Wanita Gagah Perkasa 3

Eps 3 Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen

Baca online Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen

Cersil Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen.

Hong Ciauwberkongkol sama utusan bangsa Boan, ia ketahui hanya ketiga pahlawan itu sebagai kambrat sehaluan, ia tidak tahu bahwa Gui Tiong Hian pun konconya juga.

Tetapi Gui Tiong Hian di lain pihak ketahui Hong Ciauvv sebagai kawan sekomplot.

tapi mengenai aksinya itu ia tidak mau beritahukan kepada orang she The itu, yang ia masih sangsikan.

Dalam tindakannya, Gui Tiong Hian kirim ketiga pahlawan ke Siamsay untuk bekerja secara diam-diam.

Ia juga dengan berani pakai tenaganya satu giesu yang menjadi orang kepercayaannya, untuk menyamar sebagai kimCee, utusan raja.

pergi ke kota Yanan.

Adalah keinginannya untuk korek rahasia dari mulutnya To It Hang.

Kebetulan sekali, waktu itupun raja kirim utusan kepada To Tiong Liam, untuk panggil bekas Congtok itu menjabat pangkat pula.

Maka Gui Tiong Hian lantas mengatur akal, memerintahkan dua pahlawannya untuk mencelakai kedua utusan raja itu.

supaya keluarga To dapat difitnah, dan It Hang ditangkap untuk dihukum.

Di antara kedua pahlawan itu, yang pandai ilmu silat BitCong kun asal SeeCong (Tibet), bagian Jiukang, yakni ilmu halus (lemas).

Dialah pahlawan yang bersenjatakan ikat pinggang itu, yaitu In Yan Peng orang tua muka merah itu.

Hanya dalam peryakinan ilmu itu orang she In ini baru mencapai tujuh puluh bagian.

Pahlawan yang kedua adalah si orang tua yang pandai Imhong Toksee Ciang, ilmu kepandaian tangan kuat.

Dia adalah orang she Kim bernama Cian Giam.

Orang yang kena pukulan tangan liehay itu, selewatnya tujuh hari, tidak akan dapat ditolong pula.

Maka dengan tangan jahat itu, dia bisa bunuh orang di tempat ramai tanpa diketahui perbuatannya.

Demikian sudah terjadi, untuk menjalankan titahnya Gui Tiong Hian.

mereka sudah bokong kedua utusan raja guna memfitnah keluarga To, tetapi di luar dugaan mereka, It Hang telah menggagalkan usahanya itu.

kedua kimCee tertolong jiwanya.

Inilah sebab-sebab yang kemudian menjadikan "pertempuran gelap"

Di dalam istana, It Hang rebah dalam kamar tahanan dengan hati mendongkol bukan main.

Sebagai akibat totokannya si orang she Kim, dia rasakan tenaganya lenyap.

Tentu saja dia jadi sangat berkuatir.

Diapun kualirkan negaranya, karena sudah terang berbukti bahwa bangsa Boan telah beli segala penghianat.

Dia baru tahu lima nama, tapi dia percaya jumlahnya penghianat tentu ada lebih besar lagi.

"Putera mahkota mesti diberitahukan tentang rahasia ini, tetapi bagaimana?"

Dia berpikir.

"Aku sekarang terkurung di sini, aku mesti berdaya sendiri. Bagaimana aku dapat bebaskan diri dari totokan lawan ini? Kalau aku gusar, darahku jadi semakin tak dapat mengalir."

Karena ingat ini, bisa juga It Hang menenangkan diri, malah dia dapat bergerak untuk duduk bersemedhi mengumpulkan semangatnya.

Ia memang telah mempunyai dasar lweekang yang baik, ketenangan ada baiknya untuk keadaannya seperti itu.

Baru berselang satu jam, ia mulai merasakan darahnya mengalir pula seperti biasa.

Karena ini ia lantas memikir untuk bikin putus rantai yang membelenggu kedua tangannya, supaya ia bisa terjang pintu untuk nerobos keluar.

Di saat ia sedang memikir demikian, kupingnya mendengar suara pertempuran yang samar-samar, yang datangnya seperti dari tempat jauh.

Lekas-lekas ia mendekam untuk pasang kupingnya di lantai, hingga ia dengar suara pertempuran itu datang semakin dekat.

"Heran! Siapa mereka?"

Ia menduga-duga.

Ketika itu tiba-tiba pintu kamar tahanan terbuka.

It Hang terperanjat, ia bangkit berdiri.

Itulah In Yan Peng yang muncul, wajahnya yang licik tersungging senyuman.

Dia bertindak perlahan menghampiri pemuda kita.

"Apa kau mau?"

It Hang menegur.

"Sahabat baikmu telah datang, mari aku ajak kau pergi padanya,"

Sahutnya musuh ini.

Belum lagi Yan Peng tutup mulutnya, mereka segera dengar suara ambruk yang hebat.

Karena kantor tiehu telah digempur tembakan meriam dan terbakar.

Yan Peng kaget sehingga wajahnya berubah.

Namun ia masih ingat untuk menggerakkan tangannya menyambar It Hang yang ia hendak bekuk, untuk dibawa menyingkir dari situ.

Yan Peng tahu bahwa orang yang ditotok jalan darahnya wietiong hiat membutuhkan waktu enam jam untuk dapat pulih kembali kesehatannya.

Maka pikirnya dengan mudah ia dapat cekuk pemuda itu.

Tetapi di luar dugaannya tiba-tiba It Hang buka mulutnya memperdengarkan seruan hebat, berbareng iapun pentang kedua lengannya menyabetkan rantai borgolan, sedang kedua kakinyapun diangkat dengan berbareng dalam satu dupakan.

Semua itu In Yan Peng tidak menyangkanya, tidak heran kalau ia kena diserang.

Dupakan pada lututnya membuat ia roboh seketika.

Akan tetapi ia benar-benar seorang liehay, jatuhnya itu, ia teruskan dengan gulingkan tubuhnya untuk menyingkir dari serangan lebih jauh, hingga ia dapat kesempatan untuk lompat bangun.

Ia juga dapat segera meloloskan ikat pinggangnya, dengan itu ia serang pinggangnya si anak muda!

It Hang tahu bahwa bala bantuan sudah sampai, ia jadi bertambah semangat.

Begitu lekas ia egos tubuh dari serangan musuh, ia segera mendesak dengan gerakan "Ciutam piepee"

Atau "Merogoh piepee".

Yan Peng tidak sudi ditotok musuh, ia menyambar pula dengan senjata ikat pinggangnya untuk melibat kedua bahunya pemuda kita.

Tetapi It Hang mengerti bahaya, Ia berkelit sambil melenggak diri, sesudah mana.

lagi-lagi ia mendesak, menyerang saling susul.

Orang tua muka merah itu mundur dua tindak, ia menangkis dengan tangan kiri, berbareng tangan kanannya menyabet dengan ikat pinggangnya.

Satu suara keras terdengar, ikat pinggang musuh mampir di iganya It Hang.

Ia kalah gesit karena ia baru saja pulih jalan darahnya.

Tapi ia mengempit lengannya menjepit untuk jepit ikat pinggang itu, lantas ia pasang kuda-kuda untuk membetotnya.

In Yan Peng tertawa dingin, berbareng dengan mana, tangan kirinya menyambar.

Atas serangan ini, tidak dapat tidak It Hang harus menangkis.

Justeru di saat itu tangan kanan si muka merah bergerak akan tarik ikat pinggangnya untuk dipakai menyambar pula.

dan dia berhasil melibat lengan kanan musuhnya.

It Hang gunakan tangan kirinya, untuk meloloskan libatan pada tangan kanannya itu.

Tetapi Yan Peng tidak diam saja, dia pun membetot keras.

Percuma It Hang mencoba menancap kakinya, Ia kena ditarik hingga kuda-kudanya gempur, tubuhnya terbetot roboh.

Dalam saat yang sangat berbahaya bagi anak muda ini, di luar kamar terdengar tindakan kaki berlari-lari, lalu terdengar seruan.

"In Toako, angin keras! Pecah!"

Itulah tanda rahasia!

Yan Peng kaget tidak kepalang sehingga mukanya pucat, akan tetapi ia masih memegangi keras ikat pinggangnya, karena ia berniat meringkus si anak muda untuk dijadikan manusia tanggungan.

Hampir berbareng pada saat itu, di luar kamar terdengar suara ketavva nyaring tapi halus.

It Hang dengar suara ketawa itu, ia menjadi kaget berbareng girang.

"Giok Lo Sat!"

Serunya In Yan Peng kaget, segera ia tarik ikat pinggangnya, untuk lompat keluar kamar, menyingkirkan diri.

Dugaannya It Hang tidak salah.

Yang datang itu benar Giok Lo Sat, bersama barisannya, menggempur kota Yanan.

Sejak dia berserikat dengan Ong Kee In, ayahnya Ciauw Hie, dia memang sudah berniat pergi ke Siamsay Utara untuk membuat pertemuan, akan tetapi karena ada janji dengan Eng Siu Yang di puncak Hoasan, keberangkatannya itu telah tertunda.

Kali ini dia datang bersama beberapa puluh serdadu wanitanya.

Dalam perjalanan ke Wayauwpo untuk temui Ong Kee In, di tengah jalan kebetulan ia ketemu Pek Bin.

yang diatolongi.

Kejadian dengan Pek Bin ini menimbulkan kecurigaannya, dia berkuatir untuk dirinya To It Hang, maka segera dia kirim mata-matanya untuk menyelidiki.

Ia telah peroleh kabar hal ditawannya It Hang itu.

Juga Ong Ciauw Hie telah dapat kabar hal It Hang ditawan, dia sudah lantas kepalai satu pasukan, di tengah perjalanan ia ketemu Giok Lo Sat.

ia persatukan pasukannya di bawah pimpinannya nona itu, terus malam itu juga mereka menggempur kota.

Tidak sampai satu jam pintu kota dapat dipecahkan, barisan penolong ini langsung menyerbu ke kantor residen, hingga Kim Cian Giam beri peringatan pada In Yan Peng.

Ketika simuka merah sampai di luar kamar tahanan, sejarak tiga tumbak di depannya ia tampak sahabatnya sedang bertempur dengan satu nona, dalam keadaan terdesak dan berbahaya, karena dikurung sinar pedangnya si nona.

Maka ia segera siap dengan ikat pinggangnya dan terus maju menyerang nona itu dengan tipu silat "Kimkauw soCu" ---"Naga emas melilit tiang".

Ia ancam tubuh dan pedangnya si nona berbareng.

Giok Lo Sat lihat datangnya satu musuh baru, Ia tertawa ketika ia diserang, terus saja dengan pedangnya ia sampok ikat pinggang musuh yang baru itu.

Dua senjata bentrok keras, In Yan Peng rasakan telapak tangannya sakit, hingga ia mesti kendorkan cekalannya Justeru itu pedangnya si nona sudah berkelebat pula.

Kali ini terdengar suara getas, ikat pinggang si muka merah nyata telah terbabat kutung!

In Yan Peng dapat adu Iweekang dengan To It Hang tapi tidak demikian terhadap Giok Lo Sat.

Ia tidak berhasil melilit si nona.

sebaliknya ia sendiri yang menjadi korban.

Kim Cian Giam gunakan ketika selagi si nona layani In Yan Peng, dia menyerang dengan kedua tangannya yang liehay, tujuannya adalah kedua lengan nona itu.

Giok Lo Sat awas matanya dan gesit gerakannya, sehabis membabat ikat pinggang Yan Peng, ia memutarkan tubuhnya, hingga ia dapat lihat datangnya serangan dari musuhnya yang pertama, maka dengan sebat ia mendahului menikam sebelum kedua tangan musuh sampai kepadanya Ujung pedang menjurus ke arah tenggorokan.

Orang she Kim itu kaget.

Ia mesti berdaya untuk menolong diri.

Dengan demikian, dengan sendirinya pecahlah serangannya itu.

In Yan Peng keluarkan napas lega Dalam keadaan seperti itu ia mesti berlaku nekat, maka iapun menyerang pula.

Kali ini ia gunakan ilmu silat menangkap Kimna Sippat Ciang.

Secara demikian, berdua Kim Cian Giam ia mencoba kurung nona kosen itu.

Namun tetap mereka masih keteter.

To It Hang muncul di saat pertempuran sedang berjalan dengan serunya akan tetapi belum ia datang mendekati, Giok Lo Sat sudah teriaki padanya.

"Lekas kau pergi ke belakang membantu Ong C iauw Hie! Biarkan kedua anak kelinci ini aku yang layani!"

Pemuda itu adalah satu ahli, dengan melihat sepintas lalu, ia bisa lantas buktikan nona itu bukannya omong besar, maka ia batal maju terus, ia balik lari memburu ke belakang.

Baru ia sampai di lorong, di situ ia sudah lihat sepasang orang sedang bertarung sambil separuh berlari-lari.

Orang yang di depan ia kenali sebagai Ong Ciauw Hie adanya.

Dua orang itu adasetanding, sebab kalau Ciauw Hie mainkan pedangnya dengan hebat, lawannya tidak kurang dahsyatnya.

Amarahnya It Hang meluap apabila ia sudah kenali lawannya Ong Ciauw Hie itu, ialah salah satu opsir yang telah bantu Ong Pengpie menangkap padanya Maka ia lantas saja lompat maju menerjang opsir itu.

Opsir itu adalah punggawa kosen dari Congtok, gubernur jenderal, dari kedua propinsi Siamsay dan Kamsiok, akan tetapi ketika dikepung oleh Ciauw Hie dan It Hang, ia menjadi repot seketika.

Baru ia lolos dari sepasang kepalannya pemuda she To, atau pedangnya Ciauw Hie sudah sampai.

Begitulah, sebelum sempat ia memikir untuk angkat kaki.

selagi It Hang desak padanya, ujung pedangnya Ciauw Hie telah mampir di pundaknya, kepada jalan darah thianCu hiat, maka tak ampun lagi tubuhnya lantas roboh dengan jiwanya melayang pergi.

"Saudara To, aku datang terlambat, aku telah bikin kau menderita lama,"

Kata Ciauw Hie sehabis pertempuran.

It Hang manggut, tetapi ia tidak kata apa-apa Sekarang ia tahu pasti bahwa pemuda she Ong itu adalah satu penjahat besar dari Siamsay Utara.

Ia merasa sungkan bergaul dengan bangsa penjahat.

"Mari kita tengok Nona Lian,"

Ciauw Hie mengajak, tanpa perdulikan sikap orang itu.

"Mari kita tonton dengan cara bagaimana dia bereskan dua penghianat itu."

It Hang tidak mempunyai alasan menampik kebaikannya anak muda itu, maka ia manggut pula Ia lantas ikut untuk kembali ke depan.

Ia sendiri memang ingin lihat Giok Lo Sat, yang kedatangannya bersama Ciauw Hie justeru guna menolong padanya.

Pertempuran di depan masih berlangsung.

Biar bagaimana Kim Cian Giam dan In Yan Peng adalah orang-orang kosen, mereka dapat bertahan terhadap serangan luar biasa hebat dari Nona Lian.

Dari kejauhan seperti tidak terlihat tubuh mereka yang sedang bertempur itu, melainkan yang dapat tampak hanya sinarnya senjata mereka.

Setelah mengawasi, Ong Ciauw Hie memuji.

"Benar-benar Giok Lo Sat liehay! Aku lihat, kedua penghianat itu akan segera mati dengan tidak mempunyai tempat untuk mengubur tubuhnya!"

Baru Ciauw Hie tutup mulutnya, atau ia dengar seruan halus tapi tajam yang menyangkal pujiannya itu.

"Aku tidak percaya!"

Demikian seruan itu.

Mendengar suara seruan itu, parasnya Ciauw Hie berubah.

Menyusul suara itu, dari atas payon lompat turun seorang wanita muda dengan muka bertopeng, nampaknya dia lebih muda daripada Giok Lo Sat.

"Mau apa kau datang kemari?"

Ciauw Hie tegur nona itu.

"Kau sendiri boleh datang-mustahil aku tidak?"

Si nona balik menanya.

"Tahukah kau ada orang sedang menantikanmu! Tunggu sebentar, sehabis aku menemui Giok Lo Sat, baru aku terangkan padamu!"

"Siapa dia?"

It Hang tanya Ciauw Hie.

"Kau kenal nona itu, saudara Ong?"

Ciauw Hie nampaknya jengah.

"Boleh dikatakan juga aku kenal padanya..."

Sahutnya, yang lantas saja lari menyusul nona itu, yang lari menuju ke tempat pertempuran.

Dalam pertempuran itu, Kim Cian Giam lebih banyak bersikap membela diri, karena sesudah banyak jurus dilalui, ia insyaf meskipun bersama In Yan Peng, sulit baginya untuk dapat merebut kemenangan.

Beberapa kali ia telah menyerang dengan Imhong Toksee Ciang, tapi selalu gagal, jangankan tubuh musuh, bajunyapun ia tak dapat langgar.

Inilah karena sangat lincahnya nona itu, yang pun penyerangannya terus bertambah hebat.

Di saat Giok Lo Sat hendak beri pukulan yang terakhir, tibatiba ia tampak bayangan berkelebat di arah belakangnya dan anginpun menyambar, maka cepat-cepat ia memutar tubuh sambil menangkis.

Dengan menerbitkan suara nyaring, kedua pedang beradu keras, sampai lelatunya pun muncrat.

Giok Lo Sat heran akan dapati pedang penyerangnya tidak terpental.

Ia pun heran setelah dapat lihat, bahwa penyerang itu adalah satu nona bertopeng.

"Hai. kau cari mampus?"

Ia lantas menegur. Nona yang bertopengkan muka itu menyahut.

"Setiap orang puji ilmu silat pedangmu, maka ingin aku belajar kenal!"

"Baik, kau sambutlah!"

Berkata Giok Lo Sat dengan sengit.

Dan ia menikam tanpa bersangsi pula Nona tidak dikenal itu gerakkan pedangnya, ia berhasil memunahkan serangan si Raksasi Kumala.

Kim Cian Giam dan In Yan Peng bernapas lega, dengan menggunakan ketika yang baik itu keduanya lompat naik ke atas genteng untuk angkat kaki.

"Ong Ciauw Hie, cegat mereka!"

Seru Giok Lo Sat, yang lihat orang mencoba untuk kabur.

"Aku segera akan menyusul!"

Ong Ciaw Hie menurut, dengan enjot tubuhnya ia lompat ke genteng.

"Aku harap kau menaruh belas kasihan, Lian Liehiap..."

Katanya selagi ia lompat naik.

Melihat kawannya menguber dua penghianat itu, It Hang pun segera lompat ke genteng untuk menyusul karena ia tahu kepandaiannya Kim Cian Giam dan In Yan Peng adajauh lebih liehay daripada pemuda she Ong itu.

Giok Lo Sat layani si nona bertopeng.

Tadinya ia sangka, dalam tiga jurus saja ia akan dapat mengalahkan nona itu, akan tetapi ternyata nona itu bisa mengelakkan serangannya Ia menjadi gusar ketika ia dengar pertempuran di atas genteng agaknya jadi semakin jauh.

Maka ia menyerang lawannya semakin hebat.

Nona yang bertopeng itu telah keluarkan antero kepandaiannya, baru dia dapat melayani lawannya dalam tiga jurus, sekarang ia insyaf keliehayannya Giok Lo Sat, karena inilah baru ia memikir untuk menyingkirkan diri.

Dalam murkanya, Giok Lo Sat masih bisa tertawa.

"Eh, bocah, kau masih berani balas menyerang aku?"

Kata ia sambil tertawa, tetapi ia perhebat serangannya dengan tikamannya beruntun beberapa kali, membikin lawannya terkurung pedangnya dan menjadi sangat repot.

"Tidak sanggup aku lawan kau, aku suka menyerah,"

Kata si nona bertopeng kemudian.

"Mengapa kau desak aku demikian rupa?"

"Sekarang mengaku kalahpun tak dapat!"

Sahut si Raksasi Kumala.

"Jikalau benar kau gagah, mari turut aku menemui ayahku..."

Kata pula si nona bertopeng itu.

"Sekarang aku hendak lihat tampangmu dulu!"

Sahut Giok Lo Sat.

Dan ujung pedangnya menyambar.

Nona itu kaget tak alang kepalang.

Ia rasakan hawa dingin menyambar berulang-ulang di depan mukanya.

Bahna kaget ia menjerit, topengnya yang terbuat dari citapun lantas terlepas.

Giok Lo Sat lihat satu nona cantik di hadapannya.

"Baiklah, aku tidak akan bunuh kau,"

Ia kata.

"Tetapi aku harus berikan kau serupa pertandaan saja!"

Dan ujung pedangnya memain pula di muka si nona lawannya.

Dalam kuatir dan repotnya, nona itu berikan perlawanannya* menangkis pedang lawan.

Ia masih sempat unjukan kecerdikannya.

Sehabis menangkis, ia menyerang ke kiri, tetapi mendadak ia ubah sasarannya dengan balik menyerang ke kanan, ke arah jalan darah Ciangtay hiat di buah dada kanan lawannya itu.

Giok Lo Sat berkelit, ia tercengang akan serangan liehay dari si nona bertopeng itu.

Justeru sedangnya ia tercengang, nona itu gunakan ketika itu untuk lompat naik ke atas genteng.

"Hai, dari mana kau dapatkan ilmu pedangmu itu?"

Teriak si Raksasi Kumala sambil lompat naik juga ke genteng untuk menyusul.

Si nona bertopeng yang topengnya telah lenyap, lari terus.

Di lain pihak Kim Cian Giam dan In Yan Peng telah tempur Ong Ciauw Hie dan To It Hang.

Tapi mereka baru bertempur sepuluh jurus, lantas saja kedua pemuda ini kena didesak.

Sebabnya ialah karena kelemahannya Ciauw Hie menghadapi dua penghianat jagoan itu.

Syukur bagi mereka dua penghianat itu memikir untuk lari kabur.

Maka setelah peroleh ketikanya, mereka segera lompat menyingkir.

"Kita kejar atau jangan?"

Tanya Ciauw Hie pada It Hang. Ia bersangsi, sebab ia insyaf liehaynya dua penjahat itu.

"Kejar!"

Sahut It Hang.

"Mereka adalah penghianatpenghianat yang berkongkol sama bangsa Boan!"

Ketika itu, gedung residen telah dimakan api yang disebabkan oleh orang-orangnya Ong Ciauw Hie.

Api berkobar-kobar dan asap bergulung-gulung mengepul naik.

Ciauw Hie bersama It Hang ketika sampai di luar gedung, mereka kehilangan kedua penghianat yang licin itu.

Selagi It Hang memandang ke sekitarnya, ia lihat satu tubuh putih mengkelebat lewat di sampingnya.

Ia segera kenali si nona bertopeng tadi, hanya sekarang topengnya itu sudah hilang.

Nona itu lari di antara asap yang tebal.

Menyusul si nona itu, lewat berkelebat pula satu tubuh lainnya.

"Dua penghianat itu lolos!"

Ong Ciauw Hie teriaki orang yang belakangan ini.

"Lian Liehiap, mari kita memecah diri menjadi tiga untuk cari mereka itu!"

Pemuda ini segera kenali Giok Lo Sat.

"Lebih penting, aku susul bocah perempuan itu!"

Jawab si Raksasi Kumala "Dua penjahat itu adalah penkhianat-penghianat, lebih baik kita kejar mereka!"

It Hang campur bicara.

"Aku kata. lebih perlu kejar si bocah perempuan!"

Berkukuh Giok Lo Sat.

Ong Ciauw Hie kewalahan juga, terpaksa bersama It Hang ia lari mengikuti si nona.

It Hang sangat tidak mengerti akan sikapnya Giok Lo Sat yang membiarkan penghianat-penghianat lolos, sebaliknya mengutamakan mengejar satu nona.

Tentu sekali ia tidak tahu bahwa si Raksasi Kumala telah dibikin heran dan penasaran oleh tipu silat yang terakhir dari nona bertopeng itu.

Karena itu adalah salah satu tipu silatnya sendiri, yang istimewa.

Sejak kecil Giok Lo Sat telah ikuti gurunya hidup menyendiri di dalam gua, ia tahu betul gurunya tidak mempunyai lain murid, maka aneh yang si nona bertopeng itu justeru pandai tipu silat itu.

Karena ini, ia menduga-duga pada kemungkinan Gak Beng Kie serta To It Hang secara diam-diam sudah berbuat lancang memberikan ketika kepada orang lain mencuri dan melihat kitab ilmu silat itu?

Ia memang penasaran ketika itu hari ia tidak sanggup mengalahkan orang she Gak itu.

Dan ketika ia kembali ke dalam guanya, tidak saja kitabnya lenyap, pun semua ukiran di tembok lenyap musnah.

Karena ini, ia ambil putusan akan mencari kitab ilmu silat itu.

Sekarang ia dapatkan si nona bertopeng mengerti tipu silat itu, tidaklah heran kalau ia berkeinginan untuk menawan nona itu, untuk korek keterangan dari padanya.

Si nona bertopeng lari pesat sekali, tapi si Raksasi Kumala mengubernya lebih pesat lagi, di belakangnya menyusul It Hang dan Ciauw Hie.

Yang semakin lama semakin jauh ketinggalan di belakang.

Di lain pihak, Giok Lo Sat berhasil menyusul si nona bertopeng.

"Ayah! Ayah!"

Nona itu berteriak-teriak apabila ia dapatkan dirinya terancam bahaya. Giok Lo Sat dengar teriakan itu, ia kendorkan larinya. Iapun tertawa.

"Baik aku nanti tunggui ayahmu, untuk aku menanyakan keterangan dari dia!"

Ia kata Mereka sekarang telah sampai di luarkota, di kaki bukit Cenghong san.

Si nona bertopeng lari terus, sambil terus juga berteriakteriak.

Giok Lo Sat tetap membayangi di belakang nona itu.

Ia tidak hendak menyandak tapipun tidak mau membikin dirinya ketinggalan.

Hanya beberapa kali ia ulurkan pedangnya ke bebokong si nona, hingga ancaman itu membuat dia sangat ketakutan, tiap kali dia mesti berkelit ke kiri atau ke kanan.

Dia mencobanya lari sekeras-kerasnya tapi tetap dia tidak bisa menjauhkan diri dari pengejarnya itu.

Bagaikan seekor kucing permainkan tikus, demikian tingkah polahnya Giok Lo Sat.

Berulang kali ia tertawa cekikikan di belakang orang yang dikejarnya, hingga nona itu bahna takutnya, menjerit berulang-ulang.

Setelah lari sekian lama, mendadak si nona bertopeng lompat ke depan dan terus dia roboh, dari mulutnya terdengar jeritan.

"Ayah!"

Lalu dari atas gunung terdengar jawaban, suaranya luar biasa.

Giok Lo Sat berhenti mengejar, sambil lintangkan pedangnya ia mengawasi ke atas gunung, ia telah dengar suara sambutan dari atas gunung tadi.

Tidak lama menantikan tampak olehnya melayang satu tubuh turun mendatangi, lalu berhenti pada jarak dua tindak di depannya Itulah seorang yang tubuhnya tinggi besar dan lanjut usianya, hidungnya bagaikan hidung garuda dan mulut bagaikan mulut singa dengan muka penuh berewokan pendek.

Satu roman yang jelek sekali dan bengis.

"Siapa berani perhina anakku?"

Demikian orang tua itu berseru. Si nona bertopeng segera merayap bangun untuk sembunyikan diri di belakang orang tua itu. Ia menangis, air matanya memenuhi mukanya.

"Ayah, tolong kau korek matanya wanita bangsat ini!"

Kata ia pada orang tua itu dengan lagak sangat manja. Giok Lo Sat perdengarkan tertawa dingin. Ia juga menuding dengan pedangnya.

"Bangsat tua. lekas kau bayar kembali kitab ilmu pedangku!"

Ia bentak. Orang tua itu melengak.

"Kitab ilmu pedang apa?"

Dia menegasi, suaranya keras tetapi dalam.

"Ayah, perempuan bangsat ini tuduh aku jadi bangsat!"

Menangis pula si nona bertopeng.

"Kapan dan di mana aku pernah lihat kitab ilmu pedangnya? Dia telah berulang kali menyodokkan ujung pedangnya di bebokongku, dia menghina sangat padaku... Ayah. kau mesti tolong balaskan anakmu mengorek biji matanya!..."

Giok Lo Sat gusar karena berulangkah ia dikatai bangsat, benar ia bisa bersenyum akan tetapi pedangnya sudah lantas menikam. Si orang tua keluarkan seruan.

"Ah!..."

Ia mundur tiga tindak, sebelah tangannya menolak mundur tubuh gadisnya, kepada siapa ia berkata.

"Pergi kau mundur ke batu di sana, aku larang kau membantui aku. Aku mengerti sekarang!"

Giok Lo Sat tidak perdulikan sikap orang, setelah tikamannya yang pertama gagal, ia maju mengulangi serangannya pula sampai tiga kali, sebab si orang tua mundur terus.

Adalah setelah ini, orang tua itu berseru karena murkanya, tubuhnya mencelat maju, tangan kirinya menyambar ke atas, tangan kanannya ke bawah.

Inilah serangan yang mirip dengan tipu silat "Cengtoan Ciu" (Tangan Menahan Penglari) dari ilmu silatnya Keluarga Gak (Gak Hui), malah gerakannya orang tua ini terlebih sebat.

Diserang secara demikian mendadak, Giok Lo Sat terdesak.

Maka, tidak ada lain jalan, ia apungkan diri sambil jumpalitan ke belakang, dengan gerakan "YanCu Coanin"

Atau "Burung walet menembus mega". Ketika ia turun pula, ia injak sebuah batu besar di belakangnya. Si orang tua maju memburu, karena ia sangat gusar. Ia berkata dengan bengis.

"Seumurku belum pernah aku mengalami ada orang berani menantang aku di hadapanku! Mengapa kau berani demikian kurang ajar? Siapakah gurumu?"

Wajahnya si Raksasi Kumala juga berubah sedikit, tapi ia masih tertawa besar.

"Aku juga!"

Katanya mengejek.

"Aku juga seumurku belum pernah ketemukan orang yang berani buka suara besar membentak-bentak di depanku! Siapakah gurumu dan apakah namanya?"

Orang tua itu anggap dirinya dari kalangan tertua, dengan tanyakan gurunya si nona, dia pernahkan dirinya sebagai orang yang lebih tua tingkatannya, maka tidaklah dia sangka nona yang begitu muda usianya, berani bawa sikap seperti dia sendiri, berani juga menanyakan nama gurunya, sedang gurunya sudah menutup mata pada tiga puluh tahun yang lampau.

Teranglah nona itu pandang dia yang usianya lanjut sebagai orang dari tingkatan muda!

Bergerak-geraklah berewok dan jenggotnya orang tua ini, bahna gusarnya yang tak tertahankan.

"Anak muda kurang ajar, rasakanlah tanganku!"

Dia berseru.

Giok Lo Sat tidak takut, ia menyambutnya sambil tertawa, sesudah mana, dari batu di sebelah atas itu, ia berlompat turun, untuk menghampiri jago tua ini.

Segerajuga si orang tua itu berikan kepalannya, yang keras sampai mendatangkan suara angin.

Teranglah ia pandai lweekang (ilmu dalam).

Giok Lo Sat tidak takut, malah ia menikam terus dengan pedangnya, hingga mau tidak mau orang tua itu mesti berkelit ke samping.

Dari sini barulah ia bergerak cepat untuk menyerang pula, dengan kedua tangannya berbareng!

Giok Lo Sat gerakkan sedikit tubuhnya, untuk menangkis sambil menyontek dengan tipu "KimCiam touwshoa" --"Jarum emas dimasuki benang".

Orang tua itu seperti sudah menduga nona ini akan menggunakan tipu demikian, ia ubah gerakkannya, sambil berkelit ia merangsek, dengan begitu, ujung pedang si nona lewat di samping iganya, menyusul mana, kedua tangannya dirangkap dalam sikap "TongCu pay Koan Im"

Atau "Kacung suci menghormat Dewi Koan Im".

Dengan gerakan ini ia mengancam, tapi sebenarnya serangannya ialah "Imyang siangtong Ciang" ---yaitu "Kedua benturan tangan im dan yang".

Juga Giok Lo Sat kenal tipu serangan semacam itu, ia tarik kembali pedangnya, dan sambil berkelit, dengan cepat sekali ia kembali menyerang ketiak lawan kepadajalan darah kiebun hiat.

Orang tua itu mengkerutkan tubuh tanpa mengubah kudakudanya, sesudah tusukan lewat bebas, ia membarengi menyerang dengan "Hengsin pahouw"

Atau "Sambil miring menyerang harimau". Hebat serangannya ini. Giok Lo Sat selamatkan dirinya dengan jalan melompat tinggi.

"Bocah, kau sambutlah!"

Serunya si orang tua selagi tubuh si nona turun. Ia buktikan ancamannya itu sambil lompat maju. Si Raksasi Kumala tertawa riang.

"Bangsat tua, kau sambutlah!"

Dia juga berseru.

Dan dia menyabetkan pedangnya melintang di depan dadanya Orang tua itu tahu si nona gunakan tipu silat "Hengkang huitouw" --"Melompat menyeberangi sungai", maka ia pasang kuda-kuda di kedudukan "kham"

Lalu ia berputar maju di kedudukan "lie", setelah luput dari babatan pedang, ia hendak mencoba menangkap lengan lawan yang menyekal pedang itu. Giok Lo Sat menyerang dengan "Hengkang huitouw"

Tidak sepenuhnya.

Ia menggunakan siasat.

Ialah baru ia membabat setengah jalan, ia sudah tarik kembali pedangnya untuk diteruskan menyerang ke jurusan ke mana lawannya menghindarkan diri.

Bukan kepalang kagetnya orang tua itu.

Untung ia bermata jeli dan tubuhnya enteng, ia masih dapat berkelit, menggeser dari kedudukan "lie"

Itu, berbareng dengan itu dua jari tangan kirinya ditotokkan ke pundak si nona di bagian jalan-darah honggan hiat.

Karena ia tak puas jikalau ia menolong diri tanpa balas menyerang.

Giok Lo Sat tidak takut akan serangannya orang tua itu.

Dengan sebat ia membabat tangan lawannya, ia mendesak sebegitu lekas dan lawan itu membatalkan serangannya, hingga orang tua itu terpaksa mundur.

Demikian mereka bertempur dengan seru, yang satu bersenjatakan pedang, yang lain bertangan kosong.

Kalau jurus-jurusnya si nona senantiasa berubah-ubah karena menggunakan kepandaiannya pelbagai cabang persilatan, demikian pula si orang tua, yang pelajaran silatnya rupanya dari banyak partai juga.

Maka itu keduanya sama tangkas dan sama liehay.

Nyata sekali orang tua ini gunakan gerakan dari tindak kaki "patmui"

Dan "ngopou", yaitu "delapan penjuru (pintu)"

Dan "lima tindakan".

Patmui ambil dasar dari Patkwa (delapan segi), dan Ngopou dari Ngoheng, yaitu kim, bok, sui, hwee, touw atau emas, kayu, air, api dan tanah.

Tapi semua itu berpokok dasar ilmu silat "Thaykek Sipsam sie" -"Tiga belas jurus Thaykek Kun"

Dari Thio Sam Hong.

Pendiri dari Thaykek pay (Butong pay).

Gesit dan tetap, keras dan lemas, adalah setiap tindak si orang tua, baikpun tangan, tubuh dan kakinya.

Giok Lo Sat heran juga sesudah melayani puluhan jurus, ia masih belum bisa menang di atas angin, apalagi untuk dapat pecundangkan lawan tua ini.

Maka selanjutnya ia bersilat dengan sungguh-sungguh dengan keluarkan kepandaian warisan gurunya.

Ia tidak lagi berkelahi sambil berguyon dan tertawa.

Juga si orang tua heran tidak kepalang.

Iapun tidak bisa berbuat suatu apa terhadap si nona, yang semula ia tidak pandang mata.

Ia kagum untuk kegagahannya nona ini, yang muda dan cantik tapi sedemikian lincah dan liehay.

Inilah lawan yang seumurnya belum pernah ia hadapi.

Setelah bertempur sekian lama Giok Lo Sat merasa bahwa dalam lweekang ia kalah setingkat daripada orang tua itu.

Selagi pertempuran berlangsung terus, mendadak hatinya Giok Lo Sat terkesiap karena ia dengar seman dari kekagetan, yang datangnya dari arah belakang bukit itu.

Itulah seperti suaranya To It Hang.

Di luar keinginannya, gerakan pedangnya menjadi kendor sendirinya.

Justeru itu, dari kedudukan "kun"

Si orang tua menyerang dengan pukulan "Sengheng tauwCoan" --"Bintang-bintang melintang dan berputar".

Dengan demikian, kedudukan kedua pihak menjadi berbahaya.

Apabila tangannya orang tua itu mengenai sasarannya, ujung pedang si nona juga akan demikian pula Di saat keduanya menghadapi bahaya, mendadak orang tua itu lompat mundur sambil berseru.

"Jangan kau maju!"

Giok Lo Sat benar-benar batalkan gerakannya.

Ia lihat orang tua itu memandang ke atas bukit, iapun melirikkan mata ke arah bukit itu.

Maka ia lantas dapat lihat, di atas sebuah batu gunung ada berdiri seorang perempuan cantik dari usia pertengahan.

Dan si orang tua bicara kepada wanita itu.

Diam-diam ia akui keliehayannya orang tua itu.

Ia yang demikian liehay, masih tidak ketahui datangnya si nyonya.

Teranglah bahwa ia kalah pengalaman dari lawannya itu.

Ia insyaf, kealpaannya ini disebabkan ia terlalu pusatkan perlawanannya Di dalam hatinya ia berkata.

"Menghadapi lawan liehay, mata dan kuping harus tetap melihat dan mendengar ke empat penjuru".

"Mari kita bertempur pula!"

Sekonyong-konyong si orang tua berkata setelah penundaan itu sambil berlompat maju pula. Giok Lo Sat jadi sangat mendongkol.

"Mustahil aku jeri terhadapmu?"

Dia berseru.

"Kecewa kau dengan kepandaianmu setinggi ini, kau sudi menjadi kurcaci yang hina dina! Jikalau hari ini kau tidak kembalikan kitab ilmu pedangku, aku bersumpah akan merebutnya dari tanganmu si tua bangka!"

Dalam murkanya, si Raksasi Kumala mendahului menyerang dengan dua sabetan beruntun.

Si orang tua juga menjadi murka sekali, ia sambut serangan itu dengan tipu silat "Paysan tohay" --"Merobohkan gunung untuk menguruk lautan".

Maka kembali keduanya bertarung dengan seru sekali.

Pertempuran itu ditonton si nyonya elok setengah tua, di samping siapa sekarang berdiri si nona yang bertopengkan muka tadi.

"Leie, pergilah kau ajar adat kepada perempuan galak ini!"

Kata si nona kepada nyonya di sampingnya itu.

"Tetapi, A Ho, Ouwtiap piauwmu lebih liehay daripada kepunyaanku, mengapa kau inginkan aku yang pertontonkan kejelekanku?"

Si nyonya berkata "Itulah sebabnya ayah melarang aku membantuinya,"

Jawab si nona Nyonya itu berdiam. Lalu ia berbisik.

"Dia bicara tentang kitab ilmu pedang, kitab apakah itu? Mungkinkah kitab itu kepunyaannya?"

Wajahnya si nona berubah agak pucat.

"Jangan kau sebut-sebut itu!"

Dia peringatkan sambil berbisik juga.

"Kalau ayah dapat mendengarnya, kita bisa celaka!"

Si nyonya bersenyum, di dalam hatinya dia berkata.

"Tua bangka tak mau mampus itu sedang berkelahi mengadu jiwa, walaupun suaraku terlebih keras daripada ini dia pasti tak akan dapat mendengarnya."

Sementara itu ia tampak si nona agak gelisah, maka dari sakunya ia keluarkan tiga batang Ouwtiap piauw, yaitu senjata rahasia yang macamnya mirip kupu-kupu.

"Baiklah, aku tidak akan menyebutkannya,"

Dia kata sambil tertawa.

"Kau lihatlah aku hajar padanya!"

Nyonya ini lantas mengayunkan tangan kanannya, ketiga ouwtiap piauw segera melesat dengan perdengarkan suara nyaring, menyambarnya cepat bagaikan kilat, ke arah si Raksasi Kumala yang sedang melayani orang tua dalam pertempuran yang semakin menghebat itu.

Kali ini Giok Lo Sat tidak berlaku alpa pula, apapula ia segera dengar suara melayangnya senjata rahasia, yang ia dapat menduganya kepada ouwtiap piauw mengarah tiga jalan darahnya.

kiebun hiat, tongbun hiat dan pekhay hiat.

Mau tidak mau ia kaget juga.

Sekarang ia bukannya sedang dalam keadaan biasa, ia hanya hadapi musuh-musuh liehay.

V Walaupun senjata rahasia sedang mengaung menyambar ke jurusannya, dan wajahnya pun berubah, namun si Raksasi Kumala masih bisa tertawa --tertawa dingin, dan berkata dengan mengejek.

"Tua bangka tidak tahu malu! Bagaimana kau berani gunakan senjata rahasia?"

Sambil mengatakan demikian, namun si nona tidak gubris ancaman ouwtiap piauw, bahkan ia menikam dengan hebat kepada lawannya.

Ia menikam susul menyusul ke arah urat Ciangtay hiat dan kiekut hiat.

Pikirnya, tidaklah sukar baginya untuk menyingkir dari senjata rahasia, sebaliknya akan membahayakan dirinya kalau ia berkelit, karena musuh dapat menggunakan ketika itu untuk menyerang padanya.

Maka ia bersedia dihajar piauw, asal iapun bisa tancapkan pedangnya di tubuh lawan untuk binasa bersama!

Itulah kebinasaan secara terhormat!

Karena sikap yang nekat ini, sebatang ouwtiap piauw bisa menuju langsung ke arah tenggorokannya si nona.

Orang tua itu juga dengar suara senjata rahasia.

Itu waktu ia sedang murka disebabkan ejekannya si nona.

Iapun mendongkol kepada serangan senjata rahasia itu.

Akan tetapi serangannya si nona membuat ia berada dalam kedudukan yang terdesak dan berbahaya.

Tapi ia liehay, selagi ia kelit pundaknya dari tikaman pedang, ia maju sambil mengulurkan tangan kirinya menyampok jatuh ouwtiap piauw yang pertama!

Giok Lo Sat heran.

Ia tidak sangka lawan ini mau menolong padanya dari ancaman piauw maut itu!

Di samping itu.

pedangnya tidak keburu ia tarik kembali, meski orang tua itu berkelit, tapi karena dia berkelit sambil maju, tidak urung tangan bajunya kena tertikam, kulit lengannyakeserempet pedang, hingga darahnya lantas saja mengucur keluar!

Dengan tidak buka suara, orang tua itu lompat minggir.

Justeru itu piauw yang kedua dan ketiga sudah sampai kepada si nona.

Akan tetapi sekarang tanpa musuh liehay di depannya, dengan mudah Giok Lo Sat dapat sampok kedua piauw itu, yang beruntun terlempar jatuh ke tanah.

Si orang tua sudah lantas lari mendaki, dia tuding si nyonya dengan tegorannya yang keras.

"Siapa yang suruh kau lancang melepaskan senjata rahasia?"

Kedua matanya sinyonya memain, nampaknya ia manjasekali. Tapi ia menunjukkan roman menyesal, ia seperti penasaran sudah ditegur demikian. Dia jawab.

"LooyaCu, kau toh tidak larang aku, bukan? Kau lihatlah putrimu, A Ho, dia telah diperhina. perlukah kita berlaku sungkan-sungkan terhadapnya? LooyaCu, tidakkah perbuatanku ini berguna untukmu ayah dan anak?"

Lalu kedua matanya menjadi merah, mengembeng air... Di saat kedua orang itu bicara, Giok Lo Sat pun sudah mendaki datang. Ia terus lompat ke depannya nyonya itu.

"Kiranya kau, bangsat wanita, yang melepaskan senjata rahasia?"

Demikian tegurnya.

Dan ia susuli dengan mengayunkan tangannya, dari mana melayang melesat tiga batang jarum.

Si orang tua kaget, dia lompat maju dengan mengebutkan tangan bajunya.

Dia dapat sampok jatuh dua batang, tetapi jarum yang ketiga mengenai sasarannya, menancap di pundaknya nyonya itu, hingga berkaok-kaok kesakitan!

Orang tua itu menjadi panas hatinya.

"Hai, bangsat wanita, kau sangat kurang ajar!"

Mendampratnya.

"Kau telah perhina anakku, kau juga melukai gundikku, aku tidak dapat menyudahinya begitu saja! Mari kita janjikan suatu hari untuk kita bertempur pula satu sama satu, siapapun tidak boleh undang kawan pembantu! Beranikah kau terima tantanganku ini?"

Giok Lo Sat menjawab dengan ketawanya. Maka berubah pucatlah wajahnya orang tua itu.

"Kalau kau inginkan, sekarangpun kita boleh bertempur lagi!"

Orang tua itu menantang.

Dia sangka si nona mentertawai padanya karena lukanya itu, dia meminta waktu untuk melanjutkan pertempuran.

Akan tetapi Giok Lo Sat tertawakan kelicikannya orang tua itu.

Sebenarnya tiga jarumnya tadi, kalau si orang tua inginkan, dengan gampang dia bisa sampok jatuh semuanya.

Tapi orang tua ini sengaja membiarkan jarum yang ketiga menyambar melukai nyonya itu, supaya mendapat "hukumannya".

Orang tua ini liehay sekali, ia percaya bahwa gundiknya tidak akan terluka parah oleh serombongan senjata rahasia jarum itu.

Ia hanya tidak menyangkanya bahwa Si Raksasi Kumala dapat menerka akal muslihatnya ini.

"Sekarang kedua pihak sudah letih, umpama pertempuran itu dilanjutkan hasilnya pun tidak akan memuaskan siapa juga! Kau tinggal di mana? Lain hari pasti aku akan mengunjunginya untuk mohon pengajaran daripadamu!"

Suaranya nona kosen dan katak ini menjadi sabar, diajuga tidak sebut-sebut lukanya si orang tua.

Orang tua itu adalah seorang kenamaan, ia tidak menjadi gusar karena lukanya itu.

Meski benar gundiknya membantui padanya, namun hampir saja nama baiknya menjadi runtuh.

Maka ia berlaku sabar.

.Ia dapat berpikir atas kata-katanya si nona.

"Baiklah,"

Katanya kemudian.

"Di dalam satu bulan aku menantikan kau di dusun Tiat keeCung di Liongbun!"

Mendengar alamat itu Giok Lo Sat terkejut, hatinya gentar juga Si orang tua dengan tidak perdulikan si nona lagi lantas berlalu dengan cepat turun dari gunung itu sambil tuntun gundik dan gadisnya.

Giok Lo Sat hendak mengejar, tetapi mendadak dari tengah gunung ia dengar seruannya To It Hang dan Ong Ciauw Hie saling susul.

"Lian Liehiap, lekas, lekas kemari!"

"EnCie Lian, lekas, lekas kemari!"

Seruan "EnCie Lian"

Itu adalah panggilannya It Hang.

Mendengar itu, hatinya si nona memukul.

Suara itu merdu terdengarnya di kupingnya si nona.

Ia kuatirkan orang terancam bahaya, maka ia batal menyusul si orang tua serta gundik dan anak daranya itu, terus ia memutarkan tubuhnya untuk lari ke belakang gunung.

Segera ia tampak di depan sebuah gua, Ong Ciauw Hie dan To It Hang tengah berjongkok.

Di sekitarnya banyak batu besar berserakan.

"Eh kalian sedang bikin apa?"

Dia tanya sambil terus lari menghampiri. It Hang lompat bangun.

"Ceng Kian Toojin telah dibinasakan orang!"

Demikian jawabnya. Giok Lo Sat kaget hingga ia berjingrak.

"Apa? Orang telah bunuh Ceng Kian Toojin?"

Tanyanya.

Ia lihat Ceng Kian Toojin rebah dengan mengeluarkan darah dari hidung, mulut, mata dan kuping, keadaannya sangat mengiriskan dan menyedihkan.

Kettka ia raba nadinya Ceng Kian, nadi itu sudah berhenti jalan, tapi seluruh tubuhnya masih hangat, suatu tanda dia melepaskan napasnya belum lama.

"Pasti ada orang yang ketahui ia membawa kitab ilmu pedang maka orang telah aniaya padanya,"

It Hang mengutarakan dugaannya. Giok Lo Sat berdebar-debar jantungnya.

"Kitab ilmu pedang apa?"

Ia tanya "Kitab ilmu pedang gurumu,"

Sahut It Hang.

"Saudara Beng Kie minta tolong Ceng Kian Tootiang antarkan kitab itu kepada Thian Touw Loojin, aku tak sangka tootiang telah dibinasakan orang di sini, kitabnyapun lenyap. Tiba-tiba si Raksasi Kumala menjadi gusar.

"Inilah pasti perbuatannya bangsat tua she Tiat itu!"

Dia berseru.

"Tadinya aku anggap dia seorang dari golongan yang lebih tua, bahwa dia seorang gagah sejati, tapi ternyata dia telah curi kitab ilmu pedang, juga menganiaya Ceng Kian Tootiang!"

Ciauw Hie heran.

"Bagaimana liehiap dapat menduga demikian?"

Ia tanya "Kepandaian silatnya Ceng Kian Tootiang liehay, jikalau bukannya bangsat tua she Tiat itu, siapa lagi yang sanggup robohkan padanya?"

Jawab si nona.

"Eh, Ciauw Hie, bukankah kau kenal baik bangsat tua she Tiat itu?"

"Berulang-ulang kau sebut bangsat tua she Tiat itu, siapakah dia?"

It Hang tanya.

"Aku keluar dari perguruan belum cukup tiga tahun akan tetapi tentang kaum Golongan Hitam dan Golongan Putih, aku tahu banyak juga"

Sahut Giok Lo Sat.

"Di Liongbun, Shoasay. ada tinggal Tiat Hui Liong si makhluk aneh dari barat utara. Benarkah dia atau bukan?"

Ia menegasi Ciauw Hie.

"Dia adalah satu makhluk dari kedua golongan itu,"

Sahutnya Ong Ciauw Hie.

"Perbuatan baik dia lakukan, perbuatan jahat dia lakukan juga. Siapa berani main gila terhadapnya? Akan tetapi seumurnya dia sangat angkuh, aku sangsi bahwa dia yang curi kitab ilmu pedang itu."

Si nona pelototkan matanya "Mungkinkah aku keliru menyangka?"

Katanya.

"Perempuan muda yang bertopeng muka tadi toh gadis orang tua itu?"

Ciauw Hie menjadi likat, ia manggut.

"Benar,"

Ia menjawabnya dengan perlahan.

"Ilmu silat pedang gadis itu adalah ilmu silat dari kaumku!"

Giok Lo Sat kata. Ciauw Hie heran hingga ia pentang kedua matanya.

"Begitu?"

Tanyanya. Giok Lo Sat tertawa dingin.

"Rupanya kau silau akan kecantikannya perempuan itu, maka kau hendak lindungi padanya?"

Ia kata dengan tajam. Ciauw Hie terkejut, hingga tanpa merasa ia mundur dua tindak.

"Tua bangka itu kenal baik dengan ayahku,"

Kata ia dengan sikap menghormat.

"Dan aku sendiri mengenai dia, hanya dapat mendengarnya dari cerita orang, aku tidak tahu hal yang sebenarnya."

Sebetulnya di antara Tiat Hui Liong dan Ong Kee In ada suatu "urusan"

Yang masih harus dibereskan, akan tetapi karena nona ini sedang murka, Ciauw Hie tidak berani menjelaskannya, terpaksa ia ke sampingkan soal itu.

"Tadi aku telah bertempur seru dengan tua bangka she Tiat itu,"

Giok Lo Sat kasih tahu.

"Pada mulanya aku masih belum tahu siapa dia, aku baru mengetahuinya sesudah dia menyuruh aku pergi ke Tiat keeCung di Liongbun untuk cari padanya. Benar-benar dia besar nyalinya, dia telah merampas kitab dan binasakan orang, dia masih berani beritahukan she dan namanya. Tidak dapat tidak aku mesti cari padanya untuk membuat perhitungan!"

Ketika itu To It Hang berseru "Aha!"

Giok Lo Sat heran, ia berpaling dan mengawasi. Ong Ciauw Hie pun menengok ke arah sahabat itu.

"Aku ingat sekarang!"

Katanya It Hang.

"Bukankah roman hidung tua bangka itu seperti garuda, mulut seperti singa, mukanya penuh berewokan dengan kumis dan jenggot?"

"Apakah kau pun kenal dia?"

"Aku tidak kenal dia tetapi aku tahu dia siapa,"

It Hang jawab.

"Itulah kejadian pada tujuh atau delapan tahun yang lampau. Pada suatu hari dia datang mencari guruku, untuk diajak mencoba ilmu silat tangan kosong. Suhu-ku tidak sudi melayani, dia suruh paman guruku yang ke empat lawan padanya. Kesudahannya, paman guruku itu kena dikalahkan. Tentu sekali beberapa paman guru lainnya sesalkan suhu yang tidak mau turun tangan, sehingga nama baiknya Butong pay telah dinodai. Atas itu, suhu mengatakan. 'Menghadapi orang yang suka menang sendiri, kita harus mengalah. Butong pay kita ada seumpama pohon kayu besar, yang mengundang damparan angin, maka kenapa kita mesti melayani orang mengadu mulut hingga mendatangkan kesulitan sendiri? Lagipun aku berani pastikan, walau dia telah dapat mengalahkan sutee, terhadap kita kaum Butong pay, dia tentu akan tetap menghormatinya.' Ke empat paman guruku tanya apakah alasannya maka suhu beranggapan demikian. Suhu menjawabnya hanya dengan ketawa. Baru belakangan, suhu memberi keterangan padaku, bahwa ke empat paman guruku itu pun adalah orang-orang yang mau menang sendiri, karena itu suhu tidak ingin omong terus terang kepada mereka. Hui Liong dapat mengalahkan paman guruku dengan menggunakan ilmu pukulan yang dinamakan Hangliong Ciu. Tangan Menakluki Naga, salah satu pukulan terliehay dari Luiteng Patkwa Ciang. Setelah kemenangannya itu, bukan main puas hatinya. Dia telah bicarakan ilmu pukulannya kepada guruku, katanya ilmu pukulan itu tidak ada tandingannya di kolong langit ini. Terhadap kejumawaannya itu, guruku tetap membungkam. Ketika suhu antar dia keluar, di ambang pintu suhu memasang kuda-kuda Patkwa, dari kedudukan sunwie menghadap lurus ke arah kianwie, lalu menyamping sedikit ke arah liewie. Di situ suhu rangkapkan kedua tangannya menjura terus tangannya diturunkan dibuka ke kiri dan kanan. Nampaknya dengan cara menghormat itu, suhu memimpin dia keluar, akan tetapi sebenarnya suhu telah aku pecahkan tipu Hangliong Ciu. Hui Liong seorang yang ahli, tentu saja dia menginsafi itu, maka juga keluarnya dari kuil, dia berpaling untuk memberi hormat pada suhu sambil menghaturkan maaf."

"Sungguh sabar gurumu itu!"

Ong Ciauw Hie memuji. Tetapi Giok Lo Sat tertawa dingin.

"Terhadap orang buruk semacam dia, aku tidak sudi mengasih hati!"

Katanya.

Tiat Hui Liong tidak mempunyai anak laki-laki, ia hanya mempunyai seorang anak perempuan, namanya San Ho yang sangat dimanjakan.

Tabiatnya Hui Liong suka menang sendiri, dan aneh pula adatnya, dengan kaum Rimba Persilatan ia tidak suka bergaul luas.

Tetapi di samping itu, orang-orang kangouw pun tidak berani main gila terhadapnya.

Tiat San Ho, sang gadis, cantik sekali, akan tetapi dalam umurnya delapan belas tahun itu, dia masih belum menikah ataupun bertunangan.

Hui Liong pernah ajak gadisnya ini merantau, sampai sebegitu jauh dia belum mendapatkan pemuda yang dipenuju untuk dijadikan pasangan puterinya itu.

Ong Kee In, ayahnya Ciauw Hie, dalam kalangan Rimba Hijau di Siamsay Utara telah peroleh nama baik.

Hui Liong kenal baik pada Ong Kee In, diapun dengar nama yang kesohor dari Ciauw Hie, tertariklah hatinya.

Seorang diri dia tertawa dan berkata.

"Genta wajar tak mau aku tabuh, sebaiknya aku lebur kuningan untuk membuatnya yang baru!"

Lantas dia ajak puterinya pergi ke Yanan.

untuk sambangi Ong Kee In.

Kee In tahu Hui Liong adalah seorang liehay, dia girang mendapat kunjungannya, ia menyambutnya dengan baik.

Di sini Hui Liong dan gadisnya dapat melihat wajahnya Ciauw Hie, keduanya ayah dan anak pcnuju pada pemuda itu.

Sehabisnya perjamuan, dengan langsung Hui Liong utarakan keinginannya untuk ikat tali persanakan dengan tuan rumah, dengan jalan menjodohkan putera puteri mereka.

Kee In menjadi tak enak hati.

Itulah bukan karena ia mencela nona Tiat, tetapi ia mempunyai keberatan lainnya.

Dengan terpaksa ia menampiknya dengan manis.

Ia menerangkan bahwa puteranya itu sudah ditunangkan dengan puterinya Busu Beng Can di kota raja.

bahwa pertunangan itu diikat semenjak mereka masih dalam kandungan masingmasing.

Maka itu.

tuan rumah minta tetamunya suka pilih lain pemuda saja.

Begitu keras keinginannya Hui Liong akan bermenantukan Ciauw Hie, hingga ia membawa adatnya yang aneh.

Begitulah ia gebrak meja dan kata dengan keras.

"Kecewa kau menjadi ketua kaum Rimba Hijau! Kenapa kau sudi mengikut tali persanakan dengan garuda dan anjing Pemerintah? Di manakah cacatnya anak perempuanku? Lekas kau batalkan pertunangan anakmu itu!"

Ong Kee In tahu bahwa sahabat ini tidak boleh dilayani keras dengan keras, lagi pula ia sedang mengikhtiarkan suatu usaha besar, ia tidak ingin bentrok dengan orang semacam Hui Liong, maka ia tetap berlaku sabar.

Ia menjawab.

"Umpama pertunangan mesti dibatalkan, adalah selayaknya hal itu dibicarakan dahulu dengan jelas kepada Beng Busu. Perjalanan ke kota raja bukanlah dekat, tak dapat dilakukan dengan hanya sehari semalam."

Hui Liong tidak puas dengan alasan penampikan itu, terus saja ia ajak gadisnya pergi.

Setelah tetamunya berlalu.

Ong Kee In tanya pendapat puteranya.

Kepada ayahnya Ciauw Hie mengatakan bahwa terhadap Tiat San Ho ia tidak mempunyai kesan jelek, tetapi ia tidak ingin putuskan pertunangannya dengan Nona Beng.

Karena ini.

merekajadi menghadapi kesulitan, karena merekapun tidak mau bentrok dengan jago she Tiat itu.

Maka ayah dan anak lantas berdamai, untuk memecahkan kesulitan itu.

Akhirnya diambil keputusan.

Ciauw Hie mesti pergi ke kota raja untuk menyambut bakal isterinya.

Akan tetapi di luar dugaan, sesampainya Ciauw Hie di Pakkhia, Beng Busu tengah mengalami nasib celaka dan binasa secara mengenaskan.

Selain itu juga Pek Bin menjadi persoalan, yang disangkanya menyintai Nona Beng, atau Nona Beng suka akan pemuda tolol itu yang menjadi murid Beng Busu.

karena itu Ciauw Hie lantas kabur...

Ciauw Hie menjadi serba salah menghadapi urusannya Giok Lo Sat dengan Tiat Hui Liong itu.

Kalau si nona satroni Hui Liong, kesudahannya mungkin hebat, pasti ia akan dicurigai orang she Tiat yang adatnya aneh itu.

Tapi ini masih dalam teka-teki.

Yang ia kuatirkan ialah usahanya nanti menjadi gagal disebabkan bentroknya si nona dan si tua bangka itu.

Bukankah mereka ayah anakjusteru sedang kumpulkan orangorang gagah?

Suatu kerugian besar kalau Tiat Hui Liong tidak berada di pihaknya hanya karena urusan sekecil itu.

Ia juga sangsi Hui Liong sudi melakukan perbuatan yang merendahkan dirinya dengan mencuri kitab ilmu silat pedang itu.

Tapi sekarang Giok Lo Sat berkeras hendak tempur orang she Tiat itu!

Benar-benar sulit.

Sementara itu, semua orang letih, berdahaga dan lapar.

Mereka telah bertempur sejak malam, dan sekarang sudah jauh siang.

Sinar matahari telah menyorot hebat ke arah gua, dari mana tercium bau amis dari darahnya Ceng Kian Toojin.

Giok Lo Sat robek sepotong tangan bajunya, dengan itu ia menyeka darahnya si imam.

Ia berlaku hati-hati sekali.

Darah itu bersemu hitam, rupanya disebabkan tercampurnya bisa.

Melihat darah itu, si nona jadi ragu-ragu.

"Tiat Hui Liong lebih gagah daripada Ceng Kian Toojin, jikalau dia hendak rampas kitab ilmu pedang, tak perlu dia menggunakan bisa,"

Begitu ia berpikir.

Oleh karena ini.

Giok Lo Sat lalu memeriksa kepalanya si imam, hingga ia dapatkan tulang-tulang rahang yang remuk.

Teranglah serangan itu dilakukan oleh tangan yang liehay.

Karena ini, ia meneliti kedua belah pipi itu.

Sekarang terlihat tanda-tanda bekas totokan jari tangan.

Totokan itu juga mengenai tenggorokan.

Itulah totokan yang mirip dengan totokan tangannya Tiat Hui Liong.

Maka bukan main bingungnya nona ini.

Ceng Kian Toojin itu kenal baik kepada To It Hang, juga kepada gurunya Giok Lo Sat, maka dapat dimengerti kedukaannya It Hang dan si Raksasi Kumala.

Dengan dibantu Ciauw Hie mereka menggali lubang untuk mengubur mayatnya imam itu.

Mereka melelehkan air mata.

Giok Lo Sat ambil tanah basah yang ia pulung-pulung dijadikan seperti hio, lantas ia memberikan hormatnya sambil paykui, sambil bersembahyang secara sangat sederhana itu, ia sumpah kepada Thian bahwa ia akan menuntut balas untuk imam ini.

Setelah penguburan selesai, mereka mencari sumber air untuk mencuci tangan, lalu mereka dahar rangsum kering.

Ketika kemudian mereka turun dari gunung, di kaki gunung itu mereka disambut oleh tentaranya Ong Ciauw Hie.

Pek Bin telah dapat ditolong.

Ketika bertemu Giok Lo Sat, ia menghaturkan terima kasih sambil menjura.

It Hang sangat berduka, keningnya tampak berkerut.

"Jangan kau terlalu berduka, saudara To,"

Giok Lo Sat menghiburkan.

"Tentang jenazah engkongmu, aku sudah titahkan orang membawanya ke Wayauwpo. Kalau nanti kau sampai di sana, kau boleh urus penguburannya lebih jauh. Perihal bujang-bujangmu, akupun sudah atur beres semuanya dengan berikan mereka uang untuk pulang ke masing-masing kampungnya."

It Hang berdiam untuk ambil keputusan.

Kalau ia pulang, tentulah ia akan dibekuk pembesar negeri, karena ia melakukan perlawanan.

Maka akhirnya ia terima baik cara pengaturannya si nona.

Sebenarnya ia tidak ingin turut Ong Ciauw Hie pergi ke Wayauwpo, tetapi karena jenazah engkongnya sudah diangkut Giok Lo Sat ke sana, terpaksa ia ikut juga.

Wayauwpo terpisah seratus lima puluh lie dari kotaYanan.

Ciauw Hie mengajak Giok Lo Sat dan It Hang, serta Pek Bin berangkat lebih dahulu daripada tenteranya, dengan menunggang kuda.

Maka mereka bisa sampai lebih cepat pada waktu tengah malam.

Ong Kee In menyambut sendiri ketika ia terima kabar sampainya Giok Lo Sat beramai, ia girang sekali bertemu dengan nona kosen itu, juga ia utarakan kegirangannya terhadap To It Hang.

Tentang pemuda she To ini, Ciauw Hie berikan keterangan kepada ayahnya dengan jelas.

"Jarang ada orang yang pandai ilmu surat dan silat berbareng seperti kau, saudara To!"

Kee In memujinya sambil tertawa.

"Kami serombongan orang-orang kasar justeru kekurangan seorang cerdik pandai untuk mengatur tata tertib dan rencana pergerakan kami."

It Hang merangkapkan kedua tangannya.

"Urusan itu harap dibicarakan belakangan saja,"

Ia kata, sikapnya tawar. Kee In merasa kecele, ia tidak sangka akan mendapat jawaban demikian rupa. Ciauw Hie segera menyelak.

"Saudara To sedang berkabung,"

Katanya, sebagai kisikan kepada ayahnya.

"Oh, maaf!"

Kata Kee In kemudian.

Terus ia suruh orangnya siapkan pakaian berkabung untuk tetamunya itu, untuk juga pernahkan layonnya To Tiong Liam.

Maka keesokannya, walaupun dengan cara sederhana, It Hang bisa urus pemakaman jenazah engkongnya itu.

Iapun minta pertolongannya Ciauw Hie untuk melihat-lihat kuburannya.

Giok Lo Sat telah membuat pertemuan dengan semua pemimpin dari Wayauwpo yang mengambil waktu satu hari.

maka baru pada sore harinya, ia mempunyai kesempatan untuk unjuk hormat di makam To Tiong Liam.

It Hang layani nona itu memasang lilin dan hio.

Meski si nona unjuk hormatnya, tapi di dalam hatinya ia tertawa Inilah disebabkan sebelumnya ia tidak menyangkanya bahwa hari ini ia mesti soja kui di hadapan arwah seorang yang dulu ia pesta porakan hartanya!

It Hang lihat si nona tidak menunjukkan roman duka, ia tidak puas.

Ia duga nona ini berduka hanya dengan pura-pura saja.

Ia tidak tahu bahwa nona itu sebenarnya sedang memikirkan sesuatu.

Kalau bukan ia yang diberati si nona, tidak nanti dia sudi unjuk hormatnya itu.

Bulan baru saja muncul ketika It Hang temani si nona berjalan pulang dari kuburan, merekajalan berendeng dengan langkahnya yang perlahan.

Giok Lo Sat jalan sambil pegangi lengannya pemuda kita, ia seperti bergelendot diri, matanya senantiasa melirik.

Satu kali ia memalingkan kepalanya, agaknya ia ingin bicara, tapi mulutnya tetap bungkam.

It Hang merasakan hembusan napas si nona yang berbau wangi, tanpa merasa hatinya memukul.

Maka lekas-lekas ia menjauhkan diri.

"Apakah sampai sekarang ini kau masih jeri terhadapku?"

Si nona tanya sambil tertawa.

"Aku tidak tahu kenapa kau menyebabkan orang jeri padamu?"

Balik tanya pemuda kita.

"Apakah kau tidak tahu bahwa aku telah menjadi besar di bawah asuhannya biang srigala?"

Kata si nona.

"Sebenarnya tidak ada niatku untuk membuat jeri siapa juga. Mungkin disebabkan sifat keliaranku belum hilang semuanya maka orang jadi jeri terhadap aku..."

It Hang tidak menjawab, ia hanya menghela napas. Ia sayangi nona ini, yang demikian cantik dan cerdas tetapi tidak dapat pimpinan ke jalan lurus...

"Tidak keruan-keruan kau menghela napas, kenapa?"

Si nona tanya.

"Aku memikirkan kau... Kau demikian gagah, mengapa kau ceburkan diri dalam kalangan Rimba Hijau?"

Jawabnya anak muda ini. Air mukanya nona itu berubah.

"Apa jeleknya kalangan Rimba Hijau?"

Tanyanya.

"Di mataku atau pendapatku kalangan Rimba Hijau jauh lebih bersih daripada golongan pembesar negeri!"

It Hang tunduk dan diam.

"Bagaimana pikirmu tentang hari kemudianmu?"

Tanyanya si nona pula.

"Apakah kau berniat memangku pangkat seperti engkongmu, seperti ayahmu juga? Apakah kau hendak menjual jiwa untuk raja?"

"Selama hidupku, pasti aku tidak sudi memangku pangkat!"

Jawab It Hang dengan suara tetap.

"Tetapi pun tak sudi aku menjadi penjahat!"

Giok Lo Sat jadi mendongkol. Kalau orang yang bicara di hadapannya bukan pemuda she To itu, niscaya tangannya Giok Lo Sat sudah melayang.

"Aku adalah murid Butong pay,"

Berkata pula It Hang, suaranya sabar.

"Aturan kaumku, kesatu kami dilarang menjadi penjahat, kedua dilarang menjadi piauwsu. Mustahil kau tidak tahu aturan kami itu?"

Nona cantik itu tertawa dingin.

"Mungkinkah engkong dan ayahmu itu bukannya penjahat?"

Dia tanya. Pemuda itu menjadi gusar.

"Bagaimana kau dapat mengatakan demikian?"

"Orang yang menjadi pembesar, dia memeras si melarat untuk mengumpulkan harta,"

Sahut si nona.

"dan kami yang menjadi penjahat, kami merampas si kaya guna menolong si miskin! Maka kita adalah sama-sama penjahat! Tapi penjahat sebagai aku ada jauh lebih baik daripada penjahat yang berselimut kepangkatan!"

"Baiklah, kau boleh katakan apa kau suka! Sesuatu orang mempunyai cita-citanya masing-masing, cita-cita itu tidak selayaknya saling dipaksakan!"

Tubuhnya Giok Lo Sat bergemetar, ia sangat berduka It Hang lirik nona itu, ia tampak matanya si nona merah dan mengembengkan air, yang hendak meluncur turun.

Dengan tiba-tiba datanglah rasa kasihnya.

Maka dengan pelahan-lahan, ia genggam tangannya nona itu.

"Cita-cita kita berlainan tetapi persahabatan kita harus terus tetap kekal,"

Kata dia. Si nona tidak katakan suatu apa, hanya dengan lagu suara sedih dia tanya.

"Bila kau hendak berangkat?"

"Besok!"

Sahutnya pemuda kita. Giok Lo Sat menghela napas Ia berdiam. Sekian lama keduanya membungkam, kemudian It Hang yang mulai membuka suara.

"Coba kau ceritakan tentang kaum kangouw,"

Ia meminta, dengan maksud mencoba mengenyampingkan pokok pembicaraan.

Giok Lo Sat suka bicara, dan ia menuturkan beberapa kejadian di kalangan kaum kangouw.

Pemuda itu sendiri bicara dari hal keindahan kota raja.

Segerajuga mereka menjadi seperti sahabat-sahabat kekal, mereka jalan perlahan-lahan di bawah terangnya rembulan.

Mereka tidak berani pula bicara secara mendalam, tetapi kini mereka telah lebih saling mengerti.

Sampai jauh malam barulah mereka berpisahan.

Keesokannya pagi-pagi sekali, It Hang pamitan dari Ong Ciauw Hie.

Tuan rumah yang muda tahu, sudah keras niatnya sahabat ini berangkat, ia tidak mau mencegah.

Maka mereka berpisahan dengan sama-sama merasa masgul Hatinya It Hang menjadi tawar karena pengalamannya yang hebat itu, namun ia tidak gampang-gampang dapat melupakan kepentingan negara, yang sedang terancam bahaya kemusnahan.

Maka setelah lama menimbangnimbang, ia mengambil keputusan akan berangkat ke kota raja, walaupun akan menghadapi bahaya.

Ia hendak beberkan pada putera mahkota tentang persekongkolan kaum penghianat dengan bangsaBoan.

Denganjalan ini juga ia ingin membersihkan diri, supaya ia tidak terfitnah.

Pemuda ini ambil jalan yang menuju Shoasay, akan kemudian memutar ke Hoopak.

Dalam waktu kira-kira delapan hari, ia sudah memasuki wilayah propinsi Shoasay itu.

Hari itu ia tiba di kecamatan Liongbun.

Di sepanjang jalan ia tampak air sungai yang kuning dengan di kedua tepinya terdapat batu-batu tebing.

Tengah berjalan, tiba-tiba pemuda ini ingat, Tiat Hui Liong berkampung halaman di dalam kecamatan ini.

Tanpa ia merasa, tergeraklah hatinya.

Ia lantas memandang ke sekitarnya.

Kebetulan pada waktu itu, di situ tidak kedapatan seorang lain jua, kecuali di tengah sungai di kejauhan tampak ada beberapa buah perahu layar.

Ia jalan terus dengan merasa kesepian.

Ketika akhirnya ia jalan menikung, terlihat olehnya sebuah kampung di depannya.

"Mungkin itulah Tiat keeCung..."

Ia menduga-duga.

Pemuda ini agak sangsi, ia harus mampir atau jangan di rumahnya orang she Tiat itu.

Karena kesangsiannya itu, ia keluarkan kata-kata yang tidak jelas bagaikan orang melamun.

Ia menjadi terperanjat sendirinya ketika tiba-tiba ia dengar tertawa dingin dari arah belakangnya, cepat ia memutar tubuh.

Untuk keheranan dan kekagetannya, ia lihat In Yan Peng dan Kim Cian Giam sedang berdiri sambil mentertawai dia.

"Hai, manapelindungmu, si Giok Lo Sat?"

Tanya ln Yan Peng dengan mengejek.

"Bocah, jikalau dia tetap berada di sampingmu, aku memang tidak dapat berbuat suatu apa terhadap dirimu. Tapi toh ada kalanya kau jalan sendirian saja seperti sekarang ini!"

It Hang insyaf akan bahaya yang mengancam dirinya maka ia segera hunus pedangnya.

"Biarpun aku seorang diri, aku tidak takut!"

Katanya dengan gusar.

"Sungguh satu enghiong!"

Kim Cian Giam turut mengejek.

"Berapakah beratnya timbanganmu? Jangan kau mengebul!"

Sambil berkata bekas pahlawan ini datang mendekati, lalu sekonyong-konyong ia menyambar dengan sebelah tangannya-itu tangan yang liehay!

It Hang berkelit, pedangnya menyabet!

Orang she Kim itu mengelakkan tubuhnya, menyamping, dari mana, dengan kecepatan luar biasa ia menyerang pula, kali ini dengan kedua tangannya.

It Hang lompat sambil memutarkan tubuhnya membebaskan diri dari serangan yang berbahaya itu, setelah tarik pulang pedangnya, ia juga balas menyerang.

Ia menerjang dari samping, ia tidak mau kalah sebat.

Kim Cian Giam ketawa terbahak-bahak!

Dengan berani ia ulurkan tangan kanannya, menggunakan dua jarinya mementil pedangnya It Hang hingga terpental, diteruskan dengan serangan tangan kirinya.

It Hang mundur dengan cepat.

Kembali ia mundur sambil memutar tubuh, dan di waktu berbalik, lagi-lagi ia balas menyerang, untuk menabas lengan musuhnya.

Itulah serangan "Tosay kimCie" --"Menyawer uang emas".

Tentu saja Cian Giam tidak membiarkan tangannya ditabas kutung, ia segera menariknya pulang.

Tapi ia tidak mau begitu saja.

Maka ia mengulangkan serangannya, kali ini berbareng dengan kedua tangannya, yang pada telapaknya memperlihatkan sinar merah yang sasarannya adalah batok kepalanya pemuda kita.

It Hang juga tidak mau menjadi korban tangan yang jahat itu, sambil menyabet ke atas ia mendek diri, untuk kasih lewat kepalanya di sebelah bawah kedua tangan musuh.

Setelah itu, iapun menyerang, malah ia mendesak untuk dapat cegah musuh datang dekat padanya.

Kim Cian Giam liehay, ia hanya kalah gesit daripada pemuda kita.

Syukur It Hang mahir lweekangnya, maka ia dapat bertahan untuk sambaran-sambaran angin dari setiap pukulan musuh itu.

Sudah lima puluh jurus kedua orang itu bertempur, It Hang agak keteter, tapi Cian Giam tidak mampu segera merobohkannya.

Selama itu, In Yan Peng berdiri menonton sambil memasang mata, siap sedia kalau-x kalau kawannya membutuhkan bantuannya.

Akhirnya, It Hang menjadi ibuk juga Maka ia segera memikirkan daya untuk meloloskan diri.

Ia kuatir kedua musuh nanti kepung padanya.

Itulah berbahaya Dengan tibatiba saja ia lompat mundur, terus melarikan diri ke jurusan kampung.

"Hai! Ke mana kau hendak mabur?"

Bentak In Yang Peng.

Dia memang mahir dalam ilmu enteng tubuh, ia lantas mengenjot tubuh untuk lompat mengejar.

Hanya dengan tiga kali enjotan saja, ia sudah dapat menyandak, segera ia menyabet dengan ikat pinggangnya, untuk dapat melibat anak muda itu.

It Hang tahu bahaya mengancam dirinya, setelah beberapa kali dapat kelitkan diri dari serangan-serangan ikat pinggang musuh sambil lari terus, di lain saat, ia sudah memasuki halaman kampung.

In Yan Peng terus mengejar, membayangi pemuda kita.

Selagi It Hang terancam bahaya, dari samping tempat dia lari, di mana terdapat pohon-pohon kembang yang lebat, terdengar suara tertawanya seorang perempuan.

Justeru Yan Peng lewat di situ, mendadak dari dalam semak-semak itu sebuah gunting menyambar ikat pinggangnya, hingga dia mesti berhenti mengejar.

Menyusul itu, dari semak-semak itu muncul dengan bergantian dua orang perempuan, satu muda dan yang lain dari usia pertengahan.

Nyatalah si nyonya itu adalah wanita yang kemarin terserang jarumnya Giok Lo Sat.

dan si nona adalah Tiat San Ho, puterinya Tiat Hui Liong.

In Yan Peng kenal kedua wanita Itu, ia lantas memberi hormat.

"Kiu Nio, bocah ini bukan orang baik-baik"

Kata dia pada si nyonya. Dan dia teruskan kepada si nona.

"Nona San Ho, aku harap kau menjadi orang baik-baik dari mula sampai akhir! Itu hari kau telah bantu kami, maka sekarang aku minta sukalah kau bekuk bocah ini!"

Nona itu tertawa.

"Aku lakukan urusanku sendiri, siapa yang telah bantu padamu?"

Dia membaliki. Si nyonyapun menegur.

"LooyaCu telah mengatakan bahwa dia tidak sudi menemui kalian, mau apa kalian lancang masuk pula kemari?"

Dan ia perlihatkan tampang keren.

"Kami sedang mengejar bocah itu,"

Sahut Yan Peng.

"Apakah loojinkee tidak dapat lihat?" (Loojinkee=orang tua, kata hormat untuk "kau").

"Siapa usil urusanmu itu?"

Bentaknya si nyonya.

"Apakah Tiat keeCung ini tempat di mana kau dapat lancang memasukinya? Pergi! Lekas pergi!"

Yan Peng dan Kim Cian Giam yang telah menyusul saling mengawasi.

Nyonya itu adalah Bok Kiu Nio, ialah ibu tirinya Tiat.

San Ho, atau gundiknya Tiat Hui Liong, yang beristerikan Bok Kiu Nio ketika dalam umur setengah abad ditinggal mati isterinya yang pertama.

Kiu Nio adalah gadisnya penjual silat.

Hui Liong hormati almarhum isterinya, ia tidak mau anggap Kiu Nio sebagai isteri sah.

Meski demikian, Kiu Nio disayang olehnya.

Karena ini Yan Peng dan Cian Giam malui juga nyonya itu.

"Mengapa diundang minum arak, kalian tidak minum, tapi sekarang kalian hendak minum arak dendaan?"

Kiu Nio menegur pula.

"Dan disuruh pergi kalian tidak mau pergi! Apakah kalian sengaja hendak bikin kaget looyaCu supaya nanti looyaCu undang kalian masuk?"

"Maaf, Kiu Nio,"

Kata Yan Peng akhirnya.

"Kita akan segera berlalu dari kampungmu ini,"

Lantas dengan bengis ia awasi It Hang, terus bersama Cian Giam ia berlalu dengan cepat dari kampung itu. It Hang juga hendak berlalu, ketika si nyonya sambil tertawa mencegahnya.

"Kau hendak pergi ke mana? Mari!"

Katanya. Pemuda itu memberi hormat.

"Tidak berani aku menggerecoki kau."

Ia berkata.

"Hai anak tolol!"

Tertawa pula si nyonya.

"Bagaimana, kau bisa berlalu sekarang, sedangkan mereka belum pergi jauh! Bukankah kau bukannya tandingan mereka? Apakah kau hendak antarkan jiwamu cuma-cuma?"

Mukanya si anak muda menjadi merah.

Benar juga katanya nyonya ini.

Ia pasti akan dicegat pula oleh Cian Giam berdua apabila ia keluar dari kampung itu.

Maka dengan terpaksa, ia ikut si nyonya dan nona masuk ke dalam.

Bok Kiu Nio persilakan tetamu yang datangnya tidak diundang itu.

duduk di hoathia.

ruang dari bagian rumah sebelah barat.

San Ho di lain pihak sudah lantas menyuguhkan air teh.

"Bukankah Ong Ciauw Hie ada bersama kau?"

Si nona tanya.

"Tidak,"

Sahut It Hang. Agaknya nona itu kecele, terus saja ia keluar pula. Akan tetapi tidak lama ia datang kembali, dengan menuntun ayahnya ---Tiat Hui Liong. Cepat-cepat It Hang berbangkit memberi hormat.

"Apa she dan namamu?"

Hui Liong tanya. It Hang perkenalkan dirinya.

"Oh, jadinya kau ada turunannya To Tiong Liam?"

"Dia adalah kakekku."

Di waktu menjawab, It Hang berbangkit pula. Tampak wajahnya tuan rumah kurang puas.

"Ong Ciauw Hie itu sahabatmu, atau bukan?"

Hui Liong tanya pula.

"Boleh juga dikatakan kenalanku,"

It Hang jawab. Tuan rumah itu tertawa dingin.

"Ong Kee In seorang penjahat besar dari kaum Rimba Hijau, mengapa dia suka bergaul kepada pihak pembesar negeri?"

Dia tanya. It Hang tidak menjawab. Ia pun merasa kurang senang.

"Bangsat wanita yang tempo hari menantangi aku, adakah dia segolongan dengan kau?"

Tanya pula tuan rumah ini. Memang It Hang tidak puas Giok Lo Sat menjadi penjahat, akan tetapi ia gusar juga ketika mendengar orang katakan "bangsat wanita"

Kepada nona itu.

"Lounghiong,"

Katanya, dengan dingin.

"kau agaknya membenci pembesar negeri, tetapi juga kau mencaci maki bangsa penjahat, apakah sebabnya? Boanseng ingin sekali mendengar penjelasanmu."

Dengan sengaja pemuda ini memakai istilah "boanseng" (aku yang muda) untuk "aku". Tiat Hui Liong menjadi tidak senang.

"Bocah tidak tahu adat!"

Dia membentak.

Terus ia ulurkan sebelah tangannya untuk menjambak.

It Hang miringkan pundaknya, mengelak dari jambakan itu, ia terus geser tubuhnya, akan tetapi ia toh merasa sakit sekali seperti kena terbakar besi panas.

Syukur ia masih dapat loloskan dirinya Wajahnya tuan rumah itu berubah.

"Apakah kau muridnya Cie Yang Tootiang?"

Dia tanya.

"Tidak salah dugaanmu."

Sahut si pemuda yang berlaku terus terang. Tuan rumah itu perdengarkan seruan tertahan.

"Oh!"

"Pada tujuh atau delapan tahun yang lampau, ketika aku mengikuti suhu di Butong san. pernah aku bertemu dengan looCianpwee,"

Kata It Hang.

"Oh!..."

Kata pula Hui Liong, yang air mukanya lantas menjadi sabar.

"Kau duduklah!"

It Hang menurut, ia lantas duduk.

"Dengan gurumu aku pernah berjodoh ketemu satu kali. maka aku tidak niat mengganggu kau."

Kata tuan rumah kemudian.

"Tapi aku ingin kau omong terus terang. Siapa sebenarnya nona yang tempo hari bertempur melawan aku?"

It Hang menjawab sambil unjuk roman angkuh.

"Dialah Giok Lo Sat yang namanya membikin runtuh nyalinya jago-jago Rimba Hijau!"

Demikian katanya. Tiat Hui Liong lompat bangun.

"Oh, dia kiranya Giok Lo Sat?"

Serunya.

"Tadinya aku sangka kaum Rimba Hijau terlalu puji dia, nyatalah dia benarbenar mempunyai kepandaian!"

Lantas dia meneruskan dengan pertanyaannya.

"Apakah dia pamilimu?"

"Boleh dibilang dia adalah sahabatku juga."

It Hang sahuti. Sekonyong-konyong jago tua itu tertawa besar. Sehabis tertawa, Hui Liong berkata.

"Aku memang ingin undang Giok Lo Sat dan Ong Ciauw Hie datang berkunjung kemari, kebetulan sekali kau bersahabat dengan mereka, itulah bagus! Sekarang ini biarlah kau mesti tinggal di gubukku ini untuk beberapa hari, kalau nanti mereka datang, baru aku perkenankan kau pergi!"

It Hang menjadi gusar. Itu artinya orang hendak tahan dia.

"Apakah looCianpwee hendak tahan aku sebagai manusia tanggungan?"

Dia tanya.

"Memang!"

Jawab tuan rumah.

"Aku pandang muka gurumu, aku tidak mau ringkus padamu, tetapi juga kau. jangan melamun hendak minggat!"

Orang tua ini ulurkan tangannya menyekal tangannya pemuda kita, yang ia tuntun keluar dari hoathia dibawa ke sebuah gudang kayu, ke dalam mana pemuda kita didorong masuk, pintunya ia segera tutup.

"Kamar ini tak dapat dikatakan bagus, baik kau merendahkan diri untuk tinggal di sini beberapa hari,"

Kata dia.

It Hang tahu orang beradat kukoay, ia tidak membuat perlawanan.

Di dalam kamar itu lantas saja ia duduk untuk bersemedhi, guna kasih jalan ambekannya.

Ketika sang malam datang, Kiu Nio muncul dengan barang makanan.

"Sungguh kau rajin!"

Memuji si nyonya sambil tertawa.

It Hang tidak gubris nyonya ini, ia dahar tanpa banyak omong.

Bok Kiu Nio mengawasi anak muda ini, mendadak air mukanya bersemu dadu.

Pemuda kita yang dapat lihat perubahan wajah orang, diam tunduk.

Sejak itu, terus beberapa hari beruntun senantiasa Kiu Nio mengantarkan barang santapan, malah sayurannya makin lama makin lezat rasanya, tidak hanya daging ayam, juga ikan gabus dari sungai Hongho.

Setiap kali datang, nyonya ini tentu ajak It Hang bicara, bicara dari segala hal yang tidak ada juntrungannya.

It Hang tetap tidak sudi melayaninya hingga nyonya itu kebogean.

Pada suatu malam, Kiu Nio kembali datang untuk mengobrol.

"Orang mengatakan gurumu seorang ahli pedang nomor satu di kolong langit ini,"

Demikian katanya.

"karena itu, ilmu pedangmu pun tentunya sangat sempurna, cobalah kau bersilat sebentar, untuk dapat membuka pandangan mataku!"

It Hang tidak bergeming sedikit juga.

"Aku adalah orang tavvananmu, mana berani aku mainkan golok atau pedang?"

Dia kata dengan adem.

"Ah, kau sesalkan CungCu kami?"

Kata si nyonya.

"Ya, kalau ditimbang-timbang kau benar juga. Kau adalah puteranya seorang bangsawan, sudah tentu kau tidak sanggup menderita seperti ini! Apakah kau memikir untuk angkat kaki?"

It Hang tidak berikan jawabannya.

"Tahukah kau kenapa CungCu tahan kau di sini ?"

Tanya pula si nyonya. It Hang memang tidak tahu, maka ia terus membungkam.

"Itulah untuk kepentingan puteri mustikanya!"

Kata Kiu Nio.

"Apa?"

It Hang heran bukan kepalang. Ia masgul. Di dalam hatinya, ia kata.

"Satu sudah sukar dilayani, sekarang tambah lagi satu tukang menggerecok..."

Bok Kiu Nio mengawasi, ia tertawa. Tanpa ditanya, dia berkata pula.

"San Ho ingin sangat menikah dengan Ong Ciauw Hie. akan tetapi Ong Ciauw Hie sudah mempunyai tunangan,"

Demikian katanya. Ia berhenti dengan tiba-tiba.

"Celaka!"

ItHang mengeluh dalam hati.

"Itulah sebabnya kenapa kau ditahan di sini,"

Kiu Nio lanjutkan. Anak muda itu menjadi gelisah.

"Ada apa hubungannya denganku?"

Dia tanya.

"Di kolong langit ini toh banyak pemuda-pemuda lainnya?..."

Kiu Nio tertawa geli sekali. It Hang heran, ia awasi nyonya itu. Sesudah berhenti tertawa. Kiu Nio angkat tangannya, menempelkan dua jarinya ke mukanya, untuk mengejek.

"Tidak tahu malu!"

Katanya, lagi-lagi dia tertawa.

"Apakah kau sangka dia. jatuh hati padamu? San Ho sengaja tahan kau dalam kamar ini untuk memancing datang Ong C iauw Hie. Untuk kemudian..."

Pemuda itu jengah, akan tetapi dia mengeluarkan napas lega. Ia lantas mentertawai dirinya yang terlalu bercuriga Juga Kiu Nio, kemudian tiba-tiba menghela napas.

"Tetapi mungkin ada orang yang tertarik padamu..."

Katanya dengan perlahan, romannya lesu. It Hang duduk bersila, ia tidak memperdulikannya. Kiu Nio jadi tidak enak hati, ia datang mendekati untuk duduk berendeng.

"Apakah pedangmu ini pemberiannya gurumu?"

Dia tanya dan tangannya menunjuk kepada pedang itu.

Ia mencari alasan pula untuk dapat bicara terus.

It Hang tetap duduk diam, membungkam.

Mendadak pedang yang digantung di pinggangnya anak muda itu oleh Kiu Nio dicabutnya.

It Hang terkejut, hingga ia berlompat bangun.

"He, kau mau apa?"

Demikian ia menegur.

"Apakah tidak boleh kau kasih lihat pedangmu ini?"

Kiu Nio balik tanya sambil tertawa.

It Hang niat merampas kembali pedangnya itu, tetapi Kiu Nio menyembunyikannya di belakang badannya, sebaliknya dadanyalah yang dia majukan.

Dengan terpaksa It Hang mundur pula, ia batal merampasnya.

Berbareng dengan itu, di luar terdengar suara tertawa dingin yang disusuli dampratan.

"Perempuan rendah yang tidak tahu malu!"

Dan dengan satu suara "Brak!"

Pintu kamar ditendang terbuka. Bok Kiu Nio kaget hingga lompat berjingkrak. Ia lihat lompat masuknya satu nona. Itulah nona Giok Lo Sat, si Raksasi Kumala.

"EnCie Lian!"

It Hang berseru. Giok Lo Sat tidak menyahut, ia hanya mengawasi Bok Kiu Nio dengan bengis.

"Apa kau bikin di sini?"

Ia menegur.

"Hm, sungguh tidak tahu malu!"

Belum pernah Bok Kiu Nio terima dampratan semacam ini, dari malunya ia menjadi gusar.

Ia tahu bahwa ia bukannya tandingan si nona, akan tetapi karena teipengaruh hawa amarahnya, ia lantas serang nona itu dengan tikamannya.

Giok Lo Sat tertawa dingin, ia menangkis untuk terus balas menyerang.

Pedangnya Kiu Nio terpental, tapi ia masih sempat menangkis, setelah ini barulah ia mencelat ke jendela, untuk lompat keluar.

Giok Lo Sat kembali melengak.

Tangkisannya nyonya itu kembali serupa dengan tangkisan istimewa ajaran gurunya, yang lain kaum tidak mempunyainya.

Tapi ia segera lompat ke jendela untuk menyusul.

Dengan satu lompatan lainnya pula.

ia dapat mendahului dengan melewati atas kepala si nyonya, hingga di lain saat ia telah berdiri di hadapan nyonya centil itu dibarengi dengan tikamannya.

Terus ia menikam.

Ketika ia ditangkis, ia segera merubahnya menyontek dari kanan tetapi sebelum mengenai sasaran, ia merubahnya pula menyerang dari kiri.

Itulah cara serangan istimewa yang biasanya tidak dapat ditangkis, kecuali oleh lain jurusnya sendiri, atau orang yang kepandaiannya lebih tinggi daripadanya.

Kiu Nio dapat mainkan pedangnya ke kiri dan kanan, ia bisa bela diri, hingga serangannya si nona gagal.

Gerak-geriknya tidak sebat, tetapi teranglah dengan caranya ia bersilat itu tentu ia dapat pelajari dari kitab ilmu pedang kepunyaan gurunya Giok Lo Sat.

Demikian Giok Lo Sat dapat memastikan.

Ia lalu tertawa nyaring, ia seperti umbar kegembiraannya, tetapi gerakkan tangannya tidak mengenal kasihan, serangannya semakin hebat, mengarah kedua iga si nyonya.

Repot Bok Kiu Nio melayani nona yang gagah ini, maka segera j uga bajunya kena dibikin robek, iganyapun tertikam, hingga ia roboh seketika.

Si nona hentikan penyerangannya, tetapi ia masih terus tertawa, sekarang tertawa puas.

Ia mendekati nyonya itu dengan niat mengorek keterangan perihal kitab ilmu pedangnya.

Belum sempat ia menanya, Tiat Hui Liong sudah muncul!

Tuan rumah ini merah mukanya, kedua matanya bersinar, bahna gusarnya.

Ia mengibaskan tangan.

"Giok Lo Sat kau terlalu menghina aku!"

Dia berteriak.

"Jikalau kau datang berkunjung untuk mengadu silat, kenapa kau berlaku demikian tidak tahu aturan? Ada sakit hati apakah di antara dia dan kau maka kau hendak turunkan tangan jahatmu terhadap dirinya?"

Nona Lian tertawa menghina.

"Hm! Kau semua serumah tangga, memang ada bangsat cilik yang hina dina!"

Tiat Hui Liong menggeram karena sangat gusarnya, tangannyapun dikibaskan pula, kali ini untuk dipakai menyerang si nona. Giok Lo Sat berkelit ke samping untuk dari situ ia lompat menikam.

"Sebelum kau kembalikan kitab ilmu pedangku, aku tak dapat menyudahi begitu saja,"

Dia membentak. Tiat Hui Liong mendesak sehingga si nona mundur dua tindak.

"Ngaco belo!"

Dia berteriak.

"Kau bicara dari kitab ilmu pedang apa?"

Giok Lo Sat menikam, ia tertawa pula.

"Tidak perlu kau masih berlagak pilon?"

Tegurnya.

"Jikalau benar kau tidak curi kitabku itu mengapa puterimu dan perempuan centil ini bisa mainkan tipu-tipu silat pedang istimewa kepandaiannya guruku itu?"

Kembali Tiat Hui Liong menggeram dan merangsek. sampai si nona mundur lagi dua tindak. Tapi setelah itu, Hui Liong sendiri lompat mundur, akan keluar dari kalangan.

"Tunggu sebentar!"

Katanya.

"Aku hendak tanya dulu mereka sampai jelas!"

Jago tua ini lompat kepada gundiknya, tubuh siapa ia angkat bangun.

Ia lihat darah mengalir dari kedua iga si manis itu, ia merasa terharu berbareng menyinta.

Berbareng dengan itu, juga ia lihat sinar pedang yang berkilauan terletak di samping gundiknya itu.

Ia terkejut.

Ia lantas kenali pedangnya Cie Yang Tootiang, yaitu pedang Hankong kiam.

Maka tahulah ia, pedang itu tentunya diambil gundiknya ini dari tangannya To It Hang.

Karena ini, ia ingat akan dampratannya Giok Lo Sat barusan yang mengatakan gundiknya si "perempuan centil".

Dengan sendirinya wajahnya menjadi berubah.

"Kenapa kau curi pedang orang?"

Ia segera tegur gundiknya.

Giok Lo Sat perdengarkan tertawa dinginnya.

Ia ingin sahuti tuan rumah itu, ketika ia tampak tubuhnya Bok Kiu Nio menggigil, sinar matanya memperlihatkan roman dari ketakutan.

lapun segera ingat akan kata-kata It Hang selama di dalam gua.

Maka mendadak datanglah perasaan kasihnya.

Maka itu ia batal membuka mulutnya.

Bok Kiu Nio berlega hati melihat si nona tidak jadi bicara.

Tapi ia lantas menangis sesegukan.

"Aku lihat dia mendobrak pintu dan menerjang masuk sambil membawa pedang,"

Ia kata pada suaminya. Dengan "dia"

Ia maksudkan Giok Lo Sat.

"Karena aku tidak punya senjata, terpaksa aku pinjam pedangnya To lt Hang."

Itulah keterangan yang beralasan.

"Bagaimana tentang kitab ilmu pedang itu!"

Hui Liong tanya pula.

"Apakah benar kau yang telah curi?"

"Tidak, tidak!"

Kiu Nio menyangkal dengan tebalkan kulit mukanya.

"Bukan aku yang curi!..."

"Panggil San Ho datang kemari!"

Bentak Hui Liong dengan titahnya. Sang gundik kaget sampai wajahnya menjadi pucat. Tentu saja suami itu menjadi bertambah curiga. Dia lompat naik ke atas gunung-gunungan.

"San Ho! San Ho!"

Ia memanggil berulang-ulang.

"San Ho!"

Tidak "ada jawaban untuk panggilan itu.

Sebaliknya, dengan tiba-tiba terlihat berkelebat dua bayangan manusia yang mencelat keluar dari balik tembok, menyusul mana, dengan menerbitkan satu suara menggebus, sinar api menyambar naik!

Hui Liong kaget dan murka.

"Manusia rendah, aku larang kau bergerak!"

Dia bentak gundiknya yang ditudingnya. Giok Lo Sat dengan pedangnya di tangan, tertawa mengejek. Ia berdiri di sampingnya Bok Kiu Nio.

"Kau boleh pergi, ada aku di sini..."

Katanya dengan perlahan.

Berewoknya Hui Liong bangun bergerak-gerak bahna gusarnya.

Sejak puluhan tahun, belum pernah ada orang berani "meraba kumisnya", tidak ia sangka, malam ini ada orang berani bakar rumahnya.

Berbareng iapun kuatirkan anak daranya.

Karena ia menduga, dua bayangan itu tentunya berkepandaian tinggi, yang dapat dilihat dari gerakannya yang sangat pesat itu.

Maka tanpa pikir-pikir lagi ia lari ke arah menyalanya api.

Ia baru lewati dua kamar loteng, atau mendadak, seperti dari dalam api, telah kelihatan munculnya tiga orang -dua wanita, satu pria.

Dan ketiga orang itu adalah Ong Ciauw Hie bersama Beng Ciu Hee dan Tiat San Ho, dan sang puteri itu pucat mukanya, jalannya sambil dipegangi Nona Beng...

"Ah..."

Hui Liong perdengarkan suara tertahan, setelah mana, ia lompat memapaki ketiga orang itu, terutama Ong Ciauw Hie. Dia lantas membentak.

"Ong Ciauw Hie, sungguh berani kau! Sudah cukup kau tolong tunanganmu, kenapa kau melepaskan api membakar rumahku juga dan melukai puteriku?"

Dalam gusarnya, jago ini ulurkan tangannya menyambar pemuda she Ong itu. San Ho kaget, ia pentangkan matanya.

"Ayah, jangan!"

Dia berteriak.

"Perbuatan itu bukan dia yang melakukannya!"

Ong Ciauw Hie sendiri berkelit ke samping, sampai tiga tindak. Tiat Hui Liong tarik kembali tangannya.

"Habis siapakah?"

Dia tanya puterinya. San Ho banting-banting kaki.

"Itulah pamannya Kim Cian Giam!"

Sahutnya. Merah padam mukanya Hui Liong, bukan kepalang heran dan kagetnya. Juga ia sangat mendongkol.

"Sekarang paling perlu kita padamkan api!"

Ong Ciauw Hie segera turut bicara.

"Belakang hari saja kita cari dia untuk membuat perhitungan!"

Hui Liong anggap pemuda ini benar, amarahnya reda.

Pamannya Kim Cian Giam yang dikatakan Tiat San Ho itu sebenarnya adalah Kim Tok Ek.

asal dari perbatasan barat, untuk tiga puluh tahun lamanya, belum pernah ia melangkah keluar dari wilayah gunung Thiansan bagian Selatan dan Utaranya.

Ia seorang ahli tangarrjahat Imhong Toksee Ciang yang liehay sekali, sedang Kim Cian Giam, keponakannya, baru memperoleh enam atau tujuh bagian.

Pada tiga puluh tahun yang lampau, Hui Liong pernah ketemu jago dari Barat itu, yang ketika itu Toksee Ciangnya masih belum sempurna, meski demikian, waktu mereka adu kepandaian, mereka ada sama kosennya.

Adalah belakangan, sesudah mahir tangan jahatnya, Tok Ek membuka rumah perguruan, ia (erima banyak murid, tapi sepak terjangnya tetap aneh.

Selagi Tok Ek pentang pengaruh, Hui Liong sudah hidup menyendiri, ia tidak begitu gemar lagi mencampuri segala urusan, jadi mereka masing-masing ambil jalannya sendiri.

Sampai pada tiga hari di muka, Kim Ciam Giam datang secara mendadak bersama In Yan Peng.

Hui Liong tidak suka akan kelakuannya Kim Tok Ek pamannya Cian Giam.

maka iapun tidak senang terima kunjungannya C ian Giam itu, di waktu orang baru bertindak di pintu pekarangan, Hui Liong sudah suruh gundiknya menggabrukkan daun pintu.

Hui Liong pikir.

"Apakah benar makhluk aneh bangkotan itu. karena aku menggabrukkan pintu pada keponakannya, dia lantas datang untuk melulu menuntut balas? Jikalau benar begitu, sungauh dia sangat cupet pandangannya! Tapi dia sangat liehay, aku tidak mampu susul padanya. Baiklah aku turut pikirannya Ong Ciauw Hie, buat lebih dahulu padamkan api..."

Karena demikian, jago ini tidak jadi mengejar Kim Tok Ek Tentang munculnya Beng Ciu Hee di Tiat keeCung, adalah suatu soal lain pula.

Nona Beng sudah lakoni satu perjalanan ribuan lie.

untuk cari tunangannya, sekarang setelah bertemu, di sini di antara cahaya api ia dapat ketemukan tunangannya itu berada bersama Tiat San Ho, ia pandang mereka bergantian, hatinya memukul.

Selama dalam perjalanan dari kota raja sampat di barat utara, sebagai satu gadis dan seorang diri, Ciu Hee andalkan kecerdasan dan nyalinya yang besar.

Ia boleh bersyukur yang ia tidak pernah dapat rintangan.

Ketika di hari pertama ia sampai di wilayah propinsi Shoasay, ia bertemu Tiat San Ho dan Bok Kiu Nio.

Mereka sama-sama orang kangouw, dengan gampang mereka dapat berkenalan.

Ciu Hee cerdik tetapi polos, antaranya ia utarakan maksud perantauannya itu ialah untuk mencari tunangannya.

Tiat San Ho pun cerdik, lantas ia gunai akal untuk pancing keluar kata-kata yang lebih tegas dari Nona Beng itu.

Tanpa ragu-ragu Ciu Hee sebutkan namanya Ong Ciauw Hie.

Hatinya San Ho bercekat, dia tertawa dingin, lalu dengan tiba-tiba dia totok nona Beng itu!

Ciu Hee yang tidak curiga telah roboh tanpa berdaya.

Ketika kemudian ia sadar akan dirinya, ia sudah berada di dalam Tiat keeCung.

Tapi ia tidak diperlakukan kasar oleh San Ho, sebaliknya ia dilayani sebagaimana layaknya satu tetamu.

Pada mulanya San Ho kuatir digusari ayahnya karena ia sudah "tawan"

Ciu Hee.

Terhadap ayahnya ia tidak berani merahasiakan perbuatannya itu.

Maka dengan memberanikan hati baru ia beritahukan ayahnya.

Tiat Hui Liong tertawa sambil mengurut-urut kumisnya ketika ia dengar keterangan gadisnya itu.

"Ong Kee In adalah satu jago Rimba Hijau tetapi dia kesudian berbesan kepada guru silatnya putera mahkota tidak ada halangan apabila kau main-main dengan puterinya guru silat dari istana itu!"

Kata ayah ini.

Hui Liong mengatakan demikian karena menuruti adatnya yang luar biasa ia tidak senang bila lain orang menentang kehendaknya.

Begitulah ia tidak senang kepada Ong Kee In yang telah menampik untuk berbesan kepadanya.

Akan tetapi kemudian pikirnya, jeleklah kalau ia turuti adatnya, ia dapat kendalikan diri.

Maka ia suruh San Ho berlaku baik pada Ciu Hee.

Sementara itu, iakirim kabar pada Ong Kee In perihal bakal nona mantunya berada padanya.

Giok Lo Sat dengan Tiat Hui Liong sudah berjanji membuat pertemuan dalam tempo satu bulan, ia hendak menepati janji itu.

Ketika ia dapat dengar halnya nona Beng, ia ajak Ong Ciauw Hie sebagai kawan, untuk pergi ke Tiat keeCung.

Setelah sampai di luar kampungnya Hui Liong, Giok Lo Sat kata pada kawan seperjalanannya itu.

"Kita berdua jalan sama-sama tetapi maksud kita berlainan. Aku dan si tua bangka she Tiat sudah berjanji untuk adu kepandaian satu sama satu tidak boleh ada yang membantunya, maka aku minta kau tunggu dahulu sampai salah satu sudah peroleh kepastian, baru kau turut masuk ke kampungnya."

Ong Ciauw Hie bernapsu sekali untuk segera menemui tunangannya, akan tetapi ia tidak dapat menolak permintaannya nona kosen itu.

Begitulah, selagi si nona masuk ke dalam, ia jalan mundar-mandir di luar pekarangan.

Giok Lo Sat sudah masuk lama juga, ia masih belum kembali.

Hal ini membuat Ciauw Hie menjadi heran dan berkuatir.

"Inilah hebat,"

Pikirnya. Ia tahu bahwa si nona dan Hui Liong kedua-duanya liehay, apabila mereka itu ngotot terus, keduanya bisa celaka dan terluka parah.

"Aku tidak bisa tinggal diam menontonnya..."

Pikirnya pula.

Setelah berpikir demikian, Ciauw Hie ambil putusan akan rela nanti ditegur Giok Lo Sat.

Secara diam-diam ia bertindak ke belakang, dari situ dengan lompati pagar ia masuk ke pekarangan dalam, maksudnya ialah untuk saksikan dulu bagaimana jalannya pertempuran.

Selain Giok Lo Sat dan Ong Ciauw Hie, pun malam itu Tiat keeCung kedatangan dua orang lain.

Mereka adalah Kim Tok Ek serta seorang kawannya, yang juga liehay.

Dan mereka itu sudah lantas menjelajah ke dalam rumah.

Malam itu San Ho kebetulan keluar, ketika ia pergoki Kim Tok Ek, segera ia menjerit, tapi ia lantas diserang jago she Kim itu hingga roboh.

Ciu Hee menempati sebuah kamar berdampingan dengan kamarnya San Ho, ia dengar jeritannya nona Tiat itu, karena kaget ia lompat keluar dari kamarnya memburu ke tempat dari mana jeritan datang.

Justeru waktu itu Ong Ciauw Hie pun sampai di tempat kejadian, maka mereka bertemu di luar sangkaan mereka.

Merekapun segera menolongi nona Tiat.

Kim Tok Ek terbitkan onar tanpa hasil, ia tidak mau berdiam lama-lama di Tiat keeCung, ia lantas angkat kaki.

Akan tetapi selagi hendak mabur, ia sulut api belerangnya untuk bakar rumahnya Hui Liong, baru ia menyingkirkan diri dengan diikuti konconya.

Untung bagi Tiat Hui Liong, sebelum api sempat berkobar besar, dengan hanya dua lembar selimut ia dapat memadamkannya.

Tuan rumah ini lompat turun dari loteng yang terbakar itu.

Pada waktu itulah ia saksikan Ciauw Hie dan Ciu Hee sedang menolongi San Ho yang telah direbahkan di tanah, tengah diuruti untuk membikin darahnya berjalan seperti biasa pula.

Hatinya jago tua ini tergerak apabila ia lihat perbuatannya Nona Beng.

Memang selama beberapa hari ia telah dapat kesempatan untuk bercakap-cakap dengan nona itu, ia dapat kenyataan Ciu Hee lemah lembut sikapnya.

Inilah di luar dugaannya.

Sekarang ia buktikan benar-benar kebaikan hatinya nona itu, yang dengan sungguh-sungguh menolong puterinya.

"Ciu Hee lakukan perjalanan jauh dan sukar untuk mencari tunangannya, ia adalah satu nona luar biasa yang harus dihargai,"

Pikirnya jago she Tiat ini.

"Sekarang diapun menolongi San Ho, sama sekali sikapnya tidak bermusuhan, malah nampaknya dia sangat sayangi puteriku..."

Ketika ia menghampiri, Ciauw Hie segera menyambut.

"Lounghiong!"

Kata anak muda itu. Ia hendak beritahukan tuan rumah, bahwa luka gadisnya tidak parah, tetapi Hui Liong sudah mendahului tertawa.

"Bangsat tua she Kim itu bernyali besar dan sembrono sekali,"

Katajago tua ini.

"Jikalau dia benar-benar turunkan tangan jahatnya, pasti sepuluh jiwanya San Ho pun akan melayang semua..."

Sekarang baru Ciauw Hie tahu orang tua itu sudah menduga terlebih dahulu yang gadisnya tidak dalam bahaya, maka dia bisa tinggalkan gadisnya untuk memadamkan api.

Dengan lekas mukanya San Ho yang semula pucat itu menjadi merah pula.

"Bangun lekas!"

Hui Liong membentak pada gadisnya itu. Si nona berbangkit dengan cepat.

"Ayah, mengapa kau gusar?"

Dia tanya. Ong Ciauw Hie heran menampak sikapnya orang tua itu. San Ho yang terluka bukan dihiburi, dia justeru dibentak.

"Aku hendak bicara padamu, mari ikut aku!"

Kata Hui Liong.

Dan ia tuntun gadisnya buat diajak pergi ke paseban luar.

Bersama Ciu Hee, Ong Ciauw Hie mengikuti.

Dengan lantas mereka sampai di suatu tempat di mana terlihat Giok Lo Sat tengah berdiri di atas sebuah batu besar dengan tangan menyekal pedang, wajahnya bersenyum tawar.

Dan di bawah batu itu, duduk mendeprok di tanah ada Bok Kiu Nio, yang mukanya pucat sekali.

"Nah, Giok Lo Sat, kau dengar!"

Berkata Hui Liong dengan nyaring.

"Kau lihat, sedikitpun aku tidak akan berlaku berat sebelah!"

Terus ia berpaling pada gadisnya, akan tanya.

"Betulkah kau yang curi kitab ilmu pedang?"

"Tidak!"

Sahut San Ho dengan cepat.

"Hm! Hm!"

Giok Lo Sat mengeluarkan suara dari hidungnya berulang-ulang. Hui Liong perlihatkan tampang merah padam, hingga ia nampaknya sangat bengis.

"San Ho, hayo kau bicara terus terang!"

Dia bentak puterinya.

"Lagi satu kali aku tanya. Kau curi atau tidak kitab ilmu pedang kepunyaannya dia itu?"

San Ho menangis.

"Kitab ilmu pedang itu pernah aku lihat tetapi bukan aku yang mencurinya,"

Jawabnya. Kembali wajahnya Hui Liong berubah.

"Bagaimana caranya kau dapat lihat itu?"

Dia tanya dengan tidak kurang bengisnya.

"Itulah karena kehendaknya ieie..."

Sahut gadis itu.

Wajahnya Bok Kiu Nio yang pucat dalam sekejap itu menjadi semakin pucat bagaikan mayat.

Giok Lo Sat segera tertawa gelak-gelak.

Kedua matanya Tiat Hui Liong terbuka lebar, sinarnya merah bagaikan api, mukanyapun menjadi merah padam.

Tiba-tiba, tertawanya si Raksasi Kumala berhenti.

"Tua bangka she Tiat, aku toh tidak sembarang menuduhnya?"

Kata dia dengan dingin. Dengan mukanya suram, Hui Liong tidak gubris ejekannya Giok Lo Sat. Dia segera berpaling pula kepada puterinya.

"Sekarang kau ceritakan semua dengan sebenarnya, aku larang kau sembunyikan sesuatunya!"

Dia kata pada puterinya itu, suaranya bengis. San Ho seka air matanya dengan ujung bajunya, lalu ia menutur.

"Pada dua bulan yang lalu. dari Siamsay aku berjalan pulang. Pada suatu hari aku singgah di dusun Ciphiantin, di sebuah rumah penginapan. Di situ aku dapatkan satu imam yang mukanya hitam gelap duduk di tanah tidak dapat bergerak. Tuan rumah kata, imam itu mendapat sakit berat yang mendadak, karena dia kuatir imam itu nanti mati di rumah penginapannya, dia hendak gotong pergi. Melihat keadaannya imam itu, aku merasa kasihan. Maka aku lantas mendekati. Imam itu bermata sangat tajam. Dalam keadaannya sebagai itu, dia masih dapat lihat dan ketahui bahwa aku mengerti ilmu silat. Dia berkata kepadaku.

"Nona, kau toh bawa pedang, bukan? Tolong, kau lekas buka bajuku, dan potonglah daging yang busuk di pundakku, lantas kau cabut keluar sebatang paku beracun yang menancap di situ!"

Mendengar itu, It Hang terkejut.

"Tidak salah lagi dia tentu Ceng Kian Toojin!"

Serunya It Hang. Hui Liong antap orang she To itu.

"Apakah Ceng Kian Toojin tahu bahwa kau anakku?"

Dia tanya gadisnya.

"Itu waktu tidak, tetapi belakangan aku perkenalkan diriku,"

Sahut San Ho.

"Dia lantas berkata padaku, bahwa sudah lama dia dengar nama ayah sebagai satu laki-laki sejati, dia minta tolong aku untuk sampaikan kata-katanya kepada ayah. Dia ada bawa satu

Jilid kitab ilmu silat pedang kepunyaan seorang lain, yang minta pertolongannya untuk disampaikan pada Hok Thian Touw di gunung Thiansan.

Di tengah jalan kitab itu dirampas orang.

Umpama lukanya itu karena tidak mendapat obat menjadikan matinya, dia minta supaya ayah menyampaikan pesannya ke Thiansan, agar supaya Hok Thian Touw dapat menuntut balas untuknya."

Hui Liong belum pernah dengar orang memuji dia sebagai satu laki-laki sejati, pujiannya Ceng Kian Toojin membuat wajahnya jadi lebih sabar karena senangnya, hingga ia uruturut jenggotnya.

"Ceng Kian Toojin juga seorang kenamaan,"

Ia kata.

"Hayo teruskan ceritamu!"

"Setelah itu. dia membuat selembar surat obat,"

San Ho melanjutkan.

"Dia minta pertolonganku untuk belikan obatnya. Aku lalu pergi ke pasar. Rumah-rumah obat di sana tidak lengkap obat-obatannya, kalau tidak kurang ini, tentu kurang itu, maka setelah mengunjungi beberapa rumah obat, baru aku dapat obat lengkap menurut obat itu. Kemudian aku ketemu ieie yang datang cari aku..."

"Hm, kau pergi begitu lama, kau belum pulang juga, maka aku suruh dia susul kau."

"Kepada ieie aku omong-omong tentang imam itu,"

San Ho melanjutkan pula.

"Lantas ieie ikut aku ke rumah penginapan untuk lihat imam itu. Di luar dugaan imam tua itu sudah tidak ada, entah ke mana perginya sebaliknya di sana ada dua orang lelaki yang sedang tanya-tanya perihal imam itu. Mereka itu berdua satu tua, satu muda. Waktu mereka lihat ieie, mereka lantas memberi hormat akan menanyakan kesehatan ayah. Lantas ieie katakan kepada salah seorang itu. 'Kim Loosam, mari kau turut aku!'"

Kembali Hui Liong perdengarkan seruan "Hm!"

Terus ia pandang gundiknya.

"Bagus benar perbuatanmu bersamaKimCian Giam!"

Suami ini menegur. Bok Kiu Nio lantas saja menangis.

"Adalah keinginanku supaya imam itu bisa dipaksa menyebutkan di mana adanya kitab itu,"

Ia akui. Hui Liong diam, ia berpaling pula kepada gadisnya.

"Nah, San Ho, lanjutkan penuturanmu!"

"Dua orang itu turut kami pergi ke suatu tempat sunyi,"

Sang anak melanjutkan.

"Di situ ieie berkata pada orang yang tua.

"Loosam, kau keluarkan kitab ilmu pedangnya imam itu!' Mula-mulanya orang tua itu menyangkal, barulah kemudian sesudah didesak dia mau mengaku..."

Giok Lo Sat terus mendengarkannya sambil dengan matanya yang tajam, mengawasi Tiat Hui Liong. Jago dari Tiat keeCung itu gusar.

"Giok Lo Sat, jangan kesusu!"

Dia membentak.

"Kitab itu memang kepunyaanmu, sudah pasti akan kembali padamu!"

Ia lantas pandang gadisnya, akan tanya pula.

"Bagaimana selanjutnya? Kim Cian Giam serahkan kitab itu atau tidak?"

"Semula dia tidak mau menyerahkannya,"

Sahut San Ho.

Lalu ieie menjelaskan bahwa Ceng Kian Toojin mempunyai pergaulan yang luas!

Dan ieie berkata kepada orang itu.

'Apakah kau tidak takut sahabat-sahabatnya nanti cari padamu?

Serahkan kitab itu padaku, setelah habis aku membacanya, aku akan segera kembalikan pula padamu.

Jikalau tidak...

Hm.

hm!

Kau ketahuilah bahwa Bok Kiu Nio bukannya itu orang yang dapat dipermainkan!' Orang tua she Kim itu menyengir.

Kemudian dia mengusulkan, ieie boleh punyakan kitab itu selama dua bulan, sesudah itu dia akan datang mengambilnya.

Ieie setujui usul itu.

Setelah perjanjian beres, ieie dengan terburu-buru ajak aku ke gunung yang berdekatan untuk cari tempat mondok guna mempelajari isinya kitab itu."

"Kenapa kau tidak beritahukan hal itu padaku?"

Hui Liong tanya.

"Leie melarang aku memberitahukannya. Sesudah ieie pelajari beberapa jurus, dia jadi sangat girang, dia seperti telah menemukan mustika. Ieie mengatakan kepadaku bahwa kitab itu adalah kitab gaib nomor satu di kolong langit. Bahwa siapa dapat memahami semua isinya, dia tidak akan ada tandingannya lagi di dalam dunia ini! Ieie lantas ajak aku sama-sama mempelajarinya secara diam-diam! Aku dipesannya untuk tidak memberitahukan hal itu kepada ayah. Aku anggap, belajar lebih banyak kepandaian bukannya satu hal busuk, maka tanpa pikir-pikir lagi aku terima tawaran ieie itu."

Sebelum Hui Liong sempat berkata, It Hang sudah nyeletuk.

"Setelah itu semua, kemudian kalian dapat lihat pula Ceng Kian Tootiang atau tidak?"

Dia tanya.

"Ya, belakangan, di gunung Cenghong san,"

Sahut San Ho.

"Ieie yang ketemukan dia. Bukankah hari itu kau dan kawankawanmu juga berada di atas gunung itu?"

"Hm!"

Hui Liong perdengarkan suaranya.

"Pada hari itu ada orang janjikan aku membuat pertemuan di atas gunung, aku pergi ke sana, tetapi aku tidak ketemu orang yang menjanjikan aku itu. Rupanya urusan itu ada sangkut pautnya dengan perkara ini.-Manusia hina kau, mengapa sampai waktu itu kau masih tidak mau memberitahukannya padaku?"

Teguran ini ditujukan pada Bok Kiu Nio.

Gundik itu tidak berani berikan jawabannya.

Memang dalam pikirannya dia niat kangkangi kitab itu.

Pada bulan yang lalu, ketika Tiat Hui Liong pergi pula ke Siamsay Utara untuk cari Ong Kee In, dengan diam-diam Kim Cian Giam sudah kirim konconya untuk menyampaikan surat rahasia mengabarkan bahwa Ceng Kian Toojin sedang bersembunyi di gunung Cenghong san.

Justeru itu, Tiat Hui Liong pun telah menerima surat kaleng, yang menjanjikan pertemuan di atas gunung Cenghong san itu, dan Hui Liong telah berangkat dengan mengajak gundiknya itu.

Di situlah sudah terjadi, karena garagaranya Tiat San Ho, Giok Lo Sat datang juga ke gunung itu hingga nona ini bertempur dengan jago dari Tiat keeCung itu.

Dan sedangnya Hui Liong dan si Raksasi Kumala bertempur, KiuNio telah mencari gua tempat persembunyiannya Ceng Kian Toojin.

Mendengar keterangannya San Ho sampai di situ, mengertilah Giok Lo Sat akan duduknya kejadian, maka lagilagi ia tertawa mengejek.

Lalu ia berkata.

"Kau temahai kitab, itu sudah cukup, bukan? Kenapa juga kau bunuh Ceng Kian Tootiang?"

Hui Liong pentangkan matanya. Sampai di sini Bok Kiu Nio turut bicara. Ia menyangkal.

"Aku telah ketemukan Ceng Kian Toojin di dalam gua itu sudah hampir putus jiwa,"

Demikian bantahannya.

"Ketika itu di sampingnya masih ada barangbarang makanannya, rupanya ada orang yang rawati dia tapi dia berada sendirian saja. Nampaknya dia sangat menderita, dia telah beri tanda padaku supaya aku bantu dia agar dia bisa mati lebih lekas. Adalah karena sangat terpaksa, aku telah mengabulkan permintaannya itu..."

Memang benar apa yang dikatakan Kiu Nio itu, akan tetapi di samping itu ia mempunyai maksud lain.

Ialah dia kuatirkan Ceng Kian Toojin nanti dapat tahu bahwa sebenarnya kitab berada di tangannya, juga dia kuatir Hui Liong keburu pulang hingga rahasianya ketahuan, maka dia percepat membinasakan imam itu.

Tiat Hui Liong gusar tidak kepalang.

Akan tetapi menampak gundik yang disayang itu serta gadisnya demikian ketakutan, ia merasa tidak tega, hingga ketika ia bicara, suaranya sedikit menggetar.

"Baiklah."

Demikian katanya pada gadisnya.

"Sekarang kau kembalikan kitab itu pada pemiliknya!"

San Ho nampaknya takut benar ketika berikan penyahutannya.

"Baru saja kitab itu telah dirampas orang..."

"Apakah siluman she Kim itu yang merampasnya?"

Tanya Hui Liong, yang kaget.

"Betul,"

Jawab puterinya. Jago tua itu bagaikan orang yang baru sadar.

"Pada dua hari yang lalu Kim Cian Giam datang padaku, rupanya ada berhubungan dengan urusan kitab ini,"

Katanya. Tapi Giok Lo Sat yang mendengar kitabnya itu hilang pula pindah tangan, bangkit pula amarahnya, wajahnyapun menjadi muram. Tiat Hut Liong dapat lihat perubahan wajahnya nona itu.

"Giok Lo Sat, serahkan urusan ini kepadaku!"

Dia kata dengan suara nyaring.

"Meskipun aku mesti menjelajah sampai ke ujung langit, pasti aku nanti gantikan kau untuk mencarinya!"

"Baik!"

Seru si nona.

"Marilah sambil menunggang keledai kita nonton wayang! Kita lihat saja nanti!"

Nyatalah dari kata-katanya si nona itu masih ragu-ragu.

Tiat Hui Liong tidak hiraukan kesangsiannya nona ini, dia memandang puterinya kepada siapa ia ulur tangannya mengusap-usap rambutnya San Ho seperti sedang menghiburkan satu anak kecil.

San Ho memandang ayahnya, matanya anak ayah saling bentrok, San Ho seperti merasakan kontak.

"Ayah, kau kenapa?"

Tanyanya dengan kaget.

"Anak, tahun ini kau telah berusia sembilan belas tahun, bukan?"

Tanya ayah itu dengan sabar.

"Ah, ayah! Apa maksudmu?"

Tanya anak itu.

"Kau sekarang bukan lagi anak burung yang masih kecil, kau telah tumbuh bulu sebagai burung dewasa, hingga sudah seharusnya kau terbang tinggi dan jauh,"

Berkata ayah itu.

"Tetapi, ayah, aku tetap ingin menjadi anak burung yang masih kecil, agar dapat aku senantiasa berada di dampingmu..."

Anak dara itu mengatakan. Mendadak wajahnya ayah itu berubah menjadi keren. Malah dia segera tolak tubuh anak itu! Dan dia kata dengan keras.

"Sejak hari ini, kau bukan lagi anakku! Lekas pergi! Selama berada di luaran, aku larang kau sebut-sebut namaku!"

Tiat San Ho kaget, sampai tubuhnya menggigil. Ia hendak menangis tetapi tidak bisa. Itulah pukulan yang tak disangkasangkanya.

"Kau sudah curi kitab ilmu pedang dari partai lain, kau juga perhina ayahmu dengan mengelabuinya, jikalau aku tidak memandang ibumu, tentu aku sudah lantas ambil jiwamu!"

Seru ayah itu.

Sejak masih kecil, belum pernah San Ho dibentak ayahnya, inilah untuk yang pertama kali.

Ia memang tahu baik tabiat ayahnya itu.

Kata-kata sang ayah tak dapat diubah pula.

Justeru itu ia lihat Giok Lo Sat sedang melirik mengawasi, ia malu dan mendongkol.

Lantas saja ia tekuk lutut di depan ayahnya paykuy tiga kali.

"Ayah, kuharap kau rawat dirimu baik-baik..."

Katanya dengan duka, kemudian ia berbangkit dan lari keluar tanpa menoleh pula.

Hatinya Giok Lo Sat keras sebagai batu, tapi sekarang menampak kejadian di hadapannya itu, hatinya runtuh.

Sejak tadipun ia sudah merasa kasihan terhadap San Ho, ia niat menasehatkannya, tapi tak dapat ia buka mulutnya, sekarang sudah kasip, ia terlambat.

Tiat Hui Liong awasi anaknya pergi, agaknya ia menenangkan diri, baru ia berpaling pada Bok Kiu Nio.

"Manusia hina, mari kau!"

Ia memanggil. Mendadak Kiu Nio tertawa gelak-gelak, dia lepaskan gelungan rambutnya hingga riap-riapan.

"Tua bangka bangkotan, sekarang aku tidak inginkan lagi jiwaku!"

Dia menjerit sekuatnya.

"Hayo kau pukul aku hingga mati..."

"Kau telah curi kitab orang, dengan itu kau cemarkan nama baikku, kau memang harus dapatkan hukuman!"

Bentaknya Hui Liong.

"Kematian bagimu masih belum cukup, apa lagi yang kau buat penasaran?"

"Memang aku penasaran!"

Teriak Bok Kiu Nio.

"Dahulu aku ikut ayahku, yang sakit dan mati di kampung orang lain, aku tidak punya uang untuk menguburnya, terpaksa aku serahkan diri dengan menikah padamu! Tapi lacur bagi diriku, kau tidak perlakukan aku sebagai isteri kawin... Memang aku suka bicara tertawa-tawa di hadapanmu, tetapi apakah kau kira karena aku cinta padamu? Hm! Kau pukul mampus padaku, itulah terlebih baik! Hidup secara begini, aku tak sanggup!..."

Memang, sejak masih kecil, Bok Kiu Nio ikuti ayahnya merantau menjual silat, lalu karena kemalangan ayahnya itu, ia menerima nasib dengan menikah kepada Tiat Hui Liong.

Suami tua dan ia masih muda, memang itu tidak sembabat.

Di samping itu, aneh dan keras tabiatnya Hui Liong, maka bertambah tak puasnya Kiu Nio, kalau ia tidak jeri kepada suaminya itu, pasti sudah sedari siang-siang ia pergi minggat.

Kiu Nio curi kitab ilmu silat pedang itu dengan niatnya yang utama ialah meyakininya secara diam-diam, supaya nanti setelah pandai, ia tidak usah takuti lagi suami tuanya itu.

Maka menyesallah ia, rahasianya telah terbongkar.

Tiat Hui Liong tidak menyangka Kiu Nio bisa mengatakan demikian rupa.

ia melengak.

Ia memang tahu gundiknya cantik dan sedangnya segar, sebaliknya ia sendiri sudah ubanan.

Pikirannya menjadi kusut, maka tangannya yang ia telah angkat tadi ia tidak dapat turunkan, seperti macet di tengah udara...

Giok Lo Sat yang melihat kelakuannya orang tua itu lompat kepadanya dan menurunkan tangannya.

Tiba-tiba Hui Liong menghela napas panjang.

"Nah, pergilah kau!"

Kata ia dengan tangannya mengusir.

"Untuk selama-lamanya, jangan kau datang melihat aku pula!"

Bok Kiu Nio tertawa, lalu ia berlutut di depan Hui Liong, akan paykui tiga kali.

"Looya, rawatlah dirimu baik-baik!..."

Ia mengucap.

Kemudian ia berbangkit lari keluar tanpa menoleh pula, seperti San Ho tadi.

Hui Liong berdiri termangu-mangu, hatinya hancur.

Sekarang ia merasakan bahwa ia benar-benar sudah lanjut usianya.

Ia hampirkan batu gunung-gunungan, di mana ia senderkan diri, nampaknya ia seperti orang yang diserang penyakit hebat.

Akhir-akhirnya ia menghela napas.

"Ya, akupun harus pergi dari sini..."

Katanya kemudian. Maka berakhirlah sebuah drama yang tragis... Keesokan paginya. To It Hang yang paling dulu pamitan.

"Mudah-mudahan kau sampai dengan selamat di Pakkhia!"

Giok Lo Sat mendoakan.

"Dan kaupun semoga berhasil mendapatkan kembali kitab ilmu pedangmu!"

Balasnya It Hang. Kemudian Ong Ciauw Hie datang bersama Beng Ciu Hee mengucapkan selamat tinggal kepada Hui Liong.

"Hiantit,"

Berkata orang tua itu.

"tolong sampaikan maafku kepada ayahmu, aku insyaf bahwa segala perbuatanku terhadap ayahmu dahulu terlalu sembrono!"

"Jangan mengucap demikian. I'oope,"

Kata Ciauw Hie. Hui Liong pandang Ciu Hee, dia tertawa meringis.

"Nona Beng ini ada jauh lebih manis daripada San Ho,"

Katanya.

"Kalian telah menderita gangguan gelombang dan taufan, semoga kalian dapat hidup beruntung sampai di hari tua!"

"Terimakasih, loope,"

Ciauw Hie mengucapkan, hatinya lega bukan main.

Itulah tanda bahwa selanjutnya orang tua yang gagah dan galak ini tidak akan mengganggu pula padanya.

Di saat itu, dua perasaan mengudak dalam hatinya Ciauvv Hie.

girang dan duka.

Ia girang karena C iu Hee nyata benar-benar menyintai padanya.

Dan ia berduka, nasib buruk dari orang tua she Tiat ini, yang selanjutnya harus hidup sepi menyendiri...

"Aku sekalian hendak mengantarkan saudara To,"

Ciauvv Hie tambahkan kemudian. Hui Liong manggut.

"Giok Lo Sat! Bagaimana dengan kau?"

Ia berpaling kepada si nona kosen.

"Apakah kau tidak niat berangkat sekarang?"

Nona yang ditegur itu tertawa.

"Aku tidak bisa biarkan kau sendirian saja mencari kitab pedangku itu!"

Jawabnya. Hui Liong terharu, hatinya sangat tergerak.

"Tadi aku telah melepaskan kata, itulah urusanku,"

Katanya.

"Apakah kau anggap aku sendirian tidak sanggup mendapatkan kembali kitab pedang itu?"

Diam-diam Giok Lo Sat tertawai besar kepalanya jago tua ini.

"Pasti aku percaya akan tenagamu. Akan tetapi dengan sendirian saja keluar pintu untuk satu perjalanan yang jauh, kau pasti akan kesepian, maka jikalau aku dapat mengawaninya, sedikitnya kau dapat terhibur. Tidakkah itu baik?"

Hui Liong girang mendengar kata-kata si nona.

Iapun tergerak hatinya.

Kata-kata itu mirip dengan kata-katanya satu gadis terhadap ayahnya.

Iajusteru baru kehilangan gadis yang dimanjanya dan isterinyajuga.

Walaupun dia suka menang sendiri dan aneh tabiatnya, Hui Liong toh sukai orang yang mempunyai kepandaian silat tinggi dan jujur.

Dua kali dia telah tempur Giok Lo Sat secara hebat, selama itu dia telah saksikan juga adat-adatnya si nona.

Maka sekarang dari musuh, mereka berbalik telah menjadi sahabatsahabat kekal.

Di akhirnya, jago dari Tiat keeCung itu tertawa gelak-gelak.

"Sayang kau bukannya anakku..."

Katanya.

"Tapi akupun bisa menjadi anakmu!"

Kata Giok Lo Sat, yang terus saja tekuk kedua lututnya untuk memberi hormat.

"Giehu!"

Ia memanggil. (Giehu --ayah angkat). Dengan tersipu-sipu Hui Liong pimpin bangun nona itu.

"Aku tidak berani menerimanya..."

Katanya.

"Kau tidak suka terima aku sebagai anak angkat, itulah tentu disebabkan karena kau merasa telah dicaci dan diserang olehku,"

Giok Lo Sat bongkar perasaan hatinya orang tua itu.

"Marilah kita omong dengan jelas! Jikalau kau hendak puaskan hatimu baiklah kau ambil aku sebagai anak angkatmu! Setelah aku menjadi anakmu maka merdekalah kau caci aku..."

Hui Liong tertawa terbahak-bahak. Ia anggap nona ini benar-benar lucu.

"Baiklah kalau begitu!"

Katanya.

"J ikalau aku tidak terima kau sebagai anak angkatku, nyatalah kecupatan pandanganku! Sayang aku tidak punya apa-apa untuk dijadikan bingkisan sebagai tanda pengangkatan anak padamu. Bugeemu lebih tinggi daripada bugeeku, benar-benar aku tidak punya suatu apa lagi untuk dihadiahkan kepadamu. Begini saja, dalam halnya lweekang aku lebih terlatih daripadamu, baik nanti pelahan-lahan kita sama-sama meyakininya lebih jauh."

Giok Lo Sat terima janji itu dengan girang sekali.

Sebenarnya itu adalah hadiah yang ia tidak pernah harap.

Ia suka angkat Hui Liong jadi ayah pungutnya disebabkan ia suka kepada sifatnya yang mirip dengan sifatnya sendiri, pun karena ia berkasihan orang telah ditinggal puteri dan gundiknya.

Tentu sekali tak dapat ia tampik hadiah itu, yang merupakan hasil peryakinan beberapa puluh tahun.

"Terima kasih,"

Ia mengucap sambil paykui pula.

Setelah itu Ong Ciauw Hie, Beng Ciu Hee dan To It Hang pamitan kepada tuan rumah dan anak pungutnya.

Giok Lo Sat minta Ciauw Hie mewakili ia mengurus bentengnya, sedang Ciu Hee diminta gantikan pimpin tentara wanitanya, Ciu Hee suka terima tugas itu.

Berat Giok Lo Sat untuk berpisah dari It Hang, hampir ia tak dapat lakukan itu.

Hari sudah siang ketika Hui Liong dan anak pungutnya kembali ke dalam rumah untuk beristirahat sehabis mengantarkan Cjauw Hie bertiga.

Hui Liong tidak jadi kesepian karena sekarang ada Giok Lo Sat sebagai kawan.

Tiba-tiba jago Tiat keeCung itu kerutkan alisnya.

"Aku heran kepadamu,"

Katanya pada si anak pungut.

"To It Hang itu adalah anaknya orang berpangkat, nampaknya ia tidak bisa lenyapkah sifatnya itu, kenapa dengan dia kau bisa bergaul rapat?"

Giok Lo Sat tertawa, tetapi ia tidak menjawab ayah angkat itu, Hui Liong bersenyum.

Ia tidak memaksa meminta jawaban.

Tapi justeru itu satu Cungteng, bujang pengawalnya, masuk sambil membawa sebuah sampul karcis nama warna hitam.

Menampak warnanya sampul itu, Hui Liong segera kerutkan alis.

"Orang itu tidak tahu adat!"

Kata Giok Lo Sat. LIntuk karcis nama, warna kuning emas atau merah adalah tanda girang. Tapi ini adalah warna hitam. Inilah bukan biasanya.

"Coba kita buka dan lihat dulu,"

Hui Liong kata. Ia buka sampul itu akan baca karcis namanya di atas mana tertuliskan.-"Hormatnya Uy Yap Toojin dan Angin Toojin dari Butong san serta murid-muridnya."

Tiat Hui Liong menjadi heran.

"Butong Ngoloo datang dari tempat ribuan Iie mencari aku, apakah perlunya?"

Kata dia sambil menduga-duganya.

"Mereka itu memandang dirinya sebagai golongan putih bersih, mereka biasa anggap aku sebagai kalangan sesat, sekarang kenapa mereka datang berkunjung dengan laku menghormat?"

Tapi ia tidak berayal untuk segera perintahkan Cungtengnya mempersilahkan tetamu-tetamunya masuk, ia sendiri lantas bersiap.

Butong Ngoloo adalah Lima Tertua Butong Pay, di antara mereka itu, Uy Yap Toojin terhitung yang nomor dua dan Ang In Toodiin nomor tiga.

Maka dapat dimengerti, dalam hal derajat dalam kaumnya, mereka berdua cuma ada di sebelah bawah Cie Yang Toojin, ahli waris dan pemimpin dari Butong pay itu.

Ketika dulu Tiat Hui Liong datangi Butong san untuk tantang Cie Yang Toojin main-main dan ia dilayani bertanding oleh Pek Sek Toojin, tertua yang nomor empat, dalam pertandingan itu ia menang, nampaknya Uy Yap dan Ang In tidak puas.

Sekarang Hui Liong ingat kejadian yang dulu itu, ia jadi curiga.

"Mungkin maksud mereka tidak baik..."

Demikian ia raguragu.

Karena ini, meski ia tidak jeri, ia toh merasa kurang enak.

Tidak demikian dengan Giok Lo Sat, ia berdiri di samping ayah angkatnya itu sambil bersenyum berseri-seri.

Tidak lama, terpentanglah pintu ruang muka.

Di muka tangga, Uy Yap Toojin dan Ang In Toojin berdiri berendeng.

Hui Liong rangkapkan kedua tangannya menyambut dengan hormat.

"Sudah sepuluh tahun kita tidak bertemu, jiewie tootiang nampaknya masih sehat walafiat seperti sediakala!"

Tuan rumah berkata.

"Apakah Cie Yang Tootiang juga baik?"

Wajahnya Uy Yap Toojin mendadak menjadi muram.

"Menyesal sekali suheng kami itu pada bulan yang baru lalu telah berpulang dan naik ke nirwana,"

Sahutnya dengan berduka.

Hui Liong terkejut, meski ia tidak utarakan itu pada wajahnya.

Ia tahu ia didendam oleh Pek Sek Toojin, tetapi terhadap Cie Yang ia mengaguminya.

Sekarang barulah ia tahu kenapa rombongan Butong pay itu memakai sampul karcis nama warna hitam.

Hui Liong bersedih untuk wafatnya imam yang dihormatinya itu, hingga air matanya meleleh.

"Sungguh tidak disangka,"

Katanya sambil menghela napas.

"Sejak ini tidak ada lagi tertua yang dapat dengan pengaruh dan kebijaksanaannya membuat orang tunduk kepadanya."

Kata-kata itu adalah satu pujian tinggi bagi Cie Yang Toojin, akan tetapi mendengar itu, Uy Yap dan Ang In jadi merasa tidak enak sendirinya.

Hui Liong sendiri segera memutar tubuhnya menghadap arah selatan, lantas saja ia menjura tiga kali, sebagai tanda penghormatan terakhir terhadap ketua Butong pay itu.

Selagi demikian, tuan rumah ini ingat sesuatu.

Butong pay kehilangan ketuanya, sudah seharusnya kalau diangkat penggantinya, bahwa karena wafatnya sang ketua, banyak yang harus dilakukan oleh murid-muridnya untuk mengurus jenazah dan upacaranya.

Kenapa sekarang Uy Yap dan Ang In dapat kesempatan mendatangi rumahnya ini?

Mungkinkah mereka ini lebih mementingkan soal perselisihan?

Tapi.

dipikir sebaliknya, itulah tidak mungkin.

Oleh karena tidak mau dibikin pusing dengan keraguraguannya itu, akhirnya Hui Liong segera menanya langsung.

"Entah kedatangan jiewie lootiang ini dengan maksud apa?"

Uy Yap Toojin memandang ke sekitarnya seperti sedang mencari apa-apa.

"Ada dua urusan untuk mana kami mohon keterangan,"

Jawab ia. dengan suara adem.

"Pertama, kami ingin tahu, apakah di rumah tuan ini ada murid kaum kami yang bernama To It Hang?"

"Untuk apa kalian datang cari To It Hang?"

Giok Lo Sat nyeletuk. mendahului ayah angkatnya.

"Apakah dia hendak dipanggil pulang untuk urus perkabungan?"

Uy Yap lirik nona itu.

Ia memang tahu bahwa Tiat Hui Liong mempunyai seorang gadis nama San Ho yang jumawa sekali, maka ia duga, nona ini San Ho adanya Maka diam-diam ia bersenyum, karena ia anggap nona itu tidak kenal adat peradatan "Partai kami hendak memenuhi pesan terakhir dari Cie Yang Tootiang yang hendak mengangkat To It Hang menjadi ahli warisnya"

Uy Yap menjawab.

"Maka itu kami datang kemari untuk sambut dia pulang."

Mendengar itu, Giok Lo Sat girang berbareng terperanjat.

Ia girang karena It Hang yang masih begitu muda telah diangkat menjadi ahli waris, untuk mengepalai Butong pay, dengan sendirinya, dia menjadi pemimpin umum dari Rimba Persilatan, walau bukan pemimpin resmi.

Dan yang membuat ia terperanjat adalah dengan pihak Butong ia telah berselisih, maka dengan It Hang menjadi ketua untuk selanjutnya mungkin ia sukar mendekati pemuda pujaannya itu...

Melihat Uy Yap Toodiin bersikap jumawa, Hui Liong juga jadi dingin hatinya.

"Sungguh tidak kebetulan kedatanganmu ini,"

Ia menyahut.

"Baru saja To It Hang keluar dari sini!"

Hui Liong percaya, dengan keterangannya itu, Uy Yap Toojin beramai akan segera berlalu untuk menyusul It HangTapi dugaannya ini meleset.

"Adakah itu benar?"

Uy Yap bertanya.

"Baiklah, kami akan berdiam di sini untuk menantikan padanya."

Dan mereka lantas ambil tempat duduk.

Hui Liong heran, dan tidak mengerti, tapi sesaat saja segera ia sadar dan ingat, bahwa di dalam karcis nama ada disebutkan, dua imam itu datang sambil mengajak muridmuridnya.

Maka sebentar lagi tentulah akan datang lain rombongan, untuk menyambut ketua mereka yang baru diangkat.

Pasti penyambutan mesti dilakukan dengan suatu upacara.

Dua orang ini adalah paman gurunya It Hang, tugas mereka tentunya untuk membantu saja, guna mendampingi ketua yang usianya muda itu.

Ingat kepada tata tertib dari kaum Butong itu.

Hui Liong tertawa di dalam hati.

Iapun percaya, akan kedatangannya lain rombongan, It Hang yang belum lama pergi itu akan kesomplokan di tengah jalan, jadi tidaklah heran kalau Uy Yap dan Ang In hendak menantikan di rumahnya.

Namun ia toh tetap masih bersangsi.

"Numpang tanya, jiewie tootiang, bagaimana pandai kalian mendengar berita,"

Berkata dia kepada kedua imam sambil rangkapkan kedua tangannya.

"Bagaimana caranya maka kalian ketahui To It Hang berada di gubukku ini?"

Uy Yap tidak menjawab, sebaliknya ia perlihatkan tampang yang sungguh-sungguh.

"Sekarang ada giliran maksud kedatangan kami yang kedua,"

Dia kata, suaranya pun kaku. Mauatau tidak, Hui Liong jadi gusar.

"Silakan sebutkan!"

Katanya.

"Bagaimana sebenarnya kematiannya Ceng Kian Toojin terjadi?"

Imam itu tanya. Hui Liong mencelat bangun, ia kaget dan murka.

"Jadi kaulah yang hari itu tulis surat budek itu?"

Tegurnya.

"Betul!"

Jawabnya si imam.

"Jikalau begitu, teranglah kau salah janji!"

Demikian Hui Liong menegur, yang ia pun tertawWrlingin.

"Sekarang toh masih belum kasip, bukan?"

Si imam mengejek.

Uy Yap dan Ang In datang berombongan bersama enam murid dari tingkat kedua, enam murid itulah yang mesti menyambut It Hang secara resmi, Uy Yap dan Ang In hanya mengantar dan memimpin untuk memberikan pelbagai pengunjukan.

Seharusnya mereka menuju ke Siamsay Utara, ke rumah keluarga To, akan tetapi di luar sangkaan mereka, begitu memasuki wilayah Siamsay Utara itu, mereka dapatkan satu tanda rahasia dari Ceng Kian Toojin yang malang itu di rumah penginapan.

Dari tanda itu tahulah mereka, Ceng Kian Toojin telah orang curangi dan sedang bersembunyi untuk berobat di bukit Cenghong san.

Murid-murid Butong pay tersebar di mana-mana, di antara mereka itu ada yang lantas datangi Uy Yap Toojin memberitahukan halnya Hui Liong kedapatan di sebuah rumah penginapan.

Ceng Kian Toojin itu adalah sahabat kekalnya Butong Ngoloo, maka Uy Yap sudah lantas mendaki Cenghong san di mana ia dapat cari imam yang bercelaka itu, yang benar-benar sangat buruk nasibnya, disebabkan lukanya yang parah tidak dapat pengobatan, ketika itu dia sudah tidak bisa bicara lagi.

Atas pelbagai pertanyaannya Uy Yap, Ceng Kian hanya dapat menulis di tanah.

"Tanyalah Tiat Hui Liong". Ceng Kian sudah menjelaskan segalanya kepada Tiat San Ho, ia percaya nona itu pasti akan menyampaikannya kepada ayahnya, maka itu ia suruh Uy Yap pergi pada Hui Liong saja. Demikian Uy Yap Toojin datang untuk sekalian menegur. Karena dia telah salah mengerti. Dia menyangka Hui Liong yang aniaya Ceng Kian. Dengan melihat keadaan luka itu dia tahu Ceng Kian tiada mempunyai harapan dapat ditolong lagi. Maka dia lantas saja berangkat pulang dengan kegusarannya yang sangat. Diapun lantas tulis surat budeknya itu kepada Hui Liong, yang dia kirim ke rumah penginapan di mana Hui Liong singgah. Dia menjanjikan pertemuan di atas bukit, supaya dia bisa membuat perhitungan di depan jenazahnya Ceng Kian Toojin. Uy Yap sengaja mengirimkan surat budek karena dia kuatir, karena jeri terhadap Butong Ngoloo, Hui Liong nanti tidak berani terima tantangan itu. Uy Yap sudah mengatur untuk menetapkan janji pertemuan itu, tapi baru dia kirim surat kalengnya itu, tiba-tiba datang berita lain, yang penting. Itulah kabar bahwa entah apa sebabnya, rumah keluarga To telah ditutup pembesar negeri, bahwa orang-orangnya keluarga itu bubar semuanya. Orang menduga bahwa keluarga To tersangkut perkara besar. Uy Yap beranggapan, perkaranya Ceng Kian dapat ditunda, perkaranya It Hang harus didahului, maka itu ia telah tidak dapat menepati janjinya terhadap Hui Liong. Ia sudah lantas pergi ke rumahnya It Hang tapi di sana ternyata It Hang sudah ditangkap dan dibawa ke kota Yanan. Ketika Uy Yap menyusul ke dalam kota, ia dapat kabar bahwa It Hang sudah ada orang yang menolongnya Ia menjadi gelisah dan ibuk sekali. Ia lantas cari keterangan lebih lanjut. Dalam penyelidikannya itu Uy Yap dengar It Hang mempunyai hubungan dengan Ong Ciauw Hie. Ia tahu, Ong Ciauw Hie adalah puteranya Ong Kee In di Wayauwpo, maka ia ajak rombongannya pergi kepada orang she Ong itu. Kee In belum tahu hal puteranya dan It Hang itu, dia hanya berikan keterangan, bahwa sang putera sedang bepergian ke rumah Tiat Hui Liong di Liongbun, Shoasay. Ong Kee In tidak bersahabat kekal dengan ButongNgoloo, tapi ia tahu bahwa pihak Butong tidak terlalu memandang mata pada kaum Rimba Hijau --Lok Lim --, ini pun sebabnya kenapa ia tidak mau omong banyak, hingga ia tidak jelaskan juga halnya Giok Lo Sat dan Tiat Hut Liong sudah berjanji untuk adu kepandaian, bahwa kepergiannya Ong Ciauw Hie sebenarnya adalah untuk menolong nona tunangannya. Uy Yap Toojin ambil kesimpulan, untuk mendapatkan It Hang ia perlu cari Ciauw Hie, dan untuk cari Ciauw Hie, ia mesti pergi ke rumahnya Tiat Hui Liong. Maka ia anggap tepat kalau ia pergi ke Tiat keeCung, dengan demikian sekaligus ia dapat selesaikan dua urusan. Demikian Uy Yap dan rombongannya sampai di Tiat keeCung. pertama untuk menanyakan halnya It Hang, kemudian membuat perhitungan untuk kematiannya Ceng Kian Toojin. Tentu saja Hui Liong juga menjadi gusar.

"Jadi jiewie tootiang percaya benar bahwa kebinasaannya Ceng Kian Tootiang itu adalah perbuatanku?"

Akhirnya tuan rumah tanya dengan hati mendongkol.

"Benar!"

Uy Yap jawab terus terang secara jantan. Hui Liong merasa sangat terfitnah, amarahnya meluap. Sambil berjingkrak ia ayunkan sebelah tangannya.

"Uy Yap Toojin, kau pandang Tiat Hui Liong orang macam apa?"

Dia menegur dengan nyaring. Imam itu menangkis sambil tertawa mengejek.

"Kau sendiri yang telah berbuat, buat apa kau tanya aku lagi?"

Dia jawab. Dia pun panas hatinya. Tiat Hui Liong habis sabar. Ia menggeram. Kedua tangannya segera dipentang ke kiri dan kanan dalam gerakan "Pekwan tamlouw"

Yaitu "Lutung putih mencari jalan."

Kedua tangan itu menggunting pundak lawan. Uy Yap juga lompat mencelat seraya buka kedua tangannya dalam dua rupa gerakan yaitu "Samhoan tauwgoat" ---"Tiga melibat dan mengikat rembulan"

Dan "Honghut suiliu" ---"Sang angin mengebut yangliu meroyot."

Secara begitu pecahlah serangannya tuan rumah. Hui Liong tertawa dingin dan mengatakan.

"Memang aku tahu, setelah wafatnya Cie Yang Tootiang, kalian beberapa gelintir imam yang cupat pikiran, pasti tidak akan melepaskan aku! Hm, rim! Jikalau benar-benar, kau tidak puas, marilah kita piebu pula!"

Dengan mengajak pula piebu, itulah sebagai sindiran, karena salah satu di antara Butong Ngoloo telah pernah dipecundangi.

Tetapi sebenarnya, walaupun Uy Yap Toojin tidak puas terhadap ketua dari Tiat keeCung ini, dia tidak mendendam dari hal kekalahannya Pek Sek Toojin itu, hanya karena urusan Ceng Kian dan orang "menyangkal", dia jadi panas hati.

hingga dia tak dapat kendalikan diri lagi.

Maka dia lantas pasang kuda-kudanya.

"Bangsat tua, jikalau kau mau piebu, mari kita segera mulai!"

Dia pun menantang.

"Mustahil aku jeri terhadapmu? Ceng Kian Tootiang sedang menantikan kau di neraka, jikalau kau mempunyai pesanan terakhir, baik kau siang-siang beritahukan itu pada orang-orangmu!"

"Kau ngaco! Mari rasai tanganmu!"

Dalam murkanya yang meluap-luap, Hui Liong menyambar kepada muka orang.

Ia menyerang dengan pukulan "Tiatpiepee Ciu" --"Tangan piepee besi".

Uy Yap mundur bukan melulu untuk berkelit diri, tapi sambil mundur iajuga menghajar lengannya tuan rumah, yang dia incar jalan darahnya dengan dua jari tangannya.

Hui Liong tarik pulang tangan kanannya itu.

Justeru orang tarik pulang tangannya itu, tangan kiri Uy Yap menggantikan tangan kanannya menyerang, kali ini ia menggunai kepalan.

Hui Liong tolak kepalan musuh itu, hingga ia mundur tiga tindak.

Tapi juga Uy Yap turut mundur karena kerasnya tolakan itu.

"Orang telah binasakan Ceng Kian Tootiang, ada apa sangkutannya dengan aku?"

Tanya Hui Liong, yang masih penasaran.

"Kenapa kalian sembarang menuduh aku? Jikalau kalian tidak menghaturkan maaf, jangan harap kalian bisa keluar dari pintu rumahku ini dengan masih hidup!"

Akan tetapi setelah bentrokan itu, ketua Tiat keeCung sadar bahwa piebu dan kebinasaannya Ceng Kian Toojin adalah dua persoalan yang tak dapat dicampur baurkan menjadi satu.

Kebinasaannya Ceng Kian mesti dibikin terang lebih dahulu.

Uy Yap pun nampak ragu-ragu karena seruannya tuan rumah.

"Apakah kau bicara dengan sebenar-benarnya?"

Dia menegasi.

"Terserah padamu percaya atau tidak?"

Serunya Hui Liong.

"Ketahuilah olehmu bahwa akupun hendak menuntut balas untuk Ceng Kian Tootiang! Tetapi piebu pun kita harus lanjutkan juga! Mengertikah kau sekarang?"

Kata-katanya ini ditutup oleh serangan sepasang tangannya.

Melihat serangan yang hebat itu, Uy Yap gunakan kedua tangannya untuk memunahkan.

tangan kirinya menangkis sambil melibat, begitu juga tangan kanannya.

Hui Liong biarkan tangan kanannya hendak dilihat lawan, tetapi tangan kirinya dilonjorkan terus untuk menoblos libatan, guna menghajar pilingan si imam.

Di antara Butong Ngoloo, Uy Yap cuma berada di bawahan ketuanya, bisa dimengerti ilmu silatnya tidak sembarangan, maka walaupun tuan rumah pertunjukkan keliehayannya, ia masih dapat kelitkan kepalanya, ia sambut serangan itu dengan pundaknya, hingga terdengarlah suara keras.

"Duk!"

Adalah setelah itu, ia terus libat tangan kiri penyerangnya.

Serangan kepada pundaknya itu membikin matanya berkunangan walaupun ia tangguh, ia toh merasakan hebatnya serangan itu.

Di lain pihak, Hui Liong juga merasakan sakit sekali kepada tangan kirinya itu.

(a mencoba mendorong, tapi Uy Yap dengan tangan kanannya menahan, sehingga terjadi perkutatan antara mereka Mereka sama-sama tidak mau melepaskan tangannya yang terlibat dan tercekal, maka sekarang keduanya mengandalkan kepada tenaga ambekan dan kuda-kuda kedua kakinya.

Mukanya Uy Yap pucat, napasnya memburu.

Tapi juga Hui Liong rasakan tulang-tulang lengannya sakit sekali.

Baru sekarang keduanya menyesal kenapa tadi mereka umbar nafsu amarahnya, sekarang menyesalpun sudah kasip.

Ang In Toojin melihat hebatnya keadaan, ia memikir datang sama tengah untuk memisahkannya, tetapi baru saja ia memikir, satu tubuh lain sudah berkelebat, lantas ia tampak Giok Lo Sat, yang berbaju putih, sudah sampai di sampingnya Uy Yap dan Hui Liong berdua.

Ia telah didahului orang.

Giok Lo Sat ulurkan kedua tangannya.

masing-masing menyambar ketiaknya Uy Yap Toojin dan Tiat Hui Liong, hingga keduanya merasakan sangat geli, dengan demikian kendorlah ambekan mereka masing-masing.

Maka dengan gunai ketikanya yang baik itu, si nona tarik dua lawan itu, hingga mereka terpisah satu pada lain.

Uy Yap kaget bahna herannya Ang In juga heran untuk kesehatannya nona ini.

Giok Lo Sat tertawa.

"Jiewie tootiang sudah berusia lanjut, kenapa kalian sama pandangan seperti aku yang muda?"

Kata dia. Uy Yap atur napasnya supaya tidak mengorong lagi.

"Apa kau kata?"

Dia menegasi.

"Aku maksudkan kebinasaannya Ceng Kian Toojin,"

Sahut nona ini.

"Mula-mula akupun menyangka dia dibinasakan oleh Tiat Lounghiong. maka seperti tootiang, tidak tanya hijau atau merah atau putih, terus saja aku serang padanya. Kalau aku ingat kesembronoanku itu, aku tertawa sendirinya."

Uy Yap menjadi heran.

"Apa? Apakah kau bukan puterinya Tiat Hui Liong?"

Dia tanya.

"Siapa kata bukan puterinya?"

Si nona jawab. Dia tertawa. Imam itu mendongkol.

"Ha, kau main gila terhadap aku?"

Tegurnya Pada waktu itu di luar terdengarlah suara berisik dari tindakan banyak kaki. Ang In segera saja lompat untuk melihatnya.

"To It Hang datang!"

Terdengar dia berseru.

Uy Yap segera menoleh, begitupun Giok Lo Sat dan Hui Liong.

Memang juga, It Hang telah bersomplokan dengan rombongan Butong pay.

Sehabisnya pamitan dari Giok Lo Sat, It Hang lakukan perjalanan dengan lenyap kegembiraannya.

Ia biarkan kudanya jalan seenaknya di sebelah belakang Ong Ciauw Hie dan Beng Ciu Hee.

Ia melamun mengawasi pemuda pemudi itu jalankan kudanya sambil berendeng.

Mau tidak mau ia jadi ingat Giok Lo Sat.

"To Sutee!"

Tiba-tiba ia dengar panggilan dari arah depan.

Ia heran dan angkat kepalanya.

Ia tampak serombongan penunggang kuda, yang mendatanginya cepat sekali.

Ong Ciauw Hie yang jalan di depan segera menahan kudanya.

Beberapa penunggang kuda itupun lantas berhentikan kuda mereka, semuanya pada lompat turun.

It Hang segera kenali mereka itu.

Yang paling depan adalah Gie Sin Seng, murid kepala tingkat kedua dari Cie Yang Toojin, atau suheng-nya sendiri.

Di belakang suheng ini ada lima orang lain, di antaranya terdapat Keng Ciauw Lam.

"Mari belajar kenal!"

Kata pemuda kita setelah ia sambut suheng-nya itu, untuk diperkenalkan pada Ciauw Hie dan Ciu Hee.

Ciauw Lam yang sudah kenal pemuda she Ong itu menjadi likat sendirinya mengingat lelakonnya dahulu.

It Hang menanyakan maksud suheng-nya pergi merantau.

"Apakah kau belum ketemu jiesusiok dan samsusiok?"

Sin Seng balik tanya.

"Apa? Apakah kedua susiok pun datang?"

It Hang heran. Sin Seng segera mengucurkan air mata.

"Pada bulan yang lalu tanggal sembilan, suhu telah wafat..."

Kata ia dengan sedih.

It Hang kaget, ia menangis dengan tiba-tiba, tubuhnya terhuyung hampir dia jatuh.

Memang ia pandang gurunya, Cie Yang Tooj in, bagaikan orang tua sendiri.

Sudah dua belas tahun guru itu merawat dan mendidik ia, maka ia ingat budi gurunya yang besar itu, tetapi sekarang, sebelum ia bisa membalas budi, sang guru telah tinggalkan ia untuk selamalamanya, malah tanpa dapat kesempatan untuk bertemu lagi.

Sin Seng tubruk sutee itu agar tidak roboh.

"Jangan bersedih, sutee,"

Ia menghibur, dan ia berbisik.

"Dengan wafatnya suhu, maka kaulah yang mesti bertanggung jawab untuk Butong pay kita!"

It Hang angkat kepalanya. Ia seka air matanya.

"Apa suheng bilang?"

"Suhu telah memesannya supaya kau yang menjadi ahli warisnya!"

It Hang terkejut.

"Tak mungkin!"

Katanya.

"Di atas kita masih ada empat susiok! Kenapa suhu kehendaki aku yang pegang pimpinan?"

"Sebabnya ialah kau bunbu CoanCay, sutee,"

Sin Seng berikan keterangan.

"Kau cerdas dan bersemangat, untuk kemajuan partai kita, kaulah yang dibuat harapan. Semua saudara setujui pesan suhu, semua tidak ada yang tidak memuji suhu telah memilih penggantinya yang tepat!" (Bunbu CoanCay = lengkap pengetahuan ilmu surat dan silat). Sehabisnya mengucapkan kata-katanya itu, Gie Sin Seng terus memberi hormat pada sutee itu, dalam kedudukannya sebagai Ciangbunjin (ketua), kemudian diturut oleh Keng Ciauw Lam dan yang lain-lainnya saudara-saudara seperguruannya. It Hang sibuk membalas hormat itu.

"Inilah hebat,"

Kata dia kepada saudara-saudara seperguruannya itu.

"Soal ketua ini baik ditunda dahulu, nanti sesudah aku pulang ke gunung, baru kita damaikan pula..."

"Tetapi kau jangan ragu-ragu lagi, sutee,"

Sin Seng membujuknya.

"Sekarang baiklah kita tengok dulu jiesusiok dan samsusiok,"

Keng Ciauw Lam mengajak.

"Di mana adanya kedua paman guru itu?"

It Hang tanya.

"Di sana, di Tiat keeCung,"

Sin Sengjawab.

"Ketahuilah bahwa dengan susah payah barulah kami ketahui kau berada di sini,"

Ciauw Lam mengatakannya pula.

"Untuk aku seorang kedua susiok dan saudara-saudara telah melakukan perjalanan jauh dan sukar, sungguh tidak enak hatiku,"

Ujar It Hang sambil menepas air matanya.

"Aku kuatir akan mensia-siakan harapan suhu dan semua susiok dan saudara-saudara..."

Oleh karena ini, It Hang terpaksa berpisahan dengan Ciauw Hie dan Ciu Hee, saking berduka, ia sampai mengeluarkan air mata. Sepasang pemuda-pemudi itupun bersusah hati seperti dia.

"Suheng, mengapa kau berada bersama bocah itu?"

Tanya Ciauw Lam sesudah Ciauw Hie pergi jauh.

"Kenapa?"

Balik tanya kakak seperguruan ini.

"Dia adalah puteranya Ong Kee In. itu penjahat besar dari Siamsay Utara!"

Kata Ciauw Lam.

"Itulah aku sudah ketahui,"

Sahut It Hang.

Mendengar ini.

Sin Seng terperanjat.

Ia adalah murid kepala dalam tingkat kedua tetapi ia adalah saru manusia biasa saja, selagi ia setuju sangat It Hang diangkat jadi Ciangbunjin, dengan melewati padanya, ia juga sangat menjunjung segala aturan dari Butong pay.

"Jadi dia adalah pemuda yang menunggang kuda putih yang dahulu menemani kau di perjalanan?"

Dia menegasi Ciauw Lam.

"Betul,"

Sahut Ciauw Lam. Memang, ketika dahulu ia pulang sehabis mendapat hinaan itu, ia telah beber pengalamannya itu, hingga semua orang Butong mendapat tahu.

"Sutee."

Sin Seng lantas kata pada It Hang.

"kau sekarang telah menjadi Ciangbunjin, maka dalam gerak-gerikmu selanjutnya kau harus berhati-hati karena kau harus menjadi teladan bagi sesama saudara kita."

"Terima kasih, suheng, aku nanti ingat baik-baik nasihatmu ini,"

Kata It Hang dengan terharu.

"Hanya baiklah diketahui, di dalam kalangan Rimba Hijau ada banyak orang-orang gagah sejati. Kita tidak menjadi berandal, aku anggap tidaklah melanggar aturan jikalau kita bersahabat dengan mereka."

"Kau benar juga,"

Sin Seng kata.

"Tapi aku dengar Ong Ciauw Hie itu berkomplotan dengan bangsat perempuan Giok Lo Sal. Kau telah ketahui bahwa Giok Lo Sat itu pernah membegal engkongmu..."

Mukanya It Hang bersemu merah.

"Akan tetapi engkong tidak mendendamnya,"

Kata dia, suaranya tidak tedas. Keng Ciauw Lam menjadi sangat tidak puas.

"Apakah saudara To pernah ketemu Giok Lo Sat?"

It Hang mengangguk.

"Sekarang pikiranku sedang kusut banyak yang aku hendak bicarakan kepadamu, baik lain kali saja,"

Ia berkata "Saudara Keng, pada tahun yang lalu kau telah antar engkongku, aku bersyukur dan berterima kasih kepadamu."

Ia lantas menjura kepada adik seperguruan itu. Dengan tersipu-sipu Ciauw Lam membalas hormat, tetapi mukanya tampak kemerah-merahan.

"Kepandaianku rendah sekali, aku tak berdaya melindungi engkongmu."

Ia mengakuinya "Suheng, walaupun kau tidak tegur aku, sendirinya aku sudah merasa malu."

"Sudahlah, jangan sebut-sebut pula urusan itu,"

Gie Sin Seng memotong.

"To Sutee sekarang telah menjadi Ciangbunjin, maka kau tak usah kuatir di belakang hari dia tidak akan tolongi kau melampiaskan penasaranmu itu!"

It Hang jalankan kudanya perlahan-lahan.

Ia benar-benar sangat kusut pikirannya.

Ia sudah menduganya bahwa saudara-saudaranya itu memusuhi Giok Lo Sat, ia hanya tidak sangka mereka memusuhinya secara demikian hebat, lapun gelisah juga, karena ia tahu waktu itu Giok Lo Sat berada di Tiat keeCung.

Tidakkah, sebentar lagi kedua pihak akan dapat ketemu satu pada lain?

"Sutee, jalankanlah kudamu sedikit cepat,"

Berkata Sin Seng pada saudara itu.

It Hang menurut, ia larikan kudanya.

Maka itu, dengan cepat mereka sampai di rumahnya Tiat Hui Liong.

Dari luar mereka sudah dengar suara keras dari Uy Yap, paman guru mereka, mereka kaget.

Karena ini Sin Seng lantas lompat turun dari kudanya dan nerobos masuk tanpa bicara lagi kepada pengawal pintu, perbuatannya ini diturut oleh saudaranya.

Inipun sebabnya mengapa Ang In segera dapat lihat mereka dan menyerukannya.

Sampainya rombongan ini membikin pertempuran tertunda.

Uy Yap Toojin hendak menyambut murid keponakan itu, yang segera akan menjadi ketuanya, tetapi It Hang mendahului lompat kepadanya, untuk terus memberi hormat sambil berlutut dan menangis.

"Sekarang kau telah diangkat menjadi Ciangbunjin,"

Uy Yap segera memberitahukan sambil memimpin bangun.

"TeeCu tidak berguna, teeCu tidak sanggup pikul tanggung jawab seberat itu,"

Kata It Hang.

"TeeCu minta susiok ajak teeCu pulang, untuk panggil berkumpul semua saudara seperguruan, untuk mereka pilih lain ketua..."

Uy Yap merasa tidak merdeka membicarakan urusan partainya di rumah keluarga Tiat, maka ia jawab keponakan murid itu dengan berkata.

"Begitu pun baik. Tunggulah sampai aku sudah selesai berurusan kepada tua bangka she Tiat ini, baru kita pulang."

Tiat Hui Liong tidak puas yang orang bicara saja.

Ia anggap orang telah menggerecok, dan sebagai tuan rumah ia seperti dikebelakangi dan berbalik menjadi tetamu.

Syukur ia masih ingat Cie Yang Toojin yang ia hargai, j ikalau tidak, pasti ia sudah umbar kemendongkolannya.

Akan tetapi, begitu lekas orang sudah selesai bicara, ia lantas berkata dengan nyaring.

"Uy Yap Toojin, orang yang kau cari sekarang telah berada di hadapanmu, tanyalah padanya, siapa yang aniaya Ceng Kian Toojin!"

Hatinya It Hang bercekat. Segera ia dapat duga, tentu paman gurunya itu bentrok kepada jago tua she Tiat itu disebabkan kebinasaannya Ceng Kian Toojin. Maka lantas saja ia campur bicara.

"Susiok,"

Katanya, kepada Uy Yap.

"Ceng Kian Toojin binasa di tangan muridnya Imhong Tiatsee Ciang Kim Tok Ek. Tiat Lounghiong sendiri justeru hendak pergi ke barat untuk balaskan sakit hatinya imam itu!"

Uy Yap Toojin tercengang. Ia percaya akan katanya keponakan murid atau ketua baru ini. Meskipun dengan muka merah bahna malu, namun ia rangkap juga kedua tangannya kepada tuan rumah.

"Pintoo telah berlaku sembrono, dengan jalan ini pintoo mohon dimaafkan."

Ia memohon secara laki-laki.

"Bilakah Tiat Lounghiong hendak berangkat? Nanti pintoo titahkah muridmuridku turut pergi membantunya."

"Itulah tidak perlu!"

Jawab Hui Liong dengan tertawa dingin.

"Hanya satu hal aku ingin mohon daripadamu. Yaitu tolong kau sampaikan di hadapan arwahnya Cie Yang Tbotiang bahwa aku tak bisa datang mengunjuk hormatku yang penghabisan terhadapnya, sebab pertama ialah aku sedang punyakan urusan sangat penting, kedua karena kita berbedaan golongan aku minta supaya aku dimaafkan. Dari jauh saja aku unjuk hormatku."

Uy Yap bisa mengerti yang orang sedang mendongkol.

"Terima kasih, lounghiong,"

Ia mengucap sambil rangkap kedua tangannya pula Ketika itu It Hang berdiri di samping.

Ia telah diangkat oleh gurunya menjadi Ciangbunjin, tapi ia masih tidak mau ambil kedudukan sebagai ketua partainya itu.

Ketika ia menoleh ke samping, ia dapatkan Keng Ciauw Lam yang mendampingi Ang In Toojin, paman gurunya sedang bisik-bisik pada paman guru itu.

Ia terperanjat.

"Inilah hebat,"

Pikirnya.

Ia tahu bahwa Ciauw Lam murid yang disayang oleh paman gurunya itu.

Ia menduganya tentulah Ciauw Lam minta gurunyanya melakukan pembalasan.

Karena ini, ia lantas menoleh ke arah Giok Lo Sat, yang sedang duduk diam di samping ayah angkatnya Nona itu melihat ke kiri dan kanan seperti juga ia tidak tampak akan terjadi ketegangan.

Ketika secara kebetulan sinar mata mereka bentrok satu pada lain, pemuda ini lekas-lekas menundukkan kepala, hatinya memukul keras.

Uy Yap Toojin anggap urusan telah selesai, ia lantas beri tanda pada Gie Sin Seng beramai untuk mereka pamitan.

Dengan paksakan bersenyum ia kata pada tuan rumah.

"Tiat Lounghiong, maafkan kami, kami mohon pamitan..."

Baru imam ini menutup mulutnya, atau Ang In Toojin berlompat maju.

"Tunggu dulu, suheng"

Kata sutee ini. (Suheng = kakak seperguruan). Uy Yap heran, ia menoleh dengan segera. Tapi Ang In tidak bicara lagi dengan suheng-nya itu, ia hanya terus tunjuk nona di sampingnya Tiat Hui Liong.

"Nona, kau membikin pintoo sangat mengaguminya!"

Demikian katanya.

"Sudah lama pintoo ingin memohon pengajaran darimu, tidak kusangka, hari ini kita dapat bertemu di sini!"

Uy Yap menjadi heran.

"Apakah sutee telah menjadi angot?"

Pikirnya.

"Kenapa sebagai salah satu dari Butong Ngoloo dia bisa mengeluarkan kata-kata menantang terhadap satu nona muda?..."

Tiat Hui Liong sambil tertawa dingin sudah lantas geserkan tubuhnya.

Si nona Giok Lo Sat sebaliknya berbangkit dengan ayal-ayalan, akan dengan ayal-ayalan juga rapikan pakaiannya.

Nampaknya Ang In panas benar hatinya.

Dia maju ke depan nona itu.

Giok Lo Sat bersenyum.

"Ilmu silat pedang dari Butong pay telah menjagoi di kolong langit ini, cara bagaimana aku berani terima pengajaran dari tootiang?"

Kata dia dengan sabar.

"Jikalau kau tidak ingin menyambutnya juga tidak menjadikan apa-apa!"

Kata Ang In sambil mengejek.

"Hm!"

Ia menambahkan.

"Tetapi nona berhutang terhadap Butong pay, sekarang dengan besarkan hati pintoo ingin menagihnya!"

Sepasang alis yang lentik dari Nona Lian terbangun.

"Apa yang hendak ditagihnya?"

Tanyanya, suaranya nyaring.

"Aku minta nona suka potong enam jari tanganmu untuk diserahkan pada pintoo. buat pintoo bawa pulang!"

Jawabnya Ang In Toojin.

Memang waktu di Tengkun san Giok Lo Sat telah perhina murid-murid Butong pay, dengan membabat buntung dua jarinya Keng Ciauw Lam serta empat saudara seperguruannya orang she Keng ini masing-masing satu jari.

Mendengar sampai di situ, mengertilah Uy Yap Toojin sebabnya Ang In jadi gusar dan menantang nona itu.

Nya.talah nona itu bukan puterinya Tiat Hui Liong tapi Giok Lo Sat si bandit wanita yang menggetarkan hatinya orang-orang kangouw.

Ia hanya heran, mengapa nona kosen itu masih begini muda remaja.

Giok Lo Sat tertawa cekikikan, ia tidak menjawab imam itu.

Mendongkolnya Ang In bertambah-tambah, tetapi ia masih tetap berdiri diam saja.

Lebih-lebih tidak berani ia mendahului menghunus pedangnya.

It Hang kalut pikirannya, sehingga tubuhnya bergemetar.

Keng Ciauw Lam lihat sikapnya saudara ini, ia heran, maka diam-diam ia menghampiri.

"Kau kenapa, suheng?"

Tanyanya.

"Tidak apa-apa."

Sahut It Hang dengan perlahan.

"Bangsat perempuan itu sangat liehay ilmu pedangnya, aku kuatir suhu tidak dapat bekuk padanya,"

Kata pula Ciauw Lam.

"maka itu, suheng, baik kau siap sedia, supaya bangsat itu tidak bisa lolos!"

It Hang mengangguk dengan seangguk-angguknyadi luar kehendak hatinya, sebenarnya ia mengharapkan supaya pertempuran tidak akan terjadi.

Dalam keadaan tegang itu, Tiat Hui Liong bertindak ke tengah di antara kedua orang yang saling berhadapan itu.

Ia sekarang tampaknya sangat tenang, ia bisa tertawa riang.

"Anakku, Lian, apakah benar kau punya hutang kepada pihak Butong pay?"

Dia tanya, suaranya nyaring dan nyata sekali.."Bukannya hutang, ayah, itulah hadiah!"

Sahut sang anak sambil tertawa juga.

"Lima murid Butong pay telah piebu dengan aku, pasti sekali tak dapat aku pulang dengan tangan kosong! Itulah aturan dari Hektoo, Kalangan Hitam. Ayah, mungkinkah kau tidak ketahui aturan itu?"

Uy Yap Toojin kembali menjadi bingung. Mengapa mereka itu membahasakan anak dan ayah satu pada lain? Tiat Hui Liong mengusap-usap jenggotnya, ia tertawa gembira.

"Anakku, tentulah kau telah keliru mengenalnya!"

Dia berkata pula.

"Mungkin mereka telah memalsukan namanya Butong pay! Ilmu pedang Butong pay menjagoi di kolong langit, maka cara bagaimana bisa terjadi, lima lawan satu tetapi yang dikerubuti peroleh kemenangan dan yang lima keok?"

Ayah dan anak itu bicara saling sahut, mereka telah membuat An In Toojin serba salah, hatinyapun panas, maka kemudian karena tidak dapat mengendalikan diri lagi.

"Sret!"

Dia cabut pedangnya.

"Giok Lo Sat, kau hendak bayar hutangmu atau tidak?"

Dia menegur dengan bentakannya. Tapi dengan tidak menunggu jawaban si nona lagi ia segera berpaling pada Tiat Hui Liong dan berkata.

"Gunung kami tersembunyi dan sepi, karenanya kami jadi kurang pendengaran, hingga kami tidak ketahui kau ada punya ini satu anak perempuan yang gagah perkasa! Kami telah menagih hutang kepadanya di hadapanmu, perbuatanku ini memang sangat tidak hormat, akan tetapi siapa membunuh orang, dia mesti menggantijiwa, siapa berhutang uang, dia mesti membayar uang juga karena demikian kami terpaksa menagihnya."

Tiat Hui Liong tertawa gelak-gelak.

"Anak perempuanku ini beda sangat daripada anak-anak perempuan lainnya! "dia kata dengan nyaring.

"Apa yang dia perbuat, aku biasanya tidak tahu menahu, maka jikalau memang dia berhutang, pasti dia dapat membereskannya sendiri! Maka itu janganlah kalian menagih kepadaku..."

Ang In Toojin menjadi sangat heran, begitupun Uy Yap, Tidakkah arti kata-kata Tiat Hui Liong ini menyatakan si nona bukan gadisnya?

Justeru pihak Butong pay masih diam saja, Hui Liong menambahkan pula.

"Meskipun demikian, karena aku menjadi orang tuanya, dapat aku berlaku adil,"

Demikian katanya.

"Ingin aku menanya jelas. Apakah Tootiang sendiri yang datang menagih hutang ataukah mereka semua ini, orang-orang pandai dari dua tingkat dari Butong pay. juga hendak menagih hutang bersama?"

Ang In menjadi gusar.

"Asal kau sendiri tidak turut turun tangan, sudah tentu kami dari pihak Butong pay tidak nanti rebut kemenangan dengan mengandalkan jumlah yang banyak!"

Diajawab. Hui Liong tertawa pula.

"Benarkah katamu ini?"

Ia tegaskan, dengan lagaknya mengejek.

"Sebenarnya, meskipun kau ditambah dengan beberapa orang lagi, anakku masih tidak berkeberatan... Asal saja Uy Yap Tootiang seorang dapat mengatasi dirinya, aku si tua bangka pasti tidak akan merasa jemu, suka sekali aku duduk diam menemani padanya!"

Dengan itu Hui Liong maksudkan.

"Asal Uy Yap Toojin tidak turun tangan, biar kau semua maju, kalian tetap bukan tandingannya Giok Lo Sat!"

Pasti sekali Ang In Toojin jadi sangat gusar.

Hui Liong dengan tidak menghiraukan sikap Ang In, ia terus manggut kepada Uy Yap Toojin untuk memberi tanda, lalu ia duduk, perbuatan mana diturut imam itu.

"Giok Lo Sat, apakah kau masih belum hendak hunus pedangiriu?"

Ang In tegur si nona.

"Kau hendak tunggu apa lagi?"

Nona itu bersenyum.

"Titah Tootiang sebagai orang yang lebih tua, aku yang muda tidak berani tidak menurutnya,"

Berkata dia.

"akan tetapi tidak berani aku lancang mendahuluinya, maka silakan tootiang yang mulai."

Ang In mendongkol bukan main.

Selagi ia sangat mendesak, tapi lawannya ada demikian merendah.

Iapun terlebih tua dan seorang suci pula, sedangkan lawan di depannya adalah satu nona biasa.

Terpaksa ia tancap pula pedangnya ke dalam sarung, lalu ia menghampiri dengan serangan tangan kirinya, dua jarinya diluruskan.

Itulah gerakan "Hwaliong tiamCeng"

Atau "Melukis naga menitik matanya".

Dua jarinya itu menyambar ke muka si nona.

Hanya dengan satu kali Giok Lo Sat elakkan serangannya, imam itu telah tubruk tempat kosong.

Tapi menyusul itu imam ini merasakan sambaran hawa dingin di belakangnya, seperti sambarannya senjata tajam, hingga ia kaget tidak terkira.

Syukur hatinya tabah, kepandaiannyapun tinggi, dengan kedua kaki menjejak lantai, tubuhnya imam ini mencelat dalam gerakan.

"Loanyauw Capliu" --"Membungkukkan pinggang, menancap yangliu!"

Tetapi ia tidak mencelat jauh, ia hanya memutar tubuh, untuk memperlihatkan tipu silat Butong pay "Wanyho Lianhoan twie" ---"Kaki berantai burung Wanyho".

Yaitu sambil memutar tubuh, kaki kirinya menjejak ke belakang, mengarah lengan yang mencekal pedang dari lawannya Giok Lo Sat yang telah perlihatkan kegesitannya, kembali pertontonkan kelincahannya.

Ketika kakinya menjejak, sebat sekali ia menyampingkan bahunya yang terancam itu, dengan begitu ia telah lolos dari bahaya.

"Eh tootiang, mengapa kau tidak hunus pedangmu?"

Tanya si nona sambil tertawa manis.

Ia memandangnya secara menarik hati kepada si imam, yang menaruh kaki di depannya.

Diam-diam Ang In akui, inilah untuk yang pertama kali ia hadapi orang sedemikian gesit sebagai Giok Lo Sat.

Nona itu dengan mudah saja dapat selamatkan dirinya dari jejakannya itu.

Iapun bersyukur, karena telah memandang enteng lawan ini, ia bisa lolos dari bahaya.

Uy Yap saksikan pertempuran itu, iapun heran.

Ia belum tahu sampai di mana kepandaian silatnya nona ini, akan tetapi mengenai kengsin kanghu, ilmu mengentengkan tubuh, teranglah si nona ada di atasan Tiat Hui Liong.

Ia juga percaya, bahwa kepandaiannya nona ini bukanlah buah pengajarannya jago dari Tiat keeCung itu.

Sekarang tidak lagi Ang In berani berlaku alpa.

Ia menghunus pedangnya.

"Baiklah,"

Katanya.

"Sekarang aku silakan kau lebih dahulu, nona!"

Suaranya imam ini juga lantas berubah menjadi lunak. Giok Lo Sat bersenyum seperti biasa.

"Maafkan aku."

Kata ia.

Ia menekan belakang pedangnya dengan tangan kirinya, lantas pedang itu dilonjorkan ke depan, selagi senjata tajam itu berkilau berkeredep, kakinya menindak maju di arah tiongkiong, ujung pedangnya menyambar ke dadanya si imam!

Di dalam kalangan persilatan ada disebut.

"Pedang maju ke samping, tumbak menjurus segaris."

Atau.

"Golok jalan di hitam, pedang jalan di hijau."

Itu artinya, pedang mengutamakan kesehatan, dengan senjata pedang, orang kebanyakan menyerang dari samping, kiri atau kajian, jarang yang maju langsung di tengah, tiongkiong.

Maka adalah luar biasa, baru saja mulai.

Giok Lo Sat sudah maju menyerang ke tengah!

Kesannya Ang In terhadap si nona berubah, sekarang ia memandangnya sebagai lawan seimbang, maka itu, walaupun ia diserang bukan dengan cara biasa, tidak lagi ia naik darah.

Ang In Toojin putarkan pedangnya dari samping ke tengah, untuk menangkis serangan.

Tipu silatnya ini ialah yang dinamakan "Sanbu ginCoa"

Baca Juga: Hati Budha Tangan Berbisa 6

Baca Juga: Perguruan Sejati 8

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger