Ceritasilat Novel Online

Anak Berandalan 1

Eps 1 Anak Berandalan - Khu Lung

Baca online Anak Berandalan - Khu Lung

Cersil Anak Berandalan - Khu Lung.

Koleksi

KANG ZUSI

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com ___________________________________________________________________________ Petualangan Siauw cap it long (Siau Shiyi Lang), karya Gu Long, disadur oleh O.P.A.

Sebanyak 15 jilid, diterbitkan tahun 1970.

Diketik ulang dengan menggunakan Ejaan Yang Baru.

Jilid 1________ Sinar Matahari pagi menmbusi kertas tipis tutup lobang daun jendala sebuah kamar mandi, menyinari tubuh seorang wanita muda yang putih halus licin bagaikan gading.

Suhu air panas yang digunakan untuk merendam tuibuhnya, mungkin sama dengan suhu sinar matahari pagi itu.

Ia dengan malas malasan terlentang di dalam bak mandi berisi air panas, sepasang kakinya yang runcing halus diletakkan tinggi tinggi diatas pinggiran bak, membiarkan telapak kakiknya disoroti oleh sinar matahari pagi....ia membayangkan, itulah tangan kekasihnya yang sedang mengelus elus kakinya.

Tampaknya ia sangat senang dan gembira sekali dengan cara mandi demikian.

Setelah melakukan perjalanan hampir setengah bulan lebih lamanya, cara mandi demikian telah membuat ia melupakan segala keletihan selama dalam perjalannya yang panjang itu.

Sekujur tubuhnya semua terendam dalam air hangat, hanya bagian kepada dan mukanya dengan sepasang matanya yang setengah terbuka saja yang berada diatas permukaan air, dengan matanya itu memandang kearah kakinya yang indah.

Sepasang kaki itu pernah mendaki gunung yang tinggi, pernah menyebrangi sungai yang dalam, pernah melakukan perjalanan tiga hari tiga malam berturut turut digurun pasir yang panas, juga pernah melakukan perjalanan diatas air sungai yang sudah membeku menjadi salju.

Sepasang kaki itu pernah menendang sampai mati tiga ekor srigala kelaparan, seekor kucing liar, pernah menginjak sampai mati entah berapa banyak ekor ular berbisa, pernah juga menendang diri seorang kepala berandal yang banyak tahun mengganas digunung Kie lian san, hingga terjatuh kedalam jurang yang dalam.

Tetapi sekarang, sepasang kaku itu tampak dan masih tetap demikian runcing dan indah, demikian halus dan putih bersih, sedikit cacatpun tidak dapat ditemukan.

Biarpun seorang gadis pingitan yang belum pernah melangkah keluar dari dalam kamarnya, belum tentu memiliki kaki yang demikian indah sempurna.

Dalam hatinya ia merasa puas.

Diatas perapian masih terdapat air panas.

Ia lalu menambah lagi air panas kedalam bak mandinya.

Meskipun airitu sudah cukup panas, tapi ia masih perlu menambah panas sedikit lagi, sebab ia paling senang dirinya dipanasi demikian rupa.

Ia suka sekali dengan berbagai jenis dan berbagai cara yang mengandung ketegangan.

Ia suka menunggang kuda yang bisa lari paling cepat, mendaki gunung yang paling tinggi, makan hindang yang paling pedas, minum arak yang paling keras, mainkan senjata yang paling tajam, membunuh orang yang paling jahat.

Orang lain sering berkata.

"Ketengangan urat syaraf paling mudah membuat orang perempuan lekas tua"

Akan tetapi pepatah kata itu tidak berlaku baginya.

Matanya, buah dadanya masih tetap membusung tinggi dan padat.

Pinggangnya masih tetap ceking langsing, perutnya pun masih tetap rata, sepasang kaki dan pahanya padat kuat.

Pendeknya, sekujur tubuhnya dari atas sampai kebawah, semua menunjukkan tubuh indah, dan padat sekali, kulitnya putih bersih bagaikan sutera.

Sepasang matanya jernih, kalau tertawa lesung pipitnya yang dekik itu dapat menggerakan hati setiap laki laki yang melihatnya.

Siapapun mungkin tak akan percaya kalau ia adalah seorang wanita muda yang sudah berusia tigapuluh tiga tahun.

Selama tigapuluh tiga tahun itu, wanita muda yang bernama Hong Sie Nio ini dapat menjaga dirnya benar benar.

Ia mnengerti di dalam keadaan dan suasana bagaimana harus mengenakan pakaian macam apa, ia mengerti terhadap orang bagaimana harus mengucapkan perkataan apa, ia mengerti kalau makan sesuatu barang hidangan yang paling cocok harusnya ditimpali dengan arak yang bagaimana, ia juga mengerti harus menggunakan gerak tipu macam apa untuk membunuh lawan yang bagaimana!

Ia mengerti seluk beluknya penghidupan, ia juga mengerti bagaimana harus menikmati hidup.

Orang seperti dia, didalam dunia ini tidak banyak jumlahnya.

Ada banyak orang yang mengiri terhadapnya.

Tak kurang orang dengki padanya; tetapi ia sendiri sudah cukup merasa puas.

Cuma ada satu hal yang belum bisa membuat ia puas benar benar.

Hal itu adalah kesepian.

Tidak peduli hal hal apa yang menegangkan urat syarafnya juga tidak dapat menghapuskan rasa kesepiannya itu.

Sekarang perasaan letihnya yang terakhir juga lenyap didalam air.

Waktu inilah ia baru menggunakan handuk putih, menyeka tubuhnya.

Handuk yang halus puith telah menyeka tubuh dan kulitnya, tentunya membuat orang merasakan kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan.

Tetapi, ia sesungguhnya ingin sekali merasakan, yang menyeka tubuhnya itu adalah tangan seorang laki laki.

Tangan laki laki yang dicintainya.

Betapapun halus lembutnya handuk sutera juga tidak dapat dibandingkan dengan tangan dari kekasih, dalam dunia ini tiada sebuah bendapun yang dapat menggantikan tangan seorang kekasih.

Termangu mangu ia memandang tubuhnya sendiri yang licin putih bersih, hampir tidak ada sedikitpun nodanya, dalam hatinya sekonyong konyong timbul perasaan sedih.

Mendadak, di jendela, pintu dan dinding dinding kamar mandi itu, dalam waktu bersamaan terdapat tujuh delapan lobang.

Disetiap lobang tampak menojol kepala orang, setiap muka kelihatan sepasang matanya yang rakus.

Ada yang tertawa cekikikan, ada yang memandangnya dengan mata terbuka lebar sampai tidak sempat tertawa.

Tapi yang terang kebanyakan orang laki laki kalau sudah menyaksikan tubuh seorang perempuan yang cantik dalam keadaan telanjang bulat, dalam waktu singkat saja bisa berubah seperti anjing, anjing kelaparan!

Lubang diatas lubang jendela itu yan gletaknya paling baik, terpisah paling dekat, hingga bisa melihat paling jelas nyata.

Orang yang menongolkan kepalanya dilubang ini, adalah seorang laki laki yang mukanya penuh daging menonjol, demikianpun kepalanya juga terdapat sebuah daing lebih yang besar, tampaknya seperti mempunyai dua kepala yang ditumpuk menjadi satu, orang semacam ini sebetulnya sangat memuakkan.

Yang lainnya juga tidak lebih baik dari pada orang ini, sekalipun seorang laki laki kalau sedang mandi dan mendadak dilihat begitu banyak orang, barangkali juga akan merasa terkejut dan ketakutan setengah mati.

Akan tetapi bagi Hong Sie Nio, seorang wanita yang lain dari pada yang lain, ia sedikitpun tidak menjukkan perobahan sikap apa apa, bahkan masih dengan tenangnya duduk setengah badang didalam bak mandinya dengan handuknya yang halus dan putih menyeka tubuh dan tangannya sendiri.

Ia sedikitpun tidak menghiraukan orang orang itu, sedikitpun tidak mau angkat muka menegornya.

Ia hanya memerhatikan jari jari tangnnya yang runcing halus.

Perlahan lahan jari tangan itu diseka kering, barulah ia unjuk tertawanya yang hambar, dan setelah itu disusul oleh kata katanya.

"Apakah tuan tuan selamanya belum pernah melihat orang perempuan mandi?"

Tujuh delapan orang laki laki itu semua tertawa dengan berbareng.

Seorang laki laki yang baru mangkat dewasa, yang mukanya penuh jerawat, matanya dibuka paling lebar, tertawanya paling senang, ia yang mendahului kawan kawannya berkata.

"Aku bukan saja sudah pernah lihat orang perempuan mandi, bahkan memandikan seorang perempuan, itu adalah keahlianku. Apakah kau suka kiranya kalau kuseka punggungmu dengan handuk halus itu? Kutanggung kau nanti akan merasa puas"

Hong Sie Nio juga tertawa, kemudian berkata sambil unjukkan senyumnya.

"Punggungku justru sedang gatal sekali, kalau kau suka, lekaslah masuk!"

Sepasang mata pemuda itu sudah seperti lubang celengan, sambil tertawa besar ia mneggedor daun jendela hingga terbuka, ia sudah ingin lompat masuk, tetapi baru saja badannya bergerak, sudah ditarik oleh lelaki yang banyak tumbuh daign lebih dikepala dan mukanya.

Tertawa pemuda tadi jadi lenyap seketika, dengan wajah pucat pasi dan membelalakkan lebar kedua matanya ia berkata kepada laki laki yang mencegahnya.

"Kay Lo Jie, kau sudah mempunyai banyak istri, perlu apa masih hendak merebut orang lain punya?"

Kay Lo Jie tidak menunggu habis ucapannya, sudah membalikkan tangannya dan menampar sekeras kerasnya, sampai tubuh anak muda tadi terpental jauh. Hong Sie Nio lalu berkata padanya.

"Jikalau kau menggosok punggungku dengan caramu seperti memukul orang demikian keras, aku tidak sanggup menerima"

Kay Lo Kie mendelikkan mata kepadanya.

Sepasang matanya mendadak beruba demikian buas dan kejam, seperti seekor ular berbisa yang hendak menerkam mangsanya.

Suaranya juga demikian tidak enak, ia berkata sepatah demi sepatah.

"Tahukah kau ini tempat apa?"

"Jikalau aku tidak tahu, bagaimana aku bisa datang kemari?"

Demikian Hong Sie Nio balas bertanya. Ia kembali perdengarkan suara tertawanya kemudian baru berkata lagi.

"Disini adalah gunung Loan ciok san juga dinamakan gunung berandal, sebab orang yang berdiam digunung ini semua adalah kawanan berandal, sehingga pemilik rumah penginapan kecil ini yang nampaknya jujur, sebetulnya juga kawanan berandal"

"Kalau kau sudah tahu ini tempat apa, mengapa kau masih berani datang kemari?"

Kata pula Kay Lo jie dengan bengis.

"Kedatanganku toh tidak mengganggu kalian, bukan? Aku hanya ingin meminjam tempat ini untuk mandikan diriku saja. Apa itu salah?"

"Dimana saja kau toh bisa mandi. Apa sebanya kau sengaja datang disini untuk mandi?"

Sepasang mata Hong Sie Nio bergerak gerak. Katanya dengan suara lemah lembut.

"Mungkin aku senang membiarkan diriku ditonton leh kawanan berandal, bukankah itu merupakan satu hal yang menegangkan urat syaraf"

Kay Lo Jie mendadak membalikkan tangannya, menghajar tiang jendela, hingga kayu kayu itu telah terpukul hancur olehnya, jelas bahwa pukulan tangan kosongnya sudah mencapai ketaraf yang cukup tinggi.

Hong Sie Nio sebaliknya tetap berlaga seperti tidak pernah melihat, ia hanya menghela napas perlahan, dan katanya seperti menggumam sendiri.

"Masih untung aku tidak suruh orang ini menggosok punggungku, tindakannya demikian kasar...."

Kay Lo Jie marah dan bentaknya dengan suara keras.

"Dimata seorang bajingan tidak perlu kau berlaga, kau datang kemari sebetulnya ada keperluan apa? Lekas kau jawab dengan terus terang!"

Hong Sie Nio kembali tertawa dan kemudian baru berkata.

"Kau benar benar tidak salah, aku dari tempat ribuan pal jauhnya dari sini datang kemari, sudah tentu tidak hany lantarang hendak mandi saja"

Sepasang mata Kay Lo Jie bergerak dan memancarkan sinar berkilauan, katanya.

"Apa bukan ada orang yang mengutusmu kemari untuk mencari berita?"

"Sekali kali tidak, aku hanya ingin menengok seorang kawan lama saja"

"Tapi disini mana ada kawanmu?"

"Bagaimana kau tahu kalau aku tidak punya kawan? Apakah aku tidak boleh berkawan dengan berandal? Mungkin aku sendiri juga berasal dari orang berandal yang belum kau ketahui"

Wajah Kay Lo Jie berubah seketika, tanyanya.

"Siapakah kawanmu itu?"

"Aku juga sudah lama tidak ketemu dengannya, kabarnya selama beberapa tahun ini keadaanya boleh juga, ia sudah menjadi toako dari kawanan berandal di daerah Koan tiong, cuma masih belum tahu kau kenal orang yang kumaksud itu atau tidak"

Wajah Kay Lo Jie kembali berubah, tanyanya.

"Kawan kawan golongan hitam di daerah Koan tion, semua berjumlah tiga belas golongan. Setiap golongan ada seorang toako, tidak tahu siapa yang kau maksudkan itu?"

"Ia seperti sudah menjadi pemimpin besar dari tiga belas golongan berandal kalian"

Jawab Hong Sie Nio dengan hambar. Kay Lo Jie kini tercengang, tak lama kemudian tiba tiba ia tertawa besar, dan berkata sambil menunding Hong Sie Nio.

"Dengan perempuan seperti kau ini, juga apakah pantas berkawan dengan seorang pemimpin besar?"

"Mengapa aku tidak bisa berkawan dengannya? Tahukan kau aku ini siapa?"

Tertawa Kay Lo Jie berhenti dengan mendadak, sepasang matanya berputaran lama diatas diri Hong Sie Nio, lalu katanya dengan nada suara dingin.

"Kau siapa? Tidak mungkin kau Hong Sie Nio perempuan siluman itu?"

Hong Sie Nio tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya ia balas bertanya.

"Kau ini bukankah seorang yang bernama Kay Put Tek yang mempunyai nama julukan ular kepala dua?"

Diwajah Kay lo Jie saat itu menunjukkan rasa bangga, katanya sambil tertawa.

"Benar, tidak perduli siapa, kalau melihat aku siular kepala dua semua harus mati!"

"Kalau kau benar memang ular kepala dua, aku terpaksa mengaku adalah Hong Sie Nio."

Jilid 1-2.

Tangan Hong Sie Nio (Anak Berandalan) Kepala ular kepala dua seperti pecah dengan mendadak, menjadi berkeping keping.

Perempuan yang duduk dalam keadaan telanjang bulat didalam bak mandi, benarkah Hong Sie Nio yang namanya menggemparkan dunia persilatan, dan yang setiap orang yang melihatnya pasti menjadi pusing kepala?

Ia benar benar tidak percaya, tetapi juga tidak bernai tidak percaya.

Kakinya sudah melangkah mundur, sudah tentu yang lainnya sudah mundur lebih cepat lagi.

Dengan sekonyong konyong terdengar suara bentakan perlahan yang keluar dari mulut Hong Sie Nio.

"Jangan bergerak!"

Setelah semua orang itu benar benar tidak bergerak, dari wajahnya barulah tampak pula sedikit senyumnya, senyumnya itu masih tetap demikian lemah lembut, dan demikian menggiurkan.

Kemudian ia berkata sambil tertawa.

"Kalian sudah mengintip orang perempuan mandi, dengan begitu saja kalian kira bisa pergi?"

"Lalu...kau mau apa?"

Bertanya si ular kepala dua.

Meskipun suaranya sudah agak gemetaran, tetapi sepasang matanya masih terbelalak lebar, sewaktu menyaksikan dada terbuka dari Hong Sie Nio yang tubuhnya padat, nyalinya mendadak menjadi besar lagi "

Katanya sambil tertawa dingin.

"Apakah kau masih ingin kami menyaksikan tubuhmu lebih jelas lagi?"

"Oh...kiranya kau menghina aku karena tidak berpakaian? Apakah kau kira aku tidak berani melompat mengejar kalian?"

"Benar, kecuali sewaktu kau mandi ada juga membawa senjata, sekalipun kau duduk didalam bak mandi juga bisa membunuh orang"

Berkata ular kepala dua sambil perdengarkan suara tertawanya yang aneh. Hong Sie Nio menghela napas, ia mengangkat tangnnya dan berkata.

"kalian lihat....apakah tanganku ini mirip dengan tangan seorang pembunuh?"

Jari jari sepasang tangan itu, tampakanya demikian putih halus seperti tidak bertulang, juga seperti bunga yang indah.

"Tidak mirip"

Jawab ular kepala dua.

"Aku lihat juga tidak mirip, tetapi yang aneh, ada kalanya tangan ini justru bisa membunuh orang!"

Kedua tangannya itu digerakkan dengan perlahan, dari sela sela jari tanganya tiba tiba melesat keluar sepuluh lebih sinar berkilauan.

Selanjutnya baru ketahuan, bahwa itu adalah serentetan suara jeritan, maka setiap orang, telah tertancap sebatang jarum perak, siapapun tidak melihat dengan nyata jarum jarum itu dilancarkan dari mana.

Maka siapapun juga tidak ada yang mengelak. Hong Sie Nio kembali menghela napas, katanya seperti menggumam sendiri.

"Mengintip orang perempuan mandi, bisa tumbuh jarum dimatanya, apakah ucapan ini kalian belum pernah dengar?"

Tujuh delapan orang itu semua dengan menggunakan tangannya untuk menutupi mata masing masing, rasa sakit membawa mereka bergelimpangan di tanah.

Suara jeritan tujuh delapan orang itu yang diperdengarkan dengan berbareng ternyata masih belum membuat hong Sie Nio menutup telinganya, sebab ia masih sedang memeriksa sepasang tangannya sendiri.

Lama ia memeriksa tangnnya, barulah menutupi matanya dan berkata sambil menghela napas.

"Sepasang tangan yang baik baik tidak digunakan untuk menyulam, sebaliknya digunakan untuk membunuh orang, benar benar sangat sayang...."

Dengan mendadak suara jeritan itu berhenti semua, seolah olah dalam waktu sekejap mata berhenti dengan berbareng, Hong Sie Nio mengerutkan alisnya, memanggil dengan suara perlahan.

"Hoa Peng?"

Di luar tidak ada suara, hanya suara angin yang meniup daun daun diatas pohon hingga memeperdengarkan suara bekeresekkan.

Lama telah berlalu, baru terdengar suara golok masuk kedalam sarungnya.

Bibir Hong Sie Nio tersungging senyuman, katanya pula.

"Aku tahu kau yang datang! Kecuali kau, siapa lagi yang dapat membunuh tujuh delapan orang itu dalam waktu sekejap mata? Siapa lagi yang bisa menggunakan golok demikian cepat?"

Diluar masih tetap tidak terdengar suara orang menjawab. Hong Sie Nio berkata lagi.

"Aku tahu kau yang membunuh mereka, disebabkan supaya mereka tidak terlalu lama menderita, aku tidak tahu sejak kapan hatimu berubah demikian lemah?"

Sesaat kemudian dari luar baru terdengar suara orang berkata perlahan.

"Hong Sie Nio kah yang ada didalam?"

"Syukur kau masih mengenali suaraku, ternyata kau masih belum lupa padaku."

Menjawab Hong Sie Nio sambil tertawa.

"Kecuali Hong Sie Nio, didalm dunia ini masih ada siapa lagi diwaktu mandi juga mebawa bawa senjata rahasia?"

Berkata Hoa Peng. Hong Sie Nio tertawa terkekeh kekeh, kemudian berkata.

"Kiranya kau juga sedang mengintip aku yang sedang mandi, ya? Kalau tidak, darimana kau bisa tahu kalau aku sedang mandi?"

Hoa Peng seolah olah tidak mendengar ucapannya. Hong Sie Nio berkata.

"Kalau kau sudah melihat, mengapa kau tidak mau masuk terang terangan saja?"

"Kau pergi meninggalkan daerah ini enam tujuh tahun lamanya, bukankah kau sudah merasa aman? Mengapa sekarang kau kembali lagi?"

"Sebab aku memikirkan kau"

Hoa Peng kembali bungkam.

"Apakah kau tidak percaya kalau aku memikirkan kau? jikalau aku tidak memikirkan kau, mengapa aku sampai datang kemari ini untuk mencarimu?"

Hoa Peng kembali bungkam, hanya terdengar suara elahan napasnya.

"Mengapa kau terus menerus menghela napas? Apakah kau kira aku datang mencarimu itu artinya mesti aku membawa urusan tidak baik? Seorang sudah menjadi jaya, kawan lamanya juga tidak ingin meelihat lagi?"

"Pakailah pakaianmu, sebentar aku tengok kau"

"Aku sudah berpakaian, masuklah!"

Orang yang dipanggil Hoa Peng tadi akhirnya kini sudah berada diambang pintu.

Wajahnya yang memang banyak guratan, ketika melihat Hong Sie Nio masih duduk didlam bak mandinya dalam keadaan telanjang bulat, wajahnya dengan mendadak seperti bertambah banyak guratannya.

Hoa Sie Nio tertawa terkekeh kekeh kemudian berkata.

"Ada orang sengaja mengintip aku mandi, maka aku lalu membunuhnya, sedang kau yang tidak ingin melihat, sebaliknya aku membiarkan kau menyaksikannya"

Hoa Peng sebetulnya perperawakan pendek, tetapi siapapun semua tidak ada yang menganggap ia seorang pendek, sebab ia bertubuh kekar dan ototnya tampak sangat kuat, tampaknya bertenaga besar.

Waktu itu ia mengenakan mantel panjang warna hitam, namun diatas punggungnya masih tampak gagang goloknya yang diselubungi dengan kain warna merah.

Hoa Peng bisa menjadi kepala semua berandal didaerah Koan tiong, justru disebabkan goloknya itu.

"Kudengar kabar beberapa tahun berselang kau telah membunuh mati Koo Hui, si jago pedang didaerah Tay goan, apakah itu benar"

Bertanya Hong Sie Nio.

"Ya\\\"

Menjawab Hoa Peng.

"Kabarnya sepasang golok gunung Tay heng san dua saudara Teng juga kalah dibawah golokmu. Itu juga betul?"

"Ya!"

Jawab Hoa Peng. Orang she Hoa ini bukan saja tidak berani memandang Hong Sie Nio, bahkan bicarapun tidak suka banyak.

"Koo Hui dan dua saudara Teng semua adalah orang orang terkuat dalam rimba persilatan, kau ternyata bisa membunuh mereka, suatu bukti bahwa ilmu golokmu sudah semakin cepat lagi"

Berkata Hong Sie Nio sambil tertawa. Kali ini sepatah katapun tidak keluar dari mulut Hoa Peng. Hong Sie Nio bekrata lagi.

"Aku kemari, sebabnya ialah hendak melihat ilmu golokmu yang cepat!"

Wajah Hoa Peng mendadak berubah, katanya dengan suara berat "Benarkah kau hendak melihat?"

"Kau tidak usah panik, aku bukan mencari kau untuk bertanding, sebab aku tidak suka mati dibawah golokmu, juga tidak tega membunuh kau"

Berkata Hong Sie Nio sambil tersenyum. Perobahan wajah Hoa Peng tadi lama sekali baru pulih seperti biasa, lalu katanya dengan nada suara dingin.

"kalau begitu, kau tak usah melihat lagi sajalah"

"Mengapa?"

"Sebab golokku ini hanya dapat digunakan untuk membunuh orang, sama sekali bukan buat ditonton!"

Sepasang biji mata Hong Sie Nio yang jelita tampak berputaran, katanya sambil tertawa.

"Tetapi bagaimana kalau aku justru hendak melihatnnya?"

Hoa Peng yang sejak tadi hanya dia saja, tiba tiba berkata.

"Baik, kau lihatlah!"

Jilid 1-3.

Tangan Hoa Peng (Anak Berandalan) Ucapan Hoa Peng itu meskipun sangat perlahan, tetapi seluruh ucapannya hanya itu saja, bagi orang lain siapa saja, kalau mengucapkan perkataan yang demikian singkat, kiranya tidak perlu menggunakan waktu demikian lama, akan tetapi setelah kata kata yang diucapkan sangat lambat itu selesai, goloknya sudah keluar dari sarungnya dan kemudian dimasukkan lagi.

Orang hanya melihat berkelebatnya sinar golok, sebuah bangku yang berada diambang pintu didepan sana tahu tahu sudah terbelah menjadi dua potong.

Kecepatan Hoa Peng main golok benar saja sangat mengejutkan dan mengagumkan sekali.

Tetapi Hong Sie Nio yang menyaksikan itu sebaliknya malah jadi tertawa cekakakan, kemudian berkata sambil menggelengkan kepala.

"Yang kuingin saksikan ialah ilmu golokmu untuk membunuh orang, bukan untuk membelah bangku! Dihadapan kawan lama, kau masih mau menyimpan rahasia?"

"Menyimpan rahasia?"

"Ya, ilmu golokmu meskipun menggunakan tangan kiri dan kanan, bahkan bisa menggunakan kedua duanya dalam waktu berbareng tetapi dalam kalangan Kang-ouw siapakah yang tidak tahu bahwa kalau kau bertempur melawan musuh kau selalu menggunakan tangan kiri? Golok yang kau gunakan dengan tangan kiri, sedikitnya lebih cepat dari tangan kananmu berlipat ganda, bukankah begitu?"

Wajah Hoa Peng kembali berubah, ia berdiam lama, kemudian baru berkata dengan suara berat.

"Apakah kau musti hendak menyaksikan ilmu golok tangan kiriku?"

"Tentu"

Hoa Peng menghela napas, kemudian berkata.

"Baik, kau lihatlah!"

Dengan mendadak ia membuka kerudung mantelnya yang hitam.

Hong Sie Nio waktu itu sedang tertawa.

Tetapi pada saat mantel Hoa Peng terbuka suara tertawanya itu mendadak berhenti.

Ia tidak bisa tertawa lagi.

Golok sakti tangan kiri terkenal dikalangan Kang-ouw dan orang yang mempergunakan golok itu sampai mendapat nama julukan golok tercepat dalam daerah Tionggoan seperti Hoa Peng ini, tapi siapa tahu sebelah tangan kirinya sebatas bahu ternyata telah dipotong orang.

Lama kedua orang itu tidak bisa berkata apa apa.

Hong Sie Nio lalu menarik napas panjang, baru berkata.

"Ini....ini apakah terkutung oleh tangan orang?."

"Ya"

Jawab Hoa Peng singkat.

"Lawanmu itu menggunakan pedang ataukah kampak?.

"Menggunakan golok!"

"Golok? Siapa lagi orang yang dapat menggunakan golok lebih cepat dari padamu?"

"Hanya satu orang!"

Jawab Hoa Peng sambil memejamkan mata.

Sikapnya itu meskupun sedih, tetapi rupanya ia penasaran, jelas terhadap ilmu golok orang yang mengutungi lengannya, ia sudah merasa tunduk.

Ia merasa bahwa terkutung lengannnya dibawah ilmu golok orang itu, sedikitpun tidak harus sampai disesalkan terlalu.

Hong Sie Nio agak heran, lalau bertanya kepadanya.

"Siapakah orang itu?"

Hoa Peng dengan pandangan mata ditujukan ketempat jauh menjawab sepatah demi sepatah.

"Siauw cap it long!"

"Siauw cap it long!"

Ketika nama itu tercetus dari mulut Hoa Peng, diwajah Hong Sie Nio segera terjadi semacam perobahan yang sangat aneh.

Ia sendiri juga tidak dapat mengatakan itu entah perasaan marah, girang ataukah duka.

Sementara itu Hoa Peng sudah berkata seperti menggumam sendiri.

"Siauw cap it long...Kau seharusnya kenal padanya"

Hong Sie Nio menganggukkan kepala lambat, katanya.

"Benar, aku kenal dia...sudah tentu aku kenal dia!"

Pandangan mata Hoa Peng kini beralih ke wajah Hong Sie Nio, katanya.

"Kau ingin mencari dia atau tidak?"

Hong Sie Nio mendadak mendelikkan matanya, katanya dengan suara keras.

"Siapa kata aku hendak mencari dia? Menagapa aku harus mencari dia?"

Hoa Peng menghela napas, kemudian berkata.

"Cepat atau lambat kau nanti toh akan mencari dia"

"Kentutmu!"

Kata Hong Sie Nio marah.

"Sebetulnya itu juga tidak perlu membohongi kau, aku sudah lama tahu bahwa kali ini kau datang kembali ialah lantaran hendak melakukan suatu pekerjaan."

"Siapa kata?"

Bertanya Hong Sie nIo sambil mendelikkan matanya.

"Meskipun aku tidak tahu, urusan apa yang kau hendak lakukan, tetapi setidak tidaknya aku tahu bahwa urusan itu pastilah urusan besar, kau karena takut dengan tenaga sendiri tidak cukup, maka kau hendak mencari pembantu."

Dengan hati pilu Hoa Peng tertawa, kemudian berkata lagi.

"Oleh karena itu maka barulah kau bisa datang mencari aku, namun sayang sekali kau ternyata sudah salah alamat."

"Taruhlah bahwa dugaanmu itu sama sekali tidak salah, tapi aku toh masih boleh pergi mencari orang lain"

Mengapa musti mencari Siau cap it long? Apakah orang orang kuat dan pandai dalam rimba persilatan ini sudah mati semua?"

"Akan tetapi kecuali dia, siapa lagi yang masih bisa membantu kau?"

Dengan keadaan masih telanjang bulat Hong Sie nio lompat keluar dari bak mandinya, katanya dengan suara keras.

"Siapa kata tidak ada? Aku sekarang justru hendak mencari seorang yang akan segera kuperlihatkan padamu!"

Hoa Peng buru buru memejamkan matanya, katanya lambat lambat.

"Kau hendak mencari siapa? Apakah si tabib terbang yang kau maksudkan?"

"Benar, aku justru sedang hendak mencari dia!"

Mata Hong Sie Nio kini memancarkan sinar terang, katanya pula.

"Si tabib terbang itu, dalam hal mana yang tidak sebanding dengan Siau cap it long? Bukan saja kepandaian ilmu meringankan tubuhnya sangat tinggi, dan ilmu jari tangannya yang hebat, sepuluh Siau cap it long barangkali juga tidak dapat dibandingkan dengannnya"

Menurut cerita orang orang dunia Kang-ouw, sitabib terbang yang bernama Kongsun Leng itu, hanya dengan menggunakan kekuatan tenaga satu jari tangannya, dapat menahan larinya kuda.

Ilmunya meringankan tubuhnya boleh dikata menjagoi dalam rimba persilatan, ditambah lagi dengan ilmunya obat obatan dan tabibnya yang luar biasa, maka dalam rimba persilatan banyak orang menjunjung tinggi padanya.

Sitabib terbang Kongsun Leng ini kediamannya juga sangat ganjil.

Kediamannya itu ialah merupakan sebuah kuburan yang dibuat dari batu marmer, tempat tidurnya juga merupakan sebuah peti mati.

Ia anggap dengan cara begini paling mudah, nmati atau hidup tidak perlu menukar tempat lagi.

Dalam rumahnya didalam kuburan itu tidak ada barang lain, hanya seorang anak yang menjaga pintu, anak kecil itu juga sangat aneh bentuknya, ketika Hong Sie Nio tiba dikediamannya, ia mengajukan pertanyaan kepada anak penjaga itu.

"Kongsun sianseng adakah didalam atau tidak?"

Karena tidak mendapat jawaban, ia terpaksa bertanya lagi.

"Kongsun sianseng pergi kemana?"

Namun ia masihn tetap tidak mendapat jawaban, maka ia lalu bertanya lagi.

"kongsun sianseng hari ini pulang atau tidak?Kapan ia pulang?"

Ditanya hingga tiga empat kali, anak itu barulah menjawab dengan singkat.

"Tidak ada"

Hong Sie Nio sangat mendongkol sekali, hingga ia ingin sekali menamparnya barang dua kali saja.

Sebetulnya ia juga tahu bahwa sitab terbang kalau keluar pintu hanya mempunyai satu tugas saja.

ialah memeriksa orang sakit.

Adat tabib terbang itu meskupun sangat aneh, tetapi hatinya baik.

Ia juga tahu sebab tabib terbang diwaktu malam tidak mungkin tidur dilain tempat, ia sudah pasti akan tidur didalam peti matinya.

Maka itu sekalipun tidurnya itu tidak akan mendusin lagi, juga tidak perlu repot repot pindah kelain tempat.

Hong Sie Nio sebetulnya boleh duduk menunggu hingga tabib itu pulang tetapi seorang seperti Hong Sie Nio yang suka bergerak ini duduk didaerah perkuburan apalagi duduk diatas peti mati sebetulnya sangat tidak menyenangkan baginya.Maka itu, ia lebih suka duduk menunggu ditepi jalan.

Hari perlahan lahan mulai gelap, aingin meniup sudah mengandung rasa dingin.

Tempat Hong Sie Nio duduk menunggu ialah diatas sebuah bukit kecil, ia mencari ke suatu tempat yang lebih enak untuk merebahkan diri, dengan mata memandang jauh keatas angkasa, menantikan munculnya bintang yang pertama.

Sedikit sekali jumlahnya orang yang dapat melihat bagaimana bintang pertama itu mucul diatas angkasa.

Demikianlah orangnya dan sifatnya Hong Sie Nio, tidak perduli didalam keadaan bagaiamanapun, ia selalu dapat mencari pekerjaan yang menyenangkan baginya, sedikitpun tidak mau menyia nyiakan hidupnya.

Dalam dunia ini ada berapa orang yang mengerti dan dapat menikmati penghidupan?

malam telah larut, bintang bintang dilangit pada bermunculan.

Dalam cuaca yang gelap itu akhirnya terdengar suara langkah kaki yang berat, segera nampak oleh Hong Sie Nio, dua orang memikul sebuah tandu kecil berjalan melalui jalanan pegunungan, diatas tandu duduk seorang tua kurus kering berpakaian jubah kain kasar yang berwarna hijau.

Sikap orang tua itu sangat tenang, tampaknya letih sekali, ia memejamkanmata mungkin untuk menghilangkan letihnya.

Dua orang laki laki yang memikul tandu itu tampaknya letih sekali,napasnya memburu seperti napas kerbau sehabis membajak, ketika berjalan dihadapan bukit kecil dimana diatasnya rebah Hong Sie Nio, tukang tandu yang ada didepan berpaling dan berkata kepada kawannya.

"Didepan merupakan suatu jalanan gunung yang amat panjang, mari kita berhenti sebentar disini, baru mendaki gunung"

Kawannya yang berada dibelakang lalu menyahut.

"Dua hari ini semangatku menurun nanti kalau kita mendaki gunung, kita tukar tempat saja"

Memang kalau mengusung tandu, orang yang memikul dibelakang sudah tentu menggunakan tenaga lebih banyak. Sang kawan yang ada didepan berkata sambil memaki dan tertawa.

"Enak saja kau, kembali mau enaknya sendiri, Apakah tadi malam kembali kau main pacar pacaran dengan pacarmu?Kulihat cepat atau lambat satu hari kelak nanti kau mampus diatas perutnya"

Dua tukang tandu itu berkata kata dan tertawa tawa, sedang langkah kaki mereka sudah mulai lambat, sedang orang tua yang diatas tandu itu juga tahu entah benar benar tidur, entah tidak atau pura pura tidur untuk mendengarkan pembicaraan mreka.

Namun demikan matanya itu sama sekali belum pernah dibuka.

Tiba didepan tanah pegunungan, tukang tandu itu berhenti, dan perlahan lahan meletakkan tandunya.

Dengan mendadak, dua orang itu dalam waktu besamaan dari tiang tandu masing masing menghunus dua bilah pedang yang panjang dan kecil, dua bilah pedang menikam kedepan ulu hati siorang tua, sedang dua bilah pedang yang lain menikam belakang punggung orang tua itu!

KAKI SITABIB TERBANG Orang itu adalah sitabib terbang Kongsun Leng.

Sedang dua tukang tandu tadi sungguh tidak disangka sangka ternyata adalah orang orang rimba persilatana yang berkepandaian tinggi namun tidak ditunjukkan, cepatnya mereka bergerak, benar benar sangat mengagumkan.

Empat bilah pedang itu bergerak dengan berbareng, menikam dari depan belakang, atas dan bawah, dalam waktu sekejap mata saja, sudah menutup semua jalan mundur sitabib terbang, biar bagaimana hendak mengelak, ditubuhnya pasti tidak terhindar dari dua buah lubang.

Hong Sie Nio meskipun merupakan seorang Kangouw kawakan tapi tidak menduga akan terjadinya hal demikian, ia ingin memburu dan coba mencegah juga sudah tidak keburu lagi, ia mengira kali ini sitabib terbang barangkali akan mati ditangan mereka.

Siapa sangka pada saat yang sangat berbahaya itu tubuh sitabib terbang mendadak dimiringkan, dua bilah pedang telah lewat disamping tubuhnya, dua bilah yang lain baru mengenakan bajunya, tetapi sudah berhasil dijepit oleh dua jari tangan kiri dan dua jari tangan kanan, jari tangan itu bagaikan tangan besi yang menjepit sangat kuat.

Dua tukang tandu itu mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya juga tidak dapat bergerak sama sekali.

Sesaat kemudian, terdengar suara "tak!!"

Dua kali, dua bilah pedang tajam tadi sudah dipatahkan oleh jari tangan sitabib terbang.

Dua tukang tandu itu dalam keadaan terkejut, lalu lompat mundur dan jumpalitan sejauh dua tombak.

Sitabib terbang masih memejamkan mata tapi kedua matanya menyambit keluar, dua potong ujung pedang yang tergenggam ditangannya melesat dan berubah menjadi dua benda berkeredipan.

Kemudian disusul oleh dua kali suara jeritan ngeri.

Darah segar muncrat keluar dari tenggorokkan dua tukan tandu tadi, meskipun dua orang itu sudah mati, namun gerak melesatnya mereka masih tetap hingga darah merah berceceran ditanah.

Ketika suara jeritan itu berhenti, suasana kembali berubah menjadi sunyi senyap seperti semula belum ada kejadian itu.

Dalam suasana sunyi itu, tiba tiba terdengar suara tepuk tangan nyaring.

"Siapa?"

Bertanya sitabib terbang dengan suara bengis.

Sepasang matanya selalu terbuka lebar lebar, memancarkan sinarnya yang tajam, ditujukan ketempat dimana Hong Sie Nio sedang tempatkan diri, ia segera menampak wajah Hong Sie Nio yang sedang memandangnya dengan berseri seri.

Sitabib terbang mengerutkan alisnya, katanya.

"Oh, kiranya kau"

"Sudah banyak tahun kita tidak ketemu, tak disangka Kongsun Sianseng masih tetap gagah dan lincah seperti dahulu kala, tampaknya kepandaian ilmumu semakin banyak maju lagi"

Berkata Hong Sie Nio sambil tersenyum. Sepasang alis sitabib terbang semakin dikerutkan, katanya.

"Sie Nio, kau demikian meerendahkan diri terhadap aku situa bangka, apakah kedatanganmu ada maksud?"

Hong Sie Nio menghela napas, katanya menggumam.

"Jikalau aku berlaku baik kepada orang, orang mengatakan aku datang hendak minta pertolongan, jikalau berlaku tidak baik terhadap orang, orang mengatakan aku tidak sopan. Aiiih! Jaman ini benar benar tidak mudah menjadi orang"

Sitabib terbang mendengarkan dengan tenang diwajahnya tidak menunjukkan sikap apa apa.

"Sebetulnya aku hanya kebetulan lewat di tempat ini, tiba tiba kuingat dan ingin menengok kau, bagaimana juga, kita toh masih terhitung kawan kawan lama"

Berkata Hong Sie Nio.

Sitabib terbang masih tetap mendengarkan dengan tenang, tidak ada reaksi sedikitpun juga.

Hong Sie Nio mengawasi padanya sejenak, lalu menepok nepok pakaiannya sendiri dan berkata.

"Kau lihat, aku toch tidak sakit, tidak terluka, untuk apa aku harus minta pertolonganmu?".

"Sekarang bukankah kau sudah melihat aku?".

"Ya".

"Baik sampai ketemu lagi" . Hong Sie Nio mengedip-ngedipkan matanya, dengan tiba-tiba tertawa terkekeh-kekeh, dan berkata.

"Benar saja kau ini seperti rase tua, siapapun tidak dapat menipumu" . Kini sitabib terbang barulah tunjukkan tertawanya, kemudian berkata;

"Ketemu siluman perempuan seperti kau ini, aku juga terpaksa menjadi rase tua" . Sepasang mata Hong Sie Nio berputaran lalu berkata sambil menunjuk jenasah dua orang tadi yang ada ditanah..

"Tahukah kau siapa dua orang ini? Apa sebab ia hendak hendak membunuh kau?".

"Aku situa bangka seumur hidupku malang melintang didunia Kang ouw, membunuh orang tak terhitung jumlahnya, kalau ada orang membunuh aku, itu juga merupakan satu hal yang wajar, perlu apa aku harus mencari keterangan asal-usul mereka?" , menjawab si tabib terbang hambar.

"Aku sudah tahu bahwa kau tidak takut mati jikalau kau dibunuh oleh seorang tingkatan muda secara tidak terang, bukannya itu sangat mengecewakan?

Apakah kau kau tidak takut namamu yang sudah kesohor itu akan hancur lebur?".

Sepasang biji mata sitabib terbang tampak bergerak-gerak menatap wajah Hong Sie Nio lama sekali, dan lalu berkata dengan suara berat.

"Kau sebetulnya hendak suruh aku berbuat bagaimana?" . Hong Sie Nio dengan sikap tenang dan sambil berpeluk tangan berkata.

"Jikalau kau mau membantu aku, aku nanti akan membantumu mencari keterangan tentang musuh-musuhmu. Kau harus tahu mencari keterangan itu adalah keahlianku" . Sitabib terbang menghela napas, katanya sambil tertawa getir.

"Aku memang sudah lama tahu, kau mencariku tidak mungkin ada urusan baik".

"Tetapi kali ini benar-benar mengenai soal yang sangat baik" , berkata Hong Sie Nio sungguhsungguh. Ia berjongkok dihadapan tandu sitabib terbang, katanya pula.

"Bukan saja mengenai urusan baik, tetapi juga urusan besar, setelah urusan ini berhasil, kau dan aku semuanya akan mendapat kebaikan semua" . Sitabib terbang berdiam agak lama, diwajahnya tiba-tiba menunjukkan senyum getir, katanya lambat-lambat.

"Sudah tentu dikutung orang", jawabnya sitabib terbang sambil tertawa getir.

"Siapakah yang berbuat demikian kejam?", bertanya Hong Sie Nio.

"Aku sebetulnya juga suka membantu tenaga kepadamu, tetapi sayang kedatanganmu sudah agak terlambat" .

"Sudah terlambat? Kenapa?" , bertanya Hong Sie Nio sambil mengerutkan alisnya. Sitabib terbang tidak menjawab, sebaliknya ia membuka selimut yang menutupi bagian kakinya, Hong Sie Nio saat itu seperti dengan mendadak diguyur air dingin, sekujur tubuhnya menjadi kaku. Ternyata sepasang kaki sitabib terbang sudah dipotong orang sebatas lulut. Kepandaian ilmu meringankan tubuh sitabib terbang itu sudah terlalu tinggi sekali, itulah yang mendapat dia julukan tabib terbang. Kalau ilmunya yang dinamakan burung walet terbang diatas air ia keluarkan, benar-benar ia dapat menyambar burung terbang dengan tangannya, tetapi sekarang sepasang kakinya sudah dikutungi oleh orang. Hong Sie Nio benar-benar lebih terkejut daripada menyaksikan tanga Hoa Peng yang sudah terkutung juga oleh orang, maka ia lalu bertanya dengan sepasang mata yang membelalak.

"Apa artinya ini?"

"Siauw cap-it-long!"

Menjawab sitabib terbang, sepatah demi sepatah.

Hong Sie Nio mendengar disebutnya nama itu napasnya serasa berhenti, lama sekali ia dalam keadaan begitu, lalu dengan mendadak ia lompat bangun dan berkata sambil membanting kaki; "Aku tidak memikirkan dia, mengapa kalian hendak menyebut dia?".

"Kau seharusnya pergi mencari dia, hanya asal ia membantumu, urusan yang bagaimanapun besarnya tak usah takut tak akan berhasil?" , berkata sitabib terbang.

"Dan kau? apakah kau tidak ingin mencari dia untuk membalas dendam?" , bertanya Hong Sie Nio. Sitabib terbang menggeleng-gelengkan kepala dan berkata.

"Meskipun ia menganiaya aku, tetapi aku tidak sesalkan dia".

"Kenapa ?" . Sitabib terbang memejamkan sepasang matanya, tidak menjawab lagi. Lama Hong Sie Nio berdiam, baru terdengar suara elahan napasnya yang panjang katanya.

"Baik, kalau kau masih tidak mau membuka mulut juga, aku nanti akan ajak kau pulang saja".

"Tak usah".

"Mana boleh kau kata tak usah? Dengan keadaanmu seperti ini, dapat kau turun gunung ?".

"Laki-laki perempuan ada batasnya, aku tidak berani minta pertolonganmu, Sie Nio silahkan kau lanjutkan perjalananmu!" .

"Apa laki-laki dan perempuan ada batasnya? Aku selamanya juga tidak anggap aku sebagai orang perempuan, aku selamanya tidak perdulikan hal-hal semacam itu" , berkata Hong Sie Nio sambil mendelikkan matanya. Ia juga tidak perduli sitabib terbang itu mau tidak, sudah memondong dia dari tempat duduk diatas tandunya. Terhadap perempuan seperti Hong Sie Nio, sitabib terbang hanya bisa tertawa getir, tidak bisa berbuat apa-apa. Malam semakin larut, tanah kuburan itu tampaknya semakin menyeramkan, dikuburan dimana sitabib terbang berdiam, meskipun terdapat sinar lampu tetapi tampaknya seperti kelap-kelipnya api setan.

"Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa kau suka berdiam diri ditempat semacam ini?" , bertanya Hong Sie Nio.

"Bertetangga dengan setan adakalanya lebih aman daripada berkawan dengan manusia" , menjawab sitabib terbang.

"Itu memang benar, setan setidak-tidaknya tidak bisa mengutungi kedua kakimu" , menjawab Hong Sie Nio dingin. SEPATU PEMBUNUH Dalam kuburan itu meskipun ada pelita, tetapi tidak ada orangnya, kacung yang adatnya aneh luar biasa, yang oleh sitabib terbang ditugaskan menjaga pintu, kini juga entah kemana perginya. Yang paling mengherankan ialah, peti mati tempat tidur sitabib terbang itu juga tidak tertampak lagi. Apakah ditempat semacam itu juga ada pencuri yang datang menganggu? Hong Sie Nio yang menyaksikan itu semua tertawa sendiri.

"Pencuri ini juga lucu sekali, ia apapun tidak mengambil, hanya mencuri peti mati, sekalipun dia sedang kematian, juga tidak perlu datang kemari......"

Ia tidak menghabiskan ucapannya itu, sebab dengan tiba-tiba ia menampak tubuh sitabib terbang sedang gemetaran, dan ketika ia memperhatikan mukanya, juga sedang mengucurkan keringat dingin.

Hong Sie Nio segera merasakan bahwa urusan ini agak tidak beres, maka lalu bertanya sambil mengerutkan alisnya.

"..., Peti matimu apakah ada rahasianya apa-apa?". Sitabib terbang menganggukkan kepala.

"Kukira kau tidak mungkin seorang pengumpul harta, sudah tentu tidak mungkin kau menyimpan harta bendamu yang berupa uang atau barang permata yang disimpan dalam peti matimu, kalau begitu......"

Matanya mendadak membelalak dan berkata lagi.

"Aku tahu kau tentunya mengira bahwa dalam dunia ini tidak akan ada orang yang berani peti matimu, maka kau menyimpan kitab ilmu tabib dan pelajaran ilmu silatmu didalam peti mati, supaya kalau kau mati bisa ikut dikubur bersama-samamu" . Sitabib terbang kembali menganggukkan kepala, ia agaknya tidak mau mengatakan lagi. Hong Sie Nio menghela napas dan berkata.

"Aku benar-benar tidak mengerti, kalian orang-orang ini mengapa selalu egoistis, mengapa tidak mau menurunkan pelajaran sendiri...."

Belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar suara orang menghela napas kacung penjaga pintu yang aneh itu sudah kembali berdiri di ambang pintu.

Akan tetapi sekujur tubuhnya sudah penuh darah, lengan tangan kanannya juga terkutung, sepasang matanya memandang sitabib terbang seperti sudah tidak bercahaya, dengan suara serak dan terputus-putus ia mengucapkan nama seseorang.

"Siauw Cap it-long!" . Setelah mengucapkan perkataan itu, orangnya rubuh kekiri, sedang tangannya masih memegang sebuah sepatu, ia menggenggam demikian eratnya, sehingga matipun belum mau melepaskan. Siauw Cap it-long, kembali nama Siauw Cap it-long disebut oleh kacung tadi. Hong Sie Nio menjejakkan kakinya, katanya dengan suara gemas.

"Tak disangka dia..... dia telah berubah menjadi orang demikian. Aku selamanya juga tidak menduga ia bisa melakukan perbuatan demikian" . "Ini tidak mungkin perbuatannya!", berkata sitabib terbang.

Pandangan mata Hong Sie Nio kini ditujukan kepada sepatu itu.

Sepatu itu terbuat dari kulit sapi buatannya sangat indah dan halus, tetapi juga tidak sembarang orang yang dapat memakai sepatu semacam itu, biasanya hanya orang-orang sopan saja yang mengenakannya.

Sedangkan pendekar-pendekar rimba persilatan yang mengenakan sepatu semacam itu jumlahnya juga tidak banyak.

Hong Sie Nio menghela napas panjang katanya.

"Dia sebetulnya tidak pernah memakai sepatu semacam ini, tetapi setan yang tahu dia sekarang sudah berubah bagaimana macamnya!" .

"Siauw Cap it-long selamanya tidak bisa berubah" , kata sitabib terbang. Waktu itu meskipun Hong Sie Nio sedang cemberut mukanya, tetapi dibibirnya masih tersungging senyuman, katanya.

"Ini benar-2 suatu kejadian yang sangat aneh, ia telah mengutungi kedua kakimu, mengapa kau sebaliknya malah masih membela padanya dengan mengucapkan perkataan baik begitu?"

"Dia datang mencari aku dengan cara yang sopan dan seperti laki-2 jantan, ia melukai aku secara jantan, aku tahu dia juga seorang jantan, tidak mungkin melakukan perbuatan serendah ini."

Berkata si tabib terbang. Hong Sie Nio menghela napas, baru berkata.

"Kalau demikian halnya, kau seolah-olah lebih mengerti padanya dari padaku. Akan tetapi, bocah ini sewaktu hendak menghembuskan napasnya yang penghabisan, mengapa menyebutkan namanya?"

"Bocah ini tidak mengenal siapa Siauw Cap It Long, tetapi sebaliknya kau mengenal dia, jikalau kau dapat mengejar pembunuh itu kau nanti akan tahu siapa adanya dia."

"Bolak balik toh kau masih ingin minta aku pergi mengejar bangsat itu."

Si tabib terbang menundukkan kepala dengan sikap duka mengawasi ke arah pahanya yang tidak mempunyai sambungan lagi ke bawah. Di wajah Hong Sie Nio menunjukkan sikap simpatik, katanya.

"Baik aku nanti akan pergi mengejar hanya semata-mata untukmu, tetapi dapat menyandak atau tidak, aku sekarang tidak berani memastikan, kau tentunya tahu bahwa ilmu meringankan tubuhku tidak seberapa hebat, bukan?"

"Orang itu mengusung peti mati, pasti tidak bisa berjalan cepat, kalau tidak bocah ini juga tidak sampai mati. Bocah itu tentunya sudah dapat mengejar dan menyandak orang itu bahkan sudah berhasil memeluk kakinya."

Hong Sie Nio berkata sambil menggigit bibir.

"Apa sebab dia mau mengaku bernama Siauw Cap-it-long? Apa sebab ia telah membunuh bocah ini? Jikalau tidak demikian sekalipun dia telah mencuri delapan ratus perti mati aku juga tidak akan pergi mengejar."

Malam gelap keadaan dan suasana di tanah pegunungan sepi sunyi angin meniup kencang. Hong Sie Nio selamanya tidak suka menggunakan ilmu lari pesatnya sambil melawan angin kencang, sebab ia takut angin meniup di mukanya bisa-bisa membuat kulitnya jadi keriputan.

Tetapi sekarang dia malah berlari sedemikian pesat sambil melawan angin kecang ini bukanlah disebabkan ia hendak atau ingin cepat-2 dapat menyandak pembunuh dari kacung si tabib terbang melainkan hendak menggunakan angin dingin dan kencang itu untuk menghapuskan bayangan orang di dalam hatinya.

Waktu pertama kali ia bertemu dengan Siauw Cap-it-long, Siauw Cap-it-long masih merupakan seorang pemuda yang baru meningkat dewasa, sewaktu itu Siauw Cap-it-long dalam keadaan setengah telanjang, melawan derasnya air yang mengalir, ia coba menerjang air yang turun dari air terjun.

Ia mencoba berkali-kali, tapi entah sudah berberapa kali mengalami kegagalan, sampai satu kali ia sudah hampir berhasil, tetapi kemudian terpukul oleh air yang terjun dengan derasnya sehingga tubuhnya menumbuk sebuah batu, dan darah mengalir dari kepala dan tubuhnya.

Namun demikian, luka-luka itu tidak dihiraukannya, bahkan dibalutpun tidak, sambil menggertak gigi ia kembali menerjang air deras itu dah kali ini ternyata berhasil, ia dapat mendaki sampai di puncaknya gunung, berdiri diatas bukit sambil tertawa dan tepuk-tepuk tangan.

Sejak saat itu, dalam hati Hong Sie Nio selalu ditempati oleh bayangan Siauw Cap-it-long Betapapun kencangnya angin meniup, juga tidak dapat membuyarkan bayangan Siauw Cap-itlong.

Hong Sie Nio mengigigt bibir, hingga bibirnya dirasakan sakit, ia tidak ingin memikirkan orang itu, tetapi semakin ia tidak ingin memikirkan, bayangan itu semakin keras mengganggunya.

Dalam keadaan demikian, dengan tiba-tiba ia tampak bayangan orang sedang bergoyanggoyang tertiup angin.

Hong Sie Nio yang sedang terganggu pikirannya, apapun juga tidak melihat, ia lari sambil menundukkan kepala, dengan tiba-tiba seperti berpapasan dengan sebuah muka orang, dan yang aneh muka itu ternyata muka seorang yang melihat kebawah, dan dagunya menunjuk keatas, sepasang matanya yang penuh darah hampir melotot keluar, waktu itu sedang mengawasi padanya tidak berkesip, keadaan demikian benar-benar sangat menakutkan.

Betapapun besar nyalinya seseorang, kalau sudah menyaksikan muka yang demikian menakutkan, pasti akan terperanjat juga.

Hong Sie Nio dalam keadaan terkejut mundur sampai tiga langkah, dan buru-buru angkat kepala.

Waktu itu ia baru liat bahwa orang tadi ternyata digantung sepasang kakinya diatas pohon, sekarang entah dalam keadaan masih hidup ataukah mati.

Baru saja Hong Sie Nio hendak menggunakan tangannya untuk meraba lubang hidungnya, sepasang biji mata orang itu sudah bergerak berputaran; sedang dari tenggorokannya mengeluarkan suara gelopakan seperti ingin bicara.

Hong Sie Nio lalu menegornya.

"Apakah kau dibokong orang?"

Orang itu hendak menganggukan kepala juga tidak bisa, hanya kedip-kedipkan matanya dan berkata dengan suara terputus-putus. "Berandal....berandal...."

"Kau ketemu dengan berandal?"

Bertanya pula Hong Sie Nio Orang itu kembali mengedip-ngedipkan matanya.

Orang itu usianya belum tua, kumis dan jenggot diwajahnya habis dicukur, dibadannya mengenakan pakaian sangat perlente tapi wajahnya menunjukkan ia seorang buas dan jahat.

"Aku lihat kau sendiri mirip dengan berandal, jikalau aku menolongmu barangkali aku nanti malah kau rampok."

Berkata Hong Sie Nio sambil tertawa. Sepasang mata orang itu memancarkan sinar buas, namun ia masih berkata sambil tersenyum.

"Asal nona mau menolong aku nanti akan beri hadiah besar padamu."

"Kau sendiri sudah dirampok habis-habisan, barang apa yang akan kau hadiahkan padaku?"

Orang itu tidak bisa membuka mulut lagi, sedang keringat dingin dikepalanya sudah mengucur keluar. Hong Sie Nio tertawa dan berkata.

"Mengapa dalam pandanganku kau ini tidak mirip dengan orang baik? Tetapi aku juga tidak dapat melihat orang yang mau mati, tidak memberi pertolongan."

Orang itu tampaknya sangat girang, katanya.

"Terima kasih......terima kasih....."

"Aku juga tidak minta kau mengucapkan terima kasih padaku. Asal setelah aku menolong kau, kau jangan pikir bermaksud jahat terhadap diriku, itu saja sudah cukup."

Orang itu masih tidak hentinya mengucapkan terima kasih, tetapi sepasang biji matanya terus berputaran ditujukan ke dada Hong Sie Nio yang menonjol tinggi.

Hong Sie Nio juga tidak marah, sebab ia tahu bahwa kaum laki-laki kebanyakan memang bermata keranjang.

Ia segera lompat melesat keatas pohon, selagi hendak membuka tali yang mengikat sepasang kaki orang itu, dengan tiba-tiba ia melihat bahwa sepasang kaki orang yang diikat diatas pohon itu, yang satu hanya mengenakan kaos kaki, tidak ada sepatunya, bahkan diatas kakinya itu masih terdapat tanda darah.

Ketika ia melihat lagi, satu kakinya yang lain hanya mengenakan sebuah sepatu.

Sepatu yang terbuat dari kulit sapi itu, sama benar dengan sepatu yang dibawa oleh kacung si tabib terbang.

Hong Sie Nio tercengang.

Ia mendengar orang itu berkata.

"Nona, sudah berjanji hendak menolongku, mengapa tidak lekas bertindak?"

Mata Hong Sie Nio berputaran, tampaknya sedang berpikir, kemudian berkata. "Kupikir bolak-balik, masih merasa kurang tepat tindakanku ini."

"Mengapa kurang tepat?"

"Aku hanya seorang perempuan, melakukan apa-apa tak boleh tidak harus berhati-hati, sekarang ini malam sudah larut, sudah tidak mungkin ada orang berjalan lagi, Jikalau aku sehabis menolong kau, lalu kau......., nanti timbul hati jahat, bagaimana aku harus berbuat?"

"Nona jangan khawatir, aku bukanlah seorang yang jahat. Apalagi, kulihat gerakan nona tadi naik keatas pohon tadi, juga bukanlah seorang yang mudah dipermainkan."

Berkata orang itu sambil tertawa dibuat-buat.

"Tetapi sebaiknya aku berlaku hati-hati sedikit, sekarang kuperlu menanyakan padamu lebih dulu beberapa soal"

Orang itu jelas sudah merasa tidak sabaran, katanya.

"Kau hendak menanya apa?"

"Aku belum tahu siapakah namamu, dan darimana kau datang?"

"Aku seorang she Siauw, aku datang dari utara."

"Dan berandal yang menggantung kau disini, orangnya bagaimana macamnya?"

"Dengan terus terang, bagaimana macam orangnya itu sendiri aku sendiri juga tidak melihat, dan tahu-tahu sudah digantung disini oleh mereka"

Berkata orang itu sambil menghela napas. Hong Sie Nio mengerutkan alisnya, katanya lagi.

"Dan dimanakah kau taruh peti mati yang kau curi itu? Apakah juga sudah dirampok oleh kawanan berandalan itu?"

Wajah orang itu mendadak berubah, namun ia masih pura-pura tertawa dan berkata.

"Peti mati apa? ucapan nono ini aku sungguh tidak mengerti semua?"

Hong Sie Nio mendadak melompat turun, dan menampar kedua pipi orang itu demikian kerasnya, hingga mukannya kini menjadi bengap giginya juga rontok dan darah mengalir keluar dari mulutnya, sehingga orang itu menjadi marah dan bertanya.

"Kau sebetulnya siapa? Apa sebab kau memukul aku?"

"Hong Sie Nio tertawa hambar, katanya.

"Aku justru hendak menanya padamu, kau ini sebetulnya siapa? Mengapa kau mencuri peti mati si tabib terbang? Siapa yang menyuruh kau datang kemari? Apa maksudnya kau menggunakan nama Siauw Cap-it-long?"

Orang itu seperti dibacok, oleh Hong Sie Nio, kulit mukanya berkenyit, matanya memancarkan sinar buas, memandang Hong Sie Nio, giginya berkeretekan.

Hong Sie Nio berkata lagi dengan suara lebih terang .

"Kau tidak mau percaya betul tidak? Kalau begitu kuberitahukan padamu aku adalah Hong Sie Nio, barang siapa yang suda terjatuh di dalam tanganku tiada seorangpun yang tidak akan berbicara terus terang."

Orang itu kini baru menunjukkan sikapnya terkejut dan ketakutan, dari mulutnya mengeluarkan seruan.

"Hong Sie Nio! Kiranya kau ini adalah Hong Sie Nio ?"

"Kalau kau sudah mendengar namaku, seharusnya kau tahu bahwa ucapanku ini tidaklah bohong."

Orang itu menghela napas panjang, gumamnya.

"Tidak disangka hari ini aku telah bertemu dengan kau siluman perempuan. Baik, baik, baik ........"

Setelah berkata demikian, dengan mendadak ia mengertek giginya sendiri.

Sepajang mata Hong Sie Nio terbuka lebar ia masih ingin memegang dagunya tetapi sudah tidak keburu lagi.

Kini tampak mata orang itu mendelik, wajahnya sudah menjadi hitam tetapi ujung bibirnya menunjukkan senyum misteri biji matanya melotot keluar seolah-olah mengawasi Hong Sie Nio katanya dengan suara hampir tidak kedengaran .

"Apakah kau sekarang masih ada akal minta aku bicara?"

Orang itu ternyata lebih suka habiskan jiwanya sendiri dengan menelan obat racun, juga tidak mau menceritakan asal usul dirinya.

Jelas kalau dia pulang dalam keadaan hidup, derita dan siksaan yang akan diterimanya dari orang yang menyuruhnya tentu akan lebih celaka dari pada mati.

Urusan semacam ini memang bukan tidak ada, Hong Sie Nio sendiri juga sudah pernah melihatnya, tetapi obat racun yang bekerja demikian keras, ia masih jarang melihatnya.

Hong Sie Nio menjejak-jejakkan kakinya, katanya sambil tertawa dingin .

"Kau mati juga baik, bagaimanapun juga kau menyebutkan atau tidak, dengan aku tidak ada hubungannya sama sekali ..."

Dalam hatinya waktu itu hanya tinggal satu persoalan.

Siapakah yang menggantung penjahat ini?

Dan kemana dibawanya peti mati si tabib terbang?

SUARA NJANYI DITENGAH MALAM Ketika Hong Sie Nio kembali kekediaman sitabib terbang, peti matinya ternyata sudah berada didalam kuburannya lagi.

Apakah peti mati itu bisa terbang kembali sendiri?

Sudah tentu tidak.

Hong Sie Nio hampir tidak percaya kepada matanya sendiri, ia lompat maju dan bertanya dengan suara keras.

"Dengan cara bagaimana peti mati ini bisa kembali ?"

Sitabib terbang yang ditanya hanya tertawa saja kemudian baru berkata .

"Sudah tentu ada orang yang mengantarkannya kemari."

"Siapa ?"

Tertawa sitabib terbang agaknya semakin misteri katanya lambat-lambat. "Siaw Tjap-it-long !"

Hong Sie Niio kembali menjejak-jejakkan kakinya katanya dengan suara gemas .

"Lagi-lagi dia ! Kalau begitu orang itu tentunya dia juga yang menggantungnya ! Mengapa ia tidak menanyakan asal-usul oran gitu?"

"Ia tahu ada orang yang tidak mau menceritakan asal usul dirinya ditanyapun tidak ada gunanya,"

Berkata sitabib terbang hambar.

"Kalau begitu mengapa ia masih meninggalkan orang itu dijalanan dalam keaddan tergantung kedua kakinya ? Apakah dia sengaja meninggalkan untuk aku lihat ?"

Bertamya Hong Sie Nio marah. Sitabib terbang hanya tertawa tidak menjawab. Mata Hong Sie Nio menyapu keadaan sekitarnya, kemudian berkata .

"Sekarang di mana dia ?"

"Sudah pergi."

"Kalau ia tahu aku disini, mengapa ia tidak mau menunggu aku ?"

Bertanya Hong Sie Nio sambil mendelikkan matanya.

"Aku kata kau tidak suka menemui dia, maka ia terpaksa pergi."

Hong Sie Nio menggigit bibir, katanya sambil tertawa dingin .

"Benar, aku begitu melihat oran gitu lantas merasa sangat mendongkol ....... kemana ia pergi ?"

"Kalau kau tidak mau menemui dia perlu apa kau tanya dia pergi kemana ?"

Hong Sie Nio tercengang, mendadak mendadak mengangkat kakinya dan menendang meja, hingga terbalik, katanya dengan suara keras .

"Kau sirase tua ini, kuharap ia datang lagi untuk mengutungi kedua tanganmu !"

Sehabis berkata demikian, orangnya juga sudah lari kabur keluar dari kediaman sitabib terbang yang berupa kuburan. Sitabib terbang menghela napas panjang, mulutnya menggumam sendiri .

"Seorang wanita yang sudah berusia tiga puluh tahun tapi masih seperti kanak2 saja lakunya, ini benar-benar juga merupakan suatu hal yang sangat aneh ........"

Arak yang bernama daun bambu hijau, berada dalam cangkir keramik berwarna biru muda, hingga tampaknya seperti sepotong batu giok yang bening.

Bulan purnama berpancang diangkasa bagaikan piring perak bunda, rembulan sudah bundar, tapi mana orangnya ?

Wajah Hong Si Nio sudah menjadi merah, agaknya sudah sedikit mabok, sinar rembulan menembusi lubang jendela, ia lalu angkat muka, memandang rembulan yang bundar dan terang, hatinya terkejut.

"Apakah hari ini sudah tanggal limabelas?"

Demikian ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.

Tanggal limabelas bulan tujuh, itu adalah hari ulang-tahunnya, selewatnya malam ini, berarti usianya sudah tambah lagi satu tahun.

Usia tiga puluh empat tahun, bagi seorang wanita merupakan suatu jumlah angka yang sangat menakutkan.

Sewaktu ia masih berusia limabelas enambelas tahun, pernah memikirkan bahwa seorang wanita apabila sudah hidup tigapuluh tahun lebih, kalau hidup lagi juga tidak ada artinya, wanita yang sudah berusia tigapuluh tahun lebih, seperti bunga seruni bulan sebelas yang sudah layu, hanya menunggu rontoknya saja.

Akan tetapi ia sendiri sekarang tanpa disadari sudah berusia tigapuluh empat tahun.

Ia mau tidak percaya, namun tentunya tidak bisa lagi tidak percaya.

Sang waktu mengapa demikian cepat berlalu?

Di satu sudut dinding kamarnya ada sebuah cermin, ia memandang bayangan orang dalam cermin seperti patung, berdiri tanpa bergerak.

Bayangan orang dalam cermin itu tampaknya masih demikian muda, bahkan kalau tertawa, di ujung matanya juga tidak terdapat keriput, siapa pun tidak percaya bahwa ini adalah seorang perempuan yang sudah berusia tigapuluh empat tahun.

Akan tetapi, sekalipun ia bisa menipu mata orang lain, tetapi yang terang ia tidak bisa menipu dirinya sendiri.

Ia memutar diri, menuang araknya ke dalam cangkirnya penuh-penuh, sinar rembulan telah membuat bayangannya yang di tanah seperti panjang sekali, dalam hati dengan sekonyongkonyong teringat dua bait syair.

Syair itu demikian bunyinya.

"Mengangkat cawan mengajak rembulan minum arak, menghadapi bayangan menjadi tiga orang."

Dahulu ia selamanya tidak pernah merasakan betapa dalamnya maksud yang terkandung dalam syair itu.

Di luar rumah tiba-tiba terdengar suara tangisan anak.

Dahulu ia paling benci kepada suara tangisan anak, akan tetapi sekarang betapakah besarnya kerinduannya untuk mendapatkan seorang anak!

Ia benar-benar sangat mengharap bisa mendengar suara tangisan dari anaknya sendiri.

Sinar rembulan menyinari wajahnya, entah dari mana datangnya air mata di kedua pipinya?

Selama beberapa tahun terakhir ini, ia pernah beberapa kali ingin mencari seorang laki-laki sebagai suami, akan tetapi ia tidak bisa.

Laki-laki yang dijumpainya sebagian menjemukan bagi dirinya.

Demikianlah usia remajanya telah berlalu, lewat beberapa tahun lagi, laki-laki yang dahulu menjemukan itu, barangkali juga tidak mau lagi kepadanya.

Aih!

Beginilah nasibnya perempuan yang sudah berusia tigapuluh empat tahun.

Di luar pintu kembali terdengar suara tertawa dari seorang laki-laki.

Suara tertawa itu demikian kasar dan kerasnya, bahkan siapa pun yang mendengarnya dapat segera tahu bahwa orang itu sedang mabuk.

"Laki-laki ini entah bagaimana macamnya?"

Demikian ia coba bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.

Laki-laki itu pasti sangat kasar, jorok dan penuh bau arak.

Akan tetapi apabila laki-laki itu masuk ke dalam dan meminang dirinya, mungkin ia bisa menerima......

Seorang wanita yang sudah mencapai usia tigapuluh empat, pilihannya terhadap laki-laki tidak bisa sekeras seperti kalau ia memilih pria pujaannya pada usia duapuluh tahun.

Dalam hati Hong Si Nio bertanya-tanya kepada diri sendiri, di ujung bibirnya tersungging senyuman getir.

Malam semakin larut, di luar berbagai macam suara semua sudah tidak kedengaran lagi, kembali menjadi sunyi senyap.

Dalam kesunyiannya itu, dari jauh terdengar suara kentongan yang kedengarannya sangat menjemukan, tapi begitulah keadaan dalam desa pada setiap malamnya.

"Sudah waktunya harus tidur,"

Demikian Hong Si Nio berkata lagi kepada dirinya sendiri.

Ia lalu bangkit dari tempat duduknya, baru saja hendak menutup daun jendela, angin malam dengan tiba-tiba meniup masuk membawakan suara nyanyian seseorang, suara nyanyian itu kedengaran memilukan hati dan juga telah dikenal baik olehnya.

"Siauw Cap-it-long!"

Ia ingat, setiap kali bertemu dengan Siauw Cap-it-long, di mulutnya selalu menyanyikan lagu ini sangat perlahan dengan irama yang sama, waktu itu sikapnya bisa berubah demikian mengenaskan.

Dalam hati Hong Si Nio merasa terganggu, ia tidak ingin apa-apa lagi, secepat kilat ia sudah mengambil keputusan dan dengan tangan menekan meja, orangnya bagaikan anak panah sudah melesat keluar dari lubang jendela, meluncur ke arah dari mana datangnya suara nyanyian tadi.

Jalan raya yang panjang tampak sunyi senyap.

Didepan setiap pintu rumah hampir semua ada setumpukan abukertas yang habis dibakar, sewaktu angin meniup abu itu berterbangan mengikuti arah kemana angin berhembus dalam keadaan gelap itu juga tidak diketahui ada berapa banyak setan gentayangan yang berebutan abu kertas sembahyang itu.

Tanggal lima belas bulan tujuh menurut kepercayaan bangsa Tionghoa itu adalah saatnya setan-setan pada keluar dan sekarang pintu setan sudah terbuaka lagi, benarkah di dunia ini ada berbagai jenis setan?

Hong Sie Nio mengertek gigi mulutnya menggumam sendiri.

"Siauw Tjap-it-liong kau juga seperti setan keluarlah sekarang!"

Akan tetapi satu bayangan setanpun tidak ada dan suara nyanyian tadi juga sudah lenyap kembali. Hong Sie Nio berkata sendiri dengan suara gemas.

"Orang ini benar-benar seperti setan. Ia tidak suka melihat aku tapi membiarkan aku mendengar suara nyanyiannya?"

Pikiran Hong Sie Nio mendadak berubah kesepian tenaganya seperti sudah lenyap seketika, adal ia pulang minum beberapa cawan arak, mungkin bisa tidur hingga esok hari.

Dan besok, mungkin segala2nya sudah berubah semua.

Sebabnya seseorang bisa hidup terus, mungkin lantaran selalu ada harapan di hari esok.

SIAUW TJAP-IT-LONG Ketika Hong Sie Nio melihat sinar lampu dari jendela rumah, dalam hatinya timbul perasaan hangat yang tidak diketahui apa sebabnya, ia merasa seolah2 sudah pulang kerumahnya sendiri.

Seseorang pulang kerumah, lalu menutup pintu, itu seolah2 seperti sudah meninggalkan segala penderitaan harinya diluar pintu.....

mungkin inilah arti utam dari apa yang dinamakan rumah tangga.

"Tetapi benarkah ini rumah tanggaku? ini hanya sebuah kamar dari satu rumah penginapan saja."

Demikian Hong Sie Nio berkata kepada dirinya sendiri.

Ia menghela napas panjang, ia belum pernah tahu kapan baru mempunyai rumah tangga, huga belum pernah tahu kapan rumah tangganya nanti bakal dibangun.

Baru saja ia berjalan kebawah jendela, sudah terdengar suara orang didalam kamarnya.

"Keluar dari Yang-koan tiga ribu li jauhnya, selanjutnya pandang Siauw-long sebagai orang jalanan ..... Hong Sie Nio Hong Sie Nio, kupikir kau sudah melupakan diriku!"

Demikian suara dari dalam kamarnya itu. Sekujur tubuh Hong Sie Nio mendadak dirasakan panas, tanpa banyak berpikir lagi lantas lompat melesat masuk kedalam kamar, dan berkata dengan suara nyaring.

"Kau setan ini ....akhirnya kau toh unjuk muka juga!"

Secawan arak diatas meja ternyata sudah kosong.

Diatas pembaringan nampak rebah terlentang seseorang, dengan menggunakan bantal menutupi mukanya sendiri.

Orang itu menggunakan pakaian berwarna biru, tetapi sudah mulai agak keputih-putihan.

Dipinggangnya terdapat ikat pinggang kain warna biru tua, diikat pingganggnya itu tergantung sebilah golok.

Golok itu bentuknya lebih pendek dari golok biasa, sarung golok terbuat dari kulit berwarna hitam, sudah terlalu lama hingga warnanya tidak begitu terang lagi, tetapi masih agak baru tampakanya kalau dibandingkan dengan sepasang sepatunya.

Kakinya diangkat tinggi2, dibawah sepatunya terdapat dua lubang.

Dengan kakinya Hong Sie Nio menendang sepatu orang itu, katanya dengan raut muka cemberut.

"Setan malas dan mesum, siapa suruh kau tidur ditempat tidurku?"

Orang diatas pembaringan itu menghela napas, katanya menggumam.

"Bulan yang lalu aku baru mandi, orang ini ternyata masih mengatakan aku mesum......."

Hong SIe Nio tidak tahan rasa gelinya, hingga ia jadi tertawa lebar, tetapi secepatnya ia kembali cemberutkan muakanya, bantal yang tadi digunakan untuk menutup muka orang tadi ditariknya dan dilemparkan jauh2, katanya.

"Lekas bangun, supaya aku bisa liahat selama beberapa tahun ini kau sebetulnya sudah berubah jadi bagaimana rupamu?"

Bantal sudah dilemparkan, tapi orang diatas pembaringan itu menggunakan tangannya menutup lagi mukanya.

"Benarkah kau sudah tidak berani melihat orang?"

Bertanya Hong Sie Nio.

Orang diatas pembaringan itu cuma merenggangkan sela2 jari tangannya itu tampak sepasang mata yang penuh mengandung ejekan, katanya sambil tertawa.

Seorang perempuan yang sangat galak, pantas kau tidak laku kawin, tampaknya selain aku sudah tidak ada orang lain yang berani mengawini kau......"

Belum habis ucapannya, Hong Sie Nio sudah menampar dengan tangannya.

Orang di atas pembaringan itu mengerutkan tubuhnya, seluruh tubuhnya dengan mendadak pindah dan menempel di dinding tembok, seperti orang-2-an yang dibuat dari kertas berada di dinding, namun ia tidak bisa jatuh ke bawah.

Sepasang matanya yang bersinar tajam masih tetap mengandung maksud mengejek, orang itu beralis tebal, hidungnya mancung, di bawah hidungnya ada tumbuh kumis yang indah.

Orang laki itu sebenarnya tidak terhitung golongan orang tampan, namum sepasang matanya, bibirnya tersungging senyum mengejek, benar-2 penuh daya penariknya sebagai seorang laki-laki Hong Sie Nio menghela napas perlahan, katanya sambil menggelengkan kepala.

"Siauw Cap-it-long, kau masih belum berubah, benar-benar sedikitpun juga tidak berubah.... kau masih tetap seperti seorang bajingan besar...."

"Aku selalu masih mengira kau hendak menikah dengan aku si bajingan besar ini, tampaknya dugaanku itu telah keliru"

Kata Siauw Cap-it-long sambil tertawa. Wajah Hong Sie Nio menjadi merah, katanya dengan suara keras.

"Menikah denganmu? Aku bisa menikah denganmu? .... Orang-2 dalam duniah sudah mati semua, aku juga bisa menikah denganmu!"

Siauw Cap-it-long menghela napas panjang, katanya.

"Kalau begitu, aku sudah tidak perlu khawatir lagi!"

Tubuhnya merosot dari dinding tembok dan duduk kembali di atas pembaringan, katanya sambil tertawa. "Dengan sejujurnya, ketika aku mendengar kabar kau mencari aku, aku sebetulnya benarbenar ada sedikit takut; aku kini baru berusia dua puluh tujuh tahun, andaikata aku hendak kawin, aku juga akan mencari seorang gadis kecil yang beru berusia enam belas tahunan, orang seperti kau yang sudah nenek-nenek....."

Hong Sie Nio lompat bangun dan berkata dengan marah.

"Aku seorang nenek-nenek? Berapa tuaku coba kau katakan...."

Secepat kilat, ia sudah menghunus sebilah pedang pendek dari pinggangnya.

Sesaat kemudian, ia sudah menyerang Siauw Cap-it-long tujuh delapan kali.

Siauw Cap-it-long kembali harus melesat ke dinding tembok, kemudian melesat ke atas genteng, lalu seperti cecak raksasa menempel di atas genteng, katanya sambil menggoyanggoyangkan tangan.

"Jangan, jangan kau turun tangan, aku hanya main-main saja denganmu! Sebetulnya kau sedikitpun belum tampak tuanya, paling banyak baru empat puluh tahun usiamu!"

Hong Sie Nio berusaha hendak cemberutkan mukanya, namun ia tidak tahan rasa gelinya hingga jadi tertawa lagi, katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Masih untung aku tidak sering-sering melihatmu, jikalau tidak, aku benar-benar bisa mati kaku."

"Orang yang menyanjung-nyanjung kau sudah banyak jumlahnya, kalau ada seorang yang bisa membikin kau mendongkol hatimu, bukankah itu merupakan suatu hal yang cukup menyenangkan?"

Berkata Siauw Cap-it-long sambil tertawa.

Sementara itu orangnya sudah melayang turun kembali, namun sepasang matanya terus ditujukan kepada pedang di tangan Hong Sie Nio.

Itu adalah sebilah pedang pendek yang hanya satu kaki saja panjangnya, ujung pedangnya sangat tipis, dan memancarkan sinar berkilauan, pedang semacam ini paling cocok digunakan kaum wanita.

Jago pedang wanita Kong-sun Toa Nio yang terkenal namanya pada jaman kerajaan Tong, pedang yang digunakan olehnya juga adalah pedang semacam ini.

Siauw Cap-it-long mengawasi pedang pendek yang tajam itu, sedangkan Hong Sie Nio sebaliknya mengawasi terus sepasang mata Siauw Cap-it-long.

Tapi sekonyong-konyong ia membalikkan tangannya, dan membabat cangkir arak di atas meja.

Terdengar suara nyaring cawan arak keramik berwarna biru muda telah terbelah menjadi dua.

Siauw Cap-it-long berseru dengan pujiannya.

"Pedang bagus sekali."

Hong Sie Nio seperti tertawa namun bukan tertawa, katanya hambar.

"Pedang ini meskipun tidak bisa digunakan benar-benar untuk memotong besi sebagai tanah, tetapi masih terhitung boleh juga. Pedang pusakaku ini terlalu disayang oleh Siao-yao-hauw bagaikan benda pusaka yang sangat berharga, sekalipun untuk diperlihatkan saja kepada orang lain juga ia bisa merasa keberatan."

Siauw Cap-it-long mengedip-ngedipkan matanya, tanyanya sambil tertawa.

"Tapi, dia akhirnya toh memberikan juga pedang ini padamu. Betul tidak?"

"Sedikitpun tidak salah"

Menjawab Hong Sie Nio sambil angkat muka.

"Jikalau demikian halnya dia ternyata sudah menaksir dirimu"

"Apakah dia tidak boleh menaksir aku? Apakah aku benar-benar sudah sedemikian tua?"

Siauw Cap-it-long menghela napas dan berkata.

"Orang perempuan bisa menarik perhatian orang seperti Siauw-yao-hauw itu, sesungguhnya tidaklah mudah. Entah ia hendak mengambil kau akan dijadikan gundik yang keberapa?"

"Kentutmu......"

Berkata Hong Sie Nio marah.

Pedangnya kembali diangkat, namun Siauw Cap-it-long cepat cepat sudah mengkeretkan kepalanya.

Hong Sie Nio perlahan lahan menurunkan kembali pedangnya, matanya melirik kepada Siauw Cap it long seraya berkata.

"Kalau kau benar benar pintar seharusnya tahu asal usul pedang ini"

"Tampaknya pedang ini seperti pedang Na giok (batu giok biru) yang digunakan oleh murid kepala Kongsun Toa Nio Sin Beng Lan"

Jawab Siauw Cap it long. Hong Sie Nio mengangguk anggukkan kepala dan berkata.

"Kau bermata tajam"

"Tetapi pedang Na giok ini adalah sebilah pedang betina, kau sudah memiliki Na giok, seharusnya ada pedang timpalannya yang bernama Cek hee (batu giok warna merah) baru betul, kecuali..."

"Kecuali apa?"

Siauw Cap it long tertawa dahulu, kemudian baru berkata.

"Kecuali Siao yao hauw berat memberikan dua bilah pedang kepadamu"

"Jangankan dua bilah pedang ini, sekalipun aku menghendaki batok kepalanya ia juga akan menyerahkan dengan kedua tangannya"

Berkata Hong Sie Nio sambil pendelikkan mata.

"Kalau demikian halnya, pedang Cek hee itu dimana sekarang berada?"

"Biar kau membuka mata juga tidak halangan"

"Sebetulnya aku juga bukan benar benar ingin melihat, tetapi kalau aku tidak melihatnya kutakut kau kembali akan menjadi marah"

Siauw Cap it long tertawa lagi, lalu meneruskan.

"Ingatkah kau pada bulan sepuluh tahun itu? Hawa udara masih panas sekali, tapi kau mengenakan pakaian dingin datang menengok aku. Meskipun hawa panas sekali dan kau masih bersikap keras mengatakan bahwa kau masuk angin, hingga mau memakai pakaian yang tebal sediki..."

Berkata Siauw Cap it long pula sambil tertawa cekikikan. Hong SIe Nio marah, katanya.

"Kentutmu! apa kau kira aku hendak menyerahkan barang pusaka kehadapanmu?"

"Ada barang pusaka untuk dipersembahkan, bagaimanapun juga itu baik sekali, orang seperti aku ini yang tidak mempunyai barang pusaka untuk dipersembahkan, terpakasa mempersembahkan barang pusaka apa saja"

"Kau benar benar seperti pusaka hidup"

Berkata Hong Sie Nio sambil tertawa.

Sambil berkata demikian dia memutar diri, dari pinggangnya mengeluarkan sebilah pedang lagi, disarung pedangnya dihiasi dengan batu giok warna merah jambu.

SIauw Cap it long menyambut pedang itu, katanya sambil tertawa dan menggelengkan kepala.

"Barang barang yang dipakai oleh orang perempuan benar saja tidak lepas dari warna merah jambu"

Mulutnya berkata demikian, tangannya sudah menghunus pedang pusaka itu.

Sebilah pedang keluar dari sarungnya, sesaat itu dia berdiri tercengang.

Ternyata pedang Cek hee adalah sebilah pedang kutung.

Hong Sie Nio sebaliknya tidak menunjukkan perubahan sikap, dengan tenang dia mengawasi padanya, kemudia bertanya.

"Kau merasa heran?"

"Barang tajam demikian rupa bagaimana bisa terkutung?"

"Terkutung malah oleh golok!"

"Golok apakah itu? Mengapa demikian tajamnya?"

"Aku tahu kau begitu dengan ada golok baik, lalu hatimu lantas tertarik. Tetapi kali ini, aku justru tidak memberitahukan kepadamu, juga supaya jangan kau anggap aku menghadiahkan barang pusaka"

Biji mata SIauw Cap it long berputaran terus, lalu mendadak ia bangkit dan berkata.

"Melihat kau, aku lantas menjadi lapar, Jalan, aku undang kau makan malam."

GOLOK CIE TAY SU Diujung jalan raya, ada sebuah warung bakmi kecil.

Kabarnya warung bakmi itu sudah dibuka sejak beberapa puluh tahun berselang, bahkan tidak peduli hujan angin deras, tidak peduli tahun baru atau harian sembahyang apa saja, tukan mie itu belum pernah mengaso satu hari saja.

Oleh karena itu, maka orang orang yang suka pesiar diwaktu malam, semua tak usah khawatir akan kelaparan, disebabkan seandainya benar sampai pulang tak dapat pintu dari istri, setidak tidaknya masih bisa makan diwarung mie kecil itu sehingga kenyang.

Tukang mie seorang she Thio benar-benar sudah lanjut usianya, kumis jenggot dan rambutnya semua sudah berwarna dua, saat itu sedang duduk di bangkunya, dan minum mie kuahnya sambil menundukkan kepala, lenteranya yang terbuat dari kertas sudah menjadi berwarna kuning dan kehitam-hitaman, hal ini mirip sekali dengan wajahnya.

Langganan-langganan lama yang datang ke situ, semua sudah tahu bahwa orang tua itu selamanya tidak pernah menunjukkan sikap apa-apa kecuali jikalau ia sedang minta uang, juga sedikit sekali mendengar ia mengucapkan kata-kata.

Ketika Siauw Cap-it-long dan Hong Sie Nio tiba di warung kecil itu, Siauw Cap-it-long lalu berkata.

"Mari kita makan mie di sini saja?"

Hong Sie Nio mengerutkan alisnya, lalu berkata.

"Baiklah"

"Kau tak usah mengerutkan alis, mie daging sapi di sini kutanggung kau selamanya belum pernah makan."

Ia lalu mengambil tempat duduk di belakang sebuah meja yang sudah hampir rubuh, katanya dengan suara keras.

"Lao Thio, hari ini aku ada membawa tamu agung, bikinkan mie yang agak baik."

Si orang tua she Thio menolehpun tidak, ia hanya melirik Siauw Cap-it-long dengan mata yang tidak menunjukkan sikap apa-apa, seolah-olah mau berkata.

"Tak perlu kau tergesa-gesa, tunggu aku habiskan dulu mie kuahku ini."

Siauw Cap-it-long menggeleng-gelengkan kepala, katanya sambil tertawa.

"Orang tua ini adalah satu makhluk yang aneh, jangan kita ganggu dia"

Siauw Cap-it-long yang namanya menggemparkan rimba persilatan tidak berani mengganggu seorang tua penjual mie, ucapan ini keluar dari mulutnya sendiri, siapakah yang mau percaya?

Maka itu Hong Sie Nio merasa geli juga mendongkol.

Lama mereka menunggu si tukang mie tua she Thio barulah mengeluarkan dua piring sayur sepoci arak diletakkan di atas mejanya yang butut, setelah itu ia berjalan pergi lagi tanpa menoleh juga.

Hong Sie Nio tidak tahan rasa gelinya, ia berkata.

"Kau barangkali masih ada hutang arak padanya!"

Siauw Cap-it-long membusungkan dada, katanya sambil tertawa.

"Aku sebetulnya masih hutang padanya serenceng uang, tetapi kemarin dulu aku sudah lunasi...."

Hong Sie Nio memandang padanya lama sekali, baru menghela napas perlahan dan berkata.

"Orang-orang dunia Kang-ouw semua mengatakan bahwa Siauw Cap-it-long adalah seorang Kang-ow merangkap berandal besar yang turun tangan paling cepat dan padangan mata paling jitu selama lima ratus tahun ini, ada siapa yang tahu bahwa Siauw Cap-it-long hanya mengundang kawannya makan mie dengan daging sapi, bahkan ada kemungkinan masih perlu hutang"

Siauw Cap-it-long tertawa besar, katanya.

"Ada aku yang tahu, juga ada kau yang tahu, apakah itu masih belum cukup?.... Mari, minum secawan"

Begitulah orangnya Siauw Cap-it-long, ada orang memaki dia, ada orang membenci dia, juga ada orang yang suka dia, tetapi sedikit sekali orang yang mengerti jiwanya.

Ia juga tidak mengharapkan orang bisa mengerti akan dirinya, selamanya belum pernah memikirkan untuk diri sendiri.

Jikalau anda sebagai Hong Sie Nio, maka anda suka padanya atau tidak?

Hong Sie Nio memiliki suatu kelebihan yang paling baik.

Kalau orang lain minum banyak bisa menjadi mabok seperti orang sinting, atau sepasang matanya bisa menjadi lamur, tapi dia tidak.

Semakin banyak dia minum, sinar matanya sebaliknya semakin terang, siapapun tidak bisa mengetahui ia sudah mabuk atau belum.

Sebetulnya ia tidak terlalu kuat minum, tetapi sedikit sekali orang yang berani bertaruh minum dengannya.

Dan sekarang, sinar matanya demikian terang seperti lampu pijar, sepasang matanya terus menatap Siauw Cap-it-long, suatu ketika mendadak ia berkata.

"Kisah tentang golok itu, apakah kau tidak ingin dengar?"

"Aku sudah tidak ingin dengar lagi"

Menjawab Siauw Cap-it-long. Lama juga Hong Sie Nio mengendalikan perasaannya, akhirnya ia tidak sabar lagi dan bertanya.

"Mengapa kau tidak ingin dengar?"

"Sebab jikalau aku bilang mau dengar, kau bisa lantas tidak mau menceritakan. Sebaliknya jikalau aku kata tidak ingin dengar mungkin kau bisa menceritakannya sendiri kepadaku."

Belum habis ucapannya, Hong Sie Nio sudah tidak dapat menahan rasa geli dihatinya, hingga ia tertawa besar, sedang mulutnya memaki-maki.

"Kau ini benar-benar setan.... orang lain sering mengatakan bahwa aku adalah siluman perempuan, tetapi aku siluman perempuan ini jikalau bertemu dengan kau setan laki-laki ini juga tidak berdaya sama sekali."

Siauw Cap-it-long hanya menenggak araknya saja tidak menjawab.

Ia tahu bahwa saat itu ia tidak bisa menjawab.

Apabila ia menjawab sepatah saja, ada kemungkinan Hong Sie Nio tidak mau bercerita atau mengatakan apa-apa lagi.

Terpaksa Hong Sie Nio menyambung ucapannya sendiri, katanya.

"Sebetulnya, tidak perduli kau ingin dengar atau tidak aku tetap akan menceritakan juga padamu Golok itu namanya Kwa liok to!" .

"Kwa liok to?".

"Benar Kwa liok to!". Nama ini sunguh aneh dan baru pula, dahulu aku belum pernah mendengar nama semacam itu?".

"Sebab golok ini baru keluar dari perapian belum sampai setengah tahun".

"Sebilah golok yang baru saja dibuat ternyata sudah dapat mengutungkan benda pusaka kuno, kekuatan tenaga dalam orang yang membuatnya, apakah dibandingkan dengan seorang tukan membuat senjata tajam pada jaman perang?" . Hong Sie Nio tidak menjawab, sebaliknya ia bertanya.

"Sesudah beberapa pembuat golok kenamaan seperti Kan Tjiang, Bo Gee, Auw-tie Tju dan lain-lannya, masih ada satu tukang membuat pedang dan golok kenamaan yang tidak pernah muncul didunia Kang ouw Tahukah kau siapa dia?" .

"Apakah dia bukan Cie hujin?".

"Benar, tidak kusangka kau benar-benar mempunyai sedikit pengetahuan?".

Cie Hujin bukanlah seorang wanita, ia hanya seorang she Cie bernama Hujin.

Pedang yang digunakan Keng Ko untuk membunuh raja Cin, adalah pedang buatan dari Cie Hujin ini.

Sekarang mata Siauw Cap-it-long bergerak-gerak, tiba-tiba berkata.

"Golok Kwa liok to itu apakah dibuat oleh Cie lu Ci Cie taysu?".

"Kau juga tahu" , bertanya Hong Sie Nio heran. Siauw Cap-it-long hanya tertawa saja kemudian baru berkata.

"Cie Lu Cu adalah keturunan dari Cie Hujin, kau sekarang mendadak mengatakan tentang diri Cie Hujin, sudah tentu ada sedikit hubungannya dengan golok Kwa liok to itu" . Sinar mata Hong Sie Nio menunjukkan sikapnya yang memuji, katanya.

"Benar, golok Kwa liok to itu memang buatan Cie taysu. Lantaran golok itu, ia hampir saja menggunakan waktu dan tenaganya seumur hidup. Nama Kwa liok itu diambil dengan maksud.

"Kerajaan Cin kehilangan liok atau manjangan, orang-orang seluruh dunia pada mengejar, hanya yang menang dan mendapatkan manjangan dan memotongnya. Maksudnya juga, hanya seorang pendekar nomor satu yang dinamakan Kwa liok to ini!. Ia terhadap goloknya ini terlalu bangga, disini kita dapat membayangkan sendiri" . Sepasang mata Siauw Cap-it-long memancarkan sinar terang, tanyanya cemas.

"Kau tentunya sudah pernah melihat golok itu?" . Hong Sie Nio memejamkan mata, menghela napas panjang dan berkata sambil tertawa..

"Itu benar-benar sebilah golok pusaka, pedang Cek-hee ketemu dengannya seolah-olah berubah menjadi besi karatan" . Siauw Cap-it-long lebih dulu mengeringkan arak dalam cawannya, kemudian berkata sambil menepuk meja.

"Golok pusaka seperti itu, entah aku ada jodoh melihatnya atau tidak?". "Kau sudah tentu masih ada kesempatan dapat melihatnya". Siauw Cap-it-long tiap-tiap menghela napas kemudian berkata.

"Aku tidak kenal dengan Cie-taysu, dengan cara bagaimana ia mau memperlihatkan golok pusakanya kepada orang yang belum pernah dikenalnya?" .

"Golok itu sekarang tidak berada ditangan Cie Lu cu".

"Lalu ada dimana?".

"Aku sendiri juga tidak tahu" . Siauw Cap-it-long kali ini benar-benar tercengang, ia mengangkat cawan araknya, lalu diletakkan kembali, ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan berputaran kemudian duduk lagi, lalu mengambil sepotong daging sapinya, sudah lupa dimasukkan kedalam mulutnya. Hong Sie Nio tertawa geli, katanya.

"Tak kusangka aku juga bisa mendapat kesempatan menyaksikan kau demikian cemas. Bagaimanapun juga, kalau masih muda tentu tidak dapat menahan kesabarannya" . Siauw Cap-it-long mengawasi Hong Sie Nio sambil kedip-kedipkan matanya, kemudian berkata.

"Kau kata aku seorang muda? Aku ingat kau masih muda dua tahun daripadaku" . Hong Sie Nio memaki-maki sambil tertawa.

"Setan kecil, kau jangan coba menyanjung-nyanjung aku lagi!, Aku lebih tua daripadamu lima tahun, empat bulan dan tiga hari, kau seharusnya panggil aku enci baru benar" .

"Enciku, kau ingat demikian jelas?", berkata Siauw Cap-it-long sambil tertawa getir.

"Adik, kau masih tidak lekas menuangkan arak untuk encimu?".

"Ya ya ya ya ku akan tuangkan arak" . Hong Sie Nio melihat menuangkan arak, baru berkata sambil tertawa.

"Ha..... itulah baru namanya adikku yang baik" . Ia sedang tertawa, tapi dimatanya toh masih menunjukkan sikap sedih, sehingga air matanya seolah-olah hendak mengalir keluar, ia mengangkat kepala dan minum kering arak dicawannya, baru berkata lagi lambat-lambat.

"Golok Kwa-liok-to itu kini sedang dalam perjalanan menuju kedaerah ini" . Siauw Cap-it-long panik mendengar ucapan itu, hampir saja araknya tertumpah diatas meja, tanyanya pula dengan sikap cemas. Disepanjang jalan ada orang yang melindungi golok itu atau tidak? ".

"Golok pusaka yang demikian kesohor, mana bisa tidak ada orang melindunginya?".

"Siapakah orang yang melindunginya?". "Thio Bu Kek......". Baru saja Hong Sie Nio mengucapkan nama itu, Siauw Cap-it-long sudah merasa tertarik, lalu memotongnya .

"Thio Bu Kek ini, apakah bukan ketua golongan Bu kek dahulu?".

"Kalau bukan dia siapa lagi?" . Siauw Cap-it-long diam sesaat lamanya barulah perlahan-perlahan menganggukkan kepala, agaknya sudah menetapkan suatu rencana dalam hatinya. Hong Sie Nio terus menatap wajahnya, memperhatikan perubahan sikap pada wajahnya, kemudian berkata pula.

"Kecuali Thio Bu Kek, masih ada lagi Koan tong tayhiap To Siao Thian, satu-satunya tokoh jago pedang golongan Hay lam yang bernama Hay leng cu" .

"Sudah cukup, tiga orang ini saja sudah cukup".

"Tetapi mereka masih belum anggap cukup, maka mengundang lagi Su-khong Koan yang mendapat nama julukan raja garuda lengan satu dengan satu tangan dahulu pernah membinasakan delapan penjahat besar, yang membuat namanya jadi tekenal" . Siauw Cap-it-long tidak berkata apa-apa lagi. Hong Sie Nio masih terus menatap wajahnya, katanya pula.

"Ada empat orang ini yang melindungi golok pusaka itu, dalam dunia rimba persilatan pada dewasa ini, barangkali sudah tidak ada orang yang berani merampas golok itu lagi" . Siauw Cap-it-long mendadak tertawa besar katanya.

"Bolak-balik kau berkata, ternyata cuma ingin memanaskan hatiku supaya dapat merebut golok itu untukmu" .

"Apa kau tidak berani?".

"Kalau aku merebut golok untuk kau, golok itu selanjutnya akan menjadi milikmu, dan aku masih tetao bertangan hampa!" . Hong Sie Nio menggigit bibir, katanya.

"Mereka memasuki benteng ini dengan membawa dan melindungi golok itu, tahukah kau apa sebabnya?" . Siauw Cap-it-long menggeleng-gelengkan kepala, katanya sambil tertawa.

"Tidak tahu, dan aku juga tidak perlu tahu. Sebab, biar bagaimana mereka tentunya tidak akan mungkin mau memberikan golok itu kepadaku."

"Taruhlah kau tidak berani merampas golok itu, apakah kau juga tidak ingin melihatnya saja?"

"Tidak!"

"Kenapa?"

Jilid 2_________ "Jikalau aku sudah melihat golok itu, mau tidak mau akan tergerak dan tertarik hatiku.

Dan kalau sudah begitu, mau tak mau tentu akan timbul juga pikiran jahat untuk merampasnya.

Kalau tidak berhasil, maka akibatnya akan kehilangan nyawa."

"Dan bagaimana jikalau berkasil kau rampas ?"

"Jikalah ku berhasil merampasnya, kau tentunya akan minta padaku. Meskipun aku merasa berat, juga tidak enak tidak kuberikan kepadamu. Maka itu, sebaiknya aku tidak usah melihatnya saja."

Kata Siauw Cap-it-long sambil menghela nafas. Hong Sie Nio berbangkit sambil menjejakkan kakinya, katanya dengan suara gemas bercampur dongkol .

"Kiranya kau demikian tidak ada gunanya. Aku benar-benar salah ukur terhadap dirimu, Baik, kalau kau tidak mau, biarlah aku sendiri yang pergi, biar tidak ada kau, kau boleh lihat aku bisa mati atau tidak."

"Sifatmu yang setelah melihat barang baik, lantas ingin dapatkan, benar-benar aku tidak tahu sampai kapan bisa kau rubah."

Berkata Siauw Cap-it-long sambil tertawa getir.

Raja garuda lengan satu.

KOTA ITU tidak besar, tetapi cukup ramai, sebab kota itu merupakan pusat yang harus di lalui oleh para pedagang yang pergi atau pulang, dari daerah luar benteng dengan daerah Tiong-goan.

Pedagang-pedagang kolesom, kulit dan kuda dari daerah Koan-tong, pedagangpedagang mas yang hendak mendatangkan barang mas dari gurun pasir kedaerah Tiong-goan, hampir semuanya singgah satu atau dua malam di tempat itu.

Justru lantaran banyaknya pedagang yang lalu lintas dan singgah di kota itu, barulah menjadikan kota itu luar biasa ramainya.

Di kota itu ada dua hal yang paling ter.

Satu ialah soal makan, kaum pria di dalam dunia ini jarang sekali yang tidak suka makan enak.

Disini terdapat berbagai macam makanan yang berbeda-beda jenisnya, untuk memenuhi selera para tamunya.

Daging kambing dikota itu bahkan lebih gemuk dan lebih murah dari daging kambing yang terdapat di kota raja, rumah makan Ngo-hok-lauw terkenal dengan hidangannya apa yang dinamakan kepala singa dimasak asam manis, hidangan dari rumah makan itu tidak kalah dengan hidangan di kota Hang-ciu yang terkenal.

Sekalipun tamu yang paling cerewet, disini juga akan merasa puas.

Kedua sudah tentu soal perempuan, perempuan yang dimaksudkan disini ialah perempuan golongan "P" , kaum pria di dunia ini sedikit sekali jumlahnya yang tidak suka perempuan, Disini terdapat berbagai tingkat kaum wanita golongan "P".

Orang boleh pilih sesukanya, yang sesuai dengan keinginannnya.

Disuatu kota hanya mempunyai dua rupa hal yang terkenal, meskipun tidak terhitung banyak, tetapi kedua hal itu sudah cukup menarik perhatian buat banyak kaum lelaki yang singgah disitu.

Satu rumah makan yang bernama In-tek-goan, pemiliknya bernama Ma Hwe Hwe bukan saja bisa membuat daging dari seekor sapi, bisa di jadikan sebanyak seratus delapan macam sayuran yang berlainan rasa, tetapi juga merupakan salah seorang terkenal sebagai jago gulat di daerah luar bentengan.

Rumah makan In-tek-goan tidak terlalu besar, hiasan dan perlengkapannya juga tidak terlalu indah.

Tetapi pemiliknya Ma Hwe-Hwe, dengan ikat pinggang kulit sampingnya yang lebar, dengan batok kepalanya yang botak, berdiri di depan pintu sambil memegang perutnya yang gendut, merupakan reklama hidup dari rumah makan tersebut.

Orang-orang kalangan kang-ouw yang melalui kota itu, jikalau tidak berkunjung ke rumah makan In tek-goan untuk minum secangkir dua cangkir arak, dengan Ma Hwe-Hwe seolaholah kurang berarti.

Pada hari-hari biasanya meskipun Ma Hwe Hwe juga selalu menunjukan wajahnya berseriseri semangatnya yang selalu segar tetapi hari itu Ma Hwe Hwe lebih gembira.

Hari belum lagi terlalu terang, Ma Hwe Hwe sudah tidak henti-hentinya berjalan keluar rumah makannya, matanya selalu ditujukan ke jalan raya seolah-olah sedang menantikan kedatangan tamu agung.

Hampir menjelang hari petang, dari jalan raya benar saja mincul sebuah kereta kuda yang di cat hitam, kereta itu ditarik oleh empat ekor kuda besar, larinya pesat sekali berjalan di jalan raja yang banyak orang lalu lalang juga tidak mengendurkan lari kudanya.

Untung kusir kereta tampaknya cukup pandai mengendalikan kudanya.

Juga lantaran empat ekor kuda yang menarik kereta itu merupakan kuda-kuda jempolan yang disah terlatih dengan baik, maka meskipun kereta itu larinya pesat, tapi tidak sampai menimbulkan kecelakaan lalu lintas.

Di jalan raya itu meskipun tidak sedikit jumlahnya kereta kuda yang mondar-mandir tetapi kereta kuda yang demikian besar dan mewah masih jarang tampak, sudah tentu menarik banyak perhatian dari penduduk dan tamu dari luar kota yang berada di kota itu, mereka pada keluar menyaksikan dengan perasaan terheran-heran.

Kereta mewah itu baru berhenti di depan rumah makan In tek-goan, Ma Hwe Hwe sudah maju menyongsong, dan dengan wajah berseri-seri membuka pintu keretanya.

Orang-orang yang menyaksikannya, pada merasa heran, meskipun Ma Hwe Hwe seorang pedagang, tapi biasanya tidak mau merendahkan derajat sendiri, untuk menyongsong setiap tamunya, hari ini mengapa kelakuannya demikian hormat terhadap tetamu yang di dalam kereta itu ?

Orang pertama yang turun dari atas kereta ialah seorang laki laki setengah baya bermuka putih dan di bawah hidungnya tumbuh kumis yang jarang, mukanya yang bulat sering-sering unjukkan senyumnya, tubuhnya yang sudah mulai gemuk mengenakan jubah panjang sutera hijau berkembang-kembang yang sepadan sekali dengan tubuhnya, sikap orang ini tampak ramah, tampaknya seperti keturunan raja-raja atau kongcu yang sedang pesiar dalam pakaian preman.

Ma HWe Hwe segera mengangkat kedua tangannya memberi hormat, seraya berkata sambil tersenyum .

"Thio tayhiap datang dari tempat yang jauh, tentunya sudah letih sekali, silakan dulu didalam."

Laki-laki setengah baya itu juga membalas hormat sambil tersenyu, dan berkata . "Tuan Ma terlalu merendahkan diri, silakan."

Orang banyak, terutama orang-orang dari kalangan Kang ouw yang pada berdiri berjubal menonton di tepi jalan, ketika mendengar ucapan Ma Hwe Hwe dan sebutannya kepada terhadap orang itu, dalam hari samar-samar sudah dapat menduga siapa adanya laki-laki setengah baya itu, hingga mata mereka tampak terbuka semakin lebar.

Apakah orang ini adalah ketua dari golongan Bu-kek, Thio Bu Kek yang dengan satu tangan dengan ilmunya Sian-thian-bukek, dan ilmu pedang Bu-kek-kiam pernah menggemparkan rimba persilatan ?

Dan siapakah orang kedua yang akan turun dari kereta itu ?

Orang kedua yang turun dari kereta itu adalah seorang tua berambut putih, orang tua ini dandanannya sederhana, hanya baju atas berwarna abu-abu, bagian bawah mengenakan pakaian berwarna biru, selain dipinggangnya dengan ikat pinggang warna putih, ditangannya membawa pipa rokok panjang, tampaknya seperti orang desa yang sangat bodoh, tetapi kalau sepasang matanya bergerak, memancarkan sinar yang menakutkan.

Ma Hwe Hwe segera membungkukkan badan dan tertawa sambil berkata .

"To loya, beberapa tahun tidak lihat, keadaan loya tampaknya semakin sehat."

Orang tua itu mengangkat kepala dan tertawa terbahak-bahak .

"Semua ini adalah berkat kawan-kawanku yang masih hidup."

Orang tua itu seorang she To, tentu dia adalah orang yang berdiam di Koan-tong selama empat puluh tahun, pipa panjang ditangannya itu selain berfungsi sebagai pipa rokok, tetapi juga khusus digunakan untuk menotok jalan darah ditubuh manusia, di kalangan Kang-ouw mendapat julukan Koan-tong tayhiap tukang totok jalan darah, nama yang sebenarnya ialah To Siao Thian!

Dalam kereta ada dua orang yang terkenal namanya itu, mungkinkah orang ketiga adalah seorang lemah ?

Orang banyak pada kasak kusuk, membicarakan kedatangan orang-orang itu, perhatian mereka menjadi besar.

Orang ketiga yang turun dari kereta adalah seorang imam jangkung dan kurus kering.

sedang hidungnya seperti hidung betet dan pelipisnya tampak menonjol.

Dia seorang beribadat, tetapi pakaiannya sangat mewah, pada jubahnya yang berwarna ungu, terdapat sulaman benang emas, di belakang punggungnya mencoren sarung pedang yang terbuat dari kulit ikan paot, di bagian atas dilapis dengan mas,pedangnya juga merupakan sebilah pedang panjang yang bentuknya aneh.

Sepasang matanya yang sipit selalu memandang ke atas, seolah-olah tidak pandang mata kepala semua orang.

Ma Hwe Hwe menunjukkan sikapnya yang lebih menghormat, katanya sambil membongkokkan badan.

"Boanpweh sudah lama dengar nama besar Hay totiang, hari ini bisa bertemu sebetulnya merasa sangat beruntung sekali!"

Imam tua itu memandangpun tidak, hanya mengangguk-anggukkan kepada dan menyahut dengan seenaknya.

"Hm, hm!"

Hay hotiang?

apakah imam itu yang mendapat julukan Hat leng cu?

Ilmu pedang dari golongan Hay-lam, terkenal dengan gerakannya yang cepat dan aneh, jago pedang golongan Hay-lam, semuanya juga mempunyai sifat yang aneh-aneh, selamanya tidak suka mengadakan perhubungan dengan orang-orang golongan lain.

Dalam pertempuran di pulau tong-ya pada tujuh tahun berselang, yang pernah menggemparkan rimba persilatan.

pocu pulau itu dengan tiga belas muridnya, semua terbinasa di bawah pedang golongan Lam-hay, akan tetapi sembilan tokoh golongan Lam-hay juga mati hanya tinggal Hay-leng-cu seorang yang masih hidup, sejak pertempuran itu, nama Hay-lengcu semakin kesohor, tetapi juga semakin tidak pandang mata orang lain.

Mengapa hari ini ia bisa datang bersama-sama dengan Thio Bu kek dan thio Siao Thian?

Yang paling mengherankan ialah, tiga orang itu setelah turun dari keretenya tidak ada satu yang langsung masuk ke dalam, semuanya pada berdiri di pinggir pintu, rupanya mereka masih menunggu turunnya orang keempat.

Lama sekali, dari dalam kereta baru tampak turun seorang lagi.

Orang itu begitu turun dari keretany6a, semua pada terkejut.

Orang itu sesungguhnya terlalu aneh.

Tinggi tubuhnya tidak cukup lima kaki, namun kepalanya besar sekali, rambut diatas kepalanya yang awut-awutan dengan alisnya yang tebal hampir menjadi satu garis, mata kirinya memancarkan sinar berkilauan, namun mata yang kanan tampaknya tidak bercahaya seperti mata ikan yang sudah mati.

Di atas bibir kumisnya tumbuh seperti rumput tak karuan tebal dan merah bagaikan darah.

Lengan kanannya sudah terkutung sebatas bahu, yang tinggal hanya sebuah lengan kiri yang panjangnya sangat menakutkan, jikalau diluruskan mungkin dapat mencapai ujung kakinya.

Tengannya itu masih menenteng sebuah bungkusan panjang yang terdiri dari kain berwarna kuning.

Kali ini Ma Hwe Hwe tidak berani mengangkat muka sama sekali, dengan sikap yang sangat hormat sekali, ia berkata sambil tertawa.

"Dengar kabar locianpwe hendak datang maka teecu sengaja memilih seekor sapi jantan ..."

Dengan sikap kemalas-malasan orang berlengan satu itu mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata.

"Sapi jantan lebih baik dari pada sapi betina, tetapi entah dalam keadaan mati, ataukah masih hidup?"

"Sudah tentu masih hidup. teecu sengaja tingglkan untuk locianpwe dahar dalam keadaan segar."

Menjawab Ma Hwe Hwe dengan muka berseri-seri.

"Bagus, bagus! Mempunyai cucu seperti kau ini, masih boleh juga, masih mengerti caranya menghormati orang tua"

Berkata orang berlengan satu itu sambil tertawa besar.

Ma Hwe Hwe dianggap sebagai cucu, ternyata masih menunjukkan sikap yang sangat girang, orang yang tidak mengetahui asal usul orang tua berlengan satu itu, dalam hati sedikit banyak tidak habis mengerti.

Tetapi ada sebagian orang yang sudah menduga siapa adanya orang tua berlengan satu itu, dalam hati sebaliknya anggap Ma Hwe Hwe sangat beruntung, sebab bisa dianggap cucu oleh orang yang mempunyai nama julukan raja garuda lengan satu, sebetulnya bukan suatu soak yang sangat mudah.

Dibagian belakang rumah makan In tek goan, ada sebuah pekarangan kecil, disediakan khusus untuk tamu-tamu agung, didalam pekarangan itu ada sebuah gunung-gunungan itu ada beberapa pohon besar.

kini dibawah pohon besar itu ada seekor sapi yang dicancang dengan tambang besar.

Sapi itu luar biasa besarnya, sepasang tanduknya besar dan runcing, seolah-olah dua bilah golok.

Bungkusan kuning ditangan raja garuda lengan satu tadi, kini entah emana disimpannya, saat itu ia sedang berputaran mengitari sapi jantan itu, sedang mulutnya mengeluarkan suara cericisan, berkata tidak berhentinya.

"Bagus, bagus, ......."

To Siao Thian yang menyaksikan itu berkata sambil tersenyum.

"Saudara Su-khong, kalau sudah merasa puas, mengapa masih belum turun tangan?"

"Kau si tua bangka tidak berguna ini, apa ingin menonton pertunjukkanku?"

Berkata si raja garuda berlengan satu sambil tertawa cekikikan.

Kemudian dengan tiba-tiba ia melambaikan tangannya di depan mata sapi jantan itu.

Keruan saja sapi itu yang mendadak dikejutkan, menundukkan kepala, dengan kedua tanduknya yang runcing menyeruduk perut si raja garuda.

Si Raja Garuda membentak sambil tertawa besar.

"Bagus!"

Sementara itu, tubuhnya yang pendek mengelak, entah dengan cara bagaimana, ia sudah berada di perut sapi, sedang satu tangannya yang panjang bergerak, ternyata sudah masuk ke dalam perut sapi besar tadi.

Sapi jantan yang merasa kesakitan, lompat-lompatan ke atas, sehingga tambang besar yang mengikat lehernya telah terputus, sapi itu menerjang ke depan, darah segar mengucur keluar dari bawah perutnya dan dalam keadaan kalap sudah menubruk dinding tembok pekarangan.

Dinding tembok itu diseruduk sehingga terjadi sebuah lubang, sebagian tubuh sapi jandan itu masuk ke lubang tadi.

Sapi itu meronta-ronta seperti kalap, tapi karena darahnya mengucur terlalu banyak, akhirnya tidak bisa bergerak lagi.

Pada saat itu, hati sapi besar tadi sudah berada di tangan si Raja Garuda lengan satu.

Ia tertawa besar dan membuka mulutnya, hati sapi yang baru dirogoh dari perutnya itu telah dimakan begitu saja.

Suara mengunyah hati sapi yang baru dikeluarkan dari dalam perutnya itu kedengarannya begitu keras, benar-benar dapat membuat bulu roma orang yang melihatnya.

Hay leng cu yang menyaksikan perbuatan si Raja Garuda Lengan Satu, mengerutkan alisnya, ia berpaling tidak berani mengawasi lagi.

Si Raja Garuda Lengan Satu tampaknya sangat bangga sekali, ia berkata sambil tertawa cekikikan.

"Kau tidak perlu mengerutkan alismu, dengan orang seperti kau, jikalau ingin makan hati sapi hidup-hidup secara demikian, barangkali tidak mudah, sedikitnya kau masih perlu melatih ilmu cengkeraman kaki garuda sepuluh tahun lamanya."

Di wajah Hay leng cu yang angkuh tampak marah, katanya dingin.

"Aku tidak perlu melatih segala ilmu cengkeraman kuku garuda."

Si Raja Garuda Lengan Satu pendelikkan matanya dan berkata.

"Kau tidak perlu mempelajari atau melatih, apakah kau tidak pandang mata ilmu cengekeraman kuku garuda loyamu ini?"

Sebelah tangannya yang masih berlumur darah segera sudah menyambar kepada Hay leng cu.

Hay leng-cu lompat mundur hingga delapan kaki, parasnya semakin pucat.

Si Raja Garuda Lengan Satu mendongakkan kepala dan tertawa besar, katanya.

"Imam kecil, kau tak usah takut, aku si loya hanya main-main menggertak kau saja. Aku dengan imam tua gurumu itu adalah sahabat baik, bagaimana aku boleh menghina kau si bocah ini?"

Hay leng-cu sudah berusia lima puluh tahun lebih, tak disangka masih ada orang panggil ia bocah, hingga dua tangannya gemetaran bahna menahan hawa amarahnya, namun ia tidak mempunyai nyali untuk menghunus keluar pedangnya.

Kekuatan tenaga si Raja Garuda Lengan Satu yang dapat menoblos perut sapi dan mengambil hati dari dalam perutnya, bukan saja menunjukkan kekuatan tenaganya yang besar, tetapi juga menunjukkan sifatnya yang kejam, benar-benar membuat orang lenyap keberaniannya.

Perjamuan makan yang diadakan di ruangan besar rumah makan itu, sudah mulai masuk dalam ronde ketujuh.

Masakan Ma Hwe Hwe benar-benar luar biasa, ia bisa membuat daging sapi dimasak seperti daging ayam, seperti daging bebek yang gemuk, seperti rasanya ayam arak, ada kalanya demikian lunak seperti tahu.

Ia bisa masak daging sapi menjadi beberapa macam hidangan yang berlainan rasanya, yang lebih aneh ialah rasa daging itu tidak seperti daging sapi rasanya.

Ketika tiba gilirannya hidangan kedelapan, diantar sendiri oleh Ma Hwe Hwe, pemilik plus tukang masak rumah makan itu berkata kepada para tamunya.

"Hidangan meskipun kurang baik, tetapi araknya masih boleh juga, cianpwe semua harap minum lebih banyak sedikit."

Si Raja Garuda Lengan Satu mendadak menggeprak-geprak meja, lalu katanya dengan suara keras.

"Araknya juga tidak baik."

Ma Hwe Hwe terkejut, hingga saat itu berdiri terpaku di tempatnya. Masih untung Thio Bu Kek segera menyambungnya sambil tertawa.

"Araknya meskipun arak baik, tetapi jikalau tidak ada selendang merah yang menemani arak, rasa arak juga menjadi tawar."

Si Raja Garuda Lengan Satu tertawa besar, katanya.

"Benar, itu tidak salah! Kau yang sudah pernah sekolah sudah tentu harus tahu bahwa arak sekali-kali tidak boleh dipisahkan dengan paras elok."

Ma Hwe Hwe juga tertawa, katanya.

"Boanpwee sebetulnya juga belum pernah memikirkan hal itu, tetapi karena kwatir bahwa perempuan-perempuan di sini umumnya biasa saja, mungkin nanti malah akan tidak dipandang oleh cianpwe sekalian."

"Kabarnya perempuan di sini kesohor, apakah seorang yang elok saja sudah tidak ada?"

Tanya si Raja Garuda Lengan Satu sambil mengerutkan alisnya.

"Ada sih ada, tapi cuma satu saja......"

Si Raja Garuda Lengan Satu kembali menggeprak meja dan berkata.

"Satu sudah cukup! Imam tua ini adalah seorang beribadat, Thio Bu Kek terkenal seorang laki-laki takut istri, dan tua bangka she To ini meskipun kemauannya ada, tetapi tenaganya sudah kurang, maka kau tidak perlu khawatirkan terhadap mereka, mereka pasti tidak suka!"

To Siao Thian berkata sambil tertawa.

"Benar, asal kau mencarikan seseorang saja untuk Su khong cianpwe sudah cukup, aku si tua bangka ini hanya ingin menonton di samping saja. Sebagai orang yang sudah lanjut usianya, asal dapat menonton dari samping juga sudah cukup puas."

Thio Bu Kek juga ikut-ikutan berkata sambil berkata.

"Lelaki yang takut istri, menonton saja juga tidak baik, tetapi jikalau tidak menonton sebentar, aku masih benar-benar berat untuk pergi. Toa Ma, tolong kau pergi panggil satu kali ini saja."

"Boanpwe sekarang hendak mencari, tapi...."

"Kenapa?"

Bertanya si Raja Garuda Lengan Satu sambil pendelikkan matanya.

"Nona itu sangat terkenal dengan sikapnya yang terlalu angkuh, belum tentu dapat diketemukan dengan segera"

Menjawab Ma Hwe Hwe.

"Itu tidak halangan, aku justru senang kepada perempuan yang angkuh, sebab perempuan yang angkuh pasti mempunyai apa yang berlainan dengan yang lain. Jikalau tidak, bagaimana ia bisa berlaku angkuh?"

Berkata si Raja Garuda Lengan Satu sambil tertawa besar.

"Kalau begitu, harap supaya cianpwe suka menunggu sebentar...."

"Menunggu lama sedikit juga tidak apa. Buat urusan lain aku si loya meskipun tidak mau menunggu, tetapi kesabaranku untuk menunggu perempuan justru aku mempunyai."

Sudah hampir satu jam si Raja Garuda Lengan Satu menunggu, namun perempuan elok itu masih belum datang juga. To Siao Thian, terus menenggak araknya berkata sambil menggelengkan kepala.

"Perempuan ini benar-benar sangat angkuh sekali."

Si Raja Garuda Lengan Satu juga berkata sambil menggelengkan kepala.

"Kalau tua bangka ini benar-benar tidak mengerti adat perempuan, pantas kau menjadi buangan selama-lamanya....... apa kau kira perempuan itu benar-benar beradat angkuh?"

"Apakah tidak?"

Bertanya tiba-tiba To Siao Thian.

"Dia berbuat demikian, bukanlah karena adatnya yang benar-benar angkuh, itu hanya sengaja menarik perhatian atau kesukaan kaum lelaki saja."

"Menarik kesukaan kaum lelaki?"

"Benar, ia tahu kaum laki-laki semuanya adalah orang yang tidak berharga, semakin lama menunggu, semakin besar perasaan tertariknya, sehingga semakin merasakan betapa berharganya perempuan itu. Perempuan yang begitu diundang segera datang, lelaki umumnya menganggap tidak berarti."

"Sungguh suatu pendapat yang hebat, aku tak sangka saudara Su-khong bukan saja tinggi kepandaian ilmu silatmu, tetapi terhadap perempuan juga ternyata mempunyai pengertian yang mendalam."

"Hendak mempelajari soal sifat dan adat perempuan, jauh lebih sulit dari pada mempelajari ilmu silat."

Mendadak si Raja Garuda Lengan Satu itu berdiam sambil tertawa, lalu pasang telinga, kemudian berkata sambil tertawa.

"Nah, itu dia sudah datang."

Baru saja ucapan itu keluar dari mulutnya, di luar pintu sudah terdengar suara langkah kaki yang halus.

Hay leng-cu sendiri juga sudah berpaling untuk melihat, ia sebetulnya ingin menyaksikan bagaimana rupanya orang yang dikatakan luar biasa eloknya itu.

Pintu ruangan itu memang terbuka, hanya ditutup dengan selapis tirai saja.

Di bawah tirai tampak sepasang kaki.

Sepatu yang dikenakan oleh orang yang mempunyai kaki itu, meskipun hanya sepasang sepatu lemas yang terbuat dari kain berwarna hijau, tetapi modelnya indah, hingga membuat sepasang kaki itu juga tampak indah.

Meskipun hanya baru melihat sepasang kakinya saja, si Raja Garuda Lengan Satu sudah merasa puas.

Kepala yang luar biasa besarnya itu mulai bergoyang-goyang, satu matanya yang memancarkan sinar berkilauan terus menatap sepasang sepatu itu tanpa berkedip, sedang biji matanya juga seolah-olah seperti mau melompat keluar. Dari luar tirai, terdengar suara orang bertanya.

"Apakah aku boleh masuk?"

Nada suaranya itu sedemikian dingin, tetapi lembut halus dan sangat merdu. Si Raja Garuda Lengan Satu tertawa besar, katanya.

"Kau tentu saja boleh masuk, lekas.... masuklah."

Kaki di luar tirai masih belum bergerak.

Dari luar itu tiba-tiba tampak diulurkan masuk sebuah tangan.

Tangan itu sangat putih, jari-jari tangannya panjang dan halus, kukunya dipotong demikian bersih dan ramping, tetapi tidak mirip dengan seorang perempuan yang suka bersolek.

Di atas kukunya hanya dipoles dengan minyak kembang.

Jari itu bukan saja indah, tetapi juga mempunyai sifat lain.

Hanya melihat tangan itu saja, sudah menimbulkan kesan bahwa perempuan itu benar-benar lain dari pada yang lain.

Si Raja Garuda Lengan Satu tidak berhentinya mengangguk-anggukkan kepala dan berkata sambil tertawa.

"Bagus,bagus....bagus sekali..."

Tangan itu perlahan-lahan mulai menyingkap tirai.

Perempuan yang berbeda dengan perempuan lainnya itu, akhirnya berjalan masuk juga.....

Dalam bayangan To Siao Thian, perempuan yang sangat angkuh itu, pasti berpakaian sangat mewah, bersolek dengan pupur tebal atau dipenuhi oleh berbagai perhiasan barang permata.

Tetapi anggapan demikian itu ternyata keliru.

Perempuan itu hanya mengenakan pakaian kain hijau yang span, tampak sederhana sekali, di wajahnya tidak terlihat bedak, atau pupur dan lipstik.

Hanya di daun telinganya ada sepasang giwang yang terbuat dari mutiara kecil.

To Siao Thian merasa heran, ia sungguh tidak menyangka perempuan tuna susila dandanannya demikian sederhana, bahkan boleh dikata sedikit bersolekpun tidak ada.

To Siao Thian sudah berusia lanjut, tetapi pengertiannya terhadap kaum wanita sebenarnya tidaklah banyak.

Sedangkan pengertian perempuan itu terhadap kaum pria agaknya lebih banyak.

Rupanya dia tahu benar, bila ia bersolek terlalu menyolok, akan kelihatan seperti biasa saja.

Hati kaum pria memang benar-benar sangat aneh, mereka selalu mengharapkan perempuan golongan tuna susila tidak mirip dengan perempuan tuna susila, tetapi mencari yang mirip dengan gadis bangsawan, atau gadis pingitan dari keluarga baik-baik.

Tetapi apabila mereka bertemu dengan perempuan yang baik-baik, bersih suci, mereka sebaliknya mengharap wanita ini bisa mirip dengan wanita tuna susila.

Maka itu, apabila perempuan tuna susila yang bersikap dan berdandan seperti perempuan biasa golongan baik-baik, pasti menjadi terkenal, dan gadis golongan baik-baik jikalau mirip dengan perempuan tuna susila, juga pasti bisa menarik banyak kaum lelaki yang mengejarngejar padanya.

Thio Bu Kek meskipun takut istri, tetapi suami yang takut istri kadang-kadang juga bisa menyeleweng di luar.

Di dalam dunia ini, umumnya tidak ada orang laki yang tidak suka menyeleweng seperti juga tidak ada kucing yang tidak rakus.

Begitu juga Thio Bu Kek ini, ia pernah menyeleweng beberapa kali, dalam kesannya, setiap perempuan tuna susila begitu masuk ke dalam menemui tamunya, di wajahnya selalu tersungging senyum manis....

sudah tentu senyuman itu bersifat profesional.

Akan tetapi perempuan yang duduk bersama-sama ini sebaliknya berbeda dengan wanita biasa.

Ia bukan saja tidak tertawa atau tersenyum, bahkan sepatah katapun tidak keluar dari mulutnya.

Begitu berjalan masuk, lalu duduk di atas kursi, sikapnya demikian dingin, seolah-olah sebuah patung.

Hanya patung ini benar-benar sangat elok.

Usianya agaknya sudah tidak muda lagi tetapi juga tidak terlalu tua, sepasang matanya jernih berkilat di ujungnya agak berdiri ke atas, tampaknya malah semakin menggiurkan.

Mata si Raja Garuda Lengan Satu sudah menyipit, katanya sambil tertawa.

"Baik,baik... silahkan duduk."

Wanita itu memandang padanyapun tidak, jawabnya dingin.

"Aku sudah duduk"

"Oya benar benar! Kau sudah duduk, dudukmu bagus sekali."

Berkata si Raja Garuda Lengan Satu sambil tertawa.

"Kalau begitu kau bileh lihatlah sepuas hatimu, aku memang sudah ditakdirkan hidup untuk dilihat orang"

Menjawab perempuan itu. Si Raja Garuda Lengan Satu menepok meja, katanya sambil tertawa besar.

"Tua bangka, kau lihatlah.... kau lihatlah. Perempuan ini betapa menyenangkan, setiap patah kata yang keluar dari mulutnya berbeda sekali dengan orang lain, ia ternyata berani membantah aku."

Jikalau ada orang lain berani membantah ucapannya ia pasti akan pukul kepala orang itu hingga pecah, tetapi wanita itu sudah membantah ucapannya sebaliknya ia malah merasa kesenangan.

Aih kaum wanita benar-benar hebat.

"Ku tidak tahu nona ini suka memberitahukan namanya atau tidak?"

Demikian To Siao Thian berkata juga tertawa.

"Namaku Sie Nio."

Menjawab wanita itu lekas. "Sie Nio?..... Pantas kau demikian tidak gembira, kelihatannya kiranya kau sedang memikirkan ibumu? Apakah ibumu juga demikian cantik seperti kau?"

Bertanya si Raja Garuda Lengan Satu sambil tertawa besar. Sie Nio tidak berkata apa-apa, ia bangkit dari tempat duduknya dan lalu berjalan keluar. Si Raja Garuda Lengan Satu berseru.

"Tunggu dulu, tunggu dulu! Kau hendak ke mana?"

"Aku hendak pergi."

"Pergi? Kau mau pergi? Baru saja kau datang, apa sudah mau pergi lagi?"

Tanya si raja garuda lengan satu heran.

"Meskipun aku adalah seorang perempuan yang jual tawa dan muka manis, tetapi ibuku bukan demikian! Aku datang ke mari juga bukanlah hendak mendengar ucapan kalian yang membawa-bawa ibuku untuk dibuat permainan,"

Jawab Si Nio dingin.

Ia ternyata mengerti sifat laki-laki yang benar-benar, ia tahu laki-laki yang kedudukannya semakin tinggi dan semakin banyak akal tentu semakin senang kepada perempuan yang tidak dengar kata.

Sebab mereka sudah terbiasa melihat banyak orang yang selalu dengar katanya.

Jarang melihat perempuan semacam dia itu baru senang dengar perempuan yang membuat mabuk dirinya.

Benar saja, si Raja Garuda Lengan Satu sedikit pun tidak marah, sebaliknya malah tertawa semakin senang, katanya.

"Benar, benar, benar! Selanjutnya, siapa yang berani main-main dengan ibumu, aku akan potes lebih dulu lehernya!"

Kini Si Nio barulah dengan terpaksa duduk lagi. Thio Bu Kek lalu berkata.

"Kalau nona tidak suka main-main, apakah yang nona sukai?"

"Apa pun aku tidak suka, apa pun aku tidak senang,"

Menjawab Si Nio.

"Satu jawaban yang sangat bagus, benar-benar lebih menarik daripada suara orang menyanyi!"

Berkata si Raja Garuda Lengan Satu sambil tertawa besar.

"Ucapan nona sudah demikian enaknya, nyanyiannya pasti lebih enak lagi. Entah nona bisa menyanyi apa? Sudikah nona menyanyi, supaya kami semua bisa turut merasa senang?"

Berkata Thio Bu Kek sambil tertawa. HATI PEREMPUAN "Aku tidak bisa menyanyi,"

Menjawab Si Nio.

"Kalau begitu......... nona tentunya bisa main mandolin?"

Bertanya pula Thio Bu Kek.

"Juga tidak bisa."

"Bagaimana kalau main Tipa?"

"Lebih tidak bisa."

Thio Bu Kek tertawa, katanya.

"Kalau begitu......... nona sebetulnya bisa main apa?"

"Aku datang hanya untuk menemani kalian minum arak, sudah tentu bisanya cuma minum arak."

Si Raja Garuda Lengan Satu tertawa besar ketika mendengar ucapan itu, kemudian berkata.

"Bagus sekali! Bagus sekali! Bisa minum arak sudah cukup bagus, aku justru senang sekali kepada perempuan yang bisa minum arak."

Wanita yang mengaku bernama Si Nio ini benar-benar boleh dikata bisa minum arak.

Thio Bu Kek sebetulnya sengaja hendak meloloh ia hingga mabuk, supaya perempuan itu bisa lebih cepat menunjukkan tingkah-lakunya yang sebenarnya.

Tetapi Si Nio semakin banyak menenggak arak, sinar matanya semakin terang, sedikit pun tidak dapat dijejaki sampai di mana kuatnya dia minum arak.

Maka itu, Thio Bu Kek sebaliknya tidak berani mengajak ia minum lagi.

Si Raja Garuda Lengan Satu sendiri tidak berani meloloh ia minum arak.

Ia adalah seorang laki yang mengerti, bahwa buat menikmati orang perempuan itu sedikit mabuk, perempuan itu tidak boleh mabuk arak benar-benar.

Ia juga mengerti caranya menguasai waktu.

Ketika saatnya tiba, ia sendiri yang lebih dulu berpura-pura mabuk.

Sementara itu, Thio Bu Kek juga tahu diri, telah menganggap saatnya tiba, ia berkata sambil tertawa.

"Saudara Su-khong beberapa hari ini terlalu lelah, sekarang barangkali tidak sanggup minum arak lagi!"

"Ingin tidur saja...... aku sudah mabok, hendak tidur........"

"Toa Ma sudah menyediakan satu rumah yang tenang di belakang sana, tolong nona ini antar saudara Su-khong ke kamar!"

Berkata Thio Bu Kek.

Si Nio mendelikkan matanya tetapi tidak menolak, ia membimbing si Raja Garuda Lengan Satu berjalan ke luar.

Perbuatan seperti ini rupanya sudah biasa dilakukannya.

To Siao Thian berkata sambil tertawa.

"Aku masih menganggap ia benar-benar tidak ada apa-apanya yang berlainan, kiranya pada akhirnya juga sama saja seperti perempuan yang lain."

Thio Bu Kek juga lantas berkata sambil tertawa.

"Pada akhirnya, setiap perempuan dalam dunia ini memang semua sama saja. Terutama perempuan semacam ini, mereka memang lantaran hendak menjual diri baru keluar melakukan pekerjaan semacam ini. Kalau tidak buat menjual diri, tidak mungkin dia mau berbuat demikian."

"Hanya cara menjual diri perempuan ini tadi sebetulnya agak berlainan dari yang lain,"

Berkata To Siao Thian sambil tertawa.

Rumah yang disediakan oleh Ma Hwe Hwe untuk keperluan si Raja Garuda Lengan Satu benar saja sangat tenang.

Begitu masuk pintu, Si Nio mendorongnya sekuat tenaga, katanya dingin.

"Mabukmu seharusnya sudah waktunya untuk sadarkan diri!"

"Mabuk arak mana bisa sadar demikian cepat?"

Berkata si Raja Garuda Lengan Satu sambil tertawa.

"Kau sebetulnya memang tidak mabuk, apa kau kira aku bisa kau kibuli?"

Berkata Si Nio sambil tertawa dingin.

"Juga tahu, sadar ialah mabuk, mabuk berarti sadar, penghidupan manusia memang seperti main sandiwara. Perlu apa kau bedakan demikian jelas?"

Ia mencari poci teh sendiri, lalu ditenggaknya begitu saja, sedang mulutnya menggumam.

"Arak terbuat dari air, tapi air benar-benar tidak seperti arak enaknya."

Si Nio memandang padanya dengan sinar mata dingin, katanya.

"Sekarang aku sudah antar kau pulang, kau masih hendak suruh aku bikin apa?"

Dengan tangannya yang tinggal satu, si Raja Garuda Lengan Satu menarik tangan Si Nio, lalu berkata sambil menyipitkan matanya.

"Orang laki pada saat seperti ini hendak melakukan apa, apakah betul-betul kau tidak mengerti?"

Si Nio mengibaskan tangannya, katanya dengan suara keras.

"Dengan hak apa kau mengira aku perempuan semacam itu? Dengan hak apa kau mengira aku bisa melakukan perbuatan semacam itu?"

"Aku hanya bisa berbuat dengan hak ini,"

Berkata si Raja Garuda Lengan Satu, yang sudah lantas mengeluarkan sepotong uang mas, dilemparkan di atas meja, sedang matanya tak lepasnya terus melirik kepada Si Nio dan mulutnya berkata.

"Ini kau mau tidak?"

"Kami yang melakukan pekerjaan seperti ini, tujuannya memang buat mencari uang sematamata. Jikalau bukan lantaran hendak mencari uang, siapa yang kesudian harus dianggap botol arak oleh orang lain?"

Si Raja Garuda Lengan Satu tertawa besar, katanya.

"Kiranya kau masih mau uang? Kalau begitu mudah sekali."

Kembali ia menarik tangan Si Nio, dan Si Nio mengibaskan lagi, katanya dingin.

"Meskipun aku mau uang, tetapi aku juga harus memilih orangnya."

Wajah si Raja Garuda Lengan Satu berubah, katanya. "Kau mau memilih orang macam apa? Lelaki tampan?"

"Lelaki tampan sudah banyak aku melihatnya, yang kukehendaki ialah laki-laki yang benarbenar jantan!"

"Itu benar, kau memilih aku tidak bisa salah lagi, aku adalah laki-laki yang jantan benarbenar,"

Berkata si Raja Garuda Lengan Satu sambil tertawa. Si Nio mengawasi padanya dari atas sampai ke bawah, kemudian berkata.

"Yang kukehendaki ialah laki-laki yang hebat, apakah kau ya?"

"Sudah tentu."

"Jikalau kau benar-benar memiliki kehebatan, perlihatkanlah padaku. Jikalau kau bisa menggerakkan hatiku, sekalipun kau tidak memberikan uang sama sekali, aku juga bersedia melayani kau......."

"Kau tidak kenal aku, sudah tentu tidak tahu betapa hebatnya aku ini. Tetapi orang-orang dunia Kang-ouw yang pernah mendengar namaku, kalau aku sudah suruh ia pergi ke timur, ia tidak mungkin berani menuju ke barat,"

Berkata si Raja Garuda Lengan Satu sambil tertawa.

"Membual setiap orang pun bisa."

"Kau tidak percaya? Baik, aku perlihatkan padamu."

Berkata si Raja Garuda Lengan Satu. Ia menggunakan tangannya dan memotong perlahan di atas meja, meja itu telah terpapas bagaikan oleh pisau tajam.

"Baik, benar kau mempunyai kepandaian. Tetapi dalam mataku masih belum cukup........."

Berkata Si Nio hambar.

"Tidak perduli bagimu sudah cukup atau belum, tapi aku sudah tidak bisa sabar menunggu lagi,"

Berkata si Raja Garuda Lengan Satu sambil tertawa besar. Ia menarik perlahan, Si Nio hampir jatuh dalam pelukannya. Si Nio memejamkan matanya tanpa bergerak, katanya.

"Tenagamu besar, kalau kau hendak memperkosa aku, aku juga tidak berdaya untuk melawan. Tetapi seorang laki yang benar-benar jantan, seharusnya suruh perempuan yang mengikuti kemauannya dengan kerelaan hatinya sendiri."

Si Raja Garuda Lengan Satu bungkam, sebab tangannya sudah bergerak, meskipun ia hanya memiliki satu tangan saja, tetapi gerakannya lebih cepat dan lebih hebat daripada orang laki lain yang mempunyai tangan dua.

Si Nio menggertak gigi, katanya sambil tertawa dingin.

"Percuma saja kau berani mengatakan sendiri seorang laki-laki jantan, kiranya kau hanya bisanya menghina seorang perempuan. Orang laki yang menghina orang perempuan bukan saja seorang yang tidak tahu malu, juga paling tidak ada harganya. Aku sungguh tidak menduga kau adalah seorang laki bertipe demikian."

Si Raja Garuda Lengan Satu mendengus, katanya sambil tertawa. "Kau kira aku ini orang macam apa?"

"Kulihat meskipun mukamu buruk, namun masih ada sedikit sifat laki-laki, maka aku baru mau mengikuti kau datang kemari. Tapi jikalau diganti dengan tiga orang itu, sekalipun mereka mabok dan rubuh di tanah, aku juga tidak sudi membangunkan mereka"

Kata Sie Nio. Ia menarik napas perlahan, lalu katanya lagi dengan suara hambar.

"Siapa sangka aku ternyata sudah keliru melihat tentang dirimu. Tapi ini juga terpaksa cuma bisa sesalkan diriku sendiri, tidak dapat menyesalkan orang lain"

""", baik"

Kalau kau mau lekaslah, biar bagaimana urusan ini juga tidak memerlukan banyak waktu".

Tangan si Raja Garuda lengan satu sekarang sudah tidak begitu aktif lagi, orangnya juga diam.

Sekian lama ia berada dalam keadaan tercengang, barulah lompat bangun dan berkata dengan suara keras.

"Kau sebenarnya menghendaki aku berbuat bagaimana?"

Sie Nio duduk dan berkata.

"Aku dengar, orang yang memiliki kepandaian semakin tinggi, semakin tidak suka memperlihatkan Contohnya, Hansin di jaman dahulu, meskipun terhina disuruh merangkak di bawah selangkangan kaki orang, ia menurut saja Orang-orang dikemudian hari baru merasakan bahwa ia itu benar-benar seorang yang hebat, sebab pada saat itu ketika ia dibunuh oleh kaum bajingan itu, masih ada yang mengaguminya dengan prestasinya dikemudian hari" .

"Apakah kau menghendaki aku merangkak di bawah selangkanganmu?"

Sie Nio merasa geli hingga tidak dapat menahan tawanya.

Kalau disaat ia tidak tertawa, hanya merupakan seorang cantik seperti patung, tapi setelah tertawa, benar-benar sangat menggiurkan, jikalau ada pria yang melihatnya dan tidak tergerak hatinya, orang itu pasti seorang laki-laki yang sudah tidak bernyawa.

Si Raja Garuda Lengan Satu tentu bukan orang mati, dengan mata terbelalak ia berkata sambil tertawa.

"Aku Su-khong Cu pernah malang melintang dalam dunia kang-ouw, tetapi jika kau benarbenar suruh aku merangkak di bawah selangkanganmu, aku juga bisa menurut."

"Bukan itu maksudku. Tapi""".."

Berkata Sie Nio. Biji matanya berputaran, kemudian berkata pula.

"Kalau kau kupukul sekali, namun tidak membalas, itulah baru laki-laki bersifat jantan. Baru benar-benar seorang laki-laki yang mempunyai keberanian."

Si Raja Garuda Lengan satu berkata sambil tertawa besar.

"Ini sangat mudah. Kalau kau mau, kau boleh pukul aku sepuasnya, apa salahnya?"

"Benarkah?"

"Sudah tentu benar! Sekarang kau boleh coba pukul. Pukul lebih berat juga tidak halangan."

"Kalau begitu aku benar-benar hendak memukulmu"

Ia menggulung lengan bajunya, sehingga tampak tangannya yang putih.

Si Raja Garuda lengan Satu benar-benar sama sekali tidak bergerak, ia rupanya sudah terima dirinya dipukul orang.

Itulah orang lelaki yang patut dikasihani.

Karena hendak menunjukkan dirinya seorang lakilaki berjiwa jantan di hadapan perempuan, karena hendak menunjukkan keberaniannya, oarng laki-laki benar-benar dapat melakukan apa saja.

Sie Nio tertawa, tangannya lalu memukul ringan.

Ia bergerak lambat, tetapi sewaktu hendak memukul muka Raja Garuda Lengan Satu, lima jari tangannya yang runcing dengan tiba-tiba melakukan totokan demikian cepat dan dengan beruntun beberapa kali, menotok empat tempat di bagian jalan darah orang itu.

Si Raja Garuda Lengan Satu jelas tidak menduga sama sekali akan tindakan Hong Sie Nio itu, ketika ia menyadari, sudah tidak keburu lagi ""..

hingga ia sendiri seketika itu juga sudah berubah menjadi patung Sementara itu Sie Nio sudah memperdengarkan suara tertawanya yang nyaring, setelah itu ia berkata.

"Baik, Raja Garuda Lengan Satu benar saja memiliki jiwa laki-laki jantan, aku kagum kepadamu!"

Si Raja Garuda Lengan Satu hanya mendelikkan matanya memandang padanya, matanya itu sudah merah membara, tapi dari mulutnya sepatah katapun tidak dapat keluar, seluruh mukanya sudah kaku.

Sie Nio berkata pula.

"Sebetulnya kau tidak perlu marah, tidak perlu sedih. Sebab tidak perduli bagaimana pintarnyapun laki-laki, kalau sudah melihat perempuan cantik, juga bisa berubah jadi linglung."

Ia tertawa gembira, kemudian berkata lagi.

"Maka itu, ada beberapa gadis cilik berusia tujuh belas tahunan, juga bisa menipu seorang tua bangka licik yang gemar paras elok. Dalam dunia ini urusan semacam ini banyak sekali"

"."

Sambil berkata demikian, tangannya meraba-raba seluruh tubuh si Raja Garuda Lengan Satu.

Si Raja Garuda Lengan Satu memakai pakaian pendek tetapi lebar.

Bungkusan kuning yang tadi berada di tangannya, justru disembunyikan dalam pakaiannnya.

Sie Nio setelah menemukan bungkusan itu, matanya bersinar semakin terang.

Ia membuka bungkusan kuning itu, di dalamnya ternyata ada kotak untuk menyimpan golok.

Golok dalam kotak itu memancarkan sinarnya yang berkilauan.

Sie Nio lama memandang golok dalam kotak itu, sedang mulutnya menggumam.

"Siauw Cap-it-long, Siauw Cap-it-long! Kau anggap dengan seorang diri aku tidak dapat merampas golok ini? Kau bukan saja terlalu memandang rendah diriku, tetapi juga terlalu memandang rendah kepada kaum wanita, betapakah besar kepintaran seorang wanit, barangkali tidak dapat dipikirkan untuk selama-lamanya oleh kalian kaum pria."

Aih, sungguh seorang perempuan yang hebat!

Hong Sie Nio benar-benar boleh dikata seorang perempuan yang hebat.

Tetapi Hong Sie Nio bagaimanapun juga adalah seorang wanita.

Wanita jikalau melihat barang yang disenangi sendiri, lalu tidak melihat bahaya yang mengancam dirinya.

Betapa banyak laki-laki yang gemar paras elok kebanyakan semua tahu kelemahan kaum wanita ini, maka sering menggunakan barang hadiah yang menyolok dan menarik, dan menjaga serangan yang membahayakan dirinya sendiri.

Saat itu, seluruh perhatian Hong Sie Nio sedang dicurahkan ke golok pusaka itu, hingga tidak melihat kalau bibir si Raja Garuda Lengan Satu sudah tersungging satu senyuman yang menyeramkan.

Ketika ia hendak berjalan, sudah tidak keburu lagi.

Lengan yang panjangnya seperti orang hutan dari si Raja Garuda Lengan Satu itu dengan tibatiba dan secepat kilat sudah diulur menyambar dada Hong Sie Nio, hingga setengah badannya menjadi kesemutan sesaat itu juga, sudah tentu golok di tangannya lalu jatuh terlempar ke tanah.

Gerakan tangannya yang demikian cepat gesit, membuat Hong Sie Nio tidak mendapat kesempatan untuk mengelak.

Si Raja Garuda Lengan Satu berkata sambil tertawa besar.

"Jikalau kau anggap aku benar-benar seorang tolol, itu berarti kau bukan saja sudah pandang rendah diriku, juga terlalu pandang rendah kami kaum pria. Kepintaran laki-laki sebetulnya ada berapa besar, barangkali tidak dapat terpikirkan oleh kalian orang-orang perempuan yang biasanya kerja di dapur!"

Hati Hong Sie Nio waktu itu meskipun sudah seperti tenggelam, tetapi di wajahnya masih tersungging senyuman manis.

Sebab ia tahu senjata satu-satunya pada saat itu ialah senyuman.

Ia melirik si Raja Garuda Lengan Satu, lalu berkata sambil tersenyum manis.

"Perlu apa kau marah-marah? Orang laki satu kali ditipu oleh orang perempuan bukankah itu merupakan suatu hal yang sangat interesan? Jikalau terlalu menganggap benar-benar tambah tidak ada artinya lagi."

"Orang perempuan satu kali diperkosa oleh orang laki-laki, bukankah juga suatu hal yang sangat interesan?"

Tangannya dengan mendadak mencengkeram hebat, hingga sekujur tubuh Hong Sie Nio kini menjadi kesemutan, sedikit tenagapun ia sudah tidak punya.

Ketika sekali lagi ia dipukul oleh punggung telapak tangan si Raja Garuda, waktu itu juga tubuhnya lantas terjatuh di atas pembaringan.

Si Raja Garuda Lengan Satu sudah berjalan menghampirinya sambil unjukkan tertawanya yang menyeramkan.

Hong Sie Nio terpaksa mengertak gigi, dengan menggunakan sisa kekuatan tenaga yang ada padanya, kakinya menjejak ke depan.

Tetapi tendangan itu belum dilakukan, kakinya sudah terpegang oleh si Raja Garuda Lengan Satu.

Ketika jari tangan si Raja Garuda Lengan Satu menekan kaki itu, kaki Hong Sie Nio dirasakan seperti mau patah, air matanya juga hampir keluar.

Sepatu kain warna hijau yang tipis juga sudah berobah menjadi robek sehingga tampak kaki Hong Sie Nio yang putih halus, sedikitpun hampir tidak ada cacatnya.

Si Raja Garuda Lengan Satu ketika melihat sepasang kaki yang indah itu, seolah-olah sudah menjadi kesima, sedang mulutnya menggumam.

"Sepasang kaki yang indah....."

Ia menundukkan kepala, mencium telapakan kaki Hong Sie Nio.

Tiada ada seorang perempuan yang tidak takut geli di telapakan kakinya, terutama Hong Sie Nio.

Kumis si Raja Garuda Lengan Satu yang kaku bagaikan rumput menusuk telapakan kakinya, sedangkan suara dengusan napas seperti kerbau dipotong menusuk-nusuk hatinya.

Ia boleh terkejut, takut dan marah....

namun apa daya?....

Dalam keadaan demikian, ia benar-benar sudah tidak sanggup lebih lama.

Meskipun hatinya sudah hampir meledak, tetapi orangnya masih bisa tertawa tergelak-gelak, hingga mengeluarkan air matanya.

Ia sambil tertawa, mulutnya terus memaki-maki tidak berhentinya.

"Binatang, kau binatang yang tidak mau mampus ini, lekas bebaskan aku....."

Segala ucapan yang paling keji ia sudah keluarkan semua, namun masih tidak dapat mengendalikan rasa gelinya.

Si Raja Garuda Lengan Satu pendelikkan matanya, sepasang matanya seperti api membara, mendadak ia mengulurkan tangannya, baju didepan dada Hong Sie Nio telah dirobek, sehingga tampak buah dadanya yang bulat menonjol.

Hampir saja Hong Sie Nio jatuh pingsan.

Ia hanya merasakan bahwa tubuh si Raja Garuda Lengan Satu kini sudah mulai menindihi tubuhnya, ia hanya dapat menggunakan sepasang kakinya untuk melilit dan meronta, bagaimanapun juga tidak mau melepaskan.

Terdengar suara mendengus si Raja Garuda Lengan Satu .

"Kau perempuan busuk ini, ini adalah kau sendiri yang mencari mampus, tidak boleh sesalkan aku"

Tangannya sudah mencengkeream leher Hong Sie Nio sampai perempuan ini hampir2 tidak bisa bernapas, mana masih mempunyai tenaga untuk melawan?

Matanya perlahan2 menjadi lemas, dan sepasang kakinya perlahan2 juga mulai kendur........

Dalam keadaan seperti itu, mendadak terdengar suara gempuran dijendela, dan daun jendela telah terbuka lebar.

SEorang berbaju warna hijau bagaikan anak panah melesat dari busurnya mencelat masuk, merampas golok yang terjatuh ditanah.

si Raja Garuda Lengan Satu benar-benar tidak kecewa menjadi seorang tokoh kenamaan yang sudah banyak pengalaman, dalam keadaan seperti itu, ternyata tidak menjadi gugup dengan satu gerakan mencelat balik, lengan tangannya yang panjang berbulu menyambar kepala orang itu.

Orang itu tidak keburu memungut golok, tubuhnya dikerutkan dan lompat mundur setengah kaki.

Tiba tiba terdengar suara krak, lengan si Raja Garuda yang tinggal satu itu mendadak jadi tambah panjang setengah kaki, tempat yang tadi tidak dapat dijangkaunya, sekarang sudah dalam kekuasaannya.

Itulah kepandaian tunggal si Raja Garuda Lengan Satu yang membuat ia bisa malang melintang didunia Kang ouw.

Tetapi, orang itu ternyata bukan orang sembarangan.

Jikalau orang lain, bagaimanapun juga rasanya sulit untuk mengelakkan samberan tangannya itu.

Tak disangka oleh si Raja Garuda, orang berpakaian hijau itu sungguh memiliki kegesitan yang tidak habis dipikir, dengan tiba2 ia memutar tubuhnya, tangannya sudah membacok pergelangan tangan si Raja Garuda, sedang ujung kakinya menyontek golok ditanah hingga golok itu terbang kearah Hong Sie Nio Hong Sie Nio dengan sebelah tangannya menutupi baju bagian depannya yang terkoyak, tangan yang lainnya menyambuti datangnya golok, lalu berkata sambil tertawa terkekehkekeh .

"Terima kasih kuucapkan padamu...."

Diantara suara tertawanya, orangnya sudah terbang dan melesat keluar dari lubang jendela.

Orang berbaju hijau itu menghela napas, ia membalikkan tangan dan mengibas, saat itu juga ada sebilah golok bersinar berkilauan bagaikan rantai yang menyambar bahu Raja Garuda Lengan Satu.

Kecepatan gerak golok itu, benar-benar sulit dilukiskan.

Seorang tokoh kenamaan seperti Raja Garuda Lengan Satu yang sudah malang melintang beberapa puluh tahun didunia Kang-ouw, sesungguhnya juga belum pernah melihat, menyaksikan ilmu golok yang demikian cepat, bahkan dengan cara bagaimana golok itu keluar dari sarungnya.

Ia juga tidak melihat nyata, dalam keadaan terkejut, ia lompat balik, dan membentak dengan suara bengis .

"Kau siapa?"

Orang berbaju hijau itu juga tidak menjawab, ia mencecar dengan hebatnya, hanya nampak sinar goloknya yang berputar putaran demikian rapat, mengancam si Raja Garuda Lengan Satu.

Si Raja Garuda Lengan Satu berhasil mengelakkan serangan gencar itu, dengan tiba tiba ia lompat mundur dan berkata sambil tertawa terbahak bahak .

"Siauw Tjap-it-long! Kiranya adalah kau!"

Orang berbaju hijau itu juga berkata sambil tertawa besar.

"Raja Garuda benar2 tajam matamu!"

Diantara suara tertawanya, orang berikut goloknya sekali dengan tiba2 sudah menjadi satu, merangsak kedepan.

Begitu sinar goloknya berkelebat, orangnya sudah lompat keluar melalui lobang dijendela.

Si Raja Garuda Lengan Satu memperdengarkan suara hardiknya, ia juga lompat keluar pergi mengejar.

Diluar gelap gulita dan sunyi senyap, hanya sinar bintang yang menyinari bumi, sudah tidak tertampak lagi bayangan Siauw Tjap-it-long.

Hong Sie Nio yang waktu itu sudah berada didalam kamar, sambil menukar pakaian mulutnya terus memaki2 dengan suara yang sangat perlahan, tidak tahu siapa yang dimaki olehnya, juga entah ucapan apa yang keluar dari mulutnya.

Hanya diwajahnya tidak tampak tanda marah, sebaliknya malah merasa gembira terutama ketika ia melihat kotak golok diatas tempat tidur, dibibirnya tersungging senyum manis Hong Sie Nio dengan sebelah tangannya menutupi baju bagian depannya yang terkoyak, tangan yang lainnya menyambuti datangnya golok, lalu berkata sambil tertawa terkekeh kekeh .

"Terima kasih kuucapkan padamu...

"Diantara suara tertawanya, orangnya sudah terbang dan melesat keluar dari lubang jendela.

Orang berbaju hijau itu menghela napas, ia membalikkan tangan dan mengibas, saat itu juga sebilah golok bersinar berkibaran bagaikan rantai yang menyambar bahu Raja Garuda Lengan Satu.

Kecepatan gerak golok itu, benar benar sulit dilukiskan.

Seorang tokoh kenamaan seperti Raja Garuda Lengan Satu yang sudah malang melintang beberapa puluh tahun didunia Kang-ouw, sesungguhnya juga belum pernah melihat, menyaksikan ilmu golok yang demikian cepat, bahkan dengan cara bagaimana golok itu keluar dari sarungnya.

Ia juga tidak melihat nyata, dalam keadaan terkejut, ia lompat balik, dan membentak dengan suara bengis .

"kau siapa ?"

Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 18

Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 22

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert