Ceritasilat Novel Online

Anak Berandalan 3

Eps 3 Anak Berandalan - Khu Lung

Baca online Anak Berandalan - Khu Lung

Cersil Anak Berandalan - Khu Lung.

Kedua tangannya itu tadi jelas kosong tidak membawa apa2, tetapi saat itu dengan mendadak ada tujuh delapan jenis senjata rahasia yang berlainan bentuknya telah melesat keluar dari tangannya dengan berbareng, benar2 dapat membuat orang tidak habis pikir, entah dari mana senjata rahasia itu diambilnya.

Sim Pek Kun ternyata masih tidak bergerak sedikitpun juga, ia hanya mengerutkan alisnya, lengan jubahnya yang panjang sudah menggulung, hingga tujuh delapan jenis senjata rahasia itu telah digulung semua, dan sudah tidak tampak lagi bayangannya.

Keluarga Sim memang terkenal didalam dunia tentang senjata rahasianya jarum mas, setiap orang yang bisa menggunakan senjata rahasia, sudah tentu juga bisa menyambut atau mengelak, Sim Pek Kun yang hatinya lemah-lembut, meskipun kalau menggunakan senjata rahasia itu cukup cepat, cukup jitu, tetapi kurang kejamnya.

Sim Thay Kun tahu itu.

Ia selalu anggap caranya sang anak menggunakan senjata rahasia masih belum terlatih baik, apabila ketemu dengan lawan tangguh, pasti akan mendapat kerugian.

Maka dari itu Sim Thay Kun suruh dia bertekun mempelajari semacam ilmu, bagaimana harus menyambut serangan senjata rahasia orang lain.

Begitulah, dalam gerakannya dengan menggunakan lengan bajunya tadi, ia menggunakannya se-olah2 tidak bertenaga, namun benar2 merupakan suatu ilmu tertinggi didalam rimba persilatan.

Gerak kakinya juga demikian lincah dan indah, bahkan berhasil baik mengelakkan setiap serangan dari pemuda perlente itu, ia hanya menggerakkan sedikit saja sepasang kakinya sudah berhasil mengelakkan serangan sepasang kaki pemuda perlente itu, yang dinamakan ilmu serangan Wan-yo-thwee.

Tak ia sangka bahwa pemuda perlente itu masih memiliki banyak macam ilmu serangannya, benar2 membuat orang tidak dapat membayangkannya meskipun kedua kakinya sudah menendang, namun dalam sepatunya masih disembunyikan dua bilah golok.

Meskipun tujuh delapan jenis senjata rahasianya tadi sudah mengenakan tempat kosong, namun dari dalam lengan bajunya kembali sudah mengepulkan dua macam asap yang sangat ringan.

Sim Pek Kun hanya merasakan kakinya kesemutan, seperti diantuk nyamuk, selanjutnya ia telah dapat mencium bau harumnya bunga "

Dan kejadian selanjutnya, ia sudah tidak ketahui lagi. BINATANG LANDAK Dan pada saat itulah pemuda perlente tadi baru bangkit berdiri lagi dengan wajah berseri-seri, ia membersihkan kotoran abu dipakaiannya, memandang Sim Pek Kun yang rubuh menggeletak ditanah, katanya sambil tertawa bangga.

"Enciku yang baik kepandaian ilmumu benar2 cukup hebat, cuma sayang kepandaianmu ini hanya dapat diperlihatkan kepada orang lain, sedikitpun tidak ada gunanya..

Dengan tiba2 terdengar suara tepukan tangan.

Pemuda perlente itu dengan cepat memutar tubuhnya, ia segera menampak sepasang mata yang memancarkan sinar terang.

Suara orang yang menepuk tangan tadi bukan lain dari pada Siau Cap-it-long.

Tadi Siau Cap-it-long jelas sudah dalam keadaan mabuk dan tidak ingat diri lagi, tetapi sekarang dari sinar matanya itu tidak menunjukkan sedikitpun juga tentang mabuknya, ia malah memandang pemuda perlente sambil tertawa, kemudian berkata.

"Adik kecil, kau benar2 memiliki kepandaian yang cukup berarti, aku sangat kagum sekali."

Pemuda perlente itu me-ngedip2kan matanya lalu berkata.

"Terima kasih atas pujianmu, aku sebetulnya tidak berani menerima."

"Ku pernah dengar orang kata bahwa dahulu Jie-lay-hud yang mempunyai tangan seribu, diseluruh tubuhnya ada terdapat senjata rahasia, hal ini mirip dengan binatang landak, sehingga disentuh sajapun tidak boleh, kutidak sangka laote juga merupakan seskor binatang landak kecil,"

Berkata Siauw Cap-it-long dengan sindirannya "Dengan terus terang, aku juga hanya mempunyai kepandaian itu saja, tidak memiliki kepandaian lain lagi,"

Berkata pemuda perlente sambil tertawa.

Dua pengawal Sim Pek Kun saat itu juga sudah dikejutkan hingga pada berdiri terpaku, saat itu dengan mendadak mereka menjadi marah dan menyerbu si pemuda sambil mengacungkan golok masing-masing, tampaknya sudah bertekad hendak mengadu jiwa dengannya.

Mulut pemuda perlente masih berbicara, bibirnya masih tersungging senyuman, kepalanya menolehpun tidak, hanya agak membungkukkan tubuhnya, se-olah2 hendak minta maaf kepada Siau Cap-it-long.

Ikat pinggang batu kumala dipinggangnya pada saat ia baru saja membungkukkan badannya terdengar suara terputusnya ikat pinggang, dari ikat pinggang itu sudah menyembur jarum perak bagaikan hujan.

Dua pengawal Sim Pek Kun baru saja melangkah maju dua langkah, matanya menjadi kabur, mereka hendak mengelak sudah tidak keburu lagi, sedang jarum tadi sudah menyerang muka mereka bagaikan turunnya hujan.

Dua orang tadi menjerit, jatuh rubuh ditanah, muka mereka dirasakan gatal dan nyeri, hingga tidak dapat ditahannya lagi maka lalu menghabiskan jiwanya sendiri dengan membacokkan goloknya dileher masing-masing.

Wajah Siau Cap-it-long juga berubah, katanya sambil menghela napas panjang.

"Kiranya ucapanmu sepatahpun juga tidak dapat dipercaya."

Pemuda perlente itu menepuk-nepukkan tangan, katanya sambil tertawa.

"Ini memang benar adalah wasiatku yang terakhir, aku tidak membohongimu, aku telah anggap kau sebagai kawanku, mari, kalau kau tidak mabuk kita boleh minum dua cawan lagi."

"Aku sudah tak ingin minum lagi."

"Arak itu memang benar2 tidak ada racunnya, aku benar2 tidak membohongimu."

"Meskipun aku suka minum arak yang tidak menggunakan uang, tapi aku masih bukan setan arak, jikalau dalam arak itu ada racunnya, kau pikir apakah aku masih bisa minum lagi?"

Berkata Siau Cap-it-long sambil menghela napas. Mata pemuda perlente itu bergerak berputaran, katanya sambil tertawa.

"Aku lihat sekalipun arak itu ada racunnya, kau tentu juga belum tahu."

"Kalau begitu kau keliru, aku bukannya tidak tahu, kalau aku tidak tahu siapa lagi yang tahu!"

"Apakah terhadap aku sudah ada pikiran siap siaga lebih dahulu? Kau lihat apa aku ini mirip dengan orang jahat?"

"Tentang kau bukan saja tampaknya masih ke-kanak2an, tetapi juga menyenangkan, sampaikan kakek hidung merah ini yang tampaknya juga mirip orang jahat aku sebetulnya juga tidak menduga bahwa ia juga ternyata sudah sekomplot denganmu."

Kemudian dengan cara bagaimana kau mengetahuinya?"

"Orang tua yang sudah berjualan arak beberapa puluh tahun lamanya, menciduk arak pasti cepat dan gapah, tetapi sewaktu ia menciduk arak malah sering2 araknya tumpah keluar, menjual arak dengan cara demikian, bukankah akan menjadi rugi?"

Pemuda perlente mendelikkan matanya kepada kakek hidung merah, katanya pula sambil tertawa.

"Kalau benar kau sudah tahu kita bukanlah orang baik, apa sebab kau tidak lekas pergi?"

"Tahukah kau apa sebabnya aku datang kesini?"

"Tidak tahu."

"Aku datang kemari, ialah lantaran hendak menunggu kau."

Pemuda perlente juga tercengang, tanyanya.

"Menunggu aku? Bagaimana kau tahu aku bisa datang kemari?"

"Oleh karena Sim Pek Kun juga pasti akan lewat ditempat ini!"

Pemuda perlente itu menatap wajah Siauw Cap-it-long, katanya.

"Tampaknya, kau benar2 mengetahui tidak sedikit urusan orang lain."

"Aku masih tahu bahwa kau pandai mengarang."

"Menulis karangan?"

Bertanya pemuda perlente itu terkejut. Siauw Cap-it-long hanya tertawa, kemudian berkata.

"Memotong manjangan ada lebih baik memotong kepala, dapat menggunakan golok ini untuk memenggal kepala orang seluruh negeri, bukankah sangat menjenangkan "

Kata2 ini kecuali kau siapa lagi yang dapat mengarangnya?"

Wajah pemuda perlente itu menjadi pucat pasi seketika. Siauw Cap-it-long mendadak berkata lagi.

"Meskipun kau tidak pernah melihat aku tetapi aku sudah pernah melihatmu, bahkan masih tahu kau mempunyai satu nama yang sangat unik, ialah Siao kongcu."

Kali ini lama sekali, Siao kongcu baru tertawa. Tertawanya itu menyenangkan hati orang, ia berkata dengan suara lemah-lembut.

"Kau sebetulnya tahu tidak sedikit urusan, cuma sayang masih ada satu hal yang kau masih belum tahu."

"Oh?"

"Araknya meskipun tidak beracun, tetapi pindang telurnya ada racunnya!"

"Oh?"

"Kau tidak percaya?"

"Djikalau dalam telur itu ada racunnya, aku tadi makan sebutir mengapa sampai sekarang masih belum mati?"

Siau kongcu tertawa, lalu katanya.

"Djikalau minum arak terlalu banyak, racun bekerjanya bisa menjadi lambat."

"Kalau begitu minum banyak arak juga ada baiknya."

"Apalagi racun yang kugunakan, bekerjanya semua tidak cepat, sebab aku tidak suka melihat orang mati terlalu cepat, menyaksikan orang mati lambat2, bukan saja merupakan suatu hal yang aneh, juga sangat mengggembirakan."

Siauw Cap-it-long menghela napas panjang, mulutnya menggumam.

"Anak yang baru berusia sepuluh tahun lebih, sudah mempunyai hati demikian kejam, aku benar2 tidak tahu dia itu bagaimana dilahirkan?"

"Aku juga tidak tahu bagaimana kau dilahirkan, tetapi aku tahu benar bagaimana kau nanti akan mati!"

Siauw Cap-it-long mendadak tertawa lagi, katanya.

"Mati karena makan racun pindang telur. Betul tidak? Kalau begitu biarlah aku makan sebutir lagi!"

Per-lahan2 ia membuka tangannya dan dalam tangan entah dari mana dapatnya benar-benar ada sebutir telur pindang.

Ia menggerakkan tangannya, telur itu sudah terlempar keatas, kemudian ia mendongakkan kepala dan membuka lebar mulutnya, telur itu sudah turun dan masuk kemulutnya, dengan satu kunyahan telur itu sudah berada dalam perutnya.

"Rasanya benar2 boleh juga, biarlah aku makan sebutir lagi."

Kembali ia membuka tangannya, didalam telapakan tangannya entah bagaimana ia sudah dapatkan sebutir telur pindang lagi.

Dengan cara seperti tadi, ia memakan telurnya itu.

Tetapi ketika ia membuka lagi tangannya, didalam tangannya itu kembali masih ada telurnya lagi.

Mata setiap orang semua menyaksikannya, tetapi siapapun tidak tahu ia menggunakan cara bagaimana untuk mendapatkan telur yang tiada habis2nya itu.

Siauw Cap-it-long berkata sambil tertawa.

"Aku bukanlah ayam induk, tetapi mengapa sebaliknya bisa bertelur? Kalian kata heran atau tidak?"

Siao kongcu berdiam lama, lalu menghela napas dan berkata.

"Kali ini benar2 salah pandanganku terhadap dirimu, kalau kau sudah mengetahui bahwa kakek hidung merah itu adalah orangku, bagaimana kau mau makan telur pindangnya?"

"Kau tentunya mengerti sendiri,"

Berkata Siauw Cap-it-long sambl tertawa besar.

"Ada peribahasa yang berkata.

"Mabuk dapat menghilangkan kesusahan hati, kau tadi sudah mabuk, tidak seharusnya mendusin."

"Oh!"

"Orang yang mabuk arak, begitu mendusin maka berbagai pikiran datang mengganggu lagi."

"Tapi aku seperti tidak ada pikiran apa2 yang mengganggu."

"Hanya orang mati saja yang tidak terganggu pikirannya."

"Apakah aku ini orang mati?"

"Meskipun kau masih bukan orang mati, tetapi juga sudah hampir waktunya."

"Apakah kau ingin membunuh aku?"

"Ini kau hanya dapat sesalkan dirimu sendiri, karena kau tahu terlalu banyak."

"Kau tadi masih berkata anggap aku sebagai kawan, apa sekarang kau tega turun tangan?"

Siao kongcu tertawa, dan berkata.

"Kalau tiba saatnya diperlukan, sekalipun isteri sendiri juga bisa dibunuh, apalagi cuma kawan!"

Siauw Cap-it-long menghela napas, mulutnya menggumam.

"Tampaknya istilah kawan ini semakin tidak berharga lagi."

Ia per-lahan2 bangkit berdiri, tiba2 berkata.

"Tetapi kau tadi sudah pernah kata aku adalah kawanmu, aku juga tidak ingin membohongimu, kau hendak membunuh aku tidaklah mudah, kepandaian ilmu silatku meskipun tidak baik, tetapi sangat berguna."

"Bagaimanapun juga aku ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri."

Dengan mendadak ia melakukan satu gerakan tangan, dan sesaat kemudian orangnya sudah melesat keatas pohon.

Sesaat kemudian terdengar gerakan anak panah yang menghembuskan anak panah bagaikan hujan.

Orang ini sudah terlatih baik, turun tangan semuanya demikian cepat, tetapi Siauw Cap-itlong yang tadi jelas berdiri dibawah pohon, ketika anak panah menghujani dirinya, orangnya sudah tidak tertampak lagi!

Siao kongcu baru saja melompat keatas pohon, sudah menampak Siauw Cap-it-long sudah berada diatas pohon dan memandangnya dengan wajah ber-seri2.

Siauw Cap-it-long ternyata sudah lebih dulu berada diatas pohon menantikan kedatangannya.

Siao kongcu terkejut, ia berkata sambil tertawa di-buat2.

"Kiranya ilmu meringankan tubuhmu juga cukup hebat."

"Masih boleh juga."

"Tapi aku juga tahu bagaimana dengan ilmu kepandaian ilmumu yang lain."

Sementara mulutnya masih berbicara, tangan si pemuda perlente tidak diam, didalam waktu yang sangat singkat, dia sudah mengeluarkan serangan sampai tujuh kali.

Kecepatan tangan pemuda kecil ini memang luar biasa, hanya didalam sekejap mata, aneka macam tipu telah dikeluarkan olehnya, dari tujuh pukulan tadi, terselip juga variasi2 indah yang menarik, diseling oleh tipu2 muslihat yang luar biasa, perubahan2 dan kombinasi2 membayangi pukulan2nya, yang mana pukulan keras dan yang mana menjadi pukulan variasi, sulit sekali dilihat dengan mata.

Prinsip ini hanya berlaku untuk orang lain saja.

Tapi, tidak berlaku untuk Siauw Cap-it-long.

Siauw Cap-it-long bukanlah seorang manusia biasa, dia dapat membedakan, tipu mana yang boleh dielakkan, dan tipu mana yang tidak boleh dielakkan.

Bayangannya bergeser, semua serangan2 sang lawan telah menubruk tempat kosong.

Pemuda perlente gagal menyergap orang, disaat itu juga dia mengibaskan sepasang tangan, terdengar suara yang gemerincing 10 macam benda menyerang Siauw Cap-it-long, itulah kuku2 palsu.

Ternyata, si pemuda perlente menggunakan kuku2 palsu, dengan adanya senjata istimewa itu, musuh mudah dipedayakan olehnya.

Kini dia menggunakan senjata diluar dugaan itu, menyerang 5 tempat jalan darah ditubuh Siauw Cap-it-long.

Jari2 tangan si pemuda begitu halus dan licin, seharusnya dipasang pada tangan seorang wanita.

Seperti juga hati wanita, tangan-tangan halus dengan jari2 halus itu tidak mudah diselidiki.

Tidak ada orang yang tahu, bahwa sepuluh jari kuku si pemuda perlente bisa dilepas dan bisa digunakan sebagai senjata rahasia.

Siauw Cap-it-long juga tidak tahu akan rahasia ini.

Terdengar suara jeritan Siauw Cap-it-long, dengan sepasang tangan menekap dada, tubuh Siauw Cap-it-long terjungkal dari atas pohon.

Si pemuda perlente tertawa, dia mengeluarkan ocehannya yang menandakan betapa angkuhnya manusia ini.

Katanya.

"Jangan dikira, aku tidak mempunyai senjata-senjata ampuh. Bilamana kau terlalu memandang rendah pada diriku, itulah suatu kesalahan yang terbesar."

Tubuhnya melesat dari ranting pohon yang diinjak, dia juga melayang turun. Tiba-tiba...... Satu suara berkata.

"Kau masih mempunyai senjata ampuh yang lainnya?"

Itulah suara Siauw Cap-it-long.

Entah dengan cara bagaimana, Siauw Cap-it-long yang sudah jatuh dari atas pohon itu bangkit berdiri lagi.

Dengan senyumnya yang berseri-seri, dia berkata kepada si pemuda perlente.

Telapak tangan Siauw Cap-it-long direntangkan, maka.....

di sana berjejerlah 10 jari-jari kuku palsu dari si pemuda perlente itu.

Benda-benda tersebut sangat tipis sekali.

Wajah si pemuda perlente berubah.

"Kau..... kau..... kau....."

Dia menjadi begitu gugup.

"Jangan takut,"

Menggoda Siauw Cap-it-long.

"Aku belum mati."

Si pemuda perlente membentak.

"Siapa kau?"

"Aku seorang manusia biasa."

"Mengapa......"

"Aku kurang senang bilamana dijadikan umpan, seperti pancingan ikan."

Suara Siauw Cap-itlong sangat tenang. "Auw......."

Tiba-tiba tubuh si pemuda perlente itu jatuh terlentang.

Di saat yang bersamaan, dari ujung kaki bajunya ada mengeluarkan asap tebal, bsss....

mengepullah asap itu, mengeruhkan suasana di sekitarnya.

Api pun turut menyembur keluar dari benda ajaib tadi.

Lagi-lagi senjata ampuh luar biasa dari si pemuda perlente.

Semacam roket kecil di jaman sekarang.

Roket kecil yang menyemburkan api dan diselubungi oleh asap itu menyerang Siauw Cap-itlong.

Rumput di tempat itu segera terbakar, senjata rahasia sebangsa roket itu dibuat dari bahanbahan kimia yang tidak mudah padam, lama sekali api berkobar-kobar di tempat itu, meluas ke sekitarnya.

Si pemuda perlente mengundurkan diri, menjauhkan diri dari api itu.

Dia hendak mendengarkan suara jeritan Siauw Cap-it-long yang dilalap api.

Lama sekali suara yang dinanti-natikan olehnya itu tidak kunjung datang.

Inilah gelagat buruk.

Cepat-cepat si pemuda perlente menolehkan diri, di sana, di belakang dirinya sudah berdiri seseorang.

Siapa lagi dia kalau bukan Siauw Cap-it-long?

Siauw Cap-it-long memperlihatkan senyumnya, katanya.

"Senjata ampuh yang kedua juga sudah muncul, bagus sekali!"

Pemuda itu mengertak gigi.

"Siauw Cap-it-long,"

Geramnya marah sekali.

"Biar aku adu jiwa denganmu."

Siauw Cap-it-long tertawa lagi.

"Aku belum mau mengadu jiwa denganmu,"

Katanya riang.

Tangan si pemuda perlente yang diletakkan di pinggang diseret panjang, maka bertambahlah lain senjata ampuh, itulah ikat pinggang yang sangat tipis, hitam berkilat, dapat digunakan sebagai cambuk dan amat praktis untuk dipakai menyerang orang yang berada pada jarak jauh.

Wingggg..............

Disabetkannya cambuk tipis hitam itu ke arah Siauw Cap-it-long.

Serangan ini bukan serangan cambuk biasa, diluruskan keras sekali, lebih mirip dengan tiputipu gerakan ilmu pedang.

Dalam sekejap mata si pemuda perlente mengancam 7 jalan darah lawannya.

Siauw Cap-it-long memperhatikan betul-betul, ilmu yang diperlihatkan oleh lawannya banyak persamaannya dengan ilmu pedang dari daerah Hay-lam.

Tapi bukan ilmu pedang Hay-lam Kiam-hoat.

Belum pernah Siauw Cap-it-long menyaksikan ilmu cambuk pedang serupa ini.

Tubuh Siauw Cap-it-long bergerak-gerak sangat cept, dia berlompat-lompatan menyingkirkan diri dari ancaman ujung cambuk ikat pinggang lawan, empat gerakan yang sama lagi dilakukan, tiba-tiba dia merentangkan sepasang tangan, dan ditepukkannya ke depan, sangat keras sekali, sehingga menimbulkan suara tepukan.

Plakkk..............

Ujung cambuk ikat pinggang si pemuda perlente sudah berada di dalam sepasang telapak tangannya, itulah gencetan yang disertai tenaga dalam.

Dua orang itu berhenti bersilat.

Masing-masing diam tak bergerak.

Cambuk ikat pinggang hitam dapat diluruskan panjang, tentu saja harus disertai dengan tenaga dalam.

Pada saat seperti itu, tenaga dalam si pemuda perlente tidak ada tempat penyaluran, dia mulai menarik ke belakang.

Siauw Cap-it-long melepaskan rangkepan telapak tangannya.

Dan dua bayangan itu pun terpisah kembali, hampir si pemuda perlente jatuh terlentang ke belakang.

Mengetahui bukan tandingan Siauw Cap-it-long, pemuda perlente itu meletikkan diri, gerakan ini disertai dengan taburan benda hitam, lagi-lagi terjadi hawa peperangan, gelap pekat menyesatkan pandangan mata.

Permainan bahan-bahan kimia pemuda ini memang banyak sekali.

Pemuda perlente itu melarikan diri.

Dari suasana perang yang penuh kabut hitam dan kabut putih, disertai oleh api merah itu, terselinglah suaranya.

"Siauw Cap-it-long, ilmu kepandaianku memang tidak dapat menandingimu, selamat tinggal......"

Suara yang terakhir sudah terdengar jauh sekali.

Dia sudah dapat menduga siapa si jago gagah perkasa yang menjadi tandingannya.

Kecuali Siauw Cap-it-long, tidak mungkin ada jago kedua.

Tapi Siauw Cap-it-long sudah tidak berada di tempat itu.

Suara si pemuda perlente begitu senang sekali, dia menganggap sudah berhasil menyingkirkan diri dari gangguan Siauw Cap-it-long.

Karena itu dia menoleh ke arah kabut hitam yang mengepul naik tinggi itu, tanpa membikin perhitungan yang lebih masak lagi.

Kini dia siap melanjutkan perjalanan.

Badannya bergerak ke belakang, siuutttt.....

meluncur jauh.

Tiba-tiba.......

Wajahnya berubah.

Berdiri di depan pemuda itu adalah seorang laki-laki berbaju biru, berikat pinggang biru juga, dengan sepasang matanya yang bersinar tajam, memandang segala gerak-gerik si pemuda perlente, di bibirnya tersungging senyuman mengejek, maka terlihatlah jelas, bagaimana bentuk kumisnya yang cukup merayu itu.

Siauw Cap-it-long!

Betul.

Siauw Cap-it-long sudah menunggu lama di tempat itu.

Bagaikan ketemu hantu di siang hari bolong, si pemuda membalikkan badan, dan lari cepat sekali.

Dari belakangnya, terdengar suara Siauw Cap-it-long.

"Ke mana kau hendak melarikan diri? Mungkinkah sudah kehabisan senjata ampuh?"

Hanya dua kali geseran badan, Siauw Cap-it-long sudah berhasil menghadang jalan orang. Si pemuda meringis, hampir dia menangis, dengan suara yang merengek minta dikasihani, dia berkata.

"Kali ini betul-betul aku kehabisan senjata..... Betul-betul kehabisan senjata..... Tidak ada senjata ampuh lainnya."

Siauw Cap-it-long tertawa tawar, kemudian berkata.

"Terlebih-lebih lagi, setelah kau kehabisan senjata ampuh. Jangan harap kau dapat melarikan diri."

Pemuda itu berkata lagi.

"Siauw Cap-it-long, mengapa kau selalu menggagalkan rencanaku? Apakah karena adanya si cantik jelita Sim Pek Kun? Bolehlah, akan kuserahkan dia kepadamu."

"Untuk persembahanmu yang seperti ini, aku mengucapkan banyak terima kasih,"

Berkata Siauw Cap-it-long.

"Bolehkah aku pergi dari tempat ini?"

Merengek lagi pemuda itu.

"Belum bisa."

Jawaban Siauw Cap-it-long sangat tegas.

"Mengapa?"

"Belum waktunya kau pergi."

"Mungkinkah...... mungkinkah hendak meminta golok Kwa-liok-to?"

"Golok Kwa-liok-to tidak berada pada badanmu, tidak perlu harus kuminta darimu!"

"Bilakah kau hendak memintanya?"

Bertanya si pemuda penuh harapan.

"Bukan soal meminta atau tidak minta golok Kwa-liok-to,"

Berkata Siauw Cap-it-long perlahan.

"Hari ini, aku harus membikin perhitungan denganmu."

"Perhitungan apa?"

Siauw Cap-it-long menyedot napas dalam-dalam, katanya.

"Aku, Siauw Cap-it-long, belum pernah menyaksikan manusia kejam buas seperti kau ini, hanya dalam waktu sekejap kau dapat membunuh 4 orang, seolah-olah bukan jiwa hidup ciptaan Tuhan."

"Kau sendiri, baikkah hatimu?"

"Setidak-tidaknya, aku tidak lebih jahat daripadamu!"

"Kau tidak puas melihat aku dapat membunuh empat orang itu?"

"Tentu saja."

"Mengapa kau tidak menolong mereka, sebelum aku turun tangan kepada mereka?"

Siauw Cap-it-long menghela napas, katanya sedih.

"Tentu saja aku akan menolong jiwa empat orang itu, kalau gerakanmu tidak terlalu cepat. Sayang kau terlalu kejam, berkepandaian tinggi pula. Sebelum aku tahu apa yang harus kulakukan, jiwa keempat orang itu sudah kau layangkan ke alam baka. Inilah salah perhitungan."

"Segala sesuatu telah terjadi, jiwa orang-orang itu tidak bisa ditarik kembali. Tidak mungkin menghidupkan seorang yang sudah mati. Apalagi sekaligus empat orang jiwa, mungkinkah kau mau menyembahyangi mereka?"

"Orang yang hendak kusembahyangi adalah.... kau...."

Siauw Cap-it-long menudingkan jarinya. Wajah pemuda itu menjadi pucat pasi seolah-olah tidak berdarah lagi.

"Kau......"

Dia menjadi gemetar.

"Kau hendak membunuhku?"

"Aku tidak suka membunuh orang,"

Berkata Siauw Cap-it-long tenang.

"Tetapi aku tidak pantang melakukan pembunuhan.

Apalagi kepada manusia terkutuk yang sebangsamu ini, lebih baik tidak memandang bulu lagi.

Umurmu masih belum cukup dewasa, toh sudah mempunyai kekejaman yang seperti itu, bagaimana jadinya bila kau sudah mempunyai pikiran yang lebih masak?

Beberapa tahun lagi, dunia akan dijungkir-balikkan olehmu.

Karena itu, aku harus membunuh....

DI CEMBURU WANITA Mendengar ancaman kata-kata yang terakhir dari apa yang dicetuskan oleh Siauw Cap-itlong, tiba-tiba saja, pemuda kecil itu tertawa.

Cara tertawanya dia kali ini lain sekali, tidak lagi mengandung kekejaman, juga tidak disertai kelicikan, tertawanya begitu menawan hati, inilah tertawa seorang perawan yang bisa meruntuhkan iman seorang laki-laki, menggiurkan sekali.

Setelah melakukan suatu gerakan yang lebih menantang, pemuda kecil itu berkata.

"Mungkinkah aku belum cukup dewasa?"

Seperti membuat suatu atraksi seni tari tontonan istimewa, perlahan-lahan pemuda itu meloloskan baju atasnya.

Siauw Cap-it-long menduga kepada tipu muslihat baru dari lawannya, tapi dia tidak takut, dan untuk mempersingkat terjadinya duel yang akan datang, tangan laki-laki ini bergerak cepat, giliran dia yang menyerang si pemuda kecil.

Kecepatan tangan Siauw Cap-it-long sangat menakjubkan.

Belum pernah ada orang yang dapat menyingkirkan diri dari serangan ini, belum pernah ada orang yang dapat menandingi kecepatan tangan ini.

Dan betul-betul hal itu terjadi.

Siauw Cap-it-long membuat suatu gerakan yang biasa saja, tapi kecepatannya luar biasa, itulah kecepatan suara halilintar di angkasa.

Secepat itu pula, tangan Siauw Cap-it-long sudah mampir di pundak lawannya.

Kita katakan tangan itu mampir, karena belum melakukan sesuatu apa.

Inipun sudah cukup berbahaya, bilaman tokoh silat lainnya, setelah dimampiri atau dielus oleh tangan Siauw Capit-long tidak mungkin orang itu dapat meloloskan diri lagi.

Lain lagi halnya dengan pemuda kecil yang mempunyai hati kejam itu, kelicinannya tidak kalah dari binatang apapun juga, kegesitannya memang luar biasa, dengan bentuk tubuhnya yang begitu kecil, lebih memudahkan dia bergerak.

Tampak dia merosotkan diri, sreeetttt....

dan dibarengi oleh satu suara robekan kain baju, berhasil juga si pemuda perlente meloloskan diri dari cengkeraman maut Siauw Cap-it-long.

Yang berhasil ditangkap Siauw Cap-it-long hanya selembar baju depan pemuda itu.

Apakah yang terjadi?

Sesudah baju depan si pemuda tersobek sebagian?

Suatu pemandangan yang indah menarik lantas terbentang di depan mata.

Ternyata, pemuda perlente itu bukanlah seorang laki-laki, dia adalah seorang wanita yang mengenakan pakaian pria.

Sepasang tumpukan daging putih meletak menonjol keluar menerobos sobekan kainnya.

Seorang anak perawan yang baru mulai akan meningkat dewasa!

Si kecil perlente adalah seorang anak perawan, betul dia mengenakan pakaian laki-laki setelah terjadinya kejadian ini, terbongkarlah segala rahasianya!

Siauw Cap-it-long terpaku di tempat!

Wajah pemuda kecil itu bersemu merah, dia menjadi sangat malu sekali, cara Siauw Cap-itlong merobek baju depannya itu adalah suatu perbuatan yang sangat kurang ajar sekali.

Di saat Siauw Cap-it-long belum tahu apa yang harus diperbuat olehnya, gadis itu sudah mulai menangis sedih, sambil menjatuhkan diri menubruk dada Siauw Cap-it-long.

Semacam parfum yang tidak terdapat pada toko-toko penjual bahan-bahan kimia menyerang hidung Siauw Cap-it-long.

Itulah keringat perawan si pemuda kecil.

Seperti mabuk kepayang, Siauw Cap-it-long menggunakan kedua tangannya untuk mendorong pergi gadis yang menangis di dalam pelukan dadanya yang lebar itu.

Dan lagi-lagi dia terkejut sekali, tangan yang didorong itu harus segera ditarik pulang, karena apa yang disentuh oleh tangannya lebih berada di luar dugaan, itulah buah dada si pemuda kecil.

Siapakah yang bisa berlaku kejam kepada seorang gadis menawan hati yang seperti pemuda perlente itu?

Tangan halus Siao Kongcu yang kecil itu mulai merayap naik, dan akhirnya terhenti pada pundak Siauw Cap-it-long.

Cresss......

Dia menggunakan kuku-kuku jarinya mencakar pundak tersebut.

Wajah Siauw Cap-it-long berubah, dia marah, tangannya dikerahkan, dan memukul kepala gadis itu.

Siao kongcu sudah tertawa cekikikan, begitu gesit sekali, licin sekali, dia sudah berhasil meloloskan diri.

Dengan berdiri di depan si jago berandalan, tanpa menutup lebih dahulu sepasang buah dadanya yang terbuka itu.

"Siao Cap-it-long."

Katanya riang dan senang.

"Kau masuk ke dalam perangkapku, di dalam kuku-kuku jariku tadi sudah tersedia racun buas yang jahat, itulah racun Cit-kiauw-hoa-kutsan, berarti merusak tulang di dalam tujuh jam. Di dalam waktu yang sangat singkat, dagingdagingmu akan meleleh dan mencair seperti daging busuk. Masih berani kau menantangku kini?"

Apa yang dikatakan si Siao kongcu bukan ancaman kosong.

Siauw Cap-it-long sudah merasa akan adanya bahaya itu, dia harus segera menyingkirkan diri, atau akan mati di bawah kekejaman tangannya pemuda kecil itu.

Giliran Siauw Cap-it-long yang menjadi pecundang lawan, tubuhnya melejit, dengan satu enjotan kaki yang sangat kuat, dia melesat dan meninggalkan tempat itu.

Siauw Cap-it-long melarikan diri!

Si pemuda kecil Siao kongcu mengusap-usap dadanya, dengan bangga dia berkata.

"Inilah senjata ampuhku yang terakhir, senjata terampuh untuk menghadapi kaum laki-laki, senjata yang dimiliki oleh setiap wanita, dan kau....kau... Siauw Cap-it-long..... Kau tidak luput dari parapan senjata ini."

Gadis ini melanjutkan perjalanannya, dia harus menyelesaikan rencananya.

Di saat itu, Siauw Cap-it-long sudah lari jauh, lari jauh untuk menghidari tangan jahat Siao kongcu.

Hanya si Cantik Jelita Sim Pek Kun yang masih melakukan perjalanan.

Sim Pek Kun sedang diumbang-ambingkanb oleh empuknya kereta mewah yang ditumpanginya.

Seolah-olah mengendarai awan terbang, kereta itu membuat sang penumpang tidak mengalami penderitaan kocokan, begitu megah dan begitu empuk, segala sesuatu dispesialkan untuk manusia-manusia yang terkaya.

Sim Pek Kun memeramkan matanya.

Roda-roda kereta menggelinding terus, dengan disertai pegas-pegas empuk, hal itu tidak mengganggu ketenangan Sim Pek Kun.

Seolah-olah terbayang, bahwa di samping dirinya duduk sang suami, seolah-olah Lian Seng Pek mendampingi dirinya.

Perkawinannya dengan Lian Seng Pek telah berjalan 4 tahun.

Selama itu, belum pernah terjadi perubahan-perubahan sifat.

Lian Seng Pek selalu meluluskan segala permintaannya.

Hartawan manakah yang tidak kenal kepada Lian Seng Pek?

Tokoh silat manakah yang tidak kenal Lian Seng Pek?

Lian Seng Pek adalah tokoh rimba persilatan yang ternama, juga mempunyai harta kekayaan yang luar biasa, karena itu namanya begitu cemerlang sekali.

Sim Pek Kun adalah istri dari pemuda hartawan itu.

Tentu saja hidup di dalam serba kecukupan.

Belum pernah sang suami menentang kemauannya.

Sim Pek Kun membuka kedua matanya yang ditutupkan sejak tadi.

Lian Seng Pek tidak berada di samping dirinya.

Inilah suatu kenyataan.

Selama 4 tahun mereka menikah, belum pernah terjadi percekcokkan.

Seharusnya suatu penghidupan yang gembira dan menyenangkan hati.

Betulkah Sim Pek Kun puas?

Belum pernah ada seorang manusia yang puas kepada kenyataan-kenyataan.

Inilah suatu kenyataan.

Sifat tamak manusia itu ada, tidak pernah luput dari manusia manapun.

Demikian halnya keadaan si Cantik Jelita Sim Pek Kun.

Dia hidup serba kecukupan, toh merasa kurang cukup puas juga.

Suaminya adalah seorang pendiam yang jarang membuka mulut.

Inilah ketidak-puasan yang pertama.

Di dalam perjalanan ini, Lian Seng Pek tidak ikut menyertainya, inilah ketidak-puasannya yang kedua.

Cumbu rayu seorang suami terhadap istrinya terlalu sedikit, inilah yang tidak diharapkan oleh istri orang manapun juga.

Seorang istri membutuhkan keuangan yang cukup.

Juga membutuhkan cinta kasih yang selayaknya.

Dalam hal bercinta, Lian Seng Pek belum bisa memuaskan lawan jenisnya.

Dia sampai hati membiarkan istrinya melakukan perjalanan seorang diri, tanpa pengawalan dari seorang suami yang dicintai.

Setiap kali melakukan perjalanan jauh, Sim Pek Kun selalu merasa kesunyian.

Setiap kali ditinggal pergi jauh oleh sang suami, Sim Pek Kun menjadi hidup hampa, seolaholah makanan kurang sarinya.

Di kala Lian Seng Pek hendak melakukan perjalanan, Sim Pek Kun pernah mencegah dengan maksud dapat menyertainya.

Tapi, mulutnya terkatup.

Tidak guna dia bicara.

Sebagai seorang jago silat dan sebagai seorang hartawan terkemuka serta terpelajar, setiap langkah Lian Seng Pek sudah direncanakan lebih dahulu masak-masak.

Lian Seng Pek dilahirkan sebagai pemimpin umum, sebagai tokoh rimba persilatan dan juga tokoh para hartawan-hartawan.

Wanita yang bagaimanapun tidak dapat mengekang kebebasannya.

Demikian juga Sim Pek Kun, dia tidak berhak mengekang kebebasan suaminya.

Karena itu, di saat ini, dia sedang melakukan perjalanan seorang diri.

Lian Seng Pek adalah milik rakyat banyak.

Lian Seng Pek mempunyai ketajaman otak yang luar biasa.

Segala sesuatu sudah dapat diperhitungkannya secara masak-masak.

Setiap kali terjadi keonaran atau bencana rimba persilatan, tokoh pertama yang menerima undangan adalah Lian Seng Pek.

Dan kali ini tidak terkecuali.

Munculnya Siauw Cap-it-long yang menghebohkan dunia memaksa Lian Seng Pek tidak boleh tinggal peluk tangan.

Dikala datang undangan yang menyiapkan Lian Seng Pek, jago muda itu kurang tertarik dia kurang percaya, bahwa Siauw Cap-it-long itu memiliki ilmu silat tanpa tandingan sehingga sulit ditaklukkan.

Karena itu, mulutnya mengatakan .

"Aku tidak mau pergi" . Sebagai istrinya yang sah, Sim Pek Kun lebih dapat menyelami hati sang suami, selama mereka menikah sudah 4 tahun itu, dia dididik bagaimana harus menyelami hati seorang suami. Dimulut, Lian Seng Pek mengucapkan kata-kata "Aku tidak mau pergi" , tapi didalam hatinya sudah memberikan jawaban yang lain. Jiwa ksatria dari jago muda itu sudah berulang kali mengucapkan kata-kata "Aku segera pergi" . Sim Pek Kun paham akan isi hati nurani sang suami, karena itu dia menganjurkan kepada Lian Seng Pek, agar suami itu menerima bujukan sang tamu, dan menerima undangan itu. Disini letaknya pertentangan salah paham.

