Ceritasilat Novel Online

Meteor Kupu Kupu Dan Pedang 4

Eps 4 Meteor Kupu Kupu Dan Pedang - Gu Long

Baca online Meteor Kupu Kupu Dan Pedang - Gu Long

Cersil Meteor Kupu Kupu Dan Pedang - Gu Long.

Masihkah Lao Bo memiliki kecepatan seperti dulu?

Lao Bo sekarang tersenyum padanya.

"Hari-hari yang lalu memang tidak enak tapi sangat menyenangkan,"

Katanya. Itulah masa-masa periode penaklukan, menegangkan tapi begitu menggairahkan. Lu Man Tian menanggapi.

"Kau masih ingat saat kita menghadapi si Jenggot Chao?"

Waktu itu gerakan mereka juga sangat cepat.

Mereka berdua belas, dengan cepat langsung meluruk masuk ke jantung kekuasaan si Jenggot Chao.

Tapi ketika keluar, mereka hanya berdua!

Dan Lu Man Tian harus beristirahat di tempat tidur selama dua bulan.

"Tentu kuingat,"

Lao Bo mengangguk.

"sejak itu aku bertekad tidak akan melakukan kesalahan yang sama!"

"Bagaimana kali ini?"

Tanya Lu Man Tian.

Lao Bo hanya tertawa.

Tapi tawanya begitu kering dan kaku.

* Lu Xiang Chuan tidak mengenal Fang Gang karena ia belum pernah bertemu dengannya.

Tapi begitu memasuki Penginapan Da Fang, Lu Xiang Chuan langsung mengenalinya.

Fang Gang adalah Tie Peng, ia betul-betu terlihat seperti terbuat dari besi.

Baju yang ia pakai berwarna putih.

Begitu bersih.

Tapi bagian tubuh yang tidak tertutup baju putihnya terlihat hitam seperti besi.

Di bawah sinar lampu, tubuhnya berkilauan dan tampak berkilat.

Pandangannya begitu tajam, mulutnya selalu terkatup.

Cara berjalannya pun sangat aneh, setiap kali melangkah sepertinya menggunakan tenaga yang besar hingga rumah terasa bergetar.

Lu Xiang Chuan belum pernah bertemu dengan orang yang begitu kuat dan kokoh seperti ini selain Sun Jian.

Saat Fang Gang memasuki penginapan, semua hadirin menahan nafas, tiba-tiba udara terasa sesak.

Masih ada sejumlah orang di depannya.

Tidak perlu ditanya, mereka semua pengawal Fang Gang yang merupakan anak buah pilihan.

Kemana pun melangkah, ia selalu menjadi sorotan mata orang-orang sekitarnya.

Fang Gang segera duduk setelah memilih tempat yang menurutnya strategis.

Secara otomatis, para pengawal berdiri di belakangnya.

Biasanya pada saat ia duduk semua orang berdiri, merasa tidak setara untuk duduk semeja dengannya.

Lu Xiang Chuan teringat perkataan Sun Jian yang pernah bertemu Fang Gang.

"Bila Fang Gang minum, ia selalu mengangkat kepala dan saat itu pula matanya mengamati sekelilingnya."

Dan orang pertama yang dilihat Fang Gang adalah Lin Zhong He.

Orang yang belajar kungfu shaolin selalu terlihat berotot.

Lin Zhong He pun demikian.

Namun beberapa tahun belakangan ini hidupnya membaik, karena hutangnya sudah lunas, maka perutnya lebih maju daripada dadanya.

Begitu memasuki penginapan, Lin Zong He segera menghadap Fang Gang, membungkuk memberi hormat.

"Apa kau Lin Zhong He?"

Tanya Fang Gang.

"Ya, aku Lin Zhong He."

Fang Gang mengangkat gelasnya.

"Kau jago minum?"

Lin Zhong He tertawa.

"Kalau dua gelas arak lagi sih aku masih sanggup."

Ia memindahkan kursi mendekati Fang Gang kemudian menuang arak ke dalam gelas. Tiba-tiba Fang Gang menyiram arak ke wajah Lin Zhong He. Sinis ia bertanya.

"Kau ini siapa? Apa kau pikir pantas minum arak semeja denganku?"

Lin Zhong He terpaku, wajahnya memerah.

Jika Fang Gang meminum arak dengan mengangkat kepala, Lu Xiang Chuan justeru minum dengan menunduk kepala, seakan yang menarik baginya semata hanya arak yang berada di gelasnya..Pertarungan di Da Fang Lu Xiang Chuan perlahan meminum araknya.

Fang Gang pun dengan sekali tenggak menghabiskan araknya Di Hang Zhou, Lin Zhong He memang bukan orang terkenal.

Tapi saat masih banyak hutang sekali pun, belum pernah ada yang memperlakukannya sehina ini Fang Gang mengusirnya kasar.

"Keluar kau! Keluar!"

Lin Zhong He tiba-tiba menggebrak meja, meloncat marah.

"Siapa kau, berani mengusirku?"

Baru saja kata-katanya habis diucapkan, perutnya sudah kena hajar Fang Gang.

Kepalan tangan Fang Gang sekeras besi, perut Lin Zhong He selembek pantat bayi.

Lin Zhong He kesakitan setengah mati, terbungkuk-bungkuk mengeluarkan segala isi perutnya.

Fang Gang belum berhenti, menjungkalkan meja di depannya.

Kuah panas seketika mengguyur kepala Lin Zhong He, membuat para pengawal Fang Gang terbahak.

Lu Xiang Chuan sedapatnya menahan berang, biar bagaimana Lin Zhong He paman istrinya, Lin Xiu.

Dingin Fang Gang memberi perintah.

"Bawa orang ini ke luar! Tinggalkan di hutan. Sebelum hari terang, jangan biarkan pulang!"

Segera dua pengawal menyeret Lin Zhong He ke luar ruangan.

Walau perut Lin Zhong He lembek, sekurangnya ia masih punya dua kepalan dan pernah belajar kungfu Shaolin.

Meski kedua orang yang menyeretnya sangat kuat, namun sekali menghentak, ia mampu melepas tangannya dari cekalan, bahkan bisa menjatuhkan satu dari dua orang yang menyeretnya.

Dengan cepat ia membalik tubuh, memukul pengawal satunya lagi.

Tiba-tiba Lin Zong He melompat ke hadapan Lu Xiang Chuan.

Terengah ia berkata.

"Pergi! Cepatlah pergi! Mereka datang ke sini buat membunuhmu."

Entah bagaimana Lin Zhong He bisa mengenali Lu Xiang Chuan. Apakah karena Lu Xiang Chuan masih terhitung saudara? Dingin Lu Xiang Chuan berkata.

"Aku tidak mengenalmu."

"Jangan bodoh, saat kau tiba di sini mereka sudah mengenalimu..."

Belum habis kalimatnya, dua pengawal yang tadi dijatuhkannya sudah bergerak menghampiri.

Seorang melayangkan pukulan, satunya lagi mengangkat kursi dan akan mengeprukkannya ke kepala Lin Zhong He.

Di saat bersamaan, Fang Gang membentak.

"Hai, kau yang bermarga Lu, mari bertarung denganku!"

Mulut masih bicara, orangnya sudah seperti macan bergerak memburu ke arah Lu Xiang Chuan.

Perubahan itu begitu mendadak, mengejutkan semua orang.

Sepertinya Lu Xiang Chan belum siap menghadapi, ia masih anteng duduk di kursi.

Tapi saat cakar harimau Fang Gang hampir mengenai, tubuh Lu Xiang Chuan tiba-tiba melorot ke bawah.

Seperti ikan, ia meluncur melewati kolong meja.

Seketika itu, tangannya sudah memegang kaki lelaki yang paling dekat dengannya.

Itulah kaki pengawal yang akan mengeprukkan meja ke kepala Lin Zhong He.

Tiba-tiba sepasang lengan menarik kakinya.

Dalam sekejab lelaki itu sudah melayang terbang ke sana.

Hanya beberapa detik, giliran sebelah kaki Lu Xiang Chuan melayang menendang tulang kering pengawal satunya lagi.

Terdengar lolong kesakitan, lelaki itu jatuh terlentang.

Ia sudah tidak sanggup berdiri.

Keringat dingin dan air mata menetes keluar, tahu seumur hidup tidak akan bisa berdiri lagi.

Sigap Lu Xiang Chuan menarik Lin Zhong He yang terjatuh.

"Cepat, cari Lao Bo!"

Katanya.

Lin Zhong He mengangguk, berlari ke luar sana.

Sayangnya ia kalah cepat, dua pengawal bergolok berkilauan sudah menghadangnya.

Ia mundur selangkah demi selangkah.

Tiba-tiba seberkas cahaya hitam meluncur melalui dirinya.

Dua pengawal yang menghadangnya roboh seketika, tertampak hanya kerlip besi menancap persis di masing-masing dahi.

Senjata rahasia Lu Xiang Chuan!

* Lu Xiang Chuan tidak pernah terlihat membawa senjata karena senjatanya adalah senjata rahasia.

Senjata rahasianya bukan hanya mengarah dua pengawal yang menghadang Lin Zhong He, tapi juga menyasar Fang Gang dan para pengawal lainnya.

"Awas!"

Teriak Fang Gang memperingati sambil mengangkat kursi di depannya sebagai perisai.

Tapi dua anak buahnya tidak sempat menghindar, jatuh terjengkang.

Lu Xiang Chuan berdiri anggun menatap Fang Gang.

Angin berhembus kencang dari jendela yang terbuka, mengibarkan jubah dan jenggot serta kumis palsunya.

Ia tidak lagi terlihat sebagai kakek penyakitan, melainkan dewa yang siap mencabut nyawa.

* Suasana mendadak senyap.

Perlahan ia mulai melangkah mendekati Fang Gang seperti kalajengking siap menyengat.

"Untung kau selamat, tapi kau tetap harus berhati-hati dengan senjata rahasiaku!"

Fang Gang sangat marah, menggerung sekerasnya sambil melempar kursi yang dijadikan perisai dari tangannya. Ia meloncat menerjang Lu Xiang Chuan. Dingin Lu Xiang Chuan mengulum senyum.

"Sudah kubilang, hati-hati dengan senjata rahasiaku."

Sekali merubah posisi, kursi itu melayang jatuh di tempat berdirinya tadi.

Kini tubuh Fang Gang terlihat terbuka melayang di udara menerjang Lu Xiang Chuan.

Begitu cepat.

Sangat kuat.

Lu Xiang Chuan sangat tenang.

Ia merasa pasti menang.

Tubuh itu sangat besar, tidaklah sulit menyasarnya dengan senjata rahasia.

Saat senjata rahasia siap dilontarkan, senyum Lu Xiang Chuan mendadak lenyap.

Sepasang tangan memeluk pinggang Lu Xiang Chuan dari belakang.

* Sepasang tangan yang kuat.

Seumur-umur, belum pernah ada lawan yang berhasil menyergapnya dari belakang.

Ia selalu waspada pada setiap lawannya.

Tapi kali ini berbeda.

Ia tidak siaga.

Tangan itu begitu kuat, terlatih kungfu Shaolin, mengangkat dan membanting Lu Xiang Chuan.

Itulah sepasang tangan Lin Zhong He.

Tanpa ampun Lu Xiang Chuan jatuh terlentang.

Di saat itu, Fang Gang sudah mendarat tiba, kakinya telak menghajar dada Lu Xiang Chuan sekerasnya.

Darah segar muncrat.

Muntah.

Berwarna merah.

* Seperti pemburu menginjak kambing hutan, Fang Gang gagah berdiri, sebelah kaki menginjak dada Lu Xiang Chuan.

Wajah hitam itu tertawa penuh kemenangan.

"Hai, kau lelaki bermarga Lu, katanya banyak akal, nyatanya begini saja sudah kuakali mentah-mentah!"

Mata Lu Xiang Chuan sekeras batu.

"Seharusnya kau yang berterima kasih padaku."

"Kenapa harus berterima kasih padamu?"

"Kalau bukan karena saudaraku, apa kau bisa menang?"

Fang Gang terbahak.

"Benar, kau punya saudara yang baik. Sangat baik malah. Seharusnya kau hati-hati memilih istri."

Lin Zhong He perlahan berdiri, sorot matanya penuh penyesalan.

"Jangan salahkan aku bekerja untuknya."

"Kalau jadi dirimu pun akan kulakukan hal yang sama,"

Kata Lu Xiang Chuan ringan.

"Tapi ada yang tidak kumengerti."

"Apa?"

"Dalam organisasi Wan Peng Wang banyak orang kuat, kenapa kau pilih keledai bodoh ini jadi temanmu dan membiarkannya menghina dirimu?"

Fang Gang meraung murka.

"Kau bilang apa? Siapa yang kau maksud?"

"Kecuali dirimu, tiada keledai bodoh yang kedua."

Gusar, Fang Gang menjejakkan kaki sekerasnya di dada Lu Xiang Chuan. Sedapatnya Lu Xiang Chuan menutup mulut menahan erang. Tapi tubuhnya sudah gemetar, berkeringat dingin.

"Bagaimana rasanya?"

Tanya Fang Gang. Lu Xiang Chuan menelan darah yang hampir termuntah.

"Kau kelihatannya pintar, tapi kalau bertarung seperti perempuan."

Fang Gang sungguh murka.

Ia meloncat setingginya, mendaratkan kedua kaki tepat di rusuk Lu Xiang Chuan.

Terdengar tulang remuk.

Muntah.

Darah * Lu Xiang Chuan terpejam menahan sakit.

Tapi Fang Gang tidak berhenti menghajar rusuk dan perut Lu Xiang Chuan berkali-kali.

Tiba-tiba ia menahan diri dan tertawa.

"Aku mengerti maksudmu!"

"Apa keledai bodoh sepertimu bisa mengerti maksud orang?"

Wajah Fang Gang berubah beberapa kali, sedapatnya menahan emosi.

"Kau sengaja membuatku marah agar cepat mati?"

Lu Xiang Chuan menutup mulut serapatnya.

"Tenanglah, kau tidak akan mati semudah itu. Akan kubuat kau menyesal karena pernah hidup!"

"Kau salah."

"Kenapa?"

"Kalau membiarkanku hidup, kaulah yang akan menyesal,"

Kata Lu Xiang Chuan dingin. Mata Fang Gang berputar, sesaat tertawa.

"Kau sengaja mengulur waktu? Menunggu ada yang menolongmu? Ketahuilah, aku memang berharap ada yang datang menolongmu. Siapa pun yang datang, akan kujadikan landak!"

Fang Gang melirik dinding kiri dan kanan, ia juga memandang para pengawal yang tersisa.

Tertinggal empat orang.

Keempat orang ini tidak menunjukkan ekpresi apa pun.

Sorot mata keempatnya berbeda dengan pengawal lain yang sudah menggeletak mati.

Jelas keempat lelaki ini bukan orang biasa.

Mungkin sejatinya keempat lelaki ini pun bukan pengawal, perbawa mereka setara Fang Gang.

Mereka jelas bersiaga jika sewaktu-waktu ada yang datang menolong Lu Xiang Chuan.

* Lu Xiang Chuan memejam mata; apakah berharap Lao Bo jangan datang?

Fang Gang menarik sebuah kursi, duduk di sana.

"Sepertinya aku harus menunggu untuk melihat..."

Belum habis perkataannya, sebuah kereta kuda membobol dinding menerjang masuk.

Fang Gang tidak perlu menanti terlalu lama.

Bantuan Lu Xiang Chuan telah tiba.

27.

Lelaki Sejati Kusir kereta memecut dua kudanya.

"Mereka datang!"

Teriak Fang Gang.

Di antara teriakannya, terdengar suara lempengan besi berdentang.

Dari dinding kiri dan kanan tiba-tiba keluar lima puluhan lubang terpasang busur.

Panah-panah seperti hujan berhamburan dari lubang-lubang itu.

Seketika itu juga si kusir berubah menjadi landak.

Kedua kuda yang menarik kereta juga menjadi landak.

Tapi kedua kuda masih kuat berlari bersimbah darah, meringkik menerjang dinding.

Kereta terguling terbalik.

Setelah sempat berlari beberapa langkah lagi, akhirnya kedua kuda roboh juga.

Lampu-lampu berjatuhan.

Kobaran api segera membesar.

Roda kereta yang terjungkal masih berputar-putar.

Fang Gang mengayun tangan mengatur komando.

Panah tak terhitung jumlahnya seketika berhenti.

Sebagian langit-langit dan penglari runtuh.

Api berkobar.

Kereta mulai terbakar.

Bila penumpang kereta tidak segera keluar, pasti mati terbakar.

Tapi jika keluar, pasti menjadi landak.

Walau pesilat setanggguh apa pun, pasti tidak akan lolos dari hujan panah serapat itu.

Terdengar tawa Fang Gang menggema.

"Wahai Sun Yu Bo, kau tidak akan bisa kemana-mana!"

Tapi tawa Fang Gang tidak berlangsung lama.

Dinding mendadak terbelah dua.

Terdengar teriakan orang-orang sekarat.

Busur-busur terlempar keluar.

Darah muncrat ke mana-mana.

Mayat-mayat terpental ke udara, jatuh bergelimpangan.

Wajah Fang Gang berubah.

Ia menghampiri salah satu mayat yang terpental jatuh dekat kakinya.

Tidak tertampak luka di luar tubuh, tapi darah keluar dari mulut seakan tumpah.

Pasti terkena hajaran tenaga dalam sangat tinggi.

Di balik tembok ada lima puluh delapan pemanah.

Sekarang semuanya roboh dengan isi dada dan perut hancur, mulut bersimbah darah, kebanyakan tumpah membasahi baju di bagian dada.

Fang Gang menendang meja di dekatnya.

Meja melayang ke kereta penumpang di tengah kobaran api, remuk bersama dengan kereta yang dihajarnya, menimbulkan pijar seperti kembang api.

Di antara reruntukan kereta tidak terlihat seorang pun.

Fang Gang tahu tertipu, berteriak lantang.

"Hai Sun Yu Bo, bila sudah datang kenapa tidak segera keluar?"

Dari balik dinding yang hancur, terdengar tawa dan suara lempengan besi beradu.

Fang Gang memburu dan menghajar dinding itu hingga tidak bersisa.

Siapa pun yang sembunyi di sana pasti luluh lantak.

Tapi di balik dinding kosong semata.

Asap sejenak menipis.

Tiba-tiba datang seorang lelaki dengan langkah tenang membelah kobaran api, seperti tetamu memasuki rumah makan menuju meja pesanannya.

"Siapa kau?"

Bentak Fang Gang. Lelaki itu membuka telapak tangan, memperlihatkan lempengan besi legam berkilauan.

"Kau Lu Man Tian?"

Tanya Fang Gang.

"Memangnya kau tahu siapa aku?"

Lu Man Tian balik bertanya.

"Di mana Sun Yu Bo?"

"Mau bertemu dengannya?"

"Sejak dulu aku ingin bertemu dengannya."

"Kau tidak takut padanya?"

"Apa yang perlu kutakuti?"

"Kalau begitu, kenapa tidak membalik tubuh saja, dia tepat di belakangmu!"

Fang Gang terkejut, cepat membalik tubuh.

* Api masih berkobar.

Puing-puing berserakan.

Di antara reruntukan debu dan asap api terlihat sosok lelaki berumur, menunjukkan telah melalui perjalanan hidup yang panjang.

Wajahnya tanpa ekspresi.

Dilihat dari pakaiannya, ia seperti petani desa yang lugu.

Tapi dari matanya menyorot wibawa luar biasa.

Tanpa sadar Fang Gang melangkah surut ke belakang.

"Kau Sun Yu Bo?"

Lao Bo mengangguk. Fang Gang tiba-tiba mendekati Lu Xiang Chuan yang masih terkapar di sana.

"Kalian masih ingin dia hidup?"

"Tentu saja,"

Jawab Lao Bo.

"Jika ingin dia hidup, jangan macam-macam!"

Ancam Fang Gang.

"Jika berani melukai selembar rambutnya, kucabut nyawamu!"

Sahut Lao Bo tenang. Fang Gang sinis.

"Memangnya aku tidak berani melukainya?"

Ia bermaksud menendang Lu Xiang Chuan. Sekonyong-konyong Lao Bo sudah berada di hadapannya. Seumur hidup ia belum pernah melihat orang yang bisa bergerak begitu cepat. Dingin Fang Gang menantang.

"Kau berani bertarung satu lawan satu denganku?"

Lao Bo tidak menjawab, berjalan semakin mendekati Fang Gang. Tiba-tiba Lin Zhong He berteriak, menunjuk salah satu dari empat anak buah Fang Gang.

"Awas, hati-hati dengan dia!"

Lu Xiang Chuan bisa menduga bahwa di antara anak buah Fang Gang pasti ada orangnya Lao Bo, karena kalau tidak bagaimana Lao Bo bisa mengetahui jebakan Fang Gang ini.

Tapi ia terkejut juga menyadari bahwa satu dari empat orang itu ternyata anak buah Lao Bo.

Fang Gang melengak.

"Ternyata kau mata-mata!"

Katanya pada satu anak buahnya yang termuda di antara mereka.

Secara bersamaan keempat lelaki itu mengeluarkan senjata, ada yang sangat pendek bahkan ada yang sangat panjang.

Lelaki yang menjadi mata-mata Lao Bo memiliki senjata paling panjang di antara mereka, merapat ke arah Lao Bo.

Lao Bo tiba-tiba bergerak, cepat sekali jarinya menotok tenggorokan Fang Gang.

Di saat sama Lu Man Tian juga bergerak.

Tiga orang lainnya pun mengalami nasib sama dengan pimpinannya.

Itulah kehebatan kungfu Lao Bo dan Lu Man Tian.

Tidak ada yang bisa menggambarkan kecepatan mereka selain satu kata.

cepat!

Cepat hingga tidak bisa diuraikan dengan kata-kata.

Cepat hingga tidak dapat ditahan.

Cepat hingga tiada yang bisa melihat perubahannya.

Kungfu Lu Man Tian cepat.

Kungfu Lao Bo lebih cepat lagi.

Sejak awal hingga akhir hanya terdengar satu teriakan saja.

Itulah teriakan Fang Gang yang terjatuh ke arah kereta yang terbakar.

Begitu jatuh, ia tidak bisa keluar lagi.

"Kau mau membakar mati aku, kubakar mati dirimu". Itulah hukum Lao Bo. * Chrysan itu masih rajin berbunga. Setelah tujuh hari beristirahat, Lu Xiang Chuan baru bisa berjalan lagi. Dengan tertatih dan tubuh penuh balutan obat rempah, ia menemui Lao Bo dan berlutut. Lu Xiang Chuan pertamakali berlutut tujuh belas tahun lalu. Sekarang adalah kali kedua. Lao Bo tidak suka orang berlutut padanya. Bagi Lao Bo, berlutut membuat anak buahnya kehilangan wibawa dan ia tidak mau anak buahnya hilang wibawa di hadapannya. Hanya orang bersalah yang berlutut di hadapan Lao Bo. Lao Bo mengangkat Lu Xiang Chuan berdiri. Dari sorot matanya terpancar kebijaksanaan.

"Kau tidak bersalah."

"Aku terlalu ceroboh, karenanya masuk perangkap. Entah bagaimana dengan Han Tang."

Lu Xiang Chuan menunduk kepala.

"Biar bagaimana Han Tang sudah mati, tidak perlu disesali."

Lu Xiang Chuan seperti terkejut baru mengetahui kematian Han Tang, tapi ia tidak bertanya. Setelah lama terdiam, Lao Bo melanjutkan.

"Walau kau terluka, tapi kita juga sudah mendapatkan hasil."

Lu Xiang Chuan mengangguk.

"Paling sedikit kita sudah memberi pelajaran pada Wan Peng Wang. Mulai sekarang seharusnya ia tidak berani macam-macam lagi."

Lu Xiang Chuan lirih bertanya.

"Bagaimana dengan kita?"

"Sementara ini kita tidak perlu bergerak dulu."

Kenapa sudah di atas angin tapi memutuskan tidak bergerak? Ini bukan kebiasaan Lao Bo. Tapi Lu Xiang Chuan tidak bertanya. Lao Bo menghela nafas, mencoba menjelaskan.

"Karena biar bagaimana kerugian di pihak kita juga sangat besar. Sekarang waktunya memulihkan diri."

Lu Xiang Chuan menunduk, tapi merasa Lao Bo menyembunyikan sesuatu. Apa yang disembunyikannya? Lao Bo membalik tubuh, menatap taman bunga chrysan di luar sana. Perlahan ia berkata.

"Musim gugur akan berahir, musim dingin segera tiba."

"Kenapa sampai sekarang Yi Qian Long belum datang juga?"

Tanya Lu Xiang Chuan setelah lama terdiam.

"Dia tidak akan datang,"

Jawab Lao Bo Pertamakalinya wajah Lu Xiang Chuan mengedut.

Apakah ketakutan?

Ia tahu kedudukan dan posisi Yi Qian Long dalam organisasi Lao Bo.

Lantas, apa maksud perkataan Lao Bo?

Apakah Yi Qian Long sudah keluar dari organisasi ini?

Jika Yi Qiang Long keluar, maka organisasi Lao Bo ibarat rumah besar yang ditingal satu tiang penyangganya.

Lao Bo perlahan berkata.

"Sekarang aku sedang menyuruh pamanmu mencari tahu kenapa dia tidak datang ke sini. Aku percaya dia punya alasan yang tepat."

Lu Xiang Chuan tetap curiga.

"Kalau dia tidak mau mengatakannya, bagaimana?"

Lao Bo sedang membalik tubuh, memandang ke luar sana hingga Lu Xiang Chuan tidak bisa menatap wajahnya, hanya melihat tangan Lao Bo mengepal. Setelah lama Lao Bo membuka kepalan tangannya.

"Lukamu belum sembuh, beristirahatlah dulu. Jika tidak penting, tidak perlu mencariku."

"Baik,"

Jawab Lu Xiang Chuan.

"Tugasmu sekarang hanya beristirahat dan menyembuhkan diri secepatnya. Tugasmu berikutnya akan semakin banyak."

Kalimat ini menunjukkan kedudukan Lu Xiang Chuan sudah semakin tinggi dan penting, juga menunjukkan kepercayaan Lao Bo yang semakin besar. Lu Xiang Chuan sangat berterima kasih.

"Aku bisa menjaga diri, Tuan..."

Tiba-tiba Lao Bo tertawa sambil membalik tubuh.

"Siapa bilang aku sudah mau pensiun? Aku belum tua. Kau lihat caraku menghadapi Fang Gang?"

Lu Xiang Chuan juga tertawa.

"Ada sebagian orang yang selamanya tidak pernah tua. Mungkin mereka akan mati, tapi selamanya tidak akan pernah tua."

Sejenak ia terdiam baru melanjutkan.

"Aku berharap Yi Qiang Long punya alasan yang tepat, kalau tidak..."

"Kalau tidak, bagaimana?"

"Dulu ia sangat baik padaku. Jika tidak, aku harus mengurus pemakamannya kalau dia mati."

Lao Bo hanya tertawa. Apakah tawanya terdengar sedih? "Kau beirtirahatlah,"

Kata Lao Bo akhirnya.

"Baik,"

Jawab Lu Xiang Chuan membalik tubuh, beranjak keluar.

"Tunggu sebentar,"

Tiba-tiba Lao Bo menahannya. Lu Xiang Chuan berhenti.

"Apakah kau masih ingin menanyakan sesuatu?"

Lu Xiang Chuan menunduk.

"Aku tidak punya pertanyaan lagi."

"Apa kau tidak ingin tahu kemana Lin Xiu pergi?"

Lao Bo ingin tahu. Lu Xiang Chuan lama terdiam, baru berkata.

"Aku tidak ingin tahu dia pergi kemana. Namun jika dia pergi, pasti punya alasan yang tepat."

Lao Bo menatap Lu Xiang Chuan sambil tertawa.

"Akhirnya kau menjadi seorang lelaki sejati. Kau tidak mengecewakanku." 28. Akhir Sebuah Awal Lelaki sejati! Itulah pujian Lao Bo. Pujian tertinggi Lao Bo pada seseorang. Lu Xiang Chuan menyadarinya. Karena itu, saat keluar pintu, ia mengulum senyum. Pada saat keluar, Feng Hao sudah menunggu. Mereka sudah berjanji minum arak bersama malam ini. Dan sebagai teman minum arak, mereka memasak burung merpati. Merpati pos. Sesungguhnya itulah tanah pekuburan. Tapi tanah itu tampak rata tidak seperti kuburan. Lao Bo menyuruh orang memindahkan bunga chrysan dan menanamnya di sana. Ia sendiri yang menanam pohon pertama. Ia tahu bunga-bunga yang tumbuh di tanah ini akan mekar lebih cerah dan indah karena tanah ini sangat subur. Saat bunga-bunga ditanam, Lao Bo masih terlihat tersenyum. Namun di dalam hati ia merasa sakit sekali. Anak lelaki satu-satunya dan teman-temannya yang paling setia dikubur di dasar tanah ini. Walau mayat mereka membusuk, namun jiwa mereka akan tenang abadi selamanya. Lao Bo tidak ingin orang lain mengganggu mereka. Karenanya, ia tidak ingin orang lain tahu di mana kubur mereka. Kelak saat chrysan bermekaran, pasti akan banyak yang memuji keindahannya. Tapi tidak akan ada orang yang tahu dan selamanya tidak pernah ada yang tahu kekuatan yang membuat bunga-bunga itu lebih cerah daripada tempat lainnya. Lao Bo telah menyatukan roh anak dan teman-temannya di taman ini. Hari mulai gelap. Para pelayan yang diperintah menanam bunga sudah pulang. Air mata Lao Bo mulai mengembang. Sun Jian, Han Tang, Wen Hu, Wen Bao, Wu Lao Dao dan lainnya sudah pergi ke Langit Barat. Lao Bo merasa sangat kesepian dan tahu dirinya semakin tua. Kecuali diri sendiri, ia tidak akan membiarkan orang lain mengetahui perasaannya. Selamanya, tidak akan! End of Episode-1 Ini hanya akhir sebuah awal. Berhasilkah Meng Xin Hun membunuh Lao Bo? Siapakah mata-mata yang ada di organisasi Lao Bo? Bagaimana akhir perseteruan Sun Yu Bo v Wan Peng Wang?

Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 5

Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert