Seng Siansu, iapun baru saja pulih tenaganya, lalu sekarang ia paksa keluarkan tenaga sekuatnya untuk dapat melayani Beng Kie.
yang ia niat robohkan.
Memang kelihatannya ia menang di atas angin, tetapi di dalam anggauta badannya sudah tergerak hebat.
Maka selang beberapa saat Kini Tok Ek menjadi buyar pandangan matanya.
Syukur untuk jago ini, meski sudah kabur pandangan matanya, tapi kupingnya masih tajam pendengarannya, menuruti suara anginnya pedang, ia tahu di mana atau ke mana ujung pedang musuh menjurus.
Dengan begitu, selain berkelit, ia juga bisa sampok pedang musuh!
Malah satu kali tangannya bisa sambar lengannya Beng Kie selagi pemuda ini menyerang.
Dengan tangan kirinya, Kim Tok Ek gunakan ilmu menangkap tangan yang dinamakan "Toakimna Ciu" --"Tangkapan Besar".
Sejenak saja Beng Kie rasakan lengannya lemas, tenaganya seperti habis secara tiba-tiba.
Tapi selagi begitu, ujung pedangnya justeru menjurus ke selangkangannya Tok Ek mengenai tulang kakinya.
Geraknya pedang sangat perlahan.
Tok Ek tidak dengar itu.
ia baru kaget setelah mendadak merasa sakit.
Meskipun tusukan perlahan tetapi Yuliong kiam tajam luar biasa.
Karena tertusuk, Tok Ek menjerit, dengan tangan kanannya, segera ia menyerang beruntun sampai dua kali.
Beng Kie sedang menyekali sebelah tangannya, tak dapat ia kelit diri, maka ia kena diserang, atas mana tubuhnya, bagaikan siukiu.
bola sulam, terhuyung roboh ke arah bawah gunung!
San Ho kaget, tetapi ia masih sempat lompat menyambar tubuhnya si anak muda yang ia peluknya mencegah tubuh itu jatuh tergelincir ke bawah gunung itu.
Beng Kie muntahkan darah hidup, tapi meski demikian ia masih bisa perdengarkan suaranya yang serak.
"Lekas pungut pedangku!"
San Ho ragu-ragu.
"Bagaimana kau rasa?"
Dia tanya. Tapi Beng Kie gelisah.
"Lekas! Lekas!"
Serunya dia.
Juga Kim Tok Ek.
setelah serangannya itu dia jatuh roboh, sedang Kim Cian Giam, yang matanya buta sebelah dan telah merasai tangannya Beng Kie.
habis tenaganya, hanya karena ia tidak pingsan, ia masih bisa berdiri dan berjalan, maka ketika ia tampak pamannya roboh, lantas ia lompat untuk menolongnya.
Karena ini.
San Ho dapat dengan leluasa menjemput pedangnya Beng Kie.
Tapi ia kuatir nanti ada orang yang merintangi padanya, maka untuk mengancam, begitu ia cekal pedang itu.
ia lantas putarkan untuk dipakai menyabet, kebetulan sekali ia kena sabet batu.
dan di antara suara nyaring, batu itu memuncratkan letikan api berhamburan.
Kim Cian Giam lihat cahaya api itu, ia kaget dan jeri, maka tidak ragu-ragu lagi ia keluarkan Seantero tenaganya, ia pondong tubuh pamannya, untuk dibawa lari turun gunung.
Sementara itu, selagi pertempuran berlaku di antara Gak Beng Kie dan Kim Tok Ek, orang-orangnya Hek MoaCu sudah kabur bersama-sama pemimpin itu sendiri.
Maka di waktu itu tanah pegunungan itu sepi dari manusia lainnya kecuali Beng Kie dan San Ho sepasang pemuda-pemudi itu.
"Tolong angkat aku,"
Beng Kie minta, ketika ia lihat si nona datang mendekati, i San Ho menurut, ia bantu pemuda itu untuk dapat berbangkit. Tapi Beng Kie tidak terus berdiri, ia hanya duduk bersila untuk bersemedhi.
"Kau pergilah lebih dahulu,"
Kata ia kemudian pada si nona, suaranya serak dan perlahan. San Ho tidak perdulikan titah itu, ia diam menemani.
"Aku kuatir musuh nanti datang pula!"
Beng Kie mendesak.
"Pergilah kau! Kau pergi ke Siauwlim sie untuk memberi kabar!"
Tergerak hatinya Nona Tiat.
"Ia telah terluka parah, ia toh masih pikirkan aku,"
Katanya di dalam hati.
"Eh, mengapa kau tidak turut perkataanku?"
Beng Kie menegur, apabila ia tampak orang masih berdiam saja San Ho masih mempunyai sifat kanak-kanak, biasanya kalau orang bicara kasar demikian terhadapnya, amarahnya lantas timbul.
Tapi sekarang sebaliknya, ia menjadi terharu, hingga air matanya meleleh turun.
"Baiklah,"
Katanya dengan perlahan.
"Aku akan lantas pergi."
Beng Kie terluka parah, ia sudah coba luruskan jalan napasnya, masih ia belum sanggup lakukan.
Karena itu, terpaksa ia bersila terus, hingga tanpa merasa, fajar sudahi menyingsing.
Sekarang ia lihat nyata si nona sedang berdiri di bawah pohon pek, berdiri diam sambil memegangi pedang.
"Eh, kenapa kau masih belum pergi juga?"
Tanya Beng Kie yang menjadi heran. Mendadak nona itu berlompatan lari mendekati, terus ia buka mulutnya yang mungil.
"Kau adalah seorang yang tidak kenal Cenglie!"
Ia balik menegur, tetapi suaranya sabar. Pemuda itu heran.
"Kenapa aku tidak kenal Cenglie?"
Dia tanya.
"Kau sudah tolong jiwaku, kenapa kau tidak ijinkan aku melakukan kewajiban untuk melindungi kau?"
Si nona tanya.
"Apakah hanya kau seorang saja yang diperkenankan menjadi seorang gagah?"
Beng Kie bungkam. Ia coba menggerakkan tubuhnya, lantas ia merasakan sakit yang hebat, ia pun seperti kehabisan tenaga.
"Marilah aku gendong kau, untuk dibawa ke Siauwlim sie.". kata San Ho kemudian. Beng Kie mengawasi akan kemudian menggeleng kepala, la ingat bahwa makhluk di depannya itu adalah satu nona yang menyamar sebagai pemuda.
"Tak usah,"
Sahutnya. Ia empos pula semangatnya.
"Dia aneh,"
Pikir San Ho, yang jujur, hingga ia tidak menduga bahwa Beng Kie bersikap demikian karena mentaati adat sopan santun bahwa wanita dan pria tak dapat berpegang tangan.
Masih Beng Kie mencoba mencoba luruskan napasnya, supaya ia dapat memulihkan tenaganya, akan tetapi tetap ia tidak peroleh hasil, bahkan sebaliknya ia rasakan napasnya sesak.
Ia tidak ingat sama sekali bahwa ia belum dahar dan lukanya sangat parah.
Ia pentang kedua matanya mengawasi San Ho yang tetap berdiri diam di dampingnya.
Akhirakhirnya, ia menghela napas.
"Baiklah aku gendong saja padamu."
Kata San Ho pula kemudian.
Pemuda itu diam saja.
San Ho tahu, ia tidak dapat tentangan lagi, maka ia berdongko untuk pasang bebokongnya, akan cekal kedua tangan si anak muda yang terus digendongnya.
Maka sedetik kemudian, nona ini sudah berlari-lari turun gunung menuju ke kuil Siauwlim sie.
Pada waktu itu di dalam Siauwlim sie, Khamsie Cun Seng Siansu telah lolos dari bahaya sebagai akibat dari serangannya Kim Tok Ek.
Inilah disebabkan lweekangnya lebih liehay' daripada Tok Ek, iapun telah makan obat pilnya yang mujarab, maka setelah dibantu dengan semedhi, dalam satu malam saja, ia sudah pulih kesehatannya.
Menampak ini maka Pek Sek Toojin telah mohon pamitan untuk berangkat pulang.
"Entah kenapa Gak Toako masih belum kembali?"
It Hang tanya paman gurunya itu.
"Mungkin dia mengejar sampai beberapa puluh lie jauhnya."
Pek Sek utarakan dugaannya.
"untuk dapat menyandak siluman bangkotan itu."
"Siluman itu sudah terkena tanganku, dia bukannya lagi tandingannya Gak SieCu,"
Cun Seng menyatakan.
Mendengar itu.
lega hatinya It Hang.
Toh ia masih ingin tunggu kembalinya Beng Kie, maka ia menyesal Pek Sek sudah minta pamitan, hingga ia mesti ikut berangkat.
Pek Sek Toojin ada mengandung maksud mengapa ia ajak It Hang lekas berlalu.
Ia ingin ajak gadisnya berangkat ke kota raja bersama-sama pemuda she To ini, supaya pemuda dan pemudi itu dapat bergaul bebas dan erat.
Kalau Beng Kie turut bersama, dia pasti kurang leluasa untuk mengamprokkan puterinya kepada pemuda incarannya itu...
San Ho mesti berjalan jauh dan sukar dengan menggendong satu tubuh yang mantap, maka setelah tengah hari, barulah ia sampai di Siauwlim sie.
Cun Seng Siansu lantas keluar menyambut ketika tiekekCeng melaporkan kembalinya Beng Kie dengan tergendong, dan ia terkejut bukan main ketika melihat keadaan yang berbahaya dari pemuda itu.
"Apakah yang telah terjadi?"
Dia tanya San Ho. Nona Tiat, yang masih tetap dengan penyamarannya, tuturkan jalannya pertempuran yang dahsyat itu.
"Itulah hebat,"
Serunya sang pendeta Dengan cepat Cun Seng bawa Beng Kie ke dalam kamar, paling dulu ia kasih minum air obat somthung, kemudian ia cekoki tiga butir pil siauwhoan tan.
Tidak lama Keng Beng Siansu pun datang melongok, tapi ketika ia lihat San Ho, terus saja ia kata.
"Kau tak usah mendampinginya lebih jauh."
San Ho heran, hingga ia mengawasi dengan bengong.
"Setelah beristirahat dua hari dia akan sembuh,"
Kata pendeta kepala itu kepada pemuda tetiron ini.
"Kau bawa suratku ke Thaysit san akan menumpang tinggal kepada Cu Hui Suthay. Selang dua hari, kau datang pula kemari untuk menyambut Gak SieCu ini."
Segera San Ho mengerti bahwa pendeta ini telah ketahui penyamarannya, maka wajahnya menjadi merah sendirinya Terpaksa ia sambutI surat dari pendeta itu, lalu ia pamitan dan pergi.
Seberlalunya si nona, Keng Beng dan Cun Seng keluar dari kamar di mana Beng Kie dirawat.
"Gak Beng Kie ini sempurna latihannya, jikalau dia direndengkan dengan It Hang, mereka mirip dengan pohon kumala, mereka adalah bakat-bakat yang sukar didapatkan selama seribu tahun,"
Kata Cun Seng.
"maka aku tidak sangka, kenapa dia tidak bisa kendalikan dirinya, hingga dia hampir merusak kesucian kuil kita ini... Kalau suheng tidak lantas dapat pergoki penyamaran nona itu, dan dia bermalam di sini bersama-sama Beng Kie, tidakkah itu akan lebih hebat kesudahannya? Andaikan hal ini tersiar tidakkah itu memalukan?"
Keng Beng Siansu menghela napas.
"Tapi itulah bukan hal yang aku kuatirkan,"
Kata pendeta ini.
"Dalam segala hal kita harus memandangnya dari keadaan dan suasananya. Beng Kie sedang terluka parah, dari itu, siapa saja yang antar dia, wanita atau pria. adalah sama saja Dalam keadaan sulit dan berbahaya sebagai Beng Kie, kita tak dapat taati sepenuhnya adat sopan santun. Umpama dia tidak dapat orang yang merawatinya tidak ada halangannya mereka berdua berdiam di dalam satu kamar."
"Tetapi tadi mengapa suheng menghela napas?"
Cun Seng tanya.
"Aku sayangi bakatnya Beng Kie yang putih bersih."
Kata pendeta kepala dari Siauwlim sie itu.
Baca Juga: Misteri Bayangan Setan 7
Baca Juga: Rahasia Hiolo Kumala 11