Ceritasilat Novel Online

Pendekar Bayangan Setan 1

Eps 1 Pendekar Bayangan Setan - Khu Lung

Baca online Pendekar Bayangan Setan - Khu Lung

Cersil Pendekar Bayangan Setan - Khu Lung.

Karya . Khu Lung Saduran Tjan ID Sumber DJVU . BBSC Convert . Margareth dll di ecersildejavu web Kiriman Lavilla di dimhad Ebook . Dewi KZ

Tiraikasih website

http.//kangzusi.com/

http.//kang-zusi.info/

http.//dewikz.byethost22.com/

http.//ebook-dewikz.com/

http.//

Tiraikasih.co.cc/

http.//cerita-silat.co.cc/ ---0-dewi-0---

Jilid 01 SlNAR SANG surya dengan perlahan muncul di ufuk sebelah Timur, suasana kota Tiang-sah yang semula sunyi dengan perlahan hidup kembali.

Awan yang melayang jauh diangkasa disertai warna sinar yang memerah dengan cepatnya menembus seluruh permukaan kota itu dan menyinari pintu loteng sebuah bangunan yang amat besar sekali.

Di atas pilar bangunan itu terpancanglah sebuah papan nama dengan terukir "Cu Ong Hu", tiga kata emas, walaupun warnanya sudah luntur di bawah sorotan sinar sang surya tetapi tetap memantulkan cahaya yang menyilaukan mata.

Tetapi bangunan rumah yang demikian besarnya suasana di dalamnya sangat sunyi sekali, sedikit suara manusiapun tidak kedengaran sehingga membuat keadaan amat menyeramkan.

Di dalam rumah tersebut apakah memangnya tidak berpenghuni?

Tidak seorangpun yang tahu.

Mendadak suara langkah kali manusia yang amat nyaring bergema memecahkan kesunyian yang mencekam, di sekeliling tempat itu dari pintu depan berjalanlah masuk seorang pemuda berusia enam tujuh belas tahun deng an menyoren sebuah pedang pada pinggangnya.

Pemuda itu mempunyai bentuk b sangat kek adan yang ar dan kuat sekali, cuma sayang dandanannya sedikit tidak genah dan menggelikan, secarik baju berwarna biru yang dipakai terlalu lebar dan besar diikat dengan sebuah kain yang terbuat dari bahan kasar, dandanannya persis seperti seorang desa, cuma saja bedanya pada pinggangnya tersoren sebilah pedang yang sudah amat kuno sekali.

Dengan langkah yang sangat perlahan dia berjalan menuju ke depan pintu bangunan rumah itu, dengan perlahan kepalanya di dongakkan ke atas membaca sekejap ke arah kata-kata pada papan di atas pilar itu, gumamnya.

"Benar, tidak salah lagi memang rumah ini...."

"Siapa?"

Mendadak suara yang amat kasar berkumandang dari belakang tubuhnya.

"Di siang hari bolong seperti ini buat apa kamu orang bersembunyi-sembunyian disini?"

Dengan amat cepatnya pemuda itu memutar badannya terlihat seorang pemuda dengan alis yang amat tebal, mata besar dan memakai baju singkat berwarna merah darah sedang memandang dirinya dengan pandangan menyeramkan.

"Ooh..."

Serunya dengan cepat sambil tertawa paksa.

"Cayhe She Tan bernama Kia-beng, ini hari baru saja sampai di sini."

Tidak menanti dia selesai berbicara orang itu sudah membentak kembali memotong ucapannya.

"Tempat ini tidak memperkenankan orang lain untuk tinggal lebih lama, cepat kau menggelinding pergi dari sini."

Mendengar perkataan yang amat kasar itu si pemuda segera mengerutkan alisnya, dengan wajah penuh perasaan gusar dia melototi orang itu, tapi sebentar kemudian sudah lenyap kembali dari wajahnya.

"Aaah, entah siapa nama besar dari Heng-thay?"

Tanyanya sembari tertawa paksa.

"Kenapa tempat ini tidak memperkenankan orang lain untuk berdiam lebih lama?"

"Thay-yamu adalah si "Chiet Ciat Hong Wie Pian"

Atau si cambuk ekor burung Hong Ting-hong dari partai Tiam-cong-pay, tidak memperkenankan kau di sini yah tidak boleh buat apa kamu orang banyak omong.

Hmmm, aku lihat lebih baik kau cepat-cepat pergi dari sini."

"Jika aku tidak mau pergi?"

"Haa.... haa mudah, mudah sekali!"

Teriak Ting-hong sambil tertawa terbahak-bahak.

"Geleger....!"

Tangannya dengan cepat menyambar ke arah pinggangnya mencabut keluar sebuah cambuk lemas sepanjang tujuh depa, dengan perlahan pergelangan tangannya digetarnya sehingga membuat cambuk itu berdiri tegak laksana sebuah pit.

Pemuda itu segera angkat bahunya sendiri dan tertawa.

"Hee.. he bilamana kamu orang mau mengandalkan barang itu untuk menakut-nakuti aku, hee.... hee belum sanggup. cuma saja kamu mau gerakan golok main pedang di tengah jalan raya apakah tidak akan mengejutkan rakyat lainnya"

Ting-hong menjadi sadar kembali, mendadak dia mengaum dengan amat kerasnya.

"Sekarang aku tahu sudah asal usul kamu orang!"

Teriaknya dengan keras.

"Malam ini pada kentongan ketiga Thay-yamu menunggu kau di pinggir sungai jika kau tidak berani pergi maka kau adalah si cucu kura kura?"

"Hmm.... jika kamu orang pingin di gebuk boleh saja, terserah kamu,"

Jawab pemuda itu kemudian sambil tertawa dingin.

Sekali lagi Ting-hong mendengus dengan amat beratnya sesudah menyimpan kembali cambuknya dia melangkah pergi dari sana.

Seperti belum pernah terjadi sesuatu urusan pemuda itu mengitari kembali bangunan besar itu, sepasang matanya yang jeli dengan tak berkedipnya memperhatikan keadaan seluruh bangunan rumah itu.

Mendadak....

Dari hadapannya muncul kembali seorang sastrawan muda yang pada tangannya memegang sebuah kipas yang terbuat dari kertas, matanya dengan amat tajam memperhatikan dirinya lalu terdengar dia berkata dengan amat dingin.

"Hei kawan sepagi ini kau sudah datang mengadakan penyelidikan bukankah kau sudah terlalu memandang tingginya ilmu?"

Sang pemuda cuma melirik sekejap ke arahnya dia tidak mau perduli padahal dalam hati pikirnya.

"Kenapa ini hari aku begitu sial sudah bertemu dengan manusia manusia tanpa pendidikan semacam ini?"

Si sastrawan berbaju hijau itu ketika melihat sang pemuda sama sekali tidak perduli terhadap dirinya, tiba-tiba berjalan maju ke depan untuk menghalangi perjalanannya.

"Hey kawan!"

Teriaknya dengan gusar.

"Lebih baik kau sebutkan asal usulnya lebih jelas lagi bilamana kamu orang mau mencari gara gara di depan aku si Pek Lok Suseng atau si sastrawan tunjangan putih Sie Cu-peng, Hee.. hee.. tidak ada baiknya kawan,"

Siapa tahu bukannya jeri, pemuda itu malah tertawa terbahak-bahak dengan amat kerasnya.

"Haaa.... seorang manusia lagi yang tidak ingin nyawa sendiri, kaupun ingin orang untuk bertempur di pinggir sungai?"

Air muka Sie Cu-peng yang memangnya putih, memutih kini berubah semakin jelek lagi, sekilas hawa napsu membunuh memenuhi wajahnya.

"Kawan, kau berasal dari pantai mana?"

Ujarnya sambil menantang aku si Pek Lok Suseng untuk diajak bertanding? baiklah aku tunggu pada kentongan ke tiga nanti malam."

"Siauw ya Tan Kia-beng tidak punya partai, sebetulnya aku punya sedikit urusan untuk diselesaikan di kena mi.... hee siapa sangka manusia dari kota Tiang-sah ini selain pandai cari gara-gara apapun tidak bisa, sungguh manusia buas yang tak berotak."

Sehabis berkata pemuda itu gelengkan kepalanya berulang kali, agaknya dia betul-betul merasa sayang atas keadaan itu.

Pek Lok Suseng merupakan jago Heng-san-pay yang paling diandalkan dari angkatan muda, bukan saja kepandaiannya tinggi, bakatnyapun baik, dia merupakan penduduk asli dari kota Tiang-sah ini sejak kakek moyangnya, kini mendengar suara sindiran dari sang pemuda sudah tentu ia amat marah sekali.

Seluruh tubuhnya gemetar dengan amat keras, mendadak pergelangan tangannya di getarkan, kipas di tangannya dengan menimbulkan sambaran angin pukulan yang amat dahsyat mengancam jalan darah Kie Bun Sian Kie dua buah jalan darah.

Air muka sang pemuda berubah sangat hebat, kakinya dengan amat ringannya melayang menghindarkan diri tiga depa dari tempat semula.

Pada saat itulah secara tiba-tiba terdengar suara bentakan yang amat nyaring dan merdu memecahkan kesunyian.

"Hmm, bocah liar dari mana berani datang kemari cari gara-gara, kota Tiang-sah bukankah tempat yang seenaknya bisa kau ganggu."

Sang pemuda cuma merasakan pandanganannya agak kabur dihadapannya sudah bertambah dengan seorang nona berbaju singsat berwarna hijau dengan sepasang pedang tersoren pada punggungnya, wajahnya yang memancarkan sinar buas, saat ini nona itu sedang melotot ke arahnya dengan amat tajam.

Sejak kecil sang pemuda sangat jarang bergaul dengan kaum gadis, kini melihat seorang nona mengajak bicara dengan dirinya, tak terasa lagi wajahnya berubah merah dadu, jawabnya dengan gugup.

"Cayhe baru pertama kali datang kemari dan selanjutnya belum pernah menyalahi orang lain, dia yang sengaja mencari gara-gara dengan aku dan memaksa berkelahi."

Sembari berkata dia menuding ke arah Pee Lok Suseng Sie Cu-peng. Gadis itu melirik sekejap ke arah Pek Lok Suseng ujarnya sambil tertawa.

"Oh kiranya Pek Lok Suseng Sie Siauwhiap, Siauw moay Ong Ceng-ceng dari benteng Hwee Im poo!"

Agaknya Pek Lok Suseng di buat kaget oleh nama besar dari gadis itu, tampaklah dengan gugup dia merangkap tangannya memberi hormat.

"Selamat bertemu, selamat bertemu, nama benteng Hwee Im Poo sudah menggetarkan seluruh daerah Sie Lace cayhe sangat kagum sekali."

Gadis itu segera tersenyum dengan perlahan dia menoleh kembali ke arah pemuda itu dan bentaknya.

"Apa tujuanmu datang kekota Tiang-sah tidak usah kau beritahupun nonamu sudah tahu, Hmm, cuma mengandalkan kamu orang sudah punya janji dengan Me Siauwhiap? Nonamu ikut satu bagian. Kedatangan sang pemuda kekota Tiang-sah ini memangnya mempunyai satu tugas yang harus diselesaikan, kini mendengar perkataan dari Ong Ceng yang memecahkan rahasianya, dia sudah salah menganggap si Pek Lok Suseng serta Ong Ceng-ceng ini berdiri dipihak lawan, tak terasa darah panas bergolak di dalam hatinya, napsu membunuhpun terlintas pada wajahnya.

"Haa.... haa.. ha...."

Dia tertawa terbahak-bahak dengan amat kerasnya.

"Tidak perduli kalian akan mendatangkan berapa banyak orang, Siauw yamu tidak akan menganggap selamat."

Sepasang tangannya dirangkap memberi hormat kemudian putar badannya berjalan meninggalkan tempat itu.

Pemuda itu She Tan bernama Kia-beng dia adalah anak murid dari seorang pendekar berkelana karena suhunya Ban lie Im Yen atau si Asap Selaksa Li Tok Tong masih ada satu urusan penting yang harus diselesaikan ke arah utara dia sudah memerintahkan muridnya untuk mewakili dia menguruskan peristiwa yang ada di kota Tiang-sah ini.

Tan Kia-beng baru untuk pertama kali berkelana di dalam Bulim, apapun dia tidak tahu ditambah suhunyapun tak memberikan penjelasan yang lebih lengkap, dia tidak memberi tahu siapa orang dan waktu kapan mau mencelakai putri dari Cun Ong-hu sini, sehingga baru saja dia datang ke kota Tiang-sah sudah mendatangkan bermacam macam kesalah pahaman.

Setelah meninggalkan bangunan, Cun Ong-hu ini dengan langkah yang perlahan dia berjalan masuk ke dalam sebuah rumah makan, setelah meminta bermacam-macam sayur dengan perlahan dia mulai makan.

Sekonyong-konyong suara tindakan kaki yang amat ramai menaiki tangga loteng, terlihatlah tiga orang lelaki kasar dengan wajah yang amat kejam berjalan mendatangi.

Orang yang ada dipaling depan merupakan seorang lelaki kasar dengan matanya sedikit juling, sekerat daging lebih menonjol keluar pada wajahnya diikuti sebuah bekas bacokan dipipi kirinya sampai di atas bibirnya kelihatan sekali wajahnya sangat menyeramkan.

---0-dewi-0---Begitu mereka bertiga naik ke atas loteng lantas dengan suaranya yang amat kesar berteriak.

"Hey pelayan, cepat ambil arak."

Waktu itu si pelayan sedang membereskan rekening dengan seorang tamu jawabnya dengan cepat.

"Baik, baik sebentar...."

"Cucu kura-kura.... makannya telur busuk!"

Mendadak si lelaki kasar bercodet itu memukul meja sambil berteriak gusar.

"Bila mana kamu orang bekerja perlahan-lahan nanti aku tua cabut nyawamu,"

Dari nada ucapannva jelas dia menggunakan logat daerah Chuan Lam.

Tan Kia-beng yang melihat kejadian itu segera merasa kalau ketiga orang ini pastilah bukan manusia baik-baik, cuma saja karena urusan panting yang di bebankan di atas pundaknya dia tidak ingin banyak menyampuri urusan orang lain.

Waktu itu sang pelayan sudah menyuguhkan sayur certa arak ke atas meja mereka tampaklah ketiga orang lelaki kasar itu dengan rakusnya menyikat habis seluruh makanan yang dihidangkan bahkan kadang kala memperdengarkan suara tertawa kerasnya yang amat menyeramkan.

Terdengarlah salah satu lelaki kasar yang mempunyai bentuk badan kecil pendek dengan kumis tikus yang tebal memperlihatkan suara tertawanya yang amat menyeramkan.

"Heee.....hii.. hii aku dengar gadis cilik itu sangat cantik sekali,"

Ujarnya keras-keras.

"jika sudah berhasil kita bertiga harus merasakan sepuas-puasnya dulu apalagi pemimpin kitapun cuma menginginkan agar kita membasmi keluarganya sampai keakar-akarnya."

Seorang lain dengan kening yang lebar dan wajah yang pendiam tapi menyeramkan segera menyikut lambungannya ujarnya dengan suara yang amat serak.

"Hee, kalau bicara perlahan sedikit, aku dengar katanya si setan tua itu sewaktu masih hidup masih mempunyai beberapa orang kawan Bulim, kemungkinan sekali ada orang yang sengaja datang menjadi pengawalnya."

"Sekalipun ada orang yang mengawal dia dengan nama Khuan Lam Sam Kiat siapa lagi yang berani mengganggu?"

Seru lelaki bercodet itu tertawa seram. Mendengar perkataan itu si lelaki berkening lebar segera berteriak tidak puas.

"Walaupun kita bersaudara tidak takut kepada siapapun jauh lebih baik sedikit berhati-hati. Tan Kia-beng yang mendengar perkataan itu dalam hati segera terasa tergerak, dengan cepat dia pusatkan seluruh perhatiannya untuk mendengar. Tetapi waktu itu mereka bertiga cuma makan dan minum dengan lahapnya diselingi suara tertawanya yang amat menyeramkan, sepatah katapun mereka tidak berbicara kembali. Satu hari dengan cepatnya berlalu, di dalam sekejap saja sang surya sudah lenyap disebelah barat, kota Tiang-sah diliputi kembali suasana gelap yang diterangi oleh lampu-lampu disetiap rumah suasana sangat ramai sekali. Dengan diam-diam Tan Kia-beng berjalan ke arah bangunan "Cun Onghu"

Itu untuk menjenguk sebentar terlihatlah suasana di dalam sana sunyi senyap tak terdengar sedikit suara pun.

Sebuah bangunan rumah yang amat besar cuma diterangi oleh beberapa buah lampu yang memancarkan sinar remang-remang suasana begitu menyeramkan sekali membuat keadaan disana tidak mirip lagi dengan sebuah bangunan Cun Ong-hu, melainkan mirip sebuah kelenteng bobrok yang sudah tidak diurus.

Setelah mengelilingi sekitar tempat itu satu kali, pikirnya dalam hati.

"Waktu masih sangat pagi sekali, tempat ini tak mungkin akan terjadi urusan, lebih baik aku pergi ketepi sungai dulu untuk menyelesaikan janji yang sudah di buat tadi pagi"

Begitu pikiran tersebut berkelebat dalam hatinya, tubuhnya dengan cepat laksana menyambarnya kilat berkelebat dan melayang menuju ke tepi sungai.

Mungkin karena baru untuk pertama kalinya dia menghadapi pertempuran tak tertahan hatinya terasa tegang juga, sesampainya ditepi sungai terlihatlah air mengalir dengan amat derasnya disertai deburan ombak yang sangat besar, suara air serta angin yang menderu membuat suasana amat membisingkan telinga, tapi tidak tampak sesosok bayangan manusia pun disana.

Setelah keadaan pikirannya menjadi tenang kembali waktu itulah dia baru merasa geli sendiri, kiranya waktu itu masih kentongan kedua jadi waktu itu masih ada satu jam lagi.

Lama sekali dia berdiri seorang diri di tepi sungai akhirnya dari tempat kejauhan terlihatlah sesosok bayangan menusia dengan amat cepatnya berlari mendatang.

"Hey bocah cilik!"

Teriak orang itu dari tempat kejauhan "maaf aku sudah datang terlambat satu tindak"

Ketika Tan Kia-beng melihat wajah orang itu sudah berubah merah padam napasnya ngos-ngosan tak terasa lagi tersenyum.

"Silahkan Heng thay beristirahat dulu,"

Ujarnya perlahan.

"Tidak usah terlalu buru-buru bergebrak."

Si Hong Wie Bian tidak mau perduli atas omongannya, mendadak tangannya digetarkan sebuah cambuk panjang sudah dicabut keluar dari pinggangnya.

"Thay yamu masih punya urusan lain, tidak ada waktu lagi buat omong kosong sama bambu orang."

Cambuk panjangnya digetarkan dengan menggunakan jurus "Leng Coa Jut Tong"

Atau ular cerdik keluar dari gua cambuk panjangnya menghajar depan wajah Tan Kia-beng walaupun sifatnya amat kasar tetapi tenaga dalam yang dimiliki tidak jelek.

Cambuk panjangnya dengan menimbulkan sambaran angin yang amat santer dengan cepat meluncur menghajar dadanya.

Dengan cepat Tan Kia-beng menggeserkan kakinya ke samping, pedang panjangnya dicabut keluar dari dalam sarungnya.

Terlihatlah serentetan sinar tajam yang menyilaukan mata berkelebat di depan tubuhnya membuat segulung kabut keperak-perakan yang amat ketat melindungi seluruh badannya seketika itu juga cambuk panjang itu terpukul balik.

Melihat serangannya terpukul balik dengan perasaan amat terkejut Ting-hong menjerit kaget.

"Bocah ciIik! tidak disangka lihay juga ilmumu."

Pergelangan tangannya dengan cepat digetarkan kembali, ilmu cambuk Ciet Chiat pian Hoat yang paling diandalkan segera dikerahkan keluar, dengan menggunakan gaya-gaya menotok melihat memukul menarik di dalam sekejap saja sudah menggunakan tujuh gaya yang berbeda, terasa angin pukulan laksana menderunya angin topan dengan amat santarnya menggulung mendatang.

Pertempuran ini merupakan yang pertama kali dihadapi Tan Kia-beng sejak terjun di dalam dunia kargouw melihat datangnya serangan yang begitu dahsyat dan santarnya dari pihak lawan dalam hati tak terasa gugup juga dibuatnya, dengan cepat dia pusatkan seluruh ilmu pedang ajaran suhunya untuk mengadakan perlawanan, untuk sesaat lamanya mereka berdua berada di dalam keadaan seimbang.

Semakin lama bergebrak dia semakin merasa cara bertempur seperti ini bukanlah cara yang bagus, dia tahu setelah menghadapi orang ini dia harus menghadapi juga Pek Lok Suseag serta Ong Ceng-ceng kemudian balik kembali kebangunan "Cun Ong-hu"

Untuk melakukan perondaan. Karenanya gerakan pedangnya dengan cepat diubah, mendadak teriaknya keras.

"Heng thay harap bersiap-siap, aku orang she Tan mau berbuat salah kepada dirimu,"

Secara tiba-tiba terlihatlah sinar keperak-perakan yang memecahkan kesunyian.

"Sreet."

Mantel berwarna merah darah dari Tong Wie Pian Ting-hong sudah terobek beberapa bagian terkena sambaran sinar pedang yang menyilaukan mata itu.

Dalam keadaan yang amat terperanjat dengan cepat dia mengobat-abitkan cambuk panjangnya di sekeliling tubuhnya lalu dengan cepat mengundurkan diri ke belakang sejauh delapan depa lebih ketika di ketahui mantelnya sudah terobek air mukanya segera berubah menjadi merah padam.

Lama sekali dia berdiri tertegun, akhirnya sambil merangkap tangannya memberi hormat ujarnya dengan terputus-putus.

"llmu.... ilmu pedang.... ilmu pedang Heng thay sung.... sunggguh hebat sekali, per.... pertempuran ini biarlah anggap.... anggap aku yang kalah."

Telapak tangannya dibalik menggulung kembali cambuk yang ada ditangannya kemudian putar badannya berlari dengan amat cepatnya menuju ke dalam kota.

Tan Kia-beng yang berhasil menyayat ujung mantel dari "Hong Wie Pian"

Ting-hong dalam hati sedikit merasa menyesal, ditambah lagi sesudah dilihatnya sikap dari Ting-hong sama sekali tidak menunjukkan sikap mendendam atau membenci seperti biasa yang terjadi di dalam dunia kangouw walaupun bara saja dia dikalahkan, segera dia merasa kalau orang itu tidak malu disebut sebagai seorang enghiong-Hoohan.

Perlahan-lahan dia memajukan kembali pedangnya ke dalam sarung baru saja mau beristirahat mendadak terasa segulung angin menyambar datang dihadapannya, terlihatlah Pek Lok suseng dengan amat tenangnya sudah muncul di depan tubuhnya, sambil menudingkan kipasnya ke arahnya ujarnya dengan amat congkak.

"Hmra hmm kau boleh mulai menyerang, thay yamu harus cepat-cepat mengusir kau pergi untuk kemudian masih ada urusan lainnya,"

Tan Kia tertawa dingin.

"Kamu orang sudah merasa punya pegangan untuk memenangkan diriku?"

Tanyanya sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Bila tidak percaya kita boleh coba-coba."

Kipas di tangannya secara tiba-tiba di pentangkan kemudian dengan kecepatan luar biasa melancarkan serangan dahsyat menotok kewajah Tan Kia-beng.

Tan Kia-beng sama sekali tidak menduga dia bisa turun tangan secara mendadak dengan tergesa-gesa dia mengundurkan diri sejauh lima depa lebih ke arah belakang.

Pek Lok Suseng tertawa panjang dengan sombongnya bagaikan memutarnya.

Kereta kipas yang ada ditangannya dengan gencarnya melancarkan serangan totokan mengancam seluruh tubuh dari Kia-Beng.

di dalam sekejap saja dia sudah melancarkan delapan serangan dahsyat.

Tan Kia-beng sama sekali tidak mempunyai pengalaman di dalam dunia persilatan, begitu kehilangan kesempatan yang baik dia benar-benar terdesak oleh serangan yang bertubi-tubi itu membuat dia terpaksa mundur terus berulang kali, sampai tak ada kesempatan buat mencabut kl1uar pedangnya.

Dalam keadaan yang teikejut dan bercampur cemas dia siap-siap melancarkan satu jurus yang berbahaya untuk merebut kemenangan tiba-tiba, sesosok bayangan merah dengan amat cepatnya sudah meluncur mendatang.

"Sie heng cepat pergi,"

Teriak orang itu dengan amat merdu.

"Kita sudah terkena siasat memancing harimau meninggalkan gunung dari pihak musuh."

Sehabis berkata ujung kakinya sekali lagi menutul permukaan tanah dengan cepatnya dia meluncur kembali ke arah dalam kota.

Dengan cepat Pek Lok Suseng Sie Cu Feng menarik kembali serangannya dia tertawa seram.

"Bangsat cilik bagus sekali siasatmu hampir-hampir Thay yamu tertipu oleh kau. Kau tunggu saja, ada satu hari jika sampai bertemu kembali dengan aku, jangan salahkan aku mau menyayati seluruh kulit badanmu."

Kipasnya dilepit dan dengan amat cepatnya dia melayang menuju ke dalam kota.

Tan Kia-beng betul-betul dibuat kebingungan oleh kejadian yang ditemuinya baru ini.

Dia tidak tahu siapa merekapun, tidak tahu mereka sedang mengertikan peristiwa apa, setelah berdiri termangu-mangu beberapa waktu lamanya mendadak dia menjadi sadar kembali.

"Aku masih ada tugas yang amat penting, kenapa harus berdiri termangu-mangu di sini seperti orang tolol?"

Pikirnya dalam hati. Dalam keadaan yang amat cemas, tubuhnyapun dengan cepat berkelebat menuju ke dalam kota. Sesampainya di depan pintu bangunan "Cun Ong-hu"

Itu terdengarlah suara teriakan ngeri serta jeritan yang menyayatkan hati berulang kali bergema memecahkan kesunyian dengan cepat dia meloncat ma suk ke dalam.

Tampakiah Chuan Lem Sam Su atau tiga tikus dari Chuan Lam yang ditemuinya siang tadi diloteng rumah makan kini sedang bertempur dengan amat sengitnya me lawan "Hong Wie Pian"

Ting-hong, Pek Lok Suseng, Sie Cu-peng serta Ong Ceng-ceng dari Beateng Hwee Im Poo.

Disamping itu terlihatlah tujuh delapan oiang lelaki kasar dengan pakaian singkat sedang menjagal kaum pelayan serta penjaga rumah yang sedang melarikan diri ke belakang rumah dengan mengawal seorang gadis berpakaian keraton.

Sejak tadi Tan Kia-beng sudah memikirkan sampai disini dengan segera dia menarik kembali pedangnya berganti dengan melancarkan satu pukulan dahsyat, terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati seorang penjahat lagi rubuh binasa di atas tanah.

Tiga tikus yang sedang bertempur dengan amat sengitnya ketika secara tiba-tiba melihat dari tengah udara muncul seorang pemuda yang berani laksana seekor harimau tfcsiiiib bahkan memukul kocar-kacir anak buahnya, saking marahnya si lelaki bercodet itu sudah mengaum dengan amat kerasnya, sepasang matanya berkilat kilat buas dengan kejamnya dia melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar tubuh Hong Wie Pian Ting-hong membuat dia seketika itu juga memuntahkan darah segar dan mundur ke belakang dengan terhuyung-huyung.

Begitu melihat serangannya mencapai pada sasaran tubuhnya dengan cepatnya menubruk ke arah Tan Kia-beng.

"Bluuum.... Bluuumm...."

Dengan ngawurnya dia melancarkan delapan serangan sekaligus, dengan tenaga dalam yang dimilikinya dari hasil latihan dua tiga puluh tahun lamanya segera terasalah angin pukulannya laksana menggulungnya ombak dahsyat di tengah samudra dengan hebatnya menggulung tubuh Tan Kia-beng.

Walaupun gadis berpakaian keraton itu dikepung rapat-rapat oleh kaum penjahat dia sama sekali tidak memperlihatkan perasaan yang terkejut atau kaget, sambil menuding ke arah para penjahat itu dia memaki tak henti-hentinya.

Melihat kejadian itu Tan Kia-beng segera merasakan daiah panas di dalam badannya bergolak dengan amat kerasnya, dia membentak keras sedang tubuhnya menubruk ke arah bawah.

Pedangnya dengan disertai serentetan sinar merah yang memancang dengan cepatnya menggulung di tengah udara terdengarlah satu jeritan ngeri berkumandang ke luar seorang lelaki kasar sudah tertusuk mati dan roboh ke atas tanah.

Baru saja ujung kakinya mencapai permukaan tanah mendadak dia mumbul kembali ke atas udara, pedang panjangnya dengan depat berkelebat ke arah dua orangP penjahat yang sedang mengancam gadis itu.

Tampaklah sinar keperak-perakan berkelebat menggulung ke arah kedua penjahat itu.

Mereka berdua yang diserang tidak menjadi gugup mendadak salah seorang penjahat itu mendorong tubuh gadis tersebut ke depan sedang dirinya sendiri berjumpalitan mundur ke arah belakang.

Tan Kia-beng tidak berani menyambut datangnya serangannya itu secara berhadap-hadapan pedang panjangnya dengan cepat digetarkan sehingga menimbulkan segulung bunga-bunga pedang yaag mengurung sekeliling tempat itu.

Tubuhnya miring ke samping kemudian secara tiba-tiba memutar laksana berkelebatnya sambaran kilat di dalam sekejap saja dia melancarkan delapan tusukan yang mengancam samping badan orang itu.

Tak terasa lagi lelaki kasar bercodet itu menjerit kaget dengan cepat dia menarik kembali serangannya sambil putar badannya.

Selagi dia melancarkan satu pukulan dahsyat ke depan membacok tubuh Tan Kie Beng perubahan yang dilakukan sungguh amat cepat sekali.

Tetapi ilmu pedang dari Tan Kia-beng ini mengutamakan kecepatan bahkan memiliki perubahan yang amat banyak dan aneh, terdengar suara terobeknya pakaian baju luar lelaki kasar bercodet itu sudah terbabat seluas tiga Cun.

Ketika si lelaki itu melihat kesempatan buat dirinya sudah lenyap dia semakin gusar lagi bagaikan menderunya angik topan berturut-turut dia melancarkan dua puluh serangan dasyat mengancam tubuh musuhnya.

Demikianlah, sekali lagi terjadi suatu pertempuran yang amat sengit di tempat itu.

Pek Lok Suseng"

Sie Cu-peng dengan mengandalkan sebuah kipasnya dia meneter Pterus dari Lo djie dari Chuan Lam Sa Sja ifu, dua orang sama-sama bersifat kejam dan ganas kini bertemu, sudah tentu terjadilah suatu pertempuran yang benar-benar samat sengit, di dalam sekejap saja seratus jurus sudah dilewatkan dengan cepat.

Mendadak suara teriakan gusar memecahkan kesunyian, kiranya Pek Lok Suseng sudah berhasil terhajar pundaknya oleh senjata Poan Koan Pit yang ada ditangan Djie su membuat dia dengan terhuyung-huyung mundur sejauh delapan depa ke belakang.

Tetapi Pek Lok Suseng pun berhasil menyayat sebuah telinga kanan dari Djie su sehingga darah segar memancar keluar de ngan amat derasnya.

Pada saat yang amat tegang itulah mendadak terdengar Ong Ceng-ceng menjerit kaget, pedang panjang di tangannya berhasil dipukul lepas oleh golok bergerigi dari Sam su itu sehingga tertancap di atas wuwungan rumah.

Tan Kia-beng yang sedang menggunakan seluruh tenaganya untuk melawan lelaki codet itu ketika mereka berdua menemui kekalahan total dia menjadi sangat gusar sekali, dengan mendadak pedangnya laksana mengalirnya awan diangkasa dengan dahsyat melancarkan tiga serangan hebat.

Di tengah hawa pedang yang mengerikan terdengar suara teriakan ngeri yang menyayatkan hati, lengan kiri si lelaki bercodet itu sudah terpapas putus oleh sambaran pedang sehingga darah segar memancar keluar bagaikan sumber air dan mengotori seluruh permukaan tanah.

Lelaki bercodet itu tidak malu disebut sebagai seorang Ielaki bersemangal tinggi, cepat-cepat dia ulur tangannya yang sebelah untuk menutupi mulut luka lalu dengan diiringi suara jeritan ngeri yang mengandung perasaan gusar bentaknya.

"Malam ini aku mengaku kalah, hey bangsat jika kau benar-benar jago sebutkan namamu."

"Siauw ya bernama Tan Kia-beng."

"Baik aku si orang tua akan selalu mengingat dirimu, kau tunggu saja, Chuan Tiong Ngo Kui tidak akan mengampuni dirimu. Bersamaan dengan selesainya dia berbicara tubuhnya dengan cepat melayang naik ke atas genting rumah dengan disertai suara teriakan ngeri yang mengerikan dia melarikan diri terbirit-birit, hanya di dalam sekejap mata saja sudah lenyap tak berbekas. Hong Wie Pian Ting-hong, serta Pek Loi Suseng"

Sie Cu Beng yang sedang berdiri tertegun ketika mendengar disebutnya nama Chuan Tiong Ngo Kui"

Tak terasa perasaan berdesir memancar di dalam hatinya membuat seluruh bulu kuduknya pada berdiri.

Cuma Tan Kie Beng seorang yang memang belum pernah mendengar nama Chuan Tiong Ngo Kui manusia macam apa masih tetap berdiri tenang-tenang saja tanpa memperlihatkan perubahan apapun.

Saat itu Ong Ceng-ceng sudah berjalan ke depan gadis berpakaian keraton itu sambil menggandeng tangannya dia berkata.

"Cuncu, kau sudah menemui kaget, Siauwli Ong Ceng-ceng sudah menerima perintah dari ayahku Hwee Im Poocu sengaja datang menolong Cuncu."

Ting-hong serta Sie Cu-peng pun dengan paksakan diri menahan perasaan sakit dari lukanya pada maju memberi hormat.

"Cayhe Ting-hong menerima perintah dari Tiam cong Sam Cu sengaja datang melindungi nona."

"Cayhe Sie Cu-peng mendapat perintah dari suhu Heng-san It-hok sengaja datang menjaga diri nona."

Cuma Tan Kia-beng seorang saja yang mengerutkan alisnya sambil memandangi mayat-mayat yang pada menggeletak di atas tanah, sepatah katapun tidak diucapkan.

Pada wajah gadis berpakaian keraton itu walaupun masih sangat murung tetapi dengan luwesnya menerima seluruh penghormatan dari jago, lalu ujarnya sesudah menghela napas panjang.

"Hey, iblis ganas ini sungguh amat kejam sesudah membinasakan ayahku mereka tidak puas malah sengaja datang membabat rumput sampai keakar-akarnya, untung saja saudara sekalian pada datang semua sehingga akibat yang tidak diinginkan bisa terhindar"

"Nona!"

Tiba-tiba Tan Kia-beng yang berdiri dikejauhan menimbrung.

"Walaupun malam ini kita berhasil menolong kau lepas dari bencana tapi bagaimana keadaan hari selanjutnya?"

"Benar, kita cuma bisa menolong kau untuk sekali dua kali, tidak mungkin bisa melindungi kau untuk selamanya"

"Bahkan.... bahkan Chuan Tiong Ngo Kui bukanlah manusia yang bisa kita lawan dengan kekuatan kita beberapa orang saja,"

Dengan perkataan dari Tan Kia-beng tadi, seketika itu juga suasana menjadi ramai untuk membicarakan persoalan ini. Dengan amat sedihnya gadis berpakaian keraton itu menghela napas panjang.

"Hey urusan sudah begitu, aku tidak punya pemikiran yang lain lagi"

"Apa kau masih punya sanak saudara untuk diminta perlindungannya?"

Tiba-tiba Ong Ceng-ceng menimbrung.

"Pamanku sekarang ada di ibu kota dan menjabat sebagai menteri, tetapi perjalanan yang begitu jauh tidak mungkin bisa dilakukan, heey...."

"Biar aku yang menghantar kau kesana "

Sekali lagi suara dari Tan Kia-beng memecahkan kesunyian selama ini dia cuma berbicara sepatah dua patah kata saja tapi di dalam ingatan Cuncu itu sangat mendalam sekali, dengan perlahan dia angkat kepalanya dan melirik sekejap ke arahnya.

"Haruskah kita paksakan diri untuk menerjang keluar?"

"lnilah satu-satunya cara untuk meloloskan diri dari kematian, tidak bisapun kita harus mencoba untuk menerjang keluar."

Perkataannya amat tegas sekali sukar sekali untuk dibantah. Air muka dari Pek Lok Suseng yang pucat pasi sepintas lalu berkelebat suatu senyuman yang amat menyeramkan, diamdiam makinya.

"Burung goblok yang tidak tahu kekuatan sendiri, sebelum kau berhasil keluar dari daerah Siang Keng mungkin sudah menggeletak di atas tanah sebagai sesosok mayat."

Tetapi pada wajahnya dia tetap menjawab dengan amat halus.

"Demikianpun sangat bagus sekali, bila ada Heng thay ini yang menghantar di tengah perjalanan tentu tidak akan menemui kesulitan."

Segera dia merangkap tangannya memberi hormat.

"Cayhe sudah menderita sedikit luka, untuk sementara minta diri terlebih dulu"

Ujarnya, selesai berbicara kipasnya dengan perlahan digoyangkan kemudian dengan amat cepatnya dia melompat meninggalkan tempat itu.

Chie Chian Hong Wie Pian yang jadi orang mempunyai semangat pendekar dan hati welas segera berkata pula sambil menatap tajam wajah Tan Kia-beng.

"Walaupun sekarang cuma ada satu cara ini saja tetapi Chuan Tiong Ngo Kui bukanlah manusia-manusia yang mudah diganggu, selama di dalam perjalanan harap heng thay mau sedikit berhati-hati karena cayhe kini sedang menderita luka dalam yang amat parah tidak sempat untuk ikut menghantar terpaksa minta diri terlebih dulu."

Ong Ceng-ceng pun dengan mengambil kesempatan ini mendorong perahu mengikuti aliran sungai.

"Semoga kalian bisa cepat sampai ditujuan, dan dengan selamat tiba di ibukota."

Di dalam sekejap saja mereka bertiga sudah lenyap tak berbekas lagi.

Tak terasa lagi gadis berpakaian keraton itu melirik sekejap ke arah Tan Kia-beng sambil memperlihatkan senyuman pahitnya.

Sebaliknya air muka Tan Kia-beng malah berubah menjadi amat serius, sepasang bibirnya ditutup rapat-rapat dengan berdiam diri dia berdiri tak bergerak disana.

Lama sekali baru terdengar secara tiba-tiba dia berkata.

"Bila mana nona sudah ambil kepututan untuk berangkat silahkan capat-cepat mempersiapkan diri"

Baru saja perkataan itu selesai diucapkan mendadak dari tengah kegelapan muncul seorang tua yang berbadan tegap.

"Tidak bisa, tidak bisa!"

Teriaknya berulang kali sambil menggoyang-goyangkan tangannya.

"Dengan kedudukan sebagai Cuncu kau tidak mungkin bisa menempuh perjalanan sebegitu jauhnya, lebih baik kirim surat saja ke ibukota agar pamanmu kirim orang datang kemari untuk menjemput dirimu"

"Jadi maksudmu agar paman dia orang tua sengaja datang membantu aku membereskan mayat ini?"

Serunya sambil menuding ke arah mayat-mayat yang menggeletak simpang siur di atas permukaan tanah.

Selesai berkata dengan lenggang-lenggok dia berjalan ke depan kamar.

Si orang tua yang terkena abu pada hidungnya tidak berani banyak berbicara lagi, dia memandang sekejap ke arah mayat-mayat yang bergelimpangan di atas tanah, mendadak dengan badan gemetar dia menjerit tertahan kemudian dengan tergesa-gesa berjalan ke depan Tan Kia-beng.

"Kau sudah punya pegangan yang kuat untuk melindungi Cun itu?"

Tanyanya dengan gemetar.

"Dengan perjalanan yang begitu jauh ditambah musuh-musuh yang selalu mengincar di sepanjang jalan, siapa yang berani berkata punya pegangan dua kata?"

"Lalu.... lalu bukankah sangat berbahaya sekali?"

"Daripada sambil duduk menanti saat kematian, lebih baik kita mencari jalan hidup dari kematian, cayhe tidak sanggup mengatakan punya pegangan dua kata dalam hati aku cuma punya maksud unfuk menolong orang saja."

"Tetapi aku bisa beritahu padamu, asalkan nyawa aku orang she Tan masih ada, aku akan melindungi Cuncu dalam keadaan segar bugar, tetapi bilamana secara tidak beruntung nyawa aku orang she Tan menemui bencana.... yaaah tidak ada perkataan lain."

Agaknya si orang tua sudah dibikin tergerak hatinya oleh perkataan ini, tak tertahan titik-titik air mata menetes keluar membasahi wajahnya.

"Kalau.... kalau begitu aku sibudak tua segera.... segera siapkan kereta!"

Ujarnya dengan gemetar.

Dengan pandangan tajam Tan Kia-beng memperhatikan bayangan si orang tua yang tinggi besar itu berlalu, dalam hati dia merasakan suatu perasaan yang sangat aneh sekali.

Walaupun dia masih tidak tahu siapakah Cuncu ini tetapi jika dilihatnya banyaknya para jago serta pendekar yang mempunyai hubungan dengan dia sudah tentu dia adalah seorang pembesar budiman.

Tetapi entah dikarenakan urusan apa hingga menyalahi Ciuan Tiong Ngo Kui sehingga mengakibatkan dia mendapatkan bencana seperti ini.

Ong Hu yang pada masa lalu amat megah dan sangat terhormat kini cuma tertinggal seorang gadis yang lemah lembut serta seorang tua penjaga rumah yang sudah lanjut usia.

Kurang lebih setengah jam kemudian terlihatlah gadis berpakaian keraton itu sudah berjalan keluar kembali sambil menjinjing sebuah buntalan besar sedang pada tangan yang satu membawa sebuah pedang pendek sepanjang satu depa yang memancarkan sinar kebiru-biruan yang menyilaukan mata.

Ujarnya kemudian sambil menyerahkan pedang itu ke tangan Tan Kia-beng.

"Keluhuran budi Siauwhiap, siauw li tidak bisa membalasnya, biarlah pedang pusaka leluhur ini siauw li hadiahkan kepadamu."

"Ini.... ini.... tidak bisa jadi, tidak bisa jadi!"

Seru Tan Kia-beng berulang kali. Gadis berpakaian keraton itu segera memperlihatkan senyuman sedihnya.

"Pedang pusaka harus dihadiahkan kepada kaum pendekar apalagi dengan adanya senjata ini bisa digunakan juga untuk menghadapi sesuatu di tengah jalan."

Tan Kia-beng tidak menolak lagi, dia meneima pemberian pedang itu cuma dalam hati diam-diam dia tertawa geli pikirnya.

"Barang perhiasan semacam ini cukup terbentur saja sudah putus, mana mungkin digunakan untuk bertempur"

Dengan perlahan-lahan dia menyentil sebentar tubuh pedang itu.

"Crinngg!"

Ternyata sangat kuat sekali, lalu tanpa dilihat lebih teliti lagi dia selipkan pedang tersebut pada pinggangnya.

"Cuncu, kita apa mau berangkat sekarang juga?"

Tanyanya kemudian. Sekali lagi gadis berpakaian keraton itu tertawa pahit.

"Siauw li bernama Mo Tan-hong, lain kali harap Siauwhiap jangan memanggil aku dengan sebutan Cuncu lagi."

Tan Kia-beng segera mengangguk, dengan membimbing tangannya dengan perlahan mereka berjalan keluar dari pintu.

Saat itu si orang tua sudah mempersiapkan kereta buat mereka, kereta itu bukan lain adalah kereta yang amat mewah sekali yang di tarik oleh dua ekor kuda, keadaannya amat mewah dan agung sekali.

Sesudah membimbing Cuncu duduk di dalam kereta dan memesankan beberapa patah kepada si orang tua itu, Tan Kia-beng baru menjalankan kereta kudanya menuju ke ibu kota.

Tan Kia-beng yang melarikan kudanya ke luar kota, baru saja melakukan perjalanan sejauh puluhan lie dengan menggunakan jalan raya tiba-tiba dia sudah menemukan kembali jejak musuh dihadapannya, tetapi waktu ini dia sudah bulatkan tekad untuk melindungi gadis itu karenanya hatinya terasa semakin mantap, tanpa memperdulikan mereka lagi dia lalu melarikan kudanya melanjitkan perjalanan ke depan.

Tiba-tiba terdengarlah suara derapan kuda yang amat ramai sekali berkumandang dari belakang kereta, tampaklah dua ekor kuda sangat cepatnya lewat disamping kereta tersebut.

Di atas kereta itu duduklah dua orang lelaki kasar yang memakai pakaian singkat dengan menggembol pedang pada pinggangnya, sinar matanya berkedip dengan amat tajamnya melirik sekejap ke arah kereta yang ditumpangi Cuncu, jelas sekali pada air muka mereka terlintas suatu perasaan terperanjat, kakinya menjepit perut kudanya semakin kencang sehingga larinya kudapun semakin pesat pula.

Melihat keadaan itu dalam hati diam-diam Tan Kia-beng merasa sangat terperanjat, pikirnya.

"Jejak musuh sudah kelihatan di depan, kemungkinan sekali sukar untuk meloloskan diri."

Tetapi dengan keadaan yang dihadapannya sekarang ini dia cuma ada satu jalan ini saja, dengan terpaksa dia sambarkan cambuknya ke atas kudanya membuat kedua ekor kuda itu dengan kecepatan yang tinggi berlari ke depan"

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian sampailah mereka di depan sebuah hutan di-bawah bukit kecil, keadaan di sekeliling sana sunyi senyap, tak terdengar sedikit suarapun, diam-diam Tan Kia-beng meraba pedang pada pinggangnya.

Sekali lagi cambuknya dipukulkan ke depan sedang dalam hati pikirnya.

"Asalkan aku berhasil melewati hutan di depan ini, disebelah sana akan ada rumah tinggal."

Sekonyong-konyong dari tengah hutan berkumandang keluar suara tertawa yang amat keras sekali disusul dengan munculnya sepuluh ekor kuda dengan amat cepatnya.

"Haa haa haa.... hey bangsat cilik dengan kepandaian semacam itu kau ingin jadi pengawal sang gadis, haa haa haa.... lebih baik menyerah saja."

Dalam keadaan yang amat terperanjat Tan Kia-beng dengan cepat pukul kudanya agar berlari lebih cepat lagi, kemudian menarik tali les kudanya kencang-kencang membuat dua kuda pada meringkik dan seketika itu juga mundur tujuh delapan langkah ke belakang, untung saja jalan raya itu sangat lebar sehingga tidak sampai membuat kereta tersebut terguling.

Saat itulah ke sepuluh ekor kuda itu sudah berpencar dan berdiri di sekeliling kereta tersebut, tampak seorang kakek tua yang amat kurus dengan membawa Huncwe menuding ke arah dirinya sambil tertawa seram.

"Hee hee.... bocah orok, kau berasal dari partai mana? sungguh besar nyalimu berani melukai Couan Tong Ngo Kui bahkan menculik pergi putri dari bajingan tua itu, haaa haa.... menurut aku.... kau sungguh tidak tahu kekuatan sendiri he hee he.... kalau mau cari mati bolehlah."

Tan Kia-beng menggigit kencang bibirnya tanpa mengucapkan sepatah katapun juga, dia melirik sekejap ke arahnya kemudian dengan amat cepat mencabut keluar pedangnya.

Dengan perlahan-lahan dia bangkit berdiri dari atas kereta sedang sepasang matanya dengan amat tajam memperhatikan penjahat yang sudah mengurung rapat-rapat kereta tersebut.

Sekali lagi kakek tua itu tertawa terbahak.

"Bilamana sekarang juga kau pergi meninggalkan dia disini mungkin kau masih bisa hidup lebih lama lagi, tapi jika kau berani melawah, hee.... heee.... jangan salah si orang tua turun tangan terlalu kejam."

Dengan cepat Tan Kia-beng menggetarkan pedang panjangnya, dengan amat gusar teriaknya.

"Siapa yang bakal mati tidak bisa ditentukan sekarang juga buat apa kau banyak bacot."

Orang tua itu segera menyengir kejam, huncwee ditangannya dengan cepat diangkat siap memberi tanda untuk menyerang, pada saat yang bersamaan pula tampaklah kedua orang lelaki kasar yang ditemuinya semula di tengah jalan secara tiba-tiba sudah muncul kembali di sana dia membisikkan sesuatu disamping telinga si kakek tua.

Air muka si kakek tua itu segera memperlihatkan perasaan yang amat terperanjat, sinar matanya yang seperti tikus berkelebat tak henti-hentinya di atas kereta itu kemudian dengan amat tegangnya dia berdiri melongo.

Lama sekali baru terdengar dia membentak nyaring sambil mengibaskan tangannya memberi tanda bubar.

Dengan cepat dia putar kudanya kemudian melarikan diri dengan amat cepatnya dari sana.

Pertempuran sengit yang bakal terjadi di dalam sekejap mata sudah lenyap tanpa bekas, dengan perlahan Tan Kia-beng menghembuskan napas lega dan memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung.

Mendadak teringat olehnya sewaktu orang-orang itu siap hendak mulai melancarkan sepertinya pernah melirik sekejap ke atas keretanya kemudian dengan wajah penuh perasaan terkejut melarikan diri, apakah di atas kereta ini ada sesuatu yang aneh?

Berpikir sampai disini tidak terasa Iagi dia sudah memeriksa dengan amat teliti sekitar kereta berkuda ini.

terlihatlah pada kiri kanan kereta itu masing-masing tertancap dua kuntum bunga mawar merah yang menyilaukan, maka apapun tidak terlihat lagi, karenanya dia tidak perduli dan melanjutkan kembali keretanya menuju ke depan.

Sejak saat itu di dalam perjalanan tidak menemukan tanda-tanda yang mencurigakan lagi anak buah dari Cuan Tiong Ngo Kui pun tidak ada seorangpun yang menampakkan diri mereka.

Tetapi....

ketika kereta berkuda itu memasuki jalan besar menuju ke daerah Citig Siang secara tiba-tiba keadaan berubah amat hebat bahkan terasa amat aneh, hampir-hampir setiap hari ada saja orang yang melakukan pengintaian terhadap kereta tersebut, tetapi bagaimanapun dia melakukan penjagaan yang ketat selama ini tidak dapat diketahui juga siapakah orang-orang yang sudah melakukan pengintaian tersebut.

Dalam hatinya kecilnya Tan Kia-beng merasa sedikit gugup juga, tetapi dia tahu jika orang-orang yang melakukan pengintaian itu hendak turun tangan terhadap Cuncu dia tidak akan bisa melakukan perlawanan apapun sekali pun sampai saat itu di dalam hatinya dia merasa tidak tenang tapi dia tidak berani berterus terang mengutarakan perasaan hatinya ini kepada Sang Cuncu.

Berturut-turut tiga hari berlalu dengan amat cepatnya, keadaan semakin lama semakin tegang, hampir boleh di kata setiap gerak-gerik mereka selalu ada saja orang yang mengawasi, siksaan semacam ini jauh lebih hebat terasa oleh mereka daripada harus bertempur melawan musuh dengan amat serunya.

Bagi Tan Kia-beng sendiri dia boleh dikata tak dapat tidur nyenyak baik pada siang hari maupun pada malam hari, dia hanya mengharapkan bisa tiba di ibukota secepatnya sehingga beban yang dipikulnya bisa dibebaskan.

Sedari bergeraknya roda kereta tak kunjung berhentinya berputar, suara ringkikan kuda tak putus-putusnya bergema....

Perjalanan makin hari makin mendekati di hadapan matanya.

Hari itu mereka sedang berhenti di sebuah padang rumput yang luas sebelum melanjutkan perjalanan untuk beristirahat di dalam kota.

Sekonyong-konyong....

Tersampoknya ujung baju terkena angin, dari atas sebuah bukit padang rumput secara tiba-tiba bermunculan berpuluh orang jago Bulim yang amat gagah.

Para jago itu bukanlah seperti jago biasa yang pernah kutemui sebelumnya, setiap langkah kakinya amat mantap, sikapnya berwibawa, ada pendeta, ada Toosu ada pula jago-jago muda dari partai-partai besar lainnya, keadaanya amat keren dan mengerikan sekali.

Orang-orang itu tak hentinya pada bermunculan sehingga sebuah bidang tanah rerumputan yang luas sudah dipenuhi dengan manusia.

Tan Kia-beng tahu suatu pertempuran sengit akan terjadi, mati hidup hanya tergantung pada beberapa saat saja....

Walaupun begitu hatinya bukan terasa takut lagi malahan terasa semakin tenang.

Dengan segera dia menarik tali les kuda untuk menahan larinya kuda, sehingga sesaat kemudian kereta kuda itu sudah tidak bergerak.

Dikarenakan baru untuk pertama kali dia menerjunkan dirinya ke dalam dunia Kangouw, terhadap para jago yang ada di dalam Bulim dia sama sekali tidak kenal bahkan sampai Hwi Gong Thaysu dari Siauw-lim-pay Miauw Ing Su thay dari Lam Hay, si Thay Khek Kiam Tan Ih, Thiat Ciang Ceng Sam Siang, Gak Tiong-yang, Mo Im Kiam Khek"

Mo Yong Cen, Siauw-lim-si, tak Su-Suseng sekalian yang merupakan jago-jagornya Bulim dia sudah salah menganggap mereka sebagai anak buah dari Chuan Tiong Ngo Kui.

Berpuluh-puluh orang itu bersama-sama mengalihkan pandangan matanya memperhatikan kereta yang ditumpangi oleh Mo Tan-hong itu, beberapa saat kemudian menddak....

"Benar, sedikitpun tidak salah?"

Terdengar Ciat Ceng Ceng Sam Siang, Gak Tiong-yang berteriak dengan suara keras. Ke dua kuntum bunga mawar merah merupakan tanda dari siluman-siluman itu.

"Omitohud....?"

Hwee Gong Thaysu segera berseru memuji keagungan Budha, Lebih baik kita tanyai lebih jelas dulu baru turun tangan apakah orang yang ada di dalam kereta itu memang betul-betul dia.

Mo Im Kiam Khek yang ada di samping segera tertawa dingin.

"Buat apa banyak membuang waktu, biarlah lohu seorang tua pergi mencoba kekuatannya."

Tubuhnya dengan cepat meloncat ke depan laksana seekor elang raksasa dengan dahsyat menubruk ke atas kereta. Melihat hal itu Tan Kia-beng menjadi amat gusar.

"Pergi!?"

Pedang panjangnya digetarkan dengan mendatar pada pinggang dia melancarkan satu babatan ke depan. Selama ini "Nbsg Yoae Kiam"

Mong Yong Cang mengutamakan ilmu pedang menggetarkan seluruh dunia kangouw, terhadap beberapa jurus ilmu pedang yang dilancarkan oleh Tan Kia-beng ini sudah tentu dia tidak memandang sebelah mata pun, tubuhnya yang masih ada di tengah udara mendadak melayangkan sepasang kakinya kesamping, telapak tangannya dibalik mencengkeram pergelangan tangan Tan Kia-beng sedang jari teIunjuk tangan kanannya bagaikan kilat cepatnya menotok jalan darah "Cian Cing"

Jalan darah "Cian Cing "

Pada pundaknya Tan Kia-beng yang masih ada di atas kereta ketika melihat serangannya tertutup oleh gerakan musuh dan melijat jalan darah "Cian Cik"

Nya terancam, di dalam keadaan yang amat terdesak mendadak dia menggigit kencang bibirnya, pedang yang sedang melancarkan serangan sampai di tengah jalan dengan cepat ditarik kembali sedang telapak kiri kembali sedang telapak kirinya menerobos ke bawah dengan keras lawan keras menerima datangnya serangan dari Mo In Ki.Ji Kaea itu.

"Bluuum...."

Dua tenaga dalam dari Mong Yong Ceng yang dilatih selama puluhan tahun Iamanya sudah tentu Tan Kia-beng tidak akan sanggup menerimanya.

Terasa segulung angin pukulan yang dahsyat laksana menggulungnya ombak di tengah samudra dengan dahsyatnya mendorong tubuh Tan Kia-beng sehingga terguling jatuh dari atas kereta.

Tetapi saat ini dia sudah melupakan mati hidup dirinya, sekali lagi tubuhnya meloncat naik ke atas kereta menubruk ke arah Mo Im Kiam Khek yang sudah ada di atas kereta itu.

Mo Im Kiam Khek ymg melihat serangannya berhasil menghajar jatuh tubuh Tan Kia-beng segera meloncat mendekati horden kereta itu siap untut membukanya.

Tiba-tiba.....

Segulung angin pukulannya yang amat dingin merasa menusuk tulang dengan dahsyat mengbajar dadanya, belum sempat pikirannya berkelebat dengan disertai suara teriakan ngeri yang amat mengerikan tubuhnya terpental sejauh satu kaki jauhnya, terdengar suara dengusan berat yang terakhir begitu tubuhnya mencapai permukaan tanah dan panca indranya segera memancar keluar darah segar....

tak terhindar lagi jiwanya melayang seketika itu juga.

Tan Kia-beng yang sedang menubruk dari arah belakang tidak tempat menghindar pula, dia merasakan segulung angin pukulan yang amat dingin memukul pundaknya, tak kuasa lagi tubuhnya sekali lagi terpukul jatuh dari atas kereta.

Perubahan yang mendadak ini membuat saking terkejutnya dia terdiri tertegun.

Sungguh aneh sekali, pikirnya di dalam hati.

Apa mungkin di dalam kereta itu sudah bersembunyi siluman sakti?

Saat ini dan tengah lapangan rumput itu sudah terdengar suara teriakan serta bentakan menggeledek yang memekakkan teIinga.

Thiat Ciang Ceng Sam Siang, Gak Tiong-yang bekerja Lak Su Suseng bersama-sama melancarkan pukulan menubruk ke arah kereta tersebut.

Kehebatan dari tenaga pukulan Gak Tiong-yang ini sudah terkenal dan menggetarkan seluruh dunia kangouw, tampak sepasang telapaknya berputar setengah lingkaran ke depan dada kemudian dengan mendatar kirim satu pukulan dahsyat ke depan.

Lak Su Suseng, Ho Hm menggunakan pukulan hawa dingin mengangkat nama di dalam Bulim sepasang telapak tangannya melancarkan satu serangan dahsyat pula ke depan.

Satu tenaga Im yang Ialu tenaga Yang bersama-sama bergabung menjadi satu menghajar kereta tersebut secara bersama-sama, terdengar juga suara guntur yang memecahkan bumi diselingi angin pukulan laksana menggulungnya angin topan di tengah samudra dengan dahsyat nya menekan ke depan.

Kelihatan sekali kereta yang terbuat dari kayu ini bila terkena angin pukulan tersebut akan hancur lebur, jangan dikata kayu sekali pun batu cadas juga akan hancur terkena angin pukulan itu.

Tan Kia-beng yang merasa kuatir atas keselamatan dari Cuncu yang ada di dalam kereta tanpa memperdulikan keselamatan sendiri segera menubruk kedepas sembari berteriak keras.

"Jangan.... jangan."

Tetapi dengan cepat Hwe Gong Thaysu dari Siau lim pay mengebutkan ujung bajunya menahan tubuhnya yang hendak menubruk ke depan.

Pada saat yang bersamaan pula terdengar suara dengusan berat dan Thiat Ciang Ceng Sam Siang serta Luk Su suseng dengan terhuyung-huyung mereka mundur enam tujuh tindak ke belakang sedang dari mulutnya memuntahkan darah segar berwarna merah tua, kelihatan sekali kalau mereka sudah menderita luka dalam yang amat parah.

Orang-orang yang hadir di dalam kalangan saat ini semua merupakan jago-jago Bulim yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, ketika kini melihat tenaga gabungan dari Thiat Ciang Cang Sam Siang, serta Lak Su Suseng yang begitu dahsyatnya pun tilak sanggup menahan satu pukulan dari orang di dalam kereta itu, tak terasa lagi perasaan berdesir meliputi seluruh tubuhnya.

Dalam hati mereka semua tahu jelas, jikalau mereka diharuskan bertempur satu lawan satu dengan Thiat Ciang Tieng Sam Siang, jangan dikata menang untuk mengalahkan sulit, kini belum sampai setengah jurus Thiat Ciang Ceng Sam Siang sudah terpukul rubuh, bukankah bilamana dirinya harus maju hanya menghantarkan nyawa dengan sia-sia belaka?

Di dalam sekejap mata suasana di tengah lapangan rumput itu sudah berubah menjadi sunyi senyap, tak terdengar sedikit suara berisikpun.

Tan Kia-beng pun merasa heran atas terjadinya peristiwa ini, dengan perasaan terperanjat dia berdiri termangu-mangu di sana, pikirnya di dalam hati.

"Apakah Cuncu adalah seorang jagoan berkepandaian tinggi yang tidak suka menonjolkan diri?"

"Tetapi dengan cepat dia sudah meragukan kembali pendapatannya ini."

"Tidak mungkin.... tidak mungkin, jikalau Cuncu memiliki ilmu silat bagaimana dia tidak turun tangan sendiri membalaskan dendam sakit hati atas terbunuhnya ayahnya? sedang dirinya saja berusaha untuk jauh-jauh menghindari tempat kelahirannya?"

Cuaca semakin lama semakin menggelap, segulung angin malam yang amat dingin membuat para hadirin yang ada di tengah kalangan itu tak terasa pada bergidik bulu roma mereka pada berdiri semua.

K.seii maut, angin aneh, kematian berturut-turut bergabung menjadi satu membentuk suatu bayangan yang mengerikan, bahkan setiap waktu setiap saat bisa mencabut nyawa setiap manusia....

Para jago-jago Bulim yang mengadakan pertempuran di tempat ini dalam hati mereka masing-masing punya suatu tujuan tertentu.

Sudah tentu mereka tidak akan melarikan ketakutan cuma dikarenakan angin aneh itu.

Suasana menjadi hening beberapa waktu lamanya, tiba-tiba terdengar Hwee Gong Thaysu dari Siauw-lim-pay segera memuji keagungan Budha dengan perlahan dia maju ke depan sambil serunya, ---0-dewi-0---

Jilid 2 JAGOAN DARI MANA YANG bersembunyi didalarn kereta, silahkan keluar untuk bertemu"

Suasana tetap sunyi senyap tak terdengar sedikit suara pun kecuali kedua ekor kuda yang tak hentinya memperdengarkan suara ringkikan yang memecahkan kesunyian tak terdengar sedikitpun suara jawaban dari dalam kereta dengan perlahan dia memuji kembali keagungan Budba.

Tiba-tiba ujung bajunya dikebut ke depan menyambar kain hordin yang menutupi kereta tersebut.

Dengan tingkatan dari Hwee Gong Thaysu di dalam partai Siauw lim ditambah dengan tenaga dalam yang dilatihnya selama puluhan tahun lamanya, dengan tenaga sambaran ini tnleh dikata sudah mencapai ribuan kati beratnya.

Mendadak segulung angin pukulan yang amat dingin menyambar keluar pula dari dalam kereta menyambut datangnya angin pukulan dari Hwee Gong Thaysu Bagaikan baru saja terpagut ular dengan perasaan amat terkejut Hwee Gong Thaysu menjerit tertahau kemudian meloncat mundur dua kaki jauhnya dari tempat semula teriaknya dengan ketakutan.

"Ilmu sakti Sian Im Kong Sah?"

Miauw Ing Suthay yang selama ini tidak angkat bicara begitu mendengar suara jeritan tertahan dari pendeta Siauw-lim-pay ini segera berkelebat melayang ke samping badannya.

"Thay su kau tidak mengapa bukan?"

Tanyanya dengan rasa kuatir....

Sambil pejamkan matanya rapat rapat Hwee Gong Thaysu gelengkan kepalanya sedang air mukanya sudah berubah pucat pasi, Sekali lagi Miauw Ing Su thay menghela napas panjang.

ujarnya perlahan;

"Kalau memang betul ilmu iblis Sian-Im Kong Sah Mo Kang sudah tentu dia pula orangnya, seluruh perempuan ini jika tidak dibasmi kita dunia kangouw tidak akan ada hari hari tenang Thaysu lebih baik untuk sementara waktu kita bubar dulu Hwee Gong Thaysu."

Mendadak....

Suara jeritan panjang yang tinggi melengking memecahkan kesunyian membawa suasana semakin menyeramkan suara itu bergema tak henti hentinya membuat semua orang serasa bulu kuduknya berdiri Para jago yang ada ditanah lapang begitu mendengar suara suitan yang aneh itu pada menjerit kaget, Siauw Sang Yu tanpa mengucapkan sepatah katapun sudah putar badan melarikan diri terbirit birit diikuti dengan Thay Khek Kian Tan Ie sekalian pada melarikan diri terpontang panting, Miauw Ing Su thay pun dengan cepat menarik tangan Hwee Gong Thaysu sambil berkata dengan cemas "Thaysu.

kitapun harus menghindar untuk sementara waktu' Sipendeta serta si Nikouw dengan amat cepatnya berkelebat pergi dari sana, di dalam sekejap saja para jago yang semula memenuhi lapangan kita tidak tertinggal barang sesosokpun.

Waktu itulah Tan Kia merasa seperti baru saja sadar dari impian.

dengan cepat ia meloncat bangun mendekati kereta kuda iui "Cuncu....Cuncue!"

Teriaknya berulang kali, Dia benar-benar merasa kuatir kalau si gadis sampai menemui bencana.

Mendadak hordin yang menutupi kereta itu disingkap, tampaklah Mo Tan-hong memoncolkan kepalanya keluar, sambil mengucap berulang kali tanyanya.

Tan heng ada urusan apa kau manggil aku?

"Haii, sungguh pandai kau berpura pura"

Pikirnya di dalam hati, tetapi pada mulutnya dia tetap menjawab. ''Peristiwa yang baru saja terjadi apa kau sama sekali tidak tahu?"

"Aku selama ini tertidur terus, baru saja aku bangun dari pules "Aah.... sungguh aneh sekali."

"Sebetulnya sudah terjadi urusan apa? Aah... oooh tidak mengapa, tidak mengapa."

Dengan sedikitpun tidak bertenaga dia memberikan jawabannya, cambuk panjangnya disambar kembali ke depan, terdengar ringkikan kuda yang memasang roda roda kereta berkuda itu berputar kembali meninggalkan debu yang melayang memenuhi angkasa di dalam sekejap saja.

Mereka sudah jauh meninggalkan lapangan rumput itu.

Saat ini dalam hati Tan Kia-beng penuh diliputi oleh pertanyaan pertanyaan yang mcmbingungkan hatinya, jika dilihat orang-orang yang baru saja datang itu kelihatan sekali kalau kepandaian silat mereka sudah mencapai pada taraf kesempurnaan tetapi angin pukulan yang keluar dari dalam kereta itu?

Selang di dalam keretapun cuma ada Mo Tan-hong seorang saja lalu siapa yang sudah melancarkan angin pukulan yang amat hebat tersebut?

Yang mereka sebut sebagai siluman perempuan sebenarnya siapa"

Dan siapa pula orang yang sudah memperdengarkan suara suitan aneh itu?

Kenapa orang-orang itu bisa begitu takut terhadap dia?

walaupun sudah dipikir bolak balik dia tidak memperoleh jawabannya juga.

Mo Tan-hong dengaa perlahan menyingkap hordinnya kembali, tetapi ketika melihat wajah Tan Kia-beng yang amat murung dia tidak jadi berbicara dan menutup kembali hordinnya.

Kini mereka cuma tinggal melewati sebuah kota kecil lagi.

besok lusa sudah akan tiba diibu kota, Tan Kia-beng yang teringat beban beratnya hampir selesai dipikul merasakan hatinya lega juga tanpa dia rasa sudah menghembuskan napas panjang.

Kini ibu kota sudah tampak terlihat di hadapan mereka, walaupun di dalam hati Mo Tan Wong merasa bersyukur atas lolosnya dia dari mulut macan tetapi suatu pikiran yang memurungkan hatinya kembali menyerang dalam hati.

Kiranya hubungannya selama beberapa hari dengan Tan Kia-beng sudah mcnghasilkan suara perasaan yang amat aneh sekali terhadap sang pemuda, walaupun mereka semua mempunyai perasaan semacam ini tetapi dengan kedudukan sebagai Cuncu serta pendekar yang berkelana di dalam Bulim untuk bersatu padu bukanlah merupakan suatu urusan yang mudah.

Tetapi Cinta dua kata memang umat aneh sekali, semakin tidak bisa perasaan cinta yang tertanam di dalam hati mereka semakin menebal bahkan makin lama semakin mendalam.

Dalam hati Mo Tan-hong tahu bilamana dirinya sudah sampai di rumah pamannya jikalau pingin bertemn kembaii dengan pemuda dihadapannya yang mempunyai keberanian serta sifat yang jujur ini bukanlah pekerjaan yang gampang Akhirnya tak tertahan lagi dia menyingkap kembali hordinnya, ujarnya sambil menghela napas perlahan.

"Sesudah sampai di ibu kota kau bersiap-siap hendak pergi kemana?"

"Empat penjuru sebagai rumah tak tentulah."

"Jikalau kau mau berdiam dirumah pamanku, biarlah aku suruh paman jadikan kau sebagai seorang pengawal."

"Terima kasib atas maksud baikmu, tetapi aku tidak dapat melakukannya"

"Apa kau ingin mengembara ke semua tempat?"

"Heeey bakatku memang jadi seorang pendekar yang mengembara bebas kemana saja"

"Lalu dengan menempuh selaksa li kau menghantarkan aku sampai di ibu kota, semuanya apa dikarenakan kependekaranmu?"

"Sedikitpun tidak salah."

"Tidak punya maksud lainnya lagi?"

"Semula memang tidak ada, tapi kini...."

Tak tertahan dalam hati Mo Tan-hong merasakan hatinya berdebar juga, dengan cernas tanyanya.

"Sekarang kenapa?"

"Sekarang sekarang mungkin dikarenakan kau."

Akhirnya Tan Kia-beng mengutarakan juga isi hatinya.

"Kalau betul dikarenakan aku, seharusnya kau tidak boleh meninggalkan aku lagi."

"Tetapi sayang urusan ini tidak bisa aku lukiskan omong terus teraug saja sampai saat ini siapakan ayah ibuku yang sebenarnya aku masih tidak tahu."

"Hey, sayang aku cuma seorang perempuan yang sangat lemah kalau tidak kemungkinan sekali ak u bisa membantu sedikit buat kau."

"Haa....haa.... jangan pikirkan yang bukan bukan cukup sakit hatimu sendiri kaupun tidak punya kekuatan untuk membalas"

Suara cambuk yang nyaring memutuikan kembali percakapan mereka berdua Akhirnya sampai juga mereka di ibu kota Tan Kia-beng segera menghentikan kereta kuda itu di depan rumah mentri negara pamannya Mo Tan-hong terhadap tentara yang menjaga di depan pintu sambil merangkap tangannya memberi hormat ujarnya.

"Tolong Lo heng laporkan ke dalam. katakan saja Cuncu dari Cong Ong Hu kota Tiang San hendak bertemu dengan Ong Loo ya". Tentara itu segera menyahut dan masuk ke dalam tidak lama kemudian dari balik pintu tnuncuiah seorang kakek tua dengan memakai topi berwarna hijau, sesudah memperhatikan Tan Kia-beng beberapa waktu tanyanya.

"Toako inikah yang mengantarkan Cu ca datang kemari?"

Dengan perlahan Tan Kia-beng mengangguk Saat itu Mo Tan-hong sudah tidak sabar lagi cepat-cepat dia menyingkap horden, sambil berseru.

"Ah Hok Loo ya ada dirumah tidak?"

"Ada, ada, baru saja pulang dari istana?"

Sahut Ah Hok dengan amat gugup sambil berulang kali membungkukkan badannya memberi hormat. Lalu dengan cepat pula dia putar badannya berkata terhadap Tan Kia-beng.

"Toako ini silahkan membawa kuda masuk ke dalam."

Kereta berhenti di halaman dalam.

Tan Kia-beng segera menuntun Mo Tan-hong turun dari kereta kuda dan dengan perlahan berjalan menaiki tangga.

Diri dalam raangan segera terdengarlah tindakan kaki yang ramai sekali Ah Hok sudah datang kembali dengan memimpin seorang lelaki dengan memakai jubah kebesaran Ketika pembesar itu melihat tangan halus dari Mo Tan-hong dengan seenaknya ditaruhkan ke atas pundak Tan Kia-beng kelihatan sekali dia mengerutkan alisnya rapat rapat.

Saat itulah Mo Tan-hong sudah berebut maju ke depan sembari berteriak;

"Paman...."

Tak kuasa lagi dia menangis tersedu sedu Pembesar itupun segera memeluk kencang kencang pinggang sang gadis "Bocah.

selama ini tentu kau menderita bukan?' ujarnya gemetar.

Mereka bersama-sama mengerubungi Cuncu dan berjalan masuk keruangan dalam.

kini cuma Tan Kia-beng seorang saja yang tinggal seorang diri diluar ruangan, bahkan tidak seorangpun yang menggubris dirinya.

Sejak tadi dia sudah pingin sekali meninggalkan tempar itu tetapi ketika teringat kembali perpisahannya kali ini dengan sang gadis entah sampai kapan baru bisa berjumpa lagi dia memaksakan dirinya untuk bersabar.

Bagairnana pun juga dia masih merupakan seorang yang buta terhadap pengetahuan Bulim, coba bayangkan saja dibawah lingkungan adat pembesar negeri mana mungkin membiarkan seorang putri raja muda berlaku seperti anak dunia persilatan?

apa lagi mereka cuma menganggap dirinya sebagai kusir kereta saja.

Beberapa saat kemudian tampaklah si pelayan tua Ah Hok berjalan keluar dengan membawa sebuah kepingan emas yang amat besar sekali, ujarnya kepada Tan Kia-beng sambil tertawa.

"Loo ya kami bilang katanya kali ini kau bersusah payah menghajar Cuncu kami sampai disini harap menerima sedikit uang emas ini untuk beli pakaian"

Tan Kia-beng cuma memandang sekejap ke arah emas itu dia tertawa.

"Uang itu aku tidak mau menerima, uang yang aku punya masih lebih dari cukup buat beli pakaian, tolong saja beri tahukan sama Cuncu katakan aku ada sedikit perkataan mau disampaikan kepadanya harap dia mau keluar sebentar."

"Tentang hal ini aku kira tidak mungkin"

Potong Ah Hok sambil tertawa.

"Ada perkataan apa katakanlah, biar nanti aku yang sampaikan kepadanya"

Pada wajah Tan Kia-beng segera terlintaslah suatu bayangan kecewa yang atnat sangat, dia gelengkan kepalanya.

"Kalau begitu tak usahlah."

Segera dia merangkap tangannya memberi hormat kemudian dengan langkah lebar berjalan keluar dari bangunan rumah itu. Dengan cepat Ah Hok mengejar dari belakang, teriaknya berulang kali.

"Hei, uangmu, hey uangmu hey belum kau ambil". Tan Kia-beng mana mau menoleh, segera dia mempercepat langkahnya berjalan ke depan, di dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan. Tan Kia-beng yang sudah berada di luar rumah pembesar negara itu lalu hatinya terasa amat tawar dan murung sekali dia merasakan dirinya seperti seekor burung yang terbang seorang diri di tengah udara. Walaupun selama dua bulan ini setiap hari dia rnerasa kuatir dan berdebar debar hatinya karena ingin menyelamatkan nyawa sang gadis dia tetapi, manusia tidaklah luput dari cinta. Sekalipun Mo Tan-hong dibesarkan dalam lingkungan orang kaya tetapi dia sama sekali tidak mempunyai sifat manja dari seorang putri raja muda dia mengetahui jelas keadaan dirinya yang sangat berbahaya dan memahami pula perasaan kuatir yang meliputi seluruh hati Tan Kia-beng dia pabam dirinya harus menggunakan kata-kata yang sederhana untuk menghibur dirinya bahkan menganggap dia sebagai kakeknya sendiri. Sejak kecil Tan Kia-beng hidup luntang lantung seorang diri, walaupun dia di besarkan oleh suhunya Ban Lie lu Ien Lok Tong tetapi selama ini dia hidup dengan amat sederhana seorang diri, kini secara tiba-tiba mendapatkan kawan seorang gadis yang begitu cantik dan setiap hari mengajak guyon serta hidup berdampingan dalam menghadapi bahaya, apalagi sama-sama merasakan penderitaan selama dua bulan lamanya. mana mungkin dia tidak menaruh cinta terhadap dirinya? Kini mereka harus berpisah kembali dalam hatirya sudah tentu akan timbul kembali suatu rasa sepi dan murung yang jauh lebih bebat. Seperti seorang yang kehilangan akal dengan seenaknya dia berjalan di tengah jalan, dia sedikit benci dan gusar terhadap ketidak berbudinya Mo Tan-hong, kenapa dia sesudah masuk kenangan dalam sudah tidak ingin keluar menemui dia lagi, bahkan sepatah katapun tidak mau diucapkan. Hemm, sesudah lolos dari bahaya apa dia mau memperlihaikan kedudukan sebagai seorang putri raja muda? "Setiap ujung dunia tentu ada rumput liar. Hey, biarlah anggap aku orang she Tan sudah salah melihat orang"

Karena dia, tidak jelas keadaan pihak lawan dia tidak pernah berpikir lebih teliti lagi kedudukan dirinya dia cuma tahu bergusar dan mendongkol atas sikap sang gadis yang tidak berbudi.

Untuk menghilangkan rasa mangkel dan murung di dalam hatinya.

dia lalu masuk ke dalam sebuah kedai arak untuk mengbilangkan kesalnya.

Tiba-tiba....suatu berita yang sangan mengejutkan masuk ke dalam telinganya.

Kereta maut yang menggetarkan dunia persilatan sudah muncul kembali....

Untuk pertama kali kereta maut itu muncul dijalan raya Cing Siang kemunculannya waktu itu sudah membinasakan Mo Im Kiam Khek memukul rubuh Chiet Ciang Ceng Sam Siang Gak Tiong-yang serta Lac Su Suseng, bahkan Hwie Gong Thaysu dari Siauw-lim-pay hampir hampir terluka dibawah serangan ilmu iblis Sian Im Kong Sah Mo Sob.

Mo Kang Kemunculannya yang kedua katanya di daerah Kang Lam.

menurut berita yang tersiar kereta maut itu muncul dari Ho Pak terus menuju ke Kang Lam, seluruh jalan yang dilaluinya banyak pemandangan indah yang dihancurkan bahkan jago-jago dari kalangan Pek-to maupun dari kalangannya Hek-to banyak yang binasa dan terluka ditangannya jumlah dari seluruhnya ada dua ratus orang lebih, di dalamnya termasuk tiga bagian merupakan jago-jago muda yang tampan.

Dengan adanya berita ini Tan Kia-beng merasakannya hatinya amat terperanjat, dengan cepat dia angkat kepalsnya memandang.

Kiranya orang yang baru saja membicarakan perisiiwa itu bukan lain adalah dua piauwsu.

Segera dia pusatkan seluruh perhatiannya untuk mendengarkan lebih laniut, terde ngar Piauwsu berusia pertengahan yang me makai baju berwarna kuning telur sedacg mendesak lebih lanjut.

"Kau mendapatkan berita ini dari mana?"

Piauwsu dengan wajah berpenyakitan yang ada dihadapannya tldak langsung memberikan jawabannya dia angkat cawan araknya meneguk habis isinya terlebih dulu.

"Aku dengar dari Hauw tauw kami yang baru saja pulang dari daerah Kang Lam, katanya peristiwa ini sudah menggetarkan seluruh dunia kangouw, banyak cianpwee-cianpwee Bulim yang sudah mengundurkan diri pada munculkan dirinya kembali karena adanya peristiwa ini"

"Ci Sie Thaysu dan Siauw-lim-pay sudah ambil sumpah untuk membasmi siluman ini dengan dipimpin sendiri oleh dirinya, dia sudah sampai di Kang Lam dengan memba wa kedelapan belas Cap pivee Lu Han nya. Selain itu Kuang Hoat Tootiang dari Kun-lun-pay, Heng-san It-hok Hwee Im tocu Kwan Tiong It Khei, serta Kouw Lo Sam Sah sudah pada munculkan diri kembali di dalam dunia kangouw keramaian ini patut kita pergi nonton."

"Sekallpun begitu kau kira pemilik kereta maut itu mudah dihancurkan?"

Ujar Piauw su berusia pertengaban itu sanbil geleng kan kepalanya berulang kali.

"Pada beberapa tahun yang lalu berita munculnya kereta maut ini sudah sering tersiar di dalarn Bu Iim. Setiap kali ada orang yang berani melawan kereta maut itu tentu sukar untuk loloskan diri dari kematian, bahkan sampai siapa pemilik kereta maut itu tak seorang pun yang tahu".

"Cukup kita ambil contnh Mo Im Kiang Khek serta Thiat Ceng Sam Siang beberapa orang saja, coba kau bilang siapa yang tidak dapat disebut sebagai jagoan suatu daerah tertentu? tidak disangka dalam satu gebrakan saja sudah keok coba kau bayangkan bagaimana tingginya kepandaian silat dari pemilik kereta maut itu?"

Piauw su yang kurus kering itu segera gelengkan kepalanya tertawa pahit.

"Aku cuma berbicara saja, keramaian semacam itu siapa yang berarti pergi lihat?"

Demikianlah perkataan merekapun terputus sampai disini berganti dengan membicarakan urusan urusan pengawalan barang.

Tan Kia-beng yang tidak mendengar adanya urusan yang lebih penting lagi segera membereskan rekeningnya dan menginap di sebuah penginapan dalam hati dia terus berpikir soal kereta maut itu, pikirnya.

"Menurut perkataan mereka tadi jelas sekali sedang membicarakan kereta yang aku kemudi. tapi mana mungkin di daerah Kang Lam juga sudah terjadi peristiwa ini? apa mungkin masih ada sebuah kereta lagi yang mendatangkan kegemparan?. Jika-betul-betul ada maka pemilik kereta tersebut tentulah seorang penjahat yang berhati kejam. jika ada kesempatan tentu aku akan pergi cari-cari dia untuk mengetahui macam apakah sebetulnya orang itu?"

Setelah berpikir kalau di dalam ibu kota tidak ada pekerjaan lagi segera dia menetapkan keesokan harinya berangkat ke daerah Kang Lam bersamaan pula dia teringat kalau perintah suhunya cuma meminta dia menguruskan sedikit urusan di kota Hang san dan tidak menyuruh dia menyusul ke utara, karena dia putuskan untuk berangkat ke daerah Kang Lam.

Berpikir kalau besok pagi dia mau ber angkat menuju ke Kang Lam mendadak bayangan dari Mo Tan-hong muncul kembali di dalam benaknya, tak terasa lagi dia menghela napas panjang, gumamnya seorang diri.

"Hey, bertemu kenapa harus berkenalan...."

Tiba-tiba dia teringat kembali pada pedang pusaka hadiah dari Mo Tan-hong itu di dalam perjalanan karena hatinya selalu merasa tegang selama ini dia belum pernah sungguh-sungguh memeriksa keadaan dari pedang tersebut.

Karenanya dengan perlahan dia cabut keluar pedang tersebut dan dipandangnya dengan amat teliti Pedang itu ada satu depa lim cpen panjangnya, lebar tubuh pedang cuma ada empat jari kelihatan sekali seluruh tubuh pedang itu terbuat dari pualam yang memancarkan sinar terang dan amat kuat sekali, dengan cepat dicobanya membabat ke ujung meja, tanpa buang banyak tenaga lagi meja tersebut sudah terpapas putus menjadi dua bagian, jelas sekali pedang itu amat tajam.

Dia menjadi amat heran sekali, teriaknya.

"Barang dari batu pualam ternyata bisa digunakan jadi senjata pula sungguh aneh sekali."

Tan Kia-beng mengambil pula sarung pedang tersebut, terlihatlah sarung pedang itu terbuat dari bahan perak yang amat tua dan diukir dengan penuh lukisan aneh yang sukar di mengerti karena dia tidak tahu apa arti lukisan aneh itu dengan malasnya diletakkan kembali ke atas meja.

Sekonyong konyong....

dia rnenemukan kembali sesuatu, di ujung sarung pedang itu tersembul sebuah mutiara yang memancarkan sinar yang menyilaukan mata, segera dia memegang mutiara itu dan diputarnya.

"Criing....mendadak sarung pedang tersebut terbuka suatu ruangan yang amat sempit itu terukirlah berpuluh puluh tulisan kecil yang amat rapat sekali. Empat tulisan agak besar yang ada di paling depan bertuliskan, Ceng Kong Mie Cie dari emas kemudian di belakangnya bertuliskan rahasia rahasia belajar ilmu tenaga dalam yang bernama "Pek Tiap Sin kang"

Disamping itu termuat juga rahasia belajar ilmu telapak tujuh jurus yang dinamakan Siauw Siang Chit Ciang serta empat jurus ilmu pedang.

Tan Kia-beng saat ini sudah mempunyai dasar belajar tenaga dalarn selama sepuluh tahun lamanya, sedang tenaga dalam yang dipelajari pun merupakan ilmu dari golongan lurus, setelah dicobanya berlatih dengan menggunakan ilmu rahasia "Pek Tiap Sin Kang"

Segera terasalah olehnya tenaga dalam ini jauh lebih hebat dan lebih mendalam dari pada apa yang dipelajarinya dahulu, sungguh merupakan sebuah ilmu tenaga dalam tingkat yang teratas.

Ketika dia memperhatikan pula ilmu telapak itu, tampaklah walaupun ketujuh buah jurusnya sangat sederhana tetapi mempunyai perubahan yang amat rumit dan banyak sekali, lama sekali dia coba menyelami tetapi tidak lebih baru bisa mamahami jurus pertama "Lok Djiet Tiong Thian"

Atau matahari di tengah udara saja.

Setiap orang yang berlatih silat selalu menganggap ilmu silat seperti nyawanya sendiri.

Tan Kia-beng yang secara tidak sengaja sudah menemukan rahasia ini sudah tentu tidak mau melepaskan begitu saja, semalaman hampir hampir dia tidak pernah pejamkan matanya.

Sesudah lelah berlatih ilmu tenaga dalam Pek Tiau Sin Kang untuk mengembalikan kesegaran badannya dan berlatih kembali ilmu telapak, selama ini hampir boleh dikatakan tidak mempunyai waktu lebih untuk memperhatikan di jurus ilmu pedang itu.

Semalaman liwat dengan amat cepatnya baru saja sang surya muncul diupuk sebelah Timur dia sudah berangkat menuju ke arah Kang Lam Saat ini merupakan bulan ketiga dari musim semi, rerumputan tumbuh dengan subur nya diiringi secara samar-samar dan tanah yang amat keras membuat dia yang sedang melakukan perjalanan merasakan suatu perasaan yang amat aneh, Sewaktu tempo bari Tan Kia-beng melakukan perjalanan ke arah Utara karena hatinya selalu merasa tegang maka dia tidak sampai memperhatikan akan hal ini tapi kini dia harus melakukan perjalanan seorang diri tak urung hatinya diliputi perasaan sedih juga, matanya dengan senduh memandang ke arah kejauhan di mana burung terbang berpasangan.

Teringat akan nasib sendiri yang sial tak tertahan lagi dia menghela napas panjang.

Tiba-tiba....

Suara tertawa cekikikan yang amat merdu berkumandang dari belakang badannya disusul serangkaian kata-kata memecahkan kesunyian "Hey orang sebesar kau tidak ada urusan apa apa kenapa menghela nepas panjang?

Cis tidak lebih dari seorang goblok".

Suaranya seperti burung seruni keluar dari sarangnya, lembut tapi mengandung kegenitan membuat Tan Kia Heng yang sedang melamun menjadi terkejut dibuatnya.

Dia sama sekali tidak menyangka dengan kepandaian silat yang dimilikinya sekarang ini ternyata sama sekali tidak merasakan kedatangan seseorang di belakang badan sendiri dari hal ini saja bisa ditinjau kalau kepandaian silat orang ini jauh lebih tinggi beberapa kali lipat dari dirinya.

Dengan terperanjat dia memutar badan nya menoleh ke belakang.

Entah sejak kapan di belakang tubuhnya sudah kedatangan seorang nona berbaju putih yang usianya kurang lebih delapan sembilan belas tahunan kecantikan nona ini persis sekuntum bunga teratai putih, tidak ada sedikit cacadpun yang terlihat.

Ketika dia melihat perubahan wajah dari Tan Kia-beng yang memperlihatkan perasaan terkejutnya segera tertawa manis sehingga terlihatlah kedua buah sujennya yang menghiasi pipinya.

"Siapa orang yang sudah bermusuhan dengan kau? Kenapa kau begitu terkejut dan merasa tegang?"

Tan Kia-beng yang di katai dengan perkataan tersebut benar-benar dibuat serba salah, mau tertawa tidak bisa, mau menangis pun sungkan, sepasang matanya dengan terbelalak lebar memandang terpesona ke arahnya.

Terdengar nona berbaju putih itu memperdengarkan suara tertawanya yang merdu kembali "Hey, siapa namamu?

Dimana kawanmu sekarang?"

"Cayhe Tan Kia-beng tak mempunyai kawan barang seorang pun."

"Sungguh aneh sekali"

Teriak nona berbaju putih keheranan "yang aku maksudkan sinona yang amat genit cantik dengan pinggang yang ramping sehingga hampir hampir tertiup rubuh oleh angin itu,"

Sembari berkata dia menirukan lagaknya pinggangnya dilenggang lenggokan dengan amat genit tapi menggiurkan.

Melihat gerak geriknya yang amat lincah dan menggelikan itu tak terasa lagi Tan Kia-beng tertawa terbahak-bahak.

"Oh.... kiranya dia yang kau maksudkan orang lain adalah putri raja muda dari Mo Cuncu, mana mungkin mau menjadi kawan karib cayhe?"

"Cis, kau sedang berbohong terang terangan dia adalah kawan karibmu kini kau bilang bukan sejak semula aku sudah bisa melihatnya dengan jelas "

Mendengar perkataan ngotot dari sang nona berbaju putih ini tak terasa lagi dalam hati Tan Kia-beng merasa mendongkol juga, pikirnya.

"Kawanku atau bukan ada sangkut paut apa dengan kau? Apa lagi akupun sama sekali tak kenal dengan kau."

Walaupun di dalam hatinya dia berpikir demikian tapi ia tak tega untuk mengucapkannya keluar.

"Maukah kau jangan bicara sembarangan?"

Pintanya dengan hati cemas.

"Hiii, sekarang aku tahu sudah!"

Teriak si nona berbaju putih itu sambil tertawa cekikikan kembali.

"Pada luarnya kau bicara begitu menarik padahal dalam hati sedang merindukan dirinya bukan begitu?! Sayang sekali begitu dia itu masuk ke dalam rumah pamannya sudah tak mau keluar berjumpa kembali dengan kau."

Mendengar omongannya sama seperti apa yang dialami olehnya Tan Kia Beag menjadi amat heran. pikirnya.

"Urusan ini mana mungkin dia bisa tahu? Aku harus mencari keterangan dari dirinya"

Mendadak tubuhnya menubruk ke depan dengan disertai cengkeraman ke arah pergelengan tanganaya teriaknya dengan keras.

"Urusan ini bagaimara kau bisa tahu? cepat bicara"

"Hii. hii.... buat apa kau begitu galak?,"

Sekonyong konyong....

Dari tempat jauh berkumandang suara suitan yang amat tinggi melengking dan menyeramkan sekali membuat bulu kuduk pada berdiri suara itu semakin lama semakin mendekat....

Air muka sinona berbaju putih itu segera berubah sangat hebat, dengan cemas teriaknya.

"Cepat bersembunyi, cepat....!"

Tan Kia-beng menurut perkataannya, tubuh dengan cepat berkelebat bersembunyi di di tengah-tengah alang-alang yang amat lebat ketika dia menoleh kembali ke tempat semula bayangan dari gadis berbaju putih itu sudah lenyap tanpa bekas tak tertaban diam-diam serunya.

"Huuh... sudah ketemu dengan setan."

Mendadak dia merasakan suara suitan itu sangat dikenal olehnya, dia berpikir keras akhirnya dengan setengah teriak ujarnya;

"Apa benar, bukankah orang itu adalah orang yang sudah mengusir pergi Hwee Gong Thaysu sekalian dari Siauw-lim-pay tempo hari malam? tetapi entah siapakah gadis berbaju putih itu?"

Dengan adanya hadangan dari gadis berbaju putih itu saat ini cuaca semakin lama berubah menjadi menggelap kembali, karena harus menempuh beberapa puluh li lagi baru ada tempat penginapan terpaksa dengan melemparkan jauh jauh perasaan heran serta curiganya dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dengan mengikuti jalan raya melanjutkan perjalanan menuju ke depan Kurang lebih sepenanak nasi.

Kemudian, mendadak di depan jalannya terdengar suara seperti ada orang yang sedang bertempur, dalam hati dia merasa amat terperanjat dengan segera dia mempercepat langkahnya menuju ke arah dimana berasalnya suara itu.

Di dalam sekejap saja dia sudah sampai di tempat tersebut.

Terlihatlah sebuah kereta yaog amat mewah dan agung sekali berhenti di tengah jalan bentuk serta segala sesuatunya mirip sekali dengan kereta kuda yang digunakan untuk mengantar Cuncu tempo hari, di atas tirai kereta tersebut dengan angkernya tertancap dua kuntum bunga mawar merah yang memancar sinar berkilauan yang menusuk pandangan mata, Disekeliling kereta mewah ini berkumpullah jago-jago Bulim dalam jumlah yang amat banyak sekali pada barisan yang paling depan berjajarlah delapan belas hwesio dengan memakai baju biasa berwarna kuning emas, dengan membentuk gerakan kipas mereka mengepung rapat-rapat kereta tersebut.

Air muka mereka semua sudah berubah merah padam, tetapi sikapnya masih tenang dan berwibawa sekali.

Disebelah kanan dari mereka itu berdirilah seorang Toosu berjubah lebar dengan sikap yang amat angker, dibelakaninya berdiri empat orang toosu yang pada menggembol pedang semua.

Barisan disebelah kiri dari kereia itu berdirilah tiga orang kakek tua dengan wajah yang jelek meringis kejam, disamping itu masih ada lagi dua tigapuluh orang yang secara berkeJompok tersebar diempat penjuru.

Suasana disekitar tempat itu amat tegang sekali.

sekilas napsu membunuh berkelebat pada wajah tetiap orang.

Agaknya suatu pertempuran yang amat senglt bakal terjadi kembali, Orang yang mengemudikan kereta mewah itu merupakan seorang kakek tua berjubah hitam yang kurus kering sehingga mirip dengan sesosok mayat hidup.

Terdengar dia memperdengarkan suara tertawa yang mirip dengan jeritan iblis seru nya.

"Hee.... heee.... jagoan dari seluruh Bulim tentu sudah hadir disini semua bukan? Kalian mengbayangi perjalanan Loohu sebenarnya punya petunjuk apa yang mau disampaikan? "

Si hweesio tua yang berdiri pada barisan paling depan bukan lain adalah ciangbun djia dari Siauw-lim-pay, Ci Si Thaysu, telapak tangannya dengan perlahan dilintang di depan dada kemudian dengan suara lantang memuji keagungan Buddha.

"Omitobud..... omitobud Saudara sebenarnya siapa? Kenapa setiap tahun kau melakukan perjalanan dari Utara ke Selatan kemudian dari Selatan menuju ke Utara? setiap perjalanan yang kau lewati kenapa kau membunuh begitu banyak orang sehingga keadaan amat mengerikan? Loohu benar-benar merasa tidak betah untuk menonton terus tanpa ikut campur."

"Hmmm, siapa yaog melawan aku binasa yang menyanjung aku hidup itulah sifat dari Loohu teriak si Kakek tua berjubah hitam itu sambil mendengus dingin jika, Loohu merasa tak senang sekalipun itu istana kaisar Loohu juga akan menghancurkan, tidak perduli dia seorang kaisar yang agung jika Loohu benci akan kubunuh juga, sedang mengenai orang-orang yang sudah aku binasakan he he he aku kira mereka jauh lebih baik dibunuh daripada dibiarkan hidup lebih lama lagi."

Beberapa perkataan ini seketika itu juga membuat suasana disekitar tempat itu menjadi gempar Kouw Lo Sam Sah atau si tiga iblis dari Kouw Lo san yang berdiri pada barisan sebelah kiri segera maju ke depan mendekati kereta iblis tersebut teriaknya dengan amat gusar;

"Manusia busuk besar juga omonganmu Yayamu hajar dulu bacotmu yang busuk ". Enam buah telapak tangan bersama-sama mendorong ke depan, segulung angin pukulan dahsyat yang secara samar-samar mengandung bau amis memuakkan bagaikan kilat cepatnya menggulung ke arah kereta tersebut. Sifat si iblis ketiga Hek Boan Koang jauh lebih kejam lagi, angin pukulannya yang amat dahsyat itu ternyata sudah diarahkan pada gerbong kereta tersebut. Kouw Lo Sam Sah merupakan jagoan iblis dari kalangan Hek-to dengan mengandalkan ilmu pukulan "Pek-tok In Hong Ciang'nya mereka sudah menjagoi seluruh Bulim buktinya sifatnya amat ganas dan kejam bahkan setiap jago yang terkena angin pukulannya yang beracun ini pasti rubuh binasa. Tan Kia-beng yang secara diam mengintip jalannya pertempuran itu tak terasa ikut merasa kuatir juga terhadap keselamatan dari si kakek tua ber jubah hitam itu. Mendadak.... terdengar suara auman yang menggetarkan seluruh bumi, kakek tua berjubah hitam itu mengayunkan cambuk kudanya berputar satu lingkaran di tengah udara kemudian dengan dahsyatnya menyambar badan ketiga orang iblis tersebut bagaikan sebuah layang layang yang putus talinya tubuh mereka bertiga sudah berhasil disambar dilemparkan sejauh dua tiga kali jauhnya dan tubuh telungkup di atas tanah Gerakannya amat cepat laksana menyambarnya sinar kilat menyambar bumi sampai Ci Si Thaysu yang memiliki tenaga dalam amat sempurna pun belum sempat melihat lebih jeIas bagaima gerakannya tubuh ketiga orang iblis tersebut sudah terlempar ke tengah udara. di dalam keadaan yang amat terperanjat bercampur ngeri dia menundukkan kepalanya rendah-rendahnya sambil memuji keagungan Budha. Sepasang mata dari si kakek tua berjubah hitam yang memancarkan sinar hijau dengan amat dinginnya menyapu kembali ke arah para jago kemudian dengan sinisnya dia tertawa dingin. Kwan Tioog It Khei atau si manusia aneh dari Kwan Tiong dengan langkah lebar segera menerjang ke depan kereta iblis tersebut. dia tertawa dingin tak henti hentinya.

"Hee... bee.... aku mau lihat sebenarnya di dalam gerbong kereta itu sudah bersembunyi manusia kura kura semacam apa?"

Telapak tangannya dengan disertai sambaran angin pukulan laksana gemuruhnya guntur dengan kecepatan yang luar biasa menghajar godin kereta itu Si kakek tua berjubah hitam itu menjadi amat gusar sekali.

"Kau cari mati?' bentaknya, Telapak tangannya dengan mendatar melancarkan satu pukulan hawa dingin yang tak bersuara, dengan dahsyatnya menggulung ke arah tubuhnya orang itu. Tenaga dalam dari Kwan Tiong It Khei amat dahsyat jadi orang pun amat dinginrya, mendadak pukulan telapaknya diubah menjadi kepalan menyambut datangnya serangan dari si kakek tua berjubah hitam tersebut. 'Bluum!"

Dengan keras lawan keras dia menerima satu pukulan diri seorang tua berjubah hitam itu, Terdengar suara jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma tubuhnya bagaikan layang layang yang putus tail dengan kerasnya terpental ke tengah udara kemudian terlempar ke dalam tumbuhan alang alang yang amat lebat.

Kelihatan sekali ilmu silat dari seorang tua berjubah hitam itu memang amat lihay bahkan jadi orang kejam dan ganas.

di dalam sekejap saja dia sudah membinasakan empat orapg jagoan berkepandaian tinggi dari Bulim, saking terkejutnya oleh kejadian ini.

suasana disekitar tempat itu menjadi sunyi senyap, suatu perasaan bergidik muncul pada dasar hati kecil masing-masing membuat napas mereka serasa menjadi amat sesak; Sembilan orang Loohu han ceng yang ada di sebelah kiri dari Ci Si Thaysu segera memuji keagungan Buddha, suara keras bagaikan sambaran geledek kemudian bersama-sama mendorongkan telapak tangannya masing-masing menghajar tubuh si orang tua berbaju hitam itu.

Kedelapan belas orang Loo han dari Siauw-lim-pay ini sungguh hebat sekali bukan saja tenaga dalamnya sudah terlatih mencapai taraf kesempurnaan bahkan ilmu silatnya pun amat lihay.

Kini kesembilan orang bersama-sama menggabungkan tenaganya melancarkan pukulan ke arah musuh, segera tampaklah gulungan angin pukulan bagaikan menggulungnya ombak di tengah tiupan angin taupan dengan amat dahsyatnya melanda ke depan.

Kakek tua berjubah hitam itu segera tertawa dingin, cambuk panjang ditangan kanannya bagaikan menarinya seekor naga sakti, dengan cepat digulung kemudian disambar ke arah luar menghilangkan sebagian besar dari tenaga pukulan tersebut, diikuti ujung bajunya dikebutkan ke depan segulungan angin pukulan bawa dingin yang menusuk tulang dengan amat hebatnya menyambut datangnya serangan tersebut.

Bluuummmn...

suara gemuruh yang begitu dahsyat meletus di tengah udara diikuti menyebarnya tangan yang amat dahsyat Itu keempat penjuru membuat batu serta pasir pada terbang keangkasa...

Tak kuasa lagi tubuh kesembilan hweesio itu terdesak mundur dua langkah ke belakang pada ujung bibirnya masing-masing menetes keluar darah segar berwarna merah tua.

Sebalikrya kereta mewah itu sendiri cuma sedikit bergoyang saja terkena sambaran angin pukulan tersebut.

Kesembilan orang hwaesio lainnya yang ada disebelah kanan Ci Si Thaysu segera maju dua langkah kedepen sesudah memuji keagungan Buddha telapak tangan mereka sama-sama diangkat siap melancarkan serangan ke arah musuhnya.

Mendadak....

Si orang tua berjubah hitam itu memperdengarkan suara suitannya yang amat nyaring tapi tinggi melengking mengerikan, cambuknya dibabat ke depan, kedua ekor kudanya segera meringkik panjang kemudian meloncat sejauh tiga kaki ke depan dengan tanpa banyak susah lagi lagi kereta maut tersebut dengan melayang keangkasa melewati di atas kepala Cie Sie Thaysu sekalian melarikan diri ke arah depan.

Terdeagar suara berputarnya roda kereta yang amat membisingkan telinga di dalam sekejap saja sudah lenyap dibalik pepobonan.

Ci Si Tiuysu segera rnenghela napas panjang ujarnya dengan suara berat;

"Gotong kemari mereka yang terluka, biar aku periksa keadaannya". Beberapa orang hwaesio itu segera menyabut dan menggotong tubuh Kwan Tiong It Khei serta Kow Lo Sin Sah ke depan Ci Si Thaysu Tampaklah dari panca indra Kwan Tiong It Kwai mengalir keluar darah marah yang menghitam, kelihatan sekali kalau jantung serta urat nadinya terputus. Sedangkan pada tubuh Kouw Lo Sam Sah masing-masing sudah tertotok kurang lebih lima buah jalan darah pentingnya, kini merekapun sudah pulang keakhirat. Tidak disangka sama sekali si kakek tua berjubah hitam itu dengan mengandalkan sebuah cambuk kuda hanya di dalam sekejap saja berhasil menotok jalan darah penting pada tubuh tiga orang jagoan berkepandaian tinggi dari kalangan Hek-to bahkan bisa melemparkan pula tubuhnya sejauh dua kaki, kecepatan gerak serta kecepatan menotok jalan darah sungguh amat lihay sekali dan jarang di temui. Para jago lainnya yang menonton jalannya pertempuan itu cuma bisa gelengkan kepalanya berulang kali, jelas sekali mereka ketakutan oleh peristiwa tersebut. Sedangkan Ci Si Thaysu dengan tenangnya memeriksa keadaan luka dari empat sosok mayat itu air mukanya berubah amat tegang lama sekali dia termenung akhirnya tanpa mengucapkan sepatah katapun dengan memimpin kedelapan belas orang Loo Hanya melenyap diri di tengah kegelapan. Para jago lainnya terpaksa dengan hati sedih menundukkan kepalanya pada bubaran, Suasana di tengah kalangan menjadi sunyi kembali, kecuali suara koakan katak sarta sinar kunang kunang yang beterbangan di angkasa tak terdengar suara begitu sunyi, senyap, tapi menyeramkan. Dengan perlahan Tan Kio Beng berjalan keluar dari balik pohon. kini dia merasa amat kagum sekali atas kedahsyatan dan kelihaian dari ilmu silat si kakek tua berjubah hitam itu bersamaan pula dia merasa gemas dan benci atas kekejaman hatinya. Terhadap keempat sosok mayat yang menggeletak menyeramkan, dia cuma memandang sekejap saja kemudian tanpa mengucapkan. sepatah katapun siap meninggalkan tempat tersebut.... Mendadak tercium olehnya bau harum dari bunga mawar yang amat sama tapi menusuk hidung, bersamaan pula dibelakang badannya terdengar suara tindakan yang amat perlahan sekali. Dengan cepat dia putar badannya, terlihatlah seorang berbaju putih yang ditemui tadi sudah berdiri dihadapannya sambil tersenyum. Pada genggamannya sekuntum bunga mawar yang berwarna merah darah. Dibawah sorotan sinar rembulan, kelihatan sekali sikapnya yang begitu agung dan cantik membuat dia betul-betul terpesona dibuatnya. Tak terasa lagi Tan Kia Bang sudah berdiri termangu-mangu disana, matanya terbelalak besar sedang mulutnya melongo Melihat hal ini tak terelakan lagi si nona berbaju putih itu tertawa ringan.

"Hi.... hii... sungguh lucu sikapmu."

Tiba-tiba dia merasakan si nona berbaju putih ini rada sedikit aneh dan misterius, kenapa dia seIalu menguntitnya dengan bersembunyi sembunyi apa mungkin dia adalah siluman rase?

berpikir sampai disitu cepat-cepat tangannya meraba gagang pedangnya sambil membentak keras.

"Kau seorang manusia atau setan? kenapa terus menerus membuntuti diriku?"

Gadis berbaju putih iiu tetap memandang dirinya sambil tertawa, terhadap perkataan yang yang diucapkan sama sekali tidak mengambil gubris.

"Jika kau tidak mau bicara, jangan salahkan cayhe berlaku kurang ajar terhadap dirimu."

Cring..!

pedang panjangnya segera dikeluarkan dari sarungnya, dibawah sorotan sang rembulan pada tubuh padang tersebut.

Tampak keluar sinar keperak perakan yang menyilaukan mata.

Gidis berbaju putih itu tetap berdiri tak begerak sedikitpun, sepatah katapun tidak diucapkan keluar.

agaknya dia sedang menonton suatu pertunjukan yang menarik hatlnya.

Tan Kia-beng menjadi mendongkol, pedang panjangnya dibabat sejajar dengan dada menghajar tubuh sang gadis, gerakan pedangnya ini cuma sebuah serangan gertakan saja walaupun gerakannya mantap dan amat kuat tetapi tak mangandung sedikit tenagapun.

Siapa tahu dia cuma merasakan pandangannya menjadi kabur.

sang nona berbaju putih itu masih tetap berdiri di tempat semula tak bergerak.

"Hii..... hiii... buat apa main gertak sambal?"

Ujarnya sambil tertawa merdu.

"Bilamana kau sungguh sungguh mau turun tangan gunakan seluruh ilmu silat yang kau miliki."

Tan Kia-beng benar-benar dibuat mendongkol, mendadak pergelangan tangannya digetarkan, bagaikan kilat cepatnya dia melancarkan delapan tusukan mengancam seluruh tubuh si gadis itu.

kecepatan gerakannya bagaikan meluncurnya bintang bintang dilangit kemantapannya bagaikan baja murni.

Tetapi...

perduli dia menggerakan pedangnya laksana pelangi tubuh si gadis berbaju putih ltu tetap seperti melengket dengan pedangnya, dengan amat lemahnya berkelebat mengikuti bayangan pedang tersebut.

Jangan dikata tubuhnya sekalipun menjawil ujungnya bajunyapun tak sanggup.

Dalam keadaan gusar bercampur gemas mendadak dia menarik kembali pedangnya kemudian balik tubuhnya meninggalkan tempat itu, dia merasa dirinya sebagai seorang lelaki sejati tidaklah patut untuk menggunakan pedang menyerang seorang gadis yang memberikan perlawanan dengan tangan kosong apalagi untuk menjawil ujang bajunya musuhpun tidak sanggup, di dalam keadaan gusar cepat-cepat meninggalkan tempat itu Agaknya hal ini berada diluar dugaan nona berbaju putih itu, teriaknya.

"Hay, cepat kau kembali! aku ada perkataan yang mau kusampaikan kepadamu!"

"Hmmm, ada perkataan apa lagi yang bisa dikatakan? aku tidak sanggup mengalahkan dirimu apakah aku tidak boleh mengalah?' "Lalu apakah sudah kalah harus pergi?"

"Kau bermaksud hendak melakukan apa lagi terbadap diriku?"

Tan Kia-beng dengan amat gusarnya membalikkan badannya kemudian meloroti gadis itu.

"Hiii.... hii.... kau sungguh menyenangkan sekali...."

Tiba-tiba, tanpa mengeluarkan sedikit suarapun kakek tua berjubah hitam itu sudah munculkan dirinya dihadapan mereka.

"Cian dje kau sedang guyon dengan siapa?"

Tanyanya dengan suara berat, Tetapi begitu dilihatnya Tan Kia-beng berdiri disana mendadak dari sepasang matanya memancarkan sinar hijau yang membuat banyak orang terasa bergidik.

Tan Kia-beng menjadi amat terperanjat, dengan tubuh gemetar dia mundur satu langkah ke belakang Sewaktu si gadis berbaju putih itu melihat si orang tua berbaju hitam secara tiba-tiba sudah munculkan dirinya disana tak kuasa lagi air mukanya berubah amat hebat sambil menuding ke arah Kia-beng serunya.

"Bangsat ini memaki aku sebagai gadis jelek, bahkan baru saja menggunakan pedangnya menusuk aku"

"Hmmm, benarkah?"

Dengus kakek tua berjubah hitam itu dengan amat dinginnya.

Sinar matanya dengan amat teliti memperhatikan ujung kepala Tan Kia-beng sampaikan pada ujung kakinya, air mukanya yang amat dingin kaku itu secara tiba-tiba terlintas suatu senyuman yang amat tawar sekali Juga hati Tan Kia-beng merasa sangat tidak puas pikirnya;

"Nona ini kenapa berbohong di depan dia orang tua? kapan aku pernah memaki dia sebagai gadis jelek?"

Mendadak dia teringat kembali peristiwa dimana Mauw lng Suthay sekalipun pernah mengungkat seorang siluman perempuan, pikirannya dengan cepat berputar.

"Hah kau adalah siluman perempuan?"

Serunya tanpa terasa, Gadis cantik berbaju putih yang secara mendadak mendapat makian, semula dibuat tertegun kemudian dengan amat gusarnya membentak.

"Kau berani maki aku?"

Tubuhnya dengan cepat melayang ke depan kirim satu tamparan ke atas wajah Tan Kia-beng membuat pipinya menjadi merah.

Gerakannya ini dilakukan amat cepat sekali bagaikan hembusan angin berlalu belum sempat Tan Kia-beng melibat gerakanrya tahu-tahu pipinya sudah diperseni satu gaplekan keras.

Walaupun tamparannya kali ini menimbulkan suara yang amat nyaring tetapi rasa sekali tidak terasa sakit bahkan terasa amat empuk dan halus.

Tan Kia-beng yang merupakan seorang bersifat sombong mana mau menerima hinaan seperti ini, dia membentak keras pedang panjangnya dengan disertai serenteran bunga bunga pedang yang amat banyak membabat ke arah pinggangnya, serangan yang dilancarkan dalam keadaan gusar sudah tentu kekuatannya amat hebat.

Mendadak....

terasa segulung angin berkelebat terasalah olehnya pergelangan tangannya sudah dicengkeram kencang oleh kakek tua berjubah hitam itu.

ujarnya berulang kali.

"Sudah.... sudahlah, jangan ribut lagi, aku mau tanya padamu siapa suhumu?"

Nada suaranya amat ramah dan halus jauh berbeda sekali dengan sikapnya setiap hari.

Gadis berbaju putih yang berdiri disamping diam-diam merasa juga melihat perubahan sikapnya yang amat sangat.

Sebaliknya Tan Kia-beng dengan perasaan amat gusar sudah mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Suhuku ialah Bun Li Im Yen, Lok Tong, cepat kau lepaskan tanganku, siluman perempuan ini terlalu menghina aku jika tidak diberi sedikit hajaran hatiku merasa tak puas."

Si orang tua berjubah hitam itu segera tertawa terbahak-bahak.

"Sudah..... sudahlah sekalipun suhumu si Bin Lim In Yen Lok Tong datang sendiripun belum tertu bisa menangkis tiga jurus serangannya."

Wajahnya mendadak berubah amat keras, tambahnya.

"Hey bocah cilik, aku mau bertanya padamu maukah kamu orang mengangkat loohu sebagai gurumu? jikalau kau mau aku jamin di dalam tiga bulan saja kau akan berubah menjadi seorang jagoan Bulim yang tak terkalahkan."

Gadis berbaju putih yang berdiri disamping sekali lagi dibuat keheranan melihat sikap nya itu pikirnya.

"Sungguh aneh sekali, bagaimana Tia bisa begitu ramah terhadapnya, bahkan mau mengangkat dia sebagai muridnya?"

Walaupun dalam hati dia merasa amat girang tetapi pada mulutnya tetap dengan suara yang tinggi melengking berteriak.

"Tidak mau... tidak mau, jika setiap hari harus seorang telur busuk yang mendamping aku, tentu saking mangkelnya aku muntah-muntah tak hentinya,"

Tan Kia-beng yang secara tiba-tiba mendengar si orang tua berjubah hitam itu mau mengangkat dirinya sebagai muridnya terasa berdebar debar, tetapi ketika teringat akan keganasan dan kekejaman dari si kakek tua berjubah hitam itu ditambah lagi mengkhianati guru merupakan suatu pantangan Bulim dengan cepat dia mencabut keluar pedangnya kembali.

"Hee heee heee... lebih baik kau menarik kembali niatmu itu"

Ujarnya sambil tertawa dingin.

Sekalipun ilmu silat yang kau milili amat liehay tapi siauw ya mu tak akan mau mengangkatmu sebagai gurumu.

Si orang tua berjubah hitam yang selalu berlontang-lantung seorang diri selamanya belum pernah menerima seorang muridpun kini melihat bakat Tan Kia-beng yang amat bagus untuk belajar silat ditambah lagi sifat dia yang amat cocok dengan apa yang di kehendaki membuat dia benar-benar tertarik semakin Tan Kia-beng menolak niatnya untuk menerima dia sebagai murid semakin menebal.

Terdengar dia tertawa terbahak-bahak kernbali dengan kerasnya.

"Hey bocah orok. inilah suatu kesempatan yang amat bagus buat dirimu, janganlah kau membuang kesempatan baik ini dengan sia-sia."

"Haa haa haa.... sekalipun kau sekarang juga membinasakan aku Siauw yamu juga akan menolak,"

Seru Tan Kia-beng tetap ngotot. Air muka kakak tua berjubah hitam itu segera berubah menghambar, sekilas perasaan yang amat dingin kaku muncul kembali menghiasi wajahnya.

"Heee.... hee.... kau tidak akan menyesal?"

Ujarnya seram.

"Tidak?"

Dengan melintangkan pedangnya di depan dada Tan Kia-beng berdiri disana dengan amat angkernya.

Saking gusarnya orang tua berjubah hitam itu segera memperdengarkan suara pekikannya yang amat nyaring sehingga membuat suasana menjadi amat seram, Gadis berbaju putih itu menjadi amat terkejut.

dia tahu inilah tanda tanda ayahnya sudah diliputi oleh napsu membunuh.

"Tahan,"

Teriakrya cepat.

"aku saja yang turun tangan."

Selesai berbicara tubuhnya dengan cepat menerjang kehadapan Tan Kia-beng yang cepat menutupi tubuh Tan Kia-beng dari serangan kakek berjubah hitam itu.

Pada saat itu....

diseluruh lapangan bergema suara pujian keagungan Buddha yang amat ramai sekali.

Ci Si Thaysu dari Siauw-lim-pay dengan memimpin kedelapan belas orang Loohannya dengan langkah perlahan muncul di tempat itu.

Dengan pandangan yang amat dingin kakek tua berjubah hitam itu melirik sekejap ke arahnya kemudian memperdengarkan suara tertawanya yang amat menyeramkan.

"Bu lang su hud, iblis durhaka ini akan melarikan diri kemana lagi?"

Dari hutan sebelah kiri tampak bayangan merah berkelebat, delapan orang tosu dengan memakai jubab Pat kwa dan pedang tersoreng pada punggungnya bagaikan awan merahnya dengan cepat melayang turun ke atas permukaan tanah kemudian mendesak ke tengah kalangan Belum sempat Tan Kia-beng melihat je!as wajah mereka mendadak terdengar kembali suara bentakan yang amat keras memecah kesunyian.

"Sret, sreet... seret!"

Di tengah kalangan secara tiba-tiba sudah bertambah kembali dengan serombongan jago Bulim dengan dandanan yang amat aneh aneh setiap orang dengan pandangan mata mengandung perasaan dendam yang berapi api dengan gemasnya melototi si kakek tua berjubah hitam serta gadis berbaju putih yang ada di tengah kalangan itu.

Jika dilihat dari situasi sekarang ini jelas sekali kalau para jago di dalam Bulim sudah mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk menghadapi si kakek berjubah hitam serta si gadis baju putih, Tan Kia-beng yang terkepung di tengah-tengah kalangan tak terasa terperanjat juga terlibat kejadian ini, diam-diam pikirnya; 'Saat ini bilamana aku tidak cepat-cepat mengundurkan diri dari sini bilamana nanti mereka mulai melancarkan serangannya bukankah aku akan tergencet di tengah-tengah?"

Karenarya dengan cepat dia menggerakkan kakinya hendak mengundurkan diri dari sana, Mendadak....

Tampak sesosok bayangan manusia berkelebat, si Lik So Suseng Ho Hauw sudah menghadang di depan tubuhnya.

sambil menudingkan kipas emasnya dia membentak keras.

"Tempo hari orang yang mengemudikan kereta kuda dijalanan Cing Siang adalah bangsat cilik, jangan biarkan dia melarikan diri dari sini "

Tan Kia-beng menjadi gusar, bentaknya.

"Kenapa tanpa membedakan putih atau merah kau sudah menfitnah aku?"

"Manusia tidak berguna!"

Tiba-tiba terdengar suara yang amat dingin bergema di belakang badannya.

"Cepat kesini, aku mau lihat kau akan berbuat bagaimana menghadapi mereka?"

Dengan perkataan diri kakek tua berjubah hitam ini tanpa sengaja sudah melibatkan Tan Kia-beng ke dalam jurang tersebut, sekalipun dia akan menjelaskan juga tidak akan berguna Waktu itu si kakek tua berjubah hitam sudah berjalan mendekati para jago, terdengar dengan nada amat seram serunya.

"Kalian dua tiga kali terus menerus mendesak aku si orang tua, apakah kalian benar-benar menyuruh Loohu membuka pantangan untuk membunuh?"

"Loolap sudah lama sekali tidak terjun ke dalam dunia kangouw terdengar Ci Si Thaysu dengan air muka amat dingin berteriak. Sampai ini hari kurang lebih ada dua puluh tahun lamanya, tapi di dalam dua puluh tahun yang singkat ini kau sudah mencelakai beribu ribu jago Bulim.... jika kini Loolap tidak terjun kembaii ke dalam Bulim bagaimana hatiku bisa tega terhadap mereka yang sudah mati?"

"Hiee... heee... kau kira dengan mengandalkan ilmu Thay Djao Bu Siang Tan Kang mu itu sudah cukup untuk meringkus looho? haa... haa... sungguh menggelikan."

Ci Si Thaysu segera mengerutkan keningnya rapat, dengan menundukkan kepalanya dia memuji keagungan Buddha Pada saat inilah mendadak terdengar suara berbenturnya senjata tajam, sebilah pedang panjang sudah terpental jatuh ke tengah udara.

Kiranya Tan Kia-beng sudah menggubris peringatan dari kakek tua berjubah hitam itu dengan langkah yang lebar dia melanjutkan perjalanannya ke kanan tetapi sudah terhalang oleh sambaran kipas emas dari Lak So Suseng Ho Hauw, membuat dia saking mendongkolnya berteriak keras.

"Kenapa kalian menghalangi aku? aku kan bukan satu rombongan dengan dia?"

Sreet...

sreet...

berturut-turut dia melancarkan tiga serangan dahsyat membabat tubuh musuhnya.

Si Lak So Suseng Ho Hauw mana memandang sebelah matapun kepadanya, kipasnya dibabat ke depan menutup kembali serangannya membuat pedang panjang tersebut tergetar amat keras dan harnpir hampir terlepas dari tangannya kemudian ditusuk kipas emasnya dengan amat cepatnya berkelebat menotok jalan darah Ci Bun serta Chiet Kan dua buah jalan darah penting.

Tan Kia-beng yang tidak membawa senjata melihat datangnya serangan kipas itu di dalam keadaan yang amat gugup sudah meloncat ke atas udara kemudian berjumpalitan melancarkan satu pukulan dahsyat ke bawah.

Kiranya tanpa disadari jurus Lok Djiet Tiong Thian dari ilmu telapak Siauw Ciat Cang sudah dikerahkan keluar.

Terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati, tubuh Si Lak So Suseng sudah menghajar oleh datangnya serangan itu sehingga terpental ke tengah udara rubuh di tengah rumput.

---0-dewi-0---JILID.

3 Dengan kepandaian silat yang dimiliki Lak So Suseng dia sudah merupakan seorang jagoan aneh di dalam Bulim karena dia berlaku sedikit gegabah pukulan tersebut dengan menghajar dadanya membuat dia terluka amat parah.

Untung saja Tan Kia-beng baru saja belajar ilmu silat sehingga tenaga dalamnya yang diperolehpun belum tinggi, kalau tidak mana mungkin dia bisa hidup lama lagi.

Peristiwa yang terjadi diluar dugaan ini membuat para jago merasa amat terperanjat, kemudian disusul dengan suara bentakan yang amat keras tiga orang jagoan berkepandaian tinggi sudah menabrak ke arah Tan Kia-beng.

Kini Tan Kia-beng bisa menghajar tubuh Lak So Suseng hal itu didapatkan secara kebetulan saja, kini melihat tiga orang jago dengan amat cepatnya menubruk ke arah tubuhnya dengan cepat melayang ke samping sedang tangannya dengan gerakan cepat mencabut keluar pedang pualam hadiah Mo Tan-hong.

Seketika itu juga hawa pedang yang amat dingin memancar keluar disertai warna biru yang menyilaukan mata berkelebat memenuhi seluruh angkasa, walaupun pedang itu amat pendek tetapi dengan sedikit gerakan saja ujung pedangnya segera memancarkan suatu sinar setebal setengah depa.

Traaang....

traaang.

Senjata tajam di tangan ketiga orang itu segera ada dua yang sudah terbabat putus.

Bersamaan waktunya pula ada beberapa orang diantara para jago sudah berteriak kaget.

"Pedang Kiam Ceng Giok Hun Kiam? Betul, suara teriakan itu berkumandang keluar suasana seluruh kalangan menjadi amat kacau para jago mulai menggerakkan badannya masing-masing mendesak ke depan. Suasana tersebut seketika itu juga memecahkan suasana tegang yang meliputi para hweesio Siauw-lim-pay serta diri kakek tua berbaju hitam itu. Mereka bersama menoleh ke arah Tan Kia-beng kemudian dengan sinar mata penuh perasaan terkejut memperhatikan dirinya. Pedang pusaka yang sudah menggetarkan seluruh Bulim pada seratus tahun yang lalu mana tidak membuat para jago pada menggila? Menurut berita yang tersiar katanya pedang itu semula merupakan pedang milik seorang sakti yang sudah menggunakan dua puluh tahun lamanya menciptakan serangkaian ilmu pedang yang diukir di dalam sarung pedang tersebut, bahkan di atas sarung pedang itu sudah tersimpan suatu rahasia istana terpendam yang amat misterius sekali. Selama ini siapapun tidak pernah memecahkan rahasia ini, siapa tahu pada seratus tahun yang lalu pedang ini muncul kembali di dalam Bulim membuat seluruh dunia kangouw menjadi gempar karena perubahan pedang pusaka itulah beratus ratus jago Bulim sudah menemui ajalnya. Banyak jago-jago yang paling diandalkan oleh setiap partai kebanyakan sudah binasa di dalam badai hujan yang amat dahsyat itu. Tetapi akhirnya siapapun tidak ada yang mendapatkannya dan sejak itu pula pedang tersebut dengan amat misterius lenyap dari kalangan dunia persilatan. Ini hari secara tiba-tiba pedang itu sudah muncul kembali ditangan Tan Kia-beng, bahkan munculnya di tengah berkumpulnya para jago berkepandaian tinggi baik dari golongan Hek-to maupun dari golongan Pek-to coba bayangkan saja suasana pada saat itu mana mungkin tidak tegang? Terdengar si kakek tua berjubah hitam itu tiba-tiba memperdengarkan suara jeritan panjang yang amat dingin dan menyeramkan, laksana segulung asap hitam dengan amat cepatnya dia menyambar ke arah Tan Kia-beng. Tiba-tiba bayangan abu abu berkelebat Ci Si Thaysu pada saat yang bersamaan berkelebat juga menghadang di depan badan Tan Kia-beng sambil kebutkan ujung bajunya dia bersabda.

"Sicu tahan, tarik kembali pedangmu"

Di tengah suitan yang gegap gempita terdengarlah suara benturan yang amat dahsyat berturut turut tubuh Ci Si Thaysu mundur dua langkah ke belakang di atas permukaan tanah kuning yang amat keras segera terbekaslah dua buah telapak kaki yang amat dalam sekali.

Si kakek tua berjubah hitam itupun sambil menggerakkan pundaknya melayang turun kembali ke atas tanah.

Pada saat kedua orang jago berkepandaian tinggi menerjang ke arah Tan Kia-beng itulah tanpa bayangan manusia berkelebat memenuhi empat penjuru kurang lebih sepuluh sosok bayangan hitam bersama-sama menubruk ketubuh Tan Kia-beng membuat suasana di tengah lapangan menjadi amat kacau.

Tan Kia-beng yang sama sekali tidak mempunyai pengalaman untuk menghadapi musuh tangguh melihat begitu banyak jago berkepandaian tinggi menerjang ke arahnya dalam hati sejak tadi sudah menjadi gugup, dia menjadi bingung harus berbuat bagaimana untuk mengundurkan orang-orang itu.

Mendadak....

Dari samping tubuhnya menggulung datang serentetan angin pukulan dingin yang menusuk tulang menghajar tubuh para jago, seperti ada sebuah dinding kuat yang menahan tubuh mereka, para jago yang menerjang ke arah Tan Kia-beng itu segera terpental balik ke belakang disusul dengan jeritan kesakitan.

Tan Kia-beng menjadi melengak, pada saat itulah terdengar suara yang amat halus dan merdu berkumandang masuk ke dalam telinganya.

Cepat simpan pedang pualam itu dan ikuti aku menerjang keluar dari tempat ini.

Tidak salah suara itu berasal dari si gadis berbaju putih itu, saat ia sudah benar-benar dibuat bingung oleh suasana disana tanpa pikir panjang lagi pedang pualamnya yang berturut turut melancarkan tiga kali serangan ke depan sedang tubuhnya dengan cepat mengikuti diri sinona berbaju putih itu menerjang ke depan.

Tetapi....

jago-jago yang ada dilakangan bukanlah cuma tujuh delapan orang saja, mana meraka mau membiarkan dirinya melarikan diri?

Tampaklah serentetan sinar merah berkelebat delapan bilah pedang dari Kun lun Pat to atau sidelapan toosu dari Kun-lun-pay bersama-sama membentuk jaringan hawa pedang yang amat kuat dengan menyebarkan diri pada delapan penjuru mereka bersama-sama menerjang tubuh gadis berbaju putih itu.

Seketika itu juga suatu pertempurang yang amat sengit terjadi di tempat tersebut.

Begitu para toosu dari Kun-lun-pay mulai menggerakkan pasukannya mengerubuti diri gadis berbaju putih itu, Ci Si Thaysu pun segera mengebutkan ujung jubahnya dengan memimpin kedelapan belas loahan nya mereka bersama-sama menubruk ke arah kakek tua berjubah hitam tersebut.

Baik Kun lun Pat To maupun Cap Pwee Loohan dari Siauw-lim-pay semuanya merupakan jago-jago yang sudah mendapan didikan yang bertahun tahun lamanya kini mereka bersama-sama turun tangan mengerubut membuat si kakek tua berjubah hitam serta gadis cantik berbaju putih yang memiliki kepandaian silat amat tinggi pun untuk beberapa saat lamanya dibuat kalang kabut juga.

Kini musuh tangguh sudah terhadang maka seluruh tekanan dari para jago Bulim mulai ditujukan pada Tan Kia-beng.

Jka ditinjau dari kepandaian silat yang dimiliki Tan Kia-beng sekarang ini boleh dikatakan ilmu silatnya dari setiap jago yang hadir disana jauh lebih hebat beberapa tingkat dari dirinya, kini dia bisa bertahan dengan payah semuanya bukan lain dikarenakan mengandalkan pedang pualam yang amat tajam serta jurus Lok Jiet Tiong Thian yang sudah berhasil dipahami itu.

Untung saja niat semua jago cuma tercurah pada pedang pualam ditangannya saja bersamaan pula diantara para jago sendiri pun saling curiga mencurigakan saling desak mendesak membuat Tan Kia-beng untuk sementara waktu berhasil mempertahankan nyawanya.

Sejak lahir Tan Kia-beng memang sudah mempunyai sifat ketus dan congkak yang berlebih lebihan, kini didesak oleh para jago membuat hatinya merasa sangat ganas sekali.

Terdengar diantara para jago sudah mulai berteriak teriak.

Cepatnya serahkan pedang itu kepadaku kami sekali tidak akan melukai nyawamu"

Mendengar teriakan tersebut Tan Kia-beng semakin dibuat gusar, berturut turut dia melancarkan dua kali babatan ke depan sembari membentak keras.

"Bajingan, perampok, kalian jangan mimpi bisa mendapatkan pedang ditangan siauw ya mu ini!"

Bagaimanapun juga Siauw-lim-pay sebagai pimpinan Bulim mempunyai perasaan pendekar yang lebih besar. terlihatlah Ci Si Thaysu mengebutkan ujung bajunya kemudian meloncat masuk ke tengah kalangan.

"Berhenti!"

Bentaknya keras.

Ujung jubahnya dikebutkan kembali, terasalah segulung angin pukulan Bu Siang Tan Kang dengan hebatnya menghantam tubuh para jago yang sedang mengurung tempat itu sehingga pada mundur terhuyung huyung setelah itu barulah dia bertanya dengan suara perlahan "Siauw sicu berasal dari perguruan mana?

siapakah gurumu?

Pedang ini kau dapatkan dari mana?

"Siauwya tidak punya partai, suhuku adalah Ban Li Im Yen Lok Tong sedang pedang ini adalah hadiah dari orang lain.

Hmm, barang ini bukanlah milik kalian kenapa kalian begitu ngotot mau merebutnya dari tanganku?"

"Oooh.... kiranya anak murid dari Lok Thay hiap, suhumu mempunyai hubungan baik dengan loolap. Kau serahkan saja pedang pualam itu kepada loolap menanti setelah suhumu datang nanti aku kembalikan lagi kepadamu."

Sesungguhnya perkataan dari Ci Si Thaysu ini bermaksud baik, dia merasa sayang kalau dia binasa cuma dikarenakan menurut hawa amarah dihatinya.

Tan Kia-beng tidak lebih cuma seorang bocah yang ilmu silatnya belum mencapai keberhasilan, jika kini harus menggembol barang pusaka bukankah cuma memancing datangnya api yang bakal membakar badan sendiri karena itulah dengan paksakan diri dia membebaskan dia dari kepungan para jago kemudian mengajukan maksud baiknya untuk mewakili dia menyimpan barang pusaka tersebut.

Tetapi saat ini Tan Kia-beng sedang merasa gusar atas kerakusan para jago mana dia mau mendengarkan nasehat tersebut?

Sesudah mendengus dingin teriaknya.

"Hmm kalian semua manusia manusia yang tidak malu sudah melihat barang milik orang lian lalu turun tangan merebut, sekalipun ini hari siauwya mu harus binasa juga tidak akan menyerahkan pedang pualam ini kepada kalian."

"Omintohud omintohud.... Ci Si Thaysu cuma bisa menghela napas panjang saja. Dosa.... dosa.... dosa Loolap bermaksud baik kepada kau."

"Hmm, bermaksud baik? Musang memberi selamat tahun baru kepada ayam. Hee hee maksud baikmu ini sejak tadi siauwya sudah paham"

Mendengar perkataan itu air muka Ci Si Thaysu segera berubah amat hebat, dia menundukkan kepalanya menyebut keagungan Budha.

"Omintohud.... untuk menolong nyawamu terpaksa loolap menggunakan kekerasan."

Mendadak tubuhnya bertindak maju ke depan menyambar ke arah pedang pualam di tangan Tan Kia-beng, serangan ini bukan lain menggunakan ilmu mencengkeram Djien Nah so Hoat yang lihay dari Siauw-lim-pay, bukan saja ilmu ini memiliki perubahan yang amat banyak bahkan serangan ini amat cepat sekali bagaikan sambaran kilat.

Tiba-tiba....

terasa segulung angin pukulan yang amat keras menggulung ke arah pergelangan tangan Ci Si Thaysu yang sedang melancarkan serangan cengkeraman itu, terlihatlah Heng-san It-hok sambil tertawa dingin sudah memaki.

"Ooh, kiranya Thaysu mencegah kita semua bertindak ternyata sudah memikirkan maksud tertentu. Hee.... hee.... tidak kusangka Thaysu punya minat untuk menyingkirkan barang tersebut."

Ci Si Thaysu sama sekali tidak menduga adanya serangan bokongan dari orang lain melihat datangnya serangan mendadak dari Heng-san It-hok yang hendak menghajar pergelangan tangannya terpaksa dengan terburu-buru dia kembali menarik barang tersebut.

"Apakah Ouw Thay hiap juga tak percaya terhadap diri loolap?"

Tanyanya dengan air muka berubah sangat hebat.

"Ha ha ha.... tahu manusianya, tahu mukanya belum tentu tahu hatinya. Hee hee.... sulit.... sulit untuk mempercayai omonganmu"

Dengan beberapa perkataannya ini hampir hampir membuat kedudukan Ci Si Thay tak berharga sama sekali.

Ci Si Thay yang merupakan seorang pendeta beribadat tinggi walaupun imannya tak urung merasa gusar juga "Lalu bagaimana menurut maksud Ouw Thay hiap?"

Tanyanya dingin.

"Menurut pendapat cayhe? heee.... heee.... mudah sekali.... siapa yang bakal menangkan sang menjangan harus mengandalkan kepandaian sendiri."

"Bagus, bagus sekali."

Sahut Ci Si Thay su sambil tersenyum.

"Malam ini loolap sangat mengharapkan bisa mendapatkan sedikit pengajaran dari ilmu sakti Tuw Thay hiap."

Walaupun Heng-san It-hok jadi orang amat sombong dan tak pandang sebelah matamu kepada orang lain tapi terhadap Ci Si Thaysu yang merupakan musuh tangguh dalam hati merasa bergidik juga diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya yang cepat-cepat disalurkan kesepasang telapak tangannya siap menanti serangan musuh.

Sekalipun begitu air mukanya masih tengan tenang saja, serunya sambil tertawa.

"Thaysu terlalu memuji"

Pada saat kedua orang sedang siap-siap mulai bergebrak itulah tiba-tiba....

Dengan disertai suatu bentakan yang amat keras, dari tengah lapangan tampaklah sesosok bayangan hitam dengan amat cepatnya meluncur ke arah Tan Kia-beng.

Tan Kia-beng yang sudah berada di tengah kurungan para jago sejak tadi sudah pasang mata pentang telinga memperhatikan seluruh gerak gerik para jago, kini dilihatnya ada orang yang menerjang ke arahnya pedang panjangnya mendadak dibabat ke tengah udara kemudian dengan mendatar disambar keluar.

Dalam keadaan yang amat gugup dia sudah menggunakan jurus Lok Jiet Thiong Thian melancarkan tusukan menggantikan telapak tangannya.

Jurus ini sebenarnya memang sudah agak aneh kini dia menggantikan telapak menjadi pedang sudah pasti jauh lebih dahsyat.

Terlihatlah sinar kebiruan yang menyilaukan mata berkelebat disertai suara jeritan kesakitan, orang tersebut berhasil ditusuk perutnya sehingga tembus ke belakang punggungnya, seketika itu juga orang tersebut menggeletak binasa.

Tan Kia-beng yang melihat serangannya mencapai sasaran semangatnya menjadi berkobar kembali, pikirnya.

"Jika aku tidak menggunakan kesempatan ini melarikan diri apakah harus menanti kematian disini?"

Begitu pikiran ini berkelebat di dalam benaknya dengan cepat pedang pualamnya dibabat ke depan, pergelangan tangannya digetarkan dan melancarkan dua tusukan, sedangkan tubuhnya pun dengan mengikuti gerakan tersebut meloncat ke depan.

Begitu tubuhnya mencapai tengah udara sekali lagi pedang pualamnya dibabat keluar membentuk serentetan sinar kebiru biruan yang menyialukan matanya, tubuhnya segera meluncur keluar dari tengan kalangan Terjangannya yang secara mendadak ini membuat para jago yang ada di empat penjuru menjadi sangat gempar, bersama-sama mereka berlari mengejar.

Ilmu meringankan tubuh dari Tan Kia-beng memangnya belum mencapai pada kesempurnaan, kini iapun sudah bertempur selama semalaman penuh membuat tenaga dalamnya mendapatkan kerugian yang amat besar.

Dalam keadaan yang amat gugup dengan tidak memandang situasi di sekelilingnya lagi dia meluncur terus ke depan dan sampailah di atas tebing yang dikelilingi oleh jurang sedalam ratusan kaki.

saat itulah tubuhnya sudah berada di tengah batu batu cadas yang amat banyak.

Aduh celaka"

Serunya keras Kiranya jalan di depan sudah terhalang oleh sebuah jurang yang amat dalam sedangkan para jago yang mengejar dari arah belakangpun dengan amat cepat sudah sampai disitu.

Heng-san It-hok yang mempunyai ilmu meringankan tubuh paling tinggi dialah yang paling terlebih dulu sampai disana, segera bentaknya;

"Bangsat cilik, kau mau melarikan diri kemana lagi?"

Telapak tangannya dengan disertai angain pukulan yang amat keras menghajar batok kepalanya.

Heng-san It-hok merupakan satu satunya jagoan yang paling diandalkan oleh partai Heng-san-pay pukulan telapaknya kali ini sudah tentu amat mengejutkan sekali.

Baru saja tubuh Tan Kia-beng bergerak siap berputar kesebelah kanan untuk melarikan diri mendadak terasalah segulung angin pukulan yang amat keras sekali menghajar pundaknya membuat dengan terhuyung huyung dia mundur ke belakang.

Tapi dia segera menjerit kaget kiranya tubuhnya sudah menginjak tempat kosong dan terjatuh ke dalam jurang yang amat gelap tak tampak dasarnya itu....

Dalam keadaan yang aga samar-samar dia hanya dapat mendengarkan suara suitan aneh dari kakek tua berjubah hitam serta jeritan kaget dari gadis berbaju putih itu....

---0-dewi-0---Tan Kia-beng yang terjatuh dari atas puncak gunung itu merasakan tubuhnya bagaikan kilat cepatnya meluncur turun ke bawah, semakin lama dia semakin terjatuh ke bawah terus....

terus....

Dikarenakan kecepatan meluncurnya amat pesat sekali membuat saking goncangnya dia jatuh tak sadarkan diri.

Mendadak....

suatu daya tarik yang amat keras menerjang badannya membuat daya luncurnya menjadi sedikit berkurang seketika itu juga dia sadar kembali dari pingsannya.

Tampaklah olehnya dari sebuah goa batu yang amat besar mencukul keluar seekor ular raksasa yang amat besar sekali sedang mementangkan mulutnya lebar-lebar menghisap tubuhnya.

Mungkin karena daya luncur yang begitu keras dari badannya membuat daya hisap dari ular raksasa itu cuma berhasil sedikit menahan tubuhnya saja tanpa berhasil menghisap badannya ke dalam mulut.

Sakin terperanjatnya dia menjerit keras dengan seluruh tenaga dia meronta sedang pedang ditangannya dengan cepat disambar ke depan sehingga tampaklah serentetan sinar kebiru biruan yang menyilaukan mata memenuhi seluruh angkasa.

Ular raksasa itu menjadi amat terkejut terburu-buru ia menarik kembali kepalanya ke dalam goa.

Begitu daya hisapnya hilang tubuh Tan Kia-beng pun segera meluncur kembali ke bawah dengan rasa cemasnya, cuma kali ini dia sudah berada di atas tanah kurang lebih sepuluh kaki saja.

Suatu keinginan untuk hidup meliputi seluruh hatinya, dengan cepat dia menarik hawa murninya dari pusar disalurkan ke seluruh tubuhnya dengan paksakan diri dia berusaha sedikit mengerem daya luncur yang keras itu.

Segera tubuhnya sedikit tertahan, dengan perlahan-lahan dia melayang turun ke atas permukaan tanah Sekalipun secara kebetulan tubuhnya tadi terhisap oleh ular raksasa sehingga daya luncur badannya pun menjadi jauh berkurang ditambah pula permukaan tanah dimana dia melayang turun merupakan sebidang tanah rumput yang amat tebal tapi dikarenakan goncangan yang begitu besar dan perasaan tegang yang amat sangat menerjang pikirannya membuat dirinya begitu terhuyung huyung maju beberapa langkah kemudian jatuh tidak sadarkan diri Entah lewat beberapa saat kemudian dengan perlahan dia baru sadar kembali dari pingsannya, dia merasakan seluruh tulang-tulang, badannya amat sakit serasa sudah pada copot, sedangkan pundak kiri yang terkena hajaran pukulan Heng-san It-hok tadi kini sudah membengkak besar.

Dengan sekuat tenaga dia paksakan diri meronta bangun, akhirnya tak kuasa lagi tubuhnya sekali lagi rubuh ke atas tanah dengan amat kerasnya.

Cuaca pada saat ini walaupun berangsur angsur menjadi terang kembali tetapi keadaan di dalam lembah tersebut amat gelap sekali sehingga sukar untuk melihat lima jarinya sendiri Terasa hembusan angin yang amat lembab memancar keluar dari atas permukaan tanah yang basah, di tengah kabut yang amat gelap dia cuma merasakan adanya berpuluh puluh sinar hijau berkedip kedip seperti sembunyi disana, secara samar-samar terdengar pula suara desisan aneh dari ular serta binatang berbisa lainnya.

Suasana yang amat sunyi dan menyeramkan meliputi sekeliling tempat itu, diam-diam Tan Kia-beng menjerit sendiri.

"Ooh, Tan Kia-beng, Tan Kia-beng, tidak disangka sikap kependekaranmu yang konyol memaksa kau harus menemui kematian pada malam ini juga di tempat seperti ini."

Lewat beberapa saat kemudian dia membakar sendiri hatinya.

"Aku tidak boleh mati, asal usulku sendiripun aku tidak jelas bagaimana aku bocah keturunan keluarga Tan membutuhkan aku untuk menyambung keturungan dan aku dibutuhkan untuk membalas dendam sakit hati orang tuaku, bila aku mati bukankah semuanya akan berantakan? Pada saat hatinya merasa amat gelisah itulah mendadak di dalam benaknya berkelebat suatu bayangan pikirnya.

"Menurut perkataan suhu jikalau seseorang memiliki tenaga dalam dia bisa menggunakan tenaga dalam yang dimilikinya untuk menyembuhkan penyakitnya sendiri, kenapa aku tidak mau coba-coba?"

Demikianlah secara diam-diam dia segera mencoba untuk mengeluarkan tenaga dalamnya mengelilingi seluruh tubuh, untung saja hawa murninya belum buyar sehingga sesudah mengalami perjuangan yang keras dia berhasil juga menyalurkan hawa murninya keseluruh tubuh.

Dengan mengikuti ajaran ilmu tenaga dalam Pek Tiap Sin Kang dia terus berlatih, dengan perlahan mengulurkan hawa murninya mengerlilingi ke seluruh tubuh.

Demikianlah sesudah ada satu jam lamanya perasaan sakit yang menyerang seluruh tubuhnya sudah jauh berkurang, dengan cepat dia meloncat bangun dan memandang keadaan di sekelilingnya.

Tampaklah di sekeliling tempat itu hanya ada puncak gunung yang menembus awan sedangkan di sekelilingnya merupakan hutan alas yang sangat lebar sekali.

Dimana dia sekarang berdiri merupakan sebuah tanah lapang rumput seluas setengah hektar, kecuali itu di sekelilingnya merupakan batu aneh yang tersebar tidak merata.

Lama sekali dia memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu, tiba-tiba secara samar-samar tampaklah olehnya ada sebuah jalanan sempit yang menghubungkan tempat itu dengan sebuah lembah Kini dia sudah berada di tempat yang sangat berbahaya kecuali menempuh bahaya untuk menerjang keluar tidak ada cara lain lagi buat dirinya, demikianlah dengan mengandalkan pedang pualam Kiem Ceng Giok Hun Kiam dengan terhuyung huyung dia melanjutkan perjalanannya menuju ke dalam lembah.

Setelah melewati sebuah jalanan kecil yang amat sempit dan curam sekali sejauh ratusan kaki sampailah di sebuah lembah yang amat sempit kedua belah dinding yang berdiri disana amat tinggi hingga menembus awan, dan amat curam sekali.

Tiba-tiba terlihatlah serentetan sinar terang memancar masuk dari atas puncak sehingga pandangannya menjadi terang kembali kiranya tempat itu merupakan sebuah lembah yang jauh berbeda dengan lembah semula.

Dimana mana tumbuh rumput serta bunga yang beraneka warna, sebuah selokan mengalirkan air yang amat jernih ke bawah gunung sedikitpun tidak ada hutan yang menutupi sinar sang surya di atas permukaan tanah berjejerlah batu batu putih yang sangat rata dan indah sekali.

Pikirnya dalam hati.

"Jika aku bisa mendapatkan sebuah gua yang bersih disekitar tempat ini untuk berlatih ilmu silat, sungguh bagus sekali."

Tetapi kini dia merasa lapar dan dahaga sekali sedang seluruh tubuhnya pun sudah terluka mana ada minat untuk menikmati keindahan alam tersebut.

Dengan mengikuti sebuah jalanan berbatu yang sepertinya sering dilewati orang dia melanjutkan perjalanannya maju ke depan.

Setelah berbelok belok selama seperminum lamanya akhirnya dia menemukan kalau jalanan berbatu itu menghubungkan lembah semula dengan sebuah gua yang ada dibawah puncak gunung yang amat tinggi.

Bersamaan pula dia merasa terperanjat sekali, kiranya di depan gua tersebut terdapat serangkaian tulang-tulang ular raksasa sebesar mangkok yang menembus terus ke dalam gua.

Kerangka ular itu sangat mengejutkan sekali walaupun kepalanya sudah menyusup ke dalam gua tetapi ekornya masih ada lima atau enam kaki panjangnya yang tertingal diluar gua sampai di pinggir selokan diam-diam pikirannya berputar; Huuu....

sangat hebat sekali ular ini jika masih hidup tentu tubuhnya sebesar gentong air....

tapi kenapa ia sudah binasa di situ?"

Saat ini dia sudah berada disebuah lembah buntu yang sekelilingnya cuma ada puncak gunung yang jauh tinggi menembus awan, pikirnya kembali;

"Mati atau hidup berada ditangan Thian kenapa aku tidak masuk ke dalam gua itu untuk lihat lihat?"

Boleh dikata dikarenakan suatu perasaan ingin tahu mendesak hatinya membuat dia kepingin sekali masuk ke dalam gua tersebut.

Segera dia kerahkan tenaga dalamnya dengan menggembol pedang Giok Hu Kiam dengan perlahan dia mulai berjalan masuk ke dalam gua tersebut Dengan mengikuti kerangka ular raksasa itu, dia berbelok belok menghabiskan sebuah jalan lorong yang panjang kemudian naik kembali ke atas tangga memasuki sebuah gua yang jauh lebih lebar, mendadak pandangannya terbentur dengan sesuatu yang amat mengejutkan hatinya tak tertahan lagi dia menjerit kaget.

Terlihatlah dari dalam sebuah gua yang luasnya tak ada dua kaki memancarlah keluar sebuah sinar berkilauan yang amat terang sekali, bahkan terasa segulung demi segulung hawa dingin yang menusuk tulang muncul dari balik gua.

Di tengah gua itu terdapatlah sebuah benda yang memancarkan sinar kemerah merahan yang menyilaukan mata dikeliling oleh segulung kabut putih yang menusuk tulang di atas kabut tersebut tergantunglah dua buah lentera yang memancarkan sinar berkedip kedip setelah dipandangnya lebih teliti dia baru bisa melihat keadaan di dalam gua itu sejelas jelasnya.

Di dalam gua itu terdapatlah meja kursi dan barang-barang lain dari batu yang masih sempurna, dia atas sebuah pembaringan batu duduk bersila si kakek tua yang wajahnya sudah mengering dan memakai baju warna ungu.

Kelima jari kakek tua yang amat tajam kuat itu sedang mencengkeram batok kepala ular raksasa tersebut sedangkan telapak tangan kanannya menghadap ke atas menahan sebuah mutiara merah yang menyilaukan mata sebesar telur itik Mutiara merah itu jelas berwarna merah berapi yang melekat pada lidah sang ular raksasa yang panjangnya mencapai tiga empat depa itu.

Pada lapisan luar dari mutiara ular berwarna merah itu terdapat selapis kabut putih yang dengan perlahan berputar mengitari mutiara tersebut.

Karena waktu yang sudah berlalu sangat lama kini baik manusia maupun sang ular sudah berubah menjadi kerangka semuanya jika dilihat dari situasi sekarang ini kemungkinan sekali sewaktu kakek tua itu bersemedi mendadak menerima serangan dari ular raksasa tersebut sehingga dia mencengkeram bagian tubuh cun dari ular tersebut sebaliknya tangan yang sebelah menahan mutiara yang meloncat keluar, demikianlah karena saling bertahan akhirnya saking lelahnya mereka berdua sama-sama menemui kematiannya.

Ditinjau dari hal ini jelas sekali kalau si kakek tua ini bukanlah manusia biasa, coba bayangkan saja kalau panjang ular raksasa ini ada puluhan kaki bahkan sudah berhasil mengeluarkan mutiara mungkin usianya ada ribuan tahun ke atas si kakek tua bisa menguasai dia di dalam keadaan tidak bersiap sedia bahkan berhasil binasa bersama-sama sang ular ini membuktikan kalau tenaga dalamnya sudah amat tinggi sekali.

Ketika memandang kembali ke arah dua buah lentera itu ternyatalah benda tersebut bukan lain adalah sepasang mata dari ular raksasa tersebut yang memancarkan sinar kehijau hijauan sebesar telur itik.

Sebetulnya dia masih punyai sifat kebocah kini melihat sepasang mata ular yang begitu besar dan memancarkan sinar amat terang timbullah niatnya untuk mengambil.

Tubuhnya meloncat ke atas dengan sebelah tangan dia menahan kepala ular itu sedang tangannya yang sebelah menyambar sepasang mata itu Terasalah segulung hawa dingin yang menusuk tulang membuat seluruh tubuhnya terasa menggigil, setelah dilihatnya beberapa saat masih tidak menemukan juga keistimewaan dari benda itu segera dimasukkannya kembali benda itu ke dalam saku tanpa dilihat kembali Ketika dia mendongakkan kepalanya kembali memandang ke arah mutiara ular tersebut, terpikir olehnya kemungkinan sekali benda itu merupakan senjata ular raksasa yang sangat berharga.

Dengan perlahan dia melepaskan genggaman tangan orang tua itu dan mengambilnya ketangan sendiri.

Terasa hawa dingin yang aneh membuat seluruh tubuhnya bergidik, tak tertahan lagi dia bersin beberapa kali.

Pada saat dia menarik napas panjang itu.

"Sreet...."

Mutirara tersebut sudah terhisap masuk ke dalam tenggorokannya.

Perasaan terkejutnya bukan kepalang cepat-cepat dia pentangkan mulutnya lebar-lebar berusaha untuk mengeluarkan kembali, siapa sangka keadaan sudah terlambat.

Seluruh tubuhnya terasa amat gatal sekali membuat hawa dingin menyusup masuk ke dalam pusarnya kemudian menyebar keseluruh tubuh, hampir hampir membuat dia mati kaku.

Dalam keadaan yang amat gugup dengan sekuat tenaga dia mempertahankan diri, sedang dalam hati diam-diam merasa amat takut.

Kurang lebih seperminum teh lamanya mendadak segulung hawa yang amat panas sekali mengalir dengan amat cepatnya dari pusar menuju keseluruh badan terus naik ketingkat kedua belas dan menyebar masuk ke dalam urat nadi.

Rasanya hawa panas ini jauh lebih sukar ditangani dari pada rasa dingin yang membekukan badannya tadi.

membuat dia saking panasnya berkeringat sebesar kedelai mengucur keluar dengan amat derasnya.

Diam-diam pikirnya di dalam hati.

"Kali ini aku pasti mati.... aduh, satu panas yang lain dingin dua tenaga bersama-sama mengacau tubuhku, mana aku bisa tahan lebih lama lagi?"

Barang siapa yang sudah mendekati ajalnya dia tentu berusaha mencari jalan kehidupan buat dirinya, kini dua buah tenaga yang berlainan jenis bersama-sama menerjang badannya sehingga membuat dirinya setengah mati, pada saat pikirannya mulai kabur itulah mendadak teringat kembali olehnya keadaan sewaktu tadi dia menyembuhkan penyakit luka dalamnya dengan mengerahkan tenaga lweekang Pek Tiap Sin Kang.

Saat ini hawa panas serta hawa dingin sudah mulai bercampur aduk membuat seluruh tulangnya hampir meledak rasanya, kenapa pada saat ini dia tidak menggunakan ilmu lweekang itu untuk menahannya.

Untung saja dia masih punya rejeki segera dengan paksakan diri dia meronta bangun dan duduk bersila untuk kemudian mulai menyalurkan tenaganya mengikuti petunjuk ilmu lweekang itu.

Hawa panas serta hawa dingin yang sebetulnya sedang mengalir tidak keruan di dalam tubuhnya dengan mendapatkan petunjuk dari hawa murninya dengan perlahan-lahan mulai mengalir sesuai dengan jalan yang sebetulnya.

Cuma saja dikarenakan tenaga dalam dari Tan Kia-beng yang masih sangat rendah, untuk beberapa saat lamanya dia masih belum sanggup untuk menggabungkan kedua tenapa tersebut menjadi menunggal.

Kiranya hawa panas tadi berasal dari mutiara ular berwarna merah darah itu sedang hawa dingin berasal dari kabut putih yang melapisi di atas mutiara tersebut yang bukan lain merupakan tenaga murni hawa dingin yang dilatih kakek tua tersebut hampir mendekati seratus tahun lamanya.

Mutiara ular yang berusia ribuan tahun itu merupakan tenaga Yang amat panas sekali sebaliknya ilmu "Sian Im Kong Sah No Kang yang dilatih si orang tua merupakan hawa Im yang amat dingin, karena hendak menahan penyerangan dari mutiara yang panas pada waktu dulu si orang tua sudah mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya untuk bertahan sampai mereka berdua sama menemui ajalnya.

Walaupun manusia maupun ular raksasa sudah binasa tetapi mutiara ular itu masih tetap dihisap oleh tenaga murni dari si kakek tua yang dilatihnya hampir mendekati seratus tahun lamanya tanpa buyar sedikitpun.

Walaupun kedua benda tersebut sama-sama melengket menjadi satu tapi pemiliknya sama-sama sudah kehilangan nyawa sehingga tak ada faedahnya buat mereka, sebaliknya Tan Kia-beng yang merupakan seorang manusia hidup yang ada daging dan darah apalagi mendapatkan berkah yang besar tanpa dia sengaja benda tersebut sudah dihisap masuk ke dalam perutnya.

Atau dengan perkataan lain di dalam keadaan tidak sadar dia sudah menerima bantuan tenaga dalam si orang tua yang sudah dilatihnya hampir mendekati seratus tahun itu bahkan sampai mutiara ular yang sudah berusia ribuan tahunpun ikut terhisap masuk Keadaannya pada saat itu mirip sekali dengan seekor ular yang menelan seekor gajah besar bagaimana tubuhnya sanggup bertahan?

Untuk sekali ilmu lweekang Pek Tiap Sin Kang merupakan ilmu sakti yang amat hebat dari Ceng Kong Mie Ci sehingga sesudah dia duduk bersila selama sepuluh hari lamanya dengan perlahan-lahan tubuhnya berhasil menahan bentrokan dari kedua buah hawa murni tersebut.

Dengan begitu tanpa dia sadari tenaga dalamnya sudah mendapatkan kemajuan yang sama sekali tak pernah diimpikan olehnya, cuma saja saat ini dia masih belum tahu; Ketika dia sadar kembali dari semedinya terasalah rasa sakit yang menyelimuti seluruh tubuhnya sudah lenyap tanpa bekas bahkan tubuhnya merasa amat segar sekali Dengan cepat dia bangkit berdiri dan mengebut ngebutkan debu yang menempel pada tubuhnya, dia sama sekali tidak sadar seberapa lama dia sudah duduk di tempat itu, dengan langkah perlahan dia berjalan mendekati si orang tua tersebut.

Terlihatlah disamping kiri dari pembaringan batu itu terdapat sebuah meja batu yang di atasnya bertumpuk kitab kitab tebal.

Selain berisikan kitab suci, sejarah syair dan buku lainnnya masih ada pula kitab kitab ilmu silat dari setiap partai yang ada di dalam Bulim.

Dengan hati yang mantap dia membuka salah satu dari kitab itu, terlihatlah dalam kitab itu penuh bertuliskan jurus jurus mana yang paling lihay dan jurus apa untuk memecahkannya, jurus mana yang ada kelemahannya dan bagaimana cara menutupnya kembali semuanya tertuliskan dengan jelas sekali.

Tak terasa lagi dengan perasaan amat kagum pujinya.

"Orang tua ini sungguh seorang aneh, cukup dalam hal ini saja sudah jarang ada orang yang menandingi dirinya."

Perlahan-lahan dia meletakkan kembali kitab ilmu pedang itu dan melihat kitab kitab yang lain, bukan saja di dalam kitab ilmu pedang maupun ilmu pukulan saja yang ada penjelasannya bahkan sampai kitab kitab suci pun sudah dipenuhi oleh pemecahanya, dalam hati dia semakin lama semakin kagum terhadap orang tua tersebut.

Mendadak....

dibawah kitab tersebut terselempitlah sebuah kotak batu giok yang amat kecil, dengan cepat dia mengambilnya dan membuka kotak tersebut.

Didalamnya terdapatlah sebuah sampul surat yang sudah amat kuno.

Tan Kia-beng yang sejak kecil sudah mendapat didikan Bun maupun Bu sudah tentu tidak terlalu sukar untuk mengetahui isinya segera dibacanya surat tersebut.

"Cayhe Te Leng Kiauw cu Lie Mong Hwee pada masa lalu memiliki serangkaian ilmu silat yang lihay dan membuka sebuah perkumpulan, siapa sangka aku sudah salah mendapatkan ahli waris yang tidak becus. Murid pertama bersifat ganas ganas dan dingin kaku bahkan menculik putriku lari menjauh, murid kedua berhati kejam, licik dan berhati srigala sukar untuk dijabatkan sebagai Kiauw cu. Dalam keadaan kecewa aku sudah mengasingkan diri disini dan bersumpah tidak akan terjun kembali ke dalam Bulim. Sekalipun cayhe berhasil melatih ilmu silatku mencapai pada taraf yang paling tinggi tapi manusia tidak seperti malaikat yang tak akan mati, pada beberapa hari ini hatiku mendadak terasa amat kacau dan sadar saat ajalku sudah hampir tiba. Meninggal dunia bukanlah suatu peristiwa yang patut disayangkan, tapi tidak memperoleh seorang pengganti Kiauw cu membuat hatiku merasa amat susah.... sedih apakah Thian tidak menghendaki partai Tek Leng Sun muncul kembali di dalam Bulim? Bilamana pada kemudian hari ada orang yang beruntung masuk ke dalam gua ini harap mau menguburkan kerangkaku ke dalam tanah disamping gua ini, atas jasa itu kitab yang ada di atas meja boleh diterima sebagai balas jasa. tertanda. Han Tan Loodjien Lie Mong Hwee."

Selesai membaca surat itu dalam hati Tan Kia-beng segera merasa geli pikirnya.

"Untung saja kau orang tua sudah bertemu dengan aku, jikalau berganti dengan orang lain sesudah mereka mengambil kitabmu kemudian tidak mau perduli untuk menguburkan kerangkamu bukankah kau tidak bisa berbuat apa apa?"

Berpikir sampai disitu segera dia angkat kepalanya memandang, terlihatlah disamping kiri memang terdapat sebuah pintu kecil yang cukup untuk dilalui oleh seorang saja dia segera berjalan masuk ke dalam ruangan itu.

Terlihatlah luas tempat tersebut tidak lebih cuma lima depa saja sedangkan di atas tanah sudah disediakan pula sebidang tanah kuning yang cukup untuk mengubur jenasah seseorang, dia segera mengangguk.

Agar sukmanya tengang biarlah aku membantu dia untuk menguburkan kerangkanya.

Dia segera mencabut pedang pualamnya dan mulai menggali tanah disekitar tempat itu Pedang Kiem Cing Giok Han Kiam yang merupakan senjata pusaka yang amat tajam sudah tentu merupakan alat yang tepat untuk menggali tanah tersebut, di dalam sekejap saja dia sudah berhasil menggali sedalam empat lima depa dalamnya.

Mendadak....

ujung pedangnya sudah terbentur dengan sesuatu, kiranya didasar tanah itu masih terdapat sebuah batu yang halus.

Sedikitpun tidak salah, dibawah sana memang telah disediakan sebuah peti mati yang terbuat dari batu.

di dalam peti mati itu terdapatlah sebuah kotak pualam sepanjang satu depa.

Tanpa pikir panjang dan memperhatikan lebih teliti lagi dengan langkah lebar dia berjalan ke depan si kakek tua kemudian memberi hormat.

Setelah itu barulah dia mengangkat jenasah tersebut dan dimasukkan ke dalam peti mati untuk kemudian ditutup kembali dengan tanah.

setelah semuanya beres dia baru membuka kotak pualam itu, ternyata isinya merupakan se

Jilid kitab tebal yang berwarna kuning di atas kitab itu bertuliskan Teh Leng Cin Keng empat kata amat besar. Pada halaman pertama dari kitab itu terseliplah sepucuk surat yang bertuliskan.

"Barang siapa yang mendapatkan kitab pusaka ini dialah kauwcu Teh-leng-bun saat ini, kitab ini boleh dipelajari lebih masak lagi. Walaupun kitab ini berisikan ilmu silat dari golongan hitam tapi jika dilatih benar-benar maka ilmu tersebut akan berubah menjadi ilmu silat dari kalangan lurus.

"Teh Leng Kiem Tan"

Dibuat dari bahan obat obatan yang sulit dicari, siapa yang makan pil tersebut dapat membantu tenaga dalamnya seperti latihan tiga puluh tahun.

"Jikalau tenaga dalam dari penemu kitab ini tidak tinggi sukar untuk mempelajari kitab "Teh Leng Cin Keng"

Seruling perak merupakan senjata andalan Kauwcu yang terdahulu juga merupakan tanda kepercayaan seseorang Kauwcu, harap disimpan baik-baik. tertanda;

"Teh Leng Kauwcu Lie Mong Hwe"

Sehabis membaca surat ini diam-diam Tan Kia-beng memuji ketelitian diri si orang tua, jikalau orang yang menemukan kerangkanya tidak mau membantu menguburkan jenasahnya maka orang itu tidak akan mendapatkan kitab pusaka ini.

Sesudah menyimpan pil emas serta seruling perak itu dengan perlahan dia mulai membuka kitab pusaka itu.

Pada halaman pertama termuatlah cara cara ilmu lweekang Sian Im Kong Sah Im Kang.

tak tertahan dia menjerit kaget Eeeeh?

ini agaknya aku pernah mendengar"

Tetapi dia tidak sempat memikirkan lebih teliti lagi, karena seluruh perhatiannya sudah tercurahkan pada ilmu ilmu rahasia yang aneh dan sakti yang termuat kitab tersebut tak terasa lagi dia segera menggerak gerakan tangannya mulai belajar.

Saat ini jalan darah pentingnya sudah tertembus bahkan tenaga dalamnya sudah bertambah lipat ganda membuat pikirannya semakin tajam.

Demikianlah setiap hari Tan Kia-beng berlatih dengan amat gesitnya mempelajari seluruhan isi dari kitab pusaka itu Setengah tahun lewat dengan cepatnya, saat itu dia sudah berhasil menghapalkan seluruh ilmu silat yang termuat di dalam kitab pusaka.

Teh Cin Keng sampai kitab ilmu pedang serta ilmu pukulan yang ada dimeja depan dia sudah memahami seluruhnya.

Bersamaan itu pula beberapa jurus siauw Siang Ciang Hoat di dalam pedang Kiem Ceng Giok Han Liam berhasil dipamani pula.

Hari itu mendadak dia merasa bahwa terus menerus berdiam disana bukanlah suatu cara yang bagus, jikalau suhunya mendengar berita tentang jatuhnya dia ke dalam jurang tentu dia orang tua akan sangat sedih sekali, bahkan karena peristiwa ini kemungkinan sekali bisa mengakibatkan berpuluh puluh peristiwa yang tidak diinginkan.

Akhirnya dia mengambil keputusan untuk meninggalkan lembah yang amat sunyi itu, setelah membereskan semua barang yang ada di dalam gua dia segera berlalu dari sana.

Tetapi suatu persoalan yang amat menyulitkan hatinya memenuhi otaknya kembali, lembah itu dikitari oleh tebing tebing curam yang puncaknya menembus sampai diawan, dia harus melalui tempat mana untuk naik ke atas?

matanya dengan tajam memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu; akhirnya ditemui juga pada suatu tebing yang amat terjal terdapatlah sesuatu benda hitam yang menghubungkan dasar lembah dengan puncak tebing.

Serat hitam itu ada kurang lebih sepuluh kaki di atas permukaan tanah bilamana bukannya pandangan mata yang sangat tajam tidak mungkin orang lain bisa menemukannya, segera pikirnya di dalam hati.

Tali itu mungkin digunakan oleh Teh Ling Kauwcu untuk memasuki lembah ini tempo hari?

Sampai saat ini dia sama sekali tidak tahu ilmu silat yang berhasil dipelajari ini sudah mencapai seberapa tingginya, bahkan tidak mengetahui juga tali hitam itu sudah tergantung disana beberapa tahun lamanya?

berapa kali terkena serangan angin dan hujan?

Karena kepingin cepat-cepat meninggalkan lembah itu terpaksa dengan menempuh bahaya dia pergi mencoba, hawa murninya ditarik dari pusar kemudian disalurkan ke seluruh tubuh sesudah bersuit nyaring tubuhnya mendadak dengan amat cepatnya meloncat naik ke atas menurut perkiraannya, loncatannya kali ini akan mencapai setinggi tiga empat kaki lalu dengan cepat tubuhnya akan menempel ke atas dinding dengan gaya cecak merayap dia mulai memanjat naik ke atas puncak tebing tersebut.

Siapa tahu loncatannya kali ini bukan cuma mencapai tiga empat kaki saja, bahkan bagaikan anak panah yang terlepas tubuh Tan Kia-beng dengan cepatnya meluncur setinggi puluhan kaki, hal ini benar-benar berada diluar dugaannya semula di dalam keadaan yang terperanjat mendadak matanya tertumbuk pada benda hitam yang berada kurang lebih satu kaki jauhnya dari tempat dia berada.

Sepasang tangannya segera dipentangkan ke samping sedang kakinya menjejak tengah udara, dengan hebatnya tubuhnya meluncur ke arah benda tersebut.

Tali hitam itu tentah terbuat dari bahan apa ternyata sangat kuat sekali, hanya di dalam dua tiga kali panjatan dan akhirnya Tan Kia-beng berhasil juga keluar dari dasar jurang itu.

Sesudah berdiam beberapa bulan di dalam sebuah gua yang gelap dan amat lembab dan kini muncul kembali di atas alam yang berhawa segar membuat kemurungan di dalam dadanya seketika itu juga tersapu bersih, mendadak dia angkat kepalanya bersuit panjang, suara suitan itu persis seperti pekikan naga yang baru saja keluar dari sarangnya.

Saat ini tenaga dalam yang berhasil dimiliki dirinya sudah mencapai pada taraf kesempurnaan, suara suitan itu sudah tentu amat nyaring sekali sehingga menggetarkan seluruh permukaan bumi membuat binatang kecil pada melarikan diri serabutan saking kagetnya.

Mendadak sesuatu ingatan berkelebat kembali pada benaknya tak terasa lagi dia bergumam seorang diri.

"Hmmm. Heng-san It-hok, kau bajingan tua, siauw ya tidak ada dendam sakit hati apapun dengan kau ternyata kau sudah begitu tega turun tangan kejam kepadaku dan pukul aku jatuh ke dalam jurang. Hmm, perhitungan ini aku harus tuntut kembali sekarang juga aku mau mencarinya lebih dulu untuk kemudian menagih hutang ini sama-sama dengan bunganya."

Semakin teringat akan peristiwa itu Tan Kia-beng semakin sengit, akhirnya dengan hati penuh rasa gusar dia bersuit nyaring, tubuhnya dengan amat cepatnya berkelebat menuruni puncak gunung itu.

Musim rontok diambang pintu, angin bertiup dengan kencangnya membuat dedaunan pada berguguran di atas tanah.

Di depan pintu kuil Sam Yang Koan di atas gunung Heng-san yang amat sunyi mendadak sudah kedatangan seorang pemuda berbaju biru berwajah tampan, pemuda itu amat gagah sekali sedang air mukanya memancarkan sinar kemerahan yang menyilaukan mata.

---0-dewi-0---Walaupun saat ini musim gugur sudah tiba tetapi pemuda itu masih tetap hanya memakai seperangkat pakaian singsat berwarna biru yang amat tipis sekali.

Sesampainya di depan pintu kuil, dengan pandangan yang amat tawar dia melirik sekejap ke atas pilar yang bertuliskan Sam Yan Koan tiga kata dari emas, kemudian dia tertawa dingin.

"Hey.... di dalam ada orang tidak?"

Teriak keras.

Tiba-tiba bayangan manusia berkelebat dua orang Toosu cilik yang menggembol pedang sudah muncul di depan pintu, sinar mata mereka dengan amat dinginnya menyapu sekejap ke arah sang pemuda.

Ketika dilihatnya tamu itu cuma seorang dusun yang sama sekali tidak terpandang mata kedua orang toosu cilik itu segera memperlihatkan sikapnya amat congkak.

"Kau mau cari apa?"

Tanyanya ketus.

Suaranya amat kasar dan sangat kurang ajar sekali, sedikitpun tidak mengindahkan peraturan.

Pemuda yang sekarang ada di depan pintu kuil itu bukan lain adalah Tan Kia-beng yang sedang gusar dan sengaja datang mencari satori dengan Heng-san It-hok Ouw Ceng Melihat sikap yang amat kurang ajar dan sombong dari kedua orang toosu cilik itu hawa amarah Tan Kia-beng semakin berkobar lagi, tangannya sedikit diangkat dan menuding ke arah tulisan Sam Yan Koan yang tergantung di atas pilar sedang mulutnya berseru.

"Cepat suruh Hek san It Hok keluar untuk bertemu dengan aku."

Semula kedua orang toosu cilik itu melengak, akhirnya tak tertahan lagi tertawa terbahak-bahak.

"Kau bangsat cilik sungguh tidak tahu diri, coba kau bercermin dulu mukamu, dengan model wajahmu semacam ini apakah punya hak untuk bertemu dengan Supek couw? ha ha ha...."

Belum habis mereka tertawa mendadak, Braak....!

papan pada hancur beterbangan tulisan Sam Yan Kuan tiga kata dari emas yang tergantung dipilar mendadak sudah runtuh menjadi kayu hancuran yang amat tipis.

Kedua orang toosu itu menjadi amat terkejut, mereka cepat melompat mundur delapan langkah ke belakang, apa yang sudah terjadi disana?

Tapi begitu mata mereka tertumbuk dengan apa yang dilihatnya di depan mata tidak kuasa lagi hawa amarah sudah memenuhi seluruh benak mereka.

Sreet....

pedang panjang sudah dicabut keluar dari dalam sarung mereka kemudian bersama-sama membentak.

"Bangsat liar, nyalimu sungguh amat besar."

Dua bilah pedang panjang bagaikan naga yang keluar dari gua bersama-sama membabat ke arah pinggangnya. Dengan cepat Tan Kia-beng berkelebat menghindarkan diri dari sana, dia mendengus dingin.

"Hmm, cepat panggil Heng-san It-hok keluar kalau tidak jangan salahkan aku turun tangan jahat kepada kalian."

Kedua orang Toosu itu mana mau tahu pergelangan tangan mereka bersama-sama digetarkan terlihatlah sinar hijau berkelebat memenuhi angkasa sekali lagi mereka menubruk maju ke depan.

Air muka Tan Kia-beng berubah amat hebat, tubuhnya berputar dengan amat cepatnya menerjunkan diri ke dalam bayangan pedang tersebut.

Terdengar suara jeritan kaget yang amat keras, kedua orang toosu itu dengan wajah penuh perasaan terperanjat pada mengundurkan diri dengan cepat.

Kiranya kedua bilah pedang mereka sudah berhasil direbut oleh Tan Kia-beng hanya di dalam satu kali gerakan saja.

"Hmm, itulah penghormatan dari kalian Heng-san-pay untuk menyambut datangnya seorang tamu?"

Sindirnya dengan wajah sinis.

Tangannya sedikit digetarkan, kedua bilah pedang yang terbuat dari baja murni itu dengan amat mudahnya berhasil dipatahkan menjadi empat, lima bagian, mendadak dia membentak lagi dengan amat keras.

"Jika kalian tidak pergi mengundang Heng-san It-hok keluar lagi, segera aku mau bongkar kuil bobrok kalian ini."

Telapak tangannya didorong ke depan segulung angin pukulan yang amat dingin serasa menusuk tulang dengan cepat menggulung ke depan dengan dahsyatnya.

Braak....!

Pintu kuil serta sebagian besar dari tembok merah disampingnya bersama-sama dengan separuh pintu loteng segera terpukul hancur dan roboh ke atas tanah dengan menimbulkan suara gemuruh yang amat keras.

Kekuatan dari ilmu iblis "Sian Im Kong Sah Im Kang"

Ini memang sangat mengejutkan sekali, sampai Tan Kia-beng sendiripun merasakan peristiwa ini terjadi jauh diluar dugaannya.

Secara tidak ia sadari dia sudah menerima hawa murni dari Han Tan Loo djien yang dilatih selama hampir mendekati seratus tahun lamanya kemudian menelan juga mutiara dari ular raksasa yang sudah ribuan tahun lamanya walaupun semuanya belum berhasil mencair dan bersatu padu dengan hawa murninya sendiri tetapi ketinggian dan kesempurnaan dari tenaga dalamnya sudah amat mengejutkan sekali.

Atap dan pasir pada beterbangan....

di tengah robohan tembok yang amat ramai itu dari dalam kuil "Sam Yan"

Segera berkelebatlah keluar segerombol toosu toosu yang penuh diliputi oleh hawa kegusaran.

"Bangsat dari mana yang begitu bernyali berani mencari satori dengan kami Heng-san-pay? cepat sebut nama serta asal usul perguruanmu."

Tan Kia-beng tetap tenang-tenang saja, sambil menggendong tangan dia menuju dua langkah ke depan.

"Siauw yamu Tan Kia-beng, tidak punya perguruan juga tidak berpartai siauw yamu sengaja datang mencari Heng-san It-hok untuk sedikit membereskan hutang diantara kita, kalian Heng-san-pay lebih baik jangan ikut campur di dalam urusan ini...."

"Kau cari dia orang tua, ada urusan apa?"

Tiba-tiba sela seorang toosu berusia pertengahan yang berdiri di tengah-tengah gerombolan para toosu itu.

Toosu berusia pertengahan itu bernama Thian Kang Tootiang dan merupakan murid tertua dari Siong Hok Tootiang itu ciang-bundjin dari Heng-san-pay.

Tan Kia-beng yang mendengar diungkatnya kembali nama Heng-san It-hok hawa amarahnya segera berkobar kembali memenuhi benaknya, sekilas hawa membunuh berkelebat di dalam wajahnya sedang sepasang alisnya dikerutkan rapat"

"Hutang uang bayar uang, hutang nyawa bayar nyawa, siauw yamu sengaja datang ke sini untuk mencabut nyawa anjingnya!"

Teriaknya dingin. Thian Kan Toodjien jadi orang sangat pendiam tapi pikirannya cermat. walaupun mulutnya masih bertanya tetapi hatinya merasa amat terkejut pikirnya.

"Supek, dia orang tua memiliki nama besar yang amat terkenal di dalam Bulim, ternyata ini pemuda berani datang cari balas dengan dia orang tua, sudah tentu ada sesuatu kesengajaan, jika dilihat dari pukulan yang berhasil menghancurkan pintu serta sebagian tembok loteng jelas sekali kalau tenaga dalamnya sudah mencapai pada taraf kesempurnyaan, lebih baik kau hadapi dirinya lebih berhati-hati lagi."

Berpikir sampai disitu dengan wajah serius segera sahutnya.

"Heng-san It-hok adalah supek dari pinto, dia orang tua seperti juga dengan nama julukannya bagaikan seekor burung bangau liar terbang diangkasa tak menentu sudah lama dia orang tua tidak kembali ke dalam kuil".

"Hmm. kau bukan sedang berbohong?"

"Orang beribadat selamanya tidak pernah berbohong."

"Hmm, kalau begitu aku lepaskan dirinya ini hari."

Ketika Tan Kia-beng mendengar kalau Heng-san It-hok tidak ada di dalam kuil Sam Yuan Koan segera dengan langkah lebar dia berlalu dari atas gunung.

Tiba-tiba bayangan manusia berkelebat Thian Kang, Tootiang, dengan angkernya sudah berdiri dihadapannya, dia tertawa dingin tak henti hentinya.

"Sicu, kau jangan terlalu menghina Heng-san-pay kami, tanpa sebab kau sudah menghancurkan papan nama kami bahkan sudah menghancurkan pula pintu teras serta tembok loteng kami, kau ingin meninggalkan tempat ini dengan begitu saja? heee.... heee kiranya tidak semudah itu."

Tan Kia-beng segera menghentikan langkahnya.

"Kalian ingin berbuat apa?"

Tanyanya dengan nada dingin sedang kepalanya dengan perasaan amat tawar, mendongak ke atas udara.

"Sicu sudah terlalu menghina orang lain, terpaksa kami minta sicu mau meninggalkan beberapa jurus ilmu silatmu yang liehay.

"Aaaoou.... kalian bermaksud mau berkelahi? Heee.... heee kalau aku mau pergi kalian bisa berbuat apa?"

Seketika itu juga dari empat penjuru berkumandang suara teriakan yang amat ramai sekali.

"Mau pergi boleh, cuma batok kepalamu tinggalkan disini."

Criing....

criing....

terlihatlah sinar terang yang sangat menyilaukan mata berkelebat memenuhi seluruh angkasa berpuluh puluh orang toosu bersama-sama mencabut keluar pedangnya kemudian mengepung Tan Kia-beng rapat rapat.

Tan Kia-beng tetap berdiri dengan tawarnya, dia sedikit mengangkat kepalanya melirik sekejap ke arah mereka kemudian ujarnya.

"Untuk tinggalkan batok kepalaku sih boleh saja, cuma aku rasa kalian toosu kau belum punya kepandaian sebegitu tinggi untuk berbuat terhadapku."

Walaupun thian Kang Toodjin merasa bahwa ilmu silat masih sukar untuk diketahui bahkan asal usulnyapun belum jelas tetapi dirinya sebagai murid tertua dari ciangbundjin Heng-san-pay tidak mungkin bisa mengundurkan diri karena jera terhadap ilmu silatnya sekalipun ini hari harus bisa di tengah kalangan dia juga harus memberi perlawanannya sampai titik darah penghabisan.

Kini melihat Tan Kia-beng dengan amat tawarnya berdiri di tengah kalangan bahkan sedikitpun tidak pandang sebelah mata kepada mereka, hal ini membuat hatinya merasa panas juga bentaknya kemudian;

"Kalau begitu jangan salahkan pinto berbuat kurang sopan kepadamu". Pedangnya diangkat sejajar dengan dada. mendadak dengan disertai desiran angin tajam pedangnya dengan merendah melancarkan gulungan angin hawa pedang yang amat dahsyat sekali. ---0-dewi-0---JILID. 4 Tan Kia-beng segera mengenal kalau jurus ini merupakan jurus Jan Kiang cap leng atau menutup tenaga membendung ombak dari ilmu pedang Hwee Liong Kiam Hoat di tengah jurus serangan secara diam-diam tersembunyi suatu perubahan yang amat hebat, tetapi dia memiliki nyali besar sudah tentu tidak pandang sebelah matapun. Telapak tangannya disambar ke depan kemudian dibacok, dibabat, ditabok ditusuk sehingga timbullah angin pukulan yang amat dingin memenuhi seluruh angkasa membuat pedang panjang Thian Kan Toodjien hampir tergetar lepas dari genggamannya. Thian Kang Toodjien menjadi amat terkejut, pedangnya dengan cepat diputar, berturut turut dia melancarkan tiga bacokan keras ketubuh musuhnya. Pada saat itulah terdengar suara bentakan yang amat keras, para toosu yang berdiri disamping bersama-sama mencabut keluar pedangnya dan melancarkan serangan bersama-sama mengerubuti Tan Kia-beng. Tampaklah sinar terang yang menyilaukan mata, hawa pedang memenuhi seluruh angkasa seketika itu juga membuat Tan Kia-beng terkepung rapat di dalam lautan pedang yang amat dahsyat. Setelah Tan Kia-beng menghancurkan pintu tembok loteng kuil kemudian mendengar juga kalau Heng-san It-hok tidak ada di dalam kuil hawa amarahnya sudah jauh berkurang sebenarnya dia tidak ingin banyak mencari urusan lagi disana, tetapi ketika dilihatnya para toosu itu dengan kurang ajar sekali mengerubuti dirinya hawa amarah yang semula sudah padam sekali lagi berkobar memanasi hatinya. Mendadak tampaklah berkelebatnya sinar kebiru biruan yang menyilaukan mata membumbung keangkasa kemudian disusul dengan suara beradunya senjata tajam dengan ramai sekali Seketika itu juga darah segar berceceran memenuhi seluruh permukaan diselingi suara ngeri yang menyayatkan hati, pedang panjang yang menyerang dirinya dari empat penjuru seluruhnya sudah berhasil ditabas putus, dua puluhan toosu hampir separuhnya sudah terluka atau binasa oleh pedangnya itu. potongan lengan serta kaki bertumpuk tumpuk memenuhi tanah bahkan jenggot Thian Kan Toodjie pun berhasil disayat separuh. Akibat yang terjadi kali ini betul-betul membuat Tan Kia-beng merasa sangat terkejut sekali kiranya dia sama sekali tidak tahu atas kalihayan dari dirinya sendiri dan tidak tahu pula bagaimanakah kedahsyatan dari pedang Kiem Ceng Giok Hun Kiam ditangannya sendiri, melihat datangnya serbuan para toosu secara bersama-sama dia menjadi amat gugup sekali, di dalam keadaan itulah dengan sepenuh tenaga dia melancarkan serangan tadi. Jurus yang digunakan bukan lain adalah jurus Leng Koan To Gouw atau sinar terang menyoroti sapi yang paling lihay dari ilmu pedang teh Teng Kiam Hoat. Pedang pusaka Kiem Ceng Giok Hun Kiam sebetulnya sudah merupakan suatu pedang pusaka yang sangat berharga sekali sinar tajam yang muncul diujung pedang tersebut dapat panjang dapat pendek sesuai dengan tenaga dalam yang disalurkan kesana kini tenaga dalam dari Tan Kia-beng sudah memperoleh kemajuan yang amat tajam yang memancarkan keluarpun bisa mencapai tiga depa jauhnya apalagi tadi dia mengerahkan seluruh tenaganya, coba bayangkan para toosu itu mana bisa kuat menahan serangannya tersebut? Kesalahan yang diperbuat ini membuat hatinya merasa sangat menyesal sekali, Heng-san-pay merupakan sebuah partai dari kalangan lurus, kini sudah membunuh begitu banyak orang, bilamana suhunya pada kemudian hari meminta pertanggungan jawabnya dia akan menggunakan cara apa untuk memberi keterangan? Pada saat darah serta putusan lengan dan kaki pada beterbangan di tengah udara itulan mendadak dari dalam pintu kuil berkelebat keluar seorang toosu tua yang rambut serta jenggotnya sudah pada memutih semuanya, disamping toosu tua itu berjalanlah keluar seorang pengemis tua yang bajunya sudah amat kotor dan compang camping sekali. Dari tempat kejauhan toosu tua itu sudah berteriak, dengan amat kerasnya.

"Hey pembunuh kejam, kami Heng-san-pay tidak ada ganjalan sakit hati apapun dengan kau, mengapa turun tangan kejam kepada kami?"

Bersamaan dengan selesainya ia berbicara terlihatlah dua sosok bayangan manusia dengan amat cepatnya melayang turun ke samping kanan kiri dari Tan Kia-beng dan mengepunyanya rapat rapat.

Kelihatannya toosu tua itu sangat marah sekali, sepasang matanya yang memancarkan sinar yang amat tajam, sambil menuding ke arahnya dia memaki maki tak hentinya.

"Kawan kau siapa? sudah menerima perintah dari siapa sengaja datang kekuil Sam Yuan Koan kami untuk mencari setori? pinto Siong Hok sejak menjabat sebagai ciangbunjin Heng-san-pay belum pernah berbuat dosa atau kesalahan kepada kawan Bulim, sebetulnya kau mau cari siapa?"

"Siauw yamu Tan Kia-beng tidak menerima dari siapapun,"

Seru Tan Kia-beng sambil tertawa panjang.

"Ini hari aku sengaja datang kesini untuk mencari itu bangsat Heng-san It-hok Ouw Ceng yang sudah mencelakai siauw yamu bahkan mau merebut pedang pusaka kepunyaanku."

"Merebut pedang pusakamu? tidak mungkin, suhengku bukanlah manusia semacam itu."

Baca Juga: Golok Yanci Pedang Pelangi 4

Baca Juga: Kemelut Di Ujung Ruyung Emas 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert