Wanita Gagah Perkasa 2

Eps 2 Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen

Baca online Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen

Cersil Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen.

"selama belasan tahun, tidak ada orang pihak kita yang ketahui di mana dia berada. Orang yang satunya lagi adalah orang gagah liehay dari istana, hanya entah dari dalam barisan Kimiewie atau dari TongCiang. Oleh karena ada turut tokbu dan menteri dalam rombongan penghianat itu. bisa dimengerti kalau mereka ini jauh lebih berbahaya daripada Eng Siu Yang. Setelah ketahui rahasia itu, Lo Kim Hong berangkat pulang dari Kwangwa, tetapi di tengah jalan ia telah dibokong hingga luka parah. Sebelum ia tarik napas yang penghabisan, ia masih bisa beber rahasia itu padaku. Demikianlah aku lantas pergi melamar pekerjaan di Cukeng Kiong. Adalah Lo Kim Hong yang anjurkan aku bekerja pada pemerintah untuk ketahui jelas siapa adanya rombongan penghianat itu."

Baru sekarang Ciauw Hie .

mengerti duduknya hal, bahwa bakal mertua itu bekerja pada pemerintah bukan karena kemaruk pangkat atau batinnya sudah rusak, hanya untuk melakukan tugas mata-mata, suatu pekerjaan berbahaya.

"Sayang, selama lima tahun dalam istana, penyelidikanku masih belum peroleh hasil."

Kata Beng Busu pula kemudian.

"Di dalam istana, pertempuran gelap berlangsung secara hebat sekali ThayCu ada terlebih sadar daripada ayahnya, dia bercita-cita luhur untuk perbaiki pemerintahan, akan tetapi aku kuatir dia sukar lolos dari bokongan. Sekarang aku tidak sudi kalian masuk bekerja dalam istana, aku hanya ingin kalian ingat baik-baik nama Eng Siu Yang itu."

Sehabis mengucapkan kata-katanya itu, napasnya guru silat ini memburu keras. Ciu Hee menguruti bebokong ayahnya itu, hatinya memukul.

"Mana Pek Bin?"

Tanya orang tua itu.

"Dia berada di rumahnya Liu Busu,"

Sahut Ciu Hee.

"Engko Ongyang telah tolong kami dan lantas diajaknya ke sana karena rumah kita ini disegel."

"Kiranya Pek Bin murid kesayangannya,"

Pikir Ciauw Hie.

"pantaslah dia bergaul erat sekali dengan Ciu Hee..."

Kembali timbul kesangsiannya pemuda ini.

"Beng Pehu,"

Kata dia.

"kalau kau pangeni Pek Bin, nanti aku pergi panggil padanya untuk diajak kemari."

Beng Can tertawa meringis.

"Tidak usah, sudah tidak keburu,"

Katanya.

"Ai, Ciauw Hie. kenapa kau masih memanggil pehu padaku'' Kalau nanti aku telah menutup mata, kau dan C iu Hee harus saling sayang menyayangi dan cinta menyintai! Hatiku girang sekali melihat kau ada bersama, aku girang sekali, girang..."

Kata-kata yang belakangan itu diucapkan dengan saling susul, makin lama makin perlahan, sampai akhirnya suaranya jago tua ini habis, begitu lekas ia lonjorkan kedua kakinya, napasnyapun lantas berhenti jalan...

Ciu Hee lantas saja menangis menjerit-jerit, sedang Ciauw Hie segera berlutut untuk memberi hormat sambil manggut beberapa kali.

"Aku nanti minta Liu Pehu urus perkabungan,"

Kata pemuda ini kemudian.

"Pek Bin pun perlu diberi tahu."

"Apakah kau tidak bisa bantu-aku mengurusnya?"

Tanya Ciu Hee sambil terus menangis.

"Buat apa kita minta bantuannya lain orang?"

Kelihatannya Ciauw Hie ragu-ragu.

"Aku... aku..."

Katanya, la berhenti dengan tiba-tiba karena di luar terdengar ada orang mengetok pintu.

"Nanti aku lihat,"

Kata It Hang, yang lantas turun dari loteng, untuk membukakan pintu.

Yang datang itu adalah pesuruhnya thayCu.

untuk menanyakan keselamatannya Beng Busu.

Maka pesuruh itu menyesal sekali mendengar kabar, guru silat itu baru saja putus jiwa.

Tetapi ia datang bukan untuk itu saja.

ia sekalian membawa karcis undangan putera mahkota supaya It Hang suka datang ke istana Cukeng Kiong.

"Tunggu sebentar,"

Kata It Hang, yang terima karcis undangan itu.

Ia mempersilakan telamu itu duduk di thia, ia sendiri masuk untuk salin pakaian.

Kemudian ia pamitan dari Ciauw Hie dan nona rumah.

Ciauw Hie sudah lantas siapkan meja abu untuk bakal mertuanya, maka It Hang pasang hio lebih dulu, sehabis itu.

barulah pemuda sheOng itu tarik It Hang ke dalam kamar.

"Saudara To,"

Katanya dengan perlahan.

"thayCu undang kau, pasti kau akan diberi jabatan. Menurut aku, paling baik kau jangan mau memangku pangkat."

"Aku sedang berkabung, sudah tentu aku tidak boleh memangku pangkat,"

Kata It Hang.

Memang, sebagai orang-orang yang taat kepada adat istiadat, It Hang mesti berkabung tiga tahun penuh, selama itu, tidak hanya ia tidak dapat memangku pangkat, bahkan menikahpun tidak diperbolehkan.

"Apakah saudara pikir hendak bawa jenazah ayahmu pulang ke Siamsay?"

Ciauw Hie tanya.

"Aku memang memikir demikian,"

Sahut It Hang.

"Aku hanya sangsi bisa atau tidak aku mengantarkannya pulang untuk dikubur di kampung halaman sendiri."

"Dengan andalkan kepandaianmu, saudara, ke manapun kau dapat melaluinya,"

Kata Ciauw Hie.

"Cuma satu orang yang kau harus mengingat-ingat dalam hatimu."

"Siapakah dia itu?"

It Hang tegaskan.

"Giok Lo Sat!"

Sahut sahabat ini "Mengapa begitu?"

It Hang tanya pula "Dia telah berselisih dengan pihakmu Butong pay."

Ciauw Hie kasih tahu.

"Mengapa tentang hal itu aku belum pernah mendengarnya dari saudara-saudara seperguruanku?"

"Itulah disebabkan kejadian baru saja terjadi."

Ciauw Hie lantas tuturkan pengalamannya, bagaimana engkongnya sahabat ini "diculik"

Ke atas gunung, bagaimana Keng Ciauw Lam diperhina.

"Sungguh satu penyamun wanita yang busuk!"

Kata It Hang.

Ciauw Hie kerutkan alisnya.

Ia tidak sangka It Hang bisa gusar demikian macam, malah dapat mencaci Giok Lo Sat sebagai "penyamun wanita busuk"!

Karena ini, ---sebab iapun seorang Rimba Hijau ---ia jadi merasa kurang puas.

Maka dengan dingin ia berkata.

"Giok Lo Sat memang telengas, akan tetapi dia adalah seorang yang ganjil dan aneh. maka aku mau anggap dia seorang wanita jantan. Dalam kalangan Rimba Hijau, dia satu nona gagah yang sukar dicari keduanya!"

"Begitu?"

Kata It Hang dengan tawar.

"Jikalau ada kesempatan, ingin sekali aku bertemu dengan dia..."

Mendengar ini. Ciauw Hie terkejut. Ia pernah terima budinya pemuda ini, maka ia tidak ingin melihat sahabat ini antarkan jiwa...

"Saudara To, menurut pendapatku lebih baik kau jangan temui padanya!"

Ia membujuk.

"Kau seorang yang berharga, apabila terjadi sesuatu atas dirimu, sungguh itulah dosaku!"

Sebenarnya It Hang masih tidak puas, tetapi melihat sikap kawannya itu, ia bisa mengatasi dirinya.

"Baiklah kalau begitu, tak usah aku temui padanya"

Katanya.

"Itulah bagus, saudara To,"

Kata pula Ciauw Hie.

"Saudara memang gagah tetapi aku anggap tiada perlunya kau bentrok padanya. Lagipun, kalau nanti saudara pulang ke kampung halamanmu, kau akan ambil jalan di Taytong, melewati Shoasay akan sampai di Siamsay Utara. Kalau saudara tidak pergi ke Siamsay Selatan, sudah pasti kau tidak akan bertemu dengan dia."

To It Hang mengucap terima kasih, lalu ia memberi hormat untuk pamitan. Masih Ciauw Hie membisiki pemuda itu.

"Kalau nanti kau telah pulang ke kampung halamanmu, diumpamakan kau hadapi suatu kesulitan, aku minta kau suka datang ke Yananhu cari aku. Asal saudara sebut namaku yang rendah, mesti ada saudara atau saudara-saudara kangouw yang menunjukkannya."

"Baiklah."

Sahut It Hang yang tidak menyangka bahwa pemuda ini adalah puteranya satu jago Rimba Hijau di Siamsay Utara, sedang tadinya ia menduga kepada seorang kangouw yang licin.

Iapun tidak menegasi di mana letaknya kota Yananhu itu.

Dengan naik kendaraannya putera mahkota, It Hang diantar ke Tangkiong, Istana Timur, ke sebuah kamar yang telah disediakan untuknya.

Ia sampai belum lama.

lantas muncul satu pengawal yang diperintahkan putera mahkota mengundang padanya.

Ia ikut pengawal ini jalan di lorong yang berliku-liku.

sampai di sebuah paseban yang terkurung lankan putih.

Di tempat terbuka di paseban itu, beberapa busu sedang asyik mempertunjukkan ilmu silat.

Menghadapi lapangan itu ada sebuah loteng yang terpajang indah di mana tampak putera mahkota sedang duduk menyaksikan pertunjukan sambil minum arak.

It Hang diantar naik ke loteng itu, maka ia segera memberi hormat pada pemuda agung itu.

ThayCu suruh pemuda ini berbangkit.

kemudian ia perintah pengiringnya sediakan sebuah kursi di sisinya untuk It Hang duduk "Kekacauan semalam telah memberi kesudahan baik."

Berkata thayCu sambil bersenyum.

"Aku percaya dengan adanya menteri-menteri setia dan undang-undang ujar leluhur kami, tidak nanti huhong tidak hukum kawanan penghianat itu. Tadi malam kau bercapai lelah, sekarang mari kita minum." (Huhong = ayahanda raja).

"Terima kasih,"

Kata It Hang.

yang berbareng dapat suatu pandangan baru terhadap putera mahkota ini.

Sejak membangun kerajaannya.

Beng ThayCouw Cu Goan Ciang sudah adakan aturan penganugerahan, ialah putera, atau cucunya diangkat menjadi Hoanong, pangeran atau raja muda dengan kedudukan di luar kota raja.

di perbatasan atau propinsi, dan untuk cegah raja-raja muda itu berkhianat, telah diadakan aturan yang keras, yaitu setiap hoanong tanpa perkenan dilarang pulang ke kota raja.

Sekalipun di daerah kekuasaannya, umpama satu hoanong hendak menyambangi makam leluhurnya, untuk itu ia diharuskan memberitahukan dan minta perkenan terlebih dahulu.

Di antara pelbagai hoanong dilarang mengadakan perhubungan satu dengan lain.

Lebih-lebih setiap hoanong dilarang mencampuri urusan pemerintahan.

Kalau ada hoanong satu kali saja yang melanggar aturan itu.

dia akan dihukum, dipecat dari kebesarannya, diturunkan derajatnya menjadi rakyat jelata, dibuang ke "tembok besar" (penjara) di Hongyanghu seumur hidup.

Inilah aturan yang thayCu namakan undang-undang leluhurnya.

Baginda Sin Cong boleh menyayangi The Kuihui dan Siang Sun, selir dan puteranya itu, akan tetapi Siang Sun telah datang ke kota raja secara diam-diam, dia sudah melakukan pelanggaran leluhur itu, maka andaikata tak dapat dibuktikan penghianatannya pun namun kesalahannya sudah jelas, tak dapat dia luputkan diri dari hukuman.

Di antara menteri-menteri penunjang thayCu, seperti Kouw Hian Seng, Sin Sie Heng, Ong Sek Ciak dan Ong Kee Pin, raja malui terutama Kouw Kian Seng.

Menteri ini telah meletakkan jabatan di tahun Banlek ke-20.

sebabnya ialah perselisihan pengangkatan putcra mahkota, dia pulang ke kampung halamannya di Busek, di mana dia dirikan Tonglim Siewan, yaitu semacam sekolah untuk meyakinkan kebudayaan, sastera dan lainnya.

Banyak sekali orang cerdik pandai dari seluruh negeri yang datang berkumpul dalam sekolah itu, maka di akhirnya mereka dirikan perkumpulan sasteravvan yang diberi nama Tonglim Tong (Partai Hutan Timur).

Mereka berada di luar pemerintahan tetapi pengaruh mereka besar, sebab KouwHian Seng itu adalah penunjang thayCu.

maka raja masih tetap memandang padanya.

Gui Tiong Hian lihat The Kuihui dan puteranya berpengaruh, ia tempel mereka itu, pengaruh siapa ia gunakan untuk merampas kekuasaan atas TongCiang, lalu selanjutnya ia bekerja sama mereka, tapi itu malam, setelah saksikan The Kuihui terancam bahaya, dengan mendadak sontak ia ubah haluan, ia terbaliki selir raja itu, dalam sekejap ia balik berhamba kepada putera mahkota.

Inilah sebabnya kenapa thayCu, yang merasa puas atas kedudukannya, sudah keluarkan kata-katanya itu kepada To It Hang.

Tapi, karena dengar pengutaraan putera mahkota ini, It Hang lantas dapat kesan lain terhadap pemuda agung ini.

"JiehongCu memang keliru, tetapi mereka tetap saudara sedaging, tidak seharusnya thayCu berlaku kejam kepada adiknya itu,"

Pikir pemuda ini.

"JiehongCu berniat khianat, pantas kalau thayCu bekuk dia. tetapi ini belum cukup beralasan akan celakai padanya."

Lantas It Hang ingat, meskipun Beng Busu telah berkorban untuk thayCu.

tapi thayCu itu tidak menunjukkan kesedihannya.

Karena ini, hilanglah separuh keinginannya untuk coba memperoleh bantuannya putera mahkota ini.

ThayCu lihat si anak muda agaknya sedang berpikir, ia tertawa sambil angkat cawannya.

"Kau lihatlah itu orang-orangku mempunyai ilmu enteng tubuh!"

Katanya. It Hang memandang ke bawah. Ia lihat empat orang dengan masing-masing pundaknya "memikul"

Sebatang galah panjang, yang berdiri menjulang ke udara, di atas setiap ujung galah ada menangkel masing-masing satu anak muda, yang tangan kirinya memegang galah dan tangan kanannya menyekal pedang.

Empat pemikul itu jalan memutari lapangan, dari langkah cepat sampai berlari-lari, selama mana, empat anak muda di atas galah itu berbareng mempertunjukkan kepandaiannya sebagai tukang dangsu, umpama menggelantung diri, mendatarkan tubuh dan lainnya It Hang pernah nonton tukang-tukang dangsu di Thiankio.

ia sudah lihat banyak macam permainan, akan tetapi pertunjukan macam ini ia belum pernah menyaksikannya.

Ia lihat empat pemuda ini sangat gesit dan tangkas, mahir permainannya di ujung galah itu.

Dalam keadaan seperti itu, mereka masih dapat tertawa-tawa.

"Bagus!"

Berseru cucunya bekas Congtok To Tiong Liam.

"Ini masih belum seberapa!"

Kata thayCu sambil tertawa.

Ia terus tepuk tangan.

Empat pemikul galah itu berhenti berlari, mereka datang dekat satu pada lain.

untuk nyeplos sana dan nyeplos sini di antara mereka sendiri, atau mereka membalik tubuh atau berputaran, selama mana, empat anak muda di atas galah juga turut bergerak-gerak, yaitu mereka saling tikam atau saling babat, saling berkelit.

"Bagus!"

It Hang kembali memuji.

Ia dapat kenyataan, empat pemuda itu bersilat secara sempurna sekali.

Itupun suatu tanda mereka mahir dalam ilmu mengentengkan tubuh.

Menampak pemuda gagah ini memuji, thayCu kembali tepuk tangannya.

Dari antara rombongan wiesu yang berkumpul di pinggiran, muncul seorang umur lima puluh lebih, yang wajahnya merah dan kumis jenggotnya bagaikan jenggot kambing gunung, tangannya memegang sebatang galah.

Sesampai di tengah lapangan, orang tua ini patahkan galahnya itu.

terus ia tancap dua-duanya di tanah, setelah mana, ia lompat naik akan taruh kaki di masing-masing sebatang galah.

Ia cuma bergoyanggoyang beberapa kali, lantas ia bisa berdiri dengan tetap dan tenang di atas galah itu.

Orang yang tidak mahir ilmu mengentengkan tubuh, tidak nanti dia dapat melakukan yang demikian itu.

"Mari!"

Memanggil orang tua itu begitu lekas ia sudah berdiri tetap.

Empat orang yang memikul galah bergerak, akan jalan memutari si orang tua.

di atas galah mereka masih ada ke empat anak muda Setelah mereka sudah memutar rapi.

mendadak anak-anak muda itu berseru, sesuatunya lantas lompat menyerang dengan pedangnya kepada orang tua itu.

Benar liehay orang tua yang berdiri di atas pelatok galah itu.

Ia tetap berdiri tegak, tetapi kedua tangannya bergerakgerak mengelak dan menyambut empat penyerang yang datang saling susul.

Ia mengelak dari tusukan pedang, lalu ia sambar lengannya penyerang yang terus ditariknya, dibuang ke samping.

Dua orang diperlakukan demikian silih berganti, lalu menyusul dua yang lain.

yang diperlakukan sama.

Setiap pemuda tampaknya seperti terlempar, tapi kesudahannya nyata mereka injak galah pula dengan bertukaran tempat atau kedudukan.

Pertunjukan ini dilakukan berulang kali.

hingga mereka seperti orang-orang yang beterbangan di tengah udara, sangat menarik ditontonnya.

Kemudian thayCu menepuk tangannya pula.

segera semua orang itu berhenti bergerak, empat orang itu turunkan galah dari pundaknya, dan empat anak muda juga lompat turun .ke tanah.

Orang tua yang berjenggot seperti kambing gunung itu bersenyum, iapun lompat turun, akan tetapi kedua batang bambunya tetap menancap di tengah lapangan itu.

It Hang dengan matanya yang jeli.

dapat lihat bahwa kedua batang galah itu telah melesak masuk ke dalam tanah.

Orang tua itu tertawa, ia cabut kedua batang galahnya itu yang meninggalkan dua lubang bekas menancapnya.

ThayCu panggil orang tua itu, untuk diperkenalkan pada It Hang.

"Dia adalah guru silat nomor satu dari SeeCiang, yang huhong telah berikan padaku,"

Kata putera mahkota.

"Dia bernama The Hong Ciauw. Kau pun liehay. Tuan To, maka kau berdua baiklah ikat tali persahabatan."

Hong Ciauw angsurkan tangannya untuk berjabatan.

It Hangsambuti tangan itu, segera ia merasakan, orang telah kerahkan tenaga pada lima buah jarinya yang menjadi keras bagaikan besi, ia menduga ia hendak diuji.

Maka ia segera lemaskan tangannya.

The Hong Ciauw terkejut sendirinya ketika ia merasakan seperti sedang menggenggam kapas, apapula setelah It Hang tarik tangannya secara licin.

"Bagus, inilah Iweekang sempurna!"

Ia memuji.

"Tuan, jikalau kau bukan dari Butong pay, tentu dari Siongyang Pay."

Kaget juga It Hang untuk terkaan orang yang jitu itu. Jadi nyatalah busu ini bukan busu sembarangan.

"Guruku adalah Cie Yang Toojin dari Butong pay,"

Ia beritahukan.

"Aha!"

Seru The Hong Ciauw.

"Kiranya murid pandai dari ahli silat nomor satu di kolong langit ini, pantas kau liehay sekali!"

Karena ini.

orang she The itu jadi hargai si anak muda.

ThayCu ajak It Hang minum, sampai pelesiran itu ditutup, kemudian ia bawa orang ke kamar tulisnya.

Kaisar Sin Cong sudah berusia lanjut, sembarang waktu thayCu bisa menggantikan dia naik atas tahta kerajaan, karena itu.

putera mahkota hendak kumpulkan banyak orang kosen.

Pasti ia ketarik pada It Hang yang muda, gagah dan pintar, bahkan keturunan orang berpangkat besar.

Maka lantas saja ia menawarkan jabatan kepala pengurus istananya pada pemuda ini.

"Terima kasih."

It Hang menampik. Ia unjuk bahwa ia sedang berkabung.

"Itulah bukannya soal,"

Berkata thaytiu.

"Kau bukannya pangku pangkat dalam pemerintahan, kau hanya menjadi tetamu terhormat di dalam istanaku ini. Kedudukan ini tidak merusak kebaktianmu."

"Jenazah ayahku masih harus diangkut pulang ke kampung halaman kami."

It Hang berikan alasan pula.

"Engkong pun sudah berusia lanjut dan tak ada orang yang merawatinya. Aku belum menjabat pangkat, mustahil aku tidak inginkan itu?"

ThayCu kewalahan, tapi iapun kagum. Maka ia menghela napas.

"Sianseng. kebaktianmu harus dipuji!"

Katanya.

"Sejak jaman purba ada kata-kata. menteri setia berasal dari keluarga berbakti, maka itu baiklah, aku tak ingin memaksanya. Tapi aku harap dengan sangat, setelah beres mengurus penguburan jenazah ayahmu, segera kau kembali ke kota raja, supaya aku dapat ketika akan tetap berdampingan denganmu. Tentang perkara penasaran ayahmu, segera aku akan adili. Baik kau menanti beberapa hari di dalam istana."

Begitu sangat permintaan putera mahkota, It Hang tidak dapat jalan untuk menampik lebih jauh.

Lewat beberapa hari, suasana di dalam istana menjadi berubah.

Kaisar Sin Cong boleh menyayangi selirnya, akan tetapi menghadapi ajaran leluhur dan desakan dari pelbagai menteri, tak dapat tidak ia mesti perintahkan jebloskan The Kuihui ke dalam Lengkiong, penjara istana.

Siang Sun juga dipecat dan dikurung.

Dan The Kokkiu mesti dipenggal batang lehernya.

Di samping itu, semua menteri yang terfitnah telah dapat pulang nama baik dan kebersihannya.

Houwpou Sielong To Kee Hian yang telah meninggal dunia, juga diperbaiki namanya dan dianugerahkan sebagai ThayCu Siauwpoo, pelindung muda bagi putera mahkota.

To lt Hang menghaturkan terima kasih kepada thayCu.

hatinya sedikit terhibur juga.

Sampai di sini selesailah insiden "Teng Kie An"

Itu.

The ToahunCu penyerang istana itu.

entah apa sebabnya telah mati di dalam penjara, tentang dia raja tidak ambil tindakan apa-apa.

ThayCupun turut membungkam, karena ia anggap tidak baik ia korek-korek itu.

Sejak itu, Gui Tiong Hian tempel putera mahkota, tetapi di samping itu diam-diam ia terus kumpul pengaruh, ia gunai pengaruhnya di mana bisa untuk berkuasa.

Ia jeri terhadap kecerdasan thayCu, ia senantiasa bertindak secara diam-diam.

Maka di belakang hari, dia bisa timbulkan perkara hebat yang kedua, yaitu "Ang Wan An"

Atau insidan "Pil Merah".

"Sesudah perkara beres, It Hang utarakan niatnya kepada thayCu untuk berangkat pulang, kemudian ia pergi ke PoCu Hotong untuk sambangi Ong Ciauw Hie. akan tetapi untuk kemasgulannya, ia tidak dapat temui pemuda shc Ong itu. tidak juga nona Beng Ciu Hee. entah ke mana perginya mereka itu. Maka ia balik ke istana dengan lesu.

"Sayang."

Kala thayCu ketika ia diberitahukan hal kepergiannya pemuda dan pemudi itu. Karena ini jasanya Beng Busu cuma dicatat tapi gambarnya Ciu Hee dilukiskan untuk nanti dicari guna balas budinya.

"Nampaknya kesayangan thayCu hanya palsu belaka,"

Pikir It Hang mengenai sikap putera mahkota itu. Lagi beberapa hari telah berselang. Sesudah masukkan tulang-tulang ayahnya ke dalam guci emas. It Hang ambil selamat berpisah dari thayCu.

"To Sianseng"' berkata Siang Lok dengan tiba-tiba.

"ada satu orang yang ingin turut jalan bersama kau!"

"Apakah orang sebavvahan thianhee yang hendak pulang ke Siamsay?"

It Hang tanya.

"Benar. Kau hendak lakukan perjalanan ribuan lie mengangkut jenazah ayahmu, bagus ada orang temani kau di sepanjang jalan!"

Berkata thayCu.

"Tunggu sebentar."

ThayCu beri perintah pada satu pengiringnya, yang tidak lama kembali pula bersama satu orang, ialah The Hong Ciauw. si tukang dangsu kemarin ini.

"Dengan kita berdua jalan bersama."

Orang she The itu kata sambil tertawa.

"walau ada penjahat yang banyak lebih liehay. mungkin dapat kita melayaninya..."

It Hang berpikir.

"Bagaimana kalau kita ketemu Giok Lo Sat?"

Ia tanya kemudi.!n Hong Ciauw kaget hingga wajahnya berubah. Tapi cepat juga ia dapat tenangkan diri kembal i.

"Kita dengan Giok Lo Sat bagaikan air kali tidak ganggu air sumur, tidak usah saudara To buat kuatir."

Ia bilang.

Demikian dua orang ini meninggalkan kota raja.

Di sepanjang jalan, mereka omong banyak tentang ilmu silat hingga mereka tidak kesepian.

Selang dua puluh hari lebih, mereka sudah lewati propinsi Shoasay dan sudah memasuki wilayah Siamsay.

Di sini saban-saban ada orang-orang yang menegur The Hong Ciauw, suatu tanda dia banyak kenalannya.

Suatu hari sampailah mereka di Hoaim, maka gunung Seegak Hoasan segera tertampak di hadapan mereka.

It Hang ingat di puncak Lokgan Hong dari gunung itu ada bertinggal Ceng Kian Toojin.

satu imam yang menjadi sahabat gurunya, dan gurunya dahulu pernah pesan untuk dia kunjungi imam tersebut, maka ia lantas utarakan niatnya'pada kawan seperjalanannya itu.

"Bagus!"

Hong Ciauw menyatakan akur."

Kita boleh singgah di sini sampai tiga hari, akupun boleh sekalian tengok beberapa sahabatku."

Keesokannya pagi, lt Hang ajak Hong Ciauw mendaki gunung.

"Hari ini aku ada urusan."

Sahabat itu menampik Tapi ia pesan It Hang supaya kembali siang-siang.

Seorang diri lt Hang mendaki gunung Hoasan.

Ia menuju ke Lokgan Hong yang kedua, satu di antara lima puncak.

Empat puncak yang lainnya adalah Tiauwyang Hong.

Lianhoa Hong.

lntay Hong dan Gioklie Hong.

Gembira lt Hang menyaksikan panorama puncak itu.

Hanya setelah tengah hari dan langit mendung, ia kuatir tertimpa hujan, buru-buru ia hampiri kuil yang ditujunya.

Di situ sudah ada beberapa tetamu lain Selagi menindak di undakan tangga pendopo, It Hang lihat satu nona keluar dari kuil dengan langkahnya yang cepat.

Perhatiannya It Hang tertarik oleh kecantikan nona itu --kecantikan yang mentereng.

"Kasihan kalau ia kehujanan di tengah gunung,"

Pikirnya. Di pendopo, It Hang jumpai satu imam muda. setelah perkenalkan diri, ia minta imam itu antar ia kepada Ceng Kian Toojin. Girang Ceng Kian mendapat kunjungan anak muda ini.

"Mari masuk!"

Ia mengajak ke kamarnya sendiri. Ia suruh kacungnya menyuguhkan teh. It Hang paling dulu sampaikan pesan gurunya untuk menanyakan kewarasannya imam ini.

"Sudah sepuluh tahun aku tidak bertemu gurumu, tak kusangka sekarang ia telah didik kau seorang murid yang cakap!"

Pujinya. It Hang merendahkan diri.

"Paman gurumu yang ketiga. Ang I n Toojin, telah datang kemari sebulan yang lalu."

Kata Ceng Kian kemudian.

"Ada urusan apa samsusiok datang kemari?"

Tanya It Hang.

"Dia datang untuk cari Giok Lo Sat, guna menuntut balas bagi lima murid Butong pay."

Ceng Kian berikan keterangan.

"Menurut dia, lima murid angkatan kedua telah dibabat kutung jari tangannya oleh Giok Lo Sat, yang pun mencaci dan menghina mereka itu. Aku telah membujukinya supaya dia jangan ladeni segala anak muda. kemudian dengan tidak diketahui dia telah pergi entah ke mana. It Hang bercekat. Kembali ia dengar hal Giok Lo Sat. Maka ia membayangkan bagaimana galaknya nona itu yang terjuluk Raksasi Kumala. Selama mereka bercakap-cakap, hujan belum turun, melainkan beberapa kali terdengar bunyi guntur.

"Mungkin akan turun hujan besar,"

Kata Ceng Kian.

"Baik kau bermalam di sini."

It Hang kualiri tulang ayahnya, juga kuaur Hong Ciauw mengharap-harap padanya, maka ia tampik tawaran itu.

"Ada satu sahabatku menantikan aku. aku harus kembali,"

Ia kata.

Ceng Kian tidak menahan lebih jauh, setelah pesan untuk sampaikan hormatnya pada Cic Yang Toojin.

ia antar pemuda ini sampai di pintu depan.

Baru It Hang sampai di tengah gunung, guntur telah berbunyi semakin gencar dan hebat.

"Mungkin hujan akan turun hebat,"

Pikirnya sambil ia memandang ke empat penjuru. Ia lihat sebuah gua, di mana ada terukir tiga huruf "Uyin Tong"

Yang berarti gua "Awan Merah", ia lantas menuju ke situ.

Di depan gua ada tumbuh pohon bambu serta beberapa pohon cemara, juga ada meja dan kursi-kursinya yang terbuat dari batu.

Ia duga itulah tentu perlengkapan yang disediakan oleh imam-imam di situ.

"Inilah tempat yang cocok untuk menghindarkan diri dari hujan,"

Pikirnya.

Baru pemuda ini sampai di dalam gua.

guruh dan guntur bertambah-tambah gencar dan menghebat, hujanpun turun dengan lebatnya.

It Hang masuk terus ke dalam gua.

ia tampak suatu ruang yang terang, di atas sebuah dipan batu ada rebah seorang perempuan, yang ia kenali adalah si nona yang tadi keluar dari kuil.

Si nona tampaknya tidur nyenyak, air mukanya manis sekali.

It Hang tidak berani mengawasi terus-terusan pada nona yang ia tidak kenal itu, juga ia tidak pikir untuk membangun i.

ia kuatir si nona nanti menyangka jelek padanya.

Celakalah kalau ia dianggap ceriwis.

Maka dengan berindap-indap ia kembali ke mulut gua.

Ia cari sebuah batu di atas mana ia duduk bercokol, untuk sekalian bersemedhi.

Hujan turun terus, makin lama makin lebat.

It Hang terus bersemedhi, ia tidak berani menoleh kepada si nona meski satu kalipun, hanya selang sekian lama, waktu ia rasakan hawa sangat dingin, ia kuatirkan kesehatannya nona itu.

Ia merasa kasihan kalau si nona dapat sakit.

"Aku berada hanya berdua, aku mesti indahkan adat kesopanan. Tapi dia terancam bahaya sakit, aku tidak bisa mengantapkannya. Aku harus tolong padanya. Tidak apa kalau ia mendusin dan katai aku tidak tahu adat.."

Tidak sangsi lagi It Hang berbangkit dengan tindakan perlahan ia masuk pula ke dalam gua menghampiri si nona.

Ia buka baju luarnya yang gerombongan, dengan bajunya itu ia keredongi tubuhnya si nona, yang tetap tidur dengan nyenyak, iapun lantas berlalu pula sambil berindap-indap.

Oleh karena ia bertindak perlahan sekali, ia dapat dengar suara membaliknya tubuh dari nona itu.

la masih tidak berani menoleh, tapi ia seqera dengar bentaknya nona itu.

"Hai manusia ceriwis! Kau berani perhina aku?"

Karena dicaci, terpaksa It Hang tunda tindakan kakinya.

"Maaf, nona. Harap kau tidak keliru mengerti."

Katanya dengan sabar sekali.

"Hawa di dalam gua ini sangat dingin, aku kuatir kau dapat sakit, maka aku telah berlaku lancang menutupi tubuhmu dengan jubahku."

"Begitu?"

Kata si nona. Ia lantas menghela napas.

"Coba kemari!"

Pemuda kita heran, ia berpaling. Ia tidak berani awasi langsung nona itu, siapa sudah angkat jubah yang menutupi tubuhnya dan diangsurkan kepadanya.

"Tuan. perbuatanmu tadi sebenarnya aku telah ketahui."

Kata nona itu.

"Nyata kau ada satu kunCu. Seumurku belum pernah aku ketemui orang sopan seperti kau. Kalau orang lain mungkin dia berlaku kurang ajar."

"Ah, dia seorang yang polos,"

Pikir It Hang, tapi mukanya berubah merah juga karena likat.

"Barusan aku damprat kau, itulah perbuatan sengaja dari aku,"

Kata pula si nona.

"Harap kau tidak buat kecil hati."

Mau atau tidak It Hang kerutkan alisnya.

"Diapun seorang yang aneh pula,"

Pikirnya.

"Kenapa dia gampang marah dan gampang baik? Kenapadia anggap cacian seperti barang mainan..."

Nona itu mengawasi, ia tertawa.

"Begini memang tabiatku,"

Ia mengaku.

"Karena adatku inilah yang membikin banyak orang jeri kepadaku. Lain kali pasti aku akan merubahnya."

"Heran!"

It Hang pikir pula.

"Jikalau demikian tabiatmu, buat apa kau merubahnya? Lagipun apa sangkutannya kau merubahnya atau tidak?"

Nona itu masih mengawasi, melihat orang diam saja, ia agaknya kurang puas.

"Kau gusar terhadapku, tuan?"

Tanyanya.

"Ah,..."

It Hang gugup.

"Mustahil aku gusar..."

"Memang aku tahu kau tidak akan gusar!"

Kata si nona, romannya jadi gembira.

"Kau baik sekali. Sejak aku dilahirkan, belum pernah aku ketemu orang semacam kau yang demikian perhatikan aku."

"Ayah dan ibumu bagaimana?"

It Hang tanya "Selagi aku masih belum tahu apa-apa, ayah dan ibu sudah tinggalkan aku dari dunia, yang fana ini,"

Sahut si nona. It Hang menyesal.

"Maafkan pertanyaanku ini,"

Ia mohon.

"Tidak disengaja atau disangkanya, aku telah bangkitkan kedukaanmu."

Tiba-tiba si nona ayun tangannya ke pundak pemuda ini.

Mereka memang berdiri dekat sekali satu dengan lain.

It Hang berkelit diri.

maka tangan si nona lewat di atasan pundaknya itu.

tapi karena sampokannya meleset, tubuhnya nona ini jadi terhuyung dan limbung hendak jatuh.

Menampak demikian, dengan sebat It Hang sambar ujung baju orang, dengan begitu, si nona batal roboh.

Nona itu berdiri menyeringai, agaknya ia jengah.

"Tanah demak dan licin, andaikan tuan tidak sambar aku. tentu jatuhlah sudah aku."

Katanya. Ia tertawa dengan tibatiba, lalu ia menambahkan.

"Bukannya tuan sambar aku. hanya dengan tarik bajuku kau telah pertahankan robohnya tubuhku..."

Merah muka dan kupingnya It Hang. Ia diam saja "Eh, apakah kau juga jeri terhadapku?"

Sekonyong-konyong si nona tanya It Hang heran bukan main.

Aneh sekali nona ini.

Kenapa dia selalu bicara tidak keruan juntrungan?

"Mungkinkah disebabkan dia bersusah hati karena tidak beribu-ayah lagi?"

Ia menduga-duga Lantas ia menjawab.

"Aku hanya merasa kasihan terhadapmu, nona.."

"Apa kasihan?"

Si nona tegaskan, suaranya gemetar.

"Berbareng aku pun kagum."

Berkata pula It Hang.

"Kau hidup sebatang kara dan sekarang seorang diri kau mendaki gunung Hoasan untuk bersujut. Kalau nyalimu tidak besar, tak mungkin kau dapat melakukannya-"

Nona itu tunduk.

"Benarlah apa yang kau katakan itu,"

Katanya.

"Kenapa kau mirip seperti sahabat kekalku? Eh ya, apakah she dan namamu? Aku sampai lupa untuk menanyakannya..."

It Hang perkenalkan dirinya "Dan kau, nona?"

Ia balik menanyakan.

"Aku she Nie, aku belum punya nama"

Si nona menyahut.

"Dapatkah kau berikan nama padaku?"

Waktu itu hujan sudah mulai berhenti akan tetapi angin masih menghembus-hembus masuk, satu kali bajunya si nona kena tertiup bergoyang-goyang, bagus dilihatnya Melihat itu, tiba-tiba It Hang ingat akan kata-kata "Nie siang ie ie" --"Baju bulu, kun kembang".

"Jikalau nona pakai nama Nie Siang, tidakkah itu bagus?"

Katanya. Tapi si nona kaget, hingga wajahnya berubah.

"Siapa kau?"

Tiba-tiba dia membentak.

"Hayo bicara!"

It Hang pun kaget.

"Aku toh To It Hang!"

Jawabnya "Apakah nona anggap nama itu jelek? Kalau nona tidak suka nama itu, akupun tidak memaksanya. Kenapa kau gusar?"

Kedua matanya si nona dibuka lebar-lebar, bijinya memain, sinarnya tajam berpengaruh selagi ia awasi pemuda kita Tapi sebentar kemudian ia menjadi tenang pula.

"Ah, kembali aku bawa adatku..."

Katanya.

"Nama yang kau berikan itu bagus. Baiklah, selanjutnya aku memakai nama Lian Nie Siang."

It Hang seka keringat dingin di dahinya.

"Nona ini sungguh mengejutkan orang..."

Pikirnya. Nona itu lantas tertawa geli.

"Penglihatanku tentu kau pandai ilmu silat. Ada urusan apa kau datang ke Hoasan ini?"

Dia tanya.

"Di kalangan Butong pay aku belajar beberapa jurus saja, tak dapat dikatakan aku pandai..."

Sahutnya It Hang.

"Sekarang aku sedang dalam perjalanan pulang ke kampung halamanku dengan antar tulang-tulang ayahku almarhum untuk dikubur, kebetulan aku lewat di gunung ini, maka sekalian aku mendaki untuk bersujut."

Nona itu adalah Giok Lo Sat sendiri, tidak heran kalau nama yang diberikan It Hang itu membuat ia kaget.

Nie Siang memang namanya sejati dan sekarang orang menyebutkannya, tentu ia telah menduga yang tidak-tidak.

Memang ia beradat aneh.

pasti kelakuannya itu membuat si anak muda bingung.

Tadi pun ia uji anak muda itu yang ia tekan pundaknya dan ia sengaja berlagak terhuyung-huyung, katan>a tanah licin.

Kesehatannya It Hang menimbulkan dugaannya bahwa pemuda ini mungkin pandai ilmu silat.

Tadinya ia curigai It Hang sebagai satu musuh gelap, ia tidak sangka bahwa orang berlaku terus terang.

Maka ia mau percaya It Hang benar-benar tidak mengandung maksud busuk terhadap dirinya.

Lagi-lagi ia tertawa Giok Lo Sat telengas, kalau seandainya It Hang ceriwis dan tidak jujur, mungkin terjadi onar di antara mereka berdua.

"Aku dengar orang mengatakan ilmu silat Butong pay tidak ada tandingannya di kolong langit ini, mengapa kau hanya menyebutnya beberapa jurus?"

Ia tanya.

"Ilmu silat itu tidak ada batasnya,"

It Hang jawab.

"Ilmu silat setiap partai ada bagian-bagiannya masing-masing yang istimewa, maka tidak benar untuk mengatakan suatu partai tidak ada tandingannya. Kenyataan yang tak dapat disangkal ialah Butong pay dan Siauwlim pay memang telah mempunyai riwayat yang sudah lama sekali, setiap jaman muncul jagojagonya, karenanya kaum Rimba Persilatan telah berikan pujiannya. Aku sendiri berbakat tumpul, meskipun belajar kepada guru yang kenamaan, tentang ilmu surat dan ilmu silatku, kedua-duanya aku gagal, tidak berharga untuk disebut-sebut."

Pemuda ini menduga si nona pandai silat, maka ia merendahkan diri.

Nona itu manggut-manggut.

Mendadak ia maju, sebelah tangannya menyambar tangannya pemuda kita.

It Hang kaget tidak terkira.

Tidak sempat ia berkelit dan mukanya menjadi merah sendirinya.

Terpaksa ia menggentak tangannya itu.

Si nona melepaskan cekalannya dengan sengaja.

Jusieru itu terdengar suaranya guruh walaupun hujan mulai berhenti.

"Aku takut, aku takut..."

Katanya.

"Kalau aku sedang takut, tentu aku ingin jambret orang untuk dibuat teman... Mengapa kau menolak?"

It Hang terbenam dalam keragu-raguan. Adakah nona ini berkata benar-benar atau hanya main-main saja? la sangsikan nona ini mempunyai kepandaian ilmu silat Mengawasi si nona, ia agaknya merasa kasihan.

"Jikalau kau takut, nona. mari aku antar kau pulang,"

Ia kata. Giok Lo Sat pergi ke mulut gua, ia melongok.

"Hujan bakal lekas berhenti,"

Katanya.

"Ada orang menantikan aku, tidak usah kau mengantarkannya."

Secara demikian ia tampik tawaran. Masih mereka berdiam di situ, sampai hujan benar-benar sudah berhenti dan mega telah buyar.

"Bagus! Sekarang aku hendak pulang!"

Kata si nona. Hampir It Hang tanya si nona apakah masih mempunyai anggauta keluarga di dalam rumahnya itu, tetapi kapan ia ingat tabiat aneh dari nona itu, ia batal menanyakannya, ia jeri sendirinya.

"Baiklah, aku juga hendak turun gunung,"

Ia kata.

"Silakan kau berangkat lebih dahulu,"

Kata si nona. It Hang lantas bertindak. Baru ia injak mulut gua, mendadak ia dengar nona itu memanggil.

"Tunggu sebentar!"

Demikian suara si nona yang nyaring itu. Pemuda kita berpaling dengan melengak.

"Aku ingin kau janji satu hal,"

Nona itu berkata.

"Kau sebutkanlah, asal yang aku sanggup, pasti aku terima janjimu itu."

Jawabnya It Hang.

"Tentang sekarang kau bertemu dengan aku, aku larang kau beritahukan pada siapa juga!"

Demikian permintaannya si nona. Mendengar itu, It Hang tertawa.

"Itulah mudah sekali, dapat aku mengabulkannya,"

Ia jawab.

"Kita baru saja berkenalan, apa perlunya aku omong kepada lain orang?"

Dengan tiba-tiba matanya si nona menjadi merah.

"Oh, kiranya benar-benar kau tidak perhatikan aku!"

Katanya. Lagi-lagi It Hang menjadi bingung.

"Aku hendak pulang ke rumahku di Siamsay Utara, mungkin di belakang hari kita tidak akan bertemu pula satu sama lain,"

Katanya, yang tak tahu kata-kata bagaimana yang harus diucapkannya.

"Akan tetapi, apabila kemudian kita toh dapat bertemu lagi, pasti aku akan pandang kau sebagai sahahat baik."

Nona itu ulapkan tangannya.

"Baik! Kau pergilah sekarang,"

Kata dia.

Tanpa berkata-kata lagi It Hang turun gunung dengan berlari-lari.

Satu kali ia menoleh ke belakang, samar-samar ia masih tampak si nona asyik berdiri menyender di sebuah batu.

Sesampainya di hotel, pemuda ini ketemukan Hong Ciauw.

"Kau telah pergi mendaki gunung Hoasan, apakah kau dapat ketemu Ceng Kian Tootiang?"

Tanya sahabat seperjalanan she The ini.

"Ya. aku telah bertemu,"

Sahut It Hang.

"Ah, sayang Ceng Kian sudah tidak gemar mengurus segala urusan orang luar..."

Sekonyong-konyong Hong Ciauw berkata. It Hang heran. Kata-kata itu mesti ada artinya "Ada apa. The Cianpwee?"

Ia tanya orang tua itu. Hong Ciauw niat membuka mulutnya tapi saban-saban ia batal.

"Kau mendaki gunung Hoasan, kecuali Ceng Kian Tootiang, siapa lagi orang gagah yang kau ketemukan?"

Akhirnya dia tanya.

"Tidak,"

Sahut pemuda ini.

Tapi dalam hatinya mendadak ia ingat pesan Nie Siang, ia terpaksa dustakan hambanya ThayCu Siang Lok.

Sampai di situ, Hong Ciauw tidak menanyakan apa-apa lagi, maka mereka lalu bicara lain urusan yang mengenai kalangan kangouw.

Malamnya sehabis bersantap, mereka masing-masing masuk tidur.

Tengah malam It Hang mendustn.

Segera ia dengar suara suling di kejauhan.

Ia heran.

Tiba-tiba iapun terkejut, karena ia dengar ketokan perlahan-lahan pada pintu kamarnya.

"Saudara To. coba buka pintu..."

Itulah suaranya The HongCiauw. Pemuda kita turun dari pembaringan, ia angkat palangan pintu dan pentang daunnya. Hong Ciauw masuk menerobos, langsung iabikin api lilin nyala terang.

"Saudara To, kau jeri atau tidak terhadap Giok Lo Sat?"

Tanya dia tiba-tiba tampangnyapun berubah. Ia mendelong mengawasi pemuda kita. It Hang heran.

"Aku ingin kau menjawab dengan sebenar-benarnya kau jeri atau tidak terhadap Giok Lo Sat?"

Mengulangkan sahabat seperjalanan itu, yang sikapnya aneh.

"Belum pernah aku bertemu muka kepadanya tak dapat aku bicarakan soal jeri atau tidak!"

Akhirnya It Hang jawab.

"Kalau kau tidak takut, itulah terlebih baik."

Kata Hong Ciauw. Mendadakan saja ia jadi girang.

"Dia telah culik engkongmu, dia telah perhina saudara-saudara seperguruanmu, untuk itu kau memikir untuk menuntut balas atau tidak?"

It Hang anggap pertanyaan itu agak aneh "Mengenai urusan itu kecuali mendapat titah dari guruku, aku tidak memikirnya untuk ambil tindakan."

Jawabnya.

"Bagaimana seandainya kau bcrsomplokan dengan dia?"

Tanya pula orang she The itu. It Hang jadi semakin heran.

"Mungkinkah Giok Lo Sat ada di sini?"

Dia tegaskan. Hong Ciauw perlihatkan satu jari tangannya "Justeru dia ada di sini!"

Sahutnya. It Hang terperanjat Berkelebat bagaikan kilat, dalam otaknya timbul ingatan, bukankah Lian Nie Siang yang ia ketcmukan tadi siang itu Giok Lo Sat adanya? "Ah, tak mungkin'"

Pikirnya pula.

"Giok Lo Sat katanya jahat, romannya tentulah sangat jelek dan seram tampaknya! Tapi Lian Nie Siang tadi adalah seorang nona yang elok luar biasa, manis dan menggiurkan sekali. Mustahil dia ada di sini?"

La tunduk dengan pikirannya bekerja Menampak sikap orang yang sangsi itu. HongCiauw berkata pula.

"Mengapa baru mendengar saja Giok Lo Sat ada di sini. kau sudah ketakutan?"

"Siapa yang takut?"

Kata It Hang.

"Urusan dia dengan kaumku adalah urusan kecil, kenapa mesti diperbesar? Tidak ada perlunya untuk aku memusuhi dia."

"Dengan demikian, urusan engkongmu diculik itu jadinya kau tidak hendak perdu likan lagi?"

Kata Hong Ciauw dengan maksud membikin panas hatinya pemuda ini.

"Engkong telah pulang dengan tidak kurang suatu apa, kerugian uangnya tidak ada artinya."

"Dan bagaimana urusan dia perhina suheng-mu? Hal itu mempunyai sangkut-paut dengan nama baiknya Butong pay! Apakah kau masih hendak tinggal diam juga?"

"Mengenai urusan partai, aku akan turut titah suhu."

It Hang pastikan.

"Kalau begitu, umpama nanti Giok Lo Sat satroni kau, kau tidak akan memperdulikannya, bukan? Tidakkah itu berarti nama baik Butong pay runtuh di tanganmu?"

Hong Ciauw masih saja mainkan lidahnya yang tajam.

"Dia toh tidak satroni aku."

Hong Ciauw perdengarkan suara dingin.

"Baik aku omong terus terang padamu!"

Katanya.

"Besok malam dia bakal bertempur dengan aku. Kau ada bersamasama aku. mustahil kau dapat berdiam diri tidak mencampurinya?"

It Hang kerutkan alisnya.

Memang, walaupun ia tidak bersahabat kekal dengan Hong Ciauw, mereka toh berjalan sama-sama.

Pun benar juga Giok Lo Sat adalah satru partainya.

Sudah sepantasnya Hong Ciauw tegur padanya.

Di samping itu.

mungkin kaum Rimba Persilatan akan katai ia bernyali kecil, tak berani terhadap Giok Lo Sat.

"Samsusiok mau cari Giok Lo Sat, andaikata sekarang aku bantui orang she The ini, tidak bisa jadi suhu nanti tegur aku..."

Pikirnya pemuda itu terlebih jauh. Maka kemudian ia kata pada Hong Ciauw.

"The LooCianpwee, kalau benar Giok Lo Sat hendak ganggu kau, baiklah, aku nanti lihat dia punyakan kepandaian apa. Hanya sayang aku masih muda dan kebisaanku tidak berarti, dikuatirkan aku nanti tidak sanggup membantu padamu."

Tapi, mendengar itu, sudah bukan main girangnya Hong Ciauw. Ia tertawa dengan sepasang alisnya terangkat naik.

"Bagus, bagus! Ini baru kata-katanya satu laki-laki sejati!"

Pujinya.

"Aku nanti ajak kau temui beberapa sahabat, untuk kita bersama-sama melayani hantu wanita itu!"

Ia tarik tangannya pemuda kita, buat diajak lompat keluar jendela akan terus lari ke tegalan.

Rembulan tampak suram, bintang-bintang pun jarang.

Di kejauhan terlihat titik-titik api kecil.

HongCiauw ajak It Hang berlari-lari sampai keduanya dengar beberapa suara yang aneh kedengarannya.

Mendengar itu Hong Ciauw berhenti lari untuk terus tepuk-tepuk tangan.

Di samping mereka ada kuburan, dari belakang kuburan itu muncul beberapa orang, apabila It Hang sudah melihat nyata ia dapati empat orang dengan tubuh kate dan jangkung tidak berketentuan.

begitupun usia mereka itu.

"Hoan Jieko punya urusan penting dia tidak bisa datang, inilah aku tahu,"

Berkata Hong Ciauw kepada mereka itu.

"tetapi apakah Eng Toako juga tidak turut datang? Tanpa dia, pertahanan kita akan menjadi lemah!"

Satu antara ke empat orang itu menyahut.

"Dia bakal datang pada saatnya yang tepat. Dia hendak membuat kaget pada iblis wanita itu!"

Hong Ciauw tidak kata apa-apa lagi, hanya ia perkenalkan It Hang kepada empat orang itu, ialah Tio Teng dari SiongyangPay, Hoan Tek Giokbin Yauwho Leng Siauw yang baru berumur kira-kira dua puluh tujuh tahun, danCengSiongToojin.

It Hang heran setelah ia ketahui nama empat orang itu.

Tio Teng dan Hoan Tek adalah orang-orang kangouw, tentang Ceng Siong Toojin ia belum pernah dengar, tetapi hal Leng Siauw, yang punyakan julukan si Rase Kumala, ia ketahui bukannya orang kangouw sejati "Saudara To,"

Kata Hong Ciauw kemudian.

"besok malam dengan mengambil tempat di puncak Hoasan, kami bakal tempur iblis wanita itu, sekarang perlu kami berlatih dulu. Kami punyakan semacam cara berkelahi berbareng."

"Cara apakah itu?"

It Hang tanya.

"Sebenarnya kami janjikan tujuh orang,"

Hong Ciauw jawab.

"Kesemuanya itu terdiri dari partai-partai yang berlainan, karenanya berlainan juga kepandaian masingmasing, tetapi untuk layani Giok Lo Sat, kami harus persatukan diri untuk dapat bekerja sama saling membantu. Maka itu, perlulah kami berlatih dulu. Jumlah kami tujuh orang tapi yang satu berhalangan datang, dari itu haruslah saudara To turut kami untuk melengkapkan jumlah itu."

"Walaupun ditambah aku seorang, jumlah kita toh baru enam?"

Kata It Hang.

"Toako kami pasti datang besok malam."

Jawab Hong Ciauw.

"Cara berkelahi semacam barisan pengurung ini dialah yang ciptakan."

It Hang pikir.

"Baiklah, aku ingin saksikan barisannya ini..."

Maka ia tidak berkata apa-apa lagi. Hong Ciauw lantas mulai. Ia tunjuk kedudukan yang harus diambil oleh mereka berenam, yang merupakan sebuah kurungan. Diumpamakan musuh ada di tengah kalangan.

"Kita harus bekerja saling sambut,"

Kata orang she The ini.

tidak boleh ada yang terlambat agar musuh tidak dapat kesempatan akan serang kita.

Kita semua adalah orang-orang kelas satu tapi Giok Lo Sat sangat gesit.

Memang, dengan bertujuh kita tidak sukar untuk mengalahkan padanya, tapi masih sulit untuk dapat membinasakannya, dari itu toako kami ciptakan barisan pengurung ini yang ia namakan CitCiat Tiemo tin ---Tujuh Jalan Buntu Untuk Membinasakan Iblis.

Barisan ini tiga orang jadi penggempur, tiga penjaga di belakang, dan yang ke tujuh sebagai kepala perang.

Kita mesti kurung musuh hingga dia tak dapat meloloskan diri.

Sekarang kita cuma ada berenam, mari kita coba latihan pengurungan saja."

Tio Teng berlima bersiap, maka lt Hang pun lantas menuruti.

Tiga orang segera maju menyerang, lalu disusul oleh tiga yang lain.

Ketika rombongan yang kedua ini mundur, yang pertama sudah lantas menyerang pula.

Secara demikian, mereka menyerang saling susul dengan teratur.

Gerakan mereka mirip dengan TiangCoa Tin-Barisan Ular Panjang, atau "Jieliong Yauwhay" ---Dua Naga Mengaduk Lautan.

Mereka bisa maju mundur dan menyamping ke kiri kanan secara rapi.

It Hang cerdas, segera ia mengerti.

Ia percaya barisan pengurung ini cukup sempurna.

Apalagi kalau orang yang menjadi toako itu pun sudah datang, pasti barisan ini jadi I iehay sekali.

"Fntah ada ganjalan apa di antara mereka dan Giok Lo Sat maka mereka hendak binasakan si Raksasi Wanita itu?"

Ia menduga-duga. Lama juga mereka berlatih, lalu Hong Ciauw beri tanda untuk berhenti, la puas dengan kesudahan latihan itu.

"Saudara To,"

Kata dia.

"kau mainkan ilmu pedang Lianhoan kiam dari Butong pay. dibantu ilmu pedang Hongpo kjam dari Siongyang Pay dari saudara Tio, sungguh bertambah hebat barisan pengurung kita ini."

It Hang diam saja. Setelah itu, Hong Ciauw beber kejahatannya Giok Lo Sat, yang juga dikatakan sebagai pembunuhnya jago-jago Rimba Persilatan.

"Jikalau demikian kejahatannya Giok Lo Sat, sepantasnya saja dia disingkirkan,""

Akhirnya It Hang pikir Selama itu. Dewi Purnama mulai doyong ke arah barat.

"Mari kita pulang!"

Hong Ciauw kemudian mengajak.

"Besok tengah malam kita harus berkumpul di puncak Gioklie Hong..."

Kata-kata ini belum habis diucapkan, tiba-tiba mereka dengar satu suara ketawa ejekan tak jauh di samping mereka, Hong Ciauw segera lompat maju sambil berseru dengan bentakannya.

Perbuatannya itu ditelad oleh Tio Teng berlima.

III Hong Ciauw lompat dengan percuma Di tempat dari mana tadi suara datang tidak kedapatan siapa juga.

Tempat itu tidak terlalu lebat dengan pohon-pohon.

"Mungkinkah Giok Lo Sat mempermainkan kita?"

Tanya Kimkong Ciu Hoan Tek.

"Suara ketawa itu tidak mirip dengan suara wanita,"

Membantah Ceng Siong Toojin.

"Toh bukannya hantu!"

Kata Leng Siauw.

"Mungkin sekali kita yang keliru dengar."

Tio Teng turut berkata.

Hong Ciauw berdiam, ia bercekat hatinya It Hangpun berdiam, akan tetapi ia berpikir.

Ia anggap merugikan pihaknya andaikata suara ketawa itu benar keluar dari mulutnya orangnya Giok Lo Sat, sebab itu berarti rahasia mereka telah terbuka.

"Sudahlah,"

Kata Hong Ciauw akhirnya, yang tampak kawan-kawannya masgul.

"Tidak perduli dia kawan atau lawan, siapa berani terjang barisan CitCiat tin kita, dia mesti terbinasa atau sedikitnya terluka! Buat apa kita mesti takut?"

Oi mulut orang she The ini mengatakan demikian, namun hatinya sebenarnya ciut. Sampai di situ enam orang itu berpisahan. Hanya Hong Ciauw dan It Hang yang pulang bersama.

"Apabila kita juga dapat bantuan gurumu, itu barulah bagus!"

Kata orang she The ini sesampainya mereka di hotel. Ia menghela napas.

"Guruku tidak usilan,"

It Hang kata.

"Aku telah saksikan ilmu pedangmu tadi, yang sempurna sekali,"

Kata Hong Ciauw, yang cari lain bahan.

"maka kalau besok kau dan Siongyang Kiamkek merangsek musuh, kami harapkan benar kepadamu!"

It Hang dapat perasaan tahwa orang sangsikan dia tidak akan membantunya dengan sungguh-sungguh.

"Aku telah berikan janjiku,"

Katanya.

"maka itu walaupun Giok Lo Sat liehay luar biasa, tidak nanti aku mundur!"

"Jangan kecil hati, saudara,"

Hong Ciauw minta.

"Kita akan hadapi musuh tangguh maka sudah sewajarnya aku berkuatir..."

Mereka lantas masuk tidur.

Keesokannya, sehari itu mereka tidak kerjakan apa-apa.

Barulah setelah sore tiba, sehabisnya bersantap, mereka lantas dandan untuk terus mendaki gunung Hoasan.

Malam itu sunyi, bulanpun suram.

Bisa dimengerti kalau mendaki gunung di waktu demikian ada lebih sukar daripada di waktu siang.

Namun Hong Ciauw bisa ajak It Hang naik sampai di puncak Gioklie Hong.

Ketika itu bulan belum naik sampai di tengah-tengah langit.

Tetapi, Ceng Siong Toojin berempat sudah sampai lebih dahulu di puncak itu.

Semua orang itu perlihatkan romam muka muram, menandakan gentingnya suasana.

Mereka duduk di atas rumput dengan tidak ada yang bicara satu sama lain.

"Lihat bulan!"

Tiba-tiba Hong Ciauw berkata. Di empat penjuru, semua tetap sunyi.

"Belum tampak bayangannya Giok Lo Sat,"

Kata Ceng Siong si imam.

"Giok Lo Sat biasanya dapat dipercaya,"

Kata Tio Teng.

"Apa yang aku kuatirkan adalah Eng Toako tak dapat datang pada saat yang tepat..."

"Eng Toako tidak akan salah janji!"

The Hong Ciauw berikan kepastian.

Hatinya It Hang bercekat akan saban-saban dengar orang menyebut-nyebut "Eng Toako", hingga timbul keinginannya untuk menanyakan, siapa namanya toako itu.

Akan tetapi di saat itu segera ia dengar suara ketawa dingin, yang seperti terbawa datang oleh angin, akan segera munculnya pula satu nona yang pakaiannya serba putih.

Bagaikan terbang melayang demikian datangnya nona itu, yang lompat turun dari tempat di atasan mereka.

Dia berdiri di tanah datar dari puncak Gioklie Hong, tampaknya bagaikan bidadari.

Hong Ciauw semua bangkit berdiri, tetapi It Hang berbangkit dengan tercengang.

Ia mimpipun tidak akan sangka si nona justeru adai ah si nona yang kemarin ini iaketemukan di dalam gua Uyliong Tong itu.

"Mungkinkah dia Giok Lo Sat yang dikatakan sangat kejam itu. yang biasa membuat gentar hatinya orang-orang kangouw?"

Berpikir ia.

Ia jadi bingung.

Kemarin ia telah berjanji akan menjadi sahabatnya nona itu, siapa sangka sekarang mereka bertemu pula di sini dalam keadaan sebagai musuh!

Mula-mula kelihatan Giok Lo Sat itu tenang sekali, ia telah perlihatkan senyuman manis, tetapi dalam sekejap saja, air mukanya telah berubah menjadi pucat, lalu air matanya mengembeng dan berlinang-linang.

Mungkin itu disebabkan ia telah lihat pemuda kita dan hatinya jadi hancur...

Hong Ciauw heran bukan main.

Ia telah lihat tegas air matanya si nona.

Itulah aneh!

Apakah yang menyebabkan keluarnya air mata itu?

Kalau tidak lihat dengan mata kepala sendiri, tidak nanti ia dapat mempercayainya.

Giokbin Holie Leng Siauw si Rase Kumala adalah seorang ceriwis, iapun belum belajar kenal dengan keliehayannya Giok Lo Sat si Raksasi Kumala, maka ia tertawa akan saksikan kelakuannya si nona itu.

"Siapa belum sampai di sungai Honghoo, hatinya belum puas! Siapa belum lihat peti mati, air matanya belum meleleh!"

Katanya sambil tertawa.

"Maka itu, Giok Lo Sat, hayolah kau baik-baik menyerah kepada kami, mungkin kami dapat memberi ampun padamu."

Giokbin Holie menyangka si nona jeri. Tiba-tiba wajahnya si nona berubah. Dari berlinangkan air mata, dia bersenyum.

"Terima kasih untuk kebaikanmu..."

Katanya. Hong Ciauw sebaliknya beda daripada Leng Siauw. Ia ketakutan.

"Giok Lo Sat,"

Katanya.

"kau harus hormati kepercayaan kaum kangouw! Sekarang belum sampai saatnya, orang kami belum datang lengkap, kau tidak boleh lantas turun tangan..."

Kata-kata orang she The ini belum berhenti diucapkan atau Giokbin Holie Leng Siauw menjerit sambil memegangi perutnya dan tubuhnyapun mencelat tinggi satu kaki.

Itulah karena senjata rahasianya Giok Lo Sat yang disebut jarum Tengheng Ciam, sudah melesat menyambar si Rase Kumala itu, mengarah jalan darah saintay hiat.

Leng Siauw pandai ilmu enteng tubuh, ia lihat berayunnya tangannya si nona, ia lantas berseru, sambil lindungkan perutnya ia lompat tinggi.

Akan tetapi si nona liehay, setelah serangan yang pertama sebagai ancaman, segera iasusuli serangannya yang kedua dan ketiga, maka senjata jarum yang ketiga itu segera menancap di kaki, kepada jalan darah yongCoan hiat!

Leng Siauw merasakan sakit yang sangat hingga air matanya keluar, akan kemudian jatuh meringkuk di tanah.

Syukur baginya, Ceng SiongToojin segera datang menolong, hingga ia luput dari siksaan penderitaan lebih jauh.

Giok Lo Sat mengawasi sambil tertawa.

"Aku kira dia satu laki-laki yang tidak bisa keluarkan air mata, tapi sekarang nyatalah dia hanya satu bantong!"

GiokLo Sat mengejek. Merah mukanya Leng Siauw, dia bungkam bahna malunya.

"Tahukah kalian mengapa aku datang kemari?"

Kata Giok Lo Sat pula.

"Sebenarnya aku datang untuk sangsheng kalian semua, tapi tidak kusangka di antara kalian terdapat sahabatku yang baru, kasihan dia hari ini telah cari kematiannya sendiri!..." (Sangsheng = mengantar ke kuburan). It Hangtahu si nona bicara tentang dirinya. Di dalam hatinya ia kata.

"Aku juga berkasihan terhadapmu... Kau demikian cantik, mengapa kau sudi menjadi orang jahat? CitCiat tin sangat berbahaya, walau kau gagah, kau juga seperti sedang menuju ke jalan kematianmu..."

Ia awasi si nona dengan alis mengkerut. Giok Lo Sat yang lihat wajahnya It Hang itu berkata.

"Kau... kau..."

Katanya dengan sengit, tetapi ia berhenti di tengah jalan, terganggu oleh sesegukannya yang tertahan...

Hong Ciauw dan kawan-kawan tidak mengerti sikapnya nona ini, walau mereka tahu si nona memang mempunyai adat luar biasa, gampang tertawa dan gampang murka...

Siongyang Kiamkek Tio Teng segera tolak tubuhnya Hong Ciauw, maksudnya supaya kawan ini mulai bergerak mengurung nona itu, agat mereka tidak didahului.

Ketika itu justeru Hong Ciauw sedang memikir untuk minta si nona tidak menyerang dahulu.

Giok Lo Sat di lain pihak menjadi panas hatinya.

Ia penasaran terhadap It Hang.

Ia sekarang beranggapan bahwa It Hang adalah musuh, bahwa kemarin It Hang telah mendustai padanya.

Maka ketika ia lihat sikap musuh yang hendak mulai mengurung padanya, tiba-tiba ia berseru dengan suaranya yang panjang, berbareng pedangnyapun berkelebat.

"Sekarang sudah larut malam, tak dapat aku menunggu lebih lama!"

Begitu ia perdengarkan suaranya.

Dengan gerakan bagaikan kilat, nona ini menikam Hong Ciauw.

Orang she The ini bersenjatakan sepasang Jitgoat lun.

semacam gegaman mirip roda.

dengan roda yang kiri ia menangkis, dan balas menyerang dengan roda yang kanan.

Menyusul itu Ceng Siong Toojin, dengan goloknya.

Kaytoo membacok dari sebelah kiri, disusul oleh Giokbin Holie dengan poankoan pit-nya.

ialah senjata semacam alat tulis, yang menotok dari samping, mengarah jalan darah kwangoan hiat.

Giok Lo Sat menangkis sambil berkelit, namun ia lantas diserang oleh tiga lawan lainnya, yang menggantikan tiga kawannya.

Dengan satu lompatan, ia berkelit dari serangannya Tio Teng, dibarengi ujung pedangnya lewat di atasan pundak lawan itu.

Tapi ia segera diserang oleh Kimkong Ciu Hoan Tek yang liehay tangannya-Tangan Baja (Kimkong Ciu).

Dengan kegesitannya ia masih sempat untuk berlompat pula, ke arah It Hang.

Untuk bela dirinya, It Hang mainkan pedangnya dengan gerakan "Gioktay wieyauw" = "Sabuk kumala melilit pinggang".

Setelah putar pedangnya di sekitar tubuhnya, iapun balas menyerang.

Akan tetapi secepat kilat suatu sinar berkilauan menyambar ke arah kakinya!

Dalam kagetnya It Hang lompat mencelat dengan tipu "Kantee poatCong"

Atau "Mencabut bawang di tanah kering", dengan begitu, pedang si nona lewat di bawahan kakinya.

Sebenarnya nona itu telah berbuat baik terhadap pemuda ini.

kalau tidak, pasti kakinya It Hang kena terbabat pedang, It Hang pun insaf akan kegesitannya nona itu.

Tidak sempat Giok Lo Sat mengasokan diri.

karena terus majunya ke lima musuh lainnya, berbareng atau bergantian, dengan si anak muda she To juga tidak berdiam diri.

Akan tetapi dengan tabah iapun terus melayaninya, di samping menangkis atau berkelit, iapun dapat kesempatan untuk balas menyerang.

"Awas kawan-kawan!"

Berseru HongCiauw, yang saksikan kegesitan nona itu.

Pengurungan dilakukan dengan rapat dan hebat, tetapi hebat juga perlawanannya si Raksasi Kumala.

hanya sampai sebegitu jauh nampaknya nona ini sukar meloloskan diri dari kepungan yang teratur itu.

beberapa kali tikamannya yang berbahaya sia-sia karena ke enam musuh bisa saling tolong, yang satu terdesak, yang lain mendesak.

To It Hang berkelahi dengan sungguh-sungguh, akan tetapi ia tidak beringatan untuk melukai atau membinasakan lawannya, ia keluarkan kepandaiannya ilmu pedang Citcapjie Ciu Lianhoan kiam ---Pedang Berantai Tujuh Puluh Dua Jurus ---hanya untuk melindungkan diri, bukan untuk cari jasa.

Demikianpun si nona, walau dia benci pemuda ini, diapun tidak mempunyai pikiran untuk mencelakainya.

Adalah kemudian sesudah saat-saat berlangsung, dan It Hang dapat bergerak dengan leluasa, si nona mulai hilang sabar, dia menjadi sengit sendirinya.

Dia berkerot gigi.

"Kau tidak tahu diri, baiklah! Jangan kau sesalkan aku!"

Begitu katanya di dalam hati.

Kali ini Giok Lo Sat benar-benar desak pemuda itu.

Di saat segenting itu, dengan sekonyong-konyong terdengar suatu seruan dari sebelah atas mereka, dari mana segera tertampak lompat turunnya seorang tua kurus kering.

"Giok Lo Sat! Kenapa kau tidak hormati aturannya kaum kangouw?"

Demikian tegurnya orang tua itu.

Mendengar seruan itu.

The Hong rjiauw memberi isyarat dengan tangannya, mengajak lima kawannya mengundurkan diri.

keluar dari kalangan pertempuran.

Giok Lo Sat juga lompat mundur.

"Bagaimana kau tuduh aku tidak menghormati kepercayaan?"

Dia berseru.

"Kau sendirilah yang sudah menyalahi waktu1"

Orang tua itu dongak, ia lihat bulan berada di atasan kepalanya. Ia tertawa gelak-gelak.

"Sebenarnya sudah lama aku berdiam di sini menantikan kau!"

Katanya dengan lagaknya memandang enteng.

"Dengan enam saudaraku saja kau tak dapat tobtoskan kurungannya. bagaimana kalau aku turut menceburkan diri dalam rombongan kuninganku?"

"Hm, dia licik!"

Berpikir It Hang.

"Dia sudah datang tetapi dia menonton sambil sembunyikan diri. dia baru muncul sesudah lihat kita menang di atas angin!"

Giok Lo Sat pun tertawa dingin.

"Bangsat tua she Eng!"

Ia mendamprat.

"kau telah bunuh Thayhiap Lo Kim Hong secara pengecut, apakah kau anggap tidak ada orang yang ketahui perbuatanmu itu? Bagaimana dengan beberapa kawanmu ini, segala bangsat cilik? Adakah mereka mengekor kepadamu dengan setulus hatinya atau karena kau telah perdayakan mereka?"

Mendengar perkataannya nona ini, Siongyang KiamkekCeng Siong Toojin agaknya terperanjat.

"Jangan percaya ocehannya bangsat perempuan ini!"

Orang tua kurus kering itu berseru.

"Dialah yang sudah tindas saudara-saudara kita kaum Rimba Hijau di wilayah SuCoan dan Siamsay! Dialah yang lukai piauwsu dari golongan Siongyang pay dan murid-murid Butong pay! Dialah musuhnya kaum Rimba Persilatan! Jikalau sekarang kita tidak singkirkan padanya, di belakang hari dia akan menyebabkan datangnya pelbagai malapetaka yang tidak terkirakan hebatnya!"

Orang tua ini tutup kata-katanya yang berbisa itu dengan ulapan tangannya, sebagai isyarat, atas mana The Hong Ciauvv menyambut tanda itu.

maka bersama-sama lima kawannya, ia mulai menyerang pula si nona.

untuk dikurung kembali.

Sekarang ini lengkaplah jumlahnya CitCiat tin, Barisan Tujuh itu.

Si orang tua kurus kering ambil tempat di tengah, ia menyerang dan menolong enam kawannya bilamana salah satu kawannya ada yang terancam bahaya.

Senjatanya yakni hudtim, semacam kebutan, telah digerak-gerakkan bagaikan pedang Ngoheng kiam yaitu "pedang panca logam", dan alat penotok jalan darah, setiap serangannya selalu membahayakan.

Maka si nona mesti bersungguh-sungguh dalam melayani musuh yang liehay ini.

Ceng Siong Toojin itu adalah sahabatnya Lo Kim Hong si orang gagah yang Giok Lo Sat namakan "tayhiap" (pendekar), maka ketika tadi ia dengar si nona mengatakan tayhiap itu telah dicelakai oleh orang tua kurus kering yang disebut orang she Eng itu.

timbullah keragu-raguanya.

Akan tetapi menampak si nona demikian telengas.

ia bimbang juga.

Iapun sudah kepalang tanggung, bagaikan orang yang menunggang harimau, turun salah, tidak turunpun terancam bahaya...

Maka terpaksa ia berkelahi terus.

Tujuh anggauta CitCiat tin itu masing-masing mempunyai kepandaian sendiri-sendiri.

Giok Lo Sat kewalahan juga, hingga dia bermandikan keringat harumnya.

Tapi ia beradat keras, ia tidak mau angkat kaki.

Ia percaya akan kepandaiannya bahwa dalam keadaan biasa ia tidak nanti terkalahkan oleh ke tujuh lawan itu, apa mau sekarang mereka telah ciptakan pengurungan yang istimewa itu.

Makin lama si nona merasakan ancaman semakin hebat, akan tetapi ia bermata jeli dan otaknya cerdas, ia lantas bisa lihat, di antara ke tujuh lawan itu adalah It Hang yang belum keluarkan sepenuh tenaganya, anak muda ini nampaknya tidak nekat seperti yang lainnya, maka ia lantas gunakan saat ini untuk mendesak pemuda ini, di saat anak muda itu menusuk padanya, ia mengegos sambil terus maju, hingga tubuh mereka berada dekat satu pada lain, di waktu itulah ia segera berkata dengan perlahan.

"Tidak malukah kau menjadi konconya orang busuk?"

It Hang terkejut.

Berbareng dengan itu, pedangnya si nona menusuk ke arahnya.

Sebelum ia sempat berdaya, si orang tua kurus kering sudah mendahului menangkis pedang itu, akan menghindarkan ia dari bahaya.

Giok Lo Sat tidak dapat segera pastikan It Hang telah terpengaruh atau tidak oleh kata-katanya itu, akan tetapi selagi pemuda itu lompat mundur, Hoan Tek telah maju gantikan menerjang padanya, maka ia tangkis penyerang ini sambil terus membarengi menikam, hingga lawannya itu terluka.

Si tua yang kurus itu menduga si nona akan lompat mundur keluar kalangan, ia lantas lompat maju merintangi, sedangkan HongCiauw di lain pihak juga merangsek bersama sepasang senjatanya yang berupa roda kereta.

Hoan Tek terluka tetapi tidak parah, ia justeru menjadi gusar, maka sambil perdengarkan seruan bagaikan geramnya harimau ia lompat menikam.

Akan tetapi dengan kelincahannya, si nona dapat mengelakkan diri.

Si tua kurus kering sudah perhatikan ilmu pedangnya si nona, ia dapati nona itu tidak gampang menjadi lelah, ia menjadi curiga hingga timbut niatnya untuk menegur.

Akan tetapi sebelum ia sempat menegur tatkala 11 Hang, sang kawan, mendadak mencelat ke sampingnya sambil menegur padanya.

"Cianpwee Eng Siu Yang!"

Itulah bukannya serangan melainkan pertanyaan, akan tetapi pertanyaan itu telah membuat terkejut orang tua ini, hingga hampir tanpa berpikir lagi ia menjawab.

"Ya!"

Ia menduga pemuda ini adalah kawannya The Hong Ciauw yang sampai sebegitu jauh ia belum pernah ketemukan.

Maka i apu n lantas memikir juga untuk berikan peringatan supaya anak muda ini waspada terhadap musuh yang liehay itu.

Tapi It Hang sambut peringatan itu dengan tikamannya yang mendadak.

Bukan main kagetnya orang she Eng itu.

"Kau angot?"

Ia menegur sambil kelit diri dari tikaman itu. It Hang tidak memperdulikannya, ia ulangkan tikamannya dengan lebih dahsyat.

"Aku hendak bunuh dahulu kau, penghianat yang berkongkol sama bangsa Boan!"

Teriaknya. Tubuhnya Eng Siu Yang bergidikan, tapi ia masih sempat tangkis tikaman itu. Giok Lo Sat dengar bentakannya It Hang, selagi si kurus kering itu tercengang, iapun berseru.

"Oh, jahanam, kiranya kau berkongkol sama bangsa Boan?"

Lantas ia menyerang dengan tusukannya yang seru sekali.

Dalam ancaman bahaya itu, The Hong Ciauw dan Tio Teng maju menolong saudara yang tertua itu, menyusul mana, Giokbin Holie juga menerjang It Hang dari belakang, dengan incar jalan darah Cietong hiat.

Sambil memutarkan tubuhnya It Hang tangkis bokongan itu, demikianlah keduanya jadi bertarung.

Segera setelah berbaliknya To It Hang, jalannya pertempuran juga turut berubah.

Dari lawan.

It Hang dan Giok Lo Sat menjadi kawan melayani enam musuh.

"To It Hang!"

The Hong Ciauw berseru.

"Kau adalah puteranya seorang pembesar tinggi, mengapa kau berkonco dengan orang jahat? Bagaimana nanti kau membuat perhitungan di hadapan putera mahkota?"

Giok Lo Sat tertawa Ia mendahului It Hang beri jawaban.

"Kau bersaudara angkat dengan Eng Siu Yang!"

Katanya dengan nyaring.

"Yang satu sembunyi di gunung, yang lain mendekam di istana, tetapi sepak terjangmu sama saja. yaitu berkongkol sama. bangsa Boan! Kau tidak dapat loloskan diri!"

Kata-kata ini dibarengi dengan berputarnya pedangnya si nona yang menyerang dengan dahsyat, sinar pedangnya berkelebatan di sekitar tubuhnya.

It Hang turut menyerang dengan tak kurang hebatnya.

Dengan kurangnya satu anggauta.

CitCiat tin menjadi seperti kipa, sebaliknya musuh dapat tambah tenaga menjadi dua orang__ Sesaat kemudian Hoan Tek yang tangannya kuat seperti baja, karena sudah lelah, sedang tadipun dia telah terluka, empat buah jari tangannya kena terbabat kutung oleh pedangnya si nona.

Dia menjerit kesakitan dan terus lompat mundur untuk menjauhkan diri.

Giok Lo Sat tidak berhenti sampai di situ, bagaikan terbang ia lompat maju, pedangnya berkelebat-kelebat di antara HongCiauw beramai.

Kali ini gerakannya itu membuat senjatasenjata musuh disampok terpental, hingga ia dapat merangsek terus dengan leluasa.

Begitulah dengan satu kali mencelat ia telah berada di dekat Hoan Tek, dengan ulur tangan kirinya ia jambak musuh itu.

yang hendak lari kabur.

"Ha-ha-ha-ha kimkong Ciumu tidak sekuat kepunyaanku,"

Si nona mengejek sambil ia angkat tubuh orang yang dijambak bebokongnya.

Lalu ia mengayunkan tangannya, hingga tubuhnya Hoan Tek turut terayun juga.

Hanya satu kali saja, terus ia lepaskan cekalannya.

Maka tubuh si Tangan Baja lantas terlempar melayang ke bawah gunung, dari mana terdengarlah jeritannya yang menggiriskan.

Menampak nasib kawannya yang terbinasa di kaki gunung itu, hatinya Hong Ciauw dan kawan-kawannya menjadi kuncup.

Giok Lo Sat masih terus melancarkan serangannya, ke depan dan belakang, ke kiri dan kanan, agaknya ia ada sangat merdeka.

Di samping itu.

It Hangpun menyerang tidak kalah sengitnya dengan ilmu pedangnya yang mempunyai jurusjurus berantai yakni Citcapjie Ciu Lianhoan kiam.

Eng Siu Yang bersama lima kawannya ada dari kalangan tinggi, akan tetapi melawan sepasang pemuda-pemudi itu, mereka sangat terdesak, selain membela diri mereka tidak mampu melakukan serangan pembalasan.

Beberapa saat telah berselang, si nona menjadi hilang sabar.

"Terpaksa aku membuat pelanggaran pembunuhan!"

Serunya.

"Ceng Siong Toojin! Siongyang Kiamkek! Kalian adalah dari golongan sejati, jikalau kalian tetap masih tidak mau tahu harga diri. mengertilah, batu dan kumala akan hancur lebur bersama!"

Seruan nona ini sebagai pembuka jalan hidup untuk Ceng Siong Toojin dan Siongyang Kiamkek Tio Teng.

Tanpa sangsi lagi, mereka segera tarik pulang senjatanya masing-masing sambil terus lompat mundur dari kalangan pertempuran.

"Terima kasih!"

Mereka mengucap dan terus tari pergi.

Wajahnya Eng Siu Yang menjadi pucat sekali, demikianpun Hong Ciauw yang hatinya menjadi ciut Dalam keadaan putus asa itu.

Eng Siu Yang berbalik menjadi nekat, ia mengayunkan tangannya melepaskan lima buah huitoo, golok terbang, membokong musuhnya.

Giok Lo Sat lihat serangan itu, ia tertawa.

"Segala tembaga rosokan dan besi tua!"

Demikian ia mengejek.

"Apakah gunanya semua itu?"

Ia menangkis dengan pedangnya dengan tubuh berputar sana-sini, dengan begitu ia bikin runtuh ke lima buah huitoo itu, yang terbabat patah dan meluruk jatuh ke kaki gunung!

Serangannya Eng Siu Yang itu sebenarnya hanya suatu siasat belaka.

Dengan serangannya itu ia hendak membuat musuh repot menangkis goloknya itu, lalu dengan gunakan ketika itu, ia lantas lompat mundur, untuk terus jatuhkan diri bergulingan ke kaki gunung!

The Hong Ciauw pun hendak menelad kawannya itu.

Demikian ia lompat melesat sejauh satu tombak lebih untuk menyingkirkan diri.

"Hai, ke mana kau hendak kabur?"

Bentaknya si nona.

Berbareng dengan aksinya Hong Ciauw itu, juga Giokbin Holie Leng Siauw si Rase Kumala niat ambil langkah seribu.

Dan ia, lari ke lain jurusan.

Dalam hal ilmu silat ia kalah dari pada Hong Ciauw, akan tetapi dalam ilmu mengentengkan tubuh, ia mahir.

Maka itu cepat sekali gerakannya.

Giok Lo Sat dapat lihat gerak sikapnya orang itu.

Ia memang jemu terhadap si Rase Kumala yang mulutnya enteng itu.

Maka dengan menyampingkan Eng Siu Yang dan The Hong Ciauw, ia lompat mengejar orang she Leng ini sambil mengayun sebelah tangannya.

Giokbin Holie berkaok hebat, oleh karena tiga batang jarum Tengheng Ciam tepat menancap di tubuhnya, dia tidak bisa lari terus walaupun dia liehay dalam ilmunya mengentengkan tubuhnya.

Dia memaksanya lari dengan terhuyung-huyung.

Giok Lo Sat mengejar dengan cepat, begitu lekas ia sudah datang dekat, ia segera menyerang dengan dua gerakan saling susul.

Pedangnya membabat dan kakinya menendang.

Maka tidak ampun lagi robohlah tubuhnya si Rase Kumala, tergelincir ke kaki gunung!

Menyusul itu,To It Hang berseru.

"Nona Lian! Lebih penting kita bekuk orang she The itu!"

Giok Lo Sat sadar, segera ia memandang ke arah The Hong Ciauw, yang sudah lari sampai di tengah gunung, tubuhnya tertampak bagaikan titik hitam saja. Walaupun demikian, nona ini tidak putus asa.

"Kejar!"

Ia berseru Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari tengah gunung.

"Jangan ibuk! Aku telah wakilkan kalian menangkap dia!"

GiokLo Sat heran dan terperanjat. Ia telah dengar nyata suara itu akan tetapi tak tampak orangnya. Mengertilah ia, bahwa itulah suara yang disebabkan ilmu lweekang "Coanim jipbie"

Yang mahir.

Ilmu menyalurkan suara yang luar biasa.

Biasanya jikalau orang berseru di tempat tinggi, suaranya gampang terdengar dari bawah, akan tetapi tidak demikian apabila keadaan sebaliknya, orang di atas tidak bisa mendengar nyata suara yang datangnya dari bawah.

Sekarang suara itu datangnya dari bawah tapi dapat didengarnya demikian tegas dan nyata.

Nona ini memasang mata.

Segera ia tampak seorang berlari-lari mendaki, akan tak lama kemudian orang itu telah sampai di dekatnya, ialah seorang dari usia kira-kira tiga puluh lebih kurang, mukanya persegi, kedua kupingnya lebar.

Orang itu datang sambil mengempit satu orang, yang ia lantas letakkan di tanah di depannya Giok Lo Sat Tawanan itu adalah The Hong Ciauw.

Selagi si nona mengawasi, orang itupun memandang kepadanya.

"Apakah kau Giok Lo Sat?"

Orang itu bertanya.

"Dan tuan ini siapa?"

Dia maksudkan It Hang, yang sudah menghampiri si nona.

Lian Nie Siang tidak puas ditanya secara langsung demikian.

Julukannya ---Giok Lo Sat, si Raksasi Kumala ---sudah terkenal, akan tetapi ia tidak suka orang menyebutkan julukannya itu di hadapannya.

"Habis kau mau apa?"

Dia jawab dengan tertawa dingin. It Hang sebaliknya, ia menjawab dengan sikap yang menghormat.

"Aku yang muda adalah To It Hang murid Cie Yang Toojin dari Butongsan,"

Demikian jawabannya.

"Akupun mohon tanya, apakah she yang wangi dan nama besarmu dan dari golongan mana?"

"Siauwtee adalah Gak Beng Kie,"

Sahut orang itu. Yang segera melanjutkan.

"Baiklah kita bicarakan dahulu urusan penting, baru kemudian membicarakan kalangan kita. Apa yang pihakmu hendak perbuat terhadap orang ini?"

"Dia tertawan olehmu, kau saja yang memutuskan,"

Sahut Giok Lo Sat Gak Beng Kie tertawa.

"Tidak usah kita ambil tindakan menuruti caranya Kalangan Hitam."

Katanya.

"Mengenai orang ini, aku tidak mengetahui banyak. Apakah dia konconya jahanam she Eng si bangsat tuabangka itu?"

Kembali Giok Lo Sat merasa tidak puas.

Ia dikenal sebagai "lieCat" --penjahat wanita ---akan tetapi tidak suka ia menyebutkannya itu.

Maka itu, ia tidak senang orang she Gak itu menyebut aturan Kalangan Hitam (Hektoo), ia merasa tersinggung kehormatannya...

"Benar, dia adalah konco si orang she Eng itu!"

It Hang wakilkan si nona memberikan jawaban.

"Dia malah bekerja sebagai siewie dari putera mahkota, dia adalah orang gagah nomor satu dari SeeCiang!"

Gak Beng Kie pandang pemuda itu, tiba-tiba ia tertawa.

"Oh, saudara To, kau kiranya orang yang tadi malam berapat bersama mereka itu?"

Katanya.

"Pantas kau kenal dia baik sekali..."

Mukanya It Hang menjadi merah. Tahulah ia bahwa orang ini adalah yang malam itu telah perdengarkan ketawanya tanpa perlihatkan diri.

"Aku menyesal sekali yang aku telah keliru bergaul dengan orang-orangjahat,"

Diaakui.

"Eng Siu Yang sudah berkongkol sama bangsa BoanCiu, aku menduga dia pasti akan jadi penyambut di dalam dari bangsa di tapal batas itu."

Itu waktu The Hong Ciauw, yang rebah di tanah, geraki tubuhnya.

Giok Lo Sat yang matanya liehay dapat lihat itu, dengan sekonyong-konyong kakinya diangkat menendang dagunya orang she The itu hingga dia tak dapat geraki kedua baris giginya, sedang tadinya dia berniat menggigit buntung lidahnya karena insyaf tidak nanti dia dapat lolos dari tangannya ketiga orang ini.

Karena dupakan itu.

mulutnya jadi terus terbuka saja...

Habis mendupak.

Giok Lo Sat tidak gubris korbannya itu.

Dia terus menoleh pada lt Hang, yang ia awasi dengan tajam "Kenapa kau tahu Eng Siu Yang berkongkol sama bangsa Boan?"

Tanyanya. Anak muda itu bersangsi, dia tidak lantas berikan jawabannya.

"Aku memang telah curigai dia berkongkol sama bangsa Boan itu."

Kata pula si nona.

"maka itu selama dua tahun ini, aku saban-saban ubrak-abrik sarangnya, hingga dia terdesak dan tidak berdaya mengumpulkan kambrat. Begitulah sudah terjadi, dia tantang aku untuk membuat perhitungan di puncak Hoasan ini. Aku tidak sangka bahwa kau adalah salah seorang yang dijanjikan itu!..."

Juga Gak Beng Kie.

dengan mata tajam turut mengawasi pemuda ini.

It Hang berpikir, la berkuatir juga, karena salah mengerti telah menjadi menghebat.

Dalam sepintas lalu ia dapat kenyataan si nona sangat telengas, akan tetapi di samping itu dia masih dapat membedakan putih dan hitam, bisa mengetahui benar dan salah, ada semangatnya sebagai seorang gagah.

Di pihak lain, Beng Kie muda dan gagah, mestinya dia ini bukan orang sembarangan.

Maka menghadapi kedua orang itu, It Hang tidak mau berlaku sembrono.

"Agaknya mereka tahu banyak, tapi mereka curigai aku. sudah seharusnya aku omong terus terang kepada mereka,"

Ia menimbang.

Segera ia ambil putusan.

Maka terus ia tuturkan halnya Busu Beng Can serta pesannya, terutama yang mengenai sepak terjangnya Eng Siu Yang.

Kemudian ia juga jelaskan mengapa ia bisa berada bersama The Hong Ciauw, utusannya putera mahkota, yang sekarang ternyata adalah komplotan penghianat Agaknya Giok Lo Sat tersadar, dengan tiba-tiba ia tertawa.

"Memang aku percaya kau bukannya semacam manusia sesat itu,"

Katanya terus terang.

"Jikalau tidak demikian sangkaku, sudah pasti sejak siang-siang jiwamu aku telah bikin melayang!"

Selagi It Hang tercengang dan Gak Beng Kie pun masih berdiam saja, si nona pandang The Hong Ciauw.

"Bagaimana? Apakah kau rasakan badanmu tidak enak?"

Tanyanya dengan tertawa geli.

"Maukah kau jikalau aku kasih obat kepadamu?"

Suaranya si nona lemah lembut, agaknya ia sangat menaruh perhatian.

Hong Ciauw yang lihat sikap dan suara manis budi dari nona itu, mendadak kedua matanya dibuka lebar dan wajahnya memperlihatkan roman ketakutan, semangatnya seperti telah terbang pergi...

Itulah karena ia telah ketahui baik adat tabiatnya si nona yang aneh itu.

Giok Lo Sat tidak dapat jawaban, akan tetapi ia toh angkat kakinya menjejak bebokongny a orang she The itu.

Nampak nona ini menggerakkan kakinya dengan pelahan.

akan tetapi akibatnya hebat bagi Hong Ciauw, yang berjengit kesakitan bagaikan ditusuk-tusuk ribuan jarum, sakitnya dari luar sampai di dalam.

Dia niat gigit putus lidahnya, tetapi dia tidak mampu lakukan itu, oleh karena dia terus tidak bisa merapatkan kedua bibirnya.

Bisa dimengerti penderitaannya yang hebat itu.

"Bagaimana? Apakah kau masih tetap tidak mau berikan pengakuanmu?"

Si nona tanya, menegaskan.

"Benar mulutmu tidak dapat digerakkan akan tetapi kedua tanganmu masih dapat membantu kau mengutarakan sesuatu! Lekas kau tulis di tanah nama-namanya semua kambratmu, atau kau masih hendak merasakan penderitaan lainnya lagi!..."

The Hong Ciauw adalah kepala dari SeeCiang, dia biasa periksa dan mengompes orang dengan pelbagai macam alat siksaan, dia tidak sangka bahwa roda telah berputar, sekarang dia sendirilah yang menjadi pesakitan di mukanya si Raksasi Kumala.

malah dia mesti icipi kompesan yang hebat luar biasa ini.

Tidak ada lain jalan, ia berikan pengakuannya dengan segera Dengan jari tangannya ia mencorat-coret di tanah, menuliskan beberapa nama dengan tulisannya miring tak keruan.

"Apakah kedudukan mereka masing-masing?"

Giok Lo Sat tanya. Hong Ciauw mencoret pula di belakang setiap nama. Tiga nama ditambahkan huruf-huruf "siewie"

Atau pahlawan istana, dan dua nama lainnya ditambah dengan tulisan.

"jago Rimba Hijau".

"Tidak ada lainnya lagi?"

Tanya pula si nona sambil membentak. Kepalanya siewie itu bermandikan keringat, suatu tanda menghebatnya penderitaannya.

"Tidak ada lagi,"

Demikian ia menulis pula.

"Aku tidak percaya!"

Berkata Giok Lo Sat dengan nyaring.

"Toh masih ada itu segala tokbu setempat dan menterimenteri dalam istana!"

"Dengan sebenarnya aku sudah tidak tahu lain-lainnya pula."

Hong Ciauw menulis pula.

"Pangeran Boan itu telah berikan tugas kepadaku untuk menghubungi saja ke lima orang itu."

"Hm! Masih kau hendak menyembunyikannya?"

Kembali ujung kaki si nona bergerak kali ini mengenai pinggang orang.

Sakit luar biasa Hong Ciauw merasakannya, ia sampai bergulingan, ketika ia gunakan jari tangannya akan menulis pula, ia tidak dapat segera menulis huruf apa-apa.

tampaknya dalam penderitaannya itu ia berpikir keras, rupanya untuk mencari nama-nama orang...

Melihat keadaannya The Hong Ciiauw itu, It Hang merasa kasihan.

"Nona Lian, aku percaya dia tidak tahu suatu apa lagi,"

Ia kata kepada si nona.

"Jikalau kau terus paksa padanya, aku kuatir dia nanti menuliskan nama sembarang orang, hingga dia bisa celakai orang-orang yang tidak bersalah dosa."

Giok Lo Sat pandang pemuda kita "Bagaimana kau tahu dia mungkin mengaco-be!o?"

Dia tanya.

"Tidakkah kau lihat wajahnya itu?"

Sahut si anak muda.

"Dia pasti sedang berpikir keras, memikirkan siapa-siapa yang dia bisa rembet-rembet. Betul-betul aku kuatir dia nanti mencelakai orang baik-baik. Lebih baik kau lekas hadiahkan dia kematian."

"Kau sungguh murah hati!"

Kata si nona.

Tapi toh ia terus dupak bebokongnya Hong Ciauw pada urat kematiannya.

Hong Ciauw muntahkan darah hidup, setelah tubuhnya berkelejat.

lantas diam tidak bergerak, napasnyapun berhenti jalan untuk selama-lamanya.

It Hang mendekati Giok Lo Sat, di kuping siapa ia berkata dengan perlahan.

"Aku tidak senang untuk ketelengasanmu ini. lebih-lebih pula dengan tabiatmu yang gusar dan gembira tidak keruan juntrungan! Dengan tabiatmu yang demikian itu, siapa sudi dekati padamu?"

Nona Lian tidak sangka akan dengar pengutaraan itu. Tapi ia tidak menjadi gusar.

"Pantas orang jeri terhadap aku..."

Pikirnya.

"Adatku memang jelek, akan tetapi dengan tiada sebab musababnya orang menjadi takut, itulah tidak menarik hati..."

Karena berpikir demikian, iapun dekati kuping si anak muda.

"Terima kasih untuk nasihatmu yang berharga ini."

Katanya. It Hang tidak menjawabnya, akan tetapi di waktu ia awasi mayatnya Hong Ciauw. tiba-tiba ia perdengarkan seruan kaget.

"Celaka!"

Dia mengeluh.

"Celaka?"

Tanya si nona.

"Celaka apa?"

"Dia dan aku keluar sama-sama dari kota raja,"

Sahut 11 Hang.

"sekarang dia binasa secara demikian rupa, apakah kemudian putera mahkota tidak akan minta dia daripadaku?"

Mendengar demikian, Gak Beng Kie tertawa.

"Inilah gampang!"

Katanya, dan terus ia cabut pedangnya dengan apa ia tabas kutung batang lehernya Hong Ciauw, ia ambil kepalanya dimasukkan ke dalam kantongnya yang terbuat dari kulit.

"Aku kenal baik Him Kengliak, dia sekarang tengah menjalani firmannya raja untuk meninjau pengatasan. Kengliak telah menulis surat padaku, mengajak aku bekerja sama dalam pasukan perangnya. Sebenarnya sekarang ini aku dalam perjalanan ke kota raja, setelah itu barulah aku hendak turut Kengliak pergi ke perbatasan, maka itu, setibaku di kota raja, aku nanti dayakan supaya aku dapat berikan penjelasan kepada putera mahkota."

It Hang girang. Ia percaya sahabat baru ini. Beng Kie pun lantas pamitan.

"Eh, tunggu dulu!"

Giok Lo Sat menahan "Kau sebenarnya orang gagah dari partai mana? Ingin sekali aku belajar kenal dengan ilmu kepandaianmu."

Beng Kie tertawa.

"Kau baru saja bertempur hebat, bukankah lebih baik sekali kau beristirahat?"

Jawabnya. Tampaknya si nona kurang puas.

"Sedikitnya aku masih sanggup layani kau tiga atau lima jurus."

Katanya. Kembali Beng Kie tertawa. lapun sentil-sentil pedangnya.

"Sebenarnya, jikalau bukan karena ingin mengetahui ilmu silatmu, mustahil aku datang ke gunung Hoasan ini..."

Katanya. Terus ia berpaling pada It Hang.

"Saudara To, tadi kau tanyakan aku tentang partaiku, sekarang baik kau tunggu sebentar, kemudian kau tanyakan nona ini, nanti kau dapat tahu!"

Ia menambahkan. It Hang terperanjat "Kita adalah sahabat satu sama lain, untuk apa adu pedang?"

Katanya, dengan maksud mencegah. Ia tidak setuju dengan piebu itu karena ia kuatir salah satu akan celaka. Orang she Gak itu bersenyum.

"Jikalau pemain catur ketemu tandingannya, tak dapat tidak tangan mereka akan menjadi gatal!"

Katanya.

"Saudara To, apabila kau tidak punyakan urusan penting, marilah kau saksikan pertandingan ini!"

Giok Lo Sat lihat sikapnya orang wajar sekali, seperti memandang enteng kepadanya, di dalam hatinya ia mencaci.

"Bocah tak kenal mampus, bagaimana kau ketahui bahwa aku adalah lawanmu yang setimpal?"

Terus ia bertindak ke arah bawah, untuk sengaja berikan tempat yang bagus untuk orang she Gak itu, kemudian dengan angkat pedangnya ke depan dada. ia tertawa dan berkata.

"Silakan kau mulai!"

Beng Kie sudah lantas siap, akan tetapi ia berdiri tegak, matanya mengawasi si nona, siapapun balik mengawasi.

Sampai sekian lama ia masih diam, tidak bergerak, barulah kemudian dengan sekonyong-konyong ia angkat tangannya sambil berseru.

"Awas!"

Seruan peringatan itu disusul dengan pedangnya yang menyambar cepat sekali kepada bahunya si nona.

Giok Lo Sat berkelit, pedangnya digerakkan ke kiri, akan tetapi ia tidak meneruskannya, ia hanya balik menyabet ke kanan.

Secara begini ia balas menyerang.

Beng Kie berkelit sambil memutar tubuh.

Geraknya gesit sekali dari "Poanhong kieCoan"

Atau ''Naga berputar kabur!"

Serangan si nona yang mengarah embun-embunan lawan meleset, dan baru saja pedangnya lewat, ujung pedangnya Beng Kie tiba-tiba menyambar ke dadanya.

It Hang lihat serangan Beng Kie yang berbahaya itu, ia terperanjat.

Tapi si nona pun gesit dan tabah, dengan kasih turun pedangnya, ia dapat membebaskan diri dan pecahkan serangan dahsyat dari lawannya itu, lalu ia teruskan pedangnya diangkat ke atas menusuk mata lawannya.

Baru saja It Hang berlega hati, ia sudah lantas terkejut pula.

Kali ini ia berkuatir untuk sahabat she Gak itu.

Di luar dugaan pemuda she To ini, Beng Kie juga sangat gesit.

Dia dapat menangkis akan punahkan tikaman si nona itu, hingga kedua senjata berbentrok dengan keras, karena Giok Lo Sat tidak keburu tarik pulang senjatanya It Hang dengar kedua yang bertanding itu berseru "Hai!"

Itulah disebabkan masing-masing pedangnya seperti menempel satu pada lain.

Kuiena pedang yang satu agaknya hendak menikam terus, pedang yang lain menekan menghalau tikaman.

Selagi It Hang bengong menonton dengan hati gelisah, mendadak ia dengar seruannya Beng Kie.

"Pergi!"

Lantas ia tampak tubuhnya si nona terapung tinggi seperti terpental. Dan ketika si nona turun, Beng Kie menyerang pula dengan gerakan "Huiniauwtouwlim"

Yakni "Burung terbang nyusup ke dalam rimba".

Itulah serangan hebat dari atas ke bawah.

Hebatnya serangan itu karena dapat bantuan tenaga dari beratnya tubuh.

Untuk bebaskan diri, Gak Beng Kie menangkis dengan gerakan "Kiehwee liauwthian"

Atau "Angkat obor membakar langit"

Maka lagi-lagi kedua pedang beradu dengan keras!

Selagi pedangnya bentrok, Giok Lo Sat gunakan ketika untuk taruh kakinya di tanah dan terus pula mendahului menyerang beberapa kali terus-menerus.

Serangannya yang pertama mengarah bebokong lawannya Hatinya It Hang goncang menyaksikan piebu itu.

Di matanya, itulah bukannya "adu pedang"

Melainkan perkelahian benar-benar, bahkan melebihi hebatnya daripada pertempuran di dalam barisan CitCiattin tadi!

Sampai di situ.

anak muda ini ambil putusan untuk datang sama tengah, untuk menyudahi piebu itu Akan tetapi tengah ia memikir, Beng Kie sebaliknya sudah mulai lakukan serangan balasan, juga beruntun beberapa kali, hingga si nona kena didesak.

Beng Kie telah tempatkan diri pada apa yang dinamakan "tiongkiong" ---"istana tengah", secara, demikian ia dapat ketika akan menghujankan pelbagai tikamannya ke arah dada lawan.

Akan tetapi Giok Lo Sat bisa sapu semua bahaya.

Nyatalah kepandaian mereka seimbang.

Nona Lian perlihatkan kelincahannya, dari depan mendadak ia berada di samping, lalu ke belakang, lantas ke kiri dan ke kanan, atau di lain saat tubuhnya mencelat tinggi, lalu dari atas ia menusuk bagaikan menyambarnya elang, akan di lain saat ia merubah silatnya bagaikan harimau mendekam untuk menerkam mangsanya.

Atau ia bersilat bagaikan ular air sedang berenang berputaran.

Tidak perduli si nona sangat lincah dan berbahaya, Beng Kie dapat melayani dengan gagah, iapun tak kurang lincahnya, tak kurang tabahnya.

Demikian di atas puncak Hoasan itu, yang anginnya menderu, bulan dan bintang-bintang suram, kedua lawan bertempur dengan dahsyat, sinar pedang mereka berkelebatkelebat berkilauan.

Tanpa merasa jurus-jurus telah dilalui, dari belasan sampai puluhan jurus, akan tetapi kedua pihak tetap sama tangguhnya.

It Hang sebagai muridnya satu jago silat kenamaan, merasa kagum menyaksikan pertandingan itu, yang tampaknya melebihi liehaynya ilmu silat Butong pay.

Ia terus memasang mata, sampai kemudian ia berseru keheran-heranan beberapa kali.

Karena ia telah lihat suatu apa.

Dilihat sepintas lalu ilmu silat pedangnya Gak Beng Kie dan Giok Lo Sat adalah berlainan, akan tetapi setelah diteliti dengan seksama agak mirip satu dengan lain, atau sedikitnya ada bagian-bagian yang mirip.

Aneh adalah ilmu pedangnya Gak Beng Kie, yang kalut nampaknya, ada bagian-bagian ilmu silat dari Ngobie pay, Siongyang pay dan Siauwlim pay.

Juga ada jurus-jurus dari Butong pay.

Semuanya itu adalah jurus-jurus dahsyat dari pelbagai partai itu, yang mempunyai perubahan-perubahan istimewa.

Giok Lo Sat pun serupa juga.

kelihatannya ilmu silatnya campur aduk, malah ada gerakan-gerakan yang bertentangan dengan ilmu silat pedang seumumnya.

Umpama dalam ilmu partai Hoasan pay, yaitu ilmu silat "Kimtiauw tianCie"

Atau "Garuda emas pentang sayap". Pedang seharusnya dimulai dari kiri ke kanan, tapi si nona memulainya dari kanan lalu ke kiri. Juga ilmu silat "Bu Siang toatbeng"

Atau "IbJisBu Siang merampas jiwa"

Dari Butong pay, seharusnya dimulai dari atas ke bawah, tapi si nona menyambar dari bawah ke atas, terus menikam ke tengah!

Kelitan atau elakan Beng Kie pun tidak berketentuan.

Umpama Giok Lo Sat serang ia, dengan "Bu Siang toatbeng", ia mengelakkannya justeru dengan "Bengto Cianlie"

Atau "Onta pesat"

Dari Soatsan pay. Atau selagi diserang dengan "Kimtiauw tianCie"

Ia menangkis dengan serupa tipu silat itu juga, menurut gerakan yang layak, yang hanya diubah sedikit saja.

Lain keanehan dari anak muda itu adalah ia seperti sudah bisa duga lebih dahulu si nona bakal serang ia dengan tipu silat apa maka ia menangkisnya dengan serupa tipu itu juga, tampaknya ia seperti mengejek-ejek nona itu.

Inilah sebabnya, walaupun mereka bertempur dengan hebatnya, mereka tetap sama gagah dan sama pandai.

Pertandingan masih terus berlangsung.

Selagi It Hang terbenam dalam kekaguman, ia disadarkan oleh seruannya Beng Kie pula.

"Pergilah!"

Dan seruan itu disusul pula dengan terapungnya tubuh si nona, yang mencelat sampai tingginya satu tombak!

Giok Lo Sat tidak nampak bahaya karena melesatnya itu, ia bisa taruh kaki dengan sempurna, begitu lekas ia memutar tubuhnya, ia hendak maju menyerang pula.

akan tetapi mendadak si anak muda berseru.

"Sudah cukup, tidak ada faedahnya kita bertempur terus! Di mana adanya gurumu sekarang? Bukankah isinya kitab ilmu pedangnya telah diwariskan semuanya kepadamu? Sekarang lekas kau pergi kepada gurumu untuk beritahukan bahwa Thian Touw Kiesu sedang menantikan dia guna membuat pertemuan!"

Giok Lo Sat segera tarik kembali pedangnya.

"Guruku, atau dapat dikatakan juga gurumu, telah menutup mata sejak tiga tahun yang lampau!"

Sahutnya. Gak Beng Kie tampak terkejut.

"Siapa yang aniaya padanya?"

Tanyanya seraya angkat pedangnya.

"Dia sendiri yang telah ambil jalan sesat, tidak ada sangkutannya kepada siapa juga"

"Bagaimana dengan jenazah dan kitab ilmu pedangnya?"

"Jenazahnya berada di dalam kamar batu di ruang belakang gua UyliongTong. Jikalau kau geser dua potong batu besar yang menyerupai pintu angin di ruang gua itu, segera kau akan mendapatkannya. Dengan menuruti pesannya terakhir, pada hari ulang tahun ketiga dari menutup matanya, aku telah sampaikan berita tentang meninggalnya itu kepada Ceng Kian Tootiang. Sebenarnya aku hendak mohon perantaraannya Ceng Kian Tootiang untuk menyampaikan berita lebih jauh kepada gurumu, akan tetapi karena sekarang kau telah berada di sini, pergilah kau sendiri saja yang mencarinya!"

"Tolonglah kau antarkan aku."

BengKie minta.

"Tidak!"

Sahut Giok Lo Sat dengan tertawa dingin.

"Dua orang yang sama-sama berilmu tinggi tidak dapat berada bersama di suatu tempat! Kau tunggu lagi sepuluh tahun, kita nanti bertemu pula untuk kembali piebu pedang!" (Piebu -adu silat). Lalu, setelah melambai-lambaikan tangannya kepada To It Hang, nona itu gunai ilmu enteng tubuh lari turun gunung. Gak Beng Kie saksikan kelakuannya nona itu, ia menghela napas.

"Tabiatnya Giok Lo Sat mirip benar dengan tabiat gurunya,"

Ia kata.

"Ilmu silatnya sungguh mahir, hanya dia terlalu jumawa,"

Kata It Hang..Akan tetapi Beng Kie berkata seperti kepada dirinya sendiri.

"Entah di mana letaknya gua Uyliong Tong... Gunung Hoasan ini mempunyai lima puncak, di mana aku harus mencarinya?"

"Aku tahu gua itu,"

Kata It Hang. Hatinya si orang she Gak lega.

"Sukakah kau mengantarkan aku?"

Dia mohon.

"Baiklah,"

Jawabnya si orang she To.

"Mari!"

Mereka lantas jalan bersama.

Dari puncak Gioklie Hong mereka jalan mutar ke puncak Intay Hong.

Selama di tengah jalan, Beng Kie tuturkan It Hang kisah gurunya suami isteri.

Gurunya Beng Kie ialah Thian Touw Kiesu, orang asal she Hok dan namanya Thian Touw.

Sebutan Kiesu ialah orang yang hidup menyendiri.

Pada tiga puluh tahun yang lalu.

Thian Touw adalah ahli pedang yang kenamaan.

Isterinya.

yaitu Leng Bok Hoa.

juga satu ahli silat pedang.

Suami isteri ini hidup dalam sebuah gubuk di puncak gunung Ngobie san, hidup seperti dewa-dewi.

Mereka saling menyinta.

kecuali Bok Hoa mempunyai semacam perangai aneh.

ialah kadangkadang datang angotnya, tak suka ia mengalah dari suaminya...

Hok Thian Touw terus meyakinkan ilmu silat pedang, juga dari pelbagai partai lainnya.

Setelah banyak tahun, ia merasa bahwa ia telah peroleh kesempurnaan, maka pada suatu hari berkatalah ia kepada isterinya.

"Lagi dua puluh tahun aku akan berhasil menggodok ilmu silatnya pelbagai partai untuk dijadikan satu cabang tersendiri, hingga selanjutnya ilmu pedangku itu tidak akan ada tandingannya lagi di kolong langit ini! Maka itu hayolah kau angkat aku sebagai gurumu, supaya kita bisa sama-sama meyakinkannya terlebih jauh, jikalau kau tidak mau angkat aku sebagai guru. aku tak sudi buka rahasianya ilmu pedang itu kepadamu..."

Sebenarnya Thian Touw hanya berguyon saja, akan tetapi kali ini di luar dugaannya, ia telah membangkitkan tabiat aneh dari isterinya itu, yang besar kepala. Sambil bertawa dingin Leng Bok Hoa kata.

"Kau bisa ciptakan suatu cabang tersendiri, aku juga sanggup, maka tak sudi aku angkat kau menjadi guru! Baik. dua puluh tahun kemudian kita adu kepandaian masing-masing untuk buktikan siapa di antara kita yang terlebih tangguh!"

Thian Touw menyangka isterinya pun main-main, ia ganda dengan tertawa.

Akan tetapi keesokannya ia menjadi sangat terkejut dan mencelos hatinya.

Di luar tahu ia isterinya sudah pergi sambil bawa juga bukunya tentang ilmu pedang yang ia telah kumpulkan dengan susah payah.

Maka dapat dimengerti kesedihan hatinya.

Karena ini.

ia turun dari gunung, ia menjelajah pelbagai tempat atau gunung untuk mencari isterinya itu, tetapi sia-sia belaka, ia tak berhasil menemukan isterinya, akhirnya ia putus asa, sehingga ia tak sudi kembali ke gunungnya.

Begitulah ia menuju ke barat utara, ia tertarik akan keindahan gunung Thiansan, maka ia terus tinggal di Pakkho Hong.

yakni puncak utama dari gunung Thiansan itu.

"Isteriku keras niatnya menciptakan sendiri suatu cabang ilmu silat pedang, aku juga harus berbuat demikian,"

Pikirnya kemudian.

Ia mengharapkan kalau nanti tiba kepada saat janji isterinya, ia bisa main-main melayani isteri itu.

Walaupun Thian Touw Kiesu telah kehilangan kitabnya, karena otaknya terang dan kuat, ia dapat mengapalkan sesuatunya di luar kepala, maka itu sambil mengingat-ingat, ia yakinkan ilmu silat ciptaannya itu.

yang ia beri nama Thiansan kiamhoat ialah ilmu pedang Thiansan dari Thiansan pay, untuk memperingati gunung Thiansan itu.

Gak Beng Kie adalah murid yang Thian Touw Kiesu terima setelah tiga tahun ia berdiam di Thiansan, murid ini belajar sambil turut ia memahamkan lebih jauh ilmu pedangnya itu, hingga berhasilnya ilmu pedang ciptaannya itu, sedikitnya ada mengandal juga kepada kerja sama muridnya ini.

Baru selang dua tahun yang lampau, Thian Touw Kiesu dengar kabar dari sahabatnya kaum Rimba Persilatan (Bulim) bahwa dalam kalangan Rimba Hijau (Loklim) di Siamsay Utara sudah muncul satu nona cantik yang liehay ilmu silatnya.

Maka teringatlah ia akan kata-kata isterinya dahulu, yang sehingga kini tepat dua puluh tahun sejak isterinya ngambuldan minggat...

Waktu itu Gak Beng Kie sudah turun gunung, akan tetapi karena diterimanya warta itu, Thian Touw Kiesu panggil datang muridnya itu untuk menerangkan perihal ia dan isterinya yang adatnya aneh.

Ia titahkan murid ini pergi ke Siamsay, untuk cari nona gagah itu, untuk ketahui siapa adanya nona ini.

"Itulah sebabnya kenapa tadi aku layani dia adu pedang,"

Beng Kie menjelaskan lebih jauh.

"Setelah bertempur sekian lama. aku dapat kenyataan ilmu pedangnya nona itu beda dengan ilmu pedangnya guruku, karena itu aku percaya benar dia adalah muridnya suboku itu." (Subo. = isteri dari guru, atau guru perempuan) Oleh karena mereka berdua jalan sambil pasang omong, hampir tanpa merasa mereka telah sampai di UyhongTong, Gua Naga Kuning. It Hang masuk lebih dahulu ke dalam gua itu. hingga ia seperti dapat mencium sisa bau harum yang membuat otaknya melayang kepada Giok Lo Sat, si Raksasi Kumalayang elok dan manis... Beng Kie ikut masuk, benar-benar mereka dapatkan dua potong batu besar yang letak dan romannya bagaikan pintu angin. Tidak ayal lagi pemuda she Gak itu kerahkan tenaganya menolak kedua batu itu yang tergeser ke kiri dan kanan, terbukalah lowong untuk mereka masuk ke ruang dalam dari gua di mana tampak duduk di atas sebuah kotak batu gua bagaikan sinkham, ada satu rerongkong manusia lengkap. Beng Kie menduga itu tentu rerongkong guru perempuannya, maka tidak sangsi-sangsi lagi segera ia berlutut di depan rerongkong itu, untuk paykui tiga kali, setelah mana, ia memandang ke sekitar ruang, hingga ia lihat di tembok gua itu terdapat pelbagai ukiran dari jurus-jurus ilmu pedang. Akan tetapi ketika ia cari kitab yang dimaksudkan, ia tidak dapat ketemukan.

"Pastilah subo telah memusnahkannya setelah dia berhasil memahaminya,"

Ia menduga-duga. Lagi sekali ia paykui, di dalam hatinya ia berkata kepada subo-nya itu.

"Sunio, hari ini tcelju hendak bawa kau pindah ke Thiansan supaya kau dapat berkumpul pula dengan suhu. TecCu minta dengan sangat perlindunganmu supaya sunio tidak membuat rusak tulang rerongkongmu!"

Murid ini berbangkit, dengan perlahan-lahan ia angkat rerongkong guru perempuan itu.

Tapi justeru rerongkong itu diangkat, ia dapatkan di bagian tempat duduk ada satu j ilid buku yang kulitnya terbuat dari kulit kambing, buku mana ternyata memuat pelbagai lukisan yang satu sama lain mirip dengan ukiran-ukiran di tembok gua itu.

Di dalam beberapa lembaran kedapatan huruf-huruf yang ditulisnya dengan darah.

Setelah membaca itu, Beng Kie ketahui itulah "catatan sehari-hari"

Dari sang subo.

Menarik adalah catatan yang pertama.

Di situ Leng Bok Hoa menulis, mengutarakan penyesalannya bahwa ia sudah tinggalkan suaminya, sehingga sering di waktu malam ia bermimpikan suami itu, maka ia gigit berdarah jari tangannya, untuk menulis catatan itu.

Ia berpengharapan kalau nanti dua puluh tahun kemudian mereka saling bertemu pula, catatan itu bisa dijadikan bukti tentang penyesalan dan cintanya yang sejati.

Catatan yang lainnya adalah mengenai rahasia ilmu pedang.

Subo itu menulis.

"Thian Touw telah dapat kumpulkan ilmu silat pedang pelbagai cabang persilatan, ia hendak menciptakan satu cabang sendiri, dan aku sebaliknya menciptakan cabang yang berlawanan daripada peryakinannya Thian Touw itu. Caraku adalah mendahului, mengutamakan kesehatan. Maka biarlah ahli-ahli pedang nanti mengetahui tentang ilmu silatku ini, supaya selanjutnya ilmu ini dipegang kekal abadi..."

Membaca itu, Beng Kie menghela napas. Membalik halaman terlebih jauh, pemuda ini baca lagi.

"Kemarin malam telah datang rombongan srigala kelaparan yang mencari makanan. Dengan bawa pedangku aku keluar dari gua. Tiba-tiba aku dengar tangisnya satu anak perempuan. Segera aku usir rombongan srigala itu dan aku memburunya sampai di sarangnya. Di situ aku dapat menemukan satu bocah perempuan umur tiga atau empat tahun, yang telanjang seluruh tubuhnya. Melihat aku, bocah itu kaget dan ketakutan, lantas dia lari pergi, larinya sangat cepat. Diapun keluarkan suara seperti suaranya srigala. Karena bocah itu tidak dipesta porakan oleh binatang-binatang liar itu. mengertilah aku bahwa dia justeru dipelihara srigala betina. Aku lantas periksa gua itu. Aku dapatkan sepotong ikat pinggang yang sudah tua dan hampir rusak hancur, dalam mana ada huruf-huruf yang masih bisa dibaca. Dari situ aku dapat ketahui bahwa si nona cilik itu adalah orang she Lian pulennya satu sasterawan sengsara, yang lari menyingkir ke tempat sunyi itu bersama isterinya, di mana sang isteri melahirkan bayinya itu, tapi sehabisnya bersalin, isterinya itu menutup mata, hingga bahna sedih dan putus asa sasterawan itu letakkan puterinya di kaki gunung Hoasan di mana terdapat sebuah kuil serta penghuni-penghuninya golongan pendeta. Ia harapkan bayinya diambil dan dirawat oleh orangorang suci itu, tetapi apamau, rupanya bayi itu dibawa lari srigala betina dan dirawatnya hingga dia tidak mati terlantar, sampai itu malam aku menemukannya. Tidaklah itu karena takdir? Aku ambil anak itu. aku bawa dia pulang untuk dirawat dan dididik sebagai murid. Dia cerdas dan berbakat, dia dapat belajar dengan cepat. Maka aku harap dikemudian hari dia bisa menjadi ahli waris dari ilmu pedangku."

Beng Kie panggil It Hang datang dekat padanya, untuk perlihatkan catatan itu, hingga It Hang ketahui bahwa Giok Lo Sat adalah nona yang dirawat srigala.

Mereka lalu bersama membaca catatan lainnya sebagai berikut.

"Hari ini telah copot semua bulu oulih pada tubuhnya bocah she Lian itu. Aku lantas turun gunung pergi ke pasar untuk membeli cita untuk pakaiannya nona itu. Akupun telah ajarkan dia membaca. Ia memanggil mama kepadaku. Sejak dia diambil dari sarang srigala. sifatnya yang agak liar mulai lenyap sendirinya, ia lakukan segala apa sebagai manusia umumnya. Aku telah beri nama Nie Siang kepadanya, untuk memperingati hari pertama yang aku berikan pakaian padanya."

Lagi dua halaman mencatat halnya Nie Siang belajar silat, teristimewa ilmu pedang. Catatan di halaman terakhir, dengan huruf-hurufnya tidak rata lagi, berbunyi begini.

"Tadi malam aku tengah duduk bersemedhi untuk melatih Iweekang, mendadak aku merasa seperti sedang bermimpi. Dalam mimpi itu aku dikepung banyak sekali iblis. Dengan susah payah aku bisa basmi mereka, sesudah mana, aku sadar akan diriku, tapi segera juga aku rasakan tubuhku tidak dapat bergerak, aku merasa seluruh tubuhku kaku. Segera aku insyaf bahwa cara semedhiku tidak sempurna, bahwa aku telah ambil ialanyang keliru, hingga aku jadi tanam bibit bencana untuk diriku sendiri. Ah, mengertilah aku bahwa dengan Thian Touw tak mungkin aku dapat bertemu pula..."

Beng Kie menghela napas.

"Memang suhu pernah mengatakan bahwa Iweekang (ilmu dalam) itu tak dapat dipaksakan, tidak bisa dipercepat secara di luar garis,"

Berkata ia.

"Aku tidak sangka, walaupun sunio seorang ahli, dia masih tidak bisa bebaskan diri dari ancaman malapetaka paksaan itu..."

Lantas ia masukkan kitab itu ke dalam sakunya.

"Kitab ini adalah kitab kesayangannya sunio, ingin aku kirim ini kepada satu orang untuk disampaikan kepada suhu,"

Ia kata.

Baru anak muda ini mengucap demikian, dari sebelah luar ruang itu ia tampak sinar api, hingga ia terkejut bahna herannya.

It Hang juga tak kurang herannya.

Tapi mereka tidak usah berkualir lama-lama akan segera juga mereka lihat satu orang bertindak masuk, ialah Ceng Kian Tootiang adanya.

Beng Kie menghela napas longgar.

"Aku kenal baik Thian Touw Kiesu dan Cie Yang Tootiang,"

Berkata imam ini, yang jalan dengan tindakan perlahan.

"Kemarin GiokLo Sat telah datang padaku, dia minta supaya jenazah gurunya dapat dibawa ke Ngobie san, akan tetapi dia terhalang dan menghambat maksudnya dengan datangnya rombongan Eng Siu Yang. kawanan jahanam itu, yang menjanjikan suatu pertempuran. Barulah sekarang dia dapat wujudkan maksudnya. Kebetulan kaupun datang kemari, inilah bagus sekali I"

"Tidak usah rerongkong subo itu dibawa ke Ngobie san."

Kata Beng Kie.

"Guruku sekarang berada di Thiansan."

"Aku memang ketahui itu, cuma subo-mu yang tak tahu,"

Ceng Kian terangkan. Imam ini datang dengan membawa juga sebuah peti kayu yang ia tunda di luar gua. maka Beng Kie bisa lantas angkat rerongkong guru perempuannya untuk dibaringkan ke dalam peti itu.

"Tootiang,"

Kata Beng Kie kemudian.

"aku pun hendak mohon pertolonganmu, ialah supaya kau tolong bawa se

Jilid kitab untuk disampaikan kepada guruku. Aku melainkan minta dengan sangat supaya kitab ini tidak sampai hilang!"

Mendengar itu, berubah wajahnya imam ini. Ia nampaknya tidak senang.

"Tootiang, aku yang muda tidak berani sekalipun berlaku kurang ajar terhadapmu."

Beng Kie lekas menjelaskannya.

"Aku minta pertolonganmu ini disebabkan kitab itu sangat penting, andaikan kitab itu terjatuh ke dalam tangan orang jahat, bahayanya di kemudian hari bukan main hebatnya."

Anak muda ini lantas serahkan kitab subo-nya itu. Ceng Kian Tootiang menyambutinya.

"Aku nanti melindunginya sedapat mungkin,"

Kata dia sambil tertawa.

"Apakah kau tidak kuatir aku nanti curi lihat isinya?"

"Oh, maafkan aku, tootiang!"

Ucapnya Beng Kie.

Itulah artinya ia percaya habis bahwa imam ini tidak nanti berlaku sedemikian hina untuk curi baca isinya kitab itu.

Sang imam tertawa pula, ia masukkan kitab itu ke dalam sakunya.

Setelah Beng Kie memeriksa pula gua itu, dengan pedangnya ia membacok dan menyongkel kalang kabutan pada tembok gua, untuk hapuskan pelbagai ukiran persilatan itu, hingga tidak meninggalkan bekas-bekas lagi.

"Subo-mu telah ciptakan ilmu pedang yang luar biasa sekali, memang tak dapat kepandaian itu dibiarkan hidup abadi di dalam dunia kita ini,"

Berkata Ceng Kian Tootiang.

"Memang hebat ilmu pedang itu,"

It Hang turut bicara.

"akan tetapi apabila kepandaian itu digunakan dengan seksama dan pula jalan yang benar, justeru sangat berguna untuk menyingkirkan manusia-manusia jahat."

Imam itu pandang anak muda ini. Ia tertawa.

"Kelihatannya kau cocok benar dengan Giok Lo Sat!"

Katanya.

"Ah, jangan main-main, tootiang!"

Kata It Hang yang menjadi gelisah hatinya.

Sampai di situ, urusan telah selesai, maka mereka lantas berpisahan satu pada lain.

It Hang lakukan perjalanan pulang, ia sampai di rumahnya berselang beberapa hari.

Ia disambut dengan kegirangan luar biasa oleh bujang tuanya, sampai bujang itu mengucurkan air mata.

"Siauw-siauwya, syukur kau telah pulang!"

Kata hamba yang setia itu.

"Kami semua sangat mengharap-harap kembalimu, sampai lootayjin mendapat sakit. Dia sangat ingin melihat kau."

It Hang berlari-lari masuk ke ruang dalam, di depan engkongnya ia memberi hormat sambil berlutut, air matanya berlinang bahna terharunya.

To Tiong Liam berlega hati apabila ia tampak cucunya itu telah kembali dengan selamat.

"Buat apa menangis?"

Kata orang tua ini.

"Kenapa ayahmu tidak pulang bersama?"

Oleh karena engkong itu sedang sakit. It Hang tidak berani omong terus terang bencana yang telah menimpa ayahnya.

"Ayah sedang bertugas di kota raja, ia tak dapat sembarangan pulang."

Ia terpaksa mendusta.

"Dunia kepangkatan penuh dengan bahaya, sebenarnya lebih senang tidak memangku pangkat,"

Kata engkong ini.

Nyata ia telah menginsafi bahayanya menjadi pembesar negeri.

Berselang beberapa hari, karena pulangnya sang cucu, Tiong Liam sembuh dari sakitnya.

Pada suatu hari ketika ia ingat hal pertemuannya dengan Giok Lo Sat, ia merasa jeri sendirinya.

Ia lantas tanya cucu itu tentang Keng Ciauw Lam.

It Hang tuturkan halnya orang she Keng itu, juga tentang pelajaran silatnya sendiri, hingga Tiong Liam jadi bunga hatinya mengetahui cucu ini nyata pandai ilmu surat dan silat dengan berbareng.

"Kau pandai surat dan silat, itulah bagus!"

Kata engkong itu.

"Tapi sebab kau menjadi murid Butong pay, aku harap kau jangan hidup di kalangan kangouw, aku kuatir kau ketemu Giok Lo Sat, itulah berbahaya. Aku lihat Giok Lo Sat seperti juga terutama memusuhi rombongan Butong pay."

It Hang tidak berani beritahukan engkongnya bahwa ia telah bertemu si Raksasi Kumala, maka ia hanya mengatakan, ia ingin menantikan ketika yang baik supaya ia dapat mewariskan usaha leluhurnya "Ya, itulah bagus!"

Kata Tiong Liam. Lalu ia menambalikan.

"Sebenarnya Giok Lo Sat bukannya seorang busuk. Meski dia telah rampas hartaku, perbuatannya itu sedikitpun aku tidak penasaran."

Mendengar pengutaraan engkong itu, riang hatinya It Hang.

Ia girang engkongnya tidak berkesan jelek perihal si nona gagah itu.

Setelah sekarang berdiam bersama engkongnya, It Hang menyekap diri dalam rumah.

Ia berdiam di rumah untuk yakinkan saja ilmu surat dan ilmu silatnya, terutama ilmu pedang.

Dua bulan telah berselang.

Pada suatu hari dari kota raja ada datang dua utusan, yang menemui To Tiong Liam, begitu lekas juga It Hang dengar tangisnya engkong itu.

Maka ia lari memburu untuk melihat.

Untuk kagetnya, ia dapatkan sang engkong rebah di lantai dengan tak sadar akan dirinya, mukanya pucat sekali, napasnyapun jalan dengan perlahan.

"Lekas bawa ke dalam!"

Ia menitah. IV Walaupun bingung, It Hang tidak berani turut masuk ke dalam kamar engkongnya. Kedua utusan masih berada dalam rumahnya dan tidak ada yang menemani, maka ia mesti mengawaninya.

"Sri Baginda sangat pangeni To Lootayjin,"

Berkata utusan kaisar yang kesatu.

"maka kami tidak sangka, baru dia membaca firman, dia telah demikian bersusah hati..."

"Apakah bunyinya firman itu?"

It Hang tanya "Sudikah tuan beritahukan itu padaku?"

Kedua utusan itu yang menjadi sahabat kekalnya To Tiong Liam, tidak berkeberatan akan tuturkan sebab musababnya kaisar keluarkan firman untuk bekas Congtok itu.

Baginda Sin Cong menyesal yang dia telah keliru menghukum mati padaTo Kee Hian, walaupun iasudah mengkurniakan kehormatan pada arwahnya menteri itu, yang diangkat menjadi ThayCu Siauwpo, guru putera mahkota, dia toh masih tidak puas, maka pada suatu hari ketika ia membicarakan hal mendiang menterinya itu kepada Tayhaksu Phui Ciong Tiat, ia teringat kepada Tiong Liam, ayahnya mendiang menteri itu.

"Mereka ayah dan anak, adalah hamba-hamba yang setia,"

Berkata raja.

"maka andaikan Tiong Liam ketahui nasib yang menimpa puteranya itu, mungkinkah dia menyesal dan penasaran terhadap rajanya?"

"Tiong Liam pernah terima budi negara, mustahil dia penasaran?"

Berkata tayhaksu she Phui itu.

"Baginda ingat padanya, justeru sekarang jabatan Liepou Siangsie sedang lowong, kenapa Baginda tidak mau panggil dia datang untuk mengisi jabatan itu?"

"Kita memang membutuhkan menteri-menteri setia,"

Kata raja, yang lantas saja menulis firman, untuk memanggil datang To Tiong Liam.

untuk mana, dua utusan di kirim untuk sampaikan firman itu.

Hanya disayangkan, di dalam firman itu antaranya raja menyebutkan juga hal mendiang To Kee Hian sudah diangkat menjadi ThayCu Siauwpo.

Maksudnya raja memang baik, ia bermaksud hendak menonjolkan perhatiannya kepada bekas Congtok itu, akan tetapi tidak disangkanya, akibatnya hebat.

Itulah karena Tiong Liam belum ketahui puteranya sudah dihukum mati karena fitnahan, hal itu It Hang tidak menuturkan kepada engkongnya itu.

Maka saking kagetnya Tiong Liam telah roboh pingsan.

Selagi It Hang layani kedua utusan raja, dari dalam terdengar tangisan.

"Silakan masuk, sieheng, tidak usah kau kukuhi adat istiadat,"

Kata kedua utusan itu.

"Tolong sampaikan saja hormat dan doa kami."

It Hang menghaturkan terima kasih dan meminta maaf, barulah ia tinggalkan kedua tetamu agung itu, di dalam kamar ia tampak engkongnya sedang empas-empis, semua anggauta keluarga gelisah.

"Mari!"

Kata Tiong Liam ketika ia lihat cucunya itu, yang ia masih dapat mengenalinya. It Hang menghampirkan.

"Engkong, maafkan cucumu,"

Ia mohon sambil berlinang air mata, Tiong Liam dengan suara terputus-putus, berkata.

"Mulai hari ini dan seterusnya, aku tak sudi dan melarangnya kau ambil bagian dalam pelbagai ujian negara, kau harus tetap berdiam di rumah meyakinkan kitab-kitab sambil bertani!..."

Baru saja dia mengucap sampai di situ, bekas Congtok itu lantas tutup rapat kedua matanya, rapat juga mulutnya, napasnyapun lantas berhenti jalan untuk selama-lamanya.

It Hang menangis menggerung-gerung.

"Lootayjin sudah berumur enam pulurrfeljih, sudah selayaknya dia mengas^ untuk selamanya,"

Anak muda iiu dihiburkan.

"Jangan siauwya terlalu berduka. Kedua kimCee tayjin masih ada di luar, lebih baik siauwya ketemukan mereka, untuk sekalian mohon disampaikan kepada Sri Baginda perihal meninggalnya lootayjin, supaya setelah itu, siauwya dapat urus jenazah dan penguburannya."

It Hang seka kering air matanya, terus ia pergi ke ruang tetamu menemui kedua utusan raja, untuk sampaikan pesannya menurut ajaran hambanya yang tua.

Kedua utusan itupun berduka mengetahui bekas Congtok itu telah menutup mata sebab kaget mendengar hal kematian puteranya, Terpaksa malam itu mereka menginap di rumah keluarga To itu, untuk besok saksikan dirawatnya jenazah dan turut sembahyang, untuk unjuk hormat dan persahabatannya.

It Hang berlutut untuk haturkan terima kasihnya.

"Bangun, sieheng, jangan kau terlalu berduka,"

Kedua utusan memberi nasihat.

"Kita nanti sampaikan hal ini pada Sri Baginda, supaya lootayjin diberi suatu anugrah."

It Hang mengucap terima kasih pula. Ia membekalkan tanda mata kepada kedua utusan itu. Tapi di saat kedua utusan itu hendak mulai berangkat, mendadak ia berlompat bangun.

"KimCee tayjin, tunggu dulu!"

Ia memanggil.

Kedua kimCee heran, juga hamba tua keluarga To.

Hamba ini anggap perbuatan majikan mudanya yang demikian rupa itu terhadap utusan raja adalah tidak hormat, sedangkan diketahuinya bahwa majikan ini mengerti adat istiadat.

"Siauwya,"

Ia lekas berkata memperingatkannya.

"Lootaydiin menutup mata secara terhormat, sampaipun kimCee tayjin turut bersembahyang, maka kenapa siauwya tidak menghaturkan terima kasih kepada Sri Baginda?"

It Hang berdiam, agaknya ia hendak tenangkan diri.

"Tayjin, silakan duduk dulu di dalam,"

Ia mohon kemudian. Hamba tua itu bertambah heran, begitupun kedua utusan raja. It Hang lantas pimpin kedua utusan ke kamar tulis, bujang tuanya ikut masuk.

"Pergi kau keluar jagai jenazah,"

It Hang perintah hamba tuanya itu, setelah mana, ia tutup sendiri pintu kamar.

Dengan hati memukul hamba itu undurkan diri, diam-diam ia mendoakan kesadaran majikan mudanya itu supaya tidak melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan kedua utusan raja.

Kedua kimCee diam, mereka mengawasi anak muda itu; mereka agaknya menduga tuan rumah ini bakal memohon sesuatu kepada mereka.

Sebenarnya, di waktu demikian itu bukanlah saatnya.

"Tayjin merasakankah kesehatanmu sedikit terganggu?"

It Hang tiba-tiba menanya sesudah ia kunci pintu dan terus hadapi kimCee yang ia tanya itu, ialah kimCee she Lie. KimCee itu terkkejut.

"Tidak!"

Sahutnya dengan heran.

"Kau baik sekali, sieheng,"

Berkata kimCee yang kedua.

"Kami bersyukur kau sangat perhatikan kesehatan kami. Benar usia kami telah lanjut akan tetapi kami masih sanggup melakukan suatu perjalanan jauh untuk menjalankan tugas. Adalah sieheng sendiri, berhubung dengan wafatnya kakekmu, kami harap jangan terlalu berduka, agar kesehatanmu tidak terganggu karenanya."

It Hang beranggapan bahwa suara itu berlagu mirip sindiran.

"Tayjin, maafkan aku,"

Katanya.

"Tadi aku lihat pada telapak tangan kanannya Lie Tayjin ada tanda yang mencurigakan."

KimCee she Lie itu angkat tangannya, dan ia segera lihat telapaknya.

Ia merasa heran ketika ia dapat lihat di tengah telapak tangannya itu ada satu titik merah, seperti melenting kecil.

KimCee yang kedua, seorang she Ciu, juga turut lihat telapak tangannya, untuk kekagetannya, pada telapak tangannyapun terdapat tanda merah itu.

"Jiewie tayjin, coba dengan kukumu kau tekan tanda itu, sakit atau tidak,"

It Hang minta. Kedua utusan raja itu menekan dengan kuku mereka.

"Tidak sakit sedikit juga,"

Kata mereka.

"hanya terasa sedikit gatal."

"Coba jiewie tayjin tekan pundakmu, tulang rangka yang ke tujuh,"

It Hang meminta pula. Kedua utusan itu menurut. Kali ini, begitu mereka menekan, begitu juga mereka menjerit kesakitan.

"Apa artinya ini, sieheng?"

Tanya mereka. It Hang awasi kedua utusan itu, ia menghela napas.

"Orang telah bokong jiewie tayjin,"

Sahutnya.

"Tanda beruntusan merah itu adalah akibat serangan dari Imhong Toksee Ciang. Tangan Pasir Beracun, suatu ilmu silat yang paling busuk dalam kalangan kaum kangouw. Ketika tadi Lie Tayjin angkat aku bangun selagi aku berlutut, kebetulan saja aku lihat tanda merah itu. Rupanya beruntusan itu baru saja muncul, maka itu Lie Tayjin tidak mendapat tahu. Orang yang terserang Toksee Ciang, jikalau dalam tempo dua belas jam tidak dapat pertolongan, keselamatan jiwanya sangat dikuatirkan. Inilah sebabnya dengan tidak memperdulikan melanggar adat kesopanan, aku terpaksa berlaku kurang hormat memanggil kembali jiewie Tayjin."

Adalah biasanya di jaman dahulu, kalau satu utusan mati di rumah menteri atau pembesar yang didatanginya ---dalam hal ini ialah keluarga To ---keluarga yang bersangkutan bisa dipersalahkan hingga kedosaannya dapat merembet kepada seluruh keluarga serta kerabat keluarga, sampaipun kepada pembesar setempat.

Karena ini, walaupun ia sedang berkabung, It Hang tidak bisa tinggal diam.

Mukanya kedua utusan raja itu menjadi pucat.

"Sieheng, kau tolonglah kami!"

Mereka memohon.

"Aku nanti mencobanya,"

Jawab It Hang, yang terus panggil hamba tuanya, si pengurus rumah, kepada siapa ia pesan.

"Jangan sampaikan warta kedukaan ini kepada siapajuga kecuali sanak sendiri."

Kemudian ia ajak kedua utusan itu ke sebuah kamar lain, di situ ia ambil sebatang jarum emas, dengan itu ia berikan masing-masing satu tusukan kepada jalan darah Ceksim hiat, hongbwee hiat dan CengCiok hiat.

Kedua kimCee lantas merasa mual, terus saja mereka muntahkan air kuning, menyusul mana, mereka rasakan tubuh mereka panas.

"Inilah tindakan pertama untuk mencegah jalannya racun,"

It Hang berikan keterangan.

"Sekarang silakan jiewie merebahkan diri untuk beristirahat. Sebentar malam aku akan lanjutkan pengobatanku."

Ia simpan jarum emasnya. Tiba-tiba ia tanya.

"Siapakah wiesu yang mengiringi tayjin itu? Dapatkah dia, dipercaya?" (Wiesu = pahlawan) "Ketika kami berangkat dari kota raja, Sri Baginda tugaskan Cin Ciehui dari Kimiewie mengiringi kami,"

Sahut Lie KimCee.

"Dia menjadi wiesu telah turun-temurun, maka Sri Baginda sangat percaya kepadanya. Diapun memang seorang jujur, tidak ada sebab dia hendak menganiaya kami."

It Hang manggut.

"Dengan lancang aku mohon jiewie undang dia untuk datang kemari,"

Ia mohon.

"Titahkan saja,"

Jawab Lie KimCee. It Hang segera suruh hambanya mengundang Cin Ciehui, seorang yang tubuhnya sedang dan tampangnya jujur, hingga sepintas lalu tak dapat dianggap dia licik.

"Sudah lama aku dengar nama Ciehui, sekarang marilah kita belajar kenal,"

Kata It Hang seraya ia angsurkan tangannya.

Ciehui itu sambut jabat tangannya tuan rumah, akan tetapi begitu bertempel tangan, dia kaget hingga berjingkrak.

Karena tangannya dia rasakan tergetar dan beku dengan berbareng.

Dia pun kaget ketika dapat lihat kedua kimCee rebah di pembaringan dengan kulit muka merah serta keningnya bermandikan keringat.

"Hai! Kau berani celakai kimCee!"

Dia membentak sambil tangannya menyambar, karena dengan lantas dia curigai pemuda itu. It Hang berkelit sambil lompat mundur.

"Jangan!"

Kedua kimCee itupun berseru karena kagetnya.

"Maaf, maaf, aku justeru hendak singkirkan kecurigaanmu terhadap diriku,"

It Hang kata.

"Kedua kimCee tayjin telah dibokong orang untuk dibikin celaka. Aku justeru hendak bicarakan hal ini kepada Ciehui tayjin."

Ciehui itu heran hingga ia berdiri ternganga It Hang lantas tuturkan halnya kedua utusan jadi korban Toksee Ciang.

"Oh, jadi barusan kau telah uji aku?"

Seru Ciehui itu yang terperanjat.

"Maaf,"

Kata pula It Hang.

"Aku hanya ingin ketahui Ciehui mengerti Toksee Ciang atau tidak. Kepandaian silat Ciehui liehay akan tetapi aku telah dapat membuktikan bahwa Ciehui tidak pernah pelajarkan ilmu pukulan Tangan Pasir Beracun yang jahat itu, yaitu Imhong Toksee Ciang."

"Apakah Imhong Toksee Ciang itu?"

Tanya Cin Ciehui yang keheran-heranan.

"Itulah ilmu tangan jahat dan jiewie tayjin sudah terserang tangan jahat itu,"

Sahut It Hang.

Ia ajak Ciehui ini dekati kedua kimCee, untuk ia menjelaskannya lebih jauh.

Cin Ciehui keluarkan keringat dingin.

Meski benar ia mengerti ilmu silat dengan baik, tapi belum pernah ia dengar hal pelajaran tangan jahat itu.

"Maaf."

Ia mengucap kepada It Hang.

"Liehaynya Imhong Toksee Ciang adalah, bahwa orang yang dilukai tidak segera mati, bekerjanya ayal sekali,"

It Hang menjelaskan pula.

"Melihat tanda luka ini, mestinya didapatkannya pada tiga hari yang lalu. Coba Ciehui tayjin mengingat-ingat pada tiga hari yang lalu, siapa yang tayjin ketemukan dan yang mencurigakan?"

Cin Ciehui tunduk berpikir dengan hatinyajengah. Tiba-tiba Lie KimCee campur bicara.

"Mungkinkah ini ada hubungannya dengan si orang tua yang menyuguhkan air teh?"

"Ya, mungkin,"

Cin Ciehui kata.

"Tadinya aku juga curigai dia tetapi melihat usianya yang lanjut dan romannya seperti tidak mengerti ilmu silat, aku telah berlaku alpa, aku tidak bercuriga lebih jauh."

It Hang minta diberi penjelasan lebih jauh.

"Pada tiga hari yang lalu, kami singgah sebentar di tepi jalan, di bawah sebuah pohon yang rindang,"

Lie KimCee menceritakan.

"Ketika itu kami merasa sangat dahaga, maka kebetulan sekali di situpun ada seorang tua yang bawa air teh dingin yang sedang mengaso. Atas pertanyaan kami orang tua itu kata hendak antarkan air teh untuk pekerja-pekerja di sawah. Kamipun beritahukan bahwa kami hendak pergi ke rumah keluarga To, orang tua itu kata justeru mereka adalah pekerja-pekerja sawahmu, malah dia terus tunjukkan jalanan. Diapun begitu baik hati menawarkan kami minum teh. Cin Ciehui sendiri tidak turut minum. Pada waktu menyuguhkan teh, tangannya orang tua itu membentur sedikit telapak tanganku tetapi aku tidak curiga apa-apa."

"Dia juga bentur telapak tanganku,"

Ciu KimCee turut berkata.

"Nah, itu dia!"

It Hang kata.

"Dia ketahui atau tidak jiewie tayjin sedang menjalankan tugas sebagai kimCee?"

"Kami tahu di wilayah SuCoan dan Siamsay ini banyak orang jahat, maka selama dalam perjalanan kami tidak berani perkenalkan diri sebagai orang-orang berpangkat,"

Sahut Cin Ciehui.

It Hang berdiam untuk berpikir.

Tiba-tiba ia kaget.

Sudah terang orang tua tidak dikenal itu sudah main gila terhadapnya.

Kedua kimCee dibokong supaya kimCee itu mati di rumahnya, dengan demikian ia dapat difitnah.

Liehay adalah serangan gelap itu, yang sangat perlahan bekerjanya.

Andaikan rahasia ini tidak segera dapat diketahui, pasti ia tidak dapat menghindarkan diri dari fitnahan.

Pemuda ini masih asyik berpikir, ketika seorang bujangnya lari masuk sambil berulang-ulang memanggil.

"Siauwya!"

It Hang buka pintu.

"Ada apa?"

Tegurnya.

"Di depan ada datang satu anak muda,"

Sahut bujang itu.

"dia bengkak dan matang biru mukanya, seperti habis berkelahi. Dia menerobos masuk hendak cari siauwya, katanya. Aku sudah terangkan, bahwa siauwya sedang berkabung dan tidak dapat menemui dia, tapi dia tidak memperdulikannya, dia memaksanya masuk juga. Kami coba menghalau padanya tetapi dia kuat sekali, kami telah ditolak roboh. Dia lantas minta maaf, katanya dia sangat perlu menemui siauwya. bahwa dia datang bukan untuk mengacau."

"Begitu?"

Kata It Hang, yang menjadi heran sekali. Ia permisi dari kedua kimCee, setelah tutup pintu kamar, ia pergi keluar. Di ruang tengah ia dapati seorang muda berdiri di tangga lorak.

"Saudara To, kau bikin aku mati gelisah!"

Tiba-tiba pemuda itu berseru.

It Hang heran tak kepalang.

Ia kenali pemuda itu adalah Pek Bin, muridnya Beng Can.

Selama di kota raja ya pernah lihat pemuda itu.

tapi satu pada lain belum pernah bicara, jadi di antara mereka tidak ada persabahatan.

Maka ia heran, dari tempat ribuan lie pemuda itu datang mencari padanya.

"Saudara To, tolonglah aku!"

Kata pula Pek Bin, sekali ini sambil menjura.

"Kau kenapa, saudara Pek?"

Akhirnya It Hang tanya.

"Dengan aku tidak tahu sebab musababnya, orang telah serang aku."

Sahut pemuda itu.

"orangpun serang aku dengan ImhongToksee Ciang..."

It Hang menjadi kaget. Kembali tangan jahat itu.

"Mari masuk!"

Akhirnya ia mengundang mengajak orang ke dalam, untuk dapat menanyakan lebih jelas, hingga ia dapat tahu duduknya hal.

Pek Bin dapat kabar Beng Can terluka parah dan menutup mata karenanya, dia berangkat pulang dengan segera, hingga dia bertemu-Ong Ciauw Hie.

Dia berduka sangat untuk kebinasaan gurunya, akan tetapi mengetahui orang she Ong ini tunangan puteri dari gurunya, hingga puteri itu yang pun menjadi sumoay-nyajuga, telah mempunyai pelindung, ia bersyukur.

Tapi di luar dugaannya, di hari kedua Ong Ciauw Hie berlalu tanpa pamitan lagi, hingga Beng Ciu Hee menangis sangat sedihnya.

Ia telah membujuk dan menghiburkannya, namun Ciu Hee tetap menangis saja.

"Saudara To."

Kata Pek Bin kemudian, sikapnya tampaknya sungguh-sungguh.

"Kau dan Ong Ciauw Hie mempunyai persahabatan, coba pikir, kenapa kelakuannya Ciauw Hie demikian aneh? Dia datang dari tempat ribuan lie untuk menjemput bakal isterinya, sayang sekali bakal mertuanya ketimpa malapetaka. Diapun telah dianggap seperti anak, maka kenapa bukannya dia bantu mengurus perkabungan, diajusteru pergi dengan begitu saja, agaknya sampai dia tak inginkan lagi bakal isterinya? Sumoay juga aneh! Apa hubungannya aku dengan kaburnya Ong Ciauw Hie? Sumoay sekarang tidak perdulikan aku lagi. Agaknya dia menyangka akulah yang menyebabkan kaburnya Ciauw Hie itu..."

It Hang berdiam untuk berpikir, la segera mengerti halnya Ciauw Hie dan Ciu Hee itu. Maka di dalam hatinya, ia berkata.

"Memang kaulah yang paksa Ciauw Hie angkat kaki!"

Tapi ia menghibur.

"Itulah perkara kecil, jangan dibuat pikiran,"

Ia membujuk.

"Nanti aku bicara kepada saudara Ong, urusan pasti akan lantas menjadi beres."

Pek Bin agaknya heran.

"Apa yang kau hendak bicarakan kepadanya?"

Tanyanya.

"Aku tidak berbuat salah terhadapnya, dan diapun tidak berbuat salah terhadapku. Kalau kau jelaskan keadaan ini kepadanya, mungkin dia mentertawainya dan menyangka aku dan Ciu Hee telah berselisih, sedang sebenarnya kami tidak bertengkar. Sumoay pun telah mengatakan bahwa hal itu tidak mengenai aku, akan tetapi pada keesokannya, di luar dugaanku, sumoay pun angkat kaki..."

It Hang kerutkan alis.

"Apa? Diapun pergi?"

Ia menegaskan.

"Benar! Jenazah suhu baru dikubur, bukannya dia diam di rumah untuk berkabung, diajusteru minggat mencari bakal suaminya!"

Pek Bin jawab.

"Apa sebab kau tahu dia pergi cari Ciauw Hie?"

"Dia tinggalkan surat untuk aku. Dalam suratnya dia menyuruh aku diam di rumah saja untuk mengurus abu ayahnya."

Karena sedang berkabung It Hang hanya tertawa di dalam hati mendengar kata-kata orang dan melihat tingkah lakunya pemuda yang demikian tolol ini, sampai tak tahu bahwa justeru dirinyalah yang sudah menyebabkan timbulnya salah mengerti itu.

"Sumoay pergi seorang diri, aku kuatirkan keselamatannya,"

Berkata pula Pek Bin kemudian.

"Dia melarang aku pergi, aku justeru hendak pergi juga!..."

Tiba-tiba ia angkat kedua tangannya hingga kelihatan nyata di telapak tangannya ada tanda merah.

"Kau juga kena dibokong orang pada tiga hari yang lalu,"

It Hang kata.

"Memang!"

Sahut Pek Bin.

"Ketika aku sampai di Siamsay, tidak tahu di mana aku harus cari Ciauw Hie, karena aku tidak ketahui tempat tinggalnya. Tapi alamatmu, saudara To, gampang sekali dicarinya. Begitu aku sebut seorang she To bekas Congtok, orang segera tunjukkan aku kemari. Kau tentunya ketahui alamatnya orang she Ong itu."

It Hang menggeleng kepala.

"Aku juga tidak tahu,"

Jawabnya. Pek Bin menjadi hilang harapan dan lesu.

"Kalau tahu begini, tidak nanti aku datang cari kau."

Katanya terus terang.

"Dalam perjalananku ini, setibaku di Yanan. aku dapat tahu ada orang yang kuntit aku."

"Kau sungguh cerdik,"

It Hang Puji.

"Sedikit tentang kaum kangouw aku tahu juga,"

Pek Bin jawab.

"Kemarin dulu di gunung Poatliong san, di sana aku disusul dua penunggang kuda, yang tanya aku apakah hendak pergi ke rumah keluarga To di Khokiotin. Ketika aku membenarkan pertanyaannya, mendadak mereka itu lompat turun dari kudanya dan menyerang aku, mereka tidak beri aku kesempatan bertanya apa-apa..."

"Ah... Dan kau kena dikalahkan?"

"Dua orang itu memang tangguh,"

Jawab Pek Bin.

"akan tetapi pada mulanya aku masih sanggup layani mereka Adalah kemudian aku telah keteter. Di belakang dua orang itu ada lagi seorang tua yang tidak turut mengepung aku tetapi dia ngoceh tak hentinya, katanya aku mesti dihajar hidup-hidup, jangan dikemplang mati, hingga aku mendongkol sangat, sampai permainan silatku jadi ngawur..."

"Dan bagaimana caranya kau dapat meloloskan diri?"

"Di permulaan tahun ini. aku telah pergi ke Thiankio meramalkan diri,"

Berkata Pek Bin.

"Menurut sinshe khoamia, meski benar tahun ini ada kurang baik bagi diriku, tapi bahaya yang aku hadapi itu bisa berubah menjadi keselamatan..."

It Hang merasa lucu dapat jawaban yang melantur itu.

"Aku tanya kau bagaimana kau dapat lolos, bukan tentang ramalan dirimu!"

Ia kata.

"Apa ramalan itu ada hubungannya dengan kejadian atas dirimu sekarang ini?"

"Tukang tenung itu tepat sekali ramalannya,"

Pek Bin masih mengatakan.

"Di dalam pertempuran itu, aku menghadapi ancaman bencana hebat sekali. Di saat aku hampir dibikin roboh, tiba-tiba ada terdengar suara orang tertawa mengejek di atas gunung Poatliong san, suaranya sangat menusuk kuping. Mendengar suara ketawa itu, si orang tua telah menyerukan kawan-kawannya. 'Lekas mundur!' Suara tertawa itu belum sirap, dari atas gunung sudah meluncur turun satu orang, cepatnya bagaikan melesatnya anak panah. Begitu sampai di bawah, orang itu lantas menyerang dua pengepung aku, yang dalam sekejap sudah kena dibikin terpental roboh. Si orang tua lompat maju menyerang orang tidak dikenal itu. Baru aku saksikan kedua tangan mereka bentrok, orang tua itu sudah lantas berseru.

"Menyingkir!' Segera tubuhnya mencelat mundur, dia sambar tubuh kedua kawannya untuk dibawa lari. Barulah setelah itu, aku lihat tegas penolongku itu, ialah satu nona yang elok sekali!"

Tanpa merasa, It Hang menyebut.

"Giok Lo Sat!"

"Giok Lo Sat?"

Tanya Pek Bin. Dia cuma tahu, Giok Lo Sat adalah Raksasi Kumala.

"Nona itu bernama Giok Lo Sat, seorang bandit wanita dari Siamsay Selatan,"

Sahut It Hang.

"Apakah kau tidak tahu tentang dia?"

"Oh, kiranya kau kenal dia!"

Pek Bin berkata.

"Pantas dia lantas suruh aku pergi cari kau! Dia tidak mengejar orang tua itu, dia hanya berkata. Tmhong Toksee Ciangmu tidak jelek! Bilakah kita dapat bertemu lagi untuk bertempur pula?' Si orang tua lari terus, setelah dia pergi jauh, nona itu dekati aku dan sambar tangganku untuk diperiksa telapaknya. 'Eh, kau hendak meramalkan aku?' aku tanya. Tapi dia jawab aku. 'Anak tolol! Siapa hendak meramalkan kau? Kau telah terkena serangan Imhong Toksee Ciang dari tua bangka itu!' Lantas dia keluarkan sebutir pil, dia suruh aku lantas menelannya. Dia kata bahwa dia cuma bisa lindungi aku untuk sementara, guna mencegah ilmu silatku menjadi runtuh, dia tidak bisa menyembuhkan luka yang disebabkan Toksee Ciang itu. Dia suruh aku lekas pergi cari kau yang menjadi ahli waris Cie Yang Tootiang dari Butong san ahli penyembuh luka semacam itu."

"Pantas lukamu tidak hebat, kiranya kau telah ditolong oleh Giok Lo Sat,"

Kata It Hang.

Memang benar katanya Giok Lo Sat, Cie Yang Toojin dari Butong pay adalah ahli untuk pelbagai luka berbahaya, dan It Hang, setelah belajar dua belas tahun, sudah dapat mewarisi kepandaian itu, ia lantas ambil jarum emasnya, terus ia tusuk tanda merah di telapak tangannya Pek Bin, kemudian, sesudah menguruti sekian lama.

Pek Bin tidur sendirinya.

Kemudian, It Hang pergi tengok kedua kimCee.

Ia dapat kenyataan mereka juga sedang tidur nyenyak.

Ia tidak mau ganggu mereka itu, ia hanya ajak Cin Ciehui ke taman bunga, yang berada di belakang gedungnya.

"Jikalau di sini terjadi sesuatu, kau mesti ajak kimCee menyingkir dari pintu barat di pojok sana."

Pemuda ini beri pengunjukan.

"Dari situ ada jalan yang menuju langsung ke atas gunung."

Pemuda ini bicara sambil terus jalan, ia ajak Ciehui itu ke kedua samping, untuk tunjukkan keadaan sekitar gedungnya itu supaya diingatkan baik-baik.

"Mari kita kembali,"

Ia mengajak kemudian, untuk masuk ke dalam, terus ke kamar dapur di mana ia suruh orangnya masak sepuluh kuali air panas, setelah air itu mendidih, ia suruh orang-orangnya gotong kedua kimCee dan Pek Bin untuk dikasih hawa hangat.

Lebih dulu Cin C iehui serta si hamba tua diperintah kasih minum obat yang sifatnya dingin kepada tiga orang itu.

Untuk berikan pengobatan hawa hangat, ketiga orang yang luka itu dibukakan pakaiannya, dengan pintu ditutup rapat-rapat.

Setelah berselang dua jam, baru pintu kamar dipentang.

Si hamba tua tidak tahan hawa panas, hampir ia roboh pingsan.

Maka ia dibantui Cin Ciehui dan It Hang memakaikan kembali bajunya Pek Bin bertiga, yang kemudian dibawa balik ke kamar mereka untuk diberi obat kuat yang berupa air jinsom.

Setelah mereka diuruti pula, mereka tidur dengan sangat nyenyaknya.

Baru sesudah itu, mereka ditinggal keluar.

Siang hari itu, It Hang repot terus-terusan, maka malamnya baru hambanya yang tua memberitahukan.

"Tiehu dari Yanan pernah kirim orang kesini tetapi karena siauwya sedang repot, tadi siang aku tidak melaporkannya."

"Kalau begitu, besok kau kirimkan karcis namaku untuk menghaturkan terima kasih,"

Kata majikan muda itu.

Ia tidak pikirkan lebih jauh urusan itu, ia terus tidur.

Keesokan paginya kedua kimCee dan Pek Bin merasakan tubuh mereka segar, dari itu mereka diberikan bubur.

Sampai magrib, Pek Bin anggap dirinya telah sembuh kecuali tenaganya belum pulih semua.

It Hang ajak si tolol ini bercakap-cakap di dalam kamar tulisnya, ia dapat kenyataan sitolol itu seorang yang jujur dan polos, suka ia bergaul dengan sababat baru ini.

Dua orang muda ini sedang bicara lebih jauh ketika si hamba tua datang melaporkan.

"Ong Pengpie dari kantor tiehu datang bersama barisan serdadunya untuk menemui siauwya."

It Hang lantas saja kerutkan alisnya.

Ia tidak dapat terka, apa perlunya pembesar militer itu hendak temui padanya, sedang engkongnya sudah tidak lagi memangku pangkat.

Tapi ia terus rapikan pakaiannya, sesudah mana baru ia bertindak keluar.

Dari luar toathia, ruang besar, kelihatan Ong Pengpie mendatangi dengan tindakan lebar.

Ia ada pimpin dua atau tiga puluh serdadu.

Kembali It Hang heran.

Ia tampak sikapnya punggawa itu tidak memakai aturan yang sopan lagi.

Masih ia menyangka orang datang untuk melakukan tugas, menjaga tata tertib di gedungnya itu.

Segera mereka sudah datang dekat satu pada lain.

"To It Hang, kau tahu salahmu atau tidak?"

Mendadak punggawa she Ong itu menegur. It Hang heran bukan main.

"Apakah salahku?"

Tanyanya.

"Kedosaanmu yang besar adalah kau telah sembunyikan satu penjahat besar di dalam rumahmu!"

Berkata punggawa itu dengan ketus. It Hang menjadi murka.

"Keluargaku menjadi pembesar turun temurun, bagaimana kau berani bicara ngaco-belo!"

Tegurnya. Pengpietoo itu tertawa dingin.

"Kau masih berani andalkan pengaruhmu?"

Dia membentak.

"Geledah!"

Kawanan serdadu lantas saja bergerak untuk nerobos ke dalam.

"Jangan kalian bikin kaget kimCee!"

It Hang pun balas membentak.

"Aku dapat titah dari pemerintah agung, aku justeru hendak menemui kimCee!"

Kata Pengpietoo itu. Di saat itu dari kamar tulis segera terdengar suara pertempuran.

"Pek Hiantee, jangan turun tangan!"

ItHang menyerukan.

"Mari kita pergi ke kantor tiehu dari Yanan untuk berurusan!"

"Ikat padanya!"

Pengpietoo itu beri perintah tanpa perdulikan sikapnya tuan rumah.

Bukan main gusarnya It Hang, ia tertawa dingin.

Di depannya ada meja yang terbuat dari kayu wangi, waktu ia raba meja itu segera terbalik.

"Lekas bicara secara baik-baik!"

It Hang serukan punggawa itu.

"Jikalau kau berlaku kasar, terpaksa aku mesti hajar padamu, baru nanti aku mohon maaf di Ngomui."

Punggawa itu mengawasi. Bersama dia ada turut juga dua punggawa sebawahannya.

"Baik,"

Kata dia kemudian.

"Dengan memandang kau ada turunan satu menteri, aku suka berikan sedikit muka padamu!"

It Hang segera mendahului opsir itu masuk ke dalam, kamarnya kedua kimCee. Begitu lekas pintu tertolak terbuka, ia kaget tak terkira. Di situ sudah tidak tampak kedua utusan raja.

"Mungkinkah mereka sangka penjahat datang dan mereka sudah lantas sembunyikan diri?"

Pikirnya. Akan tetapi Ong Pengpie, yang turut masuk, lantas tertawa dingin.

"Mana utusan Sri Baginda?"

Tanyanya secara mengejek.

"Kau berikan aku ketika untuk cari mereka,"

It Hang minta.

"Kau telah binasakan kedua kedua kimCee, ke mana kau hendak cari lagi?"

It Hang segera dapat menduga sesuatu. Tiba-tiba ia berpaling dan sebelah tangannya menyambar.

"Tentulah kau yang telah mencelakainya!"

Dia membentak. Satu opsir di belakangnya Pengpietoo itu ulur tangannya menghalau tangannya It Hang, hingga kedua tangan itu bentrok. Bentrokan itu membuat It Hang sadar akan ketangguhannya opsir itu.

"Kau telah aniaya kimCee tapi kau berani melawan?"

Bentaknya opsir itu. It Hang berlaku sabar.

"Mengenai perkara ini, baik kita menyelesaikannya di Pakkhia,"

Kata ia. Opsir itu tidak memperdulikannya, dia keluarkan borgolan.

"Tadi belum ada bukti, dapat kau menyangkal,"

Dia kata.

"sekarang sudah ternyata kimCee telah hilang, apa lagi yang kau hendak katakan? Negara mempunyai undang-undang, tak dapat kami membiarkan kau banyak tingkah! Lekas pakai borgolan ini!"

Wajahnya pemuda kita berubah pucat karena gusarnya.

Ia hendak melakukan perlawanan, akan tetapi dia lalu ingat bahwa engkong dan ayahnya adalah orang-orang berpangkat besar, jikalau melawan, dia bisa dianggap memberontak.

Tidakkah itu akan mencemarkan nama baik keluarganya?

Maka akhirnya terpaksa dia angsurkan kedua tangannya untuk dirantai.

Orang-orang keluarga To itu menjadi ketakutan, malah si hamba tua lantas saja menangis.

"Jangan takut."

It Hang menghiburkan bujang-bujangnya itu.

"Sri Baginda yang bijaksana pasti dapat membikin terang perkara penasaranku ini."

Meski ia mengucap demikian, It Hang toh ingat bagaimana ayahnya binasa terfitnah, maka mau tidak mau ia berkuatir juga.

"Sekarang kau jaga baik-baik jenazahnya lootayjin,"

Ia pesan hamba tuanya.

"Hayo, lekas jalan!"

Ong Pengpie menitah.

It Hang lantas saja ditolak keluar, di mana ia lihat Pek Bin juga sudah dibelenggu.

Dua tawanan ini digiring ke kantor tiehu dari Yanan di mana mereka sampai setelah terang tanah.

Mereka mesti menunggu satu jam, baru mereka dibawa menghadap.

Tapi mereka bukan dihadapkan kepada tiehu hanya pada seorang lain yang pangkatnya kelas dua.

"Kau seorang turunan berpangkat yang telah terima budi negara, mengapa kau berkhianat dan berontak?"

Demikian tanya pembesar Itu.

"Kenapa kau mencelakai kimCee?"

"Memang ada orang yang telah aniaya kimCee tayjin tetapi bukanlah aku yang perbuatnya."

It Hangjawab.

"Siapakah orang itu?"

"Jikalau tayjin beri tempo satu bulan padaku, aku pasti akan bekuk orang yang menganiaya kimCee itu,"

It Hang berkata. Tapi si pembesar menggebrak meja.

"Kau ngaco!"

Demikian dia membentak.

"Aku bukannya satu bocah cilik umur tiga tahun yang dapat kau pedayai, supaya aku lepaskan kau kabur!..."

"Jikalau aku memikir untuk buron, tentunya sekarang aku tidak datang ke sini,"

Kata It Hang yang mendeluh hatinya. Kembali pembesar itu gebrak meja. Ia tidak perdulikan alasan itu.

"Lekas kau berikan pengakuanmu yang sebenar-benarnya!"

Ia mendesak.

"Aku tidak punya pengakuan,"

It Hangjawab.

"Kau kata kau tidak aniaya kimCee, mengapa kau telah tahu ada orang yang menganiaya kimCee itu?"

Si pembesar mendesak dengan pertanyaannya.

"Tentang ini baru aku suka menerangkannya sesudah nanti aku menghadap Sri Baginda!"

Pembesar itu jadi sangat gusar.

"Apakah aku tidak berhak untuk periksa padamu?"

It Hang tidak berikan jawabannya. Pembesar itu meraba bumbung titah, ia hendak kompes pemuda itu tapi entah kenapa, ia batalkan itu.

"Bawa menghadap pemberontak yang satunya itu!"

Ia menitah. Pek Bin segera digusur maju.

"Apa she dan namamu?"

Si pembesar tanya.

"Dan asal mana?"

"Namaku Pek Bin, asal dari Pakkhia,"

Sahut anak muda itu.

"Kau adalah muridnya Titthian Busu Beng Can dari putera mahkota, bukankah?"

"Benar! Oh, kau tahu juga aku?"

Pek Bin mengejek. Pembesar itu menggebrak meja.

"Kau telah lakukan perjalanan ribuan lie sampai di kota Yanan ini, apakah maksudmu? Lekas berikan pengakuanmu, jangan ada sesuatu yang disembunyikan!"

Pek Bin berdiri tegak.

"Satu laki-laki kenapa mesti sembunyikan apa-apa?"

Sahutnya.

"Aku datang ke Yanan untuk sambangi sahabat! Apakah itu dilarang?"

"Siapa yang kau cari?"

"Ong Ciauw Hie!"

Sahut Pek Bin dengan nyaring.

Pembesar itu menggebrak-gebrak meja berulang-ulang, hingga suaranya sangat berisik, mejapun sampai bergetar.

Bentakan lain-lain hamba-hamba wet di dalam ruangan itu menambah keberisikan itu.

Tiehu, atau residen dari Yanan, juga turut hadir, tetapt duduk menemani saja.

Dia berubah juga parasnya.

"Kasih dia lihat!"

Kata si pembesar pada opas pelayannya. Dia maksudkan berita acara yang dia telah sediakan, supaya diperlihatkan kepada Pek Bin.

"Suruh dia bubuhkan tanda tangannya!"

Pek Bin periksa berita acara itu, yang memuat namanya terang-terang, tanpa pikir lagi berita itu kapan dibuatnya ia lantas membubuhi tanda tangannya.

Si pembesar perlihatkan berita acara itu pada tiehu, dia tertawa.

"Selesailah sudah!"

Katanya. Tapi segera ia menepuk meja pula, kali ini untuk It Hang.

"Koncomu sudah mengaku, apa kau tetap hendak menyangkal?"

Tanyanya.

"Apa yang aku harus katakan?"

It Hang tanya, ia memang tidak tahu bunyinya tuduhan atau berita acara itu. Sekarang adalah tiehu yang bicara.

"Ong Ciauw Hie serta ayahnya itu, adalah penjahatpenjahat besar! Siapakah yang tak ketahui itu?"

Katanya. It Hang heran hingga ia melengak.

"Kau berkongkol kepada penjahat besar, itulah kesalahanmu!"

Berkata si pembesar tukang periksa.

"Sekarang kau boleh menyatakan apa yang kau suka,"

Kata It Hang.

"Marilah kita pergi ke Pakkhia, untuk bicara di muka mahkamah agung!"

Pembesar itu tertawa dingin.

"Kau masih memikir untuk pergi ke kota raja ? Hm! ---Bawa dia ke penjara!"

It Hang jadi kaget, hatinya panas bukan main. Pek Bin berada di dampingnya pemuda ini.

"Apakah benar Ong Ciauw Hie itu satu penjahat besar?"

Dia tanya.

Dia sudah taruh tanda tangannya dalam berita acara, tetapi dia masih menanya...

It Hang tidak menyahut, akan tetapi wajahnya menjadi pucat bahna gusar dan mendeluh.

Pek Bin rupanya mengerti orang tidak senang terhadapnya, ia jadi masgul.

"Apakah aku kena rembet padamu?"

Dia tanya.

"Inilah bukan urusanmu!"

Sahutnya It Hang, yang tahu akan ketololannya orang.

"Sesama orang hukuman tidak boleh omong!"

Sipir membentaknya, terus saja dia masukkan kedua orang tawanan itu ke masing-masing sebuah kamar yang berlainan.

It Hang mendapat sebuah kamar sendirian yang bersih, tidak seperti kamar tahanan biasa.

Di sini ia ditahan sampai tiga hari, tidak ada datang seorangpun yang periksa padanya.

Ia mengharap-harap kedatangan hambanya yang setia.

Ia ingin menyampaikan kabar pada murid atau sahabat engkongnya, supaya mereka berdaya untuk menolong padanya.

Akan tetapi dalam tiga hari itu seorangpun tidak ada yang datang kunjungi padanya.

Ia menduga-duga kepada kemungkinan pembesar negeri yang melarang orang menengoki padanya.

Adalah pada malam ke empat, mendadak pintu kamar dibuka oleh seorang, yang ternyata opsir kawan Ong Pengpie.

Dia bawa keluar pemuda kita dengan jalan memutari kamar, selang sekian lama sampailah mereka di sebuah kamar yang kecil.

Semasuknya mereka itu, pintu kamar segera ditutup pula.

Di dalam kamar itu, tampak berduduk seorang tua yang mukanya merah, sinar matanya galak dan bengis, bisa membuat hati ciut bila orang melihat kepadanya.

Tapi ketika dia lihat anak muda ini, dia mengundang duduk.

Dia pun tertawa.

"Nyata kau sangat disayang putera mahkota!"

Katanya tibatiba. It Hang tidak mengerti, ia diam saja.

"Sri Baginda sudah berusia lanjut sekali dan berpenyakitan,"

Berkata pula si orang tua.

"maka tidak lama lagi, putera mahkota pasti akan menggantikan dia naik di atas singgasana. Akan tetapi meski demikian, masih banyak sekali urusan yang bersangkut-paut, yang mesti mengandal kepada Gui Kongkong." (Kongkong = panggilan menghormat untuk thaykam ---orang kebiri.) It Hang terkejut, wajahnyapun berubah.

"Aku adalah seorang terdakwa,"

Ia kata.

"Jikalau kau hendak periksa aku, lekaslah periksa! Buat apa kau omongkan segala hal lainnya?"

"Gui Kongkong juga sangat sayang kau,"

Kata si orang tua, yang tidak perdulikan ucapan orang.

"Siapa yang sudi disayang dia?"

Kata pemuda kita dengan suara nyaring.

"Kau benar satu laki-laki sejati,"

Kata orang tua muka merah itu.

"Tapi kau harus ketahui, jiwamu berada di tangan siankee!" (Siankee = "aku"

Untuk orang beragama) It Hang tertawa tawar.

"Habis kau mau apa?"

Dia tanya.

"The Hong Ciauw itu toh sahabat kekalmu?"

Si muka merah itu sebaliknya bertanya pula. Tanpa merasa, hatinya It Hang goncang.

"Habis?"

Tanya dia "Ketika The Hong Ciauw hendak tarik napasnya yang penghabisan, dia mengatakan apa kepadamu?"

Tanya si orang tua.

"Apa katamu? Aku tidak mengerti!"

Orang tua muka merah itu tertawa pula "Janganlah mendusta di hadapan orang suci!"

Katanya "Pernahkah kau dengar nama In Yan Peng! Itulah aku adanya!"

It Hang insyaf kepada bahaya yang sedang ia hadapi, ia segera kerahkan tenaga di kedua lengannya, dengan satu gerakan ia dapat putuskan borgolan yang membelenggu tangannya, setelah mana, ia menyampok sambil menendangjuga.

"Bagus! Kau nyatalah satu di antara manusia jahat itu!"

It Hang berseru. Orang tua itu buang tubuhnya ke belakang, dengan demikian, kakinya dapat mendupak meja di depannya, hingga meja itu terbang ke arah si anak muda.

"Prak!"

Demikian suara terdengar.

Dengan satu sampokan, It Hang sambut meja itu, yang ia hajar pecah dan jatuh terbanting.

Orang tua muka merah itu, yang perkenalkan diri sebagai In Yan Peng, meraba pinggangnya untuk meloloskan ikat pinggangnya.

Ia bertindak maju sambil menyabetkan ikat pinggangnya itu, ia tertawa.

"Nyatalah aku dapat buktinya!"

Kata dia.

"To It Hang, apakah sampai sekarang kau tetap masih hendak mendusta?"

Anak muda itu tetap masih gusar.

Inilah disebabkan, The Hong Ciauw dalam pengakuannya, telah menulis nama lima konconya, yang semua berkongkol sama bangsa Boan, yakni tiga wiesu atau pahlawan dari istana, dan dua bandit dari Rimba Hijau, satu antara tiga pahlawan itu, ialah In Yan Peng.

Dengan mulut membungkam, It Hang serang penghianat itu.

In Yan Peng pandai memainkan ikat pinggangnya itu, yang menyambar-nyambar sampai menerbitkan suara angin.

Tubuhnya juga sangat enteng dan gesit, dengan gampang ia dapat berkelit diri dari desakan si anak muda.

Ia seperti memutari kamar kecil itu, untuk layani lawannya.

Ikat pinggang itu merupakan semacam senjata sebagai joanpian, cambuk lemas.

It Hang melayani berkelahi sampai kira-kira tiga puluh jurus ia tidak dapat ketika untuk robohkan atau mendesak si muka merah yang tangguh itu, maka segera ia sadar, apabila ia tidak angkat kaki, ia bisa dapat celaka.

Ia juga sudah lantas memikir untuk pergi mengadu kepada putera mahkota.

Karena ini, dengan sekonyong-konyong.

Ia perhebat serangannya, sampai ia dapat kesempatan untuk mendekati pintu, yang ia terus dupak hingga menjeblak.

In Yan Peng tertawa gelak-gelak.

"Kau berniat angkat kaki?"

Ia mengejek.

"Hanya dalam impian kau dapat lakukan itu!"

It Hang tidak memperdulikannya, terus saja ia lompat keluar.

Tiba-tiba ia rasakan sambaran angin, ia segera mengelakkan tubuhnya ke samping.

Ia berniat tangkis serangan yang mestinya dahsyat itu.

Tapi ia terkejut ketika ia melihat tangan yang menyerang padanya itu bersinar merah api.

Penyerang itu menyerang dengan seru, dua kali beruntun, tapi tiap kali It Hang dapat mengelakkan diri dari ancaman.

Akhirnya anak muda ini menjadi sangat murka.

"Apakah kau anggap aku jeri terhadap Imhong Toksee Ciangmu?"

Serunya.

Anak muda ini lantas bersilat dengan ilmu Ngoteng Kaysan Ciang, ialah semacam ilmu untuk adu jiwa dengan Tangan Pasir Beracun itu.

Kesudahannya dari pertempuran semacam itu kedua pihak mesti celaka.

Orang itu jeri juga menghadapi kenekatan lawannya, dia tidak berani keras melawan keras, terpaksa dia berkelahi dengan serangan-serangannya yang merupakan totokan.

Sekarang It Hang tidak berani terlalu mendesak pula, karenanya, tetap ia tidak dapat loloskan diri, malah ia telah terdesak mundur sampai di pintu tadi.

Sedangnya ia repot melayani musuh di depan itu, di belakangnya In Yang Peng telah sambar ia dengan ikat pinggangnya, hingga tidak ampun lagi ia dilibat dan tertarik roboh ke dalam kamar.

Si orang tua yang bertangan liehay Imhong Toksee Ciang itu lompat ke pintu yang segera menutupnya dan ia berdiri tegak di muka pintu itu.

"Saudara In sudahkah kau berhasil?"

Dia tanya Yan Peng.

"Bocah ini tidak mau bicara terus terang,"

Sahut orang yang ditanya.

"Saudara Kim, baik kau hadiahkan dia satu tanganmu!"

Orang yang dipanggil "saudara Kim"

Itu, yang usianya telah lanjut, angkat sebelah tangannya ditujukan ke batok kepala It Hang. Tapi It Hang yang lihat aksinya orang itu tidak takut.

"Tiada faedahnya kau hajar mati padaku!"

Katanya dengan dingin.

"Jikalau aku binasa, sahabatku bisa pergi ke kota raja untuk mengajukan dakwaannya, supaya kalian semua dibekuk!"

In Yan Peng kaget hingga ia bergidik sendirinya.

"Kau maksudkan Giok Lo Sat?"

Dia tanya. It Hang mengawasi dengan bengis, tidak mau ia menjawab.

"Baik,"

Kata si orang tua she Kim.

"Aku tidak sangka kau bersahabat kekal dengan Giok Lo sat."

Yan Peng pun mendadak tertawa.

"Binatang ini bisa menggertak juga,"

Katanya.

Sekonyong-konyong si orang she Kim mendupak kepada jalan darah witiong hiat di belakang dengkulnya It Hang, maka tidak ampun lagi anak muda ini tak sadar akan dirinya.

Setelah itu, si orang tua muka merah memerintahkan gotong pemuda itu kembali ke kamar tahanannya.

Yan Peng dan orang tua she Kim itu saling pandang dan tertawa, mereka tidak kuatirkan ancamannya It Hang.

Sebab bukan hanya mereka berdua yang berkongkol sama bangsa Boan, juga Gui Kongkong yaitu thaykam Gui Tiong Hian.

Ketika Gak Beng Kie sampai di kota raja, dia telah beri kisikan kepada Kengliak Him Yan Pek tentang rahasia yang dibuka The Hong Ciauw perihal komplotan penjual negara itu.

Him Kengliak lantas masuk ke istana menghadap raja untuk buka rahasia itu.

Akan tetapi Baginda Sin Cong tertawa saja, dia angap kabar itu sebagai guyon...

Tiga pahlawan dalam istana liehay kupingnya, mereka dapat tahu hal rahasia mereka dibuka di hadapan kaisar, tidak mensia-siakan tempo lagi mereka pergi buron.

Adalah setelah dengar hal kaburnya ketiga pahlawan itu.

baru Kaisar Sin Cong menyesal, tetapi sudah kasip.

Minggatnya ketiga pahlawan dari istana itu bukannya berarti mereka menyingkir dari kota raja.

Mereka tetap berhubungan dengan Gui Tiong Hian.

The Hong Ciauw dan Gui Tiong Hian kenal satu pada lain, tetapi persahabatan mereka tidak rapat.

Baca Juga: Meteor Kupu Kupu Dan Pedang 4

Baca Juga: Pedang Pusaka Dewi Khayangan 13

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger