Eps 4 Anak Berandalan - Khu Lung
Baca online Anak Berandalan - Khu Lung
Cersil Anak Berandalan - Khu Lung.
Dengan suaranya yang gemetaran Sim Pek Kun berkata .
"Permusuhan apakah yang pernah terjadi di antara kita ? Mengapa kau menggangguku selalu ?"
Siao Kongcu tertawa, dengan sikapnya yang manis dia berkata .
"Justru karena belum pernah terjadi permusuhan antara kita, aku jadi harus membuat satu sengketa baru lebih dahulu. Dan karena kita tidak bermusuhan, aku tidak dapat membiarkan kau mati bunuh diri."
Kemudian Siao Kongcu menoleh kearah Liu Eng Lam, dan menggapaikan tangannya kepada kongcu hidung belang itu .
"Hayo..... Kemari..... mengapa kau berdiri seperti patung disana ? Kau sudah dewasa, bukan ? Mengapa harus malu ?"
Liu Eng Lam menundukkan kepala lalu setapak demi setapak dia melangkah, dengan tindakan berat dia maju kedepan.
Liu Eng Lam sudah berkhianat kepada Siao Kongcu, tapi Siao kongcu tidak membunuhnya, inilah suatu kejadian yang janggal sekali.
Siao kongcu bukanlah tokoh silat yang mudah dihadapi, entah apa yang sedang dipikirkan olehnya ?
Liu Eng Lam lebih suka mati didalam tangan jago kecil ini, terlalu kejam sekali dia menganiaya orang.
Siao kongcu sudah berdiri didepan Sim Pek Kun, dan Liu Eng Lam pun mendampingi mereka.
Waktu itulah Siao kongcu tiba-tiba menggoyang-goyangkan kepalanya, dengan suara yang sangat merdu didengar dia berkata .
"Nah, bagaimana kau tidak berhati-hati sehingga membiarkan orang memukul kedua pipimu seperti ini ?"
Orang yang belum mengenal kepribadian Siao kongcu; tentu akan menduga bahwa kedua pipi Liu Eng Lam yang sudah rusak itu adalah hasil kerja orang lain.
Tapi kenyataannya tidaklah demikian, itulah hasil buah tangan Siao kongcu sendiri.
Dari dalam saku bajunya Siao kongcu mengeluarkan sebuah sapu tangan putih, dihampirinya Liu Eng Lam dan menggosok-gosokkan sapu tangan itu pada kedua pipi si kongcu hidung belang.
Gerakannya sangat luwes sekali, seolah-olah seorang ibu yang sangat prihatin kepada putranya.
Liu Eng Lam menyengir, seolah-olah hendak dipaksakan tertawa.
Tapi mungkinkah dia dapat tertawa ?
Keadaannya lebih menyedihkan dari pada kalau dia menangis.
Lebih buruk dari pada wajah seorang yang menangis.
Setelah selesai mengusap-usap kedua pipi Liu Eng Lam yang matang biru itu, Siao kongcu menggibrik-gibrikkan baju Liu Eng Lam juga.
Dan dibersihkannya dengan baik sekali.
setelah itu dia berkata .
"Nah, dengan memaksakan diri didalam keadaan seperti ini kau dapat bertemu dengan orang. Tapi lain kali berhati-hatilah jangan sampai terpukul wajahmu sendiri, wajah tampan adalah modal penting."
Liu Eng Lam menganggukkan kepala, seolah-olah boneka hidup saja. Dia membiarkan dirinya dikendalikan oleh Siao kongcu. Liu Eng Lam mempasrahkan diri, Sim Pek Kun juga pasrahkan nasib dia pejamkan kedua belah matanya dan menunggu tindakan-tindakan selanjutnya.
Melihat kedua mata Sim Pek Kun yang dipejamkan, wajah Siao kongcu berubah, segera dia membentak .
"Buka matamu, dan dengarlah perintahku. Bila ku ajukan suatu pertanyaan, jawablah dengan terus terang. Jangan kau main gila ! jangan menbuat aku marah, ya ! Bila sampai terjadi sesuatu, umpamanya kusobek atau kucopot pakaianmu, apakah yang akan terjadi ? Disitu akan timbul suatu manusia cantik jelita telanjang bulat, itulah kau. Berpikirlah baik-baik!"
Sebelum ucapan tadi selesai dikeluarkan, kedua mata Sim Pek Kun dibuka kembali. Betulbetul ia mendengar perintah. Siao kongcu tertawa girang, dengan sungguh-sungguh dia berkata .
"Nah, inilah baru namanya seorang anak yang baik."
Umur Siao kongcu sebenarnya jauh lebih muda daripada Sim Pek Kun, tapi dia menyebut nyonya cantik itu sebagai anak baik.
Sungguh menggelikan sekali dalam pendengaran umum.
Tapi, rasa geli ini tidak dirasakan oleh Sim Pek Kun, juga tidak begitu meresap dalam pendengaran Liu Eng Lam, karena mereka sedang dalam kesulitan.
Selesai memperanakan Sim Pek Kun, Siao kongcu menepuk-nepuk pundak Liu Eng Lam dan berkata kepadanya .
"Inilah Bu-ya-kiam-khek Liu Eng Lam yang ternama, belum lama saja sudah membunuh orang. Satu kusir kereta, dua wanita berbaju hijau dan satu lagi adalah kawan baiknya sendiri si Jago Silat Golok Emas Pang Tiauw Hai."
Dan Siao kongcu menoleh kepada Sim Pek Kun seraya bertanya.
"Tahukah kau, mengapa dia melakukan pembunuhan-pembunuhan tadi?"
Sim Pek Kun menggoyangkan kepala. Siao kongcu mendelikkan sepasang matanya, segera dia membentak keras.
"Kau sudah tidak mempunyai mulut, heh! KAngan cuma goyang-goyang kepala! Jawab pertanyaanku dengan mulut, bicara segera!"
Dada Sim Pek Kun dirasakan seperti mau meledak, tetapi bertemu dengan manusia seperti Siao kongcu ini, apa yang bisa diperbuatnya?
Kecuali menurut segala perintahnya, tidak ada lain jalan.
Karena itulah dengan menahan butiran-butiran air mata yang sudah berada di ujung kelopak matanya, ia memaksakan diri berkata.
"Aku....aku.... tidak tahu"
Siao kongcu menggeleng-gelengkan kepala, kemudia berkata lagi.
"Bohong! Kukira kau tidak bisa tidak tahu. Kau tahu, kau pasti tahu mengapa Liu Eng Lam membunuh kawannya, mengapa Liu Eng Lam membunuh dua wanita berbaju hijau dan membunuh kusir kereta itu? Kau tahu, bukan?"
Sim Pek Kun terpaksa menganggukkan kepala dan menjawab. "Betul. Betul.... aku tahu,"
"Tentu saja kau tahu,"
Berkata Siao kongcu. Sim Pek Kun diam, sementara Siao kongcu sudah nyerocos lagi.
"Dia sudah jatuh cinta kepadamu, cintanya itu sesungguh hati, bukan?"
"Aku....aku.... aku tidak tahu."
Sim Pek Kun semakin gugup.
"Bagaimana kau tidak tahu?"
Berkata Siao kongcu.
"Nah, jawab lagi sebuah pertanyaanku. Pernahkah Lian Seng Pek membunuh orang karenamu?"
Sim Pek Kun berkata.
"Belum"
"Nah,"
Berkata Siao kongcu.
"Inilah suatu bukti, bahwa Liu Eng Lam lebih besar cintanya dari pada Lian Seng Pek."
Inilah suatu siksaan batin, Sim Pek Kun tidak dapat menahan gejolak hatinya, segera dia mengutarakan ketidak-puasan itu, dengan suara yang sember dan terisak-isak dia berkata.
"Kau.... kau ini manusia dari mana? Begitu kejam!"
Dengan maksud apa kau menyiksa orang sampai begini rupa?"
Siao kongcu menghela napas, seolah-olah tidak mendengar suara gugatan Sim Pek Kun tadi, dia mengoceh sendirian.
"Oh "
Angin semakin keras bertiup. Kalau aku telanjang bulat ditempat dan dalam keadaan seperti ini, tentu akan masuk angin "
Oh, aku malu sekali "
Masakan ditelantarkan ditengah jalan tanpa selembar benangpun "!"
Tekadnya untuk membunuh diri diurungkan, Sim Pek Kun memejamkan matanya, menggerentek menjulurkan lidahnya.
Banyak orang mengatakan, manusia yang menggigit lidahnya sendiri bisa mati segera.
Ia bersedia mengambil jalan nekad tersebut untuk menghindari siksaan-siksaan yang lebih hebat lagi.
Tapi gerakan Siao-kongcu terlalu cepat, sebelum Sim Pek Kun berhasil menggigit lidahnya sendiri, tangan si gadis berpakaian pria sudah menekan gerahamnya.
Dicekal begitu rupa, sudah tentu tidak bisa Sim Pek Kun bunuh diri.
Dengan suara yang dibuat-buat, selembut-lembut mungkin, Siao-kongcu lalu berkata perlahan sekali.
"Seseorang yang mau hidup tidak mudah, mau mati juga tidak gampang-gampang. Barangkali kau baru dapat membuktikan kenyataan-kenyataan ini sekarang, bukan?"
Geraham Sim Pek Kun tertekan keras, sudah tentu jadi tidak bisa bicara lagi. Maka ia hanya mengangguk perlahan. Siao-kongcu berkata lagi.
"Mau kau jawab pertanyaanku?"
Sim Pek Kun mengangguk lagi. Dalam dunia tidak ada lagi yang lebih susah dari pada seseorang yang tertekan, hati, tertekan jiwa dan bathinnya.
Sim Pek Kun kini mengalami hal seperti itu.
Siao-kongcu tertawa, dia berhasil menekan si nyonya cantik-jelita.
Lebih dahulu dilepaskannya pegangan tangannya, baru berkata.
"Kau adalah seorang pintar, tentu kau tahu bagaimana harus menghadapi orang. Aku kira tidak bermaksud membunuh diri lagi bukan?"
Sim Pek Kun menganggukkan kepala.
"Betul."
Ia berkata.
"Biarlah aku mendapat kebebasan bicara lagi."
Siao-kongcu berkata sambil tersenyum.
"Hutang budi harus dibalas dengan budi. Ini adalah salah satu bunyi pepatah kuno. Dapatkah kau memahaminya? Seperti kau tahu Liu Eng Lam itu sudah sangat cinta kepadamu. Itu adalah budi. Jadi, seharusnya kau juga harus membalas dengan budi lagi, bukan?"
"Betul."
Hati Sim Pek Kun sudah menjadi beku, dia menjawab sekenanya.
"Kau mau membalas budi orang itu?"
Desak lagi Siao-kongcu. Pandangan mata Sim Pek Kun tertuju kearah tempat yang jauh sekali, dengan suara datar menjawab.
"Aku wajib membalas budinya."
Siao-kongcu berkata.
"Seorang wanita yang hendak membalas budi seorang pria, hanya ada satu cara yang paling mudah. Kau seorang wanita, tentunya memahami cara-cara terbaik apa yang kaumaksudkan itu."
Pikiran Sim Pek Kun menjadi kalut sendiri, apapun seperti tidak ada di tempat itu, seolah-olah dia telah menjadi sebuah patung hidup, yang tidak mempunyai hak bicara dan tidak mempunyai hak bertindak sendiri.
Segala sesuatu harus mengikuti kemauan pembuatnya.
Apa yang diucapkan oleh Siao Kongcu boleh tidak dianggap sama sekali.
Dia mendengar, tapi seolah-olah tidak mendengarnya.
Sementara itu sudah berkata lagi.
"Liu Eng Lam hendak kawin denganmu. Maukah kau membalas budi ini? Maukah kau menjadi istrinya?"
Sejenak Sim Pek Kun tertegun, akhirnya menjawab dengan gugup.
"Aku "
Aku "!"
"Kau tidak mau berdiri di depan orang tanpa pakaian, bukan? Apalagi di tengah malam seperti ini! Hendaknya kau dapat memahami maksud kata-kataku ini."
Berkata Siao Kongcu pula. Tapi Sim Pek Kun malah bungkam.
"Angin bertiup begini kencangnya, bisa masuk angin kau nanti."
Tanpa menghiraukan reaksi Sim Pek Kun yang sudah berhasil dikuasai oleh Siao Kongcu, dia berpaling kepada Liu Eng Lam, dan berkata padanya.
"Kau tentunya sangat cinta kepadanya. Maukah kau memperistri dia?"
Liu Eng Lam seolah-olah sudah dijanjikan patung hidup, dia juga seperti tidak mempunyai hak bicara lagi, segala sesuatu sudah diserahkan Siao Kongcu untuk diaturnya, mendengar pertanyaan ini, dia menjadi semakin gugup.
"Sebetulnya.
"aku "."
Liu Eng Lam merasa sulit untuk memberikan jawaban. Apa yang harus dijawabnya? Sambil tertawa Siao Kongcu berkata.
"Mau "mau"tapi bagaimana dengan "."
"Kau takut dia tidak mau?"
Memotong Siao Kongcu. Liu Eng Lam menundukkan kepalanya semakin ke bawah. Siao Kongcu cepat-cepat berkata lagi.
"Betul-betul kau seorang tolol! Dia sudah mau membalas budimu. Dengan suatu pernyataan yang halus dia sudah mengatakan bersedia menjadi istrimu, apa lagi dia sudah melakukan malam pengantin, apa yang bisa diperbuat olehnya?"
Mengawini seorang nyonya yang sangat cantik jelita, itulah sudah merupakan maksud tujuan Liu Eng Lam.
Tapi dalam keadaan seperti ini, atas paksaan-paksaan dan tekanan-tekanan kekerasan Siao Kongcu, bagaimana dia harus memberikan jawaban?
SIAW CAP-IT-LONG datang kembali Adapun maksud serta tujuan Liu Eng Lam yang berkhianat kepada Siao Kongcu adalah mendapat sedikit kesenangan dari si nyonya cantik jelita Sim Pek Kun, kini Siao Kongcu hendak menikahkannya dengan wanita itu, tentu saja dia kesenangan sekali.
Sayang perasaannya masih tertekan, sedikit banyak rasa takut itu masih ada, sepasang matanya ditetapkan kepada Sim Pek Kun, nyonya itu tetap cantik, tetap jelita, tetap menarik.
Siao Kongcu berkata lagi.
"Inilah suatu kesempatan bagus, mau kaugunakan atau tidak? Bila kau mau, harus menganggukkan kepala, dan aku akan segera menjadi wali kalian supaya kalian bisa segera melangsungkan pernikahan di tempat ini"
"Di tempat seperti ini?"
Liu Eng Lam semakin terkejut. Dengan dingin, Siao kongcu berkata.
"Yah! Apakah kau tidak setuju? Ini suatu yang bagus. Bukan saja sebagai kamar pengantin, juga boleh dijadikan sebagai tempat kuburan. Coba aku mau tahu bagaimana kau hendak menjawab pertanyaanku?"
Berulang kali Liu Eng Lam menganggukkan kepala, cepat-cepat dia berkata.
"Aku sih senang saja "
Aku mau "
Aku mau. Biarlah segala sesuatunya kuserahkan kepada Siao kongcu saja."
Siao kongcu sangat puas sekali, dia berkata dengan sangat girang.
"Nah, begitu baru betul. Begitu baru dapat dinamakan seorang anak baik. Aku akan segera membuat persiapan kalian. Baik-baiklah kau menjaga mempelai perempuan. Dia hanya mempuyai sebatang lidah, bilamana lidah itu digigit dan putus, sebentar lagi apa yang dapat kau mainkan?"
Liu Eng Lam mendapat tugas untuk menjaga Sim Pek Kun.
Siao kongcu sudah menyerahkan tugas pengawasannya kepada Liu Eng Lam, dengan tenang ia lalu memetik dua tangkai dahan pohon.
Dua tangkai pohon itu dibuatnya seperti berbentuk lilin, ditancapkannya di tanah dan berkata kepada Liu Eng Lam dan Sim Pek Kun, "Inilah lilin pengantin kalian."
Ditunjukanya lagi kereta yang sudah pecah-pecah itu, dan berkata.
"Itulah kamar pengantin kalian. Nanti kalau kalian berdua sudah memasuki malam pertama, jangan khawatir, aku akan menjaga kalian di tempat ini. Kuharap saja, setelah menjadi suamiistri yang sah, kalian tidak akan melupakan aku yang sekarang menjadi mak comblang kalian."
Liu Eng Lam memandang ke arah kereta yang sudah rusak itu, lalu menoleh ke arah Sim Pek Kun.
Kini mengertilah dia sudah, bahwa karena tergila-gila oleh paras cantik dia akhirnya harus menderita begini.
Suatu perjodohan yang dipaksakan!
Tiba-tiba saja dia bertekuk lutut di hadapan si Siao kongcu, dengan separuh meratap berkata.
"Siao kongcu ", aku mohon pengampunanmu"."
Tapi si Siao kongcu dengan cepat berkata.
"Kau sudah berkhianat kepadaku. Aku tak menarik panjang urusan ini, sudah terlalu baik, bukan? Buat kau malah sudah kucarikan seorang perempuan yang cantik, yang akan kujodohkan kepadamu. Apakah kau masih kurang puas juga? Apa lagi yang kau mau?"
"jadi, sukakah kongcu mengampuniku?"
"Kalau aku tak suka mengampuni kau, sebatang golok tentunya sudah masuk ke dalam tubuhmu sejak tadi, kau mengerti?"
Rasa girangnya Liu Eng Lam tidak alang kepalang, ia menarik napas lega, lalu berulang kali mengucapkan terima kasih.
Jilid 6_____________ Liu Eng Lam belum dapat menangkap tujuan si Siao Kongcu yang sebenarnya, karena itu ia berani buru-buru mengucapkan terima kasih.
"Tapi.....dikemudian....bagaimana...bagaimana aku dapat hidup dikemudian hari...?"
Siao kongcu tertawa girang. Dia memang terlalu banyak akalnya. Juga sangat kejam sekali. Mendengar itu ia lalu berkata dengan suara perlahan sekali.
"Dikemudian hari ? itu urusanmu, bukan urusanku. Apakah aku harus memberi petunjuk terus menerus ?"
Siao kongcu lalu tersenyum kecil, kemudian berkata lagi dengan suara lebih perlahan .
"Kukira kau sudah mengerti. Tapi tak apalah, akan kuberitahu caranya "
"Silahkan kongcu omong saja"
Sepatah demi sepatah Siao kongcu lalu berkata .
"Kau si Bu yu kiam khek Liu Eng Lam sudah cukup punya nama, dan calon istrimu Sim Pek Kun lebih terkenal lagi.
Kalian berdua adalah merupakan tokoh-tokoh ternama.
Bekas suaminya Sim Pek Kun yaitu Lian Seng Pek, kukira lebih tenar namanya daripada Sim Pek Kun sendiri.
Tapi boleh dibilang, kalian bertiga merupakan tiga tokoh silat atau tokoh-tokoh jutawan yang cukup mempunyai kedudukan tinggi.
Dalam sekejap mata perkawinan yang sangat mendadak ini dapat tersebarluas kemana-mana.
Kalau Lian Seng Pek sampai dapat tahu istrinya kawin lagi, tahukah kau apa akibatnya ?
kalian adalah kawan-kawan karib, bukan ?
kukira kau cukup mengerti, bahwa kehidupanmu masih belum cukup terjamin."
Wajah Liu Eng Lam berubah pucat pasi,keringat dingin mengucur keluar membasahi sekujur badannya. Sementara itu Siao kongcu sudah berkata lagi .
"Karena itulah kuanjurkan kepadamu, setelah kalian melangsungkan upacara perkawinan ditempat ini, cepat-cepatlah kalian mencari suatu tempat yang terpencil dan tersembunyi. Lebih baik lagi kalau tak ada orang lain atau hewan sekalipun disana. Ditempat itulah kalian boleh hidup tenang sedikit, jangan sampai diketahui orang, lebih-lebih jangan sampai kawankawan atau kaki tangan Lian Seng Pek tahu. Kau tahu sendiri bukan ? apa akibatnya ? Bagaimana perasaan Lian Seng Pek, kalau dia tahu istrinya sampai direbut orang ?"
Butiran-butiran keringat mulai menetes turun.
Liu Eng Lam begitu takut sekali.
Itulah kiranya itikad baik si Siao kongcu dalam menghadapi para anak buahnya yang berkhianat.
Dia tidak merasa perlu harus segera turun tangan, tapi cukup banyak cara-cara penyiksaan berat dapat dijatuhkan olehnya untuk para pengkhianatnya itu.
Masih dengan tertawa-tawa, Siao kongcu meneruskan bicaranya .
"kau tidak dapat mengabaikan peringatanku tadi. satu macam peringatan lagi yang akan kuberikan ialah tentang pengantin perempuan ini. Kau harus bisa menjaga dirinya baik-baik. Jangan sampai dia lari. Apalagi ditengah malam, tidak boleh kau tidur terlalu pulas, sebab, setiap saat, setiap waktu, setiap menit, setiap detik, bisa saja dia membebaskan dirinya. malah salah-salah lengah sedikit saja belati tajam bisa bersarang dalam dadamu. Ini peringatanku yang kedua."
Liu Eng Lam tertegun ditempat.
Apa yang dapat dikerjakannya sekarang ?
sampai pada detikdetik ini, barulah dia mengerti,apa maksudnya Siao kongcu.
Ternyata cara-cara nya Siao kongcu menyiksa orang jauh lebih hebat daripada cara apapun juga.
Sioau kongcu benar-benar seperti bukan manusia, cara-cara penyiksaan seperti itu benarbenar hebat sekali.
rasanya, kecuali dia tidak mungkin ada manusia keduanya yang dapat menyamai kekejamannya.
memikirkan hari-hari berikutnya, sesudah menempuh hari perkawinan ini, Liu Eng Lam malah jadi merasa sedih sekali, sukmanya serasa telah terbang meninggalkan raganya.
Penyakit yang dicarinya sendiri.
Siao kongcu menggendong tangan, bertindak bolak-balik dihadapan Liu eng Lam.
Dia tidak perlu lagi merasa takut kepada orang bawahannya yang sudah berani berkhianat ini.
Dengan tenang sekali, seolah-olah mengoceh kepada dirinya sendiri ia berkata .
"Untuk menghadapi kesulitan-kesulitan itu, aku mempunyai cara yang baik buat mengatasinya. Mau kau dengar apa tidak ?"
Satu pengharapan baru timbul dalam alam pkiran Liu eng lam, dengan cepat ia lalu bertanya .
"kami membutuhkan sekali petunjuk dari Siao kongcu"
Siao kongcu menoleh kepadanya, dia menganggukkan kepalanya seraya katanya "
"Baik, aku akan mulai memberi satu petunjuk baik kepadamu."
"Untuk menyembunyikan diri disuatu tempat yang sunyi yang tiada manusia sama sekali, itu mudah. Untuk menghindari kejaran Lian Seng pek dan orang-orangnya, itupun tidak sulit. Yang masih dikuatirkan ialah bagaimana caranya kau bisa menjaga supaya si perempuan tidak membocorkan rahasia tempat sembunyi kalian. Tentang ini, sudah juga kupikirkan masak-masak, kukira boleh saja kau mencoba merusak ilmu silatnya, boleh saja kau totok pusat jalan darahnya, tanpa memiliki kekuatan dia tidak mungkin lari. Atau, bila kau tidak percaya lagi dengan sebuah rantai besi kau rantailah kakinya. Lebih baik lagi kalau kau dapat menelanjanginya. Seorang wanita tanpa pakaian kemanapun dia takkan berani keluar."
Bukan saja hendak menyiksa Liu Eng Lam kalau begini, Siao kongcu ini ternyata masih mempunyai cara lain untuk menyakiti Sim pek Kun.
Dia hendak menyiksa kedua orang didepannya ini sekaligus.
Tangan Liu Eng Lam dikepal-kepalkan dari sana mengucur keluar keringat yang bagaikan air bah, tangan itu menjadi basah sekali.
Kebijaksanaan Siao kongcu lebih luar biasa lagi, hati Siao kongcu benar-benar sangat kejam, betul-betul dia seorang manusia iblis yang sukar dicari tandingannya.
Siao kongcu benar-benar kejam, Liu Eng Lam digunakannya sebagai senjata untuk menyiksa diri sim Pek Kun, dan nyonya Lian Seng Pek ini dipakainya buat menghukum Liu Eng Lam Itu waktu Sim Pek Kun sudah hampir kehilangan ingatan, semua ucapan Siao kongcu dan Liu Eng Lam tidak sepatahpun yang masuk ketelinganya.
Suatu penderitaan lahir batin yang maha hebat.
kawin macam apakan yang akan dilangsungkan ditempat seperti ini ?
Iman Liu Eng Lam masih cukup kuat, toh masih tidak sanggup menanggung derita yang datangnya secara mendadak ini.
tak bedanya sebagai boneka hidup, segala sesuatunya harus dijalankan menuruti kemauan dalangnya.
Sang dalang dalam urusan ini, adalah Siao kongcu.
Dia senang sekali, dengan tertawa-tawa dan bertepuk tangan berkata pula .
"Ayo mengapa kalian menyia-nyiakan waktu yang amat berharga ini ? kamar pengantin sudah tersedia, silahkan masuk."
Sungguh keterlaluan !
Kereta yang sudah bobrok dan rusak itu dikatakan oleh Siao kongcu sebagai kamar pengantin, Suatu penghinaan yang amat besar !
tapi Liu Eng lam sudah kena pengaruh.
Dia menoleh kearah Sim pek Kun.
Dan begitu dia menyaksikan kecantikan si nyonya yang luar biasa, lantas tergiur hatinya.
Tanpa pikir panjang lagi digandengnya lengan wanita itu.
begitulah,dua orang tanpa kesadaran telah meninggalkan tempatnya semula, dengan tujuan kereta yang dikatakan Siao kongcu sebagai kamar pengantin.
Pikiran Sim Pek Kun kosong melompong, ia membiarkan dirinya diseret orang, kakinya bergerak jalan, juga menuju kearah kereta yang sudah rusak tersebut.
Liu Eng Lam dan Sim Pek Kun menuju kearah kereta.
Menyaksikan kedua boneka buatannya sudah mulai terpengaruh, Siao kongcu menjadi girang, denga kerlingan mata yang nakal dia tertawa sendiri.
Walaupun dengan gerakan-gerakan yang lambat, setapak demi setapak, dengan pasti sekali Sim Pek Kun dan Liu Eng Lam bergandengan tangan, menuju kearah kereta.
Siao kongcu mendongakkan kepala, dan tertawa sendirian.
Sementara itu, langit sudah mulai hitam, awan beriring-iring menandakan hari akan hujan.
Siao kongcu seakan-akan mau melupakan suasana yang buruk seperti itu, mulailah ia menarik suara dengan membawakan sebuah sair yang kira-kira begini .
Cuaca mulai gelap.
Hujan akan segera turun.
Dalam suasana seperti itu, Dua mempelai memasuki peraduannya.......
Mendadak, ya mendadak sekali, wajah Siao kongcu tiba-tiba berubah.
Ia lantas menghentikan sair yang dinyanyikannya, karena pada saat itulah dia sudah dapat merasakan bahwa seseorang sudah berada dekat sekali dibelakang dirinya.
Adanya orang yang dapat muncul seperti bayangan iblis ini benar-benar sangat mengejutkan sekali.
Gerakan orang ini begitu lincah dan cepat, tahu-tahu sudah berada dibelakang diri si Siao kongcu.
Ini merupakan suatu bukti betapa hebatnya kepandaian orang itu.
Reaksinya Siao kongcu tidak lambat, toh masih kalah hebat sedikit.
Dia baru sadar setelah keburu didatangi dekat sekali oleh orang itu.
Waktu orang itu sudah berada tepat di punggungnya sekali.
Siao kongcu menyedot nafasnya dalam-dalam, sementara sarafnya mengatakan kepadanya, harus hati-hati, ada orang yang paling kau takuti berada dibelakangmu !.
"Siaw Cap It Long ?". Dengan begitu saja pertanyaan itu terhambur keluar dari mulut si Siao kongcu.
"Berdiri ditempat, dan jangan coba-coba bergerak !. Juga jangan coba-coba menoleh kebelakang !"
Benarlah kiranya suara Siaw Cap It Long itu !, tak salah lagi !
Inilah suara Siaw Cap It Long !
Kejam Siaw Cap It Long, tidak ada orang yang dapat menandingi kecepatan pendengaran Siao kongcu.
Kecuali ilmu meringankan tubuh Siaw Cap It Long belum ada orang yang dapat berdiri dibelakang gadis kecil jahat tanpa diketahui olehnya.
Biji mata Siao kongcu yang hitam dan jeli itu berputar, dengan suara yang merdu sekali ia berkata "
"Aku paling senang mendengar suaramu. Aku paling taat kepada perintahmu. Baik, aku tidak bergerak. Aku tidak menoleh dan ketawa."
Terdengar kembali suara Siaw Cap It Long, kali ini ditujukan kepada Liu Eng Lam "
"Hei, kongcu dari keluarga Liu, kau juga turut kemari."
Didalam mata Liu Eng Lam, sigadis berpakaian pria Siao Kongcu adalah manusia yang terpandai didalam dunia, rasa takutnya kepada kongcu itu sangat luar biasa sekali, kini orang yang paling ditakuti ternyata masih takut kepada seseorang, tentu saja dia merasa heran, hanya sebentar saja, rasa herannya itu lenyap mendadak, setelah itu ia tahu bahwa orang yang berada dibelakang Siao kongcu itu adalah si jago berandalan Siaw Cap It Long.
Mengetahui bahwa orang yang hendak menyiksa dirinya itu dibuat sudah mati kutu, Liu Eng lam agak terhibur, dia berbalik, dan mengikuti perintah Siaw Cap It Long, ia berjalan.
Siaw Cap It Long berkata "
"Kau kenal kepadanya?"
Kata-kata ini diarahkan kepada Liu Eng Lam, jari Siaw Cap It Long menunjuk kepada Siao kongcu. Liu Eng Lam menundukkan kepala, berkata pada saat itu juga "
"kenal, namanya Siao kongcu."
Siaw Cap It Long bergoyang kepala, ia berkata dan memberi penjelasan .
"Salah."
"Orang memanggilnya dengan sebutan Siao kongcu. Entah apa nama yang sebenarnya. Kami tidak tahu."
Cepat-cepat Liu Eng Lam berkata.
"seharusnya kau memanggil dia dengan panggilan nona Siao kongcu."
Berkata Siaw Cap It Long sungguh. Hanya Siaw Cap It Long seorang yang telah membuka kedok penyamaran Siao kongcu, itu adalah seorang anak gadis yang masih perawan.
"Nona Siao kongcu ?"
Liu Eng Lam mengerutkan sepasang alisnya.
"Betul". berkata Siaw Cap It Long lagi.
"Mungkinkah kau tidak dapat membedakannnya ?"
Sepasang sinar mata Liu Eng Lam diarahkan kepada Siao Kongcu dan terpakulah disana. Siaw Cap It Long berkata lagi .
"Bagaimana penilaianmu, tentang nona Siao kongcu ini ?"
"Penilaian ?"
Berguman Liu Eng Lam.
"Cukup cantikkah ?"
Bertanya Siaw Cap It Long. Liu Eng Lam menganggukkan kepala, seraya berkata .
"Betul, memang cukup cantik."
Siaw Cap It Long tertawa geli, ia berkata lagi .
"Bagaimana bila dibandingkan dengan kecantikan nyonya Lian ?"
Yang diartikan nyonya Lian ialah Sim Pek Kun, si nyonya cantik jelita dari keluarga Lian Seng Pek. Liu Eng Lam menjilat-jilat lidahnya, membasahi kerongkongannya, setelah itu lalu ia berkata "
"Kukira....kukira....dimisalkan betul, ia masih gadis, kukira...kukira...nona ini lebih cantik dari nyonya Lian "
Lagi-lagi Siaw cap It Long tertawa,dan berkata .
"Biar bagaimana, penilaiannya seorang kongcu tentu lebih tepat."
Siaw Cap It Long menepuk pundak Siao kongcu, dan berkata kepada gadis itu .
"Bagaimana penilaianmu tentang Liu Eng Lam kongcu ?"
Sepasang biji mata Siao kongcu yang hitam jeli berputar, dengan tersungging senyum manis ia berkata.
"Seorang kongcu yang tampan dan berkepandaian tinggi, tentu saja sangat cakap sekali."
Siaw Cap It Long berkata .
"Bersediakah kau kunikahkan dengannya ?"
Siao kongcu menganggukkan kepala, seraya berkata .
"ingin sekali."
Siaw Cap It Long berkata .
"Baik. Aku hendak menjadi mak comblang kalian, dan hari ini juga menikahkan kalian, maukah melangsungkan upacara pernikahan dengannya ?"
"Tentu saja mau,"
Berkata Siao kongcu Tanya jawab tadi terjadi diantara Siaw Cap It Long dengan Siao kongcu, pokok persoalannya adalah pernikahan antara Siao kongcu dengan Liu Eng Lam.
Liu Eng Lam turut mengikuti percakapan itu, ia tertegun, matanya terbelalak.Entah mengimpi menginjak tahi apa, Liu Eng Lam juga tidak mengerti, mengapa rejekinya begitu bagus sekali.
Entah rejeki entah peruntungan, hari ini secara tiba-tiba dan mendadak saja menjadi raja pujaan dunia, semua orang mengantarkan wanita-wanita dan gadis cantik kepadanya semua hendak dinikahkan kepadanya.
Siaw Cap It Long memandang kearah Liu Eng Lam, dan berkata kepada kongcu itu .
"Hei, kau toh dari keluarga Liu maukah kau kawin dengan gadis kecil ini ?"
Liu Eng lam menundukkan kepalanya kebawah, ia memandang tanah, entah disengaja entah tidak kerlingan matanya melirik ketempat Siao kongcu, dengan gugup ia berkata "
"AKu......aku....."
Siaw Cap It Long berkata "
"Kau tidak perlu takut kepadanya, perempuan ini walaupun sangat galak dan telengas, seperti apa yang tadi sudah dikatakan kepadamu, bahwa kau bersedia merusak ilmu kepandaiannya terlebih-lebih menelanjangi dirinya, tanpa selembar benangpun menutupi tubuhnya, tidak mungkin dia berani berontak kepadamu, gunakanlah cara apa yang telah dikatakannya kepadamu itu untuk menghadapi dia sendiri."
Sebelum Lie Eng Lam dapat berbicara sama sekali, Siao Kongcu sudah cepat-cepat memotong.
"Bilamana aku mempunyai rejeki untuk dikawinkan dengan Lie Eng Lam kongcu itulah suatu keberuntungan yang besar sekali.
Aku tidak berkepandaian, walaupun aku sudah tanpa pakaian, kukira cukup puas sekali.
Dan reaksi Siao kongcu memang tepat sekali, disaat itu juga tubuhnya sudah menubruk ke depan, sruk, ia berada di dalam pelukan Liu Eng Lam, tangannya merangkul pundak kongcu hidung belang itu dengan suara yang sangat manja dan kolokan berkata .
"Oh, darling, mengapa kau diam saja ? Aku sudah tidak sabaran, aku sudah tidak sabaran lagi, hayo lekas gendong aku ke dalam ranjang pengantin."
Pikiran Liu Eng Lam masih di ombang-ambingkan keluar biasaan, disaat ini bau harum yang keluar dari tubuh seorang gadis merangsang hidungnya, dia semakin mabok.
Siaw Cap it long segera memberi peringatan, ia berteriak keras .
"Awas!"
Liu Eng Lam dapat mendengar peringatan itu, tapi suaranya seperti sangat jauh sekali, sebelum dia mengerti apa yang harus diperhatikan olehnya, tubuhnya sudah tercekik, tubuhnya terpelanting, dan kini ia menjadi satu tameng yang di hadapi ke arah Siaw Cap it long, tubuh itu terdorong keras menubruk ke arah si jago berandalan.
Mata Liu Eng Lam berkunang-kunang, bak .....
satu pukulan lagu hadiah pemberian Siao kongcu, tubuhnya ngusruk ke arah Siaw Cap it long.
Sesudah mengerjai Lie Eng Lam, sepasang kaki Siao kongcu yang keicl mungil meledit tinggi, wing....
dia mundur lari.
Sedari pertama kejadian itu, Sim Pek Kun telah menjadi butek pikiran, karena itu semua perubahan-perubahan tidak terlihat olehnya, juga tidak pernah dirasakan olehnya, otaknya seperti batu.
Siaw Cap it long selalu bersikap siaga, kepandaian dan permainan-permainan Siao Kongcu terlalu banyak, maka itu di saat Siao Kongcu mengeluarkan jawaban yang menyenangkan Lie Eng Lam, ia sudah memberi peringatan, toh masih terlambat.
Tubuh Liu Eng Lam menjorok ke arah Siaw Cap it long, si jago berandalan menyingkir kekiri, maksudnya hendak membikin pengejaran beberapa jarum rahasia menyerang ke arah Sim Pek Kun.
Sim Pek Kun sudah kenal segala macam bahaya, tidak sadarkan lagi akan datangnya maut tersebut, dia masih diam.
Siaw Cap it long berganti haluan menolong orang lebih penting dari segala apa karena itu tangannya di dorong kedepan, memukul senjata rahasia Siao Kongcu, dengan demikian ia berhasil menolong jiwa Sim Pek Kun.
Karena keterlambatan itulah Siao Kongcu mendapat banyak kebebasan, sebentar saja gadis kecil yang jahat itu sudah melarikan diri jauh-jauh, lapat-lapat terdengar suaranya yang garing.
"Siaw Cap it long, aku tidak mau di jadikan kambing hitam, aku tidak perlu mak comblang, terlebih-lebih lagi mak comblangnya seperti dirimu, setiap saat bilamana aku hendak nikah dengan orang, tentu memilih dirimu, sudahlah aku hendak memilih dirimu."
Terdengar suara jatuhnya benda, itulah tubuh Liu Eng Lam yang membentur tanah, dipukul oleh Siao Kongcu, isi dalam Liu Eng Lam sudah hancur rusak, dia tidak mungkin bisa hidup lagi.
Sim Pek Kun belum bergerak, rasa kaget dan bingungnya yang berulang kali terjadi, menjadikan dia sebagai suatu boneka hidup, manusia tanpa pikiran.
Siaw Cap it long mengeluarkan keluhan, betul-betul dia tidak mengerti, mengapa dunia bisa melahirkan seorang gadis yang seperti Siao Kongcu?
kejahatan, kelicikan, kekejaman dan kecepatannya daya kerja otak gadis tersebut sungguh luar biasa.
Betul-betul membuat ia mengeluarkan pujian.
Pujian sesungguh hatinya.
Sesudah berhasil menemukan dan mengejar Siao Kongcu, seharusnya Siaw Cap it long membunuh gadis tersebut.
Yang heran ialah .
Sudah jelas diketahui kejahatan Siao Kongcu, bagaimanapun Siaw Cap it long masih tidak tega membunuhnya segera.
Dia begitu cantik, begitu gesit, begitu lincah, tidak ada sesuatu yang tidak menarik, mengapa dia mempunyai hati dan kekejaman melebihi orang ?
Betul-betul Siaw Cap it long tidak mengertim dia menggelengkan kepalanya.
TIDAK BOLEH PULANG DISALAH satu kamar kecil dari sebuah rumah penginapan desa berisikan dua orang, mereka ada lah Siaw Cap it long dan Sim Pek Kun.
Siaw Cap it long duduk di sebuah bangku panjang.
Itulah satunya bangku yang berada di dalam kamar tersebut.
Sim Pek Kin berbaring di sebuah pembaringan kecil, itulah satu-satunya tempat yang ada di dalam kamar tersebut.
Siaw Cap it long menguap, sudah tiga hari dia duduk seperti itu, selama tiga hari dia mengurung dirinya di dalam kamar tersebut, Belum pernah dia melangkah keluar dari pintu kamar, setapakpun juga.
Sim Pek Kun berbaring di tempat tidur tersebut selama tiga hari, selama hari-hari itu dia tidur tanpa ingat orang sama sekali.
Pikiran Sim Pek Kun mengalami goncangan keras, satu saat ia berteriak berteriak, dan berteriak atau menangis, menangis dengan keras sekali, kadang juga dia mengeluarkan jeritan, jeritan yang melengking-melengking dan panjang, sangat menyeramkan.
Selama tiga hari itu, Sim Pek Kun mengalami penderitaan yang sangat luar biasa, dia berada di dalam ambang pintu kematian, hidup diantara sadar dan tidak sadar, badan panas sekali, tapi dirasakan sangat dingin dan menggigil keras.
Kini menjelang hari ketiga.
Sim Pek Kun baru dapat tidur dengan tenangnya.
Siaw Cap it long menoleh ke arah kamar-kamar tersebut, dia berduka atas segala sesuatu yang sudah terjadi.
Siaw Cap it long belum melepaskan pandangan sinar matanya dari wajah si nyonya cantik jelita Sim Pek Kun, wajah itu begitu tenang tertidur dengan nyenyaknya.
Ini adalah suatu wajah yanh belum pernah disaksikan oleh orang kedua kecuali suami Sim Pek Kun, si jago muda kenamaan Lian Seng Pek.
Tetapi Siaw Cap it long dapat menyaksikannya.
Wanita yang terbaring di tempat tidur kecil itu betul-betul sangat cantik, karena itulah dia mendapat julukan si nyonya cantik jelita Lian Seng Pek dan si nyonya cantik jelita Sim Pek Kun, dia mempunyai kepintaran yang cukup, tapi tidak licik.
Mempunyai kelembutan yang sederhana, kelembutan yang diimbangi dengan keberanian serta kekuhuan hati, betapa penderitaan yang diterima olehnya, akan dipikul dan di beri satu pertanggung jawaban.
Inilah wanita idaman Siaw Cap it long.
Siaw Cap it long pernah memimpikan seorang kawan hidup, dengan syarat-syarat tertentu, yang seperti apa yang sudah tertera di atas tadi.
Dan kini dia berhasil menemukan kawan hidup wanita yang mempunyai syarat-syarat tersebut.
Tapi mungkinkah dia dapat memajukan lamaran kepadanya ?
Tidak !
Karena wanita yang terbaring di tempat tidur itu, wanita yang ditongkrongi selama tiga hari tiga malam itu adalah wanita yang sudah menjadi istri orang lain.
Mau dia segera meninggalkannya, tapi itu tidak mungkin.
Keadaan Sim Pek Kun begitu mengkhawatirkan, bilamana tidak mendapat perawatan yang secukupnya, getaran otak yang menekan dan mengganggu pikiran orang tersebut, akan membuat akibat panjang, dia akan menjadi gila, atau sinting karenanya, karena itu Siaw Cap it long memberi perawatan yang cukup, lebih dari cukup.
Siaw Cap it long menyedot nafasnya dalam-dalam, dihembuskannya kembali ke jalan pernafasan tadi.
Hari sudah menjadi malam, gelap mengarungi angkasa, dan juga mengarungi suasana kamar tersebut.
Siaw Cap it long mulai bergerak, ia menyalakan lampu pelita.
Penerangan lampu itu berkelap-kelip membuat bayangan-bayangan yang bergoyang-goyang menerangi wajah nyonya cantik jelita Sim Pek Kun dan juga wajah Siaw Cap it long yang kotor tidak terawat itu.
Adanya penerangan yang sekecil apapun sudah cukup menerangi kegelapan, perlahan tapi pasti sinar lampu mencorong kearah wajah Sim Pek Kun, terlihat matanya mulai berkedip, perlahan-lahan terbuka lebar.
Sim Pek Kin sudah mulai ingat diri.
Biji mata Sim Pek Kun berputar, akhirnya tertatap terhenti di atas wajah Siaw Cap it long.
Keadaan kamar itu begitu sempit sekali, jarak diantara mereka tidak terlalu jauh.
Sim Pek Kun mulai mengingat-ingat apa yang telah terjadi, mungkinkah dia sedang berada dalam impian ?
Dia mengatupkan sepasang matanya, impian-impian itu terlalu buruk, ia mengharapkan betul-betul menjadi suatu kenyataan, bahwa apa yang dialami itu bukanlah suatu kejadian yang sebenarnya, hanya impian hampa belaka.
Beberapa lama Sim Pek Kun membuka kembali sepasang matanya, dan lagi-lagi membentur wajah Siaw Cap It Long, inilah suatu kenyataan.Bukan impian.
Sim Pek Kun sadar apa yang telah terjadi, orang ini lagi yang menolong dirinya, dengan sinar pandangan yang penuh rasa syukur berkata .
"Bagaimana aku dapat membalas budi ini, lebih dari satu kali kau menolong diriku."
Siaw Cap It Long memperlihatkan wajahnya yang masam, dia berkata sedih .
"Bukan aku yang menolong."
Suara Siaw Cap It Lng agak ketus, tidak berperasaan. Sim Pek Kun menghela nafas, dengan suara perlahan dan pendek ia berkata .
"Tidak perlu kau berbohong lagi, aku tahu, dahulupun kau yang menolong aku, kini lagi-lagi kau yang memberi pertolongan."
Siaw Cap It Long berkata adem .
"Kau sendiri yang menolong dirimu."
"Hm...."
Sim pek Kun menggeram.
"Aku tahu, dua kali kau merebut diriku dari tangannya."
"Tangan siapa ?"
Siaw Cap It Long mengangkat pundak.
"Aku tidak mengerti"
"Tidak mungkin kau tidak mengerti,"
Berkata Sim Pek Kun "Dia sangat jahat sekali, anak kecil itulah yang terlalu kejam. Kau telah merebut diriku dari tangannya."
Siaw Cap It Long berkata "
"Terlalu banyak sekali anak kecil, aku tidak mengerti siapa yang kau maksudkan sebagi anak kecil itu."
Inilah suatu sangkalan !
Jelas dan gamblang bahwa Siaw Cap It Long mengerti, siapa yang dimaksudkan dengan anak kecil itu, kecuali Siaw kongcu tidak mungkin ada orang kedua.
Tapi dia belagak pilon, tidak mau mengakui kenyataan.
Sim Pek Kun berkata lagi .
"Tidak perlu kau kenal kepadanya, sudah cukup bila dia kenal kepadamu, bahkan dia sangat takut kepadamu, maka dikala aku berada didalam kelenteng yang rusak itu, dia tidak berani pergi sendiri, dia hanya mengutus Liu Eng Lam dan Pang Tiaw Hui."
Siaw cap It Long berkata dingin "
"Pang Tiaw Hui dan Liu Eng Lam adalah kawan-kawan dari suamimu, mungkin merekalah yang menolong kau."
"Mengapa dia harus takut kepadaku ?"
Berkata Siaw Cap It Long "Mungkinkah aku mempunyai wajah yang seram, sehingga orang harus takut kepadaku ?"
Sim Pek Kun menghela nafas, dengan penuh penyesalan dia berkata "
"yang harus ditakuti adalah orang-orang yang mempunyai hati serigala itu, sebangsa Liu Eng Lam dan Pang Tiaw Hui, diwajah mereka terlukis suatu keramah tamahan dan kebaikan dah dihati merekalah yang mengandung kejahatan serta kebusukan-kebusukan, aku menyesal karena tidak mendengar peringatanmu."
Siaw cap It Long berkata dengan nada suara sangat dingin .
"Pengalaman dunia kang ouw mu masih terlalu cetek, seharusnya tidak boleh kau berkelana didunia liar."
"Pengalamanku telah bertambah dengan acara baru,"
Berkata Sim pek Kun rendah.
"Kini aku mengerti, bagaimana harus memperlakukan sesorang, harus diteliti lebih dahulu apa yang tersembunyi dibalik kebaikan-kebaikan mereka. Dan apa yang terselip dianyara kejujuran seseorang."
Siaw Cap It Long bangkit dari tempat duduknya, dia menuju daun jendela, membuka engsel dan daun jendela itu, dengan nada suaranya ia berkata .
"Pengetahuan-pengetahuanmu masih terlalu sedikit sekali, tapi, kata-kata dan pembicaraanmu terlalu banyak sekali."
Udara diluar jendela sangat sepi dan sunyi, malam gelap gulita, kecuali beberapa butir bintang dilangit, tidak ada pemandangan lain.
Mereka menempatkan satu kamar didalam rumah penginapan, terlalu sepi sekali, rumah penginapan itu lebih tepat kalau dikatakan sebagai pondok kecil, tidak cukup persyaratan untuk dinamakan rumah penginapan.
Kotor, jarang sekali orang yang mau menggunakannya."
Siaw Cap It Long menggunakan pondok itu untuk memelihara penyakit Sim Pek Kun didalam keadaan terpaksa , apa boleh buat.
Siaw Cap It Long berdiri kedepan jendela, ia membelakangi sang nyonya cantik jelita Sim Pek Kun.
Tiba-tiba.............................
Beberapa air hujan menetes turun, gerimis.
Keadaan seperti itu sangat mengerikan bagi Siaw Cap It Long, mulutnya dikecilkan mendengungkan satu lagu tanpa nama, lagu kesepian yang sering mengimbangi kesepian hatinya.
Siaw Cap It Long lupa mengikuti pembicaraan-pembicaraan Sim Pek Kun, sebagai seorang wanita, Sim Pek Kun juga memiliki sifat-sifat kebawelannya.
Ia mencerocos terus.
Siaw cap It Long masih menyerukan suara lagu tanpa nama.
Sim Pek Kun kewalahan, dia hilang sabar , menggerak-gerakkan tangan dan tubuh, nyonya itu sudah kuat untuk duduk, memandang kearah sijago berandalan dan berkata kepadanya .
"Apa nama lagu yang kau dengungkan itu."
Siaw Cap It Long diam, tidak memberi jawaban. Beberapa waktu berlalu, Sim Pek Kun tertawa mendadak dan dengan suara yang agak tinggi ia berkata .
"Agak lucu untuk dikatakan, aku kurang percaya, beberapa orang menganggap kau sebagai Siaw Cap It Long."
"Ow........."
Reaksi Siaw Cap It Long sangat biasa saja. Sim Pek Kun berkata lagi .
"Aku tahu bahwa kau bukan Siaw Cap It Long, kau tidak memiliki wajah manusia buas itu."
Siaw Cap It Long masih memandang jauh keluar jendela, dengan nada suara yang sangat tawar ia berkata .
"Sangat buas sekalikah Siaw Cap It Long ?"
Sim Pek Kun berkata .
"Mungkinkah kau belum mendengar cerita Siaw Cap It Long ?"
Siaw Cap It Long bertanya .
"Kau banyak mendengar cerita-cerita Siaw Cap It Long ? berapa banyak yang kau ketahui tentangnya ?"
Dengan gemas Sim Pek Kun berkata .
"Terlalu banyak sekali. Terlalu banyak sekali. Manusia buas Siaw Cap It Long adalah kejam dan telengas. Ada juga yang menyebutkan sebagai anak berandalan. Ada juga yang menyebutnya sebagai kepala penyamun. Ada juga yang menyebutnya sebagai kepala garong, dan entah beberapa sebutan lagi."
"Tentang urusannya ?"
Berkata Siaw Cap It Long.
"Urusan apa ?"
Bertanya Sim Pek Kun.
"Segala sesuatu yang mempunyai hubungan dengan Siaw Cap It Long tidak ada yang baik, segala sesuatu yang dilakukan olehnya cukup untuk memanaskan hati orang, keganasankeganasannya Siaw cap It Long sungguh keterlaluan, satu perbuatan saja, sudah dapat membuat ia menerima hukum pancung kepala."
Siaw cap It Long tidak mendapatnya, juga tidak memberi reaksi lain, seolah-olah ia sedang berpikir, betulkan fitnah-fitnah itu ?
matanya masih memandang lurus kedepan kupingnya dipanjangkan ini waktu dia dapat menangkap sesuatu persoalan, tapi tidak diutarakannya sama sekali.
"Hei...."
Sim Pek Kun memanggil. Keadaan hening yang seperti itu berlangsung lama juga. Terdengar suara Siaw Cap It Long . "Kau juga hendak memancung kepalanya."
Sim Pek Kun berkata .
"Bila aku berhasil menemukannya, tidak akan kubiarkan ia merajalela lagi, akupun ingin memancung kepalanya. setidak-tidaknya membunuh."
Siaw cap It Long dan sim Pek Kun membicarakan persoalan Siaw Cap it Long.
Sang wanita cantik jelita tidak tahu bahwa orang yang sedang dipercakapkan itu adalah orang berada didepannya.
terdengar suara Siaw Cap It Long yang mengeluarkan suara dengusan dari hidung .
"Hm......bilamana kau bertemu dengannya, orang yang mati bukannya dia tapi kau sendiri."
Wajah Sim Pek Kun berubah menjadi merah, dia malu kepada diri sendiri.
Dengan ilmu kepandaian yang dimiliki, mungkin dapat menandingi Siaw Cap It Long yang ternama, ia maklum karena itu ia menjadi jengah merah.
Disaat ini terdengar suara gerakan dua orang yang mendatangi, dari jauh terlihat pelayan rumah penginapan yang membawa obor lampu, direndengi oleh seorang tua berbaju hijau bertudung topi putih, dengan dandanan yang seperti pelayan rumah.
Dua orang itu berjalan kearah kamar Siaw Cap It Long, tepat-tepat menghadap kearah jendela, terlihat sipelayan rumah penginapan menunjuk dan berkata sesuatu kepada orang tua berbaju hijau dan bertopi putih, setelah mengangguk-angguk dua kali pelayan rumah penginapan itupun berjalan pergi membiarkan tamunya langsung menghadap kepada orang yang bersangkutan.
Orang tua berbaju hijau itu mendekati Siaw Cap It Long, memberi hormat sebentar dan berkata .
"Bolehkan kami menumpang tanya, nyonya Lian Seng Pek berdiam ditempat inikah ?"
Sebelum Siaw Cap It Long memberikan jawabannya, Sim Pek Kun sudah dapat mengenali suara orang tersebut, matanya menjadi bersinar terang, itulah suara Sin Jie, orang yang menjadi pengurus gedung keluarga Lian Seng Pek dan dan suaminya.
"Sin Jie yang didepan ? Aku disini. Lekas masuk."
Berkata Sim Pek Kun segera.
Orang tua berbaju hijau bertopi putih adalah pengurus gedung keluarga sim, dia bekerja disitu sebelum Sim Pek Kun lahir, karena itulah kedudukannya cukup tinggi pengurus gedung.
Mendapat panggilan suara Sim Pek Kun, tanpa menghiraukan Siaw Cap It Long, serta tergesa-gesa sekali, menerobos kearah pintu, didorong cepat dan memasuki kamar tersebut.
A pa yang terbentang didepan matanya adalah sang nyonya majikan yang sedang terbaring ditempat tidur, dan tidak jauh darinya berdiri seoarng laki-laki dengan wajah berewok yang bersender pada ambang jendela.
Sin Jie tidak butuh kepada Siaw Cap It Long, karena itu tidak memberi perlakuan yang berlebih-lebihan, langsung menjatuhkan dirinya kedepan Sim Pek Kun, setelah memberi hormat berkata cepat .
"Hamba meminta maaf atas kesalahan hamba yang tidak dapat melakukan perawatan sebagaimana mestinya, hamba tidak tahu bahwa nyonya berada ditempat ini, karena ini hamba meminta maaf."
Rasa girangnya Sim Pek Kun sulit dilukiskan segera ia berkata cepat . "Sungguh kebetulan, kedatanganmu ini tepat pada waktunya. Hee, dimana nyonya tua ? kau tahukah tentang apa yang kualami ?"
Sin Jie berkata sambil memberi keterangan "Kecelakaan kereta nona muda sudah tersebar luar didalam rimba persilatan, nyonya tua sudah tahu.
Karena itu segera beliau memberi perintah kepada semua orang untuk mendapat keterangan yang lebih jela, menyelidiki jejak nyonya, hamba beruntung tiba ditempat ini, dari keterangan pelayan rumah penginapan, ia mengabarkan ada seorang nyonya yang menderita sakit keras, cantiknya luar biasa, hamba segera menduga siapa yang dimaksudkan olehnya, maka itu segera hamba datang dan tiba disini "
Setelah bercerita panjang lebar, orang berbaju hijau itu menarik napasnya seolah olah bersedih, ia berkata dengan napas tersendat sendat.
"Beruntung Tuhan masih melindungi kau, hamba berhasil menemukan nyonya muda, bilamana nyonya tua tahu tentang keselamatan nyonya muda di tempat ini, tentunya girang sekali..."
Pada suara yang terakhir, kedua kelopak mata Sin jie sudah basah dengan air mata, butiran putih dan bening jatuh berceceran, ia menangis.
Sim Pek Kun juga mengeluarkan air mata kegirangan, Sin Jie mengucek ucek matanya, menghilangkan air mata itu dan berkata.
"Bagaimana kesehatan nyonya muda?"
Sim Pek Kun menganggukan kepala.
"Masih baik"
Dia berkata cepat. Keadaan hamba tersebut tidak menjadi sedih lagi. Sin Jie berkata.
"Sukur, berterima kasih besar kepada Tuhan yang Maha Esa. Silahkan nyonya muda berkmeas kemas untuk mebali agar nyonya tua tidak terlalu menguatirkan diri."
Sim Pek Kun menoleh kearah Siau Cap It Long, ternyata tampak laki laki tersebut masih memandang jauh lurus ke depan, keadaan dalam kamar sangat gelap sekali itulah malam hari.
Sim Pek Kun menjadi ragu ragu, dia mengoceh seorang diri.
"Sekarang?"
"Betul"
Sin Jie menganggukkan kepala.
"Sekarang juga kita berangkat"
"Apa tidak terlalu malam?"
Sim Pek Kun masih ragu ragu. Orang tua berbaju hijau bertopi putih Sin Jie tertawa, dan dia berkata memberi keterangan.
"Di musim rontok seperti sekarang agak banyak hujan, tapi malampun pendek,s ebentar lagipun mnejadi pagi. Hamba sudah mneyediakan kereta di depan, silahkan nyonya berganti pakaian, kita harus segera kembali pulang"
Lagi lagi Sim Pek Kun melirik kearah Siau Cap It Long, hendak meminta pendapat tahu musuh laki laki tersebut.
SIau Cap It Long tidak menoleh ke belakang, juga tidak memberikan reaksi.
Sampai disaat ini, Sin Jie tidak bisa berpura pura lagi, seolah olah dia baru tahu bahwa di dalam kamar itu masih ada seorang lainnya, dengan tertawa dia berkata.
"Tuan ini..."
Sim Pek Kun memberi keterangan.
"Dia adalah orang yang menolong diriku lekas ucapkan terimakasih kepadanya!"
Sin Jie maju tiga tapak, di hadapan Siau Cap It Long dia mnejatuhkan dirinya berlutut seraya berkata.
"Hamba Sin Jie atas nama keluarga Sim mengucapkan terima kasih kepada tuan. Atas bantuan tuan yang sudah menolong nyonya muda kami. Hal ini akan kami beritahukan kepada seluruh keluarga Sim dan akan dikenal sepanjang masa"
Baru sekarang Siau Cap It Long menoleh memeprhatikan wajah Sin Jie beberapa saat, dari atas kepala hingga ke ujung kaki, dan dari ujung kaki ditatapnya balik kembali sehingga sampai ke atas kepala.
"Kau juga orang dari keluarga Sim?"
Kini Siau Cap It Long membuka mulut. Sin Jie tertawa, dan cepat cepat berkata.
"Hamba sedari kecil telah merawat segala kebutuhan nyonya tua sehingga kini sudah berselang empat puluh tahunan, Tuan ini tentunya..."
Sebelum Sin Jie mneyelesaikan keterangannya, Siau Cap It Long bergerak, dengan tangan kiri mengankat bahu orang tua berbaju hijau itu, dan dengan lain tangannya yang digerakkan cepat Siau Cap It Long menampar hingga beberapa kali, ....
pang...pang...
pang...
Terdengar jerit Sin Jie yang menggeliat keras, beberapa butir gigi depannya rontok jatuh berserakkan di lantai kamar.
Sim Pek Kun juga sangat terkejut, segera dia mengajukan pertanyaan.
"Hai, mengapa kau begitu galak ? Dia adalah orangku namanya Sin-Jie, jangan kau memperlakukan keterlaluan kepadanya"
Sim Pek Kun masih belum tahu nama Siauw Cap it-long, karena itu dia selalu menggunakan istilah hei, kapada jago berandalan kita.
SIauw Cap it-long tidak menghiraukan ucapan SIm Pek Kun tubuh SIn-jie diangkat dan dilemparkannya ke luar jendela sehingga meyalang jauh sekali.
"Lekas beritahu kepada orang yang menyuruh kan ketempat ini, harus dia sendiri yang datang tahu ?"
Siauw Cap it-long memberi ancaman ?Beritahukan kepadanya bahwa aku selalu menunggu "
SIn-jie jatuh ngusruk, cepat cepat ia bangun dan bangkit, tangannya menyusut darah yang berceceran dimulutnya, dengan suara yang hampir tidak dapat keluar ia berteriak .
"Nyonya tua yang memberi perintah padaku untuk mencari jejak nyonya muda, dengan alasan apa kau boleh sembarang memukul orang ?"
Siauw Cap it-long mempelototkan matanya, membentak keras .
"Memukul kau ? membunuhpun bboleh. Masih kau tidak mau mengerti ? Hendak menunggu aku menurunkan tangan yang lebih kejam lagi ?"
SIn ji tidak berani memdekati orang yang sedang kalap itu, ia berdiam dan mundur beberapa langkah kebelakang, membalikkan badan dan cepat cepat lari.
Dair jauh terdengar lapat lapat suara omelan orang tua berbaju hijau itu.
SIm Pek Kun sangan marah sekali, sebentar sebantar wajahnya berubah, dadanya dirasakan mau meledak, dengan bertahan sedapat mungkin di menghadapi Siauw Cap it-long.
"Hei"
Sang nyonya jelita mulai membuka suara.
"Sin jie bekerja kepada keluarga kami, telah puluhan tahun, hatinya jujur sekali, pekerjaannyapun baik, mengapa kau curiga kepedanya ? Jangan kau menduga yang bukan bukan, tidak mungkin SIn jie mau melakukan sesuatu yang merugikanku"
Siauw Cap it-long mengatup mulut, ia tidak melakukan perdebatan. Sekecap katapun tidak keluar dari mulutnya. SIm Pak Kun berteriak lagi . "Kau telah menolong aku, untuk bantuan ini aku sangat berterima kasih.
Tapi bukan berarti kamu menekan kebebasanku.
Dengan alasan apa kau menekan aku di dalam kamar ini?
Tidak memperbolehkan Sin-ji membawa aku pulang?"
Siauw Cap-it-long mengirim satu kerlingan yang tajam sekali, sifatnya sangat dingin, dan ia berkata.
"Kau salah paham."
Bagaimanapun pandainya Siauw Cap-it-long menyembunyikan perasaannya, toh tidak dapat menyembunyikan perasaan yang penuh cinta kasih kepada nyonya tersebut, dengan suaranya yang bernada sedih, Sim Pek Kun dapat menangkap hal tadi.
Kemarahan sang nyonya itu agak mereda, dia berkata sabar.
"Mengapa kau pukul Sin-jie?"
Siauw Cap-it-long mengangkat pundak. Ia tidak dapat memberi penjelasan yang lebih terang.
"Hei", Sim Pek Kun berteriak lagi.
"Mengapa?"
Siauw Cap-it-long mengepalkan kelima jarinya dan berkata.
"Apakah kau mulai menaruh curiga kepadaku?"
"Aku tidak bercuriga."
Berkata Sim Pek Kun.
"Tapi kau harus memberi keterangan yang lebih terang dan jelas, bilamana kau tidak mempunyai maksud jahat, lekas antar aku pulang ke rumah."
Siauw Cap-it-long menggelengkan kepala.
"Belum waktunya."
Ia berkata singkat. Sim Pek Kun membelalakkan mata.
"Mengapa?"
Nyonya jelita ini semakin heran.
Siauw Cap-it-long sudah menggerakkan bibirnya hendak memberikan keterangan yang jelas, tapi suaranya tertelan kembali, ia diam.
Sim Pek Kun menggigit bibir, dan mendesak lagi.
"Hayo, katakan apa alasanmu?"
Dengan secara singkat Siauw Cap-it-long berkata.
"Tidak mungkin hari ini."
Sim Pek Kun bertanya.
"Bila?"
Siauw Cap-it-long berkata.
"Kukira harus menunggu tiga atau lima hari lagi."
Siaw Cap It Long menggunakan satu kamar dengan Sim Pek Kun, karena kedaan nyonya itu yang sangat mengkhawatirkan sekali, kini Sim Pek Kun sudah sadar dan pikirannya sudah menjadi tenang untuk menghindarkan dari kecurigaan orang, dia wajib segera meninggalkannya, setelah berkata tadi, melalui pintu yang masih terbuka dia meninggalkan kamar rumah penginapan tersebut.
Sim Pek Kun belum mengerti jelas atas tindakan Siaw Cap It Long yang sudah memukul orang kepercayaannya Sin Jie, karena itu dia penasaran sekali, teruaknya keras .
"Hei, jangan kau pergi dahulu."
Siaw Cap It Long tidak menghentikan langkahnya, dia berjalan pergi dan meninggalkan Sim Pek Kun seorang diri.
Sepasang tangan Sim pek Kun menjadi gemetaran karena panas hatinya.
Banyak sekali kejadian-kejadian yang tidak dapat dimengerti olehnya.
Terakhir adalah kejadian yang sudah diperlakukan oleh Siaw Cap It Long kepada Sin Jie.
Sim Pek Kun menyesal akan tindakannya yang sudah tidak percaya kepada Siaw Cap It Long tentang peringatan-peringatan yang sudah kepadanya tentang kedatangan Liu Eng Lam dan Pang Tiaw Hui dan itu sudah menjadi kenyataan, bahwa Lie Eng Lam dan Pang Tiaw Hui adalah dua pengkhianat, hampir dia celaka karenanya.
Kejadian berikutnya menyusul, kini Sin Jie datang, dan Siaw Cap It Long menaruh kecurigaan besar kepada orang kepercayaannya itu.
Seharusnya Sim Pek Kun percaya kepada Siaw Cap It Long.
Tapi kenyataan tidak, dia lebih percaya kepada Sin Jie, karena orang yang terakhir adalah orang yang menjadi kepercayaan dari ibu dan ayahbundanya, sedangkan Siaw Cap It Long adalah laki-laki asing yang belum lama dikenal, belum diketahui namanya.
Bayangan Siaw Cap It Long sudah lenyap tidak terlihat.
Sim Pek Kun ditinggalkan seorang diri olehnya, mendiami satu kamar itu.
Lampu penerangan dalam kamar masih berkelap-kelip, menerangi meja, disana terdapat makanan dan minuman keras, itulah arak.
Sim Pek Kun mengulurkan tangannya yang putih dan halus itu mengangkat cawan arak ditenggaknya cepat.
Sim Pek Kun menenggak arak.
Dengan cara ini dia hendak melampiaskan semua kekesalankekesalannya, dengan cara ini dia hendak meredakan kemarahan dirinya.
Berita buruk Sim Pek Kun adalah seorang nyonya yang arif bijaksana, sesudah menikah denga Lian Seng Pek, selalu menurut kemauan suaminya itu, sedari kecil hingga dewasa belum pernah menghadiri pesta-pesta, karena itu jarang sekali meminum-minuman keras.
Pernah juga Sim Pek Kun menyertai suaminya mengikuti perjamuan-perjamuan makan untuk menyesuaikan diri atas ajakan toas tuan rumah atau tamu-tamu itu, dia mendapat kehormatan memegang cawan arak, sebagai penghormatan yang lazim, dia hanya mengecup minuman keras itu untuk membasahi bibirnya.
Belum pernah Sim Pek Kun menenggak minuman keras seperti apa yang kini telah dilakukannya.
Minuman keras yang tersedia dimeja adalah arak Siauw Cap-it-long, untuk menungkuli dan memberi perawatan yang secukupnya selama tiga hari tiga malam kepada si cantik jelita, agar diri tidak mengantuk sekali, Siauw Cap-it-long menenggak arak yang sudah disediakan oleh pelayan rumah makan.
Kini arak keras itu sudah diminum oleh Sim Pek Kun.
Mengikuti arus tenggorokannya, rasa hawa panas yang merangsang, seolah-olah ada api yang mulai membakar dirinya.
Sim Pek Kun mulai merasakan betapa hebat dan kerasnya arak tersebut.
Didalam sekejap mata arak itu sudah buyar dan kandas ke dasar perut, kepala Sim Pek Kun menjadi berat.
Orang yang belum pernah menenggak minuman keras, tentu tidak tahu pengalaman pengalaman atau akibat sesudah minum arak tadi, kini Sim Pek Kun dapat merasakan akibatnya.
Kecuali kepalanya yang agak menjadi berat, pikirannya pun sudah agak menjadi butek, keadaannya limbung.
Kepintaran, kecantikan si nyonya jelita secara mendadak saja lenyap sama sekali.
Dia pandai menguasai dirinya, itulah disaat yang biasa, disaat normal.
Bukan ini waktu.
Kini Sim Pek Kun betul-betul sudah menjadi mabuk.
Untuk menghilangkan rasa berat kepala tadi, Sim Pek Kun membaringkan dirinya di tempat tidur.
Untuk beberapa waktu nyonya itu dapat menenangkan diri, hanya sebentar, tiba-tiba terbayang wajah Siauw Cap-it-long.
Sim Pek Kun mulai berpikir, orang ini sangat mengherankan sekali.
Tindak tanduknya misterius, mengapa ia memukul dan mengusir Sin-Jie?
Mengapa dia tidak mau mengantarkan aku kembali?
Mungkinkah ada sesuatu yang tidak beres?
Selembar wajah muka Sim Pek Kun menjadi merah.
Mengingat keadaan dirinya, Sim Pek Kun tahu bahwa dia belum lepas dari bahaya.
Dia wajib segera kembali ke rumah.
Disana masih ada nyonya besar, disana masih ada suami dan kawan-kawannya.
Dia berpikir lagi .
Dia tidak mau mengantarkan aku pulang kembali mungkinkah aku sudah tidak mempunyai kaki ?
Tidak bisa jalan sendiri ?
Yang diartikan dengan dia tentu saja Siauw Cap-it-long.
Semakin terasa ketepatan dari putusan ini.
Sedetikpun tidak boleh terlambat.
Dengan kepalanya yang masih berat, Sim Pek Kun berusaha bangun dengan sekuat tenaga dia meninggalkan tempat tidur mulutnya dipentang dan berteriak .
"Hei, pelayan.... pelayan rumah penginapan.... dimana kau ?"
Setelah mengucapkan panggilan itu, baru Sim Pek Kun sadar bahwa suaranya ini terlalu keras sekali.
Belum pernah dia membuka mulut seperti apa yang kini sudah dikoar-koarkan tadi.
Seperti dari dasar tanah saja, mendadak sontak seorang pelayan rumah penginapan sudah berada di depannya.
"Nyonya ada perintah ?"
Bertanya pelayan rumah penginapan itu.
"Lekas sediakan aku kereta. Aku hendak kembali, Cepat."
Sim Pek Kun memberi perintah. Pelayan itu ragu-ragu, memandang kearah malam gelap dan berkata gugup .
"Sekarang ? Di malam gelap yang seperti ini ? Hamba kira tidak mudah mencari kereta."
Sim Pek Kun membentak .
"Lekas. Mengapa tidak bisa ? Harus kau dayakan berapa mahalpun uang sewa akan kubayar tahu ?"
Sifat sifatnya Sim Pek Kun itu yang halus lenyap mendadak, sebagai gantinya dia membentak-bentak dengan kasar sekali.
Pelayan rumah penginapan tidak berani membantah, dia menoleh kebelakang, disana berdiri seorang laki-laki yang berewokan, ini Siauw Cap-it-long.
Pelayan rumah penginapan itu meminta putusan Siauw Cap-it-long.
Mengikuti tolehan kepala si pelayan rumah penginapan, barulah Sim Pek Kun sadar bahwa disana masih ada orang ketiga, itulah laki-laki asing bermata liar yang berandalan, orang yang tidak dikenal olehnya orang yang tidak dikenal namanya olehnya.
Adanya Siauw Cap-it-long didepan mata Sim Pek Kun tidak berhasil meredam amarah sang nyonya, kebalikan dari reaksi itu Sim Pek Kun menjadi marah besar, dadanya dirasakan mau meledak, ia membentak keras .
"Bukan urusannya. Sudah jalankan perintahku."
Kata kata ini ditujukan kepada pelayan rumah penginapan.
Sim Pek Kun memberi perintah untuk melayani menyediakan kereta untuknya.
Dia hendak keluar, ada atau tanpa kawalan Siauw Cap-it-long.
Siauw Cap-it-long mengggoyang-goyangkan kepala, menarik nafas dalam-dalam dan berkata perlahan .
"Kau mabuk!"
Kata-kata itu ditujukan kepada Sim Pek Kun Sim Pek Kun mendelikkan mata, bentaknya keras.
"Siapa kata aku mabuk? Hanya arak sedikit ini bisa memabukkan aku?"
Kemudian dengan menggoyang goyangkan tangannya Sim Pek Kun memberi perintah kepada pelayan rumah penginapan untuk segera menjalankan perintahnya disertai juga oleh suara nyonya cantik jelita itu yang sudah menjadi marah.
"Lekas. Lekas sediakan aku kereta, jangan ladeni dia. Dia sendirilah yang sudah mabuk."
Yang diartikan dia olehnya adalah Siauw Cap-it-long.
Pelayan rumah penginapan memandang bergiliran, sebentar kearah Sim Pek Kun sebentar ke arah Siauw Cap-it-long.
Entah apa yang harus dilakukan olehnya.
Siauw Cap-it-long bergoyang kepala perlahan.
Dalam malam gelap itu, didaerah pegunungan yang sepi dan sunyi, mana bisa mencari kereta secara cepat?
Karena itulah pelayan rumah penginapan lebih suka mendengar perintah Siauw Cap-it-long.
Dia diam.
Sim Pek Kun membanting-banting kaki teriaknya keras sekali .
"Hei, kau tidak mau mengantarkan aku pulang. Mengapa tidak membiarkan aku pulang sendiri?"
Kata-kata ini bukan ditujukan kepada pelayan rumah penginapan, tapi ditujukan kepada Siauw Cap-it-long yang diam dalam seribu bahasa.
"Hai"
Sim Pek Kun berteriak-teriak lagi "Kau mempunyai hubungan apa denganku? Kau pernah apa denganku? Mengapa melarang aku? Dengan alasan apa kau menekan kebebasanku?"
Siauw Cap-it-long selalu diam. Dibentak dan dimaki demikianpun tetap diam. Inilah sifat khas Siauw Cap-it-long! "Aku hendak pulang"
Berkata lagi Sim Pek Kun.
"Tidak bisa."
Berkata Siauw Cap-it-long tegas.
"Mengapa?"
"Sudah kukatakan tidak bisa. Tentu saja tidak bisa."
Sim Pek Kun menjadi sangat marah dia membentak keras .
"Dengan alasan apa, kau hendak mengekang kebebasanku ?"
"Aku tidak mengekang kebebasanmu, kuanjurkan agar kau tidak kembali kerumah di hari ini."
"Mengapa ?"
"Seseorang yang percaya tidak perlu mengajukan pertanyaan "Mengapa"
Itu."
"Huh, kau kira aku tidak tahu ? Kau mempunyai maksud tujuan tertentu. Sengaja menahan diriku. Aku dianggap apa ? Hendak memiliki aku ? Mengimpi ! Kau mengimpi ! Jangan kau mengimpikan sesuatu yang bukan menjadi hak milikmu, aku tidak membutuhkan bantuanmu, aku tidak membutuhkan pertolonganmu. Pergi ! Lekas pergi ! Atau kau bunuh saja aku."
Sim Pek Kun berteriak teriak, dan tubuhnya ditubrukkan kepada laki-laki kasar yang berada didepannya. Siauw Cap-it-long berkata dengan tenang .
"Kau sudah mabuk."
Tubuhnya disingkirkan sedikit, maka terjadi tempat hampa, badan sang nyonya hartawan nubruk tempat kosong, dia bergeliat.
Disaat itu, Siauw Cap-it-long sudah menyosorkan tangannya, dengan maksud tujuan menyanggah tubuh Sim Pek Kun.
Disaat ini, Sim Pek Kun berteriak .
"Tolong.... Tolong.... Ada rampok...... Rampok...."
Cepat cepat tangan Siauw Cap-it-long ditarik kembali, begitu cepat sekali, dia cepat menjulurkan tangan dan cepat pula menarik tangan yang bersangkutan.
Seperti seekor anjing betina yang sudah gila, Sim Pek Kun menarik tangan itu, dilemparkannya ke mulut, dan grogot....
dia menggigit tangan Siauw Cap-it-long.
Seorang wanita agung bisa menggigit tangan seorang laki-laki yang belum dikenal?
Inilah suatu kejadian yang hampir tidak bisa dipercaya orang.
Siauw Cap-it-long juga tidak percaya.
Gigi-gigi Sim Pek Kun mendarahi kulit tangan Siao Cap-it-long, dia menggigit kulit tangan jago berandalan itu, gigitan ini meresap kedalam tulang, inilah suatu kejadian yang sangat melukai hatinya.
Terempas-empis Sim Pek Kun memaki lagi.
"Kuanggap kau sebagai orang baik, menolong diriku dari kesusahan. Ternyata kau mempunyai maksud tertentu, tujuanmu tidak beda dengan apa yang dikandung oleh mereka."
Siao Cap-it-long mengeluarkan elahan napas panjang. Sim Pek Kun membentak lagi.
"Pergi! Aku tidak membutuhkanmu."
Siao Cap-it-long membalikkan badan, dia meninggalkan nyonya agung itu.
Betul-betul Siao Cap-it-long pergi.
Sim Pek Kun mendapat kemenangan.
Kini dia menerima hasil dari apa yang sudah dicetuskan, memaki lebih hebat dari memukul, menggigit lebih hebat dari menusuk, sungguh suatu hasil yang luar biasa, sungguh suatu hasil yang sangat gemilang sekali.
Hanya mengucapkan beberapa patah kata yang "Luar Biasa" , hanya mengerahkan sedikit tenaga pada gigi-giginya, dia berhasil mengusir pergi laki-laki asing itu.
Suatu kejadian yang berada diluar dugaan.
Dimisalkan dia tidak menenggak arak, belum tentu Sim Pek Kun mempunyai itu keberanian, inilah manfaatnya seorang yang menenggak arak.
Putusan Sim Pek Kun adalah.
Dia harus sering-sering dan banyak meminum arak.
Arak itu bisa menambah keberanian seseorang, bisa melakukan sesuatu yang belum tentu dia berani lakukan, bilamana dia tidak berada didalam keadaan terjepit.
Sebagai seorang nyonya yang teragung dan terhormat, Sim Pek Kun mempunyai pribudi pekerti yang halus sekali, sedapat mungkin, dia menjaga kewibawaannya.
Kini, dia telah melakukan sesuatu yang seperti perbuatan anak kecil.
Nyonya cantik jelita itu tertawa, dia tertawa seorang diri.
Siao Cap-it-long sudah pergi.
Disana telah bertambah seorang, inilah pelayan rumah penginapan.
Adanya teriakan-teriakan Sim Pek Kun tadi, tentu saja memanggilnya datang.
Apa yang telah dilakukan oleh Sim Pek Kun atas diri Siao Cap-it-long, juga masuk kedalam matanya.
Pelayan itu tertegun ditempat, dia bingung juga.
Sim Pek Kun dapat menyaksikan hadirnya pelayan rumah makan tersebut.
"Kau tidak percaya?"
Tiba-tiba dia membentak kearahnya.
"Per "
Percaya ""
Pelayan rumah penginapan menjadi gugup.
Dia sendiripun tidak tahu, apa yang harus dipercaya olehnya.
Mengingat adanya seorang langganan yang patus dihormati, dia mengiringi semua kehendak hatinya.
Laki-laki tadi kurang ajar sekali, bukan?"
Bertanya lagi Sim Pek Kun. Be "
Betul "
Ku "
Kurang ajar sekali."
Pelayan rumah makan tadi sudah dibiasakan untuk mem-beo. Sim Pek Kun mengelah napas, katanya lagi.
"Aku muak bertengkar dengannya."
"Ng "
Ng ""
Pelayan rumah penginapan mengiyakan segala kata-kata tamunya.
Pelayan rumah penginapan bukan mendukung kebijaksanaan Sim Pek Kun, kewajiban seorang pelayan adalah menghormat setiap tamu, karena itu, dia mengiringi semua kemauan si nyonya.
Sim Pek Kun salah terima, anggapnya pelayan itu mendukung dibelakang dirinya.
Inilah kebenaran.
Kebenaran dan keadilan berada dibelakang dirinya.
Hatinya terhibur, langkahnya tepat.
Tidak salah.
Biar bagaimana, didalam dunia ini, masih ada orang yang mendukung dirinya.
Hati Sim Pek Kun terhibur.
Tapi, si pelayan rumah penginapan yang menyaksikan kemabukan nyonya cantik itu sudah mulai memuncak, tentu saja tidak berani terlalu dekat, secara diam-diam, dia hendak menyingkirkan dirinya, kakinya sudah mulai digeser kebelakang.
Siap meninggalkan sang tamu.
Tiba-tiba Sim Pek Kun membentak.
"Hei, tahukah kau, letak tempat perkampungan Sim-kee-tjhung?"
Cengar-cengir, pelayan itu berkata.
"Untuk daerah ini, siapakh yang tidak tahu letak tempat kampung Sim-kee-tjhung?"
"Kau juga tahu?"
Pelayan itu menganggukkan kepalanya.
"Kau tahu, siapa aku?"
Bertanya lagi nyonya tersebut. Kini, pelayan tersebut menggoyangkan kepalanya.
"Baru pertama ini nyonya bermalam dirumah penginapan kami, lain kali, pasti hamba tahu."
Setiap orang tentu takut kepada orang mabuk.
Pelayan rumah penginapan itupun tidak terkecuali.
Walaupun Sim Pek Kun seorang wanita, karena ada perubahan yang nyata pada wajah nyonya ini, siapapun tahu, bahwa dia telah menenggak arak.
Sang pelayan hendak menjauhkan diri dari kerewelan-kerewelan, maka dia sudah bergegasgegas pergi.
Adanya pertanyaan-pertanyaan Sim Pek Kun memaksa dia membatalkan niatan tadi, dia tidak berani lari begitu saja, lari berarti mencari penyakit, entah perlakuan apa yang diperbuat oleh tamu mabuknya.
Sim Pek Kun tertawa puas, dia berkata.
"Kuberi tahu kepadamu, aku adalah nona muda dari kampung Sim-kee-tjhung. Bila kau bisa mengantarkan aku kembali kerumah itu, akan kuberi hadiah yang banyak."
Pelayan itu tertegun. Dia mulai memperhatikan sang nyonya cantik jelita. Sim Pek Kun mendelikkan mata.
"Kau tidak percaya?"
Dia mulai membentak. Pelayan itu menjadi ragu-ragu, dengan bergoyang kepala, dia berkata.
"Nona dari kampung Sim-kee-tjhung? Ach lebih baik, tidak pergi ketempat itu."
"Mengapa?"
Bentak Sim Pek Kun keras.
"Kampung Sim-kee-tjhung sudah menjadi rata dengan bumi, sudah terjadi kebakaran yang melanda Sim-kee-tjhung, terjadi pertempuran-pertempuran berdarah, yang mati dan yang luka tidak terhitung lagi. Kini, tidak seorangpun yang berada ditempat itu."
Dunia dirasakan seperti melekah, Sim Pek Kun bungkam untuk beberapa waktu. Setelah itu, tiba-tiba dia berteriak.
"Bohong! Bohong! Aku tidak percaya. Tentunya kau memberi keterangan palsu. Kau sudah makan sogokan orang tadi."
Dengan wajah yang dipaksakan tertawa, pelayan tersebut berkata.
"Hamba tidak berani melakukan kebohongan, apa lagi kepada seorang tamu, lebih-lebih tidak berani lagi."
"Kalian tentu sudah bersekongkol lebih dahulu. Sudah tentu dia memberi uang kepadamu. Maka kau tidak berani menentang kemauannya. Tidak seorangpun dari kalian yang baik. Semua orang jahat! Semua orang berlaku jahat kepadaku."
Suara Sim Pek Kun sudah hampir menangis. Pelayan itu berkemak-kemik.
"Nona tidak percaya? Hamba tidak bisa memberi keterangan yang lebih terperinci."
Sim Pek Kun menelungkupkan kedua tangannya, dia menangis sesenggukan.
Pelayan rumah penginapan itu sudah siap pergi, mendengar isak-tangisnya si cantik jelita, dia menghentikan langkahnya.
Air mata seorang wanita adalah senjata terampuh bagi kaum lemah itu.
Betapa kuatnya seorang laki-laki, dia akan gugur dibawah tangisan wanita.
Sejarah bisa mengajukan seribu bukti, tentang kebenaran dalil ini.
Pelayan rumah penginapan itu tidak terkecuali, hatinyapun terbawa oleh arus kasihan.
Dengan menghela napas, dia berkata.
"Baiklah. Apabila tidak percaya bahwa kampung Sim-kee-tjhung sudah dilanda oleh api kekacauan, biarlah hamba antar ketempat tersebut."
PUTUSAN SIAO CAP-IT-LONG SIAO CAP-IT-LONG sudah meninggalkan Sim Pek Kun, dia menenggak arak lagi, terusmenerus menenggak araknya.
Yang heran, sesudah berguci-guci arak ditenggak kering, masih juga dia belum mau mabuk.
Hari itu, Siao Cap-it-long tidak bisa mabuk.
Pada hari-hari terakhir ini, sudah terjadi perubahan-perubahan yang nyata.
Sifat-sifat Siao Cap-it-long sudah banyak berubah.
Siao Cap-it-long adalah laki-laki yang jenaka, periang dan tidak mengenal susah.
Hanya dihari-hari inilah sifatnya berubah, pendiam dan dilingkungan oleh kebingungankebingungan.
Sim-kee-tjhung sudah dibakar orang, seharusnya, dia memberi tahu hal ini.
Tapi, dia tidak memberi tahu kepada Sim Pek Kun, takut menimbulkan kesedihan yang bertumpuk-tumpuk.
Karena itu, dia dimaki dan digigit.
Sim Pek Kun salah terima, menduga kearah yang buruk.
Siao Cap-it-long diusir pergi.
Dengan adanya pelayan rumah penginapan itu, toh dia akan mengetahui hancurnya Sim-keetjhung.
Siao Cap-it-long sedang membayangkan apa yang menyebabkan perubahan dirinya?
Didalam hati, ia berpikir.
"Mengapa aku tidak berani memberi tahu pembakaran Sim-kee-tjhung kepadanya?
Mengapa harus menutupinya?
Bisa atau tidaknya, dia menerima berita2 buruk itu tergantung dari kekuatan hati orang, mengapa aku harus banyak pusing?"
Siao Cap-it-long tertawa dingin, lagi-lagi mengeringkan cawan araknya.
"Kita tidak mempunyai hubungan keluarga, mengapa harus memikirkan kesulitankesulitanmu?"
Demikian pikiran kecil si jago berandalan.
Dia mengusir Sim Gie, karena tidak mungkin orang tua itu datang dengan maksud baik.
Sim-kee-tjhung sudah dibakar orang, dirusak dan dihancurkan, dengan alasan apa, Sim Gie hendak menjemput majikan mudanya?
Siao Cap-it-long tidak memberi keterangan yang lebih jelas dan lebih terperinci, karena itu, Sim Pek Kun salah paham.
Tujuannya membekukan berita hancurnya Sim-kee-tjhung adalah menghindari tekanan bathin yang lebih hebat, derita-derita yang menimpa Sim Pek Kun sudah terlalu banyak, nyonya itu tidak boleh menerima berita buruk lagi, hal ini bisa membuatnya menjadi gila.
Betulkah Sim Pek Kun bisa gila?
Siao Cap-it-long tidak akan membiarkan terjadi kejadian yang seperti itu, maka dia sulit memberi keterangan yang bisa memuaskan hati si cantik-jelita.
Demikianlah salah paham diperbesar.
Lagi-lagi Siao Cap-it-long menenggak arak, pikirnya.
"Dia tidak percaya kepadaku. Ach, mengapa aku harus banyak menyusahkan diri? Apa gunanya aku memikirkan kepentingannya?"
Siao Cap-it-long sudah mengambil putusan untuk meninggalkan nyonya itu.
Maka dia bisa bergerak bebas kembali.
Pelayan rumah penginapan sudah membawa kereta, siap mengajak Sim Pek Kun kekampung Sim-kee-tjhung.
Tidak lama kemudian "
Dernyitan roda-roda kereta seperti menggelinding dipermukaan hati Siao Cap-it-long. Timbul rasa khawatirnya, pikirannya lagi.
"Siao-kongcu tidak akan melepaskannya, dia tentu masih berada disekitar daerah ini. Bila dia tahu bahwa Sim Pek Kun pergi tanpa pengawalanku, tentu jiwanya terancam."
Siao Cap-it-long sudah siap bangkit dari tempat duduknya, dengan maksud mengawal keamanan Sim Pek Kun.
Teringat lagi kepada sikap nyonya itu, hatinya menjadi dingin, dia membatalkan maksudnya tadi.
Dia duduk kembali.
Katanya didalam hati.
"Sudah kukatakan tidak mau usil dengan perkaranya. Mengapa harus banyak menyusahkan diri."
Terbayang kembali wajah Sim Pek Kun yang merah mabuk itu.
"Aaaaaa "
Dia berada didalam keadaan mabuk, bagaimana dia bisa menjaga diri? Ilmu kepandaian Siao-kongcu begitu hebat, tipu-tipunya terlalu banyak, mana sanggup dia mempertahankannya? "
Mengetahui bahwa Sim Pek Kun berada didalam keadaan mabuk, Siao Cap-it-long mengemukakan lain alasan.
"Dia sudah lupa diri. Aku harus bisa memaafkan kesalahan orang. Apa lagi kesalahannya yang tidak disengaja. Belum tentu dia tidak percaya kepadaku, dia mengusirku, karena tekanannya air kata-kata."
"Baiklah. Sekali lagi kutolongnya. Mungkin bisa menghindari kesalah-pahaman. Biar dia sadar, bahwa aku tidak mempunyai tujuan yang jahat."
"Tapi "
Tapi "
Dia tidak tahu, bahwa dia sedang berjalan dengan Siao Cap-it-long, bila saja dia tahu, tentu terjadi lain perubahan, begitu bencinya kepada nama Siao Cap-it-long, entah apa yang dilakukan kepadaku? "
"Ach "
Jangan memikirkan sampai ketempat itu.
Kau sudah menolongnya dua kali, mengapa tidak mau memberi pertolongan yang ketiga kalinya?
Bisakah aku berpeluk tangan, bila sampai terjadi, dia diringkus oleh Siao-kongcu itu?"
Satu guci arak lagi telah dikeringkan olehnya. Pikiran Siao Cap-it-long begitu kusut, hatinya bimbang sekali. Akhirnya, diapun mengambil putusan.
"Biar bagaimana, aku harus menolongnya."
Dia bangkit, hanya dua kali enjotan badan, dia menyusul kereta yang membawa Sim Pek Kun kearah kampung Sim-kee-tjhung.
Jilid 7_________________ RODA-RODA kereta bergelinding sangat cepat.
Derap langkah kaki Siauw Tjap-it Long lebih cepat lagi, dia membayangi adanya kereta di depan itu.
Kereta dan bayangan itu meluncur kearah kampung Sim Kee Chung yang sudah hancur menjadi puing.
Keritannya roda-roda kereta membawakan irama lagu yang mengalun.
Terayun oleh goyangan kereta, terserang oleh daya letih yang terus menerus, Sim Pek Kun tertidur.
Ia bermimpi, ada sepasang sinar mata yang besar, dengan biji hitamnya yang bersinar menatap tajam, tiba-tiba wajah itu menangis, kemudian tertawa, ia benci kepada wajah itu, ia sangat benci kepada tertawa Siauw Cap-it long, seolah-olah pisau belati yang tajam merobekrobek dadanya.
Dari sakit hati, Sim Pek Kun berubah menjadi marah, ia membacok, orang itu tidak mengelakkan, mengenai perutnya, isi perut itu terkoyak-koyak.
Tiba-tiba terjadi perobahan, orang itu adalah suaminya sendiri, Lian Seng Pek.
Darah membanjiri tempat itu, mengalir terus-menerus, tidak berhenti, semakin lama semakin banyak.
Kini menganak sungai, menjadi lautan darah, perlahan-lahan memendamkan lututnya hingga perut, sehingga leher, akhirnya mulai kehidung, terus meningkat kearah mata.
Sim Pek Kun hendak menjerit, tapi tidak bisa mengeluarkan suara.
Tubuhnya gemetaran, mengejang keras.
Sayup-sayup seperti terdengar suara orang berbicara, semakin lama semakin dekat, dan tibatiba ditelinganya.
Sim Pek Kun sadar dari impian buruk.
Kereta pun sudah terhenti, pintu bisa terbuka, angin dingin bertiup masuk menggigilkan dirinya.
Sim Pek Kun menggigil dingin karena adanya serangan angin itu.
Si pelayan rumah makan sudah menghentikan kereta, berdiri didepan Sim Pek Kun, dengan wajah yang penuh iba, ia berkata.
"Nona sudah bangun? Kampung Sim kee Chung sudah berada didepan."
Sim Pek Kun menatap wajah pelayan rumah yang baik hati itu, ia masih belum bisa menyelami arti kata-kata darinya, kepalanya dirasakan sangat berat, berat sekali, sulit untuk didongakkan.
Kampung Sim Kee Chung telah berada didepan mata!
Ia telah kembali ke rumahnya.
Sim Pek KUn hampir tidak percaya pada kenyataan.
Dengan mulut berkemak-kemik, sipelayan rumah penginapan itu berkata lagi.
"Inilah Sim Kee Chung. Tapi............. ada lebih baik nona tidak turun dari kereta."
Sim Pek Kun tertawa.
"Nona tidak mau turun dari kereta?"
Sim Pek Kun memperlihatkan wajah bangga, dengan keras ia berkata.
"Tentu saja aku turun dari kereta. Sudah tiba dirumah. Mengapa tidak turun dari kereta?"
Teringat kepada rumahnya, teringat kepada kampung halamannya, Sim Pek Kun tidak raguragu lagi, berusaha membebaskan diri dari belengguan sang penyakit, menggerakan kaki, daging berat itu digusur keluar kereta.
Hampir saja ia jatuh terjerembab.
Pelayan penginapan cepat-cepat memegangnya, agar si nona tidak terjatuh, dengan menghela napas ia berkata.
"Ada lebih baik nona tidak turun dari kereta."
"Mengapa tidak turun?"
Sim Pek Kun tertawa.
"Mungkinkah hendak menyeret aku dikendaraan, membiarkan kereta masuk hingga ke rumah?"
Tiba-tiba, suara tertawa Sim Pek Kun terhenti manakala ia telah menyaksikan kampung Sim Kee Chung yang telah berada didepan matanya.
Aapa yang terbentang didepan mata?
Hanya puing-puing kayu yang menghangus.
Seluruh tubuhnya menjadi kejang, seperti patung.
Terkenang kembali kejadian lama, kabut terlalu tebal meliputi telaga Tay Beng Ouw.
Telaga Tay beng ouw adalah telaga indah, air jernih dan bening, tidak peduli disiang hari, walaupun dimalam hari, apalagi diwaktu ada kabut putih, kecantikan telaga itu tidak pernah luntur.
Kamar tempat tinggal Sim Pek Kun dibangun ditepian telaga Tay beng ouw, setiap kali ia membuka jendela, maka pemandangan indah itu meresap dan berdarah daging di dalam kesannya.
Belum pernah Sim Pek Kun lupa kepada pemandangan yang indah itu, sesudah ia menikah dengan Lian Seng Pek, masih belum juga Sim Pek Kun kembali ke kampung halamannya.
Ia menempati tempat yang lama, mengenang keindahan-keindahan dimasa mudanya.
Setiap kali Sim Pek Kun membuka jendela, maka dirinya rasa muda kembali.
Menjadi anakanak seperti dulu kala.
Sekarang, apa yang bisa disaksikan oleh Sim Pek Kun.
Bangunan indah dan megah sudah lenyap sama sekali.
Hanya kayu-kayu yang sudah menjadi hitam bersilangan dan saling tumpuk.
Kampung Sim Kee Chung sudah dihancurkan rata dengan bumi.
Pintu depan yang terbuat kokoh dan kekar lambang kejayaan dari keluarga Sim, kini tidak tampak kembali Hati Sim Pek Kun seperti tenggelam, seperti tenggelam kedasar telaga maut.
Siapa yang membakarnya?
Siapa yang menghancurkan kampung Sim Kee Chung?
Kemana kepergiannya orang-orang Sim kee chung itu?
Sim Pek Kun tidak lagi menangis, tekanan-tekanan batin yang lebih hebat dari inipun telah pernah dialami.
Jiwanya telah membeku.
Terpeta satu bayangan yang penuh kasih sayang, itulah bayangan nenek yang sudah beruban, nenek Sim Pek Kun yang sangat mencintainya.
Wajah iut cukup agung, tapi ramah selalu tersungging senyum.
"Mungkinkah nenek juga sudah tidak ada?"
Berpikir Sim Pek Kun.
Teringat kebaikan Sim Tay Kun, melupakan luka dikaki, melupakan kepalanya yang pusing timbul kekuatan yang tak terkira, Sim Pek kun menerjang masuk kedalam tumpukan puing itu.
Si pelayan penginapan hendak menariknya, tapi tidak berhasil.
Sim Pek Kun telah membentur kenyataan, kakinya menendang dan bersentuhan dengan kayukayu yang sudah menjadi hitam hangus, itu bukan impian, bukan khayalan.
Akhirnya ia menangis.
Pelayan itu menghampirinya, berdiri disamping sisi si nyonya agung, turut berduka, tapi ia tidak berdaya, beberapa lama kemudian, dengan suara yang agak gugup, berusaha menenangkan dirinya, pelayan itu berkata.
"Kenyataan tidak bisa disangkal, lebih baik nona balik saja kerumah penginapan biar bagaimana, membikin perundingan dengan tuan itu."
Sim Pek Kun masih menangis.
Si pelayan menghela napas, baru menyambung pembicaraannya.
Kulihat, tuan itu bukan seorang yang jahat.
Tidak mungkin jauh-jauh ia menghantar nona kemari.
Manakala mempunyai maksud tujuan buruk.
Ia tidak mau mengantar nona kemari, tentu mempunyai maksud tertentu, mungkin takut sesuatu, mungkin pula untuk menghindari kesedihan nona."
Tanpa hiburan si pelayan, rasa sedihnya Sim Pek Kun bisa mereda.
Tapi diucapkan kebaikan Siauw Cap-it-long, Sim Pek Kun semakin bersedih.
Ia hendak menghapus bayangan sepasang mata yang besar dan jeli dari Siauw Cap It long tidak berhasil.
"Pelayan inipun percaya kepadanya, Mengapa aku tidak bisa percaya ?"
Si pelayan menjadi bengong. Dengan sedih Sim Pek Kun berpikir.
"Bukan sedikit budinya yang ditanam atas diriku, mengapa masih tidak percaya kepadanya ? Mengapa memakinya, mengapa memukulnya ?"
Sim Pek Kun menyesal atas perbuatan-perbuatan yang sudah dilakukan pada Siauw Cap It long.
Dimisalkan, dalam keadaan yang seperti ini, Siauw Cap It long muncul mendadak, Sim Pek Kun bisa merangkul tubuh laki-laki itu, menangis untuk menjelaskan rasa penyesalannya, meminta maafnya!
Tentu saja Siauw Cap It long tidak muncul di dalam keadaan seperti itu.
Disana mendatangi sesuatu bayangan, tapi bukan Siauw Cap It long.
Untuk membangkitkan rasa tertariknya dari Sim Pek Kun, orang itu berbatuk-batuk.
Si pelayan bukanlah seorang asing, tetapi terdengarnya batuk ditempat itu cukup membangunkan bulu roma, ia bergidik takut.
Suara batuk itu mengejutkan pelayan, juga mengejutkan Sim Pek Kun, munculnya tiba-tiba sekali, tanpa suara, tanpa isyarat lagi.
Hampir Sim Pen Kun tidak berani menengok, betul-betul ia takut, bilamana menyaksikan seseorang yang sudah hangus terbakar muncul di depannya, ia membentak .
"Siapa ?"
Sim Pek Kun telah menghentikan tangisnya. Memperhatikan orang yang datang. Orang yang datang dengan suaranya yang rendah itu berbicara .
"Nona menangis di tempat ini, mungkinkah mempunyai hubungan baik dengan keluarga Sim ?"
Suara orang itu sangat panjang sekali, sabar, suatu bukti bahwa ia mempunyai perangai yang cukup dalam. Sim Pek Kun menganggukkan kepala, ia membenarkan perkataan itu.
"Aku seorang dari keluarga Sim."
Ia menjawab.
"Bagaimana hubungan nona dengan Sim Thay Kun ?"
Bertanya orang itu.
"Sim Thay Kun adalah ....."
Sim Pek Kun menghentikan jawabannya. Katanya.
"nenekku"
Tertahan di tenggorokan.
Sesudah terjadi pengalaman-pengalaman di dalam beberapa hari terakhir ini, Sim Pek Kun bisa menyelami, betapa jahatnya masyarakat, ia harus berhati-hati.
Dengan sabar orang itu menunggu jawaban selanjutnya, tapi tidak kunjung datang, maka dengan perlahan-lahan ia bertanya .
"Mungkinkah aku berhadapan dengan Lian Hujin ?"
Lian Hujin berarti nyonya Lian Seng Pek. Sim Pek Kun ragu-ragu lalu bertanya .
"Kau belum menjawab pertanyaanku, siapa kau ?"
Dalam anggapan Sim Pek Kun, ia telah memberi jawaban yang paling tepat. Mana diketahui olehnya, jawaban yang itu yang sangat diharapkan oleh orang yang bersangkutan, ia tertawa dan berkata .
"Betul-betul nyonya Lian Seng Pek, aku yang kurang layak memberi penyambutan."
Si Pelayan rumah penginapan sudah melihat jelas, disana sudah bertambah dua orang, yang di depan adalah orang tinggi, yang di belakang adalah orang pendek.
Yang tinggi berbadan besar, yang pendek berbadan kurus, sepintas selalu, bisa saja dianggap seorang.
Orang yang bicara dengan Sim Pek Kun adalah si tinggi besar, wajahnya hitam seperti pantat kuali, tangannya memegang sebuah tombak panjang, lebih panjang dari tubuhnya yang tinggi itu, ujung tombak terurai sawir-sawiran merah, berkilat-kilat, tampak gagah sekali.
Orang yang berdiri dibelakangnya sangat kurus dan kecil, bila tidak diperhatikan, tidak terlihat.
Wajahnya sangat kuning, pucat pasi, ia menggunakan senjata yang luar biasa anehnya, senjata itu berbentuk seperti pacul, tapi bukan pacul, agak mirip dengan linggis, juga bukannya linggis.
Senjata ini dinamakan Lui-kong-ciok, senjata yang terbuat dari besi yang hampir berupa gaetan lancip.
Si tinggi besar dan si kurus kering tadi segera berendeng, memberi hormat kepada Sim Pek Kun.
Sikapnya sangat hormat sekali.
Sim Pek Kun memperhatikan kedua orang itu, tapi tidak bisa menyebut nama mereka, sekali lagi ia mengulang pertanyaannya .
"Bagaimana sebutan jiwi yang mulia ?"
Si kurus kering yang berwajah pucat pasi segera memberi jawaban .
"Kami Lie Ban Tong, datang dari telaga Tay-ouw."
Sebelum si kerdil ini membuka mulut, setiap orang yang menyaksikan bentuk tubuhnya seperti itu, tentu menduga suaranya tidak bisa keras.
Tapi di luar dugaannya, suaranya ini menggeluntur, seolah-olah menganggap sekelilingnya itu pekak semua.
Menyambung pembicaraan sikurus kecil yang mempunyai suara keras seperti guntur itu, si tinggi besar juga menjawab .
"Kami bernama Liong It San. Juga datang dari telaga Tay ouw."
Bilamana si kurus kecil sangat memekakan telinga, suara si tinggi besar ini yang bernama Liong It San ini sangat perlahan sekali.
Sikapnya tetap tenang, tetap sabar.
Wajah Sim Pek Kin berubah menjadi riang, ia menjadi girang.
"Ternyata Lie Tayhiap dan Liong tayhiap......."
Lie Ban Tong dan Liong It San adalah pendekar silat ternama, mereka tidak pernah memisahkan diri, mereka mendapat julukan sepasang pendekar kilat dan guntur dari telaga Tay ouw.
Pendekar kilat Liong dan Pendekar guntur Lie Ban Tong.
SIAPA PEMBUNUHNYA PENDEKAR guntur dari telaga Tay ouw Lie Ban Tong menggunakan sepasang senjata Lui keng ciok, tipu silatnya sangat luar biasa, dengan sepasang senjata aneh itu ia bersilat di tanah, dan di dalam telaga, sangat lincah, selalu gesit, tenaganya kuat, tidak mudah untuk menandinginya.
Pendekar kilat dari telaga Tay ouw Liang It San betul-betul mempunyai kecepatan kilat, ilmu meringankan tubuh kelas satu, Untuk bertanding lari, belum pernah ada yang memenangkannya.
Kedua jago ini pernah berkelana di rimba persilatan, dan menyebarkan benih-benih kebajikan, maka mendapat julukan sepasang pendekar dari telaga Tay-ouw.
Yang diartikan pendekar tentu saja mempunyai jiwa yang bersifat ksatria, menolong orang yang sedang berada didalam kesulitan, menumpas kejahatan.
Menegakkan keadilan dan kebenaran, menghancurkan kebatilan-kebatilan.
Sim Pek Kun belum pernah bertemu muka dengan sepasang pendekar dari telaga Tay Ouw, tapi nama-nama kependekarannya kedua tokoh tersebut telah mengiang selalu.
Kini mengetahui bahwa kedua orang yang berada di depannya adalah bukan orang jahat, ia tersenyum riang.
Tapi senyum Sim Pek Kun itu tidak terlalu lama, tiba-tiba terhenti di tengah jalan, ia menggenggamkan pula wajahnya.
Teringat kisah Pang Tiauw Hui dan Liu Eng Lam.
Pang Tiauw Hui dan Liu Eng Lam juga pendekar-pendekar ternama, sifat-sifat ksatria mereka telah terkenal, tapi apa yang dilakukan atas dirinya?
Pang Tiauw Hui dan Lie Eng Lam hanya berupa serigala-serigala berkulit manusia, dimulut mereka mengaku pendekar, dihati mereka selalu melakukan perbuatan bajingan-bajingan.
Pengalaman yang di dapat dari Pang Tiauw HUi dan Liu Eng Lam adalah pil [ahit yang pernah ditelan oleh Sim Pek Kun, perbuatan seorang pendekar yang lebih jahat dari berandal.
Sepasang pendekar telaga Tay-ouw dikisahkan sebagai pahlawan-pahlawan yang mempunyai prestasi kependekaran-kependekaran, tapi dibalik kisah kependekaran ini, mungkinkah tidak tersembunyi sesuatu ?
Karena mempunyai pikiran yang seperti inilah, tertawanya Sim Pek Kun tidak bisa di teruskan.
Dengan membungkukkan setengah badan, Liong It San berkata .
"Kami sangat gembira bisa bertemu dengan nyonya."
Sim Pek Kun menyengir, ia mengajukan pertanyaan.
"Jiwi berdua sudah menyusahkan diri, dari daerah telaga Tay ouw ke Tay-beng-ouw bukan jarak dekat, tentu mempunyai tugas penting. Tugas penting yang bagaimanakah yang hendak dilakukan ?"
Pendekar kilat dari telaga Tay ouw Liong It San menghela nafas, ia berkata perlahan .
"Kami berdua khusus datang kesini mengucapkan selamat ulang tahun kepada Tay hujin, tidak disangka.... kami terlambat datang."
Yang mendapat panggilan Tay-hujin adalah nenek Sim Pek Kun yang bernama Sim Tay Kun.
Sikap sitinggi kurus Liong It San tetap tenang, tetap perlahan, Sepatah demi sepatah sangat jelas dan jernih.
Tapi suara itu bagaikan guntur disiang hari memengangkan telinga Sim Pek Kun.
Sukmanya hampir melesat keluar dari tempatnya, ia segara mendapat berita yang lebih buruk tentang keadaan Sim Thay Kun.
Ia hendak membuka mulut, bertanya kepada mereka bagaimana keadaan sang nenek ?
tapi mulutnya itu terkatup.
Lie Ban Tong menyambung pembicaraan sang kawan, katanya .
"Kami berdua baru tiba pada dua hati yang lalu"
Kata katanya hanya sampai disini, bilamana hanya mengucapkan keterangan seperti apa yang ia katakan, keterangan itu tentu saja tidak keomplit, tapi sudah menutup mulutnya.
Karena ia tahu, suaranya terlalu keras, tidak perlu banyak bicara.
Selalu ia berbicara secara singkat.
SIm Pek Kun menahan gejolak hatinya yang sangat sedih, dengan suara sember ia bertanya .
"Dua hari yang lalu ? ... Mungkinkah telah terjadi sesuatu di..."
Pendekar Kilat Liong It San menganggukkan kepala . ia membenarkan dugaan Sim Pek Kun itu katanya .
"Dikala kami berdua tiba, Sim Kee Chung telah dilanda api, mayat bergelimpangan disana sini. Sayang sekali, kami terlambat. Betapapun kami berusaha untuk memadamkan apinya, walau berhasil juga menolong kebarakan ini, tapi tidak berhasil menolong banyak orang"
Sesudah itu, ia menolehkan pandangannya kearah baju sendiri, baju ini masih penuh dengan kotoran, cipratan air masih terpeta, suatu bukti bahwa ia telah memberi pertolongan untuk memadamkan api yang membakar Sim kee chung.
Suatu tanda bahwa sampai saat ini, sudah dua hari ia tidak bertukar pakaian, dua hari ia berusaha memedamkan kebarakan dan kehancuran yang melanda SIm kee chung.
Sehingga tidak sempat berganti pakaian.
Istilah kata kata mati mayat bergelimpangan itu membuat Sim Pek Kun semakin marah.
Tapi hatinya semakin sedih, Yang diartikan dengan mayat bergelimpangan, tentu terjadi banyak korban.
Kini harapan masih tipis sekali Sim Pek Kun bertanya .
"Berapa orangkah yang terluka ?"
Pendekar Kilat Liong It San berkata .
"Itu waktu, Lu Tong Su Gie berampat turut hadir, pendekar pertama san pendekar ketiga sudah mengalami hari naas, pendekar kedua Sin Thia Tiok dan pendekar keempat Sin Thia Ciok menderita luka hebat"
Lu Tong Su Gie adalah empat pendekar dari daerah Bu Tong, semua itu terdiri dari keluarga keluarga SIm.
Atas pesta ulang tahun nenek Sim Thay Kun, ampat pendekar Lu TOng SU Gie juga berkunjung datang, tentu dengan maksud memberi selamat ulang tahun.
Tidak disangka, pendekar pertama Sim Thian Song mempunyai kegagahan luar biasa juga binasa.
Keempat pendekar Lu TOng Su Gie sangat dikenal baik oleh SIm Pek Kun, hubungan mereka juga sangat erat sekali, kematian mereka menambah kesedihan siratu rimba persilatan.
MEnggigit ujung bibir, Sim Pek Kun bertanya lagi .
"Yang menderita luka, kecuali paman Sim Thian Cok dan SIm Thian Ciok siapa siapa lagikah yang menderita cidera "
Perlahan sekali perdekar Liong It San menggoyang kepala, perlahan juga ia berkata .
"Kecuali dua orang itu, tidak ada orang lain lagi yang terluka"
Gerakan pedang kilat ini tidak seperti kilat, perlahan lahan sekali, lambat lambat sekali, yang diartikan dengan TIDAK ADA ORNAG LAIN LAGI YANG TERLUKA.
itu berarti semua orang sudah mati.
Sim Pek Kun tidak bisa menahan lagi, dengan suara sember ia bertanya .
"Maka, Nenekku itu..."
Kata kata yang selanjutnya tersumbat ditenggorokan, ia segera jatuh celentang.
Pekdekar kilat dari telaga Tay ouw yang tinggi besar berkata .
Sim Thian Ciok dan SIm Thian Tiok berada diperahu itu, maukah hujin merundingkan cara cara selanjutnya ?"
Sin Thian Ciok adalah pendekar kedua dan empat pendekar Lu Tong Su Gie, Hanya kedua orang ini yang nyaris dari kematian yang melanda bencana kampung Sim kee chung.
Betul saja, tidak jauh dari telaga berlabuh sebuah perahu, terbayang besarnya perahu itu.
SIm Pek Kun memandang kearah tempat jauh.
perlahan lahan menganggukkan kepala.
Ia setuju untuk bertemu dengan Sim Thian Ciok dan Sim Thian Tiok, ia setuju untuk diajak keperahu itu.
"Hujin masih sanggup berjalan ?"
Bertanya Liong It San memandang kearah Sim Pek Kun. Sim Pek Kun memandangi kakinya, ia menghela napas panjang. Pendekar guntur dari telaga Tay ouw Lie Ban Tong berkata .
"Umurku sudah hampir mencapai enampuluh tahun. Bilamana Hujin tidak keberatan aku bersedia menggendong"
Ia sudah membungkukkan badan, betul betul siap untuk menggendong Sim Pek Kun, menuju keperahu yang mereka tunjuk. Tiba tiba Sim Pek Kun membentak .
"Tunggu dulu !"
Suaranya tidak keras seperti suara Lie Ban Tong, tapi sikapnya yang agung tidak lepas dari penilaian semua orang.
Sangat keren sekali.
Pendekar guntur Lie Ban Tong menghentikan gerakan, menatap dengan mata tanpa berkedip, agaknya sangat heran.
SIm Pek Kun menggigit bibir, perlahan lahan ia berkata.
"Betulkah Sim Thain Ciok dan SIm Thian Tiok berada diperahu itu ?"
Wajah Lie Ban Tong yang pucat pasi itu menjadi merah, agaknya ia tersinggung, agaknya ia marah. Suaranya yan mengguntur itu menggema kembali.
"Mungkin Hujin tidak percaya kepada kami ?"
Sim Pek Kun menjadi kikuk.
"Bukan tidak percaya..."
Ia tidak melanjutkan keterangannya.
SIm Pek Kun juga merasakan, wajahnya menjadi merah, ia malu kepada diri sendiri, mengapa begitu banyak curiga ?
Mengapa tidak percaya kepada orang ?
tidak percaya kepada orang yang hendak memberikan pertolongan, adalah sipat yang sangat memalukan.
Bilamana tidak ada terjadi perobahan perobahan drama yang terus menerus, tidak mungkin Sim Pek Kun bisa memperhatikan rasa penuh curiga.
Tapi lain dahulu, lain sekarang, perobahan jaman yang sudah menjadi begitu tua, membikin penilaian lain, setiap sesuatu harus dicurigainya.
Pendekar guntur Lie Ban Tong cepat naik darah, pendekar kilat Liong It San tidak cepat marah, ia masih bisa menahan kemarahan itu lambat lambat katanya .
"Hujin telah banyak mengalami penderitaan penderitaan, sudah tentu harus berhati hati, tapi, kami bukan orang jahat. Walau hujin belum pernah bertemu muka, toch pernah mendengar nama kami, bukan ?"
Kata kata ini seperti belati tajam yang menusuk hati Sim Pek Kun, dengan wajah merah ia berkata .
Bukan maksudku seperti itu.
Bagaimana keadaan paman SIm Thian Ciok dan Sin Thian Tiok, beratkah lukanya ?
Bisakah mereka bicara ?"
Lie Ban Tong menekuk wajahnya yang pucat pasi itu ia berkata .
"Mereka Belum mati,bagaimana tidak bisa bicara ?"
Suaranya tetap mengguntur tetap keras dan bergama. PEndekar kilat Liong IT San menghela napas panjang sekali, baru ia berkata .
"SUdah dua hari Sin Thian Ciok terluka belum pernah ia mengatupkan mata, juga lemunpernah ia menutupkan mulutnya, mulut itu memanggil manggil nama seseorang, nama seseorang yang tidak mungkin dilupakan ?"
"Nama Siapa ?"
Bertanya Sim Pek Kun.
"Tentu saja nama dari si pembunuh ! Nama dari sipengrusaj kampung Sim kee chung"
"Si... siapa... siapakah orang itu ?"
Bertanya Sim Pek Kun dengan tubuh gemetar.
Siapa pembunuhnya ?
siapa yang membakar kampung Sim kee chung ?
nama ini penting sekali, Sim Pek Kun wajib membikin tuntutan, ia harus mengetahui, siapa yang begitu jahat, menghancurkan kampung lahamannya.
Dengan sikap yang sangat dingin, Lie Ban Tong berkata .
"Hujin tidak percaya kepada kami berdua, bila nama pembunuh ini keluar dari mulut kami, toch percuma saja bukan ?"
Liong It San meneruskan pembicaraan sang kawan katanya ."
Ada lebih baik hujin berkunjung keperahu itu, langsung mengajukan pertanyaa kepada orang yang bersangkutan. Suara sipendekar kilat tetap perlahan, tapi sangat jelas.
"Tapi..."
Sim PEk Kun menghela napas.
"Bagimana aku bisa menyusahkan kalian ?"
"Hun !"
Lie Ban Tong menyelipkan sepasang senjata Lui-kong ciok, menoleh dan menuju kearah kereta, tangannya ditempelkan kepada dinding kereta itu, brak...
membarengi suara jeritan kuda yang melengking panjang, papan papan kereta itu terbongkar, ia membongkar dengan paksa dengan paksa, mengambil selembar diantaranya.
Kuda yang tersentak kaget itu hendak melarikan diri, tapi kekuatan Lie Ban Tong memang sangat mengejutkan.
Betapa kuatpun keempat kaki kuda itu berketoprakan, tidak mungkin bisa melepaskan tali tali pengikat, Lie Ban Tong menekannya kebawah, demikian menenangkan kuda tersebut.
Sesudah berhasil menguasai situasi itu, dengan selembar papan ditangan, Lie Ban Tong berjalan balik.
Adanya kekuatan yang seperti raksasa ini sangat mengejutkan si pelayan rumah penginapan, ia menjulurkan lidahnya, tanpa bisa ditarik kembali, tubuh Lie Ban Tong begitu kurus kecil, wajahnya begitu pucat pasi, tapi sungguh diluar dugaan, tenaganya hebat sekali.
Sim Pek Kun juga terkejut.
Tenaga Lie Ban Tong adalah tenaga raksasa, bilamana Lie Ban Tong atau Liong It San adalah orang-orang jahat, bagaimana ia bisa mengelakkan diri ?
Ah......
ia terlalu banyak curiga.
Bilamana kedua orang itu bermaksud jahat, seolah-olah memitas semut saja, seperti membalikkan tangan saja mudahnya, mana mungkin ia bisa melarikan diri ?
Lie Ban Tong sudah mengambil papan kereta, ia berjalan balik, diletakkan ditanah dan berkata kepada Sim Pek Kun .
"Hujin, anggap saja sebagai tandu, biar kami berdua yang menggotong."
Sim Pek Kun berhasil meredakan kecurigaan, ia naik keatas papan, digotong oleh Lie Ban Tong dan Liong It San, diangkut kearah perahu ditepi telaga Tay beng-ouw.
Sim Pek Kun merasa menyesal kepada diri sendiri yang telah memperlakukan sepasang pendekar guntur dan kilat dari telaga Tay-ouw secara tidak layak, ia menganggap dirinya penuh curiga, malu kepada diri sendiri, ternyata dua orang itu betul-betul bersifat pendekar, berjiwa ksatria.
Sim Pek Kun telah ditandu kearah perahu.
Perahu itu tidak terlalu besar.
Perahu biasa yang digunakan untuk pesiar.
Perabot didalam perahu juga serba bersih, di kanan dan kiri kedua tepi, terdapat tempat duduk yang empuk, kini diatas tempat duduk itu masing-masing terbaring seorang, yang dikiri wajahnya pucat pasi, masih mengerang-erang sakit, tubuhnya tertutup oleh selembar selimut sutra.
Sim Pek Kun tidak bisa melihat pasti hal yang menyebabkan luka jago ini.
Inilah salah satu dari keempat pendekar Lu Tong Su Gie, orang yang menduduki urutan kedua Sim Thian Ciok.
Yang berbaring disebelah kanan lebih pucat lagi, matanya terpentang lebar, hitamnya melotot keatas penutup perahu, mulutnya mengoceh terus menerus .
"Siauw Cap it long...... kau kejam...... Siauw Cap it long...... kau kejam......"
Inilah Sin Thian Tiok.
Hanya kata-kata ini yang diulang pulang pergi.
Ia melepaskan kebenciannya, dengan hawa penuh rasa takut.
Sim Pek Kun duduk disana, sekali lagi didengar, sekali lagi didengar dan seterusnya.
"Siauw Cap it long."
Demikian Sim Pek Kun mengertek gigi.
"Aku tidak bisa melepas dendam ini."
Suaranya membuat irama lagu dendam kesumat dengan gumaman suara Sim Thian Tiok yang masih terus menerus melagukan suara SIAUW CAP IT LONG, KAU KEJAM.
Sim Thian Tiok adalah seorang yang menyaksikan musnahnya kampung Sim kee chung, ia menderita luka, dan hanya lagu suara SIAUW CAP IT LONG, KAU KEJAM itulah yang dikatakan bulak balik, tentu ia telah melihat bagaimana Siauw Cap it long sedang mengganas, maka bencinya tidak terhingga.
Benak pikiran Sim Pek Kun dihasut oleh kebencian Siauw Cap it long kau kejam.
Pendekar guntur Lie Ban Tong juga berkata dengan suara gemas.
"Siauw Cap it long memang betul-betul seorang kejam. Ia anak berandal, anak perampok. Bagaimana pikiran Hujin, bisakah kita membiarkan ia lenggang-lenggang didalam rimba persilatan ?"
Suara Lie Ban Tong memang seperti guntur, maka ia mendapat julukan pendekar guntur dari telaga Tay ouw, sangat keras, mengumandang memenuhi isi perahu itu, tapi semua kata-kata ini tidak bisa memasuki telinga Sim Pek Kun.
Sim Pek Kun sedang dirundung oleh kemalangan yang tidak terhingga, kebencian yang meluap, matanya diluruskan ke depan, dengan pikiran kosong, ia bergumam .
"Siauw Cap it long, kau kejam ! Aku tidak akan melepaskanmu."
Lie Ban Tong dan Liong It San saling pandang, mereka memperlihatkan senyum iblisnya, menyaksikan bagaimana pikiran Sim Pek Kun menjadi linglung mengenang drama kemusnahannya Sim kee chung.
Sesudah itu, Lie Ban Tong memonyongkan mulut kearah tepian.
Liong It San mengerti, tubuhnya melejit, cepat dan gesit, ia sudah meninggalkan perahu itu.
Menuju ke tempat kereta berhenti.
Menggunakan kelengahan Sim Pek Kun yang mencurahkan dendam kesumat, tubuh Liong It San bergerak, cepat sekali meninggalkan perahu, beberapa saat kemudian terdengar satu jeritan panjang, jeritan yang sangat menyeramkan.
Itulah jeritan si pelayan rumah penginapan, jeritan itu tertahan, sesudah mana suasana sepi sunyi kembali.
Lie Ban Tong mengerutkan alis, ia heran, seharusnya Liong It San bergerak cepat, tidak memberi kesempatan kepada si pelayan rumah penginapan berteriak dan memaki.
Mengapa melalaikan tugas ini ?
Sesudah itu, satu bayangan melesat masuk, itulah bayangan Liong It San.
Si pendekar kilat berhasil balik kembali.
Satu bayangan lain menempel di belakang bayangan Liong It San.
Pendekar guntur Lie Ban Tong membentak .
"Siapa yang membayangi dibelakangmu ?"
"Siapa yang bisa membayangi aku ?"
Berkata Liong It San penuh kepercayaan "Mungkinkah matamu sudah lamur ?"
Liong It San mempunyai gelar pendekar kilat dari telaga Tay-ouw, suatu bukti bahwa gerakannya sangat gesit sekali, siapakah yang bisa menandingi gerakannya ?
Ia yakin, bahwa tidak mungkin ada orang yang bisa mengikuti tanpa diketahui, tapi dari bentakan suara sang kawan, mau tak mau ia menoleh kebelakang, hendak dilihat, ada apakah yang menjadikan sang kawan bertanya seperti itu ?
Apa yang dilihatnya dibelakang Liong It San ?
Sepasang sinar mata yang bersinar bercahaya, berkilat-kilat dan memancarkan benih kebenaran bergantung di tempat itu !
Sepasang mata bercahaya ini tidak jauh dari tiga tombak, menatapnya dengan wajah yang sangat dingin.
Bulu tengkuk Liong It San bergerinding bangun, ia adalah ahli ilmu meringankan tubuh kelas satu, kali ini bisa diikuti orang tanpa sadar, inilah satu bukti bahwa orang itu memiliki satu kepandaian yang luar biasa.
Pendekar kilat Liong It San sudah bisa membedakan bayangan yang membuntutinya adalah bayangan seorang manusia.
Pendekar guntur Lie Ban Tong juga mengeluarkan sepasang senjata Lui-kong-ciok, ia bergeram keras .
"Siapa ? Apa maksud tujuanmu ketempat ini ?"
Suara bentakan Lie Ban Tong yang seperti guntur, tentu saja mengejutkan Sim Pek Kun, menyadarkan sang ratu rimba persilatan dari lamunannya.
Didalam perahu telah bertambah seseorang, bukan, bukan seorang, tapi dua orang.
Seorang menggendong tubuh kawannya, bukan, bukan kawannya, itulah mayat.
mayat pelayan rumah penginapan.
Jenazah si pelayan rumah penginapan yang sudah menjadi korban.
Seseorang telah datang dengan membawa mayat si pelayan rumah penginapan !
Setelah berdamping-dampingan, Lie Ban Tong dan Liong It San menggeretek, mereka menghadapi orang itu.
Orang yang didepan mereka adalah seorang laki-laki berambut panjang, berkumis sedikit, pakaiannya tidak teratur, ia menggendong seseorang yang sudah mati, walau demikian, tanpa bisa mengurangi kecepatan tubuhnya, orang itu bisa berjalan dengan ringan, tanpa bisa disadari oleh Liong It San yang dibuntuti olehnya.
Siapakah orang ini ?
Inilah si jago berandalan, Siauw Cap it long !
Siauw Cap it long merentangkan sepasang sinar matanya yang besar dan tajam, ia berjalan mendekati kearah Liong It San.
Liong It San sedang dirundung oleh rasa takut yang tidak terhingga, ia selalu mengagulkan diri, karena ilmu meringankan tubuhnya yang sangat mahir, bisa dibuntuti tanpa berisik.
Bahkan orang yang membuntuti itu adalah seorang yang menggendong sesosok mayat, mayat yang baru saja dibunuh olehnya.
Lie Ban Tong sudah siap menggerakkan Lui Kong Ciok, tiba-tiba terdengar suara bentakan Sim Pek Kun .
"Tunggu dulu ! Dia adalah kawanku !"
Sim Pek Kun tidak mengetahui bahwa orang yang membuntuti Liong It San ini adalah Siauw Cap it long.
Menyaksikan wajah yang sangat berkesan itu, rasa girangnya tidak kepalang.
Lie Ban Tong menghentikan gerakannya, ia tidak berani mengambil langkah ceroboh.
Rasa takutnya Liong It San masih belum mereda, ia mundur lagi, terjatuh di kursi, duduk dengan lemas.
Siauw Cap it long menurunkan jenazah yang digendong, perlahan-lahan diletakkan ditanah, wajahnya menatap muka Sim Pek Kun, tanpa sekejap katapun yang keluar dari mulutnya.
Sim Pek Kun berteriak girang .
"Kau..... kau juga tiba kemari ?"
Siauw Cap it long menganggukkan kepala. Membenarkan pertanyaan Sim Pek Kun.
"Bagaimana kau bisa membuntuti aku tiba disini ?"
Bertanya lagi Sim Pek Kun. Siauw Cap it long menyengir, dengan suara yang sangat perlahan, ia berkata .
"Aku juga tidak tahu, bagaimana aku bisa berada ditempat ini."
Jawaban yang sangat tidak berkesan. Tapi penuh arti dalam. Didalam hati Sim Pek Kun berpikir .
"Aku memaki dirinya, aku telah membuat ia sakit hati, tapi ia masih begitu prihatin...."
Sim Pek Kun tidak bisa meneruskan pikiran-pikiran yang mulai melayang-layang jauh.
Rasa hangat Sim Pek Kun terasa, ia kini bukan seorang diri.
Ternyata masih ada seorang kawan yang begitu memperhatikan dirinya.
Tertojos oleh cahaya pelita, wajah Sim Pek Kun bersemu merah, semakin menarik.
Sebagai ratu rimba persilatan, Sim Pek Kun memang sangat cantik, sangat menarik, disaat ini ia lebih cantik, lebih menarik lagi.
Pendekar kilat Liong It San dan pendekar guntur Lie Ban Tong saling pandang, mereka bingung menghadapi perubahan situasi.
Didalam hati Lie Ban Tong mencela perbuatan Liong It San, mengapa sang kawan berlaku ceroboh, membunuh orang tanpa melihat kanan dan kiri.
Didalam hati Liong It San sedang berdebar-debar, apa hubungannya bocah ini ?
Mengapa bisa kenal kepada seorang nyonya agung yang seperti Sim Pek Kun ?
Sepintas lalu, hubungan mereka itu bukan hubungan biasa, apakah hubungan mereka ?
Akhirnya Sim Pek Kun mengelakkan sinar mata Siauw Cap it long, ia menundukkannya memandang lantai, maka jelaslah terpeta, siapa mayat yang digendong datang itu, itulah si pelayan rumah penginapan yang baik hati, pelayan rumah penginapan yang mencarikannya kereta, pelayan penginapan yang mengantarnya pulang ke kampung Sim kee chung.
"Aaah.... siapa yang membunuh ?"
Ia berteriak kaget.
Pelayan rumah penginapan adalah tokoh kecil yang tidak mengerti sesuatu, hubungannya lepas dari rimba persilatan, tidak ada permusuhan, tidak ada dendam, siapa yang mau membunuh laki-laki seperti si pelayan rumah penginapan ?
Siauw Cap it long tidak membuka mulut.
Pertanyaan itu tidak perlu dijawab.
Ia menoleh memandang kepada si Pendekar Kilat Liong It San.
Mengikuti arah pandangan mata itu, Sim Pek Kun juga memandang Liong It San.
"Kau?"
Ia berteriak.
"Kau yang membunuh? Mengapa kau membunuhnya? Mengapa?...."
Pendekar kilat Liong It San terbatuk-batuk, akibat apa yang akan timbul bila rahasia ini sampai terbongkar. Memang tugas mereka. Apa boleh buat, ia harus mengambil sikap berani, ia berkata keras .
"Hujin kenal dengan tuan ini ? Yah, apa boleh buat. Tapi, ia telah membikin fitnah. Bukan aku yang membunuh."
Pendekar Kilat Liong It San hanya pandai dalam ilmu meringankan tubuh, ilmu silatnya hanya ilmu silat biasa, tapi mulut dan lidahnya sangat hebat.
Hal ini betul-betul meragu-ragukan, Sim Pek Kun menoleh kembali kepada Siauw Cap it long dan bertanya .
"Siapa yang membunuhnya ?"
Ia masih tidak mengerti, siapa yang membunuh si pelayan rumah penginapan. Dari sepasang sinar mata Siauw Cap it long, cahaya itu memberi tahu, bahwa orang yang membunuh pelayan rumah penginapan adalah si pendekar kilat Liong It San.
Dan pendekar kilat Liong It San menyangkal tuduhan itu.
Ia mengatakan bahwa Siauw Cap it long telah memfitnah dirinya.
Sebelum Siauw Cap it long memberikan jawaban, dengan suaranya yang keras seperti guntur, Lie Ban Tong bergeram .
"Adikku tidak membunuhnya, adikku bukan seorang pembunuh. Sepasang pendekar Kilat dan guntur dari telaga Tay ouw bukanlah pembunuh-pembunuh. Setiap kata dari kami boleh dipercayakan."
Liong It San juga berkata .
"Seperti apa yang toako tahu, kita belum pernah berbohong kepada orang, semua tokoh silat dari rimba persilatan juga tahu. Biar saja dunia memberi penilaian."
Lie Ban Tong berkata .
"Saudaraku tidak membunuh pelayan itu, Siapakah yang membunuhnya? Mungkinkah Hujin tidak tahu ?"
Siauw Cap it long membiarkan hujan-hujan fitnah, ia menunggu reaksi dan kepercayaan Sim Pek Kun Tetapi si Ratu rimba persilatan kurang yakin, pendiriannya mulai goyah, memandang Siauw Cap it long dan bertanya .
"Kau yang membunuhnya? Mengapa?"
Wajah Siauw Cap it long berubah, lagi-lagi ia tidak mendapat kepercayaan. Apa boleh buat, kambing hitam itu adalah permainan biasa. Fitnah itu adalah layak baginya. Ia berkata perlahan .
"Kau lebih percaya keterangannya, kau kira aku bisa membunuh pelayan rumah penginapan yang baik hati ini ? Kau kira aku membikin fitnah ?"
"Aku........aku tidak tahu."
Berkata Sim Pek Kun.
"Tentu saja kau tidak tahu."
Berkata Siauw Cap it long.
"Karena kau tidak kenal kepadaku. Kau tidak percaya kepadaku, kau belum mengetahui siapa dan bagaimana asal usulku."
"Aku tahu....aku tahu...."
Tiba-tiba terdengar satu suara orang berteriak, itulah suara Sim Thian Tiok.
Ia bangkit dari tempat duduknya, sepasang sinar matanya menunjukkan ketakutan, seolah-olah iblis yang hendak menelan mangsa.
Hati Lie Ban Tong tergerak, segera ia berkata .
"Kau kenal ? Kau kenal kepadanya ? Siapakah orang ini ?"
Sim Thian Tiok mengangkat sedikit tangannya yang gemetaran, semakin lama gemetar itu semakin keras, ia menudingkan kearah Siauw Cap it long dan berteriak.
"Inilah si pembunuh ! Inilah penghancur kampung Sim kee chung ! Inilah Siauw Cap it long !"
"Haaa.........."
Ternyata laki-laki yang mempunyai sepasang sinar mata yang menarik ini adalah Siauw Cap it long !
Anak berandal yang sangat kurang ajar !
Anak berandal yang tidak tahu aturan !
Orang yang sering membunuh tokoh-tokoh rimba persilatan !
___ FAKTA DAN BUKTI Selama bergaul dengan Siauw Cap it long, belum pernah Sim Pek Kun tahu, siapa nama lakilaki itu.
Kini Sim Thian Tiok berteriak, mengatakan bahwa laki-laki yang mempunyai sepasang sinar mata yang menarik itu adalah Siauw Cap it long, sang Ratu rimba persilatan membelalakkan mata, ia bertanya keras .
"Kau.......... kau yang bernama Siauw Cap it long ?"
Siauw Cap it long mengeluarkan helaan napas panjang, mengeluarkan semua rasa sesal didalam hatinya, ia menganggukkan kepala, berkata perlahan .
"Ya. Aku Siauw Cap it long !"
"Kau.... kau...."
Hawa amarah Sim Pek Kun naik mendadak, menudingkan jarinya kearah Siauw Cap it long, ia membentak .
"Kau yang bernama Siauw Cap it long ? Kau yang membunuh orang ? Kau yang menghancurkan kampung Sim kee chung ?"
Siauw Cap it long menggoyang-goyangkan kepala.
"Tidak."
"Kau tidak membunuh orang ?"
Bertanya Sim Pek Kun.
"Bukan mengatakan bahwa aku belum pernah membunuh orang."
Berkata Siauw Cap it long.
"Aku pernah membunuh orang. Tapi bukan ini yang dibunuh olehku."
Tiba-tiba Sim Thian Tiok menjerit .
"Luka ditubuhku ini adalah hadiah pemberiannya, ia yang membacok. Sim Thay hujin juga mati dibawah tangannya. Huh...... golok yang ada padanya itu adalah golok yang melukai kami. Itulah golok pembunuhnya !"
Tiba-tiba Sim Pek Kun berteriak, mengeluarkan pisau belati, ditarik dan ditusukkan kebadan Siaw Cap It Long.
Kejadian tadi sungguh sangat-sangat mengherankan.
Siaw Cap It Long tidak menghindarkan dari tusukan pisau, entah disengaja, entah tidak disengaja, ia membiarkan dirinya tertusuk.
Tetapi tusukan pisau sangat dingin sekali.
Siaw Cap It Long merasakan dinginnya tusukan pisau itu, menembus kulitnya, melukai dagingnya, menyerempet tulang didalam.
Tusukan ini seperti telah menghancurkan dirinya, ia diam tidak bergerak, diam mematung disitu, seolah-olah menjadi seorang manusia besi.
Sim Pek Kun juga terbelalak, ia kurang percaya, bahwa tusukannya tadi betul-betul telah melukai Siaw Cap It Long.
Ia telah menyaksikan, betapa hebatnya ilmu kepandaian Siaw Cap It Long, dengan menyentil ujung jarinya saja, Siaw Cap It Long bisa memukul jatuh pisau itu.
Pisau tersebut bisa diterbangkan, hingga bisa lenyap dari pandangan mata.
Maka, ia telah menusukkannya, menusukkan dalam keadaan amarah meluap-luap.
Ia tidak percaya, bahwa tusukan itu bisa mengenai Siaw Cap It Long.
Tapi tusukan Sim Pek Kun betul-betul telah mengenai Siaw Cap It Long !
mengapa ia tidak menangkis ?
mengapa ia tidak mengelakkan dirinya ?
Siaw Cap It Long masih berdiri.
Diam.
Tidak berteriak.
Seperti sebuah patung besi.
Sepasang sinar mata Siaw cap It Long yang bersinar terang itu tidak memperlihatkan kemarahan, tapi penuh penyesalan, penuh rasa sakit, sakit diluka dan sakit dihati.
Belum pernah Sim pek Kun melihat sinar mata seperti apa yang Siaw Cap It Long perlihatkan.
Dengan satu kali tusukan, Sim Pek Kun berhasil melukai rampok besar Siaw cap It Long.
Seharusnya ia bertepuk tangan gembira.
Tapi kenyataan tidak, hatinyapun sakit.
Ia tidak tahu, adalah perbuatan itu sebagai satu perbuatan yang salah ?
Pisau Siaw cap It Long masih tertancap didada orang yang bersangkutan.
terdengar suara tertawa berkakakan Sim Thian Tiok.
"Hua, ha, ha, ...... Siauw Cap it long ! ternyata kau juga menemui hari yang naas.... ternyata kau juga bisa dibunuh orang. Hayo, tusuk sekali lagi, hendak kulihat, bagaimana Siauw Cap it long mati didepanku."
Tangan Sim Pek Kun gemetaran. Tangan Sim Pek Kun dirasakan menjadi sangat lemas, mulai gemetaran. Sim Thian Tiok berteriak girang .
"Dia adalah orang yang telah membunuh nenekmu, hayo bunuh. Tunggu apa lagi?"
Sim Pek Kun mengertek gigi, menarik tangannya, mencabut pisau belati.
Darah muncrat bersemburan, membuat seluruh baju Sim Pek Kun menjadi merah.
Tubuh Siauw Cap it long tetap kaku, dagingnya seperti beku, ia masih diam seperti patung ditempat itu.
Hanya sepasang biji matanya saja yang berputar, memandang kearah Sim Pek Kun, dengan rasa penuh kekecewaan.
Mengapa ia tidak mau mengelakkan serangan itu?
Mengapa ia tidak mau menyingkirkan diri dari serangan itu?
Mengapa ia rela mati dibawah tangan Sim Pek Kun?
Tangan Sim Pek Kun semakin lemas, gemetarannya semakin keras, air matanya bercucuran tusukan kedua tidak bisa digerakkan; biar bagaimanapun Siauw Cap it long itu telah menanam budi yang terlalu besar.
Tidak bisa ia membalas air susu dengan air tuba.
Tusukan berikutnya tidak bisa disambung.
Sim Pek Kun tidak bisa mematikan orang yang telah berulang kali membantu dirinya.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan Lie Ban Tong .
"Hujin tidak tega membunuhnya? Biar aku saja!"
Bersamaan dengan suara Lie Ban Tong kedua tangannya digerakkan, kedua senjata Lui Kong Ciok menyerang kearah dada Siauw Cap it long.
Serangan Lie Ban Tong sangat dahsyat sekali.
Sepasang mata Siauw Cap it long ditujukan kepada Sim Pek Kun, ia tidak menengok dan memperhatikan adanya serangan Lie Ban Tong, walaupun demikian, seolah-olah memiliki mata dibelakang , tangannya digerakkan menampar kearah pipi si pendekar guntur.
Gerakan tangan Siauw Cap it long adalah gerakan biasa, tidak istimewa.
Tapi tak bisa dielakkan oleh Lie Ban Tong.
Plak.....
hidungnya kena tamparan, Buk.....
tubuhnya terpental kebelakang, Braak....
memecahkan jendela perahu pesiar itu.
Jendela yang terkena tubuh Lie Ban Tong tidak bisa menahan berat orang itu pecah, meluncur terus tubuh Lie Ban Tong, terdengar lagi Plung......
Lie Ban Tong jatuh kedalam air.
Wajah Liong It San menjadi pucat, ia terpatung ditempatnya.
Sim Thian Tiok juga mengatupkan mulutnya, ia tidak bisa berteriak lagi.
Betapa hebatnya Siauw Cap it long, semua orang bisa mengira-ngira, tapi kenyataan itu lebih hebat lagi, hanya sebuah tamparan tangan saja, Siauw Cap it long bisa mengelakkan serangan Lui kong ciok si pendekar guntur, menampar pipi jago itu, menerbangkan tubuhnya, menceburkan kedalam telaga.
Didalam hati Sim Pek Kun semakin kalut, ia berpikir .
"Didalam keadaan luka yang begitu berat ia bisa memukul orang tanpa bisa dielakkan. Mengapa ia tidak mau mengelakkan tusukanku ? Mengapa...?"
Si Nyonya agung menoleh lagi, menatap wajah Siauw Cap it long. Wajah itu masih seperti sedia kala, membeku ditempatnya. Sim Pek Kun masih berpikir .
"Bila betul orang ini yang menghancurkan kampung Sim kee chung ? Mengapa ia tidak mau membunuhku ? Mengapa ?"
Sedari munculnya Sim Pek Kun didalam perahu besar itu, Sim Thian Tiok selalu terbaring dengan selimut, ini waktu tiba-tiba bangkit bangun, molos keluar dari lobang selimutnya, gerakkannya gesit dan cepat, tidak ada tanda-tanda bahwa ia menderita luka, jauh berbeda dengan keadaan yang diperlihatkan kepada Sim Pek Kun, bahwa ia itu betul-betul luka parah, terluka oleh karena penyergapan yang terjadi atas kampung Sim kee chung.
Sepasang mata Sim Thian Tiok berkilat-kilat, dengan kebencian meluap-luap, melototkan Siauw Cap it long.
Sim Pek Kun yang menyaksikan adanya dendam kemarahan dari Sim Thian Tiok berteriak .
"Awas !"
Ia telah bisa mengira-ngira, terjadinya persoalan ini bukan jalan yang lurus, masih berlikuliku dan banyak problem yang tidak diketahui olehnya.
Teriakan Sim Pek Kun itu terlambat, Sim Thian Tiok sudah mengeluarkan sebilah pisau, tubuhnya mencelat tinggi, pisau tadi diarahkan keleher Siauw Cap it long !
Liong It San menyeret tombak yang dibaringkan tidak jauh dipojok kursi, tangan kirinya menarik keluar pedang lemas yang terikat diluar, ia menggunakan dua macam senjata panjang, dengan tangan kanan memegang tombak, tangan kiri menjaga diri dengan pedang lemasnya.
Inilah ilmu kepandaian istimewa, yang satu keras, yang satu lemas.
Sulit untuk mempermainkan kedua macam senjata yang tidak sama ini.
Pedang panjang itu ditusukkan ke iga Siauw Cap it long, dan pedang lemas disamping diputar, maksudnya untuk menjaga diri, agar tidak mendapat serangan balasan dari musuh.
Senjata seseorang mempunyai hubungan baik dengan kepribadian orang yang memiliki senjata itu.
Tubuh Liong It San tinggi besar, tapi nyalinya sangat kecil, ia seorang penakut.
Liong It San mendapat julukan pendekar kilat dari telaga Tay ouw, untuk meyakinkan ilmu kepandaian meringankan tubuhnya hebat, ilmu lari yang tercepat, tentu saja dengan maksud agar ia bisa lari didepan orang, siapa yang bisa menandingi kecepatan larinya ?
Senjata yang digunakan oleh Liong It San juga sangat panjang, panjang tombak ditujukan untuk menyerang orang, pedang lemas spesial untuk menjaga diri sendiri.
Sengaja ia mengambil jarak jauh, bilamana penyerangan itu gagal, lebih mudah melarikan diri.
Disana, merosot turun dari pembaringan bale-bale perahu, Sim Thian Tiok telah berguling ditanah, lengannya tersebar, delapan bintik yang bercahaya terang, dengan membawa desingan suara keras, menyerang Siauw Cap it long.
Gerakan Liong It San, Sim Thian Tiok, dan Sim Thian Ciok terjadi didalam waktu yang sangat bersamaan.
Darah Siauw Cap it long masih mengucur keluar dari bekas luka tusukan, tangan Sim Pek Kun yang memegang pisau masih tidak jauh dari tempatnya, dikiri ada serangan Sim Thian Tiok, dan dibelakang ada serangan Sim Thian Ciok.
Ia terancam dari empat penjuru Semua jalan keluar untuk mengelakkan diri memang tidak ada lagi.
Siauw Cap it long masih berdiri tegak ditempatnya, matanya seperti mata seorang linglung, kurang ingatan, tertuju ke arah si ratu rimba persilatan Sim Pek Kun.
secepat itu pula tangan Sim Pek Kun bergerak, tapi tidak diarahkan kepada Siaw Cap It Long, ia meukul golok Sim Thian Tiok.
Bila dipikirkan masak-masak, sim Pek Kun pribadipun tidak dimengerti, mengapa ia harus membela siperampok besar Siaw cap It Long.
gerakan Sim Pek Kun terlalu cepat, badannya sangat lemah, begitu pisau itu diajukan tubuhnya terjengkang jatuh.
Pembelaan ini adalah akibat yang besar, sepasang sinar mata Siaw Cap It Long yang sudah meredup, tiba-tina hidup kembali, bersinar melebihi cahaya bintang.
Bledak ..........
tubuh Sim Pek Kun jatuh digeladak perahu.
Menyambung suara itu terdengar suara pletak bug, aduh.....Sim Thian Tiok, Sim Thian ciok, Liong It Sian sudah bergelimpangan.
Begitu cepat gerakan Siaw Cap It Long, tiba-tiba tangan kanannya menjulur keluar mencenkeram Sim Thian Tiok, sesudah itu pletak, ia mematahkan lengan orang yang berpurapura menderita parah itu.
Tombak Liong It San yang panjang menyerang datang, tapi terjepit diantara sela-sela ketiaknya, darisana menyembur keluar tenaga yang tidak terlihat, memakan dirinya maju kedepan.
Dengan demikian, Siaw Cap It Long telah menyeret Liong It san kebelakang, ia menjadikan Liong It San sebagai tameng hidup, serangan senjata rahasia Sim Thian ciok, tertuju kearah Liong It San.
Sim Thian Ciok berteriak kaget.
Tubuhnya mencelat bangun, disaat itu pula terdengar suara ciat......Siaw Cap It Long mengangkat tangan, menyeret tombak panjang Liong It San diarahkan kepadanya.
Terdengar suara aduh...............tubuh Sim Thian Ciok menjadi korban penyerangan tombak kaeannya.
Disaat yang sama.
Liong It San juga tidak berdaya menghindarkan senjata rahasia Sim Thian Ciok, tujuh biji besi telah bersarang ditubuhnya, ia berteriak, ia menghembuskan nafasnya yang penghabisan.
Disana hanya seorang Sim Thian Tiok yang memegang tangan kanannya yang patah, ia merintih-rintih dilantai.
Siaw Cap It Long masih berdiri ditempat kedudukannya semula.
Kedua langkah kakinya tidak bergeser satu sentipun.
Siaw cap It Long adalah manusia luar biasa, tusukan Sim Pek Kun itu telah mengenai bagian yang parah, darisana masih keluar darah.
Walau demikian, ia masih berdiri tegak.
Siaw cap It Long mempertahankan mempertahankan keadaannya yang seperti itu, hingga merobohkan ketiga penyerangnya.
Ia heran dan tidak mengerti mengapa Sim Pek Kun begitu benci kepadanya.
Mengapa Sim Pek Kun kurang yakin kepada bantuan yang telah diberikan kepadanya ?
Sesudah merobohkan musuh-musuh itu, mengetahui keadaannya yang tidak berbahaya lagi, ia tidak bisa mempertahankan diri, tubuhnya mulai oleng miring dan jatuh kearah meja.
TETAP DIBAYANGI Disaat Siaw Cap It Long roboh kearah meja, terdengar satu suara tertawa .
"ha..ha.........bagus ! memang ilmu kepandaian hebat, terima lagi seranganku, betul-betul aku akan takluk kepadamu."
Inilah suara sipendekar guntur Lie Ban tong.
"Hut...."
Dari luar jendela melayang masuk bayangan Lie Ban Tong, sekujur tubuhnya basah kuyub, kedua tangannya memegang sepasang senjata Lui Kong Ciok, dihantamkan kearah batok kepala Siaw cap It Long.
Siaw Cap It Long telah kehabisan tenaga, ia besandar kepada meja.
Tidak mungkin dapat mengelakkan datangnya serangan itu.
Sim Pek Kun menjadi kaget, ia melemparkan pisau kearah Sia Cap It Long.
"terima senjata ini,"
Ia berkata, dengan maksud memberi senjata, agar Siaw Cap It Long bisa membikin perlawanan senjata.
Siaw Cap It Long menyambuti datangnya operan senjata, dengan sekuat tenaga ia membalikkan dan ditusukkan kearah Lie Ban Tong.
Lie Ban Tong seperti orang nekad, tidak mengelakkan adanya serangan pisau itu.
Bleg....pisau tersebut masuk kedalam dada ambles hingga gagang-gagangnya.
Lie ban Tong mati didalam tusukan Siaw Cap It Long.
Yang aneh, Lie Ban Tong tidak menjerit.
Ia masih menerkam dengan galak, sepasang Lie kong ciok diketukkan kearah Siaw Cap It long.
Mungkin Lie Ban Tong kebal mati ?
Siaw Cap it Long menjadi kaget sekali, pundaknya dan punggungnya terkena keprukan senjata Lie kong ciok, tubuhnya menjadi kesemutan, menggeloso jatuh.
Betapa kuatpun Siaw Cap It Long, ditusuk, dipukul, dan dijadikan bulan-bulanan oleh orangorang itu, akhirnya ia meloso jatuh dilantai perahu, ia tidak bisa bangun kembali.
Tidak bisa merambat naik kemeja yang ada disebelahnya.
Dengan masih ada kejadian aneh, tubuh Lie Ban Tong yang sudah tertembus pisau itu, bergelantungan, sekujur badannya basah kuyub, darah mengalir dari bagian depan dadanya, toh tubuh itu bergantung-gantungan, melayang pulang pergi.
"Nah,"
Katanya "Siaw Cap It Long ! kau akan mati."
Lie Ban Tong mengucapkan kata-kata yang seperti ini, tapi mulutnya kaku, dan tidak bergerak.
Terjadinya pertempuran-pertempuran didalam perahu itu telah mengucar-ngacirkan perabot, tiga pelita telah jatuh padam hanya ada sebuah pelita pojok jauh, memancarkan sinar yang kelap-kelip suram.
Dari penerangan cahaya itu, bisa menyaksikan keadaan Lie Ban Tong wajahnya berkerinyut menyeramkan, itulah bukan wajah orang hidup, itulah wajah orang yang mati penasaran.
Siaw Cap It Long masih bisa menguasai diri, ia menatap wajah Lie Ban Tong itu.
Sim Pek Kun menjerit, ia tidak percaya, didalam dunia itu ada seseorang yang tidak bisa mati.
Terdengar lagi suara Lie Ban Tong .
"Siaw cap It Long ! mengapa kau masih belum mau mati ? hayo, matilah !"
Wajah Lie ban Tong telah membeku, mulutnya begitu rapat, sepasang matanya melotot keluar, seperti mata ikan maskoki yang mau jatuh, tapi ia masih bisa bersuara, entah dari mana suara itu ?
Siaw Cap It Long mempertahankan genggamannya, ia masih tidak mau mati, untuk menimpali tantangan tadi, ia berkata .
"Aku tidak bisa mati."
Tiba-tiba.......
Terdengar satu suara yang nyaring dan merdu, suara itu adalah suara seorang gadis, membisingkan seluruh isi perahu.
Lie Ban Tong yang suaranya begitu keras tiba-tiba terjadi perubahan, hal ini sangat mengejutkan, membuat seluruh bulu-bulu roma bangun berdiri.
Siaw Cap It Long mengeluarkan keluhan nafas panjang, ia tahu siapa yang memegang peranan dibelakang mayat Lie Ban Tong itu.
Dengan menyengir sedih ia berkata .
"Kau ! lagi-lagi kau yang memegang peranan ini !"
Belum selesai kata-kata Siaw Cap It Long tubuh Lie Ban Tong meloso jatuh.
Kini tersingkaplah tabir permainan sandiwara, siapa yang memegang peranan dibelakang Lie Ban Tong.
Disana berdiri gadis cantik, itulah Siaw kongcu Suara tertawa cekikian tadi adalah suara Siaw Kongcu.
Siaw kongcu berdiri disana, memandang Siaw Cap It Long, dan menoleh kearah Sim Pek Kun.
Kulitnya begitu alus, seperti tidak tahan ditowel, tertawanya begitu manis, tapi ia mempunyai hati yang lebih jahat dari ular berbisa.
Bertemu Siaw kongcu, seolah-olah bertemu dengan iblis jejadian hidup.
Sim Pek Kun takut setengah mati.
Ternyata Lie Ban Tong yang sudah mati itu dijinjing oleh Siaw kongcu, terbang pelang pergi, maka seperti hantu yang bersliweran diatas perahu.
Terdengar suara Siaw kongcu yang nyaring merdu.
"Ya. Aku datang kembali. Aku tetap menjadi bayanganmu."
Perlahan-lahan, ia mendekati Siaw Cap It Long.
Siaw Cap It Long tidak bisa bergerak lagi, karena itu dengan rasa yang sangat puas dan bangga, Siaw kongcu mendekati lebih dekat lagi, menjulurkan tangannya, mengusap pipi Siaw Cap It Long dengan tertawa garing ia berkata .
"Kau adalah orang impianku. Siang malam kurindukan. Satu haripun tidak bisa berpisah denganmu. Bagaimana aku tidak datang kembali ?"
Suara Siaw kongcu seperti kacang garing, seperti burung kenari, sangat merdu, lebih enak dari mendengar suara biduan wanita yang manapun juga. Sim Pek Kun menjerit kaget, teriaknya .
"kau....kau juga seorang wanita ?"
Siaw kongcu lebih sering mengenakan pakaian pria, maka orang menyebutnya bernama Siaw kongcu yang berarti kongcu kecil.
Sim Pek Kun bertemu berulang kali dengannya, didalam keadaan penyamaran, hanya kali ini ia membuktikan sendiri, bagaimana Siaw kongcu menggunakan pakaian yang asli.
Pakaian wanita.
Siaw kongcu menganggukkan kepala, ia berkata .
"Baru tahu ? ha..ha......kalau aku seorang laki, bagaimana mempunyai itu kekejaman untuk menyiksa dirimu, hanya seorang wanita yang berlaku kejam kepada wanita. Mengertikah kau dalih ini."
Sim Pek Kun mendelikkan mata. Ia tertegun dan terpaku ditempat itu. Terdengar elahan nafas panjang, Siaw kongcu bergoyang-goyang kepala sebentar, ia berkata .
"Ratu dari rimba persilatan Sim Pek Kun memang seorang wanita yang cantik. Sayang sekali, kau tidak mengerti, bagaimana harus memegang peranan seorang wanita, kau kurang romantis, mana bisa memenangkanku ?"
Menoleh kearah Siaw Cap It Long, Siaw kongcu berkata .
"Siaw Cap It Long, mengapa kau bisa jatuh cinta kepadanya ? Apakah kau tidak cinta kepadaku ?"
Siaw Cap It Long menyengir dan membuka mulut dan berkata .
"Aku...."
Siaw Cap It Long tidak bisa meneruskan kata-katanya, terasa dada begitu nyeri, itulah luka bekas tusukan Sim Pek Kun. Butiran-butiran keringat berguguran, ia menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Hayo........"
Siaw kongcu menjerit kolokan.
"Kau juga sudah menderita luka ? siapa yang melukai kekasihku ? siapa yang begitu kejam melukai kekasihku ?"
Suaranya merdu sekali, bila seseorang yang tidak pernah menyaksikan kekejaman Siaw kongcu, pasti tertarik, pasti menduga sesuatu yang bukan-bukan, pasti menduga bahwa Siaw kongcu ini adalah seorang yang baik hati, seorang yang romantis.
Siaw kongcu telah menggunakan Lie Ban Tong melukai Siaw Cap It Long, toh masih dilukainya.
Siaw kongcu juga tahu, Siaw Cap It Long telah menderita luka pertama dibawah tangan Sim Pek Kun.
Sengaja ia berolok-olok seperti itu.
Sim Pek Kun tidak bisa tergoda kembali dengan suara keras ia berteriak .
"Aku yang telah melukainya."
Siaw kongcu mengirim kerlingan mata, memandang Sim Pek Kun. Ia membawa suara yang tidak percaya.
"Oow..?"
Iamenggeleng-gelengkan kepala "Tidak mungkin, tidak mungkin terjadi.
Ia sangat baik dan ia begitu sayang kepadamu.
Mengapa kau melukainya ?
Dengan alasan apa kau mau membunuh ?.......Kulihat kau bukan wanita yang begitu kejam, bukan ?"
Sim Pek Kun menggertek gigi, ia berteriak keras .
"lain kali, bila ada kesempatan, tetap aku hendak membunuhnya"
"eh, mengapa ?"
Bertanya Siaw kongcu. Wajah Sim Pek Kun menjadi keras, sepasang matanya merah membara, dengan gemetaran ia berkata .
"Dendamnya begitu besar, bagaimana aku,....."
"Ouw.....kalian mempunyai dendaman ? siapa yang memberi tahu ?"
Bertanya Siaw kongcu. Dengan dingin Sim Pek Kun menjawab pertanyaan itu .
"Empat pendekar Lu Tong Su Gie, sepasang pendekar kilat dan guntur dari Tay Ouw dan lain-lainnya, mereka adalah saksi-saksi."
Siaw kongcu menghela nafas, ia berkata .
"Siaw Cap It Long telah menolongmu sehingga berulang kali. Tapi kau tidak percaya kepada dirinya. kau lebih percaya obrolan orang-orang itu."
"Tapi....tapi...."
Sim Pek Kun kehabisan bahan berdebat.
"Ia telah mengaku bahwa dialah Siaw Cap It Long."
"Ya."
Berkata Siaw kongcu .
"Inilah Siaw Cap It Long ! jago berandalan luar biasa, orang menyebutnya sebagai penjahat besar. Kepala rampok. Tapi orang yang telah membakar kampungmu,orang yang telah merusak rumahmu,orang yang membunuh nenekmu bukanlah Siaw Cap It Long ini."
Sim Pek Kun tertegun, menoleh kearah Siaw kongcu dan berkata .
"Siapa ?"
"Tentu saja aku."
Berkata Siaw kongcu tertawa.
Baca Juga: Medali Wasiat 9
Baca Juga: Pusaka Pedang Embun 1