Eps 1 Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen
Baca online Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen
Cersil Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen.
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/.
Wanita Gagah Perkasa (Giok Lo Sat) Karya .
Liang Ie Shen (Liang Yu Shen) Penyadur .
OKT PENGANTAR Buku ini adalah cetak ulang dari hasil kerja Uy Kim Tiang yang dulu diterbitkan di sekitar tahun 1959 oleh Bagian Penerbitan Keng Po di Jakarta.
Sesudah 45 tahun, barulah buku cerita silat yang sangat memikat ini dapat diterbitkan kembali dengan seizin (ahli waris) penutur aslinya.
Giok Lo Sat dan Pek Hoat Mo Lie mengisahkan lika-liku kehidupan Lian Nie Siang, seorang endekar wanita yang bergelar Giok Lo Sat atau Rasaksi Cantik (oleh OKT diterjemahkan engan Wanita Gagah Berani), ia adalah seorang luar biasa pada masa ahala Beng mendekati keruntuhannya di perempat pertama dan kedua abad ke 17.
Ia luar biasa karena ilmu silat yang dikuasainya sangat tinggi, tetapi juga karena tingkah lakunya yang amat bebas (modern, sebenarnya).
Di masa ketika wanita kebanyakan tidak pernah melangkah keluar dari pekarangan rumah, maka Lian Nie Siang menjadi kepala begal dan menentukan nasibnya sendiri,tanpa bantuan orang lain.
Ia benar-benar cerminan wanita modern masa kini, di masyarakat industri, yang mengakui kesetaraan antara pria dan wanita...
Kisah bagian pertama berakhir pada salah satu titik balik kehidupan Giok Lo Sat.
Peristiwa penyerbuan markasnya di Beng Goat Kiap yang mengakibatkan ia harus hengkang dari sana merubah arah hidupnya.
Ia terpaksa harus kembali menjadi wanita biasa yang membutuhkan dampingan laki-laki agar ia paripurna sebagai wanita.
Lanjutan itu dikisahkan dalam bagian kedua, yang sayangnya berujung pada kekecewaan, yang membuat tokoh kita dalam semalam rambutnya berubah menjadi putih semua.
Karena inilah ia memperoleh julukan barunya, Pek Hoat Mo Lie, atau Hantu Wanita Berambut Putih.
Entah mengapa OKT memisah cerita silat ini menjadi dua judul, yaitu Giok Lo Sat untuk bagian pertama yang terdiri dari 7
Jilid dan Pek Hoat Mo Lie untuk bagian kedua yang terdiri hanya 3 jilid.
Padahal seharusnya cerita ini satu kesatuan dengan judul Pek Hoat Mo Lie {Baifa Monu).
Kami berpendapat bahwa kedua buku itu tidak terpisahkan, maka kedua judul ini kami satukan kembali dalam penerbitan ulang ini.
Kisah ini merupakan bagian dari rangkaian cerita Thian San yang amat panjang.
Dalam urutan penulisan, Pek Hoat Mo Lie adalah nomor dua sesudah Cit Kiam Hee Thian San (QijianXia Tiansan), walaupun dalam keseluruhan siklus Thian San menduduki nomor enam yaitu di antara Khong Ling Kiam (Guang Ling Jian) dan Cauw Goan Eng Hiong (Sai Wai QiXia Zhuari).
Episode ini menjadi sangat penting karena dalam kisah inilah dipaparkan para cikal-bakal tokoh-tokoh Thian San (Gunung Langit) yang nantinya akan mencapai klimaksnya di Cit Kiam Hee Thian San (Tujuh Pedang di bawah Gunung Langit) yang legendaris itu.
Dalam buku inilah tokoh-tokoh tua yang berdiam di Gunung Langit itu diperikan masa mudanya dan pertautan nasib dia antara mereka.
Gak Beng Kie (Ye Mingji), yang kemudian bergelar Hui Beng Siansu (Feiming Xianzi atau Begawan Cahaya Berkilauan) adalah pendiri Thian San Pay atau Persaudaraan Gunung Langit.
Lian Nie Siang sendiri juga bertapa di Gunung Langit ini, disusul oleh To It Hang yang bekas Ketua Bu Tong Pay (Wudangbai).
Ketiga tokoh inilah yang nantinya akan menurunkan rangkaian pendekar yang mengisi sebutan Thian San Cit Kiam (Tujuh Pedang dari Gunung Langit).
Nasib perorangan yang berbenturan dengan peristiwaperistiwa besar dalam sejarah terjalin dengan sangat pas, seakan tokoh-tokoh itu benar-benar pernah ada.
Arah kehidupan nasib tokoh-tokohnya tak bisa dilepaskan dari kekuatan-kekuatan sosial yang menghempas mereka sebagai manusia biasa.
Banyak pembaca yang memperoleh anggapan bahwa tokoh cerita ini memang pernah ada dan peristiwa sejarah memang terjadi seperti dikisahkan disini.
Jika Anda membaca sampai baris ini, sangat mungkin Anda akan menjadi salah satu dari mereka yang terbius, terbuai oleh kepiawaian cerita ini.
I Pada suatu hari di bulan sembilan dalam musim rontok ketika di jalan pegunungan Taypa san di perbatasan kedua propinsi SuCoan dan Siamsay tampak bererot jalan serombongan kereta tengah menuju ke arah barat.
Orang yang jalan terdepan adalah satu penunggang kuda yang dandan sebagai satu busu, seorang yang mengerti ilmu silat.
Dalam sebuah kereta keledai, di tengah-tengah rombongan itu ada berduduk seorang tua umur kira-kira enam puluh tahun, dandanannya sebagai seorang bekas pembesar negeri, sikapnya agung.
Sebagai pakaian luarnya adalah selembar mantel.
Satu penunggang kuda mendampingi kendaraan orang tua ini.
usianya masih muda, romannya cakap dan gagah, sedang sebilah pedang di pinggangnya saban-saban berbunyi sendirinya disebabkan goncangan kudanya yang tinggi dan besar itu.
Orang tua di dalam kendaraan itu bernama To Tiong Liam, bekas Congtok (gubernur jenderal), dari kedua propinsi Inlam -Kwesay.
Baru saja dia meletakkan jabatannya.
Dia dapat dikatakan tepat juga dengan namanya (Liam --sederhana), sebab walaupun berpangkat besar tetapi dia tidak rakus, cocok dengan pepatah.
"Sam lian Ceng tiehu, Sipban soat hoa gin"
Atau "Tiga tahun menjadi residen yang putih bersih, hartanya toh sepuluh laksa tail perak putih bagaikan salju".
Memang, sebagai Congtok dia tidak usah serakah atau rakus, dengan hasilnya dari uang komisi dan hadiah dari pelbagai sebawahannya saja sudah tidak sedikit.
Maka itu.
untuk pulang ke kampung halamannya sekarang, dia minta bantuannya beberapa piauvvsu atau pelindung, untuk melindungi padanya di sepanjangjalan.
Melainkan pemuda di dampingnya itu, yang romannya cakap dan gagah bukanlah salah satu piauwsu, dia ikut mengiringnya karena suatu sebab lain.
Bekas Congtok To Tiong 1am ini orang asal Siamsay Utara, dari keluarga berpangkat turun-temurun, tidak hartawan besar tapi dalam kecukupan, selalu dari turunan tunggal, seperti sekarang dia hanya mempunyai satu anak dan satu cucu.
Puteranya itu, Kee Hian namanya, menjabat pangkat di kota raja sebagai Houwpou sielong, ketua muda Departemen Pendapatan dan Penduduk.
Sedang cucunya, yang bernama It Hang, mengikuti ayahnya berdiam di kota raja.
To It Hang sudah berumur delapan atau sembilan belas tahun, seorang pemuda yang cerdik, dia sangat disayang oleh engkongnya.
Maka itu, ketika Tiong Liam meletakkan jabatannya, ia telah tulis surat kepada puteranya.
Kee Hian, minta supaya cucunya diantar pulang ke kampung halamannya.
Di luar dugaannya, bukan cucunya yang datang tetapi seorang pemuda cakap dan beroman gagah yang menjenguk padanya.
Pemuda ini, yang perkenalkan diri sebagai Keng Ciauw Liam, membawa serta suratnya Kee Hian, yang menerangkan bahwa, karena It Hang sedang belajar keras untuk menempuh ujian, tak dapat dia pulang.
Dan tentang Ciauw Lam ini, dalam surat itu diterangkan sebagai teman sekolahnya It Hang, dia mengerti ilmu silat, kebetulan dia hendak pergi ke Siamsee, maka ia minta sang ayah ajak dia bersama.
Hanya mengenai Ciauw Lam ini, Tiong Liam merasa aneh dan lucu.
Ciauw Lam katanya belajar bersama It Hang, tetapi ketika ditanya ini dan itu yang berhubungan sama ilmu sastera.
pemuda ini lebih banyak menjawab "tak tahu".
Maka ia anggap kalau satu sasterawan meyakinkan ilmu silat, pasti ilmu silatnya tidak sempurna, kedua-duanya akan menjadi kepalang tanggung.
Tapi yang membuat ia heran dan tidak mengerti ialah beberapa piauwsu yang ia sewa itu, semuanya bersikap sangat hormat kepada pemuda ini.
Inilah yang ia sangat tak mengerti!
Ketika itu di tahun Banlek ke 43 dari kerajaan Beng, di timur utara, bangsa BoanCiu telah membangun diri, sering mereka melanggar tanah perbatasan Tionggoan, sedang di lain pihak, Kaisar Sin Cong sudah mengadakan pemungutan cukai berat yang dibebankan kepada rakyat tani, tidak perduli daerah barat utara itu tanahnya tandus dan rakyatnya melarat, hingga karenanya, di sana-sini telah muncul rombongan-rombongan penyamun.
Disebabkan itu pula To Tiong Liam telah pakai beberapa piauwsu di samping pengiring-pengiringnya sendiri, tetapi ia masih saja tak tenteram hatinya.
Hari itu baru saja rombongan ini melewati lamping pegunungan Pajukwan, mereka telah dilombai dua penunggang kuda yang larinya pesat sekali.
Menampak kedua penunggang kuda itu.
air mukanya beberapa piauwsu jadi berubah sendirinya!
Keng Ciauw Lam majukan kudanya kepada si piauwsu.
"Siapa mereka itu?"
Ia tanya.
"Itulah SeeCoan Siangsat!"
Sahut piauwsu tertua.
"Oh, dua saudara Peng!"
Mengatakan Ciauw Lam.
"Mereka itu tersohor untuk kekuatan tangannya yang dinamakan Tiatsee Ciang, Tangan Pasir Besi, yang telah dilatih untuk banyak tahun. Baiklah berhati-hati saja."
Pemuda ini segera putar kembali kudanya, tanpa ia menoleh lagi.
"Melihat gerak-geriknya, mereka agaknya tidak niat turun tangan,"
Kata si piauwsu. Ciauw Lam bersenyum dan terus tahan kudanya. Lekas sekali, kereta keledainya Tiong Liam telah datang mendekat.
"Aman, lootayjin, tidak apa-apa."
Mengatakan pemuda ini dengan tawar kepada bekas Congtok itu.
"Yang barusan lewat hanyalah dua penjahat cilik yang tiada artinya."
Mereka jalan terus, sampai mereka dilombai pula oleh tiga penunggang kuda lainnya, tetapi mereka ini berpalingpun tidak kepada kereta-kereta barang.
"Heran, ketiga toCu dari Liongbun pang sampai keluar berbareng!"
Kata si piawsu tua, agaknya dia heran sekali.
"Mungkinkah telah terjadi sesuatu yang hebat dalam kalangan Rimba Persilatan?..."
Tampaknya piawsu ini kenal baik orang-orang kaum kangouw.
"Perduli apa mereka dari kaum Rimba Hijau atau bukan!"
Kata Keng Ciauw Lam dengan jumawa.
"Jikalau mereka berani ganggu kita, tidak usah aku gunakan gegamanku yang biasa, dengan hanya panah peluru aku nanti bikin mereka seperti bunga rontok atau air mengalir!"
Semua piauwsu manggut-manggut, agaknya mereka mengiakan. To Tiong Liam lihat orang sangat jumawa, tak puas hatinya.
"Kelihatannya anak muda ini terlalu kepala besar"
Pikirnya.
Rombongan kereta jalan terus ke baiat.
Di waktu magrib mereka sudah mendekati Citpoankwan.
jalan lamping gunung di luar kota Kiangleng.
Lamping ini sempit sekali, pula yang paling berbahaya di perbatasan SuCoan dan Siamsay.
Sebab, di belakangnya jalan ini menyender kepada gunung, di depannya berdampingan dengan sungai yang gili-gilinya tinggi bagaikan tergantung, airnya mengalir deras sehingga muncrat-muncrat sendirinya, nampaknya seperti kabut saja.
Dengan waspada rombongan melalui jalan ini.
Sekeluarnya dari mulut gunung, mereka tampak di depannya kira-kira setengah lie jauhnya, satu penunggang kuda sedang kasih jalan kudanya --kuda putih --dengan perlahan-lahan ke jurusan yang sama, nampaknya tenang sekali.
Dia dapat tertampak tegas, karena pakaiannya serba putih seperti putihnya bulu kudanya.
"Pemuda di depan itu rupanya seperti satu anak sekolah."
Kata To Tiong Liam.
"Dia jalan seorang diri tanpa kawan, apakah tidak berbahaya bagi dirinya? Mari kita susul dia untuk jalan bersama-sama."
Atas ajakan itu, Keng Ciauw Lam menggoyang-goyangkan tangan.
Dapat dikatakan berbareng dengan penolakannya pemuda she Keng ini, dari belakangnya mereka dengar riuh suara derapnya kaki kuda disertai berisiknya kelenengan dari pelbagai binatang tunggangan itu, yang dalam sekejap saja telah kabur melewati rombongan keretanya bekas Congtok itu.
Sama sekali mereka terdiri dari tujuh penunggang kuda.
Pemuda serba putih di depan itu justeru berada dijalan yang sempit.
"Celakalah kalau dia tidak lekas-lekas minggir!"
Seru si piauwsu tua, bahna kagetnya.
Piauwsu ini belum sempat tutup mulutnya, ketika itu dari arah depanpun muncul belasan penunggang ke arah si pemuda serba putih itu.
Dengan demikian pemuda itu jadi terjepit dua rombongan dari kedua jurusan itu...
To Tiong Liam kaget hingga ia menjerit keras sekali.
Berbareng pemuda serba putih itupun perdengarkan suaranya, sambil berseru dia larikan kudanya ke arah sungai, atas mana kuda itu kabur sambil terus berlompat melewati kali itu dan sampai di seberangnya dengan tidak kurang suatu apa!
Tiong Liam ternganga dan akhirnya bernapas lega...
Kedua rombongan penunggang kuda itupun tidak bentrok satu dengan lain.
Keduanya dengan cepat dan tangkas telah dapat tahan binatang tunggangannya masing-masing.
Setelah itu, rombongan yang tadi lewati rerotan kereta segera memutar diri, hingga kedua rombongan itu sekarang menjurus berhadapan dengan rombongannya Tiong Liam, yang terus mendatangi semakin dekat.
Keng Ciauw Lam majukan kudanya, untuk memapaki rombongan itu.
"Para hoohan, mohon kalian membagi jalan,"
Ia minta sambil bersoja. (Hoohan ialah "orang gagah"). Seorang berewokan yang rupanya menjadi kepala, mengawasi pemuda ini.
"Kau punyakan alasan apa untuk memohon jalan?"
Tanyanya dengan katak.
"Hartanya pembesar rakus, setiap orang dapat mengambilnya!"
"Tetapi harus kalian ketahui, dia ini bukannya pembesar rakus,"
Ciauw Lam kata.
"Untuk memohon jalan juga tidak sukar,"
Kata satu penyamun lainnya.
"Asal kalian tinggalkan semua barangbarangmu!"
Kata-kata ini disusul dengan majunya beberapa penyamun ke arah kereta barang-barang.
Keng Ciauw Lam tidak banyak omong lagi, dengan sebat ia ambil busur peluru dari bebokongnya.
akan di lain saat beberapa butir pelurunya sudah menyerang beberapa penyamun itu.
yang berkaok kesakitan dan roboh, sebab tepat sekali mereka terserang.
Si penyamun berewokan tertawa terbahak-bahak.
Masih Ciauw Lam tidak sudi bicara, sebagai gantinya peluru, ia cabut sebatang panah, dengan itu ia memanah patah sebatang bendera hitam di antara rombongan penjahat itu.
Wajahnya si berewok lantas saja berubah, dia lompat maju.
"Tahukah kau undang-undang dari kaum Rimba Hijau?"
Tegurnya.
Ciauw Lam tidak jawab teguran itu.
malah ia melepaskan pula beberapa peluru beruntun ke arah pemimpin penyamun ini, hingga dia ini terpaksa mainkan goloknya menangkis serangan peluru-peluru itu, yang dapat ditangkisnya terpental berhamburan jatuh ke tanah semuanya.
Ciauw Lam tidak hiraukan atau ia memang penasaran orang dapat tangkis semua pelurunya, ia teruskan serangannya yang bertubi-tubi, hingga kali ini ia membuat repot kepada penyamun itu, yang menjadi keteter menghalau peluru-peluru yang terus menerus menyerang padanya.
Dalam rombongan penyamun ada seorang yang alisnya gompiok dan mata gede.
"Jikalau kehormatan tidak dibalas, kita telah berlaku tidak hormat!"
Katanya dengan suaranya yang keren sambil diapun turunkan busurnya, untuk balas menyerang. Panahnya yang dinamakan "CoayamCian"
Atau "ular berkobar", biru tua warnanya.
Ciauw Lam tangkis jatuh setiap panah berapi yang menuju ke arah tubuhnya, tetapi ia tidak berdaya untuk panah yang menyambar ke kereta, maka ketika sebatang panah mengenai sebuah kantong, terdengarlah suara menghembus, lantas kantong itu menyala, apinya lantas berkobar!
Dalam kantong ada uang perak, dengan terbakarnya itu, berhamburanlah uangnya!
Akan tetapi, si berewok yang melihat itu telah menggeleng-geleng kepala, nampaknya ia kecewa.
Masih Ciauw Lam menyerang dengan pelurunya, ia telah gunakan ilmu memanah "Pathong hongie", yaitu "Hujan angin di empat penjuru", maka salah satu pelurunya mengenai gelang-gelangan tangan kirinya si berewok itu hingga dia ini lompat mundur.
Tapi dia tidak gusar atau niat membalasnya, bahkan ia rangkap kedua tangannya memberi hormat!
"Ilmu panah peluru Butong pay benar-benar liehay!"
Katanya dengan nyaring.
"Kami telah keliru melihat, maafkanlah kami!"
Penyamun yang menggunakan panah api itu. yang telah lompat turun ke tanah, kinipun lompat naik pula ke atas kudanya, iapun berkata dengan keras.
"Tolong sampaikan ke hadapan Cie Yang Tootiang, kami semua mengharap kesehatannya! Tolong sampaikan juga terima kasih kami, Hweeleng wan dan Poan San Houw, atas kebaikan hatinya Tootiang dahulu yang tidak membinasakan kami"
Sehabis mengucap demikian, dia perdengarkan satu seruan, atas mana kawan-kawan-nya lantas menolongi mereka yang terluka untuk sama-sama berlalu...
Keng Ciauw Lam kasih turun busurnya, ia dongak dan tertawa besar.
"Tuan, sungguh kau pandai sekali memanah!"
Tiba-tiba satu suara.
Orang she Keng ini terkejut, dia segera menoleh ke belakang dari mana suara itu datang.
Dalam sedetik itu ia ternganga bahna herannya.
Entah kapan menyeberangnya dan datangnya, pemuda serba putih itu tahu-tahu sudah berada di belakangnya.
"Kepandaian tidak berarti yang sebenarnya hanya memalukan saja,"
Ia kata.
"Justeru kaulah yang liehay sekali!"
"Akupun tidak punyakan kepandaian, melulu mengandalkan kuda ini, yang tidak terlalu mengecewakan, baru aku dapat lolos dari bahaya tabrakan,"
Sahut pemuda serba putih itu.
To Tiong Lam sementara itu telah awasi pemuda itu, yang tidak bawa barang-barang apapun di bebokong kudanya, halus bicaranya seperti satu anak sekolah.
Tiong Lam ketarik hati.
"Apakah Ciokhee sedang pesiar mencari kepandaian?"
Tanyanya. (Ciokhee artinya "tuan").
"Sekarang di jalan sangat tidak aman, maka untuk lakukan suatu perjalanan jauh sungguh berbahaya..."
Pemuda serba putih itu menjura.
"Boanseng datang dari kota Yananhu."
Berkata dia, yang membahasakan dirinya sebagai "yang muda" (boanseng).
"Boanseng ingin sekali lekas-lekas pulang sampai di rumah. Bolehkah boanseng ketahui nama loope?" (Loope ialah "mamak". Itulah panggilan untuk orang yang usianya lebih tua daripada orang tua seseorang). Sambil tersenyum, To Tiong Liam beritahukan she dan namanya. Pemuda itu agaknya jadi sibuk sekali.
"Oh, kiranya To Lootayjin dari sesama kampung halaman!"
Katanya dengan cepat.
"Maaf"
Lootayjin, maaf!"
Iapun segera perkenalkan diri sebagai Ong Ciauw Hie.
"Boanseng lakukan perjalanan tanpa kawan,"
Katanya pula.
"maka itu boanseng ingin minta perkenan untuk dapat berjalan di belakang rombongan lootayjin, untuk dapatkan berkah perlindungan..."
Keng Ciau Lam sudah lantas lirik pemuda ini. Tiong Liam memang seorang yang murah hati. ia sudah lantas mengabulkan.
"Ada apa halangannya untuk jalan bersama?"
Katanya.
"Tidak usah Ciokhee buat banyak pikiran."
Ciauw Lam perdengarkan suara dingin ketika ia turut bicara.
"Tuan adalah satu mahasiswa tetapi tuan telah menunggang seekor kuda yang jempol sekali, sungguh aku kagum terhadapmu!"
Demikian katanya.
"Inilah kuda turunan Khan Besar dari tanah barat,"
Berkata pemuda ini dengan suara halus.
"Kuda ini aku berikan nama YasayCu tetapi dia jinak sekali." (YasayCu berarti "singa malam"). Di wilayah Barat utara ada banyak kuda jempolan dan umumnya penduduk setempat pandai menunggang kuda, karena demikian Tiong Liam tidak curiga. Selama Keng Ciauw Lam layani penyamun, semua piauwsu mengurung kereta-keretanya untuk melindungkannya, tadi mereka repot memadamkan api, akan tetapi setelah bahaya lewat, mereka datang menghampiri dan turun dari kudanya untuk beri hormat pada Ciauw Lam. malah piauwsu kepala memberi hormatnya sambil tekuk sebelah kakinya separuh berlutut.
"Mataku sudah lamur."
Kata dia.
"Telah aku duga bahwa Keng Enghiong seorang yang gagah, tetapi aku tak menyangkanya kau seorang anggauta dari Butong pay yang kenamaan. Keng Enghiong, aku hendak mohon kau hadiahkan kami sesuap nasi!"
Tiong Liam tidak mengerti akan ucapan piauwsunya itu, herannya bertambah-tambah terhadap pelindungnya ini. Ciauw Lam bersenyum, dengan kedua tangannya ia memimpin bangun.
"Sebenarnya aku tidak punya guna."
Katanya dengan merendah.
"akan tetapi tadi aku sudah kepalang tanggung, tidak nanti aku mundur setengah jalan. Harus kau ketahui, ikut sertaku ini bukan untuk popiauw (melindungkan angkutan barang sebagai piauwsu). aku hanya bekerja untuk sahabatku. Loopiauwtauw, jangan kuatir."
Tiong Liam pun dapat dengar perkataan itu, ia jadi semakin heran.
Bekas Congtok ini pasti tidak ketahui bahwa pemuda she Keng itu bukannya satu sasterawan atau mahasiswa tapi salah satu murid angkatan kedua (generasi ke-2) dari Butong pay.
Dalam kalangan ilmu silat, Siauwlim pay dan Butong pay terhitung sebagai gunung Taysan atau Paktauw, Bintang Utara, keduanya ternama besar dan tersohor.
Ketua Butong pay.
atau pemegang waris, adalah Cie Yang Toojin, yang liehay ilmu silatnya, yang bersama empat adik seperguruannya yakni Uy Yap Toojin.
Pek Sek Toojin, Ang In Toojin dan Ceng Soo Toojin, adalah yang dikenal sebagai "Butong Ngoloo" --Lima Tertua dari Butong pay.
Mereka mempunyai ratusan murid, dan Keng Ciauw Lam adalah murid kepala dari Pek Sek Toojin.
maka dapat dimengerti tentang kepandaiannya.
Dari rombongan pembegal, yang berewokan adalah Hoansanhouvv Ciu Tong si Harimau Gunung, dan yang matanya gede dan alis gompiok adalah Hweelengwan Cu Poo Ciang si Kera Api.
dua penjahat besar di perbatasan SuCoan dan Siamsay, tetapi keduanya jeri terhadap pihak Butong pay, maka itu tadi mereka sudah lantas menyerah kalah.
Di kalangan Butong pay ada dua larangan utama, yaitu pertama larangan menjadi penjahat, dan kedua larangan untuk menjadi piauwsu, karena inilah maka perbuatannya Keng Ciauw Lam dapat dikatakan luar biasa.
Ia tidak jadi piauwsu tetapi ia melindungi piauw, atas nama sahabatnya seperti ia katakan tadi.
Piauwsu itu jeri terhadap rombongan Hweelengwan, dia juga heran atas sikapnya Keng Ciauw Lam.
dia sengaja mengucap demikian hanya untuk "ikat"
Jago Butong ini supaya tetap turut mengiringnya.
To Tiong Liam di lain pihak baru sekarang ia insyaf Keng Ciauvv Lam gagah, hanya ia tidak mengerti mengapa cucunya bisa bersahabat kepada orang semacam ini.
Ia menghaturkan terima kasih kepada pelindungnya ini.
Ciauw Lam sangat gembira karena ia telah berhasil menunduki kawanan penyamun, tapi terhadap Tiong Liam ia lantas bersikap sangat jumawa, ketika bekas Congtok itu menanyakan padanya hal perkenalannya dengan cucunya, ia menjawabnya dengan senantiasa mengegos, atau lawan tertawa.
Di samping itu.
Ong Ciauw Hie pemuda serba putih itu.
sangat alim sekali, baik terhadap Tiong Liam maupun terhadap Ciauw Lam, ia bersikap sangat menghormat.
Dua hari sudah mereka berjalan bersama, Kiangleng telah dilalui.
Selagi mendekati lamping Pengyangkwan, saban-saban mereka melihat orang-orang dengan tingkah laku yang mencurigakan, jalannya selalu berombongan bertiga atau berlima, baik dengan menunggang kuda atau dengan naik kereta keledai.
Si piauwsu tua menjadi tidak enak hatinya.
Ia tahu bahwa mereka itu adalah pengintai-pengintai terhadap rombongannya.
Syukur baginya, sampai sebegitu jauh perjalanan dilalui dengan selamat.
Selewatnya Pengyangkwan, semua orang-orang yang mencurigakan itu tidak tertampak lagi.
Sesampainya di perhentian Tayantek, rombongan itu singgah untuk bermalam, lega hatinya Tiong Liam.
Ia telah pilih hotel yang terbesar.
"Besok selewatnya gunung Iengkun san, jalan akan sudah rata!"
Katanya.
Artinya ialah, tidak lagi mereka jalan dijalan pegunungan.
Semua piauwsu juga bernapas lega.
Keng Ciauw Lam sebaliknya menganggap lain.
Ia malah nampaknya gelisah, beda sikapnya dengan hari-hari yang lalu.
Di dalam hotel tiba-tiba Ong Ciauw Hie menjura pada Tiong Liam.
"Boanseng menghaturkan banyak-banyak terima kasih yang selama di perjalanan, boanseng telah peroleh perlindungan,"
Katanya dengan tegas.
"Sama sekali boanseng tidak berani dustakan lootayjin. sebenarnya boanseng mempunyai satu musuh yang liehay sekali, yang di sepanjang jalan telah menguntit aku. Bilamana malam ini dapat dilewatkan dengan tidak kurang suatu apa. selanjutnya selamatlah aku. Sebentar malam, kalau lootayjin dapat dengar sesuatu, boanseng minta lootayjin jangan kuatir. Asal lootayjin gantung tengloleng (tanglung) Congtok dari lnlam dan KwieCiu, aku berani pastikan lootayjin tidak akan terembet-rembet."
To Tiong Liam terkejut tak kepalang.
Ia telah dipesan piauvvsunya dengan sangat, selama di tengah jalan supaya ia bawa sikap sebagai satu saudagar, jangan sekali-kali ia perlihatkan lagak sebagai pembesar negeri, sebab umumnya kaum Rimba Hijau paling gemar membegal pembesarpembesar pensiunan.
Tetapi sekarang, Ong Ciauw Hie sudah minta sebaliknya daripada pesan piauwsunya itu.
"Sebegitu jauh aku menyangka dia seorang mahasiswa, tak aku sangka dia justeru seorang kangouw,"
Pikir bekas Congtok ini. (Kangouw = "sungai telaga", yakni nama umum untuk segolongan orang kosen, termasuk kaum Bulim = Rimba Persilatan, dan Lioklim = Rimba Hijau).
"Dia bukan sanak ataupun pamili, maksud apa yang dikandungnya terhadap diriku..."
Selagi orang tua ini ragu-ragu, Keng Ciauw Lam dengan kedua biji matanya berputar campur bicara.
"Sekarang ini, bersatu kita selamat, berpisah kita terancam!"
Katanya dengan nyaring.
"Ciokhee, lootayjin pasti turut saranmu ini. Untuk bicara terus terang bagi kepentingan kita bersama, mari kita bekerja sama dan bersatu hati, untuk menjaga diri dari angkara murka malam ini!"
Orang she Ong itu bersenyum manis.
"Itulah pasti."
Ia berikan janjinya.
Sikapnya tetap tenang sekali.
Seorang diri Ong Ciauw Hie ambil sebuah kamar berikut hoathia, ruang depan.
Ia telah titahkan jongos atur sebuah hioto.
meja sembahyang, berikut pedupaan kayu cendana serta dua batang lilin besar, yang dinyalakan terang-terangan.
Ia juga minta dua poci arak wangi.
Pelana, berikut injakan kakinya, ia gabrukkan di sudut kamar.
"Silakan kalian semuanya sembunyi di kedua kamar samping itu,"
Kata ia kemudian pada Keng Ciauw Lam dan para piauwsu.
"Kecuali aku panggil, jangan kalian lancang keluar!"
Ciauw Lam semua undurkan diri dengan keheran-heranan.
Walaupun mereka luas pengetahuan, mereka tak dapat terka maksudnya pemuda serba putih ini.
Merekapun tidak tahu pemuda itu sebenarnya orang macam apa.
Malam itu kebetulan angin menderu-deru, tapi bintangbintang tampak bertaburan di langit.
Selagi malam berlarut, jagat lantas menjadi sepi.
Ong Ciauw Hie duduk seorang diri di ruang hoathia itu, matanya mengawasi keluar, tubuhnya tidak bergerak.
TiongLiam dan lain-lainnya tidak berani tidur.
"Mungkinkah dia akan duduk bercokol demikian rupa terus sampai terang tanah?"
Kata si piauwsu tua dalam herannya.
"Hus, diam!"
Tiba-tiba Keng Ciauw Lam berbisik.
"Ada orang datang!"
Baru sekarang Ong Ciauw Hie gerakkan tangannya, sedang tubuhnya tetap diam tak bergerak. Ia angkat sebuah poci arak.
"Tuan-tuan telah datang dari tempat jauh, maaf, maafkan aku yang telah tidak menyambut sebagaimana layaknya!"
Terdengar suaranya yang nyaring.
Dari pintu luar segera muncul empat orang, yang semua berperawakan besar, terutama yang maju di muka, sepasang matanya mencilak, sikapnya sebagai juga di situ tidak ada orang lain.
"Sahabat, jangan rewel, mari turut kami!"
Berkata dia. Ong Ciauw Hie menyambutnya sambil tertawa.
"Untuk apakah?"
Sahutnya dengan sabar. Muram wajahnya orang tadi, hampir dia berseru ketika tampak tengloleng bekas Congtok dari Inlam dan SuCoan tergantung di kamar samping. Dia kaget.
"Sebenarnya apa yang kau sedang kerjakan?"
Tanyanya.
"Bukankah kau..."
"Aku sedang lindungkan piauw!"
Ciauw Hie memotong.
"Tuan-tuan, aku mohon sukalah kalian memandang padaku, yang baru pertama kali ini bekerja, jangan kau bikin pecah mangkok nasiku... Jikalau kalian hendak pergi cari untung, pergilah ke lain tempat..."
"Hm!"
Orang itu berseru, terus dia kata.
"Kausalah lihat!"
Kata-kata itu disusul dengan gerakan tubuhnya ke arah kamar samping. To Tiong Liam sedang mengintai, ia lihat empat orang itu.
"Dia toh Kimiewie dari kota raya?"
Serunya tak disengaja.
Kimiewie, Barisan Baju Sulam, adalah suatu organisasi istimewa dari pemerintah, orang yang menjadi kepala, touwCiehui, adalah Cio Ho.
To Tiong Liam kenal kepala Kimiewie itu ketika ia masih menjabat pangkat, pernah kepala itu datang padanya untuk menawan satu pembesar tinggi yang dianggap bersalah, untuk dibawa ke kota raja.
Sekarang tiba-tiba touwCiehui Cio Ho muncul di sini.
Baru Cio Ho mendekati pintu kamar, atau Ciauw Lam sudah lompat keluar sambil angkat tangannya menghalaunya.
"Siapa kau?"
Bentaknya.
"Kau berani bikin kaget lootayjin?"
Dua tubuh, atau lebih benar dua tangan, bentrok dengan keras, dengan kesudahan kedua-duanya terhuyung mundur sendirinya. Tiong Liam segera menampakkan diri.
"Cio Ciehui, pieCit di sini!"
Bekas Congtok ini perkenalkan diri. Ia menggunakan kata-kata "pieCit" --yang rendah --untuk bahasakan dirinya.
"Apakah Sri Baginda menitahkan memanggil pieCit?"
Di jaman Beng, memang biasa raya memperlakukan bengis pada menteri-menteri nya, untuk perkara yang sangat kecilpun orang bisa dicekuk Kimiewie, untuk dihukum siksa hingga binasa.
Tiong Liam baru meletakan jabatan, maka ia kuatir ditangkap raja, karenanya, suaranya agak menggetar.
Cio Ho lantas awasi bekas Congtok itu.
iapun masih ingat.
"Ah benar-benar To Lootayjin di sini,"
Katanya kemudian.
"Hamba hendak tawan orang jahat, di sini hamba berlaku kurang ajar, harap lootayjin suka memberi maaf."
Tapi ia tertawa dan terus menambahkan.
"Sri Baginda senantiasa ingat lootayjin, sehingga ia mengatakan bahwa lootayjin adalah satu pembesar yang baik..."
Mendengar itu, lega juga hatinya Tiong Liam. Lantas ia memberi hormat.
"Silakan duduk! Mari minum!"
Ia mengundang.
"Lootayjin begini sungkan, tidak dapat hamba menerimanya,"
Berkata Cio Ho.
"Hamba sedang diberi tugas oleh Sri Baginda, tidak berani hamba berdiam lama di sini, harap lootayjin maafkan."
Segera dia ajak tiga anggauta Kimiewie kawannya itu mengundurkan diri. Selagi lewat di depan Ciauw Lam dan Ciauw Hie. dia melirik kepada kedua pemuda itu. Tiba-tiba dia tertawa.
"Lootayjin, sungguh hebat kedua piauwsumu ini!"
Katanya. Tetapi Tiong Liam diam saja. Keng Ciauw Lam melihat ke bawah, ia dapatkan tapak kaki dalamnya setengah dim di lantai, ia tertawa dingin.
"Budak-budak itu gemar sekali mempertontonkan Iweekangnya, tetapi mereka masih tidak dapat lawan saudara she Ong ini. yang tidak banyak lagak seperti kosong tiada berkepandaian!"
Katanya secara mengejek. (Iweekang adalah ilmu "dalam", pokok dasarnya lemas). Dengan tiba-tiba terdengar suara kesusu dari Tiong Liam di dalam kamar.
"Keng Hiantit, mari! Mari lekas!"
Dengan tindakan pesat anak muda itu taati panggilan itu.
Bekas Congtok ini adalah seorang ulung dalam kalangannya, setelah hatinya tenteram, dia segera dapat berpikir.
Lantas dia menduga jelek terhadap Ong Ciauw Hie, sekarang ia menyangkanya, bahwa pemuda serba putih ini adalah satu penjahat yang sedang dicari pahlawan-pahlawan Kimiewie itu.
Dia anggap dirinya sudah digunakan sebagai tameng oleh pemuda itu.
Hal ini membuat ia berkuatir sekali Apabila hal ini diketahui raja mungkin ia akan dipandang berdosa sampai kepada seluruh keluarganya.
Karenanya, ia segera teriaki Ciauw Lam.
untuk mengutarakan dugaan dan kekuatirannya itu.
Ciauw Lam tertawa dingin.
"Hal ini siang-siang aku telah dapat melihatnya,"
Katanya.
Tiong Liam masih hendak bicara tetapi Ciauw Lam sudah mendahului keluar.
Di hoathia.
sepasang lilin besar masih menyala menggenclang.
Di situ Ong Ciauw Hie masih berduduk seorang diri, akan tetapi sekarang ia sedang tenggak araknya dengan cawan yang besar.
Ia menenggak dengan bernapsu.
Ciauw Lam datang menghampiri, wajahnya muram.
"Hiantee, kau benar-benar seorang kangouw ulung, aku sangat kagum!!"
Kata orang she Keng ini sambil berulangulang perdengarkan suara "Hm! Hm!"
"Jangan gusar, saudara Keng."
Sahut Ciauw Hie dengan tenang.
"Aku lakukan ini karena terpaksa..."
Sepasang matanya Ciauw Lam berputar, sekonyongkonyong tangan kanannya menjambak, sambil berbuat demikian, ia membentak.
"Nyalimu besar sekali sudah berani permainkan orang Butong pay!"
Ciauw Hie egos turun pundaknya yang hendak dijambak itu, tapi Ciauw Lam segera susul dengan tonjokan tangan kiri ke arah dadanya.
Ciauw Hie bersenyum, ia mengkeratkan dadanya dan mengelak ke samping hingga jotosan lewat di sisinya.
Karena ia tidak mengangkat tubuh untuk berbangkit, maka ia masih tetap bercokol di atas kursi, sikapnya pun sebagai tidak terjadi sesuatu.
Ciauw Lam heran berbareng penasaran sekali, ia menyerang pula, tangan kirinya menjambak, dan tangan kanannya menotok.
Inilah serangan yang merupakan salah satu dari tiga puluh enam jurus dari Taykimna Ciu, Tangan Menawan, dari Butong pay.
Ong Ciauw Hie sedang duduk bercokol, nampaknya sukar untuk ia dapat bebaskan diri dari serangan hebat itu, akan tetapi kesudahannya adalah di luar sangkaannya murid dari Pek Sek Toojin itu.
Sebat luar biasa, dari samping Ciauw Hie bentur tangan kiri penyerangnya, hingga ia lolos dari cengkeraman, berbareng pula tangan kanannya menolak sikut kanannya penyerang itu.
hingga kembali ia luput dari bahaya.
Hanya kali ini ia terus berseru.
"Saudara Keng, tahan dahulu! Lihat, musuh tangguh sudah datang! Kalau bersatu kita selamat, berpisah kita celaka!"
Ciauw Lam tidak ulangi serangannya walaupun hatinya sangat penasaran. Ia sudah lantas dengar suara apa-apa dari kejauhan, hingga wajahnya menjadi berubah. Ong Ciauw Hie tertawa.
"Kali ini yang datang adalah penjahat sejati!"
Katanya.
"Buat omong terus terang, ke lima rombongan penjahat yang paling liehay dari wilayah perbatasan SuCoan -Siamsay. malam ini datang semuanya!"
Keng Ciauw Lam menjadi sangat gusar.
"To Tayjin tidak membawa banyak uang, mengapa kau main gila secara demikian ini, kau bersandiwara di dalam untuk sambut yang di luar?"
Ia menegur. Masih Ciauw Hie tertawa.
"Kau sangka aku menjadi cecolok di sebelah dalam?"
Dia tegaskan.
"Kau keliru! Sasaran mereka itu adalah aku, bukan tayjinmu itu! Namun mereka akan sekalian mengulur tangan untuk menuntun kambing, yaitu setelah merampas aku, mereka akan rampas juga pihakmu!"
Ciauw Lam semakin dibikin terbenam dalam keragu-raguan.
"Pundakmu tidak menggendol, tanganmu kosong kiri kanan, apa yang hendak dirampasnya darimu?"
Pikirnya. Ciauw Hie tidak berikan orang kesempatan untuk melamun.
"lekas mundur ke dalam kamar!"
Serunya, dengan sungguhsungguh.
"Lekas singkirkan tengloleng kepangkatan itu! Mungkin bencana tidak merembet kepadamu..."
Ciauw Lam masih agak sangsi, hingga ia berdiri diam saja.
Ciauw Hie lompat bangun akan membisikkan piauwsu istimewa itu.
Baru sekarang orang she Keng itu angguk-anggukkan kepala dan.
lantas undurkan diri.
Suara berisik tadi datang semakin dekat.
Ciauw Hie pergi kepintu untuk dipentangkan lebar-lebar, menyusul kemudian belasan orang merubut masuk, perawakan mereka ada yang jangkung dan cebol tidak berketentuan.
Kong Ciauw lam lihat, di antara mereka itu terdapat ketiga toCu.
ketua dari Liongbun pang, partai dari Pintu Naga (Liongbun).
Melihat mereka itu, mukanya si piauwsu tua menjadi pucat pias.
"Celaka kali ini..."
Katanya dengan perlahan pada Ciauw Lam"Telah datang tiga rombongan penjahat yang paling liehay.
Di samping dari Liongbun SamtoCu itu, datang juga Puisie Hengtee dari Hekhouw gjam dari Taypa san dan Beksie Samhiong dari Tengkun san."
Puisie Hengtee adalah dua saudara she Pui dan Beksie Samhiong tiga jago she Bek.
"Masih ada dua rombongan yang belum sampai,"
Ciauw Lam kasih tahu.
"Kau tunggu saja!"
Di antara belasan orang yang baru muncul itu.
tampak berdiri di tengah Lootoa Bek Hong Cun.
tertua dari Beksie Samhiong dari gunung Tengkun san.
Matanya mencilak memain, lantas dia tertawa terbahak-bahak.
Dia awasi Ciauw Hie dengan tajam.
"Benar kau seorang cerdik!"
Katanya.
"Di mana kau simpan barang-barang permatamu? Apakah kau tidak mau lekas-lekas mengeluarkan-nya? Apakah kau campurkan dengan barangbarangnya si pembesar anjing?"
Ong Ciauw Hie sedikitpun tidak menjadi takut, malah ia perdengarkan suara nyaring.
"Bek Lootoa. kau seorang kangouw ulung, mustahil kau masih tidak dapat melihatnya?"
Katanya. Inilah teguran yang berupa ejekan.
"Sudah lama aku dengar namamu yang besar, tak kusangka, kau kiranya begini saja! Belum kau gerakkan tangan, kau sudah kalah satu gebrakan!"
Kata-kata ini disusul dengan tertawanya gelak-gelak Tie Keng Hiong, CongtoCu atau ketua dari Liongbun pang tertawa besar, dia perlihatkan jempolnya.
"Saudara, kau cerdik sekali!"
Katanya.
"Sekarang cobalah kau keluarkan untuk kami semua menambah pengalaman, supaya selanjutnya kita bisa ikat tali persahabatan !*' Ong Ciauw Hie, yang tadi sudah duduk kembali lalu berbangkit dengan perlahan-lahan, dan dengan tindakan yang tenang ia menghampiri pelananya yang tadi digabrukkan di sudut kamar, la angkat dan bawa pelananya itu, ditaruh di atas meja hioto. Enteng tampaknya ia angkat pelananya itu, akan tetapi waktu mengenai meja, pelana itu perdengarkan satu suara bentrokan berat. Dengan mulut bungkam pemuda ini cabut pedangnya, dengan apa ia potong kulit pelananya itu. Pelana yang hitam dan tadinya tidak menarik perhatian itu segera memperlihatkan isinya yang bercahaya gemerlapan, ialah lempengan emas yang ditabur dengan belasan mutiara besar, hingga sinarnya menyilaukan mata. Tiga saudara Bek saling mengawasi dengan ternganga. Orang Rimba Hijau yang ulung pandai sekait menaksir berat atau banyaknya isi buntalan orang pelancongan, taksirannya jarang gagal. Demikian ke lima rombongan jagojago dari perbatasan SuCoan -Siamsay ini. Sudah berharihari mereka memasang mata terhadap Ong Ciauw Hie. mereka menduganya dia bawa barang berharga, tetapi mereka belum dapat menerkanya di mana ditaruh atau disimpannya harta besar itu. Baru sekarang mereka kecele menyaksikan harta itu hanya diumpetkan di dalam pelana! Ong Ciauw Hie tertawa, ia angkat injakan kaki pelananya itu.
"Semua sesama orang sendiri,"
Katanya dengan tegas.
"karena aku tak punyakan lain barang untuk dihaturkannya, aku serahkan saja injakan kaki ini untuk saudara-saudara. Aku minta supaya barang ini dipandang sebagai bingkisan yang tidak berarti."
Semua jago Rimba Hijau itu saling mengawasi.
"Kau cerdik, kami menyerah kalah!"
Kata Bek Hong Cun dengan suara yang dalam.
Ia tidak sambutkan injakan kaki itu, ia hanya putar tubuhnya dan pergi.
Keng Ciauw Lam di dalam kamar saksikan kejadian itu, bukan main lega hatinya.
Saat hebat telah lewat.
Bek Hong Cun baru hendak melangkah di ambang pintu, atau dari luar terdengar suara tertawa hihi-hihi.
menyusul berkelebat menerobos masuknya seorang.
Setelah berada di dalam thia.
orang lihat dia adalah seorang tua kate dan gemuk, sambil mengepulkan asap hunCweenya.
"Ha, bagus sekali!"
Katanya tiba-tiba.
"Tidak menunggui aku lagi. kalian sudah membagi-bagi harta!"
"Siauw Toako, kita telah jatuh pamor!"
Kata Bek Hong Cun.
"Hm! siapa yang jatuh?"
Kata orang tua kate terokmok itu.
"Dari siang-siang aku telah dapat melihatnya, dalam pelananya itu ada hantunya! Semua pembicaraanmu aku telah dapat dengar, tetapi aku bukannya satu pengemis! Aku tidak mau orang mengamatnya kepadaku hanya dengan injakan kaki saja!..."
Ciauw Lam belum pernah bertemu si kate ini, akan tetapi dengan melihat perawakan dan gerak-geriknya orang, tahulah ia bahwa orang ini Siauw Soan Yang.
begal tunggal di Siamsay Selatan, yang biasa bekerja seorang diri saja.
Iapun tahu bahwa hunCweenya itu -pipa panjang sebenarnya adalah penganggan-nya yang dapat digunakan sebagai alat penotok jalan darah berbareng sebagai pedang Ngoheng kiam.
Ia hanya tidak sangka, orang yang kenamaan ini kelakuannya demikian rendah.
Ong Ciauw Hie bersenyum, agaknya ia tak jeri terhadap si kate ini.
"Siauw LootiaCu."
Katanya.
"kau seorang dari angkatan tua. jikalau injakan kakiku ini dipersembahkan kepadamu memang tidak ada artinya, akan tetapi di sini ada seorang sahabatku, dia tidak menyetujuinya."
"Siapakah sahabatmu itu?"
Soan Yang tanya.
"Silakan dia keluar..."
Belum habis ucapan itu dikeluarkan, dari dalam kamar sudah lompat keluar satu orang, siapa terus saja berkata.
"Keng Ciauw Lam murid Butong pay memberi hormat kepada semua Cianpwee!"
Kedua matanya Siauw Soan Yang berputar.
"Oh, kau murid Butong pay?"
Katanya.
"Mari kita ikat persahabatan!"
Ia angsurkan tangannya untuk berjabatan tetapi diam-diam ia kerahkan tiga jarinya untuk menyerang dengan ilmu silat Hunkin Cokut hoat ialah ilmu "Memecah urat membagi tulang".
Keng Ciauw Lam bisa duga serangan gelap itu ketika tangannya bentrok satu dengan lain.
ia elakkan diri dengan gunakan tipu silat "Samhoan togoat"
Atau "Mengalungi rembulan".
"Bagus!"
Seru Soan Yang sambil ia angkat tangan kirinya, akan tepuk pundak kanan orang.
Ciauw Lam kumpul tenaga di kedua lengan, yang ia rangkap satu dengan lain, lalu ia egos pundaknya dengan gerakan "Giehoc seebong"
Atau "Nelayan menjemur jala". Secara demikian, ia luput pula dari ancaman bahaya.
"Ha-ha-ha-ha!"
Soan Yang tertawa.
"Benar-benar murid Butong pay!"
Kemenangannya Ciauw Lam ini berkat kecerdikannya, pula karena pamor partainya.
Mengenai ilmu silat, ia masih kalah dari Siauw Soan Yang, akan tetapi begal tunggal ini telah dipengaruhi nama partai itu.
Butong pay tersohor sekali dan dimalui.
Akan tetapi Soan Yang masih penasaran.
"Kenapa Ciokhee campur air keruh ini?"
Tanyanya kemudian.
"Siapa kata air keruh?"
Kata Ciauw Lam.
"Kita adalah sesama golongan. Emas adalah perkara kecil tetapi nama Butong pay tak dapat dijatuhkan di sini."
Soan Yang tertawa secara tawar.
"Murid-murid Butong tidak pernah menjadi piauwsu. mereka tidak pernah menjadi penjahat, kenapa kau dan dia bisa menjadi dari satu golongan?"
Dia tanya pula.
"Bukankah urusan kangouw setiap orang berhak mengurusnya?"
Ciauw Lam balik tanya.
"Kau hendak membegal karena andalkan jumlah yang jauh lebih banyak, maka aku yang telah melihatnya tidak dapat membiarkannya!"
Masih begal tunggal dari Siamsay itu tertawa.
"Adakah perbuatanmu ini karena suruhan gurumu?"
Dia tanya tegas-tegas.
"Dan mengapa dia hanya utus kau seorang?"
"Untuk membela keadilan, mengapa mesti tunggu titah guru?"
Baru Ciauw Lam mengucap demikian, ia lihat lirikannya Ciauw Hie, ia lantas sadar dengan tiba-tiba. maka lekas-lekas ia menambahkan.
"Sekarang ini angkatan kedua dan Butong pay sedang berkumpul di Siamsay, rombongan itu memang ada niatan untuk membuat pertemuan dengan orang-orang Rimba Persilatan sebangsamu yang kenamaan."
Soan Yang terperanjat.
Ia baru saja dapat pikir, kalau orang Butong pay ini tidak mempunyai lain kawan separtai, ia hendak mengerjakannya, dan mayatnya disingkirkan untuk melenyapkan bekas, tetapi sekarang mendengar pihak Butong itu sedang berapat, ia menjadi jeri.
la menduganya pihak itu tentulah berjumlah banyak.
Maka walau nyalinya besar, ia tidak berani bentrok murid-murid Butong pay itu.
"Jangan gusar, Ciokhee,"
Katanya setelah sedot hunCweenya dan tertawa.
"Karena dia sahabatmu, mustahil kami tidak ingat kepada persahabatan?"
Mendengar demikian, lega hatinya Ciauw Lam hingga tanpa merasa ia menyeka jidatnya yang telah mengeluarkan keringat.
Dua kali ia telah berhasil elakkan diri dari serangan Soan Yang, ia insyaf, bahwa ia bukannya tandingan begal tunggal itu.
Iapun mengerti, begal ini telah dapat digertak olehnya, yang mengatakan hal berapatnya murid-murid Butong pay angkatan kedua.
Keterangannya ini bukan tidak benar anteronya.
Rapat memang tidak ada, akan tetapi Cie Yang Toojin telah utus empat muridnya ke Siamsay untuk suatu tugas, melainkan di antara ia dan empat saudara seperguruannya itu tidak ada hubungannya.
Siauw Soan Yang lihat orang menyeka keringat, mendadak hatinya tergerak, karenanya ia terus berdiri tegak, kedua matanya mengawasi dengan sinarnya yang tajam.
"Inilah hebat..."
Ong Ciauw Hie mengeluh dalam hatinya. Sekonyong-konyong Soan Yang tertawa sambil melenggak, lalu terdengar suaranya yang nyaring tegas.
"Kwie Toako, bagus kau telah datang! Bagaimana pendengaranmu, bocah ini sedang berdusta atau tidak?"
Pertanyaan itu disambut dengan berkelebatnya satu bayangan hitam dari luar melesat kedalam.
Sehingga tertampak seseorang tua dengan muka merah, tubuhnya tinggi dan besar.
Lantas orang ini tertawa gelak-gelak.
"Memang Butong pay telah kirim empat muridnya tetapi mereka semua telah orang dapat bekuk!"
Katanya dengan suara dahsyat.
"Lain orang berani bentur Butong pay, mengapa kita tidak? Bocah ini berada sendirian di sini, mari kita hajar mampus padanya, mayatnya kita lemparkan ketegalan untuk dikasihkan srigala berpesta! Bila Butong Ngoloo datang kemari mencari padanya, perhitungan ini tidak mengenai kita, sudah ada orangnya yang akan jadi sasaranya!"
Hatinya Keng Ciauw Lam goncang dan berkuatir.
Ia menduga pasti bahwa orang tua muka merah ini tentu Engjiauw Ong Kwie Yu Ciang si Raja Kuku Garuda, satu begal tunggal pula yang kenamaan di SuCoan Timur.
Ia heran bagaimana orang ini dapat ketahui pihaknya hanya kirim empat orang.
Ia lebih heran lagi, orang ini ketahui juga ke empat saudara seperguruan itu telah ditawan lain orang.
Siapakah pihak penawan itu?
Pun Siauw Soan Yang turut heran juga.
"Kwie Toako, tunggu dulu!"
Ia berkata "Apakah kau artikan si Iblis Wanita ini telah turun tangan? Di sini toh bukan wilayah yang masuk lingkungan pengaruhnya?"
Kwie Yu Ciang pandang sahabat itu.
"Hai, mengapa nyalimu demikian kecil?"
Kata dia.
"Kita kaum Rimba Hijau dari perbatasan SuCoan -Siamsay, tak dapat membiarkan diri kita ditindih oleh satu bocah cilik wanita!"
Sambil mengucap demikian, begal tunggal inipun berbareng sudah lantas bekerja.
Dengan bergerak pundaknya, tangannya yang besar dan lebar seumpama payung sudah menyambar ke arah Keng Ciauw Lam.
Murid Butong pay itu kaget sekali, terutama karena ia tampak, telapakan tangannya orang she Kwie itu bersinar merah bagaikan nyalanya arang.
la tidak berani menyambutinya, maka ia hanya berkelit dengan segera.
Tapi di samping itu ia tidak mau menyerah dengan begitu saja, kaki kanannya telah diterbangkan ke arah jalan darah "peksiehiat"
Didengkul orang tua itu.
Kwie Yu Ciang tertawa dingin.
Cepat ia geser kakinya, lalu terus dimajukan kembali untuk berlompat menerjang, lima jari tangan kanannya menyambar kaki penendang yang sedang ditarik pulang itu.
Ciauw Lam tampak ancaman bahaya, ia berlaku sebat menarik pulang kakinya itu.
Akan tetapi Engjiauw Ong segera rangsek padanya, hingga ia mesti mundur berulang-ulang.
Ia lantas jadi mendongkol terhadap Ong Ciauw Hie, yang ia lihat tidak maju membantui padanya.
Kwie Yu Ciang mendesak terus.
Terdengar nyata sambaran angin dari serangannya yang bertubi-tubi itu, yang merepotkan sangat lawannya.
Ciauw Lam telah didesak sampai di pojok tembok.
Di saat Engjiauw Ong hendak turunkan tangan jahatnya yang berupa serangan terakhir, mendadak ia dengar ucapannya Ciauw Hie.
"Kalian mengarah! pelanaku, itulah tidak sulit! Akan tetapi pernahkah kalian menanyakannya kepada Giok LoSat?"
Waktu itu bukan hanya Siauw Soan Yang seorang yang sedang desak Keng Ciauw Lam, juga Puisie Hengtee dan Beksie Samhiong sudah maju mengurung untuk menjaga orang loloskan diri, tetapi ketika mereka dengarsuaraitu, mereka menjadi kaget malah Kwie Yu Ciang sudah lantas mencelat mundur.
"Apa? Giok Lo Sat si Wanita Raksasa katamu?"
Dia tegaskan sambil matanya mengawasi. Ong Ciauw Hie tidak gubris pertanyaan itu.
"Bagi orang-orang Rimba Hijau, dia boleh garong seribu rumah, tapi tidak rampas barang sumbangsih!"
Demikian dia kata, sikapnya tenang tetapi suaranya keras.
"Ini adalah bingkisan orang untuk Giok Lo Sat! Apakah benar kalian hendak hitam gegares hitam?"
Wajahnya Siauw Soan Yang menjadi pucat sekali.
"Kwie Toako. tunggu dulu!"
Ia cegah kawannya. Tapi Yu Ciang sudah lantas maju pula, maju sambil berlompat.
"He, bocah! Kau hendak gertak aku dengan namanya Giok Lo Sat?"
Kata dia dengan bengis karena murka "Siapa gertak kau?"
Membaliki Ciauw Hie, tetap tenang. Ia angkat pelananya untuk di balik, hingga di kulit belakangnya dari pelana itu kelihatan ukiran dari beberapa huruf, bunyinya.
"Dipersembahkan kepada Nona Lian Nie Siang."
"Ini toh bukannya ukiran yang baru saja aku buat?"
Dia menambahkan dengan pertanyaannya. Soan Yang segera tarik Yu Ciang ke samping.
"Kwie Toako. urusan ini kita harus percaya akan kebenarannya,"
Kata begal tunggal dari Siamsay Selatan itu.
"Turut pendapatku baiklah bocah ini kita berikan kebebasan."
Kwie Yu Ciang bersuara MHm, hm!"
Beberapa kali, lantas dia tunduk untuk berpikir.
Ketiga saudara Bek dan ketigajago Liongbun pang datang mengerumuni.
Tinggal persaudaraan Pui, yang masih melakukan pengawasan.
Keng Ciauw Lam heran, hingga ia berdiri terpaku.
"Siapa itu Giok Lo Sat?"
Ia menerka berulang-ulang.
"Nama ini belum pernah aku mendengarnya... Kenapa semua jago ini tampaknya ketakutan sangat?"
La masih menerka-nerkanya, tanpa hasil. Baru lewat beberapa detik, terlihatlah Kwie Yu Ciang si begal tunggal dari SuCoan Timur tiba-tiba angkat kepalanya, kedua matanya memperlihatkan sinar tajam.
"Tidak perduli barang kepunyaan Giok Lo Sat, aku hendak merampasnya juga!"
Kata ia separuh mengerutu. Siauw Soan Yang berjingkrak.
"Toako. toako!..."
Katanya dengan suaranya tertahantahan.
"Hm!"
Bersuara pula begal she Kwie itu. dibarengkan sebelah tangannya diayun, lalu.
"Brak!"
Dan ujung meja hiotoh dihajar patah. Dia terus berseru dengan sengitnya.
"Dalam satu tahun ini sudah cukup banyak kita terima gangguannya bocah perempuan itu, maka baiklah kita gunakan ketika ini untuk membebaskan diri dan lawan padanya!"
Siauw Soan Yang mundur beberapa tindak.
"Ini...ini..."
Katanya, suaranya menggetar.
"Kecewa namamu yang termasyur!"
Seru Kwie Yu Ciang pula.
"Mengapa kau ketakutan demikian rupa? Toh tentang keliehayannya kita hanya baru dengar dari ceritanya orang, kita belum lihat dengan mata kepala sendiri! Hayo, siapa berani mari turut aku! Sudah pasti aku hendak rampas pelananya bocah ini!"
Persaudaraan Bek dan jago-jago Liongbun pang berdiam saja. Tapi persaudaraan Pui berikan jawabannya.
"Kita suka turut Kwie Toako!"
Demikian katanya. Kwie Yu Ciang berpaling kepada Siauw Soan Yang. matanya bersinar.
"Baiklah!"
Kalanya, dengan kecele.
"Persaudaraan kita selama beberapa puluh tahun nyata sia-sia belaka!..."
Soan Yang tertawa meringis "Jikalau sudah pasti toako hendak turun tangan, baiklah aku turut."
Kata dia dengan sangat terpaksa.
Kwie Yu Ciang tertawa puas, lalu dengan tiba-tiba ia ulur sebelah tangannya, dengan melalui meja ia jambak Ciauw Hie.
Pemuda she Ong itu berkelit dengan sebat Dua saudara Pui.
menerjang berbareng dari kiri kanan.
Ciauw Hie memutar tubuh, lantas dia pentang kedua tangannya, dengan sikap "Co yu kay kiong" --"Mementang busur ke kiri dan kanan".
Dengan cara ini, ia tangkis serangannya Puisie Hengtee itu.
Kwie Yu Ciang maju.
kembali ia menyerang dengan kedua jari tangannya ditujukan ke arah sepasang matanya Ciauw Hie.
Dengan gerakan "Hong hong tiam tauw" ---"Burung hong menggoyang kepala", pemuda ini mencelat ke samping, menyingkir dari ancaman itu yang bisa menyebabkan mata buta.
lalu ia tertawa dengan dingin.
"Kwie Lootoa, kau telah terjebak ke dalam tipuku memperlambat waktu!"
Ia kata sambil mengejek.
"Jikalau kau hendak merampas, seharusnya kau lakukan sejak siang-siang. Sekarang baru kau turun tangan, nyata kau terlambat! Coba kau dengar, suara apa itu di luar?"
Yu Ciang melengak. ia memasang kuping. Ia dengar suara kentongan dipalu lima kali, tanda bahwa sang malam yang panjang sudah lewat dan mendekati pagi-Ong Ciauw Hie lantas saja tertawa besar.
"Kau sudah dengar, bukan? Itulah jam lima!"
Katanya dengan gembira. Sedikitpun ia tidak kenal takut.
"Giok Lo Sat segera akan datang, maka. Kwie Lootoa, apakah kau masih tidak hendak berhenti? Ingat, jikalau nanti kau mampus, kau akan tidak punyakan tempat untuk kubur dirimu!"
"Hm. binatang, kau hendak memperlambat-lambatkan tempo?"
Bentak Kwie Yu Ciang.
"Baiklah terlebih dahulu aku akan antarkan kau kepada Giam Lo Ong si Raja Akherat!"
Benar-benar jago dari SuCoan Timur ini kirim pula kepalannya yang mengeluarkan suara angin.
Dengan kegesitannya, Ong Ciauw Hie kelit serangan dari kematian itu, segera terdengar suara tertawanya yang nyaring dan panjang, dibarengkan dengan kesehatan kedua tangannya yang bergerak bagaikan kilat, menyebabkan kedua api lilin padam dalam sekejap, hingga hoathia pun menjadi gelap petang seketika itu juga!
Keng Ciauw Lam menempelkan tubuhnya ke tembok dan menahan napas.
Dalam tempat gelap itu, walaupun mereka berjumlah banyak, kawanan begal itu tidak berani sembrono turun tangan.
Kwie Yu Ciang pun berdiri diam untuk memasang kuping dan mata.
untuk dapat melihat di tempat gelap itu.
Segera juga dan luar terdengar suara tertawa yang nyaring tetapi halus, agak jauh terdengarnya, akan tetapi dalam sekejap suara itu sudah berada di depan pintu, hingga semua mata lantas berpaling ke arah pintu itu, yang kedua daunnya sekarang telah terpentang, mata mereka segera bentrok kesilauan cahaya api tengloleng!
Mereka pun menjadi kaget!
Di muka pintu yang lebar berbaris masuk serombongan wanita, empat yang jalan di muka masing-masing menenteng tengloleng berkembang, di belakangnya tampak pula empat wanita lainnya, yang jalan menjadi dua baris di kiri kanan, mengapit satu nona cantik bagaikan bidadari.
Nona ini mengenakan baju warna kuning jeruk dan pinggangnya terlibat angkin sutera warna putih.
Alisnya yang lentik panjang menaungi kedua matanya yang bersih jernih.
Dia bertindak sambil tertawa perlahan dengan sangat manisnya.
Di dalam ruang itu.
semua begal berdiri terpaku bagaikan patung-patung, antaranya ada yang mukanya pucat seperti mayat, ada juga yang merengkal.
Dalam keadaan seperti itu, terdengarlah suara riang dari Ong Ciauw Hie.
"Lian Liehiap, ayahku menanyakan kesehatanmu!"
Demikian suaranya yang nyaring terdengar nyata di dalam ruang sunyi senyap itu. (Liehiap = nona gagah). Nona itu manggut-manggut.
"Diapun banyak sehat, bukan?"
Balasnya, suaranya halus.
"Terima kasih!"
Ciauw Hie mengucap.
"Ayahku telah minta aku menyampaikan pelana ini kepadamu. akan tetapi mereka ini..."
Alisnya nona itu bergerak-gerak, dia tertawa.
"Ya, aku telah ketahui,"
Dia memotong.
"Bukankah mereka ini mengiler atas pelanamu itu?"
Kembali alisnya bergerak, tapi sekarang bergerak berdiri.
"Aku tak tahu bahwa pelana mi kepunyaanmu..."
Kata Siauw Soan Yang dengan cepat, suaranya tidak wajar. Mendengar sangkalan itu, Keng Ciauw Lam tertawa di dalam hatinya.
"Nona ini masih demikian muda, mungkin usianya belum dua puluh tahun."
Pikirnya.
"tetapi aneh tua bangka ini sangat jeri kepadanya!..."
Lagi-lagi alisnya si nona bergerak, lantas ia bersenyum.
"Siapa tidak tidak tahu, dia tidak bersalah."
Katanya.
"Mari kalian semua turut aku pulang ke gunung..."
Ia merandek sebentar, lalu ia tertawa. Ia pandang Kwie Yu Ciang "Oh. Kwie Lootoa. kau juga datang kemari?"
Katanya, menambahkan.
"Upetimu bagian bulan ini masih belum diantarkan, apakah kau lupa?"
Jago SuCoan Timur itu berdiri tegak mengawasi, tapi tibatiba ia perdengarkan suaranya.
"Giok Lo Sat, lain orang jeri terhadapmu, aku tidak! Di sini bukan daerah pengaruhmu, aku kehendaki pelanamu itu!"
Jago ini tidak hanya membentak, diapun lompat maju. Si nona yang orang sebutnya Giok Lo Sat itu berdiri diam, sikapnya tenang.
"Hayo tuan-tuan, siapa lagi yang hendak turut memiliki pelana itu?"
Tanyanya dengan sabar. Beksie Samhiong undurkan diri berbareng bersama pihak Liongbun pang.
"Kami tidak campur,"
Kata mereka.
Siauw Soan Yang yang mukanya menjadi pucat, tidak dapat buka mulutnya.
Puisie Hengtee juga berdiam, akan tetapi mereka berdiri di belakangnya Engjiauw ong Kwie Yu Ciang yang nyalinya besar itu.
Nona itu awasi semua orang, lalu ia tertawa panjang.
"Kwie Lootoa, memang siapa orangnya yang membuat kau takut?"
Dia kata.
Kwie Yu Ciang tidak menjawab, hanya tangannya ia ulur untuk menjambret Dengan sekonyong-konyong saja tubuhnya si nona seperti lenyap dari hadapan jago SuCoan Timur itu.
hingga jago ini kaget tak terkira, dia segera mundur Akan tetapi sudah kasep.
bebokongnya mendadak dia rasakan sangat sakit, tidak ampun lagi dia roboh terbanting!
Dua saudara Pui juga kaget tak kepalang, tapi seperti Yu Ciang, sebelum tahu apa-apa keduanya menjerit dengan tibatiba dan roboh bergulingan!
Setelah itu, barulah terlihat lagi si nona berdiri dengan tertawanya yang manis, ia seperti tidak menghadapi peristiwa apa juga.
Beksie Samhiong dan Liongbun Samto lantas maju memberi hormat.
"Kalian bangun, inilah bukan urusanmu!"
Berkata si nona.
Siauw Soan Yang lantas minta maaf berulang-ulang.
Akan tetapi, menghadapi begal dari Siamsay Selatan ini, si nona hanya tertawa dingin.
Di dalam rombongan penjahat itu.
Kwie Yu Ciang adalah yang paling kosen, ia empos semangatnya untuk lawan rasa sakit dari serangan yang ia peroleh itu, karenanya, ia, tidak usah menjerit dan merintih-rintih sebagai persaudaraan Pui itu.
Tapi ia hanya dapat berlawan sebentar saja, ia tidak dapat bertahan pula.
rasa sakitnya bukan main, sebagai juga digigitnya ular-ular berbisa, sehingga ia tidak bisa bersuara lagi.
Peluhnya (keringat) membasahi seluruh tubuhnya, ia bergelisah tidak keruan.
"Nona, aku meminta kau segera bunuh kami, agar kami tidak menderita siksaan lebih lama,"
Dua saudara Pui akhirnya memohon. Yu Ciang sendiri tetap tidak bisa bicara, hanya matanya seperti hendak copot karena menahankan sakit. Giok Lo Sat tertawa memandang kedua saudara Pui itu.
"Persaudaraan Pui, kalian melainkan ikut-ikutan, dapat kalian diberi setingkat keringanan untuk peroleh kebebasan lebih cepat."
Katanya.
Lantas ia angkat kedua kakinya saling susul menendang dua saudara itu hingga keduanya menjerit, terus mereka berdiam.
Keng Ciauw Lam yang menyaksikan itu kaget tak terkira.
Ia tidak sangka, nona secantik itu mempunyai hati demikian telengas.
seperti raja iblis.
Setelah bereskan Puisie Hengtee.
Giok Lo Sat menggapai kepada Siauw SoanYang.
"Mari kau!"
Demikian suara panggilannya, Dengan tubuh gemetar seluruhnya, Soan Yang menghampiri dengan tindakannya yang perlahan, sambil jalan kedua tangannya meraba-raba kepada tembok.
"Kau dengan Kwie Lootoa adalah saudara-saudara angkat dari beberapa puluh tahun, pasti erat sekali persahabatanmu!"
Kata si nona. suaranya sabar. Hancur rasa hatinya Soan Yang.
"Aku harap nona dapat maklumi bahwa di dalam urusan ini aku tidak ambil bagian."
Jawabnya. Wajahnya si nona bermuram durja karena jawaban ini.
"Percuma kau telah menjadi begal untuk banyak tahun!"
Dia menegur "Apakah kau masih belum mengerti pantangannya satu penjahat?
Matamu seperti tidak ada sinarnya, namun kau masih berani menjagoi dalam kalangan Rimba Hijau!
Pikirlah masakmasak!
Dia satu anak muda, tanpa tulang punggung, apakah dia berani bawa harta besar dengan bersendirian saja?
Baik aku beri tabukan kau, jikalau barang bingkisan itu bukan untukku, tak berani aku datang kemari untuk mencampuri pekerjaanmu.
Mengapa sebelum kau cari keterangan dahulu tentang dia ini, kau sudah turut saja ojokan orang dengan bekerja sama untuk ganggu padanya?
Bukankah itu berarti kau buta melek?"
Soan Yang terus membungkam, tetapi makin dicaci-maki makin hatinya lega.
hingga akhirnya tenteramlah hatinya yang tadinya goncang keras.
Ia ketahui baik adat tabiatnya Giok Lo Sat.
Selagi menghadapi nrusan besar, kalau si nona berseriseri, dan kata-katanya halus dan sabar, itu artinya dia akan menggunakan kekerasan, sebaliknya, kalau dia berlaku bengis, itu berarti tak akan terjadi kehebatan.
Ia tunggu sampai si nona berhenti menegur, ia segera membarengkan dengan kedua tangannya ia gaploki mukanya sendiri berulang-ulang.
"Ya, mataku buta. tidak berhak aku menjadi begal!"
Ia mengoceh seorang diri, mengakui kesalahannya "Harap nona sudi beri pengajaran kepadaku."
"Jikalau kau insyaf akan kesalahanmu, aku suka memaafkannya."
Kata Giok Lo Sat kemudian.
"Sekarang hayo kau bikin habis saudara angkatmu ini!"
Soan Yang kaget sehingga pucat mukanya.
Kwie Yu Ciang adalah sahabatnya untuk puluhan tahun, sampai hatikah dia membunuh sahabat ini?
Kwie Yu Ciang bergulingan pergi pulang, ia bergelisah tidak keruan, kemudian ia berguling mendekati Soan Yang kepada siapa ia mengawasi, sinar matanya memohon supaya sahabat ini lekas-lekas bunuh padanya.
Bukan main sangsinya Soan Yang, ia merasa berat tetapipun hatinya takut...
Ciauw Lam yang sedari tadi diam melihatkan semua kejadian itu.
mendadak lompat maju.
"Kwie Yu Ciang adalah begal tunggal yang jahat sekali dan sesat, jikalau kau bunuh padanya, itulah sebagai kau mewakilkan kaum Rimba Hijau menyingkirkan satu manusia busuk!"
Katanya dengan nyaring.
"Dengan singkirkan begal ini. orang tidak akan menyalahi tindakanmu ini. Akan tetapi untuk memaksa mereka berdua saling bunuh, aku anggap tidak tepat, bukan perbuatannya orang terhormat!"
Berubah wajahnya Giok Lo SaL tetapi ia tertawa.
"Kau dari golongan mana?"
Dia tanya.
"Murid Butong pay angkatan kedua!"
Sahut Ijiauw Lam dengan angkuh.
"Oh. dari Butong pay! Maaf. maaf..."
Katanya, matanya memain. Terus ia pandang Soan Yang dan kata.
"Siauw Soan Yang. aku sebenarnya sedang uji hatimu. Kau dan Kwie Yu Ciang adalah orang-orang segolongan, tetapi aku tahu kau tidak sejahat dia. Aku suruh kau bunuh dia. kau tidak lancang melakukan titahku itu, inilah bagus. Baik. karena sifatmu ini, aku tidak memaksa untuk kau menjadi algojo."
Sehabis mengucap demikian, nona ini ayun sebelah kakinya terhadap Kwie Yu Ijiang.
Habislah riwayat begal tunggal dari SuCoan Timur itu.
ia berpulang ke tanah baka.
Lalu.
nona ini berpaling kepada semua orang.
"Sekarang kau semuanya ikut aku ke Tengkun san!"
Katanya. lapun tertawa. Kemudian ia tunjuk Keng Ciauw Lam, akan tanya.
"Kau hendak pergi ke mana? Apakah kau hendak lanjutkan melindungi To Tayjin? Kau juga harus turut aku. berikut To Tayj in serta semua barang bawaannya mesti diangkut ke atas gunung!"
Ciauw Lam kaget tidak kepalang.
"Sungguh besar nyalinya Giok Lo Sat,"
Pikirnya.
"Bagaimana berani dia membentur aku dan Butong pay!"
Butong pay telah jadi terlalu kesohor hingga ada banyak muridnya yang menjadi keras kepala, Keng Ciauw Lam tidak terkecuali, akan tetapi sekarang ia toh bersangsi menghadapi sikapnya Giok Lo Sat.
Jikalau tidak menurut, ia kualir kena dikalahkan, sebaliknya kalau turut, ia kuatirkan pamornya jatuh yang bersangkut paut dengan nama baiknya Bodong pay.
Ong Ciauw Hie melirik dan mengedipkan mata.
ketika orang Butong pay itu tengah terbenam dalam keragu-raguan.
"Saudara Keng memang sangat pangeni Lian Licin.ip."
Kata Ciauw Hie dengan terang tegas.
"malah selama di perjalanan, dia telah utarakan niatnya mengunjungi liehiap kepadaku."
Mendengar ini, mengertilah Ciauw Lam bahwa orang hendak cegah ia bertindak secara sembrono, maka ia merasa tidak puas, ia harus kendalikan diri. la juga pikir.
"Tidak boleh aku terima penghinaan di depan banyak mata. Baik aku turut padanya akan lihat apa yang hendak ia lakukan, andaikan dia tidak memberi muka dengan merampas juga harta benda To Tayjin, terpaksa aku mesti undang saudara-saudara seperguruanku untuk tempur padanya!"
Lantas ia masuk ke dalam kamar untuk memberitahukan Tiong Liam, iapun minta bekas Congtok ini bersabar dan ikut ke gunung.
Tiong Liam bisa berpikir, apapula piauwsunya pun membujuknya untuk mengikut saja.
Maka ia kata.
"Baiklah, asal jiwaku selamat. Harta benda adalah barang sampingan."
Demikian, setelah kekacauan itu, selagi cuaca remangremang.
Giok Lo Sat serta delapan pengiringnya mengiringkan rombongannya To Tiong Liam dan kawanan begal itu menuju ke gunung Tengkun san.
yang menjadi cabang dari pegunungan Taypa san.
Pesanggrahannya di atas gunung itu merupakan sebagai benteng, dari kaki gunung sampai di atas, dengan berjarak-jarak, ada bandit-bandit wanita yang melakukan penjagaan dan menyambut rombongan.
Semua mereka nampaknya gagah.
Ong Ciauw Hie kagum melihat serdadu-serdadu wanita itu, di dalam hatinya ia kata.
"Tampaknya nona-nona ini mungkin lebih gagah daripada serdadu-serdadunya ayahku."
Sesampainya di atas gunung.
Giok Lo Sat berikan titahnya supaya rombongan To Tiong Liam diantar ke kamar tetamu yang besar, dan barang-barang berikut kereta-keretanya dibawa ke belakang.
Ong Ciauw Hie dapat satu ruang tersendiri, akan tetapi ia bebas merdeka untuk temui Keng Ciauw Lam dan lain-lainnya.
"Loopiauwtauw,"
Berbisik Cjauw Lam kepada si kepala piauwsu.
"kau telah lama popiauw di Barat utara, tahukah kau Giok Lo Sat ini orang macam apa?"
"Dia adalah penyamun wanita yang baru muncul selama dua tahun ini."
Jawab orang yang ditanya.
"Orang mengatakan dia bernama Lian Nie Siang akan tetapi di dalam kalangan Rimba Persilatan tidak ada orang yang ketahui jelas tentang asal-usulnya, lebih-lebih tidak ada yang tahu dari mana dia peroleh kepandaiannya yang liehay itu. Aku dengar orang bercerita, walaupun dia baru muncul, dengan tangan kosong serta sebatang pedangnya dia pernah robohkan delapan belas penjahat besar, dan pertempurannya itu telah dilihatnyaoleh Lie Jie Hu, jago silat kesohor dari Siamsee itu dengan mata kepala sendiri. Lie Jie Hu nyatakan, ilmu silat bertangan kosong dan ilmu pedangnya si nona beda daripada orang banyak umumnya, belum pernah ia melihatnya, maka itu ia mau percaya, tidak usah sampai sepuluh tahun nona itu tentulah akan menjagoi seluruh golongan, mengalahkan semua jago silat lainnya."
Ciauw Lam perdengarkan suara "Hm!"
Piauwsu tua itu segera insyaf bahwa ia telah omong terlalu banyak, lantas ia tertawa dan menambahkannya.
"Lie Jie Hu luas penglihatannya akan tetapi mengenai Giok Lo Sat mungkin ia agak berlebihan. Dari pihakmu. Butong pay. ilmu tangan kosong Kiockiong Sinheng Ciang dan ilmu pedang CitCapjie Ciu Lianhoan kiam adalah ilmu asli Rimba Persilatan, tak dapat dibandingkan dengan lain kaum..."
Piauwsu ini mengatakan demikian karena ia ingat, selama beberapa puluh tahun ini kaum Bulim atau Rimba Persilatan telah memandangnya Cie Yang Toojin dari Butong pay sebagai ahli silat nomor satu.
Kata-katanya tadi tidakkah ia telah menindih toojin itu?
Ciauw Lam bersenyum mendengar perkataannya piauwsu ini, ia masih bersikap jumawa, akan tetapi hatinya puas.
Seantero hari itu, To Tiong Liam dan rombongannya telah disekap di dalam kamar, selindakpun mereka tak dapat keluar, akan tetapi mendekati sore.
dua serdadu wanita datang kepada mereka.
"CeeCu kam i undang To Tayjin dan Keng Enghiong menghadiri perjamuan!"
Demikian katanya. (Dengan "CeeCu"
Diartikan ketua pesanggrahan).
Undangan ini diterima dengan baik.
Ruang pesanggrahan diterangi dengan banyak lentera, di situ disiapkan dua buah meja perjamuan, kecuali Giok Lo Sat Lian Nie Siang yang cantik bagaikan bidadari, ada berkumpul Hoansanhouw Ciu Tong.
Hweelengwan Cu Poo Ciang dan lainnya, berikut SeeCoan Siangsat yang dikeiemukan di tengah jalan.
Dua belas nona-nona disediakan untuk melayani hadirin.
Di luar ruang pesanggrahan dijaga serdadu-serdadu (liauwlo) wanita.
Meskipun mereka menghadapi pesta, tapi jago-jago Rimba Hijau itu semua kuncup hatinya "inilah pesta paling aneh."
Keng Ciauw Lam berpikir.
"Di sini pria tunduk terhadap wanita..."
Ia tetap tidak puas tetapi ia kagumi juga Giok Lo Sat "Silakan minum!"
Nona rumah mengundang. Kemudian, sesudah tiga edaran, dia berikan titah kepada orangnya.
"Bawa bingkisan untuk Ong KongCu kemari!"
Titah ini diturut dengan segera.
Lima liauwlo membawa datang lima buah nenampan yang ditutupi cita merah.
Giok Lo Sat lantas buka tutupnya dua nenampan di sebelah kiri.
melihat mana.
Tiong Liam kaget hingga ia berseru.
Di atas nenampan itu ada dua kepala manusia berlumuran darah!
Giok Lo Sat bersenyum, ia terus pandang Ciauw Hie.
"Inilah yang dikehendaki ayahmu!"
Katanya.
Sekarang si nona singkap kain penutup tiga nenampan lainnya, semua itupun bermuatkan masing-masing satu kepala orang yang darahnya masih berlepotan.
la angkat setiap kepala yang ia ayun-ayun.
kemudian ia bersenyum.
"Mcreka bertiga telah berlaku kurang ajar terhadap kongCu. maka itu, aku ambil kepala mereka,"
Katanya.
"Aku harap kongCu pandang ini sebagai bingkisan untukmu. Mereka ini masih mempunyai satu kawan lainnya, yang telah mendapat bagiannya pula, aku percaya dia selanjutnya tidak akan berani membikin pusing pula kepada kongCu."
Kembali Tiong Liam menjadi kaget.
Ia dapat mengenali tiga kepala itu adalah tiga anggauta Kimiewie yang kemarin ikuti TouvvCiehui Cio Ho.
Tidak disangka mereka semua roboh di tangannya nona luar biasa ini.
Satu kawan lainnya yang dimaksudkan oleh si nona mungkin TouwCiehui Cio Ho.
Ong Ciauw Hie berbangku dengan hormat.
"Tidak sanggup aku terima bingkisan semacam ini."
Katanya.
"Lagipun. untuk sementara ini aku masih belum memikir untuk berangkat pulang."
"Aku tahu kongCu hendak melakukan perjalanan jauh ribuan lie."
Berkata pula si nona.
"Baiklah, bingkisan ini aku nanti titahkan orang mengamarkannya kepada ayahmu sekalian bersama surat perjanjian ikatan kita."
"Terima kasih!"
Ciauw Hie mengucap. Si nona tertawa manis sekali, la awasi semua hadirin bandit.
"Jikalau tidak bentrok lebih dahulu, kalian tidak akan mengenal satu dengan lain,"
Berkata dia.
"Baiklah di sini aku menjelaskannya, bahwa ayahnya Ong KongCu ini adalah Ong Kee In dari Siamsay Utara."
Mendengar itu, semua berandal tertawa.
"Benar-benar hebat!"
Kata mereka.
"Inilah yang dapat dikatakan, air bah menerjang kuilnya raja naga, orang tidak mengenali sesama orang sendiri! Kalau sedari siang-siang kami telah kenalkan Ong Toako, tak mungkin kami berani menguntit dan turun tangan!"
Ong Kee In adalah kepala dari kaum Rimba Hijau di Siamsay Utara, di bawahnya adalah Kho Geng Siang, Ong Coh Kwa, Hui San Houw.
dan Tay Ang Long, pelbagai penyamun kesohor itu, tetapi pengaruhnya rombongan dari Siamsay Utara ini tidak sampai di Siamsay Selatan.
Di propinsi Siamsay semuanya ada tiga belas gerombolan berandal, mereka tidak takluk satu pada lain.
Salah satu di antaranya, Ong Kee In-lah yang bercita-cita besar, setelah bersama Kho Geng Siang mengangkat saudara, belum ada sepuluh tahun ia telah dapat diangkat menjadi bengCu.
kepala dari pelbagai rombongan di Siamsay Utara.
itu.
Karenanya pula ia dapat bekerja secara luas.
Melainkan rombonganrombongan dari Siamsay Tengah dan Siamsay Selatan, yang tidak suka terima segala titahnya.
lapun seorang yang cerdik, baru dua tahun munculnya Giok Lo Sat.
berbareng mendapat tahu ada dua musuh di Siamsay Selatan yang hendak satrukan padanya, ia lantas utus puteranya, yaitu Ong Ciauw Hie, membawa hadiah untuk Giok Lo Sat, guna ikat persahabatan.
Pelbagai penyamun mempunyai daerahnya masing-masing, di manapun terdapat musuh, Ong Ciauw Hie tidak mau berangkat secara menyolok mata, ia sengaja berangkat seorang diri dengan gunakan akal menyimpan barang hadiah di dalam pelana.
Akan tetapi di luar dugaannya, pihak Kimiewie yang liehay itu dapat mencium bau, maka lantas ditugaskan Cio Ho berempat untuk menguntit dan turun tangan.
Di samping itu.
lima rombongan penyamun di perbatasan SuCoan -Siamsay dapat dengar selentingan juga, bahna mengilerkan harta besar itu.
merek a pun turut menguntit.
Demikianlah telah terjadi, Ciauw Hie tempel rombongannya To Tiong Liam sambil gunakan akalnya yang cerdik itu.
Setelah mengetahui kelicinannya orang she Ong ini, Keng Ciauw Lam mencaci di dalam hatinya, karena ia telah kenadiabui oleh pemuda ini.
"Sungguh celaka bocah ini! Dia telah berkongkol sama Giok Lo Sat, dia telah pakai nama Butong pay sebagai tameng, dia juga tempel pengaruhnya To Tayjin, tetapi sekarang setelah muncul, si Raksasi Kumala, dia telah bikin kami menjadi orang-orang tawanannya Raksasi Kumala ini,"
Demikian pikirnya. Giok Lo Sat sudah lantas berkata pula.
"Mulai saat ini. kita kaum Rimba Hijau di seluruh propinsi Siamsay telah menjadi satu keluarga. Aku telah berserikat kepada Toako Ong Kee In, aku harap semua saudara kelak sudi saling bantu. Andaikata saudara-saudara tidak memikir lainnya, silakan saudarasaudara keringkan cawan ini!"
Ia angkat cawannya, untuk segera diceguk habis lebih dahulu.
Tidak ada berandal yang berani menentangnya, merekapun keringkan cawan mereka masing-masing.
Giok Lo Sat letakkan cawannya, ia tertawa, kemudian ia gapaikan seorang serdadunya, kepada siapa ia berbisik.
Serdadu itu lantas masuk ke dalam tidak lama, ia sudah kembali tetapi tidak seorang diri, hanya bersama empat orang yang ia iringkan, menampak empat orang itu, Keng Ciauw Lam ternganga.
Empat orang itu adalah saudara-saudara seperguruannya Ciauw Lam yang diberi tugas oleh guru mereka untuk mengerjakan sesuatu di Siamsay, mereka sudah berangkat terlebih dahulu daripadanya, ia tidak sangka, bahwa mereka sekarang muncul di sarang penyamun ini.
"Apakah benar, seperti katanya Kwie Yu Ciang tadi, mereka sudah jadi tawanannya Giok Lo Sat?"
Pikir Ciauw Lam.
Akan tetapi, melihat keadaannya mereka itu, nampaknya mereka bukan sebagai orang-orang tawanan.
Giok Lo Sat mengulapkan tangan, lantas ada orangnya yang mengeluarkan pula barang hidangan yang baru, yang disajikan di sebuah meja lain.
Ia undang empat orang itu duduk di meja ini.
"Mari kita duduk di meja sana!"
Kata dia pada Keng Ciauw Lam.
"Biarlah aku diberikan ketika untuk bersahabat dengan orang-orang pandai dari Butong pay!"
Dia tertawa manis. Keng Ciauw Lam tetap merasa heran, akan tetapi melihat orang bersikap ramah tamah. hatinya lega. Ia berpikir.
"Butong pay sangat kenamaan, walau dia sangat ganas, rupanya dia masih j eri juga terhadap kaumku, maka sekarang dia berlaku manis dan meminta persahabatan..."
Kepercayaannya Ciauw Lam ini jadi semakin tebal setelah ia lihat si nona bersikap semakin ramah tamah.
Ciauw Lam bicara kepada empat saudara seperguruannya itu, tetapi mereka agaknya ada ganjelan di hati, sikapnya tidak gembira, malah dua di antaranya hanya menyengir, hingga pemuda ini menjadi heran.
Lagi-lagi Giok Lo Sat panggil satu serdadunya, ia ucapkan beberapa perkataan perlahan, setelah mana, serdadu itu segera undurkan diri.
"Entah apa lagi tindakannya lebih jauh,"
Ciauw Lam menduga-duga.
"Mari minum!"
Giok Lo Sat mengundang secara sangat gembira.
Ia tenggak pula araknya.
Ciauw Lam berlima juga minum arak mereka.
Sebentar kemudian terdengarlah suara roda-roda kereta di muka hoathia, wajahnya si nona bercahaya sedang Ciauw Lam berlima segera lihat beberapa serdadu menolak datang kereta barangnya To Tiong Liam.
untuk ditunda di bawah tangga muka pesanggrahan Dengan tiba-tiba Giok Lo Sat berbangkit.
"To Tayjin, mari kita membuat perhitungan!"
Tiba-tiba juga dia berkata kepada Tiong Liam. Bekas Congtok itu heran, akan tetapi dia bisa tetapkan hati.
"Itulah jumlah yang kecil, CeeCu, silakan kau ambil semua,"
Berkata dia. yang menduga hartanya akan dirampas "Di rumah aku masih mempunyai sedikit milik, aku tidak mengharapi harta bekas jabatanku ini."
Mendengar demikian, si nona perlihatkan tampang sungguh-sungguh.
"Aku Lian Nie Siang, walaupun menjadi penyamun, aku berpegang kepada keadilan!"
Katanya dengan nyaring.
"Tanyakan semua hadirin di sini, kapan dan di mana Lian Nie Siang pernah ambil harta orang secara serampangan. Terhadap pembesar yang putih bersih, uangnya satu bun pun aku tidak akan merampasnya! Tapi kalau dia satu pembesar rakus, uangnya tentu aku rampas, batok kepalanyapun aku maui! Apakah kau telah dengar nyata?"
Tiong Liam kaget hingga tubuhnya menggigil.
"Celaka, celaka, habislah jiwa tuaku di sini..."
Ia mengeluh dalam hatinya. Akan tetapi sikapnya si nona kemudian nampaknya menjadi tenang pula.
"To Tiong Liam, kau dengarlah!"
Demikian katanya.
"Kau telah menjabat pangkat belasan tahun, selama itu kau telah terima hadiah dari orang-orang sebawahanmu serta pelbagai hartawan setempat berjumlah tujuh puluh enam ribu tujuh ratus tail. Uang itu tidak halal, aku hendak ambil semuanya! Di samping itu, kau masih mempunyai tiga puluh dua ribu lima ratus tail. hadiah dari pemerintah, tetapi uang"
Itu berasal uang rakyat, maka aku hendak ambil juga untuk kemudian diamalkan kembali kepada rakyat yang melarat.
Sekarang masih ada sisa enam belas ribu delapan ratus tail uang stmpananmu sendiri, itulah hakmu, sejumlah itu akan aku kembalikan kepadamu.
Kau telah menjabat pangkat belasan tahun, kau punyakan hasil demikian banyak, walau kau bukannya satu pembesar bersih, tetapipun tidak termasuk pembesar rakus.
Sekarang aku telah membuat perhitunganku, katakanlah terang-terang, kau puas atau tidak?"
Tiong Liam kaget berbarengpun hatinya girang.
Ia kaget karena ia tidak mengerti mengapa dan dari mana si nona ketahui demikian jelas tentang jumlah seluruh hartanya yang diperolehnya Itu.
Dan girangnya, kepul Lisannya si nona itu berarti jiwanya tidak akan diganggu dan hartanya tidak ludas semua.
Setelah mengatakan demikian, sambil tertawa dengan manis.
Giok Lo Sat duduk kembali di kursinya.
Ia cenderungkan tubuh kepada Keng Ciauw Lam, yang duduk di sampingnya "Orang pandai dari Butongpay."
Katanya sambil tertawa pula.
"siauwmoay masih berusia muda dan cetek pengetahuannya, bilamana kau anggap perbuatanku ini tidak layak dan adil. sudi kau berikan petunjukmu."
Ia gunakan kata-kata "siauwmoay" = "adik kecil", pula suaranyapun halus. Ciauw Lam kagum sekali, hingga ia unjukkan jempolnya.
"Pantaslah Lian Liehiap menggetarkan dunia Rimba Hijau, nyata kau pandai sekali mengambil keputusan!"
Dia memuji.
"Kau membuatnya orang kagum terhadapmu!"
Si nona bersenyum, ia menukar arak yang hangat, untuk minum bersama pemuda shc Keng ini, wajahnya ramai dengan senyumnya yang berseri-seri.
Tanpa merasa Ciauw Lam mulai terpengaruhi air kata-kata.
Ia duduk dekat sekali kepada si nona, hidungnya dapat mencium bau harum dari tubuh nona itu.
"Giok Lo Sat sungguh menarik hati,"
Pikirnya.
"Sayang, demikian elok dia ada. ia kesudian menjadi penyamun. Kalau dia kembali kepada jalan yang benar, entah berapa banyak pemuda gagah yang akan roboh hatinya..."
Kemudian tiba-tiba ia tanya.
"Lian Liehiap. kau demikian gagah, siapakah gurumu yang pandai itu? Bila ada ketikanya. sungguh aku si orang she Keng ingin mohon pengajaran d asi padamu Bagaimana menggirangkan... Aku kuatir sekali, lain waktu tidak mungkin ada pula ketika yang sehaik ini..."
Ong Ciauw Hie yang mendengar ucapanny a orang she Keng ini merasa kuatir. segera ia menyelak dan berkata.
"Saudara Keng. kau sudah sinting, jangan minum lebih jauh!"
Ciauw Lam menggeleng-geleng kepala.
"Aku belum mabuk! Siapa katakan aku mabuk?"
Kata dia yang menyangkalnya. Mendadak wajahnya si nona menjadi gelap suram, tetapi sedetik kemudian ia tertawa pula, terus ia angkat cawannya.
"Keng Lnghiong, kau terlalu memuji aku!"
Katanya.
"Sebenarnya aku seorang anak perempuan yang tak berayah ibu, tidak mempunyai guru juga, beberapa jurus ilmu silatku yang jelek adalah buah hasil dari belajar seorang diri, tidak dapat dibandingkan dengan kau yang dapat pimpinan dari perguruan kenamaan, dari kalangan persilatan yang asli!"
Nona ini singkap rambut di dahinya.
"Sebenarnya akupun ingin sekali mohon pengajaran darimu. Keng Enghiong,"
Ia menambahkan.
"Ketikanya yang baik tentu mesti ada. kau tak usah sibuki."
Lantas ia duduk pula, matanya melirik jago muda dari Butongpay itu dengan senyumnya yang sangat menggiurkan.
Ciauw Hie berkuatir sangat hingga ia rasakan bulu ramanya bangun berdiri.
Di samping itu.
diam-diam ia mentertawai orang she Keng ini, yang ia katakan tolol.
Tapi ia segera berbangkit dan kata.
"CeeCu. terima kasih untuk perjamuan ini! Saudara Keng sudah mabuk, akupun tak kuat minum banyak, harap CeeCu maafkan kami, kami ingin undurkan diri."
Giok Lo Sat merasa tidak puas. muram wajahnya.
"Kelihatannya kau hendak bantu dia."
Katanya dengan dingin. Terbanglah semangatnya Ciauw Hie, tetapi ia menjawabnya dengan perlahan.
"Sebetulnya aku tidak kenal saudara Keng ini, hanya dapat berkenalan di tengah jalan, aku berterima kasih kepadanya yang telah bantu sedikit merintangi pihak lawan yang menguntit aku. karena dia anggap aku sebagai sahabat, akupun sudah selayaknya perlakukan dia sebagai sahabat."
Giok Lo Sat perdengarkan suara tidak tegas, lalu ia ulapkan tangannya dan berkata dengan nyaring.
"Tutup perjamuan!"
Meski demikian, dengan suara perlahan ia ucapkan katakata pada Keng Ciauw Lam.
"Besok pagi harap kau datang kc tengah gunung untuk kita membuat pertemuan di dalam lembah. Harap Keng Enghiong jangan lupa."
Sepasang alisnya Ciauw Lam berdiri, ia nampaknya sangat gembira.
"Tidak nanti aku lupakan titahmu mi. CeeCu!"
Sahutnya.
Perjamuan sudah lantas ditutup, tapi Giok Lo Sat masih suruh orang-orangnya antar Keng Ciauw Lam berlima ke sebuah kamar yang terpisah dari Ong Ciauw Hie.
hingga pemuda ini.
yang masih hendak bicara kepada murid Bulong pay itu.
tidak dapatkan kesempatannya.
Keesokannya pagi.
belum lagi pengaruh air kata-kata menghilang seluruhnya dari kepalanya Ciauw Lam, satu serdadu wanita telah datang padanya.
"Keng Enghiong, CeeCu kami undang padamu."
Kata serdadu ini.
Ciauw Lam lantas saja dandan dengan cepat, segera ia ikut serdadu itu menuju ke lembah di mana sudah ada empat saudara seperguruannya, sedangkan To Tiong Liam duduk seorang diri di atas sebuah batu ditemani dua serdadu wanita.
Giok Lo Sat muncul tidak lama kemudian, jalan mendatangi di antara batu-batu gunung yang berserakan tak teratur, wajahnya ramai dengan senyuman.
Rambutnya bergelang emas, pedangnya yang panjang tergantung di pingggangnya.
Hingga selainnya cantik, iapun tampaknya sangat gagah.
Bukan main kagumnya Ciauw Lam.
Hanya ia tidak sangka di situ telah berkumpul orang-orang lainnya, sedang pada mulanya ia menduga ia seorang dirilah yang diundangnya.
"Selamat pagi, Keng Enghiong!"
Menegur si nona.
"Apakah kau dapat tidur tenang semalam?"
Suara itu menyatakan perhatian yang sungguh-sungguh.
"Terima kasih,"
Sahut Ciauw Lam dengan jengah.
"Harap CeeCu pun dapat tidur tenang."
"Aku tadinya kuatir kau tak dapat tidur nyenyak,"
Tertawa si nona.
"Jikalau kau tidak dapat tidur nyenyak, pun sebentar lagi kau akan kurang tidur, oh, sungguh kau harus dikasihani!"
Ciauw Lam merasa heran dalam hatinya.
"Aneh, cara bagaimana ia ketahui aku semalam tidak dapat tidur?"
Pikirnya.
"Tidakkah dia melainkan menduga-duga saja?"
Giok Lo Sat lantas berkata pula.
"Jikalau kau dapat luka parah, umpama ada salah satu anggauta tubuhmu menjadi cacat, pasti sebentar malam kau tidak dapat tidur senang, bukankah?"
Walau masih dalam keheranan, Ciauw Lam tertawa juga.
"Di atas bumi ada angin dan mega yang tak berketentuan, seperti juga manusia bisa terancam bencana siang dan malam,"
Menyahut dia.
"maka jikalau benar-benar ada bahaya yang mengancam aku, apa daya? Kecuali CeeCu niat membikin susah padaku, maka dari manakah datangnya angkara murka itu?"
"Kau nyata terbuka pikiranmu,"
Kata Giok Lo Sat.
"Aku tidak berani membuat kau susah! Aku hanyalah hendak mohon pengajaran daripadamu. Aku dapat dengar ilmu pedang Butong pay tidak ada keduanya di kolong langit, karenanya aku memikir hendak membuka mataku."
Keng Ciauw Lam menjadi tidak puas.
"Oh, kiranya benar-benar CeeCu niat mencoba aku?"
Katanya.
"Satu taytianghu lebih suka binasa daripada terhina, karenanya, meski aku bakal terima tiga bacokan dan enam tikamannya CeeCu, tidak nanti aku bikin jatuh nama baiknya Butong pay!"
Nona itu tertawa dengan manis.
"Bagus!"
Katanya. Sekarang kau sedikit waspada, aku hendak mulai dengan dengan seranganku..."
Giok Lo Sat hunus pedangnya, terus ia menusuk.
Ciauw Lam lihat gerak tangannya si nona yang enteng tetapi perlahan, agaknya seperti sedang main-main, ia tidak dapat menduganya orang menyerang ia dengan benar-benar atau gertakan belaka, meski demikian, ia toh menangkis.
Akan tetapi, ketika pedang si nona kena bentur, mendadak nona itu putar tangannya dan tahu-tahu ujung pedangnya sudah ancam tenggorokan' "Kali ini gagal, mesti ditukar dengan yang lainnya!"
Kata nona ini sambil tertawa.
Ciauw Lam kaget berbareng mendongkol, karena ia telah terpedaya.
Tusukan si nona tidak diteruskan dan ia diejek.
Dengan tiba-tiba ia mengelakkan tubuhnya ke samping sambil terus berikan tikaman, dengan salah satu dari tiga tusukan berantai, ialah "KimCiam touwsian" = "Jarum emas dimasukkan benang".
Ketika serangan ini gagal, ia segera melanjutkan dengan tikaman y ang kedua yakni "Cusat lianhoan"
Atau "Tarik dan lepas bergantian"
Mengarah tenggorokan si nona Cepat serangannya yang berantai ini.
akan tetapi serangan yang kedua inipun gagal pula.
Maka ia hendak meneruskannya dengan runtunan yang ketiga.
Tapi, belum ia sempat bergerak, ia telah rasakan pedang lawan menempel di bebokongnya.
karena nona itu dengan tidak diketahui lagi sudah melejit ke sampingnya.
Terpaksa ia berlompat sambil memutar tubuh, untuk menyelamatkan diri.
Baru ia lompat, berbareng juga sambaran angin lewat di atasan kepalanya, hingga ia kaget tak terkira.
Sambaran angin itu menyebabkan segumpal kecil rambutnya terbabat jatuh.
Si nona tertawa ketika lawannj-a menaruh kaki di tanah.
"Aku suruh kau waspada, mengapa kau justeru lengah?"
Tanya nona ini. la berdiri diam sambil rangkul pedangnya, kemudian dengan tangan kanannya ia menggapai kepada orang Butong lainnya sambil berkata juga.
"Orang-orang gagah Butong pay, tegakah kalian akan tonton saja orang sesama perguruan main topeng monyet di sini?"
Empat orang Butong itu memang hatinya tidak puas, maka mendengar kata-kata si nona yang berupa tantangan itu. segera mereka maju menyerang dengan berbareng. Mereka tidak mengucap sepatah kata juga.
"Nah, ini barulah menggembirakan!"
Tertawa si nona.
Lalu, di antara sambaran-sambarannya lima batang pedang lawan, ia berkelebatan dengan pedangnya juga.
Meski ia dikepung, ternyata ia adalah di pihak penyerang.
Menampak demikian, Ong Ciauw Hie merasa tidak enak hati.
"Lian Liehiap sudahilah!"
Ia berseru sambil lompat maju.
"Harap kau menaruh rasa kasihan!..."
Suaranya pemuda ini belum berhenti, tiba-tiba terdengar bentrokannya pedang dengan pedang disusul jeritan-jeritan dari kesakitan.
Nyatalah pedangnya ke lima jago Butong pay putus buntung, dua jarinya Keng Ciauw Lam turut berpisah dari tangannya, dan empat yang lainnya hilang masing-masing satu jari tangannya Giok Lo Sat balingkan pedangnya, wajahnya suram.
"Sekarang kalian baru mengerti bahwa di luar langit masih ada langit, jangan kalian membuta mengandalkan nama besar dari rumah perguruanmu!"
Dia kata dengan nyaring.
"Keng Ciauw Lam. tadi malam kau berlaku sedikit tidak tahu adat. sebenarnya aku hendak buntungkan lenganmu dan korek kedua biji matamu, akan tetapi karena barusan kau perlihatkan juga semangatmu, aku kasih keringanan padamu! Sekarang lekas kalian pergi menggelinding turun dari gunung ini!"
Mendengar bentakan itu, hatinya Ciauw Hie menjadi lega.
Ia lantas menghampiri Ciauw Lam.
Pucat mukanya murid Butong pay ini, tanpa mengucapkan kata-kata lagi ia membalik tubuhnya lari turun gunung.
Empat orang Butong pay lainnya rangkap tangan mereka "Terima kasih untuk kemurahan hati CeeCu,"
Kata mereka.
"Budi kebaikanmu ini pasti kami tak akan lupakan untuk selama-lamanya!"
Giok Lo Sat tertawa dingin.
"Aku bersedia menanti tuntutan pembalasanmu!"
Katanya. Ciauw Hie mengedipkan mata kepada empat orang itu, untuk cegah mereka berkata-kata lebih jauh Salah satu yang tertua dari ke empat orang itu hadapi Ciauw Hie dan menjura. katanya.
"Ong KongCu. terima kasih yang kau sudah melindungi sutee kami. Sayang kami tidak lebih siang dapai ketemui kau. Aku ada membawa suratnya Beng Busu untukmu!"
Orang Butong pay itu rogoh sakunya akan keluarkan sesampul surat. Agaknya Ciauw Hie terkejut, ia lirik si nona.
"Dari tempat ribuan lie orang datang antarkan surat, sudah selayaknya kau haturkan terima kasihmu!"
Berkata Giok Lo Sat dengan nyaring. Ciauw Hie tahu si nona tidak kandung maksud lain, barulah ia sambuti surat itu.
"Terima kasih!"
Katanya.
Orang Butong pay itu serta tiga saudaranya bersenyum tawar, tanpa memberi hormat lagi mereka segera berlalu.
Ciauw Hie merasa sangat bersusah hati dan menyesal, karena ia merasa telah tidak berbuat sebagaimana mestinya terhadap orang-orang Butong pay itu.
Giok Lo Sat awasi Ciauw Lam berlima sampai mereka lenyap dari pandangan mata, lalu ia berpaling kepada Ong Ciauw Hie.
"Saudara Ong, kau tentunya katakan aku terlalu kejam, bukan?"
Tanyanya dengan wajar.
"Tidak berani aku mengatakan demikian,"
Sahut Ciauw Hie. Tetapi dalam hatinya sebenarnya ia mencela.
"Tabiatku adalah paling tidak sanggup menghadapi orang atau orang-orang yang terlalu andalkan pengaruhnya,"
Kata si nona kemudian, suaranya sabar.
"Murid-murid Butong pay berjumlah besar, di antara mereka ada banyak yang tolol dan pintar, yang sesat juga, dan di antara mereka ini, tidak sedikit yang menjadi sombong karena terlalu mengandal kepada guru mereka yang termasyur. Di antara Butong Ngoloo, kecuali Cie Yang Toojin. empat lainnya mempunyai cacatnya masingmasing, karenanya, murid-murid mereka banyak yang congkak. Mungkin di antara murid-murid itu perbuatannya tidak ada yang keterlaluan, akan tetapi mereka toh menjemukan. Maka kali ini aku hendak tindas kejumawaan mereka, untuk kasihkan sedikit hajaran pada mereka itu!"
Ong Ciauw Hie membungkam, ia tidak mau mengutarakan pendapatnya. Si nona berdiam sebentar, lalu ia menanya.
"Kabarnya Busu Beng Can di kota raja dengan ayahmu mengangkat saudara, benarkah?" (Busu = guru silat).
"Dia adalah mertuaku,"
Sahut Ciauw Hie dengan singkat.
"Oh, kiranya sanak dekat!"
Kata si nona.
"Bagus! Aku tahu nona she Beng itu, yang bagus ilmu silatnya dan elok orangnya. Toh belum menikah, bukan?"
Mukanya Ciauw Hie kemerah-merahan karena malunya.
"Belum."
Sahutnya.
"Ayahku telah pesan supaya sehabisnya temui kau, aku mesti langsung menuju kota raja untuk sambut mertuaku itu serta gadisnya."
"Memang sudah selayaknya kau sambut mereka,"
Berkata Giok Lo Sat.
"Apa artinya berdiam di kota raja menjadi guru silat di dalam istana kaisar? ---Oh, saudara Ong, harap kau jangan kecil hati, aku memang biasa omong terus terang."
"Tidak, nona. Ayahkupun bersependapat denganmu,"
Jawab Ciauw Hie. Nona itu berkata pula.
"Jikalau tidak ada suratnya Beng Busu ini, empat orang itu pasti akan merasakan penderitaan lainnya lagi. Mereka telah menyamar sebagai saudagarsaudagar kulit, di tengah jalan mereka dicegat oleh orangorang sebawahannya Hwee Leng Kauw dan Cu Poo Ciang. Kalau mereka perkenalkan diri, urusan pasti tidak ada, akan tetapi mereka sudah unjukkan kejumavvaannya. Mereka sudah lukai empat tauwbaknya Hwee Leng Kauw! Dengan menunggang seekor kuda aku segera susul mereka. Di depan mereka aku pertontonkan ilmu pukulan BianCiang memukul batu sehingga hancur bagaikan tepung, setelah itu aku undang mereka naik ke gunungku, aku kata supaya kita samasama meyakinkan ilmu silat pedang."
Ong Ciauw Hie mengeluh di dalam hatinya.
"Itulah hebat, mustahil untuk saling meyakinkan ilmu silat mesti diberikan semacam pertunjukan kekuatan tenaga..."
Pikirnya. (BianCiang ialah Tangan Kapas). Tadinya pemuda ini hendak mengutarakan sesuatu, tapi sebelum ia sempat mengucapkannya, ia telah dengar si nona berseru, katanya.
"Ai, di mana pembesar she To itu?"
Lalu"
Dia memanggilnya, sampai dua kali. Tidak ada jawaban.
"Mari kita lihat!"
Mengajak Giok LoSat. Ternyata Tiong Liam telah rebah pingsan, karena tadi dia lihat pemandangan yang menggoncangkan sangat hatinya. II "Hm, beginilah satu Congtok!"
Giok Lo Sat mengejek.
"Nyalinya demikian kecil!"
Ia lantas tepuk dua kali tubuhnya bekas gubemurjenderal itu.
Dengan perlahan-lahan Tiong Liam sadar akan dirinya.
Si nona ambil keluar selembar lengkie (bendera), ia lemparkan bendera itu kepada Congtok itu sambil berkata.
"Semua piauwsumu aku telah suruh pergi, maka aku berikan lengkie ini untukmu."
Bekas Congtok itu tercengang, ia tidak mengerti untuk apa lengkie itu "Kau ambil bendera itu, dan tancap di atas keretamu,"
Si nona mengajarkan.
"kau nanti akan dapat membuktikan, di dalam seluruh propinsi Siamsay ini tidak akan ada seorang pun yang berani ganggu padamu. Bendera ini ada jauh terlebih tangguh daripada semua orang Butong pay yang menjadi piauwsumu itu!"
Tiong Liam mau percaya "keterangan ini, ia menjadi girang secara tiba-tiba. Lekas-lekas ia jemput bendera itu. Ia menghaturkan terima kasihnya sambil menjura.
"Terima kasih!"
Katanya.
Tapi si nona dan Ong Ciauw Hie sudah pergi jauh!
Pemuda she Ong itu buka surat dari bakal mertuanya itu.
Dalam surat itu ditulisnya ia diminta datang ke Pakkhia, kota raja, untuk sambut bakal isterinya.
Ditulisnya pula bahwa di antara guru-guru silat di kota raja telah terjadi pergulatan gelap yang hebat, terutama di dalam istana keadaannya berbahaya sekali, maka itu ia diminta lekas datang untuk berdamai.
Ayahnya Ong Ciauw Hie adalah satu siuCay yang jebol dalam menanjak lebih jauh.
Pada dua puluh tahun yang lampau selama di kota raja, dia telah angkat saudara dengan Busu Beng Can.
Perangkapan jodoh masing-masing anaknya itu terjadi dengan jalan saling "menunjuk perut,"
Ialah sebelum anak-anak mereka terlahir.
Keduanya menghormati janji mereka.
Di masa Ciauw Hie masuk umur tujuh tahun, ia ikut ayahnya pulang ke Siamsay, maka sejak itu, kedua pihak tidak pernah salingketemu lagi.
Pada enam tahun yang baru berselang, Beng Can diundang pemerintah untuk jadi guru silat di keraton Cukeng K i ong.
istana putera mahkota, ia memangku jabatan Titthiah Busu.
Di pihak lain, di Siamsay Utara, Ong Kee In telah menjadi bengCu, pemimpin kaum Rimba Hijau di wilayah itu.
Tatkala Kee In dengar bakal besannya itu bekerja kepada pemerintah, ia merasa sayang sekali.
Ia tidak mengerti mengapa Beng Can, seorang kangouw kenamaan, sudi terima jabatan itu.
Sejak Beng Can menjadi guru silat istana, setiap tahun tentu satu atau dua kali ia minta perantaraan orang kangouw menyampaikan suratnya pada besannya.
Demikian kali ini, ia minta pertolongannya murid Butong pay kakak seperguruannya Keng Ciauw Lam itu.
Sudah sedari belasan hari yang lalu, Ong Ciauw Hie ketahui bakal mertuanya telah kirim surat, bahwa surat di kirim dengan perantaraannya orang Butong pay, tadinya ia menyangka pembawa surat itu adalah Keng Ciauw Lam, maka ia sengaja berkenalan kepada pemuda she Keng ini, akan tetapi ternyata bahwa pembawa surat itu adalah suheng-nya Ciauw Lam.
Sehabis membaca surat itu, Ciauw Hie segera pamitan dari Giok Lo Sat.
untuk lantas berangkat ke kota raja.
Ia lakukan perjalanan cepat.
Namun sesudah selang beberapa bulan barulah ia tiba di kota raja.
Ketika itu adalah di permulaan musim pertama, dan pada hari ia tiba, hujan salju tengah turun secara hebat.
Ciauw Hie memasuki kota dengan ambil jalan pintu Hianbu mui, justeru jalan di situ ramai, penuh orang yang jalan berdesak-desak.
Dari jauh-jauh ia sudah dengar riuhnya suara gembreng diseling seru-seruan, ia tidak tahu apa yang menyebabkannya.
Maka ia lantas tanya seorang yang berada di dekatnya.
"Tuan tidak tahu?"
Sahut orang yang ditanya.
"Selama beberapa hari ini di kota ini sudah terjadi satu perkara besar sekali, banyak pembesar negeri turut terembet. Malah hari ini Houwpou Sielong To Kee Hian telah digusur keluar Ngomui untuk dihukum potong kepala. Kata-kata umum bahwa ' Menemani raja sama juga menemani harimau'sangatlah tepat. To Sielong itu kabarnya seorang pembesar baik."
Ciauw Hie kaget sekali.
To Kee Hian itu adalah puteranya bekas Congtok To Tiong Liam.
Justeru Kee Hian-lah yang minta Keng Ciauw Lam tolongmelindungi ayahnya yang pulang kampung itu.
Kenapa sekarang dengan tiba-tiba Sielong itu dihukum mati?
Ciauw Hie yang cerdik lalu masuk ke sebuah restoran untuk menyelidikinya.
Di sini ada banyak orang yang mengobrol tentang macam-macam soal.
Tidak ambil tempo lama.
lantas tahulah ia duduknya perkara To Sielong itu.
Kaisar Sin Cong, yakni Kaisar Ban Lek.
yang bernama Cu le Kun, mempunyai dua putera.
Putera sulung Siang Lok namanya, dilahirkan oleh honghouw (permaisuri), dan putera kedua Siang Sun.
dilahirkan oleh The Kuihui, selir yang tersayang.
Selir she The itu cerdik dan berambekan besar, dia niat merampas kerajaan, supaya puteranya yang nanti naik tahta.
Soal kedudukan thayCu (putera mahkota) pun belum dapat kepastian, karena Kaisar Sin Cong menunda-nunda untuk mengangkatnya.
Baru belakangan, setelah menteri-menteri mengajukan permohonan.
Siang Lok diangkat jadi thayCu.
Karena ini, Siang Sun lantas diangkat jadi Hok Ong, pangeran di Lokyang, Hoolam.
Mula-mula Siang Sun tak sudi berlalu dari kota raja, sesudah ada permohonan pelbagai menteri, baru ia berangkat juga.
Baru satu tahun sejak Hok Ong tinggal di Lokyang, pada suatu hari telah terjadi seorang yang bersenjatakan sebatang toya menyerang satu pahlawan pengawal keraton Cukeng Kiong, setelah menerjang sampai di muka istana, baru penyerang itu dapat diringkus.
Inilah rangkaian peristiwa antara "tiga perkara besar dan aneh"
Semasa pemerintahan kerajaan Beng, ialah yang dinamakan "Teng Kie An"
Atau "Perkara Serangan Toya".
Inipun peristiwa yang menggemparkan kota raja.
Putera mahkota tidak sampai kena diserang, akan tetapi kejadian itu di waktu siang terang berderang di mana orang berani serbu istana untuk melakukan penyerangan, sampai satu pahlawan istana terluka.
adalah peristiwa yang belum pernah terjadi.
Penyerang yang akui dirinya bernama The ToahunCu itu tidak keruan lagak lagunya, kelakuannya surup seperti namanya.
HunCu = "campur aduk."
Tabib istana yang diperintahkan memeriksanya, tak dapat menetapkan penyerang ini sakit jiwa atau tidak.
Tatkala penyerang ini di hadapkan ke muka Sam Hoat Su, pengadilan tinggi, untuk didengar pengakuannya, ia telah berikan pengakuan yang tidak keruan, ia telah rembet-rembet namanya beberapa menteri serta thaykam (orang kebiri).
Pengakuan ini entah benar entah palsu, tetapi telah membawa akibat bagi mereka yang disebut-sebut namanya jadi bentrok satu pada lain, mereka saling sangkal dan saling tuduh, di antaranya ada yang saling berkongkoljuga Kaisar Sin Cong tidak mempunyai ketetapan hati dan tipis kuping, satu waktu ia turut suaranya, menteri ini.
dan lain waktu ia percaya menteri itu.
Maka dengan sendirinya, menteri-menteri merasa tidak tenteram hatinya.
To Kee Hian adalah seorang menteri yang tidak usilan, dia telah terembet-rembet, malah lacur baginya, tanpa menantikan pemeriksaan yang mendalam lagi.
dia dijatuhkan hukuman mati dan mesti menjalankan hukumannya di Ngomui (muka pintu istana raja).
Mengetahui duduknya hal.
Ciauw Hie menghela napas.
Ia berkasihan terhadap Kee Hian, ia sayangi kekusutan dalam istana itu.
Lebih celaka lagi justeru waktu itu di Timur utara bangsa BoanCiu sedang terbangun semangatnya untuk meluaskan daerahnya, sedang di Timur selatan, kawanan bajak bangsa kate (Jepang) saban-saban datang menyerbu pesisir Tiongkok.
Karenanya, berbayanglah keadaan yang mengancam bagi kerajaan Beng itu.
"Tapi, inipun ada baiknya,"
Berpikir Ciauw Hie kemudian.
"Jikalau Keluarga Cu tetap tidak punya kemampuan, biarlah aku dari Keluarga Ong yang menggantikan mengurus negara!..." (Keluarga Cu ialah keluarga raja-raja Beng). Sekeluarnyadari restoran, Ciauw Hie lantas ambil jalan menuruti peta kota raja seperti yang ia pernah ditunjukkan ayahnya, langsung ia menuju ke jalan PoCu Hotong. Samarsamar ia masih ingat rumahnya Keluarga Beng. Baru saja ia memasuki gang dan angkat kepalanya mengawasi rumah, ia segera menjadi kaget sekali. Rumah nampaknya sepi. kedua daun pintunya pun ditutup rapat dengan ditempelkan melintang sepotong kertas pembesar negeri. Nyatalah rumah itu telah ditutup karena disegel! Itupun ada tanda segelan Kimiewie, sedang di muka pintu ada berdiri dua pengawal barisan Baju Sulam itu. yang rupanya ditugaskan menjaga rumahnya Beng Busu. Dua pengawal itu bertubuh besar dan tegap. Walaupun ia kaget dan heran, Ciauw Hie tidak berani mengawasi lama-lama, ia terus ngeloyor pergi akan berlalu dari gang itu, melainkan hatinya yang agak goncang. Ia mulai memikirkan keselamatan bakal mertuanya serta bakal isterinya... Dalam kesangsiannya. Ciauw Hie menuju ke Thiankio, di situ ada bertinggal satu sahabat ayahnya yang juga satu guru silat kenamaan, bernama Liu See Beng. Ia bersyukur, dengan cepat ia dapat cari rumah guru silat itu. Liu See Beng terperanjat akan kedatangannya anak muda ini. Dengan tersipu-sipu ia tutup pintu depannya, terus ia tuntun tetamunya ini ke dalam.
"Hai, benar besar nyalimu!"
Tegurnya guru silat itu "Ayahmu adalah orang yang hendak ditangkap pemerintah, dan bakal mertuamu sudah ditangkap, entah bagaimana dengan keselamatan jiwanya!
Bagaimana jikalau ada orang yang kenali kau?"
Di luar dugaan sang guru silat, Ciauw Hie tertawa.
"Kota raja sedang perhatikan urusan besar, dia tak sempat perhatikan aku!"
Katanya.
"Aku justeru hendak mohon keterangan siokhu. Bakal mertuaku menjadi guru silatnya putera mahkota, apa sebabnya dia ditangkap? Mungkinkah dia tersangkut perkara Teng Kie An itu?"
Liu Busu menghela napas.
"Aku juga tidak dapat tahu,"
Sahutnya dengan masgul.
"The ToahunCu itu justeru adalah ayahmu sendiri yang membekuknya, maka andaikata ia tidak hendak diberikan hadiah, ia toh tidak bersalah dosa. Sekarang keadaan jadi terbalik, dia telah ditangkap."
Ciauw Hie sudah lantas berpikir, tetapi ia diam saja "Kau tinggallah di sini, jangan sembarangan perlihatkan diri,"
Kata Liu Busu akhirnya, la tidak kuatir ketumpangan anak sahabatnya, meski ia tahu bahwa pemuda ini adalah puteranya Ong Kee In dan bakal mantunya Busu Beng Can.
yang kedua-duanya tersangkut perkara dengan pembesar negeri.
Dua hari telah lalu, penjagaan di depan rumahnya Beng Busu dihapus.
Malam itu.
sehabis bersantap, Ciauw Hie segera dandan dengan ringkas.
Ia mengenakan yahengie.
pakaian yang diperuntukkan keluar di waktu malam, yang berwarna hitam mulus.
"Siokhu. malam ini aku hendak pergi ke rumah bakal mertuaku untuk melakukan penyelidikan,"
Ia kata kepada See Beng. (Siokhu -paman).
"Bagaimana kau dapat lakukan itu. anak?"
Tanya Liu Busu. Dia ragu-ragu.
"Pasti aku tidak rembet-rembet pada siokhu."
Ciauw Hie kasih tahu.
"Apakah kau telah pikir masak-masak?"
"Ya, siokhu."
See Beng menggoyang-goyang kepala, ia menghela napas.
"Terserah!"
Katanya, yang tidak dapat mencegah lagi.
Segera juga Ciauw Hie keluar dari rumah sahabat ayahnya itu.
Di kota raja, rumah-rumah umumnya rendah, tidak terkecuali rumah orang-orang hartawan.
Jarang ada rumah yang tinggi bertingkat tiga Inilah disebabkan raja-raja melarang rakyat mendirikan rumah yang lebih tinggi daripada loteng istana Ngohong Lauw, supaya kalau raja atau anggauta keraton naik ke loteng, mereka bisa memandang seluruh panorama di sekitar istana.
Sebaliknya rakyat dari rumahnya tidak dapat memandang ke arah istana.
Dengan cepat Ciauw Hie telah sampai di PoCu Hotong.
dengan kegesitan dan keentengan tubuhnya, ia lompat naik ke genteng rumah yang paling dekat dengan rumah mertuanya.
Di sini dari sakunya ia keluarkan dua buah tangCic.
yaitu uang receh.
Dengan dua jarinya ia lemparkan sebuah ke atas.
lalu dengan sebuah yang lain ia timpuk uang yang pertama itu.
Selagi melayang, kedua uang receh itu bentrok satu pada lain dan bersuara mengentring.
Itulah semacam tanda rahasia, yang dinamakan "Cenghu toansin"
Yaitu "menyampaikan warta, dengan jalan uang tembaga", tanda yang biasa digunakan orang-orang yang suka keluar malam, untuk cari tahu suatu rumah dijaga atau tidak.
Sehabis menimpuk, Ciauw Hie mendekam untuk tunggu kesudahannya itu.
Benar-benar ada dua pengawal kimiesu yang muncul di dalam pekarangan.
Keduanya dongak akan melihat ke atas.
lalu yang satunya berkata seorang diri.
"Suara apa itu? Satupun tak tertampak bayangan hantu!"
Sang kawan menyahuti.
"Di dalam kota raja, di mana ada orang yang nyalinya besar berani main gila? Dasar Lie Ciehui yang terlalu berhati-hati.-"
Masih sekian lama mereka ini berdiam di luar.
baru mereka masuk.
Ciauw Hie sudah siapkan piauw, kalau -kalau dua orang itu lompat naik ke atas genteng, ia hendak sambut dengan tangan kematian.
Sekarang orang undurkan diri, ia tertawa dalam hati.
"Dasar kutu tolol! Sedikitpun mereka tidak mengerti kebiasaan kaum kangouw!"
Lantas ia lari untuk lewati kedua pengawal itu.
Sesampainya di dalam, ia lompat naik ke atas loteng, yang ia tahu ada menjadi tempat beristirahat bakal mertuanya.
Kamar loteng itu sepi, daun pintunya hanya dirapatkan.
Dengan berani Ciauw Hie berindap-indap masuk ke dalamnya.
Baru saja ia melewati pintu, segera dari samping pintu datang serangan golok.
Oleh karena ia telah syak wasangka, Ciauw Hie tidak jadi kaget atau gugup Ia mendek diri dengan segera, sebelah tangannya menarik daun pintu yang satunya lagi.
Satu suara keras lantas terdengar, bacokan mengenai daun pintu itu.
Dengan satu gerakan "Leehie tateng"
Atau ikan tambra meletik", pemuda ini memutar tubuhnya berbareng menghunus pedangnya.
"Bangsat cilik, kau telah antarkan diri ke dalam jaring!"
Begitulah terdengar ejekan dari tempat yang gelap.
Ruang itu memang tidak ada penerangannya.
Ciauw Hie niat menerjang dengan pedangnya, tapi mendadak dari kiri kanan, pintu-pintu samping terpentang dengan berbareng disusuli oleh serangan senjata gelap.
Syukur ia tabah dan gesit, ia mendekam pula Kemudian, sambil berlompat ia terjang orang yang sembunyi di belakang pintu.
Malam itu penjagaan rumahnya Beng Busu dilakukan oleh tiga anggauta pilihan dari Kimiewie.
tugas mereka adalah tangkap hidup setiap orang yang berani satroni rumah guru silat itu, maka itu sengaja mereka bersikap tolol-tololan untuk pancing orang, di dalam mereka lantas bersiap sedia Tadi Ciauw Hie anggap kedua kimiesu itu tolol, tapi sekarang justeru ia yang kena jebak memasuki kamar loteng itu, hingga hampir saja ia kena dirobohkan.
Kimiesu yang sembunyi di belakang pintu itu rupanya sebagai kepala di antara dua kawannya, ia bersenjatakan golok, setelah menangkis serangan, ia terus lakukan perlawanan.
Ia bersilat dalam ilmu golok "Ngohouw Toanbun to."
Dua pengawal lainnya, yang juga terus keluar dari kedua pintu samping, sudah lantas maju membantui kepalanya mengepung.
Dua pengawal ini masing-masing bersenjatakan toya kuningan dan CitCiat pian, ruyung berbuku tujuh.
Ciauu Hie insyaf bahayanya kepungan itu, ia berkelahi dengan keras sekali.
Ia peroleh hasil dengan cepat ketika ujung pedangnya mengenai musuh yang bergegaman toya.
Adalah maksudnya pemuda she Ong ini, akan beri ajaran juga pada musuh yang memegang ruyung, tetapi ia didului musuh yang bersenjata golok, yang membacoknya dari samping, terpaksa ia melayani musuh ini.
Orang yang bersenjatakan ruyung itu juga merangsak.
diturut oleh kawannya yang bersenjata toya, yang telah terluka tadi tapi tidak parah.
Lagi-lagi Ciauw Hie dikepung bertiga, tetapi ia tidak jeri.
Ia mainkan pedangnya dengan sempurna.
Ia pel ajarkan ilmu silat di bawah pimpinan ayahnya, Ong Kee In, yang telah dapat wariskan ilmu silat pedang Liapin Kiam dari Keluarga Cio.
Tidak lama ia dapat tikam orang yang bersenjata cambuk hingga berkaok-kaok kesakitan, la terus desak musuh yang bersenjata toya tadi.
Musuh ini terpaksa mundur hingga mendekati tembok tanpa ia ketahui, baru ia kaget ketika ia merasa tubuhnya menempel kepada tembok.
Waktu itupun pedangnya lawan sudah menyambar ke arahnya.
Mendadak tembok bergerak dan terbuka sebuah pintu bagaikan pintu gua, ke dalam mana tubuhnya kimiesu itu roboh masuk.
Ciauw Hie kaget, tubuhnya hampir terjerunuk ke dalam pintu itu, karena inilah, musuh yang memegang ruyung.
yang telah maju pula.
hampir saja dapat menyabet padanya, syukur ia masih sempat memutar tubuh dan menangkis.
Pada saat itu, dari pintu rahasia itu terdengar satu seruan dengan lompat keluarnya satu orang, hingga Ciauw Hie bertambah-tambah kaget.
Ia tidak tahu orang itu kawan atau lawan.
Orang itu baru lompat keluar, segera menyusul seorang yang lain.
Yang belakangan ini berpakaian putih seluruhnya, hingga segera dia dapat dikenali sebagai seorang wanita.
Nona itu tidak lantas nyerbu ke dalam medan pertempuran, dia hanya berdiri di ambang pintu dengan pedangnya dilintangkan, dia berseru.
"Koko Bin, kau terjang kimiesu yang -bersenjatakan golok itu!"
Orang yang pertama lompat keluar adalah seorang anak muda bergegaman sebatang golok, dia sudah lantas serang kepala kimiesu.
Kepala pengawal ini menangkis, hingga kedua golok bentrok keras.
Kedua pihak tidak menyerang lebih jauh.
mereka sama-sama melengak.
Itulah sebab bentrokan golok mereka yang menggetarkan masing-masing tangannya "Mungkinkah dia tunanganku?"
Ciauw Hie menduga-duga sambil matanya mengawasi si nona, roman siapa ia masih ingat samar-samar. Menggunakan ketika itu, kimiesu yang ketiga lantas saja cari jalan umuk angkat kaki.
"Ke mana kau hendak mabur?"
Si nona membentak sambil mengayun sebelah tangannya, melepaskan tiga batang golok yang terbang ketiga jurusan atas, tengah dan bawah.
"Aduh!"
Menjerit pahlawan itu, yang lantas roboh terguling karena tubuhnya tertancap tiga golok terbang itu.
"Eh, anak muda, mengapa kau mengawasi aku saja?"
Si nona tanya Ciauw Hie.
"Kau tidak mau turun tangan?"
Pemuda ini bagaikan orang baru sadar. Iapun segera dapat lihat, si anak muda yang si nona panggil "Koko Bin"
Mulai keteter. Maka ia lantas lompat pada anak muda itu.
"Kau mundurlah!"
Ia kata, sikut siapa ia bentur. Pemuda itu heran.
"Kau mau apa?"
Tanyanya.
Ciauw Hie tidak sempat menjawab, ia sudah terus serang kepala kimiewie itu, hingga ia bikin orang repot Kali ini ia tidak sia-siakan tempo, karena di lain saat ia sudah lantas berhasil membabat kutung golok orang.
Kimiesu itu kaget, tapi justeru itu pula tamatlah perlawanannya.
Dengan kesehatannya yang luar biasa Ciauw Hie telah membacok pula mengenai tubuh musuh sehingga binasa.
"Ilmu pedangmu tidak tercela, hanya sayang kau sedikit sembrono!"
Kata si nona sambil tertawa.
Ciauw Hie tercengang, mukanyapun merah.
Ia tidak sangka di sini ia dapat terima celaan sembrono.
Si nona agaknya tidak perdulikan orang tercengang, ia maju memberi hormat sambil menjura.
Giesu katanya.
"untuk ayahku kau telah menempuh bahaya, aku berterima kasih, sudikah kau memberitahukan she dan namamu."
Sudah enam belas tahun Ciauw Hie berpisah dari tunangannya ini.
Ketika Busu Beng Can kirim surat mendesak ia datang menyambut, si nona tidak mendapat tahu, maka si nona bermimpi p u n tidak akan kedatangan tunangannya dari tempat ribuan lie untuk papak padanya.
Sebenarnya ia radarada mengenali anak muda ini, akan tetapi ia tidak berani lancang.
"Aku she Ong bernama Tiauw,"
Ciauw Hie jawab.
"Apakah sioCia yang bernama Ciu Hee, puteri kesayangannya Beng Busu?"
Nona itu tercengang.
"Eh, mengapa kau tahu namaku?"
Ia balik menanya.
"Dan ini engko toh..."
Kata pula Ciauw Hie sambil tunjuk si anak muda. Ia sampai tidak sempat menjawab si nona.
"Aku adalah Pek Bin,"
Kata si anak muda sambil tertawa.
"Aku muridnya Beng Busu. Saudara Ong, hebat ilmu silatmu, dengan sejurus saja kau telah bikin habis kuku garuda ini! Tadi kau bentur aku, untuk itu sedikitpun aku tidak gusar..."
Ciauw Hie heran.
"Orang ini rada tolol,"
Pikirnya.
"Dia bernama Pek Bin tapi ia tidak cerdas!..." ("Bin"
Dapat diartikan "cerdas").
Pemuda kita tidak mau segera perkenalkan dirinya.
Kepada si nona ia beri keterangan bahwa ia kenal Beng Busu dan siapa ia berhutang budi, karena itulah ia berani menempuh bahaya, untuk balas budi guru silat itu.
Ia kata bahwa kedatanganya ini melulu untuk kunjungi Beng Busu.
Si nona percaya keterangan int, sebab ia tahu ayahnya memang mempunyai pergaulan luas dan banyak sahabat ayahnya yang ia tidak kenal.
Ia lantas menghaturkan terima kasih untuk bantuannya pemuda ini.
"Kalian sembunyi di dalam tembok rahasia ini sudah berapa lama?"
Cauw Hie kemudian tanya. Ia agaknya heran orang sembunyi di kamar rahasia itu.
"Sudah tiga hari."
Pek Bin jawab.
"Kami sembunyi sejak hari pertama guruku ditangkap."
Tidak enak rasa hatinya Ciauw Hie, tanpa merasa wajahnya berubah sedikit pucat. Hidup jeli matanya Nona Beng itu, ia awasi pemuda kita.
"Saudara Ong, kau lelah tentu, mari beristirahat!"
Ia mengundang.
"Ya, pasti dia sudah letih!"
Kata Pek Bin dengan gembira.
"Nanti aku cari arak untuk dia dapatkan kembali kesegarannya!"
Ciauw Hie merasa lucu melihat lagaknya orang she Pek ini.
tetapi di samping itu ia tidak dapat singkirkan curiga cemburu dalam hatinya.
Pek Bin lari turun dari loteng untuk ambil arak simpanan.
Ruang hanya diterangi sinar bulan yang molos dari antarajendela Berada berdua bersama tunangannya itu, Ciauw Hie tak dapat cegah goncangan hatinya.
Ciu Hee sudah lantas sulut dua batang lilin, hingga di antara cahayanya lilin itu, semakin nyata tampak kecantikannya.
"Beng SioCia, harap kau maafkan kelancangan ku. kata pemuda ini kemudian. Sebenarnya ingin sekali aku ketahui sebabnya kenapa ayahmu ditawan dan bagaimana keadaannya sekarang, supaya kita dapat pikirkan daya untuk menolongnya."
Dari cahaya matanya nyata tampak si nona sangat bersyukur.
Ciauw Hie tunduk ketika si nona awasi padanya.
Kemudian dengan liamjim (merangkapkan kedua tangannya), Nona Beng memberi hormat "Sebetulnya kamipun gelap kepada duduknya hal,"
Kata si nona.
"Di hari kedua terjadinya perkara Teng Kie An itu. malam harinya ada datang dua orang ke rumah kami ini. Mereka itu bicara kepada ayah di kamar tulis. Bersama-sama Pek Bin aku sembunyi di kamar sebelah. Suara pembicaraan mereka itu makin lama makin perlahan, sehingga kami tidak dapat mendengarnya lagi. Samar-samar aku dengar dua tetamu itu menyebut-nyebut tentang penjahat, hal pengakuan dan akal muslihatnya penjahat itu. Akupun berulang-ulang dengar ayahku mengatakan "Aku tidak tahu.' Ketika kemudian kedua tetamu itu berlalu, ayah lantas desak kami supaya lekas angkat kaki dari sini. Masih ayah pergi keluar untuk melongok akan lantas balik pula ke dalam mendorong kami masuk ke dalam kamar rahasia dua bungkusan besar barang makanan ia lemparkan pada kami. Baru saja kami sembunyi, orang-orang Kimiewie telah datang. Kami tidur bergantian. Baru tadi kami dengar suaranya orang-orang Kimiewie yang menjaga di situ. Kami sudah tidak betah berdiam di dalam kamar ini, kau datang justeru kami hendak keluar."
Kembali bangkit kesangsiannya rjiauw Hie.
Si nona bersama Pek Bin telah mengumpet di dalam satu kamar berhari-hari dan bermalam-malam, namun si nona bicara dengan air muka tetap tidak berubah menjadi merah...
"Ya, aku masih ingat."
Ciu Hee menambahkan.
"merekapun ada menyebut-nyebut namanya The Kokkiu dan Gui Kongkong." (Kokkiu ialah ipar raja, dan Kongkong adalah sebutan untuk orang kebiri). Ciauw Hie pernah bantui ayahnya bekerja, pengalamannya melebihi daripada usianya yang masih muda, setelah dengar keterangannya Ciu Hee, ia tunduk untuk berpikir.
"Perkara Teng Kie An itu tentulah suatu rencana komplotan busuk yang terbesar."
Ia menyatakan kemudian "Aku percaya ada golongan yang sewa tenaga si penyerang itu dengan maksud mencelakai pihak lain.
Ayahmu adalah yang pertama bentrok dengan penyerang itu, sudah pasti ayahmu termasuk salah seorang yang di arah komplotan itu.
Mungkin si penyerang telah mengatakan sesuatu mengenai ayahmu, maka ia sudah lantas ditahan.
Dugaanku pihak pertama itu sudah tentu orang-orang yang mempunyai pengaruh di dalam pemerintahan, mungkin dia The Kokkiu atau Gui Kongkong.
Aku percaya ayahmu sekarang masih belum mati."
"Dengan alasan apa kau berpendapat demikian?"
Tanya si nona "Kecuali ayahmu tahu banyak, iapun telah beber semua itu, sudah tentu ia dicurigai, maka ia ditahan terus untuk diperiksa secara perlahan-lahan."
Sahut Ciauw Hie. Ciu Hee menghela napas.
"Mungkin benar dugaanmu,"
Kata ia. Dan dengan sendirinya ia lantas menaruh harga pada pemuda ini. Hingga iapun melamun.
"Entah bagaimana halnya tunanganku, syukur kalau dia sama seperti pemuda she Ong ini..."
Justeru ia ingat tunangannya dan pemuda ini sama-sama orang she Ong.
wajahnya si nona lantas berubah bersemu dadu, maka lekas-lekas ia tunduk.
Ciauw Hie heran, tadi ia tampak si nona demikian toapan, tapi sekarang berubah menjadi likat.
Ciu Hee pun sadar atas perubahan kelakuannya ini, ia mencoba untuk tenangkan hatinya.
Begitulah ia angkat kepalanya.
Tadinya ia hendak bicara, tetapi segera ia dengar tindakan kaki di tangga loteng.
Itulah Pek Bin yang kembali bersama dua botol arak Tinliau LooCiu.
"Saudara Ong, mari minum dua cawan arak untuk dapat pulih kesegaranmu!"
Kata si tolol itu.
"Kau telah berkelahi keras hingga menjadi lelah sekali."
Tapi, ketika ia pandang pemuda itu. ia tertawa sendirinya. Ia dapatkan orang sudah segar kembali.
"Ah. saudara Ong!"
Serunya.
"Cepat benar kau dapat pulih kesegaranmu! Melihat parasmu tadi, aku kuatirkau mendapat sakit..."
Tergerak hatinya Ciauw Hie. Ia segera menjadi suka kepada anak muda yang polos ini. Maka ia pikir.
"Telah enam belas tahun aku berpisah dari tunanganku, tak dapat disesalkan apabila di dalam hatinya berpeta lain orang."
Oleh karena ia memikir demikian, hatinya banyak lebih lega. iapun menjadi jengah sendirinya karena ia sudah curigai Pek Bin.
"Eh, tolol, kau pandai melayani tetamu!"
Kata Ciu Hee sambil tenawa pada murid ayahnya itu. Pek Bin pun tertawa, ia isikan tiga buah cangkir.
"Sumoay, kau pun harus turut minum meski hanya secawan!"
Ia kata. Si nona pergi ke jendela, untuk lihat cuaca.
"Jangan kita sibuki arak saja."
Katanya sambil kembali ke meja.
"cuaca akan mulai terang, sebentar bakal datang Kimiesu yang akan gantikan tiga orang ini. Kita harus pikirkan daya..."
Ong Ciauw Hie tolak cawannya.
"Mari kita pergi!"
Ia mengajak. Beng Ijiu Hee tahu, memang mereka tidak dapat sembunyi terus di kamar rahasia itu. maka ia setuju untuk angkat kaki.
"Ke mana kita hendak pergi?"
Dia tanya.
"Kau turut saja aku."
Sahut Ciauw Hie.
Pemuda ini ajak kedua orang itu ke rumahnya Liu Hee Beng.
Malam itu Liu Busu tidak dapat tidur, ia terus memikiri Ciauw Hie, hatinya baru menjadi lega setelah melihat pemuda itu kembali dengan tidak kurang suatu apa.
"Liu siokhu, aku datang membawa tunanganku bersama suheng-nya, mereka sedang menanti di luar."
Ciauw Hie kasih tahu. Iapun lantas tuturkan dengan singkat hal perbuatannya barusan. Kemudian ia tambahkan.
"Aku hendak minta siokhu bantu aku untuk membohongi dulu nona Beng untuk sementara waktu saja. Dia masih belum tahu bahwa aku adalah tunangannya."
Orang tua itu urut-urut kumisnya sambil bersenyum.
"Kenapa begitu?"
Tanyanya.
"Lebih baik ia tidak segera mendapat tahu,"
Ciauw Hie jawab. See Beng tertawa.
"Memang anak-anak muda, sukar dibade hatinya!"
Katanya.
"Baiklah."
"Terima kasih, siokhu,"
Kata Ciauw Hie sambil bersenyum, lalu ia keluar dari kamar rahasia si paman, untuk ajak masuk Ciu Hee dan Pek Bin.
See Beng tidak berkeberatan ditumpangi lagi dua orang.
Lewat beberapa hari.
suasana tak segenting lagi sebagai beberapa hari yang lampau itu.
Liu Busu luas pergaulannya, maka ia lantas dengar warta yang bersumber dari istana, bahwa Kaisar Sin Cong telah menghukum mati dua thaykam Bang Po dari Lauw Seng, entah apa sebabnya, sebaliknya thaykam Gui Tiong Hian dinaikkan pangkatnya menjadi Thaykam Congkam, yaitu kepala dari semua orang kebiri.
"Gui Tiong Hian itu tentulah Gui Kongkong."
Ciauw Hie menduga. Ciu Hee di lain pihak mulai bergelisah, karena ia masih tidak dapat dengar sesuatu mengenai ayahnya.
"Bagaimana sekarang?"
Ia tanya Ciauw Hie.
Sekarang ia dapat bergaul tidak likat-likat lagi.
Ciauw Hie berpikir tetapi ia tidak dapat jalan, hingga berulang-ulang si nona desak padanya.
Lain malamnya, tiba-tiba Ciauw Hie ajak Ciu Hee dan Pek Bin ke kamarnya.
"SioCia, kau berani tidak menempuh bahaya besar?"
Ia tanya nona itu.
"Apakah itu, saudara Ong?"
Balas tanya si nona. Agaknya ia kurang puas atas pertanyaan itu.
"Kenapa kau bicara begini rupa? Aku tidak sanggup menolongi ayah. aku sudah bukan main malunya, maka apakah untuk urusanku sendiri aku mesti mengandal pada tenagamu?"
Ditegur begitu. Ciauw Hie tertawa "Aku tidak pandai mengatur omongan, ya, aku bersalah!"
Katanya.
"Ah, sudahlah, lekas omong!"
Pek Bin mendesak.
"Untuk menempuh bahaya, ajaklah aku. Aku tidak punya kelebihan apa-apa, kecuali aku tidak takut mati! Guna menolongi suhu, aku bersedia akan serbu lautan api!"
Ciauw Hie pandang pemuda ini.
"Sebenarnya,"
Ia kata.
"malam ini aku niat pergi memasuki istana untuk membuat penyelidikan. Aku tahu di mana letaknya keraton KianCeng Kiong dari The Kuihui. Atas permintaanku. Liu Siokhu telah lukiskan lengkap peta dari seluruh istana."
Pek Bin tepuk-tepuk tangan.
"Bagus! Bagus!"
Dia memuji.
"Tapi,"
Ciauw Hie kata.
"untuk satroni istana, orang mesti sempurna ilmu lari pesat dan lompat tinggi. Tentang kau. Beng SioCia, aku tidak sangsi lagi.."
Kali ini nyata Pek Bin tidak tolol...
"Dalam hal ilmu enteng tubuh, aku kalah daripada sumoay."
Demikian ia bisa pikir.
"maka kalau aku turut pergi, tidak saja aku tak dapat membantui mereka, bahkan aku akan menyulitkan mereka itu..."
Karena ini, ia lantas berkata.
"Aku tidak akan turut!"
Sama sekali ia tidak menunjukkan iri hati.
Senang hatinya Ciauw Hie begitupun Ciu Hee.
karena dengan mengalahnya si tolol ini.
tidak usah mereka sibuk meinbujukinya...
Malam itu setelah dengar kentongan tiga kali.
pemudapemudi ini telah siap sedia, sekeluarnya dari rumah, langsung mereka menuju ke Ciekim Shia.
Kota Terlarang.
Malam itu bulan masih samar-samar perlihatkan diri, bintangpun jarang.
Ciu Hee hendak lantas lompat naik ke atas tembok pengurang istana itu, tetapi ia ditarik oleh Ciauw Hie yang mencegahnya kemudian pemuda ini jongkok akan jemput dua potong batu.
dengan apa ia memimpuk hokshia ho.
yaitu kali yang mengurung tembok.
Segera terdengar suara, yang tidak terlalu nyaring, akan tetapi menyusul itu lantas berkelebat empat bayangan.
Itulah pengawal-pengawal istana yang keluar dari tempat persembunyiannya.
Mereka lompat dari tembok menghampiri kali.
Justeru mereka lompat keluar.
Ciauw Hie ajak si nona membarengi lompat naik.
untuk masuk ke dalam kota.
Ciauw Hie sudah kenal baik keletakan istana maka ia yang pimpin Ciu Hee membuka jalan.
Dengan lewati ketiga pendopo Thayho.
Tiongho dan Pooho.
mereka menyelusup ke dalam.
Mencelatnya mereka sangat pesat, saban-saban mereka bisa abui pengawal-pengawal yang sedang melakukan penjagaan.
Sebentar kemudian sampailah mereka di taman kecil di samping keraton KianCeng Kiong.
Pekarangan istana sangat luas.
ada telaga-telaga buatan yang diberikan nama laut.
ialah Pakhay Pekhay dan Sipsathay.
bening jernih airnya.
Sembunyi di tempat gelap.
Ciauw Hie dan Ciu Hee memasang mata Di sebuah pintu samping, mereka lihat enam pengawal sedang temani satu orang yang tubuhnya berselubung mantel sampai kepalanyapun ketutupan.
Tujuh orang itu menuju ke pintu keraton.
Tadinya Ciauw Hie hendak kuntit rombongan itu.
di saat ia hendak keluar dari tempat persembunyiannya, ia tampak melesatnya satu bayangan dari atas genteng, masuk ke dalam pendopo.
Ia heran untuk kegesitannya bayangan itu, yang melebihi kepandaiannya sendiri.
Maka kalau bayangan itu ada salah satu pengawal dan ia dipergoki, sulit untuk ia loloskan diri.
Ciu Hee bisa duga kesangsiannya pemuda ini, ia kata.
"Tanpa masuk ke sarang harimau, mana kita bisa dapatkan anak harimau?"
"Sabarlah sebentar."
Ciauw Hie kata. Hampir berbareng dengan itu, dari dalam keraton Kian Ceng Kiong terdengar teriakan berulang-ulang.
"Ada penyerang gelap! Lantas dari luar keraton memburu lima atau enam pengawal. Kebetulan bagi Ciauw Hie. beberapa pengawal itu lari beruntun di dekatnya, ia tunggu orang yang terakhir lari melewat, tiba-tiba ia lompat menyerang sambil menotok, setelah mana, ia seret orang itu ke belakang gununggunungan. Ia bukakan pakaiannya orang itu untuk ia pakai.
"Kau sembunyi dahulu di sini. jangan bergerak,"
Ia pesan Ciu Hee.
"Aku hendak masuk ke dalam keraton, akan lihat siapa orang tadi itu."
Tanpa tunggu jawaban lagi, ia segera hunus pedangnya dan lari keluar sambil berteriak-teriak.
"Tangkap penyerang gelap!"
Secara demikian, ia dapat susul rombongan tadi.
Di dalam keraton, pertempuran sedang berlaku.
Seorang pemuda jangkung yang bersenjatakan sebilah pedang panjang tengah melayani belasan pahlawan, senjata mereka saling sambar dan sinarnya berkelebat.
Pemuda itu bersilat dengan ilmu Butong pay yang dinamakan CitcapjieCiu Lianhoan kiam.
Di matanya Ciauw Hie orang itu berlipat kali lebih liehaydaripadaKeng Ciauw Lam, ia kagum bukan main.
lapun tampak orang masih sangat muda.
Akan tetapi walaupun gagah, namun pemuda itu repot juga melayani belasan wiesu itu.
Selagi Ciauw Hie bengong tonton pertempuran itu, tiba-tiba ia dengar teguran.
"Hai, mengapa kau diam saja. tidak membantui turun tangan?"
La tahu bahwa orang itu tentu pemimpin barisan pengawal, yang telah pula datang menghampiri padanya.
Melihat wajah Ciauw Hie yang asing baginya, orang itu menjadi heran.
Ciauw Hie pun tidak bisa umpetkan kekagetannya.
"Ada wiesu palsu!"
Teriaknya pemimpin itu sambil mengangkat thieCio-nya menyerang pengawal palsu ini.
Dengan terpaksa Ciauw Hie tempur pengawal ini.
Beberapa pengawal datang bantu mengepung Ciauw Hie.
la dapat lukai seorang pengawal tapi ia tetap terkurung.
Ciauw Hie tidak tahu bahwa pemuda jangkung yang liehay itu adalah To It Hang, puteranya Houwpou SielongTo Kee Hian, atau cucunya bekas Congtok To Tiong Liam.
Dalam usia tujuh tahun, selagi ikuti ayahnya di kota raja, It Hang bertemu Cie Yang Toojin, imam pemimpin Butong pay.
yang datang ke kota raja untuk minta dejrna sekalian diam-diam mencari satu pemuda yang berbakat untuk dijadikan muridnya, untuk di belakang hari murid itu bisa dijadikan ahli waris.
Melihat wajahnya It Hang, tertariklah hatinya imam itu, segera timbul keinginannya akan ambil bocah ini.
Sebelum bekerja di kota raja, Kee Hian pernah pangku pangkat di Ouwpak.
di mana ia dapat ketika berkenalan kepada Cie Yang Toojin.
Maka ketika mereka bertemu pula di kota raja.
dan si imam utarakan maksudnya mengambil It Hang sebagai muridnya.
Kee Hian lantas saja terima baik permintaannya imam ini.
Maka It Hang lantas dibawa pulang ke Butong san untuk dididik dan dilatih, sampai selang dua belas tahun, hingga ia paham ilmu silat pedang Lianhoan kiam itu serta ilmu pukulan tangan kosong Kiukiong Sinhong kun.
Dengan begitu, kepandaiannya pemuda ini ada di atasan semua murid Butong pay angkatan kedua bahkan melebihi para paman gurunya (susiok).
Selama dua belas tahun yang lampau itu.
setiap tiga tahun sekali tentu-tentu Cie Yang Toojin datang ke Pakkhia mengajak It Hang.
untuk murid ini berkumpul dengan ayahnya selama satu bulan, selama mana It Hang pun belajar ilmu surat, untuk mana Kee Hian sengaja undang guru yang pandai.
Secara demikian, It Hang pun terdidik baik dalam ilmu surat.
Sekarang dalam usia sembilan belas tahun, dengan perkenan gurunya.
It Hang pulang ke kota raja memenuhi panggilan ayahnya, yang ingin ia turut dalam ujian besar.
Ketika ia mau berangkat turun gunung, gurunya hadiahkan ia sebatang pedang, yang diberi nama Hankong kiam.
Guru itupun memesan, katanya.
"Aku ingin dan harapkan kau tidak akan tenggelam dalam dunia kepangkatan, supaya kelak kau dapat menggantikan aku memegang pimpinan atas Butong pay!"
It Hang terima baik pesan gurunya itu.
Ketika ia sampai di rumah, ia disambut dengan girang oleh kedua orang tuanya.
Baru tiga tahun yang paling belakang anak dan orang tua berpisahan, tapi sekarang It Hang sudah jangkung menyusuli ayahnya.
Mereka serumah tangga baru berkumpul belum tiga bulan, tiba-tiba datanglah ancaman bencana hebat, yaitu To Kee Hian terlibat dalam perkara "Teng Kie An"
Itu, hingga ia menemui ajalnya secara sangat mengenaskan itu.
Tentu saja It Hang, yang dapat meloloskan diri, jadi sangat sedih berbareng murka, hingga ia ambil putusan untuk menuntut balas.
Dari salah satu sahabat ayahnya.
It Hang dapat tahu bahwa ayahnya difitnah oleh The Kokkiu, bahwa ipar raja inipun bertindak menuruti keinginannya The Kuihui, selir raja It Hang tidak dapat kendalikan diri lagi, walau ia tahu istana tidak dapat dibuat permainan, namun ia memasuki juga keraton seorang diri, untuk cari selir musuhnya itu.
guna wujudkan pembalasannya.
Demikian ia terlibat dalam suatu pertempuran dahsyat, sampai Ong Ciauw Hie datang membantui padanya.
Sesudah menyerang hebat dengan ilmu silat Liapin kiamhoat, ilmu pedang "Menyusul Mega", bisa juga Ciauw Hie merangsek dekat kepada To It Hang, yang pun bergerak ke arahnya apabila dia lihat ada orang yang membantui padanya.
Maka itu, selanjutnya mereka berkelahi sambil belakangmembelakangi hingga tak usah mereka jadi repot melayani musuh-musuh di depan dan belakang.
Pada saat itu pintu kamar tidur dari keraton KianCeng Kiong telah terpentang, dari situ keluar The Kuihui bersama kakaknya dan seorang laki-laki yang mengenakan mantel tadi, serta enam pengiringnya.
Mereka muncul untuk menyender di pintu, untuk saksikan pertempuran itu.
"Siang Sun. titahkanlah pengi ringmu pertunjukkan kepandaiannya!"
Berkata selir raja itu sambil tertawa. Nampaknya sedikitpun ia tidak jeri menghadapi penyerang gelap itu.
"Lihat segala pahlawan bantong itu, dua bocah cilik saja mereka tidak mampu bekuk! Apabila mereka tidak lekaslekas dibereskan, kalau sebentar kejadian ini mengejutkan keraton Ciakiong, itulah tidak bagus."
Laki-laki yang bermantel lantas gerakkan sebelah tangannya, segera dua pahlawannya maju hampir berbareng.
Seorang yang bersenjatakan sepasang gaetan hokCiu kau w, menghampiri To It Hang.
dan yang seorang pula dengan bertangan kosong menyerbu Ong Ciauw Hie, yang pedangnya hendak dirampas.
Ciauw Hie sambut lawan yang baru ini dengan babatan pedangnya.
Orang itu lompat ke samping, gesit sekali, hingga ia lolos dari bahaya.
Tapi pemuda kita tidak berhenti sampai di situ, ia maju menyambar pula membabat lengan lawan, setelah mana, ujung pedang menusuk ke lutut!
"Ah!"
Seru wiesu itu yang segera lompat mundur, ia rupanya kaget untuk serangan yang istimewa itu.
luga wiesu yang menyerang It Hang tidak peroleh-hasil.
Pikirnya dengan senjata gaetannya ia hendak gaet dan rampas pedangnya si anak muda, maka ia maju menyerang dengan "Thaypang liamCie," ---"Burung garuda rapatkan sayap", yaitu sepasang gaetannya yang tadinya terpentang, ia rapatkan dengan mendadak.
It Hang jeli matanya, begitu pedangnya hendak digencet, ia teruskan membacok ke bawah dengan gerakan "Soanhong sauwyap"
Atau "Angin puyuh menyapu daun".
Maka repotlah si wiesu, terpaksa ia lompat mundur.
Penyerangnya Ciauw Hie rupanya mengerti ilmu Engjiauw kang.
Tangan Kuku Garuda, beberapa kali ia coba mendesak Ciauw Hie namun senantiasa ia tidak peroleh hasil.
Demikianpun kawannya yang bersenjatakan gaetan itu.
Siang Sun kecele menampak dua pahlawannya yang dibuat andalan itu tidak segera peroleh hasil.
Tetapipun di lain pihak karena majunya dua tenaga baru ini.
It Hang dan Ciauw Hie menjadi repot juga.
Hingga Ciauw Hie merasa sangat berbahaya untuk memperpanjang waktu.
Justeru itu ia dengar seruannya Ciu Hee.
yang disusul pula dengan teriakan riuh.
"Tangkap penjahat wanita!"
Mengertilah ia.
rupanya nona Beng telah dipergoki.
Maka ia coba merangsak dengan niatan tengok nona itu.
Tapi karena perubahan sikapnya ini, pihak lawan berbal ik bisa desak ia, hingga ia jadi berpencar dari It Hang.
Setelah melakukan perlawanan hebat, Ciauw Hie dapat lukai dua pahlawan, akan tetapi sendirinyapun ia rasakan pundaknya panas, karena sebatang golok musuh sudah mampir ke pundaknya itu.
Karena ini ia berkelahi semakin hebat untuk membuka jalan.
Selagi pertempuran berjalan dahsyat itu.
tiba-tiba pintu taman terpentang tertolak dari luar.
Pintu itu berada di samping keraton.
Segera terlihat majunya serombongan wiesu lain.
Menampak barisan itu, wajahnya The Kuihui berubah.
Ia segera tolak tubuhnya laki-laki yang bermantel itu, supaya dia masuk ke dalam.
Rombongan wiesu itu sampai dengan segera, mereka tidak maju untuk membantu menangkap penyerang, hanya seorang di antaranya, yang berada di tengah, berseru.
"Berhenti bertempur! Geledah keraton!"
Semua wiesu yang sedang mengepung It Hang dan Ciauw Hie kaget, mereka lompat mundur, untuk berhenti bertempur.
"Thianhee. apakah salahku?"
The Kuihui menanya, suaranya nyaring. Orang itu, yang ternyata adalah thayCu, putera mahkota, tidak berikan jawaban, sebaliknya ia berikan titahnya pula.
"Geledah keraton!"
Demikian dia berikan perintahnya, sesudah mana. bersama sekalian wiesunya ia bertindak ke arah tangga. The Kuihui gerakkan kepalanya.
"Tanpa firman Sri Baginda, siapa berani lancang masuk ke sini?"
Dia membentak. Dan bentakan itu membuat semua pahlawan merandek.
"Sudah ada lain orang yang mendahului masuk kemari!"
Seru thayCu.
"Tidak usah tunggu lagi firman Sri Baginda! Aku yang tanggung jawab!"
Semua pahlawannya putera mahkota maju pula sambil berseru.
"Halau kawanan orang jahat ini!"
Kuihui berteriak.
"Aku nanti ajak dia menghadap Sri Baginda untuk berurusan! Akulah yang menanggung jawab!"
Pahlawannya selir itupun maju untuk belai majikannya, karena mana kedua pihak wiesu (pahlawan) jadi bentrok satu pada lain. Menampak demikian. To It Hang lompat maju.
"ThayCu, aku nanti bekuk semua pemberontak ini!"
Ia berseru.
Benar-benar puteranya To Kee Hian menerjang pahlawannya selir raja.
Beberapa pahlawan selir raja memencarkan diri, untuk merintangi pemuda ini, akan tetapi serangannya It Hang membuat lawannya repot melayaninya.
Laki-laki yang bermantel itu angkat kaki.
dia lari ke hadapan The Kuihui.
tapi di saat dia hampir nyeplos ke pintu kamar, It Hang sudah lompat ke arahnya, dengan ulur sebelah tangannya pemuda ini dapat jambak mantel berikut tubuhnya orang itu.
yang terus diangkat tinggi-tinggi, malah digunakan sebagai senjata untuk menangkis setiap serangan.
Semua pahlawan kuihui tidak berani menyerang lebih jauh, karena mereka kuatir melukai orang itu.
Ciauw Hie merangsek ke dalam, putera mahkota serta dua pahlawannyapun ikut maju.
Justeru itu, It Hang lemparkan tawanannya, yang disambut oleh pahlawan thayCu.
Ketika mantelnya orang itu yang menutupi mukanya disingkap, mereka kaget.
"JiehongCu!"
Mereka berseru. Itulah putera yang kedua dari Kaisar Sin Cong. ThayCu tertawa dingin.
"Ringkus padanya!"
Dia perintahkan.
"Geledah keraton!"
Pintu keraton telah ditutup, tetapi dengan gempuran kedua tangannya.
It Hang bikin daun pintu mcnjcblak terbuka, maka semua orang menyerbu masuk.
JiehongCu Siang Sun sangat andalkan ibunya, yakni The Kuihui yang sangat digilai raja.
karena itu ia telah kandung niatan hendak merampas tahta kerajaan, tindakan yang pertama adalah merebut kedudukannya thayCu.
Akan tetapi banyak menteri berada di pihaknya thayCu.
maka telah kejadian Siang Sun diangkat jadi pangeran Hok Ong dan diperintahkan berdiam di kota Lokyang.
The Kuihui tidak puas terhadap keputusan itu, ia mencoba berdaya dengan berserikat kepada thaykam Gui Tiong Hian serta kakaknya, The Kok Tay, begitupun bersama beberapa menteri yang suka berkomplot pada pihaknya.
Demikian, selir raja ini sudah gunakan akal muslihat.
Penyerang yang menjadi gara-gara dari terbitnya insiden "Teng Kie An"
Itu adalah seorang kepercayaan The Kuihui, yang berpura-pura menjadi orang yang tidak beres otaknya, dengan bersenjatakan toya kayu dia menyerbu ke keraton Cukeng Kiong.
Setelah dia kena ditangkap, dia terus ngaco belo sebagai orang edan dengan menyebut-nyebut beberapa nama.
di antaranya ialah menteri yang menunjang putera mahkota, malah dua thaykam yang berpengaruh yaitu Bang Po dan Lauw Seng binasa terfitnah, hingga Gui Tiong Hian yang berhasil merebut kedudukannya kedua orang itu dan berkuasa atas TongCiang, menjabat CongCu.
Di jaman Beng Tiauw ada tiga organisasi istimewa, yang disebut TongCiang, SeeCiang dan Kimiewie.
TongCiang dan SeeCiang dikuasai oleh thaykam, dan Kimiewie oleh satu pembesar militer.
Pengurus dari TongCiang disebut CongCu.
Untuk usahanya merampas kerajaan kelak.
Siang Sun beli orang-orang gagah yang suka bela ia mati-matian, setelah berhasil dengan usahanya menerbitkan perkara Teng Kie An, ia terus perbesar usahanya itu.
The Kuihui percaya bahwa maksudnya akan tercapai, maka secara rahasia dia panggil puteranya di Lokyang untuk datang ke kota raja, demikian Siang Sun berada di istana, dalam keraton.
ThayCu Siang Lok juga cerdik, iapun ada mempunyai sejumlah guru silat.
Ia dapat kisikan bahwa jiehongCu (putera kedua), yaitu Siang Sun, telah berada di dalam keraton, maka untuk menggeledahnya ia datang ke keraton KianCeng Kiong, kebetulan sekali.
Siang Sun dan ibunya, The Kuihui, sedang menganjurkan pahlawan-pahlawannya mengepung To It Hang dan Ong Ciauw Hie, hingga terjadilah bentrokan di antara dua saudara itu.
Setelah menggempur pintu keraton, sesampainya di dalam, It Hang lihat The Kuihui berada bersama satu thaykam putih bersih dan gemuk.
Ia maju terus untuk menerjang selir itu, yang ia pandang sebagai musuh ayahnya.
"Kau berani berontak?"
Bentak si thaykam putih bersih, yang terus ulapkan tangannya kepada orang-orangnya, maka empat Ciangtauw segera maju menyerang si anak muda yang dikepungnya.
"Ciangtauw"
Adalah panggilan untuk tauwbak atau kepala dari pahlawan-pahlawan TongCiang.
It Hang sambut Ciangtauw yang pertama, tangan siapa ia sampok, akan tetapi, meski tubuhnya terhuyung, Ciangtauw ini tidak mau mundur.
Menyusul itu, Ciangtauw yang kedua menyerang.
Dia gunakan pukulan tangan besi Thiepiepee, maka It Hang egos tubuh sambil melejit.
Karena ini, ia jadi bentrok dengan Ciangtauw yang ketiga, yang terbentur pundak kirinya.
Bahna kerasnya tubrukan itu, Ciangtiauw itu roboh terguling.
Juga It Hang terhuyung-huyung.
Selagi tubuhnya It Hang limbung, Ciangtauw yang ke empat menyapu kakinya, tak sempat ia mengelakkan diri.
ia tersapu terpelanting.
Syukur ia tidak sampai roboh.
Empat Ciangtauw itu semuanya orang-orang pilihan.
It Hang jadi gusar.
Insyaflah ia, karena kurang pengalaman, ia kena terserang musuh ini.
Ia segera hunus pedangnya.
Pada waktu itu, thayCu telah menyusul masuk bersama pahlawan-pahlawannya, Ciauw Hie turut bersama.
"Siang Sun tinggalkan tempatnya secara diam-diam. dia niat berontak, orang yang lindungi padanya pasti akan ditangkap bersama!"
ThayCu berseru. Belum suara putera mahkota sirap, Gui Tiong Hian sudah menyahuti.
"Hamba terima perintah!"
Lantas ia titahkan orang-orangnya tawan The Kuihui dan kakaknya selir ini.
"The Kuihui dan kakaknya berontak, akulah saksinya!"
Kata thaykam ini sambil tertawa, sesudah selir itu dan saudaranya dibekuk. ThayCu heran hingga ia tercengang. Ciauw Hie sebaliknya tidak perhatikan semua itu, ia hanya mengawasi ke empat penjuru.
"Eh, Gui Kongkong, apakah artinya ini?"
Tanya The Kuihui pada orang kebiri itu, yang bisa putar kemudi dalam sekejap itu. Gui Thaykam segera perlihatkan roman bengis, kedua matanyapun mendelik.
"Kalian ibu anak dan saudara berkongkol untuk rampas tahta kerajaan!"
Katanya dengan keren.
"Aku Gui Tiong Hian adalah hamba yang setia, sudah pasti aku harus lindungi Kerajaan. Bahwa aku telah bercampur gaul denganmu, itulah melulu siasat untuk ketahui segala rahasiamu! Apakah kalian sangka aku kesudian turut berkhianat?"
The Kuihui gusar hingga ia caci-maki habislah pada orang kebiri yang curang itu, yang sudah menghianati padanya. ThayCu Siang Lok bersangsi, tapi ia bisa berpikir.
"Gui Tiong Hian baru peroleh pengaruh, dia berkuasa atas TongCiang, perduli apa dia benar setia atau berpura-pura saja? Untukku sudah cukup asal dia bantu aku!"
Lantas putera mahkota ini titahkan pahlawannya belenggu eraty-erat ketiga orang tawanan itu. Selagi thayCu hendak undurkan diri, tiba-tiba ia dengar Ciauw Hie berseru.
"Beng Pehu, di mana kau? Aku datang!"
Seruan ini membikin ia sadar. Maka ia lantas pandang The Kuihui.
"Kamu telah tawan guruku, di mana kau sembunyikan padanya?"
Ia tanya.
Belum lagi selir itu menjawab, Tiong Hian sudah mendahului memerintahkan satu Ciangtauw geser meja patsiantoh di dekatnya, terlihatlah di bawahnya sebuah lubang yang gelap.
Ciauw Hie lantas mengerti, dengan berani ia lompat turun ke dalam lubang itu dengan empat Ciangtauw ikuti dia.
Pemuda she Ong ini baru jalan beberapa tindak, ia sudah lantas dengar seruan hebat dan bentroknya senjata, ia berkuali r.
Ia rogoh kantongnya akan keluarkan batu tekesan untuk nyalakan api.
Ke empat Ciangtauw lari terus ke depan, mereka tampak seorang yang tangannya terbelenggu sedang tempur hebat dua wiesu dengan gunakan rantai belengguannya.
Orang itu adalah Titthian Busu Beng Can yang dirantai kaki dan tangannya, dari kamar rahasia ini ia dengar suara berisik di sebelah atas, ia lantas menduga mesti telah terjadi perubahan, maka ia kerahkan tenaga di kedua tangannya untuk membikin putus rantai belengguannya itu.
Perbuatannya ini dilihat oleh dua pahlawan penjaga yang segera maju untuk meringkusnya kembali, ia sambut dengan perlawanannya.
Tetapi kedua kakinya masih terantai, tak dapat digerakkan dengan merdeka, menyebabkan ia tak dapat memberikan perlawanan dengan sempurna.
Kedua pahlawan itu terluka berdarah kepalanya, tetapi Beng Can pun dapat beberapa tusukan pedang hingga bermandikan darah, ia terluka parah.
Selagi mereka berkelahi terus, muncullah ke empat Ciangtauw itu.
"Bagus!"
Seru kedua pahlawan, yang melihat kedatangannya empat kawan ini.
"Mari bantu kami meringkus manusia kasar ini!"
Empat Ciangtauw itu maju menghampiri, tapi bukan untuk membantui, mereka memecah diri untuk lantas menyerang setiap satu pahlawan, hingga dua orang ini jadi heran, akan tetapi sebelum mereka tahu apa-apa, mereka sudah kena dirobohkan dan binasa.
Ciauw Hie segera tolong bakal mertuanya itu.
untuk dibawa keluar dari ruang dalam tanah itu.
lapun membisikkan.
"Gakhu, inilah aku. mantumu!"
Guru silat itu manggut.
"Mana si Hee?"
Dia tanya.
"Sekarang, dia ada di mana?"
Suaranya lemah.
"Adik Hee ada di luar."
Ciauw Hie jawab.
Dengan tiba-tiba orang tua ini jadi bersemangat, dengan tekan pundaknya Ciauw Hie, ia lompat naik di mulut lubang.
Itu waktu thayCu sedang bicara dengan To It Hang.
It Hang menerangkan bahwa ia adalah cucunya Congtok To Tiong Liam atau anaknya Houwpou Sielong To Kee Hian.
Mendengar keterangan itu.
thayCu lantas mengerti maksudnya It Hang menyerbu keraton.
"Penasarannya ayahmu pasti aku nanti bikin terang!"
ThayCu berjanji.
Beng Cioc Hee telah lolos dari kepungan, ia sudah masuk ke dalam keraton dan dapat bertemu It Hang, di samping siapa ia berdiri selagi pemuda ini bicara dengan thayCu.
la segera lihat Ciauw Hie memapah seorang yang bermandikan darah, ia menjadi kaget bukan main ketika ia dapat mengenali orang yang dipapahnya itu.
"Ayah!"
Ia menjerit sambil terus lompat menubruk, air matanya lantas bercucuran deras.
"ThayCu, maaf, tak dapat hambamu melayani kau lebih lama,"
Berkata Beng Busu kepada putera mahkota, sesudah mana, ia tarik puterinya dengan tangan kiri dan bakal baba mantunya dengan tangan kanan.
Selagi guru silat ini hendak bicara kepada anak daranya itu, mendadak dua pahlawan lari masuk sambil keluarkan seruan, mereka lompat menyerang Ong Ciauw Hie dari kiri kanan.
Ciauw Hie sedang lengah tetapi ia masih sempat berdaya.
Dengan tangan kirinya ia tangkis serangan pahlawan yang pertama, yang ia terus sampok hingga terguling, lalu iasusuli menangkis pahlawan yang kedua, yang ia dapat tolak mundur.
Ciauw Hie pun lantas mengenali salah satu penyerangnya itu.
ialah pahlawan Kimiewie yang pernah kuntit ia sampai di Siamsay, yakni CiCui Cio Ho.
Komandan Kimiewie ini biasa agulkan diri, ia tidak senang yang ia kena ditangkis mundur, maka ia lompat maju pula.
"Cio Ho, jangan kurang ajar!"
ThayCu Siang Lok membentak.
"Dia seorang pemberontak dari Siamsay!"
Kata Cio Ho.
"Apa? Dia pemberontak?"
Tanyanya thayCu dengan heran.
"Ya,"
Sahut Cio Ho.
"Di Siamsay dengan tingkahnya yang jumawa dia akui diri sebagai piauwsu yang melindungi To Congtok, sayang kami kurang awas, kami sudah kasih dia lolos. Setelah itu muncul penyamun besar Giok Lo Sat yang telah binasakan tigaanggauta Kimiewie."
Cio Ho berani menentangi thayCu karena beda kedudukannya, ia berada langsung di bawah titahnya raja. Ia datang dari Thay Ho Tliian begitu dengar kabar terjadinya kerusuhan di KianCeng Kiong.
"Siapa itu Giok Lo Sat?"
Tanya thayCu.
"Adakah dia penyamun wanita atau pria?"
"Penyamun wanita yang paling berbahaya!"
Jawab Cio Ho.
"Dia muncul untuk melindungi pemberontak ini! Mereka berdua tentu mempunyai sangkut paut satu pada lain!"
Kembali pahlawan ini tampaknya hendak menyerang Ciauw Hie pula. Ciauw Hie tiba-tiba tertawa.
"Cucunya To Congtok itu ada di sini. kau tanyalah padanya, benar atau tidak aku menjadi piauwsu pelindung engkongnya itu!"
Katanya sambil tunjuk To It Hang. It Hang pandang pemuda itu. lalu ia kata dengan nyaring.
"Thianhee. saudara Ong ini benar orang yang melindungi keluargaku, maka itu sekarang kami datang bersama ke dalam keraton ini untuk bantu thianhee membekuk kawanan penghianat."
"Tetapi, mengapa Giok Lo Sat bantu kalian?"
Tanya Cio Ho. Belum lagi Ciauw Hie atau It Hang berikan jawabannya, Beng Busu telah mendahului buka mulut. Ia sudah lantas menjura kepada putera mahkota.
"Thianhee, orang muda ini adalah bakal mantuku,"
Ia kata.
"dia datang kemari bersama anak perempuanku untuk menolongi aku."
La terus tambahkan pada Cio Ho.
"Aku minta Cio Ciehui tidak memfitnah orang baik-baik."
Ciu Hee kemalu-maluan mendengar perkataan ayahnya itu, maka wajahnya menjadi bersemu dadu dan hatinyapun memukul.
Sejak Beng Busu menjadi guru silatnya thayCu.
ia bergaul erat sekali dengan muridnya itu.
kebetulan sekali ia yang bekuk si penyerang yang menyebabkan perkara "Teng Kie Ari", karena mana ia ditangkap orang-orangnya The Kuihui yang niat menyiksa padanya, maka itu sekarang, melihat penderitaannya itu, tergeraklah hatinya thayCu.
"Cio Ciehui."
ThayCu berkata pada kepala Kimiewie itu.
"Beng Busu dan To KongCoc tak mungkin berdusta, kau lepaslah mereka!"
"Jikalau Giok Lo Sat itu seorang penyamun yang liehay, pasti dia musuhnya pihak pembesar negeri, karena itu. ada kemungkinan dia sedang beraksi mengadu dombakan kita,"
Kata Beng Can.
Cio Ho jadi serba salah.
Walau bagaimanapun kedudukannya, kepada thayCu ia harus memandangnya, sedangkan Beng Can pun masih terhitung angkaian terlebih tua yang ia harus hormati pula.
Akhirnya terpaksa ia mundur juga.
"Suhu sedang terluka parah, mari ikut aku ke istana untuk berobat,"
ThayCu mengajak.
"To KongCu dan kau juga. saudara Ong, mari sama-sama turut aku."
"Terima kasih, thianhee."
Beng Busu mengucap.
"Mungkin ajalku tak dapat kupertahankan lebih lama lagi. karenanya harap thianhee ijinkan hambamu pulang ke rumahnya untuk siap sedia..."
ThayCu lihat luka gurunya memang parah, pula karena iapun masih punyakan urusan besar, ia tidak memaksa.
"Baiklah."
Katanya kemudian.
"Pakailah kendaraanku."
ThayCu perintah orang lekas ambil obat luka untuk gurunya itu.
iapun titahkan pahlawannya mengantarkan gurunya pulang kc rumahnya.
Di sepanjang jalan, di dalam kereta Ciu Hee pegangi ayahnya, kadang-kadang ia lirik Ciauw Hie.
yang tampaknya sangat berduka, sepasang alisnya senantiasa dikerutkan.
Mereka sampai di rumah ketika cuaca sudah terang.
Pengantar yang menjadi pengiringnya putera mahkota itu, lantas robek tanda sitaan pada pintu, dan setelah serahkan obat ia lalu pamitan untuk pulang ke istana.
Ciu Hee dibantu Ciauw Hie memapah Beng Busu, sampai di dalam kamar dan direbahkan di atas pembaringan.
Merekapun lantas membersihkan lukanya orang tua itu dan diobatinya.
Selama itu 11 Hang.
yang turut bersama, membantui juga.
Setelah dapat rebah, nampaknya Beng Busu agak segaran sedikit.
Ia melihat ke sekitarnya sambil pentang kedua matanya.
"Mari kalian lebih dekat,"
Kata ia dengan napasnya yang memburu.
"Ada rahasia yang aku mesti beri tahukan kepadamu..."
It Hang menduga orang hendak bicarakan urusan keluarga, ia lantas bertindak keluar. Tapi tuan rumah segera panggil dia kembali.
"Saudara To. bukankah kau murid terpandai dari Cic Yang Tootiang?"
Tanyanya. Ong Ciauw Hie manggut membenarkan pertanyaan itu.
"Sayang, saudara lo. baru kita bertemu, kita lantas bakal berpisah untuk selama-lamanya."
Berkata guru silat itu.
"Tadi kau telah lindungi mantuku, aku ingat budimu ini, maka itu, rahasia ini kaupun boleh turut sekalian mendengarnya, malah mungkin sekali selanjutnya kami akan membutuhkan bantuan tenagamu..."
It Hang balik pula setelah ia sampai di ambang pintu. Ciauw Hie berikan secangkir teh panas kepada mertuanya.
"Beng Pehu, baiklah kau mengasokan diri dahulu,"
Kata ia. Beng Can buka pula matanya.
"Jikalau aku tidak bicara sekarang, mungkin terlambat,"
Ia kata. napasnya mendesak.
"Hiansay, aku tahu, bahwa selama belakangan ini ayahmu dan kau sendiri merasa tidak puas terhadap aku!"
Ciauw Hie heran.
"Itulah tak mungkin, pehu,"
Ia lekas menjawab.
"Aku akan segera menutup mata, mari kita omong terus terang,"
Kata pula guru silat itu.
"Aku tahu, memang kau dan ayahmu tidak senang aku telah menjadi anjingnya pemerintah. Tapi, tahukah kau mengapa aku kesudian masuk ke dalam Cukeng Kiong untuk jadi Titthian Busu?"
Romannya busu ini jadi keren, tetapi tubuhnya bergemetar. Semua orang diam. Ciauw Hie tidak berani memberikan jawaban. Beng Busu berhenti sedetik.
"Kau telah ketahui bahwa dengan Tayhiap Lo Kim Hong dari Hoopak Utara, aku mempun>ai persahabatan yang kekal,"
Katanya. 'Tapi pada lima tahun yang lampau. Lo Tayhiap mati dengan mendadak!"
"Aku dengar itu dari satu sahabat kangouw,"
Jawab Ciauw Hie.
"Lo Kim Hong adalah seorang yang sadar, dia sangat menyintai negaranya,"
Beng Busu kata pula.
"Ketika ia pergi ke Kwangwa untuk membuat penyelidikan, ia telah peroleh satu rahasia penting. Nyatalah bangsa Boan telah kandung niatan menyerbu negeri kita. untuk itu dia telah bersiap-siap untuk menyerbunya. Sudah sekian tahun ia kirim orangorangnya ke Kwangwa untuk mengumpulkan tenaga dan buat menyelidiki keadaan dalam negeri kita. Dia telah berhasil membeli sejumlah orang, yang akan menyambut dari dalam, di antaranya ada yang berpangkat tokbu, ada menteri juga. Dan di antara orang belian kaum Rimba Hijau. Lo Kim Hong dapat tahu dua jago, tapi yang satunya ia masih belum ketahui namanya..."
Mendengar itu. panas hatinya lt Hang dan Ciauw Hie. Mereka mendongkol terhadap orang-orang Rimba Hijau yang demikian rendah derajatnya itu.
"Siapakah kedua mereka itu?"
Mereka tanya hampir berbareng.
"Yang satu adalah Eng Siu Yang dari perbatasan SuCoan,"
Sahut Beng Busu.
"Oh!..."
Ciauw Hie berseru tertahan.
"Eng Siu Yang pandai bekerja,"
Beng Busu melanjutkan.
Baca Juga: Anak Berandalan 4
Baca Juga: Harimau Kemala Putih 6