Eps 5 Anak Berandalan - Khu Lung
Baca online Anak Berandalan - Khu Lung
Cersil Anak Berandalan - Khu Lung.
"Kecuali aku, Siaw kongcu, siapa lagi yang bisa melakukan perbuatan-perbuatan luar biasa ?"
Sekujur badan Sim Pek Kun gemetaran, marah, kesal, penasaran, dan aneka ribu macam perasaan lainnya. Siaw kongcu berkata .
"Empat pendekar Lu Tong Su Gie, sepasang pendekar kilat dan guntur dari Tay Ouw dan lain-lainnya, mereka adalah orang-orang yang sudah kubeli. Sengaja kuatur tipu siasat yang seperti ini, sengaja menjerumuskan dirimu kedalam kenistaan, sengaja membuat hatimu benci kepada Siaw Cap It Long, kukira obrolan mereka pasti tidak bisa masuk kedalam telingamu, karena Siaw Cap It Long begitu baik.
Mana aku tahu, bahwa kau lebih percaya kepada cecunguk-cecunguk itu, aku tahu, kau tidak bodoh,mengapa begitu pikun ?"
Seperti jarum-jarum yang sangat tajam, sepatah demi sepatah kata-kata Siaw kongcu itu menusuk kedalam lubuk hati si ratu rimba persilatan Sim Pek Kun.
Kini sadarlah dirinya, kesalahan apa yang telah dilakukan olehnya.
Dimisalkan, kata-kata ini bila keluar dari mulut Siaw Cap It Long, mungkin ia tidak percaya.
Tapi keluar dari mulut Siaw kongcu, tidak bisa tidak percaya.
Dihubungkan kejadian-kejadian lama dengan apa yang telah diketahui, ternyata Sim Thian Ciok tidak terluka, terbukti, sesudah mengetahui Siaw Cap It Long tidak berdaya jago itu molos keluar dari balik selimutnya, menyerang secara ganas.
Ternyata betul-betul sipendekar pedang kilat dari Tay Ouw telah membunuh pelayan rumah penginapan itu.
Inilah orang yang dipercayakan olehnya, seorang kecil yang baik hati.
"Oh...."
Sim Pek Kun mengeluh.
Sim Pek Kun menyesal atas perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan, menyesal atas perbuatan yang telah dilakukan kepada Siaw Cap It Long.
Sim Pek Kun pernah berjanji kepada diri sendiri, ia tidak mudah diojok-ojok orang, ia telah berjanji, ia akan lebih percaya kepada Siaw Cap It Long,ia akan percaya kepada laki-laki yang mempunyai sepasang sinar mata terang itu.
Dahulu, Sim PekKun belum tahu, siapa itu laki-laki yang berulang kali menolong dirinya.
Ternyata Siaw Cap It Long yang menolong dirinya.
Siaw Cap It Long yang dikatakan oleh banyak orang sebagai kepala rampok, sebagai bajingan besar.
Apa yang tersebar luas diantara rimba persilatan itu adalah suatu kebohongan.
Siaw Cap It Long yang ditemukan bukanlah Siaw Cap It Long dalam cerita.
Terbayang kembali sepasang sinar mata Siaw Cap It Long yang redup, Siaw Cap It Long sangat bersedih hati atas reaksi yang diterimanya.
Siaw cap It Long bersedih karena Sim Pek Kun tidak mempercayainya.
Ya!
Sim Pek Kun terlalu mudah ditipu orang.
Terlalu percaya kepada fakta buatan.
Akhirnya ia telah menjerumuskan diri sendiri kedalam penyesalan.
Ingin sekali Sim Pek Kun meremas-remas diri sendiri, ingin sekali ia bisa mati segera untuk menebus dosa-dosanya.
Siaw kongcu memperhatikan sesuatu diwajah si ratu rimba persilatan Sim Pek Kun, ia memperhatikan gerak-gerik Sim Pek Kun, apa yang Sim pek Kun rasakan itu bisa dimaklumi oleh Siaw kongcu, kini Siaw kongcu berkata .
"Tentunya kau ingin mati segera, bukan ? Sayang ?....Tidak bisa....!...Mengambil perumpamaan, kau bunuh diri, kau mati. bagaimana kau bisa membalasbudi-budinya yang telah dilepas kepadamu ? Dimisalkan kau tidak ada SIaw Cap It Long, berapa kalikah kau sudah mati ?"
Sim Pek Kun mengucurkan air mata, sangat sedih sekali, ia menyesal. Apa bisa dikata, segala sesuatu sudah terjadi, menyesalpun tiada guna.
"Bunuhlah!...Bunuhlah aku!"
Ia berteriak. Siaw kongcu menganggukkan kepala.
"Sebelumnya,aku ada niatan untuk membunuhmu, tapi.....sekarang, aku mangganti maksuditu, aku menghapuskan rencana semula."
".......Mengapa,"
Sim Pek Kun bertanya sedih. Siaw kongcu berkata .
"Aku lebih suka melihat kau hidup, lebih suka bagaimana kau hidup sengsara, bagaimana kau hidup tersiksa, bagaimana kau hidup penuh penderitaan."
"kau....kau kejam."
SimPek Kun menggertekgigi.
"Aku masih suka kepadamu."
Berkata Siaw kongcu. Tiba-tiba Siaw Cap It Long turut menyahut pembicaraan diantara dua wanita itu. Ia berkata .
"Tapi aku sudah tidak suka kepadanya. Aku benci, kepada seorang manusia yang tidak mengenal budi aku benci sekali."
"Kau benci kepadanya ?"
Bertanya Siaw kongcu tertawa.
"Usirlah dia"
Berkata Siaw Cap It Long menahan rasa sakit yang tidak terhingga.
Lukanya sangat parah sekali.
Hati Sim Pek Kun dirasakan semakin lebih sedih.Ia mengerti apa maksud tujuan Siaw Cap It Long, bila mana Siaw kongcu mau mengikuti anjurannya, mengusirnya pergi, itulah satu keringanan.
Ia akan bebas dari siksaan Siaw kongcu yang kejam.
"Biar bagaimana jahat kuperlakukannya tetap ia berusaha menolong diriku."
Berkata Sim Pek Kun didalam hati.
"Aku telah memakinya, memukulnya, melukainya, dan hampir saja membunuhnya. Tapi ia tidak menanam rasa sakit hati ini."
Biar bagaimanapun, Sim Pek Kun tidak habis mengerti, bagaimana seorang yang dicap sebagai perampok besar begitu baik hati.
Siaw kongcu mendekati Siaw Cap It Long, orang yang terakhir ini meringis sakit, lukanya sangat berat.
"Eh, bagaimana keadaan lukamu ?"
Berkata Siaw kongcu mesra.
"Aku cinta kepadamu."
"Dimisalkan kau betul-betul cinta, usirlah wanita tidak tahu diri itu."
Berkata Siaw Cap It Long.
"Sangat memuakkan orang saja. Usirlah jauh-jauh."
Siaw kongcu juga seorang wanita cerdik, mana mungkin tidak tahu tipu muslihat Siaw Cap It Long ? Mengusir Sim Pek Kun berarti membebaskan Sim Pek Kun. Dengan suara yang sangat merdu sekali, Siaw kongcu berkata .
"Untuk menyenangkan dirimu, seharusnya aku membebaskan ratu rimba persilatan ini. Sayang sekali. Aku tidak mempunyai itu keberanian untuk melanggar perintahnya."
"Melanggar perintah ?"
Bertanya Siaw Cap It Long.
"Ya."
Berkata Siaw kongcu.
"Dia adalah orang yang dikehendaki oleh guruku."
"Mati atau hidup, aku harus membawa tubuhnya, diserahkan kepada guruku. Inilah perintah. Aku tidak bisa membangkang tugas ini."
"Kau hendak pergi ketempat gurumu lagi ?"
Bertanya Siaw Cap It Long.
Kini jelaslah sudah, siapa yang memegang peranan penting dibelakang layar, siapa yang mengkambing hitamkan Siaw Cap It Long, siapa yang menghancurkan kampung Sim Ke Cung ?
Tokoh terpenting adalah guru Siaw kongcu !
Siaw kongcu adalah ahli sandiwara, ia berkata perlahan .
"Aku mempunyai maksud untuk lari darinya, aku hendak mengasingkan diri disuatu tempat yang sunyi dan sepi, bersembunyi, kita saling cinta-mencintai, hidup sebagai sepasang suami istri, Tapi...."
Siaw kongcu menghela nafas dalam-dalam, bagai menyambung pembicaraannya .
"Biar bagaimanapun, aku tidak bisa melaksanakan rencana ini. Kau juga tahu, guruku itu adalah seorang tokoh silat serba bisa, kemanapun aku melarikan diri, tidak mungkin bisa mengelakkan pengejarannya."
Siaw Cap It Long memaksakan diri untuk bertahan, betapapun sulit untuk dipertahankan, ia harus mengetahui,siapa tokoh silat yang begitu jahat.
"Siapakah orang yang menjadi gurumu itu ?"
Ia bertanya.
"Betulkah ia memiliki kepandaian begitu hebat ?"
"Mungkin tidak percaya untuk diceritakan."
Berkata Siaw kongcu.
"Ilmunya luar biasa."
"Aku juga bukan manusia biasa."
Berkata Siaw Cap It Long.
"Kecuali guruku, kau adalah tokoh silat nomor satu."
Berkata Siaw kongcu "Kecerdikanmu tiada tara, tidak ada seorang yang bisa menandingimu.
Kecuali guruku, hanya guruku seorang yang bisa memenangkanmu, untuk ilmu silatnya, selisih kalian jauh berbeda.
Mungkin..........mungkin juga kau bisa bertahan sampai duapuluh jurus, atau tiga puluh jurus, tapi tidak mungkin bisa membikin perlawanan sampai empat puluh jurus.
Didalam waktu empat puluh jurus ini, ia akan merengut jiwamu."
Siaw Cap It Long menyengir,ia berkata .
"Kau terlalu memandang rendah kepada Siaw Cap It Long."
"Dengar dahulu."
Siao kongcu memberi keterangan.
"Semua tokoh silat di dalam rimba persilatan, belum ada yang bisa menahan sampai dua puluh jurus. Sudah kuperhitungkan kau bisa sanggup sampai tiga puluh jurus. Inilah suatu keagungan, suatu pujian untukmu."
"Aku tidak percaya"
Berkata Siauw Cap-it-long.
"Percaya atau tidak percaya, terserah kepada dirimu."
Berkata Siao kongcu.
"Biar bagaimana, aku tidak bisa memberi tahu namaku. Semakin kau ingin mengetahui, semakin sulit kuberitahu. Sekarang aku merasa menang, aku telah berada di atas angin."
Jilid 8_____________ SIAUW CAP-IT-LONG gagal mengorek keterangan.
Ia mengatupkan sepasang matanya, tidak bicara.
Setiap menggerakkan bibir, luka didada segera merembas, nyeri sekali.
Tapi biar bagaimana, tetap dipertahankan.
Ia hendak mengetahui, siapa itu manusia jahat yang mengacau rimba persilatan?
Kecerdikan Siao-kongcu tiada tandingan.
Kekejaman Siao-kongcu tiada tara, ilmu silat Siaokongcu sulit menemukan pasangan.
Terbukti dari banyaknya jago2 silat ternama yang tunduk dibawah kekuasaannya.
Thio Bu Kek, Hay-leng-tju, empat pendekar Lu Tong Su Gie, dan sepasang pendekar kilat dan guntur dari Tay-ouw, semua adalah tokoh2 silat ternama untuk masa itu.
Tapi tidak ada satu yang tidak tunduk dibawah kekuasaan Siao-kongcu.
Mereka berhamba kepada Siaokongcu, mereka telah menjalankan semua perintah Siao-kongcu, mereka adalah hamba-hamba Siao-kongcu.
Suatu bukti betapa hebat kekuasaan Siao-kongcu.
Lain bukti betapa hebat pula kekuasaan guru Siao-kongcu.
Siauw Cap-it-long membawakan sikapnya yang seperti orang tenang.
Hatinya tidak tenang.
Didalam kamus pikiran Siauw Cap-it-long tidak mungkin menemukan istilah kata-kata sulit atau susah.
Kecuali berhadapan musuh yang seperti guru Siao-kongcu.
Betul-betul ia tidak percaya.
Mulai terpetalah kata-kata sulit, mulai terbayang kamus susah.
UDARA YANG BAIK MENJELANG sore hari.
Diufuk sebelah barat memerah, matahari memancarkan cahayanya yang penghabisan, ia sudah siap turun tachta, akan digantikan keadaan gelap-gulita, maka sebagai pameran, ia mencahayakan apa yang biaa dipantulkannya.
Cahaya matahari yang kuning keemas-emasan menyinar bunga-bunga seruni.
Bunga seruni mempunyai aneka macam warna, yang kuning, yang putih, ada juga yang lila dan ada juga seruni hitam.
Mendapat keseimbangan warna matahari senja, bunga-bunga seruni itu semakin bersaing.
Apa lagi dimusim rontok, masa jayanya bunga seruni diantara bau harum semerbak, menyaksikan panorama alam adalah suatu pemandangan menarik.
Untuk seumur hidupnya, belum pernah Sim Pek Kun menyaksikan keindahan bunga seruni seperti apa yang sekarang ia saksikan.
Ia berada ditaman bunga seruni.
Dikeempat keliling tempat itu terbenteng oleh gunung-gunung, hawa dingin tertahan diluar, tidak bisa memasuki daerah taman bunga seruni, bau harum semerbak menyerang hidung, tertiup oleh angin sepoi2, kadang-kadang lenyap, dan kadang-kadang timbul kembali.
Hawa terlalu sejuk, pemandangan begitu cantik.
Disana duduk tiga orang, mereka duduk diatas tikar yang sangat mahal.
Orang pertama adalah Sim Pek Kun, didepannya adalah Siauw Cap-it-long dan Siao-kongcu.
Didepan mereka terdapat makanan dan minuman, terdapat juga kepiting rebus yang sangat besar.
Sim Pek Kun mengenakan pakaian yang sangat tipis, memperhatikan daerah tempat itu, dengan pikiran yang tidak habis mengerti.
Walau didalam keadaan taman yang begitu indah, Sim Pek Kun seperti hidup dalam neraka.
Biar bagaimana, Sim Pek Kun tidak mengetahui atas sikap yang diperlihatkan oleh Siaokongcu.
Selama beberapa hari, Siao-kongcu memberi makan kepada mereka serba komplit, arak-arak yang harum, makanan-makanan yang lezat, pakaian yang indah, pemandangan yang menarik.
Walau demikian, rasa takutnya Sim Pek Kun semakin menghebat, teristimewa Sim Pek Kun mengkhawatirkan keselamatan Siauw Cap-it-long.
Betul-betul Siao-kongcu memperlakukan Sim Pek Kun seperti seorang ratu, segala kebutuhannya dicukupi, hidangan-hidangannya disertai dengan makanan yang sangat lezat, pakaiannya disediakan corak yang paling baru, penghidupannya dilayani dengan pemandangan yang indah.
Mungkinkah ia bisa puas mendapat pelayanan yang seperti itu?
Tidak!
Sim Pek Kun sedang melirik kearah Siauw Cap-it-long yang berada didepannya, laki-laki yang mempunyai sepasang mata menarik itu mengenakan pakaian tebal, menutup badannya rapat-rapat, ia mengantongi beberapa jumlah bunga seruni, bilamana angin yang terkembang datang, hawa seruni itu terkembang biak.
Tercampur pula hawa laki-laki.
"Oh, aku telah mencelakakannya,"
Demikian Sim Pek Kun mengeluh. Sim Pek Kun dan Siauw Cap-it-long adalah orang tawanan Siao-kongcu. Tapi Siao-kongcu memperlakukan mereka secara istimewa. Selalu memberi makanan udang dan kepiting, menyediakan arak dan anggur.
"Aku mencelakakan dirinya!"
Lagi-lagi Sim Pek Kun mengeluh.
Ia tidak bisa merasakan kelezatan makanan2 itu.
Ia tidak bisa menikmati kemurnian anggur2 itu.
Seorang yang menderita luka, tidak bisa dibiarkan mendapat makanan yang mengandung racun, dan makanan yang mengandung isi racun adalah udang dan kepiting, dan cumi dan lain-lainnya.
Siao-kongcu menghidangkan makanan-makanan itu.
Apa akibatnya bagi Siauw Cap-it-long bilamana ia memakan semua barang yang ada mengandung unsur racun?
Siao kongcu bersandar di sebelah Siauw Cap-it-long, mungkin bersifat mencemburui Sim Pek Kun.
Bentuk tubuhnya yang begitu kecil dan ramping, tampak sangat molek sekali.
Wajahnya yang begitu cantik, tampak menarik.
Kadangkala, Sim Pek Kun mempunyai tanggapan lain, Siao kongcu itu adalah jodoh yang paling tepat bagi Siauw Cap-it-long.
Sayang sekali!
Di balik kelemah-gemulaian Siao kongcu, terdapat juga kekejaman yang tidak terhingga.
Di balik kebaikkan Siao kongcu, tersembunyi sesuatu yang lebih jahat.
Sim Pek Kun mengertek gigi, mendendam semua kebencian.
Siao kongcu memperhatikan gerak-gerik Sim Pek Kun.
Tiba-tiba ia tertawa.
"Hei,"
Ia menowel Siauw Cap-it-long.
"Coba lihat."
Berkata Siao kongcu.
"Ratu kita begiti jijik. Sudah kukatakan, lekas kau berganti pakaian. Kau sangat bandel tidak mau. Maunya bercumbu rayu terus menerus, sehingga orang menjadi lebih sakit hati lagi. Pakaian yang kotor akan memuakkan kawan-kawan. Bagaimana kau enak hati, mengawani makan dan minum tanpa ganti pakaian?"
Siauw Cap-it-long bungkam.
Hati Sim Pek Kun seperti ditusuk oleh jarum.
Kata-kata Siao kongcu sangat menyakiti dirinya.
Mungkinkah Siauw Cap-it-long ada seorang yang seperti itu?
Mungkinkah Siauw Cap-it-long sudah tertarik kepada Siao kongcu?
Tidak mungkin.
Mengapa aku harus menjadi cemburu?
Demikian berpikir Sim Pek Kun.
Apa hubungan Siauw Cap-it-long dengan aku?
Tidak ada alasanku menjadi marah.
Sim Pek Kun menundukkan kepala, menekan gejolak hatinya, memperhatikan kemarahan itu.
Siao kongcu tertawa lagi, ia berkata.
"Lihat, pemandangan begini indah. Tepatlah mengatakan bahwa bunga-bunga itu adalah hak milik wanita. Karena setiap macam bunga itu memiliki sifat-sifat perangai wanita, terkecuali bunga seruni."
Perlahan-lahan, Siao kongcu mengambil seekor kepiting di piring, mengambil batu dan mengetoknya batok kepiting itu, dengan capit yang terbuat dari perak, ia mengeluarkan isi kepiting, dengan sikapnya yang halus dikeluarkannya kepiting itu, disodorkan kedalam mulut Siaw Cap It Long.
Baru menyambung pembicaraannya .
"Seruni tidak memiliki sifat wanita.
Seruni lebih tepat memiliki sifat pria.
Ia seperti seorang cendikiawan yang mengasingkan diri, juga tidak mau bertanding dan bersaing.
Suatu tanda bahwa hidupnya menyendiri.
Tidak bisa disamakan dengan lain-lain bunga.
Ia tidak gentar kepada angin dimusim rontok, menandakan betapa kuatnya dia."
Siaw kongcu menuang anggur dengan sikap yang mesra, dengan sikap yang kolokan, ia merangkul Siaw Cap It Long, memberi minum anggur, kepada sijago berandalan.
Dengan suaranya yang begitu merdu, ia berkata .
"Kubawa kalian ketempat ini, dengan maksud membandingkan seruni dengan sifat-sifatmu. Karena kau juga cinta kepada bunga seruni."
Siaw Cap It Long tidak pernah menolak barang antaran semua dimakan, ia memakan kepiting dan memakan anggur itu, dengan tertawa-tawa ia berkata "
"Aku suka seruni, lebih suka lagi dimakan, saringan bunga seruni bisa dimakan dicampur dengan kepiting atau ikan, ikan hidup, sesudah kita memakan bunga seruni yang bercampur dengan ikan itu, rasanya hawa semakin segar."
Dengan wajahnya yang begitu cantik, Siaw kongcu tertawa. Siaw Cap It Long berkata lagi .
"Orang lain menilai bunga seruni dengan sepasang mata, tapi aku Siaw Cap It Long menilai bunga seruni dengan lain cara, aku meresapi sarinya, aku menggunakan mulut meresapinya."
"Kau selalu mengacau suasana."
Berkata Siaw kongcu tertawa,tertawa lagi cekikikan, menyusupkan kepalanya kedalam pelukan Siaw Cap It Long.
"Tapi disinilah letak kepribadianmu. Apapun yang kau lakukan, pasti tidak sama dengan orang lain. Didalam dunia, mungkin ada dua orang Lie Pek. Mungkin dua orang Koan Kong. Tapi tidak mungkin ada dua orang Siaw Cap It Long. Laki-laki yang seperti kepribadianmu ini, bagaimana tidak bisa memikat hati gadis, gadis manakah yang tidak pernah terpikat olehmu ?"
Siaw kongcu menolehkan kepala, dengan matanya yang disipitkan kecil-kecil ia memandang Sim Pek Kun, berkata kepada sang ratu rimba persilatan .
"Betulkah keteranganku ?"
Dengan dingin Sim Pek Kun menutup pembicaraan .
"Aku sudah bukan gadis lagi, Tidak mempunyai minat kepada laki-laki. Aku tidak tahu."
Jawaban Sim Pek Kun yang begitu ketus, seharusnya membuat Siao Kongcu menjadi marah, tetapi kenyataannya berbeda, Siao Kongcu memperlihatkan wajahnya yang cantik dan molek, bentuk tubuhnya yang ramping indah itu semakin menggiurkan.
Tertawanya semakin girang.
"Seseorang wanita yang tidak bisa menyelami hati pria, bagaimana bisa mendapatkan cintanya."
Ia berkata .
"Akupun heran, Lian Seng Pek mempunyai seorang isteri yang telah dinobatkan menjadi ratu rimba dunia persilatan.
Mengapa ia tidak mau mendampingi isteri cantik ?
Mengapa ia berjalan seorang diri saja ?
Kini aku mengerti apa alasannya?
Aku mengerti, ternyata ......"
Siao kongcu tidak lagi meneruskan pembicaraannya, ia menutup sampai disitu.
Tapi sudah jelas dan mudah diterka itu adalah kata-kata yang terlalu merendahkan diri Sim Pek Kun, diartikan Sim Pek Kun tidak bisa menyelami hati seorang pria.
Tidak bisa menilai seseorang pria, maka Lian Seng Pek tidak bisa terikat, Lian Seng Pek lebih suka berjalan seorang diri, daripada mendampingi Sim Pek Kun yang dikatakan tidak bisa meresapi hati seorang suami.
Sim Pek Kun sudah berusahan, ia hendak menekan semua kemarahannya, Walau demikian, dikicok pulang pergi, wajahnya menjadi matang biru, marah.
Siao Kongcu mengambil botol lain, botol arak yanh terbuat sangat bagus.
Menuangkan isinya, berkata .
"Inilah arak istimewa yang ku sengaja datangkan dari negara Sie-liang. Mengapa hujin tidak mau minum arak ? Sayang! Seseorang yang belum pernah meminum arak itu berarti orang yang belum mengenal kehidupan, percuma saja hidup di dalam dunia."
Hujin adalah istilah panggilan untuk seorang nyonya, disini panggilan untuk Sim Pek Kun.
Sim Pek Kun mengatupkan bibirnya rapat-rapat, sangat rapat sekali.
Ia takut, befitu berbicara, maka mulutnya itu bisa nyerocos terus menerus, memaki Siao Kongcu.
"Marah ?"
Siao kongcu menggeleotkan tubuhnya di atas Siauw Cap It long. Kini ia sengaja duduk diatas paha Siauw Cap It long, bicara kepada Sim Pek Kun. Sim Pek Kun membuang muka. Dia mengucurkan airmata.
"Eh, marah semakin hebat ?"
Berkata Siao kongcu tertawa. Dia melirik kearah Siauw Cap It long, baru meneruskan pembicaraannya.
"Kalau aku duduk di atas paha Lian Seng Pek, kau mempunyai itu hak marah, ..... tapi, dia ini ....." , ia melirik kearah Siauw Cap It long.
"Dia adalah laki-laki yang belum kawin, Dia bukan suamimu, mengapa hujin marah kepadaku ? mengapa boleh cemburu ?"
Seluruh ujung-ujung jari Sim Pek Kun terasa menjadi dingin, ia berusaha menahan gejolak hatinya, tapi tidak tahan lagi, akhirnya ia menoleh, memandang ke arah Siauw Cap It long.
Wajah Siauw Cap It long juga sangat pucat pasi.
Wajahnya berkeringat, sedang menanggung resiko derita yang hebat, kadang-kadang berdenyut.
Sakitnya Siauw Cap It long bisa dirasakan juga.
Siauw Cap It long sedang tersiksa, Siauw Cap It long masih sangat menderita.
Siauw Cap It long tidak pernah mengutarakan segela derita hidupnya, Siauw Cap It long belum pernah mengatakan kesusahan hidupnya, semua kesusahan dan penderitaan itu di telan didalam hati.
Sim Pek Kun bisa menduga sesuatu, ia berkata kepada Siauw Cap It long.
"Bagaimana dengan keadaan lukamu itu ? Mungkinkah memberat ?"
Siauw Cap It long menggoyang kepala. ia memaksa tertawa.
"Tidak."
Katanya.
"Luka apa ? luka yang sepele itu sudah kulupakan."
Sim Pek Kun tidak percaya. Secara tiba-tiba saja, iamenerjang kearah Siauw Cap It long, menerjang dengan semua kekuatan yang ada, menarik baju luar Siauw Cap It long, baju luar yang selalu mengerudungi tubuh laki-laki itu.
Baju luar yang sudah agak lapuk, baju yang dikatakan oleh Siao Kongcu bisa memuakkan orang.
Baju yang tidak mau diganti oleh bahan tipis.
Baju luar Siauw Cap It long tersingkap.
Disana masih tampak luka bekas tusukan Sim Pek KUn, Luka yang membengkak dan membesar, bernanah.
"Aaaah, kau....."
Sim Pek Kun mengeluarkan jeritan melengking.
Belum pernah ada seseorang yang mendengar jeritan yang begitu menyeramkan, begitu menyedihkan, begitu menyayat hati.
Daging didada Siauw Cap It long telah membengkak, matang biru, hampir saja dilanda belatungan.
Luka-luka itu sudah mulai membusuk, dengan tersingkapnya baju luar tadi, bau busuk yang menyerang hidung, bang bengkak dan borok yang bernanah.
Sim Pek Kun semakin bersedih, inilah hasil perbuatannya.
Karena tusukan pisaunya, maka Siaw Cap It Long terluka.
Mengertilah Sim Pek Kun, mengapa Siaw Cap It Long tidak mau menukar baju, ia hendak menutupi luka-luka ini.
Betapa kuatpun hati seseorang, manakala ia sudah menyaksikan luka Siaw Cap It Long, pasti orang itu menjadi lemas.
Sim Pek Kun tidak terkecuali, hampir ia jatuh roboh, hampir ia menjadi pingsan.
Sim Pek Kun bukan seorang tabib, tapi ia bisa merasakan bagaimana hebat penderitaanpenderitaan Siaw Cap It Long.
Selama beberapa hari ini, Siaw kongcu melolohnya dengan makanan-makanan yang berbau amis, ikan, kambing, kepiting, udang dan lain-lainnya.
Tidak pernah Siaw Cap It Long menolak makanan-makanan itu.
Adakah seseorang seperti ini ?
mungkin seorang yang terbuat dari besi ?
Siaw Cap It Long belum pernah merintih.
Tapi mudah dibayangkan, bagaimana penderitaan luka-lukanya.
Mengapa ?
Mengapa Siaw Cap It Long mau menuruti semua kemauan Siaw kongcu ?
Karena Siaw Cap it Long tidak bisa menolak, membantah akan berakibat yang lebih hebat.
Menyerah dan menekan semua gangguan-gangguan.
Sim Pek Kun tidak bisa melepaskan rasa sakitnya, ia menangis menggerung-gerung, menangis seorang diri, menangis didepan Siaw kongcu dan Siaw Cap It Long.
"Eh."
Siaw kongcu menggoyang-goyangkan kepala.
"Mengapa menangis mendadak ? Sudah cukup dewasa. Tidak lama lagi, kau akan melahirkan seorang putra. Mengapa boleh sembarangan menangis ? Tidakkah takut ditertawakan orang ?"
Sim Pek Kun menggigit bibir, dari sana keluar darah, terlalu keras gigitan itu, melampiaskan hawa panas didalam hati, memelototkan mata kearah Siaw kongcu, dengan suara gemetaran ia membentak .
"Kau...kau kejam !"
Pada wajah Siaw kongcu yang sangat cantik jelita itu, tidak memperlihatkan kemarahan, semakin dicemoohkan ia semakin girang, katanya .
"Aku ?! Aku yang kejam ? He......he...Siapa yang lebih kejam ? Kau atau aku ? Siapa yang melukainya, siapa yang menggunakan pisau menusuk dadanya ?"
Seluruh badan Sim Pek Kun menjadi gemetaran, ia berteriak .
"Lihat ! Lukanya telah membengkak ! Lukanya telah bernanah, mengapa kau tidak membeli obat."
Siaw kongcu menghela nafas nafas, ia berkata perlahan-lahan .
"Siaw Cap It Long lebih suka kepadamu. Selalu mementingkan dirimu. Demi menolong jiwamu, ia rela mengorbankan diri sendiri. Tapi apa yang sudah diperlihatkan pada diriku ? Ia mendampingiku seperti mendampingi seorang iblis, aku tahu, hatinya benci kepadaku. Bisa saja membunuh aku."
Siaw kongcu menghela nafas panjang. Matanya didongakkan keatas, seolah-olah melamun, ia berguman .
"Dimisalkan, kebaikan yang dicurahkan kepadamu itu dicurahkan kepadaku atau sebagian kecil saja perhatian yang dicurahkan kepadaku, biar bagaimana, aku juga tidak berani mengganggunya. Tapi keadaan jauh berbeda....bukan aku yang melukainya, bukan ? Sesudah kau menusuk orang ini, mengapa melepas diri ? Mengapa mesti aku yang memberi obat ? Betul-betul aku tidak mengerti, kau lebih kejam dari aku."
Dengan suara yang serak karena kehabisan tenaga Sim Pek Kun berkata .
"Jangan kau menyiksanya lagi. Jangan kau memberi minumnya. Jangan kau menuangkan arak dan anggur lagi. Jangan kau memberi kepiting dan udang itu lagi."
"Eh, mengapa ? Kau cemburu ? Kau mengiri ?"
Sim Pek Kun kalah berdebat. Siaw kongcu berkata lagi .
"Jangan kau salah paham. Lihat ! Pernah ia menolak pemberianku ? Inilah suatu bukti, aku lebih cinta darimu, Siaw Cap It Long suka meminum arak, maka aku menyediakan arak dan anggur-anggur, ia suka bunga seruni yang dicampur dengan kepiting hidup. Maka aku menyediakannya makanan itu. Ia tidak pernah menolak ucapanku ? Mengapa kau banyak usil ? Saksikanlah, adakah sseorang istri yang begitu baik hati, mau melayani kebutuhannya seperti apa yang kulakukan terhadap Siaw Cap It Long ?"
Sim Pek Kun menangis semakin sedih, menangis diluar dan menangis didalam.
"Kau juga seorang yang mengerti perkara, kau mengetahui bahwa daging-daging yang amis bisa mempercepat proses keracunan, bisa memperlambat sembuhnya luka. Orang-orang yang terluka, pantang memakan anggur, arak kepiting dan udang. Mengapa orang yang makan barang amis itu bisa membikin besar lukanya. Mengapa kau memberi kepadanya. Sengaja kau hendak mencelakakannya."
"Aku tidak tahu, siapa yang mencelakakan Siaw Cap It Long ? Yang penting, memberi service yang istimewa. Aku memberi makanan yang paling enak. Aku memberi minuman yang paling enak...."
Bencinya Sim Pek Kun kepada Siaw kongcu begitu dalam.
Dendamnya begitu dalam.
Tapi ia tidak berdaya, ilmu kepandaian Siaw kongcu sepuluh kali lipat diatas dirinya, ia tidak bisa membikin perlawanan.
Siaw Cap It Long menoleh kearah Sim Pek Kun.
Sepasang sinar mata yang sudah redup itu, tiba-tiba bercahaya kembali.
Bersinar seperti lampu pelita, Siaw Cap It Long memperlihatkan senyumannya, senyuman bangga, senyuman puas ada perhatian dari si ratu rimba persilatan.
Tiba-tiba Siaw Cap It Long berguman .
"Seseorang akan hidup berarti manakala ia telah melewatkan waktu-waktunya itu selama tidak terganggu, apa artinya hidup dirinya ? Seseorang yang berumur pendek belum tentu lebih susah dari yang berumur panjang. Mengapa kita harus hidup lama, bilamana menderita terus menerus. Tapi kita lebih suka hidup berumur pendek, manakala hidup kita bangga, hidup dengan perasaan puas. Bilamana kita bisa bersenang-senang sesuatu hari, tentu saja lebih meresap dari bersusah-susah seratus hari."
Siaw kongcu bertepuk tangan, ia menyetujui filsafat hidup Siaw Cap it Long, katanya .
"Tepat ! inilah jiwa seorang laki-laki. Siaw Cap It Long memang bukan manusia biasa, kalau saja karena menderita luka sedikit, harus takut meminum arak, orang itu bukan Siaw Cap It Long !"
Perlahan-lahan, dengan caranya yang sangat halus, Siaw kongcu mengusap-usap pipi Siaw Cap It Long, dengan sikap mesra dan suara penuh cinta kasih ia berkata "
"Selama kau masih hidup, aku akan memberi pelayanan yang secukupnya. Akan kuusahakan, kau hidup gembira. Apa yang kau kehendaki, kemana kau mau pergi, pasti ku taati."
Siaw Cap It Long menoleh kearah Siaw kongcu, ia bertanya .
"Begitu baikkah kau kepadaku ?"
"Tentu saja baik. Aku lebih suka melihat kau gembira."
Berkata Siaw kongcu.
"Maka aku harus baik-baik kepadamu."
Siaw kongcu memandang kearah jauh, disana sinar senja yang kuning keemas-emasan menguasai jagat alam. Menyertai dan menghidupkan semua yang ada. Dengan alunan suara yang enak, Siaw kongcu berkata "
"Seperti sinar senja ini yang menyayangi alamnya, aku manyayang dirimu, akan kujaga baikbaik. Tetap ia bercahaya. Tetap ia bersinar."
Siaw kongcu mengoceh seorang diri.
Tapi, cahaya senja itupun mulai meredup.
Sinar yang kuning keemas-emasan menyurut, akhirnyapun lenyap.
Jagad menjadi hitam, malampun tiba.
.................
Sim Pek Kun mengenang senja yang sudah hilang.
Demikianlah konstruksi hidupnya, timbul dan tenggelam, senang sengsara silih berganti, ia menjadi sedih, tanpa terasa ia mengucurkan air mata.
Siaw Cap It Long memandang jauh kedepan, perlahan-lahan ia berguman .
"Aku bukan seorang penyair, juga bukan seorang cendikiawan ternama, hidupku sebagai pantulan manusia biasa.
aku dibesarkan ditegalan luas, hidup dalam kumpulan binatang buas, didalam pandangan mataku, tempat yang paling indah adalah tempat yang terbentang luas, disana membujur rumput-rumput hijau, tidak ada orang, sepi dan sunyi.
Tempat itu lebih indah dari istana."
"Hebat !"
Siaw kongcu memuji.
"Kau memang seorang yang hebat. Segala-galanya memang hebat, kau memiliki ciri-ciri yang khas tersendiri. Ciri-ciri yang tidak pernah dimiliki oleh orang kedua."
Siaw Cap It Long tertawa. Ia berkata .
"Karena aku memiliki sifat-sifat yang aneh, maka kau tertarik ?"
Siaw kongcu tengkurap didalam dada Siaw Cap It Long, dengan suara yang merdu ia berkata .
"Ya. Aku semakin tertarik, apapun permintaanmu akan kuturuti."
"Aku hendak melihat bagaimana kampung halamanku."
Berkata Siaw Cap It Long.
"Disana terdapat hawa-hawa yang beracun. Terdapat cairan yang mengandung zat jahat. Ingin sekali aku bisa melihat kembali tempat yang melahirkanku. sesudah itu matipun rela."
"Baik."
Berkata Siaw kongcu.
"aku bersedia mengiringi kemauanmu. Aku akan antar kau ditempat itu, dalam keadaan segar bugar. Tentu saja tidak mengharapkan kau mati."
"Aku lebih suka mati disana."
Berkata Siauw Tjap-it-long.
"Jangan berkata seperti itu."
Berkata Siao kongcu.
DIANTARA ADIL DAN TIDAK ADIL Siao Kongcu mengajak Siauw Tjap-it-long ketempat daerah yang melahirkan jago berandalan itu.
Turut serta juga ratu rimba persilatan Sim Pek Kun.
Mereka lewati daerah2 yang lembab.
Mengarungi pegunungan2 yang tinggi, menjelajahi lembah2 yang curam.
Kabut2 putih yang mengandung racun bertebaran disekitar daerah itu.
Siauw Tjap-it-long bisa memilih jalan yang tepat, ia memberi petunjuk kepada Siao kongcu.
Dengan hati yang kejam, keras seperti baja, Siauw Tjap-it-long mempertahankan diri dari godaan2 hidup.
Ia selalu siap untuk menderita, entah permainan apapun yang hendak ditonjolkan oleh Siao kongcu?
Luka bekas tusukan Sim Pek Kun pada dada Siauw Tjap-it-long membengkak.
Makanan2 yang bisa menambah menjalarnya luka tidak merapat.
Ikan yang amis, udang dan kepiting yang beracun, arak yang membakar tubuh, semua itu diloloh kedalam mulut Siauw Tjap-itlong.
Disini letak kekejaman Siao kongcu.
Mungkin, tidak seorang yang bisa percaya, tanpa menyaksikan dengan mata sendiri bagaimana Siao kongcu menyiksa Siauw Tjap-it-long.
Wajahnya begitu cantik, tubuhnya begitu mungil menarik, suaranya lembut gemulai.
Mengapa memiliki hati yang seperti hati ular?
Mungkinkah ujian dari yang maha kuasa?
Dimana letaknya keadilan dan kebenaran?
Banyak terdengar cerita, konon, orang yang menanam bibit kebaikan, akan menerima hasilnya, ia akan mendapatkan kebaikan pula.
Dikatakan, seseorang yang melakukan kejahatan2, dia akan mendapat balasan yang setimpal.
Ia tersiksa dan sengsara selama hidupnya.
Adakah dalih dan rumus yang seperti itu?
Pikiran Sim Pek Kun sedang berkecamuk dengan pepatah2 orang tua itu.
Pikirannya kusut dan kalut.
Dimisalkan adanya keadilan dan kebenaran abadi, mengapa Siao kongcu yang begitu buruk perangai, mendapat jaminan kuat?
Mengapa ia tersiksa?
Terbayang sepasang sinar mata Siauw Tjap-it-long.
Dengan kebaikan2 hati si jago berandalan, mengapa tidak diberkahi Tuhan?
Didepan mereka menjulang tebing tinggi, tapi tidak mungkin bisa dicapai, sebuah jurang curam yang menjadi pemisah diantara kedua jarak itu, penuh ditumbuhi dengan semak2 belukar.
Siauw Tjap-it-long dituntun oleh Siao kongcu.
Mereka hendak menyaksikan, tempat tinggal Siauw Tjap-it-long.
Dibelakang Siauw Tjap-it-long dan Siao kongcu, turut serta juga Sim Pek Kun.
Siauw Tjap-it-long bersiul-siul kecil, melagukan irama yang tidak dikenal.
Didalam keadaan yang seperti ini, lagu itu sangat sedih, lagu seorang yang kesepian.
Wajah yang diperlihatkan oleh Siauw Tjap-it-long adalah satu wajah yang sangat tenang.
Ia tidak mengutarakan gundah gulana hatinya.
Siao-kongcu mendampingi laki2 berdada bidang itu, tanpa bisa ditahan lagi, ia mengajukan pertanyaan.
"Betul2 kau dilahirkan didaerah ini?"
"Ng...."
Siauw Tjap-it-long menganggukkan kepala. Siao-kongcu menghela napas ia berkata "Seseorang yang dibesarkan didaerah yang seperti ini, sungguh tidak mudah sekali."
Bibir Siauw Tjap-it-long memperlihatkan senyuman sinis, ia berkata tenang.
"Tentu saja. Hidup seseorang lebih susah daripada mati."
Sepasang mata Siao kongcu berputar jeli, ia berkata.
"Setiap orang tidak bisa mengelakkan kematian. Cepat atau lambat, maut itu akan mencengkerammu. Tapi, kematian itu tidak semudah apa yang kau bayangkan."
Siauw Tjap-it-long berkata.
"Untuk mereka yang segan menghadapi kematian, tentu saja tidak mudah mencapai kematian."
Siao kongcu mendelikkan mata, tertawa kearah Siauw Tjap-it-long dan berkata.
"Mungkinkah kau sudah merencanakan kematian? Aku tidak percaya."
Siauw Tjap-it-long tertawa tawar, ia berkata.
"Sejujurnya, belum pernah terbayang oleh tentang adanya kematian itu. Tidak tahu apa yang dikerjakan sesudah mati. Aku tidak pernah berpikir, haruskah aku? Atau bertahan hidup?"
"Dimisalkan kematian itu adalah suatu pekerjaan mudah."
Berkata Siao kongcu "Mengapa kau tidak pergi mati? Mengapa aku bisa bertahan hidup sampai sekarang?"
Siauw Tjap-it-long bungkam. Tidak bicara. Siao kongcu tertawa, berkata.
"Kau masih hendak menuju ketempat tebing depan itu. Kurasa sudah tidak mungkin! Tidak ada jalan, untuk kita maju kedepan."
Siauw Tjap-it-long bungkam beberapa saat, akhirnya iapun berkata.
"Ya, sudah tidak ada jalan. Mengapa aku masih hendak bertahan terus menerus?"
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Tanya Siao kongcu.
"Aku hendak pergi sekarang ini, tanpa bantuanmu. Aku hendak mengenang kejadian2 semasa kecil."
"Kau masih kuat berdiri?"
Bertanya Siao kongcu.
Memang!
Didalam keadaan yang seperti itu.
Tidak memungkinkan Siauw Tjap-it-long berdiri tanpa mendapat bantuan dan dukungan.
Pertanyaan Siao kongcu masuk diakal.
Siauw Tjap-it-long memperhatikan kearah sigadis binal itu, ia berkata.
"Bisakah kau melepaskan pegangan agar aku dapat mencobanya?"
Sepasang sinar mata yang seperti bola berputar, akhirnya Siao kongcu melepaskan Siauw Tjap-it-long. Dengan tertawa ia berkata.
"Hati2, ya! Jangan sampai terjatuh. Bilamana kau jatuh kedasar jurang, mana mungkin bisa mencari jenasahmu. Siauw Tjap-it-long yang hidup sudah kusaksikan. Tapi Siauw Tjap-itlong yang mati belum kutemukan. Entah bagaimana keadaan Siauw Tjap-it-long yang sudah tidak berjiwa, akupun hendah melihatnya."
Siauw Tjap-it-long meringis. Ia harus bertahan sedapat mungkin. Menggunakan sisa kekuatannya yang masih ada, berdiri dipinggiran tebing itu. Menoleh kearah Siao kongcu, ia berkata.
"Orang yang mati lebih dengar kata daripada orang yang hidup. Tapi, orang mati tidak patut dipandang, bilamana kau hendak melihat kematianku, kukira kau bisa menjadi benci."
Sesudah itu, Siauw Tjap-it-long melirik kearah Sim Pek Kun.
Tertawa sebentar, sesudah itu ia menerjunkan diri kedalam jurang yang curam....
Tanah yang dipijak oleh Sim Pek Kun terasa seperti amblas, sukmanya hampir terbang dari tempat semula.
Seperti apa yang sudah diduga, kedatangan Siauw Tjap-it-long ketempat ini dengan maksud tujuan untuk bunuh diri.
"Akulah yang menjadi gara2..... aku yang menjadi biang keladi kematiannya......"
Kata2 ini selalu mendengung ditelinga Sim Pek Kun.
Mendengung terus menerus.
Dia sudah mati, apa guna aku mempertahankan hidupku?.....
Bagiamana pertanggungan jawabku kepadanya?
Berapa lama aku bisa bertahan hidup?
Ancaman apa yang akan dilakukan oleh Siao kongcu?
Siapa pula yang bisa memberikan pertolongan?......
Oh...."
Terbayang kembali kekejaman Siao kongcu, maka semua tidak terpikirkan lagi, dengan semua sisa tenaga yang ada Sim Pek Kun lari kedepan turut terjun kedalam jurang.
...........
Yang heran, sesaat sebelum kematian Sim Pek Kun, ia tidak pernah memikirkan Lian Seng Pek.
Sim Pek Kun tidak pernah membayangkan bagaimana reaksi sang suami atas kematiannya.
Mungkinkah Lian Seng Pek bersedih?
Siao Kongcu berdiri ditepian tebing, menengok dan memandang kearah bawah.
Disana hanya kabut2 dan uap yang mengandung hawa beracun, tidak ada perobahan.
Lama sekali, Siao kongcu mempertahankan posisi yang seperti itu, entah apa yang diharapnya?
Suatu saat, Siao kongcu memungut batu yang besar, dicemplungkannya kedepan.
Beberapa lama kemudian, baru terdengar reaksi dari lemparan itu......
plung.........
Siao kongcu memperlihatkan senyumnya yang puas, ia berjalan balik, meninggalkan tempat itu.
Dengan langkah ringan, Siao kongcu meninggalkan tepi tebing itu.
Ia tidak mau tahu, apa akibatnya dari terjunnya Siauw Tjap-it-long?
Ia tidak mau tahu, apa akibat dari bunuh diri Sim Pek Kun.
Sudah tentu, harapan hidup Siauw Tjap-it-long dan Sim Pek Kun kecil sekali.
Kematian Siauw Tjap-it-long dan kematian Sim Pek Kun tidak perlu diragukan.
Siao kongcu kembali untuk memberi laporan kepada pemimpinnya.
Betulkah Siauw Tjap-it-long jatuh mati?
Betulkah Sim Pek Kun mati?
Tidak!
Berada diluar dugaan Siao kongcu, Siauw Tjap-it-long dan Sim Pek Kun tidak mati.
Juga berada diluar dugaan Sim Pek Kun, betul2 ia tidak mati.
Kematian bukanlah pekerjaan yang mudah.
Dikala Sim Pek Kun terjun kedasar jurang yang dalam, ia mengharapkan kematian.
Tapi kenyataan tidak seperti apa yang diharapkan.
Jatuhnya Sim Pek Kun hanya mengakibatkan sedikit goncangan, ia jatuh pingsan.
Tapi tidak terasa sekali.
Sim Pek Kun sadar dari pingsannya, terasa keadaan yang sangat ngeri.
Dasar dari jurang curam tadi adalah cairan berlumpur, tidak ada pohon, tidak ada rumput.
Tidak ada kehidupan ditempat itu.
Yang ada hanyalah udara lembar yang basah.
Bau air yang membusuk dan kabut putih yang mengandung sedikit hawa racun.
Siauw Tjap-it-long dan Sim Pek Kun jatuh didalam telaga rawa2 tenggelam.
Jatuhnya keair rawa2 itu, sangat sakit.
Tapi Sim Pek Kun tidak merasakan, karena ia terjatuh didalam keadaan pingsan.
Kini rasa sakit dan nyeri itu mulai terasa.
Ia siuman.
Sim Pek Kun terendam di air rawa2.
Yang aneh, ia tidak tenggelam.
Rawa yang menadah jatuhnya Sim Pek Kun mempunyai cairan yang berwarna pekat, berat jenisnya lebih besar, seperti cairan sagu, cukup menahan bobot berat orang.
Karena adanya cairan air yang seperti inilah menyebabkan Sim Pek Kun tidak mati, walau jatuh dari tebing tinggi.
Sim Pek Kun mulai mengenang kejadian lama, ia agak heran.
Ia tidak merasakan sesuatu yang aneh, air rawa2 yang berbau busuk ini tidak menyebabkan sesuatu, bahkan kebalikan dari pada itu, bau ini menambah nyamannya, luka dikaki sudah tidak terasa sakit.
Air rawa2 yang berada didasar jurang curam mengandung unsur pengobatan, bisa meringankan rasa sakit orang.
Teringat akan cerita Siauw Tjap-it-long yang pernah menjumpai seekor srigala, srigala yang menderita luka itu merendam diair kubangan rawa, terakhir srigala yang menderita luka itu bisa menyembuhkan lukannya.
Mungkinkan kubangan rawa2 yang kini merendam dirinya?
Yang dimaksudkan oleh Siauw Tjap-it-long?
Siauw Tjap-it-long adalah jago ajaib luar biasa.
Tentu ia bisa menemukan jalan keluar dari segala kesulitan.
Termasuk dari cengkeraman tangan maut Siao kongcu.
Karena itulah Siauw Tjap-it-long menerjunkan diri dari tebing curam.
Sangkanya hendak bunuh diri.
Kenyataannya bukan bunuh diri, hendak menolong diri.
Gejolak hati Sim Pek Kun berlompat girang.
Teringat kembali cerita Siauw Tjap-it-long, seekor hewan bisa menjaga diri sendir tanpa bantuan pengobatan orang, bagaimana ia harus menghadapi kesulitan2 dari penghidupan yang fana.
Mungkinkah kubangan yang telah menyembuhkan luka srigala itu?
Kekuatan hidup Sim Pek Kun bangkit kembali.
Ia percaya, segala langkah2 kebijaksanaan Siauw Tjap-it-long adalah langkah2 yang paling tepat.
Dan ia percaya betul bahwa Siauw Tjap-it-long masih berada disekitar dirinya.
Ia hendak berteriak, mencari Siauw Tjap-it-long.
Tapi takut dapat didengar oleh Siao kongcu diatas tebing, karena itu ia menahan gejolak hatinya.
Mulut Sim Pek Kun tidak berani berteriak tapi hatinya tetap berteriak.
"Siauw Tjap-it-long! Dimana kau berada?"
Mendampingi Siauw Tjap-it-long seperti mendampingi sendi kehidupan.
Tanpa adanya Siauw Tjap-it-long, dunia ini dirasakan menjadi kosong.
Sim Pek Kun mengayun langkah, hendak mengangkat kaki mencabut dari rendaman air kubangan itu.
Ia yakin dan percaya, Siauw Tjap-it-long tidak jauh dari tempatnya, ia harus menemukan sang jago berandalan.
Sim Pek Kun mengangkat kaki, hendak mencabut diri dari tenggelaman air itu.
Keanehan terjadi.
Manakala ia membiarkan dirinya terapung.
Tubuhnya tidak tenggelam.
Tapi manakala ia mengangkat kaki hendak menaiki cairan lengket itu, terasa daya tarik kebawah, semakin ia berontak kekuatan daya tarik itu semakin keras, kini tubuhnya mulai tenggelam.
Napasnya menjadi sesak.
Seolah2 ada tangan ajaib yang berada didasar rawa2, menyeret kearah dasar air telaga itu.
Sedikit lagi, hidungnyapun akan kelelap.
Kini tidak mungkin Sim Pek Kun berani bergerak.
Sim Pek Kun tidak tahu, berapa lama lagi ia bisa bertahan didalam keadaan yang seperti itu.
Sebelum menerjunkan diri kedasar telaga rawa2 lengket, tekad Sim Pek Kun untuk bunuh diri begitu nekad.
Tapi kekuatan hidup seseorang timbul kembali manakala mempunyai kesempatan hidup.
Sim Pek Kun masih belum menjumpai Siauw Tjap-it-long.
Kerena itulah, ia ingin sekali bisa bertemu dengan sijago berandalan.
Didalam hati Sim Pek Kun berjanji, mulai saat ini, ia akan betul2 mentaati semua perintah Siauw Tjap-it-long.
Ia akan mempercayai segala langkah kebijaksanaan Siauw Tjap-it-long.
Sim Pek Kun mempasrahkan diri.
Kiranya, Sim Pek Kun akan segera mati dalam telaga rawa2 lengket itu.
Tiba2, sebuah bayangan terpeta didepannya, itulah bayangan Lian Seng Pek.
Baru sekarang, Sim Pek Kun terkenang kepada bayangan suaminya.
Tapi Sim Pek Kun yakin, ada atau tidak hadirnya dirinya, tidak menjadi soal bagi Lian Seng Pek.
Lian Seng Pek mempunyai kedudukan yang baik, mempunyai ilmu kepandaian yang tinggi, mempunyai kawan2 yang berjumlah besar.
Kehilangan seorang istri yang cantik tidak begitu berarti, bagi Lian Seng Pek, hadir atau tidak hadirnya itu sama saja.
Tiba2, Sim Pek Kun teringat kepada putra didalam perut.
Setiap wanita menjadi bahagia, manakala ia yakin bahwa didalam perutnya telah berisi satu kehidupan baru.
Tapi ia tidak mempunyai kesempatan untuk melahirkan bayi Lian Seng Pek.
Sim Pek kun memeramkan matanya.
Sim Pek Kun mempunyai harapan hidup.
Tapi harapan hidup itu terlalu tipis.
Demikianlah ia menyerahkan diri.
Kekuatan dasar telaga rawa-rawa yang menyedot Sim Pek Kun masih menurunkan beban berat sang ratu rimba persilatan, tapi sikap Sim pek Kun begitu tenang, ia memeramkan mata.
Disaat inilah, telinga Sim Pek Kun bisa menangkap satu suara yang tidak terlalu asing.
Itulah suara Siauw Cap-it-long.
"Jangan menggunakan tenaga ! Sekali-kali, jangan menggunakan tenaga ! Untuk berontak dari keadaan semula...."
Suara Siauw Cap-it-long berkumandang dekat sekali !
Rasa girangnya Sim Pek Kun tidak terkekang, ia hendak menengok memandang kearah datangnya suara itu.
Terdengar suara Siauw Cap-it-long berkumandang lagi .
"Jangan sekali-kali mencoba untuk menengok kebelakang, jangan sekali-kali kau hendak berusaha mencari dimana aku berada. Lepaskan semua kekuatan. Legakan semua hati, ringankan bobot berat badan, lepaskan semua kekuatan yang hendak berontak. Tenaga-tenaga jangan dikerahkan, boleh diumpamakan, kini kau sedang berbaring disebuah sofa yang amat empuk...... berada dalam pangkuan ibumu, tidak ada kesusahan, tidak ada kegaduhan. Apapun jangan dipikirkan, tidak ada orang yang bisa mengganggu keamananmu. Maka, kau akan bebas dari penyedotan air telaga rawa-rawa lengket."
Sepatah demi sepatah, kata-kata Siauw Cap-it-long mengiang ditelinganya.
Suaranya itu mempunyai arti yang baru, suara yang memiliki kekuatan ajaib.
Sim Pek Kun yakin dan percaya kepada kata-kata Siauw Cap-it-long.
Sim Pek Kun melepaskan keinginannya yang hendak bebas dari cengkeraman telaga rawarawa lengket itu.
Ia mengendorkan semua otot-ototnya.
Menurunkan kembali kaki yang hendak diangkat itu.
Tapi ia belum bisa mengosongkan pikirannya.
Maka, kekuatan ajaib yang menyedot kedasar telaga bebas kembali.
Sim Pek Kun mengeluarkan elahan napas lega, ia bertanya perlahan .
"Bisakah aku bicara ?"
"Semua kata-kata harus diucapkan perlahan-lahan."
Berkata Siauw Cap-it-long.
"Boleh saja. Suara yang perlahanpun sudah cukup untuk memasuki pendengaran telingaku."
Suara Siauw Cap-it-long semakin mendekat. Sim Pek Kun berkata .
"Aku bisa mengendorkan semua ototku. Aku bisa saja tidak menggerakkan tenaga. Tapi aku tidak bisa mengosongkan isi pikiran."
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Bertanya Siauw Cap-it-long.
"Sedang kupikir,"
Berkata Sim Pek Kun "Dimisalkan kita bergerak, maka kekuatan penyedot dari dasar telaga ini menyeret kita kebawah.
Bagaimana kita bisa meninggalkan rawa-rawa lengket ini ?
Mungkinkah kau sudah mempunyai cara untuk membebaskan diri ?"
"Tentu saja !"
Berkata Siauw Cap-it-long.
"Hatiku makin lega."
Berkata Sim Pek Kun.
"Ternyata kau mempunyai cara untuk membebaskan diri."
Tiba-tiba, didepan Sim Pek Kun ada sepasang cahaya yang bersinar terang.
Itulah sepasang mata Siauw Cap-it-long !.
Rasa girangnya Sim Pek Kun tidak kepalang, gejolak hatinya seperti hendak lompat keluar.
Tiba-tiba wajahnya menjadi merah.
Tidak disangka, jarak mereka begitu dekat.
Hampir saja bersampokan muka.
Sim Pek Kun juga bisa merasakan penyedotan hawa napas Siauw Cap-it-long.
Siauw Cap-it-long mengelakkan pandangan mata Sim Pek Kun, ia berkata perlahan .
"Sudah kau bisa melihat kearahku ?"
"Ya."
"Itulah. Jarak kita sebetulnya jauh. Kini sudah mulai mendekat."
"Bagaimana kau bergerak datang ?"
Bertanya Sim Pek Kun.
"Aku mempasrahkan diri. Aku tidak bergerak."
Berkata Siauw Cap-it-long.
"Setiap gerakan akan membawa akibat buruk, bisa menenggelamkan kita."
"Kau tidak bergerak, bagaimana caranya bisa tiba kesini."
"Perhatikan baik-baik, air telaga ini seperti sangat tenang. Kenyataan tidak. Ia tetap bergerak, hanya saja pergerakkan itu perlahan sekali, sehingga tidak terasa oleh kita."
"Karena aku diam tidak bergerak..... maka bisa mengikuti arus air telaga terapung kemari. Bilamana berontak, tentu tenggelam. Kau bergerak, maka tetap ditempat asalnya, semakin lama semakin tenggelam, maka kau tidak terbawa oleh arus air telaga, kau diam disini."
Sim Pek Kun diam tidak bicara, hatinya bersyukur, karena keadaan yang tak diduga itu. Pikirnya .
"Bilamana aku juga tidak berontak-rontak, membiarkan diriku terapung ketempat jauh, bagaimana aku bisa bertemu denganmu ?"
Siauw Cap-it-long berkata lagi .
"Tidak jauh didepan kita, adalah tepian, tenangkan hatimu, kosongkan pikiranmu, maka kita akan segera tiba ditempat itu. Kita bisa tertolong. Bertahanlah, bersabarlah. Aku percaya, kau bisa mentaati ini."
Mau tidak mau, Siauw Cap-it-long menoleh kembali, menatap sepasang sinar mata Sim Pek Kun.
Sim Pek Kun juga sedang memperhatikan pemuda itu, keempat sinar mata bertumbukan.
Sim Pek Kun diam tidak bicara.
Hatinya yang memberi wakil.
"Demi kepentinganmu, akan kuusahakan."
Suara hati nurani bisa terpantulkan dari cahaya sinar mata, inilah panca indera ketujuh.
Suara yang tidak bisa ditangkap oleh pendengaran telinga.
Orang yang bisa menangkap suara dari sinar mata ini tidak terlalu banyak.
Tapi Siauw Cap-it-long bisa menangkap suara hati nurani Sim Pek Kun.
__ TEMPAT TINGGAL SIAUW CAP-IT-LONG Sim Pek Kun tidak bicara, tapi sepasang sinar matanya bisa menyuarakan apa yang terpikir olehnya.
Siauw Cap-it-long bisa mengerti akan perpaduan hati nurani itu.
Mereka mengosongkan pikiran, mereka menelentangkan badan.
Arus air telaga rawa-rawa tenggelam menghanyutkan kedua orang itu ketepi.
Arus air telaga rawa-rawa tenggelam sangat perlahan, pergerakannya lambat sekali.
Tak lama kemudian, Sim Pek Kun menghela napas dan berkata .
"Hingga saat ini, aku bisa menyesal akan perbuatanku yang salah."
"Apa ?"
"Aku merasa bersalah."
"Apa yang salah ?"
Bertanya Siauw Cap-it-long.
"Aku pernah mengutuk Tuhan, kukatakan Yang Berkuasa itu sering-sering melakukan ketidak adilan. Ternyata pikiranku itu salah. Biar bagaimana Tuhan itu tetap adil."
Dengan perlahan-lahan Siauw Cap-it-long berkata . "Tuhan itu tetap adil."
Sesudah itu, mereka tidak bercakap-cakap lagi.
Perlahan demi perlahan, tubuh kedua orang terapung.
Kedua kaki dan kedua tangan terentang dipermukaan air, seperti dua bangkai celentang.
Pergerakkan air rawa-rawa tenggelam terlalu perlahan, senti demi senti menghanyutkan mereka.
Siauw Cap-it-long memeramkan mata.
Sim Pek Kun juga mengatupkan sepasang matanya, hatinya masih berpikir terus, ia masih meragukan sesuatu, bisakah pergerakan air yang sangat lambat itu menepikan mereka ?
Tapi Sim Pek Kun lebih yakin kepada Siauw Cap-it-long, karena itu ia mempasrahkan diri kepada si jago berandalan.
Ia paling suka dengan sepasang sinar mata Siauw Cap-it-long yang bisa memantulkan cahaya kemurnian.
Ia tidak berani menantang adanya sinar mata itu, sinar mata itu seperti senjata yang sangat tajam, menembus hatinya, menembus badannya, sepasang sinar mata itu yang membuat hatinya berdebar-debar keras.
Seharusnya Siauw Cap-it-long mengajaknya bicara.
Tapi Siauw Cap-it-long tidak bicara.
Mengapa ?
Akhirnya Sim Pek Kun tidak tahan, ia memanggil perlahan .
"Hei....."
Siauw Cap-it-long membuka kembali sepasang sinar mata yang dikatupkan itu, memandang kearah sang ratu rimba persilatan ia bertanya .
"Ada apa ?"
"Kukira....."
Sim Pek Kun menghentikan suaranya. Tidak ada bahan pembicaraan yang lebih menarik. Mereka saling pandang beberapa waktu. Lama sekali.
"Tahukah kau, siapa yang menolong kita berdua ?"
Bertanya Siauw Cap-it-long.
"Tentu saja.....kau."
Berkata Sim Pek Kun.
Daya tangkap telinga Sim Pek Kun juga merasakan perobahan deburan hati Siauw Cap-itlong yang bertambah keras, napasnya Siauw Cap-it-long juga agak memburu.
Hati Sim Pek Kun menjadi bingung.
Siauw Cap-it-long menggoyangkan kepala, ia berkata .
"Bukan."
Sim Pek Kun membelalakkan mata, ia bertanya .
"Siapa ?"
"Srigala itu."
Berkata Siauw Cap-it-long Siauw Cap-it-long mengenangkan kejadian lama, sepasang matanya dialihkan mengarah ketempat yang sangat jauh, Ia teringat bagaimana srigala itu merendam diri ditelaga ini, bagaimana sang binatang menyembuhkan luka-lukanya.
"Aku pernah mendengar cerita tentang srigala itu."
Berkata Sim Pek Kun.
"Srigala tersebutlah yang menolong kita. Dari pelajaran itu, aku mengetahui didalam air telaga ini terdapat unsur-unsur pengobatan yang luar biasa. Bagaimana aku harus bertahan dari penderitaan, air telaga ini bisa menyembuhkan sesuatu luka-luka."
"Sangat kebetulan."
Berkata Sim Pek Kun.
"Bukan kebetulan."
Berkata Siauw Cap-it-long.
"Seseorang yang hendak mempertahankan hidupnya harus kuat, karena ia harus kuat bertahan dari segala gangguan, kuat bertahan dari segala kesepian, dapat kuat bertahan dari segala hinaan-hinaan, serta kuat bertahan dari segala macam penderitaan."
"Pelajaran-pelajaran yang kau tarik dari cerita srigala sangat menarik."
Berkata Sim Pek Kun.
"Tentu saja. Sebagai seorang manusia kita memiliki otak yang lebih cerdik dari srigala, srigala itu bisa menyembuhkan luka-lukanya didalam air yang mengandung unsur obatobatan, mungkinkah kita tidak bisa ?"
"Kau menaruh salut kepada srigala ?"
"Srigala adalah binatang yang menyendiri, kadang-kadang mereka juga bisa berkumpul mencari mangsa, tapi sesudah itu, masing-masing memisahkan diri pula, hidupnya tidak kompak. Lebih suka hidup menyendiri, daripada hidup berdua atau hidup berkelompok."
"Kau juga hendak hidup menyendiri ?"
"Hidup menyendiri bisa bebas dari segala gangguan-gangguan yang ada. Manusia itu memiliki sifat ketamakan, sifat kejahatan, itulah letak kesalahan."
"Disini letak perbedaan antara manusia dan srigala ?"
Siauw Cap-it-long berkata .
"Orang benci kepada srigala. Dikatakan srigala itu mempunyai hati yang kejam, kukatakan tidak ! Manusialah yang lebih kejam dari srigala, boleh dibayangkan, seekor srigala hanya menikah satu kali. Hidup satu suami dan satu isteri. Mereka tidak berpisah. Dimisalkan srigala jantan mati, sang betina akan menyendiri terus menerus, sehingga mengakhiri hidupnya. Ia tidak akan kawin lagi, demikian juga keadaan srigala jantan, bilamana sang betina mati, sang jantan juga tidak akan mencari isteri muda."
Sesudah itu, dengan suara sinis, Siauw Cap-it-long melanjutkan ceritanya .
"Adakah sifat-sifat srigala ini dimiliki oleh manusia ? Oh...... tidak !.... berapakah laki-laki yang setia kepada isterinya ? Bini muda, gula-gula, dan wanita piaraan, tersebar diseluruh pelosok. Anggapnya ia seorang besar, bisa memiliki isteri yang banyak. Sebaliknya, memang bisa dihitung dengan jari wanita yang menyeleweng dari suaminya, tapi dimisalkan, seseorang yang kehilangan suami, bisakah ia hidup menyendiri ? kukira tidak. Dengan alasan untuk menyambung hidup, ia kawin lagi."
Sim Pek Kun tidak membuka mulut. Siauw Cap-it-long berkata lagi .
"Hidup yang tekad adalah hidup suami isteri, bilamana hidup suami isteri tidak mempunyai kesepakatan, hidup suami isteri penuh dengan curiga mencurigai. Apalagi hidup dengan lainlainnya, bagaimana manusia dengan manusia ? Manusia lebih jahat dari srigala."
Lama sekali Sim Pek Kun terdiam, kini ia membuka mulut.
"Kadangkala, srigala juga bisa memakan seekor srigala lainnya."
"Bagaimana keadaannya manusia ? Mungkinkah tidak memakan kawan ?"
Berkata Siauw Cap-it-long.
"Seekor srigala akan menggerogoti daging kawannya, bilamana didalam keadaan terpaksa, bilamana daya tahan laparnya tidak tertahan lagi. Tapi manusia tidak mempunyai sifat itu, manusia bisa makan kawan didalam keadaan perut kenyang, walaupun perut kenyang, walaupun ia hidup didalam serba kecukupan, bisa saja ia memakan kawan."
Sim Pek Kun menghela napas; ia berkata .
"Kau lebih banyak mengenal sifat-sifat srigala, daripada mengenal sifat-sifat manusia."
"Oh ? ! ......."
"Tidak semua manusia itu jahat."
Berkata Sim Pek Kun.
"Dan kebetulan, manusia manusia yang kau jumpai adalah manusia jahat. Mungkin sedikit sekali manusia baik yang berada didekatmu."
Giliran Siauw Cap-it-long menutup mulutnya rapat-rapat.
"Hei,"
Berkata Sim Pek Kun.
"Jangan ceritakan tentang srigala saja. Mengapa kau tidak ceritakan tentang keadaanmu ?"
"Aku ?!"
Berkata Siauw Cap-it-long.
"Tidak ada sesuatu yang bisa kuceritakan."
"Ya."
Berkata Sim Pek Kun.
"Bagaimana keadaan kedua orang tuamu ?"
"Mereka tidak ada."
Jawab Siauw Cap-it-long.
"Dimana saudara atau saudarimu ?"
"Mati ! Semua sudah mati !"
Sepasang sinar mata Siauw Cap-it-long berubah menjadi liar, seperti hendak memancarkan api.
Hati Sim Pek Kun seperti ditusuk.
Terbayang kembali, kedua orang tua Siauw Cap-it-long, tentunya telah dibunuh oleh manusia-manusia tamak dan celaka.
Percakapan itu terhenti sampai disitu.
Tanpa mereka sadari air dari telaga rawa-rawa tenggelam bergerak, walau perlahan, gerakan itu tetap ada.
Akhirnya menepikan kedua manusia yang mereka ombang-ambingkan.
Siauw Cap-it-long merambat naik ketepi, menyeret Sim Pek Kun dan membantu nyonya tersebut meninggalkan telaga rawa-rawa tenggelam.
Sim Pek Kun mendongakkan kepala, mereka berada di dasar tebing yang curam.
Disekeliling mereka terkurung oleh gunung-gunung tinggi, hawa disitu tidak menjadi dingin, hangat.
Tempat ini adalah suatu tempat yang sangat indah, tidak terjadi perobahan hawa.
Tidak ada angin puyuh, keadaan tenang , sunyi dan sepi.
Lembah gelap !
Demikianlah Siauw Cap-it-long menamakan tempat itu !
Sebuah air terjun yang kecil mengalirkan airnya, air itu jatuh berpercik disekitar mereka.
Melupakan keadaannya yang basah kuyup, melupakan pakaiannya yang kotor dan dekil, melupakan lumpur-lumpur dari air telaga yang berbau busuk itu, Sim Pek Kun terpesona atas panorama yang disaksikan.
Lama sekali Sim Pek Kun mematung ditempat itu, lupa kepada dirinya sendiri.
"Tidak kusangka !"
Akhirnya ia mengeluarkan keluhan panjang.
"Masih ada satu tempat yang seindah ini."
"Sebelumnya juga tidak kusangka."
Berkata Siauw Cap-it-long.
"Bilamana tidak ada bantuannya......."
"Lagi-lagi cerita srigala."
Potong Sim Pek Kun. Mereka menuju kesebuah bangunan. bangunan itu terbuat dari kayu, bangunan yang terletak dicabang-cabang pohon besar.
"Oh!"
Sim Pek Kun agak terperanjat "Ada orang yang tinggal disini ?"
Siauw Cap-it-long menggelengkan kepala, ia berkata .
"Kecuali kita berdua. Tidak ada orang ketiga yang bisa berada disini."
Sim Pek kun menoleh kearah Siauw Cap-it-long, menatap wajah pemuda itu, seolah-olah hendak bertanya, bagaimana ada bangunan didalam lembah curam ? "Itulah tempat tinggalku."
Siauw Cap-it-long memberi keterangan.
"Semua orang memiliki rumah, bukan ? Dan aku juga memiliki rumah. itulah rumahku."
"Rumahmu ?"
"Pertama kali aku mendatangi tempat ini, aku mulai tertarik."
Berkata Siauw Cap-it-long.
"Hidupku sebatang kara, maka aku membangun rumah disini."
Sim Pek Kun bisa menerima keadaan yang seperti itu, ia menganggukkan kepala berkata .
"Disini ada buah dan sayur-sayur. Disini ada air terjun yang jernih. Inilah tempat yang sangat indah. Aku yakin dan percaya, kau suka tempat ini."
"Karena aku tidak bisa hidup bersama-sama manusia."
Berkata Siauw Cap-it-long tertawa nyengir. Sim Pek Kun mulai bisa menduga, apa yang menyebabkan hidup kesepian Siauw Cap-it-long.
"Kukira, manusia itu tidak memiliki sifat srigala, srigala juga tidak memiliki sifat manusia."
Berkata Siauw Cap-it-long. "Karena kau percaya, bahwa kau adalah seorang manusia."
Berkata Sim Pek Kun mesra.
"Sesuatu yang dilakukan oleh srigala, tidak mungkin diturut olehmu, bukan ?"
Siauw Cap-it-long bergumam .
"Betul. Manusia tetap seorang manusia. Srigala tetap binatang srigala. Tidak mungkin srigala mengikuti kehidupan manusia, tidak mungkin manusia mengikuti jejak binatang."
Siauw Cap-it-long mengajak Sim Pek Kun ketempat tinggalnya, ia siap naik ke bangunan itu .
"Sudah lama rumah ini kutinggalkan. Tentu sangat kotor, tebal debu mungkin sampai beberapa dim, biar kusapu dulu. Eh... kau sudah bisa berjalan seorang diri ?"
Sim Pek Kun menggerak-gerakkan kakinya, luka yang diderita telah sembuh. Ia berkata .
"Tuhan itu adil. Adil kepada srigala, dan adil pula kepada manusia. Air dari telaga rawa-rawa tenggelam bisa menyembuhkan luka srigala, tentu saja bisa menyembuhkan luka manusia pula. Lukaku telah sembuh."
"Baik."
Berkata Siauw Cap-it-long.
"Bilamana kau hendak membersihkan diri, pergilah ke air terjun itu. Kau bisa membersihkan pakaian dan membersihkan diri. Aku hendak menyapu rumah, kutunggu kedatanganmu di dalam."
Hanya kata-kata ini sudah cukup menggirangkan Sim Pek Kun.
Suara Siauw Cap-it-long adalah suara yang penuh daya tarik, tidak pernah ada satu yang tidak memikat.
Sesudah meninggalkan pesan tadi, Siauw Cap-it-long meninggalkan Sim Pek Kun.
Ia lompat kedalam rumahnya, dengan maksud membersihkan segala apa yang sudah terbengkalai itu.
Sim Pek Kun menuju kearah air terjun, sebagai seorang wanita yang sangat menjaga kebersihan, keadaannya sudah tidak sepadan lagi, ia harus bisa membawa diri, membersihkan baju dan mencuci pakaian, menghilangkan lumpur-lumpur dan bau air telaga rawa-rawa tenggelam yang berbau busuk itu.
Diantara rumah bangunan dan air terjun terdapat jarak yang cukup jauh.
Disana Sim Pek Kun bebas membuka pakaian.
Menyembunyikan diri dibalik semak-semak ia membersihkan badan.
Waktu Sim Pek Kun sering terbuang percuma.
Hidupnya dengan Lian Seng Pek sering dilanda kekosongan.
Dimasa kecilnya, sering Sim Pek Kun duduk didepan pintu.
Menunggu kembalinya sepasang orang tua yang suka mengembara.
Kedua orang tua Sim Pek Kun adalah pendekar-pendekar pengembara yang sering melakukan kebajikan dan kebaikan-kebaikan.
Sim Pek Kun duduk didepan pintu rumah, menantikan kedatangan kedua orang itu, tentu saja menanti-nanti didalam waktu yang sangat lama.
Seringkali, Sim Pek Kun harus menunggu sampai berhari-hari, sehingga berbulan-bulan.
Sim Pek Kun sering menantikan kehadiran sang ayah yang ramah, sang ibu yang manja.
Merangkulkan dirinya didalam rangkulan kedua orang tua itu, menerima cinta kasihnya.
Demikian tunggu menunggu, hingga terjadinya suatu hari, mulai saat itu ia tidak akan menunggu lagi, tidak mungkin ayah dan ibunya bisa ditunggu.
Hari itu Sim Pek Kun menunggu, yang datang bukanlah kedua orang tuanya, tapi kedua peti mati yang muncul didepannya Kedua orang tua Sim Pek Kun yang di tunggu-tunggu itu tidak tiba, yang kunjung datang adalah dua buah peti mati, dua buah peti mati yang berisi orang tuanya.
Mulai saat itu, Sim Pek Kun tidak pernah menunggu kembalinya kedua orang tua.
Ia mulai dewasa, tapi tetap menunggu.
Kini yang ditunggu bukan kedua orang tuanya lagi, yang ditunggu adalah sang nenek.
Setiap pagi, ia harus mengucapkan selamat pagi kepada si nenek, sesudah itu balik ke kamarnya.
Demikian makan siang, menunggu sehingga datangnya siang, sesudah makan siang ia bisa bertemu dengan neneknya.
Menunggu lagi sehingga datangnya malam, maka ia bisa bertemu dengan nenek itu.
Nah itulah waktunya yang paling gembira.
Sim Pek Kun duduk dipangkuan sang nenek, mendengar cerita-cerita yang aneh-aneh.
Sang nenek bercerita kepadanya, bagaimana rahasianya jarum keluarga Sim yang hebat !
Waktu malampun datang, tapi tidak terlalu lama, ia harus tidur, ia harus menunggu sehingga keesokan malamnya.
Semakin lama, Sim Pek Kun mulai mengerti.
Ia dewasa.
Apa pula yang harus ditunggu sesudah Sim Pek Kun dewasa ?
Seperti gadis-gadis lainnya, wanita itu hendak melewati jenjang perkawinan.
Nasib Sim Pek Kun lebih baik, ia mendapat seorang calon suami yang dijunjung orang.
Sim Pek Kun kawin dengan Lian Seng Pek.
Lian Seng Pek adalah seorang pemuda gagah, seorang laki-laki ideal, memiliki harta kekayaan yang cukup banyak, ia dilengkapi dengan ilmu kepandaian silat yang tinggi.
Kedudukannyapun baik.
Siapa yang menjadi istri Lian Seng Pek, tentu merasa bahagia dan bangga.
Karena itulah, Sim Pek Kun bangga dan bahagia.
Sifatnya menunggu itu tetap ada, kini sering Sim Pek Kun menunggu tepian jendela menunggu kembalinya sang suami yang penuh kependekaran itu.
Kadang-kadang, Lian Seng Pek pergi mengembara, seperti menunggu kembalinya kedua orang tua dahulu.
Sim Pek Kun menunggu kembalinya sang suami, sekali tunggu, berhari-hari atau berbulan-bulan.
Bayangan kelam terpeta kembali, Sim Pek Kun takut bisa menunggu kembalinya sebuah peti mati.
Ia paling takut akan munculnya peti mati.
Harapan itu tidak diharapkan, tapi bayangan itu tetap ada.
Kekuatan menunggu Sim Pek Kun telah terlatih lama, bagaimana rasanya menunggu orang ?
Sim Pek Kun lebih bisa meresapi hari-hari itu.
Menunggu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah dilaksanakan.
Menunggu membutuhkan ketekunan yang luar biasa.
Sim Pek Kun sudah biasa menunggu, karena itulah, ia paling takut mendapat tugas menunggu.
Hanya, kedudukan Sim Pek Kun telah ditakdirkan untuk menunggu.
Dari menunggu sang jenazah kedua orang tua, menunggu cerita sang nenek dimalam hari, menunggu hadirnya sang suami dan lain-lainnya.
Sekarang, Sim Pek Kun masih membersihkan diri.
Pakaiannya yang basah sudah dikeringkan.
Apalagi yang ditunggu olehnya ?
Hari ini ia bebas tunggu.
Giliran orang yang menunggu dirinya.
Sim Pek Kun bisa maklum, Siauw Cap-it-long sedang menunggu kembalinya.
Berapa lama ia mandi dan berganti pakaian, tidak perlu ragu.
Tetap akan ditunggu oleh Siauw Cap-it-long.
Kapan saja ia kembali, kapan saja ia mendatangi rumah didasar lembah gelap itu, disana akan muncul seorang, disana akan ditunggu seorang.
Siauw Cap-it-long tidak akan absen.
Tempat tinggal Siauw Cap-it-long bukanlah tempat yang mewah, Siauw Cap-it-long tidak mempunyai hubungan keluarga, tapi kesannya kepada Siauw Cap-it-long sangat baik.
Terasa keadaan yang aman dan tenteram.
Sim Pek Kun tidak lagi menunggu.
Tapi ditunggu.
Sim Pek Kun hidup didalam dasar lembah gelap itu bukan sebatang kara, masih ada orang yang mengawaninya.
Inilah yang menjadikan ia aman dan tenteram.
PERTEMUAN DAN PERPISAHAN KECUALI sebuah tapang, didalam rumah itu tidak ada lain perabot, sangat kosong.
Setiap kali Siauw Cap-it-long kembali, bisa saja ia merasakan hal itu.
Semakin lama, hatinya semakin kalut.
Tentu saja Siauw Cap-it-long bisa menambah perabot rumah tangga, agar keadaan itu lebih meriah.
Tapi ia tidak melakukan hal tersebut.
Karena ia tahu, penuhnya perabot rumah tangga bukan berarti penuh isi hatinya, kekosongan hati tanpa menjadikan keserasian yang cocok.
Isi rumah yang kosong agak sesuai dengan isi hatinya yang hampa.
Kekosongan rumah itu tidak dirasakan Siauw Cap-it-long.
Jarang ia kembali, tempat ini hanya sebagai tempat istirahat.
Tidak terlalu lama, sesudah itu ia berangkat lagi.
Mulai dengan petualangannya.
Karena itulah, sebuah bale2 itu cukup digunakan sebagai tempat tidur.
Sekarang, sangat dirasakan sekali, keadaan rumah seperti sediakala, tapi sangat dirasakan kosong.
Dan menyimpang dari kebiasaan, hati yang hampa itu seperti sudah padat terisi.
Kini Siauw Cap-it-long betul2 merasa, ia masih memiliki rumah!
Untuk pertama kalinya, Lembah Gelap itu dianggap sebagai rumah.
Perasaan pulang kerumah sangat nyaman, ternyata kembali kerumah begitu bahagia.
Siauw Cap-it-long sudah selesai membersihkan isi perabot rumah tangga, yang dikatakan perabot hanyalah bale-bale tempat tidur itu.
Kini Siauw Cap-it-long menunggu, tapi hatinya tenang, ia menunggu dengan penuh kesabaran.
Karena ia tahu, orang yang ditunggu itu tidak terlalu lama, pasti, pasti sekali, orang yang ditunggu itu akan tiba.
Didalam satu rumah yang kosong, akan terjadi perubahan, manakala rumah itu bertambah penghuni.
Apalagi penghuni wanita.
Betapa buruknya rumah yang ditinggali oleh seorang wanita, betapa sempitnya rumah yang ditinggali oleh seorang wanita, rumah buruk dan sempit itu tidak akan dirasakan lagi.
Hanya wanitalah yang betul2 bisa meresapi dan menghiasi serta mengurusi isi rumah.
Hanya wanita yang bisa menghangatkan badan seorang laki-laki.
Karena itulah, Tuhan menciptakan Hawa.
Laki itu bersifat malas, tidak mau mengurus rumah tangga, karena itu tanpa adanya wanita, rumah akan dirasakan menjadi kosong.
Untuk mengisi kekosongan ini, perlu mendapatkan seorang wanita.
Terlebih-lebih wanita yang sangat dicintai.
Tidak perlu disebutkan, mengapa Siauw Cap-it-long bisa menjadi rajin, mengurus rumah tangga.
Didalam sekejap mata, tempat itu telah bertambah dengan meja dan kursi, diatas bale-bale juga bertambah rumput penutup agar lebih empuk.
Inilah rumahnya.
Ia akan menghias, merawat rumah ini lebih sempurna.
Mulai saat itulah, Siauw Cap-it-long merasa bahwa ia telah memiliki sebuah rumah.
Sim Pek Kun tiba didalam bangunan itu sesudah Siauw Cap-it-long membersihkan sesuatu dengan baik.
Disana telah bertambah meja, diatas meja tersedia jambangan bunga, didalam pot itu tertancap bunga2.
Jilid 9___________________ Dikala mereka makan, disana telah tersedia piring, mangkok, cangkir.
Semuanya terbuat dari kayu Makanan selalu tersedia, kadang kala, tersedia juga ikan kering, daging bakar, dan sayur mayur.
yang menjadi kekurangan adalah garam.
Tidak mungkin mereka bisa menemukan garam ditempat itu.
Walau makanan itu kurang garam, tapi rasanya tetap segar.
Siaw Cap It Long memiliki sepasang tangan yang lincah, sekeping papan yang jatuh kedalam tangannya, didalam sekejap mata bisa menjadi pot bunga yang indah, atau menjadi piring mangkok yang cocok.
Bisa disaksikan, rumput-rumput bila dikehendaki oleh Siaw Cap It Long didalam sekejap mata bisa menjadi makanan-makanan yang lezat.
Sim Pe Kun juga tidak ketinggalan, dengan sepasang tangannya dia juga menganyam rumput, itulah taplak meja.
Luka mereka sembuh dengan cepat.
Tentu saja obat luka mereka adalah air telaga rawa lengket itu.
Disamping pengobatan yang sempurna, hati mereka yang girang juga menambah proses penyembuhan mereka.
Mereka hidup tenang dan bahagia Sehingga tiba pada suatu hari , dikala Siaw Cap It Long membuka matanya, tampak Sim Pek Kun sedang menyelimutkan rumput yang baru dibuat.
Sepasang sinar mata mereka bertumbukan.
Wajah Sim Pek Kun menjadi merah, menundukkan kepalanya, ia berkata dengan suara rendah .
"Hawa malam sangat jahat, nanti kau bisa masuk angin."
Ternyata Siaw Cap It Long menyerahkan rumahnya kepada Sim Pek Kun.
Sedangkan ia sendiri duduk diluar rumah.
Siaw cap It Long menatap sang ratu rimba persilatan itu, tanpa sekecap kata keluar dari mulutnya.
Kepala Sim Pek Kun ditundukkan semakin rendah, ia berkata .
"Mengapa kau tidak membangun satu rumah lagi ! mengapa kau lebih suka tidur dibawah embun pagi dan angin malam ?.Mengapa kau menyerahkan rumah ini membiarkan aku hidup senang, dan menyiksa dirimu sendiri ?"
Mulai dari saat itu, Siaw cap It Long semakin repot.
Dibangunan kecil yang sudah ada, terbangun lagi lain cangkrang rumah.
Seorang manusia tidak bisa mengembangkan kepintarannya, apabila tidak diliputi oleh kesenangan-kesenangan.
Kebahagiaan manusia akan mempercepat proses kehidupan.
Cepat sekali, bangunan rumah baru hampir selesai.
Satu waktu, Siaw cap It long menimba air, tiba-tiba ia melihat sim pek Kun sedang disamping air terjun, menundukkan kepala, memandang dan memperhatikan perutnya sendiri.
Sim Pek Kun lupa, situasi apa yang mengekang dirinya !
Tidak sadar akan kedatangan Siaw Cap It Lng.
Siaw Cap It Long mengajukan pertanyaan .
"Apa yang sedang kau pikirkan ?"
Sim Pek Kun terlompat bangun, wajahnya memperlihatkan perubahan-perubahan yang aneh. Lama sekali, Ia menggeser pandangan matanya, dengan dipaksakan tertawa ia berkata .
"Tidak apa-apa. Tidak ada sesuatu yang kupikirkan."
Siaw Cap It Long tidak bertanya lagi.
Pertanyaan yang sudah terlanjur dilepas keluar itu adalah pertanyaan yang kurang pantas.
Siaw cap It Long menyesal, karena ia tahu, apa artinya dari ucapan kata tidak apa-apa..
seorang wanita yang mengucapkan tidak memikirkan apa-apa, kebalikan daripada itu, terlalu banyak yang dipikirkan.
Hanya pikiran-pikiran itu tidak ingin diketahui oleh orang lain.
Tapi sangat mudah diduga, apa yang sedang dipikirkan oleh Sim PekKun.
Tentu saja Siaw cap It long bisa menduga apa yang dipikirkan oleh Sim pek Kun.
Hari berikunya, Sim pek Kun bisa menyaksikan, bagaimana bangunan baru yang akan tumbuh disamping bangunan lama itu terbongkar kembali.
Dan kejadian berikutnya, arak, anggur yang sedang disekap itu telah kosong.
Siaw cap It long sedang bermabuk-mabukan, ia duduk dibawah pohon, mukanya merah, menghabiskan semua arak yang ada.
Semalam suntuk tidak tertidur.
Hati Sim Pek Kun seperti hendak mencelat keluar dari tempatnya, ia bisa menduga, terjadi sesuatu yang kurang beres.
mendekati Siaw Cap It Long dengan gugup ia bertanya .
"kau...kau mengapa bisa menjadi begini ? mengapa membongkar rumah yang sudah hampir jadi."
Tidak terjadi perubahan wajah, tanpa menoleh sama sekali, dengan tawar Siaw cap It Long berkata "
"Karena tidak perlu ditinggali, mengapa tidak dibongkar ?"
"Eh, mengapa tidak mau ditinggali ? kau...."
"Segera akan kukosongkan tempat ini."
Jawab Siaw Cap It Long singkat.
"hendak pergi ? mengapa ? ini rumahmu bukan ?"
Bertanya Sim Pek Kun heran.
"Aku tidak mempunyai rumah, sudah kukatakan, aku adalah anak berandalan. Paling dua bulan kuberdiam disini. Sesudah itu, aku harus berkelana lagi. Meneruskan petualanganpetualangan yang ditangguhkan."
Hati Sim Pek Kun seperti ditusuk-tusuk jarum, menahan keluarnya air mata, ia bertanya .
"Betul?"
"Mengapa harus bohong ?"
Berkata Siaw Cap It Long "Hari-hari yang seperti ini kulewatkan seperti tersiksa."
"Hari yang tidak baik ?"
Bertanya Sim Pek Kun. "Waktu yang dianggap baik oleh orang belum tentu dianggap baik olehku. Diantara pergaulan kita mungkin terdapat ketidak serasian."
Sepasang mata Sim Pek Kun sudah menjadi bentul merahm basah, Ia berkata .
"aku........"
"Kau juga sudah waktunya untuk pergi. setiap orang harus berangkat. Lambat atau cepat, kau harus meninggalkan tempat ini bukan ?"
Sedapat mungkin Sim Pek Kun menahan jatuhnya airmata, tapi tidak bisa dibendung lagi, dua butir cairan bening itu sudah menetes jatuh. Ia mengerti, apa yang dipikirkan oleh Siaw Cap It Long.
"Ia betah ditempat ini."
Demikian hatinya berkata.
"Mengapa harus pergi, karena dia tahu, karena aku harus meninggalkan tempat ini. Maka ia juga meninggalkan tempat bangunannya."
Dengan menggertek gigi, mengeraskan hati, Sim Pek Kun bertanya .
"Kapan kita berangkat ?"
"Segera berangkat."
Berkata Siaw Cap It Long "Sekarang juga."
"Baik."
Sim Pek Kun menganggukkan kepala.
Sesudah itu, Sim Pek Kun menoleh kearah lain, dengan hujan air mata yang deras , ia lari ketempat rumah kayu semula.
Dari dalam rumah kayu itu, masih terdengar suara isak sang ratu rimba persilatan.
Siaw cap It Long tidak memperlihatkan perubahan-perubahan wajahnya.
dengan malasmalasan ia bangkit berdiri.
Mengajak Sim Pek Kun, Siaw Cap It Long meninggalkan lembah gelap.
Mereka keluar dari dasar lembah setelah beberapa waktu.
Perubahan-perubahan iklim terjadi secara pesat.
Angin mulai bertiup, suasana mulai diliputi oleh pemandangan sepi.
Musim dinginpun tiba.
Datangnya musim dingin itu lebih cepat beberapa waktu, jalan-jalan telah mulai memutih, orang yang berlalu-lalang juga sedikit.
Siauw Cap-it-long memikul satu pikulan buah Lay dan buah Tho yang menjadi hasil lembah, dibawanya ke dalam kota, dijualnya kepada orang-orang hartawan, dengan beberapa tail uang itu, ia bisa membeli perbekalan.
Buah Lay dan buah Tho adalah buah yang termahal, apalagi harga Siauw Cap-it-long juga agak miring, sebentar saja terjual habis.
Dengan perbekalan uang itu, Siauw Cap-it-long menyewa kereta, menyilahkan Sim Pek Kun duduk di dalamnya.
Tapi ia selalu memisahkan diri, duduk di samping sang kusir.
Penilaian Sim Pek Kun pada Siauw Cap-it-long lebih mendalam, si jago brandal Siauw Capit-long bisa memakai uang dengan pantas, setiap uang itu didapat dengan tenaga dan keringat yang telah diperasnya.
Bukan berarti Siauw Cap-it-long tidak pernah melakukan pembegalan dan perampokan, tetapi setiap uang hasil pembegalan dan perampokan selalu digunakan untuk menolong orang lain.
Inilah sifat-sifat si jago brandal Siauw Cap-it-long.
Mereka meninggalkan tempat yang bisa memberi kesan dalam.
Di bawah pohon rimba gelap, jarak mereka begitu dekat, masing-masing bisa mengikuti suara deburan napas masing-masing.
Tetapi, sesudah meninggalkan rimba itu, jarak yang dekat itu menjauh kembali.
"Mungkinkah kita hidup di dalam dua dunia yang tidak sama?"
Demikian hati Sim Pek Kun berpikir.
Hujan salju turun semakin deras, terus menerus sehingga beberapa hari.
Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun memasuki sebuah rumah penginapan, kecuali mereka berdua, tidak ada tamu lainnya.
Siauw Cap-it-long meninggalkan Sim Pek Kun di rumah penginapan kecil itu, ia sendiri pergi keluar.
Lagi-lagi Sim Pek Kun menunggu.
Apa yang Sim Pek Kun sedang tunggu?
Ia harus menunggu kembalinya Siauw Cap-it-long.
Hasil apa dari penungguan baru ini?
Tentunya perpisahan.
Perpisahan dari Siauw Cap-it-long yang tidak mungkin bisa dielakkan.
Menunggu itu adalah pekerjaan lama Sim Pek Kun.
Lagi ia menunggu terus, menunggu terus.
Waktu berlalu.....
Tiba-tiba sebuah kereta yang agak mewah berhenti di depan rumah penginapan itu, dari sana muncul Siauw Cap-it-long, dia berlompat turun, wajahnya pucat pasi, tapi kondisi badannya tetap segar.
Berhari-hari Siauw Cap-it-long menyelidiki Lian Seng Pek.
Tidak berhasil.
Sesudah terjadi drama penghancuran kampung Sim-kee-chung, Lian Seng Pek tidak pulang ke rumahnya.
Lian Seng Pek telah menjelajahi setiap pelosok, tapi ia tidak menemukan jejak Sim Pek Kun.
Tidak ada orang yang tahu di mana dan bagaimana keadaan Sim Pek Kun.
Lian Seng Pek meneruskan pencarian sang istri.
Tentu saja Lian Seng Pek tidak tahu bahwa sang istripun sedang mencarinya.
Akhirnya Siauw Cap-it-long bisa mendapat berita di mana adanya Lian Seng Pek.
Maka ia menyewa kereta kembali ke rumah penginapan.
Menyongsong kedatangan Siauw Cap-it-long, Sim Pek Kun tertawa, ia berkata girang.
"Tidak kusangka, hari ini kau bisa menggunakan kereta, biasanya kau berjalan kaki saja."
Penyambutan seorang wanita adalah menyenangkan hati, apalagi penyambutan yang begitu meriah, penyambutan itu sangat menggirangkan.
Biasanya, bilamana Sim Pek Kun tertawa, belum pernah Siauw Cap-it-long mengelakkan sinar matanya, hari ini terkecuali, ia tidak berani membentur sepasang sinar mata itu.
Dengan suara yang tawar dan datar, Siauw Cap-it-long berkata.
"Kereta ini kusediakan untukmu"
Lenyaplah tertawanya Sim Pek Kun, ia tertegun sebentar, berkata.
"Kereta untukku?"
Perasaan wanita itu lebih tajam dari perasaan laki-laki, menyaksikan perubahan wajah Siauw Cap-it-long, Pek Kun telah mengetahui sesuatu menyimpang dari kebiasaan.
Perlahan-lahan wajahnya menjadi beku.
Siauw Cap-it-long menganggukkan kepala, ia berkata.
"Ya. Kereta ini sengaja kusediakan untukmu. Karena kau sudah kenal baik letak keadaan tempat ini."
Lagi-lagi Sim Pek Kun berkerinyut, seolah-olah mendapat serangan angin jahat yang sangat dingin, mulutnya berkemak-kemik, hendak mengucapkan sesuatu, tapi tidak bisa meletus keluar.
Tangan Sim Pek Kun menjadi gemataran, ia hendak mengelakkan sesuatu, ia hendak lari dari kenyataan, tapi tidak mungkin, tidak mungkin dielakkan, tidak mungkin menyingkir darinya.
Lama terjadi ketegangan yang seperti itu, akhirnya suara Sim Pek Kun memecah kesunyian.
"Kau.... kau sudah berhasil menemukan jejaknya?"
"Ya"
Berkata Siauw Cap-it-long sangat singkat.
Hanya sepatah kata itu sudah cukup untuk menelungkup sesuatu.
Menelungkup jagat kehidupan mereka.
Lagi-lagi dahi Sim Pek Kun berkerinyit, hatinya terasa sangat pedih.
Sim Pek Kun mempunyai kepribadian dan pendidikan yang cukup, ia tahu, sikap apa yang harus diperlihatkan seorang wanita yang mempunyai pendidikan sepertinya, seorang wanita yang mempunyai pendidikan sempurna akan bergirang, bila mendapat berita tentang jejak sang suami yang terpisah.
Sayang sekali, bagaimanapun, ia tidak bisa memaksakan rasa girang itu.
Lama sekali waktu telah dilewatkan, dengan suara perlahan Sim Pek Kun bertanya.
"Di mana dia berada?"
"Kusir kereta di depan pintu itu bisa mengetahui, di mana dia berada."
Jawab Siauw Cap-itlong.
"Dia bisa membawamu ke sana."
"Terima kasih."
Suara terima kasih Sim Pek Kun seolah-olah datang dari tempat yang jauh, Sim Pek Kun sendiri juga tentu tidak percaya bahwa ucapan tadi keluar dari mulutnya, suara itu begitu asing, seolah-olah bicara kepada orang yang tidak dikenal.
Tentu saja Sim Pek Kun tahu, wajahnya memperlihatkan perasaan girang.
Dan perasaan girang itu beku dan kaku seolah-olah wajah orang yang guram.
Siauw Cap-it-long berkata.
"Sama-sama. Inilah kewajiban kita sebagai umat manusia, wajib saling bantu membantu."
Suaranya sangat dingin dan ketus. Perubahan wajah juga dingin dan kecut. Begitu pulakah hati mereka? Hanya kedua orang yang bersangkutan yang bisa mengetahuinya. Sim Pek Kun berkata lagi.
"Kau sudah menyuruh kereta menunggu, bukan?"
"Ya"
Jawab Siauw Cap-it-long "Waktu masih terlalu pagi. Kau harus melakukan perjalanan yang sangat jauh. Kau harus bersiap-siap, kukira berangkat siang sedikit."
Memperlihatkan senyuman yang agak aneh, Siauw Cap-it-long menyambung pembicaraan.
"Dan aku tahu, kau sudah sangat ingin bertemu dengannya. Bergegas-gegas hendak berangkat."
Perlahan sekali Sim Pek Kun menganggukkan kepala dan berkata.
"Betul, sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Ingin sekali bisa cepat bertemu."
"Nah,"
Berkata Siauw Cap-it-long "Kau tidak mempunyai perbekalan, baik berangkat sekarang sajalah."
Percakapan kedua orang itu sangat perlahan, sangat tenang.
Tapi mereka harus menggunakan kekuatan yang berat untuk bisa melepaskannya.
Inikah suara hati nurani masing-masing!
Suara hati nurani mereka tersimpan di dalam, berapa orang yang bernai mengutarakan suara hati nurani yang seperti itu?
Takdir telah menyamprokkan Siauw Cap-it-long dengan Sim Pek Kun, mengapa tidak bisa menyembunyikan hati masing-masing?
Mengapa harus saling tipu menipu, harus saling menyakiti hati?
Siauw Cap-it-long membalikkan badan, memandang ke arah samping, dari sana ia berkata.
"Selamat jalan. Tentunya kau sudah ingin cepat-cepat berangkat."
"Selamat jalan."
Berkata Sim Pek Kun "Kau juga ingin pergi."
"Ya. Setiap orang yang masih hidup itu kerjanya hanya berpergian."
Sim Pek Kun menggigit bibir, Kembali ia berkata .
"Aku hendak menjamu perpisahan ini, bersediakah kau menerima jamuanku ?"
"Katakan saja kita makan minum bersama."
Sim Pek Kun memanggil pelayan rumah makan, memesan makanan dan minuman.
Sim Pek Kun membuat perjamuan perpisahan.
MENANGIS DI HATI SIM PEK KUN membuat jamuan perpisahan.
Siauw Cap It-long tidak menolak.
Inilah pertemuan mereka yang terakhir, mungkin bisa berjumpa lagi, mungkin juga tidak.
Siauw Cap It-long memandang Sim Pek Kun beberapa lama, ia bertanya .
"Perjamuan ini ....."
Sim Pek Kun menganggukkan kepala, ia tertawa berkata .
"Aku tahu. Kantongku sudah tidak ada uang lagi. Tapi benda ini bisa cukup untuk melunasi rekening makanan dan minuman bukan?"
Dari atas rambutnya, Sim Pek Kun menurunkan tusuk konde kumala.
Tusuk konde kumala itu adalah benda yang berharga, bukan saja berharga, benda itu menandakan dan melambangkan perkawinan Sim Pek Kun dan Lian Seng Pek.
Tusuk konde kumala adalah hadiah pemberian sang suami, dikala hari pernikahan mereka, dengan tangan sendiri Lian Seng Pek meletakan diantara sela2 sanggul rambut Sim Pek Kun.
Biar bagaimanapun, Sim Pek Kun tidak mengerti, bagaimana ia bisa mengorbankan lambang perkawinan itu.
Tanpa sayang sama sekali, Sim Pek Kun bersedia mengorbankan lambang perkawinannya.
Ia akan puas, bilamana bisa makan dan minum beserta Siauw Tjap-it-long bersama2 membikin perjamuan terakhir.
Pengorbanan2 Siauw Tjap-it-long terlalu besar.
Inilah pengorbanan tusuk konde kumala, hanya satu kali pengorbanan, Sim Pek Kun hendak membalas pengorbanan2 jago berandalan.
Kecuali pengorbanan ini, tidak mungkin Sim Pek Kun membuat pengorbanan lain aja.
Pelayan rumah penginapan sudah menyediakan arak dan barang makanan.
Menuangkan arak itu kecawan Siauw Tjap-it-long, Sim Pek Kun berkata.
"Demi persahabatan, keringkanlah secawan arak ini."
Siauw Tjap-it-long menerima pemberian arak, ia menenggak seceguk, dan berkata.
"Kau tahu, hobbyku adalah meminum arak. Belum pernah aku menolak pemberian arak."
Siauw Tjap-it-long menghabiskan semua arak yang tersedia. Pelayan rumah makan membawakan arak lagi.
Tangan Siauw Tjap-it-long bergerak cepat.
Secawan demi secawan, ia mengeringkan semua persediaan.
Siauw Tjap-it-long berharap, walau ia tidak mabuk, bisa saja berpura2 mabuk.
Yang terakhir, Siauw Tjap-it-long sendiripun tidak tahu, betulkah dia sudah mabuk?
Betul2 mabok atau pura2 mabok?
Siauw Tjap-it-long mendengungkan lagunya tanpa nama, lagu yang sangat menyedihkan itu.
Jarang sekali ada orang mabok yang bisa melagukan suara.
Lagu ini adalah lagu kesenangan Siauw Tjap-it-long, lagu dengungan kesepian dan dendang kesengsaraan.
Lagu yang sudah sering didengar oleh Sim Pek Kun.
Kini, lagu itu seperti lagu baru, meresapi dan menyelubungi hati Sim Pek Kun.
Dia juga menenggak arak.
Seorang wanita yang terhormat jarang meminum arak, hanya beberapa tegukan saja, Sim Pek Kun sudah mulai menjadi mabuk.
Biar bagaimana, Sim Pek kun pernah berpesan kepada diri sendiri, ia tidak boleh jatuh ditempat itu.
Tangan Siauw Tjap-it-long masih mengambil dan menuang araknya.
Sesudah itu Siauw Tjap-it-long mendengungkan lagu tanpa nama, lagu kesedihan.
Tidak bisa ditahan, Sim Pek Kun bertanya.
"Lagu ini sudah kudengar sehingga puluhan kali. Lagu apakah?"
"Kudapat lagu ini dari seorang pengembala diluar perbatasan."
Berkata Siauw Tjap-it-long "Lagu yang tidak mudah diresapi, kalau kau sudah mengerti cerita yang terdapat didalam lagu ini, kukira tidak mungkin kau mau mendengarnya lagi."
"Mengapa?"
Bertanya Sim Pek Kun. Wajah Siauw Tjap-it-long memperlihatkan sikap yang mengejek, ia berkata.
"Arti dari lagu ini adalah lagu picisan, tidak mungkin bisa diterima kaum sebangsa kalian."
Sim Pek Kun menundukkan kepala ketanah.
"Ceritakanlah"
Ia berkata "Ceritakan arti dari lagu2mu itu."
"Dengar baik2"
Berkata Siauw Tjap-it-long "Arti lagu dari kata2 ini kira2 ceritanya seperti ini.
Manusia itu kasihan kepada kambing, tapi tidak pernah ada yang kasihan kepada seekor srigala.
Pernah diceritakan srigala itu adalah binatang ganas, binatang pengrusak yang sering merusak kambing2 pengembala.
Rasa sepi seekor srogala tidak diketahui.
Rasa sepi dan menyendiri srigala tidak pernah diresapi oleh manusia, srigala lapar, ia makan kambing, kambing lapar oa makan rumput.
Karena rumput itu tidak dipentingkan oleh manusia, maka kambing tidak dicela.
Sebaliknya daripada itu, kambing itu dibutuhkan oleh manusia, maka srigala dicela. Inilah lagu kesengsaraan srigala."
Semakin lama, cerita Siauw Tjap-it-long semakin keras. Setelah mendengar semua, tiba2 Sim Pek Kun berkata.
"Hei, dimisalkan kau terlunta2 disebuah padang rumput yang luas, terjadi hujan es, menutupi seluruh bumi. Berhari2 kau tidak mendapat makanan, dimisalkan kau bertemu dengan seekor kambing, bisakah kau terkam kambing itu?"
Siauw Tjap-it-long mendongakkan kepala sepasang matanya yang liar menatap wanita cantik didepannya, mata itu redup kembali, manakala ia teringat bahwa Sim Pek Kun adalah milik Lian Seng Pek, milik yang sah dari jago ksatria.
Beberapa cawan arak lagi ditenggak olehnya.
Akhirnya Siauw Tjap-it-long betul2 jatuh rubuh.
Ia mabuk.
Tengkurep dimeja dan menggeros2.
"Pergilah!"
Inilah suara yang terakhir dari Siauw Tjap-it-long.
Sesudah itu, ia tidak sadarkan diri.
Belum pernah hati Sim Pek Kun menjadi kalut seperti apa yang kini ia rasakan.
Seharusnya ia bergembira, karena tidak lama lagi ia bisa menjumpai sang suami yang tercinta.
Mulai saat itu, segala godaan2 ini dan ketegangan2 tidak akan dialami lagi ia akan hidup tenang, hidup tenang disamping suaminya.
Walau suami itu sering berpergian, ketenangan tidak mungkin terganggu.
Walau ia harus menunggu, menunggu adalah pekerjaan lama.
Tugas yang sudah biasa dilakukan olehnya.
Air mata Sim Pek Kun meleleh keluar, ia menyusutnya cepat2.
Didalam hati Sim Pek Kun berpikir.
"Apabila Siauw Tjap-it-long menarik tanganku, agar aku tidak menjumpai Lian Seng Pek, bisakah kuterima saran ini?"
Sim Pek Kun bergidik dingin, bilamana terpikir lanjutan apa yang sedang dipikirkan olehnya.
Sim Pek Kun harus bisa melenyapkan jasa2 Siauw Tjap-it-long.
Ia harus menguatkan hati, meninggalkan sang jago berandalan yang telah terkapar mabok.
Mulai saat ini, ia harus mendampingi Lian Seng Pek.
Ia harus menjadi seorang istri yang tercinta, ia sangat setia.
Pemilik rumah makan menyodorkan rekening makanan.
Sim Pek Kun menyerahkan tusuk konde kumalanya.
Sim Pek Kun meninggalkan rumah penginapan itu, memanggil kereta yang sudah tersedia.
Ia akan kembali kedunianya, dunia manusia beradab.
Ia harus meninggalkan dunia Siauw Tjap-it-long, dunia srigala yang kesepian.
Ketoprak....
ketoprak....
ketoprak.....
Kereta yang membawa Sim Pek Kun meluncur pergi.
Terbayang satu pekarangan yang sepi, pekarangan yang luas.
Itulah pekarangan keluarga Lian Seng Pek.
Lian Seng Pek tinggal ditempat yang seperti itu.
Tempat suatu rumah penginapan.
Kusir kereta yang sudah mendapat pesan Siauw Tjap-it-long, membawa Sim Pek Kun ketempat tinggal Lian Seng Pek.
Kehadiran sang ratu rimba persilatan mengejutkan pelayan rumah penginapan, hanya seorang diri?
Tanpa kawalan?
Lian Seng Pek menggunakan kamar divilla bagian barat.
Disana terdapat tangga batu, hanya memudahkan.
Walau begitu, langkah Sim Pek Kun dirasakan sangat berat.
Entah bagaiamana, ia tidak bisa menaiki tangga batu itu.
Perasaan takut mengekang dirinya.
Takut bertemu dengan suami yang sudah lama ditinggalkan.
Yang paling ditakuti Sim Pek Kun adalah pertanyaan Lian Seng Pek yang seakan2 berkata.
"Dimana kau tinggal selama beberapa hari ini?"
Sim Pek Kun masih berdiri ditangga batu. Tiba2, dari dalam villa barat terdengar satu suara yang membentak keras.
"Siapa yang didepan?"
Suara bentakan itu sangat keras, cukup agung, sangat hormat dan sopan.
Itulah suara Lian Seng Pek.
Didalam dunia tidak mungkin ada suara yang bisa menyamai suara Lian Seng Pek.
Didalam sekejap mata, Sim Pek Kun bisa kembali kepada kenang2annya yang lama.
Ia seharusnya bergerak cepat, menerjang dan memasuki ruangan itu atau menubruk Lian Seng Pek, setidak2nya, dia akan menangis didalam pelukan sang suami.
Tapi Sim Pek Kun tidak mengerjakan pekerjaan yang seperti itu.
Ia bisa maklum perangai Lian Seng Pek, Lian Seng Pek tidak butuh kepada seseorang yang cepat mengalami getaran jiwa.
Perlahan2, Sim Pek Kun mendaki tangga batu itu.
Pintu terbuka, disana berdiri seorang laki2 cakap dan tampan, itulah Lian Seng Pek.
Selama dua bulan ini, Lian Seng Pek mencari jejak Sim Pek Kun.
Tapi tidak berhasil, gundah gulana, sengsara, perasaan seribu satu macam yang lainnya mengekang dirinya.
Kini, secara ajaib sekali, sang istri muncul didepan mata, sinar matanya berkilat sebentar, sesudah itu redup kembali.
Tanpa memperlihatkan rasa girangnya yang tidak kelihatan mereka hanya berpandang2an.
"Kau sudah kembali?"
Suara Lian Seng Pek sangat tenang. Sim Pek Kun menganggukan kepala perlahan, dengan suaranya yang sangat mesra berkata.
"Ya, aku sudah kembali."
Hanya kata kata itu yang mereka ucapkan.
Terlalu singkat.
Suara itu sudah cukup menenangkan hati Sim Pek Kun yang bergejolak keras, ternyata pertanyaan dimana ia berada tidak tercetus keluar.
Ia sudah biasa dengan penghidupan2 yang tenang, kini harus kembali kepada kehidupan lama.
Apa yang Sim Pek Kun tidak ingin keluarkan, pasti tidak diajukan oleh Lian Seng Pek.
Didalam dunia Sim Pek Kun, hubungan manusia itu adalah hubungan biasa.
Harus diperhatikan jarak2 tertentu.
Walau hidup mereka sebagai suami istri, jarak pemisah yang ditentukan itu, tetap ada.
Lian Seng Pek mengajak sang istri memasuki kamarnya.
Lampu didalam kamar Lian Seng Pek terang benderang, berkumpul banyak orang.
Disana bercokol duduk tokoh2 rimba persilatan ternama, Thio Bu Kek, Hay Leng Tju, To Siao Thian dan lain2nya.
Tokoh2 silat yang berkumpul didalam kamar Lian Seng Pek adalah kawan2 baik Lian Seng Pek, rata2 didalam hati mereka berpikir.
"Istrinya yang lenyap kini sudah pulang. Tapi orang yang menjadi suaminya tidak bertanya, kemana kepergian dan bagaimana penghidupan sang istri selama dua bulan itu? Apa yang dikerjakan oleh sang istri? Anehnya, istrinya pun tidak cerita dimana ia selama dua bulan itu, apa saha yang dikerjakannya? Suami aneh sang istripun aneh."
Hay Leng Tju sekalian menganggap mereka bertemu dengan sepasang suami istri aneh.
Sim Pek Kun duduk dan turut serta diantara mereka.
Di meja terdapat juga minuman2 keras.
Inilah yang mengherankan Sim Pek Kun.
Seperti apa ia ketahui, sesudah pernikahan mereka, Sim Pek Kun jarang melihat Lian Seng Pek menenggak arak.
Tapi disini dan ditempat ini Lian Seng Pek minum arak.
Tentu saja, sebagai seorang wanita yang mempunyai kedudukan bagus, seorang wanita yang berhati tulus, Sim Pek Kun tidak bertanya, mengapa sang suami mengajak kawan2nya meminum arak dan berpesta pora.
Dari perobahan2 wajah Sim Pek Kun, dan kejadian2 yang ada ditempat itu, Lian Seng Pek wajib memberi penjelasan, ia tertawa kepada sang istri dan berkata.
"Sebelum kau kembali, kami sedang menghadapi sesuatu soal yang sangat penting."
Untuk memberi keterangan yang lebih jelas, Thio Bu Kek juga turut memberi keterangan.
"Hujin bisa maklum kepada kerakusan laki2. Biar bagaimana, bilamana kami menghadapi sesuatu, agak lama, bila disertai dengan makanan, terlebih2 minuman keras, kita bisa memecahkan persoalan itu lebih cepat."
Hujin berarti nyonya! Sim Pek Kun menganggukkan kepala, tertawa manis, ia berkata. "Aku tahu."
Maka biji mata Thio Bu Kek berputar, memandang ke arah Sim Pek Kun dan bertanya.
"Tahukah hujin, perkara apa yang kami sedang rundingkan?"
Sim Pek Kun bergoyang kepala, tertawa manis.
"Bagaimana aku bisa tahu?
Sedari kecil, Sim Pek Kun mendapat didikan baik.
Seseorang wanita yang hendak mempercayakan dirinya sebagai seorang istri yang baik, seorang wanita yang hendak mendapat pujian baik, ia harus bersikap ramah dan tamah, selalu harus tertawa manis.
Tentu saja, karena harus membawakan posisi sikap tertawa manis itu, kedua pipinya bisa membeku.
Thio Bu Kek berkata.
"Pada sepuluh hari yang lalu, disini terjadi sesuatu yang menggemparkan. Maka kami mengundang Lian Seng Pek kongcu dan kawan2 ini."
Thio Bu Kek menunjuk kearah orang yang tidak jauh duduk darinya, itulah Hay Leng Tju, To Siao Thian dan pemimpin dari 73 perusahaan piauwkiok Suto Tiong Peng.
"Oh?"
Sim Pek Kun berkata perlahan "Apa yang sudah terjadi?"
Sim Pek Kun tidak bermaksud untuk mengajukan pertanyaan.
Tetapi kadang kala tidak mengajukan pertanyaan itu, berarti sesuatu cara yang kurang hormat.
Karena tidak mau tahu dengan soal2, meremehkan urusan kawan2 suaminya.
Ini tidak patut, sebagai seorang istri terhormat, ia wajib bertanya.
Bertanya berartikan sesuatu, memperhatikan keadaan sang suami dan kawan kawannya.
Kesannya kepada Thio Bu Kek tidak begitu baik.
Tapi Thio Bu Kek membalik pula karena itu iapun bertanya.
"Tentang persoalan seorang tokoh muda yang pandai bicara."
Sim Pek Kun bertanya lagi.
"Seseorang yang pandai bicara, belum tentu memiliki kepribadian baik, bagaimana keadaan tokoh muda itu?"
Thio Bu Kek menjawab.
"Tokoh muda kenamaan ini namanya Thio Sam Ya, pernahkah hujin dengar nama ini?"
Sim Pek Kun tertawa manis, ia memberi jawaban.
"Tokoh2 yang kukenal sedikit sekali."
Artinya. Dia tidak kenal Thio Sam Ya. Thio Bu Kek berkata. "Jago Thio Sam Ya ini memiliki kekayaan yang tidak sedikit, sikapnya ramah tamah.
Sering membantu orang, ia tinggal di kampung Thio-tju-tjhung, pada sepuluh hari yang lalu, tanpa hujam tanpa angin, tanpa sebab musabab, Thio Sam Ya dibunuh orang.
Pemimpin kampung Thio-tju-tjhung mati dibunuh orang, seluruh isi kampung Thio-tju-tjhung tidak luput dari pembunuhan pembunuhan........"
Sim Pek Kun membuka mulutnya ia bertanya.
"Oh. Siapakah yang begitu kejam, membunuh seluruh isi kampung."
Thio Bu Kek berkata .
"Tentu saja si kepala rampok Siauw Cap-it-long !"
Hati Sim Pek Kun dirasakan mencelat keluar, selama dua bulan terakhir ia mendampingi Siauw Cap-it-long. Mana bisa terjadi kejadian yang seperti itu ? "Siauw Cap-it-long ?!"
Sim Pek Kun berteriak kaget.
"Tepat !"
Berseru Thio Bu Kek.
"Kecuali Siauw Cap-it-long, mungkinkah ada tokoh kedua ? Siapa lagi yang bisa memiliki kekejaman seperti Siauw Cap-it-long ?"
Sim Pek Kun berusaha menguasai gejolak hatinya, ia bertanya .
"Seluruh isi kampung dibunuh mati ?"
"Tidak seorangpun yang bisa mempertahankan jiwanya."
Jawab Thio Bu Kek.
"Tidak seorangpun yang bisa mempertahankan jiwanya ? Dari mana kau tahu bahwa seluruh isi kampung Thio-kee-chung dihancurkan oleh Siauw Cap-it-long ?"
Bertanya Sim Pek Kun Thio Bu Kek berkata .
"Siauw Cap-it-long adalah tokoh yang sangat kejam, memiliki sifat-sifat congkak dan sombong, sangat angkuh. Setiap kali membunuh orang, tentu menuliskan nama sendiri. Demikian juga didalam kampung Thio-kee-chung, sesudah membunuh mati semua orang yang ada, ia menulis . Orang yang menghancurkan kampung Thio-kee-chung adalah aku, Siauw Cap-it-long."
Deburan darah panas yang ditekan tidak bisa dikuasai lagi, tanpa bisa ditahan Sim Pek Kun berteriak .
"Tidak mungkin ! Tidak mungkin ! Orang yang membunuh dan menghancurkan kampung Thio-kee-chung bukanlah Siauw Cap-it-long, jangan memfitnah ! Siauw Cap-it-long tidak boleh dijadikan kambing hitam. Siauw Cap-it-long tidak seperti apa yang kalian duga, ia tidak kejam dan juga tidak jahat."
Wajah Thio Bu Kek berubah, ia memaksakan diri tertawa dan berkata .
"Hujin memiliki sifat yang baik, tentu saja menganggap semua orang itu baik."
Thio Bu Kek sepasang alisnya dikarutkan, ia memandang Sim Pek Kun, tiba-tiba ia mengajukan pertanyaan .
"Bagaimana Hujin tahu, bahwa hancurnya Thio-kee-chung bukan perbuatan Siauw Cap-itlong ?"
Tubuh Sim Pek Kun gemetaran, ia muak kepada orang orang yang berada di depannya, ia hendak lari meninggalkan mereka, meninggalkan pergaulan yang memuakkan itu.
Ia benci kepada mereka.
Bosan kepada percakapan mereka.
Tentu saja ia tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja.
Ia harus berani bicara.
Bukan sekali ia menerima budi Siauw Cap-it-long, sudah waktunya membalas budi Siauw Cap-it-long itu, ia tidak bisa membiarkan seorang tokoh yang baik hati dijadikan kambing hitam.
Ia tidak membiarkan terjadi fitnah-fitnah jahat.
Karena itu, sepatah demi sepatah, ia berkata tegas .
"Ku berani jamin, Siauw Cap-it-long tidak membunuh orang. Karena.... selama dua bulan terakhir, belum pernah ia terpisah dari diriku."
Adanya keterangan yang seperti itu, tentu saja mengejutkan semua orang !
Seorang nyonya agung yang ternama mendampingi seorang jago berandalan.
Wajah orang-orang yang berada ditempat itu membeku, semua terarah ketempat Sim Pek Kun.
Tidak pernah diduga, Sim Pek Kun bisa menilai isi hati orang-orang itu, apa yang diminta mereka, tentu mengenai Siauw Cap-it-long.
Tapi Sim Pek Kun tidak menyesal atas kata-kata yang diucapkannya tadi.
Sudah waktunya ia membersihkan fitnah-fitnah atas diri Siauw Cap-it-long.
Ia berani mengucapkan kata-kata tadi karena bertanggung jawab penuh kepada keselamatan Siauw Cap-it-long.
Tentunya Sim Pek Kun sudah bersedia menanggung akibat dari keterangan tadi.
Lama sekali mereka saling pandang, akhirnya Lian Seng Pek yang memecahkan kesunyian itu, ia berkata .
"Kukira kita salah menerima keterangan, aku percaya keterangan Sim Pek Kun, orang itu yang membohongi kita."
Suara Lian Seng Pek sabar dan tenang, memperlihatkan sifat seorang suami yang mencinta. To Siao Thian perlahan-lahan mengangkat tangan, ia bergumam .
"Oh.... fitnah kepada Siauw Cap-it-long."
Thio Bu Kek juga tidak henti-hentinya tersenyum tertawa, tiba-tiba ia bangkit dari tempat duduk, berkata .
"Hujin tentu telah melakukan perjalanan jauh, tentunya lelah. Baiklah, kami meminta diri. Lain kali saja meneruskan perjamuan ini."
Sikap Hay-leng-cu tidak simpatik lagi, ia memberi hormat panjang, meninggalkan ruangan itu.
Thio Bu Kek, To Siao Thian, dan Hay-leng-cu sudah berangkat keluar.
Giliran Lie Kang yang bangkit dari tempat duduknya, ia sudah memberi hormat kepada Lian Seng Pek dan bersedia mengakhiri perjamuan.
Hanya seorang Suto Tiong Peng saja yang diam membeku di tempat duduk.
Menyaksikan Lie Kang hendak berangkat, tiba-tiba ia berkata .
"Saudara Lie Kang, tunggu dulu !"
Lie Kang hendak meninggalkan tempat itu, mendapat tegoran Suto Tiong Peng akhirnya ia berkata . Dengan perlahan-lahan Suto Tiong Peng pun berkata .
"Penghancuran kampung Sim cu chung bukan perbuatan Siauw Cap-it-long. Pasti bukan perbuatan Siauw Cap-it-long! Di dalam soal lain, mungkin Siauw Cap-it-long itu bisa saja melakukan sesuatu. Tapi, tidak mungkin Siauw Cap-it-long datang ke kampung ini menghancurkan dan membunuh kampung Thio-cu-chung. Ia telah difitnah orang."
Kata-kata Suto Tiong Peng sangat masuk ke dalam telinga Sim Pek Kun, ia sangat berterima kasih.
Kedudukan Suto Tiong Peng sebagai pemimpin dari 72 perusahaan piauwkiok, tentu saja mempunyai hak suara yang besar.
Asal usulnya Suto Tiong Peng hanya sebagai seorang tukang kentongan dari piauwkiok tidak ternama, karena kejernihan otaknyalah, karena kepintarannya ia bisa merambat naik.
Menjadi pemimpin piauwkiok itu, akhirnya terpilih menjadi pemimpin dari 72 perusahaan piauwkiok.
Kedudukan itu tidak mudah dicapai.
Sikapnya Suto Tiong Peng sangat berhati-hati, jarang membuka mulut.
Sebagai ketua dari 72 perusahaan piauwkiok Suto Tiong Peng sangat berhati-hati, apa yang dikatakannya jarang sekali bisa dibantah.
Demikian juga apa yang baru dikatakan sebagai kedudukan Suto Tiong Peng yang begitu tinggi, Lie Kang tidak bisa membantah.
memandang kearah Lie Kang yang tidak puas, Suto Tiong Peng berkata .
"Sebagai pendekar-pendekar pembela keadilan dan kebenaran, kita tidak bisa mengabaikan adanya motto dan semboyan, lebih baik kita lepas tangan, jangan memfitnah Siauw Cap-itlong!"
Lie Kang tidak bisa memdebat. Suto Tiong Peng berkata lagi .
"Fitnah lebih jahat dari pada pembunuhan, Siauw Cap-it-long difitnah orang, tapi kita tidak boleh sembarang percaya. Bagaimana rasanya seorang terfitnah ? Tentu bisa dimaklumi. Lebih sengsara dan lebih penasaran."
Sim Pek Kun mendengar dengan penuh perhatian, selama hidupnya, belum pernah memuji seseorang, didalam hal ini ia harus memuji Suto Tiong Peng.
Suto Tiong Peng tidak memiliki keluar biasaan yang aneh, wajahnya acuh tak acuh, kepalanya sedikit botak, botak itu mengkilap, suatu tanda bahwa ia memiliki otak profesor.
Didalam keadaan seperti ini, jiwa besar Suto Tiong Peng terpeta jelas, Sim Pek Kun sangat berterima kasih, hampir ia hendak mencium kepala botak yang seperti kepala profesor itu.
MUSUH MUSUH SIAUW CAP-IT-LONG Suto Tiong Peng masih memberi kuliah, ia berkata .
"Bilamana Siauw Cap-it-long tidak memiliki kepribadian yang begitu buruk, bilamana bukan Siauw Cap-it-long yang melakukan pembunuhan pembunuhan itu, itulah suatu fitnah.
Kita tidak bisa membiarkan terjadi fitnah-fitnah.
Kita bukan seorang ahli kambing hitam.
Kita wajib membikin pembelaan, membersihkan fitnah fitnah yang jatuh kepadanya.
Siauw Cap-itlong betul-betul seorang yang baik."
Menoleh dan memandang kearah Sim Pek Kun, dengan perlahan Suto Tiong Peng berkata .
"Tapi hati manusia sukar diterka, baik dan jahatnya kepribadian orang itu, belum tentu bisa dinilai dalam waktu yang sangat sempit. Apalagi hanya dua bulan saja."
Dengan tegas Sim Pek Kun berkata .
"Aku berani menjamin kebaikan Siauw Cap-it-long. Tidak mungkin Siauw Cap-it-long melakukan perbuatan-perbuatan yang seperti itu."
"Sangat pasti ?"
Sim Pek Kun menundukkan kepala kebawah perlahan-lahan memberikan keterangannya .
"Selama dua bulan hidup bersama dengannya, aku bisa menilai kepribadian Siauw Cap-itlong. Terlebih-lebih, beberapa kali ia telah menolong diriku. Apa yang diminta dariku ?.... Tidak. Ia tidak pernah meminta sesuatu pembalasan. Begitu ia tahu kalian berada disini, segera ia mengantar aku."
Bicara sampai disini, suara Sim Pek Kun sudah tersendat, ia menangis. Tidak bisa melanjutkan keterangannya.
"Ouw...."
Berkata Suto Tiong Peng.
"Hujin wajib membuat pembelaan."
"Tentu."
Berkata Sim Pek Kun menggigit bibir.
"Budinya itu tidak bisa terbalas tanpa bantuan-bantuanku."
"Sudah lamakah hujin berpisah dengan Siauw Cap-it-long ?"
Bertanya Suto Tiong Peng.
"Belum lama."
Berkata Sim Pek Kun "Baru tadi pagi."
"Ouw ?"
Bertanya Suto Tiong Peng "Tentunya masih berada disekitar daerah ini."
"Ng......"
Sim Pek Kun menganggukkan kepala.
"Menurut hematku."
Berkata Suto Tiong Peng.
"Baik juga mengundang Siauw Cap-it-long turut serta. Agar kita bisa lebih mempercayainya. Lebih mengenalnya secara dekat."
"Bilamana kalian sudah bertemu muka."
Berkata Sim Pek Kun lama.
"Pasti bisa percaya kepadanya."
"Nama Siauw Cap it long berdengung bagaikan nama yang hebat. Tapi, berapa orang yang pernah bertemu dengan Siauw Cap-it-long. Terlalu sedikit sekali. Kita gembira bila bisa bertemu dengan Siauw Cap-it-long."
Sim Pek Kun mengerutkan alisnya, ia berkata .
"Kukira tidak bisa menemukannya hari ini."
"Mengapa ?"
Bertanya Suto Tiong Peng heran.
"Karena.....karena.... pada hari ini ia sudah mabok, Siauw Cap-it-long mabuk dan lupa daratan."
Suto Tiong Peng bertanya .
"Dia sedang mabuk. Dia suka mabuk-mabukan?"
"Kadang kala juga dia mabuk."
Jawab Sim Pek Kun. Suto Tiong Peng tertawa, ia berkata .
"Seseorang yang suka mabuk, tentu memiliki kekuatan minum yang hebat, dan juga orang ini pasti orang yang jujur. Lain kali aku ingin sekali bisa minum bersama-samanya."
"Cong piauw tiauw memiliki kekuatan minum yang kuat. Tapi kulihat kekuatan minumnya lebih hebat darimu."
"Oh."
Berkata Suto Tiong Peng.
"Berapa banyakkah arak yang diminum?"
"Paling sedikit juga ada sepuluh kati."
"Hebat."
Berkata Suto Tiong Peng.
"Bisa minum arak sehingga sampai sepuluh kati, baru jatuh mabuk, jago ini bukan jago biasa lagi."
"Sebetulnya,"
Berkata Sim Pek Kun.
"Hari-hari biasa, belum tentu ia bisa mabok. Ia adalah seorang jago arak juga."
"Dimana Siauw Cap-it-long mabok?"
"Disebuah rumah penginapan kecil diluar kota."
Berkata Sim Pek Kun "Disebut jago arak, timbul niatanku untuk minum lagi, eh, saudara Lie Kang, bersediakah kau mengawasi aku berpesta pora mengadu minum arak ?"
"Tentu."
Berteriak Lie Kang girang.
Ia sudah mendapat berita penting.
Ternyata Siauw Cap-itlong berada disebuah rumah penginapan kecil diluar kota.
Tidak sulit untuk ditemukan.
Suto Tiong Peng dan Lie Kang minta diri, meninggalkan Lian Seng Pek.
Pesta bubaran.
Lampu berkelap-kelip, menerangi wajah Sim Pek Kun yang Cakap.
Suasana itu begitu sepi dan sunyi.
Sim Pek Kun mengangkat cawan arak, tetapi diletakkannya kembali, tertawa dan berkata .
"Aku hari ini sudah minum arak. Tidak berani minum lagi."
Lian Seng Pek berkata .
"Aku juga menenggak sedikit. Untuk menghilangkan hawa dingin. Apalagi dimusim seperti ini, meminum sedikit arak tidaklah terlalu banyak."
Sim Pek Kun memandang kearah sang suami dan bertanya .
"Kau sudah menjadi mabok ?"
"Seorang jago arak, meminum terlalu banyak kukira baru cukup."
Berkata Lian Seng Pek.
"Aku baru minum sedikit, mana mungkin menjadi mabok."
"Betul."
Berkata Sim Pek Kun.
"Kita bukan jago-jago arak. Ku tidak berani minum terlalu banyak."
"Tapi kalau kau masih belum puas, aku bersedia mengawanimu."
Berkata Lian Seng Pek. "Aku tahu."
Berkata Sim Pek Kun.
"Segala perintahmu pasti ku taati."
Lian Seng Pek menuangkan arak secawan penuh, diserahkan kepada sang istri dan berkata .
"Sayang sekali waktuku sedikit. Maka tidak bisa mendampingimu selalu. Tentunya tidak patut terjadi kejadian yang seperti ini."
Sim Pek Kun menundukkan kepala, lama sekali mereka tidak bicara, sesudah itu memandang sang suami ia bertanya .
"Tahukah kau, apa yang terjadi atas diriku selama dua bulan terakhir ini?"
"Aku......."
Lian Seng Pek memandang isteri itu.
"Sedikit banyak sudah kuketahui, tapi kurang jelas."
"Mengapa kau tidak mengajukan pertanyaan?"
Bertanya Sim Pek Kun.
"Keterangan yang kau sudah berikan itu sudah cukup."
Berkata Lian Seng Pek. Sim Pek Kun menggigit bibir, ia berkata .
"Mengapa kau tidak bertanya ? Bertanyalah, bagaimana aku bisa bertemu dengan Siauw Capit-long, mengapa kau tidak bertanya penghidupanku selama dua bulan ini? Mengapa kau tidak bertanya apa saja yang dikerjakan oleh Siauw Cap-it-long, mengapa?"
Sepasang sinar mata Sim Pek Kun berputar-putar, juga ia sangat heran, mengapa sang suami diam dan membeku?
Betul-betul Lian Seng Pek tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang panjang, jawabannya sangat singkat .
"Karena aku percaya kepadamu."
Jawaban yang singkat ini cukup menghangatkan tubuh Sim Pek Kun.
Inilah jawaban seorang suami yang bijaksana.
Pikiran Sim Pek Kun terapung didalam khayalan, khayalan kepercayaan seorang suami yang arif bijaksana.
Rasa hangat, cinta kasih yang luar biasa, segera saling susul memenuhi benak pikiran sang ratu rimba persilatan.
Hampir saja ia tidak mempunyai tempat untuk menerima berkah-berkah itu.
Sebentar kemudian, Sim Pek Kun telah menenggak habis isi araknya.
Ia menengkurapkan kepala dimeja, menangis dengan sedih.
Kalau saja Lian Seng Pek menegor, kemana saja kepergiannya?
Apa yang dilakukan olehnya?
Mengapa tidak ada kabar berita?
Mengapa bisa bersama-sama dengan Siauw Cap-it-long?
Atau Lian Seng Pek memukulnya.
Menggunakan cemeti, menghajar, mendorong dan mengusir, mungkin rasanya lebih enak daripada apa yang kini ia hadapi.
Mengapa Sim Pek Kun mempunyai perasaan yang seperti itu ?
Karena Sim Pek Kun tidak pernah melakukan sesuatu yang sudah membelakangi suaminya.
Tapi Lian Seng Pek begitu percaya, lebih dari pada percaya, begitu memperhatikan dirinya, begitu menyanjung dirinya.
Takut kalau sampai bisa melukai sesuatu.
Karena itulah sebagai seorang istri yang harus mengetahui kebijaksanaan suami itu, Sim Pek Kun menyesal.
Mengapa Sim Pek Kun menyesal !
Perpisahannya selama dua bulan adalah perpisahan yang bukan dipaksakan, tetapi selama adanya perpisahan itu, belum pernah ia memikirkan keselamatan atau kehidupan Lian Seng Pek.
Inilah kesalahan seorang isteri.
Betul, Sim Pek Kun tidak pernah melakukan sesuatu yang membelakangi Lian Seng Pek, tapi hal itu sudah cukup membuat ia merasa bersalah.
Mungkinkah ada seorang istri yang bisa melukai suaminya yang tercinta ?
Sebetulnya Sim Pek Kun menyesal karena tidak bisa membalas jasa-jasa Siauw Cap-it-long, kini ia juga menyesal, karena ia tidak bisa mengimbangi kebaikan hati sang suami.
Bagaikan dua bilah pisau yang tajam, yang menusuk dari kanan dan kiri, menusuk ulu hati.
Sim Pek Kun tidak tahu, apa yang harus dilakukan olehnya.
Lian Seng Pek menatap istrinya itu tajam-tajam, ia juga termenung ditempat.
Inilah kejadian pertama kali, ia lihat sang istri menangis didepannya.
Lian Seng Pek tidak tahu, bagaimana ia bisa menghibur isteri itu.
Karena ia tidak tahu, dimana rasa sakit dan kesedihan Sim Pek Kun.
Samar-samar mulai terasa, ternyata hubungan suami isteri telah terdapat suatu gap yang sangat dalam.
Berapa lama kemudian, akhirnya Lian Seng Pek menghampiri isteri itu, menjulurkan tangan, hendak mengusap dan membelai memberi kepuasan kepada istrinya.
Tiba-tiba, tangan Lian Seng Pek ditarik kembali, mematung dan berkata dengan suara yang lembut .
"Kau sudah letih. Kau membutuhkan waktu untuk istirahat. Apa yang hendak kau katakan, besok sajalah. Kukira besok adalah hari yang cemerlang."
Sim Pek Kun menangis terus.
Betul-betul ia sangat letih.
Menangis terus menerus sehingga lama, akhirnya ia tertelungkup, seolah-olah jatuh tidur.
Mungkinkah Sim Pek Kun bisa tidur di meja ?
Mana mungkin ?
Tidak mungkin Sim Pek Kun bisa menjadi pulas.
Samar-samar ia bisa mendengar derap langkah kaki suaminya yang berjalan pergi, perlahanlahan terdengar suara Lian Seng Pek yang membuka pintu, menutup kembali.
Cara-caranya Lian Seng Pek menghadapi seorang isteri yang sudah bepergian lama terlalu halus, inilah yang membuat Sim Pek Kun merasa menjadi tidak enak.
Ia mengharapkan suatu jambakan rambut yang keras, suatu tamparan, atau cara-cara yang sangat kasar.
Tapi cara itu tidak dirasakan sama sekali.
Sim Pek Kun merasa kecewa, tapi bercampur dengan rasa syukur rasa berterima kasih kepada sang suami.
Seperti apa yang pernah dirasakan dahulu, Lian Seng Pek adalah seorang suami yang bijaksana.
Ia sangat lembut dan halus pikiran.
Sesudah menangis puas, Sim Pek Kun akhirnya berpikir .
"Apa yang harus disesalkan ? Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Kini aku harus menghadapi penghidupan baru."
Sim Pek Kun masih berhutang budi kepada dua orang, ia harus membalas jasa-jasa Siauw Cap-it-long.
Ia harus menyerahkan isi hatinya kepada Lian Seng Pek.
Didalam hati Sim Pek Kun berjanji, mulai saat itu, ia akan mengabdikan dirinya, baik menjadi seorang isteri yang lemah gemulai, memberi kepuasan yang tidak terhingga.
Karena ada putusan yang seperti itu, hati Sim Pek Kun agak lega.
Mengikuti bayangan Lian Seng Pek........
Malam sangat gelap, tenang seperti permukaan air.
Batu dingin, sangat dingin sekali.
Lian Seng Pek duduk diatas bangku yang dingin itu, terasa jaluran yang meresap tulang, menyembur keatas dadanya.
Mengekang dan hampir membekukan hatinya.
Tetapi didalam bekuan hati itu, masih ada api yang membara.
Api itu adalah dendam kepada Siauw Cap-it-long.
Dengan alasan apa Siauw Cap-it-long menolong isteriku ?
Bagaimana ia bisa bertemu dengan Siauw Cap-it-long?
Mengapa harus hidup bersama-sama dengan Siauw Cap-it-long?
Apa yang mereka kerjakan?
Dua bulan ia tidak pulang.
Apa kerjanya selama dua bulan itu?
Mengapa ia tiba dan kembali pada hari ini ?
Pertanyaan-pertanyaan ini seperti lidah ular yang berbisa menjulur dan menggeragoti hatinya.
Kalau saja Lian Seng Pek mempunyai hati yang polos, secara terus terang mengajukan pertanyaan kepada sang isteri, mungkin keadaannya akan lebih baik.
Tapi ia adalah seorang jantan sejati, apa yang tidak mau dikatakan oleh orang lain, ia tidak membikin paksaan.
Tapi, apapun yang terjadi, tidak seharusnya sang isteri membekukan dan menutup cerita selama perpisahan itu.
Mengapa Sim Pek Kun tidak bercerita, apa yang tersembunyi dibalik batu ?
Lian Seng Pek berusaha menekan gejolak hatinya, berusaha untuk mempercayai dan kesucian sang isteri.
Tapi Lian Seng Pek tidak berhasil menekan kekuasaan itu.
Dipermukaan wajahnya, seolah-olah Lian Seng Pek percaya dan yakin akan kesucian isterinya.
Tetapi didalam hati, tidak bisa hal itu terjadi.
Terbayang kembali wajah Sim Pek Kun, terbayang kembali wajah yang penuh misteri itu, manakala ia menyebut nama Siauw Cap-it-long.
Baru pertama kali, Lian Seng Pek menaruh curiga, ia curiga bahwa hubungan suami isteri itu sudah mulai retak.
Apa yang menyebabkan hal itu bisa terjadi?
Mengapa ia tidak mau menyelami hati sang isteri ?
Musim semi berlalu, daun berguguran.
malam semakin gelap.
Tiba-tiba, Lian Seng Pek yang duduk diatas batu luar, bisa menyaksikan satu bayangan tampil jelas, itulah bayangan Thio Bu Kek, To Siao Thian, Hay-leng-cu dan Lie Kang.
Keempat orang itu mengenakan pakaian ringkas, pakaian yang siap sedia untuk melakukan pertempuran-pertempuran, diwaktu malam.
Lian Seng Pek bisa melihat adanya keempat bayangan, dan keempat orang itu juga mendatangi kearah Lian Seng Pek.
Adanya Lian Seng Pek yang duduk diatas batu seorang diri membuat mereka ragu-ragu, memandangnya sebentar, dan hendak menguji keberanian jago itu.
Thio Bu Kek adalah orang yang berjalan di paling depan, ia memaksakan bertanya dan tertawa .
"Lian kongcu belum masuk tidur ?"
Biasanya, Thio Bu Kek memanggil Lian Seng Pek dengan panggilan Saudara, tiba-tiba saja ia mengubah panggilan itu dengan sebutan kongcu, inilah suatu tanda bahwa ia mulai menaruh sedikit gap perpisahan, maka lebih hati-hati.
Lian Seng Pek tertawa tawar, Ia berkata .
"Kalian juga belum tidur."
Tertawa Thio Bu Kek semakin dipaksakan, ia berkata .
"Kami.....kami mempunyai sedikit urusan. Hendak keluar sebentar."
Lian Seng Pek menganggukkan kepala. Ia berkata .
"Aku tahu."
Sepasang sinar mata Thio Bu Kek bercahaya, berkilat dan ia bertanya .
"Lian kongcu sudah tahu, apa yang hendak kami kerjakan?"
Lian Seng Pek tidak bisa menjawab pertanyaan itu, berpikir beberapa waktu, perlahan-lahan ia menggelengkan kepala.
"Belum tahu."
Katanya. Thio Bu Kek tertawa ringan, ia berkata .
"Tepat! Ada beberapa bagian lebih baik Lian kongcu tidak tahu !"
Dan disaat ini, terdengar ringkikan ringkikan suara kuda. Ternyata orang itu hendak melakukan perjalanan yang jauh, membikin persiapan penunggangan kuda. Tiba-tiba Hay-leng-cu berkata .
"Lian kongcu apa tidak hendak turut bersama-sama kami ?"
Lian Seng Pek membeku, akhirnya ia berkata .
"Ada beberapa urusan, lebih baik, tanpa hadirnya diriku."
Maka keempat jago itupun meninggalkan Lian Seng Pek.
Mereka adalah jago-jago kelas satu, gerak geriknya cepat dan cekatan, tentu saja tidak menimbulkan banyak suara berisik.
Suara Hay-leng-cu, Thio Bu Kek, To Siao Thian dan Lie Kang tidak bersuara, tapi sesudah mereka hendak menunggang kuda, binatang itu bisa menimbulkan suara ringkikan dan ketoprakan, tidak bisa ditutupi.
Untuk menutupi suara ketoprakan kaki kuda, keempat orang itu menuntun masing-masing tunggangannya sehingga jauh, baru mencongklangkan, dan dikaburkan keras.
Demikianlah, suara ketoprakan kaki kuda tidak begitu mengejutkan.
Urusan rahasia apakah yang membuat cara-cara orang itu menyembunyikan desiran suara ?
Tentu urusan yang sangat penting dan tidak boleh diketahui orang.
Pikiran Lian Seng Pek sangat tajam.
Ia tidak berkata, tapi hatinya bisa menduga.
Ia masih duduk diatas batu yang dingin, menenangkan gejolak hatinya.
Beberapa saat lagi dilewatkan, perlahan-lahan ia bangkit berdiri, dan perlahan-lahan pula mengayun langkahnya.
Lampu pelita kamar bagian timur masih belum dipadamkan, itulah suatu tanda disana orangnya masih belum tidur.
Lian Seng Pek mengayun kaki, menghampiri kamar itu.
Pintu tidak terkunci, dengan mudah Lian Seng Pek melangkahkan kaki memasuki kamar tersebut.
Dalam kamar itu, Suto Tiong Peng sedang bercuci tangan.
Dicuci lagi dan dicuci lagi, mengulang terus kejadian itu sehingga beberapa kali.
Mencucinya sangat berhati-hati, sehingga lebih dari pada bersih.
Seolah-olah kedua tangan itu dikotori oleh darah amis, darah yang tidak bisa dicuci dengan air biasa.
Lian Seng Pek berdiri dibelakang Suto Tiong Pek.
Memperhatikan Suto Tiong Pek mencuci tangan itu.
Tanpa menolehkan kepala kebelakang, Suto Tiong Peng bisa mengetahui, siapa orang yang berada dibelakang dirinya.
Tiba-tiba pula ia berkata .
"Sudah melihat mereka?"
"Ng ""
Lian Seng Pek mengeluarkan suara geraman.
"Tentunya bisa menduga,"
Berkata Suto Tiong Peng.
"Apa yang hendak mereka kerjakan?"
Kali ini, Lian Seng Pek tidak menyahut, menutup rapat mulutnya. Menolak memberikan jawaban. Suto Tiong Peng menghela napas panjang, ia berkata.
"Pasti! Sudah pasti kau bisa menduga, apa yang mereka akan kerjakan. Betapa hebat ilmu kepandaian Siauw Cap-it-long, betapa kuat Siauw Cap-it-long, mereka akan berusaha membunuhnya.
Kematian Siauw Cap-it-long adalah sesuatu yang menyenangkan, hidupnya Siauw Cap-it-long adalah kerewelan bagi mereka.
Karena itulah, mereka akan berusaha menyingkirkan Siauw Cap-it-long dari bumi kita."
Lian Seng Pek tertawa nyengir, ia bertanya.
"Bagaimana kesan pendapatmu, kau juga mempunyai penilaian seperti mereka."
"Aku?????? ""
Suto Tiong Peng tertawa tawar. Lian Seng Pek berkata.
"Kalau bukan kau yang mengorek jejak Siauw Cap-it-long, mana mungkin mereka tahu, dimana Siauw Cap-it-long berada?"
Tiba-tiba saja Suto Tiong Peng menghentikan tangannya, mengambil lap untuk mengeringkan air ditangan itu menggosok-gosoknya perlahan dan berkata.
"Tapi tidak kuucapkan sesuatu kepada mereka."
Lian Seng Pek berkata.
"Tentu saja tidak perlu menggunakan mulutmu, karena disaat kau mengorek keterangan, sengaja menahan Lie Kang. Itu sudah cukup, kau tahu, dendam besar Lie Kang kepada Siauw Cap-it-long."
Suto Tiong Peng berkata.
"Tapi aku tidak menyertai mereka."
Lian Seng Pek berkata.
"Tentu saja, sebagai pemimpin dari tujuh puluh dua perusahaan piauw-kiok, kau harus berhati-hati."
"Membunuh Siauw Cap-it-long adalah sesuatu yang bisa mendapatkan nama. Menyingkirkan manusia jahat dari rimba persilatan Mengapa harus takut?"
Lian Seng Pek berkata.
"Kukira kau tidak mau dicela oleh Sim Pek Kun. Mungkin juga takut menjadi tertawaan orang, kalau betul Siauw Cap-it-long terfitnah. Apa yang bisa kau pertanggung-jawabkan?"
Baru sekarang Suto Tiong Peng menolehkan kepala kebelakang, kini berpandang-pandangan bersama Lian Seng Pek. Menatapnya tajam-tajam dan berkata.
"Bagaimana dengan pikiranmu?"
"Aku? ""
Lian Seng Pek tidak menjawab pertanyaan itu. Suto Tiong Peng berkata.
"Kau tahu bahwa aku sengaja meminta keterangan Siauw Cap-it-long, kau tahu apa yang akan mereka kerjakan, kau sudah tahu, maksud tujuan kami. Tapi kau tidak mencegahnya, kau tidak memberi tahu dan memberi peringatan kepada isterimu. Apa alasannya?"
Lian Seng Pek diam, tidak bicara. Suto Tiong Peng tertawa, dengan rasa puas dan bangga ia berkata.
Kau tidak turut serta dalam gerakan mereka, karena kau tahu, bahwa Siauw Cap-it-long itu sudah berada didalam keadaan mabuk, pasti mereka berhasil, pasti mereka bisa menyingkirkan Siauw Cap-it-long, karena ini, kau tidak mau mengotori tanganmu sendiri.
Sebetulnya, kau juga salah seorang yang mempunyai pikiran untuk menghancurkan Siauw Cap-it-long.
Seharusnya pikiranmu ini lebih kuat, dan lebih hebat dari pada apa yang kita pikirkan "
Berkata sampai disini mata Suto Tiong Peng terbelalak, menutup mulutnya. Memperlihatkan sikapnya yang tegang. Tentu ada sesuatu yang terjadi, Lian Seng Pek membalikkan kepala menoleh kebelakang.
"Aaaa ""
Entah kapan kedatangannya, Sim Pek Kun sudah berdiri dipintu.
Lian Seng Pek dan Suto Tiong Peng menghentikan percakapan mereka.
Karena hadirnya Sim Pek Kun ditempat itu.
Sim Pek Kun berdiri dengan air mata bercucuran, ia bisa mengikuti percakapan dari sang suami dan Suto Tiong Peng.
Ternyata mereka adalah komplotan yang hendak menyingkirkan Siauw Cap-it-long dari permukaan bumi.
Hatinya sangat bersedih.
Untuk mengatasi kesulitan ini, Lian Seng Pek menghela napas perlahan, dengan suara yang merdu, semerdu mungkin, suara yang semesra mungkin, ia berkata.
"Sudah waktunya kau tidur ""
Lian Seng Pek mendekati sang isteri, dengan maksud membimbing dan mengantarkan Sim Pek Kun pergi tidur.
Tapi gerakan Sim Pek Kun mengimbangi langkah-langkah sang suami, ia mundur.
Bila Lian Seng Pek maju dua tapak, ia mundur pula dua tapak.
Ia mempertahankan jarak pemisah mereka.
Lian Seng Pek masih mencoba memberi hiburan, ia berkata dengan suara yang sangat merdu.
"Angin malam sangat jahat, kalau kau mau jalan2, seharusnya menggunakan pakaian yang lebih tebal."
Lian Seng Pek mendekati isteri itu lagi. Tiba-tiba Sim Pek Kun mengeluarkan jerit lengkingannya yang panjang.
"Jangan dekati aku!"
Lian Seng Pek menghentikan langkahnya.
Sim Pek Kun masih mengucurkan air mata, ia mengertak gigi, hatinya seperti ditusuk beriburibu pisau, dengan suara sember ia berkata.
Baru saat ini aku betul2 bisa menyelami hati kalian, hati para pendekar, para jago gagah perkasa yang begitu jahat "
Tanpa mengucapkan suara lagi, Sim Pek Kun membalikkan badan, menerjang keluar. Ia berlari meninggalkan Lian Seng Pek yang termangu-mangu. Kini Sim Pek Kun mengetahui, bahaya apa yang sedang mengancam Siauw Cap-it-long.
Melupakan hawa udara yang sangat dingin, ia berlari cepat.
Bayangan Sim Pek Kun berlari menyusul angin.
Dan angin itupun lewat lalu.
Menyusul angin yang lalu, kita tinggalkan gerakan Sim Pek Kun.
Dan kembali menceritakan keadaan Siauw Cap-it-long.
Siauw Cap-it-long betul-betul sudah berada didalam keadaan mabuk.
Seorang yang mendapatkan dirinya berada dalam keadaan mabuk, maka lenyaplah semua sengsara-sengsara kehidupan, ia tidak sakit, tidak bergembira, melupakan godaan sang dunia.
Seorang yang sudah berada dalam keadaan mabuk, tidak tahu apa yang harus dikatakan olehnya.
Juga tidak tahu, apa yang akan dilakukan olehnya.
Tapi seorang yang mabuk bisa melakukan sesuatu hal yang belum pernah dilakukan pada masa segarnya.
Siauw Cap-it-long bermabuk-mabukan, karena ditinggalkan oleh Sim Pek Kun.
Urusan Sim Pek Kun menyusahkan Siauw Cap-it-long.
Belum pernah ia mendapatkan urusan perkara yang sesulit ini.
Belum pernah ada sesuatu yang tidak bisa diselesaikan oleh Siauw Cap-itlong.
Kecuali hubungannya dengan Sim Pek Kun.
Tiba-tiba saja Siauw Cap-it-long terjengkit, ia menuju kearah ruang meja pemilik rumah makan, ditariknya leher baju orang itu dan membentak.
"Keluarkan!"
Si pemilik rumah makan hendak berontak tapi tidak berhasil, wajahnya menjadi pucat-pasi, mengkerutkan alisnya ia bertanya.
"Apa yang harus diserahkan?"
Siauw Cap-it-long berkata.
"Tusuk konde kumala itu, tusuk konde kumala ""
Seseorang akan lebih takut, menghadapi orang yang berada dalam keadaan mabuk.
Demikian pula pemilik rumah makan itu, ia menjadi begitu takutnya, tubuhnya dirasakan menjadi lemas.
Siauw Cap-it-long menarik kembali tusuk konde yang menjadi hak milik Sim Pek Kun, melepaskan pegangannya, meninggalkan meja si pemilik rumah penginapan.
Baru saja berjalan beberapa langkah, kakinya dirasakan teklok, ketepruk, gedubrak "
Tubuh Siauw Cap-it-long duduk jatuh ngusruk, dengan tangan masih memegangi tusuk konde.
Siauw Cap-it-long tidak berusaha bangun, ia duduk dilantai, mengacungkan tusuk konde, menatapnya, seperti hendak meneliti atau mengilmiah sesuatu yang luar biasa.
Apa yang hendak diteliti dari tusuk konde itu?
Disana terbayang wajah Sim Pek Kun.
Wajah itu semakin lama semakin membesar, wajah dari wanita yang mendapat gelar ratu dunia persilatan.
Gerak-gerik Sim Pek Kun, wajah Sim Pek Kun, pandangan mata Sim Pek Kun, mulutnya yang membentak marah, dan terakhir senyum Sim Pek Kun yang riang.
Mengapa ia tidak bisa melupakan wajah wanita itu?
Pemilik rumah makan bisa menduga, apa yang menjadikan mabuknya Siauw Cap-it-long.
Ia berpikir.
"Pasangan tadi adalah pasangan yang setimpal, mengapa mereka harus berpisahan?"
Akhirnya Siauw Cap-it-long menelungkupkan diri ditanah, ia menangis seperti seorang anak kecil. Hati si pemilik rumah penginapan juga turut bersedih, ia berpikir lagi.
"Apa rasanya nona tadi, kalau ia menyaksikan kejadian yang seperti ini?"
Pemilik rumah makan itu bersyukur kepada dirinya, bersyukur, karena ia belum mengalami patah hati.
Siauw Cap-it-long masih tengkurap ditanah, ia masih menangis, menangis dalam keadaan yang mabok.
Tiba2, rumah makan itu didatangi oleh beberapa orang, suara derap kaki kuda berhenti didepan pintu, dan sesudah itu masuk tiga bayangan, dor, dor, dor, dor, tiga bayangan itu menendangkan kakinya kepintu, membuat benturan yang hebat.
Tiga orang mengurung Siauw Cap-it-long yang tengkurap ditanah.
Seorang berdiri dipintu.
Dengan pedang yang mengeluarkan cahaya hijau kemilauan wajahnya lebih hijau lagi, sangat dingin.
Inilah jago Lam-hay nomor satu Hay-leng-cu.
Dikiri dan kanan Siauw Cap-it-long masing-masing berdiri Thio Bu Kek dan To Siau Thian.
Ketiga jago kelas satu itu mengurung Siauw Cap-it-long.
Prasangka Siauw Cap-it-long sudah menjadi kebal.
Kini ia duduk ditanah, dengan tangan kanan mengacungkan tusuk konde.
Ditatapnya lagi benda tersebut, mulutnya bergumam perlahan.
"Sim Pek Kun "
Sim Pek Kun ""
Betul-betul Siauw Cap-it-long sudah berada didalam keadaan mabok. PERTEMPURAN GILA DIDALAM RUMAH MAKAN THIO BU KEK memancarkan sinar mata yang tajam, ia menganggukkkan kepala dan berkata perlahan.
"Tidak sangka, jago berandalan Siauw Cap-it-long berani mengganggu istri orang lain."
Lain bayangan lagi muncul, inilah bayangan Lie Kang. Dengan dingin Lie Kang berkata.
"Pantas saja Sim Pek Kun membela dirinya. Ternyata ""
Tiba2 mata Siauw Cap-it-long diangkat, memandang kearah Lie Kang, disebutnya nama Sim Pek Kun dari mulut orang lain adalah satu pantangan, inilah yang bisa menutup perasaannya.
Sepasang sinar mata Siauw Cap-it-long diarahkan kepada Lie Kang, memancarkan cahaya penuh hawa pembunuhan.
Lie Kang mengundurkan tubuhnya, ia menjadi gemetaran.
Sebetulnya, Siauw Cap-it-long tidak bisa melihat dan tidak bisa membedakan, apa yang berdiri didepannya, siapa-siapa orang yang mengurungnya itu.
Tapi sepasang mata itu masih menjulurkan keganasan.
Tidak terasa Lie Kang mundur kebelakang.
Tiba2 terdengar suara bentakan Hay-leng-cu.
Baca Juga: Rahasia Hiolo Kumala 7
Baca Juga: Beruang Salju 11