Eps 2 Anak Berandalan - Khu Lung
Baca online Anak Berandalan - Khu Lung
Cersil Anak Berandalan - Khu Lung.
Orang berbaju hijau itu juga tidak menjawab, ia mencecar dengan hebatnya, hanya tampak sinar goloknya yang berputar piteran demikian rapat, mengamcam di Raja Garuda Lengan Satu.
Si Raja Garuda Lengan Satu berhasil mengelakkan serangan genjar itu, dengan tiba tiba ia lompat mundur dan berkata sambil tertawa terbahak bahak .
"Siauw Cap it-long ! kiranya adalah kau !"
Orang berbaju hijau itu juga berkata sambil tertawa lebar .
"Raja Garuda benar benar tajam matamu !"
Diantara suara tertawanya, orang berikut goloknya sekali dengan tiba tiba sudah menjadi satu, merangsek kedepan. Begitu sinar goloknya berkelebat, orangnya sudah lompat keluar melalui lobang jendela.
SI Raja Garuda Lengan Satu memperdengarkan suara hardiknya, ia juga lompat keluar pergi mengejar.
Diluar gelap gulita dan sunyi senyap, hanya sinar bintang yang menyinari bumi, sidah tidak tampak lagi bayangan Siauw Cap it-long.
Hong Sie Nio waktu itu sudah berada didalam kamar, sambil meukar pakain mulutnya terus memaki maki dengan suara yang sanat perlahan, tidak tahu siapa yang dimaki olehnya, juga entah ucapan apa yang keluar dari mulutnya.
Hanya diwajahnya tidak tampak tanda marah, sebaliknya malah merasa gembira terutama ketika ia melihat kotak golok diatas tempat tidur, dibibirnya tersungging senyum manis.
Golok Kwa-liok-to yang dipikirkan siang hari malam olehnya itu, akhirnya terjatuh juga ketangannya.
Lantaran golok itu, Hong Sie Nio benar benar sudah memeras otak dan tenaga, beberapa hari berselang, ia sudah tiba dikota itu, sebab ia sudah menghitung dengan pasti bahwa Thio Bu Kek pasti melalui kota ini.
Diluar kota, ia menyewa sebuah rumah kecil ditempat sepi, lalu pergi mencari lagi kepada Ma Hwe Hwe.
Ma Hwe Hwe adalah seorang yang cukup setia kawan, dahulu karena pernah hutang budi padanya, sudah tentu ia tak boleh tidak harus memberikan bantuannya.
Tetapi si Raja Garuda Lengan Satu sesungguhnya merupakan seorang tokoh yang tangguh, hingga hampir saja ia sendiri yang terjatuh dicengkeraman raja garuda.
Djikalau bukan lantaran datangnya Siauw Tjap-it-long.....
Teringat diri Siauw Tjap-it-long, ia mendadak merasa gemas.
Baru saja ia membetulkan kancing leher dibajunya, diluar jendela tiba tiba terdengar suara orang menghela napas panjang, katanya dengan suara sedih .
"Dinasehatkan tuan tuan sekali2 jangan berkawan dengan orang perempuan, lebih2 jangan membantu perempuan. Kalau kau membantu juga padanya, ia sebaliknya bisa kabur, dan meninggalkan kau seorang diri biar terjemur juga."
Mendengar suara itu, wajah Hong Sie Nio semakin merah, tanpa disadari olehnya kancing yang baru diperbaiki tadi juga dipatahkan olehnya, tampaknya ia sudah ingin menendang hancur jendela tetapi kemudian ia menahan sabar lagi, sebaliknya malah tertawa terkekeh kekeh dan berkata.
"Sedikitpun tidak salah, aku justru merasa gemas dan ingin kau terjemur mati disitu biar si Raja Garuda Lengan satu itu mengorek hatimu, sebetulnya bagaimana rupanya entah hitam atau merah?"
Daun jendela terbuka sedikit, Siauw Tjap-it-long menongolkan mukanya, katanya sambil tertawa cekikikan.
"Entah hatiku entah hatimu yang hitam?"
"Kau masih berani mengatai aku?
Aku ini sejujur hatiku minta kau bantu aku, tapi kau menolaknya dengan alasan rupa2, lantaran terpaksa aku pergi sendiri, tapi kau diam2 mengikuti aku, hampir aku akan berhasil kau muncul dengan mendadak.
Ingin enak2 tanpa mengeluarkan keringat memungut hasil orang. Coba kau pikir sendiri, kau ini orang apa?"
Ia semakin berkata semakin marah, akhirnya ia tidak dapat kendalikan emosinya dan lompat menerjang jendela hingga dijendela itu terbuka satu lubang besar, ia rupanya begitu gemas sekali, dan mengharap bahwa yang ditendang tadi adalah muka Siauw Tjap-it-long.
Namun Siauw Tjap-it-long siang2 sudah kabur jauh2, setelah itu ia balik kembali dan berkata sambil tertawa.
"Sudah tentu aku bukan barang, sudah jelas aku adalah orang, bagaimana kau katakan barang?"
Ia menghela napas dan lalu menggumam sendiri.
"Mungkin aku benar2 tidak harus datang biar saja sisetan kepala besar tadi mencium kakimu yang bau busuk, biar ia mabok dan mati, dan aku juga sudah tidak perlu lagi....."
Hong Sie Nio berteriak, katanya sambil memaki-maki.
"Kentutmu! Bagaimana kau tahu kalau kakiku bau busuk? Apa kau sudah pernah menciumnya?"
"Aku tidak mempunyai kegembiraan seperti itu"
Menjawab Siauw Tjap-it-long sambil tertawa. Hong Sie Nio saat itu juga merasakan bahwa dengan ucapannya itu, sebetulnya mencari kesulitan sendiri, maka ia lalu berkata lagi dengan muka merah.
"Sekalipun benar kau telah membantu aku, tapi aku juga tidak suka menerima budimu. Sebab kau sama sekali bukan menolong aku tadi, yang kau maksudkan hanya golok itu saja"
"oh!"
"Jikalau kau benar datang hendak menolong aku, mengapa kau tidak perdulikan orangnya, sebaliknya merampas goloknya lebih dahulu?"
Siauw Tjap-it-long geleng-gelengkan kepala, katanya sambil tertawa getir.
"Perempuan ini sedikitpun tidak mengerti akal muslihat suara ditimur menyerang dibarat..... Sekarang kutanya padamu. jikalau aku tidak merampas goloknya itu lebih dulu, mana bisa demikian mudah ia melepaskan kau?"
Itu memang benar juga, hingga Hong Sie Nio jadi terdiam.
Sebab apabila Siauw Tjap it long waktu itu tidak merampas goloknya lebih dulu, atau kalau ia menyerang orangnya lebih dahulu, ia sendiri mungkin sudah dilukai oleh raja garuda lengan satu.
Sementara itu Siauw Tjap it long sudah berkata.
"Jikalau ada seekor tikus coba naik ke gelasmu, apa kau dapat menggunakan batu untuk memukulnya? Apakah kau tidak takut akan memecahkan gelasmu sendiri?"
"Ialah, hitung-hitung kau pandai bicara....."
Berkata Hong Sie Nio dengan muka cemberut.
"Aku tahu dalam hatimu juga sudah mengerti kesalahanmu, tetapi mulutmu tetap tidak mau mengakui."
Berkata Siauw Tjap it long sambil tertawa geli.
"Bagaimana kau tahu isi hatiku? Apakah kau cacing dalam perutku?"
Justru karena dalam hatimu mengakui salah, lalu kau berterima kasih kepadaku, maka aku jadi berani demikian galak.
Asal dalam hatimu sudah berterima kasih kepadaku, apa yang keluar dari mulutmu juga tidak ada arti apa-apa.
Hong Sie Nio meskipun ingin cemberutkan mukanya, tapi akhirnya tak tahan merasa gelinya.
Hati perempuan memang sangat aneh, terhadap laki-laki yang tidak ia senangi, hatinya bisa keras bagaikan baja, tetapi kalau ketemu laki=laki yang disukanya, hatinya tidka bisa keras lagi.
KEPANDAIAN ORANG LELAKI Siauw Cap-it-long terus memandang ke arah Hong Sie Nio, seolah-olah orang terkesima.
Hong Sie Nio pendelikan matanya, katanya sambil tertawa geli .
"Apa yang kau lihat ?"
"Kau ternyata tidak mengerti. Saatnya yang paling menarik dan paling manis bagi seorang perempuan, sewaktu ia sedang cemberut, tetapi tidka sanggup menahan rasa gelinya. Kesempatan ini mana boleh aku lewatkan begitu saja?"
Jawab Siauw Cap-it-long.
"Cis! Kau jangan terlalu menyanjung aku. Sebetulnya apa yang sedang terpikir dalam hatimu, semua aku tahu."
"Oh! sejak kapan kau juga sudah berubah menjadi cacing dalam perutku ?"
"Kali ini dugaanmu meleset, dalam hatimu sudah tentu penasaran, selalu pikir dari aku sini untuk mendapat kembali sedikit keuntungan. Betul tidak ?"
"Itu juga bukan, tapi...."
Ia tertawa dan berkata lagi .
"Kau sudah memiliki golok Kwa-liok-to, untuk apa pedangmu Na-giok itu ?"
"Aku sudah tahu kau bangsat kecil ini memang sedang mengincar pedangku itu.... , Tapi baiklah, mengingat kau masih demikian berbakti terhadap aku, sekarang biarlah pedang pusaka ini kuhadiahkan kepadamu."
Ia lalu mengeluarkan pedang, dilemparkan keluar jendela. Siauw Cap-it-long menyambut datangnya pedang dengan kedua tangannya, lalu berkata sambil tertawa .
"Terima kasih."
Ia menghunus pedangnya, dielus-elus dengan mesra, sedang mulutnya mengguman sendiri .
"Benar saja sebilah pedang yang sangat bagus sekali, Tapi sayangnya dipakai hanya oleh kaum wanita saja."
Hong Sie Nio mendadak bertanya . "Oh ya, kau menghendaki pedang kaum wanita ini untuk apa ?"
"Sudah tentu hendak kuberikan kepada seorang wanita."
Menjawab Siauw Cap-it-long sambil tertawa.
"Hendak kau berikan kepada siapa ?"
Bertanya Hong Sie Nio sambil mendelikkan matanya.
"Kuberikan kepada siapa, sekarang ini aku masih belum tahu, tapi biar bagaimana aku pasti akan dapat menemukan seorang wanita yang cocok untuk kuberikan pedang ini, kau jangan khawatir."
Hong Sie Nio gigit bibir, katanya .
"Baik! Tapi kalau kau nanti sudah menemukan, kau harus beritahukan padaku!"
"Baik sekarang aku hendak pergi mencari."
Siauw Cap-it-long lalu memutar dirinya hendak berlalu, Hong Sie Nio kembali berseru padanya .
"Tunggu dulu."
Siauw Cap-it-long lambat-lambat membalikkan tubuhnya dan bertanya .
"Masih ada perintah apa lagi ?"
Sepasang biji mata Hong Sie Nio berputaran , ia mengambil golok Kwa-liok-to di atas pembaringan katanya .
"Apakah kau tidak ingin melihat golok ini ?"
"Tidak."
Jawabannya itu ternyata demikian tegas, hingga mengejutkan Hong Sie Nio, tanyanya .
"Kenapa ?"
Siauw Cap-it-long tertawa, kemudian berkata .
"Sebab ......., jikalau dugaanku tidak keliru, golok ini tentunya barang palsu!"
"Barang palsu ? berdasar atas apa kau menganggap golok ini palsu ?"
"Sekarang hendak ku tanya kepadamu, Thio Bu-kek, To Siao Thian, dan Hay-leng-tju, tiga orang ini bagaimana dalam pandangan matamu?"
"Tiga orang itu semua bukanlah orang baik-baik."
Menjawab Hong Sie Nio sambil tertawa dingin.
"Kalau begitu, kenapa mereka mencari siluman tua si raja garuda lengan satu itu dan dengan rela hati mereka malah di bikin mendongkol olehnya, bahkan masih mennyerahkan golok kepadanya, dan setelah urusan berhasil juga dia seorang nanti yang akan unjuk muka ? Seorang tokok lihay seperti Thio Bu-kek, sebab apa dapat melakukan perbuatan setolol itu ?"
"Coba kau kata apa sebabnya ?"
"Justru disebabkan mereka hendak menggunakan si Raja Garuda Lengan Satu ini sebagai setan pengganti nyawa mereka menjadi sasaran anak panah."
"Sasaran anak panah ?"
"Mereka sudah tahu betul bahwa sepanjang jalan ini sudah pasti ada banyak orang yang bisa merampas golok pusaka itu dan orang yang berani merampas golok itu, sudah tentu memiliki kepandaian cukup, maka itu mereka lalu menyerahkan sebilah golok yang palsu pada Su khong Cu biar semua orang pergi merampas golok paslu itu, dan dengan demikian mereka baru dapat mengantarkan golok yang tulen ke tempatnya dengan selamat."
Ia menghela nafas dan berkata pula .
"Coba kau pikir, jikalau mereka tidak tahu golok itu sebenarnya adalah palsu, disini kita bertempur demikian hebat, mengapa mereka bertiga tidak ada satupun yang datang membantu ?"
"Dalam hal ini mungkin disebabkan mereka takut mengganggu Su-khong Cu......
bahkan mereka memang berdiam di tempat lain, Ma Hwe Hwe hanya menyediakan satu tempat saja untuk Su-khong Cu seorang menginap.
"Jikalau benar golok yang di bawa Su-khong Cu itu adalah golok yang tulen, apakah mereka tidak khawatir ia seorang diri berdiam disini ?"
Hong Sie Nio kini tidak dapat berkata apa-apa lagi. Ia berdiam sekian lama, dengan mendadak mengeluarkan goloknya, katanya dengan suara keras .
"Tidak peduli apa juga katamu, aku tetap tidak percaya kalau golok ini kau bilang barang palsu!"
Golok itu kelihatannya memang sangat bagus, sinarnya berkilauan menyilaukan mata.
Tetapi kalau diperiksa dengan seksama dapat di temukan bahwa sinarnya yang berkilauan itu ada buram-buram sedikit, seperti tusuk konde yang yang di lapis mas.
Siauw Cap-it-long menghunus pedang Na-gioknya dan berkata .
"Jikalau kau tidak percaya, coba saja kau uji!"
Sambil gigit bibir Hong Sie Nio melesat keluar dari lubang jendela, dan goloknya digunakan untuk membabat pedang Na-giok di tangan Siauw Cap-it-long.
Sesaat kemudian terdengar suara nyaring beradunya dua senjata tajam itu.
Hasilnya, golok yang tadinya berkilauan sinarnya itu kini telah terkutung menjadi dua potong!
Hong Sie Nio berdiri terpaku di tempatnya, samapi sepotong golok yang lain juga terlepas dari tangannya dan terjatuh ditanah.
Ia juga masih belum merasa, bila ada orang mengatakan bahwa Hong Sie Nio tidak bisa tua, maka saat itu dalam waktu sekejapan saja, benar-benar kelihatan sudah lebih tua beberapa tahun.
Siauw Cap-it-long menggeleng-gelengkan kepalanya dan mulutnya mengguman .
"Semua orang kata bahwa orang perempuan lebih pintar dari lelaki, akan tetapi orang perempuan apa sebab selalu bisa tertipu oleh orang lelaki ?"
Hong Sie Nio mendadak lompat dan berkata dengan suara marah .
"Kau jelas sudah tahu bahwa golok ini adalah palsu, namum kau masih menipu pedangku, kau benar-benar seorang bajingan, seorang berandal."
Siauw Cap-it-long berkata sambil menghela nafas .
"Aku memang benar tidak seharusnya menipu kau. Akan tetapi oleh karena aku mengenal seorang nona yang sangat pintar, cantik, juga polos, lagi sudah lama aku tidak bertemu muka dengannya, maka kupikir hendak cari sebuah barang hadiah untuknya agar ia senang."
Hong Sie Nio membelalakan matanya lebar-lebar, tanyanya .
"Siapa perempuan itu?"
Siauw Cap-it-long memandang lurus ke depan, dibibirnya lalu tersungging senyuman yang hangat, katanya lambat-lambat .
"Dia bernama Hong Sie Nio, entah kau kenal dia atau tidak ?"
Sekonyong-konyong dalam hati Hong Sie Nio timbul perasaan hangat, segala marah semua telah lenyap bagaikan asap tertiup angin sekujur badannya merasa lemas, ia menyender di jendela seperti tidak bertenaga, katanya sambil gigit bibir ;
"Kau, kau orang ini ..... aku kenal denganmu paling sedikit juga harus dikurangi tigapuluh tahun umurku."
Siauw Cap-it-long menyerahkan pedang Na-giok kepadanya dengan kedua tangan, katanya sambil tertawa .
"meskipun kau tidak mendapatkan golok Kwa-liok-to, tetapi ada orang yang menghadiahkan pedang Na-giok-kiam, bukankah kau seharusnya juga merasa senang ?"
CEMBURU Didalam sebuah kedai minuman teh di kota Ce-lam.
Kota Ce-lam meskipun merupakan kota yang terkenal dengan banyaknya orang Kang-ouw yang berkepandaian tinggi, tetapi hendak mencari suatu tempat yang lebih ramai dan lebih banyak pembicaraan orang dari pada kedai minuman teh, barangkali sedikit sekali.
Hong Sie Nio sebetulnya tidak banyak waktu untuk duduk di kedai minuman teh, tetapi setiap kali duduk disitu, ia selalu merasa gembira.
Ia senang kalau ada pria yang memandangnya, memperhatikan dirinya.
Seorang wanita yang bisa menarik perhatian kaum pria, biar bagaimana merupakan suatu hal yang menyenangkan.
Sebagian besar mata kaum pria yang duduk di dalam kedai minuman teh itu, memang benar semua ditujukan kepadanya.
Kaum wanita yang duduk minum di kedai minuman teh jumlahnya memang tidak banyak, apalagi perempuan yang demikian cantiknya, semakin sedikit jumlahnya.
Hong Sie Nio dengan menggunakan sebuah cangkir teh yang kecil, perlahan-lahan minum tehnya, teh itu tidak begitu harum, teh semacam itu dia biasanya tidak suka minum tetapi sekarang ia seolah-olah berat untuk meletakan cangkirnya.
Ia sedikitpun tiada maksud untuk menikmati rasanya teh, ia sendiri merasa bahwa sikapnya minum teh itu sangat indah menarik, juga masih dapat membiarkan orang lain menikmati sepasang tangannya yang putih, halus dan indah.
Siauw Cap-it-long juga sedang mengawasi dirinya, pemuda itu merasa senang.
Ia kenal dengan Hong Sie Nio sudah banyak tahun, ia memahami betul adatnya Hong Sie Nio.
Jago betina yang oleh orang-orang dunia Kang-ouw di sebut sebagai siluman perempuan itu, meskipun susah didekati karena terlalu galaknya, tetapi ada kalanya ia bisa berlaku kekanakkanakan yang benar-benar seperti anak kecil.
Siauw Cap-it-long selama itu suka padanya, setiap kali berada bersama-sama dengannya, selalu merasa gembira.
tetapi di kala berpisah dengannya, sudah tidak merasa berat.
Ini sebetulnya perasaan semacam apa ?
Ia sendiri juga tidak terang.
Mereka menuju ke kota Ce-lam, sebab golok Kwa-liok-to juga sudah tiba di kota tersebut.
Masih ada banyak lagi orang-orang terkemuka yang tiba di kota itu....
Sekonyong-konyong, semua mata yang tadinya di tujukan kepada Hong Sie Nio, dalam waktu sekejap mata sudah beralih keluar pintu, ada yang cuma menongolkan kepalanya, ada juga yang sudah bangkit dari tempat duduknya, lari ke depan pintu.
"Apakah diluar ada datang orang perempuan lain yang jauh lebih cantik dari padaku ?"
Demikian Hong Sie Nio bertanya-tanya kepada diri sendiri.
Ia agak mendongkol, tetapi juga agak heran, hingga ia juga ingin pergi melihat ke luar pintu.
Setiap kali kalau dalam hatinya ingin melakukan sesuatu, ia selalu tidak akan ragu-ragu.
Ia keluar ke depan pintu, barulah menyaksikan bahwa apa yang mereka sedang saksikan itu adalah sebuah kereta.
Kerena itu meskipun sedikit mewah dari pada kereta biasa, tetapi juga tidak ada bagian yang luar biasa.
Baik jendelanya maupun pintunya.
Semuanya tertutup rapat, tidak diketahui orang macam apa sebenarnya yang duduk di dalamnya.
Kuda yang menarik kereta itu jalannya juga tidak tepat, kusir yang mengendalikan kuda itu tampaknya sangat berhati-hati hingga cemetinya juga tidak berani digunakan, seolah-olah takut cemetinya akan melukai orang di jalanan.
Kuda yang menarik kereta itu boleh dikatakan cukup baik, tetapi juga bukanlah merupakan kuda yang jempolan.
Yang mengherankan ialah semua mata di tujukan kepada kereta itu, ada beberapa orang bahkan masih kasak kusuk membicarakannya, seolah-olah diatas kereta itu telah tumbuh kembang dengan mendadak.
Hong Sie Nio benar-benar tidak habis mengerti, apakah kaum pria di tempat ini semuanya gila ?
"Apakah orang-orang disini belum pernah melihat kereta ?
Sebuah kereta berkuda saja, apanya yang perlu ditonton?"
Demikian ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Orang yang berada di sisinya berpaling dan melihatnya sejenak, kembali mengalihkan pandangan matanya ke arah kereta itu lagi, hanya seorang tua bungkuk yang menjawabkan pertanyaannya .
"Nona, Kau tidak tahu, Kereta itu meskipun biasa, tapi orang yang didalam kereta adalah seorang nomor satu di daerah kita ini."
"Oh! Siapa ?"
Bertanya Hong Sie Nio.
"Berbicara tentang orang ini, ia benar-benar seorang yang sangat kesohor, ia adalah nona besar dari keluarga Siem yang bernama Siem Pek Kun, juga merupakan seorang wanita tercantik dalam rimba persilatan."
Berkata laki-laki tua tadi sambil tertawa. Ia tampaknya demikian gembira, seolah-olah turut merasa bangga, katanya .
"Ucapanku tadi keliru, nona Siem sebetulnya sudah tidak seharusnya dipanggil nona Siem lagi, seharusnya dipanggil Nyonya Lian, baru betul. Tampaknya nona juga seorang yang banyak pengetahuan dan pengalaman sudah tentu tahu bahwa di daerah Kow sow ada sebuah perkampungan yang dinamakan Bu kee san-kung, perkampungan itu adalah perkampungan seorang hartawan nomor satu di daerah selatan sungai Tiang-kang, suami nona Siem adalah kungcu dari perkampungan dari perkampungan Bu kee san-kung itu, ialah Lian Seng Pek kongcu."
"Lian Seng Pek ... ? Nama ini aku rasanya pernah dengar."
Berkata Hong Sie Nio hambar.
Nama ini sebenarnya sudah pernah dengar dari mulut orang banyak.
Nama Lian Seng Pek itu pada waktu belakangan ini sangat terkenal sekali dikalangan Kangouw, bagaikan matahari yang sedang berada di tengah-tengah, baik kawan maupun lawan semua mengakui ketangkasan dan kegagahannya.
Orang tua bungkuk itu makin lama tampaknya semakin gembira, katanya pula .
"Nona Siem menikah sudah dua tiga tahun lamanya, bulan yang lalu baru pulang ke rumah orang tuanya, maka kaum tua dan saudara-saudara dalam kota ini, semua ingin melihat selama dua tahun ini apakah dia menjadi semakin cantik atau berkurang kecantikannya.
Tamu-tamu dalam kedai minuman teh itu, semua mengeluarkan suara seruan kaget, tak disangka2 orang itu hanya mundur selangkah, dan tangannya sudah berhasil menarik les kuda, dan kereta itu ditariknya hingga berhenti seketika itu juga.
Sedang kedua kakinya seperti terpantek ditanah, kekuatan tangannya yang menahan larinya kuda itu barangkali mempunyai kekuatan ribuan kati, oleh karenanya hingga membuat orang yang menyaksikannya pada memberi pujian riuh.
Namun orang itu se-olah2 tidak mendengar, dan minta maaf kepada kusir kereta yang ketakutan setengah mati.
Sehabis minta maaf kepada kusir kereta, orangnya sudah lari masuk kedalam kedai minuman teh, mulutnya baru tersungging senyuman lebar, katanya.
"Sie Nio, akhirnya aku dapat menemukan kau juga."
Hong Sie Nio mendelikkan matanya, lalu katanya dingin.
"Perlu apa kau ber-teriak2 seperti orang gila? Orang lain tentunya mengira aku hutang uang kepadamu, sampai perlu kau ber-teriak2 tidak keruan."
Senyum orang itu tampaknya meskipun agak getir, namun ia masih tertawa dan berkata.
"Apa salahku?"
Hong Sie Nio mengeluarkan suara dari hidung, katanya.
"Perlu apa kau mencari aku?"
"Tidak.. tidak ada apa-apa."
"Tidak ada apa-apa? Kalau tidak ada urusan perlu apa mencari aku?"
Berkata Hong sie Nio sambil mendelikkan matanya. Orang itu tampaknya sangat gelisah, katanya.
"Aku.... aku hanya merasa.... sudah lama kita tidak ketemu muka denganmu, maka itu...."
Oleh karena gelisah, hingga suaranya menjadi gelagapan.
Seorang yang terkenal sopan, saat itu dengan mendadak berubah seperti orang kebingungan.
Hong Sie Nio juga tidak dapat menahan perasaan gelinya, maka lalu tertawa, kemudian berkata.
"Sekalipun lama tidak ketemu, kau juga tidak perlu berkaok-kaok sambil berdiri ditengah jalan, tahu?"
Karena melihat Hong Sie Nio tertawa, orang sopan itu baru bisa bernapas lega, katanya sambil tertawa juga.
"Kau.... seorang diri?"
Hong Sie Nio menunjuk kepada Siauw Tjap-it-long yang duduk tidak jauh dengannya katanya.
"Berdua"
Sudah dididik keras dengan ilmu kitab dan sopan santun rumah tangga, hingga jarang sekali keluar.
Aku si orang tua sudah menunggu hampir duapuluh tahun, juga hanya pernah melihat dia satu dua kali saja."
"Kalau begitu nona Sim ini benar-benar merupakan sebuah mustika dalam mata kalian orangorang kota Celam."
Orang tua itu tidak mengerti bahwa ucapan Hong Si Nio tadi ada mengandung maksud menyindir, ia malah berkata sambil menganggukkan kepala dan tertawa.
"Sedikit pun tidak salah, sedikit pun tidak salah........"
"Ia duduk di dalam kereta, apakah kalian juga bisa melihat dia?"
"Orang yang tidak dapat melihat dirinya, melihat keretanya saja juga sudah harus merasa puas."
Hong Si Nio mendongkol mendengar ucapan itu, untung pada saat itu kereta sudah berjalan hampir ke ujung jalan, kalau membelok lagi sudah tidak tertampak lagi, barulah semua orang banyak tadi baru mulai duduk di tempat masing-masing lagi.
Ada orang masih ramai membicarakan soal kereta tadi.
"Kau lihat orang pulang ke rumah sendiri, sudah dua bulan lebih lamanya, baru keluar kota satu kali. Aih, siapa yang beruntung dapat mengawini seorang wanita seperti nona Sim ini, benar-benar sangat beruntung."
"Tetapi Lian-kongcu juga baik, bukan saja pintar ilmu surat, hartawan yang banyak uang, kelakuannya juga cukup baik, demikian pula wajahnya, tetapi juga kabarnya kepandaian ilmu silatnya cukup dapat digolongkan dalam salah satu orang kuat rimba persilatan. Lelaki semacam itu, ke mana hendak dicari lagi?"
"Itulah yang dinamakan pasangan yang benar-benar setimpal."
"Kabarnya dua hari berselang Lian-kongcu juga pernah datang ke sini, tapi entah benar atau tidak........."
Semua mulut pada membicarakan tentang mereka, yang dibicarakan hanya soal yang menyangkut diri Lian Seng Pek dan Sim Pek Kun suami-istri itu sebagai orang-orang yang beruntung dan yang jarang ada di dalam dunia.
Hong Si Nio juga malas untuk mendengar cerita orang banyak itu lagi, selagi hendak mengajak Siauw Cap-it-long lekas membayar uangnya dan melakukan perjalanannya, mendadak ia menampak kedatangan seseorang.
Di seberang kedai minuman teh itu, ada sebuah perusahaan bank yang memakai merk Goan Ki.
Para pedagang dan pelancong yang melakukan perjalanan jauh pada waktu itu, kalau merasa membawa uang banyak sekali terlalu berat, boleh ditukar dengan cek dari bank tersebut.
Bank-bank yang sudah mendapat kepercayaan baik di mata rakyat, ceknya berlaku di seluruh negeri.
Yang kepercayaannya agak kurang, sama sekali tidak bisa berdiri lagi.
Waktu itu, banyak perusahaan bank-bank semacam itu, disebabkan karena kepercayaan mereka dipegang teguh, hingga mendapat nama baik di mata rakyat.
Dan perusahaan bank merk Goan Ki itu merupakan salah satu bank terbesar dalam kota itu.
Hong Si Nio melihat orang itu, yang saat itu baru saja keluar dari perusahaan bank Goan Ki.
Orang itu usianya baru kira-kira tigapuluh tahunan, mukanya berbentuk persegi, demikian pula mulutnya, mengenakan pakaian berwarna biru muda, sedang di luarnya memakai jubah panjang warna hijau, tampaknya seperti orang sopan, demikian pula kelakuannya.
Tetapi Hong Si Nio ketika menampak orang itu, dengan cepat menggunakan tangannya untuk menutupi muka sendiri, ia menundukkan kepala dan menggeser mundur tempat duduknya, seolah-olah takut ditagih hutang.
Apa mau, mata orang itu juga sangat tajam, baru saja keluar dari perusahaan bank Goan Ki, ia sudah melihat Hong Si Nio yang duduk di kedai minuman teh, begitu melihat Hong Si Nio, matanya segera memancarkan sinar terang, sedang mulutnya memanggil-manggil.
"Si Nio, Si Nio......... Hong Si Nio.........."
ENAM ORANG SOPAN YANG KESOHOR DI DUNIA SUARA orang itu sangat nyaring, orang-orang yang berada di tempat jauh mungkin juga bisa mendengar. Hong Si Nio terpaksa membatalkan maksudnya hendak pergi, dan mulutnya menggumam sendiri.
"Sialan! Kenapa aku bisa ketemu dengan setan sial ini?"
Sedang orang itu tadi sudah berjalan dengan langkah lebar.
Ia begitu melihat Hong Si Nio, agaknya semua apa sudah tidak ada di matanya lagi, dari sebuah tikungan jalan justru ada sebuah kereta yang dilarikan, karena tidak keburu berhenti, hingga kereta itu hendak menubruk padanya.
Tamu-tamu dalam kedai minuman teh itu, semua mengeluarkan suara seruan kaget, tak disangka2 orang itu hanya mundur selangkah, dan tangannya sudah berhasil menarik les kuda, dan kereta itu ditariknya hingga berhenti seketika itu juga.
Sedang kedua kakinya seperti terpantek ditanah, kekuatan tangannya yang menahan larinya kuda itu barangkali mempunyai kekuatan ribuan kati, oleh karenanya hingga membuat orang yang menyaksikannya pada memberi pujian riuh.
Namun orang itu se-olah2 tidak mendengar, dan minta maaf kepada kusir kereta yang ketakutan setengah mati.
Sehabis minta maaf kepada kusir kereta, orangnya sudah lari masuk kedalam kedai minuman teh, mulutnya baru tersungging senyuman lebar, katanya.
"Sie Nio, akhirnya aku dapat menemukan kau juga."
Hong Sie Nio mendelikkan matanya, lalu katanya dingin.
"Perlu apa kau ber-teriak2 seperti orang gila? Orang lain tentunya mengira aku hutang uang kepadamu, sampai perlu kau ber-teriak2 tidak keruan."
Senyum orang itu tampaknya meskipun agak getir, namun ia masih tertawa dan berkata.
"Apa salahku?"
Hong Sie Nio mengeluarkan suara dari hidung, katanya.
"Perlu apa kau mencari aku?"
"Tidak.. tidak ada apa-apa."
"Tidak ada apa-apa? Kalau tidak ada urusan perlu apa mencari aku?"
Berkata Hong sie Nio sambil mendelikkan matanya. Orang itu tampaknya sangat gelisah, katanya.
"Aku.... aku hanya merasa.... sudah lama kita tidak ketemu muka denganmu, maka itu...."
Oleh karena gelisah, hingga suaranya menjadi gelagapan. Seorang yang terkenal sopan, saat itu dengan mendadak berubah seperti orang kebingungan. Hong Sie Nio juga tidak dapat menahan perasaan gelinya, maka lalu tertawa, kemudian berkata.
"Sekalipun lama tidak ketemu, kau juga tidak perlu berkaok-kaok sambil berdiri ditengah jalan, tahu?"
Karena melihat Hong Sie Nio tertawa, orang sopan itu baru bisa bernapas lega, katanya sambil tertawa juga.
"Kau.... seorang diri?"
Hong Sie Nio menunjuk kepada Siauw Tjap-it-long yang duduk tidak jauh dengannya katanya.
"Berdua"
Wajah orang itu segera berubah, matanya menatap Siauw Tjap it long, seolah olah ingin menelannya, dengan muka merah ia bertanya dengan suara gelagapan.
"Dia.... dia itu siapa?"
"Dia itu siapa ada hubungan apa dengan mu? Dengan hak apa kau menanya siapa dia?"
Berkata Hong Sie Nio sambil pendelikkan mata. Orang itu demikian gelisah, untung pada saat itu Siauw Tjap it long sudah berjalan menghampiri dan berkata dengan tertawa.
"Aku adalah adik sepupunya, tuan ini...."
Mendengar Siauw Tjap it long mengauk adik sepupu, orang sopan ini kembali menghela napas lega, suara dari ucapannya juga berubah menjadi jelas lagi, katanya sambil mengangkat tangan memberi hormat.
"Oh, kiranya tuan adalah adik sepupu Hong Sie Nio? Bagus, bagus... aku bernama Yo Khay Thay, selanjutnya harap tuan suka banyak2 memberi petunjuk kepadaku."
Siauw Tjap it long agak merasa diluar dugaan ia berkata.
"Tuan apakah bukan direktur muda bank Goan Kie yang oleh sahabat2 dunia Kang ouw diberi nama julukan Thiat-kun-cu Yo tayhiap ?"
"Ah, itukan hanya omongan mereka saja yang memberikan nama yang bukan2 saja..."
Menjawab Yo Khay Thay sambil tertawa.
"Aku merasa beruntung dapat bertemu, denganmu...."
Berkata Siauw Tjap it long juga sambil tertawa.
Ia terkejut bukan disebabkan karena orang ini adalah direktur muda perusahaan Goan Kie yang kekayaannya dapat dibandingkan dengan kekayaan negara, melainkan karena orang ini adalah satu2nya murid golongan orang biasa dari padri gereja Siao-lim-sie Thian-san Taysu, ilmunya pukulan tangan yang dinamakan Siao-lim-lim sin koan kabarnya sudah memiliki sembilan puluh persen keatas kemahirannya, dalam kalangan Kang-ouw semua sudah mengakui bahwa dia adalah tokoh kuat nomor satu diantara murid2 orang biasa dari gereja Siao-lim-sie.
Seorang yang tampaknya seperti orang tolol dan ketika melihat Hong Sie Nio hampir tidak bisa bicara jelas, ternyata adalah seorang tokoh kuat yang namanya sangat kesohor didalam benteng itu, sudah tentu kalau Siauw Tjap-it-long merasa diluar dugaannya.
Sepasang mata Yo Khay Thay kembali dialihkan kepada Hong Sie Nio, katanya sambil tertawa.
"Kalian berdua mengapa tidak duduk mengobrol?"
"Kami justru hendak pergi."
Menjawab Hong Sie Nio.
"Pergi? Kemana?"
"Kami justru hendak mencari orang yang mau mengajak makan kami."
Berkata Hong Sie Nio.
"Perlu apa mencari orang? Aku.... Aku....."
"Apa kau ingin mengundang kami makan?"
Tanya Hong Sie Nio sambil meliriknya.
"Sudah tentu, sudah tentu...... kabarnya miepaikut disebelah ini sangat lezat, begitu pula pangsitnya....."
"Kalau hanya makan mie paikut saja aku sendiri masih sanggup mengeluarkan uang, tidak perlu kau yang mengundang makan. Pergilah kau."
Yo Khay Thay menyeka air peluhnya yang menetes keluar, katanya sambil tertawa.
"Kau..... ingin makan apa? Aku sedia mentraktir semua..."
"Jikalau kau benar2 hendak mengundang makan orang, undang kami kerumah makan Wat Pin Lauw, aku ingin makan hidangan yang enak dirumah makan itu."
Yo Khay Thay mengigit bibir, katanya.
"Baik! Baik! Mari kita berangkat sekarang juga ke Wat Pin Lauw."
Sebagaimana biasanya, setiap kota ada memiliki sebuah atau dua rumah makan yang mempunyai hidangan spesial, tetapi umumnya rumah makan kota2 besar hampir semuanya ramai dikunjungi orang, sebab orang2 yang beruang suka sekali makan hidangan yang enak2 diluaran.
Duduk dan makan dirumah makan yang luar biasa mahalnya, seseorang se-olah2 bisa berubah menjadi orang beruang atau orang gedean, ia merasa dirinya benar-benar seperti orang.
Sebetulnya dirumah makan Wat Pin Lauw itu, dengan hanya membawa lima tjie uang perak saja, sudah dapat dibeli semacam hidangan, juga belum tentu lebih enak daripada hidangan dari rumah makan lain yang berharga satu tjie.
Tapi sifat manusia memang begitu, dianggapnya rumah makan besar hidangannya lebih enak dari pada yang kecil.
Yo Khay Thay yang jalan naik ketangga loteng hingga duduk, sedikitnya sudah tujuh delapan kali menyeka keringatnya.
Hong Sie Nio yang sudah duduk, sudah mulai menulis beberapa macam hidangan, wajah Yo Khay Thay tampaknya sudah mulai agak pucat, dengan mendadak ia bangkit dari tempat duduknya dan berkata.
"Aku....... aku hendak keluar sebentar, segera akan kembali."
Hong Sie Nio juga tidak perdulikan padanya, ia masih tetap menulis menunya yang ia sukai, ia menunggu setelah Yo Khay Thay turun dari tangga loteng, sudah memesan enam tujuh belas rupa hidangan, barulah berhenti menulis dan berkata.
"Kau tau, ia keluar itu untuk apa?"
"Pergi mengambil uang!"
Menjawab Siauw Tjap-it-long sambil tertawa.
"Sedikitpun tidak salah, orang semacam ini kalau keluar pintu, uang yang berada disakunya tidak bisa lebih dari satu tail uang perak."
"Biar bagaimana, dia adalah seorang sopan, kau juga tidak seharusnya makan habis2an uangnya."
"Apa Thiat kuncu, aku lihat ia itu lebih mirip daripada ayam besi, kau sama dengannya, satu senpun tidak mau keluar, orang semacam ini kalau tidak dimakan, mau makan siapa lagi?"
"Tetapi dia toh berlaku baik terhadapmu..."
"Aku dengan cara ini memakan dia, ialah supaya ia lain hari takut mengajak aku makan lagi."
Ia memonyongkan mulutnya dan berkata lagi.
"Kau juga bisa tahu betapakah menjemukannya orang ini, sejak bertemu muka satu kali didalam perjamuan ulang tahun nyonya Ong dahulu, setiap hari hampir seperti anjing saja terus mengintil dibelakangku."
"Aku sebaliknya merasa dia itu orang baik, orangnya jujur, juga dari golongan baik2, tetapi kekayaan rumah tangganya tidak perlu dikatakan lagi, kepandaian ilmu silatnya juga merupakan dari golongan orang kuat yang terpilih, aku lihat kau sebaiknya menikah dengannya....."
Belum habis ucapannya, Hong Sie Nio sudah berseru dan berkata.
"Kentutmu! Sekalipun orang laki didalam dunia ini sudah mati semua, aku juga tidak bisa menikah dengan orang yang seperti ayam itu."
Siauw Tjap-it-long menghela napas, katanya sambil tertawa getir.
"Orang perempuan benar2 sangat aneh, sebelum menikah, selalu mengharapkan suaminya itu seorang yang royal, tetapi setelah menikah dengannya, lantas mengharap supaya berlaku pelit, lebih pelit lebih baik, sebaiknya jangan mengundang orang makan, dan uangnya dia menginginkan semua diberikan kepadanya sendiri."
Sewaktu hidangan yang kedua sudah disajikan, Yo Khay Thaybaru balik, tiba2 seorang setengah baya yang baru saja duduk disatu sudut, ketika menampak kedatangannya, segera bangkit dan memberi hormat.
Yo Khay Thay membalas hormatnya, satu sama lain sikapnya sangat sopan.
Orang setengah baya itu juga datang seorang diri, pakaiannya tidak begitu perlente, namun tampaknya beruang juga, dipinggangnya menggantung sebilah pedang dalam sarungnya yang hitam, tampaknya bukan pedang sembarangan.
Sepasang matanya bersinar, tampaknya juga berwibawa, jelas merupakan seorang pemimpin entah dari golongan mana.
Hong Sie Nio sejak tadi sudah perhatikan padanya, dan kini ia sudah tidak sabar lagi, maka lau bertanya kepada Yo Khay Thay.
"Siapakah orang itu?"
"Kau tidak kenal padanya? Sungguh aneh..."
Berkata Yo Khay Thay.
"Mengapa aku harus kenal dia?"
Dengan suara sangat perlahan sekali, Yo Khay Thay berkata.
"Dia adalah murida dari Koo Tojin digunung Pa-san dahulu, namanya Liu Sek ceng. Jikalau kita berbicara soal ilmu pedang di kalangan Kang-ouw barangkali sedikit sekali orangnya yang dapat menandingi ilmu pedangnya."
Hong Sie Nio juga sampai merasa tertarik, katanya.
"Kabaranya ilmu pedangnya Hee-hongliong-kiam yang terdiri dari empatpuluh sembilan jurus, sudah mendapat seluruh warisan dari Koo tojin, bahkan melebihi dari gurunya sendiri. Apakah kau pernah menyaksikan ilmu pedangnya?"
"Orang ini adatnya tidak suka mengagulkan diri, selamanya tidak suka bergaul dengan orang lain, maka dalam kalangan Kang-ouw orang yang kenal padanya sedikit sekali. Tetapi dengan Kang-kaouw Suheng di gunung Siong san adalah sahabat karib, maka aku barulah kenal dengannya."
Padanya, golok ini harus beserta dengan orangnya selama masih hidup, tidak boleh terjatuh ditangan orang kedua, urusan ini nampaknya sangat mudah, tetapi kalau dilakukan lebih susah dari pada naik kelangit "
Berkata Yo Khay Thay. Ia tertawa getir sebentar, kemudian berkata lagi.
"Sekarang ini dari kalangan Kang-ouw entah sudah berapa banyak orang yang tahu berita tentang golok ini. Maka itu tidak peduli siapa yang berhasil mendapatkan golok ini namanya segera menjadi kesohor, dan akan menggemparkan dunia Kang-ouw, bergerak di kalangan Kang-ouw dengan membawa bawa golok ini, sama juga seperti membawa bungkusan berisi bahan peledak yang setiap saat bisa meledak dan menghancurkan dirinya sendiri"
Ucapannya ini memang benar, aku sendiri mungkin juga ingin menonton keramaian"
Berkata Hong Sie Nio sambil tertawa.
"Tetapi soal pertama ini kalau dibandingkan dengan soal yang kedua, soal yang pertama itu masih jauh lebih mudah"
Berkata yo Khay Thay.
"Oh! Ia suruh kau melakukan apa? Apakah mengambil rembulan dari atas langit?"
"Ia suruh kami berjanji padanya, setelah mendapatkan golok ini, dengan golok ini harus menyingkirkan seorang berandal besar pada dewasa ini yang namanya paling busuk..."
Belum habis ucapannya, Hong Sie Nio sudah tidak sabar dan bertanya.
"Siapakah yang ia maksudkan dengan berandal besar itu?"
"Siauw cap it long!"
Lambat lambat Yo Kay Thay menjawab, diucapkan sepatah demi sepatah.
Jilid 3______________ MENILAI PENDEKAR SAMBIL MINUM ARAK saat itu, hidangan yang kesepuluh sudah mulai disajikan. Yo Khay Thay yang menyaksikan demikian banyak hidangan yang memenuhi meja, wajahnya seperti mengguman .
"Sayurnya terlalu banyak, mana sanggup kita makan habis semua?"
Ucapan ini seharusnya keluar dari mulut tamu yang diundang, sedangkan sebagai tuan rumah seharusnya berkata . Sayurnya kurang baik, sayurnya terlalu sedikit....
"Autran begitu saja apakah kau masih tidak mengerti?"
Menegor Hong Sie nio Yo Khay Thay kembali menyeka peluhnya, sedang mulutnya berkata .
"Maaf, aku..... jarang sekali jadi tuan rumah"
Beng Sie Nio juga tidak dapat menahan rasa gelinya, katanya .
"Kau ini meskipun pelit, tetapi masih terhitung seorang jujur"
Siaw Tjap-it-leng mendadak berkata .
"Entah saudara Yo kenal dengan Siaw Tjap-it long atau tidak ?"
"Tidak kenal"
"Saudara Yo belum pernah kenal orangnya, nanti setelah mendapatkan golok itu, apa saudara Yo tega membunuhnya?"
"Benar aku tidak kenal dia, tapi tahu bahwa dia itu adalah seorang berandala besar yang tidak pernah dilakukan, orang semacam itu memang seharusnya disingkirkan, mengapa aku tidak tega membunuhnya?"
"Apakah saudara Yo pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa dia melakukan perbuatan yang tidak patut?"
"Itu.... tidak, aku hanya mendengar orang kata saja"
Siaw Tjap-it long tertawa, kemudian berkata.
"Kejadian atau urusan yang disaksikan oleh mata kepala sendiri masih belum tentu jitu seluruhnya apalagi hanya dengan kabar saja"
Yo Khay Thay berdiam sekian lama, tiba tiba tertawa dan berkata .
"Sebetilnya, sekalipun aku ingin embunuh dia, juga belum tentu dapat membunuhnya. Dikalangan Kang-ouw entah berapa banyak orang yang ingin membunuh dia, tetapi bukan kah ia masih hidup dalam keadaan segar bugar?"
"Sedikitpun tidak salah, jikalau kau mau dengar nasihatku, sebaiknya jangan kau mau mendapat golok itu. Kalau tidak, bukan saja kau tidak sanggup membunuh Siaw Tjap it Long, salah salah mungkin kau sendiri yang mati ditangannya"
Kata Hong Sie Nio sambil tertawa dingin.
"Terus terang, harapanku untuk mendapatkan golok itu, sebetulnya juda tidak besar"
Berkaya Yo Khay Thay.
"Menurut pendapatmu, siapa yang paling besar harapannya mendapatkan golok itu?"
Bertanya HongSie Nio. Yo Khay Thay tampak berpikir, kemudian baru berkata .
"May Kang sudah terkenal namanya paling lama, pukulan tangannya juga sudah mahir benar benar, sayang orangnya terlalu jujur, hingga ilmu pukulannya juga agak kaku sedikit, tidak ada perobahannya."
"Jikalau demikian halnya, tentunya juga sudah tidak ada harapan lagi."
Berkata Hong Sie Nio.
"Dia belum tentu dapat menangkan aku"
"Bagaimana dengan Chie Ceng Teng?"
Chie Ceng Teng adalah murid kesayangan ketua Bu Tong Pay, baik ilmu pedangnya, maupun ilmu tangan kosongnya, semuanya sudah dilatih damapai mencapai ketaraf sangat tinggi, ilmunya meringankan tubuh juga mahir, kabarnya kalau ia menggunakan ilmu pedang, orangnya sudah seperti terkurung dalam bayangan pedangnya, hanya sayang...."
"Hanya sayang apa?"
"Dia adalah keturunan seorang jendral dari kota Hang-ciu, biasanya hidup senang dan, seorang dikalau pernah hidup terlalu senang, biasanya juga ilmu silatnya susah mendapat kemajuan"
"Oleh karena itu, kau merasa ia juga tidak ada harapan lagi, betul tidak?"
Yo Khay Thay tak menjawab, dengan demikian berarti bahwa ia sudah membenarkan ucapan Hong Sie Nio.
"Dan bagaimana dengan Cu Pek Cui?"
Bertanya pula Hong SIe Nio.
"Aku dengar kabar bahwa ia memiliki kepandaian dari golongan Ngo-bie dan Tiam Cong, juga merupakan anak tunggal nyonya Cu yang dahulu terkenal namanya sebagai ahli senjata rahasia yang mendapat nama julukan Koan im seribu tangan. Ilmu menggunakan senjata rahasianya, kabarnya sudah tidak ada yang dapat menandingi"
"Orang ini memang benar benar memiliki kepandaian sangat tinggi, lagi pula cerdas sekali, hanya sayang ia terlalu pintar. Kabarnya sudah menyadari kotornya keduniawian, maka ia sudah siap hendak menyuruk rambut menyucikan diri, maka kali ini ia datang atau tidak masih menjadi suatu pertanyaan"
"Bagaimana kalau ia datang?"
"Karena ia sudah hendak menyucikan diri, sekalipun ia mungkin bakal datang, juga tidak akan mengeluarkan seluruh kepandaiannya"
"Kalau begitu dia juga sudah tidak ada harapan?"
"Harapannya tidak besar"
Hong Sie Nio kembali mengawasi liu Sek Ceng yang duduk minum seorang diri dilain sudut, lalu tanyanya perlahan .
"Bagaimana dengan dia?"
"Orang ini keahliannya dan kemahirannya dalam ilmu pedang, tak usah dikata lagi, hanya sayang orangnya terlalu jumawa, kalau bertanding dengan lawan suka telalu pandang ringan lawannya, bahkan jikalau seliwatnya seratus jurus masih belum merebut kemenangan, bisa berubah sifatnya, tidak dapat kendalikan emosinya sendiri !"
"Penilaian saudara Yo benar benar sangat berharga..."
Berkata Siaw Cap it long.
"Kau bisa menilai orang lain, mengapa tidak menilai diri sendiri?"
Mendadak Hong Sie Nio, bertanya. "
Aku sejak berusia sepuluh tahun, sudah dibawah didikan Insu, hingga kini sudah dua puluh tahun lamanya, selama duapuluh satu tahun ini, tiap hari pagi dan malam aku selalu melatih ilmu yang diturunkan Insu tidak pernah terputus, sekalipun musimhujan, musim panas atau musim dingin kejuga tidak berani melalaikan pelajaranku.
Dikalau ditilik dari kekuatan tenaga tanganku, dan kekuatan tenaga dalamku,barangkali jarang sekali yang dapat dibandingkan denganku "
Saudara Yo benar saja tidak kecewa menjadi seorang sopan, menilai diri orang lain tidak merendahkan orang lain juga tidak mengagulkan diri sendiri, bahkan..."
Berkata Siaw Cap it long sambil menghela napas.
"Bahkan dalam hatinya tidak perduli ada urusan apa, semuanya ia tidak dapat merahasiakannya, diwajahnya segera mengentarkan apa yang terkandung dalam hatinya, ada orang minta ia mengundang makan, wajahnya lantas berubah demikian rupa, jadi lebih bukur dari pada muka kuda"
Menyelak Hong Sie Nio sambil tertawa. Muka Yo Khat Thay saat itu juga kembali menjadi merah, katanya.
"Aku... aku... aku hanya... hanya..."
"Kau hanya dapat dibanggakan karena sifatmu yang terlalu pelit. Meskipun kekuatan tenaga dalammu sangat hebat, namun kalau tanganmu selalu terikat kencang tidak pernah terlepas, selalu... tidak menginginkan dan memikirkan hasilnya, cuma lantaran takut sampai terjadi kesalahan buat orang lain boleh jadi juga sulit dapat menangkan kau, tetapi kalau kau mau menangkan orang lain secara mudah, barangkali juga masih belum dapat"
Ia tertawa kemudian berkata lagi .
"Kau sudah selesai menilai orang lain, biar sekarang aku juga akan coba menilai dirimu, boleh tidak ?"
Lama Yo Khay Thay menjublek,barulah berkata sambil menghela napas panjang .
" ...Sie Nio, kau benar benar tidak kecewa menjadi sahabat akrabku"
"Istilah akrab, aku tidak sanggup menerima, hanya tentang penyakitmu, aku mengetahui dengan jelas"
"Justru kerana itu, maka aku baru merasa tidak sebanding dengan Lian Seng Pek !"
Kata Yo Khay Thay tawar.
"Kalau Begitu bagaimana kau tahu bahwa kepandaian ilmu silatnya lebih tinggi dari padamu?"
Kau jangan salah mengerti, justru lantaran ia jarang sekali menunjukkan kepandaian ilmu silatnya, barulah membuat orang semakin merasa bahwa kepandaiannya sulit dijejaki "
Siaw Cap it long lao berkata .
"Kabarnya orang ini adalah orang bauj dan supan santun, dalam usia enam tahun sudah mendapat julukan bocah sakti, dalam usia sepuluh tahun ilmu pedangnya sudah mencapai ketaraf dangat tinggi, sebelas tahun ia sudah bisa mengadakan pertandingan pedang dengan salah seorang ketua partay persilatan dari negara timur yang datang kedaerah Tiong goan, hingga tiga ratus jurus belum terkalahkan, sejak saat itu, namanya demikian terkenal sehingga kenegeri timur, hingga orang orang rimba persilatan disana mengetahui bahwa didaerah Tiong goan ada muncul seorang bocah sakti didalam rimba persilatan"
Ia tertawa dan tiba tiba berkata lagi .
"Tetapi aku juga sudah pernah dengar, Siauw Cap-itlong juga seorang berkepandaian luar biasa tingginya yang jarang muncul dirimba persilatan, ilmu goloknya merupakan semacam ilmu tersendir, setelah muncul dikalangan Kangouw, belum pernah menemukan tandingan, entah Lian Kongcu itu bagaimana kalau dibandingkan dengan dia?""
Ilmu golok Siaw Cap it long cepatnya bagaikan angin dan bagaikan kilat, ilmu pedang Lian Seng Pek sebaliknya seperti angin dimusim semi, dua orang itu, yang satu berasal dari golongan keras, yang lain dari golongan lunak, tetapi semuanya sudah mengcapai ketaraf yang tidak ada taranya.
Namun demikian, sejak dahulu kala semua orang telah tahu bahwa lunak dapat menundukan keras.
Ditinjau dari keadaan rimba persilatan pada dewasa ini, jikalau mau dikata masih ada orang yang bisa menagkan Siaw Cap it long, barangkali hanya satu orang saja, ialah Lian Seng Pek itu "
Berkata Yo Khay Thay. Siauw Cap-it-long dian saja mendengarkan uraian Yo Khay Thay, lalu berkata sambil tersenyum .
"Dengar ucapanmu ini, ia berdua yang satu dari golongan keras, sedang yang lain dari golongan lunak, mirip denagn pasangan lawan yang setimpal"
"Tetapi Siauw Cap-it-long masih mempunyai beberapa keunggulan yang tidak didapatkan pada diri Lian Seng Pak!"
"Oh !. Apakah yang saudara Yo maksudkan ? aku ingin mendapat penjelasannya!"
Liang Seng Pek adalah keturunan orang berada, perbuatannya selalu baik baik dan suka membela keadilan, bahkan dalam segala hal ia memikirkan diri orang lain, tidak pernah mencari nama sendiri, selama beberapa tahun paling belakang ini, nama harumnya tiada orang yang dapat menandingi,boleh dianggap sebagai pendekar besar benar-benar!
Orang semacam ini tidak perduli berjalan kemana saja, orang lain semua berlaku hormat terhadapnya, boleh dikata sudah mendapat keuntungan banyak dari bantuan kawan-kawannya "
Hong Sie Nio berkata sambil menggigit bibir .
"Dan bagaimana pendapatmu tentang diri Siauw Cap-it-long?"
"Siauw Cap-it-long sebalinya adalah seorang berandal besar yang namanya terlalu jelek sekali, sudah tidak ada famili, juga tidak ada kawan, tidak perduli berjalan kemana saja, sudah tentu tidak akan ada orang yang mau memberikan bantuan padanya"
Siauw Cap-it-long masih tertawa terus, tetapi tertawanya itu begitu hambar seperti orang putus asa, ia mengangkat secawan arak, diminumnya hingga kering. Lalu berkata .
"Benar, benar! coba saja pikir, Siauw Cap-it-long hanya merupakan anak dari seorang kusir kereta, bagaimana dapat dibandingkan dengan Lian Seng Pek, keturunan seorang ningrat kaya raya?"
"Kecuali ini Lian Seng Pek masih ada mempunyai satu hal, juga orang tidak dapat menandinginya"
"Dalam hal apa?"
Bertanya Hong Sie Nio .
"Ia masih ada mempunyai seorang pembantu yang baik, ialah istrinya yang bijaksana"
"Apakan Sim Pek Kun itu yang kau maksudkan?"
"Benar! Nyonya Lian ini adalah cucu perempuan Sim Thay Kun yang terkenal dengan senjata rahasianya yakni jarum mas, bukan saja memiliki kepandaian sangat tinggi, tetapi juga lemah lembut orangnya, ia merupakan seorang istri yang sangan ideal"
"Hanya sayang ia sudah menikah, jikalau tidak kau boleh pergi meminangnya"
Kata Honf Sie Nio dingin. Maka Yo Khat Thay kembali menjadi merah seketika, katanya sambil tertawa .
"Aku... aku... aku hanya..."
Hong Sie Nio perlahan lahan menghirup arak dalam cawannya, katanya seperti menggumam .
"Entah bagaimana senjata rahasia jarum mas keluarga Simkalau dibandingkan dengan senjata rahasia jarum perakku... ?"
Tiba tiba ia mengangkat kepalanya dan berkata sambil tertawa .
"Kapan kalian hendak pergi keperkampungan keluarga Sim ?"
"Besok sore... Su Khong Cu yang melindungi golok pusaka itu masuk kebenteng, selambat lambatnya besok pagi baru bisa tiba dibenteng"
Biji mata Hong SIe Nio tampak berputaran lalu katanya .
"entah mereka masih mengundang siap siapa lagi ?"
"Tamu tidak banyak..."
Mendadak seperti ingat apa, ia berkata sambil menatap Hong SIe Nio .
"Apakah kau juga ingin pergi kesana?"
Orangtoch tidak mengundang aku? Aku tidak mempunyai muka demikian tebal"
Berkata Hong Sie Nio sambil tertawa dingin.
"Akan tetapi aku boleh mengajak kau pergi, anggap saja sebagai..."
Sebagai apamu?"
Bertanya Hong Sie Nio sambil pendelikan mata. Muka Yo Khat Thay kembali menjadi merah, katanya dengan suara gelegapan .
"Ka... ka... kawan! ..."
KEBESARAN SIM THAY KUN Letaknya perkampungan Sim-kee-chung ditepi telaga Tay-beng-ouw adalah membelakangi gunung dan menghadao telaga.
Asal orang melihat sepasang singa-singaan batu di depan pintu gerbang yang sudah demikian tua usianya, dapat membanyangkan sendiri bahwa perkampungan ini mempunyai riwayat yang cukup lama dan gemilang.
Pelayan perkampungan Sim-kee-cung jumlahnya tidak banyak, tetapi setiap orang berlaku sangat sopan, mereka sudah terlatih baik, tidak membuat setiap orang merasa diperlakukan dingin.
Sejak Chungcu yang tua Sim Keng Hong suami istri pergi membasmi kawanan pemberontak, dan keduanya mati dimedan perang, Sim-kee0cung selama beberapa tahun sebetulnya nampak mulai tidak terurus, hanya tinggal Sim Thay Kun seorang yang mempertahankan utuhnya perkampungan itu.
Akan tetapi, dimata orang orang Kang Ouw, perkampungan Sim-kee-chung ini kedudukannya selama itu tidak sampai mundur bahkan sebaliknya malah semakin tinggi.
ini bukan disebabkan karena semua orang menaruh simpati atas kematian Sing Keng Hong suami istri, itu juga bukan disebabkan karena orang orang menghormati jasanya, melainkan karena Sim Thay Kun ini, yang menjadi ibu Sim Keng Hong, benar benar memiliki ketnagkasan san kepandaian mengurus rumah tangga membuat orang kagum.
Lian Seng Pek pagi pagi sudah keluar kota untuk menyambut orang yang melindungi golok pusaka, dan orang yang menyambut para tamu diruangan tengah saat itu, ialah keponakan Sim Thay Kun dan Ban Tong San yang mendapat nama julukan Siang-yang-kiam khek yang berarti Jago pedang dari kota Siang-yang.
Tamu tamu yang datang jumlahnya tidak terlalu banyak, yang datang paling pagi ialah Yo Khay Thay.
Ia datang dengan membawa du kawan, satu ialah seorang pelajar bermuka putij bersih yang tampaknya sangat gagah dan tampan, ia bernama Pang Su Liang, yang lain bernama Pang Ngo yang menjadi adik sepupu Pang Su Liang.
Ban Tiong San yang sudah banyak mengalaman, telah merasa bahwa kedua tetamunya tuan Pang itu, semuanya adalah orang orang gagah, juga jelas kepandaian ilmu silatnya sudah mencapai ketarap sangat tinggi, Seharusnya orang orang yang bukan tidak ada nama dalam kalangan Kang-ouw.
Tetapi ia yang sudah lama berkecimpungan didunia Kang-ouw, belum pernah mendengar nama dua orang ini.
Meskipun dalam hati Ban Tiong San merasa heran, tetapi diluarnya tidak menunjukkan sikap apa apa, bahkan sedikitpun tidak pernah menyatakan maksudnya, ia percaya kepada Yo Khay Thay, ia percaya kawan yang dibawa oleh Yo Khay Thay, tidaklah mungkin orang orang jahat.
Tetapi tidaklah demikian oendirian May Kang.
May Kang yang juga datang pagi pagi setelah kedua tatamunya itu diperkenalkan oelh Ban Tiong-san kepadanya sepasang matanya yang tajam bagaikan ujung belati terus menatap dua tuan Pang itu.
Jago terkenal dirimba persilatan dengan pukulan tangan kosongnya yang terdiri dari tiga puluh enam jurus,bukan saja sepasang matanya yang tajam, tetapi orangnya juga seperti sebilah golok yang sudah keluar daru sarungnya.
Sifat orang She May ini keras dan tidak takut segal apa.
Hong Sie Nio yakin saudara sepupu Pang Su Liang alias Pang Ngo, hampir tidak sanggup menahan emosinya, akan tetapi Siauw Cap it Long atau Pang Su Liang sendiri, sebaliknya masih tenang tenang saja, ia tersenyum sama sekali tidak menghiraukan sikap orang she May terhadapnya.
Perbedaan Siauw Cap it Long dengan orang lain ialah dalam segala hal ia agaknya bersikap tenang dan acuh tak acuh.
Kemudian, Liu Sek Ceng juga tiba.
Kedatangannya disusul oleh Chie Ceng Teng, ekturunan Jendral dikota Hang-Ciu ini benar saja merupakan seorang pemuda romantis, pakaiannya sangat perlente, diatas topinya tampak dihiasi sebutir mutiara sebesar telur, siapa yang melihatnyua sudah tentu dapat menilai sendiri betapa herganya mutiara sebesar itu.
akan tetapi dia terhadap orang berlaku sopan dan merendahkan diri, tidak lantaran kekayaannya ia lantas berkalu sombong dan tidak pandang sebelah mata orang lain.
SElanjutnya, dengan beruntun datang pula beberapa orang tamuy, sudah tentu semuanya juga merupakan orang tingkatan tua dari rimba persilatan yang mempunyai nama dan kedudukan baik, tetapi sepasang mata May Kang masih terus juda memperhatikan Siauw Cap it long.
Yo Khay Thay juga merasakan gelagat tidak baik, ia coba mengalihkan perhatiannya orang she May itu kelain soal, maka ia selalu bertanya kepadanya .
"Saudara May, apakah selama ini pernah berkunjung kegereja Siao-lim?"
May Kang menganggukkan kepala dengan muka cemberut, tiba tiba bertanya .
"Saudara Pang ini apakah kawanmu?"
"Benar"
Menjawab Yo Khay Thay.
"Benarkah dia seorang she Pang?"
Bertanya pula May Kang. Hong Sie Nio agaknya tidak dapat kendalikan emosinya lagi, maka saat itu lalu menyelak sambil tertawa dingin.
"Jikalau tuan menganggap kami bukannya orang orang she Pang, maka kami ini jadi harus memakai she apa ?"
"Jiewie tidak perduli she apa, semua tidak ada hubungan denganku siorang she May. Tapi aku siorang she May ini selamanya tidak senang ada orang yang sembunyi sembunyikan diri atau menukar nama. Apalagi kalau aku tahu, sudah terang tidak akan melepaskannya begitu saja"
Berkata May Kang dengan muka masam. Wajah Hong Sie Nio sudah berubah, tetapi Ban Tiong San cepat menyelak, dan berkata sambil tertawa .
"Saudara May ini orangnya keras dan jujur, semua tahu tentang dia"
Liu Sek Ceng juga segera bertanya sambil tertawa .
"Eh, dimana sudara Pek Cui? mengapa masih belum juga datang ?"
Ban Tiong San menghela napas perlahan dan berkata .
"Saudara Pek Cui sudah mencukur rambut dipucak gunung Ngo-bie, kali ini barangkali sudah tidak bisa datang lagi"
Kenapa ia tidak bisa pikir penjang? apakah didalam ini masih ada rahasia apa-apa?"
Bertanya Chie Ceng Teng. May Kang mendadak menepok meja dan berkata dengan suara bengis.
"Tidak perduli lantaran apa, yang terang itu tidaklah seharusnya. Keluarga Cu hanya menurunkan anak dia seorang, dia adalah anak tunggal. Kenapa dia menyucikan diri menjadi padri, sedangkan pribahasa nenek moyang kita ada kata . Tidak berbakti ada tiga hal, tidak berketurunan itulah yang paling tidak baik. Ia toch sudah pernah melajar ilmu surat, mengapa pepatah nenek moyangnya saja sudah dilupakan? Jikalau aku ketemu dengannya... hmm!"
Ban Tiong San dengan Chie Ceng Teng saling berpandangan, tiada satupun yang buka mulut lagi. Sementara itu, hawa amarah Hong Sie Nio masih belum reda, maka ai lalu berkata sambil tertawa dingin .
"Kau lihat orang ini betapakah anehnya. Urusan orang lain ia juga mau turut campur tangan"
May Kang dengan mendadak bangkit dari tempat duduknya dan berkata dengan suara marah. "Aku justru paling suka mencampuri urusan orang lain, kau mau apa?"
Yo Khay Thay juga bangkit berdiri, katanya dengan suara keras.
"Saudara May jangan lupa, dia adalah kawanku"
Kalau kawanmu lalu mau apa ? aku siorang she Kang ini justru hendak memberi pelajaran kepada kawanmu ini"
Muka Yo Khay Thay menjadi merah, katanya .
"Baik, baik, baik, kau... kau... tidak halangan kau memberi hajaran lebih dulu kepadaku !"
Kedua orang sama sama sudah menggulung lengan bajunya, seolah-olah sudah akan segera melakukan pertempuran, yang mengherankan, demikian banyak orang diruangan itu, ternyata tidak ada satu yang berdiri untuk memisah, sebab semua tahu adat May Kang itu, dengan begitu, siapaun jadi tidak suka kebentrok dengannya.
Tiba-tiba terdengar suara orang berkata .
"Kedatangan kalian kesini, apakah buat berkelahi ?"
Dalam suasana panas seperti itu, ucapan ini sebetulnya kurang cerdik, bukan saja tidak akan membawa pengaruh, tetapi juga kurang sopan, bahkan ada mirip dengan ucapan orang biasa yang hendak mencari penyakit sendiri.
Tetapi sekarang ucapan itu dikeluarkan dari mulut orang ini, pengaruhnya seolah-olah berubah dengan mendadak, siapa juga tidak merasa kata-katanya kurang sopan, atau kurang cerdik...
sebab keluarnya justru dari mulut Nyonya Sim yang tua.
Sim Thay Kun sinenek yang menjadi kepala rumah tangga perkampungan itu, baik usianya maupun kedudukannya, semua sudah mencapai ketaraf yang ia boleh mengeluarkan perkataan sesukanya, orang yang dicaci maki olehnya, dalam hati bukan saja tidak merasa tidak senang, sebaliknya malah merasa bangga.
Jikalau ia berlaku merendahkan diri terhadap seseorang, orang itu sebaliknya malah merasa tidak enak.
Dalam hal ini, Sim Thay Kun selamanya mengerti.
Tidak perduli urusan apa saja ia semua mengerti, ia sudah cukup banyak mendengar, cukup banyak melihat, juga cukup banyak pengalaman, sekarang meskipun daya pendengarannya sudah agak berkurang, tetapi asal perkataan yang ia ingin dengar, suara orang lain betapapun kecilnya ia masih mengdengar dengan jelas.
Kata kata yang tidak suka didengarnya sekalipun diucapkan dengan suara keras ia juga tidak mau dengar.
Meskipun matanya juga tidak seperti dahulu demikian tajam mungkin untuk melihat wajah seseorang saja sudah kurang nyata, tetapi setiap isi hati orang is seperti dapat melihat dengan jelas.
Ketika pelayan perempuan membimbingnya keluar, mulutnya sedang mengunyah sebutir buah Co, agaknya sedang menikmati rasanya, seluruh perhatiannya dipusatkan kepada buah Co yang sedang dikunyahnya.
Dan kata kata tadi seperti bukan keluar dari mulutnya.
Akan tetapi, May Kang dan Yo Khay Thay semua sudah menundukkan kepala dengan muka ke-merah merahan, ia miringkan setengah tubuhnya untuk membetulkan lengan bajunya yang tadi pada digulung.
Semua orang yang ada didalam ruangan memberi hormat dengan sikap sangat menghormat sekali.
Nenek tua itu meng-angguk anggukkan kepala sambil tertawa, kemudian nerkata.
"Chie ceng Teng, mutiara diatas topimu itu benar benar sangat bagus. Tetapi kau taruh diatas topimu, bukankah itu terlalu royal? Mengapa tidak kau taruh dilubang hidungmu saja, supaya orang lain bisa melihatnya dengan lebih nyata ?"
Wajah Chje Ceng Teng menjadi merah, ia tidak berani menjawab. Sim Thay Kun kembali mengawasi Liu Sek Ceng sambil tertawa-tawa, setelah itu ia berkata pula.
"Sudah banyak tahun tidak ketemu, ilmu pedangmu pasti sudah banyak maju. Dalam dunia rimba persilatan barangkali sudah tidak ada orang lain yang sanggup menandingi ilmu pedangmu; sebetulnya kau harus dipanggil Jago pedang nomor satu benar benar, setidak tidaknya pedang yang ada dipinggangmu itu, jauh lebih indah dari pada orang lain punya"
Muka Liu Sek Ceng seketika itu juga menjadi merah, tangannya yang tadi terus menggenggam gagang pedang, seolah-olah takut diketahui oleh orang lain, sekarang buru buru gagang pedangnya itu digeser kebelakangnnya.
Wajah mereka meskipun merah, tetapi sedikitpun tidak merasa malu sebab orang yang bisa dimaki oleh Sim Thay Kun, bukanlah suatu hal yang memalukan.
SEtidak tidaknya dapat menunjukan bahwa Sim Thay Kun tidak enggap orang itu sebagai orang luar.
Orang yang tidak dimaki olehnya, sebaliknya merasa tidak enak.
Yo Khay Thay menundukakan kepala, katanya dengan suara ketakutan .
Siaotit tadi berlaku kurang sopan, harap Thay hujin maafkan"
SIm Thay Kun menggunakan tangannya didaun telinganya lalu bertanya .
"Apa ? apa katamu ? aku tidak dengar"
Yo Khay Thay kembali berkata dengan muka merah .
"Siao... Siaotit tadi berlaku... kurang sopan..."
"Oh... kau mengatakan bahwa kau datang tidak membawa barang anteran ? itu apa salahnya? Biar bagaimana aku tahu bahwa kau orang pelit, sedangkan untuk makanmu sendiri saja kau masih merasa berat, bagaimana kau bisa membawa barang antaran untuk orang lain ?"
Yo Khay Thay sepatah katapun tidak bisa menjawab. May Kang juga segera berkata .
"Boanpwe tadi juga bukan hendak berkelahi dengan saudara Heng, hanya dua orang ini..."
"Apa ? kau kata hendak berkelahi dengan dua orang ini ?"
Bertanya Sim Thay Kun. Lalu dengan wajah berseri seri ia mengawasi Hong Sie Nio dan Siao Cap it long, kemudian berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya .
"Tidak bisa ! Dua orang ini tampaknya semuanya anak baik baik, mana boleh berkelahi ditampatku ini ? Hanya anak liar yang tidak tahu aturan itu, bisa mgomong gede dan bertingkah ditempat ini"
May Kang tercengang, akhirnya ia menjawab sambil menundukkan kepala .
"Thay Hujin benar"
Hong Sie Nio semakin lama semakin merasa lucu dan senang terhadap nyonya tua ini.
ia merasa bahwa nenek itu sesungguhnya sangat menyenangkan.
Ia hanya menghapar kalau ia sendiri nanti sudah berusia tujuh delapan puluh tahun juga seperti nenek ini lucunya.
*** KEPALA SIAUW CAP-IT-LONG Sementasa itu Sim Thay Kun sudah berkata lagi sambil tertawa .
"Tamu tamu yang datang ditempat ini sebetulnya bukan sedikit jumlahnya, akan tetapi sejak Pek Kun menikah, sudah lama tidak begitu ramai lagi, aku barulah mengerti bahwa orang itu ternyata bukan datang untuk menengok aku sinenek ini, tetapi hari ini kalian jikalau ingin juga melihat anak perempuanku yang cantik itu akan menjadi kecewa"
Ia tertawa demikian lucu, hingga dua matanya hampir hampir terpejamkan semua, katanya pula .
"Anakku itu hari ini tidak dapat menemui tamu, sebab ia sedang sakit"
"Sakit ? sakit apa ?"
Bertanya Yo Khay Thay.
"ANak tolol, perlu apa kau demikian cemas ? jikalau ia benar benar sakit, apa kau masih bisa demikian gembira ?"
Berkata Sim Thay Kun sambil tertawa. Kembali ia mengedip ngedipkan matanya, ia sengaja membuat perlahan sampai seperti habis suaranya, katanya .
"Kuberitahukan padamu, ia bukan sakit, melainkan sedang mengandung. Tetapi kau sekali kali jangan mengatakan bahwa hal ini aku yang memberitahukan padamu, supaya anakku itu nanti tidak akan menyesal bahwa aku nenek ini banyak mulut"
Orang orang dalam ruangan itu kembali bangkit dari tempat duduk masing masing, lalu terdengar ucapan selamat yang sangat riuh.
Yo Khay Thay tampak semakin gembira hingga tertawanya terus terdengar tidak berhentinya Hong Si Nio mendelikkan mata kepadanya, katanya dengan suara perlahan.
"Perlu apa kau begitu gembira? Anak toh bukan anakmu?"
Mulut Yo Khay Thay segera bungkam, tidak berani tertawa lagi. Seorang laki yang dengar kata orang perempuan semacam itu, sesungguhnya jarang tertampak. Siauw Cap It Long diam-diam menghela napas sendiri, sebab ia mengerti seorang laki-laki tidak boleh terlalu dengar ucapan orang perempuan, orang laki-laki jikalau terlalu dengar kata mulut perempuan, orang perempuan itu sebaliknya akan menganggap laki-laki itu tidak ada gunanya.
Siauw Cap It Long tidak perduli berada di satu tempat dengan banyak orang, selalu seperti menyendiri, sebab ia selamanya adalah seorang yang berdiri di luar garis, selamanya tidak suka turut menikmati kesukaan orang lain.
Ia selamanya paling tenang, maka dia jugalah orang pertama yang lebih dulu melihat kedatangan Lian Seng Pek.
Ia sebetulnya tidak kenal dengan Lian Seng Pek, juga belum pernah bertemu muka dengannya, akan tetapi ia tahu orang yang sekarang berjalan masuk dari luar itu pasti Lian Seng Pek.
Sebab ia selamanya belum pernah melihat siapa pun juga yang sikapnya demikian sopan santun, di dalam sikapnya yang sopan santun itu terkandung keagungan yang tidak dipunyai oleh lain orang.
Di dalam dunia ada banyak jumlahnya pemuda yang gagah tampan, ada banyak kaum pelajar yang sopan santun kelakuannya, ada banyak keturunan orang beruang yang sifatnya agung, juga ada banyak jago muda rimba persilatan yang kesohor namanya, tetapi semuanya tidak dapat dibandingkan dengan orang yang sekarang sedang berjalan masuk itu.
Siapa pun sebetulnya tidak dapat mengatakan di mana sebetulnya perbedaan ia dengan orang banyak.
Tetapi tidak perduli siapa orangnya, asal melihatnya sebentar, lalu bisa merasakan bahwa dia benar-benar berbeda dengan orang banyak.
Thio Bu Kek sebetulnya juga seorang yang tampaknya amat berwibawa dan agung, sikapnya juga pernah membuat banyak orang kagum.
Jikalau berjalan bersama-sama dengan orang lain, sikap dan kelakuannya selalu lebih menarik perhatian.
Tetapi sekarang ia berjalan dengan pemuda ini, Siauw Cap It Long seolah-olah tidak pernah melihatnya.
Ia selalu mengenakan pakaian yang bahannya paling mahal, potongannya paling cocok dengan bentuk tubuhnya, apa yang dikenakan tubuhnya selalu dipilih dengan teliti, begitu juga setiap barang selalu mencocoki dengan dirinya, hingga membuat orang tidak merasa jemu, juga tidak merasa bahwa perbuatannya itu dibuat-buat, lebih-lebih tidak bisa merasa bahwa dia itu adalah orang yang kaya mendadak.
Di dalam rimba persilatan orang seperti Thio Bu Kek jumlahnya tidak banyak, tetapi sekarang berjalan bersama-sama dengan anak muda tadi, benar-benar seperti pengawalnya saja dia.
Orang ini apabila bukan Lian Seng Pek, di dalam dunia ini siapa lagi yang mungkin dapat disamakan dengan Lian Seng Pek?
Jikalau Lian Seng Pek bukan sedemikian itu, ia juga sudah bukan Lian Seng Pek yang asli lagi!
Lian Seng Pek yang berjalan masuk, begitu masuk sudah melihat Siauw Cap It Long.
Dia juga tidak kenal dengan Siauw Cap It Long, lebih-lebih belum pernah bertemu muka dengannya, lagipula sama sekali tidak bisa memikirkan bahwa pemuda yang sekarang berdiri di ambang pintu ruangan itu adalah Siauw Cap I Long.
Akan tetapi ia hanya melihatnya sepintas lalu saja, ia sudah merasakan bahwa pemuda ini ada banyak hal yang berbeda dengan yang lainnya...
Dalam hal apa sebetulnya berbeda?
Dia sendiri juga tidak dapat mengatakan.
Ia ingin memandang lebih lama kepada pemuda ini, akan tetapi ia tidak dapat berbuat demikian, sebab mengawasi dan mengamati seseorang terlalu melit, adalah suatu perbuatan yang tidak sopan.
Dalam hidupnya Lian Seng Pek belum pernah melakukan suatu perbuatan yang melanggar kesopanan........
Ketika semua orang sudah melihat kedatangan Lian Seng Pek dengan Thio Bu Kek, sudah tentu lantas terdengar pula suara riuh dari tamu-tamunya di dalam ruangan.
Kemudian Thio Bu Kek pergi menjumpai Nyonya Besar Sim.
Sim Thay Kun meskipun masih berseri-seri tetapi dari matanya sudah tidak tampak lagi perasaan gembiranya seperti tadi, ia agaknya seperti mendapat firasat bahwa urusan agak tidak beres.
Thio Bu Kek menjura memberi hormat dan kemudian berkata.
"Boanpwe datang terlambat, hingga mencapaikan Thay-hujin menunggu lama, di sini Boanpwe haturkan maaf sebesar-besarnya."
"Tidak apa, datang terlambat bagaimana pun juga ada lebih baik daripada tidak datang. Bukankah begitu?"
Berkata Sim Thay Kun sambil tertawa.
"Ya,"
Jawab Thio Bu Kek.
"To Siao Thian, Hay-leng-cu dan si Raja Garuda tua itu, mengapa mereka tidak datang? Apakah tidak ada muka untuk menemui aku?"
Thio Bu Kek menghela napas perlahan, katanya.
"Mereka benar-benar memang tidak ada muka untuk menemui Thay-hujin......"
Sepasang mata Sim Thay Kun seperti mendadak berubah menjadi muda, matanya bergerakgerak dan ia berkata.
"Apakah goloknya telah hilang?"
Thio Bu Kek menundukkan kepala. Sim Thay Kun berkata lagi dengan suara hambar.
"Golok hilang tidak halangan, asal orangnya jangan sampai ikut-ikutan hilang."
Thio Bu Kek menundukkan kepalanya semakin rendah, katanya.
"Boanpwe sebetulnya juga tak ada muka buat menemui Thay-hujin. Tapi......."
Sim Thay Kun mendadak tertawa, katanya.
"Kau tidak perlu memberi penjelasan, aku juga tahu bahwa dalam urusan ini tanggungjawabnya bukanlah diserahkan kepadamu. Ada Raja Garuda tua dengan kalian bersama, ia yang mau membawa golok itu, maka golok itu pasti hilang di tangannya."
"Biarpun begitu tapi boanpwe juga tetap tidak lepas dari kesalahan dalam hal kelalaian.
Jikalau tidak dapat merampas kembali golok itu, boanpwe tidak ada muka lagi untuk bertemu dengan sahabat-sahabat rimba persilatan."
Berkata Thio Bu Kek sambil menghela napas.
"Orang yang bisa merampas golok dari tangan Raja Garuda tua, dalam dunia ini jumlahnya juga tidak seberapa, siapakah orangnya yang berani merampas golok itu?"
Bertanya Sim Thay Kun.
"Hong Si Nio,"
Jawab Thio Bu Kek.
"Hong Si Nio?........... nama ini aku rasanya sudah pernah dengar. Kabarnya ia memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Tapi kurasa dengan ilmu kepandaian seperti dia, barangkali masih belum dapat merampas golok dari tangan si Raja Garuda!"
"Sudah tentu ia bukan sendirian, ada pembantunya,"
Menjawab Thio Bu Kek.
"Siapa?"
Bertanya Sim Thay Kun. Thio Bu Kek menghela napas panjang, baru menjawab sepatah demi sepatah.
"Siauw Cap-it-long!"
Orang-orang yang berada dalam ruangan itu tidak kecewa mendapat nama julukan orangorang sopan, mendengar berita yang mengejutkan ini semua ternyata bisa berlaku demikian tenang, tiada seorang pun di antara mereka yang menunjukkan sikap terkejut atau kecewa, bahkan tiada seorang pun yang tampak membuka mulut.
Sebab mereka tahu, pada saat seperti itu, ucapan apa pun bisa menimbulkan perasaan pahit bagi Thio Bu Kek.
Sebagai orang sopan, tidak nanti mereka berbuat demikian.
Yang menunjukkan perasaan terkejut hanya dua orang, satu adalah Yo Khay Thay, yang lain adalah Hong Si Nio.
Yo Khay Thay menatap Hong Si Nio, Hong Si Nio sebaliknya menatap wajah Siauw Cap-itlong.
Dalam hatinya sudah tentu merasa sangat heran, sudah tentu ia tahu bahwa golok yang hilang itu bukanlah golok yang tulen.
Kalau begitu di manakah golok yang tulen itu?
Mendengar disebutnya nama Siauw Cap-it-long, Sim Thay Kun baru mengerutkan alisnya, lalu katanya seperti menggumam sendiri.
"Siauw Cap-it-long, Siauw Cap-it-long.... pada waktu paling belakangan ini mengapa aku selalu mendengar nama orang ini? Segala kejahatan di dalam dunia ini seolah-olah diborong olehnya sendiri."
Mendadak ia ketawa dan berkata lagi.
"Aku si nenek ini benar-benar ingin melihat rupa orang itu, sebetulnya dia orang yang bagaimana macamnya? Seseorang dapat melakukan kejahatan demikian banyaknya, sesungguhnya juga tidak gampang-gampang dapat dilakukan."
May Kang berkata sambil cemberutkan muka.
"Orang ini jikalau tidak disingkirkan, dunia Kang-ouw tidak akan aman, boanpwe cepat atau lambat suatu kali kelak pasti akan dapat membawa batok kepalanya untuk diperlihatkan kepada Thay-hujin."
Sim Thay Kun tidak menghiraukan segala omongannya, sebaliknya ia berkata kepada Chie Ceng Teng.
"Chie Ceng Teng, kau ingin batok kepala Siauw Cap-it-long atau tidak?"
Chie Ceng Teng berpikir sebentar, baru menjawab.
"Ucapan saudara May tidak salah, selama orang ini belum dapat disingkirkan, dunia Kangouw tidak akan aman......."
Sim Thay Kun tidak menantikan habis ucapannya sudah bertanya lagi kepada Liu Sek Ceng.
"Liu Sek Ceng, bagaimana kau?"
"Boanpwe sudah lama ingin menguji kepandaian orang itu,"
Menjawab Liu Sek Ceng cepat. Mata Sim Thay Kun beralih kepada Lian Seng Pek, kemudian bertanya.
"Dan kau?"
Lian Seng Pek hanya tersenyum tanpa menjawab. Sim Thay Kun menggelengkan kepala, mulutnya menggumam.
"Kau bocah ini segala-galanya semua baik, sayang tidak terlalu suka bicara..... kalian percaya atau tidak, ia datang di tempatku sini sudah setengah bulan, tapi aku belum pernah dengar ia berkata lebih dari sepuluh patah kata!"
Yo Khay Thay membuka mulut, tetapi segera dikatupkan lagi. Sim Thay Kun bertanya padanya.
"Kau ingin bicara apa? Katakanlah. Apakah kau juga ingin meniru dia?"
Yo Khay Thay melirik kepada Hong Sie Nio, barulah berkata.
"Boanpwe selalu merasakan, ada kalanya tidak bicara lebih baik daripada terlalu banyak bicara."
Sim Thay Kun kini tertawa, katanya.
"Kalau begitu, bagaimana dengan kau sendiri? Kau ingin membunuh Siauw Cap-it-long atau tidak?"
"Orang itu namanya terkenal di segala pelosok sebagai orang jahat, siapapun yang bisa menyingkirkannya, namanya akan kesohor di seluruh rimba persilatan, sudah tentu boanpwe juga ada maksud seperti itu. Tapi...."
"Tapi apa?"
Yo Khay Thay menundukkan kepala, katanya sambil tertawa masam.
"Boanpwe... barangkali bukan tandingannya."
Sim Thay Kun tertawa besar, katanya. "
Baik, kau si bocah ini bicaramu masih jujur, aku si nenek justru suka sekali kepada orang yang sopan santun dan mengetahui keadaan diri sendiri.
Tapi sayang, aku tidak mempunyai cucu perempuan yang kedua untuk dinikahkan kepadamu."
Wajah Yo Khay Thay kembali menjadi merah, matanya tidak berani memandang Hong Sie Nio lagi....
hingga bagaimana sikap Hong Sie Nio pada waktu itu, ia mungkin dapat membayangkan sendiri.
Kini pandangan mata Sim Thay Kun baru dialihkan lagi ke diri May Kang, katanya hambar.
"Kau lihat, ada demikian banyak orang, semuanya ingin mendapatkan batok kepala Siauw Cap-it-long. Kau kata hendak menenteng batok kepala Siauw Cap-it-long untuk diperlihatkan kepadaku, barangkali itu tidak mudah dilakukan."
O R A N G T O L O L Hong Sie Nio memandang Siauw Cap-it-long, katanya perlahan.
"Ada demikian banyak orang menghendaki batok kepalamu, kau rasa bagaimana?"
"Aku senang sekali."
Menjawab Siauw Cap-it-long.
"Senang? Kau masih merasa senang?"
Siauw Cap-it-long tertawa.
"Aku masih belum tahu bahwa batok kepalaku demikian berharga. Kalau aku tahu begitu, barangkali sudah lama kugadaikan ke rumah pegadaian."
Hong Sie Nio juga tertawa.
Malam itu sunyi, suara tertawanya seperti keliningan perak.
Di taman belakang di perkampungan keluarga Sim, setiap tetamu telah mendapat sebuah kamar.
Orang yang datang berkunjung ke kampung keluarga Siem, jikalau tidak mau menginap satu malam, itu berarti terlalu tidak pandang muka kepada Sim Thay Kun.
Suara tertawa Hong Sie Nio dengan cepat sudah berhenti, katanya sambil mengerutkan alis.
"Golok yang kita rampas itu jelas adalah golok tiruan, tetapi yang merka kata kehilangan golok yang tulen. Menurut kau, urusan ini aneh atau tidak?"
"Tidak aneh."
"Tidak aneh? Tahukah kau kemana perginya golok yang tulen itu?"
"Golok yang tulen....."
Baru berkata sampai di situ ia sudah mengatupkan bibirnya.
Sebab ia sudah dengar suara langkah kaki seseorang yang berjalan ke arahnya.
Ia tahu itu pasti adalah Yo Khay Thay, hanya langkah kakinya seorang sopan, baru perdengarkan suaranya demikian berat.
Sebagai seorang sopan, tidak mungkin mau mencuri dengar pembicaraan orang dengan caranya seperti maling. Hong Sie Nio kembali mengerutkan alisnya, katanya perlahan.
"Sukma tidak buyar, kembali datang mengintil...."
Ia memutar tubuhna, mendelikkan matanya kepada Yo Khay Thay yang wakti itu sudah tiba di belakangnya, katanya dingin.
"Apakah kau hendak mengucapkan terima kasih kepadaku?"
Muka Yo Kay Thay merah seketika, katanya.
"Aku.... tak ada maksudku begitu."
"Akupun sebetulnya yang harus mengucapkan terima kasih kepadamu. Coba tadi kau katakan terus terang bahwa aku adalah Hong Sie Nio, orang-orang itu pasti tidak akan mau melepaskan aku."
"Mengapa aku...hendak membuka rahasia?"
"Bukankah mereka mengatakan aku adalah maling yang mencuri golok itu?"
"Aku tahu bukan kau."
"Bagaimana kau tahu?"
"Sebab....sebab.... aku percaya kepadamu."
"Apa sebab kau percaya kepadaku?"
Yo Khay Thay kembali menyeka peluh dikeningnya, katanya.
"Tidak tahu, aku... aku percaya padamu."
Hong Sie Nio mengawasi padanya, mengawasi mukanya yang bulat persegi.
Sikap yang terlalu jujur!
Dari sepasang mata Hong Sie Nio tak tertahankan lagi, mulai tampak sedikit basah dan berkaca-kaca.
Sekalipun ia orang yang terbuat dari batu, ada waktunya juga bisa terharu.
Dalam saat seperti itu, ia juga tidak tahan mengendalikan perasaannya sendiri, hingga ia menggenggam tangan Yo Khay Thay dan berkata dengan suara lemah lembut.
"Kau benar seorang baik."
Mata Yo Kay Thay juga basah, katanya dengan suara gelagapan.
"Aku.... aku tidak terlalu baik, aku juga terlalu jahat...aku...."
Hong Sie Nio tertawa, katanya.
"Kau benar-benar seorang sopan, tetapi juga seorang tolol...."
Dengan tiba-tiba ia teringat diri Siauw Cap-it-long, ia segera melepaskan tangannya dan berpaling seraya berkata sambil tertawa.
"Kau kata dia ini....."
Tertawanya mendadak berhenti, sebab Siauw Cap-it-long sudah tidak berada di belakang dirinya lagi.
Siauw Cap-it-long sudah menghilang.
Cukup lama juga Hong Sie Nio berada dalam keadaan tercengang, lalu tiba-2 ia bertanya kepada Yo Khay Thay.
"Kemana dia? Apakah kau melihat ia pergi kemana?"
"Siapa?"
Bertanya Yo Khay Thay yang juga terkejut.
"Dia... adikku, kau lihat padanya atau tidak?"
"Ti.... tidak."
"Apakah kau sudah buta? Orang demikian besar seperti dia, mengapa kau tidak dapat melihat?"
"Aku.... aku benar-benar tidak melihat, aku hanya .... hanya melihat kau...."
"Ah kau ini, benar-benar seorang tolol."
Berkata Hong Sie Nio sambil menjejakkan kakinya ke jubin.
Cahaya lampu di dalam rumah masih terang benderang.
Hong Sie Nio hanya mengharapkan Siauw Cap-it-long kembali lagi ke kamarnya, tetapi ia tidak berani memastikan, sebab ia mengerti betul sifat dan adat Siauw Cap-it-long.....
ia tahu Siauw Cap-it-long setiap saat bisa menghilang.
Dalam rumah itu tidak terdapat seorangpun juga, di atas meja terdapat sepotong kertas yang ditindih pelita.
Tinta di atas kertas masih belum kering semua, itu ditulis oleh Siauw Cap-it-long dengan tulisannya yang aneh.
"Lekas menikah dengannya, jikalau tidak kau nanti pasti akan menyesal. Aku berani tanggung dalam hidupmu ini, tidak akan menemukan lagi seorang yang lebih baik terhadapmu daripada orang ini."
Demikian bunyi tulisan itu. Hong Sie Nio menggigit bibir, matanya sudah merah, katanya dengan gemas.
"Bajingan ini, binatang ini, benar-benar bukan keturunan ayah ibunya."
Yo Khay Thay berkata sambil tertawa.
"Dia bukankah adikmu? Bagaimana kau boleh memaki padanya demikian rupa?"
Hong Sie Nio lompat dan berkata dengan suara keras.
"Siapa kata dia adikku? Apa kau sudah melihat setan?"
Yo Khay Thay demikian cemas, hingga keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, katanya.
"Kalau dia bukan adikmu, lalu siapa?"
Hong Sie Nio tidak dapat membendung air matanya, katanya.
"Dia ..... dia juga seorang tolol!"
Orang tolol sudah barang tentu bukanlah orang sopan, tetapi orang sopan sedikit banyak pasti ada mengandung sifat tolol.
Orang yang mau menjadi orang sopan memang bukanlah suatu perbuatan yang pintar.
Dari mulut Siauw Cap-it-long terdengar suara nyanyian perlahan, irama nyanyian itu mirip dengan irama nyanyian gembala di tanah datar, irama yang mengandung sifat sedih tetapi juga mengandung rasa kesunyian.
Setiap kali ia menyanyikan lagu itu, perasaan hatinya selalu merasa tidak terlalu enak, apa yang tidak memuaskan baginya, ialah ia selama-lamanya tidak suka menjadi seorang tolol.
Suasana malam tidak terlalu menggembirakan, sebab sinar bintang di langit, dan di rerumputan sebentar-bentar terdengar suara binatang malam, hingga sekitar tempat itu jelas dirasakan kesunyiannya.
Dalam malam sunyi seperti itu, di bawah sinar bintang di langit, dengan seorang diri berjalan di alam terbuka, pikiran dan perasaannya kadang-kadang bisa melupakan segala pikiran dan kesusahan.
Akan tetapi, tidak demikian dengan Siauw Cap-it-long.
Pada waktu semacam itu, ia selalu bisa memikirkan banyak urusan yang seharusnya tidak dipikirkan, ia bisa teringat kepada diri sendiri, bisa teringat kepada semua pengalamannya semasa hidupnya....
Dalam hidupnya itu, ia selamanya akan menjadi seorang di luar garis, selamanya selalu merasa terpencil, ada kalanya ia benar-benar merasa letih, tetapi sebaliknya belum pernah ia berani mengaso.
Sebab penghidupan manusia seperti sebatang pecut, selamanya ada yang memecutinya dari belakang, suruh ia berjalan ke depan, suruh ia pergi mencari, tetapi selamanya belum pernah mau memberitahukan padanya apa sebetulnya yang harus dicari....
Ia hanya berjalan maju terus tanpa berhenti, selalu mengharapkan bisa menemukan kejadian yang hebat-hebat.
Jikalau tidak, hidupnya itu bukankah terlalu tidak ada harganya?
RAHASIA RAJA GARUDA Dengan mendadak, telinganya dapat menangkap suara berkelebatannya pakaian yang sangan kuat, begitu mendengar ia sudah lantas dapat mengenali bahwa suara itu timbul dari bergeraknya seorang pejalan malam yang memiliki kepandaian ilmu meringankan tubuh yang cukup mahir.
Suara angin mendadak berhanti didalam rimba dihadapannya, kemudian disusul oleh suara dengus orang yang timbul dari dalam rimba itu, bahkan masih terdengar suara rintihannya yang menandakan sedang kesakitan.
Orang berjalan malam itu jelas sudah mendapat luka parah.
Langkah kaki Siauw Cap it loing tidak berhenti, ia masih berjalan terus kedepan, kini berjalan memasuki rimba, dan suara dengusan dan rintihan tadi juga berhenti dengan segera.
Sesaat kemudian, tiba tiba terdengar suara orang berkata .
"Kawan, berhentilah !"
Kini Siauw Cap it long baru perlahan lahan memutar tubuhnya.
Tampak olehnya seseorang menongolkan badannya dari belakang pohon, kepalanya luar biasa besarnya, dengan rambutnya awut-awutan.
Orang ini ternyata adalah Raja Garuda Lengan Satu !
Diwajah Siauw Cap ti Long tidak menunjukan perobahan sikap sedikitpun juga, tanyanya lambat lambat .
"Tuan ada keperluan apa ?"
Mata Raja Garuda Lengan Satu yang hanya tinggal satu terus menatap padanya, lama sekali, baru berkata sambil menghela napas .
"Aku terluka"
"Aku sudah tahu"
"Tahukah kau didepan sana ada perkampungan keluarga Sim?"
"Tahu"
"Lekas gendong aku kesana, Lekas, sedikitpun tidak boleh terlambat"
"Kau tidak kenal aku, aku juga tidak tahu siapa kau. Mengapa aku harus gendong kau pergi kesana?"
"Kau... berani berlaku kurang ajar terhadapku ?"
Berkata si Raja Garuda Lengan Satu merah .
"Kau yang tidak aturan ataukah aku ? jangan lupa, sekarang adalah kau yang minta tolong padaku, bukan aku yang ninta tolong padamu "
Raja Garuda Lengan Satu kembali menatap wajahnya, sinar matanya penuh dengan hawa amarah dan kebuasannya, tetapi kulit diwajahnya perlahan lahan sudah berkerinjit, jelas ia sedang menahan rasa sakitnya.
Telah lama dalam keadaan keheningan, batu terdengan suara elahan nafasnya, sedang dibibirnya tersungging senyuman yang dipaksakan, ia berusaha untuk mengeluarkan sepotang mas dari dalam sakunya, kembali berkata dengan napas memburu .
"Ini kuberikan padamu, jikalau kau mau membantu aku, dikemudian hari aku pasti akan membalas budimu besar sekali"
Siauw Cap it-long tertawa, katanya "
"Nah,begitu baru mirip suara orang. Mengapa tadi kau tidak mengatakan demikian ?"
Perlahan lahan is berjalan menghampiri, seolah olah benar benar hendak mengambil potongan mas itu, tetapi baru saja tangannya diulurkan, lengan satu dari si Raja Garuda secepat kilat sudah melayang, lima jari tangannya yang runcing, menyambar pergelangan tangan Siauw Cap it-long.
Ibarat binatang kelabang, meskipun sudah mati tubuhnya masih belum kaku, demikianlah keadaan si Raja Garuda Lengan Satu yang jahat, meskipun dalam keadaan terluka parah dan keadaan diri senridi sangat berbahaya, tetapi serangan terakhir itu, masih dapat dilakukan demikian cepat dan hebat sekali.
Akan tetapi Siauw Cap it-long bertindak lebih cepat lagi ia lompat dan jumpalitan ditengah udara untuk mengundurkan diri kedang ujung kakinya ketika itu dapat menggaet potongan mas yang terjatuh ditanah, setelah itu ia menyambuti dengan tangannya, dengan tenang ia sudah berhasil mundur sejauh delapan kaki.
Kelincahan, ketangkasan, dan kegesitannya demikian indah dipandang, hanya orang yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri baru percaya, bagi orang lain sesungguhnya tidak dapat menbanyangkan.
Wajah Raja Garuda Lengan Satu berubah semakin menyedihkan, katanya "\ "Kau Siapa?"
Demikian ia bertanya.
"Aku sudah kenal kau, apa kau masih belum mengenali aku ?"
Balas bertanya Siauw Cap itlong sambil tersenyum.
"kau... apakah kau bukan Siauw Cap it-long ?"
Berseru si Raja Garuda Lengan Satu.
"Akhirnya kau tahu juga"
Berkata Siauw Cap it-long sambil tertawa.
Mata si Raja Garuda Lengan Satu kembali menatap wajah Siauw Cap it-long, seolah olah ketemu dengan setan, dari mulutnya menghembuskan suara seperti orang bernapas kemudian menggumam.
"Baik, Siauw Cap it-long, apakah kau baik?"
" ...Ya, aku sekarang tidak sakit"
Si Raja Garuda Lengan Satu kembali pendelikan mata kepadanya, dengan mendadak tertawa besar.
Kalau ia tidak tertawa itu masih baik, tapi karena sudah tertawa lukanya malah dirasakan semakin sakit, hingga keringat dingin dengan cepat mengucur keluar, tetapi ia masih terus tertawa tidak berhentinya, entah apa sebenarnya yang ia ingat.
Siauw Cap it-long percaya dalam hidupnya ini, barangkali belum pernah tertawa demikian, maka ia lalu bertanya padanya.
"Apa kau merasa gembira?"
"SUdah tentu aku gembira, hanya disebabkan Siauw Cap it-long juga sama dengan aku, juga bisa tertipu oleh akal muslihat orang lain"
Berkata si Raja Garuda Lengan Satu dengan naps memburu.
"oh"
Tubuh si Raja Garuda sudah mulai berkerinjit ia menahan sakit sambil mengertek gigi, katanya dengan suara serak.
"Tahukah kau bahwa golok yang kau rampas itu adalah golok paslu ?"
"Sudah tentu aku tahu, akan tetapi kau... bagaimana kau tahu ?"
"Dengan kepandaian tiga binatang kecil itu, bagaimana dapat mengelabui mataku terus terusan!"
"Justru lantaran kau mengatahui rahasia mereka, maka itu mereka barulah hendak membunuhmu !"
"Itu memang benar"
Siauw Cap it-long menghela napas, kemudian baru berkata .
"Dengan orang orang yang mempunyai kedudukan baik seperti Thio Bu Kek, Hay lengcu dan TO Siao Thian bertiga, bagaimana lantasan sebilah golok talah menempuh bahaya demikian besar ? Sehingga... sayang nama baik, kedudukan baik, rumah tangga dan nyawanya dipertaruhkan semuanya? Apalagi, golok hanya sebilah sedang orangnya ada tiga, bagaimana harus membaginya ?"
SI Raja Garuda Lengan Satu batuk batuk tidak berhentinya, alam baru berkata .
"Mereka senridi... tidak menginginkan golok itu "
"Jadi siapa yang menghendaki ? Apakah dibelakang mereka masih ada orang yang memerintah ?"
Batuk si Raja Garuda Lengan Satu semakin keras, sudah mengeluarkan darah.
"Orang itu ternyata dapat memerintahkan Thio Bu Kek, To Siao Thian dan Hay lengcu dengan sesuka hatinya, siapakah dia sebenarnya"
SI Raja Garuda Lengan Saru dengan menggunakan tangannya yang tinggal satu menunjang mulutnya, ia berusaha sadapat mungkin untuk menelan kembali darah yang hendak keluar dari mulutnya, ia hendak mengeluarkan nama orang itu, tetapi hanya baru menyebut satu huruf, darah segar sudah menyembur keluar dari mulutnya tak tertahankan lagi.
Siauw Cap it-long menghela napas, selagi hendak membimbingnya dan supaya bisa mengucapkan kata kata lagi, tetapi justru pada saat itu badannya mendadak melompat sebentar sudah menghilang keatas pohon.
justru pada saat itu, sudah ada tiga orang masuk kedalam rimba yang gelap itu.
Dalam dunia ini ada banyak orang yang memiliki daya kemampuan yang sangat aneh, seolah olah selalu dapat mengendus bau maut atau tahu bahaya, meskipun matanya tidak melihat, juga telinganya tidak mendengar, tetapi kalau sedang ada bahaya mengancam, selalu dapat menghindarkan ancaman bahaya itu pada saat bahaya akan tiba.
Orang macam itu jikalau menjadi pembesarnegeri pasti menjadi seorang pembesar negeri yang kesohor, jikalau dimedan perang,pasti akan meupakan jendral yang tangkas, jikalau ceburkan diri dikalangan Kang-ow juga pasti bisa malang melintang didunia kang-ow, dan menjadi seorang pendekar tanpa tandingan.
Siauw Cap it-long juga orang yang mempunyai daya kemampuan aneh semacam itu, orang semacam ini sekalipun tidak bisa hidup lebih lama dari pada orang lain, tetapi walaupun mati, kematiannya juga lebih berharga dari pada orang lain.
Tiga orang yan baru masuk kedalam rimba tadi, kecuali Hay lengcu dan To Siao Thian, masih ada lagi, seorang berpakaian jubah jihau yang tampaknya seperti orang sastrawan lemah, orang ini tidak tinggi tubuhnya, wajahnya tidak menunjukkan sedikitpun sikap ramah tetapi biji matanya kalau bergerak sangat hidup, jelas bahwa wajah orang itu mengenakan kedok kulit manusia yang dibuat sangat indah.
Gerakannya juda tidak lebih gesit dari pada To Siauw Thain atau Hay lengcu, tetapi gerakannya itu tenang, seolah olah sedang berjalan ditaman bunga, langkahnya itu tenang namun bertenaga.
Wajahnya meskipun disembunyikan hingga kehilatannya menakutkan, tetapi separang matanya yang hidup membuat ia menunjukkan daja penariknya yang sangat aneh, hingga menimbulkan orang memperhatikannya tanpa disadari olehnya sendiri.
Tetapi apa yang paling menarik perhatian Siauw Cap it-long, adalah sebilah golok yang tergantung dipinggangnya, golok ini berikut gagangnya tidak lebih dua kaki panjangnya, sarungnya dan gagangnya bentuknya sederhana, juga tidak dihiasi benda benda yang menyolok dan menarik, golok masih belum keluar dari sarungnya, hingga tidak dapat dilihat tajam atau tidak.
Akan tetapi Siauw Cap it-long hanya melihat sekejap mata saja, sudah dapat membedakan bahwa golok ini ada mengandung hawa dan wibawa yang dapat membuat terbang semangat orang.
Apa golok itukah yang dinamakan golok Kwa-liok-to ?
Thio Bu Kek, Hay Lengcu dan To Siao Thiam, dengan tidak sayangi namanya sendiri akan hancur menjaga rapat golok Kwa-liok-to ini.
Apakah golok itu akan diberikan kepada orang ini?
Siapakah dia?
Ada mempunyai pengaruh apa dia hingga dapat membuat Thio Bu Kek dan lain lainnya demikian dengar kata kepadanya?
Suara batuk batuk si Raja Garuda Lengan Satu perlahan lahan sudah mulai lemah hingga hampir tidak kedengaran lagi.
Hay Lengcu dan Tio Siao Thian saling berpandang sejenak, menarik napas panjang.
"Mahluk tua aneh ini sungguh panjang nyawanya, ternyata bisa melarikan diri sampai disini"
Berkata To Siao Thian sambil tertawa .
"Betapapun panjang umur orang, juga tidak sanggup menahan pedang dan dua tangan dari kita !"
Berkata Hay Lengcu dingin.
"Sebetulnya dengan adanya pukulan Siao Kongcu tadi, sudah cukup untuk memindahkan nyawanya, sama sekali tidak perlu kita turut campur tangan"
Berkata To Siao Thian sambil tertawa. Orang berjubah hijau ini mungkin agaknya tertawa, katanya dengan suara lemah lembut .
"Benarkah ?"
Perlahan lahan ini berjalan menghampiri si Raja Garuda Lengan Satu, dengan mendadak tangannya bergerak, dan golok sudah keluar dari sarungnya.
Golok itu memancarkan sinar hijau muda tetapi tidak begitu menyilaukan mata.
Golok itu hanya tampak memancarkan sinar sekelebatan, dalam sekejap batok kepala si Garuda Lengan Satu sudah berpisah dari kepalanya.
Orang berjubah hijau melihat sajapun tidak, ia hanya mengawasi golok ditangannya.
Golok hanya tampak sinarnya yang berwana jihau muda, tetapi tidak tampak tanda darah.
Orang muda berjubah hijau itu menghela napas perlahan dan berkata .
"Golok bagus, benar benar golok luar bisa bagusnya"
Orang sudah mati, ia masih tega hati memenggal kepalanya, betapa kejam tindakan itu, benar benar jarang ada, sehingga orang seperti Hay Lengcu dan lain lain juga lentas berubah wajahnya.
Siao Kong cu yang sangat misteri Orang berjubah hijau itu perlahan lahan masukkan goloknya kedalam sarungnya, lalu berkata .
"Suhu dahulu pernah mengajarkan kepada kita, jikalau hendak membuktikan seseorang sudah mati benar benar atau belum, hanya ada satu cara ialah penggal dan seriksa dulu batok kepalanya"
Sepasang matanya memandang To Siao Thian dan Hay lengcu, kemudian berkata lagi dengan suara lemah lembut .
"Coba kalian katakan, ucapan ini ada benarnya atau tidak ?"
To Siao Thian memperdengarkan suara batuk batuknya dua kali, katanya sambil tertawa yang dibuat buat.
"Ada benarnya, ada benarnnya..."
"Ucapan yang keluar dari mulut suhuku, sekalipun tidak ada benarnnya, djuga harus diakui ada benarnnya, betul tidak ?"
Bertanya pula siorang berjubah hijau.
"Benar, benar, benar, benar sekali"
Berkata Tio Siao Thian. Orang berjubah hijau itu memperdengarkan suara tertawanya lagi kemudian berkata pula .
"Ada orang mengucapkan perkataan baik tentak suhuku, aku selalu merasa gembira jikalau kau hendak membuat aku merasa gembira, seharusnya kau banyak mengucapkan kata kata yang baik baginya dihadapanku"
Siao kongcu sungguh suatu nama yang sangat aneh.
Orang berjubah hijau ini ternyata bernama Siao Kongcu.
Dilihat dari matanya, didengar dari ucapannya, sudah dapat diketahui bahwa usianya masih sangat muda, tetapi orang orang sudah berusia limapuluh enam tahunan seperti To Siao Thian dan Hay Lengcu, demikian merendahkan dirinya, ini sesungguhnya merupakan suatu kejadian yang sangat ganjil.
Tampaknya ia seperti seorang yang lemah lembut, tetapi untuk memenggal batok kepala orang yang sudah mati, ia masih tidak pendang mata sedikitpun juga.
Siauw Cap it-long yang menyaksikan itu semua, diam diam menghela napas, ia benar benar tidak dapat menduga asal usul dari orang itu.
"Mungkin sudah demikian kejam dan ganasnya, entah bagaimana orangnya yang dikatakan sebagai suhunya itu?"
Demikian Siauw Cap it-long bertanya tanya kepada dirinya sendiri. Ini benar benar merupakan suatu hal yang tidak dapat diukur dengan pikiran manusia,hingga ia tidak berani memikirkan lagi. Terdengar pula suara Siao Kongcu yang berkata.
"Sekarang meskipun SU-Khong Cu sudah mati, tetapi kita masih ada tugas lain yang harus dilakukan, betul tidak ?"
"Ya "
Menjawab To Siao Thian.
"Itu tugas apa ?"
To Sioa Thian mengawasi Hay lengcu sejenak, baru berkata .
"Ini..."
"Apa kau tidak dapat memikirkan ?"
"Tidak . menjawab TO Siao Thian sambil tertawa getir.
"Dengan usia kalian yang sudah demikian lanjut, urusan sepele ini saja tidak dapat memikirkan, sesungguhnya sangat aneh !"
Berkata Siao Kongcu sambil menghela napas.
"Aku sudah tua hingga suka menjadi linglung, harap Kongcu suka memberi penjelasan"
Berkata TO Siao Thian sambil tertawa getir.
"dengan sebenarnnya, kalian memang benar seharusnya banyak belajar dari aku "
Kata Siao Kongcu sambil menghela mapas.
Usia To Siao Thian dan Hay lengcu, paling sedikit masih lebih dua kali lipat dari usia Siao Kongcu, tetapi ia telah pandang mereka seperti anak kecil, dan lain lainnya ternyata juga benar benar dengar kata seperti anak kecil.
Siao Kongcu kembali menarik napas, baru berkata lagi.
"Sekarang kutanya padamu, Su-Khong Cu sudah banyak tahun melang melintang di dunia Kang-ouw, dan kini telah binasa secara mendadak, apakah hal itu tidak menimbulkan perasaan curiga orang ?"
"Ya "
Jawab To Sioa Thian.
"Nah, Kalau ada orang merasa curiga, sudah pasti ada orang yang harus pergi menyelidiki, dengan cara bagaimana Su-Khong Cu bisa binasa, dan siapa yang membunuhnya !"
"Benar "
Siao Kongcu mengedip ngedipkan matanya, tanyanya pula .
"Kalau begitu, aku tanya padamu lagi, siapa sebetulnya yang membunuh Su Kongcu ini ? tahukan kau ?"
Kecuali Siao KOngcu, masih ada siapa lagi yang memiliki kepandaian demikian tinggi ?"
Menjawab To Siao Thian sambil tertawa. Sepasang mata Siao Kongcu mendadak dipendelikkan, katanya .
"Kau kata Su-Khong CU aku yang membunuh ? kau lihat ! apakah aku ini mirip dengan seorang pembunuh ?"
To Siao Thian tercengang katanya . "Bu... bukan..."
Kalau bukan aku yang membunuh, apakah kau ? To Siao Thian menyeka keringatnya, katanya .
"Su-Khong Cu denganku tidak apa permusuhan dan tidak ada ganjalan sakit hati, mengapa aku harus membunuh dia ?"
"Itulah ! jikalau kau kata bahwa kau yang membunuh Su Khong Cu, dalam dunia Kang-ouw, masih akan tetap merasa curiga, orang akan tetap mesih hendak mengadakan penyelidikan dulu !"
Hay Lengcu yang sejak tadi diam saja, kini juga bicara, katanya .
"AJu juga tidak membunuh dia "
"Sudah tentu kaupun tidak bisa membunuh dia, lalu siapakah yang membunuh Su-Khong Cu ini ?"
Bertanya Siao Kongcu. To Siao Thian, Hay Lengcu saling berpandangan, mereka tak dapat menjawab. Siao Kongcu berkata pula sambil menghela napas .
"Percuma kalin masih mempunyai mata, bagaimana tidak dapat melihat Siaw Cap it-long ?"
Ketika ucapan itu keluar dari mulut Siao Kongcu, Siauw Cap it-long benar benar sangat terkejut.
"Apakah orang ini sudah melihat diriku ?"
Demikian ia bertanya tanya kepada dirinya sendiri. Untung pasa saat itu Siao Kongcu sudah berkata lagi .
"Tadi toch sudah jelas adalah Siauw Cap it-long yang memenggal batok kepala Su-khong Cu dengan goloknya, dan golok yang digunakan itu bukanlah justru golok Kwa-Liok-to ?"
Sepasang mata To Siao Thian mendadak bersinar terang, lalu katanya dengan suara garang .
"Benar, Benar ! Aku tadi juga menyaksikan dengan jelas bahwa Siauw Cap it-long membunuh SU-Khong Cu dengan goloknya, bahwa golok yang digunakan itu benar adalah golok Kwa-liok-to. Cuma sayang usiaku sudah terlalu lanjut hingga mataku lamur, hampir saja aku lupa "
"Ungutn kau masih belum lupa benar benar, hanya... meskipun Su-khong Cu dibunuh oleh Siauw Cap it-long, tetapi orang orang dalam dunia Kang-ouw sebaliknya tidak tahu, sekarang bagaimana ?"
"Ini... kita benar benar harus mencari suatu akal supaya orang dunia Kang-ouw mengetahuinya "
Berkata TO Siao Thian.
"Sedikitpun tidak salah, kau sudah mendapatkan akal apa ?"
"Untuk sementara masih belum dapat memikirkan "
Berkata TO Siao Thian sambil mengerutkan alisnya. Siao Kongcu menggeleng gelengkan kepala dan berkata "Sebetulnya akal ini sederhana sekali. Kau lihatlah !"
Golok pusakanya itu kembali keluar dari sarungnya, hanya tampak berkelebatannya sinar hijau, sudah mengupas kulit sebuah pohon, katanya .
"Darah Su-Khong Cu masih belum terlalu dingin, kau lekas robek pakaiannya, lalu basahi dengan darahnya dan tulislah beberapa huruf diatas pohon ini, aku akan membacakan bunyinya, dan kau yang menulis. Mengertikah ?"
"Baik "
Menjawab To Siao Thian yang begitu cepatnya menuruti perintahnya.
"Kau tulis dulu begini mula mula . Memotong menjangan tidak lebih baik dari pada memotong kepala orang, bisa menggunakan golok ini untuk memenggal kepala orang seluruh negeri bukankah amat menyenangkan ?... Kemudian dibawahnya kau tulis nama Siauw Cap it-long. Dengan demikian, maka orang orang seluruh negeri, semua akan tahu bahwa perbuatan ini siapa yang melakukan. Kau kata akal ini bukankah sangat sederhana sekali ?"
TO Siao Thian berkata sambil menepuk tangan .
"Bagus bagus; Kong Cu benar benar seorang pandai, bukan saja pandai ilmu silat, juga pandai segala akal. Beberapa patah kata ini juga sepertu jauh keluar dari mulut Siauw Cap it-long sendiri "
"Aku juga tidak perlu lagi merendahkan diriku, karena kata kata ini kecuali aku, siapa lagi yang bisa memikirkan ?"
Berkata siao Kongcu sambil tertawa.......
Siauw Cap it-long yang mendengar dan menyaksikan itu semua, dadanya dirasakan seperti mau meledak.
Kongcu itu meskipun usianya belum tua tetapi akal muslihatnya yang demikian jahat dan keji, rasanya masih diaras orang yang lebih tua usianya dan sudah banyak pengalaman dalam kejahatan, jikalau dibiarkan ia hidup beberapa tahun lagi, orang orang dikalangan Kang-ouw berangkali akan mati ditangannya semua.
Sementara itu sudah terdengar suara Siao Kongcu yang bertanya lagi .
"Sekarang apakah urusan kita sudah selesai semua ?"
"Boleh dikata selesai sebagian "
Menjawab To Siao Thian memperdengarkan suara batuk batuknya hingga dua kali, lalu berpaling dan membuang ludah kearah lain, sedang Hay Lengcu wajahnya sudah berubah, karena tidak dapat lagi menahan emosinya, ia lalu berkata .
"Apakah masih perlu membelah batok kepala Su-khong Cu ini lagi"
"Itu juga tidak perlu, tapi jikalau secara kebetulan Siaw Cap it-long liwat disini, dan menyaksikan jenazah SU-Khong Cu, menyaksikan pula tulisan diatas pohon, coba kau pikir, apa kiranya yang akan dilakukannya ?"
Bertanya Siao Kongcu sambil tertawa dingin . Hay Lengcu dan To Siao Than demikian tercengang sampai bungkan terus. Siao Kongcu nerkata pula .
"Jikalau ia bukan seperti kalian demikian bodoh, pasti akan memapas tulisan diatas pohon itu, lalu memindahkan lagi janazah Su Khong Cu kelain tempat, dengan demikian, bukankah semua usaha kita akan tersia sia belaka ?"
"Benar, kita ternyata belum memikirkan sampai disitu "
Kata To Siao Thian.
"inilah sebabnya mengapa kalian harus dengar ucapanku, sebab kalian sebetulnya tidak secerdik aku "
"Menurut pikiran Kongcu bagaimana kita harus berbuat selanjutnya ?"
Bertanya To Siao Thian.
"Akal ini sebetulnya juga sangat mudah dan sederhana sekali, benarkah kalian tidak dapat memikirkan ?"
To SIao Thian hanya tertawa getir sebagai jawabannya. Siao Kongcu menggelengkan kepala dan berkata sambil menghela napas .
"Kau takut dia akan mengupas tulisan dibatang pohon, apakah kau sendiri tidak bisa mengupas lebih dulu ?"
"Akan tetapi..."
"Kau mengupas kulit pohon yang ada tolisannya itu, lalu antarkan keperkampungan keluarga Sim, disana sekarang ini masih ada banyak orang, kau boleh suruh mereka menyaksikan kematian Su Kong CU !"
Ia tertawa, katanya lagi "
"Ada demikian banyak mata orang yang menyaksikan, sekalipun Siaow Cap it-long lompat kedalam sungai Hoang ho, juga tidak dapat menyuci bersih penasarannya... coba kalian katakan, akal ini baik atau tidak ?"
To Siao Thian menarik napas panjang, lalu berkata "
"Akal Kongcu yang demikian teliti, benar benar tidak dapat dibandingkan dengan orang lain "
"Kau juga tidak perlu mengumpak diriku, asal selanjutnya dengar kataku juga sudah cukup"
Mendengar ucapan itu, bukan saja To Siao Thian dan Hay Leng cu semua pada takluk benar benar, sedangkan Siauw Cap it-long sendiri tak mau mengagumi Siao Kongcu itu, yang sesungguhnya mempuyai banyak akal keji.
DIa benar benar belum pernah ketamu dengan seorang yang demikian baik.
cacad paling besar Siauw Cap it-longialah .
Urusan yang semakin sulit dan semakin berbahaya ia semakin hendak melakukannya, orang semakin hebat, ia semakin ingin menghadapinya.
Sementara itu sudah terdengar Siao Kongcu berkata pula "
"Kalian setelah berkunjung keperkampungan keluarga Sim, aku masih ada beberapa urusan hendak kalian minta kalukan sekalian !"
"Harap perintahkan saja "
Berkata to Siao Thian. "
Aku hendak minta kalian mencari keterangan tentang istri Lian Seng Pek, ialah Sim Pek Kum, kapan akan pulang kerumah mertuanya?
apakah Lian Pek Kun akan berjalan bersama sama ?
dan kapan siap melakukan perjalanan ?"
"Ini sebaliknya tidak terlalu susah, hanya..."
Berkata To Siao Thian.
"Apakah kau ingin bertanya padaku, apa sebab hendak mencari keterangan tentang dia ia? apakah lantaran kau tidak berani menanyakan terus terang, hingga kau hanya mengucapkan sepotong saja ? betul tidak begitu ?"
"Aku tidak berani, hanya..."
"Kembali hanya, hanya saja, sebetulnya kalau kau tanya padaku juga tidak halangan aku boleh beritahukan padamu, maksudku keluar pintu kali ini, ialah hendak membawa pulang dua rupa barang, satu diantaranya sudah tentu golok Kwa Liok to,danmasih ada satu lagi ? itu adalah perempuan tercantik dalam rimba persilatan, Sim Pek Kun !"
Wajah To Siao Thian berubah sesaat, ia agak tidak bisa bernapas.
"Ini ada urusanku, kau takut apa ?"
Berkata Siao Kongcu sambil tertawa.
"Kepandaian ilmu silat san ilmu pedang Lian Seng Pek, kongcu mungkin belum pernah lihat, menurut apa yang kutahu, orang ini menyembunyikan rahasia semua kepandaiannya, tidak mau menonjol nonjolkan kepada orang lain, bahkan..."
"Kau tidak perlu mengatakan lagi, aku juga tahu Lian Seng Pek bukan orang yang gampang gampang dihadapi, maka aku masih perlu minta bentuan kalian"
To Siao Thian menyeka keringatnya yang membasahi sekujur tubuhnya, lalu katanya.
"Asal,,, asal aku sanggup melakukan, Kongcu perintahkan saja "
"Kau juga tidak perlu menyeka peluhmu, urusan ini tidak terlalu susah...
"Lian Seng Pek kupikir pasti bisa mengantar istrinya pulang, maka itu kalian harus memikirkan suatu daya upaya, untuk menipu ia pergi kelain tempat"
To Siao Thian kembali harus menyeka keringatnya, katanya sambil tertawa getir .
"Lian Seng Pek suami istri demikian dapan cinta kasihnya, barangkali...
" ...apa kau takut ia tidak bisa kena terpancing ?"
"Barangkali tidak mudah"
"Jikalau diganti dengan aku, sudah tentu aku juga tidak suka berpisah dengan istri yang cantik bagaikan bidadari itu. Tetapi bagaimanapun besarnya seekor ikan, kita toch perlu mencari akal supaya ikan itu terpancing oleh kita, bukan ?"
"AKal apa ?"
"Hendak memancing kakap harus menggunakan umpan!"
"mana umpannya ?"
"Lian Seng Pek mempunyai harta benda tidak terhitung jumlahnya, ia memiliki kepandaian ilmu surat dan ilmu silat yang sempurna semua, dalam usia sangat muda namanya sudah kesohor diseluruh negeri, dan ia juga sudah menikah dengan Sim Pek Kun seorang istri bijaksana dan cantik molek, coba kau kata, ia seorang masih pikirkan apa lagi ? "
"Menjadi orang sudah seperti ia begitu, seharusnya juga merasa puas"
Menjawab To Siao Thian sambil menarik napas lega.
"Hati manusia selamanya tidak bisa merasa puas, ia sekarang ini sedikinya masih ingin mendapatkan sebuah barang"
"APakah golok Kwa-liok-to yang kau maksudkan ?"
"Kecuali golok Kwa-liok-to, aku benar benar tidak dapat memikirkan didalam dunia ini masih ada barang mujijat apa yang dapat menggerakkan hatinya"
"Hanya satu... itu adalah batok kepala Siauw Cap it-long !"
Mata To Siao Thian terbuka lebar, katanya sambil tepok tangan .
"Benar, mereka semua tentu menganggap bahwa golok pusaka itu terjatuh ditangan Siauw Cap it-long, jikalau ia dapat membunuh Siauw Cap it-long, bukan saja namanya semakin kesohor, goloknya juga akan menjadi miliknya !"
"Benar ! Maka dari itu,buat memancing kakap seperti Lian Seng Pek ini, harus menggunakan Siauw Cap it-long sebagai umpannya"
"Tetapi kakap ini bagaimana bisa terpancing ? masih perlu petunjuk Kongcu "
Siao Kongcu menggeleng gelengkan kepala dan berkata sambil menghela napas .
"APakah akal ini kalian masih belum mengerti ? Asal kalian beritahukan kepada Lian Seng Pek, katakan bahwa kalian sudah tahu dimana jejaknya Siauw Cap it-long, sudah tentu Lian Seng Pek juga akan segera mau turut kalian pergi"
Sepasang mata memandang To Siao Thian dan mulutnya tersungging senyuman menyindir, katanya pula.
"Orang seperti Liang Seng Pek ini, jikalau lantaran nama baik dan kedudukan, walaupun harus pertaruhkan nyawa sendiri juga akan melakukan, apalagi isterinya. Sudah tentu akan dikesampingkan.
"Kalau demikian halnya, menikah dengan orang semacam Lian Seng Pek ini, juga tidak terlalu beruntung."
"Sedikitpun tidak salah. Jikalau aku seorang perempuan, aku lebih suka menikah dengan Siauw Cap-it-long, juga tidak suka menikah kepada Lian Seng Pek."
"Oh?"
"Orang semacam Siauw Cap-it-long ini jikalau jatuh cinta kepada seseorang, kadang-kadang ia tidak perdulikan se-gala2nya, selalu cinta dan membela sang isteri, sedangkan Lian Seng Pek adalah seorang yang terlalu banyak pikir, menjadi isteri seorang semacam dia ini sesungguhnya tidaklah mudah."
Teriknya matahari dimusim kemarau begitu hebatnya, kulit serasa dibakar. Dibawah sebuah pohon besar yang daunnya rindang, ada seorang tukang menjual arak pikulan, araknya dingin, dapat digunakan untuk menghilangkan dahaga, juga boleh digunakan untuk menghilangkan rasa ketagihan arak, disamping arak, masih ada kacang goreng, telur pindang, meskipun rasanya belum tentu enak, tetapi buatannya cukup bersih.
Penjual arak itu adalah seorang tua jang rambutnya putih, hidungnya istimewa, merah sekali seperti dipoles dengan warna merah, ditilik dari hidungnya yang merah dapat diketahui bahwa penjual arak itu sendiri pasti adalah seorang yang gemar minum arak juga.
Pakaian tukang jual arak itu meskipun mesum, tetapi wajahnya menunjukkan sikapnya yang selalu gembira, se-olah2 sudah menerima nasib dengan keadaannya itu.
Bagi orang lain meskipun menganggap bahwa penghidupan orang tua itu tidak seberapa baik, tetapi ia sendiri sebaliknya sudah merasa puas.
Siauw Cap-it-long selamanya senang bergaul dengan orang demikian.
Seseorang hidup didalam dunia, asal bisa hidup dengan senang gembira, itu sudah cukup, perlu apa memikirkan dan mempedulikan orang lain?
Siauw Cap-it-long ingin mengobrol dengan orang tua penjual arak itu, tetapi orang tua itu sebaliknya ada sedikit acuh tak acuh terhadapnya.
Maka itu Siauw Cap-it-long juga hanya minum araknya saja untuk menghilangkan rasa dahaganya.
Minum arak seperti main catur, ia sendiri seperti main kepada dirinya sendiri, sudah tentu keadaan demikian itu sangat tidak enak, minum arak dengan seorang diri juga sebetulnya kurang menyenangkan, Siauw Cap-it-long selamanya tidak suka minum arak seorang diri.
Akan tetapi, tempat itu justru merupakan tempat sepi ditepi jalan persimpangan tiga, ia sudah menduga pasti bahwa kereta Sim Pek Kun, pasti akan melalui jalan persimpangan tiga itu.
Ia duduk ditempat itu, bukanlah se-mata2 hanya hendak minum arak saja.
Digunakan sebagai umpan kakap oleh orang lain, bukanlah suatu hal jang enak.
Siauw Cap-itlong hari itu setelah mendengar percakapan antara orang berjubah hijau dengan To Siao Thian, hampir saja tidak sanggup menahan hawa amarahnya, dan hampir saja ia unjuk muka dan bertempur dengan Siao kongcu itu.
Akan tetapi ia sudah banyak tahun berkecimpungan didunia Kang-ouw, sudah belajar dan mengerti betul apa artinya menunggu, ia tidak peduli melakukan perbuatan apa, selalu mau menunggu sehingga pada saat yang paling baik.
Siauw Cap-it-long sudah minum arak dari cawan yang ketujuh, dan kini sedang minum buat yang kedelapan kalinya.
Orang tua hidung merah mengawasi padanya dengan mata menyipit, sedang mulutnya berkata sambil ter-tawa2.
"Apakah masih mau minum lagi? Kalau kau mau minum lagi barangkali tidak bisa berjalan."
"Tidak bisa berjalan ja tidur disini, itu apa salahnya? Bisa tidur dialam terbuka, nanti begitu sadar dari mabukku, rasanya lebih segar!"
Menjawab Siauw Cap-it-long sambil tertawa.
"Apa kau tidak lekas ingin pulang?"
"Pulang kemana? Aku sendiri juga tidak tahu dari mana aku datang, kau suruh aku pulang kemana?"
Orang tua hidung merah itu menghela napas, sedang mulutnya menggumam. "Orang ini barangkali sudah mabuk, hingga ucapannya tidak keruan."
"Penjual arak bukankah mengharap orang lain bisa mabuk araknja? Lekas tuangkan lagi secawan."
Orang tua hidung merah hanya menyahut.
"Baik,"
Selagi hendak menuangkan lagi araknya, dari satu jalanan tiba2 tampak serombongan orang yang lari mendatangi.
Sepasang mata Siauw Cap-it-long segera menjadi terang, pula dirinya sedikit rasa mabukpun tidak ada.
MEMBURU MANUSIA SEROMBONGAN orang itu, diantaranya ada yang membawa burung diatas bahunya, ada yang membawa anjing dengan rantai ditangannya, semuanya berpakaian ringkas, membawa pedang dan busurnya, dipelana kudanya masih membawa barang2 untuk berburu, jelas mereka itu tentunya habis pulang dari berburu.
Saat itu memang saat jang paling baik untuk berburu.
Dikuda pertama duduk seseorang yang tampaknya seperti kanak2, dilihat dari jauh orang itu wajahnya putih seperti pupur sedang pakaiannya sangat perlente, kudanya juga seekor kuda pilihan.
Anak muda itu tampaknya seperti anak seorang hartawan.
Kakek hidung merah juga tahu bahwa dagangannya bakal laku, maka semangatnya terbangun dengan segera.
Sebaliknya dengan Siauw Cap-it-long, ia tampaknya agak kecewa sebab itu bukanlah orang yang sedang ditunggu.
Waktu itulah si kakek hidung merah mulai ber-kaok2 memprogandakan araknya.
"Arak daun bambu hijau enak rasanya, harum baunya, minum satu cawan semangat terbangun, dua cawan semangat cukup, tiga cawan se-olah2 menjadi dewa."
Siauw Cap-it-long yang mendengar ucapan itu lalu berkata sambil tertawa.
"Aku sudah minum tujuh cawan mengapa sedikit semangatpun tidak ada? Malah sebaliknya aku kini rasanya sangat mengantuk dan ingin tidur."
Kakek hidung merah pendelikkan mata kepadanya, untung waktu itu rombongan orang berkuda itu per-lahan2 sudah berhenti, anak muda yang menunggang kuda pertama itu sudah berkata sambil tertawa.
"Kalau kita pulang masih memerlukan perjalanan jauh, marilah kita singgah untuk minum dulu dua cawan arak disini, tampaknya araknya boleh juga."
Anak muda itu mukanya bulat, matanya lebar, mulutnya kecil, kulitnya putih dan halus, kalau ketawa dikedua pipinya tampak tegas lesungnya, benar-benar sangat menarik dan menyenangkan.
Siauw Cap-it-long mengawasi lagi kepadanya, dalam dunia ini memang banyak anak muda keturunan orang kaya, tetapi yang dilihatnya menyenangkan jumlahnya tidak banyak, dan anak muda keturunan orang kaya yang menyenangkan lagi pula tidak sombong dan bertingkah jumlahnya lebih sedikit lagi.
Anak muda keturunan orang kaya itu ternyata juga memperhatikan Siauw Cap-it-long.
Baru saja orang2nya menggelar tikar untuk duduk, ia tiba2 berkata kepada Siauw Cap-it-long.
"Dari pada senang2 seorang diri, ada lebih baik kalau senang2 ber-sama2. Kawan ini maukah minum ber-sama2 dengan kami?"
"Bagus sekali. Namun disakuku hanya tinggal uang untuk delapan cawan arak saja, aku sedang memikirkan dimaan uangnya untuk cawan kesembilan, jikalau ada orang mengundang, benar-benar sangat baik sekali,"
Berkata Siauw Cap-it-long sambil tertawa. Anak muda itu tertawa semakin gembira, katanya.
"Tak kusangka kawan ini ternyata demikian gemar minum arak. Lekas, lekas sediakan arak lagi!"
Kakek hidung merah terpaksa menuang araknya lagi, namun ia pendelikkan matanya kepada Siauw Cap-it-long sedang mulutnya menggumam.
"Ada arak, lalu minum tidak menggunakan uang, kali ini barangkali kau akan lebih cepat mabuk."
"Orang hidup masih bisa mabuk arak, itu namanya tidak mengecewakan hidupnya, apalagi kalau bisa mabuk lebih cepat, itu ada lebih baik, silahkan minum!"
Berkata Siauw Cap-it-long sambil tertawa.
Suara silahkan itu baru saja keluar dari mulutnya, secawan arak sudah tidak kelihatan lagi.
Orang lain kalau minum arak tentu diminumnya sedikit2 dan per-lahan2, tetapi Siauw Cap-itlong kalau minum arak dituang begitu saja, asal kepala didongakkan, secawan arak sudah masuk ditenggorokannya dan tidak tinggal setetespun juga.
Pemuda itu berkata sambil tepuk tangan dan tertawa.
"Kamu semua sudah lihat atau belum? Betapa cepatnya kawan ini minum arak."
"Jikalau mereka belum lihat, aku bersedia minum beberapa cawan lagi,"
Berkata Siauw Capit-long.
"Kawan ini bukan saja kuat minum tetapi juga sangat menyenangkan, entah siapa nama tuan yang mulia?"
"Kau dan aku ketemu dijalan, kau mengundang aku minum arak, sehabis minum aku jalan lagi. Jikalau aku tahu namamu, dalam hati tentunya akan timbul perasaan terima kasih, dikemudian hari mau tak mau aku harus mengundang minum kau sekali, dengan begitu, maka arak yang kuminum sekarang ini sudah tidak menggembirakan lagi, maka itu tentang namaku "
Tidak perlu kuberitahukan padamu, sebaiknya kau juga jangan beritahukan namamu padaku."
"Benar, benar, benar!"
"Kau dan aku kali ini bisa minum se-puas2nya ditempat ini, sudah boleh dikatakan ada jodoh, mari, mari, mari "
Telur pindang ini tampaknya boleh juga, dengan telur pindang sebagai kawan arak, mabuknya agak lambat dan araknya juga boleh minum lebih banyak."
Berkata pemuda itu sambil tertawa.
"Benar, benar! Kita mabuk terlalu cepat juga tidak ada artinya,"
Menimpali Siauw Cap-it-long sambil tertawa. Ia lalu mengambil sebutir telur pindang, dengan mendadak ia angkat tangannya dan telur itu dilontarkan tinggi2, setelah itu ia mendongakkan kepalanya, dan membuka lebar mulutnya, telur yang meluncur turun dari atas masuk kedalam mulutnya, hanya dengan beberapa kali kunyahan saja, telur itu sudah masuk kedalam perutnya.
"Kawan, kau bukan saja bisa minum cepat, makan telurmu juga cepat ""
Berkata pemuda hartawan itu.
"Hanya disebabkan aku tahu sendiri bahwa kematianku juga lebih cepat daripada orang lain, maka itu tidak peduli melakukan urusan apa saja, aku tidak berani mem-buang2 waktu,"
Berkata Siauw Cap-it-long sambil tertawa.
Pemuda itu paling banter juga baru berusia empat lima belas tahun, tetapi kekuatannya minum arak sangat mengejutkan, Siauw Cap-it-long menenggak secawan, dia juga bisa menemani secawan, bahkan minumnya juga tidak perlahan.
Orang2 yang mengikuti dirinya semuanya gesit-gesit, bersemangat tinggi dan tubuhnya tegap2 tetapi tiada satupun yang kuat minum arak seperti dia.
Mata Siauw Cap-it-long sudah mulai menyipit, lidahnya juga dirasakan mulai tebal, nampaknya sudah ada tujuh delapan puluh persen bagian mabuk, orang yang sudah mabuk tujuh delapan puluh persen, miunmnya pasti lebih banyak dan lebih cepat.
Orang yang sudah mulai mabuk tujuh puluh delapan puluh persen, hendak tidak minum arak lagi juga sudah merasa susah.
Begitulah, Siauw Cap-it-long akhirnya mabuk juga.
Pemuda hartawan itu menarik napas dan berkata sambil menggelengkan kepala.
"Kekuatannya minum arak ternyata juga tidak seberapa hebat, ini benar2 sangat mengecewakan."
Kakek hidung merah waktu itu baru kedengaran suaranya, berkata sambil tertawa.
"Dia sendiri tadi pernah kata bahwa kalau sudah mabuk ia akan tidur ditempat ini, mati juga tidak halangan."
Pemuda itu pendelikkan mata kepadanya dan berkata.
"Bagaimanapun juga ia adalah tamuku, bagaimana boleh dibiarkan tidur ditempat ini?"
Ia lalu melambaikan tangannya memerintahkan orang-orangnya, katanya.
"Jaga kawan ini, tunggu setelah kita berjalan, bawa sekalian dia pulang."
Pada saat itu, matahari masih belum menyelam kebalik gunung, namun dijalan raya tidak tampak orang berjalan lagi.
Pemuda itu agaknya merasa kurang gembira, dengan menggendong sepasang tangannya, matanya memandang kearah jauh, tiba-tiba ia berkata.
"Kakek, siap2lah. Sebentar lagi kau bakal kedatangan orang yang akan membeli arakmu lagi."
Benar saja dari jauh tampak mendatangi sebuah kereta dan serombongan orang yang mengikutinya. Kereta yang dicat warna hitam itu, meskipun sudah tua usianya, namun tampaknya masih cukup bagus dan mentereng, pintu kereta sudah tentu ditutup rapat, demikian pula tirai jendelanya juga diturunkan, orang yang duduk didalam kereta, jelas tidak suka diketahui oleh orang dari luar.
Kusir kereta adalah seorang setengah baya yang pendiam, namun dari sinar matanya menandakan bahwa ia memiliki kekuatan dan kepandaian yang cukup tinggi, didepan dan belakang kereta masih ada tiga penunggang kuda sebagai pengiring, semuanya juga adalah orang2 yang berkepandaian cukup tinggi.
Serombongan kereta dan kuda itu berjalan sangat cepat, tetapi anjing-anjing dan kuda-kuda yang dibawa oleh pemuda tadi sudah membendung setengah jalan raya itu, maka ketika kereta itu berjalan sampai disitu, juga terpaksa dilambatkan.
Begitu rombongan kereta dan kuda itu tiba, kakek hidung merah kembali menawarkan dagangannya.
Penunggang kuda yang mengiringi kereta tampaknya sudah merasa dahaga, jelas juga ingin minum secawan dua cawan arak, tetapi tiada satupun yang turun dari atas kudanya, mereka hanya menantikan pengawal pemuda hartawan tadi supaya memberikan jalan bagi kereta dan kudanya.
Tiba2 dari dalam kereta terdengar suara orang berkata.
"Kalian sudah melakukan perjalanan setengah hari, tentunya juga sudah letih, baiklah berhenti disini sebentar untuk minum arak."
Suara itu demikian merdu merayu, juga mengandung perasaan simpatik dan perhatian kepada orang2nya, hingga membuat orang rela menuruti perintahnya.
Pengawal diatas kuda tadi segera turun dari kudanya dan berkata sambil membungkukkan badan.
"Terima kasih nyonya!"
Orang didalam kereta itu berkata pula.
"Lao Tio, kau djuga turun kereta dan minumlah secawan arak, biar bagaimana kita juga tidak perlu ter-gesa2 melanjutkan perjalanan."
Kusir kereta yang bernama Lao Tio tadi tampak ragu2 sejenak, akhirnya juga bawa keretanya ketepi jalan, saat itu si kakek hidung merah menyediakan tiga cawan arak untuk tiga pengawal berkuda, selagi menuang yang keempat, dan para pengawal yang masing2 sudah disediakan cawan arak, juga sudah siap akan diminum, tiba2 si kusir she Tio itu berseru.
"Tunggu dulu, periksa dulu didalam arak itu ada racunnya atau tidak!"
Muka si kakek hidung merah sesaat menjadi merah, katanya dengan mendongkol.
"Racun? Dalam arakku dari mana ada racun? Baik, biarlah aku yang keracunan lebih dulu!"
Ia sendiri benar2 sudah minum arak didalam tangannya.
Orang itu tidak menghiraukan padanya, dari dalam sakunya mengeluarkan sebatang sendok perak, ia telah mengaduk-aduk didalam cawan arak, ketika melihat bahwa sendok peraknya tidak berubah warna, barulah diminumnya seceguk, kemudian berkata sambil menganggukkan kepala.
"Boleh diminum."
Para pengawal yang memegangi cawannya masing2 barulah merasa lega, mereka segera menenggaknya hingga kering, katanya sambil tertawa.
"Arak ini benar2 boleh juga, entah bagaimana dengan telur pindangnya?"
KECANTIKAN YANG DAPAT MERUNTUHKAN IMAN PENGAWAL tadi memilih sebutir telur pindang yang paling besar, selagi hendak dimasukkan kedalam mulutnnya, kusir tadi tiba2 membentak lagi.
"Tunggu sebentar ""
Pemuda perlente itu sebetulnya juga tidak menghiraukan mereka, tapi saat itu juga tidak tahan menahan tertawanya, maka mulutnya menggumam.
"Apakah dalam telur pindang juga mengandung racun? Kawan ini sesungguhnya juga terlalu hati2 sekali."
Orang she Tio itu memandangnya sejenak, katanya dengan muka cemberut.
"Orang keluar pintu, kalau bisa berlaku hati2 sedikit, sebaiknya berlaku hati2 ada lebih baik."
Kembali dari dalam sakunya mengeluarkan sebuah pisau kecil dari perak, selagi hendak membelah telurnya, pemuda perlente itu sudah berjalan menghampiri dan berkata padanya sambil tertawa.
"Tak kusangka dalam saku tuan ini masih membawa banyak permainan yang lucu2, kita juga pikir untuk membuat pisau semacam ini, apakah kawan boleh meminjamkan padaku barang sebentar?"
Orang she Tio itu mengawasi padanya dari atas hingga kebawah, akhirnya pisau kecil itu jadi juga diberikan kepadanya.
Seorang perlente seperti pemuda itu, setiap permintaan yang keluar dari mulutnya, sesungguhnya sedikit sekali orangnya yang dapat menolak.
Pisau perak berbentuk kecil itu buatannya sangat indah sekali.
Pemuda perlente menggunakan ujung jari tangannya meng-gosok2 ujung pisau, sikap diwajahnya semakin lemah-lembut, katanya sambil tersenyum.
"Pisau yang sangat indah buatannya entah dapat digunakan untuk membunuh orang atau tidak?"
"Pisau ini memang bukan digunakan untuk membunuh orang,"
Berkata si orang she Tio.
"Kau salah, asal saja berupa pisau, sudah tentu dapat digunakan untuk membunuh orang ""
Baru saja berkata sampai ucapan "membunuh" , pisau kecil ditangannya sudah terbang melesat, hingga tampak sinar perak meluncur, ketika ia lontarkan perkataannya terakhir, pisau kecil itu sudah menancap ditenggorokan orang she Tio.
Jilid 4__________________ SI orang Shw Thio menggeram hebat, lebih dulu mencabut pisau dari tenggorokannya, lalu menyerbu pemuda itu. Akan tetapi kala itu darah merah sudah menyembur keluar dari lukanya terlalu banyak, tentu saja kekuatan tenaganya juda turut keluar bersama darahnya.
Ia berjalan belum sampai tiga langkah, sudah jatuh ditanah, tepat dibawah kaki pemuda perlente itu.
Biji matanya melotot keluar, hingga matinya pun ia mungkin tidak percaya akan terjadi peristiwa seperti ini.
Pemuda perlente itu menundukkan kepala mengawasi orang she Tio yang telah rebah dengan mandi darah itu, sinar matanya masih tetap redup dan sikapnya tampak menyenangkan, katanya dengan suara lemah lembut .
"Aku tadi kata bahwa semua jenis pisau didalam dunia ini boleh saja digunakan untuk membunuh orang, Sekarang kau seharusnya sudah percaya, bukan ?"
Tiga pengawal yang menunggang kuda itu agakanya tercengang sekali atas kejadian itu, mereka benar benar tidak akan menduga bahwa pemuda perlente yang demikian lemah lembut dan menarik hari orang, ternyata adalah seorang iblis jahat yang bisa membunuh orang tanpa berkedip.
Sehingga orang she Tion itu rubuh, golok dari pinggang mereka baru dihunus keluar, sambil membentak marah mereka menyerbu sipemuda perlente.
Pemuda perlente itu menghela napas, katanya .
"Kamu semua bukan tandinganku, perlu apa harus menghantar nyawa cuma cuma ?"
Pengawal yang baru minum secawan arak itu, matanya sudah merah, tidak menunggu habis ucapan sipemuda ia sudah menyerang kelap pemuda perlente itu dengan sebuah goloknya.
Pemuda itu tenang tenang saja, katanya sambil tertawa dan menggelengkan kepala .
"Sungguh hebat seranganmu..."
Namun ia sedikitpun tidak bergerak, tangannya hanya diangkat sedikit, ia hanya menggunakan dua jari tangan, sudah berhasil menjepit ujung golok tadi, dan golok itu tadi seperti dibacokkan diatas batu, tidak tembus ditangan itu.
Pengawal itu membalikkan tangannya hendak menggunakan ujung golok untuk memapas jari tangan sipemuda perlente.
Dengan tiba tiba terdengar suara serrr, sebatang anak penah sudah menancap dibelakang punggung pengawal tadi, terus menembus dan keluar dari depan dadanya, darah segar menyembur keluar.
Semua ini terjadinya demikian cepat dan dalam waktu sangat singkat, dua pengawal yang lain saat itu baru saja berada didepan pemuda perlente tadi, belum mereka melancarkan serangannya sudah menyeksikan kematian kawan sendiri.
Tepat pasa saat itu terdengar suara orang dalam kereta yang berkata lambat lambat .
"Kalian memang benar semua bukan tandingannya, sebaiknya lekas mundur !"
Pintu kereta lalu terbuka, dari dalamnya muncul keluar seseorang. Dalam waktu sekejap mata,se mua orang yang ada disitu, bukan saja sudah menghentikan tindakannya tetapi juda hampir tidak bisa bernapas, Betapa tidak.
Selama hidup mereka, mungkin belum pernah mereka menyaksikan wanita secantik ini.
Pakaian yang dikenakan oleh wanita ini samasekali tidak terdiri dari bahan pakaian istimewa, tetapi tidak perduli pakaian macam apa saja asal melekat ditubuhnya semua bisa berubah menjadi pakaian istimewa.
Ia tidak menggunakan perhiasan apa-apa, diwajahnya juga tidak memakai pupur dan lisptik.
Sebab baginya, perhiasan atau barang permata dan bedak atau pupur sudah merupakan barang yang terlalu ber-lebih lebihan.
Tidak peduli betapa mahal harganya barang permata dan perhiasan, semua tak dapat membagi kecantikannya, tidak peduli betapa mahal harganya bedak atau pupur dan lipstik, juga tidak bisa menambah lebaih banyak kecantikan wanita ini.
Kecantikan wanita ini tidak dapat dilukiskan oleh siapapun juga.
Kalau ada juga sementara orang menggunakan kembang sebagai perempuan untuk seorang wanita cantik, tetapi kembang bagaimana bisa demikian menggiurkan seperti dia?
Ada orang bida kata dia seperti orang dalam lukisan, tetapi pelukis mana yang kiranya sanggup melukis dia dalam keadaan seperti hidup?
Bidadari dari kayangan, mungkin masih bisa dibandingkan kelemah lembutannya.
Tetapi dia, demikian agungnya dia, hingga tidak perduli siapa asal melihat sepintas lalu saja terang tidak akan bisa melupakannya untuk semala-lamanya.
Akan tetapi dia sebaikmya tidak seperti hidup benar benar didalam alam dunia ini, di dalam dunia bagaimana ada wanita demikian cantik?
Dia seolah olah pada setiap waktu setiap saat bisa dengan mendadak menghilang dari muka bumi.
Dia adalah perempuan tercantik dalam rimba persilatan, Sim Pek Kun.
Dalam waktu singkat itu, pemuda perlenta itu juga se-olah olah sudah berhenti bernapas.
Sikap diwajahnya dengan mendadak berubah sangat aneh, sudah tentu is merasa terkejut dan ter-heran heran, juga merasa mengiri, juda merasa silau oleh kecantikan perempuan itu, itu adalah reaksi setiap kaumpria jikalau berhadapan dengan wanita cantik luar biasa.
Yang aneh ialah .
Sinar matanya itu seolah-olah mengandung dengki.
Tetapi sesaat kemudian, ia sudah tertawa.
Tertawanya itu demikian ke kanak-kanakan, demikian menyenangkan, sedang sepasang matanya terus menatap wajah SIm Pek Kun, lalu berkata sambil tersenyum .
"Ada orang kata perempuan yang pintar semua tidak cantik, perempuan yang cantik sebaliknya tidak pintar, sebab mereka repot menghiasi wajahnya sendiri, hingga sudah tidak ada waktu untuk mengurusi hatinya sendir"
Ia menghela napas perlahan,baru berkata lagi .
"Aku sekarang baru tahu bahwa ucapan ini tidak semuanya benar..."
Sementara itu Sim Pek Kun sudah turun dari atas keretanya, lalu berjalan kehadapan pemuda perlente itu. Meskipun didalam matanya sudah menunjukan kemarahannya, tetapi ia jelas sedang mengendalikan perasaannya.
Dalam hidupnya itu, selalu mendidik dirinya untuk menjadi seorang wanita agung yang benar benar harus dapat menindih perasaan marah, sedih,girang...
segala perasaan yang terkandung dalam hatinya.
Sekalipun ia tidak dapat menahan perasaannya dan mau mengeluarkan air mata, juga lebih dahulu menyekap dirinya didalam kamar.
Is berdiri dihadapan pemuda itu dengan tenang, mendangarkan ucapan yang keluar dari mulut pemuda perlente tadi.
Selama hidupnya itu, ia belum pernah memotong ucapan orang lain, sebab perbuatan semacam itu, juga merupakan suatu perbuatan yang tidak sopan, Ia sudah lama belajar harus berbicara sesedikit mungkin banyak dengan sebanyak mungkin.
Sehingga pemuda perlenta itu sudah habis mengucapkan perkataanya, ia baru bertanya lambat lambat .
"Siapa nama kongcu yang mulia ?"
"Aku hanya seorang yang tidak terkenal namanya, bagaimana dapat dibandingkan nama besr nona Sim? Nama dan she ku ini, sebetulnya malu kuucapkan dihadapan nona Sin, baiknya jangan disebutkan sajalah"
SIm Pek Kun ternyata juga tidak bertanya lagi. APa yang tidak suka diucapkan oleh orang lain, ia tidak mau bertanya lagi. Ia mengawasi jenazah orang orangnya ditanah sebentar, lalu bertanya .
"Dua orang ini entah kongcu yang membunuhnya tau bukan ?"
"Apakah nona Sim tadi pernah melihat aku membunuh orang ?"
Sim Pek Kun menganggukkan kepala. Pemuda perlente itu kembali tertawa dan berkata .
"Kalau nona sudah melihat sendiri perlu apa tanya lagi ?"
"Hanya disebabkan kongcu tidak mirip dengan seorang yang kejam dan buas"
"Terima kasih atas pujian nona, tetapi, peribahasa ada kata . Tahu orangnya tahu mukanya tetapi tidak tahu isi hantinya, ucapan ini harap nona perhatikan baik baik.
"Kongcu sudah membunuh mereka, apakah lantaran mereka itu mempunyai permusuhan dengan kongcu ?"
"itu juga tidak"
"Kalau begitu, apakah mereka pernah berlaku tidak sopan terhadap kongcu?"
"Sekalipun mereka berlaku tidak sopan terhadapku, bagaimana aku bisa berpikiran seperti mereka?"
"Kalau demikian halnya, mengapa kongcu membunuh mereka? Ini benar2 membuat orang tidak habis mengerti."
Pemuda perlente itu tertawa, katanya.
"Apakah nona hendak mendapatkan penjelasannya sekarang juga?"
Sim Pek Kun mengerutkan alisnya tidak membuka mulut lagi.
Dua orang itu berbicara dengan sikap sopan-santun, sedikitpun tidak ada yang dihinggapi oleh emosi yang me-luap2 tetapi orang lain yang menyaksikan semua pada tercengang, hanya Siauw Cap-it-long masih terus rebah telentang disana tidak bergerak, agaknya sudah tidur seperti orang mati.
Sesaat kemudian, Sim Pek Kun tiba2 berkata.
"Silahkan!"
Pemuda perlente itu tercengang, tanyanya.
"Silahkan apa?"
"Silahkan turun tangan."
Wajah merah pemuda perlente tadi kini mendadak berubah menjadi pucat pasi, lalu katanya.
"Turun "
Tangan? Apakah kau menghendaki aku berkelahi denganmu?"
"Tanpa sebab kongcu membunuh mereka, sudah tentu ada maksudnya. Karena aku tak dapat mengorek keterangan darimu, terpaksa hanya dengan kekuatan tenaga kita mencari keadilan."
"Hanya "
Hanya "
Nona, kau adalah jago pedang kenamaan didalam dunia Kang-ouw, sedang aku hanya seorang anak kecil, bagaimana dapat melawanmu? "
"Kongcu juga tidak perlu merendahkan diri, silahkan."
"Aku tahu, aku tahu "
Kau tentunya ingin membunuh aku, untuk membayar nyawa mereka."
Pemuda perlente itu agaknya ketakutan setengah mati, hingga suaranya juga jadi kedengaran tergetar.
"Membunuh orang harus membayar dengan nyawa, hal ini memang sdah sewajarnya."
"Aku hanya membunuh dua budakmu saja, dan kau hendak mengambil nyawaku, kau "
Kau berbuat demikian sesungguhnya juga terlalu kejam!"
"Biar budak sekalipun juga mempunyai nyawa? Betul tidak?"
Sepasang mata pemuda perlente itu sudah merah, dengan tiba2 ia berlutut dan berkata sambil menangis.
"Aku telah ketelepasan tangan membunuh mereka, enci, ampunilah kesalahanku. Aku tahu enci bukan saja cantik, tetapi hatinya juga sangat baik, pasti tidak akan tega membunuh seorang anak kecil seperti aku ini."
Tadi sebelum ia melakukan pembunuhan bicaranya bukan saja teratur baik, tetapi juga seperti orang tua yang sudah banyak pengalaman, tetapi saat itu dengan mendadak berubah kelakuannya seperti seorang anak kecil yang nakal.
Hal ini membuat Sim Pek Kun jadi tercengang.
Urusan dan akal muslihat orang2 dunia Kang-ouw ia sebetulnya jarang menghadapi.
Bertemu dengan orang semacam ini, membuat ia semakin tidak tahu bagaimana harus menghadapinya.
Pemuda perlente itu kini sudah mengucurkan air mata, katanya dengan suara gemetaran.
"Enci, jikalau kau masih penasaran, baiklah kau pilih dua orangku yang mana saja, bunuhlah mereka, bagaimana pikiran enci " ?!"
Tidak peduli siapa saja, terhadap seorang anak seperti ia itu, orang manapun tidak tega turun tangan.
Apalagi Sim Pek Kun.
Siapa duga, justru pada saat itu, anak k ecil yang menunjukkan sikap meminta-minta diampuni itu, dengan mendadak bergelindingan ditanah, kaki kirinya menyapu kaki Sim Pek Kun sedang kaki kanan menendang bagian bawah perut, tangan kiri dan kanan, secepat kilat melancarkan tujuh delapan jenis senjata rahasia, ada yang mengandung kekuatan tenaga demikian hebat, ada yang berputaran disekitar tubuh Sim Pek Kun.
Baca Juga: Peristiwa Burung Kenari 3
Baca Juga: Bahagia Pendekar Binal 6