Eps 6 Anak Berandalan - Khu Lung
Baca online Anak Berandalan - Khu Lung
Cersil Anak Berandalan - Khu Lung.
"Sergap! Jangan biarkan ia sadarkan diri."
Mendahului komando itu, Hay-leng-cu mengayun pedang, secepat pedang berkilat, ujung diarahkan kearah tenggorokan Siauw Cap-it-long.
Mungkin saja kalau Siauw Cap-it-long tidak mengetahui datangnya serangan ini.
Tapi konsentrasi ilmu silatnya selama dua puluh tahun, belum pernah membuat Siauw Cap-it-long mengalami kegagalan, daya tangkapnya masih hebat, sukmanya adalah sukma seorang jago silat, begitu tangan terayun, ia mementil pergi pedang yang ditujukan kearahnya.
"Ting ""
Dengan tusuk konde mas yang berada ditangan, Siauw Cap-it-long menangkis serangan Hay-leng-cu.
Inilah kejadian yang berada diluar dugaan, seorang jago silat ternama dari daerah Lam-hay, serangan padanya bisa digagalkan oleh sentilan tusuk konde yang begitu kecil.
Sentakan itu sangat keras, hampir Hay-leng-cu melepaskan pegangan pedangnya.
Wajah Thio Bu Kek berubah.
Sedari ia mendapatkan kedudukannya sebagai ketua partai Sianthian-bu-tek, ilmu kepandaiannya telah mengalami kemajuan yang hebat.
Ia sangat congkak dan sombong, kemana saja ia pergi, belum pernah ia membawa senjata tajam, belum pernah ia menggunakan senjata melawan orang, hari ini terkecuali, kekuatan Siauw Cap-it-long telah mengejutkan dirinya, pedang lemas yang terikat dipinggang diloloskan, miring-miring mengacam kearah Siauw Cap-it-long.
Memberi ancaman yang hebat.
Ilmu kepandaian Thio Bu Kek mengutamakan ketenangan yang menguasai gerakan, ketenangan yang menekan kesusahan.
Dengan kecepatan mengalahkan kelambatan.
Serangan pedang lemas Thio Bu Kek, meluncur kearah Siauw Cap-it-long.
Disaat ini terdengar satu suara lain.
"tring ""
Sebuah cangklong panjang telah mendahului gerakan pedang lemas Thio Bu Kek, meluncur kearah kaki Siauw Cap-it-long.
Inilah serangan senjata cangklong To Siao Thian.
Biasanya, To Siao Thian melakukan sesuatu dengan ayal-ayalan, tampaknya seperti orang tolol, tapi, begitu cangklong bergerak, cepat, tepat dan gesit.
Thio Bu Kek membawakan sikapnya yang agung, ia tidak segera mengambil alih posisi itu, melihat adanya To Siao Thian yang bergerak lebih cepat, ia menyentak sedikit tangannya, dari sana pedang lemas itu miring kebelakang mengancam jalan pembuluh darah dipundak belakang Siauw Cap-it-long.
Kalau saja serangan ini berhasil, huh!
Hem "
Pasti terjadi pengorbanan, darah Siauw Cap-it-long bisa mancur tersembur jauh.
Tidak mungkin bisa ditolong lagi.
Thio Bu Kek dan To Siao Thian sudah mulai bergerak.
Hay-leng-cu membenarkan napasnya yang sengal2, mengayun pedang limbung juga.
Permainan pedang Hay-leng-cu adalah pedang yang terganas, kalau saja ia tidak bergerak, masih tidak melihat keistimewaan itu.
Kegesitannya tanpa tandingan, kini menuju kearah leher Siauw Cap-it-long.
Sedari adanya nama Siauw Cap-it-long, belum pernah ada seorang jago silat yang bisa mengalahkan, karena itu Siauw Cap-it-long sudah menjadi tokoh silat yang digembargemborkan orang.
Siapa saja yang bisa mengalahkan Siauw Cap-it-long, namanya cepat meningkat.
Apalagi bisa membunuh Siauw Cap-it-long, inilah suatu kejadian yang berada diluar dugaan, pasti bisa menduduki urutan tertinggi.
Karena itulah, To Siao Thian, Thio Bu Kek dan Hay-leng-cu memperebutkan kedudukan, mereka masing-masing hendak memdahului kawannya menebas putus batang leher Siauw Cap-it-long.
Tentu saja, mereka berani melakukan hal ini, melihat keadaan Siauw Cap-it-long yang berada didalam keadaan pemabukan.
Ting "
Terdengar lagi suara pentilan, maka disana terjadi lelatu api, ilmu pedang Hay-leng-cu menampar pedang Thio Bu Kek.
Tubuh Siauw Cap-it-long molos keluar dari serangan kedua pedang tersebut.
Terjadinya benturan pedang diantara kawan-kawan sendiri membuat Hay-leng-cu dan Thio Bu Kek merasa malu, karena itu pedang digentak kelain arah, tetap mengincar Siauw Cap-itlong.
Bang "
Tiba-tiba saja tubuh Siauw Cap-it-long mumbul terbang, bek, jatuh diatas meja si pemilik rumah makan, dari hidungnya, dan mulutnya mengeluarkan darah.
Ternyata Siauw Cap-it-long tidak melihat turut hadirnya Lie Kang ditempat itu, secara diamdiam dan teratur, Lie Kang mengirim satu pukulan, dengan tepat mengenai Siauw Cap-itlong, dan melukai Siauw Cap-it-long.
Thio Bu Kek, Hay-leng-cu dan To Siao Thian, memperebutkan pahala, tidak urung mereka mengalami kegagalan.
Jasa besar jatuh kedalam tangan Lie Kang.
Pasti nama Lie Kang yang dipuji-puji orang.
Akan tersebar luaslah suatu berita, kenyataan bahwa seorang jago silat yang bernama Lie Kang berhasil mengalahkan Siauw Cap-it-long.
Wajah Hay-leng-cu ditekuk masam, ia berkata dingin.
"Saudara Lie Kang, tiga puluh enam jurus pukulan batu remuk memang hebat. Lain kali, kalau ada kesempatan, aku hendak meminta sedikit pelajaran."
Pada wajah Lie Kang yang geram tidak pernah nampak senyuman, ia juga berkata menantang.
"Kalau ada kesempatan, pasti kulaksanakan kemauanmu itu."
Disaat ini, lagi-lagi terdengar satu suara ting "
Itu waktu, cangklong To Siao Thian telah mengincar cepat, menuju kearah jalan darah Pekhui-hiat dikepala Siauw Cap-it-long.
Mana tahu, pedang Thio Bu Kek sudah nyelonong masuk.
Entah disengaja, atau entah tidak disengaja, pinggir pedang itu menggesek pipa cangklong To Siao Thian.
Maka serangan To Siao Thian digagalkan.
Mencong kesamping.
Tapi pipa cangklong To Siao Thian yang terbuat dari baja murni mempunyai bobot berat yang luar biasa, karena itu, ia juga berhasil menendang pergi pedang Thio Bu Kek.
Kedua orang itu saling pandang, menyengir dan tertawa kecut.
Lie Kang berteriak, ia hendak memproklamasikan kemenangannya, karena itu berkata.
"Hentikan gerakan semua orang! Orang ini sudah terkena pukulanku. Tanpa kalian bantu, ia akan jatuh ngeloso."
Dia menuntut jasa! To Siao Thian berkata.
"Menurut cerita orang, untuk membuktikan hidup matinya sang korban, kita harus memotes batok kepalanya, memisahkan diri otak pikiran itu dari tempatnya semula."
Thio Bu Kek juga menimpali, ia berkata.
"Betul. Kita harus membuktikan kebenaran ini."
Lie Kang tertawa dingin dan berkata.
"Sangat mudah sekali, didalam keadaan jang seperti ini, anak kecil yang berumur tujuh tahunpun bisa menabas batang lehernya."
Hay-leng-cu turut berkata.
"Kukira belum tentu."
Lie Kang mendelikkan mata dan membentak.
"Mengapa belum tentu?"
Matanya teralih dan memandang Siauw Cap-it-long, tiba-tiba saja wajahnya berubah pucatpasi, seperti sudah tidak berdarah.
Disaat ini, Siauw Cap-it-long juga memandang kearah mereka, dengan tertawanya yang menantang.
Siauw Cap-it-long merentangkan kedua matanya, kedua mata itu bercahaya dan menyorot tajam, seolah-olah hendak menembus hati semua orang.
Walau dalam keadaan hampir tidak sadarkan diri, kewibawaab Siauw Cap-it-long belum pernah luntur.
Seseorang yang sudah hampir mati tidak mungkin bisa memiliki sepasang mata yang bercahaya tajam itu.
Tidak mungkin bisa melowekan bibirnya tertawa kepada mereka.
Siauw Cap-it-long belum mati.
Thio Bu Kek mendapat satu akal, ia menghadapi Siauw Cap-it-long dan berkata.
"Eit, kawan, kau sudah terkena pukulan batu remuk dari saudara Lie Kang.
Seharusnya mengatupkan sepasang matamu.
Tinggalkanlah jiwa-ragamu menuju kedunia akherat.
Mengapa masih mempelototkan mata seperti itu?
Mengapa tertawa menyengir seperti itu?
Tiba-tiba saja Siauw Cap-it-long tertawa berkakakan, karena ia tertawa, menarik peredaran jalan darah dada, didadanya itu menjadi sengal2 napasnya dirasakan menjadi sesak.
Belum pernah pukulan batu remuk Lie Kang mengalami kegagalan, kecuali hari ini, wajahnya menjadi matang biru, marah dan malu.
Segera ia membentak.
"Apa yang kau tertaawakan?"
Siauw Cap-it-long masih tertawa, ia bertanya.
"Begitu hebatkah ilmu pukulan batu remuk? Apa betul sehebat yang dikatakan oleh kawanmu?"
Tanpa menunggu jawaban Lie Kang, tiba-tiba Siauw Cap-it-long bangun berdiri. Menepuk dada dan berkata.
"Ini dadaku! Mana dadamu? Hayo! Pukul lagi disini, hendak kulihat, sampai dimana kehebatan batu remuk?"
Sepasang mata Lie Kang dipelototkan lebar-lebar, wajahnya jadi matang biru, sepatah demi sepatah ia berkata.
"Inilah permintaanmu! Jangan salahkan aku, ya?"
Pundaknya tidak bergerak, pinggangnya tidak diturunkan, kakinya digusur maju kedepan, dengan ujung telapak tangan, begitu dekat sekali, sehingga berjarak yang tidak mungkin dielakan, baru diselonongkan kedepan, memukul dada Siauw Cap-it-long.
Inilah ilmu pukulan Bintang Kecil!
Siauw Cap-it-long tidak mengelakkan.
Dan memang juga ia tidak mungkin bisa mengelakkan pukulan bintang kecil.
Bung "
Terdengar satu pukulan keras, seolah-olah membentur tumpukan rumput.
Pukulan Lie Kang mengenai sasaran.
Kali ini tidak seperti tadi, kalau tadi Lie Kang bisa menghajar jungkir-balik Siauw Cap-itlong, kini ia mengalami kegagalan, Siauw Cap-it-long terpantek kuat ditempat posisi kedudukan semula, bergoyangpun tidak, bergeserpun tidak, seperti patung, kokoh kekar yang tertancap ditempat itu.
Wajah Lie Kang menjadi pucat-pias, ia tidak bisa mengeluarkan suara.
Ilmu pukulannya yang bernama pukulan batu remuk telah hampir mencapai taraf tertinggi, tanpa tandingan.
Intan berlian yang dihajar oleh pukulan ini mungkin bisa hancur berantakan.
Apalagi batu biasa, pasti batu itu bisa menjadi remuk.
Karena itulah mendapat nama pukulan batu remuk.
Jang mengherankan dirinya, ia bisa meremukkan batu, tetapi tidak bisa meremukkan dada Siauw Cap-it-long.
Lebih dari pada itu, kekuatan timbal-balik Siauw Cap-it-long yang menendang kembali membuat Lie Kang merasakan telapaknya hampir pecah.
Thio Bu Kek dan Hay Leng Cu saling pandang, mereka girang atas hasil yang seperti itu, maka nama Lie Kang yang akan digembar-gemborkan karena sudah berhasil memukul Siauw Cap-it-long harus diseret kembali, dihapus dari papan yang sudah tersedia.
Di sinilah letak keajaiban, mereka datang bersama-sama, sesudah sang kawan mengalami kegagalan, bukannya bersedih atau membantu malah bergirang hati.
Tampak Siauw Cap-it-long masih cengar-cengir, beberapa saat kemudian, baru jago berandalan itu membuka mulut.
"Ilmu seperti inikah yang diberi nama pukulan Batu Remuk?"
"Huh!"
Lie kang mengeluarkan suara gerengan. Siauw Cap-it-long tertawa lagi, ia berkata.
"Menurut hematku, ilmu tadi bukan ilmu pukulan Batu Remuk. Tapi lain ilmu pukulan yang jauh berbeda dengan ilmu pukulan Batu Remuk."
"Apakah namanya dari ilmu yang bertentangan dari ilmu pukukan batu remuk itu?"
Tiba-tiba Thio Bu Kek berkata, dia melirik ke arah Lie Kang. Mata Siauw Cap-it-long berpencar ke tiga penjuru, ia tertawa sebentar, baru berkata.
"Ilmu ini aku juga bisa menggunakannya, mari! biar kulatih kepada kalian."
Siauw Cap-it-long meraihkan tangannya ke atas piring, piring itu masih terpancang di meja, di sana terdapat sayur tahu dan tempe.
Meraup isi di piring, dikeremusnya perlahan-lahan.
Dan begitu Siauw Cap-it-long membuka tangan, tahu dan tempe itu menjadi bubuk, hancur berterbangan, sesudah mana, ia berkata.
"Aku juga bisa mempermainkan ilmu pukulan yang seperti ini, namanya adalah ilmu Tahu Tempe Remuk"
Thio Bu Kek, Hay-leng-cu dan To Siao Thian memuji kehebatan ilmu kepandaian Siauw Cap-it-long. Mereka lebih memuji mulut Siauw Cap-it-long yang pandai berkelakar.
"Hua,ha....."
Tiba-tiba Hay-leng-cu tertawa besar.
Di dalam keadaan yang seperti itu, tidak seharusnya Hay-leng-cu mengeluarkan suara tertawa.
Ini akan mengakibatkan ganjelan hati Lie Kang.
Melihat ada yang tertawa, Siauw Cap-it-long juga tertawa.
Tertawa hingga sakit pinggang Pinggangnya Siauw Cap-it-long yang sakit bukan karena tertawa, itulah terkena pukulanpukulan dari musuhnya.
Selama dua puluh tahun terakhir, korban-korban kematian yang gugur di bawah pukulan Batu Remuk Lie Kang tidaklah sedikit.
Siauw Cap-it-long sudah menerima dua kali pukulan itu, luka di dalampun sangat berat.
Di dalam keadaan masih mabuk, tidak tahu menahu akan kehebatan itu, kalau ia sadar dan cepat-cepat memutarkan peredaran jalan darahnya membenarkan letak tempat isi dalam yang luka, mungkin bisa mengakibatkan hal lain, tapi Siauw Cap-it-long tidak melakukan hal itu, ia memamerkan ilmu pukulan "Tahu Tempe Remuk" , sesudah itu, tertawa berkakakan, maka menggeser keadaan luka-lukanya, ia menekuk pinggang.
Air kata-kata punya bisa, arak punya jahat, seseorang yang sudah jatuh mabok, menganggap dirinya sebagai seorang maha kuasa, maha bisa.
Itulah cara-cara Siauw Cap-it-long untuk menghadapi musuh-musuhnya.
Di dalam keadaan sadar, tidak mungkin Siauw Cap-it-long mau menerima pukulan Batu Remuk itu.
Tapi lain dahulu, lain sekarang.
Dalam keadaan setengah mabuk, Siauw Cap-itlong sudah menerima pukulan Batu Remuk.
To Siao Thian juga tertawa.
Tapi setiap gerak-gerik Siauw Cap-it-long tidak lepas dari penilaiannya.
Sebagai seorang jago yang kawakan, ia mempunyai sinar mata yang lebih hebat, To Siao Thian memiliki umur yang lebih tua dua puluhan tahun dari orang-orang di tempat itu.
Selisih umur dua puluhan tahun itu cukup membawa pengalaman yang banyak, asam dan garam yang ditelan lebih banyak dari nasi yang dimakan oleh anak muda.
Demikian ia sering memuja diri sendiri.
Kini ia menilai ilmu kepandaian Siauw Cap-it-long, menilai luka-luka yang sudah diderita oleh Siauw Cap-it-long.
"Oh...."
Berkata To Siao Thian.
"Ilmu yang seperti itu? aku juga bisa."
Siauw Cap-it-long tertawa, ia berkata.
"Kau juga hendak menjajal?"
To Siao Thian menganggukkan kepala dan berkata.
"Itulah maksudku."
Secepat itu pula, ia mendorong pipa cangklongnya.
Sangat cepat, sangat tajam, menjurus ke tiga jalan darah Siauw Cap-it-long.
Jalan darah jalan darah yang diincar adalah jalan darah Hian-kie, Ju-hian dan Kiang-tay.
To Siao Thian adalah jago totokan yang hebat, dengan tiga ancaman tadi, ia hendak menjerumuskan Siauw Cap-it-long ke dalam lembah kehancuran.
Tubuh Siauw Cap-it-long tidak bergerak, matanya tidak berkesiap.
Tangan kanannya seperti menangkap ular, dijulurkan dan ditarik kembali.
Entah dengan cara bagaimana, ia berhasil merebut pipa cangklong To Siao Thian.
Wajah To Siao Thian menjadi pucat, ia juga menderita kekalahan.
Siauw Cap-it-long tertawa, ia berkata.
"Aku hanya senang minum arak. Tapi tidak suka menyedot candu, yang ini tiada guna untukku."
Kedua tangannya ditekukkan, ia hendak mematahkan pipa cangklong To Siao Thian.
Tapi tidak berhasil, tenaga Siauw Cap-it-long masih tenaga Siauw Cap-it-long, cara-cara tidak bisa disamakan dalam keadaan ia sadar, mungkin juga, bahan yang terbuat dari pipa cangklong To Siao Thian itu memang hebat, ulet dan kuat, cara-cara Siauw Cap-it-long mematahkan si pipa cangklong tidak benar, tidak patah.
Suatu waktu Siauw Cap-it-long mengempos tenaga, huk!
Ia melempar pipa cangklong tersebut, tertancap di tembok dan di dalam keadaan yang sama, dari mulut Siauw Cap-it-long menyembur darah hidup semua terarah ke muka To Siao Thian.
To Siao Thian sedang berada di dalam keadaan kesima, percikan-percikan darah itu tidak berhasil dielakkan.
Dan di saat ini, secepat itu pula, ia maju menubruk, dengan cepatnya menyerang dada Siauw Cap-it-long.
Duk.....
Siauw Cap-it-long tidak berdaya mengelakkan benturan itu, tubuhnya terpental jatuh.
Di saat yang sama, Thio Bu Kek sudah meluncur ke depan.
Jiwa Siauw Cap-it-long terancam maut!
Bagaimana Siauw Cap-it-long mengelakkan serangan-serangan ke empat musuhnya?
Untuk sementara kita tangguhkan dahulu.
Mari kita putar balik cerita, mengikuti perjalanan Sim Pek Kun.
Secara tidak disengaja, Sim Pek Kun berhasil membongkar rahasia suaminya.
Ternyata Lian Seng Pek mempunyai hati yang lebih kejam dari seorang berandalan.
Hati yang lebih jahat dari seorang maling.
Biar bagaimana, ia harus cepat-cepat menolong Siauw Cap-it-long.
Tubuh Sim Pek Kun melejit, lari keluar, ia tidak menemukan kuda tunggangan, karena itu ia harus lari terus.
Berlari dan berlari, napas si nyonya jadi sengal-sengal, apapun yang terjadi, tetap ia berlari.
Demi keselamatan Siauw Cap-it-long.
Tidak mungkin!
Tidak mungkin bisa terjadi, kalau Siauw Cap-it-long mati, itulah kesalahannya, kesalahan mulut yang memberitahu di mana letak tempat Siauw Cap-it-long berada.
Hanya ini pikiran Sim Pek Kun, tidak ada pikiran lain, tidak ada pikiran kedua.
Malam sunyi dan senyap, Sim Pek Kun mengincar arah tujuannya meluncur dengan kecepatan penuh.
Meluncur dengan semua kekuatan yang ada.
Kalau ada rumah, dilewatinya rumah itu.
Kalau ada sawah, diinjaknya sawah itu.
Tidak perduli rumah siapa, hancur atau rusak, urusan belakangan.
Ia harus cepat-cepat mencapai Siauw Cap-it-long.
Inilah satu kejadian yang belum pernah terjadi selama sejarah hidup si Ratu Rimba Persilatan.
Apapun yang terjadi, ia harus cepat memberi pertolongan kepada Siauw Cap-it-long.
Terjadi lomba adu lari, di satu pihak adalah Sim Pek Kun yang mengejar ke tempat rumah makan di mana Siauw Cap-it-long berada, di lain pihak adalah rombongan To Siao Thian dkk yang hendak merenggut jiwa Siauw Cap-it-long.
Siauw Cap-it-long terkena sikutan To Siao Thian, ia terjungkir dan menyudut di pojok tembok, napasnya sengal-sengal, mempertahankan kehidupan jiwa.
Matanya masih bisa dibuka, tapi sangat berat, seolah-olah sudah dibanduli oleh kekuatan maut.
Karena pukulan-pukulan yang sudah dijatuhkan kepada dirinya, rasa kantuk dan maboknya terusir pergi.
Berada di dalam keadaan mabok, Siauw Cap-it-long tidak merasa rasa sakit pukulan-pukulan itu, kini ia sudah sadar, seluruh tubuhnya sudah ngeresek, seperti mau hancur berantakan.
Dagingnya seperti diiris-iris, keringat dingin mengucur saling sambut.
To Siao Thian tertawa berkakakan, ia berkata.
"Nah! Inilah waktulah, seorang laki-laki yang berumur tujuh tahunpun bisa memenggal batang lehernya. Inilah jasaku."
To Siao Thian gila jasa. Thio Bu Kek tertawa perlahan, ia berkata.
"Kalau begitu, serahkan kepadaku, biar aku yang memotes batok kepalanya"
Thio Bu Kek menghampiri Siauw Cap It-long yang sudah tidak berdaya.
"Tunggu dulu!"
Terdengar bentakan To Siao Thian. Thio Bu kek menghentikan langkahnya, menoleh kepada sang kawan dan bertanya.
"Apalagi yang harus ditunggu?"
To Siao Thian berkata.
"Aku yang berhasil menjatuhkannya. Kukira lebih baik tanganku yang mencopot batok kepala Siauw Cap-it-long. Tidak perlu menyusahkan kalian."
Thio Bu Kek tertawa berkakan, ia berkata.
"Tidak kusangka, akhir-kahir ini saudara To Siao Thian juga bisa menggunakan pedang?"
To Siao Thian tertegun, ia bertanya dengan suara dingin.
"Aku sudah tua. Tidak perlu melatih ilmu pedang. Masih beruntung, kalau pipa cangklongku itu masih berada disini" . Thio Bu Kek berkata.
"Luka yang menjatuhkan orang ini adalah luka terkena serangan pedang. Semua orang bisa menjadi saksi, bukan terkena pipa cangklong. Kukira jasa saudara To Siao Thian harus ditarik pulang"
"Kalau bukan karena sikutanku tadi, mana mungkin ia bisa kau jinakkan?"
Berkata To Siao Thian. Sekarang giliran Lie Kang yang tampil kedepan, ia berkata dengan suara keras.
"Kalau bukan karena pukulan batu remuk tadi, mana mungkin ia terkena sikutan?"
Thio Bu Kek berkata.
"Kalau bukan luka bekas tusukan pedang, mana mungkin pukulan batu remuk bisa mengenainya? Mana mungkin sikutan tangan yang biasa memegang pipa cangklong bisa melukainya?"
"Ha, ha, ha ".
Hay-leng-cu tertawa.
"Orang tergeletak di sana. Tentu saja kalian mudah melukainya."
Lie Kang menoleh ke arah Hay-leng-cu dan membentak.
"Dengan hak apa kau turut bicara?"
Hay-leng-cu berkata.
"Dengan hak keadilan dan kebenaran, aku tidak menggunakan waktu di saat orang lengah, mengakalinya dengan cara licik."
Mendengar perdebatan keempat orang itu, pikiran Siauw Cap "it-long menjadi jernih sedikit. Ia mengeluhkan napas panjang dan mulai menggumam.
"Oh. Tak kukira batok kepalaku ini sangat berharga sekali. Mengapa banyak orang hendak memperebutkan batok kepala? Seperti anjing yang memperebutkan tulang saja?"
To Siao Thian, Lie Kang, Hay-leng-cu dan Thio Bu Kek saling pandang. Wajah mereka menjadi pucat, Siauw Cap-it-long memandang keempat orang itu dan berkata.
"Aduh! Kepalaku memang sangat pening. Siapa yang bisa membantu membacok. Inilah permintaanku. Hayo! Maju! Siapa diantara kalian berempat yang mempunyai nyali datanglah ke depan. Ambillah batok kepalaku!"
Di antara mereka jarak Siauw-cap-it-long dengan To Siao Thian adalah yang terdekat, si jago berandalan memandang To Siao Thian dan berkata.
"Hayo, kini kau bisa membacok putus kepalaku! Mangapa tidak kau coba?"
Wajah To Siao Thian semakin pucat, bukannya menggunakan kaki maju ke depan, ia malah mengundurkan diri. Sinar mata Siauw Cap-it-long beralih ke arah Thio Bu Kek, ia berkata.
"Bagaimana denganmu? Masih mempunyai keberanian?"
Thio Bu Kek memegang keras pedangnya, keringat dinginnya mengucur, nyalinya hampir pecah. Napas Siauw Cap-it-long tersengal-sengal, ia berkata.
"Ilmu pedang golongan kalian telah menjagoi rimba persilatan. Mengapa tidak mempunyai keberanian?"
Hay-leng-cu menjadi gemetaran, tapi tidak mempunyai keberanian untuk ditunjukkan kepada Siauw Cap-it-long.
Siauw Cap-it-long berganti arah, kini ditatapnya wajah Lie Kang.
Ia berkata dengan suara dingin.
"Hayo, aku masih kenal denganmu, kau adalah si raksasa sejati, hatimu juga ksatria. Kau menganggap aku sebagai musuh karena ada sesuatu yang hendak kuketahui. Maju lagi setapak, berani kau bertindak ke depan, segera dirimu kujadikan bangkai di sana" . Lie Kang mencoba bertahan, ia tidak berani maju lagi.
"Hua, ha, ha, ha"."
Maka tertawalah Siauw Cap-it-long. Thio Bu Kek membentak .
"Apa yang kau tertawakan?"
Siauw Cap-it-long berkata.
"Aku tertawa karena melihat adanya empat ekor tikus yang berkepala hitam."
Lie Kang, To Siao Thian, Thio Bu Kek dan Hay Leng-cu saling pandang. Siauw Cap-it-long berkata lagi.
"Sebetulnya batok kepalaku ini sudah menunggu dipotes orang. Siapa saja di antara kalian berempat yang bernai maju ke depan, aku tidak mempunyai kekuatan untuk bertahan. Sayang nyali kalian lebih kecil daripada nyali tikus"
Wajah keempat orang itu memerah, memucat, menguning dan terjadi aneka macam perobahan. Siauw Cap-it-long masih nyerocos terus katanya.
"Betul! Batok kepalaku ini menunggu dipotes oleh kalian berempat"
Siauw Cap-it-long mengeluarkan golok dipinggang, ia tertawa berkakakan dan berkata.
"Siauw Cap-it-long! Oh Siauw Cap-it-long! Tidak kusangka, tak ada manusia yang berani membacok kepalamu. Apa boleh buat, harus kukerjakan sendiri!"
Seolah-olah Siauw Cap-it-long hendak membunuh diri. Hal itu sangat mengejutkan Thio Bu Kek, karenanya ia segera membentak.
"Tahan gerakan tanganmu!"
Ternyata Siauw Cap-it-long masih bisa ditenangkan, ia bertanya.
"Sekarang kau berani maju? Kukira sudah terlambat! Dikemudian hari, rimba persilatan akan menjadi gempar, karena batok kepala Siauw Cap-it-long gugur karena tangan Siau Cap-it-long. Untuk kalian, Huh! Hanya bisa menonton di samping."
Thio Bu Kek berkata dengan suara tawar.
"Kami berempat memang bukan jago dan pendekar. Kalau seorang pendekar, tidak mungkin bisa melakukan perbuatan ini. Kami tahu, kau sudah berada dalam keadaan mabok. Tidak mungkin bisa melakukan perlawanan.. Karena itulah kami berempat datang"
"Oh begitu !"
Berkata Siauw Cap-it-long. Thio Bu Kek tertawa, ia berkata.
"Siauw Cap-itlong! Bagaimana kami bisa mengetahui bahwa kau berada di tempat ini? Mengapa kami mengetahui kau berada dalam keadaan mabuk?"
Pertanyaan seperti ini lebih sakit dari pada pukulan-pukulan batu remuk atau tusukan pedang. Wajah Siauw Cap-it-long berubah mendadak. Hatinya seperti diiris-iris, dengan suara keras ia membentak.
"Ya, bagaimana kalian tahu ?"
Dengan tenang Thio Bu Kek berkata.
"Siapa yang memberi tahu kepada kami? Mungkinkah tidak terpikir olehmu?"
Inilah taktik politik lihay!
Cara Thio Bu Kek menyerang Siauw Cap-it-long bukan dengan kekuatan senjata lagi, tapi menggunakan politik istimewa.
Politik diplomasi hebat.
Wajah Siauw Cap-it-long semakin berkerut.
Thio Bu Kek menyambung kata-katanya lagi.
"Nyonya Lian Seng Pek sangat benci kepadamu, ia menghendaki kita bisa mencincang dagingmu. Karena itu setelah meloloh dengan air kata-kata, sesudah membuat kau tidak berdaya, ia memberi tahu dimana kau berada, menyuruh kami berempat mengambil batok kepalamu. Hua,hua..haa,ha.. Sayang! kau laki-laki romantis yang tak tahu diri, kau masih menyebut-nyebut namanya, kau masih menyebut-nyebut tusuk kondenya. Kau masih lupa daratan, kau adalah orang yang patut dikasihani"
Tiba-tiba Siauw Cap-it-long menggerung, seolah-olah seekor harimau yang kalap, menubruk dan menerkam.
Luka Siauw Cap-it-long sudah mulai membeku, tapi ia menggunkan tenaga keras, luka itu pecah kembali dan darah muncrat beterbangan.
Tapi terkaman Siauw Cap-it-long adalah terkaman yang terhebat, Thio Bu Kek menusuk dengan pedang, tidak berhasil.
Di saat itu, terdengar suara gemuruh.
Hujan turun.
Air seperti dituang dari langit, membanjiri dunia.
Berkilau ..
kilat menyambar.
Tidak lama kemudian, terdengar suara yang menggemuruh, itulah suara Guntur membelah angkasa.
Nyalinya Thio Bu Kek hampir pecah, ia menggulingkan diri, menyingkir dari pukulan Siaw Cap It Long.
Tampak Siaw Cap It Long mengayunkan tangan, brak, membelah meja menjadi dua bagian.
Sayang !
Kekuatan Siaw Cap It long hanya sampai disini.
Tubuhnya ngasruk, jatuh ditanah.
Lagi-lagi Thio Bu Kek menggulingkan diri, memungut pisau Siaw Cap It Long, dengan pisau ini ia berniat memutuskan batok kepala sijago brandalan.
Klap.........blegur............
Kilat dan guntur saling susul, sambung menyambar.
Brak........tiba-tiba angin kuat menimpa daun pintu, dan langsung meniup padam kedua lilin yang tertiup disana.
Keadaan menjadi gelap gulita, suasana disitu menjadi sunyi dan sepi.
Sepasang sinar mata Thio Bu Kek tidak bisa melihat, apa yang terbentang didepannya.
Tadi ia bisa menduga-duga, dimana letak tempat Siaw Cap It Long.
Perlahan-lahan dan berindapindap ia berjalan maju.
Keadaan sangat gelap, seperti dunia yang sudah mati.
Thio Bu Kek berjalan lagi kedepan, ia segera bisa membacok leher Siaw Cap It Long.
Krelap...........lagi-lagi kilat bercahaya terang, sepasang sinar mata Thio Bu Kek jelalatan, tampak Siaw Cap it Long sedang bangkit bangun, hendak meninggalkan tempatnya yang semula.
Kejadian ini yang membuat Thio Bu Kek ragu-argu, ia tidak akan melakukan sesuatu yang tidak mempunyai pegangan penuh, ia masih menunggu datangnya kilatan kedua, kalau saja, Siaw Cap It Long itu masih berada ditempatnya, dengan sekali bacokan, ia hendak mempapas putus leher sijago brandalan.
Ayunan pedang ini tidak boleh meleset.
Thio Bu Kek masih menunggu datangnya cahaya kilat yang kedua.
Angin masih menderu-deru, hujan bersampokan, tapi cahaya kilat yang ditunggu itu tidak kunjung datang.
Disaat ini, dijalan raya terdengar derap kaki seseorang, sangat terburu-buru sekali, dan sebentar kemudian orang itu sudah berada didepan pintu, terdengar deru nafasnya yang sengal-sengal, ia baru melakukan perjalanan jauh.
Karena keadaan yang gelap gulita, orang itu berdiri saja dipintu.
Menunggu perkembangan baru, dia tidak memasuki kamar mereka.
Thio Bu Kek menjadi hilang sabar, ia seperti dikepruk dari dua bagian.
Siapa orang yang baru datang ?
Tanpa terasa, ia menoleh kearah datangnya deburan nafas sengal-sengal itu.
tentu saja didalam keadaan gelap-gulita, tidak mungkin bisa melihat jelas wajahnya.
Tapi bagaimanapun, Thio Bu Kek menoleh juga ketempat itu.
Disaat ini, tampak berkelebatnya kilat yang berikutnya.
Seorang wanita dengan rambut terurai panjang, dengan pakaian bash kuyub, dengan sepasang mata direntangkan lebar-lebar, dengan badannya yang penuh emosi, berdiri didepan pintu, wajahnya memperlihatkan rasa gemas, marah, kecewa, takut dan aneka macam perubahan lagi.
Itulah ratu rimba persilatan Sim Pek Kun !
Thio Bu Kek terkejut.
Sim Pek Kun juga terkejut, Secepat itu pula, tangan Thio Bu Kek yang memegang golok Siaw Cap It Long tetap ditujukan kearah leher Siaw Cap It Long.
Waktu kilat berkelebat itu terlalu singkat, tapi sebelum penerangan hidup kembali, Thio Bu Kek bisa melihat tangan Sim Pek Kun juga terayun, dari sana bertaburan jarum mas pencabut nyawa, senjata istimewa dari keluarga Sim.
Thio Bu Kek bisa melaksanakan maksudnya, ia bisa membunuh Siaw Cap It Long kalau ia bersedia menerima beberapa serangan jarum maut pencabut nyawa.
Tapi Thio Bu Kek lebih sayang kepada jiwa sendiri, ia melejit jauh, membatalkan serangannya.
"Bang...!"
Thio Bu Kek membentur sesuatu yang agak keras.
Disaat ini, lagi-lagi kilat berkelebat.
Sim Pek kun masuk kedalam, menubruk tubuh Siaw Cap It Long.
Sesudah itu, keadaan gelap kembali.
Tidak ada sesuatu yang tampak.
Sim Pek Kun berhasil menubruk rubuh tubuh Siaw Cap It Long, tangannya mengerayapi disana ia membentur cairan-cairan yang melekat.
Itulah darah !
Mulut Sim Pek Kun berteriak nyaring .
"Dia sudah mati ? Kalian membunuh dirinya ?"
Suara ini seperti suara hantu dimalam gelap.
Menggetarkan hati semua orang.
Dalam keadaan gelap gulita ini, sesuatu tangan terjulur, hendak mencengkram Sim Pek Kun.
Disaat ini, lagi-lagi kilat berkelebat, Sim Pek Kun bisa melihat datangnya tangan ini, itulah sebuah tangan yang sangat kurus, berwarna hitam, tangan yang seperti ceker rajawali, tangan Hay leng cu.
Bukan tangan itu saja yang dilihat oleh Sim Pek Kun, Sim Pek Kun masih melihat lain tangan, tangan kedua ini memegang pedang, mengincar dan menujukan ujung pedang ketenggorokan Siaw Cap It Long.
Sim Pek Kun bisa melihat adanya orang-orang itu, demikian juga, mereka bisa mengetahui kehadiran siratu rimba persilatan ditempat tersebut.
Kepada mereka Sim Pek Kun membentak .
"Minggir ! Semua orang pergi dari sini !"
Sesudah itu dengan menggendong tubuh Siaw Cap It Long, menggunakan kegelapan malam, Sim Pek Kun keluar dari rumah, berlari dijalan raya. Terdengar seorang membentak .
"Jangan biarkan mereka lari !"
Itulah suara Lie Kang.
Tapi Sim pek Kun sudah lari jauh, meninggalkan Lie Kang, meninggalkan To Siao Thian, meninggalkan Thio Bu Kek dan meninggalkan Hay leng cu.
Krelep, lagi kilat bercahaya.
To Siao Thian dan Thio Bu kek menghampiri Lie Kang.
Tiga orang itu berkumpul.
dengan menghela nafas panjang, To Siao Thian berkata .
"Melepaskan Siaw Cap It Long, sama saja memberi kebebasan kepada seekor macan. Untuk hari-hari berkutnya, satu persatu kita akan mati dibawah tangan Siaw cap It Long."
Dengan geraman marah, Lie Kang berkata .
"Mengapa kau kau tidak membikin penghadangan ?"
To Siao Thian menghela nafas lagi, ia berkata perlahan .
"Jangan kau lupa, Sim Pek Kun adalah istri Lian Seng Pek. Kalau sampai terjadi sesuatu, siapa yang berani memikul tanggung jawab ?"
Thio Bu Kek turut berkata .
"Mari kita bayangkan, dimisalkan salah seorang dari kita bertiga yang memiliki seorang istri yang seperti Sim Pek Kun, sesudah terjadi kejadian ini, mungkinkah masih mau mengakui istri ?"
To Siao Thian berdiam beberapa saat, tiba-tiba ia bertepuk kepala.
"Betul."
Teriaknya sangat girang.
"Kejar ! sudah kejadian ini. Kita harus berani mengambil resiko. Kukira mereka masih belum pergi jauh. Lekas kita kejar !"
Thio Bu Kek memberi usul. Lie Kang juga berkata .
"Betul ! bersama-sama kita membikin pengejaran."
KEJAR MENGEJAR Hujan seperti dituang, menyambitkan cairannya ketubuh orang, terasa sangat sakit.
Malam gelap, pekat, tiada sesuatu yang tampak.
Didalam keadaan yang seperti ini, Sim Pek Kun menggendong Siaw Cap It Long, melarikan diri.
Sim Pek Kun tidak memilih jalan, karena ia tidak tahu, jalan mana yang berupa jalan aman.
Dunia memang cukup lebar, tapi dirasakan sekali seperti menciut, tiada tempat bagi Sim Pek Kun dan Siaw Cap It Long.
Yang mujur, tidak terlihat tanda-tanda pengejaran, Sim Pek Kun memperlambat gerakan kakinya, ia menjadi ragu-ragu.
Kemana harus melarikan diri ?
Inilah yang mengekang benak pikiran sang ratu rimba persilatan.
Tiba-tiba .....
Kilat berkelebat, didalam seperseribu detik, jagat itu bercahaya kembali.
Didepan Sim Pek Kun terpeta sebuah bayangan, itulah bayangan seseorang, seseorang yang sedang menatap kearahnya.
Lian Seng Pek !
Itulah Lian Seng Pek !
Bagaimana dia berada ditempat ini ?
Sim Pek Kun tidak bisa melihat jelas wajah orang itu, tapi potongan bentuk tubuh suami sendiri tidak mungkin bisa dilupakan.
Itulah potongan tubuh Lian Seng Pek.
Kakinya seperti diborgol oleh benda berat, seolah-olah hendak menginjaknya kedasar bumi.
Sejelek-jeleknya sifat Lian Seng Pek, laki-laki itu adalah suami sendiri.
Kini kilat berkelebat lagi.
Dan jelaslah sudah, siapa orang yang berada didepan Sim Pek Kun.
Betul-betul Lian Seng Pek !
Sekujur tubuh Lian Seng Pek sudah basah kuyup, air hujan menetes-netes, merayapi kepalanya dan jatuh ditanah, mengalir dan melewati wajahnya, tapi tidak diusap.
Dibiarkan air itu mengalir terus menerus.
Lian Seng Pek mematung, seperti membeku, diam ditempat itu.
Sepasang sinar mata Lian Seng Pek tidak memancarkan kebencian, juga tidak memancarkan kecintaan, sepasang mata itu adalah mata yang kosong, menatapnya secara dingin dan beku.
Lian Seng Pek adalah seorang kongcu rimba persilatan, gayanya gagah sifatnya tenang, menarik hati dan sangat tampan.
Kesan ini sudah mendarah daging didalam lubuk hati setiap orang.
Sekarang........
Sim Pek Kun bisa melihat adanya perobahan perobahan itu, tidak gagah lagi.
Lian Seng Pek tampak sangat layu.
Tidak rupawan lagi, Lian Seng Pek tampak murung.
Tidak segar lagi.
Terasa tenggorokannya seperti tersumbat, Sim Pek Kun tidak bisa menguasai diri lagi, ia berjalan maju, mendekati sang suami dan bertanya .
"Kau..... kau..... kau selalu mengintil dibelakangku?"
Perlahan-lahan Lian Seng Pek menganggukkan kepala. Sim Pek Kun bertanya lagi .
"Tapi kau tidak mengganggu usahaku."
Lian Seng Pek berdiam diri untuk beberapa waktu, baru ia menjawab pertanyaan itu.
"Karena aku bisa menyelami isi hatimu.........."
"Bisa menyelami isi hatiku ?"
Sim Pek Kun memotong pembicaraan. Lian Seng Pek menghela napas, ia berkata .
"Kalau bukan karena dirimu, bagaimana dia menjadi seperti ini ? Mana mungkin kau tidak menolonginya ?"
Didalam saat yang seperti itu, jiwa Sim Pek Kun juga membeku. Ia tidak tahu apa isi hatinya, mungkin bersedih, mungkin juga girang.
"Biar bagaimana, dia lebih bisa menyelami isi hatiku."
Berkata Sim Pek Kun.
Didalam keadaan yang seperti ini, kalau saja Lian Seng Pek membuka mulut, memberi perintah agar dia membawa lari Siauw Cap-it-long, mungkin sekali mendapat reaksi yang lain, bisa saja Sim Pek Kun merasa bersalah, bisa saja Sim Pek Kun meletakkan tubuh Siauw Cap-it-long.
Biarpun ia bisa menyesal dikemudian hari.
Tapi Lian Seng Pek tidak mengeluarkan perintah seperti itu.
Lian Seng Pek berkata .
"Mari kita kembali! Lukanya sangat berat. Kuharap saja bisa menyembuhkannya. Agar tidak terganggu oleh orang lain."
Dibalik kejahatan terdapat juga kebaikan.
Dibalik kesabaran terdapat juga kekerasan.
Inilah dua muka dari jiwa manusia.
Sim Pek Kun bisa menjelajahi isi hati suaminya, belum lama ia sampai terperosok, mendapat teguran yang halus ia menaruh curiga.
Langkah kakinya termundur dua langkah, ia bertanya .
"Kau..... kau sudah percaya, kalau dia bukan seorang jahat ?"
Lian Seng Pek berkata .
"Mengapa kau curiga ?"
Badan Sim Pek Kun gemetaran, dengan suara yang tidak lancar ia berkata .
"Belum lama, disaat mereka hendak membunuhnya, kau tidak mencoba berusaha. Kau tahu maksud tujuan mereka, tapi tidak sekecap katapun keluar dari mulutmu...."
Sim Pek Kun mundur lagi dua langkah secara tiba-tiba sekali, ia membalikkan badan, tetap menggendong Siauw Cap-it-long, berlari cepat. Lian Seng Pek segera mengeluarkan bentakan .
"Sim Pek Kun ......."
"Tidak."
Berteriak Sim Pek Kun.
"Kau adalah satu komplotan dengan mereka......"
Sim Pek Kun tidak menghentikan larinya, ia pergi semakin cepat.
Badan Lian Seng Pek bergerak, sedianya hendak membikin pengejaran.
Tapi niatnya dibatalkan, ia berhenti.
Hujan semakin deras.
Bayangan Sim Pek Kun sudah lenyap ditelan hujan yang lebat itu.
Malam masih belum berhenti, Lian Seng Pek mematung ditempat itu.
Tiba-tiba terdengar satu elahan napas panjang, terdengar satu suara yang berkata .
"Lian kongcu memiliki sifat kesabaran yang luar biasa. Betul-betul sangat luar biasa. Tidak mungkin ada keduanya."
Didalam keadaan hujan, didalam kilat yang diiringi suara guntur, suara orang tadi sangat menusuk sekali.
Inilah suara si pemimpin tujuh puluh dua perusahaan piauwkiok Suto Tiong Peng.
Tangan Suto Tiong Peng memegang payung, perlahan-lahan berjalan datang.
Cahaya kilat menerangi wajahnya, wajah itu tegang dan memperlihatkan senyum sinis, ia berkata lagi .
"Kalau aku menggantikan kedudukan Lian kongcu, tidak mungkin Siauw Cap-it-long bisa melewatkan hari ini. Tapi kau telah memberi kebebasan. Karena itulah kau mendapat pujianpujian, siapa yang tidak kenal pendekar muda Lian Seng Pek ? Disinilah perbedaan kita. Kau terkenal dan aku hanya bisa menduduki pengawal piauwkiok saja."
Tidak terjadi perobahan atas wajah Lian Seng Pek, ia tertawa tawar .
"Bicara secara blak-blakan, apa maksud yang dikandung olehmu ?"
Suto Tiong Peng berkata .
"Maksudku, kalau kau membunuh Siauw Cap-it-long, langkah itu tidak terlalu jauh.
Tapi, kalau sampai diketahui oleh orang menjadi buah tutur orang pendekar muda Lian Seng Pek membunuh Siauw Cap-it-long yang sudah berada didalam keadaan tidak berdaya sama sekali ?
Bukankah akan mencemarkan nama baik ?
Apalagi cara-cara itu bisa menyakiti Lian Hujin.
Bisa memecah-belahkan hubungan baik antara suami-isteri.
Disinilah letak kepintaranmu.
Kau tidak membunuh Siauw Cap-it-long, memang Siauw Cap-it-long tidak perlu dibunuh.
Jiwanya sudah tidak panjang lagi."
Lian Seng Pek masih tidak percaya. Suto Tiong Peng mengoceh terus, katanya .
"Rombongan Thio Bu Kek sudah mulai membikin pengejaran. Lian Hujin tidak tahu. Tentu saja kau tidak tahu. Kini mereka sudah mulai kejar mengejar. Didalam keadaan hujan, tapaktapak kaki itu mudah diperiksa. Dengan kekuatan Lian Hujin, berapa jauhkah usaha pelarian itu bisa ditempuh ? Kalau ada orang yang membunuh Siauw Cap-it-long, mengapa kita harus turun tangan sendiri ? Mengotori tangan saja bukan ?"
Lian Seng Pek diam saja, perlahan-lahan ia berkata .
"Inilah rahasiaku, tentunya tidak kau ceritakan kepada orang luar bukan ?"
Suto Tiong Peng berkata .
"Kau tahu aku selalu menutup mulut. Apalagi aku ada permohonan, tentu saja tidak menceritakan kepada orang luar."
Lian Seng Pek tertawa-tawa, ia berkata .
"Kalau kau tidak mempunyai tuntutan, tentu tidak menceritakan kejadian ini kepadaku."
"Hebat ! Lian kongcu memang hebat !"
Suto Tiong Peng mengeluarkan suara pujian.
"Sebetulnya, permintaanku ini hanya sepele saja, hanya menyentil sedikit tanganmu."
Baru sekarang Lian Seng Pek bisa tertawa, ia berkata .
"Katakan, apa yang kau minta ?"
"Uang !"
Berkata Suto Tiong Peng.
"Setiap orang itu menghendaki uang. Tanpa uang tidak mungkin kita bisa hidup."
Wajah Lian Seng Pek ditekuk masam, kini dengan dingin ia berkata .
"Lihat orangnya, apa orang yang seperti aku ini bisa diperas ?"
Wajah Suto Tiong Peng berubah, tubuhnya nyelusup kebelakang, kini ia tidak bisa tertawa lagi. Lian Seng Pek menghela napas, ia berkata .
"Aku tahu, kau hendak menggunakan kesempatan ini, membikin pemerasan.
Sekarang kau minta uang.
Besok kau minta uang.
Lusa kau minta uang.
Demikian untuk seterusnya.
Satu kali tidak kuberi, rahasia itu segera tersiar cepat.
Kau hendak menjadikan diriku sebagai pohon emas?
Ha, ha, ha,ha ....
Keringat Su-to Tiong Peng nyerocos cepat, bercampuran dengan air hujan, menetes jatuh.
Secara mendadak saja, ia melempar payungnya, untuk membalikkan badan dan ngiprit lari.
Kilat berkelebat lagi.
Tapi, pedang Lian Seng Pek lebih cepat dari kelebatnya kilat itu terdengar satu jeritan tertahan, pedang Lian Seng Pek tembus dari geger belakang ke dada depan, memantek badan Su-to tiong Peng. Perlahan-lahan Lian Seng Pek menghela napas, mencebik korbannya dan bergumam.
"Tidak mungkin ada orang yang bisa meramalkan hidup Su-to Tiong Peng yang seperti ini, karena keserakahannya sendiri. Serakah kepada harta kekayaan, serakah kepada kedudukan" . Perlahna-lahan, Lian Seng Pek menyabut pedangnya. Didalam sekejap mata, darah yangmelumuri pedang itu tercuci bersih oleh turunnya air hujan. ........ Inilah daerah tandus di pegunungan yang sunyi dan sepi. Hujan belum berhenti, sebuah berkelebatnya kilat menyinari sebuah goa ditempat itu. Sim Pek Kun bisa melihat adanya goa di tempat itu, tanpa memperhatikan adanya bahaya atau tidak, tidak menunggu sampai kilatan kedua berkelebat, dengan tetap mengendong Siauw Cap-it-long, ia menyelusup masuk. Goa itu tidak dalam, dengan keras dan kencang, Sim Pek Kun memegangi tubuh Siauw Capit-long, diusahakan berdesak, untukmengelakkan terkamannya air hujan. Kini Sim Pek Kun membelakangi mulut gua dan berusaha meringankan beban penderitaan Siauw Cap-it-long, dengan menerima tetesan-tetesan air hujan dan menolong Siauw Cap-itlong agar tidak terkena air itu. Gigi Sim Pek Kun mulai bergerutuk, tubuhnya menggigil dingin. Sekarang Sim Pek Kun merasa dirinya menjadi seekor serigala. Seekor serigala yang sedang diburu-buru oleh empat pemburu luar biasa. Thio Bu Kek, Hay-leng-tju, Lie Kang dan To Siao thian tidak mungkin mau memberi kebebasan. Pasti membikin pengejaran. Sim Pek Kun tidak melihat adanya kejaran-kejaran orang itu, tapi ia bisa menduga kalau bakal terjadi kejadian yang sudah dibayangkan. Seseorang yang sudah dirundung malang terus menerus, bahkan mempunyai ketajaman luar biasa, panca indranya bertambah jernih dan terang, seolah-olah bisa mengendus bahaya sesuatu yang akan datang inilah kekuatan hidup. Binatang atau manusia memiliki daya tahan untuk bertahan hidup. Sim Pek Kun menemukan goa itu, seperti menemukan sesuatu yang bisa menyelamatkan dirinya. Sesuatu yang bisa menolong Siauw Tjap it-long dari tamparan-tamparan air hujan. Dengan tangannya yang masih menggigil dingin, Sim Pek Kun menjulurkan dan ditaruh di atas dada Siauw Tjap it-long. Masih ada deburan nafas, masih ada deburan jantung, masih terasa ada desiran hawa yang keluar masuk hidung. Sim Pek Kun mengatupkan kedua matanya menghembuskan elahan nafas panjang, elahan nafas yang hampir tersumbat. Gigi atas Sim Pek Kun membentur-bentur gigi bawahnya, semakin lama semakin keras menggigil dingin. Walau keadaan di dalam begitu dingin, Sim Pek Kun tidak bisa melupakan keamanan Siauw Tjap it-long.
Ia mendekapnya, seperti seorang ibu menyayangi sang putra manja.
Hanya kasih sayang seorang ibulah yang berjiwa besar.
Tidak ada cinta yang melebihi dari cinta kasih seorang ibu.
Hanya cinta kasih seorang ibu yang bisa menenangkan dan mengamankan putranya.
Hari masih gelap, hujan belum mau mereda, dan di dalam keadaan yang seperti ini, Sim Pek Kun masih membayangkan pengejaran-pengejaran dari keempat musuhnya.
Seorang anak sangat membutuhkan cinta kasih ibu.
Begitu pula timbal balik, kasih ibu hanya dicurahkan kepada putra sendiri.
Perasaan-perasaan yang seperti ini adalah perasaan-perasaan yang sudah pasti terjadi.
Sim Pek Kun mendapatkan perasaan cinta kasih seorang ibu yang wajib dicurahkan kepada putranya.
Mereka berpelu-pelukan, menghangatkan badan kasih sayang.
Lama sekali kejadian itu berlangsung.....
Akhirnya..........
Tidak tampak kilat lagi, tidak terdengar suara guntur.
Hujan yang tadinya sangat deras mulai mereda, akhirnya berhenti.
Sim Pek Kun harus mengambil langkah baik, kemana mereka harus melarikan diri.
Sembunyi di dalam goa itu atau kembali ke tempat Lian Seng Pek.
Tidak!
Tidak mungkin meminta bantuan atau pertolongan Lian Seng Pek.
Tempat goa inilah yang teraman.
Dia harus membekap Siauw Tjap it-long ditempat yang aman.
Tidak mungkin mereka bisa menemukannya.
Betulkah?
Apa betul To Siao Thian cs tidak bisa menemukan jejak mereka?
Inilah pikiran yang mau membohongi diri sendiri.
Kadang kala, seseorang yang sudah mendapatkan jalan buntu, sering menggunakan kata-kata yang tidak masuk diakal; pikiranpikiran yang mengelabui diri sendiri.
Seseorang harus pandai menipu, kalau dia ingin hidup bebas.
Kalau dia ingin hidup berumur panjang.
Kenangan Sim Pek Kun melayang-layang, melayang kembali kearah bangunan kecil di dalam lembah gelap.
Terpeta wajah Siauw Tjap it-long yang sedang membangun sebuah rumah lainnya; berketak ketik dengan kedua tangannya yang cekatan dan gesit.
Tapi secepat itu pula, bayangan tersebut buyar berantakan.
Tubuh Siauw Tjap it-long bergerak, ini sangat mengejutkan Sim Pek Kun.
Cepat-cepat ia mendekapnya pula.
Siauw Tjap it-long hendak membuka kelopak matanya, tapi masih terasa berat, dengan suaranya yang perlahan dia bertanya.
"Kau..?"
Walau hujan sudah tiada, keadaan malam tetap gelap, dan keadaan di dalam goa lebih gelap lagi.
Di dalam keadaan yang gelap gulita, tentu saja tidak bisa membedakan wajah seseorang.
Sim Pek Kun tidak bisa melihat perobahan Siauw Tjap it-long, dan Siauw Tjap it-long juga tidak bisa melihat dirinya.
Tapi, dari hembusan harum semerbak itu, Siauw Tjap it-long sudah bisa menduga akan hadirnya sang ratu rimba persilatan.
Semacam rasa bangga menyerang hati Sim Pek Kun, menghangatkan tubuhnya yang kedinginan. Dengan suaranya yang merdu, menganggukkan kepala dan berkata.
"Ya! Aku! Kau baru tertidur!"
Siauw Tjap it-long tidak menjawab pertanyaan itu, lama ia bernafas, akhirnya berkata.
"Mengapa kau datang lagi?"
Sim Pek Kun bertanya.
"Maksudmu?"
"Kau... kau tahu..."
Berkata Siauw Tjap it-long terputus-putus.
"Aku... aku tidak mau menyusahkanmu lagi."
Sim Pek Kun berkata.
"Aku yang menyusahkan dirimu."
"Bukan..."
Berkata Siauw Tjap it-long.
"Biar bagaimana, mereka pasti bisa menemukan jejakku. Biar bagaimana, aku bisa hidup tanpa kehadiranmu. Mengerti?"
"Mengerti."
Berkata Sim Pek Kun.
"Nah! Pergilah!"
"Tidak!"
Berkata Sim Pek Kun tegas.
"Aku tidak mau pergi."
"Dengar... dengarlah..."
Dengan cepat Sim Pek Kun memotong pembicaraan itu.
"Kali ini, tidak perduli apa yang kau ucapkan, aku tidak bisa menurut perintahmu lagi."
Belum pernah Siauw Tjap it-long mendengar suara Sim Pek Kun yang seperti ini.
Biasanya wanita itu lemah gemulai, jinak dan menurut.
Tapi sekarang berubah, tegas dan kuat.
Timbul pikiran lama, mudah saja Siauw Tjap it-long mengusir Sim Pek Kun.
Dengan aneka macam cara, dengan menyakiti hatinya, atau menyinggung hati sang ratu rimba persilatan, pasti Sim Pek Kun bisa terusir pergi.
Tapi Siauw Tjap it-long tidak mau melakukan hal itu, ia menghela nafas dan terdiam.
"Pergilah!"
Berkata Siauw Tjap it-long perlahan, suaranya amat lemah.
"Baik."
Berkata Sim Pek Kun.
"Aku akan pergi. Tapi bukan sekarang. Beruntung hujan sudah berhenti. Beruntung orang-orang itu sudah pergi. Kini berhasil melarikan diri. Tunggu sesudah hari menjadi pagi. Aku segera mengantarmu kembali dan saat itu........ disaat itulah baru pergi."
"Eh, kau biasanya tidak bisa menipu orang."
Ia berkata.
"Sekarang mengapa hendak menipu, membohong kepadaku dan berbohong kepada diri sendiri?"
"Aku.... aku bohong."
Berkata Sim Pek Kun.
"Aku tahu, tidak perduli siapa diantara mereka, satupun tidak bisa membiarkan aku hidup lebih lama lagi."
Suara Siauw Cap-it-long masih tetap lemah, tapi sangat jelas. Sim Pek Kun bertanya .
"Mengapa dan dengan alasan apa mereka menghendaki kematianmu ?"
Siauw Cap-it-long berkata .
"Hanya kematiankulah yang bisa menenangkan hidup mereka. Hanya kematiankulah yang bisa menarik kembali nama-nama mereka."
Sim Pek Kun bisa menangkap sesuatu dari arti kata-kata itu, ia mencoba menyelidik, tanyanya .
"Mungkin mereka telah melakukan sesuatu kesalahan besar yang dipergoki olehmu ?"
Siauw Cap-it-long tidak menjawab pertanyaan itu. Tidak menjawab berarti membenarkan. Sim Pek Kun mengeluarkan elahan napas panjang, ia berkata .
"Aku juga sudah bisa melihat padanya ciri-ciri para pendekar itu, mereka menganggap diri sendiri sebagai ksatria, mereka menganggap diri sendiri sebagai seorang jago, maunya disebut pendekar, mereka mendapat julukan tayhiap. Tapi apakah isi hati mereka?.... Huh! Mereka hanya belatung belatung terbungkus oleh kulit."
"Oh......"
Siauw Cap-it-long melompongkan mulut. Sim Pek Kun berkata lagi .
"Apa yang mereka kerjakan dan apa yang mereka lakukan sangatlah bertentangan dengan panji semboyan hidup pendekar. Hanya janji-janji kosong. Hanya pidato-pidato muluk. Jual kecap!"
Siauw Cap-it-long berkata .
"Untuk menghilangkan jiwaku, mereka tidak perduli dengan aneka macam cara."
"Itulah kenyataan."
Berkata Sim Pek Kun. Siauw Cap-it-long berkata .
"Karena itulah, lebih baik kau menyingkir pergi."
"Tidak."
Berkata Sim Pek Kun.
"Aku tidak mau pergi."
Suara ini sangat tegas dan tandes. Tidak bisa diganggu gugat lagi. Keadaan sunyi. Beberapa waktu kemudian, Sim Pek Kun bertanya . u, menganggukkan kepala dan berkata.
"Ya! Aku! Kau baru tertidur!"
Siauw Tjap it-long tidak menjawab pertanyaan itu, lama ia bernafas, akhirnya berkata.
"Mengapa kau datang lagi?"
Sim Pek Kun bertanya.
"Maksudmu?"
"Kau... kau tahu..."
Berkata Siauw Tjap it-long terputus-putus.
"Aku... aku tidak mau menyusahkanmu lagi."
Sim Pek Kun berkata.
"Aku yang menyusahkan dirimu."
"Bukan..."
Berkata Siauw Tjap it-long.
"Biar bagaimana, mereka pasti bisa menemukan jejakku. Biar bagaimana, aku bisa hidup tanpa kehadiranmu. Mengerti?"
"Mengerti."
Berkata Sim Pek Kun.
"Nah! Pergilah!"
"Tidak!"
Berkata Sim Pek Kun tegas.
"Aku tidak mau pergi."
"Dengar... dengarlah..."
Dengan cepat Sim Pek Kun memotong pembicaraan itu.
"Kali ini, tidak perduli apa yang kau ucapkan, aku tidak bisa menurut perintahmu lagi."
Belum pernah Siauw Tjap it-long mendengar suara Sim Pek Kun yang seperti ini.
Biasanya wanita itu lemah gemulai, jinak dan menurut.
Tapi sekarang berubah, tegas dan kuat.
Timbul pikiran lama, mudah saja Siauw Tjap it-long mengusir Sim Pek Kun.
Dengan aneka macam cara, dengan menyakiti hatinya, atau menyinggung hati sang ratu rimba persilatan, pasti Sim Pek Kun bisa terusir pergi.
Tapi Siauw Tjap it-long tidak mau melakukan hal itu, ia menghela nafas dan terdiam.
"Pergilah!"
Berkata Siauw Tjap it-long perlahan, suaranya amat lemah.
"Baik."
Berkata Sim Pek Kun.
"Aku akan pergi. Tapi bukan sekarang. Beruntung hujan sudah berhenti. Beruntung orang-orang itu sudah pergi. Kini berhasil melarikan diri. Tunggu sesudah hari menjadi pagi. Aku segera mengantarmu kembali dan saat itu........ disaat itulah baru pergi."
"Eh, kau biasanya tidak bisa menipu orang."
Ia berkata.
"Sekarang mengapa hendak menipu, membohong kepadaku dan berbohong kepada diri sendiri?"
"Aku.... aku bohong."
Berkata Sim Pek Kun. Siauw Tjap it-long berkata.
"Aku tahu, tidak perduli siapa diantara mereka, satupun tidak bisa membiarkan aku hidup lebih lama lagi."
Suara Siauw Cap-it-long masih tetap lemah, tapi sangat jelas. Sim Pek Kun bertanya .
"Mengapa dan dengan alasan apa mereka menghendaki kematianmu ?"
Siauw Cap-it-long berkata .
"Hanya kematiankulah yang bisa menenangkan hidup mereka. Hanya kematiankulah yang bisa menarik kembali nama-nama mereka."
Sim Pek Kun bisa menangkap sesuatu dari arti kata-kata itu, ia mencoba menyelidik, tanyanya .
"Mungkin mereka telah melakukan sesuatu kesalahan besar yang dipergoki olehmu ?"
Siauw Cap-it-long tidak menjawab pertanyaan itu. Tidak menjawab berarti membenarkan. Sim Pek Kun mengeluarkan elahan napas panjang, ia berkata .
"Aku juga sudah bisa melihat padanya ciri-ciri para pendekar itu, mereka menganggap diri sendiri sebagai ksatria, mereka menganggap diri sendiri sebagai seorang jago, maunya disebut pendekar, mereka mendapat julukan tayhiap. Tapi apakah isi hati mereka?.... Huh! Mereka hanya belatung belatung terbungkus oleh kulit."
"Oh......"
Siauw Cap-it-long melompongkan mulut. Sim Pek Kun berkata lagi .
"Apa yang mereka kerjakan dan apa yang mereka lakukan sangatlah bertentangan dengan panji semboyan hidup pendekar. Hanya janji-janji kosong. Hanya pidato-pidato muluk. Jual kecap!"
Siauw Cap-it-long berkata .
"Untuk menghilangkan jiwaku, mereka tidak perduli dengan aneka macam cara."
"Itulah kenyataan."
Berkata Sim Pek Kun. Siauw Cap-it-long berkata .
"Karena itulah, lebih baik kau menyingkir pergi."
"Tidak."
Berkata Sim Pek Kun.
"Aku tidak mau pergi."
Suara ini sangat tegas dan tandes. Tidak bisa diganggu gugat lagi. Keadaan sunyi. Beberapa waktu kemudian, Sim Pek Kun bertanya .
"Aku tahu, apa kejelekan-kejelekan Thio Bu Kek, Hay-leng-cu dan To Siao Thian. Tapi kesalahan apa yang sudah dilakukan oleh Lie Kang ?"
Dengan dingin Siauw Cap-it-long berkata .
"Anggapmu, Lie Kang itu adalah seorang laki-laki sejati? Ia sangat tahu diri?"
Sim Pek Kun berkata .
"Semua orang mengatakan seperti itu."
Siauw Cap-it-long berkata .
"Lie Kang adalah seorang laki-laki sejati dihadapan kaum laki-laki. Tapi... kalau dia bertemu dengan seorang wanita yang berjalan sendirian, nah... disitu akan terbuka kedoknya."
Sim Pek Kun tidak bicara.
Karena bahan pembicaraan merekapun sudah habis.
Hujan turun lagi, ternyata masih belum puas membasahi bumi.
Dari perlahan, membesar dan deras kembali.
Tiba-tiba Siauw Cap-it-long berkata .
"Sebentar lagi hari menjadi pagi."
"Hm...."
Sim Pek Kun membenarkan dugaan itu.
"Betul-betul kau tidak ada niatan untuk pergi ?"
Bertanya Siauw Cap-it-long.
"Sudah kukatakan. Aku tidak mau pergi."
Berkata Sim Pek Kun. "Baik."
Berkata Siauw Cap-it-long.
"Mari kita pergi bersama-sama."
Tawaran ini membuat Sim Pek Kun ragu-ragu. Siauw Cap-it-long berkata .
"Lihat ! Matahari mulai memancarkan cahayanya, musuh berada didepan kita kau kira...."
"Tidak menunggu sampai hujan mereda?"
Bertanya Sim Pek Kun.
"Lebih baik hujan ini tidak berhenti."
Berkata Siauw Cap-it-long.
"Dia telah membuat pertolongan yang sangat banyak."
"Pertolongan? Pertolongan kepada siapa?"
Siauw Cap-it-long berkata .
"Adanya hujan terus menerus membantu usaha kita. Tapi mengganggu pencaharian mereka. hujan ini telah menghancurkan tapak-tapak kaki, sehingga sekarang, mereka belum berhasil menemukan jejak kita. Karena adanya hujan inilah, kita mendapat kesempatan berlari. Kita tertolong."
Meninggalkan cerita Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun, kita melihat keadaan Lie Kang, Thio Bu Kek, To Siao Thian dan Hay-leng-cu.
Disaat itu, keempat orang tersebut berada dicabang jalan.
Hujan masih memukul tubuh keempat orang.
Mereka berhenti di jalan bercabang.
Thio Bu Khek menghela nafas dan berkata.
"Hujan sialan!
Ia telah menghilangkan jejak tapak kaki.
Ia telah menghilangkan bau buronan kita.
Dimisalkan kita membawa anjing juga tidak mungkin bisa mengendus bau orang buronan itu.
Dengan dingin Hay-leng-cu berkata.
"Biar bagaimana, mereka tidak bisa melarikan diri."
To Siao Thian berkata.
"Tepat. Di dalam keadaan yang seperti ini, kita orangpun tidak bisa melakukan perjalanan cepat. Apalagi Sim Pek Kun ia harus membawa danmenggendong seorang laki-laki yang bertubuh berat.
"Lihat!"
Berkata Thio Bu Khek.
"Di depan kita terdapat dua jalan..."
Lie Kang berkata.
"Kita berpencaran."
Thio Bu Khek ragu-ragu sebentar dan berkata.
"Boleh juga. Aku bersama-sama dengan Lamhay-cu. Saudara Lie Kang..."
"Biar aku seorang diri."
Potong Lie Kang.
Tidak menunggu persetujuan ketiga kawannya, tubuh Lie Kang melejit, ia mengambil jalan sebelah kiri.
Jalan itu agak lebar.
Thio Bu Khek, To Siao Thian dan Hay-leng-cu saling pandang, demikian sehingga lenyapnya bayangan Lie Kang.
"Dia memiliki pukulan yang hebat. Ilmu meringankan tubuhnya juga tidak rendah, tapi orangnya sangat butek."
Thio Bu Khek tertawa dan berkata.
"Kau maksudkan dia salah pilih jalan?"
"Ya."
Berkata To Siao Thian.
"Sim Pek Kun tidak mungkin mengambil jalan ini."
"Alasannya?"
Bertanya Hay-leng-cu. To Siao Thian menjawab pertanyaan itu.
"Jalan dia tempuh adalah jalan yang lebar, mudah dilewati orang. Untuk seseorang yang sedang berada di dalam keadaan pelarian, tidak mungkin memilih jalan yang baik. Anggapnya, di jalan yang baik ia mudah dikejar. Sim Pek Kun akan mengajak Siauw Tjap it-long menempuh jalan pegunungan, jalan pegunungan tidak mudah dicapai orang."
Lie Kang menempuh jalan lebar. Dia meninggalkan jalan yang sempit kecuali ketiga rekanrekannya. Thio Bu Khek berkata.
"Betul. Inilah kesalahannya. Aku heran pengalaman-pengalaman Lie Kang tidak berada dibawah kita, mengapa ia tidak berpikir dahulu?"
To Siao Thian memandang langit yang masih menuang-nuang air hujan, ia berkata.
"Bukan itu saja yang mengherankan, ada sesuatu yang lainnya."
"Urusan apa lagi?"
To Siao Thian berkata.
"Lie Kang adalah seorang laki-laki sejati. Entah perbuatan tidak senonoh apa yang telah dipergoki oleh Siauw Tjap it-long sehingga dendamnya begitu hebat."
Thio Bu Khek berkata.
"Dia memaksa melakukan perjalanan seorang diri, memisahkan dari rombongan. Kukira takut rahasianya itu dibongkar di depan umum."
Menyambung lagi cerita Sim Pek Kun dan Siauw Tjap it-long. Siauw Tjap it-long berkata.
"Nah inilah kesempatan baik."
"Kesempatan baik apa?"
Bertanya Sim Pek Kun. Siauw Tjap it-long berkata.
"Mereka tidak mudah menemukan jejak kita, tentu berpencaran."
"Kemudian?"
"Lie Kang paling takut rahasianya dibongkar. Apalagi dibongkar di depan kawan-kawannya. Karena itu, tentunya ia akan memisahkan diri. Tidak mau bergabung dengan ketiga orang lainnya."
Dugaan yang tepat! Sim Pek Kun memandang jago itu dan bertanya.
"Thio Bu Kek, To Siao Thian dan Hay-lengcu bisa berkumpul menjadi satu?"
"Untuk sementara."
"Alasannya?"
Siauw Tjap it-long memberi penjelasan, ia berkata.
"Orang yang bisa membunuh Siauw Tjap it-long akan mendapatkan nama besar. Karena itulah, mereka hendak memperebutkan pahala. Masing-masing hendak mengangkangi jasa. Pepisahan dan perpecahan tidak bisa dielakan."
"Apa mereka tidak takut digempur olehmu? apa kekuatan seorang cukup untuk menandingi dirimu?"
Sim Pek Kun mengutarakan kecurigaannya. Siauw Cap-it-long berkata. "Mereka semua tahu, aku sudah menderita luka berat. Dan tidak mempunyai daya tempur lagi."
"Tapi aku tidak menderita luka"
Berkata Siauw Cap-it-long Dengan tertawa Siauw Cap-it-long berkata.
"Bagaimana kalau dibandingkan dengan ilmu kepandaian mereka!"
Sim Pek Kun menjebikan bibir, ia berkata.
"Menurut apa yang kutahu,keempat orang itu tidak berani menempur aku."
Siauw Cap-it-long menghela napas, ia berkata.
"Mereka tidak berani menempurmu. Karena kau adalah Nyonya Lian Seng Pek. Bukan berarti mereka takut kepada ilmu kepandaian Sim Pek Kun" . Siauw Cap-it-long berkata.
"Mereka akan salah membuat perhitungan".
"Oh ......"
"Mereka tidak tahu"
Berkata Siauw Cap-it-long.
"Seseorang yang mendapat tekanan hebat itu, mempunyai reaksi timbal balik yang tidak kalah hebatnya."
"Tentu saja. Mereka tidak tahu berapa hebat ilmu kepandaianmu". Siauw Cap-it-long berkata.
"Dengan ilmu kepandaian kita berdua. Tidak sulit mengalahkan satu orang. Kalau mereka berpencaran, kukira kita bisa membunuhnya satu-persatu."
Suara ini dikeluarkan dengan hawa nafsu yang meluap-luap, hawa pembunuhan yang membara. Sim Pek Kun menyelidik. Beberapa saat kemudian ia menghela nafas dan bertanya.
"Bagaimana pandanganmu?"
"Kuharap saja mereka tidak berkumpul, maka kita bereskan satu-persatu."
"Kemana kita harus pergi?"
"Tidak perlu pergi", berkata Siauw Cap-it-long.
"Tunggu saja disini".
"Tunggu disini?"
Bertanya Sim Pek Kun.
"Mereka bisa sampai ke tempat ini".
"Kita sudah tidak bisa lari. Lari pasti dikejar mereka, lebih baik menunggu atau memancing mereka".
"Tapi ...."
"Tentu saja. Keadaan kita sangat berbahaya. Tapi lebih berbahaya lagi, kalau mengambil cara lain. Tenagaku sangat terbatas, kita harus menggunakannya baik baik"
Sim Pek Kun memandang sang jago berandalan itu, dengan sinar mata penuh pujian dan kesetiaan. Siauw Cap it-long memandang kearah sang ratu rimba persilatan dan katanya .
"Sedang kupikirkan, siapakah orang pertama yang sampai ditempat ini ?"
"Seharusnya siapa ?"
Bertanya Sim Pek Kun.
"Kukira To Siao Thian"
"Bagaimana kau bisa menduga kepada To Siao Thian ?"
"Pengalaman pengalaman To Siao Thian lebih banyak. Ilmu meringankan tubuhnya juga terhebat"
Siauw Cap it-long memberi keterangan.
"Dan orang pertama yang harus kita bekuk adalah manusia yang bernama To Siao Thian ini"
"Kalau dia sudah datang, apa yang harus kukerjakan ?"
Bertanya Sim Pek Kun. Siauw Cap it-long ragu ragu, berpikir beberapa lama ia, bergumam .
"Biasanya seorang yang licik mempunyai penyakit sendiri"
"Penyakit apa ?"
"Penyakit takut sendiri kepada banyangan diri sendiri"
Berkata Siauw Cap it-long.
"kita harus menggunakan kelemahan mereka"
"Bagaimana harus menghadapinya ?"
Siauw Cap it-long membisiki sesuatu, mengutarakan rencananya ditelinga Sim Pek Kun.
Hampir saja mereka bersentuhan.
Seperti apa yang Siauw Cap it-long sudah duga, orang yang pertama yang berhasil menemukan jejak meraka adalah simanusia paling licik, To Siao Thian.
Itu waktu, Sim Pek Kun sedang duduk disebuah batu yang sedang menonjol keluar.
Letaknya batu itu berada didepan goa, solah oalh sedang mengalami pikiran kusut, ia berhujan hujan, dan tidak merasakan rasa dingin.
To Siao Thian sudah berada ditempat itu, tapi tidak diketahui oleh Sim Pek Kun.
To Siao Thian bisa melihat adanya Sim Pek Kun, tapi To Siao Thian tidak menemukan Siauw Cap it-long.
Kemana Siauw Cap it-long ?
Tentunya bersembunyi di dalam goa.
Dengan rasa curiga, dengan berindap indap, To Siao Thian berjalan kedepan.
Wajahnya memperlihatkan senyuman, dan ia berada didepan Sim Pek Kun, seolah olah memperlihatkan sikapnya terkejut, ia bertanya .
"Lian Hujin, bagaimana kau bisa berada ditempat ini ?"
Seolah olah TO Siao Thian itu bukan membikin pengejaran, seolah olahao Thian itu sedang berjalan jalan, atau mungkin bertamasya dan tiba ditempat tersebut, seolah olah To Siao Thian bertemiu dengan Sim Pek Kun secara tidak sengaja.
Mendengar teguran To Siao Thian, baru Sim Pek Kun mendongakan kepala, melirik kearah jago licik itu, dengan senyumanya bertanya .
"Lama betul ? mengapa sampai sekarang baru sampai ?"
Sepasang mata To Siao Thian mengkilat kilat ia mencari jalan keluar untuk mengartikan pertanyaan itu, tanyanya .
"Lian Hujin sedang menunggu diriku ?"
Sim Pek Kun berkata .
"Aku mengalami sesati jalan, kini sedang menunggu orang yang bisa diandalkan untuk mengantar aku pulang"
To Siao Thian bertanya .
"Kemana Siauw Cap it-long ?"
Sim Pek Kun menghela napas, ia berkata "Sudah mati ! tentunya kalian tahu, tidak mungkin dia bisa memperpanjang hidupnya "
To Siao Thian mengangguk anggukkan kepala, ia juga turut mengeluarkan keluhan napas panjang, seolah olah, sangat bersedih, dan kini ia berkata .
"Betul betul. Lukanya memang betul betul berat. tapi kalau mendapat perngobatan secara tetap dan cepat, kukira ia masih mempunyai kesempatan hidup"
Sim Pek Kun tertawa. To Siao Thian bertanya lagi .
"Dimanakah mayatnya Siauq Cap it-long itu ? ah! kukira, ia masih belum mati betul"
Sim Pek Kun melirik kearah goa, tapi secepat itu pula kerlingan matanya dialihkan ketempat lain, ia berkata .
"Aku sudah berlari lari setengah malam. Sangat letih, tidak kuat menggendongnya, kubuang dia ditengah jalan"
"Dibuang dimana ?"
Bertanya To SIao Thian. Agak gugup Sim Pek Kun berkata .
"Didalam keadaan gelap gulita, mana kutahu terbuang dimana. Perlahan lahan saja kita cari, mungkin bisa ditemukan"
"Sudah pasti bisa ditemukan"
Berkata To Siao Thian tertawa. Tiba tiba wajah To Siao Thian ditekuk masam, tubuhnya mencelat kearah goa, berteriak keras .
"Siauw Cap it-long ! DIdalam keadaan yang seperti ini, pa guna kau main petak sembunyi ? Hayo ! Keluar ! "
Tidak terdengar sahutan, goa itu sangat sunyi dan sepi.
Tapi Sim Pek Kun memperlihatkan wajahnya yang ketakutan, wajah yang gelisah.
Sepasang biji mata To Siao Thian berputar, dan ia membalik kembali, kini sudah berada disebelah SIm PEk Kun, tngannya dicengkeram memegang pergelangan tangan San Ratu Rimba Persilatan, ditekuk kebelakang.
"Maaf! "
Ia berkata cepat. Wajah Sim Pek Kun berubah, ia membentak .
"Mau apa ?"
"Tidak apa apa"
Berkata TO Siao Thian.
"Hanya minta pertolongan dan bantuan Lian Hujin, coba berjalan didepan, ajak aku memasuki goa. Dengan mengertak gigi, SIm Pek Kun membentak .
"Berani... berani kau berlaku kurang ajar ?"
Dengan dingin To Siao Thian berkata .
"Untuk hari biasa, tentu saja tidak berani. Tapi lain dulu lain sekarang. Didalam keadaan yang seperti ini, didaerah kehutanan yang sunyi dan sepi, tiada lain mahluk penghuni, lebih baik Lian Hujin mengambil sikap yang lebih bijaksana"
Wajah Sim Pek Kun pucat pasi, lagi lagi membanting banting kaki.
To SIao Thian sudah mendorong Sim Pek Kun kedepan goa, hendak dijadikan tameng, mau dijadikan sandera.
Sesudah itu, dengan kecurigaan yang luar biasa, To SIao Thian membentak .
"Siauw Cap it-long, dengar ! Sim Pek Kun sudah berada ditanganku, berani main gila, kalian berdua akan mengalami kecelakaan yang lebih hebat..."
Suara To Siao Thian yang terakhir belum tertutup.
tiba tiba ia mengeluarkan jeritan.
Seperti ada ribuan tawon mengantuk punggungnya.
Menggunakan kesempatan baik, Sim PEk Kun menarikkan tangnnya.
memukul kebelakang.
To Siao Thian tertusuk jarum jarum, terpukul olej Sim Pek Kun.
terguling jatuh dimulut goa.
Ia kini mengarah kebelakang.
Disana didepan To Siao Thian sudah berdiri seseorang, itulah Siauw Cap it-long.
Dengan senyumnya yang mengejek Siauw Cap it-ong memandangi TO Siao Thian.
Korban pertama !
Sepasang mata To Siao Thian didelikkan seolah olah mau meletus keluar, ia menahan sakit dam membentak .
"Kau... kau sirampok besar..."
Siauw Cap it-long berkata .
"Kalau aku sudah menjadi seorang perampok besar, kau sekarang juga sudah menjadi perampok tolol, kau kira aku berada didalam goa, bukan ?
Inilah kecerobohanmu.
AKu tidak berada didalam, aku berada diluar goa.
* TIPU MUSLIHAT * "Kau... kau..."
To Siao Thian masih belum mengerti.
"Kau menggunakan senjata apa ?"
"Hanya jarum mas dari keluarga Sim yang biasa saja"
Berkata Siauw Cap it-long.
"Tentu saja jarum mas dari keluarga Sim yang mengandung unsur beracun"
Wajah To siao Thian berkerinyut, daging dagingnya berkerutukan, ia merintih sebentar, kepalanya toklek, untuk mengucapkan selamat tinggal kepada dunia.
Tubuh To Siao Thian jatuh menggeletak.
Tubuh Siauw Cap it-long juga terjatuh.
Sim Pek Kun terkejut, cepat cepat ia menubruk.membangunkannya, dan bertanya dengan suara merdu .
"Kau tidak apa apa? "
Siauw Cap it-long tertawa menyengai katanya ."
Ku usahakan sedapat mungkin, agar ia tidak jatuh, sebelum To Siao Thian menghembuskan napasnya yang terakhir.
Aku berhasil, kalau saja aku jatuh dahulu, kita bisa celaka ...
Sim Pek Kun menghela napas, ia berkata.
"Tidak kusangka, kau menggunakan jarum mas dari keluarga SIm tidak dibawahku "
Siauw Cap it-long menghela napas, ia berkata .
"Seseorang yang sudah hampir mengalami hari hari terakhirnya, apapun bisa saja dilakukan"
"Sesudah To Siao Thian jatuh menggeletak, tubuh itu tidak berkitik lagi"
Napas Siauw Cap it-long masih berlum teratur betul, sengal sengal, menengok kearah mayat To Siao Thian ia bergumam .
"Masih beruntung, kecurigaannya ia sangat hebat, kalau tidak, oh..."
Sim Pek Kun berkata .
"Biar kuseret manyatnya kedalam goa "
"Jangan! "
Berkata Siauw Cap it-long.
"Mayat ini bisa digunakan sebagai umpan. Sangat baik untuk kita gunakan"
"Masih hendak digunakan ?"
Siauw Cap it-long mengatupkan kedua matanya, ia sedang mengilmiah, dan perlahan lahan berkata .
"Orang kedua yang akan datang pasti adalah Thio Bu Kek"
Sim Pek Kun tidak mengajukan pertanyaan, dari mana Siauw Cap it-long bisa menduga kalau orang kedua yang bisa menemukan jejak mereka adalah Thio Bu Kek.
Ia begitu yakin dan percaya, menyerahkan segala sesuatu kepada Siauw Cap it-long.
Tapi Siauw Cap it-long, sudah memberi keterangan lebih dahulu, katanya .
"Thio Bu Kek memiliki kecerdikan otak yang luar biasa, dan sifatnya juga licik cerdik, biasanya orang yang cerdik pandai ini selalu memiliki keistimewaan, itulah keistimewaan takut kepada diri sendiri. Takut dan bernyali kecil"
"Bagaimana kau harus menghadapi Thio Bu Kek ?"
Bertanya Sim Pek Kun. Siauw Cap it-long berkata .
"Dalam selipan sepatuku terdapat pisau kecil, tolong keluarkan"
Pisau kecil itu sangat tajam, SIm Pek Kun mencobanya, dan ia berkata .
"Kau hebat ! Siapa yang sangka kau masih mempunyai simpanan didalam sepatu ?"
Siauw Cap it-long berkata .
"Aku lebih suka menggunakan pisau. Pisau itu bukan saja dapat digunakan untuk membunuh orang, juga serba guna"
"Aku mengerti "
Berkata Sim Pek Kun.
"Pisau yang bagus harus bercahaya terang,s eperti intan dan berlian. kalau saja jatuh dalam tanganmu pasti kau bisa memuaskan"
Sim Prk Kun berkata .
"Dimasa aku kecil, aku tidak boleh menggunakan pisau. Karena pisau itu bisa berbahaya, bisa melukai jari ternyata disamping kejahatan kejahatan sang pisau pribadi bisa saja kita menggunakan pisau tersebut"
"Itulah kita telah melibatkan diri didalam satu kesulitan, pisau ini bisa banyak membantu"
"Bagaimana kau hendak menyuruh sang pisau membantu usaha kita ?"
SIauq Cap it-long menerima pisau tersebut dan berkata .
"Balikkan kepalamu kebelakang"
SIm Pek Kun masih menatap Siauw Cap it-long, ia berkata .
"Aku tidak perlu membalikkan kepala kebelakang. Apapun yang kau kerjakan, pasti saja betul. Mengapa harus membalikkan kepala ?"
Siauw Cap it-long mengelakan pandangan mata Sim Pek Kun, dengan pisaunya ditancapkan kedada mayat To Siao Thian, Sesudah itu baru memberi penjelasan .
"Dengan cara seperti itu, seolah olah To Siao Thian terbunuh mati secara depan berdepan. Thio Ku Kek bisa menduga sesuatu, ia harus berpikir pikir, sampai dimanakah ilmu kepandaianku ? Masih dalam keadaan terluka ? Atau sudah kuat bertempur lagi, maka sengaja kupasang keadaan yang seperti ini. Kalau Thio Bu Kek tahu, To Siao Thian mati tertusuk dari depan, tentu ia tidak berani dekat padaku "
"Ng..."
"Didepan itu ada dua baris pohon, sudahkah kau lihat ?"
Bertanya Siauw Cap it-long. Sim Pek Kun berkata .
"Thio Bu Kek tentu takut kepadamu, karena kau sudah berhasil membunuh To Siao Thian dari depan. Tentu ia tidak berani mendekati. Tentu ia mengundurkan diri sehingga kearah dua baris pohon itu. Beginikah caramu ?"
"Hebat !"
Siauw Cap it-long tertawa "kau telah mendapat pelajaran yang baik kemajuanmu juga cepat"
"Kemudian ?"
Bertanya Sim Pek Kun "
Kau bersembunyi dibalik ujung lain dari pohon pohon tersebut, disana daunnya lebih rimbun. TIdak mudah diketahui, kau berjongkok sebawah mungkin sudah mengarti ?"
"Mengerti"
Siauw Cap it-long berkata .
"Harus baik baik menggunakan kesempatan ini, sebelum ia sadar akan kelengahannya, jarum masmu itu harus bisa mengenainya"
Sim Pek Kun tertawa manis, ia berkata .
"Percayalah, dajur dari keluarga Sim bukan saja bisa digunakan untuk menyulam, ia lebih banyak kegunaannya untuk menyerang"
Siauw Cap It Long mengeluarkan elahan napas panjang, dengan tertawa ia berkata.
"Inilah memberi umpan memancing ikan. Tidak takut ia sudah datang, yang kita takuti adalah kecurigaannya"
Menyambung kata kata Siau Cap It Long, tiba tiba terdengar satu suara lain.
"Bagus! Memang tipu yang luar biasa"
Sim Pek Kun dan Siau Cap It Long saling pandang, wajah mereka berubah.
Ternyata mereka berunding terlalu lama, musuh sudah tiba!
Siapa yang datang?
Betulkah Thio Bu Kek?
Bukan!
Orang yang datang, orang yang menggagalkan rencana Siau Cap It Long adalah Hay leng Cu.
Siau Cap It Long belum bisa menjadi dewa, betapa tepatpun perhitungannya tidak mungkin selalu memaksakan orang.
Kadang kala, perhitungannya juga bisa mengalami kegagalan, seperti kejadian tadi, ia memperhitungkan kedatangan Thio Bu Kek, yang diluar dugaan, orang kedua yang berhasil menemukan jejak mereka adalah Hay Leng Cu!
Bukan Thio Bu Kek!
Badan Sim Pek Kun menjadi dingin.
Hay Leng Cu menggunakan tudung hujan yang lebar, tangannya memegang pedang, berdiri tidak jauh dari Sim Pek Kun berada.
hujan masih membasahi bajunya, membasahi badan Hay Leng Cu yang kurus kering.
Keadaan Hay leng Cu di tempat yang seperti itu, seolah lah setan dari akherat yang lari meninggalkan tempatnya, menggerayangi dunia manusia, mencari pengganti.
Sim Pek Kun tidak berani menatap Hay Leng Cu terlalu lama, berpaling kearah Siau Cap It Long, hendak meminta pendapat si jago berandalan.
Siau Cap It Long masih tertawa.
Dengan dingin Hay Leng Cu bertanya.
"Diluar dugaan, bukan? Tidak diduga akan kedatanganku?"
Siau Cap It Long berkata.
"Kau kira diluar dugaan kita? Bah, sebetulnya sudah kuketahui lama, gerakkan kasak kusukmu yang bersembunyi disana. Sengaja kuberikan kepadamu, semua rencana rencana kita, kalau tidak bicara seperti ini, mana mungkin kau berani datang kemari?"
Suara Siau Cap It Long menandakan suaranya yang sangat girang, suara di dlaam keadaan yang wajar.
Sim Pek Kun hampir tidak percaya atas reaksi yang seperti ini.
Wajah Hay leng Cu berubah sedikit.
Sim Pek Kun hampir percaya, bahwa keterangan Siau Cap It Long itu adalah keterangan yang sejujurnya, keterangan dari hatinya yang asli.
Wajah hay leng Cu berubah, tapi langkahnya tidak segera terhenti, gerakkannya tidak cepat, juga tidak lambat.
Setiap langkah kaki, dibarengi oleh irama pedang yang terayun.
Gerakkan hampir tidak bisa tercela, sulit untuk menyerang orang yang membawakan sikap yang siap siaga.
Hay Leng Cu tidak mudah percaya kepada keterangan orang, ia tidak percaya kepada siapa yang dikatakan oleh Siau Cap It Long, tapi ia juga tidak percaya kepada matanya sendiri.
Dalam keadaan yang luka parah itu, Siauw Tjap it-long tidak mempunyai kekuatan tempur, tapi ia tidak percaya, tidak percaya kalau Siauw Tjap it long itu mau menyerah dan mandah menerima cincangan.
Siauw Tjap it Long tidak bisa menunggu waktu, tidak bisa ditunggu lagi, waktu cepat berlalu.
Dengan semua sisa kekuatan yang ada, Siauw Tjap it long menerkam.
Bagaikan seekor singa yang luka, terkaman itu sangat garang dan roboh di depan kaki Hayleng-tju.
Kekuatannya tidak menjakinkan, seperti sebongkah batu, djatuh di depan kaki Hayleng-tju.
Sim Pek Kun mengeluarkan djeritan kaget.
Pedang Hay-leng-tju bergerak.
Seperti pagutan ular, memagut dan menotok ke djalan darah Siauw Tjap-it-long.
Siauw Tjap-it-long tidak bisa mengelakkan datangnja serangan ini, meningkatkan badan, meraihkan tangan kanan, menjambak datangnya pedang Hay-leng-tju.
Tjresss...
pedang itu mengenai telapak tangan Siauw Tjap-it-long, menusuk daging mengakibatkan pendarahan, cairan merah muncrat.
Wadjah Hay-leng-tju menyeringai puas, ia hendak menarik pedang itu, hendak ditusukkannya sekali lagi.
Dan di saat ini, Siauw Tjap-it-long membalikkan telapak tangan, dengan djarak dagingnja masih melekat, ia memegangi tajamnya pedang Hay-leng-tju.
Tentu sadja disertai dengan tenaga dalam.
Hay-leng-tju hendak berontak, tidak berhasil, tubuhnya menjadi limbung dan djatuh rubuh.
Djarum mas pencabut nyawa bertaburan di udara, dibarengi jatuhnya air hujan, mengurung Hay-leng-tju.
Reaksi Siauw Tjap it-long sangat cepat, melebihi siapa saja.
Mengetahui kekuatannya lemah, mengetahui tidak ada daja kekuatan sendiri, dengan darah dagingnya dia menempel pedang Hay-leng-tju, dengan harapan bisa mendapat bantuan Sim Pek Kun.
Kalau saja Sim Pek Kun tidak bisa diajak kerja sama, membiarkan kesempatan itu lewat, celakalah mereka.
Yang mujur Sim Pek Kun telah mendapat pengalaman2, telah bisa menyerasikan keadaan, di saat itu juga ia menaburkan jarum mas pencabut nyawa dari keluarga Sim yang hebat.
Namanya tipu daya yang digunakan oleh Sim Pek Kun adalah Boan-thian-hia-ie yang berarti hujan jarum mas pencabut nyawa.
Nama tadi cocok dengan keadaan, jatuhnya Siauw Tjap it long di depan kaki Hay-leng-tju adalah untuk menghindari terkena salah satu jarum tersebut, inilah kesempatan baik.
Hay-leng-tju menggeram, melempar pedang, menjungkir balikkan badan.
Tidak urung, tujuh batang jarum emas pencabut nyawa telah bersarang di dalam tubuhnya.
Sebuah belati yang mungil dan mulus turut bersarang di perut manusia jahat.
Siauw Tjap-it-long terlena di tanah, nafasnya semakin sengal2 ngos2an, air hujan masih memukul dirinya, tapi tidak dirasakan sakit lagi.
Mungkinkah jujan sudah menjadi kecil, atau keadaan yang semakin lemah hingga tidak bisa merasakan adanya rasa sakit itu?
Sim Pek Kun berdiri ter-mangu2, matanya memandang ke arah majat Hay-leng-tju, hampir ia tidak percaya kepada kenyataan yang ada.
Sukmanya hampir copot.
Siauw Tjap-it-long menggeser badan, berontak, ia sedang berdaja upaja untuk bangkit berdiri.
Kejadian ini mengejutkan Sim Pek Kun menyadarkan lamunannya, cepat2 ia lari memayang kedua tangan laki2 itu, dengan sabar ia berkata.
"Oh.... lukamu...."
Berapa banyak luka yang sudah mencacah tubuh Siauw Tjap-it long, darah menjadi satu dengan air hujan.
"Tidak jadi soal,"
Berkata Siauw Tjap-it-long.
"Coba tolong bangunkan aku."
"Lukamu begitu hebat,"
Berkata Sim Pek Kun.
"Lebih baik... lebih baik kau berbaring saja."
"Aku harus duduk. Aku harus bangun."
Berkata Siauw Tjap-it-long.
"Kalau tidak... maka aku terbaring untuk selama2nya..."
Hujan mulai mereda, kini hujan gerimis tapi masih belum berhenti.
Akhirnya Siauw Tjap-it-long bisa duduk bersila di tepian mayat Hay-leng-tju dan To Siao Thian, di sana ia membenarkan djalan peredaran darah.
Sim Pek Kun berdiri di sebelah, se-olah2 dunia ini tersedia untuk mereka berdua.
Tidak ada tempat untuk dunia lainnya.
Siauw Tjap-it-long mengatupkan sepasang mata itu lama, tiba-tiba ia membuka dan berkata.
"Thio Bu Kek, sudah lama kau datang, mengapa masih menyembunyikan diri ?"
Hati Sim Pek Kun tercekat, hampir ia lompat keatas, matanya menyapu kesekeliling tempat, ia tidak melihat ada bayangan Thio Bu Kek.
Apa arti kata-kata Siauw Cap-it-long tadi ?
Beberapa saat berlalu, lagi-lagi Siauw Cap-it-long membuka suara .
"Thio Bu Kek, kau sudah berada disitu. Mengapa tidak keluar ?"
Kata-kata yang sama diulang sehingga empat kali.
Setiap kali memakan waktu beberapa menit, demikian sehingga ulangan keempat, betul betul Thio Bu Kek bisa dipancing keluar.
Langkah Thio Bu Kek bersikap tenang, tapi wajahnya memperlihatkan kecurigaan, keheranan.
Dengan langkahnya yang begitu ringan, bagaimana Siauw Cap-it-long bisa mengetahui kedatangannya ?
Siauw Cap-it-long sudah membuka mata.
Tapi tidak terarah ke tempat Thio Bu Kek.
Ia tersenyum kecil dan berkata .
"Sudah kuketahui, kau pasti datang ditempat ini, yang berada diluar dugaan, mengapa kau datang ayal-ayalan, sehingga telah didahului oleh Hay-leng-cu."
Thio Bu Kek melirik kearah mayat Hay-leng-cu yang menggeletak, wajahnya berubah. Mempelototkan mata memandang Siauw Cap-it-long, rasa tercengangnya semakin hebat. Siauw Cap-it-long berkata .
"Jangan mendelikkan mata seperti itu. Hay-leng-cu dan To Siao Thian bukan mati dibunuh olehnya."
"Bukan kau ?"
Bertanya Thio Bu Kek.
"Siapa ? Siapa yang membunuh mereka ?"
"Aku sendiripun tidak tahu."
Berkata Siauw Cap-it-long.
"Baru saja mereka tiba disini, mendadak saja jatuh. Sesudah itu mati."
Mata Thio Bu Kek berlikat-kilat, ia bertanya .
"Mereka datang untuk mati didepanmu ?"
"Ya."
Berkata Siauw Cap-it-long.
"Datanglah lebih dekat lagi. Lihat dan periksa saja luka mereka, maka kau bisa mendapatkan buktinya."
Kata-kata ini menyebabkan reaksi yang lain. Thio Bu Kek tidak maju kedepan, tapi ia sudah mundur kebelakang, katanya marah .
"Mengapa harus dekat. Dari sini, aku juga bisa melihat adanya tanda-tanda kematian mereka."
"Kau tidak percaya keteranganku ?"
Bertanya Siauw Cap-it-long.
Bibir Thio Bu Kek bergerak-gerak, tetapi tidak sepatah katapun yang keluar dari tempat itu.
Siauw Cap-it-long menghela napas panjang panjang, dengan membawakan sikapnya yang seperti sangat sedih, ia berkata.
"Tenagaku sudah habis, lukaku juga tidak ringan, aku hendak melarikan diri, tapi sudah tidak bertenaga lagi, bagaimana bisa membunuh orang ? Bagaimana bisa membunuh To Siao Thian tayhiap dan Hay-leng-cu yang menjadi jago pedang kenamaan dari Hay-lam-kiam-pay ?"
Thio Bu Kek masih diam, Ia hendak mengilmiah keadaan dan strategis kesempatan. Siauw Cap-it-long berkata lagi .
"Sekarang aku sedang duduk disini. Menunggu ajal kematianku."
"Menunggu ajal kematian ?"
Bertanya Thio Bu Kek ragu-ragu. Siauw Cap-it-long tertawa getir, ia berkata .
"Mengapa harus bohong kepadamu ? Kalau kau datang lebih dekat lagi, menarik batok kepalaku. Kukira mudah saja dicopot. Aku sudah tidak mempunyai kekuatan untuk bertahan. Yang lebih hebat lagi, tidak ada yang bisa membantu usahaku. Jarum pencabut nyawa dari nona Sim Pek Kun juga sudah habis diobral. Inilah yang membuat lebih celaka !"
Sim Pek Kun hanya bisa mengeluh didalam hati, mengeluh secara gelisah sekali.
Ia lebih mengerti, kata-kata Siauw Cap-it-long yang dikatakan itu adalah suara yang sejujurnya, mereka tidak mementingkan hidup, dia juga sudah kehabisan jarum pencabut nyawa.
Heran !
Mengapa Siauw Cap-it-long harus memberikan keterangan seadanya, sudah gilakah dia ?
Apa akibatnya, kalau Thio Bu Kek percaya kepada keterangan itu dan maju kedepan ?
Bah !
Runyam !
Kenyataan tidak seperti apa yang Sim Pek Kun bayangkan, langkah Thio Bu Kek bergerak, tapi bukan dia maju kedepan, kini mundur semakin jauh lagi.
Siauw Cap-it-long berkata .
"Kalau kau hendak membunuh diriku, inilah kesempatan terbaik. Mengapa kau harus membuang peluang waktu? Hayo !"
Tiba-tiba Thio Bu Kek tertawa berkakakan, entah apa yang ditertawakan olehnya, ia tertawa begitu besar, sampai air matanya meleleh dua tetes. Siauw Cap-it-long berkata .
"Eh, inilah rasa kejantananmu? Mengeluarkan air mata, sebelum melakukan pembunuhan ?"
Sesudah Thio Bu Kek tertawa puas, ia berkata .
"Kalian berdua adalah lakon-lakon sandiwara yang baik. Permainan akrobat kalian juga hebat. Sangat realistis ! Sayang, aku tidak mempunyai pikiran otak yang seperti To Siao Thian, dan juga tidak mau disamakan dengan Hay-leng-cu."
Siauw Cap-it-long bertanya .
"Masih tidak percaya kepada keteranganku ?"
"Aku tidak mau dijadikan kelinci percobaan. Aku tidak mengharapkan sebuah belati kecil yang tertancap diatas dadaku."
"Sayang ! Sayang sekali !"
Berkata Siauw Cap-it-long.
"Sayang sekali kalau kau membuang kesempatan yang baik dihari ini."
"Terima kasih.... terima kasih.... terima kasih atas budi kebaikanmu."
"Kau akan menyesal dikemudian hari."
Berkata Siauw Cap-it-long.
"Lebih baik aku menyesal dikemudian hari, daripada harus menggeletak untuk selamalamanya."
Berkata Thio Bu Kek, tubuhnya melejit, mumbul keatas dan meluncur pergi. Meninggalkan Siauw Cap-it-long. Siauw Cap-it-long berkata .
"Kalau kau sudah berhasil menemukan jawaban yang dianggap tepat, silahkan balik kembali, biar bagaimana, aku sudah tidak mempunyai kekuatan untuk lari !"
Suara Siauw Cap-it-long yang terakhir, tentu saja tidak bisa didengar oleh Thio Bu Kek.
Karena disaat mana, bayangan Thio Bu Kek sudah lenyap tak terlihat.
Sesudah kepergian Thio Bu Kek, tulang-tulang Sim Pek Kun dirasakan menjadi lemas, ia jatuh dan terduduk ngeloso.
Ia mengirim satu kerlingan mata yang menarik, dan berkata .
"Tidak kusangka. Thio Bu Kek bisa dikaburkan olehmu !"
Siauw Cap-it-long mengeluarkan elahan napas panjang, ia berkata .
"Aku sendiripun tidak menyangka, sebelumnya aku tidak mempunyai pegangan yang sangat kuat."
"Tetapi, hampir saja aku jatuh pingsan karena kata-katamu tadi."
"Beruntung hujan masih belum berhenti."
Berkata Siauw Cap-it-long.
"Thio Bu Kek belum bisa membedakan, yang mana keringat ketakutan dan yang mana butiran air hujan."
"Hujan baik."
Berkata Sim Pek Kun.
"Air hujan membersihkan dirimu, membersihkan darahmu sehingga Thio Bu Kek tidak tahu bahwa kau telah banyak menderita luka."
Mereka saling pandang, akhirnya mereka tertawa.
Sim Pek Kun bisa mengeluarkan suara lega, timbul rasa kantuknya, matanya terlalu sepet, letihnya tidak kepalang, sesudah melakukan perjalanan seorang diri, perjalanan yang belum pernah ditempuh selama hidup Sim Pek Kun.
Akhirnya ia bisa berhasil menyelamatkan nyawa Siauw Cap-it-long.
"Hanya Lie Kang seorang yang belum datang."
Bisik Siauw Cap-it-long.
Tentu saja Lie Kang belum sampai di tempat itu, Lie Kang salah jalan karena takut kalau rahasianya dibongkar oleh Siauw Cap-it-long, karena itu ia memisahkan diri.
Memilih jalan yang lebar, itulah jalan salah.
Juga berbeda dengan keadaan To Siao Thian, Hay-leng-cu dan Thio Bu Kek yang menuju jalan sempit.
Satu persatu mereka berhasil menemukan Siauw Cap-it-long.
Lie Kang memilih jalan lebar !
Tentu saja harus berputar-putar.
"Kemanakah Lie Kang pergi ?"
Bertanya Sim Pek Kun "Kukira ia tidak datang."
Berkata Siauw Cap-it-long.
Lagi-lagi mereka berpandangan, tangan Sim Pek Kun meremas tangan Siauw Cap-it-long.
Sebagai seorang nyonya agung, sebagai seorang wanita yang pernah kawin, seharusnya Sim Pek Kun tidak berani melakukan gerakan itu.
Tetapi, keadaan lain dari pada yang lain, keadaan sekarang adalah keadaan yang kritis, mungkin keadaan untuk terakhir kali pertemuan mereka.
Dimulut, mereka tidak mengucapkan kata cinta.
Tapi hati mereka sudah terikat, mereka kepada penghidupan, mengapa tidak mengamprokkan lebih cepat dari apa yang keadaan ?
Mengapa Siauw Cap-it-long bertemu Sim Pek Kun, sesudah Sim Pek Kun kawin dengan Lian Seng Pek ?
Mereka masing-masing berkata dalam hati, mengharapkan tidak hadirnya Lie Kang.
Tapi hal itu tidak mungkin, cepat atau lambat, pasti Lie Kang bisa sampai ditempat mereka.
Biar bagaimana, Lie Kang tidak akan melepaskan kesempatan itu.
Dimisalkan Lie Kang tidak berhasil menemukan jejak mereka, bisakah Siauw Cap-it-long bertahan ?
Didalam luka yang seperti itu ?
Bisakah Siauw Cap-it-long memperpanjang umurnya ?
Luka Siauw Cap-it-long terlalu berat, sangat parah !
Melupakan keagungan seorang nyonya yang terhormat, Sim Pek Kun menoleh kesamping, perlahan-lahan ia berkata .
"Maksudku.... maksudku, agar kau bisa menyelami hatiku."
"Aku bisa."
Berkata Siauw Cap-it-long.
"Biar bagaimana,"
Berkata Sim Pek Kun mengertek gigi.
"Aku tak akan menyesal lagi."
Siauw Cap-it-long berdiam beberapa lama, beberapa saat kemudian ia berkata .
"Kalau kau mau, aku mempunyai cara untuk menghadapi Lie Kang." ********** Hujan masih belum habis. Menetes turun dari atas langit. Lie Kang mengangkat tudung cekuknya, ia menyusut wajahnya yang basah. Sudah sebelah gunung dicari, tidak berhasil ia menemukan kedua buronannya. Ia hampir kecewa. Disaat inilah ia menemukan Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun. Siauw Cap-it-long celentang disana, Hay-leng-cu berada disebelah Siauw Cap-it-long, tangannya masih memegang pedang, pedang itu telah menusuk bagian selangkangan si jago berandalan. To Siao Thian juga sudah menggeletak, berbeda dengan keadaan Hay-leng cu, tangan To Siao Thian masih memegang urat nadi Siauw Cap-it-long, dan lain tangannya menempuh di jalan darah Siauw Cap-it-long. Sepintas lalu, dengan adanya tiga mayat yang bergelimpangan seperti itu, tentunya sudah terjadi pergumulan hebat, akhirnya sama-sama mati. Beberapa langkah dari ketiga orang itu, tergeletak lain tubuh, itulah Sim Pek Kun. Dada Sim Pek Kun masih bersembul naik turun, tentunya belum mati. Wajah nyonya itu pucat pasi, alisnya yang hitam panjang telah basah, bajunya juga basah, membungkus tubuhnya yang padat berisi. Sepasang mata Lie Kang bentrok dengan tubuh montok itu, dan disanalah ia terpaku. Sim Pek Kun seperti tertidur, seperti juga jatuh pingsan.
Ia tidak tahu, bahwa sepasang mata liar sudah mengincar dirinya.
Berkelebat cahaya dimuka Lie Kang, terjadi sedikit perobahan, kini semakin lama semakin membara, memanasi seluruh tubuhnya.
Melawan jatuhnya air hujan, seperti ada api yang sedang bekerja, napasnya menjadi sengal-sengal dan ia mengeluarkan suara desisan.
"Tidak percuma dia mendapat julukan ratu rimba persilatan....."
Kata-kata ini dibarengi oleh terkamannya.
Lie Kang sudah menubruk tubuh Sim Pek Kun yang montok dan berisi.
Badan Sim Pek Kun terasa gemetar.
Dengan napas yang sengal-sengal, Lie Kang menyobek baju depan nyonya itu, matanya semakin liar, semakin nakal....
Didalam keadaan seperti inilah tiba-tiba mata Lie Kang melotot, mendelik dan mengejang, desisan suaranya semakin lama semakin perlahan, akhirnya terhenti....
Dari mulut Lie Kang, meleleh keluar cairan darah merah.
Dada Lie Kang telah tertancap belati, tepat mengenai jantung dan uluhati, karena itulah kematiannya sangat cepat.
Sim Pek Kun mendorong pergi tubuh itu, rasa takutnya masih belum hilang, ia menggigil.
Sim Pek Kun masih belum bisa merasakan perobahan yang terjadi.
Badan Lie Kang yang menubruk itu dari panas, menjadi hangat, akhirnya dingin, dingin dan membeku.
Korban Lie Kang adalah korban yang ketiga.
Siauw Cap-it-long berhasil membunuh orang yang hendak membunuh mereka.
********* Sim Pek Kun melarikan diri, ia melarikan diri dari atas gunung, kini sesudah berhasil mengelakkan musuh-musuhnya, dengan memayang Siauw Cap-it-long, ia mulai turun gunung.
Meninggalkan mayat Lie Kang, meninggalkan mayat Hay-leng-cu, dan meninggalkan mayat To Siao Thian.
Tidak mudah untuk mencapai gunung itu juga sulit untuk menuruni gunung.
Luka Siauw Capit-long terlalu berat, mereka berjalan secara tergesa-gesa, walau tidak ada pengejaran.
Tapi maut masih selalu mengincar.
Kini, Sim Pek Kun sadar, bahwa laki-laki sejati Lie Kang juga memiliki sifat kepuasannya.
Selama perjalanan turun itu, tidak sekejap matapun keluar dari mulut Sim Pek Kun.
Siauw Cap-it-long juga tidak mengganggu kedatangan itu, mereka berjalan dengan tergesagesa.
Disaat ini, didalam rimba terdapat dua bayangan.
Kedua bayangan itu melesat dengan cepat.
Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun tidak tahu akan adanya dua bayangan tersebut.
Siapakah kedua bayangan itu ?
Mereka adalah Lian Seng Pek dan Thio Bu Kek.
Lian Seng Pek membiarkan isterinya menggandeng gandeng seorang laki lain, menghela napas panjang.
Tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Tidak terjadi perobahan yang menyolok mata.
Berdiri di samping Lian Seng Pek adalah Thio Bu Kek, memperhatikannya segala perobahan si kongcu tersebut.
Beberapa saat kemudian, Thio Bu Kek bertanya.
"Saudara Lian Seng Pek, kau juga hendak mengejar mereka ?"
Perlahan-lahan Lian Seng Pek menggoyang kepalanya, dengan perlahan ia berkata .
"Kalau dia mau kembali kepadaku, cepat atau lambat, pasti dia kembali. Tapi kalau dia sudah tidak butuh diriku, diuber pun percuma saja."
Thio Bu Kek bungkam. Dan disaat ini ia memperlihatkan senyumnya sinis, ia bergumam .
"Betul. Sim Pek Kun pasti kembali kepadamu. Tidak mungkin Siauw Cap-it-long bisa bertahan lama."
SEBUAH TEMPAT YANG SANGAT AJAIB _______________________________ Sesudah melewati bukit tanah itu, mereka akan berjalan di dataran luas.
Siauw Cap-it-long membekap mulutnya, membekap batuk yang hampir tidak tertahan.
Mereka telah melakukan perjalanan di dalam keadaan sakit.
Dengan penuh perhatian, Sim Pek Kun bertanya .
"Kau lelah ? Istirahat dulu, ya ?"
Siauw Cap-it-long bergoyang kepala, tapi disaat inilah tubuhnya roboh, tangan yang dibekap ke mulut juga terpentang, tangan itu telah bercucuran darah.
Sim Pek Kun berteriak kaget, cepat-cepat membangunkan Siauw Cap-it-long.
Disaat ini juga, kepala Sim Pek Kun menjadi puyeng, terasa dunia berputar, semakin lama semakin hebat, akhirnya ia juga roboh, roboh diatas badan Siauw Cap-it-long.
Roboh tidak sadarkan diri lagi.
Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun jatuh tidak sadarkan diri.
*************** Orang pertama yang sadarkan diri adalah Siauw Cap-it-long !
Begitu pikirannya bisa dikasi bekerja, segera ia mencari jejak Sim Pek Kun.
Usaha itu tidak percuma, Sim Pek Kun tertidur disebelahnya.
Yang aneh, mereka tidak berada dirumput-rumput pegunungan, mereka tertidur di sebuah tempat tidur yang empuk, tempat tidur yang bersih.
Tempat tidur itu adalah tempat tidur nomor satu, bisa digunakan oleh dua orang.
Siauw Capit-long dan Sim Pek Kun tertidur sama-sama.
Tempat tidur itu disertai dengan seprei putih, rapih dan bersih, terdapat juga kelambu putih, dengan sulam-sulaman berpinggiran benang emas aneka ragam yang menarik.
Mereka juga tidak mengenakan pakaian yang basah kuyup, pakaian itu sudah tiada, mereka mengenakan pakaian tidur yang bersih, baju tidur yang terbuat dari kain halus.
Tiba-tiba Siauw Cap-it-long mendapatkan dirinya sudah berada disuatu tempat yang sangat misterius.
Mereka berada dalam impian ?
Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun tertidur ditempat tidur yang sangat bersih.
Itulah ruangan yang sangat mewah.
Tempat istana raja ?
Didepan mereka terdapat sebuah meja, meja emas, dan emas murni, diatas meja ada lilin, disekitarnya ada pajangan, terbuat dari batu batu pualam.
Siauw Cap-it-long mengkerut kepala, siapakah yang menjadi pemilik istana ini ?
Ruangan ditempat dimana mereka berada adalah ruangan terindah yang pernah dialami olehnya.
Tempat itu lebih kaya dari seorang hartawan, mungkinkah berada didalam istana raja ?
Siauw Cap-it-long berkedip-kedip beberapa kali, ia tidak pernah mengimpi, terlebih-lebih impian dalam khayalan.
Perlahan-lahan Siauw Cap-it-long meninggalkan tempat tidur, ia berusaha sedapat mungkin, agar tidak membangunkan Sim Pek Kun.
Tentu saja, hal ini untuk menghindari kerewelan.
Kalau saja Sim Pek Kun sadar dan mengetahui, ia tidur bersama seorang laki-laki yang bukan menjadi suaminya, kecanggungan mereka sulit dilepaskan.
Berindap-indap, Siauw Cap-it-long meninggalkan tempat tidur.
Diluar kamar itu, terdapat lorong panjang, lorong yang disertai dengan permadani mahal.
Memeriksa luka-lukanya, luka itu sudah sembuh.
Keanehan terjadi !
Bagaimana lukanya bisa sembuh begitu cepat ?
Karena ia sudah tertidur.
Karena sudah ada orang yang menyembuhkannya.
Siapa orang yang menolong mereka?
Dengan obat apa berhasil menyembuhkan luka-luka yang begitu cepat ?
Dengan alasan apa mau menolongnya ?
Pertanyaan pertanyaan yang terlalu banyak.
Diatas pintu terukir oleh ukiran emas, disana tergantung dua gelang, berwarna kuning, itulah mas murni.
Siauw Cap-it-long mendapatkan dirinya didalam satu dunia khayalan.
BONEKA DAN ISTANA BONEKA Ruangan ini tidak terlalu besar.
Tiada banyak isi, hanya sebuah meja besar yang menghiasi ruangan.
Meja ini sangat besar, hampir memakan setengah ruangan dari tempat yang ada.
Diatas meja itu berdiri beberapa boneka, mereka berada didalam rumah boneka.
Inilah rumah-rumahan, rumah-rumahan yang terindah.
Didalam khayalan anak pembesar manapun tidak mungkin bisa menemukan rumah-rumahan seindah seperti apa yang ada diatas meja ini.
Rumah-rumahan itu terbuat dari bahan bahan yang mirip.
Gentengnya terbuat dari tanah liat merah, dan untuk genteng kacanya, terbuat dari kaca pula.
Seolah-olah istana raja, istana boneka.
Mengelilingi rumah-rumah itu, terdapat taman-tamanan yang sudah diremajakan.
Pada taman kecil yang indah molek itu tertanam pohon siong, terdapat rumput, jembatan kecil, kali kecil, gunung-gunungan kecil, tempat istirahat kecil, semua serba kecil.
Disela-sela rumput-rumput kecil itu terdapat juga seekor kancil kecil, sangat hidup didalam bentuk mungil.
Terdapat kelinci, burung bangau dan menjangan, semua serba kecil.
Pohon-pohon itu rindang dan hidup, bunga-bunganya segar, terdapat harum semerbak.
Semua serba kecil, semua serba menarik.
Binatang-binatang yang terbuat dari batu, tapi hidup, seolah-olah kalau kita panggil, mereka bisa segera menerima panggilan itu dan berlari hidup.
Siauw Cap-it-long memusatkan perhatiannya di tempat rumah istirahat, genteng warna merah, kayu hijau, dan terpasang meja batu.
Diatas meja batu terpasang papan catur, dua orang sedang bercatur.
Dua orang itu adalah dua orang kakek tua, mengenakan pakaian dan topi.
Sebuah sungai kecil mengalir, melewati bangunan tempat istirahat yang sedang digunakan bermain catur.
Seorang yang disebelah timur adalah seorang tua yang berpakaian coklat, dia sedang memusatkan pikirannya pada papan catur, alisnya dikerutkan, seolah-olah sedang memikirkan perobahan situasi yang sangat sulit.
Seorang yang berbaju hijau mencuci kaki, tangannya baru dilepaskan pegangan, ia melirik kearah orang-orangan kecil yang berbaju coklat, dengan memperlihatkan senyum emosinya.
Suatu tanda bahwa set kemenangannya berada dipihaknya.
Dua orang-orangan kecil ini sangat hidup.
Alis mereka, pakaian mereka terbuat dari bahan yang sangat mahal.
Cocok dan Khas.
Pemandangan diatas meja itu membuat orang kesima, membuat orang mengkerutkan kepala.
Tidak jauh dari bangunan tersebut terdapat lain bangunan rumah terlalu indah, lebih tepat kalau disebut istana.
Itulah istana boneka !
Didalam istana boneka terdapat duapuluh tujuh ruangan.
Ruangan besar, ruangan samping, ruangan tempat tidur, ruangan tamu, ruangan gudang, dan ruangan dapur serta lain-lainnya.
Dari jendela, tiap orang bisa memperhatikan keadaan ruangan dalam ruangan itu.
Didalam sebuah ruangan terdapat serba menakjubkan.
Meja dan kursi kursi terbuat dari emas, perak, pualam dan intan berlian terbikin dengan mungil.
Disetiap ruangan dari rumah boneka dikompliti dengan segala yang menurut contoh aslinya.
Bantalan-bantalan tempat duduk terbuat dari kapas, kecil dan mungil.
Bangku-bangku dan meja-meja dapur terbuat dari kayu yang diplitur, hanya diperkecil beberapa kali dari aslinya.
Betul-betul menakjubkan !
Didalam ruangan tamu, berduduk dua orang, seolah-olah sedang menunggu panggilan tuan rumah, seorang berambut gondrong dan bermuka bopeng, seorang lagi tidak gondrong, tapi mempunyai muka panjang lonjong seperti muka seekor keledai.
Orang-orangan ini sangat kecil dan mungil.
Hidup.
Seolah-olah manusia yang disusutkan.
Dua orang gadis pelayan sedang memasuki ruangan tamu itu, seorang sedang membawa baki minuman, seorang lagi sedang menyingkap tirai pintu, siap menyuguhkan kepada kedua tamu kecil itu.
Dua cangkir minuman yang sebesar kancing terbuat dari porselen asli.
Kedua boneka pelayan itu memperlihatkan senyumannya yang tidak memandang mata, karena mereka tahu bahwa sang majikan tidak mengindahkan tamu-tamunya.
Kedua anak-anakan kecil ini adalah dayang dayang dari raja istana boneka.
Mata Siauw Cap-it-long dialihkan ke ruangan lain.
Inilah ruangan tempat tidur dari istana boneka itu.
Majikan dari rumah kecil ajaib sebangsa raja, dia sedang tertidur, bersembunyi dibalik selimutnya.
Entah impian muluk apa yang dikenang kembali, dia baru mendapat pemberitahuan tentang kedatangan kedua tamunya, seolah-olah hendak turun berdiri.
Empat orang-orangan kecil yang berpakaian seperti dayang sudah siap melayani raja itu, seorang diantaranya, sedang memegang kopiah kebesaran, seorang lagi sedang membawakan baju berpinggiran emas, seorang sedang mengipas-ngipas, seorang sedang berjongkok, membersihkan sepatu.
Majikan dari yang punya rumah boneka ajaib itu berwajah putih, tidak berkumis, sangat keren.
Dia sebangsa raja atau bangsawan kaya.
Dari ruangan timur, Siauw Cap-it-long berganti ke lain bagian.
Inilah ruangan dapur, seorang koki kecil tampak seperti sedang repot, membuat persiapan untuk makanan pagi sang majikan.
Dunia boneka yang tersedia di atas meja itu sungguh hidup dan menarik, sangat memikat hati Siauw Cap It Long.
Tidak ada sesuatu yang bisa dicela.
Siauw Cap-it-long menghela napas panjang, ia mengoceh .
"Majikan yang seperti ini sungguh hebat sekali."
Dari dua puluh tujuh ruangan didalam rumah boneka hanya satu yang kosong.
Ruangan lainnya terdapat anak-anak kecil, mereka adalah gadis-gadis yang berparas cantik, ada yang sedang memetik gitar, ada yang sedang membaca buku, ada yang menyulam, ada yang bersisir, dan ada juga yang bermalas-malasan, ada yang terbaring di tempat tidur, ada juga yang belum bangun.
Entah ahli seni pahat dari mana yang bisa menciptakan begitu indah?
Sungguh sungguh dunia boneka terindah.
Diluar istana boneka itu terdapat lorong, tidak jauh dari situ adalah ruang buku, terdapat tumpukan kitab-kitab, diantaranya terdapat juga bau wangi, sepercik dupa wangi sedang dibakar.
Siauw Cap-it-long bukan anak-anak lagi, tapi menghadapi dunia boneka yang begitu indah, tanpa disadari, sukmanya terbetot masuk.
Ingin sekali ia bisa menyusutkan diri, menyesuaikan ukuran ukuran boneka, memasuki rumah dunia boneka.
Sedang Siauw Cap-it-long termangu-mangu dibelakangnya terdengar suara deburan napas, ia ketahui kalau Sim Pek Kun itu juga sudah sadarkan diri.
Wajah Sim Pek Kun pucat pasi, ia terkejut menyaksikan keadaannya ditempat itu.
Tapi rasa terkejutnya hilang sama sekali, manakala ia bisa menyaksikan adanya dunia boneka yang cantik dan molek itu.
Matanya berkelip-kelip, menyaksikan keindahan-keindahan dari orang-orangan yang sangat kecil.
Lama sekali Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun terpekur, akhirnya sang ratu rimba persilatan berkata.
"Sungguh rumah yang sangat indah. Kalau saja betul-betul ada rumah yang seperti ini, dan bisa beristirahat beberapa hari, tentu sangat memuaskan."
Siauw Cap-it-long tertawa, memandang kearah patung-patung kecil itu, rumah-rumah kecil, binatang-binatang kecil dan segala sesuatu yang serba kecil terpasang diatas meja, ia tertawa.
Sesudah itu berkata .
"Sayang sekali, tidak ada seorang dukun pun yang bisa menyusupkan tubuh kita memasuki tempat ini."
Siauw Cap-it-long, menunjukkan jarinya ke rumah-rumahan kecil. Sim Pek Kun menoleh, memandang Siauw Cap-it-long menatapnya beberapa saat, ia bertanya .
"Kita orang masih hidup?"
Perlahan-lahan Siauw Cap-it-long menganggukkan kepala dan berkata .
"Ya. Kita masih hidup."
Suara ini tidak banyak, tapi cukup berkesan.
Mengandung unsur-unsur harapan.
Setiap manusia memiliki sifat-sifat yang tidak mengenal cukup, demikian juga keadaan Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun.
Mereka bisa sembuh mendadak, mereka ditolong orang secara ajaib, dan kini mereka masih mengharapkan sesuatu yang lebih ideal.
Siapakah orang yang menolong mereka ?
Siapakah yang memiliki istana boneka hidup itu ?
Seseorang manusia yang masih hidup pasti memiliki angan-angan yang jauh dan panjang.
Lama sekali mereka menyelami diri kedalam rumah-rumahan kecil yang indah dan mungil itu, akhirnya Sim Pek Kun menundukkan kepala dan bertanya .
"Kau yang membawa aku ketempat ini ?"
Ia sangka Siauw Cap-it-long yang memberi pertolongan Tapi Siauw Cap-it-long pun tidak tahu, siapa tokoh silat yang menolong mereka. Karena itu ia menjawab pertanyaan sang ratu rimba persilatan .
"Disaat aku sadarkan diri, kita sudah berada ditempat ini."
Sim Pek Kun bertanya .
"Tahukah kau, dimana kita berada ?"
"Belum tahu."
Jawab Siauw Cap-it-long. Sim Pek Kun menolehkan kepala, melirik ketempat boneka boneka dan bertanya .
"Kukira kita telah ditolong oleh seseorang tokoh silat luar biasa, tokoh ajaib yang mempunyai banyak harta kekayaan, dan kesukaannya juga aneh, maka ia bisa memiliki dunia boneka yang begitu indah."
"Kalau bukan seorang ajaib, tidak mungkin bisa menyediakan boneka-boneka yang sangat ajaib."
Sim Pek Kun berkata .
"Kita sudah ditolong. Mengapa membiarkan kita begini saja?"
Siauw Cap-it-long belum menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba terdengar satu suara yang garing merdu berkata .
"Karena majikan kami tidak ingin mengganggu ketenangan tuan dan nyonya."
Kata-kata "Tuan dan nyonya"
Keluar dari suara orang itu, seolah-olah suara yang menyinggung, anggapnya Sim Pek Kun dan Siauw Cap-it-long itu sebagai suami isteri.
Seorang gadis pelayan dengan pakaian warna putih, dengan wajah berbentuk telor, dengan rambut yang hitam jengat memasuki ruangan mereka, gadis pelayan inilah yang menjawab pertanyaan.
Tubuh gadis ini sangat ramping, disaat tidak tertawa, tampak sikapnya yang keras kepala.
Seolah-olah seorang gadis dingin, tapi disaat dia tersenyum, tertawa, tampaklah dua baris giginya yang putih, begitu lemah gemulai, menarik dan memikat.
Kedua pelipisnya tinggi, tapi tidak banyak mengganggu kecantikan.
Disinilah letak gairah yang lebih hebat, lebih banyak dan lebih mudah memikat hati laki-laki, bisa mendebarkan hati insan non sejenis.
Gadis pelayan ini tidak bisa dikatakan cantik, tapi berdiri didepan mereka, daya tariknya hebat, kalau saja tidak disertai Sim Pek Kun disana, semua kekuatan magnit berada pada gadis pelayan tersebut.
Sim Pek Kun tidak berani mendongakkan kepala, tidak berani memandang gadis pelayan itu.
Tapi si gadis pelayan memperhatikan Sim Pek Kun, dari atas kepala sehingga ujung kaki, dan dari ujung kaki naik pula sehingga dari atas kepala.
Seorang wanita yang cantik lebih tertarik kalau melihat adanya lain wanita yang lebih cantik.
Penilaian wanita kepada seorang wanita lebih hebat daripada penilaian seorang pria.
Sesudah puas membikin penilaian kepada Sim Pek Kun, baru pelayan itu memandang dan menoleh kearah Siauw Cap-it-long.
Gadis pelayan tersebut, bukanlah seorang pemalu, tapi disaat sinar matanya bentrok dengan sepasang sinar mata Siauw Cap-it-long yang besar, mau tidak mau, sepasang sinar mata si gadis pelayan dikalahkan, tunduk kebawah.
Dengan kemalu-maluan gadis pelayan itu berkata .
"Nama hamba Siok siok, khusus mendapat perintah untuk melayani kebutuhan tuan dan nyonya."
Lagi-lagi sebutan tuan dan nyonya, dalam keadaan seperti itu mengartikan bahwa Siauw Capit-long dan Sim Pek Kun itu sudah menjadi suami isteri.
Sim Pek Kun menundukkan kepalanya rendah-rendah, dengan harapan Siauw Cap-it-long bisa memberikan keterangan.
Tapi Siauw Cap-it-long tidak menolak panggilan dan sebutan seperti itu.
Terdengar si gadis pelayan yang bernama Siok siok berkata lagi .
"Kalau nyonya membutuhkan sesuatu, suruh hamba yang melakukan."
Siauw Cap-it-long berkata .
"Boleh aku bertanya ?"
"Hamba akan menjawab menurut apa yang hamba tahu."
Berkata pelayan yang bernama Siok siok itu. Siauw Cap-it-long berkata .
"Kita sangat berterima kasih kepada majikanmu yang memberi pertolongan, tapi sehingga saat ini kita belum tahu siapa nama dan kependekaran orang yang menjadi majikanmu itu."
Siok siok berkata .
"Kongcu kami sedang berburu, tanpa disengaja, dia telah menemukan kalian dan menolongnya."
Siauw Cap-it-long mengangkat kepala. Gadis pelayan yang bernama Siok siok itu berkata lagi .
"Biasanya kongcu kami tidak mau usilan. Tapi kalian adalah sepasang kekasih yang begitu sepadan, rasa cinta kalian telah membangunkan perasaan kongcu kami. Disaat kalian sudah tidak sadarkan diri, tangan kalian masih gandeng bergandeng, sulit berpisahan ....."
Wajah Sim Pek Kun menjadi merah jengah. Ia lebih malu. Masih beruntung, Siauw Cap-it-long bisa mengatasi kecanggungan itu, ia berkata .
"Siapa dan bagaimana nama sebutan majikanmu ?"
Siok siok menjawab pertanyaan itu .
"Ia she Thian, kami yang menjadi hamba tidak tahu nama aslinya, kami hanya menyebutnya Thian kongcu."
"Thian kongcu ?"
"Ya. Thian kongcu."
"Disamping itu tidak ada sesuatu yang bisa kau jelaskan lagi ?"
"Hanya ini yang bisa hamba beritahukan."
Siauw Cap-it-long bertanya .
"Bisakah kita bertemu dengan Thian kongcu ?"
"Bisa saja. Tapi......"
Siok siok tidak meneruskan kata-katanya.
"Tapi apa ?"
Tanya Siauw Cap-it-long.
"Sekarang sudah jauh malam. Ia sudah tidur."
Baru sekarang, Siauw Cap-it-long melihat titik-titik keanehan rumah bangunan ini, didalam rumah tidak ada jendela.
Ada cahaya terang, karena terpasang lampu-lampu pada dinding kamar-kamar dan ruangan.
Siok siok berkata .
"Thian kongcu bisa mengetahui kalau tuan dan nyonya bukan manusia biasa, lebih dari pada biasa, ilmu kepandaian tuan dan nyonya tentu sangat tinggi, dipesannya wanti-wanti, agar kami, orang-orang yang menjadi hambanya, harus baik-baik melayani."
Siauw Cap-it-long tertawa tawar dan berkata .
"Ilmu kepandaian tinggi ? Ah...... kalau kita memiliki ilmu kepandaian tinggi, mana mungkin begini terlantar sampai seperti ini."
Perlahan-lahan Siok siok berkata .
"Tuan telah menderita luka di enam tempat, dua luka luar, empat luka dalam. Luka-luka diluar masih bisa diberi mengerti, tapi empat luka-luka dalam itu adalah luka-luka hebat, seperti terpukul oleh ilmu pukulan Batu Remuk atau Kim Kong Ciang. Inilah pukulan keras, kalau orang biasa yang dipukul sekali, sudah pasti mati. Tuan bisa bertahan, kalau tidak memiliki ilmu kepandaian tinggi, mungkinkah nasibnya yang terlalu baik ?"
Mata Siauw Cap-it-long berkilat, ia tertawa dan berkata .
"Oh ! Kalau begitu, kau memiliki pandangan mata hebat. Tentu juga seorang jago silat."
"Kami hanya hamba-hamba dari Thian kongcu. Mana bisa dikatakan sebagai jago silat ?"
"Kalau tidak memiliki ilmu kepandaian silat, bagaimana tahu, kalau aku terpukul oleh ilmu kepandaian Batu Remuk atau pukulan Kim Kong Ciang ?"
"Aku sering mendengar mereka mengucapkan kata-kata itu."
Berkata Siok siok.
Untuk mengelakkan sesuatu, Siok siok segera berpamit, meminta diri dan berjalan pergi.
Siauw Cap-it-long tidak menahannya dan juga tidak memanggilnya.
Baru sekarang Sim Pek Kun berani melirik, ia mengajukan pertanyaan dengan suara perlahan .
"Bagaimana penilaianmu atas gadis itu ?"
"Tidak jelek, juga tidak tolol."
Berkata Siauw Cap-it-long. Sim Pek Kun berkata .
"Bukan saja tidak jelek, lebih dari pada itu, ia juga cantik. Dari adanya hamba yang seperti gadis tadi, kubisa menduga, penghuni rumah ini adalah orang yang bagaimana."
Siauw Cap-it-long berkemak-kemik, tapi ia tidak mengemukakan pendapatnya itu. Sim Pek Kun berkata lagi .
"Penghuni rumah ini seperti mengandung sesuatu yang misterius, penuh keajaiban, apa maksudnya menolong kita ? Bermaksud baik atau jahat ?"
Siauw Cap-it-long mempaparkan kedua tangannya. Inilah tanda tidak tahan.
"Aku haus."
Berkata Sim Pek Kun "Bersabarlah."
Berkata Siauw Cap-it-long.
"Aku juga haus. Tapi kita harus waspada. Belum diketahui maksud majikan gadis pelayan yang bernama Siok siok itu. Kita harus berhati-hati."
"Betul ! Kita harus berhati-hati. Mungkin dia mengandung sesuatu maksud yang tidak baik."
Disaat ini, tiba-tiba terdengar suara Siok siok .
"Kalau Thian kongcu mempunyai maksud tidak baik, tuan dan nyonya tidak bisa hidup sampai sekarang."
Entah dari mana munculnya, gadis pelayan itu balik kembali.
Ternyata lorong jalan disertai dengan permadani-permadani tebal.
Maka gerakan Siok siok yang lincah dan ringan tidak menimbulkan suara.
Secepat itulah ia sudah berada didepan kedua tamunya.
Sim Pek Kun menjadi jengah, malu kepada diri sendiri, menundukkan kepala.
Siok siok telah membawakan dua cangkir minuman, dengan senyumnya yang riang, ia berkata .
"Atas perintah Thian kongcu, tuan dan nyonya mendapat suguhan teh ajaib. Menurut ceritanya, teh ajaib adalah asal mula teh cap botol. Bibit dari sorga. Bisa menambah kekuatan, dan mempunyai keajaiban."
Sim Pek Kun mengkerlip-kerlipkan mata. Siok siok melirik kearah Sim Pek Kun dan berkata .
"Tapi kalau ada orang yang menaruh curiga dan tidak mau meminum sumbangan tehnya, kita juga tidak memaksa."
Siauw Cap-it-long berkata .
"Jiwa kami telah ditolong oleh Thian kongcu, dimisalkan teh minuman ini mengandung racun, aku juga pasti meminumnya."
Betul-betul Siauw Cap-it-long membawakan sikapnya yang berani, ia mengangkat cangkir teh dan menenggaknya cepat. Siok siok menghela napas, ia berkata .
"Pantas kongcu kami menjunjung tinggi kepala kalian. Dengan adanya keberanian ini sudah cukup membuktikan betapa hebat nyali tuan."
Diperhatikannya bagaimana Sim Pek Kun meminum pemberian teh itu.
Tentu saja sesudah Siauw Cap-it-long mengeringkan teh minuman tersebut, tidak adalah alasan bagi Sim Pek Kun untuk menolak.
Dia menenggak juga !
Tiba-tiba.........
Siauw Cap-it-long jatuh menggeloso, dan mengikuti gerakan itu, Sim Pek Kun juga jatuh ditanah.
Dua-duanya tidak sadarkan diri.
Siok siok memperhatikan senyumnya yang misterius, dengan suara merdu ia berkata .
"Sudah kukatakan, teh ini mempunyai keajaiban yang luar biasa, segera kalian bisa mengimpikan keajaiban itu. Aku tidak menipu kalian."
MENJADI MANUSIA BONEKA ?
Cara-caranya orang tidur itu terdapat aneka macam.
Cara-cara siuman juga bukan satu macam, disaat kita sudah sadarkan diri, sesudah melakukan pekerjaan yang sangat letih, mendapat waktu istirahat yang cukup, kita bisa menikmati kepuasan itu.
Disaat kita bangun dari tidur yang nyenyak, tampak matahari pagi menyorot di jendela, dan bersama-sama orang yang dikasihi disamping sisi, inilah siuman yang menyegarkan.
Ada juga rasa yang tidak enak.
Sesudah kita sadar dari menenggak minuman keras atau dibangunkan secara paksa, didalam keadaan kaget, cara itu tidak enak sekali.
Biasanya orang yang bangun dan sadarkan diri, sesudah mendapat cekokan obat tidur, orang itu bisa pening kepala, terasa menjadi pusing, kepalanya dirasakan sangat berat, dan ada juga yang bisa merasa mau muntah.
Berbeda dengan keadaan-keadaan itu, Siauw Cap-it-long bangun dan sadarkan diri didalam keadaan yang enteng dan ringan, seperti terapung, rasanya nyaman dan segar.
Sim Pek Kun tertidur disebelahnya, tidur dengan nyenyak.
Seperti menghisap ganja, perasaan hati Siauw Cap-it-long diombang-ambingkan kebahagiaan, belum pernah terjadi rasa yang seperti ini.
Rasa ini segera menjadi kenyataan, tidak lama kemudian, Siauw Cap-it-long bisa melihat adanya tumpukan buku-buku.
Semua ruangan penuh dengan tumpukan buku-buku, dan sesudah itu ia melihat adanya tempat perapian pembakaran dupa.
Asap mengepul tipis-tipis, dupa itu adalah dupa ternama dari dupa Long-yan-siang.
Perlahan-lahan Siauw Cap-it-long tampak bangun, maka kini dia bisa melihat, diatas meja terdapat alat-alat tulis, alat-alat tulis model kuno.
Dan dia juga bisa melihat sebuah lukisan yang terkenal, itulah lukisan yang mengandung sejarah.
Lukisan kecil didalam istana boneka yang kini sudah diperbesar.
Hati Siauw Cap-it-long tercekat, seolah-olah ia bisa merasakan sesuatu yang tidak beres.
Bulu-bulunya menggerinding bangun, seperti direndam air es.
Istana boneka yang diperbesar ?
Atau dia yang diperkecil ?
Beberapa lama ia berdiri didepan meja itu, berkerut alis dan membalikkan badan.
Bangunan ini terdapat jendela, jendelanya cukup besar, tidak jauh.
Menerobos pemandangan diluar jendela, matahari sedang menyorot memasuki tempat itu.
Cahaya matahari menyinari jembatan lengkung, air sungai dibawah jembatan itu berkilat-kilat mengalir.
Tidak jauh dari jembatan, terdapat bangunan tempat istirahat.
Dalam bangunan itu ada dua orang yang sedang main catur.
Seorang tua berbaju coklat sedang bertopang dagu, sebatang kail pemancing terletak disebelahnya.
Lain tangannya memegang biji catur, masih ragu-ragu, dimana harus diletakkan biji catur itu.
Seorang tua berbaju hijau tertawa-tawa memandang lawannya, ia agak bangga atas hasil yang gemilang, ia berada didalam situasi kemenangan.
Pemandangan inilah yang membuat hati Siauw Cap-it-long semakin menjadi tercekat, kedua orang tua itu adalah anak-anakan yang pernah dilihat didalam taman impian boneka.
Kepala Siauw Cap-it-long dirasakan seperti berputar, hampir ia tidak bisa bertahan bangun.
Bisakah percaya kepada sepasang matanya ?
Diluar jendela rumput yang menghijau keliwat bagus, angin sepoi-sepoi bertiup, membawakan harum semerbak dari bunga-bunga yang mekar.
Sepasang menjangan lompat keluar dari rumpun pohon-pohonan, seolah-olah terkejut karena di jendela ada orang yang mengintipnya.
Sesudah itu, sepasang menjangan tadi lenyap kembali.
Mainan yang hidup ?
Diluar taman itu terdapat tembok tinggi, memisahkan pandangan mata.
Tapi, diluar bangunan tinggi itu seperti terdapat poci arak, dan tidak jauh dari poci arak terdapat dua cawan teh.
Itulah cawan teh yang digunakan oleh Siok siok, diminum oleh Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun.
Cawan arak yang bisa dipegang dengan dua jari.
Kini, cawan arak tersebut telah berubah, berubah menjadi lebih besar dari sebuah bangunan rumah.
Siauw Cap-it-long bukanlah seorang yang mudah mengalami getaran jiwa, tapi apa yang disaksikan telah membuat ia sangat terkejut.
Kedua tangannya gemeteran, kakinya menjadi lemas, keringat dingin mulai membasahi dirinya.
Sim Pek Kun sedang menghembuskan napasnya panjang-panjang, sang ratu rimba persilatan baru siuman.
Cepat-cepat Siauw Cap-it-long membalikkan badan, hendak menutupi pemandangan diluar jendela.
Gangguan-gangguan yang menekan penderitaan batin Sim Pek Kun sudah terlalu hebat kalau sampai dikejutkan lagi oleh kegaiban ini, wanita itu bisa mengalami gegar otak.
Dengan maksud baik, Siauw Cap-it-long harus berusaha, agar Sim Pek Kun tidak merasakan keanehan yang terjadi.
Keanehan itu terlalu ajaib, hampir saja Siauw Cap-it-long menjadi gila, kalau tidak mempunyai iman yang cukup kuat.
Sim Pek Kun mengucek-ucek kedua matanya, ia mengajukan pertanyaan .
"Eeeeh, bagaimana kita bisa berada disini ? Tempat apa pula ini ?"
Siauw Cap-it-long memperlihatkan senyuman terpaksa, ia tidak tahu, bagaimana harus menjawab pertanyaan Sim Pek Kun. Sim Pek Kun menghela napas dan berkata .
"Kulihat Thian kongcu itu seorang tokoh ajaib luar biasa aneh. Ia sudah menolong kita, dia tidak mempunyai maksud untuk mencelakakan kita, mengapa harus memberi obat bius ? Mengapa mengambil kita ketempat ini ? Tidak bisakah mengajak bersama-sama saja ?"
Senyum Siauw Cap-it-long semakin dipaksakan, semakin sulit memberi jawaban. Sim Pek Kun menatap wajah laki-laki itu, kini ia bisa melihat perobahan wajah Siauw Cap-itlong yang aneh.
"Eh ?"
Bertanya Sim Pek Kun.
"Mengapa kau ? Tidak enak badan ?"
"Oh...... oh...... bukan."
Berkata Siauw Cap-it-long.
"hanya sedikit keanehan."
DIDALAM RUMAH BONEKA Siauw Cap-it-long berusaha agar Sim Pek Kun tidak mengetahui keajaiban yang sudah mereka alami.
Tidaklah mungkin, kalau mengatakan ada sesuatu obat yang bisa menyusutkan manusia, menyusutkan dua orang menjadi dua boneka kecil.
Tapi perobahan-perobahan wajah Siauw Cap-it-long itu tidak bisa mengelabui Sim Pek Kun, ia menoleh dengan heran, mengikuti apa yang menjadi keanehan itu.
Wajah Sim Pek Kun berubah, tertegun dan terbelalak, perlahan-lahan ia menggeser sinar matanya, memperhatikan ruangan dimana mereka berada.
Mereka telah berada disebuah kamar buku, seluruh isi ruangan itu adalah kitab-kitab tebal, catatan-catatan dan aneka macam buku-buku.
Dengan memaksakan dirinya, Siauw Cap-it-long berkata .
"Kukira Thian kongcu takut kita kesepian, sengaja mengantar ketempat ini, simpenan buku disini cukup untuk melewatkan waktu sampai lima tahun. Lima tahun membaca buku."
Mulut Sim Pek Kun berkemak-kemik, bibirnya berubah matang, tangannya gemetaran, mendadak saja dia menyerobot ke jendela, mendorong tubuh Siauw Cap-it-long.
Apa yang bisa disaksikan ?
Jembatan melengkung, air yang beranak sungai, dua orang tua yang sedang main catur.....
Sim Pek Kun mengeluarkan suara jeritan, tubuhnya roboh, lagi-lagi ia jatuh pingsan.
Asap dipendupaan sudah tidak mengepul, suatu tanda bahwa dupa itu telah terbakar habis.
Hati Sim Pek Kun masih belum bisa ditenangkan.
Lama sekali kemudian, ia membuka suaranya perlahan.
"Inilah tempat yang kita saksikan tadi, Istana Boneka!"
"Ngng""
Siauw Cap-it-long hanya bisa menganggukkan kepala.
"Sekarang, kita berada di dalam Istana Boneka?"
Bertanya Sim Pek Kun.
"Ngng""
Siauw Cap-it-long memberikan jawaban serba guna. Dengan suara gemetar, Sim Pek Kun bertanya.
"Tapi"
Bagaimana kita bisa menyusut diri? Kedua orang tua itu adalah boneka2 mati, bagaimana bisa hidup dan bergerak?"
Siauw Cap-it-long mengeluarkan suara elahan nafas panjang.
Inilah kesulitan yang tidak bisa dipecahkan.
Keajaiban yang pertama kali ditemukan.
Tidak seorangpun dari otak manusia yang bisa percaya kepada kenyataan itu, seseorang bisa disusutkan menjadi sekecil boneka, boneka hidup.
Bibir Sim Pek Kun menjadi biru, gemetaran.
Ia berusaha menggigit bibirnya, mulai berdarah, inilah suatu tanda ia masih hidup di dalam kenyataan, bukan hidup di dalam impian.
Dengan tertawa getir, Siauw Cap-it-long berkata.
"Baru saja kita katakan kehendak kita yang hendak bermain di dalam rumah boneka. Tidak disangka, impian itu menjadi kenyataan."
Sim Pek Kun sudah kehilangan pegangan sendi hidup, menarik tangan Siauw Cap-it-long dan berteriak.
"Lekas! Lekas kita lari meninggalkan tempat ini."
"Lari kemana?"
Bertanya Siauw Cap-it-long. Sim Pek Kun tertegun. Lari kemana? Kemana mereka bisa melarikan diri? Sim Pek Kun menundukkan kepala, setetes air mata menjatuhi tangan Siauw Cap-it-long. Tiba-tiba"
Tok"
Tok"
Terdengar suara pintu diketok.
"Siapa?"
Pintu tidak terkunci, seorang gadis pelayan berbaju merah berjalan masuk, Sepasang matanya berputar, inilah boneka gadis pelayan yang khusus menyediakan minuman untuk tamu2 rumah boneka.
Gadis pelayan ini juga termasuk seorang boneka, kini telah berubah berdarah daging, ia menjadi manusia hidup.
Siauw Cap-it-long menatapnya tajam2 sehingga membuat si gadis pelayan itu merasa malu.
Memberi hormat dan berkata.
"Majikan kami memberi perintah, agar hamba bisa mengajak tuan dan nyonya untuk makan bersama."
Tidak sepatah kata keluar dari mulut Siauw Cap-it-long, ia mengikuti gadis pelayan itu berjalan keluar. Di dalam keadaan yang seperti itu, pertanyaan tiada guna. * * * Melewati lorong ruangan, mereka sudah berada di ruangan besar.
Di ruangan itu terdapat tiga orang yang sedang ber-cakap2, satu adalah tuan rumah, inilah Raja Boneka dari Istana Boneka.
Kedua orang lainnya adalah 2 boneka yang dilihat pernah menjadi tamu, seorang berkepala besar berambut gondrong dan mempunyai wajah bopengan.
Ketiga wajah ini pernah dilihat oleh Siauw Cap-it-long, tapi Siauw Cap-it-long melihat wajah2 mereka di saat mereka menjadi boneka2 mati, kini sudah mempunyai darah dan daging.
Mereka sama2 hidup.
Siauw Cap-it-long hidup bersama-sama dengan para boneka kecil di dalam Istana Boneka!
Di saat Siauw Cap-it-long berjalan masuk, ketiga orang itu bangkit dari tempat duduknya.
Orang yang menjadi raja istana boneka bangkit berdiri, berkata.
"Selamat hidup bersama kita!"
Yang di kanan berambut gondrong, mukanya bopeng.
Yang di kiri tinggi besar, mukanya panjang seperti kuda, tangannya kapalan, tentu memiliki kekuatan tenaga dalam hebat.
Kedua orang ini berupa orang2 kasar, tapi mengenakan pakaian yang mewah.
Mereka juga menyambut dengan gembira.
"Selamat bertemu!"
Sapanya kepada jago berandalan kita. Kedatangan Siauw Cap-it-long telah disambut oleh ketiga orang itu, mereka bangkit satu tanda penghormatan. Siauw Cap-it-long membalas hormat itu.
"Silahkan duduk!"
Berkata tuan rumah.
Suaranya seperti perempuan, bau harum semerbak menyerang hidung, orang ini seperti banci.
Raja wadam?
Siauw Cap-it-long duduk di tempat yang sudah tersedia.
Tidak lama kemudian datang para pelayan yang membawa makanan, si rambut gondrong yang bermuka bopengan berkata.
"Jangan malu2, makanan tersedia untukmu."
Sudah ber-duduk2, tuan rumah boneka mengajukan pertanyaan.
"Bagaimana sebutan tuan yang mulia?"
"Siauw Cap-it-long,"
Berkata orang yang ditanya.
"Mari kuperkenalkan, saudara ini adalah saudara Lui Bie."
Tuan rumah boneka menunjuk si rambut gondrong yang bermuka bopeng dan menunjuk pula orang yang bermuka panjang seperti kuda, ia berkata.
"Inilah saudara Liong Kui."
Hati Siauw Cap-it-long tergerak, ia bertanya.
"Saudara Liong Kui? Dengan gelar Pendekar Kuda Semberani Liong-tayhiap?"
Orang yang bermuka panjang seperti kuda membungkukkan badan, ia menjawab.
"Itulah gelar yang kawan2 berikan."
Siauw Cap-it-long menoleh ke arah rambut gondrong yang bermuka bopengan, yang disebut bernama Lui Bie itu, ia bertanya.
"Tuan Lui Bie ini tentunya adalah tuan Lui Bie dengan gelar Pendekar Tikar Terbang?"
"Kami sudah lama tidak berkelana di rimba persilatan,"
Berkata Lui Bie tertawa.
"Tidak disangka, tuan masih mempunyai ingatan begitu baik."
"Siapa yang tidak kenal kepada Pendekar Kuda Semberani dan Pendekar Tikar Terbang? Dua jago silat kenamaan dari jaman silam? Tiga belas tahun yang lalu, sesudah terjadi peperangan yang besar di gunung Thian-san, nama djiwi berdua menjadi buah tutur orang."
Sepasang sinar mata Lui Bie berkilat, ia menjadi bangga, tapi tidak lama ia bersedih juga. Dengan menghela nafas berkata.
"Itulah kejadian yang telah usang, sekarang mungkin nama kita sudah hampir dilupakan orang."
Pada tiga belas tahun yang lalu, kedua pendekar ini dengan tangan kosong pernah menempur tujuh pendekar dari gunung Thian-san.
Tanpa menderita luka dan cedera, dan itulah benar2 prestasi yang hebat!
Siauw Cap-it-long berkata.
"Sesudah peperangan di gunung Thian-san, jejak djiwi berdua tidak berbekas lagi, para jago memperbincangkan, tidak ada yang bisa menduga kemana kepergian djiwi berdua."
Wajah Lui Bie semakin suram, dengan tertawa menyeringai ia berkata.
"Bukan orang lain saja yang tidak menduga, kami sendiripun tidak bisa menduga terjadi sampai di sini."
Sesudah itu ia meneguk araknya, mengeringkan minuman tersebut. Tuan rumah boneka juga menghela nafas, ia berkata.
"Di sini sudah bukan umat manusia lagi, siapa saja yang sampai di tempat ini hilang harapan hidupnya."
Sepasang tangan Siauw Cap-it-long dirasakan menjadi dingin, ia bertanya.
"Ini bukan tempat dunia? Mungkinkah" ? Wajah tuan rumah boneka memperlihatkan kemurungan juga, ia berkata.
"Di sini hanya ada kehidupan boneka."
Siauw Cap-it-long juga terbelalak, tertegun di tempat. Lama sekali, dengan dipaksakan, dengan memberanikan diri bertanya.
"Dunia boneka?"
Tuan rumah itu menganggukkan kepala, ia berkata.
"Tidak salah, hanya dunia boneka."
Tertawa sebentar, ia menyambung keterangannya.
"Apa bedanya dunia boneka dan dunia manusia? Manusia hidup seperti impian, sama juga dengan boneka."
Lui Bie berkata.
"Di dalam dunia manusia, orang itu dipermainkan oleh yang berkuasa. Dan disini, kita dimainkan oleh orang."
Sekujur tubuh Siauw Cap-it-long terasa semakin dingin, ia bertanya.
"Cungcu, bagaimana sebutanmu yang mulia?"
Tuan rumah itu menjawab dengan kata-kata murung.
"Aku menetap di sini sudah lebih dari dua puluh tahun. Mana ingat nama asliku? Mereka menamakan aku sebagai Raja Boneka, panggil saja dengan sebutan itu."
"Tapi..."
Tuan rumah yang menyebut diri sendiri sebagai Raja Boneka memotong perkataan Siauw Tjap-it-long dan berkata.
"Dua puluh tahun lagi, kukira kalian juga bisa melupakan asal usul dan nama sendiri."
Di depan orang asing, Sim Pek Kun tidak mau bicara.
Ia bungkam, menyerahkan semua kebijaksanaan kepada Siauw Cap-it-long.
Tapi keterangan tuan rumah boneka tersebut sangat mengejutkannya, tanpa disadari ia berteriak;
"Dua... dua puluh tahun?"
Seneonya naik, karena dia akan hidup di dalam komplotan boneka hidup sampai dua puluh tahun. Tuan rumah boneka itu menganggukkan kepala berkata.
"Ya, dua puluh tahun... di saat aku baru memasuki dunia khayalan boneka, aku juta tidak tahan dan tidak sanggup menerima tekanan2 bathin yang hebat, satu haripun tidak sanggup, mana bisa bertahan hidup bersama-sama dengan jiwa boneka? Tapi... hari demi hari kulewatkan... bulan demi bulan kulewatkan, akhirnya tahun berganti tahun... dua puluh tahun aku bertahan. Biar bagaimana aku masih hidup, seorang yang hidup lebih baik daripada mati."
Sim Pek Kun memalingkan kepala, dua butir air mata djatuh ke lantai.
Ia tidak mau mengucurkan air mata jatuh ke lantai, ia tidak mau mengucurkan rasa kesedihan di depan orang apalagi di depan orang yang belum dikenal.
Sayang penghidupan itu sangat menekan jiwanya, dia menangis.
Siauw Cap-it-long masih mengilmiah sesuatu, ia meragukan adanya dunia boneka, memandang kepada si raja rumah boneka ajaib, memandang pendekar Tikar Terbang Lui Bie, akhirnya memandang kepada pendekar Kuda Semberani Liong Kui.
Kepada mereka ia bertanya.
"Kalian tahu, bagaimana cara kehadiran kalian di tempat ini?"
Lui Bie balas memandang Siauw Cap-it-long, ia bertanya.
"Kau tahu, jalan2 yang ditempuh menuju ke tempat ini?"
Siauw Cap-it-long menyengir.
"Bukan saja tidak tahu. Percayapun sulit diterima,"
Ia berkata terus terang. Lui Bie menenggak araknya, ia berkata.
"Ya, sulit untuk dipercaya. Siapapun tidak percaya, bagaimana seorang manusia hidup bisa jadi boneka kerdil? Bahkan menjadi boneka hidup? Yah... percayapun begitu, tidak percayapun begitu juga... aku hidup di dalam khayalan yang seperti ini selama duabelas tahun, mengharapkan satu impian... kuharapkan terjadi sesuatu, aku bisa sadar dari impian ini. Tapi... impian tetap impian. Aku hidup di dalam impian selama dua belas tahun. Impian yang tidak bisa dibangunkan."
Liong Kui juga turut berkata.
Baca Juga: Legenda Pendekar Ulat Sutera 5
Baca Juga: Pendekar Baja 12