Bilamana Lian Seng Pek berniat menerjang Siauw Cap-it-long, Sim Pek Kun tidak mempunyai niatan untuk bentrok dengan jago berandalan itu.

Bilamana Lian Seng Pek menolak dengan kata-kata "Tidak" , Sim Pek Kun memberi anjuran kepada sang suami untuk bertanding dengannya, agar nama dan gengsi Lian Seng Pek tetap terpelihara.

Akhirnya, Lian Seng Pek menerima tawaran bantuan tenaga dan pergi!

Sim Pek Kun Kecewa.

Walaupun demikian, sebagai seorang istri yang arif bijaksana, Dia tidak menuntut apa-apa.

Inilah resiko dari seorang istri, dan dia tahu, bagaimana harus membawa diri, menerima sedikit kesukaran.

Lian Seng Pek pergi mencari Siauw Cap-it-long.

Sim Pek Kun terpaksa harus menerima nasibnya begitu, dia tahu bagaimana harusnya menjadi istri Lian Seng Pek yang baik.

Karena itu, dia melakukan perjalanan tanpa didampingi suami tercinta.

Goncangan kereta seperti mengayun-ayun wanita itu.

Sim Pek Kun memeramkan kembali sepasang matanya yang boleh menandingi cahaya kerlap-kerlip bintang dilangit.

Hanya terdengar suara gelinding kereta yang berjalan ditanah dan batu tidak rata.

Sim Pek Kun menerima kenyataan itu.

Tiba-tiba ....

Ujung bajunya dirasakan seperti ditarik-tarik orang.

Sim Pek Kun tidak segera membuka sepasang matanya yang terkatup itu.

Dia tahu tangan jahil yang menarik-narik bajunya sekarang ini bukanlah tangan Lian Seng Pek, sebab belum pernah suami itu melakukan cumbu rayu yang berlebih-lebihan.

Terlalu lama Sim Pek Kun mengharapkan buaian asmara yang seperti ini, demikianlah dia menerima adanya kenyataan itu.

Siapakah tangan jahil yang menarik-narik ujung baju Sim Pek Kun?

Kesenangan Sim Pek Kun menjadi terganggu manakala teringat akan kejadian tadi, seorang "kanak-kanak"

Yang baru meningkat dewasa, si Siao Kongcu yang kejam dan berhati telengas itu.

Keringat dingin membasahi sekujur pakaian si nyonya cantik jelita.

Dengan satu teriakan kaget Sim Pek Kun membuka sepasang matanya.

Betul-betul kejadian itu terjadi atau terulang kembali.

Tangan jahil yang menarik-narik ujung baju Sim Pek Kun adalah tangan si pemuda kecil Siao Kongcu itu.

Sepasang sinar mata tajam yang seperti sepasang sinar mata iblis menatap wajah cantik Sim Pek Kun.

Inilah sinar mata yang paling ditakutkan, sinar mata yang lebih kejam dari sinar mata iblis yang ada.

Sim Pek Kun hendak meronta dari kenyataan, tubuhnya dikaitkan, dengan maksud bangun dari tempat duduk.

Dia tidak berhasil.

Begitu lemas sekali badan nyonya itu, sehingga menambah grogi keseimbangannya.

Siao Kongcu tertawa cengar-cengir, dengan mulutnya yang berbentuk mungil berkata .

"Mengapa kau begitu takut kepadaku ? Hayo, ketawa... Jangan kau membuat aku marah. Awas, kalau aku sudah lupa orang, jangan harap kau bisa bersenang-senang."

Sim Pek Kun menggigit bibirnya keras-keras, Segala macam kata-kata yang semula sudah disediakan di tenggorakannya, karena kurang tenaga jadi tidak dapat keluar dari mulutnya.

Siao Kongcu itu memperhatikan beberapa waktu, dia mengurut-urut dadanya sendiri kemudian berkata .

"Betul-betul manusia yang tercantik didalam dunia ! Tidak percuma kau mendapat julukan si Cantik Jelita Sim Pek Kun, kecantikanmu sungguh sulit ditandingi. Dikala kau tidak marah kau memang cantik, apalagi waktu kau marah. Kau kelihatan lebih cantik lagi, sungguh membuat aku mengiri."

Sim Pek Kun berusaha menjaga ketenangan dirinya, dia diam. Siao Kongcu itu sudah mengenakan pakaiannya, dia tetap berdandan sebagai seorang pria, katanya lagi .

"Tidak lagi kuherankan, mengapa banyak orang tergila-gila kepadamu. Sampaipun aku juga tidak sanggup mempertahankan diri. Mau aku merangkulmu, mencium untuk beberapa kecup saja."

Penyamaran Siao Kongcu hanya diketahui oleh Siauw Cap-it-long seorang.

Dan disaat ini, dia tetap menjadi seorang pemuda kecil yang berpakaian perlente.

Karena itu, Sim Pek Kun tidak tahu, bahwa dirinya sedang dipermainkan olehnya.

Dengan wajah pucat pasi Sim Pek Kun membentak .

"Kau berani ?"

Dia menduga kepada seorang pemuda ceriwis yang terpikat oleh kecantikannya. Siao Kongcu tertawa.

"Mengapa tidak ?"

Betul-betul ia mengulurkan tangannya siap merangkul wanita itu.

Sim Pek Kun memojok sehingga di sudut kereta.

Dia mengharapkan terjadinya sesuatu keajaiban, tapi keajaiban itu tidak pernah terjadi.

Tangan Siao Kongcu sudah berhasil menjambak pakaian wanita cantik ayu itu.

Sim Pek Kun mengharapkan lain bayangan boleh saja dia menerima kenyataan, bila kejadian disaat ini hanya suatu impian.

Tapi, kenyataan sudah terbukti.

Tangan Siao Kongcu menariknya keras.

Inilah bukan impian.

Bagaikan seekor kucing yang mempermainkan mangsanya, secara tiba-tiba Siao Kongcu menggentak tarikan tangan yang memegang baju orang.

Srettttt.....

Dia menyobek baju depan njonja Lian Seng Pek.

"Aaaaaaa ......"

Terdengar suara jeritan Sim Pek Kun yang melengking panjang, cepat-cepat membekapkan sepasang tangan kepada dadanya yang terbuka.

Siao Kongcu menggentak tangan-tangan itu, sehingga dia dapat menyaksikan keindahan tubuh depan wanita cantik itu.

Inilah caranya Siao Kongcu melepas kekesalan.

Belum lama, dia telah mengalami kejadian yang sama atas perlakuan Siauw Cap-it-long karena itu, dia hendak membuat praktek lain kepada Sim Pek Kun.

"Ha, haaa...."

Siao Kongcu tertawa puas.

"Sungguh indah.... Sangat indah...... Wajahmu cantik jelita, buah dadamupun tidak kalah indahnya. Kalau saja aku seorang pria, pasti aku akan tertarik sekali pada keindahan tubuhmu. Kalau aku seorang suami yang sudah beristri, bisa-bisa karena kau aku akan meninggalkan istriku."

Tentu saja Siao Kongcu tidak mungkin menjadi seorang suami yang dapat meninggalkan istrinya, karena dia sendiripun adalah dari jenis yang sama, jenis Hawa.

Sim Pek Kun hendak berontak dari kenyataan itu, dia tidak berhasil, cengkeraman si pemuda kecil itu terlalu keras sekali.

Siao Kongcu memajukan mulutnya, Cuuppp......

Dia mencium korbannya.

Sim Pek Kun jatuh pingsan.

Inilah cara-cara purbakala untuk mengurangi penderitaan seseorang.

Cara reflex yang ada dari setiap manusia.

Wajah Sim Pek Kun yang sudah jatuh pingsan lebih menarik dari apa yang sudah Siao Kongcu saksikan.

Sebagai seorang wanita, Siao Kongcu memiliki sifat cemburu, rasa cemburu ini berubah menjadi semacam rasa dengki.

Karena dia tidak memiliki kecantikan seperti apa yang dimiliki oleh Sim Pek Kun.

Terlihat senyuman iblisnya si Siao Kongcu itu.

Berkecamuklah pikiran yang tidak sama, haruskah dia membunuh Sim Pek Kun ?

Gurunya hanya memberi tugas kepadanya untuk menangkap Sim Pek Kun.

Siao Kongcu mempunyai hati yang jelus, dia merasa iri atas kecantikan Sim Pek Kun.

Karena itu, dia hendak membunuhnya.

Sepasang mata Sim Pek Kun sudah dipejamkan, didalam keadaan tidak sadar orang itu, wajahnya semakin cantik lagi.

Bulu-bulu mata yang melengkung keatas cukup panjang, ini semakin menarik lagi.

Siao Kongcu menarik napas, dengan apa boleh buat dia berkata .

"Wanita yang sepertimu memang cukup menarik sampaipun aku tidak tega menurunkan tangan kejam. Sayang keadaan memaksa, mau tak mau aku jadi harus membunuhmu. Kalau kubawa pulang, mana dia sanggup menguasai imannya ?"

Disaat ini, dari atas kereta tiba-tiba terdengar suara lagi, yang mengulang ucapan ucapan Siao Kongcu tadi, katanya .

"Wanita yang sepertimu memang cukup menarik sampaipun aku tidak tega menurunkan tangan kejam. Sayang keadaan memaksa, mau tak mau aku jadi harus membunuhmu. Kalau kubawa pulang, orang manakah yang sanggup menguasai imannya ?"

Hanya kata-kata pada bagian terakhirlah yang diubah.

Logat suaranyapun meniru logat suara Siao Kongcu.

Si pemuda kecil itu terperanjat.

Cepat-cepat ia mendongakkan kepala, datangnya suara tadi dari atas kereta, tanpa diketahuinya terlebih dahulu.

Suatu bukti betapa hebat ilmu meringankan tubuh orang tersebut.

Inilah Siauw Cap-it-long !

Menirukan logat suara dan kata-kata Siao kongcu itu, Siauw Cap-it-long ternyata dapat mengucapnya tepat sekali.

Siao Kongcu seperti menemukan hantu.

"Kau.... Kau belum mati?"

Dia menjadi kebingungan sendiri. Belum pernah ada orang yang lolos dari kekejaman tangannya, kecuali Siauw Cap-it-long ini. Siauw Cap-it-long tertawa, kemudian berkata.

"Aku bukan seekor tikus biasa, masakan diceker oleh kucing betina saja mudah binasa? Mana mungkin bisa mati?"

Sambil mengertek gigi Siao Kongcu berkata.

"Kau memang bukan seekor tikus, juga bukan seperti manusia. Bertemu dengan mahluk seperti kau, betul-betul sial tujuh turunan. Baiklah, aku menyerah kalah. Bila kau hendak turun membunuh aku, turunlah dan bunuhlah!"

Siao Kongcu memeramkan kedua matanya, betul-betul dia sudah bersedia mati dibawah tangan Siauw Cap-it-long.

Kejadian ini betul-betul mengherankan si jago berandalan.

Mungkinkah gadis binal ini tidak ada niatan untuk melarikan diri?

Siauw Cap-it-long mengerlip-ngerlipkan matanya kemudian berkata.

"Kau tidak ada niatan untuk melarikan diri?"

"Mengapa harus melarikan diri?"

Berkata Siao Kongcu.

"Semua senjata-senjata ampuhku sudah dipergunakan, tidak satupun yang sanggup menandingimu. Mungkinkah dapat melarikan diri?"

Siauw Cap-it-long masih menaruh curiga, dia menjajal dengan lain alasan .

"Mengapa tidak kau gunakan Sim Pek Kun sebagai barang tanggungan ? Kau bisa mengancamku akan menggorok lehernya kalau aku tidak mau membebaskan dirimu. Kau bisa pilih macam-macam cara lain."

Siao Kongcu berkata .

"Sim Pek Kun bukan nyonyamu juga bukan kekasihmu. Apa guna kupakai sebagai barang tanggungan ? Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak dapat dijaminan sepenuhnya."

"Kau dapat mencoba, bukan ?"

"Dicobapun tidak guna. Lebih baik tidak dicoba saja."

"Betul-betul kau menyerah ?"

Siao Kongcu mengucurkan air mata, dengan sedih berkata .

"Bertemu dengan Siauw Cap-it-long, mana bisa tidak menyerah?"

Siauw Cap-it-long tertawa, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Bukan, bukan.... Bukan dengan alasan yang seperti itu. Kulihat, kau bukan seorang gadis yang seperti itu, kau pantang menyerah. Kukira, kau masih mempunyai senjata ampuh lainnya."

"Betul-betul senjata-senjata ampuhku sudah habis digunakan."

Berkata Siao Kongcu rendah.

"Tidak perduli ada atau tidaknya senjata ampuh lainnya, tidak mungkin aku masuk ke dalam perangkapmu lagi."

Siao Kongcu berkata .

"Jadi, kau berani turun kedalam kereta ini ?"

Siauw Cap-it-long tertawa, katanya .

"Mengapa harus turun kesitu ?"

"Bukankah kau hendak membunuhku ?"

"Terlalu mudah untuk membunuh orang, bisa saja aku membunuhmu diluar kereta."

"Baiklah. Bunuhlah aku diluar kereta. Bisakah kau lakukan segera ?"

Siao Kongcu masih menantang.

"Baik. Hei kusir kereta, hentikanlah segera keretamu !"

Kereta terhenti segera. Siauw Cap-it-long membentak lagi .

"Siao Kongcu ! Apa boleh buat, aku hanya dapat memanggilmu dengan sebutan ini. Hayo, bawa Sim Pek Kun meninggalkan kereta."

Siao Kongcu menggendong Sim Pek Kun itu waktu, nyonya Lian Seng Pek masih belum siuman, apapun tidak diketahui olehnya. Siauw Cap-it-long lalu memberi perintah lebih jauh .

"Jalan terus, lurus kedepan ! Jangan coba-coba kau menoleh kebelakang, aku tetap mengikutimu. Nanti kalau sudah sampai dipohon hijau itu, kau letakkanlah diri Sim Pek Kun dibawah pohon."

"Baik."

Berkata Siao Kongcu.

"Aku akan menjalankan segala perintahmu."

Tanpa menoleh atau melirik, betul-betul pemudi berpakaian pria itu turun dari kereta, menggendong Sim Pek Kun dan maju lurus kedepan.

Seolah-olah, dia sangat patuh kepada perintah sijago berandalan kita.

Betulkah Siao Kongcu sangat patuh kepada perintah Siauw Cap-it-long?

Betulkah Siao Kongcu tidak ada niatan untuk melawan atau melarikan diri?

Jawaban ini sangat singkat .

T i d a k M u n g k i n.

Dan betul?

Siao Kongcu sudah akan mulai main gila lagi.

ANGIN DAN API Siao Kongcu sudah berjalan sehingga tiba dibawah pohon yang ditunjuk oleh Siauw Cap-itlong.

Secara tiba-tiba saja, badan Sim Pek Kun yang berada didalam gendongannya itu dilemparkan kebelakang.

Tepat kearah dari mana datangnya suara Siauw Cap-it-long.

Tidak ada kesempatan berpikir, daya reflex memaksa Siauw Cap-it-long menjulurkan sepasang tangannya untuk meninggalkan tubuh yang datang kearahnya.

Tubuh Siao Kongcu melejit tinggi, dengan lincah terbang dan berjumpalitan, tangannya terayun, dari sana meluncur tiga bintik cahaya terang, mengancam Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun.

Sebelum terjadinya kejadian ini, umpamanya Siao Kongcu ingin menggunakan Sim Pek Kun sebagai barang tanggungan belum tentu Siauw Cap-it-long mau menolong nyonya cantik jelita itu.

Tapi sekarang lain lagi halnya.

Setelah terjadinya kejadian ini, menolong orang adalah merupakan suatu kewajiban baginya.

Siauw Cap-it-long wajib menolong Sim Pek Kun dari bahaya tiga senjata rahasia itu.

Tentunya senjata rahasia yang sangat beracun.

Sambil mendukung tubuh Sim Pek Kun, Siauw Cap-it-long berlompat-lompatan, menghindarkan diri dari serangan tiga senjata rahasia.

Cepat sekali, dia meletakkan tubuh Sim Pek Kun.

Dikala dia hendak membikin pengejaran, bayangan Siao Kongcu sudah lenyap tidak terlihat.

Dari jauh, masih terdengar suara Siao Kongcu yang melengking panjang .

"Siauw Cap-it-long, barang berduri itu sudah kuserahkan kepadamu. Baik-baiklah menjaganya."

Nyonya Cantik Jelita Sim Pek Kun diberi julukan Barang berduri.

Siauw Cap-it-long menyengir, dia menengok kearah benda yang disebut berduri itu, apa yang dapat dilakukan olehnya ?

Betullah barang berduri.

Dikala Sim Pek Kun sadar dari rasa kaget dan takutnya, dia menemukan dirinya sudah berada di dalam sebuah kelenteng rusak.

Kelenteng itu bukan saja sudah rusak karena lama tidak terawat, ukurannyapun terlalu kecil sekali.

Semua barang yang ada disitu dapat dilihat jelas sekali.

Patung sembahyang sudah miring kesamping, duduknya tepat ditengah-tengah ruangan.

Didepan patung sembahyang itu sudah di pasang api unggun, membuat suasana tempat itu agak hangat.

Angin bertiup keras, terasa sangat dingin sekali, meresap sampai keseluruh persendian.

Berhubung masih ada api unggun, sehingga suasana didalam kelenteng itu jadi tidak terlalu dingin.

Terbawa oleh hembusan-hembusan angin yang masuk kedalam kelenteng, api unggun itu memainkan lidah apinya.

Didepan tumpukan api unggun, ada berjongkok seorang laki-laki berpakaian warna biru, berikat pinggang warna biru, dengan sepatunya yang sudah bolong, inilah Siauw Cap-it-long.

Siauw Cap-it-long membelakangi Sim Pek Kun.

Dia sedang menghangatkan badannya dilingkungan bara api itu.

Sim Pek Kun tidak kenal Siauw Cap-it-long, dan dalam posisi seperti itu, karena Siauw Capit-long membelakangi dirinya, lebih lebih Sim Pek Kun tidak dapat melihat wajah jago berandalan itu.

Adanya seorang wanita dan seorang pria di dalam sebuah kelentang yang rusak seperti itu dapat menimbulkna kesan yang kurang baik, rasa canggung antara keduanya pastilah ada.

Untuk menghilangkan rasa canggung seperti itu, Siauw Cap-it-long bersiul perlahan, membawakan sebuah irama lagu yang hanya dimengerti olehnya sendiri.

Sim Pek Kun sudah siuman, dia segera memanggil Siauw Cap-it-long.

Sifat-sifat Siauw Cap-it-long sangat berandalan.

Seharusnya, diapun menyanyikan lagu dengan irama yang berandalan juga.

Tapi kenyataannya tidaklah demikian.

Apa yang kini sedang dilagukan olehnya adalah suara dari hati nuraninya, suara dari seseorang yang sedang kesepian, merana dalam hidupnya dan sengsara tanpa ada yang dapat atau suka mendampingi atau memberi hiburan kepadanya.

Lama sekali Sim Pek Kun memperhatikan Siauw Cap-it-long, lama sekali nyonya itu mendengarkan lagu sedih yang dibawakan oleh Siauw Cap-it-long.

Didalam kelentang rusak yang seperti itu, tentu saja tidak ada tempat tidur atau pembaringan yang layak.

Sim Pek Kun terbaring pada sebuah tumpukan rumput rumput yang tebal.

Inilah perbuatan Siauw Cap-it-long.

Sim Pek Kun sangat berterima kasih pada tuan penolong yang belum diketahui namanya itu.

Sim Pek Kun mulai menggeliat, dia hendak bangkit dari tempat terbaringnya.

Sedapat mungkin, dia mempertahankan, agar tidak menimbulkan suara, dan tidak mengganggu ketenangan tuan penolong didepan api unggun itu Siauw Cap-it-long mempunyai pendengaran yang sangat tajam, segera dia sadar bahwa wanita yang ditolong olehnya itu sedang melakukan gerakan apa apa.

"Jangan sembarang bergerak !"

Demikian tiba tiba bentaknya.

Sim Pek Kun dibesarkan didalam keluarga yang serba berkecukupan, dia dipelihara didalam rumah seorang pendekar muda, hanya dia yang dapat memberi perintah kepada orang, belum pernah ada orang yang berani memerintahnya.

Sampaipun sang suami, Lian Seng Pek sendiri juga belum pernah satu kalipun membentaknya.

Kali ini dia menerima bentakan yang sangat kasar sekali.

Inilah suatu nada suara tidak baik yang berupa sebuah perintah.

Hampir Sim Pek Kun lompat turun dari tumpukan tumpukan rumput kering itu.

Siauw Cap-it-long belum menolehkan kepala, dia berkata lagi .

"Kalau kau ingin bergerak, periksa dulu kakimu. Betapa cantik sekalipun seseorang, kalau sudah hilang sebelah kakinya, tidak mungkin ada yang tertarik lagi. Pikirkan baik-baik."

Sim Pek Kun baru sadar, bahwa sebelah kakinya ternyata telah membengkak seperti babi panggang.

Dia membaringkan kembali tubuh yang sudah disiapkan lompat itu.

Siauw Cap It Long masih menghadap api, sekali saja dia tidak pernah menoleh ke belakang.

Sim Pek Kun berhasil menekan rasa takutnya yang menyerang diri terus menerus lalu mulai bertanya.

"Siapa Kau?"

"Aku laki-laki."

Jawab Siauw Cap It Long singkat sekali.

"Kau wanita, aku laki-laki. Aku tidak menanyakan namamu kuharap kau tidak menanyakan namaku."

Sudah jelas dikatakan begitu, dengan sendirinya Sim Pek Kun juga tidak menanyakan nama Siauw Cap It Long lagi. Angin bertiup kencang. Sim Pek Kun sampai menggigil kedinginan.

"Bagaimana "

Bagaimana kejadiannya sampai aku bisa berada di tempat ini?"

Demikian tanya Sim Pek Kun.

"Banyak sekali persoalan yang tidak boleh diuraikan,"

Kata Siauw Cap It Long tanpa menoleh.

"Pertanyaanmu ini termasuk salah satu darinya. Lebih baik kau tidak tahu saja daripada harus menanggung banyak resiko!"

Pembicaraan putus kembali. Kurang lebih setengah jam kemudian, Sim Pek Kun yang tidak sanggup menahan gejolak hatinya, tiba-tiba bertanya.

"Mungkin kaulah yang menolongku. Betulkah begitu?"

Siauw Cap It Long tertawa, katanya.

"Ha ha "

Mana mungkin orang seperti aku menolong orang?"

Sim Pek Kun kehabisan bahan bicara.

Mereka diam seperti patung-patung hidup.

Hanya terdengar deru suara angin santer yang bertiup terus menerus, dalam keadaan malam gelap gulita seperti itu, sudah tidak terdengar suara apapun lagi.

Begitu sunyi dan sepi sekali.

Kecuali dengan suaminya, belum pernah Sim Pek Kun tidur berdua dengan laki-laki lain.

Tapi dia kini terpaksa harus mengalami peristiwa itu.

Bermalamnya pun sampai di dalam sebuah kelenteng tua yang sudah rusak sekali.

Dipandangnya sekali lagi laki-laki yang masih berjongkok itu.

Tubuh Siauw Cap It Long cukup kekar, kumisnya tidak terurus, rambutnya panjang dan gondrong, pakaiannya kurang bersih dan rapi, sepatunya banyak bolong.

Inilah ciri-ciri khas kaum gelandangan.

Sim Pek Kun ngeri sendiri kalau memikirkan sampai di situ.

Dia hendak meninggalkan tempat itu dengan segera.

Badannya menggeliat hendak bangkit.

Seperti mempunyai sepasang mata yang tumbuh dibelakang kepalanya, Siauw Cap-it-long mengetahui gerakan nyonya cantik jelita itu, dengan dingin ia berkata .

"Nyonya yang terhormat, keadaan sangat memaksa. Memang, sudah tentu saja kau tidak betah menginap ditempat bobrok seperti ini. Tapi, sudah tak ada jalan lain bagimu. Apalagi kakimu sudah bengkak seperti gajah begitu."

Sim Pek Kun meluruskan sepasang kakinya.

Aduh, sakitnya sampai ke sendi-sendi, tulangnya sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Siauw Cap-it-long membalikkan kepala.

Dengan sepasang matanya yang bersinar bening, memperhatikan gerak-gerik nyonya itu.

Suatu cegahan halus agar Sim Pek Kun tidak meneruskan usahanya yang hendak bangkit meninggalkannya.

Satu komplotankah dia dengan Siao Kongcu tadi ? Sim Pek Kun memindahkan sebelah kakinya yang tidak terluka. Lagi-lagi Siauw Cap-it-long membentak .

"Jangan bergerak. Atau kau harus menjalankan operasi kaki, dengan lenyapnya alat gerak jalan itu."

Dibentak pulang pergi seperti itu, Sim Pek Kun menjadi naik darah, dia membalas dengan suara keras .

"Hm... Terima kasih atas perhatianmu. Kau tidak kenal kepadaku. Aku juga tidak kenal kepadamu. Masing-masing tidak saling mengenal. Mengapa harus turut campur patah atau tidaknya sepasang kakiku ?"

Hanya dengan mempergunakan sebelah kaki yang baik, Sim Pek Kun meninggalkan tempat pembaringan rumput.

Siauw Cap-it-long tertawa.

Tertawanya aneh sekali, tidak mengandung cegahan juga tidak mengandung cemoohan.

Seolah-olah mengatakan terserah kepada kemauanmu.

Betul-betul Sim Pek Kun berusaha meninggalkan kelenteng rusak yang kecil dan engap itu, dia tidak betah sekali.

Hanya berlompat satu langkah, terasa rasa sakit yang tidak terhingga.

Toh Sim Pek Kun keras kepala, dia masih memaksakannya.

Siauw Cap-it-long tidak mencegah lagi.

Dan membiarkan nyonya itu meninggalkan kelenteng.

Dengan wajah asam cembetut, Sim Pek Kun meninggalkan kelenteng.

Dia sangat marah atas perlakuan Siauw Cap-it-long yang dianggap terlalu kurang ajar, apalagi memandang sepasang mata laki-laki liar itu, lebih-lebih kurang ajar lagi.

Karena itulah dia harus pergi cepat-cepat.

Seumur hidup Siauw Cap-it-long belum pernah dia memaksa atau menekan seseorang.

Dan dimalam ini, dia tidak memaksa Sim Pek Kun melakukan sesuatu.

Dikala Sim Pek Kun meninggalkan pintu kelenteng, Siauw Cap-it-long merasa geli sekali.

Setiap orang menyebut kecantikan nyonya Lian Seng Pek tanpa tandingan, disertai dengan pujian pujian lain, seperti arif bijaksana, manis budi, tidak pernah marah, ramah tamah, dan kata kata lainnya.

Belum pernah ada orang yang melihat Sim Pek Kun merengut.

Dan kini, Siauw Cap-it-long dapat menyaksikan wajah yang asam cembetut itu.

Lebih cantik dari sesuatu wajah yang tertawa atau membawakan sikapnya yang biasa.

Tentu saja dianggap sebagai sesuatu kejadian yang menyenangkan.

Dan Sim Pek Kun sudah lenyap dimalam gelap.

Bercerita Sim Pek Kun yang berjalan dimalam gelap, dia hanya bergerak dengan sebelah kaki yang tidak pincang, caranya sangat lucu sekali, toh dia tidak tertawa.

Rasa sakit dan nyeri yang tidak terhingga merangsang dirinya.

Diusahakan sedapat mungkin, agar dia dapat melepas dari pengawasan laki-laki kurang ajar itu.

Akhirnya dia bersender pada sebuah pohon, setelah dipikir ulang, dia merasa heran atas sikap yang sudah dibawakan.

Mengapa dia marah kepada seseorang yang belum dikenal ?

Dengan alasan apa dia marah kepada laki-laki itu.

Dimisalkan orang tersebut tidak bermaksud baik, sudah lama dia celaka.

Rasa takutnya yang tidak terhingga membuat dia jatuh pingsan, terlalu lama dia tidak sadarkan diri.

Itulah suatu kesempatan untuk melakukan perbuatan yang kurang ajar kepada dirinya.

Dan laki-laki itu tidak melakukan hal tersebut.

Mengapa dia harus marah kepadanya ?

Apalagi, mengingat kedudukan dirinya.

Setelah mengalami gangguan si anak laki-laki kecil yang binal dan jahat itu, dia jatuh pingsan dan kemudian berada didalam sebuah kelenteng rusak.

Tentunya telah ditolong oleh laki-laki yang mempunyai sepasang mata kurang ajar itu.

Laki-laki yang mempunyai sepasang mata kurang ajar adalah didalam anggapan Sim Pek Kun, didalam hal ini, Siauw Cap-it-long yang dimaksudkan olehnya.

Angin menderu-deru, semakin keras dan semakin dingin.

Ditempat udara bebas tidak ada api unggun yang Siauw Cap-it-long pasang, lenyaplah semua rasa hangat dari api tersebut.

Sim Pek Kun menyelubungkan dirinya menjadi satu ringkelan kecil yang rapet, hampir dia tidak tahan menerima siksaan seperti ini.

Sebelah kaki yang terluka, inilah luka yang disebabkan oleh senjata rahasia beracun dari Siao Kongcu, perlahan demi perlahan, kaki ini mulai sakit kembali.

Bagaikan ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum kecil, penderitaannya bertambah semacam lagi.

Akhirnya kaki inipun membeku.

Sim Pek Kun menggigit bibir.

Dia diam dibawah pohon itu.

Sim Pek Kun dibesarkan dan hidup didalam keadaan serba mewah, belum pernah dia hidup seorang diri.

Kini dirasakan sakit sekali, sengsara sekali.

Air mata mulai berjatuhan dari sepasang kelopak panca indranya itu.

Mau sekali dia menangis menggerung-gerung.

Dimalam gelap, didalam keadaan angin udara berkuasa dijagat raya, mungkinkah dia harus menangis seperti anak kecil ?

Sim Pek Kun bertahan sedapat mungkin.

Akhirnya dia berjongkok dan menangis sesenggukan.

Tiba tiba .....

Satu tangan menepuknya perlahan, sangat perlahan sekali, seolah-olah takut mengejutkan si nyonya cantik jelita itu.

Biar betapa perlahanpun tepukan tangan itu, biar selembut mungkinpun datangnya tepukan tangan itu, tetap mengejutkan si nyonya Lian Seng Pek.

"Aaaaaa......"

Sim Pek Kun terlompat kaget.

"Aduh....."

Rasa sakitnya dikaki menyerang kembali.

Dikala dia menoleh, terlihatlah sepasang sinar mata yang sangat bening dan bercahaya, itulah sepasang sinar mata Siauw Cap-it-long yang dianggap kurang ajar.

Dilain tangan Siauw Cap-it-long sudah membawa semangkuk berisikan wedang panas yang masih mengepul berasap.

"Minumlah !"

Disodorkannya kedepan sangat perlahan.

"Kujamin tidak mengandung racun."

Sim Pek Kun balas memandang laki-laki petualang itu.

Sinar mata nyonya Lian Seng Pek tidak kalah terangnya, tidak kalah beningnya, dan didalam penilaian jenis kelamin lain, sinar mata inipun sangat menantang, sangat kurang ajar.

Dua pasang mata beradu didalam keadaan gelap gulita.

Tanpa disadari olehnya, Sim Pek Kun menyambuti mangkuk wedang panas itu.

Uap panas yang disemburkan oleh wedang itu membawakan rasa hangat yang tidak terhingga.

Inilah kasih sesama manusia.

Air mata Sim Pek Kun menetes jatuh didalam mangkuk wedang panas itu.

Teessss......

SEPATU SEORANG WANITA.

Kembali ketempat kelenteng kecil, sempit, rusak dan bobrok itu.

Tidak ada perubahan sama sekali.

Sim Pek Kun terbaring di tempat tumpukan rumput kering, sebelah kaki nyonya itu semakin besar, membengkak keras.

Senjata rahasia Siao Kongcu terlalu jahat.

Siauw Cap-it-long bertengger di depan tumpukan pembakaran kayu.

Api bernyala merah.

Lidah api bermain kian ke mari.

Angin masih bertiup keras.

Sim Pek Kun memeramkan matanya, terkenang kembali kejadian yang baru saja dialami.

Belum pernah dia mengucurkan air mata.

Di mana pun, belum pernah dia menjatuhkan butiran bening si panca indra.

Kini, baru saja dia menangis di depan seorang laki-laki asing yang baru saja dikenal di tengah jalan.

Dia tidak berani memandang Siauw Cap-it-long, dan menjadi gelisah di tempatnya.

Siauw Cap-it-long membuka suara.

"Tidurlah. Dimisalkan kau mau pergi juga, sebentar lagi toh sudah pagi, tunggu sampai hari terang, baru kau boleh berangkat....."

Suara ini sangat berpengaruh, seolah-olah kena sirap, Sim Pek Kun tertidur.

Rumput kering yang ditumpuk di tempat itu sangat keras, mengandung bau busuk yang tidak sedap.

Setelah Sim Pek Kun lelap tidur, semua tidak dirasakan olehnya.

Siauw Cap-it-long masih tetap bercokol di depan tumpukan kayu-kayu api.

Tanpa membikin persiapan kepada adanya laki-laki itu, Sim Pek Kun dapat tertidur.

Dia sangat percaya kepada Siauw Cap-it-long, tidak mungkin laki-laki itu mengganggu dirinya.

Karena itulah, dia cepat menjadi pulas.

Di bawah pengawasan Siauw Cap-it-long, segala sesuatu pasti menjadi beres.

Setiap orang bisa tidur tenang.

Hembusan angin meniup pergi malam gelap, hari menjadi pagi.

Di kala Sim Pek Kun bangun dari tidurnya, angin malam sudah berhenti kerja, api unggun masih belum padam, kayu-kayu baru sudah bertumpukan di atasnya, itulah hasil perbuatan Siauw Cap-it-long.

Dan laki-laki aneh itu sudah tidak berada pada tempatnya yang semula.

Mungkinkah sudah pergi tanpa pamit?

Mengikuti perkembangan tari-tarian lidah api, Sim Pek Kun merasa sangat gundah sekali.

Seperti kehilangan sesuatu yang tidak bisa disebut atau diartikan dengan kata-kata.

Dia seperti ditipu, dia seperti ditinggalkan pergi oleh orang yang terdekat.

Begitu baikkah Siauw Cap-it-long kepadanya?

Sim Pek Kun tidak tahu.

Dia belum tahu nama dari laki-laki kasar itu, mengapa boleh begitu mempercayakan dirinya?

Laki2 itu mempunyai hak kebebasan untuk meninggalkannya seorang diri.

Tidak ada kewajiban untuk menjaga sampai pagi.

Tidak perlu meminta ijin darinya lagi.

Dikala Lian Seng Pek pergi, sang suami itupun tidak perlu meminta izinnya.

Apalagi seorang asing yang belum dikenal nama?

Dengan alasan apa, dia harus mengekang kebebasan orang?

Pikiran Sim Pek Kun sangat kacau sekali, bingung gundah gulana.

Sayup sayup.....

Terdengar suara lagu sedih yang pernah dibawakan oleh laki2 asing itu.

Mata Sim Pek Kun bercahaya terang, semangatnya segar kembali.

Laki2 yang mempunyai sinar mata kurang ajar itu belum pergi.

Belum meninggalkan dirinya.

Semakin lama, lagu itu semakin jelas.

Siauw Tjap it long sedang berjalan datang.

Rasa hangat yang mengarungi kelenteng itu dirasakan semakin tebal.

Adanya rumput kering berbau busuk, adanya kelenteng kecil yang sempit tidak berbenak lagi.

Dan ini waktu, Siauw Tjap it long berjalan datang, memasuki pintu kelenteng.

Tangan kiri laki2 itu menenteng ember kayu, sedangkan tangan kanannya membundel seikat obat2an yang tidak dikenal.

Langkahnya laki2 itu sangat lincah sekali, dan sudah berada didepan Sim Pek Kun.

"Selamat pagi!"

Sim Pek Kun memberi ucapan salam kepadanya.

"Kukira sudah cukup siang"

Jawaban Siauw Tjap it long urang simpatik. Sim Pek Kun kebogehan. Siauw Tjap it long meletakkan tentengannya, hanya melirik sebentar dan melakukan sesuatu. Sim Pek Kun membuka mulut, katanya.

"Atas kejadian semalam itu, aku...."

Terasa kembali kejadian yang sudah berlangsung, selembar wajah Sim Pek Kun menjadi merah jengah. Dia menyambung kata2nya.

"Atas kejadian itu, aku meminta maaf atas bantuanmu, sudah pasti harus kubalas dan kuingat...."

Siauw Tjap it long mengeluarkan suaranya yang sangat dingin.

"Aku tidak mengharapkan balasan. Jangan kau ingat2 kembali urusan itu."

Sim Pek Kun tertegun.

Sikap yang dibawakan oleh laki2 kasar ini berada diluar dugaannya.

Tidak sedikit laki2 yang dikenal oleh Sim Pek Kun, rata2 itu membawakan sikap yang sopan, sangat hormat dan menaruh harga diri didepannya.

Hanya laki2 inilah yang sangat berandalan, sangat kurang ajar, selalu menentang kata2nya.

Manusia normalkah orang ini?

Sim Pek Kun memperhatikan segala gerak gerik Siauw Tjap it long.

Dia hendak menemukan sesuatu sifat laki2 ini yang mempunyai ciri2 lain daripada orang lain.

Siauw Tjap it long sudah meletakkan ikatan obat yang baru saja dipetik, kemudian membawa ember kayu yang berisikan air itu langsung menuju ketempat perapian.

Diatas tumpukan kayu bakar, diatas api yang masih berkobar, terpasang empat buah cagak keramik, dengan kawat2 yang tidak mudah terbakar, dibawah kerangka itu tergantung kuali besi.

Inilah kuali besi yang pernah memasak air dimalam hari.

Wedang panas itu dihasilkan dari kuali ini.

Satu malam suntuk sang kuali diberi pemanasan yang terus menerus, karena itu airnyapun sudah kering.

Kuali itu membara panas, warnanya berubah menjadi merah.

Siauw Tjap it long mengangkat ember kayu itu, dan langsung menuangkan airnya.

Tjeeesssss........

Dengan air dingin yang diruang kekuali panas mengejutkan hati Sim Pek Kun.

Laki laki apakah yang sedang dihadapi olehnya?

Dia memperhatikan Siauw Tjap it long memasak air.

WANITA SUCI DAN LAKI2 BERANDALAN Siauw Tjap it long menurunkan ember kayunya, kini dia mulai memasak air.

Dia duduk didepan api pemanasan itu, dan menunggu mendidihnya air yang dimasak.

Sim pek Kun semakin tertarik.

Siapakah laki2 ini?

Dia tidak kenal kepada Siauw Tjap it long, karena itu mempunyai dugaan seperti diatas.

Dia adalah seorang laki laki yang sangat aneh, laki laki gagah perkasa yang pernah dijumpai, laki2 berandalan yang tidak kenal aturan dan laki2 kasar yang tidak tahu perasaan wanita.

Kelenteng ini seperti sangat menyenangkannya, mungkinkah seorang laki2 gelandangan?

Mungkinkah dia menetap didalam kelenteng ini?

Rahasia apakah yang menyelubungi dirinya?

Mengapa dia tidak mau menyebutkan namanya?

Tentu saja Sim Pek Kun tidak tahu bahwa laki2 yang berada didepannya itu adalah Siauw Tjap it long yang ternama, juga berandalan yang sedang mau ditantang oleh suaminya.

Lian Seng Pek mencari Siauw Tjap it long dilain tempat, tentu saja tidak berhasil menemukannya.

Siauw Tjap it long sedang bermalam disebuah kelenteng rusak dengan istrinya.

Siauw Tjap it long tidak pernah memandang Sim Pek Kun secara meneliti, dia takut kepada kecantikan wanita itu.

Menunggu masaknya air, Siauw Tjap it long mendengungkan kembali lagunya yang sangat sedih.

Jilid 5_________________ Dia tidak memberi perlayanan yang secukupnya kepada sang tamu.

Dan tidak menganggap Sim Pek Kun sebagai seorang tamu.

Sim Pek Kun dapat merasakan adanya kecanggungan ini.

Dia berpikir.

"Dia tak mau melayani aku, mengapa aku harus bersama sama dengannya? Mengapa aku harus menetap di dalam kelenteng rusak ini? Tidak ada alasan untuknya mencegah aku pergi dari tempat ini. Aku harus segera kembali"

Siau Cap It Long masih juga melagukan irama yang tak bernada itu.

Tidak pernah menoleh kearah Sim Pek Kun, tidak pernah menggubris Sim Pek Kun.

Adanya wanita cantik jelita ditempat itu mungkin dianggapnya sebagai patung hidup saja.

Sim Pek Kun menjadi marah, dia berkata dengan suara keras.

"Hei, aku hendak kembali. Namaku Sim Pek Kun, bilamana kau ada waktu, datanglah dirumahku, aku tinggal dikampung Sim kee chung. Disana, aku tidak menyia nyiakan kebaikkan hatimu. Aku wajib memberi balas jasa yang setimpal"

Tanpa menoleh kebelakang, Siau Cap It Long balik mengajukan pertanyaan.

"Kau hendak pulang sekarang?"

"Betul"

Jawaban wanita cantik jelita itu sangat singkat.

"Bisakah kau pulang seorang diri?"

Bertanya lagi laki laki kasar itu.

Sim Pek Kun memandang kearah kakinya yang membengkak semakin besar, dia mencoba menggerakkan kaki tersebut, tapi tidak berhasil.

Bukan saja kaki itu sudah menjadi kaku, dia tidak dapat menguasainya lagi.

Bagaimana dia menjawab pertanyaan laki laki asing tersebut?

Sementara itu air di dalam kuali mulai mendidih.

SIau Cap It Long membuka ikatan ramuan obat obatan yang dibawanya, memilih beberapa macam, dan diseduhnya kedalam kuali yang berisi air mendidih itu.

Dengan memilih serangkai kayu kuat, dia mulai mengolah obat obatan yang dibuat.

Sim Pek Kun masih memaku ditempat dengan sinar mata tertatap pada sebelah kakinya yang seperti kaki gajah bengkak.

Belum pernah Sim Pek Kun menyembah kepada orang, belum pernah Sim Pek Kun meminta pertolongan kepada orang.

Tetapi, di dalam hal ini, mau tidak mau dia harus meminta pertolongan dari laki laki yang dianggapnya mempunyai sinar mata kurang ajar itu.

"Aku....aku..."

Suaranya terdengar agak gemetar.

"Aku hendak meminta tolong kepadamu"

"Hmm?!..."

Siau Cap It Long hanya mendehem. "Maukah kau menolong aku mencari sebuah kereta?"

Berkata lagi Sim Pek Kun.

"Tidak bisa"

Berkata Siau Cap It Long singkat. SIm Pek Kun tertegun.

"Mengapa?"

Ia bertanya heran. Siau Cap It Long berkata.

"Tempat ini terlalu jauh dengan kota, kedudukkannya pun berada dilereng gunung, tidak mungkin ada kereta yang bisa naik ketempat ini"

Sim Pek Kun bingung, kemudian berkata.

"Tapi.... bagaimanakah aku bisa berada ditempat ini?"

Dengan bersungguh sungguh Siau Cap It Long berkata.

"Aku menggendong dirimu"

Selembar wajah Sim Pek Kun berubah menjadi merah, dia merasa sangat malu sekali.

Ternyata selagi ia tidak sadarkan diri tadi, Siauw Cap-it-long sudah menggendongnya sehingga tiba di dalam kelenteng rusak yang sempit ini.

Siauw Cap-it-long berkata lagi.

"Kau tak mau kugendong lagi, bukan?"

Sim Pek Kun harus berpikir lama, bagaimana dia membiarkan dirinya digendong Siauw Capit-long?

Tidak ada lain jalan kecuali menurut kemauannya.

Tapi, dia tidak mau pula membiarkan dirinya digendong-gendong oleh orang yang belum dikenalnya.

"Aku...aku.... mengapa kau membawa aku ke tempat ini?"

Siauw Cap-it-long menerangkan.

"Kalau tidak kau kubawa ke tempat ini, lalu hendak dikemanakan? Membiarkan kau terlantar di tengah jalan? Coba kau umpamakan kau menjadi aku. Kau bertemu seekor kucing atau anjing yang terlantar, bisakah kau membiarkan binatang kecil itu menderita begitu saja?"

Wajah Sim Pek Kun semakin pucat, belum pernah dia mempunyai niatan untuk menampar pipi seorang laki-laki, tapi kini ingin sekali ia menampar laki-laki kurang ajar ini.

Cuma sayangnya kakinya kini tidak bisa digerakkan lagi.

Karena itu, dengan tubuh gemetaran, saking menahan rasa gemasnya, dia menggigil di tempat.

Kini Siauw Cap-it-long sudah bangun berdiri, membalikkan badan dan memandang Sim Pek Kun, sepasang matanya tertatap pada luka di kaki wanita itu.

Sim Pek Kun mulai menaruh curiga, dengan marah ia membentak.

"Apa yang hendak kau lakukan?"

Siauw Cap-it-long tertawa-tawa, kemudian berkata.

"Sedang kupikirkan, bagaimana harus membuka sepatu di kakimu itu?"

"Tidak....."

Sim Pek Kun berteriak keras.

Dia menentang hal yang hendak dilakukan oleh laki-laki itu.

Mana boleh membiarkan sepatunya dibuka oleh laki-laki yang belum dikenalnya?

Sedangkan suaminya sendiripun belum tentu pernah melihat kaki kecil itu.

Terdengar suara ocehan Siauw Cap-it-long.

"Kukira sepatumu tidak bisa dibuka lagi, kecuali menggunakan pisau untuk merusaknya lebih dulu. Kakimu sudah bengkak dan tentu saja akan menimbulkan rasa sakit yang tidak terhingga."

Dan betul-betul Siauw Cap-it-long sudah mengeluarkan pisau lipatnya. Sim Pek Kun segera memprotes.

"Apa yang hendak kau lakukan?"

"Mengobati kakimu"

"Aku tidak mau!"

"Kaki itu bisa busuk nanti kalau dibiarkan begitu saja."

"Aku tidak perduli!"

"Kau...kau....."

"Mengapa? "Kau hendak berlaku kurang ajar!"

Siauw Cap-it-long tertawa dan ia berkata.

"Belum pernah aku membuka sepatu seorang wanita. Tapi sekarang, keadaan sudah sangat memaksa sekali."

Suara Sim Pek Kun menjadi gemetar.

"Ku....kukira, kau adalah laki-laki yang kurang ajar.... betul-betul kau sebagai laki-laki kurang ajar"

Siauw Cap-it-long berkata.

"Aku memang seorang lelaki yang kurang ajar."

Ciaat... dengan kecepatan kilat Siauw Cap-it-long sudah menggoreskan pisaunya, begitu cepat pula dia sudah melepas sepatu Sim Pek Kun.

"Kalau kau menghendaki turun gunung tanpa digendong, inilah cara penyembuhan satusatunya yang paling cepat. Aku harus menyembuhkan dulu lukamu."

Berkata Siauw Cap-itlong.

Di jaman itu, tak ada laki-laki yang bisa membuka sepatu wanita, kecuali suami sendiri.

Sim Pek Kun tidak ada pilihan lain, kecuali menyerah.

Gerakan Siauw Cap-it-long terlalu cepat sekali, sehingga ia tak mampu berbuat apa-apa.

Apalagi dalam keadaan begini, di mana kakinya sudah tambah membengkak.

Dengan sangat cekatan Siauw Cap-it-long lalu menyediakan air panas di depan Sim Pek Kun.

"Rendamlah kakimu di dalam air ini!"

Berkata Siauw Cap-it-long.

Inilah air yang masih panas mengandung ramuan-ramuan obat yang sudah disediakan.

Sim Pek Kun tidak mempunyai pilihan lain, terpaksa mengikuti segala petunjuk yang diberikan Siauw Cap-it-long.

Sesudah merendam kaki Sim Pek Kun ke dalam air panas itu, Siauw Cap-it-long memilih lain ramu-ramuan obat, dikunyah di dalam mulut, obat itu digigit-gigit olehnya, dan bagaikan seorang nenek yang sedang bersirih, gumpalan obat itu dikeluarkan kembali lalu dipegangnya di tangan.

Sim Pek Kun memeramkan kedua matanya.

Perasaan yang ada di hatinya sekarang sesungguhnya belum pernah terpikir olehnya kalau bakal terjadi di tempat ini.

Siauw Cap-it-long mengangkat kaki Sim Pek Kun yang sudah direndam di tempat air panas tadi, dan kini obat yang sudah dikunyah itu diborehkan kepada luka yang ada di kaki si nyonya cantik jelita.

Tidak ada perlawanan, Sim Pek Kun sudah menyerah pada takdir.

Kaki Sim Pek Kun yang kecil halus putih itu, berada dalam tangan Siauw Cap-it-long.

Sim Pek Kun sudah membayangkan pernahkah suaminya melakukan pekerjaan seperti apa yang sedang dilakukan oleh laki-laki asing kurang ajar ini?

Jawabannya sangat singkat.

"Tidak pernah!"

Luka yang diderita Sim Pek Kun sebenarnya tidaklah terlalu parah, hanya seperti disengat oleh semut, atau digigit seekor nyamuk biasa saja, hanya berbintik merah.

Tapi ditempat itulah justru Siao Kongcu telah memberi racun jahat dari senjata rahasianya, maka luka dikaki Sim Pek Kun menjalar hingga ke paha, bengkak membesar sekali.

Sesudah diborehkannya obat ramu ramuan Siauw Tjap-it-long, rasa sakit dan perih itu perlahan lahan mulai lenyap, dimulai dari rasa panas, lalu timbul suatu perasaan yang sangat dingin.

Inilah mungkin pengaruh obatnya yang mulai berjalan.

Penilaian Sim Pek Kun, Siauw Tjap it long adalah seorang laki2 liar, laki laki gelandangan yang mempunyai sepasang mata kurang ajar.

Karena itu, sejak tadi dia ketakutan sendiri.

Tapi kini terbukti tidak ada kejadian berikutnya.

Kalau begitu dia adalah laki2 yang baik!

Siauw Tjap it long sudah selesai mengobati luka dikaki Sim Pek Kun, setelah selesai mengobati ia lalu bangin berdiri meninggalkan wanita itu.

Dan duduk tepekur didepan api unggun, membawakan lagu yang entah dipungut dari mana itu, yang bernada penuh kesepian, kesunyian dan kesengsaraan.

Sim Pek Kun sudah membuka mata, dengan suara perlahan dia berkata.

"Terima kasih"

Cepat sekali luka dikakinya yang membengkak itu sudah mulai susut.

"Tidak kusangka ilmu ketabibanmu sangat hebat"

Berkata Sim Pek Kun.

"Sangat beruntung aku dapat bertemu denganmu"

Tanpa menolehkan kepala, Siauw Tjap it long berkata. "Aku tidak mengerti apa itu yang kau sebutkan ilmu ketabiban. Yang kutahu hanyalah. Bagaimana harus mempertahankan hidup manusia yang hampir direnggut maut!"

Sim Pek Kun menganggukkan kepala, dia menyetujui pendapat laki2 itu.

"Kini aku tahu, dalam keadaan terpaksa semua orang akan berusaha"

Siauw Tjap it long berkata .

"Setiap orang ingin hidup, setiap orang juga wajib hidup. Umpamanya saja seekor binatang yang tidak mengenal ilmu ketabiban. Jikalau berada dalam keadaan terluka, binatang itupun pasti akan berdaya upaya mencari obat2an untuk menyembuhkan luka lukanya, kalau perlu menyembunyikan diri lebih dulu."

"Ada kejadian seperti ini?"

Berkata Sim Pek Kun. Siauw Tjap it long berkata.

"Pernah aku menemukan seekor serigala yang sedang terluka, serigala itu melarikan diri terjun kedalam sesuatu air kecomberan. Waktu itu aku tidak mengerti, mengapa dia harus menerjunkan diri kedalam air. Kukira semula dia hendak bunuh diri. Tapi mungkinkah itu?"

"Serigala itu tidak bunuh diri?"

Berkata Sim Pek Kun heran.

"Tidak !"

Berkata Siauw Tjap it long tertawa "

Kuperhatikan betul2, serigala itu merendam diri ditempat berair tersebut selama dua hari, dan pada dua hari kemudian ia sudah bnagkit kembali.

Ternyata dalam air itu ada mengandung obat2an, sehingga ia berhasil menyembuhkan dirinya.

Ia berhail memperpanjang umurnya."

Untuk pertama kalinya Sim Pek Kun menyaksikan Siauw Tjap it long tertawa. Dikala menyebut binatang, baru dapat melihat wajah laki2 itu tertawa. Siauw Tjap it long berkata lagi.

"Manusia dan binatang tidak ada perbedaannya. Kalau binatang masih mau berusaha memperpanjang umurnya, masakan manusia harus diam saja menunggui ajalnya sampai?"

Apakah betul manusia dan binatang itu mahkluk yang serupa?

Sim Pek Kun berpikir lama tentang kejadian ini.

Dikala pertama kali berkumpul dengan Siauw Tjap it long, Sim Pek Kun sangat kawatir sekali, ia takut kepada laki laki asing yang belum dikenalnya itu.

Kini sudah terjadi perobahan.

Laki2 dengan lagu2 yang berirama tak menentu.

Mau dia meduga, bahwa laki2 itu mungkin masih hidup dalam suatu keadaan yang belum normal seluruhnya, ia sengsara, entah sengsara oleh karena apa, entah apa pula yang dirindukan olehnya.

Semacam kabut misteri menyelubungi laki laki tersebut.

Dan karena inilah semakin menarik perhatian Sim Pek Kun.

"Disinikah kau tinggal?"

Tanya Sim Pek Kun. Siauw Tjap it long lekas menjawab. "Akhir2 ini aku memang sering tinggal ditempat ini"

Sim Pek Kun bertanya lagi.

"Sebelumnya?"

Siauw Tjap it long berkata.

"Aku tidak pernah mengenang masa lampau. Segala sesuatu yang sudah lewat akan segera kulupakan, dan segala kejadian yang belum terjadi tidak pernah kupikirkan."

"Kau..... kau tidak mempunyai rumah sebagai tempat tinggal yang tetap?"

Berkata Sim Pek Kun "Rumah tempat tinggal yang tetap?"

Siauw Tjap it long tertawa menyeringai "Aku selamanya hidup. Aku akan menjajaki seluruh dunia rimba persilatan. Setiap tempat akan kuanggap sebagai tempat tinggalku. Itulah satu2nya kesenanganku."

Seseorang yang tidak menpunyai tempat tinggal tetap, bukankah berarti hidupnya sangat merana sekali.

Tapi sering juga terjadi orang itu hidup sebagai orang gelandangan.

Mungkinkah orang ini orang gelandangan?

Sim Pek Kun menyedot napas dalam dalam, dia menduga atas apa kira2 sudah dialami laki2 itu, karena itulah dia lalu berkata.

"Kukira setiap orang wajib mempunyai satu rumah. Apabila kau mempunyai kesulitan, aku dapat membantumu..."

"Terima kasih."

Siauw Tjap it long berkata dingin.

"Katakalah, apa kiranya yang menyulitkanmu?"

Berkata lagi Sim Pek Kun "Kau tanyakan kesulitanku?"

Suara Siauw Tjap it long tidak enak sekali didengar.

"Yang menjadi kesulitanku ialah, kau..... kau tidak bisa menutup mulutmu itu."

Mendengar itu Sim Pek Kun tercengang, dia tertegun sekian lama.

Bertemu dengan seorang laki2 yang tidak mengenal adat istiadat, tidak mengerti arti tata sopan santun, adalah merupakan satu pengalaman yang baru saja dialaminya.

Tapi, betul2 Sim Pek Kun lantas menutup mulut.

Ini adalah permintaan laki2 yang pernah menolong dirinya.

Keadaan ditempat itu menjadi sangat sepi sekali.

Pada saat itulah; tiba2 dari jauh terdengar suara derap kaki orang yang mendatangi arah kelenteng situ.

Siauw Tjap it long dan Sim Pek Kun saling pandang.

Mereka sama2 heran untuk apa mereka datang ketempat sesepi ini?

Derapan langkah kaki itu semakin lama semakin nyata, dua orang mulai berjalan memasuki kelenteng.

Siapa dua orang ini?

Dua orang yang datang adalah dua laki2 berpakaian mewah.

Yang berjalan dikanan adalah seorang tua,pinggangnya menyoren golok, tentunya seorang jago rimba persilatan asli dengan senjata itu.

Dan yang dikiri masih lebih muda umurnya, diduga diantara tiga puluhan, ia menggunakan senjata berat, dan sedang menggembol senjata tersebut dipunggungnya.

Dan orang ini segera menemukan Sim Pek Kun dan Siauw Tjap it long didalam kelenteng itu, segera juga mereka berseru.

"Nyonya Lian Seng Pek yang sedang kami hadapi?"

Bertanya mereka. Sim Pek Kun mengerutkan alisnya "Siapakah kalian berdua?"

Ia sangat heran. Orang tua yang menyoren golok dipinggang tersenyum dan berkata.

"Kami Pang Tiauw Hui kawan baik Lian Seng Pek Kongcu. Dikala hari pernikahan nyonya Lian dan Liang Kongcu itu, kamipun pernah datang menenggak arak kegirangan kalian."

"Oa....."

Sim Pek Kun tertawa girang,"Ternyata Pang Tiauw Hui tayhiap dengan julukan Golok Emas?"

Tertawa Pang Tiauw Hui semakin riang, dai berkata dengan bangga.

"Nama Golok Emas itu diberikan oleh kawan2 dunia Kang ouw kepadaku. Sebetulnya nama itu tidak patut disebut lagi."

Adanya kawan suaminya ditempat ini tentu sangat menggirangkan hati Sim Pek Kun. Sambil tersenyum meriah dia berkata.

"Dan bagaimana dengan gelar dan nama sebutan tuan ini?"

Si wanita cantik jelita menunjukkan tangannya kepada laki2 yang menggembol pedang dipunggung itu. Si Golok Emas Pang Tiauw Hui segera member keterangan.

"Inilah Liok bin-kiam khek Liu Eng Lam putra ketiga dari Bu-yu-kiam khek Liu Sam Ya. Sudah pernah bertemu muka beberapa kali dengan Lian Seng Pek Kongcu."

Sim Pek Kun memberi hormat, katanya.

"Ternyata Liu Kongcu. Sudah lama tidak bertemu dengan ayahmu, bagaimanakah dengan penyakit batuk ayahmu itu?"

Liu Eng Lam membungkukkan badan dan dia memberikan jawaban dengan hormat.

"Atas rejeki Tuhan, penyakitnya sudah sembuh."

Sim Pek Kun lalu bertanya lagi kepada kedua orang itu.

"Bagaimana jiwi bisa tahu kalau aku berada ditempat ini?"

Si Golok Emas Pang Tiauw Hui juga yang segera menalangi menjawab.

"Dikelenteng ini bukan tempatnya yang baik untuk membicarakan persoalan kita. Diluar kami telah menyediakan satu tenda gotong, silahkan nyonya Lian kembali kekampung, kami akan mengawalnya."

Gerak gerik Liu eng Lam dan Pang Tiauw Hui sangat hormat, bicaranya juga sopan santun, tidak seperti Siauw Tjap it long. Karena itu Sim Pek Kun lantas merasa dirinya sudah kembali kedalam lingkungan keluarganya sendiri, dia girang sekali.

Dia tidak takut dihina oleh orang lain lagi, ia tidak perlu takut dibentak bentak oleh orang lain lagi.

Munculnya Liu eng Lam dan Pang Tiauw Hui membuat Sim Pek Kun lupa kepada Siauw Tjap it long.

Sim Pek Kun menganggukkan kepala, dia bersedia kembali ke Sim kee-tjhung.

Pang Tiauw Hui menggapaikan tangan kearah luar, sebentar kemudian dari sana berlari datang sebuah tandu gotong, dua wanita berbaju hijau yang gagah dan tegap, menggotong datang tandu itu, langsung menuju kearah kelenteng.

Dua wanita berbaju hijau yang mempunyai gerakan cekatan dengan membawa tandu gotong sudah tiba didepan pintu kelenteng, mereka meletakkan tandu gotong itu dan siap menyambut sang nyonya besar.

Atas segala persiapan yang telah disediakan oleh Liu Eng Lam dan Pang Tiauw Hui tentu saja membuat Sim Pek Kun sangat puas.

Sambil tertawa dia berkata kepada kedua kawan suaminya itu.

"Jiwi mempunyai pikiran yang bagus sekali, sungguh membuat aku tidak enak hati."

Liu Eng Lam membungkukkan setengah badan dan berkata.

"Silahkan Lian hujin naik kereta."

Pang Tiauw Hui sudah membuat segala persiapan secara sempurna, segera ia dapat mengajak nona cantik jelita itu pergi meninggalkan Siauw Cap-it-long.

Sim Pek Kun siap melangkahkan kedua kakinya, dia sudah merasa puas, dan hendak segera pulang kekampung halaman.

Disaat ini, tiba-tiba terdengar suara geraman Siauw Cap-it-long.

"Tunggu dulu !"

Baru Sim Pek Kun sadar, bahwa disitu masih ada seorang laki-laki yang mempunyai sinar mata kurang ajar, biar bagaimanapun laki-laki itu pernah menolong dirinya.

Maka dia wajib mengucapkan sesuatu.

Dan tidak segera naik kedalam tandu gotong itu.

Pang Tiauw Hui mendelikkan matanya, segera dia membentak .

"Siapa kau ?"

"Hmm........"

Siauw Cap-it-long mengeluarkan suara dengusan dari hidung.

"Ada hubungan apa kau dengan keluarga Lian ?"

Bertanya Pang Tiauw Hui dingin. Liu Eng Lam juga membentak .

"Hei, kami adalah Liok bin kiam khek Liu Eng Lam dan Si Golok Emas Pang Tiauw Hui, dua-duanya kawan dari Lian Seng Pek. Siapa kau, mengapa berani usil ?"

"Hmm......"

Sebelum menjawab pertanyaan itu, Siauw Cap-it-long berdehem lebih dahulu, dan baru dia berkata .

"Boleh saja aku mengaku bahwa aku adalah pendekar besar dari daerah Tiong Ciu, Tiong-Ciu Tayhiap Ouw Yang Kiu, kau percaya atau tidak ?"

Liu Eng Lam tertawa dingin, dengan nada suara yang tidak enak sekali didengarnya dia lantas berkata .

"Pui, cecongormu yang seperti ini hendak memalsukan nama Tiong-ciu Tayhiap Ouw Yang Kiu ? ... Hm...."

"Kau tidak percaya aku Ouw Yang Kiu, mengapa aku harus percaya bahwa kau adalah Liu Eng Lam dan Pang Tiauw Hui ?"

"Aku tidak memaksa kau percaya"

Berkata Liu Eng Lam tawar.

"Nyonya Lian sudah percaya kepada kami, itu saja sudah cukup."

Siauw Cap-it-long berdengus.

"Ouw... ? Dia percaya pada kalian berdua ?"

Dan tiga pasang mata dari tiga laki-laki itu menoleh kearah Sim Pek Kun, meminta pendapat nyonya Lian Seng Pek.

Nyonya cantik jelita berdehem sebentar, kedudukannya agak terjepit juga, ia tidak boleh bergerak, dan mereka sudah bentrok, karena itulah dia berkata .

"Kalian bertiga mempunyai maksud yang sama baiknya, tapi aku...."

Siauw Cap-it-long memotong pembicaraan nyonya itu, dia berkata cepat .

"Lihat ! Dia sudah mulai menaruh curiga kepada kalian. Tapi sebagai seorang yang bijaksana dan sopan tentu tidak mau mengutarakan kecurigaannya itu."

Liu Eng Lam berkata .

"Memang dia sudah mulai curiga kepadamu tapi tidak mau mengutarakannya."

Siauw Cap-it-long berkata tawar .

"Aku tidak pernah mengaku bahwa aku adalah Liok-bin kiam-khek Liu Eng Lam."

"Tentu saja kau bukan Liok bin kiam khek Liu Eng Lam."

Berkata Liu Eng Lam.

"Akulah Liok bin kiam khek Liu Eng Lam."

"Kau Liok bin kiam khek Liu Eng Lam ?"

Siauw Cap-it-long mencibirkan bibirnya.

"Srettt...."

Liu Eng Lam mengeluarkan pedangnya, secepat itu pula dia sudah menggerakkan senjata tersebut, membarengi gerakan itu terdengar suara patahan kayu dahan yang sedang dipegang oleh Siauw Cap it long, yang lantas patah menjadi empat potongan kecil-kecil.

Reaksi Siauw Cap it long biasa saja, tidak menunjukkan sikapnya yang memperlihatkan takut atau ngeri, tidak bergerak dari kedudukannya semula, dengan tawa ia berkata .

"Ilmu pedang ini betul-betul ilmu pedang Bu yu kiam khek dari keluarga Liu."

"Tentu !"

Berkata Liu Eng Lam girang.

"Kiranya kau juga cukup mempunyai mata yang hebat, masih mengenali jurus ilmu pedangku."

Pang Tiauw Hui berteriak dengan suara keras . "Kau adalah seorang yang mengenal ilmu silat, tentunya sudah tahu tipu ini bernama Bu-yu sam-cap, didalam dunia persilatan kecuali Liu Sam Ya dan Liu kongcu, tidak ada orang ketiga yang dapat memainkannya."

Sim Pek Kun turut tertawa, dengan memaksakan diri dia berkata .

"Liu kongcu mempunyai ilmu silat yang hebat, jurus Bu-yu sam-cap yang kau mainkan tadi mungkin sudah lebih hebat dari kalau diperlihatkan oleh kakekmu."

Siauw Cap it long memandang kepada nyonya itu, kemudian berkata kepadanya .

"Tidak maukah kau tanyakan kepada mereka, bagaimana mereka tahu kalau kau bisa berada ditempat ini ?"

"Soal ini tidak perlu diperdebatkan."

Berkata Sim Pek Kun.

"Dengan nama besar Pang Tayhiap dan Liu kongcu, aku percaya kepada mereka."

Siauw Cap it long berkata .

"Betul, Mereka mempunyai nama yang cukup dikenal, tentu saja kata-katanya lebih boleh dipercaya daripadaku, karena aku tidak mempunyai nama !"

Sim Pek Kun menundukkan kepala, dengan suara lemah lembut dia berkata .

"Aku tahu, kau juga mempunyai maksud yang baik ...."

Suara si nyonya cantik jelita terputus oleh suara tertawanya Pang Tiauw Hui, terdengar jago silat Golok Emas itu berkata .

"Maksud baik ? kukira tidak baik."

Liu Eng Lam juga berkata .

"Berulang kali ia mengganggu usaha kita yang hendak pulang kembali, maksudnya mencegah nyonya ikut kepada kita dan tetap tinggal ditempat ini, dan tentunya dia mempunyai maksud tujuan yang tidak baik."

"Maksud apakah itu....?"

Pang Tiauw Hui menggelengkan kepala dan berkata .

"Betul. Tepat. Mari kita cacah dulu dia, bawa saja kembali kerumah, kompres padanya ! Siapa suruh dia suka usil dalam urusan orang lain ?"

Golok Emas si jago tua itu segera keluar dari kerangkanya.

Kawan ?

Lawan ?

Dikala Pang Tiauw Hui sudah siap menendang Siauw Cap it long, Liu Eng Lam melakukan pencegahan, dia hendak menjadi seorang baik, katanya .

"Tunggu dulu ! Besar sekali kemungkinannya mungkin orang inipun salah satu kawan dari nyonya Lian Seng Pek. Mana boleh kita mengganggunya ?"

Pang Tiauw Hui menoleh kearah Sim Pek Kun, dan bertanyalah ia kepada nyonya cantik jelita itu .

"Nyonya Lian kenal orang ini ?"

Sim Pek Kun menjadi gugup, cepat-cepat menundukkan kepala, sambil jawabnya .

"Ti.....tidak."

"Huaa, ha, ha,....."

Tiba-tiba Siauw Cap it long tertawa ngakak.

"Tentu saja kau tidak kenal aku. Kau adalah nyonya Lian Seng Pek yang ternama, mana mungkin mau berkenalan dengan seorang gelandangan yang seperti aku ?"

"Betul..... betul....."

Cepat-cepat Liu Eng Lam berkata.

"Tidak mungkin nyonya Lian mau mengenal kau dengan seorang gelandangan kotor yang tidak tahu malu !"

Dari kanan dan kiri, Pang Tiauw Hui dan Liu Eng Lam lalu menggencet Siauw Cap it long.

Kini Liu Eng Lam bergerak lebih dahulu, pedangnya bergeser cepat, membuat suatu tirai pedang, menyerang kearah Siauw Cap it long, Inilah ilmu pedang Bu-yu-kiam-khek, ilmu pedang yang menjadi kebanggaan keluarga Liu.

Ilmu pedang Bu-yu kiam khek adalah ilmu pedang seorang tokoh wanita jago purbakala.

Karena itu, tipu-tipu dan gerakan-gerakannya lebih banyak cocok digunakan oleh wanita daripada kaum pria.

Walaupun demikian keluarga Liu sangat mahir sekali dalam ilmu pedang itu, tidak kalah hebatnya.

Ilmu Bu-yu kiam khek sangat mementingkan pertahanan diri sendiri, dibawah tangan Liu Eng Lam pun demikian juga, penyerangan tiga bagian dan pertahanan tujuh bagian.

Demikian banyak variasi-variasi itu, toh jarang sekali yang mengandung ancaman maut.

Siauw Cap it long masih saja tertawa ditempatnya, tanpa bergerak dari kedudukannya semula dia membiarkan dirinya dikurung oleh sinar-sinar pedang Liu Eng Lam.

Disaat ini Pang Tiauw Hui juga turut bicara .

"Nyonya Lian Seng Pek tidak kenal kepadanya jadi tidak perlulah kita malu-malu lagi. Bunuh saja habis perkara !"

Golok Emas jago inipun turut membacok dengan senjata yang beratnya lebih dari 20 kati itu, serangannya terlalu berat mengandung maut.

Liu Eng Lam bermain dengan ilmu pedang Bu-yu kiam-khek, variasinya begitu bagus dan membuat satu pagar pedang yang mengurung Siauw Cap it long disamping itu golok Pang Tiauw Hui membacok, dan Siauw Cap it long, harus bergeser tempat, menghindari datangnya bacokan ini.

Pang Tiauw Hui tidak puas, dia membacok sekali lagi.

Ciat......

tapi masih juga tidak berhasil mengenai sasarannya.

Diserang oleh dua orang, Siauw Cap it long belum mengirim balasan, dia menggeser kedudukan dari kanan ke kiri dan dari kiri ke kanan, dari utara ke barat atau dari barat ke timur, terus menerus demikian.

Tidak selembar ujung bajunyapun yang terkena serangan golok apalagi ilmu pedang Liu Eng Lam.

Tenang tenang saja Siauw Cap it long menghindari serangan serangan mereka.

Kemarahan Pang Tiauw Hui meluap luap, dia menggencarkan serangannya, dan dengan suara geram berkata kepada kawannya .

"Liu Eng Lam, jangan beri kesempatan dia hidup lagi. Ayo bunuh !"

Ciat.....

satu bacokan golok datang cepat.

Liu Eng lam membantu dari samping, Wing...

membikin satu serangan pedang,.....

serangan pedang ini membantu usaha Pang Tiauw Hui, agar musuhnya tidak dapat melarikan diri.

Sepasang sinar mata Siauw Cap it long tiba-tiba saja menjadi sangat liar sekali, dengan melompat kekiri sebentar menghindari golok, dan dari sana ia berkata dengan suara dingin .

"Baik. Kalian hendak membunuh aku ? Mengapa melarang aku membunuh kalian ?"

Siauw Cap it long menekukkan sepasang tangannya, sangat keras, tubuh terpelintir cepat sekali dan entah dengan gerakan apa tahu-tahu dia sudah lompat keluar dari kurungan dua orang itu.

Ilmu pedang Bu-yu kiam hoat yang dimainkan oleh Liu Eng Lam adalah ilmu pedang yang sangat rapat sekali, ilmu pedang yang khusus untuk mengurung seseorang didalam pertahanan, tokh tidak berhasil mengurung Siauw Cap it long.

Tangan Siauw Cap-it-long disodorkan kedepan.

Liu Eng Lam merasa tertekan, karena itu cepat-cepat dia mundur kebelakang, hampir ia tergelintir jatuh, kaki menyentuh sesuatu, dan itulah mangkok obat yang semalam digunakan oleh Siauw Cap-it-long untuk menyembuhkan sakit Sim Pek Kun.

Terjadi pertempuran terlalu cepat sekali, Sim Pek Kun mundur kebelakang, dan dikala kaki Liu Eng Lam menginjak mangkok obat, terbayang kembali kejadian semalam, karena itulah cepat-cepat dia berteriak.

Berhenti......berhenti.....!

jangan serang dia lagi, semua adalah orang sendiri!"

Itu waktu, tangan Siauw Cap-it-long sudah menutup semua jalan kematian lawannya, dengan satu teriakan jari saja dia pasti dapat mengambil jiwa musuh itu.

Sisaat itulah tiba-tiba terdengar suara teriakan Sim Pek Kun.

Karena Siauw Cap-it-long mendengar Sim Pek Kun mengatakan bahwa semua adalah orang sendiri, maka dengan cepat ia lantas berhenti bergerak.

Siauw Cap-it-long sudah menarik kembali serangannya.

Disaat suara Sim Pek Kun tercetus keluar dari mulutnya, Siauw cap-it-long merasa darahnya bergolak cepat, hawa pembunuhannya lenyap mendadak, dia dapat menerima perintah tadi, karena itu dia menghentikan serangannya.

Tidak sama dengan keadaan Siauw Cap-it-long.

Reaksi Pang Tiauw Hui dan Liu Eng Lam sangat berbeda sekali, mereka mempunyai pengalaman-pengalaman tempur yang sangat banyak dan itulah kesempatan untuk melenyapkan lawan dari permukaan bumi, satu saja tidak mau menerima perintah tadi, cepat-cepat mereka menggunakan kesempatannya.

Dan masingmasing melompat maju setapak, pedang dan golok berterbangan, dan menyerang kepala dan perut Siauw Cap-it-long.

Tresss........

pundak Siauw Cap-it-long berdarah.

Dia hanya berhasil menghindari perut dan kepalanya, tetapi tidak dapat menghindari ancaman pada pundaknya.

Dengan demikian Siauw Cap-it-long jadi menderita rugi.

Pang Tiauw Hui girang sekali, goloknya dibalikan dan menyerang lagi.

Liu Eng Lam meberi kerja sama yang baik, dengan pedang ditangan yang diputar sedemikian rupa ia menjaga diri sendiri dan juga menjaga keamanan Pang Tiauw Hui.

Terdengar suara bentakan Siauw Cap-it-long yang mengguntur keras, dan disaat itu pula senjata-senjata Pang Tiauw Hui dan Liu Eng Lam sudah terlepas dari tangan masing-masing, merasa tangannya kesemutan dengan rasa sakit yang tidak terhingga, dan saking cepatnya gerakan itu, mereka tidak sadar bahwa golok dan pedang mereka sudah lenyap!

Terdegar suara pletak-pletak beberapa kali, dan secepat itu pula dibarengi denga suara yang keras Buk.....

tembok kelenteng sudah pecah sebagian, runtuhan batu-batunya berserakan dilantai.

Diantara hancurnya reruntuhan puing-puing itu tampak tubuh Siauw Cap-it-long yang melesat keluar dan lenyap dengan cepat meninggalkan kelenteng itu, ia keluar melalui pecahan dinding tembok kelenteng.

Adanya Sim Pek Kun didepan pintu kelenteng yang sudah bergegas-gegas hendak meninggalkan tempat tersebut, tentu saja sangat menganggu kepergian Siauw Cap-it-long, dia jadi tidak bisa mengelak dan menerjang ke arah dimana ada berdiri nyonya besar itu.

Untuk menghindari kerewelan-kerewelan dari Pang Tiauw Hui dan Liu Eng Lam itulah Siauw Capit-long terpaksa jadi menjebol dinding tembok, dan dari sana ia melenyapkan diri.

Begitu, Siauw Cap-it-long akhirnya pergi dengan begitu saja.

Pang Tiauw Hui, Liu Eng Lam memandang patahan golok dan pedang mereka, keringat dingin membasahi sekujur tubuh kedua orang tersebut, Mereka tidak berani berkutik barang sedikit pun.

Apabila laki-laki gelandangan tadi ada mempunyai niatan atau maksud tidak baik mungkinkah nyawa mereka sampai sekarang ini masih melekat pada raganya?

Lama sekali kedua jago silat itu terpaku ditempat, dan setelah betul-betul mengetahui bahwa lawannya sudah tidak ada, Liu Eng Lam baru mengeluarkan keluhan napas panjang, lalu katanya.

"Sungguh satu manusia luar biasa!"

Pang Tiauw Hui juga mengeluarkan keluhan yang sama.

"Manusia luar biasa! Betul-betul luar biasa sekali !"

Liu Eng Lam berkata .

"Betul-betul aku takluk."

Pang Tiauw Hui menyeka keringatnya, kemudian dia berkata sambil menyengir.

"Jago silat yang sehebat dia, mengapa aku tidak dapat mengenal ?"

Liu Eng Lam juga menyusut keringatnya, dan ia pun turut berkata.

"Kecepatan tangan orang ini sungguh-sungguh menakjubkan, ini lah kecepatan yang pernah kulihat di dalam rimba persilatan. Pang Tiauw Hui menolah kearah nyonya cantik kita Sim Pek Kun, kemudian bertanya kepadanya.

"Tahukah nyonya Lian, siapa sebenarnya orang itu tadi ?"

Sim Pek Kun masih menatap lubang dinding yang jebol oleh Siauw Cap-it-long tanpa bergerak, entah apa yang sedang dipikirkannya.

Dengan sendiri ia tidak dapat menjawab pertanyaan Pang Tiauw Hui tadi.

Dia diam saja.

Liu Eng Lam batuk-batuk dua kali, dan bertanya kepada nyonya itu.

"Tahukah nyonya siapa orang tadi ? Mungkinkah kawan nyonya? Baru sekarang Sim Pek Kun sadar dari lamunannya. Setelah menghela napas perlahan, barulah ia berkata.

"Ku harapkan saja dia adalah kawan dari suamiku. Siapa pun bila dapat berkenalan dengan seorang yang seperti dia tentu akan merasa senang."

Sim Pek Kun tidak mengatakan Siauw Cap-it-long sebagai kawannya, hanya mengatakan mungkin kawan dari suamiku.

Ini lah pernyataan yang sangat tepat.

Sebab, dengan kedudukan yang dimiliki oleh Lian Seng Pek dan Sim Pek Kun sebagai orang-orang sopan, tentu saja dia tidak boleh melakukan kesalahan, dan juga tidak boleh mengucapkan kata-kata salah atau pembicaraan yang salah.

Liu Eng Lam berkata.

"Nyonya Lian tidak tahu nama dari orang itu ?"

Sim Pek Kun menggelengkan kepala.

"Tidak"

Katanya. Pang Tiauw Hui berpikir lama, dengan tiba-tiba saja ia berkata keras.

"Kukira orang tadi mungkin adalah Siauw Cap-it-long !"

Siauw Cap-it-long ! Selembar wajah Liu Eng Lam menjadi pucat pasi, lenyaplah semua warna darahnya, dia berteriak kaget.

"Siauw Cap-it-long? Tidak mungkin kalau dia Siauw Cap-it-long !"

Pang Tiauw Hui menghela napas, kemudian berkata.

"Siauw Cap-it-long adalah seorang penjahat yang dapat membunuh orang tanpa berkedip, tetapi dia memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi, semua orang tahu akan hal ini. Belum ada yang dapat menandinginya, jejaknya pun sangat sulit diikuti, asal usulnya tidak ada yang tahu, hanya sedikit orang yang kenal dengannya"

Jago silat Golok Emas Pang Tiauw Hui adalah seorang jago kenamaan, walaupun demikian terhadap Siauw Cap-it-long, ia pun tidak berani memandang rendah, kulitnya menggerinyut, betapapun dia masih takut kepada Siauw Cap-it-long.

Keadaan Liu Eng Lam tidak banyak berbeda dengan keadaan kawannya itu, bibirnya menjadi matang biru, saking takutnya kepada nama Siauw Cap-it-long.

Tidak henti-hentinya dia menyusut keringat yang mengucur terus-menerus. Sim Pek Kun mengoyang-goyangkan kepala, dia tidak setuju kepada keputusan kedua orang itu, dengan tawar ida berkata.

"Aku tahu benar, orang tadi bukannya Siauw Cap-it-long !"

Pang Tiau Hui menolehkan kepala memandang kepada sang nyonya cantik jelita dan mengajukan pertanyaan.

"Bagaimana nyonya tahu ?"

Sim Pek Kun memberi penjelasan dengan kata-kata begini.

"Siauw Cap-it-long malang melintang dalam dunia rimba persialatan, dia dapat membunuh orang tanpa berkedip, dia sangat kejam sekali. Tapi aku tahu benar, orang tadi bukanlah seorang yang sangat kejam, bukan orang jahat, dia baik sekali. Itu aku tahu benar !"

Pang Tiauw Hui berkata.

"Dalamnya lautan masih mudah diduga. Tapi hati orang siapa tahu? Semakin jahat orang itu, semakin gans pula tentu sifatnya. Semakin sulit pula dilihat sepintas lalu bagaimana wataknya."

Sim Pek Kun tertawa atas reaksi dan putusan Pang Tiauw Hui serta Liu Eng Lam, tentu saja tidak dapat diterima oleh akalnya, karena itulah dia berkata lagi.

"Kegemaran Siauw Cap-it-long, tentu saja jiwa kalian berdua.............."

Tidak perlu diteruskan lagi kata-katanya Sim Pek Kun tadi, gamblang dan jelas sekali maksudnya ialah.

Kalau benar orang tadi betul-betul adalah Siauw Cap-it-long jangan digembor-gemborkan orang sebagai tokoh iblis rimba persilatan yang sangat gemar membunuh orang, jiwa Pang Tiauw Hui dan Liu Eng Lam pasti sudah dikirim ke dunia lain, atau jelasnya mereka pasti dibunuh mati.

Liu Eng Lam demikian pun Pang Tiauw Hui, mereka sama-sama mengerti, apa yang dimaksudkan oleh Sim Pek Kun tadi.

Terbukti bahwa Liu Eng Lam dan Pang Tiauw Hui tidak copot kepala, juga tidak menjadi cedera, hanya pedang dan golok mereka yang dipatahkan oleh laki-laki gelandangan tadi.

Inilah sudatu bukti bahwa lawan itu bukan Siauw Cap-it-long.

Memang, sering kali terjadi kesalahpahaman-kesalahpahaman yang tidak masuk diakal.

Sering kali pula terjadi fitnah-fitnah yang busuk dijatuhkan atas diri orang baik-baik.

Demikian pula keadaannya Siauw Cap-it-long.

Didalam rimba persilatan orang menyebutnya sebagai Anak Berandalan, ada juga yang menyebutnya dengan nama julukan seram, Iblis Tukang Bunuh Manusia, jago silat yang senang membunuh.

Untuk memecahkan ketegangan itu segera Liu Eng Lam berkata .

"Betul atau tidaknya orang tadi sebagai Siauw Cap-it-long, yang penting kita harus segera membawa nyonya Lian pulang ke kampung."

Pang Tiauw Hui menganggukan kepala, kemudian berkata cepat."

"Betul, kita harus segera membawa nyonya Lian pulang ke kampung."

Pang Tiauw Hui dan Liu Eng Lam menyilahkan Sim Pek Kun naik keatas tandu gotong yang sudah tersedia.

Sim Pek Kun sudah bergegas-gegas hendak meninggalkan tempat itu, maksudnya ialah hendak pulang ke kampung.

Karena itu pulalah dia mau cepat-cepat naik kedalam tandu gotong yang sudah disiapkan.

Dua wanita berbaju hijau dengan tangan dan kaki yang sangat cekatan, membawa tandu gotong itu turun gunung.

Liu Eng Lam dan Pang Tiauw Hui mengikuti dibelakang mereka.

Jalan pegunungan tidak rata, berliku-liku dan naik turun tidak keruan macam, tapi dua wanita berbaju hijau itu mempunyai kecepatan lari yang luar biasa, mereka membuat satu keseimbangan badan yang cukup menarik, karena itu tidak terjadi sesuatu hal yang diluar kemungkinan.

Mereka sudah jauh meninggalkan kelenteng bobrok yang rusak itu, juga meninggalkan jauh pula daerah pegunungan, jalan sudah mulai kelihatan mendatar.

Sebentar lagi mereka akan tiba diperkampungan Sim-kee-tjhung.

Kalau saja mereka sudah sampai dalam perkampungan Sim-kee-tjhung, maka segala sesuatu sudah menjadi beres, dan tak perlu penulis ceritakan pula kelanjutannya.

Dalam keadaan seperti ini, seharusnya Sim Pek Kun sangat senang, tetapi kenyataan tidaklah demikian.

Seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, dia membiarkan Liu Eng Lam dan Pang Tiauw Hui mengintil dibelakang tanpa mengajak mereka berbicara, walau sekecap katapun juga.

Terbayang kembali sepasang sinar mata laki-laki gelandangan tadi, sangat aneh sekali.

Sepasang mata itu terlalu kurang ajar, wajahnyapun wajah seorang gelandangan, tapi biar bagaimana Sim Pek Kun tidak dapat melupakannya.

Babak demi babak, terulang kembali hal-hal yang terjadi tadi.

Ingat benar Sim Pek Kun, bagaimana kejadiannya sewaktu Siauw Cap-it-long digencet oleh Liu Eng Lam dan Pang Tiauw Hui, lalu Sim Pek Kun menjadi malu kepada diri sendiri, dia berpikir.

Mengapa aku malu berkawan dengan orang yang seperti itu?

Sim Pek Kun merasa berhutang budi kepada Siauw Cap-it-long, dan dia pernah berjanji bahwa dirinya hendak menolong laki-laki gelandangan itu.

Mungkinkah sudah lupa dia kepada janjinya sendiri?

Sim Pek Kun tidak berani berpikir terlalu lama.

Sim Pek Kun dijunjung orang, tapi tidak satupun orang2 itu yang dapat memelihara persahabatan baik dengan dirinya.

Belum pernah dia mempercayakan sesuatu kepada seseorang.

Sering kali terjadi, untuk kepentingan diri sendiri, orang2 itu mengorbankan kepentingan orang lain.

Sim Pek Kun tidak sependapat dengan mereka.

Dan kini dia sedang melakukan sesuatu yang bukan menjadi kehendak hatinya, dia tidak mau mengaku bahwa laki-laki yang sudah pernah memberikan pertolongan kepada dirinya itu adalah kawannya, Sim Pek Kun menyangkal keras Siauw Cap-it-long sebagai kawannya.

Sim Pek Kun merasa malu kepada dirinya sendiri.

Sim Pek Kun merasa bersalah kepada Siauw Cap-it-long.

Dibawah kaki gunung sudah menantikan sebuah kereta berkuda.

Orang yang menjadi kusir kereta bertudung lebar dipasang sedemikian rupa sehingga tidak dapat terlihat jelas bagaimana rupa wajahnya, mungkin sengaja dia berbuat begini supaya orang tidak dapat melihat wajahnya.

Dua wanita berbaju hijau yang menggotong tandu dimana ada duduk Sim Pek Kun, tiba2 meletakkan usungan itu.

Sim Pek Kun keluar dari tandu gotong.

Kusir kereta yang bertudung lebar itu menghampiri Sim Pek Kun, membungkukkan badan dan berkata.

"Tentunya nyonya Lian sudah kaget sekali bukan?"

Suatu ucapan yang biasa saja tapi tidak sepatutnya diucapkan oleh seorang tukang tarik kereta.

Dari bentuk, cara dan adat istiadat itu, Sim Pek Kun sudah mulai merasakan sesuatu yang tidak beres, dia mulai menaruh curiga.

Pang Tiauw Hui dan Liu Eng Lam tidak berani datang terlalu dekat, seolah2 mempunyai kedudukan yang berada dibawah kusir kereta itu.

Kusir kereta yang bertudung lebar memandang kepada dua wanita berbaju hijau dan berkata kepada mereka.

"Bantu nyonya Lian naik keatas kereta. Kita harus cepat."

Dengan diiringi oleh dua orang wanita berbaju hijau itu Sim Pek Kun naik keatas kereta.

Pang Tiauw Hui dan Liu Eng Lam memisahkan diri dari kereta berdiri sangat jauh sekali.

Sim Pek Kun semakin tambah curiga, maka dia memandang kepada kedua orang itu dan berkatalah mereka.

"Kalian tidak berkuda?"

Pang Tiauw Hui dan Liu Eng Lam menundukkan kepala mereka, sangat rendah kebawah. Sim Pek Kun berkata lagi.

"Mengapa kalian tidak naik serta kedalam kereta?"

Pang Tiauw Hui dan Liu Eng Lam tidak berani mendongakkan kepala mereka, seolah2 dua orang pesakitan yang merasa bersalah. Dan waktu itulah tiba2 si kusir kereta berkata lagi.

"Kamipun sudah cukup menjamin keselamatan nyonya Lian, tidak membutuhkan bantuan mereka lagi."

Yang diartikan oleh kusir kereta itu ialah tidak membutuhkan tenaga bantuan Pang Tiauw Hui dan Liu Eng Lam.

Kalau begitu, kedudukan kedua orang tersebut jelas masih berada dibawah sikusir kereta.

Sim Pek Kun memperhatikan wajah kusir kereta itu, sebagian besar tertutup oleh tudung lebar, maka ia jadi tidak dapat membedakan bentuk dan raut wajah orang tersebut.

Nama jago silat Golok Emas Pang Tiauw Hui dan Bu yu kiam khek Liu Eng Lam sangat tersohor, seharusnya kedudukkan mereka diatas kusir kereta itu, tapi keluarnya ucapan yang berupa perintah tadi, seolah olah sudah mnejadi atasan kedua orang tersebut, dan inilah ketidak wajaran.

Sim Pek Kun memandang tukang kereta dan bertanya .

"Kau siapa?"

"Kusir kereta."

Sim Pek Kun bertanya lagi.

"Dimana kau bekerja?"

"Dirumah keluarga Lian."

Jawab pula orang itu.

"Di rumah keluarg Lian?"

Sim Pek Kun menanti ketegasan. Kusir kereta yang bertudung lebar menganggukkan kepala.

"Betul"

Dia membenarkan pertanyaan SIm Pek Kun. Sim Pek Kun berkata lagi.

"Berapa lamakah kau bekerja, mengapa aku belum pernah melihat kau?"

Orang itu bungkam, dan memperlihatkan ketidak puasan, lalu tiba-tiba berkata .

"Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya tidak diucapkan, dan salah satu pertanyaan itu ialah pertanyaan nyonya Lian tadi. Banyak tanya akan mengakibatkan banyak kerewelan."

Sim Pek Kun belum dapat melihat dengan jelas wajah orang itu, tapi rasa curiganya semakin besar lagi, kini dia menduga pasti bahwa ada sesuatu yang tidak beres, karena itu ia berteriak kepada Liu Eng Lam dan Pang Tiauw Hui.

"Pang Tayhiap, Liu kongcu, siapa sebenarnya orang ini ? Dan apa sebetulnya yang sudah terjadi ?"

Pang Tiauw Hui mengeluarkan batuk keringnya, tetap tidak berani mendongakkan kepala, dengan gugup berkata .

"Teng.... teng..."

Pang Tiauw Hui dan Liu Eng Lam tidak mempunyai keberanian untuk mengatasi kesulitan itu. Si kusir kereta menekuk wajahnya, segera dia membentak kepada kedua wanita berbaju hijau .

"Tunggu apa kalian. Lekas tutup pintu kereta."

Dua wanita berbaju hijau itu segera lompat naik keatas kereta, tangan dan kaki mereka memang cekatan, gesit sekali. Sim Pek Kun berusaha melepaskan diri, tapi dia tidak berhasil, karena itulah dia berteriakteriak .

"Berani kalian berlaku kurang ajar dihadapanku ?"

Dan berteriak kepada Pang Tiauw Hui.

"Pang Tiauw Hui, sebagai kawan Lian Seng Pek, mengapa kau membiarkan mereka memperlakukan istrinya seperti ini ?"

Pang Tiauw Hui menundukkan kepala semakin rendah, seolah-olah ditanah ada sesuatu yang menarik hatinya, dia seperti sudah menjadi bisu dan tuli.

Kusir kereta lompat naik keatas tempat duduknya, dengan dingin ia berkata.

"Setelah nyonya bertemu dengan kongcu kami, segala sesuatu pasti akan lekas menjadi beres."

Sim Pek Kun mengeluarkan suara melengking tinggi.

"Kongcumu? Mungkinkah kongcu kecil yang ganas dan telengas itu?...."

Terpikir kepada pemuda kecil yang sangat telengas dan binal sekali, satu perasaan dingin merangsang tubuh Sim Pek Kun, tubuhnya menjadi gemetar lagi.

Kusir kereta tidak melayaninya, dan memandang kepada Pang Tiauw Hui dan Liu Eng Lam serta berkata kepada mereka .

"Pang Tayhiap, Liu kongcu, segeralah kalian berangkat."

Tanpa menunggu reaksi mereka lagi, kusir kereta itu sudah siap menjalankan keretanya.

Wajah Liu Eng Lam yang sudah pucat pasi itu, selalu matang membiru, dan disaat inilah tibatiba dia membalikkan badan, dari tangan kirinya tiba-tiba meluncur dua benda rahasia mengancam dua wanita berbaju hijau.

Tangan kanannya melempar sebuah belati langsung kearah kusir kereta tadi.

Gerakan Liu Eng Lam ini sangat cepat sekali, juga tepat dan kejam.

Kusir kereta dan kedua orang wanita berbaju hijau tidak menyangka kalau bakal terjadi hal tersebut, dikala mereka sadar senjata-senjata rahasia itu sudah mengenai sasaran.

Setelah terdengar tiga kali jeritan tertahan, tiga orang lantas kelihatan menggeletak di tanah.

Liu Eng Lam berhasil menolong Sim Pek Kun dari gangguan ketiga orang yang mau menculiknya.

Sim Pek Kun juga terkejut, ketika kusir kereta itu jatuh jumpalit tudungnya yang lebar terbuka, dan itulah wajah kepala salah satu dari anak buah Siao kongcu, yang sangat ditakuti.

Sebelum menghembuskan napas yang terakhir, kusir kereta itu masih sempat mengeluarkan ancaman kepada Liu Eng Lam .

"Kau.... kau.... berani kau ..."

Napasnya tersendat dan dalam keadaan demikianlah dia mengakhiri riwayat hidupnya.

Disaat itu si kusir kereta sudah menyambuk kuda, maka keretapun berangkat, dikala dia jatuh tepat sekali tubuhnya tergilas oleh keretanya sendiri.

Tubuh Liu Eng Lam sudah melesat terbang sangat tinggi sekali, dan dengan satu gebrakan dia sudah lompat ditempat duduk sang kusir, dengan cekatan dia menarik les kuda itu, kereta berhenti segera, Pang Tiauw Hui mendekatinya perlahan-lahan sekali, dengan membanting-banting kaki dia berkata .

"Liu Eng Lam.... kau.... kau sangat berani sekali.... Tidak terpikirkah olehmu, bahaya apa yang sekiranya bisa mengancam kita semua?"

Liu Eng Lam meringis.

"Oh, oh,...."

Pang Tiauw Hui berkata lagi.

"Aku tidak mengerti, apa yang menjadi maksud tujuanmu. Bukankah kau cukup mengerti apa yang akan dilakukan oleh siao Kongcu kepada orang2 yang berani berkhianat kepadanya?"

Liu Eng Lam mengepalkan kedua tangannya, kemudian berkata dengan perlahan.

"Kedudukan kita sudah kejepit sekali"

Pang Tiauw Hui berkata lagi.

"Tentu saja terjepit, karena kau berani menentang Siao Kongcu."

Liu Eng Lam berkata.

"Tapi kau juga tidak lepas dari tanggung jawab ini"

Pang Tiauw Hui berkata.

"Aku tahu. Aku terseret kedalam jurang kesusahan.... inilah gara gara perbuatanmu. Tapi.... tapi.... apa yang menyebabkan sampai kau berani berbuat seperti ini?"

Liu Eng Lam menoleh kearah Sim Pek Kun dikereta, dengan sepatah demi sepatah dia berkata.

"Biar bagaimana aku tidak akan membiarkannya terjatuh kedalam rombongan tangan iblis jahat itu."

Sampai ini waktu, ketegangan Sim Pek Kun mulai mereda, urat syarafnya yang ditekan terus menerus, hampir menjadi kejang karenanya.

"Liu kongcu..."

Dia berkata kepada Liu Eng Lam, suaranya terharu.

"Aku... berterima kasih kepadamu."

Dan dia menoleh serta memandang kepada Pang Tiauw Hui, sekejap kata tidak dikeluarkan olehnya.

Jago Silat Golok Emas Pang Tiauw Hui tidak memberikan reaksi sesuatu apa, setelah menghela napas ia berkata.

"Aku tahu, kau sakit hati kepadaku."

Sim Pek Kun mengeretek gigi, mulutnya sudah berkatup2 seolah-olah hendak mengucapkan sesuatu, tapi kata2 itu tidak keluar dari mulutnya, itulah kata yang kejam bagi Pang Tiauw Hui, karena tidak mau menyakiti hati lebih dalam lagi, maka ditelannya kembali kata2 tadi.

Pang Tiauw Hui menghela napas kembali, menundukkan kepala dan berkata dengan suara rendah.

"Bukan maksudnya tidak mau menolong, tapi apa guna menolongmu? Kau, Liu Eng Lam dan aku bertiga andaikan menjadi satu, juga bukan tandingannya Siao Kongcu seorang. cepat atau lambat pasti kita akan terjatuh ketangan mereka. Karena itulah lebih baik kita menyerah saja."

Teringat akan tangan kejamnya Siao Kongcu ini, Pang Tiauw Hui menggigil dingin, seram sekali. Sim Pek Kun berkata gemas.

"Ternyata kalian juga menjadi begundal begundalnya?"

Liu Eng Lam menggoyangkan kepala, segera dia memberi penjelasan.

"Lian-hujin jangan salah mengerti, kami bukan anak buah Siao-kongcu."

Sim Pek Kun berkata.

"Mengapa kalian mau mendengar perintahnya "?"

"Kami "

Kami ""

Liu Eng Lam tidak meneruskan kata-katanya. Pang Tiauw Hui berkata.

"Inilah mendapat tekanannya."

Sim Pek Kun berkata lagi.

"Pantas kalian tahu bahwa aku berada dalam kelenteng rusak itu. Ternyata atas perintah Siaokongcu itu."

Pang Tiauw Hui menganggukkan kepala, dengan perlahan dia berkata.

"Bila tidak ada petunjuk orang, bagaimana kami tahu bahwa Lian-hujin berada didalam kelenteng itu?"

Sim Pek Kun belum keluar dari keretanya, dan kepada kedua orang itu dia berkata perlahan.

Ternyata kalianlah yang bersalah, kalian bukanlah kawan sejati, laki-laki kotor itulah yang telah kupersalahkan, ternyata hatinya lebih bersih dari hati kalian berdua "

Sim Pek Kun memberi penilaian lain kepada Siauw Cap-it-long!

Untuk menolong nyonya cantik-jelita itu Liu Eng Lam sudah mempertaruhkan jiwanya, tapi hanya sebaris kalimat ucapan terima kasih saja yang diterima olehnya, dan sesudah itu Sim Pek Kun memberi pujian kepada seorang laki-laki yang asing dan belum dikenalnya.

Karena inilah dia tidak puas, dengan dingin dia berkata.

"Terima kasih "

Orang itupun bukan orang baik, mana kau tahu dia mengandung maksud sesuatu yang tertentu!"

Pang Tiauw Hui menekuk wajahnya, bergumam kepada kawan tersebut. "Seperti kau juga."

Liu Eng Lam menolehkan kepala, ia membentak.

"Aku? Mengapa kau menyebut diriku?"

Pang Tiauw Hui tertawa dingin, kemudian berkata.

"Jangan kau sangka aku tidak tahu maksud-maksud tertentu dari tujuanmu, heh? Sudah lama kuduga akan terjadinya peristiwa yang seperti ini."

"Saat apa?"

Bertanya Liu Eng Lam. Dengan geram Pang Tiauw Hui berkata.

"Sudah lama aku tahu bahwa kau gemar sekali pada paras cantik, tapi matipun tidak kuduga semula, bahwa kau berani mengatasi nyonya cantik-jelita ini, berani kau menanggung-jawab dari segala akibatnya. Berpikirlah kembali. Apa kiramu Lian Seng Pek mau tinggal peluk tangan bila sampai diketahuinya nyonyanya diganggu olehmu?"

Dikala Sim Pek Kun hampir dibawa lari oleh kusir kereta Siao kongcu itu, Pang Tiauw Hui berpeluk tangan, tidak memberi bantuan, tapi Liu Eng Lam mempertaruhkan jiwanya, dan membunuh dua wanita berbaju hijau serta kusir bertudung lebar itu, karena inilah Sim Pek Kun lebih simpatik pada Liu Eng Lam.

Kini nama dan jiwa Liu Eng Lam dicemoohkan orang, tentu saja dia marah, segera dia membentak .

"Pang Tiauw Hui, jangan kau mengucap yang bukan-bukan ! Liu kongcu bukanlah orang yang seperti kau sebutkan itu !"

Pang Tiauw Hui tertawa dingin, kemudian berkata .

"Jangan kau kira ia seorang baik. Terus terang kukatakan padamu, pada waktu-waktu belakangan ini, setiap bulan perawan perawan dan gadis-gadis cantik jatuh kedalam tangannya, wanita-wanita yang dipermainkan dan dijebloskan kedalam lumpur kenistaan oleh Liu Eng Lam, paling sedikit ada sepuluh orang, atau sekurang-kurangnya belasan, tidak ada orang yang tahu, perbuatan siapa yang jahat itu. Tapi aku tahu, itu adalah perbuatan Bu yu Kiam-khek Liu Eng Lam ini !"

Pernah juga Sim Pek Kun mendengar cerita adanya seorang tokoh silat yang gemar pada paras cantik, tukang merusak kehormatan wanita dan gadis gadis perawan, tapi Sim Pek Kun tidak tahu siapa tokoh silat itu.

Hanya orang menduga kepada Siauw Cap-it-long, mengingat nama Siauw Cap-it-long yang sudah jelek itu, dan Siauw Cap-it-long tidak berusaha menampilkan dirinya untuk mencuci tuduhan tuduhan tadi.

Karena itulah dugaan kepada Siauw Cap-it-long semakin keras.

Kalau begitu, orang yang mengganggu kesucian gadis-gadis dan perawan-perawan itu adalah Liu Eng Lam.

Mungkinkah ada kejadian seperti ini ?

Sim Pek Kun tertegun.

Ia memaku di tempatnya.

Entah apa yang sedang dipikirkan olehnya.

Dicuci maki didepan seorang wanita yang cantik jelita, tentu saja Liu Eng Lam menjadi marah, dengan tiba-tiba saja ia menggeram keras, disertai dengan suara bentakannya .

"Pang Tiauw Hui, jangan kau berlaku kurang ajar ! Kau sendiri manusia apa sebetulnya ? Bila tidak ada bantuanku, kau kira kau bisa...."

"Bantuan siapa ?"

Tanya Pang Tiauw Hui "Bantuan kau kah ? Tidak tahu malu, rahasiarahasiamu ini jatuh ketangan Siao kongcu dan Siao kongcu memberi tahu kepadaku, karena itulah aku tahu."

Liu Eng Lam membentak .

"Kau kira aku tidak tahu rahasia-rahasiamu ? Aku tahu Siao kongcu juga pernah berkata kepadaku tentang kesalahan-kesalahanmu."

Pang Tiauw Hui membentak keras .

"Fitnah ! Kesalahan apa yang aku perbuat ? Jangan kau sembarang memfitnah, katakan segera !"

Liu Eng Lam berkata tenang .

"Tentu saja, sekarang tidak ada yang berani mengganggu atau mengutak-utikmu. Karena kau adalah seorang hartawan yang ternama, kau adalah seorang tokoh silat yang ternama, kau mempunyai perusahaan Piauw kiok yang ternama. Sayang kekayaan dan perusahaanmu itu didapat secara tidak halal. Jangan kau kira aku tidak tahu, dengan cara membuka perusahaan Piauw kiok itu secara menggelap kau mengadakan pembunuhan-pembunuhan, kau mengadakan perampokan perampokan, caramu ini terlalu licik sekali. Kau membunuh orang yang mempercayakan barang itu kepadamu. Kau membunuh orang yang mengirimkan harta benda kepadamu. Dengan demikian harta kekayaan dan uang-uang mereka itu jatuh kedalam tanganmu. Kau melakukan perbuatan-perbuatan ini secara sembunyi-sembunyi; Jangan kira tidak ada yang tahu, heh ! Aku tahu, Siao kongcupun tahu...."

Pang Tiauw Hui melompat bangun, dia membentak dengan suara keras .

"Anjing kau.... binatang kau...."

Pang Tiauw Hui dan Liu Eng Lam adalah dua tokoh silat kenamaan, mereka adalah jago-jago yang sangat berwibawa, pakaian dan dandanan mereka beserta juga tingkah laku mereka adalah tingkah laku seorang sopan yang terpuji, sangat hormat sekali, tapi dalam keadaan yang seperti sekarang ini seolah-olah sudah seperti dua ekor anjing gila, saling cakar, saling maki, dan saling caci.

Perdebatan masih berlangsung terus.

Pang Tiauw Hui membentak lagi .

"Kau manusia anjing, kerjamu merusak wanita suci ! Tidak adillah rasanya Tuhan memelihara manusia seperti kau ini !"

Denga suara yang tidak kalah geramnya, dengan nada yang tidak kalah tingginya, Liu Eng Lam segera membalas .

"Kau bajingan tengik.... kau perampok ulung.... manusia berselimut serigala.... Tuhan wajib mengutuk dirimu, cukuplah sudah waktunya kau harus mati !"

Jago Golok Emas Pang Tiauw Hui membentak lagi .

"Kau adalah seorang kongcu hidung belang ! Liu Eng Lam, betul-betul kau gila pipi licin, melihat nyonya Lian Seng Pek, timbul niatan jahatmu, sehingga berani menentang perintah Siao kongcu ! Lupakah kau kepada kekejaman Siao kongcu, karena perbuatan kau ini, aku dapat terseret olehmu ! Kematian sudah berada diambang pintu untukmu."

Liu Eng Lam berkata lagi .

"Kau hendak mencuci diri ?"

"Tentu."

Berkata Pang Tiauw Hui.

"Aku tidak turut serta dalam penghianatanmu ini, hanya kau yang membunuh ketiga orangnya, bukan aku."

"Tapi Siao kongcu tidak mau perdulikan soal itu. Kukira, lebih baik kau bekerja sama denganku."

Bujuk Liu Eng Lam.

"Tidak !"

Pang Tiauw Hui menolak "Siapa kesudian harus bekerja sama dengan orang kotor seperti kau ?"

"Lalu kau mau apa ?"

"Menangkap dan menyerahkan dirimu kepada Siao kongcu !"

Bentak Pang Tiauw Hui.

"Kau mampu ?"

Liu Eng Lam menantang.

"Mengapa tidak ?"

Pang Tiauw Hui sudah mengeluarkan goloknya.

Persiapan pertempuran segera terjadi.

Liu Eng Lam mengeluarkan pedangnya.

Dua jago itu sudah bersitegang keras sekali.

Dari dua jago yang ternama menjadi dua ekor anjing gila, Pang Tiauw Hui dan Liu Eng Lam bertempur.

Satu dengan golok ditangan dan satu dengan pedang, mereka sudah mulai bertempur.

Nyonya cantik jelita Sim Pek Kun mengikuti perdebatan mereka tadi, dan kini dibiarkan lagi kedua jago itu bertempur.

Angin menderu-deru, sinar pedang dan golok berkilat-kilat, menggulung kedua jago yang masing-masing mempunyai pendirian lain, pertempuran itu berjalan hebat sekali.

Sim Pek Kun dilahirkan dalam suatu keluarga besar yang berkepandaian silat, sedikit banyak ia dapat memberi ukuran yang agak tepat, pertempuran Liu Eng Lam dan Pang Tiauw Hui tidak mungkin selesai dalam waktu yang singkat, karena tenaga dalam mereka dan tipu-tipu silat mereka seimbang.

Paling sedikit harus memakan waktu tiga ratus jurus, baru dapat diselesaikan.

Dua orang yang bertentangan pendapat bertempur hebat, Liu Eng Lam hendak menolong si cantik jelita Sim Pek Kun karena ia sayang kepada kecantikan nyonya itu, dan hendak digunakan sendiri, tidak mau diserahkan kepada Siao kongcu.

Pang Tiauw Hui masih takut kepada kekuasaan Siao kongcu, maka dia tidak mau diturut sertakan didalam pemberontakan tadi.

Dan dengan maksud menangkap Liu Eng Lam dia dapat menarik pahala lain.

Sim Pek Kun mengertek gigi, ia tahu bahaya yang sedang mengancam dirinya, maka biar bagaimana dia harus berusaha meninggalkan tempat itu.

Sim Pek Kun membuka jendela kereta, dan disana terdapat bangsal tempat duduk si kusir, diangkatnya bangsal tempat duduk itu dan dilempar kearah kuda.

Terdengar ringkikan kuda yang merasa sakit terkena pukulan bangsal tempat duduk tadi, empat kaki kuda terangkat naik dan kabur pergi, gerakan ini disertai oleh kuda disampingnya, dengan membawa kereta yang terdapat Sim Pek Kun, kaburlah binatang-binatang itu.

Kejadian ini tidak disadari oleh Liu Eng Lam dan Pang Tiauw Hui.

Kereta yang membawa Sim Pek Kun lari kencang.

Kuda yang menarik kereta berlari semakin keras, keadaannya sangat berbahaya, tapi Sim Pek Kun membiarkan kejadian itu berlangsung terus, ia tidak berusaha menghentikannya dan juga tidak berusaha lompat keluar dari kereta.

Dia lebih suka mati tertumbuk batu atau terpelanting jatuh, dia tidak bersedia jatuh ketangan Liu Eng Lam.

Liu Eng Lam adalah Kongcu hidung belang, kongcu yang sering memperkosa wanita.

Goncangan kereta yang tidak terkendalikan itu sangat keras sekali, Sim Pek Kun diobrakabrikkan didalam kereta, kakinya yang mulai kejang terasa sangat sakit, tapi dia membiarkannya begitu saja.

Sengsara badan yang dirasakan olehnya tidak berarti bilamana dibandingkan dengan suara hati yang tidak terperihkan itu.

Seseorang yang hendak menunggu ajal kematiannya sering berpikir yang bukan-bukan dan sering berpikir kejadian-kejadian yang aneh, sering berpikir tentang sesuatu yang belum pernah terpikir olehnya.

Dan kejadian ini, bayangan yang terpikir oleh Sim Pek Kun bukan bayangan ibu bapaknya juga bukan bayangan suaminya, itulah suatu bayangan yang sangat asing, bayangan seorang laki-laki dengan pakaian yang compang-camping, dengan sepasang matanya yang liar dan nakal menatap kearahnya, itulah Siauw Cap-it-long.

Kalau saja tadi dia mau percaya keterangan laki-laki itu, tidak akan mungkin dapat terjadi kejadian seperti ini.

Inilah suatu kesalahan.

Suatu kesalahan yang membawa akibat panjang, dan dia harus menerima akibat-akibatnya sekarang.

Lenyap bayangan Siauw Cap-it-long baru terpeta bayangan Lian Seng Pek.

Kalau saja suami itu bersedia mendampingi dirinya, mana mungkin dapat terjadi kejadiankejadian yang seperti ini ?

Tidak mungkin.

Lian Seng Pek mempunyai ilmu kepandaian yang tinggi, dan sang suami itu cukup untuk menjamin keselamatan dirinya.

Sim Pek Kun memberi sesalan yang tidak terhingga kepada Lian Seng Pek.

Timbul suatu niatannya yang berontak pada kenyataan, dia pikir .

Bilamana aku dinikahkan dengan seseorang biasa saja, bukan seorang jago silat seperti Lian Seng Pek, takkan mungkin semua ini terjadi.

Hidupku tenang tidak bergelombang, dan cukup puas setiap hari didampingi oleh seorang suami yang sangat mencinta.

Terbayang kembali wajah laki-laki bermata liar itu.

Nah, bayangan Siauw Cap-it-long lagi.

Suatu perbandingan yang menyolok mata sifat-sifat Lian Seng Pek dan Siauw Cap-it-long berbeda sekali.

Sim Pek Kun berpikir .

"Kalau aku kawin dengan laki-laki itu, tentunya tidak seperti Lian Seng Pek yang lebih mementingkan usaha daripada istri sendiri...."

Inilah akibat suatu pikiran yang sudah berontak kepada kenyataan, entah bagaimana Sim Pek Kun mempunyai pikiran yang bukan-bukan, mungkinkah dia dapat kawin dengan Siauw Capit-long ?

Kereta masih berguncang terus, kaki-kaki kuda berketoprakan ditanah, membawa penumpangnya lari tanpa tujuan.

Apapun tidak dipikir kembali oleh Sim Pek Kun, dia memeramkan matanya, dan bersedia menerima kematian.

Mati jatuh kedalam jurang, atau tertumbuk kebatu besar, adalah lebih baik dari pada jatuh kedalam tangan Liu Seng Lam.

Tiba-tiba "

Terdengar satu suara benturan yang sangat keras, kereta itu rusak dan jatuh jumpalitan.

Nasib Sim Pek Kun belum ditakdirkan mati, kebetulan sekali tubuhnya terpelanting pada daun pintu kereta, pintu itu terjeblak terbuka dan tubuh si nyonya cantik-jelita jatuh, jatuhnyapun demikian tepat, ia jatuh diatas rumput-rumput yang tebal, walaupun sangat sakit sekali, dia tidak sampai mati.

Ternyata kuda itu telah menyeret kereta menubruk sebuah pohon besar, dan hanya dengan sisa kayu-kayu kereta saja sang kuda masih melarikan diri terus meninggalkan kereta yang sudah hancur rusak ditempat itu.

Sim Pek Kun terbaring didalam keadaan yang sakit sekali.

Dimisalkan Sim Pek Kun tidak terlempar keluar dari kereta itu, sudah pasti jiwanya melayang pergi.

Inilah peruntungannya yang masih bagus.

KAWIN PAKSA SIM PEK KUN tidak segera bangkit dari tempat jatuhnya semula, dia terbaring ditempat itu beberapa lama, dengan memejamkan kedua matanya.

Dikala Sim Pek Kun membuka kedua matanya, dia menyaksikan suatu pemandangan yang menakutkan.

Didepannya berdiri seseorang, itulah Liu Eng Lam.

Liu Eng Lam sudah berdiri di depan Sim Pek Kun, tapi wajahnya sudah berlainan sama sekali, gerak geriknya bukanlah gerak gerik yang tadi diperlihatkan.

Pipi Liu Eng Lam sudah matang biru, bengap seperti habis dipukul orang, tubuhnya menggigil seperti orang kedinginan, seolah-olah takut kepada Sim Pek Kun.

Mengapa Liu Eng Lam takut kepada Sim Pek Kun?

Inilah yang sedang dipikirkan oleh si nyonya cantik jelita.

Seharusnya dialah yang takut kepada kongcu hidung belang itu.

Lama sekali Liu Eng Lam berdiri, lalu perlahan-lahan dia menghampiri korbannya.

Yang heran ialah wajah Liu Eng Lam tidak memperlihatkan satu wajah yang riang gembira, seolah-olah napsu birahinya sudah lenyap sama sekali.

Gerakannya sangat lambat, seolaholah dibanduli oleh besi yang beratnya ratusan kilo.

Sim Pek Kun menjadi begitu takut, segera dia hendak melarikan diri, tapi tidak berdaya.

Ia hendak bangkit dan berjalan, tapi segera jatuh lagi. Liu Eng Lam maju tiga tapak lagi. Sim Pek Kun segera membentak.

"Berhenti! Berani kau maju setapak lagi, segera aku bunuh diri di hadapanmu."

Kongcu hidung belang Liu Eng Lam ternyata bisa dengar kata, betul-betul dia berhenti.

Tidak maju lagi.

Sim Pek Kun mengeluarkan keluhan napas lega.

Apa yang menyebabkan perubahan Liu Eng Lam?

Mengapa dia begitu jinak?

Jawaban ini sangat sulit diduga, sebab saat inilah tiba-tiba terdengar satu suara, datangnya dari arah Liu Eng Lam.

"Jangan takut, dia tidak mungkin mati, dia juga tidak mungkin bisa bunuh diri. Siapakah yang bisa mati tanpa ijin dariku?"

Suara ini sangat merdu, berwibawa, inilah suara si anak kecil yang jahat itu, Siao kongcu!

Kata-kata Siao kongcu ditujukan kepada Liu Eng Lam.

Wajah Liu Eng Lam berubah, rasa takutnya hinggap terulang kembali.

Betapa kejamnya Siao kongcu itu, ia sudah tahu betul.

Bukan sekali ini Sim Pek Kun mendengar suara Siao kongcu, berulang kali dia pernah mendengarnya, itulah suara yang paling menyeramkan.

Sangat masuk di akallah bila Liu Eng Lam ketakutan setengah mati, ternyata Siao kongcu berada di belakangnya.

Bentuk tubuh Siao kongcu terlalu kecil, ia berada di belakang tubuh Liu Eng Lam, karena itulah Sim Pek Kun jadi tidak dapat melihatnya.

Adanya Siao kongcu di tempat ini betul-betul memaksa Sim Pek Kun tidak bisa mati.

Didepan Siao Kongcu yang berkepandaian tinggi, siapa yang bisa bunuh diri ?

Terlihat satu bayangan kecil melesat, tahu-tahu Siau Kongcu sudah berada didepan Sim Pek Kun, dengan tertawa haha hihi, dengan suara yang seperti manis budi, gadis berpakaian pria ini berkata .

"Nyonya-ku yang baik, jangan harap kau bisa mati, kau akan lebih sengsara lagi. Kukira kau sedang berada dalam keadaan kesepian, maksudku ialah memberi kau seorang kawan untuk mendampingimu."

Siao Kongcu mengenakan baju luar berwarna merah, diatas kepalanya hitam jengat bertudung kopiah kuning emas, tertiup angin dan bergoyang-goyang, wajahnya yang putih bersemu kemerah-merahan itu benar-benar bisa membuat orang terpikat kepadanya.

Seharusnya orang yang seperti ini adalah orang yang menarik hati.

Kenyataan tidak.

Menyaksikan munculnya Siao Kongcu ditempat itu membuat Sim Pek Kun ketakutan sekali, seolah-olah bertemu dangan ular yang sangat berbisa, seekor binatang yang paling ditakuti didalam dunia.

Baca Juga: Bara Naga 5

Baca Juga: Lima Jago Luar Biasa 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert