Ceritasilat Novel Online

Bahagia Pendekar Binal 6

Eps 6 Bahagia Pendekar Binal - Khu Lung

Baca online Bahagia Pendekar Binal - Khu Lung

Cersil Bahagia Pendekar Binal - Khu Lung.

Namun ketiga nyonya itu tetap tidak memperlihatkan rasa kesal, bahkan kembang goyang tusuk kundai mereka juga tidak bergerak sedikit pun.

Ketiganya hanya melirik sekejap saja pada dadu, lalu berbangkit, tanpa bicara apa-apa mereka terus membalik tubuh dan berangkat pergi.

"Ah, jangan terburu-buru pergi, para nona,"

Seru Han-wan Sam-kong tiba-tiba.

"Tuan ingin memberi petunjuk apa lagi?"

Tanya si baju ungu sambil menoleh. Dengan tertawa Han-wan Sam-kong berkata.

"Sudah berpuluh tahun aku berjudi dan menjelajah seluruh dunia, kecuali si tua raja boleh dikatakan pernah kuhadapi lawan macam apapun. Tapi cara bertaruh sedemikian menyenangkan, sungguh tak pernah kulihat meski setan judi seperti diriku ini."

"Terima kasih,"

Kata si nyonya baju ungu dengan tersenyum.

"Penjudi seperti nona sungguh jarang ada di dunia ini kalau tidak boleh dikatakan sukar dicari,"

Kata Han-wan Sam-kong pula.

"Seorang setan judi kalau ketemu lawan seperti nona dan dilepaskan begitu saja, maka berdosalah setan judi itu dan dia pasti akan masuk neraka."

"Memangnya kau masih ingin bertaruh dengan kami?"

Tanya si nyonya baju ungu.

"Masa nona-nona tidak ingin memulihkan modal?"

Tanya Han-wan Sam-kong dengan tertawa. Si nyonya baju ungu tertawa, ucapnya.

"Cuma sayang modal kami sudah ludes, biarlah lain hari kita taruhan lagi."

Tiba-tiba Han-wan Sam-kong berkata pula.

"Menurut peraturan kasino, pertaruhan harus dilakukan dengan kontan dan tiada utang-piutang. Tapi terhadap langganan sebagai nona tentu dapat dikecualikan."

Mendadak ia menggebrak meja dan menambahkan.

"Silakan pasang saja, betapa banyak nona ingin bertaruh, sebutkan saja jumlahnya dan jadilah."

Si nyonya baju ungu melirik sekejap kepada kedua saudaranya, ucapnya kemudian dengan tertawa.

"Masa engkau mempercayai kami?"

"Asalkan nona masih mau bertaruh, apa yang mesti kukhawatirkan lagi, mustahil kalian akan anglap uangku?"

Ujar Han-wan Sam-kong tertawa.

Nyonya baju ungu itu berpikir sejenak, lalu ketiga orang saling mengedip, akhirnya mereka putar balik dan mendekati meja judi pula.

Diam-diam To Kiau-kiau membisik Pek Khay-sim.

"Sejak tadi sudah kuduga Ok-tu-kui pasti takkan melepaskan mereka."

"Tampaknya ketiga nyonya cantik ini masih hijau, mereka tidak tahu cara setan judi meneruskan orang,"

Kata Pek-Khay-sim.

"Memulihkan modal? Hah, jika ini yang mereka harapkan, kukira sebentar celana mereka pun harus dilepas."

"Memangnya kau kira mereka benar-benar ingin memulihkan modal mereka yang sudah ludes itu?"

Tanya To Kiau-kiau.

"Bukan untuk memulihkan kekalahan tadi, habis untuk apa?"

Jawab Pek Khay-sim.

"Tadi kau malah mengira mereka hendak mencari perkara kepada Ok-tu-kui, nyatanya sehabis kalah ludes segera mereka hendak pergi, mana ada tanda-tanda hendak mencari perkara?"

To Kiau-kiau hanya tertawa saja dan tidak menanggapi lagi. Dalam pada itu nampak Han-wan Sam-kong sedang garuk-garuk kepala dengan tertawa gembira, katanya "Sekali ini nona hendak pasang berapa?"

Dengan tertawa si nona baju ungu menjawab.

"Meski kau percaya penuh pada kami, tapi kami tidak ingin melanggar peraturan judi, apalagi, kalau cuma omong kosong belaka, kurang semangat rasanya."

"Hahaha, bagus, bagus, memang betul, para nona benar-benar penjudi sejati,"

Seru Han-wan Sam-kong dengan terbahak-bahak. Mendadak ia berhenti tertawa dan bertanya dengan mata terbelalak.

"Tapi modal yang nona bawa kan sudah kalah ludes tadi?"

"Meski harta kami sudah kalah ludes, tapi orangnya kan belum sampai ikut ludes,"

Ucap si nyonya baju ungu dengan hambar.

"Orangnya?"

Melengak juga Han-wan Sam-kong, ia tidak tahu apa arti ucapannya si nyonya. Dengan tersenyum lantas nyonya baju ungu itu menjelaskan.

"Orang, terkadang kan boleh dijadikan barang taruhan. Apabila setan judi sudah memegang kartu bagus, maka segala apa pun tidak sayang untuk dipertaruhkan. Tuan sudah berjudi selama berpuluh tahun, masa tidak tahu kebiasaan itu?"

Han-wan Sam-kong bergelak tertawa, katanya "Benar, memang benar, sungguh tak tersangka cara bertaruh para nona lebih berpengalaman daripadaku "

"Nah, tentunya kau tahu, bilamana lelaki sudah kalah habis-habisan, sering kali istrinya sekaligus ikut dipertaruhkan,"

Kata si nyonya baju ungu.

"Bagi kami orang perempuan dengan sendirinya tak dapat mempertaruhkan dirinya sendiri."

"Haha, bagus, bagus!"

Seru Han-wan Sam-kong dengan bertepuk tertawa.

"Sudah rata kujelajahi dunia ini, baru sekarang aku benar-benar ketemu tandingan."

Lalu ia gosok-gosok tangannya dan bertanya.

"Nah, cara bagaimana nona ingin bertaruh, silakan bicara saja, pasti akan kulayani."

"Cara bertaruh kami pun sangat sederhana,"

Jawab si nyonya baju ungu.

"Seperti aturan umum, juga pasang satu mendapat satu."

"Pasang satu apa?"

Tanya Han-wan Sam-kong sambil berkedip-kedip heran.

"Pasang satu orang?!"

Kata si nyonya. Han-wan Sam-kong mengerling sekejap atas diri ketiga nyonya jelita itu lalu bergelak tertawa dan berkata.

"Tapi kalau kami diharuskan membayar orang seperti nyonya-nyonya, betapa pun kami tidak sanggup."

"Yang kita pertaruhkan sudah tentu terbatas pada orang yang berhadapan di sini,"

Kata si nyonya berbaju ungu.

"Bila kami menang, cukup salah satu di antara kalian ikut pergi bersama kami."

Seketika Han-wan Sam-kong melotot bingung, tanyanya kemudian.

"Dan kalau nona kalah, lalu bagaimana?"

Nyonya baju ungu tersenyum, jawabnya.

"Jika kami kalah, dengan sendirinya salah satu di antara kami juga akan ikut bersama kalian."

Penjelasan itu seketika membuat geger pula, para penonton sama merasa cara pertaruhan demikian hakikatnya terlalu menguntungkan pihak Han-wan Sam-kong, kalah atau menang pada hakikatnya boleh dikatakan tiada ruginya.

Coba bayangkan, jika menang, secara otomatis mereka akan mendapatkan istri cantik, sebaliknya kalau kalah, siapa yang akan dipilih ikut pergi bersama ketiga nyonya cantik itu kan juga berarti akan menuju ke surga impian.

Pek Khay-sim jadi melotot mendengar cara pertaruhan ganjil itu, omelnya.

"Masa ketiga nyonya cantik ini telah penujui Ok-tu-kui? Kalau tidak mengapa mereka menghendaki pertaruhan cara begini?"

"Ya, sekarang aku pun makin bingung dan tidak tahu apa maksud tujuan kedatangan mereka ini."

Ujar To Kiau-kiau. Terdengar Han-wan Sam-kong lagi tertawa dan berteriak.

"Bagus, cocok, sungguh bagus?"

"Jadi kau setuju cara pertaruhan kami?"

Tanya si nyonya baju ungu.

"Tentu saja, masa tidak setuju?"

Jawab Han-wan Sam-kong.

"Tanya dulu kongsimu itu, apakah dia juga setuju?"

Si nyonya menegas.

Pertanyaan ini ditujukan kepada Han-wan Sam-kong, tapi pandangannya beralih ke arah si hitam kurus yang sejak tadi tetap bungkam saja.

Kecuali pada waktu mangkuk dadu dibuka, sedikit banyak akan kelihatan air mukanya yang ikut prihatin dan juga menyorotkan sinar mata yang bersemangat, lebih dari itu ia tetap duduk termangu saja tanpa mengunjuk sesuatu perasaan, seakan-akan apa yang terjadi di rumah judi yang ramai ini sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan dia.

Begitulah Han-wan Sam-kong lantas menjawab dengan tertawa.

"Saudaraku ini serupa denganku, ia pun tidak punya hobi lain kecuali bertaruh. Asalkan bertaruh, bagaimana pun caranya pasti disetujuinya."

Si nyonya jelita mengerling sekejap, katanya pula.

"Tapi aku tetap ingin mendengar sendiri persetujuannya."

Han-wan Sam-kong menepuk pundak si hitam kurus itu dan berkata.

"Baiklah, boleh kau menyatakan sendiri persetujuanmu."

Si hitam kurus seperti baru terjaga dari impian, dengan bingung ia memandang sekitarnya dan berkata.

"Setuju apa?"

"Jika kita kalah, maukah kau ikut pergi bersama mereka?"

Tanya Han-wan Sam-kong. Tanpa pikir sama sekali si hitam kurus lantas menjawab.

"Setuju!"

Tapi si nyonya baju ungu lantas menambahkan.

"Ke mana pun kau harus ikut, kau setuju? "Ke mana pun tidak menjadi soal bagiku,"

Kata si hitam kurus sambil menghela napas panjang.

"Bagiku tempat mana pun sama saja."

Segera Han-wan Sam-kong berkata.

"Jangan kalian kira saudaraku ini ketolol-tololan, yang benar dia adalah lelaki sejati, apa yang sudah diucapkannya tidak akan dijilatnya kembali."

"Aku pun percaya penuh,"

Kata si nyonya baju ungu dengan tersenyum.

"Jika demikian, ayolah kalian pasang!"

Seru Han-wan Sam-kong dengan tertawa, segera ia angkat mangkuk dadu itu dan mulai dikocok, tanyanya kemudian sambil melototi si nyonya baju ungu.

"Sekali ini kau pegang besar atau kecil?"

"Besar!"

Jawab si nyonya baju ungu tanpa ragu.

Dia tetap pasang ‘besar’, padahal tadi dia sudah kalah tujuh kali.

Seketika terjadi kegemparan di antara para penonton, semua seakan-akan sudah membayangkan nyonya cantik ini pasti akan kalah lagi.

Segera Han-wan Sam-kong angkat mangkuk dan mengguncang dadu.

‘Brek’, mendadak ia taruh kembali mangkuk dadu, tangan memegang tutup mangkuk dan tidak segera dibukanya.

Pada waktu mengocok dadu sama sekali Han-wan Sam-kong tidak tegang.

Tapi setelah berhenti mengocok, mau tak mau ia menjadi agak tegang, betapa pun cara taruhan ini memang luar biasa.

Sebaliknya ketiga nyonya itu tetap tenang saja sambil tersenyum seolah-olah meremehkan pertaruhan ini.

Semua orang juga ikut menahan napas, suasana dalam kasino menjadi hening, begitu sunyi sehingga bunyi jarum jatuh ke lantai saja akan terdengar.

Sekonyong-konyong Han-wan Sam-kong berteriak.

"Buka!"

Waktu tutup mangkuk diangkat, titik ketiga dadu menunjukkan lima-enam-enam atau sama dengan tujuh belas.

"Besar!"

Akhirnya tepat juga pasangan para nyonya jelita itu.

Serentak ada sebagian penonton bersorak gembira tanpa terasa.

Maklum, betapa pun penjudi-penjudi juga manusia, manusia pada umumnya tentu bersimpatik kepada kaum lemah, konon perempuan itu kaum lemah.

Selain itu, biasanya kaum penjudi juga bersimpatik kepada pihak yang kalah, asalkan saja pihak yang menang bukan mereka sendiri.

Setelah jelas kalah, Han-wan Sam-kong bahkan tidak tegang lagi, ia bergelak tertawa, serunya.

"Bagus, bagus! Rupanya kalian sudah resmi diterima menjadi murid oleh malaikat judi, maka sekali-sekali kalian pun diberi menang. Jika kalian hanya kalah melulu tentu selanjutnya kalian akan kapok."

Si nyonya baju ungu tersenyum, katanya.

"Jika demikian, jadi sekali ini kami yang menang?"

"Dengan sendirinya kalian yang menang, masa kami menyangkal?"

Ujar Han-wan Sam-kong.

"Kalau begitu, bandar kan harus bayar!"

Kata si nyonya baju ungu. Tertegun juga Han-wan Sam-kong, ia mengusap keringat di mukanya, lalu berkata.

"Masa nona benar-benar menghendaki aku ikut pergi bersama kalian?"

"Yang kami kehendaki bukanlah dirimu,"

Jawab si nyonya baju ungu sambil menggeleng. Han-wan Sam-kong menjadi heran, tanyanya dengan tertawa.

"Bukan diriku? Habis siapa?"

"Dia!"

Kata si nyonya baju ungu sambil menunjuk si hitam kurus di samping Han-wan Sam-kong, lalu melanjutkan dengan tersenyum.

"Silakan saudara ini ikut pergi bersama kami."

Untuk sejenak si hitam kurus kecil itu melenggong, tapi, mendadak ia pun berdiri dan melangkah keluar. Cepat Han-wan Sam-kong mencegahnya sambil berseru.

"He, kau ... kau benar-benar hendak pergi?"

"Ehm,"

Jawab si hitam kurus. Han-wan Sam-kong berkerut kening, katanya pula.

"Tapi modal judi ini ada setengahnya milikmu."

"Untukmu seluruhnya,"

Jawab si hitam kurus. Maklumlah, sedangkan jiwa raga sendiri saja tak sayang lagi, apalagi harta benda segala. Si nyonya baju ungu tersenyum, katanya.

"Jangan khawatir, ikutlah bersama kami, pasti takkan merugikan kau."

Tapi si hitam mirip orang linglung dan tiada menghiraukan perkataan mereka, ia tetap berdiri kaku seperti patung.

Para nyonya itu tersenyum kepada Han-wan Sam-kong, lalu membalik ke sana dan melangkah pergi.

Sejak tadi Han-wan Sam-kong hanya memandangi mereka dengan terbelalak, mendadak ia membentak.

"Nanti dulu!"

Berbareng itu tubuhnya yang besar itu terus mengapung ke atas, seperti seekor burung raksasa ia melayang ke ambang pintu dan tepat mengadang di depan ketiga nyonya jelita.

Melihat Ginkangnya yang hebat itu, tanpa terasa para penonton sama berteriak, ada yang berteriak karena kagum, ada yang berseru karena kejut.

Namun ketiga nyonya cantik itu tetap tenang-tenang saja, sampai mata pun tidak berkedip, si baju ungu membuka suara dengan tersenyum.

"Kami tidak ingin berjudi lagi dan ingin pulang saja, harap Tuan memberikan jalan."

"Hah, baru sekarang kutahu tujuan kalian adalah Oh-lauteku ini,"

Jengek Han-wan Sam-kong.

"Sesungguhnya kalian hendak mengapakan dia? Akan bawa dia ke mana?"

"Semua ini tidak perlu kau urus,"

Jawab nyonya baju ungu dengan ketus.

"Kau sendiri sudah bilang, boleh main nakal, boleh main licik tapi tidak boleh curang dan tidak membayar. Sekarang kau sudah kalah, masa akan ingkar janji?"

Muka Ok-tu-kui menjadi agak merah, namun dia masih penasaran, tanyanya pula.

"Jika kalian kalah apakah benar-benar kau mau ikut padaku?"

"Jika kami kalah, dengan sendirinya ada di antara kami yang ikut pergi bersamamu,"

Jawab si nyonya baju ungu dengan hambar.

"Mana jumlah saudara sekeluarga kami kan sangat banyak ...."

Tiba-tiba mata Han-wan Sam-kong terpicing hingga cuma tinggal sejalur sempit saja, ia pandang ketiga nyonya jelita ini dari atas ke bawah dan dari bawah kembali ke atas, lalu menegas.

"Kau bilang kalian bersaudara banyak?"

"Ya, sangat banyak,"

Jawab si nyonya baju ungu.

"Adakah sembilan orang?"

Tanya Han-wan Sam-kong. Sejenak si nyonya baju ungu terdiam, tapi akhirnya menjawab.

"Ya, tidak kurang dan tidak lebih memang persis sembilan."

Mendengar ini, mata Han-wan Sam-kong yang terpicing itu kembali terpentang lebar, bahkan melotot hingga sebesar gundu.

Si hitam kurus kecil yang sejak tadi diam-diam saja mendadak juga tergetar, mukanya seketika berubah merah, serasa tersirap darah di sekujur badannya, dengan melotot ia bertanya.

"Apakah engkau ... Buyung ...."

Si nyonya baju ungu tertawa, jawabnya.

"Aku Jit-nio (ketujuh), ini Lak-ci (kakak keenam), dan itu Pat-moay (adik kedelapan)."

Kedua nyonya muda di sampingnya juga tersenyum manis, kata salah satu yang disebut Lak-ci itu.

"Meski kau tidak pernah melihat kami, tapi sudah lama kami tahu akan dirimu."

Air muka si hitam tiba-tiba berubah pucat sambil menyurut mundur. Si nyonya baju ungu atau Buyung Jit-nio lantas berkata.

"Kami pun tahu ucapanmu adalah seperti emas yang tak pernah berubah karatnya."

"Hahahaha! Menurut berita di dunia Kangouw, katanya sembilan kakak beradik Buyung kebanyakan sudah mendapatkan suami pilihan, bahkan kakak beradik Buyung itu rata-rata memiliki dua-tiga jurus,"

Seru Han-wan Sam-kong.

"Perempuan yang tidak punya dua-tiga jurus, mana bisa mendapatkan suami baik?"

Buyung Jit-nio menanggapi dengan tak acuh.

"Betul, tepat!"

Seru Han-wan Sam-kong dengan tertawa. Lalu dia menyambung pula.

"Hampir semua orang Kangouw juga tahu, ilmu silat paling tinggi di antara kakak beradik Buyung itu adalah Ji-ci (kakak kedua) Buyung Siang, sedang yang paling pintar bekerja ialah Buyung Kiu, si bungsu."

Mendengar nama "Buyung Kiu"

Disebut, tiba-tiba muka si hitam kurus menjadi merah. Tapi Han-wan Sam-kong lantas menyambung.

"Padahal kalau menurut penilaianku, kalian bertiga toh tidak lebih jelek daripada Buyung Kiu, hanya saja dalam pandangan kaum lelaki, perempuan yang masih perawan memang lebih cantik daripada perempuan yang sudah bersuami."

"Ehm, boleh juga cara bicaramu,"

Ujar Buyung Jit-nio dengan tertawa.

"Nah, apa pula yang kau ketahui, boleh kau beberkan saja seluruhnya."

"Kutahu bahwa nasib Buyung Kiu tidak sebaik kakak-kakaknya,"

Kata Han-wan Sam-kong.

"Belum lama ini mendadak ia menghilang entah ke mana. Padahal kedelapan Cihunya (kakak iparnya) adalah berasal dari keluarga termasyhur di dunia ini, pergaulan mereka boleh dikatakan luas sampai tiap pelosok, namun sudah tiga tahun mereka mencari adik mereka itu dan tetap tak bisa menemukannya."

"Hm, banyak juga yang kau ketahui,"

Jengek Buyung Jit-nio.

"Dunia selebar ini, untuk mencari seorang memang tidaklah mudah,"

Tukas Buyung Lak-nio dengan tertawa.

"Ya, tapi Oh-lauteku ini telah berhasil menemukannya,"

Sambung Han-wan Sam-kong "Bahkan dia sendiri menjadi seperti orang linglung dan mengantar si nona pulang ke rumah.

Siapa duga, orang lain ternyata tidak mau terima kebaikannya itu, sebaliknya malah mengira dia yang menculik Buyung Kiu, dia diperlakukan seperti penculik dan ditanyai sampai dua-tiga hari lamanya, untung dia tidak sampai digebuk pantatnya dan tidak disiksa."

"Ji-ci dan Sam-ci tidak bermaksud jahat padanya, mereka hanya menanyai dia mengenai pengalaman Kiu-moay selama ini,"

Ujar Buyung Jit.

"Ya, lantaran terlalu memperhatikan diri Kiu-moay, maka pada waktu menanyai dia Ji-ci dan Sam-ci menjadi agak kurang sabar,"

Tukas Buyung Lak.

"Tapi apa pun juga kami tetap sangat berterima kasih padanya."

"Sebab itulah waktu dia mohon diri untuk pergi, kami berkeras ingin memberi hadiah besar padanya,"

Demikian Buyung Pat menambahkan.

"Betul, waktu dia akan pergi, kalian bermaksud memberikan hadiah lima ribu tahil emas padanya,"

Kata Han-wan Sam-kong.

"Jumlah ini memang tidak sedikit, jika dibagikan kepada barisan pengemis yang antre, sedikitnya cukup untuk seratus ribu orang atau lebih."

Makin omong makin dongkol Han-wan Sam-kong, sampai di sini mendadak ia berjingkrak murka dan meraung.

"Tapi Oh-lauteku ini bukanlah pengemis, dia tidak sudi diberi sedekah. Dia bekerja menurut hati nurani sendiri, demi membela Kiu-moay kalian itu, beberapa kali jiwanya hampir menjadi korban, entah berapa banyak pahit-getir yang telah dirasakannya. Memangnya tujuannya hanya untuk mengincar beberapa tahil logam rongsokan kalian itu? Hm, kalian kakak beradik terkenal pintar dan cerdik, masa kalian tidak paham jalan pikirannya?"

Buyung Jit-nio menghela napas, ucapnya sambil tersenyum getir.

"Bukan kami tidak paham, soalnya ...."

"Soalnya semua menantu keluarga Buyung adalah orang terkemuka, sedangkan Oh-lauteku ini orang miskin juga tidak punya pangkat, lebih-lebih bukan berasal dari keluarga bangsawan segala, dengan sendirinya kalian keberatan menjodohkan Buyung Kiu kepadanya,"

Demikian jengek Han-wan Sam-kong, lalu dengan gusar ia berteriak pula.

"Padahal Oh-lauteku ini kurang apa? Masa dia tidak setimpal berjodohkan adik perempuan kalian? Meski dia bukan orang kaya, tapi dia adalah seorang lelaki sejati yang gilang-gemilang, bilamana adikmu mendapatkan suami seperti dia, boleh dikatakan leluhur kalian yang telah banyak berbuat amal."

Begitu karena nafsunya cara bicara, Han-wan Sam-kong sampai mencak-mencak sehingga jarinya hampir menunjuk ke batang hidung Buyung Jit.

Namun Buyung Jit tidak marah, ia bahkan menghela napas gegetun dan berkata.

"Ya, kami pun tahu ia adalah orang yang baik dan tidak merendahkan Kiu-moay ...."

"Masa baru sekarang kau tahu?"

Jengek Han-wan Sam-kong.

"Menurut cerita Toaci, ketika ia menyodorkan lima ribu tahil emas padanya, sekejap saja dia tidak memandang, lalu angkat kaki tinggal pergi tanpa berkata apa pun,"

Kata Buyung Jit.

"Dengan pergi begitu saja, kan kebetulan bagi kalian?"

Jengek Han-wan Sam-kong pula.

"Kalian dapat menghemat lima ribu tahil emas dan adik kesayangan sudah pulang di rumah. Tapi untuk apa sekarang kalian mencari Oh-laute lagi dan akan kalian bawa ke mana?"

Kembali Buyung Jit menghela napas panjang, lalu berkata dengan sedih.

"Karena kau sudah tahu segalanya, maka supaya maklum juga bahwa selama ini Kiu-moay jatuh sakit dan makin lama semakin berat sakitnya."

"Hm, setahuku waktu Oh-laute mengantar Buyung Kiu pulang, penyakit linglungnya sudah tampak mulai baik. Justru lantaran kalian mengira penyakit adikmu pasti akan sembuh, makanya kalian tidak sudi menjodohkan dia kepada Oh-laute."

"Ya, waktu itu kami mengira penyakitnya akan sembuh,"

Ujar Buyung Jit dengan gegetun.

"Sebab waktu itu dia sudah seperti kenal Toaci dan mulai mau bicara. Siapa tahu begitu Oh ... Oh-laute ini pergi, segera penyakitnya memburuk pula, bukan saja Toaci tak dikenalnya lagi, bahkan sepanjang hari tidak mau bicara sepatah kata pun."

Buyung Lak menghela napas, katanya.

"Jika bicara yang diucapkan hanya pertanyaan, ‘Sudah pergikah engkau?’ Dan akhirnya pertanyaan ini pun tidak diucapkannya lagi, sepanjang hari dia hanya duduk termenung sambil mencucurkan air mata."

Si Hitam kurus kecil ini dengan sendirinya ialah Oh-ti-tu, si labah-labah hitam yang nyentrik dan angkuh itu.

Dia berdiri kaku seperti patung, tapi demi mendengar cerita kakak beradik Buyung itu, wajahnya yang kaku itu tiba-tiba berkerut-kerut pedih seakan-akan hatinya tertusuk jarum.

Dengan tertawa Han-wan Sam-kong lantas berkata pula.

"Haha, kiranya nona Kiu itu pun seorang nona yang berperasaan halus, tidak percumalah Oh-laute begitu baik padanya."

"Sampai sekarang kami baru tahulah isi hati Kiu-moay,"

Kata Buyung Lak.

"Dengan sendirinya kami pun tahu segala di dunia ini dapat dipaksakan, hanya urusan ‘cinta’ saja yang tidak mungkin dipaksakan."

"Ehm, betapa pun kalian masih cukup bijaksana,"

Ujar Han-wan Sam-kong.

"Penyakit Kiu-moay sudah seberat itu, tapi dia masih dapat merasakan kebaikannya, ini suatu tanda ia juga pasti sangat mencintai Kiu-moay,"

Kata Buyung Lak.

"Setiap manusia kan terdiri dari darah daging, kalau urusannya sudah sejauh ini, siapa pun dia pasti juga takkan kami tolak lagi."

"Sebab itulah kami lantas keluar mencarinya,"

Sambung Buyung Pat.

"Tapi kami pun tahu jejaknya sukar dicari,"

Tutur Buyung Pat.

"Selagi kami merasa bingung ke mana mencarinya, untung waktu itu Gocihu (kakak ipar kelima) lewat kota Buhan dan sempat menyaksikan pertaruhan besar-besaran antara dia dengan engkau."

"Siapa Go-cihu kalian? Cara bagaimana dapat mengenali kami?"

Tanya Han-wan Sam-kong. Dengan tertawa Buyung Jit menjawab.

"Gocihu kami ialah ‘Sin-gan-susing’ (si pelajar bermata sakti) Loh Beng-to. Beberapa tahun yang lalu dia pernah melihatmu satu kali. Setiap orang yang pernah dilihatnya satu kali, selama hidup pasti takkan dilupakan olehnya."

"Seumpama dia dapat mengenali aku, tapi dia kan tidak kenal Oh-lauteku ini,"

Kata Han-wan Sam-kong.

"Apalagi Oh-laute selalu pergi datang tanpa meninggalkan jejak. Orang yang pernah melihat tampang aslinya duga tidak banyak."

"Semula Gocihu juga tidak kenal dia,"

Tutur Buyung Jit.

"Tapi demi mencari dia, sebelumnya Sam-ci sudah banyak melukis gambarnya. Maka begitu pulang dan melihat gambarnya, segera Gocihu ingat di mana dia telah melihatnya."

"Lukisan Sam-ci kami sangat bagus dan hidup,"

Kata Buyung Lak dengan tersenyum.

"Pernah satu kali dia bergurau dengan Jicihu (kakak ipar kedua), Sam-ci sengaja melukis gambar Ji-ci dan digantung di dinding, Jicihu ternyata tidak dapat membedakan asli dan palsunya, ia mengajak bicara gambar Ji-ci sampai sekian lamanya."

Buyung Pat menambahkan dengan tertawa.

"Maklumlah Jicihu terlalu banyak membaca di malam hari sehingga matanya kurang tajam."

"Hehe, keluarga kalian memang banyak orang-orang berbakat, pantas orang Kangouw sama segan kepada kalian,"

Kata Han-wan Sam-kong dengan gegetun.

"Setelah mendapat keterangan dari Gocihu, segera kami menyusul ke Buhan sini,"

Sambung Buyung Jit pula.

"Untunglah cara bertaruh kalian di wilayah ini sudah terkenal, maka dengan cepat dapat kami menemukan kalian."

"Tapi kalian jangan salah sangka, Oh-lauteku ini tidak sama dengan aku, dia bukan setan judi, dia berjudi karena pikirannya sedang kacau,"

Kata Han-wan Sam-kong.

"Memang, pada umumnya orang yang patah hati di medan asmara, kebanyakan lalu melarikan diri ke meja judi sebagai pelampiasan, makanya ada semboyan yang mengatakan ‘gagal di medan cinta menang di medan judi’. Padahal semboyan ini adalah ciptaan kawanan setan judi yang sengaja hendak menjerumuskan orang."

Buyung Jit tertawa, katanya pula.

"Jalan pikirannya cukup kami pahami, kami pun tahu dia seorang yang tinggi hati dan angkuh, jika kami datang mencarinya dengan begini saja tentu dia takkan ikut pergi bersama kami."

"Makanya kami lantas menggunakan cara pertaruhan begini,"

Tukas Buyung Lak dengan tersenyum.

"Tapi kalau kalian yang kalah, lalu bagaimana?"

Tanya Han-wan Sam-kong.

"Jika kami kalah memangnya apa kesukarannya, cukup asalkan salah satu di antara kami ikut pergi bersama kalian, kan beres?"

Jawab Buyung Jit.

"Ah, betul juga,"

Kata Han-wan Sam-kong.

"Makanya, bila kami kalah, tentu kami akan menyuruh Kiu-moay ikut pergi bersama kalian, kami yakin kalian pasti takkan membuat susah Kiu-moay, asalkan dia gembira, siapa yang ikut siapa kan tiada bedanya?"

"Hebat, kalian memang hebat ...."

Seru Han-wan Sam-kong dengan terbahak-bahak.

"Tapi kami telah membikin susah padamu, engkau jadi kehilangan seorang sekutu yang baik,"

Ujar Buyung Jit pula.

"Sebab bila dia sudah menikah dengan Kiu-moay, mungkin dia takkan mengajak bertaruh lagi denganmu."

"Hahaha! Asalkan aku dapat menyaksikan Oh-lauteku ini melangsungkan pernikahan dengan nona Kiu dan ikut minum arak bahagia mereka, sekalipun aku harus berhenti berjudi tiga bulan juga bukan soal bagiku,"

Seru Han-wan Sam-kong dengan tertawa gembira. Tapi mendadak ia berhenti tertawa dan menambahkan sambil menggeleng.

"Tidak, tidak, mungkin aku tak dapat minum arak bahagia mereka."

"Sebab apa?"

Tanya Buyung Jit.

"Habis, bilamana keluarga Buyung mengadakan pesta nikah, yang hadir pastilah tamu-tamu terhormat dan orang-orang ternama, jika Ok-tu-kui macamku ini mendadak ikut hadir, bukankah suasana bisa berubah runyam?"

Kata Han-wan Sam-kong.

"Jangan khawatir, arak pernikahan ini pasti ada bagianmu,"

Kata Buyung Jit.

"Seumpama kami tidak mengundang siapa-siapa tentu juga akan mengundang engkau."

"Hahaha, kalau aku tidak hadir, maka aku inilah anak kura-kura,"

Seru Han-wan Sam-kong sambil bertepuk tertawa. Mendadak ia memberi tanda dan berseru.

"Angkat, angkat semua perakmu itu, satu tahil pun jangan tertinggal."

"Ken ... kenapa?"

Tanya Buyung Jit.

"Jika ingin minum arak nikah, tentunya harus mengirim kado, kalau kalian tak menerimanya berarti memandang rendah padaku, berarti pula tidak menginginkan kehadiranku."

"Sekalipun begitu, kan perlu disisakan sedikit bagi modal judimu?"

Ujar Buyung Jit dengan tertawa.

"Tidak, jangan disisakan,"

Seru Han-wan Sam-kong.

"Kalian tahu watakku, bila belum kalah habis-habisan belum mau berhenti. Maka sejak aku mendapat rezeki, sejak itu hakikatnya aku tidak pernah tidur dengan nyenyak, siang malam hanya berjudi melulu, semakin ingin kukalahkan hingga ludes semakin tidak mau ludes, sebaliknya malah bertambah. Sekarang mumpung ada kesempatan kubikin habis, mengapa kalian malah tak mau menerima? Jika tidak kalian terima kan berarti membuat susah padaku lagi."

Buyung Jit termenung sebentar, katanya kemudian dengan tersenyum.

"Karena kau telah bertindak segoblok ini, kalau kami tidak menerimanya akan kelihatan kami sendiri berjiwa sempit ...."

"Hahaha, tak tersangka para nona keluarga Buyung adalah orang sedemikian menyenangkan, tampaknya Oh-lauteku ini memang tajam pandangannya,"

Seru Han-wan Sam-kong dengan tertawa. Lalu ia tepuk pundak Oh-ti-tu dan berkata.

"Oh-laute, kenapa tidak lekas berangkat? Kutahu hatimu tentu sudah tidak sabar lagi, mengapa pura-pura lagi? Nona Kiu tentu juga sedang menantikan kedatanganmu."

Oh-ti-tu termangu-mangu sejenak, entah suka entah duka, katanya kemudian dengan tergagap.

"Mana ... mana boleh kupergi lagi ke sana ...."

"Mengapa tidak boleh?"

Seru Han-wan Sam-kong sambil melotot.

"Tindak-tanduk seorang lelaki sejati harus dilakukan dengan cepat dan tepat, harus jujur dan blak-blakan. Apalagi orang judi hanya boleh main licik dan main palsu, tapi tidak boleh main curang, kau sudah kalah, apa pun juga kau harus pegang janji."

Akhirnya Oh-ti-tu tertawa juga, tiba-tiba ia membisiki Han-wan Sam-kong.

"Eh, Siau-hi-ji pasti masih berada di atas gunung sana, bila melihat dia jangan lupa beritahukan padanya ...."

"Jangan khawatir,"

Jawab Han-wan Sam-kong dengan tertawa.

"Bila bertemu dia tentu akan kuajak dia hadir minum arak nikahmu."

Rupanya persahabatan mereka tidak seluruhnya lantaran berjudi, tapi sebagian besar adalah karena Siau-hi-ji.

Sebab sejak awal mereka selalu menganggap Siau-hi-ji adalah seorang sahabat yang baik.

Han-wan Sam-kong mengantar mereka keluar, tiba-tiba ia memberi pesan pula.

"Nona Jit, selanjutnya bila tanganmu gatal, jangan lupa mencari diriku. Petaruh seperti dirimu sungguh jarang kutemukan selama hidupku ini."

Akhirnya berangkatlah Oh-ti-tu, hidupnya yang terlunta-lunta sebatang kara akhirnya telah menemukan kebahagiaan, ini memang ganjaran yang pantas diperolehnya dan pasti tiada yang keberatan.

Buyung Kiu juga mendapatkan jodohnya yang setimpal.

Meski dia kehilangan ingatan dan kecerdasan, tapi ia pun mendapatkan kebahagiaan.

Cukup berharga bahagia yang diperoleh dengan pengorbanan apa pun juga.

Bahagia terbesar bagi seorang perempuan adalah bisa memperoleh orang yang mencintainya dengan sungguh hati, kebahagiaan demikian tak mungkin diganti dengan urusan apa pun juga.

Dan setelah harta diangkut pergi, para pengunjung kasino pun bubar.

Han-wan Sam-kong memandangi cahaya gemilang yang mulai menongol di ufuk timur, dia menggeliat kemalas-malasan, gumamnya.

"Persetan, kini benar-benar semuanya ludes, memangnya kalau belum ludes semuanya aku pun tak dapat tidur."

Tapi mendadak ia lihat para pengunjung kasino itu tidak pergi seluruhnya, di situ masih tersisa empat orang, ada dua orang yang sedang tidur di lantai.

Sedangkan dua orang lagi sedang memandangnya dengan tertawa.

Han-wan Sam-kong melotot dan mengomel.

"Kalian berdua anak kura-kura mengapa tidak enyah? Apakah kalian ingin bertaruh pula denganku?"

Satu di antara kedua yang lebih tinggi menanggapi dengan tertawa.

"Di sini cuma ada seorang anak kura-kura, yang lain cuma setengahnya anak kura-kura."

Han-wan Sam-kong tambah melotot, ia tatap seorang lagi yang lebih pendek. Orang itu ialah To Kiau-kiau, dengan tertawa ia pun berkata.

"Memang di sini cuma ada seorang anak kura-kura, tapi aku adalah nenekmu!"

Ia tidak tahu sekarang Han-wan Sam-kong dapat mengenalinya atau belum, yang jelas mendadak Ok-tu-kui melompat ke sana terus kabur secepat terbang. Pek Khay-sim berkerut kening, katanya.

"Setiap kali bila bertemu, yang pasti lari adalah diriku, mengapa sekali ini dia yang lari dulu malah?"

"Mungkin sekali setan judi ini telah berbuat sesuatu dosa apa-apa, maka tidak berani bertemu dengan orang,"

Kata To Kiau-kiau, habis berkata, segera ia memburu keluar.

"Tapi kita sudah belasan tahun tidak bertemu dengan dia, masa dia berbuat sesuatu kesalahan apa padamu?"

Ujar Pek Khay-sim.

"Ya, makanya aku pun heran dan ingin menanyai dia,"

Kata Kiau-kiau.

Waktu itu fajar baru menyingsing, namun orang berlalu lalang di jalanan sudah cukup banyak.

Maklum, para pengunjung baru saja bubar dan sebagian besar di antara mereka sedang sarapan di tepi jalan.

Ketika To Kiau-kiau memburu keluar, ternyata bayangan Han-wan Sam-kong sudah tidak nampak lagi.

Hanya kelihatan orang-orang yang lagi nongkrong makan di tepi jalan itu sama memandang ke kiri, jelas Han-wan Sam-kong berlari menuju ke sebelah sana.

Dengan tertawa To Kiau-kiau berkata kepada Pek Khay-sim.

"Jangan khawatir, Ginkang setan judi itu tidak terlalu tinggi, kita pasti dapat menyusulnya."

Belum lenyap suaranya, mendadak tertampak Han-wan Sam-kong mundur kembali dari belokan jalan sebelah kiri sana, cara mundurnya ternyata jauh lebih cepat daripada kaburnya tadi.

Dan begitu sampai di tikungan cepat Ok-tu-kui memutar dan berlari ke sini dengan air muka penuh rasa terkejut dan gugup, langsung ia menerjang ke dalam rumah judi tadi.

Dengan sendirinya To Kiau-kiau dan Pek Khay-sim ikut masuk lagi ke dalam.

"He, apa-apaan kau, memangnya setan judi juga ketemu setan?"

Demikian Pek Khay-sim berolok-olok. To Kiau-kiau sedang mengintip keluar melalui celah-celah pintu, katanya.

"Tampaknya dia memang kepergok setan, setan kepala besar?"

"Hahahaha, masakan setan judi juga takut kepada setan kepala besar?"

Kembali Pek Khay-sim berseloroh.

"Ssstt,"

Desis Kiau-kiau dengan tegang, air mukanya juga rada pucat.

Pek Khay-sim menjadi heran, cepat ia pun ikut mengintip keluar.

Tertampaklah dari tikungan sebelah kiri sana telah muncul dua orang.

Orang yang jalan di depan berperawakan tinggi berbahu lebar, tapi tubuhnya kurus kering, baju panjang berwarna biru yang dipakainya itu tampaknya menjadi komprang dan kedodoran.

Tidak cuma tubuhnya saja yang aneh, mukanya juga aneh, banyak juga kerutan di mukanya tapi tiada seutas jenggot dan tiada bulu alis, semuanya tercukur bersih.

Padahal biasanya yang cukur hingga kelimis begitu hanya kaum "Thaykam", kaum dayang istana yang kebiri, orang kasim, namun jelas orang ini bukanlah Thaykam.

Betapa pun orang yang berwajah demikian tampaknya menjadi sangat lucu, dengan sendirinya orang-orang di tepi jalan sana memandangnya dengan tertawa geli, namun tiada seorang pun yang berani tertawa keras, maklum meski orang itu kelihatan lucu, tapi kedua matanya tidaklah lucu, bahkan kelihatan menakutkan.

Matanya tampak cekung karena kurusnya, sebab itulah biji matanya tampaknya menjadi lebih bulat besar.

Meski mukanya pucat kurus seperti orang sakit paru-paru, tapi ketambahan matanya yang besar itu, timbul juga perbawanya sehingga membuat orang tidak berani memandangnya lama-lama.

"Agak aneh juga bocah ini,"

Desis Pek Khay-sim.

"Bahwa dunia Kangouw muncul seorang aneh begini, mengapa tak pernah kudengar dan juga tak pernah melihatnya. Ini menandakan selama beberapa tahun ini kita benar-benar terasing."

Kiau-kiau juga berkerut kening, tanyanya kemudian.

"Ok-tu-kui, apakah kau kenal orang aneh ini?"

"Tidak kenal,"

Jawab Han-wan Sam-kong.

Tapi yang ditatapnya adalah seorang lagi yang berada di belakang orang aneh ini.

Orang yang ikut di belakang itu bentuknya tidak aneh bahkan sangat apik, usianya juga sudah lima puluhan, namun jelas hidupnya serba kecukupan, ini terlihat dari wajahnya yang bersih dan bercahaya.

Baju yang dipakainya juga berwarna sangat serasi, cuma wajahnya yang kelihatan sengaja di buat-buat tersenyum itu jelas rada-rada kurang wajar, malahan boleh dikatakan rada lesu dan sedih.

Orang ini ternyata bukan lain daripada Kang Piat-ho adanya.

Tentu saja yang paling terkejut adalah To Kiau-kiau, ucapnya sambil berkerut kening.

"Aneh, mengapa Kang Piat-ho tidak ikut Gui Bu-geh, sebaliknya ikut ke sini bersama orang aneh ini?"

Pek Khay-sim lantas menepuk pundak Han-wan Sam-kong dan berkata.

"Kiranya kau tidak berani bertemu dengan Kang Piat-ho, memangnya kau berbuat salah apa padanya?"

Han-wan Sam-kong mendengus, jawabnya.

"Masa kutakut padanya, aku cuma bosan melihat cecongornya."

Dengan tertawa Pek Khay-sim berkata pula.

"Ah, kukira pasti ada apa-apanya, jika tidak kau katakan, biar kutanya sendiri pada Kang Piat-ho."

Tiba-tiba ia mendapat akal dan mendadak berteriak.

"Ke sinilah kalian, lihatlah di sini ada Ok-tu …."

Rupanya kumat lagi penyakitnya ‘merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri’, syukur sebelumnya Han-wan Sam-kong sudah menduga akan tindakannya ini, belum habis teriakannya, segera ia menubruk maju dan mendekap mulutnya, katanya dengan suara tertahan.

"Tutup bacotmu, jika kau anak kura-kura ini berani bersuara lagi, segera kupecahkan batok kepalamu."

Pek Khay-sim hanya menyengir saja dan tidak berucap lagi.

Akan tetapi seharusnya orang di luar sana dapat mendengar teriakannya tadi.

Siapa tahu orang di luar tidak menggubris teriakkannya itu, sebab pada saat itu juga dari belokan kanan sana tiba-tiba muncul seekor kuda.

Kuda merah membara, secepat terbang kuda itu menerjang ke jalanan ini dan tampaklah akan menumbuk seorang penjual bakmi di tepi jalan.

Tentu saja orang yang sedang jajan bakmi sama menjerit kaget dan berlari menyingkir.

Rupanya suara derapan kuda dan jerit kaget orang itulah yang telah menenggelamkan suara teriakan Pek Khay-sim tadi.

Si penunggang kuda merah itu ternyata sangat cekatan, pada detik yang gawat itu mendadak ia menahan kudanya sehingga kuda itu meringkik sambil berdiri dengan kaki belakang, namun tiada satu mangkuk pun yang tertumbuk.

Habis itu semua orang dapat melihat jelas si penunggang kuda itu ternyata sama dengan kudanya, juga memakai baju merah, malahan cambuk yang dipegangnya juga berwarna merah.

Di tengah ringkik kuda yang melengking itu, si penunggang kuda pun turun, yakni seorang nona cantik.

Baru sekarang semua orang melihat jelas si penunggang kuda, sepasang matanya yang besar dan jeli itu sungguh sangat memesona.

Setiap mata orang sama memandangnya, tapi si nona anggap orang lain seperti patung saja, hakikatnya dia tidak memperhatikan mereka, sambil bertolak pinggang ia berteriak ke arah sana.

"Ayolah kemari, lekas! Apakah kuda tungganganmu cuma berkaki tiga? Kenapa begitu lambat?"

Pada saat itu juga dari ujung jalan sana baru muncul lagi seekor kuda, penunggangnya menjawab.

"Bukan kudaku yang lambat, tapi kau yang terlampau cepat membedal kudamu."

Sambil bicara pun orang itu melompat turun dari kudanya dengan gerakan gesit, orang ini adalah pemuda yang cakap dan lembut, pakaiannya juga perlente.

Si nona baju merah tadi agak kurang senang, dengan melotot ia mengomel.

"Siapa bilang bedal kudaku terlalu cepat, memangnya pernah kutabrak orang?"

Si pemuda menjadi kikuk karena dipandang orang banyak, mukanya menjadi merah, cepat ia menjawab.

"Ya, engkau ti ... tidak cepat."

"Kalau aku tidak cepat jelas kau yang lambat,"

Kata si nona baju merah.

"Ya, ya, aku yang lambat,"

Sahut si pemuda.

"Nah, harus menurut begini, nanti Cici menjamu kau,"

Kata si nona, baru sekarang ia tertawa puas.

Tentu saja muka si pemuda tambah merah sehingga kepala pun tertunduk.

Semua orang merasa tertarik oleh kedua muda-mudi itu dan merasa geli melihat sikap si pemuda yang lebih mirip anak perempuan itu, sebaliknya si nona tampak begitu garang.

Cuma sekarang semua orang sudah tahu juga bahwa kedua muda-mudi itu pasti bukan orang biasa, maka tiada seorang pun berani tertawa.

Pandangan orang banyak memang betul, si nona baju merah memang tidak boleh sembarangan direcoki, asalkan ada orang berani tertawa, mungkin kepalanya akan segera berkenalan dengan cambuknya.

Malahan si orang aneh tadi juga sedang memperhatikan gerak-gerik muda-mudi ini, hanya Kang Piat-ho saja yang segera menunduk demi melihat mereka.

Sebab hanya Kang Piat-ho saja yang kenal siapa mereka.

Kiranya si nona baju merah tadi bukan lain daripada Siau-sian-li Thio Cing dan pemuda yang pemalu ini adalah Koh Jin-giok.

Siau-sian-li telah memegang tangan Koh Jin-giok, katanya dengan tertawa.

"Sudah kukatakan di sini banyak penjual makanan dan kau tidak percaya, sekarang kau lihat sendiri, aku tidak berdusta bukan?"

Dia bicara dengan bebas tanpa menghiraukan orang banyak yang sedang memandang padanya. Tapi Koh Jin-giok menjadi malu, dengan muka merah ia menjawab.

"Lihatlah, begini banyak orang …."

"Banyak orang apa sangkut-pautnya dengan kita, mereka juga sedang jajan, kenapa kau takut?"

Kata Siau-sian-li. Koh Jin-giok tidak berani bersuara pula, tampaknya ia sangat takut pada si nona. Dengan tertawa Siau-sian-li lantas berucap pula.

"Hari ini boleh dikatakan hari bahagia si budak Kiu, aku pun sangat gembira, maka aku harus makan-minum sepuas-puasnya, bahkan harus minum arak barang dua cawan."

Koh Jin-giok seperti merasa serba susah, ia menghela napas. Kembali Siau-sian-li melotot dan mengomel.

"Apa yang menyebabkan kau menghela napas? Budak kita sudah mendapatkan pasangan, kau menyesal bukan?"

"Masa aku menyesal,"

Cepat Koh Jin-giok menjawab dengan tersenyum.

"Aku ma ... malahan ...."

Siau-sian-li tertawa melihat sikap Koh Jin-giok yang serba susah itu, katanya pula.

"Baiklah jika kau tidak menyesal. Nah, lihatlah, di sini ada penjual bakmi, ada bakso, dan macam-macam lagi, sudah lama aku tidak makan bakso, kukira jajanan di sini pasti sangat enak."

Dia terus mencerocos sambil tertawa, dan baru saja Koh Jin-giok diajaknya duduk di depan angkringan si penjual bakso, mendadak ia berdiri pula sambil melotot ke seberang sana dan berseru.

"He, lihat, siapa itu?"

Yang dimaksud ternyata bukan lain daripada Kang Piat-ho. Waktu Koh Jin-giok ikut memandang ke arah sana, seketika air mukanya juga berubah, katanya dengan suara tertahan.

"Mengapa dia juga berada di sini?"

"Memang, Kang-lam-tayhiap yang termasyhur itu mengapa bersembunyi di tempat kecil begini, apa barangkali sudah tidak berani bertemu dengan orang lain? Pantas di dunia Kangouw tersiar berita Kang-lam-tayhiap telah menghilang,"

Demikian Siau-sian-li sengaja berkata dengan suara keras sehingga setiap orang dapat mendengarnya.

Dengan sendirinya banyak orang yang kenal nama kebesaran Kang-lam-tayhiap, seketika banyak orang mengalihkan pandangan mereka ke arah Kang Piat-ho.

Hanya sekali lompat saja Siau-sian-li lantas berada di depan Kang Piat-ho, jengeknya.

"Kang Piat-ho, Kang-tayhiap, mengapa kau tutup mulut? Biasanya kau kan pintar omong, bahkan kuingat betul wibawamu tidak kecil."

Tapi Kang Piat-ho tetap bungkam, dan bahkan menunduk kepala. Dengan gusar Siau-sian-li membentak pula.

"Kang Piat-ho, kau tidak perlu berlagak dungu, tiada gunanya meski pura-pura bodoh. Tentunya kau tahu tidak sedikit orang yang sedang mencarimu untuk membuat perhitungan lama. Nah, sekarang juga kau pergi bersamaku."

Namun Kang Piat-ho hanya berdiri mematung di tempatnya tanpa bergerak, air mukanya juga tidak mengunjuk sesuatu perasaan.

Kang-lam-tayhiap yang biasanya gagah perwira itu kini telah berubah seperti pengecut.

Tiba-tiba orang aneh yang berada di sebelah Kang Piat-ho membuka suara.

"Dia tidak dapat ikut pergi bersamamu."

Suara orang ini rendah lagi serak, kerongkongannya seperti pecah sehingga suaranya bocor.

Setiap katanya seolah-olah terdesak keluar dari sela-sela kerongkongan yang pecah itu.

Melengak juga Siau-sian-li melihat orang aneh dengan suara yang juga aneh ini.

Tanpa pikir ia tanya.

"Sebab apa dia tidak dapat ikut pergi bersamaku?"

"Sebab dia harus ikut bersamaku,"

Jawab si orang aneh.

"Ikut kau?"

Siau-sian-li menjadi gusar.

"Memangnya kau ini apa?"

Berbareng itu cambuknya langsung bekerja.

"tarr" , kontan ia menyabet. Cambuk adalah benda mati, tapi di tangan Siau-sian-li telah berubah seperti ular hidup dan seolah-olah sejalur api terus menggulung ke muka orang aneh itu. Reaksi orang aneh itu sangat lamban, hakikatnya seperti tidak tahu rasanya sakit bila tercambuk, dia hanya memandangi cambuk lawan dengan terkesima. Tampaknya cambuk Siau-sian-li segera akan meninggalkan jalur berdarah di muka orang aneh itu. Tak terduga, tahu-tahu ujung cambuk yang panjang itu lantas putus menjadi belasan potong dan jatuh ke tanah. Siau-sian-li juga tak dapat berdiri tegak lagi, ia terhuyung-huyung ke belakang dan akhirnya jatuh di pangkuan Koh Jin-giok. Orang lain hanya tahu putusnya cambuk menjadi berkeping-keping dan jatuhnya Siau-sian-li, tapi tidak seorang pun yang tahu jelas cara bagaimana si orang aneh turun tangan. Malahan Siau-sian-li juga tidak jelas apa yang terjadi, ia cuma merasakan suatu arus tenaga mahadahsyat tersalur tiba melalui cambuknya, lalu tubuhnya tergetar seperti kena aliran listrik. Jika orang lain, setelah kesandung secara mengejutkan begini, andaikan tidak ketakutan setengah mati tentu juga sudah kapok dan tak berani turun tangan lagi. Tapi dasar Siau-sian-li, si bidadari cilik, hanya namanya saja indah dan orangnya memang cantik juga, namun wataknya ternyata sangat berangasan. Apalagi sejak berkelana di dunia Kangouw belum pernah dia kecundang sehebat ini. Belum lagi Koh Jin-giok sempat membujuknya karena sempat melihat Kungfu si orang aneh sesungguhnya teramat lihai, tahu-tahu si nona sudah melompat bangun, sekali bergerak, mendadak ia lolos keluar dua bilah pedang pandak. Sementara itu orang-orang yang sedang makan di tepi jalan sudah sama menyingkir, meja dan bangku penjual bakso dan bakmi juga sudah sama disingkirkan, selain khawatir ikut menjadi korban, mereka pun ingin menonton pertarungan yang pasti menarik ini. Maka tertampaklah sinar pedang berkelebat secepat kilat, hanya sekejap saja Siau-sian-li sudah melancarkan tujuh kali serangan, karena gemasnya dia menyerang tanpa kenal ampun, kalau bisa sekaligus ia hendak menembus dada orang aneh itu. Ada penonton yang berkhawatir bagi si orang aneh sebab gerak-geriknya kelihatan lamban, seolah-olah tidak tahu bahwa setiap tikaman Siau-sian-li itu dapat merenggut jiwanya. Sebaliknya juga ada orang yang menganggap si nona cilik baju merah itu terlalu ganas, masa menyerang orang sekejam itu. Sudah tentu lebih banyak lagi orang-orang yang suka keramaian, mereka justru berharap pertarungan berlangsung lebih sengit. Hanya Koh Jin-giok saja yang benar-benar berkhawatir, dengan sendirinya ia khawatir bagi Siau-sian-li, tapi ia pun tahu bila si nona sudah umbar wataknya yang keras itu, maka siapa pun tak dapat melerainya, apalagi, seumpama dia dapat melerainya sekarang juga sudah terlambat. Benar saja, terdengar si orang aneh membentak perlahan, tidak jelas cara bagaimana bergeraknya, tahu-tahu kedua pedang di tangan Siau-sian-li sudah terlepas dan mencelat ke udara, lenyap entah jatuh di mana. Waktu orang memandang Siau-sian-li nona itu kembali jatuh lagi ke dalam pelukan Koh Jin-giok, malahan sekali ini dia tidak sanggup berdiri lagi.

"Kau ini anak murid siapa? Mengapa tanpa sebab menyerang orang sekeji ini?"

Demikian ucap si orang aneh dengan kurang senang.

"Ai, anak jaman sekarang mengapa makin lama makin tidak tahu aturan?"

"Kau sendiri tidak tahu aturan,"

Damprat Siau-sian-li.

"Tahukah kau ...."

Mendadak ucapannya terputus, sebab Koh Jin-giok telah mendekap mulutnya.

Tentu saja Siau-sian-li mendongkol, sekuatnya ia menyikut, meski Koh Jin-giok lantas melepaskan pegangannya karena kesakitan, tapi tubuh Siau-sian-li juga memberosot ke tanah dan jatuh terduduk.

Si nona terus saja duduk di tanah, omelnya sambil menunjuk hidung Koh Jin-giok.

"Aku dihina orang cara begini, kau tidak membantu, sebaliknya malah melarangku bicara. Hm, apakah kau terhitung lelaki lagi? Pantas orang suka menyebut Koh-siumoay padamu."

Muka Koh Jin-giok menjadi merah seperti kepiting rebus, ia tergagap-gagap.

"Aku ... aku tidak …."

"Hah, rupanya aku salah menilai dirimu,"

Kata Siau-sian-li.

"Tadinya kukira kau lelaki sejati, siapa tahu ... siapa tahu kau lebih empuk daripada tahu, sungguh kau sangat mengecewakan aku."

Sampai di sini ia menjadi sangat berduka dan air mata pun bercucuran. Mendadak Koh Jin-giok mengertak gigi, dengan langkah lebar ia mendekati si orang aneh, katanya.

"Sungguh lihai kungfumu, tapi Cayhe tetap ingin belajar kenal."

Orang aneh itu hanya menarik muka saja dan tidak menanggapi.

"Awas, akan kuserang kau!"

Bentak Koh Jin-giok. Walaupun pribadinya lemah-lembut seperti anak perempuan, tapi pukulannya ternyata sangat kuat, mantap, ganas, jitu dan cepat.

"Blang" , pukulan keras ini dengan tepat mengenai tubuh orang aneh. Entah mengapa, sama sekali orang itu tidak menghindar. Siau-sian-li tidak menangis lagi, bahkan mencorong terang matanya, sebab ia kenal betapa lihai pukulan Koh Jin-giok. Meski gaya pukulan Koh Jin-giok tidak sedap dipandang, tapi sangat kuat, bila terkena pukulannya dengan telak, biarpun seekor kerbau juga akan gepeng. Hampir saja Siau-sian-li bertepuk gembira apabila tidak segera dilihatnya si orang aneh ternyata tidak terpukul gepeng bahkan bergerak saja tidak. Pukulan sakti Koh Jin-giok yang mengenai tubuhnya seakan-akan memijatnya saja, sebaliknya Koh Jin-giok sendiri malah tergetar mundur dan terhuyung-huyung. Baru sekarang Siau-sian-li melongo kaget. Didengarnya si orang aneh lagi menegur Koh Jin-giok dengan melotot.

"Kau ini pernah apanya Koh-losi?"

Dahi Koh Jin-giok tampak berkeringat, jawabnya.

"Ap ... apakah Cianpwe kenal ayahku."

"Hmk,"

Jengek orang itu.

"Konon Koh-losi mempunyai peraturan keluarga yang keras, mana boleh anak muridnya sembarangan bertindak di luaran? Hendaklah diketahui, seorang yang semakin tinggi kungfunya juga harus semakin prihatin, apabila sedikit-sedikit lantas main pukul, itu kan sama dengan perbuatan kaum pencoleng di tepi jalan, masa ajaran ini tak pernah diberikan oleh ayahmu?"

Seketika Koh Jin-giok tertunduk oleh dampratan orang aneh itu, mana berani lagi dia bersuara. Siau-sian-li yang tidak tahan, ia berteriak.

"Siapa kau sebenarnya? Berdasarkan apa kau beri kuliah segala?"

Sejak tadi Kang Piat-ho berdiri mematung di samping, sama sekali ia tidak terkejut terhadap apa yang terjadi di depannya, seolah-olah ia sudah tahu bilamana si orang aneh turun tangan, maka Koh Jin-giok dan Siau-sian-li pasti akan kecundang.

Sekarang mendadak Kang Piat-ho tertawa dan berkata.

"Masa kalian sama sekali tidak tahu siapa gerangan beliau?"

"Siapa dia?"

Siau-sian-li menegas dengan melotot. Lebih dulu Kang Piat-ho menghela napas, lalu menjawab sekata demi sekata.

"Beliau inilah Yan-tayhiap, Yan Lam-thian!"

Yan Lam-thian!

Begitu mendengar nama ini, seketika kuncup nyali Siau-sian-li dan tidak berani bertingkah lagi, matanya terbeliak dan mulut pun tertutup.

Koh Jin-giok bahkan terus menyembah, sampai kawanan buaya darat yang tadi baru bubar dari rumah judi pun sama menahan napas demi mendengar nama Yan Lam-thian.

"Selanjutnya Kang Piat-ho takkan memalsukan nama dan berbuat jahat lagi, maka kalian pun tidak perlu mencari dia lagi untuk membuat perhitungan,"

Kata Yan Lam-thian kemudian.

"Sebab sudah ada orang lain akan membuat perhitungan lebih dulu dengan dia untuk menyelesaikan utang-piutang yang sudah tertunggak dua puluh tahun lamanya."

Berulang-ulang Koh Jin-giok mengiakan dengan hormat. Lalu terdengar Yan Lam-thian menambahkan.

"Dan selanjutnya hendaklah kalian pun jangan bertindak sembrono dan sembarangan membunuh orang."

Dengan tertunduk kembali Koh Jin-giok mengiakan. Yan Lam-thian lantas memberi tanda, katanya.

"Baiklah, sekarang kalian boleh pergi."

Kaki Pek Khay-sim dan To Kiau-kiau yang mengintip di balik pintu sana terasa seperti lemas dan baju mereka pun basah kuyup oleh keringat dingin.

Han-wan Sam-kong juga jeri terhadap Yan Lam-thian, tapi dia tidak ketakutan seperti kedua rekannya itu.

Ia merasa geli melihat keadaan kedua kawannya itu, katanya dengan tertawa.

"Ayo kalian anak kura-kura ini kenapa tidak berteriak lagi sekarang? Kabarnya kalian telah mengurung Yan Lam-thian di Ok-jin-kok selama dua puluh tahun, tadinya Locu merasa sangsi dan tidak percaya, tapi sekarang tampaknya hal itu memang bukan berita kosong belaka."

"Ti ... tidak ...."

Mestinya To Kiau-kiau hendak menyangkal, tapi lidahnya terasa kaku dan sukar berucap pula.

"Itulah perbuatan si banci dengan serigala mulut besar mereka itu, tiada sangkut pautnya dengan aku,"

Cepat Pek Khay-sim mendahului bicara.

"Jika tiada sangkut pautnya dengan kalian anak kura-kura ini, kenapa kau anak kura-kura mesti ketakutan setengah mati?"

Tanya Han-wan Sam-kong dengan tertawa.

"Memangnya kau sendiri tidak takut?"

Ujar Pek Khay-sim.

"Kejahatan yang kulakukan kan tidak sebanyak perbuatan kalian, Locu tidak perlu takut seperti kau anak kura-kura ini,"

Kata Ok-tu-kui. Mendadak Pek Khay-sim tertawa lebar, katanya.

"Kata orang, yang ada biasanya cuma berzina paksa dan tidak ada judi paksa, ini tandanya memaksa orang berjudi jauh lebih jahat daripada pemerkosaan. Nah, kejahatanku paling-paling juga cuma memerkosa saja. Tapi kau ... hehehe, boleh kau lihat nanti, apabila Yan Lam-thian tahu kau inilah Ok-tu-kui, mustahil kalau kepalamu tidak dipukulnya hingga pecah."

Han-wan Sam-kong mengusap keringatnya, ia pun tidak sanggup bicara pula.

Sudah tentu ketiga orang sama berharap selekasnya Yan Lam-thian akan pergi sejauh-jauhnya bersama Kang Piat-ho.

Siapa tahu, Yan Lam-thian justru lantas duduk di tempat penjual bakmi, ia minta satu botol arak, lalu menuang sendiri dan minum sendiri.

Kang Piat-ho hanya berdiri saja di samping, tidak berani pergi juga tidak berani ikut duduk.

Agaknya orang-orang lain juga sama jeri sehingga satu per satu pembeli bakmi sama angkat kaki, sampai-sampai si penjual bakmi sendiri juga agak gemetar.

Namun Yan Lam-thian tetap tenang-tenang saja, ia minum sendirian secawan demi secawan tanpa berhenti.

Setiap kali habis menenggak arak, setiap kali pula menghela napas panjang seperti orang menanggung tekanan batin.

Han-wan Sam-kong bergumam sambil berkerut kening.

"Aneh, si anak kura-kura Kang Piat-ho itu mengapa bisa berada bersama Yan Lam-thian, sungguh kejadian mahaaneh."

Dia mengira pertanyaan ini pasti tiada orang yang mampu menjawabnya, tak terduga To Kiau-kiau lantas menghela napas dan berucap.

"Baru sekarang aku ingat asal-usul Kang Piat-ho ini."

"Memangnya bagaimana asal-usulnya?"

Tanya Ok-tu-kui.

"Dia pasti Kang Khim adanya,"

Kata Kiau-kiau.

"Kang Khim? Siapa itu Kang Khim?"

Tanya Ok-tu-kui pula.

"Kang Khim adalah kacungnya Kang Hong, saudara angkat Yan Lam-thian,"

Tutur Kiau-kiau.

"Tujuan Yan Lam-thian ke Ok-jin-kok dulu adalah untuk mencari Kang Khim, sebab Kang Khim telah mengkhianati Kang Hong."

"Kang Hong? Nama ini seperti pernah kudengar,"

Ujar Ok-tu-kui.

"Sudah tentu pernah kau dengar dulu, cuma sudah terlalu lama,"

Kata Kiau-kiau.

"Kang Hong bukan lain ialah ayah Kang Siau-hi-ji."

Han-wan Sam-kong melengak, katanya kemudian.

"Jika betul dia hendak menuntut balas pada Kang Khim alias Kang Piat-ho sekarang, mengapa dia tidak membinasakannya saja, tapi malah membawanya kian kemari untuk apa?"

"Sebab dia ingin menemukan dulu Siau-hi-ji agar anak muda itu dapat membalas dendam dengan tangannya sendiri,"

Tutur Kiau-kiau.

"Ya, betul, pasti inilah alasannya,"

Tukas Ok-tu-kui.

"Akan tetapi bagaimana kalau tidak berhasil menemukan Siau-hi-ji?"

Tiba-tiba Pek Khay-sim tertawa lebar, katanya.

"Selama hidupnya ini kukira dia takkan menemukan lagi si telur busuk kecil itu."

"Memangnya kenapa?"

Tanya Ok-tu-kui.

Pek Khay-sim hanya tertawa saja dan tidak menjawab, sebab diam-diam To Kiau-kiau telah mencubitnya agar jangan banyak omong.

Pada saat itu juga, tiba-tiba ada seorang dengan membawa botol arak mendekati penjual bakmi tempat Yan Lam-thian duduk itu, lalu ia pun duduk di samping sang pendekar.

Lampu penjual bakmi itu tergantung di bagian atas sehingga dapat menyinari wajah orang yang baru datang ini, terlihat usianya masih muda, juga cukup tampan, hanya mukanya sangat pucat.

Han-wan Sam-kong terkejut, katanya.

"Berengsek! Anak-kura-kura ini bukankah putra lelaki Kang Piat-ho yang bernama Kang Giok-long itu?"

"Memang betul,"

Tukas Pek Khay-sim.

Terlihat Kang Giok-long duduk di tempat penjual bakmi itu dan seakan-akan tidak melihat sang ayah, sebaliknya Kang Piat-ho juga berlagak seperti tidak kenal dia.

Ayah beranak itu tidak saling pandang sama sekali.

"Kedua ayah beranak ini lagi main gila apa?"

Omel Han-wan Sam-kong sambil mengernyitkan dahi.

"Tampaknya ia bermaksud menolong bapaknya?"

Kata Kiau-kiau.

"Hm, hanya anak jadah ini, apakah dia mampu?"

Jengek Ok-tu-kui. Kiau-kiau tertawa, katanya.

"Meski dia tidak memiliki kemampuan besar, tapi cukup banyak tipu akalnya, sampai Siau-hi-ji terkadang juga tertipu olehnya."

Han-wan Sam-kong melotot, jengeknya.

"Hm, Locu juga tahu banyak tipu muslihatnya, tapi kalau dibandingkan Siau-hi-ji sedikitnya masih berselisih tiga pal jauhnya."

Berputar biji mata To Kiau-kiau dan tidak bersuara pula.

Jelas diketahuinya sekarang bahwa hubungan Ok-tu-kui dengan Siau-hi-ji ternyata cukup erat, kalau tidak, mana mungkin Ok-tu-kui bernada membela Siau-hi-ji.

Dalam pada itu tampak Kang Giok-long sedang menghormat arak kepada Yan Lam-thian, bahkan mengajaknya bicara dengan tertawa.

Jelas Yan Lam-thian tidak tahu bahwa Kang Giok-long adalah putra Kang Piat-ho, ia pun tidak menolak ajakan bicara Kang Giok-long itu.

Tidak lama kemudian, mendadak Yan Lam-thian berbangkit dan berseru.

"Apa betul kau kenal Kang Siau-hi?"

Kang Giok-long juga berdiri, jawabnya dengan mengiring tawa.

"Bukan cuma kenal saja, bahkan boleh dikatakan sahabat sehidup-semati."

Yan Lam-thian lantas memegang pundak Kang Giok-long dan bertanya.

"Apakah akhir-akhir ini kau pernah melihatnya?"

"Dua hari yang lalu Wanpwe baru saja minum arak bersama dia,"

Jawab Giok-long.

"Dan ke mana dia sekarang?"

Tukas Yan Lam-thian cepat.

"Jejaknya memang tidak menentu,"

Tutur Giok-long.

"Tapi rasanya Wanpwe masih sanggup menemukannya."

"Betul?"

Yan Lam-thian menegas.

"Masa Wanpwe berani berdusta kepada Cianpwe?"

Kata Giok-long.

"Bagus, bagus, bagus ...."

Karena senangnya Yan Lam-thian mengucapkan "bagus"

Hingga beberapa kali, tangannya yang mencengkeram pundak Kang Giok-long juga lupa dilepaskan, keruan anak muda itu meringis kesakitan, tulang pundak serasa retak, tapi sedapatnya ia unjuk senyuman.

Sinar mata Kang Piat-ho tampak gemerdep, tiba-tiba ia menimbrung.

"Asal-usul bocah ini tidak jelas, mana boleh Yan-tayhiap percaya kepada ocehannya?"

"Tutup mulutmu!"

Bentak Yan Lam-thian gusar.

"Di depanku tiada bagianmu buat ikut bicara."

Segera ia lemparkan sepotong uang perak kepada penjual bakmi, ia tarik Kang Giok-long terus diajak berangkat.

Terpaksa Kang Piat-ho mengikut di belakang dengan lesu, tapi kalau diperhatikan jelas tersembul senyuman girang pada ujung mulutnya.

Melihat Yan Lam-thian kena diakali Kang Giok-long, To Kiau-kiau tertawa, gumamnya.

"Memang sudah kuduga Yan Lam-thian pasti akan tertipu olehnya dan dugaanku ternyata tidak meleset."

"Setan cilik ini boleh juga!"

Kata Pek Khay-sim dengan tertawa geli.

"Hihihi! Caranya berpura-pura sungguh mirip benar, keparat! Dan Yan Lam-thian ternyata mau juga ikut pergi bersama dia, mungkin dia sudah keblinger."

"Sekali ini bukan saja selamanya Yan Lam-thian takkan bertemu lagi dengan Siau-hi-ji, bahkan jiwanya mungkin juga akan melayang di tangan kedua ayah beranak itu,"

Ujar To Kiau-kiau.

Han-wan Sam-kong tampak termangu-mangu, mendadak ia menolak pintu terus hendak menerobos keluar.

Tak terduga tangan To Kiau-kiau sudah menunggu di belakangnya, baru saja ia mendorong pintu, secepat kilat Kiau-kiau menutuk beberapa hiat-tonya, habis itu terus dipanggulnya dan dibawa keluar melalui jendela belakang.

Cepat Pek Khay-sim menyusulnya, sambil bertepuk tangan ia berolok-olok.

"Haha, tak tersangka To Kiau-kiau bisa terpikat oleh Ok-tu-kui, rupanya kau hendak membawanya pulang untuk dijadikan suami. Tapi menjadi istri setan judi tidak terlalu enak, kau harus hati-hati kalau ikut terjual bila dia kalah judi."

Kejut dan gusar sekali Han-wan Sam-kong, tapi apa daya, sama sekali ia tak dapat berkutik, bicara pun tidak bisa.

To Kiau-kiau mengitari belakang rumah dan keluar dari kota kecil itu, sementara itu hari sudah terang, jalan pegunungan dengan sendirinya masih sepi.

Sekuatnya To Kiau-kiau terus lari ke atas gunung, dengan sendirinya ia agak kepayahan karena harus memanggul Ok-tu-kui yang bertubuh tidak kecil itu.

Entah sudah berapa lama lagi, tiba-tiba terdengar suara gemerantang nyaring di depan sana, rupanya Li Toa-jui, Ha-ha-ji, dan Toh Sat sedang menggali gunung.

Mendadak mereka melihat To Kiau-kiau dan Pek Khay-sim berlari datang seperti dikejar setan.

Yang paling aneh ialah punggung To Kiau-kiau memanggul seseorang.

Segera Li Toa-jui bertiga berhenti menggali dan menyongsong maju.

Sekilas pandang saja Ha-ha-ji lantas mengenali siapa yang dipanggul Kiau-kiau itu, serunya dengan tertawa.

"Haha, kukira siapa, rupanya Ok-tu-kui adanya. Haha, selamat bertemu, sahabat lama!"

"Ya, kita sudah berpisah cukup lama, Ok-tu-kui,"

Li Toa-jui juga menyapa.

"Eh, baru saja bertemu mengapa engkau lantas merangkak ke atas tubuh To Kiau-kiau? Apakah kau setan judi ini telah berubah menjadi setan kundai licin?"

Toh Sat juga berkerut kening, tanyanya.

"Apa-apaan ini?"

Kiau-kiau tidak lantas menjawab, ia banting Ok-tu-kui ke tanah, karena bantingan ini, hiat-to yang tertutuk seketika terbuka semua, belum lagi Ok-tu-kui melompat bangun sudah bergelak tertawa lebih dulu.

"Hahahaha, kiranya kalian kawanan anak kura-kura ini sudah berada di sini semuanya. Bukit Kura-kura ini kedatangan anak kura-kura sebanyak ini, haha, benar-benar keadaan cocok dengan namanya."

Pek Khay-sim tertawa, katanya.

"Tanpa sebab musabab hiat-tomu ditutuk To Kiau-kiau, lalu seperti membanting seekor anjing kau dibanting ke tanah, tapi kau tidak melabraknya, sebaliknya terus bergurau. Hehe, tampaknya kau ini memang empuk dikerjai orang."

Pada dasarnya Han-wan Sam-kong berwatak jujur dan terbuka, ketika mendadak melihat sahabat lama sama berkumpul, maka segala urusan telah dikesampingkan olehnya.

Sekarang Pek Khay-sim membakarnya dengan mengingatkannya kejadian tadi, seketika ia naik pitam, ia melompat bangun dan menuding hidung To Kiau-kiau sambil berkata.

"Ya, coba jawab, kau anak kura-kura bukan jantan bukan betina ini mengapa menutuk sesukamu?"

"Coba jawab dulu pertanyaanku,"

Kata Kiau-kiau.

"Untuk apa tadi kau hendak lari keluar?"

"Apa yang kulakukan, peduli apa denganmu?"

Ok-tu-kui meraung murka.

"Maksudmu hendak memberitahukan kepada Yan Lam-thian agar jangan tertipu oleh Kang Giok-long, begitu bukan?"

Tanya Kiau-kiau. Mendengar nama "Yan Lam-thian" , tidak kepalang kejut Li Toa-jui, Ha-ha-ji, dan Toh Sat, kaki pun terasa lemas semua.

"Yan Lam-thian?"

Toh Sat menegas.

"Kau ... kau lihat Yan Lam-thian?"

Ha-ha-ji bertanya.

"Apa ... apakah dia sudah waras kembali?"

"Bukan saja sudah waras dan segar bugar, bahkan kungfunya kelihatan terlebih hebat daripada dulu,"

Tutur To Kiau-kiau.

"Waktu melihat orangnya tidak seketika kukenali dia, tapi setelah dia memperlihatkan satu jurus saja segera kuyakin dia itulah Yan Lam-thian, sebab selain dia di dunia ini tiada orang kedua yang memiliki ilmu silat setinggi itu."

Ha-ha-ji menggigil ketakutan, bukan saja tidak sanggup tertawa lagi, bahkan bicara pun tidak sanggup.

"Dia ... dia di mana sekarang?"

Tanya Li Toa-jui.

"Dia telah ditipu pergi oleh Kang Giok-long dan ayahnya, tapi Ok-tu-kui ingin mencarinya malah,"

Tutur Kiau-kiau. Belum habis penuturan To Kiau-kiau ini, serentak Toh Sat, Li Toa-jui, dan Ha-ha-ji mengelilingi Han-wan Sam-kong dengan murka.

"Apa maksud tujuanmu itu?"

Tanya Toh Sat dengan melotot.

Ok-tu-kui tidak takut kepada orang lain, tapi jeri terhadap Toh Sat.

Apalagi sekarang sikap Toh Sat kelihatan beringas dan penuh nafsu membunuh, diam-diam ia pun merinding, maka cepat ia menjawab.

"Ah, hanya kuingin minta Yan Lam-thian membunuh Kang Piat-ho dan anaknya, masa ada maksud lain."

"Jangan percaya, Toh-lotoa,"

Seru Pek Khay-sim.

"Habis, apakah mungkin kuminta Yan Lam-thian mencari perkara kepada kalian?"

Ujar Han-wan Sam-kong.

"Bisa jadi, bukan mustahil,"

Ujar Pek Khay-sim.

"Sudah dua puluh tahun tidak berjumpa, siapa tahu apa pekerjaanmu sekarang? Mungkin sekali kau sudah menanjak ke atas dan ada hubungan baik dengan Yan Lam-thian, dengan sendirinya kau pun pandang sebelah mata lagi kepada kawan-kawan lama."

"Ucapan anak kura-kura ini lebih busuk daripada kentut, jangan kau percaya padanya, Toh-lotoa,"

Kata Ok-tu-kui.

"Coba jawab, jika kau tidak berbuat kesalahan apa-apa, mengapa lantas lari ketika melihat kami?"

Tanya Pek Khay-sim dengan tertawa. Agak berubah juga air muka Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong, jawabnya gelagapan.

"Ini ... ini ...."

"Ayolah katakan, mengapa tak dapat kau jelaskan?"

Desak Pek Khay-sim.

"Nah, bukankah lantaran berdosa dan takut tertangkap tangan?"

Han-wan Sam-kong berjingkrak gusar dan meraung.

"Locu kan tidak menggali kuburan nenek moyangmu, kenapa kau anak kura-kura ini sengaja mencari gara-gara padaku?"

Pek Khay-sim merasa maksud tujuannya tercapai, maka tidak bersuara meski dicaci maki oleh Han-wan Sam-kong.

Li Toa-jui dan Ha-ha-ji menjadi lebih murka, Toh Sat juga tambah beringas, dengan bengis ia tanya pula.

"Jadi tadi begitu melihat kami kau lantas lari?"

"Aku ... aku ... sialan, memang betul, aku lari,"

Jawab Ok-tu-kui.

"Mengapa lari?"

Tanya Toh Sat pula. Mendadak Han-wan Sam-kong membusungkan dada dan menjawab tegas.

"Sebab Locu telah meludeskan harta benda kalian."

Keterangan ini membuat mereka terkejut.

"Harta benda kami, katamu?"

Tanya Ha-ha-ji cepat.

"Harta benda apa?"

"Kalian hanya tahu Locu ini Ok-tu-kui,"

Tutur Han-wan Sam-kong.

"tapi kalian tidak tahu watakku selain ingin menang, juga tak gentar kalah. Asalkan masih ada modal dan bisa kalah, maka rasanya terlebih menyenangkan daripada menang. Lebih-lebih bila kukalah pada setan judi yang miskin dan melihat betapa senangnya mereka setelah menang, wah, kenikmatan itu jelas tak dapat dibayangkan oleh kalian kawanan anak kura-kura ini."

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung pula.

"Bulan lalu aku diminta seorang kawan untuk mengantar suatu partai harta milik hartawan besar Toan Hap-pui di daerah Kanglam, meski lantaran urusan itu aku menjadi bermusuhan dengan Kang Piat-ho dan anaknya, tapi aku pun lantas kenal Toan Hap-pui, selama lebih setengah bulan kami mengadu jangkrik di rumahnya, dasar nasibku lagi mujur, aku telah menang beberapa puluh laksa tahil perak dari dia. Karena sudah punya modal, tanganku menjadi gatal dan ingin membuang sebagian harta karun itu."

"Hm, tak tersangka setan judi macam kau juga punya hati bijak, apakah kau ingin menjadi pendekar yang merampas orang kaya untuk membantu orang miskin?"

Jengek Li Toa-jui. Han-wan Sam-kong tidak menanggapi, ia meneruskan ceritanya.

"Tapi semakin Locu ingin kalah, harta itu seakan-akan sengaja memusuhi aku, bukannya berkurang, malahan terus bertambah, bukannya kalah, malah selalu menang."

"Orang judi tentu mengharapkan menang, tapi kau malah ingin kalah,"

Ujar Li Toa-jui.

"Padahal apa sulitnya jika ingin kalah?"

"Judi yang menyenangkan harus berlangsung secara jujur dan pakai teknik sejati, kalah atau menang tidak boleh menggunakan cara curang, kalau tidak kan sama seperti makan nasi putih tanpa sayur, sedikit pun tiada rasanya,"

Kata Ok-tu-kui.

"Nah, pada suatu hari, ketika aku lagi minum di suatu rumah makan, mendadak di sebelah ada orang main dadu. Tentu saja aku tertarik, maka aku pun ikut bermain dengan kawanan anak kura-kura itu."

"Dan kau menang lagi?"

Tanya Li Toa-jui.

"Mungkin kawanan anak kura-kura itu yang lagi mujur, kebetulan juga kemujuranku itu harus ganti tempat, maka setiap kali lempar dadu selalu bijiku ketinggalan daripada lemparan orang lain, selama beberapa hari dan beberapa malam berturut-turut Locu kalah terus-menerus."

"Itu kan cocok dengan kehendakmu?"

Sela Pek Khay-sim. Han-wan Sam-kong tidak menggubris, ia menyambung pula ceritanya.

"Rumah makan itu terletak di suatu gang, karena Locu kalah terus-menerus selama tiga hari, tentu saja setiap orang di gang itu, tua maupun muda, hampir rata-rata memenangkan uangku. Hanya ada seorang kakek konyol, meski setiap hari dia juga datang minum ke rumah makan itu dan setiap hari menyaksikan kelemahanku, tapi dia sendiri tidak tertarik, satu kali pun tidak pernah ikut taruhan."

Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula dengan tertawa.

"Hahaha, semakin dia tidak main judi, makin besar keinginanku untuk mengajak dia berjudi. Orang lain sama bilang kakek itu sangat alim, bukan saja tidak suka berjudi, bahkan juga tidak merokok, tidak minum arak, tidak main perempuan, jadi benar-benar seorang bersih, maka kebanyakan orang memberi julukan Li-lausit atau Li si Jujur padanya. Malahan ada orang yang menantang, katanya kalau aku mampu memancing Li-lausit ikut berjudi, maka mereka akan menyembah padaku."

"Sungguh tidak tersangka keluarga Li bisa terdapat seorang tua sebaik itu,"

Ucap To Kiau-kiau dengan tertawa sambil melirik Li Toa-jui.

"Di gang itu bertempat tinggal pula seorang janda she To, konon dia akan mendapat piagam dari maharaja karena si janda dapat mempertahankan kesuciannya tanpa kawin selama berpuluh tahun,"

Demikian tutur Ok-tu-kui pula.

"Janda To itu berjualan serabi di depan rumahnya, akan tetapi selama berpuluh tahun orang yang berlalu-lalang di situ belum pernah melihat tertawa si janda. Anehnya di rumah janda itu tiada orang lain lagi kecuali seekor anjing yang membantunya menjaga rumah."

"Hahaha, tak menyangka keluarga To ada perempuan yang rela menjanda sampai tua, sungguh harus dipuji,"

Demikian Li Toa-jui balas berolok-olok pada To Kiau-kiau.

"Cuma sayang, dia toh melahirkan seekor anjing ... Hahaha, kita tahu kebaikan anjing yang paling utama ialah tak bisa bicara."

Han-wan Sam-kong tersenyum, ia melanjutkan ceritanya lagi.

"Tidak sampai empat hari, modalku hanya sisa empat laksa tahil saja, selebihnya sudah berpindah ke saku kawanan anak kura-kura itu. Maka sisa modalku itu sekaligus kusodorkan ke depan Li-lausit, kutantang dia bertaruh. Kataku, cukup kusebut satu kata saja pasti dapat membuat si janda To itu tertawa, kemudian kusebut satu kata lagi akan kubuat si janda memukulku, kutanya Li-lausit dia percaya atau tidak dan berani tidak bertaruh denganku?"

"Dan dia tidak percaya?"

Ha-ha-ji ikut bertanya. Dengan tertawa Han-wan Sam-kong menjawab.

"Bahwa janda itu tidak pernah tertawa, antara lelaki dan perempuan juga ada batas-batasnya, lebih-lebih janda tidak mungkin memukul lelaki, semua ini dengan sendirinya membuat Li-lausit tidak percaya. Maka aku lantas bertaruh dengan dia, bilamana aku kalah, seluruh sisa perak milikku itu akan kuserahkan padanya, sebaliknya kalau aku menang, syaratnya ialah dia mesti bermain dadu sepuluh kali lemparan denganku."

"Dan dia terima tantanganmu?"

Tanya Ha-ha-ji.

"Dia tidak lantas menjawab, ia pandang perak yang kusodorkan di depannya itu, paling tidak ada setengah jam ia memandang, akhirnya ia setuju bertaruh denganku,"

Tutur Ok-tu-kui pula.

"Haha, biarpun orang jujur, kalau melihat tumpukan perak yang putih gilap itu disodorkan ke depan hidungnya pasti juga ingin memilikinya, sebab setiap orang mengira taruhan ini pasti akan dimenangkan oleh Li-lausit."

"Akan tetapi akhirnya kau yang menang,"

Tutur Ha-ha-ji.

"Ya, agar dia mau berjudi lagi denganku, sudah tentu aku harus memenangkan pertaruhan itu,"

Kata Ok-tu-kui dengan tertawa. Sampai di sini, akhirnya Toh Sat juga tertarik dan bertanya.

"Cara bagaimana kau akan mengalahkan dia?"

To Kiau-kiau juga berseru.

"Ya, bahwa kau dapat membuat tertawa si janda dengan satu kata, lalu satu kata lagi dapat kau buat dia marah dan memukul kau, sungguh aku sendiri pun bingung membayangkannya,"

Kata Kiau-kiau.

Seketika Li Toa-jui, Ha-ha-ji, Toh Sat, dan To Kiau-kiau hanya saling pandang, betapa pun mereka tidak tahu kata apa yang dimaksud Han-wan Sam-kong, masa mempunyai kekuatan gaib sebesar itu dapat membuat tertawa dan membuat marah seorang janda hanya dengan satu kata saja.

Dengan tenang dan perlahan Han-wan Sam-kong lantas bercerita pula.

"Petangnya, waktu si janda mulai berjualan serabi lagi, anjing piaraannya yang setia itu sudah tentu selalu mendampinginya. Maka aku lantas mendekatinya, dengan hormat aku menyembah kepada anjing itu sambil memanggil. ‘ayah’. Si janda tampak melengak, maksudnya hendak marah, tapi toh akhirnya dia tertawa juga."

Bahwa Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong menyembah dan memanggil seekor anjing sebagai ayah, sudah tentu hal ini sangat lucu.

Maka Li Toa-jui dan lain-lain juga bergelak tertawa geli.

Dengan tersenyum Ok-tu-kui menyambung pula.

"Bahwa terbukti si janda benar-benar tertawa setelah mendengar satu kata ucapanku, tentu saja semua orang merasa kagum dan geli, tapi mereka tetap sangsi dengan satu kata lagi."

"Terus terang, sampai saat ini pun aku tidak percaya kau mampu membuatnya marah hanya dengan satu kata saja,"

Ujar Kiau-kiau dengan tertawa.

"Untuk itu pun tidak sulit,"

Tutur Han-wan Sam-kong.

"Segera kuberlutut di depan si janda dan memanggilnya ‘ibu’. Seketika mukanya berubah merah padam, dengan gemas ia tampar mukaku satu kali lalu lari masuk rumah."

Belum habis uraiannya, karena gelinya Li Toa-jui dan lain-lain sama mendekap perut dan tertawa terpingkal-pingkal.

"Maka Li-lausit terpaksa main dadu denganku sesuai perjanjian,"

Sambung Ok-tu-kui pula.

"Siapa tahu kemujuranku bertambah memuncak, berturut-turut kumenang belasan kali lemparan dadu. Semula Li yang mengaku lausit (jujur, polos) itu hanya bertaruh kecil-kecilan saja. Tapi setelah kalah, lama-lama ia menjadi bernafsu dan kalap, taruhannya bertambah besar dan kalahnya juga tambah banyak, akhirnya sampai kasur selimut dan pispot di rumahnya juga dijual untuk taruhan. Hanya dalam sehari saja dia telah kalah ludes, bangkrut habis-habisan."

"Memang betul,"

Ujar Toa-jui dengan tertawa.

"orang yang tidak pernah berjudi, sekali mulai berjudi dan kalah, makin bernafsu untuk berjudi terus, sebelum ludes takkan berhenti."

"Pada umumnya, kalau sudah kalah, tentu ingin menang untuk mengembalikan modalnya, tapi akibatnya tambah ludes,"

Kata Ok-tu-kui.

"Dalam hal ini Li-lausit pun tidak terkecuali. Sudah ludes, dia masih ngotot mengajak bertaruh lagi. Kutanya dia dengan apa dia akan bertaruh. Sesudah berpikir, rupanya ia menjadi nekat, ia mengajak aku ke rumahnya, isi rumahnya sudah bersih, tapi di suatu ruangan masih ada beberapa buah peti besar."

"Peti besar? Bagaimana bentuk peti itu?"

Tanya Kiau-kiau cepat.

"Hitam warna peti-peti itu, penuh debu, jelas sudah lama tersimpan di situ,"

Tutur Ok-tu-kui.

"Menurut cerita Li-lausit, katanya peti-peti itu sebenarnya adalah barang titipan orang, selama ini belum pernah disentuhnya. Tapi sekarang ia tidak peduli lagi."

Setelah tertawa, lalu Ok-tu-kui menyambung pula.

"Kalian tahu, bila seorang sudah kepepet karena kalah habis-habisan, jangankan barang titipan orang lain, biarpun istri dan anaknya juga tega dijadikan barang jaminan, bahkan dijual sekaligus."

"Apakah ... apakah peti-peti itu pun dikalahkan seluruhnya kepadamu?"

Tanya Kiau-kiau.

"Ya, cuma tak kusangka isi peti-peti itu adalah emas dan perak, lebih tak terpikir olehku peti itu adalah milik kalian, apabila di dalam peti tiada tanda pengenal kalian, tidak nanti terpikir olehku bahwa kalian dapat menitipkan peti-peti berharga itu kepada seorang kakek. Haha, cara kalian itu sesungguhnya sangat bagus."

Setelah berhenti sejenak lalu Ok-tu-kui menyambung lagi.

"Tentu saja aku kejatuhan rezeki nomplok, beberapa juta tahil perak kudapatkan tanpa susah payah, maka aku dapat bertaruh dengan sepuas-puasnya, sampai sekarang kekalahanku sudah cukup lumayan, sisanya juga sudah kusumbangkan kepada orang sebagai kado perkawinan, sekarang kantong sudah kosong, aku sudah jatuh rudin lagi, bila kalian menagih utang padaku, jelas satu peser pun aku tidak punya lagi, kalau jiwa sih masih ada satu."

Seketika melenggong Pek Khay-sim, Ha-ha-ji, Toh Sat, Li Toa-jui, dan To Kiau-kiau, muka mereka menjadi pucat, lesu, dan sedih seperti kematian ibunda.

"Haha, kiranya ... kiranya Auyang Ting dan Auyang Tong tidak menyimpan harta benda itu di Ku-san, tapi dititipkan pada Li-lausit, akhirnya kita toh tetap tertipu olehnya,"

Seru Ha-ha-ji. Dengan gemas Li Toa-jui menambahkan.

"Siapa pun juga, bila sudah mendekati ajalnya seperti Auyang Ting dan Tong pasti tidak berani berdusta lagi, tak tersangka kedua Auyang bersaudara itu ternyata bukan manusia!"

Mendadak Ha-ha-ji membuang pacul dan sekop yang berserakan itu, lalu teriaknya dengan tertawa.

"Sesungguhnya kita harus berterima kasih juga kepada setan judi ini."

"Terima kasih? Mengapa?"

Tanya Pek Khay-sim.

"Coba bayangkan. Apabila dia tidak menceritakan pengalamannya itu, tentu kita akan tetap menjadi kuli galian dan bekerja mati-matian di sini. Tapi sekarang kita tidak perlu menggali lagi dan dapat istirahat dengan baik."

"Pantas kau gemuk seperti babi, nyatanya kau memang malas,"

Omel Pek Khay-sim.

"Ucapannya memang tidak salah,"

Tukas Toh Sat.

"Jika tiada Han-wan Sam-kong, selamanya kita takkan tahu di mana beradanya peti-peti kita itu. Bahkan kita akan tambah banyak urusan dan kelabakan percuma."

Mendadak Pek Khay-sim berseru.

"Habis, kita harus minta ganti rugi tidak kepadanya?"

Li Toa-jui tertawa, katanya.

"Dia sudah bilang tadi, satu peser saja dia tidak punya lagi, yang ada cuma jiwanya ...."

"Kulihat kulit dagingnya kan juga lumayan, apakah kau tidak ingin mencicipinya?"

Tanya Pek Khay-sim.

"Jika setan judi begini kumakan, wah, bisa runyam,"

Kata Li Toa-jui dengan tertawa.

"Jangan-jangan dia akan mempertaruhkan usus dan ginjalnya, kan celaka?"

Mendadak ia berhenti tertawa dan melototi Han-wan Sam-kong, tanyanya.

"Kau telah menghabiskan harta karun itu, apakah beberapa buah peti itu pun kau habiskan pula di meja judi?"

"Tidak,"

Jawab Han-wan Sam-kong. Bercahaya mata Li Toa-jui, cepat ia tanya pula.

"Di mana peti-peti itu?"

"Di mana? Sudah kubuang,"

Jawab Ok-tu-kui.

"Peti-peti itu sangat besar lagi berat, untuk apa kubawa kian kemari? Maka seluruhnya telah kubuang ke sungai."

Kembali Li Toa-jui dan To Kiau-kiau saling pandang dengan melongo dan tidak sanggup bicara lagi. Han-wan Sam-kong berludah keras-keras, lalu mengomel.

"Keparat, biasanya kau anak kura-kura ini cuma gemar daging manusia, padahal daging manusia kan tidak dapat dibeli dengan uang, sekarang kau cuma kehilangan beberapa tahil perak, apa yang kau sedihkan?"

Li Toa-jui menghela napas, katanya.

"Dalam hal ini kau masih hijau. Usia seorang kalau sudah mulai lanjut, maka pasti juga mulai kemaruk harta. Meski kutahu benda-benda emas perak begituan tak dapat dimakan dan tak dapat dipakai, pula tak mungkin dibawa masuk peti mati, tapi semakin tua usiaku semakin kusuka pula padanya."

"Haha, memang betul,"

Tukas Ha-ha-ji.

"Bagiku, setiap hari boleh tidak bekerja apa-apa, cukup asalkan tutup pintu di dalam kamar dan menghitung uang, maka puaslah hidupku ini."

"Kukira kalian anak kura-kura ini mungkin sudah hampir masuk peti semua,"

Gerutu Han-wan Sam-kong.

"Seorang kalau tidak suka apa-apa melainkan cuma suka uang, maka sebelah kaki mereka boleh dikatakan sudah melangkah ke dalam kubur."

Setelah meludah, lalu ia menyambung.

"Jika kalian masih kemaruk harta, mengapa kalian tidak merampok dan membegal lagi, harta yang kuhabiskan itu kan juga berasal dari rampokan?"

"Kau tidak paham lagi mengenai urusan ini,"

Kata Li Toa-jui.

"Ok-jin kan juga harus menjaga gengsi, ok-jin yang berkedudukan seperti kita ini, kalau sekarang harus main bunuh lagi dan merampok, kan bisa ditertawakan orang?"

Han-wan Sam-kong tercengang sejenak, tiba-tiba ia pun tertawa dan berkata.

"Hahaha, tak tersangka kalian anak kura-kura ini tidak berani lagi menjadi perampok, lalu apa gunanya kalian ini? Lebih baik bunuh diri saja atau cebur ke dalam sungai."

"Kentut makmu, siapa bilang Cap-toa-ok-jin tiada gunanya lagi?"

Damprat To Kiau-kiau.

"Dua puluh tahun yang lalu mungkin kalian bisa tergolong Cap-toa-ok-jin, tapi setelah sembunyi sekian lamanya di lembah kura-kura itu, paling-paling kalian berlima ini cuma dapat di anggap sebagai Go-toa-ok-ku (lima ekor kura-kura jahat),"

Demikian Han-wan Sam-kong mengejeknya. To Kiau-kiau menjadi gusar, dampratnya.

"Hm, kau ini kutu macam apa, biarpun dua puluh tahun yang lalu kau juga tidak memenuhi syarat sebagai anggota Cap-toa-ok-jin, bahwa kau pun dianggap satu di antara kesepuluh top penjahat, soalnya orang ingin membuat genap bilangan sepuluh saja."

"Baik, jika kita sesungguhnya belum tergolong ok-jin sejati, kenapa kita tak coba-coba menjadi ho-jin (orang baik) saja?"

Ucap Han-wan Sam-kong.

"Dan untuk menjadi ho-jin kita juga perlu coba-coba berbuat baik."

"Berbuat baik bagaimana?"

Tanya Li Toa-jui. Han-wan Sam-kong menunjuk Hoa Bu-koat yang menggeletak di tanah dan Thi Sim-lan yang terkurung di dalam sangkar itu, katanya.

"Kenapa kita tidak membebaskan mereka agar mereka selalu merasa berterima kasih kepada kita."

Li Toa-jui termenung sejenak, katanya kemudian.

"Betul juga, sudah sekian lama kita dibenci orang, kalau sekali tempo kita pun membikin orang berterima kasih kepada kita, kan menarik juga."

"Bagaimana pendapatmu, Toh-lotoa?"

Tanya Han-wan Sam-kong.

"Tampaknya ketiga orang ini sudah sekarat, aku pun malas membunuh mereka,"

Jawab Toh Sat. Pek Khay-sim juga sedang putar otak, mendadak ia berkata.

"Jika kalian ingin menjadi orang baik, kenapa tidak menjadi baik-baik benar?"

"Haha, masakah orang yang selalu membuat rugi orang lain juga ingin berbuat sesuatu yang baik?"

Seru Ha-ha-ji dengan tertawa.

"Aku sudah berbuat jahat selama ini, sekarang aku pun ingin tahu bagaimana rasanya berbuat baik,"

Kata Pek Khay-sim.

"Kalau tidak, kan sukar kupertanggung jawabkan perbuatanku di depan Giam-lo-ong bilamana kumati kelak."

"Memangnya kau anak kura-kura ini ingin permainan apa?"

Tanya Ok-tu-kui. Pek Khay-sim berdiri membelakangi Hoa Bu-koat dan Thi Sim-lan, ia menunjuk kedua anak muda itu di luar tahu mereka, katanya dengan tertawa.

"Kedua bocah ini sudah sekian lama suka sama suka, cuma sayang di antara mereka terhalang oleh seorang Siau-hi-ji, sekarang Siau-hi-ji jelas sudah ‘bebas tugas’, kenapa kita tidak kawinkan mereka ini. Hahaha, biarkan semua kekasih di dunia ini terikat menjadi suami-istri abadi. Bukankah ini perbuatan yang menyenangkan dan mulia?"

"Haha, betul,"

Tukas Ha-ha-ji sambil bertepuk.

"Kita sudah mengasingkan diri sekian tahun, kalau sekarang kita bisa pesta pora dengan gembira, kan menyenangkan sekali?"

"Benar,"

Sambung Li Toa-jui.

"Sudah dua puluh tahun lebih tak pernah kuminum arak pesta perkawinan, kukira pasti sangat menyenangkan."

Tapi mendadak To Kiau-kiau menunjuk hidung Pek Khay-sim dan mengomel.

"Kutahu bocah ini tidak mungkin punya maksud baik, nyatanya memang urusan yang merugikan orang lain tanpa menguntungkan dia sendiri."

"Menjadi comblang bagi orang lain adalah pekerjaan mulia, bila diketahui Giam-lo-ong tentu juga umurku akan diberi ekstra tiga tahun lebih panjang, mengapa kau bilang tindakanku ini merugikan orang lain?"

Teriak Khay-sim.

"Sudah jelas kau tahu kedua bocah ini sedang berduka, tapi kau menghendaki mereka kawin sekarang juga, ini kan lebih berdosa daripada kau bunuh mereka?"

Ujar Kiau-kiau dengan tertawa. Pek Khay-sim memicingkan mata dan berkata dengan tertawa.

"Misalnya mereka sedang berduka, tapi nanti setelah kawin dan tahu rasanya, tanggung mereka tidak sempat berduka lagi."

"Buset, dasar mulut anjing, mana mungkin keluar gadingnya,"

Gerutu Li Toa-jui.

"Sudahlah,"

Sela Ha-ha-ji.

"Aku tidak peduli bagaimana pendapat kalian, yang pasti kedua bocah ini harus dikawinkan. Hahaha, dengan tanganku sendiri akan kuganti pakaian pengantin mereka, dengan tanganku sendiri akan kutuang arak bahagia mereka."

Li Toa-jui melirik sekejap ke arah Pek Khay-sim dan mendadak ia tertawa dan berkata.

"He, di sini kan masih ada seekor macan betina baginya?"

Ha-ha-ji memandang Pek-hujin, terus memandang pula Pek Khay-sim, lalu bergelak tertawa dan berseru.

"Ya, betul, mereka memang pasangan yang cocok."

Dengan terkikik-kikik To Kiau-kiau menambahkan.

"Tampaknya Nyonya Pek kita memang besar rezekinya, ke sana dan ke sini dia memang berjodoh dengan orang she Pek, ganti suami juga tetap dengan orang yang punya she sama."

Pek Khay-sim lantas berteriak.

"Tapi kalian ...."

Sembari bicara segera ia hendak mengeluyur pergi. Namun To Kiau-kiau dan Li Toa-jui sempat bertindak, sekaligus mereka bekuk Pek Khay-sim dan diseret balik.

"Ini kan peristiwa bahagia, mengapa kau hendak kabur?"

Kata To Kiau-kiau dengan tertawa.

"Ya, jangan harap kau dapat kabur sesukamu,"

Sambung Li Toa-jui. Sejak mendengar Siau-hi-ji sudah "bebas tugas"

Sebagaimana diucapkan Pek Khay-sim tadi, sejak itu Han-wan Sam-kong lantas tidak bersuara pula, sekarang mendadak ia pun nimbrung.

"O, ya, kutahu di sana sudah ada sepasang pengantin, jika mau pesta, biarlah kita gabungkan saja dengan mereka, kan hemat biaya dan juga tambah ramai."

"Apakah kau maksudkan Buyung Kiu dengan sahabatmu si hitam kecil itu?"

Tanya Kiau-kiau.

"Betul,"

Jawab Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong.

"Tapi keluarga Buyung mana mau pesta pora bersama kita,"

Kata Li Toa-jui dengan tertawa.

"Haha, kukira setan judi ini telah kambuh penyakit gilanya."

"Kita tidak perlu berunding dengan mereka, bila tiba waktunya, beramai-ramai kita masuk saja ke ruangan pesta mereka, kita jajarkan dua pasang pengantin baru dan bersama merayakannya, dalam suasana gembira ria dan bahagia begitu masakah mereka sampai hati bertengkar dengan kita?"

"Haha, saran bagus, akal baik!"

Seru Ha-ha-ji sambil bertepuk tertawa.

"Kuharap di antara santapan yang mereka sajikan terdapat daging manusia, dengan demikian aku pun dapat menikmati kegemaranku dan semuanya benar-benar menjadi riang gembira,"

Kata Li Toa-jui.

"Dan kuharap pada waktu itu Yan Lam-thian juga hadir,"

Tukas Pek Khay-sim tiba-tiba. Ucapan ini membuat semua orang tertegun dan tidak dapat tertawa lagi.

"Yan Lam-thian tidak akan ikut hadir ke sana,"

Kata Han-wan Sam-kong.

"Dari mana kau tahu? Kau kan bukan cacing pita dalam perutnya?"

Jengek Pek Khay-sim. Ok-tu-kui tak menggubrisnya, ia berkata pula.

"Yang jelas sementara ini Yan Lam-thian lagi sibuk mencari Siau-hi-ji, mana dia sempat hadir ke sana?"

"Tapi jangan lupa, untuk mencari orang harus mencarinya di tempat yang banyak orangnya, dan tempat berpesta pora adalah tempat yang banyak orangnya, apabila aku menjadi Yan Lam-thian pasti akan hadir ke sana."

"Tapi kau anak kura-kura ini pun jangan lupa, siapa orang yang menjadi penunjuk jalan Yan Lam-thian sekarang?"

Kata Han-wan Sam-kong. Pek Khay-sim melengak dan tidak bersuara lagi. Dengan tertawa To Kiau-kiau berkata.

"Yang menjadi penunjuk jalan Yan Lam-thian sekarang ialah Kang Giok-long dan bocah she Kang itu juga tak mungkin membawa Yan Lam-thian ke rumah keluarga Buyung, bahkan juga tak mungkin membawanya ke tempat yang banyak orangnya, sebab ia khawatir orang lain akan membongkar akal kejinya."

"Jika demikian, jadi tempat yang ramai justru adalah tempat yang lebih aman?"

Kata Pek Khay-sim.

"Memang, tempat yang paling aman sekarang adalah tempat pesta pernikahan keluarga Buyung sana,"

Sambung Han-wan Sam-kong.

"Betul juga,"

Tukas Kiau-kiau dengan tertawa.

"Tak tersangka si setan judi akhir-akhir ini berubah menjadi cerdik."

"Kalau betul, apa yang kita tunggu lagi?"

Seru Ha-ha-ji sambil berjingkrak girang.

"Ayolah lekas berangkat! Haha, dasar watakku memang suka keramaian, makin banyak orang yang hadir di sana makin baik."

Dalam keadaan demikian, Hoa Bu-koat menjadi sangat sedih dan menyesal mengapa dirinya masih bisa hidup di dunia ini, apalagi bila teringat apa yang akan dilakukan orang-orang ini terhadap dirinya dan Thi Sim-lan, sungguh remuk redam hatinya.

Yang paling menyedihkan dia adalah sekarang tiada seorang pun yang mau menggali lagi gua ini, maka Siau-hi-ji dan Ih-hoa-kiongcu pasti akan terkubur untuk selamanya di dalam gua.

Ia pun tahu saat ini Thi Sim-lan pasti jauh lebih berduka daripadanya, maka ia tidak berani memandang si nona.

Padahal sama sekali Thi Sim-lan tidak mencucurkan air mata, maklumlah, sejak tadi air matanya sudah kering.

Sekarang adalah hari keenam terkurungnya Siau-hi-ji dan Ih-hoa-kiongcu di dalam gua itu, harapan hidup mereka jelas sudah terputus sama sekali.

Berbondong-bondong para anggota Cap-toa-ok-jin ini lantas membawa Bu-koat, Thi Sim-lan, dan Pek-hujin ke bawah bukit.

Di kaki bukit memang ada sebuah kelenteng.

Kawanan hwesio penghuni kelenteng itu benar-benar lagi sial, tanpa hujan tiada angin tahu-tahu kedatangan penyatron tak diundang itu, terpaksa mereka hanya menggerutu saja dan mengira malaikat tak mengizinkan mereka makan daging dan minum arak.

Di luar dugaan, tidak lama kemudian penyatron itu datang lagi, bahkan suatu rombongan besar.

Anehnya orang-orang yang tampaknya bengis dan jahat ini, semuanya tertawa gembira seperti habis mendapat rezeki nomplok.

Di antara mereka ada lagi tiga orang pesakitan, namun ketiga orang ini sangat menarik, yang lelaki cakap dan yang perempuan cantik.

Berdebar juga jantung kawanan hwesio melihat perempuan yang menggiurkan ini.

Malahan hati si hwesio ketua juga berdetak keras.

Yang paling aneh adalah rombongan orang ini membawa satu bungkus besar berisi pakaian yang beraneka warna serta memaksa ketiga orang pesakitan itu berganti pakaian.

Tentu saja kawanan hwesio itu serbasusah dan lekas baca kitab suci, mereka bersumpah selanjutnya tak berani lagi melanggar pantangan makan daging.

Padahal rombongan Li Toa-jui dan To Kiau-kiau tidak mirip kaum perusuh, mereka lebih mirip anak nakal yang lepas sekolah, mereka tertawa cekakak dan cekikik melulu, bungkusan pakaian yang beraneka warna itu mereka keluarkan dan dilempar kian kemari, akhirnya mereka dapat memilih satu potong baju berwarna merah.

Baju merah itu lantas dikenakan pada Pek-hujin.

Nyonya Pek ini pun tidak menolak, walaupun rasa gatalnya sudah lenyap, tapi tetap pura-pura genit, bergeliat, dan pasang aksi.

Dengan kuat Ha-ha-ji tepuk pundak Pek Khay-sim sambil berseru.

"Haha, tampaknya perempuan ini benar-benar ingin menjadi istrimu."

"Ya, kukira dia sudah bosan dengan suaminya yang dulu, maka ingin ganti suami baru,"

Sambung Li Toa-jui. Dengan tertawa To Kiau-kiau juga berkata.

"Mungkin dia merasa puas dipecuti oleh Pek Khay-sim untuk mencari kepuasan setiap hari, tentu saja ia pilih Pek Khay-sim."

Ha-ha-ji lantas memilih pula sepotong baju hijau dan memaksa Pek Khay-sim ganti pakaian.

"Tukar yang lain saja, baju ini agak panjangan sedikit,"

Tawar Pek Khay-sim.

"Jika terlalu panjang, potonglah sedikit untuk dibuat topi,"

Ujar Li Toa-jui dengan tertawa.

"Haha, betul, setelah kau menikahi perempuan ini, selekasnya kau pun perlu pakai topi hijau,"

Sambung Ha-ha-ji.

(Pakai topi hijau = kata olok-olok bagi lelaki yang masa bodoh terhadap istrinya yang menyeleweng).

Melihat tingkah laku orang-orang gila ini, hati Hoa Bu-koat menjadi tenang.

Ia sudah ambil keputusan akan tinggal diam saja dan takkan memperlihatkan rasa derita meski diperlakukan bagaimanapun oleh kawanan orang gila ini.

Ia tahu, bila dirinya mengunjuk rasa sedih dan tersiksa, maka orang-orang gila itu akan bertambah gembira dan akan lebih hebat mengerjainya.

Satu hal yang membuat lega hati ialah Thi Sim-lan telah jatuh pingsan, paling tidak si nona tidak perlu ikut merasa terhina dan tersiksa.

Dahulu Bu-koat lebih suka dirinya mati seribu kali daripada Thi Sim-lan yang harus mati, tapi sekarang ia justru berharap semoga Thi Sim-lan takkan siuman untuk selamanya.

Sebab orang kalau sudah mati, maka tiada sesuatu kejadian di dunia ini yang akan membuatnya sedih dan susah.

Dalam pada itu Ha-ha-ji juga telah memilih sepotong baju dan dikenakan di tubuh Bu-koat, katanya sambil berucap.

"Hahaha, hari bahagiamu sudah tiba, untuk apa wajahmu selalu murung saja?"

"Kau pun tidak perlu merasa bersalah kepada Siau-hi-ji,"

Sambung To Kiau-kiau.

"Bisa jadi Siau-hi-ji dan budak she So itu sudah menjadi pengantin di dalam gua sana."

"Hahaha, memang betul,"

Tambah Ha-ha-ji.

"bilamana kutahu diriku akan mati, takkan kupeduli lagi siapa yang berada bersamaku, baik si Nem maupun si Yem, asalkan perempuan, pasti akan kukawini dia."

Hoa Bu-koat bungkam saja, ia sudah bertekad takkan bicara apa pun.

"He, kita telah melupakan sesuatu!"

Seru Li Toa-jui mendadak sambil bertepuk.

"Sesuatu apa?"

Tanya Kiau-kiau.

"Keluarga Buyung sangat mengutamakan kehormatan, mana bisa mereka mengadakan pesta nikah di tempat sepi begini?"

Ujar Li Toa-jui.

"Peduli di mana mereka akan pesta, yang penting kita pun ikut pergi ke sana, apa bedanya?"

Kata Kiau-kiau.

"Jika begitu kita harus mencari keterangan dulu apakah mereka sudah pergi dan di mana mereka akan berpesta?"

Kata Li Toa-jui.

"Boleh suruh si setan judi saja ke sana, dia mempunyai hubungan baik dengan mereka,"

Ujar Kiau-kiau. Pada saat itulah mendadak ada seorang menanggapi dengan suara serak.

"Setan hidup sudah pergi ke sana, setan judi tidak diperlukan lagi."

"Keparat,"

Damprat Han-wan Sam-kong dengan tertawa.

"Kau anak kura-kura setengah manusia setengah setan ini rupanya belum lagi dijebloskan ke neraka."

Yang bicara itu memang si Poan-jin-poan-kui atau Setengah Manusia Setengah Setan Im Kiu-yu. Mukanya yang seram itu menongol di luar jendela sambil tertawa.

"Jadi kabar tentang keluarga Buyung sudah kau ketahui?"

Tanya Toh Sat.

"Ya, semula mereka hendak pesta di rumah, tapi kemudian ganti acara,"

Tutur Im Kiu-yu.

"Sebab apa mereka berganti acara mendadak?"

Tanya Toh Sat. Im Kiu-yu menggeleng, jawabnya.

"Mereka tidak menjelaskan, juga tidak ada yang berani tanya mereka."

"Kalau perempuan sudah ambil keputusan sesuatu hal dan tidak berubah pikiran, inilah baru aneh,"

Ujar Li Toa-jui.

"Sebab apa mereka ganti haluan, bisa jadi To Kiau-kiau mengetahuinya, sedikitnya dia kan setengah perempuan?"

Kata Ha-ha-ji.

"Betul, aku memang tahu,"

Ujar Kiau-kiau. Ha-ha-ji melengak malah, tanyanya.

"Kau benar-benar tahu? Dari mana kau tahu?"

"Jika kau mau peras otak sedikit, tentu kau dapat menerkanya,"

Kata Kiau-kiau.

"Cuma pikiranmu rupanya sudah bebal dan perlu direparasi."

Han-wan Sam-kong mengernyit kening, omelnya.

"Keparat, kalian kawanan anak kura-kura ini apakah bisa mampus jika tidak saling memaki dan bertengkar."

Li Toa-jui tertawa, katanya.

"Selama dua puluh tahun ini kami hidup di tempat seperti neraka, selain bercanda, saling maki, dan bertengkar, bisa kerja apa lagi?"

Memang, bila serombongan orang hidup terasing, lalu apa yang dapat mereka lakukan selain mencari pelampiasan menurut keadaan.

Dan bagi ok-jin seperti mereka itu, saling mencaci maki adalah seperti makanan sehari-hari bagi mereka.

"Coba katakan, apa yang menyebabkan mereka ganti acara?"

Tanya Toh Sat kepada Kiau-kiau. Dengan tertawa Kiau-kiau menjawab.

"Coba pikir, jika mereka hendak berpesta sungguh-sungguh menurut tradisi, tentu setiap orang kangouw yang terkenal pasti hadir, semua orang tentu ingin tahu tokoh macam apakah pasangan Nona Buyung Kiu yang terkenal pintar dan cantik itu."

"Tapi sayang, Nona Kiu kita sekarang telah berubah menjadi linglung, bakal suaminya juga tidak menonjol tampangnya, bahkan agak angin-anginan. Bilamana pasangan suami-istri begini dilihat oleh sanak kadang yang hadir, apakah keluarga Buyung takkan kehilangan muka?"

"Benar, sanak famili mereka tentu terdiri dari keluarga terhormat, kalau bukan hartawan tentu juga bangsawan,"

Sambung Li Toa-jui dengan tertawa.

"Orang-orang golongan atas begitu biasanya makan kenyang tanpa pekerjaan, saking isengnya, yang ditunggu hanya tontonan yang menarik saja dari orang lain, kalau ada bahan bicara, maka gemparlah seketika. Karena itulah keluarga Buyung tidak ingin dijadikan buah tutur dan bahkan tertawaan orang, dengan sendirinya mereka melangsungkan pernikahan Buyung Kiu secara sederhana."

"Ya, makanya mereka lantas menikahkan pasangan pengantin yang memalukan itu di tempat terpencil ini saja,"

Kata Kiau-kiau.

"Habis itu pengantin baru lantas dikirim ke suatu tempat agar dapat hidup dengan aman tenteram. Kelak bila ditanyakan orang tentu mereka cukup banyak alasan untuk memberi keterangan bahwa segala sesuatu itu sengaja dilangsungkan dengan sederhana, sebab pengantin baru tidak suka ramai-ramai dan sebagainya, tentang perjamuan boleh disediakan lagi dan macam-macam pula ...."

"Benar, dengan demikian, seumpama orang lain merasa sangsi juga tak dapat mendesak lagi,"

Ujar Li Toa-jui.

"Walaupun demikian, tapi keluarga terkemuka begitu biasanya mati pun ingin menjaga muka, mereka pasti takkan menghemat dan tentu akan memperlihatkan kemampuan mereka dengan perjamuan yang meriah sebagai tanda bukan maksud mereka hendak menghemat uang. Cuma tamu yang mereka undang pastilah orang-orang yang tiada sangkut paut dengan keluarga mereka, dengan demikian tentu tiada seorang pun yang berani menertawakan mereka."

"Haha, To Kiau-kiau memang tidak malu sebagai Khong Beng perempuan, apa yang diuraikan memang tidak salah,"

Kata Im Kiu-yu dengan tertawa.

"Di manakah mereka akan berpesta?"

Tanya Toh Sat.

"Di tepi sungai,"

Tutur Im Kiu-yu.

"Di sana sudah mereka bangun sebuah bangsal panjang sekali, sudah tersedia pula santapan dengan acara bebas, siapa pun boleh hadir dan makan minum sesukanya, sampai pengemis juga diberi bagian setiap orang dua kati daging dan satu botol arak."

"Bilakah pesta akan berlangsung?"

Tanya Toh Sat pula.

"Hari ini juga,"

Jawab Im Kiu-yu.

"Sudah tentu mereka berharap lebih cepat lebih baik,"

Kata Kiau-kiau.

"Kalau tidak, bisa jadi sobat andai di tempat lain pun akan ikut datang bila mendengar kabar."

"Haha, jika begitu, santapannya pasti tidak enak,"

Seru Ha-ha-ji.

"Pesta umum begitu, santapannya pasti tidak enak, arak yang disuguhkan pasti arak murahan,"

Ujar Li Toa-jui. Sejak tadi Pek Khay-sim tidak bicara, mendadak sekarang ia menimbrung.

"Kukira kau harus tahu diri sedikit, boleh makan minum gratis, masih berolok-olok lagi, sebenarnya kau ini memang pantas makan tahi saja."

To Kiau-kiau terkikik-kikik geli, katanya.

"Kenapa kau pakai istilah ‘tahi’ segala, jika kau ganti dengan istilah kotoran manusia kan jauh lebih sopan." *** (. ) Di tepi sungai memang benar telah dibangun sebuah bangsal yang sangat panjang, meski hari belum lagi gelap tapi di luar bangsal itu sudah terpasang tanglung merah besar, malahan ditempeli kertas merah dengan macam-macam tulisan puja-puji selamat bahagia, suasana memang meriah. Di dalam bangsal sudah penuh tetamu, hampir semuanya adalah penduduk setempat, orang kampung. Diundang melihat pengantin saja orang kampung akan kegirangan, apalagi disediakan pula daging dan arak dan boleh makan minum gratis sepuas-puasnya, keruan yang hadir berjubel-jubel. Akan tetapi ada juga yang merasa rikuh bila cuma datang makan minum gratis, ada sementara orang yang membawa kado sekadarnya, ada juga yang menyumbang hilian, yakni kain merah bertuliskan kata-kata pujian kepada pengantin baru dan keluarga yang bahagia. Di tepi sungai berlabuh tiga kapal layar besar, terlihat kaum pelayan keluar-masuk di kabin kapal dalam suasana yang semarak. Orang-orang yang hadir dalam perjamuan di bangsal panjang ini berulang-ulang sama melongok ke arah ketiga kapal itu. Ada seorang di antaranya berkata.

"Keluarga yang punya kerja ini juga sangat aneh, tanpa sebab kita diundang menghadiri pesta perkawinan, tapi yang punya kerja malah sembunyi saja di dalam kapal, kedua mempelai juga tidak mau keluar mengajak minum para tamu."

"Ai, hendaklah kau tahu diri,"

Demikian kawannya menanggapi.

"Tahukah kau yang punya kerja ini keluarga macam apa, mana orang sudi minum arak bersama kita."

"Ya, melihat caranya mengadakan pesta besar ini sungguh sukar diduga mereka itu orang macam apa?"

Kata seorang lagi. Segera yang lain menanggapi.

"Konon mereka adalah hartawan nomor satu di daerah Kanglam, bahkan juga tokoh terkemuka di dunia kangouw. Bahwa kita ini diundang ke sini, paling-paling hanya untuk meramaikan saja. Maka lebih baik kita banyak makan dan sedikit bicara agar tidak menimbulkan gara-gara, bisa celaka sendiri nanti."

Begitulah selagi ramai membicarakan pesta meriah ini, mendadak mereka bungkam seketika, sebab ketika mereka berpaling, tiba-tiba mereka melihat sesuatu yang luar biasa.

Kiranya sebuah kereta telah berhenti di luar bangsal, bentuk kereta kuda ini sangat aneh, orang yang turun dari kereta terlebih aneh.

Yang menjadi kusir adalah seorang lelaki kekar, meski baju yang dipakainya tergolong baru dan dari kain pilihan, tapi tiada satu pun kancing yang dirapatkan, jadi bajunya terbuka sehingga kelihatan simbar dadanya, yaitu bulu dada yang hitam lebat.

Bila tertawa, lebar mulut orang ini hampir mencapai tepi telinga, tampaknya sepotong bakpao besar dapat ditelannya bulat-bulat dengan sekali mengap.

Menyusul dari atas kereta turun pula beberapa orang, ada yang gemuk dan pendek, ada yang berlenggak-lenggok, ada yang bertangan kaitan baja, mukanya yang pucat itu sangat menyeramkan.

Bahwa bentuk orang ini sudah aneh, siapa tahu mereka menyeret turun lagi tiga orang.

Ketiga orang tampak lemas lunglai dan muka pucat dalam keadaan sudah kempas-kempis, tapi pakaiannya justru berwarna-warni dan serbabaru seperti dandanan pengantin baru.

Sudah tentu kedatangan orang-orang ini sangat menarik perhatian, beratus pasang mata sama memandang mereka, tapi mereka anggap tidak tahu saja, beramai-ramai mereka terus masuk ke bangsal.

Seorang di antaranya yang bertubuh tegap dan bewokan segera berteriak.

"Keparat, kalian anak kura-kura ini tahu tidak di mana beradanya tuan rumah? Katakan tuan-tuan besar ini mencari mereka."

Kebanyakan hadirin sama kenal pembicara ini adalah orang aneh yang membuka rumah judi itu dan cukup kenal kelihaiannya, meski dicaci maki, tapi tiada seorang pun berani balas mencaci.

Hanya ada dua orang yang baru datang dari kota, mereka bekerja di perusahaan pengawalan, dengan sendirinya berkepandaian lumayan, tentu saja mereka tidak terima dicaci maki, apalagi mereka sudah banyak menenggak arak, segera mereka berjingkrak sambil menggebrak meja, teriak mereka dengan geram.

"Persetan, kau telur busuk ini memaki siapa?"

Baru saja kata-kata "telur busuk"

Terucapkan, tahu-tahu tengkuk mereka kena dicengkeram orang terus diangkat.

Biasanya mereka menganggap kungfu mereka cukup hebat, tak tahunya mereka kena dicengkeram orang begitu saja seperti anak ayam tercengkeram oleh cakar elang.

Keruan semua orang terkesiap, terdengar seorang aneh berbaju hijau berkata dengan tertawa.

"Haha, kedua bocah ini berani memaki Han-wan-heng sebagai telur busuk, sungguh besar juga nyali mereka, kalau Han-wan-heng tidak memberi hajaran setimpal kepada mereka, kelak setiap orang tentu dapat memakimu sebagai telur busuk."

Si bewok atau Han-wan Sam-kong memang berwatak berangasan, kini dikipas-kipas lagi oleh orang itu, tentu saja hatinya tambah panas, sekali angkat segera kepala kedua itu hendak diadu.

Untunglah pada saat itu seorang gemuk telah menarik tangan Han-wan Sam-kong sambil berkata.

"Hahaha, saat ini orang sedang berpesta pora, tapi datang-datang kau lantas hendak membunuh orang, tidakkah tuan rumahnya akan tersinggung nanti?"

Si mulut besar lantas tertawa juga dan berkata.

"Ya, andaikan kau hendak membunuh orang juga tidak perlu menghancurkan kepala mereka, meski aku pantang makan kepala manusia, tapi seorang kalau kepalanya sudah pecah, tampaknya menjadi memualkan dan dagingnya tidak enak lagi."

Si bewok tadi mendengus, mendadak ia melemparkan kedua orang itu dan tepat jatuh di atas meja, kepala masing-masing masuk ke dalam baki kuah panas, keruan mereka menjerit kesakitan, mangkuk piring di atas meja lantas hancur berantakan.

Suasana di dalam bangsal menjadi kacau-balau, orang perempuan dan anak kecil sama menjerit ketakutan dan lari serabutan.

Pada saat itulah tiba-tiba seseorang membentak.

"Kawan dari manakah yang bikin onar ini, apakah sengaja hendak mencari gara-gara kepada kami?"

Suara orang ini tidak terlalu keras, tapi setiap kata-katanya terdengar dengan jelas oleh siapa pun, suaranya juga berwibawa sehingga membuat orang menurut.

Terlihatlah seorang pemuda berdiri di haluan kapal layar sana, kedua tangan tergendong di punggung, tampaknya lemah lembut seperti pelajar yang baru mau masuk sekolah, tapi sikapnya kereng, berdirinya sekukuh gunung.

Bagi orang yang berpengalaman, sekali pandang saja pasti tahu orang ini adalah tokoh silat kelas wahid.

Rombongan orang aneh ini lantas berduyun ke sana, para tamu cepat menyingkir memberi jalan.

Si gendut lantas buka suara.

"Haha, orang udik memang tidak tahu aturan, untuk itu hendaklah Sobat kecil ini suka memberi maaf."

Tampaknya dia minta maaf, tapi menyebut orang sebagai "sobat kecil", tentu saja orang itu kurang senang dan menarik muka.

Tapi sebelum mengumbar marahnya, tiba-tiba seperti teringat sesuatu, air mukanya mengunjuk rasa kejut dan heran, sorot matanya menyapu sekejap orang-orang aneh ini, lalu ia lihat pula Hoa Bu-koat yang didandani secara tak keruan itu, ia tambah terkejut dan bertanya.

"Apakah kalian ...."

Si gendut lantas menukas.

"Sobat kecil, nama kami sebaiknya jangan kau sebut agar tidak membikin kotor mulutmu."

Orang itu berpikir sejenak, kemudian ia memberi hormat dan berkata.

"Cayhe Cin Kiam ...."

Baru saja ia menyebut namanya sendiri, dari kabin kapal telah muncul pula beberapa orang, ada lelaki ada juga perempuan, yang perempuan cantik dan molek, yang lelaki cakap dan ganteng.

Jelas mereka pun tahu siapa-siapa rombongan orang aneh itu, namun wajah mereka sama menampilkan senyuman gembira.

Jika mereka tidak tahu asal-usul rombongan orang aneh ini dan menyambut kedatangan mereka dengan hormat, hal ini tidak perlu diherankan.

Tapi setelah tahu seluk-beluk orang-orang ini dan mereka tetap menyambutnya dengan tersenyum, inilah yang aneh dan luar biasa.

Padahal orang kangouw umumnya bila bertemu dengan Cap-toa-ok-jin kebanyakan pasti akan marah dan benci, kalau tidak kontan melabrak mereka tentu juga lari terbirit-birit.

Namun orang-orang di kapal ini ternyata lain daripada yang lain.

Segera Ha-ha-ji membuka suara pula.

"Hahaha, coba kalian lihat, betapa hormat dan terpelajarnya para tuan menantu keluarga Buyung, terhadap beberapa potong kotoran macam kita ini toh tetap menyambut dengan segala hormat."

Dengan terkekeh-kekeh To Kiau-kiau menyambung.

"Ini namanya di bawah orang ternama tidak ada anak buah yang jelek, kalau tidak mana para Nona Buyung yang ayu ini mau diperistri oleh mereka?"

Li Toa-jui lantas tampil ke muka dan menjura, ucapnya.

"Kami mendengar para Kongcu sedang melangsungkan pesta nikah, maka kami sengaja datang buat mengucapkan selamat, entah para Kongcu apakah sudi menerima orang gunung yang kasar semacam kami ini?"

Han-wan Sam-kong mengernyitkan dahi, katanya.

"Keparat, biasanya Li Toa-jui makan manusia tanpa buang tulang, cara bicaranya sekarang juga bisa sopan santun begini ...."

"Memang,"

Tukas Pek Khay-sim dengan tertawa.

"meski mulut orang-orang itu suka omong manis, yang benar ibarat musang memberi selamat kepada ayam, tidak nanti bermaksud baik. Jika kalian tahu gelagat, paling tepat lekas kalian mengusir mereka."

Yang berdiri di haluan kapal itu selain samkohya (anak menantu ketiga) Cin Kiam terdapat pula toakohya (menantu pertama) Tan Hong-ciau, jikohya (menantu kedua) Lamkiong Liu, sikohya (menantu keempat) Bwe Tiong-liong, gokohya (menantu kelima) Loh Beng-to, semuanya bersama istri.

Boleh dikatakan kesatria muda persilatan daerah Kanglam telah terwakili dan hadir seluruhnya di sini.

Mereka merasa heran melihat Hoa Bu-koat hanya diam saja dalam keadaan aneh dandanannya, namun begitu mereka menyambut dengan berseri tertawa dan penuh hormat.

Setelah Ha-ha-ji dan kawan-kawannya habis mengoceh barulah Tan Hong-ciau membuka suara sambil memberi hormat.

"Bahwa kalian sudi berkunjung kemari, sungguh suatu kehormatan besar bagi kami dan kalian adalah tamu agung di sini."

"Apalagi Han-wan-siansing adalah sahabat karib kohya (menantu) baru kami?"

Tukas Buyung Siang dengan tertawa.

"Ayolah silakan kalian naik ke atas kapal."

Li Toa-jui membalas hormat orang dan menjawab.

"Jika demikian, mau tak mau kami harus menerima undangan dengan hormat."

Di antara anak menantu keluarga Buyung itu hanya Cin Kiam dan Bwe Tiong-liong saja tampak waswas menghadapi kawanan tamu yang tak diundang ini.

Ketika lewat di depan mereka, dengan tertawa To Kiau-kiau berkata.

"Jangan khawatir, kedatangan kami ini khusus untuk pesta pora dan makan enak, bukan bermaksud mencari setori, juga takkan mencuri segala, tidak perlu kalian mengawasi kami seperti pencoleng."

Dengan suara keras Han-wan Sam-kong juga berteriak.

"Betul, hari ini adalah hari bahagia Oh-laute kita, jika ada anak kura-kura yang berani mengoceh tidak keruan, aku Ok-tu-kui yang pertama-tama takkan tinggal diam."

"Hm, hanya sedikit kemampuanmu kukira masih selisih jauh,"

Jengek Pek Khay-sim.

"Apabila penyakit makan orang Li Toa-jui sudah kumat, memangnya kau mampu menyumbat mulutnya dengan sebuah kepala manusia?"

Sembari bicara dan bergurau mereka lantas naik ke atas kapal, para tamu yang duduk di dalam bangsal sama melongo karena tidak tahu orang macam apakah rombongan orang aneh itu dan mengapa tuan-tuan muda itu pun sedemikian hormat pada mereka.

Di dalam kabin kapal ternyata sudah siap beberapa meja perjamuan, di situ masih ada lakkohya (menantu keenam), jitkohya (menantu ketujuh), dan patkohya (menantu kedelapan), juga hadir di situ Koh Jin-giok serta Siau-sian-li Thio Cing.

Melihat kedatangan rombongan Li Toa-jui, seketika Siau-sian-li melototi mereka.

Tapi sorot mata kebanyakan orang justru sama tertuju ke arah Hoa Bu-koat.

Mereka benar-benar tak habis mengerti mengapa ahli waris Ih-hoa-kiong bisa berubah menjadi runyam begitu.

Namun putra-putri keluarga terpelajar biasanya tidak suka bertanya urusan pribadi orang lain bilamana orang tidak bercerita, sekalipun dalam hati mereka ingin tahu setengah mati juga terpaksa pura-pura tidak tahu dan tidak berani bertanya.

Begitulah para tamu lantas dipersilakan duduk, rombongan Li Toa-jui tepat mengerumuni sebuah meja, Toh Sat duduk di tempat utama, yang duduk mengiring sebagai tuan rumah adalah Tan Hong-ciau dan Lamkiong Liu.

Kedua orang ini lemah lembut, sopan santun, duduk di tengah-tengah rombongan orang-orang yang berbentuk aneh, tentu saja lebih mencolok.

Jika dalam keadaan biasa, tentu mereka dan Hoa Bu-koat akan saling menghormat dan bersahabat, tapi sekarang mereka sama sekali tidak memandangnya.

Bu-koat sendiri juga diam saja seperti patung, ia duduk termenung tanpa menghiraukan orang lain, tak dipusingkannya orang lain merasa kasihan kepadanya atau lagi menertawakan dia, sama sekali tak dipedulikan olehnya.

Setelah arak disuguhkan berulang tiga kali ternyata kedua mempelai belum lagi muncul.

"Ada pesta, kenapa tidak ada musiknya?"

Kata Li Toa-jui tiba-tiba.

"Ah, dalam keadaan terburu-buru, semuanya serbasederhana, mohon kalian sudi memberi maaf,"

Kata Tan Hong-ciau.

"Jika demikian, adat istiadat juga harus dilaksanakan,"

Kata Li Toa-jui pula.

"Apalagi ...."

"Apalagi di sini masih ada dua pasang mempelai lagi yang ingin membonceng pesta kalian serta melangsungkan pesta pernikahan bersama Nona Kiu serta kiukohya kalian,"

Sambung To Kiau-kiau dengan tertawa.

"Oo, ada dua pasang mempelai pula?"

Tan Hong-ciau melenggong.

"Entah mempelai siapa?"

Tanya Lamkiong Liu.

Meski dia sangat sopan dan prihatin, tidak urung sekarang ia memandang ke arah Hoa Bu-koat, terlihat wajah Bu-koat yang pucat pasi itu tiada rasa gembira dan tiada rasa berduka.

Di sebelah Bu-koat duduk seorang nona cantik, air mukanya jelas kelihatan menanggung sedih, bahkan sukar untuk diterka bagaimana jalan pikirannya.

"Hahaha, jika sekarang tiga pasang mempelai melangsungkan pernikahan sekaligus, kelak ketiga pasang suami istri ini akan mendapat berkah ‘tiga banyak’, yakni banyak rezeki, banyak umur, dan banyak anak cucu,"

Kata Ha-ha-ji dengan tertawa. Tan Hong-ciau tersenyum, katanya.

"Doa restumu sungguh kami terima dengan hormat, cuma sayang ...."

"Sayang apa?"

Tanya Li Toa-jui.

"Sayang upacara nikah Adik Kiu kami telah berlangsung dan sekarang sudah berangkat pergi dengan kapal lain,"

Jawab Tan Hong-ciau.

"Tentunya kalian tahu bahwa suami-istri Adik Kiu telah kenyang suka-duka,"

Sambung Lamkiong Liu.

"Sebab itulah mereka ingin menikmati hari bahagia mereka dengan tenang, untuk itu tentunya kami pun setuju sepenuhnya."

To Kiau-kiau dan Li Toa-jui saling pandang sekejap tanpa komentar. Ha-ha-ji lantas berkata.

"Haha, jika orang lain yang bicara demikian, tentu kami akan menganggap dia terlalu menghina kami, tapi kata-kata ini diucapkan oleh kalian, tentu saja bobotnya berbeda."

"Terima kasih,"

Kata Tan Hong-ciau.

"Bila dalam keadaan biasa, bukan mustahil kalian akan bertindak demi keadilan apabila bertemu dengan kami, sebab kalian adalah orang baik semua, sedangkan kami adalah orang jahat, tentunya kedua pihak tidak akan saling memberi kelonggaran."

Tan Hong-ciau hanya tersenyum saja tanpa menanggapi ucapan To Kiau-kiau itu. Maka Kiau-kiau lantas menyambung pula.

"Makanya, jika dalam keadaan biasa, tentu kami pun tidak berani berkunjung kemari, sebab pengaruh keluarga Buyung teramat menakutkan, kami pun tidak berani mencari perkara padanya."

"Ah, mana berani,"

Ucap Tan Hong-ciau sambil membungkukkan tubuh.

"Tapi suasana hari ini jelas tidak sama, justru kami sudah memperhitungkan kalian pasti tidak akan bertindak apa-apa kepada kami, makanya kami berani datang ke sini ...."

"Hahaha, karena kami sudah datang betapa pun kami harus mengendon di sini. Syukur kalian adalah kesatria yang sopan, pula sedang ada kerja, seumpama kami bersikap kurang sopan, tentunya kalian pun takkan mengusir kami,"

Demikian Ha-ha-ji menambahkan.

"Ya, hanya manusia rendah saja yang suka mengusir kami, betul tidak?"

Tukas To Kiau-kiau dengan tertawa. Mendadak Cin Kiam berdiri, tanyanya dengan kereng.

"Sebenarnya Tuan-tuan ada keperluan apa, silakan ...."

"Keperluan sih tidak ada,"

Tukas Li Toa-jui dengan tertawa.

"Kami cuma ingin meminjam tempat ini sebagai ruangan pesta untuk melangsungkan pernikahan kedua pasang mempelai ini."

Cin Kiam hendak bicara lagi, tapi telah dicegah Tan Hong-ciau, katanya sambil tersenyum.

"Bahwa Tuan-tuan sudi berkunjung kemari, sungguh suatu kehormatan besar bagi kami. Cuma ... cuma di sini tiada musik tabuh pengiring upacara."

"Kalau cuma musik tabuh saja apa sukarnya?"

Seru Li Toa-jui sambil tertawa, mendadak ia jemput dua batang sumpit terus mulai memukul tepian mangkuk sehingga menimbulkan suara "trang-tring"

Yang nyaring, Ha-ha-ji juga lantas mendekap mulutnya dengan tangan dan meniupkan suara "tralala". To Kiau-kiau tertawa terpingkal-pingkal, katanya.

"Dengan musik paling merdu ini, masa upacara tak dapat berlangsung?"

Segera ia tarik Pek-hujin dan Thi Sim-lan.

Pek Khay-sim mendelik, tapi lantas tertawa, segera ia pun menarik Hoa Bu-koat ke depan.

Sambil menabuh mangkuk Li Toa-jui terus berkaok-kaok sebagai protokol atau pembawa acara.

"Silakan kedua pasang mempelai maju ke depan! Silakan saling menghormat dengan menyembah kepada langit dan bumi! Pengantin baru menyuguh arak ...."

Meski para kakak beradik Buyung itu tergolong perempuan terpelajar, kedelapan suami mereka juga kesatria ternama, tapi selama hidup ini belum pernah melihat kejadian aneh dan sukar dimengerti ini, seketika mereka hanya melenggong saja dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara Im Kiu-yu yang seram itu sedang membentak.

"Siapa orang itu?"

Lalu terdengar lagi terdengar seorang tertawa terkekeh-kekeh dan menjawab.

"Aku bukan orang!"

Tanya-jawab itu membuat semua orang terkejut. Agaknya Im Kiu-yu yang berjaga di sana juga melengak, terdengar ia bertanya lagi.

"Kau bukan orang? Memangnya setan!"

"Betul, sedikit pun tidak salah, aku memang setan!"

Jawab orang itu. Tiba-tiba Im Kiu-yu tertawa seram, katanya pula.

"Kau setan? Tahukah kau aku ini siapa?"

"Kau cuma setengah setan setengah manusia, sebaliknya aku ini setan penuh,"

Kata orang itu. Pek Khay-sim menjadi geli, ia berkeplok tertawa, katanya.

"Haha, bagus, bagus! Tak tersangka Im Kiu-yu hari ini benar-benar ketemu setan di siang hari bolong."

Semua orang pun terheran-heran dan juga merasa geli. Terdengar orang tadi bergelak tawa dan berkata.

"Memang betul, kalian telah melihat setan di siang bolong, aku inilah setan siang hari."

Di tengah gelak tertawanya, sesosok bayangan tampak melayang tiba di luar kabin sana.

Padahal yang berada di dalam kabin kapal hampir seluruhnya jago kelas satu, ginkang To Kiau-kiau, Pek Khay-sim, Loh Beng-to, dan lain-lain lagi juga sangat terkenal, tapi mereka pun terkejut demi melihat ginkang orang ini.

Li Toa-jui dan kawan-kawan juga sama tahu kemampuan Im Kiu-yu, bilamana dia sudah membayangi seseorang, maka jangan harap orang itu akan dapat meloloskan diri.

Tapi sekarang dengan ringan saja orang itu dapat melayang masuk kabin tanpa rintangan apa pun, maka dapatlah diduga ginkangnya pasti jauh lebih tinggi daripada Im Kiu-yu.

Sungguh mereka tidak berani membayangkan siapakah gerangan pendatang ini?

Sebab selain Ih-hoa-kiongcu dan Yan Lam-thian di dunia ini tidaklah banyak orang yang memiliki ginkang setinggi ini.

Namun orang ini jelas bukan Yan Lam-thian, lebih-lebih bukan Ih-hoa-kiongcu.

Di bawah cahaya lampu tertampak perawakannya yang pendek, tidak sampai tiga kaki atau kurang dari satu meter.

Nyata seorang kerdil.

Kebanyakan orang kerdil tentu akan buruk rupa dan cacat badan, namun si cebol ini ternyata lain daripada yang lain, baik kepalanya, tangannya, kakinya, dan tubuhnya, semuanya tumbuh normal dan berimbang, malahan wajahnya juga kelihatan putih halus, boleh dikatakan cakap, juga berjenggot cabang lima dengan indah, tampaknya seorang yang berilmu dan saleh.

Cuma dandanannya yang agak ganjil, tidak preman dan tidak beragama, dia memakai jubah pendek berwarna kelabu, di punggung menyandang pedang pula.

Cuma pedang ini sangat pendek, lebih pendek daripada belati umumnya, jadi seperti barang mainan kanak-kanak.

Jika anak kecil ketemu si kerdil ini pasti akan diseretnya untuk diajak bermain, pemain akrobat yang suka berkeliling ketemu dia pasti akan dianggapnya menemukan pemain yang akan menarik penonton, kalau dia ketemu pembesar, bisa jadi dia akan dimasukkan ke istana raja dan dijadikan badut penghibur raja.

Tapi melihat orang kerdil atau manusia mini ini, To Kiau-kiau tak dapat tertawa lagi.

Melihat air muka kawannya berubah, Toh Sat, Li Toa-jui, dan lain-lain lantas melenggong juga, tiba-tiba mereka teringat pada seseorang.

Sementara itu Im Kiu-yu juga sudah ikut melayang masuk kabin dan seperti hendak melabrak si manusia mini, namun To Kiau-kiau cepat mencegahnya, Li Toa-jui lantas membisikinya beberapa kata.

Seketika Im Kiu-yu berubah pucat dan mengeluyur keluar lagi.

Dalam pada itu si kerdil telah menjura kepada segenap hadirin, ucapnya dengan tertawa.

"Maaf, bilamana tamu yang tak diundang ini telah mengganggu kalian, maaf."

Sudah tentu Tan Hong-ciau, Lamkiong Liu, dan lain-lain juga terkejut, tapi mereka tetap membalas hormat orang itu dengan sopan. Hanya Samkohnio Buyung San saja tiba-tiba ingat sesuatu, katanya.

"Sewaktu kecil Wanpwe pernah mendengar bahwa di dunia kangouw ada seorang pendekar aneh yang jejaknya sukar diraba, sungguh sudah lama aku ingin berkenalan dengan beliau."

Seketika terbeliak juga Buyung Siang, cepat ia menanggapi.

"He, apakah maksud Sam-moay ialah pendekar aneh yang ... yang bernama ...."

"Hahaha, Nona tidak perlu pantang omong,"

Seru si kerdil dengan tertawa.

"Katakan saja ‘Kui-tong-cu’ (Anak Setan), nama ini sudah biasa bagiku, tidak nanti kumarah dengan nama ini."

Mendengar nama "Kui-tong-cu"

Seketika Tan Hong-ciau, Lamkiong Liu, dan lain-lain sama terkesiap.

Sejak kecil mereka sudah pernah mendengar cerita tentang "anak setan" , konon ginkangnya tinggi luar biasa, adalah ahli waris "yim-sut", semacam ilmu gelut di kepulauan lautan timur (kepulauan Okinawa Jepang).

Konon Kui-tong-cu ini seakan-akan mahir ilmu menghilang, jika dia hendak mencari rahasiamu, sekalipun dia sembunyi di bawah kursimu juga takkan kau ketahui.

Cuma tokoh aneh ini sudah terkenal pada lima puluh tahun yang lalu, selama tiga puluh tahun terakhir ini hampir tidak pernah lagi terdengar kabar beritanya, konon dia telah pergi lagi jauh ke lautan timur sana untuk menikmati kehidupan bebas di pulau yang mengasyikkan itu.

Ada pula cerita, katanya di kepulauan timur sana kebanyakan penghuninya adalah orang pendek (bangsa Ainu, penduduk asli kepulauan Jepang memang rata-rata bertubuh pendek), sebab itulah ia merasa cocok berdiam di sana.

Sekarang tokoh ini mendadak muncul lagi di daerah Tionggoan, hal ini sungguh aneh dan entah apa maksud tujuannya.

Dengan hormat Tan Hong-ciau lantas buka suara.

"Sudah lama Wanpwe sekalian mendengar nama kebesaran Cianpwe, kini dapat berjumpa, sungguh sangat menggembirakan."

"Haha, mulutmu omong manis begini, dalam hati mungkin kalian waswas dan ingin tanya untuk apa makhluk tua aneh ini datang kemari, betul tidak?"

Kata Kui-tong-cu dengan tertawa.

"Ah, mana berani,"

Jawab Tan Hong-ciau.

"Padahal tanpa kau tanya juga akan kukatakan,"

Ujar Kui-tong-cu. Tan Hong-ciau hanya mengiakan tanpa memberi komentar lagi. Maka si kerdil lantas berkata pula.

"Kedatanganku ini adalah untuk urusan. pertama, kudengar Nona Thi ini hendak menikah, maka sengaja kupanggilkan satu rombongan pemain musik, kujamin rombongan musik ini adalah pemain kelas satu. Tapi saat ini rombongan pemusik itu belum tiba dan upacara pernikahan Nona Thi telah berlangsung, ini kan membikin malu padaku, sebab itulah sedapatnya kuharap Nona Thi menunda sebentar upacara nikah ini."

Diam-diam Tan Hong-ciau dan lain-lain menghela napas lega setelah mengetahui kedatangan orang aneh ini bukan hendak mencari perkara kepada mereka.

Sedangkan Li Toa-jui dan kawan-kawannya diam-diam terkejut, mereka heran ada hubungan apakah antara si kerdil aneh dengan Thi Sim-lan?

Mengapa dia ikut sibuk bagi urusan nona ini?

Kui-tong-cu tertawa dan berkata pula.

"Sebenarnya aku ini tidak pernah kenal Nona Thi ini, cuma pembawaanku saja yang suka ikut campur urusan tetek bengek."

Meski di dalam hati Li Toa-jui dan kawan-kawannya sama sangsi dan penuh tanda tanya, tapi tiada seorang pun berani bertanya.

Bahwa mereka sudah berdiam selama dua puluh tahun di Ok-jin-kok dengan batin tersiksa, kini mereka muncul lagi di dunia kangouw, meski tindak tanduk mereka agak mendekati main gila dan mengacau, tapi apa pun juga mereka adalah "Cap-toa-ok-jin", nama Cap-toa-ok-jin itu tidak diperoleh dengan begitu saja.

Maka bila benar-benar menghadapi urusan gawat, pada umumnya mereka dapat menahan perasaan dan berpikir panjang.

Terdengar Kui-tong-cu berkata pula.

"Dan urusan kedua, jika kuceritakan tentu akan sangat menarik."

"Wanpwe siap mendengarkan,"

Ujar Tan Hong-ciau dengan tersenyum.

"Soalnya tanpa sengaja aku telah menyelamatkan satu orang, kabarnya orang ini manusia berengsek. Tapi dasar watakku memang juga aneh dan paling suka berkawan dengan orang berengsek. Sebab pada umumnya orang tidak suka berkawan dengan orang berengsek, jika aku pun serupa orang lain, kan kasihan orang berengsek itu. Dan kalau seorang perlu dikasihani kan tidak dapat dikatakan berengsek lagi?"

Diam-diam para Buyung bersaudara itu sama geli mendengar ocehan si kerdil yang lucu itu. Tiba-tiba Pek Khay-sim menyela.

"Wah, jika begitu, mungkin kawan berengsek Cianpwe ada satu barisan bila dikumpulkan."

Dasar mulut usil dan suka pada kata-kata yang menyakitkan hati, bilamana Pek Khay-sim bungkam saja mungkin tenggorokannya akan terasa gatal, maka pada setiap kesempatan dia pasti ikut menimbrung, hal ini serupa seekor anjing yang melihat najis, sulit untuk melarangnya agar jangan makan kotoran.

Kui-tong-cu memandangnya dengan tertawa.

"Tampaknya kau inilah yang bernama Pek Khay-sim yang suka merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri itu. Hehe, kau memang tidak bernama kosong. Kedatanganku ini antara lain juga ingin mencarimu."

Keruan Pek Khay-sim terkesiap, cepat ia berkata.

"Men ... mencari aku? Untuk ... untuk apa? Aku kan tidak makan manusia juga tidak ... berjudi, betapa pun aku kan lebih bersih daripada mereka?"

"Sebenarnya bukan aku yang ingin mencarimu, hanya kawanku yang berengsek itulah merasa ada urusan yang belum dibereskan bersamamu, maka dia ingin berunding lebih lanjut dengan kau,"

Sampai di sini mendadak si kerdil berseru.

"Ayolah, lekas kemari, kau harimau ompong, apakah kau tak berani menemui orang lagi?"

Mendengar kata-kata terakhir ini segera Pek Khay-sim hendak mengeluyur pergi, sebab ia sudah tahu orang yang dimaksud itu.

Pek-hujin yang sejak tadi tampak berlagak kemalu-maluan itu, demi mendengar ucapan si kerdil ini, seketika mukanya juga berubah pucat.

Namun sudah terlambat bagi Pek Khay-sim untuk mengeluyur pergi, baru saja ia lompat ke sana, tahu-tahu Kui-tong-cu sudah mengadang di depannya dengan tertawa.

Pada saat itu pula terdengar berdetaknya geladak kapal, seorang muncul dengan langkah lebar.

Siapa lagi dia kalau bukan orang yang istrinya hendak direbut Pek Khay-sim, yaitu Pek San-kun.

Pek Khay-sim menghela napas gegetun, gumamnya.

"Ai, persoalan yang rumit ini cara bagaimana harus diselesaikan?"

"Kalau sukar diselesaikan, boleh dihitung saja secara perlahan-lahan,"

Ujar Li Toa-jui dengan tertawa.

"Kalian kan sudah menjadi sekutu dalam perusahaan, apa pula yang sulit dirundingkan?"

Dengan geregetan Pek Khay-sim melototi Li Toa-jui, kalau bisa ia hendak melabraknya dengan mati-matian. Cuma saat itu Pek San-kun sudah berada di depannya, cepat ia menyapa dengan tertawa.

"Kita sama-sama she Pek dan berasal dari satu kandang, janganlah kita percaya kepada mulut usil orang lain yang hendak mengadu domba sehingga keluarga Pek kita bertengkar sendiri."

"Hm, berasal dari satu kandang, tentu juga berkongsi dalam kamar,"

Ujar Li Toa-jui. Kembali Pek Khay-sim menjadi murka, segera ia hendak menubruk maju, tapi Pek San-kun malah mencegahnya dan berkata dengan tertawa.

"Sebenarnya ucapan Saudara ini juga betul, aku ...."

"Ucapannya betul? Hm, hakikatnya dia lagi kentut,"

Teriak Pek Khay-sim.

"Aku dan binimu tiada ... tiada sesuatu hubungan apa pun, aku pun tidak ... tidak ingin menikahi dia, kedatanganmu ini sungguh sangat kebetulan bagiku."

"Ah, mana boleh jadi begitu?"

Ujar Pek San-kun.

"Jika biniku itu sudah menikah denganmu, selanjutnya dia adalah istrimu, jelek-jelek aku pun tahu istri kawan sendiri jangan diganggu, mana boleh kuganggu istrimu sekarang."

Bahwa Pek San-kun dapat bicara demikian, ini benar-benar membuat semua orang tercengang dan tidak terkecuali Pek Khay-sim, dengan tergagap-gagap ia berkata.

"Ap ... apa artinya ucapanmu ini? Masa ... masa kau tidak mengambil kembali binimu?"

"Sama sekali tiada maksudku untuk bertindak begini,"

Jawab Pek San-kun dengan tertawa.

"Kedatanganku justru akan mengadakan penyelesaian prosedur denganmu, yakni mengadakan timbang terima resmi, habis itu siapa pun tidak boleh mengganggu gugat lagi."

"Aku merebut binimu, masa ... masa kau tidak mengadu jiwa denganku?"

Teriak Pek Khay-sim dengan tergagap.

"Tidak, sama sekali tiada maksudku hendak bertengkar denganmu, bahkan aku harus berterima kasih padamu,"

Kata Pek San-kun. Keruan Pek Khay-sim melongo tidak habis mengerti, ucapnya kemudian.

"Masa ... masa kau ... kau berterima kasih? ...."

"Hahaha!"

Pek San-kun bergelak tertawa dan berkata pula.

"Cayhe sudah menikmati dia selama dua puluh tahun, sekarang sudah waktunya kau pun boleh mencicipi dia. Meski perangainya memang kurang baik, cemburunya juga gede, tidak dapat menanak nasi, juga tidak mahir mengurus rumah tangga, tapi terkadang ia pun bisa goreng telur, cuma sayang lebih sering kebanyakan garam sehingga asinnya minta ampun ...."

Sungguh sukar dibayangkan Pek San-kun bisa bicara seperti ini, keruan Pek Khay-sim melenggong dan menyengir. Sedangkan Pek-hujin lantas berjingkrak girang, teriaknya parau.

"Kau ... kau tua bangka mau mampus, kau berani ... berani membusuk-busukkan nyonya besar ...."

"Eh, jangan Toaso (kakak ipar) salah sasaran,"

Kata Pek San-kun sambil tertawa.

"Sekarang Cayhe bukan lagi suami Toaso, untuk ini hendaklah Toaso selalu mengingatnya dengan baik."

Seketika Pek-hujin juga melenggong dan tidak dapat bersuara lagi. Pek San-kun memberi hormat dan berkata pula.

"Terimalah ucapan selamat dariku, semoga kalian hidup rukun bahagia hingga hari tua, atas kebaikan kalian berdua yang telah sudi membebaskan tanggung jawabku, sungguh Cayhe takkan lupa dan kelak pasti akan membalas budi kebaikan kalian ini."

Dia menghela napas lega dan terbahak-bahak, lalu membalik dan melangkah pergi.

Semua orang saling pandang dengan bingung, siapa pun tidak menyangka di dunia ini ada manusia macam begini dan kejadian demikian.

Selang sejenak barulah Pek-hujin bergumam.

"O, dia tidak menghendaki diriku lagi, dia telah meninggalkan diriku, apakah benar ini ...."

"Akan lebih baik jika tidak benar,"

Ujar Pek Khay-sim.

"Cuma sayang, tampaknya dia memang tidak pura-pura."

"Tidak, ini pasti tidak benar,"

Teriak Pek-hujin.

"Kutahu ... kutahu saat ini dia pasti sangat sedih, tak dapat kubiarkan dia pergi begitu saja."

Sambil berteriak ia terus lari keluar.

Padahal dia sudah kelaparan selama tiga-empat hari, selama itu Pek Khay-sim hanya memberi makan sepotong bakpao dan secangkir air, sekarang setitik tenaga itu telah dikeluarkan semua untuk berlari sekuatnya seperti khawatir kalau kedua kakinya akan ditarik orang dari belakang.

Padahal tiada seorang pun yang akan punya pikiran untuk menariknya, lebih-lebih Pek Khay-sim.

Sebenarnya Pek Khay-sim juga merasakan perempuan ini agak menarik, yang paling menarik adalah karena dia istri orang lain.

Kaum lelaki pada umumnya memang cenderung mempunyai suatu pendapat yang sama, yaitu bahwa istri orang selalu jauh lebih menarik.

Apalagi Pek Khay-sim yang suka merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri.

Sebab itulah ketika orang menghendaki dia menikah dengan Pek-hujin tentu saja dia tidak menolak.

Mestinya dia berharap bilamana Pek San-kun mengetahui kejadian ini tentu akan keki setengah mati dan akan melabraknya habis-habisan, siapa tahu Pek San-kun sama sekali tidak bertindak demikian, sebaliknya malah menyerahterimakan istrinya itu kepadanya dengan hormat seakan-akan istrinya itu cuma seonggok sampah belaka dan malahan seperti berkhawatir kalau Pek Khay-sim tidak mau menerimanya.

Sekali ini Pek Khay-sim benar-benar kecewa karena semua itu di luar dugaannya.

Tiba-tiba ia pun merasakan Pek-hujin ini sesungguhnya memang tidak lebih menarik daripada seonggok sampah.

Rupanya ini pun merupakan penyakit kebanyakan lelaki di dunia ini, kalau ada dua lelaki bersaing memperebutkan seorang perempuan, sekalipun perempuan itu mirip seekor babi betina, namun bagi pandangan kedua lelaki itu tentu cantik luar biasa, setiap bagian tubuhnya mungkin akan dipandang indah seperti bidadari.

Akan tetapi bila salah seorang lelaki itu mendadak melepaskan haknya, maka lelaki yang lain tentu akan segera sadar.

"Ah, kiranya dia cuma seekor babi betina dan tidak lebih daripada itu."

Begitu pula keadaan Pek Khay-sim sekarang.

Sekarang ia merasa Pek-hujin lebih memuakkan daripada seekor babi betina, ia berharap perempuan itu bisa lekas-lekas lari pergi dan menghilang, kalau bisa terjerumus ke sungai tentu akan lebih baik lagi.

Tak tahunya, baru saja Pek-hujin berlari sampai di depan Kui-tong-cu, mendadak sebelah tangan kakek mini itu meraih, kontan kuduk Pek-hujin kena dicengkeramnya.

Padahal tubuh Kui-tong-cu jauh lebih pendek daripada Pek-hujin, tapi entah bagaimana, tahu-tahu perempuan itu dapat diangkatnya begitu saja, bahkan tampaknya tidak makan tenaga.

Kui-tong-cu menyeretnya ke depan Pek Khay-sim, lalu dilepaskan.

Pek-hujin tampak melenggong, agaknya ia ketakutan melihat kesaktian si kakek kerdil, ia sendiri bingung mengapa dirinya bisa diangkat dan diseret begitu saja tanpa berdaya oleh seorang kecil begini.

"Tapi ... aku ingin mencari suamiku, masa tidak boleh?"

Kata Pek-hujin dengan tergagap-gagap.

"Suamimu berada di sini, kau hendak mencarinya ke mana?"

Kata Kui-tong-cu dengan menarik muka.

"Tapi ... tapi aku tidak ingin menjadi istrinya, orang ... orang lain yang memaksakan perkawinan ini,"

Kata Pek-hujin.

"Jika kau benar tidak ingin menjadi istrinya, mengapa tadi kau berlagak seperti malu-malu kucing dan jinak-jinak merpati serupa pengantin baru?"

Tanya Kui-tong-cu. Pek-hujin mengucek matanya agar keluar air mata, tapi sayang air matanya tidak banyak, pula tidak mau menurut, sengaja dikucek malah tidak mau keluar.

"Hendaklah kau bicara secara jujur saja,"

Kata Kui-tong-cu pula.

"Jika kau banyak tingkah lagi dan kalau Kakek menjadi marah, bisa jadi akan kujodohkan kau pada anjing jantan."

Benar juga, Pek-hujin tak berani bersuara pula, ia tahu si kakek kerdil ini tidak boleh dibuat main-main, apa yang sudah diucapkan bisa terus dilaksanakan.

Betapa pun ia tidak ingin menjadi istri anjing jantan, paling tidak Pek Khay-sim kan lebih baik daripada anjing jantan.

Kui-tong-cu tertawa, mendadak ia tepuk-tepuk pundak Hoa Bu-koat, untuk itu ia harus berdiri dengan ujung kaki barulah tangannya dapat mencapai pundak anak muda itu.

"Anak muda,"

Kata Kui-tong-cu dengan tertawa.

"kau benar-benar mujur dapat memperistri keponakan she Thi kami ini."

Saat itu Hoa Bu-koat berdiri diam di situ, selain berdiri saja ia memang tiada tenaga untuk berbuat urusan lain, mungkin ia pun masih dapat bicara, tapi dalam keadaan demikian apa yang dapat dikatakannya?

Kui-tong-cu memandangnya pula, ia mengerut kening demi melihat sikap Bu-koat yang acuh-tak acuh itu, katanya.

"Apa pun juga, kau akan mendapatkan istri baik seperti ini, apa pula yang membuat kau kurang gembira?"

Mendadak Thi Sim-lan berkata.

"Cianpwe, aku ... aku ...."

To Kiau-kiau dan kawan-kawannya memang tidak menutuk hiat-to bisu anak dara itu, sebab mereka tidak khawatir dia bicara, andai kata dia bicara hal-hal yang tidak pantas dikemukakannya juga mereka dapat mencegahnya setiap saat.

Tapi sekarang, di hadapan Kui-tong-cu, terpaksa mereka tak berani mencegahnya bicara, sebab tiada seorang pun ingin dicengkeram batang lehernya dan diseret serupa seekor anjing seperti tindakan Kui-tong-cu terhadap Pek-hujin tadi.

Seumpama Kui-tong-cu tidak mempunyai kepandaian lain, cukup melulu caranya membekuk orang itu sudah membuat ciut nyali mereka.

Sebab mereka tahu bilamana ingin menghindarkan cengkeraman Kui-tong-cu itu mereka memang belum mampu.

Tapi untunglah Thi Sim-lan hanya bicara dua-tiga patah saja dan tidak melanjutkan lagi.

Dengan tertawa Kui-tong-cu lantas berkata.

"Kutahu ada banyak urusan akan kau tanyakan padaku, tapi jangan terburu-buru sekarang, sebentar lagi tentu segala urusan akan menjadi jelas baginya."

Dalam pada itu para kakak beradik Buyung sudah saling memberi isyarat dan sedang memikirkan cara bagaimana harus melayani tamu aneh ini.

Maklum, selamanya anggota keluarga Buyung tidak ingin kurang adat terhadap tamunya.

Tapi sebelum mereka buka suara, Kui-tong-cu sudah berkata lebih dulu dengan tertawa.

"Kalian tidak perlu menyuguh arak padaku, selamanya aku tidak suka minum arak, sebab perawakanku kecil, bila minum arak tentu tak dapat melebihi orang lain, maka lebih baik aku tidak mau minum."

Dengan tertawa Tan Hong-ciau bertanya.

"Jika demikian, entah Cianpwe ...."

"Apakah kau hendak tanya apa kesukaanku, begitu bukan?"

Tukas Kui-tong-cu.

"Baiklah, akan kukatakan padamu, kegemaranku adalah melihat perempuan menari dengan bugil. Nah, jika kalian ingin memuaskan aku sebagai tamu kalian, lekas kalian membuka baju dan menari."

Keruan permintaan tidak senonoh ini membuat kakak beradik Buyung kurang senang, serentak Tan Hong-ciau, Lamkiong Liu, dan lain-lain berbangkit.

Sorot mata To Kiau-kiau bercahaya, diam-diam ia bergembira dan berharap kedua pihak itu lekas saling labrak.

Tak terduga, pada saat itu juga, dari hilir sungai sana tiba-tiba berkumandang tiba suara musik yang merdu terbawa sayup-sayup oleh angin.

Betapa pun tegangnya suasana bila mendengar suara musik yang merdu ini pasti tak jadi berkelahi lagi.

Seketika suasana menjadi hening, setiap orang pasang telinga mengikuti irama musik yang mengasyikkan itu.

Sampai-sampai orang macam Toh Sat juga tergetar perasaannya, sorot matanya mulai berubah menjadi tenang dan hangat.

Suara musik ini ternyata dapat menghanyutkan orang kepada kenangan masa lalu, mengenangkan kejadian yang paling menggembirakan.

Tanpa terasa beberapa pasang suami-istri keluarga Buyung itu saling berdekapan, sorot mata masing-masing penuh rasa bahagia.

Sorot mata Hoa Bu-koat tanpa terasa juga memandang ke arah Thi Sim-lan.

Ternyata Thi Sim-lan juga sedang menatapnya.

Dalam hati masing-masing sama terkenang kepada pengalaman masa lampau.

Pada waktu itu meski mereka pun banyak mengalami suka-duka dan siksa derita, tapi yang terkenang sekarang hanya saat-saat yang menyenangkan, hanya kejadian-kejadian yang menggembirakan saja.

Kui-tong-cu tersenyum memandangi semua orang, gumamnya kemudian.

"Nah, sekarang tentunya kalian mau percaya bahwa rombongan pemusik yang kudatangkan ini bukan saja nomor satu di dunia, bahkan belum pernah ada sejak dahulu dan juga masa mendatang. Sekalipun kaisar di zaman dulu juga tidak mampu mendengar musik semerdu ini."

Suara musik ini semakin mendekat, tertampaklah sebuah perahu meluncur tiba, di atas perahu terang benderang dengan belasan lampu hias, cahaya lampu yang terbayang di air sungai menambah indah perahu itu sehingga tampaknya seperti sebuah rumah mewah berjalan.

Di atas perahu ada tujuh atau delapan orang yang meniup seruling, ada yang membunyikan harpa dan sebagainya, malahan satu di antaranya sedang memukul tambur.

Meski suara tambur itu kedengarannya berat, monoton, berulang-ulang tetap begitu saja bunyinya, namun setiap pukulannya seakan-akan mengetuk lubuk hati pendengarnya dan membuat orang mabuk dan lupa daratan.

Di bawah cahaya lampu terlihat jelas orang-orang itu ada lelaki dan ada juga perempuan, tapi semuanya orang tua yang sudah beruban, bahkan ada yang bertubuh bungkuk reyot, malahan sebagian besar pasti sudah ompong.

Ketika mereka sudah berada di atas kapal barulah semua orang melihat jelas mereka ternyata beberapa kali lebih tua daripada dipandang dari jauh.

Bagi orang yang belum melihat mereka tentu sukar membayangkan.

Pikir saja, beberapa kakek dan nenek membunyikan musik semerdu ini, benar-benar sukar untuk dibayangkan.

Malahan yang benar-benar tak terbayangkan oleh siapa pun juga adalah suara musik yang penuh gairah hidup, penuh rasa gembira dan bahagia justru dibawakan oleh serombongan orang tua yang boleh dikatakan pasti sudah pikun.

Hal ini kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri tentu takkan percaya.

Akan tetapi sekarang semua orang telah menyaksikan sendiri, cuma siapa pun tidak tahu cara bagaimana rombongan orang tua ini naik di atas kapal, soalnya kedatangan perahu kecil ini terlalu cepat.

Baru saja kakak beradik Buyung Siang hendak menyambut, tahu-tahu rombongan orang tua ini sudah berada di haluan kapal, bahkan bunyi musik mereka tidak pernah berhenti sejenak pun.

Kini terlihat lebih jelas kakek penabuh tambur itu rambutnya sudah putih seperti salju, tapi kulit badannya hitam seperti arang, tubuhnya kurus tinggal kulit membungkus tulang, tapi bajunya justru tidak terkancing sehingga kelihatan deretan tulang iganya yang mirip pagar bambu.

Tamburnya cukup besar dan tampaknya jauh lebih tua daripada si penabuhnya serta jauh lebih berat bobotnya.

Akan tetapi kakek itu tidak memanggul tamburnya melainkan menjepitnya dengan kedua kakinya dibawa serta melayang ke atas kapal dengan enteng.

Cepat Tan Hong-ciau mendahului memapak maju dan memberi hormat, ucapnya.

"Para Cianpwe sudi berkunjung, sungguh kami sangat ...."

Belum habis ucapannya, tiba-tiba salah seorang kakek itu berseru.

"He, apakah ada di antara kalian ini orang she Ciong?"

Kakek ini tinggi kurus, dia inilah pemetik kecapinya. Pek Khay-sim mengira si kakek ada sengketa apa-apa dengan orang she Ciong yang ditanyakannya. Maka ia cepat menunjuk Li Toa-jui dan berkata.

"Ini dia orang she Ciong!"

Dia menyangka sekali ini Li Toa-jui pasti akan runyam dan dilabrak habis-habisan oleh si kakek.

Ia tahu para nona keluarga Buyung pasti juga takkan membela Li Toa-jui dan apa yang akan terjadi nanti pasti sangat menarik.

Tak tahunya si kakek pemetik kecapi itu lantas menjura malah kepada Li Toa-jui dan berkata.

"Aku Ji Cu-geh, dahulu kakek-moyangmu Ciong Cu-ki Siansing adalah satu-satunya pengagum leluhurku yang terkenal ahli pemetik kecapi. Sekarang anak cucunya saling bertemu pula di sini, apabila Saudara tidak menolak, bagaimana kalau kupetik satu lagu bagimu?"

Pada waktu mudanya Li Toa-jui memang juga terpelajar, kalau tidak masakan Thi Bu-siang mau memungutnya sebagai menantu?

Sudah tentu ia paham ceritanya tentang persahabatan Cu-geh Siansing dengan Ciong Cu-ki di zaman Ciancok, makanya waktu Pek Khay-sim bilang dia she Ciong, dia hanya diam saja dan tidak membantah.

Segera ia menanggapi ucapan si kakek tadi.

"Apabila Cianpwe berminat tentu saja Cayhe siap mendengarkan."

Tanpa bicara lagi Ji Cu-geh lantas duduk memangku kecapi.

"Creng" , mulailah dia memetik kecapinya, begitu kecapi mulai berbunyi, terasa segarlah setiap orang seperti berada di tempat kediaman dewata. Li Toa-jui juga berlagak seperti seorang peminat musik sejati, ia pejamkan mata dan mengikuti irama kecapi sambil manggut-manggut dan berulang-ulang menyatakan perasaan kagum dan pujiannya. Selesai membawakan satu lagu, Ji Cu-geh lantas berbangkit, katanya dengan gegetun.

"Sungguh tidak nyana setelah beratus tahun kemudian keluarga Ciong masih ada peminat kecapi sebagaimana leluhurnya, lagu yang kubawakan barusan ini biasanya memang tidak sembarangan kuperdengarkan kepada orang lain."

Diam-diam To Kiau-kiau menggeleng.

Sudah diketahuinya para kakek dan nenek ini pasti memiliki kepandaian yang mahatinggi, tapi tak disangkanya bahwa mereka dapat dibohongi semudah ini, agaknya orang makin tua akan semakin pikun ternyata juga ada benarnya, buktinya orang-orang tua ini kan cukup nyata.

Ji Cu-geh memegang tangan Li Toa-jui dan memperkenalkan kawan-kawannya itu.

Ternyata kawanan kakek dan nenek itu mempunyai nama dan she yang aneh, kebanyakan menirukan she seniman di zaman kuno, yang meniup siau atau seruling juga she Siau, yang memetik harpa mengaku she Han, katanya masih keturunan Han Siang-cu, itu anggota Pat-sian atau delapan dewa dalam dongeng.

Geli para nona keluarga Buyung mendengar nama kakek-kakek yang lucu ini, mereka merasa orang-orang tua ini tidak saja pikun, bahkan juga sinting.

Padahal siapa pun dapat menduga bahwa she mereka itu cuma samaran belaka, terutama kakek yang mengaku she Han itu jelas bukan keturunan Han Siang-cu, sebab umum mengetahui Han Siang-cu tidak pernah beristri, lalu dari mana datangnya anak, kalau tidak punya anak, tentu saja tidak mungkin mempunyai keturunan lebih lanjut.

Tapi para kakek dan nenek itu tetap mengaku bernama dan she begitu mau tak mau semua orang percaya saja.

Meski semua orang juga tahu orang-orang tua ini pasti kaum pendekar ternama pada beberapa puluh tahun yang lalu, namun tiada yang tahu asal-usul dan nama asli mereka.

Lebih-lebih Thi Sim-lan, ia merasa bingung untuk apakah beberapa orang tua ini sengaja datang membawa musik baginya.

Padahal usia setiap orang cukup untuk menjadi nenek moyangnya, mana mungkin ada sangkut paut kekeluargaan dengannya?

Nona besar Buyung adalah istri bijaksana dan berwibawa, pembawaannya juga pendiam, sejak tadi ia hanya duduk diam saja dengan mengulum senyum, kini mendadak ia menarik ujung baju sang suami dan membisikinya.

"Waktu sudah larut, semua orang tentu juga lelah, lebih baik kita ...."

Tan Hong-ciau menepuk perlahan tangan sang istri, katanya dengan tersenyum.

"Kutahu maksudmu, sabarlah sebentar."

Padahal ia takut keadaan akan bertambah ruwet, ia pun tidak ingin terlibat dalam urusan dengan orang-orang aneh yang tak jelas asal-usulnya ini, segera ia menjura dan berseru.

"Kini pemain musik sudah siap, bolehlah silakan kedua pasang mempelai menjalankan upacara agar selanjutnya kita dapat minum beberapa cawan arak bahagia."

"Tepat, setuju!"

To Kiau-kiau mendahului bertepuk tangan.

"Haha, kata peribahasa, waktu adalah uang, kita hanya bersendau gurau saja sejak tadi sehingga melupakan para pengantin baru yang ingin lekas-lekas masuk kamar,"

Sambung Ha-ha-ji dengan tertawa. Sudah tentu mereka pun tahu orang-orang tua ini tak boleh dibuat main-main, maka sedapatnya mereka ingin lekas-lekas pergi. Siapa tahu Kui-tong-cu lantas berseru.

"Tidak, tidak boleh sekarang, harus tunggu lagi sebentar."

"Tunggu apa?"

Tanya To Kiau-kiau.

"Tunggu satu orang,"

Jawab Kui-tong-cu.

"Memangnya Cianpwe juga telah mengundang tamu untuk menghadiri pesta ini?"

Tanya Kiau-kiau.

"Bukan tamu, tapi tuan rumah,"

Kata Kui-tong-cu. Tentu saja To Kiau-kiau dan lain-lain sama melengak.

"Tuan rumah? Bukankah tuan rumahnya sudah berada di sini?"

Tapi Kui-tong-cu tidak menjawabnya, sebaliknya dia berpaling pada seorang tamu yang bernama Ni Cap-pek dan bertanya.

"Di mana bocah itu, tidakkah dia datang bersama kalian?"

Ni Cap-pek melotot, jawabnya.

"Memangnya dia datang bersama siapa jika tidak bersama kami?"

"Lalu di mana dia?"

Tanya Kui-tong-cu.

"Di mana dia, kenapa tidak kau tanya langsung padanya?"

Jawab Ni Cap-pek.

"Jika kutahu di mana dia, untuk apa kutanya, monyong!"

Omel Kui-tong-cu.

"Kau tidak tahu, dari mana pula kutahu? Aku kan bukan bapaknya?"

Jawab Ni Cap-pek dengan melotot.

Diam-diam Li Toa-jui merasa geli, beberapa tua bangka ini ternyata juga seperti anak kecil, kalau sudah bertengkar tampaknya tidak kurang lucunya daripada dirinya.

Untunglah sebelum urusan menjadi lebih bertele-tele, seorang kakek bernama Lamkwe Siansing menukas.

"Bocah itu sebenarnya datang bersama satu perahu dengan kami, tapi dia mengomel katanya laju perahu terlampau lambat, maka dia lantas melompat ke daratan dan ingin memburu ke sini lebih dahulu."

"Ini namanya ingin cepat jadi lambat,"

Tambah Ji Cu-geh.

"Ai, wataknya yang tidak sabaran itu mungkin sampai mati pun sukar berubah,"

Kata Kui-tong-cu dengan tertawa. Si nenek peniup seruling she Siau menimbrung.

"Tapi kalau menurut kecepatan larinya, sekalipun harus mengitar tentu saat ini pun sudah berada di sini. Bisa jadi penyakitnya telah kumat lagi dan berkelahi dengan orang di tengah jalan."

"Ya, bilamana dia sudah berkelahi, mungkin tiga hari tiga malam juga takkan selesai,"

Sambung si kakek she Han. Tergerak hati Kiau-kiau, tanyanya cepat.

"Apakah sahabat para Cianpwe itu suka berkelahi dan bila sudah berkelahi sukar lagi dilerai?"

"Ai, memang begitulah sifatnya, bila lawannya belum jera dan minta ampun, maka pasti akan dilabraknya terus,"

Jawab Kui-tong-cu. To Kiau-kiau juga ingat pada seseorang, tanyanya segera.

"Apakah sahabat para Cianpwe itu ialah ...."

Belum lenyap suaranya, mendadak terdengar seorang meraung di daratan sana.

"Hai, Li Toa-jui, Ok-tu-kui, kalian para cucu keparat ini lekas menggelinding keluar semua."

"Memang tidak salah, betul si tua gila ini,"

Kata To Kiau-kiau. Han-wan Sam-kong bertepuk gembira, serunya.

"Haha, dengan datangnya anak kura-kura ini, tentu akan bertambah ramailah."

Ketika mendengar suara orang yang mirip raungan singa itu, seketika tubuh Thi Sim-lan bergetar, entah terlalu kejut atau karena girangnya.

Sedangkan para nona Buyung diam-diam merasa heran, sungguh sukar dimengerti sahabat para kakek dan nenek aneh ini ternyata juga sahabat Cap-toa-ok-jin ini.

Dalam pada itu Li Toa-jui dan Han-wan Sam-kong sudah memburu ke haluan kapal dan berseru.

"Hai, kau si tua gila kiranya belum lagi mampus?"

"Sebelum kalian cucu keparat ini mampus mana aku sampai hati mati lebih dulu?"

Demikian seru seorang di daratan sana.

Di tengah tertawanya segera ia pun melompat ke haluan kapal.

Sedemikian besar kapal layar ini juga sedikit oleng ketika orang itu hinggap di geladak kapal, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat tenaga orang ini.

Tanpa melihat juga setiap orang dapat menduga pendatang ini pasti juga seorang aneh.

Dan setelah melihat jelas, tanpa terasa semua orang menarik napas dingin.

Perawakan orang ini tidak terlalu tinggi, boleh dikatakan lumrah, paling-paling hanya enam atau tujuh kaki, tapi diukur ke samping lebarnya ternyata ada empat-lima kaki, jadi bentuknya seperti sepotong batu persegi.

Yang lebih hebat adalah kepalanya, besarnya luar biasa, bila dipenggal dan ditimbang, sedikitnya ada lima puluh kati atau tiga puluh kilogram.

Lebih-lebih karena rambutnya yang semrawut tak terpelihara itu mirip sarang ayam, cambangnya yang lebat itu bergandengan dengan rambutnya sehingga sukar dibedakan yang mana rambut dan yang mana cambangnya.

Tentu saja hidung dan mulutnya menjadi tertutup sehingga sukar ditemukan.

Kalau dipandang dari jauh, orang ini mirip sepotong batu besar yang di atasnya mendekam seekor landak atau kalau dipandang dari samping mirip juga seekor singa yang telah berubah bentuk.

Begitu melompat ke atas kapal, segera orang ini berangkulan dengan Li Toa-jui dan Han-wan Sam-kong sambil tertawa terbahak-bahak.

Umur ketiga orang kalau ditotal jenderal mungkin lebih dua ratus tahun, tapi kelakuan mereka masih seperti anak kecil saja.

Seketika Tan Hong-ciau menjadi ragu-ragu apakah harus menyambut kedatangan orang aneh ini atau tidak.

Mendadak orang aneh ini mendorong minggir Li Toa-jui, lalu meraung pula.

"He, aku menjadi lupa memeriksa calon menantuku yang ditemukan kalian para cucu keparat ini. Apabila tidak cocok dengan seleraku, lihat nanti kalau tidak kuhajar kalian."

To Kiau-kiau lantas memapak ke sana, katanya dengan tertawa.

"Calon menantumu yang kami carikan ini kutanggung kau si orang gila ini pasti akan cocok dan puas, jika kau sendiri yang cari, biarpun keliling dunia sambil menabuh bende juga takkan menemukan menantu sebagus ini."

Ketika melihat orang aneh itu, air mata Thi Sim-lan sudah lantas berlinang-linang, sekuatnya ia memburu maju dan mendekap orang itu sambil berseru.

"Ayah ...."

Karena sedih dan terharu tenggorokannya serasa tersumbat, hanya satu kali saja dia berucap, lalu tidak sanggup bersuara pula.

Baru sekarang Bu-koat tahu pendatang baru ini ialah "Ong Say", si Singa Gila yang disegani itu.

Bila melihat anak perempuannya secantik Thi Sim-lan, sungguh siapa pun tak berani membayangkan ayahnya berbentuk seaneh ini.

Dengan perlahan Thi Cian membelai kepala Thi Sim-lan, ucapnya dengan tertawa.

"O, putriku yang baik, janganlah menangis, ayah belum lagi mampus, seharusnya kau bergembira, apa yang kau tangiskan?"

Belum habis ucapannya, mendadak ia lompat ke depan Hoa Bu-koat, anak muda itu dipandangnya dari kepala ke kaki dan dari kaki kembali ke kepala.

Sedikitnya tujuh kali dia mengamati Hoa Bu-koat.

Hoa Bu-koat sendiri tampak lesu, maklum, dia kelaparan selama beberapa hari, dengan sendirinya fisiknya sangat lemah.

Thi Cian manggut-manggut, agaknya dia merasa puas terhadap bakal menantunya ini, ucapnya kemudian.

"Ehm, bocah ini masih memper manusia juga, hanya ... mengapa mukanya begini pucat dan berdiri saja tidak kuat, jangan-jangan calon menantu yang kalian temukan ini sakit TBC."

"Dia tidak sakit TBC, tapi semacam penyakit aneh, asalkan diberi sepotong bakpao saja segera akan kuat berdiri,"

Kata Kui-tong-cu dengan tertawa. Thi Cian melengak, tanyanya kemudian.

"Apakah dia menderita sakit lapar?"

"Betul,"

Jawab Kui-tong-cu dengan tertawa. Seketika Thi Cian berjingkrak murka, kembali ia meraung.

"Keparat, siapa yang membuat calon menantuku ini kelaparan begini? "

Siapa lagi kalau bukan kawan-kawanmu yang lama itu?"

Kata Kui-tong-cu.

Sekonyong-konyong Thi Cian membalik tubuh, sekali pentang kedua tangannya, kontan leher baju Ha-ha-ji dan To Kiau-kiau kena dicengkeramnya terus diangkat mentah-mentah.

Padahal ilmu silat Thi Cian tidak tergolong kelas top di antara Cap-toa-ok-jin, hanya cara berkelahinya saja yang nekat dan tidak kenal takut, jika bicara kungfu sejati To Kiau-kiau saja lebih tinggi daripada dia.

Tapi sekarang dia cuma mencengkeram sekenanya dan To Kiau-kiau serta Ha-ha-ji lantas kena dibekuknya tanpa bisa berkutik, bahkan ingin berkelit saja tidak mampu.

Keruan Li Toa-jui dan lain-lain berjingkrak kaget, sama sekali mereka tidak menyangka si Singa Gila ini kini menjadi begini lihai, nyata kungfunya telah maju pesat.

Sekilas pandang Li Toa-jui melihat Ni Cap-pek, Ji Cu-geh, dan lain-lain sama mengunjuk rasa senang dan puas, maka tidak perlu ditanya lagi, jelas ilmu silat Thi Cian ini adalah ajaran para kakek aneh ini.

Karena leher bajunya dicengkeram sedemikian kencang, leher Ha-ha-ji serasa hendak patah, ingin ber-haha saja tidak dapat, malahan napas pun serasa mau putus, cepat ia berteriak dengan serak.

"Antara ... antara sahabat sendiri, ada urusan apa boleh ... boleh dibicarakan secara baik-baik, kenapa main tangan segala?"

"Bicara baik-baik apa?"

Teriak Thi Cian dengan gusar.

"Kau sendiri makan kenyang hingga gemuk melebihi babi, tapi calon menantuku kau buat lapar hingga kurus menyerupai orang sakit paru-paru."

"Ai, hendaklah Thi-heng maklum,"

Cepat To Kiau-kiau ikut bicara dengan tertawa.

"Apabila kami tidak membuatnya kelaparan, mungkin sudah sejak dulu dia kabur."

"Kabur? Mengapa harus kabur?"

Teriak Thi Cian.

"Kenapa Thi-heng tidak tanya sendiri padanya?"

Ujar Kiau-kiau. Benar juga rasa gusar Thi Cian lantas mereda, ia lepaskan cengkeramannya, lalu menjambret leher baju Hoa Bu-koat dan meraung pula.

"Ya, ingin kutanya padamu, mengapa kau bermaksud kabur? Memangnya kau kira anak perempuanku tidak setimpal mendapatkan kau si TBC ini?"

Cepat Thi Sim-lan memegang tangan sang ayah dan berseru.

"Lepaskan dia, Ayah, urusan ini tiada sangkut pautnya dengan dia."

Dengan gusar Thi Cian berkata.

"Dia bakal lakimu, kalau tiada sangkut pautnya dengan dia, lalu menyangkut siapa?"

"Ayah ..."

Air mata Thi Sim-lan bercucuran.

"urusan ini sangat panjang untuk diceritakan, harap Ayah ...."

Pertentangan batin dan duka deritanya mana dapat diuraikannya di hadapan orang sebanyak ini.

"Sesungguhnya apa yang terjadi?"

Teriak Thi Cian pula.

"Tapi aku tak peduli urusan lain, aku cuma ingin tanya padamu, kau suka tidak kawin dengan bocah ini?"

Thi Sim-lan menunduk dan menjawab.

"Aku ... aku ...."

"Mengapa sekarang kau pun berubah kikuk-kikuk begini,"

Teriak Thi Cian.

"Kalau suka bilang suka, jika tidak mau katakan tidak mau, kenapa tak dapat kau katakan terus terang? Asalkan kau mengangguk, sekarang juga bocah ini akan menjadi hakmu. Bila kau menggeleng, segera pula kulempar pergi bocah ini."

Baca Juga: Kesatria Baju Putih 11

Baca Juga: Badik Buntung 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert